Desa Dabulon
Kecamatan Lumbis, Kabupaten Nunukan
BOJOKU GALAK

NOVEL BOJOKU GALAK
Tidak Semua Kemarahan Lahir dari Kebencian, Kadang dari Terlalu Dalamnya Cinta
Oleh: Slamet Riyadi
DISCLAIMER
Novel ini adalah karya fiksi. Seluruh tokoh, peristiwa, tempat, nama, latar, maupun konflik yang terdapat dalam cerita ini merupakan hasil imajinasi penulis.
Apabila terdapat kesamaan dengan kehidupan nyata, hal tersebut semata, mata merupakan kebetulan dan tidak dimaksudkan untuk merujuk kepada individu atau pihak tertentu.
Karena terkadang, yang terlihat sebagai kemarahan hanyalah cara seseorang melindungi apa yang paling dicintainya.
PROLOG
Perempuan yang Selalu Marah
Hujan turun di Kampung Mekarsari.
Bukan hujan biasa. Hujan yang mengguyur sejak sore, merembes melalui seng, seng rumah tua, menciptakan suara berisik yang justru membuat suasana semakin sunyi.
"Danang! Sepatu jangan sembarangan!"
Suara itu memecah keheningan malam.
Keras. Tajam. Seperti cambuk yang menyambar udara.
Hampir seluruh tetangga sudah hafal suara itu. Suara Sintia. Perempuan yang dinobatkan sebagai yang paling galak satu kampung. Gelar yang tidak pernah ia minta, namun melekat begitu saja.
Di warung kopi milik Bu Minah, nama Sintia selalu menjadi santapan lezat saat orang, orang kehabisan topik pembicaraan.
"Kasihan Danang," kata Pak RT sambil menggeleng, menyeruput kopi pahitnya.
"Lelaki sesabar itu dapat istri galak," timpal yang lain.
"Kalau aku jadi Danang, mungkin sudah kabur dari dulu."
Mereka tertawa. Keras. Lepas.
Tawa orang, orang yang tidak pernah sekalipun mencoba membayangkan bagaimana rasanya berdiri di posisi Sintia.
Mereka hanya melihat suara kerasnya.
Mereka tidak melihat bahwa setiap pagi, sebelum matahari terbit, Sintia sudah berada di dapur. Menyalakan api kompor. Memasak nasi. Menggoreng lauk. Menyiapkan bekal untuk anak, anak dan suaminya.
Mereka hanya melihat matanya yang melotot saat marah.
Mereka tidak melihat matanya yang sembab setiap malam, ketika semua orang sudah terlelap, sementara ia masih terjaga menghitung, hitung uang belanja yang tidak pernah cukup.
Mereka hanya mendengar bentakannya.
Mereka tidak mendengar doanya yang lirih setiap selesai salat. Doa yang selalu sama: Ya Allah, lindungi keluargaku. Jangan ambil mereka dariku.
Karena di balik setiap bentakan yang keluar dari bibirnya, tersimpan ketakutan yang tidak pernah selesai.
Ketakutan kehilangan.
Ketakutan ditinggalkan.
Ketakutan mengulang luka lama yang selama ini ia kubur rapat, rapat di dasar hatinya.
Sementara itu, Danang hanya diam.
Bertahun, tahun ia memilih diam.
Ketika dimarahi karena pulang terlambat, ia diam.
Ketika disalahkan karena lupa sesuatu, ia diam.
Ketika dicurigai tanpa alasan yang jelas, ia diam.
Karena menurutnya, diam adalah cara paling aman untuk menjaga rumah tangga. Diam adalah senjata terbaik untuk menghindari pertengkaran yang lebih besar.
Namun diam ternyata tidak selalu menyelesaikan masalah.
Kadang diam justru menjadi jurang yang semakin lebar.
Danang tidak pernah menyadari bahwa diamnya membuat Sintia merasa berjalan sendirian. Seolah ia seorang diri memikul semua beban, sementara suaminya hanya menjadi penonton dalam rumah tangganya sendiri.
Sebaliknya, Sintia juga tidak pernah menyadari bahwa kemarahannya perlahan, lahan mengikis kesabaran lelaki yang paling ia cintai. Bahwa setiap bentakan adalah paku yang terpancang di dinding hati Danang. Dan meski suatu hari paku, paku itu dicabut, lubang, lubangnya akan tetap tersisa.
Malam itu, hujan tidak mengguyur tanah.
Hujan mengguyur hati.
Danang duduk di teras rumah. Atap seng di atas kepalanya dibasahi air yang merembes dari beberapa lubang kecil. Ia tidak peduli. Matanya kosong menatap gelapnya jalanan kampung yang becek dan sepi.
Pikirannya penuh.
Penuh dengan angka, angka di buku keuangan yang tidak pernah cukup.
Penuh dengan permintaan tolong dari adiknya, Deni, yang terlilit hutang.
Penuh dengan ucapan ibunya yang entah disadari atau tidak, selalu membandingkan Sintia dengan istri saudara, saudaranya.
Penuh dengan bayangan wajah anak, anaknya, Bima dan Dinda, yang akhir, akhir ini mulai jarang tertawa.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Danang merasa lelah.
Lelah yang tidak bisa dijelaskan dengan kata, kata.
Lelah yang membuatnya ingin berteriak, tapi suaranya seolah hilang.
Lelah yang membuatnya ingin menangis, tapi air matanya tidak mau keluar.
Ia hanya diam. Seperti biasa.
Di dalam rumah, di balik pintu kamar yang tertutup rapat, Sintia menangis.
Sendirian.
Air mata yang selama ini tidak pernah diperlihatkannya kepada dunia. Karena ia percaya bahwa perempuan galak tidak boleh lemah. Perempuan galak harus tegar. Perempuan galak harus terlihat tangguh, meski hatinya hancur berkeping, keping.
Ia menangis bukan karena marah.
Ia menangis karena takut.
Takut Danang suatu hari benar, benar pergi.
Takut anak, anaknya tumbuh dalam keluarga yang retak.
Takut bahwa semua perjuangannya selama ini tidak cukup untuk menjaga rumah tangganya tetap utuh.
Ia menangis dalam hening. Hanya suara hujan yang menemani. Karena hujan tidak akan menilai. Hujan tidak akan menyebutnya lemah. Hujan tidak akan membisikkan cerita ke tetangga sebelah.
Mereka tidak tahu.
Tidak ada yang tahu.
Tetangga, tetangga di warung Bu Minah tidak tahu.
Bu Ratna yang suka bergosip tidak tahu.
Bahkan Danang, suaminya sendiri, juga tidak tahu.
Mereka tidak tahu bahwa malam itu adalah awal dari perubahan besar dalam hidup keluarga kecil itu.
Perubahan yang tidak akan terjadi dalam semalam, atau seminggu, atau sebulan.
Perubahan yang akan memakan waktu berbulan, bulan, penuh air mata, penuh pertengkaran, penuh penyesalan, dan pada akhirnya, penuh pemahaman.
Perubahan yang akan membawa mereka pada pilihan paling sulit dalam hidup mereka.
Bertahan... atau saling melepaskan.
Dan ketika cinta diuji oleh luka, ketika kesabaran diadu dengan ego, ketika kepercayaan retak dan mulai runtuh... hanya ada satu pertanyaan yang tersisa.
Apakah mereka masih cukup saling mencintai untuk memperjuangkannya?
Ataukah semua sudah terlambat?
Hujan terus turun.
Rintik, rintiknya semakin deras.
Angin malam berembus, membawa aroma tanah basah yang khas.
Dan di Kampung Mekarsari yang gelap dan sunyi itu, dua manusia yang saling mencintai berada dalam ruang yang sama, tetapi terpisah oleh tembok tipis yang terasa setebal samudra.
Ia di teras. Ia di kamar.
Jaraknya hanya beberapa meter.
Namun rasanya seperti berdiri di ujung dunia yang berbeda.
Mereka tidak tahu bahwa beberapa bulan ke depan, mereka akan jatuh ke titik terendah yang tidak pernah mereka bayangkan.
Mereka tidak tahu bahwa kemarahan Sintia akan menemukan jawabannya.
Mereka tidak tahu bahwa diamnya Danang akan berubah menjadi keberanian untuk berbicara.
Mereka tidak tahu bahwa dari kehancuran itulah, mereka akan belajar membangun kembali.
Tapi untuk sampai ke sana, mereka harus melewati badai terlebih dahulu.
Dan malam itu, angin pertama dari badai itu mulai bertiup.
Hujan terus turun.
Dan kisah mereka pun dimulai.
BAB I
Rumah yang Mulai Kehilangan Tawa
Pagi di Kampung Mekarsari. Matahari baru setengah naik. Udara masih dingin. Namun rumah di ujung gang itu sudah bergemuruh sejak subuh.
"Bima! Cepat mandi! Nanti terlambat!"
"Sebentar, Bu!"
"Sebentar terus dari tadi!"
Suara Sintia membentak dari dapur. Keras. Tajam. Seperti biasa.
Danang yang sedang mengenakan seragam kerja di ruang tengah hanya menghela napas. Ia melirik jam dinding bundar yang sudah mulai menguning. Pukul enam lewat lima belas menit. Masih cukup waktu.
Namun seperti biasa, pagi di rumah ini selalu terasa seperti perang kecil.
Ia berjalan ke dapur. Sintia sedang menggoreng tempe. Keringat membasahi pelipisnya. Rambutnya yang panjang digulung asal, asalan. Ekspresinya tegang. Tapi wajahnya tetap cantik. Danang menyadari itu. Ia hanya lupa mengatakannya.
"Sudah sarapan?" tanya Sintia tanpa menoleh. Tangannya sibuk membolak, balik tempe di wajan.
"Belum."
"Ya makan dulu."
"Aku tunggu anak, anak."
Sintia mendengus pelan. "Mereka kalau ditunggu bisa sampai siang. Nanti kamu yang terlambat."
Danang tersenyum tipis. "Aku tunggu saja."
Sintia tidak menjawab. Dalam hati sebenarnya ia senang. Senang karena Danang selalu punya perhatian pada anak, anak. Berbeda dengan banyak suami di kampung ini yang cuek dan acuh tak acuh.
Tapi entah mengapa, kata, kata yang keluar dari mulutnya selalu terdengar keras. Bahkan ketika ia sedang peduli. Bahkan ketika hatinya sedang lembut.
Seperti ada tembok di antara perasaan dan ucapannya. Tembok yang dibangun dari kebiasaan bertahun, tahun. Kebiasaan menjadi perempuan yang tidak boleh terlihat lemah.
Bima keluar dari kamar mandi. Wajahnya masih mengantuk. Seragamnya setengah kancing.
"Pak, nanti jemput ya," katanya sambil menguap.
"Iya."
"Jangan lupa."
Danang mengusap kepala anaknya. "Iya. Siapa yang lupa?"
Dinda berlari dari kamar, rambutnya masih berantakan. "Ayah, Ayah! Aku mau ikut jemput juga!"
"Nanti kalau sudah pulang sekolah, ya."
Dinda tersenyum lebar. Senyum yang bisa mencairkan suasana apa pun. Danang selalu punya cara membuat anak, anak merasa nyaman. Berbeda dengan Sintia yang lebih sering menggunakan ketegasan.
"Sudah, duduk makan!" perintah Sintia.
Kedua anak itu langsung menurut. Tidak ada yang berani membantah. Mereka tahu betul: ketika ibu sudah memerintah, tidak ada ruang untuk negosiasi.
Di meja makan, suasana terasa canggung.
Hanya suara sendok dan piring yang terdengar. Sesekali suara kunyahan. Sesekali suara gelas diletakkan di atas meja kayu yang sudah agak goyang.
Bima dan Dinda makan dengan cepat. Mereka sudah hafal suasana seperti ini. Ketika ayah dan ibu tidak banyak bicara, lebih baik diam dan menghabiskan makanan.
Danang membuka percakapan. "Nanti sore aku pulang agak malam."
Sintia berhenti mengunyah. "Kenapa?"
"Ada lembur."
Sintia meletakkan sendoknya. Pelan. Terlalu pelan. "Lembur lagi? Sudah seminggu ini."
"Memang banyak pekerjaan."
"Atau ada alasan lain?"
Keheningan menguasai meja makan.
Bima dan Dinda saling pandang. Mereka sudah sering melihat skenario ini. Awalnya biasa. Pertanyaan sederhana. Lalu jawaban singkat. Kemudian nada bicara berubah. Suasana berubah. Dan pertengkaran dimulai.
"Aku benar, benar kerja," kata Danang. Nadanya datar.
"Aku hanya bertanya." Nada Sintia mulai naik.
"Tapi caramu bertanya seperti sedang menuduh."
"Aku tidak menuduh."
"Tapi nadamu seperti itu."
Mata Sintia berubah. Sorot yang selama ini membuat banyak orang menganggapnya galak. Sorot yang sebenarnya bukan lahir dari kebencian, melainkan dari ketakutan yang tidak bisa ia kendalikan.
"Kalau kamu tidak merasa bersalah, kenapa marah?" Suaranya terdengar lebih pelan. Tapi justru itu yang membuatnya lebih tajam.
Danang meletakkan sendok. Nafsu makannya hilang. "Aku berangkat dulu."
"Belum habis makannya."
"Sudah kenyang."
"Baru dua suap."
"Aku terlambat."
Sintia memalingkan wajah. Tidak ingin Danang melihat matanya yang mulai berkaca, kaca. Danang mengambil tas. Berjalan ke pintu. Membukanya. Keluar.
Pintu tertutup.
Suasana langsung sunyi.
Bima dan Dinda menunduk kembali ke piring mereka. Tidak ada yang berani bicara.
Sintia diam. Piring di depannya masih setengah penuh. Tangannya menggenggam sendok, tapi tidak lagi menggerakkannya.
Di dalam hati, penyesalan mulai merayap. Sebenarnya ia hanya khawatir. Hanya ingin memastikan Danang baik, baik saja. Hanya ingin mendengar penjelasan yang meyakinkan.
Tapi setiap kali rasa khawatir itu muncul, yang keluar justru kata, kata yang terdengar seperti tuduhan.
Dan ia sendiri tidak mengerti mengapa.
Atau mungkin ia mengerti, tapi terlalu takut untuk mengakuinya.
Di kantor, Danang duduk di depan komputer. Layar menyala. Angka, angka dan tabel terpampang. Tapi pikirannya tidak di sana.
Ia membayangkan meja makan yang tadi. Wajah Sintia yang memaling. Suara pintu yang tertutup.
"Wajahmu kusut sekali."
Rudi, sahabatnya sejak SMA, berdiri di samping meja. Dua gelas kopi ada di tangannya.
"Biasa," jawab Danang.
Rudi meletakkan satu gelas di depan Danang. Lalu duduk di kursi sebelah.
"Bertengkar lagi?"
Danang tertawa hambar. "Memangnya pernah berhenti?"
Rudi menggeleng pelan. "Padahal dulu kalian pasangan paling romantis. Seisi kampung iri. Aku ingat kamu rela naik sepeda puluhan kilometer hanya untuk menemuinya."
Danang terdiam.
Ia teringat. Masa ketika Sintia selalu menyambutnya dengan senyum. Masa ketika wajah Sintia tidak penuh ketegangan. Masa ketika mereka bisa duduk berjam, jam hanya berbicara tentang hal, hal konyol. Masa ketika masalah terasa lebih ringan karena mereka menghadapinya bersama.
Entah sejak kapan semua berubah.
Entah sejak kapan senyum itu berganti dengan kemarahan.
Entah sejak kapan rumah yang dulu penuh tawa mulai kehilangan kehangatannya.
Rudi menyeruput kopinya. "Kamu tahu, kadang orang berubah bukan karena mereka ingin berubah. Tapi karena beban yang mereka pikul terlalu berat."
Danang tidak menjawab. Ia hanya menatap layar komputer yang sama sekali tidak ia lihat.
Sementara itu di rumah, Sintia sedang menjemur pakaian di halaman belakang. Kain, kain basah digantung satu per satu. Gerakannya cepat. Efisien. Tanpa buang waktu.
Bu Minah, tetangga sebelah yang selalu punya waktu untuk mengobrol, datang menghampiri.
"Danang berangkat kerja, Tin?"
Sintia mengangguk. "Iya."
"Lembur lagi katanya?"
Sintia hanya mengangguk lagi.
Bu Minah tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata. Senyum yang membuat Sintia tidak nyaman.
"Kasihan juga ya," kata Bu Minah sambil menghela napas.
"Kasihan kenapa?"
"Ya... kerja keras terus. Suami orang, pulang malam terus. Istri di rumah sendirian."
Sintia berhenti menjemur. Ia memahami maksud tersembunyi dari kalimat itu. Bukan pertama kali. Dan bukan dari Bu Minah saja. Banyak tetangga yang suka membicarakan rumah tangganya.
Sebagian besar menganggap dirinya penyebab semua masalah.
Perempuan galak.
Perempuan pemarah.
Perempuan yang membuat suaminya tidak betah di rumah.
Mereka berbisik di warung kopi. Mereka bergosip di pengajian. Mereka menyebarkan cerita versi mereka sendiri.
Tapi tidak ada satu pun yang tahu.
Tidak ada satu pun yang tahu bahwa setiap malam, setelah semua orang tidur, Sintia masih terjaga. Matanya menatap langit, langit. Pikirannya menghitung uang belanja yang tidak pernah cukup. Dadanya sesak memikirkan tagihan sekolah yang menumpuk. Hatinya gelisah membayangkan masa depan anak, anaknya.
Tidak ada satu pun yang tahu bahwa diam, diam ia menyimpan banyak ketakutan.
Ketakutan bahwa Danang akan lelah.
Ketakutan bahwa suatu hari Danang benar, benar pergi, seperti ayahnya dulu.
Ketakutan bahwa ia harus menghadapi semuanya sendirian.
Dan ketakutan itu, yang tidak pernah ia ucapkan, perlahan berubah menjadi kemarahan.
Kemarahan yang tidak ia pahami asalnya.
Kemarahan yang membuat ia sulit tidur.
Kemarahan yang merenggangkan jarak antara dirinya dan Danang.
Tanpa ia sadari.
Tanpa Danang sadari.
Tanpa siapa pun sadari.
Rumah yang mereka bangun dengan cinta, dengan susah payah, dengan air mata dan pengorbanan, sedang perlahan berjalan menuju badai.
Badai yang akan menguji apakah cinta mereka cukup kuat untuk bertahan.
Ataukah justru akan menghancurkan semuanya.
BAB II
Kemarahan yang Tidak Dipahami
Pagi, pagi sekali. Warung kopi milik Pak Karso sudah ramai. Asap kopi hitam mengepul dari cangkir, cangkir tanah liat. Beberapa lelaki duduk bersila di atas balok, balok kayu panjang.
"Aku lihat kemarin Danang pulang malam lagi," kata seorang lelaki paruh baya sambil menyedot rokok kreteknya.
"Iya, kasihan juga," timpal yang lain.
"Istrinya galak sih."
Semua tertawa kecil. Keras. Lepas.
"Kalau aku punya istri begitu, betah kerja di luar rumah juga."
Mereka tertawa lagi. Menganggapnya candaan biasa. Obrolan pengisi waktu sebelum memulai aktivitas.
Namun tanpa sadar, kalimat, kalimat seperti itulah yang perlahan membentuk penilaian masyarakat terhadap seseorang. Mereka tidak pernah berpikir bahwa kata, kata mereka bisa menjadi belati. Karena belati tidak selalu terbuat dari besi. Kadang belati terbuat dari suara, suara yang keluar dari mulut orang, orang terdekat.
Tidak ada yang membicarakan bagaimana Sintia bangun pukul empat pagi setiap hari. Sejak subuh, ia sudah berada di dapur. Menyalakan api. Memasak nasi. Menggoreng lauk. Menyiapkan bekal.
Tidak ada yang membicarakan bagaimana ia mengurus rumah seorang diri. Mencuci. Menyetrika. Membersihkan. Mengantar anak sekolah. Menjemput. Mengajari Bima dan Dinda belajar.
Tidak ada yang membicarakan bagaimana ia masih menyempatkan diri membantu ibunya yang sedang sakit di kampung sebelah, meski tubuhnya sendiri sudah kecapaian.
Tidak. Tidak ada yang membicarakan semua itu.
Yang mereka lihat hanya satu.
Suara kerasnya.
Dan bagi kebanyakan orang, suara keras lebih mudah diingat daripada pengorbanan yang dilakukan diam, diam.
Di rumah, Sintia menyapu halaman depan.
Gerakannya cepat. Nyaris tanpa jeda. Sapu lidi di tangannya bergerak seperti mesin. Kiri. Kanan. Maju. Mundur. Tidak ada waktu untuk berhenti.
Sejak pertengkaran kecil kemarin pagi, pikirannya tidak pernah tenang.
Danang pulang lebih larut dari biasanya. Ketika ia tanya alasannya, jawabannya hanya satu kata: "lembur". Makan malam hanya beberapa suap. Lalu ia tidur. Membelakangi Sintia.
Mereka tidak berbicara.
Tidak saling menyapa.
Tidak saling bertanya kabar.
Seperti dua orang asing yang kebetulan tinggal di rumah yang sama.
Danang berangkat kerja pagi ini tanpa banyak kata. Bahkan tanpa "aku berangkat" yang dulu selalu ia ucapkan setiap pagi.
Sintia menghentikan sapuannya.
Matanya menatap kosong ke jalan kampung yang mulai ramai.
Dalam hati ia bertanya pada dirinya sendiri.
Kapan terakhir kali aku dan Danang benar, benar tertawa bersama? Bukan senyum basa, basi. Bukan tawa sosial. Tapi tawa yang sungguhan. Tawa yang membuat perut terasa sakit. Tawa yang membuat lupa sejenak bahwa hidup ini berat.
Ia mencoba mengingat. Menelusuri memori bulan demi bulan. Tahun demi tahun.
Sulit.
Sangat sulit.
Seolah kenangan bahagia itu sudah terlalu jauh tertinggal. Tertimbun oleh pertengkaran, oleh kecemasan, oleh rasa lelah yang tidak pernah benar, benar hilang.
Hubungan mereka tidak sedang baik, baik saja.
Namun tidak juga cukup buruk untuk disebut hancur.
Mereka berada di titik paling melelahkan dalam sebuah pernikahan.
Titik di antara bertahan dan menyerah.
Titik di mana cinta masih ada, tapi cara mencintai sudah berantakan.
Dua orang yang masih saling mencintai. Tetapi tidak lagi memahami cara saling memahami.
Di kantor, Rudi duduk di samping Danang. Dua gelas kopi. Dua pasang mata lelah.
"Dulu Sintia tidak seperti sekarang," kata Rudi.
Danang mengangguk. Pelan.
Benar. Dulu Sintia sangat berbeda.
Ketika pertama kali mereka bertemu di sebuah acara pernikahan saudara sepuluh tahun lalu, Sintia dikenal sebagai perempuan yang ramah. Murah senyum. Suka bercanda. Mudah tertawa.
Danang masih ingat setiap detail pertemuan pertama itu.
Sintia mengenakan gaun sederhana berwarna biru muda. Rambutnya diurai. Wajahnya berseri. Ia sedang tertawa bersama teman, temannya. Tawa yang begitu lepas. Begitu hangat. Begitu hidup.
Danang berdiri di sudut ruangan. Diam, diam memperhatikan.
Ia tidak berani mendekat. Hatinya berdebar seperti anak kecil yang melihat mainan impian di etalase toko.
Tapi kemudian Sintia menoleh. Melihatnya. Tersenyum. Bukan senyum formal. Bukan senyum basa, basi. Tapi senyum tulus yang membuat dunia Danang terasa berhenti berputar sejenak.
Dan sejak saat itu, Danang tahu.
Ia jatuh cinta.
Dan jatuh cinta untuk pertama kalinya dalam hidupnya.
"Dulu dia ceria sekali," kata Danang pelan. Matanya menerawang jauh. Ke masa yang tidak bisa ia putar ulang.
Rudi menghela napas panjang. Seperti orang yang sudah terlalu sering melihat temannya berputar, putar dalam lingkaran masalah yang sama.
"Kadang orang berubah bukan karena mereka ingin berubah. Tapi karena beban yang mereka pikul terlalu berat. Dan tidak ada yang menawarkan diri untuk membantu memikulnya."
Danang tidak menjawab. Ia hanya menatap layar komputer yang sama sekali tidak ia lihat.
Sore harinya, Sintia pergi ke pasar.
Tas kain besar tergantung di bahu kirinya. Tas itu sudah kusam. Beberapa bagian bahkan mulai robek. Tapi ia belum punya uang untuk membeli yang baru. Dan membeli tas baru bukanlah prioritas.
Di pasar, ia berjalan cepat. Matanya bergerak ke kiri dan kanan, mencari sayuran yang masih segar dengan harga yang masuk akal.
Harga, harga kebutuhan pokok naik.
Minyak goreng naik.
Beras naik.
Gula naik.
Telur naik.
Hampir semuanya naik.
Sementara penghasilan Danang tetap. Bahkan cenderung tergerus inflasi.
Sintia berhenti di depan lapak sayur. Tangannya mengambil beberapa ikat kangkung. Beberapa wortel. Beberapa tomat.
Lalu ia menghitung.
Dalam hati. Cepat. Seperti kebiasaan yang sudah terlatih selama bertahun, tahun.
Uang belanja tinggal sedikit.
Tagihan sekolah Bima dan Dinda belum dibayar. Jatuh tempo minggu depan.
Biaya les matematika Bima bulan depan belum. Padahal anak itu butuh les. Nilai matematikanya mulai menurun.
Kulkas mulai rusak. Pintunya tidak bisa tertutup rapat. Setrika kadang tidak panas. Televisi gambar kadang buram.
Sintia memejamkan mata sebentar. Dadanya terasa sesak.
Perlahan muncul rasa panik.
Bukan panik biasa.
Panik yang sudah menjadi teman lamanya sejak kecil.
Panik yang lahir dari ingatan lama. Kenangan kelam yang tidak pernah benar, benar pudar.
Ketika kecil, Sintia pernah merasakan hidup dalam kemiskinan yang sesungguhnya.
Ayahnya sering pulang tanpa membawa uang. Kadang dalam keadaan mabuk. Kadang dalam keadaan marah tanpa sebab.
Ibunya harus berhutang ke sana, sini. Ke tetangga. Ke kerabat. Ke warung. Hanya untuk menyambung hidup.
Malam, malam, mereka sering hanya makan nasi dengan garam. Jika beruntung, ada sambal terasi. Jika sangat beruntung, ada satu butir telur yang dibagi berempat.
Sintia ingat betul rasa laparnya. Lapar yang membuat perutnya keroncongan sepanjang malam. Lapar yang membuatnya sulit tidur. Lapar yang membuatnya menangis dalam diam di balik selimut tipis yang sudah bertambal.
Pengalaman itu membekas sangat dalam.
Hingga sekarang.
Hingga ia menikah.
Hingga ia memiliki anak.
Ia takut.
Takut kemiskinan itu datang kembali.
Takut anak, anaknya merasakan apa yang pernah ia rasakan.
Takut ia gagal menjadi ibu yang mampu melindungi anak, anaknya dari penderitaan.
Dan ketakutan itulah yang sering berubah menjadi kemarahan.
Bukan karena ia membenci Danang.
Bukan karena ia tidak bersyukur.
Melainkan karena ia terlalu takut kehilangan kestabilan yang susah payah mereka bangun.
Setiap rupiah yang keluar tanpa perencanaan terasa seperti ancaman.
Setiap pengeluaran tak terduga terasa seperti kegagalan.
Dan ketika Danang melakukan hal, hal yang terasa mengancam stabilitas itu, ia marah.
Bukan karena ia tidak percaya pada Danang.
Tapi karena ia terlalu percaya pada Danang.
Percaya bahwa Danang adalah satu, satunya yang bisa menjaga mereka dari kehancuran.
Beban itu terlalu berat untuk dipikul satu orang. Tapi Sintia tidak tahu bagaimana cara berbagi.
Yang ia tahu hanya marah.
Dan marah adalah bahasa yang paling ia kuasai.
Malam itu, setelah anak, anak tidur, Sintia duduk di ruang tengah.
Danang baru selesai mandi. Ia duduk di kursi sebelah. Jaraknya hanya satu meter. Tapi terasa seperti ribuan kilometer.
"Kamu akhir, akhir ini sibuk sekali di kantor?" tanya Sintia. Nadanya datar. Berusaha tidak terdengar seperti interogasi.
Danang mengangguk. "Iya. Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan."
"Karena pekerjaan?"
"Iya. Karena pekerjaan."
Jawaban itu terdengar normal. Sangat normal. Bahkan sempurna.
Tapi entah mengapa, ada sesuatu di nada suara Danang yang membuat Sintia tidak nyaman.
Ia mulai memperhatikan lebih dalam.
Mencari petunjuk di wajah Danang. Mencari kebohongan di matanya. Mencari sesuatu yang tidak sesuai.
Dan ketika ia menyadari bahwa ia sedang melakukan itu, hatinya terasa sesak.
Karena dulu, di awal pernikahan mereka, ia tidak pernah melakukan hal seperti ini.
Dulu ia percaya begitu saja pada Danang.
Dulu ia tidak pernah mencurigai.
Dulu rumah tangganya tidak dipenuhi kecurigaan seperti sekarang.
Kapan semua ini mulai berubah? tanyanya dalam hati.
Dan ia tidak punya jawaban.
BAB III
Luka Masa Kecil Sintia
Malam itu hujan turun.
Bukan hujan deras. Hujan gerimis yang terus, menerus. Cukup untuk membuat suasana menjadi lebih sunyi dari biasanya.
Sintia belum tidur.
Ia duduk sendirian di ruang tengah. Lampu rumah sudah dimatikan sebagian. Hanya lampu kecil di sudut ruang yang masih menyala redup. Cahayanya kuning. Hangat. Tapi tidak cukup untuk menghangatkan hatinya yang sedang menggigil oleh kenangan.
Di kamar, Danang dan anak, anak sudah terlelap.
Namun mata Sintia masih terbuka.
Pikirannya mengembara jauh. Sangat jauh.
Kembali ke masa yang selama ini berusaha ia lupakan.
Masa kecil yang tidak pernah benar, benar sembuh.
Dua puluh lima tahun lalu.
Di sebuah desa kecil di pinggiran kabupaten. Rumah kayu yang hampir roboh berdiri miring di tepi sawah.
Seorang anak perempuan berusia delapan tahun berdiri di depan pintu. Tubuhnya kurus. Kulitnya legam terbakar matahari. Rambutnya dikuncir seadanya dengan karet gelang lusuh.
Namanya Sintia.
Saat itu, ia belum mengenal apa itu kebahagiaan yang utuh. Yang ia kenal hanyalah perjuangan. Dan rasa takut. Banyak rasa takut.
Setiap pagi, ia melihat ibunya bangun sebelum matahari terbit. Memasak seadanya. Lalu pergi membantu orang, orang di sawah demi mendapatkan upah harian yang tidak seberapa.
Sementara ayahnya?
Ayahnya jarang berada di rumah.
Kalaupun pulang, hampir selalu membawa kemarahan. Nafasnya bau minuman keras. Matanya merah. Kata, katanya kasar.
Sintia kecil tidak pernah memahami mengapa ayahnya begitu mudah marah.
Ia hanya tahu satu hal: setiap kali suara langkah kaki ayahnya terdengar mendekat, jantungnya selalu berdebar ketakutan. Tubuhnya gemetar. Ia akan berlari ke kamar. Bersembunyi di balik lemari kayu yang lapuk.
Karena ia tahu.
Malam itu mungkin akan kembali diisi pertengkaran.
"Uangnya mana?" Suara ayahnya menggema di rumah kecil mereka. Keras. Menggetarkan dinding, dinding kayu yang sudah rapuh.
Ibunya yang sedang menanak nasi di dapur hanya menunduk. Tidak menjawab.
"Aku tanya, uangnya mana?!"
"Belum ada, Pak. Masih belum dibayar."
"Bohong!"
Brak!
Piring dilempar ke lantai. Pecah berkeping, keping.
Brak! Brak! Brak!
Piring demi piring. Gelas. Mangkuk. Semua yang ada di meja makan terbang dan hancur.
Sintia kecil yang sedang belajar membaca di lantai kamar langsung memeluk lututnya. Tubuhnya gemetar hebat. Ia memasukkan kepalanya di antara kedua lutut. Berusaha mengecilkan diri. Berusaha menjadi tidak terlihat.
Ia sudah hafal skenario ini.
Setelah piring pecah, biasanya akan ada teriakan.
Setelah teriakan, biasanya akan ada tangisan.
Setelah tangisan, biasanya rumah akan sunyi seperti kuburan.
Malam itu, ibunya menangis lagi.
Seperti malam, malam sebelumnya.
Seperti malam, malam yang tak pernah selesai.
Suatu hari. Ketika usianya menginjak sembilan tahun.
Peristiwa yang paling mengubah hidupnya terjadi.
Hari itu hujan deras. Sangat deras. Air menggenang di halaman rumah yang tidak beraspal.
Ayahnya pulang dengan wajah penuh amarah. Lebih dahsyat dari biasanya.
Terjadi pertengkaran besar.
Lebih besar dari apa pun yang pernah Sintia saksikan.
Ia masih mengingat setiap detailnya.
Suara bentakan yang memekakkan telinga.
Suara barang, barang yang dihantamkan ke dinding.
Suara tangisan ibunya yang memilukan.
Suara pintu kayu yang dibanting sangat keras hingga engselnya nyaris lepas.
Dan kemudian...
Sunyi.
Ayahnya pergi.
Pergi begitu saja.
Tanpa berpamitan.
Tanpa menoleh.
Tanpa memikirkan anak dan istrinya yang ditinggalkan.
Hari itu menjadi hari terakhir Sintia melihat ayahnya.
Sampai bertahun, tahun kemudian.
Sampai kini.
Sampai selamanya.
Sejak saat itu, kehidupan mereka semakin sulit.
Ibunya bekerja siang malam. Kadang mencuci pakaian tetangga. Kadang menjadi buruh tani. Kadang menjual kue keliling dengan berjalan kaki puluhan kilometer.
Apa saja dilakukan demi bertahan hidup.
Namun kehidupan tetaplah keras. Tidak kenal ampun.
Banyak malam yang mereka lalui hanya dengan nasi dan garam.
Kadang hanya dengan singkong rebus.
Bahkan beberapa kali mereka tidur dalam keadaan lapar. Perut keroncongan. Kepala pusing. Tidak ada yang bisa dilakukan selain menunggu pagi.
Sintia kecil mulai belajar satu hal: dunia tidak selalu baik. Dunia tidak berhutang kebahagiaan pada siapa pun. Dan jika ingin bertahan hidup, seseorang harus menjadi kuat. Sangat kuat. Lebih kuat dari siapa pun.
Karena tidak ada yang akan melindungimu selain dirimu sendiri.
Ketika teman, temannya bermain sepulang sekolah, Sintia membantu ibunya.
Mengangkat air dari sumur.
Mencuci piring.
Membersihkan rumah.
Mencari kayu bakar di kebun.
Ia tumbuh lebih cepat daripada usianya.
Masa kanak, kanaknya hilang sedikit demi sedikit. Berganti dengan tanggung jawab. Berganti dengan kecemasan. Berganti dengan ketakutan.
Ia takut ibunya sakit. Karena jika ibunya sakit, tidak ada yang akan bekerja. Tidak ada yang akan mencari nafkah. Mereka akan kelaparan.
Ia takut tidak punya uang sekolah. Karena guru tidak akan membiarkannya naik kelas jika SPP tidak dibayar.
Ia takut menjadi miskin selamanya. Karena kemiskinan adalah siksaan yang tidak ia ingin alami lagi.
Ia takut ditinggalkan lagi. Karena kepergian ayahnya meninggalkan luka yang tidak pernah benar, benar kering.
Ketakutan itu menumpuk.
Tahun demi tahun.
Tanpa pernah benar, benar hilang.
Saat duduk di bangku SMP, Sintia mulai dikenal sebagai anak yang keras.
Jika ada yang mengganggunya, ia melawan.
Jika ada yang meremehkannya, ia membalas.
Jika ada yang mencoba menyakitinya, ia tidak akan diam.
Banyak orang menganggapnya galak. Tidak ramah. Sulit didekati.
Padahal yang sebenarnya terjadi adalah ia sedang membangun benteng.
Benteng yang tinggi. Benteng yang tebal. Benteng yang tidak bisa ditembus siapa pun.
Benteng untuk melindungi dirinya sendiri.
Karena ia percaya: orang yang terlihat lemah akan mudah disakiti. Orang yang menunjukkan kerapuhan akan diinjak, injak. Dan Sintia tidak ingin merasakan sakit lagi. Tidak ingin direndahkan lagi. Tidak ingin menjadi korban lagi.
Ibunya pernah berkata suatu malam. Saat mereka berdua duduk di teras rumah kayu yang sudah reyot. Langit di atas mereka dipenuhi bintang.
"Kamu tidak boleh terlalu keras, Nduk."
Sintia yang sedang belajar menoleh. Wajahnya masih polos. Tapi matanya sudah berisi ketegaran yang tidak biasa untuk anak seusianya.
"Kenapa, Bu?"
"Karena hati manusia tidak bisa selalu dilindungi dengan kemarahan. Suatu saat, kamu akan bertemu seseorang yang membuatmu ingin melepas benteng itu. Dan jika kamu terlalu keras, kamu bisa kehilangan orang itu sebelum sempat memilikinya."
Saat itu Sintia tidak mengerti.
Ia masih terlalu muda.
Ia mengira ketegasan dan kemarahan adalah hal yang sama.
Ia mengira suara keras bisa menyelesaikan semua masalah.
Ia mengira jika dirinya cukup kuat, cukup tangguh, cukup galak... tidak akan ada yang bisa menyakitinya lagi.
Namun kehidupan ternyata jauh lebih rumit dari sekadar benteng dan senjata.
Tahun demi tahun berlalu.
Sintia tumbuh menjadi perempuan cantik. Mandiri. Pekerja keras. Sangat bertanggung jawab. Tidak pernah bergantung pada siapa pun.
Lalu suatu hari.
Ia bertemu Danang.
Lelaki yang berbeda dari semua laki, laki yang pernah dikenalnya.
Danang tidak suka membentak.
Tidak suka marah.
Tidak suka mempermalukan orang lain.
Ia lembut. Sabar. Penuh perhatian.
Dan yang paling penting: ia tidak takut pada benteng Sintia.
Diam, diam, perlahan, tanpa Sintia sadari... Danang mulai merobohkan benteng itu. Bata demi bata. Tembok demi tembok.
Untuk pertama kalinya sejak ayahnya pergi, Sintia merasa aman.
Benar, benar aman.
Tidak perlu berpura, pura kuat.
Tidak perlu selalu waspada.
Tidak perlu takut disakiti.
Dan karena itulah ia mencintai Danang.
Sangat mencintainya.
Mungkin terlalu mencintainya.
Sampai, sampai muncul ketakutan baru yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Ketakutan kehilangan Danang.
Ketakutan bahwa suatu hari Danang akan pergi seperti ayahnya dulu.
Ketakutan bahwa ia akan kembali sendirian.
Ketakutan bahwa benteng yang sudah ia robohkan tidak akan bisa ia bangun kembali jika Danang meninggalkannya.
Dan ketakutan itulah yang diam, diam hidup di dalam dirinya hingga sekarang.
Menjadi racun yang perlahan merusak rumah tangganya.
Tanpa ia sadari.
Tanpa Danang sadari.
Kembali ke masa kini.
Sintia masih duduk di ruang tengah.
Matanya mulai berkaca, kaca.
Cahaya lampu redup membuat bayangan di wajahnya terlihat lebih tua dari usianya.
Ia memandangi foto keluarga yang terpajang di lemari kayu jati tua peninggalan orang tuanya.
Foto dirinya. Danang. Bima. Dinda.
Keluarga kecil yang sangat ia cintai.
Perlahan, ia berjalan mendekati lemari itu. Ia memegang bingkai foto. Jari, jarinya menyentuh kaca yang sedikit berdebu.
Lalu ia berbisik. Suaranya hampir tidak terdengar.
"Aku cuma tidak mau kehilangan kalian..."
Air mata jatuh.
Pertama kali setelah sekian lama, Sintia mengakui sesuatu kepada dirinya sendiri.
Bahwa sebagian besar kemarahannya bukan berasal dari kebencian.
Bukan pula dari sifat buruk.
Melainkan dari luka lama yang belum sembuh.
Luka seorang anak kecil yang pernah ditinggalkan ayahnya.
Luka yang masih hidup sampai sekarang.
Dan tanpa ia sadari, luka itu mulai memengaruhi rumah tangganya sendiri.
Sementara di dalam kamar.
Danang membuka mata.
Sejak tadi ia belum benar, benar tidur. Ia mendengar suara tangisan pelan dari ruang tengah. Samar. Tapi cukup jelas untuk membuatnya terjaga.
Ia mendengarkan sesaat.
Lalu menghela napas panjang.
Ia ingin keluar kamar. Ingin menghampiri istrinya. Ingin bertanya ada apa. Ingin memeluknya. Ingin mengatakan bahwa semuanya akan baik, baik saja.
Tapi kakinya tidak bergerak.
Ada sesuatu yang menahannya.
Mungkin rasa lelah. Mungkin ego. Mungkin ketidakmampuan untuk menghadapi konflik lain.
Ia tidak tahu.
Yang ia tahu, ia tidak keluar kamar malam itu.
Dan ia tidak tahu bahwa malam itu, istrinya sedang berperang sendirian melawan masa lalu.
Masa lalu yang suatu hari akan menjadi kunci untuk memahami semua kemarahan yang selama ini tidak pernah ia mengerti.
BAB IV
Beban di Pundak Danang
Pagi itu langit mendung. Awan kelabu menggantung rendah. Seperti ikut merasakan beratnya beban yang sedang dipikul seseorang.
Danang berdiri di teras rumah. Di tangannya sebuah buku kecil yang sudah kusam. Sudut, sudutnya melengkung. Beberapa halaman terlepas dari jilidannya. Buku catatan keuangan keluarga.
Setiap pagi ia membukanya. Bukan karena ada banyak uang yang bisa dihitung. Justru karena uang yang tersedia selalu terasa kurang.
Matanya menelusuri angka, angka yang ditulis dengan tinta biru. Tangannya sesekali mengoreksi. Menghitung ulang. Memastikan tidak ada kesalahan.
Gaji bulan ini. Angkanya sudah tetap. Tidak berubah dalam tiga tahun terakhir.
Biaya sekolah Bima. Naik. Setiap tahun naik. Sekolah swasta tidak pernah kenal ampun.
Biaya sekolah Dinda. Juga naik. Belum lagi buku. Seragam. Ekstrakurikuler.
Listrik. Naik karena tariff adjustment. Kata pemerintah.
Air. Naik. Padahal pemakaian sama.
Belanja dapur. Naik. Semua naik. Beras, minyak, gula, telur, sayur.
Iuran lingkungan. Tetap. Syukur.
Tabungan pendidikan anak. Belum masuk bulan ini. Karena bulan lalu terpaksa diambil untuk perbaikan atap bocor.
Cicilan motor. Masih dua belas bulan lagi.
Dan berbagai kebutuhan lain yang tidak pernah berhenti datang. Tak terduga. Tak terencana. Tapi harus dibayar.
Danang menarik napas panjang. Angka, angka itu seperti tidak pernah berpihak kepadanya. Setiap kali gaji naik sedikit—meskipun jarang—kebutuhan hidup naik lebih cepat. Setiap kali ia merasa mulai stabil, selalu ada pengeluaran baru yang datang tanpa diundang.
"Mas."
Suara Sintia membuyarkan lamunannya.
Danang menoleh. Sintia berdiri di ambang pintu. Wajahnya masih segar meski baru bangun. Rambutnya diikat sederhana ke belakang. Di tangannya sebuah cangkir kopi. Asapnya mengepul tipis di udara pagi yang dingin.
"Kopi."
Danang menerima cangkir yang disodorkan istrinya. Jari, jari mereka bersentuhan sejenak. Hangat. Tapi tidak cukup untuk menghangatkan hati yang sedang beku.
"Terima kasih."
Sintia mengangguk pelan. Lalu berbalik. Kembali ke dapur.
Mereka masih belum benar, benar akrab setelah beberapa hari terakhir. Ada jarak yang tidak terlihat tapi terasa. Seperti kabut tipis yang tidak kentara, tapi cukup untuk membuat semuanya tampak suram.
Namun pagi itu tidak ada pertengkaran. Tidak ada bentakan. Tidak ada nada tinggi.
Hanya keheningan.
Keheningan yang terasa canggung.
Danang menyeruput kopinya perlahan. Hangat di lidah. Pahit. Tidak ada gula karena Sintia lupa—atau sengaja tidak menambahkan? Ia tidak tahu. Dan tidak ingin bertanya.
Satu jam kemudian.
Danang tiba di kantor. Gedung tua berlantai dua dengan cat krem yang mulai mengelupas di beberapa sudut. Mejanya di pojok ruangan. Dekat jendela yang menghadap ke jalan raya.
Belum sempat duduk dengan nyaman, telepon genggamnya berdering.
Nama yang muncul di layar membuat dadanya sesak.
Ibu.
Danang memejamkan mata sebentar. Menarik napas. Menghembuskannya. Lalu mengangkat.
"Assalamualaikum, Bu."
"Waalaikumsalam." Suara ibunya terdengar lemah. Tidak seperti biasanya. "Danang sedang kerja?"
"Iya, Bu."
"Ada waktu bicara sebentar?"
"Tentu, Bu."
Di balik telepon terdengar suara napas panjang. Seperti orang yang sedang mengumpulkan keberanian untuk mengatakan sesuatu yang sulit.
Danang mulai merasa tidak enak. Firasat buruk merayap di tengkuknya. Karena dari pengalaman, setiap kali ibunya menelepon di jam kerja, selalu ada masalah.
"Kamu ingat adikmu, Deni?"
Danang memejamkan mata. Kali ini lebih lama.
Ia sudah bisa menebak arah pembicaraan ini. Sudah terbaca. Sudah terbayang sebelumnya. Tapi mendengarnya langsung tetap saja membuat perutnya mulas.
"Iya, Bu. Masih ingat. Adik saya."
"Deni sedang ada masalah."
Masalah lagi.
Kalimat itu hampir otomatis muncul di kepala Danang. Karena selama beberapa tahun terakhir, hampir setiap masalah keluarga selalu berakhir di tempat yang sama.
Padanya.
Deni adalah adik bungsunya. Usianya tiga puluh tahun. Sudah menikah. Sudah memiliki seorang anak perempuan yang masih balita. Namun kehidupannya jauh dari kata stabil. Usaha yang dirintisnya beberapa kali gagal. Pekerjaan datang dan pergi. Keuangan selalu bermasalah.
Dan hampir setiap kali keadaan memburuk, Danang menjadi tempat terakhir untuk meminta bantuan.
"Kali ini kenapa, Bu?" suara Danang terdengar datar. Berusaha netral. Tapi nadanya sudah mengandung kelelahan yang sulit disembunyikan.
"Ia punya hutang."
Danang menghela napas. Panjang. Sangat panjang. "Hutang berapa?"
"Sepuluh juta."
Danang langsung terdiam.
Sepuluh juta.
Bukan angka kecil bagi keluarganya. Bahkan terhitung sangat besar. Di rekening tabungannya sendiri—tabungan yang ia kumpulkan setetes demi setetes selama bertahun, tahun—belum tentu tersedia sebanyak itu.
"Ibu berharap kamu bisa membantu."
Kalimat itu terdengar begitu sederhana. Diucapkan dengan nada datar. Seperti meminta tolong belikan bawang di pasar.
Namun bagi Danang, rasanya seperti sebongkah batu besar yang jatuh ke pundaknya. Menimpa. Menghimpit. Membuat ia sulit bernapas.
Ia menatap keluar jendela kantor. Jalan raya di bawah terlihat padat. Motor dan mobil saling menyundul. Manusia, manusia terburu, buru mengejar waktu.
Hujan mulai turun. Gerimis kecil. Perlahan berubah menjadi deras.
"Ibu..." Suara Danang terdengar berat. Serak. Seperti orang yang sedang menahan sesuatu. "Aku sedang berusaha."
"Aku tahu."
"Ibu juga tahu keadaanku. Sekarang. Bulan ini. Keuangan lagi tidak baik, baik saja."
"Aku tahu, Nak."
"Lalu kenapa selalu aku?" Kalimat itu keluar begitu saja. Tanpa filter. Tanpa pertimbangan. Meledak dari tempat paling dalam di hatinya.
Begitu keluar, Danang langsung menyesal.
Di ujung telepon, terjadi keheningan.
Panjang.
Sangat panjang.
Sampai, sampai Danang mengira sambungan telepon terputus.
"Aku minta maaf, Bu." Danang menunduk. Matanya terasa panas. "Maaf. Aku tidak bermaksud begitu."
"Tidak apa, apa." Suara ibunya terdengar semakin pelan. Samar. Seperti berasal dari kejauhan. "Ibu hanya tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa lagi."
Kalimat itu menusuk hati Danang.
Lebih tajam daripada pisau.
Karena ia tahu. Ibunya tidak sedang memanfaatkan dirinya. Ibunya tidak sedang mempermainkan rasa iba. Ibunya benar, benar tidak punya pilihan.
Dan justru itulah yang membuat semuanya semakin sulit.
Sepanjang hari Danang tidak bisa fokus bekerja.
Pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan yang berputar, putar seperti kaset rusak.
Bagaimana caranya mendapatkan uang sepuluh juta?
Haruskah ia mengambil pinjaman di koperasi? Bunganya berapa? Mampukah ia mencicil?
Haruskah ia menjual sesuatu? Motor? Motor satu, satunya yang ia miliki untuk berangkat kerja?
Atau menolak permintaan ibunya?
Pilihan terakhir terasa mustahil. Tidak mungkin.
Sejak ayahnya meninggal beberapa tahun lalu—lemas di pangkuan Danang setelah stroke kedua—Danang merasa dirinya memiliki tanggung jawab besar terhadap keluarga.
Bukan hanya keluarga kecilnya. Sintia. Bima. Dinda.
Tetapi juga ibu dan adik, adiknya.
Ia adalah anak sulung. Dan dalam keluarganya, anak sulung selalu dianggap sebagai tempat bersandar. Sandaran untuk bertanya. Sandaran untuk meminta. Sandaran untuk berkeluh kesah.
Masalahnya, tidak ada yang pernah bertanya apakah sandaran itu juga lelah. Apakah sandaran itu juga bisa patah.
Saat jam makan siang, Rudi duduk di sampingnya.
Dua porsi nasi kotak. Dua botol teh dingin. Tapi Danang tidak menyentuh apapun.
"Kamu kenapa?" tanya Rudi sambil membuka tutup kotak makannya.
"Masalah keluarga."
"Lagi?"
Danang tersenyum pahit. Senyum yang tidak sampai ke mata. Senyum yang sudah menjadi langganan beberapa bulan terakhir.
"Sepertinya hidupku memang paket lengkap. Tidak bisa beli per item."
Rudi tertawa kecil. Tapi tawa itu segera hilang ketika melihat wajah sahabatnya yang serius.
"Serius?"
Danang mengangguk. Lalu menceritakan semuanya. Tentang Deni. Tentang hutang. Tentang ibunya. Tentang permintaan bantuan yang tidak bisa ia tolak tapi juga tidak bisa ia penuhi.
Rudi mendengarkan sampai selesai. Tidak menyela. Tidak memotong. Hanya sesekali mengangguk.
Kemudian ia berkata, pelan.
"Kamu terlalu sering memikul semuanya sendiri."
"Aku kakaknya."
"Kamu juga manusia." Rudi menatap Danang tajam. Lurus ke mata. "Kamu punya istri. Kamu punya anak. Mereka juga tanggung jawabmu. Bukan cuma ibu dan adik, adikmu."
Danang diam.
Karena sebenarnya itulah yang paling membuatnya takut. Setiap kali membantu keluarganya, ia merasa bersalah kepada Sintia dan anak, anak. Setiap kali tidak membantu, ia merasa bersalah kepada ibu dan adiknya.
Ke mana pun ia melangkah, rasa bersalah selalu menunggu.
Seperti bayangan yang tidak bisa ia tinggalkan.
Sore menjelang. Sebelum pulang kerja, Danang membuka rekening tabungannya melalui aplikasi di ponsel.
Layar menyala.
Jumlah yang tersisa membuat dadanya semakin sesak.
Tabungan pendidikan anak.
Dana darurat keluarga.
Uang yang selama ini ia kumpulkan sedikit demi sedikit. Dari menyisihkan uang rokok. Dari lembur. Dari bonus yang tidak pernah besar.
Jika ia mengambil sebagian besar dari sana, kebutuhan Deni mungkin bisa teratasi. Namun masa depan anak, anaknya akan terganggu.
Jika ia tidak mengambilnya, ibunya akan kecewa. Dan Deni mungkin menghadapi masalah yang lebih besar. Mungkin rumahnya disita. Mungkin istrinya pulang ke rumah orang tua. Mungkin anaknya tidak bisa sekolah.
Danang menutup aplikasi itu.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa terjebak.
Malam hari.
Danang pulang lebih lambat dari biasanya. Biasanya pukul enam ia sudah di rumah. Kini pukul delapan.
Saat memasuki rumah, aroma masakan menyambutnya. Sayur asem. Tempe goreng. Sambal terasi.
Bima dan Dinda sedang belajar di ruang tengah. Buku, buku terbuka di atas meja. Dinda terlihat mengantuk. Bima sesekali menguap.
Sintia di dapur. Piring, piring sudah tersusun rapi di meja.
Pemandangan sederhana itu biasanya membuatnya tenang. Mengingatkan ia akan alasan mengapa ia bekerja keras.
Namun malam ini justru membuat hatinya semakin berat.
Karena ia sadar. Orang, orang yang ada di rumah ini bergantung padanya. Dan ia mulai takut. Takut jika suatu hari ia tidak mampu lagi menjadi sandaran mereka.
"Mas." Sintia keluar dari dapur. Wajahnya sedikit berseri. Mungkin karena ia berhasil memasak kesukaan Danang malam ini. "Kamu kelihatan capek."
Danang tersenyum tipis. "Sedikit."
"Hanya sedikit?"
Danang tertawa kecil. Untuk pertama kalinya hari itu. "Sedikit banyak."
Sintia menatap wajah suaminya. Lama. Perempuan itu mungkin dikenal galak oleh tetangga. Tapi ia cukup peka untuk menyadari ketika ada sesuatu yang tidak beres.
"Ada masalah?"
Danang membuka mulut. Ingin menjawab. Ingin bercerita. Ingin membagi beban yang selama ini ia simpan sendirian.
Tapi entah mengapa ia mengurungkan niatnya.
"Tidak ada."
Sintia mengernyit. "Yakin?"
Danang mengangguk. "Iya."
Kebohongan kecil itu terdengar sederhana. Hanya satu suku kata. Iya.
Namun tanpa disadari, itulah awal dari masalah yang lebih besar.
Karena malam itu Danang memilih memikul bebannya sendirian.
Sementara Sintia kembali merasa dijauhkan.
Dan di antara mereka, perlahan mulai tumbuh tembok tak terlihat yang semakin hari semakin tinggi.
Tembok yang dibangun oleh rahasia.
Tembok yang dibangun oleh diam.
BAB V
Mertua yang Selalu Membandingkan
Minggu pagi.
Kampung Mekarsari biasanya lebih tenang di hari Minggu. Anak, anak tidak bersekolah. Para pekerja tidak terburu, buru. Suara motor tidak sebising hari kerja.
Namun ketenangan itu tidak sepenuhnya dirasakan oleh Sintia.
Sejak bangun tidur, hatinya sudah terasa tidak nyaman. Seperti ada yang mengganjal di dada. Seperti firasat buruk yang tidak bisa ia jelaskan.
Hari itu mereka berencana mengunjungi rumah ibu Danang.
Rumah yang berada di desa sebelah. Rumah yang selalu membuat Sintia merasa seperti orang asing. Rumah yang tidak pernah benar, benar ia anggap sebagai rumahnya sendiri.
Bukan karena ia tidak menghormati mertuanya. Bukan pula karena ia tidak berusaha menjadi menantu yang baik.
Tetapi karena setiap kunjungan ke sana hampir selalu berakhir dengan perasaan yang sama. Perasaan tidak pernah cukup baik. Perasaan tidak pernah bisa memenuhi harapan. Perasaan menjadi orang yang salah di tempat yang salah.
"Sudah siap?" Danang keluar dari kamar. Mengenakan kemeja batik lengan panjang. Rambutnya disisir rapi.
Sintia yang sedang merapikan rambut Dinda mengangguk. "Sudah."
"Kalau begitu kita berangkat."
Bima langsung bersorak kecil. Anak laki, laki itu sangat menyayangi neneknya. Dinda juga terlihat senang. Mereka sudah beberapa minggu tidak berkunjung.
Hanya Sintia yang tersenyum seperlunya. Senyum formal. Senyum yang tidak melibatkan hati.
Danang memperhatikannya. "Kamu tidak enak badan?"
"Tidak."
"Tapi wajahmu tegang."
Sintia hanya menggeleng. Ia tidak ingin memulai perdebatan sejak pagi. Lagi pula, Danang pasti sudah tahu alasannya. Atau seharusnya tahu.
Perjalanan menuju rumah Bu Sulastri memakan waktu sekitar empat puluh menit.
Melewati sawah, sawah hijau. Melewati jembatan kayu yang sudah mulai lapuk. Melewati perkampungan kecil dengan anak, anak yang bermain bola di pinggir jalan.
Rumah tua bercat krem itu berdiri di tepi jalan desa. Halamannya luas. Dua pohon mangga besar tumbuh di depan rumah. Tempat yang dulu sering menjadi lokasi bermain Danang dan saudara, saudaranya ketika kecil.
Begitu mereka tiba, Bu Sulastri langsung menyambut cucu, cucunya dengan penuh kegembiraan.
"Bima! Dinda!"
Kedua anak itu langsung berlari. Memeluk nenek mereka. Wajah mereka berseri. Tawa mereka memenuhi halaman.
Bu Sulastri tertawa bahagia. Tangannya mengusap kepala Bima. Merangkul Dinda. Mencium pipi mereka bergantian.
