Berita / Artikel
Strategi Paska Studi Banding Batch 4 Di Tiongkok ; Rencana Tindak Lanjut Kepala Desa Dabulon

Strategi Pasca Studi Banding Batch 4 di Tiongkok: Rencana Tindak Lanjut Kepala Desa Dabulon
Studi banding merupakan salah satu metode efektif untuk meningkatkan kapasitas dan wawasan para pemangku kebijakan di tingkat desa. Pada Batch 4, beberapa kepala desa dari berbagai wilayah di Indonesia berkesempatan mengikuti program benchmarking di Tiongkok. Program ini bertujuan untuk mempelajari berbagai strategi dan inovasi dalam pembangunan desa di negara yang terkenal dengan kemajuan teknologi dan infrastruktur pedesaan yang pesat. Studi banding ini menjadi pengalaman penting bagi para kepala desa terutama Kepala Desa Dabulon Anuar Sadat untuk menerapkan hasil pembelajaran dalam konteks pembangunan desa di Indonesia.
Namun, yang menjadi tantangan utama setelah kegiatan studi banding adalah bagaimana merumuskan strategi tindak lanjut yang tepat agar ilmu yang didapat tidak hanya menjadi catatan, melainkan dapat diimplementasikan secara nyata untuk mendorong pembangunan di tingkat desa.
1. Pemetaan Pembelajaran Utama dari Tiongkok
Setelah kembali dari Tiongkok, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah pemetaan terhadap pembelajaran utama yang relevan dengan kondisi desa di Indonesia khususnya Desa Dabulon. Beberapa pembelajaran kunci yang dapat diambil dari studi banding ini antara lain:
- Pengembangan Infrastruktur Pedesaan: Tiongkok berhasil membangun infrastruktur pedesaan yang baik, mulai dari jalan, jaringan listrik, hingga akses internet. Kepala desa perlu melihat bagaimana pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan dan ramah lingkungan dapat diterapkan di desa-desa mereka.
- Pengelolaan Sumber Daya Alam: Tiongkok juga memiliki manajemen sumber daya alam yang terintegrasi dengan baik. Desa di Indonesia yang kaya akan sumber daya alam dapat mencontoh metode pengelolaan yang efisien dan berkelanjutan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa merusak lingkungan.
- Penguatan UMKM dan Ekonomi Desa: Salah satu fokus dari studi banding adalah bagaimana Tiongkok mendukung pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di pedesaan. Strategi pemberdayaan ekonomi masyarakat desa ini dapat diadaptasi melalui program-program yang mendukung produk lokal dan peningkatan kapasitas SDM di desa.
2. Penyusunan Rencana Tindak Lanjut
Setelah memetakan pembelajaran yang relevan, tahap berikutnya adalah menyusun rencana tindak lanjut yang terukur dan realistis. Beberapa strategi yang dapat diterapkan pasca studi banding ini meliputi:
- Penyusunan Masterplan Desa Berkelanjutan: Desa yang dikelola dengan baik membutuhkan rencana pembangunan jangka panjang yang komprehensif. Oleh karena itu, salah satu hasil studi banding yang dapat segera diimplementasikan adalah penyusunan masterplan pembangunan desa yang mencakup pembangunan infrastruktur, manajemen lingkungan, serta peningkatan kapasitas ekonomi dan sosial.
- Pembangunan Infrastruktur Dasar: Dengan memperhatikan kemampuan dan anggaran desa, kepala desa dapat memprioritaskan pembangunan infrastruktur dasar, seperti perbaikan jalan desa, akses air bersih, dan penyediaan listrik. Pemerintah desa juga perlu bekerja sama dengan pemerintah kabupaten/kota dan provinsi untuk memperoleh dukungan teknis dan dana.
- Digitalisasi Desa: Salah satu poin penting dari studi banding di Tiongkok adalah digitalisasi layanan publik dan ekonomi desa. Implementasi teknologi di sektor pemerintahan, seperti penerapan e-Government untuk pengurusan administrasi desa, dan pengembangan platform digital untuk mendukung UMKM lokal, harus menjadi prioritas. Langkah-langkah kecil dapat dimulai dengan melatih perangkat desa dalam penggunaan teknologi informasi dan membangun infrastruktur internet di desa.
Digitalisasi merupakan sebuah tantangan bagi semua Desa, namun Pemetintah Desa Dabulon telah memulai melangkah menuju Digitalisasi Desa melalui Optimalisasi Sistem Informasi Manajemen Desa ( SISMA) dalam 2( dua) arah yaitu untuk pelayanan Administradi Desa dan Informasi Publik. Untuk pembangunan infrasrtuktur, Pemerintah Desa Dabulon akan mrmprioritaskan pada peningkatan jalan desa dengan mengoptimalkan dari sumber Dana Desa serta infrastruktur lainnya.
