Desa Dabulon
Kecamatan Lumbis, Kabupaten Nunukan
Sinopsis Roman: Jejak Senja Di Ujung Desa

Sinopsis Roman: Jejak Senja di Ujung Desa
Si Amat lahir di tengah badai di Desa Awan Biru, sebuah desa terpencil dengan jalan tanah merah dan listrik yang sering padam. Sejak kecil, rasa ingin tahunya yang besar, ditandai dengan membongkar radio Pak Darno untuk mencari “orang di dalam kotak”, membawanya belajar membaca dari Serena, seorang gadis pendatang, dan kemudian mendalami komputer di warnet Kecamatan Kabut Merah. Setelah lulus SMP, ia merantau ke kota kabupaten, mengalami patah hati dan kegagalan masuk perguruan tinggi, namun tetap tekun belajar teknologi dan membuat blog tentang desanya.
Pulang ke desa di usia 21 tahun,Si Amat menjadi tenaga honorer pengelola website desa. Dengan laptop bekas dan modem USB lambat, ia membangun sistem informasi transparan, menghadapi konflik generasi dengan Pak Surono yang setia pada mesin ketik, serta fitnah politik saat Pilkades. Berkat ketekunan dan integritasnya, website desa berkembang, desa mendapatkan penghargaan, dan Amat diangkat sebagai Kepala Seksi Pelayanan Informasi. Ia menikah dengan Rania, memiliki anak bernama Anita, dan melatih generasi muda seperti Herman, yang sempat meretas website, menjadi penerus.
Setelah pensiun, Amat merasakan kehampaan namun akhirnya menemukan makna baru dalam berkebun, menulis buku, dan menjadi penasihat. Ia menyaksikan cucunya, Arjuna, menjadi kepala desa dan meneruskan transformasi digital. Di usia 70 tahun, Amat meninggal dengan tenang, meninggalkan warisan berupa desa digital model nasional. Jejaknya abadi dalam prasasti, museum, dan hati warga, membuktikan bahwa dari keterbatasan, mimpi besar bisa lahir dan mengubah dunia.



Slamet Riyadi
29 Juli 2025 03:27:50
Semoga kita bisa kerjasama bu. ...