Namun ketika pandangannya beralih kepada Sintia, senyum itu berubah.
Bukan hilang. Tidak juga menjadi cemberut.
Hanya berubah menjadi lebih formal. Lebih kaku. Seperti senyum yang diberikan pada tamu yang tidak terlalu diharapkan kedatangannya.
"Sudah datang."
Sintia mengangguk. "Iya, Bu."
"Masuklah. Lantainya baru dipel. Hati, hati licin."
Tidak ada pelukan. Tidak ada "Aduh, kurus sekali" atau "Cantik sekali baju barumu" yang biasanya diucapkan mertua pada menantu.
Tidak ada kehangatan yang sama seperti yang diberikan kepada cucu, cucunya.
Sintia sudah terbiasa. Sudah sering. Sudah berkali, kali.
Meski begitu, tetap saja terasa menyakitkan.
Di ruang tamu ternyata sudah ada tamu lain.
Mereka adalah keluarga Adi, kakak kedua Danang. Istrinya bernama Rina.
Perempuan yang selama ini selalu menjadi standar perbandingan bagi Sintia.
Rina memang ramah. Lembut. Pandai berbicara. Wajahnya selalu tersenyum. Mulutnya tidak pernah mengeluarkan kata, kata kasar. Ia adalah tipe menantu yang diidam, idamkan setiap mertua.
Bahkan Sintia sendiri mengakui hal itu. Rina baik. Tidak ada yang salah dengan Rina.
Namun masalahnya bukan pada Rina.
Masalahnya adalah bagaimana Bu Sulastri selalu menjadikan Rina sebagai ukuran untuk menilai dirinya.
"Rina tadi datang membawa kue buat Ibu." Bu Sulastri tersenyum bangga. Senyum yang tidak ia berikan pada Sintia.
"Wah enak sekali," puji Bu Sulastri sambil mengambil sepotong.
Rina tertawa kecil. "Ah, cuma kue biasa, Bu. Saya hanya ikut resep dari internet."
"Kalau dari Rina pasti enak. Bedanya sama yang beli di toko."
Sintia duduk di sudut ruangan. Diam. Tidak ikut dalam percakapan.
Ia tahu. Ia tahu ke mana arah semua ini. Ia sudah terlalu sering menjadi penonton dalam drama kecil yang sama.
Beberapa saat kemudian mereka makan siang bersama.
Meja makan panjang. Bu Sulastri di ujung. Adi dan Rina di sebelah kanan. Danang dan Sintia di sebelah kiri. Anak, anak di kursi kecil yang disediakan khusus.
Awalnya suasana berjalan normal. Anak, anak makan dengan lahap. Para lelaki membicarakan pekerjaan. Para perempuan membantu menyiapkan makanan.
Sampai akhirnya Bu Sulastri kembali memulai sesuatu yang membuat suasana berubah.
"Rina sekarang pintar sekali mengatur keuangan rumah tangga," kata Bu Sulastri sambil mengambil lauk.
Sintia yang sedang mengunyah nasi berhenti sejenak.
"Syukurlah, Bu. Bulan lalu katanya bisa membantu suaminya membeli tanah. Tanah kavling di dekat pasar."
Rina terlihat malu, malu. "Belum seberapa, Bu. Masih cicilan."
"Kalau menantu seperti itu memang membanggakan. Suami kerja, istri juga ikut membantu. Rumah tangga jadi ringan."
Danang yang duduk di dekat meja langsung melirik ibunya. Ia tahu ke mana arah pembicaraan itu. Dan ia tahu Sintia pasti merasakannya juga.
Tapi Bu Sulastri seolah tidak menyadari. Atau mungkin memang tidak peduli.
"Dulu waktu Danang menikah, Ibu berharap semua anak Ibu bisa mendapat pasangan yang pandai mengatur rumah tangga. Bukan yang... ya sudahlah."
Kalimat yang tidak selesai itu terasa lebih menyakitkan daripada jika diucapkan secara lengkap.
Ruangan mendadak sunyi.
Sintia menunduk. Tangannya mengepal di bawah meja. Kukunya hampir menusuk telapak tangan.
Bukan karena marah.
Melainkan karena berusaha menahan diri.
Ia sudah terlalu sering mendengar hal, hal seperti ini. Terlalu sering dibandingkan. Terlalu sering dianggap kurang. Terlalu sering dihakimi tanpa dimintai penjelasan.
Setelah makan siang, Sintia memilih membantu mencuci piring di dapur.
Ia ingin menjauh sejenak. Menenangkan pikirannya. Menarik napas tanpa harus mendengar suara Rina yang tertawa atau Bu Sulastri yang memuji.
Tapi Bu Sulastri tiba, tiba masuk ke dapur.
"Biarkan saja, nanti Rina yang bantu," kata Bu Sulastri.
Sintia tersenyum tipis. "Tidak apa, apa, Bu. Saya sudah biasa."
Bu Sulastri menghela napas. Berdiri di samping pintu dapur. Tangannya bersedekap di dada.
"Sebenarnya ada yang ingin Ibu bicarakan."
Sintia langsung menoleh. Tangannya berhenti mengucek piring.
"Apa, Bu?"
Bu Sulastri menyandarkan tubuhnya ke kusen pintu. Matanya menatap lantai dapur yang lembab.
"Ibu hanya ingin rumah tanggamu lebih tenang."
Sintia terdiam.
"Maksud Ibu?"
"Semua orang tahu kamu sering marah kepada Danang. Sering membentak. Sering membuat suasana rumah tidak nyaman."
Dada Sintia terasa sesak. Tangan yang memegang spons cuci piring mulai gemetar.
"Ibu tidak tahu keadaan kami."
"Sebagai orang tua, Ibu bisa melihat. Ibu juga sering mendengar cerita dari tetangga. Dari Bu Ratna. Dari Bu Minah. Mereka semua bilang..."
"Jadi Ibu lebih percaya tetangga daripada saya?" Sintia memotong. Suaranya mulai meninggi. Tidak bisa ia tahan lagi.
Bu Sulastri menggeleng. "Tidak begitu."
"Tapi Ibu selalu menganggap saya yang salah. Selalu. Sejak awal pernikahan. Tidak pernah sekali pun Ibu membela saya."
Kalimat itu keluar begitu saja. Tanpa rencana. Tanpa persiapan.
Untuk pertama kalinya selama bertahun, tahun, Sintia mengungkapkan apa yang selama ini ia pendam.
Bu Sulastri tampak terkejut. "Kenapa kamu bicara begitu?"
"Karena memang begitu yang saya rasakan. Ibu selalu membandingkan saya dengan Mbak Rina. Selalu. Di setiap kesempatan. Seolah, olah saya tidak pernah cukup baik."
"Itu hanya nasihat. Ibu hanya ingin..."
"Tidak, Bu." Suara Sintia mulai bergetar. "Itu bukan nasihat. Itu perbandingan. Dan perbandingan tidak pernah membuat orang merasa lebih baik. Perbandingan hanya membuat luka."
Bu Sulastri mulai terlihat tidak senang. Wajahnya berubah. Kerutan di dahinya semakin dalam.
"Kamu terlalu sensitif, Sintia. Ibu tidak bermaksud..."
Dan kalimat itulah yang membuat hati Sintia benar, benar terluka.
Kamu terlalu sensitif.
Kata, kata yang paling sering diucapkan oleh orang, orang yang tidak mau bertanggung jawab atas luka yang mereka ciptakan.
Karena selama ini, setiap luka yang ia rasakan selalu dianggap sebagai bentuk kelemahan semata. Tidak pernah benar, benar didengar. Tidak pernah benar, benar dipahami.
Di ruang tamu.
Danang mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres.
Suara percakapan dari dapur terdengar semakin tinggi. Kata, kata mulai terdengar jelas. "Ibu selalu membandingkan..." "Kamu terlalu sensitif..."
Lalu mendadak hening.
Beberapa menit kemudian, Sintia keluar dari dapur.
Wajahnya tenang. Terlalu tenang.
Danang mengenal istrinya. Semakin tenang wajahnya, biasanya semakin besar badai yang sedang ia tahan di dalam hati.
"Kita pulang."
Danang terkejut. "Sekarang?"
"Iya."
"Tapi baru sebentar. Belum main, main sama Bima dan Dinda."
"Aku ingin pulang. Sekarang."
Nada suaranya tidak tinggi. Tidak keras. Justru pelan. Sangat pelan.
Tapi justru itulah yang membuat Danang memahami bahwa tidak ada gunanya membantah.
Perjalanan pulang berlangsung dalam keheningan.
Bima dan Dinda tertidur di kursi belakang. Kelelahan setelah bermain seharian di rumah nenek.
Sementara Danang dan Sintia duduk di depan. Tidak berbicara. Tidak saling pandang.
Hanya suara mesin motor dan suara angin yang menemani.
Hingga akhirnya Danang memecah kesunyian.
"Ibu bilang apa?"
Sintia menatap jalan di depan. Matanya kosong.
"Seperti biasa."
"Maksudnya?"
"Membandingkan aku dengan orang lain. Lagi."
Danang menghela napas. "Ibu tidak bermaksud jahat, Sintia. Ibu hanya..."
"Selalu itu jawabanmu." Suara Sintia pahit. Sangat pahit. "Selalu. Setiap kali. Tidak pernah berubah."
"Aku hanya mencoba memahami semuanya. Posisi Ibu. Posisi kamu. Posisi..."
"Dan kapan kamu mencoba memahami aku?"
Pertanyaan itu melesat. Cepat. Tajam.
Danang langsung terdiam.
Pertanyaan itu menghantamnya lebih keras daripada kemarahan apa pun. Lebih keras daripada bentakan. Lebih keras daripada tangisan.
Karena jauh di dalam hati, ia tahu.
Mungkin selama ini Sintia benar.
Ia terlalu sering berusaha menjadi penengah. Terlalu sering berusaha menyenangkan semua orang. Terlalu sering berusaha menjadi anak yang baik, suami yang baik, kakak yang baik.
Sampai lupa membela orang yang paling dekat dengannya.
Istrinya sendiri.
Sore itu mereka tiba di rumah tanpa banyak bicara.
Namun jauh di dalam hati masing, masing, luka baru telah tercipta.
Bagi Sintia, kunjungan itu kembali mengingatkannya bahwa dirinya belum pernah benar, benar diterima. Bahwa sekeras apa pun ia berusaha, ia tidak akan pernah cukup baik di mata mertuanya.
Bagi Danang, hari itu menjadi awal kesadaran bahwa konflik antara ibunya dan istrinya jauh lebih dalam daripada yang selama ini ia kira. Bahwa "nasihat" ibunya selama bertahun, tahun bukanlah nasihat. Itu adalah luka yang perlahan menumpuk.
Sementara di rumah Bu Sulastri, sang ibu juga duduk termenung di kamarnya.
Ia merasa hanya memberikan nasihat. Hanya ingin yang terbaik untuk anaknya. Hanya ingin menantu yang bisa membuat rumah tangga Danang tenang.
Namun ia tidak menyadari bahwa kata, katanya selama bertahun, tahun telah berubah menjadi luka.
Luka yang perlahan menumpuk.
Luka yang suatu hari nanti akan meledak menjadi konflik besar dalam keluarga mereka.
BAB VI
Api dalam Sekam
Sudah tiga hari sejak mereka pulang dari rumah Bu Sulastri.
Tiga hari yang dipenuhi keheningan.
Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada bentakan. Tidak ada nada tinggi.
Namun justru itulah yang membuat keadaan terasa semakin tidak nyaman.
Karena kadang, kadang, diam jauh lebih menakutkan daripada kemarahan. Diam adalah senyap sebelum badai. Diam adalah jeda sebelum ledakan. Diam adalah abu yang masih menyimpan bara.
Malam itu Danang baru saja selesai makan. Piring kosong masih tergeletak di meja. Ia sedang membaca koran lama—karena tidak ada yang baru, dan tidak ada yang ingin ia bicarakan.
Telepon genggamnya berdering.
Nama yang muncul di layar membuatnya langsung duduk tegak.
Bu Sulastri.
Danang menghela napas. Membuang muka sebentar. Seperti orang yang hendak menerima pukulan.
"Assalamualaikum, Bu."
"Waalaikumsalam." Suara ibunya terdengar datar. Tidak seperti biasanya. Tidak ada kehangatan. Tidak ada basa, basi. Langsung ke inti. "Istrimu marah kepada Ibu?"
Danang memejamkan mata. Pertanyaan yang selama ini ia khawatirkan akhirnya datang juga. Pertanyaan yang tidak pernah ia tahu harus dijawab bagaimana.
"Tidak, Bu."
"Jangan bohong, Danang. Ibu tahu. Rina cerita kepada Ibu. Katanya Sintia merasa Ibu selalu membanding, bandingkan dia."
Danang menatap kosong ke depan. Tembok ruang tamu yang hanya berjarak dua meter dari tempat duduknya terasa seperti cermin yang memantulkan semua kegagalannya.
Masalah yang sebenarnya hanya terjadi di dapur—di antara panci dan wajan, di antara spons cuci piring dan sabun colek—kini mulai menyebar ke seluruh keluarga. Persis seperti yang ia takutkan.
"Ibu tidak pernah berniat menyakiti siapa pun, Bu. Saya tahu itu."
"Saya tahu, Bu."
"Tapi kalau memang dia merasa begitu, kenapa tidak bicara baik, baik? Kenapa harus marah, marah? Kenapa harus sampai meninggalkan acara keluarga?"
Danang mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Lelah. Begitu lelah.
Karena kenyataannya, Sintia sudah bicara. Di dapur. Wajahnya pucat. Suaranya bergetar. Matanya berkaca, kaca.
Sintia sudah bicara.
Hanya saja, tidak ada yang benar, benar mendengarkan.
"Ibu hanya ingin yang terbaik untuk kalian, Nak."
"Iya, Bu."
"Kalau dia terus seperti itu—keras kepala, pemarah, tidak mau mendengar nasihat—bagaimana rumah tangga kalian bisa tenang? Bagaimana anak, anak bisa tumbuh dengan baik?"
Kalimat itu membuat Danang semakin tertekan. Seolah, olah semua masalah selalu berujung pada satu kesimpulan. Satu tersangka. Satu kambing hitam.
Sintia yang salah.
Sintia yang terlalu keras.
Sintia yang terlalu emosional.
Sintia yang tidak bisa menjaga perasaannya.
Padahal Danang tahu. Masalah mereka jauh lebih rumit daripada itu. Ada luka lama yang belum sembuh. Ada ketakutan yang tidak pernah diucapkan. Ada beban yang terlalu berat dipikul sendirian.
Tapi bagaimana ia bisa menjelaskan semua itu kepada ibunya? Kepada Rina? Kepada tetangga, tetangga yang hanya melihat dari luar?
Ia tidak bisa.
Maka ia hanya diam.
Setelah telepon berakhir, Danang meletakkan ponselnya perlahan. Di atas meja. Menghadap ke bawah. Seolah ia tidak ingin melihat layarnya lagi.
Ia menghela napas panjang. Sangat panjang. Hingga dadanya terasa kosong.
Sintia keluar dari dapur. Tangannya masih basah. Ada bekas busa sabun di pergelangannya.
Matanya langsung menatap Danang. Tajam. Mencari.
"Ibu?"
Danang mengangguk. Tidak bisa berbohong. Tidak mau berbohong. Meskipun kadang bohong terasa lebih mudah.
"Apa kata beliau?"
Danang ragu menjawab. Lidahnya terasa berat.
"Tidak sepenuhnya tentang kamu."
Sintia tersenyum kecil. Senyum yang sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan. Senyum yang pahit. Senyum yang terasa seperti garam di atas luka.
"Jadi benar. Pasti tentang aku."
"Sintia..."
"Hebat." Suaranya pelan. Tapi terdengar seperti pecahan kaca yang diinjak telanjang. "Selalu begitu."
"Sintia, dengarkan dulu. Ibu hanya..."
"Aku sudah terlalu sering mendengar, Danang." Suaranya tidak tinggi. Tidak keras. Tapi justru itulah yang membuat Danang kehilangan kata, kata. "Sudah bertahun, tahun. Puluhan kali. Ratusan mungkin. Aku sudah hafal."
Danang menatap istrinya. Lama.
Untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang berbeda di mata Sintia. Bukan kemarahan. Bukan kebencian. Bukan juga kekecewaan yang biasa ia lihat.
Melainkan kelelahan.
Kelelahan yang sangat dalam.
Kelelahan yang membuat ia ingin berhenti.
Dan Danang tidak tahu harus berkata apa.
Keesokan harinya.
Masalah semakin melebar.
Bu Ratna—perempuan yang tidak pernah kehabisan bahan gosip—entah mendapatkan informasi dari mana, mulai membicarakan perselisihan itu kepada tetangga. Satu. Dua. Tiga orang. Lalu sepuluh. Lalu seluruh kampung.
Dalam hitungan jam, hampir seluruh Kampung Mekarsari memiliki versi cerita masing, masing.
Ada yang mengatakan Sintia membentak mertuanya sampai menangis.
Ada yang mengatakan Sintia tidak menghormati orang tua.
Ada yang mengatakan Sintia melarang Danang berkunjung ke rumah ibunya.
Ada yang mengatakan rumah tangga Danang sedang di ambang kehancuran.
Sebagian besar cerita itu tidak benar. Bahkan tidak mendekati kebenaran.
Namun gosip tidak pernah membutuhkan kebenaran untuk berkembang. Gosip hanya butuh satu hal: orang yang mau mendengarkan. Dan di kampung kecil seperti Mekarsari, pendengar selalu tersedia. Selalu ada. Tidak pernah kehabisan stok.
Sore hari.
Sintia pergi ke warung untuk membeli cabai dan bawang. Kebutuhan dapur yang mendadak habis.
Saat ia memasuki warung milik Bu Minah, suasana langsung berubah.
Beberapa ibu, ibu yang sedang berbincang tiba, tiba diam. Senyuman mereka terasa berbeda. Sapaan mereka terasa aneh. Ada yang tersenyum canggung. Ada yang pura, pura tidak melihat. Ada yang langsung menunduk dan sibuk dengan ponsel masing, masing.
Sintia tidak bodoh.
Ia tahu apa yang sedang terjadi.
Ia tahu bahwa di balik senyum, senyum itu, ada cerita, cerita yang sedang berkembang. Ada asumsi, asumsi yang sedang dibangun. Ada penghakiman yang sedang berlangsung tanpa pengadilan.
Ia tahu dirinya sedang menjadi bahan pembicaraan.
Lagi.
Seperti selama ini.
Sejak menikah dengan Danang. Sejak pindah ke kampung ini. Sejak suara kerasnya dikenal oleh semua orang.
Namun kali ini rasanya lebih menyakitkan.
Karena yang dibicarakan bukan hanya dirinya. Bukan hanya kemarahannya. Bukan hanya kegalakannya.
Melainkan keluarganya. Rumah tangganya. Anak, anaknya.
Dan itu adalah batas yang tidak boleh dilewati.
Malam itu.
Ketika anak, anak sudah tidur—Bima dengan buku pelajaran masih terbuka di dadanya, Dinda dengan boneka kesayangan yang selalu ia peluk—pertengkaran yang selama ini tertunda akhirnya terjadi.
Awalnya sederhana. Sangat sederhana.
Danang mencoba menjelaskan bahwa ibunya tidak bermaksud buruk. "Ibu hanya khawatir, Sintia. Ibu hanya ingin kita baik, baik saja. Cara beliau mungkin salah, tapi niatnya..."
Sintia memotong. "Niatnya apa? Niatnya baik? Niatnya menyelamatkan pernikahan kita? Niatnya ingin aku berubah?" Suaranya pahit. "Danang, niat yang baik tidak menghapus luka. Niat yang baik tidak mengubah kata, kata yang sudah terucap. Niat yang baik tidak membuat perbandingan itu tidak terasa menyakitkan."
"Aku hanya ingin kamu memahami posisi Ibu, Sintia."
"Dan aku ingin kamu memahami posisiku, Danang." Suara Sintia meninggi sedikit. Tidak banyak. Cukup untuk membuat suasana berubah. "Aku ini istrimu. Bukan musuhmu. Bukan orang yang harus selalu kamu hadapi."
"Aku paham, Sintia."
"Tidak." Sintia menggeleng. Matanya mulai berkaca, kaca. "Kalau paham, kamu tidak akan selalu membela beliau. Setiap kali. Di mana pun. Kapan pun. Bahkan ketika beliau salah. Bahkan ketika beliau memperlakukan aku seperti orang asing di rumahnya sendiri."
"Aku tidak membela siapa pun, Sintia. Aku hanya mencoba membuat semuanya baik, baik saja. Buat Ibu. Buat kamu. Buat anak, anak. Buat semua orang."
"Nah itu masalahnya."
Danang mengernyit. "Apa?"
"Kamu selalu ingin semua orang bahagia. Semua orang. Sampai, sampai kamu lupa bahwa kamu sendiri tidak bahagia."
"Apa salahnya?"
"Tidak ada. Tidak ada yang salah dengan menjadi baik, Danang." Sintia menatap suaminya. Lembut. Tapi tajam. "Tapi kamu lupa bahwa tidak semua orang bisa disenangkan sekaligus. Dan dengan berusaha menyenangkan semua orang, kamu malah tidak menyenangkan siapa pun. Termasuk dirimu sendiri."
Danang terdiam.
Karena jauh di dalam hati, ia tahu Sintia benar. Selama ini ia selalu berusaha menjadi anak yang baik untuk ibunya. Suami yang baik untuk Sintia. Kakak yang baik untuk Deni. Ayah yang baik untuk Bima dan Dinda.
Namun dalam prosesnya, ia mulai kehilangan dirinya sendiri.
Dan ketika seseorang kehilangan dirinya sendiri, ia tidak bisa menjadi baik untuk siapa pun.
"Aku capek, Danang."
Suara Sintia bergetar. Bukan karena marah. Bukan karena teriak. Melainkan karena hampir menangis. Air mata sudah menggenang di ujung matanya. Siap jatuh kapan saja.
"Aku benar, benar capek. Capek berusaha. Capek menjelaskan. Capek menjadi orang yang selalu salah di mata semua orang."
Danang menatap istrinya.
Lama.
Sangat lama.
Matanya menelusuri wajah yang dulu selalu ia lihat dengan penuh cinta. Wajah yang dulu selalu tersenyum ketika ia pulang kerja. Wajah yang dulu tidak memiliki kerutan, kerutan kecemasan di sudut matanya.
"Aku juga capek, Sintia."
Jawaban itu keluar begitu saja. Jujur. Apa adanya. Tanpa topeng. Tanpa kamuflase.
Untuk sesaat mereka berdua saling menatap.
Dua orang yang sama, sama lelah.
Dua orang yang sama, sama terluka.
Namun tidak tahu bagaimana cara saling menyembuhkan.
Di rumah Bu Sulastri, pada malam yang sama.
Rina sedang berbincang dengan mertuanya di ruang tamu. Televisi menyala pelan. Tapi tidak ada yang benar, benar menonton.
"Apa Sintia memang marah besar, Bu?" tanya Rina.
Bu Sulastri menghela napas. Tangannya memegang cangkir teh yang sudah dingin. "Ibu tidak tahu lagi, Rin. Ibu hanya ingin keluarga ini tenang. Tapi sepertinya apa yang Ibu lakukan selalu salah di matanya."
Rina terdiam sejenak. Memilih kata, kata.
"Sebenarnya, Bu... Sintia tidak seburuk yang orang, orang pikirkan. Saya sudah beberapa kali berbicara dengannya. Dia baik. Hanya saja cara dia mengekspresikan perasaan berbeda dengan kita."
Bu Sulastri menoleh. Alisnya naik. "Kamu membelanya?"
Rina tersenyum tipis. "Saya hanya mencoba adil, Bu. Saya tidak ingin memihak siapa pun. Saya hanya berpikir... mungkin selama ini Sintia hanya ingin didengar. Bukan dinasihati. Bukan dibandingkan. Hanya didengar."
Kalimat itu membuat Bu Sulastri terdiam.
Untuk pertama kalinya, seseorang—bahkan menantu kesayangannya sekalipun—mengajak dirinya melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda.
Namun luka yang sudah terlanjur terbentuk tidak mudah dihapus hanya dengan satu percakapan. Dan keretakan yang sudah terjadi tidak mudah diperbaiki hanya dengan satu permintaan maaf.
Malam semakin larut.
Hujan kembali turun. Rintik, rintik kecil yang jatuh di atas atap seng. Suara berisik yang anehnya justru membuat suasana semakin sunyi.
Di rumah Danang, lampu kamar masih menyala.
Danang dan Sintia tidur membelakangi satu sama lain. Punggung mereka berjarak beberapa sentimeter. Tapi terasa seperti ribuan kilometer.
Tak ada percakapan.
Tak ada pelukan.
Tak ada kata maaf.
Yang ada hanya pikiran, pikiran yang terus berputar di kepala masing, masing. Seperti rekaman rusak yang tidak bisa berhenti. Seperti kipas angin yang tidak bisa dimatikan.
Dan tanpa mereka sadari, api yang selama ini hanya berupa sekam mulai menemukan bahan bakarnya.
Konflik antara menantu dan mertua bukan lagi sekadar persoalan perasaan. Bukan lagi sekadar ego yang tidak mau mengalah.
Kini keluarga besar mulai terlibat. Tetangga mulai ikut berbicara. Gosip mulai menyebar. Pihak, pihak mulai memilih kubu.
Danang mulai terjepit di tengah. Tidak bisa ke kiri karena ibunya. Tidak bisa ke kanan karena istrinya.
Sementara Sintia semakin merasa sendirian. Tidak ada yang membelanya. Tidak ada yang mendengarkannya. Tidak ada yang mencoba memahami ceritanya dari sudut pandangnya.
Bara itu masih kecil.
Tapi setiap hari terus membesar.
Setiap hari semakin panas.
Setiap hari semakin dekat dengan api yang sesungguhnya.
BAB VII
Saudara yang Datang Membawa Masalah
Pagi itu matahari baru saja naik. Sinar keemasannya masih tipis. Burung, burung kecil mulai berkicau di ranting pohon mangga depan rumah.
Danang duduk sendirian di teras. Secangkir kopi hitam berada di hadapannya. Uapnya sudah tidak mengepul lagi. Kopi itu sudah dingin.
Sejak tadi ia tidak menyentuhnya.
Pikirannya masih dipenuhi berbagai persoalan yang belum menemukan jalan keluar. Seperti simpul tali yang semakin ditarik semakin kencang.
Hubungannya dengan Sintia belum benar, benar membaik. Masih ada jarak. Masih ada kecanggungan. Masih ada kata, kata yang belum diucapkan.
Masalah dengan Bu Sulastri masih menggantung. Belum selesai. Bahkan mungkin tidak akan pernah selesai.
Dan yang paling berat, permintaan bantuan dari Deni belum juga mendapat jawaban. Sudah seminggu. Deni pasti sudah sangat cemas. Mungkin tidak bisa tidur. Mungkin istrinya sudah mulai bertanya, tanya.
Selama beberapa hari terakhir, Danang sengaja menunda keputusan.
Bukan karena ia tidak peduli kepada adiknya.
Justru karena terlalu peduli.
Ia tahu sekali bagaimana kehidupan Deni akhir, akhir ini. Usaha kecil yang dijalankannya—warung kelontong di pinggir jalan—beberapa kali gagal. Modal habis. Hutang bertambah. Pemasukan tidak tetap. Pengeluaran terus mengalir.
Sementara istri Deni—seorang perempuan sabar yang tidak pernah mengeluh—tetap setia meski kadang hanya ada nasi dan tempe di meja makan. Anak mereka yang masih balita tidak mengerti apa, apa. Ia hanya tertawa ketika diajak bermain.
Namun di sisi lain, Danang juga tahu keadaan keluarganya sendiri.
Tabungan mereka tidak banyak. Bahkan jika dihitung, hitung, sangat sedikit untuk standar keluarga dengan dua anak sekolah.
Biaya sekolah Bima dan Dinda terus meningkat setiap tahun. Buku. Seragam. SPP. Les. Kegiatan ekstrakurikuler. Tidak ada yang gratis.
Kebutuhan rumah tangga semakin besar. Harga beras naik. Harga minyak naik. Harga telur naik. Hampir semua kebutuhan pokok merangkak naik seperti ulat yang tidak bisa dihentikan.
Dan ia belum menemukan cara bagaimana memenuhi semuanya sekaligus. Tidak ada rumus ajaib. Tidak ada bantuan dari langit. Hanya keringat dan kerja keras yang tidak pernah cukup.
Telepon genggamnya berdering.
Nama Deni muncul di layar.
Danang memejamkan mata sesaat. Menarik napas. Menghembuskannya. Seperti seorang petinju yang hendak menerima pukulan.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Mas."
Suara Deni terdengar lemah. Samar. Seperti orang yang sudah kehabisan harapan. Seperti orang yang tidak lagi percaya bahwa keadaan bisa membaik.
"Bagaimana kabarmu, Den?"
"Baik, Mas." Jawaban itu terlalu cepat. Terlalu singkat. Terlalu rapi.
Danang tahu adiknya sedang berbohong. Orang yang baik, baik saja tidak akan menelepon sepagi ini. Orang yang baik, baik saja tidak akan bertanya kabar dengan suara yang hampir berbisik.
"Kamu adikku. Tidak usah bicara yang aneh, aneh."
"Tapi aku selalu merepotkan, Mas." Suara Deni mulai bergetar. "Sejak kecil. Sampai sekarang. Aku tidak pernah bisa membalas kebaikan Mas."
Kalimat itu membuat Danang merasa bersalah. Meski dalam hati ia mengakui bahwa ada benarnya. Sejak beberapa tahun terakhir, hampir setiap masalah keluarga memang berakhir di pundaknya.
Tapi mendengar Deni mengatakannya secara langsung—mendengar adiknya mengaku sebagai beban—tetap terasa menyakitkan.
"Ada apa, Den? Cerita saja. Jangan dipendam."
Deni menarik napas panjang. Panjang sekali. Seperti orang yang hendak menyelam ke laut yang sangat dalam.
"Orang yang meminjamkan uang kepadaku datang lagi kemarin, Mas. Bukan hanya satu orang. Empat orang. Mereka datang ke rumah. Wajah mereka marah. Suara mereka keras. Istriku sampai menangis ketakutan."
Jantung Danang berdetak lebih cepat. Dadanya terasa sesak. "Lalu? Mereka minta apa?"
"Mereka memberi waktu seminggu, Mas. Hanya seminggu." Suara Deni bergetar hebat. "Kalau tidak... mereka mengancam akan menyita motor dan isi rumah. Semua. Motor yang aku pakai untuk cari nafkah. Lemari. Meja. Kursi. Bahkan tempat tidur anakku."
Danang menutup mata. Kepalanya pusing. Semua terasa berputar.
Sepanjang pagi itu Danang tidak bisa berkonsentrasi.
Setiap kali membuka komputer, bayangan wajah Deni terus muncul. Wajah adiknya yang dulu selalu tertawa ketika kecil. Wajah yang sekarang cekung dan penuh kecemasan.
Ia teringat masa kecil mereka. Saat ayah masih hidup. Saat mereka masih tinggal di rumah orang tua yang sederhana.
Mereka berdua tidur di kamar yang sama. Ranjang susun. Deni di bawah. Danang di atas. Setiap malam, sebelum tidur, mereka bercerita. Tentang cita, cita. Tentang sekolah. Tentang teman, teman.
Mereka bermain bola di lapangan desa. Danang sebagai kiper. Deni sebagai striker. Deni selalu berteriak minta dioper. Danang selalu mengumpan.
Deni yang masih kecil—masih berusia lima tahun, dengan gigi susu yang ompong—selalu mengikuti ke mana pun Danang pergi. Ke sawah. Ke sungai. Ke warung kopi. Deni seperti bayangan yang tidak pernah lelah.
Sebagai anak sulung, Danang sudah terbiasa melindungi adiknya.
Dan kebiasaan itu tidak pernah hilang. Bahkan ketika mereka sudah dewasa. Bahkan ketika masing, masing sudah memiliki keluarga sendiri. Bahkan ketika usia sudah tidak lagi muda.
Siang hari.
Rudi kembali menemukan Danang sedang melamun di depan meja kerja. Layar komputernya menyala. Tapi Danang tidak melihatnya. Matanya kosong. Jauh. Membayangkan sesuatu yang tidak terlihat.
"Kamu seperti orang kehilangan arah," kata Rudi sambil duduk di kursi sebelah.
Danang tersenyum hambar. "Mungkin memang begitu."
Rudi menepuk pundaknya. Tidak terburu, buru. Sabar. "Apa lagi sekarang? Cerita. Jangan dipendam sendiri."
Danang menceritakan ancaman yang diterima Deni. Detail. Panjang lebar. Tentang hutang. Tentang penyitaan. Tentang istri dan anak Deni yang ketakutan. Tentang rasa malu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata, kata.
Rudi mendengarkan sampai selesai. Tidak menyela. Tidak memotong. Hanya sesekali mengangguk.
Kemudian ia menggeleng pelan. Wajahnya serius. Tidak ada tawa. Tidak ada candaan.
"Kamu tidak bisa terus menyelesaikan semua masalah keluargamu, Dan. Ada batasnya. Ada waktunya. Ada saatnya kamu harus berkata 'tidak'."
"Aku tahu."
"Tapi?"
"Tapi dia adikku, Rud." Danang menatap sahabatnya. Matanya memohon pengertian. "Dia adikku. Satu, satunya adik laki, laki yang aku miliki. Aku tidak tega melihat dia kehilangan segalanya."
Rudi menghela napas panjang. Seperti seorang guru yang sudah lelah mengajari murid yang keras kepala.
"Dan kamu juga suami. Kamu juga ayah. Keluargamu sendiri—Sintia, Bima, Dinda—mereka juga tanggung jawabmu. Jangan lupa itu. Jangan korbankan mereka hanya karena rasa bersalahmu kepada adikmu."
Danang kembali diam.
Karena kalimat Rudi benar. Sangat benar. Dan justru karena kebenarannya itulah ia terasa semakin menyakitkan.
Sore hari.
Deni datang ke rumah. Tanpa memberi tahu. Tanpa telepon lebih dulu.
Wajahnya tampak lebih kurus dibanding beberapa bulan lalu. Tulang pipinya menonjol. Matanya cekung. Lingkaran hitam di bawah matanya menunjukkan ia kurang tidur bermalam, malam.
Bajunya kusut. Seperti sudah dua hari tidak diganti. Sandal jepitnya sudah hampir putus. Satu bagian sudah disobek dengan lakban hitam.
Sintia membuka pintu. Ia terkejut. Tidak menyangka.
"Deni?"
"Assalamualaikum, Mbak."
"Waalaikumsalam." Sintia mempersilakan masuk. Suaranya sopan. Meski hubungan mereka tidak terlalu dekat—Deni jarang berkunjung, Sintia jarang bertanya—ia tetap menghormatinya sebagai adik ipar.
Namun begitu melihat kondisi Deni, firasat buruk mulai muncul di benak Sintia.
Karena biasanya, Deni hanya datang ketika ada masalah.
Dan firasat itu ternyata benar.
Ketika Danang pulang kerja sekitar satu jam kemudian, ia menemukan adiknya sedang duduk di ruang tamu. Wajah Deni pucat. Tangan Deni menggenggam erat cangkir teh yang disodorkan Sintia—meski tehnya sudah tidak panas lagi.
"Deni?"
Deni langsung berdiri. Tampak sedikit lega. Seperti orang yang akhirnya bertemu dengan satu, satunya harapan.
"Mas."
Danang tahu. Sesuatu pasti serius. Sangat serius.
Karena Deni bukan tipe orang yang mudah menunjukkan kesedihan di depan orang lain. Deni adalah adik yang selalu tersenyum. Selalu bilang "aku baik, baik saja" meski keadaan sedang hancur.
Jika Deni datang ke rumah dengan wajah sekurus itu, dengan mata semerah itu... berarti keadaan sudah sangat buruk.
Malam itu mereka duduk bertiga di ruang tengah.
Lampu ruangan terasa redup. Padahal tidak ada yang mati. Hanya saja suasana yang membuat segalanya terasa gelap.
Untuk pertama kalinya, Deni menceritakan semuanya secara rinci. Tanpa ditutup, tutupi. Tanpa basa, basi. Tanpa rasa malu—karena rasa malu sudah tidak berarti lagi ketika perut anakmu lapar.
Tentang usaha yang gagal. Bukan sekali. Tiga kali. Berturut, turut.
Tentang hutang yang terus bertambah. Bunganya mencekik. Seperti ular yang melilit leher dan semakin lama semakin kencang.
Tentang ancaman penyitaan. Motor. Isi rumah. Bahkan pintu rumah.
Tentang rasa takut yang selama ini ia sembunyikan di balik senyum. Di balik jawaban "baik, baik saja" setiap kali Danang bertanya kabar.
"Aku sudah mencoba mencari pinjaman ke mana, mana, Mas. Ke tetangga. Ke kerabat. Ke bank. Ke koperasi. Ke rentenir. Tidak ada yang mau membantu. Mereka semua bilang tidak punya uang. Atau mereka sudah muak melihat aku yang selalu gagal."
Suara Deni bergetar. Hampir pecah.
"Aku benar, benar tidak tahu harus bagaimana lagi, Mas. Aku sudah sampai di ujung. Tidak ada jalan lain. Tidak ada pilihan lain. Hanya Mas tempatku berharap."
Untuk pertama kalinya, Deni menundukkan kepala. Hampir menyentuh pangkuannya.
Matanya memerah.
Bahu nya berguncang pelan.
"Aku malu, Mas. Malu sekali. Aku ini adik laki, laki. Seharusnya aku yang membantu Mas. Bukan sebaliknya."
Ruangan mendadak sunyi.
Hanya suara kipas angin yang terdengar berputar perlahan. Berputar, putar. Tanpa tujuan. Seperti kehidupan Deni belakangan ini.
Sintia menatap adik iparnya.
Sebagai manusia, ia merasa iba. Sangat iba. Deni tidak jahat. Deni tidak malas. Deni hanya tidak beruntung. Dan hidup sering kali tidak adil.
Namun sebagai seorang istri dan ibu, ia juga tidak bisa mengabaikan kenyataan.
Keuangan keluarganya sendiri sedang tidak baik, baik saja.
Bahkan jika jujur, keadaan mereka hampir sama seperti Deni. Hanya saja Danang masih punya pekerjaan. Dan itu membuat segalanya terlihat lebih baik dari yang sebenarnya.
Tabungan pendidikan anak, anak terbatas. Bahkan jika dihitung, hitung, mungkin tidak cukup jika ada keadaan darurat.
Kebutuhan rumah tangga semakin besar. Setiap hari ada saja yang harus dibeli. Setiap minggu ada saja tagihan yang harus dibayar.
Mereka bahkan belum melunasi cicilan motor bulan ini. Karena uangnya terpakai untuk perbaikan atap rumah.
Jika membantu Deni dalam jumlah besar—dalam jumlah yang diminta Deni—dampaknya akan langsung dirasakan oleh keluarganya sendiri.
Makan mungkin masih cukup. Tapi untuk biaya sekolah? Untuk biaya kesehatan? Untuk kebutuhan mendadak?
Sintia tidak tahu.
Dan itu membuatnya berada dalam posisi yang sulit. Sangat sulit. Tidak ada pilihan yang baik. Hanya ada pilihan yang kurang buruk.
"Mau minum dulu, Den? Atau makan? Kamu pasti belum makan malam."
Sintia akhirnya memecah keheningan. Suaranya lembut. Tidak seperti biasanya. Karena ia tahu, saat ini bukan saatnya untuk marah. Bukan saatnya untuk bersikap keras.
Deni mengangguk. Matanya masih basah.
"Terima kasih, Mbak. Maaf merepotkan."
Saat Sintia pergi ke dapur, Deni menatap kakaknya.
"Mas."
"Hm?"
"Kalau memang tidak bisa membantu, tidak apa, apa. Sungguh. Aku tidak mau Mas dan Mbak Sintia ikut, ikutan susah karena aku."
Deni tersenyum. Senyum pahit yang tidak sampai ke mata.
"Aku hanya tidak mau menjadi beban. Sudah cukup aku saja yang menderita. Tidak usah Mas ikut."
Kalimat itu membuat hati Danang semakin berat. Terasa seperti ada batu besar yang diletakkan di dadanya. Karena ia tahu Deni tidak berbohong. Deni benar, benar sudah pasrah.
Malam semakin larut.
Setelah Deni pulang—dengan langkah gontai, dengan bahu yang terkulai—Danang dan Sintia masih duduk di ruang tengah. Lampu masih menyala. Televisi mati. Kipas angin masih berputar.
Tidak ada yang berbicara selama beberapa menit.
Akhirnya Sintia membuka suara.
"Kamu mau membantunya?"
Danang mengangguk pelan. Seperti orang yang sudah tidak punya pilihan lain.
"Iya."
"Berapa?"
Danang menunduk. Hampir tidak berani menatap mata istrinya.
"Sekitar sepuluh juta."
Sintia langsung terdiam.
Sepuluh juta.
Angka itu terasa seperti petir yang menyambar di tengah malam. Keras. Tiba, tiba. Menghancurkan.
"Sepuluh juta, Danang? Itu hampir semua tabungan kita."
"Aku tahu."
"Danang..." Suara Sintia mulai berubah. Bukan marah. Bukan meninggi. Tapi ada getaran di sana. Getaran yang menunjukkan bahwa ia sedang berusaha keras menahan diri. "Kamu tahu uang itu untuk apa?"
"Aku tahu. Itu tabungan pendidikan anak, anak. Tabungan darurat keluarga. Tabungan yang selama ini kita kumpulkan sedikit demi sedikit."
"Lalu?"
Danang memejamkan mata. Keningnya berkerut. Tangannya mengepal.
Karena sebenarnya ia tidak memiliki jawaban yang benar. Yang ada hanyalah dua pilihan. Dan keduanya sama, sama menyakitkan.
"Aku tidak tega melihat Deni kehilangan segalanya, Tin. Dia sudah jatuh. Jatuh berkali, kali. Jika ini bisa membantunya bangkit lagi..."
"Tapi ini bukan uang kita, Danang. Ini uang Bima. Ini uang Dinda. Ini uang untuk masa depan mereka."
"Aku tahu."
"Kita juga punya keluarga. Kita juga punya anak. Mereka adalah tanggung jawabmu. Tanggung jawab kita."
Danang tidak menjawab.
Karena kalimat itu benar. Sangat benar.
Dan justru karena kebenarannya itulah, ia tidak bisa berkata apa, apa.
Malam itu berakhir tanpa keputusan.
Tidak ada kesepakatan. Tidak ada kata sepakat. Hanya ada keheningan yang lebih berat dari sebelumnya.
Namun sesuatu telah berubah.
Untuk pertama kalinya, uang—sesuatu yang selama ini tidak pernah menjadi sumber konflik utama di antara mereka—kini menjadi jurang pemisah yang nyata.
Bukan lagi soal mertua yang suka membandingkan.
Bukan lagi soal gosip tetangga yang tidak pernah berhenti.
Bukan lagi soal perbedaan cara mendidik anak.
Melainkan tentang masa depan keluarga mereka sendiri.
Tentang pengorbanan yang mungkin harus dilakukan.
Tentang pilihan yang tidak akan membuat semua orang bahagia.
Dan tanpa diketahui Sintia, malam itu Danang sudah mulai memikirkan satu langkah nekat.
Sebuah keputusan yang menurutnya dapat menyelamatkan Deni tanpa melukai keluarganya.
Keputusan yang akan ia lakukan diam, diam.
Keputusan yang kelak menjadi awal retaknya kepercayaan dalam rumah tangga mereka.
Karena terkadang, niat baik yang disembunyikan justru mampu menciptakan luka yang paling dalam.
Luka yang tidak terlihat dari luar.
Tapi terasa setiap hari. Setiap jam. Setiap detak jantung.
BAB VIII
Harga Sebuah Pengorbanan
Semalaman Danang hampir tidak memejamkan mata.
Ia berbaring di tempat tidur. Punggung menghadap Sintia yang sudah terlelap sejak pukul sepuluh. Matanya terbuka lebar menatap gelapnya langit, langit kamar yang hanya diterangi cahaya remang dari lampu jalan di luar rumah.
Pikirannya terus berputar.
Seperti kaset rusak yang lagunya sama diulang, ulang terus.
Tentang Deni yang wajahnya semakin kurus. Tentang hutang yang mencekik leher adiknya seperti tali jerat. Tentang ancaman penyitaan yang bukan sekadar ancaman lagi—tapi sudah di depan mata. Tentang ibunya yang pasti akan semakin sakit hati jika Deni benar, benar jatuh. Tentang Sintia yang tidak tahu apa pun. Tentang Bima dan Dinda yang masih polos, tidak mengerti mengapa ayah mereka akhir, akhir ini sering melamun.
Dan tentang keputusan yang harus segera ia ambil.
Keputusan yang terasa seperti simpul kusut yang tak bisa diurai tanpa menyakiti salah satu pihak. Tidak ada jalan keluar yang bersih. Tidak ada pilihan yang membuat semua orang tersenyum. Yang ada hanyalah pilihan antara sakit di sini atau sakit di sana.
Pagi itu Danang bangun lebih awal dari biasanya.
Matahari baru setengah naik. Embun masih menempel di rumput halaman. Udara masih dingin. Burung, belibis belum mulai berkicau.
Ia tidak langsung berangkat ke kantor seperti biasa.
Alih, alih mengenakan seragam kerja, ia memakai kemeja lusuh dan celana jins. Lalu mengambil kunci motor tuanya dari gantungan di dekat pintu.
Motor itu sudah menemaninya sebelas tahun.
Bukan motor bagus. Bukan motor mahal. Motor bekas yang ia beli dari hasil kerja kerasnya sendiri—lembur malam demi lembur malam, menabung rupiah demi rupiah, tidak membeli kopi di kantin selama berbulan, bulan hanya untuk menghemat.
Motor itu pernah mengantarnya melamar Sintia ke rumah orang tuanya.
Motor itu pernah mengantarnya ke rumah sakit ketika Bima lahir.
Motor itu pernah mengantarnya ke puskesmas ketika Dinda demam tinggi di tengah malam.
Motor itu menyimpan begitu banyak kenangan. Ribuan. Puluhan ribu. Tidak terhitung.
Dan pagi itu, ia akan melepaskannya.
Perjalanan ke showroom motor bekas di kota kabupaten memakan waktu sekitar empat puluh menit.
Sepanjang jalan, Danang tidak berbicara pada siapa pun. Ia hanya terdiam. Menatap aspal yang berlubang di sana, sini. Menghirup debu yang beterbangan dari truk, truk besar yang melintas.
Showroom itu berada di pinggir jalan raya. Bangunan sederhana dengan cat biru yang mulai pudar. Di depannya berderet puluhan motor bekas dari berbagai merek dan tahun.
Danang turun. Matanya mencari.
Di pojok kiri showroom, motor tuanya terparkir di antara motor, motor lain yang lebih muda dan lebih kinclong.
Ia berdiri cukup lama di depan motor itu.
Tangannya menyentuh stang. Kenop gas yang sudah aus karena bertahun, tahun digenggam. Jok yang sudah sedikit sobek di bagian pinggir. Spion kanan yang retak karena pernah jatuh.
Ia memandang motor itu seperti memandang seorang sahabat lama yang hendak ia tinggalkan.
Penjual showroom—seorang lelaki paruh baya dengan kumis tebal dan perut buncit—menghampirinya.
"Jadi dijual, Pak?" tanyanya. Nada suaranya biasa. Tidak ada tekanan. Tidak ada dorongan. Hanya pertanyaan penjual kepada calon pembeli.
Danang mengangguk pelan. "Iya."
"Yakin?" Penjual itu menatapnya. Seperti bisa membaca kegalauan di wajah Danang. "Motor ini sudah lama sekali Bapak pakai, ya. Terlihat dari kondisinya. Tapi mesinnya masih bagus, saya lihat."
Danang menatap motornya sekali lagi.
Lama.
Sekali terakhir.
Seolah ia ingin mengabadikan setiap detailnya di dalam memorinya. Bentuknya. Warnanya. Bau oli dan bensin yang sudah menyatu.
"Iya," katanya. Suaranya serak. "Saya yakin."
Padahal sebenarnya ia tidak yakin.
Sama sekali tidak yakin.
Tapi ia merasa tidak punya pilihan.
Dua jam kemudian Danang keluar dari showroom dengan langkah berat.
Di dalam tas kecil yang ia bawa—tas ransel hitam yang sudah kusam karena usia—terdapat sejumlah uang hasil penjualan motor.
Ia menghitungnya lagi di pinggir jalan sambil berdiri di bawah pohon rindang dekat showroom.
Jumlahnya belum cukup.
Masih jauh dari cukup.
Setidaknya enam juta lagi dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan Deni.
Danang menutup tasnya. Dadanya terasa sesak.
Saat berjalan menuju terminal untuk naik angkutan kota ke kantor—karena sekarang ia tidak punya motor lagi—perasaannya campur aduk.
Ada sedih.
Ada lega—lega karena setidaknya sudah ada kemajuan, sudah ada uang yang terkumpul, meskipun belum cukup.
Ada takut—takut Sintia mengetahui, takut anak, anak bertanya kenapa motor ayahnya tidak ada, takut masa depan keluarganya terganggu.
Dan ada sesuatu yang sulit dijelaskan. Seperti ada lubang di dadanya. Seperti ada bagian dari dirinya yang hilang. Seperti ia baru saja melepaskan sebagian dari jati dirinya.
Di kantor, sepanjang hari Danang tidak bisa fokus bekerja.
Ia terus menghitung.
Menjumlahkan.
Mengurangi.
Menghitung lagi.
Hasil penjualan motor ditambah sebagian tabungan pribadinya—uang yang ia kumpulkan dari uang rokok yang tidak ia beli, dari lembur yang tidak pernah ia laporkan ke Sintia—masih belum memenuhi kebutuhan Deni.
Masih kurang. Masih ada selisih. Masih ada hutang yang belum terbayar.
Artinya, ia harus mengambil langkah lain.
Langkah yang sebenarnya sejak awal ingin ia hindari.
Langkah yang membuat perutnya mual setiap kali ia memikirkannya.
Mengambil sebagian tabungan keluarga.
Tabungan pendidikan anak, anak.
Tabungan yang selama ini mereka kumpulkan sedikit demi sedikit. Setetes demi setetes. Seperti air hujan yang ditampung dalam ember. Butuh waktu lama untuk penuh. Tapi bisa kosong dalam sekejap jika bocor.
Tabungan yang bahkan Sintia jaga lebih ketat daripada dirinya sendiri.
Danang menundukkan kepala di atas meja kerjanya. Ia memejamkan mata. Tangannya mengepal.
Ia tahu. Ia tahu betul.
Jika Sintia mengetahui hal ini, pasti akan marah.
Bukan sekadar marah.
Bukan sekadar bentak, bentak biasa seperti yang selama ini terjadi.
Melainkan marah yang sesungguhnya. Marah yang lahir dari luka. Marah yang tidak bisa diredakan hanya dengan kata "maaf".
Namun di sisi lain, ia tidak sanggup melihat Deni kehilangan segalanya.
Tidak sanggup membayangkan adiknya berdiri di depan rumah kosong, dengan istri yang menangis dan anak yang masih balita menangis meminta mainan.
Tidak sanggup.
Malam harinya, Danang pulang lebih awal dari biasanya.
Biasanya ia pulang pukul enam. Kali ini pukul setengah lima sudah sampai rumah. Karena tidak ada motor, ia naik angkutan kota yang jalannya lebih cepat daripada perkiraannya.
Sesampainya di rumah, suasana sudah berubah.
Sintia sedang membantu Dinda mengerjakan pekerjaan rumah. Bima membaca buku pelajaran di ruang tengah sambil sesekali menguap. Aroma masakan—sayur asem dan tempe goreng—masih tercium dari dapur.
Pemandangan sederhana itu biasanya membuat hati Danang tenang.
Namun malam ini justru membuat hatinya semakin berat.
Karena ia sadar.
Orang, orang yang ada di rumah ini—Sintia, Bima, Dinda—semuanya bergantung padanya. Mereka percaya padanya. Mereka tidak tahu bahwa di balik senyumnya, ada rahasia yang sedang ia bawa.
Untuk sesaat, ia hampir membatalkan semuanya.
Hampir.
Tapi bayangan wajah Deni kembali muncul.
Wajah adiknya yang di dapur semalam. Wajah yang kurus. Wajah yang matanya cekung. Wajah yang bahunya berguncang karena menahan tangis.
Dan akhirnya Danang tetap memilih melanjutkan rencananya.
Beberapa hari berikutnya.
Diam, diam Danang mengurus pencairan sebagian tabungan keluarga.
Ia pergi ke bank sendirian. Mengisi formulir. Menandatangani surat. Menunjukkan KTP. Menunggu antrean.
Semua dilakukan dengan tenang. Terlalu tenang.
Ia melakukannya tanpa memberitahu Sintia.
Tanpa meminta persetujuan.
Tanpa berdiskusi.
Bukan karena ia ingin berbohong. Bukan karena ia tidak menghargai istrinya.
Melainkan karena ia takut.
Takut melihat kekecewaan di mata Sintia.
Takut terjadi pertengkaran yang lebih besar dari sebelumnya.
Takut membuat masalah semakin rumit.
Ironisnya, justru ketakutan itulah yang kelak membuat semuanya menjadi lebih buruk.
Karena kebohongan, sekecil apa pun, jika dibiarkan akan tumbuh menjadi raksasa.
Tiga hari kemudian.
Deni kembali datang.
Kali ini wajahnya terlihat lebih cemas daripada sebelumnya. Matanya merah. Lingkaran hitam di bawah matanya semakin pekat. Seperti orang yang sudah dua malam tidak tidur.
Tangannya terus bergerak gelisah. Kadang meremas jari, jarinya sendiri. Kadang mengusap wajahnya. Kadang menggenggam erat cangkir teh yang disodorkan Sintia—meski tehnya sudah dingin sejak sepuluh menit lalu.
"Mas," sapa Deni pelan.
"Ya."
"Mereka datang lagi kemarin, Mas. Orang yang memberi pinjaman. Kali ini mereka bawa tiga orang. Badannya besar, besar. Wajahnya serem. Anakku sampai menangis ketakutan."
Danang memejamkan mata. Dadanya sakit. Seperti ada yang menusuk.
"Aku sudah tidak tahu harus bagaimana lagi, Mas. Semalam istriku bilang, lebih baik kita kabur saja. Pindah ke kampung lain. Tapi ke mana? Tidak ada tempat tujuan. Tidak ada saudara yang bisa menampung."
Danang berdiri. Berjalan ke kamar. Mengambil sesuatu dari lemari kecil di pojok ruangan.
Amplop.
Cokelat.
Tebal.
Berisi uang hasil penjualan motor dan tabungan pribadinya, ditambah sebagian tabungan keluarga yang ia cairkan diam, diam.
Ia berjalan kembali ke ruang tamu. Lalu menyerahkan amplop itu kepada Deni.
"Apa ini, Mas?" Deni menatap amplop itu. Tangannya gemetar saat mengambilnya.
"Ambil. Gunakan untuk menyelesaikan masalahmu. Lunasi semua hutang. Jangan sisakan satu rupiah pun."
Deni membuka amplop itu. Matanya membesar. "Mas... ini terlalu banyak. Ini lebih dari yang aku minta."
"Itu semua yang bisa aku kumpulkan. Jangan pikirkan jumlahnya. Gunakan sebaik, baiknya."
Deni menatap amplop itu. Lalu menatap kakaknya. Bergantian. Berulang kali.
Matanya mulai berkaca, kaca.
"Mas... aku tidak tahu harus membalas bagaimana. Aku tidak punya apa, apa untuk membalas kebaikan Mas."
"Kamu tidak perlu membalas apa pun, Den." Danang memegang bahu adiknya. Erat. "Kamu adikku. Cukup itu. Tidak perlu hitung, hitungan."
Deni menunduk. Tubuhnya bergetar hebat. Seperti pohon yang digoyang angin kencang.
"Maaf, Mas. Maaf karena selalu merepotkan. Maaf karena tidak pernah bisa membanggakan Mas. Maaf karena menjadi beban sepanjang hidup."
Danang tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata. Senyum yang terasa pahit.
Meski di dalam hati, beban yang dipikulnya justru semakin berat. Jauh lebih berat daripada sebelumnya.
Dari balik jendela dapur.
Sintia memperhatikan semuanya.
Ia melihat Danang menyerahkan amplop cokelat tebal ke tangan Deni.
Ia melihat Deni membuka amplop itu, matanya membesar, bahunya bergetar.
Ia melihat Danang memegang bahu adiknya, berbicara sesuatu yang tidak bisa ia dengar.
Ia tidak mendengar isi percakapan mereka.
Tapi instingnya—insting seorang istri yang sudah belasan tahun hidup bersama suaminya—berbisik keras bahwa ada sesuatu yang sedang disembunyikan.
Sesuatu yang penting.
Sesuatu yang berhubungan dengan uang.
Sesuatu yang sengaja tidak ia ketahui.
Dan entah mengapa, firasat itu membuat dadanya tidak nyaman. Sangat tidak nyaman. Seperti ada tangan yang meremas jantungnya perlahan.
Malam hari.
Setelah Deni pulang—setelah pintu tertutup, setelah langkah kaki adiknya menjauh—Danang kembali duduk di ruang tamu. Sintia selesai membereskan dapur. Ia duduk di kursi sebelah.
"Deni datang lagi?" tanya Sintia. Nadanya biasa. Tapi ada nada tanya yang mengambang di sana.
"Iya."
"Ada masalah?"
Danang ragu. Detik. Dua detik. Tiga detik.
"Sedikit."
"Selesai?"
Danang mengangguk. "Sudah."
Jawaban itu terdengar terlalu singkat. Terlalu rapi. Terlalu sempurna.
Seolah, olah sudah dipersiapkan sebelumnya. Dipelajari. Dihafal.
Dan itulah yang membuat Sintia semakin curiga.
Hari, hari berikutnya berjalan seperti biasa.
Setidaknya di permukaan.
