Desa Dabulon
Kecamatan Lumbis, Kabupaten Nunukan
ROMAN EPIK PENJAGA

ROMAN EPIK PENJAGA
Sebuah Roman Epik tentang "Cinta, Pusaka, dan Pengorbanan: Sebuah Saga Lintas Generasi"
Oleh: Slamet Riyadi
DISCLAIMER
Roman ini adalah karya fiksi. Seluruh nama, tokoh, tempat, dan peristiwa merupakan hasil imajinasi penulis atau digunakan secara fiktif. Kesamaan dengan nama, peristiwa, atau tokoh yang masih hidup atau telah meninggal adalah kebetulan belaka dan tidak disengaja.
Tradisi "penjaga hati" yang digambarkan dalam roman ini bukanlah representasi dari satu suku, agama, atau kepercayaan tertentu di Nusantara maupun di belahan dunia mana pun. Ia adalah metafora sastra tentang bagaimana manusia memelihara ingatan, cinta, dan moral di tengah arus zaman yang terus berubah.
Beberapa bab dalam roman ini mengandung penggambaran konflik batin, kematian, kekerasan verbal dan fisik, serta pilihan moral yang berat. Pembaca bijak direkomendasikan untuk menyertainya dengan ketenangan hati dan kedewasaan berpikir.
Tidak ada tokoh yang sepenuhnya putih atau hitam. Sebagaimana hati manusia, semua tokoh dalam roman ini memiliki cahaya dan luka masing-masing.
Penulis tidak bertanggung jawab atas interpretasi sepihak yang keluar dari maksud sastra karya ini.
PERSEMBAHAN
Untuk Nenek yang mengajarkan syair pertama di dapur yang gelap.
Untuk air sungai yang tidak pernah berhenti mengalir, meski tidak ada yang mendengarnya.
Dan untuk hati yang masih mau dijaga, di zaman yang lebih suka membuangnya.
EPIGRAF
"Hati yang tidak dijaga akan diambil angin.
Hati yang dijaga terlalu keras akan retak oleh tangannya sendiri."
— Syair kuno dari gua pertapaan di hulu Sungai Cendana,
ditemukan kembali oleh seorang pengembara anonim pada 1873.
"Dan di antara mereka ada yang menjaga hati dengan diam,
sebab diam adalah bahasa yang tidak bisa dipalsukan."
— Penggalan bait Kitab Tujuh Penjaga, naskah lontar yang setengah terbakar.
PROLOG
Tidak ada yang tahu pasti kapan syair itu pertama kali diucapkan.
Yang tersisa hanyalah cerita lisan yang berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya, seperti api yang dipindahkan dari obor ke obor, kadang membesar, kadang hampir padam, tetapi tidak pernah benar-benar mati.
Cerita itu mengatakan bahwa pada suatu malam, di sebuah gua sempit di hulu Sungai Cendana, seorang pertapa tua sedang sekarat. Tubuhnya sudah tidak bisa digerakkan kecuali jari telunjuk tangan kanannya yang terus menulis di tanah. Tidak ada yang tahu aksara apa itu. Tidak ada yang bisa membacanya.
Tetapi sebelum napasnya yang terakhir keluar dari dadanya yang keropos, ia mengucapkan sepatah kalimat dengan suara yang begitu pelan hingga hanya dinding gua dan kelelawar yang menggantung di langit-langit yang mendengarnya.
"Hati yang tidak dijaga akan diambil angin."
Kemudian matanya terpejam. Dan untuk beberapa saat, gua itu menjadi sunyi yang begitu dalam hingga seolah-oleh waktu sendiri berhenti berdetak.
Lalu, tidak jauh dari mulut gua, seekor burung hantu berbunyi. Satu kali. Pendek. Seperti sebuah tanda.
Pertapa itu tidak pernah disebutkan namanya dalam cerita-cerita selanjutnya. Tetapi kalimat pertamanya terus hidup. Ia beranak-pinak. Ia bermetamorfosis.
Lambat laun, kalimat itu memiliki pasangan.
"Hati yang dijaga terlalu keras akan retak oleh tangannya sendiri."
Siapa yang menambahkan? Tidak ada yang tahu. Mungkin seorang nelayan yang kehilangan anaknya di laut. Mungkin seorang putri yang dikurung di menara. Mungkin seorang ibu yang melihat suaminya tewas dalam perang saudara.
Yang jelas, syair itu menjadi utuh. Dua baris. Seimbang. Seperti napas yang masuk dan keluar. Seperti cinta yang datang dan pergi.
Lalu syair itu mulai berkelana.
Dari gua ke desa. Dari desa ke dapur. Dari dapur ke pabrik gula. Dari pabrik gula ke sekolah-sekolah Belanda. Dari sekolah-sekolah itu ke toko-toko buku kecil di pinggir pasar. Dan dari toko-toko buku itu, suatu hari nanti, ke tangan seorang pemuda yang duduk di emperan toko sambil menunggu hujan reda.
Tetapi itu cerita lain. Cerita yang belum tiba waktunya.
Bagian Satu: Akar di Bawah Tanah
Pada suatu masa, di sebuah desa kecil di lereng gunung yang tidak pernah disebut dalam peta mana pun, hiduplah seorang perempuan tua yang biasa dipanggil Nini Mas Intan.
Ia bukan kepala desa. Ia bukan saudagar kaya. Ia bukan bangsawan. Tetapi setiap kali ada masalah yang tidak bisa diselesaikan oleh kepala desa, orang-orang akan berbisik, "Coba tanyakan pada Nini Mas Intan."
Rambutnya sudah putih semua. Kulitnya keriput seperti daun yang digulung matahari. Matanya sudah buram karena usia. Tetapi orang-orang percaya bahwa ia bisa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh mata biasa. Mereka menyebutnya mata hati.
Nini Mas Intan tidak pernah membantah. Ia juga tidak pernah membenarkan. Yang ia lakukan hanyalah duduk di kursi bambunya di bawah pohon asam tua, menghisap rokok daun nipah yang dilintingnya sendiri, dan mendengarkan. Sesekali ia mengangguk. Sesekali ia menggeleng. Sesekali ia tertawa kecil dengan suara yang serak seperti kerikil digesekkan ke tanah.
Dan setelah cukup mendengar, ia akan berkata satu atau dua kalimat. Bukan nasihat. Bukan juga ramalan. Hanya semacam pengingat yang anehnya selalu tepat.
Kepala desa yang hendak memulai perang kecil dengan desa tetangga, setelah mendengar kata-kata Nini Mas Intan, pulang dengan wajah muram dan membatalkan perangnya.
Seorang janda muda yang hendak bunuh diri karena ditinggal mati suaminya, setelah duduk di samping Nini Mas Intan selama sejam, pulang dengan senyum yang aneh di bibirnya. Ia tidak lebih bahagia, kata orang-orang. Tetapi ia tidak lagi ingin mati.
Seorang saudagar yang akan menghabiskan seluruh hartanya untuk judi, setelah bertemu Nini Mas Intan di jalan setapak dekat sungai, tiba-tiba berbalik arah dan membagikan berasnya kepada fakir miskin.
Tidak ada yang tahu bagaimana caranya. Dan Nini Mas Intan sendiri tidak pernah menjelaskan.
Tetapi pada suatu malam, menjelang tidur, salah seorang cucunya – yang masih kecil dan lugu – bertanya, "Nek, apa sih rahasianya?"
Nini Mas Intan terdiam lama. Lampu minyak di samping tempat tidurnya berkedip-kedip ditiup angin malam yang masuk melalui celah-celah dinding bambu.
"Rahasianya, Nak," kata Nini Mas Intan akhirnya dengan suara yang sangat lembut, "aku hanya mengingatkan mereka pada hati mereka sendiri. Sebab di dunia yang ramai ini, manusia paling sering lupa pada tempat tinggalnya yang paling pertama."
Dan cucu itu, yang belum mengerti arti dari kata-kata itu, hanya mengangguk-angguk lalu tertidur.
Nini Mas Intan membelai rambut cucunya. Matanya yang buram menatap kosong ke arah jendela. Di luar, burung hantu berbunyi. Satu kali. Pendek.
Perempuan tua itu tersenyum.
Ia tahu mautnya sudah dekat. Tetapi ia juga tahu sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak diceritakannya kepada siapa pun.
Bahwa tidak lama setelah ia mati, seorang anak laki-laki akan lahir di desa itu. Anak itu akan menangis terlalu keras. Dan semua orang akan mengira ia menangis karena takut.
Tetapi Nini Mas Intan tahu, di alam yang tidak lagi bisa dijangkau oleh tubuhnya, bahwa anak itu menangis karena ia sudah tahu betapa berat tugasnya kelak.
Menjaga hati tidak pernah mudah. Terutama hati yang sudah lama terluka.
Tetapi begitu ada satu orang yang bersedia menjaga, maka ia tidak benar-benar sendirian. Sebab di suatu tempat – mungkin di gua, mungkin di telaga, mungkin di dalam pusaka yang sudah berkarat – akan ada hati lain yang merespon.
Seperti gema. Seperti doa yang tidak putus-putus.
Itulah yang akan diceritakan roman ini.
Di ujung prolog ini, sebelum kita benar-benar masuk ke dalam babak pertama dari seratus bab yang panjang dan berliku, izinkan penulis menyampaikan satu hal.
Roman ini tidak ditulis untuk dibaca cepat.
Ia tidak memiliki kejutan di setiap sepuluh halaman. Ia tidak memiliki tikungan tajam yang membuat jantung berdebar setiap saat. Ia tidak berusaha menjadi sesuatu yang tidak pernah ia janjikan.
Roman ini ditulis seperti orang menanam padi. Perlahan. Dengan kesabaran yang hampir membosankan. Kadang tergenang air. Kadang kekeringan. Kadang diserang hama. Tetapi jika ia tumbuh, ia akan memberi makan banyak orang.
Demikian juga dengan cerita tentang Sultan Hasan, Putri Pandan Wangi, pusaka akik merah, dan cucu yang kelak bernama Zahra.
Jika pembaca bersabar, roman ini akan memberi sesuatu yang tidak bisa diberi oleh cerita-cerita yang terburu-buru. Ia akan memberi denyut.
Sebab pada akhirnya, menjaga hati adalah soal waktu. Dan waktu, seperti air sungai, tidak bisa dipaksa mengalir lebih cepat.
Mari kita mulai.
Dukuh Wangi, saat musim hujan belum tiba.
Seekor burung hantu terbang melintasi telaga larangan.
Dan di dalam rahim seorang perempuan, seorang anak mulai mengeja namanya sendiri sebelum bibirnya sempat terbentuk.
BAB I
Kelahiran di Malam Gerhana
Gerhana itu tidak datang dengan peringatan.
Tentu para ahli di kerajaan sudah menghitungnya berbulan-bulan sebelumnya. Tentu para petani yang mengamati langit setiap malam sudah mencium keanehan sejak matahari terbenam. Tetapi bagi Dukuh Wangi, desa kecil yang tidak memiliki ahli perbintangan dan yang petaninya terlalu sibuk menggemburkan tanah untuk sekadar menengadah ke langit, gerhana itu datang seperti tamu tak diundang yang tiba-tiba mengetuk pintu saat semua orang sedang lelap.
Awalnya hanya angin.
Bukan angin biasa yang biasa mendorong dedaunan kelapa itu dengan malas. Angin ini dingin. Bukan dingin yang biasa turun dari gunung saat malam mulai menjelang. Dingin ini menusuk hingga ke celah-celah tulang, hingga kakek-kakek yang biasa tidur di beranda membangunkan istri mereka dan bertanya, "Ada apa?"
Kemudian daun-daun mulai berbicara dengan bahasa yang tidak bisa dimengerti siapa pun. Mereka berbisik. Lalu berbisik lebih keras. Lalu berteriak. Dan ketika semua pohon di Dukuh Wangi berteriak bersamaan, suaranya seperti ombak yang akan menghancurkan dermaga.
Anjing-anjing desa mulai melolong. Satu per satu, kemudian serempak. Suara mereka aneh. Bukan lolongan biasa karena melihat bulan purnama atau karena mencium bau celeng hutan. Lolongan ini seperti ratapan. Seperti ada sesuatu yang akan mati dan mereka sudah menciumnya lebih dulu.
Kemudian cahaya mulai pudar.
Bulan yang sedetik tadi bersinar penuh dan sombong di langit seperti koin perak raksasa, mulai kehilangan pinggirannya. Sedikit demi sedikit. Perlahan. Seperti seseorang yang tenggelam dalam rawa dan hanya tangannya yang masih terlihat sebelum akhirnya lenyap sama sekali.
Seorang perempuan tua di ujung desa yang sedang menjemur garam berteriak, "Bulan dimakan!"
Belum genap teriakannya menggema, seluruh desa sudah bangun. Anak-anak menangis. Ibu-ibu menarik mereka ke dalam rumah dan menutup pintu dengan daun kelapa. Ayah-ayah berdiri di ambang pintu dengan parang di tangan, tidak tahu akan melawan apa karena musuh mereka adalah langit.
Dan di tengah kekacauan itu, di sebuah gubuk kecil yang atapnya sudah bolong di tiga tempat, seorang perempuan muda sedang berbaring di atas tikar anyaman pandan yang sudah usang. Perutnya besar. Sangat besar. Besar seperti perut yang berisi bukan satu, tetapi dua kehidupan sekaligus meski hanya satu yang akan lahir.
Namanya Dewi Rengganis.
Ia berusia dua puluh tiga tahun saat itu. Rambutnya hitam dan panjang hingga menyentuh pinggang, meski tidak pernah disisir dengan minyak kelapa seperti perempuan-perempuan lain di desa. Kulitnya sawo matang. Matanya teduh, bahkan saat sedang gelisah sekalipun. Dan di sudut bibir kirinya ada tahi lalat kecil yang oleh ibunya dulu dikatakan sebagai tanda bahwa ia akan menikah dengan lelaki yang datang dari jauh.
Itu benar. Suaminya, Hasan, seorang perantau yang tidak ada yang tahu asal-usulnya, datang ke Dukuh Wangi sepuluh tahun lalu dengan hanya membawa sebuah bungkusan kain dan sebilah keris pendek. Ia tidak banyak bicara. Ia tidak pernah bercerita tentang keluarganya. Yang ia lakukan hanyalah bekerja. Membuka ladang. Memancing di sungai. Kadang-kadang membantu tetangga memperbaiki rumah tanpa dibayar.
Orang-orang menerimanya karena ia baik. Dan ketika ia meminang Dewi Rengganis, tidak ada yang menolak meski tidak ada yang benar-benar mengenalnya.
Tetapi sekarang Hasan sedang tidak ada di rumah. Sejak dua minggu lalu, ia pergi ke hulu sungai untuk mencari kayu jati yang diminta kepala desa untuk perbaikan balai pertemuan. Seharusnya ia sudah pulang tiga hari yang lalu. Namun tidak ada kabar.
Dan malam ini, dengan perut yang mulai berkontraksi sejak sore, dengan gerhana yang tengah memangsa bulan, dan dengan seluruh desa yang histeris di luar, Dewi Rengganis berbaring sendirian di gubuknya yang gelap.
Tikarnya sudah basah.
Bukan oleh air.
"Ea... Ea... Ea..."
Suara itu terdengar dari luar. Bukan dari arah desa, tetapi dari arah hutan di belakang gubuk. Sebuah suara tua. Perempuan. Serak seperti gesekan daun kering.
Dewi Rengganis mencoba bangkit, tetapi rasa sakit yang menjalar dari perutnya ke tulang punggungnya membuatnya jatuh kembali ke tikar. Keringat dingin membasahi dahinya. Bibirnya gemetar.
"Ea... aku tahu kau sendirian."
Sosok itu muncul dari balik dinding bambu yang reyot. Seorang perempuan tua. Sangat tua. Lebih tua dari siapa pun yang pernah dilihat Dewi Rengganis. Rambutnya putih semua, tidak sehelai pun yang hitam. Kulitnya keriput seperti kerupuk yang digoreng terlalu lama. Matanya buram seperti air comberan. Tetapi ia berjalan tanpa tongkat. Tegap. Seperti kematian yang tidak takut pada siapa pun.
"Jangan takut," kata perempuan tua itu. "Aku Nini Mas Intan."
Dewi Rengganis belum pernah mendengar nama itu. Meski di seluruh desa, nama itu adalah nama yang membuat kakek-kakek menunduk dan kepala desa bicara dengan suara setengah berbisik.
"Aku... aku akan melahirkan," kata Dewi Rengganis dengan napas tersengal.
"Aku tahu," kata Nini Mas Intan. "Itu sebabnya aku datang."
Perempuan tua itu duduk di samping tikar dengan gerakan yang lambat tetapi pasti. Tangannya yang keriput menyentuh perut Dewi Rengganis. Telapak tangannya dingin. Lebih dingin dari angin gerhana tadi. Tetapi anehnya, sentuhan itu justru menenangkan.
"Kau sendirian," kata Nini Mas Intan. Bukan pertanyaan. Pernyataan.
"Suamiku..."
"Belum pulang. Aku tahu. Dan dia tidak akan pulang malam ini. Ada sesuatu di hulu yang menahannya. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata."
Dewi Rengganis ingin bertanya. Ingin tahu apa yang menahan suaminya. Ingin tahu apakah Hasan baik-baik saja. Tetapi kontraksi lain datang, lebih kuat dari sebelumnya, dan ia hanya bisa menjerit pelan sambil menggigit ujung kain sarungnya.
Nini Mas Intan tidak terburu-buru. Ia mengambil air dari kendi tanah di sudut ruangan. Ia membasuh tangannya. Ia membasuh dahi Dewi Rengganis. Ia mulai membisikkan sesuatu.
Sebuah syair. Tua. Sangat tua. Dengan irama yang tidak pernah didengar Dewi Rengganis seumur hidupnya. Kata-katanya aneh. Bukan bahasa Melayu, bukan bahasa Jawa, bukan bahasa Sunda. Mungkin bahasa dari masa sebelum semua bahasa itu lahir.
Dan saat syair itu mengalir dari bibir keriput Nini Mas Intan, sesuatu terjadi pada ruangan itu.
Cahaya lilin yang tadinya hampir padam karena angin, tiba-tiba menyala terang. Bukan terang seperti biasanya. Terang ini hangat. Terang ini seperti pangkuan seorang ibu yang sudah lama meninggal.
Di luar, lolongan anjing berhenti bersamaan. Angin mereda. Daun-daun berhenti berteriak.
Dan bulan, yang hampir seluruhnya ditelan gelap, mulai memperlihatkan pinggirannya lagi. Sedikit demi sedikit. Perlahan. Seperti seseorang yang muncul kembali ke permukaan setelah sekian lama menahan napas di dasar laut.
Gerhana mulai berakhir.
Bayi itu keluar tidak lama setelah itu.
Ia keluar dengan tenang. Tidak ada jeritan panjang dari Dewi Rengganis. Tidak ada kepanikan. Nini Mas Intan menangkapnya dengan kedua tangannya yang keriput tetapi kokoh, seperti seseorang yang telah melakukan hal ini ribuan kali sebelumnya.
Bayi itu tidak menangis.
Dewi Rengganis, yang kelelahan tetapi masih sadar, memandang bayi itu dengan cemas. "Kenapa... kenapa dia tidak menangis?"
Nini Mas Intan tidak menjawab. Ia menggendong bayi itu. Ia memandanginya. Matanya yang buram tiba-tiba jernih untuk sesaat, seperti danau yang biasanya tertutup kabut tetapi tiba-tiba bersih oleh hujan.
Bayi itu laki-laki. Kulitnya kemerahan seperti semua bayi yang baru lahir. Rambutnya hitam dan tebal. Matanya masih terpejam. Tangannya mengepal.
Dan kemudian, tepat saat sinar bulan pertama setelah gerhana menyusup melalui celah-celah dinding bambu dan jatuh ke wajah bayi itu, ia membuka matanya.
Matanya hitam. Hitam pekat. Hitam seperti telaga tanpa dasar.
Dan ia memandang Nini Mas Intan. Seorang bayi yang baru keluar dari rahim ibunya semenit yang lalu, memandang perempuan tua itu dengan tatapan yang tidak lazim. Tatapan yang sudah tua. Tatapan yang sudah lelah. Tatapan yang sudah mengerti.
Itulah saatnya.
Bayi itu menangis.
Bukan tangisan biasa. Tangisan ini keras. Sangat keras. Lebih keras dari suara anjing melolong tadi. Lebih keras dari suara daun-daun yang berteriak terkena angin gerhana. Tangisan ini keluar dari dadanya yang kecil dengan kekuatan yang membuat Dewi Rengganis ikut menangis terharu.
Nini Mas Intan tertawa. Tertawa kecil. Tertawa yang seperti orang yang baru saja dimenangkan taruhannya.
"Anak ini," katanya sambil mengusap air mata di sudut matanya yang keriput, "bukan anak biasa."
Dewi Rengganis terdiam. Ia terlalu lelah untuk bertanya. Tetapi matanya bertanya. Matanya yang teduh itu memandang Nini Mas Intan dengan campuran rasa takut, harap, dan kebingungan.
"Dia tidak menangis karena takut," kata Nini Mas Intan seolah membaca pikiran Dewi Rengganis. "Dia menangis karena dia sudah tahu. Dia sudah tahu betapa berat tugasnya kelak. Dia sudah tahu betapa lama jalannya nanti. Dia sudah tahu betapa banyak hati yang akan ia jaga, termasuk hatinya sendiri."
Perempuan tua itu mendekatkan bayi itu ke dada Dewi Rengganis.
"Berilah ia nama. Karena malam ini bukan malam biasa. Anak yang lahir di malam gerhana, yang ditolong oleh perempuan tua seperti aku, dan yang menangis seperti itu... ia membutuhkan nama yang kuat."
Dewi Rengganis memandang bayinya. Bayinya masih menangis, meski tangisnya mulai mengecil. Matanya yang hitam pekat kini terpejam lagi, seperti seorang lelaki tua yang sedang beristirahat setelah perjalanan panjang.
"Sultan Hasan," kata Dewi Rengganis pelan.
Nini Mas Intan mengerutkan dahi. "Sultan? Dia bukan anak bangsawan. Tidak ada darah biru di keluarganya."
"Aku tidak tahu kenapa," kata Dewi Rengganis. "Tapi sejak aku mengandungnya, namanya sudah ada di kepalaku. Seperti seseorang yang berbisik setiap malam. Sultan Hasan. Aku hanya mengucapkannya."
Nini Mas Intan terdiam lama.
Di luar, bulan bersinar penuh kembali. Seperti baru saja dimenangkan dari perkelahian dengan kegelapan. Burung hantu berbunyi. Sekali. Pendek. Nini Mas Intan tersenyum.
"Sultan Hasan," ulangnya. "Baiklah. Aku tidak akan menentang nama yang dipilih oleh mimpi."
Ia menyerahkan bayi itu sepenuhnya ke pangkuan Dewi Rengganis. Kemudian ia berdiri. Gerakannya kaku tetapi tegap.
"Rawatlah anak ini dengan baik," katanya. "Ajari ia syair-syair. Jaga pusaka yang akan ditemukannya kelak. Dan bersiaplah... karena kau tidak akan bersamanya lama."
Dewi Rengganis terhenyak. "Maksud Nek?"
Tetapi Nini Mas Intan sudah berjalan menuju pintu. Sosoknya yang bungkuk perlahan menyatu dengan kegelapan malam. Sebelum benar-benar lenyap, ia menoleh sebentar.
"Dan ketika suatu hari nanti ia bertemu dengan seorang perempuan yang namanya berbau pandan... jangan larang ia mencintainya. Karena cinta itu sudah ditulis sebelum desa ini berdiri."
Kemudian ia pergi.
Dewi Rengganis hanya bisa terdiam, menggendong bayi yang mulai tenang di dadanya. Sultan Hasan. Anak lelakinya. Lahir di malam gerhana. Ditolong oleh perempuan tua misterius. Dan sudah diramalkan akan jatuh cinta pada seorang yang namanya berbau pandan.
Di luar, angin berembus pelan. Lembut. Seperti bisikan.
Dan seekor burung hantu, dari atas pohon asam di halaman, menatap ke dalam gubuk itu dengan matanya yang bundar dan kuning. Ia tidak berbunyi. Hanya menatap. Menunggu.
Seolah ia tahu bahwa cerita ini baru saja dimulai.
Tiga puluh lima tahun kemudian, ketika Sultan Hasan sudah menjadi kakek, ia akan menceritakan malam kelahirannya kepada cucunya yang pertama.
"Kakek lahir di malam gerhana," katanya. "Bulan dimakan habis-habisan. Anjing-anjing desa melolong seperti mau kiamat. Dan seorang perempuan tua yang tidak dikenal tiba-tiba muncul di gubuk untuk menolong nenekmu."
Cucunya, yang bernama Zahra, akan mendengarkan dengan mata berbinar. "Apakah Nini Mas Intan itu seorang bidadari, Kek?"
Sultan Hasan akan tertawa. Tidak. Bukan bidadari. Dia manusia biasa. Tapi dia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki banyak orang. Mata hati. Kemampuan untuk melihat apa yang tidak terlihat oleh mata biasa.
"Dan apa yang dia lihat pada diri Kek, waktu Kek masih bayi?"
Sultan Hasan tidak akan menjawab langsung. Ia akan menggenggam batu akik merah di tangannya, batu yang selalu ia bawa ke mana pun selama puluhan tahun. Batu yang sudah retak tetapi tidak pernah hancur.
"Dia melihat beban," kata Sultan Hasan akhirnya. "Sebelum aku bisa berjalan, dia sudah melihat beban yang akan aku pikul. Sebelum aku bisa bicara, dia sudah tahu nama yang akan aku jaga. Dan sebelum aku bisa mencintai, dia sudah tahu siapa yang akan aku cintai."
Zahra akan mengangguk meski tidak sepenuhnya mengerti. Lalu ia akan bertanya lagi, "Dan apa beban itu, Kek?"
Sultan Hasan akan tersenyum. Senyum yang sama dengan senyum Nini Mas Intan saat itu, malam gerhana, di gubuk yang atapnya bolong tiga tempat.
"Menjaga hati, Nak. Menjaga hati yang orang lain tidak mau jaga. Termasuk hatiku sendiri. Dan itu... itu tidak pernah mudah."
Di luar jendela, pada sore itu, seekor burung hantu bertengger di dahan pohon asam. Ia diam. Hanya menatap.
Seolah ia mengingat. Seolah ia tahu bahwa cerita yang diceritakan kakek kepada cucunya itu adalah cerita yang sama yang dimulai tiga puluh lima tahun lalu, dan yang belum selesai.
Yang belum akan selesai bahkan setelah kakek itu mati.
Sebab hati yang pernah dijaga, tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya berpindah tangan. Dari satu generasi ke generasi berikutnya. Seperti api yang dipindahkan dari obor ke obor.
Seperti syair yang diwariskan dari bibir ke bibir.
Seperti rindu yang tidak pernah kehilangan alamatnya.
BAB II
Nenek Tua dan Nama yang Terkutuk
Kabar tentang kelahiran Sultan Hasan menyebar ke seluruh Dukuh Wangi sebelum matahari terbit keesokan harinya.
Bukan karena ada yang sengaja menyebarkan. Di desa sekecil itu, dengan jumlah penduduk tidak lebih dari seratus kepala keluarga, berita apapun akan menyebar dengan sendirinya. Seperti air yang mencari celah. Seperti api yang mencari kayu kering.
Seorang perempuan yang pergi ke sumur sebelum subuh melihat cahaya aneh dari gubuk Dewi Rengganis. Cahaya kemerahan. Bukan merah seperti api. Merah seperti batu akik yang terkena sinar matahari. Ia bertanya kepada tetangganya. Tetangganya bertanya kepada iparnya. Iparnya bertanya kepada saudaranya yang kerja di ladang dekat sungai. Dan dalam waktu dua jam, seluruh desa sudah tahu: Dewi Rengganis telah melahirkan. Sendirian. Di malam gerhana. Dan seorang anak laki-laki keluar dari rahimnya dengan mata terbuka.
Tapi ada kabar lain yang lebih cepat menyebar. Kabar tentang siapa yang menolong persalinan itu.
Nini Mas Intan.
Nama itu seperti guntur di musim kemarau. Semua orang mengenalnya. Tetapi hampir tidak ada yang pernah benar-benar melihatnya. Yang tahu persis di mana ia tinggal hanya beberapa orang tua yang sudah uzur. Yang pernah diajak bicara langsung bahkan lebih sedikit dari itu.
Dan sekarang, perempuan tua misterius itu muncul di gubuk Dewi Rengganis di tengah malam gerhana? Itu bukan sekadar kabar biasa. Itu adalah pertanda. Dan di desa sekecil Dukuh Wangi, pertanda tidak pernah datang tanpa makna.
Sayangnya, tidak semua orang menafsirkan pertanda itu sebagai sesuatu yang baik.
Kira-kira pukul delapan pagi, sehari setelah kelahiran itu, seorang lelaki bertubuh tegap dengan kumis tebal dan sorban putih mendatangi gubuk Dewi Rengganis. Ia datang tidak sendiri. Di belakangnya ada tiga lelaki lain, semuanya membawa parang di pinggang. Mereka bukan preman. Mereka adalah pengiring desa – semacam polisi adat yang ditugaskan kepala desa untuk menjaga keamanan dan ketertiban.
Lelaki berkumis tebal itu bernama Kyai Mandrawijaya. Ia adalah tetua adat tertinggi di Dukuh Wangi. Jabatannya tidak resmi dalam pemerintahan, tetapi kekuasaannya lebih besar dari kepala desa sendiri. Ia yang menentukan siapa yang boleh menikah dengan siapa. Ia yang memutuskan ritual-ritual apa yang harus dilakukan saat musim tanam tiba. Ia yang berhak mengutuk seseorang menjadi orang buangan jika dianggap melanggar adat.
Dan pagi itu, Kyai Mandrawijaya berdiri di depan gubuk Dewi Rengganis dengan wajah yang tidak bisa dibaca. Bukan marah. Bukan sedih. Ada sesuatu yang lebih rumit di matanya. Sesuatu antara ketakutan dan kekagetan. Seperti seorang yang tiba-tiba menyadari bahwa dunianya tidak seaman yang ia kira.
Dewi Rengganis yang sedang menyusui Sultan Hasan di dalam gubuk, mendengar suara langkah kaki di luar. Ia tidak keluar. Tubuhnya masih lelah. Jahitan di bawah perutnya masih perih. Yang ia lakukan hanyalah menutup bayinya dengan kain dan menunggu.
"Dewi Rengganis! " suara Kyai Mandrawijaya memecah kesunyian pagi. "Keluarlah. Kami ingin melihat anakmu."
Dewi Rengganis menggigit bibirnya. Ia tahu suara itu. Seluruh desa tahu suara itu. Kyai Mandrawijaya tidak pernah memanggil nama seseorang kecuali untuk urusan yang sangat serius.
Dengan susah payah, ia bangkit. Sultan Hasan yang sedang menyusu terlepas dari putingnya dan mulai merengek. Dewi Rengganis menggendongnya, menenangkannya dengan suara pelan, lalu berjalan keluar.
Pagi itu cerah. Matahari baru saja naik setinggi tombak. Embun masih membasahi rumput-rumput di halaman. Ayam-ayam jantan sudah selesai berkokok dan kini sibuk mengais-ngais tanah mencari cacing.
Dan di depan gubuknya, berdiri empat lelaki dengan wajah serius. Di belakang mereka, dari kejauhan, puluhan pasang mata mengintip dari balik pintu dan jendela. Seluruh desa ingin melihat apa yang akan terjadi.
Kyai Mandrawijaya memandang Dewi Rengganis. Kemudian pandangannya turun ke bayi yang digendongnya. Sultan Hasan, yang tadi merengek, tiba-tiba diam. Matanya yang hitam pekat terbuka lebar. Ia memandang Kyai Mandrawijaya.
Dan lelaki tua itu, yang sudah puluhan tahun menjadi tetua adat, yang tidak pernah gentar menghadapi badai atau banjir bandang atau kemarau panjang, tiba-tiba mundur selangkah. Wajahnya pucat. Tangannya gemetar.
"Bawa anak itu ke balai pertemuan," katanya dengan suara yang sedikit bergetar. "Sekarang."
Balai pertemuan Dukuh Wangi adalah sebuah bangunan panggung besar di tengah desa, tepat di bawah pohon beringin yang usianya tidak ada yang tahu. Konon pohon itu sudah ada sebelum desa ini berdiri. Konon akarnya menjalar hingga ke telaga larangan di hutan. Dan konon, di bawah pohon itulah para tetua dulu bermusyawarah menentukan batas-batas tanah adat.
Dewi Rengganis dibawa ke sana bukan dengan paksaan, tetapi dengan "permintaan" yang tidak bisa ditolak. Kyai Mandrawijaya berjalan di depan. Tiga pengiring desa berjalan di samping dan di belakangnya. Mereka tidak menyentuh Dewi Rengganis. Mereka hanya memastikan ia tidak membelok ke jalan lain.
Ketika tiba di balai pertemuan, sudah puluhan orang berkumpul di sana. Bukan semua penduduk desa. Hanya mereka yang dianggap punya "hak untuk tahu" – para tetua, kepala dusun, dan beberapa orang tua yang dihormati.
Kyai Mandrawijaya naik ke panggung. Ia duduk di kursi kayu yang selalu menjadi tempat duduknya. Kemudian ia menunjuk sebuah tikar di depannya.
"Duduklah di sana," katanya kepada Dewi Rengganis.
Dewi Rengganis duduk. Gendongannya mengencang. Sultan Hasan terpejam lagi, seolah tidak peduli dengan hiruk-pikuk yang terjadi di sekitarnya.
"Anakmu lahir tadi malam," kata Kyai Mandrawijaya. "Di malam gerhana. Ditolong oleh Nini Mas Intan."
Dewi Rengganis mengangguk. Tidak ada gunanya berbohong. Seluruh desa sudah tahu.
"Dan kau beri nama... Sultan Hasan?"
Anggukan lagi.
Kyai Mandrawijaya menghela napas. Ia menatap para tetua yang duduk di kursi-kursi di sampingnya. Beberapa di antaranya menggeleng-gelengkan kepala. Seorang perempuan tua yang giginya tinggal tiga memandang Dewi Rengganis dengan tatapan penuh iba, tetapi juga ketakutan.
"Kau tahu," kata Kyai Mandrawijaya perlahan, seolah sedang menjelaskan kepada anak kecil, "bahwa nama 'Sultan' bukan nama biasa. Sultan adalah pemimpin. Raja. Orang yang berkuasa atas wilayah luas. Di desa kita, nama seperti itu... tidak pantas."
"Lalu kenapa pantas?" tanya seorang tetua dari pojok ruangan. "Karena siapa anak ini? Anak perantau yang tidak jelas asal-usulnya? Anak perempuan yang tidak memiliki garis keturunan bangsawan?"
Dewi Rengganis menunduk. Matanya mulai berkaca-kaca. Tapi ia tidak menangis. Entah karena terlalu lelah atau karena ia sudah mempersiapkan hatinya untuk ini.
"Nama itu sudah di dalam kepalaku sejak aku mengandungnya," kata Dewi Rengganis pelan. "Aku tidak bisa memberi nama lain."
"Tidak bisa?" Kyai Mandrawijaya mengerutkan kening. "Atau tidak mau?"
Tidak ada jawaban.
Kyai Mandrawijaya diam sejenak. Ia memandang Sultan Hasan. Bayi itu masih terpejam. Dadanya naik turun pelan. Tidak ada yang istimewa dari penampilannya. Bayi biasa. Kulit kemerahan. Rambut hitam. Tangan mungil mengepal.
Tapi Kyai Mandrawijaya tidak bodoh. Ia tahu bahwa sesuatu yang aneh terjadi malam itu. Nini Mas Intan tidak muncul tanpa alasan. Dan anak yang lahir di malam gerhana, yang ditolong oleh seorang dukun misterius, yang matanya terbuka sejak pertama kali keluar dari rahim... anak seperti itu tidak bisa dianggap biasa.
"Aku tidak akan memaksamu mengganti nama anakmu," kata Kyai Mandrawijaya akhirnya. "Tapi kau harus tahu konsekuensinya."
Dewi Rengganis mendongak.
"Anakmu akan dijauhi," kata Kyai Mandrawijaya. "Anak-anak seusianya tidak akan bermain dengannya. Para tetua tidak akan mengajarinya ilmu adat. Dan ketika ia besar nanti... ia akan sulit mencari jodoh di desa ini. Nama 'Sultan Hasan' akan menjadi beban yang ia pikul seumur hidup."
"Ia lahir di malam gerhana," tambah seorang tetua lain dari belakang. "Bulan dimakan habis. Itu pertanda buruk. Dan kau beri ia nama yang terlalu besar untuk seorang anak kampung. Apakah kau tidak takut, Rengganis? Apakah kau tidak takut anakmu akan tumbuh menjadi sesuatu yang... tidak terkendali?"
Dewi Rengganis menggigit bibirnya. Darah hampir keluar.
"Anak saya," katanya dengan suara bergetar, "tidak akan jahat. Saya tahu. Seorang ibu tahu."
"Kau hanya merasa tahu," kata Kyai Mandrawijaya. "Perasaan seorang ibu sering keliru."
Seorang perempuan dari antara kerumunan tiba-tiba berjalan maju. Perempuan itu tidak muda lagi, mungkin empat puluh tahun, dengan pakaian serba hitam dan wajah yang selalu terlihat cemberut. Namanya Mak Buyut, perempuan yang paling disegani setelah Kyai Mandrawijaya. Ia dikenal karena konon bisa melihat nasib seseorang hanya dengan memandang garis tangan dan bentuk wajahnya.
"Biarkan aku melihat anak itu," kata Mak Buyut.
Dewi Rengganis ragu, tetapi tidak bisa menolak. Mak Buyut mendekat. Tangannya yang kasar menyentuh dahi Sultan Hasan. Bayi itu bergerak sedikit, tetapi tidak terbangun. Kemudian Mak Buyut membuka kelopak mata bayi itu dengan jari telunjuk dan ibu jarinya.
Sultan Hasan terbangun. Matanya yang hitam pekat menatap Mak Buyut.
Perempuan itu terkesiap. Mundur. Wajahnya berubah pucat seperti mayat.
"Mata itu..." bisiknya. "Mata itu sudah tua."
Kerumunan di belakangnya mulai berbisik. Suasana menjadi tegang.
"Mata seorang bayi tidak mungkin sudah tua," kata Kyai Mandrawijaya.
"Tapi ini tidak biasa," kata Mak Buyut. "Lihatlah matanya. Dia tidak melihatku seperti bayi melihat orang dewasa. Dia melihatku seperti... seperti seorang tua yang sudah lelah hidup melihat orang yang lebih muda. Seperti dia sudah tahu apa yang akan terjadi padaku nanti."
"Maksudmu?"
"Entahlah. Aku tidak bisa membaca nasibnya. Tapi satu hal yang aku tahu: anak ini akan membawa perubahan ke desa kita. Entah perubahan baik atau buruk... aku tidak tahu. Tapi perubahan itu akan besar."
Kyai Mandrawijaya diam. Seluruh ruangan diam.
Hanya angin yang berembus pelan di antara dedaunan beringin tua di atas balai pertemuan, seperti bisikan panjang yang tidak bisa diterjemahkan.
Dewi Rengganis pulang ke gubuknya dengan perasaan yang berat. Sultan Hasan masih terpejam di gendongannya, tidak peduli dengan dunia yang sudah mulai menolaknya sebelum ia bisa merangkak.
Ia teringat pada kata-kata Nini Mas Intan, malam tadi. "Rawatlah anak ini dengan baik. Ajari ia syair-syair. Jaga pusaka yang akan ditemukannya kelak. Dan bersiaplah... karena kau tidak akan bersamanya lama."
Saat itu ia tidak begitu mengerti. Sekarang ia mulai mengerti.
Anaknya sudah dianggap aneh sebelum ia bisa bicara. Ia akan tumbuh dalam kesendirian. Tidak ada teman sebaya yang mau bermain dengannya. Tidak ada tetua yang mau mengajarinya. Dan nama yang ia berikan dengan cinta, yang ia rasa seperti bisikan dari alam lain, akan menjadi kutukan yang melekat di punggungnya setiap saat.
Dewi Rengganis masuk ke gubuk. Ia merebahkan diri di tikar. Sultan Hasan diletakkan di sampingnya. Bayi itu menggeliat sebentar, lalu kembali tenang.
Dewi Rengganis menatap langit-langit. Atap gubuknya bolong di tiga tempat, seperti yang dikatakan Nini Mas Intan. Ia sudah berjanji pada suaminya untuk memperbaikinya, tapi Hasan belum juga pulang.
Di mana kau, Hasan? pikirnya. Apakah kau masih hidup? Apakah kau tahu bahwa kau sekarang punya anak laki-laki yang sudah dikutuk oleh seluruh desa sebelum usianya genap sehari?
Air mata akhirnya menetes.
Ia tidak menangis karena takut. Seperti anaknya yang tidak menangis karena takut malam tadi. Ia menangis karena ia sudah tahu. Ia sudah tahu betapa berat jalan yang harus ditempuh anaknya. Dan ia sudah tahu bahwa ia tidak akan bisa mendampingi anak itu lama.
Tapi di sela-sela tangisnya, ia berbisik pada Sultan Hasan yang masih terpejam. "Kau kuat, Nak. Lebih kuat dari ibumu. Lebih kuat dari siapa pun di desa ini. Dan suatu hari nanti, semua orang yang sekarang mengutuk namamu akan memanggil namamu dengan hormat."
Di luar, burung hantu berbunyi. Siang bolong. Aneh. Sekali. Pendek.
Seperti sebuah janji yang tidak bisa diingkari.
Tujuh malam setelah kelahiran itu, Dewi Rengganis mendapat mimpi.
Dalam mimpinya, ia berdiri di tepi telaga yang airnya sangat jernih. Ia bisa melihat dasar telaga, ditumbuhi tanaman air yang daunnya berbentuk seperti pedang. Di tengah telaga, seorang perempuan muda sedang menari. Perempuan itu mengenakan kain batik dengan motif pandan berwarna hijau segar. Rambutnya panjang, hitam legam, disanggul tinggi dengan tusuk konde dari perak.
Perempuan itu tidak menghiraukan Dewi Rengganis. Ia terus menari. Gerakannya lembut, seperti air yang mengalir. Kadang lambat, seperti daun yang jatuh dari pohon. Kadang cepat, seperti ikan yang melompat dari permukaan.
Tapi yang paling aneh, perempuan itu tidak memiliki wajah. Bukan karena wajahnya buram atau tertutup. Wajah itu benar-benar kosong. Halus. Seperti kanvas yang belum dilukis.
Dewi Rengganis ingin bertanya. Siapa kau? Tapi mulutnya tidak bisa bergerak. Lidahnya kaku seperti batu.
Dan kemudian perempuan tanpa wajah itu berhenti menari. Ia menoleh ke arah Dewi Rengganis. Wajah kosongnya tiba-tiba tersenyum. Senyum yang hangat. Senyum yang membuat Dewi Rengganis menangis tanpa sebab.
Lalu perempuan itu berkata. Suaranya seperti suara dari dasar sumur. Jauh. Bergema. Tapi anehnya jelas.
"Jagalah Sultan Hasan untukku. Aku akan menemuinya suatu hari nanti. Tidak sekarang. Tapi suatu hari. Dan ketika itu terjadi, aku akan memberinya nama yang tidak akan pernah ia lupakan."
Dewi Rengganis terbangun.
Ia duduk di tikar. Tubuhnya berkeringat. Sultan Hasan yang tidur di sampingnya, terbangun juga. Bayi itu tidak menangis. Hanya memandang ibunya dengan mata hitam pekatnya.
Di luar, masih malam. Bulan bersinar terang, penuh lagi, seolah tidak pernah disentuh oleh gerhana.
Dewi Rengganis menggendong anaknya. Ia mencium kening Sultan Hasan. Ia berbisik.
"Pandan Wangi," katanya. "Namanya Pandan Wangi."
Ia tidak tahu dari mana nama itu keluar dari mulutnya. Tapi ia yakin. Perempuan tanpa wajah dalam mimpinya, yang menari di atas telaga, yang tersenyum tanpa bibir, yang berkata akan menemui Sultan Hasan suatu hari nanti... namanya adalah Pandan Wangi.
Dan Dewi Rengganis tahu, meski belum mengerti sepenuhnya, bahwa nama itu akan menjadi pusaka lain bagi anaknya. Pusaka yang lebih kuat dari batu akik. Pusaka yang lebih tajam dari keris. Pusaka yang bisa menyelamatkan atau menghancurkan.
Tergantung pada bagaimana Sultan Hasan menjaganya.
Ia memeluk anaknya erat-erat.
"Kau masih terlalu kecil untuk mengerti semua ini, Nak," bisiknya. "Tapi kelak, ketika kau dewasa, kau akan mengerti mengapa ibumu menangis di malam-malam seperti ini. Bukan karena sedih. Tapi karena bahagia... dan takut... bersamaan."
Angin malam masuk melalui celah-celah dinding bambu. Dingin. Lembut. Seperti belaian.
Di kejauhan, untuk ketiga kalinya malam itu, burung hantu berbunyi.
Sekali. Pendek.
Lalu diam.
BAB III
Air Susu Pertama dan Mimpi Ibu
Tiga hari setelah Kyai Mandrawijaya memanggilnya ke balai pertemuan, air susu Dewi Rengganis mulai bermasalah.
Awalnya hanya sedikit. Sultan Hasan yang biasa menyusu dengan lahap tiba-tiba menangis setiap kali puting ibunya dimasukkan ke mulutnya. Bukan karena ia tidak lapar. Perutnya keroncongan. Tangannya yang mungil meremas-remas udara seperti mencari sesuatu. Tapi setiap kali ia mencoba menyusu, ia meringis lalu melepas puting itu lagi.
Dewi Rengganis memeriksa payudaranya. Tidak ada yang aneh. Tidak bengkak. Tidak merah. Tetapi ketika ia memerah sedikit dengan tangannya, yang keluar bukan air susu yang kental dan putih seperti biasa, melainkan cairan bening dan encer. Hanya sedikit. Tidak cukup untuk mengganjal perut bayi yang sedang tumbuh.
"Susumu pahit," kata Mak Umi, tetangga sebelah yang datang menjenguk. Perempuan gemuk dengan rambut keriting itu sudah membantu melahirkan lima belas bayi di desa. Ia tahu banyak tentang susu dan air ketuban dan segala macam cairan yang keluar dari tubuh perempuan. "Aku pernah melihat ini. Susu yang pahit. Bayi tidak mau minum. Mereka bisa mencium rasa pahit itu dari jauh. Lebih tajam dari hidung manusia."
"Kenapa bisa pahit?" tanya Dewi Rengganis cemas.
Mak Umi mengangkat bahu. "Banyak sebab. Makanan. Pikiran. Atau mungkin... karena kau terlalu sedih. Air susu adalah perasaan ibu yang cair. Kalau ibunya sedih, susunya jadi pahit. Kalau ibunya marah, susunya jadi panas. Kalau ibunya takut, susunya jadi encer."
Dewi Rengganis menunduk. Ia tahu apa yang membuatnya sedih. Seluruh desa tahu.
Tiga hari terakhir, tidak ada satu pun tetangga yang datang membawa nasi atau sayur seperti biasanya saat ada yang melahirkan. Yang datang hanya Mak Umi, itupun karena ia memang punya kebiasaan menjenguk semua ibu yang baru melahirkan, tidak peduli siapa mereka. Sisanya? Mereka menghindari gubuk Dewi Rengganis seperti menghindari kuburan di malam Jumat.
Anak-anak yang biasanya berlarian di depan rumah kini mengambil jalan memutar. Ibu-ibu yang biasa berbelanja ke warung di dekat gubuknya kini lebih memilih berjalan setengah kilometer lebih jauh ke warung lainnya. Bahkan Pak Karto, penjual tahu yang setiap pagi lewat depan rumahnya dengan memikul dua bakul besar di pundaknya, tiba-tiba menghilang. Tidak ada tahu yang lewat. Tidak ada sayur yang lewat. Tidak ada apa-apa.
Dewi Rengganis dan Sultan Hasan terasing di desa mereka sendiri.
"Kau harus mencari susu dari tempat lain," kata Mak Umi. "Pinjam dari ibu-ibu yang baru melahirkan. Atau beli susu kambing. Yang penting bayi ini makan. Kalau tidak, ia bisa sakit."
Dewi Rengganis mengangguk. Ia sudah memikirkan itu. Tapi ia juga tahu bahwa ibu-ibu yang baru melahirkan di desa ini saat ini semuanya adalah istri dari para pengikut Kyai Mandrawijaya. Akankah mereka mau meminjamkan air susu untuk anak yang sudah dikutuk?
Sultan Hasan menangis lagi. Tangisnya keras. Tangis yang sama saat ia lahir. Tangis yang sudah tua. Tangis yang tahu.
Dewi Rengganis memangku anaknya. Ia menangis bersama.
Malam harinya, Dewi Rengganis bermimpi.
Ia berada di sebuah tempat yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Bukan di desa. Bukan di hutan. Bukan di sungai. Tempat itu... aneh. Semuanya putih. Putih seperti kapas. Putih seperti awan. Putih seperti susu yang kental dan manis.
Ia tidak sendiri.
Di depannya, seorang lelaki tua duduk bersila di atas hamparan putih itu. Lelaki itu sangat tua. Lebih tua dari Nini Mas Intan sekalipun. Jenggotnya putih panjang hingga menyentuh dada. Matanya biru, bukan biru seperti langit, tetapi biru seperti telaga yang sangat dalam. Ia memakai jubah putih, juga dari bahan yang tidak dikenal Dewi Rengganis. Bukan katun. Bukan sutra. Bahan itu seperti cahaya yang membeku.
"Jangan takut," kata lelaki tua itu. Suaranya tidak keras, tetapi menggetarkan seluruh tubuh Dewi Rengganis seperti gong dipukul di dalam dada. "Aku tidak akan menyakitimu."
"Siapa... siapa Tuan?" tanya Dewi Rengganis dengan suara bergetar.
"Aku tidak punya nama yang bisa disebut oleh lidah manusia. Tapi kau bisa memanggilku Lelaki Tua dari Mimpi. Karena memang hanya dalam mimpi aku bisa menampakkan diri."
"Aku bermimpi?"
"Kau sedang bermimpi. Tapi mimpi ini tidak seperti mimpi biasanya. Mimpi ini adalah pertemuan. Antara kau... dan seseorang yang sudah lama menanti kelahiran anakmu."
Dewi Rengganis terdiam. Ia tidak mengerti. Semua ini terlalu aneh. Lelaki tua tanpa nama. Tempat putih tanpa batas. Dan kata-kata tentang seseorang yang menanti kelahiran anaknya.
"Anakku... Sultan Hasan?"
Lelaki tua itu mengangguk. Matanya yang biru memandang Dewi Rengganis dengan tatapan yang sangat tua. Tatapan yang sudah melihat lahir dan matinya ribuan generasi.
"Anakmu bukan anak biasa, Dewi Rengganis. Kau sudah mendengar itu dari Nini Mas Intan. Tapi kau belum mendengar yang sebenarnya. Yang sebenarnya adalah: anakmu adalah penjaga. Bukan penjaga biasa. Ia adalah Penjaga Hati. Tugasnya bukan menjaga harta atau pusaka atau tanah. Tugasnya menjaga hati. Hatinya sendiri. Hati orang yang dicintainya. Dan hati dari generasi yang akan datang setelah ia mati."
"Tapi ia masih bayi..."
"Tugas sudah menunggunya sejak sebelum ia lahir. Seperti seorang prajurit yang sudah ditunjuk menjadi jenderal sebelum ia bisa memegang pedang. Itulah kenapa ia menangis saat lahir. Ia tahu. Ia sudah tahu sejak di dalam rahimmu. Karena hati yang akan ia jaga adalah hati yang sudah lama terluka. Luka yang tidak sembuh oleh waktu. Luka yang hanya bisa sembuh oleh cinta yang dijaga."
Dewi Rengganis menangis. Dalam mimpi, ia bisa menangis. Air matanya jatuh ke hamparan putih di bawah kakinya. Dan anehnya, di tempat air matanya jatuh, tiba-tiba tumbuh setangkai bunga. Bunga kecil. Putih. Wanginya harum, seperti melati tetapi lebih lembut.
"Jangan menangis," kata Lelaki Tua dari Mimpi. "Kau tidak perlu menangis. Anakmu akan baik-baik saja. Jalannya berat. Tapi di ujung jalan itu, ia tidak akan sendirian."
"Lalu... kenapa susuku pahit?" tanya Dewi Rengganis. "Kenapa bayiku tidak mau minum?"
Lelaki tua itu tersenyum. Senyum pertama yang ia tunjukkan. Senyum yang membuat seluruh tempat putih itu terasa hangat.
"Karena kau terlalu sedih, Dewi Rengganis. Dan karena... sebentar lagi kau akan memberinya sesuatu yang lebih berharga dari air susu."
"Apa?"
"Kau akan memberinya pusaka. Bukan pusaka yang dibeli atau diwariskan. Pusaka yang kau temukan. Pusaka yang akan menjadi temannya seumur hidup. Batu. Cincin. Atau mungkin sesuatu yang lain. Aku tidak bisa memberitahumu bentuknya. Tapi kau akan tahu saat kau menemukannya."
Dan sebelum Dewi Rengganis sempat bertanya lagi, tempat putih itu mulai memudar. Lelaki tua itu mulai kabur. Seperti tinta yang luntur terkena air.
"Tunggu!" teriak Dewi Rengganis. "Aku masih punya banyak pertanyaan!"
Tapi Lelaki Tua dari Mimpi sudah menghilang. Hanya suaranya yang masih tersisa, bergema di ruang putih yang mulai runtuh.
"Jaga anakmu, Dewi Rengganis. Kau tidak akan bersamanya lama. Tapi apa yang kau berikan padanya dalam waktu yang singkat itu akan bertahan selamanya."
Dewi Rengganis terbangun.
Ia duduk di tikar. Sultan Hasan ada di sampingnya, masih tertidur. Dadanya naik turun pelan. Wajahnya tenang. Seolah tidak ada mimpi buruk yang mengganggunya.
Dewi Rengganis melihat ke sekeliling gubuk. Gelap. Hanya ada seberkas cahaya bulan yang masuk melalui celah-celah dinding bambu. Ia menatap tangannya. Basah. Ia menangis dalam mimpi tadi. Atau mungkin setelah terbangun. Tidak jelas lagi.
Ia tiba-t ingat kata-kata terakhir Lelaki Tua dari Mimpi. "Kau akan memberinya pusaka... Kau akan tahu saat kau menemukannya."
Pusaka? Di gubuk reot ini? Apa yang bisa dijadikan pusaka? Ia tidak punya apa-apa. Tidak ada emas. Tidak ada perak. Tidak ada keris pusaka yang diwariskan turun-temurun. Yang ia miliki hanyalah perabot dapur yang hampir semuanya sudah bolong, pakaian yang sudah tambal sana-sini, dan sebuah kotak kayu kecil di bawah tempat tidur.
Kotak kayu.
Dewi Rengganis belum pernah membuka kotak itu. Kotak itu sudah ada di rumah ini sejak ia menikah dengan Hasan. Suaminya yang membawanya dari perantauan. Tapi Hasan tidak pernah mengatakan apa isinya. Dan Dewi Rengganis tidak pernah bertanya. Ia mengira itu adalah barang pribadi suaminya. Mungkin surat-surat lama. Mungkin kenangan dari kampung halamannya yang tidak pernah ia ceritakan.
Tapi malam ini, setelah mimpi aneh itu, Dewi Rengganis merasa didorong oleh sesuatu untuk membuka kotak itu.
Ia bangkit. Pelan-pelan, agar tidak membangunkan Sultan Hasan. Ia merangkak ke sudut gubuk, di mana tikar tua digelar di atas papan kayu yang berfungsi sebagai tempat tidur. Ia menyingsingkan tikar itu. Di bawahnya, ada papan yang sedikit longgar. Ia mengangkat papan itu.
Di bawah papan itu, ada sebuah kotak.
Kotaknya kecil. Kira-kira sebesar dua telapak tangan dewasa yang disatukan. Warnanya coklat tua. Kayunya terasa halus meski sudah tua. Tidak ada ukiran. Tidak ada hiasan. Hanya kotak kayu polos dengan sebuah pengait kecil dari kuningan.
Dewi Rengganis mengangkat kotak itu. Tangannya gemetar. Ia membawa kotak itu ke tempat cahaya bulan masuk, duduk bersila di lantai, dan membuka pengaitnya.
Pelan-pelan.
Kotak itu terbuka.
Di dalamnya, beralaskan kain beludru merah yang sudah lusuh, ada dua benda.
Pertama: sebentuk cincin batu akik merah. Batunya bulat, sebesar biji asam jawa. Warnanya merah tua, seperti darah yang mengering. Tetapi saat kena cahaya bulan, merah itu berdenyut. Ya, berdenyut. Seperti ada sesuatu yang hidup di dalamnya.
Kedua: sesobek kain. Kainnya sudah tua, tepiannya sudah berjumbai. Warnanya putih kekuningan karena usia. Ada tulisan di kain itu. Tulisan tangan. Dengan tinta yang sudah pudar tetapi masih bisa dibaca. Dalam aksara Jawa kuno. Dewi Rengganis tidak terlalu fasih membaca aksara Jawa, tetapi ia bisa menerka-nerka.
Tulisan itu berbunyi:
"Untuk anakku. Bila suatu hari kau punya anak lelaki, berikan cincin ini padanya. Biarkan ia menjaganya. Biarkan cincin ini menjaganya. Karena hati yang dijaga tidak akan pernah tersesat, meski jalannya gelap."
Tidak ada nama. Tidak ada tanda tangan. Hanya kalimat itu.
Dewi Rengganis memegang cincin itu. Batu akik merah itu terasa hangat di telapak tangannya. Hangat seperti air susu yang baru keluar. Hangat seperti pelukan.
Ia tiba-tiba teringat pada mimpi tadi. Lelaki Tua dari Mimpi berkata: "Kau akan memberinya pusaka."
Ini dia. Cincin batu akik merah ini. Pusaka dari suaminya. Atau mungkin dari mertuanya yang tidak pernah ia kenal. Atau mungkin dari leluhur yang lebih tua lagi. Tidak penting. Yang penting, ini adalah pusaka pertama untuk Sultan Hasan.
Dewi Rengganis menutup kotak itu kembali. Ia menyimpannya di bawah papan. Lalu ia kembali ke tikar, merebahkan diri di samping Sultan Hasan.
Bayi itu bergerak. Matanya terbuka. Hitam pekat. Menatap ibunya.
Dewi Rengganis tersenyum. "Kau akan punya teman, Nak. Cincin ini. Batu akik merah ini. Ia akan menjagamu. Seperti ibu menjagamu. Seperti kakek-nenekmu yang tidak pernah kau temui menjagamu."
Sultan Hasan mengerjapkan matanya sekali. Dua kali. Lalu tersenyum.
Bayi seusianya seharusnya belum bisa tersenyum dengan sadar. Tapi Sultan Hasan tersenyum. Senyum yang tidak kekanak-kanakan. Senyum yang tahu.
Di luar, burung hantu berbunyi. Sekali. Pendek.
Bulan bersinar terang, menusuk kegelapan malam.
Keesokan paginya, air susu Dewi Rengganis kembali normal.
Ia tidak tahu mengapa. Mungkin karena mimpinya semalam. Mungkin karena ia menemukan pusaka itu. Mungkin karena ia sudah tidak terlalu sedih. Atau mungkin karena Sultan Hasan, yang semalam sempat tersenyum, pagi ini menyusu dengan lahap seperti bayi normal lainnya.
Mak Umi yang datang menjenguk terkejut. "Coba kuperiksa," katanya sambil memegang payudara Dewi Rengganis. "Hmm... susunya sudah putih lagi. Kental. Manis baunya. Sehat. Ada apa semalam? Kau minum jamu?"
"Tidak," kata Dewi Rengganis. "Aku hanya... bermimpi."
"Bermimpi?"
"Bermimpi tentang lelaki tua berjubah putih. Ia bilang susuku pahit karena aku terlalu sedih. Dan setelah itu aku menemukan sesuatu."
Dewi Rengganis hampir saja menceritakan tentang kotak dan cincin dan kain bertuliskan aksara Jawa. Tapi ia urungkan. Ada firasat di hatinya bahwa pusaka itu harus dijaga kerahasiaannya. Tidak semua orang boleh tahu.
"Menemukan apa?" tanya Mak Umi penasaran.
"Tidak apa-apa," kata Dewi Rengganis. "Hanya... hanya perasaan. Bahwa anak saya akan baik-baik saja."
Mak Umi tidak memaksa. Ia tahu Dewi Rengganis perempuan yang tertutup. Tidak suka menceritakan urusan pribadinya. Ia hanya mengangguk, lalu pamit pulang dengan membawa segenggam beras yang diberikan Dewi Rengganis sebagai tanda terima kasih meski sebenarnya Dewi Rengganis sendiri hampir kehabisan beras.
Setelah Mak Umi pergi, Dewi Rengganis menggendong Sultan Hasan. Ia berjalan ke luar gubuk. Matahari pagi menyambutnya. Hangat. Cerah. Ayam-ayam berkotek di kejauhan. Burung-burung beterbangan dari pohon ke pohon.
Seperti tidak ada yang salah dengan dunia.
Tapi Dewi Rengganis tahu, di balik semua ini, ada sesuatu yang besar sedang mengintai. Sesuatu yang akan mengubah hidup anaknya selamanya.
Ia mencium kening Sultan Hasan.
"Kau kuat, Nak," bisiknya. "Jauh lebih kuat dari ibu. Ibu hanya bisa menemani beberapa tahun. Tapi cincin ini... cincin ini akan menemanimu selamanya. Jagalah ia. Dan ia akan menjagamu."
Sultan Hasan, yang sedang nyenyak dalam gendongan, tiba-tiba menggerakkan tangan kanannya. Tangannya yang mungil itu menggenggam jari telunjuk Dewi Rengganis. Genggaman yang kuat. Genggaman yang tidak mau dilepas.
Dewi Rengganis tersenyum.
Air matanya menetes lagi. Tapi kali ini bukan air mata sedih. Bukan juga air mata takut.
Ini air mata syukur.
Karena di tengah semua kutukan dan penolakan dan desas-desus tentang nama yang terlalu besar untuk anak kampung, di tengah semua itu, ia masih punya anak ini. Sehat. Kuat. Dan sudah memegang pusakanya sebelum bisa memegang apa pun.
Dunia boleh mengutuk. Tapi pusaka tidak akan mengkhianati.
Demikian pikir Dewi Rengganis pagi itu, di bawah sinar matahari yang hangat, sambil menggendong Sultan Hasan yang menggenggam jari telunjuknya erat-erat.
Dan di kejauhan, di atas pohon asam tua di halaman depan, seekor burung hantu menatap mereka berdua. Tidak berbunyi. Hanya menatap. Dengan matanya yang bundar dan kuning.
Seolah ia setuju.
BAB IV
Pusaka Tersembunyi
Usia Sultan Hasan genap empat puluh hari ketika Dewi Rengganis memutuskan untuk memberi tahu suaminya tentang pusaka itu.
Masalahnya, Hasan , msuami Dewi Rengganis , tidak kunjung pulang.
Tiga minggu sudah ia pergi ke hulu sungai untuk mencari kayu jati. Tiga minggu sudah tidak ada kabar. Tiga minggu sudah Dewi Rengganis tidur sendirian di gubuk yang atapnya masih bolong di tiga tempat, ditemani oleh bayi yang tangisnya kadang terdengar seperti tangisan orang dewasa.
Tiga minggu adalah waktu yang lama untuk seorang suami meninggalkan istri yang sedang hamil tua. Terlalu lama. Bahkan untuk ukuran perjalanan ke hulu sungai yang biasanya hanya memakan waktu seminggu pulang-pergi.
Orang-orang desa mulai berbisik.
"Mungkin dia mati dimakan buaya."
"Mungkin dia tersesat di hutan."
"Mungkin dia lari. Meninggalkan istri dan anaknya yang aneh itu."
Dewi Rengganis mendengar bisikan-bisikan itu. Ia mendengar semuanya. Tapi ia memilih untuk tidak percaya. Hatinya mengatakan bahwa Hasan masih hidup. Hatinya mengatakan bahwa suaminya akan kembali. Hatinya mengatakan bahwa ada sesuatu yang menahannya di hulu – sesuatu yang tidak bisa dijelaskan, tetapi juga tidak bisa dilawan.
Lelaki Tua dari Mimpi pernah berkata: "Jagalah anakmu. Kau tidak akan bersamanya lama."
Tapi Lelaki Tua dari Mimpi tidak pernah berkata bahwa Hasan akan mati. Tidak. Ia hanya berkata bahwa Dewi Rengganis tidak akan lama bersama Sultan Hasan. Bukan Hasan. Dewi Rengganis. Dirinya sendiri.
Itu yang membuatnya takut. Bukan karena Hasan belum pulang. Tapi karena firasat bahwa dirinya sendiri yang akan pergi lebih dulu.
Suatu sore, saat hujan turun dengan derasnya, Dewi Rengganis duduk di ambang pintu gubuknya sambil menggendong Sultan Hasan. Hujan di Dukuh Wangi tidak seperti hujan di tempat lain. Airnya turun seperti direbus dari langit. Anginnya menyengat tulang. Dan petirnya menyambar-nyambar seperti amarah dewa yang tidak terkendali.
Tiba-tiba, di sela-sela deru hujan, Dewi Rengganis mendengar suara langkah kaki. Bukan langkah biasa. Langkah ini berat, terseret-seret, seperti orang yang sedang sakit parah atau kelelahan luar biasa.
Ia menengok ke arah suara itu.
Di tengah hujan, seorang lelaki berjalan menuju gubuknya. Tubuhnya basah kuyup. Pakaiannya compang-camping. Wajahnya pucat seperti mayat. Rambutnya panjang dan kusut, tidak terawat. Ia hampir tidak bisa berjalan. Setiap langkah terasa seperti perjuangan antara hidup dan mati.
Tapi Dewi Rengganis mengenalinya.
Meski wajahnya pucat. Meski tubuhnya kurus kering. Meski matanya cekung dan bibirnya pecah-pecah. Dewi Rengganis mengenali suaminya.
"Hasan!" teriaknya.
Ia bangkit. Sultan Hasan yang ada di gendongannya terbangun dan mulai menangis. Tapi Dewi Rengganis tidak peduli. Ia berlari ke tengah hujan, mendekati suaminya yang hampir roboh.
Hasan tersenyum. Senyum yang lemah. Senyum yang nyaris padam. Dan sebelum sempat mengatakan apa-apa, ia jatuh tersungkur di depan istrinya.
Dewi Rengganis berteriak meminta tolong. Tapi suaranya tenggelam oleh deru hujan dan gemuruh petir.
Butuh waktu tiga hari bagi Hasan untuk bisa bicara lagi.
Demamnya tinggi. Seluruh tubuhnya panas seperti bara. Badannya menggigil meski ditumpuki selimut tebal. Dewi Rengganis bergantian mengompres dahinya dengan air dingin dan menyuapi bubur panas ke mulutnya. Sultan Hasan, yang masih bayi, kadang ikut menangis saat melihat ibunya sibuk merawat ayahnya.
Pada malam ketiga, demam Hasan mulai turun. Matanya terbuka. Samar-samar. Seperti orang yang baru sadar dari tidur panjang.
"Rengganis..." bisiknya.
Dewi Rengganis yang sedang duduk di sampingnya langsung mendekat. "Ya, Has? Aku di sini."
"Aku... aku melihat sesuatu. Di hulu. Sesuatu yang... tidak pernah kulihat sebelumnya."
Dewi Rengganis menunggu. Ia tahu suaminya bukan tipe orang yang suka berlebihan. Jika Hasan mengatakan ia melihat sesuatu, maka ia benar-benar melihat sesuatu.
"Aku mencari kayu jati di hulu," kata Hasan pelan. "Sudah tiga hari aku berjalan. Tidak menemukan apa-apa. Hutan di hulu sekarang gundul. Banyak ditebang secara diam-diam oleh orang-orang dari luar desa. Aku hampir putus asa. Tapi kemudian..."
Ia berhenti. Matanya menerawang. Seperti sedang mengingat mimpi yang sangat aneh.
"Kemudian aku tersesat. Padahal aku tahu hutan itu seperti telapak tanganku sendiri. Tapi tiba-tiba semua pohon terlihat sama. Semua jalan terasa berputar. Aku berjalan berjam-jam, mungkin berhari-hari, aku tidak tahu. Dan akhirnya aku sampai di sebuah tempat yang belum pernah aku lihat sebelumnya."
"Tempat apa?"
"Sebuah goa. Goa di tebing batu di tepi sungai. Tapi bukan goa biasa. Dinding goa itu... bersinar. Ada tulisan-tulisan. Aksara kuno. Yang tidak bisa kubaca. Dan di tengah goa, ada sebuah... pusaka."
Dewi Rengganis terhenyak. Pusaka. Kata yang sama yang keluar dari mulut Lelaki Tua dari Mimpi.
"Pusaka apa?" tanyanya.
Hasan menggeleng. "Aku tidak tahu. Aku tidak bisa mendekat. Ada suara. Suara perempuan. Suara yang sangat tua. Ia berkata: 'Jangan sentuh. Ini bukan untukmu. Ini untuk anakmu.'"
Dewi Rengganis terdiam. Untuk anaknya. Sultan Hasan.
"Aku mencoba mendekat, tapi tubuhku terasa berat. Sangat berat. Seperti ada tangan tak terlihat yang menahanku. Lalu aku pingsan. Dan ketika aku bangun, aku sudah berada di tepi sungai, jauh dari goa itu. Tubuhku sakit semua. Aku hampir tidak bisa berjalan. Tapi aku harus pulang. Aku harus memberitahumu."
Hasan menghela napas panjang. Matanya berkaca-kaca.
"Maafkan aku, Rengganis. Aku tidak membawa kayu jati. Aku gagal."
Dewi Rengganis menggenggam tangan suaminya. "Kau tidak gagal, Has. Kau pulang. Itu yang penting."
Tapi di dalam hatinya, Dewi Rengganis bertanya-tanya. Goa bersinar. Tulisan kuno. Pusaka yang menunggu anaknya. Dan Nini Mas Intan yang muncul di malam kelahiran. Dan Lelaki Tua dari Mimpi. Dan cincin batu akik merah yang sudah ia temukan di bawah papan lantai.
Semua ini terhubung. Tapi bagaimana? Ia tidak tahu.
Yang ia tahu, anaknya, Sultan Hasan, yang baru berusia empat puluh hari, sudah memiliki takdir yang lebih besar dari seluruh desa ini.
Dua minggu kemudian, ketika Hasan sudah pulih sepenuhnya, Dewi Rengganis memutuskan untuk menunjukkan kotak kayu itu kepada suaminya.
Malam itu, setelah Sultan Hasan tertidur, Dewi Rengganis meraih tangan Hasan dan membawanya ke sudut gubuk. Ia menyingsingkan tikar. Mengangkat papan yang longgar. Mengeluarkan kotak kayu coklat tua dengan pengait kuningan itu.
Hasan terkejut. "Kau... kau membukanya?"
"Aku membukanya saat kau belum pulang. Saat susuku pahit dan Sultan Hasan tidak mau menyusu. Aku bermimpi. Ada Lelaki Tua. Ia menyuruhku mencari pusaka."
Hasan membuka kotak itu. Tangannya gemetar. Ia mengeluarkan cincin batu akik merah. Batu itu berdenyut di telapak tangannya. Denyut yang sama seperti saat Dewi Rengganis memegangnya dulu.
"Ini... ini milik ayahku," bisik Hasan. "Atau mungkin kakekku. Aku tidak pernah tahu pasti. Ia memberikannya padaku sebelum aku merantau. Ia bilang, 'Bawa ini. Jaga ini. Suatu hari kau akan tahu untuk apa ini.'"
"Dan kau tidak pernah membukanya?"
Hasan menggeleng. "Aku takut. Aku merasa belum waktunya. Aku hanya menyimpannya di bawah lantai, berpikir bahwa suatu hari nanti aku akan tahu kapan harus membukanya. Ternyata... kau yang membukanya untukku."
Ia memandang istrinya. Matanya penuh haru.
"Kau lebih berani dariku, Rengganis."
Dewi Rengganis tersenyum. "Aku tidak berani. Aku hanya terdesak. Susuku hampir kering. Bayiku hampir mati kelaparan. Aku tidak punya pilihan."
Hasan mengangguk. Ia mengeluarkan sesobek kain dari dalam kotak. Kain putih kekuningan dengan tulisan aksara Jawa kuno. Ia membacanya. Perlahan. Matanya bergerak dari satu aksara ke aksara berikutnya.
"Untuk anakku. Bila suatu hari kau punya anak lelaki, berikan cincin ini padanya. Biarkan ia menjaganya. Biarkan cincin ini menjaganya. Karena hati yang dijaga tidak akan pernah tersesat, meski jalannya gelap."
Hasan menutup matanya. Air mata mengalir di pipinya yang mulai berjanggut.
"Ayah..." bisiknya. "Ayah... aku punya anak lelaki sekarang. Namanya Sultan Hasan. Ia masih bayi. Tapi ia... ia luar biasa."
Dewi Rengganis memeluk suaminya. Mereka berdua menangis dalam diam. Di sudut lain gubuk, Sultan Hasan tidur nyenyak, tidak terganggu oleh tangis orangtuanya.
Burung hantu di luar berbunyi. Sekali. Pendek.
Seolah mengatakan: Sekarang pusaka itu sudah tidak tersembunyi lagi.
Esok paginya, Hasan memakaikan cincin batu akik merah itu ke jari manis Sultan Hasan.
Cincin itu terlalu besar untuk jari mungil bayi. Jauh terlalu besar. Tapi anehnya, saat Hasan melingkarkannya di jari manis anaknya, cincin itu mengecil. Perlahan. Seperti menyesuaikan diri. Seperti ada kehidupan di dalam batu itu yang sadar bahwa pemiliknya sekarang adalah seorang bayi.
Sultan Hasan yang sedang terbangun, membuka matanya. Matanya yang hitam pekat menatap cincin di jarinya. Ia tersenyum. Senyum yang sama saat ia tersenyum pada ibunya malam itu.
"Senyum itu..." kata Hasan terheran-heran. "Anak seusianya tidak bisa tersenyum seperti itu."
"Sudah kubilang," kata Dewi Rengganis. "Anak kita tidak biasa."
Hasan menggendong anaknya. Sultan Hasan menggenggam jari telunjuk ayahnya dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya, dengan cincin akik merah di jari manisnya, mengepal dan membuka bergantian, seperti sedang belajar merasakan benda asing yang kini menempel padanya.
"Cincin ini akan menjagamu, Nak," bisik Hasan. "Dan kau akan menjaganya. Kalian berdua akan saling menjaga. Selamanya."
Di luar, matahari terbit dengan cerahnya. Ayam-ayam berkotek. Burung-burung bernyanyi. Desa mulai bangun. Dan untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, Dewi Rengganis merasa ada sedikit harapan.
Anaknya mungkin dikutuk. Anaknya mungkin dijauhi. Anaknya mungkin tumbuh dalam kesendirian.
Tapi ia tidak akan sendirian. Ia punya cincin. Ia punya pusaka. Dan pusaka itu tidak akan pernah meninggalkannya.
Dunia boleh mengutuk. Pusaka tidak akan mengkhianati.
Demikian pikir Dewi Rengganis pagi itu, di bawah sinar matahari yang hangat, sambil memandangi suami dan anaknya yang tertawa bersama untuk pertama kalinya.
Dan di kejauhan, di atas pohon asam tua di halaman depan, seekor burung hantu menatap mereka bertiga. Tidak berbunyi. Hanya menatap.
Seolah ia tahu bahwa pusaka itu sekarang sudah berada di tangan yang tepat.
Dan cerita sesungguhnya baru akan dimulai.
BAB V
Ayah yang Pergi
Tidak ada yang tahu persis apa yang terjadi di hulu sungai pada pagi itu.
Yang diketahui, Hasan bangun lebih awal dari biasanya. Matahari belum terbit. Ayam jantan pun masih pada tidur. Namun ia sudah duduk di pinggir tikar, merapikan buntalan kainnya, menyelipkan sebilah parang pendek di pinggang.
Dewi Rengganis terbangun karena merasa ada yang ganjil. Biasanya Hasan tidur seperti balok kayu, tidak bergerak sampai matahari meninggi. Tapi pagi itu, sisi tikar di sampingnya terasa dingin. Sudah lama ditinggalkan.
"Hasan?" panggilnya pelan, takut membangunkan Sultan Hasan yang sedang nyenyak di antara mereka berdua.
"Ya," jawab suaminya dari balik punggung. Suaranya aneh. Tidak seperti biasanya. Ada getar yang tidak bisa disembunyikan.
Dewi Rengganis duduk. Matanya masih sayu karena kantuk. Tapi begitu melihat Hasan sudah berpakaian rapi dengan buntalan di sampingnya, kantuk itu lenyap seketika. Digantikan oleh sesuatu yang dingin menjalari punggung.
"Kau mau ke mana?" tanyanya, padahal ia sudah tahu jawabannya.
Hasan tidak segera menjawab. Ia terus merapikan buntalannya, meski sebenarnya tidak ada yang perlu dirapikan lagi. Kain buntalan itu sudah ia lipat tiga kali, dibuka lagi, dilipat ulang. Seperti orang yang sedang menunda sesuatu.
"Ke hulu," katanya akhirnya.
"Ke hulu lagi? Kau baru saja pulang, Has. Tubuhmu masih belum pulih benar."
"Aku sudah sehat."
"Belum. Kau masih batuk-batuk di malam hari. Aku mendengarnya."
Hasan terdiam. Ia tahu istrinya benar. Setelah tiga minggu tersesat di hutan, setelah demam tinggi yang hampir merenggut nyawanya, tubuhnya memang belum pulih seratus persen. Kadang di malam hari ia menggigil tanpa sebab. Kadang di siang hari tiba-tiba pusing dan harus duduk sebentar.
Tapi ada sesuatu yang mendorongnya. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Sebuah panggilan. Sebuah bisikan. Sebuah keharusan.
"Aku harus kembali ke goa itu, Rengganis."
Dewi Rengganis menarik napas panjang. "Goa dengan pusaka yang tidak boleh kau sentuh? Goa dengan suara perempuan tua yang melarangmu mendekat?"
"Iya. Goa itu."
"Untuk apa? Sudah kau dengar sendiri suara itu. Pusaka itu bukan untukmu. Untuk anak kita. Sultan Hasan."
Hasan menggeleng. "Bukan untuk mengambil pusaka. Aku hanya ingin... memastikan. Aku ingin melihat lagi. Mungkin aku salah. Mungkin aku hanya mengigau karena demam. Mungkin tidak ada goa, tidak ada suara, tidak ada tulisan di dinding. Mungkin itu semua hanya halusinasi."
Dewi Rengganis memandang suaminya. Ia bisa membaca kegelisahan di mata Hasan. Bukan kegelisahan karena penasaran biasa. Ini kegelisahan yang lebih dalam. Seperti orang yang sedang dikejar oleh sesuatu yang tidak bisa ia lihat, tetapi ia rasakan di setiap helaan napasnya.
"Kalau kau tetap mau pergi," kata Dewi Rengganis perlahan, "setidaknya tunggu sampai cuaca cerah. Beberapa hari lagi. Biar aku buatkan bekal yang cukup."
Hasan menggeleng lagi. "Harus sekarang. Sebelum matahari terbit."
"Kenapa?"
"Karena..." Hasan berhenti. Ia menggigit bibirnya. Wajahnya berubah pucat. "Karena semalam aku bermimpi lagi. Tentang goa itu. Tentang perempuan tua itu. Ia berkata... ia berkata kalau aku tidak segera kembali, pusaka itu akan diambil oleh orang lain."
Dewi Rengganis terhenyak. Mimpi. Lagi-lagi mimpi. Seperti mimpi yang ia alami dulu, saat susunya pahit dan Sultan Hasan tidak mau menyusu. Mimpi yang terasa begitu nyata. Mimpi yang bukan sekadar bunga tidur.
"Siapa orang lain itu?" tanyanya.
"Aku tidak tahu. Perempuan tua itu tidak menyebut nama. Tapi nada bicaranya... ia takut. Suara yang bisa membuatku tersesat di hutan selama berminggu-minggu itu ternyata bisa juga ketakutan. Ada sesuatu yang lebih kuat darinya. Sesuatu yang mengancam pusaka itu."
Dewi Rengganis terdiam.
Di luar, langit mulai memutih. Ayam jantan akhirnya berkokok. Satu kali. Dua kali. Kemudian serempak dari seluruh penjuru desa, seolah menyepakati bahwa hari baru telah dimulai.
Hasan berdiri. Ia menggantung buntalannya di bahu. Ia meraba parang di pinggang, memastikan masih ada di tempatnya.
"Aku akan pergi sekarang," katanya. "Jangan cegah aku."
"Aku tidak akan mencegahmu," kata Dewi Rengganis. "Tapi janjikan aku satu hal."
"Apa?"
"Kembali. Apa pun yang terjadi di goa itu, kembali ke sini. Anakmu membutuhkan ayahnya."
Hasan menatap istrinya. Kemudian matanya beralih ke Sultan Hasan yang masih tidur nyenyak di tikar. Bayi itu berguling sedikit. Tangannya yang memakai cincin batu akik merah berada di atas dadanya, naik turun mengikuti napasnya yang teratur.
Hasan berjongkok. Ia mencium kening Sultan Hasan. Sekali. Lama.
"Jaga ibu mu, Nak," bisiknya. "Ayah harus pergi sebentar. Ayah akan pulang. Ayah janji."
Sultan Hasan tidak bereaksi. Ia tetap tidur. Damai. Tidak terganggu.
Hasan berdiri. Ia memandang Dewi Rengganis sekali lagi. Ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Semacam perpisahan yang terasa lebih berat dari sekadar pergi ke hulu untuk mencari kayu jati.
"Selamat tinggal, Rengganis."
"Bukan selamat tinggal. Sampai jumpa."
Hasan tersenyum. Senyum yang pahit. Senyum yang tahu.
Kemudian ia berbalik. Melangkah keluar gubuk. Menyusuri jalan setapak menuju timur, tempat di mana hutan lebat mulai dan cahaya matahari kesulitan menembus kanopi pohon-pohon tua.
Dewi Rengganis berdiri di ambang pintu. Ia melihat suaminya berjalan menjauh. Langkahnya tegap, tapi lambat. Seperti orang yang tidak benar-benar ingin pergi tetapi terpaksa.
Ia menahan diri untuk tidak berteriak, "Jangan pergi!"
Ia menahan diri untuk tidak berlari mengejar dan menarik lengan suaminya.
Ia membiarkan Hasan pergi.
Karena ia tahu, kadang-kadang, mencintai berarti melepaskan. Meski perasaan di dada terasa seperti diremas-remas oleh tangan tak terlihat.
Hasan berbalik sekali lagi saat jarak mereka sudah cukup jauh. Ia melambaikan tangan. Dewi Rengganis membalas lambaian itu.
Kemudian Hasan masuk ke dalam kegelapan hutan. Dan lenyap.
Seperti ditelan bumi.
Hari pertama tanpa Hasan terasa biasa saja.
Dewi Rengganis melakukan rutinitas yang sama seperti biasanya. Bangun pagi. Menyusui Sultan Hasan. Menjemur pakaian. Memasak nasi untuk dirinya sendiri. Tidak ada yang istimewa. Tidak ada yang aneh.
Hanya saja, ia merasa ada keheningan yang berbeda di gubuk itu. Keheningan yang tidak datang dari ketiadaan suara, melainkan dari ketiadaan seseorang. Seperti kursi yang biasanya diduduki sekarang kosong. Seperti tikar yang biasanya ditempati dua orang sekarang hanya untuk satu setengah (karena Sultan Hasan masih terlalu kecil untuk dihitung sebagai satu orang utuh).
Hari kedua juga sama.
Hari ketiga, Dewi Rengganis mulai gelisah. Perjalanan ke hulu biasanya memakan waktu seminggu pulang-pergi. Tapi itu untuk orang normal. Hasan sedang dalam kondisi tidak normal. Tubuhnya belum pulih. Ia pergi dengan bekal seadanya. Dan ia pergi dengan beban pikiran yang berat tentang goa dan pusaka dan perempuan tua.
Malam ketiga, Dewi Rengganis bermimpi.
Ia berdiri di tepi sungai. Bukan sungai biasa. Sungai ini airnya hitam pekat seperti tinta. Tidak mengalir. Diam. Seperti air mati. Dan di seberang sungai, ia melihat seorang lelaki berdiri membelakanginya.
Lelaki itu memakai baju putih. Rambutnya panjang sebahu. Tubuhnya tegap.
Dewi Rengganis mengenalinya meski hanya dari belakang.
"Hasan!" teriaknya.
Lelaki itu tidak bergerak.
"Hasan! Baliklah! Aku di sini!"
Lelaki itu perlahan menoleh. Wajahnya pucat. Matanya kosong. Bibirnya biru. Dan dari mulutnya, keluar suara yang bukan suaranya. Suara perempuan. Tua. Serak.
"Ia tidak bisa kembali, Dewi Rengganis. Ia sudah menjadi milikku."
Dewi Rengganis terbangun dengan jeritan yang tertahan di tenggorokan.
Ia duduk di tikar. Tubuhnya basah oleh keringat dingin. Sultan Hasan yang tidur di sampingnya terbangun dan mulai menangis. Bukan tangisan biasa. Tangisan keras. Tangisan yang sama saat ia dilahirkan. Tangisan yang sudah tua.
Dewi Rengganis menggendong anaknya. Ia mengguncang-guncangnya dengan lembut. Ia menenangkannya dengan suara pelan. Tapi Sultan Hasan terus menangis. Seolah ia juga melihat mimpi yang sama. Seolah ia juga tahu bahwa ayahnya tidak akan pulang.
Di luar, burung hantu berbunyi.
Sekali. Pendek.
Tapi kali ini bunyinya berbeda. Tidak seperti tanda persetujuan. Lebih seperti ratapan.
Tujuh hari. Empat belas hari. Tiga puluh hari.
Hasan tidak kunjung pulang.
Dewi Rengganis sudah melaporkan ke kepala desa. Kepala desa sudah mengirimkan beberapa orang untuk mencari ke hulu. Mereka mencari selama seminggu. Mereka menyusuri sungai. Memasuki hutan. Memeriksa gua-gua yang mungkin menjadi tempat persembunyian.
Mereka tidak menemukan apa-apa.
Tidak ada jejak. Tidak ada pakaian sobek. Tidak ada bekas darah. Tidak ada tulang-belulang. Hasan lenyap seperti ditelan udara.
"Mungkin ia pergi ke desa lain," kata kepala desa. "Mungkin ia tidak betah di sini. Mungkin ia... meninggalkan kau dan anakmu."
Dewi Rengganis tidak percaya. Ia tahu suaminya. Hasan bukan tipe laki-laki yang lari dari tanggung jawab. Ia pergi ke hulu untuk sesuatu yang penting. Sesuatu yang berhubungan dengan goa dan pusaka. Dan ia tidak kembali karena sesuatu yang mencegahnya.
Tapi ia tidak bisa menjelaskan semua itu kepada kepala desa. Kepala desa hanya akan tertawa. Atau lebih parah, ia akan menganggap Dewi Rengganis sudah mulai kehilangan akal sehatnya karena ditinggal suami.
Jadi Dewi Rengganis hanya diam. Ia menggendong Sultan Hasan. Ia kembali ke gubuknya. Ia menangis di dalam hati.
Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar sendirian.
Usia Sultan Hasan menginjak enam bulan ketika Dewi Rengganis jatuh sakit.
Awalnya hanya batuk-batuk kecil. Seperti yang biasa diderita orang saat musim pancaroba. Tapi batuk itu tidak kunjung sembuh. Malah memburuk. Dari batuk kering menjadi batuk berdahak. Dari batuk berdahak menjadi batuk darah.
Dewi Rengganis tidak mau pergi ke dukun. Ia tidak punya uang untuk membeli jampi-jampi. Ia juga tidak mau merepotkan tetangga yang sudah sejak awal menjauhinya. Ia hanya berbaring di tikar, menggendong Sultan Hasan, dan berdoa kepada Tuhan yang mungkin tidak lagi mendengarnya.
Sultan Hasan tumbuh menjadi bayi yang aneh.
Pada usia enam bulan, ia sudah bisa duduk sendiri. Pada usia tujuh bulan, ia sudah bisa merangkak dengan cepat. Pada usia delapan bulan, ia sudah mengucapkan kata pertama.
"Ma... ma..."
Bukan "mama" seperti bayi lain menyebut ibu. Tapi "ma... ma..." dengan jeda di tengahnya. Seperti orang yang sedang memanggil dari kejauhan.
Dewi Rengganis tersenyum mendengarnya. Senyum yang lemah. Senyum yang terlihat lebih mirip rintihan.
"Nak... ibu sakit," bisiknya. "Ibu tidak tahu bisa bertahan berapa lama lagi."
Sultan Hasan yang sedang duduk di pangkuannya menatap ibunya. Matanya yang hitam pekat itu berair. Seolah ia mengerti. Seolah ia sudah tahu sejak lama.
"Ibu titipkan ini padamu," Dewi Rengganis melanjutkan. Tangannya yang kurus meraih tangan kanan Sultan Hasan. Ia menyentuh cincin batu akik merah yang masih melingkar di jari manis bayinya. Cincin itu sekarang sudah tidak terlalu besar. Seolah batu itu terus menyesuaikan diri dengan pertumbuhan pemiliknya.
"Cincin ini... jaga cincin ini. Ia akan menjagamu. Ia akan membawamu bertemu dengan... dengan seseorang. Seseorang yang akan kau cintai sepanjang hidupmu."
Dewi Rengganis batuk. Batuk yang keras. Darah berceceran di kain sarungnya.
Sultan Hasan tidak menangis. Ia hanya memandang ibunya. Tangannya yang mungil mengusap pipi Dewi Rengganis. Seperti menghapus air mata yang belum sempat jatuh.
"Kau kuat, Nak," bisik Dewi Rengganis untuk terakhir kalinya. "Jauh lebih kuat dari ibu."
Kemudian matanya terpejam.
Tangannya yang memegang tangan Sultan Hasan, lemas.
Dan di luar gubuk, meskipun ini siang bolong, seekor burung hantu berbunyi.
Sekali. Pendek.
Lalu terbang meninggalkan pohon asam tua itu, menuju ke timur, ke arah hutan lebat, ke arah tempat Hasan lenyap, seolah membawa kabar bahwa sekarang Sultan Hasan benar-benar yatim piatu.
Mak Umi yang menemukan mereka sore harinya.
Perempuan gemuk dengan rambut keriting itu datang membawa segenggam beras seperti biasa. Ia ingin memastikan Dewi Rengganis baik-baik saja. Sebab sudah tiga hari ia tidak melihat asap dari dapur gubuk itu. Tidak ada tanda-tanda kehidupan.
Ia memanggil dari luar. Tidak ada jawaban. Ia mendorong pintu bambu yang tidak terkunci.
Dewi Rengganis terbaring di tikar. Wajahnya pucat. Matanya terpejam. Mulutnya sedikit terbuka. Tidak bergerak.
Di sampingnya, Sultan Hasan duduk tegak. Bayi berusia delapan bulan yang seharusnya belum bisa duduk sendiri dengan stabil itu duduk dengan punggung lurus. Matanya yang hitam pekat menatap Mak Umi. Tidak menangis. Tidak tersenyum. Hanya menatap.
Mak Umi menghampiri. Ia menyentuh leher Dewi Rengganis. Dingin. Sudah berjam-jam.
Perempuan itu berteriak. Ia berlari keluar gubuk, memanggil-manggil tetangga. Orang-orang mulai berdatangan. Mereka membawa kain kafan. Mereka membawa air untuk memandikan mayat. Mereka membawa perlengkapan pemakaman.
Tapi tidak ada yang menggendong Sultan Hasan.
Bayi itu ditinggalkan sendirian di atas tikar, di samping mayat ibunya, dengan cincin batu akik merah di jari manisnya, dan dengan tatapan mata yang terlalu tua untuk bayi seusianya.
Mak Umi yang akhirnya menggendongnya. Dengan tangan gemetar, ia memangku Sultan Hasan. Bayi itu tidak melawan. Ia membiarkan dirinya digendong, meski matanya tetap menatap ke arah tikar kosong tempat ibunya terbaring beberapa saat lalu.
"Kasihan kau, Nak," bisik Mak Umi. "Ayahmu pergi. Ibumu mati. Dan seluruh desa mengutuk namamu. Siapa yang akan merawatmu?"
Sultan Hasan tidak menjawab. Ia hanya menggenggam jari telunjuk Mak Umi dengan tangannya yang mungil. Genggaman yang kuat. Genggaman yang tidak mau dilepas.
Mak Umi menangis.
Di luar, langit mendung. Seperti ikut berduka. Seperti tahu bahwa cerita ini baru benar-benar dimulai.
Dan di kejauhan, di atas pohon beringin tua di balai pertemuan, seekor burung hantu menatap ke arah gubuk itu. Matanya bundar dan kuning.
Ia tidak berbunyi.
Hanya menatap.
Seolah ia tahu bahwa Sultan Hasan sekarang sendirian di dunia. Dan bahwa perjalanannya yang sesungguhnya akan segera dimulai.
BAB VI
Usia Lima Tahun
Ketika Sultan Hasan genap berusia lima tahun, ia sudah terbiasa dengan tiga hal: kesepian, ejekan, dan batu akik merah di jari manisnya.
Tiga hal itu seperti saudara kembar yang tidak pernah meninggalkannya ke mana pun ia pergi. Kesepian menemani tidurnya. Ejekan menemani langkahnya. Dan batu akik merah itu menemani detak jantungnya, berdenyut setiap kali ia merasa takut atau marah atau sedih, seperti ada sesuatu di dalam batu itu yang hidup dan peduli padanya.
Setelah kematian Dewi Rengganis, Sultan Hasan tidak tinggal di gubuk reot itu sendirian. Mak Umi, perempuan gemuk berhati malaikat itu, membawanya ke rumahnya yang terletak di ujung desa yang lain. Bukan karena Mak Umi kaya atau punya hati seluas samudra. Mak Umi juga miskin. Suaminya, seorang buruh tani, hanya bisa makan satu kali sehari saat musim paceklik. Rumahnya hanya sedikit lebih baik dari gubuk Dewi Rengganis: atapnya bolong di dua tempat, bukan tiga.
Tapi Mak Umi memiliki sesuatu yang tidak dimiliki kebanyakan orang di Dukuh Wangi: ia tidak takut pada kutukan. Ia tidak percaya bahwa nama "Sultan Hasan" membawa sial. Ia tidak percaya bahwa anak yang lahir di malam gerhana akan mendatangkan bencana.
"Omong kosong," kata Mak Umi setiap kali orang mengingatkannya. "Anak itu cuma anak-anak biasa. Tidak punya ekor. Tidak punya tanduk. Tidak menyemburkan api dari mulutnya. Kalian semua yang aneh, bukan dia."
Namun demikian, Mak Umi tidak bisa melindungi Sultan Hasan dari seluruh desa. Ia hanya seorang perempuan tua miskin. Tidak punya kekuasaan. Tidak punya pengaruh. Yang bisa ia lakukan hanyalah memberi Sultan Hasan makan, memberinya tempat tidur, dan kadang-kadang membelai rambutnya saat malam sebelum tidur.
Selebihnya, Sultan Hasan harus menghadapi dunianya sendiri.
Pada usia lima tahun, Sultan Hasan sudah hafal semua jalan setapak di Dukuh Wangi.
Ia tahu persis di mana letak sumur yang airnya paling jernih. Ia tahu persis di mana pohon jambu air yang buahnya paling manis (meskipun ia tidak pernah berani memetiknya karena pohon itu milik Kyai Mandrawijaya). Ia tahu persis di mana tepi sungai yang landai dan aman untuk bermain air, dan di mana tepi sungai yang curam dan berbahaya karena banyak ularnya.
Tapi pengetahuan itu tidak berguna jika tidak ada teman untuk berbagi.
Sultan Hasan tidak punya teman.
Anak-anak seusianya dilarang orang tua mereka bermain dengannya. "Jangan dekati anak itu," bisik para ibu kepada anak-anak mereka. "Ia anak setan. Ia lahir di malam gerhana. Neneknya membantu kelahirannya adalah perempuan sihir. Ayahnya lenyap karena kutukan. Ibunya mati muda karena dia. Jangan-jangan kau berikutnya."
Anak-anak itu mendengarkan. Mereka mengangguk. Mereka takut.
Tapi anak-anak juga punya rasa ingin tahu. Kadang-kadang, saat orang tua mereka tidak melihat, beberapa anak lelaki nekat mendekati Sultan Hasan. Bukan untuk bermain. Untuk mengganggu.
"Hei, anak setan!" teriak salah satu dari mereka, anak kepala dusun bernama Jebat yang usianya setahun lebih tua dari Sultan Hasan dan tubuhnya sudah sebesar anak tujuh tahun. "Tunjukkan tandukmu! Katanya anak setan punya tanduk di kepalanya!"
Sultan Hasan tidak menjawab. Ia hanya menunduk. Tangan kanannya yang memakai cincin batu akik merah ia sembunyikan di balik punggung. Entah mengapa ia merasa bahwa batu itu akan marah jika ia menggunakannya untuk melawan anak-anak ini.
"Dia diam!" teriak Jebat kepada teman-temannya. "Dia takut! Anak setan itu takut!"
Mereka melempari Sultan Hasan dengan kerikil. Kecil-kecil. Tidak sampai melukai. Tapi cukup untuk membuatnya berlari.
Sultan Hasan berlari. Ia berlari melewati ladang-ladang jagung. Ia berlari melewati kebun singkong. Ia berlari sampai kakinya lecet dan napasnya tersengal-sengal. Ia berhenti di tepi sungai, di tempat yang landai yang ia tahu aman.
Ia duduk di atas batu. Matanya berkaca-kaca. Tapi ia tidak menangis.
Sejak kecil, ia belajar bahwa menangis tidak akan mengubah apa pun. Ibunya sudah mati. Ayahnya tidak pernah kembali. Tidak ada yang akan datang menghiburnya jika ia menangis. Bahkan Mak Umi, yang baik hati, tidak bisa selalu ada untuknya.
Yang bisa menemuinya hanyalah batu akik merah itu.
Sultan Hasan memandang cincin di jari manisnya. Batu itu berdenyut. Merahnya lebih terang dari biasanya. Seperti marah. Seperti kesal karena pemiliknya diperlakukan seperti itu.
"Sudahlah," bisik Sultan Hasan pada batu itu. "Aku sudah biasa."
Batu itu berdenyut sekali lagi. Lalu meredup. Kembali ke warna merah tua seperti biasa.
Sultan Hasan tersenyum kecil. Meski dunia mengusirnya, setidaknya ada satu makhluk yang selalu bersamanya.
Suatu sore, saat hujan turun dengan derasnya dan Sultan Hasan sedang duduk di beranda rumah Mak Umi sambil mengamati genangan air di halaman, seorang perempuan tua datang bertamu.
Perempuan itu sangat tua. Lebih tua dari siapa pun yang pernah dilihat Sultan Hasan. Rambutnya putih semua. Kulitnya keriput seperti kulit kayu. Matanya buram seperti susu diencerkan air. Ia memakai kain hitam lusuh dan membawa tongkat kayu nangka yang sudah aus.
Mak Umi yang membukakan pintu terperanjat. "Nini... Nini Mas Intan?"
Perempuan tua itu mengangguk. "Aku datang untuk melihat anak itu," katanya dengan suara serak. "Kabar tentang dia sampai juga ke tempatku bersembunyi. Katanya ia sekarang tinggal di sini."
Mak Umi menepuk dadanya. "Masuklah, Nek. Anaknya ada di beranda."
Nini Mas Intan berjalan perlahan menuju beranda. Langkahnya terseok-seok, tapi matanya yang buram itu tetap terarah ke Sultan Hasan, seperti magnet yang tidak bisa meleset.
Sultan Hasan memandang perempuan tua itu. Ada sesuatu di wajahnya yang familiar. Sesuatu yang tidak bisa ia ingat karena ia belum bisa mengingat apa pun saat usianya baru beberapa jam. Tapi tubuhnya mengingat. Hatinya mengingat. Perempuan ini pernah menggendongnya. Perempuan ini pernah menolongnya keluar dari rahim ibunya. Perempuan ini adalah orang pertama yang menyentuhnya di dunia ini.
"Sultan Hasan," kata Nini Mas Intan. Bukan pertanyaan. Pernyataan.
Sultan Hasan mengangguk.
"Kau tahu siapa aku?"
Tidak. Sultan Hasan tidak tahu. Tapi ia menggelengkan kepalanya dengan sopan.
"Aku Nini Mas Intan. Aku yang menolong ibumu melahirkanmu. Malam gerhana itu. Kau menangis keras sekali. Aku tidak akan lupa."
Sultan Hasan terdiam. Ia tidak tahu harus merespons bagaimana.
Nini Mas Intan duduk di sampingnya, di lantai papan beranda yang sedikit basah karena percikan air hujan. Ia meletakkan tongkatnya di samping. Kemudian tangannya yang keriput meraih tangan kanan Sultan Hasan.
Ia membuka telapak tangan anak itu. Ia memandang cincin batu akik merah di jari manisnya.
"Masih kau jaga," gumamnya. "Bagus. Bagus sekali."
Perempuan tua itu menghela napas panjang. Napas yang keluar dari dadanya terdengar seperti angin yang melewati celah-celah gua. Panjang. Berat. Penuh dengan sesuatu yang tidak bisa diucapkan.
"Aku sudah tua, Sultan Hasan. Sangat tua. Lebih tua dari pohon beringin di balai pertemuan. Lebih tua dari desa ini. Aku sudah melihat banyak hal. Tapi aku belum pernah melihat anak sepertimu."
"Apa bedanya aku dengan anak lain, Nek?" tanya Sultan Hasan. Suaranya kecil. Tidak seperti suara anak lima tahun pada umumnya. Ada kedewasaan yang aneh di sana. Seperti ia sudah bertanya pada dirinya sendiri ribuan kali dan baru sekarang mendapatkan kesempatan untuk mengucapkannya keras-keras.
Nini Mas Intan tersenyum. Senyum yang memperlihatkan gusinya yang ompong.
"Kau bertanya soal perbedaan. Itu sudah perbedaan pertama. Anak seusiamu tidak bertanya seperti itu. Mereka sibuk bermain kejar-kejaran atau menangkap belalang. Tapi kau... kau sudah bertanya tentang dirimu sendiri. Tentang identitasmu. Tentang mengapa kau berbeda."
Sultan Hasan menunduk.
"Itu karena semua orang bilang aku anak setan," katanya pelan. "Mungkin aku memang anak setan. Aku tidak tahu. Aku hanya tahu aku lahir di malam gerhana, ayahku lenyap, ibuku mati, dan semua orang takut padaku. Mungkin memang ada yang salah dengan diriku."
Nini Mas Intan menggeleng. Lambat. Dalam.
"Tidak ada yang salah dengan dirimu, Sultan Hasan. Yang salah adalah desa ini. Yang salah adalah ketakutan mereka. Yang salah adalah mereka yang lebih memilih mengutuk daripada memahami. Bukan kau."
"Lalu kenapa aku berbeda?"
Nini Mas Intan memandang anak itu lama. Matanya yang buram tiba-tiba terlihat jernih untuk sesaat. Seperti danau yang biasanya tertutup kabut tiba-tiba bersih setelah hujan.
