Desa Dabulon
Kecamatan Lumbis, Kabupaten Nunukan
SYAIR JEJAK BAKTI MAHASISWA KKN

SYAIR JEJAK BAKTI MAHASISWA KKN
Syair Perjalanan Pengabdian dari Datang hingga Pulang
Oleh: Slamet Riyadi
Tatkala fajar merekah terang,
Datanglah insan membawa harapan,
Mahasiswa muda teguh berjuang,
Menuju desa tempat pengabdian.
Ditinggal sejenak kampus tercinta,
Dibawa bekal ilmu di dada,
Dengan tekad serta cita-cita,
Hendak berbakti kepada desa.
Panjang jalan mereka tempuh,
Dalam kendaraan duduk bersimpuh,
Walau letih tubuh mulai jatuh,
Semangat bakti tetaplah teguh.
Tatkala desa mulai terlihat,
Hati berdebar penuh semangat,
Rumah penduduk tersusun rapat,
Menyambut tamu dengan selamat.
Senyum warga begitu berseri,
Menyambut datang insan negeri,
Tangan berjabat tulus sekali,
Menumbuhkan kasih di dalam diri.
Di balai desa mereka bersua,
Dengan pemimpin serta warga,
Disampaikan pesan dengan bahasa,
Agar pengabdian membawa guna.
“Junjunglah adat serta budaya,
Hormati warga di mana berada,
Datanglah bukan sekadar bekerja,
Namun belajarlah bersama-sama.”
Pesan itu tersimpan di hati,
Menjadi bekal setiap hari,
Bahwa pengabdian bukan janji,
Melainkan amal sepenuh diri.
Hari pertama mulai berjalan,
Tempat berteduh segera disiapkan,
Tugas dibagi dengan ketelitian,
Agar tertib segala pekerjaan.
Malam menjelang sunyi terasa,
Bintang berkilau di langit desa,
Mereka bermusyawarah bersama,
Menyusun langkah menuju cita.
Esok harinya mereka berjalan,
Menyusuri jalan serta halaman,
Menyapa warga penuh kesopanan,
Mencari tahu segala keadaan.
Ada petani tekun bekerja,
Ada nelayan mengayuh sampan,
Ada pedagang membuka usaha,
Semua menyimpan cita dan harapan.
Dari mereka mahasiswa belajar,
Tentang hidup yang penuh sabar,
Tentang bekerja tanpa gentar,
Tentang ikhlas tanpa mengejar.
Anak-anak datang dengan ceria,
Membawa buku serta cita,
Mereka belajar penuh bahagia,
Didampingi insan penuh setia.
Di ruang kecil ilmu dibaca,
Huruf dirangkai menjadi kata,
Dengan sabar mereka membina,
Agar tumbuh tunas bangsa.
Guru dan mahasiswa duduk bersama,
Membahas pendidikan generasi muda,
Mencari jalan yang penuh makna,
Agar ilmu tumbuh di tanah desa.
Buku dibuka setiap masa,
Menjadi jendela bagi dunia,
Anak membaca dengan gembira,
Menanam impian dalam jiwa.
Teknologi dikenalkan pula,
Agar bijak menggunakan media,
Ilmu digital menjadi cahaya,
Bila digunakan dengan saksama.
Pesan disampaikan dengan bahasa,
Jangan tersesat oleh dunia maya,
Gunakan teknologi membawa guna,
Jaga diri serta sesama.
Kegiatan sehat mulai digerakkan,
Kebersihan lingkungan diutamakan,
Warga bersama turut berperan,
Demi kehidupan penuh kesehatan.
Di posyandu mereka membantu,
Mendampingi warga dengan bersatu,
Belajar melayani tanpa jemu,
Menanam peduli dalam kalbu.
Lingkungan desa dijaga bersama,
Sampah dipungut dengan sukacita,
Halaman bersih indah dipandang mata,
Gotong royong menjadi budaya.