Danang berangkat kerja setiap pagi. Pulang setiap sore. Makan malam bersama keluarga. Menonton televisi sebentar. Lalu tidur.
Namun jauh di dalam hati, Danang mulai hidup dengan rasa bersalah.
Rasa bersalah yang tidak pernah pergi. Yang hadir setiap pagi ketika ia membuka mata. Yang menemaninya setiap saat. Yang menggerogoti hatinya pelan, pelan, seperti rayap yang tidak terlihat namun perlahan meruntuhkan rumah dari dalam.
Setiap kali melihat Bima yang sedang belajar dengan tekun, ia merasa bersalah. Uang tabungan Bima untuk kuliah nanti sudah berkurang karena ulahku.
Setiap kali melihat Dinda yang tersenyum lebar ketika ayahnya pulang, ia merasa bersalah. Dinda tidak tahu bahwa ayahnya telah mencuri masa depannya.
Setiap kali melihat Sintia yang masih setia memasak untuknya meski hubungan mereka sedang renggang, ia merasa bersalah. Sintia tidak tahu bahwa suaminya telah mengkhianati kepercayaannya.
Rahasia itu perlahan menjadi batu besar yang terus ia bawa ke mana, mana.
Semakin lama, semakin berat.
Semakin lama, semakin sulit ia bernapas.
Sementara itu, Sintia mulai menemukan kejanggalan.
Beberapa tagihan yang biasanya dibayar tepat waktu—listrik, air, internet—mengalami keterlambatan. Padahal ia sudah memberikan uang untuk membayarnya kepada Danang dua minggu lalu.
Saat ia memeriksa buku tabungan—buku yang biasanya ia pegang, tapi akhir, akhir ini sering "ketinggalan" di tas Danang—saldo yang tertera terasa berbeda. Lebih kecil. Jauh lebih kecil dari yang seharusnya.
Dan yang paling aneh, Danang mulai sering terlihat gelisah. Lebih gelisah dari biasanya. Matanya sulit diam. Tangannya sering bermain, main dengan benda di sekitarnya. Ketika diajak bicara, ia sering melamun di tengah kalimat.
Ketika Sintia bertanya, jawabannya selalu sama.
"Tidak ada apa, apa."
Empat kata.
Diulang, ulang.
Seperti mantra.
Namun Sintia tidak bodoh.
Ia tahu. Pasti ada sesuatu.
Karena selama bertahun, tahun hidup bersama, ia mengenal suaminya lebih baik daripada siapa pun. Ia tahu ketika Danang sedang jujur. Ia juga tahu ketika Danang sedang menyembunyikan sesuatu.
Danang tidak pandai berbohong. Tidak pernah. Sejak awal pernikahan mereka, ia adalah tipe suami yang mudah terbaca. Wajahnya seperti buku terbuka. Tidak bisa menyembunyikan perasaan.
Tapi kali ini berbeda.
Kali ini Danang berusaha keras. Terlalu keras.
Dan justru karena terlalu keras, ia semakin mudah ketahuan.
Suatu malam.
Saat Danang sedang mandi—air mengalir dari kran kamar mandi, suaranya terdengar samar, samar—telepon genggamnya yang tertinggal di ruang tengah berbunyi.
Sintia tidak bermaksud mengintip.
Tapi layar ponsel itu menyala. Terang. Di ruangan yang remang.
Dan ia melihatnya.
Nama pengirim: Deni.
Pesan itu muncul di layar. Hanya satu kalimat. Tapi cukup untuk membuat dunia Sintia berhenti berputar.
"Terima kasih, Mas. Kalau bukan karena uang itu, mungkin rumahku sudah disita. Aku tidak akan pernah melupakan pengorbananmu."
Jantung Sintia berdetak keras.
Sangat keras.
Hampir terdengar.
Matanya terpaku pada layar ponsel itu. Tidak bisa bergerak. Tidak bisa berkedip.
Berkali, kali ia membaca kalimat yang sama.
Uang?
Pengorbanan?
Rumah disita?
Apa maksud semua ini?
Tubuhnya tiba, tiba terasa dingin. Merinding. Seperti ada angin es yang bertiup di tengah ruangan.
Sementara dari kamar mandi, masih terdengar suara air mengalir.
Danang tidak tahu.
Ia tidak tahu bahwa istrinya baru saja berdiri di tepi jurang rahasia yang selama ini ia sembunyikan.
Dan untuk pertama kalinya sejak beberapa minggu terakhir, Sintia merasa dirinya berdiri sangat dekat dengan sebuah kebenaran.
Kebenaran yang sebentar lagi akan mengubah segalanya.
BAB IX
Ketika Kepercayaan Mulai Retak
Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya.
Suara air dari kamar mandi masih terdengar mengalir. Samar, samar. Seperti aliran sungai kecil di kejauhan.
Namun bagi Sintia, suara itu seolah menghilang.
Telinganya seperti tersumbat. Yang tersisa hanyalah degup jantungnya sendiri yang berdetak semakin cepat. Semakin keras. Semakin kencang.
Di tangannya—tangan yang mulai dingin—ponsel Danang masih menyala.
Pesan dari Deni masih terpampang jelas di layar.
"Terima kasih, Mas. Kalau bukan karena uang itu, mungkin rumahku sudah disita. Aku tidak akan pernah melupakan pengorbananmu."
Kalimat itu terus berulang di kepalanya.
Seperti gema di lembah yang sempit.
Seperti rekaman yang tidak bisa ia matikan.
Uang.
Rumah disita.
Pengorbananmu.
Sintia menelan ludah. Keras. Terasa ada yang mengganjal di tenggorokannya.
Perlahan, dengan tangan yang sedikit gemetar, ia meletakkan kembali ponsel itu ke tempat semula. Di atas meja. Menghadap ke bawah. Persis seperti posisi awal.
Ia tidak ingin Danang tahu bahwa ia telah melihat pesan itu. Belum. Belum sekarang.
Bukan karena takut.
Tapi karena ia belum siap.
Karena ia masih bingung. Masih terluka. Masih berusaha mencerna apa yang baru saja ia baca.
Ada bagian dari hati Sintia yang berbisik, "Mungkin ini salah paham. Mungkin maksudnya bukan itu. Mungkin Deni berterima kasih untuk hal lain."
Tapi akalnya—akal yang sudah belasan tahun hidup bersama Danang, yang tahu persis bagaimana sikap suaminya akhir, akhir ini—berkata sebaliknya.
"Kamu tahu ini bukan salah paham. Kamu tahu ada yang disembunyikan. Kamu tahu Danang telah melakukan sesuatu tanpa sepengetahuanmu."
Ketika Danang keluar dari kamar mandi, rambutnya masih basah. Sedikit air menetes dari ujung rambutnya ke krah baju tidurnya.
Ia tidak menyadari ada yang berubah.
Sintia sudah duduk di ruang tengah. Wajahnya tenang. Terlalu tenang. Ekspresi yang sudah ia kenal betul—ekspresi yang biasanya muncul tepat sebelum badai.
Tapi Danang tidak menaruh curiga. Ia terlalu lelah. Baik secara fisik maupun mental.
"Aku tidur dulu, ya," kata Danang sambil menguap.
Sintia mengangguk. Tanpa bicara. Tanpa bertanya. Tanpa menunjukkan apa pun.
Ia hanya mengangguk.
Tapi justru itulah yang membuat malam itu terasa berbeda.
Ada sesuatu di udara. Sesuatu yang tidak terlihat tapi terasa. Sesuatu yang membuat bulu kuduk merinding. Sesuatu yang membuat suasana terasa seperti sebelum gunung meletus.
Sementara Danang tertidur—napasnya teratur, sesekali mendengkur pelan—Sintia tetap terjaga.
Matanya terbuka lebar. Menatap langit, langit kamar yang gelap. Tidak ada lampu. Hanya cahaya rembulan yang masuk melalui celah tirai jendela.
Pikirannya berjalan ke mana, mana.
Ia mencoba mengingat. Merekonstruksi. Menyusun potongan, potongan puzzle yang selama ini berserakan.
Kegelisahan Danang akhir, akhir ini.
Cara Danang menghindari tatapan matanya.
Keterlambatan pembayaran beberapa kebutuhan.
Percakapan telepon dengan Deni yang terdengar rahasia.
Kedatangan Deni ke rumah dengan wajah cemas.
Pemberian amplop cokelat tebal dari Danang.
Dan sekarang pesan itu.
"Terima kasih, Mas. Kalau bukan karena uang itu..."
Semuanya mulai membentuk satu pola.
Satu kemungkinan.
Satu kesimpulan yang membuat dadanya terasa sesak. Sulit bernapas. Seperti ada tangan yang mencekik lehernya perlahan.
Jangan, jangan...
Danang benar, benar memberikan uang kepada Deni.
Dalam jumlah besar.
Dan melakukannya tanpa memberitahunya.
Tanpa diskusi.
Tanpa persetujuan.
Tanpa sepengetahuannya.
Sintia memejamkan mata.
Dadanya sakit.
Sakit sekali.
Pagi harinya, Danang berangkat kerja seperti biasa.
"Salam buat Deni kalau sempat ketemu," kata Sintia dari dapur. Nadanya datar. Tidak ada nada curiga. Tapi juga tidak ada nada hangat.
Danang mengangguk. "Iya."
Setelah memastikan anak, anak berangkat sekolah—Bima bersepeda, Dinda diantar jemputan—Sintia duduk sendirian di ruang makan.
Di hadapannya, buku catatan keuangan keluarga terbuka.
Buku yang selama ini selalu mereka isi bersama. Setiap pemasukan dicatat. Setiap pengeluaran dicatat. Setiap sisa uang dicatat.
Tangannya gemetar saat membuka halaman demi halaman.
Perlahan ia mulai memeriksa satu per satu catatan.
Tanggal demi tanggal.
Pemasukan.
Pengeluaran.
Tabungan.
Dan di situlah ia menemukan sesuatu yang membuat darahnya terasa berhenti mengalir.
Saldo tabungan mereka berkurang.
Jauh lebih banyak dari yang seharusnya.
Bukan ratusan ribu.
Bukan satu juta.
Bukan dua juta.
Melainkan jutaan rupiah.
Sebuah angka yang tidak mungkin hilang begitu saja karena kesalahan hitung atau lupa mencatat.
Sintia memejamkan mata. Dadanya mulai terasa panas. Marah. Tapi bukan marah biasa. Marah yang bercampur dengan kecewa. Marah yang bercampur dengan rasa sakit.
Kini ia tidak lagi menduga.
Ia hampir yakin.
Danang telah mengambil uang itu.
Tanpa sepengetahuannya.
Tanpa meminta izinnya.
Tanpa memikirkannya.
Sepanjang hari Sintia tidak bisa fokus bekerja.
Pekerjaan rumah yang biasanya selesai sebelum siang—nyapu, ngepel, cuci piring, lipat baju—kini terbengkalai. Piring sarapan masih menumpuk di wastafel. Baju kering masih menggantung di jemuran. Tidak diambil.
Pikirannya terus dipenuhi satu pertanyaan.
Mengapa?
Mengapa Danang tidak mengatakan apa, apa?
Bukankah mereka suami istri?
Bukankah selama ini mereka selalu berdiskusi tentang keuangan?
Bukankah selama ini mereka selalu menghadapi masalah bersama—susah maupun senang?
Bukankah uang itu bukan hanya milik Danang? Bukankah uang itu adalah hasil jerih payah mereka berdua? Bukankah Sintia juga bekerja? Bukankah Sintia juga menabung? Bukankah Sintia juga berkorban?
Semakin lama dipikirkan, rasa sakit itu semakin besar.
Karena bagi Sintia, persoalan utamanya bukanlah uang.
Bukan.
Uang bisa dicari.
Uang bisa diganti.
Uang bisa ditabung lagi.
Tapi kepercayaan?
Kepercayaan adalah sesuatu yang jauh lebih mahal.
Kepercayaan tidak bisa dibeli. Tidak bisa dicuri. Tidak bisa dipinjam.
Kepercayaan adalah fondasi. Dan ketika fondasi retak, seluruh rumah bisa runtuh.
Sore hari.
Danang pulang seperti biasa.
Ia tidak menyadari apa yang sedang menunggunya.
Begitu masuk ke dalam rumah, ia langsung merasakan keheningan yang aneh. Tidak biasa.
Tidak ada suara televisi yang biasanya menyala sejak sore.
Tidak ada suara Bima dan Dinda yang bertengkar soal gantian main game.
Tidak ada suara Sintia dari dapur yang memerintah anak, anak membereskan mainan.
Rumah itu sunyi. Sepi. Seperti bukan rumahnya sendiri.
Danang melangkah ke ruang tengah.
Di sana, Sintia sedang duduk.
Sikapnya tegak. Tapi wajahnya pucat. Matanya merah—seperti habis menangis, tapi ia tidak menunjukkan air mata.
Di depannya, buku tabungan keluarga terbuka.
Jantung Danang langsung berdegup keras.
Ia tahu.
Rahasia itu akhirnya terbongkar.
"Kapan?"
Suara Sintia terdengar pelan. Sangat pelan. Hampir seperti bisikan. Tapi justru pelan itulah yang membuatnya terasa lebih menakutkan.
Danang tidak langsung menjawab.
"Kapan kamu mengambil uang itu?" ulang Sintia. Nadanya masih sama. Tidak naik. Tidak tinggi.
Danang menarik napas panjang. "Sintia..."
"Kapan?" Sekali lagi. Masih pelan. Masih tenang. Tapi ketenangan itu terasa seperti pisau yang baru diasah.
"Beberapa minggu lalu."
Sintia tertawa kecil. Tawa yang tidak mengandung sedikit pun kebahagiaan. Tawa yang pahit. Tawa yang keluar dari tempat paling gelap di hatinya.
"Beberapa minggu lalu."
Danang menunduk. Tidak bisa menatap mata istrinya. "Aku bisa menjelaskan."
"Lalu jelaskan."
Danang akhirnya menceritakan semuanya.
Dari awal hingga akhir.
Tanpa ditutup, tutupi.
Tanpa dikurangi.
Tanpa ditambah.
Tentang hutang Deni yang sudah menumpuk bertahun, tahun.
Tentang ancaman penyitaan yang datang minggu lalu.
Tentang permintaan ibunya yang tidak bisa ia tolak.
Tentang motor yang ia jual tanpa sepengetahuan Sintia.
Tentang tabungan pribadi yang ia korbankan.
Tentang uang yang ia berikan kepada Deni.
Semua.
Ia menceritakannya tanpa berhenti. Seperti orang yang sudah terlalu lama menahan air bah, kini membiarkannya mengalir deras.
Setelah Danang selesai berbicara, ruangan kembali sunyi.
Sintia menunduk. Matanya mulai berkaca, kaca. Air mata menggenang di ujung matanya. Tapi belum jatuh. Belum.
"Aku tidak marah karena kamu membantu Deni," kata Sintia akhirnya. Suaranya bergetar. "Aku tahu dia adikmu. Aku juga tidak tega kalau rumahnya disita. Aku juga manusia. Aku juga punya hati."
Danang menatap istrinya. Binar harapan muncul sekilas.
Sintia menarik napas panjang.
"Lalu kenapa?" tanya Danang.
"Karena kamu melakukannya tanpa aku."
Kalimat itu menghantam Danang.
Jauh lebih keras daripada bentakan apa pun.
Jauh lebih keras daripada piring pecah yang dilempar ke lantai.
Jauh lebih keras daripada pintu yang dibanting.
"Aku hanya..." Danang mencari kata, kata. Tapi tidak menemukan. "Aku tidak ingin kita bertengkar, Tin."
Dan air mata pertama jatuh dari mata Sintia.
"Bukankah sekarang kita tetap bertengkar?"
Danang kehilangan kata, kata.
Karena ia tahu. Sintia benar.
"Aku ini siapa dalam hidupmu, Danang?"
Pertanyaan itu membuat Danang membeku.
Darahnya serasa berhenti mengalir.
"Apa maksudmu?"
"Aku istrimu, Danang." Suara Sintia semakin bergetar. "Seharusnya aku orang pertama yang kamu ajak bicara. Seharusnya aku orang pertama yang kamu ceritai. Seharusnya aku orang pertama yang kamu mintai pendapat. Tapi kamu memilih menyimpan semuanya sendiri. Kamu memilih berjalan sendirian. Kamu memilih menganggap aku tidak penting."
"Aku takut."
"Aku juga takut!"
Untuk pertama kalinya, suara Sintia meninggi.
Bukan bentakan.
Tapi teriakan. Teriakan yang keluar dari tempat terdalam hatinya. Tempat yang selama ini ia pendam.
"Aku takut kalau kita kekurangan uang."
"Aku takut masa depan anak, anak terganggu."
"Aku takut rumah tangga kita bermasalah."
"Aku takut banyak hal, Danang. Banyak sekali. Setiap hari. Setiap malam. Tapi aku tetap menghadapinya bersamamu."
Air mata mengalir deras di pipi Sintia.
"Kenapa kamu tidak melakukan hal yang sama?"
Malam itu tidak ada bentakan besar.
Tidak ada lemparan barang.
Tidak ada adegan dramatis seperti di sinetron.
Tidak ada yang memecahkan gelas.
Tidak ada yang membanting pintu.
Yang ada justru sesuatu yang lebih menyakitkan.
Kekecewaan.
Kekecewaan yang begitu dalam.
Kekecewaan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan satu kata "maaf".
Kekecewaan yang butuh waktu—entah berapa lama—untuk bisa sembuh.
Beberapa hari berikutnya, hubungan mereka berubah.
Mereka tetap berbicara.
Tetap makan bersama.
Tetap duduk di ruang tamu yang sama.
Tetap tidur di kamar yang sama, di ranjang yang sama.
Namun ada sesuatu yang hilang.
Sesuatu yang tidak terlihat oleh mata.
Tapi terasa oleh hati.
Kepercayaan.
Untuk pertama kalinya sejak menikah lebih dari satu dekade lalu, Sintia mulai meragukan keterbukaan suaminya.
Untuk pertama kalinya, ia berpikir, "Mungkin masih ada rahasia lain yang disembunyikan Danang."
Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa ia tidak benar, benar mengenal orang yang sudah ia cintai selama bertahun, tahun.
Dan untuk pertama kalinya pula, Danang menyadari bahwa niat baik—niat untuk membantu adik, niat untuk menghindari pertengkaran—telah melukai orang yang paling ia cintai.
Luka yang tidak terlihat.
Tapi terasa setiap hari.
BAB X
Perempuan Bernama Laras
Pagi itu kantor tempat Danang bekerja terlihat berbeda dari biasanya.
Biasanya, suasana pagi di kantor distributor bahan bangunan itu terasa santai. Beberapa karyawan masih menguap di depan meja masing, masing. Ada yang masih menyeduh kopi. Ada yang masih sarapan sambil berdiri.
Tapi pagi itu berbeda.
Pimpinan perusahaan mengadakan rapat mendadak. Seluruh staf diminta berkumpul di ruang pertemuan utama—ruangan yang jarang digunakan kecuali untuk acara, acara penting.
"Ada karyawan baru," bisik Rudi di samping Danang. "Katanya direkrut khusus untuk bagian administrasi keuangan."
Danang hanya mengangguk. Tidak terlalu memperhatikan.
Pikirannya masih kusut. Masalah dengan Sintia belum selesai. Masalah dengan ibunya masih menggantung. Dan masalah Deni—meskipun sudah terbayar—masih meninggalkan luka di tabungan mereka yang tidak bisa ia lupakan.
Semua karyawan duduk rapi.
Pimpinan perusahaan—seorang lelaki paruh baya dengan kemeja putih lengan panjang—berdiri di depan ruangan.
"Baik, selamat pagi semuanya. Saya kumpulkan Bapak Ibu sekalian hari ini untuk memperkenalkan karyawan baru kita."
Ia menoleh ke arah pintu.
"Silakan masuk."
Pintu ruangan terbuka.
Seorang perempuan berjalan masuk dengan langkah percaya diri, tapi tidak sombong.
Perempuan itu tampak berusia sekitar tiga puluh tahun. Tinggi sedang. Kulit sawo matang. Berpenampilan sederhana—kemeja putih, jilbab krem yang rapi, rok hitam panjang, sepatu pantofel hitam.
Wajahnya teduh. Tidak banyak riasan.
Matanya lembut. Senyumnya tipis. Tapi terlihat tulus.
"Perkenalkan," pimpinan perusahaan berdiri di sampingnya. "Mulai hari ini, Saudari Laras Wulandari akan bergabung dengan tim administrasi dan keuangan kita. Tolong dibantu, semuanya, agar Mbak Laras cepat beradaptasi."
Tepuk tangan ringan mengiringi.
Perempuan itu—Laras—tersenyum sopan. "Terima kasih banyak, Bapak/Ibu sekalian. Saya senang bisa bergabung di sini. Mohon bimbingannya."
Suaranya lembut. Jelas. Tidak dibuat, buat. Tidak berlebihan.
Cukup untuk membuat orang merasa nyaman mendengarnya.
Setelah rapat selesai, Laras diperkenalkan kepada beberapa staf yang akan bekerja langsung dengannya.
Termasuk Danang.
"Pak Danang," pimpinan perusahaan menunjuk ke arah Danang. "Kebetulan divisi Bapak yang paling dekat dengan pekerjaan Mbak Laras. Tolong bantu adaptasi pekerjaan untuk sementara waktu."
Danang mengangguk. "Baik, Pak."
Laras berjalan mendekat. Tersenyum. "Terima kasih sebelumnya, Pak."
"Sama, sama."
Tangan mereka bersalaman sebentar. Lalu Danang kembali ke mejanya. Tidak ada yang istimewa.
Pertemuan pertama itu berlangsung sangat biasa.
Tidak ada yang mencurigakan.
Tidak ada yang istimewa.
Bahkan tidak ada satu pun orang di ruangan itu yang membayangkan bahwa nama Laras—perempuan sederhana yang baru masuk—kelak akan menjadi bagian dari konflik besar dalam rumah tangga Danang.
Hari, hari berikutnya berjalan normal.
Sebagai pegawai baru, Laras memang sering bertanya kepada Danang.
Tentang prosedur kerja.
Tentang sistem administrasi.
Tentang cara mengisi formulir.
Tentang arsip, arsip lama yang harus dirapikan.
Danang membantu sebagaimana mestinya.
Tidak lebih.
Tidak kurang.
Ia hanya menjalankan tanggung jawabnya sebagai rekan kerja senior yang lebih berpengalaman.
Kadang Rudi ikut membantu. Kadang mereka bertiga makan siang bersama di kantin. Kadang hanya Danang dan Laras karena Rudi sedang ada urusan lain.
Hal, hal biasa.
Namun terkadang, kehidupan tidak menilai sesuatu berdasarkan kenyataan.
Kehidupan sering menilai berdasarkan apa yang terlihat dari luar.
Dan dari luar—dari sudut pandang orang yang tidak tahu apa, apa—seorang laki, laki yang sedang bermasalah dengan istrinya, yang sering lembur, yang duduk berdua dengan perempuan cantik di kantin... terlihat seperti sesuatu yang tidak biasa.
Suatu siang.
Kantin kantor sedang sepi. Hanya beberapa karyawan yang makan siang di sana. Sebagian besar memilih makan di luar atau membawa bekal.
Laras duduk di meja bersama Danang dan Rudi. Tiga porsi nasi kotak dari warung dekat kantor. Tiga botol air mineral.
Percakapan mereka ringan.
Tentang pekerjaan—target bulan ini, laporan yang harus segera diselesaikan, klien yang sulit.
Tentang anak, anak—Rudi bercerita tentang anaknya yang baru bisa jalan. Danang bercerita tentang Bima yang mulai puber dan Dinda yang masih manja.
Dari situlah Danang mulai mengetahui sedikit tentang Laras.
Perempuan itu ternyata seorang janda.
Suaminya meninggal tiga tahun lalu akibat kecelakaan lalu lintas di jalan raya luar kota. Saat itu, Laras sedang hamil besar. Ia melahirkan putrinya sendirian di rumah sakit, tanpa suami di sampingnya.
Sejak saat itu, ia membesarkan putrinya seorang diri.
Bekerja keras.
Berpindah, pindah pekerjaan.
Terkadang menjadi admin di satu tempat, terkadang menjadi kasir di toko, terkadang menjual makanan online.
Hingga akhirnya ia diterima di perusahaan tempat Danang bekerja.
"Hidup memang tidak selalu sesuai rencana, ya," kata Laras sambil tersenyum kecil. Senyum yang tidak sampai ke mata. Senyum yang sudah menjadi kebiasaan untuk menutupi luka.
Danang mengangguk. "Benar. Kadang kita hanya bisa menjalaninya. Tidak bisa memilih."
"Kadang yang bisa kita lakukan hanyalah bertahan," tambah Rudi.
Laras tersenyum lagi. Kali ini lebih tulus. "Iya. Setuju."
Rudi yang mendengarkan langsung berkata, "Ngomong, ngomong soal bertahan hidup, Pak Danang ini ahlinya, Mbak. Dikasih masalah apa pun, beliau diam saja. Ngalir. Seperti air."
Mereka bertiga tertawa kecil.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Danang ikut tertawa.
Tawa ringan.
Tawa yang nyaris terlupakan.
Tawa yang tidak ia sadari sedang ia rindukan.
Namun tanpa disadari Danang, seseorang melihat momen itu dari kejauhan.
Anton.
Karyawan bagian logistik yang terkenal suka bergosip. Hidungnya selalu pesek karena suka mencampuri urusan orang lain.
Ia memperhatikan Danang dan Laras yang tertawa bersama.
Matanya menyipit.
Mulutnya membentuk senyum miring.
"Menarik," gumamnya pelan.
Padahal yang ia lihat hanyalah tiga rekan kerja biasa yang sedang makan siang bersama.
Tidak lebih.
Bukan kejadian langka.
Bukan hal yang istimewa.
Tapi bagi Anton, segala sesuatu yang bisa dijadikan cerita adalah hal yang istimewa.
Sore hari.
Danang pulang ke rumah seperti biasa.
Sintia sedang berada di dapur—ia bisa mendengar suara wajan dan spatula yang saling berbenturan.
Bima dan Dinda mengerjakan pekerjaan sekolah di ruang tengah. Buku, buku terbuka. Pensil, pensil berserakan.
Suasana rumah terlihat tenang.
Namun hubungan Danang dan Sintia masih belum benar, benar pulih.
Mereka berbicara seperlunya.
Tidak bertengkar.
Tapi juga belum kembali hangat.
Seperti dua orang yang tinggal di rumah yang sama, tapi hatinya berada di musim yang berbeda.
"Ada sayur asem," kata Sintia dari dapur. Tidak menoleh.
"Terima kasih."
Hanya itu.
Lalu kembali hening.
Dulu—di awal pernikahan mereka—mereka bisa mengobrol berjam, jam. Bercerita tentang apa pun. Tertawa bersama. Bahkan untuk hal, hal yang tidak penting.
Kini mencari topik pembicaraan saja terasa sulit.
Seperti mencari jarum di tumpukan jerami.
Malam itu.
Danang duduk di teras rumah. Sendirian.
Angin malam berembus pelan. Daun, daun dari pohon mangga di depan rumah bergoyang, goyang ringan.
Di kejauhan, terdengar suara televisi dari rumah, rumah tetangga. Suara sandiwara, suara sinetron, suara iklan.
Pikirannya kembali dipenuhi berbagai persoalan.
Masalah dengan Sintia—retakan kepercayaan yang belum sembuh.
Masalah keluarga besar—ibunya yang masih sulit menerima, Deni yang masih berjuang bangkit.
Keuangan keluarga—belum stabil, masih banyak yang harus dibayar.
Dan entah mengapa, ia merasa semakin lelah.
Sangat lelah.
"Belum tidur?"
Suara Sintia tiba, tiba terdengar dari belakang.
Danang menoleh.
Sintia berdiri di ambang pintu. Di tangannya, dua cangkir teh hangat. Asapnya mengepul tipis di udara malam yang dingin.
Ia keluar. Lalu duduk di samping Danang.
Untuk beberapa saat, mereka hanya diam.
Menikmati udara malam.
Menikmati teh hangat.
Menikmati keheningan yang tidak lagi terasa canggung, meskipun belum sepenuhnya nyaman.
"Aku minta maaf," ucap Danang tiba, tiba.
Sintia menoleh. "Tentang apa?"
"Semuanya. Tentang Deni. Tentang uang. Tentang aku yang tidak bilang. Tentang semua yang sudah terjadi belakangan ini."
Sintia tidak langsung menjawab.
Matanya menatap halaman depan.
Lalu ia berkata pelan. "Aku juga minta maaf. Aku mungkin terlalu keras. Terlalu sering marah. Terlalu cepat menyalahkan."
Danang tersenyum tipis. "Kita berdua sama, sama keras kepala."
"Kamu lebih keras kepala."
"Tidak. Kamu."
Keduanya terdiam sebentar.
Lalu tertawa.
Kecil.
Canggung.
Tapi tawa.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka tertawa bersama.
Meskipun masih canggung.
Meskipun masih ada jarak.
Tapi cukup untuk memberi harapan bahwa hubungan mereka—yang retak, yang luka, yang hampir hancur—masih bisa diperbaiki.
Di kantor keesokan harinya.
Laras kembali meminta bantuan Danang untuk menyelesaikan beberapa laporan keuangan yang harus segera dikirim ke pimpinan.
Mereka duduk bersebelahan.
Laras menunjukkan lembaran, lembaran kertas. Danang menjelaskan satu per satu. Laras mencatat. Mengangguk. Bertanya jika tidak mengerti.
Tidak ada yang aneh.
Tidak ada yang melampaui batas.
Mereka hanya dua rekan kerja yang sedang bekerja.
Tapi Anton—lagi, lagi Anton—melihatnya.
Dan kali ini ia mulai bercerita kepada orang lain.
Dengan suara setengah berbisik, di pojok ruangan, sambil menyeruput kopi.
"Pak Danang dekat sekali dengan pegawai baru itu."
"Yang janda itu?"
"Iya."
"Serius?"
"Saya lihat sendiri. Setiap hari bersama. Makan siang bareng. Pulang bareng."
Padahal kenyataannya tidak demikian.
Makan siang bareng? Kadang bertiga dengan Rudi.
Pulang bareng? Tidak pernah. Danang pulang sendiri dengan motor—setidaknya dulu, sebelum motornya ia jual.
Tapi gosip memiliki satu kemampuan yang sangat berbahaya.
Ia tumbuh lebih cepat daripada kebenaran.
Ia berkembang biak seperti bakteri di tempat yang lembab.
Dalam beberapa hari saja, cerita itu mulai menyebar di lingkungan kantor.
Sebagian menganggapnya biasa—"Ah, kerja kali, Pak."
Sebagian menganggapnya menarik—"Wah, janda lagi."
Sebagian lagi mulai menambahkan bumbu, bumbu yang tidak pernah terjadi.
"Katanya mereka sering berdua di ruang arsip."
"Katanya Pak Danang yang jemput Mbak Laras setiap pagi."
"Katanya mereka sudah dekat sejak lama."
Bumbu, bumbu yang tidak berdasar.
Yang tidak pernah terjadi.
Tapi yang terdengar lebih menarik daripada kebenaran.
Dan tanpa disadari siapa pun, benih masalah baru mulai tumbuh.
Masih kecil.
Masih samar.
Tapi perlahan mulai bergerak seperti ular.
Menuju kehidupan pribadi Danang.
Menuju rumah tangganya.
Menuju Sintia.
Sementara itu Laras sama sekali tidak mengetahui apa yang sedang dibicarakan orang, orang.
Ia tetap bekerja seperti biasa.
Tetap menghormati Danang sebagai rekan kerja senior.
Tetap menjaga sikap.
Tidak pernah—sekali pun—ia memiliki niat untuk mengganggu rumah tangga siapa pun.
Karena baginya, hidup sudah cukup berat tanpa harus menambah masalah orang lain.
Ia sudah kehilangan suami.
Ia sudah membesarkan anak sendirian.
Ia sudah berjuang setiap hari.
Ia tidak butuh masalah lain.
Tapi terkadang, seseorang bisa terseret ke dalam badai tanpa pernah berniat masuk ke dalamnya.
Badai itu datang.
Menggiringnya.
Menyeretnya.
Tanpa ia minta.
Tanpa ia sadari.
Pada suatu sore.
Ketika Danang sedang membantu Laras menyelesaikan laporan yang harus segera dikirim sebelum kantor tutup, Anton diam, diam mengambil foto dari kejauhan.
Hanya foto biasa.
Dua orang rekan kerja.
Duduk di meja kerja masing, masing.
Menghadap layar komputer.
Jarak mereka tidak terlalu dekat—masih ada ruang untuk satu orang di antara mereka.
Tapi dari sudut tertentu—dari posisi Anton yang sengaja memilih sudut yang paling buruk—gambar itu tampak seolah mereka sedang berbicara sangat akrab. Seolah bahu mereka hampir bersentuhan.
Anton tersenyum.
Lalu menyimpan foto tersebut di ponselnya.
Tanpa menyadari bahwa tindakannya—yang ia anggap hanya iseng, hanya untuk bahan candaan, hanya untuk menghilangkan bosan—akan menjadi awal dari rangkaian peristiwa yang jauh lebih besar.
Peristiwa yang akan mengguncang rumah tangga Danang dan Sintia.
Peristiwa yang akan membuat dua orang yang tidak bersalah—Laras dan Danang—harus mempertanggungjawabkan sesuatu yang tidak mereka lakukan.
Karena kadang, kadang, sebuah masalah tidak lahir dari kenyataan.
Masalah sering lahir dari persepsi.
Dari gosip.
Dari cerita yang terus berkembang.
Dari mata yang melihat sesuatu, lalu mulut yang menafsirkannya tanpa data, lalu telinga, telinga yang menerimanya tanpa verifikasi.
Dan cerita itu kini mulai bergerak keluar dari kantor.
Menuju Kampung Mekarsari.
Menuju telinga Bu Ratna.
Menuju telinga tetangga, tetangga yang gemar membicarakan kehidupan orang lain.
Menuju tempat yang paling berbahaya bagi sebuah rahasia.
Lingkungan yang lebih suka percaya pada kabar buruk daripada mencari kebenaran.
BAB XI
Bisik, bisik Tetangga
Tidak ada yang lebih cepat menyebar di sebuah kampung selain kabar yang belum tentu benar.
Di Kampung Mekarsari, berita bisa berpindah dari satu rumah ke rumah lain lebih cepat daripada virus flu di musim hujan. Sebelum matahari bergeser dari timur ke barat, sebuah cerita bisa berubah bentuk setidaknya tujuh kali.
Kadang kabar itu masih benar—atau setidaknya mendekati kebenaran.
Kadang setengah benar—ada fakta, ada juga bumbu.
Dan sering kali, berubah menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda dari kenyataan.
Begitulah yang mulai terjadi pada Danang.
Awalnya, hanya obrolan ringan di kantor.
Cerita kecil yang lahir dari pengamatan sepihak Anton.
Tentang Danang yang sering membantu Laras—yang sebenarnya adalah tugasnya sebagai senior.
Tentang mereka yang beberapa kali terlihat makan siang bersama—yang juga dilakukan bersama Rudi dan karyawan lain.
Tentang keduanya yang kerap berdiskusi mengenai pekerjaan—yang wajar terjadi di kantor mana pun.
Hal, hal yang sebenarnya biasa.
Bahkan membosankan.
Tapi ketika cerita itu sampai ke tangan orang yang salah—orang yang suka menambahkan bumbu, yang suka melebih, lebihkan, yang suka mencari sensasi—cerita itu berubah bentuk.
Semakin jauh berpindah, semakin banyak tambalan.
Semakin banyak asumsi yang ditempelkan.
Hingga akhirnya, bukan lagi sebuah cerita.
Bukan lagi sekadar informasi.
Melainkan gosip.
Dan gosip, seperti yang diketahui semua orang, tidak pernah membutuhkan kebenaran untuk bertahan hidup.
Anton menjadi orang yang paling menikmati situasi ini.
Bukan karena ia membenci Danang.
Bukan karena ia iri pada Laras.
Bukan karena ia punya dendam pribadi.
Melainkan karena ia menyukai perhatian.
Dan salah satu cara tercepat untuk mendapatkan perhatian di lingkungan kantor adalah dengan membawa cerita yang menarik. Sensasional. Heboh.
Pada suatu siang, di kantin kantor saat suasana sedang ramai, Anton mengeluarkan ponselnya.
"Eh, lihat ini," katanya sambil memperlihatkan layar ponsel kepada beberapa rekan kerja yang duduk di meja sebelah.
Beberapa orang mendekat.
"Ini Pak Danang, kan?"
"Iya."
"Sama siapa itu?"
"Yang baru. Mbak Laras."
"Mereka sedang kerja, kan? Lagi ngapa, ngapain?"
Anton tersenyum samar. Senyum yang sudah ia latih—senyum orang yang tahu sesuatu yang orang lain belum tahu.
"Kalau cuma kerja, kenapa hampir setiap hari bersama? Makan siang bareng. Pulang hampir bareng. Sering berduaan di ruang arsip."
Padahal fakta di lapangan tidak demikian.
Tapi tidak ada yang memverifikasi.
Tidak ada yang bertanya ke Danang.
Tidak ada yang bertanya ke Laras.
Mereka hanya mendengar. Mengangguk. Lalu menyebarkan lagi ke orang lain.
Dalam hitungan hari, cerita itu menyebar ke luar kantor.
Kebetulan—atau mungkin bukan kebetulan—salah satu kerabat Anton tinggal tidak jauh dari rumah Bu Ratna.
Bu Ratna.
Perempuan yang selama ini dikenal sebagai pusat informasi tidak resmi Kampung Mekarsari.
Perempuan yang tidak pernah kehabisan stok cerita.
Perempuan yang jika tidak ada gosip yang masuk, ia akan membuat gosip sendiri.
Ketika mendengar cerita tersebut—tentang Danang dan pegawai baru yang janda, yang sering berduaan, yang terlihat mesra di kantor—mata Bu Ratna langsung berbinar.
"Wah..." Ia menutup mulutnya dengan telapak tangan. Bukan karena terkejut. Bukan karena tidak percaya. Melainkan karena menikmati sensasi kabar baru.
"Kasihan Sintia kalau benar."
Padahal ia sendiri tidak tahu apakah cerita itu benar atau tidak.
Ia tidak pernah ke kantor Danang.
Ia tidak pernah melihat Danang dan Laras bersama.
Ia hanya mendengar dari kerabat Anton yang mendengar dari Anton yang melihat dari kejauhan.
Tapi kata "kalau benar" sering kali hilang ketika sebuah gosip mulai diceritakan ulang.
Yang tertinggal hanyalah inti cerita—atau apa yang dianggap sebagai inti cerita.
"Danang dekat dengan perempuan lain."
"Perempuan itu janda."
"Mereka sering berduaan."
Sore itu.
Beberapa ibu, ibu berkumpul di warung depan kampung.
Bukan acara formal. Hanya kebetulan bertemu saat membeli kebutuhan dapur. Ada yang beli cabai. Ada yang beli bawang. Ada yang beli minyak goreng.
Seperti biasa, topik pembicaraan mereka berpindah, pindah.
Dari harga cabai yang naik terus.
Ke biaya sekolah anak yang semakin mahal.
Ke tetangga yang rumahnya baru dicat.
Lalu—seperti sudah menjadi takdir—ke kehidupan orang lain.
Dan nama Danang pun muncul.
"Katanya ada perempuan lain," seseorang berbisik. Suaranya sengaja direndahkan, seolah sedang membagikan rahasia negara.
"Serius?"
"Katanya rekan kerja. Janda. Cantik katanya."
"Aduh... kasihan Sintia. Padahal dia sudah berusaha jadi istri yang baik."
Yang lain mengangguk, angguk. Setuju. Meskipun tidak satu pun dari mereka yang pernah melihat Danang dan Laras bersama. Tidak satu pun yang pernah bertanya pada Sintia. Tidak satu pun yang tahu kebenarannya.
Tapi itu tidak penting.
Yang penting ada cerita.
Yang penting ada bahan pembicaraan.
Yang penting ada yang bisa dibicarakan selain harga cabai.
Ironisnya, sebagian besar orang yang berbicara dengan lantang tentang "skandal" Danang dan Laras adalah orang, orang yang tidak pernah melihat mereka bersama.
Mereka hanya mendengar dari A.
A mendengar dari B.
B mendengar dari C.
C mendengar dari Anton.
Anton melihat dari kejauhan—sekali—lalu menafsirkannya sendiri.
Tapi itulah cara gosip bekerja.
Ia tidak membutuhkan bukti.
Ia tidak membutuhkan saksi.
Ia tidak membutuhkan kebenaran.
Ia hanya membutuhkan dua hal: telinga yang bersedia mendengar, dan mulut yang bersedia menyebarkan.
Beberapa hari kemudian.
Sintia pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan rumah tangga.
Pagi itu suasana pasar cukup ramai. Pedagang sayur mulai membuka lapak. Ikan, ikan masih segar di atas meja es. Bau daging dan bumbu campur aduk menjadi satu.
Sintia berjalan cepat. Tidak ingin berlama, lama.
Di tengah keramaian, ia bertemu dengan Bu Ratna.
"Eh, Sintia!" sapa Bu Ratna dengan nada ramah—terlalu ramah.
"Belanja, Bu?"
"Iya, belanja. Bawang, cabai, sedikit. Eh, kamu sendirian?"
Sintia tersenyum sopan. "Iya."
Bu Ratna mengangguk. Lalu menatap Sintia beberapa detik lebih lama dari biasanya. Tatapan yang membuat Sintia merasa tidak nyaman. Seperti ada sesuatu di balik tatapan itu.
"Ada apa, Bu?" tanya Sintia.
Bu Ratna tersenyum canggung. "Tidak ada. Tidak ada. Hanya..." Ia berhenti. Seolah memilih kata, kata. "Kamu harus banyak sabar, ya, Sintia."
Sintia mengernyit. "Sabar? Sabar soal apa?"
Bu Ratna tampak ragu. Tangannya meremas, remas ujung kerudungnya. Lalu tertawa kecil. "Ah, tidak apa, apa. Lupa. Sudah tua."
Bu Ratna berbalik. Berjalan cepat meninggalkan Sintia.
Tapi kalimat itu—"Kamu harus banyak sabar, ya"—tetap tertinggal. Menggantung di udara. Masuk ke telinga Sintia. Bersarang di kepalanya.
Sepanjang perjalanan pulang, perkataan Bu Ratna terus terngiang.
Ada sesuatu yang aneh.
Ada sesuatu yang sengaja disembunyikan.
Dan pengalaman hidup telah mengajarkan Sintia satu hal: ketika seseorang berkata "tidak apa, apa", sering kali justru ada sesuatu yang sedang mereka sembunyikan.
Dua hari kemudian.
Kecurigaan Sintia semakin kuat.
Saat menghadiri pengajian rutin di kampung—acara mingguan yang dihadiri hampir semua ibu, ibu—Sintia kembali merasakan tatapan, tatapan aneh.
Beberapa orang yang biasanya menyapanya dengan ramah, kali ini hanya tersenyum tipis lalu segera berpaling.
Beberapa orang yang biasanya duduk di dekatnya, kali ini memilih kursi yang lebih jauh.
Ada yang tiba, tiba diam ketika Sintia mendekat.
Ada yang berbisik, bisik, lalu berhenti ketika Sintia melirik.
Ada yang tersenyum dengan cara yang tidak biasa—senyum iba, senyum kasihan, senyum "aku tahu sesuatu yang kamu tidak tahu".
Seolah, olah mereka mengetahui sesuatu yang tidak ia ketahui.
Dan itu membuat dadanya mulai dipenuhi kegelisahan.
Malam hari.
Ketika anak, anak sudah tidur—Bima dengan buku di dadanya, Dinda dengan boneka kesayangannya—Sintia duduk sendirian di ruang tamu.
Televisi menyala pelan. Tapi ia tidak menonton.
Matanya menatap kosong ke layar.
Pikirannya ke mana, mana.
Ia mencoba mengabaikan perasaannya.
Mencoba meyakinkan diri bahwa semua itu hanya imajinasinya.
Mungkin ia terlalu sensitif.
Mungkin ia terlalu paranoid.
Mungkin semua tatapan aneh itu tidak ada hubungannya dengan dirinya.
Tapi semakin ia berusaha mengabaikan, semakin kuat firasat buruk itu muncul.
Ia teringat rahasia uang Deni—yang disembunyikan Danang, yang baru ia ketahui setelah sekian lama.
Ia teringat kekecewaan yang belum sepenuhnya sembuh—yang masih terasa setiap kali ia membuka buku tabungan.
Ia teringat retakan kepercayaan yang masih terasa—yang membuat ia sekarang mempertanyakan hampir semua hal yang dilakukan Danang.
Dan kini muncul sesuatu yang baru.
Sesuatu yang belum memiliki bentuk jelas.
Sesuatu yang belum bisa ia beri nama.
Tapi cukup untuk membuat pikirannya gelisah.
Cukup untuk membuat jantungnya berdebar tanpa sebab.
Cukup untuk membuat ia tidak bisa tidur di malam hari.
"Belum tidur?"
Danang baru keluar dari kamar. Rambutnya masih basah—baru selesai mandi malam.
Sintia menoleh. "Lagi banyak pikiran."
Danang duduk di sampingnya. Jarak mereka cukup dekat. Tapi terasa jauh.
"Ada masalah? Cerita."
Pertanyaan itu membuat Sintia hampir tertawa. Keras. Pahit. Karena justru ia ingin menanyakan hal yang sama kepada Danang.
Ada masalah? Ada yang disembunyikan? Ada yang tidak kamu ceritakan?
Tapi ia tidak mengatakan itu.
"Aku mau tanya sesuatu," kata Sintia akhirnya.
"Tanya saja."
"Kamu akhir, akhir ini sibuk sekali di kantor?"
Danang mengangguk. "Iya. Banyak pekerjaan menumpuk."
"Karena pekerjaan?"
"Iya."
Jawaban itu terdengar normal. Sangat normal. Tidak ada yang aneh.
Tapi entah mengapa—mungkin karena luka lama yang belum sembuh, mungkin karena kepercayaan yang masih retak, mungkin karena kegelisahan yang terus tumbuh—Sintia mulai memperhatikan lebih dalam.
Ia mencari sesuatu di wajah Danang.
Mencari tanda, tanda kebohongan.
Mencari gerakan mata yang tidak biasa.
Mencari nada suara yang berbeda.
Dan ketika ia menyadari bahwa ia sedang melakukan hal itu—bahwa ia sedang mengintrogasi suaminya sendiri, bahwa ia sedang mencari, cari kesalahan—ia merasa bersalah.
Karena dulu, di awal pernikahan mereka, ia tidak pernah melakukan hal seperti ini.
Dulu, ia percaya begitu saja pada Danang.
Dulu, ia tidak pernah mencurigai.
Dulu, rumah tangganya tidak dipenuhi kecurigaan seperti sekarang.
Kapan semua ini mulai berubah? tanyanya dalam hati.
Dan lagi, lagi, ia tidak punya jawaban.
Beberapa hari kemudian.
Sebuah peristiwa kecil terjadi.
Tapi dampaknya—seperti batu kecil yang dijatuhkan ke kolam yang tenang—menciptakan riak yang semakin lama semakin lebar.
Sore itu, saat Danang sedang berada di kantor, sebuah foto beredar di grup percakapan WhatsApp beberapa warga kampung.
Foto yang diambil Anton beberapa waktu lalu—saat Danang dan Laras sedang duduk berdua di meja kerja.
Tidak ada yang salah dalam foto itu.
Tidak ada sentuhan.
Tidak ada kemesraan.
Tidak ada kontak fisik.
Hanya dua orang yang duduk di kursi masing, masing, menghadap ke arah yang sama, dengan jarak yang cukup untuk orang ketiga duduk di antara mereka.
Tapi narasi yang menyertai foto itu—dari orang yang mengirimkannya—membuat semuanya terlihat berbeda.
"Hati, hati kalau suami sering lembur. Kadang alasannya bukan pekerjaan. Lihat ini, rekan kerja baru. Janda. Cantik. Sering berdua."
Kalimat itu menyebar dengan cepat.
Seperti api di musim kemarau.
Dan seperti biasa, orang lebih tertarik pada dugaan daripada fakta.
Lebih tertarik pada skandal daripada kebenaran.
Lebih tertarik pada cerita yang menarik daripada cerita yang membosankan.
Foto itu akhirnya sampai ke ponsel seseorang yang mengenal Sintia.
Lalu berpindah ke orang lain.
Lalu ke orang berikutnya.
Seperti bola salju yang menggelinding menuruni bukit—semakin jauh, semakin besar, semakin cepat.
Dan hanya tinggal menunggu waktu sampai kabar itu sampai kepada orang yang paling tidak ingin mendengarnya.
Orang yang paling akan terluka.
Sintia.
Sore menjelang malam.
Langit Mekarsari mulai berubah warna. Jingga. Lembut. Indah.
Di rumah, Sintia sedang melipat pakaian di ruang tengah. Televisi menyala. Acara berita sore.
Telepon genggamnya berbunyi.
Sebuah pesan masuk.
Dari temannya—seorang perempuan yang juga ibu, ibu kampung, yang juga sering ikut pengajian, yang juga tidak asing dengan dunia gosip.
Pesan singkat.
Tanpa banyak kata.
Tapi cukup untuk mengubah segalanya.
"Maaf kalau aku lancang, Sintia. Tapi aku rasa kamu perlu melihat ini. Aku hanya kasihan. Maaf."
Di bawahnya, sebuah foto.
Sintia membuka foto itu.
Dan tangannya langsung membeku.
Foto Danang.
Dan seorang perempuan yang tidak pernah ia kenal.
Duduk berdua.
Di meja kantor.
Tersenyum.
Dadanya mendadak terasa sesak.
Jantungnya berdetak keras. Sangat keras. Hampir terdengar.
Matanya terus menatap layar telepon.
Berusaha memahami.
Berusaha menolak.
Berusaha mencari alasan.
Mungkin ini hanya sudut pandang kamera.
Mungkin mereka sedang bekerja.
Mungkin tidak ada apa, apa.
Tapi luka kepercayaan yang belum sembuh—bekas dari rahasia uang Deni, bekas dari kebohongan yang disembunyikan—membuat semuanya terasa jauh lebih sulit.
Luka lama yang belum kering, kini ditaburi garam baru.
Dan tanpa disadari Sintia, benih kecemburuan mulai tumbuh perlahan di dalam hatinya.
Benih yang akan segera berkembang menjadi tanaman.
Tanaman yang akan berubah menjadi pohon.
Pohon yang akan merambat, menjalar, dan akhirnya menjadi badai.
BAB XII
Cemburu yang Menjadi Badai
Malam itu terasa jauh lebih panjang daripada biasanya.
Jam dinding di ruang tamu—jam tua pemberian orang tua Sintia saat mereka menikah—menunjukkan pukul delapan malam. Jarum detiknya bergerak maju. Tik... tik... tik... Suara yang biasanya tidak terdengar, malam itu terasa sekeras palu memukul batu.
Namun bagi Sintia, waktu seolah berhenti.
Sejak foto itu muncul di layar telepon genggamnya, sejak matanya menangkap gambar Danang dan perempuan asing itu, sejak detik itu juga, dunia terasa berhenti berputar.
Foto Danang.
Dan seorang perempuan yang tidak dikenalnya.
Duduk berdampingan di meja kantor.
Tersenyum.
Tidak ada yang berlebihan dalam foto itu. Tidak ada pelukan. Tidak ada sentuhan. Tidak ada kemesraan. Bahkan jarak antara mereka masih cukup untuk orang ketiga duduk di antaranya.
Namun justru karena tidak ada yang berlebihan—justru karena foto itu tidak menunjukkan bukti nyata apa pun—itulah yang membuat semuanya terasa lebih menyakitkan.
Karena gambar itu menyisakan ruang.
Ruang bagi imajinasi.
Ruang bagi prasangka.
Ruang bagi asumsi.
Dan imajinasi yang dipenuhi luka—luka lama dari rahasia uang Deni, luka dari kebohongan yang disembunyikan—sering kali jauh lebih berbahaya daripada kenyataan itu sendiri.
Sintia duduk sendirian di kamar.
Pintu kamar tertutup rapat. Tidak dikunci. Tapi tidak ada yang masuk. Anak, anak sudah tidur. Atau setidaknya ia mengira mereka sudah tidur.
Berkali, kali ia memperbesar foto itu.
Mencari sesuatu.
Apa saja.
Petunjuk.
Penjelasan.
Kebenaran.
Mungkin ini hanya sudut pandang kamera. Mungkin mereka sedang membicarakan pekerjaan. Mungkin tidak ada apa, apa.
Tapi semakin ia memperbesar, semakin buram gambar itu. Makin tidak jelas. Makin sulit dipahami.
Foto tetaplah foto.
Ia hanya menangkap satu potongan waktu.
Satu detik.
Satu kesempatan.
Tidak lebih.
Tidak kurang.
Yang membuat semuanya rumit bukanlah foto itu. Bukan Danang. Bukan Laras. Bukan siapa pun.
Yang membuat semuanya rumit adalah pikiran manusia—pikiran Sintia—yang mencoba melengkapi bagian, bagian yang hilang. Yang mencoba menghubungkan titik, titik yang mungkin sebenarnya tidak berhubungan. Yang mencoba menciptakan cerita utuh dari potongan, potongan yang tidak lengkap.
Dan pikiran Sintia, malam itu, sedang berada dalam keadaan yang tidak baik.
Sangat tidak baik.
Beberapa minggu terakhir—bahkan mungkin beberapa bulan terakhir—ia sudah terluka.
Luka pertama: rahasia uang Deni. Danang mengambil tabungan keluarga tanpa sepengetahuannya. Tanpa diskusi. Tanpa persetujuan. Ia tahu di balik niat baik suaminya, ada kebohongan yang disembunyikan.
Kepercayaannya kepada Danang belum pulih sepenuhnya. Masih ada bekasnya. Seperti luka yang sudah mengering tapi masih terasa gatal. Seperti kaca yang retak tapi belum pecah—masih utuh, masih berdiri, tapi setiap sentuhan kecil mampu memperlebar retakan.
Kini muncul foto ini.
Ditambah bisik, bisik tetangga yang sudah ia dengar sejak beberapa hari lalu.
Ditambah tatapan aneh orang, orang di pengajian.
Ditambah ucapan Bu Ratna di pasar—"Kamu harus banyak sabar, ya."
Semua tiba, tiba terasa saling terhubung.
Seperti potongan puzzle yang berserakan di lantai.
Seperti benang kusut yang mulai terurai.
Seperti gambar yang perlahan menjadi jelas—meskipun gambar yang terbentuk adalah gambar yang paling tidak ingin ia lihat.
Pintu kamar terbuka.
Danang masuk. Rambutnya masih basah—baru selesai mengeringkan dengan handuk setelah mandi. Wajahnya lelah. Tidak menyadari apa pun.
"Kamu kenapa?" tanyanya sambil mengelap rambut dengan handuk kecil.
Sintia tidak menjawab.
"Kamu sakit?"
Tetap tidak ada jawaban.
Danang mulai khawatir. Ia mendekat. Duduk di tepi ranjang. Menatap wajah istrinya.
"Sintia?"
Perlahan—sangat perlahan, seperti orang yang mengangkat senjata berat—Sintia mengangkat telepon genggamnya.
Layar masih menyala.
Foto itu masih terpampang.
"Siapa dia?"
Suara Sintia datar. Sangat datar. Tidak ada emosi yang keluar. Tapi justru ketiadaan emosi itulah yang membuat Danang merinding.
Danang membeku.
Jantungnya berdetak lebih cepat. Bukan karena ia merasa bersalah—ia tidak melakukan apa pun yang perlu disembunyikan. Melainkan karena terkejut. Sangat terkejut.
Ia tidak menyangka foto itu akan sampai ke tangan Sintia.
Ia tidak menyangka gosip di kantor sudah sejauh itu.
Ia tidak menyangka masalah yang tidak pernah ia anggap serius—masalah yang ia kira hanya angin lalu, hanya omongan kosong—kini telah sampai ke rumahnya. Ke ruang tamunya. Ke kamar tidurnya. Ke ranjang pernikahannya.
"Itu Laras."
"Laras?"
"Pegawai baru di kantor."
Sintia tersenyum kecil. Senyum yang sama sekali tidak mengandung kebahagiaan. Senyum yang keluar dari tempat paling gelap di hatinya.
"Jadi benar."
Danang mengernyit. "Benar apa?"
"Orang, orang tidak sedang mengarang cerita."
Danang langsung memahami arah pembicaraan itu. Gosip. Fitnah. Cerita, cerita yang berkembang di kantor dan di kampung. Akhirnya sampai juga ke rumahnya. Akhirnya sampai ke telinga Sintia.
Danang menghela napas panjang. "Ini tidak seperti yang kamu pikirkan."
Kalimat itu—kalimat yang paling sering diucapkan seseorang ketika sedang dicurigai, ketika sedang dihakimi, ketika sedang tidak dipercaya.
Dan justru karena kalimat itu terlalu sering diucapkan oleh orang, orang yang bersalah—oleh suami, suami yang selingkuh, oleh karyawan, karyawan yang korupsi, oleh anak, anak yang berbohong—kalimat itu terdengar begitu lemah. Begitu tidak meyakinkan. Bahkan ketika diucapkan oleh orang yang benar, benar tidak bersalah.
Sintia tertawa hambar. "Lucu."
"Apa?"
"Aku bahkan belum bilang apa yang aku pikirkan. Aku belum menuduh apa pun. Aku belum mengatakan bahwa kamu selingkuh. Tapi kamu sudah membela diri. Kamu sudah mengeluarkan kalimat 'ini tidak seperti yang kamu pikirkan'."
Danang terdiam.
Sintia benar.
Itu kesalahan pertama Danang malam itu. Ia terlalu cepat membela diri. Terlalu cepat defensif. Terlalu cepat mengeluarkan jurus, jurus standar yang justru membuatnya terlihat bersalah.
"Kalian dekat?" tanya Sintia. Nadanya masih datar. Masih dingin. Masih seperti pisau yang baru diasah.
"Sebagai rekan kerja."
"Sering bersama?"