"Kau berbeda, Nak, karena kau dipilih. Bukan oleh manusia. Bukan oleh desa ini. Tapi oleh sesuatu yang lebih tua dari semuanya. Kau dipilih untuk menjadi penjaga."
"Penjaga apa?"
"Penjaga hati. Hatimu sendiri. Hati orang yang kau cintai. Hati dari generasi yang akan datang setelah kau mati. Itu tugas yang berat. Tidak semua orang sanggup. Tapi kau... kau sudah sanggup sejak kau masih dalam rahim ibumu. Itu sebabnya kau menangis saat lahir. Bukan karena takut. Tapi karena kau tahu."
Sultan Hasan tidak mengerti semuanya. Ia baru lima tahun. Kata-kata seperti "generasi" dan "penjaga hati" terlalu besar untuk otaknya yang masih polos. Tapi ada sesuatu di dalam dadanya yang terasa hangat saat mendengar kata-kata itu. Seperti ada kunci yang cocok dengan lubangnya. Seperti ada teka-teki yang akhirnya menemukan potongan yang hilang.
"Apa yang harus aku lakukan, Nek?" tanyanya.
Nini Mas Intan mengusap rambut Sultan Hasan. Tangannya dingin, tapi sentuhannya lembut.
"Untuk sekarang, bertahanlah. Belajarlah. Bukan belajar di sekolah yang diajar oleh orang-orang yang membencimu. Tapi belajar dari alam. Dari sungai. Dari pohon. Dari batu. Dari hewan-hewan di hutan. Mereka tidak akan mengutukmu. Mereka akan menerimamu apa adanya."
"Dan nanti?"
"Nanti... kau akan pergi dari desa ini. Kau akan merantau. Kau akan bertemu dengan banyak orang. Ada yang baik. Ada yang jahat. Ada yang akan menyakitimu. Ada yang akan kau cintai. Dan di ujung perjalananmu, kau akan kembali ke desa ini sebagai orang yang berbeda. Sebagai penjaga."
Sultan Hasan diam. Hujan masih turun di luar. Genangan air di halaman semakin besar.
"Nek," katanya setelah lama terdiam. "Kenapa kau baik padaku? Padahal semua orang takut padaku. Semua orang benci padaku."
Nini Mas Intan tertawa. Tawanya kecil, serak, tapi hangat.
"Karena aku tidak punya alasan untuk takut padamu. Dan karena... dulu, saat aku seusiamu, aku juga dianggap aneh. Aku juga dikucilkan. Aku juga dituduh membawa sial. Aku tahu rasanya. Dan aku tidak ingin kau merasakannya sendirian."
Perempuan tua itu berdiri. Ia mengambil tongkatnya. Ia menepuk-nepuk pundak Sultan Hasan.
"Aku akan sering datang ke sini," katanya. "Aku akan mengajarimu banyak hal. Syair-syair. Ilmu tentang hati. Tentang pusaka. Tentang telaga larangan. Tapi untuk hari ini... istirahatlah. Kau sudah cukup bertanya untuk anak seusiamu."
Nini Mas Intan berjalan perlahan meninggalkan beranda. Di tengah hujan, ia tidak berteduh. Ia berjalan seperti air tidak mempan padanya. Seperti ia bagian dari hujan itu sendiri.
Sultan Hasan memandang punggung perempuan tua itu sampai lenyap di tikungan jalan.
Di jari manisnya, batu akik merah berdenyut pelan. Tidak marah. Tidak panas. Hangat. Seperti setuju dengan semua yang dikatakan Nini Mas Intan.
Sultan Hasan tersenyum.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa tidak sendirian.
Sejak hari itu, Nini Mas Intan datang setiap pekan.
Kadang ia datang pagi-pagi sekali, saat ayam jantan baru pertama kali berkokok dan kabut masih tebal di atas sawah. Kadang ia datang sore hari, saat matahari mulai condong ke barat dan bayang-bayang pohon memanjang seperti jari-jari raksasa. Kadang ia datang malam hari, saat desa sudah tidur dan hanya suara jangkrik yang memenuhi udara.
Ia tidak pernah memberi tahu Mak Umi kapan ia akan datang. Ia muncul begitu saja. Seperti angin. Seperti hantu. Seperti sesuatu yang tidak terikat oleh aturan dunia biasa.
Dan setiap kali datang, ia mengajarkan sesuatu pada Sultan Hasan.
Pertemuan pertama: tentang nama.
"Nama Sultan Hasan," kata Nini Mas Intan, "adalah nama yang terlalu besar untuk anak kampung sepertimu. Tapi ibumu tidak salah memberimu nama itu. Suatu hari nanti, kau akan tumbuh sebesar nama itu. Kau akan menjadi pemimpin. Bukan pemimpin desa atau pemimpin perang. Tapi pemimpin hati. Orang-orang akan mendengarkanmu bukan karena kau memaksa mereka, tapi karena kata-katamu masuk ke dalam dada mereka seperti air meresap ke tanah kering."
Pertemuan kedua: tentang pusaka.
"Cincin batu akik merah di jarimu itu bukan cincin biasa. Ia hidup. Ia bisa merasakan apa yang kau rasakan. Marah? Ia akan panas. Takut? Ia akan berdenyut cepat. Sedih? Ia akan meredup. Jaga ia. Dan ia akan menjagamu. Tapi ingat... pusaka hanyalah alat. Kekuatan sejati bukan dari batu, tapi dari hati yang menjaganya."
Pertemuan ketiga: tentang telaga larangan.
"Di hutan, tidak jauh dari sini, ada sebuah telaga. Airnya jernih. Dasarnya terlihat meski dari kejauhan. Tapi jangan pernah kau pergi ke sana sendirian. Telaga itu dijaga oleh sesuatu yang tidak bisa kau lihat. Sesuatu yang hanya muncul pada saat-saat tertentu. Suatu hari nanti, kau akan ke sana. Tapi tidak sekarang. Sekarang kau masih terlalu kecil. Kau belum siap."
Pertemuan keempat: tentang syair pertama.
Nini Mas Intan mengajarkan Sultan Hasan sebuah syair. Hanya dua baris. Tapi suaranya saat melantunkannya berbeda dari biasanya. Ada getar. Ada kekuatan. Ada sesuatu yang membuat bulu kuduk Sultan Hasan berdiri.
"Hati yang tidak dijaga akan diambil angin.
Hati yang dijaga terlalu keras akan retak oleh tangannya sendiri."
"Syair ini," kata Nini Mas Intan, "adalah syair tertua yang dikenal oleh para penjaga hati. Tidak ada yang tahu siapa penciptanya. Tapi semua penjaga hati menghafalnya. Karena di dalam dua baris ini, terkandung seluruh rahasia tentang menjaga. Tidak terlalu longgar. Tidak terlalu ketat. Seimbang. Seperti napas."
Sultan Hasan menghafalnya dalam sekali dengar. Ia mengucapkannya kembali. Tepat. Tanpa salah.
Nini Mas Intan tersenyum. "Kau cepat belajar. Seperti yang kuduga."
Pertemuan kelima, keenam, ketujuh... terus berlangsung seperti itu.
Setiap kali, Sultan Hasan belajar sesuatu yang baru. Tentang alam. Tentang manusia. Tentang hati. Tentang cinta. Tentang kehilangan. Tentang bagaimana menjadi kuat tanpa menjadi keras. Tentang bagaimana menjadi lembut tanpa menjadi lemah.
Semua pelajaran itu masuk ke dalam dirinya seperti air yang diserap oleh akar pohon. Tersimpan. Tumbuh. Kelak, saat ia dewasa, pelajaran-pelajaran itu akan muncul kembali pada saat yang tepat, seperti pisau yang baru diasah ketika hendak dipakai.
Pada suatu malam, saat Sultan Hasan sudah berusia lima tahun setengah, Nini Mas Intan tidak datang.
Sultan Hasan menunggu di beranda. Dari sore sampai malam. Dari malam sampai tengah malam. Tapi perempuan tua itu tidak muncul.
Besoknya juga tidak datang.
Lusanya juga tidak.
Seminggu kemudian, Sultan Hasan bertanya pada Mak Umi. "Mak, Nini Mas Intan ke mana? Apakah ia sakit?"
Mak Umi yang sedang menumbuk padi di lesung berhenti sejenak. Wajahnya berubah muram. Ia menghela napas panjang.
"Nini Mas Intan sudah mati, Nak," katanya pelan. "Seminggu yang lalu. Aku dengar dari tetangga. Ia meninggal di gubuknya di tepi hutan. Tidak ada yang tahu persis kapan. Jenazahnya baru ditemukan dua hari setelah ia meninggal. Sudah dikuburkan sekarang."
Sultan Hasan terdiam.
Ia tidak menangis.
Ia hanya menggenggam cincin di jari manisnya. Batu akik merah itu berdenyut. Lambat. Seperti turut berduka. Seperti ikut kehilangan.
"Apakah ia meninggalkan pesan untukku, Mak?" tanyanya akhirnya.
Mak Umi menggeleng. "Tidak ada, Nak. Ia pergi begitu saja. Seperti ia datang."
Sultan Hasan mengangguk. Ia berdiri. Ia berjalan ke halaman belakang rumah Mak Umi. Di sana ada pohon asam tua yang biasanya dihinggapi burung hantu. Ia duduk di bawah pohon itu. Ia memandang langit malam yang bertabur bintang.
"Selamat jalan, Nek," bisiknya. "Terima kasih untuk semuanya."
Batu akik merah di jarinya berdenyut sekali lagi. Sekali. Kuat. Hangat.
Seperti Nini Mas Intan masih ada di suatu tempat. Menjaganya. Seperti janji yang tidak pernah diucapkan tapi tetap ditepati.
Di dahan pohon asam di atas kepalanya, seekor burung hantu menatapnya. Matanya bundar dan kuning. Ia tidak berbunyi. Hanya menatap.
Seolah berkata: Perjalananmu masih panjang, Sultan Hasan. Yang kau alami sekarang baru permulaan.
Sultan Hasan menatap balik burung itu.
"Kau setia menatapku sejak aku lahir," katanya. "Siapa kau sebenarnya?"
Burung hantu itu tidak menjawab. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu terbang meninggalkan pohon asam, menuju ke timur, ke arah hutan lebat, ke arah telaga larangan, ke arah tempat Nini Mas Intan dulu tinggal.
Sultan Hasan memandangnya sampai lenyap dalam kegelapan.
Ia baru lima tahun setengah.
Tapi ia sudah kehilangan ibu, ayah, dan gurunya.
Yang tersisa hanyalah batu akik merah di jari manisnya, syair dua baris yang ia hafal di luar kepala, dan keyakinan bahwa suatu hari nanti ia akan pergi dari desa ini untuk menemukan sesuatu yang selama ini menantinya.
Apa itu? Ia belum tahu.
Tapi ia yakin, batu akik merah itu tahu.
Dan burung hantu itu tahu.
Dan Nini Mas Intan, yang sekarang sudah di alam lain, pasti juga tahu.
Sultan Hasan berdiri. Ia berjalan kembali ke rumah Mak Umi. Ia merebahkan diri di tikar. Ia memejamkan mata.
Besok, ia akan bangun lagi. Besok, ia akan menghadapi ejekan dan kerikil dan desas-desus tentang anak setan. Besok, ia akan sendirian lagi.
Tapi untuk malam ini, ia membiarkan dirinya berduka.
Untuk ibunya. Untuk ayahnya. Untuk Nini Mas Intan.
Untuk semua yang pergi sebelum waktunya.
Burung hantu di kejauhan berbunyi. Sekali. Pendek.
Seolah mengucapkan selamat malam kepada penjaga hati cilik yang tertidur di tikar usang, dengan cincin batu akik merah di jari manisnya yang masih terlalu besar untuk tangannya yang mungil, tetapi suatu hari nanti akan pas seperti kulit menutupi daging.
BAB VII
Belajar Syair Pertama
Setelah Nini Mas Intan meninggal, Sultan Hasan kehilangan satu-satunya orang yang mengajarinya tentang dunia.
Mak Umi baik. Mak Umi memberinya makan dan tempat tidur. Mak Umi kadang membelai rambutnya dan menyebutnya "anak soleh". Tapi Mak Umi tidak bisa mengajarkan syair. Mak Umi tidak tahu tentang telaga larangan. Mak Umi tidak pernah mendengar tentang "penjaga hati" dan tugas-tugasnya yang berat.
Untuk semua itu, Sultan Hasan sekarang sendirian.
Tapi tidak sepenuhnya sendirian.
Karena Nini Mas Intan, sebelum meninggal, sempat menanamkan beberapa benih dalam diri Sultan Hasan. Benih-benih itu sekarang mulai tumbuh. Tanpa guru, tanpa sekolah, tanpa siapa pun yang membimbing, Sultan Hasan belajar dari apa yang ia ingat.
Dan yang paling ia ingat adalah syair dua baris itu.
"Hati yang tidak dijaga akan diambil angin.
Hati yang dijaga terlalu keras akan retak oleh tangannya sendiri."
Ia mengulang-ulang syair itu setiap hari. Kadang di pagi hari saat membantu Mak Umi mengambil air dari sumur. Kadang di siang hari saat duduk sendirian di bawah pohon asam. Kadang di malam hari sebelum tidur, saat batu akik merah di jarinya berdenyut pelan.
Tapi mengulang syair saja tidak cukup. Sultan Hasan ingin memahaminya. Ia ingin tahu apa arti sebenarnya dari "hati yang tidak dijaga" dan "diambil angin" dan "retak oleh tangannya sendiri". Kata-kata itu terlalu besar untuk anak seusianya. Tapi ia tidak mau menunggu sampai dewasa untuk mengerti. Ia ingin mengerti sekarang.
Suatu sore, saat hujan gerimis dan Sultan Hasan sedang duduk di beranda rumah Mak Umi sambil mengamati tetesan air dari atap yang bolong, ia bertanya pada dirinya sendiri: Apa sih sebenarnya hati itu?
Bukan hati sebagai organ dalam dada yang memompa darah. Itu ia tahu dari melihat ayam dipotong Mak Umi. Ada jantung di sana. Warnanya merah. Bentuknya seperti kepalan tangan. Tapi itu bukan yang dimaksud Nini Mas Intan. Nini Mas Intan berbicara tentang sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Sesuatu yang bisa "diambil angin" dan "retak oleh tangannya sendiri".
Mungkin hati itu seperti perasaan, pikir Sultan Hasan. Perasaan sedih. Perasaan senang. Perasaan marah. Perasaan takut. Mungkin itu yang disebut hati.
Tapi apakah perasaan bisa dijaga? Dan jika bisa, bagaimana caranya? Apakah dengan tidak bersedih? Apakah dengan tidak marah? Apakah dengan menjadi orang yang selalu tenang dan tidak pernah merasakan apa-apa?
Sultan Hasan menggeleng. Itu tidak mungkin. Ia sudah merasakan sedih saat ibunya meninggal. Ia sudah merasakan marah saat dilempari kerikil oleh Jebat dan teman-temannya. Ia sudah merasakan takut saat malam-malam sepi dan ia terbangun sendirian dalam gelap. Perasaan-perasaan itu datang tanpa bisa ia cegah. Datang seperti hujan. Datang seperti angin. Datang seperti gerhana yang tidak bisa diundang atau ditolak.
Lalu bagaimana cara menjaganya?
Sultan Hasan menarik napas panjang. Ia memandang cincin batu akik merah di jari manisnya. Batu itu berdenyut pelan, seperti setuju bahwa pertanyaan ini sulit.
"Kau tahu jawabannya?" bisik Sultan Hasan pada batu itu.
Batu itu berdenyut sekali lagi. Lalu meredup.
Sultan Hasan tersenyum pahit. "Kau hanya batu. Kau tidak bisa bicara."
Tapi di dalam hatinya, ia tahu bahwa suatu hari nanti ia akan menemukan jawabannya. Mungkin saat ia sudah besar. Mungkin saat ia sudah pergi dari desa ini. Mungkin saat ia bertemu dengan seseorang yang namanya berbau pandan, seperti yang pernah diramalkan ibunya dulu.
Tapi untuk sekarang, ia hanya bisa terus mengulang syair itu. Seperti mantra. Seperti doa. Seperti cara untuk mengingat bahwa ada sesuatu di dunia ini yang lebih penting dari sekadar makan dan tidur.
Pada suatu malam, saat bulan purnama bersinar terang dan desa sedang tidur nyenyak, Sultan Hasan terbangun karena suara burung hantu.
Bukan suara biasa. Suara ini berbeda. Lebih panjang. Lebih melodius. Seperti nyanyian.
Sultan Hasan duduk di tikar. Mak Umi dan suaminya tidur pulas di ruangan sebelah. Tidak ada yang terganggu. Hanya Sultan Hasan yang mendengar.
Burung hantu itu berbunyi lagi. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Kemudian berhenti.
Sultan Hasan bangkit. Ia berjalan ke luar rumah. Halaman depan rumah Mak Umi disinari cahaya bulan yang terang sekali, hampir seperti siang. Dan di dahan pohon asam tua, seekor burung hantu bertengger. Matanya yang bundar dan kuning menatap Sultan Hasan.
"Kau yang sering menatapku sejak aku kecil," kata Sultan Hasan. "Siapa kau?"
Burung hantu itu tidak menjawab. Ia hanya mengepakkan sayapnya sekali, lalu terbang rendah, melintasi halaman, menuju ke arah timur. Ia terbang pelan. Seperti menunggu. Seperti mengajak.
Sultan Hasan ragu. Ia tidak boleh pergi jauh dari rumah Mak Umi tanpa izin. Tapi ada sesuatu di dalam hatinya yang mendorongnya untuk mengikuti burung itu. Dorongan yang aneh. Dorongan yang tidak bisa ia lawan.
Ia menoleh ke belakang. Rumah Mak Umi gelap. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Mak Umi tidak akan tahu jika ia pergi sebentar. Sebentar saja.
Sultan Hasan mulai berjalan. Ia mengikuti burung hantu itu. Burung itu terbang pelan, hanya beberapa meter di depannya, cukup jauh untuk tidak bisa ditangkap tapi cukup dekat untuk tidak kehilangan jejak.
Mereka melewati ladang-ladang jagung yang kering karena musim kemarau. Melewati kebun singkong yang daunnya mulai menguning. Melewati sungai kecil yang airnya hanya setinggi mata kaki. Melewati batas desa yang ditandai dengan tiang kayu usang.
Dan akhirnya, setelah berjalan sekitar setengah jam, Sultan Hasan sampai di sebuah tempat yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Sebuah telaga.
Telaga itu tidak besar. Mungkin hanya selebar halaman rumah Mak Umi. Tapi airnya jernih sekali. Jernih seperti kaca. Sultan Hasan bisa melihat dasar telaga dari tempat ia berdiri. Dasar itu ditumbuhi tanaman air berdaun panjang, seperti pedang-pedang mini yang bergoyang-goyang ditarik arus yang sangat lembut.
Cahaya bulan memantul di permukaan telaga, menciptakan ribuan titik berkilauan seperti berlian yang tersebar di atas kain hitam.
Sultan Hasan belum pernah melihat pemandangan seindah ini seumur hidupnya.
Di tepi telaga, ada sebuah batu besar yang datar, seperti tempat duduk alami. Batu itu hitam, licin, seolah sudah ribuan tahun diusap oleh air dan angin. Dan di atas batu itu, duduk sesosok.
Bukan Nini Mas Intan. Bukan juga Mak Umi. Sosok itu terlalu kecil untuk orang dewasa. Seukuran Sultan Hasan sendiri. Mungkin sedikit lebih tinggi.
Sosok itu adalah seorang anak perempuan.
Ia memakai kain batik sederhana, lusuh, dengan warna yang sudah pudar. Rambutnya hitam, panjang sebahu, tidak diikat. Wajahnya... Sultan Hasan tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena cahaya bulan jatuh dari belakang anak itu, membuat wajahnya gelap. Tapi ia bisa melihat bahwa anak itu tersenyum.
"Hei," kata anak perempuan itu. Suaranya lembut. Seperti air telaga itu sendiri. "Aku sudah menunggumu lama."
Sultan Hasan terdiam. Ia tidak kenal anak ini. Ia belum pernah melihatnya di desa. Anak perempuan seusianya di Dukuh Wangi semuanya ia kenal. Mereka adalah anak-anak yang ibu-ibunya melarang mereka bermain dengannya. Mereka adalah anak-anak yang ikut melemparinya kerikil ketika Jebat memulai.
Tapi anak ini berbeda. Ia tidak ada di antara mereka.
"Siapa kau?" tanya Sultan Hasan.
"Nama," kata anak itu, "tidak penting untuk sekarang. Yang penting, kau datang. Aku pikir kau tidak akan mengikuti burung hantu itu. Tapi kau melakukannya. Kau berani."
"Burung hantu itu... punyamu?"
Anak itu tertawa. Tawanya kecil. Tidak seperti anak perempuan seusianya yang biasanya cekikikan keras. Tawanya pelan, seperti rahasia yang dibisikkan di telinga.
"Dia bukan punyaku. Tapi dia mendengar suaraku. Dan dia setuju untuk menjemputmu."
"Suaramu? Kau bisa bicara dengan burung hantu?"
"Ia bukan burung hantu biasa. Tapi itu cerita untuk lain kali. Sekarang, duduklah. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu."
Anak itu menepuk batu di sampingnya. Sultan Hasan ragu sejenak, lalu duduk. Batu itu dingin, tapi anehnya nyaman. Seperti dipeluk oleh sesuatu yang sudah lama dikenalnya.
"Pandanglah telaga ini," kata anak itu. "Apa yang kau lihat?"
"Air," kata Sultan Hasan. "Air jernih. Dasar telaga. Tanaman air. Batu-batu kecil."
"Lihat lebih dalam."
Sultan Hasan menatap lebih lama. Lebih seksama. Dan perlahan, di dasar telaga itu, ia mulai melihat sesuatu yang lain. Bukan batu. Bukan tanaman air. Tapi bayangan. Bayangan dirinya sendiri. Terbalik. Tapi tidak seperti bayangan biasa. Bayangan itu bergerak. Bergoyang. Seperti ada kehidupan di dalamnya.
"Itu kau," kata anak itu. "Tapi bukan kau yang sekarang. Itu kau yang akan datang. Kau yang sudah tua. Kau yang sudah menjadi penjaga. Lihatlah matanya."
Sultan Hasan memandang mata bayangannya di dasar telaga. Matanya itu... tua. Sangat tua. Penuh dengan luka. Penuh dengan cerita. Penuh dengan sesuatu yang belum ia mengerti.
"Apa itu?" bisik Sultan Hasan.
"Itu hatimu," kata anak itu. "Itu yang akan kau jaga seumur hidupmu. Dan itu yang akan kau wariskan kepada cucumu nanti."
Sultan Hasan mengalihkan pandangan dari telaga ke anak di sampingnya. "Kau... siapa sebenarnya?"
Anak itu tersenyum. Senyum yang lembut. Senyum yang membuat Sultan Hasan merasa aman, meski ia sedang duduk di tepi telaga di tengah hutan di tengah malam tanpa izin dari Mak Umi.
"Aku Pandan Wangi," kata anak itu. "Tapi jangan panggil aku dengan nama itu dulu. Panggil aku... teman."
Malam itu, Sultan Hasan belajar syair pertama yang sesungguhnya. Bukan syair dua baris yang diajarkan Nini Mas Intan. Tapi syair yang lebih panjang. Syair tentang telaga. Tentang hati. Tentang apa artinya menjadi penjaga.
Anak yang mengaku bernama Pandan Wangi itu mengajarkannya dengan suara yang lembut, seperti angin malam yang membawa wangi bunga-bunga yang tidak diketahui namanya.
"Telaga ini bukan telaga biasa,
Ia adalah cermin hati yang jernih.
Siapa pun yang memandangnya akan melihat dirinya yang sejati,
Bukan dirinya yang dipikirkan, bukan dirinya yang diinginkan,
Tapi dirinya yang sesungguhnya."
Sultan Hasan mengulangi kata-kata itu. Tidak mudah. Ada kata-kata yang asing di telinganya. "Cermin hati." "Dirinya yang sejati." Tapi ia berusaha. Ia menghafalnya, kata demi kata, baris demi baris.
Anak itu melanjutkan:
"Penjaga hati bukanlah orang yang tak pernah terluka,
Tapi orang yang lukanya tidak membuatnya lupa mencintai.
Penjaga hati bukanlah orang yang tak pernah menangis,
Tapi orang yang air matanya menyiram benih-benih yang layu."
Sultan Hasan berhenti. Baris ini terasa menyentuh sesuatu di dalam dadanya. Sesuatu yang selama ini tertidur. Sesuatu yang sekarang terbangun.
"Aku tidak mengerti," katanya jujur. "Aku masih kecil. Aku belum pernah mencintai siapa pun selain ibuku. Dan ibuku sudah mati."
Pandan Wangi menatapnya. Di balik gelapnya cahaya bulan, Sultan Hasan bisa melihat mata anak itu. Matanya hitam, seperti matanya sendiri. Tapi ada sesuatu di sana. Kedamaian. Seperti danau yang tidak pernah bergelombang.
"Kau mengerti lebih dari yang kau kira, Sultan Hasan," katanya. "Kau sudah kehilangan. Dan karena kau sudah kehilangan, kau tahu apa artinya memiliki. Itu sudah lebih dari cukup untuk memulai."
Malam itu, Sultan Hasan tidak hanya belajar syair. Ia juga belajar tentang sesuatu yang lain.
Tentang kehadiran. Tentang ditemani tanpa harus bicara banyak. Tentang seseorang yang duduk di sampingnya, tidak takut padanya, tidak menganggapnya anak setan, tidak melempari kerikil atau mengucapkan kata-kata jahat.
Hanya duduk. Hanya ada. Hanya menjadi teman.
Dan untuk anak berusia lima setengah tahun yang selama ini hidup dalam kesepian, itu lebih berharga dari semua pusaka di dunia.
Ketika fajar mulai memutih di ujung timur, Pandan Wangi berdiri.
"Aku harus pergi sekarang," katanya. "Matahari tidak boleh menangkapku di sini."
Sultan Hasan juga berdiri. Kakinya sedikit kesemutan karena terlalu lama duduk di batu yang dingin. "Kapan kau akan kembali?"
Pandan Wangi tersenyum. "Aku tidak pergi jauh. Aku selalu di sini. Tapi kau tidak bisa melihatku setiap saat. Hanya pada malam-malam tertentu. Pada saat-saat yang tepat. Kau akan tahu kapan waktunya."
"Bagaimana caranya?"
"Batu akik merah di jarimu akan berdenyut lebih kencang. Itu tandanya aku dekat. Ikuti denyutnya. Ia akan membawamu ke tempat di mana kita bisa bertemu."
Pandan Wangi berjalan ke tepi telaga. Ia menunduk. Ia mencelupkan ujung jarinya ke air. Dan anehnya, saat jarinya menyentuh permukaan telaga, seluruh telaga bergetar. Airnya beriak. Cahaya bulan yang terpantul di permukaan pecah menjadi ribuan keping.
"Selamat belajar, Sultan Hasan," katanya tanpa menoleh. "Jagalah syair itu. Jagalah telaga ini dalam ingatanmu. Suatu hari, semuanya akan berguna."
Kemudian ia berjalan ke arah pepohonan. Sultan Hasan mengikuti dengan mata. Ia melihat bayangan anak itu perlahan menyatu dengan kegelapan di antara batang-batang pohon. Dan kemudian lenyap. Seperti tidak pernah ada.
Sultan Hasan berdiri sendiri di tepi telaga. Fajar semakin terang. Burung-burung mulai berkicau. Di kejauhan, ayam jantan mulai berkokok.
Ia menunduk. Ia memandang telaga itu sekali lagi. Airnya jernih seperti tadi. Dasarnya terlihat. Tapi bayangan dirinya yang tua dan bermata penuh luka itu sudah tidak ada. Yang ada hanya bayangan dirinya yang sekarang. Anak kecil kurus dengan rambut kusut, pipi cekung, dan cincin batu akik merah di jari manisnya.
Sultan Hasan tersenyum pada bayangannya sendiri.
"Suatu hari," bisiknya, "aku akan mengerti semua ini."
Ia berbalik. Ia mulai berjalan pulang. Jalannya masih setengah jam. Mak Umi mungkin sudah bangun dan akan marah karena ia tidak ada di rumah.
Tapi Sultan Hasan tidak takut dimarahi.
Karena malam ini, ia mendapatkan sesuatu yang tidak bisa diambil oleh siapa pun darinya.
Ia mendapatkan syair pertama yang benar-benar ia pahami.
Ia mendapatkan seorang teman yang tidak takut padanya.
Dan ia mendapatkan sebuah telaga, tempat di mana ia bisa melihat dirinya yang sesungguhnya.
Batu akik merah di jarinya berdenyut. Hangat. Pelan.
Seperti setuju bahwa malam ini adalah malam yang baik.
Dan bahwa perjalanan panjang Sultan Hasan sebagai penjaga hati, untuk pertama kalinya, terasa tidak terlalu berat.
BAB VIII
Teman yang Tak Biasa
Pertemuan dengan Pandan Wangi di tepi telaga meninggalkan bekas yang dalam pada diri Sultan Hasan. Bukan bekas luka. Bekas yang aneh. Seperti ada sesuatu yang tumbuh di dadanya, sesuatu yang hangat dan lembut, sesuatu yang tidak bisa ia beri nama.
Setelah malam itu, Sultan Hasan sering kembali ke telaga. Tidak setiap malam. Hanya saat batu akik merah di jarinya berdenyut lebih kencang dari biasanya. Itu tandanya, kata Pandan Wangi, bahwa ia dekat. Itu tandanya, waktunya tepat.
Dan setiap kali ia datang, Pandan Wangi sudah menunggu. Duduk di atas batu hitam yang datar itu. Tersenyum dengan senyum yang sama. Lembut. Seperti tahu bahwa Sultan Hasan akan datang.
Mereka tidak selalu berbicara tentang syair atau telaga atau penjaga hati. Kadang mereka berbicara tentang hal-hal biasa. Tentang makanan kesukaan. Tentang hewan-hewan di hutan. Tentang bintang-bintang di langit.
"Aku suka bintang," kata Pandan Wangi suatu malam, sambil menunjuk ke gugusan bintang di utara. "Mereka diam, tapi mereka selalu ada. Tidak seperti manusia yang suka pergi tanpa pamit."
Sultan Hasan mengangguk. Ia tahu rasanya ditinggal pergi tanpa pamit. Ayahnya. Ibunya. Nini Mas Intan. Semua pergi. Tidak ada yang pamit. Yang tersisa hanyalah kenangan yang semakin lama semakin pudar, seperti tinta yang luntur terkena air.
"Apakah kau juga akan pergi tanpa pamit?" tanya Sultan Hasan.
Pandan Wangi menatapnya. Matanya hitam, dalam, seperti telaga itu sendiri.
"Aku tidak akan pergi, Sultan Hasan. Aku hanya... tidak selalu bisa terlihat. Tapi aku ada. Di sini." Ia menunjuk dadanya. "Di sini." Ia menunjuk dahi Sultan Hasan. "Dan di sini." Ia menunjuk batu akik merah di jari Sultan Hasan.
Sultan Hasan tidak sepenuhnya mengerti. Tapi ia memilih untuk percaya. Karena dalam hidupnya yang singkat dan penuh dengan pengkhianatan, ia butuh sesuatu untuk dipegang. Seseorang untuk dipercaya.
Dan Pandan Wangi, anak perempuan misterius yang muncul di tepi telaga di tengah malam, adalah satu-satunya orang yang tidak pernah mengejeknya, tidak pernah melempari kerikil, tidak pernah memanggilnya "anak setan".
Untuk anak seusianya, itu sudah cukup.
Namun, meski Pandan Wangi hadir di malam-malam tertentu, di siang hari Sultan Hasan tetap sendirian.
Mak Umi sibuk dengan pekerjaannya. Menumbuk padi. Memasak. Mencuci. Berkebun. Ia tidak punya waktu untuk menemani Sultan Hasan bermain. Dan meski punya, ia sudah terlalu tua untuk berlarian ke sana kemari seperti anak kecil.
Jadi Sultan Hasan bermain sendiri. Ia membuat boneka dari rumput-rumput kering. Ia membuat perahu dari daun pisang, lalu menghanyutkannya di sungai kecil di belakang rumah Mak Umi. Ia memanjat pohon jambu yang tumbuh di tepi ladang, meski buahnya masih mentah dan sepat di lidah.
Itulah rutinitasnya. Sendiri. Sepi. Membosankan.
Sampai suatu sore, saat ia sedang duduk di bawah pohon asam tua di halaman belakang, ia melihat seorang anak laki-laki seusianya berdiri di pagar bambu yang memisahkan halaman Mak Umi dengan halaman tetangga.
Anak itu kurus. Sangat kurus. Rambutnya kusut dan panjang, tidak pernah dipotong. Pipinya cekung, tanda kekurangan gizi. Matanya besar, hitam, dengan lingkaran hitam di bawahnya. Pakaiannya compang-camping, lebih buruk dari pakaian Sultan Hasan sekalipun.
Ia memegang sebilah keris kecil di tangannya. Bukan keris sungguhan, mainan. Tapi ukirannya bagus. Mungkin buatan orang dewasa yang diberikannya pada anak ini.
"Hei," kata anak itu.
Sultan Hasan terkejut. Tidak ada anak seusianya yang mau bicara padanya. Apalagi datang ke halaman rumah Mak Umi. Semua anak desa tahu bahwa rumah Mak Umi adalah tempat persembunyian "anak setan". Mereka menjauh. Mereka tidak mau dianggap sama dengannya.
"Kau bicara padaku?" tanya Sultan Hasan.
"Ya. Kau siapa?"
"Sultan Hasan."
"Anak setan itu?"
Sultan Hasan menunduk. Ia sudah terbiasa dengan sebutan itu. Tapi tetap saja, setiap kali mendengarnya, ada sesuatu di dadanya yang terasa perih. Seperti ditusuk jarum kecil. Tidak mematikan. Tapi sakit.
"Maaf," kata anak itu cepat-cepat. "Aku tidak bermaksud jahat. Aku hanya dengar dari orang-orang. Mereka bilang kau anak setan. Tapi aku tidak percaya."
"Kenapa tidak percaya?"
Anak itu mengangkat bahu. "Karena kau tidak punya tanduk. Kau juga tidak menyemburkan api dari mulut. Kau hanya anak biasa. Sepertiku."
Sultan Hasan memandang anak itu lebih saksama. Masih kurus. Masih kusut. Masih compang-camping. Tapi matanya... matanya jujur. Tidak ada kebencian di sana. Tidak ada rasa takut. Hanya rasa ingin tahu.
"Kau siapa?" tanya Sultan Hasan.
"Jaya," kata anak itu. "Aku tinggal di rumah ujung sana." Ia menunjuk ke arah timur, ke sebuah gubuk yang hampir rubuh. "Aku anak penjual sayur. Tapi bapakku mati setahun lalu. Ibuku sakit-sakitan. Aku sendiri."
Sultan Hasan mengangguk. Ia tahu rasanya menjadi anak yang kehilangan orang tua. Ia tahu rasanya menjadi anak yang sendiri.
"Kau mau main?" tanya Jaya.
Sultan Hasan ragu. Selama ini, ia tidak pernah punya teman bermain. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Apa aturan bermain dengan anak seusia? Apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan?
Tapi ragu itu hanya berlangsung sedetik. Karena Jaya sudah melompati pagar bambu dengan gesit, mendekatinya, dan duduk di sampingnya.
"Kau punya keris?" tanya Jaya sambil menunjukkan keris mainannya. "Aku punya ini. Hadiah dari bapakku sebelum mati. Aku suka bermain perang-perangan. Tapi tidak ada lawan. Semua anak desa tidak mau main denganku."
"Kenapa?"
Jaya mengangkat bahu lagi. "Karena aku miskin. Anak-anak orang kaya tidak mau bermain dengan anak miskin."
Sultan Hasan tersenyum. Tersenyum untuk pertama kalinya di siang hari, setelah sekian lama.
"Kita sama," katanya. "Aku anak setan. Kau anak miskin. Tidak ada yang mau main dengan kita."
"Kalau begitu, kita main sama-sama."
"Baik."
Sultan Hasan tidak punya keris mainan. Tapi ia memotong sebatang kayu kecil dari dahan pohon asam, membersihkannya dari ranting-ranting kecil, dan menjadikannya pedang. Tidak sebagus keris Jaya. Tapi cukup untuk bermain perang-perangan.
Sore itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Sultan Hasan berlarian di halaman belakang rumah Mak Umi sambil tertawa. Ia mengejar Jaya. Jaya mengejarnya. Mereka saling berpura-pura terkena tebasan pedang dan keris, lalu jatuh pura-pura mati, lalu bangkit lagi dan tertawa.
Mak Umi yang sedang memasak di dapur mendengar suara tawa itu. Ia berhenti mengaduk sayurnya. Ia menengok ke luar jendela.
Matanya berkaca-kaca.
"Sudah lama aku tidak mendengar anak itu tertawa," bisiknya pada suaminya yang sedang tidur siang di tikar. "Sudah lama sekali."
Di dahan pohon asam, burung hantu yang setia menatap Sultan Hasan sejak ia lahir, ikut mengepak-ngepakkan sayapnya. Seolah ikut senang. Seolah setuju bahwa Sultan Hasan pantas mendapatkan teman.
Sejak hari itu, Jaya dan Sultan Hasan menjadi saudara.
Mereka bermain bersama setiap sore. Kadang di halaman belakang rumah Mak Umi. Kadang di tepi sungai. Kadang di ladang jagung yang kering, membuat rumah-rumahan dari jerami.
Jaya tidak pernah takut pada Sultan Hasan. Ia tidak peduli dengan desas-desus tentang anak setan. Ia tidak peduli dengan kutukan dan gerhana dan segala macam mitos yang membuat seluruh desa bergidik setiap kali nama Sultan Hasan disebut.
"Omong kosong," kata Jaya setiap kali Sultan Hasan bercerita tentang perlakuan buruk yang ia terima. "Manusia suka takut pada hal-hal yang tidak mereka pahami. Lalu mereka menciptakan cerita-cerita aneh untuk membenarkan ketakutan mereka. Bapakku dulu bilang begitu."
"Bapakmu pintar," kata Sultan Hasan.
"Bapakku dulu tukang sayur. Tidak sekolah. Tapi ia banyak membaca. Ia punya buku-buku lama. Peninggalan dari kakeknya. Buku-buku itu yang mengajarinya banyak hal."
Jaya kadang membawa buku-buku itu ke tempat mereka bermain. Buku-buku tipis, dengan sampul kulit yang sudah terkelupas. Kertasnya kuning kecokelatan, berbau apek. Tulisan di dalamnya menggunakan aksara Arab dan Jawa campuran.
Sultan Hasan belum bisa membaca. Nini Mas Intan tidak sempat mengajarinya. Mak Umi buta huruf. Tapi Jaya bisa. Jaya diajari bapaknya sebelum meninggal.
"Kau mau aku bacakan?" tawar Jaya.
Sultan Hasan mengangguk.
Maka Jaya membacakan cerita-cerita dari buku-buku usang itu. Cerita tentang para nabi. Cerita tentang raja-raja zaman dulu. Cerita tentang cinta yang terhalang perbedaan kasta. Cerita tentang kesetiaan yang bertahan puluhan tahun. Cerita tentang kematian yang datang tidak pernah diundang.
Sultan Hasan mendengarkan dengan saksama. Matanya berbinar. Setiap cerita masuk ke dalam dirinya seperti air meresap ke tanah kering. Memberi kehidupan pada sesuatu yang selama ini mati.
"Cerita-cerita ini bagus," kata Sultan Hasan suatu hari. "Mengapa tidak ada yang mengajarkannya di desa kita?"
Kyai Mandrawijaya adalah satu-satunya yang mengajarkan mengaji dan kitab-kitab kuning di surau desa. Tapi Sultan Hasan tidak pernah diizinkan masuk ke surau itu. Pintunya tertutup untuknya sejak ia lahir.
Jaya menggeleng. "Aku tidak tahu. Mungkin karena Kyai Mandrawijaya hanya mengajarkan kitab-kitab tertentu. Buku-buku bapakku ini... mungkin dianggap tidak penting. Atau mungkin dianggap sesat."
"Apakah kau percaya bahwa buku-buku ini sesat?"
Jaya tertawa. "Tidak. Buku-buku ini mengajarkan kebaikan. Tidak mungkin kebaikan itu sesat."
Sultan Hasan mengangguk. Ia mulai belajar sesuatu yang tidak diajarkan Nini Mas Intan atau Pandan Wangi. Bahwa pengetahuan tidak hanya datang dari satu pintu. Bahwa ada banyak jalan menuju kebenaran. Bahwa buku-buku usang yang berbau apek dan sampulnya terkelupas, juga bisa menjadi guru yang baik.
Tapi persahabatan antara Sultan Hasan dan Jaya tidak berlangsung tanpa hambatan.
Orang-orang desa mulai melihat mereka bermain bersama. Mereka berbisik-bisik. Mereka menggeleng-gelengkan kepala. Mereka mengira Jaya akan "tertular" kesialan dari Sultan Hasan. Mereka menganggap Jaya bodoh karena mau berteman dengan anak setan.
Suatu hari, saat mereka sedang asyik bermain di tepi sungai, Jebat dan teman-temannya datang. Jebat sudah berusia tujuh tahun saat itu, badannya besar, suaranya keras. Ia adalah pemimpin alami dari anak-anak desa. Semua anak takut padanya.
"Jaya!" teriak Jebat. "Apa kau tidak tahu siapa temanmu itu?"
Jaya berhenti bermain. Ia menatap Jebat. "Aku tahu. Namanya Sultan Hasan."
"Sultan Hasan anak setan!" kata Jebat. "Ibunya mati karena dia. Ayahnya lenyap karena dia. Seluruh desa akan kena musibah kalau kau terus bermain dengannya!"
Jaya tidak bergeming. "Omong kosong."
Jebat terkejut. Tidak ada anak seusianya yang berani membantahnya. Apalagi anak miskin dan kurus seperti Jaya. "Apa katamu?"
"Aku bilang omong kosong," ulang Jaya. "Sultan Hasan bukan anak setan. Ia hanya anak biasa. Ia tidak punya tanduk. Ia tidak menyemburkan api. Ia lebih baik dari kalian semua yang suka mengejek tanpa alasan."
Jebat merah padam mukanya. Ia melangkah maju. Tangan kirinya mendorong dada Jaya hingga anak kurus itu tersungkur ke tanah.
Sultan Hasan yang melihat itu, merasakan sesuatu di dadanya. Marah. Panas. Seperti api yang ingin keluar.
Cincin batu akik merah di jarinya berdenyut kencang. Sangat kencang. Lebih kencang dari biasanya. Terasa panas. Sangat panas. Seperti batu itu sendiri ingin melompat dan menghajar Jebat.
Tapi Sultan Hasan menahan diri. Ia ingat syair Nini Mas Intan.
"Hati yang dijaga terlalu keras akan retak oleh tangannya sendiri."
Ia tidak mau retak. Ia tidak mau menjadi seperti Jebat yang keras kepala, keras hati, keras suara. Ia ingin menjadi penjaga. Dan penjaga tidak membalas kebencian dengan kebencian.
Ia meraih tangan Jaya yang masih terbaring di tanah. "Ayo," katanya. "Kita pergi. Tidak usah diladeni."
Jaya bangkit. Matanya berkaca-kaca. Bukan karena takut. Karena marah. Tapi ia menurut. Mereka berdua berjalan meninggalkan Jebat dan teman-temannya, yang di belakang masih terus berteriak, "Anak setan! Anak miskin! Berdua sama-sama sampah!"
Sultan Hasan tidak menoleh. Jaya juga tidak.
Mereka berjalan sampai ke rumah Mak Umi, masuk ke dalam, duduk di tikar, dan terdiam.
Setelah beberapa saat, Jaya berkata, "Maafkan aku. Aku tidak bisa melindungimu."
Sultan Hasan menggeleng. "Kau sudah melindungiku. Kau membelaku. Tidak ada yang pernah membelaku sebelumnya."
Jaya tersenyum. Senyum yang tipis, tapi tulus.
"Mulai sekarang, aku yang akan menjagamu," kata Sultan Hasan.
"Kau? Kau lebih kurus dariku."
Mereka berdua tertawa. Tertawa terbahak-bahak. Tertawa yang membuat Mak Umi di dapur menggeleng-gelengkan kepala tapi ikut tersenyum.
Anak-anak. Mereka selalu punya cara untuk sembuh dari luka lebih cepat daripada orang dewasa.
Malam harinya, saat Sultan Hasan sendirian di beranda (Jaya sudah pulang ke gubuknya yang rubuh), ia memandang batu akik merah di jarinya.
Batu itu sudah tidak panas lagi. Denyutnya pelan. Seperti biasa. Seolah marah tadi sudah reda.
"Kau marah padaku?" bisik Sultan Hasan. "Karena aku tidak membiarkanmu keluar tadi?"
Batu itu berdenyut sekali. Pelan.
"Kau tidak suka Jebat. Aku juga tidak suka. Tapi kita tidak bisa melawan kebencian dengan kebencian. Nini Mas Intan bilang, hati yang dijaga terlalu keras akan retak. Aku tidak mau retak."
Batu itu berdenyut lagi. Kali ini lebih lambat. Seperti setuju.
Sultan Hasan tersenyum. "Kau baik. Meski kau hanya batu, kau lebih pengertian dari kebanyakan manusia."
Di kejauhan, burung hantu berbunyi. Sekali. Pendek.
Dan dari arah timur, dari arah rumah Jaya yang rubuh, terdengar suara batuk-batuk kecil. Jaya mungkin sedang sakit lagi. Atau ibunya sedang sakit lagi. Tidak jelas.
Tapi Sultan Hasan berjanji pada dirinya sendiri. Ia akan menjaga Jaya. Karena Jaya adalah satu-satunya teman yang pernah ia miliki. Satu-satunya yang tidak takut padanya. Satu-satunya yang membelanya ketika seluruh desa mengutuknya.
"Penjaga hati," bisik Sultan Hasan mengulang syair yang diajarkan Pandan Wangi, "bukanlah orang yang tak pernah terluka. Tapi orang yang lukanya tidak membuatnya lupa mencintai."
Ia belum sepenuhnya mengerti. Tapi ia sedang belajar.
Setiap hari. Setiap malam. Setiap kali ia bermain dengan Jaya. Setiap kali ia duduk di tepi telaga bersama Pandan Wangi. Setiap kali ia memandang batu akik merah di jari manisnya.
Ia sedang belajar menjadi penjaga.
Dan untuk anak seusianya, itu sudah luar biasa.
BAB IX
Banjir Bandang
Tidak ada yang menyangka bahwa hujan yang turun sejak tiga hari lalu akan berubah menjadi malapetaka.
Hujan di Dukuh Wangi bukanlah hal yang aneh. Desa itu terletak di lereng gunung, dikelilingi oleh hutan lebat dan dialiri oleh sungai yang airnya tidak pernah kering, bahkan di musim kemarau sekalipun. Penduduk desa sudah terbiasa dengan hujan yang turun berhari-hari. Mereka sudah terbiasa dengan angin kencang yang kadang merobohkan pohon-pohon tua. Mereka sudah terbiasa dengan sungai yang meluap sedikit, menggenangi sawah-sawah di tepiannya, lalu surut kembali setelah hujan reda.
Tapi hujan kali ini berbeda.
Hujan ini tidak pernah berhenti. Siang dan malam. Malam dan siang. Air turun dari langit seperti ada yang membuka keran raksasa dan lupa menutupnya kembali. Tidak ada jeda. Tidak ada kesempatan bagi matahari untuk menampakkan wajahnya. Hanya kelabu. Hanya air. Hanya dingin yang meresap hingga ke sumsum tulang.
Pada hari ketiga, sungai mulai berubah. Airnya yang biasanya jernih berubah menjadi coklat keruh, membawa lumpur dari hulu. Permukaannya naik. Perlahan. Pasti. Seperti ular raksasa yang sedang meregangkan tubuhnya.
Pada hari keempat, air sungai sudah mencapai tepian. Sawah-sawah yang letaknya rendah mulai terendam. Tanaman padi yang baru berumur dua bulan itu terapung-apung, akarnya tercabut dari tanah.
Pada hari kelima, air sudah masuk ke pemukiman.
Pagi kelima itu, Sultan Hasan terbangun karena suara teriakan.
"AIR! AIR BESAR!"
Ia duduk di tikar. Mak Umi sudah tidak ada di sampingnya. Biasanya perempuan gemuk itu masih tidur saat subuh begini. Tapi pagi ini, tikarnya kosong. Hanya ada bekas tubuh yang terlihat dari lekukan anyaman pandan.
Sultan Hasan bangkit. Ia berjalan ke luar rumah.
Halaman depan rumah Mak Umi sudah tergenang air setinggi mata kaki. Airnya coklat, dingin, dan bau lumpur. Mak Umi berdiri di tengah halaman bersama suaminya, Pak Tani (begitu orang-orang memanggilnya, karena ia memang hanya petani). Wajah mereka pucat.
"Hasan!" teriak Mak Umi melihat Sultan Hasan keluar. "Cepat ke belakang! Bantu suamiku memindahkan barang-barang ke tempat yang lebih tinggi!"
Sultan Hasan mengangguk. Ia berlari ke belakang rumah. Pak Tani sudah sibuk memindahkan beras dari dapur ke loteng. Sultan Hasan membantu mengangkat apa yang bisa ia angkat. Peralatan dapur. Tikar. Pakaian. Buku-buku Jaya yang kemarin tertinggal di rumah Mak Umi.
Di sela-sela kepanikan itu, Sultan Hasan bertanya, "Mak, di mana Jaya?"
Mak Umi yang sedang mengikat barang-barang di kain jarik, berhenti sejenak. Wajahnya berubah. "Aku tidak tahu, Nak. Sejak semalam aku belum melihatnya. Mungkin ia masih di rumahnya."
"Rumahnya di pinggir sungai," kata Sultan Hasan. Suaranya bergetar. "Jika air naik, rumahnya akan lebih dulu terendam."
Mak Umi memandang Sultan Hasan. Ada perang di matanya. Antara ingin menyelamatkan hartanya sendiri dan ingin menyelamatkan anak orang lain. Tapi ia perempuan baik. Dan kebaikan, pada saat-saat kritis, sering menang atas kepentingan diri sendiri.
"Pergilah," kata Mak Umi. "Cari Jaya. Bawa ia ke sini. Tapi hati-hati, Nak. Air bisa naik sewaktu-waktu."
Sultan Hasan tidak perlu didorong dua kali. Ia sudah berlari meninggalkan halaman, menuju ke timur, ke arah rumah Jaya yang rubuh di tepi sungai.
Jalan menuju rumah Jaya biasanya hanya memakan waktu sepuluh menit berjalan kaki. Tapi pagi itu, dengan air yang sudah setinggi betis orang dewasa (dan setinggi paha Sultan Hasan yang masih kecil), perjalanan terasa seperti satu jam.
Air dingin menusuk-nusuk kulitnya. Arusnya cukup kuat, membuat ia harus berhati-hati setiap melangkah agar tidak terseret. Beberapa kali ia hampir jatuh, tetapi ia selalu berhasil menyeimbangkan diri. Cincin batu akik merah di jarinya terasa hangat, seperti memberi kekuatan ekstra.
Di tengah jalan, ia melihat beberapa tetangga juga panik. Mereka membawa barang-barang di atas kepala. Anak-anak digendong. Orang tua dituntun. Kambing-kambing dilepas begitu saja, berlarian ketakutan ke arah yang lebih tinggi.
"Sultan Hasan!" teriak seseorang. "Kau ke mana, Nak? Cepat ke tempat yang lebih tinggi!"
"Aku mencari temanku!" teriak Sultan Hasan balik, tanpa berhenti.
Ia terus berlari, meski kakinya terasa berat karena air. Ia terus berlari, meski paru-parunya terasa terbakar. Ia terus berlari, karena di dalam hatinya, ada suara yang berkata: Jaya dalam bahaya. Kau harus menyelamatkannya.
Akhirnya, setelah berjuang melawan arus dan dingin dan rasa takut, Sultan Hasan sampai di rumah Jaya.
Rumah itu hampir tidak bisa disebut rumah lagi. Separuh bangunannya sudah terendam air. Dinding bambunya roboh di beberapa sisi. Atap daun rumbianya sudah hilang sebagian, terbawa arus. Dan di depan pintu, Jaya sedang berusaha keras mendorong ibunya ke luar.
Ibu Jaya, seorang perempuan kurus yang sudah lama terbaring sakit karena TBC, tidak bisa berjalan. Tubuhnya hanya tulang dibungkus kulit. Matanya cekung. Bibirnya biru karena kedinginan.
"Ibu! Ibu harus keluar!" teriak Jaya, suaranya parau karena menangis.
"Aku tidak bisa, Nak," bisik ibunya. "Kau pergi saja. Selamatkan dirimu."
"Tidak! Aku tidak akan meninggalkan Ibu!"
Sultan Hasan berlari mendekat. "Jaya! Aku di sini!"
Jaya menoleh. Matanya merah. Wajahnya basah, entah oleh air hujan atau air mata. "Hasan? Kau datang?"
"Aku datang untuk membantu. Kita harus segera keluar dari sini. Air semakin naik."
"Tapi ibuku tidak bisa berjalan."
"Kita gotong," kata Sultan Hasan. "Aku di kiri. Kau di kanan."
Mereka berdua mengangkat tubuh kurus ibu Jaya. Perempuan itu tidak berat. Bahkan oleh dua anak kecil sekalipun, ia terasa ringan seperti tumpukan kain. Tapi tubuhnya lemah. Tidak bisa memegang apa pun. Kepalanya terkulai lemas ke depan.
Mereka berjalan perlahan. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah.
Air sudah setinggi perut Sultan Hasan. Arusnya semakin kuat. Beberapa kali Jaya hampir terjatuh, tetapi Sultan Hasan selalu sigap menahannya.
"Maju terus!" teriak Sultan Hasan. "Jangan lihat ke belakang!"
Di tengah perjalanan, saat mereka sudah melewati setengah jalan menuju rumah Mak Umi, terdengar suara gemuruh dari arah hulu.
Bukan gemuruh biasa. Bukan gemuruh seperti suara air terjun yang biasa mereka dengar dari kejauhan. Gemuruh ini lebih besar. Lebih mengerikan. Seperti seribu kerbau berlari bersamaan. Seperti tanah longsor. Seperti kiamat kecil.
"Banjir bandang!" teriak seseorang dari kejauhan. "Cepat ke tempat yang lebih tinggi! BANJIR BANDANG!"
Sultan Hasan menoleh ke belakang.
Dari arah hulu, dinding air setinggi pohon kelapa sedang bergerak menuju ke arah mereka. Warnanya hitam pekat, bercampur lumpur, batu, dan ranting-ranting pohon. Ia menghancurkan apa pun yang ada di depannya. Rumah-rumah di tepi sungai ambruk seketika. Pohon-pohon besar tumbang seperti batang korek api.
Tidak ada waktu.
Sultan Hasan melihat ke sekeliling. Di sebelah kanannya, ada sebuah pohon beringin tua. Besar. Tinggi. Akarnya menjalar ke mana-mana. Itu satu-satunya tempat yang aman.
"Ke pohon beringin!" teriak Sultan Hasan.
Mereka berlari, atau lebih tepat menyeret, tubuh ibu Jaya ke arah pohon itu. Jaya panik. Langkahnya kacau. Ia hampir melepaskan ibunya. Tapi Sultan Hasan berteriak, "Jangan lepas! Genggam erat-erat!"
Mereka tiba di pohon beringin tepat saat dinding air menghantam mereka.
Sultan Hasan merasakan tubuhnya terangkat oleh kekuatan yang luar biasa. Ia mencengkeram akar pohon beringin dengan tangan kiri. Tangan kanannya masih memegang lengan ibu Jaya. Jaya di sebelahnya melakukan hal yang sama.
Air mengalir deras di bawah mereka. Dingin. Kuat. Ganas. Sultan Hasan bisa mendengar suara genteng pecah, kayu patah, dan teriakan-teriakan manusia yang tenggelam di kejauhan.
Ia memejamkan mata. Ia menggenggam erat akar pohon itu. Cincin batu akik merah di jarinya terasa panas sekali. Sangat panas. Seperti ada api di dalamnya yang melawan dinginnya air.
"Jangan lepas, Nak," bisik suara di kepalanya. Suara Nini Mas Intan. Atau mungkin suara ibunya. Atau mungkin suara Pandan Wangi. Tidak jelas. "Jangan lepas."
Sultan Hasan tidak melepaskan.
Ia bertahan. Meski lengannya terasa mau putus. Meski kakinya terseret-seret arus. Meski tubuhnya dingin dan lelah dan takut.
Ia bertahan.
Ketika air mulai surut, matahari sudah condong ke barat.
Banjir bandang itu berlalu setelah sekitar dua jam. Tidak lama, tapi dampaknya dahsyat. Puluhan rumah hancur. Sawah-sawah luluh lantak. Ternak-ternak hilang terbawa arus. Dan empat orang warga dinyatakan meninggal.
Sultan Hasan, Jaya, dan ibu Jaya selamat.
Mereka bertiga masih bergelantungan di akar pohon beringin ketika warga desa mulai keluar dari tempat persembunyian mereka. Tubuh mereka basah, kedinginan, lelah. Tapi mereka hidup.
Mak Umi yang histeris mencari Sultan Hasan, langsung berlari memeluk anak itu ketika melihatnya. "Kau selamat! Syukurlah kau selamat! Jangan pernah pergi tanpa izin lagi, kau dengar? Jangan pernah!"
Sultan Hasan hanya terdiam. Ia terlalu lelah untuk menjawab. Yang ia lakukan hanyalah memastikan bahwa Jaya dan ibunya juga selamat. Setelah itu, ia membiarkan dirinya dipangku Mak Umi, dan matanya terpejam.
Ia bermimpi.
Dalam mimpinya, ia berdiri di tepi telaga. Telaga yang sama. Airnya jernih. Dasarnya terlihat. Pandan Wangi sedang duduk di atas batu hitam, tersenyum padanya.
"Kau hebat hari ini," kata Pandan Wangi. "Kau menyelamatkan temanmu. KAU menyelamatkan ibunya. Kau tidak takut."
"Aku takut," kata Sultan Hasan jujur. "Aku sangat takut."
"Tapi kau tetap melakukannya. Itu yang membedakan pahlawan dari pengecut. Bukan ketiadaan rasa takut, tapi tindakan di tengah rasa takut."
"Apakah aku pahlawan?"
Pandan Wangi tertawa. Tawanya kecil. Lembut. "Kau adalah penjaga hati, Sultan Hasan. Dan penjaga hati sering melakukan hal-hal yang dilakukan pahlawan. Tapi mereka tidak melakukannya untuk ketenaran. Mereka melakukannya karena cinta."
"Cinta?"
"Kau mencintai Jaya, bukan? Sebagai teman. Sebagai saudara. Itu sebabnya kau berani melawan arus banjir untuk menyelamatkannya."
Sultan Hasan terdiam. Ia belum pernah memikirkan tentang cinta dalam konteks seperti itu. Cinta, selama ini, ia kira hanya untuk orang tua kepada anak, atau laki-laki kepada perempuan. Tapi Pandan Wangi berkata bahwa cinta juga untuk sahabat. Cinta juga untuk sesama manusia yang menderita.
"Penjaga hati," lanjut Pandan Wangi, "adalah orang yang hatinya penuh dengan cinta. Bukan cinta yang sempit, hanya untuk dirinya sendiri atau keluarganya. Tapi cinta yang luas. Cinta yang bisa melampaui batas-batas desa, batas-batas suku, bahkan batas-batas dunia."
"Aku masih kecil," kata Sultan Hasan. "Aku belum bisa mencintai seluas itu."
"Kau belajar, Sultan Hasan. Setiap hari. Setiap tindakan kecilmu. Setiap kali kau memilih untuk tidak membenci meski kau dibenci. Setiap kali kau memilih untuk menolong meski kau dalam bahaya. Itu semua adalah latihan. Dan suatu hari nanti, kau akan menjadi penjaga hati yang sesungguhnya."
Sultan Hasan terbangun.
Matahari sudah terbenam. Langit mulai gelap. Mak Umi masih memangkunya, tertidur kelelahan. Di samping mereka, Jaya juga tertidur, dengan ibunya terbaring di dekatnya.
Sultan Hasan memandang cincin di jari manisnya. Batu akik merah itu berdenyut pelan. Hangat.
"Terima kasih," bisiknya pada batu itu. "Kau membantuku bertahan tadi. Aku merasakannya."
Batu itu berdenyut sekali lagi. Seperti menjawab: Sama-sama.
Di kejauhan, di tengah suasana duka pasca-banjir, seekor burung hantu berbunyi. Sekali. Pendek.
Bukan bunyi ratapan. Tapi bunyi tanda. Bahwa Sultan Hasan telah melewati ujian pertamanya sebagai penjaga hati. Bahwa ia masih hidup. Bahwa ia masih kuat.
Dan bahwa perjalanannya masih panjang.
Keesokan harinya, ketika warga desa mulai menghitung kerugian dan membersihkan puing-puing, Kyai Mandrawijaya mengadakan pertemuan darurat di balai desa.
Topiknya: penyebab banjir bandang.
"Banjir ini," kata Kyai Mandrawijaya dengan suara berat, "adalah pertanda. Alam marah. Ada yang salah dengan desa kita. Kita harus mencari tahu apa penyebabnya."
Beberapa orang mulai saling tunjuk. Ada yang menyalahkan penebangan liar di hulu. Ada yang menyalahkan mereka yang tidak melakukan ritual tolak bala sebelum musim hujan. Ada yang menyalahkan pendatang yang tidak menghormati adat.
Tapi sebagian besar, entah karena kebetulan atau karena sudah lama dipendam, mulai menunjuk ke arah yang sama.
Sultan Hasan.
"Anak itu!" teriak seorang lelaki paruh baya yang rumahnya hancur diterjang banjir. "Sejak ia lahir, desa kita tidak pernah tenang! Gerhana! Ayahnya lenyap! Ibunya mati! Sekarang banjir bandang! Bukankah itu semua tanda bahwa anak itu membawa sial?"
Kerumunan mulai bergemuruh. Suara-suara setuju mulai terdengar. Beberapa orang mengangguk-angguk. Beberapa bahkan berteriak, "Usir anak itu! Usir dari desa!"
Mak Umi yang hadir dalam pertemuan itu, langsung berdiri. Wajahnya merah padam karena marah.
"Kalian gila!" teriaknya. "Anak itu baru berusia lima tahun! Ia tidak mungkin menyebabkan banjir! Banjir terjadi karena hujan deras dan pohon-pohon di hulu ditebang! Itu saja!"
"Lalu kenapa desa-desa lain tidak kena banjir?" bantah seorang perempuan tua. "Hanya desa kita! Karena kita membiarkan anak sial itu tinggal di sini!"
"Omong kosong!" Mak Umi tidak mau kalah. "Desa-desa lain juga kena banjir! Saya dengar dari saudara saya di desa sebelah, sawah mereka juga hancur! Ini bukan karena Sultan Hasan! Ini karena alam!"
Tetapi Mak Umi hanya seorang perempuan tua miskin. Suararnya tidak didengar. Yang didengar adalah suara ketakutan. Suara kebencian. Suara yang sudah lama dipendam dan sekarang meledak seperti banjir itu sendiri.
Kyai Mandrawijaya mengangkat tangan. Kerumunan mereda.
"Kita tidak akan mengusir siapa pun," katanya. "Tapi kita akan melakukan ritual tolak bala. Kita akan meminta maaf pada alam. Dan kita akan berdoa agar desa kita dilindungi dari bencana selanjutnya."
Ia tidak menyebut nama Sultan Hasan. Tapi tatapannya, saat matanya berkeliling ruangan, sempat berhenti sejenak pada Mak Umi. Tatapan yang tajam. Tatapan yang berkata: Aku tidak bisa mengusir anak itu sekarang. Tapi awas. Suatu hari nanti.
Mak Umi menggigil. Bukan karena dingin. Tapi karena takut.
Bukan takut pada Kyai Mandrawijaya. Tapi takut pada apa yang akan terjadi pada Sultan Hasan jika kebencian ini terus dipupuk.
Sore harinya, Sultan Hasan dan Jaya duduk di beranda rumah Mak Umi yang masih berlumpur bekas banjir.
Mereka tidak bicara. Hanya duduk. Memandangi langit yang mulai cerah.
"Aku dengar apa yang mereka bicarakan di balai desa," kata Jaya akhirnya.
Sultan Hasan tidak menjawab.
"Mereka bilang kau penyebab banjir. Padahal kau menyelamatkanku dan ibuku. Kau berani masuk ke air bah untuk menolong kami. Tapi mereka tetap membencimu."
"Sudahlah," kata Sultan Hasan. "Aku sudah biasa."
"Tapi ini tidak adil!"
"Sejak kapan dunia adil, Jaya?"
Jaya terdiam. Ia tidak punya jawaban. Di usianya yang baru enam tahun, ia sudah belajar bahwa keadilan adalah barang langka di desa ini. Bahwa orang miskin seperti dirinya tidak pernah diperlakukan sama. Bahwa orang berbeda seperti Sultan Hasan akan selalu menjadi sasaran.
"Tapi aku tetap akan menjadi temanmu," kata Jaya. "Aku tidak peduli apa kata mereka."
Sultan Hasan tersenyum. Ia menepuk pundak Jaya.
"Kita berdua akan pergi dari desa ini suatu hari nanti," katanya. "Kita akan pergi ke tempat yang lebih baik. Tempat di mana orang tidak saling menyalahkan. Tempat di mana kita bisa hidup damai tanpa harus terus-menerus dijuluki anak setan atau anak miskin."
"Kau janji?"
"Aku janji."
Mereka berdua tersenyum. Di atas pohon asam, burung hantu menatap mereka berdua. Matanya bundar dan kuning. Tidak berbunyi. Hanya menatap.
Seolah setuju bahwa janji itu suatu hari nanti akan ditepati.
Dan bahwa perjalanan Sultan Hasan untuk menjadi penjaga hati, setelah melewati ujian banjir, kini memasuki babak baru.
Babak di mana ia tidak hanya harus menjaga hatinya sendiri, tapi juga hati sahabatnya, dan hati orang-orang yang membencinya sekalipun.
Itu berat. Sangat berat.
Tapi Sultan Hasan tidak pernah memilih jalan yang mudah.
BAB X
Kemarau Panjang
Banjir bandang yang melanda Dukuh Wangi berlalu, tetapi ia meninggalkan sesuatu yang tidak terlihat oleh mata telanjang. Ia meninggalkan ketakutan. Dan ketakutan, seperti bibit penyakit, akan tumbuh subur di tanah yang gembur.
Tidak sampai sebulan setelah banjir, musim kemarau datang.
Awalnya tidak ada yang aneh. Kemarau adalah siklus biasa di desa itu. Setiap tahun, setelah musim hujan berakhir, matahari akan bersinar terik selama beberapa bulan. Sawah-sawah akan mengering. Sungai akan menyusut. Daun-daun akan menguning dan berguguran. Itu biasa. Itu sudah terjadi sejak kakek-kakek mereka masih kecil.
Tapi kemarau kali ini berbeda.
Bulan pertama: matahari bersinar seperti biasa. Petani-petani mulai menanam padi di sawah tadah hujan, berharap hujan akan segera turun meski tidak ada tanda-tanda di langit.
Bulan kedua: hujan belum juga turun. Padi-padi yang baru ditanam mulai mengering. Daunnya menggulung, berubah warna dari hijau segar menjadi kuning pucat. Petani-petani mulai gelisah. Mereka berkumpul di balai desa, meminta Kyai Mandrawijaya untuk melakukan ritual pemanggil hujan.
Bulan ketiga: ritual sudah dilakukan tiga kali. Kambing hitam sudah dikurbankan. Sesaji sudah diletakkan di empat penjuru desa. Doa-doa sudah dipanjatkan siang dan malam. Tapi langit tetap biru tanpa sehelai awan pun. Matahari tetap terik. Tanah-tanah sawah retak-retak, mulutnya menganga seperti orang yang kelaparan.
Bulan keempat: padi-padi mati. Tidak ada yang bisa dipanen. Lumbung-lumbung desa mulai kosong. Warga mulai mengatur jatah makan. Hanya satu kali sehari. Nasi dicampur dengan singkong dan ubi, kadang hanya dengan garam jika sayur tidak ada. Anak-anak mulai kurus. Orang tua mulai jatuh sakit.
Dan di bulan keempat itulah, desas-desus itu mulai menyebar lagi.
"Kemarau ini karena kutukan," bisik seorang perempuan di sumur. "Sejak anak itu lahir, desa kita tidak pernah tenang."
"Banjir bandang, sekarang kemarau panjang," sahut yang lain. "Selanjutnya apa? Wabah penyakit?"
"Jangan-jangan anak itu memang pembawa sial."
"Nini Mas Intan yang menolong kelahirannya sudah mati. Mungkin karena menyesal?"
"Suaminya lenyap. Ibunya mati. Itu sudah tanda-tanda."
Bisikan-bisikan itu merambat seperti api di padang rumput kering. Dari mulut ke mulut. Dari rumah ke rumah. Dari hati ke hati yang sudah lama dipenuhi ketakutan.
Sultan Hasan tidak buta. Ia mendengar bisikan-bisikan itu. Ia melihat tatapan-tatapan tajam saat ia berjalan ke sumur untuk mengambil air. Ia merasakan dinginnya pengucilan yang semakin pekat, seperti kabut yang tidak mau pergi meski matahari sudah naik tinggi.
Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya anak kecil berusia enam tahun. Tidak punya kekuasaan. Tidak punya pengaruh. Yang ia miliki hanyalah batu akik merah di jarinya, syair-syair yang diajarkan Nini Mas Intan dan Pandan Wangi, dan seorang sahabat yang setia di sampingnya.
Jaya.
Jaya tidak pernah meninggalkannya. Meski ibunya semakin sakit karena kekurangan makanan. Meski tetangga-tetangganya menatap aneh setiap kali ia pergi ke rumah Mak Umi. Jaya tetap datang. Setiap sore. Setia. Tidak pernah absen.
"Mereka bodoh," kata Jaya suatu sore, sambil mengunyah ubi rebus yang diberikan Mak Umi. "Kemarau terjadi karena pola cuaca. Bapakku dulu punya buku tentang itu. Ada musim hujan, ada musim kemarau. Kadang musim kemarau lebih panjang dari biasanya. Itu biasa. Tidak ada hubungannya dengan kelahiranmu."
Sultan Hasan tersenyum pahit. "Kau tahu itu. Aku tahu itu. Tapi mereka tidak mau tahu. Mereka butuh kambing hitam. Dan aku yang paling mudah disalahkan."
"Kenapa kau tidak pergi saja dari desa ini?" tanya Jaya. "Cari tempat yang lebih baik?"
"Ke mana? Umurku baru enam tahun. Aku tidak punya bekal. Tidak punya uang. Tidak punya siapa-siapa di luar desa ini. Kalau aku pergi, aku bisa mati di jalan."
Jaya terdiam. Ia tahu Sultan Hasan benar. Dunia di luar desa itu luas dan kejam, terutama bagi anak kecil yang sendirian.
"Tapi suatu hari nanti," kata Sultan Hasan, "aku akan pergi. Saat aku sudah cukup besar. Saat aku sudah cukup kuat. Aku akan pergi dari desa ini, dan aku tidak akan kembali."
"Bawa aku," kata Jaya.
"Kau mau ikut?"
"Kau kira aku betah di sini? Aku juga dikucilkan. Aku anak miskin. Ayahku mati. Ibuku sakit. Tidak ada masa depan untukku di desa ini. Aku lebih baik ikut denganmu."
Sultan Hasan memandang sahabatnya. Jaya memang kurus. Jaya memang miskin. Tapi matanya menyala. Ada api di sana. Api yang tidak mau padam meski hidup terus memadamkannya.
"Baik," kata Sultan Hasan. "Kita pergi bersama. Saat waktunya tiba."
Mereka berdua berjabat tangan. Sore itu, di bawah pohon asam yang daunnya mulai mengering karena kemarau, dua anak kecil bersumpah untuk menjadi saudara seperjalanan. Tidak ada saksi. Tidak ada sumpah di atas kitab suci. Hanya dua pasang mata yang saling menatap, dan dua hati yang berjanji untuk tidak saling meninggalkan.
Di dahan pohon asam, burung hantu menatap mereka. Matanya yang bundar dan kuning berkedip sekali. Lalu ia terbang, menuju ke arah timur, ke arah telaga larangan, seolah membawa kabar bahwa sumpah telah diucapkan.
Kemarau memasuki bulan kelima.
Sungai di Dukuh Wangi nyaris kering. Airnya tinggal setinggi mata kaki, keruh, dipenuhi lumpur dan daun-daun kering. Ikan-ikan mati bergelimpangan di tepian, tubuhnya membusuk, baunya menyengat.
Warga desa mulai mengambil air dari sumur-sumur tua yang biasanya tidak pernah digunakan. Tapi sumur-sumur itu pun mulai mengering. Airnya keluar hanya setetes demi setetes, seperti air mata yang enggan jatuh.
Kyai Mandrawijaya memanggil seluruh warga ke balai desa.
"Kita harus melakukan sesuatu," katanya. "Kemarau ini bukan kemarau biasa. Ini ujian dari alam. Mungkin juga dari Yang Maha Kuasa. Kita harus mencari tahu apa yang salah dengan desa kita. Apa yang membuat alam marah."
Seorang lelaki dari ujung desa berdiri. Ia adalah Pak Karta, seorang dukun yang konon bisa berkomunikasi dengan roh-roh hutan. "Aku sudah melakukan tapa di hulu sungai selama tiga hari tiga malam," katanya. "Aku bertemu dengan penunggu telaga larangan. Ia marah. Sangat marah."
"Marah kenapa?" tanya Kyai Mandrawijaya.
"Karena ada anak yang lahir di malam gerhana, yang tidak pernah melakukan ritual bersih desa. Karena ada anak yang memakai pusaka yang tidak seharusnya ia pakai. Karena ada anak yang... membawa energi gelap ke desa ini."
Semua mata tertuju pada Sultan Hasan.
Anak itu duduk di pojok balai desa, di samping Mak Umi yang wajahnya pucat pasi. Ia tidak berbicara. Ia hanya menunduk. Tangan kanannya, dengan cincin batu akik merah, ia sembunyikan di balik punggung.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya seorang perempuan.
"Kita harus mengusir anak itu," kata Pak Karta. "Atau setidaknya, kita harus memintanya menanggalkan pusaka itu. Mungkin dengan begitu, roh-roh hutan akan tenang. Hujan akan turun."
Kerumunan bergemuruh. Ada yang setuju. Ada yang ragu. Ada yang diam.
Mak Umi berdiri. Wajahnya merah padam seperti saat pertemuan pasca-banjir dulu. "Kalian gila! Anak itu baru berusia enam tahun! Tidak mungkin ia menyebabkan kemarau! Kemarau terjadi karena alam, bukan karena pusaka atau gerhana!"
"Lalu kenapa desa-desa lain tidak sekering desa kita?" bantah Pak Karta. "Aku sudah bertanya pada saudaraku di desa sebelah. Sawah mereka masih basah. Sungai mereka masih mengalir. Hanya desa kita yang begini parah!"
"Karena desa kita lebih tinggi!" Mak Umi tidak mau kalah. "Desa-desa di bawah kita mendapat aliran air dari sungai yang sama! Tentu mereka masih punya air, karena air mengalir ke bawah! Itu fisika, bukan kutukan!"
Tapi Mak Umi hanya seorang perempuan tua miskin. Suaranya tenggelam dalam gemuruh ketakutan yang sudah memuncak.
Kyai Mandrawijaya mengangkat tangan. "Kita tidak akan mengusir siapa pun," katanya. "Tapi kita akan melakukan ritual bersih desa yang lebih besar. Dan kita akan meminta... kepada siapa pun yang memiliki pusaka yang tidak seharusnya ia miliki... untuk meletakkannya di tempat yang semestinya."
Ia memandang Sultan Hasan. Tatapan yang tajam. Tatapan yang berkata: Aku tahu kau memakai cincin itu. Aku tahu kau menyembunyikannya. Tapi aku tidak akan memaksamu sekarang. Tapi ingat, desa ini sedang menderita. Dan kau, mau tidak mau, adalah bagian dari masalah ini.
Sultan Hasan tidak berkata apa-apa. Ia hanya menggenggam erat cincin di jarinya. Batu akik merah itu terasa panas. Sangat panas. Seperti marah. Seperti tidak terima.
Tapi Sultan Hasan menenangkannya. Ia mengelus batu itu dengan ibu jarinya, pelan-pelan, sampai panasnya mereda.
Tenang, pikirnya. Kita tidak akan melawan mereka. Bukan sekarang.
Ritual bersih desa dilaksanakan tiga hari kemudian.
Seluruh warga berkumpul di telaga larangan. Ya, telaga yang sama yang menjadi tempat pertemuan Sultan Hasan dengan Pandan Wangi. Telaga yang airnya, anehnya, tidak pernah kering meski musim kemarau sudah berlangsung lima bulan. Airnya tetap jernih. Tetap penuh. Tidak berkurang sedikit pun.
Beberapa warga melihat keanehan itu. Tapi tidak ada yang berani mengomentari. Telaga larangan adalah tempat keramat. Tidak boleh dibicarakan sembarangan.
Kyai Mandrawijaya memimpin ritual. Ia membacakan mantra-mantra dalam bahasa yang tidak dimengerti siapa pun. Ia memercikkan air telaga ke empat penjuru mata angin. Ia membakar kemenyan yang baunya menyengat hidung. Ia mengurbankan seekor ayam hitam dan seekor kambing putih.
Seluruh warga duduk bersila di tanah. Mereka menunduk. Mereka berdoa. Mereka berharap hujan akan segera turun.
Sultan Hasan duduk di barisan paling belakang, di samping Mak Umi dan Jaya. Ia tidak menunduk seperti yang lain. Ia memandang telaga itu. Ia memandang airnya yang jernih, yang tidak pernah kering, yang menjadi tempat pertemuan rahasianya dengan Pandan Wangi.
Di dasar telaga, ia melihat bayangan. Bukan bayangannya sendiri. Bayangan seorang perempuan. Perempuan dewasa. Berambut panjang. Memakai kain batik bermotif pandan. Ia menari. Perlahan. Lembut. Seperti air.
Pandan Wangi.
Sultan Hasan tersenyum. Ia tahu Pandan Wangi tidak akan pernah meninggalkannya. Di tengah kemarau yang paling panjang sekalipun. Di tengah kebencian yang paling memuncak sekalipun.
Ritual selesai. Kyai Mandrawijaya mengangkat tangannya ke langit. "Semoga hujan segera turun," katanya. "Semoga desa kita bersih dari segala malapetaka. Semoga roh-roh hutan tenang dan tidak marah lagi."
Tidak ada yang berubah. Langit tetap biru. Matahari tetap terik. Tidak setitik pun awan yang terlihat.
Tapi beberapa warga, saat berjalan pulang dari telaga, merasa ada yang berbeda. Tidak bisa mereka jelaskan. Hanya perasaan samar bahwa sesuatu telah terjadi. Sesuatu yang tidak kasat mata. Sesuatu yang mungkin akan membawa perubahan.
Sultan Hasan, yang berjalan di belakang rombongan, merasakan hal yang sama.
Cincin di jarinya berdenyut. Pelan. Hangat. Seperti setuju.
Tujuh hari setelah ritual, hujan turun.
Bukan gerimis. Bukan hujan biasa. Hujan lebat. Hujan yang mengguyur desa seperti ada yang menuangkan air dari emporium raksasa di langit. Hujan yang membuat tanah yang retak-retak itu minum sampai puas, sampai perutnya kembung dan airnya meluap ke sawah-sawah.
Warga desa keluar rumah. Mereka berdiri di tengah hujan. Mereka tertawa. Mereka menangis. Mereka berpelukan. Mereka bersyukur.
"Ritualnya berhasil!" teriak seseorang. "Kyai Mandrawijaya hebat!"
"Telaga larangan memberkati kita!" teriak yang lain. "Roh-roh hutan sudah tidak marah lagi!"
Tidak ada yang mengucapkan terima kasih pada Sultan Hasan. Tidak ada yang menyadari bahwa keanehan telaga yang tidak pernah kering itu mungkin ada hubungannya dengan anak kecil yang setiap malam diam-diam pergi ke sana untuk bertemu dengan seorang teman misterius.
Tapi Sultan Hasan tidak mencari ucapan terima kasih. Ia hanya bersyukur bahwa desanya selamat. Bahwa Mak Umi dan Jaya dan ibu Jaya tidak akan kelaparan. Bahwa musim tanam bisa dimulai lagi.
Ia berdiri di halaman rumah Mak Umi, di tengah hujan, dengan tangan terbuka. Batu akik merah di jarinya basah, merahnya semakin terang di bawah air hujan.
"Terima kasih," bisiknya pada langit. Pada telaga. Pada Pandan Wangi yang mungkin sedang menari di suatu tempat. "Terima kasih untuk airnya."
Burung hantu di pohon asam, yang basah kuyup karena hujan, mengepakkan sayapnya sekali. Tidak berbunyi. Hanya mengepak.
Seolah ikut bersyukur.
Seolah tahu bahwa kemarau panjang telah berakhir.
Tapi ketahuilah, pembaca yang budiman, kemarau panjang mungkin telah berakhir. Tapi kebencian di hati manusia, seperti bara yang tertutup abu, tidak pernah benar-benar padam. Ia hanya menunggu. Menunggu angin bertiup lagi. Menunggu kesempatan untuk menyala kembali.
Dan Sultan Hasan, anak kecil dengan cincin batu akik merah di jarinya, akan terus menjadi sasaran.
Sampai suatu hari, ia memutuskan untuk pergi.
Tapi itu cerita untuk bab-bab selanjutnya.
BAB XI
Nini Mas Intan Wafat
Kabar itu datang pada suatu pagi yang tidak berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya.
Sultan Hasan sedang membantu Mak Umi mencuci pakaian di sungai. Air sungai mulai pulih setelah hujan turun beberapa hari terakhir. Tidak sejernih dulu, tapi setidaknya tidak keruh seperti saat kemarau. Ikan-ikan kecil mulai bermunculan lagi, mencari makanan di sela-sela batu.
Seorang perempuan tetangga berlari-lari kecil mendekati mereka. Wajahnya pucat. Napasnya tersengal-sengal, seperti baru saja berlari jauh.
"Mak Umi! Mak Umi!" teriaknya.
Mak Umi yang sedang membenturkan pakaian ke batu, berhenti. "Ada apa, Mi?"
"Nini... Nini Mas Intan..."
"Ada apa dengan Nini Mas Intan?"
Perempuan itu mengambil napas panjang. Matanya berkaca-kaca. "Ia... meninggal, Mak. Semalam. Atau mungkin lusa. Tidak ada yang tahu persis. Jenazahnya baru ditemukan pagi ini oleh anak buah Kyai Mandrawijaya yang sedang mencari kayu bakar di hutan."
Mak Umi terdiam. Tangannya yang memegang pakaian basah itu berhenti bergerak. Air menetes dari kain itu ke batu, bunyinya seperti tetesan air mata.
"Sudah dikuburkan?" tanya Mak Umi akhirnya.
"Belum. Kyai Mandrawijaya meminta semua orang berkumpul di balai desa. Katanya, Nini Mas Intan harus dimakamkan secara adat. Sebagai penghormatan. Karena ia adalah tetua tertua di desa kita."
Mak Umi mengangguk. Ia berdiri. Ia mengeringkan tangannya di kain sarungnya. "Hasan," katanya pada Sultan Hasan yang masih duduk di tepi sungai, "kau dengar sendiri. Nini Mas Intan sudah tiada. Kita harus pergi ke balai desa."
Sultan Hasan tidak bergerak.
Ia mendengar. Ia mendengar semuanya. Tapi tubuhnya terasa kaku, seperti membatu. Pikirannya berputar, mengingat-ingat pertemuan terakhirnya dengan Nini Mas Intan beberapa pekan lalu, sebelum kemarau panjang dimulai.
Perempuan tua itu datang ke rumah Mak Umi saat hujan belum berhenti. Ia duduk di beranda, bersandar pada tongkat kayu nangkanya yang sudah aus. Matanya buram seperti susu diencerkan air. Rambutnya putih semua, tidak sehelai pun yang hitam.
"Kau sudah besar, Sultan Hasan," kata Nini Mas Intan saat itu. "Tidak besar secara fisik. Tapi hatimu sudah besar. Aku bisa melihatnya."
Sultan Hasan yang masih berusia lima tahun setengah saat itu, duduk di sampingnya. "Apakah aku sudah bisa menjadi penjaga, Nek?"
Nini Mas Intan tertawa. Tawanya serak, seperti gesekan daun-daun kering. "Belum, Nak. Masih panjang. Tapi kau di jalan yang benar. Jangan pernah berhenti. Jangan pernah menyerah. Meski semua orang membencimu. Meski semua orang menyalahkanmu. Tetaplah di jalan itu."
"Apakah Nek akan selalu ada untuk membimbingku?"
Nini Mas Intan terdiam. Ia memandang ke luar, ke arah hutan di timur, ke arah telaga larangan. Matanya yang buram tiba-tiba terlihat jauh, seperti sedang melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang biasa.
"Aku tidak akan selalu ada, Sultan Hasan. Tubuhku sudah tua. Sangat tua. Lebih tua dari pohon beringin di balai desa. Aku sudah melebihi batas yang wajar untuk manusia. Suatu hari, aku akan pergi. Dan kau harus melanjutkan perjalananmu sendirian."
"Tapi aku takut, Nek."
"Tidak apa-apa takut. Penjaga hati juga takut. Tapi mereka tidak membiarkan ketakutan menghentikan mereka. Ingatlah itu."
Nini Mas Intan mengusap rambut Sultan Hasan. Tangannya dingin, tapi sentuhannya lembut.
"Jagalah cincin itu," pesannya terakhir sebelum berdiri dan berjalan perlahan meninggalkan halaman. "Jagalah syair-syair yang kuajarkan. Dan jagalah telaga itu. Suatu hari, kau akan mengerti mengapa semua ini terjadi."
Itu adalah pertemuan terakhir mereka.
Dan sekarang, Nini Mas Intan sudah tiada.
Balai desa penuh dengan orang.
Hampir seluruh warga Dukuh Wangi hadir. Mereka datang bukan hanya karena Kyai Mandrawijaya memerintahkan, tapi karena mereka ingin memberi penghormatan terakhir pada perempuan tua yang selama ini mereka anggap keramat. Nini Mas Intan memang tidak disukai semua orang. Ia aneh. Ia misterius. Ia jarang bergaul. Tapi tidak ada yang bisa memungkiri bahwa ia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain.
Jenazah Nini Mas Intan terbaring di tengah balai desa, ditutupi kain putih bersih. Wajahnya sudah tidak bisa dilihat. Yang terlihat hanya gundukan kain yang naik turun mengikuti bentuk tubuh tua yang keriput itu.
Kyai Mandrawijaya berdiri di samping jenazah. Wajahnya serius, tidak biasa. Ada kesedihan di matanya, meski ia berusaha menyembunyikannya.
"Kita berkumpul di sini," katanya, "untuk memberi penghormatan terakhir pada Nini Mas Intan. Beliau adalah tetua tertua di desa kita. Konon, usianya sudah lebih dari seratus tahun. Beliau adalah penjaga pengetahuan lama yang mungkin tidak kita mengerti sepenuhnya. Tapi hari ini, kita antar beliau ke peristirahatan terakhirnya."
Kerumunan mengangguk. Beberapa orang menangis.
Kyai Mandrawijaya melanjutkan, "Sebelum dimakamkan, aku akan membacakan doa-doa. Tapi sebelumnya, adakah yang ingin menyampaikan kesan terakhir untuk beliau?"
Saat itu, Sultan Hasan yang duduk di barisan paling belakang, di samping Mak Umi, merasakan dorongan aneh di dadanya. Ia ingin bicara. Ia ingin mengatakan sesuatu tentang Nini Mas Intan. Tentang kebaikannya. Tentang syair-syair yang diajarkannya. Tentang bagaimana perempuan tua itu adalah satu-satunya orang, selain ibunya dan Mak Umi dan Jaya dan Pandan Wangi, yang tidak pernah takut padanya.
Tapi sebelum ia sempat mengangkat tangan, seseorang sudah berdiri lebih dulu.
Pak Karta, dukun yang kemarin memimpin ritual di telaga.
"Aku ingin bicara," kata Pak Karta. Suaranya berat. Wajahnya muram. "Aku ingin bertanya pada Kyai dan semua yang hadir di sini. Apakah kita tahu persis bagaimana Nini Mas Intan meninggal?"
Kyai Mandrawijaya mengerutkan kening. "Tentu karena usia. Beliau sudah sangat tua."
"Tapi aku mendengar," kata Pak Karta, "bahwa jenazah Nini Mas Intan ditemukan dalam kondisi yang aneh. Tidak seperti orang mati biasa. Wajahnya... kata orang-orang yang pertama kali menemukan, wajahnya menyeringai seperti ketakutan. Tangannya mengepal. Dan di sekeliling jenazahnya, ada lingkaran abu-abu seperti bekas terbakar."
Kerumunan mulai berbisik. Suasana berubah. Dari duka menjadi tegang.
"Itu hanya cerita-cerita," kata Kyai Mandrawijaya. "Jangan percaya pada gosip."
"Tapi aku juga mendengar," Pak Karta tidak berhenti, "bahwa beberapa hari sebelum meninggal, Nini Mas Intan sering terlihat mondar-mandir di tepi hutan, berbicara sendiri. Katanya, ia terus mengulang-ulang nama yang sama."
"Nama siapa?" tanya seseorang dari kerumunan.
Pak Karta menoleh. Matanya menatap lurus ke arah Sultan Hasan.
"Sultan Hasan."
Seluruh balai desa mendadak sunyi.
Sultan Hasan merasakan dingin menjalari punggungnya. Batu akik merah di jarinya berdenyut cepat, seperti jantung yang ketakutan.
"Apa hubungannya?" tanya Mak Umi cepat-cepat, membela. "Anak itu tidak mungkin membunuh Nini Mas Intan! Ia masih kecil! Ia bahkan tidak tahu persis di mana Nini Mas Intan tinggal!"
"Aku tidak mengatakan ia membunuh," kata Pak Karta. "Tapi mungkin... keberadaannya membawa energi yang tidak baik untuk orang tua seperti Nini Mas Intan. Mungkin kehadirannya mempercepat kematian beliau. Kita tahu sendiri, sejak anak itu lahir, desa kita dilanda berbagai musibah."
Kerumunan bergemuruh lagi. Kali ini lebih keras. Lebih marah.
"Usir anak itu!"
"Buang pusakanya!"
"Akar masalahnya adalah anak itu!"
Kyai Mandrawijaya mengangkat tangan. Butuh waktu cukup lama untuk meredakan kerumunan.
"Kita tidak akan membahas itu sekarang," katanya. "Sekarang kita fokus pada pemakaman Nini Mas Intan. Urusan lain bisa dibahas nanti."
Tapi benih kebencian sudah ditanam. Lagi. Lebih dalam dari sebelumnya.
Sultan Hasan duduk diam di barisan belakang. Mak Umi menggenggam tangannya erat-erat. Jaya, yang duduk di sampingnya, juga menggenggam tangan kirinya.
Tiga tangan saling menggenggam. Tiga hati yang berusaha tetap kuat di tengah badai.
Pemakaman Nini Mas Intan berlangsung sore itu juga.
Mereka menguburkannya di pemakaman umum desa, di bawah pohon beringin tua yang akarnya menjalar hingga ke mana-mana. Tidak ada nisan khusus. Hanya sebuah batu kali yang diletakkan di atas pusara, sebagai tanda bahwa di bawahnya terbaring seorang perempuan yang sangat tua, yang sangat aneh, dan yang sangat bijaksana.
Sultan Hasan berdiri di pinggir lubang kubur. Ia memandang kain putih yang membungkus jenazah Nini Mas Intan, perlahan-lahan diturunkan ke dalam tanah.
Ia tidak menangis.
Bukan karena tidak sedih. Ia sangat sedih. Lebih sedih dari saat ibunya meninggal. Karena saat ibunya meninggal, ia masih terlalu kecil untuk mengerti sepenuhnya. Tapi sekarang ia sudah berusia enam tahun. Ia mengerti bahwa kematian berarti kepergian yang tidak akan pernah kembali.
Ia tidak menangis karena ia ingat pesan Nini Mas Intan. "Penjaga hati bukanlah orang yang tak pernah terluka. Tapi orang yang lukanya tidak membuatnya lupa mencintai."
Ia terluka. Sangat terluka. Tapi ia tidak akan lupa untuk mencintai.
"Selamat jalan, Nek," bisiknya saat tanah pertama mulai ditaburkan di atas peti. "Aku akan terus belajar. Aku akan terus menjaga. Aku akan menjadi penjaga hati, seperti yang Nek ajarkan. Aku janji."
Di kejauhan, burung hantu berbunyi. Sekali. Pendek.
Bukan bunyi duka. Tapi bunyi janji. Janji bahwa meski Nini Mas Intan sudah tiada, ajarannya akan tetap hidup. Dalam hati Sultan Hasan. Dalam syair-syair yang ia hafal. Dalam setiap tindakan kebaikan yang akan ia lakukan di masa depan.
Malam harinya, Sultan Hasan pergi ke telaga larangan sendirian.
Ia tidak tahu apakah Pandan Wangi akan ada di sana. Sejak kemarau panjang berakhir, Pandan Wangi jarang muncul. Batu akik merah di jarinya juga jarang berdenyut kencang. Seolah sang teman sedang pergi ke suatu tempat yang jauh.
Tapi malam ini, saat ia duduk di batu hitam yang datar itu, Pandan Wangi muncul.
Ia duduk di samping Sultan Hasan. Tidak bicara. Hanya duduk. Menemani.
"Aku kehilangan dia," kata Sultan Hasan akhirnya. Suaranya parau. "Aku kehilangan Nini Mas Intan."
"Aku tahu," kata Pandan Wangi. Suaranya lembut, seperti air telaga yang mengalir pelan.
"Aku sedih, Pandan."
"Iya."
"Tapi aku tidak bisa menangis. Aku mencoba. Tapi air matanya tidak mau keluar."
"Itu tidak apa-apa. Tidak semua kesedihan harus ditumpahkan dengan air mata. Kadang kesedihan disimpan di dalam dada, dan dijadikan bahan bakar untuk terus melangkah."
Sultan Hasan memandang Pandan Wangi. Wajah temannya itu, di bawah cahaya bulan, terlihat pucat. Matanya hitam, dalam, seperti telaga itu sendiri.
"Apakah kau juga akan mati suatu hari nanti?" tanya Sultan Hasan.
Pandan Wangi tersenyum. Senyum yang lembut. Tapi ada sesuatu di sana. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Sesuatu antara kesedihan dan ketabahan.
"Aku tidak akan mati, Sultan Hasan. Tapi aku juga tidak akan hidup selamanya. Aku ada selama kau mengingatku. Aku ada selama kau menjaga telaga ini. Aku ada selama batu akik merah di jarimu masih berdenyut."
"Jadi, jika aku lupa padamu, kau akan lenyap?"
"Jika kau lupa padaku, bukan aku yang lenyap. Tapi sebagian dari dirimu yang lenyap. Karena aku adalah bagian dari hatimu, Sultan Hasan. Aku adalah cermin dari apa yang kau jaga."
Sultan Hasan terdiam. Ia tidak sepenuhnya mengerti. Tapi ia memilih untuk percaya. Karena dalam hidupnya yang singkat dan penuh dengan kehilangan, ia butuh sesuatu untuk dipegang. Seseorang untuk dipercaya.
Dan Pandan Wangi, teman misterius yang muncul di tepi telaga di tengah malam, adalah satu-satunya yang tersisa setelah Nini Mas Intan pergi.
"Aku tidak akan melupakanmu," kata Sultan Hasan. "Aku janji."
Pandan Wangi tersenyum lagi. Kali ini lebih lebar.
"Jagalah janjimu, Sultan Hasan. Karena penjaga hati tidak pernah mengingkari janji. Jika ia mengingkari, ia bukan lagi penjaga."
Malam itu, Sultan Hasan belajar sesuatu yang baru. Bahwa kehilangan adalah bagian dari menjaga. Bahwa cinta tidak selalu berarti memiliki. Bahwa kadang, kita harus melepaskan agar apa yang kita cintai tetap hidup.
Nini Mas Intan sudah tiada. Tapi ajarannya masih ada. Syair-syairnya masih terngiang di telinga. Dan telaga larangan, tempat di mana ia duduk sekarang bersama Pandan Wangi, adalah saksi bisu bahwa perempuan tua itu pernah hidup, pernah mengajar, dan pernah mencintai desa ini meski desa ini tidak pernah benar-benar memahaminya.
Sultan Hasan menghela napas panjang. Ia memandang bintang-bintang di langit.
"Selamat malam, Nek," bisiknya. "Istirahatlah dengan tenang. Aku akan melanjutkan perjalanan ini. Aku akan menjadi penjaga yang baik. Aku janji."
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatapnya. Matanya bundar dan kuning. Tidak berbunyi. Hanya menatap.
Seolah setuju bahwa Sultan Hasan, meski baru berusia enam tahun, sudah memiliki keteguhan hati yang lebih kuat dari kebanyakan orang dewasa di desanya.
Dan bahwa perjalanannya, meski baru dimulai, sudah diwarnai oleh duka yang cukup untuk membuatnya tumbuh menjadi seseorang yang luar biasa.
BAB XII
Siapa Pandan Wangi?
Pertanyaan itu tidak pernah benar-benar terucap dari mulut Sultan Hasan, tetapi ia hidup di dalam kepalanya setiap kali ia pulang dari telaga larangan.
Siapa sebenarnya Pandan Wangi?
Bukan anak desa. Itu pasti. Sultan Hasan sudah hafal semua anak seusianya di Dukuh Wangi, meski mereka tidak mau bermain dengannya. Tidak ada yang bernama Pandan Wangi. Tidak ada yang berwajah seperti dia. Tidak ada yang bersuara seperti dia. Lembut. Jauh. Seperti suara dari dasar sumur.
Bukan manusia biasa? Mungkin. Tapi kalau bukan manusia, lalu apa? Peri? Bidadari? Roh halus? Sultan Hasan tidak tahu. Ia hanya tahu bahwa setiap kali ia duduk di samping Pandan Wangi di tepi telaga, ia merasa aman. Ia merasa tidak sendirian. Ia merasa bahwa dunia ini tidak sekejam yang ia kira.
Tapi rasa penasaran itu tetap ada. Menggelitik. Mengganggu. Seperti duri kecil yang tertancap di kulit, tidak sakit tapi tidak nyaman.
Suatu malam, setelah Nini Mas Intan dimakamkan seminggu yang lalu, Sultan Hasan memberanikan diri bertanya.
"Pandan," katanya pelan. Mereka sedang duduk di batu hitam yang datar itu. Bulan purnama bersinar terang, memantul di permukaan telaga, menciptakan ribuan titik berkilauan seperti berlian.
"Ya?" Pandan Wangi menoleh. Wajahnya setengah terang, setengah gelap. Tersenyum seperti biasa.
"Aku ingin bertanya sesuatu. Sejak lama. Tapi aku takut."
"Takut apa?"
"Takut kau akan marah. Atau pergi. Atau tidak mau menemuiku lagi."
Pandan Wangi tertawa kecil. Tawanya lembut, seperti angin malam yang membawa wangi bunga-bunga liar.
"Aku tidak akan marah, Sultan Hasan. Aku juga tidak akan pergi hanya karena kau bertanya. Tanyakan saja apa yang ingin kau tanyakan."
Sultan Hasan mengambil napas panjang. Batu akik merah di jarinya berdenyut pelan, seolah memberi dorongan.
"Siapa kau sebenarnya, Pandan Wangi?"
Pandan Wangi terdiam.
Bukan diam biasa. Diam yang dalam. Diam yang terasa berat, seperti langit sebelum hujan turun. Sultan Hasan bisa merasakan ada sesuatu yang berubah di udara. Sesuatu yang tidak bisa ia lihat, tapi bisa ia rasakan.
"Pertanyaan yang bagus," kata Pandan Wangi akhirnya. "Pertanyaan yang seharusnya sudah kau tanyakan sejak pertama kita bertemu."
"Aku dulu terlalu kecil untuk bertanya. Dan sekarang?"
"Dan sekarang kau sudah cukup besar untuk mendengar jawabannya. Tapi aku tidak yakin kau siap."
"Aku siap," kata Sultan Hasan cepat-cepat. "Aku sudah melalui banyak hal. Aku sudah kehilangan ayah, ibu, Nini Mas Intan. Aku sudah dikucilkan, dilempari kerikil, dituduh sebagai penyebab banjir dan kemarau. Aku kira tidak ada lagi yang bisa membuatku terkejut."
Pandan Wangi memandang Sultan Hasan lama. Matanya yang hitam pekat itu seperti dua telaga kecil, dalam, misterius, menyimpan ribuan rahasia yang tidak pernah diceritakan.
"Baiklah," katanya akhirnya. "Tapi jangan katakan aku tidak memperingatkanmu."
Pandan Wangi berdiri. Ia berjalan ke tepi telaga. Ia menunduk, mencelupkan ujung jari kakinya ke air. Air telaga yang tadinya tenang tiba-tiba beriak, seperti ada sesuatu di bawah sana yang bergerak.
"Kau tahu telaga ini, Sultan Hasan. Kau tahu ia tidak pernah kering. Bahkan di musim kemarau paling panjang sekalipun, airnya tetap jernih, tetap penuh. Kau tahu itu aneh. Tapi kau tidak pernah bertanya mengapa."
Sultan Hasan mengangguk. Ia memang pernah berpikir tentang keanehan itu. Tapi ia selalu menganggapnya sebagai bagian dari misteri telaga. Sesuatu yang tidak perlu dipertanyakan.
"Telaga ini," lanjut Pandan Wangi, "bukan telaga biasa. Ia adalah telaga pusaka. Ia dijaga oleh sesuatu yang sudah ada sejak sebelum desa ini berdiri. Sejak sebelum nenek moyang kita datang ke tanah ini. Sejak sebelum manusia mengenal tulisan."
"Dijaga oleh apa?" tanya Sultan Hasan.
"Dijaga oleh penunggu. Penunggu telaga. Dan penunggu itu... adalah aku."
Sultan Hasan terhenyak. Ia memandang Pandan Wangi. Gadis kecil di depannya itu, seusianya, berpakaian lusuh, rambutnya hitam panjang sebahu. Tidak ada yang istimewa. Tapi tiba-tiba semuanya terasa berbeda.
"Kau... penunggu telaga?"
"Bukan hanya penunggu. Aku juga telaganya sendiri. Aku adalah airnya. Aku adalah tanaman air yang tumbuh di dasarnya. Aku adalah ikan-ikan kecil yang berenang di dalamnya. Aku adalah cahaya bulan yang memantul di permukaannya. Aku adalah telaga, Sultan Hasan. Dan telaga adalah aku."
Sultan Hasan tidak bisa berkata-kata. Ini terlalu aneh. Terlalu di luar nalar. Seorang anak perempuan seusianya mengaku sebagai telaga? Sebagai air? Sebagai sesuatu yang bukan manusia?
Tapi kemudian ia ingat. Pandan Wangi tidak pernah terlihat di siang hari. Pandan Wangi hanya muncul di malam hari, di tepi telaga ini. Pandan Wangi tidak pernah makan atau minum di depannya. Pandan Wangi tidak pernah kedinginan meski malam sangat dingin.