Bibit tanaman mulai ditanam,
Di tanah subur yang hijau dan dalam,
Dirawat tekun pagi dan petang,
Menjadi harapan di masa mendatang.
Pemuda desa diajak bersatu,
Mengembangkan karya dengan ilmu,
Membuka jalan yang baru selalu,
Agar masa depan semakin maju.
Potensi desa mulai ditelaah,
Yang tersembunyi hendak diolah,
Dengan pikiran yang penuh amanah,
Agar berkembang membawa berkah.
Kaum perempuan turut berkarya,
Mengolah hasil dengan setia,
Tangan terampil penuh daya,
Menjadi kekuatan bagi keluarga.
Mahasiswa memberi gagasan,
Warga menyambut dengan kesungguhan,
Sedikit demi sedikit diwujudkan,
Agar tumbuh usaha kemandirian.
Tak semua jalan mudah ditempuh,
Ada kendala datang berturut,
Namun semangat tidaklah runtuh,
Karena bersama hati pun teguh.
Kadang hujan turun berderai,
Mengubah rencana yang telah disusun baik,
Namun mereka tidak berkeluh-kelai,
Mencari jalan dengan hati yang baik.
Ada perbedaan dalam pendapat,
Ada keputusan belum sepakat,
Namun musyawarah menjadi pengikat,
Agar persaudaraan tetaplah erat.
Ketua kelompok memberi teladan,
Mengajak semua menjaga kesatuan,
Janganlah ego menjadi penghalang,
Dalam menunaikan tugas pengabdian.
Hari berganti minggu berlalu,
Kian dekat hati satu persatu,
Yang dahulu asing terasa baru,
Kini menjadi saudara selalu.
Warga memanggil dengan sapaan,
Mahasiswa datang membawa bantuan,
Tumbuh keakraban dalam pergaulan,
Lahir persaudaraan penuh ketulusan.
Pada petang yang teduh dan damai,
Warga berkumpul bersenda gurau santai,
Cerita mengalir tiada usai,
Menyatukan hati yang dahulu terlerai.
Anak-anak datang bermain riang,
Tawa mereka terdengar gemilang,
Mahasiswa pun merasa senang,
Kenangan tumbuh semakin panjang.
Malam hari menjadi renungan,
Tentang arti sebuah pengabdian,
Bukan sekadar menyusun laporan,
Namun belajar tentang kehidupan.
Ilmu kampus telah mereka bawa,
Namun desa memberi ilmu nyata,
Tentang sabar menerima segala,
Tentang tulus berbuat sesama.
Dari petani tumbuh pelajaran,
Tentang tekun mencari kehidupan,
Dari warga lahir ketabahan,
Dari desa tumbuh kebijaksanaan.
Mereka belajar arti sederhana,
Bahagia tidak selalu harta,
Kadang hadir dalam senyum warga,
Dalam secangkir kopi penuh makna.
Mereka belajar arti berbagi,
Tanpa menghitung untung dan rugi,
Memberi tulus sepenuh hati,
Agar manfaat tinggal di negeri.
Hari pengabdian kian berkurang,
Waktu berjalan begitu tenang,
Namun hati mulai merasa bimbang,
Sebab perpisahan segera menjelang.
Kalender dilihat setiap hari,
Hari kepulangan semakin pasti,
Wajah yang dahulu terasa sepi,
Kini menjadi sahabat sejati.
Program terakhir segera disusun,
Segala amanah harus dituntun,
Laporan kegiatan mulai dihimpun,
Agar pekerjaan selesai dengan santun.
Warga membantu dengan setia,
Mahasiswa membalas penuh suka,
Tumbuh rasa yang tiada terkira,
Antara pendatang dengan warga desa.
Tibalah malam penuh kenangan,
Diselenggarakan acara perpisahan,
Tawa terdengar di tengah kesedihan,
Air mata jatuh perlahan-lahan.