"Karena pekerjaan. Saya yang ditugaskan membantu adaptasinya."
"Sering makan siang?"
Danang mulai memahami bahwa gosip itu sudah berkembang jauh. Bukan hanya "sering membantu" atau "kadang diskusi". Tapi sudah menjadi "sering makan siang bersama", "sering pulang bareng", "sering berduaan di ruang arsip".
"Kadang. Bersama Rudi juga. Kadang bersama teman, teman kantor yang lain."
"Tapi kadang juga berdua?"
"Pernah. Satu atau dua kali. Karena Rudi sedang ada urusan lain."
Sintia mengangguk pelan. Tidak mengatakan apa, apa. Hanya mengangguk.
Danang tahu. Setiap anggukan itu adalah paku yang terpancang di papan penghakiman.
"Aku hanya ingin tahu, Danang." Suara Sintia mulai berubah. Masih pelan. Tapi ada getaran di sana. Getaran yang menunjukkan bahwa air mata sedang menunggu di balik pintu. "Kenapa aku harus mendengar tentang perempuan ini dari orang lain? Dari Bu Ratna? Dari tetangga? Dari grup WhatsApp? Bukan dari suamiku sendiri?"
Danang mengusap wajahnya. Lelah. Begitu lelah.
"Karena memang tidak ada yang perlu diceritakan, Tin. Karena tidak ada yang terjadi. Karena Laras hanya rekan kerja. Tidak lebih."
"Kamu bisa cerita. Kamu bisa bilang dari awal. 'Ada pegawai baru, Tin. Namanya Laras. Janda. Anaknya satu. Aku ditugaskan membantu adaptasinya.' Sederhana. Selesai. Tidak perlu curiga. Tidak perlu gosip. Tapi kamu diam. Kamu pilih diam. Seperti biasa."
"Sintia..."
"Aku pernah mempercayaimu sepenuhnya, Danang."
Kalimat itu—hanya satu kalimat, hanya sepuluh kata—menghentikan semua pembelaan Danang.
Karena inti masalahnya, malam itu, bukan Laras.
Bukan foto.
Bukan gosip.
Bukan Bu Ratna.
Bukan grup WhatsApp.
Bukan kampung.
Bukan tetangga.
Tapi sesuatu yang jauh lebih dalam.
Sesuatu yang lebih fundamental.
Sesuatu yang lebih sakral dalam sebuah pernikahan.
Kepercayaan.
Kepercayaan yang sudah terluka sejak peristiwa Deni.
Kepercayaan yang masih dalam masa penyembuhan—atau setidaknya Sintia mengira sedang dalam masa penyembuhan.
Tapi malam itu, kepercayaan itu menerima pukulan baru.
Bukan pukulan mematikan. Belum.
Tapi pukulan yang cukup keras untuk membuat retakan yang ada semakin melebar.
Di dalam hati Sintia, sebenarnya ada perang besar yang sedang terjadi.
Bukan perang antara ia dan Danang.
Tapi perang antara ia dan dirinya sendiri.
Dua suara bertempur di kepalanya.
Satu suara—suara yang rasional, suara yang mencintai Danang, suara yang ingin mempertahankan rumah tangganya—berbisik: "Danang tidak akan selingkuh. Danang bukan tipe orang seperti itu. Kamu kenal Danang. Kamu sudah belasan tahun hidup bersamanya. Dia lelaki yang setia. Tidak mungkin."
Suara lain—suara yang takut, suara yang pernah ditinggalkan ayahnya, suara yang tidak ingin mengulang luka masa lalu—berbisik lebih keras: "Tapi dia sudah berbohong sekali. Tentang uang Deni. Siapa tahu dia berbohong tentang hal lain. Siapa tahu foto itu bukan hanya pekerjaan. Siapa tahu..."
Dua suara itu bertempur.
Dan Sintia tidak tahu harus mendengar yang mana.
Hari, hari berikutnya menjadi semakin sulit.
Sintia mulai memperhatikan banyak hal yang sebelumnya tidak pernah ia pikirkan.
Ketika Danang pulang terlambat—jam enam, setengah tujuh, kadang tujuh—ia bertanya dalam hati: "Lembur? Atau ada yang lain?"
Ketika telepon Danang berbunyi—terutama di malam hari, setelah anak, anak tidur—ia bertanya: "Siapa yang menelepon? Urusan kantor? Atau perempuan itu?"
Ketika Danang tersenyum membaca pesan di ponselnya—senyum kecil yang tidak ia tunjukkan kepada Sintia—ia bertanya: "Siapa yang mengirim pesan? Apa isinya? Apa yang membuatnya tersenyum?"
Semua hal kecil—hal, hal yang dulu tidak pernah ia perhatikan, hal, hal yang dulu ia anggap biasa—mendadak terasa mencurigakan.
Dan Sintia benci perasaan itu.
Ia benci menjadi perempuan pencemburu.
Ia benci menjadi istri yang memata, matai suaminya sendiri.
Ia benci menjadi orang yang tidak bisa lagi percaya begitu saja.
Tapi ia tidak bisa menghentikannya.
Pikirannya sudah seperti kereta yang lepas kendali. Melaju kencang. Tidak bisa dihentikan. Hanya bisa menabrak.
Sementara itu, Danang mulai merasakan perubahan sikap istrinya.
Sintia menjadi lebih pendiam.
Lebih sedikit bicara.
Lebih sering melamun.
Lebih sensitif.
Lebih mudah tersinggung.
Hal, hal kecil yang dulu tidak masalah, kini bisa membuatnya marah.
Dan yang paling membuat Danang sedih—yang paling membuat dadanya terasa sesak—ia merasa istrinya sedang mengawasinya.
Bukan sebagai pasangan.
Bukan sebagai istri yang peduli.
Bukan sebagai teman hidup yang ingin tahu kabar suaminya.
Melainkan seperti polisi yang sedang mengawasi penjahat.
Seperti detektif yang sedang mencari bukti.
Seperti algojo yang sedang menunggu kesalahan.
Suatu sore.
Danang sedang mandi—air mengalir dari kran, suaranya samar, samar terdengar dari dalam—dan ponselnya tertinggal di ruang tengah.
Ponsel itu berbunyi.
Pesan masuk.
Layar menyala.
Kebetulan—atau mungkin bukan kebetulan, mungkin memang sudah ditakdirkan—nama Laras muncul di layar.
"Pak Danang, laporan yang kemarin sudah saya revisi. Besok saya bawa ke ruang bapak. Terima kasih."
Pesan itu sangat biasa.
Murni urusan pekerjaan.
Tidak ada kata, kata mesra.
Tidak ada panggilan sayang.
Tidak ada emotikon hati.
Hanya laporan. Hanya pekerjaan. Hanya profesional.
Tapi saat itu—di saat kepercayaan sedang sekoyah, koyahnya, di saat hati sedang seluka, lukanya, di saat pikiran sedang sekacau, kacaunya—Sintia kebetulan melihatnya.
Dan sesuatu di dalam dirinya runtuh.
Bukan karena isi pesannya.
Bukan karena kata, katanya.
Tapi karena nama itu.
Nama yang sama.
Laras.
Perempuan yang sama.
Yang foto, nya beredar di grup WhatsApp.
Yang dibisik, bisikkan tetangga.
Yang menjadi pusat semua kecurigaan.
Nama itu muncul lagi.
Dan itu cukup.
Cukup untuk membuat semua benteng yang ia bangun—benteng kesabaran, benteng rasionalitas, benteng keyakinan—runtuh dalam sekejap.
Ketika Danang keluar dari kamar mandi—rambut masih basah, handuk melingkar di leher, wajah masih segar—ia mendapati Sintia berdiri di ruang tengah.
Wajahnya pucat.
Matanya merah.
Tangannya memegang ponsel—ponsel Danang.
"Kalian sering berkirim pesan?"
Danang langsung memahami. "Itu pekerjaan, Tin. Lihat saja isinya. Laporan yang sudah direvisi."
"Semuanya pekerjaan."
"Iya."
"Foto itu pekerjaan."
"Iya."
"Makan siang itu pekerjaan."
"Kadang..."
"Pesan ini juga pekerjaan."
"Iya."
Sintia tertawa kecil. Tawa yang tidak mengandung kebahagiaan. Tawa yang keluar dari tempat yang paling hancur di hatinya.
Dan air mata jatuh.
Bukan air mata marah.
Bukan air mata benci.
Tapi air mata lelah.
Air mata yang keluar setelah sekian lama ditahan.
"Aku capek mendengar jawaban yang sama, Danang. Capek. Setiap kali aku bertanya, jawabannya selalu 'pekerjaan'. Setiap kali. Tidak pernah berubah. Tidak pernah ada jawaban lain."
Danang membuka mulut. Ingin mengatakan sesuatu. Tapi tidak ada kata, kata yang keluar.
Karena apa yang bisa ia katakan?
Bahwa ia hanya membantu rekan kerja?
Bahwa ia tidak melakukan apa, apa?
Bahwa Sintia terlalu cemburu?
Semua itu benar. Tapi semua itu juga sudah ia katakan. Berkali, kali. Dan tidak ada yang berubah.
Malam itu—malam yang sama, setelah anak, anak tidur, setelah suasana rumah kembali sunyi, setelah sisa, sisa energi habis terkuras—pertengkaran mereka benar, benar meledak.
Bukan lagi percakapan yang dipenuhi kekecewaan.
Bukan lagi diskusi yang penuh kesedihan.
Bukan lagi adu argumen yang masih terkendali.
Melainkan pertengkaran.
Keras.
Sangat keras.
Seperti gunung yang meletus setelah sekian lama diam, diam menyimpan magma.
"Kenapa kamu tidak pernah mengerti aku, Danang?" teriak Sintia. Suaranya pecah. Tidak lagi datar. Tidak lagi dingin. Sekarang panas. Sekarang meledak. "Kenapa kamu selalu menganggap aku musuh?"
"Aku mengerti, Sintia!"
"Tidak! Kamu tidak mengerti!"
"Aku tidak pernah melakukan apa yang kamu tuduhkan! Aku tidak pernah selingkuh! Aku tidak pernah berkhianat! Aku hanya bekerja!"
"Tapi kamu membuatku sulit percaya!"
Kalimat itu—hanya sepuluh kata, tapi berat seperti gunung—menggema di seluruh rumah.
Dan setelah mengucapkannya, Sintia langsung menangis.
Bukan terisak, isak.
Tapi menangis.
Air mata mengalir deras.
Tangisan yang keluar dari tempat paling dalam.
Karena ia sadar.
Ia sadar bahwa itulah akar dari semua masalah mereka.
Bukan Laras.
Bukan Deni.
Bukan Bu Sulastri.
Bukan uang.
Bukan gosip.
Bukan tetangga.
Melainkan kepercayaan.
Kepercayaan yang mulai runtuh.
Di ambang pintu kamar, Bima berdiri.
Anak laki, laki itu—yang biasanya tidur paling cepat, yang biasanya tidak peduli dengan apa pun—kali ini terjaga.
Ia mendengar suara teriakan dari ruang tengah.
Ia mendengar ibunya menangis.
Ia mendengar ayahnya membentak.
Ia keluar dari kamar. Berdiri di ambang pintu. Matanya berkaca, kaca.
"Ayah..." suaranya kecil. Hampir tidak terdengar. Tapi cukup.
Cukup untuk menghentikan semua suara.
Cukup untuk menghentikan semua teriakan.
Cukup untuk menghentikan semua tangisan.
Ruangan mendadak sunyi.
Danang menoleh.
Sintia juga.
Mereka melihat ketakutan di wajah anak mereka.
Bukan ketakutan akan hantu.
Bukan ketakutan akan monster di bawah ranjang.
Tapi ketakutan yang sesungguhnya.
Ketakutan seorang anak yang melihat kedua orang tuanya hancur di depan matanya.
Ketakutan yang selama ini berusaha mereka hindari.
Tapi kini—di malam itu, di tengah pertengkaran yang tidak terkendali—mulai menjadi nyata.
Malam itu berakhir tanpa penyelesaian.
Danang tidur di ruang tamu. Di sofa tua yang sudah kendor pegasnya. Dengan bantal seadanya. Tanpa selimut yang cukup hangat.
Sintia mengunci diri di kamar bersama anak, anak. Bima di sebelah kiri. Dinda di sebelah kanan. Kedua anak itu memeluk ibunya dalam tidurnya. Seolah, olah mereka tahu bahwa ibunya sedang hancur.
Sementara di luar rumah, hujan turun deras.
Petir sesekali menyambar langit.
Angin malam berembus kencang, menerbangkan daun, daun kering di halaman.
Seolah alam ikut merasakan badai yang sedang terjadi di dalam rumah itu.
Badai yang belum mencapai puncaknya.
Karena sesungguhnya, yang paling berbahaya belum terjadi.
Masih ada satu peristiwa lagi.
Satu peristiwa yang akan membuat semuanya semakin buruk.
Satu peristiwa yang akan mempertemukan Danang dan Laras di luar kantor secara tidak sengaja.
Peristiwa yang kemudian dilihat oleh orang yang salah—oleh Bu Ratna, tentu saja, karena siapa lagi yang suka mengawasi jika bukan Bu Ratna.
Dan ketika kabar itu sampai kepada Sintia—ketika foto itu tiba di ponselnya dengan narasi yang lebih dahsyat dari sebelumnya—badai yang selama ini hanya berputar, putar di atas rumah mereka, badai yang selama ini hanya menggantung di langit, badai yang selama ini belum benar, benar turun... akhirnya akan jatuh.
Menghantam.
Mengoyak.
Menghancurkan.
Dengan seluruh kekuatannya.
BAB XIII
Pertengkaran di Malam Hujan
Langit sejak pagi sudah terlihat muram.
Awan hitam menggantung rendah. Bukan awan putih yang indah. Bukan awan tipis yang biasabiasa saja. Tapi awan tebal. Hitam. Gelap. Seperti awan yang membawa petaka.
Udara terasa lembap. Panas. Tidak nyaman. Keringat keluar bahkan ketika hanya duduk diam.
Angin bertiup pelan—tapi bukan angin yang menyejukkan. Angin yang membawa aroma tanah kering sebelum hujan. Aroma yang biasanya membuat orang senang—karena hujan akan turun, karena musim kemarau akan segera berakhir.
Tapi hari itu, aroma itu terasa berbeda.
Aroma itu terasa seperti pertanda.
Pertanda bahwa sesuatu akan terjadi.
Pertanda yang tidak nyaman.
Pertanda yang membuat bulu kuduk merinding.
Seolah alam sedang mempersiapkan sesuatu.
Dan tanpa disadari siapa pun—tanpa disadari Danang, tanpa disadari Sintia, tanpa disadari anak, anak, tanpa disadari tetangga—hari itu memang akan menjadi salah satu hari terburuk dalam kehidupan rumah tangga mereka.
Sudah hampir seminggu sejak pertengkaran besar mereka mengenai Laras dan foto itu.
Seminggu yang terasa lebih panjang daripada sebulan.
Seminggu yang dipenuhi keheningan dan kecurigaan.
Namun keadaan tidak juga membaik.
Justru semakin memburuk.
Seperti luka yang tidak diobati—semakin hari semakin gatal, semakin perih, semakin sulit disembuhkan.
Hubungan mereka kini seperti kaca yang retak.
Masih utuh. Masih berdiri. Masih terlihat seperti kaca biasa.
Namun setiap sentuhan kecil—setiap kata yang salah ucap, setiap nada yang tidak pas, setiap tatapan yang sedikit terlalu lama—mampu memperlebar retakan yang ada.
Mereka masih tinggal serumah.
Masih makan di meja yang sama.
Masih menggunakan kamar mandi yang sama.
Masih menonton televisi yang sama.
Masih menjalankan rutinitas seperti biasa.
Namun kehangatan yang dulu mengisi rumah itu—yang dulu membuat rumah itu terasa seperti rumah, bukan sekadar bangunan—perlahan menghilang.
Digantikan oleh keheningan.
Keheningan yang menyakitkan.
Keheningan yang terasa seperti teriakan.
Di kantor, Danang berusaha fokus bekerja.
Layar komputer di depannya menampilkan angka, angka dan tabel, tabel yang harus ia selesaikan sebelum sore. Laporan bulanan. Selalu ada laporan bulanan. Tidak ada habisnya.
Tapi pikirannya tidak berada di sana.
Pikirannya melayang.
Ke rumah.
Ke wajah Sintia.
Ke mata istrinya yang pagi itu tidak mau menatapnya.
Ke bibir istrinya yang tidak mengucapkan "hati, hati" saat ia berangkat kerja.
Ke punggung istrinya yang membelakanginya saat ia berpamitan.
Ke anak, anak—ke Bima yang biasanya selalu minta diantar, tapi pagi itu memilih berangkat sendiri tanpa pamit. Ke Dinda yang biasanya selalu minta cium tangan, tapi pagi itu hanya diam di kamar.
Danang mulai merasa kehilangan arah.
Ia ingin memperbaiki semuanya.
Ia ingin kembali ke masa sebelum semua ini terjadi.
Ia ingin mengulang waktu dan memilih kata, kata yang berbeda, sikap yang berbeda, tindakan yang berbeda.
Tapi ia tidak tahu harus mulai dari mana.
Dan tidak tahu apakah masih ada kesempatan.
Menjelang sore.
Hujan turun.
Bukan gerimis. Bukan hujan biasa.
Hujan deras. Sangat deras.
Air jatuh dari langit seperti ada yang membuka keran raksasa. Jalanan mulai tergenang. Beberapa tempat mulai banjir kecil. Petir sesekali menyambar, diikuti gemuruh yang menggetarkan jendela.
Sebagian besar karyawan memilih menunggu hujan reda sebelum pulang.
Termasuk Laras.
Perempuan itu berdiri di teras kantor. Jilbab kremnya sedikit basah di bagian ujung karena tertiup angin yang membawa butiran air. Matanya memandang jalan yang mulai tergenang air.
"Sepertinya lama reda, ya, Pak," ucapnya sambil menghela napas.
Danang yang berdiri tidak jauh darinya mengangguk. "Iya. Hujannya deras sekali."
Laras tersenyum kecil. Senyum yang sudah menjadi kebiasaan. Senyum untuk menutupi kekhawatiran.
"Laporan yang kemarin sudah selesai, Pak. Besok saya bawa ke ruang bapak."
"Bagus. Terima kasih."
"Terima kasih kembali, Pak. Sudah banyak membantu."
"Sama, sama."
Percakapan mereka singkat.
Sangat singkat.
Tidak ada yang istimewa.
Tidak ada senyum mesra.
Tidak ada tatapan yang berarti.
Hanya dua rekan kerja yang sedang menunggu hujan reda.
Tapi takdir—atau mungkin kutukan—terkadang memiliki cara aneh untuk menciptakan masalah.
Cara yang tidak pernah diduga.
Cara yang paling sederhana.
Cara yang paling tidak terduga.
Beberapa menit kemudian.
Telepon Laras berdering.
Ia mengangkat. Wajahnya langsung berubah. Dari tenang menjadi cemas. Dari cemas menjadi panik.
"Astaga..."
Danang menoleh. "Ada apa, Mbak?"
"Anak saya, Pak. Demam." Suara Laras gemetar. "Pembantunya bilang panasnya tinggi. Sudah dua hari, tapi saya pikir hanya demam biasa. Katanya sekarang sudah mulai kejang, kejang."
Danang mengernyit. "Parah?"
"Katanya panasnya sangat tinggi. Saya harus segera pulang."
Laras langsung mencoba memesan ojek daring. Jari, jarinya mengetik cepat. Membuka aplikasi. Memasukkan lokasi. Mencari driver.
Tidak ada yang menerima.
Dicoba lagi.
Masih tidak ada.
Dicoba sekali lagi.
Tidak ada.
Karena hujan deras. Karena jalanan macet. Karena banjir di beberapa titik. Karena para driver memilih berteduh.
Wajah Laras semakin cemas.
Matanya mulai berkaca, kaca.
Tangannya gemetar memegang ponsel.
Danang memperhatikan beberapa saat.
Hatinya berperang.
Ia ingat pertengkaran dengan Sintia. Ia ingat foto yang beredar. Ia ingat gosip yang menyebar. Ia tahu bahwa jika ia membantu Laras—jika ia mengantar perempuan itu pulang—risikonya sangat besar. Risiko untuk dicurigai. Risiko untuk difitnah. Risiko untuk membuat masalah yang sudah rumit menjadi semakin rumit.
Tapi di sisi lain, ia juga ingat anaknya sendiri. Bima dan Dinda. Ketika mereka masih kecil. Ketika mereka demam tinggi di tengah malam. Ketika ia dan Sintia bergantian menjaga, bergantian mengompres, bergantian berdoa.
Ia tahu rasanya menjadi orang tua yang anaknya sakit.
Ia tahu rasa panik itu.
Ia tahu rasa takut itu.
Dan ia tidak tega membiarkan Laras—seorang janda, seorang ibu yang membesarkan anaknya sendirian—menghadapi itu seorang diri.
"Saya antar saja, Mbak."
Laras langsung menggeleng. "Tidak usah, Pak. Tidak usah merepotkan."
"Tidak masalah."
"Nanti Bapak kehujanan. Nanti istrinya..."
"Tidak apa, apa." Suara Danang tegas. "Daripada anaknya menunggu. Anak Mbak butuh pertolongan sekarang. Jangan pikirkan yang lain."
Laras ragu.
Wajahnya berubah, ubah.
Antara ingin menerima—karena ia sangat khawatir pada anaknya—dan ingin menolak—karena ia tidak ingin menambah masalah bagi Danang.
Tapi keadaan membuatnya tidak punya banyak pilihan.
Pesan ojek tidak ada yang diterima.
Tidak ada rekan kerja lain yang memiliki mobil.
Hujan masih deras.
Anaknya sedang kejang.
Akhirnya ia mengangguk.
"Terima kasih, Pak. Maaf merepotkan."
Mereka berangkat menggunakan mobil kantor—mobil operasional yang biasa digunakan untuk keperluan dinas, yang kebetulan masih tersedia karena sopirnya sedang lembur.
Danang yang menyetir. Laras di kursi penumpang sebelahnya. Sepanjang perjalanan, mereka hanya membicarakan kondisi anak Laras.
"Sudah minum obat, Mbak?"
"Sudah. Tapi katanya tidak turun, turun."
"Sudah dikompres?"
"Sudah. Pembantunya sudah lakukan semua yang saya ajarkan. Tapi katanya tetap panas."
"Rumah sakit terdekat di mana? Mungkin nanti Mbak perlu bawa ke sana kalau tidak membaik."
"Ada puskesmas dekat rumah, Pak. Tapi malam, malam begini... apalagi hujan..."
Percakapan itu biasa.
Sekali lagi: biasa.
Tidak ada pembicaraan pribadi.
Tidak ada godaan.
Tidak ada rayuan.
Tidak ada niat jahat.
Hanya dua rekan kerja.
Satu membantu yang lain.
Itu saja.
Namun di sebuah persimpangan jalan—tepatnya di lampu merah depan toko kelontong milik Haji Udin—seseorang melihat mereka.
Bu Ratna.
Perempuan itu sedang berteduh di emperan toko karena kehujanan. Tangannya membawa dua kantong plastik berisi belanjaan. Kain sarung yang ia kenakan basah di bagian bawah.
Matanya—mata yang selalu haus akan cerita—menangkap mobil kantor yang berhenti tepat di depan lampu merah.
Ia melihat Danang di kursi kemudi.
Ia melihat seorang perempuan di kursi penumpang.
Perempuan yang tidak ia kenal.
Perempuan yang berkerudung krem.
Perempuan yang wajahnya tidak ia kenali.
Tapi Bu Ratna tidak butuh pengenalan.
Matanya langsung membesar.
Pupil matanya melebar.
Seperti predator yang melihat mangsa.
Dan seperti biasa, pikirannya—pikiran yang sudah terlatih selama bertahun, tahun untuk menciptakan cerita dari potongan, potongan kecil—bergerak jauh lebih cepat daripada fakta.
"Jadi benar," gumamnya.
Padahal yang ia lihat hanyalah Danang mengantar rekan kerjanya pulang di tengah hujan deras.
Tidak lebih.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada ciuman.
Tidak ada kemesraan.
Hanya dua orang di dalam mobil.
Tapi di benak Bu Ratna—di benak perempuan yang sudah puluhan tahun hidup dengan gosip sebagai makanan utama—cerita itu segera berubah menjadi sesuatu yang lain.
Sesuatu yang jauh lebih menarik.
Sesuatu yang jauh lebih "jual".
Sesuatu yang layak untuk disebarkan.
Malam tiba.
Hujan semakin deras. Air tidak lagi hanya turun dari langit. Air mulai mengalir di jalanan. Menggenang. Menaik. Banjir di beberapa titik.
Petir sesekali membelah langit. Kilatnya menyambar, nyambar, menerangi kampung yang gelap sesaat sebelum gelap lagi.
Sementara di rumah, Sintia sedang menunggu.
Jam dinding menunjukkan pukul delapan malam.
Danang belum pulang.
Biasanya—dulu, sebelum semua masalah ini—ia pulang pukul enam. Paling lambat setengah tujuh.
Tapi akhir, akhir ini, ia sering pulang malam.
Lembur, katanya.
Pekerjaan, katanya.
Sintia mencoba menelpon. Beberapa kali. Tidak ada jawaban. Tersambung. Tapi tidak diangkat. Atau mungkin sinyal terganggu—karena hujan, karena badai, karena petir.
Kegelisahan mulai tumbuh.
Bukan kegelisahan biasa.
Tapi kegelisahan yang sudah ia rasakan sejak beberapa hari terakhir.
Kegelisahan yang membuat ia tidak bisa duduk tenang.
Kegelisahan yang membuat ia bolak, balik melihat ke arah pintu.
Kegelisahan yang membuat ia tidak bisa mengalihkan pikirannya ke hal lain.
Lalu telepon genggam Sintia berbunyi.
Sebuah pesan masuk.
Dari Bu Ratna.
"Maaf kalau saya lancang, Sintia. Saya hanya kasihan melihat kamu. Tadi saya melihat suamimu pergi bersama perempuan itu. Naik mobil. Berdua saja. Di tengah hujan deras begini. Semoga kamu kuat, ya."
Di bawah pesan tersebut, sebuah foto terlampir.
Foto yang diambil dari kejauhan—dari emperan toko Haji Udin—dalam keadaan hujan deras. Tampak buram. Tapi cukup jelas untuk menunjukkan Danang di kursi kemudi mobil kantor. Dan seorang perempuan berkerudung krem di kursi penumpang.
Jantung Sintia terasa berhenti.
Dunia seolah membeku.
Suara hujan di luar rumah—yang sedetik yang lalu masih terdengar jelas, yang sedetik yang lalu masih mengganggu pikirannya—kini menghilang.
Yang tersisa hanyalah debaran jantungnya sendiri.
Deg, degan.
Deg, degan.
Deg, degan.
Seperti genderang perang.
Seperti alarm kebakaran.
Seperti tanda bahwa dunia sedang runtuh.
Ketika Danang akhirnya tiba di rumah sekitar pukul sembilan malam—basah kuyup, rambutnya masih meneteskan air, bajunya lepek karena kehujanan meskipun ia berusaha berlindung—suasana sudah berubah.
Begitu membuka pintu, ia langsung merasakan sesuatu yang tidak beres.
Rumah itu sunyi.
Terlalu sunyi.
Tidak ada suara televisi yang biasanya menyala meskipun tidak ada yang menonton.
Tidak ada suara anak, anak yang biasanya masih bermain atau belajar.
Tidak ada suara Sintia yang biasanya masih di dapur atau di ruang tengah.
Lampu ruang tamu masih menyala. Terang. Sangat terang. Seperti ruang operasi.
Dan di ruang tamu itu, Sintia duduk.
Sendirian.
Wajahnya pucat.
Matanya merah—habis menangis, atau mungkin masih menangis.
Rambutnya sedikit berantakan—mungkin karena ia sering mengusap, usap kepalanya, atau karena ia tidak sempat merapikan diri sejak pulang dari suatu tempat.
Pakaiannya masih seperti pagi tadi—baju rumah yang longgar, kain jarik yang biasa ia kenakan.
Dan di atas meja, telepon genggamnya tergeletak.
Layar masih menyala.
Menampilkan foto yang sangat dikenalnya.
Foto yang sama yang dikirim Bu Ratna.
Foto dirinya dan Laras di dalam mobil.
Danang langsung mengerti.
Tanpa perlu penjelasan.
Tanpa perlu pertanyaan.
Tanpa perlu penyelidikan lebih lanjut.
Ia tahu badai itu akhirnya datang.
Badai yang selama ini ia takutkan.
Badai yang selama ini ia hindari.
Badai yang selama ini ia coba tunda dengan diam, dengan menghindar, dengan tidak mau menghadapi.
"Biarkan aku menjelaskan," ucap Danang pelan. Suaranya serak. Tenggorokannya terasa kering.
Namun Sintia tertawa.
Tawa yang terdengar pahit.
Sangat pahit.
Sampai, sampai Danang merasakan rasa pahit itu di lidahnya sendiri.
"Menjelaskan apa, Danang?"
"Sintia..."
"Menjelaskan bahwa semuanya hanya kebetulan? Bahwa kamu tidak sengaja bertemu dengannya? Bahwa hujan turun begitu saja tanpa bisa diprediksi? Bahwa kamu tidak punya pilihan selain mengantarnya? Bahwa semuanya hanya kebetulan belaka?"
Danang menarik napas panjang. "Laras menelpon karena anaknya sakit, Tin. Saya dengar sendiri. Dia panik. Anaknya demam tinggi. Sampai kejang, kejang. Dia tidak bisa memesan ojek. Tidak ada yang mau antar karena hujan. Saya hanya..."
"Mengantarnya pulang."
"Iya."
"Dan tidak ada apa, apa."
"Iya. Tidak ada apa, apa."
"Tentu."
Kata 'tentu' itu—hanya satu suku kata, hanya empat huruf—terdengar seperti pisau yang diasah di atas batu. Tajam. Dingin. Mematikan.
"Tentu semuanya hanya kebetulan. Tentu tidak ada apa, apa. Tentu aku yang terlalu cemburu. Tentu aku yang terlalu curiga. Tentu aku yang salah."
"Sintia, aku tidak bilang..."
"Tentu."
"Aku lelah, Danang."
Sintia mengucapkan kalimat itu tiba, tiba. Suaranya tidak lagi tinggi. Tidak lagi teriak. Tidak lagi penuh emosi.
Hanya pelan.
Lelah.
Sangat lelah.
"Aku benar, benar lelah."
Danang terdiam.
"Aku lelah mencoba percaya."
Air mata mulai jatuh.
"Aku lelah mencoba memahami."
Jatuh lagi.
"Aku lelah menjadi orang terakhir yang tahu segalanya."
Jatuh lagi. Lebih deras.
"Sintia..."
"Dan aku lelah merasa bodoh."
Kalimat terakhir itu—"aku lelah merasa bodoh"—menghantam Danang begitu keras.
Lebih keras daripada bentakan.
Lebih keras daripada lemparan piring.
Lebih keras daripada apa pun yang pernah ia alami dalam hidupnya.
"Aku tidak pernah mengkhianatimu, Sintia."
Untuk pertama kalinya malam itu, suara Danang terdengar tinggi.
Bukan marah. Bukan emosi. Tapi suara orang yang sudah tidak tahu harus berkata apa lagi. Suara orang yang sudah di ujung tanduk. Suara orang yang kehabisan kata, kata.
"Aku tidak pernah selingkuh. Aku tidak pernah mencintai perempuan lain. Aku hanya membantu seseorang yang membutuhkan bantuan. Itu saja. Laki, laki mana pun akan melakukan hal yang sama. Kamu istriku. Kamu seharusnya percaya padaku."
"Lalu kenapa selalu perempuan itu?"
Sintia tidak berteriak. Hanya bertanya.
Tapi pertanyaan itu—sederhana, pendek, tidak bertele, tele—membuat Danang membeku.
Karena ia tidak memiliki jawaban.
Jawaban yang cukup.
Jawaban yang meyakinkan.
Jawaban yang bisa menghapus semua keraguan yang sudah terlanjur tumbuh di hati Sintia.
Pertengkaran itu terus berlangsung.
Semakin lama semakin keras.
Semakin lama semakin menyakitkan.
Semakin lama semakin jauh dari inti persoalan.
Mereka mulai membahas semuanya.
Masa lalu. Masa kini. Masa depan.
Tentang Deni—kesalahan Danang yang mengambil uang tanpa sepengetahuan.
Tentang uang—tabungan anak, anak yang berkurang, masa depan yang mungkin terganggu.
Tentang Bu Sulastri—perbandingan, perbandingan yang menyakitkan, konflik yang tidak pernah selesai.
Tentang Laras—foto, foto, gosip, gosip, kebohongan, kebohongan kecil yang mungkin atau mungkin tidak terjadi.
Tentang pernikahan mereka—tentang cinta yang dulu begitu kuat, tentang janji, janji yang dulu diucapkan di depan penghulu, tentang komitmen untuk bersama sampai maut memisahkan.
Semua keluar sekaligus.
Seperti bendungan yang akhirnya jebol.
Seperti gunung yang akhirnya meletus.
Seperti air bah yang tidak bisa dihentikan.
Di kamar.
Bima memeluk Dinda.
Anak laki, laki itu—yang baru berusia sebelas tahun—menjadi kakak yang baik. Ia tidak menangis. Ia tidak takut. Atau setidaknya ia berusaha tidak menunjukkan ketakutan.
Ia memeluk adiknya. Dinda menangis di pelukannya.
"Kakak, Ayah dan Ibu berantem lagi," isak Dinda.
"Iya. Tapi tidak apa, apa. Nanti selesai."
"Kapan?"
"Sebentar lagi."
Tapi Bima sendiri tidak tahu.
Ia hanya berusaha tenang.
Karena jika ia tidak tenang, adiknya akan semakin takut.
Dan jika adiknya semakin takut, ia tidak akan bisa melindunginya.
Di ruang tamu.
Danang dan Sintia akhirnya sampai pada titik yang paling menyakitkan.
"Terserah."
Hanya satu kata. Tapi beratnya seperti gunung.
"Terserah apa?" tanya Danang.
"Lakukan saja apa yang kamu mau. Aku capek. Aku menyerah. Terserah."
"Sintia..."
"Aku capek, Danang." Suara perempuan itu pecah. Hancur. Tidak lagi utuh. "Kalau memang aku selalu salah—kalau memang aku selalu jadi masalah—kalau memang aku yang membuat rumah tangga ini hancur—aku capek. Aku lelah. Aku menyerah."
Danang memejamkan mata.
Dadanya terasa sesak.
Sangat sesak.
Seolah ada tangan raksasa yang meremas jantungnya.
Ia membuka mata.
Emosi mengalahkan akal sehat.
Rasa sakit mengalahkan logika.
Kelelahan mengalahkan cinta.
Dan untuk pertama kalinya selama pernikahan mereka—selama lebih dari satu dekade hidup bersama—Danang membuat keputusan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Ia berdiri.
Mengambil jaket.
Mengambil dompet.
Mengambil kunci motor—motor yang sekarang bukan lagi motornya, tapi motor pinjaman dari saudara.
Lalu berjalan menuju pintu.
Sintia membeku.
"Kamu mau ke mana?"
Danang berhenti sejenak.
Tidak menoleh.
"Aku butuh waktu."
Kalimat itu membuat darah Sintia terasa dingin.
Bukan dingin karena suhu udara. Tapi dingin karena takut. Dingin karena tidak tahu. Dingin karena yang selama ini ia takutkan—yang selama ini menjadi mimpi buruknya—kini mulai menjadi nyata.
"Danang."
Tidak ada jawaban.
"Danang!"
Untuk pertama kalinya malam itu, terdengar ketakutan yang nyata dalam suara Sintia. Ketakutan yang tidak bisa ia sembunyikan. Ketakutan yang keluar begitu saja. Ketakutan yang membuat suaranya bergetar seperti daun yang digoyang angin.
Tapi Danang tetap berjalan.
Membuka pintu.
Keluar ke tengah hujan.
Langkah kakinya perlahan.
Tapi pasti.
Seperti orang yang sudah tidak peduli lagi dengan basah atau dingin.
Lalu ia menghilang di balik derasnya malam.
Di balik tirai hujan yang tebal.
Di balik gelap yang tidak bisa ditembus cahaya lampu rumah.
Pintu rumah tertutup.
Suara pintu—bukan dibanting, hanya ditutup biasa—terdengar seperti bunyi petir di telinga Sintia.
Klak.
Hanya bunyi itu.
Tapi bunyi itu mengakhiri segalanya.
Dan keheningan langsung menyelimuti ruangan.
Sintia berdiri terpaku di ruang tengah.
Tidak bergerak.
Tidak berbicara.
Tidak menangis.
Seolah tubuhnya kehilangan kemampuan untuk merespons.
Seolah otaknya sedang memproses informasi yang terlalu berat untuk dicerna.
Seolah jiwanya sedang keluar dari raganya, menonton dirinya sendiri dari kejauhan.
Baru beberapa detik kemudian—sepuluh detik, dua puluh detik, mungkin satu menit—air matanya jatuh.
Satu per satu.
Tanpa suara.
Tanpa isak.
Tanpa tangisan yang keras.
Hanya air mata yang mengalir.
Bukan air mata marah.
Bukan air mata benci.
Bukan air mata kecewa.
Tapi air mata kehilangan.
Air mata yang keluar ketika seseorang yang selalu ada—yang selalu hadir setiap pagi, setiap siang, setiap malam—tiba, tiba tidak ada.
Dan Sintia baru menyadari malam itu bahwa selama bertahun, tahun ia takut kehilangan Danang. Itulah yang membuatnya sering marah. Itulah yang membuatnya sering cemburu. Itulah yang membuatnya sering curiga.
Tapi ketika ketakutannya menjadi kenyataan—ketika Danang benar, benar pergi—ia tidak merasakan kemenangan.
Ia tidak bisa berkata, "Sudah kuduga."
Ia tidak bisa berkata, "Benar kan perasaanku."
Ia hanya bisa berdiri.
Diam.
Dan menangis.
Di luar.
Danang mengendarai motornya—motor pinjaman yang tidak sepenuhnya ia kuasai—menembus hujan deras.
Air membasahi wajahnya.
Rambutnya lepek.
Bajunya basah kuyup.
Tapi ia tidak peduli.
Ia tidak merasakan dingin.
Yang ia rasakan hanyalah kehampaan.
Hampa.
Hampa yang sangat.
Untuk pertama kalinya sejak menikah—sejak ia mengucapkan janji suci di depan penghulu, sejak ia menggenggam tangan Sintia dan berjanji akan menjaganya sampai akhir hayat—ia meninggalkan rumah karena pertengkaran.
Ia tidak pergi karena marah.
Ia pergi karena lelah.
Lelah yang tidak bisa ia jelaskan.
Lelah yang membuat ia merasa tidak sanggup lagi.
Lelah yang membuat ia ingin melarikan diri dari semua masalah.
Dan saat motor itu melaju di jalanan yang gelap—saat hujan semakin deras, saat angin semakin kencang, saat petir semakin sering menyambar—satu pertanyaan terus berputar di kepalanya.
Apakah semuanya sudah terlambat?
Apakah ia kehilangan Sintia?
Apakah ia kehilangan anak, anaknya?
Apakah ia kehilangan rumahnya—bukan rumah sebagai bangunan, tapi rumah sebagai tempat di mana hati merasa pulang?
Ia tidak tahu.
Dan mungkin ia tidak akan pernah tahu sampai ia berbalik.
Sementara di rumah.
Sintia duduk kembali di ruang tamu.
Lampu masih menyala. Terang. Menyinari setiap sudut. Menyembunyikan kegelapan di luar, tapi tidak bisa menyembunyikan kegelapan di dalam hatinya.
Hujan masih turun. Deras. Tidak berhenti, henti.
Di luar, sesekali terdengar suara petir yang menggelegar. Menggetarkan kaca jendela.
Tapi Sintia tidak mendengar semua itu.
Yang ia dengar hanyalah keheningan.
Keheningan yang begitu pekat.
Keheningan yang ditinggalkan oleh kepergian Danang.
Baru saat itulah—ketika rumah itu benar, benar sunyi, benar, benar kosong, benar, benar tanpa kehadiran lelaki yang selama ini ia marahi—Sintia menyadari sesuatu.
Sebesar apa pun kemarahannya kepada Danang.
Sebesar apa pun kekecewaannya.
Sebesar apa pun sakit hatinya.
Ia tidak pernah membayangkan lelaki itu benar, benar pergi.
Ia membayangkan pertengkaran. Ia membayangkan bertengkar hebat. Ia membayangkan Danang marah, membanting pintu, lalu ke luar rumah—tapi kembali lagi setelah satu atau dua jam. Setelah kepalanya dingin. Setelah emosinya reda.
Tapi tidak.
Malam itu berbeda.
Malam itu, Danang tidak hanya pergi.
Malam itu, Danang pergi dan tidak melihat ke belakang.
Malam itu, Danang pergi dengan tatapan kosong—tatapan orang yang sudah kehabisan harapan.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Sintia merasakan ketakutan kehilangan yang sesungguhnya.
Bukan ketakutan yang lahir dari masa lalu—dari ayah yang meninggalkannya, dari mimpi buruk tentang ketidakmampuan.
Tapi ketakutan yang lahir dari kenyataan.
Kenyataan bahwa Danang—lelaki yang selama ini ia cintai, yang selama ini ia marahi, yang selama ini ia sakiti—mungkin benar, benar tidak akan kembali.
Ketakutan yang jauh lebih besar daripada kemarahan.
Ketakutan yang akan mengubah banyak hal dalam dirinya.
Ketakutan yang—jika ia selamat melewatinya—akan membuat ia menjadi orang yang berbeda.
Karena terkadang, seseorang baru memahami arti kehadiran setelah kehadiran itu menghilang.
Karena terkadang, seseorang baru menyadari betapa berharganya seseorang setelah ia kehilangannya.
Dan malam hujan itu—malam yang gelap, malam yang dingin, malam yang penuh air mata—baru saja menjadi awal dari babak paling sunyi dalam kehidupan mereka.
Babak yang akan mengajarkan mereka arti kehilangan.
Babak yang akan mengajarkan mereka arti cinta.
Babak yang akan mengajarkan mereka bahwa tidak semua kemarahan lahir dari kebencian—kadang, dari terlalu dalamnya cinta.
BAB XIV
Rumah Tanpa Kepala Keluarga
Pagi datang seperti biasa.
Matahari tetap terbit dari timur. Sinar keemasannya tetap menyinari genting, genting rumah. Ayam, ayam tetap berkokok di halaman. Burung, burung kecil tetap beterbangan di antara pepohonan. Pedagang sayur tetap melewati gang, gang kecil Kampung Mekarsari dengan gerobaknya yang berderit.
Dan kehidupan—kehidupan yang tidak pernah peduli pada siapa yang sedang terluka—tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Namun bagi Sintia, pagi itu terasa berbeda.
Sangat berbeda.
Karena untuk pertama kalinya setelah bertahun, tahun menikah—setelah lebih dari satu dekade berbagi ranjang, berbagi suka, berbagi duka—ia bangun tanpa melihat Danang di rumah.
Semalaman Sintia hampir tidak tidur.
Setelah Danang pergi di tengah hujan—setelah pintu tertutup dengan bunyi klak yang masih terngiang di telinganya, setelah suara motor menjauh dan hilang ditelan derasnya malam—ia terus duduk di ruang tamu.
Lampu masih menyala terang. Tidak ada yang mematikannya. Atau mungkin ia lupa. Atau mungkin ia sengaja membiarkannya menyala—sebagai tanda bahwa ia masih menunggu, bahwa ia masih berharap, bahwa pintu rumah ini masih terbuka untuk siapa pun yang ingin masuk.
Berjam, jam ia duduk di sana.
Berharap pintu rumah kembali terbuka.
Berharap suara motor suaminya terdengar di halaman.
Berharap langkah kaki yang dikenalnya itu kembali menapaki teras.
Berharap semuanya hanya ledakan emosi sesaat. Hanya amarah yang meledak lalu reda. Hanya badai yang berlalu setelah beberapa jam.
Namun hingga menjelang subuh—hingga azan berkumandang dari surau kampung, hingga suara merdu muadzin menggema di keheningan fajar—harapan itu tidak menjadi kenyataan.
Danang tidak pulang.
Ketika azan Subuh berkumandang, Sintia masih duduk di ruang tamu.
Matanya sembab. Bukan karena kurang tidur—meskipun itu juga benar. Tapi karena air mata yang keluar masuk sepanjang malam. Karena kelopak mata yang basah dan kering bergantian.
Tubuhnya lelah. Sangat lelah. Otot, ototnya terasa kaku karena duduk di posisi yang sama terlalu lama.
Namun pikirannya—pikirannya jauh lebih lelah.
Setiap detik yang berlalu menghadirkan pertanyaan baru.
Di mana Danang sekarang? Apakah ia baik, baik saja? Apakah ia sudah makan? Apakah ia kedinginan di tengah hujan? Apakah ia marah? Apakah ia kecewa? Apakah ia menyesal? Apakah ia akan kembali? Kapan ia akan kembali?
Pertanyaan, pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.
Seperti roda gerinda yang tidak bisa berhenti.
Seperti kaset rusak yang lagunya sama diulang, ulang terus.
Dan tidak ada jawaban.
Tidak ada.
"Bu..."
Suara kecil—suara yang masih mengantuk, suara yang masih polos—membuat Sintia menoleh.
Bima berdiri di ambang pintu kamar.
Rambutnya masih berantakan. Kusut karena berguling, guling di atas bantal semalaman. Matanya masih setengah terbuka. Pipinya masih merah karena bantal.
Wajahnya—wajah anak laki, laki yang baru berusia sebelas tahun itu—terlihat cemas.
"Ayah belum pulang, Bu?"
Pertanyaan sederhana.
Hanya lima kata.
Tapi terasa seperti pisau yang menusuk dada Sintia.
Berulang, ulang.
Tanpa ampun.
Sintia memaksa tersenyum.
Senyum yang tidak sampai ke mata.
Senyum yang terasa sakit di bibirnya sendiri.
"Belum, Nak. Ayah sedang ada urusan."
Bima menunduk.
Ia tidak membantah. Tidak bertanya lagi. Tidak memaksa.
Tapi dari matanya—dari sorot matanya yang tiba, tiba menjadi lebih dewasa dari usianya—terlihat bahwa ia tidak sepenuhnya percaya.
Anak, anak sering kali memahami lebih banyak daripada yang dipikirkan orang dewasa.
Mereka mendengar dari balik pintu.
Mereka melihat dari sela, sela jendela.
Mereka merasakan getaran ketakutan yang orang tua coba sembunyikan.
Dan Bima—Bima yang selama ini menjadi kakak yang baik, Bima yang selalu berusaha melindungi adiknya—tidak percaya bahwa ayahnya sedang "ada urusan".
Tapi ia tidak bertanya lagi.
Karena ia takut jawabannya.
Karena ia takut kebenarannya.
Dinda—yang lebih kecil, yang lebih manja, yang belum sepenuhnya memahami kompleksitas kehidupan orang dewasa—juga mulai bertanya.
Ayah marah sama Ibu?"
Pertanyaan itu polos.
Sekali lagi: polos.
Tidak ada niat menyudutkan. Tidak ada niat menyalahkan. Hanya rasa ingin tahu seorang anak yang melihat rumahnya berubah, yang melihat orang tuanya tidak lagi tertawa, yang melihat ayahnya tidak ada di tempat tidur pagi ini.
Sintia tidak mampu menjawab.
Ia tidak bisa berbohong kepada anaknya. Ia tidak bisa mengatakan "tidak" karena itu tidak benar. Ia tidak bisa mengatakan "ya" karena itu terlalu menyakitkan untuk diucapkan.
Maka ia tidak berkata apa, apa.
Ia hanya meraih Dinda. Memeluknya. Erat. Sangat erat.
Menyembunyikan air matanya di rambut anaknya.
Berdoa dalam hati agar Dinda tidak merasakan dadanya yang bergetar hebat.
Hari itu terasa sangat panjang.
Setelah anak, anak berangkat sekolah—Bima mengayuh sepeda sambil menunduk, tidak seperti biasanya yang selalu melambai, lambai; Dinda diantar jemputan dengan mata masih sembab—rumah mendadak menjadi sangat sepi.
Sangat sepi.
Sepi yang tidak bisa diisi oleh suara televisi.
Sepi yang tidak bisa diisi oleh radio.
Sepi yang tidak bisa diisi oleh apa pun kecuali kehadiran orang yang tidak ada.
Tidak ada suara Danang yang biasanya mencari, cari kunci motor di pagi hari. "Kunci motor di mana, Tin?" dengan suara setengah mengantuk.
Tidak ada suara Danang yang memanggil anak, anak sebelum berangkat sekolah. "Bima! Dinda! Ayam berangkat dulu, ya! Jaga ibu!"
Tidak ada suara Danang yang bertanya tentang kopi pagi. "Kopinya mana, Tin? Manis ya, jangan pahit."
Hal, hal kecil.
Hal, hal sepele.
Hal, hal yang dulu sering dianggap biasa—bahkan kadang mengganggu—kini justru terasa sangat dirindukan.
Seperti udara yang baru terasa penting ketika ia mulai menipis.
Seperti detak jantung yang baru disadari ketika ia berhenti sejenak.
Sintia berjalan ke dapur. Tanpa sadar—tanpa berpikir, hanya otomatis—ia meraih tiga gelas dari rak.
Gelas untuk Danang. Gelas untuk Bima. Gelas untuk Dinda.
Seperti biasa.
Seperti pagi, pagi sebelumnya.
Seperti rutinitas yang sudah berlangsung bertahun, tahun.
Ia menyeduh teh. Tiga gelas. Gula masing, masing setengah sendok—kecuali untuk Danang, satu sendok penuh karena suaminya itu suka manis.
Baru setelah selesai—setelah teh dituang, setelah gula dilarutkan, setelah sendok diletakkan di atas piring kecil—ia menyadari.
Satu gelas tidak akan diminum siapa pun.
Satu gelas akan dingin.
Satu gelas akan terbuang.
Tangannya langsung berhenti.
Gelas yang masih ia pegang—gelas kesayangan Danang, gelas bermotif batik lusuh yang sudah berubah warna karena sering dicuci—terasa berat. Bukan karena bahannya. Tapi karena makna.
Air mata kembali mengalir.
Hal sederhana itu—tiga gelas teh di atas meja dapur—justru terasa paling menyakitkan.
Karena mengingatkannya bahwa ada seseorang yang tidak berada di tempatnya.
Ada seseorang yang seharusnya duduk di kursi itu, memegang gelas itu, menyeruput teh itu sambil membaca koran.
Tapi tidak.
Kursi itu kosong.
Gelas itu tidak tersentuh.
Dan koran di atas meja masih terlipat rapi seperti semalam.
Di kantor, Danang juga menjalani pagi yang berat.
Semalaman ia menginap di rumah Rudi.
Rumah sederhana di perumahan kompleks dekat kantor. Rumah yang hanya ditempati Rudi sendiri—istrinya sedang pulang ke kampung halaman, anaknya dititipkan di rumah mertua.
Rudi tidak banyak bertanya.
Ia hanya menyediakan tempat tidur darurat—kasur lipat yang sudah berdebu karena jarang dipakai—dan secangkir kopi hitam panas tanpa gula.
Karena Rudi tahu. Sebagai sahabat yang sudah puluhan tahun mengenal Danang, ia tahu bahwa Danang bukan tipe orang yang suka diomeli saat sedang terpuruk. Danang bukan tipe orang yang butuh nasihat saat sedang jatuh. Danang bukan tipe orang yang mau mendengar solusi saat sedang terluka.
Yang Danang butuhkan malam itu hanyalah tempat untuk diam.
Tempat untuk merenung.
Tempat untuk tidak menjadi suami, tidak menjadi ayah, tidak menjadi anak, tidak menjadi kakak—hanya menjadi dirinya sendiri.
Dan Rudi memberikannya.
"Kamu mau pulang kapan?" tanya Rudi saat sarapan pagi itu. Roti tawar dengan selai kacang. Teh tawar. Makanan sederhana yang disiapkan dengan tergesa, gesa.
Danang menghela napas panjang. "Aku tidak tahu, Rud."
"Masalah tidak akan selesai kalau kamu lari."
"Aku tidak lari." Suara Danang terdengar datar. Membela diri. Tapi lemah. Sangat lemah.
"Lalu?"
Danang terdiam.
Jauh di dalam hati, ia tahu Rudi benar.
Ia memang sedang melarikan diri.
Bukan dari Sintia.
Bukan dari tanggung jawab.
Tapi dari kelelahan.
Dari tekanan yang terus menerus.
Dari pertengkaran yang tidak pernah berakhir.
Dari tuntutan menjadi suami yang sempurna, ayah yang sempurna, anak yang sempurna, kakak yang sempurna—padahal ia tahu ia tidak sempurna. Tidak pernah. Tidak akan pernah.
Ia melarikan diri dari dirinya sendiri.
Dan itu—melarikan diri dari diri sendiri—adalah pelarian yang paling sia, sia. Karena ke mana pun ia pergi, ia akan tetap membawa dirinya. Masalahnya. Kelemahannya. Kesalahannya.
Di rumah, menjelang siang.
Bu Ratna datang berkunjung.
Tangan kirinya membawa rantang bambu bertutup. Isinya sayur lodeh—katanya, untuk Sintia. Katanya, kasihan. Katanya, biar tidak repot masak.
Tapi tangan kanannya—tangan yang lebih penting—membawa sesuatu yang lain.
Rasa ingin tahu yang besar.
Bahkan mungkin lebih besar dari rantang sayur lodeh yang ia bawa.
"Danang belum pulang, Tin?" tanya Bu Ratna setelah duduk di kursi tamu. Matanya bergerak cepat ke kiri dan kanan, mengamati setiap sudut rumah, mencari, cari tanda, tanda yang bisa dijadikan cerita.
Sintia menggeleng. Tidak banyak bicara. Tidak ingin banyak bicara.
"Astaga..." Bu Ratna menghela napas panjang. Wajahnya bersedih. Tapi matanya—matanya berbinar. Binar orang yang mendapatkan berita bagus untuk disebarkan.
"Jangan sampai masalah ini semakin besar, Tin. Kasihan Danang. Kasihan anak, anak. Kasihan kamu juga. Semua orang di kampung sudah pada tahu. Mereka kasihan sama kamu."
Sintia hanya diam.
Ia tidak tahu harus berkata apa.
Ia tidak tahu apakah ucapan Bu Ratna adalah bentuk kepedulian atau sekadar kepuasan batin melihat orang lain susah.
Tapi ia terlalu lelah untuk memikirkan itu.
Tidak lama kemudian, beberapa tetangga lain mulai berdatangan.
Satu per satu.
Berbondong, bondong.
Seperti burung bangkai yang mencium bau kematian dari kejauhan.
Ada yang benar, benar peduli—mungkin dua atau tiga orang. Mereka datang membawa makanan. Mereka datang dengan niat baik. Mereka duduk diam, tidak banyak bertanya, hanya menemani.
Ada yang sekadar ingin tahu—sebagian besar. Mereka datang dengan ponsel di tangan, membuka grup WhatsApp, menyimak perkembangan terkini. Mereka bertanya dengan nada iba tapi mata mencari, cari detail.
Ada pula yang datang hanya karena bosan di rumah—mereka tidak punya kerjaan, tidak punya masalah, tidak punya kegiatan. Maka mengusik kehidupan orang lain adalah hiburan yang paling murah dan paling mudah.
Dan semua pertanyaan mereka—entah berniat baik atau tidak—membuat dada Sintia semakin sesak.
"Danang ke mana, Tin?"
"Kapan pulangnya, Tin?"
"Ada masalah besar ya, Tin?"
"Benarkah karena perempuan itu, Tin?"
"Jangan, jangan Danang selingkuh beneran, Tin?"
"Kamu harus kuat, Tin. Demi anak, anak."
Setiap pertanyaan seperti paku yang dipukul ke dada.
Satu per satu.
Kencang.
Dalam.
Meninggalkan lubang yang tidak bisa ditambal.
Sore hari.
Setelah matahari mulai condong ke barat—setelah bayangan pepohonan mulai memanjang—setelah tetangga, tetangga mulai pulang satu per satu—Sintia akhirnya mengunci pintu rumah lebih awal.
Bukan karena ada yang mencurigakan.
Bukan karena takut.
Tapi karena ia tidak ingin menerima tamu lagi.
Tidak ingin menjawab pertanyaan lagi.
Tidak ingin menjadi bahan pembicaraan lagi.
Tidak ingin menjadi pusat perhatian kampung karena musibahnya.
Ia hanya ingin sendiri.
Hanya ingin diam.
Hanya ingin merenung.
Hanya ingin menangis tanpa harus dihibur, tanpa harus dinasihati, tanpa harus mendengar kata, kata "sabar ya, Tin" yang terasa hampa di telinga.
Namun kesendirian ternyata tidak selalu menenangkan.
Karena dalam sepi—dalam sunyi yang tidak terputus oleh suara apa pun—kenangan mulai berdatangan.
Satu demi satu.
Tanpa diundang.
Tanpa permisi.
Tanpa peduli apakah Sintia siap atau tidak.
Ia teringat pertama kali bertemu Danang.
Acara pernikahan sepupu. Ia duduk di pojok ruangan, sengaja memilih tempat yang tidak terlalu ramai karena ia tidak suka keramaian. Tiba, tiba ada seorang lelaki berdiri di depannya. Wajahnya gugup. Tangannya membawa dua gelas sirup.
"Ini untukmu," kata lelaki itu. Suaranya sedikit gemetar.
Sintia tertawa. Lelaki itu—yang kemudian ia kenal sebagai Danang—hanya tersenyum canggung. Pipinya merona.
Ia teringat bagaimana Danang tidak pernah menyerah mengejarnya meski berkali, kali ditolak. Setiap minggu datang ke rumah. Setiap minggu membawa oleh, oleh. Setiap minggu mencoba topik pembicaraan baru.
Sampai akhirnya Sintia luluh.
Sampai akhirnya ia setia untuk diajak berkenalan lebih serius.