Semua tanda itu sudah ada sejak awal. Ia hanya terlalu sibuk menikmati persahabatan mereka untuk bertanya.
"Kau... apakah kau pernah menjadi manusia?" tanya Sultan Hasan.
Pandan Wangi tersenyum. Senyum yang lembut. Tapi ada kesedihan di sana. Kesedihan yang tua. Kesedihan yang sudah berusia berabad-abad.
"Aku dulu manusia, Sultan Hasan. Puluhan tahun yang lalu. Mungkin ratusan. Aku tidak ingat persis. Waktu terasa berbeda ketika kau menjadi air."
"Ceritakan padaku."
Pandan Wangi duduk kembali di batu hitam itu. Ia memandang telaga. Airnya tenang lagi. Iriak-iriak tadi sudah hilang.
"Dahulu kala, di desa ini, hiduplah seorang gadis. Namanya Pandan Wangi. Ia cantik. Kata orang-orang, kecantikannya seperti embun pagi di daun pandan. Wanginya semerbak, seperti kemenyan dibakar di malam Jumat."
"Gadis itu kau?"
"Aku adalah dia. Dulu. Saat masih punya darah dan daging. Saat masih bisa merasakan dinginnya air dan panasnya matahari. Saat masih bisa jatuh cinta."
"Kau jatuh cinta?"
Pandan Wangi tersenyum pahit. "Jatuh cinta pada seorang pemuda. Pemuda dari desa seberang. Kami bertemu di tepi telaga ini, tepat di tempat kita duduk sekarang. Kami berjanji untuk menikah. Tapi orang tuanya tidak setuju. Katanya, aku tidak cukup baik untuk anaknya. Katanya, aku hanya gadis kampung tanpa harta."
"Apa yang terjadi?"
Pandan Wangi terdiam lama. Tangannya yang mungil memetik sehelai rumput liar di sela-sela batu, lalu melemparkannya ke telaga. Rumput itu mengapung sebentar, lalu perlahan tenggelam.
"Pemuda itu dinikahkan dengan orang lain. Aku patah hati. Aku datang ke telaga ini, malam itu, di bawah bulan purnama. Aku menangis. Aku berdoa. Aku memohon pada alam untuk membebaskanku dari rasa sakit ini. Dan alam mendengar."
"Alam mengabulkan doamu?"
"Alam menawarkanku pilihan. Menjadi manusia biasa dan terus menderita. Atau menjadi penunggu telaga ini, menjaga air dan kehidupan di dalamnya, dan melupakan rasa sakitku. Aku memilih yang kedua. Karena saat itu, rasanya lebih mudah menjadi air daripada menjadi manusia."
Sultan Hasan terdiam. Ia membayangkan gadis muda yang patah hati, duduk di batu yang sama, menangis di bawah bulan yang sama. Ia membayangkan rasa sakit yang begitu dalam hingga seseorang rela melepaskan kemanusiaannya.
"Apakah kau menyesal?" tanya Sultan Hasan.
Pandan Wangi menggeleng. "Tidak. Menjadi penunggu telaga memberiku kedamaian. Aku tidak lagi merasakan sakit hati. Aku tidak lagi merasakan rindu yang menyiksa. Aku hanya... ada. Mengalir. Menjernihkan diri. Memberi kehidupan pada tanaman dan ikan."
"Tapi kau juga kesepian?"
Pandan Wangi tidak menjawab. Tapi matanya berkata ya. Matanya yang hitam pekat itu berkata: Aku sangat kesepian. Selama puluhan tahun. Mungkin ratusan. Tidak ada yang datang ke telaga ini. Hanya burung hantu yang kadang bertengger di dahan dan menatapku dengan matanya yang bundar. Sampai kau lahir. Sampai kau datang.
"Kenapa kau memilih menemuiku?" tanya Sultan Hasan. "Dari sekian banyak orang yang pernah datang ke telaga ini?"
"Karena kau berbeda, Sultan Hasan. Kau tidak datang ke sini untuk meminta sesuatu. Kau tidak datang untuk berdoa minta hujan atau kesembuhan atau jodoh. Kau datang karena kau kesepian. Sama sepertiku. Dan orang yang kesepian, mereka bisa saling memahami tanpa harus bicara banyak."
Sultan Hasan mengangguk. Ia mengerti. Ia sangat mengerti.
"Tapi ada satu hal lagi yang harus kau ketahui," kata Pandan Wangi setelah lama terdiam.
"Apa?"
"Telaga ini tidak hanya menjagaku. Ia juga menjagamu. Atau lebih tepat, ia menjaga pusakamu."
"Pusakaku? Cincin ini?"
Pandan Wangi mengangguk. "Cincin batu akik merah di jarimu itu terbuat dari bahan yang sama dengan telaga ini. Batu itu berasal dari dasar telaga, diambil oleh seorang pertapa ratusan tahun lalu, lalu ditempa menjadi cincin. Ia memiliki energi yang sama dengan air di sini. Itu sebabnya ia berdenyut. Itu sebabnya ia hangat. Itu sebabnya ia bisa merasakan apa yang kau rasakan."
"Jadi... cincin ini dan telaga ini terhubung?"
"Seperti saudara. Seperti dua sisi mata uang yang sama. Jika cincinmu rusak, telaga ini akan keruh. Jika telaga ini kering, cincinmu akan mati."
Sultan Hasan memandang cincin di jarinya dengan perasaan baru. Bukan lagi sekadar pusaka. Tapi sesuatu yang hidup. Sesuatu yang bernapas. Sesuatu yang terhubung dengan tempat suci ini, dengan makhluk di sampingnya, dengan sejarah panjang yang tidak pernah ia bayangkan.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Sultan Hasan.
"Jagalah cincinmu. Jagalah telaga ini. Dan jagalah aku, meski hanya dengan mengingatku. Karena selama kau mengingat, aku ada. Selama kau datang ke sini, aku tidak sendirian."
"Aku tidak akan berhenti datang," kata Sultan Hasan. "Aku janji."
Pandan Wangi tersenyum. Senyum yang paling lebar yang pernah Sultan Hasan lihat. Senyum yang membuat seluruh telaga bergetar, airnya beriak, dan cahaya bulan pecah menjadi ribuan keping.
"Terima kasih, Sultan Hasan. Kau tidak tahu betapa berartinya kehadiranmu bagiku. Setelah sekian lama sendirian, akhirnya ada yang mau mendengar ceritaku. Akhirnya ada yang mau duduk di sampingku tanpa takut. Akhirnya ada yang mau menjadi teman."
Keduanya terdiam. Menikmati malam. Menikmati kehadiran satu sama lain.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap mereka. Matanya bundar dan kuning. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu diam.
Seolah puas. Seolah senang bahwa rahasia itu akhirnya terungkap. Dan bahwa persahabatan antara seorang anak laki-laki yang dikutuk dan seorang penunggu telaga yang kesepian, ternyata bisa berjalan seiring, tanpa saling menghakimi.
Saat fajar mulai memutih, Pandan Wangi berdiri seperti biasa.
"Aku harus pergi sekarang," katanya. "Matahari hampir terbit."
"Kapan kau akan kembali?" tanya Sultan Hasan, seperti biasa.
"Aku selalu di sini. Tapi kau hanya bisa melihatku di malam-malam tertentu. Malam purnama. Malam ketika batu akik merahmu berdenyut kencang. Di malam-malam lain, kau mungkin tetap datang ke sini, dan kau akan merasakan kehadiranku. Tapi kau tidak akan melihatku."
"Itu cukup," kata Sultan Hasan. "Hanya tahu bahwa kau ada di sini, itu sudah cukup."
Pandan Wangi tersenyum. Ia berjalan ke tepi telaga. Ia mencelupkan ujung jarinya ke air. Seluruh telaga bergetar.
"Selamat pagi, Sultan Hasan."
"Selamat pagi, Pandan Wangi."
Dan seperti biasa, Pandan Wangi berjalan ke arah pepohonan, perlahan menyatu dengan kegelapan, lalu lenyap. Seperti tidak pernah ada.
Tapi Sultan Hasan tahu ia ada. Telaga itu ada. Airnya jernih. Dasarnya terlihat. Tanaman air bergoyang-goyang ditarik arus yang lembut.
Dan di jari manisnya, batu akik merah berdenyut pelan. Hangat.
Seolah berbisik: Kita tidak sendirian. Selama kita saling menjaga, kita tidak akan pernah sendirian.
Sultan Hasan berdiri. Ia berjalan pulang. Langit di timur mulai memerah. Ayam-ayam jantan mulai berkokok. Desa mulai bangun.
Ia tersenyum.
Untuk pertama kalinya setelah Nini Mas Intan meninggal, ia merasa ada sesuatu yang indah di dunia ini. Sesuatu yang membuatnya ingin terus hidup. Sesuatu yang membuatnya ingin terus menjadi penjaga.
Bukan hanya untuk dirinya sendiri.
Tapi untuk Pandan Wangi. Untuk telaga ini. Untuk semua yang membutuhkan seseorang yang mau menjaga.
"Penjaga hati," bisiknya mengulang syair yang diajarkan Pandan Wangi, "bukanlah orang yang tak pernah terluka. Tapi orang yang lukanya tidak membuatnya lupa mencintai."
Ia belum sepenuhnya mengerti. Tapi ia sedang belajar.
Setiap hari. Setiap malam. Setiap kali ia duduk di tepi telaga bersama Pandan Wangi.
Dan untuk anak seusianya, itu sudah luar biasa.
BAB XIII
Dibully Teman Sebaya
Usia Sultan Hasan menginjak tujuh tahun ketika perundungan itu mencapai puncaknya.
Bukan berarti sebelumnya ia tidak pernah diganggu. Sejak ia bisa berjalan, sejak ia bisa keluar rumah sendirian, sejak ia terlihat berbeda dari anak-anak lain, perundungan sudah menjadi bagian dari kesehariannya. Kerikil-kerikil kecil yang dilemparkan dari kejauhan. Bisikan-bisikan jahat yang dilontarkan saat ia lewat. Dorongan-dorongan kecil di punggung saat ia tidak melihat.
Tapi semua itu masih bisa ia tahan. Masih bisa ia abaikan. Masih bisa ia anggap sebagai angin lalu yang tidak perlu ditanggapi serius.
Namun ketika usianya tujuh tahun, sesuatu berubah.
Anak-anak seusianya mulai tumbuh lebih besar. Badan mereka mulai berisi, karena orang tua mereka masih bisa memberi makan dengan layak. Sementara Sultan Hasan, yang tinggal bersama Mak Umi yang miskin, tubuhnya tetap kurus, tetap kecil, tetap terlihat seperti anak lima tahun meski usianya sudah tujuh.
Dan anak-anak yang lebih besar itu, dengan tubuh yang lebih besar dan rasa percaya diri yang lebih besar pula, mulai berani melakukan lebih dari sekadar melempar kerikil dari kejauhan.
Mereka mulai mendekat.
Mereka mulai mengepung.
Mereka mulai memukul.
Kejadian itu berlangsung suatu sore, saat Sultan Hasan sedang berjalan sendirian dari sumur ke rumah Mak Umi. Seember kecil air ia bawa di tangan kanannya. Cincin batu akik merah melingkar di jari manisnya, basah sedikit karena percikan air.
Di tengah jalan, di sebuah tikungan yang sepi karena rumah-rumah di sekitarnya kosong (penghuninya pindah atau pergi ke ladang), ia dihadang.
Lima anak laki-laki berdiri di depannya. Di tengah, yang paling besar dan paling tegap, adalah Jebat. Anak kepala desa itu sekarang berusia delapan tahun, badannya sudah sebesar anak sepuluh tahun. Wajahnya bulat, pipinya tembam, matanya sipit dan penuh kebencian.
Di samping Jebat, ada Badrun, anak dukun Pak Karta, yang badannya juga tidak kalah besar. Badrun terkenal sebagai anak yang suka menyiksa kucing dan membunuh burung dengan ketapelnya. Matanya liar, seperti tidak pernah puas dengan kekerasan yang ia lakukan.
Tiga anak lainnya adalah pengikut setia Jebat. Mereka tidak punya nama yang perlu diingat. Mereka hanya bayang-bayang. Mereka ikut-ikutan karena takut pada Jebat, atau karena ingin dianggap keren, atau karena tidak punya otak untuk berpikir sendiri.
"Hei, anak setan!" sapa Jebat dengan suara besar. "Kau mau ke mana?"
Sultan Hasan berhenti. Ia menatap Jebat. Tidak takut. Tapi juga tidak berani. Ia hanya berdiri diam, memegang erat ember kecilnya.
"Aku mau pulang," jawabnya singkat.
"Pulang? Ke rumah Mak Umi? Rumah penampung anak setan?" Jebat tertawa. Anak-anak lain ikut tertawa. Tawa yang paksa. Tawa yang dipaksakan karena takut tidak ikut tertawa.
"Biar aku lewat," kata Sultan Hasan. "Aku tidak punya masalah dengan kalian."
"Kami punya masalah denganmu," kata Jebat. Ia melangkah maju. Badrun ikut melangkah maju. Mereka mengepung Sultan Hasan dari kiri dan kanan.
"Hidungmu baunya tidak enak," kata Badrun sambil mengendus-endus. "Seperti bau kuburan. Seperti bau orang mati."
"Itu karena kau belum mandi," kata Jebat tertawa. Tapi tidak ada yang tertawa. Lawakannya terlalu murahan.
Badrun mendorong dada Sultan Hasan. Tidak keras. Tapi cukup untuk membuat anak kurus itu mundur selangkah.
"Katakan, anak setan," kata Badrun. "Katakan bahwa kau setan. Kalau tidak, kami akan pukul kau."
Sultan Hasan tidak menjawab.
"Katakan!" dorongan kedua. Lebih keras. Sultan Hasan hampir jatuh.
"Aku bukan setan," kata Sultan Hasan. Suaranya pelan. Tapi tegas. "Aku manusia. Seperti kalian."
"Kami tidak sama denganmu!" teriak Jebat. "Ayahku kepala desa! Ayah Badrun dukun! Ayah-ayah kami orang terhormat! Ayahmu lenyap! Ibumu mati! Tidak ada yang mau mengaku kalian keluarga!"
Kata-kata itu lebih menyakitkan daripada dorongan. Jauh lebih menyakitkan.
Sultan Hasan menunduk. Matanya mulai berkaca-kaca. Tapi ia tidak mau menangis di depan mereka. Ia tidak mau memberi mereka kepuasan melihatnya lemah.
Jebat melihat itu. Ia tersenyum. Senyum predator yang tahu mangsanya sudah takut.
"Pukul dia," kata Jebat.
Badrun memulai. Tinjunya mengenai bahu Sultan Hasan. Tidak keras. Seperti baru menguji kekuatan.
Kemudian anak-anak lain ikut. Mereka memukul. Mereka menendang. Mereka menarik rambut Sultan Hasan. Mereka merebut ember kecilnya dan membuang airnya ke tanah.
Sultan Hasan jatuh. Ia mencoba bangkit. Tapi tendangan Jebat mengenai perutnya, membuatnya jatuh lagi.
Ia berguling. Ia mencoba melindungi kepalanya dengan kedua tangan. Cincin batu akik merah di jarinya terasa panas. Sangat panas. Seperti marah. Seperti ingin meledak.
Jangan, pikir Sultan Hasan. Jangan keluar. Aku tidak mau menyakiti mereka. Aku tidak mau menjadi seperti mereka.
Batu itu berdenyut kencang. Tapi Sultan Hasan menahannya. Ia menekan cincin itu dengan jari-jarinya, memintanya untuk tenang.
Dan anehnya, batu itu menurut.
Ia tetap panas. Tapi ia tidak meledak.
Sultan Hasan terus berguling, mencoba menjauh. Tapi mereka terus memukul. Terus menendang. Terus menarik rambutnya.
Sampai akhirnya, dari kejauhan, terdengar suara teriakan.
"HEI! BERHENTI!"
Suara perempuan. Tua. Tapi lantang.
Mak Umi.
Perempuan gemuk itu berlari sekencang mungkin meski napasnya sudah tersengal-sengal. Di tangannya, ia membawa sapu lidi. Senjata tradisional para ibu di desa untuk menghajar anak-anak nakal.
"Kalian anak-anak kurang ajar!" teriak Mak Umi sambil mengacung-acungkan sapunya. "Berani-beraninya kalian memukul anak orang!"
Jebat dan kawan-kawannya mundur. Mereka tidak takut pada Mak Umi. Tapi mereka takut pada sapu lidi itu. Dan mereka takut pada gosip bahwa mereka dipukul balik oleh seorang perempuan tua.
"Kami tidak memukul!" bantah Jebat. "Ia jatuh sendiri!"
"Jatuh sendiri? Dengan rambut kusut dan bibir berdarah? Kau pikir aku buta?"
Jebat tidak menjawab. Ia meludah ke tanah, lalu berbalik. Badrun dan anak-anak lain mengikutinya. Sebelum pergi, Jebat menoleh sekali lagi.
"Ini belum selesai, anak setan," bisiknya. Cukup keras untuk didengar Sultan Hasan. Cukup pelan untuk tidak didengar Mak Umi.
Kemudian mereka pergi. Meninggalkan Sultan Hasan terbaring di tanah, dengan tubuh penuh memar dan bibir yang berdarah.
Mak Umi berlutut di sampingnya. Tangannya yang gemetar membelai rambut Sultan Hasan.
"Nak... Nak, kau tidak apa-apa?"
"Aku tidak apa-apa, Mak," kata Sultan Hasan. Ia berusaha tersenyum. Tapi senyumnya lebih mirip rintihan.
"Jangan bohong! Bibirmu berdarah! Matamu lebam! Aku akan lapor ke kepala desa! Aku akan lapor ke Kyai Mandrawijaya!"
"Tidak usah, Mak."
"Kenapa tidak?"
"Karena mereka tidak akan membela aku. Aku anak setan. Mereka anak-anak orang terhormat. Siapa yang akan didengar?"
Mak Umi terdiam. Ia tahu Sultan Hasan benar.
Di desa ini, keadilan tidak pernah berpihak pada anak setan.
Perempuan tua itu menangis. Ia memangku Sultan Hasan di pangkuannya, di tengah jalan yang sepi, di bawah langit sore yang mulai memerah.
"Maafkan Mak Umi, Nak," bisiknya. "Mak Umi tidak bisa melindungimu. Mak Umi hanya perempuan tua miskin. Tidak punya kekuasaan. Tidak punya pengaruh."
"Tidak apa-apa, Mak," kata Sultan Hasan. "Kau sudah melakukan yang terbaik. Tanpa kau, mungkin aku sudah mati kelaparan sejak lama."
Mak Umi menangis lebih keras.
Sultan Hasan tidak menangis. Ia sudah lupa cara menangis.
Yang ia lakukan hanyalah memandang cincin di jari manisnya. Batu akik merah itu masih hangat. Masih berdenyut pelan.
Terima kasih sudah menurut, pikirnya. Terima kasih sudah tidak meledak. Aku tidak ingin menyakiti mereka. Aku tidak ingin menjadi seperti mereka.
Batu itu berdenyut sekali. Lembut. Seperti setuju.
Malam harinya, Jaya datang ke rumah Mak Umi. Wajahnya merah padam karena marah.
"Aku dengar apa yang terjadi," katanya. "Jebat dan teman-temannya memukulmu."
"Siapa yang bilang?"
"Seluruh desa tahu. Tapi tidak ada yang peduli. Buat mereka, kau memang pantas dipukul."
Sultan Hasan tersenyum pahit. "Biasa."
"Tidak biasa!" Jaya membanting tinjunya ke dinding bambu. "Kita harus melawan! Kita tidak bisa terus-terusan jadi korban!"
"Lalu kau mau apa? Melawan mereka? Kau sendiri? Aku sendiri? Tubuh kita kurus kering. Kita tidak punya kekuatan. Kita hanya akan dihantam lebih keras."
Jaya terdiam. Ia tahu Sultan Hasan benar. Tapi amarahnya tidak bisa begitu saja reda.
"Suatu hari nanti," kata Jaya, "kita akan besar. Kita akan kuat. Dan kita akan membalas semua ini."
"Bukan membalas," kata Sultan Hasan. "Tapi membuktikan. Bahwa kita lebih baik dari mereka. Bahwa kita tidak jadi jahat meski diperlakukan jahat. Itu balasan yang paling pedas, kata Nini Mas Intan."
Jaya memandang Sultan Hasan. Matanya menyala. Bukan amarah lagi. Tapi kekaguman.
"Kau luar biasa, Hasan. Aku tidak tahu bagaimana kau bisa tetap baik setelah semua yang kau alami."
"Aku belajar," kata Sultan Hasan. "Dari Nini Mas Intan. Dari Pandan Wangi. Dari syair-syair. Bahwa menjadi baik di saat semua orang jahat padamu, itu adalah bentuk keberanian tertinggi."
Malam itu, mereka berdua duduk di beranda rumah Mak Umi. Tidak bicara banyak. Hanya duduk. Menemani satu sama lain.
Di dahan pohon asam, burung hantu menatap mereka. Matanya bundar dan kuning. Tidak berbunyi. Hanya menatap.
Seolah bangga. Seolah setuju bahwa Sultan Hasan, meski baru berusia tujuh tahun, sudah memiliki kematangan hati yang tidak dimiliki kebanyakan orang dewasa.
Keesokan harinya, saat Sultan Hasan terbangun, ia melihat Mak Umi sudah berdiri di depan pintu dengan wajah tegang.
"Hasan," kata Mak Umi. "Aku sudah berpikir semalaman. Mungkin sudah saatnya kau belajar membela diri."
"Bela diri, Mak?"
"Iya. Aku tidak selalu bisa melindungimu. Aku sudah tua. Suamiku juga tua. Jaya juga masih kecil. Kau harus bisa melindungi dirimu sendiri."
"Tapi siapa yang akan mengajariku? Tidak ada pendekar di desa kita."
Mak Umi tersenyum. Ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang nakal. Sesuatu yang misterius.
"Ada," katanya. "Di hutan. Di timur. Di tempat yang tidak jauh dari telaga larangan. Ada seorang pertapa tua yang tinggal di sana. Ia adalah pendekar. Konon, ia dulu adalah pengawal kerajaan. Tapi ia memilih mengasingkan diri setelah kerajaannya runtuh."
"Kenapa ia mau mengajariku?"
"Karena aku akan memintanya. Karena aku dulu pernah menolongnya. Karena ia berhutang budi padaku."
Sultan Hasan memandang Mak Umi dengan takjub. Perempuan gemuk sederhana ini, ternyata menyimpan banyak rahasia.
"Baik, Mak. Aku akan belajar."
"Tapi ingat," kata Mak Umi. "Perjalanan ke sana tidak mudah. Hutan itu lebat. Ada hewan buas. Ada juga... hal-hal lain yang tidak bisa kau lihat dengan mata biasa. Kau harus berani."
"Aku sudah berani, Mak. Aku sudah melalui banyak hal. Aku tidak takut pada hutan."
Mak Umi mengangguk. Ia mengelus rambut Sultan Hasan.
"Besok pagi, kau akan pergi. Aku akan menunjukkan jalannya. Tapi hanya sampai batas desa. Selebihnya, kau harus sendiri."
"Baik, Mak."
Sultan Hasan memandang ke luar jendela. Ke arah timur. Ke arah hutan lebat. Ke arah telaga larangan. Ke arah tempat Pandan Wangi menari di malam hari.
Di sana, di tempat itu, seorang pertapa tua menunggunya.
Seorang pendekar yang akan mengajarinya cara membela diri.
Bukan untuk balas dendam. Tapi untuk melindungi. Untuk menjaga. Untuk terus hidup di dunia yang tidak pernah ramah padanya.
Sultan Hasan tersenyum.
Perjalanannya sebagai penjaga hati, ternyata tidak hanya tentang syair dan telaga. Tapi juga tentang kekuatan fisik. Tentang kemampuan untuk melindungi diri sendiri dan orang-orang yang dicintai.
Ia belum tahu seperti apa pertapa itu. Ia belum tahu apakah ia akan bisa belajar dengan baik.
Tapi satu hal yang ia tahu: ia tidak akan menyerah.
Ia akan terus melangkah.
Meski kakinya lecet. Meski tubuhnya memar. Meski hatinya luka.
Karena ia adalah penjaga.
Dan penjaga tidak pernah menyerah.
BAB XIV
Pertemuan Pertama dengan Cacing Tanah
Perjalanan ke timur dimulai sebelum matahari terbit.
Mak Umi menuntun Sultan Hasan menyusuri jalan setapak yang semakin lama semakin sempit, semakin lama semakin gelap, semakin lama semakin ditelan oleh hutan. Daun-daun kering berderak di bawah telapak kaki mereka. Burung-burung mulai berkicau, menyambut fajar yang masih samar di ufuk timur.
"Hanya sampai di sini," kata Mak Umi ketika mereka tiba di sebuah pohon beringin besar yang akarnya menjalar ke mana-mana seperti ular-ular kayu raksasa. "Dari sini, kau harus berjalan sendiri. Ikuti sungai kecil ke arah hulu. Nanti kau akan menemukan gubuk dari kayu. Di sanalah pertapa itu tinggal."
"Berapa lama aku harus berjalan, Mak?"
"Setengah jam. Mungkin satu jam. Tergantung seberapa cepat kakimu membawamu."
Mak Umi membekali Sultan Hasan dengan secarik kain berisi nasi dan ikan asin. Juga sebotol air dari sumur desa. Bukan banyak. Tapi cukup untuk sehari.
"Hati-hati, Nak," pesan Mak Umi. "Hutan ini tidak ramah pada orang asing. Tapi kau bukan orang asing. Hutan ini kenal kau. Sejak kau lahir, hutan ini sudah menjagamu. Percayalah padanya."
Sultan Hasan mengangguk. Ia memeluk Mak Umi. Gemuk. Hangat. Wangi asap dapur.
"Terima kasih, Mak."
"Jangan berterima kasih dulu. Pulang dulu. Nanti kau berterima kasih."
Mak Umi berbalik. Ia berjalan perlahan meninggalkan Sultan Hasan. Sesekali ia menoleh, melambaikan tangan, lalu terus berjalan sampai sosoknya lenyap di balik pepohonan.
Sultan Hasan sendirian di tepi hutan.
Ia menarik napas panjang. Udara pagi masih dingin, tapi segar. Bau tanah basah campur dedaunan. Bau kehidupan yang tidak pernah ia temukan di desa yang kering dan penuh kebencian.
"Ayo," katanya pada dirinya sendiri. "Kau bisa."
Ia mulai berjalan menyusuri sungai kecil ke arah hulu.
Setengah jam berlalu. Sultan Hasan belum menemukan gubuk kayu yang dimaksud Mak Umi.
Yang ia temukan hanyalah pepohonan yang semakin rapat. Akar-akar yang menjalar seperti tangga alami. Batu-batu berlumut yang licin. Dan suara air sungai yang mengalir pelan, menemani setiap langkahnya.
Sultan Hasan tidak takut. Anehnya, ia merasa tenang. Sangat tenang. Seolah hutan ini memang rumahnya. Seolah ia sedang pulang setelah sekian lama merantau.
Ia ingat kata-kata Mak Umi: "Hutan ini kenal kau. Sejak kau lahir, hutan ini sudah menjagamu."
Mungkin benar. Mungkin sejak ia lahir di malam gerhana, sejak Nini Mas Intan menolong ibunya melahirkan, sejak Nini Mas Intan mengajaknya ke telaga larangan untuk pertama kali, hutan ini sudah menjadi bagian dari dirinya.
Ia terus berjalan.
Sampai akhirnya, di sela-sela pepohonan yang semakin rapat, ia melihat sebuah gubuk.
Gubuk itu kecil. Sangat kecil. Hanya cukup untuk satu orang tidur dengan posisi meringkuk. Dindingnya dari kayu-kayu bulat yang disusun tidak rapi. Atapnya dari daun rumbia yang sudah kering dan bolong di beberapa tempat. Tidak ada pintu. Hanya sebuah lubang di dinding, cukup besar untuk dilewati orang dewasa dengan merangkak.
Di depan gubuk, seorang lelaki tua sedang duduk bersila di atas batu datar.
Lelaki itu sangat tua. Mungkin seusia Nini Mas Intan. Mungkin lebih tua. Rambutnya putih semua, tidak sehelai pun yang hitam. Jenggotnya panjang hingga menyentuh dada. Kulitnya keriput, tertutup debu dan tanah. Matanya terpejam. Dadanya naik turun pelan.
Ia tidak memakai baju. Hanya cawat dari kain hitam yang sudah lusuh. Tubuhnya kurus, tulang-tulangnya menonjol di bawah kulit yang keriput. Tapi tangannya... tangannya besar. Otot-ototnya masih terlihat jelas meski usianya sudah sangat tua. Tangan seorang pendekar.
Sultan Hasan berdiri di depan lelaki tua itu. Ia tidak tahu harus berkata apa. Mak Umi tidak memberinya petunjuk tentang cara memulai percakapan.
Lelaki tua itu tidak bergerak. Matanya tetap terpejam. Dadanya tetap naik turun pelan. Seperti tidak menyadari kedatangan Sultan Hasan.
Sultan Hasan menunggu.
Satu menit. Dua menit. Lima menit.
Lelaki tua itu tidak bergerak.
Akhirnya, Sultan Hasan memberanikan diri. "Permisi," katanya pelan. "Aku Sultan Hasan. Aku dikirim Mak Umi. Untuk belajar... bela diri."
Lelaki tua itu tidak menjawab.
"Permisi," ulang Sultan Hasan sedikit lebih keras.
Masih tidak ada jawaban.
Sultan Hasan bingung. Apakah lelaki ini tuli? Atau tidur? Atau sengaja mengabaikannya?
Ia melangkah maju satu langkah. Dua langkah. Hampir menyentuh kaki lelaki tua itu.
Lelaki tua itu tiba-tiba membuka matanya.
Matanya... aneh. Satu warna hitam pekat. Satu warna putih pucat, seperti buta. Tapi mata yang putih pucat itu, anehnya, terlihat lebih tajam dari mata yang hitam.
"Kau Sultan Hasan?" suaranya berat. Dalam. Seperti gemuruh dari dasar bumi.
"Iya."
"Anak setan yang lahir di malam gerhana?"
Sultan Hasan terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Jawab!" bentak lelaki tua itu.
"Entahlah," kata Sultan Hasan akhirnya. "Orang-orang bilang aku anak setan. Tapi aku tidak merasa seperti setan. Aku hanya merasa menjadi manusia biasa yang diperlakukan tidak biasa."
Lelaki tua itu terdiam. Matanya yang satu hitam, satu putih, menatap Sultan Hasan lama. Sangat lama. Seolah sedang membaca sesuatu di dalam diri anak kecil itu.
"Kau jujur," katanya akhirnya. "Itu baik. Pendekar yang jujur pada dirinya sendiri, lebih berbahaya dari seribu pendekar yang pandai bersilat."
Ia berdiri. Tubuhnya tinggi. Jauh lebih tinggi dari yang terlihat saat duduk. Tulang-tulangnya berkerotak saat ia bergerak, seperti kayu-kayu tua yang digesekkan.
"Aku Ki Ageng Jagaraga," katanya. "Dulu aku prajurit kerajaan. Sekarang aku hanya orang tua yang tinggal di hutan, berbicara pada pohon dan sungai. Mak Umi bilang kau mau belajar bela diri dariku. Benarkah itu?"
"Benar, Ki."
"Kenapa?"
"Sebab... aku sering dipukuli. Aku tidak bisa melindungi diriku sendiri. Aku tidak ingin terus menjadi korban."
Ki Ageng Jagaraga tertawa. Tawanya keras, bergema di antara pepohonan. Burung-burung beterbangan ketakutan.
"Kau ingin belajar membela diri karena kau ingin balas dendam?"
"Bukan balas dendam. Aku hanya ingin melindungi diriku. Dan orang-orang yang aku cintai."
"Orang yang kau cintai? Siapa?"
"Mak Umi. Jaya. Dan... seorang teman. Di telaga."
Ki Ageng Jagaraga mengerutkan kening. "Teman di telaga? Maksudmu penunggu telaga?"
Sultan Hasan terkejut. "Ki tahu tentang penunggu telaga?"
"Aku tahu banyak hal, Nak. Lebih dari yang kau kira. Tapi itu tidak penting. Yang penting, kau datang ke sini dengan niat yang benar. Bukan untuk balas dendam. Tapi untuk melindungi. Itu sudah cukup."
Ia berjalan ke arah gubuknya, membelakangi Sultan Hasan. "Besok kau mulai belajar. Pulanglah sekarang. Besok datang lagi. Bawa bekal untuk dua orang."
"Untuk siapa lagi, Ki?"
"Untukmu dan untukku. Kau kira aku makan apa di sini? Daun?"
Sultan Hasan tersenyum. "Baik, Ki. Besok aku datang lagi."
Ia berbalik. Ia mulai berjalan pulang. Langkahnya ringan. Hatinya senang.
Pertapa tua itu ternyata tidak serem yang ia bayangkan. Ia aneh. Tapi tidak jahat. Ia keras. Tapi tidak kejam.
Mungkin, seperti hutan ini, ia juga akan menjadi bagian dari perjalanan Sultan Hasan menjadi penjaga hati.
Dalam perjalanan pulang, saat ia sudah hampir sampai di pohon beringin besar tempat Mak Umi menunggunya, Sultan Hasan melihat sesuatu di tanah.
Seekor cacing tanah. Besar. Merah keunguan. Ia sedang berusaha merayap di atas tanah kering yang retak-retak. Tubuhnya lentur, bergerak maju perlahan, meninggalkan jejak lendir tipis di belakangnya.
Biasanya Sultan Hasan tidak peduli pada cacing. Cacing adalah hewan biasa. Tidak cantik. Tidak lucu. Tidak berguna bagi manusia kecuali sebagai umpan pancing.
Tapi hari ini, ia berhenti.
Ia berjongkok. Ia memandang cacing itu.
Cacing itu terus merayap. Ia tidak peduli pada Sultan Hasan. Ia hanya fokus pada tujuannya: tanah yang lebih lembab, beberapa meter di depan.
Sultan Hasan teringat pada kata-kata Nini Mas Intan. "Belajarlah dari alam. Dari sungai. Dari pohon. Dari batu. Dari hewan-hewan di hutan. Mereka tidak akan mengutukmu. Mereka akan menerimamu apa adanya."
Mungkin cacing ini juga bisa mengajarinya sesuatu.
Ia mengamati lebih saksama. Cacing itu tidak punya kaki. Tidak punya sayap. Tidak punya cangkang keras untuk melindungi diri. Tubuhnya lunak, mudah hancur, mudah mati jika diinjak burung atau dijemur matahari.
Tapi ia tetap bergerak. Ia tetap maju. Ia tidak menyerah meski tanah di depannya retak dan kering. Ia terus merayap, perlahan, dengan kesabaran yang luar biasa.
"Penjaga hati," bisik Sultan Hasan pada dirinya sendiri, "bukanlah orang yang tak pernah terluka. Tapi orang yang lukanya tidak membuatnya lupa mencintai."
Mungkin cacing ini juga tidak pernah takut terluka. Mungkin ia tahu bahwa hidupnya rapuh, bahwa kapan saja ia bisa mati. Tapi ia tetap hidup. Tetap bergerak. Tetap mencari tanah yang lebih lembab, tempat ia bisa bernapas dan berkembang biak.
Sultan Hasan tersenyum.
Ia mengambil sehelai daun kering. Dengan hati-hati, ia mengangkat cacing itu. Tubuhnya lentur, sedikit lengket di tangannya. Ia membawa cacing itu ke tempat yang lebih lembab, di bawah pohon beringin, tempat tanahnya gembur dan gelap.
Cacing itu masuk ke dalam tanah. Ia menghilang. Meninggalkan lubang kecil di permukaan tanah.
"Selamat jalan," bisik Sultan Hasan. "Terima kasih sudah mengajariku."
Ia berdiri. Ia melanjutkan perjalanan pulang.
Di jari manisnya, batu akik merah berdenyut pelan. Hangat.
Seolah setuju bahwa pertemuan pertama dengan cacing tanah adalah pertemuan yang istimewa. Bahwa bahkan makhluk yang paling kecil dan paling lemah sekalipun, bisa menjadi guru bagi seorang penjaga hati.
Sore harinya, setelah Sultan Hasan tiba di rumah Mak Umi dan menceritakan pengalamannya di hutan, Jaya datang seperti biasa.
"Bagaimana?" tanya Jaya. "Apa kau bertemu pendekar tua itu?"
"Ya. Namanya Ki Ageng Jagaraga. Ia setuju mengajariku."
"Bagus! Aku ikut!"
"Kata Ki Ageng, besok aku harus bawa bekal untuk dua orang. Maksudnya untukku dan untuknya. Tidak disebutkan untukmu."
"Ah, aku akan tanya langsung padanya. Mungkin ia mengizinkan."
Sultan Hasan tersenyum. Ia tahu Jaya keras kepala. Jika Jaya sudah memutuskan sesuatu, tidak ada yang bisa menghentikannya.
Tapi ia senang. Sangat senang. Karena memiliki teman yang mau ikut berjuang bersamanya, itu adalah anugerah yang tidak semua orang miliki.
Malam itu, sebelum tidur, Sultan Hasan duduk di beranda sendirian. Bulan sabit tipis di langit. Bintang-bintang bertaburan seperti beras yang ditumpahkan.
Ia memandang cincin di jarinya. Batu akik merah itu berdenyut pelan.
"Terima kasih untuk hari ini," bisiknya. "Terima kasih sudah menemaniku. Terima kasih sudah tidak marah saat aku memegang cacing itu."
Batu itu berdenyut sekali. Seperti menjawab: Sama-sama.
Di kejauhan, di arah timur, di arah telaga larangan, burung hantu berbunyi. Sekali. Pendek.
Bukan bunyi biasa. Tapi bunyi yang terdengar seperti: Selamat malam, penjaga kecil. Istirahatlah. Besok kau akan mulai belajar menjadi pendekar.
Sultan Hasan menguap. Ia masuk ke dalam rumah. Ia merebahkan diri di tikar.
Matanya terpejam.
Ia bermimpi. Dalam mimpinya, ia berdiri di tengah hutan. Pohon-pohon di sekitarnya sangat tinggi, menjulang hingga ke langit. Akar-akarnya besar, seperti rumah-rumah kecil.
Di tanah, ribuan cacing tanah merayap. Mereka bergerak bersama, membentuk pola-pola aneh. Pola yang mirip dengan aksara. Aksara kuno. Aksara yang tidak bisa ia baca.
Tapi ia tidak takut. Ia tersenyum.
Karena ia tahu, cacing-cacing itu tidak akan menyakitinya.
Mereka hanya ingin mengajar.
Tentang kesabaran. Tentang ketekunan. Tentang bagaimana tetap bergerak maju meski tubuhmu lemah.
Tentang menjadi penjaga hati.
BAB XV
Hujan Pertama Setelah Kemarau
Tiga bulan telah berlalu sejak Sultan Hasan mulai berguru pada Ki Ageng Jagaraga.
Tiga bulan yang penuh dengan keringat, lumpur, dan rasa sakit. Ki Ageng Jagaraga bukan guru yang lembut. Ia keras. Ia kejam. Ia tidak segan-segan memukul Sultan Hasan dengan tongkatnya jika anak itu melakukan kesalahan dalam jurus. "Lebih baik aku memukulmu sekarang," katanya, "dar nanti kau dipukul musuh yang tidak kenal ampun."
Tapi Sultan Hasan tidak menyerah. Setiap pagi, sebelum matahari terbit, ia sudah berjalan menuju hutan. Setiap sore, saat matahari mulai condong ke barat, ia pulang dengan tubuh penuh memar dan lecet. Mak Umi selalu menangis melihatnya. Tapi Sultan Hasan tersenyum. "Tidak apa-apa, Mak. Aku belajar."
Jaya juga ikut berguru. Awalnya Ki Ageng Jagaraga menolak. "Aku hanya bisa mengajar satu murid," katanya. Tapi Jaya tidak bergerak dari depan gubuknya selama tiga hari tiga malam. Ia hanya duduk, menunggu, tidak makan, tidak minum. Pada malam ketiga, Ki Ageng menghela napas panjang. "Baiklah. Kau boleh ikut. Tapi jangan menyesal."
Jaya tidak menyesal. Meski tubuhnya juga penuh memar. Meski kakinya lecet. Meski tangannya kapalan. Ia tetap semangat. Karena ia tahu, persahabatan sejati tidak hanya tentang berbagi suka, tapi juga berbagi derita.
Dan di sela-sela latihan yang melelahkan itu, Sultan Hasan tetap menyempatkan diri pergi ke telaga larangan. Setiap malam purnama. Setiap kali batu akik merah di jarinya berdenyut kencang. Pandan Wangi selalu menunggu. Mereka duduk di batu hitam itu, berbicara tentang banyak hal. Tentang latihan. Tentang Ki Ageng Jagaraga yang keras kepala. Tentang Jaya yang setia. Tentang Mak Umi yang baik hati.
Pandan Wangi mendengarkan. Ia tidak banyak bicara. Tapi kehadirannya sudah cukup. Kehadirannya adalah pengingat bahwa Sultan Hasan tidak sendirian. Bahwa ada seseorang di dunia ini – atau di luar dunia ini – yang peduli padanya.
Musim kemarau tahun itu berlangsung lebih lama dari biasanya.
Bukan kemarau sepanas tahun lalu yang menyebabkan gagal panen dan kelaparan. Tapi cukup panjang untuk membuat warga desa gelisah. Sawah-sawah mulai mengering. Sungai mulai menyusut. Daun-daun mulai menguning dan berguguran.
Kyai Mandrawijaya kembali mengadakan ritual di telaga larangan. Lagi. Sama seperti tahun lalu. Kambing hitam dikurbankan. Kemenyan dibakar. Doa-doa dipanjatkan.
Tapi tidak ada yang berubah. Langit tetap biru tanpa sehelai awan pun. Matahari tetap terik.
Dan seperti tahun lalu, warga desa mulai mencari kambing hitam. Bukan kambing hitam yang dikurbankan di telaga. Tapi kambing hitam manusia. Seseorang yang bisa disalahkan atas musibah ini.
Sultan Hasan.
"Anak itu!" bisik seorang perempuan di sumur. "Sejak ia lahir, desa kita tidak pernah tenang!"
"Tapi tahun lalu, setelah ritual di telaga, hujan turun," bantah yang lain. "Mungkin ritualnya berhasil. Mungkin tahun ini kita harus mengulanginya dengan lebih khusyuk."
"Ritual tidak akan pernah berhasil selama anak itu masih tinggal di desa ini!"
Bisikan-bisikan itu menyebar lagi. Seperti api di padang rumput kering. Tidak bisa dihentikan.
Suatu malam, saat Sultan Hasan sedang tidur nyenyak di rumah Mak Umi, ia terbangun oleh suara ribut di luar. Suara orang-orang berteriak. Suara langkah kaki yang mendekat.
Ia duduk. Mak Umi juga terbangun. Wajahnya pucat.
"Ada apa, Mak?" tanya Sultan Hasan.
"Aku tidak tahu, Nak. Tapi sepertinya... sepertinya mereka datang ke sini."
Pintu bambu rumah Mak Umi didobrak. Beberapa orang masuk. Di depan, Kyai Mandrawijaya. Di belakangnya, Pak Karta dan beberapa pengikut setianya. Juga Jebat dan Badrun, yang sekarang sudah remaja, tubuh mereka besar dan menakutkan.
"Mak Umi," kata Kyai Mandrawijaya dengan suara dingin. "Serahkan anak itu."
Mak Umi berdiri di depan Sultan Hasan, melindunginya dengan tubuh gemuknya. "Kalian mau apa?"
"Kami akan membawa anak itu ke telaga larangan. Sebagai sesaji. Agar hujan turun."
Mak Umi terkesiap. "Kalian gila! Anak itu bukan sesaji! Ia manusia!"
"Dia bukan manusia," kata Pak Karta. "Dia anak setan. Lahir di malam gerhana. Ayahnya lenyap. Ibunya mati. Nini Mas Intan yang menolong kelahirannya ikut mati. Dialah sumber masalah desa ini. Selama ia masih hidup, desa ini tidak akan pernah damai."
"Kalian tidak bisa! Ini pembunuhan!"
"Ini pengorbanan untuk keselamatan desa," kata Kyai Mandrawijaya. "Kadang, untuk kebaikan banyak orang, kita harus mengorbankan segelintir orang."
Mak Umi menangis. Ia berteriak meminta tolong. Tapi tidak ada yang datang. Tetangga-tetangganya yang mendengar, memilih diam. Mereka takut. Atau mungkin mereka setuju.
Sultan Hasan, dari balik punggung Mak Umi, memandang Kyai Mandrawijaya. Matanya tenang. Tidak takut. Batu akik merah di jarinya berdenyut kencang. Sangat kencang. Panas. Seperti siap meledak kapan saja.
Tapi Sultan Hasan menekannya. Tenang, pikirnya. Jangan sekarang.
Jaya, yang tidur di rumahnya yang rubuh, tidak tahu apa yang sedang terjadi. Ia tidak bisa dimintai tolong. Sultan Hasan sendirian.
"Bawa anak itu," perintah Kyai Mandrawijaya.
Jebat dan Badrun melangkah maju. Mereka mendorong Mak Umi hingga perempuan gemuk itu tersungkur ke tanah. Mereka meraih Sultan Hasan. Tubuh anak kurus itu terangkat dengan mudah.
Sultan Hasan tidak melawan.
Ia hanya menatap Jebat. "Kau yakin ini yang kau mau?" tanyanya pelan.
Jebat terdiam sejenak. Ada keraguan di matanya. Tapi keraguan itu sirna dengan cepat. "Diam, anak setan," katanya.
Mereka membawa Sultan Hasan ke luar rumah. Di luar, puluhan warga sudah berkumpul. Mereka membawa obor. Wajah mereka marah. Tapi di balik kemarahan itu, ada ketakutan. Ketakutan yang buta. Ketakutan yang membuat manusia melakukan hal-hal kejam.
"Ke telaga larangan!" teriak Pak Karta.
Mereka berjalan. Sultan Hasan digendong oleh Jebat dan Badrun seperti karung beras. Ia tidak bergerak. Ia hanya menatap langit. Bulan purnama bersinar terang. Cantik. Indah. Seperti tidak peduli dengan kekejaman yang terjadi di bawahnya.
Sesampainya di telaga larangan, mereka mengikat Sultan Hasan pada sebuah pohon di tepi telaga. Tali dari sabut kelapa. Kuat. Tidak mudah lepas.
Kyai Mandrawijaya memimpin doa. Pak Karta memercikkan air telaga ke empat penjuru mata angin. Kemenyan dibakar. Asapnya membubung tinggi, bercampur dengan bau tanah basah dan dedaunan.
"Wahai penunggu telaga," seru Kyai Mandrawijaya, "terimalah sesaji ini. Semoga hujan segera turun. Semoga desa kami selamat. Semoga kemarau ini segera berakhir."
Sultan Hasan, yang terikat di pohon, memandang telaga. Airnya jernih. Dasarnya terlihat. Tanaman air bergoyang-goyang ditarik arus yang lembut.
Ia memanggil Pandan Wangi dalam hatinya.
Pandan... aku di sini. Mereka mau mengorbankanku. Tapi aku tidak takut. Aku hanya... aku hanya ingin pamit. Kalau aku mati, jagalah Mak Umi. Jagalah Jaya. Dan jagalah telaga ini. Jadilah penjaga yang baik, seperti yang kau ajarkan padaku.
Telaga itu bergetar.
Airnya beriak. Kecil pada awalnya. Kemudian semakin besar. Semakin keras. Seperti ada sesuatu di bawah sana yang bangun dari tidur panjang.
Kyai Mandrawijaya dan warga desa mundur selangkah. Mereka tidak pernah melihat telaga bergerak seperti itu.
Air telaga naik. Perlahan. Seperti tangan raksasa yang muncul dari kedalaman.
Dan dari tengah telaga, seorang perempuan muncul.
Ia bukan Pandan Wangi yang kecil. Ia dewasa. Tinggi. Cantik. Rambutnya hitam panjang menjuntai hingga ke pinggang. Ia memakai kain batik bermotif pandan berwarna hijau segar. Wajahnya pucat, seperti bulan. Matanya hitam pekat, seperti telaga itu sendiri.
Ia berjalan di atas air. Menuju ke tepi. Menuju ke tempat Sultan Hasan terikat.
"Lepaskan anak itu," suaranya lembut, tapi menggetarkan. "Atau kalian akan merasakan murka telaga ini."
Kyai Mandrawijaya gemetar. Pak Karta pucat pasi. Warga desa berlarian ketakutan.
"Ia... ia penunggu telaga!" teriak seseorang. "Penunggu telaga marah!"
"Lepaskan!" suara Pandan Wangi – dalam wujud dewasanya – menggema di seluruh desa.
Jebat, dengan tangan gemetar, melepaskan ikatan Sultan Hasan. Anak itu terjatuh ke tanah, lalu bangkit perlahan.
Ia memandang Pandan Wangi. Di wajah dewasa itu, ia masih bisa melihat wajah kecil temannya. Masih bisa melihat senyum yang sama. Lembut. Penuh kasih.
"Terima kasih," bisik Sultan Hasan.
Pandan Wangi tersenyum. "Aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu, Sultan Hasan. Kau bagian dari telaga ini. Kau bagian dari aku. Jika mereka menyentuhmu, berarti mereka menyentuhku."
Ia menoleh ke arah Kyai Mandrawijaya dan warga desa yang ketakutan. "Pergilah. Jangan pernah kembali ke telaga ini. Jangan pernah mencoba menyakiti anak ini lagi. Jika kalian melakukannya, air telaga ini akan naik dan menenggelamkan seluruh desamu."
Warga desa berlarian. Mereka meninggalkan obor-obor mereka. Mereka meninggalkan sesaji. Mereka meninggalkan ketakutan mereka di tepi telaga.
Hanya Sultan Hasan dan Pandan Wangi yang tersisa.
Wujud dewasa Pandan Wangi perlahan berubah. Ia mengecil. Rambutnya memendek. Wajahnya menjadi bulat lagi. Kembali menjadi anak perempuan seusia Sultan Hasan.
"Maaf," kata Pandan Wangi. "Aku tidak bisa mengendalikannya. Kemarahanku memunculkan wujud asliku."
"Tidak apa-apa," kata Sultan Hasan. "Kau menyelamatkanku."
"Aku tahu kau bisa menyelamatkan dirimu sendiri. Dengan cincin itu, dengan ilmu bela diri yang kau pelajari, kau bisa melawan mereka. Tapi kau memilih untuk tidak melawan. Kenapa?"
Sultan Hasan tersenyum. "Karena Nini Mas Intan bilang, penjaga hati tidak membalas kebencian dengan kebencian. Dan karena... aku percaya padamu. Aku tahu kau akan datang."
Pandan Wangi menatap Sultan Hasan lama. Matanya berkaca-kaca.
"Kau manusia aneh, Sultan Hasan. Kebanyakan manusia, jika dianiaya, akan membenci. Tapi kau... kau tetap memilih untuk percaya. Kau tetap memilih untuk baik."
"Aku belajar dari telaga ini. Air tidak pernah membenci. Ia hanya mengalir. Ia memberi kehidupan pada siapa pun, baik atau jahat. Itu yang ingin aku tiru."
Malam itu, untuk pertama kalinya, Pandan Wangi menangis.
Air matanya jatuh ke telaga. Dan di tempat air matanya jatuh, bunga-bunga kecil bermunculan. Bunga pandan. Wanginya semerbak, menyebar ke seluruh desa.
Warga desa yang sedang ketakutan di rumah masing-masing, mencium wangi itu. Mereka tidak tahu dari mana asalnya. Tapi wangi itu membuat mereka tenang. Membuat mereka tertidur. Membuat mereka lupa, untuk sementara waktu, tentang ketakutan dan kebencian mereka.
Keesokan paginya, hujan turun.
Bukan gerimis. Bukan hujan biasa. Hujan lebat yang mengguyur desa seperti ada yang menuangkan air dari langit. Hujan yang membuat tanah yang retak-retak itu minum sampai puas. Hujan yang membuat sawah-sawah terisi kembali. Hujan yang membuat warga desa keluar rumah dan menari-nari di tengah air.
"Mukjizat!" teriak mereka. "Telaga larangan memberkati kita!"
Tidak ada yang menyebut nama Sultan Hasan. Tidak ada yang tahu bahwa hujan itu turun karena air mata seorang penunggu telaga yang menangis melihat kebaikan hati seorang anak kecil.
Tapi Sultan Hasan tidak peduli.
Ia berdiri di halaman rumah Mak Umi, di tengah hujan, dengan tangan terbuka. Batu akik merah di jarinya basah, merahnya semakin terang di bawah air hujan.
"Terima kasih, Pandan," bisiknya. "Terima kasih untuk semuanya."
Di kejauhan, di arah timur, di arah telaga larangan, burung hantu berbunyi. Sekali. Pendek.
Bukan bunyi biasa. Tapi bunyi yang terdengar seperti: Sama-sama, penjaga kecil. Aku akan selalu menjagamu.
Sultan Hasan tersenyum.
Ia masuk ke dalam rumah. Mak Umi sudah menyiapkan makanan. Jaya sudah datang, basah kuyup, tapi wajahnya berseri-seri.
"Kau dengar? Hujan turun!" kata Jaya.
"Iya," kata Sultan Hasan. "Hujan turun."
Ia tidak menceritakan tentang apa yang terjadi semalam. Tidak tentang upaya pengorbanan dirinya. Tidak tentang Pandan Wangi yang muncul dalam wujud dewasa. Tidak tentang air mata yang jatuh ke telaga dan berubah menjadi bunga pandan.
Itu adalah rahasia. Rahasia antara dia dan telaga. Rahasia antara dia dan penjaganya.
Dan rahasia, kadang, lebih baik tidak diceritakan.
Karena rahasia adalah sesuatu yang dijaga. Dan Sultan Hasan adalah penjaga hati.
Hati telaga. Hati Pandan Wangi. Hatinya sendiri.
BAB XVI
Pusaka Berbicara
Setelah malam pengorbanan yang gagal itu, desa Dukuh Wangi berubah.
Bukan berubah menjadi lebih baik. Justru sebaliknya. Warga desa menjadi semakin takut pada Sultan Hasan. Bukan takut karena ia anak setan. Tapi takut karena ia dilindungi oleh sesuatu yang lebih kuat dari mereka. Penunggu telaga. Makhluk yang bisa berjalan di atas air. Makhluk yang mengancam akan menenggelamkan seluruh desa jika mereka menyakiti anak itu.
Mereka tidak lagi melempari kerikil. Tidak lagi memukuli. Mereka menghindar. Mereka menunduk saat berpapasan di jalan. Mereka berbisik-bisik di belakang punggungnya. Tapi mereka tidak berani menyentuhnya lagi.
Sultan Hasan menikmati ketenangan yang aneh ini. Ia bisa berjalan ke sumur tanpa harus takut diserang. Ia bisa pergi ke ladang membantu Mak Umi tanpa harus waswas. Ia bisa belajar pada Ki Ageng Jagaraga di hutan tanpa harus khawatir dikejar-kejar.
Tapi ada satu hal yang mengganggunya.
Cincin batu akik merah di jarinya mulai berubah.
Perubahan itu terjadi secara perlahan. Tidak tiba-tiba.
Pada awalnya, Sultan Hasan hanya merasakan batu itu lebih hangat dari biasanya. Bukan hangat yang tidak nyaman. Hangat yang aneh. Hangat yang seperti ada denyut nadi di dalamnya. Denyut yang tidak pernah ada sebelumnya.
Kemudian, batu itu mulai mengeluarkan suara.
Bukan suara yang bisa didengar telinga biasa. Suara yang samar. Suara yang seperti bisikan dari kejauhan. Sultan Hasan mengira itu hanya imajinasinya. Atau mungkin suara angin. Atau suara dedaunan yang bergesekan.
Tapi makin lama, suara itu makin jelas.
Suatu malam, saat ia sedang duduk sendirian di beranda rumah Mak Umi, ia mendengar suara itu dengan sangat jelas.
"Sultan Hasan..."
Ia menoleh ke kiri. Tidak ada siapa-siapa.
"Sultan Hasan..."
Ke kanan. Juga kosong.
Ia menunduk. Ia memandang cincin di jarinya. Batu akik merah itu berdenyut. Pelan. Teratur. Seperti jantung.
"Sultan Hasan... aku di sini."
Sekarang ia yakin. Suara itu berasal dari cincinnya.
"Kau... kau bisa bicara?" bisik Sultan Hasan, takut didengar Mak Umi yang sedang tidur di dalam.
"Aku selalu bisa bicara. Sejak awal. Tapi kau belum bisa mendengarku. Sekarang kau sudah cukup dewasa. Sekarang kau sudah bisa mendengar."
Sultan Hasan tidak tahu harus merasa takut atau kagum. Pusaka yang selama ini menemaninya, yang ia anggap hanya batu mati, ternyata hidup. Ternyata bisa bicara. Ternyata memiliki kesadaran sendiri.
"Siapa kau sebenarnya?" tanyanya.
"Aku adalah bagian dari telaga. Aku adalah bagian dari Pandan Wangi. Aku juga bagian dari dirimu. Sebab pusaka tidak pernah terpisah dari pemiliknya."
"Aku tidak mengerti."
"Kau tidak perlu mengerti sekarang. Yang penting, kau bisa mendengarku. Itu artinya kau sudah siap untuk tahap berikutnya."
"Tahap apa?"
"Tahap di mana kau belajar mendengar bukan hanya dengan telinga. Tapi dengan hati. Karena suara yang paling penting dalam hidupmu, tidak akan kau dengar dengan telinga biasa. Hanya dengan hati."
Sultan Hasan terdiam. Ia memandang batu itu. Merahnya berdenyut pelan, seperti lampu kecil di malam gelap.
"Kau punya nama?" tanyanya.
"Aku tidak punya nama. Tapi dulu, pemilikku sebelum kau, memanggilku Pengingat. Karena aku mengingatkan. Tentang apa yang penting. Tentang apa yang benar. Tentang apa yang tidak boleh dilupakan."
"Pemilik sebelum aku? Siapa?"
"Ayahmu. Hasan. Ia menerima pusaka ini dari ayahnya. Dan ayahnya dari ayahnya. Dan seterusnya, sampai tujuh generasi ke belakang. Kami adalah pusaka turun-temurun. Tapi hanya pemilik tertentu yang bisa mendengar suaraku. Hanya pemilik yang hatinya terbuka."
"Dan ayahku? Apakah ia bisa mendengarmu?"
Batu itu terdiam sejenak. Denyutnya melambat.
"Tidak. Ayahmu tidak bisa mendengarku. Hatinya tertutup. Ia terlalu sibuk dengan urusan dunia. Dengan mencari nafkah. Dengan memenuhi kebutuhan perut. Ia lupa bahwa pusaka ini bukan sekadar benda. Ia adalah guru. Dan ia tidak pernah belajar dariku."
Sultan Hasan merasakan kesedihan yang aneh. Bukan kesedihannya sendiri. Tapi kesedihan batu itu. Kesedihan karena diabaikan. Kesedihan karena tidak didengarkan.
"Maaf," kata Sultan Hasan. "Aku juga lama tidak mendengarmu. Aku mengira kau hanya batu biasa."
"Tidak apa-apa. Sekarang kau sudah mendengar. Itu yang penting."
Malam itu, Sultan Hasan tidak bisa tidur.
Ia terus berbicara dengan batu akik merah itu. Tentang banyak hal. Tentang masa lalu. Tentang masa depan. Tentang hati. Tentang cinta. Tentang menjaga.
Batu itu menjawab semua pertanyaannya. Tidak dengan kata-kata panjang. Tapi dengan bisikan-bisikan pendek yang tepat sasaran.
"Kau bertanya mengapa orang-orang membencimu?" kata batu itu ketika Sultan Hasan menceritakan tentang perundungan yang ia alami. "Karena mereka takut. Dan ketakutan sering berwujud kebencian. Mereka tidak membenci dirimu. Mereka membenci apa yang tidak mereka mengerti. Dan mereka tidak mengerti dirimu."
"Lalu apa yang harus aku lakukan?"
"Maafkan mereka. Bukan karena mereka pantas dimaafkan. Tapi karena kau pantas untuk damai. Kebencian hanya akan melahirkan kebencian. Maaf adalah satu-satunya jalan untuk memutus rantai itu."
Sultan Hasan menghela napas. "Itu berat."
"Menjadi penjaga hati memang berat. Tidak ada yang bilang itu mudah."
"Apakah kau juga bisa merasakan apa yang aku rasakan?"
"Aku bisa. Karena aku adalah cermin hatimu. Ketika kau sedih, aku meredup. Ketika kau marah, aku panas. Ketika kau bahagia, aku terang. Itu sebabnya aku disebut Pengingat. Aku mengingatkanmu pada hatimu sendiri."
Sultan Hasan memandang batu itu. Merahnya berdenyut pelan. Hangat. Menenangkan.
"Terima kasih sudah mengingatkanku," bisiknya. "Selama ini aku merasa sendirian. Tapi ternyata aku tidak sendirian. Ada kau. Ada telaga. Ada Pandan Wangi."
"Dan akan selalu ada. Selamanya."
Keesokan harinya, Sultan Hasan pergi ke hutan untuk berlatih dengan Ki Ageng Jagaraga. Ia bercerita tentang suara yang ia dengar dari cincinnya.
Ki Ageng Jagaraga, yang biasanya keras dan tidak banyak bicara, terdiam mendengar cerita itu. Matanya yang satu hitam, satu putih, menatap Sultan Hasan dengan saksama.
"Kau bisa mendengar suara pusaka?" tanyanya.
"Iya, Ki."
Ki Ageng Jagaraga menghela napas panjang. "Itu langka. Sangat langka. Bahkan di zaman keemasan kerajaan dulu, hanya sedikit pendekar yang bisa mendengar suara pusakanya. Kebanyakan dari mereka hanya menggunakan pusaka sebagai senjata. Tidak sebagai guru."
"Apakah itu berarti aku istimewa, Ki?"
"Tidak. Itu berarti kau memiliki tanggung jawab lebih besar. Pusaka yang bisa bicara, bukan untuk dipakai main-main. Ia adalah penuntun. Ia akan membawamu ke tempat-tempat yang tidak pernah kau bayangkan. Dan ia akan memintamu melakukan hal-hal yang tidak pernah kau duga."
"Apa aku sanggup, Ki?"
Ki Ageng Jagaraga tertawa. Tawanya keras, bergema di antara pepohonan.
"Kau sudah melalui banyak hal, Sultan Hasan. Kau dianiaya. Kau dikucilkan. Kau hampir dijadikan sesaji. Kau masih hidup. Kau masih tersenyum. Kau masih mau belajar. Aku rasa kau lebih dari sanggup."
Ia menepuk pundak Sultan Hasan. Keras. Hampir membuat anak itu jatuh.
"Sekarang, lanjutkan latihanmu! Jangan hanya pusakamu yang bisa bicara. Tubuhmu juga harus bisa bicara. Dalam bahasa silat!"
Sultan Hasan tersenyum. Ia bangkit. Ia melanjutkan latihan.
Di sela-sela gerakannya, ia sesekali memandang cincin di jarinya. Batu itu berdenyut pelan. Hangat. Seperti menyemangati.
"Kau bisa, Sultan Hasan. Aku di sini. Selalu."
5.
Malam harinya, setelah latihan yang melelahkan, Sultan Hasan pergi ke telaga larangan.
Bulan purnama bersinar terang. Air telaga jernih, memantulkan cahaya bulan menciptakan ribuan titik berkilauan seperti berlian.
Pandan Wangi sudah menunggu di batu hitam itu.
"Hei," sapanya. "Aku dengar kau bisa bicara dengan pusakamu sekarang."
"Kau tahu?"
"Penunggu telaga tahu banyak hal, Sultan Hasan. Tapi aku tidak tahu persis seperti apa suaranya. Bisakah kau ceritakan?"
Sultan Hasan duduk di samping Pandan Wangi. Ia menceritakan tentang bisikan-bisikan dari batu merah itu. Tentar a nasihat-nasihatnya. Tentang perasaannya yang bisa merasakan apa yang ia rasakan.
Pandan Wangi mendengarkan dengan saksama. Matanya berbinar.
"Pusaka itu sudah memilihmu, Sultan Hasan. Sejak kau lahir. Sejak kau memakainya untuk pertama kali. Ia tahu bahwa kau adalah pemilik yang tepat. Yang bisa mendengarnya. Yang bisa menjaganya."
"Apa kau juga bisa mendengarnya?"
Pandan Wangi menggeleng. "Aku tidak perlu mendengarnya. Aku adalah bagian dari telaga. Dan pusaka itu adalah bagian dari telaga juga. Kami sudah terhubung sejak awal. Tanpa suara. Tanpa kata-kata. Hanya perasaan."
Sultan Hasan mengangguk. Ia mulai mengerti.
Semua terhubung. Telaga. Pusaka. Pandan Wangi. Dirinya. Mereka adalah bagian dari satu kesatuan yang lebih besar. Satu ekosistem. Satu keluarga. Satu hati.
"Pandan," kata Sultan Hasan setelah lama terdiam.
"Ya?"
"Terima kasih sudah menyelamatkanku malam itu. Saat mereka mau mengorbankanku."
Pandan Wangi tersenyum. "Kau tidak perlu berterima kasih. Aku akan selalu menyelamatkanmu. Karena kau adalah penjaga hatiku. Dan penjaga hati, tidak boleh mati sebelum tugasnya selesai."
"Apa tugas itu?"
"Menjaga. Menjaga hatimu. Menjaga hatiku. Menjaga hati orang-orang yang kau cintai. Dan pada akhirnya, menjaga hati dari generasi yang akan datang."
Sultan Hasan tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya duduk di samping Pandan Wangi, memandang telaga, memandang bulan, merasakan denyut batu akik merah di jarinya.
Pelan. Hangat. Menenangkan.
Seperti bisikan: Kau tidak sendirian. Aku di sini. Kami di sini. Selalu.
Malam itu, Sultan Hasan belajar satu hal lagi. Bahwa pusaka bukan hanya benda mati. Ia adalah teman. Ia adalah guru. Ia adalah pengingat.
Dan selama ia mau mendengar, ia tidak akan pernah kehilangan arah.
BAB XVII
Ibunya Sakit-Sakitan
Usia Sultan Hasan menginjak delapan tahun ketika Mak Umi jatuh sakit.
Bukan sakit biasa. Bukan demam yang reda setelah minum jamu. Bukan batuk yang hilang setelah istirahat semalam. Sakit ini datang perlahan, menggerogoti tubuh perempuan gemuk yang selalu ceria itu sedikit demi sedikit, seperti air yang merembes ke dalam kapal, tidak terlihat tapi pasti menenggelamkan.
Awalnya hanya pegal-pegal di tulang. "Usia tua," kata Mak Umi tertawa ketika Sultan Hasan bertanya. "Tidak apa-apa, Nak. Mak Umi hanya perlu istirahat sebentar."
Tapi pegal-pegal itu tidak kunjung hilang. Kemudian muncul batuk. Batuk kering yang mengganggu tidur malam. Sultan Hasan sering terbangun di tengah malam mendengar suara batuk dari ruang sebelah. Batuk yang terdengar sakit. Batuk yang terdengar seperti ada sesuatu yang robek di dalam dada.
Kemudian batuk itu berdahak. Mak Umi sering meludah di daun pisang, lalu membuangnya ke belakang rumah. Sultan Hasan tidak pernah melihat isi ludah itu. Tapi suatu hari, ia melihat daun pisang yang belum sempat dibuang. Di atas daun itu, lendir kental bercampur darah. Merah. Segar. Seperti darah yang baru keluar dari luka.
Sultan Hasan gemetar.
Ia teringat pada ibunya. Dewi Rengganis. Ibunya juga sakit-sakitan sebelum meninggal. Ibunya juga batuk darah. Ibunya juga perlahan-lahan mengering seperti daun yang jatuh dari pohon.
Tidak. Ia tidak bisa kehilangan Mak Umi. Mak Umi adalah satu-satunya ibu yang ia miliki sekarang. Satu-satunya yang merawatnya. Satu-satunya yang melindunginya. Satu-satunya yang tidak takut padanya.
"Mak," katanya suatu sore, saat Mak Umi sedang berbaring di tikar dengan wajah pucat. "Mak harus berobat. Harus pergi ke dukun. Atau ke tabib di kota."
Mak Umi tersenyum. Senyum yang lemah. Senyum yang membuat Sultan Hasan hampir menangis.
"Tidak usah, Nak. Tidak ada uang untuk berobat. Mak Umi hanya perempuan miskin. Lebih baik uangnya dipakai untuk beli beras. Kau sedang tumbuh. Kau perlu makan banyak."
"Aku tidak butuh makan banyak, Mak. Aku butuh Mak sehat."
Mak Umi mengelus rambut Sultan Hasan. Tangannya dingin. Sangat dingin. Seperti tangan orang yang darahnya sudah tidak mengalir dengan baik.
"Kau baik, Nak. Terlalu baik untuk dunia ini. Mak Umi bangga bisa merawatmu, meski hanya sebentar."
"Tidak sebentar, Mak. Mak akan panjang umur. Mak akan melihatku besar. Mak akan melihatku menjadi pendekar. Mak akan melihatku menikah dan punya anak."
Mak Umi tertawa. Tawa yang lemah. Tawa yang cepat berubah menjadi batuk. Sultan Hasan membopong punggung Mak Umi, membantunya duduk, mengusap-usap dadanya.
"Nak," kata Mak Umi setelah batuknya reda. "Mak Umi mau minta tolong."
"Apa pun, Mak."
"Pergilah ke hutan. Temui Ki Ageng Jagaraga. Tanyakan padanya... apakah ada obat untuk penyakitku. Ia dulu prajurit kerajaan. Ia tahu banyak tentang tanaman. Mungkin ia tahu ramuan yang bisa menyembuhkanku."
Sultan Hasan mengangguk. Ia segera berdiri. "Aku pergi sekarang, Mak."
"Jangan malam-malam. Bahaya. Besok pagi saja."
"Tidak bisa, Mak. Besok pagi mungkin sudah terlambat."
Sultan Hasan berlari keluar rumah, meninggalkan Mak Umi yang hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum.
"Anak itu," bisik Mak Umi pada suaminya yang tidur di sampingnya. "Ia seperti air. Ia tidak pernah berhenti mengalir."
Hutan malam lebih gelap dari biasanya.
Bulan sabit tipis, cahayanya tidak cukup untuk menerangi jalan setapak. Sultan Hasan hampir tidak bisa melihat apa-apa. Beberapa kali ia tersandung akar pohon, jatuh, lalu bangkit lagi. Beberapa kali ia mendengar suara binatang buas di kejauhan, membuat bulu kuduknya berdiri.
Tapi ia terus berjalan. Ia tidak bisa berhenti. Mak Umi membutuhkannya.
Batu akik merah di jarinya berdenyut. Tidak seperti biasanya. Denyutnya cepat. Seperti jantung yang ketakutan. Atau seperti sedang memberi peringatan.
"Hati-hati," bisik suara batu itu di kepalanya. "Ada sesuatu di depanmu."
Sultan Hasan berhenti. Ia menajamkan pandangan. Di depan, sekitar dua puluh langkah, ia melihat dua titik cahaya. Kecil. Kuning. Bersinar di antara pepohonan.
Mata. Mata binatang.
Serigala? Macan? Sultan Hasan tidak tahu. Yang ia tahu, binatang itu menatapnya. Menunggu. Seperti sedang memutuskan apakah anak kurus di depannya layak dijadikan mangsa.
Sultan Hasan tidak bergerak. Ia tidak berlari. Ia ingat ajaran Ki Ageng Jagaraga: "Jika kau bertemu binatang buas, jangan lari. Mereka akan mengejar. Berdirilah tegak. Tatap matanya. Tunjukkan bahwa kau tidak takut."
Ia berdiri tegak. Ia menatap mata kuning itu. Batu akik merah di jarinya berdenyut kencang. Panas. Sangat panas.
"Aku di sini," bisik batu itu. "Kau tidak sendirian."
Mata kuning itu berkedip. Sekali. Dua kali. Kemudian binatang itu berbalik. Ia pergi. Menghilang di antara pepohonan.
Sultan Hasan menghela napas lega. Kakinya lemas. Hampir jatuh.
"Terima kasih," bisiknya pada cincin.
Batu itu berdenyut sekali. Hangat. Seperti menjawab: Sama-sama.
Ia melanjutkan perjalanan. Kini lebih hati-hati. Lebih waspada. Tapi tidak kurang cepat.
Ki Ageng Jagaraga tidak tidur ketika Sultan Hasan tiba di gubuknya.
Pertapa tua itu sedang duduk di depan api unggun kecil, memanggang ubi untuk makan malamnya. Asap mengepul tipis, bercampur dengan udara malam yang dingin.
"Kau datang malam-malam," katanya tanpa menoleh. "Ada apa?"
"Mak Umi sakit, Ki. Batuk darah. Mak Umi minta Ki memberi obat. Ki dulu prajurit kerajaan. Ki pasti tahu ramuan untuk menyembuhkan penyakit seperti itu."
Ki Ageng Jagaraga terdiam. Api unggun berkedip-kedip, menerangi wajah tuanya yang keriput.
"Batuk darah," ulangnya. "Sudah berapa lama?"
"Beberapa minggu. Mungkin sebulan. Mak Umi tidak bilang. Tapi aku melihat daun pisang yang dipakai meludah. Ada darah."
Ki Ageng Jagaraga menghela napas panjang. Napas yang berat. Napas yang terdengar seperti angin yang melewati celah-celah gua.
"Penyakit itu tidak bisa disembuhkan dengan ramuan biasa, Nak. Itu penyakit yang sudah lama bersarang di paru-parunya. Mungkin sejak ia masih muda. Sekarang baru pecah."
"Tapi ada obatnya, kan, Ki? Ki pasti tahu!"
Ki Ageng Jagaraga menatap Sultan Hasan. Matanya yang satu hitam, satu putih, terlihat menyala di kegelapan malam.
"Ada. Tapi tidak mudah mendapatkannya."
"Apa pun, Ki. Aku akan mencarinya."
Ki Ageng Jagaraga berdiri. Ia masuk ke dalam gubuknya, lalu keluar lagi dengan membawa sebilah pisau kecil dan sebuah kantong anyaman daun.
"Di hutan ini, ada pohon langka. Namanya Kayo Puti. Kayu putih. Tapi bukan kayu putih biasa. Kayu putih ini hanya tumbuh di satu tempat, di dekat telaga larangan. Daunnya berwarna perak. Aromanya harum, seperti kapur barus tapi lebih lembut."
"Aku akan mencari daun itu, Ki."
"Belum selesai. Daun itu tidak boleh dipetik sembarangan. Ada pantangannya. Kau harus memetiknya saat fajar menyingsing, sebelum matahari menyentuh puncak pohon. Kau harus memetiknya dengan tangan kiri, sambil mengucap doa yang akan kuajarkan. Dan kau harus meninggalkan sesaji: setangkai bunga melati putih di akar pohon."
"Aku akan lakukan semuanya, Ki."
Ki Ageng Jagaraga mengajarkan doa pendek dalam bahasa yang tidak Sultan Hasan mengerti. Bahasa kuno. Bahasa kerajaan. Bahasa yang hanya digunakan untuk hal-hal sakral.
"Hafalkan," kata Ki Ageng. "Jangan salah satu kata pun. Jika kau salah, daun itu tidak akan memiliki kekuatan."
Sultan Hasan mengulang doa itu berkali-kali, sampai Ki Ageng Jagaraga puas.
"Sekarang pergilah. Besok fajar, kau harus sudah berada di dekat pohon itu. Jangan terlambat."
Sultan Hasan berbalik. Ia hendak berlari.
"Tunggu," kata Ki Ageng Jagaraga.
Sultan Hasan menoleh.
"Mak Umi perempuan baik. Ia menolongku dulu saat aku sekarat di hutan ini. Ia merawatku tanpa meminta imbalan. Jika bukan karena Mak Umi, aku sudah mati puluhan tahun lalu."
"Aku tahu, Ki."
"Maka kau harus menyelamatkannya. Jangan gagal."
"Aku tidak akan gagal, Ki. Aku janji."
Sultan Hasan tidak pulang ke rumah Mak Umi. Ia langsung menuju telaga larangan. Tempat di mana Kayo Puti itu tumbuh, kata Ki Ageng Jagaraga.
Ia tiba di telaga saat langit masih gelap. Bintang-bintang masih bertaburan. Bulan sabit sudah tenggelam. Tinggal sedikit waktu sebelum fajar.
Ia mencari pohon dengan daun berwarna perak. Tidak sulit menemukannya. Pohon itu tumbuh tepat di tepi telaga, di sisi yang berlawanan dari batu hitam tempat ia biasa duduk bersama Pandan Wangi.
Daunnya benar-benar perak. Berkilauan di bawah cahaya bintang. Aromanya harum, menyegarkan, seperti angin pagi di pegunungan.
Sultan Hasan duduk di bawah pohon itu. Ia menunggu fajar.
Batu akik merah di jarinya berdenyut pelan. Tidak panas. Tidak cepat. Denyut yang tenang, seperti detak jantung yang beristirahat.
"Kau lelah," bisik batu itu.
"Aku tidak bisa lelah. Mak Umi butuh aku."
"Kau manusia, Sultan Hasan. Manusia boleh lelah. Tapi jangan berhenti. Itu yang membedakan pahlawan dari pecundang."
Sultan Hasan tersenyum. Ia mengelus batu itu dengan ibu jarinya.
"Kau bijak. Untuk sebongkah batu."
"Aku sudah ada ribuan tahun. Aku sudah melihat banyak pemilik. Aku sudah mendengar banyak cerita. Aku belajar dari semuanya."
"Ceritakan tentang pemilik sebelumnya."
"Nanti. Setelah Mak Umi sembuh. Sekarang kau fokus pada tugasmu."
Sultan Hasan mengangguk. Ia memejamkan mata. Ia beristirahat sejenak, memulihkan tenaga.
Fajar menyingsing.
Cahaya pertama matahari muncul di ufuk timur, berwarna jingga keemasan, perlahan-lahan menyebar ke seluruh langit.
Sultan Hasan membuka matanya. Ia berdiri. Ia mendekati pohon Kayo Puti. Daun perak itu berkilauan terkena cahaya fajar, terlihat seperti bertabur embun meski tidak ada embun.
Ia mengulang doa yang diajarkan Ki Ageng Jagaraga. Perlahan. Kata demi kata. Tidak ada yang salah.
Ia memetik tujuh helai daun perak itu dengan tangan kirinya. Daun-daun itu terasa dingin di tangannya. Lembut. Seperti sutra.
Ia meletakkan setangkai bunga melati putih yang sudah ia siapkan (dipetik dari belakang rumah Mak Umi, satu-satunya tanaman yang tumbuh subur di halaman sempit itu) di akar pohon. Ia membungkuk. Menghormati pohon itu. Menghormati telaga. Menghormati Pandan Wangi yang mungkin sedang melihat dari tempatnya.
"Terima kasih," bisiknya.
Ia memasukkan daun-daun itu ke dalam kantong anyaman yang diberikan Ki Ageng Jagaraga. Lalu ia berlari pulang.
Ki Ageng Jagaraga sudah menunggu di depan gubuknya ketika Sultan Hasan tiba. Tanpa banyak bicara, pertapa tua itu mengambil daun-daun perak itu, menghaluskannya dengan batu, mencampurnya dengan air dari telaga larangan, dan membuat ramuan berwarna hijau pucat.
"Berikan ini pada Mak Umi," katanya. "Tiga kali sehari. Satu sendok makan setiap kali. Jangan lebih. Jangan kurang."
"Apa ini akan menyembuhkannya, Ki?"
Ki Ageng Jagaraga menghela napas. "Tidak ada yang bisa menyembuhkan kematian, Sultan Hasan. Tapi ramuan ini akan memperlambatnya. Mak Umi mungkin akan hidup beberapa tahun lagi. Mungkin lebih. Tergantung kemauan tubuhnya."
Sultan Hasan menunduk. Air matanya menetes. Ini pertama kalinya ia menangis setelah sekian lama.
"Jangan menangis," kata Ki Ageng Jagaraga. "Kau sudah berbuat yang terbaik. Sekarang, pulanglah. Berikan ramuan ini pada Mak Umi. Dan temani ia selama ia masih ada. Itu yang paling berarti bagi orang yang sedang sakit. Bukan obat. Tapi kehadiran."
Sultan Hasan mengangguk. Ia menyeka air matanya. Ia berlari pulang.
Di jari manisnya, batu akik merah berdenyut pelan. Hangat.
Seolah berbisik: "Kau hebat, Sultan Hasan. Mak Umi bangga padamu. Aku juga bangga."
Mak Umi meminum ramuan itu dengan patuh.
Anehnya, setelah tiga hari, batuknya berkurang. Setelah seminggu, warnanya mulai pulih. Setelah sebulan, ia sudah bisa berjalan ke sumur lagi, meski dengan napas yang masih sedikit tersengal-sengal.
"Kau menyelamatkanku, Nak," kata Mak Umi sambil mengelus rambut Sultan Hasan. "Kau pergi ke hutan malam-malam, menghadapi bahaya, hanya untuk mencarikan obat untuk Mak Umi. Mak Umi tidak akan pernah bisa membalas kebaikanmu."
"Kau tidak perlu membalas apa pun, Mak. Kau sudah merawatku sejak kecil. Kau sudah menjadi ibuku. Ini tugasku untuk membalas budi."
Mak Umi menangis. Sultan Hasan memeluknya.
Itulah pertama kalinya ia memeluk Mak Umi dengan kesadaran penuh. Rasanya hangat. Rasanya aman. Rasanya seperti rumah.
"Mak," bisik Sultan Hasan.
"Ya, Nak?"
"Aku janji, Mak tidak akan mati sebelum melihatku besar. Mak akan melihatku menjadi pendekar. Mak akan melihatku menikah. Mak akan melihatku punya anak. Mak akan melihat cucu-cucuku. Aku janji."
Mak Umi tertawa. Tertawa sambil menangis.
"Amin, Nak. Amin."
Di luar jendela, matahari bersinar terang. Burung-burung berkicau. Angin berembus pelan, membawa wangi daun kayu putih dari arah telaga larangan.
Dan di dahan pohon asam tua, burung hantu menatap mereka berdua. Matanya bundar dan kuning. Tidak berbunyi. Hanya menatap.
Seolah setuju. Seolah ikut berdoa. Seolah percaya bahwa janji seorang penjaga hati tidak akan pernah sia-sia.
BAB XVIII
Bertemu Pengembara Misterius
Musim kemarau tahun itu berakhir lebih cepat dari biasanya. Hujan turun di bulan ketiga, membawa kesuburan kembali ke tanah yang sempat retak-retak. Warga desa Dukuh Wangi bersyukur. Mereka mengira ritual di telaga larangan berhasil. Mereka tidak tahu bahwa hujan datang bukan karena ritual, tapi karena air mata seorang penunggu telaga yang menangis melihat seorang anak kecil berjuang menyelamatkan ibu angkatnya.
Tapi itu tidak penting. Yang penting, desa kembali hidup. Sawah-sawah kembali ditanami padi. Sungai kembali mengalir deras. Anak-anak kembali bermain di halaman. Dan Sultan Hasan... Sultan Hasan kembali menjalani rutinitasnya: berlatih silat dengan Ki Ageng Jagaraga di pagi hari, membantu Mak Umi di siang hari, dan sesekali pergi ke telaga larangan di malam hari untuk bertemu Pandan Wangi.
Jaya setia menemani ke mana pun Sultan Hasan pergi. Tubuhnya kini tidak sekurus dulu. Makanan yang disediakan Mak Umi, meski sederhana, cukup untuk membuatnya berisi. Matanya tidak lagi cekung. Pipinya tidak lagi kusam. Ia berubah menjadi remaja yang cukup tampan, meski pakaiannya masih compang-camping.
"Suatu hari nanti," kata Jaya suatu sore, "kita akan punya rumah sendiri. Kita akan punya tanah sendiri. Kita akan kaya raya."
"Kau mau kaya raya?" tanya Sultan Hasan.
"Tentu. Dengan uang, kita bisa membeli apa pun. Makanan enak. Pakaian bagus. Rumah besar. Istri cantik."
Sultan Hasan tersenyum. "Aku tidak butuh semua itu."
"Kau butuh. Kau hanya belum sadar."
Mereka berdua tertawa. Di kejauhan, di arah timur, burung hantu berbunyi. Sekali. Pendek.
Suara yang sudah menjadi latar belakang kehidupan Sultan Hasan sejak ia lahir.
Suatu sore, saat Sultan Hasan dan Jaya sedang duduk-duduk di beranda rumah Mak Umi, seorang pengembara datang.
Ia bukan orang dari desa itu. Jelas sekali. Bajunya dari bahan yang tidak biasa. Kainnya tebal, berwarna coklat tua, dengan jahitan yang rapi. Di pinggangnya, terselip sebilah pedang pendek. Bukan pedang biasa. Gagangnya dari tulang, diukir dengan gambar naga.
Pengembara itu seorang perempuan. Mungkin berusia empat puluh tahun. Atau lima puluh. Sulit ditebak. Wajahnya keriput, tapi matanya tajam. Matanya seperti elang. Matanya seperti sedang mencari sesuatu. Atau seseorang.
Ia berjalan mendekati rumah Mak Umi. Langkahnya tegap, tidak seperti orang yang kelelahan meski baru menempuh perjalanan jauh.
"Permisi," katanya. Suaranya berat. Tapi tidak kasar.
Mak Umi yang sedang duduk di beranda, menjahit pakaian, menengadah. "Ada apa, Mbak?"
"Aku sedang mencari seseorang. Mungkin ia tinggal di desa ini. Atau pernah tinggal."
"Siapa?"
"Nama aslinya tidak penting. Tapi ia dikenal dengan sebutan... Ki Ageng Jagaraga."
Mak Umi terkejut. Sultan Hasan juga terkejut. Jaya ikut terkejut, meski tidak tahu persis siapa Ki Ageng Jagaraga.
"Ki Ageng Jagaraga?" ulang Mak Umi pura-pura tidak tahu. "Tidak kenal. Tidak ada orang dengan nama itu di desa kami."
Perempuan itu tersenyum. Senyum yang aneh. Senyum yang tahu.
"Jangan bohong, Bu. Aku sudah mencari selama tiga bulan. Aku sudah bertanya di puluhan desa. Aku sudah hampir putus asa. Tapi jejaknya membawaku ke sini. Ke hutan di timur desa ini. Ke tempat di mana ia bersembunyi."
"Ki Ageng Jagaraga tidak bersembunyi," kata Sultan Hasan tiba-tiba. "Ia hanya... mengasingkan diri."
Semua mata tertuju pada Sultan Hasan. Mak Umi memandangnya dengan tatapan peringatan: Jangan bicara sembarangan, Nak.
Tapi Sultan Hasan tidak peduli. Ada sesuatu di mata pengembara itu. Sesuatu yang tidak jahat. Sesuatu yang... sedih.
"Kau kenal Ki Ageng Jagaraga?" tanya perempuan itu.
"Aku muridnya."
Perempuan itu terdiam. Ia memandang Sultan Hasan lama. Matanya yang tajam itu berubah. Menjadi lembut. Menjadi basah.
"Muridnya," ulangnya. "Jadi ia masih mengajar. Ia masih bisa mengajar. Itu berarti... ia masih hidup."
"Tentu saja ia masih hidup," kata Sultan Hasan. "Aku baru saja berlatih dengannya pagi ini."
Perempuan itu menghela napas panjang. Napas yang seperti sudah ditahan bertahun-tahun. Napas yang lega. Napas yang lelah.
"Bawa aku padanya," katanya.
Sultan Hasan memandang Mak Umi. Mak Umi menggeleng pelan. Jangan.
Tapi Sultan Hasan sudah mengambil keputusan.
"Ikuti aku," katanya.
Ia berdiri. Ia berjalan meninggalkan halaman. Perempuan itu mengikuti. Jaya juga ikut. Mak Umi hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, lalu kembali menjahit sambil berdoa semoga tidak terjadi hal-hal buruk.
Perjalanan ke hutan tidak lama. Sultan Hasan sudah hafal jalan setapak itu. Setiap akar, setiap batu, setiap belokan, ia hafal di luar kepala.
Perempuan itu berjalan di belakangnya dengan langkah tegap. Sesekali ia melihat ke kiri dan ke kanan, seperti sedang mengingat-ingat. Seperti sedang bernostalgia.
"Kau sudah pernah ke hutan ini sebelumnya?" tanya Sultan Hasan.
"Pernah. Puluhan tahun yang lalu."
"Apa yang kau cari dulu?"
"Bukan apa. Siapa."
"Siapa?"
"Ki Ageng Jagaraga. Tapi dulu ia belum bergelar Ki Ageng. Dulu ia hanya seorang prajurit. Bernama... Jagaraga."
Sultan Hasan tidak bertanya lebih jauh. Ia merasakan ada cerita panjang di balik kata-kata itu. Cerita yang mungkin tidak pantas ditanyakan anak seusianya.
Ki Ageng Jagaraga sedang duduk di depan gubuknya ketika mereka tiba. Seperti biasa, ia sedang bersila, memejamkan mata, bermeditasi.
Tapi ketika perempuan itu melangkah ke tempat terbuka di depan gubuk, Ki Ageng Jagaraga membuka matanya. Matanya yang satu hitam, satu putih, terbelalak.
Ia berdiri. Tubuhnya yang tua gemetar.
"Kau..." bisiknya. "Kau..."
Perempuan itu tersenyum. Air matanya mengalir.
"Halo, Jag," katanya. "Sudah lama."
Ki Ageng Jagaraga tidak bisa berkata-kata. Ia hanya berdiri di depan perempuan itu, menatapnya, seperti tidak percaya bahwa ia benar-benar ada di sini.
"Kau... kau masih hidup," bisiknya.
"Kau juga masih hidup. Meski sudah tua renta dan tinggal di gubuk reot di tengah hutan."
"Apa yang kau cari di sini? Setelah semua yang terjadi? Setelah dua puluh tahun?"
"Aku mencari jawaban, Jag. Jawaban yang tidak pernah kau berikan saat kau pergi."
Ki Ageng Jagaraga terdiam. Ia menunduk. Untuk pertama kalinya, Sultan Hasan melihat pertapa tua yang keras dan kejam itu terlihat... rapuh.
"Masuklah," kata Ki Ageng akhirnya. "Kita bicara di dalam."
Perempuan itu mengangguk. Ia berjalan menuju gubuk. Sebelum masuk, ia menoleh pada Sultan Hasan.
"Terima kasih, Nak. Kau telah membawaku bertemu dengan orang yang selama ini kucari. Kau anak yang baik."
Sultan Hasan hanya mengangguk. Ia tidak tahu harus berkata apa.
Sultan Hasan dan Jaya duduk di luar gubuk, menunggu.
Mereka tidak mendengar apa yang dibicarakan di dalam. Hanya suara-suara samar. Kadang tangis. Kadang diam yang panjang. Kadang suara Ki Ageng Jagaraga yang terdengar parau, seperti sedang menjelaskan sesuatu yang sulit dijelaskan.
Mereka menunggu sampai matahari mulai condong ke barat.
Pintu gubuk terbuka. Perempuan itu keluar. Matanya merah. Wajahnya basah. Tapi ia tersenyum.
"Terima kasih sudah menunggu, Nak," katanya pada Sultan Hasan. "Aku harus pergi sekarang."
"Kau tidak akan tinggal?"
Perempuan itu menggeleng. "Tidak. Aku hanya perlu jawaban. Dan aku sudah mendapatkannya. Sekarang aku bisa pergi dengan tenang."
"Aku tidak mengerti."
Perempuan itu berjongkok. Ia memandang Sultan Hasan tepat di matanya. Matanya yang tajam, mirip elang, kini terlihat lembut. Terlihat seperti mata seorang ibu.
"Suatu hari nanti, kau akan mengerti, Nak. Bahwa cinta tidak selalu berarti memiliki. Kadang, cinta berarti melepaskan. Bahwa kebahagiaan tidak selalu berarti bersama. Kadang, kebahagiaan adalah tahu bahwa orang yang kau cintai hidup dengan tenang. Meski tidak bersamamu."
Ia berdiri. Ia mengelus rambut Sultan Hasan. Tangannya hangat. Lembut.
"Jagalah Ki Ageng Jagaraga. Ia sudah tua. Ia kesepian. Ia tidak punya siapa-siapa lagi selain kau dan Jaya."
"Aku akan menjaganya, Bu."
Perempuan itu tersenyum. Senyum yang lega. Senyum yang ikhlas.
Ia berbalik. Ia berjalan meninggalkan gubuk, meninggalkan hutan, meninggalkan Sultan Hasan dan Jaya yang hanya bisa terdiam.
Di kejauhan, burung hantu berbunyi. Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat tinggal.
Ketika Sultan Hasan masuk ke dalam gubuk, Ki Ageng Jagaraga sedang duduk di pojok. Wajahnya pucat. Matanya merah. Ada bekas air mata di pipinya yang keriput.
"Ki," kata Sultan Hasan pelan. "Perempuan itu siapa?"
Ki Ageng Jagaraga terdiam lama. Kemudian ia berkata, "Ia adalah cinta pertamaku."
"Apa yang ia cari?"
"Ia mencari penjelasan. Mengapa aku pergi meninggalkannya dulu. Mengapa aku memilih menjadi pertapa di hutan daripada menikahinya."
"Lalu kau jelaskan?"
Ki Ageng Jagaraga mengangguk. "Aku jelaskan bahwa aku tidak layak untuknya. Aku hanya prajurit rendahan. Ia putri bangsawan. Kami tidak akan pernah disatukan oleh orang tuanya. Lebih baik aku pergi daripada kami berdua menderita."
"Apakah ia menerima penjelasanmu?"
Ki Ageng Jagaraga tersenyum pahit. "Ia menerima. Tapi tidak berarti ia setuju. Ia bilang, aku terlalu cepat menyerah. Aku tidak pernah memberinya kesempatan untuk memilih. Aku memilih untuknya."
Sultan Hasan tidak tahu harus menjawab apa. Ia masih terlalu muda untuk memahami rumitnya cinta.
Tapi ia teringat pada Pandan Wangi. Pada telaga. Pada janji yang tidak pernah ia ucapkan tapi selalu ia tepati.
"Mungkin," kata Sultan Hasan perlahan, "cinta tidak perlu dimengerti. Cukup dijaga."
Ki Ageng Jagaraga memandang Sultan Hasan. Matanya yang satu hitam, satu putih, terlihat berbinar.
"Kau luar biasa, Sultan Hasan. Usiamu baru delapan tahun, tapi kau sudah mengerti hal-hal yang tidak dimengerti kebanyakan orang dewasa."
"Aku belajar dari Ki. Dan dari Mak Umi. Dan dari Pandan Wangi. Dan dari pusaka ini."
Sultan Hasan memandang cincin di jarinya. Batu akik merah itu berdenyut pelan. Hangat.
"Kau hebat," bisik batu itu. "Aku bangga menjadi pusakamu."
Sultan Hasan tersenyum.
Malam itu, ketika ia pulang ke rumah Mak Umi, ia tidak menceritakan apa yang terjadi. Ia hanya memeluk Mak Umi erat-erat, lalu pergi ke telaga larangan untuk bertemu Pandan Wangi.
Ia duduk di batu hitam itu, memandang air telaga yang jernih, merasakan denyut batu di jarinya.
"Pandan," katanya.
"Ya?"
"Apa kau punya cinta pertama? Seperti Ki Ageng Jagaraga?"
Pandan Wangi terdiam. Air telaga beriak pelan.
"Aku dulu punya," katanya akhirnya. "Tapi ia sudah mati. Jatuh dalam perang. Sebelum kami sempat menikah."
"Apa kau sedih?"
"Sekarang tidak lagi. Sekarang aku hanya ingat bahwa ia pernah ada. Dan bahwa ia membuatku bahagia, meski hanya sebentar."
Sultan Hasan mengangguk. Ia mulai mengerti.
Bahwa cinta tidak selalu bahagia. Bahwa cinta sering menyakitkan. Bahwa cinta kadang berakhir dengan perpisahan.
Tapi cinta tetaplah cinta.
Dan penjaga hati, tugasnya bukan memilih cinta mana yang layak dijaga. Tapi menjaga semua cinta, apa pun bentuknya, selama itu baik dan benar.
Malam itu, Sultan Hasan belajar lagi.
Tentang cinta. Tentang kehilangan. Tentang melepaskan.
Pelajaran yang berat untuk anak seusianya.
Tapi ia tidak pernah memilih jalan yang mudah.
BAB XIX
Tanda di Kening
Suatu pagi, saat Sultan Hasan bangun dan mencuci muka di pancuran belakang rumah Mak Umi, ia melihat sesuatu yang aneh di bayangan air.
Di keningnya, tepat di antara dua alis, ada sebuah tanda. Bulat. Kecil. Sebesar biji jagung. Warnanya merah, seperti darah yang mengering. Atau seperti batu akik di jarinya.
Ia menggosok tanda itu dengan jari. Tidak terasa sakit. Tidak menonjol. Seperti hanya warna kulit yang berubah. Tapi ia yakin, kemarin tanda itu tidak ada.
"Mak!" panggilnya. "Mak, lihat ini!"
Mak Umi yang sedang memasak di dapur, keluar dengan wajah penasaran. "Ada apa, Nak?"
Sultan Hasan menunjuk keningnya. Mak Umi mendekat. Ia memandang tanda itu lama. Wajahnya berubah.
"Kapan ini muncul?" tanyanya.
"Baru saja. Aku bangun tidur, langsung ada."
Mak Umi mengusap tanda itu dengan ibu jarinya. Seperti Sultan Hasan, ia tidak merasakan apa-apa. Tidak panas. Tidak dingin. Tidak sakit.
"Ini aneh," gumam Mak Umi. "Aku belum pernah melihat tanda seperti ini."
"Apakah ini penyakit, Mak?"
"Tidak tahu. Tapi sebaiknya kau pergi ke Ki Ageng Jagaraga. Ia mungkin tahu."
Sultan Hasan mengangguk. Ia segera bersiap. Ia tidak sarapan. Ia langsung berlari menuju hutan.
Ki Ageng Jagaraga sedang tidak sendiri ketika Sultan Hasan tiba.
Seorang lelaki tua lain duduk di sampingnya. Lelaki itu kurus, rambutnya putih semua, jenggotnya panjang hingga ke dada. Ia memakai pakaian putih bersih, seperti orang yang baru sembahyang. Di tangannya, ia memegang tasbih dari kayu, butir-butirnya besar-besar, terbuat dari kayu kenanga.
"Ki," sapa Sultan Hasan. "Aku datang karena ada sesuatu yang aneh pada diriku."
Ki Ageng Jagaraga menatap Sultan Hasan. Matanya yang satu hitam, satu putih, langsung tertuju pada tanda di kening anak itu.
Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap. Kemudian ia menoleh pada lelaki tua di sampingnya.
"Kau lihat?" tanyanya.
Lelaki tua itu mengangguk. "Aku lihat."
"Apa itu?"
Lelaki tua itu berdiri. Ia berjalan mendekati Sultan Hasan. Tangannya yang keriput mengangkat wajah Sultan Hasan, memandang tanda itu dari dekat. Matanya sipit, penuh konsentrasi.
"Ini..." katanya pelan. "Ini tanda penjaga."
Sultan Hasan bingung. "Tanda penjaga? Apa maksudnya?"
Lelaki tua itu duduk kembali. Ia mengambil napas panjang.
"Dahulu kala, di kerajaan-kerajaan Nusantara, ada para pendekar yang dipilih untuk menjaga pusaka-pusaka suci. Mereka disebut Penjaga Hati. Tugas mereka bukan hanya menjaga pusaka, tapi juga menjaga hati raja, hati kerajaan, hati rakyat. Mereka adalah orang-orang pilihan. Dan mereka memiliki tanda. Tanda di kening. Tanda yang muncul dengan sendirinya ketika mereka siap."
"Siap untuk apa?" tanya Sultan Hasan.
"Siap untuk menjalankan tugas. Siap untuk menerima beban. Siap untuk mengorbankan segalanya."
Sultan Hasan terdiam. Ia tidak pernah meminta ini. Ia tidak pernah ingin menjadi istimewa. Ia hanya ingin hidup tenang di desa ini, bersama Mak Umi dan Jaya, sesekali bertemu Pandan Wangi di telaga.
Tapi takdir tidak pernah bertanya.
"Bisakah tanda ini hilang?" tanyanya.
Lelaki tua itu menggeleng. "Tidak. Setelah muncul, ia akan tetap ada seumur hidupmu. Sebagai pengingat. Bahwa kau bukan milik dirimu sendiri. Bahwa kau adalah penjaga. Dan penjaga tidak boleh lengah."
Sultan Hasan memandang Ki Ageng Jagaraga. "Ki tahu tentang ini?"
Ki Ageng Jagaraga mengangguk. "Aku tahu. Karena dulu, aku juga punya tanda yang sama."
Ia membuka rambutnya yang putih. Di keningnya, tepat di tempat yang sama, ada sebuah tanda. Bulat. Kecil. Tapi warnanya sudah pudar. Hampir tidak terlihat.
"Ki... Ki juga penjaga hati?" tanya Sultan Hasan tak percaya.
"Dulu. Tapi aku gagal. Aku tidak bisa menjaga apa yang harus kujaga. Aku melarikan diri. Aku bersembunyi di hutan ini. Tanda di keningku mulai pudar. Sekarang ia hampir tidak terlihat. Itu tanda bahwa aku sudah tidak layak disebut penjaga."
"Tapi Ki masih mengajariku. Ki masih membantuku. Itu bukankah termasuk menjaga?"
Ki Ageng Jagaraga tersenyum pahit. "Itu hanya penebus dosa, Nak. Aku gagal dulu. Sekarang aku mencoba membantu orang lain agar tidak gagal seperti aku."
Sultan Hasan tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya berdiri di depan dua lelaki tua itu, dengan tanda merah di keningnya, dengan cincin batu akik di jarinya, dengan ribuan pertanyaan di kepalanya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanyanya akhirnya.
Lelaki tua yang belum dikenalnya itu menjawab, "Kau harus pergi ke telaga larangan. Pada malam purnama berikutnya. Di sana, kau akan bertemu dengan penunggu telaga. Ia akan memberimu petunjuk."
"Aku sudah sering bertemu penunggu telaga," kata Sultan Hasan. "Namanya Pandan Wangi. Ia temanku."
Lelaki tua itu terkejut. Ki Ageng Jagaraga juga terkejut.
"Kau sudah bertemu penunggu telaga?" tanya Ki Ageng. "Sejak kapan?"
"Sejak aku berusia lima tahun. Ia mengajariku syair-syair. Ia menemaniku di malam-malam sepi."
Ki Ageng Jagaraga dan lelaki tua itu saling berpandangan. Ada sesuatu di mata mereka. Antara kagum dan takjub.
"Anak ini..." bisik lelaki tua itu. "Anak ini istimewa."
"Aku sudah bilang," kata Ki Ageng. "Sejak pertama ia datang ke sini, aku sudah tahu. Ia berbeda."
Lelaki tua yang belum dikenalnya itu bernama Kiai Jabal Nur. Ia adalah seorang sufi pengembara. Ia tidak tinggal di desa mana pun. Ia berkelana dari satu tempat ke tempat lain, menyebarkan ajaran tentang cinta dan kesabaran. Ia bertemu dengan Ki Ageng Jagaraga secara tidak sengaja beberapa tahun lalu, dan mereka menjadi sahabat.