Anak-anak datang membawa salam,
Wajah ceria mulai tenggelam,
Sebagian menangis dalam diam,
Sebab sahabat hendak pulang malam.
Seorang anak berkata perlahan,
“Jangan lupakan kami di kemudian,
Tetaplah datang membawa kenangan,
Walau jauh tempat kediaman.”
Mahasiswa menahan air mata,
Memandang wajah anak tercinta,
“Teruslah belajar mengejar cita,
Agar kelak menjadi manusia berguna.”
Kepala desa memberi amanat,
“Jadikan ilmu sebagai manfaat,
Janganlah ilmu berhenti sesaat,
Sebarkan kebaikan sepanjang hayat.”
Mahasiswa menundukkan kepala,
Menerima pesan penuh makna,
Ternyata desa telah mengajar mereka,
Lebih dari yang diduga sebelumnya.
“Terima kasih,” ujar mereka,
Kepada warga seluruh desa,
Atas sambutan penuh setia,
Atas kasih yang tiada terkira.
“Maafkan kami,” tutur mereka,
Jika tersalah selama bersama,
Semoga segala amal yang ada,
Membawa berkah bagi semua.
Pagi datang membawa cahaya,
Hari pulang telah tiba juga,
Tas dikemas dengan segera,
Namun berat hati meninggalkan desa.
Kendaraan telah menunggu datang,
Di depan rumah berdiri tenang,
Warga berkumpul sepanjang jalan,
Menahan haru saat perpisahan.
Tangan berjabat erat sekali,
Pelukan hangat mengikat hati,
Ada senyum di wajah berseri,
Ada air mata jatuh sendiri.
Kendaraan bergerak perlahan,
Meninggalkan desa penuh kenangan,
Warga melambaikan tangan,
Mengiringi langkah menuju kepulangan.
Semakin jauh desa dipandang,
Semakin dalam rindu dikenang,
Jalan yang dahulu terasa panjang,
Kini meninggalkan rasa yang terang.
Dalam kendaraan mereka terdiam,
Mengenang hari yang begitu dalam,
Tawa warga terngiang malam,
Wajah sahabat tinggal dalam salam.
Mereka pulang membawa cerita,
Bukan sekadar barang di dalam dada,
Namun pengalaman penuh makna,
Yang mengubah pandangan tentang sesama.
KKN bukan hanya tugas semata,
Bukan sekadar memenuhi acara,
Ia menempa jiwa dan cita,
Agar ilmu berguna bagi manusia.
Mereka datang membawa pengetahuan,
Pulang membawa kebijaksanaan,
Desa menjadi ruang pembelajaran,
Tentang hidup serta pengabdian.
Kini kampus kembali menyambut,
Langkah mereka tegap dan lembut,
Namun kenangan tidaklah surut,
Tetap bersemi di dalam kalbu yang lembut
Bila kelak waktu berlalu,
Kenangan itu datang selalu,
Tentang desa yang pernah dituju,
Tentang sahabat yang pernah bertemu.
Bila bintang bersinar malam,
Terbayang desa dalam ingatan,
Tentang senyum yang penuh kedalaman,
Tentang masa indah pengabdian.
Jejak kaki mungkin menghilang,
Disapu hujan dan diterpa petang,
Namun budi tidak mudah hilang,
Bila ditanam dengan hati yang terang.
Apa yang tumbuh janganlah layu,
Apa yang baik teruslah maju,
Semangat bakti jangan berlalu,
Jadikan bekal sepanjang waktu.
Untuk desa semoga sejahtera,
Tumbuh maju penuh bahagia,
Rukun warganya sepanjang masa,
Makmur hidup seluruh keluarga.
Untuk anak-anak penerus bangsa,
Rajin belajar sepanjang usia,
Kejar cita dengan percaya,
Jadilah insan berguna bagi sesama.
Untuk pemuda harapan negeri,
Bangun desa dengan mandiri,
Gunakan ilmu sepenuh diri,
Junjung amanah setiap hari.