Sampai akhirnya ia jatuh cinta.
Ia teringat hari pernikahan mereka.
Gedung sederhana. Hiasan seadanya. Tamu tidak terlalu banyak. Tapi Danang menggenggam tangannya erat—sangat erat—seolah tidak mau melepaskannya sampai kiamat.
Danang membacakan janji dengan suara lantang. Tidak grogi. Tidak terbata, bata. Seperti sudah dihafal sejak lahir.
"Saya bersedia menerima Sintia sebagai istri saya, untuk hidup bersama, untuk setia dalam suka dan duka, untuk mencintai dan menjaga, sampai maut memisahkan."
Ia teringat malam, malam panjang di awal pernikahan.
Saat mereka belum punya apa, apa. Belum punya rumah sendiri. Masih numpang di kontrakan kecil yang atapnya bocor. Masih makan nasi dan tempe hampir setiap hari.
Tapi mereka bahagia.
Bukan bahagia karena banyak harta.
Tapi bahagia karena punya satu sama lain.
Mereka berbicara berjam, jam tanpa merasa bosan. Bercerita tentang masa kecil, tentang mimpi, mimpi yang ingin dicapai, tentang hal, hal konyol yang hanya mereka berdua yang mengerti.
Mereka tertawa hingga perut sakit—tertawa untuk hal, hal yang tidak lucu, untuk hal, hal yang hanya lucu bagi mereka berdua.
Mereka berjuang bersama. Susah bersama. Senang bersama.
Dan Sintia merasa—pada masa itu—bahwa ia adalah wanita paling beruntung di dunia.
Tanpa sadar, air mata kembali jatuh.
Karena semua kenangan itu—kenangan yang begitu manis, kenangan yang begitu hangat, kenangan yang ia kira akan bertahan selamanya—kini terasa seperti mimpi yang bangun di pagi hari. Samar. Kabur. Semakin lama semakin jauh.
Satu hal yang semakin jelas dari semua kenangan itu: ia masih mencintai Danang.
Di balik semua kemarahan.
Di balik semua pertengkaran.
Di balik semua kekecewaan.
Ia masih mencintai suaminya.
Sangat mencintainya.
Mungkin terlalu mencintainya.
Dan justru karena cinta itulah—karena cinta yang terlalu dalam, karena takut kehilangan, karena takut ditinggalkan—ia sering marah. Ia sering cemburu. Ia sering curiga.
Ia takut kehilangan.
Takut kehilangan orang yang paling ia cintai.
Takut kehilangan orang yang paling ia sayangi.
Dan ironisnya, ketakutan itulah yang kini menjadi kenyataan.
"Jadi ini rasanya... kehilangan?" bisiknya dalam hati.
Pahit.
Sangat pahit.
Malam kembali datang.
Rumah itu kembali terasa sepi.
Bima dan Dinda makan malam dengan lebih banyak diam—bukan karena tidak ada makanan, bukan karena makanannya tidak enak. Tapi karena suasana yang berbeda. Karena kursi yang kosong. Karena orang yang tidak ada.
Mereka sesekali melihat kursi kosong tempat ayah mereka biasa duduk—di ujung meja, dekat jendela, tempat di mana angin sore biasanya masuk.
Dan setiap kali melihatnya, suasana menjadi semakin berat.
Sepiring nasi di piring ayah.
Segelas air putih di sampingnya.
Sendok dan garpu yang tidak pernah bergerak.
Dinda meletakkan sendoknya. "Bu, Ayah pulang malam ini?"
Suara kecil itu—polos, lugu, tidak mengerti apa, apa—membuat hati Sintia terasa diremas.
Ia tersenyum tipis. Senyum yang sudah menjadi kebiasaan akhir, akhir ini. Senyum untuk menutupi luka. Senyum untuk menenangkan anak, anak.
"Semoga, Nak. Doakan Ayah cepat pulang."
Jawaban itu sebenarnya lebih ditujukan kepada dirinya sendiri.
Doa kecil yang terus ia ulang dalam hati setiap kali pikirannya mulai gelap.
"Ya Allah, bawa Danang pulang dengan selamat."
"Ya Allah, lindungi dia di mana pun ia berada."
"Ya Allah, aku tidak tega kalau dia tidak pulang."
Setelah anak, anak tidur—setelah Bima terlelap dengan buku masih di dada, setelah Dinda memeluk bonekanya erat, erat—Sintia duduk di teras rumah.
Angin malam berembus pelan.
Langit terlihat lebih cerah dibanding malam, malam sebelumnya. Bintang, bintang bertaburan. Bulan separuh muncul dari balik awan.
Namun hatinya—hatinya masih dipenuhi mendung.
Mendung yang tidak bisa diusir oleh secangkir teh hangat.
Mendung yang tidak bisa diusir oleh angin malam.
Mendung yang tidak bisa diusir oleh siapa pun kecuali satu orang. Orang yang sama yang menciptakan mendung itu.
Ia membuka telepon genggamnya.
Layar menyala.
Menampilkan foto profil Danang—foto lama, foto ketika mereka masih bahagia, foto ketika senyum Danang masih lebar dan tulus, foto ketika belum ada kerutan di keningnya.
Jarinya bergerak karena gugup.
Jempolnya beberapa kali hampir menekan tombol panggil.
Namun selalu berhenti.
Ada suara di kepalanya yang berbisik, "Jangan telepon dia. Biarkan dia yang telepon kamu. Jangan terlihat lemah. Jangan terlihat butuh. Kamu bukan wanita yang lemah."
Tapi ada suara lain—suara yang lebih pelan, lebih dalam, lebih jujur—berbisik, "Telepon dia. Kamu rindu. Kamu butuh. Tidak apa, apa terlihat lemah. Tidak apa, apa membutuhkan. Kamu manusia."
Dua suara itu bertengkar.
Ego masih ada.
Luka masih ada.
Kemarahan masih ada.
Tapi kerinduan—kerinduan ternyata mulai tumbuh lebih besar. Lebih besar dari ego. Lebih besar dari luka. Lebih besar dari kemarahan.
Di tempat lain.
Di teras rumah Rudi yang sederhana.
Danang juga duduk sendirian.
Langit yang sama. Bintang yang sama. Bulan yang sama.
Tapi hati yang berbeda.
Memikirkan orang yang sama.
Merindukan rumah yang sama.
Merindukan suara yang sama—suara yang dulu sering membuatnya kesal, suara yang dulu sering ia hindari, suara yang dulu sering ia anggap sebagai sumber masalah.
Kini—ketika suara itu tidak ada, ketika rumah sunyi tanpa bentakan, ketika malam sepi tanpa dimarahi—ia menyadari bahwa suara itu adalah musik yang mengiringi hidupnya.
Musik yang mungkin tidak merdu di telinga orang lain.
Tapi musik yang membuat rumahnya hidup.
Dan tanpa musik itu—tanpa bentakan itu, tanpa kemarahan itu, tanpa Sintia—rumahnya terasa kosong.
Sangat kosong.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun, tahun, Danang dan Sintia merasakan hal yang sama pada malam yang sama.
Kesepian.
Kesepian yang tidak bisa diisi oleh siapa pun.
Kesepian yang hanya bisa diisi oleh satu sama lain.
Kesepian yang membuat mereka—tanpa sadar, tanpa sengaja, tanpa direncanakan—merindukan orang yang sama.
Dan tanpa mereka sadari, perpisahan singkat itu mulai mengajarkan sesuatu.
Mengajarkan bahwa di balik segala kekurangan yang mereka miliki—di balik semua kesalahan yang pernah dilakukan, di balik semua kata, kata kasar yang terucap, di balik semua luka yang tercipta—mereka masih menjadi rumah bagi satu sama lain.
Rumah yang tidak sempurna.
Rumah yang dindingnya retak.
Rumah yang atapnya bocor.
Rumah yang kadang terasa dingin.
Tapi tetap rumah.
Tempat di mana hati merasa pulang.
Meski saat ini rumah itu sedang retak.
Meski saat ini rumah itu sedang terluka.
Meski saat ini rumah itu sedang tidak layak huni.
Tapi masih rumah.
Dan mereka—Danang dan Sintia—adalah penghuni satu, satunya.
Namun takdir belum selesai menguji mereka.
Karena sementara Danang dan Sintia sedang bergulat dengan kesedihan masing, masing—sementara mereka berusaha mencari jalan kembali satu sama lain—dua orang yang paling tidak bersalah dalam konflik itu mulai merasakan dampaknya.
Dua orang yang selama ini hanya menjadi saksi.
Dua orang yang tidak pernah dimintai pendapat.
Dua orang yang tidak pernah ditanya perasaannya.
Dua orang yang hanya bisa menangis dalam diam.
Bima dan Dinda.
Dan luka yang mereka rasakan—luka yang tidak terlihat, luka yang tidak berdarah, luka yang tidak bengkak—akan segera membuka mata kedua orang tua mereka.
Membuka mata tentang harga yang harus dibayar ketika sebuah rumah tangga terus, menerus dipenuhi pertengkaran.
Membuka mata tentang anak, anak yang tidak hanya menjadi saksi, tapi juga korban.
Membuka mata tentang luka yang tidak terlihat—tapi sangat nyata.
Luka di hati anak, anak.
Luka yang mungkin tidak akan pernah benar, benar sembuh.
BAB XV
Air Mata yang Disembunyikan
Tidak semua luka meninggalkan bekas yang terlihat.
Ada luka yang tidak mengeluarkan darah—tidak setetes pun. Tidak menimbulkan memar—sedikit pun tidak. Tidak membuat seseorang terbaring sakit di rumah sakit—tidak perlu infus, tidak perlu operasi, tidak perlu obat.
Tapi luka itu—luka yang tidak terlihat oleh mata telanjang—perlahan menggerogoti hati.
Diam, diam.
Tanpa suara.
Seperti rayap yang memakan kayu dari dalam.
Sehingga suatu hari, ketika kayu itu tampak masih kokoh, tiba, tiba ia ambruk. Runtuh. Hancur.
Dan luka seperti itulah yang sedang dirasakan oleh Bima dan Dinda.
Luka yang tidak terlihat.
Tapi nyata.
Sangat nyata.
Sudah tiga hari sejak Danang meninggalkan rumah.
Tiga hari yang terasa sangat panjang bagi anak, anak itu.
Bagi orang dewasa—bagi Sintia, bagi Danang, bagi siapa pun yang sudah terbiasa dengan konflik, dengan stres, dengan masalah—tiga hari mungkin hanyalah bagian kecil dari kehidupan. Sebentar. Cepat berlalu.
Namun bagi seorang anak yang terbiasa melihat ayahnya setiap pagi dan setiap malam—yang terbiasa mendengar suara ayahnya memanggil dari ruang tamu, yang terbiasa dicium keningnya sebelum tidur—tiga hari terasa seperti waktu yang sangat lama.
Terlalu lama.
Seperti tiga tahun.
Seperti tiga puluh tahun.
Seperti selamanya.
Pagi itu Bima duduk di meja makan tanpa semangat.
Biasanya—di pagi, pagi sebelum semua masalah ini terjadi, sebelum foto itu beredar, sebelum pertengkaran itu meledak, sebelum ayahnya pergi—ia selalu bercerita tentang sekolah sambil sarapan.
Tentang teman, temannya yang lucu.
Tentang guru matematika yang suka bercanda di tengah pelajaran.
Tentang pertandingan sepak bola di lapangan sekolah yang kemarin dimenangkan timnya dengan skor 3, 1.
Tentang cita, citanya yang tidak pernah berubah sejak kecil: menjadi pilot.
Tapi pagi itu berbeda.
Bima hanya menatap piringnya.
Piring putih polos dengan nasi dan telur dadar di atasnya.
Sesekali ia menyendok nasi—sedikit, sangat sedikit—lalu memasukkannya ke mulut. Mengunyah pelan. Menelan dengan susah payah.
Bukan karena tidak lapar.
Bukan karena makanannya tidak enak.
Tapi karena perutnya—atau mungkin hatinya—terasa penuh.
Penuh dengan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Sintia memperhatikan perubahan itu. Matanya tidak pernah lepas dari wajah anak laki, lakinya.
"Bima, kamu sakit?" tanya Sintia. Suaranya lembut. Lembut yang tidak biasa—karena biasanya ia lebih sering membentak, lebih sering memerintah, lebih sering menyuruh.
Bima menggeleng. "Tidak, Bu."
"Tapi kok diam saja? Biasanya kamu cerewet. Cerita tentang sekolah. Tentang teman. Tentang bola."
Bima memaksakan senyum—senyum kecil yang tidak sampai ke mata, senyum yang terlihat sakit, senyum yang membuat Sintia ingin menangis melihatnya.
"Tidak apa, apa, Bu. Cuma tidak ada yang diceritakan."
Jawaban yang sangat sering diucapkan orang ketika sebenarnya ada sesuatu yang sedang mereka sembunyikan. Ketika luka sedang menganga di dalam dada. Ketika air mata sedang tertahan di balik kelopak mata.
Sintia ingin bertanya lebih jauh.
Ia ingin menggali.
Ia ingin membantu anaknya.
Tapi ia menahan diri.
Karena ia tahu—ia tahu betul karena ia juga melakukan hal yang sama—bahwa Bima sedang menyembunyikan sesuatu.
Dan ia mulai takut mengetahui apa itu.
Sementara itu Dinda—Dinda yang biasanya cerewet, biasanya manja, biasanya tidak bisa diam—juga berubah.
Anak perempuan berusia delapan tahun itu menjadi lebih pendiam.
Lebih sering memeluk boneka kesayangannya—boneka beruang cokelat yang sudah usang, yang matanya sudah lepas satu, yang isinya sudah kempes karena terlalu sering dipeluk.
Lebih sering duduk sendirian di kamar.
Lebih sering menatap kosong ke luar jendela.
Dan setiap malam—setiap malam tanpa gagal, setiap malam seperti ritual—ia selalu bertanya pertanyaan yang sama.
"Bu, kapan Ayah pulang?"
Pertanyaan yang semakin sulit dijawab oleh Sintia.
Pertanyaan yang membuat jantungnya terasa diremas setiap kali terdengar.
Pertanyaan yang tidak memiliki jawaban pasti.
Hari itu di sekolah, Bima berusaha menjalani pelajaran seperti biasa.
Ia duduk di bangku paling depan—biasanya ia memilih bangku belakang agar bisa bercanda dengan teman, temannya.
Ia membuka buku. Menulis. Mencatat.
Tapi pikirannya tidak di sana.
Pikirannya melayang.
Melayang jauh.
Ke rumah.
Ke wajah ibunya yang pagi itu terlihat lebih tua dari biasanya.
Ke kursi kosong di ruang makan—tempat ayahnya biasa duduk, tempat yang sekarang menjadi pengingat bahwa ada yang tidak beres.
Ke suara pertengkaran yang masih terngiang di telinganya—suara yang membuat ia tidak bisa tidur, suara yang membuat ia menutup telinga dengan bantal setiap malam.
Saat guru menjelaskan pelajaran matematika—tentang pecahan, tentang pembilang dan penyebut—Bima tidak benar, benar mendengarkan.
Telinganya seperti tersumbat.
Suara guru terdengar seperti dari kejauhan.
Seperti orang berbicara di dalam terowongan.
Saat jam istirahat tiba—saat bel berbunyi, saat teman, temannya berlarian ke kantin, saat suasana berubah dari serius menjadi riuh—Bima tidak ikut.
Ia berjalan sendiri ke belakang sekolah.
Ke bawah pohon mangga besar yang berdiri di dekat lapangan.
Ia duduk di akar pohon yang menonjol keluar dari tanah.
Sendirian.
"Kenapa kamu, Bim?"
Suara itu membuat Bima menoleh.
Arga.
Sahabatnya sejak kelas satu SD.
Anak laki, laki tambun dengan kacamata bundar yang selalu terlihat terlalu besar untuk wajahnya.
"Enggak apa, apa, Ga."
"Kamu bohong."
Bima tersenyum hambar. Tidak bisa membantah.
Arga duduk di sampingnya. Tanpa diminta. Tanpa pamit. Langsung duduk—seperti sudah menjadi haknya. Karena memang itulah arti sahabat: tidak perlu izin untuk berada di sisi kamu ketika kamu sedang sedih.
"Kita sahabat, Bim. Sejak SD. Kamu cerita saja. Aku janji tidak akan bilang siapa, siapa."
Bima menunduk.
Matanya mulai panas.
Air mata—air mata yang sejak pagi ia tahan, sejak tiga hari lalu ia pendam, sejak ia melihat ibunya menangis dan ayahnya pergi—kini mulai menggenang.
Lalu untuk pertama kalinya, ia bercerita.
Sedikit demi sedikit.
Tersendat, sendat.
Seperti air yang merembes dari batu yang retak.
Tentang pertengkaran ayah dan ibunya yang akhir, akhir ini semakin sering terjadi.
Tentang suara keras yang membuat adiknya menangis ketakutan.
Tentang malam hujan itu—malam ketika semuanya memuncak, malam ketika pertengkaran paling keras terjadi, malam ketika ayahnya pergi dan tidak kembali.
Tentang ayahnya yang belum pulang sampai sekarang.
Tentang ibunya yang berusaha terlihat kuat tapi sering menangis ketika dikira tidak ada yang melihat.
Arga terdiam.
Ia mendengarkan.
Tidak menyela.
Tidak memotong.
Tidak memberi nasihat yang tidak diminta.
Karena usianya—usia sebelas tahun—masih terlalu muda untuk memahami seluk, beluk konflik orang dewasa. Masih terlalu polos untuk mengerti mengapa dua orang yang saling mencintai bisa saling menyakiti. Masih terlalu lugu untuk memberikan solusi atas masalah yang rumit.
Tapi ia cukup mengerti satu hal: sahabatnya sedang sedih.
Sedih sekali.
Dan kadang—dalam persahabatan—itu sudah cukup.
Cukup untuk menjadi alasan untuk tetap di sisi.
Cukup untuk menjadi alasan untuk tidak pergi.
Cukup untuk menjadi alasan untuk hanya diam dan mendengarkan.
"Semuanya akan baik, baik saja, Bim," kata Arga akhirnya.
Kalimat sederhana.
Hanya lima kata.
Tidak ada solusi.
Tidak ada nasihat.
Tidak ada analisis.
Tapi justru kalimat sederhana itu—kalimat yang tidak mengandung janji palsu, kalimat yang tidak berusaha menghibur secara berlebihan, kalimat yang diucapkan dengan tulus—yang membuat mata Bima benar, benar berkaca, kaca.
Karena selama tiga hari terakhir—sejak ayahnya pergi, sejak rumahnya berubah, sejak hidupnya terasa kacau—tidak ada seorang pun yang mengatakan hal itu kepadanya.
Semuanya akan baik, baik saja.
Bima ingin percaya.
Ia sangat ingin percaya.
Tapi apakah ia bisa? Apakah ia berani?
Di rumah.
Dinda juga mengalami kesulitannya sendiri.
Hari itu, pelajaran menggambar. Mata pelajaran favorit Dinda. Biasanya ia paling bersemangat ketika tiba waktunya menggambar. Krayon, pensil warna, kertas gambar—semua ia siapkan dengan penuh antusiasme.
Guru meminta murid, murid menggambar keluarga mereka.
Tema sederhana.
Tema yang biasa.
Tema yang seharusnya mudah bagi anak, anak seusia Dinda.
"Adek, adek, gambar ya, keluarga adek, adek. Ayah, ibu, adek, kakak, siapa saja yang tinggal satu rumah dengan adek, adek."
Dinda mengambil krayon merah—untuk bibir ibunya yang suka tersenyum (meski akhir, akhir ini jarang).
Krayon biru—untuk baju kakaknya yang paling suka dipakai.
Krayon hijau—untuk rumput di halaman rumah.
Krayon kuning—untuk matahari.
Dan krayon hitam—untuk sesuatu yang tidak ingin ia pikirkan.
Ia mulai menggambar.
Wajah ibunya. Tersenyum.
Wajah kakaknya. Sedikit cemberut seperti biasa.
Wajahnya sendiri. Tersenyum lebar.
Lalu ia menggambar sebuah rumah. Persegi. Atap segitiga. Pintu persegi panjang. Jendela dua.
Kemudian ia berhenti.
Diam.
Krayon hitam masih ada di tangannya.
Tapi ia tidak menggunakannya.
Di tempat yang seharusnya ada gambar ayahnya—di samping ibu, di sisi lain rumah, di tempat yang paling dekat dengan pintu—hanya ada ruang kosong.
Kertas putih polos.
Kosong.
Tanpa warna.
Tanpa gambar.
Tanpa ayah.
Guru berjalan berkeliling, melihat karya murid, muridnya.
Ketika sampai di meja Dinda, ia berhenti.
Matanya menatap gambar Dinda. Lalu menatap Dinda. Lalu kembali ke gambar.
"Kenapa ayahnya tidak digambar, Dinda? Lupa? Atau kurang waktu?"
Dinda menunduk.
Tidak melihat ke arah guru.
Hanya menunduk.
Kemudian menjawab dengan suara kecil—suara yang hampir tidak terdengar—suara yang membuat guru itu merinding mendengarnya.
"Ayah lagi pergi, Bu."
Guru itu tidak melanjutkan pertanyaan.
Tidak bertanya ke mana.
Tidak bertanya mengapa.
Tidak bertanya kapan kembali.
Ia hanya mengangguk. Tersenyum. Lalu berjalan ke meja berikutnya.
Namun sepanjang hari—sepanjang sisa jam pelajaran—guru itu tidak bisa melupakan suara Dinda. Suara kecil yang polos. Suara yang tidak mengerti mengapa ayahnya pergi. Suara yang hanya bisa berkata, "Ayah lagi pergi."
Ia bisa melihat kesedihan di mata anak kecil itu.
Kesedihan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata, kata.
Kesedihan yang hanya muncul dalam bentuk kekosongan di atas kertas gambar.
Sore harinya, guru Dinda menghubungi Sintia.
Telepon berdering di tengah kesunyian rumah. Sintia yang sedang melipat pakaian—mencuci, melipat, menyetrika—mengangkatnya dengan perasaan tidak enak.
"Bu Sintia? Saya wali kelas Dinda."
"Iya, Bu. Ada apa?"
"Sebenarnya... saya hanya ingin menyampaikan. Dinda akhir, akhir ini terlihat berbeda. Lebih pendiam. Tidak seperti biasanya. Hari ini dalam pelajaran menggambar, beliau tidak menggambar ayahnya. Saya tanya kenapa, beliau bilang ayahnya pergi."
Sintia terdiam.
Tidak bisa berkata, kata.
"Maaf, Bu, saya tidak bermaksud ikut campur masalah rumah tangga. Saya hanya khawatir dengan kondisi psikologis Dinda. Anak seusia beliau sangat rentan terhadap konflik orang tua. Jika ada yang bisa dibantu, saya siap."
Setelah telepon berakhir, Sintia masih duduk lama di tepi ranjang.
Dada Sintia terasa semakin sesak.
Sampai, sampai ia sulit bernapas.
Karena selama ini—selama pertengkaran, selama konflik, selama saling menyalahkan—ia terlalu sibuk.
Terlalu sibuk memikirkan lukanya sendiri.
Terlalu sibuk memikirkan kemarahannya sendiri.
Terlalu sibuk memikirkan Danang yang pergi.
Hingga lupa.
Lupa melihat luka yang sedang dirasakan anak, anaknya.
Luka yang tidak ia lihat.
Luka yang tidak ia dengar.
Luka yang tidak ia sentuh.
Tapi luka itu ada.
Di hati Bima. Di hati Dinda. Di hati dua manusia kecil yang tidak bersalah.
Malam itu.
Setelah Dinda tertidur—setelah memeluk boneka beruang cokelatnya erat, erat, setelah air mata kering di pipinya—Sintia masuk ke kamar Bima.
Anak laki, laki itu sedang duduk di meja belajar.
Buku matematika terbuka di depannya. Halaman 47. Soal pecahan. Tiga soal. Dua sudah dikerjakan. Satu masih kosong.
Tapi Bima tidak sedang menghitung. Matanya menatap kosong ke dinding. Pulpennya berhenti di atas kertas.
"Kamu belum tidur, Nak?"
Bima menggeleng. "Belum, Bu."
Sintia duduk di sampingnya. Di ranjang Bima. Di tempat di mana dulu ia sering membacakan cerita pengantar tidur—ketika Bima masih kecil, ketika dunia masih sederhana, ketika ayah dan ibu tidak pernah bertengkar.
"Pusing belajar? Atau capek?"
"Enggak, Bu. Lagi mikir."
"Mikir apa?"
Bima tidak menjawab.
Ia menunduk.
Matanya mulai berkaca, kaca.
Lalu ia bertanya.
Pertanyaan yang membuat hati Sintia langsung runtuh. Hancur. Luluh lantak. Tidak tersisa.
"Ibu sama Ayah mau cerai, Bu?"
Ruangan mendadak terasa sangat sunyi.
Sintia membeku.
Seluruh tubuhnya seperti diisi lem.
Tidak bisa bergerak.
Tidak bisa berbicara.
Tidak bisa berpikir.
Ia tidak siap.
Ia tidak siap mendengar pertanyaan itu dari mulut anaknya yang masih berusia sebelas tahun.
Ia tidak siap menyadari bahwa anaknya—anak yang masih polos, anak yang masih harusnya memikirkan mainan dan tugas sekolah—telah memikirkan hal sejauh itu.
Hal yang bahkan Sintia sendiri belum berani memikirkannya.
"Kenapa tanya begitu, Nak?" Suara Sintia terdengar pelan. Bergetar. Hampir pecah.
Karena ia takut suaranya pecah.
Karena ia takut menangis di depan anaknya.
Karena ia harus menjadi ibu yang kuat—meskipun hatinya hancur.
Bima menunduk. Tidak berani menatap mata ibunya.
"Soalnya Ayah pergi, Bu. Sudah tiga hari. Biasanya kalau Ayah pergi, pasti pulang. Paling telat satu hari. Tapi ini sudah tiga hari."
Air mata mulai muncul di sudut matanya.
"Terus kalian sering bertengkar, Bu. Setiap hari. Kadang sampai malam. Aku dan Dinda sering nggak bisa tidur. Aku harus nutupin kuping Dinda pakai bantal. Aku harus bilang, 'Dinda jangan takut, nanti selesai, Ayah sama Ibu cuma beda pendapat.' Tapi sebenarnya... aku juga takut, Bu."
Kalimat terakhir itu—aku juga takut—membuat jantung Sintia terasa diremas.
Diremas oleh tangan tak terlihat.
Kuat. Sakit. Menyiksa.
"Aku takut. Aku takut Ayah nggak pulang lagi. Aku takut kalian cerai. Aku takut aku dan Dinda harus milih antara sama Ayah atau sama Ibu. Aku takut."
Sintia merasakan dadanya seperti diremas, remas. Tidak bisa bernapas.
Air mata yang sejak tadi ia tahan—yang sejak awal pertengkaran ia pendam, yang sejak Danang pergi ia simpan, yang sejak anak, anak tertidur ia kubur—akhirnya jatuh.
Jatuh deras.
Seperti hujan di musim penghujan.
Seperti air bah yang tidak bisa dibendung lagi.
Ia tidak bisa menjadi ibu yang kuat malam itu.
Ia tidak bisa menyembunyikan air matanya.
Ia tidak bisa berpura, pura bahwa semuanya baik, baik saja.
Karena tidak.
Semuanya tidak baik, baik saja.
Dan tidak apa, apa untuk mengakuinya.
Sintia langsung memeluk Bima.
Erat.
Sangat erat.
Seolah, olah jika ia melepaskan, Bima akan menghilang seperti Danang.
"Maaf, Nak. Maaf." Suaranya tercekat. "Maaf karena Ibu terlalu sibuk marah. Maaf karena Ibu terlalu sibuk mikirin perasaan Ibu sendiri. Maaf karena Ibu lupa bahwa kalian—kamu dan Dinda—juga ikut merasakan. Maaf. Ibu minta maaf."
Bima tidak menjawab.
Ia hanya diam dalam pelukan ibunya.
Tapi air matanya—air mata yang sejak tadi ia tahan—kini mengalir.
Mengalir deras.
Dan untuk pertama kalinya setelah tiga hari, Bima merasa sedikit lega.
Bukan karena masalahnya selesai.
Bukan karena ayahnya pulang.
Tapi karena ibunya akhirnya tahu.
Akhirnya melihat.
Akhirnya tidak lagi buta terhadap rasa sakit yang ia rasakan.
Di tempat lain.
Di teras rumah Rudi.
Danang menerima telepon.
Nomor tidak dikenal. Ia hampir tidak mengangkat—pikirnya telepon penawaran, telepon bank, telepon dari orang yang ingin menjual sesuatu.
Tapi ia mengangkat.
"Selamat malam. Bapak Danang?"
"Iya. Siapa ini?"
"Saya wali kelas Bima. Ibu Yuli."
Danang langsung duduk tegak. Jantungnya berdegup lebih cepat.
"Ada apa, Bu? Bima kenapa?"
"Tenang, Pak. Bima tidak kenapa, kenapa secara fisik. Hanya saja... saya perhatikan beberapa hari terakhir beliau terlihat berbeda. Lebih pendiam. Kurang bersemangat. Hari ini saya lihat beliau tidak bermain dengan teman, temannya saat jam istirahat. Beliau hanya duduk sendiri di bawah pohon mangga dekat lapangan. Saya tanya ada apa, beliau hanya diam. Tapi dari wajahnya, saya bisa lihat ada kesedihan di sana."
Danang tidak menjawab.
Mulutnya terasa kering.
Tenggorokannya tersumbat.
"Maaf, Pak, saya tidak bermaksud ikut campur. Saya hanya merasa perlu menyampaikan. Sebagai guru, saya khawatir dengan kondisi psikologis Bima. Anak seusia beliau sangat sensitif dengan masalah orang tua. Mungkin Bapak dan Ibu perlu... lebih memperhatikan. Lebih banyak bicara. Lebih banyak bertanya."
Setelah telepon berakhir—setelah ia mendengar bunyi tut dari sambungan yang terputus—Danang masih duduk lama di teras rumah Rudi.
Tidak bergerak.
Tidak berbicara.
Tidak melakukan apa, apa.
Rudi yang melihat sahabatnya termenung akhirnya duduk di sampingnya.
"Ada apa, Dan?"
Danang mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Lelah.
Lelah sekali.
"Bima."
Rudi langsung mengerti.
"Dia sedih," kata Danang. Suaranya mulai bergetar. Hampir pecah. "Dia takut. Dia takut aku dan Sintia bercerai. Dia takut kehilangan."
Rudi menepuk pundaknya. Lembut. Tidak terburu, buru.
"Dan, kamu tidak pernah ingin mereka terluka. Aku tahu itu. Tapi lihat sekarang."
Danang memejamkan mata.
"Anak, anakmu sudah terluka."
Di rumah.
Pada malam yang sama.
Ketika Bima dan Dinda sudah tertidur—Bima dengan pelukan ibunya yang masih hangat di pipinya, Dinda dengan boneka beruang cokelat yang basah karena air mata—Sintia masih terjaga.
Ia memandangi anak, anaknya.
Bima memeluk adiknya.
Seolah berusaha menjadi pelindung.
Bukan hanya kakak.
Tapi pelindung.
Pelindung dari segala mara bahaya.
Pelindung dari pertengkaran orang tua.
Pelindung dari ketakutan yang tidak bisa ia kendalikan.
Padahal Bima sendiri masih anak, anak.
Padahal Bima sendiri juga takut.
Padahal Bima sendiri butuh dilindungi.
Tapi tidak ada yang melindunginya.
Danang tidak ada.
Sintia sibuk dengan kemarahannya sendiri.
Jadi Bima harus melindungi dirinya sendiri. Dan adiknya.
Sendirian.
Air mata kembali mengalir di pipi Sintia.
Karena untuk pertama kalinya malam itu—untuk pertama kalinya sejak konflik ini dimulai—ia benar, benar memahami sesuatu.
Bahwa konflik antara dirinya dan Danang tidak lagi hanya menjadi masalah mereka berdua.
Tidak lagi hanya tentang uang.
Tidak lagi hanya tentang Laras.
Tidak lagi hanya tentang Bu Sulastri.
Tidak lagi hanya tentang gosip tetangga.
Masalah itu sudah masuk.
Masuk ke hati anak, anak mereka.
Masuk ke dalam mimpi buruk mereka.
Masuk ke dalam gambar yang tidak sempurna di buku gambar Dinda.
Masuk ke dalam pertanyaan Bima malam ini.
Dan meninggalkan luka.
Luka yang mungkin tidak akan pernah benar, benar sembuh.
Sementara di tempat lain.
Di rumah Rudi.
Di teras yang dingin.
Di bawah langit yang gelap tanpa bulan.
Danang juga memahami hal yang sama.
Ia dan Sintia—mereka mungkin masih marah.
Masih kecewa.
Masih terluka.
Masih belum siap untuk bertemu.
Masih belum siap untuk bicara.
Masih belum siap untuk memaafkan.
Tapi ada dua hati kecil yang jauh lebih membutuhkan mereka.
Dua hati kecil yang tidak peduli siapa yang benar siapa yang salah.
Dua hati kecil yang tidak peduli tentang foto Laras atau gosip Bu Ratna.
Dua hati kecil yang tidak peduli tentang uang Deni atau tabungan pendidikan.
Dua hati kecil yang hanya ingin melihat ayah dan ibunya kembali duduk di meja makan yang sama, kembali tertawa bersama, kembali menjadi keluarga yang utuh.
Bima dan Dinda.
Anak, anak mereka.
Daging dan darah mereka.
Yang paling tidak bersalah.
Yang paling menderita.
Dan malam itu.
Untuk pertama kalinya sejak pertengkaran besar terjadi.
Untuk pertama kalinya sejak ia pergi di tengah hujan.
Untuk pertama kalinya sejak ia merasa lelah dan ingin menyerah.
Danang mengambil telepon genggamnya.
Layar menyala.
Menampilkan foto profil Sintia—foto lama, foto ketika mereka masih bahagia, foto ketika senyum Sintia masih lebar dan tulus, foto ketika belum ada kerutan di keningnya.
Jempolnya bergerak perlahan.
Ragu.
Bimbang.
Takut.
Takut ditolak.
Takut dimarahi.
Takut mendengar suara Sintia yang dingin.
Tapi jauh di dalam hatinya—di tempat yang paling dalam, di tempat yang selama ini ia kubur di bawah lapisan kelelahan dan kemarahan—ada suara yang berbisik.
Telepon dia. Anak, anakmu butuh kalian berdua. Keluargamu butuh kalian berdua. Jangan biarkan egomu menghancurkan apa yang sudah kalian bangun selama bertahun, tahun.
Dan akhirnya—setelah berdetik, detik, setelah berdebar, debar, setelah berdoa dalam hati—ia menekan tombol panggil.
Tuut...
Tuut...
Tuut...
BAB XVI
Kesalahan yang Sama
Malam semakin larut.
Di teras rumah Rudi—di kursi kayu tua yang pegasnya sudah kendor, di bawah lampu taman yang redup karena banyak dihinggapi serangga—Danang masih memegang ponselnya.
Layar ponsel menyala.
Nama Sintia terpampang jelas di layar.
Jari jempolnya sudah berada di atas tombol panggil selama beberapa menit. Mungkin lima. Mungkin sepuluh. Mungkin lebih. Ia tidak ingat. Waktu terasa berhenti.
Jantungnya berdebar.
Bukan karena takut.
Tapi karena terlalu banyak hal yang ingin diucapkan. Dan terlalu banyak luka yang belum sembuh.
Bagaimana cara memulai percakapan setelah tiga hari tidak bertemu? Setelah pertengkaran paling keras yang pernah mereka lalui? Setelah kata kata "terserah" dan "aku butuh waktu" yang masih terngiang di telinga?
Bagaimana cara menyusun kata kata ketika mulut terasa kering dan pikiran terasa kusut?
Ia tidak tahu.
Tapi ia harus mencoba.
Untuk Bima. Untuk Dinda. Untuk keluarganya.
Untuk Sintia.
Akhirnya—setelah berdetik detik, setelah berdebar debar, setelah berdoa dalam hati—ia menekan tombol panggil.
Tuut...
Tuut...
Tuut...
Di ujung sana, Sintia yang sejak tadi juga memegang ponselnya—yang sejak tadi juga gelisah, yang sejak tadi juga bergumul dengan perasaan yang sama—mengangkat.
"Halo." Suara Sintia terdengar pelan.
Sangat pelan.
Hampir berbisik.
Seperti suara orang yang baru saja selesai menangis.
Atau mungkin masih menangis.
Danang menutup mata sesaat. Suara itu—suara yang sudah ia dengar setiap hari selama lebih dari satu dekade—terasa begitu jauh. Seperti berasal dari dalam terowongan. Seperti gema di lembah yang sunyi.
"Sintia."
"Iya."
Keheningan.
Keheningan yang panjang.
Tidak ada yang tahu harus mulai dari mana.
Kata kata terasa terlalu berat untuk diucapkan.
Kalimat terlalu panjang untuk disusun.
Topik terlalu banyak untuk dipilih.
"Bagaimana anak anak?"
Pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Danang.
Bukan tentang mereka.
Bukan tentang pertengkaran.
Bukan tentang Laras.
Bukan tentang foto.
Bukan tentang gosip.
Tapi tentang Bima dan Dinda.
Bintang bintang di langit hidupnya.
Alasan mengapa ia masih bertahan.
Sintia menarik napas panjang—panjang sekali, seperti orang yang hendak menyelam ke dasar laut.
"Mereka merindukanmu."
Kalimat itu membuat Danang menunduk.
Sangat pelan.
Seolah ada beban besar yang tiba tiba jatuh ke pundaknya. Beban yang tidak terlihat tapi terasa. Beban yang tidak bisa ditimbang tapi sangat berat.
"Aku juga merindukan mereka," ucap Danang.
Suaranya mulai bergetar.
Hampir pecah.
"Bima bertanya apakah kita akan berpisah, Danang."
Danang membeku.
"Apa?"
"Dia bertanya malam itu. Wajahnya pucat. Matanya penuh ketakutan. Suaranya gemetar. Dia bilang dia takut. Takut ayahnya tidak pulang lagi. Takut kita berpisah. Takut dia dan Dinda harus memilih."
Dada Danang terasa sesak.
Sulit bernapas.
"Aku tidak pernah menginginkan itu, Tin. Tidak pernah."
"Aku juga tidak."
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama—setelah pertengkaran, setelah saling menyalahkan, setelah saling melukai—mereka sepakat pada satu hal.
Satu hal sederhana.
Satu hal yang seharusnya menjadi fondasi pernikahan mereka.
Mereka tidak ingin berpisah.
"Aku salah, Tin."
Kata kata itu keluar tiba tiba.
Tanpa rencana.
Tanpa persiapan.
Seperti air yang keluar dari sumur yang terlalu penuh.
"Aku seharusnya tidak pergi malam itu. Apa pun masalahnya. Sebesar apa pun pertengkarannya. Sepahit apa pun kata kata yang terucap. Aku seharusnya tetap tinggal."
Danang berhenti. Menelan ludah.
"Tapi aku pergi. Aku lemah. Aku capek. Aku lari. Dan aku meninggalkan kamu. Sama seperti... sama seperti ayahmu dulu."
Sintia memejamkan mata.
Air mata mulai mengalir.
Mengalir pelan.
Mengalir deras.
Membasahi pipi yang sudah sembab karena menangis di malam sebelumnya.
"Aku juga salah," ucapnya.
Danang terdiam.
"Aku terlalu cepat marah. Aku terlalu keras. Aku terlalu sering meledak ledak tanpa memberi kamu kesempatan untuk menjelaskan."
Sintia menarik napas.
"Aku terlalu sering memaksamu memahami ketakutanku—tanpa pernah menjelaskan apa yang sebenarnya aku rasakan."
Kalimat itu—kalimat yang jujur, kalimat yang datang dari tempat paling dalam di hatinya, kalimat yang selama bertahun, tahun ia pendam—terasa seperti pintu yang perlahan terbuka.
Pintu yang selama ini tertutup oleh ego.
Pintu yang selama ini terkunci oleh kemarahan.
Pintu yang selama ini terhalang oleh prasangka.
Dan akhirnya—untuk pertama kalinya—pintu itu terbuka.
Malam itu mereka tidak menyelesaikan semua masalah.
Tidak.
Masalah sebesar itu—masalah yang sudah menumpuk bertahun, tahun, masalah yang melibatkan uang, mertua, gosip, kepercayaan, luka masa lalu—tidak mungkin selesai hanya dalam satu percakapan telepon.
Tidak semudah itu.
Tidak secepat itu.
Tapi mereka mulai melihat sesuatu.
Sesuatu yang selama ini tidak terlihat.
Sesuatu yang selama ini tersembunyi di balik kemarahan dan tangisan.
Mereka bukan musuh.
Mereka bukan lawan.
Mereka hanya dua orang yang sama sama terluka.
Dua orang yang sama sama takut.
Dua orang yang sama sama tidak tahu harus bagaimana.
Dan dua orang yang sama sama mencintai—mencintai anak anak mereka, mencintai keluarga mereka, dan di lubuk hati yang paling dalam, masih mencintai satu sama lain.
Setelah telepon ditutup—setelah ucapan "salam buat anak anak" dan "jaga kesehatan" dan "aku cuma mau dengar suara mereka" —baik Danang maupun Sintia duduk lama dalam diam.
Masing masing memikirkan hal yang sama.
Mungkin selama ini kita terlalu sibuk mencari siapa yang salah.
Padahal yang lebih penting adalah bagaimana memperbaikinya.
Mungkin selama ini kita terlalu sibuk membuktikan siapa yang paling menderita.
Padahal yang lebih penting adalah bagaimana menyembuhkannya.
Mungkin selama ini kita terlalu sibuk menghitung luka siapa yang lebih dalam.
Padahal yang lebih penting adalah berhenti melukai satu sama lain.
Keesokan paginya.
Untuk pertama kalinya setelah tiga hari—tiga hari yang terasa seperti tiga tahun—Danang datang ke rumah.
Bukan untuk kembali. Belum.
Ia belum siap.
Ia masih butuh waktu.
Tapi ia ingin menemui anak, anaknya.
Ia ingin memeluk Bima dan Dinda.
Ia ingin melihat wajah mereka.
Ia ingin mendengar suara mereka.
Ia ingin mereka tahu bahwa ayah mereka masih ada. Masih mencintai mereka. Tidak pergi untuk selamanya.
Ketika motor Danang berhenti di halaman—motor pinjaman dari saudara, motor yang tidak ia kenal, motor yang terasa asing di tangannya—Dinda menjadi orang pertama yang melihat.
Anak kecil itu sedang bermain boneka di teras.
Matanya menangkap sosok ayahnya.
Boneka jatuh dari tangannya.
"Ayah!"
Dinda berlari.
Begitu cepat.
Secepat kilat.
Secepat anak kecil yang takut kehilangan.
Danang bahkan belum sempat turun sepenuhnya dari motor ketika Dinda sudah memeluknya.
Erat.
Sangat erat.
Seolah takut ayahnya akan lenyap.
Seolah takut ini hanya mimpi.
Seolah takut jika ia melepas, ayahnya akan pergi lagi.
"Ayah... Ayah... Ayah jangan pergi lagi, Yah. Dinda janji tidak akan nakal. Dinda janji akan nurut sama Ibu. Dinda janji akan belajar rajin. Ayah jangan pergi lagi."
Danang tidak bisa berkata apa, apa.
Tenggorokannya tersumbat.
Matanya panas.
Ia hanya bisa memeluk Dinda. Memeluk anak perempuannya. Memeluk bagian dari hatinya yang selama tiga hari ini tidak ia jumpai.
Beberapa detik kemudian—setelah suara tangisan Dinda terdengar, setelah kakaknya mendengar dan berlari keluar—Bima ikut berlari.
Ia berhenti beberapa langkah dari Danang.
Matanya langsung berkaca kaca.
Ia tidak menangis seperti Dinda.
Ia tidak berlari memeluk seperti Dinda.
Ia hanya berdiri.
Diam.
Menatap.
Matanya berbicara lebih keras daripada seribu kata.
Kamu ke mana, Yah?
Kenapa lama sekali?
Aku takut.
Aku takut sekali.
Danang mengulurkan tangan. "Bima... sini."
Bima tidak bergerak.
Masih diam.
Masih berdiri.
Air mata mulai jatuh dari matanya—jatuh pelan, jatuh diam diam, jatuh seperti orang yang sudah terlalu lama menahan.
"Ayo, Nak. Ayah minta maaf."
Dan akhirnya—setelah berdetik detik, setelah berdebar debar, setelah air mata jatuh dan hati bergetar—Bima berlari.
Memeluk ayahnya.
Memeluk erat.
Memeluk seperti tidak ingin melepaskan.
Danang memeluk kedua anaknya.
Dadanya penuh.
Penuh dengan rasa bersalah.
Penuh dengan rasa rindu.
Penuh dengan rasa syukur.
Syukur karena mereka masih di sini.
Masih sehat.
Masih utuh.
Masih mau memeluk ayahnya meskipun ayahnya pergi tanpa pamit.
Dari pintu rumah—dari balik tirai jendela yang sedikit terbuka—Sintia memperhatikan semuanya.
Ia melihat Dinda yang berlari.
Ia melihat Bima yang berdiri diam.
Ia melihat Danang yang mengulurkan tangan.
Ia melihat air mata yang jatuh.
Ia melihat pelukan yang erat.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama—setelah pertengkaran, setelah kemarahan, setelah kekecewaan—matanya tidak dipenuhi kemarahan.
Melainkan kesedihan.
Kesedihan yang dalam.
Kesedihan yang tidak bisa ia sembunyikan.
Dan kerinduan.
Kerinduan yang tidak bisa ia pungkiri.
Ia merindukan Danang.
Ia merindukan suaminya.
Ia merindukan lelaki yang dulu selalu tersenyum setiap pulang kerja.
Lelaki yang dulu selalu memeluknya sebelum tidur.
Lelaki yang dulu menjadi tempatnya bersandar ketika dunia terasa berat.
Namun ketika keadaan mulai sedikit membaik—ketika Dinda mulai tersenyum, ketika Bima mulai berbicara, ketika Danang mulai berani menatap ke arah pintu tempat Sintia berdiri—masalah baru kembali muncul.
Di kantor.
Anton—manusia gosip berwajah tikus itu—mulai menyebarkan cerita baru.
Ia mendengar dari seseorang yang mendengar dari seseorang bahwa Danang sedang bermasalah dengan istrinya. Bahwa rumah tangganya sedang di ambang kehancuran. Bahwa Sintia sudah tidak tahan lagi.
Dan seperti biasa, Anton mulai menghubungkan semuanya dengan Laras.
"Pasti gara gara Laras itu. Makanya saya bilang, hati hati sama janda."
"Katanya istrinya marah besar."
"Pasti sudah tahu tentang foto itu."
"Waduh, kasihan Pak Danang. Tapi ya jujur saja, dia juga yang salah. Masa sih tega teganya sama istri sendiri."
Gosip itu berkembang.
Semakin liar.
Semakin jauh dari kenyataan.
Seperti api yang tidak bisa dipadamkan.
Seperti virus yang bermutasi menjadi lebih ganas.
Ironisnya—atau mungkin memang sudah takdir—sebagian cerita akhirnya sampai ke telinga Laras sendiri.
Perempuan itu sedang duduk di meja kerjanya ketika Rudi menghampiri.
Wajah Rudi serius. Tidak seperti biasanya.
"Mbak Laras, saya mau bicara."
"Ada apa, Pak Rudi? Wajahnya tegang sekali."
Rudi menghela napas. "Mbak, ada gosip yang berkembang. Tentang Mbak. Tentang Pak Danang. Tentang istrinya."
Laras mengernyit. "Gosip apa?"
Rudi menceritakan semuanya.
Dengan hati hati.
Dengan kata kata yang dipilih.
Tidak bisa disembunyikan. Tidak bisa dipelintir.
Laras mendengarkan.
Wajahnya berubah.
Dari tenang menjadi tegang.
Dari tegang menjadi pucat.
Dari pucat menjadi putih seperti kertas.
"Apa? Warga kampung... mengira saya... penyebab masalah rumah tangga Pak Danang?"
Rudi mengangguk pelan.
"Ya Allah..." Laras menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Matanya membesar. "Ini tidak mungkin. Ini tidak masuk akal. Saya tidak pernah..."
"Saya tahu. Saya tahu Mbak tidak pernah."
"Tapi kenapa orang orang..."
"Karena gosip, Mbak. Karena orang lebih suka percaya cerita yang menarik daripada kebenaran yang membosankan."
Laras terdiam.
Tangannya gemetar.
Ia merasa dunia runtuh.
Bukan karena ia bersalah.
Tapi karena ia tahu—ia tahu betul bagaimana kampung, bagaimana tetangga, bagaimana masyarakat—seorang perempuan yang dituduh menjadi orang ketiga tidak akan pernah bisa membersihkan namanya.
Meskipun ia tidak bersalah.
Meskipun ia tidak pernah melakukan apa pun.
Meskipun ia hanya bekerja.
"Wanita itu pasti sangat membenciku," bisik Laras.
"Wanita mana?"
"Istri Pak Danang. Bu Sintia. Dia pasti marah besar. Pasti sakit hati. Pasti mengutukku. Aku mengerti perasaannya."
"Sebaiknya Mbak tidak berpikir seperti itu. Sebenarnya masalah mereka..."
"Jauh lebih rumit, ya?" Laras tersenyum pahit. "Semua masalah rumah tangga selalu rumit. Tapi yang paling mudah adalah menyalahkan orang ketiga. Selalu begitu."
Rudi tidak bisa membantah.
Karena Laras benar.
BAB XVII
Orang Ketiga yang Tidak Bersalah
Terkadang seseorang bisa menjadi tokoh utama dalam sebuah cerita yang bahkan tidak pernah ia tulis.
Ia tidak memulai cerita itu.
Tidak menginginkannya.
Tidak pula mendapatkan keuntungan darinya.
Namun namanya tetap disebut.
Tetap dibicarakan.
Tetap disalahkan.
Seperti aktor yang dipaksa naik panggung tanpa naskah.
Seperti pemain yang dipaksa masuk lapangan tanpa seragam.
Seperti korban yang dipaksa menjadi algojo.
Dan itulah yang sedang dialami Laras.
Sejak gosip menyebar—sejak foto itu beredar, sejak mulut, mulut mulai bergerak, sejak Anton mulai bersenandung—kehidupan Laras berubah.
Awalnya ia tidak terlalu memikirkan berbagai bisik bisik yang beredar di kantor.
Ia sudah terbiasa dengan gosip.
Ia sudah lama belajar bahwa di lingkungan kerja mana pun, gosip adalah bumbu yang tidak bisa dihilangkan. Seperti garam dalam masakan—sedikit bisa menambah rasa, terlalu banyak bisa merusak semuanya.
Ia menganggap semuanya hanya omongan biasa. Angin lalu. Suara yang akan hilang dengan sendirinya setelah beberapa hari, digantikan oleh gosip baru tentang orang lain.
Tapi kenyataannya berbeda.
Semakin hari, cerita itu justru semakin berkembang.
Semakin liar.
Semakin jauh dari kenyataan.
Seperti pohon yang terus bercabang.
Seperti sungai yang terus berkelok.
Seperti api yang tidak bisa dipadamkan.
Beberapa rekan kerja mulai memandangnya dengan cara berbeda.
Ada yang terlihat iba—mereka mendekati Laras dengan ekspresi kasihan, mengatakan hal hal seperti "sabar ya, Mbak" atau "orang, orang tidak tahu apa, apa" atau "kamu tidak sendirian". Tapi tatapan iba mereka justru membuat Laras merasa semakin terisolasi.
Ada yang tampak penasaran—mereka datang dengan alasan pekerjaan, tapi matanya mencari mencari, telinganya mendengar dengar, mulutnya bertanya bertanya dengan nada yang dibuat, buat santai.
Ada pula yang diam, diam menghakimi. Meskipun tidak mengucapkan apa, apa. Meskipun tidak terang, terangan menuduh. Tapi tatapan mereka—tatapan dingin, tatapan sinis, tatapan yang berkata "aku tahu kamu"—sudah cukup menjelaskan semuanya.
Laras bisa merasakannya.
Satu per satu.
Hari demi hari.
Seperti kertas pasir yang menggesek kulitnya.
Pelahan.
Tapi pasti.
Luka.
Suatu siang.
Kantin kantor sepi.
Hanya Laras yang duduk sendirian di meja pojok.
Piring nasi kotak di depannya hampir tidak tersentuh.
Seporsi nasi. Tahu. Tempe. Sayur lodeh. Sambal.
Makanan yang biasanya ia lahap—yang biasanya ia makan dengan penuh kenikmatan—kini terasa hambar di lidah. Seperti makan kertas. Seperti makan debu.
Nafsu makannya hilang.
Pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan yang tidak bisa ia jawab.
Apa yang salah dengan diriku?
Apakah aku terlalu ramah pada Danang?
Apakah aku seharusnya tidak pernah bertanya tentang pekerjaan?
Apakah aku seharusnya tidak pernah menerima tawarannya untuk diantar?
Apakah aku seharusnya diam di tempat dan membiarkan anakku kejang, kejang sendirian?
Apakah menjadi janda adalah dosa?
Apakah menjadi ibu tunggal yang berjuang mencari nafkah adalah kesalahan?
Ia menghela napas.
Panjang.
Sangat panjang.
Sampai dadanya terasa kosong.
"Aku hanya ingin bekerja," bisiknya pelan. "Aku hanya ingin menghidupi anakku. Kenapa begini? Kenapa hidup ini sulit sekali?"
Rudi menghampiri.
Langkahnya pelan.
Tidak terburu, buru.
Seperti orang yang sudah melihat pemandangan ini berkali, kali dan tahu bahwa kecepatan bukanlah solusi.
"Boleh duduk, Mbak?"
Laras mengangkat kepala.
Matanya sedikit merah.
Tapi tidak ada air mata.
Mungkin sudah habis.
Mungkin masih ditahan.
Mungkin ia sudah terbiasa menahan.
"Tentu, Pak."
Rudi duduk di hadapannya.
Meja kayu panjang memisahkan mereka.
Untuk beberapa saat mereka hanya diam.
Rudi tidak bicara.
Laras juga tidak.
Tapi diam mereka berbeda dengan diam di pagi hari.
Diam mereka adalah diam yang berbicara.
Diam yang berkata, "aku di sini, kamu tidak sendirian."
"Aku minta maaf, Mbak," ucap Rudi akhirnya.
Laras mengangkat kepala. "Untuk apa, Pak?"
"Karena kantor ini—orang, orang di kantor ini—membuatmu tidak nyaman."
Laras tersenyum kecil.
Senyum yang terlihat lelah.
Senyum yang tidak sampai ke mata.
"Ini bukan salah Bapak."
"Tetap saja. Saya senior di sini. Harusnya saya bisa menjaga suasana kantor tetap kondusif. Tapi saya... gagal. Saya tidak bisa menghentikan mulut Anton dan kawan, kawan."
Laras menatap secangkir teh di hadapannya.
Teh yang sudah dingin.
Tidak mengepul lagi.
"Aku tidak pernah membayangkan akan berada dalam situasi seperti ini," kata Laras. "Aku pikir, setelah suamiku meninggal, setelah aku berjuang seorang diri, setelah aku berusaha bangkit... aku akan dapat ketenangan. Ternyata tidak. Ada selalu saja masalah. Ada selalu saja orang yang ingin melihatmu jatuh."
Rudi mengangguk.
Diam.
"Saya tahu."
"Bukannya kasihan Pak Danang?" tanya Rudi.
Laras tersenyum pahit.
"Aku juga kasihan pada diriku sendiri, tentu saja. Tapi... aku juga kasihan pada istrinya. Bu Sintia."
Rudi menatap Laras. Tidak menyela.
"Kalau aku berada di posisinya, mungkin aku juga akan terluka. Mungkin aku juga akan marah. Mungkin aku juga akan cemburu. Meski aku tahu—aku tahu pasti—aku tidak melakukan apa, apa. Tapi luka itu nyata, Pak Rudi. Rasa sakit itu nyata. Dan aku tidak bisa menyalahkan dia karena merasa sakit."
Kalimat itu—kalimat yang jujur, kalimat yang berasal dari hati yang bersih, kalimat yang menunjukkan bahwa Laras adalah orang yang baik—membuat Rudi terdiam.
Ia tidak menyangka.
Ia tidak menyangka Laras akan berkata seperti itu.
Kebanyakan orang, jika difitnah, akan marah. Akan membenci. Akan menyalahkan orang yang menuduhnya.
Tapi Laras tidak.
Ia justru memahami perasaan Sintia.
Ia justru tidak membenci perempuan yang mungkin—dalam hati—mengutuk dirinya.
"Kamu baik sekali, Mbak," kata Rudi.
Laras menggeleng. "Aku tidak baik. Aku hanya lelah. Lelah membenci. Lelah marah. Lelah mempertahankan diri. Aku hanya ingin hidup tenang dengan anakku."
Di rumah.
Sementara itu—sementara Laras bergulat dengan gosip dan fitnah—Sintia masih berusaha memperbaiki hubungannya dengan Danang.
Setelah kunjungan Danang ke rumah—setelah ia melihat anak, anaknya memeluk ayah mereka, setelah ia merasakan kerinduan yang tidak bisa ia pungkiri—Sintia mulai berpikir ulang.
Mungkin selama ini aku terlalu cepat percaya pada gosip.
Mungkin selama ini aku terlalu cepat menyimpulkan.
Mungkin selama ini aku terlalu cepat menghakimi.
Tapi nama Laras—perempuan itu—masih sering muncul di pikirannya.
Bukan lagi karena kemarahan.
Tapi karena rasa penasaran.
Siapa sebenarnya perempuan itu?
Apakah benar seperti yang diceritakan orang, orang?
Apakah benar perempuan itu genit? Apakah benar perempuan itu suka mendekati Danang?
Ataukah semua ini hanya karangan orang, orang yang tidak punya kerjaan?
Ataukah dirinya sendiri—Sintia—yang menjadi korban gosip yang sama?
Pertanyaan, pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.
Seperti roda yang tidak bisa berhenti.