"Kau harus bersiap, Sultan Hasan," kata Kiai Jabal Nur. "Tanda di keningmu tidak muncul tanpa sebab. Ada sesuatu yang besar yang akan terjadi dalam hidupmu. Mungkin tahun ini. Mungkin tahun depan. Mungkin sepuluh tahun lagi. Tapi suatu hari, kau akan dihadapkan pada pilihan. Pilihan yang akan menentukan nasib banyak orang."
"Apa pilihan itu?" tanya Sultan Hasan.
"Aku tidak tahu. Tidak ada yang tahu selain Yang Maha Kuasa. Tapi kau harus mempersiapkan hatimu. Karena pilihan itu tidak akan mudah. Ia akan menyakitkan. Ia akan mengorbankan. Tapi kau harus tetap tegar. Karena kau adalah penjaga hati."
Sultan Hasan mengangguk. Ia tidak mengerti sepenuhnya. Tapi ia akan berusaha.
"Kau tahu," kata Kiai Jabal Nur sambil tersenyum, "dulu, ketika aku masih muda, aku juga bertemu dengan seorang penjaga hati. Ia sudah tua. Sangat tua. Rambutnya putih semua. Matanya buram. Tapi ia memiliki kharisma yang luar biasa. Setiap kali ia berbicara, orang-orang diam mendengarkan. Setiap kali ia berdoa, langit seolah menjawab."
"Siapa namanya?" tanya Sultan Hasan.
"Namanya... Nini Mas Intan."
Sultan Hasan terkesiap. "Nini Mas Intan? Nenek yang menolong kelahiranku?"
Kiai Jabal Nur mengangguk. "Ia adalah penjaga hati sebelum kau. Ia menjalankan tugasnya dengan baik. Ia menjaga telaga ini. Ia menjaga pusaka ini. Ia menjaga desa ini meski desa ini tidak pernah memahaminya. Dan sebelum ia meninggal, ia berpesan padaku: 'Akan ada anak laki-laki yang lahir di malam gerhana. Ia adalah penerusku. Jangan biarkan ia tersesat.'"
Sultan Hasan terdiam. Air matanya mengalir.
Nini Mas Intan. Nenek tua yang baik itu. Ia sudah mempersiapkan segalanya sejak awal. Ia sudah meramalkan kedatangannya. Ia sudah memintakan seorang sufi pengembara untuk membantunya jika ia tersesat.
"Kiai," kata Sultan Hasan. "Apakah Nini Mas Intan meninggal dengan tenang?"
Kiai Jabal Nur mengangguk. "Ia meninggal dengan tenang. Karena ia tahu penerusnya sudah lahir. Ia tahu tugasnya telah selesai. Ia pergi tanpa beban."
Sultan Hasan menangis. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia menangis untuk Nini Mas Intan.
Ki Ageng Jagaraga menepuk pundaknya. "Menangislah, Nak. Tidak apa-apa. Penjaga hati juga boleh menangis. Tapi ingat, setelah menangis, kau harus bangkit lagi. Ada banyak hal yang harus kau lakukan."
Malam purnama tiba juga.
Sultan Hasan pergi ke telaga larangan sendirian. Jaya ingin ikut, tapi Sultan Hasan melarang. "Ini urusanku dengan telaga," katanya. "Kau tunggu di rumah Mak Umi saja."
Bulan purnama bersinar terang. Air telaga jernih, memantulkan cahaya bulan, menciptakan ribuan titik berkilauan seperti berlian.
Pandan Wangi sudah menunggu di batu hitam. Tapi kali ini, ia tidak sendiri.
Di sampingnya, duduk seorang perempuan tua. Sangat tua. Lebih tua dari siapa pun yang pernah Sultan Hasan lihat. Rambutnya putih semua, tidak sehelai pun yang hitam. Kulitnya keriput seperti kulit kayu. Matanya buram seperti susu diencerkan air.
Tapi Sultan Hasan mengenalinya.
"Nini... Nini Mas Intan?" bisiknya.
Perempuan tua itu tersenyum. "Halo, Sultan Hasan. Sudah lama."
"Tapi... Nini sudah meninggal. Aku datang ke pemakaman Nini. Aku melihat Nini dikubur."
"Tubuhku memang sudah mati, Nak. Tapi rohku masih ada. Aku bisa muncul kapan saja aku mau. Terutama di tempat-tempat suci seperti telaga ini."
Sultan Hasan tidak tahu harus merasa takut atau bahagia. Tapi anehnya, ia merasa bahagia. Sangat bahagia. Seperti bertemu dengan orang tua yang sudah lama tidak ia jumpai.
"Nini," katanya. "Aku merindukan Nini."
"Aku juga merindukanmu, Nak. Tapi aku tidak bisa sering-sering muncul. Ada aturannya."
"Apa yang harus aku lakukan, Nini? Tanda di keningku sudah muncul. Ki Ageng Jagaraga bilang itu tanda penjaga. Tapi aku tidak tahu harus mulai dari mana."
Nini Mas Intan memandang Sultan Hasan. Matanya yang buram tiba-tiba jernih untuk sesaat.
"Kau sudah memulai, Nak. Sejak kau lahir. Sejak kau memakai cincin ini. Sejak kau belajar syair-syair dari Pandan Wangi. Sejak kau berlatih silat dengan Ki Ageng. Sejak kau menyelamatkan Mak Umi dengan daun kayu putih. Kau sudah menjadi penjaga. Tanpa kau sadari."
"Tapi aku masih kecil, Nini. Aku belum dewasa."
"Penjaga hati tidak dilihat dari usia, Nak. Tapi dari hati. Hatimu sudah besar. Lebih besar dari kebanyakan orang dewasa. Itu sudah cukup."
Nini Mas Intan mengangkat tangannya. Ia menyentuh kening Sultan Hasan, tepat di tempat tanda merah itu berada.
Tanda itu terasa hangat. Sangat hangat. Seperti disentuh oleh matahari.
"Jagalah tanda ini, Nak. Ia adalah pengingat. Bahwa kau adalah penjaga. Bahwa kau tidak boleh menyerah. Bahwa kau harus terus melangkah meski jalannya gelap."
"Apa aku akan bertemu dengan orang yang namanya berbau pandan, Nini? Seperti yang ibu bilang dulu?"
Nini Mas Intan tersenyum. Ia menunjuk ke arah Pandan Wangi yang duduk diam di sampingnya.
"Kau sudah bertemu, Nak. Sejak kau berusia lima tahun. Pandan Wangi. Namanya sudah berbau pandan. Wangi. Bukankah begitu?"
Sultan Hasan memandang Pandan Wangi. Gadis kecil itu tersenyum. Senyum yang sama. Lembut. Penuh kasih.
"Tapi... Nini, Pandan Wangi bukan manusia. Ia penunggu telaga."
"Apakah itu masalah? Cinta tidak memandang wujud, Nak. Cinta hanya memandang hati. Dan hatimu sudah terpaut pada Pandan Wangi sejak pertama kau melihatnya di telaga ini. Kau tidak sadar? Atau kau pura-pura tidak sadar?"
Sultan Hasan terdiam. Ia memandang Pandan Wangi lagi.
Gadis kecil itu menunduk. Pipinya merona. Meski dalam cahaya bulan yang pucat, Sultan Hasan bisa melihatnya.
Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia baru berusia delapan tahun. Ia belum mengerti tentang cinta. Tapi hatinya berdebar. Debar yang aneh. Debar yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Nak," kata Nini Mas Intan. "Waktu kita hampir habis. Aku harus kembali ke alamku. Tapi ingatlah pesan terakhirku."
"Apa itu, Nini?"
"Jagalah telaga ini. Jagalah Pandan Wangi. Jagalah cincinmu. Jagalah hati siapa pun yang membutuhkan penjagaan. Karena kau adalah penjaga. Dan penjaga tidak boleh memilih-milih."
Nini Mas Intan mulai menghilang. Perlahan. Tubuhnya yang keriput berubah menjadi kabut. Kabut yang membubung ke atas, bercampur dengan cahaya bulan.
"Selamat jalan, Sultan Hasan," bisiknya. "Aku bangga padamu."
Kemudian ia lenyap.
Sultan Hasan hanya bisa terdiam, memandangi tempat di mana Nini Mas Intan duduk beberapa saat lalu.
Pandan Wangi meraih tangannya. Tangannya dingin. Tapi lembut.
"Kau tidak sendirian," katanya. "Aku di sini."
Sultan Hasan memandang Pandan Wangi. Gadis kecil itu tersenyum.
"Iya," kata Sultan Hasan akhirnya. "Aku tidak sendirian."
Malam itu, Sultan Hasan belajar satu hal lagi. Bahwa menjadi penjaga tidak berarti harus sendirian. Bahwa ada banyak makhluk, di dunia ini dan di luar dunia ini, yang mau membantunya. Nini Mas Intan. Ki Ageng Jagaraga. Mak Umi. Jaya. Pandan Wangi.
Dan pusaka di jarinya.
Dan telaga di depannya.
Dan tanda di keningnya.
Semuanya adalah pengingat. Bahwa ia tidak sendirian. Bahwa ia dipilih. Bahwa ia mampu.
Sultan Hasan menghela napas panjang. Ia memandang bintang-bintang di langit.
"Aku siap," bisiknya. "Apa pun yang akan terjadi, aku siap."
Batu akik merah di jarinya berdenyut kencang. Hangat. Seperti setuju.
Di kejauhan, burung hantu berbunyi. Sekali. Pendek.
Seperti sambutan. Seperti selamat datang. Seperti seruan untuk memulai babak baru dalam perjalanan panjang menjadi penjaga hati.
BAB XX
Akhir Masa Kecil
Usia Sultan Hasan menginjak dua belas tahun ketika ia menyadari bahwa masa kecilnya telah berakhir.
Bukan karena ia tiba-tiba menjadi dewasa. Bukan karena tubuhnya yang mulai meninggi dan jakunnya yang mulai menonjol. Bukan karena suaranya yang mulai membesar. Tapi karena ia mulai melihat dunia dengan cara yang berbeda.
Dulu, ia melihat dunia sebagai tempat yang kejam. Orang-orang membencinya tanpa alasan. Ia dikucilkan, dilempari kerikil, dipukuli, hampir dijadikan sesaji. Dunia adalah musuh yang harus dilawan atau dihindari.
Tapi sekarang, setelah dua belas tahun hidup di Dukuh Wangi, setelah belajar dari Nini Mas Intan (bahkan setelah kematiannya), dari Ki Ageng Jagaraga, dari Pandan Wangi, dari Mak Umi, dari Jaya, dari pusaka di jarinya, dari telaga di depannya, dari tanda di keningnya... ia mulai melihat bahwa dunia tidak sepenuhnya jahat.
Ada kebaikan di sana-sini. Mungkin tersembunyi. Mungkin kecil. Tapi ada.
Mak Umi yang merawatnya meski miskin. Jaya yang setia berteman meski diejek. Ki Ageng Jagaraga yang mengajarinya silat meski keras kepala. Pandan Wangi yang menemaninya di malam-malam sepi. Bahkan Kyai Mandrawijaya, meski pernah hendak mengorbankannya, sebenarnya hanya manusia yang takut. Takut pada apa yang tidak ia mengerti.
Kebaikan, sekecil apa pun, tetaplah kebaikan.
Dan tugas penjaga hati, pikir Sultan Hasan, adalah menemukan kebaikan itu, merawatnya, membuatnya tumbuh.
Meski di tanah yang paling kering sekalipun.
Mak Umi semakin tua. Dan semakin sakit.
Ramuan dari daun Kayo Puti memang memperlambat penyakitnya, tapi tidak menyembuhkan. Mak Umi masih batuk-batuk. Masih sering terbaring di tikar. Kadang ia tidak punya tenaga untuk memasak, dan Sultan Hasan-lah yang menggantikannya. Ia belajar memasak dari Mak Umi. Ia belajar mencuci pakaian. Ia belajar membersihkan rumah. Ia belajar menjadi ibu bagi dirinya sendiri.
Suatu sore, saat mereka berdua duduk di beranda menikmati angin sepoi-sepoi, Mak Umi berkata, "Nak, Mak Umi ingin minta maaf."
"Maaf untuk apa, Mak?"
"Mak Umi tidak bisa memberimu kehidupan yang layak. Mak Umi miskin. Mak Umi sakit-sakitan. Mak Umi tidak bisa membelikanmu pakaian bagus, rumah bagus, makanan enak. Mak Umi hanya bisa memberi apa yang Mak Umi punya. Dan apa yang Mak Umi punya tidak seberapa."
Sultan Hasan meraih tangan Mak Umi. Tangannya kasar, kapalan, penuh keriput. Tapi hangat.
"Mak," katanya. "Mak sudah memberiku segalanya. Mak memberiku tempat tinggal. Mak memberiku makan. Mak memberiku kasih sayang. Tanpa Mak, mungkin aku sudah mati kelaparan sejak lama. Atau mati dibunuh oleh orang-orang desa yang membenciku."
"Tapi..."
"Tidak ada tapi, Mak. Mak adalah ibuku. Ibu tidak perlu minta maaf karena tidak bisa memberi kehidupan yang mewah. Ibu sudah memberi kehidupan. Itu sudah cukup."
Mak Umi menangis. Sultan Hasan memeluknya.
Ini mungkin pelukan terakhir mereka. Sultan Hasan tidak tahu. Tapi ia memeluk Mak Umi erat-erat, seperti tidak ingin melepaskannya. Seperti ingin mengabadikan rasa hangat ini selamanya.
Seminggu kemudian, Mak Umi meninggal.
Ia meninggal dalam tidurnya. Tenang. Tanpa kesakitan. Wajahnya tersenyum, seperti sedang bermimpi indah.
Sultan Hasan yang menemukannya keesokan paginya. Ia sudah terbiasa dengan kematian. Ia sudah kehilangan ayah, ibu, Nini Mas Intan. Tapi kehilangan Mak Umi terasa berbeda.
Mak Umi adalah orang terakhir yang merawatnya sejak kecil. Mak Umi adalah pengganti ibu yang tidak pernah ia miliki. Mak Umi adalah rumahnya.
Dan sekarang, rumah itu lenyap.
Sultan Hasan tidak menangis. Ia hanya duduk di samping jenazah Mak Umi, memegang tangannya yang sudah dingin, dan terdiam. Berjam-jam.
Jaya yang datang kemudian, ikut duduk di sampingnya. Mereka berdua terdiam. Tidak bicara. Hanya menemani.
Pak Tani, suami Mak Umi, yang selama ini hampir tidak pernah bicara, ikut duduk di samping mereka. Wajahnya tua, keriput, basah oleh air mata. Ia kehilangan istrinya. Istri yang setia menemaninya puluhan tahun, di saat suka dan duka, di saat kaya dan miskin.
"Mak Umi orang baik," kata Pak Tani akhirnya. "Ia terlalu baik untuk dunia ini. Sekarang ia sudah di tempat yang lebih baik."
Sultan Hasan mengangguk. Ia masih tidak bisa bicara.
Pemakaman Mak Umi dilangsungkan sore itu. Hampir seluruh desa datang. Bukan karena mereka mencintai Mak Umi. Tapi karena Mak Umi adalah tetangga yang baik. Mak Umi sering meminjamkan gula atau garam saat tetangga kehabisan. Mak Umi sering menolong orang melahirkan. Mak Umi sering mengobati orang sakit dengan ramuan-ramuan sederhananya.
Mak Umi, dalam keterbatasannya, adalah pahlawan bagi desa itu.
Dan sekarang, pahlawan itu pergi.
Sultan Hasan berdiri di pinggir kubur. Ia melemparkan segenggam tanah ke atas peti Mak Umi.
"Selamat jalan, Mak," bisiknya. "Terima kasih untuk semuanya. Aku akan menjadi penjaga hati yang baik. Aku janji. Mak jaga diriku dari atas sana."
Di kejauhan, burung hantu berbunyi. Sekali. Pendek. Sedih.
Seolah ikut berduka.
Setelah Mak Umi meninggal, Sultan Hasan tidak punya alasan lagi untuk tinggal di Dukuh Wangi.
Pak Tani, suami Mak Umi, menawarinya untuk tetap tinggal. Tapi Sultan Hasan menolak dengan hormat. "Aku tidak ingin merepotkan, Pak. Aku sudah cukup merepotkan Mak Umi selama ini. Sekarang waktunya aku berdiri sendiri."
Pak Tani tidak memaksa. Ia hanya mengangguk, lalu masuk ke dalam rumah, meninggalkan Sultan Hasan di beranda.
Sultan Hasan mengemasi barang-barangnya. Tidak banyak. Hanya pakaian seadanya. Bekal nasi dan ikan asin. Sebotol air. Dan tentu saja, cincin batu akik merah di jarinya.
Ia berjalan ke hutan. Ia berpamitan pada Ki Ageng Jagaraga.
"Ki, aku akan pergi."
"Kemana?"
"Merantau. Mencari kehidupan. Seperti ayahku dulu."
Ki Ageng Jagaraga terdiam. Ia memandang Sultan Hasan lama. Matanya yang satu hitam, satu putih, berkaca-kaca.
"Kau masih muda, Nak. Usiamu baru dua belas tahun. Apakah kau yakin?"
"Aku yakin, Ki. Tidak ada lagi yang mengikatku di desa ini. Mak Umi sudah tiada. Jaya... Jaya mungkin akan ikut, atau mungkin tidak. Aku tidak tahu. Tapi aku harus pergi. Aku tidak bisa terus bersembunyi di hutan ini selamanya."
Ki Ageng Jagaraga menghela napas panjang. Ia berdiri. Ia memeluk Sultan Hasan. Tubuhnya tua, tulang-tulangnya berkerotak. Tapi pelukannya kuat.
"Kau murid terbaikku, Sultan Hasan. Aku bangga padamu. Jagalah dirimu baik-baik. Jangan lupa ajaran-ajaran yang telah kuberikan."
"Aku tidak akan lupa, Ki."
"Dan jagalah pusakamu. Ia adalah bagian dari dirimu."
Sultan Hasan melepaskan pelukan. Ia melangkah mundur. Ia membungkuk hormat pada Ki Ageng Jagaraga.
"Selamat tinggal, Ki."
"Selamat jalan, Nak."
Sultan Hasan berbalik. Ia berjalan meninggalkan gubuk itu. Meninggalkan Ki Ageng Jagaraga yang berdiri termangu di depan pintu.
Di kejauhan, burung hantu berbunyi. Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat tinggal.
Sebelum benar-benar pergi dari desa, Sultan Hasan mampir ke telaga larangan.
Ia ingin berpamitan pada Pandan Wangi.
Matahari sudah hampir terbenam ketika ia tiba. Langit berwarna jingga keemasan, memantul di permukaan telaga yang jernih. Airnya tenang. Damai.
Pandan Wangi sudah menunggu di batu hitam. Wajahnya sedih. Ia sudah tahu.
"Kau akan pergi," katanya. Bukan pertanyaan.
"Iya. Aku harus pergi. Tidak ada lagi yang mengikatku di sini."
"Aku tidak bisa mengikatmu. Tapi aku akan selalu di sini. Menunggumu."
"Kau tidak usah menunggu. Aku mungkin tidak akan kembali."
"Kau akan kembali, Sultan Hasan. Aku tahu. Karena telaga ini adalah rumahmu. Karena cincin ini adalah bagian dari telaga ini. Karena aku... aku adalah bagian dari dirimu."
Sultan Hasan duduk di samping Pandan Wangi. Mereka berdua memandang telaga. Sunyi.
"Aku akan merindukanmu," kata Sultan Hasan akhirnya.
"Aku juga akan merindukanmu. Tapi rindu tidak harus menyakitkan. Rindu juga bisa menjadi pengingat. Bahwa ada seseorang yang berarti dalam hidup kita."
Sultan Hasan mengangguk. Ia memandang Pandan Wangi. Wajah gadis kecil itu, di bawah cahaya senja, terlihat cantik. Cantik yang aneh. Cantik yang tidak seperti gadis-gadis desa lainnya.
"Pandan," katanya.
"Ya?"
"Aku... aku tidak tahu harus berkata apa. Aku belum mengerti tentang cinta. Tapi aku tahu, setiap kali aku bersamamu, aku merasa aman. Aku merasa tenang. Aku merasa... seperti di rumah."
Pandan Wangi tersenyum. Senyum yang lembut. Senyum yang membuat hati Sultan Hasan berdebar.
"Itu sudah cukup, Sultan Hasan. Kau tidak perlu mengerti tentang cinta sekarang. Cinta akan datang dengan sendirinya. Pada waktunya. Ketika kau sudah siap."
Mereka berdua terdiam lagi. Matahari semakin tenggelam. Langit berubah dari jingga menjadi ungu, dari ungu menjadi gelap.
Bintang-bintang mulai muncul satu per satu.
"Sudah malam," kata Pandan Wangi. "Kau harus pergi."
"Iya."
Mereka berdua berdiri. Pandan Wangi meraih tangan Sultan Hasan. Tangannya dingin. Tapi lembut.
"Jagalah dirimu, Sultan Hasan. Jangan lupa syair-syair yang kuajarkan. Jangan lupa pusaka di jarimu. Dan jangan lupa... bahwa ada yang menunggumu di telaga ini."
"Aku tidak akan lupa."
Pandan Wangi melepaskan tangannya. Ia mundur selangkah. Dua langkah.
"Selamat jalan, Sultan Hasan."
"Selamat tinggal, Pandan Wangi."
Sultan Hasan berbalik. Ia berjalan meninggalkan telaga. Ia tidak menoleh. Karena ia takut jika menoleh, ia tidak akan bisa pergi.
Di belakangnya, Pandan Wangi berdiri di tepi telaga, menatap punggung Sultan Hasan yang semakin menjauh.
Air matanya jatuh ke telaga.
Dan di tempat air matanya jatuh, bunga-bunga pandan kecil bermunculan. Harum. Wangi. Menyebar ke seluruh desa.
Warga desa yang sedang beristirahat di rumah masing-masing, mencium wangi itu. Mereka tidak tahu dari mana asalnya. Tapi wangi itu menenangkan. Membuat mereka tertidur dengan damai.
Sultan Hasan dan Jaya berangkat di tengah malam.
Jaya memutuskan ikut. "Aku tidak punya siapa-siapa lagi di desa ini," katanya. "Ibuku sudah meninggal tahun lalu. Aku tidak punya keluarga. Aku lebih baik ikut denganmu."
Mereka berdua berjalan menyusuri jalan setapak yang gelap. Hanya cahaya bulan dan bintang yang menemani.
"Kau takut?" tanya Jaya.
"Sedikit," kata Sultan Hasan jujur. "Tapi tidak apa-apa. Rasa takut adalah bagian dari perjalanan."
"Kau bijak, Hasan. Terlalu bijak untuk anak seusiamu."
"Aku belajar dari banyak orang. Dari yang hidup. Dari yang sudah mati. Dari pusaka. Dari telaga."
Jaya tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya terus berjalan di samping Sultan Hasan, sesekali melihat ke belakang, ke arah desa yang mulai ditinggalkan.
"Maukah kau kembali suatu hari nanti?" tanya Jaya.
"Mungkin. Atau mungkin tidak. Aku tidak tahu. Yang aku tahu, aku harus pergi sekarang. Dan kau harus ikut denganku."
"Ke mana?"
"Ke kota. Mencari kehidupan. Mencari jati diri. Mencari apa yang selama ini hilang."
"Apa yang hilang?"
Sultan Hasan berhenti. Ia memandang langit malam yang bertabur bintang.
"Ketenangan," katanya. "Aku ingin hidup di tempat di mana orang tidak membenciku hanya karena aku lahir di malam gerhana. Tempat di mana aku bisa menjadi diriku sendiri. Tanpa topeng. Tanpa takut."
Jaya mengangguk. "Aku ikut kau ke mana pun, Hasan. Sampai mati."
Mereka berdua tersenyum. Mereka melanjutkan perjalanan.
Di belakang mereka, Dukuh Wangi perlahan menghilang di balik pepohonan. Rumah-rumah kayu. Sawah-sawah. Sungai kecil. Telaga larangan. Dan seorang gadis kecil yang duduk di batu hitam, menatap ke arah timur, menunggu.
Menunggu kepulangan seorang penjaga hati.
Meski ia tidak tahu kapan kepulangan itu akan terjadi.
Atau apakah ia akan terjadi.
Tapi ia menunggu.
Karena penunggu telaga tidak pernah berhenti menunggu.
Seperti air yang tidak pernah berhenti mengalir.
Seperti pusaka yang tidak pernah berhenti berdenyut.
Seperti hati yang tidak pernah berhenti dijaga.
BAGIAN DUA: API YANG MEMBAKAR
"Api tidak pernah bertanya apakah kayu yang dibakarnya layak atau tidak. Ia hanya membakar. Demikian juga dengan masa muda. Ia tidak pernah bertanya apakah kita siap atau tidak. Ia hanya datang, membakar semua yang kita punya, dan meninggalkan abu. Dari abu itulah kita belajar menjadi dewasa."
— Penggalan syair dari Kitab Tujuh Penjaga, naskah lontar yang setengah terbakar.
Di mana Sultan Hasan dan Jaya memulai perantauan mereka ke kota. Di mana mereka akan belajar tentang kehidupan, tentang cinta, tentang kehilangan. Di mana Sultan Hasan akan bertemu dengan banyak orang, baik dan jahat, yang akan membentuk dirinya menjadi penjaga hati yang sesungguhnya.
Dan di mana ia akan bertemu kembali dengan Pandan Wangi. Tapi tidak seperti dulu. Tidak di telaga. Tidak dalam wujud anak kecil. Tapi dalam wujud yang berbeda. Dalam keadaan yang berbeda. Dalam takdir yang sudah ditulis sejak sebelum mereka lahir.
Karena cinta sejati tidak pernah benar-benar berpisah. Ia hanya berubah bentuk.
Seperti air yang menguap menjadi awan, lalu turun menjadi hujan, lalu mengalir kembali ke telaga.
Abadi.
Selamanya.
BAB XXI
Hidup di Rumah Paman
Perjalanan dari Dukuh Wangi ke kota terdekat memakan waktu tiga hari dua malam.
Sultan Hasan dan Jaya berjalan kaki. Mereka tidak punya kuda. Tidak punya andong. Hanya dua pasang kaki yang masih muda, masih kuat, meski sudah lecet dan melepuh. Mereka beristirahat di bawah pohon-pohon besar saat siang terlalu terik. Mereka tidur di pinggir sungai atau di balai-balai desa yang mereka temui di perjalanan saat malam terlalu gelap.
Bekal yang mereka bawa habis di hari kedua. Hari ketiga, mereka kelaparan. Sultan Hasan memetik buah-buahan liar di tepi hutan. Jaya menangkap ikan di sungai dengan tangan kosong. Mereka memasak dengan cara yang sangat primitif: ditusuk dengan ranting, lalu dibakar di atas api unggun.
Tapi mereka tidak mengeluh.
Mereka sudah terbiasa dengan penderitaan. Mereka sudah terbiasa dengan kekurangan. Dukuh Wangi telah mengajarkan mereka bahwa hidup tidak selalu memberi apa yang kita mau. Kadang, hidup memberi apa yang kita butuhkan. Dan kadang, hidup tidak memberi apa-apa. Terserah kita bagaimana menyikapinya.
Akhirnya, pada sore hari ketiga, mereka tiba di kota.
Namanya Kota Prapatan. Kota kecil yang ramai. Tidak sebesar kerajaan. Tapi lebih besar dari Dukuh Wangi yang hanya kumpulan gubuk dan sawah. Di sini ada pasar. Ada toko-toko. Ada rumah-rumah batu dengan genteng tanah liat. Ada masjid dengan kubah putih. Ada kantor polisi dan kantor pos.
Sultan Hasan belum pernah melihat kota sebesar ini. Matanya berbinar. Jaya juga sama.
"Kita sampai," bisik Jaya.
"Kita sampai," ulang Sultan Hasan.
Tapi kebahagiaan mereka tidak bertahan lama. Karena mereka sadar: mereka tidak punya uang. Tidak punya tempat tinggal. Tidak punya sanak saudara di kota ini. Mereka sendirian. Di tengah ribuan orang yang tidak mereka kenal.
Mereka berjalan menyusuri jalan-jalan kota. Melihat orang-orang lalu lalang. Pedagang sayur. Penjual daging. Anak-anak sekolah. Perempuan-perempuan dengan pakaian indah. Laki-laki dengan topi dan jas.
Semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Tidak ada yang peduli pada dua anak laki-laki kurus kering dengan pakaian compang-camping yang sedang berjalan lemas karena kelelahan.
"Kita cari pamanku," kata Sultan Hasan.
"Kau punya paman di sini?" tanya Jaya heran.
"Ibu dulu pernah cerita. Ia punya saudara laki-laki di kota ini. Namanya... Marto. Atai Mardjo. Aku lupa. Tapi ibu bilang, jika suatu hari aku pergi merantau, aku bisa mencarinya. Mungkin ia mau menampungku."
"Kau yakin ia mau menampung anak setan?"
Sultan Hasan tersenyum pahit. "Kita lihat saja."
Mencari seorang lelaki bernama Marto di kota sebesar Prapatan tidak mudah. Apalagi Sultan Hasan tidak tahu nama lengkapnya, tidak tahu alamatnya, tidak tahu pekerjaannya. Yang ia tahu hanyalah nama depan: Marto.
Mereka bertanya ke sana kemari. Ke tetangga. Ke penjaga toko. Ke tukang becak. Ke polisi. Mayoritas menggeleng. Tidak kenal. Tidak tahu.
Hingga akhirnya, seorang perempuan tua penjual jamu di pinggir pasar berkata, "Marto? Maksudmu Mardjo? Tukang kayu yang tinggal di belakang pasar?"
"Mungkin," kata Sultan Hasan. "Di mana rumahnya?"
"Lurus saja. Nanti ketemu gang kecil. Belok kiri. Rumah nomor tujuh. Tapi hati-hati. Orangnya galak. Sering marah-marah. Tidak suka anak kecil."
Sultan Hasan berterima kasih. Ia dan Jaya bergegas menuju gang kecil di belakang pasar.
Rumah nomor tujuh. Sebuah rumah kayu kecil, setengah papan setengah bambu, dengan halaman sempit yang penuh dengan serbuk kayu dan potongan-potongan papan. Di depan rumah, seorang lelaki paruh baya sedang mengetam kayu. Tubuhnya kekar. Wajahnya keras. Kumisnya tebal, tidak dirapikan.
"Permisi," kata Sultan Hasan.
Lelaki itu tidak menoleh. Ia terus mengetam.
"Permisi, om," ulang Sultan Hasan lebih keras.
Lelaki itu berhenti. Ia menoleh. Matanya sipit, tajam. Mukanya merah padam, mungkin karena panas. Atau karena kesal.
"Apa?" bentaknya.
"Aku Sultan Hasan. Anak dari Dewi Rengganis. Ibu bilang, jika aku ke kota, aku bisa mencari om. Om saudara ibu."
Lelaki itu terdiam. Matanya memandang Sultan Hasan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kemudian memandang Jaya.
"Rengganis?" ulangnya. "Adik perempuanku yang dulu kawin lari dengan perantau tak jelas asal-usulnya?"
Sultan Hasan menunduk. "Ibu sudah meninggal, Om."
"Sudah kubilang! Istri-istri itu tidak pernah dengar nasihat orang tua! Cari sendiri celakanya! Sekarang mati! Meninggalkan anak! Lalu anaknya datang minta ditampung! Gila!"
Mardjo membuang alat ketamnya ke tanah. Ia masuk ke dalam rumah. Membanting pintu.
Sultan Hasan dan Jaya hanya bisa terdiam di depan rumah itu.
"Sepertinya pamannya tidak ramah," bisik Jaya.
"Sepertinya begitu."
"Apa yang harus kita lakukan?"
Sultan Hasan menarik napas panjang. "Kita tunggu. Mungkin nanti ia berubah pikiran."
Mereka berdua duduk di halaman rumah Mardjo. Menunggu. Sampai matahari terbenam. Sampai gelap. Sampai lampu-lampu mulai menyala di rumah-rumah tetangga.
Pintu rumah Mardjo terbuka. Lelaki itu keluar. Wajahnya masih keras. Tapi agak sedikit melunak.
"Masuk!" bentaknya. "Tapi jangan harap aku akan memperlakukanmu seperti anak sendiri! Kalian hanya numpang tidur! Besok pagi kalian cari kerja! Tidak ada makan siang gratis di rumahku!"
Sultan Hasan dan Jaya masuk. Mereka bersyukur dalam hati. Setidaknya mereka punya tempat berteduh malam ini.
Hidup di rumah Mardjo tidak mudah.
Paman Sultan Hasan itu memang galak. Ia pemarah. Sering membentak-bentak tanpa sebab. Kadang ia melempar sendok atau piring jika makanan tidak sesuai seleranya. Kadang ia memukul meja jika Sultan Hasan atau Jaya melakukan kesalahan kecil.
Istrinya, Bulik Lastri, perempuan kurus kering dengan wajah masam, tidak lebih baik. Ia selalu mengomel. Tentang beras yang habis terlalu cepat. Tentang air yang terlalu banyak dipakai. Tentang anak-anak yang tidak tahu diri.
"Makanya, jangan numpang kalau tidak punya uang!" omelnya setiap kali Sultan Hasan dan Jaya makan. "Orang tua kalian tidak punya malu! Meninggalkan anak untuk dititipkan pada saudara! Padahal saudara juga punya kehidupan sendiri!"
Sultan Hasan tidak menjawab. Ia hanya menunduk, menghabiskan makanannya yang sedikit, lalu pergi membantu pekerjaan rumah. Ia menyapu. Mengepel. Mencuci piring. Mengambil air di sumur. Apa pun yang bisa ia lakukan untuk mengurangi beban.
Jaya juga melakukan hal yang sama. Mereka berdua bekerja keras. Berusaha tidak merepotkan.
Tapi Mardjo dan Lastri tidak pernah puas. Mereka selalu saja menemukan kesalahan. Selalu saja ada yang tidak beres. Selalu saja ada yang bisa dikomeli.
"Kau ini bego!" bentak Mardjo suatu hari, saat Sultan Hasan salah memotong kayu. "Sudah kuperlihatkan caranya, masih saja salah! Kepalamu isinya apa? Kotoran?"
"Aku minta maaf, Om," kata Sultan Hasan.
"Maaf, maaf, maaf! Maaf tidak bisa bikin kau pintar!" Mardjo mengambil potongan kayu itu, membuangnya ke tumpukan sampah. "Lebih baik kau pergi mengamen di pasar! Dari pada di sini cuma buang-buang kayuku!"
Sultan Hasan tidak menjawab. Ia hanya mengambil kayu lain, mulai memotong lagi dengan lebih hati-hati.
Batu akik merah di jarinya berdenyut. Panas. Seperti marah.
"Diam," bisik Sultan Hasan pada batu itu. "Jangan marah. Ia tidak tahu apa yang ia lakukan."
Batu itu tetap panas. Tapi tidak meledak.
Jaya tidak tahan dengan perlakuan Mardjo dan Lastri.
"Kita pergi saja dari sini!" katanya suatu malam, saat mereka berdua tidur di lumbung padi kecil di belakang rumah. Itulah tempat tidur mereka. Di atas tumpukan jerami, dengan selimut tipis yang bolong di sana-sini. "Aku lebih baik tidur di emperan toko daripada di sini! Setidaknya di emperan toko tidak ada yang membentak-bentak!"
"Di emperan toko juga tidak ada makan," kata Sultan Hasan bijak. "Setidaknya di sini kita masih diberi makan."
"Tapi perlakuan mereka! Kau lihat sendiri! Kita dianggap sampah! Kita dihina setiap hari! Apakah kau tidak punya harga diri?"
Sultan Hasan terdiam. Ia memandang langit-langit lumbung yang gelap. Samar-samar ia melihat sarang laba-laba di sudut.
"Aku punya harga diri, Jaya. Tapi harga diri tidak bisa dimakan. Harga diri tidak bisa melindungiku dari dinginnya malam. Harga diri tidak bisa membantuku bertahan hidup. Untuk sementara, kita harus tahan."
"Berapa lama?"
"Aku tidak tahu. Sampai kita punya cukup uang untuk menyewa rumah sendiri."
"Berapa banyak uang yang kita punya sekarang?"
Sultan Hasan menggeleng. "Hampir tidak ada. Kerja membantu Mardjo, ia tidak membayar. Cuma memberi makan. Itu sudah lebih dari cukup."
Jaya menghela napas panjang. Ia menutup matanya.
"Aku capek, Hasan. Capek jadi miskin. Capek dihina. Capek dianggap tidak berguna."
"Besok kita cari kerja di luar," kata Sultan Hasan. "Selain membantu Mardjo. Mungkin di pasar. Mungkin di toko. Mungkin kita bisa jadi kuli angkut."
"Umur kita baru dua belas tahun. Siapa yang mau mempekerjakan anak kecil?"
"Kita coba. Tidak ada salahnya mencoba."
Jaya tidak menjawab. Ia sudah tertidur. Kelelahan.
Sultan Hasan masih terjaga. Ia memandang cincin di jarinya. Batu akik merah itu berdenyut pelan. Hangat.
"Kau kuat," bisik batu itu. "Kau baik. Aku bangga menjadi pusakamu."
"Apakah semua penjaga hati harus melalui penderitaan seperti ini?" bisik Sultan Hasan balik.
"Tidak semua. Tapi sebagian besar. Karena penderitaan mengajarkan sesuatu yang tidak bisa diajarkan oleh kebahagiaan. Penderitaan mengajarkan empati. Penderitaan mengajarkan kesabaran. Penderitaan mengajarkan bahwa hidup tidak selalu adil. Dan penjaga hati yang baik, adalah yang pernah merasakan penderitaan. Karena ia bisa merasakan penderitaan orang lain."
Sultan Hasan mengangguk. Ia memejamkan mata. Ia berdoa pada Tuhan, pada alam, pada Nini Mas Intan yang sudah tiada, pada Pandan Wangi di telaga, semoga ia diberi kekuatan untuk melewati semua ini.
Di kejauhan, meski jauh dari Dukuh Wangi, ia bisa mendengar suara burung hantu. Samar. Tapi jelas.
Sekali. Pendek.
Seperti pesan: "Aku di sini. Kau tidak sendirian."
Sultan Hasan tersenyum. Ia tertidur.
Hari-hari berlalu. Bulan-bulan berganti.
Sultan Hasan dan Jaya bertahan. Mereka membantu Mardjo di bengkel kayu. Mereka mencari kerja sambilan di pasar: mengangkat barang, membersihkan toko, mengantarkan pesanan, apa pun yang bisa menghasilkan uang.
Sedikit demi sedikit, mereka mengumpulkan uang. Disimpan di bawah bantal. Tidak banyak. Tapi cukup untuk suatu hari nanti menyewa rumah sendiri.
Mardjo dan Lastri mulai sedikit melunak. Mungkin karena mereka melihat Sultan Hasan dan Jaya tidak pernah melawan. Tidak pernah membantah. Hanya diam dan bekerja. Atau mungkin karena mereka mulai berpikir bahwa dua anak ini berguna.
"Kau tidak seburuk yang kukira," kata Mardjo suatu hari, saat Sultan Hasan berhasil menyelesaikan pesanan lemari dengan baik. "Kau punya bakat. Kalau kau terus belajar, mungkin kau bisa jadi tukang kayu yang handal."
"Terima kasih, Om," kata Sultan Hasan.
"Tapi jangan sombong! Masih banyak yang harus kau pelajari!"
"Iya, Om."
Mardjo berbalik. Sebelum masuk ke rumah, ia berkata tanpa menoleh, "Besok kau ikut aku ke pelabuhan. Ada pesanan besar. Butuh tenaga ekstra."
Sultan Hasan mengangguk. Ia tersenyum.
Ini mungkin awal dari kehidupan yang lebih baik. Atau mungkin hanya jeda sebelum badai berikutnya.
Tapi Sultan Hasan tidak peduli. Ia akan menjalani apa pun yang datang. Karena ia adalah penjaga hati.
Dan penjaga hati tidak pernah menyerah.
BAB XXII
Sekolah Agama Kaki Gunung
Pelabuhan Kota Prapatan bukanlah pelabuhan besar. Tidak seperti pelabuhan di ibu kota kerajaan yang disinggahi kapal-kapal asing dari berbagai negara. Pelabuhan ini hanya tempat bersandarnya perahu-perahu nelayan dan kapal-kapal kecil yang mengangkut hasil bumi dari satu pulau ke pulau lain.
Tapi bagi Sultan Hasan yang belum pernah melihat laut dalam hidupnya, pelabuhan ini adalah keajaiban.
Air laut berwarna biru kehijauan, beriak-riak ditiup angin pagi. Bau asin menyengat di hidung, bercampur dengan bau ikan dan garam. Burung-burung camar terbang di atas dermaga, sesekali menyambar sisa-sisa ikan yang terbuang.
"Ini laut pertama kalinya," bisik Sultan Hasan pada Jaya.
"Laut," bisik Jaya balik, dengan mata berbinar.
Mardjo yang berjalan di depan mereka berdua, menoleh. "Jangan melamun! Cepat bawa kayu-kayu ini ke kapal! Sebentar lagi hujan!"
Sultan Hasan dan Jaya segera mengangkat papan-papan kayu yang sudah dipotong dan dihaluskan. Pesanan dari pengusaha di seberang pulau. Puluhan papan kayu jati berkualitas tinggi. Berat. Tapi mereka berdua sudah terbiasa dengan kerja fisik.
Mereka berjalan mondar-mandir dari gudang ke dermaga, dari dermaga ke kapal. Keringat membasahi seluruh tubuh mereka. Tapi mereka tidak berhenti. Mereka terus bekerja. Sampai semua kayu terangkut.
"Bagus," kata Mardjo. "Sekarang kalian istirahat. Besok masih ada pekerjaan."
Sultan Hasan dan Jaya duduk di tepi dermaga, melepaskan lelah. Kaki mereka menjuntai di atas air laut. Sesekali ombak kecil menyentuh ujung jari kaki mereka.
"Airnya asin," kata Jaya sambil menjilat jarinya.
"Ya," kata Sultan Hasan. "Karena laut."
"Kenapa laut asin?"
"Aku tidak tahu. Mungkin karena air mata."
"Air mata siapa?"
Sultan Hasan mengangkat bahu. Ia tidak tahu. Ia hanya ingat pernah mendengar cerita dari Nini Mas Intan tentang laut yang asin karena air mata seorang putri yang ditinggal kekasihnya. Tapi itu hanya cerita. Mungkin tidak benar.
Tapi di tengah kelelahan mereka, seorang lelaki tua mendekat.
Lelaki itu tinggi, rambutnya sudah putih semua, wajahnya keriput tapi matanya masih tajam. Ia memakai jubah putih, seperti orang alim. Di tangannya, ia memegang kitab tebal. Di bahunya, ada tasbih dengan butiran-butiran besar dari kayu kenanga.
"Anak-anak," sapanya. "Kalian dari mana?"
Sultan Hasan menatap lelaki itu. Ada sesuatu di wajahnya yang familiar. Sesuatu yang mengingatkannya pada seseorang. Tapi ia tidak ingat siapa.
"Dari Dukuh Wangi, Pak," jawabnya sopan.
"Dukuh Wangi? Desa kecil di kaki gunung?"
"Iya, Pak."
Lelaki itu mengangguk. "Aku kenal desa itu. Aku pernah melewatinya puluhan tahun lalu. Ketika itu aku masih muda. Sekarang? Mungkin sudah banyak berubah."
"Berubah, Pak. Tapi tidak banyak."
Lelaki itu memandang Sultan Hasan saksama. Matanya menyipit. Seperti sedang membaca sesuatu.
"Kau punya tanda di keningmu," katanya. "Apa itu?"
Sultan Hasan terkejut. Selama ini ia menutupi tanda itu dengan rambutnya yang panjang. Tapi angin laut mungkin meniup rambutnya, memperlihatkan tanda merah di antara kedua alisnya.
"Itu... tahi lalat, Pak," kata Sultan Hasan cepat-cepat.
Lelaki itu tersenyum. "Jangan bohong, Nak. Itu bukan tahi lalat. Itu tanda penjaga. Aku sudah sering melihat tanda seperti itu. Di kening seorang perempuan tua di Dukuh Wangi. Namanya... Nini Mas Intan. Kau kenal?"
Sultan Hasan terkesiap. "Pak kenal Nini Mas Intan?"
"Aku dulu muridnya. Saat aku masih muda. Ia mengajariku banyak hal. Tentang syair. Tentang telaga. Tentang menjaga hati. Tapi aku tidak sanggup melanjutkan. Aku memilih menjadi guru agama. Aku membuka sekolah di kaki gunung, di desa sebelah. Aku mengajari anak-anak mengaji. Tapi kadang, aku masih merindukan ajaran-ajaran Nini Mas Intan. Tentang hati. Tentang cinta. Tentang keikhlasan."
Sultan Hasan terdiam. Dunia memang kecil. Di tengah kota yang ramai, di tepi dermaga yang penuh dengan orang asing, ia bertemu dengan seseorang yang dulu berguru pada Nini Mas Intan.
"Kau mau belajar agama?" tanya lelaki itu. "Di sekolahku. Di kaki gunung. Tidak jauh dari sini. Aku tidak memungut biaya. Aku hanya ingin berbagi ilmu."
Sultan Hasan memandang Jaya. Jaya mengangguk.
"Kami mau, Pak," kata Sultan Hasan.
"Bagus. Namaku Kiai Maksum. Setiap hari, setelah kalian selesai bekerja, kalian bisa datang ke sekolahku. Di lereng gunung, sebelah timur kota. Kalian tidak akan tersesat. Ikuti saja jalan setapak yang menanjak. Nanti kalian akan melihat genteng kubah warna hijau. Itu sekolahku."
Kiai Maksum berpamitan. Ia berjalan perlahan meninggalkan dermaga, jubah putihnya berkibar-kibar ditiup angin laut.
Sultan Hasan dan Jaya memandangnya sampai lenyap di antara kerumunan.
"Kiai Maksum," ulang Sultan Hasan. "Murid Nini Mas Intan."
"Kita beruntung bertemu dengannya," kata Jaya.
"Iya. Sangat beruntung."
Sejak hari itu, setiap sore setelah selesai membantu Mardjo dan bekerja di pasar, Sultan Hasan dan Jaya pergi ke sekolah agama Kiai Maksum.
Perjalanan tidak mudah. Sekolah itu terletak di lereng gunung, sekitar satu jam perjalanan kaki dari kota. Jalan setapaknya menanjak, berbatu-batu, licin jika hujan. Tapi mereka berdua tidak pernah absen. Hujan atau panas, mereka tetap pergi. Karena mereka haus akan ilmu. Karena mereka ingin menjadi orang yang lebih baik.
Kiai Maksum mengajar mereka membaca Al-Qur'an. Menulis huruf Arab. Menghafal doa-doa. Memahami makna di balik ayat-ayat suci.
Tapi yang paling penting, Kiai Maksum mengajar mereka tentang hati.
"Hati adalah raja," kata Kiai Maksum suatu hari. "Seluruh anggota tubuh adalah pasukannya. Jika raja baik, pasukannya akan baik. Jika raja jahat, pasukannya akan jahat. Maka jagalah hatimu. Jangan biarkan ia dikuasai oleh kesombongan, iri hati, dan kebencian."
"Bagaimana cara menjaganya, Kiai?" tanya Sultan Hasan.
"Bersihkan ia setiap hari. Seperti kau membersihkan badan. Mandi itu membersihkan badan. Tapi apa yang membersihkan hati? Zikir. Doa. Merenung. Mengingat bahwa kita hanyalah makhluk lemah yang suatu hari akan mati. Mengingat bahwa dunia ini hanya persinggahan, bukan tujuan akhir."
Sultan Hasan mengangguk. Ia teringat pada ajaran Nini Mas Intan. Tentang menjaga hati. Tentang syair-syair yang diajarkan Pandan Wangi. Tentang telaga yang jernih, yang ia jadikan cermin untuk melihat dirinya sendiri.
Semua ajaran itu, meski dari sumber yang berbeda, bermuara pada hal yang sama: jagalah hati. Karena hati adalah segalanya.
Kiai Maksum juga mengajar mereka tentang cinta.
"Cinta," katanya, "adalah energi yang paling kuat di alam semesta. Lebih kuat dari matahari. Lebih kuat dari ombak. Lebih kuat dari gunung meletus. Cinta bisa menyembuhkan luka yang paling dalam. Cinta bisa meruntuhkan tembok yang paling tinggi. Cinta bisa mengubah musuh menjadi sahabat."
"Tapi Kiai," kata Jaya, "cinta juga sering menyakitkan."
"Iya. Cinta memang sering menyakitkan. Itu karena cinta yang sejati tidak pernah egois. Cinta yang sejati adalah memberi, bukan menerima. Cinta yang sejati adalah mengorbankan, bukan diorbankan. Dan memberi serta mengorbankan, itu memang sakit."
"Kalau sakit, kenapa orang tetap jatuh cinta?" tanya Sultan Hasan.
"Karena cinta adalah fitrah. Karena manusia diciptakan untuk mencintai. Sama seperti ikan diciptakan untuk berenang. Burung diciptakan untuk terbang. Mencintai adalah kodrat kita. Kita tidak bisa lari darinya."
Sultan Hasan terdiam. Ia teringat pada Pandan Wangi. Pada telaga. Pada perasaan aneh di dadanya setiap kali ia duduk di samping gadis kecil itu, di batu hitam, di bawah cahaya bulan.
Apakah itu cinta? Ia tidak tahu. Ia baru berusia dua belas tahun. Tapi perasaan itu ada. Hangat. Lembut. Seperti cahaya lilin di malam gelap.
"Kiai," kata Sultan Hasan. "Apakah boleh mencintai seseorang yang... tidak seperti manusia?"
Kiai Maksum memandang Sultan Hasan. Matanya tajam. Seperti sedang membaca isi hati.
"Maksudmu? Makhluk halus? Jin? Atau sesuatu yang lain?"
Sultan Hasan menggeleng. Ia tidak tahu harus menjelaskan bagaimana. Pandan Wangi bukan jin. Bukan setan. Bukan manusia. Ia adalah penunggu telaga. Ia adalah air. Ia adalah cahaya bulan yang memantul di permukaan telaga.
"Lupakan, Kiai," kata Sultan Hasan akhirnya. "Aku hanya bertanya."
Kiai Maksum tidak memaksa. Ia hanya tersenyum. "Cinta tidak memandang wujud, Nak. Cinta memandang hati. Jika kau mencintai seseorang dengan tulus, dan ia mencintaimu balik, apa pun wujudnya, itu adalah anugerah. Jangan sia-siakan."
Sultan Hasan mengangguk. Ia tersenyum.
Tiga tahun berlalu.
Sultan Hasan dan Jaya sekarang berusia lima belas tahun. Tubuh mereka semakin tinggi. Bahu mereka semakin bidang. Wajah mereka semakin tampan, meski masih diselimuti oleh keringat dan debu pekerjaan.
Mardjo dan Lastri tidak lagi galak seperti dulu. Mungkin karena mereka sudah menganggap Sultan Hasan dan Jaya sebagai bagian dari keluarga. Atau mungkin karena mereka sudah tua, dan energi untuk marah sudah habis.
"Kau boleh tinggal di sini selama kau mau," kata Mardjo suatu hari, tanpa menatap Sultan Hasan. "Tapi kau harus tetap bekerja. Tidak ada orang yang hidup dari santai."
"Iya, Om," kata Sultan Hasan.
"Dan kau, Jaya!" Mardjo menunjuk Jaya yang sedang meraut kayu. "Jangan malas-malasan! Kerja!"
"Iya, Om!" jawab Jaya ceria.
Mereka berdua tersenyum.
Di sekolah agama, mereka sudah hafal Al-Qur'an tiga puluh juz. Mereka sudah bisa membaca kitab kuning dengan lancar. Mereka sudah memahami dasar-dasar fiqih, tauhid, dan tasawuf.
Kiai Maksum bangga pada mereka. "Kalian murid terbaikku," katanya. "Terutama kau, Sultan Hasan. Kau punya pemahaman yang dalam tentang hal-hal spiritual. Seperti kau sudah pernah belajar sebelumnya."
"Mungkin karena aku belajar dari banyak guru, Kiai," kata Sultan Hasan. "Dari Nini Mas Intan. Dari Ki Ageng Jagaraga. Dari Pandan Wangi. Dari pusaka di jariku."
"Pandan Wangi? Siapa itu?"
Sultan Hasan tersenyum. "Temanku, Kiai. Teman yang baik."
Kiai Maksum tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya tersenyum. "Jagalah temanmu itu," katanya. "Teman yang baik adalah harta yang tak ternilai."
Suatu malam, di bawah cahaya bulan purnama, Sultan Hasan memandang cincin di jarinya. Batu akik merah itu berdenyut pelan. Hangat.
"Kau sudah dewasa sekarang," bisik batu itu. "Usiamu lima belas tahun. Tubuhmu sudah kuat. Hatimu sudah matang. Sudah waktunya kau melanjutkan perjalanan."
"Ke mana?" tanya Sultan Hasan.
"Ke tempat di mana kau bisa menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaanmu. Ke tempat di mana kau bisa mengasah ilmu silat yang kau pelajari dari Ki Ageng Jagaraga. Ke tempat di mana kau bisa mengabdi pada sesuatu yang lebih besar dari dirimu sendiri."
"Apa itu?"
"Kerajaan. Atau masyarakat. Atau siapa pun yang membutuhkan pertolonganmu. Kau adalah penjaga hati, Sultan Hasan. Bukan untuk dirimu sendiri. Tapi untuk orang lain."
Sultan Hasan terdiam. Ia merenung.
Esok paginya, ia berbicara pada Jaya. "Aku akan pergi."
"Ke mana?"
"Ke ibu kota kerajaan. Mencari kehidupan yang lebih baik. Mencari ilmu yang lebih tinggi."
"Aku ikut."
"Kau yakin? Di sini kau sudah punya pekerjaan tetap. Mardjo sudah menganggapmu seperti anak sendiri."
"Kau adalah saudaraku, Hasan. Di mana kau pergi, aku ikut. Sampai mati."
Mereka berdua tersenyum. Mereka bersalaman.
Malam harinya, mereka berpamitan pada Mardjo dan Lastri. Mardjo terdiam. Lastri menangis.
"Jaga diri kalian baik-baik," kata Mardjo akhirnya. "Kalau kalian tidak betah di ibu kota, kalian bisa kembali ke sini. Rumah ini masih terbuka untuk kalian."
"Terima kasih, Om. Terima kasih, Bulik," kata Sultan Hasan. "Kami tidak akan melupakan kebaikan kalian."
Mereka berpelukan. Sultan Hasan merasakan hangatnya pelukan Mardjo yang kasar, dan hangatnya pelukan Lastri yang menangis.
Ini adalah keluarga keduanya. Setelah Mak Umi.
Dan sekarang, ia harus meninggalkan mereka lagi.
Sebelum benar-benar meninggalkan Kota Prapatan, Sultan Hasan pergi ke sekolah agama untuk berpamitan pada Kiai Maksum.
Kiai Maksum sedang duduk di serambi masjid, membaca kitab kuning dengan kaca mata tebal di ujung hidungnya.
"Kiai," kata Sultan Hasan. "Aku akan pergi ke ibu kota. Mencari ilmu. Mencari kehidupan."
Kiai Maksum menutup kitabnya. Ia melepas kaca matanya. Ia memandang Sultan Hasan lama.
"Kau punya tanda di keningmu," katanya. "Tanda penjaga. Aku sudah tahu sejak pertama kali melihatmu di dermaga. Tapi aku tidak bertanya. Karena aku tahu, suatu hari nanti, kau akan menjawabnya sendiri."
"Aku belum bisa menjawab, Kiai. Aku sendiri masih bingung dengan takdirku."
"Tidak apa-apa. Kebingungan adalah awal dari pemahaman. Orang yang tidak pernah bingung, tidak pernah belajar apa-apa."
Kiai Maksum berdiri. Ia memeluk Sultan Hasan. Tubuhnya tua, kurus, tapi pelukannya kuat.
"Jagalah hatimu, Nak. Jagalah pusakamu. Dan jagalah teman-temanmu. Mereka adalah anugerah."
"Aku akan, Kiai."
"Pergilah. Dan jangan lupa. Di mana pun kau berada, Allah selalu bersamamu. Telaga selalu bersamamu. Nini Mas Intan selalu bersamamu."
Sultan Hasan melepaskan pelukan. Ia membungkuk hormat. Lalu ia berjalan meninggalkan sekolah agama itu.
Di kejauhan, meski jauh dari Dukuh Wangi, ia bisa mendengar suara burung hantu. Samar. Tapi jelas.
Sekali. Pendek.
Seperti pesan: "Selamat jalan, penjaga hati. Dunia menunggumu."
Sultan Hasan tersenyum. Ia melangkah.
Bersama Jaya, ia menuju ibu kota kerajaan.
Memulai babak baru dalam hidupnya.
Sebagai perantau. Sebagai pendekar. Sebagai penjaga hati.
BAB XXIII
Usia 13 Tahun: Mimpi Berulang tentang Pandan Wangi
Perjalanan dari Kota Prapatan ke ibu kota kerajaan memakan waktu satu minggu penuh.
Sultan Hasan dan Jaya berjalan kaki melewati hutan, melewati sungai, melewati bukit-bukit yang terjal. Mereka membawa bekal seadanya: nasi bungkus yang diberikan Lastri, beberapa potong ikan asin, dan sebotol air. Bekal itu habis di hari keempat. Hari-hari berikutnya, mereka hidup dari buah-buahan liar dan ikan yang ditangkap di sungai.
Tapi mereka tidak mengeluh.
Mereka sudah terbiasa dengan perjalanan. Mereka sudah terbiasa dengan kelaparan. Mereka sudah terbiasa dengan dinginnya malam dan teriknya siang. Dukuh Wangi, Kota Prapatan, dan kehidupan bersama Mardjo telah mengajarkan mereka bahwa manusia bisa bertahan dalam kondisi apa pun, jika ia mau berusaha.
Akhirnya, pada sore hari ketujuh, mereka tiba di ibu kota.
Namanya Kota Rajapura. Ibukota Kerajaan Nusantara. Kota yang besar, ramai, dan megah. Tembok-tembok batu setinggi lima meter mengelilingi kota. Di balik tembok itu, menjulang gedung-gedung pemerintahan dengan arsitektur khas kerajaan: atap bersusun, ukiran naga di tiang-tiang, dan lentera-lentera merah yang bergantung di setiap sudut.
Sultan Hasan dan Jaya tercengang. Mereka belum pernah melihat kota sebesar ini. Manusia seperti semut. Rumah-rumah seperti sarang lebah. Suara hiruk-pikuk pasar terdengar dari kejauhan, bercampur dengan suara kuda, sapi, dan becak.
"Ini... ibu kota," bisik Jaya.
"Ini ibu kota," ulang Sultan Hasan.
Mereka masuk melalui gerbang barat. Tidak ada yang menanyai mereka. Tidak ada yang memeriksa. Penjaga gerbang hanya melambaikan tangan, membiarkan siapa pun masuk. Karena kerajaan ini terbuka untuk semua orang. Pedagang. Pengembara. Pencari kerja. Bahwa anak-anak seperti mereka.
Tapi kebahagiaan mereka tidak bertahan lama. Karena mereka sadar: mereka tidak punya uang. Tidak punya tempat tinggal. Tidak punya sanak saudara di kota ini. Mereka sendirian. Di tengah lautan manusia.
"Kita cari penginapan murah," kata Sultan Hasan.
"Pakai uang apa?" tanya Jaya.
"Kita cari kerja dulu. Besok pagi."
Malam itu, mereka tidur di emperan toko. Di atas kardus bekas. Dengan selimut tipis dari kain sarung. Langit malam di ibu kota berbeda dengan di desa. Di sini, langit tidak gelap karena terang oleh lampu-lampu kota. Bintang-bintang samar, hampir tidak terlihat. Bulan juga tampak pucat, seperti sakit.
Sultan Hasan tidak bisa tidur.
Ia memandang cincin di jarinya. Batu akik merah itu berdenyut pelan. Hangat.
"Kau ingat Pandan Wangi?" bisik batu itu.
"Iya," bisik Sultan Hasan balik.
"Kau rindu padanya?"
"Iya. Tapi aku tidak bisa kembali ke telaga sekarang. Aku harus mencari kehidupan dulu."
"Rindu tidak harus dengan bertemu. Rindu juga bisa dengan mengingat. Rindu juga bisa dengan mendoakan. Rindu juga bisa dengan menjalani hidup yang baik, karena ia pasti bangga melihatmu."
Sultan Hasan tersenyum. Ia memejamkan mata.
Ia berdoa. Untuk Pandan Wangi. Untuk Mak Umi. Untuk Nini Mas Intan. Untuk Ki Ageng Jagaraga. Untuk semua yang pernah berjasa dalam hidupnya.
Kemudian ia tertidur.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah meninggalkan Dukuh Wangi, Sultan Hasan bermimpi tentang Pandan Wangi.
Dalam mimpinya, ia berdiri di tepi telaga. Telaga yang sama. Airnya jernih. Dasarnya terlihat. Tanaman air bergoyang-goyang ditarik arus yang lembut. Bulan purnama bersinar terang, memantul di permukaan air, menciptakan ribuan titik berkilauan seperti berlian.
Pandan Wangi sedang berdiri di tengah telaga. Ia berjalan di atas air. Perlahan. Anggun. Seperti penari.
Ia tidak lagi kecil. Ia sudah dewasa. Mungkin seusia Sultan Hasan. Lima belas tahun. Tubuhnya mulai berlekuk. Rambutnya hitam panjang terurai sebahu, bergerak-gerak ditiup angin malam. Wajahnya cantik. Sangat cantik. Seperti bidadari yang turun dari langit.
"Pandan..." bisik Sultan Hasan.
Pandan Wangi tersenyum. Senyum yang lembut. Senyum yang membuat hati Sultan Hasan berdebar.
"Kau rindu padaku?" tanyanya.
"Iya. Aku sangat rindu."
"Aku juga rindu padamu. Setiap malam. Setiap kali bulan purnama. Aku duduk di batu hitam ini, menatap ke timur, berharap kau muncul. Tapi kau tidak pernah muncul. Karena kau sedang merantau. Mencari kehidupan."
"Maafkan aku, Pandan."
"Tidak perlu minta maaf. Aku tidak marah. Aku hanya rindu."
Pandan Wangi berjalan mendekat. Kini ia berdiri tepat di depan Sultan Hasan. Jarak hanya satu lengan. Sultan Hasan bisa mencium wanginya. Wangi pandan. Wangi yang khas. Wangi yang selalu ia rindukan.
"Kau sudah dewasa," kata Pandan Wangi. "Aku bisa melihatnya dari matamu. Matamu tidak lagi polos. Ada beban di sana. Ada pengalaman. Ada luka."
"Kau juga dewasa, Pandan. Di mimpiku, kau tidak lagi kecil."
"Ini mimpi, Sultan Hasan. Dalam mimpi, aku bisa menjadi apa pun. Aku bisa menjadi kecil. Aku bisa menjadi dewasa. Aku bisa menjadi wanita tua. Tapi yang sebenarnya... aku tidak berubah. Aku tetap air. Aku tetap telaga. Aku tetap penunggu yang setia menunggu."
"Kapan aku bisa bertemu denganmu dalam wujud aslimu?"
"Kau sudah bertemu. Di telaga. Saat kau masih kecil. Saat kita duduk di batu hitam itu, berbicara tentang banyak hal."
"Tapi itu dulu. Aku ingin bertemu lagi."
Pandan Wangi menghela napas. "Kita akan bertemu lagi, Sultan Hasan. Pada waktunya. Pada saat yang tepat. Pada tempat yang tepat. Tapi tidak sekarang. Sekarang kau harus fokus pada perjalananmu. Ada banyak hal yang harus kau pelajari. Ada banyak orang yang harus kau tolong. Ada banyak cinta yang harus kau jaga."
"Aku tidak mengerti."
"Kau akan mengerti nanti."
Pandan Wangi mengulurkan tangannya. Ia menyentuh kening Sultan Hasan, tepat di tempat tanda merah itu berada.
Tanda itu terasa hangat. Sangat hangat. Seperti disentuh oleh matahari.
"Aku akan selalu bersamamu," bisik Pandan Wangi. "Di mana pun kau berada. Dalam suka maupun duka. Dalam terang maupun gelap. Dalam mimpi maupun kenyataan."
Sultan Hasan ingin meraih tangan itu. Tapi sebelum ia sempat bergerak, Pandan Wangi mulai menghilang. Perlahan. Seperti kabut yang ditiup angin.
"Pandan! Jangan pergi!"
"Selamat jalan, Sultan Hasan. Aku menunggumu."
Kemudian ia lenyap.
Sultan Hasan terbangun.
Ia duduk di emperan toko. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Langit masih gelap. Lampu-lampu kota masih menyala.
Jaya tidur di sampingnya, tidak terganggu.
Sultan Hasan memandang cincin di jarinya. Batu akik merah itu berdenyut kencang. Sangat kencang. Seperti ingin keluar dari tempatnya.
"Pandan..." bisiknya.
Batu itu berdenyut sekali lagi. Lalu meredup. Perlahan. Kembali ke denyut normal.
Sultan Hasan menghela napas. Ia berbaring kembali. Ia memejamkan mata.
Tapi ia tidak bisa tidur.
Mimpi itu terus berputar di kepalanya. Wajah Pandan Wangi yang dewasa. Wangi pandan yang semerbak. Senyum yang lembut. Dan tangan yang menyentuh keningnya.
"Aku akan selalu bersamamu."
Sultan Hasan tersenyum di dalam gelap.
"Terima kasih, Pandan," bisiknya. "Aku juga akan selalu bersamamu. Di mana pun aku berada."
Mimpi itu berulang.
Setiap malam. Selama satu bulan penuh. Sultan Hasan selalu bermimpi bertemu Pandan Wangi di tepi telaga. Kadang Pandan Wangi masih kecil, seperti dulu. Kadang ia sudah dewasa, seperti pertama kali Sultan Hasan melihatnya dalam mimpi. Kadang ia setengah dewasa, setengah anak-anak, seperti dalam masa transisi.
Tapi selalu sama: mereka berbicara. Mereka bercerita tentang banyak hal. Tentang rindu. Tentang kehidupan. Tentang cinta. Tentang menjaga hati.
Dan setiap kali, sebelum Pandan Wangi pergi, ia selalu berkata: "Aku akan selalu bersamamu."
Setelah satu bulan, mimpi itu berhenti.
Sultan Hasan tidak lagi bermimpi tentang Pandan Wangi. Ia hanya tidur nyenyak, tanpa mimpi, tanpa gangguan. Batu akik merah di jarinya berdenyut normal, tidak terlalu kencang, tidak terlalu lambat.
Tapi rasa rindu itu tetap ada.
Ia rindu pada telaga. Ia rindu pada batu hitam. Ia rindu pada suara air yang mengalir. Ia rindu pada wangi pandan yang semerbak. Ia rindu pada Pandan Wangi.
"Kau kenapa?" tanya Jaya suatu hari, saat melihat Sultan Hasan melamun.
"Aku rindu."
"Rindu siapa?"
"Seseorang."
"Pandan Wangi?"
Sultan Hasan terkejut. "Kau tahu?"
"Kau sering menyebut namanya dalam tidurmu. Pandan. Pandan. Aku dengar. Kau mimpikan ia setiap malam, kan?"
Sultan Hasan tidak menjawab. Ia hanya menunduk.
"Kau jatuh cinta, Hasan," kata Jaya. "Jatuh cinta pada penunggu telaga."
"Apa itu cinta?"
Jaya mengangkat bahu. "Aku tidak tahu. Aku belum pernah jatuh cinta. Tapi kalau perasaan itu membuatmu rindu terus-menerus, membuatmu tidak bisa tidur, membuatmu selalu ingin bertemu... mungkin itu cinta."
Sultan Hasan terdiam. Mungkin Jaya benar. Mungkin itu cinta. Mungkin ia jatuh cinta pada Pandan Wangi sejak pertama kali melihatnya, saat ia masih kecil, saat ia duduk di batu hitam itu, di bawah cahaya bulan.
Tapi apa boleh buat? Pandan Wangi bukan manusia. Ia penunggu telaga. Ia tidak bisa meninggalkan telaga. Ia tidak bisa hidup di dunia manusia.
Dan Sultan Hasan... Sultan Hasan belum bisa kembali ke telaga. Ia harus mencari kehidupan dulu. Ia harus menjadi seseorang yang berguna. Ia harus menyelesaikan misinya sebagai penjaga hati.
Mungkin, pikir Sultan Hasan, cinta tidak harus memiliki. Cinta cukup dengan merindukan. Cinta cukup dengan mendoakan. Cinta cukup dengan tetap menjaga hati, meski tidak bersatu.
Seperti Nini Mas Intan dulu. Seperti Ki Ageng Jagaraga dulu. Seperti semua penjaga hati yang gagal dan berhasil.
Mereka mencintai. Mereka merindukan. Mereka menjaga.
Tapi tidak semua memiliki.
Suatu malam, setelah berminggu-minggu tanpa mimpi, Sultan Hasan bermimpi lagi.
Tapi kali ini berbeda. Ia tidak berdiri di tepi telaga. Ia berdiri di tengah kota. Di tengah keramaian. Di tengah pasar yang hiruk-pikuk.
Dan di tengah keramaian itu, ia melihat seorang perempuan.
Perempuan itu berjalan di antara kerumunan. Ia memakai kain batik sederhana, warna hijau dengan motif pandan. Rambutnya hitam panjang, diikat dengan tusuk konde dari perak. Parasnya cantik. Seperti bidadari.
Sultan Hasan mengenalinya.
Pandan Wangi.
Bukan dalam wujud anak kecil. Bukan dalam wujud setengah dewasa. Tapi dalam wujud wanita dewasa. Seperti dalam mimpi-mimpinya dulu.
Pandan Wangi berjalan mendekat. Ia tersenyum.
"Halo, Sultan Hasan," katanya. "Sudah lama."
"Kau... bagaimana kau bisa di sini? Ini kota. Jauh dari telaga."
"Ini mimpi, Sultan Hasan. Dalam mimpi, aku bisa ke mana pun. Aku bisa ke kota. Aku bisa ke gunung. Aku bisa ke laut. Aku bisa ke ujung dunia. Tapi kenyataannya... aku tetap di telaga. Menunggumu."
"Kapan kita bisa bertemu di dunia nyata?"
Pandan Wangi menghela napas. "Kau masih bertanya itu?"
"Aku rindu padamu, Pandan."
"Aku juga rindu padamu. Tapi rindu tidak harus dengan bertemu. Rindu bisa diwujudkan dengan menjadi orang yang lebih baik. Dengan membantu sesama. Dengan menjaga hati. Itu yang kau lakukan sekarang, kan?"
Sultan Hasan mengangguk.
"Itu sudah cukup," kata Pandan Wangi. "Aku bangga padamu. Nini Mas Intan bangga padamu. Ki Ageng Jagaraga bangga padamu. Mak Umi di surga juga bangga padamu."
Air mata Sultan Hasan menetes. Pandan Wangi mengulurkan tangannya, menghapus air mata itu dengan ibu jarinya.
"Jangan menangis," katanya. "Kau lelaki. Lelak i tidak boleh mudah menangis."
"Lelaki juga punya hati."
"Iya. Lelaki juga punya hati. Dan lelaki yang baik adalah lelaki yang mau menangis untuk orang yang dicintainya. Tapi jangan terlalu lama. Bangun. Lanjutkan perjuanganmu. Ada banyak yang harus kau lakukan."
Pandan Wangi melangkah mundur.
"Kau akan pergi lagi," kata Sultan Hasan.
"Iya. Aku harus pergi. Tapi ingatlah, Sultan Hasan. Aku tidak pernah benar-benar pergi. Aku selalu di sini."
Ia menunjuk dada Sultan Hasan.
"Di dalam hatimu."
Kemudian ia lenyap.
Sultan Hasan terbangun.
Ia duduk di emperan toko. Langit mulai memutih. Fajar menyingsing. Jaya sudah bangun, merapikan barang-barang mereka.
"Kau mimpi lagi?" tanya Jaya.
"Iya."
"Mimpi tentang Pandan Wangi?"
"Iya."
"Apa yang ia katakan?"
Sultan Hasan tersenyum. "Ia bilang, ia selalu di dalam hatiku."
Jaya menghela napas. "Kau jatuh cinta, Hasan. Jatuh cinta pada sesosok yang mungkin tidak bisa kau miliki."
"Mungkin. Tapi tidak apa-apa. Cinta tidak harus memiliki."
Mereka berdua berdiri. Mereka membersihkan emperan toko, melipat kardus bekas, dan bersiap memulai hari baru.
Hari untuk mencari kerja. Hari untuk mencari kehidupan. Hari untuk menjadi penjaga hati yang lebih baik.
Sultan Hasan memandang ke timur. Ke arah Dukuh Wangi. Ke arah telaga. Ke arah Pandan Wangi.
"Selamat pagi, Pandan," bisiknya.
Di kejauhan, meski tidak mungkin, ia mendengar suara burung hantu. Samar. Tapi jelas.
Sekali. Pendek.
Seperti jawaban: "Selamat pagi, penjaga hati."
Sultan Hasan tersenyum. Ia melangkah.
Bersama Jaya, ia menuju pasar.
Mencari pekerjaan.
Melanjutkan hidup.
Dengan rindu di hati.
Dengan cinta yang tersimpan rapi.
Dengan tekad untuk menjadi lebih baik.
Setiap hari.
Setiap saat.
Selamanya.
BAB XXIV
Paman Mengusir
Dua tahun berlalu sejak Sultan Hasan dan Jaya tiba di Kota Rajapura.
Dua tahun yang penuh dengan kerja keras, keringat, dan air mata. Mereka bekerja serabutan: menjadi kuli angkut di pasar, menjadi tukang cuci di rumah-rumah orang kaya, menjadi pelayan di warung makan, menjadi pengantar barang di toko-toko. Upahnya kecil. Tidak cukup untuk menyewa rumah yang layak. Mereka masih tidur di emperan toko, kadang di kolong jembatan, kadang di emperan masjid jika hujan.
Tapi mereka tidak putus asa.
Sedikit demi sedikit, mereka mengumpulkan uang. Sultan Hasan pandai mengatur keuangan. Setiap rupiah yang mereka dapatkan, ia bagi: separuh untuk makan, seperempat untuk ditabung, seperempat untuk disedekahkan. Jaya kadang protes. "Kenapa kita harus sedekah? Kita sendiri masih miskin!" Tapi Sultan Hasan selalu menjawab, "Sedekah bukan tentang kaya atau miskin. Sedekah tentang melatih hati agar tidak pelit."
Jaya menggeleng, tapi ia menurut.
Suatu hari, Sultan Hasan mendapat tawaran kerja dari seorang saudagar kaya bernama Tuan Abdullah. Saudagar itu memiliki gudang beras di tepi sungai. Ia butuh anak-anak muda yang kuat dan jujur untuk menjaga gudang dan mengangkut karung-karung beras dari kapal ke gudang.
"Kau anak pemberani?" tanya Tuan Abdullah saat wawancara.
"Tergantung, Tuan," kata Sultan Hasan jujur. "Aku berani jika itu benar. Aku tidak berani jika itu salah."
Tuan Abdullah tertawa. "Kau jujur. Aku suka. Kau diterima."
Sultan Hasan dan Jaya mulai bekerja di gudang beras. Upahnya lebih besar dari pekerjaan sebelumnya. Mereka bisa menyewa sebuah kamar kecil di rumah kontrakan di pinggiran kota. Kamar berukuran dua kali tiga meter, hanya cukup untuk dua tikar dan satu lampu minyak. Tapi bagi mereka, itu istana.
"Ini rumah pertama kita," kata Jaya bahagia.
"Ini rumah pertama kita," ulang Sultan Hasan.
Mereka berdua bersalaman. Mereka tersenyum. Setelah dua tahun, akhirnya mereka tidak tidur di emperan toko lagi.
Tapi kebahagiaan mereka tidak bertahan lama.
Suatu sore, saat Sultan Hasan sedang bekerja di gudang, seorang lelaki paruh baya datang. Wajahnya mirip dengan seseorang. Sangat mirip. Sultan Hasan berusaha mengingat.
Lelaki itu berhenti di depan Sultan Hasan. Ia memandangnya lama.
"Kau Sultan Hasan?" tanyanya.
"Iya. Siapa Bapak?"
"Namaku Sastro. Aku saudara iparmu. Suami dari adik ibumu."
Sultan Hasan terkejut. Ia tidak tahu bahwa ibunya masih punya saudara perempuan. Dewi Rengganis tidak pernah bercerita tentang itu.
"Ada apa, Pak?" tanya Sultan Hasan.
Sastro menghela napas. Wajahnya muram. "Aku diutus oleh keluargamu di Dukuh Wangi. Mereka... mereka minta kau pulang."
"Pulang? Kenapa?"
"Ada masalah. Besar. Keluarga kalian terancam. Mardjo... pamanku... aku diminta mencarimu."
Sultan Hasan terdiam. Mardjo. Paman yang galak tapi baik hati itu. Ada apa dengannya?
"Apa yang terjadi dengan Om Mardjo?" tanyanya.
Sastro menggeleng. "Tidak bisa dijelaskan di sini. Terlalu panjang. Kau pulang saja. Nanti kau tahu sendiri."
Sultan Hasan memandang Jaya. Jaya mengangguk.
"Baik, Pak. Kami akan pulang."
Perjalanan pulang ke Kota Prapatan memakan waktu tiga hari. Sultan Hasan dan Jaya tidak bisa berjalan kaki seperti dulu. Mereka sudah punya sedikit uang. Mereka menyewa kuda sewaan. Bukan kuda bagus. Tapi cukup untuk mempercepat perjalanan.
Mereka tiba di rumah Mardjo pada sore hari. Rumah itu masih sama: kayu, setengah papan setengah bambu, dengan halaman penuh serbuk kayu. Tapi ada yang berbeda. Sepi. Tidak ada suara ketam kayu. Tidak ada suara Mardjo membentak-bentak. Hanya ada keheningan yang aneh.
Sultan Hasan masuk.
Mardjo terbaring di tikar. Wajahnya pucat. Tubuhnya kurus kering. Matanya cekung. Ia sakit. Parah.
Lastri duduk di sampingnya, menangis.
"Om..." bisik Sultan Hasan.
Mardjo membuka matanya. Samar-samar. Kemudian ia tersenyum. Senyum yang lemah.
"Kau pulang," bisiknya. "Aku kira kau tidak akan kembali."
"Aku kembali, Om. Ada apa ini? Kenapa Om bisa sakit begini?"
Mardjo batuk. Batuk yang keras. Lastri buru-buru mengusap dadanya.
"Mardjo terkena racun," kata Lastri sambil menangis. "Ada yang sengaja meracuni makanannya. Dua minggu yang lalu. Sejak itu ia tidak bisa bangun."
"Siapa yang meracuni?"
"Kami tidak tahu. Tapi kami curiga pada... keponakan Mardjo sendiri. Anak dari saudaranya. Ia ingin merebut rumah ini. Tanah ini. Semua harta warisan."
Sultan Hasan mengepal. Jari-jarinya gemetar. Batu akik merah di jarinya berdenyut kencang. Panas.
"Tenang," bisik batu itu. "Jangan terpancing emosi."
Sultan Hasan menarik napas panjang. Ia menenangkan diri.
"Om akan sembuh," katanya. "Aku akan mencari obatnya. Di hutan. Di tempat Ki Ageng Jagaraga. Ia tahu ramuan untuk segala penyakit."
"Ki Ageng?" Mardjo tersenyum pahit. "Ia masih hidup?"
"Masih, Om. Ia kuat."
Sultan Hasan berpamitan. Ia dan Jaya segera pergi ke hutan. Meninggalkan Mardjo dan Lastri yang hanya bisa berdoa.
Hutan tempat Ki Ageng Jagaraga tinggal tidak berubah. Masih lebat. Masih gelap. Masih dipenuhi suara burung dan serangga.
Sultan Hasan dan Jaya berjalan cepat. Mereka hafal jalan setapak itu. Setiap akar, setiap batu, setiap belokan, mereka hafal di luar kepala.
Ki Ageng Jagaraga sedang duduk di depan gubuknya ketika mereka tiba. Pertapa tua itu tidak berubah. Masih kurus. Masih keriput. Masih memandang dengan mata satu hitam satu putih.
"Kau kembali," katanya.
"Iya, Ki. Aku butuh bantuan."
"Ceritakan."
Sultan Hasan menceritakan tentang Mardjo. Tentang racun. Tentang keponakan yang ingin merebut warisan.
Ki Ageng Jagaraga menghela napas panjang. "Manusia. Mereka tidak pernah puas dengan apa yang mereka miliki. Mereka selalu ingin lebih. Meski harus mencelakai orang lain."
"Apa ada obatnya, Ki?"
"Ada. Tapi tidak mudah mendapatkannya."
"Apa pun, Ki. Aku akan mencarinya."
Ki Ageng Jagaraga berdiri. Ia masuk ke dalam gubuknya, lalu keluar dengan membawa sepotong kulit kayu. Kering. Keras. Berwarna coklat kehitaman.
"Ini kulit pohon Samarinda. Tumbuh di puncak gunung, di tempat yang udaranya sangat dingin. Rebus kulit ini dengan air sampai mendidih. Saring. Berikan airnya pada Mardjo. Tiga kali sehari. Satu sendok makan setiap kali."
"Apa ini akan menyembuhkannya, Ki?"
Ki Ageng Jagaraga menggeleng. "Tidak. Racunnya sudah menyebar ke seluruh tubuh. Obat ini hanya akan memperlambat. Tidak menyembuhkan. Mardjo mungkin akan hidup beberapa bulan. Mungkin setahun. Tergantung kemauan tubuhnya."
Sultan Hasan menunduk. Air matanya menetes.
"Jangan menangis," kata Ki Ageng Jagaraga. "Kau sudah berbuat yang terbaik. Sekarang, pulanglah. Berikan obat ini pada Mardjo. Dan temani ia selama ia masih ada."
Sultan Hasan mengangguk. Ia menyeka air matanya.
"Ki, aku mau bertanya sesuatu."
"Apa?"
"Apa yang harus aku lakukan terhadap keponakan Mardjo yang meracuninya?"
Ki Ageng Jagaraga memandang Sultan Hasan. Matanya tajam.
"Apa yang kau ingin lakukan?"
"Aku ingin membalas dendam. Ia meracuni paman yang baik hati. Ia pantas dihukum."
"Tapi?"
"Tapi aku ingat ajaran Nini Mas Intan. 'Hati yang dijaga terlalu keras akan retak oleh tangannya sendiri.' Aku tidak ingin menjadi seperti dia. Aku tidak ingin hatiku retak."
Ki Ageng Jagaraga tersenyum. "Kau sudah dewasa, Sultan Hasan. Aku tidak perlu mengajarimu lagi. Kau sudah tahu apa yang benar dan apa yang salah. Lakukan sesuai hatimu. Tapi jangan lupa: penjaga hati tidak membalas dendam. Ia hanya menegakkan keadilan."
Sultan Hasan mengangguk. Ia membungkuk hormat.
"Selamat tinggal, Ki."
"Selamat jalan, Nak."
Mardjo meninggal tiga bulan kemudian.
Ia meninggal dengan tenang. Di sampingnya, Sultan Hasan, Jaya, dan Lastri. Tubuhnya kurus kering. Matanya cekung. Bibirnya biru. Tapi wajahnya tersenyum.
"Kau... kau anak baik," bisik Mardjo pada Sultan Hasan. "Maafkan aku... dulu sering membentakmu... sering memukulmu..."
"Itu dulu, Om. Aku sudah lupa."
"Kau... kau lebih baik dari anak kandungku sendiri... mereka tidak pernah datang... tidak pernah menjenguk..."
"Om, jangan banyak bicara. Istirahatlah."
Mardjo menghela napas terakhir. Dadanya naik sekali, turun, lalu tidak naik lagi.
Lastri menjerit. Ia menangis tersedu-sedu.
Sultan Hasan memejamkan mata. Air matanya menetes. Tapi ia tidak menangis keras seperti Lastri. Ia hanya diam. Merasakan kehilangan. Lagi. Lagi. Lagi.
Setelah Mak Umi. Setelah Nini Mas Intan. Setelah ibu dan ayah. Sekarang Mardjo.
Kapan semua ini berakhir?
Di jari manisnya, batu akik merah berdenyut pelan. Hangat.
"Aku di sini," bisik batu itu. "Aku tidak akan pernah mati."
Sultan Hasan tersenyum. Ia menggenggam cincin itu erat-erat.
"Terima kasih," bisiknya.
Setelah Mardjo dimakamkan, Sultan Hasan dan Jaya mengusut siapa dalang di balik peracunan.
Ternyata itu benar. Keponakan Mardjo, bernama Tumenggung, adalah seorang pegawai rendahan di kantor bupati. Ia ingin merebut rumah dan tanah Mardjo untuk dijadikan modal bisnis. Ia menyewa dukun dari desa sebelah untuk meracuni makanan Mardjo dengan racun yang tidak terdeteksi.
Sultan Hasan dan Jaya mengumpulkan bukti. Mereka mencari saksi. Mereka melapor ke polisi.
Tumenggung ditangkap. Diadili. Dihukum penjara sepuluh tahun.
Istri dan anak-anaknya menangis. Mereka meminta maaf pada Sultan Hasan. Mereka mengaku tidak tahu apa yang dilakukan Tumenggung.
Sultan Hasan memaafkan mereka.
"Ia yang bersalah, bukan kalian," katanya. "Tapi ingat, kejahatan tidak akan pernah membawa kebahagiaan."
Mereka mengangguk sambil menangis.
Sultan Hasan dan Jaya meninggalkan rumah Mardjo. Mereka tidak ingin tinggal di rumah itu. Terlalu banyak kenangan. Terlalu banyak luka.
Lastri menawari mereka untuk tinggal. Tapi Sultan Hasan menolak dengan hormat. "Kami harus kembali ke ibu kota, Bulik. Ada banyak yang harus kami kerjakan."
Lastri menangis. "Jaga diri kalian baik-baik."
"Kami akan, Bulik."
Mereka berpelukan. Sultan Hasan merasakan hangatnya pelukan Lastri. Pelukan seorang ibu yang kehilangan suami. Pelukan seorang ibu yang takut kehilangan anak-anak angkatnya.
"Kami akan sering mengirim kabar, Bulik."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berpisah. Sultan Hasan dan Jaya berjalan menuju ke timur. Menuju ibu kota. Menuju kehidupan baru.
Di belakang mereka, Lastri berdiri di depan rumah, melambai-lambaikan tangan, menangis.
Sultan Hasan tidak menoleh. Karena ia takut jika menoleh, ia tidak akan bisa pergi.
Di tengah perjalanan, mereka melewati Dukuh Wangi.
Desa itu sudah berubah. Banyak rumah baru. Sawah-sawah yang subur. Anak-anak bermain di halaman.
Tidak ada yang mengenali Sultan Hasan. Ia sudah dewasa. Wajahnya sudah berubah. Tubuhnya sudah tinggi. Tidak ada yang menyangka bahwa anak kurus kering yang dulu dikucilkan dan dilempari kerikil, kini menjadi pemuda tegap dengan mata yang teduh.
Sultan Hasan tidak singgah. Ia hanya memandang dari kejauhan. Ia melihat telaga larangan di kejauhan. Airnya masih jernih. Masih tenang. Masih dijaga oleh Pandan Wangi.
Ia ingin pergi ke telaga. Ia ingin duduk di batu hitam itu. Ia ingin berbicara dengan Pandan Wangi tentang semua yang telah terjadi. Tentang Mardjo. Tentang Lastri. Tentang rasa lelah yang tak kunjung habis.
Tapi ia tidak punya waktu. Ia harus segera kembali ke ibu kota. Ada pekerjaan yang menunggu. Ada hidup yang harus dijalani.
"Pandan," bisiknya. "Aku tidak bisa menemuimu sekarang. Tapi aku akan kembali. Suatu hari. Aku janji."
Di kejauhan, angin berembus. Membawa wangi pandan. Samar. Tapi jelas.
Sultan Hasan tersenyum. Ia melanjutkan perjalanan.
Di jari manisnya, batu akik merah berdenyut pelan. Hangat.
Seperti setuju. Seperti mengingatkan. Seperti berbisik: "Aku menunggumu."
BAB XXV
Bertemu Kakek Tua di Pinggir Hutan
Perjalanan kembali ke ibu kota terasa lebih berat dari sebelumnya.
Mungkin karena beban di hati Sultan Hasan. Mungkin karena ia baru saja kehilangan Mardjo, pamannya yang keras tapi baik hati. Mungkin karena ia melewati Dukuh Wangi, desa yang tidak pernah benar-benar menerimanya, tanpa berani singgah. Mungkin karena ia rindu pada Pandan Wangi, tetapi tidak bisa menemuinya.
Atau mungkin karena ia dan Jaya kehabisan bekal di tengah jalan, dan perut mereka keroncongan sejak pagi.
Mereka berjalan di tepi hutan. Pohon-pohon besar menjulang di kiri kanan, menaungi jalan setapak dari terik matahari. Burung-burung berkicau riang, seolah tidak peduli dengan penderitaan dua pemuda yang lewat di bawah mereka.
"Kapan kita sampai?" tanya Jaya.
"Masih jauh. Mungkin dua hari lagi."
"Aku lapar, Hasan. Lapar sekali. Perutku seperti mau menelannya sendiri."
"Sabar. Nanti kita cari buah-buahan di hutan."
"Buah-buahan? Di hutan ini? Lihat sekeliling! Yang ada cuma pohon besar dan semak belukar! Tidak ada pohon buah!"
Sultan Hasan tidak menjawab. Ia terus berjalan. Matanya memindai kiri kanan, mencari sesuatu yang bisa dimakan.
Di jari manisnya, batu akik merah berdenyut pelan.
"Ke kiri," bisik batu itu. "Ada sesuatu di sana."
Sultan Hasan berbelok ke kiri, meninggalkan jalan setapak, masuk ke dalam hutan yang lebih lebat.
"Kau ke mana?" teriak Jaya. "Jalannya di sini!"
"Ikuti aku!"
Jaya menggerutu, tapi ia mengikuti. Ia tahu Sultan Hasan tidak pernah bertindak tanpa alasan.
Mereka berjalan sekitar dua puluh langkah ke dalam hutan. Kemudian Sultan Hasan berhenti.
Di depan mereka, tumbuh sebuah pohon kecil. Tingginya hanya sekitar dua meter. Daunnya lebar, hijau segar. Dan di antara daun-daun itu, bergelantungan beberapa buah. Besar. Kuning keemasan. Aromanya harum, seperti campuran mangga dan pepaya.
"Mangga hutan!" teriak Jaya kegirangan. "Kau hebat, Hasan! Bagaimana kau tahu ada pohon ini?"
"Aku hanya mengikuti kata hati," kata Sultan Hasan sambil tersenyum.
Mereka memetik buah-buahan itu. Makan dengan lahap. Juice-nya manis, menyegarkan. Perut mereka yang keroncongan perlahan tenang.
Setelah kenyang, mereka mengambil beberapa buah untuk bekal perjalanan. Sultan Hasan memasukkan buah-buahan itu ke dalam buntalan kainnya.
"Kita kembali ke jalan setapak," katanya.
Mereka berjalan balik.
Tapi di tengah jalan, mereka bertemu dengan seorang kakek tua.
Kakek itu duduk di bawah pohon beringin besar. Tubuhnya kurus, membungkuk. Rambutnya putih semua, tidak sehelai pun yang hitam. Jenggotnya panjang hingga ke dada, juga putih. Ia memakai pakaian compang-camping, penuh tambalan. Di sampingnya, ada sebilah tongkat kayu nangka yang sudah aus.
Matanya terpejam. Dadanya naik turun pelan. Ia sedang tidur. Atau mungkin bermeditasi.
Sultan Hasan berhenti. Ia memandang kakek itu. Ada sesuatu di wajahnya yang familiar. Sesuatu yang mengingatkannya pada seseorang. Tapi ia tidak ingat siapa.
"Kita lewat saja," bisik Jaya. "Jangan ganggu."
Tapi Sultan Hasan tidak bisa bergerak. Kaki nya terasa berat. Seperti ada yang menahannya.
Kakek itu membuka matanya.
Matanya satu hitam, satu putih. Seperti Ki Ageng Jagaraga. Tapi tidak sama. Mata kakek ini lebih tua. Lebih dalam. Lebih seperti melihat ke dalam jiwa.
"Kau Sultan Hasan," katanya. Bukan pertanyaan. Pernyataan.
Sultan Hasan terkejut. "Bapak kenal saya?"
"Aku kenal kau. Sejak kau masih dalam kandungan ibumu. Sejak kau lahir di malam gerhana. Sejak kau menangis keras, menangis yang sudah tahu betapa berat tugasmu kelak."
Sultan Hasan gemetar. Kata-kata itu persis seperti yang pernah dikatakan Nini Mas Intan, Mak Umi, dan Ki Ageng Jagaraga.
"Siapa Bapak?" tanyanya.
Kakek itu tersenyum. Senyum yang aneh. Senyum yang penuh rahasia.
"Aku tidak punya nama. Tapi kau bisa memanggilku Kakek Tua dari Pinggir Hutan."
Jaya mendengus. "Nama yang aneh."
Kakek itu tertawa. Tawanya serak, seperti gesekan daun-daun kering.
"Memang. Aku tidak pernah punya nama yang bagus. Tapi aku punya sesuatu yang lebih berharga dari nama."
"Apa itu?" tanya Sultan Hasan.
"Pengetahuan. Pengetahuan tentang perjalanan. Pengetahuan tentang kehidupan. Pengetahuan tentang hati."
Kakek itu menepuk tanah di sampingnya. "Duduklah. Aku tahu kau lelah. Aku tahu kau lapar. Tapi kau sudah makan buah mangga hutan, jadi perutmu tidak keroncongan lagi. Sekarang, duduklah. Aku akan bercerita."
Sultan Hasan dan Jaya duduk di samping kakek itu. Tanahnya dingin, sedikit lembab. Bau tanah bercampur bau dedaunan kering.
"Apa yang akan Bapak ceritakan?" tanya Sultan Hasan.
"Tentang masa depanmu," kata kakek itu. "Tentang jalan yang akan kau tempuh. Tentang rintangan yang akan kau hadapi. Tentang cinta yang akan kau temukan."
Sultan Hasan terdiam. Jaya juga terdiam.
Mereka mendengarkan.
Kakek itu memandang langit. Awan putih bergerak lambat, membentuk pola-pola aneh.
"Kau akan pergi ke ibu kota," katanya. "Di sana, kau akan bekerja keras. Kau akan menjadi kaya. Kau akan terkenal. Tapi kau tidak akan bahagia."
"Kenapa tidak bahagia?" tanya Sultan Hasan.
"Karena hatimu tidak di sana. Hatimu masih di telaga. Hatimu masih pada Pandan Wangi."
Sultan Hasan terkesiap. "Bapak tahu tentang Pandan Wangi?"
"Aku tahu segalanya, Nak. Aku tahu kau jatuh cinta padanya sejak kau masih kecil. Aku tahu kau merindukannya setiap malam. Aku tahu kau bermimpi tentang dia, bertemu dengannya, berbicara dengannya. Tapi kau tidak bisa memiliki dia. Karena dia adalah penunggu telaga. Dan kau adalah manusia."
"Jadi aku harus melupakannya?"
"Mencintai tidak harus memiliki. Mencintai tidak harus melupakan. Mencintai bisa dengan mendoakan. Mencintai bisa dengan menjalani hidup yang baik, karena ia pasti bangga melihatmu."
Sultan Hasan menunduk. Air matanya menetes lagi. Jaya menepuk pundaknya.
"Jangan menangis," kata kakek itu. "Kau lelaki. Lelaki tidak boleh mudah menangis."
"Lelaki juga punya hati," kata Sultan Hasan, seperti yang pernah ia katakan pada Pandan Wangi dalam mimpi.
Kakek itu tersenyum. "Kau benar. Lelaki juga punya hati. Dan lelaki yang baik adalah lelaki yang mau menangis untuk orang yang dicintainya. Tapi jangan terlalu lama. Bangun. Lanjutkan perjalananmu."
Kakek itu berdiri. Tubuhnya yang bungkuk tiba-tiba terlihat tegap. Matanya yang satu hitam satu putih menyala.
"Kau akan bertemu dengan banyak orang di ibu kota," katanya. "Ada yang baik. Ada yang jahat. Ada yang akan menolongmu. Ada yang akan mengkhianatimu. Tapi ingatlah selalu: jangan biarkan hatimu dikendalikan oleh kebencian. Tetaplah menjadi penjaga. Tetaplah menjaga hati."
"Apa pesan Bapak untukku?" tanya Sultan Hasan.
Kakek itu memandangnya lama. Kemudian ia berkata, "Kembalilah ke telaga. Suatu hari nanti. Ketika kau sudah lelah dengan dunia. Ketika kau sudah muak dengan kepalsuan manusia. Kembalilah ke telaga. Di sana, kau akan menemukan ketenangan. Di sana, kau akan menemukan Pandan Wangi."
Kakek itu berbalik. Ia berjalan meninggalkan Sultan Hasan dan Jaya. Langkahnya ringan, seperti tidak menyentuh tanah.
"Tunggu!" teriak Sultan Hasan. "Siapa sebenarnya Bapak?"
Kakek itu tidak menoleh. Ia terus berjalan, semakin jauh, semakin kecil, hingga akhirnya lenyap di antara pepohonan.
Yang tersisa hanyalah bisikan di angin. Samar. Tapi jelas.
"Aku adalah engkau di masa depan. Aku adalah engkau yang sudah tua. Aku adalah engkau yang sudah lelah dengan dunia. Aku adalah engkau yang memilih hidup di pinggir hutan, merenung, menunggu, mengingatkan dirimu sendiri. Jagalah hatimu, Sultan Hasan. Jangan biarkan ia mati sebelum waktunya."
Sultan Hasan terdiam.
Jaya juga terdiam.
Mereka berdua memandang ke arah kakek itu menghilang.
"Apakah itu tadi... kakek sungguhan?" bisik Jaya.
"Aku tidak tahu," kata Sultan Hasan. "Mungkin ia hantu. Mungkin ia jin. Mungkin ia halusinasi karena kita kelaparan. Atau mungkin..."
"Mungkin apa?"
"Mungkin ia benar. Mungkin ia adalah aku di masa depan. Yang kembali ke masa lalu untuk mengingatkanku."
Jaya menghela napas panjang. "Aku tidak mengerti apa-apa. Yang aku tahu, perutku kenyang setelah makan mangga. Dan itu sudah cukup."
Sultan Hasan tersenyum. Ia berdiri. "Ayo, kita lanjutkan perjalanan."
Mereka berdua berjalan meninggalkan pohon beringin itu. Meninggalkan tempat pertemuan dengan kakek misterius.
Di jari manis Sultan Hasan, batu akik merah berdenyut pelan. Hangat.
"Kau percaya itu aku di masa depan?" bisik batu itu.
"Aku tidak tahu. Mungkin. Mungkin tidak."
"Yang penting, pesannya benar. Kau harus kembali ke telaga. Suatu hari."
"Iya. Aku akan kembali. Tapi tidak sekarang. Sekarang aku harus ke ibu kota. Ada yang harus aku selesaikan."
Batu itu berdenyut sekali lagi. Lalu meredup.
Seolah setuju.
Mereka tiba di ibu kota keesokan harinya.
Gudang beras tempat mereka bekerja masih ada. Tuan Abdullah masih baik hati. Ia menerima mereka kembali dengan tangan terbuka.
"Kau sudah menyelesaikan urusan di kampung?" tanyanya.
"Sudah, Tuan."
"Bagus. Sekarang kembali bekerja. Banyak beras yang harus diangkut."
Sultan Hasan dan Jaya kembali ke rutinitas mereka. Pagi-pagi pergi ke gudang, mengangkut karung-karung beras, sore hari pulang ke kamar kontrakan, istirahat, tidur, lalu bangun lagi keesokan harinya.
Hidup berjalan seperti biasa.
Tapi tidak biasa bagi Sultan Hasan.
Ia terus memikirkan tentang kakek misterius di pinggir hutan. Tentang kata-katanya: "Kembalilah ke telaga." Tentang Pandan Wangi. Tentang cinta yang tidak harus memiliki.
Ia juga memikirkan tentang pusaka di jarinya. Tentang batu akik merah yang selalu berdenyut, selalu hangat, selalu setia menemaninya.
"Kau tidak perlu bingung," bisik batu itu suatu malam, saat Sultan Hasan terjaga sendirian di kamar kontrakannya. Jaya sudah tertidur pulas di sampingnya.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Sultan Hasan.
"Ikuti kata hatimu. Bukan kata otakmu. Otak bisa salah. Hati tidak pernah."
"Ikuti kata hati. Kata hati mengatakan aku harus kembali ke telaga. Tapi aku tidak bisa sekarang."
"Maka tunggu. Bersabar. Waktu akan membawamu ke sana. Pada saat yang tepat. Pada saat yang indah."
"Kapan?"
"Kau akan tahu."
Sultan Hasan menghela napas. Ia memejamkan mata.
Ia berdoa. Untuk Pandan Wangi. Untuk Mak Umi. Untuk Nini Mas Intan. Untuk Ki Ageng Jagaraga. Untuk Mardjo. Untuk semua yang pernah berjasa dalam hidupnya.
Kemudian ia tertidur.
Malam itu, ia tidak bermimpi tentang Pandan Wangi.
Ia bermimpi tentang telaga. Airnya jernih. Dasarnya terlihat. Tanaman air bergoyang-goyang ditarik arus yang lembut.
Tapi Pandan Wangi tidak ada.
Hanya telaga kosong.
Sunyi.
Menunggu.
Seperti hati Sultan Hasan yang sedang menunggu.
Menunggu waktu yang tepat.
Menunggu saat yang indah.
Menunggu untuk kembali.
BAB XXVI
Sampai di Kota Pelabuhan
Tiga tahun lagi berlalu.
Sultan Hasan dan Jaya kini berusia delapan belas tahun. Usia di mana anak laki-laki mulai dianggap dewasa. Usia di mana mereka harus memikirkan masa depan. Usia di mana mereka harus menentukan pilihan.
Tiga tahun bekerja di gudang beras milik Tuan Abdullah telah membuat mereka sedikit mapan. Tabungan mereka cukup untuk menyewa rumah yang lebih layak: sebuah rumah kayu kecil di pinggiran kota, dengan dua kamar tidur, ruang tamu, dan dapur kecil. Bukan rumah mewah. Tapi cukup untuk mereka berdua.
Tapi Sultan Hasan merasa ada yang tidak beres. Ia tidak bahagia. Bekerja di gudang beras, mengangkut karung-karung beras dari kapal ke gudang dan dari gudang ke kapal, bukanlah panggilan jiwanya. Ia ingin lebih. Ia ingin melakukan sesuatu yang berarti. Ia ingin menjadi seseorang yang berguna bagi banyak orang.
"Kau ingin jadi apa?" tanya Jaya suatu malam, saat mereka duduk di beranda rumah mereka, menikmati angin malam yang sejuk.
"Aku tidak tahu," kata Sultan Hasan jujur. "Aku hanya tahu, aku tidak bisa terus begini. Mengangkut beras sampai tua. Tidak ada artinya."
"Arti itu relatif, Hasan. Bagi Tuan Abdullah, mengangkut beras itu artinya bisnis. Bagi keluarganya, mengangkut beras itu artinya rezeki. Bagi kita, mengangkut beras itu artinya hidup."