Untuk mahasiswa yang telah pergi,
Janganlah lupa janji di hati,
Bahwa ilmu bukan untuk diri,
Namun menjadi manfaat bagi negeri.
Pengabdian boleh sampai akhir,
Namun semangat janganlah cair,
Selama hidup masih mengalir,
Kebaikan hendaklah terus mengukir.
Dari desa menuju dunia,
Mereka melangkah membawa asa,
Pengalaman menjadi cahaya,
Menuntun langkah sepanjang usia.
Jika kelak bertemu kembali,
Semoga desa semakin berseri,
Anak-anak tumbuh menjadi insani,
Dan persahabatan tetap di hati.
Tiada pertemuan tanpa kenangan,
Tiada perpisahan tanpa kesan,
Tiada pengabdian tanpa pengorbanan,
Tiada kebaikan tanpa keikhlasan.
Demikian kisah perjalanan,
Mahasiswa dalam masa pengabdian,
Datang membawa sejuta harapan,
Pulang membawa seribu kenangan.
Ilmu menjadi cahaya terang,
Bakti menjadi jalan gemilang,
Desa menjadi tempat dikenang,
Persaudaraan menjadi warisan panjang.
Semoga Tuhan memberi petunjuk,
Pada setiap langkah yang ditempuh,
Memberi kekuatan ketika rapuh,
Dan menjadikan amal semakin kukuh.
Jika pengabdian dilakukan ikhlas,
Walau sebentar tetaplah berbekas,
Kebaikan hidup tidaklah lekas,
Menjadi kenangan yang tiada kandas.
Pergilah langkah menuju masa,
Bawalah pesan dari tanah desa,
Jadikan pengalaman bekal sentosa,
Untuk mengabdi kepada bangsa.
Akhirnya pulanglah para pejuang,
Meninggalkan desa yang penuh kenang,
Namun jejak bakti tetap membentang,
Dalam hati yang tulus dan tenang.
Berakhirlah sudah masa perjalanan,
Namun tidak berakhir pengabdian,
Sebab kebaikan menjadi titipan,
Yang terus hidup sepanjang zaman.
Wahai insan penuntut pengetahuan,
Jangan lupakan arti pengorbanan,
Jadikan ilmu sebuah penerangan,
Jadikan hidup ladang kebajikan.
Wahai desa tempat persinggahan,
Terimalah salam penuh penghormatan,
Segala kasih serta keramahan,
Akan tersimpan dalam ingatan.
Wahai sahabat teman seperjalanan,
Jaga selalu tali persaudaraan,
Walau terpisah oleh jarak dan zaman,
Kenangan tetap menjadi ikatan.
KKN berakhir bukanlah tamat,
Pengabdian terus sepanjang hayat,
Selama hati masih berbuat,
Selama itu kebaikan bermanfaat.
Maka simpanlah segala kenangan,
Jadikan ia sumber kekuatan,
Bukan hanya untuk kebanggaan,
Namun bekal meneruskan pengabdian.
Dari desa mereka belajar,
Bahwa hidup haruslah bersabar,
Bahwa ilmu mesti menyebar,
Agar manfaat menjadi besar.
Dari warga mereka memahami,
Makna kasih yang tulus di hati,
Dari anak-anak tumbuh inspirasi,
Bahwa harapan tak boleh mati.
Pulanglah mereka dengan doa,
Membawa nama kampus tercinta,
Semoga langkah penuh cahaya,
Menjadi manfaat bagi semua.
Tamatlah syair kisah pengabdian,
Dari kedatangan hingga kepulangan,
Semoga jejak menjadi teladan,
Bagi generasi penerus perjuangan.
TAMAT



IGNASIUS IMPUN, SH
23 September 2026 04:26:01
MEMBANGUN DESA BERSAMA RAKYAT Democracy Is Govermant Of The Peaple By The Peaple For The Peaple (...