Takdir—atau mungkin memang sudah tertulis—mempertemukan Sintia dan Laras.
Tidak di kantor. Tidak di acara formal. Tidak di tempat yang sudah direncanakan.
Tapi di puskesmas.
Tempat yang paling tidak terduga.
Tempat yang paling tidak mungkin untuk rekonsiliasi.
Tempat di mana dua ibu yang sama sama khawatir tentang anak mereka bertemu.
Hari itu Dinda mendadak demam.
Tiba, tiba.
Saat sedang bermain. Saat tertawa. Saat berlarian dengan teman, temannya.
Lima menit kemudian, Dinda lemas.
Sepuluh menit kemudian, panasnya naik.
Pihak sekolah segera menghubungi Sintia.
Dengan panik—dengan jantung berdebar, dengan tangan gemetar—Sintia langsung bergegas ke sekolah, lalu membawa Dinda ke puskesmas terdekat.
Di ruang tunggu puskesmas—di ruangan yang penuh dengan orang, dengan suara anak, anak menangis, dengan bau obat dan antiseptik—Sintia duduk di bangku kayu panjang sambil memangku Dinda yang lemas.
Ia fokus pada anaknya.
Tidak memedulikan sekeliling.
Hingga seseorang menghampiri.
"Maaf, Bu..."
Suara itu lembut.
Terdengar ragu.
Sintia mengangkat kepala.
Dan seketika membeku.
Seluruh tubuhnya terasa kaku.
Darahnya serasa berhenti mengalir.
Perempuan yang berdiri di hadapannya—perempuan dengan jilbab krem, kemeja putih, wajah teduh—sangat dikenalnya.
Bukan karena pernah bertemu.
Bukan karena pernah berbicara.
Tapi karena pernah melihat wajahnya berkali, kali.
Di foto yang dikirim Bu Ratna.
Di foto yang beredar di grup WhatsApp.
Di foto yang menghancurkan hatinya.
Laras.
Jantung Sintia berdetak cepat.
Sangat cepat.
Seperti genderang perang.
Seperti alarm kebakaran.
Sementara Laras—Laras juga tampak sama terkejutnya.
Wajahnya berubah.
Dari tenang menjadi pucat.
Dari pucat menjadi putih.
Matanya membesar.
Tangannya—tangan yang tadinya memegang tas—mulai gemetar.
Beberapa detik mereka saling menatap.
Tidak ada yang berbicara.
Tidak ada yang bergerak.
Suasana di sekitar mereka—suara anak, anak menangis, suara perawat memanggil pasien, suara mesin pendingin—tiba, tiba terasa jauh.
Seperti ada dinding kaca yang memisahkan mereka dari dunia luar.
Seperti mereka berada di ruang yang berbeda.
Akhirnya—setelah detik detik yang terasa seperti jam—Laras yang lebih dulu membuka suara.
"Anaknya sakit?"
Suaranya lembut.
Terdengar tulus.
Sintia mengangguk pelan.
"Demam. Tinggi."
Laras tersenyum tipis. Senyum yang tidak mengandung kepalsuan. Senyum yang keluar dari keprihatinan yang tulus.
"Putriku juga. Sudah dua hari."
Barulah Sintia menyadari—barulah matanya bergerak ke samping Laras—seorang anak perempuan kecil sedang duduk di kursi sebelah.
Wajahnya pucat.
Matanya sayu.
Tubuhnya lemas.
Di tangannya, sebuah boneka kecil yang sudah kusam.
Anak itu—anak yang tidak bersalah, anak yang tidak tahu apa, apa tentang gosip dan fitnah, anak yang hanya tahu bahwa ia sedang sakit dan ingin pulang—menatap Sintia dengan polos.
Untuk pertama kalinya, Sintia melihat sisi lain dari perempuan itu.
Bukan sebagai tokoh dalam gosip.
Bukan sebagai orang ketiga dalam cerita rumah tangganya.
Bukan sebagai musuh yang harus dibenci.
Melainkan seorang ibu.
Seorang ibu yang sedang mengkhawatirkan anaknya.
Seorang ibu yang melakukan hal yang sama persis seperti dirinya.
Seorang ibu yang duduk di ruang tunggu puskesmas yang sama, dengan perasaan cemas yang sama, dengan doa yang sama: "Ya Allah, sembuhkan anakku."
Takdir—atau mungkin memang sudah digariskan—seolah sengaja menciptakan situasi yang membuat mereka tidak bisa menghindar.
Karena nomor antrean mereka berdekatan.
Karena Dinda dan putri Laras dipanggil hampir bersamaan.
Karena mereka harus duduk di ruang tunggu yang sama selama hampir satu jam.
Mereka akhirnya duduk di ruang tunggu yang sama.
Bangku kayu panjang.
Bersebelahan.
Jarak hanya satu lengan.
Awalnya suasana terasa canggung.
Sangat canggung.
Seperti dua orang yang dipaksa duduk bersama di ruang sempit.
Tapi perlahan—setelah Dinda mulai tertidur di pangkuan Sintia, setelah putri Laras mulai tenang dan tidak rewel—percakapan mulai mengalir.
Tentang anak, anak.
Tentang sekolah.
Tentang makanan yang disukai.
Tentang kebiasaan tidur.
Tentang alergi.
Tentang vaksinasi.
Tentang berat badan dan tinggi badan.
Tentang kebanggaan ketika anak bisa membaca.
Tentang kekhawatiran ketika anak sakit.
Hal, hal sederhana.
Hal, hal yang biasa dibicarakan oleh para ibu.
Tapi di balik kesederhanaan itu—di balik percakapan tentang MPASI dan jadwal imunisasi—Sintia mulai menyadari sesuatu.
Perempuan di hadapannya—perempuan yang selama ini ia benci, perempuan yang selama ini ia curigai, perempuan yang selama ini ia anggap sebagai sumber masalah—sama sekali tidak seperti yang dibayangkannya.
Tidak ada sikap genit.
Tidak ada gelagat mencurigakan.
Tidak ada usaha mendekati Danang.
Tidak ada senyum yang menggoda.
Tidak ada tatapan yang bermakna ganda.
Tidak ada nada bicara yang manja.
Tidak ada apa pun.
Yang ada hanyalah seorang ibu.
Seorang ibu yang lelah.
Seorang ibu yang berjuang.
Seorang ibu yang sama seperti dirinya.
"Bu Sintia."
Sintia menoleh.
Laras menunduk.
Tangannya—tangan yang sedari tadi memegang erat tas—kini mulai memainkan ujung jilbabnya.
"Bisa... boleh saya bicara?"
"Tentu."
Laras mengangkat kepala.
Matanya berkaca, kaca.
"Saya minta maaf."
Sintia mengernyit. "Untuk apa?"
"Karena nama saya... ikut menjadi masalah dalam rumah tangga Ibu."
Sintia terdiam.
"Maaf," lanjut Laras. "Maaf sekali. Saya tidak pernah berniat. Saya tidak pernah bermaksud. Saya tidak pernah menginginkan semua ini."
Suara Laras mulai bergetar.
Hampir menangis.
"Saya hanya bekerja, Bu. Saya janda. Suami saya meninggal tiga tahun lalu. Saya punya anak—anak saya masih kecil. Saya harus bekerja untuk menghidupinya. Saya tidak punya pilihan. Saya tidak punya keluarga yang bisa membantu. Saya hanya sendiri."
Laras berhenti.
Menarik napas.
Menghembuskannya.
"Saya sangat menghormati Pak Danang. Sebagai senior. Sebagai rekan kerja. Tidak lebih. Saya tidak pernah—sekali pun—berpikir untuk..."
"Tidak usah," potong Sintia. "Saya... saya mengerti."
"Tapi..." Laras masih belum puas. "Kalau keberadaan saya membuat Ibu terluka—kalau kehadiran saya di kantor membuat Ibu sakit hati—saya benar, benar minta maaf."
Mata Laras berkaca, kaca.
Air mata mulai menggenang.
"Kalau memang saya harus pindah kerja, saya akan pindah. Jujur. Saya sudah mulai mencari lowongan di tempat lain. Saya tidak ingin merepotkan."
Sintia tidak mampu menjawab.
Untuk pertama kalinya—untuk pertama kalinya sejak foto itu muncul, sejak gosip itu beredar, sejak ia mulai membenci Laras—ia melihat bahwa Laras mungkin memang tidak bersalah.
Mungkin.
Sangat mungkin.
Bahkan hampir pasti.
Ia melihat bahwa selama ini ia telah menjadi korban.
Korban gosip.
Korban fitnah.
Korban cerita yang dibangun oleh orang, orang yang tidak bertanggung jawab.
Tapi ia juga melihat bahwa Laras—Laras yang tidak ia kenal, Laras yang tidak pernah ia ajak bicara, Laras yang selama ini ia benci dalam diam—adalah korban yang sama.
Korban yang sama.
Dari gosip yang sama.
Dari fitnah yang sama.
Dari cerita yang sama.
Mereka berdua—Sintia dan Laras—tidak saling mengenal. Tidak saling mengetahui. Tidak saling memahami.
Tapi mereka berdua sama, sama perempuan.
Sama, sama ibu.
Sama, sama berjuang untuk keluarga masing, masing.
Dan mereka berdua—tanpa sadar, tanpa sengaja, tanpa direncanakan—telah diadu oleh orang, orang yang tidak bertanggung jawab.
Sebelum pulang—setelah Dinda diperiksa, setelah diberi obat, setelah putri Laras juga selesai—Laras berdiri di depan pintu puskesmas.
"Bu Sintia."
"Iya."
Laras tersenyum.
Senyum yang tulus.
Senyum yang tidak menyembunyikan apa, apa.
"Pak Danang sangat mencintai keluarganya."
Sintia menatap Laras.
"Setiap kali berbicara tentang anak, anaknya—setiap kali menyebut nama Bima atau Dinda—wajah beliau selalu berubah. Senyumnya... senyum yang berbeda. Senyum yang tidak bisa dibuat, buat."
Laras menatap mata Sintia.
"Orang seperti itu—orang yang matanya berbinar setiap kali berbicara tentang anak dan istrinya—tidak terlihat seperti seseorang yang ingin menghancurkan keluarganya sendiri."
Laras membungkuk sedikit.
"Terima kasih, Bu. Maaf sekali lagi. Semoga Dinda cepat sembuh. Semoga Ibu sekeluarga diberikan kesehatan."
Laras berbalik.
Menggandeng putrinya.
Berjalan perlahan.
Meninggalkan puskesmas.
Meninggalkan Sintia.
Kalimat itu—"Pak Danang sangat mencintai keluarganya"—terus terngiang di kepala Sintia sepanjang perjalanan pulang.
Sepanjang jalan.
Sepanjang naik angkot.
Sepanjang menggandeng Dinda yang masih lemas.
Ia memikirkan Laras.
Ia memikirkan semua yang telah terjadi.
Ia memikirkan semua yang telah ia tuduhkan.
Ia memikirkan semua yang telah ia percayai.
Malam harinya—setelah anak, anak tidur, setelah rumah kembali sunyi, setelah ia duduk sendirian di ruang tamu—untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ketika nama Laras muncul dalam pikirannya, yang muncul bukan lagi kemarahan.
Bukan lagi kebencian.
Bukan lagi prasangka.
Melainkan rasa bersalah.
Rasa bersalah yang dalam.
Rasa bersalah yang membuatnya tidak bisa tidur.
Mungkin selama ini aku salah.
Mungkin selama ini Laras tidak bersalah.
Mungkin selama ini aku terlalu cepat percaya pada gosip.
Mungkin selama ini aku terlalu cepat menghakimi.
Mungkin... maaf, Laras. Maafkan aku.
BAB XVIII
Hutang Lama Keluarga
Sore itu langit di atas Kampung Mekarsari berwarna jingga. Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, meninggalkan sisa-sisa cahaya yang temaram. Burung-burung kecil mulai pulang ke sarangnya. Suasana yang biasanya tenang dan damai.
Tapi tidak di rumah Bu Sulastri.
Rumah tua bercat krem itu justru ramai oleh suara-suara tinggi yang sudah terdengar dari ke ujung gang. Beberapa tetangga mulai berbisik-bisik di depan pagar, penasaran tapi tidak berani mendekat.
Di dalam ruang tamu yang sempit, hampir dua puluh orang berkumpul. Wajah-wajah tegang. Ada yang duduk di kursi, ada yang bersandar di dinding, ada yang berdiri dengan tangan bersedekap di dada. Suhu ruangan terasa panas meskipun kipas angin di pojok ruangan sudah dinyalakan dengan kecepatan maksimal.
Danang baru saja tiba. Belum sempat melepas helm, ia langsung ditarik oleh suasana yang tidak biasa. Motor yang baru saja ia parkir di halaman masih mengeluarkan suara mesin yang mendingin.
Di ruang tamu, Surya—kakak ipar Danang, suami dari kakak perempuan Danang—sedang berdiri dengan wajah merah padam. Urat lehernya menonjol. Matanya melotot ke arah Deni yang duduk di kursi sebrang.
"Aku hanya meminta hakku, Deni. Tidak lebih. Jangan bawa perasaan," kata Surya. Suaranya keras, hampir seperti teriakan. Tangannya menunjuk-nunjuk ke arah Deni.
"Hakmu sudah lebih dari cukup, Surya. Jangan serakah. Tanah itu bukan hanya milikmu," balas Deni. Suaranya tidak kalah keras. Wajahnya juga merah padam.
"Jangan mengajariku soal hak! Kamu siapa? Kamu anak bungsu! Apa yang kamu tahu tentang sejarah tanah ini?"
"Sejarah? Sejarah apa yang kamu maksud? Ayahku meninggalkan tanah itu untuk kita semua. Bukan untuk kamu seorang!"
"Tapi ayahmu berhutang!"
"Dan hutang itu sudah dibayar!"
"Belum! Itu yang kalian sembunyikan selama ini!"
Danang yang baru masuk langsung membeku di ambang pintu. Matanya bergerak cepat ke kiri dan kanan, mencoba memahami situasi.
"Ada apa ini?" tanya Danang. "Kenapa ramai sekali? Surya? Deni? Kalian kenapa?"
Surya menoleh ke arah Danang. Wajahnya masih merah. "Tanya ibumu, Dan! Tanya ibu kamu! Dia yang tahu semuanya! Dia yang menyembunyikan semuanya bertahun-tahun!"
Danang mengernyit. Matanya beralih ke ibunya yang duduk di kursi jati di sudut ruangan. Bu Sulastri terdiam. Wajahnya pucat. Matanya terpejam. Tangannya yang keriput gemetar di pangkuan.
"Bu?" panggil Danang pelan. "Ada apa, Bu? Kenapa Surya marah-marah? Kenapa Deni juga ikut-ikutan?"
Bu Sulastri tidak menjawab. Ia hanya diam. Bibirnya bergetar. Air mata mulai merembes dari sudut matanya yang tertutup rapat.
Deni angkat bicara. "Mereka mempermasalahkan hutang lama ayah, Mas. Hutang yang dulu dipakai ayah untuk membeli tanah."
Danang mengerutkan kening. "Hutang? Hutang apa, Bu? Aku tidak pernah dengar."
Bu Sulastri masih diam.
Surya mendengus keras. "Hebat, ya, ibumu. Sepintar itu menyimpan rahasia. Puluhan tahun. Tidak pernah bocor sedikit pun."
"Rahasia apa?" tanya Danang mulai tidak sabar.
Surya menunjuk ke arah Bu Sulastri dengan dagunya. "Tanya langsung. Biar beliau yang menjelaskan. Aku hanya ingin keadilan. Tidak lebih. Tidak kurang."
Deni berdiri. Wajahnya juga merah. "Keadilan? Yang kamu maksud keadilan itu mengambil semua tanah untuk dirimu sendiri, Surya? Itu namanya keserakahan, bukan keadilan."
"Hutang itu bukan hanya untuk membeli tanah, Deni!"
"Lalu untuk apa?"
"Sebagian dipakai untuk membantu seseorang! Seorang kerabat! Tapi ibumu tidak pernah mau menyebut nama orang itu! Puluhan tahun disembunyikan!"
Deni terdiam. Matanya beralih ke Bu Sulastri. "Benarkah, Bu?"
Bu Sulastri membuka matanya. Air mata mulai mengalir di pipinya yang keriput. "Aku tidak ingin membahasnya, Nak. Biarkan masa lalu menjadi masa lalu."
"Tidak bisa, Bu!" Surya membanting tangan ke atas meja. Bunyi keras mengagetkan beberapa orang di ruangan. "Masalah ini harus selesai! Sudah terlalu lama kita hidup dengan kebohongan! Semua orang di sini berhak tahu!"
Bu Sulastri menatap Surya dengan mata berkaca-kaca. "Kebohongan apa yang kamu maksud, Surya? Aku tidak pernah berbohong. Aku hanya diam."
"Ya, itu dia masalahnya, Bu! Ibu diam! Ibu menyembunyikan fakta bahwa tanah itu sebagian dibeli dengan hutang yang bukan untuk kepentingan keluarga! Hutang itu dipakai untuk membantu orang lain! Bukan untuk kita!"
"Jadi?"
"Jadi, kalau memang hutang itu dipakai untuk membantu orang lain, maka beban hutang itu juga harus ditanggung oleh orang yang dibantu! Bukan oleh kita semua! Bukan oleh keluarga ini!"
Danang mulai paham arah pembicaraan ini. Dadanya terasa sesak. Ia menatap ibunya. "Bu... benar begitu? Ayah membantu seseorang?"
Bu Sulastri hanya menunduk. Tidak menjawab.
"Iya, Dan! Benar!" sela Surya. "Ayahmu dulu meminjam uang dalam jumlah besar. Sebagian untuk membeli tanah itu. Sebagian lagi untuk membantu seseorang. Tapi ibumu tidak pernah mau bilang siapa orang itu. Selama ini kita semua menanggung hutang yang sebenarnya bukan tanggung jawab kita!"
Deni langsung membantah. "Kita tidak tahu apakah itu benar atau tidak, Surya! Kita hanya mendengar dari satu sisi! Dari orang-orang yang mungkin ingin mengambil keuntungan dari situasi ini!"
Surya mendekat. Wajahnya berhadapan dengan Deni. "Maksudmu aku berbohong?"
"Bisa jadi."
"Berani kamu!"
"Kenapa tidak berani? Kamu datang ke sini dengan tuduhan tanpa bukti! Kamu menuduh ibu menyembunyikan sesuatu tanpa tahu kebenarannya! Kamu ingin membagi tanah berdasarkan dugaanmu sendiri!"
"Aku punya bukti, Deni!"
"Bukti apa?"
Surya merogoh saku jaketnya. Ia mengeluarkan secarik kertas yang sudah tua, menguning di pinggir-pinggirnya. Kertas itu terlihat rapuh, seperti akan hancur jika terlalu keras dipegang.
"Ini buktinya!" Surya meletakkan kertas itu di atas meja. "Ini surat hutang yang ditandatangani ayahmu dulu! Ada nama penerima hutang! Ada jumlahnya! Ada saksi-saksinya! Semua jelas!"
Deni mengambil kertas itu. Matanya membaca cepat. Wajahnya berubah. Dari merah menjadi pucat.
"Ini... ini surat yang sama yang dulu hilang dari lemari ayah," bisik Deni. "Ayah mencarinya bertahun-tahun. Ternyata... kamu yang menyimpannya, Surya?"
"Bukan aku yang menyimpan. Surat ini diberikan oleh seseorang kepadaku. Seseorang yang selama ini diam-diam membantu keluarga ini tanpa pernah mendapat pengakuan."
"Siapa?"
"Tidak penting sekarang. Yang penting, hutang itu benar-benar ada. Tanda tangan ayahmu jelas tertera di sini. Jumlahnya jelas. Tujuan pinjamannya juga jelas: untuk pembelian tanah dan untuk membantu seorang kerabat."
Ruangan mendadak hening.
Semua mata tertuju pada Bu Sulastri.
Perempuan tua itu masih duduk di kursi jatinya. Wajahnya pucat pasi. Tangannya gemetar hebat. Air mata mengalir tanpa suara.
Bu Sulastri angkat suara. "Cukup, Nak. Cukup. Jangan teruskan. Kalian hanya akan saling menyakiti."
"Kami hanya ingin kebenaran, Bu," kata Deni. Suaranya lebih pelan sekarang. "Bukan tanahnya. Bukan hutangnya. Tapi kebenarannya. Siapa yang dibantu ayah dulu? Kenapa selama ini dirahasiakan?"
Bu Sulastri memejamkan mata. Air mata masih mengalir.
"Aku tidak ingin... mereka hidup dengan rasa hutang," bisiknya.
"Apa, Bu?"
"Orang yang dibantu ayahmu... mereka tidak tahu dari mana uang itu berasal. Ayahmu sengaja merahasiakannya. Karena ayahmu tidak ingin mereka merasa berhutang budi. Karena ayahmu percaya bahwa membantu orang tidak perlu pamrih. Tidak perlu pengakuan. Tidak perlu ucapan terima kasih."
Surya mendengus. "Muluk-muluk, Bu. Tapi lihat akibatnya sekarang. Keluarga ini hampir bubar karena rahasia itu."
"Karena kalian yang terlalu serakah, Surya. Bukan karena rahasia."
"Serakah? Aku hanya meminta hakku, Bu!"
"Tidak, Nak. Kamu sedang menghancurkan keluarga ini."
Surya terdiam. Wajahnya berubah. Ia tidak bisa berkata apa-apa.
Bu Sulastri berdiri. Perlahan. Tubuhnya yang sudah tua gemetar hebat. Danang cepat-cepat menghampiri dan memegang tangan ibunya.
"Bu... duduk dulu, Bu. Jangan berdiri."
Bu Sulastri menggeleng. Tangannya menggenggam erat tangan Danang.
"Aku sudah tua, Nak. Aku tidak kuat lagi. Aku hanya ingin melihat keluarga ini rukun sebelum aku mati."
Air mata mengalir deras di pipi Bu Sulastri.
"Tapi lihat... kalian semua... anak-anakku... lebih sibuk memperebutkan tanah daripada menjaga hubungan persaudaraan."
Ruangan semakin hening.
Surya menunduk. Deni juga. Beberapa kerabat yang tadinya ikut bersuara kini memilih diam.
"Tiga puluh tahun lalu," lanjut Bu Sulastri, "ketika ayah kalian masih hidup, beliau mendapat kabar bahwa adiknya—adik bungsu ayah kalian—sedang dalam kesusahan. Suaminya meninggal. Ia ditinggalkan dengan tiga anak yang masih kecil-kecil. Rumahnya hampir disita. Mereka hampir kelaparan."
Bu Sulastri berhenti. Menarik napas panjang.
"Ayah kalian tidak tega. Maka beliau meminjam uang. Sebagian untuk membeli tanah yang kalian perebutkan sekarang. Sebagian untuk membantu adiknya."
Semua orang terdiam.
Paman Harun.
Nama itu tidak disebutkan. Tapi semua orang di ruangan itu tahu. Paman Harun. Adik bungsu Pak Wiryo. Laki-laki yang selama ini jarang muncul di acara keluarga. Yang lebih sering tinggal di kebunnya. Yang hidup sederhana. Yang tidak pernah meminta apa pun.
"Paman Harun?" tanya Danang pelan.
Bu Sulastri hanya mengangguk.
"Ayahmu melarangku menyebut nama itu. Sampai kapan pun. Sampai beliau meninggal. Sampai sekarang."
"Kenapa, Bu?"
"Karena ayahmu tidak ingin Paman Harun hidup dengan beban. Karena ayahmu tidak ingin Paman Harun merasa berhutang budi. Karena ayahmu ingin Paman Harun dan anak-anaknya hidup tenang tanpa tekanan."
Ruangan mendadak sunyi.
Sunyi yang begitu pekat.
Sampai-sampai suara detak jarum jam dinding terdengar jelas.
Surya yang sedari tadi paling vokal, paling keras, paling lantang, kini terdiam. Wajahnya pucat. Tangannya gemetar.
"Jadi selama ini..." suara Surya parau. "Selama ini... kita semua... aku..."
"Kita semua salah paham, Yu," kata Deni pelan. "Kita semua terpedaya oleh prasangka kita sendiri."
Surya menunduk. Tidak berani menatap siapa pun.
"Aku... aku tidak tahu, Bu. Aku tidak tahu kalau ayah..."
Bu Sulastri menggeleng. "Tidak apa-apa, Nak. Sekarang kalian tahu."
Tapi Surya tidak lega. Wajahnya justru semakin pucat. Dadanya naik turun. Tangannya yang memegang surat hutang itu mulai gemetar hebat.
"Ini... ini surat..." bisiknya. "Surat ini diberikan kepadaku oleh... oleh..."
"Siapa, Yu?" tanya Deni.
Surya tidak menjawab. Ia hanya menunduk semakin dalam.
Danang mendekat. "Surya, siapa yang memberikan surat itu kepadamu? Siapa yang selama ini memelihara kebencianmu terhadap keluarga ini?"
Surya terdiam lama.
Kemudian ia berbisik, "Paman Harun."
Ruangan terkesiap.
"Paman Harun? Yang memberimu surat itu Paman Harun?" tanya Deni tidak percaya.
"Iya. Beberapa tahun lalu, setelah ayah meninggal, Paman Harun datang menemuiku. Dia bilang dia tidak tahan hidup dengan hutang budi. Dia bilang dia ingin melunasi semua kebaikan ayah. Tapi dia tidak punya uang. Maka dia memberikan surat hutang itu kepadaku."
"Kenapa tidak diberikan kepada ibu?" tanya Danang.
"Karena Paman Harun malu. Karena Paman Harun tidak berani bertemu dengan ibu. Karena Paman Harun tahu ibu akan menolak."
Bu Sulastri menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Harun... Harun... kenapa kau lakukan itu?" bisiknya.
Dari sudut ruangan, seseorang berdiri.
Selama ini ia hanya diam. Duduk di pojok. Tidak bersuara. Tidak ikut dalam perdebatan.
Paman Harun.
Wajahnya penuh air mata.
Tangannya gemetar.
Dengan suara yang parau dan bergetar, ia berkata, "Karena aku tidak tega, Bu. Karena aku tidak tega melihat keluarga ini hancur karena masa laluku."
Semua mata tertuju padanya.
"Aku minta maaf," lanjut Paman Harun. "Aku yang memulai semua ini. Aku yang memberikan surat itu kepada Surya. Aku yang memintanya untuk mengungkap semua ini. Karena aku pikir... dengan mengungkap kebenaran, keluarga ini akan lega. Ternyata... aku salah. Kebenaran tidak selalu membawa kedamaian. Kadang kebenaran justru menghancurkan."
Paman Harun terisak.
"Aku minta maaf. Maafkan aku, Bu. Maafkan aku, Danang. Maafkan aku, Surya. Maafkan aku, Deni. Maafkan aku, semuanya. Aku tidak bermaksud... aku tidak pernah bermaksud..."
Danang berjalan mendekati Paman Harun.
Ia memegang pundak lelaki tua itu.
"Tidak apa-apa, Paman. Kita semua sudah tahu kebenarannya sekarang. Dan kebenaran itu tidak seburuk yang kita kira."
Paman Harun mengangkat wajahnya. Air mata masih membasahi pipinya yang keriput.
"Selama ini aku diam-diam membalas kebaikan almarhum Pak Wiryo," katanya. "Bukan dengan uang. Karena aku tidak punya uang. Tapi dengan cara lain."
"Apa maksud Paman?" tanya Danang.
"Aku membantu mengurus lahan-lahan keluarga. Tanpa pernah meminta imbalan. Aku membantu ibumu ketika kalian masih kecil-kecil. Aku pernah menjual sebagian hasil panenku untuk membantu biaya sekolah Danang dulu. Aku membantu Surya ketika usahanya bangkrut. Aku membantu Deni ketika istrinya sakit."
Paman Harun berhenti. Menarik napas.
"Semua itu kujalankan diam-diam. Sama seperti Pak Wiryo. Karena kami berasal dari generasi yang lebih suka berbuat daripada berbicara. Generasi yang tidak perlu pengakuan. Generasi yang cukup tahu bahwa Allah melihat."
Bu Sulastri terisak. Ia berjalan menghampiri Paman Harun. Memeluknya.
"Harun... kenapa kau tidak bilang dari dulu?"
"Karena aku malu, Bu. Aku malu karena tidak bisa membalas kebaikan kakakku dengan cara yang setimpal. Aku hanya bisa membantu sedikit-sedikit. Itu pun tidak sebanding dengan apa yang telah kakak lakukan untukku."
"Tidak ada yang perlu kamu balas, Harun. Kakakmu melakukannya karena cinta. Bukan karena ingin dibalas."
Paman Harun semakin terisak.
Surya yang sedari tadi terdiam kini berjalan mendekat. Ia berlutut di depan ibunya.
"Maaf, Bu. Maafkan aku."
Bu Sulastri mengusap kepala Surya.
"Tidak apa-apa, Nak. Ibu sudah lama memaafkanmu."
"Aku terlalu serakah, Bu. Aku terlalu sibuk dengan hakku. Sampai lupa dengan kewajibanku sebagai keluarga."
"Kita semua pernah salah, Nak. Yang penting sekarang kita mau mengakuinya."
Deni juga mendekat. Ia ikut berlutut di samping Surya.
"Maaf, Bu. Maaf, Mas Danang. Maaf, Yu Surya. Aku juga ikut-ikutan emosi."
Danang menghela napas panjang. Ia memandang keluarganya. Satu per satu.
"Kita sudah terlalu lama bertengkar," kata Danang. "Sudah terlalu lama saling curiga. Sudah terlalu lama melupakan bahwa kita ini saudara."
Ia mengulurkan tangannya.
"Ayo, kita selesaikan ini dengan baik-baik. Bukan dengan saling menyalahkan. Tapi dengan saling memaafkan."
Surya mengulurkan tangannya. Deni juga.
Tangan mereka bertiga bergandengan.
Di tengah-tengah mereka, Bu Sulastri tersenyum. Air mata masih mengalir di pipinya. Tapi kali ini bukan air mata kesedihan. Bukan air mata kekecewaan.
Tapi air mata haru.
Air mata seorang ibu yang melihat anak-anaknya akhirnya kembali bersatu.
Paman Harun juga tersenyum. Wajahnya yang tadinya penuh rasa bersalah kini terlihat lega.
"Terima kasih, Wiryo," bisiknya dalam hati. "Keluargamu baik-baik saja. Mereka kuat. Mereka akan baik-baik saja."
Di luar, langit mulai gelap.
Malam tiba.
Tapi di dalam rumah tua itu, cahaya mulai bersinar kembali.
Cahaya persaudaraan.
Cahaya pengampunan.
Cahaya cinta yang tidak pernah benar-benar padam.
BAB XIX
Warisan yang Diperebutkan
Tiga hari sejak pertemuan terakhir.
Tiga hari yang tidak membawa ketenangan.
Sebaliknya, justru semakin memperkeruh suasana.
Pagi itu langit kembali mendung. Awan kelabu menggantung rendah, seolah ikut merasakan beban yang sedang dipikul oleh keluarga besar Pak Wiryo. Angin bertiup kencang, menerbangkan dedaunan kering di halaman rumah Bu Sulastri.
Sejak subuh, rumah tua itu sudah mulai didatangi kerabat demi kerabat.
Ada yang datang dengan wajah penasaran. Ada yang datang dengan hati was-was. Ada pula yang datang dengan niat sudah bulat: tanah harus segera dibagi, tidak peduli apa pun risikonya.
Ruang tamu Bu Sulastri yang sempit kini penuh sesak. Hampir tiga puluh orang berkumpul. Beberapa terpaksa berdiri di teras karena tidak kebagian tempat duduk. Suasana sudah panas sejak sebelum matahari naik.
Danang datang bersama Sintia. Wajahnya tegang. Sintia menggenggam tangannya erat, memberikan dukungan diam-diam.
Deni sudah lebih dulu hadir. Wajahnya tampak kurang tidur. Lingkaran hitam di bawah matanya menunjukkan ia gelisah semalaman.
Surya datang belakangan. Wajahnya merah padam sejak memasuki pintu. Ia tidak duduk. Ia memilih berdiri di tengah ruangan, seperti jenderal yang siap memberi komando perang.
"Baiklah," Surya membuka suara tanpa basa-basi. Suaranya keras, memenuhi seluruh ruangan. "Kita harus selesaikan pembagian tanah ini sekarang. Hari ini juga. Tidak bisa ditunda-tunda lagi."
Deni langsung menggeleng tegas. "Belum bisa, Surya. Masih banyak yang belum jelas. Masih ada hutang yang belum diungkap. Masih ada nama yang belum disebut."
"Apa lagi yang belum jelas?" Surya membentak. "Semua sudah terbuka! Tanah itu milik kita! Bagi saja rata! Tidak usah dipersulit!"
"Kita tidak bisa membagi sesuatu kalau dasar kepemilikannya saja masih dipertanyakan, Surya."
"Lho, kenapa dipertanyakan? Bukankah ibumu sendiri sudah mengakui bahwa tanah itu milik ayah kita?"
"Betul. Tapi hutangnya belum jelas."
Surya tertawa keras. Tawa yang pahit. Tawa yang mengandung amarah.
"Lho, Deni? Kemarin kan ibumu sudah bilang. Ayahmu berhutang untuk membeli tanah itu. Itu sudah jelas. Sekarang tinggal bagi. Tidak perlu dipersulit."
"Belum, Surya. Masih ada satu hal yang belum jelas."
"Apa lagi?"
Deni berdiri. Matanya menatap lurus ke arah Surya. "Siapa yang dibantu ayahku dulu? Siapa nama kerabat yang menerima bantuan itu? Kenapa selama ini dirahasiakan? Dan apakah orang itu—atau keturunannya—berhak atas tanah ini?"
Ruangan mendadak hening.
Surya terdiam beberapa detik. Wajahnya berubah. Tidak lagi merah padam, tapi pucat.
"Itu... itu tidak penting, Deni," katanya, suaranya sedikit gugup.
"Tidak penting?" Deni tidak mau kalah. "Ayahku berhutang puluhan juta untuk membantu seseorang. Hutang itu mempengaruhi kepemilikan tanah yang sekarang kita perebutkan. Lalu kamu bilang itu tidak penting?"
"Yang penting tanah ini milik keluarga kita!"
"Kalau hutang itu dipakai untuk membantu orang lain, maka orang itu atau keturunannya juga berhak atas tanah ini, Surya. Itu namanya keadilan."
Surya menunjuk ke arah Deni. Wajahnya kembali merah.
"Jangan coba-coba membawa orang lain ke dalam masalah ini, Deni! Ini urusan keluarga! Bukan urusan orang luar!"
"Tapi orang yang dibantu ayahku bukan orang luar, Surya. Dia kerabat. Dia keluarga. Dia punya darah yang sama dengan kita."
"Keluarga? Keluarga macam apa yang selama ini tidak pernah peduli pada kita?"
"Kamu yang tidak pernah peduli padanya, Surya. Bukan dia yang tidak peduli pada kita."
Surya terdiam. Dadanya naik turun. Matanya menyipit.
"Maksudmu?"
Deni menatap lurus. "Sepanjang hidupnya, dia tidak pernah meminta apa pun dari keluarga ini. Dia bekerja sendiri. Dia membesarkan anak-anaknya sendiri. Dia tidak pernah mengeluh. Tidak pernah menuntut. Tidak pernah merepotkan siapa pun."
"Lalu?"
"Dia justru yang selama ini membantu kita. Tanpa sepengetahuan kita. Diam-diam."
Surya tertawa lagi. Kali ini lebih keras.
"Kamu ini sedang ngaco, Deni! Orang yang kita bicarakan itu bahkan tidak pernah muncul di acara keluarga! Tidak pernah datang ke pertemuan! Tidak pernah memberi bantuan apa pun!"
"Karena dia tidak ingin dianggap berhutang budi, Surya. Itu bedanya. Dia membantu tanpa pamrih. Tanpa ingin dipuji. Tanpa ingin disebut-sebut."
"Omong kosong!"
"Tanya ibumu kalau tidak percaya."
Semua mata tertuju pada Bu Sulastri.
Perempuan tua itu duduk di kursi jati di sudut ruangan. Wajahnya pucat pasi. Tangannya yang keriput gemetar hebat di pangkuan. Matanya terpejam rapat, seolah berusaha menutup diri dari semua yang terjadi di sekitarnya.
"Bu," panggil Danang pelan. "Bu, jawab, Bu. Siapa sebenarnya yang dibantu ayah dulu?"
Bu Sulastri tidak menjawab. Ia hanya diam. Bibirnya bergetar.
"Bu," Deni ikut memanggil. "Kami hanya ingin kebenaran. Bukan tanahnya. Bukan hutangnya. Tapi kebenarannya."
Bu Sulastri masih diam.
Surya tidak sabar. Ia berjalan mendekati ibunya. "Bu, buka saja rahasia itu. Jangan disimpan lagi. Biar kami semua tahu. Biar selesai. Biar tidak ada lagi yang saling curiga."
Bu Sulastri akhirnya membuka mata.
Matanya sembab. Air mata menggenang di sudut-sudutnya.
"Kalian tahu apa yang kalian minta?" suaranya lirih, hampir berbisik. "Kalian tahu apa yang akan terjadi kalau rahasia ini terbuka?"
"Kami akan tahu kebenaran, Bu," kata Deni.
"Dan setelah itu? Apa yang akan kalian lakukan dengan kebenaran itu?"
Kali ini tidak ada yang menjawab.
Bu Sulastri berdiri. Perlahan. Tubuhnya yang sudah tua gemetar hebat. Danang segera menghampiri dan memegang tangan ibunya.
"Bu, duduk dulu, Bu."
Bu Sulastri menggeleng. Matanya menatap satu per satu anak-anaknya. Surya. Deni. Danang. Juga kerabat-kerabat lain yang hadir di ruangan itu.
"Kalian tahu apa warisan terbesar ayah kalian?" tanyanya. "Bukan tanah ini. Bukan sawah ini. Bukan kebun ini. Bukan harta benda yang kalian perebutkan sekarang."
Ia berhenti. Menarik napas panjang.
"Warisan terbesar ayah kalian adalah keluarga. Persaudaraan. Hubungan darah. Dan sekarang... kalian sedang menghancurkannya. Dengan tangan kalian sendiri. Dengan mulut kalian sendiri."
Surya tidak bergeming. Wajahnya masih keras.
"Kalau memang ingin semuanya jelas, Bu... lebih baik buka saja rahasia itu. Jangan disimpan lagi. Jangan pilih-pilih. Biar kami semua tahu. Hidup dalam ketidakpastian lebih menyiksa daripada hidup dengan kebenaran yang pahit."
Bu Sulastri memejamkan mata.
Air mata jatuh.
"Aku lelah, Nak. Aku sudah tua. Aku tidak kuat lagi."
"Kami tidak minta Ibu kuat, Bu. Kami hanya minta Ibu jujur."
"Ibu tidak pernah berbohong."
"Ibu menyembunyikan kebenaran. Itu sama saja dengan berbohong, Bu."
Bu Sulastri terdiam.
Kemudian perlahan, dengan suara yang nyaris tidak terdengar, ia berkata, "Baiklah... jika itu yang kalian inginkan... Ibu akan buka."
Ruangan semakin hening.
Semua orang menahan napas.
"Tapi Ibu punya satu syarat."
"Apa, Bu?" tanya Surya.
"Setelah Ibu buka... tidak boleh ada lagi yang saling menyalahkan. Tidak boleh ada lagi yang saling menuntut. Tidak boleh ada lagi yang saling membenci."
Surya mengangguk. Deni juga. Danang juga.
"Kami janji, Bu," kata Danang.
Bu Sulastri menghela napas panjang. Matanya menatap ke luar jendela, ke arah langit yang mendung.
"Orang yang dibantu ayah kalian dulu... adalah adik bungsu ayah kalian."
Ruangan langsung gempar.
"Adik bungsu ayah?" tanya seseorang dari belakang.
"Iya. Nama beliau... Paman Harun."
Nama itu seperti petir di siang bolong.
Surya terdiam. Wajahnya pucat.
"Paman Harun? Yang selama ini... jarang datang ke acara keluarga?" tanyanya lirih.
"Iya. Dia yang dibantu ayah kalian. Tiga puluh tahun lalu, suaminya meninggal. Ia ditinggalkan dengan tiga anak yang masih kecil-kecil. Rumahnya hampir disita. Mereka hampir kelaparan. Ayah kalian tidak tega. Maka beliau meminjam uang. Sebagian untuk membeli tanah. Sebagian untuk membantu Harun."
"Mengapa Ibu tidak pernah bilang?"
"Karena ayah kalian melarangku. Beliau tidak ingin Harun hidup dengan rasa hutang. Beliau tidak ingin Harun merasa berhutang budi. Beliau hanya ingin membantu, tanpa pamrih, tanpa pengakuan, tanpa ucapan terima kasih."
Surya tertunduk.
Wajahnya semakin pucat.
"Aku... aku tidak tahu, Bu. Aku tidak tahu kalau ayah..."
"Ibu tahu, Nak. Ibu tahu kalian semua tidak tahu. Itulah sebabnya Ibu diam selama ini. Ibu ingin menjaga rahasia ayah kalian. Ibu ingin menghormati keinginannya."
Deni juga tertunduk.
"Maaf, Bu. Maaf karena kami... kami terlalu terburu-buru menuduh."
Bu Sulastri menggeleng. "Tidak perlu minta maaf, Nak. Yang sudah terjadi biarlah berlalu. Yang penting sekarang... kalian tahu. Dan tidak ada lagi yang disembunyikan."
Ruangan kembali hening.
Tapi keheningan kali ini berbeda.
Bukan keheningan yang penuh amarah.
Bukan keheningan yang dipenuhi kecurigaan.
Tapi keheningan yang membawa kesadaran.
Kesadaran bahwa selama ini mereka bertengkar untuk sesuatu yang tidak mereka pahami sepenuhnya.
Kesadaran bahwa selama ini mereka hampir menghancurkan keluarga hanya karena harta.
Kesadaran bahwa ayah mereka—Pak Wiryo—adalah orang yang jauh lebih mulia dari yang mereka kira.
Ia bukan penjudi.
Ia bukan pemabuk.
Ia bukan pemboros.
Ia hanyalah seorang kakak yang baik.
Seorang kakak yang rela berhutang demi membantu adiknya.
Seorang kakak yang rela menyembunyikan kebaikannya sendiri.
Seorang kakak yang lebih memilih dianggap buruk daripada membuat adiknya merasa berhutang budi.
Dan kini, setelah tiga puluh tahun, kebenaran itu akhirnya terungkap.
Di luar, langit mulai cerah.
Awan kelabu perlahan bergeser.
Sinar matahari mulai menembus celah-celah awan.
Seperti cahaya kebenaran yang akhirnya berhasil keluar setelah sekian lama terkubur.
Di sudut ruangan, seseorang yang selama ini hanya diam dan tidak bersuara mulai berdiri.
Paman Harun.
Wajahnya basah oleh air mata.
Tangannya gemetar hebat.
"Bu..." suaranya parau, nyaris tidak terdengar. "Bu... maafkan aku... maafkan Harun..."
Bu Sulastri menoleh. Matanya berkaca-kaca.
"Harun... kamu di sini?"
"Iya, Bu. Aku di sini. Aku selalu di sini. Aku tidak pernah pergi. Aku hanya... tidak berani muncul. Tidak berani bertemu. Karena aku malu. Aku malu pada almarhum kakakku. Aku malu pada Bu. Aku malu pada semua keluarga."
Paman Harun terisak.
"Tiga puluh tahun... tiga puluh tahun aku hidup dengan rasa hutang. Tiga puluh tahun aku berusaha membalas kebaikan kakakku. Tapi tidak pernah cukup. Tidak pernah sebanding."
"Harun..." Bu Sulastri berjalan mendekat. Memegang tangan adik iparnya itu. "Kamu tidak perlu membalas apa pun. Kakakmu melakukannya karena cinta. Bukan karena ingin dibalas."
"Tapi aku tidak tega, Bu. Aku tidak tega hidup enak sementara kakakku mati dengan hutang."
"Hutang itu sudah lunas, Harun. Sudah bertahun-tahun lalu. Kakakmu tidak pernah mengeluh. Tidak pernah menyesal. Dia bangga bisa membantu adiknya."
Paman Harun semakin terisak.
Tangannya memeluk erat Bu Sulastri.
"Terima kasih, Bu. Terima kasih untuk semuanya. Terima kasih untuk kakakku. Terima kasih telah menerimaku sebagai bagian dari keluarga ini."
Bu Sulastri tersenyum. Air mata masih mengalir.
"Kamu selalu bagian dari keluarga ini, Harun. Sejak dulu. Sekarang. Dan selamanya."
Di ruang tamu yang mulai tenang itu, Surya berdiri.
Ia berjalan mendekati Paman Harun.
Wajahnya masih pucat. Matanya merah.
"Paman..." suaranya parau. "Maafkan aku. Maaf karena aku... karena aku terlalu sibuk dengan hakku... sampai lupa bahwa Paman juga bagian dari keluarga ini."
Paman Harun menggeleng. "Kamu tidak perlu minta maaf, Surya. Kamu hanya mempertahankan hakmu. Itu tidak salah."
"Aku salah, Paman. Aku salah karena lupa bahwa keluarga lebih penting daripada harta."
Paman Harun tersenyum. Ia memeluk Surya.
"Kamu anak baik, Surya. Almarhum kakakmu pasti bangga melihatmu sekarang."
Deni juga mendekat. Ikut memeluk.
"Maafkan aku juga, Paman. Maaf karena aku ikut-ikutan emosi."
Paman Harun tertawa kecil. "Kalian ini... kenapa saling minta maaf? Kita ini keluarga. Keluarga boleh bertengkar. Tapi harus segera berdamai."
Danang berdiri di samping Sintia. Ia menggenggam tangan istrinya erat.
"Lihat itu, Tin," bisiknya. "Keluargaku... akhirnya kembali utuh."
Sintia tersenyum. Matanya berkaca-kaca.
"Aku lihat, Dan. Aku lihat."
Di luar, matahari semakin tinggi.
Sinar keemasannya mulai menyinari halaman rumah Bu Sulastri.
Burasia burung mulai berkicau di ranting-ranting pohon mangga.
Seolah alam ikut merayakan kedamaian yang akhirnya datang.
Dan di dalam rumah tua itu, keluarga yang hampir hancur mulai menemukan jalannya kembali.
Bukan karena tanah.
Bukan karena harta.
Bukan karena warisan.
Tapi karena cinta.
Cinta yang selama ini tersembunyi di balik rahasia.
Cinta yang akhirnya berhasil keluar dan bersinar.
Cinta yang tidak pernah benar-benar padam.
BAB XX
Ketika Darah Menjadi Lawan
Matahari baru saja muncul di ufuk timur. Sinar keemasannya masih tipis, masih hangat, masih membawa harapan bagi mereka yang percaya bahwa hari baru bisa menjadi awal yang lebih baik.
Tapi tidak bagi keluarga besar Pak Wiryo.
Pagi itu, kabar buruk datang seperti petir di siang bolong.
Danang baru saja selesai mandi. Rambutnya masih basah. Ia sedang duduk di ruang tamu sambil menyeka rambut dengan handuk tua ketika Deni datang terburu-buru. Wajahnya pucat. Matanya merah. Napasnya tersengal-sengal, seperti habis berlari jauh.
"Mas! Mas!" teriak Deni dari luar pintu.
Danang berdiri. Jantungnya berdetak lebih cepat. "Ada apa, Den? Kenapa terburu-buru?"
Deni masuk ke ruang tamu. Wajahnya berkeringat, bukan karena panas tapi karena cemas. Tangannya gemetar.
"Mereka... mereka memasang patok sendiri, Mas!"
"Siapa? Memasang patok di mana?"
"Surya! Surya dan beberapa anggota keluarga yang lain! Mereka pergi ke tanah warisan! Mereka memasang patok batas tanpa bilang siapa-siapa! Tanpa musyawarah! Tanpa keputusan keluarga! Begitu saja!"
Danang terdiam beberapa detik. Wajahnya berubah. Dari tenang menjadi tegang. Dari tegang menjadi merah.
"Apa katamu?"
"Benar, Mas! Aku lihat sendiri! Mereka sudah memasang setidaknya sepuluh patok kayu di lahan sebelah timur! Mereka juga sudah mulai mengukur-ukur tanah tanpa koordinasi dengan kita!"
Sintia yang sedang di dapur mendengar percakapan itu segera keluar. Wajahnya juga berubah.
"Astaga... kenapa mereka tega-teganya melakukan itu?" bisiknya.
Danang langsung berdiri. Ia berjalan ke gantungan kunci di dekat pintu dan meraih kunci motor.
"Aku harus ke sana."
"Mas, hati-hati," kata Deni. "Mereka bawa banyak orang. Aku lihat ada Surya, ada Budi, ada Anto, ada beberapa sepupu yang lain. Wajah mereka sudah panas sejak tadi. Mereka siap berkelahi kalau ada yang menghalangi."
"Aku tidak peduli. Itu tanah warisan orang tua kita. Mereka tidak punya hak memasang patok tanpa persetujuan keluarga."
Sintia menghampiri Danang. Wajahnya cemas. Tangannya memegang lengan suaminya.
"Danang... jangan bertindak gegabah."
"Tidak bisa, Tin."
"Bicarakan dulu baik-baik. Jangan pakai emosi."
"Mereka sudah keterlaluan, Tin. Ini bukan masalah emosi. Ini masalah prinsip."
"Tapi..."
"Tidak ada tapi, Tin. Ini sudah urusan keluarga. Aku harus ke sana. Sekarang."
Danang melepaskan tangan Sintia dengan lembut tapi tegas. Ia keluar rumah. Sintia hanya bisa memandang dari pintu dengan hati cemas. Di dalam dadanya, ada firasat buruk yang tidak bisa ia jelaskan.
Perjalanan menuju lahan warisan terasa jauh lebih panjang dari biasanya.
Sepanjang jalan, Danang terus memikirkan apa yang akan ia katakan. Ia ingin bicara dengan kepala dingin. Ia ingin menyelesaikan masalah ini dengan baik-baik. Tapi semakin dekat dengan lokasi, semakin sulit ia mengendalikan emosinya.
Deni yang membonceng di belakangnya juga diam. Tidak bicara. Hanya sesekali menghela napas panjang.
Ketika mereka tiba, pemandangan yang mereka lihat membuat darah Danang mendidih.
Puluhan orang sudah berkumpul di lahan seluas hampir satu hektar itu. Bukan hanya anggota keluarga, tapi juga beberapa tetangga yang ikut-ikutan melihat keributan. Di tengah lahan, setidaknya lima belas patok kayu baru berdiri tegak. Beberapa di antaranya sudah diberi tanda cat merah.
Surya berdiri di depan. Wajahnya keras. Di sampingnya, beberapa sepupu dan kerabat lain juga berdiri dengan sikap siap tempur.
Deni turun dari motor dan langsung berlari mendekat.
"Surya! Apa-apaan ini?!" teriak Deni.
Surya tidak bergeming. Ia hanya melipat tangan di dada. "Apa-apaan apa?"
"Patok-patok ini! Memasang patok tanpa musyawarah! Kalian tidak punya hak!"
"Kami punya hak yang sama, Deni! Tanah ini milik bersama!" balas Surya dengan suara tidak kalah keras.
"Belum ada keputusan! Belum ada pembagian! Belum ada kesepakatan siapa mendapat bagian mana!"
"Karena kalian selalu menunda! Setiap kali ada pertemuan, tidak pernah selesai! Cuma debat kusir yang tidak ada habisnya!"
"Kita butuh waktu untuk mencari kebenaran, Surya! Masih banyak yang belum jelas!"
"Kebenaran apa lagi yang kamu cari?! Semua sudah jelas! Ibumu sendiri sudah mengakui hutang itu! Sekarang tinggal bagi! Selesai!"
Danang masuk ke tengah-tengah mereka. Ia berdiri di antara Deni dan Surya. Wajahnya tegang. Tangannya sedikit gemetar, bukan karena takut tapi karena menahan amarah.
"Sudah! Cukup! Berhenti!" teriak Danang.
Namun tidak ada yang mendengarkan.
Suasana semakin panas.
Seseorang dari kerumunan berteriak, "Ayahmu dulu juga tidak pernah adil!"
Danang membeku. Wajahnya berubah drastis. Dari merah menjadi pucat. Dari pucat menjadi merah lagi.
"Apa katamu?" suara Danang dingin. Sangat dingin.
"Kenapa tidak? Masalah ini berawal dari dia! Dari hutang-hutangnya! Dari rahasia-rahasianya!" teriak orang itu lagi.
Danang menatap ke arah suara itu. Ia mencari siapa yang berani bicara seperti itu tentang ayahnya yang sudah meninggal.
"Jangan bawa-bawa orang yang sudah meninggal!" bentak Danang.
"Kenapa tidak?! Mayatnya memang sudah mati, tapi masalah yang ditinggalkannya masih hidup!"
Deni maju selangkah. Wajahnya merah padam. "Jangan sekali-sekali kau hina ayahku! Siapa pun kau!"
"Hina? Ini fakta! Ayah kalian berhutang! Ayah kalian menyembunyikan hutang! Ayah kalian mati dengan meninggalkan masalah untuk anak-anaknya!"
"Kurang ajar kau!" Deni sudah tidak bisa menahan diri. Ia melangkah maju hendak menyerang orang itu.
Danang cepat-cepat menahan Deni.
"Sudah, Den! Jangan! Jangan terpancing!"
"Tapi dia menghina ayah, Mas!"
"Biarkan! Ayah kita tidak perlu dibela dengan kekerasan! Ayah kita tidak perlu dibela dengan cara seperti ini!"
Surya tertawa keras. "Lucu, ya. Dengar itu, Deni. Kakakmu sendiri bilang jangan pake kekerasan. Padahal sebentar lagi kalian juga pasti bakal emosi."
"Kamu tutup mulut, Surya!" bentak Deni.
"Ngomong apa sih kamu? Sopan dikit, dong. Saya kan kakak iparmu."
"Kakak ipar macam apa yang seenaknya sendiri memasang patok tanpa musyawarah?"
"Kakak ipar yang tahu hak-haknya!"
"Kalian tidak punya hak apa-apa di sini sebelum ada keputusan keluarga!"
Danang kembali berusaha menjadi penengah. "Sudah, sudahlah, kalian! Berhenti! Jangan diteruskan! Ayo kita bicara baik-baik!"
"Bicara baik-baik? Dengan orang-orang yang tidak mau mengakui hak kami?" Surya tertawa lagi. "Tidak bisa, Dan. Sudah lewat waktunya bicara baik-baik. Sekarang saatnya bertindak."
"Bertindak macam apa?"
Surya menunjuk ke arah patok-patok kayu. "Kami sudah pasang patok. Itu artinya, tanah ini sudah kami bagi sesuai dengan porsi masing-masing. Kalian bisa terima, atau kalian bisa lawan."
"Kami tidak akan pernah menerima pembagian yang tidak adil!" teriak Deni.
"Terserah kalian. Tapi patok-patok ini akan tetap di sini. Tidak akan kami cabut."
"Kalau begitu, kami yang akan mencabutnya!"
"Silakan coba!"
Deni melangkah maju menuju patok terdekat. Tangannya sudah terulur hendak mencabut patok itu.
Tapi sebelum tangannya menyentuh patok, Surya dan beberapa kerabat yang lain langsung menghadang.
"Jangan coba-coba, Deni!" ancam Surya.
"Cabut patok kalian sekarang juga!"
"Tidak akan!"
"Kalau begitu, aku yang akan mencabutnya!"
Deni mendorong Surya. Surya mendorong balik. Beberapa detik kemudian, mereka sudah saling dorong.
Wajah-wajah merah padam.
Tinju mulai terangkat.
"Berhenti!" teriak Danang.
Tapi sudah terlambat.
Beberapa orang mulai saling pukul. Bukan tinju keras, lebih ke dorongan dan tarikan baju. Tapi tetap saja, itu sudah cukup untuk membuat suasana semakin kacau.
"Jangan pukul! Jangan!" teriak Danang.
Tapi tidak ada yang mendengarkan.
Untungnya, beberapa warga sekitar yang lebih tua dan lebih bijaksana segera masuk ke tengah dan berusaha memisahkan.
"Sudah, sudah! Jangan berantem! Ini keluarga! Jangan saling pukul!"
"Kalian ini saudara! Saudara!"
"Bapak kalian pasti tidak tega melihat ini!"
Percakapan itu—"Bapak kalian pasti tidak tega"—membuat beberapa orang berhenti.
Wajah-wajah yang tadinya merah padam mulai sedikit mendingin.
Tapi kerusakan sudah terjadi.
Luka sudah tercipta.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah keluarga mereka, hubungan darah terasa tidak berarti apa-apa.
Saudara seperti musuh.
Keluarga seperti asing.
Di rumah, sekitar satu jam kemudian, Bu Sulastri menerima kabar itu dari tetangga yang kebetulan lewat.
"Bu... Bu Sulastri..." tetangga itu masuk dengan wajah panik.
"Iya, ada apa, Pak RT?" tanya Bu Sulastri dari kursi jatinya.
"Anak bapak... mereka ramai-ramai di tanah... Surya pasang patok... Danang datang... Deni juga... Mereka hampir saja berantem, Bu. Saya lihat sendiri. Wajah mereka merah semua."
Bu Sulastri langsung terduduk lemas di kursi.
Wajahnya pucat.
Tangannya gemetar.
Dadanya sesak.
Bukan karena tanah.
Bukan karena warisan.
Tapi karena keluarga yang selama ini ia jaga, yang selama ini ia rawat, yang selama ini ia doakan setiap malam, yang selama ini ia usahakan untuk tetap utuh... perlahan hancur di depan matanya.
"Ibu? Bu, tidak apa-apa?" tanya Pak RT cemas.
Bu Sulastri tidak menjawab.
Matanya kosong menatap dinding di depannya.
Ia teringat Pak Wiryo.
Suaminya.
Lelaki yang selalu berkata, "Bu, kalau keluarga tetap bersatu, kita tidak akan pernah miskin. Miskin harta masih bisa dicari. Tapi miskin keluarga, habis sudah."
Lelaki yang selalu mengajarkan anak-anaknya untuk saling menyayangi.