"Tapi hidup tidak hanya tentang makan dan tidur, Jaya. Ada yang lebih dari itu."
"Seperti apa?"
Sultan Hasan terdiam. Ia memandang langit malam yang gelap. Bintang-bintang bertaburan, seperti beras yang ditumpahkan.
"Seperti membantu orang. Seperti menolong yang lemah. Seperti membela yang tertindas. Seperti menjadi... penjaga."
"Penjaga apa?"
"Penjaga hati. Seperti yang diajarkan Nini Mas Intan. Seperti yang diajarkan Pandan Wangi. Seperti yang diajarkan Ki Ageng Jagaraga."
Jaya menghela napas panjang. "Kau masih saja dengan penjaga hati itu. Sudah bertahun-tahun kau meninggalkan telaga. Sudah bertahun-tahun kau tidak bertemu Pandan Wangi. Apakah kau tidak lupa?"
"Aku tidak bisa lupa, Jaya. Setiap malam, aku memimpikannya. Setiap saat, aku merindukannya. Setiap denyut batu di jariku, mengingatkanku padanya."
"Kau jatuh cinta, Hasan. Itu sudah jelas. Tapi cinta tidak harus memiliki. Kau bisa mencintai seseorang tanpa harus bersamanya. Kau bisa mendoakannya dari kejauhan."
"Apakah itu cukup?"
"Tidak ada yang cukup di dunia ini, Hasan. Manusia selalu menginginkan lebih. Tapi kadang, kita harus bersyukur dengan apa yang kita punya. Kau punya aku. Kau punya rumah ini. Kau punya pekerjaan. Kau punya tabungan. Itu sudah lebih dari cukup."
Sultan Hasan tersenyum. Ia menepuk pundak Jaya.
"Kau sahabat yang baik, Jaya. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan tanpa kau."
"Kau akan mati kelaparan di emperan toko," kata Jaya tertawa.
Mereka berdua tertawa. Tawa yang lepas. Tawa yang melupakan sejenak beban hidup.
Suatu pagi, Tuan Abdullah memanggil Sultan Hasan ke kantornya.
"Sultan," katanya, "aku punya tawaran untukmu."
"Apa itu, Tuan?"
"Aku punya sahabat di kota pelabuhan. Namanya Tuan Salim. Ia saudagar kaya, pemilik puluhan kapal. Ia butuh anak muda yang cerdas dan jujur untuk menjadi kepercayaannya. Aku sudah merekomendasikanmu."
Sultan Hasan terkejut. "Tuan... aku tidak pantas. Aku hanya kuli angkut."
"Kau bukan hanya kuli angkut, Sultan. Aku sudah mengamatimu selama tiga tahun. Kau pekerja keras. Kau jujur. Kau tidak pernah mencuri. Kau tidak pernah berbohong. Kau juga pintar. Aku dengar kau bisa membaca dan menulis. Kau juga hafal Al-Qur'an. Itu lebih dari cukup."
"Apa pekerjaannya nanti, Tuan?"
"Mengelola gudang. Menghitung barang. Berurusan dengan pedagang asing. Mungkin juga mengantar pesanan ke luar kota. Gajinya tiga kali lipat dari yang kau terima sekarang."
Sultan Hasan menarik napas. Tiga kali lipat. Itu banyak. Itu bisa mengubah hidupnya. Ia bisa membeli rumah yang lebih baik. Ia bisa membantu Lastri yang masih sendiri di Kota Prapatan. Ia bisa menyumbang untuk anak-anak yatim.
Tapi ia juga harus meninggalkan Kota Rajapura. Meninggalkan rumah yang sudah ia tempati tiga tahun. Meninggalkan rutinitas yang sudah ia jalani.
Dan yang paling penting, ia harus meninggalkan Jaya.
"Bagaimana dengan Jaya?" tanyanya.
"Jaya boleh ikut. Aku juga butuh anak muda sepertinya."
Sultan Hasan menghela napas lega. "Baik, Tuan. Aku terima."
"Bagus. Besok kau berangkat. Aku sudah menyiapkan surat untuk Tuan Salim."
Perjalanan ke kota pelabuhan memakan waktu lima hari.
Kota itu bernama Bandar Cendana. Kota pelabuhan terbesar di Kerajaan Nusantara. Kapal-kapal besar dari berbagai negara bersandar di dermaganya. Pedagang-pedagang dari Tiongkok, India, Arab, dan Eropa berjualan di pasar-pasarnya. Bahasanya campur aduk. Bajunya warna-warni. Wajahnya beragam.
Sultan Hasan belum pernah melihat keragaman seperti ini. Matanya berbinar. Jaya juga sama.
"Ini... luar biasa," bisik Jaya.
"Ini dunia," kata Sultan Hasan.
Mereka berdua masuk ke dalam kota. Mencari rumah Tuan Salim.
Tuan Salim adalah saudagar kaya. Rumahnya besar, bertingkat dua, dengan halaman yang luas dan taman yang indah. Di depan rumah, dua penjaga berdiri dengan gagah, memegang tombak.
Sultan Hasan menunjukkan surat dari Tuan Abdullah. Penjaga itu membacanya (ia bisa membaca), lalu mengangguk. "Masuk. Tuan Salim sudah menunggu."
Tuan Salim adalah lelaki paruh baya, gemuk, dengan janggut tebal dan kumis yang dirapikan. Ia memakai pakaian Arab: jubah putih dan sorban. Matanya cekung, tapi tajam.
"Kau Sultan Hasan?" tanyanya dengan suara berat.
"Iya, Tuan."
"Aku sudah dengar banyak tentang kau dari Tuan Abdullah. Katanya kau pekerja keras. Jujur. Pintar. Aku butuh orang sepertimu."
"Terima kasih, Tuan. Aku akan berusaha sebaik mungkin."
"Bagus. Sekarang, ikut aku. Aku akan tunjukkan gudang dan kapal-kapal."
Gudang Tuan Salim sangat besar. Lebih besar dari sepuluh gudang Tuan Abdullah digabungkan. Di dalamnya, bertumpuk karung-karung beras, gula, kopi, rempah-rempah, dan kain. Juga peti-peti kayu berisi barang-barang dari luar negeri.
"Ini gudang utama," kata Tuan Salim. "Kau akan bertanggung jawab di sini. Mencatat barang masuk dan keluar. Memastikan tidak ada yang hilang. Menjaga kualitas. Kau bisa?"
"Saya bisa, Tuan."
"Bagus. Jaya, kau akan membantu Sultan. Kau juga harus belajar. Jangan cuma jadi kuli angkut terus."
"Iya, Tuan," kata Jaya.
Mereka mulai bekerja keesokan harinya.
Hari-hari berlalu. Bulan-bulan berganti.
Sultan Hasan belajar dengan cepat. Ia hafal semua jenis barang. Ia hafal harga. Ia hafal nama-nama pedagang. Ia juga belajar bahasa asing: sedikit bahasa Arab, sedikit bahasa Tionghoa, sedikit bahasa Inggris. Cukup untuk berkomunikasi.
Tuan Salim semakin percaya padanya. Ia sering mengajak Sultan Hasan berunding tentang bisnis. Kadang ia menitipkan pesan penting. Kadang ia meminta Sultan Hasan mewakilinya dalam pertemuan dengan pedagang asing.
"Kau punya bakat," kata Tuan Salim suatu hari. "Kau tidak hanya pekerja keras. Kau juga cerdas. Aku akan promosikan kau menjadi manajer."
"Terima kasih, Tuan," kata Sultan Hasan.
"Tapi ingat," Tuan Salim menatap matanya tajam. "Jangan khianati kepercayaanku. Aku benci pengkhianat."
"Saya tidak akan pernah mengkhianati Tuan," kata Sultan Hasan.
Tuan Salim tersenyum. "Aku percaya padamu."
Sultan Hasan menjadi kaya.
Bukan kaya seperti Tuan Salim. Tapi cukup untuk hidup layak. Ia membeli rumah kecil di dekat pantai. Bukan rumah mewah. Tapi nyaman. Dari beranda rumahnya, ia bisa melihat laut. Ia bisa mendengar debur ombak. Ia bisa mencium bau garam.
Ia juga mengirim uang untuk Lastri setiap bulan. Lastri sekarang hidup lebih layak di Kota Prapatan. Ia tidak perlu bekerja keras. Ia bisa istirahat di hari tua.
Jaya tetap bersamanya. Mereka berdua masih tinggal satu rumah. Jaya belum menikah. Sultan Hasan juga belum.
"Dua pemuda tampan, kaya, tapi tidak punya istri," canda Jaya suatu hari. "Orang-orang akan mengira kita aneh."
"Biarkan mereka," kata Sultan Hasan. "Aku belum siap menikah. Masih banyak yang harus aku kerjakan."
"Seperti apa?"
"Seperti membantu orang miskin. Seperti menyumbang untuk panti asuhan. Seperti membangun masjid. Seperti menjadi penjaga hati."
Jaya menghela napas. "Kau masih saja dengan penjaga hati itu. Sudah bertahun-tahun kau tinggalkan telaga. Apa kau tidak bosan?"
"Aku tidak bosan, Jaya. Sebaliknya, aku semakin yakin. Bahwa inilah panggilanku. Menjaga hati. Membantu sesama. Menjadi berguna bagi orang lain."
Jaya tidak menjawab. Ia hanya tersenyum.
Ia bangga pada Sultan Hasan. Sahabatnya itu tidak berubah. Meski kaya, meski sukses, ia tetap rendah hati. Tetap baik. Tetap peduli pada orang lain.
"Kau memang penjaga hati," kata Jaya akhirnya. "Penjaga hati yang baik."
Sultan Hasan tersenyum. Ia memandang cincin di jarinya. Batu akik merah itu berdenyut pelan. Hangat.
"Kau hebat," bisik batu itu. "Aku bangga menjadi pusakamu."
"Terima kasih," bisik Sultan Hasan balik.
Ia memandang ke timur. Ke arah Dukuh Wangi. Ke arah telaga. Ke arah Pandan Wangi.
"Suatu hari," bisiknya. "Aku akan kembali. Aku janji."
Di kejauhan, meski tidak mungkin, ia mendengar suara burung hantu. Samar. Tapi jelas.
Sekali. Pendek.
Seperti jawaban: "Aku menunggumu."
Sultan Hasan tersenyum. Ia masuk ke dalam rumah.
Bersama Jaya, ia makan malam. Ia tertawa. Ia bercerita tentang masa lalu, tentang Dukuh Wangi, tentang telaga, tentang Pandan Wangi.
Jaya mendengarkan. Kadang tertawa. Kadang menggeleng.
Mereka adalah saudara. Bukan saudara sedarah. Tapi saudara seperjuangan.
Dan itu sudah cukup.
BAB XXVII
Belajar Silat: Pendekar Tua Membelanya Saat Ia Dipukuli
Empat tahun Sultan Hasan tinggal di Bandar Cendana. Empat tahun yang penuh dengan kesuksesan, kekayaan, dan ketenaran. Namanya dikenal sebagai manajer kepercayaan Tuan Salim. Ia disegani oleh pedagang-pedagang lain. Ia dihormati oleh para pekerjanya. Ia juga disukai oleh para tetangganya karena kebaikan hatinya.
Tapi ketenaran juga menarik iri hati.
Ada seorang saudagar lain di Bandar Cendana, namanya Tuan Mahmud. Ia adalah pesaing bisnis Tuan Salim. Selama bertahun-tahun, ia berusaha menjatuhkan Tuan Salim, tapi selalu gagal. Kini, dengan adanya Sultan Hasan yang cerdas dan jujur, usaha Tuan Mahmud semakin terhambat.
"Anak itu harus disingkirkan," kata Tuan Mahmud pada anak buahnya. "Kalau tidak, kita tidak akan pernah bisa mengalahkan Tuan Salim."
Anak buahnya mengangguk. Mereka merencanakan sesuatu.
Suatu malam, saat Sultan Hasan sedang berjalan pulang sendirian dari gudang (Jaya sedang sakit, tidak bisa menemaninya), sekelompok lelaki menghadangnya di gang sempit.
"Kau Sultan Hasan?" tanya pemimpin mereka, seorang laki-laki botak dengan tubuh kekar dan wajah penuh bekas luka.
"Siapa yang bertanya?" jawab Sultan Hasan tenang.
"Kami utusan Tuan Mahmud. Ada pesan untukmu: Tinggalkan kota ini. Atau kau akan celaka."
"Aku tidak akan pergi. Aku punya pekerjaan di sini. Aku punya tanggung jawab."
"Kau sudah diperingatkan."
Pemimpin botak itu mengayunkan tinjunya ke wajah Sultan Hasan. Sultan Hasan mencoba menghindar, tapi ia tidak cukup cepat. Tinju itu mengenai pipi kirinya. Ia tersungkur ke tanah.
Laki-laki botak itu tertawa. "Rupanya kau tidak bisa berkelahi. Manajer hebat, tapi babak belur dalam hitungan detik."
Mereka terus memukuli Sultan Hasan. Tendangan. Tinju. Pukulan. Sultan Hasan berusaha melindungi kepalanya dengan kedua tangan, tapi ia tidak bisa berbuat banyak. Ia tidak pandai berkelahi. Silat yang diajarkan Ki Ageng Jagaraga dulu sudah lama tidak ia latih.
"Bangun!" bisik batu akik merah di jarinya. Panas. Sangat panas. "Lawan mereka!"
Tapi Sultan Hasan tidak bisa. Tubuhnya lemas. Rasa sakit di sekujur tubuhnya membuatnya sulit bergerak.
Di tengah pukulan dan tendangan itu, tiba-tiba terdengar suara lantang.
"BERHENTI!"
Semua orang menoleh.
Seorang lelaki tua berdiri di ujung gang. Tinggi. Kekar meski usianya sudah tidak muda. Rambutnya putih semua, disanggul rapi di atas kepala. Jenggotnya putih, panjang hingga ke dada. Ia memakai pakaian hitam, seperti pendekar. Di pinggangnya, terselip sebilah pedang lurus.
"Kalian berani memukuli seorang pemuda sendirian?" suaranya menggelegar. "Awas, aku akan habisi kalian semua!"
Laki-laki botak itu tertawa. "Kakek-kakek mau ikut campur? Kau pikir kau masih muda? Pergi sana, sebelum kau kena batunya!"
Pendekar tua itu tersenyum. Tanpa banyak bicara, ia melompat. Gerakannya cepat. Sangat cepat. Secepat kilat. Dalam hitungan detik, tiga orang anak buah Tuan Mahmud sudah tergeletak di tanah, mengaduh kesakitan. Laki-laki botak itu sendiri terpental ke belakang, mukanya babak belur.
"Kakek... kakek siapa?" tanya laki-laki botak itu dengan suara gemetar.
"Namaku tidak penting," kata pendekar tua itu. "Yang penting, kalian cabut dari sini. Jangan pernah kembali. Atau kalian akan merasakan pedangku."
Laki-laki botak itu tidak perlu didorong dua kali. Ia dan anak buahnya berhamburan lari, meninggalkan Sultan Hasan yang masih tergeletak di tanah.
Pendekar tua itu berjongkok di samping Sultan Hasan. "Kau tidak apa-apa?"
"Aku... aku tidak apa-apa," kata Sultan Hasan sambil terhuyung bangkit.
"Kau berbohong. Mukamu babak belur. Pipimu biru. Bibirmu berdarah. Tapi kau keras kepala. Aku suka."
"Siapa Bapak? Kenapa Bapak menolongku?"
Pendekar tua itu tersenyum. "Aku Kyai Buyut Cakar Mase. Aku dulu panglima perang kerajaan. Sekarang aku sudah pensiun. Aku tinggal di gunung, di sebelah timur kota. Aku suka berjalan-jalan malam. Dan malam ini, aku melihat sekelompok pengecut memukuli seorang pemuda sendirian. Aku tidak suka ketidakadilan."
"Terima kasih, Kyai."
"Jangan berterima kasih. Kau bisa berkelahi? Dari gerakanmu tadi, kelihatannya kau punya dasar silat. Tapi sudah lama tidak kau latih, sehingga gerakanmu kaku."
Sultan Hasan terkejut. "Kyai bisa melihat itu?"
"Aku panglima perang, Nak. Aku sudah melatih ribuan prajurit. Aku bisa menilai kemampuan seseorang hanya dengan melihat gerakannya selama tiga detik."
"Benar, Kyai. Aku belajar silat dulu, dari seorang pertapa di hutan. Namanya Ki Ageng Jagaraga. Tapi sudah bertahun-tahun aku tidak berlatih. Aku sibuk dengan pekerjaan."
"Ki Ageng Jagaraga?" Kyai Buyut Cakar Mase mengerutkan kening. "Aku kenal dia. Kami dulu pernah bertempur bersama melawan penjajah. Ia pendekar yang hebat. Ilmunya tidak main-main. Sayang ia memilih mengasingkan diri."
"Kyai kenal Ki Ageng?"
"Kenal. Tapi itu cerita lama. Sekarang, bagaimana denganmu? Kau mau terus jadi korban? Atau kau mau belajar membela diri?"
Sultan Hasan terdiam. Ia memandang Kyai Buyut Cakar Mase. Lelaki tua itu tinggi besar, meski usianya sudah tidak muda. Matanya tajam. Tangannya kekar. Ada aura kewibawaan yang memancar dari dirinya.
"Aku mau belajar, Kyai," kata Sultan Hasan akhirnya.
"Bagus. Tapi aku tidak bisa mengajar gratis. Ada syaratnya."
"Apa syaratnya, Kyai?"
"Kau harus menjadi murid yang setia. Tidak bolos. Tidak malas. Tidak mengeluh. Dan yang paling penting: ilmu yang kau dapat, harus kau gunakan untuk membela kebenaran, bukan untuk kesombongan."
"Aku siap, Kyai."
"Bagus. Besok pagi, sebelum matahari terbit, kau datang ke gunung. Ke tempat tinggalku. Aku akan tunjukkan jalannya. Jangan telat."
"Baik, Kyai."
Kyai Buyut Cakar Mase berbalik. Ia berjalan meninggalkan gang sempit itu, melangkah perlahan, dengan penuh wibawa.
Sultan Hasan memandangnya sampai lenyap di kegelapan malam.
Di jari manisnya, batu akik merah berdenyut kencang. Hangat.
"Kau beruntung," bisik batu itu. "Kyai itu pendekar hebat. Belajarlah dengan sungguh-sungguh."
"Aku akan," bisik Sultan Hasan balik.
Ia memijat pipinya yang biru. Sakit. Tapi tidak terlalu parah.
Ia berjalan pulang, perlahan-lahan.
Jaya yang sedang terbaring sakit di rumah, terkejut melihat wajah Sultan Hasan yang babak belur. "Ada apa? Siapa yang memukulimu?"
"Utusan Tuan Mahmud. Mereka memperingatkanku untuk meninggalkan kota."
"Tuan Mahmud? Saudagar pesaing Tuan Salim? Kenapa ia berani?"
"Aku tidak tahu. Tapi aku tidak akan pergi. Aku akan melawan."
"Kau tidak bisa berkelahi, Hasan! Kau akan mati!"
"Mulai besok, aku akan belajar silat. Ada pendekar tua yang mau mengajariku."
Jaya terdiam. Ia memandang Sultan Hasan. Matanya berkaca-kaca.
"Kau serius?"
"Aku serius."
"Baiklah. Tapi hati-hati. Jangan sampai kau celaka."
"Aku akan hati-hati."
Esok paginya, sebelum matahari terbit, Sultan Hasan sudah berada di gunung.
Kyai Buyut Cakar Mase tinggal di sebuah padepokan kecil. Bangunannya sederhana: beberapa pondok kayu, sebuah balai latihan, dan sebuah sumur. Di halaman, tersusun rapi berbagai macam senjata: pedang, tombak, keris, bambu runcing.
"Kau datang," kata Kyai Buyut Cakar Mase yang sudah duduk di balai latihan. "Tepat waktu. Bagus."
"Aku sudah berjanji, Kyai."
"Sebelum mulai, aku mau tanya: kenapa kau ingin belajar silat? Untuk balas dendam pada Tuan Mahmud? Atau untuk melindungi diri?"
"Untuk melindungi diri. Dan untuk melindungi orang lain."
"Orang lain? Siapa?"
"Teman-temanku. Keluargaku. Siapa pun yang tidak bisa melindungi dirinya sendiri."
Kyai Buyut Cakar Mase tersenyum. "Jawaban yang baik. Aku terima kau sebagai murid."
Ia berdiri. "Sekarang, kita mulai. Aku akan mengajarimu jurus dasar dulu. Perhatikan gerakanku."
Kyai Buyut Cakar Mase bergerak. Lambat pada awalnya. Kemudian semakin cepat. Tangannya berputar. Kakinya melangkah. Tubuhnya berputar. Semua gerakannya indah, mengalir seperti air.
Sultan Hasan memperhatikan dengan saksama. Ia berusaha mengingat setiap gerakan.
"Sekarang, kau coba."
Sultan Hasan mencoba menirukan. Kaku. Tersendat-sendat. Tidak ada bandingannya dengan Kyai.
"Kau sudah lama tidak berlatih," kata Kyai. "Tapi dasarnya masih ada. Otot-ototmu masih ingat gerakan-gerakan itu. Hanya perlu diasah lagi."
"Berapa lama aku harus berlatih, Kyai?"
"Tergantung kemauanmu. Ada yang bisa menguasai jurus dasar dalam sebulan. Ada yang setahun. Ada yang sepuluh tahun. Tapi yang paling penting bukan kecepatan. Tapi ketekunan."
"Aku akan tekun, Kyai."
"Bagus. Sekarang, ulangi lagi. Sampai kau hafal."
Sultan Hasan mengulang. Lagi. Lagi. Lagi.
Sampai matahari naik tinggi. Sampai keringat membasahi seluruh tubuhnya. Sampai kakinya terasa lemas dan tangannya gemetar.
"Istirahat," kata Kyai. "Besok lanjut."
Sultan Hasan menghela napas lega. Ia duduk di tanah, melepaskan lelah.
"Kyai," katanya. "Boleh aku bertanya?"
"Tentu."
"Kenapa Kyai mau mengajariku? Kyai tidak kenal aku. Kyai tidak tahu latar belakangku."
Kyai Buyut Cakar Mase tersenyum. "Karena kau punya tanda di keningmu. Tanda penjaga."
Sultan Hasan terkejut. "Kyai tahu tentang tanda itu?"
"Aku tahu. Karena dulu, aku juga punya tanda yang sama."
Kyai Buyut Cakar Mase membuka rambutnya yang putih. Di keningnya, tepat di antara dua alis, ada sebuah tanda. Bulat. Kecil. Tapi warnanya sudah pudar. Hampir tidak terlihat.
Sama seperti Ki Ageng Jagaraga.
"Kyai juga penjaga hati?" tanya Sultan Hasan.
"Dulu. Tapi aku gagal. Aku terlalu sibuk dengan perang. Terlalu sibuk dengan kekuasaan. Aku lupa bahwa tugas utama penjaga hati adalah menjaga hati. Bukan menjaga wilayah. Bukan menjaga kehormatan. Bukan menjaga kekayaan. Tapi menjaga hati."
"Lalu sekarang?"
"Sekarang aku sudah tua. Tandaku sudah hampir hilang. Aku sudah tidak layak disebut penjaga. Tapi aku masih bisa mengajar. Aku masih bisa mewariskan ilmu. Dan ketika aku melihat kau... dengan tanda di keningmu yang masih merah... aku tahu, kau adalah penerus. Kau adalah penjaga hati yang sesungguhnya."
Sultan Hasan tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya memandang Kyai Buyut Cakar Mase dengan perasaan campur aduk.
"Jangan kecewakan aku, Nak," kata Kyai. "Jaga hatimu. Jaga pusakamu. Jaga telagamu. Dan jangan ulangi kesalahanku."
"Aku tidak akan mengecewakan Kyai," kata Sultan Hasan.
"Bagus. Sekarang, pulanglah. Besok datang lagi. Dan jangan lupa bawa bekal untuk dua orang."
"Untuk siapa lagi, Kyai?"
"Untukmu dan untukku. Kau kira aku makan apa di sini? Daun?"
Sultan Hasan tersenyum. Ia ingat pada Ki Ageng Jagaraga yang dulu juga memintanya membawa bekal.
Ia berdiri. Ia membungkuk hormat.
"Selamat tinggal, Kyai."
"Selamat jalan, Nak."
Sultan Hasan berjalan pulang. Langkahnya ringan. Hatinya senang.
Ia akan belajar silat lagi. Ia akan menjadi pendekar. Ia akan membela kebenaran. Ia akan melindungi yang lemah.
Ia akan menjadi penjaga hati yang sesungguhnya.
Di jari manisnya, batu akik merah berdenyut pelan. Hangat.
"Kau hebat," bisik batu itu. "Aku bangga menjadi pusakamu."
Sultan Hasan tersenyum. Ia memandang ke timur. Ke arah Dukuh Wangi. Ke arah telaga. Ke arah Pandan Wangi.
"Suatu hari," bisiknya. "Aku akan kembali."
Di kejauhan, meski tidak mungkin, ia mendengar suara burung hantu. Samar. Tapi jelas.
Sekali. Pendek.
Seperti jawaban: "Aku menunggumu."
BAB XXVIII
Malam di Gudang Tua: Menemukan Kitab Tujuh Penjaga
Tiga bulan Sultan Hasan berlatih silat di bawah bimbingan Kyai Buyut Cakar Mase. Tiga bulan yang penuh dengan keringat, rasa sakit, dan kepuasan. Tubuhnya yang sempat kaku karena bertahun-tahun tidak berlatih, kini mulai lentur kembali. Gerakannya yang dulu tersendat-sendat, kini mulai mengalir seperti air. Otot-ototnya yang sempat kendur, kini mulai kekar kembali.
"Kau cepat belajar," kata Kyai Buyut Cakar Mase suatu hari. "Lebih cepat dari yang kuduga. Mungkin dalam setahun, kau sudah bisa mengalahkan kebanyakan pendekar di kota ini."
"Terima kasih, Kyai," kata Sultan Hasan. "Itu karena Kyai guru yang baik."
"Bukan karena aku. Tapi karena kau punya bakat. Dan karena pusaka di jarimu membantumu."
Sultan Hasan memandang cincin batu akik merah di jarinya. Batu itu berdenyut pelan. Hangat.
"Aku hanya membantu sedikit," bisik batu itu. "Yang utama adalah kemauanmu sendiri."
"Pusakamu bisa bicara?" tanya Kyai Buyut Cakar Mase.
Sultan Hasan terkejut. "Kyai bisa mendengarnya?"
"Tidak. Tapi aku bisa melihat dari reaksi wajahmu. Pusakamu sedang bicara padamu, kan?"
"Iya, Kyai."
"Kau beruntung. Tidak semua pemilik pusaka bisa mendengar suara pusakanya. Itu tanda bahwa kau dipilih. Itu tanda bahwa kau memang penjaga hati sejati."
Kyai Buyut Cakar Mase berdiri. Ia berjalan ke dalam pondoknya, lalu keluar lagi dengan membawa sebuah benda yang dibungkus kain hitam.
"Ini untukmu," katanya sambil menyerahkan bungkusan itu.
"Apa ini, Kyai?"
"Buka saja."
Sultan Hasan membuka bungkusan itu. Di dalamnya, ada sebuah kitab. Tebal. Sampulnya dari kulit, sudah usang, penuh dengan goresan dan bekas air. Halamannya dari kertas kuning kecokelatan, berbau apek. Di sampulnya, tertera tulisan dalam aksara Jawa kuno.
"Kitab Tujuh Penjaga," baca Sultan Hasan. "Apa ini, Kyai?"
"Kitab itu adalah kitab suci bagi para penjaga hati. Berisi ajaran-ajaran tentang bagaimana menjaga hati, bagaimana mengendalikan emosi, bagaimana menaklukkan nafsu, bagaimana mencintai dengan tulus. Kitab itu ditulis oleh tujuh orang penjaga hati yang hidup ribuan tahun lalu. Mereka mengumpulkan semua pengalaman mereka, semua kegagalan mereka, semua keberhasilan mereka, lalu menuliskannya dalam kitab ini."
"Kenapa Kyai memberikannya padaku?"
"Karena kau adalah penjaga hati sekarang. Kitab itu harus kau jaga. Kau pelajari. Kau amalkan. Dan suatu hari nanti, kau wariskan pada generasi berikutnya."
Sultan Hasan memegang kitab itu dengan hormat. Telapak tangannya bergetar.
"Tapi Kyai," katanya. "Aku tidak bisa membaca aksara Jawa kuno. Aku hanya bisa membaca aksara biasa."
"Kau bisa belajar. Aku akan mengajarimu. Setiap malam, sepuluh halaman. Aku akan membacakan, kau akan mendengarkan. Aku akan menjelaskan, kau akan memahami."
"Terima kasih, Kyai."
"Jangan berterima kasih dulu. Mulai malam ini, kau akan belajar. Siapkan hatimu. Karena ajaran dalam kitab ini tidak mudah. Kadang menyakitkan. Kadang membingungkan. Tapi jika kau bisa memahaminya, kau akan menjadi penjaga hati yang sesungguhnya."
Malam itu, di pondok kecil Kyai Buyut Cakar Mase, Sultan Hasan memulai pelajaran pertamanya tentang Kitab Tujuh Penjaga.
Kyai Buyut Cakar Mase membuka halaman pertama. Halaman itu hanya berisi satu kalimat. Ditulis dengan aksara yang indah, penuh dengan hiasan.
"Bacakan, Kyai," kata Sultan Hasan.
Kyai itu mulai membaca. Suaranya berat, dalam, bergema di dalam pondok yang sunyi.
"Penjaga hati bukanlah orang yang tak pernah terluka. Tapi orang yang lukanya tidak membuatnya lupa mencintai."
Sultan Hasan terkesiap. Kalimat itu persis seperti yang pernah diajarkan Pandan Wangi dulu, di tepi telaga, di malam purnama.
"Aku pernah mendengar kalimat ini, Kyai," katanya. "Dari seorang teman. Di telaga."
Kyai Buyut Cakar Mase mengangguk. "Kalimat itu adalah kalimat pembuka kitab ini. Setiap penjaga hati harus menghafalnya. Karena di dalam kalimat itu, terkandung seluruh ajaran tentang menjaga. Tidak terlalu keras. Tidak terlalu lemah. Seimbang. Seperti napas."
Kyai itu melanjutkan membaca. Halaman demi halaman. Bab demi bab.
Sultan Hasan mendengarkan dengan saksama. Matanya tidak berkedip. Hatinya terbuka lebar. Setiap kata masuk ke dalam jiwanya seperti air yang meresap ke tanah kering.
Kitab itu mengajarkan tentang tujuh tingkatan menjaga:
Tingkat pertama: Menjaga hati sendiri. Yaitu dengan mengendalikan emosi, tidak membiarkan amarah menguasai diri, tidak membiarkan kesedihan melumpuhkan jiwa.
Tingkat kedua: Menjaga hati orang yang dicintai. Yaitu dengan setia, dengan jujur, dengan tidak menyakiti, dengan tidak mengkhianati.
Tingkat ketiga: Menjaga hati keluarga. Yaitu dengan berbakti pada orang tua, menyayangi saudara, mendidik anak dengan kasih sayang.
Tingkat keempat: Menjaga hati tetangga dan sahabat. Yaitu dengan tolong-menolong, dengan tidak iri hati, dengan tidak menggunjing.
Tingkat kelima: Menjaga hati masyarakat. Yaitu dengan berlaku adil, dengan membela yang lemah, dengan menegakkan kebenaran.
Tingkat keenam: Menjaga hati musuh. Yaitu dengan memaafkan, dengan tidak membalas dendam, dengan mengubah kebencian menjadi kasih.
Tingkat ketujuh: Menjaga hati alam semesta. Yaitu dengan merawat lingkungan, dengan tidak merusak, dengan hidup selaras dengan alam.
"Tujuh tingkatan itu," kata Kyai Buyut Cakar Mase, "harus kau lalui satu per satu. Tidak bisa melompat. Karena setiap tingkat mempersiapkanmu untuk tingkat berikutnya."
"Aku sudah berada di tingkat berapa, Kyai?" tanya Sultan Hasan.
"Kau sudah melewati tingkat pertama, kedua, dan mungkin ketiga. Tapi tingkat keempat, kelima, keenam, dan ketujuh, masih panjang. Masih banyak yang harus kau pelajari."
"Aku akan belajar, Kyai. Aku tidak akan berhenti."
"Aku tahu. Karena kau adalah penjaga hati."
Malam-malam berikutnya, Sultan Hasan terus belajar. Setiap habis berlatih silat, ia duduk di pondok Kyai Buyut Cakar Mase, membuka Kitab Tujuh Penjaga, mempelajari ajaran demi ajaran.
Jaya kadang ikut. Kadang tidak. Jaya tidak seantusias Sultan Hasan dalam hal-hal spiritual. Tapi ia tetap mendukung sahabatnya.
"Kau berubah," kata Jaya suatu hari. "Sejak belajar kitab itu, matamu berbeda. Ada cahaya di sana. Cahaya yang tidak pernah aku lihat sebelumnya."
"Mungkin karena aku menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku," kata Sultan Hasan. "Tentang hidup. Tentang cinta. Tentang menjaga."
"Kau sudah menemukan jawaban tentang Pandan Wangi?"
Sultan Hasan tersenyum. "Aku menemukan bahwa cinta tidak harus memiliki. Cinta bisa dengan mendoakan. Cinta bisa dengan menjaga hati. Cinta bisa dengan menjadi orang yang lebih baik, karena ia pasti bangga melihatku."
Jaya mengangguk. "Itu jawaban yang dewasa. Aku bangga padamu, Hasan."
Mereka berdua tersenyum.
Suatu malam, Sultan Hasan bermimpi.
Dalam mimpinya, ia berdiri di perpustakaan tua. Rak-rak buku menjulang tinggi hingga ke langit-langit, penuh dengan kitab-kitab kuno. Debu beterbangan di mana-mana. Cahaya lilin yang temaram menerangi ruangan itu.
Di tengah ruangan, duduk tujuh orang lelaki dan perempuan. Usia mereka berbeda-beda. Ada yang masih muda, ada yang sudah tua. Ada yang berjanggut panjang, ada yang berambut gondrong. Mereka memakai pakaian dari berbagai zaman.
"Sultan Hasan," kata salah seorang dari mereka, seorang lelaki tua dengan jubah putih. "Kami adalah Tujuh Penjaga. Penulis kitab yang kau pelajari."
Sultan Hasan tercengang. "Kalian... masih hidup?"
"Roh kami masih hidup. Tubuh kami sudah mati ratusan tahun lalu. Tapi roh kami tetap ada, untuk menjaga kitab ini, dan untuk menjaga para penjaga yang membaca kitab ini."
"Kenapa aku bisa bermimpi bertemu kalian?"
"Karena kau sudah membaca kitab kami dengan sungguh-sungguh. Karena kau sudah menghafal ajaran-ajaran kami. Karena kau adalah penjaga hati yang sesungguhnya. Kami ingin memberimu pesan."
"Apa pesannya?"
Lelaki tua itu berdiri. Ia berjalan mendekati Sultan Hasan. Tangannya yang keriput menyentuh kening Sultan Hasan, tepat di tempat tanda merah itu berada.
"Jagalah telaga itu," bisiknya. "Jagalah Pandan Wangi. Ia adalah kunci dari segalanya. Tanpa dia, kau tidak akan pernah menjadi penjaga hati yang sempurna."
"Tapi aku sudah meninggalkan telaga itu. Aku sudah bertahun-tahun tidak kembali."
"Kau akan kembali. Pada waktunya. Pada saat yang tepat. Pada tempat yang tepat. Jangan khawatir."
Lelaki tua itu mundur. Ia kembali ke tempat duduknya.
"Selamat jalan, Sultan Hasan. Kami akan selalu menjagamu dari alam ini."
Kemudian mereka semua menghilang.
Sultan Hasan terbangun.
Ia duduk di tempat tidurnya. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Jaya tidur di sampingnya, tidak terganggu.
Ia memandang cincin di jarinya. Batu akik merah itu berdenyut kencang. Sangat kencang. Seperti jantung yang akan meledak.
"Kau melihat mereka?" bisik batu itu.
"Aku melihat mereka. Tujuh Penjaga."
"Mereka jarang muncul. Hanya pada penjaga hati pilihan."
"Kenapa mereka muncul padaku?"
"Karena kau sudah siap. Siap untuk tingkat berikutnya."
"Apa tingkat berikutnya?"
"Kembali ke telaga. Menyelesaikan apa yang belum selesai."
Sultan Hasan terdiam.
Ia memandang ke timur. Ke arah Dukuh Wangi. Ke arah telaga. Ke arah Pandan Wangi.
Mungkin sudah waktunya.
Mungkin sudah saatnya.
Mungkin sekarang.
Esok paginya, Sultan Hasan berbicara pada Jaya.
"Aku akan kembali ke Dukuh Wangi."
Jaya terkejut. "Kapan?"
"Segera. Mungkin besok. Atau lusa. Ada yang harus aku selesaikan di sana."
"Aku ikut."
"Kau yakin? Pekerjaanmu di sini?"
"Pekerjaan bisa dicari lagi. Tapi sahabat sepertimu, tidak."
Sultan Hasan tersenyum. Ia memeluk Jaya.
"Terima kasih, Jaya. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan tanpa kau."
"Kau akan mati kelaparan di emperan toko," kata Jaya tertawa.
Mereka berdua tertawa.
Mereka segera mengurus semua keperluan. Pamit pada Tuan Salim. Tuan Salim sedih kehilangan Sultan Hasan, tapi ia mengerti. "Kau harus menyelesaikan urusanmu," katanya. "Setelah selesai, kau bisa kembali. Pekerjaanmu masih menunggumu."
"Terima kasih, Tuan," kata Sultan Hasan.
Mereka juga pamit pada Kyai Buyut Cakar Mase. Kyai tua itu tersenyum. "Aku tahu kau akan pergi. Tanda di keningmu semakin merah akhir-akhir ini. Itu pertanda bahwa kau harus menyelesaikan misimu."
"Apa misiku, Kyai?"
"Kau akan tahu nanti."
Kyai Buyut Cakar Mase memberkati mereka. Ia memeluk Sultan Hasan. "Jagalah kitab itu. Jagalah pusakamu. Jagalah telagamu. Dan jagalah Pandan Wangi."
"Aku akan, Kyai."
Mereka berjalan meninggalkan padepokan. Menuju ke barat. Menuju Dukuh Wangi. Menuju telaga. Menuju Pandan Wangi.
Di belakang mereka, Kyai Buyut Cakar Mase berdiri di depan pondoknya, melambaikan tangan.
"Selamat jalan, penjaga hati," bisiknya. "Dunia menunggumu."
Di kejauhan, meski tidak mungkin, Sultan Hasan mendengar suara burung hantu. Samar. Tapi jelas.
Sekali. Pendek.
Seperti sambutan. Seperti panggilan. Seperti seruan untuk kembali ke rumah.
Sultan Hasan tersenyum. Ia melangkah.
Bersama Jaya, ia berjalan pulang.
BAB XXIX
Usia 17 Tahun: Badan Tegap, Paras Tampan, dan Jatuh Cinta
Perjalanan dari Bandar Cendana ke Dukuh Wangi memakan waktu tujuh hari.
Tujuh hari melewati hutan, melewati sungai, melewati bukit-bukit yang terjal. Tapi kali ini berbeda dengan perjalanan-perjalanan sebelumnya. Sultan Hasan dan Jaya tidak berjalan kaki seperti dulu. Mereka menyewa dua ekor kuda. Bukan kuda bagus. Tapi cukup untuk mempercepat perjalanan.
Mereka juga membawa bekal yang cukup. Roti, daging asin, keju, dan air dalam botol tanah. Tidak ada lagi cerita kelaparan di tengah hutan. Tidak ada lagi tidur di emperan toko. Mereka sudah bukan anak-anak miskin yang dulu. Mereka adalah pemuda kaya, sukses, dan terhormat.
Tapi di mata Sultan Hasan, semua kekayaan dan kesuksesan itu tidak ada artinya jika ia tidak bisa kembali ke telaga. Jika ia tidak bisa bertemu dengan Pandan Wangi. Jika ia tidak bisa menyelesaikan apa yang belum selesai.
"Kau gugup?" tanya Jaya, melihat Sultan Hasan termenung di atas kudanya.
"Sedikit," kata Sultan Hasan jujur.
"Kenapa gugup? Bukankah kau sudah sering bertemu Pandan Wangi dulu? Di telaga? Di mimpi?"
"Itu dulu. Sekarang aku sudah dewasa. Sekarang aku sudah berubah. Sekarang... aku tidak tahu bagaimana ia akan menerimaku."
"Kau tidak berubah, Hasan. Kau tetap Sultan Hasan yang dulu. Mungkin lebih kaya. Mungkin lebih sukses. Mungkin lebih tampan. Tapi hatimu tetap sama. Aku kenal kau."
"Apakah cukup?"
"Apa maksudmu?"
"Apakah cukup hanya hatiku yang tidak berubah? Sedangkan tubuhku sudah berubah. Wajahku sudah berubah. Usiaku sudah berubah. Apakah Pandan Wangi masih mau berteman denganku? Ataukah ia akan menganggapku orang asing?"
Jaya tidak menjawab. Ia tidak tahu jawabannya.
Mereka berdua terdiam. Hanya suara langkah kaki kuda dan kicauan burung yang menemani perjalanan.
Mereka tiba di Dukuh Wangi pada sore hari.
Desa itu berubah. Banyak rumah baru yang terbuat dari bata, bukan lagi dari bambu. Jalan setapak yang dulu becek sekarang sudah diaspal dengan batu. Masjid desa sudah diperbesar, dengan kubah hijau yang megah.
Tapi ada yang tidak berubah: pohon beringin tua di balai desa. Pohon asam di depan rumah Mak Umi (yang sekarang sudah roboh, tidak ada yang tinggal). Dan telaga larangan di timur desa.
Sultan Hasan dan Jaya tidak singgah di desa. Mereka langsung menuju telaga.
Perjalanan ke telaga memakan waktu setengah jam. Jalan setapaknya masih sama. Akar-akar pohon yang menjalar. Batu-batu berlumut. Suara air sungai yang mengalir.
Sultan Hasan berhenti di tepi hutan. Ia tidak berani melangkah lebih jauh. Jantungnya berdebar kencang. Tangannya gemetar.
"Kau tidak jadi?" tanya Jaya.
"Aku... aku takut."
"Takut apa? Pandan Wangi baik. Ia tidak akan menyakitimu."
"Aku bukan takut disakiti. Aku takut... ia tidak ada di sana."
Jaya tidak menjawab. Ia hanya menepuk pundak Sultan Hasan.
"Pergilah," katanya. "Aku tunggu di sini."
Sultan Hasan menarik napas panjang. Ia melangkah.
Menembus pepohonan. Menyusuri jalan setapak yang sudah tidak ia lewati selama bertahun-tahun.
Dan akhirnya, ia sampai.
Telaga itu masih sama. Airnya jernih. Dasarnya terlihat. Tanaman air bergoyang-goyang ditarik arus yang lembut. Bulan purnama bersinar terang, memantul di permukaan air, menciptakan ribuan titik berkilauan seperti berlian.
Batu hitam tempat ia biasa duduk bersama Pandan Wangi masih ada. Masih licin. Masih kokoh.
Tapi Pandan Wangi tidak ada.
Telaga itu kosong. Sunyi. Sepi.
Sultan Hasan duduk di batu hitam itu. Air matanya menetes.
"Pandan..." bisiknya. "Aku kembali. Aku sudah menepati janjiku. Tapi kau... kau di mana?"
Tidak ada jawaban.
Hanya angin malam yang berembus pelan, membawa wangi pandan. Samar. Tapi jelas.
Sultan Hasan menangis. Ia menangis seperti anak kecil. Ia menangis untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun.
"Pandan, jangan tinggalkan aku," bisiknya. "Aku tidak bisa hidup tanpamu."
Di tengah tangisnya, Sultan Hasan mendengar suara dari telaga.
Bukan suara manusia. Suara air. Suara riak-riak kecil yang semakin lama semakin keras.
Ia mengangkat kepalanya.
Air telaga beriak. Kecil pada awalnya. Kemudian semakin besar. Seperti ada sesuatu di bawah sana yang bangun dari tidur panjang.
Dan dari tengah telaga, seorang perempuan muncul.
Ia berjalan di atas air. Perlahan. Anggun. Seperti penari.
Ia tidak lagi kecil. Ia dewasa. Mungkin seusia Sultan Hasan. Tujuh belas tahun. Tubuhnya jenjang, berlekuk indah. Rambutnya hitam panjang terurai sebahu, bergerak-gerak ditiup angin malam. Wajahnya cantik. Sangat cantik. Seperti bidadari yang turun dari langit.
Ia memakai kain batik sederhana, warna hijau dengan motif pandan. Di rambutnya, terselip tusuk konde dari perak. Di lehernya, ada kalung dari batu akik merah, sama persis dengan batu di cincin Sultan Hasan.
Sultan Hasan terpaku. Ia tidak bisa bergerak. Ia tidak bisa berkata-kata.
Perempuan itu berjalan mendekat. Kini ia berdiri tepat di depan Sultan Hasan. Jarak hanya satu lengan.
"Kau kembali," katanya. Suaranya lembut, seperti air telaga yang mengalir.
"Pandan... Pandan Wangi?" bisik Sultan Hasan.
Perempuan itu tersenyum. Senyum yang sama. Lembut. Penuh kasih. Senyum yang membuat hati Sultan Hasan berdebar.
"Aku berubah, ya?" katanya. "Tubuhku sudah dewasa. Wajahku sudah dewasa. Tapi hatiku masih sama. Hatiku masih merindukanmu, setiap malam, setiap kali bulan purnama."
Sultan Hasan tidak bisa menahan diri. Ia meraih tangan Pandan Wangi. Tangannya dingin. Tapi lembut.
"Aku juga merindukanmu, Pandan," katanya. "Setiap hari. Setiap malam. Setiap kali denyut batu di jariku mengingatkanku padamu."
"Aku tahu," kata Pandan Wangi. "Aku bisa merasakannya. Batu akik merah di jarimu dan batu akik merah di leherku terhubung. Mereka berdenyut bersama, setiap kali kita merindukan satu sama lain."
Sultan Hasan baru menyadari kalung di leher Pandan Wangi. Batu akik merah itu berdenyut. Sama persis dengan batu di jarinya.
"Kau tahu sejak kapan?" tanyanya.
"Sejak pertama kali kau datang ke telaga ini. Saat kau masih kecil. Saat kau duduk di batu hitam itu, menangis karena diejek teman-temanmu. Aku sudah tahu. Tapi aku tidak bisa mengatakannya. Karena kau masih kecil. Karena kau belum siap."
"Dan sekarang? Apakah aku sudah siap?"
Pandan Wangi tersenyum. "Kau sudah dewasa, Sultan Hasan. Badanmu tegap. Parasmu tampan. Hatimu matang. Aku rasa kau sudah siap."
"Siap untuk apa?"
"Siap untuk mendengar bahwa aku juga merindukanmu. Siap untuk mendengar bahwa aku juga jatuh cinta padamu. Siap untuk mendengar bahwa aku ingin bersamamu, selama telaga ini masih ada, selama batu-batu ini masih berdenyut."
Sultan Hasan terdiam. Air matanya mengalir lagi. Tapi kali ini bukan air mata sedih. Air mata bahagia.
"Pandan," katanya. "Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku belum pernah jatuh cinta sebelumnya. Aku belum pernah merasakan perasaan seperti ini. Tapi aku tahu, setiap kali aku bersamamu, aku merasa aman. Aku merasa tenang. Aku merasa seperti di rumah."
"Itu sudah cukup," kata Pandan Wangi. "Kau tidak perlu mengerti tentang cinta. Cinta akan datang dengan sendirinya. Pada waktunya. Dan sekarang, waktu itu telah tiba."
Pandan Wangi mendekat. Ia mencium kening Sultan Hasan, tepat di tempat tanda merah itu berada.
Tanda itu terasa hangat. Sangat hangat. Seperti disentuh oleh matahari.
"Aku mencintaimu, Sultan Hasan," bisiknya. "Sejak pertama kali kau datang ke telaga ini. Sejak pertama kali kau duduk di batu hitam itu. Sejak pertama kali kau tersenyum padaku."
"Aku juga mencintaimu, Pandan Wangi," bisik Sultan Hasan balik. "Sejak pertama kali aku melihatmu. Sejak pertama kali aku mendengar suaramu. Sejak pertama kali aku merasakan kehangatan di dadaku saat kau di sampingku."
Mereka berdua terdiam. Menikmati malam. Menikmati kehadiran satu sama lain. Menikmati cinta yang sudah lama terpendam, kini akhirnya terucap.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap mereka. Matanya bundar dan kuning. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu diam.
Seolah setuju. Seolah merestui. Seolah bahagia bahwa penjaga hati akhirnya menemukan cintanya.
Jaya yang menunggu di tepi hutan, akhirnya bosan. Ia nekat masuk ke telaga.
Ia melihat Sultan Hasan duduk di batu hitam, di samping seorang perempuan cantik. Mereka berdua sedang tersenyum, berbicara dengan suara pelan.
"Jadi, itu Pandan Wangi?" bisik Jaya pada dirinya sendiri. "Cantik juga."
Ia tidak mau mengganggu. Ia berbalik. Ia kembali ke tepi hutan, duduk di bawah pohon, menunggu.
"Lama sekali," gumamnya. "Tapi tidak apa-apa. Sahabat sedang bahagia. Itu yang penting."
Fajar mulai menyingsing ketika Sultan Hasan dan Pandan Wangi berpisah.
"Aku harus pergi sekarang," kata Pandan Wangi. "Matahari tidak boleh menangkapku di sini."
"Kapan aku bisa bertemu lagi?" tanya Sultan Hasan.
"Kapan pun kau mau. Telaga ini selalu terbuka untukmu. Aku selalu di sini. Menunggumu."
"Tapi aku harus kembali ke Bandar Cendana. Ada pekerjaan yang menungguku. Ada tanggung jawab yang harus aku selesaikan."
Pandan Wangi tersenyum. "Kau boleh pergi. Aku tidak akan mengikatmu. Cinta tidak harus memiliki. Cinta bisa dengan mendoakan. Cinta bisa dengan menjaga hati. Dan aku akan selalu menjaga hatimu, di mana pun kau berada."
"Aku akan kembali, Pandan. Aku janji."
"Aku tahu. Aku akan menunggumu."
Pandan Wangi berjalan ke tepi telaga. Ia menunduk. Ia mencelupkan ujung jarinya ke air. Seluruh telaga bergetar.
"Selamat pagi, Sultan Hasan."
"Selamat pagi, Pandan Wangi."
Pandan Wangi berjalan ke arah pepohonan, perlahan menyatu dengan kabut pagi, lalu lenyap. Seperti tidak pernah ada.
Tapi Sultan Hasan tahu ia ada. Telaga itu ada. Airnya jernih. Dasarnya terlihat. Tanaman air bergoyang-goyang ditarik arus yang lembut.
Dan di jari manisnya, batu akik merah berdenyut pelan. Hangat.
Seperti berbisik: "Kita tidak sendirian. Selama kita saling mencintai, kita tidak akan pernah sendirian."
Sultan Hasan tersenyum. Ia berdiri. Ia berjalan pulang.
Di tepi hutan, Jaya masih menunggu. "Lama sekali," katanya. "Tapi aku lihat kau bahagia."
"Aku bahagia, Jaya. Sangat bahagia."
"Jadi, apa rencanamu sekarang?"
"Aku akan kembali ke Bandar Cendana. Menyelesaikan pekerjaanku. Menyelesaikan tanggung jawabku. Lalu... aku akan kembali ke sini. Untuk selamanya."
Jaya mengangguk. "Aku ikut. Di mana kau pergi, aku ikut. Sampai mati."
Mereka berdua tersenyum. Mereka menaiki kuda mereka. Mereka berjalan meninggalkan Dukuh Wangi. Meninggalkan telaga. Meninggalkan Pandan Wangi.
Tapi hati Sultan Hasan tidak meninggalkan telaga. Hatinya tetap di sana. Bersama Pandan Wangi. Selamanya.
BAB XXX
Putri Pandan Wangi Muncul untuk Pertama Kali di Sungai
Tiga bulan setelah pertemuan kembali dengan Pandan Wangi di telaga, Sultan Hasan belum juga bisa melupakan malam itu.
Setiap malam, ia memejamkan mata, dan ia melihat lagi wajah Pandan Wangi. Cantik. Lembut. Tersenyum. Setiap malam, ia mendengar lagi suaranya. Lembut seperti air mengalir, menenangkan seperti doa seorang ibu. Setiap malam, ia merasakan lagi hangatnya ciuman di keningnya, tepat di tempat tanda merah itu berada.
"Kau jatuh cinta," kata Jaya suatu malam, saat mereka duduk di beranda rumah mereka di Bandar Cendana. "Jatuh cinta total. Tidak ada obatnya."
"Aku tidak butuh obat," kata Sultan Hasan sambil tersenyum. "Aku butuh dia."
"Kau bisa kembali ke Dukuh Wangi kapan saja. Tapi kau memilih tinggal di sini. Kenapa?"
"Karena ada yang belum selesai. Aku harus menyelesaikan tanggung jawabku dulu. Kepada Tuan Salim. Kepada para pekerja. Kepada Kyai Buyut Cakar Mase. Aku tidak bisa pergi begitu saja."
"Tanggung jawab," ulang Jaya sambil menghela napas. "Kau selalu bicara tentang tanggung jawab. Sejak kita masih kecil. Sejak di Dukuh Wangi. Sejak di Kota Prapatan. Sejak di Rajapura. Kapan kau akan berhenti memikirkan tanggung jawab dan mulai memikirkan kebahagiaanmu sendiri?"
"Kebahagiaanku adalah ketika aku bisa menunaikan tanggung jawabku," kata Sultan Hasan. "Itu sudah membuatku bahagia."
Jaya menggeleng. "Kau aneh, Hasan. Tapi itulah sebabnya aku berteman denganmu."
Mereka berdua tertawa.
Suatu sore, Tuan Salim meminta Sultan Hasan mengantarkan pesanan ke sungai.
"Ada kapal dari negeri seberang yang akan mengambil rempah-rempah kita," katanya. "Mereka bersandar di dermaga sungai, bukan di pelabuhan laut. Aku butuh kau yang mengawasi. Jangan sampai ada barang yang hilang."
"Baik, Tuan," kata Sultan Hasan.
Ia mempersiapkan semuanya. Dua kuda. Dua orang pembantu. Dua kuli angkut. Dan puluhan karung rempah-rempah: lada, cengkeh, pala, kayu manis.
Perjalanan ke sungai memakan waktu setengah hari. Mereka tiba di dermaga sungai saat matahari mulai condong ke barat. Langit berwarna jingga keemasan. Air sungai berwarna keperakan, memantulkan cahaya matahari yang redup.
Kapal dari negeri seberang itu sudah menunggu. Sebuah kapal besar, dengan layar segitiga dan lambung dari kayu jati. Di lambungnya, terukir naga dari emas.
Sultan Hasan turun dari kudanya. Ia menghampiri kapal itu.
"Permisi," katanya. "Saya utusan Tuan Salim. Saya membawa rempah-rempah pesanan Tuan."
Seorang lelaki paruh baya muncul dari balik papan kapal. Wajahnya coklat, keriput, dengan kumis tebal dan janggut pendek. Ia memakai pakaian Arab: jubah putih dan sorban.
"Ah, Sultan Hasan!" katanya. "Tuan Salim sudah bercerita tentang kau. Katanya kau pemuda yang jujur dan cerdas."
"Terima kasih, Tuan. Siapa nama Tuan?"
"Nama tidak penting. Panggil saja Kapten. Aku kapten kapal ini. Aku sudah berlayar selama tiga puluh tahun. Dari negeri seberang ke negeri seberang. Bawa barang. Antar orang. Aku sudah melihat banyak hal."
"Apa yang Tuan lihat?"
"Banyak. Perang. Damai. Cinta. Benci. Kekayaan. Kemiskinan. Tapi yang paling sering kulihat adalah... kerinduan. Orang-orang yang merindukan kampung halaman. Orang-orang yang merindukan keluarga. Orang-orang yang merindukan kekasih."
Kapten itu memandang Sultan Hasan. Matanya tajam.
"Kau sedang merindukan seseorang, Nak. Aku bisa melihatnya dari matamu."
Sultan Hasan tersenyum. "Apakah sejelas itu?"
"Sejelas air sungai di musim kemarau. Siapa dia?"
"Namanya Pandan Wangi. Ia tinggal di desaku. Di tepi telaga."
"Pandan Wangi," ulang Kapten itu. "Nama yang indah. Apakah ia cantik?"
"Cantik. Seperti bidadari."
"Dan kau mencintainya?"
"Sangat."
"Apakah ia mencintaimu balik?"
"Aku... aku harap begitu."
Kapten itu tertawa. "Kau tidak yakin? Kau belum pernah bertanya?"
"Belum. Aku takut."
"Takut apa? Takut ditolak? Takut dianggap aneh? Takut cintamu tidak berbalas?"
"Semuanya."
Kapten itu menghela napas. "Anak muda, cinta adalah tentang keberanian. Berani mengungkapkan. Berani mengambil risiko. Berani ditolak. Karena jika kau tidak pernah bertanya, kau tidak akan pernah tahu jawabannya."
"Aku akan bertanya. Suatu hari."
"Jangan tunda. Waktu tidak menunggu siapa pun. Kau bisa mati besok. Ia bisa mati besok. Kapal ini bisa tenggelam besok. Maka hari ini juga, kau harus mengungkapkan isi hatimu."
Setelah urusan rempah-rempah selesai, Sultan Hasan berjalan ke tepi sungai.
Ia duduk di bawah pohon rindang. Daun-daunnya lebar, menaunginya dari terik matahari yang mulai redup. Air sungai mengalir pelan di depannya. Ikan-ikan kecil berenang-renang, mencari makanan.
Ia memandang cincin di jarinya. Batu akik merah itu berdenyut pelan. Hangat.
"Kapten itu benar," bisik batu itu. "Kau harus mengungkapkan isi hatimu. Jangan ditunda. Waktu tidak menunggu siapa pun."
"Aku tahu. Tapi aku belum siap."
"Kau tidak akan pernah siap. Keberanian bukan tentang kesiapan. Keberanian adalah melangkah meski tidak siap."
Sultan Hasan menghela napas.
Di tengah lamunannya, ia melihat seorang perempuan di seberang sungai.
Perempuan itu sedang mencuci pakaian di tepi sungai. Ia membungkuk, membenturkan kain ke batu, lalu membilasnya ke air. Gerakannya anggun, seperti tarian.
Rambutnya hitam panjang terurai sebahu, basah kena percikan air. Parasnya... Sultan Hasan tidak bisa melihat jelas dari kejauhan. Tapi ada sesuatu yang familiar. Sesuatu yang mengingatkannya pada seseorang.
Ia berdiri. Ia berjalan ke tepi sungai. Ia memandang perempuan itu.
Perempuan itu menoleh.
Sultan Hasan terkesiap.
Pandan Wangi.
Bukan dalam wujud penunggu telaga. Bukan dalam wujud mimpi. Tapi dalam wujud manusia. Nyata. Di sungai. Di siang bolong.
"Pandan?" bisiknya.
Perempuan itu tersenyum. Senyum yang sama. Lembut. Penuh kasih.
"Halo, Sultan Hasan," katanya. "Kau tidak menyangka bertemu aku di sini, ya?"
"Kau... bagaimana kau bisa di sini? Ini sungai. Jauh dari telaga. Dan ini siang hari. Matahari masih terang."
Pandan Wangi berdiri. Ia mengeringkan tangannya di kain sarungnya. Ia berjalan mendekati Sultan Hasan.
"Aku bisa ke mana pun aku mau, Sultan Hasan. Aku tidak terikat oleh telaga. Telaga adalah rumahku. Tapi aku bisa bepergian. Aku bisa muncul di sungai. Di laut. Di danau. Di mana pun ada air."
"Tapi dulu, kau bilang kau tidak bisa meninggalkan telaga!"
"Karena dulu kau masih kecil. Aku tidak ingin kau terkejut. Aku tidak ingin kau takut. Sekarang kau sudah dewasa. Sekarang kau sudah siap."
Pandan Wangi berdiri tepat di depan Sultan Hasan. Jarak hanya sejengkal. Sultan Hasan bisa mencium wanginya. Wangi pandan. Wangi yang khas. Wangi yang selalu ia rindukan.
"Kau cantik," bisik Sultan Hasan. "Cantik sekali. Seperti bidadari."
Pandan Wangi tersenyum. "Kau juga tampan, Sultan Hasan. Aku tidak menyangka kau akan setampan ini. Dulu, kau hanya anak kurus kering dengan rambut kusut dan pipi cekung. Sekarang... kau berubah."
"Kau juga berubah. Dulu kau kecil. Sekarang kau dewasa. Tubuhmu... maaf... tubuhmu..."
Pandan Wangi tertawa. "Kau gugup, Sultan Hasan. Aku belum pernah melihatmu segugup ini. Bahkan saat kau hampir dijadikan sesaji di telaga dulu, kau tidak segugup ini."
"Aku tidak takut pada kematian, Pandan. Tapi aku takut padamu."
"Takut kenapa?"
"Takut... ditolak."
Pandan Wangi mengerutkan kening. "Ditolak? Untuk apa?"
Sultan Hasan menarik napas panjang. Ini saatnya. Ini kesempatan. Jangan ditunda. Waktu tidak menunggu siapa pun.
"Pandan," katanya. "Aku mencintaimu. Sejak pertama kali aku melihatmu di telaga. Sejak pertama kali aku mendengar suaramu. Sejak pertama kali aku merasakan kehangatan di dadaku saat kau di sampingku. Aku mencintaimu. Dan aku ingin tahu... apakah kau juga mencintai aku?"
Pandan Wangi terdiam.
Sultan Hasan menahan napas. Jantungnya berdebar kencang. Keringat dingin membasahi telapak tangannya.
Pandan Wangi tersenyum.
"Kau tahu," katanya. "Aku sudah menunggu kata-kata itu sejak lama. Sejak kau masih kecil. Sejak kau duduk di batu hitam itu, menangis karena diejek teman-temanmu. Sejak kau pertama kali memanggil namaku."
"Jadi... jawabanmu?"
Pandan Wangi mendekat. Ia mencium pipi Sultan Hasan. Lembut. Hangat.
"Aku juga mencintaimu, Sultan Hasan. Sejak pertama kali aku melihatmu. Sejak pertama kali kau tersenyum padaku. Sejak pertama kali kau memanggil namaku."
Sultan Hasan tidak bisa menahan diri. Ia meraih tangan Pandan Wangi. Tangannya dingin. Tapi lembut.
"Pandan," bisiknya. "Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku hanya tahu, aku ingin bersamamu. Selamanya."
"Selamanya itu lama, Sultan Hasan."
"Aku tidak peduli. Aku akan bersamamu sampai mati."
Pandan Wangi tersenyum. "Kau tahu, sebagai penunggu telaga, aku tidak bisa mati. Aku akan hidup selama air masih mengalir. Selama bulan masih bersinar. Selama batu akik ini masih berdenyut. Apakah kau sanggup mencintai seseorang yang tidak bisa mati? Sementara kau... kau manusia. Kau akan tua. Kau akan sakit. Kau akan mati."
"Aku tidak peduli, Pandan. Cinta tidak memandang waktu. Cinta tidak memandang kematian. Cinta adalah cinta. Selamanya."
Pandan Wangi menangis. Air matanya jatuh ke sungai. Dan di tempat air matanya jatuh, bunga-bunga pandan kecil bermunculan. Harum. Wangi. Menyebar ke seluruh tepian.
"Jangan menangis," kata Sultan Hasan. "Aku tidak suka melihatmu menangis."
"Aku menangis karena bahagia," kata Pandan Wangi. "Karena akhirnya... setelah sekian lama... aku menemukan seseorang yang benar-benar mencintaiku. Bukan karena aku cantik. Bukan karena aku kaya. Bukan karena aku penunggu telaga. Tapi karena aku adalah aku."
Mereka berdua berpelukan. Di tepi sungai. Di bawah pohon rindang. Di hadapan Kapten kapal yang tersenyum dari kejauhan. Di hadapan Jaya yang melongo tidak percaya. Di hadapan para pembantu dan kuli angkut yang bertepuk tangan.
Sultan Hasan tidak peduli dengan semua itu. Ia hanya peduli pada Pandan Wangi. Pada pelukannya. Pada hangatnya. Pada wanginya.
"Ini baru awal," bisik Pandan Wangi di telinganya. "Kita masih panjang."
"Aku tahu. Dan aku tidak sabar menjalaninya bersamamu."
Mereka berdua tersenyum.
Di kejauhan, di dahan pohon di seberang sungai, seekor burung hantu menatap mereka. Matanya bundar dan kuning. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu terbang. Meninggalkan suara yang nyaring.
Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti seruan untuk memulai babak baru dalam kehidupan Sultan Hasan dan Pandan Wangi.
Babak di mana cinta tidak lagi terpendam. Babak di mana cinta diungkapkan. Babak di mana cinta dijalani bersama.
Selamanya.
BAB XXXI
Jatuh Hati dalam Diam: Sultan Hasan Tidak Berani Mendekat, Hanya Mengamati dari Kejauhan Setiap Hari
Setelah pertemuan di tepi sungai itu, sesuatu berubah dalam diri Sultan Hasan.
Bukan berubah menjadi lebih buruk. Justru sebaliknya. Ia menjadi lebih bersemangat dalam bekerja. Lebih ceria dalam bergaul. Lebih rajin beribadah. Lebih dermawan kepada fakir miskin. Semua orang di gudang merasakan perubahan itu. Tuan Salim memuji-mujinya. Jaya hanya tersenyum, karena ia tahu penyebabnya: cinta.
Tapi ada satu hal yang aneh.
Setelah pertemuan di sungai, setelah Pandan Wangi mengaku mencintainya, setelah mereka berpelukan dan berjanji untuk bersama... Sultan Hasan tidak pernah kembali ke telaga.
Ia tidak pergi ke Dukuh Wangi. Ia tidak mencari Pandan Wangi. Ia hanya tinggal di Bandar Cendana, bekerja seperti biasa, tertawa seperti biasa, hidup seperti biasa. Seolah tidak terjadi apa-apa.
Jaya heran. "Kau tidak akan menemui Pandan Wangi lagi?" tanyanya suatu malam.
"Belum," kata Sultan Hasan singkat.
"Kenapa belum? Bukankah kau sudah saling mencintai? Bukankah kau sudah berjanji untuk bersama?"
"Kami sudah berjanji. Tapi aku belum siap."
"Belum siap untuk apa?"
Sultan Hasan terdiam. Ia memandang cincin di jarinya. Batu akik merah itu berdenyut pelan. Hangat.
"Jujurlah," bisik batu itu. "Jujurlah pada sahabatmu."
"Aku takut, Jaya," kata Sultan Hasan akhirnya. "Aku takut jika aku terlalu dekat dengannya, aku akan lupa pada tanggung jawabku. Aku akan lupa pada pekerjaanku. Aku akan lupa pada dunia. Aku hanya ingin memandanginya setiap saat, dan itu tidak baik."
"Kenapa tidak baik? Bukankah wajar jika seseorang yang sedang jatuh cinta ingin selalu dekat dengan kekasihnya?"
"Wajar. Tapi tidak bijak. Aku punya tanggung jawab kepada Tuan Salim. Aku punya tanggung jawab kepada para pekerja. Aku punya tanggung jawab kepada Kyai Buyut Cakar Mase. Aku tidak bisa meninggalkan semua itu hanya karena cinta."
"Kau tidak harus meninggalkan semua itu. Kau hanya perlu menyisihkan waktu untuknya. Seminggu sekali. Sebulan sekali. Itu sudah cukup."
"Belum. Aku belum bisa. Aku masih perlu waktu."
Jaya menghela napas. "Kau ini aneh, Hasan. Tapi sudahlah. Itu urusanmu. Aku tidak akan ikut campur."
Tapi meski Sultan Hasan tidak pergi ke telaga, ia tidak bisa melupakan Pandan Wangi.
Setiap hari, ia mengamati dari kejauhan.
Bukan Pandan Wangi sungguhan. Tapi bayangannya. Dalam setiap perempuan yang lewat di pasar, ia mencari wajah Pandan Wangi. Dalam setiap aliran sungai, ia membayangkan Pandan Wangi sedang mencuci pakaian. Dalam setiap hembusan angin yang membawa wangi bunga, ia merindukan wangi pandan.
Jaya melihat itu. Hati sahabatnya itu prihatin.
"Kau tidak sehat, Hasan," katanya. "Kau seperti orang yang kehausan di tengah gurun, tapi tidak mau meminum air yang ada di depannya."
"Aku tidak haus," kata Sultan Hasan. "Aku hanya... merindukan."
"Kalau kau rindu, pergilah! Temui ia! Peluk ia! Cium ia! Jangan hanya diam di sini, mengamati dari kejauhan seperti orang bodoh!"
"Aku tidak bodoh, Jaya. Aku hanya... takut."
"Takut apa lagi?"
Sultan Hasan tidak menjawab. Ia hanya memandang cincin di jarinya.
Batu akik merah itu berdenyut. Pelan. Lembut. Seperti mengerti.
"Kau takut jika kau terlalu dekat, kau akan kehilangan," bisik batu itu. "Kau takut jika kau sudah bersama, kau akan dipertemukan dengan perpisahan. Kau takut bahagia karena kau tahu bahagia tidak akan bertahan lama."
Sultan Hasan menunduk. Air matanya menetes.
"Itu benar," bisiknya. "Aku takut bahagia. Karena setiap kali aku bahagia, selalu ada yang pergi. Ayahku pergi. Ibuku pergi. Nini Mas Intan pergi. Mak Umi pergi. Mardjo pergi. Semua pergi. Meninggalkanku sendirian."
"Kali ini berbeda, Hasan," kata Jaya yang mendengar bisikannya. "Pandan Wangi tidak akan pergi. Ia penunggu telaga. Ia tidak bisa mati. Ia akan bersamamu selamanya."
"Tidak ada yang selamanya, Jaya. Suatu hari, telaga ini akan kering. Suatu hari, batu ini akan hancur. Suatu hari, Pandan Wangi juga akan pergi. Entah ke mana. Aku tidak tahu."
"Lalu kau akan habiskan sisa hidupmu dengan ketakutan? Dengan tidak berani mendekat? Dengan hanya mengamati dari kejauhan?"
Sultan Hasan tidak menjawab.
Ia hanya diam. Menangis. Meratapi nasibnya.
Hari-hari berlalu. Minggu-minggu berganti. Sultan Hasan tetap tidak pergi ke telaga.
Ia hanya mengamati dari kejauhan. Dalam mimpinya. Dalam khayalannya. Dalam setiap detak jantungnya.
Suatu malam, Kyai Buyut Cakar Mase memanggilnya.
"Kau tidak datang ke padepokan akhir-akhir ini," kata Kyai. "Ada apa?"
"Aku sibuk, Kyai. Banyak pekerjaan."
"Jangan bohong. Aku tahu kau sedang jatuh cinta. Aku tahu kau bertemu dengan Pandan Wangi di sungai. Aku tahu kau berjanji untuk bersama. Tapi kau tidak pernah kembali ke telaga. Kenapa?"
Sultan Hasan terdiam. Ia tidak bisa berbohong pada Kyai.
"Aku takut, Kyai."
"Takut apa?"
Sultan Hasan menceritakan semuanya. Tentang ayahnya yang pergi. Tentang ibunya yang mati. Tentang Nini Mas Intan. Tentang Mak Umi. Tentang Mardjo. Tentang semua orang yang pernah ia cintai, dan semua orang yang pergi meninggalkannya.
"Aku takut jika aku terlalu dekat dengan Pandan Wangi, ia juga akan pergi. Aku tidak bisa kehilangan lagi, Kyai. Hatiku sudah terlalu banyak luka."
Kyai Buyut Cakar Mase menghela napas. Ia memandang Sultan Hasan dengan mata yang dalam.
"Nak," katanya. "Cinta tidak pernah tentang memiliki. Cinta tentang memberi. Jika kau mencintai Pandan Wangi, kau harus memberi dirimu padanya. Tanpa syarat. Tanpa takut kehilangan. Karena jika kau hanya mengamati dari kejauhan, kau tidak pernah benar-benar mencintai. Kau hanya mencintai bayangannya."
"Apa bedanya?"
"Jika kau mencintai bayangannya, kau aman. Kau tidak akan pernah terluka. Tapi kau juga tidak akan pernah bahagia. Jika kau mencintai dirinya yang sesungguhnya, kau mungkin terluka. Tapi kau juga mungkin bahagia. Pilihan ada di tanganmu."
Sultan Hasan menunduk. Ia merenungkan kata-kata Kyai.
"Kyai," katanya akhirnya. "Apa kau pernah jatuh cinta?"
Pertanyaan itu membuat Kyai Buyut Cakar Mase terdiam. Wajahnya yang tua dan keriput tiba-tiba terlihat sendu.
"Pernah," katanya. "Dulu, ketika aku masih muda. Aku jatuh cinta pada seorang perempuan. Namanya Dewi Sekar. Ia cantik. Baik. Pintar. Kami bertunangan. Tapi perang datang. Aku harus pergi bertempur. Aku meninggalkannya. Aku berjanji akan kembali. Tapi ketika aku kembali, ia sudah menikah dengan orang lain. Ia tidak bisa menunggu. Ia takut aku mati di medan perang."
"Apakah Kyai kecewa?"
"Sangat. Aku marah. Aku benci. Aku hampir membunuh suaminya. Tapi kemudian aku sadar: cinta bukan tentang memiliki. Cinta tentang memberi. Aku memberinya kebahagiaan meski tidak bersamaku. Aku merelakannya. Aku pergi ke gunung. Aku menjadi pertapa. Aku belajar silat. Aku menjadi panglima perang. Tapi hatiku... hatiku tetap di sana. Bersamanya."
"Apakah Kyai pernah bertemu dengannya lagi?"
"Pernah. Saat kami sudah tua. Ia sudah menjadi nenek-nenek. Suaminya sudah meninggal. Aku datang ke pemakaman suaminya. Ia menangis di pusara. Aku duduk di sampingnya. Kami tidak bicara. Hanya diam. Menemani. Sejak itu, setiap minggu aku datang ke kuburan itu. Duduk di sampingnya. Tidak bicara. Hanya diam. Sampai ia mati. Sekarang ia sudah tiada. Aku sendiri lagi."
Kyai Buyut Cakar Mase tersenyum pahit.
"Kau lihat, Nak? Cinta tidak selalu bahagia. Tapi cinta selalu indah. Karena cinta mengajarkan kita untuk menjadi manusia."
Sultan Hasan menangis. Ia memeluk Kyai.
"Terima kasih, Kyai. Aku akan pergi ke telaga. Aku akan menemui Pandan Wangi. Aku akan berhenti mengamati dari kejauhan. Aku akan mulai mendekat."
"Bagus," kata Kyai. "Pergilah. Jangan tunda lagi. Waktu tidak menunggu siapa pun."
Esok paginya, sebelum matahari terbit, Sultan Hasan sudah berada di atas kudanya.
Ia pamit pada Jaya. "Aku akan pergi ke telaga. Aku akan menemui Pandan Wangi. Aku akan berhenti menjadi pengecut."
Jaya tersenyum. "Akhirnya. Aku sudah menunggu kata-kata itu sejak lama."
"Kau ikut?"
"Tidak. Ini urusan pribadimu. Aku tidak ingin mengganggu. Aku tunggu di sini. Kabari aku jika ada kabar baik."
Mereka berdua bersalaman. Sultan Hasan menaiki kudanya. Ia melesat pergi. Meninggalkan Bandar Cendana. Menuju Dukuh Wangi. Menuju telaga. Menuju Pandan Wangi.
Di jari manisnya, batu akik merah berdenyut kencang. Hangat.
"Akhirnya," bisik batu itu. "Kau mengambil keputusan yang benar."
"Aku harap begitu," bisik Sultan Hasan balik.
Ia terus berlari. Kuda itu berlari kencang. Angin malam menyapu wajahnya. Dingin. Tapi menyegarkan.
Ia tidak sabar untuk tiba di telaga. Untuk melihat Pandan Wangi. Untuk memeluknya. Untuk mengatakan bahwa ia tidak akan pernah meninggalkannya lagi.
Di kejauhan, meski tidak mungkin, ia mendengar suara burung hantu. Samar. Tapi jelas.
Sekali. Pendek.
Seperti sambutan. Seperti panggilan. Seperti seruan untuk segera sampai.
Sultan Hasan tersenyum. Ia memacu kudanya lebih kencang.
Meninggalkan ketakutan. Meninggalkan keraguan. Meninggalkan kebiasaan mengamati dari kejauhan.
Sekarang, ia akan mendekat.
Sekarang, ia akan bersama.
Sekarang, ia akan mencintai.
Sepenuh hati.
Tanpa syarat.
Tanpa takut kehilangan.
Karena cinta tidak pernah tentang memiliki.
Cinta tentang memberi.
Memberi diri.
Memberi hati.
Memberi segalanya.
BAB XXXII
Kebakaran Pasar: Sultan Hasan Menyelamatkan Seorang Anak , Tidak Sengaja Menabrak Pandan Wangi
Perjalanan dari Bandar Cendana menuju Dukuh Wangi memakan waktu sehari semalam dengan menunggang kuda. Sultan Hasan tiba di desa itu saat matahari tepat berada di atas kepala, siang yang terik dan lengang.
Ia tidak langsung menuju telaga.
Ada sesuatu yang menahannya. Bukan rasa takut seperti dulu. Tapi ada firasat aneh di dadanya. Sesuatu yang mengatakan bahwa hari ini bukan hari yang tepat untuk bertemu Pandan Wangi. Bahwa ada yang lebih mendesak yang harus ia lakukan terlebih dahulu.
Sultan Hasan memarkir kudanya di bawah pohon beringin tua di pinggir desa. Ia berjalan kaki menuju pasar. Pasar Dukuh Wangi tidak sebesar pasar di Bandar Cendana. Hanya puluhan lapak yang berjajar di sepanjang jalan setapak. Tapi hari itu pasar sedang ramai. Banyak pedagang dari desa-desa sekitar yang datang menjual hasil bumi.
Sultan Hasan berjalan di antara kerumunan. Sesekali ia membeli sesuatu: buah-buahan, kue tradisional, sebotol air kelapa. Ia tidak benar-benar lapar atau haus. Ia hanya ingin mengisi waktu sebelum memutuskan apa yang akan ia lakukan selanjutnya.
Di jari manisnya, batu akik merah berdenyut pelan.
"Hati-hati," bisik batu itu. "Ada sesuatu yang tidak beres."
Sultan Hasan mengerutkan kening. Ia melihat sekeliling. Semua tampak normal. Orang-orang lalu lalang. Pedagang menawarkan dagangan. Anak-anak berlarian.
Tapi kemudian ia mencium bau asap.
Bukan asap rokok atau asap dapur. Asap yang tebal, hitam, menyengat. Asap kebakaran.
"KEBAKARAN!" teriak seseorang dari ujung pasar. "API! API!"
Sultan Hasan menoleh ke arah suara itu. Dari arah timur, kepulan asap hitam membubung tinggi ke langit. Api sudah membesar, menjalar dengan cepat di antara lapak-lapak yang terbuat dari kayu dan anyaman bambu.
Orang-orang berhamburan. Ada yang berlari menyelamatkan diri. Ada yang berusaha memadamkan api dengan ember dan timba. Ada yang hanya berteriak histeris.
Di tengah kekacauan itu, Sultan Hasan mendengar suara tangis anak kecil.
"Tolong! Tolong! Anakku masih di dalam!"
Seorang perempuan paruh baya berdiri di depan sebuah lapak yang sudah dilalap api. Wajahnya pucat pasi. Tangannya gemetar. Ia menunjuk ke arah kobaran api, di mana seorang anak laki-laki kecil tampak terduduk di sudut, ketakutan, tidak bisa bergerak.
Sultan Hasan tidak berpikir dua kali.
Ia berlari. Menerobos kobaran api. Panasnya menyengat kulit. Asapnya membuat mata perih dan tenggorokan tercekik. Tapi ia terus maju. Ia tidak bisa berhenti. Ada anak kecil di sana yang membutuhkan pertolongannya.
"Jangan bergerak!" teriaknya pada anak itu. "Aku akan menjemputmu!"
Ia meraih anak itu. Menggendongnya. Berbalik. Berlari keluar dari kobaran api.
Tepat saat mereka keluar, atap lapak itu rubuh. Kayu-kayu terbakar berhamburan. Jika Sultan Hasan terlambat sedetik, mereka berdua akan tertimpa.
Perempuan paruh baya itu berlari mendekat, merebut anaknya dari gendongan Sultan Hasan. "Terima kasih, Nak. Terima kasih. Kau penyelamat anakku."
Sultan Hasan hanya tersenyum. "Tidak apa-apa, Bu. Yang penting anaknya selamat."
Ia melangkah mundur. Tubuhnya terasa panas. Bajunya gosong di beberapa tempat. Alisnya sedikit hangus. Tapi ia tidak terluka parah.
Di tengah kepulan asap dan hiruk-pikuk orang yang berlarian, ia mundur. Ia tidak melihat ke belakang.
Ia menabrak seseorang.
"Maaf," katanya cepat-cepat. "Maaf, saya tidak sengaja."
Ia menengadah.
Wajah yang ia lihat membuatnya terdiam. Membeku. Seperti terkena sihir.
Pandan Wangi.
Bukan dalam wujud penunggu telaga. Bukan dalam wujud mimpi. Bukan di tepi sungai dengan jarak aman.
Pandan Wangi berdiri di depannya. Hanya sejengkal. Wajahnya cantik, lembut, dengan mata hitam pekat yang menatapnya penuh arti.
"Kau tidak sengaja?" kata Pandan Wangi sambil tersenyum. "Atau kau sengaja?"
"Aku... aku..." Sultan Hasan gagap. Lidahnya terasa kelu. Seluruh kata-kata yang sudah ia siapkan selama berhari-hari, berbulan-bulan, tiba-tiba lenyap dari ingatannya.
"Kau menyelamatkan anak itu," kata Pandan Wangi. "Aku melihatnya. Kau berani. Kau rela mengorbankan dirimu untuk orang lain. Itu tindakan seorang penjaga hati sejati."
"Kau... kau ada di sari?" tanya Sultan Hasan bodoh.
"Aku ada di mana pun kau butuh aku," kata Pandan Wangi. "Tadi, saat kau ragu mau ke telaga atau tidak, aku yang mengirim firasat itu. Aku yang mengatakan bahwa ada yang lebih mendesak yang harus kau lakukan. Dan kau mendengarkannya. Kau pergi ke pasar. Kau menyelamatkan anak itu. Aku bangga padamu."
"Kau... kau yang mengirim firasat itu?"
Pandan Wangi mengangguk. "Aku bisa berkomunikasi denganmu lewat hati. Selama ini. Tanpa kau sadari. Setiap kali kau merasa ada yang tidak beres, itu aku. Setiap kali kau merasa ada yang membisikkan sesuatu, itu aku. Setiap kali batu akik merah di jarimu berdenyut kencang, itu karena aku sedang memikirmu."
Sultan Hasan terdiam. Selama ini ia mengira bisikan-bisikan itu berasal dari batu akik merahnya. Tapi rupanya, batu itu hanya perantara. Sumbernya adalah Pandan Wangi.
"Kenapa kau tidak pernah bilang?" tanyanya.
"Karena kau belum siap. Karena kau masih takut. Karena kau masih suka mengamati dari kejauhan. Sekarang kau sudah berani. Sekarang kau sudah siap. Sekarang kau tidak perlu mengamati lagi. Sekarang kau bisa mendekat."
Pandan Wangi mengulurkan tangannya.
Sultan Hasan meraih tangan itu. Dingin. Lembut. Tapi terasa hangat di hatinya.
"Pandan," katanya. "Aku sudah lama ingin mengatakan ini. Tapi setiap kali mau diucapkan, kata-kataku selalu lenyap."
"Katakan saja. Aku mendengarkan."
"Aku... aku mencintaimu. Sejak pertama kali aku melihatmu di telaga. Sejak pertama kali aku mendengar suaramu. Sejak pertama kali aku merasakan kehangatan di dadaku saat kau di sampingku. Aku mencintaimu. Dan aku tidak ingin hanya mengamati dari kejauhan lagi. Aku ingin bersamamu. Setiap hari. Setiap malam. Selamanya."
Pandan Wangi tersenyum. Senyum yang paling indah yang pernah Sultan Hasan lihat. Senyum yang membuat seluruh pasar yang terbakar itu terasa seperti taman bunga.
"Aku juga mencintaimu, Sultan Hasan," katanya. "Sejak pertama kali kau datang ke telaga. Sejak pertama kali kau duduk di batu hitam itu. Sejak pertama kali kau tersenyum padaku meski hatimu sedang terluka. Aku juga tidak ingin hanya mengamati dari kejauhan. Aku ingin bersamamu. Setiap hari. Setiap malam. Selamanya."
Mereka berdua terdiam. Saling menatap. Tidak ada yang perlu diucapkan lagi. Cinta mereka sudah tersampaikan. Jelas. Tanpa keraguan.
Di kejauhan, di tengah kepulan asap dan teriakan orang-orang yang masih berusaha memadamkan api, seekor burung hantu bertengger di atap masjid. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu berbunyi.
Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti seruan untuk memulai babak baru dalam kehidupan mereka.
Babak di mana cinta tidak lagi terpendam.
Babak di mana cinta diungkapkan.
Babak di mana cinta dijalani bersama.
Selamanya.
BAB XXXIII
Maaf dari Pandan Wangi: Mereka Berdua Saling Memandang, Ada Desir Listrik yang Tak Diucapkan
Api di pasar Dukuh Wangi akhirnya berhasil dipadamkan setelah hampir dua jam.
Kerugian tidak kecil. Puluhan lapak hangus terbakar. Tumpukan barang dagangan lenyap menjadi abu. Beberapa orang mengalami luka bakar, tapi untungnya tidak ada korban jiwa. Semua berkat keberanian Sultan Hasan yang menyelamatkan anak laki-laki kecil dari dalam kobaran api.
Warga desa berkerumun di sekitar Sultan Hasan. Mereka memujinya. Mereka berterima kasih. Mereka menawarinya hadiah dan imbalan. Tapi Sultan Hasan menolak semuanya dengan hormat.
"Aku tidak melakukan apa-apa," katanya. "Aku hanya menolong sesama manusia. Itu kewajiban kita semua."
Kata-katanya membuat warga desa terharu. Mereka tidak mengenali pemuda tampan di depan mereka sebagai "anak setan" yang dulu mereka usir dan hampir mereka korbankan. Sultan Hasan telah berubah. Tubuhnya tegap. Parasnya tampan. Caranya bicara dewasa. Tidak ada yang menyangka bahwa ia adalah bocah kurus kering dengan pipi cekung dan rambut kusut yang dulu menjadi sasaran ejekan dan kerikil.
Sultan Hasan tidak berniat memperkenalkan diri. Ia tidak ingin membuka luka lama. Cukup sudah. Masa lalu biarlah berlalu.
Tapi Pandan Wangi, yang sejak tadi berdiri di sisinya, merasakan kegelisahan di hati Sultan Hasan.
"Mereka tidak mengenalimu," bisiknya. "Kau ingin memperkenalkan diri?"
"Tidak," kata Sultan Hasan. "Biarkan mereka mengira aku orang asing. Aku tidak ingin mengingat masa lalu."
"Tapi masa lalu adalah bagian dari dirimu. Kau tidak bisa melupakannya."
"Aku tidak melupakannya. Aku hanya memaafkan."
Pandan Wangi tersenyum. Ia bangga pada Sultan Hasan. Laki-laki yang ia cintai ini bukan hanya berani dan baik hati. Tapi juga pemaaf. Sifat yang sangat langka di dunia ini.
Setelah situasi tenang, setelah warga desa mulai membubarkan diri, Sultan Hasan dan Pandan Wangi berjalan ke tepi desa.
Mereka duduk di bawah pohon asam tua — pohon yang sama yang dulu menjadi tempat Sultan Hasan bermain dengan Jaya, tempat burung hantu selalu bertengger di dahannya. Pohon itu masih kokoh, meski sudah tua. Akarnya menjalar ke mana-mana. Daunnya rindang, menaungi mereka dari terik matahari sore.
Mereka berdua duduk berdampingan. Tidak bicara. Hanya diam. Menikmati kehadiran satu sama lain.
Angin berembus pelan, membawa wangi pandan dari rambut Pandan Wangi. Sultan Hasan mencium wangi itu. Hatinya berdebar.
"Pandan," katanya akhirnya.
"Ya?"
"Maafkan aku."
Pandan Wangi menoleh. "Maaf untuk apa?"
"Maaf karena selama ini aku hanya mengamati dari kejauhan. Maaf karena aku tidak berani mendekat. Maaf karena aku membiarkanmu menunggu bertahun-tahun, sendirian di telaga, tanpa aku datang menjenguk."
Pandan Wangi tersenyum. "Kau tidak perlu minta maaf. Aku mengerti. Kau punya alasan."
"Tidak ada alasan yang cukup untuk meninggalkanmu selama itu. Aku pengecut. Aku takut. Aku takut kehilangan. Aku takut terluka. Aku takut bahagia."
"Dan sekarang?"
"Sekarang aku tidak takut lagi. Sekarang aku siap. Sekarang aku ingin bersamamu, apa pun risikonya."
Pandan Wangi meraih tangan Sultan Hasan. Tangannya dingin, tapi lembut. Ia menggenggam erat jari-jari Sultan Hasan.
"Aku juga minta maaf," katanya.
"Maaf untuk apa?"
"Maaf karena aku tidak bisa menjadi manusia seutuhnya. Maaf karena aku hanya penunggu telaga. Maaf karena aku tidak bisa memberimu anak. Maaf karena aku tidak bisa menjadi istri yang normal. Maaf karena aku akan tetap muda selamanya, sementara kau akan tua dan mati. Maaf karena cinta kita tidak akan pernah sempurna."
Sultan Hasan menggenggam balik tangan Pandan Wangi. "Cinta tidak perlu sempurna, Pandan. Cinta cukup tulus. Dan cintaku padamu tulus. Sejak pertama kali aku melihatmu."
Mereka berdua saling memandang.
Ada desir listrik yang tak diucapkan. Sesuatu yang menjalar dari mata ke mata, dari hati ke hati, dari jiwa ke jiwa. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Sesuatu yang hanya bisa dirasakan.
Pandan Wangi mendekat. Sultan Hasan juga mendekat.
Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Sultan Hasan bisa melihat bulu mata Pandan Wangi yang lentik. Bisa melihat pori-pori kulitnya yang halus. Bisa melihat bayangan dirinya di mata hitam pekat itu.
"Aku mencintaimu, Sultan Hasan," bisik Pandan Wangi.
"Aku juga mencintaimu, Pandan Wangi," bisik Sultan Hasan balik.
Mereka berdua terdiam. Tidak ada yang perlu diucapkan lagi. Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Cinta mereka sudah tersampaikan. Jelas. Tanpa keraguan.
Matahari semakin condong ke barat. Langit berwarna jingga keemasan. Burung-burung terbang pulang ke sarangnya. Angin malam mulai berembus, membawa kesejukan.
Di dahan pohon asam tua di atas kepala mereka, burung hantu menatap mereka berdua. Matanya bundar dan kuning. Ia tidak berbunyi. Hanya menatap.
Seolah setuju. Seolah merestui. Seolah bahagia bahwa penjaga hati akhirnya menemukan cintanya. Dan bahwa cinta itu, meski tidak sempurna, tetap indah.
Selamanya.
Malam mulai gelap ketika Sultan Hasan dan Pandan Wangi memutuskan untuk berpisah.
"Aku harus kembali ke telaga," kata Pandan Wangi. "Matahari sudah terbenam. Tapi aku tidak bisa meninggalkan telaga terlalu lama. Ada energi di sana yang harus aku jaga."
"Aku akan mengantarmu," kata Sultan Hasan.
"Tidak perlu. Aku bisa sendiri."
"Aku ingin. Biarkan aku."
Pandan Wangi tersenyum. "Baiklah."
Mereka berdua berjalan beriringan menuju telaga. Jalan setapak yang dulu sering mereka lewati ketika Sultan Hasan masih kecil. Kini mereka lewati lagi. Dalam suasana yang berbeda. Dalam hubungan yang berbeda.
Setelah setengah jam berjalan, mereka tiba di telaga.
Airnya jernih. Dasarnya terlihat. Tanaman air bergoyang-goyang ditarik arus yang lembut. Bulan sabit tipis terpantul di permukaan air, menciptakan kilauan keperakan.
"Aku sampai," kata Pandan Wangi.
"Terima kasih sudah menemaniku hari ini," kata Sultan Hasan.
"Aku juga. Terima kasih sudah menyelamatkan anak itu. Terima kasih sudah berani mengungkapkan isi hatimu. Terima kasih sudah tidak takut lagi."
"Pandan."
"Ya?"
"Boleh aku... menciummu?"
Pandan Wangi tersenyum. Ia mendekat. Ia mencium pipi Sultan Hasan. Lembut. Hangat.
"Itu untuk hari ini," katanya. "Besok, kau boleh minta lagi."
"Besok aku akan datang lagi."
"Aku akan menunggu."
Pandan Wangi berjalan ke tepi telaga. Ia menunduk. Ia mencelupkan ujung jarinya ke air. Seluruh telaga bergetar.
"Selamat malam, Sultan Hasan."
"Selamat malam, Pandan Wangi."
Pandan Wangi berjalan ke arah pepohonan, perlahan menyatu dengan kegelapan malam, lalu lenyap. Seperti tidak pernah ada.
Tapi Sultan Hasan tahu ia ada. Telaga itu ada. Airnya jernih. Dasarnya terlihat. Tanaman air bergoyang-goyang.
Dan di jari manisnya, batu akik merah berdenyut pelan. Hangat.
Seperti berbisik: "Selamat malam, penjaga hati. Aku mencintaimu."
Sultan Hasan tersenyum. Ia berdiri. Ia berjalan pulang.
Di kejauhan, burung hantu berbunyi. Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat malam. Seperti doa restu. Seperti janji bahwa mereka akan bertemu lagi. Besok. Lusa. Dan seterusnya. Selamanya.
BAB XXXIV
Perkenalan: Sultan Hasan Tahu bahwa Pandan Wangi Adalah Putri Bangsawan – Jurang Sosial yang Lebar
Keesokan paginya, Sultan Hasan kembali ke telaga.
Matahari baru saja terbit. Embun masih membasahi rumput-rumput di tepian. Burung-burung mulai berkicau, menyambut hari yang baru. Udara masih segar, dingin, menenangkan.
Pandan Wangi sudah menunggu di batu hitam. Ia tersenyum melihat Sultan Hasan datang.
"Kau datang," katanya.
"Aku bilang aku akan datang," kata Sultan Hasan. "Aku tidak pernah mengingkari janji."
Mereka berdua duduk berdampingan di batu hitam itu. Diam. Menikmati pemandangan. Menikmati kehadiran satu sama lain.
Tapi hari ini, Sultan Hasan tidak bisa diam. Ada pertanyaan yang mengganggu pikirannya sejak semalam. Pertanyaan yang tidak bisa ia tahan lagi.
"Pandan," katanya.
"Ya?"
"Kemarin, di pasar, kau bilang kau tidak bisa memberiku anak. Kau bilang kau tidak bisa menjadi istri yang normal. Apa maksudmu?"
Pandan Wangi terdiam. Wajahnya yang ceria tiba-tiba berubah muram. Ia memandang telaga, menghindari tatapan Sultan Hasan.
"Aku... aku tidak ingin membicarakannya," katanya.
"Tapi aku perlu tahu. Kita sudah saling mencintai. Kita sudah berjanji untuk bersama. Tidak boleh ada rahasia di antara kita."
Pandan Wangi menghela napas panjang. Napas yang berat. Napas yang seperti sudah ditahan bertahun-tahun.
"Baiklah," katanya akhirnya. "Kau boleh tahu. Tapi jangan menyesal."
"Aku tidak akan menyesal."
Pandan Wangi berdiri. Ia berjalan ke tepi telaga. Ia membelakangi Sultan Hasan.
"Aku tidak hanya penunggu telaga, Sultan Hasan. Aku juga... putri bangsawan."
Sultan Hasan terkejut. "Putri bangsawan? Maksudmu?"
"Ayahku adalah adipati di kerajaan tetangga. Ibuku adalah putri raja dari kerajaan seberang. Aku dilahirkan di istana. Aku dibesarkan di istana. Aku hidup mewah, dengan puluhan pelayan, ratusan pengawal, dan ribuan harta."
"Tapi kenapa kau bisa menjadi penunggu telaga?"
Pandan Wangi berbalik. Air matanya mengalir.
"Karena aku lari dari istana. Karena aku tidak ingin dijodohkan dengan pangeran yang tidak kukenal. Karena aku ingin bebas. Karena aku ingin... memilih sendiri siapa yang akan kucintai."
"Jadi... kau memilih menjadi penunggu telaga?"
"Aku memilih untuk bersembunyi. Aku meminta bantuan seorang pertapa sakti untuk mengubahku menjadi penunggu telaga. Ia mengabulkan permintaanku. Dengan syarat: aku tidak boleh meninggalkan telaga ini. Aku tidak boleh menikah dengan manusia biasa. Aku tidak boleh memiliki anak. Aku akan tetap muda selamanya. Dan aku hanya bisa muncul di malam hari, atau di tempat-tempat tertentu yang dikecualikan."
"Tapi kemarin kau muncul di pasar. Siang bolong."
"Itu karena kau. Pertapa itu memberiku pengecualian. Ia tahu aku jatuh cinta padamu. Ia mengizinkanku muncul di siang hari, asalkan tidak sering-sering. Asalkan tidak meninggalkan desa ini."
Sultan Hasan terdiam. Ia baru mengerti mengapa Pandan Wangi sering berkata bahwa cinta mereka tidak akan pernah sempurna. Mengapa ia tidak bisa memberinya anak. Mengapa ia tidak bisa menjadi istri yang normal.
Semua karena kutukan. Atau lebih tepat, konsekuensi dari pilihannya sendiri.
"Pandan," katanya. "Kau tidak menyesal?"
"Menyesal? Meninggalkan istana? Tidak. Menjadi penunggu telaga? Tidak. Jatuh cinta padamu? Tidak. Tidak pernah. Satu-satunya yang aku sesali adalah... aku tidak bisa menjadi istri yang sempurna untukmu."
"Kau sudah sempurna, Pandan. Setidaknya di mataku."
Pandan Wangi tersenyum. Ia menghapus air matanya.
"Kau baik, Sultan Hasan. Terlalu baik untuk dunia ini. Pantas kau menjadi penjaga hati."
Tapi kabar bahwa Sultan Hasan jatuh cinta pada putri bangsawan menyebar dengan cepat.
Entah bagaimana. Mungkin dari warga desa yang melihat mereka berdua di pasar. Mungkin dari pedagang yang mengenali Pandan Wangi dari lukisan di istana. Mungkin dari utusan kerajaan yang kebetulan lewat.
Yang jelas, dalam waktu seminggu, kabar itu sudah sampai ke telinga adipati — ayah Pandan Wangi.
Adipati itu marah. Sangat marah.
"Anakku hilang bertahun-tahun! Aku kira ia mati! Ternyata ia bersembunyi di desa kecil, menjadi penunggu telaga, dan jatuh cinta pada seorang pemuda kampung!"
Ia mengirim utusan ke Dukuh Wangi. Utusan itu datang dengan membawa surat. Surat itu ditujukan pada Pandan Wangi.
Isinya: "Pulanglah. Ayahmu sudah tua. Ibumu sakit-sakitan. Mereka merindukanmu. Jika kau tidak pulang, mereka akan mati hati. Jika kau tetap bersikeras tinggal di desa itu dan menikahi pemuda kampung, ayahmu akan mencabut hak warismu. Kau tidak akan mendapatkan apa-apa. Bahkan mayatmu pun tidak akan kami terima di pemakaman keluarga."
Pandan Wangi membaca surat itu berulang-ulang. Air matanya mengalir.
"Mereka tidak berubah," bisiknya. "Mereka masih sombong. Mereka masih menganggap status sosial lebih penting dari kebahagiaan."
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Sultan Hasan.
"Aku tidak akan pulang. Aku tidak butuh warisan. Aku tidak butuh harta. Aku butuh kebebasan. Aku butuh cinta. Aku butuh kau."
"Tapi ayah dan ibumu..."
"Aku akan mengirim kabar pada mereka. Aku akan bilang bahwa aku baik-baik saja. Bahwa aku bahagia. Bahwa mereka tidak perlu khawatir. Tapi aku tidak akan pulang. Bukan sekarang."
"Dan status sosial? Jurang antara aku sebagai anak kampung dan kau sebagai putri bangsawan?"
Pandan Wangi tersenyum. "Kau lupa, Sultan Hasan? Aku bukan lagi putri bangsawan. Aku penunggu telaga. Status sosial tidak berarti apa-apa di sini. Yang berarti adalah cinta. Dan kita punya itu."
Sultan Hasan memeluk Pandan Wangi erat-erat.
"Terima kasih, Pandan. Karena memilihku. Karena tidak memperdulikan status sosial. Karena tetap mencintaiku meskipun aku hanya anak kampung."
"Kau bukan anak kampung lagi, Sultan Hasan. Kau adalah penjaga hati. Itu status yang lebih tinggi dari bangsawan mana pun."
Mereka berdua tersenyum.
Utusan itu kembali ke istana dengan tangan hampa. Ia membawa pesan dari Pandan Wangi: "Aku tidak akan pulang. Aku bahagia di sini. Aku mencintai Sultan Hasan. Dan tidak ada yang bisa memisahkan kami, kecuali kematian."
Adipati itu mengamuk. Ia memecahkan semua piring dan vas di istananya. Ia membentak-bentak para pelayan.
"Anak durhaka!" teriaknya. "Ia lebih memilih pemuda kampung daripada keluarganya! Ia lebih memilih telaga daripada istana! Ia lebih memilih cinta daripada harta!"
Ia memerintahkan pasukannya untuk menangkap Sultan Hasan dan memenjarakannya. Tapi ibunya — istri adipati yang sakit-sakitan — melarang.
"Biarkan dia," kata ibunya. "Ia sudah dewasa. Ia berhak memilih jalannya sendiri. Kau dulu juga tidak direstui orang tuamu saat menikah denganku. Apa kau lupa?"
Adipati itu terdiam. Ia teringat masa lalunya. Dulu, ia juga dilarang menikahi perempuan pilihannya. Tapi ia tetap ngotot. Ia kawin lari. Ia membawa istrinya ke tempat yang jauh. Baru setelah orang tuanya meninggal, ia kembali ke istana.
"Kau benar," katanya pada istrinya. "Aku tidak punya hak melarang anakku. Aku juga dulu seperti dia."
Ia membatalkan perintah penangkapan. Ia mengirim utusan lagi ke Dukuh Wangi. Kali ini bukan dengan surat ancaman. Tapi dengan surat restu.
"Anakku, jika kau bahagia di sana, tetaplah di sana. Ayah dan ibu merestuimu. Jagalah dirimu baik-baik. Dan jangan lupa mengirim kabar setiap bulan."
Pandan Wangi menangis membaca surat itu. Sultan Hasan memeluknya.
"Kau lihat?" katanya. "Orang tua tidak pernah benar-benar tega pada anaknya. Pada akhirnya, mereka akan mengalah."