3. Pengembangan Kapasitas SDM di Desa
Pengembangan sumber daya manusia (SDM) menjadi salah satu pilar penting dalam pembangunan desa. Dari hasil studi banding di Tiongkok, para kepala desa dapat mengadopsi strategi pelatihan berkelanjutan bagi perangkat desa dan masyarakat. Beberapa langkah konkret yang dapat diambil antara lain:
- Pelatihan Teknologi: Teknologi informasi sangat diperlukan untuk menunjang kinerja aparatur desa dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Oleh karena itu, pelatihan teknologi, seperti penggunaan komputer, internet, dan aplikasi digital, harus diberikan kepada perangkat desa.
- Pelatihan Kewirausahaan: Untuk memberdayakan masyarakat desa, perlu diadakan pelatihan kewirausahaan bagi pemuda dan pelaku UMKM. Pelatihan ini harus berfokus pada pengembangan produk lokal, pemasaran digital, dan manajemen usaha.
- Pengembangan Program Wirausaha Desa: Tiongkok memiliki program-program yang mendukung wirausaha di tingkat desa. Pemerintah desa bisa mengadopsi model ini dengan memberikan pelatihan, akses permodalan, dan pendampingan kepada para pelaku usaha kecil di desa.
Pemerintah Desa Dabulon pada kesempatan ini telah memberangkatkan 3 ( tiga) Perankat Desa untuk mengikuti Bimtek Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia melalui Bimtek Nasional Peningkatan Kapasitas Pemerintahan Desa di Tarakan dengan tema " Penyusunan Dokumen SPJ SPBDesa dan Implementasi Sistem Informasi Dalam Tata Keloka Keuangan Desa ".
4. Kolaborasi dengan Pemangku Kepentingan
Strategi tindak lanjut tidak akan berhasil tanpa adanya kolaborasi yang baik antara pemerintah desa dengan pihak-pihak lain. Kolaborasi dapat dilakukan dengan:
Pemerintah Daerah: Kepala desa perlu meningkatkan komunikasi dengan pemerintah daerah agar dapat mengakses program-program pembangunan yang lebih besar, baik dari sisi infrastruktur maupun pemberdayaan masyarakat.
- Sektor Swasta: Untuk meningkatkan ekonomi desa, keterlibatan sektor swasta sangat diperlukan. Pemerintah desa dapat bekerja sama dengan perusahaan untuk membangun kemitraan yang saling menguntungkan dalam bidang ekonomi, seperti pertanian, peternakan, atau pariwisata desa.
- Lembaga Pendidikan: Kolaborasi dengan lembaga pendidikan juga penting untuk pengembangan SDM. Kerja sama dengan universitas, misalnya, dapat dilakukan untuk penelitian dan pengembangan potensi desa atau pelatihan kewirausahaan bagi masyarakat.
5. Monitoring dan Evaluasi
Langkah terakhir dalam strategi tindak lanjut adalah melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala terhadap program-program yang sudah dijalankan. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa semua program berjalan sesuai rencana dan memberikan dampak yang nyata bagi masyarakat. Beberapa indikator yang dapat digunakan untuk monitoring antara lain:
- Indikator Ekonomi: Perubahan pendapatan masyarakat desa, peningkatan jumlah UMKM, dan pertumbuhan ekonomi desa secara keseluruhan.
- Indikator Infrastruktur: Kemajuan pembangunan infrastruktur dasar, seperti akses jalan, air bersih, dan listrik.
- Indikator SDM: Peningkatan keterampilan dan kapasitas perangkat desa dan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi dan berwirausaha.
Kesimpulan
Studi banding Batch 4 di Tiongkok memberikan pelajaran penting bagi kepala desa di Indonesia untuk meningkatkan kualitas pembangunan desa. Implementasi rencana tindak lanjut yang tepat, mulai dari penyusunan masterplan, pengembangan infrastruktur, penguatan SDM, hingga kolaborasi dengan berbagai pihak, menjadi kunci keberhasilan pasca studi banding ini. Dengan langkah-langkah konkret ini, desa-desa di Indonesia dapat lebih maju, mandiri, dan sejahtera.
Edy s
02 Oktober 2024 23:28:21
Selamat & sukses Pak Anuar Sadat dlm menjalankan tugas tuk desanya...