Lelaki yang rela berhutang demi membantu adiknya.
Lelaki yang memilih mati dengan rahasia daripada membebani keluarganya.
Kini semua ajaran itu, semua nasihat itu, semua harapan itu terasa seperti sedang runtuh.
Batu bata demi batu bata.
Roboh.
"Sia-sia..." bisik Bu Sulastri. "Sia-sia semua yang ayah kalian perjuangkan... Sia-sia..."
Air mata jatuh.
Tidak deras.
Tidak tersedu-sedu.
Tapi jatuh.
Satu per satu.
Seperti tetesan air dari keran yang tidak pernah benar-benar tertutup rapat.
Menjelang sore, Danang pulang.
Wajahnya penuh kelelahan.
Bukan lelah fisik.
Tapi lelah jiwa.
Lelah hati.
Lelah melihat keluarganya sendiri hancur.
Sintia menyambutnya di pintu. Wajahnya cemas.
"Bagaimana?" tanyanya pelan.
Danang tidak menjawab. Ia berjalan masuk, duduk di kursi ruang tamu, lalu mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Sintia duduk di sampingnya. Tidak memaksa. Hanya menunggu.
Beberapa menit kemudian, Danang akhirnya berbicara.
"Hancur, Tin. Hancur semua."
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Tanah itu mereka pasangi patok. Surya dan anak buahnya. Sekitar lima belas patok kayu. Mereka juga sudah mulai mengukur-ukur tanah tanpa koordinasi dengan kita."
Danang menghela napas panjang.
"Deni marah besar. Aku juga. Aku coba jadi penengah. Aku coba tenangkan mereka. Tapi tidak ada yang mau dengar. Semua orang teriak. Saling dorong. Sampai hampir adu fisik."
"Astaga..."
"Aku tidak pernah melihat keluarga seperti itu sebelumnya, Tin. Wajah mereka marah. Mata mereka penuh kebencian. Mereka siap saling pukul. Saudara sendiri. Keluarga sendiri."
Sintia menggenggam tangan Danang. Tidak bicara. Hanya menggenggam.
Karena terkadang, seseorang tidak butuh solusi. Ia hanya butuh seseorang yang mau mendengar. Dan Sintia memberikannya.
"Aku merasa seperti sedang melihat orang asing, Tin," lanjut Danang. "Saudaraku sendiri. Sepupuku sendiri. Mereka berubah. Atau mungkin selama ini aku yang tidak pernah benar-benar mengenal mereka."
"Kamu tidak bisa menyalahkan diri sendiri, Danang."
"Aku tidak menyalahkan siapa pun, Tin. Aku hanya... sedih. Sangat sedih. Ayah pasti tidak tega melihat ini. Ayah pasti menangis kalau masih hidup."
Sintia tidak menjawab. Ia hanya memegang tangan Danang semakin erat.
Malam itu, ketika Danang dan Sintia sedang duduk di ruang tamu dengan televisi menyala pelan tanpa ada yang benar-benar menonton, telepon Danang berdering.
Bu Sulastri.
Danang mengangkat dengan perasaan tidak enak.
"Assalamualaikum, Bu."
"Waalaikumsalam, Nak."
Suara Bu Sulastri terdengar lemah. Sangat lemah. Seperti orang yang kehabisan tenaga.
"Danang, apa kamu bisa datang besok pagi?"
"Besok pagi, Bu?"
"Iya. Bawa Sintia juga."
Danang terdiam sebentar. "Ada apa, Bu?"
"Aku ingin mengakhiri semuanya, Nak."
"Mengakhiri? Maksud Ibu?"
"Aku akan membuka rahasia itu."
"Apa, Bu?"
"Rahasia yang selama ini Ibu simpan. Ibu akan buka semuanya. Ibu tidak mau keluarga ini hancur lebih parah lagi."
"Tapi, Bu..."
"Besok pagi, Nak. Kamu datang. Ajak Sintia. Dan semua anggota keluarga. Biar semuanya tahu sekaligus."
"Bu, apa Ibu yakin?"
"Aku sudah tidak punya pilihan lain, Nak. Kalau terus begini, keluarga kita akan hancur. Dan aku tidak mau mati dengan membawa penyesalan bahwa aku gagal menjaga keluarga ini tetap utuh."
Danang terdiam. Dadanya terasa sesak.
"Baik, Bu. Aku akan datang. Aku akan kabari yang lain."
"Terima kasih, Nak. Ibu sayang kamu."
"Ibu sayang ibu juga."
Telepon ditutup.
Danang masih duduk mematung. Ponsel masih menempel di telinganya meskipun sambungan sudah terputus.
Sintia memandangnya cemas.
"Ada apa, Danang? Ibu bilang apa?"
Danang menurunkan tangannya perlahan.
"Ibu akan mengatakan semuanya, Tin. Rahasia itu. Ibu akan buka."
Mata Sintia membesar.
Rahasia yang selama puluhan tahun disembunyikan.
Rahasia yang menjadi sumber pertengkaran.
Rahasia yang membuat keluarga hampir bubar.
Akhirnya akan terungkap.
Di luar, hujan mulai turun.
Rintik-rintik kecil.
Tapi terasa dingin.
Sangat dingin.
BAB XXI
Rahasia yang Terkubur Bertahun-tahun
Pagi itu langit mendung. Awan kelabu menggantung rendah. Seolah alam ikut merasakan ketegangan yang menyelimuti rumah Bu Sulastri.
Sejak pagi, rumah itu mulai dipenuhi anggota keluarga. Wajah-wajah cemas. Ada yang penasaran. Ada yang masih marah. Ada yang hanya ingin tahu. Tapi semuanya hadir. Tidak ada yang berani absen.
Danang datang bersama Sintia. Mereka masuk berdua. Di ruang tamu, Bu Sulastri sudah duduk di kursi jati kesayangannya. Wajahnya pucat. Matanya sembab, seperti semalaman tidak tidur. Tapi sorot matanya berbeda. Ada keteguhan di sana. Ada tekad.
Tidak lama kemudian Surya datang. Disusul Deni. Satu per satu mereka memenuhi ruangan. Tidak ada yang banyak bicara. Tidak ada canda. Tidak ada tawa. Suasana seperti ruang tunggu di rumah sakit. Semua menunggu. Semua tidak sabar. Semua takut.
Bu Sulastri perlahan berdiri. Di tangannya sebuah kotak kayu tua. Kotak yang selama ini tidak pernah dilihat siapa pun.
"Aku minta maaf," ucapnya. Suaranya pelan. Tapi jelas. "Aku minta maaf karena menyimpan semuanya terlalu lama."
"Aku juga minta maaf," lanjutnya. Air mata mulai menggenang. "Tapi aku melakukannya karena ayah kalian yang memintaku. Karena ayah kalian yang tidak ingin kalian terbebani."
Danang menunduk. Mendengar nama ayahnya disebut membuat dadanya sesak.
Bu Sulastri membuka kotak itu. Tangannya gemetar. Lalu ia mengeluarkan sebuah amplop tua. Kertasnya sudah menguning. Beberapa bagian terlihat rapuh.
"Ini surat terakhir ayah kalian."
Ruangan langsung membeku. Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang bersuara. Bahkan napas terasa ditahan.
Bu Sulastri membuka amplop itu. Surat di dalamnya sudah tua. Tapi tulisan tangan Pak Wiryo masih jelas terbaca. Dengan suara bergetar, ia mulai membaca.
"Jika suatu hari surat ini dibuka, berarti aku sudah tidak ada di dunia ini. Aku menulis surat ini agar keluargaku mengetahui kebenaran."
Bu Sulastri berhenti. Mengusap air matanya. Lalu melanjutkan.
"Hutang yang selama ini menjadi masalah bukan hanya untuk membeli tanah. Tiga puluh tahun lalu, adikku mengalami musibah. Suaminya meninggal. Ia ditinggalkan bersama tiga anak yang masih kecil. Mereka hampir kehilangan rumah. Aku tidak sanggup melihat mereka terlantar. Maka aku meminjam uang. Sebagian untuk membeli tanah. Sebagian untuk membantu mereka."
Surya membuka mulut. Ingin bicara. Tapi tidak ada suara yang keluar.
"Aku meminta kepada istriku untuk tidak pernah menyebut nama mereka. Karena aku tidak ingin anak-anak mereka hidup dengan rasa hutang. Jika suatu hari keluargaku mengetahui hal ini, jangan salahkan siapa pun. Aku melakukannya dengan kesadaranku sendiri. Aku memilih membantu mereka. Aku memilih menanggung hutang itu. Aku memilih merahasiakannya."
Bu Sulastri menurunkan surat itu. Matanya berkaca-kaca. Ia menghela napas panjang. Lalu menyebut nama yang selama puluhan tahun disembunyikan.
"Paman Harun."
Ruangan langsung sunyi. Sangat sunyi. Beberapa orang tampak tidak percaya. Mulut-mulut ternganga.
"Paman Harun? Yang selama ini jarang datang ke pertemuan keluarga?" bisik seseorang.
"Iya. Dia yang dibantu ayah kalian," kata Bu Sulastri. "Harun tidak pernah tahu dari mana uang itu berasal. Suamiku tidak pernah memberitahunya. Dia menganggap bantuan itu dari hasil usaha ayah kalian. Suamiku sengaja merahasiakannya. Karena dia tidak mau Harun merasa berhutang budi."
Danang memejamkan mata. Untuk pertama kalinya ia memahami. Ayahnya tidak berhutang demi dirinya sendiri. Tidak juga demi memperkaya keluarga. Tapi demi menolong saudaranya yang sedang di ambang kehancuran.
Surya yang sejak awal paling keras, yang paling lantang, yang paling ngotot, akhirnya terduduk lemas di kursinya. Wajahnya pucat. Matanya kosong.
"Jadi selama ini... selama ini aku... kita semua..." Surya tidak bisa melanjutkan. Kata-katanya tersangkut di tenggorokan.
"Kita semua salah paham, Yu," kata Deni pelan. "Kita semua terpedaya oleh prasangka kita sendiri."
Selama ini Surya mengira ada pihak yang sengaja menyembunyikan keuntungan. Selama ini ia mengira ibunya dan keluarganya menyembunyikan sesuatu. Ternyata kenyataannya jauh berbeda. Tidak ada pengkhianatan. Tidak ada pencurian. Yang ada hanyalah pengorbanan. Pengorbanan yang terlalu lama disembunyikan. Pengorbanan yang terlalu mulia untuk diungkap.
Ruangan mulai dipenuhi isak tangis. Bukan tangisan karena kehilangan harta. Tapi tangisan karena menyadari betapa jauhnya mereka telah melenceng. Betapa salahnya mereka selama ini. Betapa bodohnya mereka bertengkar untuk sesuatu yang tidak penting.
"Maaf, Bu," kata Surya pelan. "Maaf. Aku tidak tahu. Aku tidak tahu kalau ayah..."
Bu Sulastri menggeleng. "Tidak apa-apa, Nak. Yang penting sekarang kalian tahu."
Namun ketika suasana mulai tenang, seseorang berdiri dari sudut ruangan. Selama ini ia hanya diam. Tidak bersuara. Hanya mendengarkan.
Paman Harun.
Wajahnya penuh air mata. Tangannya gemetar. Dengan suara yang bergetar, ia berkata, "Ada satu hal lagi yang belum kalian ketahui."
Semua mata langsung tertuju kepadanya. Danang merasakan firasat aneh.
"Selama ini aku diam-diam membalas kebaikan Pak Wiryo," kata Paman Harun. "Bukan dengan uang. Karena aku tidak punya uang. Tapi dengan cara lain."
"Apa maksud Paman?" tanya Danang.
Paman Harun mengusap air matanya. "Aku membantu mengurus lahan-lahan keluarga. Tanpa pernah meminta imbalan. Aku membantu Bu Sulastri ketika kalian masih kecil-kecil. Aku pernah menjual sebagian hasil panenku untuk membantu biaya sekolah Danang dulu. Semua itu kujalankan diam-diam."
Ia berhenti. Menarik napas. "Sama seperti Pak Wiryo. Karena kami berasal dari generasi yang lebih suka berbuat daripada berbicara. Generasi yang tidak perlu pengakuan. Generasi yang cukup tahu bahwa Allah melihat."
Fakta itu membuat banyak anggota keluarga menangis semakin keras. Mereka menyadari bahwa selama ini mereka terlalu sibuk menghitung hak. Terlalu sibuk menghitung bagian. Terlalu sibuk memikirkan diri sendiri. Hingga lupa menghitung pengorbanan orang lain.
Danang tidak mampu lagi menahan air matanya. Ia teringat ayahnya. Lelaki sederhana yang sepanjang hidupnya jarang berbicara. Yang lebih banyak diam. Yang tidak pernah menceritakan kebaikannya. Kini ia memahami. Karena ayahnya percaya bahwa pertolongan yang tulus tidak membutuhkan ucapan terima kasih. Tidak membutuhkan pengakuan. Tidak membutuhkan pujian.
Cukup Allah yang tahu.
BAB XXII
Sintia Melawan Sendiri
Tidak semua peperangan terjadi di medan terbuka. Ada pertempuran yang berlangsung di dalam hati. Tanpa teriakan. Tanpa darah. Tanpa luka yang terlihat. Tapi perihnya sama. Bahkan lebih. Dan itulah yang sedang dihadapi Sintia.
Sejak konflik keluarga besar mencuat ke permukaan, nama Sintia kembali menjadi bahan pembicaraan. Meski rahasia Pak Wiryo mulai terungkap. Meski semua orang sudah tahu bahwa hutang itu bukan untuk kesenangan pribadi. Tapi untuk menolong saudara. Tetap saja, ada orang orang yang membutuhkan seseorang untuk disalahkan.
Dan bagi sebagian warga kampung, orang itu adalah Sintia.
"Aku sudah bilang dari dulu," bisik seseorang di warung kopi. "Sejak Danang menikah dengan Sintia, keluarganya tidak pernah benar benar tenang."
"Perempuan itu terlalu keras," sahut yang lain. "Sulit diatur. Suka membantah."
"Kalau dia lebih menghormati mertuanya, mungkin tidak akan serumit ini."
Kalimat kalimat itu menyebar. Dari satu rumah ke rumah lain. Dari satu mulut ke mulut lain. Seperti api di musim kemarau.
Awalnya Sintia mencoba mengabaikan. Ia sudah terbiasa. Sudah puluhan kali. Tapi semakin hari, semakin banyak orang yang memandangnya berbeda. Bukan dengan kasih sayang. Tapi dengan tatapan sinis. Tatapan yang menusuk. Tatapan yang berkata, "Kamu yang salah."
Ketika berjalan ke pasar, ada yang langsung diam saat melihatnya datang. Ketika menghadiri pengajian, ada yang berbisik setelah ia lewat. Seperti ada biang gosip yang tidak pernah kering. Seperti ada cerita yang selalu punya versi baru.
Malam itu Sintia duduk sendirian di dapur. Lampu kuning redup. Di depannya secangkir teh yang sudah dingin. Uapnya sudah tidak mengepul. Dingin. Seperti hatinya.
Ia teringat berbagai ucapan tentang dirinya. Tentang dirinya yang dianggap galak. Tentang dirinya yang dianggap penyebab konflik. Tentang dirinya yang dianggap tidak pantas menjadi menantu.
Perlahan air mata mengalir. Bukan karena ia lemah. Bukan karena ia menyerah. Tapi karena ia manusia. Dan sekuat apapun seseorang, ada saatnya hati terasa lelah. Ada saatnya ingin berteriak, "Cukup!"
"Aku sudah berusaha," bisiknya. Suarara pelan. Hampir tidak terdengar. "Aku sudah berusaha sekuat tenaga."
Selama bertahun tahun ia berusaha menjadi istri yang baik. Berusaha menjadi ibu yang baik. Berusaha menjaga keluarganya. Mungkin caranya tidak sempurna. Mungkin ia terlalu keras. Mungkin ia terlalu cepat marah. Tapi tidak pernah sekali pun ia berniat menghancurkan keluarganya sendiri. Tidak pernah.
Dan justru itulah yang paling menyakitkan. Karena orang orang hanya melihat kemarahannya. Tidak melihat ketakutannya. Mereka melihat suaranya yang keras. Tapi tidak melihat cintanya yang diam diam. Cinta yang bekerja dalam diam. Cinta yang berkorban tanpa suara.
Keesokan harinya, Sintia menghadiri rapat wali murid di sekolah Dinda. Biasanya ia datang dengan percaya diri. Tapi hari itu langkahnya terasa berat. Seperti ada beban di kedua kakinya.
Ketika memasuki aula sekolah, beberapa ibu menyapanya dengan ramah. Tapi di balik ramah itu, ia juga menangkap bisikan. Suara kecil. Samar. Tapi cukup jelas.
"Kasihan Danang."
"Aku dengar keluarga mereka masih ribut."
"Kalau rumah tangga tidak tenang, biasanya karena istrinya."
Sintia ingin berbalik. Ingin pulang. Ingin menghindar dari semua ini. Tapi ia ingat wajah Dinda. Wajah anaknya yang masih polos. Yang tidak tahu apa apa tentang gosip dan fitnah. Yang hanya butuh ibunya hadir di acara sekolahnya.
Ia datang ke sana sebagai ibu. Bukan sebagai orang yang sedang dihakimi. Maka ia tetap duduk. Tetap mengikuti rapat. Tetap tersenyum meski hatinya terluka. Meski setiap senyum terasa seperti mengiris bibirnya sendiri.
Sore hari Danang pulang. Ia menemukan Sintia sedang melipat pakaian di ruang tengah. Wajah perempuan itu terlihat lelah. Sangat lelah. Matanya sayu. Gerakannya lambat.
"Ada apa?" tanya Danang. Suaranya lembut.
Sintia tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata. "Tidak apa apa. Lelah sedikit."
Danang duduk di sampingnya. Ia tidak percaya. Karena ia sudah mengenal istrinya. Ia tahu ketika Sintia baik baik saja. Ia juga tahu ketika Sintia sedang menyembunyikan sesuatu.
"Lelah ya?" tanya Danang lagi. Kali suaranya lebih pelan.
Kalimat sederhana itu—hanya dua kata—membuat Sintia terdiam. Mulutnya terkunci. Matanya mulai panas.
Karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, seseorang bertanya tentang dirinya. Bukan tentang masalah. Bukan tentang konflik. Bukan tentang kesalahan. Tapi tentang dirinya. Tentang perasaannya. Tentang kelelahannya.
Air mata yang sejak tadi ditahan, yang sejak pagi ia pendam, yang sejak kemarin ia kubur, akhirnya jatuh. Tidak deras. Tidak tersedu sedan. Tapi jatuh. Pelan. Satu per satu. Seperti tetesan air dari keran yang tidak pernah benar-benar tertutup rapat.
"Ada yang mengatakan sesuatu, ya?" tanya Danang. Ia menggenggam tangan istrinya.
Sintia mengangguk. Tidak perlu menjelaskan panjang lebar. Danang sudah mengerti. Wajahnya sudah cukup menjadi jawaban. Air matanya sudah cukup menjadi bukti.
Beberapa menit kemudian, setelah Sintia bisa mengendalikan suaranya, ia menceritakan semuanya. Sedikit demi sedikit. Tentang bisikan warga. Tentang pandangan orang orang. Tentang gosip yang tidak pernah berhenti. Tentang lidah manusia yang lebih tajam dari pisau.
Danang mendengarkan tanpa menyela. Tanpa memotong. Tanpa membela diri. Ia hanya mendengarkan. Karena ia tahu, saat ini Sintia tidak butuh solusi. Ia hanya butuh didengar.
Setelah Sintia selesai, Danang berkata pelan, "Aku minta maaf, Tin."
Sintia menatapnya. "Kenapa?"
"Karena selama ini aku sering membiarkanmu menghadapi semuanya sendirian. Aku terlalu sibuk dengan masalahku sendiri. Dengan kerja. Dengan keluarga. Dengan semua hal. Sampai lupa bahwa kamu juga sedang berjuang."
Kalimat itu membuat hati Sintia bergetar. Karena itulah yang selama ini paling ia rasakan. Bukan kemarahan. Bukan pertengkaran. Bukan sakit hati karena mertua. Tapi kesendirian. Kesendirian yang begitu pekat. Kesendirian yang membuat ia merasa berjalan sendiri di tengah keramaian.
"Malam ini kita bicara, ya," kata Danang. "Kamu cerita semua. Aku dengar. Janji."
Sintia tidak menjawab. Ia hanya mengangguk. Tapi di dalam hatinya, ada rasa lega yang mulai tumbuh. Kecil. Tapi nyata.
BAB XXIII
Jatuh di Titik Terendah
Tidak ada seorang pun yang benar-benar siap kehilangan pekerjaan. Apalagi kehilangan sesuatu yang selama ini menjadi sandaran hidup. Pekerjaan. Penghasilan. Harga diri. Harapan. Semua itu terasa kokoh ketika masih dimiliki. Tapi ketika satu per satu mulai lepas dari genggaman, seseorang baru menyadari betapa rapuhnya hidup. Betapa tipisnya batas antara berdiri dan jatuh.
Pagi itu Danang berangkat ke kantor lebih awal. Hubungannya dengan Sintia mulai membaik. Konflik keluarga besar juga perlahan mereda setelah rahasia Pak Wiryo terungkap. Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, Danang merasa bisa bernapas sedikit lebih lega.
Tapi hidup sering kali datang membawa ujian ketika seseorang mengira badai telah berlalu.
Sekitar pukul sembilan pagi, seluruh karyawan diminta berkumpul di ruang rapat. Hal seperti itu sebenarnya tidak biasa. Tapi beberapa minggu terakhir perusahaan memang sedang menghadapi berbagai kesulitan. Proyek menurun. Pemasukan berkurang. Beberapa klien besar menghentikan kerja sama.
Danang duduk bersama rekan-rekannya. Rudi di sebelah kirinya. Laras beberapa kursi di belakang. Wajah pimpinan perusahaan terlihat serius. Terlalu serius. Tidak ada senyum. Tidak ada basa basi.
"Kami sudah berusaha mencari berbagai solusi. Tapi kondisi perusahaan tidak memungkinkan lagi mempertahankan seluruh tenaga kerja."
Jantung Danang berdegup lebih cepat. Telapak tangannya mulai dingin.
"Perusahaan akan melakukan pengurangan karyawan."
Suasana mendadak terasa berat. Beberapa orang mulai saling berpandangan. Ada yang menunduk. Ada yang memejamkan mata. Ada yang tangannya gemetar.
Satu per satu nama mulai disebut. Staf pemasaran. Staf gudang. Staf keuangan. Beberapa karyawan tampak lega karena namanya tidak disebut. Beberapa lainnya langsung tertunduk lemas.
Lalu terdengar satu nama yang membuat dunia Danang seolah berhenti berputar.
"Danang Prasetyo."
Ruangan mendadak terasa sunyi. Meski sebenarnya suara di sekelilingnya masih ada. Masih ada orang yang berbisik. Masih ada kursi yang berderit. Masih ada napas yang terengah engah. Tapi telinga Danang seperti kehilangan kemampuan mendengar.
Namanya. Namanya disebut. Sebagai salah satu karyawan yang harus dilepas. Setelah belasan tahun. Setelah ratusan lembur. Setelah ribuan lembar kertas kerja. Setelah jutaan angka yang ia hitung. Selesai. Dalam satu kalimat. Dalam satu detik.
Danang duduk membeku. Tidak marah. Tidak menangis. Tidak bergerak. Hanya kosong. Sangat kosong. Seperti ada yang menyedot seluruh isi dadanya. Seperti ada yang mencabut seluruh tenaganya sekaligus.
Setelah rapat selesai, sebagian besar karyawan langsung meninggalkan ruangan. Ada yang terburu buru. Ada yang berbisik bisik. Ada yang menepuk pundak temannya yang terkena PHK.
Rudi menghampiri Danang. "Dan..."
Danang hanya mengangguk pelan. Ia belum siap berbicara. Belum siap menerima kenyataan. Belasan tahun. Belasan tahun ia bekerja di tempat itu. Belasan tahun ia berangkat pagi pulang malam. Belasan tahun ia mengorbankan waktu bersama keluarga. Demi pekerjaan. Demi gaji. Demi masa depan anak anak.
Dan kini semuanya berakhir. Dalam satu pertemuan singkat. Tanpa peringatan. Tanpa kesempatan. Tanpa say good bye.
Siang itu Danang berjalan keluar kantor dengan membawa sebuah kardus kecil. Kardus bekas minuman kemasan yang ia ambil dari gudang. Di dalamnya, hanya ada beberapa barang pribadi.
Foto keluarga. Dua lembar. Satu foto formal di studio. Satu foto candid ketika piknik ke pantai.
Gelas kopi favorit. Gelas putih polos dengan tulisan "World's Best Dad" yang sudah pudar warnanya. Hadiah dari Dinda ketika ulang tahun dua tahun lalu.
Beberapa dokumen pribadi. Fotokopi ijazah. Sertifikat pelatihan. Surat surat yang tidak lagi berarti.
Barang barang sederhana. Tidak berharga. Tapi terasa sangat berat saat diangkat. Karena bukan benda benda itu yang sedang ia bawa. Bukan kardus itu. Bukan foto itu. Bukan gelas itu.
Tapi kenyataan. Kenyataan bahwa ia tidak lagi memiliki pekerjaan. Kenyataan bahwa ia tidak lagi bisa menyumbang penghasilan. Kenyataan bahwa ia harus mulai dari nol lagi.
Saat melewati gerbang kantor, Laras menghampirinya. Wajah perempuan itu terlihat sedih. Matanya berkaca kaca.
"Pak Danang, saya ikut prihatin."
Danang tersenyum tipis. Senyum yang pahit. "Terima kasih, Mbak."
"Saya doakan Bapak cepat dapat pekerjaan baru."
"Aamiin."
Tidak banyak yang bisa diucapkan. Karena beberapa kehilangan memang terlalu besar untuk dijelaskan dengan kata kata. Cukup doa. Cukup.
Perjalanan pulang terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Sepanjang jalan, Danang terus memikirkan banyak hal. Tagihan sekolah anak anak yang belum dibayar. Biaya listrik bulan depan. Kebutuhan rumah tangga yang terus bertambah. Konflik keluarga yang belum sepenuhnya selesai. Dan kini ditambah kehilangan pekerjaan.
Semua terasa datang bersamaan. Seperti hidup sedang mengujinya tanpa jeda. Seperti Tuhan sedang menimbunnya dengan masalah bertubi tubi.
Sesampainya di rumah, motor Danang berhenti cukup lama di halaman. Mesin mati. Tapi ia belum turun. Ia masih duduk di atas motor. Memegang setang erat erat.
Ia belum siap masuk. Belum siap melihat wajah Sintia. Belum siap mengatakan bahwa ia gagal. Gagal sebagai suami. Gagal sebagai ayah. Gagal sebagai kepala keluarga.
Tapi pintu rumah tiba tiba terbuka. Sintia keluar. Wajahnya langsung berubah begitu melihat Danang.
"Ada apa, Danang? Kamu kok belum masuk?"
Danang mencoba tersenyum. Tapi gagal. Senyumnya buyar sebelum sempat terbentuk.
"Aku di PHK, Tin."
Kalimat itu keluar pelan. Hampir berbisik. Tapi terasa seperti petir yang menyambar di siang hari. Keras. Tiba tiba. Menghancurkan.
Untuk beberapa detik, Sintia tidak bergerak. Tidak berbicara. Tidak bernapas seolah. Hanya menatap Danang. Matanya membesar. Bibirnya sedikit terbuka.
Lalu perlahan, ia menghampiri. Langkahnya pelan. Pasti.
Danang menunduk. Ia tidak berani melihat mata istrinya. Ia takut menemukan kekecewaan di sana. Takut mendengar kata kata yang akan membuatnya semakin jatuh.
Tapi Sintia tidak marah. Ia tidak membentak. Tidak menuduh. Tidak menanyakan kenapa. Kenapa bisa. Kenapa bukan orang lain.
Sintia memegang tangannya. Erat. Sangat erat. Dua tangannya menggenggam tangan Danang.
"Kita hadapi bersama."
Danang mengangkat kepala. Matanya mulai memerah. "Kamu tidak marah?"
Sintia menggeleng. "Ini bukan kesalahanmu."
Kalimat itu—sederhana, pendek, tidak bertele tele—membuat sesuatu di dalam diri Danang runtuh. Tembok yang selama ini ia bangun. Rintangan yang selama ini ia pasang. Semua hancur.
Selama beberapa bulan terakhir mereka sering bertengkar. Sering berbeda pendapat. Sering saling menyakiti. Tapi pada saat paling sulit dalam hidupnya, pada saat ia berada di titik terendah, pada saat ia merasa tidak berharga... orang pertama yang berdiri di sampingnya tetaplah Sintia.
Perempuan yang selama ini dianggap galak oleh tetangga.
Perempuan yang selama ini sering disalahpahami oleh mertuanya.
Perempuan yang selama ini ia sendiri sering salah pahami.
Perempuan yang tidak pergi ketika keadaan menjadi buruk. Yang tidak lari ketika badai datang. Yang tidak menyerah ketika semua terasa mustahil.
Dan malam itu, Danang belajar satu hal: kadang kita tidak tahu seberapa kuat seseorang sampai kita melihat mereka tetap berdiri ketika kita sendiri hampir roboh. Dan Sintia—Sintia yang galak, Sintia yang keras, Sintia yang sering marah—adalah orang terkuat yang pernah ia kenal.
BAB XXIV
Tangan yang Kembali Menggenggam
Sudah tiga hari sejak Danang kehilangan pekerjaan.
Tiga hari yang terasa seperti tiga bulan. Pagi pagi tanpa tujuan. Tanpa kantor yang harus didatangi. Tanpa meja yang harus dibersihkan. Tanpa berkas yang harus diselesaikan. Ia tetap berusaha terlihat tenang di depan anak anak. Tersenyum. Bercanda. Bertanya tentang sekolah. Tapi jauh di dalam hati, kecemasan terus tumbuh. Seperti rumput liar yang tidak bisa dicabut.
Pagi itu Sintia menemukan Danang duduk di ruang tamu. Di hadapannya, beberapa lembar surat lamaran kerja berserakan di meja. Ada yang sudah dicetak rapi. Ada yang masih berupa file di ponsel. Wajah lelaki itu terlihat lelah. Bukan karena kurang tidur. Tapi karena terlalu banyak berpikir.
"Kamu sudah sarapan?" tanya Sintia sambil berdiri di ambang pintu dapur.
Danang mengangguk pelan. "Sudah."
Namun dari piring yang masih hampir penuh di meja makan, Sintia tahu itu tidak benar. Ia hanya menyentuh nasi beberapa suap. Lalu berhenti.
Sintia duduk di sampingnya. Jarak mereka hanya satu lengan. "Kamu tidak harus memikul semuanya sendirian, Danang."
"Aku kepala keluarga, Tin. Sudah tugasku."
"Dan aku istrimu." Sintia menggenggam tangan Danang. "Tugas suami istri itu berbagi. Bukan memikul sendiri."
Danang tidak menjawab. Tapi genggaman tangannya sedikit mengerat.
Siang harinya, ketika Danang sedang keluar untuk mengantar lamaran ke perusahaan di kota, Sintia masuk ke kamar. Ia membuka lemari tua di pojok ruangan. Lemari kayu jati yang sudah berusia puluhan tahun. Pintunya sedikit miring karena engsel yang sudah longgar.
Dari balik tumpukan pakaian, ia mengeluarkan sebuah kotak kecil. Kotak kayu sederhana. Tidak berukir. Tidak dicat. Hanya kotak polos yang sudah mulai lapuk di beberapa bagian.
Ia membawanya ke ruang tamu. Meletakkannya di atas meja.
Sore harinya Danang pulang. Wajahnya masih lelah. Tapi matanya sedikit lebih bersinar. Setidaknya ada perusahaan yang memanggilnya untuk wawancara.
"Itu apa?" tanya Danang sambil menunjuk kotak kayu di atas meja.
"Buka saja."
Danang membuka kotak itu. Matanya langsung membesar. Di dalamnya terdapat sejumlah uang yang tersusun rapi. Tidak terlalu banyak. Tapi jelas bukan jumlah kecil. Uang itu dilipat rapi. Ada yang pecahan besar. Ada yang pecahan kecil. Semua tersusun berdasarkan nominal.
"Ini dari mana, Tin?"
"Dari tabungan. Aku menyisihkan sedikit demi sedikit. Sejak Dinda masuk sekolah dasar."
"Tapi itu sudah berapa tahun..."
"Aku tahu."
"Kenapa kamu tidak pernah bilang?"
Sintia tersenyum. Bukan senyum bangga. Bukan senyum minta pujian. Tapi senyum biasa. Senyum yang tulus. "Karena aku menabung bukan untuk dipuji, Danang. Aku menabung untuk saat seperti ini. Untuk saat ketika kita butuh. Untuk saat ketika tidak ada yang bisa membantu selain diri kita sendiri."
Danang terdiam. Matanya menatap uang itu. Lalu menatap istrinya. Bergantian. Tidak bisa berkata apa apa. Tenggorokannya terasa tersumbat.
"Sebenarnya kamu bisa memakai uang ini untuk dirimu sendiri, Tin. Beli baju baru. Beli tas. Beli perhiasan. Kamu pantas mendapatkannya."
Sintia tertawa kecil. "Aku memang memakainya untuk diriku sendiri, Danang."
"Maksudmu?"
"Keluargaku adalah diriku sendiri. Anak anakku adalah diriku sendiri. Kamu adalah diriku sendiri."
Jawaban itu sederhana. Tidak berlebihan. Tidak puitis. Tapi menusuk langsung ke hati Danang. Matanya mulai memerah. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia melihat hati Sintia tanpa dinding kemarahan. Tanpa tembok yang selama ini menutupi. Dan yang ia temukan di sana bukanlah kebencian. Bukan dendam. Bukan kekecewaan. Tapi cinta. Cinta yang sederhana. Cinta yang tidak pandai merangkai kata kata manis. Cinta yang tidak pandai bermesraan. Tapi nyata. Sangat nyata. Sekuat batu karang. Seteduh pohon rindang.
Malam harinya, mereka duduk berdua di teras. Sudah lama tidak menikmati suasana seperti itu. Tanpa pertengkaran. Tanpa tuduhan. Tanpa suara tinggi. Hanya angin malam yang berembus pelan. Hanya suara jangkrik dari kejauhan. Hanya bintang bintang yang berkelip di langit.
"Aku sering salah menilaimu," ucap Danang tiba tiba.
Sintia menoleh. "Maksudmu?"
"Aku terlalu sibuk memperhatikan saat kamu marah. Aku terlalu fokus pada suara kerasmu. Pada bentakanmu. Pada kata kata tajammu." Danang berhenti. Menarik napas. "Aku lupa memperhatikan saat kamu berjuang. Saat kamu bangun pagi sebelum subuh. Saat kamu mengatur keuangan. Saat kamu menyisihkan uang sedikit demi sedikit tanpa pernah mengeluh."
Sintia tidak menjawab. Ia hanya memandang langit.
"Aku juga banyak salah, Danang. Aku terlalu sering marah. Aku terlalu cepat meledak. Aku terlalu keras."
"Tapi sekarang aku mulai mengerti," potong Danang. "Kemarahanmu bukan karena kamu tidak peduli. Bukan karena kamu tidak sayang. Bukan karena kamu tidak cinta."
"Lalu?"
"Kamu hanya takut. Takut kehilangan. Takut ditinggalkan. Takut keluarganya hancur. Takut orang yang kamu cintai terluka."
Sintia terdiam. Dadanya bergetar. Karena itulah kebenarannya. Itulah yang selama bertahun tahun tidak pernah ia ungkapkan. Tidak pernah ia jelaskan. Bahkan kepada dirinya sendiri.
Ia takut kehilangan. Itu saja. Dan ketakutan itu sering berubah menjadi kemarahan. Karena marah lebih mudah daripada mengaku takut. Karena marah terlihat lebih kuat daripada menangis. Karena marah adalah bahasa yang paling ia kuasai. Warisan dari masa kecil yang tidak pernah benar benar sembuh.
BAB XXV
Belajar Mendengar
Banyak rumah tangga tidak hancur karena kurang cinta. Banyak hubungan tidak retak karena kurang kesetiaan. Sering kali yang hilang hanyalah satu hal sederhana. Mendengar. Bukan sekadar mendengar suara. Bukan sekadar mendengar kata kata. Tapi mendengar isi hati. Mendengar luka yang tidak pernah diucapkan. Mendengar ketakutan yang disembunyikan di balik kemarahan. Mendengar harapan yang selama ini terkubur dalam diam.
Sudah hampir dua minggu sejak Danang kehilangan pekerjaan. Dua minggu yang penuh dengan lamaran yang dikirim. Dua minggu yang penuh dengan panggilan wawancara yang tidak kunjung datang. Tapi anehnya, suasana rumah terasa berbeda. Lebih tenang. Lebih hangat. Pertengkaran yang dulu hampir terjadi setiap minggu kini perlahan menghilang. Seperti air surut setelah badai. Meninggalkan pantai yang basah. Tapi juga bersih.
Malam itu hujan turun perlahan. Rintik rintik kecil. Tidak deras. Cukup untuk membuat suasana semakin teduh. Anak anak sudah tidur sejak satu jam lalu. Rumah terasa sepi. Tapi bukan sepi yang menyesakkan. Bukan sepi yang menyedihkan. Tapi sepi yang damai.
Danang dan Sintia duduk berdua di ruang tamu. Tidak ada televisi. Tidak ada ponsel. Tidak ada gangguan. Hanya mereka berdua. Berdua saja.
"Aku ingin bertanya sesuatu," kata Danang.
"Tanya saja."
"Luka apa yang paling lama kamu simpan, Tin?"
Sintia membeku. Pertanyaan itu tidak pernah ia duga. Tidak pernah terbayangkan. Selama bertahun tahun, tidak ada yang pernah bertanya seperti itu. Tidak ibunya. Tidak teman temannya. Tidak Danang. Bahkan dirinya sendiri jarang memikirkannya.
"Kenapa tanya begitu?" balas Sintia. Suaranya sedikit bergetar.
"Karena aku ingin tahu. Aku ingin mengenalmu. Bukan sebagai istriku. Bukan sebagai ibu dari anak anakku. Tapi sebagai kamu. Sebagai Sintia. Sebagai manusia."
Sintia terdiam lama. Lalu menjawab pelan. "Kesepian."
"Kesepian?"
"Sering kali aku merasa sendirian, Danang. Bukan karena tidak ada orang di sekitar. Tapi karena tidak ada yang benar benar memahami."
Danang tidak menyela.
"Saat anak anak sakit, aku sendiri yang begadang. Saat ada masalah di rumah, aku sendiri yang memikirkannya. Saat orang orang membicarakanku di belakang, aku sendiri yang menghadapinya. Saat aku bertengkar dengan ibumu, aku sendiri yang merasa tidak didukung."
Sintia berhenti. Menarik napas.
"Aku sering merasa harus menghadapi semuanya sendiri, Danang. Tanpa kamu. Tanpa bantuan. Tanpa sandaran."
Danang menggenggam tangannya. Ia tahu. Ia tahu itu benar. Banyak kali ia memilih diam. Banyak kali ia menghindari konflik. Banyak kali ia membiarkan Sintia berjuang sendirian. Bukan karena tidak peduli. Tapi karena ia tidak tahu harus berbuat apa. Dan ketidaktahuannya itu ternyata lebih menyakitkan daripada kebencian.
"Aku minta maaf, Tin."
"Aku juga punya salah. Aku terlalu sering marah sebelum menjelaskan apa yang sebenarnya aku rasakan. Aku berharap kamu mengerti tanpa aku harus bicara. Aku berharap kamu bisa membaca pikiranku. Aku berharap kamu tahu apa yang aku butuhkan tanpa harus aku katakan."
"Itu memang sulit. Aku bukan peramal."
Keduanya tertawa pelan. Untuk pertama kalinya, mereka bisa membicarakan luka tanpa saling menyerang. Tanpa saling menyalahkan. Tanpa saling menyakiti.
Kini giliran Sintia bertanya. "Kalau kamu, Danang? Luka apa yang paling lama kamu simpan?"
Danang menatap hujan di luar jendela. "Takut gagal."
Sintia terdiam.
"Aku selalu takut menjadi suami yang gagal. Ayah yang gagal. Anak yang gagal. Kakak yang gagal. Aku takut tidak bisa memenuhi kebutuhan keluarga. Takut tidak bisa melindungi orang orang yang aku cintai."
"Takut itu wajar."
"Tapi aku biarkan ketakutan itu menguasai aku. Aku biarkan ketakutan itu membuatku diam. Membuatku memendam semuanya sendiri. Membuatku tidak pernah cerita."
"Kenapa?"
"Aku berpikir seorang laki laki harus selalu kuat. Tidak boleh lemah. Tidak boleh menangis. Tidak boleh mengaku butuh bantuan."
Sintia memandangnya lama. "Siapa yang mengajarimu itu?"
Danang tersenyum pahit. "Ayah mungkin. Lingkungan. Masyarakat. Atau mungkin aku sendiri. Aku tidak tahu. Tapi sekarang aku mulai sadar."
"Sadar apa?"
"Bahwa menjadi kuat tidak berarti harus selalu diam. Bahwa meminta bantuan bukan tanda kelemahan. Bahwa menangis bukan berarti kalah."
Percakapan mereka terus berlanjut. Tentang masa lalu. Tentang kenangan yang paling pahit. Tentang kesalahan kesalahan yang pernah dilakukan. Tentang harapan yang sempat padam lalu menyala lagi. Tentang rasa takut yang selama ini tidak pernah diungkapkan.
Dan semakin lama mereka berbicara, semakin mereka menyadari sesuatu yang sederhana. Sesuatu yang seharusnya sudah mereka sadari sejak lama. Sebagian besar konflik yang terjadi selama ini bukan karena kebencian. Bukan karena dendam. Bukan karena tidak saling mencintai. Tapi karena kesalahpahaman. Karena keduanya sama sama terluka. Namun tidak pernah benar benar menjelaskan lukanya. Masing masing sibuk dengan lukanya sendiri. Lupa bahwa lawan bicaranya juga terluka.
"Ada satu hal yang ingin aku katakan," ucap Danang.
Sintia menunggu.
"Aku bangga padamu."
Sintia membeku.
"Karena kamu bertahan. Karena kamu tidak lari. Karena kamu tetap di sini. Di sampingku. Meskipun aku sering mengecewakanmu. Meskipun aku sering tidak ada untukmu. Meskipun aku sering lebih banyak diam daripada bicara."
Air mata mengalir di pipi Sintia. Bukan karena sedih. Bukan karena marah. Bukan karena kecewa. Tapi karena akhirnya. Akhirnya. Setelah sekian lama. Setelah sekian banyak pertengkaran. Setelah sekian banyak air mata yang jatuh tanpa dilihat. Ada seseorang yang melihat perjuangannya. Perjuangan yang selama ini dilakukan diam diam. Tanpa pujian. Tanpa penghargaan. Tanpa tepuk tangan. Hanya dengan hati. Hanya dengan kesabaran. Hanya dengan cinta yang tidak pernah padam.
Malam itu mereka tidak menyelesaikan seluruh masalah. Tidak semua luka langsung sembuh. Tidak semua kenangan buruk langsung hilang. Tapi ada sesuatu yang berubah. Sesuatu yang fundamental. Mereka mulai saling memahami. Dan pemahaman adalah langkah pertama. Bukannya pemahaman langsung menyembuhkan. Tapi pemahaman membuka pintu. Pintu menuju pengampunan. Pintu menuju kesembuhan. Pintu menuju rumah yang hangat kembali.
Sebelum tidur, Danang menggenggam tangan Sintia. Tangan yang selama bertahun tahun lebih sering digunakan untuk bekerja. Mencuci. Memasak. Mengepel. Menyetrika. Tangan yang kasar karena sabun dan air. Tapi tangan yang lembut saat memeluk anak anak. Tangan yang pernah menunjuknya ketika marah. Tangan yang pernah menampar meja ketika kesal. Tangan yang pernah meremas rambut sendiri ketika putus asa. Tangan yang tetap bertahan. Menggenggam. Tidak melepaskan. Tidak peduli seberapa keras badai yang menghantam.
Malam itu Danang belajar bahwa kekuatan sejati tidak selalu berbentuk otot atau suara lantang. Kekuatan sejati kadang berbentuk tangan yang tetap menggenggam ketika semua orang sudah melepaskan. Kadang berbentuk hati yang tetap bertahan ketika semua orang sudah pergi. Kadang berbentuk perempuan yang tetap di sisi ketika kehidupan berusaha meruntuhkan segalanya.
Dan Sintia—Sintia yang galak, Sintia yang keras, Sintia yang sering disalahpahami—adalah bentuk kekuatan itu. Nyata. Hidup. Bernapas. Ada di sampingnya. Masih. Setelah segalanya. Masih.
BAB XXVI
Memaafkan yang Tidak Mudah
Memaafkan adalah kata yang sederhana. Mudah diucapkan. Hanya perlu membuka mulut dan mengatakan "saya maaf" atau "saya memaafkan". Tapi melakukannya? Sungguh? Itu adalah hal paling sulit di dunia. Karena memaafkan bukan berarti melupakan. Bukan berarti menganggap luka itu tidak pernah ada. Bukan berarti membiarkan orang yang sama melukai lagi. Memaafkan adalah melepaskan. Melepaskan beban yang selama ini terus dibawa. Melepaskan amarah yang diam diam menggerogoti hati. Melepaskan dendam yang membuat seseorang terus hidup di masa lalu.
Pagi itu matahari bersinar cerah. Namun di hati Danang masih ada awan yang belum sepenuhnya pergi. Percakapan panjang beberapa malam lalu dengan Sintia memang membawa banyak perubahan. Mereka mulai memahami satu sama lain. Mulai membuka luka yang selama ini disembunyikan. Tapi memahami bukan berarti seluruh rasa sakit langsung hilang. Masih ada bekas. Masih ada kenangan pahit. Masih ada kata kata yang pernah melukai. Dan semuanya membutuhkan waktu. Luka tidak sembuh dalam sehari. Juga tidak dalam seminggu. Kadang butuh bertahun tahun.
Hari itu Danang pergi mengantar lamaran kerja ke sebuah perusahaan di kota. Perjalanan cukup jauh. Di sepanjang jalan, pikirannya terus dipenuhi berbagai kenangan. Tentang pertengkarannya dengan Sintia. Tentang malam ketika ia meninggalkan rumah. Tentang kata kata kasar yang pernah mereka ucapkan satu sama lain. Tentang air mata anak anak yang menyaksikan pertengkaran mereka. Semakin diingat, semakin terasa sesak. Semakin dipikir, semakin terasa bersalah.
Sementara itu di rumah, Sintia sedang membereskan lemari lama. Di sela sela tumpukan pakaian yang sudah jarang dipakai, ia menemukan sebuah album foto yang sudah lama tidak dibuka. Album pernikahan mereka. Sampulnya sudah sedikit robek di bagian sudut. Halaman halamannya mulai menguning karena usia.
Ia duduk di tepi tempat tidur. Lalu membuka halaman demi halaman. Perlahan. Satu per satu.
Ada foto ketika mereka masih menjadi pasangan muda. Wajah mereka masih polos. Masih banyak senyum. Masih belum dipenuhi kerutan kecemasan. Ada foto saat Danang menggenggam tangannya di depan pelaminan. Genggaman yang erat. Penuh janji. Ada foto ketika mereka tersenyum tanpa beban. Tanpa konflik. Tanpa luka. Hanya bahagia. Bahagia yang sederhana. Bahagia yang dulu terasa begitu mudah.
Air mata menetes di pipinya. Orang yang selama ini sering ia marahi. Orang yang sering ia bentak. Orang yang sering ia salahkan. Adalah orang yang dulu begitu ia cintai. Yang dulu membuatnya merasa aman. Yang dulu menjadi tempatnya bersandar. Dan sebenarnya cinta itu tidak pernah hilang. Hanya tertutup. Tertutup oleh berbagai masalah. Tertutup oleh pertengkaran. Tertutup oleh ego masing masing.
Menjelang siang, Bu Sulastri datang berkunjung. Kedatangannya membuat Sintia sedikit terkejut. Selama bertahun tahun, hubungan mereka tidak pernah benar benar hangat. Selalu ada jarak. Selalu ada ketegangan yang sulit dijelaskan. Selalu ada rasa canggung ketika berdua.
Tapi hari itu wajah Bu Sulastri terlihat berbeda. Lebih lembut. Lebih tenang. Tidak ada lagi ketegasan yang dingin seperti biasanya. Yang ada justru kerapuhan. Kerapuhan seorang perempuan tua yang sudah lelah.
"Sintia, aku ingin bicara."
"Iya, Bu. Silakan masuk."
Mereka duduk berhadapan di ruang tamu. Awalnya suasana terasa canggung. Sangat canggung. Karena ada terlalu banyak kenangan buruk yang berdiri di antara mereka. Terlalu banyak kesalahpahaman. Terlalu banyak luka yang tidak pernah diobati.
Bu Sulastri memandang menantunya beberapa saat. Matanya berkaca kaca. Tangannya yang keriput gemetar di pangkuan.
"Sintia, aku ingin meminta maaf."
Sintia membeku. Tidak menyangka. Tidak pernah.
"Maaf? Untuk apa, Bu?"
Bu Sulastri mengusap air mata yang mulai jatuh. "Aku sering terlalu keras padamu. Sering membandingkanmu dengan Rina. Sering menganggapmu tidak cukup baik untuk Danang. Aku sering berkata tanpa memikirkan perasaanmu. Aku sering melukaimu tanpa menyadarinya."
Air mata Bu Sulastri mengalir semakin deras.
"Aku salah, Sintia. Aku terlalu lama melihat kekuranganmu. Hingga lupa melihat pengorbananmu. Aku terlalu sibuk menuntutmu menjadi menantu yang sempurna. Hingga lupa bahwa tidak ada manusia yang sempurna."
Sintia tidak mampu berkata apa apa. Mulutnya terkunci. Tenggorokannya tersumbat. Selama bertahun tahun ia menunggu pengakuan ini. Menunggu permintaan maaf ini. Tapi ketika akhirnya datang, hatinya justru terasa perih. Bukan sakit karena marah. Tapi sakit karena selama ini ia juga salah.
"Aku juga minta maaf, Bu." Suara Sintia lirih. Hampir tidak terdengar. "Aku sering membalas dengan kemarahan. Aku sering membentak. Aku sering membuat Ibu kecewa."
Bu Sulastri menggeleng. "Kita sama sama manusia. Kita sama sama pernah salah. Yang penting sekarang kita mau mengakuinya."
Bu Sulastri meraih tangan Sintia. Tangannya keriput dan dingin. Tapi genggamannya hangat.
"Bisa maafkan Ibu?"
Sintia tidak menjawab dengan kata kata. Ia hanya menangis. Lalu memeluk Bu Sulastri. Memeluk perempuan tua yang selama ini ia anggap sebagai musuh. Ternyata bukan musuh. Hanya manusia. Manusia yang juga punya kelemahan. Manusia yang juga pernah terluka. Manusia yang juga ingin dicintai.
Untuk pertama kalinya sejak bertahun tahun menjadi bagian dari keluarga itu, Sintia dan Bu Sulastri saling memeluk. Bukan pelukan formal. Bukan pelukan basa basi. Tapi pelukan sungguhan. Pelukan yang melepaskan. Pelukan yang memaafkan.
Sore harinya Danang pulang. Ketika melihat ibunya dan Sintia duduk berdampingan di ruang tamu sambil berbincang santai, ia sempat mengira dirinya salah melihat. Matanya berkedip beberapa kali. Memastikan.
"Kali ini beneran, Dan. Kami sudah berdamai," kata Sintia sambil tersenyum.
Danang masih terpaku di pintu. "Beneran?"
"Iya. Ibumu minta maaf. Aku juga minta maaf."
Danang tersenyum. Senyum yang sudah lama tidak muncul di wajahnya. Senyum yang tulus. Senyum yang lega. Karena salah satu beban terbesar dalam hidupnya akhirnya terangkat. Konflik antara istri dan ibunya. Konflik yang selama bertahun tahun membuatnya terjepit di tengah. Konflik yang membuatnya tidak bisa memihak siapa pun. Kini mulai menemukan jalan keluar.
Malam itu, setelah Bu Sulastri pulang, Danang dan Sintia kembali duduk di teras. Angin malam bertiup pelan. Suasana terasa damai. Bintang bintang bertaburan di langit.
"Kamu benar benar sudah memaafkan Ibu?" tanya Danang.
Sintia terdiam beberapa saat. Matanya menatap langit. Lalu menjawab jujur. "Aku sedang belajar, Dan. Aku belum sempurna. Aku masih mengingat beberapa luka. Kadang masih sakit kalau diingat. Tapi aku tidak ingin terus hidup di dalamnya."
Danang mengangguk. "Aku juga sedang belajar memaafkan. Tapi bukan orang lain."
"Lalu siapa?"
"Diriku sendiri."
Sintia menatapnya.
"Aku pernah gagal, Tin. Gagal menjadi suami yang baik. Gagal menjadi ayah yang hadir. Gagal menjadi penengah yang adil. Aku sering mengecewakanmu. Sering mengecewakan anak anak. Sering mengecewakan ibu."
Sintia menggenggam tangannya. "Kamu tidak gagal, Danang. Kita pernah gagal. Berdua. Bersama. Tapi kita masih di sini. Masih bersama. Masih berusaha."
Danang menatap wajah istrinya. Lalu tersenyum. Memaafkan bukan hanya tentang orang lain. Kadang yang paling sulit dimaafkan adalah diri sendiri. Karena diri sendiri tahu persis semua kesalahan yang pernah dilakukan. Tidak ada yang bisa disembunyikan. Tidak ada yang bisa dibohongi.
BAB XXVII
Menyatukan Keluarga yang Terpecah
Memperbaiki rumah yang rusak membutuhkan waktu. Kayu yang patah harus disambung. Atap yang bocor harus diperbaiki. Dinding yang retak harus diperkuat. Tapi memperbaiki keluarga jauh lebih sulit. Karena yang retak bukan kayu. Bukan batu. Bukan genteng. Tapi hati manusia. Dan hati yang terluka tidak bisa dipulihkan hanya dengan palu dan paku. Ia butuh ketulusan. Butuh kesabaran. Butuh waktu. Butuh keberanian untuk membuka pintu maaf terlebih dahulu. Tanpa menunggu orang lain.
Rahasia Pak Wiryo telah terungkap. Surat itu sudah dibacakan. Bu Sulastri sudah meminta maaf. Paman Harun sudah bercerita. Banyak air mata telah jatuh. Banyak kesalahpahaman telah diluruskan. Tapi satu kenyataan masih tersisa. Konflik yang berlangsung terlalu lama meninggalkan bekas yang tidak mudah hilang. Seperti luka operasi. Meskipun sudah sembuh, bekasnya tetap ada. Bekas yang mengingatkan bahwa pernah ada yang salah. Pernah ada yang retak. Pernah ada yang hampir hancur.
Surya masih jarang bicara dengan Deni. Jika bertemu di acara keluarga, mereka hanya saling sapa seperlunya. Tidak lebih. Beberapa sepupu masih menyimpan rasa malu. Mereka sadar telah ikut menyebarkan gosip. Tapi tidak tahu bagaimana cara meminta maaf. Sebagian kerabat bahkan memilih menjauh. Mereka tidak datang ke acara keluarga. Tidak mengirim kabar. Seperti menghilang.
Danang melihat semuanya. Ia menyadari bahwa mengungkap kebenaran ternyata bukan akhir dari perjalanan. Itu baru awal. Awal dari proses penyembuhan yang panjang. Awal dari perjalanan yang melelahkan.
Suatu malam, Danang duduk bersama Sintia di ruang tamu. Anak anak sudah tidur. Suasana tenang.
"Aku memikirkan keluarga," ucap Danang.
"Keluarga yang mana?"
"Keluarga besar. Yang kemarin hampir bubar karena tanah."
Sintia menghela napas. "Apa yang ingin kamu lakukan?"
"Aku ingin mencoba menyatukan mereka lagi."
Sintia terdiam. Bukan karena tidak setuju. Tapi karena tahu itu tidak mudah. "Kamu yakin?"
"Tidak. Tapi aku harus mencoba. Seseorang harus memulai."
"Kalau begitu kita lakukan bersama."
Beberapa hari kemudian, Danang mulai menghubungi satu per satu anggota keluarga. Surya. Deni. Sepupu sepupu yang lain. Kerabat kerabat yang selama ini menjauh.
Ada yang langsung merespons dengan baik. Ada yang masih canggung, bicara seperlunya lalu cepat cepat mengakhiri. Ada pula yang terdengar enggan, suaranya dingin, seperti masih menyimpan dendam. Tapi Danang tidak menyerah. Ia tidak langsung mengajak bertemu. Ia hanya berbicara. Mendengarkan. Mendengarkan keluhan yang selama ini terpendam. Mendengarkan rasa kecewa yang belum sempat diungkapkan. Mendengarkan kesedihan yang tidak pernah diperhatikan.
Karena ia belajar satu hal dari pernikahannya dengan Sintia. Kadang orang tidak butuh nasihat. Mereka tidak butuh solusi. Mereka tidak butuh orang yang pintar bicara. Mereka hanya ingin didengar. Didengar tanpa dihakimi. Didengar tanpa disela. Didengar tanpa diberi kuliah.
Sementara itu Sintia melakukan hal yang sama. Ia mendatangi Bu Sulastri. Membantu menyiapkan acara keluarga kecil yang direncanakan Danang.
"Apa mereka mau datang, Tin?" tanya Bu Sulastri. Wajahnya terlihat cemas. Matanya gelisah.
Sintia tersenyum. "Mungkin tidak semuanya, Bu. Tapi seseorang harus memulai. Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau tidak sekarang, kapan lagi?"
Bu Sulastri terdiam. Lalu perlahan mengangguk. Selama ini ia terlalu lama menunggu. Menunggu orang lain mengambil langkah pertama. Menunggu anak anaknya berdamai dengan sendirinya. Menunggu waktu yang tepat. Padahal waktu yang tepat tidak pernah datang dengan sendirinya. Waktu yang tepat harus diciptakan.