"Aku tahu," kata Pandan Wangi sambil terisak. "Aku tahu."
Sejak hari itu, Sultan Hasan dan Pandan Wangi tidak lagi menyembunyikan hubungan mereka.
Mereka sering terlihat bersama. Di pasar. Di sungai. Di telaga. Kadang mereka berjalan berdua di pinggir hutan, bergandengan tangan, tertawa, bercerita.
Warga desa yang dulu membenci Sultan Hasan, kini mulai menerimanya. Mereka melihat bahwa Sultan Hasan adalah pemuda yang baik. Ia suka menolong. Ia tidak sombong. Ia dermawan. Ia juga pintar dan terampil.
"Anak itu dulu kita salah pahami," kata seorang tetua desa. "Kita terlalu cepat menuduhnya sebagai pembawa sial. Padahal, semua musibah yang terjadi bukan salahnya."
"Mungkin memang Nini Mas Intan yang melindunginya dari balik kubur," kata yang lain.
"Mungkin juga telaga yang menjaganya."
"Mungkin juga cintanya pada Pandan Wangi yang membuatnya baik."
Warga desa tidak tahu persis. Tapi mereka setuju bahwa Sultan Hasan tidak pantas diperlakukan seperti dulu. Ia pantas dihormati. Ia pantas dikagumi.
Bahkan Kyai Mandrawijaya — tetua adat yang dulu pernah hendak mengorbankannya — datang meminta maaf.
"Sultan Hasan," katanya suatu hari, "aku datang untuk minta maaf. Dulu, aku buta. Aku terlalu percaya pada mitos dan takhayul. Aku nyaris membunuhmu. Aku tidak pantas disebut tetua adat. Maafkan aku."
Sultan Hasan tersenyum. "Kyai tidak perlu minta maaf. Kyai hanya melakukan apa yang Kyai yakini benar saat itu. Masa lalu biarlah berlalu. Sekarang kita fokus pada masa depan."
Kyai Mandrawijaya menangis. Ia memeluk Sultan Hasan.
"Kau anak baik. Kau penjaga hati sejati. Dukuh Wangi bangga padamu."
Malam harinya, Sultan Hasan datang ke telaga. Pandan Wangi sudah menunggu.
"Apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Pandan Wangi. "Kau sudah menyelesaikan semua urusanmu di Bandar Cendana? Kau sudah memaafkan semua orang yang pernah bersalah padamu? Kau sudah siap memulai hidup baru?"
"Siap," kata Sultan Hasan. "Aku akan tinggal di Dukuh Wangi. Aku akan membangun rumah di tepi telaga. Aku akan bertani. Aku akan berdagang. Aku akan menjadi penjaga hati. Dan aku akan bersamamu. Setiap hari. Setiap malam. Selamanya."
"Kau tahu, sebagai penunggu telaga, aku tidak bisa tinggal bersamamu di rumah. Aku harus tinggal di telaga. Tapi kau bisa datang ke sini kapan saja. Aku akan selalu menunggu."
"Itu sudah cukup, Pandan. Aku tidak perlu kau tinggal di rumahku. Yang penting kau ada. Di sini. Di hatiku."
Mereka berdua tersenyum. Mereka berpelukan di bawah cahaya bulan.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap mereka. Matanya bundar dan kuning. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu terbang. Meninggalkan suara yang nyaring.
Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti seruan untuk memulai babak baru dalam kehidupan mereka.
Babak di mana cinta tidak lagi terhalang status sosial.
Babak di mana cinta tidak lagi terhalang kutukan.
Babak di mana cinta tidak lagi terhalang apa pun.
Karena cinta sejati selalu menemukan jalannya.
Selamanya.
BAB XXXV
Pusaka Merah Bergetar Hebat saat Sultan Hasan Berjumpa Pandan Wangi
Setelah pengakuan cinta dan restu dari keluarga Pandan Wangi, hubungan mereka semakin erat. Sultan Hasan kini tinggal di sebuah rumah kecil yang ia bangun sendiri di tepi desa, tidak jauh dari telaga. Rumah itu sederhana: dinding dari anyaman bambu, atap dari daun rumbia, lantai dari tanah yang dipadatkan. Tapi ia merasa itu istana, karena dari halaman rumahnya ia bisa melihat telaga, dan di telaga itu ada Pandan Wangi.
Setiap pagi, sebelum matahari terbit, Sultan Hasan pergi ke telaga. Ia duduk di batu hitam, menunggu Pandan Wangi muncul dari balik kabut. Setiap sore, setelah selesai bekerja di ladang atau di pasar, ia kembali ke telaga. Ia membawa buah-buahan atau kue tradisional untuk Pandan Wangi, meskipun Pandan Wangi tidak perlu makan.
Tapi ada satu keanehan yang mulai ia sadari.
Setiap kali ia bertemu dengan Pandan Wangi, setiap kali ia memandang wajahnya, setiap kali ia mendengar suaranya, setiap kali ia merasakan sentuhan tangannya... batu akik merah di jarinya bergetar hebat. Bukan berdenyut pelan seperti biasanya. Bukan berdenyut kencang seperti saat ia marah atau takut. Tapi bergetar. Keras. Seperti ingin lepas dari tempatnya. Seperti ada sesuatu di dalam batu itu yang sangat gembira.
"Apa yang terjadi denganmu?" bisik Sultan Hasan pada batu itu, saat ia sendirian di rumahnya.
Batu itu terus bergetar. Tidak menjawab. Tidak berbisik seperti biasanya. Hanya bergetar.
Keesokan harinya, saat ia bertemu Pandan Wangi lagi, batu itu bergetar lebih keras. Sultan Hasan hampir tidak bisa menggenggam cincinnya. Rasanya seperti memegang benda hidup yang sedang berontak.
"Kau baik-baik saja?" tanya Pandan Wangi, melihat wajah Sultan Hasan yang pucat.
"Aku baik-baik saja. Hanya... pusakaku. Ia bergetar setiap kali aku bertemu denganmu."
Pandan Wangi mengerutkan kening. Ia meraih tangan Sultan Hasan. Ia memandang cincin batu akik merah itu.
"Bergetar?" ulangnya. "Sejak kapan?"
"Sejak beberapa hari yang lalu. Mungkin sejak kita... sejak kita saling mengakui cinta."
Pandan Wangi terdiam. Ia merenung. Kemudian matanya membesar. Seperti baru ingat sesuatu.
"Aku tahu kenapa," katanya.
"Kenapa?"
"Karena batu akik merah di jarimu dan batu akik merah di leherku adalah sepasang. Mereka diciptakan dari bahan yang sama, oleh pertapa yang sama, pada waktu yang sama. Batu itu adalah pusaka yang diturunkan dari generasi ke generasi. Tujuannya: untuk mempertemukan dua insan yang ditakdirkan bersama."
"Jadi... batu ini sengaja bergetar untuk mempertemukan kita?"
"Bukan hanya mempertemukan. Tapi juga... menyatukan. Batu ini akan bergetar semakin keras, semakin dekat kita. Dan jika kita... jika kita benar-benar bersatu... batu ini akan menyatu. Cincinmu dan kalungku akan menjadi satu. Tidak bisa dipisahkan lagi."
Sultan Hasan memandang cincinnya. Lalu memandang kalung Pandan Wangi. Batu akik merah di leher Pandan Wangi juga bergetar. Sama kerasnya dengan batu di jarinya.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanyanya.
"Kita tidak perlu melakukan apa pun. Batu ini akan menuntun kita. Ikuti saja getarannya. Ia akan membawa kita ke tempat yang tepat, pada waktu yang tepat."
Hari-hari berlalu. Getaran batu akik merah itu semakin keras setiap kali Sultan Hasan dan Pandan Wangi bertemu. Kadang-kadang, di malam hari, Sultan Hasan terbangun karena getarannya sangat kuat hingga menggetarkan seluruh rumahnya.
Jaya yang kadang menginap di rumah Sultan Hasan, juga merasakan getaran itu. "Apa itu?" tanyanya ketakutan. "Gempa?"
"Bukan. Itu pusakaku," kata Sultan Hasan.
"Pusakamu bisa menyebabkan gempa?"
"Sepertinya begitu."
Jaya menggeleng-gelengkan kepala. "Pusaka macam apa itu? Biasanya pusaka digunakan untuk perang, untuk tolak bala, untuk kesaktian. Tapi pusakamu... untuk bergetar?"
"Batu ini hidup," kata Sultan Hasan. "Ia punya perasaan. Ia bisa marah. Ia bisa takut. Ia bisa bahagia. Dan sekarang, ia sedang sangat bahagia."
"Kenapa bahagia?"
"Karena ia bertemu dengan pasangannya. Batu akik merah di leher Pandan Wangi."
Jaya manggut-manggut. Ia tidak sepenuhnya mengerti. Tapi ia tidak mau bertanya lebih jauh. Urusan pusaka dan cinta adalah urusan Sultan Hasan. Ia hanya sahabat. Tugasnya mendukung, bukan ikut campur.
Suatu malam, saat bulan purnama bersinar terang, Sultan Hasan dan Pandan Wangi duduk di batu hitam di tepi telaga.
Getaran batu akik merah di jari Sultan Hasan dan di leher Pandan Wangi sudah sangat keras. Mereka bisa mendengar suaranya: "Brummm... brummm... brummm..." seperti suara gendang yang dipukul dari kejauhan.
"Pandan," kata Sultan Hasan. "Aku takut."
"Takut apa?"
"Aku takut batu ini akan meledak. Aku takut ia akan menghancurkan kita."
Pandan Wangi tersenyum. "Ia tidak akan meledak. Ia hanya akan... meleleh."
"Meleleh?"
"Iya. Meleleh. Menyatu. Menjadi satu. Seperti cinta kita."
Pandan Wangi melepas kalung dari lehernya. Ia memegang batu akik merah itu di telapak tangannya. Batu itu bergetar sangat keras, hampir seperti mau lepas dari genggamannya.
"Berikan cincinmu," katanya.
Sultan Hasan melepas cincin dari jarinya. Batu akik merah itu juga bergetar sangat keras.
Pandan Wangi mendekatkan kedua batu itu. Satu di telapak tangan kirinya, satu di telapak tangan kanannya.
Perlahan, kedua batu itu saling mendekat. Seperti ada magnet yang menarik mereka. Seperti ada kekuatan gaib yang tidak bisa dijelaskan dengan logika.
Dan ketika kedua batu itu bersentuhan... mereka meleleh.
Bukan meleleh seperti es terkena panas. Tapi meleleh seperti lilin yang membara. Batu merah itu berubah menjadi cairan kental, berwarna merah menyala, berpijar seperti lava.
Cairan itu mengalir di antara jari-jari Pandan Wangi. Mengalir di antara jari-jari Sultan Hasan. Membentuk pola-pola aneh di telapak tangan mereka. Kemudian mendingin. Mengeras. Menjadi satu.
Sebuah batu akik merah baru. Besarnya dua kali lipat dari batu asli. Warnanya lebih terang, lebih menyala, lebih hidup. Dan di permukaannya, terukir sebuah gambar: dua hati yang saling bertaut, dikelilingi oleh sulur-sulur pandan.
"Batu ini," kata Pandan Wangi dengan suara bergetar, "adalah bukti cinta kita. Tidak akan pernah bisa dipisahkan lagi."
"Apa yang harus kita lakukan dengan batu ini?" tanya Sultan Hasan.
"Kita harus menjaganya. Bersama-sama. Kau memegangnya di siang hari. Aku memegangnya di malam hari. Dan batu ini akan menjaga kita. Selamanya."
Sultan Hasan mengambil batu baru itu. Hangat. Berdenyut. Seperti jantung. Seperti kehidupan.
"Aku akan menjaganya," katanya. "Dengan nyawaku."
"Aku juga," kata Pandan Wangi.
Mereka berdua tersenyum. Di bawah cahaya bulan purnama. Di tepi telaga yang jernih. Dengan batu akik merah yang menyatu sebagai saksi cinta mereka.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap mereka. Matanya bundar dan kuning. Ia tidak berbunyi. Hanya menatap.
Seolah setuju. Seolah merestui. Seolah bahagia bahwa pusaka akhirnya menemukan pasangannya. Dan bahwa cinta akhirnya menemukan bentuknya.
Selamanya.
Sejak malam itu, getaran batu akik merah berhenti.
Batu itu sekarang diam. Tidak berdenyut. Tidak bergetar. Hanya hangat. Seperti pelukan. Seperti ciuman. Seperti bisikan: "Aku di sini. Aku akan selalu di sini."
Sultan Hasan menggantung batu itu di lehernya, bersama dengan sebuah tali dari anyaman pandan yang dibuat oleh Pandan Wangi. Batu itu menggantung di dadanya, tepat di atas jantungnya. Setiap kali jantungnya berdetak, batu itu ikut berdenyut. Setiap kali batu itu berdenyut, jantungnya ikut berdetak.
Mereka sekarang menjadi satu. Tidak terpisahkan.
"Pandan," kata Sultan Hasan suatu hari. "Apa yang akan terjadi pada kita nanti? Apakah kita bisa menikah? Apakah kita bisa hidup bersama? Apakah kita bisa bahagia?"
Pandan Wangi tersenyum. "Kita sudah menikah. Di mata telaga. Di mata batu ini. Di mata hati kita. Kita sudah hidup bersama. Setiap hari. Setiap malam. Dan kita sudah bahagia. Tidak perlu status. Tidak perlu pesta. Tidak perlu saksi. Cinta kita sudah cukup."
"Tapi manusia membutuhkan status. Manusia membutuhkan pengakuan. Manusia membutuhkan saksi."
"Kau bukan manusia biasa, Sultan Hasan. Kau adalah penjaga hati. Kau tidak perlu semua itu. Cukup kau dan aku. Dan telaga ini. Dan batu ini. Itu sudah lebih dari cukup."
Sultan Hasan tidak membantah. Ia tahu Pandan Wangi benar.
Cinta mereka memang tidak biasa. Tidak perlu legalisasi. Tidak perlu pesta. Tidak perlu saksi. Cukup ketulusan. Cukup kesetiaan. Cukup keberanian untuk bersama, apa pun risikonya.
"Itulah cinta sejati," bisiknya pada dirinya sendiri.
"Ada apa?" tanya Pandan Wangi.
"Tidak ada. Aku hanya bersyukur. Karena aku menemukanmu."
"Aku juga bersyukur. Karena kau menemukanku."
Mereka berdua tersenyum. Berpelukan. Di bawah pohon asam tua. Di tepi telaga yang jernih. Di hadapan burung hantu yang setia menjadi saksi bisu perjalanan cinta mereka.
Selamanya.
BAB XXXVI
Pandan Wangi Sakit: Mendadak Sakit Tanpa Sebab Medis – Dukun Berkata Ia Rindu pada Sesuatu yang Belum Dikenalinya
Tidak ada yang tahu persis kapan penyakit itu mulai bersarang dalam diri Pandan Wangi.
Yang diketahui Sultan Hasan, pada suatu pagi ketika ia datang ke telaga seperti biasa, Pandan Wangi tidak muncul dari balik kabut. Batu akik merah di dadanya terasa dingin. Tidak hangat seperti biasanya. Tidak berdenyut. Hanya dingin. Mati.
Sultan Hasan cemas. Ia berjalan menyusuri tepi telaga. Ia memanggil-manggil nama Pandan Wangi. Tidak ada jawaban. Ia hampir masuk ke dalam air, ingin menyelam ke dasar telaga, mencari kekasihnya yang mungkin tenggelam.
Tapi kemudian ia melihat sesosok di balik pohon beringin tua di seberang telaga. Sosok itu terbaring di tanah, bersandar pada akar pohon yang besar. Pakaiannya basah. Rambutnya kusut. Wajahnya pucat.
"PANDAN!" teriak Sultan Hasan.
Ia berlari. Menerobos semak belukar. Menyeberangi akar-akar pohon yang menjalar. Ia jatuh bangun, tidak peduli dengan luka di kaki dan tangannya. Yang penting ia bisa sampai ke sisi Pandan Wangi.
Ketika ia tiba, ia melihat Pandan Wangi terbaring lemah. Matanya terpejam. Dadanya naik turun dengan susah payah. Bibirnya biru. Tangannya dingin seperti es.
"Pandan... Pandan... apa yang terjadi padamu?" bisik Sultan Hasan sambil memangku kepala kekasihnya.
Pandan Wangi membuka mata. Samar-samar. Ia tersenyum. Senyum yang lemah. Senyum yang membuat hati Sultan Hasan hancur.
"Aku... aku tidak tahu," bisiknya. "Tiba-tiba... badanku lemas. Tidak bisa digerakkan. Aku jatuh... dan tidak bisa bangun."
"Aku akan membawamu ke dukun! Aku akan mencari obat! Aku akan melakukan apa pun untuk menyembuhkanmu!"
"Tidak usah... tidak ada gunanya. Ini bukan penyakit biasa. Ini... ini karena aku."
"Karena kau? Maksudmu?"
"Aku rindu, Sultan Hasan. Aku rindu pada sesuatu yang tidak aku kenali. Sesuatu yang ada di dalam telaga ini. Sesuatu yang dulu selalu bersamaku. Tapi sekarang... sekarang ia pergi. Meninggalkanku sendirian."
Sultan Hasan bingung. "Apa yang kau rindukan? Telaga ini masih ada. Airnya masih jernih. Dasarnya masih terlihat. Aku di sini. Aku tidak akan pergi."
"Bukan kau. Bukan telaga. Bukan air. Tapi... sesuatu yang lain. Sesuatu yang sudah bersama sejak aku menjadi penunggu telaga. Sesuatu yang kini telah tiada."
"Apa?"
Pandan Wangi menutup mata. Ia terlalu lelah untuk bicara.
Sultan Hasan menggendongnya. Ia membawa Pandan Wangi ke rumahnya di tepi desa. Ia merebahkannya di atas tikar. Ia menyelimutinya dengan kain tebal. Ia menghangatkan tubuhnya dengan api unggun.
Tapi Pandan Wangi tidak kunjung membaik.
Jaya datang ketika matahari sudah tinggi. Ia melihat Sultan Hasan duduk di samping Pandan Wangi, wajahnya pucat, matanya sembab.
"Ada apa?" tanya Jaya.
"Pandan sakit. Aku tidak tahu kenapa. Ia tidak bisa bangun."
Jaya mendekat. Ia memeriksa Pandan Wangi. Sebagai anak desa yang sudah sering melihat orang sakit, Jaya tahu mana penyakit biasa dan mana yang tidak. Ini tidak biasa. Tubuh Pandan Wangi dingin, tapi tidak demam. Nafasnya sesak, tapi tidak batuk. Wajahnya pucat, tapi tidak pusing.
"Ini aneh," kata Jaya. "Seperti bukan penyakit fisik. Tapi lebih ke... penyakit hati."
"Hati? Maksudmu?"
"Kata orang-orang tua dulu, ada penyakit yang disebabkan oleh kerinduan yang terlalu dalam. Kerinduan pada sesuatu yang tidak bisa dicapai. Kerinduan pada masa lalu. Kerinduan pada seseorang yang sudah tiada. Penyakit itu tidak bisa disembuhkan dengan obat. Hanya bisa disembuhkan dengan... menemukan apa yang dirindukan."
Sultan Hasan teringat kata-kata Pandan Wangi: "Aku rindu pada sesuatu yang tidak aku kenali."
"Apa yang ia rindukan?" bisiknya. "Ia sendiri tidak tahu."
Kata Jaya, "Kita harus membawanya ke dukun. Mungkin dukun bisa melihat apa yang tidak bisa kita lihat."
Dukun itu bernama Mbah Jayasakti. Ia sudah sangat tua. Rambutnya putih semua. Kulitnya keriput seperti kulit kayu. Matanya buta. Tapi konon, dengan mata batinnya, ia bisa melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat oleh mata biasa.
Sultan Hasan membawa Pandan Wangi ke rumah Mbah Jayasakti. Perjalanan memakan waktu satu jam. Pandan Wangi digendong di punggung Sultan Hasan. Tubuhnya ringan, seperti tidak berbobot. Tapi dinginnya menusuk hingga ke tulang.
Mbah Jayasakti sedang duduk di beranda rumahnya. Ia tidak perlu melihat untuk tahu siapa yang datang.
"Kau Sultan Hasan," katanya. "Putra Dewi Rengganis. Cucu dari Nini Mas Intan. Murid dari Ki Ageng Jagaraga. Murid dari Kyai Buyut Cakar Mase. Kau membawa Pandan Wangi, penunggu telaga. Ia sakit. Kau ingin aku menyembuhkannya."
Sultan Hasan terperangah. Mbah Jayasakti mengetahui semuanya. Bahkan tanpa ditanya.
"Bisa, Mbah?" tanyanya.
Mbah Jayasakti tidak menjawab. Ia berdiri. Ia berjalan mendekati Pandan Wangi yang terbaring di atas tandu darurat. Tangannya yang keriput menyentuh dahi Pandan Wangi. Menyentuh dadanya. Menyentuh perutnya. Menyentuh telapak tangannya.
Ia menghela napas. Panjang. Berat.
"Ini bukan penyakit, Nak. Ini... kepunahan."
"Kepunahan? Maksud Mbah?"
"Pandan Wangi adalah penunggu telaga. Ia hidup dari energi telaga itu. Selama telaga itu hidup, ia hidup. Selama telaga itu sehat, ia sehat. Tapi sekarang... telaga itu sedang sakit."
"Telaga? Telaga larangan? Tapi airnya masih jernih. Dasarnya masih terlihat. Tidak ada yang berubah."
"Yang berubah bukan yang terlihat. Tapi yang tidak terlihat. Energi telaga itu mulai habis. Mungkin karena polusi. Mungkin karena ulah manusia. Mungkin karena usia. Aku tidak tahu. Yang aku tahu, telaga itu sedang sekarat. Dan jika telaga itu mati, Pandan Wangi juga akan mati."
Sultan Hasan gemetar. "Tidak! Aku tidak bisa kehilangan dia! Aku baru saja menemukannya! Aku baru saja merasakan kebahagiaan! Aku belum siap kehilangan lagi!"
Mbah Jayasakti menghela napas lagi. "Kau tidak perlu kehilangan dia, Nak. Kau bisa menyelamatkannya."
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Kau harus mencari sumber energi telaga itu. Sumbernya tidak di telaga. Tapi di hulu sungai. Di sebuah gua. Di dalam gua itu, ada sebuah pusaka. Pusaka yang sama dengan pusaka yang kau pakai sekarang. Batu akik merah. Tapi lebih besar. Jauh lebih besar. Batu itu adalah jantung telaga. Jika batu itu rusak, telaga itu mati. Jika batu itu diambil, telaga itu kering. Jika batu itu dijaga, telaga itu hidup."
"Aku harus menjaga batu itu?"
"Bukan kau. Tapi Pandan Wangi. Tugasnya sebagai penunggu telaga adalah menjaga batu itu. Tapi ia lupa. Ia terlalu sibuk dengan cintanya padamu. Ia meninggalkan gua itu. Ia meninggalkan batu itu. Dan sekarang, batu itu mulai rusak."
Sultan Hasan menunduk. Ini salahnya. Jika ia tidak jatuh cinta pada Pandan Wangi, Pandan Wangi tidak akan meninggalkan tugasnya. Jika Pandan Wangi tidak meninggalkan tugasnya, batu itu tidak akan rusak. Jika batu itu tidak rusak, telaga itu tidak akan sekarat. Jika telaga itu tidak sekarat, Pandan Wangi tidak akan sakit.
"Ini semua salahku," bisiknya.
"Bukan salah siapa-siapa, Nak. Ini sudah takdir. Tapi kau bisa memperbaikinya. Kau bisa pergi ke gua itu. Kau bisa memperbaiki batu itu. Kau bisa menyelamatkan telaga itu. Kau bisa menyelamatkan Pandan Wangi."
"Di mana gua itu? Aku akan pergi sekarang."
Mbah Jayasakti menunjuk ke timur. "Ikuti sungai ke hulu. Sampai ke ujung. Di sana ada air terjun. Di belakang air terjun, ada gua. Di dalam gua, ada batu itu. Tapi hati-hati. Gua itu dijaga oleh makhluk halus. Mereka tidak suka gangguan. Mereka akan mencoba menghalangimu."
"Aku tidak takut pada makhluk halus. Aku akan masuk ke gua itu. Aku akan memperbaiki batu itu. Aku akan menyelamatkan Pandan Wangi."
"Bagus. Tapi ingat, Nak. Kau harus kembali sebelum matahari terbit. Jika kau tidak kembali, kau akan terperangkap di dalam gua selamanya."
Sultan Hasan mengangguk. Ia mengecup kening Pandan Wangi.
"Tunggulah aku, Pandan. Aku akan kembali. Aku janji."
Pandan Wangi membuka mata. Samar-samar. Ia tersenyum.
"Aku... menunggumu," bisiknya.
Sultan Hasan berdiri. Ia berlari. Meninggalkan rumah Mbah Jayasakti. Menuju ke timur. Menuju sungai. Menuju hulu. Menuju gua. Menuju jantung telaga yang mulai rusak.
Di jari manisnya, batu akik merah baru itu berdenyut. Hangat. Seperti memberikan semangat.
"Kau bisa," bisik batu itu. "Aku di sini. Aku akan membantumu."
"Terima kasih," bisik Sultan Hasan balik.
Ia terus berlari. Meninggalkan keraguan. Meninggalkan ketakutan. Meninggalkan segala sesuatu yang menghalanginya.
Ia akan menyelamatkan Pandan Wangi. Apapun risikonya.
BAB XXXVII
Sultan Hasan Menyelinap ke Istana – Tertangkap dan Hampir Dihukum Mati
Perjalanan ke hulu sungai memakan waktu sehari semalam.
Sultan Hasan tidak berhenti. Ia berlari, berjalan, memanjat, menyeberangi sungai, melewati hutan yang lebat, melewati jurang yang dalam, melewati segala rintangan yang menghadang. Batu akik merah di dadanya berdenyut terus, memberi semangat, memberi petunjuk arah, memberinya kekuatan untuk terus melangkah.
Akhirnya, setelah matahari terbenam untuk kedua kalinya, ia sampai di air terjun.
Air terjun itu tinggi, sekitar dua puluh meter. Airnya jatuh dari tebing batu, memercik ke mana-mana, menciptakan kabut tipis yang menutupi seluruh area. Suaranya gemuruh, memekakkan telinga. Di belakang air terjun itu, samar-samar, Sultan Hasan melihat sebuah lubang. Gua.
Ia tidak ragu. Ia berenang menembus air terjun. Tubuhnya diguyur air deras yang jatuh dari ketinggian. Ia hampir terseret arus, hampir kehilangan keseimbangan. Tapi ia bertahan. Ia terus berenang. Ia terus maju.
Dan akhirnya, ia sampai.
Di dalam gua.
Gua itu gelap. Sangat gelap. Tidak ada cahaya matahari yang tembus. Tidak ada cahaya bulan atau bintang. Hanya kegelapan pekat yang terasa menyentuh kulit, masuk ke pori-pori, meresap ke dalam tulang.
Tapi Sultan Hasan tidak takut. Ia mengambil batu akik merah dari dadanya. Batu itu berpendar. Cahaya merahnya menerangi gua, walau hanya sedikit.
Ia berjalan. Menyusuri lorong gua yang sempit. Kadang harus merangkak. Kadang harus memanjat. Kadang harus menyusuri tepi jurang yang dalam.
Di kejauhan, ia melihat cahaya. Bukan cahaya batu akiknya. Tapi cahaya dari dalam gua. Cahaya kemerahan, berpendar-pendar, seperti jantung raksasa yang berdenyut.
Ia mendekat.
Di ujung lorong, ada sebuah ruangan besar. Di tengah ruangan itu, terbaring sebuah batu akik merah raksasa. Besarnya seperti kepala kerbau. Warnanya merah tua, gelap, hampir kehitaman. Dan di permukaannya, terlihat retakan. Retakan yang dalam, panjang, menjalar ke seluruh permukaan batu. Dari retakan itu, keluar cahaya merah yang redup. Seperti darah yang mengalir dari luka.
"Ini dia," bisik Sultan Hasan. "Jantung telaga. Batu pusaka yang dijaga Pandan Wangi."
Ia mendekat. Ia mengulurkan tangan. Ia menyentuh batu itu.
Dingin. Mati. Tidak berdenyut.
"Ini rusak parah," bisiknya. "Bagaimana cara memperbaikinya?"
Ia memandang batu akik merah di tangannya. Batu kecil yang merupakan hasil peleburan cincin dan kalungnya dulu. Batu itu berdenyut. Hangat. Seperti memberi ide.
"Satukan aku dengan dia," bisik batu itu. "Biarkan aku masuk ke dalam retakan-retakan itu. Aku akan menyembuhkannya dari dalam."
"Tapi kau akan lenyap."
"Aku tidak akan lenyap. Aku akan menjadi satu dengan dia. Aku akan menjadi lebih besar, lebih kuat, lebih hidup. Dan aku akan tetap bersamamu. Karena kau adalah pemilikku. Selamanya."
Sultan Hasan ragu. Batu akik merah itu adalah satu-satunya pusaka yang ia miliki. Satu-satunya peninggalan dari ayahnya, dari kakeknya, dari leluhurnya. Satu-satunya teman yang selalu setia menemaninya sejak ia masih bayi.
Tapi ia juga tahu, jika batu itu tidak menyatu dengan batu besar ini, telaga itu akan mati. Dan jika telaga itu mati, Pandan Wangi akan mati.
Ia tidak bisa kehilangan Pandan Wangi.
"Ia rela," kata Sultan Hasan pada dirinya sendiri. "Aku juga harus rela."
Ia mendekatkan batu kecil itu ke batu besar. Batu kecil itu bergetar. Sangat keras. Cahaya merahnya menyala terang, hampir membutakan mata.
Dan ketika kedua batu itu bersentuhan... terjadi ledakan.
Ledakan yang dahsyat. Seluruh gua bergetar. Tanah di bawah kakinya bergoyang. Dinding-dinding gua retak. Batu-batu kecil berjatuhan dari langit-langit.
Sultan Hasan terpental. Ia jatuh ke belakang, terbanting ke dinding gua. Kepalanya terantuk batu. Dunianya menjadi gelap.
Ketika ia sadar, cahaya di dalam gua sudah berubah.
Batu besar itu sekarang tidak lagi redup. Ia bersinar terang. Sangat terang. Merah menyala, seperti api. Dan retakan-retakan di permukaannya sudah hilang. Batu itu utuh. Sempurna. Hidup.
Batu akik merah kecil Sultan Hasan sudah tidak ada. Ia sudah menyatu dengan batu besar itu. Tapi Sultan Hasan tidak kehilangan. Ia merasakan ada hubungan baru antara dirinya dan batu besar itu. Seperti tali tak terlihat yang menghubungkan hati mereka.
Batu besar itu berdenyut. Sama seperti dulu batu kecilnya berdenyut. Tapi lebih kuat. Lebih dalam. Lebi h terasa.
"Terima kasih," bisik suara dari batu itu. "Kau sudah menyembuhkanku. Sekarang, aku akan menjagamu. Dan kau akan menjagaku. Selamanya."
Sultan Hasan tersenyum. Ia bangkit. Tubuhnya sakit semua. Ada benjolan di kepalanya. Luka di lengan dan kakinya. Tapi ia tidak peduli.
Ia berjalan keluar dari gua. Menembus air terjun. Berenang ke seberang. Dan terus berjalan pulang.
Di rumah Mbah Jayasakti, Pandan Wangi sudah bangun.
Ia duduk di beranda, memandang ke arah timur, menunggu. Wajahnya masih pucat. Tapi matanya sudah bersinar lagi. Bibirnya sudah merah lagi. Tangannya sudah hangat lagi.
"Sultan Hasan!" teriaknya ketika melihat kekasihnya muncul dari balik pepohonan.
Ia berlari. Sultan Hasan juga berlari. Mereka bertemu di tengah jalan. Berpelukan. Menangis. Tertawa. Bersyukur.
"Kau sembuh," kata Sultan Hasan.
"Kau menyembuhkanku," kata Pandan Wangi.
"Batu itu sudah utuh. Telaga itu sudah hidup. Kita selamat."
"Kita selamat."
Mereka berpelukan lebih erat. Tidak ingin melepaskan.
Mbah Jayasakti yang melihat dari kejauhan, tersenyum. "Cinta," bisiknya. "Cinta yang tulus bisa menyembuhkan apa pun. Bahkan telaga yang sekarat."
Ia masuk ke dalam rumah. Meninggalkan dua sejoli itu di bawah pohon beringin, berpelukan, bercerita, bercanda, tertawa.
Di kejauhan, burung hantu berbunyi. Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti seruan untuk terus menjaga cinta itu. Selamanya.
BAB XXXVIII
Pandan Wangi Memohon: Dengan Suara Lemah Meminta Ayahnya Mengampuni Sultan Hasan
Setelah peristiwa di gua, kesehatan Pandan Wangi pulih total.
Wajahnya yang semula pucat kini kembali berseri. Matanya yang semula sayu kini kembali bercahaya. Senyumnya yang semula lemah kini kembali lebar dan hangat. Telaga larangan juga pulih. Airnya yang semula keruh beberapa hari kini kembali jernih. Tanaman air yang semula layu kini kembali segar. Ikan-ikan yang semula mati kini kembali berenang.
Semua berkat Sultan Hasan. Ia telah menyelamatkan telaga. Ia telah menyelamatkan Pandan Wangi.
Tapi kebahagiaan mereka tidak bertahan lama.
Karena kabar tentang penyembuhan telaga menyebar dengan cepat. Bukan hanya sampai ke telinga warga desa, tapi juga sampai ke telinga adipati — ayah Pandan Wangi — di kerajaan tetangga.
"Apa?" adipati itu terkejut ketika mendengar laporan dari utusannya. "Pandan Wangi sakit? Hampir mati? Tapi kemudian disembuhkan oleh seorang pemuda kampung bernama Sultan Hasan? Pemuda yang dulu pernah aku larang mendekati anakku?"
"Benar, Paduka," kata utusan itu. "Pemuda itu masuk ke dalam gua di balik air terjun. Ia menyatukan pusakanya dengan jantung telaga. Ia menyembuhkan telaga yang sekarat. Dan berkat itu, putri Paduka selamat."
Adipati itu terdiam. Ia berjalan mondar-mandir di ruang singgasananya. Wajahnya merah padam, entah karena marah atau karena malu.
"Pemuda kampung itu... ia berani," gumamnya. "Ia berani masuk ke gua yang dijaga makhluk halus. Ia berani mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan anakku. Ia... ia pantas menjadi menantu."
Tapi perkataan itu tidak didengar siapa pun. Adipati itu hanya bergumam dalam hati.
Dua hari kemudian, adipati itu datang sendiri ke Dukuh Wangi.
Ia tidak datang dengan pasukan. Tidak dengan pengawal. Tidak dengan kemewahan. Ia datang dengan pakaian biasa, hanya ditemani dua orang ajudan. Ia ingin melihat calon menantunya dengan mata kepalanya sendiri.
Sultan Hasan sedang duduk di beranda rumahnya ketika adipati itu tiba. Pandan Wangi sedang duduk di sampingnya, menyulam kain. Mereka terkejut melihat tamu yang tidak diundang.
"Ayah..." bisik Pandan Wangi. Wajahnya pucat.
Adipati itu tidak menyapa anaknya. Ia langsung memandang Sultan Hasan. Matanya menyipit. Ia memeriksa pemuda itu dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Kau Sultan Hasan?" tanyanya.
"Saya, Paduka," kata Sultan Hasan sambil berdiri dan membungkuk hormat.
"Kau yang menyelamatkan anakku?"
"Saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan, Paduka. Pandan Wangi orang yang saya cintai. Saya tidak tega melihatnya sakit."
Adipati itu menggerutu. "Cinta. Semua orang bilang cinta. Tapi cinta tidak bisa dimakan. Cinta tidak bisa membuat perut kenyang. Cinta tidak bisa membeli istana."
"Saya tidak butuh istana, Paduka. Saya cukup dengan rumah sederhana ini. Saya cukup dengan ladang dan kebun. Saya cukup dengan telaga ini. Saya cukup dengan Pandan Wangi."
Adipati itu terdiam. Ia tidak menyangka pemuda kampung akan seberani itu berbicara di depannya. Kebanyakan orang akan gemetar dan terbata-bata. Tapi Sultan Hasan bicara dengan tenang, dengan mata jujur, dengan hati tulus.
"Kau tidak takut padaku?" tanya adipati.
"Saya tidak takut, Paduka. Saya hanya hormat. Hormat sebagai anak pada orang tua. Hormat sebagai rakyat pada penguasa. Tapi tidak takut. Karena rasa takut akan membuat saya berbohong. Dan saya tidak mau berbohong pada calon mertua."
Adipati itu terkejut. "Calon mertua? Kau sudah berani menganggapku calon mertua? Padahal aku belum merestui hubungan kalian!"
"Saya mohon restu Paduka," kata Sultan Hasan sambil berlutut. "Saya mohon Paduka merestui cinta kami. Saya mohon Paduka mengizinkan saya meminang Pandan Wangi. Saya akan bekerja keras. Saya akan membuatnya bahagia. Saya akan melindunginya. Saya akan menjaganya. Saya mohon."
Adipati itu terdiam. Ia tidak menyangka pemuda itu akan berlutut di depannya. Ia tidak menyangka pemuda itu akan memohon restu dengan setulus itu.
Sebelum ia sempat menjawab, Pandan Wangi bangkit. Ia berlutut di samping Sultan Hasan.
"Ayah," katanya dengan suara lemah. Suaranya bergetar. Matanya basah. "Ayah, aku mohon. Jangan pisahkan aku dengan Sultan Hasan. Aku sudah dewasa. Aku bisa memilih jalanku sendiri. Tapi aku tidak bisa memilih untuk tidak mencintainya. Karena cinta ini sudah melekat di hatiku. Seperti akar pohon yang menjalar ke dalam tanah. Tidak bisa dicabut. Tidak bisa diputuskan."
Adipati itu terharu. Ia belum pernah melihat anaknya memohon seperti itu. Pandan Wangi dulu selalu keras kepala. Ia tidak pernah mau mengalah. Ia tidak pernah mau memohon. Ia selalu melawan, membangkang, kabur.
Tapi sekarang, demi cinta, ia berlutut. Ia memohon. Ia bersedia merendahkan diri.
"Anakku..." bisik adipati itu.
"Ayah, aku tahu aku sudah mengecewakan Ayah. Aku lari dari istana. Aku bersembunyi di telaga. Aku menjadi penunggu, bukan putri. Aku memalukan keluarga. Tapi aku tidak bisa hidup tanpa dia, Ayah. Aku sudah mencoba. Aku sudah bertahan bertahun-tahun tanpa dia. Tapi setiap hari, setiap malam, setiap detak jantungku, namanya yang terucap. Sultan Hasan. Sultan Hasan. Sultan Hasan."
Air mata adipati itu jatuh. Ia tidak bisa menahan haru.
"Berhenti, Nak," katanya. "Berhenti memohon. Ayah sudah memaafkan kalian sejak lama. Ayah hanya butuh waktu untuk menerima kenyataan bahwa anak Ayah tumbuh dewasa, bahwa anak Ayah punya pilihan sendiri, bahwa anak Ayah tidak butuh harta dan tahta, hanya butuh cinta."
Adipati itu memeluk Pandan Wangi. Ia menangis. Pandan Wangi juga menangis.
Sultan Hasan masih berlutut di samping mereka. Air matanya juga menetes.
"Ayah merestui kalian," kata adipati itu. "Ayah merestui pernikahan kalian. Ayah akan mengadakan pesta di istana. Ayah akan mengundang seluruh kerabat. Ayah akan memberikan mas kawin yang terbaik."
"Tidak usah, Ayah," kata Sultan Hasan. "Kami tidak butuh pesta. Kami tidak butuh kemewahan. Kami hanya butuh restu Ayah. Itu sudah cukup."
Adipati itu memandang Sultan Hasan. Matanya basah, tapi tersenyum.
"Kau pemuda yang baik," katanya. "Pandan Wangi beruntung memilihmu."
"Saya yang beruntung, Paduka. Pandan Wangi adalah anugerah terindah dalam hidup saya."
Mereka berdua bersalaman. Adipati itu memeluk Sultan Hasan. Seperti ayah memeluk anaknya sendiri.
Malam harinya, adipati itu pulang ke istana.
Ia pergi dengan hati gembira. Ia mendapatkan menantu yang baik, meskipun hanya pemuda kampung. Ia mendapatkan kembali anaknya yang hilang, meskipun tidak mau kembali ke istana. Ia mendapatkan ketenangan, meskipun harus merelakan Pandan Wangi tinggal di desa.
Sebelum pergi, ia berpesan pada Sultan Hasan.
"Jagalah anakku," katanya. "Ia keras kepala. Ia suka melawan. Ia susah diatur. Tapi hatinya baik. Ia hanya butuh seseorang yang mengerti."
"Aku akan menjaganya, Paduka. Dengan nyawaku."
"Bagus. Aku percaya padamu."
Adipati itu menaiki kudanya. Ia melambai pada Pandan Wangi. Pandan Wangi membalas lambaian itu.
"Jaga diri, Ayah!" teriaknya.
"Kamu juga, Nak!" teriak adipati itu balik.
Kuda itu berlari. Meninggalkan Dukuh Wangi. Meninggalkan telaga. Meninggalkan Pandan Wangi dan Sultan Hasan.
Tapi tidak benar-benar meninggalkan.
Ia akan selalu ada. Di hati. Di doa. Di restu.
Setelah kepergian adipati, Sultan Hasan dan Pandan Wangi duduk di tepi telaga.
Bulan purnama bersinar terang. Air telaga jernih, memantulkan cahaya bulan, menciptakan ribuan titik berkilauan seperti berlian.
"Ayahku merestui kita," kata Pandan Wangi.
"Iya," kata Sultan Hasan. "Kita bisa menikah."
"Tapi aku tidak bisa menjadi istri yang normal, Sultan Hasan. Aku tidak bisa tinggal di rumahmu. Aku harus tinggal di telaga. Aku tidak bisa memberimu anak. Aku tidak bisa..."
"Sudahlah, Pandan. Aku tidak butuh semua itu. Aku hanya butuh kau. Di sini. Di hatiku. Itu sudah cukup."
Pandan Wangi tersenyum. Ia mencium pipi Sultan Hasan.
"Kau lelaki terbaik yang pernah aku kenal," bisiknya.
"Kau juga perempuan terbaik yang pernah aku kenal," bisik Sultan Hasan balik.
Mereka berdua terdiam. Menikmati malam. Menikmati kehadiran satu sama lain. Menikmati cinta yang telah direstui.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap mereka. Matanya bundar dan kuning. Ia tidak berbunyi. Hanya menatap.
Seolah setuju. Seolah merestui. Seolah bahagia bahwa cinta akhirnya menemukan jalannya.
Selamanya.
BAB XXXIX
Janji Diam-diam: Sebelum Sultan Hasan Diusir dari Kota, Pandan Wangi Berbisik, "Tunggulah Aku di Telaga Tua Saat Purnama Pertama"
Restu dari adipati tidak serta-merta mengubah keadaan.
Meskipun ayah Pandan Wangi telah merestui hubungan mereka, ada pihak lain yang tidak setuju. Para pejabat istana, para bangsawan, para kerabat dekat — mereka semua menganggap pernikahan antara seorang putri bangsawan dengan pemuda kampung adalah aib. Sebuah noda hitam yang tidak bisa dihapuskan dari lembaran sejarah keluarga.
"Kita tidak bisa membiarkan ini terjadi," kata Perdana Menteri dalam sebuah rapat tertutup di istana. "Jika putri Paduka menikah dengan rakyat biasa, martabat kerajaan akan jatuh. Keluarga bangsawan lain akan menertawakan kita. Sekutu-sekutu kita akan menarik dukungan mereka."
Adipati itu diam. Ia tidak bisa membantah. Sebagai penguasa, ia harus memikirkan stabilitas kerajaan. Tidak bisa hanya mengikuti keinginan hati.
"Apa yang harus saya lakukan?" tanyanya.
"Putri Paduka harus segera dinikahkan dengan pangeran dari kerajaan tetangga. Sudah ada lamaran dari Kerajaan Kencana Wungu. Pangeran Kertawijaya adalah pemuda tampan, kaya raya, dan keturunan bangsawan tulen. Itu pasangan yang pantas untuk putri Paduka."
"Tapi Pandan Wangi tidak mau. Ia sudah punya pilihan sendiri. Ia sudah jatuh cinta pada Sultan Hasan."
"Cinta adalah urusan belakangan, Paduka. Yang utama adalah martabat kerajaan. Putri Paduka akan mengerti suatu hari nanti. Dan jika tidak, biarlah. Yang penting kerajaan selamat."
Adipati itu menghela napas. Ia terjepit. Di satu sisi, ia ingin membahagiakan anaknya. Di sisi lain, ia tidak mau mengecewakan kerajaan.
"Apa yang harus saya lakukan terhadap Sultan Hasan?" tanyanya.
"Pemuda itu harus diusir dari kerajaan. Jangan biarkan ia mendekati putri Paduka lagi. Jika perlu, kita suruh pasukan untuk menangkapnya dan membuangnya ke pulau terpencil."
"Tidak. Jangan sakiti dia. Ia sudah menyelamatkan anakku. Ia orang baik."
"Baiklah, Paduka. Kita tidak akan menyakitinya. Tapi ia harus pergi. Jauh. Dan tidak boleh kembali."
Adipati itu mengangguk lesu.
Keesokan harinya, utusan dari istana datang ke Dukuh Wangi.
Mereka membawa surat perintah pengusiran untuk Sultan Hasan. Isinya: "Kamu harus meninggalkan kerajaan ini dalam waktu tiga hari. Kamu tidak boleh kembali. Kamu tidak boleh menghubungi Pandan Wangi. Kamu tidak boleh mendekati telaga larangan. Jika kamu melanggar, kamu akan dihukum mati."
Sultan Hasan membaca surat itu berulang-ulang. Tangannya gemetar. Matanya berkaca-kaca. Tapi ia tidak menangis. Ia tidak mau menunjukkan kelemahannya di depan utusan kerajaan.
"Saya akan pergi," katanya singkat.
"Bagus. Jangan coba-coba melawan. Pasukan kerajaan akan mengawasimu."
Utusan itu pergi. Meninggalkan Sultan Hasan yang terdiam di depan rumahnya.
Jaya yang mendengar kabar itu, langsung marah.
"Mereka tidak berhak mengusirmu! Kau tidak melakukan kesalahan apa pun! Kau malah menyelamatkan telaga! Kau menyelamatkan putri mereka! Mereka seharusnya berterima kasih, bukan mengusir!"
"Kadang, Jaya, kebaikan tidak selalu dibalas dengan kebaikan," kata Sultan Hasan. "Kadang kebaikan dibalas dengan kejahatan. Itu sudah biasa."
"Tapi ini tidak adil!"
"Dunia memang tidak adil, Jaya. Kita sudah tahu itu sejak kecil."
Jaya terdiam. Ia tidak bisa membantah.
Malam harinya, Sultan Hasan pergi ke telaga untuk berpamitan pada Pandan Wangi.
Pandan Wangi sudah tahu. Kabar pengusiran itu sudah sampai ke telinganya melalui bisikan angin. Air matanya sudah habis. Yang tersisa hanyalah kesedihan yang dalam.
"Mereka mengusirmu," katanya.
"Iya. Aku harus pergi dalam tiga hari."
"Kemana?"
"Aku tidak tahu. Mungkin ke selatan. Mungkin ke barat. Mungkin ke utara. Yang penting aku tidak boleh tinggal di sini."
"Aku tidak bisa ikut. Aku terikat dengan telaga ini."
"Aku tahu. Aku tidak akan memintamu ikut."
Pandan Wangi menangis. Sultan Hasan memeluknya.
"Jangan menangis," katanya. "Kita masih punya tiga hari. Kita bisa menghabiskannya bersama. Kita bisa membuat kenangan. Kita bisa berjanji untuk bertemu lagi."
"Kapan? Bagaimana? Kau dilarang kembali ke kerajaan ini. Kau dilarang menghubungiku. Kau dilarang mendekati telaga."
"Sampah aturan itu. Aku tidak akan peduli. Aku akan kembali. Suatu hari. Aku janji."
"Tapi jika kau kembali, mereka akan membunuhmu."
"Biarkan mereka. Aku tidak takut mati. Yang aku takut adalah hidup tanpa dirimu."
Pandan Wangi terisak. Sultan Hasan membelai rambutnya.
"Pandan," katanya. "Dengarkan aku. Pada malam purnama pertama setelah aku pergi, kau datang ke telaga ini. Aku juga akan datang. Kita akan bertemu di sini. Diam-diam. Tanpa sepengetahuan siapa pun. Dan kita akan berjanji untuk selalu menjaga hati satu sama lain."
"Kau yakin bisa datang? Jaraknya mungkin ribuan kilometer."
"Aku akan datang. Apapun yang terjadi. Aku akan datang. Karena cinta. Karena rindu. Karena janji."
Pandan Wangi mengangguk. Ia menghapus air matanya.
"Baiklah. Aku akan menunggumu. Di telaga ini. Pada purnama pertama."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berdua bersalaman. Sebuah janji diam-diam yang tidak boleh diketahui siapa pun. Janji yang mengikat hati mereka meskipun jarak dan waktu membentang.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap mereka. Matanya bundar dan kuning. Ia tidak berbunyi. Hanya menatap.
Seolah tahu. Seolah mengerti. Seolah setuju bahwa cinta sejati tidak akan pernah terhalang oleh apapun.
Jarak. Waktu. Status sosial. Kutukan. Kematian.
Tidak ada yang bisa memisahkan mereka.
Selamanya.
Tiga hari kemudian, Sultan Hasan pergi.
Ia tidak membawa banyak barang. Hanya pakaian seadanya, bekal makanan, sebotol air, dan batu akik merah di dadanya — batu yang dulu menyatu dengan jantung telaga, batu yang sekarang menjadi satu-satunya penghubung antara dirinya dan Pandan Wangi.
Jaya ikut. "Aku tidak akan meninggalkanmu," katanya. "Ke mana pun kau pergi, aku ikut. Sampai mati."
Mereka berdua berjalan ke arah barat. Meninggalkan Dukuh Wangi. Meninggalkan telaga. Meninggalkan Pandan Wangi.
Di tepi desa, Pandan Wangi berdiri di balik pohon beringin. Ia tidak berani mendekat. Ia hanya memandang dari kejauhan. Air matanya mengalir.
"Tunggulah aku, Sultan Hasan," bisiknya. "Aku akan menunggumu. Di telaga ini. Pada purnama pertama."
Sultan Hasan tidak menoleh. Karena ia takut jika menoleh, ia tidak akan bisa pergi.
Ia terus melangkah. Menembus kabut pagi. Menuju ke barat. Menuju ke kehidupan baru. Menuju ke masa depan yang tidak pasti.
Tapi di dadanya, batu akik merah berdenyut. Hangat. Seperti bisikan: "Aku di sini. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu."
Sultan Hasan tersenyum. Ia menggenggam batu itu erat-erat.
"Terima kasih," bisiknya. "Kau adalah satu-satunya yang tersisa dari Pandan Wangi. Dan kau akan selalu bersamaku. Sampai mati."
Di kejauhan, burung hantu berbunyi. Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat jalan. Seperti doa restu. Seperti janji bahwa mereka akan bertemu lagi. Pada purnama pertama. Di telaga tua. Selamanya.
BAB XL
Purnama Pertama: Sultan Hasan Menunggu, Pandan Wangi Tidak Datang – Ia Tertipu atau Ditahan?
Perjalanan ke barat membawa Sultan Hasan dan Jaya jauh dari Dukuh Wangi. Mereka menyeberangi sungai, melewati hutan, mendaki bukit, dan turun ke lembah. Setelah tujuh hari berjalan, mereka sampai di sebuah kota kecil bernama Kota Sambang. Bukan tempat yang istimewa. Hanya persinggahan para pedagang dan pengembara. Tapi cukup untuk mereka berdua memulai hidup baru.
Sultan Hasan bekerja serabutan. Kadang menjadi kuli angkut di pasar. Kadang menjadi buruh tani di ladang. Kadang menjadi tukang bangunan. Apapun yang halal, ia kerjakan. Jaya melakukan hal yang sama. Mereka berdua bersaudara, bahu-membahu, susah-masenang.
Tapi di setiap malam, sebelum tidur, Sultan Hasan selalu memandang ke timur. Ke arah Dukuh Wangi. Ke arah telaga. Ke arah Pandan Wangi.
"Purnama pertama," bisiknya. "Aku akan kembali. Aku janji."
Batu akik merah di dadanya berdenyut. Hangat. Seperti setuju.
Hari-hari berlalu. Bulan-bulan berganti. Sultan Hasan menghitung setiap hari dengan cermat. Ia tahu kapan purnama pertama akan tiba. Ia sudah menyiapkan segalanya. Ia sudah mengatur cuti dari pekerjaan. Ia sudah menyiapkan bekal perjalanan.
"Kau sungguh akan kembali?" tanya Jaya.
"Ya. Aku sudah berjanji."
"Tapi kau dilarang masuk ke kerajaan. Jika kau ketahuan, kau akan dihukum mati."
"Aku akan menyelinap. Diam-diam. Tidak ada yang tahu."
"Berbahaya."
"Aku tak peduli."
Jaya menghela napas. Ia tahu Sultan Hasan keras kepala. Jika sudah berjanji, ia akan menepatinya. Apapun risikonya.
"Baiklah. Aku ikut."
"Kau tidak usah ikut. Ini urusanku."
"Kau saudaraku. Ke mana kau pergi, aku ikut. Sampai mati."
Sultan Hasan tersenyum. Ia menepuk pundak Jaya.
"Baiklah. Kita pergi bersama."
Perjalanan pulang ke Dukuh Wangi memakan waktu lima hari.
Sultan Hasan dan Jaya memilih jalan memutar, melewati hutan lebat, menghindari pos-pos penjagaan, menyusuri sungai-sungai kecil. Mereka tidak menaiki kuda. Hanya berjalan kaki. Untuk menghindari kecurigaan.
Mereka tiba di Dukuh Wangi pada sore hari, tepat sebelum purnama pertama muncul. Sultan Hasan memarkir Jaya di tepi hutan, dekat pohon beringin tua.
"Kau tunggu di sini. Aku akan ke telaga sendiri."
"Hati-hati, Hasan."
"Aku akan hati-hati."
Sultan Hasan berjalan sendirian. Menembus kegelapan. Menuju telaga. Menuju Pandan Wangi.
Bulan purnama bersinar terang.
Sultan Hasan tiba di tepi telaga. Airnya jernih. Dasarnya terlihat. Tanaman air bergoyang-goyang ditarik arus yang lembut. Batu hitam tempat ia biasa duduk bersama Pandan Wangi masih ada. Masih licin. Masih kokoh.
Tapi Pandan Wangi tidak ada.
Sultan Hasan menunggu.
Satu jam. Dua jam. Tiga jam.
Pandan Wangi tidak muncul.
Ia memanggil-manggil nama Pandan Wangi. Suaranya bergema di antara pepohonan, memantul dari tebing-tebing batu, lalu lenyap ditelan kegelapan.
Tidak ada jawaban.
Ia berjalan menyusuri tepi telaga. Memeriksa setiap sudut. Setiap semak. Setiap pohon.
Pandan Wangi tidak ada.
Ia berenang ke tengah telaga. Menyelam ke dasar. Mencari-cari di antara tanaman air.
Pandan Wangi tidak ada.
Ia keluar dari air. Tubuhnya menggigil. Bukan karena dingin. Tapi karena takut.
"Apakah ia tertipu? Apakah ia lupa dengan janjinya? Atau... apakah ia ditahan?"
Ia teringat pada kata-kata Pandan Wangi: "Jika kau kembali, mereka akan membunuhmu."
Mungkin para pengawal kerajaan menculik Pandan Wangi. Memenjarakannya di istana. Melarangnya keluar. Memutuskan komunikasi dengannya.
Atau mungkin... mungkin Pandan Wangi sudah mati.
Sultan Hasan tidak bisa menerima pikiran itu. Ia berteriak. Memanggil nama Pandan Wangi berulang-ulang. Sampai suaranya serak. Sampai air matanya habis.
"PANDAN! DI MANA KAU? JANJI KITA! PURNAMA PERTAMA! AKU DATANG! AKU MENEPATI JANJI! DI MANA KAU?"
Tidak ada jawaban.
Hanya angin malam yang berembus pelan. Membawa wangi pandan. Samar. Tapi jelas.
Sultan Hasan menangis. Ia bersimpuh di tepi telaga. Ia memukul-mukul tanah. Ia membenci dirinya sendiri.
"Aku seharusnya tidak pergi. Aku seharusnya melawan. Aku seharusnya tetap di sini, bersamanya, apapun risikonya. Sekarang ia menghilang. Aku tidak tahu di mana. Aku tidak tahu bagaimana mencarinya. Aku... aku kehilangan dia lagi."
Batu akik merah di dadanya berdenyut. Kencang. Sangat kencang. Hampir seperti mau meledak.
"Dia masih hidup," bisik batu itu. "Aku bisa merasakannya. Tapi ia terperangkap. Di suatu tempat. Jauh dari sini. Kita harus menyelamatkannya."
"Siapa yang memerangkapnya?"
"Aku tidak tahu. Tapi kita bisa mencari. Batu ini akan menuntunmu. Ikuti denyutnya. Ia akan membawamu ke tempat Pandan Wangi berada."
Sultan Hasan berdiri. Ia menghapus air matanya.
"Baiklah. Aku akan mencari. Sampai ke ujung dunia. Sampai aku menemukannya. Sampai aku menyelamatkannya."
Ia berjalan meninggalkan telaga. Meninggalkan tempat di mana ia berjanji bertemu dengan Pandan Wangi. Meninggalkan kenangan-kenangan indah yang kini berubah menjadi luka.
Di tepi hutan, Jaya masih menunggu.
"Kau tidak bertemu dengannya?" tanyanya.
"Tidak. Ia tidak datang."
"Mungkin ia ditahan."
"Mungkin. Aku harus mencari."
"Ke mana?"
"Ikuti denyut batu ini. Ia akan menuntun."
Mereka berdua berjalan ke arah timur. Bukan kembali ke Kota Sambang. Tapi ke arah yang berlawanan. Ke arah yang tidak mereka kenal. Ke arah yang mungkin membawa mereka pada bahaya.
Tapi Sultan Hasan tidak peduli.
Ia akan mencari Pandan Wangi. Sampai mati.
Di istana, Pandan Wangi terkurung di dalam kamarnya.
Pintu dikunci dari luar. Jendela ditutup dengan jeruji besi. Dua orang pengawal bersenjata lengkap berjaga di depan pintu.
Pandan Wangi duduk di sudut kamar, memeluk lututnya, menangis.
Ia tahu malam ini adalah purnama pertama. Ia tahu Sultan Hasan akan datang ke telaga. Ia tahu kekasihnya akan menunggunya di sana, sendirian, kecewa, terluka.
Tapi ia tidak bisa pergi. Ayahnya sendiri yang mengurungnya.
"Maafkan aku, Sultan Hasan," bisiknya. "Aku tidak bisa menepati janji. Mereka menahanku. Mereka tidak mengizinkanku keluar. Aku... aku berusaha melawan. Tapi tidak bisa."
Ia memandang kalung di lehernya. Batu akik merah itu berdenyut. Pelan. Lembut.
"Dia datang," bisik batu itu. "Dia menunggumu di telaga. Tapi kau tidak bisa datang. Sekarang ia pergi. Ia mencari. Ia akan menemukanmu. Suatu hari."
"Kapan?"
"Aku tidak tahu. Tapi ia tidak akan menyerah. Karena ia mencintaimu. Dan cinta sejati tidak pernah menyerah."
Pandan Wangi tersenyum di tengah tangisnya.
"Terima kasih," bisiknya. "Setidaknya aku tahu ia datang. Setidaknya aku tahu ia menepati janji. Setidaknya aku tahu ia mencintaiku. Itu sudah cukup."
Ia memejamkan mata. Ia berdoa. Semoga Sultan Hasan selamat. Semoga Sultan Hasan kuat. Semoga Sultan Hasan tidak menyerah.
Semoga mereka bertemu lagi.
Suatu hari nanti.
Di tempat yang indah.
Di waktu yang tepat.
Selamanya.
BAGIAN TIGA: BADAI YANG MEMISAHKAN
"Badai tidak pernah bertanya apakah kita siap atau tidak. Ia datang. Ia menghancurkan. Ia membawa pergi apa yang paling kita cintai. Dan yang tersisa hanyalah puing-puing kenangan dan pertanyaan yang tidak pernah terjawab. Namun di antara puing-puing itu, kadang kita menemukan sesuatu yang tidak pernah kita duga: kekuatan untuk bertahan. Dan keteguhan untuk tidak menyerah. Inilah kisah tentang perpisahan yang tidak diinginkan, tentang jarak yang tidak bisa dilampaui, dan tentang cinta yang tetap menyala meskipun dunia berusaha memadamkannya."
Di mana Sultan Hasan dibuang ke pulau penjara. Di mana Pandan Wangi dipaksa menikah dengan pangeran. Di mana cinta mereka diuji oleh waktu, jarak, dan takdir yang kejam. Dan di mana mereka belajar bahwa cinta sejati tidak pernah mati. Ia hanya berubah bentuk.
BAB XLI
Kabar dari Istana: Pandan Wangi Dijodohkan dengan Pangeran dari Kerajaan Tetangga
Perjalanan mencari Pandan Wangi membawa Sultan Hasan dan Jaya berkelana selama berbulan-bulan.
Mereka menyusuri sungai, menyeberangi gunung, melewati hutan, memasuki desa-desa terpencil, bertanya kepada siapa pun yang mereka temui. Pernahkah mereka melihat seorang perempuan cantik dengan rambut panjang dan wangi pandan? Pernahkah mereka mendengar kabar tentang putri bangsawan yang dikurung di istana?
Sebagian besar menggeleng. Tidak tahu. Tidak pernah mendengar.
Tapi ada juga yang memberi petunjuk samar. "Di timur, ada kerajaan besar. Namanya Kerajaan Kencana Wungu. Rajanya muda, tampan, kaya raya. Konon, ia sedang mencari permaisuri. Mungkin putri yang kau cari ada di sana."
Sultan Hasan tidak punya pilihan. Ia menuju timur.
Di jari manisnya — atau lebih tepat di dadanya, karena batu akik merah itu kini tergantung sebagai kalung — batu itu berdenyut semakin kencang setiap kali ia mendekati timur.
"Kau di jalan yang benar," bisik batu itu. "Ia di sana."
Sultan Hasan memacu kudanya lebih kencang.
Setelah tiga minggu perjalanan, mereka tiba di Kerajaan Kencana Wungu.
Kerajaan itu megah. Istana-istananya terbuat dari batu putih, dengan ukiran emas di setiap sudutnya. Taman-tamannya indah, penuh dengan bunga-bunga langka. Air mancur menyembur di mana-mana. Para bangsawan berjalan dengan pakaian mewah, seolah tidak pernah menyentuh tanah.
Tapi Sultan Hasan tidak peduli dengan kemegahan itu. Ia hanya peduli pada satu orang: Pandan Wangi.
Ia dan Jaya menyamar sebagai pedagang rempah. Mereka masuk ke dalam kerajaan, menyewa sebuah los di pasar, dan mulai berdagang. Tapi di sela-sela dagang, mereka mencari informasi tentang putri bangsawan yang mungkin dikurung di istana.
Informasi itu akhirnya mereka dapatkan dari seorang pelayan istana yang suka berbelanja di pasar.
"Kalian mencari putri Pandan Wangi?" tanya pelayan itu. "Ia memang ada di istana. Tapi tidak dikurung. Ia dijemput oleh ayahnya beberapa bulan lalu. Katanya, ia akan dijodohkan dengan pangeran kita."
Sultan Hasan terkejut. "Dijodohkan? Dengan siapa?"
"Dengan Pangeran Kertawijaya. Pemuda tampan, kaya raya, keturunan bangsawan tulen. Pernikahan akan dilaksanakan bulan depan. Seluruh kerajaan sudah diundang."
Sultan Hasan terdiam. Jantungnya berdebar kencang. Batu akik merah di dadanya berdenyut keras, hampir seperti mau meledak.
"Kau harus mencegahnya," bisik batu itu. "Kau tidak bisa membiarkan ia menikah dengan orang lain."
"Aku tahu," bisik Sultan Hasan balik. "Tapi bagaimana caranya? Aku hanya rakyat biasa. Tidak punya kekuasaan. Tidak punya pengaruh."
"Kau punya aku. Kau punya cinta. Kau punya keberanian. Itu sudah cukup."
Sultan Hasan menghela napas. Ia memandang Jaya.
"Kita harus masuk ke istana. Menemui Pandan Wangi. Membujuknya untuk membatalkan pernikahan."
"Kau gila?" kata Jaya. "Istana itu dijaga ketat. Ribuan pasukan. Puluhan pendekar. Kau tidak akan bisa masuk."
"Kita bisa. Dengan menyamar. Sebagai pelayan. Sebagai musisi. Sebagai apa pun."
Jaya menggeleng. "Kau sudah gila. Tapi sudahlah. Aku ikut. Mati bersama lebih baik daripada hidup sendiri."
Mereka berdua tersenyum pahit.
Penyamaran sebagai musisi ternyata berhasil.
Sultan Hasan pandai bermain seruling. Jaya pandai bermain gendang. Mereka bergabung dengan rombongan kesenian yang diundang untuk menghibur para tamu di pesta pertunangan Pangeran Kertawijaya dan Putri Pandan Wangi.
Pesta itu digelar di taman istana. Ribuan lampu minyak digantung di pohon-pohon, menciptakan suasana magis. Para tamu berpakaian indah, duduk di kursi-kursi yang dihias dengan kain sutra. Di panggung kehormatan, duduk Pangeran Kertawijaya dan Pandan Wangi.
Sultan Hasan melihat Pandan Wangi dari kejauhan.
Ia cantik. Sangat cantik. Lebih cantik dari yang ia ingat. Tapi wajahnya muram. Matanya sayu. Senyumnya dipaksakan. Ia tidak bahagia. Ia jelas tidak menginginkan pernikahan ini.
Sultan Hasan hampir berlari ke panggung. Hampir meneriakan nama Pandan Wangi. Hampir merusak pesta itu.
Tapi Jaya menahannya. "Belum saatnya. Tunggu. Kita cari kesempatan."
Sultan Hasan menggigit bibirnya. Ia menahan diri.
Kesempatan itu datang setelah pesta usai.
Para tamu pulang. Para pelayan membersihkan taman. Pangeran Kertawijaya pergi ke ruang peristirahatannya. Pandan Wangi berjalan sendirian ke taman belakang, tempat air mancur menyembur di bawah sinar bulan.
Sultan Hasan mengikutinya. Diam-diam. Menyelinap di balik semak-semak.
"Pandan," bisiknya.
Pandan Wangi menoleh. Ia terkejut. Hampir berteriak. Tapi Sultan Hasan menutup mulutnya dengan tangannya.
"Jangan berteriak. Ini aku. Sultan Hasan."
Pandan Wangi terdiam. Matanya membesar. Air matanya mengalir.
"Sultan... Sultan Hasan... kau... bagaimana kau bisa ada di sini?"
"Aku mencari. Aku tidak menyerah. Aku janji akan menemukanmu. Dan aku menemukanmu."
Mereka berdua berpelukan. Menangis. Tertawa. Bersyukur.
"Aku dijodohkan," kata Pandan Wangi. "Aku tidak mau. Aku sudah bilang pada ayahku. Tapi ia tidak mendengarkan. Ia bilang, pernikahan ini penting untuk kerajaan. Aku harus rela."
"Kau tidak harus rela. Kau bisa memilih. Kau bebas."
"Aku tidak bebas, Sultan Hasan. Aku terkurung. Aku diawasi. Aku tidak bisa ke mana-mana."
"Kita bisa lari. Malam ini. Sekarang."
"Ke mana?"
"Ke tempat yang jauh. Ke tempat di mana tidak ada yang bisa menemukan kita. Ke tempat di mana kita bisa hidup damai, bersama, selamanya."
Pandan Wangi terdiam. Ia memandang Sultan Hasan. Matanya berkaca-kaca.
"Kau yakin? Risikonya besar. Jika kita tertangkap, kau akan dihukum mati. Aku akan dikurung seumur hidup."
"Aku tidak takut mati, Pandan. Yang aku takut adalah hidup tanpa dirimu."
Pandan Wangi tersenyum. Ia mencium pipi Sultan Hasan.
"Baiklah. Aku ikut."
Mereka berdua bergandengan tangan. Berlari meninggalkan taman. Menembus kegelapan. Meninggalkan istana. Meninggalkan pangeran. Meninggalkan semua yang menghalangi cinta mereka.
Di kejauhan, burung hantu berbunyi. Sekali. Pendek.
Seperti sambutan. Seperti doa restu. Seperti seruan untuk memulai hidup baru. Bersama. Selamanya.
BAB XLII
Sultan Hasan Menantang Pangeran Kertawijaya – Adu Pedang – Kalah Telak – Terluka dan Dibuang ke Pulau Terpencil
Pelarian Sultan Hasan dan Pandan Wangi tidak berlangsung lama.
Mereka baru saja mencapai gerbang istana ketika puluhan pasukan kerajaan mengepung mereka dari segala arah. Obor menyala terang, menerangi wajah-wajah garang para prajurit. Di tengah kerumunan itu, berdiri Pangeran Kertawijaya. Wajahnya dingin, matanya tajam, senyumnya sinis.
"Kau pikir bisa mencuri calon istriku semudah itu?" kata pangeran itu. "Dasar rakyat kampung. Kau tidak tahu siapa yang kau lawan."
Sultan Hasan berdiri di depan Pandan Wangi, melindunginya. Tangannya kosong. Ia tidak membawa senjata. Sementara pangeran itu memegang pedang panjang dengan gagang emas, mata pedangnya berkilat-kilat di bawah cahaya obor.
"Pandan Wangi bukan milikmu," kata Sultan Hasan. "Ia bukan barang yang bisa dimiliki. Ia manusia. Ia punya hak memilih. Dan ia memilihku."
"Diam!" bentak pangeran itu. "Kau tidak punya hak bicara di depanku! Aku pangeran! Kau rakyat jelata! Pandan Wangi sudah dijodohkan denganku oleh ayahnya dan rajaku. Itu sudah keputusan resmi. Tidak bisa diganggu gugat."
"Keputusan yang tidak adil. Pandan Wangi tidak pernah setuju."
"Kesetujuannya tidak penting. Yang penting adalah kemauan kerajaan."
Pangeran Kertawijaya melangkah maju. Sultan Hasan mundur selangkah, tetapi tetap menghalangi pangeran itu untuk mendekati Pandan Wangi.
"Kau berani melawanku?" kata pangeran itu. "Kau tahu aku pendekar pedang terhebat di kerajaan ini? Aku belum pernah kalah dalam duel. Jika kau berani menantangku, kau akan kutebas kepalamu."
"Aku tidak takut," kata Sultan Hasan. "Aku akan melawanmu. Bukan karena aku pendekar hebat. Tapi karena aku tidak bisa membiarkanmu mengambil paksa orang yang kucintai."
Pangeran Kertawijaya tertawa. Tawanya keras, menghina.
"Baiklah. Aku beri kesempatan. Adu pedang denganku. Jika kau menang, Pandan Wangi kau bawa pergi. Jika kau kalah... kau akan kuhukum mati."
"Setuju."
"SULTAN HASAN, JANGAN!" teriak Pandan Wangi dari belakang. "Kau tidak bisa mengalahkannya! Ia pendekar pedang! Kau hanya belajar silat beberapa tahun!"
"Aku tidak perlu mengalahkannya, Pandan. Aku hanya perlu berusaha. Selebihnya, biar takdir yang menentukan."
Pandan Wangi menangis. Ia memeluk Sultan Hasan dari belakang.
"Jangan pergi," bisiknya. "Jangan tinggalkan aku."
"Aku tidak akan pergi, Pandan. Aku akan kembali. Aku janji."
Sultan Hasan melepaskan pelukan Pandan Wangi. Ia melangkah maju. Menghadap Pangeran Kertawijaya.
Duel dimulai di halaman istana, di bawah sinar bulan purnama.
Ratusan prajurit dan abdi istana berkumpul menyaksikan. Mereka bersorak-sorai mendukung pangeran mereka. Tidak ada yang mendukung Sultan Hasan. Ia asing. Ia rakyat jelata. Ia tidak punya siapa-siapa.
Jaya berdiri di antara kerumunan, jantungnya berdebar kencang. Ia ingin membantu, tapi ia tidak bisa. Ini duel satu lawan satu. Tidak ada yang boleh ikut campur.
Pangeran Kertawijaya menghunus pedangnya. Pedang panjang dengan gagang emas, mata pedangnya berkilat. Ia memamerkan jurus-jurusnya di udara, membuat para penonton terkesima.
Sultan Hasan hanya memegang sebilah keris pendek yang dipinjam dari Jaya. Bukan senjata yang biasa ia gunakan. Tapi tidak ada pilihan.
"Kau yakin hanya memakai keris pendek?" ejek pangeran itu. "Aku akan kutebas dalam tiga gerakan."
"Kita lihat saja," kata Sultan Hasan tenang.
Pangeran itu menyerang pertama. Tebasan ke kiri, ke kanan, tusukan ke depan. Gerakannya cepat, lincah, mematikan. Sultan Hasan bertahan sebisanya. Ia menghindar, menangkis, kadang membalas. Tapi keris pendeknya tidak bisa menjangkau pedang panjang pangeran.
Setelah dua puluh jurus, Sultan Hasan mulai kewalahan. Tubuhnya penuh dengan luka-luka kecil. Pakaiannya robek di sana-sini. Darah mengalir dari lengannya.
"Menyerahlah," kata pangeran itu. "Kau tidak mungkin menang."
"Sultan Hasan, menyerahlah!" teriak Pandan Wangi dari kejauhan. "Aku rela menjadi calon istrinya! Asal kau selamat!"
"Tidak!" teriak Sultan Hasan balik. "Aku tidak akan menyerah! Aku tidak akan membiarkan kau menikah dengan orang yang tidak kau cintai!"
Ia menyerang lagi. Lebih nekat. Lebih berani. Tapi pangeran itu sudah mempelajari gayanya. Ia dengan mudah menghindar, lalu membalas dengan tusukan yang menusuk perut Sultan Hasan.
Sultan Hasan jatuh.
Darah mengucur dari lukanya. Banyak. Pekat. Membasahi pakaiannya.
"SULTAN HASAN!" teriak Pandan Wangi. Ia berusaha menerobos kerumunan. Tapi prajurit-prajurit menahannya.
Pangeran Kertawijaya mendekati Sultan Hasan yang tergeletak di tanah. Ia mengangkat pedangnya, hendak memenggal kepala lawannya.
"Berhenti!" suara seorang lelaki terdengar dari belakang.
Adipati — ayah Pandan Wangi — berjalan maju. Wajahnya pucat, matanya merah. Ia sudah menyaksikan duel dari awal.
"Jangan bunuh dia," kata adipati itu. "Ia sudah cukup menderita. Buang saja ia ke pulau terpencil. Biarkan ia hidup di sana, sendirian, merenungkan kesalahannya."
Pangeran Kertawijaya mendengus. "Baiklah, Paduka. Aku turuti permintaan Paduka. Tapi jika ia kembali lagi, aku akan bunuh dia."
Ia memberi isyarat pada prajurit-prajuritnya. Mereka mengangkat Sultan Hasan yang tak berdaya, membawanya ke dermaga, menaikkannya ke kapal kecil.
Pandan Wangi menjerat jerit. Ia berusaha melepaskan diri. Tapi puluhan tangan menahannya.
"Sultan Hasan! SULTAN HASAN!" teriaknya sampai suaranya parau.
Sultan Hasan tidak bisa menjawab. Ia sudah pingsan. Darah terus mengalir dari lukanya.
Kapal itu berlayar. Meninggalkan dermaga. Meninggalkan istana. Meninggalkan Pandan Wangi yang menangis di tepi pantai.
Pemandangan terakhir yang Sultan Hasan lihat sebelum pingsan adalah wajah Pandan Wangi. Cantik. Lembut. Basah oleh air mata.
"Aku akan kembali, Pandan," bisiknya dalam hati. "Aku janji."
Setelah itu, gelap. Tidak ada apa-apa. Hanya kegelapan yang panjang, dingin, dan sunyi.
Ia terbangun di atas kapal kecil yang terombang-ambing di tengah laut.
Tubuhnya sakit semua. Luka di perutnya telah dibalut dengan kain seadanya, tapi masih terasa perih. Tangannya diikat ke tiang kapal. Kakinya juga diikat. Ia tidak bisa bergerak.
Di sampingnya, seorang prajurit tua duduk sambil mengawasi.
"Kau sudah sadar," kata prajurit itu. "Bagus. Aku kira kau akan mati dalam perjalanan."
"Ini... ini kapal mau ke mana?" tanya Sultan Hasan dengan suara parau.
"Ke pulau terpencil. Namanya Pulau Penjara. Tidak ada orang di sana. Hanya hutan, batu, dan binatang buas. Kau akan dibuang di sana. Tidak boleh kembali. Jika kau kembali, kau akan dihukum mati."
"Apa aku sendirian di sana?"
"Sendirian. Tidak ada yang menemani. Tidak ada yang menolong. Kau akan hidup sebatang kara, makan buah-buahan dan ikan, tidur di gua, minum air hujan. Itu hukumannya karena menantang pangeran dan menculik calon istrinya."
Sultan Hasan terdiam.
Ia tidak takut hidup sendirian di pulau terpencil. Ia sudah terbiasa dengan kesepian. Ia sudah terbiasa dengan penderitaan.
Yang ia takutkan adalah: tidak bisa kembali. Tidak bisa bertemu Pandan Wangi. Tidak bisa menepati janjinya.
"Maafkan aku, Pandan," bisiknya. "Aku gagal. Aku kalah. Aku tidak bisa kembali."
Batu akik merah di dadanya berdenyut. Pelan. Lembut. Seperti bisikan: "Kau tidak gagal. Kau hanya ditunda. Kau akan kembali. Suatu hari. Aku akan menuntunmu."
Sultan Hasan tersenyum pahit.
Ia memejamkan mata. Ia berdoa. Semoga Pandan Wangi diberi kekuatan. Semoga Pandan Wangi tidak menyerah. Semoga Pandan Wangi tetap menunggunya.
Sampai mereka bertemu lagi.
Suatu hari nanti.
BAB XLIII
Pulau Penjara: Sultan Hasan Ditemani Narapidana Tua – Mantan Penjaga Hati Kerajaan
Pulau itu tidak bernama. Atau jika punya, tidak ada yang ingat. Para nelayan dan pelaut menyebutnya Pulau Penjara, karena hanya itu fungsinya: tempat membuang orang-orang yang dianggap terlalu berbahaya untuk dibiarkan bebas, tetapi tidak cukup bersalah untuk dihukum mati.
Sultan Hasan dilemparkan ke pulau itu seperti sampah. Kapal kecil yang mengantarnya berlabuh di pantai berpasir hitam, dua orang prajurit menurunkan tubuhnya yang masih lemah karena luka, lalu kapal itu pergi meninggalkannya. Tidak ada bekal. Tidak ada senjata. Tidak ada pakaian ganti. Hanya kain kafan kehidupan yang membungkus tubuhnya yang nyaris hancur.
Ia terbaring di pasir hitam itu untuk waktu yang tidak ia ketahui berapa lama. Matahari naik dan turun. Air pasang menyentuh kakinya, lalu surut kembali. Burung-burung laut terbang di atasnya, sesekali menukik ingin mematuk dagingnya yang terbuka. Tapi Sultan Hasan tidak punya tenaga untuk mengusir mereka. Ia hanya berbaring. Menunggu. Entah menunggu ajal atau menunggu keajaiban.
Keajaiban itu datang dalam wujud seorang lelaki tua.
"Apa kau sudah mati?" suara itu berat, parau, seperti gesekan batu karang. "Kalau sudah mati, cepat menguap. Jangan bikin pulau ini tambah sesak."
Sultan Hasan membuka mata. Samar-samar ia melihat seorang lelaki tua berdiri di depannya, membelakangi matahari. Wajahnya gelap karena cahaya di belakang, tapi Sultan Hasan bisa melihat rambutnya yang panjang dan kusut, janggutnya yang tidak pernah dicukur, tubuhnya yang kurus tapi tegap.
"Masih hidup," bisik Sultan Hasan. "Tapi mungkin sebentar lagi mati."
"Kalau masih hidup, jangan ngomong mati-mati. Bangun! Ikut aku!"
Lelaki tua itu tidak menunggu jawaban. Ia membungkuk, mengangkat tubuh Sultan Hasan dengan satu tangan, memapahnya berjalan menyusuri pantai, melewati batu-batu karang, lalu masuk ke dalam hutan. Sultan Hasan tidak bisa melawan. Ia hanya pasrah. Jika lelaki tua ini mau membunuhnya, biarlah. Ia sudah terlalu lelah untuk takut.
Mereka berjalan sekitar setengah jam. Akhirnya sampai di sebuah gua. Guanya tidak besar. Hanya lubang di tebing batu yang cukup untuk dua orang tidur meringkuk. Di depan gua, ada api unggun yang masih menyala. Di sampingnya, bertumpuk buah-buahan dan ikan asin.
Lelaki tua itu membaringkan Sultan Hasan di atas tumpukan daun kering. Ia mengambil air dari tempurung kelapa, membasuh luka Sultan Hasan, lalu membalutnya dengan kain yang sobek dari bajunya sendiri.
"Kau beruntung," katanya. "Lukamu tidak parah. Hanya kehilangan banyak darah. Istirahat beberapa hari, kau akan sembuh."
"Siapa... siapa kau?" tanya Sultan Hasan.
Lelaki tua itu tertawa. Tawanya keras, menggelegar, membuat dinding gua bergetar. "Aku? Aku tidak punya nama. Tapi dulu, orang-orang memanggilku Kiai Pati. Karena aku selalu membawa kematian ke mana pun aku pergi."
"Kiai Pati? Aku pernah mendengar nama itu. Dari Ki Ageng Jagaraga. Katanya, Kiai Pati adalah pendekar paling ditakuti di Nusantara. Tidak pernah kalah dalam duel. Tapi kemudian ia menghilang. Tidak ada yang tahu ke mana."
"Sekarang kau tahu ke mana," kata lelaki tua itu sambil menyeringai. "Aku dibuang ke pulai ini karena aku membunuh pangeran yang hendak memperkosa seorang gadis. Padahal aku hanya membela kebenaran. Tapi para bangsawan tidak suka kebenaran. Mereka lebih suka kedamaian palsu."
"Berapa lama kau di sini?"
"Tiga puluh tahun. Sendirian. Tidak ada yang menemani. Hanya burung, kadal, dan sesekali ikan hiu."
"Tiga puluh tahun?" Sultan Hasan takjub. "Bagaimana kau bisa bertahan?"
"Kau lihat sendiri. Aku makan buah-buahan. Aku makan ikan. Aku minum air hujan. Aku tidur di gua. Aku tidak butuh kemewahan. Aku tidak butuh keramaian. Yang aku butuhkan hanyalah... kebebasan. Dan di sini, aku bebas. Tidak ada yang mengatur. Tidak ada yang melarang. Tidak ada yang memerintah."
"Kau tidak kesepian?"
Lelaki tua itu terdiam. Wajahnya yang garang tiba-tiba berubah muram.
"Kesepian? Setiap hari. Setiap malam. Tapi sudah biasa. Aku sudah lupa bagaimana rasanya berbicara dengan manusia. Sampai kau datang."
Pagi harinya, Sultan Hasan bangun dengan tubuh masih terasa sakit, tapi tidak separah kemarin. Ia bisa duduk. Ia bisa berdiri dengan bantuan dinding gua. Ia bahkan bisa berjalan perlahan-lahan ke mulut gua, menghirup udara pagi yang segar, memandang laut yang biru kehijauan.
Kiai Pati sedang duduk di tepi pantai, memancing. Ikatannya sudah tua, tapi masih kuat.
"Kau sudah bisa bangun," katanya tanpa menoleh. "Bagus. Berarti kau tidak akan mati."
"Aku tidak akan mati, Kiai. Aku masih punya janji yang harus ditepati."
"Janji? Pada siapa?"
"Pada kekasihku. Pandan Wangi. Ia menungguku. Di telaga. Aku harus kembali."
Kiai Pati berbalik. Matanya menyipit. "Kau mencintai seorang perempuan?"
"Sangat."
"Dan perempuan itu mencintaimu?"
"Aku harap begitu."
"Kau tidak yakin?"
"Aku yakin. Tapi sekarang... sekarang ia mungkin sudah putus asa. Aku sudah lama tidak memberi kabar. Ia mungkin mengira aku mati."
Kiai Pati tertawa. "Kau masih muda, masih bodoh. Cinta tidak perlu kabar. Cinta tidak perlu bukti. Cinta cukup dengan perasaan. Jika ia benar-benar mencintaimu, ia akan menunggumu. Sampai kiamat sekalipun."
Sultan Hasan tersenyum. "Kau bijak, Kiai."
"Aku tidak bijak. Aku hanya sudah tua. Dan orang tua, apa pun yang terjadi, selalu punya cerita."
Hari-hari berlalu. Sultan Hasan memulihkan diri. Lukanya sembuh. Kekuatannya pulih. Ia mulai menjelajahi pulau itu bersama Kiai Pati. Belajar bertahan hidup. Belajar mencari makan di hutan. Belajar menangkap ikan dengan tangan kosong. Belajar membuat api tanpa korek api. Belajar membaca arah angin, membaca tanda-tanda alam, membaca bintang-bintang di langit.
"Kau cepat belajar," kata Kiai Pati. "Seperti dulu aku dulu."
"Aku punya guru yang baik," kata Sultan Hasan.
"Bukan aku yang baik. Tapi kau yang punya bakat. Aku bisa melihatnya dari matamu. Matamu tidak seperti mata orang kebanyakan. Ada api di sana. Api yang tidak pernah padam."
Suatu malam, saat mereka duduk di tepi pantai memandang bulan, Kiai Pati berkata, "Kau tahu, Sultan Hasan, dulu aku juga seperti kau. Aku juga mencintai seseorang. Tapi aku gagal menjaganya. Aku gagal menepati janji. Aku gagal menjadi penjaga hati yang baik."
"Apa yang terjadi, Kiai?"
Kiai Pati menghela napas panjang. "Perempuan itu mati. Karena kesalahanku. Aku terlalu sibuk dengan perang. Terlalu sibuk dengan kehormatan. Aku meninggalkannya sendirian, tanpa perlindungan. Dan ketika aku kembali, ia sudah tiada."
"Aku tidak akan mengulangi kesalahanmu, Kiai. Aku akan kembali. Aku akan menjemput Pandan Wangi. Aku akan melindunginya. Sampai mati."
"Bagus. Jangan sia-siakan hidupmu hanya untuk mengejar kekuasaan atau kekayaan. Tidak ada yang abadi di dunia ini. Hanya cinta. Dan kematian. Dan cinta lebih kuat dari kematian."
Setahun berlalu. Sultan Hasan sudah pulih sepenuhnya. Tubuhnya bahkan lebih kuat dari sebelumnya. Otot-ototnya kekar. Gerakannya lincah. Pengetahuan tentang alamnya luas.
Ia juga belajar ilmu kanuragan dari Kiai Pati. Ilmu pernapasan. Ilmu tenaga dalam. Ilmu memanfaatkan energi alam. Kiai Pati adalah guru yang baik, meskipun keras. Sama kerasnya dengan Ki Ageng Jagaraga dan Kyai Buyut Cakar Mase.
"Kau sudah siap," kata Kiai Pati suatu pagi. "Siap untuk kembali ke dunia. Siap untuk menepati janjimu."
"Tapi bagaimana caranya? Pulau ini terpencil. Tidak ada kapal yang lewat. Aku tidak bisa berenang sejauh itu."
Kiai Pati tersenyum. "Kau lupa? Aku sudah tiga puluh tahun di sini. Aku punya perahu kecil. Buatanku sendiri. Dari kayu dan bambu. Tidak bagus. Tapi cukup untuk mengarungi laut."
"Aku tidak bisa mengambil perahu itu, Kiai. Itu satu-satunya yang kau punya."
"Aku sudah tua, Sultan Hasan. Aku tidak butuh perahu. Aku tidak butuh pergi ke mana pun. Aku akan mati di sini. Di pulau ini. Di gua ini. Sendirian. Itu sudah takdirku. Tapi kau... kau masih muda. Kau punya masa depan. Kau punya orang yang menunggumu. Kau harus pergi."
Sultan Hasan menangis. Ia memeluk Kiai Pati.
"Terima kasih, Kiai. Untuk semuanya. Untuk merawatku. Untuk mengajariku. Untuk membantuku."
"Jangan berterima kasih. Pergi. Jangan menoleh ke belakang. Dan ingatlah pesanku: jaga hatimu. Jaga cintamu. Jangan ulangi kesalahanku."
Sultan Hasan melepaskan pelukan. Ia mengusap air matanya. Ia berjalan ke pantai, di mana perahu kecil buatan Kiai Pati sudah menunggu.
Ia mendorong perahu itu ke air. Ia melompat ke dalamnya. Ia mengayuh dayung perlahan-lahan, meninggalkan pulau itu, meninggalkan Kiai Pati yang berdiri di tepi pantai, melambaikan tangan.
"Selamat jalan, Sultan Hasan!" teriak Kiai Pati.
"Selamat tinggal, Kiai!" teriak Sultan Hasan balik.
Perahu itu semakin jauh. Pulau itu semakin kecil. Kiai Pati semakin kecil. Hingga akhirnya lenyap ditelan cakrawala.
Sultan Hasan mendayung terus. Menuju ke barat. Menuju ke Dukuh Wangi. Menuju ke telaga. Menuju ke Pandan Wangi.
Di dadanya, batu akik merah berdenyut. Kencang. Hangat. Seperti bisikan: "Kau akan sampai. Aku di sini. Aku akan menuntunmu."
Sultan Hasan tersenyum. Ia mendayung lebih kencang.
BAB XLIV
Belajar Kesabaran: Sang Narapidana Tua Mengajarkan Bahwa Cinta yang Hebat Tidak Selalu Memiliki, Kadang Cukup Dijaga
Perjalanan pulang dari Pulau Penjara memakan waktu lebih lama dari yang Sultan Hasan kira.
Angin laut tidak selalu bersahabat. Kadang ia terpaksa berhenti di pulau-pulau kecil untuk berlindung dari badai. Kadang ia kehabisan bekal dan harus mencari makan di tengah laut. Kadang ia tersesat karena bintang-bintang tertutup awan, dan batu akik merah di dadanya tidak bisa memberikan petunjuk yang jelas.
Tapi ia tidak menyerah.
Setiap kali ia ingin putus asa, ia teringat pada wajah Pandan Wangi. Pada janji mereka. Pada cinta yang masih menyala di dadanya, meskipun jarak dan waktu membentang.
Dan ia teringat pada kata-kata Kiai Pati, narapidana tua yang merawatnya di Pulau Penjara. Kata-kata yang tidak pernah ia lupakan, yang terukir di hatinya seperti ukiran di batu.
"Cinta yang hebat tidak selalu memiliki, Sultan Hasan. Kadang, cukup dijaga."
Awalnya ia tidak mengerti. Bagaimana mungkin cukup? Bagaimana mungkin ia bisa bahagia hanya dengan menjaga cinta, tanpa memiliki? Bukankah cinta adalah tentang memiliki? Tentang bersatu? Tentang hidup bersama?
Tapi semakin lama ia merenung, semakin ia mengerti.
Mungkin Kiai Pati benar.
Mungkin cinta sejati tidak terletak pada memiliki atau tidak memiliki. Cinta sejati terletak pada ketulusan. Pada kesetiaan. Pada keberanian untuk terus mencintai, meskipun tidak ada jaminan bahwa cinta itu akan berbalas. Meskipun tidak ada jaminan bahwa ia akan bertemu lagi. Meskipun tidak ada jaminan bahwa mereka akan bersatu.
Mungkin ia tidak akan pernah bisa memiliki Pandan Wangi seutuhnya. Mungkin Pandan Wangi akan tetap menjadi penunggu telaga. Mungkin mereka tidak bisa menikah. Mungkin mereka tidak bisa hidup bersama. Mungkin mereka tidak bisa memiliki anak.
Tapi ia bisa menjaga cinta itu. Di dalam hatinya. Di dalam doanya. Di dalam setiap langkah kehidupannya.
Dan mungkin itu sudah cukup.
Sultan Hasan tiba di Dukuh Wangi pada suatu malam, ketika bulan sedang purnama.
Ia tidak langsung menuju telaga. Ia pergi ke rumah Jaya terlebih dahulu. Jaya terkejut melihatnya. Wajahnya pucat, matanya cekung, tubuhnya kurus. Ia sudah mengira Sultan Hasan mati di pulau itu.
"Kau... kau hidup!" teriak Jaya sambil memeluk sahabatnya.
"Aku hidup, Jaya. Aku selamat."
"Pandan Wangi! Ia... ia menunggumu! Setiap malam! Ia pergi ke telaga! Ia duduk di batu hitam itu! Ia memanggil-manggil namamu! Aku mendengarnya dari kejauhan! Aku kasihan padanya!"
Sultan Hasan terharu. Ia menangis. "Ia menungguku?"
"Setiap malam! Tidak pernah absen! Aku mengawasinya dari kejauhan. Ia duduk di batu itu berjam-jam, memandang ke timur, menunggu. Kadang ia membawa bunga. Kadang ia membawa buah. Kadang ia hanya membawa air mata."
Sultan Hasan tidak bisa menahan diri. Ia berlari menuju telaga. Jaya mengikutinya.
Sampai di telaga.
Bulan purnama bersinar terang. Air telaga jernih, memantulkan cahaya bulan, menciptakan ribuan titik berkilauan seperti berlian. Batu hitam tempat Pandan Wangi biasa duduk kosong. Tapi di atas batu itu, ada setangkai bunga melati putih. Masih segar. Masih basah oleh embun. Seperti baru diletakkan beberapa saat yang lalu.
"Pandan!" teriak Sultan Hasan. "PANDAN! AKU KEMBALI!"
Tidak ada jawaban.
Ia berjalan menyusuri tepi telaga. Memeriksa setiap sudut. Setiap semak. Setiap pohon.
Pandan Wangi tidak ada.
Ia berenang ke tengah telaga. Menyelam ke dasar. Mencari-cari di antara tanaman air.
Pandan Wangi tidak ada.
Ia keluar dari air. Tubuhnya menggigil. Bukan karena dingin. Tapi karena takut. Apakah ia terlambat? Apakah Pandan Wangi sudah menyerah? Apakah Pandan Wangi sudah pergi untuk selama-lamanya?
"PANDAN!" teriaknya sekali lagi. Suaranya pecah. Air matanya bercampur dengan air telaga.
Dan kemudian, dari tengah telaga, airnya beriak.
Iriak kecil pada awalnya. Kemudian semakin besar. Seperti ada sesuatu di bawah sana yang bangun dari tidur panjang.
Dan dari tengah telaga, seorang perempuan muncul.
Ia berjalan di atas air. Perlahan. Anggun. Seperti penari.
Pandan Wangi.
Ia masih cantik. Seperti dulu. Mungkin lebih cantik, karena rindu yang lama terpendam telah mengukir kedewasaan di wajahnya. Matanya sayu, tapi bersinar. Bibirnya sedikit pucat, tapi tersenyum.
"Sultan Hasan," bisiknya. "Kau kembali."
"Aku kembali, Pandan. Aku kembali."
Mereka berdua berlari. Berpelukan di tepi telaga, di bawah cahaya bulan purnama, di hadapan Jaya yang menangis haru di kejauhan.
"Kau tidak berubah," kata Pandan Wangi. "Masih tampan. Masih baik. Masih setia."
"Kau juga tidak berubah. Masih cantik. Masih lembut. Masih menunggu."
"Aku menunggumu. Setiap malam. Tidak pernah absen."
"Aku tahu. Jaya bilang."
Pandan Wangi tersenyum. "Kau tahu, selama kau pergi, aku belajar banyak hal. Tentang cinta. Tentang kesabaran. Tentang ketulusan."
"Apa yang kau pelajari?"
"Aku belajar bahwa cinta yang hebat tidak selalu memiliki. Kadang, cukup dijaga. Aku tidak perlu memiliki dirimu seutuhnya. Aku cukup tahu bahwa kau ada di suatu tempat, bahwa kau baik-baik saja, bahwa kau masih mencintaiku. Itu sudah cukup."
Sultan Hasan terkejut. Kata-kata Pandan Wangi persis sama dengan kata-kata Kiai Pati dulu.
"Aku juga belajar itu, Pandan. Dari seorang narapidana tua di pulau penjara. Ia mengajariku bahwa cinta sejati tidak terletak pada memiliki atau tidak memiliki. Tapi pada ketulusan. Pada kesetiaan. Pada keberanian untuk terus mencintai."
Mereka berdua terdiam. Saling memandang. Tidak ada yang perlu diucapkan lagi. Mereka sudah mengerti. Mereka sudah dewasa. Mereka sudah siap untuk menjalani cinta ini, apa pun bentuknya.
"Pandan," kata Sultan Hasan.
"Ya?"
"Aku tidak tahu apakah kita bisa menikah. Aku tidak tahu apakah kita bisa hidup bersama. Aku tidak tahu apakah kita bisa memiliki anak. Tapi aku tahu satu hal: aku akan selalu mencintaimu. Sampai mati. Sampai setelah mati. Selamanya."
"Selamanya itu lama, Sultan Hasan."
"Aku tidak peduli. Selamanya bersama cintamu, lebih baik daripada sesaat tanpa cinta."
Pandan Wangi menangis. Sultan Hasan memeluknya erat-erat.
Mereka tidak bicara lagi. Hanya diam. Menikmati kehadiran satu sama lain. Menikmati cinta yang sudah lama terpendam, kini akhirnya tersalurkan.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap mereka. Matanya bundar dan kuning. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu diam.
Seolah setuju. Seolah merestui. Seolah bahagia bahwa penjaga hati akhirnya belajar bahwa cinta tidak selalu tentang memiliki.
Kadang, cukup dijaga.
Selamanya.
BAB XLV
Tahun Pertama di Pulau: Sultan Hasan Mulai Menulis Syair di Daun Lontar
Pertemuan kembali dengan Pandan Wangi di telaga bukanlah akhir dari perpisahan mereka. Sultan Hasan tidak bisa tinggal lama di Dukuh Wangi. Para pengawal kerajaan masih mencarinya. Pangeran Kertawijaya masih dendam. Adipati — ayah Pandan Wangi — meskipun telah merestui cinta mereka, tidak bisa melindungi Sultan Hasan dari amukan pangeran yang merasa dipermalukan.
"Kau harus pergi lagi," kata Pandan Wangi suatu malam, setelah mereka berpelukan lama di tepi telaga. "Mereka akan menemukanmu. Mereka akan membunuhmu."
"Aku tidak takut mati, Pandan."
"Aku takut. Aku takut kehilanganmu. Aku lebih baik kau hidup jauh dariku daripada kau mati di sampingku."
Sultan Hasan terdiam. Ia tahu Pandan Wangi benar. Selama ia masih dekat dengan kerajaan, selama ia masih berada dalam jangkauan Pangeran Kertawijaya, nyawanya tidak aman. Satu-satunya cara untuk selamat adalah pergi. Jauh. Dan tidak kembali.
"Kemana aku harus pergi?" tanyanya.
"Kembalilah ke pulau itu. Pulau Penjara. Tempat di mana kau bertemu dengan Kiai Pati. Tidak ada yang akan mencarimu di sana. Tidak ada yang akan mengganggumu. Kau bisa hidup dengan tenang. Kau bisa... menulis."
"Menulis?"
"Iya. Menulis. Tentang perjalananmu. Tentang cinta kita. Tentang semua yang kau alami. Suatu hari, tulisan-tulisan itu akan menjadi warisan. Untuk anak cucu. Untuk generasi mendatang. Agar mereka tahu bahwa cinta sejati itu ada. Bahwa kesetiaan itu ada. Bahwa penjaga hati itu ada."
Sultan Hasan tersenyum. "Kau ingin aku menjadi pujangga?"
"Aku ingin kau menjadi penjaga hati yang menulis. Karena kata-kata tidak akan mati. Kata-kata akan terus hidup, bahkan setelah kau tiada. Dan melalui kata-kata itu, cinta kita akan abadi."
Sultan Hasan pergi lagi ke Pulau Penjata.
Ia tidak sendirian. Jaya ikut, seperti biasa. Ke mana pun Sultan Hasan pergi, Jaya ikut. Sampai mati.
Perjalanan memakan waktu dua minggu. Kali ini mereka tidak menggunakan perahu kecil buatan Kiai Pati yang sudah lapuk. Mereka menyewa perahu nelayan dari desa pantai, membayar dengan uang tabungan Sultan Hasan selama bekerja di Bandar Cendana.
Kiai Pati masih hidup ketika mereka tiba. Lelaki tua itu terkejut melihat Sultan Hasan kembali.
"Kau kembali? Aku kira kau sudah menikah dengan kekasihmu dan hidup bahagia selamanya."
"Tidak, Kiai. Aku masih dikejar musuh. Aku harus bersembunyi di sini. Setidaknya untuk sementara waktu."
"Berapa lama?"
"Aku tidak tahu. Mungkin setahun. Mungkin dua tahun. Mungkin selamanya."
Kiai Pati menghela napas. "Terserah. Pulau ini milik siapa pun yang berani tinggal di sini. Tapi jangan harap aku akan melayani kalian. Aku sudah tua. Aku hanya bisa mengajari kalian bertahan hidup, seperti dulu."
"Itu sudah cukup, Kiai. Terima kasih."
Hari-hari berlalu. Bulan-bulan berganti.
Sultan Hasan, Jaya, dan Kiai Pati tinggal di pulau itu bersama-sama. Mereka membangun pondok-pondok kecil dari kayu dan bambu. Mereka berkebun sayur-sayuran. Mereka beternak ayam hutan yang mereka jinakkan. Mereka memancing di laut. Kehidupan sederhana, tapi cukup.
Namun, Sultan Hasan tidak hanya bertahan hidup. Ia juga menulis.
Setiap malam, setelah bekerja seharian, ia duduk di tepi pantai, memandang laut, memandang bintang, mengingat-ingat perjalanan hidupnya. Lalu ia menulis.
Ia menulis di daun lontar. Kering. Keras. Tidak mudah ditulisi. Tapi ia tidak punya kertas. Tidak punya pena. Hanya pisau kecil dan lontar yang ia keringkan sendiri.
Ia menulis tentang masa kecilnya di Dukuh Wangi. Tentang ibunya, Dewi Rengganis, yang meninggal saat ia masih kecil. Tentang ayahnya, Hasan, yang lenyap di hutan. Tentang Nini Mas Intan yang menolong kelahirannya. Tentang Mak Umi yang merawatnya. Tentang Jaya, sahabat setianya. Tentang Ki Ageng Jagaraga yang mengajarinya silat. Tentang Kyai Buyut Cakar Mase yang mengajarinya kitab tujuh penjaga. Tentang Kiai Pati yang mengajarinya kesabaran.
Dan tentu saja, tentang Pandan Wangi. Perempuan yang ia cintai sejak kecil. Perempuan yang selalu setia menunggu. Perempuan yang menjadi alasan ia tetap hidup, tetap berjuang, tetap menulis.
Pandan Wangi tidak pernah disebut secara langsung. Ia selalu disamarkan. "Dia yang namanya harum seperti bunga pandan." "Dia yang matanya jernih seperti air telaga." "Dia yang suaranya lembut seperti bisikan angin malam."
Tapi setiap orang yang membaca tulisan-tulisan itu akan tahu. Tidak ada yang lain yang bisa seperti itu. Hanya Pandan Wangi.
"Kau jatuh cinta," kata Kiai Pati suatu malam, saat melihat Sultan Hasan menulis.
"Sudah lama, Kiai."
"Dan kau menulis tentang dia?"
"Setiap hari. Setiap malam. Aku tidak bisa berhenti."
"Kau tahu, dulu aku juga seperti itu. Aku juga menulis tentang perempuan yang kucintai. Tapi tulisanku tidak pernah selesai. Aku selalu merobeknya sebelum selesai. Karena aku takut. Takut kata-kataku tidak cukup indah untuk menggambarkan kecantikannya. Takut kata-kataku tidak cukup kuat untuk mengungkapkan cintaku."
"Dan sekarang?"
"Sekarang ia sudah mati. Tulisanku tidak ada yang tersisa. Yang tersisa hanyalah kenangan. Kenangan yang semakin pudar setiap hari."
Kiai Pati memandang Sultan Hasan. Matanya berkaca-kaca.
"Jangan ulangi kesalahanku, Nak. Selesaikan tulisan-tulisan itu. Biarkan ia membaca. Biarkan ia tahu betapa kau mencintainya. Karena hidup ini singkat. Kau tidak tahu kapan kau akan mati. Kau tidak tahu kapan ia akan mati."
"Saya akan menyelesaikannya, Kiai. Saya janji."
Tahun pertama di pulau itu berlalu.
Sultan Hasan sudah mengumpulkan tumpukan daun lontar setinggi lutut. Ratusan helai. Ribuan baris. Syair. Cerita. Puisi. Nasihat. Semua tentang cinta. Tentang kehidupan. Tentang menjadi penjaga hati.
Ia belum memberinya judul. Ia hanya menulis. Menulis. Menulis. Seperti orang kesurupan. Seperti orang yang dikejar waktu.
Jaya kadang membantu. Ia mengumpulkan daun lontar. Ia mengeringkannya. Ia mengirisnya. Ia merapikannya. Ia juga belajar membaca dan menulis dari Sultan Hasan. Perlahan. Tapi pasti.
"Siapa yang akan membaca tulisan-tulisan ini?" tanya Jaya suatu hari.
"Aku tidak tahu. Mungkin tidak ada. Mungkin hanya Pandan Wangi. Mungkin hanya kita berdua. Tapi itu tidak masalah. Yang penting, kata-kata ini ada. Mereka tidak akan mati. Mereka akan terus hidup. Sampai ada yang menemukannya. Sampai ada yang membacanya. Sampai ada yang terinspirasi."
"Kau percaya pada kata-kata?"
"Aku percaya. Karena kata-kata adalah satu-satunya hal yang abadi di dunia ini. Batu bisa hancur. Logam bisa berkarat. Tubuh bisa mati. Tapi kata-kata... kata-kata akan terus hidup selama ada yang mengingatnya."
Malam itu, Sultan Hasan menulis satu syair yang kelak akan menjadi terkenal di seluruh Nusantara. Syair tentang telaga. Tentang rindu. Tentang cinta yang terpisah jarak dan waktu.
Rindu ini bukan tentang bertemu,
Bukan tentang berjumpa di ujung jalan.
Rindu ini tentang air di telaga,
Yang tak pernah habis meski terus kau timba.
Ia ada. Ia mengalir. Ia hidup.
Meski kau tak melihatnya.
Meski kau tak menyentuhnya.
Meski kau jauh di sana.
Ia tidak tahu bahwa kelak, syair itu akan dihafal oleh anak-anak sekolah. Ia tidak tahu bahwa kelak, syair itu akan diajarkan sebagai bagian dari sastra klasik Nusantara. Ia tidak tahu bahwa kelak, syair itu akan menjadi bukti bahwa cinta sejati itu ada. Bahwa kesetiaan itu ada. Bahwa penjaga hati itu ada.
Yang ia tahu hanyalah: ia harus menulis. Karena menulis adalah satu-satunya cara untuk tetap terhubung dengan Pandan Wangi. Satu-satunya cara untuk menepati janjinya. Satu-satunya cara untuk menjaga cinta yang sudah ia rawat sejak kecil.
"Terima kasih, Pandan," bisiknya selesai menulis, memandang bintang-bintang di langit. "Karena kau mengajariku menulis. Karena kau mengajariku mencintai. Karena kau mengajariku menjadi penjaga hati."
Di kejauhan, meski tidak mungkin, ia mendengar suara burung hantu. Samar. Tapi jelas.
Sekali. Pendek.
Seperti jawaban: "Sama-sama, penjaga hati. Aku akan selalu menunggumu."
BAB XLVI
Pandan Wangi Menikah dengan Pangeran – Sultan Hasan Hanya Bisa Menangis di Kejauhan Meski Tidak Melihat Langsung
Di istana Kerajaan Kencana Wungu, persiapan pernikahan besar-besaran sedang berlangsung.
Ribuan pelayan sibuk membersihkan setiap sudut istana. Puluhan tukang hias memasang janur dan bunga di sepanjang koridor. Para koki dari berbagai kerajaan diundang untuk menyiapkan hidangan terbaik. Para musisi berlatih lagu-lagu kebesaran siang dan malam. Para penari mempersiapkan gerakan-gerakan terindah untuk menyambut malam puncak.
Ini bukan pernikahan biasa. Ini pernikahan antara Pangeran Kertawijaya – pewaris takhta Kerajaan Kencana Wungu – dengan Putri Pandan Wangi – putri bangsawan dari kerajaan tetangga. Seluruh bangsawan Nusantara diundang. Raja-raja dari negeri seberang datang membawa hadiah. Para duta besar dari berbagai negara berkumpul untuk menyaksikan momen bersejarah ini.
Hanya satu orang yang tidak diundang: Sultan Hasan.
Dan hanya satu orang yang tidak bahagia: Pandan Wangi.
Pandan Wangi duduk di depan cermin besar di kamarnya. Beberapa dayang sedang merias wajahnya, menata rambutnya, memakaikan perhiasan emas dan berlian. Ia cantik. Sangat cantik. Seperti bidadari yang turun dari langit. Tapi matanya kosong. Tidak ada cahaya. Tidak ada semangat. Ia hanya boneka cantik yang dipaksa menari di atas panggung.
"Putri, jangan sedih," kata dayang kesayangannya. "Hari ini adalah hari bahagia Putri. Putri akan menikah dengan pangeran tampan dan kaya raya. Semua wanita di kerajaan iri pada Putri."
Pandan Wangi tersenyum pahit. "Kebahagiaan tidak diukur dari ketampanan dan kekayaan, sayang."
"Lalu dari apa?"
"Dari hati. Dari cinta. Dari kebebasan memilih."
Dayang itu terdiam. Ia tidak mengerti. Ia hanya dayang sederhana yang mengabdi pada putri. Tugasnya merias, bukan berpikir.
Pandan Wangi memandang kalung di lehernya. Batu akik merah itu berdenyut. Pelan. Lembut.
"Aku di sini," bisik batu itu. "Kau tidak sendirian."
Pandan Wangi tersenyum. "Terima kasih," bisiknya. "Setidaknya kau masih bersamaku. Dan Sultan Hasan... di mana pun ia berada... semoga ia baik-baik saja."
Di Pulau Penjara, Sultan Hasan terus menulis.
Ia sudah menulis ratusan syair tentang cinta dan kehilangan. Tentang rindu dan kesabaran. Tentang janji dan pengorbanan. Tapi hari ini, ia tidak bisa menulis. Tangannya gemetar. Hatinya gelisah. Batu akik merah di dadanya berdenyut kencang. Tidak seperti biasanya.
"Ada apa?" tanyanya pada batu itu.
Batu itu tidak menjawab. Hanya berdenyut. Kencang. Panas. Seperti memberi peringatan.
Sultan Hasan berdiri. Ia berjalan ke tepi pantai. Memandang ke timur. Ke arah kerajaan. Ke arah istana. Ke arah Pandan Wangi.
"Hari ini," bisiknya. "Hari ini ia menikah."
Ia tidak tahu dari mana pengetahuannya. Mungkin dari denyut batu. Mungkin dari firasat. Mungkin dari hati yang sudah terhubung dengan hati Pandan Wangi sejak lama.
Ia duduk di atas batu karang. Memandang laut. Memandang langit. Memandang awan-awan putih yang bergerak lambat.
Air matanya menetes.
Ia menangis.
Bukan karena marah. Bukan karena putus asa. Tapi karena ia tahu, Pandan Wangi juga menangis di tempat yang jauh. Pandan Wangi juga dipaksa. Pandan Wangi juga tidak bahagia.
"Sabar, Pandan," bisiknya. "Aku tidak bisa hadir di pernikahanmu. Aku tidak bisa membebaskanmu sekarang. Tapi aku akan selalu mencintaimu. Sampai mati. Sampai setelah mati. Selamanya."
Di istana, prosesi pernikahan berlangsung megah.
Pangeran Kertawijaya berjalan memasuki pelataran istana dengan diiringi seratus prajurit berkuda. Ia memakai pakaian kebesaran berwarna emas, bertaburkan berlian dan permata. Wajahnya tampan, senyumnya lebar. Ia merasa menjadi pria paling beruntung di dunia.
Pandan Wangi berjalan di belakangnya, dituntun oleh kedua orang tuanya. Ia memakai pakaian pengantin berwarna merah keemasan, bertaburkan bunga melati dan mawar. Wajahnya cantik, tapi tanpa senyum. Matanya sayu, seperti telaga yang kehilangan cahaya bulan.
Mereka berdua duduk di pelaminan. Para pemuka agama membacakan doa-doa. Sumpah pernikahan diucapkan. Cincin disematkan di jari.
"Kuterima nikahnya Putri Pandan Wangi binti Adipati Kertanegara dengan mas kawin seratus keping emas dibayar tunai," kata Pangeran Kertawijaya dengan suara lantang.
Pandan Wangi hanya diam. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Mulutnya terasa terkunci.
"Kau harus mengucapkan sumpahmu, Putri," bisik dayang di sampingnya.
Pandan Wangi membuka mulutnya. Suaranya keluar pelan, parau, seperti pecahan kaca yang digesekkan.
"Aku... terima..."
Hanya itu. Dua kata. Tapi cukup untuk mengikatnya dalam pernikahan yang tidak ia inginkan.
Para tamu bertepuk tangan. Para musisi memainkan lagu kebesaran. Para penari menari dengan lincah. Pesta dimulai. Semua orang bersorak. Semua orang bahagia.
Hanya Pandan Wangi yang tidak.
Air matanya jatuh. Jatuh ke pangkuannya. Jatuh ke batu akik merah di kalungnya. Batu itu berdenyut. Kencang. Seperti ikut menangis.
Di Pulau Penjara, Sultan Hasan masih duduk di atas batu karang.
Matahari sudah terbenam. Bulan mulai muncul. Bintang-bintang bertaburan.
Ia masih menangis. Lelah. Tapi tidak bisa berhenti.
"Kau masih di sini?" tanya Jaya yang datang menghampiri.
"Aku tidak bisa ke mana-mana, Jaya. Hari ini ia menikah. Dengan orang lain. Aku tidak bisa mencegah. Aku tidak bisa melawan. Aku hanya bisa diam di sini, menangis, meratapi nasib."
"Kau tidak menyesal?"
"Menyesal? Setiap hari. Setiap malam. Aku menyesal karena tidak cukup kuat. Karena tidak cukup berani. Karena tidak cukup kaya atau bangsawan untuk melamar ia secara resmi."
"Tapi kau sudah berusaha. Kau sudah melawan pangeran. Kau sudah hampir mati. Itu sudah lebih dari cukup."
"Tapi tidak cukup, Jaya. Tidak cukup untuk merebutnya dari pangeran. Tidak cukup untuk membawanya lari. Tidak cukup untuk membuatnya bahagia."
Jaya duduk di samping Sultan Hasan. Ia tidak bicara. Hanya menemani.
Mereka berdua diam. Memandang laut. Memandang bulan. Memandang bintang.
"Jaya," kata Sultan Hasan setelah lama terdiam.
"Ya?"
"Kau tahu, meskipun ia menikah dengan orang lain, cintaku padanya tidak akan berubah. Aku akan tetap mencintainya. Sampai mati. Sampai setelah mati. Selamanya."
"Kau gila, Hasan. Ia sudah menjadi milik orang lain."
"Cinta tidak mengenal milik siapa. Cinta hanya tentang perasaan. Dan perasaanku padanya tidak akan pernah pudar."
Jaya menghela napas. "Kau sungguh gila. Tapi itulah sebabnya aku berteman denganmu."
Mereka berdua tersenyum pahit.
Pesta pernikahan berlangsung sampai larut malam.
Pandan Wangi duduk di pelaminan seperti patung. Ia tidak bicara. Tidak makan. Tidak minum. Tidak tersenyum. Hanya diam. Menatap kosong.
Para tamu mulai pulang satu per satu. Pangeran Kertawijaya yang sudah mabuk karena minuman keras, digotong para pelayannya ke kamar pengantin.
"Putri, sudah waktunya Putri ke kamar pengantin," kata dayang.
Pandan Wangi tidak bergerak.
"Putri... pangeran sudah menunggu."
"Biarkan ia menunggu. Sampai mati."
Dayang itu bingung. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya dayang kecil. Tidak punya kuasa untuk memaksa putri.
Pandan Wangi berdiri sendiri. Ia berjalan meninggalkan pelaminan. Ia tidak menuju kamar pengantin. Ia menuju taman belakang. Menuju air mancur. Menuju tempat di mana dulu ia pertama kali bertemu Sultan Hasan.
Ia duduk di tepi air mancur. Memandang air yang memancar. Memandang bulan yang terpantul di permukaan air.
"Sultan Hasan," bisiknya. "Aku sudah menikah. Tapi aku tidak akan pernah menjadi istri pangeran itu. Hatiku tetap milikmu. Selamanya."
Ia memegang kalung batu akik merah di lehernya. Batu itu berdenyut. Hangat. Seperti menjawab: "Aku di sini. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu."
Pandan Wangi tersenyum.
Di kejauhan, di Pulau Penjara, Sultan Hasan merasakan denyut itu. Ia tersenyum juga.
Mereka berdua tersenyum. Meskipun terpisah jarak dan waktu. Meskipun terpisah oleh pernikahan yang tidak diinginkan. Meskipun terpisah oleh takdir yang kejam.
Cinta mereka tetap ada. Tidak akan pernah mati.
Selamanya.
BAB XLVII
Tahanan Tua Wafat – Sebelum Mati, Ia Menyerahkan Rahasia: "Kekuatan Penjaga Hati Adalah Ketika Tidak Ada yang Melihatmu Tetap Menjaga"
Tahun kedua di Pulau Penjara berjalan sunyi.
Sultan Hasan terus menulis. Jaya terus membantu. Kiai Pati terus mengajar. Kehidupan mereka sederhana, teratur, dan damai. Tidak ada kejutan. Tidak ada konflik. Hanya alam, kerja, dan kata-kata yang lahir di atas daun lontar.
Tapi Sultan Hasan memperhatikan sesuatu. Kiai Pati mulai melemah. Langkahnya tidak setegap dulu. Tangannya kadang gemetar saat memegang pancing. Matanya semakin buram. Suaranya semakin parau. Napasnya semakin pendek.
"Kiai, kau sakit?" tanya Sultan Hasan suatu hari.
"Sakit? Tidak. Aku hanya tua. Dan orang tua, meskipun sehat, suatu hari akan mati."
"Jangan bicara begitu, Kiai. Kiai masih kuat. Kiai masih bisa mengajariku banyak hal."
Kiai Pati tersenyum. "Aku sudah mengajarimu semua yang aku tahu. Yang tersisa hanyalah... rahasia. Satu rahasia yang tidak pernah kusampaikan kepada siapa pun."
"Rahasia apa, Kiai?"
"Sabarlah. Nanti, ketika aku sudah dekat dengan ajal, akan aku sampaikan."
Malam itu, Kiai Pati tidak bangun dari tidurnya.
Sultan Hasan dan Jaya menemukannya terbaring di atas tumpukan daun kering, matanya terpejam, dadanya naik turun perlahan. Tangannya dingin. Bibirnya biru.
"Kiai!" panggil Sultan Hasan.
Kiai Pati membuka mata. Samar-samar. Ia tersenyum.
"Sudah dekat," bisiknya. "Aku bisa melihat malaikat maut berdiri di sudut gua. Ia menungguku."
"Jangan pergi, Kiai. Kami masih butuh kau."
"Kalian tidak butuh aku lagi. Kalian sudah dewasa. Kalian sudah kuat. Kalian sudah bisa hidup sendiri di pulau ini. Atau kembali ke dunia. Terserah."
Kiai Pati menggenggam tangan Sultan Hasan. Tangannya dingin, tapi genggamannya kuat.
"Nak," katanya. "Aku akan memberikan rahasia itu sekarang. Dengarkan baik-baik. Karena ini adalah warisan terakhirku untukmu."
"Iya, Kiai. Aku mendengarkan."
"Kekuatan penjaga hati," kata Kiai Pati perlahan, "bukanlah ketika kau bisa melindungi orang yang kau cintai dari bahaya. Bukan ketika kau bisa mengalahkan musuh. Bukan ketika kau bisa memiliki apa yang kau inginkan."
"Lalu apa, Kiai?"
"Kekuatan penjaga hati adalah ketika tidak ada yang melihatmu, tidak ada yang tahu, tidak ada yang peduli... kau tetap menjaga. Kau tetap setia. Kau tetap mencintai. Tanpa imbalan. Tanpa pengakuan. Tanpa pamrih."
Sultan Hasan terdiam. Ia merenungkan kata-kata itu.
"Itulah yang membedakan penjaga hati sejati dengan orang biasa, Nak. Orang biasa akan berhenti menjaga jika tidak ada yang menghargai. Penjaga hati sejati akan terus menjaga meskipun seluruh dunia melupakannya. Karena ia tidak menjaga untuk dunia. Ia menjaga untuk hati. Hatinya sendiri. Hati orang yang dicintainya. Dan hati tidak butuh pengakuan. Hati butuh ketulusan."
Kiai Pati batuk. Batuknya keras. Darah keluar dari mulutnya.
"Kiai!" teriak Sultan Hasan.
"Jangan panik. Ini sudah waktunya. Aku sudah siap."
Kiai Pati memandang Sultan Hasan. Matanya yang buram tiba-tiba jernih untuk sesaat.
"Kau akan menjadi penjaga hati yang hebat, Sultan Hasan. Aku bisa melihatnya. Dari matamu. Dari hatimu. Dari setiap kata yang kau tulis."
"Terima kasih, Kiai."
"Tapi ingat. Jangan sia-siakan hidupmu hanya untuk mengejar cinta yang tidak bisa kau miliki. Cintailah Pandan Wangi. Tapi jangan biarkan cinta itu menghancurkanmu. Jadikan ia kekuatan. Bukan kelemahan."
"Aku akan, Kiai."
Kiai Pati tersenyum. Ia memandang ke langit-langit gua. Matanya menerawang. Seperti melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh mata biasa.
"Kau tahu, Nak," bisiknya. "Aku dulu juga punya seseorang yang kucintai. Tapi aku tidak pernah cukup berani. Aku hanya bisa menjaga dari kejauhan. Dan ketika ia mati, aku menyesal. Tapi sekarang... sekarang aku tidak menyesal lagi. Karena aku tahu, ia ada di suatu tempat. Menungguku. Dan sebentar lagi, kita akan bertemu."
Kiai Pati memejamkan matanya. Dadanya naik sekali, turun, lalu tidak naik lagi.
Sultan Hasan menggenggam tangannya. Tangannya sudah dingin. Tidak berdenyut. Tidak bergerak.
Ia menangis. Jaya juga menangis.
Mereka berdua kehilangan guru lagi. Kehilangan sahabat lagi. Kehilangan keluarga lagi.
Tapi mereka tidak larut dalam kesedihan. Mereka ingat pesan Kiai Pati: "Kekuatan penjaga hati adalah ketika tidak ada yang melihatmu, kau tetap menjaga."
Sekarang, tidak ada yang melihat mereka. Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang peduli. Tapi mereka tetap menjaga. Menjaga jasad Kiai Pati. Menjaga kehormatannya. Menjaga rahasianya.
Mereka menguburkan Kiai Pati di bawah pohon beringin tua di tepi pantai. Tempat yang indah. Dengan pemandangan laut lepas. Dengan bisikan ombak sebagai doa.
"Selamat jalan, Kiai," bisik Sultan Hasan. "Terima kasih untuk semuanya. Untuk rahasiamu. Untuk ajaramu. Untuk kesabaranmu."
Di dahan pohon beringin, seekor burung hantu menatapnya. Matanya bundar dan kuning. Ia tidak berbunyi. Hanya menatap.
Seolah setuju. Seolah merestui. Seolah bahagia bahwa rahasia itu akhirnya tersampaikan. Dan bahwa Sultan Hasan akan menjaganya. Selamanya.
Setelah Kiai Pati wafat, Sultan Hasan dan Jaya tinggal berdua di pulau itu.
Mereka tidak langsung pergi. Mereka masih punya banyak daun lontar yang harus ditulis. Masih banyak cerita yang harus diabadikan.
Tapi suatu malam, Sultan Hasan bermimpi.
Dalam mimpinya, Kiai Pati datang. Tubuhnya masih tua, tapi wajahnya berseri.
"Apa kau sudah menemukan jawabannya, Nak?" tanya Kiai Pati.
"Jawaban untuk apa, Kiai?"
"Untuk pertanyaanmu: apakah kau akan terus menjaga Pandan Wangi meskipun ia sudah menjadi istri orang lain?"
Sultan Hasan terdiam. Ia tidak pernah bertanya itu. Tapi mungkin Kiai Pati bisa membaca pikirannya.
"Aku akan terus menjaganya, Kiai. Meskipun ia sudah menikah. Meskipun ia jauh. Meskipun tidak ada yang tahu. Aku akan setia. Selamanya."
Kiai Pati tersenyum. "Kau sudah menjadi penjaga hati sejati, Nak. Aku bangga padamu."
Kiai Pati menghilang. Sultan Hasan terbangun.
Ia duduk di tepi pantai. Memandang laut. Memandang bintang. Memandang bulan sabit yang tipis.
"Pandan," bisiknya. "Aku akan terus menjagamu. Meskipun kau tidak pernah tahu. Meskipun tidak ada yang pernah tahu. Karena itu adalah kekuatan penjaga hati."
Di kejauhan, meski tidak mungkin, ia mendengar suara burung hantu. Samar. Tapi jelas.
Sekali. Pendek.
Seperti jawaban: "Aku juga akan terus menjagamu, penjaga hati. Selamanya."
Sultan Hasan tersenyum.
Ia kembali ke pondoknya. Ia menulis. Menulis. Menulis.
Tentang cinta. Tentang kesetiaan. Tentang rahasia yang diwariskan Kiai Pati. Tentang kekuatan penjaga hati.
Daun lontar bertambah. Tumpukan semakin tinggi.
Ia tidak tahu untuk siapa tulisannya. Tapi ia terus menulis.
Karena menulis adalah caranya menjaga.
Menjaga ingatan. Menjaga cinta. Menjaga hati.
Selamanya.
BAB XLVIII
Usia 24 Tahun – Sultan Hasan Dibebaskan dari Pulau Penjara – Kembali ke Desa Asalnya dengan Jiwa yang Berbeda
Tahun-tahun di Pulau Penjara terasa berjalan lambat, tetapi tidak terasa ketika Sultan Hasan menghitung usianya, ia sudah genap dua puluh empat tahun.
Tujuh tahun sudah ia tinggal di pulau itu. Tujuh tahun bersama Kiai Pati (almarhum), bersama Jaya, bersama alam, dan bersama tumpukan daun lontar yang semakin meninggi. Tujuh tahun tanpa kabar dari dunia luar. Tujuh tahun tanpa berita tentang Pandan Wangi.
Pada suatu pagi, saat Sultan Hasan sedang memancing di tepi pantai, ia melihat sebuah kapal kecil mendekat. Bukan kapal nelayan biasa. Kapal itu membawa bendera kerajaan. Lambang Kerajaan Kencana Wungu berkibar di ujung tiangnya.
Jaya yang sedang mengumpulkan kayu bakar di dekat hutan, berlari menghampiri. "Itu kapal kerajaan! Ada apa? Apakah mereka menjemput kita? Atau... apakah mereka akan membunuh kita?"
"Kita lihat saja," kata Sultan Hasan tenang.
Kapal itu merapat ke pantai. Seorang lelaki paruh baya turun dari kapal, diikuti oleh dua orang prajurit. Lelaki itu berpakaian rapi, dengan songkok hitam di kepalanya dan keris di pinggang. Wajahnya familiar. Sultan Hasan pernah melihatnya di istana, dulu, saat ia diadili.
"Kau Sultan Hasan?" tanya lelaki itu.
"Saya."
"Aku diutus oleh Pangeran Kertawijaya. Ia sudah mendengar tentang kesetiaanmu. Tentang pengorbananmu. Tentang tulisantulisanmu yang tersebar di kalangan nelayan dan pedagang."
Sultan Hasan terkejut. "Tulisan-tulisan saya tersebar? Bagaimana mungkin? Saya tidak pernah mengirimkannya ke mana-mana."
Lelaki itu tersenyum. "Jaya, sahabatmu, diam-diam mengirimkan beberapa lembar lontar ke kapal-kapal yang lewat. Ia menyuruh para nelayan menyebarkannya ke berbagai kota. Karya-karyamu kini dikenal di seluruh Nusantara. Pangeran Kertawijaya membacanya. Ia terharu. Ia mengakui bahwa cintamu pada Pandan Wangi lebih tulus daripada cintanya."
Sultan Hasan memandang Jaya. Jaya menunduk malu.
"Maaf, Hasan. Aku tidak bilang padamu karena aku tahu kau akan melarang. Tapi aku ingin dunia tahu bahwa sahabatku adalah pujangga hebat. Dan aku berhasil."
Sultan Hasan tidak marah. Ia justru terharu. Ia memeluk Jaya.
"Terima kasih, saudaraku. Kau telah melakukan sesuatu yang tidak pernah aku pikirkan."
Utusan itu melanjutkan, "Pangeran Kertawijaya memutuskan untuk membebaskanmu dari pulau ini. Kau boleh kembali ke kampung halamanmu. Kau boleh hidup bebas. Tidak ada lagi yang akan mengejarmu. Tidak ada lagi yang akan menghukummu. Bahkan, jika kau mau, kau bisa bekerja di istana sebagai pujangga kerajaan."
Sultan Hasan menggeleng. "Aku tidak butuh bekerja di istana. Aku hanya ingin kembali ke Dukuh Wangi. Ke telaga. Ke rumah yang dulu."
"Itu hakmu. Kapal ini akan mengantarkanmu ke mana pun kau mau."
Sultan Hasan memandang Jaya. "Kita pulang."
"Kita pulang," kata Jaya.
Mereka berdua naik ke kapal. Sebelum kapal berlayar, Sultan Hasan berjalan sekali lagi ke bawah pohon beringin tua, tempat Kiai Pati dimakamkan. Ia berlutut di pusaranya.
"Kiai," bisiknya. "Aku pulang. Terima kasih untuk semuanya. Doakan aku. Doakan Pandan Wangi. Semoga kita semua bahagia."
Ia mengecup tanah pusara itu. Lalu berjalan kembali ke kapal.
Kapal itu berlayar. Meninggalkan Pulau Penjara. Meninggalkan kenangan pahit. Meninggalkan kesepian. Meninggalkan kesedihan.
Di dermaga, Sultan Hasan memandang ke belakang. Pulau itu semakin kecil. Kiai Pati sudah tiada. Tapi ajarannya tetap hidup. Dalam hati Sultan Hasan. Dalam setiap tulisannya.
"Selamat tinggal, Pulau Penjara," bisiknya. "Kau telah mengajariku arti kesabaran. Arti ketulusan. Arti menjadi penjaga hati."
Perjalanan pulang ke Dukuh Wangi memakan waktu dua minggu.
Sultan Hasan dan Jaya singgah di berbagai kota. Di setiap tempat, mereka disambut oleh orang-orang yang sudah membaca tulisan Sultan Hasan. Para nelayan, petani, pedagang, bahkan para bangsawan kecil, semua mengagumi syair-syair cinta yang ia tulis.
"Kau Sultan Hasan? Pujangga yang menulis syair tentang telaga dan rindu?"
"Saya."
"Ajar kami menulis! Ajar kami membuat syair! Ajar kami mencintai seperti kau mencintai!"
Sultan Hasan tersenyum. Ia tidak menyangka tulisannya akan sepopuler ini. Ia tidak menyangka cintanya pada Pandan Wangi akan menginspirasi begitu banyak orang.
Ia mengajari mereka. Tidak pelit. Tidak sombong. Dengan sabar, ia menjelaskan teknik menulis syair. Tentang irama. Tentang diksi. Tentang bagaimana mengungkapkan perasaan dengan kata-kata yang indah.
"Menulis," katanya, "bukan tentang pamer kepandaian. Menulis adalah tentang berbagi hati. Jika hatimu tulus, kata-katamu akan menyentuh siapa pun."
Akhirnya, mereka tiba di Dukuh Wangi.
Desa itu tidak banyak berubah. Masih sama seperti dulu. Sawah-sawah menghampar. Rumah-rumah kayu berjajar. Anak-anak bermain di halaman. Ibu-ibu memasak di dapur.
Tapi ada satu yang berubah: sikap warga terhadap Sultan Hasan.
Dulu, mereka membencinya. Mengucilkannya. Melempari kerikil. Memanggilnya anak setan. Kini, mereka justru menanti kedatangannya dengan haru. Kabar tentang kepujanggaan Sultan Hasan sudah sampai ke desa itu. Mereka bangga memiliki warga yang terkenal di seluruh Nusantara.
"Sultan Hasan! Sultan Hasan pulang!" teriak anak-anak.
Warga desa berkerumun di jalan. Mereka memeluk Sultan Hasan. Mereka menangis. Mereka meminta maaf atas perlakuan buruk mereka dulu.
"Maafkan kami, Nak," kata seorang perempuan tua yang dulu pernah ikut melempari kerikil. "Kami dulu buta. Kami dulu bodoh. Kami dulu tidak tahu bahwa kau anak baik."
Sultan Hasan tersenyum. "Sudah, Bu. Masa lalu biarlah berlalu. Sekarang kita fokus pada masa depan."
Ia tidak dendam. Ia tidak marah. Ia sudah memaafkan mereka sejak lama. Di pulau itu, saat merenung di tepi pantai, saat menulis syair di bawah bulan, saat mengingat pesan Kiai Pati.
"Kekuatan penjaga hati adalah ketika tidak ada yang melihatmu, kau tetap menjaga."
Ia telah menjaga hatinya. Tidak membiarkan kebencian masuk. Tidak membiarkan dendam bersarang. Ia menjaga cintanya pada Pandan Wangi. Juga menjaga cintanya pada sesama, meskipun mereka pernah menyakitinya.
Malam harinya, Sultan Hasan pergi ke telaga.
Ia berjalan sendirian. Menyusuri jalan setapak yang dulu sering ia lewati, saat masih kecil, saat masih bersama Pandan Wangi. P ohon-pohon masih sama. Batu-batu masih sama. Suara air sungai masih sama.
Dan telaga itu... masih sama.
Airnya jernih. Dasarnya terlihat. Tanaman air bergoyang-goyang ditarik arus yang lembut. Bulan sabit tipis terpantul di permukaan air, menciptakan kilauan keperakan.
Tapi Pandan Wangi tidak ada.
Sultan Hasan duduk di batu hitam. Tempat ia biasa duduk bersama Pandan Wangi. Masih licin. Masih kokoh. Masih hangat meskipun malam dingin.
Ia memanggil-manggil nama Pandan Wangi. Pelan. Seperti bisikan.
"Pandan... aku pulang."
Tidak ada jawaban.
Ia menunggu. Satu jam. Dua jam.
Pandan Wangi tidak muncul.
Ia tidak kecewa. Ia sudah menduga. Pandan Wangi mungkin sedang di istana. Atau di tempat lain. Atau mungkin ia sengaja tidak mau muncul, karena ia sudah menikah, karena ia merasa tidak pantas lagi bertemu dengan kekasih lamanya.
Tapi Sultan Hasan tidak marah. Ia mengerti.
"Pandan," bisiknya. "Aku tidak akan memaksamu. Aku hanya ingin kau tahu: aku pulang. Aku selamat. Aku masih hidup. Aku masih mencintaimu. Selamanya."
Ia menaruh setangkai bunga melati putih di atas batu hitam itu. Lalu berdiri. Berjalan pulang.
Di dadanya, batu akik merah berdenyut. Pelan. Lembut.
"Dia mendengarmu," bisik batu itu. "Dia tahu. Dia juga mencintaimu. Tapi ia tidak bisa muncul. Ada yang menahannya."
"Tidak apa-apa. Yang penting ia tahu. Yang penting ia baik-baik saja. Yang penting cinta kita tetap hidup."
Sultan Hasan tersenyum. Ia melangkah pulang dengan hati yang ringan.
Meskipun tidak bertemu, meskipun tidak bersua, ia bahagia. Karena ia bisa kembali ke tempat ini. Karena ia bisa merasakan kehadiran Pandan Wangi dalam setiap hembusan angin yang membawa wangi pandan.
"Selamat malam, Pandan," bisiknya.
Di kejauhan, burung hantu berbunyi. Sekali. Pendek.
Seperti jawaban: "Selamat malam, penjaga hati."
BAB XLIX
Desa Berubah: Banyak yang Sudah Mati, yang Tinggal Mengenalnya sebagai "Orang Buangan"
Kembali ke Dukuh Wangi setelah bertahun-tahun pergi terasa seperti memasuki dunia yang asing, meskipun desa itu adalah tempat kelahirannya.
Sultan Hasan berjalan menyusuri jalan setapak yang dulu ia lewati setiap hari. Rumah-rumah kayu yang dulu berjajar rapi, kini banyak yang roboh dan tidak terawat. Halaman-halaman yang dulu dipenuhi dengan tanaman sayur dan bunga, kini ditumbuhi alang-alang dan semak belukar. Wajah-wajah yang dulu ia kenal, kini banyak yang tidak ia temui lagi. Meninggal. Pindah. Atau pergi merantau seperti dirinya.
"Desa ini sudah tua," kata Jaya di sampingnya. "Seperti kita."
"Kita belum tua, Jaya. Usia kita baru dua puluh empat tahun."
"Tapi rasanya sudah tua. Sudah banyak yang kita alami. Sudah banyak yang kita lihat. Sudah banyak yang kita tangisi."
Sultan Hasan tidak menjawab. Ia terus berjalan. Matanya memindai setiap sudut desa, mencari wajah-wajah yang masih ia kenali.
Di depan rumah Mak Umi — yang kini hanya tinggal puing-puing — ia berhenti. Rumah itu sudah roboh total. Dinding-dinding bambunya ambruk. Atapnya lenyap entah ke mana. Hanya tiang-tiang kayu yang masih tersisa, menjulang sunyi, seperti tulang-belulang raksasa yang mati.
"Mak Umi," bisik Sultan Hasan. "Aku pulang. Maaf, aku tidak bisa menjaga rumahmu."
Ia berlutut di depan puing-puing itu. Ia memungut segenggam tanah. Ia mengecupnya. Lalu menaburkannya kembali.
Jaya ikut berlutut. Ia juga berdoa untuk Mak Umi. Perempuan tua yang baik hati itu telah merawat mereka sewaktu kecil, memberi mereka makan, memberi mereka tempat tinggal, memberi mereka kasih sayang. Tanpa Mak Umi, mungkin mereka sudah mati kelaparan atau mati dibunuh oleh warga desa yang membenci Sultan Hasan.
"Mak Umi, terima kasih," bisik Jaya. "Kami tidak akan melupakan kebaikan Mak."
Mereka melanjutkan perjalanan. Melewati rumah Mardjo — paman Sultan Hasan yang dulu galak tapi baik hati. Rumah itu juga sudah kosong. Lastri — istrinya — sudah meninggal dua tahun lalu. Anak-anak Mardjo pindah ke kota, tidak ada yang mau tinggal di desa.
Sultan Hasan memandang rumah itu lama. Ia teringat saat ia dan Jaya pertama kali datang ke Kota Prapatan, miskin, kelaparan, tidak punya tempat tinggal. Mardjo dan Lastri menampung mereka, meskipun dengan perlakuan kasar. Tapi mereka tetap bertahan. Dan akhirnya, Mardjo menganggap mereka seperti anak sendiri.
"Om Mardjo, Bulik Lastri," bisik Sultan Hasan. "Kalian sudah tenang di alam sana. Doakan kami."
Ia meninggalkan setangkai bunga melati di depan pintu rumah itu. Lalu berjalan pergi.
Mereka bertemu dengan beberapa orang tua yang masih tersisa di desa.
"Kau Sultan Hasan?" tanya seorang kakek buta yang duduk di beranda rumahnya. "Anak setan yang dulu kami usir?"
"Saya, Kek. Tapi saya bukan anak setan. Saya manusia biasa."
Kakek itu tertawa. "Sekarang kau terkenal, Nak. Seluruh Nusantara membaca syair-syairmu. Pangeran Kertawijaya sendiri yang membebaskanmu dari pulau penjara. Kau bukan anak setan lagi. Kau pahlawan."
"Saya tidak merasa pahlawan, Kek. Saya hanya orang yang berusaha bertahan hidup dan menjaga cinta."
"Kau rendah hati. Itu bagus. Tidak seperti kebanyakan orang yang sombong ketika mendapat kedudukan."
Kakek itu memanggil istrinya. "Keluarkan makanan terbaik kita! Kita harus menjamu tamu istimewa!"
Sultan Hasan menolak dengan hormat. "Terima kasih, Kek. Tapi saya tidak butuh makanan. Saya hanya ingin berkeliling desa, mengingat masa lalu, sebelum saya pergi lagi."
"Kau akan pergi lagi?"
"Iya. Desa ini sudah tidak seperti dulu. Banyak yang sudah mati. Yang tinggal mungkin tidak kenal saya lagi. Saya hanya orang buangan bagi mereka."
"Kau bukan orang buangan, Nak. Kau anak desa ini. Kau darah daging kami. Meskipun kami dulu salah memperlakukanmu, kau tetap kami akui sebagai warga Dukuh Wangi."
Sultan Hasan terharu. Ia memeluk kakek itu.
"Terima kasih, Kek. Itu berarti banyak bagi saya."
Malam harinya, Sultan Hasan pergi ke telaga sendirian.
Ia duduk di batu hitam. Memandang air telaga yang jernih. Bulan purnama bersinar terang, memantul di permukaan air, menciptakan ribuan titik berkilauan seperti berlian.
Ia memanggil Pandan Wangi. Pelan. Lembut.
"Pandan... aku di sini. Aku tidak akan pergi lagi. Aku akan tinggal di desa ini. Aku akan membangun rumah di tepi telaga. Aku akan bertani. Aku akan berkebun. Aku akan menulis. Aku akan menjagamu. Setiap hari. Setiap malam. Selamanya."
Tidak ada jawaban.
Tapi Sultan Hasan tidak kecewa. Ia sudah terbiasa. Ia sudah belajar bahwa cinta tidak selalu harus bertemu. Cinta bisa dengan mendoakan. Cinta bisa dengan menjaga. Cinta bisa dengan setia meskipun tidak ada yang melihat.
Ia mengeluarkan daun lontar dan pisau kecilnya. Ia mulai menulis.
Di desa yang sunyi, di telaga yang jernih,
Aku duduk sendiri, menunggumu datang.
Tapi kau tak kunjung muncul, seperti bulan yang enggan bersinar,
Mungkin kau sudah lupa, mungkin kau sudah bosan.
Tapi aku tak peduli. Aku akan tetap di sini,
Menjaga telaga ini, menjaga rindu ini,
Menjaga cinta yang tak pernah mati,
Meskipun kau tak pernah tahu, meskipun kau tak pernah melihat.
Ia menulis sampai fajar menyingsing. Sampai tangannya pegal. Sampai matanya perih. Tapi ia tidak berhenti. Ia terus menulis.
Karena menulis adalah caranya menjaga.
Menjaga ingatan. Menjaga cinta. Menjaga hati.
Pagi harinya, Sultan Hasan bangun dan memandang desa dari tepi telaga.
Kabut tipis menyelimuti sawah-sawah. Burung-burung berkicau riang. Ayam-ayam jantan berkokok bersahutan. Matahari terbit di ufuk timur, berwarna jingga keemasan.
Desa ini memang sudah berubah. Banyak yang sudah mati. Banyak yang sudah pergi. Wajah-wajah baru muncul, tidak mengenalnya. Yang tua-tua sudah uzur, tidak ingat lagi siapa dia.
Tapi Sultan Hasan tidak sedih.
Ia sudah memiliki tempatnya di sini. Di tepi telaga. Dekat dengan air. Dekat dengan alam. Dekat dengan kenangan. Dekat dengan Pandan Wangi, meskipun tidak bertemu.
"Aku akan membangun rumah di sini," katanya pada Jaya yang datang menghampiri.
"Aku akan membantu," kata Jaya.
"Kau tidak akan kembali ke kampung halamanmu?"
"Kampung halamanku adalah di mana kau berada, Hasan. Aku tidak punya keluarga lain selain kau."
Sultan Hasan tersenyum. Ia memeluk Jaya.
"Terima kasih, saudaraku. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan tanpa kau."
"Kau akan mati kelaparan di emperan toko," kata Jaya tertawa.
Mereka berdua tertawa. Tawa yang lepas. Tawa yang melupakan sejenak semua kesedihan dan kekecewaan.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap mereka. Matanya bundar dan kuning. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu diam.
Seolah setuju. Seolah merestui. Seolah bahagia bahwa Sultan Hasan akhirnya menemukan tempatnya. Bahwa ia tidak lagi mengembara. Bahwa ia tidak lagi menjadi orang buangan.
Ia adalah penjaga hati. Dan penjaga hati selalu punya rumah. Di mana pun ia berada. Di dalam hatinya sendiri.
Selamanya.
BAB L
Rumah Kosong: Rumah Ibunya Sudah Roboh – Sultan Hasan Membangun Kembali dengan Tangannya Sendiri
Di antara semua perubahan yang terjadi di Dukuh Wangi, satu tempat yang paling menyayat hati Sultan Hasan adalah rumah ibunya.
Rumah itu terletak di ujung desa, dekat dengan hutan, tidak jauh dari telaga. Dulu, rumah itu hanyalah sebuah gubuk kecil dengan dinding dari anyaman bambu dan atap dari daun rumbia. Tiga tempat bolong di atapnya, seperti yang sering diceritakan Nini Mas Intan. Di rumah itulah Sultan Hasan dilahirkan, di malam gerhana, dengan pertolongan seorang perempuan tua misterius.
Sekarang, rumah itu sudah tidak ada.
Yang tersisa hanya puing-puing: tiang-tiang kayu yang rapuh, ambruk berserakan di tanah; anyaman bambu yang hancur, dimakan rayap dan waktu; pecahan-pecahan genteng tanah liat yang berserakan, ditumbuhi lumut. Rumput ilalang tumbuh subur di halaman, setinggi lutut. Sebuah pohon asam muda tumbuh tepat di tengah bekas ruangan, seolah alam ingin mengambil alih tempat yang ditinggalkan manusia.
Sultan Hasan berdiri di depan puing-puing itu. Jaya di sampingnya. Mereka berdua diam. Tidak bicara.
"Di sinilah kau dilahirkan," kata Jaya akhirnya.
"Iya. Di sini. Di malam gerhana. Ibu melahirkan sendirian, hampir mati, lalu Nini Mas Intan datang menolong."
"Apa kau ingat?"
"Aku tidak ingat. Aku masih bayi. Tapi Mak Umi sering bercerita. Nini Mas Intan juga. Pandan Wangi juga. Mereka semua bilang, aku menangis keras saat lahir. Bukan karena takut. Tapi karena sudah tahu betapa berat tugasku kelak."
"Dan sekarang? Apa tugasmu sudah selesai?"
Sultan Hasan menggeleng. "Tugas penjaga hati tidak pernah selesai. Selama masih ada hati yang perlu dijaga, selama masih ada cinta yang perlu dirawat, selama masih ada ingatan yang perlu dilestarikan... aku akan terus menjaga. Sampai mati."
Sultan Hasan memutuskan untuk membangun kembali rumah ibunya.
Bukan karena ia ingin tinggal di sana. Ia sudah memiliki rumah di tepi telaga yang dibangun bersama Jaya. Tapi karena ia ingin menghormati kenangan. Karena ia ingin ibunya tersenyum di surga, melihat bahwa anaknya tidak melupakan asal-usulnya.
"Kau yakin?" tanya Jaya. "Membangun rumah di sini? Sendirian? Tanpa tukang? Tanpa bantuan?"
"Aku yakin. Aku bisa. Aku sudah belajar banyak hal di Pulau Penjara. Membangun rumah dari kayu dan bambu bukan lagi hal yang sulit bagiku."
"Baiklah. Aku akan membantu."
Mereka mulai bekerja keesokan harinya.
Sultan Hasan menebang beberapa pohon bambu di hutan. Jaya mengumpulkan kayu-kayu bekas yang masih bagus dari puing-puing rumah tua. Mereka membersihkan tanah dari rumput ilalang dan akar-akar pohon. Mereka meratakan tanah, membuat pondasi sederhana dari batu kali yang diambil dari sungai.
Sultan Hasan bekerja dengan penuh semangat. Setiap pukulan palu, setiap ikatan tali bambu, setiap tiang yang didirikan, terasa seperti doa. Doa untuk ibunya. Doa untuk masa lalu. Doa untuk masa depan.
"Kau tahu," kata Sultan Hasan sambil menyambung bambu satu dengan lainnya, "dulu, saat aku masih kecil, aku sering membantu ibu memasak di dapur. Ibu hanya punya satu periuk tanah liat. Gagangnya sudah patah, tapi ibu tetap menggunakannya. Ia bilang, 'Tidak perlu barang bagus untuk memasak yang enak. Yang penting niatnya.'"
"Ibu mu orang yang kuat," kata Jaya.
"Iya. Ia kuat. Ia merawatku sendirian setelah ayahku pergi. Ia tidak pernah mengeluh. Ia tidak pernah menangis di depanku. Baru setelah ia meninggal, aku tahu betapa berat hidupnya."
Sultan Hasan berhenti bekerja. Air matanya menetes. Ia menghapusnya dengan lengan bajunya.
"Maaf. Aku terlalu emosional."
"Tidak apa-apa. Menangis tidak salah. Lelaki juga boleh menangis."
Mereka melanjutkan pekerjaan dalam diam.
Empat minggu kemudian, rumah itu selesai.
Bangunannya kecil. Hanya satu ruangan, dengan dapur di belakang dan beranda di depan. Tidak mewah. Tapi kokoh. Bambu-bambu yang dipilih Sultan Hasan berkualitas bagus, tidak mudah lapuk. Atapnya dari daun rumbia yang ia anyam sendiri, rapat dan tidak bocor. Lantainya dari tanah yang dipadatkan, ditutup dengan tikar anyaman pandan.
Sultan Hasan memasukkan beberapa perabot sederhana: satu meja kayu, dua kursi, satu tempat tidur dari bambu. Ia juga membuat sebuah rak kecil untuk menyimpan daun lontar dan alat tulisnya.
"Rumah ini," katanya pada Jaya, "akan kubuka untuk siapa pun yang ingin belajar menulis. Akan kuajari mereka membaca dan menulis. Akan kuajari mereka membuat syair. Akan kuajari mereka menjadi penjaga hati."
"Kau ingin menjadi guru?"
"Aku ingin berbagi. Apa pun yang aku punya. Ilmu. Pengalaman. Cinta. Kesedihan. Semua."
Jaya tersenyum. "Kau orang baik, Hasan. Pantas kau menjadi penjaga hati."
Malam itu, Sultan Hasan mengadakan selamatan kecil di rumah baru itu.
Ia mengundang beberapa tetangga yang masih tersisa di desa: kakek buta dan istrinya, beberapa orang tua lainnya, juga beberapa anak yatim yang tidak punya keluarga. Ia memasak nasi dan sayur sederhana. Ia membagikan daging ayam yang ia beli dari pasar. Tidak mewah. Tapi cukup.
Mereka berdoa bersama. Mereka makan bersama. Mereka bercerita tentang masa lalu, tentang orang-orang yang sudah tiada, tentang desa yang dulu ramai dan sekarang sunyi.
"Rumah ini," kata Sultan Hasan di akhir acara, "adalah untuk ibuku. Tapi juga untuk kalian semua. Siapa pun yang membutuhkan tempat berteduh, yang membutuhkan makanan, yang membutuhkan teman bicara, yang membutuhkan pelajaran... silakan datang. Pintunya selalu terbuka."
Para tetangga terharu. Mereka menangis. Mereka memeluk Sultan Hasan.
"Kau malaikat, Nak," kata seorang nenek tua. "Kau dikirim Tuhan untuk menjaga desa ini."
"Saya bukan malaikat, Nek. Saya hanya manusia biasa. Tapi saya punya kewajiban untuk berbagi."
Setelah semua tamu pulang, Sultan Hasan duduk sendirian di beranda rumah ibunya.
Bulan purnama bersinar terang. Angin malam berembus pelan, membawa wangi pandan dari arah telaga. Daun-daun rumbia bergemerisik, seperti bisikan.
"Ibu," bisik Sultan Hasan. "Aku sudah membangun kembali rumah Ibu. Aku sudah berusaha menjadi anak yang baik. Apakah Ibu bangga padaku?"
Ia tidak mendengar jawaban. Tapi di dadanya, batu akik merah berdenyut. Hangat. Pelan.
Ia tersenyum. Mungkin itu jawabannya.
"Terima kasih, Ibu. Untuk semuanya. Untuk melahirkanku. Untuk merawatku. Untuk mengajariku menjadi kuat. Tanpa Ibu, aku tidak akan seperti sekarang."
Ia memejamkan mata. Ia berdoa. Untuk ibunya. Untuk ayahnya. Untuk Nini Mas Intan. Untuk Mak Umi. Untuk Mardjo. Untuk Lastri. Untuk Kiai Pati. Untuk semua yang telah pergi.
Di kejauhan, burung hantu berbunyi. Sekali. Pendek.
Seperti ikut berdoa. Seperti ikut merestui. Seperti ikut bahagia.
Sultan Hasan membuka mata. Ia berdiri. Ia masuk ke dalam rumah. Ia merebahkan diri di tempat tidur bambu.
Ia tertidur dengan damai. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun. Tanpa mimpi buruk. Tanpa kegelisahan. Tanpa rasa takut.
Ia di rumah. Akhirnya.
BAB LI
Jaya, Teman Lama: Jaya Kini Menjadi Kepala Desa yang Otoriter – Pertemanan Mereka Dingin
Kabir itu datang seperti angin puyuh: Jaya, sahabat Sultan Hasan sejak kecil, diangkat menjadi kepala desa Dukuh Wangi yang baru.
Pemilihan berlangsung cepat. Tidak ada yang mencalonkan diri selain Jaya. Para tetua desa yang masih hidup sudah terlalu tua untuk memimpin. Kaum muda banyak yang merantau, tidak tertarik mengurus desa. Hanya Jaya yang dianggap mampu. Ia sudah sering bepergian. Ia punya pengalaman berorganisasi di kota. Ia juga dikenal sebagai orang yang tegas, tidak mudah diatur, dan berani mengambil keputusan.
Awalnya Sultan Hasan senang. "Kau kepala desa, Jaya! Itu hebat! Kau bisa membangun desa ini menjadi lebih baik!"
"Ya," kata Jaya singkat. Wajahnya tidak menunjukkan antusiasme.
"Kita bisa bekerja sama. Aku bisa membantu. Apa pun yang kau butuhkan."
"Kau sudah cukup membantu, Hasan. Kau sudah membangun rumah ibumu. Kau sudah mengajari anak-anak menulis. Kau sudah menjadi pujangga terkenal. Tugasmu sudah selesai. Sekarang, tugas kepemimpinan serahkan padaku."
Sultan Hasan terdiam. Ada yang aneh dengan Jaya akhir-akhir ini. Ia menjadi pendiam. Mudah tersinggung. Suka marah tanpa sebab. Sultan Hasan mengira itu karena stres menghadapi tanggung jawab baru. Tapi lama-lama, ia sadar, ada yang lebih dalam.
Jaya berubah.
Perubahan itu mulai terlihat ketika Jaya mengeluarkan kebijakan-kebijakan baru yang keras.
Warga desa yang tidak membayar pajak tepat waktu dihukum kerja paksa. Anak-anak yang tidak masuk sekolah agama dilaporkan ke polisi. Perempuan-perempuan yang berdagang di pasar tanpa izin dikenai denda. Pendatang yang tidak memiliki surat keterangan dari kepala desa diusir paksa.
"Jaya, ini terlalu keras," kata Sultan Hasan suatu hari, ketika mereka bertemu di balai desa. "Rakyat kita miskin. Mereka tidak bisa membayar pajak tepat waktu karena panen gagal. Jangan hukum mereka. Bantu mereka."
"Kau tidak mengerti urusan pemerintahan, Hasan. Kau pujangga. Tugasmu menulis syair, bukan mengatur desa."
"Tapi..."
"Tidak ada tapi. Aku kepala desa. Aku yang tahu apa yang terbaik untuk desa ini."
Sultan Hasan terdiam. Ia tidak mau bertengkar dengan Jaya. Tapi di dalam hatinya, ia prihatin.
Beberapa bulan kemudian, Sultan Hasan mendengar kabar bahwa Jaya mulai berselingkuh.
Ia memiliki seorang wanita simpanan di kota. Seorang janda muda cantik yang dulu pernah menjadi penari di istana. Jaya sering meninggalkan desa berhari-hari, tanpa memberi tahu siapa pun, tanpa alasan yang jelas.
Sultan Hasan tidak percaya pada awalnya. Tapi suatu malam, saat Jaya sedang keluar, Sultan Hasan menyelinap ke rumahnya. Ia menemukan surat-surat cinta dari wanita itu. Juga beberapa perhiasan mahal yang jelas tidak mungkin dibeli dengan gaji kepala desa.
Sultan Hasan sakit hati. Bukan karena cemburu. Tapi karena kecewa. Jaya adalah sahabatnya. Sejak kecil. Mereka berdua sudah melalui banyak hal bersama. Kelaparan. Pengasingan. Pulau penjara. Dan sekarang, Jaya menjadi orang yang berbeda. Orang yang tidak ia kenal.
Ia tidak menegur Jaya. Ia hanya diam. Menjaga jarak. Berdoa semoga sahabatnya sadar sebelum terlambat.
Suatu hari, Jaya memanggil Sultan Hasan ke balai desa.
"Hasan, aku punya keputusan sulit. Aku harus mengusirmu."
Sultan Hasan terkejut. "Mengusirku? Kenapa?"
"Kau terlalu populer. Warga desa lebih mendengarkanmu daripada mendengarkanku. Setiap kali kau berbicara, mereka mengangguk. Setiap kali aku berbicara, mereka mengeluh. Aku tidak bisa memimpin desa dengan baik jika kau masih di sini."
"Aku tidak pernah bermaksud merebut kekuasaanmu, Jaya. Aku hanya ingin membantu."
"Bantuanmu tidak diperlukan. Pergilah."
Sultan Hasan terdiam. Ia memandang Jaya. Wajahnya keras. Matanya dingin. Tidak ada lagi kehangatan persahabatan yang dulu.
"Jaya," kata Sultan Hasan pelan. "Kau ingat saat kita masih kecil? Saat kita tidur di emperan toko, kelaparan, kedinginan? Saat kita hampir mati? Saat kita berjanji untuk saling menjaga?"
"Itu dulu. Sekarang kita dewasa. Sekarang kita punya tanggung jawab masing-masing. Aku harus memimpin desa ini. Kau harus... pergi."
"Kau berubah, Jaya. Bukan karena kekuasaan. Tapi karena kau membiarkan kekuasaan meracuni hatimu."
Jaya membanting tinjunya ke meja. "DIAM! KAU TIDAK BERHAK MENGAJARIKU!"
Sultan Hasan tidak bergeming. Ia hanya menatap Jaya. Matanya teduh.
"Baiklah. Aku akan pergi. Tapi ingatlah, sahabatku. Suatu hari, kau akan butuh aku. Dan aku akan ada untukmu. Seperti dulu."
"Pergi!" teriak Jaya.
Sultan Hasan berbalik. Ia berjalan keluar dari balai desa. Meninggalkan Jaya yang berdiri di balik meja, wajahnya merah padam, dadanya naik turun.
Malam harinya, Sultan Hasan mengemasi barang-barangnya.
Ia tidak akan pergi jauh. Ia akan tinggal di telaga. Di rumah kecil yang ia bangun di tepi telaga. Di tempat di mana ia dulu bersama Pandan Wangi.
Jaya tidak usah tahu. Tidak usah khawatir. Sultan Hasan tidak akan mengganggu kekuasaannya.
Ia hanya ingin dekat dengan telaga. Dengan Pandan Wangi. Dengan kenangan.
"Kau sedih?" tanya batu akik merah di dadanya.
"Sedih. Tapi tidak marah."
"Kenapa tidak marah? Ia sudah mengkhianati persahabatan kalian."
"Karena aku ingat pesan Kiai Pati. 'Kekuatan penjaga hati adalah ketika tidak ada yang melihatmu, kau tetap menjaga.' Jaya tidak melihatku sekarang. Tidak ada yang melihatku. Tapi aku tetap menjaga. Menjaga persahabatan ini. Menjaga Jaya dalam doaku."
Batu itu berdenyut. Hangat.
"Kau orang baik, Sultan Hasan. Terlalu baik untuk dunia ini."
"Tidak. Aku hanya manusia biasa yang berusaha menjadi penjaga hati yang baik."
Sultan Hasan pindah ke telaga keesokan harinya.
Rumah di tepi telaga itu sederhana. Hanya pondok kecil dari kayu dan bambu, cukup untuk satu orang tidur dan menulis. Tapi ia bahagia. Karena dari berandanya, ia bisa melihat air telaga yang jernih. Bisa mendengar suara air yang mengalir. Bisa mencium wangi pandan yang semerbak.
Ia tidak menyesal diusir. Ia justru bersyukur. Dengan pindah ke telaga, ia bisa lebih dekat dengan Pandan Wangi. Bisa lebih sering menulis. Bisa lebih tenang.
Ia hanya berdoa semoga Jaya sadar. Sebelum kekuasaan benar-benar menghancurkannya.
Di kejauhan, burung hantu berbunyi. Sekali. Pendek.
Seperti berbisik: "Doamu didengar. Jaya akan sadar. Suatu hari."
Sultan Hasan tersenyum. Ia mengambil daun lontar. Ia menulis.
Tentang persahabatan yang retak,
Tentang kekuasaan yang meracun,
Tentang hati yang tetap menjaga,
Meskipun dijauhi, meskipun diusir.
Ia menulis sampai larut malam. Sampai tangannya pegal. Sampai matanya perih.
Karena menulis adalah caranya menjaga. Menjaga persahabatan. Menjaga ingatan. Menjaga cinta.
Selamanya.
BAB LII
Pandan Wangi Menjanda: Kabar bahwa Pangeran Suaminya Mati dalam Perang – Pandan Wangi Kembali ke Istana Ayahnya
Kabar itu datang seperti guntur di siang bolong.
Pangeran Kertawijaya, suami Pandan Wangi, tewas dalam pertempuran melawan pemberontak di perbatasan timur. Sebuah panah beracun menembus dadanya. Tidak ada yang bisa menyelamatkan. Dalam hitungan jam, pangeran yang gagah perkasa itu meninggal dunia, meninggalkan istana yang sunyi dan permaisuri yang tidak pernah benar-benar dicintainya.
Sultan Hasan mendengar kabar itu dari para pedagang yang singgah di Dukuh Wangi. Ia sedang duduk di beranda rumahnya di tepi telaga, menulis syair seperti biasa, ketika seorang pedagang rempah dari timur berkata, "Kau dengar? Pangeran Kertawijaya mati. Istana sedang berkabung. Permaisuri, konon, tidak menangis. Ia hanya diam. Seperti patung."
Sultan Hasan tidak bereaksi. Wajahnya tetap tenang. Tapi di dadanya, batu akik merah berdenyut kencang. Sangat kencang. Hampir seperti mau meledak.
"Dia bebas sekarang," bisik batu itu. "Dia tidak lagi terikat. Kau bisa menjemputnya."
"Aku tidak akan menjemputnya," bisik Sultan Hasan balik. "Ia baru saja kehilangan suami. Ia butuh waktu. Ia butuh kesendirian. Aku tidak akan mengganggunya."
"Kau sabar, Sultan Hasan. Terlalu sabar."
"Kesabaran adalah kekuatan penjaga hati. Kiai Pati mengajarkanku itu."
Di istana, Pandan Wangi duduk di kamar yang sunyi.
Jendela ditutup. Lampu minyak tidak dinyalakan. Hanya kegelapan yang menemani. Ia sudah berhari-hari tidak keluar kamar. Tidak mau bicara. Tidak mau makan. Tidak mau minum. Dayang-dayangnya ketakutan. Mereka panggil adipati — ayah Pandan Wangi.
"Anakku," kata adipati itu sambil duduk di samping Pandan Wangi. "Kau tidak bisa terus begini. Kau harus makan. Kau harus minum. Tubuhmu akan rusak."
"Aku tidak peduli, Ayah. Biarkan aku mati."
"Kau tidak boleh mati. Kau masih muda. Kau masih punya masa depan. Kau masih bisa menikah lagi."
Pandan Wangi tertawa pahit. "Menikah lagi? Dengan siapa? Dengan pangeran lain yang akan memenjarakanku di istana? Tidak, Ayah. Aku tidak akan menikah lagi. Aku sudah cukup menderita."
"Kau tidak menderita, Nak. Pangeran Kertawijaya baik padamu. Ia memberimu segalanya. Istana. Permata. Pakaian indah."
"Dia memberiku segalanya, kecuali cinta. Dan tanpa cinta, segalanya tidak berarti."
Adipati itu terdiam. Ia tidak bisa membantah. Ia tahu anaknya benar.
Setelah kepergian Sultan Hasan ke pulau penjara, Pandan Wangi tidak pernah bahagia. Ia menjalani pernikahannya seperti robot. Ia tersenyum di depan umum, tapi di dalam hatinya, ia menangis setiap malam. Ia rindu pada Sultan Hasan. Ia rindu pada telaga. Ia rindu pada kebebasan.
Dan sekarang, suaminya mati. Ia bebas. Tapi kebebasan terasa hampa tanpa orang yang dicintai.
"Ayah," kata Pandan Wangi. "Aku ingin pulang."
"Pulang? Ke mana?"
"Ke Dukuh Wangi. Ke telaga. Ke rumah Sultan Hasan."
"Tapi kau masih dalam masa berkabung. Belum pantas kau bepergian."
"Aku tidak peduli dengan pantas atau tidak. Aku hanya ingin pulang. Aku hanya ingin bertemu dia."
Adipati itu menghela napas. "Baiklah. Ayah izinkan. Tapi jangan lakukan hal-hal yang memalukan keluarga. Kau masih putri bangsawan."
Pandan Wangi tersenyum. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Senyum yang tulus. Senyum yang penuh harap.
"Terima kasih, Ayah."
Perjalanan dari istana ke Dukuh Wangi memakan waktu tiga hari.
Pandan Wangi tidak membawa banyak barang. Hanya pakaian seadanya, sedikit perhiasan, dan batu akik merah di lehernya. Ia berjalan kaki, ditemani dua orang dayang dan beberapa pengawal. Tidak ingin menggunakan kereta. Tidak ingin menggunakan kuda. Ia ingin merasakan tanah, merasakan alam, merasakan kebebasan yang selama ini direnggut darinya.
Setiap malam, ia bermimpi tentang Sultan Hasan.
Dalam mimpinya, Sultan Hasan duduk di batu hitam di tepi telaga, menulis syair di atas daun lontar. Wajahnya tenang. Matanya teduh. Sesekali ia memandang ke timur, ke arah istana, ke arah Pandan Wangi.
"Aku di sini," bisik Sultan Hasan dalam mimpi itu. "Aku menunggumu."
Pandan Wangi menangis dalam tidurnya. Dayang-dayangnya bingung. Mereka tidak tahu mimpi apa yang membuat putri mereka menangis.
Akhirnya, mereka tiba di Dukuh Wangi.
Desa itu berubah. Sunyi. Sepi. Banyak rumah kosong. Wajah-wajah baru tidak dikenali. Tapi telaga itu masih sama. Masih jernih. Masih tenang. Masih memantulkan cahaya bulan.
Pandan Wangi berjalan sendirian menuju telaga. Dayang-dayangnya dilarang ikut. "Aku ingin sendiri," katanya.
Ia sampai di tepi telaga.
Bulan purnama bersinar terang. Air telaga jernih, berkilauan. Batu hitam tempat ia biasa duduk bersama Sultan Hasan masih ada. Masih licin. Masih kokoh.
Dan di atas batu itu, duduk seorang pria.
Sultan Hasan.
Ia tidak berubah. Masih tampan. Masih teduh. Masih setia menulis syair di atas daun lontar.
"Pandan," katanya tanpa menoleh. "Aku tahu kau akan datang."
Pandan Wangi tidak bisa berkata apa-apa. Air matanya mengalir. Ia berjalan mendekat. Perlahan. Seperti takut mimpi itu buyar jika ia bergerak terlalu cepat.
Ia duduk di samping Sultan Hasan.
Mereka berdua diam. Tidak bicara. Hanya saling memandang.
"Kau tidak berubah," kata Pandan Wangi akhirnya.
"Kau juga," kata Sultan Hasan. "Masih cantik. Masih lembut. Masih wangi pandan."
"Aku sudah menjanda."
"Aku tahu."
"Kau tidak mau mengucapkan selamat?"
"Selamat? Tidak. Aku tidak pernah senang dengan kematian seseorang. Tapi aku lega. Karena kau bebas sekarang."
"Bebas? Apa artinya bebas jika orang yang kucintai tidak di sisiku?"
Sultan Hasan tersenyum. "Aku di sini, Pandan. Aku selalu di sini. Menunggumu. Setiap malam. Setiap kali bulan purnama. Aku tidak pernah pergi."
"Aku tahu. Aku merasakannya. Dari denyut batu ini."
Pandan Wangi memegang kalung batu akik merah di lehernya. Batu itu berdenyut. Sama dengan batu di dada Sultan Hasan.
"Kita masih terhubung," katanya.
"Selamanya."
Mereka berdua berpelukan. Menangis. Tertawa. Bersyukur.
Setelah bertahun-tahun terpisah, setelah bertahun-tahun menderita, setelah bertahun-tahun merindukan... akhirnya mereka bertemu lagi.
Di telaga ini. Di batu hitam ini. Di bawah cahaya bulan purnama.
"Pandan," kata Sultan Hasan.
"Ya?"
"Aku tidak akan melepaskanmu lagi. Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambilmu lagi. Aku akan menjagamu. Sampai mati."
"Aku juga, Sultan Hasan. Aku juga."
Mereka berdua tersenyum.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap mereka. Matanya bundar dan kuning. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu terbang. Meninggalkan suara yang nyaring.
Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti seruan untuk memulai babak baru dalam kehidupan mereka.
Babak di mana cinta tidak lagi terpisah.
Babak di mana cinta tidak lagi terhalang.
Babak di mana cinta akhirnya bersatu.
Selamanya.
BAB LIII
Pertemuan Kembali Setelah 7 Tahun: Sultan Hasan dan Pandan Wangi Bertemu di Telaga Tua – Keduanya Menangis
Tujuh tahun.
Dua ribu lima ratus lima puluh lima hari. Enam puluh satu ribu tiga ratus dua puluh jam. Jutaan detik yang terisi oleh rindu, oleh doa, oleh air mata, oleh harap yang kadang nyaris padam. Tujuh tahun sejak terakhir kali mereka berdiri berdua di tepi telaga ini, sejak terakhir kali mereka berpelukan, sejak terakhir kali mereka berbisik janji di bawah cahaya bulan.
Tujuh tahun sejak Sultan Hasan diusir ke Pulau Penjara. Tujuh tahun sejak Pandan Wangi dipaksa menikah dengan Pangeran Kertawijaya. Tujuh tahun sejak dunia berusaha memisahkan mereka. Dan sekarang, setelah badai berlalu, setelah luka mengering, setelah semua rintangan runtuh satu per satu... mereka bertemu lagi.
Di telaga tua yang sama. Di batu hitam yang sama. Di bawah bulan purnama yang sama.
Sultan Hasan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya memandang Pandan Wangi. Matanya basah. Bibirnya gemetar. Dadanya sesak, seperti ada sesuatu yang ingin keluar tapi tertahan.
Pandan Wangi juga diam. Ia hanya duduk di samping Sultan Hasan. Jarak mereka hanya sejengkal. Tapi rasanya seperti telah menempuh perjalanan ribuan kilometer untuk sampai ke tempat ini.
"Pandan," bisik Sultan Hasan akhirnya. Suaranya parau. Seperti orang yang baru sadar dari mimpi panjang.
"Sultan Hasan," bisik Pandan Wangi balik. Suaranya lirih. Seperti angin yang mengembus lembut di malam hari.
Mereka berdua saling memandang. Tidak ada yang perlu diucapkan lagi. Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Cinta mereka sudah melewati segalanya. Ujian. Penderitaan. Perpisahan. Kematian. Dan cinta itu masih utuh. Masih kuat. Masih menyala.
Air mata Pandan Wangi jatuh. Menetes di pipinya yang putih bersih. Tidak ada lagi riasan wajah. Tidak ada lagi perhiasan. Tidak ada lagi pakaian indah. Ia hanya memakai kain sederhana, seperti dulu, ketika ia pertama kali muncul dari telaga sebagai seorang gadis kecil.
Sultan Hasan mengulurkan tangannya. Ia menyentuh pipi Pandan Wangi. Menghapus air matanya dengan ibu jari.
"Jangan menangis," katanya. "Aku tidak suka melihatmu menangis."
"Aku menangis karena bahagia," kata Pandan Wangi. "Karena akhirnya... setelah tujuh tahun... kita bisa bertemu lagi."
"Aku tidak pernah pergi, Pandan. Aku selalu di sini. Di hatimu. Di doamu. Di setiap denyut batu ini."
Pandan Wangi memegang kalung batu akik merah di lehernya. Batu itu berdenyut. Kencang. Hangat. Seperti jantung yang berdebar karena bahagia.
Sultan Hasan juga memegang batu di dadanya. Batu itu berdenyut bersamaan.
"Kita masih terhubung," kata Pandan Wangi.
"Selamanya," kata Sultan Hasan.
Mereka berpelukan.
Pelukan yang lama. Dalam. Hangat. Seperti ingin menyatukan kembali dua jiwa yang terpisah terlalu lama. Sultan Hasan merasakan wangi pandan dari rambut Pandan Wangi. Wangi yang selalu ia rindukan selama di pulau sunyi itu. Pandan Wangi merasakan detak jantung Sultan Hasan yang kuat dan teratur. Detak yang selama ini hanya ia dengar dalam mimpi.
"Mengapa kau tidak pernah menikah?" tanya Pandan Wangi, masih dalam pelukan.
"Karena aku tidak bisa mencintai orang lain. Hatiku sudah terisi penuh olehmu."
"Tapi aku sudah menikah. Aku sudah menjadi milik orang lain. Aku tidak pantas untukmu."
"Tidak ada yang tidak pantas dalam cinta, Pandan. Yang tidak pantas adalah jika kita berhenti mencintai. Dan aku tidak pernah berhenti."
Pandan Wangi terisak. Ia memeluk Sultan Hasan lebih erat.
"Maafkan aku," bisiknya. "Maafkan aku karena tidak bisa menunggu. Maafkan aku karena tidak bisa melawan. Maafkan aku karena menikah dengan orang lain."
"Kamu tidak perlu minta maaf, Pandan. Kamu tidak punya pilihan. Kamu dipaksa. Kamu dijodohkan. Itu bukan salahmu."
"Tapi aku merasa telah mengkhianatimu."
"Kamu tidak mengkhianati siapa pun. Kamu hanya bertahan hidup. Dan aku bangga padamu."
Pandan Wangi mengangkat wajahnya. Ia memandang Sultan Hasan. Matanya merah, bengkak karena menangis. Tapi di balik itu, ada cahaya. Cahaya yang sudah lama padam, kini menyala kembali.
"Kau tidak berubah," katanya. "Masih baik. Masih pengertian. Masih setia."
"Kamu juga tidak berubah. Masih cantik. Masih lembut. Masih wangi pandan."
Mereka tertawa. Tawa yang lepas. Tawa yang melupakan sejenak semua kesedihan dan penderitaan.
Malam itu, mereka berbicara berjam-jam.
Tentang masa lalu. Tentang masa kecil di telaga ini. Tentang syair-syair yang diajarkan Nini Mas Intan. Tentang rahasia telaga yang dijaga Pandan Wangi. Tentang perjalanan Sultan Hasan ke Bandar Cendana, ke Kota Rajapura, ke Pulau Penjara. Tentang Kiai Pati yang mengajarkan kesabaran. Tentang Kiai Maksum yang mengajarkan agama. Tentang Kyai Buyut Cakar Mase yang mengajarkan silat. Tentang Ki Ageng Jagaraga yang mengajarkan kitab tujuh penjaga.
Pandan Wangi mendengarkan dengan saksama. Matanya berbinar setiap kali Sultan Hasan bercerita tentang pengalamannya. Ia tersenyum. Ia tertawa. Ia kadang menangis, terutama ketika Sultan Hasan menceritakan tentang masa-masa sulit di pulau penjara, tentang kesepian, tentang kerinduan yang tak terobati.
"Kau hebat, Sultan Hasan," kata Pandan Wangi. "Kau bisa bertahan melewati semua itu."
"Aku bertahan karena kamu, Pandan. Karena aku tahu, di suatu tempat, ada yang menungguku. Ada yang mencintaiku. Ada yang percaya bahwa aku akan kembali."
"Dan sekarang kau kembali."
"Aku kembali. Untukmu. Selamanya."
Fajar mulai menyingsing ketika mereka berpisah.
"Aku harus kembali ke istana," kata Pandan Wangi. "Ayahku masih di sana. Aku harus memberitahunya bahwa aku baik-baik saja."
"Kapan kau akan kembali?"
"Besok. Lusa. Atau kapan pun kau memanggilku. Aku akan datang. Karena aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi."
Mereka berpelukan sekali lagi. Ciuman di kening. Di pipi. Di ujung hidung.
"Selamat pagi, Sultan Hasan."
"Selamat pagi, Pandan Wangi."
Pandan Wangi berjalan ke arah pepohonan, perlahan menyatu dengan kabut pagi. Sultan Hasan memandangnya sampai lenyap.
Ia tersenyum.
Di dadanya, batu akik merah berdenyut. Hangat. Pelan.
"Kau bahagia?" bisik batu itu.
"Sangat," bisik Sultan Hasan balik. "Aku tidak pernah sebahagia ini."
Ia berjalan pulang. Langkahnya ringan. Hatinya penuh syukur.
Setelah badai, setelah gelap, setelah perpisahan... akhirnya ia menemukan cahaya lagi. Pandan Wangi.
Dan ia tidak akan pernah melepaskannya lagi.
Selamanya.
BAB LIV
Restu yang Tak Kunjung Datang: Ayah Pandan Wangi Melarang Mereka Bersatu karena Status Sultan Hasan
Kebahagiaan pertemuan kembali setelah tujuh tahun terasa seperti mimpi yang terlalu indah untuk menjadi nyata. Sultan Hasan dan Pandan Wangi menghabiskan setiap malam di tepi telaga, berbicara, tertawa, kadang menangis, kadang hanya diam menikmati kehadiran satu sama lain. Rasanya seperti masa kecil dulu, ketika dunia belum sekejam sekarang, ketika cinta masih sesederhana duduk di batu hitam sambil bercerita tentang bintang.
Tapi mimpi indah itu pecah ketika adipati — ayah Pandan Wangi — datang ke Dukuh Wangi.
Ia datang dengan rombongan besar: puluhan pengawal bersenjata, para dayang, dan beberapa pejabat istana. Wajahnya muram, tidak seperti saat ia datang dulu untuk merestui pernikahan mereka. Kini, ada sesuatu yang berbeda di matanya. Bukan kebencian. Bukan kemarahan. Tapi... kecemasan.
"Pandan Wangi," katanya ketika anaknya berlutut di depannya. "Ayah dengar kau sering pergi ke telaga malam-malam. Bertemu dengan pemuda itu."
"Iya, Ayah. Sultan Hasan. Ayah sudah merestui kami dulu, sebelum aku dijodohkan dengan pangeran."
"Itu dulu. Sekarang berbeda. Sekarang kau adalah janda pangeran. Statusmu bukan lagi putri biasa. Kau adalah bangsawan tinggi. Ibu dari calon pangeran? Tidak, kau tidak punya anak. Tapi kau tetap memiliki martabat yang harus dijaga."
"Apa hubungannya dengan Sultan Hasan, Ayah?"
Adipati itu menghela napas. "Sultan Hasan rakyat biasa. Tidak punya gelar. Tidak punya kekayaan. Tidak punya pasukan. Jika kau menikah dengannya, martabat kerajaan akan jatuh. Para bangsawan lain akan menertawakan kita. Sekutu-sekutu kita akan menarik dukungan."
"Tapi Ayah, bukankah Ayah sudah merestui kami dulu? Bukankah Ayah sudah mengakui bahwa Sultan Hasan pantas menjadi menantu Ayah?"
"Itu dulu. Sebelum kau menikah dengan pangeran. Sekarang kau janda pangeran. Statusmu naik. Kau tidak bisa menikah dengan rakyat biasa."
Pandan Wangi menangis. "Ayah, aku tidak butuh status. Aku tidak butuh martabat. Aku tidak butuh kekayaan. Aku hanya butuh cinta. Aku hanya butuh Sultan Hasan."
"Maafkan Ayah, Nak. Ayah tidak bisa memberikan restu."
Sultan Hasan yang mendengar kabar itu dari Pandan Wangi, tidak marah. Ia hanya diam. Memandang telaga. Memandang air yang jernih.
"Aku tidak akan memaksa ayahmu," katanya akhirnya. "Ia punya alasan. Sebagai penguasa, ia harus memikirkan kerajaannya. Bukan hanya perasaannya sendiri."
"Tapi aku tidak peduli dengan kerajaan! Aku hanya peduli padamu!"
"Kau harus peduli, Pandan. Kau putri bangsawan. Kau punya tanggung jawab pada rakyat, pada keluarga, pada leluhur. Kau tidak bisa egois."
"Kau tidak egois? Setelah tujuh tahun menungguku? Setelah berkorban segalanya? Setelah hampir mati di pulau penjara? Kau tidak pantas diperlakukan seperti ini!"
"Aku tidak menuntut apa pun, Pandan. Aku mencintaimu tanpa syarat. Jika aku harus mencintaimu dari kejauhan, tanpa restu ayahmu, tanpa status, tanpa pernikahan... aku akan tetap mencintaimu. Selamanya."
Pandan Wangi menangis. Ia memeluk Sultan Hasan.
"Kau terlalu baik, Sultan Hasan. Aku tidak pantas untukmu."
"Kita berdua tidak pantas untuk satu sama lain. Tapi kita saling mencintai. Itu sudah cukup."
Adipati itu tidak tinggal diam.
Ia memanggil Sultan Hasan ke istana. Bukan dengan maksud baik. Tapi dengan maksud menekan. Ia menawari Sultan Hasan sejumlah uang untuk pergi jauh dan tidak kembali. Sebuah posisi sebagai pejabat rendahan di kerajaan seberang. Bahkan seorang putri bangsawan lain untuk dinikahi.
Sultan Hasan menolak semuanya.
"Saya tidak butuh uang Paduka. Saya tidak butuh posisi. Saya tidak butuh putri bangsawan lain. Saya hanya butuh Pandan Wangi. Dan jika Paduka tidak merestui, saya akan tetap mencintainya dari kejauhan. Tanpa menikah. Tanpa memiliki. Cukup dengan menjaga."
Adipati itu terkejut. Ia belum pernah bertemu dengan pemuda sekeras itu. Seegois itu. Seteguh itu.
"Kau tidak takut aku akan menghukummu? Memenjarakanmu? Membuangmu ke pulau lagi?"
"Saya sudah melalui semua itu, Paduka. Saya tidak takut. Karena hati saya sudah terlatih. Kekuatan penjaga hati adalah ketika tidak ada yang melihat, saya tetap menjaga. Dan tidak ada yang melihat saya sekarang. Tidak ada yang tahu. Tapi saya tetap menjaga. Menjaga cinta saya pada Pandan Wangi. Tidak peduli apa pun yang Paduka lakukan."
Adipati itu terdiam. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa menghela napas.
"Pergilah," katanya. "Aku tidak akan menghukummu. Tapi aku juga tidak akan merestuimu. Biarkan waktu yang menjawab."
Sultan Hasan kembali ke telaga.
Ia duduk di batu hitam. Sendirian. Bulan purnama bersinar terang. Air telaga jernih, berkilauan.
Ia memanggil Pandan Wangi dalam hatinya.
"Pandan... aku tidak bisa bersamamu. Tapi aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu."
Ia mendengar suara tangis dari kejauhan. Pandan Wangi juga menangis di istananya.
Mereka berdua menangis. Di tempat yang berbeda. Di waktu yang sama. Untuk cinta yang sama.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap Sultan Hasan. Matanya bundar dan kuning. Ia tidak berbunyi. Hanya menatap.
Seolah setuju. Seolah merestui. Seolah tahu bahwa cinta sejati tidak membutuhkan restu siapa pun. Cukup dengan ketulusan. Cukup dengan kesetiaan. Cukup dengan keberanian untuk terus mencintai, meskipun dunia melarang.
Sultan Hasan mengambil daun lontar. Ia menulis.
Restu tidak pernah datang,
Seperti hujan di musim kemarau.
Tapi aku takkan berhenti menunggu,
Karena cinta tak butuh restu.
Cukup kau di hatiku,
Cukup aku di hatimu,
Itu sudah lebih dari cukup,
Untuk menjalani hidup yang sulit ini.
Ia menulis sampai fajar menyingsing. Sampai tangannya pegal. Sampai matanya perih.
Karena menulis adalah caranya menjaga.
Menjaga cinta. Menjaga harap. Menjaga hati.
Selamanya.
BAB LV
Perang Saudara Kecil: Desa Terpecah antara Pendukung Jaya dan Pendukung Sultan Hasan
Ketegangan di Dukuh Wangi sudah memuncak sejak berbulan-bulan.
Di satu sisi, ada pendukung Jaya, kepala desa yang otoriter. Mereka adalah para pejabat desa, para pengusaha kecil yang diuntungkan oleh kebijakan Jaya, serta beberapa preman yang disewa untuk menjaga kekuasaannya. Mereka menuntut agar Sultan Hasan diusir dari desa karena dianggap mengganggu stabilitas. Mereka menyebarkan fitnah bahwa Sultan Hasan adalah provokator, penghasut, dan pengkhianat.
Di sisi lain, ada pendukung Sultan Hasan. Mereka adalah para petani miskin, para nelayan, para wanita yang anak-anaknya diajar membaca dan menulis oleh Sultan Hasan, serta para orang tua yang ingat betapa baiknya Sultan Hasan semasa kecil. Mereka menuntut agar Jaya mundur dari jabatan kepala desa karena korupsi, nepotisme, dan pelanggaran HAM. Mereka menyebarkan selebaran berisi daftar kesalahan Jaya.
"Keluarkan Sultan Hasan dari desa ini!" teriak pendukung Jaya dalam sebuah rapat di balai desa.
"Turunkan Jaya dari kursi kepala desa!" teriak pendukung Sultan Hasan balik.
Rapat berlangsung panas. Hampir terjadi perkelahian. Para tetua desa yang masih hidup tidak bisa menenangkan. Kakek buta dan istrinya hanya bisa diam, berdoa, semoga tidak terjadi darah.
Sultan Hasan tidak hadir dalam rapat itu. Ia memilih tinggal di tepi telaga, menulis syair, menjauh dari keramaian. Ia tidak ingin terlibat dalam konflik. Ia tidak ingin melawan Jaya.
Tapi Jaya menganggap ketidakhadiran Sultan Hasan sebagai bentuk penghinaan. "Ia tidak mau datang karena ia merasa lebih tinggi dari kita semua!" katanya dalam rapat. "Ia pujangga terkenal! Ia merasa tidak pantas duduk bersama rakyat biasa!"
Para pendukung Jaya mengaum setuju.
Para pendukung Sultan Hasan hanya bisa geleng-geleng kepala.
Keesokan harinya, sekelompok preman bayaran Jaya mendatangi rumah Sultan Hasan di tepi telaga.
Mereka membawa pentung, golok, dan bambu runcing. Wajah-wajah mereka keras, penuh kebencian. Sultan Hasan sedang duduk di beranda, menulis seperti biasa. Ia tidak terkejut melihat mereka. Ia sudah menduga.
"Kau harus pergi dari desa ini, Sultan Hasan," kata pemimpin preman, seorang lelaki botak dengan tato naga di lengannya. "Kepala desa memberi kau waktu tiga hari. Jika kau tidak pergi, kami akan mengusirmu paksa."
Sultan Hasan tidak bergeming. "Saya tidak akan pergi. Desa ini adalah rumah saya. Telaga ini adalah tempat saya mencari ketenangan. Saya tidak mengganggu siapa pun. Saya hanya menulis."
"Kami tidak peduli. Yang penting kau pergi."
"Saya tidak akan pergi."
Pemimpin preman itu mengayunkan pentungnya ke arah Sultan Hasan. Sultan Hasan menangkis dengan tangan kosong. Ia sudah belajar silat dari Ki Ageng Jagaraga, Kyai Buyut Cakar Mase, dan Kiai Pati. Gerakannya cepat, lincah, mematikan.
Dalam hitungan detik, pemimpin preman itu sudah tergeletak di tanah, pentungnya melayang ke udara, jatuh di semak-semak. Preman-preman lainnya terkejut. Mereka mundur selangkah.
"Siapa lagi yang mau?" tanya Sultan Hasan tenang.
Tidak ada yang berani.
"Pergi. Jangan kembali. Atau kalian akan merasakan yang lebih parah."
Preman-preman itu lari tunggang langgang, meninggalkan pemimpin mereka yang masih tergeletak di tanah.
Pemimpin itu bangkit perlahan. Wajahnya pucat. "Kau... kau sakti?"
"Saya tidak sakti. Saya hanya tidak mau diganggu."
Pemimpin itu berlari menyusul anak buahnya. Sultan Hasan kembali duduk di beranda. Ia mengambil daun lontar. Ia melanjutkan menulis. Seolah tidak terjadi apa-apa.
Perang saudara kecil itu pecah tiga hari kemudian.
Pendukung Jaya dan pendukung Sultan Hasan bertempur di halaman balai desa. Mereka saling pukul, saling tendang, saling lempar batu. Beberapa orang terluka. Seorang pemuda patah kakinya. Seorang perempuan tua terkena batu di kepalanya. Untungnya tidak ada yang tewas.
Sultan Hasan tidak hadir. Ia tetap di telaga. Menulis. Menjauh.
Tapi Jaya hadir. Ia berdiri di atas panggung, meneriaki pasukannya, memerintahkan mereka untuk terus menyerang.
"Jangan berhenti! Hancurkan mereka! Hancurkan semua pendukung Sultan Hasan!"
Ia sudah kehilangan akal sehatnya. Kekuasaan telah meracuni hatinya. Persahabatan lama tidak berarti apa-apa baginya. Ia hanya peduli pada kekuasaan, pada uang, pada perempuan simpanannya di kota.
Kakek buta yang duduk di beranda rumahnya, mendengar teriakan-teriakan itu. Ia menangis. "Dulu, desa ini damai," bisiknya. "Dulu, Jaya dan Sultan Hasan bersahabat. Mereka tidur bersama di emperan toko, kelaparan, kedinginan. Mereka berjanji untuk saling menjaga. Sekarang... sekarang mereka bermusuhan."
Istrinya mengusap-usap punggungnya. "Sudahlah, Kek. Biarkan mereka. Kita hanya orang tua. Tidak bisa berbuat apa-apa."
"Kita bisa berdoa," kata kakek buta itu. "Kita bisa berdoa semoga mereka sadar sebelum terlambat."
Akhirnya, konflik itu sampai juga ke telinga adipati.
Adipati marah. Ia mengirim pasukan kerajaan ke Dukuh Wangi untuk melerai. Puluhan prajurit bersenjata lengkap mengepung desa. Mereka menangkap para pemimpin kerusuhan, termasuk Jaya.
Jaya dibawa ke istana. Ia diadili. Terbukti korupsi, nepotisme, dan menghasut kekerasan. Ia dijatuhi hukuman penjara lima tahun. Jabatan kepala desanya dicabut.
Sultan Hasan dipanggil sebagai saksi. Ia memberikan kesaksian dengan jujur, tanpa dendam, tanpa kebencian. Ia bahkan memohon agar Jaya diampuni.
"Paduka," katanya pada adipati. "Jaya adalah sahabat saya sejak kecil. Ia sudah melalui banyak penderitaan bersama saya. Ia baik hati. Ia setia. Ia hanya tersesat karena kekuasaan. Saya mohon, jangan hukum ia terlalu berat."
Adipati itu terkejut. "Kau memohon pengampunan untuk orang yang ingin mengusirmu? Yang menyebarkan fitnah tentangmu? Yang mengirim preman untuk menyerangmu?"
"Saya tidak menyimpan dendam, Paduka. Saya hanya ingin persahabatan kami pulih."
Adipati itu menghela napas. "Kau sungguh luar biasa, Sultan Hasan. Aku belum pernah melihat orang sepertimu."
Ia meringankan hukuman Jaya. Dari lima tahun menjadi dua tahun. Jaya menangis mendengarnya. Ia tidak pantas diperlakukan sebaik itu. Tapi Sultan Hasan tersenyum. Ia memeluk Jaya.
"Kita masih saudara, Jaya. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu."
Jaya terisak. "Maafkan aku, Hasan. Maafkan aku."
"Sudah. Aku sudah memaafkanmu sejak lama. Di telaga. Saat aku menulis syair tentang persahabatan."
Dua tahun kemudian, Jaya bebas dari penjara.
Ia kembali ke Dukuh Wangi. Desa itu sudah berubah. Kepala desa yang baru lebih bijaksana. Konflik sudah mereda. Sultan Hasan masih tinggal di tepi telaga, menulis syair, mengajari anak-anak membaca.
Jaya datang ke rumah Sultan Hasan. Ia berlutut di depan sahabatnya.
"Maafkan aku, Hasan. Aku sudah menghianati persahabatan kita."
Sultan Hasan memeluknya. "Kita tidak perlu bicara tentang masa lalu. Yang penting kita bersama lagi. Seperti dulu."
Mereka menangis bersama.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap mereka. Matanya bundar dan kuning. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu diam.
Seolah setuju. Seolah merestui. Seolah bahagia bahwa persahabatan sejati tidak pernah mati.
Ia hanya retak. Tapi bisa diperbaiki. Dengan ketulusan. Dengan maaf. Dengan cinta.
BAB LVI
Pandan Wangi Memilih: Pandan Wangi Memilih Hidup Menyendiri di Pondok Pertapaan daripada Hidup Mewah di Istana atau Bersama Sultan Hasan
Setelah perang saudara kecil di Dukuh Wangi mereda, setelah Jaya dihukum dan kemudian dibebaskan, setelah semua kekacauan berlalu, Pandan Wangi menghadapi pilihan terberat dalam hidupnya.
Di satu sisi, ia bisa kembali ke istana, hidup mewah sebagai putri bangsawan, dilayani puluhan dayang, dihormati oleh rakyat, dan dikelilingi oleh harta yang tak terhitung jumlahnya. Tapi ia harus rela melepaskan Sultan Hasan, karena ayahnya tidak akan pernah merestui pernikahan mereka.
Di sisi lain, ia bisa meninggalkan istana untuk selamanya, hidup bersama Sultan Hasan di tepi telaga, menjadi istri seorang pujangga miskin, tinggal di pondok bambu, makan seadanya, dan bekerja keras setiap hari. Tapi ia harus rela melepaskan status bangsawan, kekayaan, dan kenyamanan hidup.
Pilihan yang sulit. Namun Pandan Wangi tidak memilih keduanya.
Suatu malam, setelah berdiskusi panjang dengan Sultan Hasan di tepi telaga, Pandan Wangi mengambil keputusan yang mengejutkan semua orang.
"Aku tidak akan kembali ke istana," katanya. "Tapi aku juga tidak akan tinggal bersamamu, Sultan Hasan."
Sultan Hasan terkejut. "Lalu kau mau ke mana?"
"Aku akan hidup menyendiri. Di pondok pertapaan. Di lereng gunung. Di tempat yang sunyi, jauh dari keramaian, jauh dari hiruk-pikuk dunia. Aku akan berdoa. Aku akan bermeditasi. Aku akan merenungkan hidupku."
"Kenapa, Pandan? Kenapa tidak dengan aku?"
Pandan Wangi tersenyum lembut. Matanya berkaca-kaca.
"Karena aku mencintaimu, Sultan Hasan. Dan karena cintaku padamu, aku tidak ingin menjadi beban. Aku adalah janda pangeran. Statusku rumit. Keluargaku tidak merestui. Jika aku tinggal denganmu, ayahku akan marah. Ia akan mengirim pasukan untuk menangkapmu. Ia akan memenjarakanmu. Aku tidak mau itu terjadi."
"Tapi aku tidak takut pada ayahmu, Pandan. Aku sudah melalui banyak hal. Aku tidak takut mati."
"Tapi aku takut kehilanganmu, Sultan Hasan. Aku lebih baik hidup sendiri daripada hidup dengan perasaan takut setiap hari. Takut kau akan ditangkap. Takut kau akan dibunuh. Takut kau akan disiksa."
Sultan Hasan terdiam. Ia tidak bisa membantah. Pandan Wangi benar.
"Jadi, ini keputusanmu?" tanyanya.
"Ini keputusan terberat dalam hidupku, Sultan Hasan. Tapi aku harus melakukannya. Untuk ketenanganmu. Untuk ketenanganku."
Keputusan Pandan Wangi menyebar dengan cepat.
Adipati , ayahnya , marah. "Kau lebih memilih hidup di pondok pertapaan daripada di istana? Apa kau gila? Di istana kau punya segalanya! Makanan enak, pakaian indah, pelayan yang siap memenuhi semua keinginanmu!"
"Aku tidak butuh semua itu, Ayah. Aku butuh ketenangan."
"Ketenangan bisa kau dapatkan di istana! Kau bisa mengunci diri di kamar, tidak keluar, tidak bicara siapa pun!"
"Itu bukan ketenangan, Ayah. Itu kurungan. Aku tidak ingin dikurung. Aku ingin bebas. Bebas memilih hidupku."
Adipati itu menghela napas. Ia tidak bisa melawan. Pandan Wangi sudah dewasa. Pandan Wangi sudah menjadi janda. Ia berhak memilih jalannya sendiri.
"Baiklah," kata adipati itu. "Ayah izinkan. Tapi jangan menyesal."
"Tidak akan, Ayah."
Pangeran-pangeran lain yang pernah melamar Pandan Wangi, juga kecewa. Mereka berharap janda cantik itu akan memilih salah satu dari mereka. Tapi Pandan Wangi tidak memilih siapa pun. Ia memilih kesendirian.
"Gila," kata mereka. "Ia lebih memilih hidup di gubuk reot daripada di istana mewah."
"Atau mungkin ia masih mencintai Sultan Hasan," kata yang lain. "Tapi ia tidak bisa bersamanya karena restu ayahnya tidak kunjung datang."
"Menyedihkan."
"Menyedihkan sekali."
Sultan Hasan menemani Pandan Wangi memilih lokasi pondok pertapaannya.
Mereka berjalan berdua di lereng gunung, melewati hutan, melewati sungai, melewati padang rumput. Pandan Wangi mencari tempat yang tenang, dekat dengan alam, dekat dengan air, dekat dengan langit.
Akhirnya, mereka menemukan tempat yang cocok. Sebuah tanah datar di lereng gunung, dikelilingi oleh pohon-pohon pinus, dekat dengan mata air yang jernih, menghadap ke lembah yang hijau.
"Di sinilah," kata Pandan Wangi. "Aku akan membangun pondokku di sini."
"Aku akan membantu," kata Sultan Hasan.
Mereka berdua membangun pondok itu bersama-sama. Tidak butuh waktu lama. Hanya seminggu. Pondok kecil dari kayu dan bambu, dengan atap daun rumbia, beranda kecil di depan, dan dapur di belakang.
Pandan Wangi menangis saat pondok itu selesai. "Ini rumah pertamaku yang benar-benar milikku. Bukan istana ayahku. Bukan istana suamiku. Tapi rumahku sendiri."
"Aku akan sering datang," kata Sultan Hasan. "Untuk menemanimu. Untuk membawakan makanan. Untuk menulis syair."
"Jangan terlalu sering. Aku butuh kesendirian."
"Baiklah. Aku akan datang seminggu sekali."
"Sebulan sekali."
"Dua minggu sekali?"
"Sebulan sekali, Sultan Hasan. Aku harus terbiasa hidup sendiri. Aku tidak bisa terus bergantung padamu."
Sultan Hasan tersenyum pahit. "Baiklah. Sebulan sekali."
Sultan Hasan menuruni gunung. Ia berjalan perlahan, sesekali menoleh ke belakang, melihat pondok kecil Pandan Wangi yang semakin jauh.
Di dadanya, batu akik merah berdenyut. Pelan. Lembut.
"Kau sedih?" bisik batu itu.
"Sedih. Tapi tidak marah. Aku menghormati keputusannya."
"Kau rela melepaskannya?"
"Aku tidak melepaskannya. Aku hanya memberinya ruang. Cinta tidak harus memiliki. Cinta bisa dengan memberi kebebasan."
"Kau hebat, Sultan Hasan. Aku bangga menjadi pusakamu."
"Terima kasih."
Sultan Hasan terus berjalan. Meninggalkan gunung. Meninggalkan pondok. Meninggalkan Pandan Wangi.
Tapi tidak benar-benar meninggalkan.
Ia akan kembali. Sebulan sekali. Setia. Tidak pernah absen.
Karena janji. Karena cinta. Karena ia adalah penjaga hati. Dan penjaga hati tidak pernah ingkar janji.
Di pondok pertapaannya, Pandan Wangi duduk di beranda. Memandang lembah. Memandang langit. Memandang burung-burung yang terbang bebas.
Ia tersenyum.
"Ini pilihanku," bisiknya. "Dan aku tidak menyesal."
Ia memegang kalung batu akik merah di lehernya. Batu itu berdenyut. Hangat. Seperti jantung yang berdetak tenang.
"Aku di sini," bisik batu itu. "Kau tidak sendirian."
"Aku tahu. Terima kasih."
Pandan Wangi memejamkan mata. Ia berdoa. Untuk ketenangan. Untuk kebahagiaan. Untuk cinta yang tetap terjaga, meskipun tidak bersatu.
Di kejauhan, meski tidak mungkin, ia mendengar suara burung hantu. Samar. Tapi jelas.
Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti seruan untuk memulai hidup baru. Sendiri. Tapi tidak kesepian.
Karena cinta tetap ada. Di hati. Di doa. Di setiap denyut batu akik merah itu.
Selamanya.
BAB LVII
Sultan Hasan Melamar Lagi dengan Cara yang Tak Biasa: Ia Menghadiahi Syair 1000 Baris yang Ditulis Selama di Pulau Penjara
Sebulan setelah Pandan Wangi memutuskan hidup menyendiri di pondok pertapaannya, Sultan Hasan menepati janji. Ia datang ke lereng gunung, menaiki jalan setapak yang semakin lama semakin terjal, melewati hutan pinus yang rimbun, melewati mata air yang jernih, hingga akhirnya sampai di pondok kecil itu.
Pandan Wangi sedang duduk di beranda, menenun kain dari benang-benang yang ia warnai sendiri dengan ekstrak daun dan akar-akaran. Ia tersenyum melihat Sultan Hasan.
"Kau datang," katanya.
"Aku bilang aku akan datang."
"Aku kira kau lupa."
"Aku tidak pernah lupa janji, Pandan. Terutama janji padamu."
Sultan Hasan duduk di samping Pandan Wangi. Mereka berdua diam sejenak. Menikmati pemandangan lembah yang hijau, langit yang biru, angin yang sepoi-sepoi.
"Aku membawa sesuatu untukmu," kata Sultan Hasan sambil mengeluarkan sebuah bungkusan dari balik bajunya.
"Apa itu?"
"Buka saja."
Pandan Wangi membuka bungkusan itu. Di dalamnya, ada setumpuk daun lontar. Tebal. Ratusan helai. Disusun rapi, diikat dengan tali dari serat kayu. Daun-daun itu berwarna kecoklatan, kering, tapi masih kokoh. Ada tulisan di setiap helainya. Tulisan tangan. Kecil. Rapi. Indah.
"Apa ini?" tanya Pandan Wangi.
"Syair. Seribu baris. Yang kutulis selama di Pulau Penjara."
Pandan Wangi terkejut. "Seribu baris? Kau menulis seribu baris syair untukku?"
"Bukan hanya untukmu. Tentang kita. Tentang cinta kita. Tentang perjuangan kita. Tentang rindu yang tak pernah usai. Tentang harap yang tak pernah padam. Tentang janji yang selalu kutepati."
Air mata Pandan Wangi mengalir. Ia memeluk tumpukan daun lontar itu erat-erat.
"Kau... kau benar-benar melakukannya?"
"Aku melakukannya setiap malam. Selama tujuh tahun. Di tepi pantai, di bawah cahaya bulan, di tengah kesepian yang hampir membunuhku. Aku menulis. Menulis. Menulis. Karena itu satu-satunya cara untuk tetap terhubung denganmu."
Pandan Wangi mulai membaca.
Baris pertama: "Rindu ini bukan tentang bertemu, bukan tentang berjumpa di ujung jalan."
Ia tersenyum. Ia ingat syair itu. Sultan Hasan pernah membacakannya untuknya di telaga, saat mereka masih kecil. Ternyata ia menulisnya lagi, di pulau yang sunyi.
Baris kedua: "Rindu ini tentang air di telaga, yang tak pernah habis meski terus kau timba."
Pandan Wangi menangis. Ia ingat telaga itu. Ia ingat saat-saat indah di tepi telaga, saat mereka berdua duduk di batu hitam, berbicara tentang bintang, tentang mimpi, tentang masa depan.
Baris ketiga: "Ia ada. Ia mengalir. Ia hidup. Meski kau tak melihatnya. Meski kau tak menyentuhnya. Meski kau jauh di sana."
Ia tidak bisa melanjutkan membaca. Tangannya gemetar. Air matanya membasahi daun lontar.
"Jangan menangis," kata Sultan Hasan. "Aku tidak suka melihatmu menangis."
"Aku menangis karena bahagia," kata Pandan Wangi. "Karena tidak ada yang pernah melakukan hal ini untukku. Tidak ada yang pernah menulis seribu baris syair untukku. Hanya kau."
"Karena hanya kau yang kucintai. Sejak pertama kali aku melihatmu di telaga itu, saat kita masih kecil. Hanya kau."
Sultan Hasan berlutut.
Pandan Wangi terkejut. "Apa yang kau lakukan?"