Hari yang ditentukan akhirnya tiba.
Rumah Bu Sulastri kembali ramai. Tapi kali ini bukan karena pertengkaran. Bukan karena adu mulut. Bukan karena saling tuduh. Melainkan karena sebuah pertemuan keluarga. Acaranya sederhana. Tidak ada hiburan. Tidak ada pembicaraan besar. Tidak ada agenda formal. Hanya makan bersama. Hanya duduk bersama. Hanya mencoba kembali menjadi keluarga. Mencoba mengobati luka yang sudah terlanjur parah.
Surya datang. Wajahnya masih tegang. Matanya masih waspada.
Deni datang. Juga tegang. Juga waspada.
Paman Harun datang. Wajahnya berseri. Tangannya membawa bakul berisi pisang dan singkong hasil kebunnya.
Sepupu sepupu yang selama ini jarang bertemu mulai berdatangan. Ada yang dengan senyum malu malu. Ada yang dengan langkah ragu ragu. Ada yang dengan mata menunduk.
Awalnya suasana terasa kaku. Sangat kaku. Seperti orang orang yang sudah lama tidak saling mengenal. Padahal mereka berasal dari rahim yang sama. Padahal mereka memiliki darah yang sama. Padahal mereka dulu pernah bermain bersama di halaman ini.
Tapi anak anak menjadi penyelamat. Mereka berlarian ke sana kemari. Bermain kejar kejaran. Tertawa lepas. Tanpa memikirkan konflik orang dewasa. Tanpa peduli siapa yang benar siapa yang salah. Tanpa tahu tentang warisan dan hutang. Dan melihat itu, melihat anak anak yang begitu polos, melihat mereka yang tidak peduli pada harta hanya ingin bermain... beberapa orang mulai tersenyum. Karena anak anak mengingatkan mereka pada masa lalu. Masa ketika mereka sendiri masih kecil. Masa ketika belum ada perdebatan tentang tanah. Masa ketika mereka bermain bersama tanpa beban. Tanpa prasangka. Tanpa dendam.
Menjelang siang, Danang berdiri. Bukan untuk berpidato. Bukan untuk memberi ceramah. Bukan untuk menggurui. Hanya untuk mengatakan sesuatu. Sesuatu yang selama ini mengganjal di hatinya.
"Ayah kita mungkin tidak meninggalkan banyak harta. Beliau hanya seorang petani. Sawahnya kecil. Hasilnya pas pasan. Tapi beliau meninggalkan sesuatu yang lebih berharga."
Ruangan langsung hening.
"Beliau meninggalkan keluarga. Beliau meninggalkan kita. Beliau meninggalkan saudara."
Beberapa orang mulai menunduk.
"Aku tidak ingin warisan itu hilang. Bukan tanahnya. Bukan sawahnya. Bukan kebunnya. Tapi keluarganya."
Suara Danang mulai bergetar. "Kita boleh berbeda pendapat. Kita boleh berbeda pilihan. Tapi jangan sampai perbedaan itu menghancurkan kita."
Air mata mulai terlihat di mata Bu Sulastri. Paman Harun memejamkan mata, bibirnya bergetar. Surya terlihat menunduk semakin dalam. Tidak berani menatap siapa pun.
Untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara. Hanya suara anak anak dari halaman yang sesekali terdengar.
Kemudian sesuatu yang tidak terduga terjadi. Surya berdiri. Semua orang menoleh. Wajahnya tegang. Tapi matanya... matanya basah. Matanya memerah.
Ia berjalan. Perlahan. Melewati beberapa kursi. Mendekati Deni.
Deni mengangkat kepala. Wajahnya juga tegang.
Surya berhenti tepat di depan Deni. Jarak hanya satu lengan.
"Aku minta maaf," ucap Surya. Suaranya parau.
Ruangan semakin hening.
"Aku terlalu keras. Aku terlalu cepat menuduh. Aku terlalu sibuk mempertahankan hakku. Sampai lupa menjaga hubungan kita."
Surya berhenti. Menelan ludah.
"Maafkan aku, Den."
Deni tidak langsung menjawab. Beberapa detik berlalu. Rasanya seperti jam. Lalu ia berdiri. Melangkah maju. Dan memeluk Surya.
Pelukan sederhana. Tidak ada kata kata. Tidak ada tangisan yang keras. Hanya dua lelaki dewasa yang saling memeluk. Tapi pelukan itu cukup. Cukup untuk menghancurkan tembok yang selama ini memisahkan mereka. Cukup untuk mencairkan es yang selama ini membeku.
Tangisan mulai terdengar di berbagai sudut ruangan. Bu Sulastri tidak mampu lagi menahan air matanya. Paman Harun mengusap wajahnya dengan ujung sarung. Sepupu sepupu yang lain ikut larut dalam suasana haru.
Karena setelah sekian lama, setelah pertengkaran, setelah saling menyakiti, setelah hampir hancur... akhirnya mereka mulai kembali. Bukan sepenuhnya utuh. Tapi mulai. Mulai mencoba. Mulai melangkah.
Sore harinya, ketika sebagian besar tamu mulai pulang, Danang berdiri di halaman. Memandang anggota keluarganya yang satu per satu berjalan keluar pagar. Ada senyum. Ada tawa kecil. Ada pelukan perpisahan. Ada jabat tangan yang hangat.
Sintia berdiri di sampingnya. "Kamu berhasil, Dan."
Danang menggeleng. "Bukan aku."
"Lalu siapa?"
"Kita." Danang menoleh ke arah Sintia. "Aku tidak mungkin sampai di sini tanpa kamu."
Mata Sintia langsung berkaca kaca. Karena dulu, tahun tahun lalu, kalimat seperti itu mungkin tidak pernah keluar dari mulut Danang. Tapi sekarang? Sekarang berbeda. Sekarang mereka telah melewati terlalu banyak badai. Telah menangis terlalu banyak air mata. Telah terluka terlalu dalam. Tapi mereka tidak hancur. Mereka justru menjadi lebih kuat.
Senja perlahan turun. Langit berubah jingga. Angin sore bertiup lembut. Membawa aroma tanah basah dan dedaunan.
Dan di halaman rumah itu, di tempat yang dulu menjadi saksi pertengkaran dan air mata, keluarga yang pernah hampir hancur mulai menemukan jalan pulang. Belum sempurna. Belum sepenuhnya utuh. Belum sepenuhnya sembuh. Tapi sudah bergerak. Bergerak ke arah yang benar. Dan terkadang, itu sudah lebih dari cukup. Lebih dari yang bisa diminta. Lebih dari yang bisa diharapkan.
BAB XXVIII
Kemarahan yang Ternyata Cinta
Manusia sering kali baru memahami nilai sesuatu setelah hampir kehilangannya. Begitu pula Danang. Bertahun tahun ia hidup bersama Sintia. Bertahun tahun ia mendengar suara istrinya yang keras. Bertahun tahun ia menganggap sebagian kemarahan itu sebagai sifat bawaan yang sulit berubah. Tapi setelah melewati berbagai ujian, setelah jatuh bangun, setelah hampir kehilangan, ia mulai melihat sesuatu. Sesuatu yang selama ini luput dari perhatiannya. Di balik kemarahan itu, ternyata ada cinta. Cinta yang tidak pandai bermanja. Cinta yang tidak pandai merangkai kata kata manis. Cinta yang memilih bekerja dalam diam. Cinta yang sering salah dipahami.
Malam itu Danang duduk di teras. Langit cerah. Bintang bintang bertaburan. Angin malam berembus pelan. Dedaunan pohon mangga di depan rumah bergoyang goyang.
Dari dalam rumah, terdengar suara Sintia. Keras seperti biasa. Tegas seperti biasa. Tapi entah mengapa, malam itu suara itu terdengar berbeda di telinga Danang.
"Bima! Jangan lupa buku pelajaranmu dimasukkan ke tas!"
"Iya, Bu!"
"Lampu kamar dimatikan kalau sudah selesai belajar!"
"Iya, Bu!"
"Dinda, jangan tidur terlalu malam!"
"Iya, Bu!"
Danang tersenyum sendiri. Dulu suara itu sering membuatnya kesal. Dulu ia sering mengeluh dalam hati, "Kok galak amat sih?" Tapi kini ia justru merasa tenang mendengarnya. Karena suara itu berarti rumah mereka hidup. Suara itu berarti ada seseorang yang mengatur. Ada seseorang yang peduli. Ada seseorang yang tidak ingin keluarganya berantakan. Suara itu adalah musik. Musik yang tidak merdu di telinga orang lain. Tapi musik yang membuat rumahnya utuh.
Tak lama kemudian Sintia keluar. Tangannya membawa dua cangkir teh hangat. Asapnya mengepul tipis di udara malam yang dingin.
"Kok senyum senyum sendiri? Lagi ngelamun apa?" tanyanya sambil duduk di samping Danang.
"Lagi berpikir."
"Berpikir apa?"
Danang memandang istrinya. Wajahnya masih tegang. Masih ada kerutan di keningnya. Tapi cantik. Tetap cantik.
"Aku sedang menghitung."
"Menghitung apa?"
"Berapa kali kamu marah selama kita menikah."
Sintia langsung melotot. Matanya membulat. "Niat banget kamu, Danang!"
Danang tertawa. "Ternyata banyak."
"Sok tahu."
"Tapi aku baru sadar sesuatu."
Sintia menatapnya heran. "Apa?"
Danang terdiam sesaat. Lalu berkata pelan, "Hampir semua kemarahanmu itu karena kamu peduli."
Sintia terdiam. Tangannya yang memegang cangkir teh berhenti di udara.
"Aku ingat waktu Bima demam tinggi dulu. Waktu itu panasnya sampai empat puluh derajat. Kamu marah marah karena aku pulang terlambat. Wajahmu merah. Suaramu keras. Aku sampai kaget."
Sintia tersenyum tipis. "Kamu bahkan tidak mengangkat telepon. Aku telepon berkali kali. Tidak diangkat. Aku sampai hampir nangis."
"Dulu aku mengira kamu hanya ingin bertengkar. Aku pikir kamu sedang mencari gara gara."
"Lalu sekarang?"
Danang menggenggam tangannya. "Sekarang aku tahu kamu ketakutan. Bukan marah. Bukan cari gara gara. Tapi takut. Takut kehilangan anak. Takut menghadapi semuanya sendirian. Takut Bima kenapa kenapa."
Sintia menunduk. Matanya mulai berkaca kaca. Karena Danang benar. Saat itu ia bukan marah. Ia panik. Ia takut. Dan ketakutan itu—karena tidak bisa ia kendalikan—keluar dalam bentuk kemarahan. Seperti biasanya. Seperti yang selalu ia lakukan.
Danang melanjutkan. "Aku ingat saat aku membantu Deni tanpa memberitahumu. Kamu marah besar. Sangat besar. Aku sampai pikir kamu tidak punya hati nurani."
Sintia tertawa kecil. "Aku memang marah."
"Dulu aku pikir kamu pelit. Pelit pengertian. Pelit simpati. Pelit empati."
"Lalu sekarang?"
"Sekarang aku tahu kamu takut. Bukan marah. Takut keluarga kita kesulitan. Takut anak anak kekurangan. Takut masa depan mereka terganggu."
Sintia terdiam. Danang benar lagi. Ia tidak pernah keberatan membantu keluarga. Apalagi membantu adik iparnya sendiri. Tapi ia takut. Takut jika uang yang diberikan terlalu banyak. Takut jika tabungan pendidikan anak anak terkuras. Takut jika suatu saat mereka membutuhkan dan tidak punya. Dan ketakutan itu—lagi lagi—keluar sebagai kemarahan.
Danang menarik napas panjang. "Selama ini aku hanya melihat caramu. Aku hanya melihat cara kamu menyampaikan perasaan. Aku tidak pernah melihat alasan di baliknya. Aku melihat kemarahannya. Tapi tidak melihat ketakutannya. Aku mendengar nada suaranya. Tapi tidak mendengar isi hatinya."
"Aku bodoh ya?" Danang tersenyum.
Sintia menggeleng. "Kita sama sama bodoh."
Keduanya tertawa pelan. Tawa yang ringan. Tawa yang sudah lama tidak terdengar.
Beberapa hari kemudian. Kabar baik datang.
Danang mendapat panggilan wawancara kerja dari sebuah perusahaan di kota. Perusahaan bonafide. Skala besar. Gaji lebih baik dari tempat sebelumnya.
Pagi itu Sintia bangun lebih awal. Lebih awal dari biasanya. Padahal Danang sendiri masih setengah tidur.
Ia menyiapkan sarapan. Nasi goreng kesukaan Danang. Telur ceplok. Kerupuk. Teh manis hangat.
Setelah itu ia menyetrika pakaian Danang. Kemeja putih. Celana hitam. Rapi. Tidak ada setrikaan yang kusut.
Ia juga memastikan semua berkas lengkap. Ijazah. CV. Sertifikat pelatihan. Foto. Semua sudah dimasukkan ke dalam map.
Danang baru turun dari kamar ketika semua sudah siap.
"Wah, masak pagi pagi?" tanyanya heran.
"Ya. Kamu harus sarapan dulu. Jangan langsung pergi. Perut kosong nanti tidak fokus."
"Iya, Bu."
Sintia berdiri di depan Danang. Matanya memandang suaminya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Memastikan semuanya rapi.
"Jangan lupa berdoa sebelum berangkat."
"Iya."
"Jangan gugup. Kamu sudah sering wawancara. Tidak perlu takut."
"Iya."
"Jangan terlalu banyak bicara. Jawab seperlunya. Jangan bertele tele."
"Iya."
"Jangan lupa bawa berkasnya. Jangan sampai ketinggalan."
Danang tertawa. "Nah, ini dia. Galaknya mulai keluar."
Sintia memutar bola mata. Tapi ia tidak bisa menahan senyum.
"Berangkat, ya, Tin."
"Ya. Hati hati."
"Kamu juga."
Danang keluar rumah. Sintia berdiri di pintu sampai motor suaminya hilang dari pandangan.
Wawancara berjalan cukup baik. Danang pulang dengan hati yang jauh lebih ringan. Bukan karena ia yakin diterima. Belum ada kepastian. Tapi karena ia tahu. Apa pun hasilnya nanti, ia tidak lagi menghadapinya sendirian. Ada Sintia. Ada anak anak. Ada keluarga kecilnya yang sudah kembali hangat.
Malam harinya, setelah anak anak tidur, Danang dan Sintia duduk di ruang tamu. Televisi menyala pelan. Tapi tidak ada yang benar benar menonton.
"Sintia."
"Hm?"
"Terima kasih."
Sintia menoleh. "Untuk apa?"
"Karena tidak menyerah padaku. Karena tetap di sini. Karena tidak pergi ketika aku jatuh."
Sintia tidak menjawab. Matanya mulai berkaca kaca.
"Dan terima kasih karena tetap menjadi dirimu," lanjut Danang. "Karena tetap galak. Karena tetap keras. Karena tetap seperti kamu."
Sintia tersenyum. "Aku ini galak, ya."
"Iya."
Sintia mencubit lengan Danang. Kencang. "Sekarang tahu rasanya?"
Danang tertawa. "Sakit."
"Bagus."
Tapi Danang tidak melepaskan tangannya. Ia menggenggam erat. "Tapi sekarang aku mengerti, Tin."
"Mengerti apa?"
"Kemarahanmu bukan kebencian. Itu cinta. Cinta yang tidak bisa diungkapkan dengan kata kata manis. Cinta yang hanya bisa keluar lewat kekhawatiran. Cinta yang bentuknya bentakan. Cinta yang bentuknya omelan. Cinta yang kadang menyebalkan. Tapi cinta. Cinta sungguhan."
Air mata perlahan jatuh di pipi Sintia. Bukan karena sedih. Bukan karena marah. Bukan karena kecewa. Tapi karena akhirnya. Akhirnya setelah bertahun tahun. Setelah puluhan pertengkaran. Setelah ratusan kali ia membentak. Setelah ribuan kali ia marah. Ada seseorang yang benar benar memahami.
Bukan hanya memahami kemarahannya. Tapi memahami penyebabnya. Bukan hanya mendengar suaranya. Tapi mendengar isi hatinya.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Sintia tidak merasa sendirian. Sungguh. Tidak sendirian.
BAB XXIX
Rumah yang Kembali Hangat
Rumah bukanlah bangunan. Bukan tembok bata merah. Bukan atap genteng. Bukan lantai keramik. Rumah adalah tempat di mana hati merasa pulang. Tempat di mana seseorang diterima apa adanya, tanpa syarat. Tempat di mana luka bisa beristirahat. Tempat di mana tidak perlu berpura pura kuat. Dan setelah melewati begitu banyak badai, rumah kecil milik Danang dan Sintia perlahan kembali menemukan maknanya. Tidak sekaligus. Tidak tiba tiba. Tapi perlahan. Seperti daun yang tumbuh setelah musim kemarau.
Pagi itu matahari bersinar cerah. Embun masih menempel di ujung dedaunan. Suara ayam jantan terdengar dari kejauhan. Udara segar.
Danang sedang duduk di ruang tamu. Ponselnya berdering. Nomor tidak dikenal.
"Selamat pagi. Bapak Danang?"
"Iya. Saya sendiri."
"Saya dari PT Cakrawala Mandiri. Kami ingin menginformasikan bahwa Bapak lolos seleksi dan diterima bekerja di perusahaan kami."
Jantung Danang berdegup kencang. Tidak langsung menjawab. Mulutnya terasa kering. Otaknya butuh waktu untuk mencerna.
"Bapak masih di sana? Hallo?"
"Iya. Iya. Saya masih di sini. Maaf. Terima kasih. Terima kasih banyak."
"Bapak bisa mulai kerja minggu depan. Hari Senin. Jam delapan."
"Siap. Siap. Terima kasih lagi."
Telepon ditutup. Danang masih duduk. Ponsel masih menempel di telinga. Senyum muncul di wajahnya. Senyum yang sudah lama tidak terlihat. Senyum yang lebar. Senyum yang tulus.
Sintia yang sedang di dapur mendengar suara Danang. Ia keluar. "Ada apa? Kok kamu diam saja?"
Danang menatap istrinya. Matanya berkaca kaca. "Aku diterima kerja, Tin."
Beberapa detik Sintia tidak bergerak. Tidak berbicara. Hanya menatap Danang. Lalu ia berlari. Berlari kecil. Langsung memeluk suaminya.
"Aku tahu. Aku tahu kamu pasti bisa," bisiknya di telinga Danang.
Air mata jatuh dari mata keduanya. Bukan air mata sedih. Bukan air mata kecewa. Tapi air mata haru. Air mata syukur. Air mata lega. Karena setelah sekian lama berjalan dalam ketidakpastian, setelah gelap yang panjang, akhirnya mereka melihat cahaya. Setelah badai yang bertubi tubi, akhirnya ada pelangi. Meskipun kecil. Tapi nyata.
Kabar baik itu segera menyebar ke seluruh rumah.
Bima yang sedang bermain ponsel langsung berteriak. "Ayah diterima kerja!"
Dinda yang sedang menyikat gigi di kamar mandi keluar dengan busa masih di mulut. "Beneran, Yah?"
"Beneran."
"Berarti Ayah bisa traktir bakso, ya?"
Danang tertawa. "Tentu. Bisa."
"Aku mau es krim juga," kata Dinda.
"Siap. Es krim."
"Bima juga mau, Yah!"
"Iya. Semuanya."
Sintia menggeleng geleng sambil tersenyum. "Belum gajian sudah dibagi bagi. Nanti kalian lupa."
"Enggak, Bu," seru Bima. "Aku ingat terus. Bakso sama es krim."
Rumah itu kembali dipenuhi tawa. Rumah yang dulu sunyi. Rumah yang dulu penuh pertengkaran. Rumah yang dulu hampir kehilangan harapan. Kini kembali ramai. Kini kembali hangat. Dan tidak ada suara yang lebih indah daripada tawa keluarga. Tidak ada. Sungguh.
Beberapa minggu kemudian Danang mulai bekerja di tempat baru. Lingkungan baru. Rekan kerja baru. Atasan baru. Sistem baru. Tapi pengalaman hidup yang telah ia lalui, semua ujian yang pernah ia hadapi, membuatnya jauh lebih dewasa. Ia tidak lagi hanya bekerja untuk mencari penghasilan. Ia bekerja untuk menjaga keluarga. Keluarga yang telah berjuang bersamanya. Keluarga yang tidak meninggalkannya ketika ia jatuh. Keluarga yang tetap bertahan ketika semua terasa mustahil.
Sementara itu hubungan keluarga besar juga semakin membaik. Surya dan Deni kini mulai sering bertemu. Mereka bahkan bekerja sama mengelola beberapa lahan keluarga. Paman Harun lebih sering berkunjung. Setiap kali datang, ia selalu membawa hasil kebun. Pisang. Singkong. Ubi. Kadang sayur mayur. Bu Sulastri terlihat jauh lebih tenang. Beban yang selama bertahun tahun ia pikul sendirian, puluhan tahun ia sembunyikan, akhirnya telah terlepas.
Suatu sore, seluruh keluarga besar berkumpul di rumah Bu Sulastri. Bukan karena ada masalah. Bukan karena ada konflik. Bukan karena ada warisan yang diperebutkan. Tapi karena acara syukuran. Sederhana. Meja makan penuh dengan berbagai hidangan. Ada tumpeng. Ada ayam goreng. Ada sayur lodeh. Ada sambal goreng ati. Anak anak berlarian di halaman. Orang dewasa berbincang santai sambil tertawa. Pemandangan yang dulu terasa mustahil. Kini menjadi nyata.
Di tengah keramaian itu, Bu Sulastri memanggil Danang dan Sintia.
"Kemari, Nak."
Keduanya mendekat.
Bu Sulastri memandang mereka bergantian. Matanya berkaca kaca. "Lihat keluarga kita sekarang."
Danang mengangguk. "Iya, Bu."
"Ayahmu pasti bangga," lanjut Bu Sulastri. "Kalau dia masih hidup, pasti dia tersenyum melihat kalian. Melihat keluarga ini. Masih utuh. Meskipun sudah goyang. Tapi masih utuh."
Sintia tersenyum. Matanya juga basah.
"Aku bangga pada kalian," kata Bu Sulastri. "Kalian berdua. Kalian mengajarkan bahwa keluarga tidak harus sempurna untuk tetap saling mencintai."
Kalimat itu membuat mata Sintia benar benar basah. Perjalanan menuju titik ini tidak mudah. Ada air mata. Ada luka. Ada sakit. Ada marah. Ada kecewa. Ada lelah. Tapi semua tidak sia sia. Tidak ada yang sia sia.
Malam harinya, setelah acara selesai, Danang dan Sintia pulang ke rumah mereka. Rumah yang dulu hampir kehilangan tawa. Rumah yang dulu dipenuhi pertengkaran. Rumah yang dulu nyaris runtuh. Sekarang berdiri lagi. Kokoh.
Mereka duduk di teras. Seperti biasa. Tempat yang menjadi saksi semua perubahan.
"Kamu ingat saat aku pergi dari rumah?" tanya Danang.
Sintia mengangguk. "Ingat."
"Masih sakit?"
Sintia terdiam. Lalu menjawab jujur. "Aku tidak tahu. Kenangan itu masih ada. Tapi tidak lagi terasa menyakitkan seperti dulu. Mungkin karena sekarang kita sudah di sini. Sudah bersama lagi."
Danang menggenggam tangannya.
"Kalau waktu bisa diputar ulang, aku ingin lebih cepat memahami kamu. Aku tidak mau menunggu sampai kita hampir hancur."
"Aku juga." Sintia tersenyum. "Aku ingin lebih cepat belajar mengendalikan marah. Aku ingin lebih cepat sadar bahwa kamu tidak pernah berniat jahat."
Mereka tertawa kecil. Karena tidak ada manusia yang sempurna. Tidak ada pernikahan yang tanpa masalah. Tapi kedewasaan lahir ketika seseorang mau belajar dari kesalahannya. Mau mengakui kesalahan. Mau meminta maaf. Mau memaafkan.
Danang memandang rumah mereka. Rumah sederhana. Temboknya tidak tinggi. Catnya mulai mengelupas di beberapa tempat. Tidak besar. Tidak mewah. Tapi penuh cerita. Penuh perjuangan. Penuh cinta.
Dulu rumah itu hampir kehilangan kehangatan. Tapi kini kehangatan itu kembali. Bahkan lebih kuat dari sebelumnya. Karena dibangun bukan hanya oleh kebahagiaan. Bukan hanya oleh tawa. Bukan hanya oleh cinta yang muda dan naif. Tapi juga oleh luka yang berhasil mereka lalui bersama. Oleh air mata yang mereka hapus bersama. Oleh kecewa yang mereka obati bersama. Dan tidak ada fondasi yang lebih kuat dari itu. Tidak ada.
BAB XXX
Bojoku Galak
Ada orang yang menunjukkan cinta melalui kata kata. Kata kata manis yang diucapkan setiap pagi. Kata kata romantis yang ditulis dalam kartu. Kata kata pujian yang membuat hati berbunga bunga.
Ada yang menunjukkan cinta melalui hadiah. Perhiasan mahal. Bunga segar. Kue kesukaan. Barang barang yang dibeli dengan uang, tapi diberikan dengan hati.
Ada yang menunjukkan cinta melalui perhatian yang lembut dan menenangkan. Sentuhan di saat sedih. Pelukan di saat rapuh. Kebersamaan di saat sendiri.
Tapi ada pula orang orang yang mencintai dengan cara yang tidak selalu mudah dipahami. Mereka mencintai melalui kekhawatiran. Melalui teguran yang terdengar keras. Melalui omelan yang tidak ada habisnya. Melalui kemarahan yang lahir bukan dari kebencian, tapi dari rasa takut kehilangan. Mereka tidak tahu cara mencintai dengan kata kata manis. Mereka tidak pandai merangkai puisi. Mereka tidak terbiasa mengungkapkan perasaan dengan cara yang lembut. Tapi cinta mereka nyata. Sekuat batu karang. Setegar pohon beringin. Sedalam lautan.
Dan setelah bertahun tahun menjalani kehidupan bersama Sintia—setelah puluhan pertengkaran, setelah ratusan air mata, setelah ribuan kata kata yang terlontar dalam kemarahan—akhirnya Danang memahami satu hal. Satu hal yang paling penting dalam hidupnya.
Perempuan yang selama ini sering disebut galak oleh tetangga. Perempuan yang sering dianggap terlalu keras oleh mertuanya. Perempuan yang sering disalahpahami oleh hampir semua orang. Adalah orang yang paling tulus mencintainya. Tidak ada yang lebih tulus. Tidak ada yang lebih setia. Tidak ada yang lebih kuat.
Pagi itu suasana rumah terasa sangat damai.
Matahari baru saja naik. Cahaya keemasan masuk melalui jendela ruang tamu, menciptakan garis garis terang di lantai keramik yang sudah mulai kusam. Burung burung kecil berkicau di pohon mangga yang tumbuh di depan rumah. Suara mereka riang. Tidak peduli dengan masalah manusia.
Di dapur, seperti biasa, Sintia sudah sibuk sejak pagi. Suara peralatan masak terdengar bersahut sahutan. Wajan berdecak. Spatula membalik telur. Air mendidih di panci.
Sesekali terdengar pula suaranya yang keras memanggil anak anak. Memerintah. Mengingatkan. Seperti biasa. Seperti pagi pagi sebelumnya. Seperti ribuan pagi yang telah lewat.
"Dinda! Rambutmu belum dirapikan! Jangan biarkan kusut seperti sarang burung!"
"Iya, Bu!"
"Bima ! Jangan main ponsel terus! Matanya rusak nanti!"
"Sebentar, Bu!"
"Jangan sebentar! Sekarang juga!"
"Cepat sarapan sebelum terlambat! Nanti kalian ketinggalan sekolah!"
Danang yang duduk di ruang tamu sambil membaca koran—koran lama, karena yang baru belum sempat dibeli—hanya tersenyum. Tersenyum sendiri. Tersenyum kecil. Tersenyum yang tidak ia sadari.
Dulu suara itu sering membuatnya kesal. Dulu ia sering mengeluh dalam hati. "Kok galak amat sih? Apa tidak bisa bicara dengan lembut? Apa harus selalu keras?" Tapi kini ia justru merasa tenang mendengarnya. Sangat tenang.
Karena suara itu berarti rumah mereka hidup. Suara itu berarti ada seseorang yang peduli. Ada seseorang yang mengatur. Ada seseorang yang tidak ingin keluarganya berantakan. Ada seseorang yang bekerja keras setiap hari, tanpa lelah, tanpa libur, tanpa mengeluh.
Suara itu adalah denyut nadi rumahnya. Dan tanpa suara itu, rumahnya akan mati. Sunyi. Sepi. Kosong.
Tak lama kemudian Sintia keluar dari dapur. Tangannya membawa dua cangkir kopi. Satu untuk Danang. Satu untuk dirinya sendiri. Ia duduk di kursi sebelah.
"Kok senyum senyum sendiri? Lagi ngelamun apa?" tanyanya sambil meletakkan cangkir di atas meja.
Danang menatap istrinya. Wajahnya masih sama. Masih cantik. Meskipun sekarang ada kerutan halus di sudut matanya. Meskipun sekarang ada beberapa helai rambut putih yang mulai muncul. Tetap cantik. Bahkan lebih cantik dari hari pertama mereka bertemu.
"Lagi berpikir, Tin."
"Berpikir apa?"
"Kamu tahu tidak, kamu itu cantik."
Sintia langsung berhenti bergerak. Tangannya yang sedang mengangkat cangkir berhenti di udara. Ia menatap Danang dengan curiga. Matanya menyipit.
"Kenapa? Kamu mau minta uang? Atau kamu lupa sesuatu? Atau kamu sedang ada maunya?"
Danang tertawa. Terbahak bahak. "Memangnya harus ada maunya dulu baru boleh bilang begitu?"
"Biasanya begitu. Kamu tidak pernah bilang aku cantik tanpa ada maunya."
"Ya kali ini tidak ada maunya. Sungguhan. Kamu cantik."
Sintia masih tidak percaya. Tapi pipinya merona. Merah. Kemerahan. Seperti tomat matang.
Anak anak yang sedang sarapan di meja makan melihat pemandangan itu. Mereka langsung ikut menggoda.
"Wah, Ayah romantis!" teriak Bima sambil mengunyah roti.
"Wajah Ibu merah!" tambah Dinda sambil tertawa. "Kayak kepiting rebus!"
Sintia langsung memelotot. Matanya membulat. "Kalian berdua! Berangkat sekolah sekarang juga! Jangan ngaret!"
Bima dan Dinda tertawa terbahak bahak. Mereka berlari keluar rumah sambil masih membawa bekal. Bima hampir jatuh karena terburu buru. Dinda melepaskan sandal jepitnya karena lepas saat berlari.
Danang masih tersenyum memandangi semuanya. Rumah yang ramai. Rumah yang berisik. Rumah yang kadang kacau. Tapi rumah. Rumahnya.
Setelah rumah kembali sepi—setelah Bima dan Dinda berangkat sekolah, setelah suara motor mereka menghilang di tikungan—Danang bersiap berangkat bekerja.
Ia kini telah beberapa bulan bekerja di tempat baru. Perusahaan yang menerimanya setelah PHK dulu. Gajinya lebih baik. Lingkungannya lebih bersahabat. Atasannya lebih menghargai. Keadaan ekonomi keluarga mulai membaik. Perlahan. Sedikit demi sedikit. Tidak instan. Tapi pasti.
Hubungan keluarga besar juga semakin harmonis. Surya dan Deni sudah saling bicara lagi. Mereka bahkan sering terlihat bersama di acara keluarga. Paman Harun datang setiap minggu. Bu Sulastri tersenyum lebih sering. Banyak luka yang telah sembuh. Bukan semua. Masih ada bekas. Tapi tidak lagi berdarah. Tidak lagi terasa perih setiap kali diingat.
Sebelum berangkat, Danang berdiri di depan pintu. Membalikkan badan. Menatap Sintia yang sedang merapikan meja makan.
"Aku berangkat, Tin."
"Iya. Hati hati di jalan. Jangan ngebut. Jangan lupa bawa bekal. Jangan telat pulang."
"Kamu juga. Jaga diri. Jangan terlalu lelah."
Kalimat kalimat sederhana. Kalimat yang sudah diucapkan ribuan kali. Tapi kini terasa jauh lebih berarti. Karena mereka tahu. Mereka tahu betapa berharganya kebersamaan. Mereka tahu betapa rapuhnya hidup. Mereka tahu bahwa suatu saat, salah satu dari mereka bisa pergi dan tidak kembali. Maka setiap "hati hati" adalah doa. Setiap "jangan ngebut" adalah cinta. Setiap "jangan terlalu lelah" adalah rasa khawatir yang tidak bisa diungkapkan dengan kata kata lain.
Di kantor, Danang menjalani pekerjaannya seperti biasa. Tapi sepanjang hari pikirannya terus dipenuhi berbagai kenangan. Tentang masa lalu. Tentang masa masa sulit yang pernah mereka lalui.
Tentang pertengkaran. Tentang teriakan. Tentang air mata yang jatuh di malam hari.
Tentang malam ketika ia hampir menyerah. Tentang malam ketika ia meninggalkan rumah di tengah hujan. Tentang malam ketika ia merasa tidak sanggup lagi.
Tentang pagi ketika ia kembali. Tentang pelukan Dinda yang erat. Tentang tatapan Bima yang diam tapi penuh arti.
Tentang kotak tabungan Sintia. Kotak kayu sederhana yang berisi uang hasil sisihan bertahun tahun. Uang yang tidak pernah ia minta. Uang yang tidak pernah ia ketahui. Uang yang disimpan diam diam untuk saat paling sulit.
Tentang saat Sintia tetap berdiri di sampingnya. Ketika semua terasa runtuh. Ketika dunia seolah meninggalkannya. Ketika ia merasa tidak berharga. Sintia tetap ada. Tidak pergi. Tidak menyerah. Tidak mundur.
Dan semakin ia mengingat semuanya, semakin ia memahami. Semakin ia bersyukur. Semakin ia sadar betapa berharganya perempuan yang ada di rumahnya.
Sore hari. Perjalanan pulang.
Danang melewati jalan yang sama. Jalan yang biasa ia lewati bertahun tahun lalu. Jalan yang pernah menjadi saksi berbagai kegelisahannya. Jalan yang pernah ia lalui dengan hati penuh amarah. Jalan yang pernah membuatnya berpikir untuk menyerah pada rumah tangganya.
Tapi kini semuanya terasa berbeda. Pepohonan di pinggir jalan terlihat lebih hijau. Langit terlihat lebih biru. Udara terasa lebih segar. Bukan karena alam yang berubah. Tapi karena cara pandangnya yang telah berubah.
Sesampainya di rumah, Danang melihat Sintia sedang menyiram bunga di halaman. Bunga mawar. Bunga kertas. Bunga pukul empat. Bunga bunga sederhana yang ia tanam di pot pot bekas cat. Tubuhnya sedikit membungkuk. Tangannya hati hati menuang air.
Pemandangan yang sederhana. Sangat sederhana. Hampir tidak berarti bagi orang yang lewat. Tapi entah mengapa, bagi Danang, pemandangan itu membuat dadanya terasa hangat. Membuat matanya berkaca kaca. Membuat jantungnya berdetak lebih lambat, lebih tenang, lebih damai.
Sintia menoleh. "Kok diam saja? Masuk sana. Nanti kena matahari."
Danang tersenyum. "Aku cuma sedang berpikir."
"Pasti aneh aneh. Pikiran kamu selalu aneh aneh."
"Tidak. Kali ini serius."
"Lalu?"
"Aku sedang bersyukur, Tin."
Sintia mengernyit. "Bersyukur karena apa?"
Danang berjalan mendekat. Berhenti tepat di depan istrinya. Lalu berkata pelan, dengan suara yang tidak pernah ia keluarkan sebelumnya, "Karena Tuhan mempertemukanku denganmu. Karena Tuhan tidak menyerahkan aku kepada orang lain. Karena Tuhan memberikan kamu untuk aku."
Sintia terdiam. Mulutnya terkunci. Matanya mulai berkaca kaca. Bibirnya bergetar. Ia tidak bisa berkata apa apa.
Malam harinya. Setelah anak anak tidur. Setelah rumah kembali sunyi. Setelah lampu lampu dimatikan satu per satu, hanya menyisakan lampu kecil di ruang tamu.
Danang kembali duduk di teras. Kebiasaan yang tidak pernah hilang. Kebiasaan yang sudah menjadi bagian dari dirinya. Langit malam terlihat indah. Bintang bintang bertaburan. Bulan separuh muncul dari balik awan tipis. Angin berembus pelan, membawa aroma bunga mawar dari halaman.
Tak lama kemudian Sintia menyusul. Seperti biasa. Seperti ritual yang tidak pernah terucap. Tangannya membawa dua cangkir teh hangat. Teh jahe. Karena malam sedikit dingin.
"Kamu suka sekali duduk di sini," kata Sintia sambil duduk di samping Danang.
"Karena di sini aku bisa berpikir. Di sini aku bisa merenung. Di sini aku bisa melihat langit. Di sini aku bisa mengingat."
"Mengingat apa?"
"Mengingat semua yang telah kita lalui. Yang pahit. Yang manis. Yang menyakitkan. Yang membahagiakan."
Danang memandang wajah istrinya. Lama. Sangat lama. Matanya menelusuri setiap garis di wajah itu. Kerutan di kening. Kerutan di sudut mata. Bekas jerawat di pipi. Semua. Seolah ia ingin mengingat setiap detail. Seolah ia takut kehilangan.
"Aku sedang memikirkan judul cerita hidup kita," kata Danang.
Sintia tertawa kecil. "Memangnya apa?"
"Bojoku Galak."
Sintia langsung memukul lengan Danang. "Kamu ya! Tidak pernah serius!"
Danang tertawa. Tapi tangannya tetap menggenggam tangan Sintia. Tidak melepaskan.
"Tapi sekarang aku tahu arti sebenarnya," lanjut Danang. "Dulu, waktu pertama kali kita menikah, aku mengira galak itu kekurangan. Aku mengira itu kelemahanmu. Aku mengira itu sesuatu yang harus aku terima dengan berat hati."
"Lalu sekarang?"
"Sekarang aku tahu itu cara kamu mencintai. Itu caramu menunjukkan perhatian. Itu caramu mengatakan 'aku peduli'. Itu caramu mengatakan 'aku takut kehilangan kamu'. Itu caramu."
Air mata perlahan menggenang di mata Sintia.
Danang menggenggam tangannya lebih erat. "Tidak ada perempuan yang lebih setia menemaniku ketika aku jatuh. Tidak ada. Ketika aku kehilangan pekerjaan, kamu tetap ada. Ketika aku hampir putus asa, kamu yang mengingatkan. Ketika aku ingin menyerah, kamu yang memegang tanganku."
"Tidak ada perempuan yang lebih peduli pada keluargaku, Tin. Pada anak anak kita. Pada ibuku. Pada adikku. Kamu marah karena kamu peduli. Kamu kesal karena kamu tidak mau keluarga ini hancur."
"Tidak ada perempuan yang lebih kuat menghadapi hidup bersamaku. Aku sudah melihat. Aku sudah merasakan. Aku sudah mengalami. Kamu kuat, Tin. Kamu jauh lebih kuat dari yang aku kira. Lebih kuat dari yang orang orang kira."
"Dan tidak ada perempuan lain yang lebih tulus mencintaiku selain kamu. Tidak ada. Tidak akan pernah ada."
Air mata jatuh di pipi Sintia. Jatuh deras. Tidak bisa ditahan lagi. Bukan air mata sedih. Bukan air mata kecewa. Bukan air mata marah. Tapi air mata haru. Air mata bahagia. Air mata lega.
Karena perjuangannya selama ini—perjuangan yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun, perjuangan yang sering ia lakukan sendirian, perjuangan yang hampir selalu tidak dihargai—akhirnya dipahami. Bukan oleh tetangga. Bukan oleh mertua. Bukan oleh orang lain. Tapi oleh orang yang paling penting. Oleh orang yang paling ia cintai. Oleh suaminya sendiri.
"Terima kasih, Danang," bisiknya. "Terima kasih sudah tetap di sini. Terima kasih sudah tidak pergi."
"Terima kasih kembali, Tin. Karena kamu yang mengajarkan aku arti cinta yang sesungguhnya. Bukan cinta yang dibungkus kata kata manis. Tapi cinta yang bertahan. Cinta yang tetap tinggal. Cinta yang tidak menyerah."
Malam semakin larut. Tapi hati mereka terasa terang. Sangat terang.
EPILOG
Tidak Semua Kemarahan Adalah Kebencian
Waktu adalah guru yang paling jujur.
Ia tidak pernah terburu buru. Tidak pernah memaksa. Tidak pernah memilih siapa yang akan ia ajari. Tapi ia selalu berhasil menunjukkan makna dari setiap peristiwa yang pernah terjadi. Apa yang dahulu terasa menyakitkan, suatu hari bisa menjadi pelajaran. Apa yang dahulu dianggap musibah, suatu hari bisa menjadi berkah. Apa yang dahulu disalahpahami, suatu hari bisa menjadi sesuatu yang sangat berharga.
Begitulah perjalanan hidup Danang dan Sintia. Perjalanan yang tidak selalu mudah. Perjalanan yang dipenuhi air mata, kesalahpahaman, pertengkaran, pengorbanan, dan cinta yang sering kali tidak mampu mereka ungkapkan dengan kata kata. Tapi justru perjalanan itulah—dengan segala lika likunya, dengan segala pahit manisnya, dengan segala jatuh bangunnya—yang membuat mereka sampai pada titik ini. Titik di mana mereka benar benar memahami arti sebuah keluarga. Bukan keluarga yang sempurna. Tapi keluarga yang utuh. Bukan keluarga tanpa masalah. Tapi keluarga yang tetap bertahan meskipun masalah datang silih berganti.
Lima tahun telah berlalu.
Lima tahun sejak badai terakhir. Lima tahun sejak pertengkaran paling keras yang hampir menghancurkan segalanya. Lima tahun sejak Danang meninggalkan rumah di tengah hujan, dan Sintia menangis sendirian. Kini semuanya tinggal cerita. Cerita yang kadang membuat mereka tersenyum. Kadang membuat mereka menggeleng. Kadang membuat mereka bersyukur.
Pagi itu matahari bersinar cerah di atas Kampung Mekarsari. Udara terasa segar. Embun masih menempel di rumput rumput liar di pinggir jalan. Pepohonan yang tumbuh di sekitar rumah bergoyang perlahan tertiup angin.
Rumah kecil milik Danang dan Sintia kini terlihat berbeda. Bukan karena ukurannya menjadi lebih besar. Bukan karena dicat warna baru. Bukan karena dipenuhi barang barang mewah. Tapi karena rumah itu dipenuhi ketenangan. Dipenuhi tawa. Dipenuhi rasa syukur. Dulu, rumah ini adalah saksi pertengkaran. Sekarang, rumah ini adalah saksi kebahagiaan. Dulu, dinding dindingnya mendengar teriakan. Sekarang, dinding dindingnya mendengar tawa. Dulu, lantainya basah oleh air mata. Sekarang, lantainya hangat oleh pelukan.
Di halaman rumah, Danang sedang memangkas tanaman bunga. Bunga mawar. Bunga kertas. Bunga pukul empat. Tanaman yang dulu ia anggap repot, sekarang ia rawat dengan sabar. Rambutnya kini mulai dihiasi beberapa helai uban. Usia tidak bisa ditipu. Tapi senyumnya terlihat jauh lebih tenang. Jauh lebih damai. Jauh lebih bahagia.
Sementara di teras rumah, Sintia sedang menyusun beberapa pot bunga baru yang baru saja dibelinya dari pasar. Wajahnya juga tidak banyak berubah. Masih tegas. Masih cekatan. Masih memiliki sorot mata yang kuat. Dan tentu saja... masih suka marah. Beberapa hal tidak pernah berubah. Dan mungkin tidak perlu berubah.
"Bima ! Motornya jangan ngebut! Lu jalannya kayak lagi balap liar!"
Seorang pemuda berusia dua puluh tahun yang sedang membersihkan sepeda motor di halaman langsung tersenyum. "Iya, Bu. Hati hati."
"Jangan cuma bilang iya! Dilakuin! Ganti gigi pelan pelan!"
"Iya, Bu!"
Tak jauh dari sana, Dinda yang kini duduk di bangku kuliah semester akhir tertawa kecil. Gelaknya terdengar riang. "Ibu tidak berubah sama sekali, ya."
"Kamu juga jangan pulang malam terus!" balas Sintia sambil memelototi putrinya. "Kuliah siang, kok pulangnya tengah malam?"
"Iya, Bu. Ada tugas kelompok."
"Tugas kelompok apalagi yang sampai tengah malam?"
"Iya, Bu."
Danang yang mendengar semuanya dari halaman hanya tertawa pelan. Pemandangan seperti itu sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Dan entah mengapa, terasa sangat membahagiakan. Membahagiakan dengan cara yang sederhana. Membahagiakan dengan cara yang tidak bisa dibeli dengan uang. Membahagiakan dengan cara yang tidak perlu dirayakan dengan pesta.
Siang hari.
Keluarga besar kembali berkumpul di rumah Bu Sulastri. Rumah yang dulu menjadi saksi pertengkaran sengit. Kini menjadi saksi kebersamaan yang hangat.
Bu Sulastri sudah sangat tua. Jalan nya sudah tidak stabil. Ingatannya sudah mulai berkurang. Kadang lupa mana cucu yang mana. Tapi wajahnya terlihat jauh lebih tenang. Tidak ada lagi beban rahasia yang harus disimpan. Tidak ada lagi konflik warisan yang menguras tenaga dan pikiran. Tidak ada lagi tekanan menjadi penengah di antara anak anak yang bertengkar. Yang ada hanya keluarga. Keluarga yang akhirnya kembali utuh. Tidak seperti dulu. Tapi utuh. Dan itu cukup.
Surya dan Deni kini bekerja sama. Mereka bersama sama mengelola lahan keluarga. Lahan yang dulu hampir membuat mereka bertengkar. Lahan yang dulu nyaris memecah belah persaudaraan. Sekarang mereka garap bersama. Bagi hasil bersama. Pulang bersama.
Paman Harun sering datang membawa hasil kebunnya. Pisang. Singkong. Ubi. Kadang sayur mayur. Ia tidak pernah datang dengan tangan kosong. Dan setiap kali datang, ia selalu tersenyum. Senyum yang tulus. Senyum yang lega. Karena rahasia yang dulu membebani hatinya sudah tidak ada. Semua sudah terungkap. Semua sudah selesai.
Sementara anak anak dan cucu cucu berlarian di halaman. Mereka bermain kejar kejaran. Tertawa lepas. Menangis jika jatuh. Berdamai lagi. Seperti tidak ada masalah. Seperti dunia hanya untuk bermain.
Suasana yang dulu terasa mustahil. Kini menjadi kenyataan. Suasana yang dulu hanya bisa mereka impikan. Kini mereka nikmati.
Bu Sulastri memanggil Danang. "Nak."
"Iya, Bu."
Perempuan tua itu tersenyum. Matanya berkaca kaca. "Ayahmu pasti bangga. Kalau dia masih hidup, dia akan duduk di sana." Ia menunjuk kursi kosong di sudut ruangan. "Dia akan tersenyum. Dia akan bilang, 'Bu, lihat anak anak kita. Mereka baik baik saja.'"
Danang menunduk. Dadanya terasa hangat. Sudah bertahun tahun Pak Wiryo meninggal dunia. Tapi kenangan tentang lelaki itu—tentang perjuangannya, tentang pengorbanannya, tentang cintanya yang diam diam—tidak pernah hilang. Terutama setelah seluruh kebenaran tentang hutang itu terungkap. Setelah semua orang tahu bahwa Pak Wiryo bukanlah lelaki yang boros. Bukan lelaki yang tidak bertanggung jawab. Tapi lelaki yang memikul beban orang lain. Lelaki yang membantu tanpa pamrih. Lelaki yang diam diam menjaga keluarga.
"Lihat keluarga kita sekarang, Nak," lanjut Bu Sulastri. "Lihat mereka. Surya dan Deni sudah akur. Paman Harun sering datang. Anak anak bermain bersama. Tidak ada lagi pertengkaran. Tidak ada lagi kecurigaan. Tidak ada lagi dendam."
Danang memandang ke sekeliling. Matanya menangkap setiap wajah. Surya yang sedang tertawa. Deni yang sedang bercanda. Paman Harun yang sedang mengupas pisang untuk cucu cucunya. Ibu ibu yang sedang berbincang di dapur. Anak anak yang berlarian.
Dan untuk sesaat, Danang merasa seolah ayahnya sedang ikut menyaksikan semua itu. Dari suatu tempat yang jauh. Dari suatu tempat yang tidak terlihat. Dari surga. Dengan senyum yang lega.
Menjelang sore. Acara keluarga selesai. Satu per satu anggota keluarga berpamitan. Ada yang pulang ke rumah masing masing. Ada yang masih berdiri di halaman sambil berbincang. Ada yang saling berpelukan sebelum berpisah.
Danang dan Sintia pulang ke rumah mereka. Rumah yang telah menjadi saksi begitu banyak cerita. Rumah yang pernah hampir kehilangan kehangatan. Rumah yang pernah dipenuhi kemarahan dan air mata. Tapi juga rumah yang menjadi tempat lahirnya pengampunan dan cinta. Rumah yang sekarang berdiri kokoh. Bukan karena tiangnya yang kuat. Tapi karena penghuninya yang memilih untuk tetap bersama.
Saat matahari mulai tenggelam di ufuk barat, saat langit berubah warna dari biru menjadi jingga, dari jingga menjadi merah, dari merah menjadi ungu, Danang duduk di teras rumah. Kebiasaan lamanya masih belum berubah. Tidak akan pernah berubah. Teras itu adalah tempatnya merenung. Tempatnya mengingat. Tempatnya bersyukur.
Di sampingnya, secangkir teh hangat. Teh jahe. Seperti yang Sintia selalu buatkan. Di halaman, Sintia sedang memarahi beberapa anak kecil yang bermain bola terlalu dekat dengan pot bunga. Anak anak tetangga. Anak anak yang tidak kenal takut.
"Heh! Hati hati! Nanti bunganya rusak! Itu bunga kesayangan aku!"
"Maaf, Bu!"
"Jangan cuma minta maaf! Jauhkan bolanya! Main di lapangan sana!"
Anak anak itu langsung berlarian sambil tertawa. Tidak takut. Karena mereka tahu Sintia tidak seganas kelihatannya. Mereka tahu di balik suara keras itu, ada hati yang lembut. Mereka tahu di balik tatapan melotot itu, ada senyum yang tersembunyi.
Danang memperhatikan pemandangan tersebut sambil tersenyum. Senyum yang penuh kenangan. Karena tiba tiba ia teringat masa lalu.
Teringat pada pertengkaran pertama mereka. Teringat pada rasa lelah yang hampir membuatnya menyerah. Teringat pada malam malam yang penuh kesalahpahaman. Teringat pada dirinya yang pernah hampir kehilangan arah. Teringat pada perempuan yang sekarang berdiri di halaman itu. Perempuan yang dulu sering ia salah pahami. Perempuan yang dulu sering ia anggap terlalu keras. Perempuan yang dulu sering ia nilai dari luarnya saja. Perempuan yang ternyata tidak pernah berhenti mencintainya. Tidak pernah. Meskipun kadang caranya aneh. Meskipun kadang caranya membuatnya kesal. Meskipun kadang caranya sulit dipahami. Tapi cinta. Cinta sungguhan. Cinta sejati. Cinta yang tidak akan pernah ia temukan di tempat lain.
Tak lama kemudian Sintia masuk ke teras. Duduk di samping Danang. Menghela napas. "Anak anak zaman sekarang. Tidak tahu diri. Main bola dekat dekat pot bunga. Padahal sudah saya bilang berkali kali."
Danang tertawa kecil. "Kamu tahu tidak?"
"Tahu apa?"
"Aku masih berpikir satu hal. Setelah sekian lama. Setelah semua yang kita lalui."
Sintia mengernyit. "Apa lagi?"
"Apa sih yang tidak kamu pikirkan? Kamu ini suka banget berpikir."
Danang memandang istrinya. Lama. Sangat lama. Matanya menatap wajah yang sama. Wajah yang sudah ia lihat setiap hari selama bertahun tahun. Tapi tidak pernah bosan. Tidak akan pernah bosan.
"Orang orang mungkin masih bilang istriku galak," kata Danang pelan. "Tetangga. Teman teman. Kerabat. Bahkan kadang keluarga sendiri. Mereka masih suka berbisik di belakang. Masih suka bergosip. Masih suka menilai."
Sintia memutar bola mata. "Biarkan saja. Aku sudah tidak peduli. Sudah lewat masanya aku peduli sama omongan orang."
"Tapi mereka tidak tahu," lanjut Danang. "Mereka tidak tahu bahwa di balik semua kemarahan itu, di balik semua teguran itu, di balik semua suara keras itu... ada hati yang sangat besar. Hati yang mampu memaafkan meskipun sering dilukai. Hati yang mampu bertahan meskipun sering diabaikan. Hati yang mampu mencintai meskipun cinta itu tidak selalu dibalas dengan cara yang sama."
Sintia terdiam. Matanya mulai berkaca kaca.
"Mereka tidak tahu bahwa di balik semua omelan itu, ada kesetiaan yang luar biasa. Kesetiaan yang tidak akan pernah tergantikan. Kesetiaan yang bertahan ketika semua orang sudah pergi. Kesetiaan yang tidak pernah menuntut balas."
"Mereka tidak tahu bahwa di balik semua kemarahan itu, ada cinta yang tidak pernah menyerah. Cinta yang tetap menyala meskipun badai datang silih berganti. Cinta yang tetap utuh meskipun diuji berkali kali. Cinta yang tidak akan pernah padam. Tidak akan pernah."
Sintia tidak bisa berkata apa apa. Air mata jatuh di pipinya. Jatuh pelan. Jatuh deras. Jatuh tanpa suara.
Danang menggenggam tangannya. Seperti yang telah dilakukannya selama bertahun tahun. Tapi kali ini dengan pemahaman yang jauh lebih dalam. Dengan kesadaran yang jauh lebih utuh. Dengan rasa syukur yang tidak terkira.
"Lima tahun lalu, Tin. Aku hampir kehilangan semuanya. Hampir kehilangan pekerjaan. Hampir kehilangan rumah. Hampir kehilangan anak anak. Hampir kehilangan diriku sendiri. Tapi aku tidak kehilangan kamu. Kamu tetap di sini. Kamu tidak pergi. Kamu tidak menyerah. Kamu tidak mundur."
Danang menatap mata istrinya.
"Terima kasih, Tin. Karena tetap tinggal. Karena bertahan. Karena tidak lelah mencintai orang yang sering kali tidak pantas dicintai."
Angin sore berembus lembut. Langit jingga perlahan berubah menjadi senja. Daun daun kering beterbangan. Burung burung pulang ke sarangnya.
Di penghujung hari itu, di penghujung cerita ini, di penghujung perjalanan panjang yang penuh air mata dan tawa, Danang berkata dalam hati. Bukan dengan suara. Tapi dengan perasaan. Bukan dengan kata kata. Tapi dengan hati.
Cinta ternyata bukan tentang menemukan pasangan yang sempurna. Bukan tentang hidup tanpa pertengkaran. Bukan tentang selalu bahagia setiap saat. Cinta adalah memilih tetap bersama ketika kehidupan sedang tidak baik baik saja. Memilih bertahan ketika lebih mudah untuk menyerah. Memilih memahami ketika lebih mudah untuk menghakimi. Memilih memaafkan ketika hati sedang terluka. Memilih pulang ketika semua orang memilih pergi.
Karena pada akhirnya, tidak semua kemarahan lahir dari kebencian. Kadang, kadang... justru lahir dari terlalu dalamnya cinta. Cinta yang tidak bisa diungkapkan dengan kata kata. Cinta yang hanya bisa keluar melalui kekhawatiran. Cinta yang bentuknya adalah omelan. Cinta yang bentuknya adalah teguran. Cinta yang bentuknya adalah kemarahan. Tapi cinta. Cinta sungguhan. Cinta sejati. Cinta yang bertahan seumur hidup.
Danang tersenyum. Senyum yang paling tulus. Senyum yang paling dalam. Senyum yang paling lama tidak ia rasakan. Lalu ia menggenggam tangan Sintia. Lebih erat. Lebih hangat. Lebih pasti.
"Iya. Bojoku memang galak. Tapi dialah rumah terbaik yang pernah Tuhan berikan untukku. Dan aku tidak akan menukarnya dengan apa pun. Tidak dengan harta. Tidak dengan tahta. Tidak dengan wanita mana pun. Tidak dengan apa pun."
Sintia tidak mendengar kata kata itu karena Danang tidak mengucapkannya dengan suara. Tapi ia merasakannya. Merasakannya melalui genggaman tangan. Merasakannya melalui detak jantung. Merasakannya melalui kehadiran. Dan itu cukup. Itu lebih dari cukup.
Senja perlahan tenggelam. Langit berubah keemasan. Burung burung berhenti berkicau. Angin berhenti bertiup. Seolah alam ikut diam. Ikut mendengarkan. Ikut merasakan.
Dan kisah mereka berakhir. Bukan dengan kesempurnaan. Bukan dengan happy ending yang dibuat buat. Bukan dengan "mereka hidup bahagia selamanya" yang klise. Tapi dengan sesuatu yang jauh lebih indah. Sesuatu yang jauh lebih nyata. Sesuatu yang jauh lebih berharga.
Pemahaman. Kesetiaan. Dan cinta. Cinta yang berhasil bertahan. Cinta yang berhasil melewati waktu. Cinta yang tidak pernah padam. Cinta yang sederhana. Tapi abadi.
Bojoku Galak.
TAMAT
BOJOKU GALAK
Tidak Semua Kemarahan Lahir dari Kebencian, Kadang dari Terlalu Dalamnya Cinta
Oleh: Slamet Riyadi



Slamet Riyadi
29 Juli 2025 03:27:50
Semoga kita bisa kerjasama bu. ...