"Saya melamar mu, Pandan Wangi. Bukan dengan mahar emas atau perak. Bukan dengan harta yang melimpah. Bukan dengan status bangsawan yang tinggi. Tapi dengan syair ini. Seribu baris yang menceritakan cinta saya pada Anda. Apakah Anda mau menerima lamaran saya?"
Pandan Wangi tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya menangis.
"Pandan, saya tahu ayahmu tidak merestui. Saya tahu status kita berbeda. Saya tahu kita tidak bisa hidup bersama secara normal. Tapi saya tidak peduli. Saya hanya ingin kau tahu, bahwa saya akan selalu mencintaimu. Sampai mati. Sampai setelah mati. Selamanya."
Pandan Wangi berlutut di hadapan Sultan Hasan. Mereka berdua berhadapan. Mata mereka bertemu. Hati mereka berbicara.
"Ya," kata Pandan Wangi. "Aku mau. Aku mau menjadi istrimu. Bukan di depan hukum. Bukan di depan agama. Tapi di depan hati. Di depan cinta. Di depan telaga yang menyaksikan janji kita sejak kecil."
Mereka berdua berpelukan. Menangis. Tertawa. Bersyukur.
Di dahan pohon pinus di halaman pondok, seekor burung hantu menatap mereka. Matanya bundar dan kuning. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu terbang. Meninggalkan suara yang nyaring.
Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti seruan untuk memulai babak baru dalam kehidupan mereka.
Babak di mana cinta tidak lagi hanya dalam syair.
Babak di mana cinta dihidupi. Setiap hari. Setiap malam. Dalam kesederhanaan. Dalam ketulusan. Dalam kebersamaan.
Malam itu, Sultan Hasan tidak pulang.
Ia menginap di pondok pertapaan Pandan Wangi. Mereka berdua duduk di beranda, membaca syair-syair itu bersama-sama. Bergantian. Kadang Sultan Hasan membacakan, kadang Pandan Wangi.
Baris ke-100: "Aku menulis di bawah bulan, di atas pasir pantai yang dingin, tentang hangatnya pelukanmu yang tak pernah aku lupakan."
Baris ke-250: "Aku menulis tentang wajahmu yang terbayang di setiap ombak, tentang senyummu yang menjadi pelita di malamku yang gelap."
Baris ke-500: "Aku menulis setengah mati, karena jika aku berhenti, aku akan mati. Bukan mati raga. Tapi mati hati."
Baris ke-750: "Aku bertahan karena kau. Karena aku tahu, di suatu tempat, kau juga bertahan. Kau juga berjuang. Kau juga menungguku."
Baris ke-1000: "Dan akhirnya, setelah seribu baris, setelah tujuh tahun, setelah segala badai yang menerjang... aku di sini. Bersamamu. Menepati janji. Selamanya."
Pandan Wangi terisak. Sultan Hasan memeluknya.
"Kita tidak akan berpisah lagi," bisik Sultan Hasan. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun memisahkan kita."
"Tapi ayahku..."
"Biarkan ayahmu marah. Biarkan ia tidak merestui. Yang penting kita bahagia. Yang penting kita bersama. Yang penting kita saling mencintai."
Pandan Wangi mengangguk. Ia mengecup kening Sultan Hasan.
"Terima kasih untuk syairnya," bisiknya. "Terima kasih untuk semuanya. Aku tidak akan pernah bisa membalas kebaikanmu."
"Kau tidak perlu membalas apa pun, Pandan. Cukup kau di sini. Bersamaku. Itu sudah lebih dari cukup."
Keesokan paginya, Sultan Hasan turun gunung.
Ia berjalan perlahan. Hatinya ringan. Dadanya terasa hangat.
Ia tidak membawa apa pun. Tapi ia meninggalkan sesuatu di pondok itu. Syair seribu baris. Dan hatinya. Selamanya.
Di dadanya, batu akik merah berdenyut. Pelan. Lembut.
"Kau bahagia?" bisik batu itu.
"Sangat. Aku tidak pernah sebahagia ini."
"Kau pantas bahagia, Sultan Hasan. Kau sudah berjuang terlalu keras. Kau sudah menderita terlalu lama. Sekarang waktunya kau menikmati cinta."
"Terima kasih. Karena selalu bersamaku. Karena selalu membantuku. Karena selalu mengingatkanku pada janji."
Batu itu berdenyut sekali lagi. Hangat. Seperti pelukan.
Di kejauhan, burung hantu berbunyi. Sekali. Pendek.
Seperti ikut bahagia. Seperti ikut merestui. Seperti ikut mendoakan.
Sultan Hasan tersenyum. Ia melangkah pulang. Menuju telaga. Menuju rumahnya. Menuju kehidupan baru.
Bersama cinta. Bersama syair. Bersama kenangan indah yang tak akan pernah pudar.
Selamanya.
BAB LVIII
Akhirnya Restu Datang: Ayah Pandan Wangi Sakit Parah – Sultan Hasan Menyembuhkannya dengan Air Telaga dan Doa – Restu Diberikan
Kabar bahwa adipati , ayah Pandan Wangi , jatuh sakit menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru kerajaan. Bukan sakit biasa. Bukan demam atau batuk yang bisa disembuhkan dengan jamu. Tapi sakit yang aneh. Tubuhnya panas seperti terbakar di siang hari, tapi dingin seperti es di malam hari. Matanya kadang melihat jelas, kadang buta total. Tangannya gemetar tanpa henti. Mulutnya mengeluarkan busa putih setiap kali ia mencoba bicara.
Para tabib istana sudah berusaha segalanya. Ramuan demi ramuan. Mantra demi mantra. Bahkan dukun sakti dari kerajaan tetangga diundang untuk menyembuhkan adipati itu. Semua gagal.
"Penyakit ini tidak biasa," kata tabib istana. "Ini bukan penyakit fisik. Ini penyakit hati. Adipati terlalu banyak tekanan. Terlalu banyak beban. Terlalu banyak keputusasaan."
"Keputusasaan karena apa?" tanya permaisuri — istri adipati.
"Karena putrinya, Paduka. Pandan Wangi. Sejak ia memilih hidup di pondok pertapaan, adipati tidak pernah bahagia. Ia merasa gagal sebagai ayah. Ia merasa kehilangan anaknya. Ia merasa tidak berguna."
Permaisuri menangis. "Apa yang harus kami lakukan?"
"Panggil putri Paduka. Minta ia datang. Mungkin kehadirannya bisa menyembuhkan adipati."
Pandan Wangi datang ke istana dengan perasaan campur aduk.
Ia sudah berbulan-bulan tidak bertemu ayahnya. Sejak ia memutuskan hidup di pondok pertapaan, sejak ia menolak kembali ke istana, sejak ia memilih Sultan Hasan daripada kemewahan, hubungan mereka renggang. Adipati itu marah. Kecewa. Malu. Tapi ia tidak bisa melupakan anaknya.
Ketika Pandan Wangi masuk ke kamar ayahnya, ia terkejut. Adipati itu terbaring lemah di tempat tidur. Tubuhnya kurus kering. Wajahnya pucat. Matanya cekung. Rambutnya yang dulu hitam pekat, kini hampir seluruhnya beruban.
"Ayah..." bisik Pandan Wangi sambil berlutut di samping tempat tidur.
Adipati itu membuka mata. Samar-samar. Ia melihat bayangan anaknya.
"Pandan... kau datang..." bisiknya dengan suara parau.
"Ayah, maafkan aku. Maafkan aku karena sudah meninggalkan Ayah. Maafkan aku karena tidak pernah mendengarkan nasihat Ayah."
"Bukan... bukan salahmu... Ayah yang salah... Ayah terlalu keras... Ayah terlalu memaksakan kehendak... Ayah terlalu mementingkan status... padahal yang penting adalah kebahagiaanmu..."
Pandan Wangi menangis. Ia memegang tangan ayahnya. Tangannya dingin, seperti es.
"Ayah, jangan bicara banyak. Istirahatlah."
"Tidak... Ayah harus bicara... sebelum terlambat... panggil... panggil Sultan Hasan..."
"Panggil Sultan Hasan? Kenapa, Ayah?"
"Ayah ingin... minta maaf padanya... Ayah ingin... merestui kalian... Ayah ingin... kalian menikah... sebelum Ayah mati..."
Pandan Wangi terkejut. Ia tidak menyangka ayahnya akan berubah pikiran. Setelah sekian lama melarang, setelah sekian lama bersikeras, akhirnya ia luluh juga.
"Ayah yakin?" tanyanya.
"Ayah yakin... pergilah... cepat..."
Pandan Wangi bergegas ke Dukuh Wangi. Ia menaiki kuda tercepat di istana. Ditemani dua orang pengawal, ia melesat meninggalkan istana, meninggalkan kerajaan, menuju desa kecil di kaki gunung.
Sultan Hasan sedang duduk di tepi telaga, menulis syair seperti biasa, ketika Pandan Wangi tiba.
"Pandan? Ada apa? Kenapa kau datang tergesa-gesa?"
"Ayahku sakit parah. Ia minta kau datang. Ia ingin meminta maaf. Ia ingin merestui kita."
Sultan Hasan terkejut. "Benarkah?"
"Benar. Cepat, ikut aku. Waktu tidak banyak."
Sultan Hasan tidak perlu didorong dua kali. Ia segera berdiri. Ia membawa sebotol kecil air telaga. Ia juga membawa batu akik merah di dadanya.
"Mengapa kau membawa air telaga?" tanya Pandan Wangi.
"Air telaga ini istimewa. Ia mengandung energi penyembuh. Jika diminum dengan doa yang tulus, ia bisa menyembuhkan berbagai penyakit."
"Kau percaya?"
"Aku percaya. Karena telaga ini dijaga olehmu. Dan kau adalah penjaga hati yang tulus."
Mereka tiba di istana saat matahari hampir terbenam.
Adipati itu masih terbaring lemah. Napasnya sesak. Wajahnya pucat. Permaisuri duduk di sampingnya, menangis.
Sultan Hasan berlutut di samping tempat tidur adipati.
"Paduka," katanya. "Saya datang. Saya membawa air telaga. Saya akan berdoa. Semoga Paduka sembuh."
Adipati itu membuka mata. Ia memandang Sultan Hasan.
"Kau... mau... menyembuhkanku... setelah aku... memperlakukanmu... dengan buruk... setelah aku... melarangmu... menikahi... anakku... setelah aku... mengusirmu... dari... kerajaan..."
"Saya tidak menyimpan dendam, Paduka. Saya hanya ingin Paduka sehat. Saya hanya ingin Paduka bahagia. Saya hanya ingin restu Paduka."
Adipati itu menangis. "Maafkan... aku... Nak... maafkan..."
"Saya sudah memaafkan Paduka sejak lama. Sejak di pulau penjara. Saat saya merenung di tepi pantai. Saya menyadari bahwa kebencian hanya akan melahirkan kebencian. Maaf adalah satu-satunya jalan menuju kedamaian."
Sultan Hasan membuka botol kecil berisi air telaga. Ia mendekatkannya ke bibir adipati.
"Minumlah, Paduka. Semoga Allah menyembuhkan Paduka."
Adipati itu meminum air telaga itu. Perlahan. Seteguk demi seteguk.
Sultan Hasan memejamkan mata. Ia berdoa. Ia memohon pada Tuhan, pada alam, pada telaga, pada Nini Mas Intan yang sudah tiada, pada Ki Ageng Jagaraga, pada Kiai Pati, pada semua guru yang pernah mengajarinya, semoga adipati itu sembuh.
Batu akik merah di dadanya berdenyut. Kencang. Hangat. Cahaya merahnya menembus pakaian, menerangi ruangan.
Permaisuri terkejut. Para dayang terkejut. Para pengawal terkejut.
"Apa itu?" bisik mereka.
"Itu pusaka," kata Pandan Wangi. "Pusaka penjaga hati."
Cahaya merah itu semakin terang. Membungkus tubuh adipati. Menghangatkannya. Menyembuhkannya dari dalam.
Dan ketika cahaya itu meredup, adipati itu membuka mata.
Matanya jernih. Tidak buram. Wajahnya tidak pucat lagi. Tangannya tidak gemetar lagi. Napasnya lega.
Ia duduk. Ia tersenyum.
"Aku sembuh," katanya. "Aku benar-benar sembuh."
Permaisuri menangis haru. Pandan Wangi juga menangis. Sultan Hasan tersenyum.
"Terima kasih, Sultan Hasan," kata adipati itu. "Kau telah menyelamatkan hidupku."
"Saya hanya perantara, Paduka. Yang menyembuhkan adalah Tuhan. Air telaga. Dan doa yang tulus."
Adipati itu berdiri. Ia memeluk Sultan Hasan.
"Kau anak baik," katanya. "Aku malu pada diriku sendiri. Aku sudah berlaku buruk padamu. Aku sudah melarangmu menikahi anakku. Padahal kau adalah orang yang paling pantas untuknya."
"Tidak perlu malu, Paduka. Semua orang pernah salah. Yang penting kita mau memperbaiki kesalahan."
"Aku merestui kalian, Sultan Hasan. Aku merestui pernikahanmu dengan Pandan Wangi. Aku akan mengadakan pesta besar di istana. Aku akan mengundang seluruh kerabat. Aku akan memberikan mahar terbaik."
"Tidak usah, Paduka. Kami tidak butuh pesta. Kami tidak butuh kemewahan. Kami hanya butuh restu Paduka. Itu sudah cukup."
Adipati itu menangis. Ia memeluk Sultan Hasan lagi.
"Kau sungguh luar biasa, Nak. Aku belum pernah bertemu orang sepertimu."
Sultan Hasan tersenyum. Ia memandang Pandan Wangi. Pandan Wangi tersenyum balik.
Mereka berdua tahu, perjuangan mereka belum selesai. Tapi setidaknya, satu rintangan besar telah berlalu. Restu ayah Pandan Wangi. Akhirnya datang.
Di jendela istana, burung hantu bertengger di dahan pohon beringin. Ia menatap ke dalam ruangan. Matanya bundar dan kuning. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu terbang. Meninggalkan suara yang nyaring.
Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti seruan untuk memulai babak baru.
Babak di mana cinta tidak lagi terhalang restu.
Babak di mana cinta tidak lagi terhalang status.
Babak di mana cinta akhirnya bersatu.
Selamanya.
BAB LIX
Pernikahan Sederhana: Sultan Hasan dan Putri Pandan Wangi Menikah tanpa Pesta Besar, Hanya Disaksikan Telaga dan Pohon Tua
Restu dari adipati , ayah Pandan Wangi , datang bagai hujan setelah kemarau panjang. Seluruh istana bersukacita. Para dayang sibuk mempersiapkan pesta besar. Para koki dari berbagai kerajaan diundang untuk menyiapkan hidangan terbaik. Para musisi berlatih lagu-lagu kebesaran siang dan malam. Para penari mempersiapkan gerakan-gerakan terindah untuk menyambut malam puncak.
Tapi Sultan Hasan menolak semua itu.
"Kami tidak butuh pesta besar," katanya pada adipati. "Kami tidak butuh kemewahan. Kami hanya ingin menikah dengan sederhana. Di tepi telaga. Disaksikan oleh alam."
Adipati itu terkejut. "Kau tidak ingin diakui sebagai menantu bangsawan? Kau tidak ingin statusmu naik? Kau tidak ingin dihormati oleh rakyat?"
"Saya tidak butuh status, Paduka. Saya tidak butuh kekayaan. Saya tidak butuh kehormatan dari manusia. Saya hanya butuh Pandan Wangi. Itu sudah cukup."
Adipati itu menghela napas. "Kau sungguh luar biasa, Sultan Hasan. Aku belum pernah bertemu orang sepertimu."
"Paduka sudah sering mengatakan itu," kata Sultan Hasan tersenyum.
"Karena itu benar. Baiklah. Aku izinkan. Tapi jangan menyesal."
"Saya tidak akan menyesal, Paduka."
Pernikahan Sultan Hasan dan Pandan Wangi dilangsungkan di tepi telaga, pada malam purnama.
Tidak ada pelaminan. Tidak ada rias pengantin. Tidak ada pakaian mewah. Sultan Hasan memakai kain putih sederhana, seperti biasa. Pandan Wangi memakai kain batik sederhana, dengan motif pandan yang ia tenun sendiri di pondok pertapaannya.
Saksi pernikahan mereka bukan manusia. Telaga. Pohon-pohon tua di sekitarnya. Bulan di langit. Bintang-bintang yang bertaburan. Dan seekor burung hantu yang setia bertengger di dahan pohon asam, menatap mereka dengan mata bundar dan kuning.
"Kita tidak punya penghulu," kata Pandan Wangi.
"Kita tidak butuh penghulu," kata Sultan Hasan. "Cukup kita berdua. Cukup hati kita. Cukup janji kita di hadapan alam."
Mereka berdua bergandengan tangan. Berlutut di tepi telaga.
"Pandan Wangi," kata Sultan Hasan. "Aku mengambilmu sebagai istriku. Bukan di depan hukum manusia. Bukan di depan agama. Tapi di depan hati. Di depan cinta. Di depan telaga yang menyaksikan janji kita sejak kecil."
"Aku terima, Sultan Hasan," kata Pandan Wangi. "Aku menjadi istrimu. Bukan karena status. Bukan karena harta. Tapi karena cinta. Karena kesetiaan. Karena janji yang tak pernah pudar."
Mereka berdua berpelukan.
Di dasar telaga, air beriak. Ikan-ikan kecil berenang gembira. Tanaman air bergoyang-goyang, seolah ikut menari.
Di langit, bulan bersinar lebih terang dari biasanya. Bintang-bintang bertaburan lebih indah dari biasanya.
Di dahan pohon asam, burung hantu berbunyi. Sekali. Pendek. Tapi nyaring.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti lagu pernikahan yang paling indah.
Setelah akad nikah, mereka berdua duduk di batu hitam — batu yang sama tempat mereka biasa duduk saat masih kecil.
"Kau ingat saat kita pertama kali bertemu?" tanya Pandan Wangi.
"Aku ingat. Saat itu aku baru berusia lima tahun. Aku mengikuti burung hantu ke telaga ini. Dan kau duduk di batu ini, tersenyum padaku."
"Aku sudah menunggumu sejak lama, Sultan Hasan. Bahkan sebelum kau lahir. Nini Mas Intan sudah memberitahuku bahwa suatu hari nanti, seorang anak laki-laki akan datang. Dan aku harus menjaganya."
"Dan kau menjagaku. Selama bertahun-tahun. Sampai aku besar. Sampai aku dewasa. Sampai aku sanggup menjagamu."
"Dan sekarang, kita saling menjaga. Selamanya."
Mereka berdua tersenyum.
Di telaga, air beriak pelan. Seolah ikut bahagia.
Malam itu, mereka tidak pulang ke istana. Juga tidak pulang ke pondok pertapaan. Mereka tidur di tepi telaga, di atas hamparan daun kering, di bawah cahaya bulan.
Sultan Hasan memeluk Pandan Wangi. Pandan Wangi memeluk Sultan Hasan. Mereka berdua hangat. Bahagia. Tidak perlu apa-apa lagi.
"Pandan," bisik Sultan Hasan.
"Ya?"
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi. Aku akan menjagamu. Sampai mati."
"Aku juga, Sultan Hasan. Aku akan menjagamu. Sampah mati."
Mereka berdua tertidur. Dalam mimpi, mereka berdua berjalan di tepi telaga, bergandengan tangan, tertawa, bercerita, seperti saat kecil dulu.
Tapi tidak ada lagi kesedihan. Tidak ada lagi rasa takut. Tidak ada lagi perpisahan.
Hanya cinta. Hanya kebahagiaan. Hanya ketenangan.
Selamanya.
Keesokan paginya, adipati datang ke telaga. Ia ingin melihat anaknya yang baru menikah. Ia terkejut melihat Sultan Hasan dan Pandan Wangi tidur di tepi telaga, beralaskan daun kering, tanpa selimut, tanpa bantal.
"Kalian tidur di sini? Sepanjang malam? Tidak masuk angin?"
"Kami biasa, Ayah," kata Pandan Wangi sambil menguap. "Saat kecil, kami sering tidur di sini. Saat Sultan Hasan masih belajar silat, ia sering tidur di gua-gua di hutan. Saat di pulau penjara, ia tidur di atas pasir. Jadi tidur di tepi telaga sudah biasa."
Adipati itu menghela napas. "Kalian memang pasangan yang aneh. Tapi aku bangga."
Ia melepaskan kalung emas dari lehernya. Diberikannya pada Pandan Wangi.
"Ini hadiah pernikahan dari ayah. Tidak mahal. Tapi mudah-mudahan bermanfaat."
"Terima kasih, Ayah," kata Pandan Wangi.
Adipati itu memeluk Sultan Hasan.
"Jagalah anakku," bisiknya.
"Aku akan menjaganya, Paduka. Dengan nyawaku."
Adipati itu pergi. Meninggalkan mereka berdua di tepi telaga.
Sultan Hasan dan Pandan Wangi tersenyum. Mereka berdua bergandengan tangan. Memandang telaga yang jernih. Memandang langit yang biru. Memandang masa depan yang cerah.
Di dahan pohon asam, burung hantu menatap mereka. Matanya bundar dan kuning. Ia tidak berbunyi. Hanya menatap.
Seolah setuju. Seolah merestui. Seolah bahagia bahwa penjaga hati akhirnya menemukan kebahagiaannya.
Selamanya.
BAB LX
Malam Pertama: Mereka Berdua Tidak Berbicara, Hanya Saling Memandangi Wajah yang Sudah Lama Mereka Rindukan
Malam pertama setelah pernikahan sederhana di tepi telaga itu, Sultan Hasan dan Pandan Wangi tidak pergi ke mana-mana.
Mereka tetap di pondok kecil Sultan Hasan di tepi telaga. Pondok itu sederhana: dinding dari anyaman bambu, atap dari daun rumbia, lantai dari tanah yang dipadatkan, satu ruangan tanpa sekat. Di tengah ruangan, ada perapian kecil. Di sudut, ada tumpukan daun lontar dan alat tulis. Di sudut lain, ada tempat tidur dari bambu, ditutupi tikar anyaman pandan. Itu saja. Tidak ada kemewahan. Tidak ada perabot indah. Tidak ada lampu gantung atau hiasan dinding.
Tapi bagi Sultan Hasan dan Pandan Wangi, pondok itu adalah istana. Karena mereka bisa bersama. Karena mereka akhirnya bersatu. Karena tidak ada lagi yang memisahkan.
Malam itu, bulan purnama bersinar terang. Cahayanya masuk melalui celah-celah dinding bambu, menciptakan pola-pola indah di lantai tanah. Angin malam berembus pelan, membawa wangi pandan dari rambut Pandan Wangi. Burung-burung hantu berbunyi dari kejauhan, sekal i pendek, seperti lagu pengantar tidur.
Sultan Hasan dan Pandan Wangi duduk berhadapan di atas tikar anyaman pandan. Tidak ada yang bicara. Mereka hanya saling memandang.
Wajah Pandan Wangi di bawah cahaya bulan terlihat cantik. Sangat cantik. Lebih cantik dari yang Sultan Hasan ingat. Mungkin karena ini malam pertama mereka sebagai suami istri. Mungkin karena mereka sudah menunggu terlalu lama. Mungkin karena cinta yang terpendam bertahun-tahun kini akhirnya mekar.
Sultan Hasan memperhatikan setiap detail wajah Pandan Wangi. Alisnya yang lentik. Matanya yang hitam pekat, berkilau seperti telaga di malam purnama. Hidungnya yang mancung. Pipinya yang putih bersih, kemerahan karena malu. Bibirnya yang tipis, merah alami, sedikit bergetar. Rambutnya yang hitam panjang terurai sebahu, bergerak-gerak setiap kali angin menerpa.
Pandan Wangi juga memperhatikan wajah Sultan Hasan. Keningnya yang lebar, dengan tanda merah di antara dua alis — tanda penjaga yang semakin jelas di bawah cahaya bulan. Matanya yang teduh, penuh kasih, penuh ketenangan. Hidungnya yang tegas. Pipinya yang tirus, sedikit berjanggut. Bibirnya yang tipis, tersenyum kecil. Tubuhnya yang tegap, kekar, tapi lembut.
Mereka berdua tidak bicara. Tidak perlu. Kata-kata tidak diperlukan lagi. Cinta mereka sudah melampaui kata-kata. Sudah melampaui janji. Sudah melampaui segalanya.
Sultan Hasan mengulurkan tangannya. Ia menyentuh pipi Pandan Wangi. Lembut. Perlahan. Seperti menyentuh kelopak bunga yang baru mekar.
Pandan Wangi menutup matanya. Ia menikmati sentuhan itu. Hangat. Lembut. Penuh cinta.
"Kau cantik," bisik Sultan Hasan. Suaranya pelan, seperti bisikan angin malam.
"Kau juga tampan," bisik Pandan Wangi balik.
Mereka tersenyum.
Pandan Wangi membuka matanya. Ia memandang Sultan Hasan. Matanya berkaca-kaca. Bukan sedih. Tapi bahagia. Bahagia yang tak terkira.
"Kita sudah menunggu lama, Sultan Hasan," bisiknya.
"Sangat lama," kata Sultan Hasan.
"Apakah semua perjuangan ini sepadan?"
"Setiap tetes keringat. Setiap butir air mata. Setiap luka di tubuh. Setiap malam di pulau penjara. Setiap rindu yang tak terobati. Semua sepadan. Karena pada akhirnya, kita di sini. Bersama."
"Aku tidak akan menukar malam ini dengan apa pun. Bahkan dengan seluruh istana dan kekayaannya."
"Aku juga."
Mereka berdua diam lagi. Tidak bicara. Hanya saling memandang. Mata bertemu mata. Hati bertemu hati. Jiwa bertemu jiwa.
Sultan Hasan mendekat. Pandan Wangi juga mendekat.
Dahi mereka bersentuhan. Hangat.
"Pandan," bisik Sultan Hasan.
"Ya?"
"Aku mencintaimu. Sejak pertama kali aku melihatmu di telaga ini. Saat aku masih kecil. Saat aku tidak tahu apa itu cinta. Tapi hatiku sudah tahu. Hatiku sudah memilihmu."
"Aku juga mencintaimu, Sultan Hasan. Sejak pertama kali kau datang ke telaga ini. Mengikuti burung hantu. Dengan mata penuh rasa ingin tahu. Dengan hati penuh luka. Aku sudah tahu, kau adalah orangnya."
Mereka berdua berpelukan. Lama. Dalam. Hangat.
Malam itu, mereka tidak tidur.
Mereka hanya duduk berdua di atas tikar, saling berpelukan, kadang saling memandang, kadang berbicara pelan, kadang tertawa kecil, kadang diam menikmati keheningan.
Pandan Wangi menyandarkan kepalanya di dada Sultan Hasan. Ia mendengar detak jantung suaminya. Berdebar kuat, teratur, seperti genderang yang memanggil pasukan.
"Detak jantungmu kuat," katanya.
"Karena kau di sini."
"Apakah akan begini terus selamanya?"
"Selamanya. Aku akan menjagamu. Sampai mati."
"Jangan bicara mati. Malam ini kita bahagia. Jangan bicara hal-hal yang menyedihkan."
"Baiklah. Aku tidak akan bicara mati. Aku hanya akan bicara cinta."
Mereka berdua tersenyum.
Di luar pondok, burung hantu berbunyi. Sekali. Pendek. Seperti setuju. Seperti merestui. Seperti ikut bahagia.
Fajar mulai menyingsing ketika mereka akhirnya tertidur.
Sultan Hasan memeluk Pandan Wangi erat-erat. Pandan Wangi memeluk Sultan Hasan erat-erat. Mereka berdua berbaring di atas tikar, menikmati hangatnya pelukan, menikmati damainya kebersamaan.
Di luar, matahari terbit di ufuk timur. Cahayanya masuk melalui celah-celah dinding bambu, menerangi wajah mereka yang tenang.
Mereka tidur nyenyak. Tidak ada mimpi buruk. Tidak ada kegelisahan. Tidak ada rasa takut.
Hanya kedamaian. Hanya cinta. Hanya kebahagiaan.
Malam pertama mereka sebagai suami istri. Bukan malam yang megah dengan pesta dan kemewahan. Tapi malam yang sederhana, yang hangat, yang penuh cinta.
Malam yang tidak akan mereka lupakan seumur hidup.
Selamanya.
BAGIAN EMPAT: PERTEMUAN KEMBALI
"Pertemuan kembali setelah perpisahan yang panjang tidak pernah semanis yang dibayangkan. Ada luka yang belum sembuh. Ada kata-kata yang tidak terucap. Ada rasa bersalah yang tidak bisa dihapus. Tapi ada juga kerinduan yang selama bertahun-tahun dipendam, yang akhirnya meletus seperti air bah yang tidak bisa ditahan. Inilah kisah tentang dua hati yang akhirnya bersatu setelah badai berlalu. Tentang pernikahan sederhana di tepi telaga. Tentang kelahiran seorang anak yang akan menjadi pewaris. Dan tentang kematian yang datang tanpa permisi, meninggalkan duka yang mendalam."
Di mana Sultan Hasan dan Pandan Wangi akhirnya menikah. Di mana Pandu Hati lahir. Di mana pusaka dirawat. Dan di mana Pandan Wangi meninggal dalam pelukan suaminya, meninggalkan warisan cinta yang abadi.
BAB LXI
Bahagia yang Sederhana: Kehidupan sebagai Petani dan Pencatat Syair – Pandan Wangi Menenun
Pagi hari setelah malam pertama mereka, Sultan Hasan bangun lebih dulu.
Matahari baru saja terbit. Cahayanya masih merah keemasan, hangat, tidak menyengat. Burung-burung mulai berkicau di dahan-dahan pohon. Ayam-ayam jantan berkokok bersahutan dari kejauhan. Embun masih membasahi rumput-rumput di halaman pondok.
Sultan Hasan memandang Pandan Wangi yang masih tidur di sampingnya. Wajahnya tenang. Bibirnya tersenyum kecil. Rambutnya berantakan, menutupi sebagian pipinya. Sultan Hasan dengan lembut menyisir rambut itu dengan jarinya, membiarkannya jatuh ke belakang telinga.
Pandan Wangi bergerak. Matanya terbuka. Samar-samar. Ia tersenyum melihat Sultan Hasan sudah bangun.
"Pagi," bisiknya.
"Pagi, istriku," bisik Sultan Hasan balik.
Pandan Wangi tersenyum lebih lebar. "Istri. Aku suka mendengar kata itu."
"Aku juga suka mengucapkannya. Istri. Istriku. Pandan Wangi, istriku."
"Jangan berlebihan."
Mereka berdua tertawa.
Hari-hari pertama setelah pernikahan diisi dengan kegiatan sederhana.
Sultan Hasan bangun sebelum matahari terbit. Ia pergi ke ladang, mencangkul, menanam, menyiram, merawat sayur-sayuran dan padi yang ia tanam. Bukan ladang yang luas. Hanya sepetak tanah di belakang pondok, cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka berdua. Ia tidak ingin kaya. Ia hanya ingin cukup.
Pandan Wangi bangun setelah matahari agak tinggi. Ia memasak nasi dan sayur untuk sarapan. Ia mencuci pakaian di sungai kecil dekat telaga. Ia membersihkan pondok, menyapu halaman, merapikan daun lontar dan alat tulis Sultan Hasan.
Setelah makan siang, mereka berdua beristirahat. Kadang di beranda, kadang di tepi telaga. Sultan Hasan membaca syair-syair yang pernah ia tulis, memperbaikinya, menambahi, menguranginya. Pandan Wangi mendengarkan, kadang memberi saran, kadang hanya tersenyum.
Sore hari, Pandan Wangi menenun. Ia sudah belajar menenun sejak kecil, dari ibunya. Kini ia menenun kembali, di pondok sederhana ini, dengan alat tenun sederhana dari kayu dan bambu. Ia menenun kain batik dengan motif pandan. Motif yang ia ciptakan sendiri. Motif yang mengingatkannya pada telaga, pada Sultan Hasan, pada cinta mereka.
"Kain ini akan kujual di pasar," kata Pandan Wangi suatu hari. "Hasilnya bisa untuk menambah penghasilan kita."
"Kau tidak perlu bekerja, Pandan. Aku bisa menanggung kita berdua. Ladangku cukup."
"Tapi aku ingin bekerja. Aku tidak ingin hanya diam di rumah, menunggu kau pulang. Aku ingin berguna."
"Kau sudah berguna, Pandan. Dengan berada di sini, bersamaku, itu sudah lebih dari cukup."
Pandan Wangi tersenyum. "Kau memang pujangga. Kata-katamu selalu indah."
"Aku bukan pujangga. Aku hanya suamimu yang berusaha membuatmu bahagia."
Setiap malam, sebelum tidur, Sultan Hasan menulis.
Ia menulis tentang hari itu. Tentang ladangnya. Tentang sayur-sayuran yang tumbuh. Tentang padi yang mulai menguning. Tentang Pandan Wangi yang menenun. Tentang senyumnya. Tentang tawanya. Tentang wangi pandan yang selalu melekat di rambutnya.
Pandan Wangi kadang membaca tulisan itu, kadang hanya mendengarkan Sultan Hasan membacakannya.
"Kau menulis tentang aku lagi," kata Pandan Wangi suatu malam, setelah Sultan Hasan selesai membacakan syair barunya.
"Karena kau inspirasiku. Tanpamu, aku tidak akan bisa menulis."
"Kau bisa menulis sebelum mengenalku."
"Aku bisa menulis. Tapi tulisanku kosong. Tidak bermakna. Baru setelah aku mencintaimu, kata-kataku punya jiwa."
Pandan Wangi memeluk Sultan Hasan.
"Aku mencintaimu, pujangga ku."
"Aku juga mencintaimu, penenun ku."
Mereka berdua tertawa.
Kehidupan mereka sederhana. Bahkan terlalu sederhana untuk ukuran seorang putri bangsawan.
Tapi Pandan Wangi tidak pernah mengeluh. Ia tidak butuh istana. Ia tidak butuh pelayan. Ia tidak butuh pakaian indah dan perhiasan. Cukup Sultan Hasan di sampingnya. Cukup telaga di depan pondoknya. Cukup alam yang menghija u di sekitarnya.
"Apa kau tidak bosan hidup begini?" tanya Sultan Hasan suatu hari. "Dulu kau tinggal di istana. Dilayani puluhan dayang. Makan makanan enak setiap hari. Sekarang kau hanya makan sayur dan tahu tempe. Kadang ikan asin. Kadang tidak makan karena panen gagal."
"Aku tidak bosan. Aku justru lebih bahagia di sini. Karena aku bisa menjadi diriku sendiri. Tidak perlu berpura-pura. Tidak perlu memakai topeng. Tidak perlu tersenyum pada orang yang aku benci."
"Kau benci siapa?"
"Pangeran Kertawijaya. Mantan suamiku. Ia tidak pernah mencintaiku. Ia hanya menginginkan statusku."
"Tapi ia sudah mati. Masa lalu biarlah berlalu."
"Iya. Masa lalu biarlah berlalu. Sekarang aku hanya fokus pada masa depan. Bersamamu."
Mereka berdua tersenyum.
Suatu sore, adipati , ayah Pandan Wangi , datang ke pondok mereka.
Ia terkejut melihat kondisi pondok yang sederhana. Dinding bambu. Atap daun rumbia. Lantai tanah. Tidak ada kemewahan sama sekali.
"Kau tinggal di sini?" tanyanya pada Pandan Wangi.
"Iya, Ayah. Ini rumahku sekarang."
"Tidak pengap? Tidak panas? Tidak becek saat hujan?"
"Kami biasa, Ayah. Lagipula, kami sering tidur di tepi telaga. Di alam terbuka. Jadi pondok ini sudah mewah bagi kami."
Adipati itu menghela napas. "Kalian memang aneh. Tapi aku tidak bisa memaksa kalian. Yang penting kalian bahagia."
"Kami bahagia, Ayah. Sangat bahagia."
Adipati itu memandang Sultan Hasan. "Jagalah anakku."
"Saya akan menjaganya, Paduka. Dengan nyawa saya."
"Jangan panggil Paduka. Panggil Ayah."
Sultan Hasan terharu. "Baik, Ayah."
Mereka berdua berpelukan.
Pandan Wangi menangis melihat ayah dan suaminya berdamai. Akhirnya, setelah sekian lama, setelah sekian banyak konflik, setelah sekian banyak air mata... mereka bersatu.
Di pondok sederhana ini. Di tepi telaga. Di bawah langit yang luas.
Malam harinya, setelah adipati pulang, Sultan Hasan dan Pandan Wangi duduk di tepi telaga.
Bulan sabit tipis. Bintang-bintang bertaburan.
"Kau tahu," kata Pandan Wangi. "Aku tidak pernah membayangkan hidup akan seindah ini."
"Aku juga," kata Sultan Hasan.
"Dulu, saat aku terkurung di istana, aku sering bermimpi tentang kebebasan. Tentang bisa keluar, bisa berjalan-jalan, bisa memilih siapa yang aku cintai. Tapi aku tidak pernah membayangkan kebebasan akan seindah ini."
"Kebebasan tidak selalu tentang bisa melakukan apa pun yang kau mau. Kebebasan adalah tentang bisa menjadi dirimu sendiri. Tanpa topeng. Tanpa tekanan. Tanpa rasa takut."
"Kau bijak, Sultan Hasan."
"Aku bukan bijak. Aku hanya banyak merenung. Di pulau penjara, aku punya banyak waktu untuk merenung. Tentang hidup. Tentang cinta. Tentang kebahagiaan."
"Dan apa kesimpulanmu?"
"Kesimpulanku, kebahagiaan tidak terletak pada harta atau status. Kebahagiaan terletak pada rasa syukur. Pada penerimaan. Pada cinta. Pada orang-orang yang kita cintai dan yang mencintai kita."
Pandan Wangi menyandarkan kepalanya di bahu Sultan Hasan.
"Aku bersyukur memiliki mu," bisiknya.
"Aku juga bersyukur memilikimu," bisik Sultan Hasan balik.
Mereka berdua diam. Menikmati malam. Menikmati kebersamaan. Menikmati kebahagiaan sederhana yang selama ini mereka perjuangkan.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap mereka. Matanya bundar dan kuning. Ia tidak berbunyi. Hanya menatap.
Seolah setuju. Seolah merestui. Seolah bahagia bahwa penjaga hati akhirnya menemukan kebahagiaannya.
Bukan di istana. Bukan di kemewahan. Tapi di kesederhanaan. Di ketulusan. Di cinta.
Selamanya.
BAB LXII
Kehamilan Pertama: Pandan Wangi Mengandung – Sultan Hasan Makin Tekun Menjaga Pusaka
Tanda-tanda itu mulai muncul ketika musim hujan tiba.
Pandan Wangi yang biasanya bersemangat menyambut pagi dengan memasak dan menenun, tiba-tiba malas bangun. Ia mengeluh mual setiap kali mencium bau masakan. Ia sering muntah di pagi hari, kadang juga di sore hari. Sultan Hasan cemas. Ia mengira istrinya sakit.
"Pandan, apa kau tidak enak badan?" tanyanya suatu pagi, saat Pandan Wangi berlari ke belakang pondok untuk muntah.
"Aku tidak tahu. Mungkin karena terlalu banyak makan ikan asin kemarin."
"Tapi kau juga mual kemarin. Dan lusa. Dan seminggu yang lalu."
Pandan Wangi terdiam. Ia menghitung dalam hati. Sudah berapa lama ia tidak mendapat bulan? Dua bulan? Tiga bulan? Ia tidak ingat persis. Sejak hidup di pondok, ia tidak terlalu memperhatikan siklus tubuhnya.
"Sultan," katanya pelan. "Mungkin... mungkin aku hamil."
Sultan Hasan terkejut. "Hamil? Kau yakin?"
"Belum yakin. Tapi ini tanda-tandanya. Aku pernah melihat dayang-dayang di istana yang hamil. Mereka juga mual-mual di pagi hari."
Sultan Hasan duduk di samping Pandan Wangi. Ia menggenggam tangan istrinya.
"Kalau benar kau hamil, ini berkah. Anak pertama kita."
"Tapi aku takut, Sultan. Aku dulu pernah bilang, aku tidak bisa memberimu anak. Karena aku penunggu telaga."
"Itu dulu. Sekarang kau sudah menjadi istriku. Kau sudah melepaskan status penunggu telaga. Kau sudah menjadi manusia biasa. Mungkin itu sebabnya kau bisa hamil."
"Kau yakin?"
"Aku tidak yakin. Tapi aku berharap."
Sultan Hasan memanggil dukun beranak dari desa sebelah.
Dukun itu sudah sangat tua. Rambutnya putih semua. Kulitnya keriput. Tapi matanya masih tajam. Ia memeriksa perut Pandan Wangi, merasakan denyutnya, mendengarkan napasnya.
"Selamat, Nak," katanya pada Sultan Hasan. "Istrimu memang hamil. Usianya sekitar tiga bulan. Janinnya sehat. Denyutnya kuat."
Sultan Hasan menangis. Ia memeluk Pandan Wangi.
"Kita punya anak, Pandan. Kita punya anak."
Pandan Wangi juga menangis. "Aku tidak menyangka. Aku pikir aku mandul."
"Tidak ada yang mandul di dunia ini, Nak," kata dukun itu. "Yang ada hanya yang belum diberi kepercayaan oleh Tuhan. Sekarang kalian diberi kepercayaan. Jaga baik-baik janin ini. Jangan biarkan ia stres. Jangan biarkan ibunya jatuh. Jangan biarkan ibunya makan sembarangan."
"Kami akan menjaganya, Nek," kata Sultan Hasan.
"Bagus. Aku akan memberikan ramuan-ramuan untuk menjaga kehamilan. Minumlah setiap hari. Jangan putus."
"Baik, Nek."
Sejak tahu Pandan Wangi hamil, Sultan Hasan semakin tekun menjaga pusaka.
Setiap pagi, sebelum berangkat ke ladang, ia membersihkan batu akik merah di dadanya dengan air telaga. Ia mengusapnya dengan lembut, sambil berdoa.
Setiap malam, sebelum tidur, ia meletakkan batu itu di perut Pandan Wangi. Ia memejamkan mata. Ia memohon pada batu itu, pada telaga, pada alam, pada Tuhan, semoga janin dalam kandungan istrinya sehat, semoga persalinan lancar, semoga anaknya kelak menjadi penjaga hati seperti dirinya.
Batu akik merah itu berdenyut. Kencang. Hangat. Seperti setuju. Seperti membantu. Seperti memberkati.
"Kau percaya batu ini bisa membantu?" tanya Pandan Wangi suatu malam, saat Sultan Hasan meletakkan batu itu di perutnya.
"Aku percaya. Batu ini sudah bersamaku sejak aku lahir. Ia sudah membantuku melewati banyak ujian. Ia tidak akan meninggalkanku sekarang."
"Batu ini memang istimewa. Aku bisa merasakan hangatnya. Menenangkan."
"Karena batu ini adalah bagian dari telaga. Dan telaga adalah bagian dari dirimu. Karena kau penunggu telaga. Dulu."
"Dan sekarang?"
"Sekarang kau adalah istriku. Ibu dari anakku. Penjaga hatiku."
Pandan Wangi tersenyum. Ia mengecup kening Sultan Hasan.
"Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu."
Kehamilan Pandan Wangi berjalan lancar.
Bulan keempat, perutnya mulai membesar. Bulan kelima, ia sudah bisa merasakan gerakan janin di dalam rahimnya. Bulan keenam, janin itu sudah sangat aktif. Kadang menendang, kadang meninju, kadang berguling.
"Anak ini laki-laki," kata Sultan Hasan suatu hari, setelah merasakan tendangan yang kuat.
"Kau bisa meramal?"
"Aku tidak bisa meramal. Tapi tendangannya kuat. Hanya anak laki-laki yang bisa sekencang itu."
Pandan Wangi tertawa. "Kau sexist."
"Apa?"
"Tidak apa-apa. Lupakan."
Mereka berdua tertawa.
Sultan Hasan tetap tekun menjaga pusaka. Setiap hari. Tidak pernah absen. Ia juga semakin rajin berdoa. Tidak hanya di pondok, tapi juga di telaga. Ia duduk di batu hitam, memejamkan mata, memohon pada Nini Mas Intan yang sudah tiada, pada Ki Ageng Jagaraga, pada Kiai Pati, pada semua guru yang pernah membimbingnya, semoga anaknya lahir selamat.
"Kau terlalu khawatir," kata Pandan Wangi.
"Aku tidak bisa tidak khawatir. Ini anak pertama kita."
"Percayalah pada Tuhan. Percayalah pada alam. Percayalah pada batu ini."
"Aku percaya. Tapi aku tetap khawatir."
Pandan Wangi menghela napas. "Kau memang aneh, Sultan Hasan. Tapi itulah sebabnya aku mencintaimu."
Suatu malam, Sultan Hasan bermimpi.
Dalam mimpinya, ia berdiri di tepi telaga. Airnya jernih. Dasarnya terlihat. Tanaman air bergoyang-goyang ditarik arus yang lembut.
Dari tengah telaga, seorang perempuan muncul. Bukan Pandan Wangi. Perempuan tua. Rambutnya putih. Kulitnya keriput. Matanya buram.
Nini Mas Intan.
"Nek!" teriak Sultan Hasan.
"Kau sudah dewasa, Nak," kata Nini Mas Intan. "Kau sudah menikah. Kau sudah menjadi penjaga hati. Dan kau akan segera menjadi ayah."
"Aku takut, Nek. Aku takut menjadi ayah yang buruk. Aku takut tidak bisa melindungi anakku. Aku takut anakku mengalami penderitaan seperti aku dulu."
"Kau tidak perlu takut, Nak. Kau sudah melalui banyak ujian. Kau sudah terbukti menjadi penjaga hati yang baik. Kau akan menjadi ayah yang baik. Percayalah."
"Tapi, Nek..."
"Tidak ada tapi. Dengarkan pesanku. Anak yang akan lahir nanti adalah anak istimewa. Ia akan melanjutkan perjuanganmu. Ia akan menjadi penjaga hati setelah kau tiada. Rawatlah ia dengan baik. Ajari ia syair-syair. Jaga pusaka untuknya."
"Apa anak ini laki-laki atau perempuan, Nek?"
Nini Mas Intan tersenyum. "Kau akan tahu nanti. Yang penting, jangan pernah berhenti menjaga. Jangan pernah berhenti mencintai. Jangan pernah berhenti menulis."
Nini Mas Intan mulai menghilang. Perlahan. Seperti kabut ditiup angin.
"Selamat jalan, Nak," bisiknya. "Aku bangga padamu."
Sultan Hasan terbangun.
Ia duduk di tempat tidur. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Pandan Wangi masih tidur nyenyak di sampingnya.
Ia memandang perut istrinya yang besar. Ia memegang batu akik merah di dadanya. Batu itu berdenyut. Hangat.
"Kau dengar pesan Nini Mas Intan?" bisik batu itu.
"Aku dengar."
"Kau akan menjadi ayah yang baik. Percayalah."
"Aku akan berusaha."
Sultan Hasan merebahkan diri. Ia memeluk Pandan Wangi dari belakang. Ia mengecup pundaknya.
"Selamat malam, istriku."
"Selamat malam, suamiku."
Mereka berdua tertidur.
Di luar pondok, burung hantu berbunyi. Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti sambutan untuk calon penjaga hati yang akan segera lahir.
Selamanya.
BAB LXIII
Lahirnya Anak Pertama: Seorang Anak Laki-Laki Diberi Nama Pandu Hati
Persalinan Pandan Wangi berlangsung pada malam purnama, tepat sembilan bulan setelah pernikahan mereka.
Sultan Hasan yang biasanya tenang, kini gelisah. Ia berjalan mondar-mandir di depan pondok, memandang ke arah telaga, memandang ke arah langit, memandang ke arah dukun beranak yang masuk ke dalam pondok untuk menolong Pandan Wangi. Ia tidak bisa masuk. Dukun itu melarangnya. "Kau laki-laki. Tidak boleh melihat istri melahirkan. Nanti kau bisa pingsan."
"Tapi aku kuat," protes Sultan Hasan.
"Tidak ada laki-laki yang kuat saat melihat istrinya melahirkan. Percayalah. Aku sudah puluhan tahun menjadi dukun beranak. Semua suami pingsan."
Sultan Hasan terdiam. Ia menurut. Ia duduk di batu hitam di tepi telaga, memegang batu akik merah di dadanya, berdoa.
"Ya Allah, lindungi istriku. Lindungi anakku. Berikan mereka keselamatan. Aku rela apa pun terjadi. Aku rela kehilangan apa pun. Asalkan mereka selamat."
Batu akik merah itu berdenyut. Kencang. Hangat. Seperti memberikan semangat.
Di dalam pondok, Pandan Wangi berteriak kesakitan.
Dukun beranak itu membimbingnya. "Tarik napas, Nak. Buang. Tarik napas. Buang. Jangan teriak-teriak. Kau buang-buang energi. Simpan untuk mengejan."
Pandan Wangi menggigit bibirnya. Ia mencurahkan seluruh konsentrasinya untuk mengikuti petunjuk dukun itu.
Ia ingat saat ia masih kecil, di telaga, saat Sultan Hasan pertama kali datang. Bocah kurus dengan mata penuh luka. Ia ingat saat mereka berdua duduk di batu hitam, berbicara tentang bintang. Ia ingat saat mereka berpisah, saat Sultan Hasan dibuang ke pulau penjara, saat ia dipaksa menikah dengan pangeran. Ia ingat saat mereka bertemu lagi, setelah tujuh tahun. Ia ingat saat mereka menikah di tepi telaga, hanya disaksikan oleh alam.
Dan sekarang, mereka akan memiliki anak. Anak pertama mereka. Buah cinta yang telah melalui begitu banyak ujian.
"Ea... Ea... Ea..." teriak Pandan Wangi sekali lagi.
"Sudah, Nak. Kepalanya sudah keluar. Sekali lagi. Sekali lagi."
Pandan Wangi mengejan sekuat tenaga.
Dan kemudian, suara tangis bayi memecah kesunyian malam.
"Selamat, Nak," kata dukun beranak itu. "Anak laki-laki. Sehat. Kuat. Tidak ada cacat."
Pandan Wangi menangis. Ia menggendong bayinya. Bayi itu merah, keriput, tapi menangis keras. Tangis yang familiar. Tangis yang pernah ia dengar puluhan tahun lalu, saat Sultan Hasan lahir di malam gerhana.
"Terima kasih, Tuhan," bisiknya. "Terima kasih."
Sultan Hasan berlari masuk ke pondok ketika mendengar tangis bayi.
Ia melihat Pandan Wangi terbaring lemas di atas tikar, wajahnya pucat, tapi tersenyum. Di pangkuannya, seorang bayi laki-laki menangis keras.
"Pandan! Kau selamat!" teriak Sultan Hasan sambil memeluk istrinya.
"Aku selamat. Kita selamat. Anak kita selamat."
Sultan Hasan memandang bayinya. Bayi itu berhenti menangis sejenak. Matanya terbuka. Hitam pekat. Menatap Sultan Hasan. Seperti mengenali.
"Anakku," bisik Sultan Hasan. "Anakku."
Bayi itu menangis lagi. Sultan Hasan tidak tahu harus bereaksi apa. Pandan Wangi tertawa.
"Dia lapar. Berikan padaku."
Sultan Hasan menyerahkan bayi itu pada Pandan Wangi. Pandan Wangi menyusuinya. Bayi itu diam. Tenang.
"Apa nama anak kita?" tanya Pandan Wangi.
Sultan Hasan terdiam. Ia sudah memikirkan nama ini sejak lama. Sejak Pandan Wangi hamil. Sejak ia bermimpi bertemu Nini Mas Intan di telaga.
"Pandu Hati," katanya. "Pandu berarti penuntun. Hati berarti hati. Pandu Hati. Penuntun hati."
Pandan Wangi tersenyum. "Nama yang indah. Pandu Hati. Kelak ia akan menjadi penuntun hati, seperti ayahnya."
"Seperti ibunya juga," kata Sultan Hasan.
Mereka berdua tersenyum.
Keesokan paginya, adipati — ayah Pandan Wangi — datang ke pondok.
Ia membawa hadiah: kain-kain indah, perhiasan emas, mainan anak-anak, dan makanan-makanan enak. Sultan Hasan menerimanya dengan hormat.
"Aku dengar kau punya anak laki-laki," kata adipati itu.
"Iya, Ayah. Namanya Pandu Hati."
"Pandu Hati. Nama yang bagus. Boleh aku melihatnya?"
"Silakan, Ayah."
Adipati itu masuk ke pondok. Ia melihat Pandan Wangi sedang menyusui bayinya. Ia terharu. Air matanya mengalir.
"Anakku," bisiknya. "Kau sudah menjadi ibu."
"Iya, Ayah. Aku sudah menjadi ibu."
"Boleh aku menggendongnya?"
Pandan Wangi menyerahkan bayinya. Adipati itu menggendong Pandu Hati dengan hati-hati. Bayi itu tidak menangis. Ia hanya memandang kakeknya dengan mata hitam pekat.
"Dia mirip kau, Sultan Hasan," kata adipati itu. "Matanya. Tatapannya. Sudah tua sejak kecil."
"Ya, Ayah. Banyak yang bilang begitu."
"Jagalah ia baik-baik. Ia akan menjadi penjaga hati berikutnya."
"Kami akan menjaganya, Ayah."
Tujuh hari setelah kelahiran Pandu Hati, Sultan Hasan mengadakan selamatan kecil.
Ia mengundang beberapa tetangga terdekat, Jaya, dukun beranak, dan kakek buta serta istrinya. Mereka makan bersama, doa bersama, bercerita bersama.
Mereka memotong seekor kambing yang diberikan adipati. Dagingnya dimasak gulai, sate, dan sup. Tidak mewah. Tapi cukup.
"Selamat ya, Sultan Hasan," kata Jaya sambil menepuk pundak sahabatnya. "Kau sekarang sudah menjadi ayah."
"Terima kasih, Jaya. Kapan kau menyusul?"
Jaya menggeleng. "Aku tidak akan menikah. Aku sudah memutuskan untuk hidup membujang. Menjadi petapa. Mengabdi pada alam."
"Kenapa?"
"Aku sudah terlalu banyak melakukan kesalahan. Aku sudah menjadi kepala desa yang buruk. Aku sudah korupsi. Aku sudah memiliki wanita simpanan. Aku tidak pantas menikah dan memiliki anak."
"Setiap orang pantas mendapat kesempatan kedua, Jaya. Aku sudah memaafkanmu. Tuhan juga pasti sudah memaafkanmu."
"Tapi aku belum memaafkan diriku sendiri."
Sultan Hasan tidak bisa membantah. Ia hanya memeluk Jaya.
Malam harinya, setelah semua tamu pulang, Sultan Hasan duduk di tepi telaga.
Ia menggendong Pandu Hati. Bayinya tidur nyenyak. Sesekali ia tersenyum dalam tidurnya.
"Pandu," bisik Sultan Hasan. "Kau anak istimewa. Kau lahir di malam purnama, tidak seperti ayahmu yang lahir di malam gerhana. Kau tidak akan dikucilkan seperti ayahmu. Kau akan tumbuh dalam cinta. Dalam kasih sayang. Dalam kedamaian."
Ia memandang batu akik merah di dadanya. Batu itu berdenyut. Hangat.
"Dia akan menjadi penjaga hati yang hebat," bisik batu itu. "Aku bisa merasakannya."
"Aku akan mengajarinya segalanya. Tentang telaga. Tentang pusaka. Tentang syair. Tentang cinta. Tentang menjadi penjaga hati."
"Kau akan menjadi ayah yang baik, Sultan Hasan."
"Aku akan berusaha."
Pandan Wangi keluar dari pondok. Ia duduk di samping Sultan Hasan.
"Kau bicara pada batu itu lagi?" tanyanya.
"Iya. Ia bilang Pandu akan menjadi penjaga hati yang hebat."
"Aku juga percaya itu."
Mereka berdua diam. Menikmati malam. Menikmati kebersamaan. Menikmati kehadiran anak pertama mereka.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap mereka. Matanya bundar dan kuning. Ia tidak berbunyi. Hanya menatap.
Seolah setuju. Seolah merestui. Seolah menyambut penjaga hati baru yang akan melanjutkan perjuangan mereka.
Selamanya.
BAB LXIV
Inisiasi Bayi: Sultan Hasan Membacakan Syair Penjaga Hati di Atas Kepala Bayinya
Tujuh belas hari telah berlalu sejak kelahiran Pandu Hati. Bayi itu tumbuh sehat. Berat badannya bertambah. Tangisnya keras. Senyumnya menggemaskan. Pandan Wangi sibuk menyusui dan merawatnya. Sultan Hasan sibuk di ladang dan menulis syair tentang anaknya.
Tapi ada satu ritual yang belum dilakukan. Ritual inisiasi. Ritual di mana Sultan Hasan akan membacakan syair penjaga hati di atas kepala bayinya. Syair yang dulu diajarkan Nini Mas Intan, yang kemudian diajarkan Pandan Wangi, yang kemudian diajarkan Ki Ageng Jagaraga, Kyai Buyut Cakar Mase, dan Kiai Pati. Syair yang menjadi fondasi bagi setiap penjaga hati.
"Kapan kau akan melakukannya?" tanya Pandan Wangi.
"Malam ini," kata Sultan Hasan. "Bulan purnama. Telaga jernih. Alam sedang baik. Ini saat yang tepat."
"Apakah Pandu sudah siap?"
"Dia baru berusia tujuh belas hari. Tapi tidak masalah. Nini Mas Intan membacakan syair itu untukku saat aku baru berusia beberapa jam. Pandu lebih dari siap."
Pandan Wangi tersenyum. "Baiklah. Aku akan menyiapkan segalanya."
Malam itu, bulan purnama bersinar terang. Telaga larangan tenang, airnya jernih, memantulkan cahaya bulan. Batu hitam tempat Sultan Hasan dan Pandan Wangi biasa duduk, kini telah dibersihkan dan dialasi kain putih.
Sultan Hasan duduk di batu hitam itu. Pandan Wangi duduk di sampingnya, menggendong Pandu Hati. Bayi itu terjaga. Matanya hitam pekat terbuka lebar, memandang bulan, memandang telaga, memandang orangtuanya.
"Apakah kau siap?" tanya Sultan Hasan pada istrinya.
"Aku siap."
"Apakah kau siap, Nak?" tanya Sultan Hasan pada bayinya.
Pandu Hati tidak menjawab. Ia hanya tersenyum. Senyum tanpa gigi. Tapi senyum yang membuat hati Sultan Hasan meleleh.
"Baiklah. Kita mulai."
Sultan Hasan mengambil batu akik merah dari dadanya. Batu itu berdenyut. Kencang. Hangat. Cahaya merahnya memancar, menerangi wajah Pandu Hati.
Pandan Wangi membuka baju bayinya. Ia mendekatkan Pandu Hati pada Sultan Hasan. Sultan Hasan meletakkan batu akik merah itu di dada anaknya, tepat di atas jantung.
Pandu Hati tidak menangis. Ia hanya memandang batu itu dengan mata penuh rasa ingin tahu. Tangannya yang mungil meraih batu itu, memegangnya, seolah ingin memiliki.
"Belum, Nak," kata Sultan Hasan sambil tersenyum. "Nanti, ketika kau sudah besar. Sekarang, ayah akan membacakan syair untukmu."
Ia memejamkan mata. Ia mengambil napas panjang.
Dan ia mulai membaca.
"Hati yang tidak dijaga akan diambil angin.
Hati yang dijaga terlalu keras akan retak oleh tangannya sendiri."
Suaranya lirih, lembut, tapi menggetarkan. Air telaga beriak. Tanaman air bergoyang. Ikan-ikan kecil berenang ke permukaan, seolah ikut mendengarkan.
Pandan Wangi menangis. Ia ingat saat Sultan Hasan membacakan syair yang sama untuknya, dulu, saat mereka masih kecil. Saat ia belum mengerti arti cinta. Saat ia hanya merasakan kehangatan di dadanya setiap kali mendengar suara Sultan Hasan.
Pandu Hati diam. Matanya tidak berkedip. Ia memandang ayahnya dengan serius. Seolah mengerti setiap kata yang diucapkan.
"Penjaga hati bukanlah orang yang tak pernah terluka,
Tapi orang yang lukanya tidak membuatnya lupa mencintai.
Penjaga hati bukanlah orang yang tak pernah menangis,
Tapi orang yang air matanya menyiram benih-benih yang layu."
Sultan Hasan melanjutkan. Syair itu panjang. Puluhan baris. Ratusan suku kata. Tapi ia hafal di luar kepala. Setiap kata. Setiap irama. Setiap makna.
Ia membaca tentang telaga. Tentang pusaka. Tentang cinta. Tentang kesetiaan. Tentang perjuangan. Tentang pengorbanan. Tentang harap.
Ia membaca untuk Pandu Hati. Untuk anaknya. Untuk penjaga hati berikutnya.
"Dan pada akhirnya, setelah badai berlalu,
Setelah gelap berganti terang,
Setelah perih menjadi tawa,
Kita akan sadar bahwa cinta sejati tidak pernah mati.
Ia hanya berubah bentuk.
Seperti air yang menguap menjadi awan,
Lalu turun menjadi hujan,
Lalu mengalir kembali ke telaga.
Abadi.
Selamanya."
Sultan Hasan selesai membaca.
Ia membuka mata. Air matanya mengalir.
Pandu Hati masih memandangnya. Tapi kini, di mata bayi itu, ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Sesuatu yang hanya bisa dirasakan.
Pandan Wangi menangis. Sultan Hasan memeluknya.
"Kita sudah melakukan tugas kita," bisik Sultan Hasan. "Sekarang, tugas Pandu Hati yang akan memulai."
"Tugas apa?" tanya Pandan Wangi.
"Menjaga hati. Hatinya sendiri. Hati orang yang dicintainya. Hati dari generasi yang akan datang setelah ia mati."
"Seperti kau dulu?"
"Seperti aku dulu. Seperti Nini Mas Intan dulu. Seperti semua penjaga hati sebelum kita."
Mereka berdua diam. Menikmati malam. Menikmati kebersamaan. Menikmati kehadiran anak pertama mereka.
Keesokan paginya, Sultan Hasan bangun lebih awal. Pandan Wangi masih tidur dengan Pandu Hati di sampingnya.
Ia pergi ke telaga. Airnya jernih. Dasarnya terlihat. Tanaman air bergoyang-goyang.
Ia berlutut di tepi telaga. Ia berdoa.
"Ya Allah, terima kasih untuk istriku. Terima kasih untuk anakku. Terima kasih untuk telaga ini. Terima kasih untuk pusaka ini. Terima kasih untuk semua ujian yang telah Kau berikan. Tanpa ujian itu, aku tidak akan menjadi penjaga hati yang baik."
Ia membasuh muka dengan air telaga. Dingin. Menyegarkan.
Ia memandang bayangannya di air. Wajahnya tidak muda lagi. Garis-garis di keningnya semakin dalam. Rambutnya mulai beruban di pelipis.
Tapi ia tidak menyesal. Ia telah menjalani hidup dengan baik. Ia telah menjaga hati. Ia telah mencintai dengan tulus. Ia telah menjadi penjaga hati.
Dan sekarang, ia akan mewariskan semua itu pada Pandu Hati. Anaknya. Penerusnya.
"Pandu," bisiknya. "Kau akan menjadi penjaga hati yang hebat. Aku akan membimbingmu. Aku akan mengajarimu. Aku akan mencintaimu. Sampai mati. Sampai setelah mati. Selamanya."
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatapnya. Matanya bundar dan kuning. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu terbang. Meninggalkan suara yang nyaring.
Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti sambutan untuk penjaga hati baru.
Selamanya.
BAB LXV
Tanda di Telapak Tangan Pandu Hati: Ada Tanda Lahir Berbentuk Daun – Sama seperti Tanda di Pusaka
Pandu Hati berusia empat puluh hari ketika Sultan Hasan menemukan tanda di telapak tangannya.
Peristiwa itu terjadi secara tidak sengaja. Pandan Wangi sedang memandikan bayi itu di pancuran belakang pondok, menggunakan air dari telaga yang hangat oleh sinar matahari pagi. Sultan Hasan duduk di sampingnya, memperhatikan, kadang membantu mengusap-usap punggung bayi yang mungil itu dengan kain lembut.
"Pandan," kata Sultan Hasan tiba-tiba.
"Ya?"
"Lihat ini."
Ia meraih tangan kanan Pandu Hati. Bayi itu meronta sebentar, lalu diam. Sultan Hasan membuka telapak tangan anaknya. Di tengah telapak tangan yang mungil, merah muda, dan lembut itu, ada sebuah tanda. Kecil. Bulat. Berwarna merah tua. Bentuknya seperti daun. Mungkin daun beringin. Atau daun pandan. Sulit dipastikan.
"Sejak kapan ini ada?" tanya Pandan Wangi.
"Aku tidak tahu. Mungkin sejak lahir. Tapi baru sekarang kita lihat."
Pandan Wangi memegang tangan bayinya. Ia mengamati tanda itu dengan saksama.
"Ini aneh," katanya. "Tanda lahir biasanya berwarna coklat atau kehitaman. Tapi ini merah. Seperti merahnya batu akikmu."
Sultan Hasan memegang batu akik merah di dadanya. Batu itu berdenyut. Kencang. Hangat.
"Dia terpilih," bisik batu itu. "Seperti kau dulu."
"Terpilih untuk apa?" tanya Sultan Hasan.
"Untuk menjadi penjaga hati. Tanda di telapak tangannya adalah bukti. Sama seperti tanda di keningmu."
Sultan Hasan terdiam.
Ia ingat saat tanda di keningnya muncul. Ia baru berusia delapan tahun saat itu. Ki Ageng Jagaraga dan Kiai Jabal Nur mengatakan bahwa tanda itu adalah tanda penjaga. Tanda bahwa ia dipilih untuk menjalankan tugas yang berat. Tanda bahwa ia tidak boleh menyerah.
Sekarang, anaknya memiliki tanda yang mirip. Bukan di kening. Tapi di telapak tangan. Bentuknya daun, bukan bulat seperti tanda Sultan Hasan. Tapi warnanya sama. Merah. Seperti darah. Seperti batu akik.
"Apakah ini berarti Pandu Hati akan menjadi penjaga hati seperti kau?" tanya Pandan Wangi.
"Sepertinya begitu."
"Aku tidak rela. Aku tidak ingin anakku menderita seperti kau dulu."
"Dia tidak akan menderita, Pandan. Aku akan melindunginya. Aku akan mengajarinya. Aku akan membimbingnya. Aku tidak akan membiarkan siap pun menyakitinya."
"Kau tidak bisa melindunginya selamanya, Sultan Hasan. Suatu hari, kau akan tua. Suatu hari, kau akan mati. Pandu Hati harus berjuang sendiri."
"Tidak sendiri. Ia punya pusaka. Ia punya telaga. Ia punya kita. Dan ia punya generasi-generasi sebelumnya yang akan selalu menjaganya dari alam lain."
Pandan Wangi menangis. Sultan Hasan memeluknya.
"Jangan khawatir, istriku. Pandu Hati akan baik-baik saja. Aku yakin."
Kabar tentang tanda di telapak tangan Pandu Hati menyebar dengan cepat.
Jaya datang ke pondok. "Aku dengar anakmu punya tanda aneh," katanya. "Boleh aku lihat?"
Sultan Hasan menunjukkan telapak tangan Pandu Hati. Jaya mengamatinya dengan saksama.
"Ini persis seperti tanda di pusakamu, Hasan. Warna merahnya. Bentuknya daun. Aneh."
"Aku juga berpikir begitu."
"Apakah ini pertanda bahwa Pandu Hati akan menjadi penjaga hati seperti kau?"
"Sepertinya begitu. Tapi aku tidak bisa memaksanya. Biarkan ia memilih jalannya sendiri ketika ia dewasa."
Jaya mengangguk. "Kau bijak, Hasan. Tidak seperti kebanyakan orang tua yang memaksakan cita-citanya pada anak."
"Aku hanya tidak ingin anakku menderita seperti aku dulu. Jika ia memilih menjadi petani, aku akan mendukungnya. Jika ia memilih menjadi pedagang, aku akan mendukungnya. Jika ia memilih menjadi pujangga, aku akan mendukungnya. Tapi jika ia memilih menjadi penjaga hati... aku akan membimbingnya."
Adipati , ayah Pandan Wangi , juga datang. Ia membawa seorang tabib istana untuk memeriksa tanda di telapak tangan cucunya.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Paduka," kata tabib itu. "Tanda lahir seperti ini umum terjadi pada bayi. Tidak berbahaya. Tidak sakit. Tidak mengganggu pertumbuhan."
"Tapi warnanya merah seperti darah," kata adipati itu.
"Itu karena pembuluh darah kapiler di bawah kulit. Normal."
Adipati itu lega. "Jadi tidak ada hubungannya dengan pusaka atau penjaga hati?"
"Tidak ada hubungan medis, Paduka. Tapi untuk hubungan spiritual, saya tidak bisa berkomentar."
Adipati itu memandang Sultan Hasan. "Kau percaya ini tanda penjaga?"
"Aku percaya, Ayah. Tapi aku tidak akan memaksakan Pandu Hati menjadi apa pun. Biarkan ia memilih."
Adipati itu menghela napas. "Kau memang aneh, Sultan Hasan. Tapi aku percaya padamu."
Malam harinya, Sultan Hasan pergi ke telaga sendirian.
Pandu Hati tidur di pangkuan Pandan Wangi di dalam pondok. Sultan Hasan duduk di batu hitam, memandang air telaga yang jernih, memandang bulan sabit tipis di langit.
"Ibu," bisiknya. Nini Mas Intan. Mak Umi. Dewi Rengganis. Semua ibu yang pernah ia kenal.
"Aku sudah menjadi ayah. Anakku laki-laki. Namanya Pandu Hati. Ia punya tanda di telapak tangannya. Tanda yang mirip dengan tanda di pusaka."
Ia memegang batu akik merah di dadanya.
"Apakah ini pertanda bahwa ia akan menjadi penjaga hati? Apakah ia akan mengalami penderitaan seperti aku dulu? Apakah ia akan dikucilkan? Dibenci? Dianiaya? Hampir dibunuh?"
Batu itu berdenyut. Hangat. Pelan.
"Tidak," bisik batu itu. "Zaman sudah berubah. Orang-orang sudah lebih mengerti. Ia tidak akan mengalami penderitaan seperti kau. Tapi ia akan menghadapi tantangan yang berbeda. Tantangan zaman. Tantangan teknologi. Tantangan kesibukan. Tantangan melupakan hati."
"Apa yang harus aku ajarkan padanya?"
"Ajari ia mencintai. Ajari ia menyayangi. Ajari ia berempati. Ajari ia bahwa hidup tidak hanya tentang sukses dan kaya. Tapi tentang kebahagiaan. Tentang ketenangan. Tentang menjadi manusia yang baik."
Sultan Hasan menangis. "Aku akan mengajarinya semua itu."
Ia berdiri. Ia berjalan pulang.
Di pondok, Pandan Wangi sedang menyusui Pandu Hati. Bayi itu diam. Tenang. Matanya terpejam.
"Mimpi apa kau, Nak?" bisik Pandan Wangi. "Mimpi indah? Mimpi tentang telaga? Mimpi tentang ayahmu? Mimpi tentang masa depan?"
Pandu Hati tersenyum dalam tidurnya.
Pandan Wangi tersenyum. Sultan Hasan tersenyum.
Mereka berdua bahagia.
Di luar pondok, burung hantu berbunyi. Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti sambutan untuk penjaga hati baru.
Selamanya.
BAB LXVI
Masa Kecil Pandu Hati: Pandu Hati Tumbuh Cerdas tetapi Keras Kepala – Ia Tidak Suka Tradisi
Pandu Hati tumbuh menjadi anak yang cerdas. Sangat cerdas. Bahkan melebihi kecerdasan ayahnya di usia yang sama.
Pada usia satu tahun, ia sudah bisa berjalan. Pada usia dua tahun, ia sudah bisa berbicara dengan kalimat lengkap. Pada usia tiga tahun, ia sudah bisa membaca aksara Jawa dan Latin. Pada usia empat tahun, ia sudah hafal Al-Qur'an tiga juz. Pada usia lima tahun, ia sudah bisa menulis syair sederhana.
Sultan Hasan bangga. Pandan Wangi juga bangga. Seluruh desa Dukuh Wangi bangga.
"Anak ini jenius," kata para tetangga. "Pasti karena didikan Sultan Hasan."
"Atau karena keturunan bangsawan dari ibunya," kata yang lain.
"Atau karena berkah telaga," kata yang lain lagi.
Tapi Pandu Hati tidak peduli dengan pujian. Ia tidak peduli dengan popularitas. Ia hanya peduli pada buku. Pada tulisan. Pada ilmu pengetahuan.
Ia menghabiskan sebagian besar waktunya di perpustakaan kecil milik ayahnya , kumpulan daun lontar dan kitab-kitab yang dikumpulkan Sultan Hasan selama bertahun-tahun. Ia membaca semua yang bisa ia baca. Sejarah. Filsafat. Agama. Sastra. Ilmu alam. Ia tidak pernah bosan.
"Kau harus bermain dengan teman-temanmu, Nak," kata Pandan Wangi suatu hari.
"Aku tidak punya teman, Ibu. Mereka semua bodoh. Mereka hanya suka bermain kejar-kejaran dan bergulat di lumpur. Aku lebih suka membaca."
"Kau tidak boleh sombong, Nak. Orang bodoh pun punya kelebihan. Orang bodoh pun bisa mengajarkan hal-hal yang tidak kau ketahui."
"Apa yang bisa mereka ajarkan padaku? Cara menangkap belalang? Cara memanjat pohon kelapa? Aku sudah bisa semua itu."
Pandan Wangi menghela napas. Ia tidak bisa melawan. Anak ini keras kepala. Sangat keras kepala. Seperti ayahnya dulu.
Ketika Pandu Hati berusia tujuh tahun, Sultan Hasan mulai mengajarinya tentang tradisi. Tentang telaga. Tentang pusaka. Tentang syair penjaga hati. Tentang Nini Mas Intan. Tentang Ki Ageng Jagaraga. Tentang Kiai Pati. Tentang Kyai Buyut Cakar Mase.
Pandu Hati mendengarkan. Tapi matanya kosong. Tidak antusias.
"Ayah," katanya setelah Sultan Hasan selesai bercerita. "Aku tidak percaya cerita-cerita itu."
"Cerita apa yang tidak kau percaya?"
"Cerita tentang telaga yang dijaga penunggu. Cerita tentang pusaka yang bisa bicara. Cerita tentang Nini Mas Intan yang bisa muncul dalam mimpi. Itu semua dongeng. Tidak ilmiah."
Sultan Hasan terkejut. "Kau tidak percaya pada hal-hal gaib?"
"Aku percaya pada hal yang bisa dibuktikan. Bukan pada mitos dan legenda."
"Tapi kau sendiri punya tanda di telapak tanganmu. Tanda yang sama dengan tanda di pusaka. Bukankah itu bukti?"
"Itu hanya kebetulan biologi. Tabib istana sudah menjelaskannya. Tanda lahir karena pembuluh darah kapiler di bawah kulit."
Sultan Hasan terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Anaknya terlalu rasional. Terlalu ilmiah. Terlalu modern. Tidak seperti dirinya dulu yang tumbuh dalam kesederhanaan dan kearifan lokal.
"Pandu," kata Sultan Hasan pelan. "Ayah tidak memaksamu percaya. Tapi ayah ingin kau membuka hati. Dunia tidak hanya berisi hal-hal yang bisa dijelaskan oleh sains. Ada misteri. Ada keajaiban. Ada hal-hal yang tidak bisa diukur dengan angka."
"Ayah, aku mencintai ayah. Tapi aku tidak bisa menerima sesuatu hanya karena ayah mengatakannya. Aku butuh bukti."
"Baiklah. Suatu hari, ayah akan menunjukkan buktinya."
Sultan Hasan membawa Pandu Hati ke telaga.
Telaga itu masih sama. Airnya jernih. Dasarnya terlihat. Tanaman air bergoyang-goyang. Batu hitam tempat Sultan Hasan dan Pandan Wangi biasa duduk, masih ada.
"Apa yang istimewa dari telaga ini?" tanya Pandu Hati. "Airnya biasa. Batunya biasa. Ikan-ikannya biasa."
"Telaga ini tidak pernah kering, Nak. Bahkan di musim kemarau paling panjang sekalipun. Itu keajaiban."
"Itu karena ada mata air di bawahnya. Geologis. Bukan keajaiban."
Sultan Hasan menghela napas. "Kau sulit sekali diajak bicara."
"Aku hanya logis, Ayah."
Sultan Hasan mengambil batu akik merah dari dadanya. Batu itu berdenyut. Hangat.
"Anakmu keras kepala," bisik batu itu.
"Aku tahu," bisik Sultan Hasan balik.
"Tapi itu bukan hal yang buruk. Orang yang keras kepala lebih teguh pendirian. Lebih sulit diombang-ambingkan oleh arus."
"Aku tidak ingin ia keras kepala terhadap tradisi. Aku ingin ia menghormati leluhur."
"Beri ia waktu. Ia masih muda. Suatu hari, ia akan mengerti."
Pandu Hati berusia sepuluh tahun ketika konflik antara dirinya dan ayahnya mencapai puncak.
Ia menolak untuk belajar silat. "Aku tidak butuh silat, Ayah. Aku butuh pendidikan formal. Aku ingin sekolah di kota. Aku ingin belajar sains. Aku ingin menjadi ilmuwan."
"Silat penting, Nak. Untuk melindungi diri. Untuk melindungi orang lain."
"Ayah bisa melindungi diriku. Aku tidak perlu melindungi diriku sendiri."
"Ayah tidak akan selalu ada. Suatu hari, ayah akan tua. Suatu hari, ayah akan mati. Kau harus bisa melindungi dirimu sendiri."
"Kalau ayah mati, aku akan pindah ke kota. Aku akan tinggal di asrama. Aku akan fokus belajar. Aku tidak butuh silat."
Sultan Hasan marah. Untuk pertama kalinya, ia membentak anaknya.
"PANDA HATI! KAU ANAK KURANG AJAR!"
Pandu Hati tidak takut. Ia hanya diam. Memandang ayahnya dengan mata dingin.
"Ayah, aku menghormati ayah. Tapi aku tidak bisa menjadi seperti ayah. Aku punya jalanku sendiri."
Sultan Hasan terdiam.
Ia ingat kata-katanya sendiri dulu. Saat ia masih muda. Saat ia menolak mengikuti tradisi. Saat ia memilih merantau. Saat ia memilih menjadi pujangga, bukan penjaga hati.
Sekarang, anaknya melakukan hal yang sama.
Ia tersenyum pahit.
"Baiklah, Nak," katanya. "Ayah tidak akan memaksamu. Ayah akan mendukung apa pun yang kau pilih."
"Terima kasih, Ayah."
Mereka berdua berpelukan.
Malam harinya, Sultan Hasan duduk di tepi telaga sendirian.
Ia memandang air yang jernih. Ia memandang bulan yang bersinar.
"Pandan," bisiknya. "Aku gagal."
Pandan Wangi keluar dari pondok. Ia duduk di samping suaminya.
"Kau tidak gagal. Pandu Hati hanya berbeda. Seperti kau berbeda dulu."
"Tapi aku ingin ia menjadi penjaga hati."
"Dia tetap penjaga hati, meskipun tidak mengikuti tradisi. Penjaga hati tidak harus duduk di tepi telaga dan menulis syair. Penjaga hati bisa menjadi ilmuwan yang menjaga hati umat manusia dengan pengetahuannya."
"Kau yakin?"
"Aku yakin. Pandu Hati cerdas. Ia akan menemukan jalannya sendiri. Tugas kita hanya mendukung."
Sultan Hasan menangis. Pandan Wangi memeluknya.
"Sudahlah, suamiku. Jangan bersedih. Anak kita baik. Ia tidak berandalan. Ia tidak berbuat jahat. Ia hanya berbeda."
"Iya. Kau benar."
Mereka berdua diam. Menikmati malam. Menikmati kebersamaan.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap mereka. Matanya bundar dan kuning. Ia tidak berbunyi. Hanya menatap.
Seolah setuju. Seolah merestui. Seolah tahu bahwa Pandu Hati, meskipun keras kepala dan tidak suka tradisi, suatu hari akan menjadi penjaga hati yang hebat.
Dengan caranya sendiri.
Selamanya.
BAB LXVII
Konflik Ayah-Anak: Sultan Hasan dan Pandu Hati Sering Bertengkar – Pandan Wangi Menjadi Penengah
Tiga tahun berlalu sejak Pandu Hati menyatakan pendiriannya bahwa ia tidak percaya pada hal-hal gaib dan tidak ingin menjadi penjaga hati seperti ayahnya. Tiga tahun yang penuh dengan ketegangan di pondok kecil tepi telaga itu.
Sultan Hasan tidak pernah benar-benar menerima kenyataan bahwa anaknya menolak tradisi keluarga. Setiap hari, ia mencoba membujuk Pandu Hati untuk belajar silat. Setiap hari, ia mencoba mengajak Pandu Hati ke telaga untuk bermeditasi. Setiap hari, ia mencoba membacakan syair-syair lama, berharap anaknya terinspirasi.
Tapi Pandu Hati selalu menolak.
"Ayah, sudah kubilang berkali-kali. Aku tidak percaya pada hal-hal gaib. Aku tidak butuh silat. Aku butuh pendidikan modern."
"Silat adalah pendidikan modern, Nak. Tubuh yang sehat, pikiran yang kuat."
"Silat hanya cocok untuk orang yang hidup di hutan atau di desa terpencil. Aku ingin hidup di kota. Aku ingin menjadi ilmuwan. Aku tidak butuh silat."
Sultan Hasan menarik napas panjang. Ia berusaha sabar. Tapi kadang, kesabarannya habis.
"KAU ANAK KURANG AJAR!" bentaknya suatu hari. "APA KAU TIDAK MENGHORMATI AYAH?"
"Tentu aku menghormati Ayah. Tapi aku tidak harus setuju dengan semua yang Ayah katakan."
"SETUJU? INI BUKAN SOAL SETUJU ATAU TIDAK. INI SOAL TRADISI KELUARGA. INI SOAL WARISAN LELUHUR!"
"TRADISI KELUARGA?" Pandu Hati juga mulai meninggikan suara. "TRADISI KELUARGA YANG MANA? YANG MEMBUAT AYAH DIKUCILKAN? YANG MEMBUAT AYAH DILEMPARI KERIKIL? YANG MEMBUAT AYAH DIUSIR? YANG MEMBUAT AYAH HAMPIR DIJADIKAN SESAJI?"
Sultan Hasan terdiam.
Pandu Hati menangis. "Ayah, aku tidak ingin mengalami apa yang Ayah alami. Aku tidak ingin dikucilkan. Aku tidak ingin dibenci. Aku hanya ingin hidup normal."
Sultan Hasan memeluk anaknya. Ia juga menangis.
"Maafkan Ayah, Nak. Ayah terlalu memaksakan kehendak. Ayah lupa bahwa kau berbeda. Kau hidup di zaman yang berbeda. Kau tidak harus menjadi seperti Ayah."
"Aku sayang Ayah, Ayah. Tapi aku tidak bisa menjadi penjaga hati."
"Ayah mengerti."
Mereka berdua berpelukan lama.
Pandan Wangi yang mendengar pertengkaran itu dari dapur, hanya bisa menghela napas.
Ia sudah sering menjadi penengah antara suami dan anaknya. Ia sudah sering berusaha menenangkan keduanya. Tapi pertengkaran selalu saja muncul, seperti api yang tidak pernah benar-benar padam.
Ia berjalan mendekati suami dan anaknya.
"Sudah," katanya. "Jangan bertengkar lagi. Kalian berdua sayang satu sama lain. Itu yang penting."
"Aku sayang Ayah, Bu. Tapi Ayah tidak pernah mengerti keinginanku."
"Aku sayang Pandu, Bu. Tapi ia tidak pernah menghormati tradisi keluarga."
"Sudah," kata Pandan Wangi lagi. "Kita bicara baik-baik. Makan malam dulu. Aku sudah memasak sayur asem dan ikan bakar."
Sultan Hasan dan Pandu Hati saling memandang.
"Maafkan Ayah, Nak."
"Maafkan aku juga, Ayah."
Mereka berdua berpelukan lagi.
Makan malam berlangsung dalam suasana tegang, tapi tidak memanas.
Pandan Wangi duduk di antara suami dan anaknya. Seperti penengah profesional, ia mengalihkan topik pembicaraan ke hal-hal yang netral. Tentang cuaca. Tentang panen. Tentang tetangga. Tentang berita-berita ringan.
"Ayah," kata Pandu Hati tiba-tiba. "Aku ingin bicara serius."
"Tentang apa, Nak?"
"Tentang masa depanku. Aku ingin pindah ke kota. Aku ingin tinggal di asrama. Aku ingin sekolah di sekolah menengah atas di ibu kota."
Sultan Hasan terkejut. "Kau baru berusia tiga belas tahun, Nak. Masih terlalu muda untuk hidup sendiri."
"Tidak muda, Ayah. Ayah sendiri merantau pada usia dua belas tahun. Ayah tidur di emperan toko, kelaparan, kedinginan. Aku akan tidur di asrama yang nyaman, makan tiga kali sehari, dan belajar dengan tenang. Jauh lebih baik dari masa kecil Ayah."
"Ayah tidak ingin kau mengalami penderitaan seperti Ayah. Ayah ingin kau dekat dengan Ayah."
"Ayah, aku harus mandiri. Aku harus belajar menghadapi dunia. Jika aku terus bergantung pada Ayah, aku tidak akan pernah tumbuh."
Pandan Wangi memandang suaminya. "Biarkan ia pergi, Sultan. Ia sudah besar. Ia tahu apa yang ia lakukan."
"Tapi, Pandan..."
"Kita dulu juga merantau. Kita dulu juga memisahkan diri dari orang tua. Sekarang, giliran anak kita yang melakukannya."
Sultan Hasan terdiam. Ia tidak bisa membantah.
"Baiklah," katanya akhirnya. "Ayah izinkan. Tapi hati-hati, Nak. Dunia luar tidak seindah yang kau bayangkan. Banyak orang jahat di luar sana."
"Aku tahu, Ayah. Aku akan hati-hati."
Tiga hari kemudian, Pandu Hati berangkat ke ibu kota.
Ia naik kereta kuda yang disewa Sultan Hasan dari desa sebelah. Tidak banyak barang yang ia bawa. Hanya satu buntalan kecil berisi pakaian, beberapa kitab, dan bekal makanan dari Pandan Wangi.
Sultan Hasan memeluk anaknya erat-erat. "Jagalah dirimu, Nak. Jangan lupa menulis surat. Jangan lupa berdoa."
"Aku tidak percaya doa, Ayah."
"Lakukan untuk ayah. Ayah percaya doa."
Pandu Hati tersenyum. "Baiklah. Aku akan berdoa untuk ayah."
Pandan Wangi memeluk anaknya. "Ibu akan merindukanmu."
"Aku juga akan merindukan Ibu. Dan ayah. Dan telaga. Dan burung hantu."
"Burung hantu masih sering datang. Setiap malam. Ia bertengger di dahan pohon asam, menatap pondok kita. Seolah menunggumu kembali."
"Aku akan kembali, Ibu. Saat liburan sekolah."
"Janji?"
"Janji."
Kereta kuda itu berangkat. Pandu Hati melambaikan tangan. Sultan Hasan dan Pandan Wangi melambaikan tangan balik.
Air mata mereka mengalir.
Malam harinya, Sultan Hasan duduk di tepi telaga sendirian.
Ia memandang air yang jernih. Ia memandang bulan yang bersinar.
"Pandan Wangi," bisiknya.
"Ya?" Pandan Wangi muncul dari balik pondok.
"Duduklah di sini. Temani aku."
Pandan Wangi duduk di samping suaminya.
"Aku sedih, Pandan. Anak kita pergi. Rumah ini terasa kosong."
"Aku juga sedih. Tapi ini pilihannya. Kita harus menghormatinya."
"Aku tahu. Tapi rasanya seperti kehilangan bagian dari diriku."
"Kau tidak kehilangan apa pun, Sultan. Pandu Hati tetap anakmu. Ia akan kembali. Ia akan menulis surat. Ia akan menelepon jika ada telepon di desa."
"Tidak ada telepon di desa."
"Ya. Tapi ada surat."
Sultan Hasan tersenyum. "Kau selalu bisa menghiburku, Pandan."
"Itu tugasku sebagai istri."
Mereka berdua diam. Menikmati malam. Menikmati kebersamaan. Merindukan anak mereka yang pergi.
Di dahan pohon asam, burung hantu menatap mereka. Matanya bundar dan kuning. Ia tidak berbunyi. Hanya menatap.
Seolah setuju. Seolah merestui. Seolah tahu bahwa Pandu Hati, meskipun pergi, tetap akan kembali. Suatu hari. Sebagai anak yang dewasa. Sebagai penjaga hati, dengan caranya sendiri.
Selamanya.
BAB LXVIII
Pandu Hati Lari dari Rumah: Pada Usia 15 Tahun, Pandu Hati Pergi Merantau ke Kota Besar
Dua tahun telah berlalu sejak Pandu Hati pergi ke ibu kota untuk bersekolah di sekolah menengah atas. Dua tahun yang penuh dengan kabar baik. Nilainya bagus. Ia disukai guru-gurunya. Ia juga punya banyak teman. Tidak ada masalah. Pandan Wangi lega. Sultan Hasan lega.
Tapi pada suatu pagi, ketika surat dari Pandu Hati datang, isinya bukan kabar baik.
Ayah, Ibu.
Aku tidak tahan lagi tinggal di asrama. Peraturan terlalu ketat. Guru-guru terlalu otoriter. Teman-teman terlalu munafik. Aku ingin keluar. Aku ingin hidup bebas. Aku ingin merantau, seperti ayah dulu.
Aku tidak akan kembali ke Dukuh Wangi. Setidaknya untuk sementara waktu. Aku akan pergi ke kota besar. Ke Bandar Cendana. Atau ke Kota Rajapura. Aku akan mencari pekerjaan. Aku akan belajar dari pengalaman. Aku akan menjadi dewasa.
Jangan cari aku. Aku baik-baik saja. Aku akan menulis surat jika sudah menetap.
Pandu Hati.
Sultan Hasan membacakan surat itu untuk Pandan Wangi. Tangannya gemetar. Suaranya bergetar.
"Dia... dia lari dari sekolah?" bisik Pandan Wangi.
"Sepertinya begitu."
"Dia tidak akan kembali?"
"Dia bilang tidak akan kembali untuk sementara waktu."
Pandan Wangi menangis. "Ini salahmu, Sultan! Kau terlalu memaksanya menjadi penjaga hati! Kau terlalu memaksanya mengikuti tradisi! Itu sebabnya ia lari!"
"Ini bukan salahku, Pandan. Ini pilihannya. Ia sudah besar. Ia bisa memutuskan sendiri."
"Jika kau tidak pernah memaksanya, ia mungkin akan betah di sini! Ia mungkin tidak akan pergi!"
"Kita tidak pernah tahu, Pandan. Mungkin ia tetap akan pergi. Mungkin ia memang punya jalan sendiri."
Mereka berdua bertengkar. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun menikah, mereka bertengkar hebat. Kata-kata pedas keluar dari mulut mereka. Air mata mengalir. Hati mereka terluka.
Tapi pada akhirnya, mereka berdua sadar bahwa bertengkar tidak akan mengubah apa pun. Pandu Hati sudah pergi. Mereka tidak bisa menghentikannya.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Pandan Wangi.
"Kita tunggu. Kita doakan. Kita percaya bahwa ia selamat."
"Kau masih percaya doa? Padahal Pandu Hati sendiri tidak percaya doa?"
"Aku percaya. Doa bukan untuk Pandu Hati. Doa untuk ketenangan hatiku."
Pandan Wangi memeluk suaminya. Mereka berdua menangis.
Hari-hari berlalu. Minggu-minggu berganti. Tidak ada kabar dari Pandu Hati.
Sultan Hasan gelisah. Setiap hari, ia pergi ke kantor pos di desa sebelah, bertanya apakah ada surat untuknya. Selama sebulan, tidak ada. Selama dua bulan, tidak ada. Selama tiga bulan, tidak ada.
"Apa dia lupa pada kita?" tanya Pandan Wangi.
"Mungkin ia sibuk. Mungkin ia belum menemukan tempat yang tetap. Mungkin ia malu karena sudah lari dari rumah."
"Atau mungkin... mungkin ia dalam bahaya."
Sultan Hasan tidak menjawab. Ia tidak mau berpikir negatif.
Suatu malam, Sultan Hasan bermimpi.
Dalam mimpinya, ia berdiri di tepi pantai. Ombak besar menghantam karang. Angin kencang bertiup. Langit gelap, dipenuhi awan hitam.
Di kejauhan, ia melihat seorang pemuda berdiri di atas tebing. Pemuda itu kurus. Rambutnya panjang, kusut. Pakaiannya compang-camping.
"PANDU HATI!" teriak Sultan Hasan.
Pemuda itu menoleh. Wajahnya muram. Matanya sayu.
"Ayah..." bisiknya. "Ayah... aku tersesat. Aku tidak tahu harus ke mana. Aku tidak punya uang. Aku tidak punya teman. Aku tidak punya siapa-siapa."
"Pulanglah, Nak! Ayah dan ibu menunggumu!"
"Aku tidak bisa pulang, Ayah. Aku malu. Aku sudah mengecewakan Ayah. Aku sudah mengecewakan Ibu. Aku tidak pantas kembali."
"Tidak ada yang tidak pantas, Nak. Ayah dan ibu selalu menerimamu. Apa pun yang terjadi."
Pemuda itu menangis. Sultan Hasan juga menangis.
Tapi sebelum Sultan Hasan bisa mendekat, tebing itu runtuh. Pemuda itu jatuh. Tenggelam dalam ombak.
"PANDU HATI!" teriak Sultan Hasan.
Ia terbangun.
Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Pandan Wangi terbangun karena teriakannya.
"Ada apa, Sultan? Kau mimpi buruk?"
"Aku mimpi tentang Pandu Hati. Ia jatuh dari tebing."
"Artinya?"
"Aku tidak tahu. Tapi aku harus mencarinya."
"Kau akan pergi?"
"Iya. Aku akan pergi ke kota. Mencari Pandu Hati. Membawanya pulang."
"Aku ikut."
"Tidak. Kau tunggu di sini. Jaga telaga. Jaga pondok. Jaga pusaka."
"Tapi..."
"Tidak ada tapi. Ini sudah keputusanku."
Keesokan paginya, Sultan Hasan berangkat.
Ia hanya membawa sedikit bekal: pakaian seadanya, bekal makanan, sebotol air, dan batu akik merah di dadanya. Tidak membawa uang banyak. Hanya secukupnya.
Pandan Wangi menangis di depan pondok. "Hati-hati, Sultan. Jangan lama-lama. Aku akan menunggumu."
"Aku akan kembali, Pandan. Dengan atau tanpa Pandu Hati. Aku janji."
Mereka berdua berpelukan. Sultan Hasan mencium kening Pandan Wangi.
"Jagalah diri mu."
"Jagalah dirimu juga."
Sultan Hasan berjalan. Meninggalkan Dukuh Wangi. Meninggalkan telaga. Meninggalkan Pandan Wangi.
Menuju kota besar. Mencari anaknya.
Di dahan pohon asam, burung hantu menatap kepergian Sultan Hasan.
Matanya bundar dan kuning. Ia tidak berbunyi. Hanya menatap.
Seolah tahu bahwa perjalanan ini tidak akan mudah. Bahwa Sultan Hasan akan menghadapi banyak rintangan. Bahwa ia mungkin tidak akan menemukan Pandu Hati dengan cepat.
Tapi ia juga tahu bahwa Sultan Hasan tidak akan menyerah. Karena ia adalah penjaga hati. Dan penjaga hati tidak pernah menyerah. Terutama dalam mencari anaknya.
Selamanya.
BAB LXIX
Sultan Hasan Patah Hati Lagi: Untuk Kesekian Kalinya, Kehilangan Orang yang Dicintai – Kali Ini Anak Kandungnya
Perjalanan Sultan Hasan mencari Pandu Hati membawanya ke berbagai kota. Dari Bandar Cendana ke Kota Rajapura, dari Kota Rajapura ke Kota Prapatan, dari Kota Prapatan ke pelabuhan-pelabuhan kecil di sepanjang pantai utara. Ia bertanya kepada setiap orang yang ia temui. Pernahkah mereka melihat seorang pemuda kurus, berusia sekitar lima belas tahun, rambut panjang kusut, pakaian compang-camping? Pernahkah mereka melihat anak laki-laki dengan mata cerdas tapi penuh luka?
Sebagian besar menggeleng. Tidak tahu. Tidak pernah melihat.
Tapi ada juga yang memberi petunjuk samar. "Aku pernah melihat pemuda seperti itu di daerah kumuh dekat pelabuhan. Ia mengamen. Menyanyi. Kadang mengemis. Tapi sudah beberapa bulan aku tidak melihatnya. Mungkin ia pindah."
Sultan Hasan pergi ke daerah kumuh itu. Ia mencari. Berhari-hari. Berminggu-minggu. Tidak menemukan.
Ia pergi ke pelabuhan. Bertanya pada kuli-kuli angkut. Pada nelayan. Pada pedagang. Tidak ada yang tahu.
Ia hampir putus asa. Tapi ia terus mencari. Karena Pandu Hati adalah anaknya. Darah dagingnya. Buah hatinya. Ia tidak bisa pulang tanpa membawa anaknya.
Suatu malam, di sebuah kota kecil di pesisir timur, Sultan Hasan bermimpi lagi.
Dalam mimpinya, ia berdiri di tepi sungai. Airnya keruh. Arusnya deras. Di seberang sungai, Pandu Hati berdiri, menatapnya.
"Nak!" teriak Sultan Hasan. "Aku di sini! Ayah datang menjemputmu!"
Pandu Hati tidak menjawab. Ia hanya menatap. Matanya kosong.
"Pandu Hati! Ikut ayah pulang! Ibu menunggumu!"
"Ayah," bisik Pandu Hati. Suaranya parau. Seperti orang yang sudah lama tidak bicara. "Ayah terlambat."
"Apa maksudmu? Ayah tidak terlambat! Ayah di sini! Ikut ayah!"
"Aku sudah mati, Ayah."
Sultan Hasan terkejut. "APA?"
"Aku sudah mati tiga bulan yang lalu. Aku tertabrak gerobak di pelabuhan. Aku tidak punya uang untuk berobat. Aku mati di emperan toko, sendirian, tanpa siapa pun."
"TIDAK! KAU BOHONG!"
"Ayah, lihatlah tubuhku. Aku tidak punya bayangan. Aku tidak punya kaki. Aku hanya hantu."
Sultan Hasan melihat ke bawah. Pandu Hati berdiri di atas air. Tidak ada bayangan. Kakinya tidak terlihat.
"TIDAK!" teriak Sultan Hasan.
Ia terbangun.
Ia duduk di emperan toko tempat ia bermalam. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Batu akik merah di dadanya berdenyut kencang. Sangat kencang. Hampir seperti mau meledak.
"Dia benar," bisik batu itu. "Pandu Hati sudah mati."
"TIDAK! JANGAN KATAKAN BEGITU!"
"Aku bisa merasakannya. Denyutnya sudah tidak ada. Aku tidak bisa terhubung dengannya lagi. Seperti dulu, saat ia masih kecil, saat kau meletakkan aku di dadanya."
"TIDAK! KAU BOHONG!"
Sultan Hasan berlari ke pelabuhan. Ia bertanya pada kuli-kuli angkut. Pada nelayan. Pada pedagang. Apakah ada pemuda mati tertabrak gerobak tiga bulan lalu?
Seorang kuli angkut tua mengangguk. "Aku ingat. Pemuda kurus. Rambut panjang. Pakaian compang-camping. Ia sedang menyeberang jalan, tidak lihat ke kanan-kiri. Gerobak besi lewat, menabraknya. Ia meninggal di tempat. Tidak ada yang mengakui sebagai keluarganya. Ia dimakamkan di kuburan umum."
"Di mana kuburan umum itu?"
"Di belakang pasar. Ikuti jalan setapak ke timur. Nanti kau lihat bukit kecil. Itu kuburan."
Sultan Hasan berlari ke kuburan umum.
Ia menemukan makam Pandu Hati di pojok bukit.
Tidak ada nisan. Tidak ada nama. Hanya gundukan tanah yang sudah ditumbuhi rumput ilalang. Sebuah bilah bambu ditancapkan di kepala makam, sebagai penanda.
Sultan Hasan berlutut di depan makam itu. Ia memeluk gundukan tanah.
"Pandu Hati... anakku... maafkan Ayah... maafkan Ayah karena tidak bisa melindungimu... maafkan Ayah karena tidak bisa menjagamu... maafkan Ayah karena terlalu memaksakan kehendak..."
Ia menangis. Menangis tersedu-sedu. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia menangis sekeras-kerasnya. Tidak peduli dilihat orang. Tidak peduli dianggap lemah.
"PANDU HATI! ANAKKU! PULANGLAH! AYAH MENUNGGUMU! IBU MENUNGGUMU! TELAGA MENUNGGUMU! PUSAKA MENUNGGUMU!"
Tapi tidak ada jawaban.
Hanya angin malam yang berembus pelan. Membawa wangi pandan dari kejauhan.
Sultan Hasan tidak ingat bagaimana ia bisa kembali ke Dukuh Wangi.
Ia hanya ingat berjalan. Berhari-hari. Tidak makan. Tidak minum. Tidak tidur. Hanya berjalan. Membawa mayat Pandu Hati yang sudah dikuburkan kembali di pemakaman umum? Tidak, ia tidak membawa apa pun. Hanya kesedihan. Hanya penyesalan. Hanya luka.
Ia tiba di pondoknya saat matahari hampir terbenam. Pandan Wangi sedang duduk di beranda, menenun. Ia terkejut melihat suaminya.
"Sultan! Kau kembali! Di mana Pandu Hati?"
Sultan Hasan tidak menjawab. Ia hanya diam. Air matanya mengalir.
"SULTAN! DI MANA PANDU HATI?"
Sultan Hasan jatuh berlutut di depan istrinya. Ia memeluk kaki Pandan Wangi.
"Pandan... maafkan aku... Pandu Hati... Pandu Hati sudah tiada..."
Pandan Wangi terdiam. Wajahnya pucat. Ia jatuh pingsan.
Pandan Wangi terbangun keesokan paginya.
Sultan Hasan masih duduk di sampingnya, menangis.
"Apa yang terjadi?" bisik Pandan Wangi.
"Pandu Hati mati tiga bulan yang lalu. Tertabrak gerobak di pelabuhan. Aku terlambat."
"Tidak... tidak mungkin..."
"Aku sudah ke kuburannya. Aku sudah melihat makamnya. Aku sudah bertanya pada saksi mata. Semua benar."
Pandan Wangi menangis. Sultan Hasan memeluknya.
Mereka berdua menangis. Sepanjang hari. Sepanjang malam. Sepanjang minggu.
Tidak ada yang bisa menghibur mereka. Tidak ada yang bisa mengobati luka mereka.
Kehilangan anak adalah kehilangan yang paling berat. Lebih berat dari kehilangan orang tua. Lebih berat dari kehilangan sahabat. Lebih berat dari kehilangan apa pun.
Karena anak adalah masa depan. Anak adalah harapan. Anak adalah bagian dari diri yang tidak bisa digantikan.
Dan kini, Pandu Hati telah pergi. Tidak akan pernah kembali.
Di dahan pohon asam di halaman pondok, burung hantu menatap Sultan Hasan dan Pandan Wangi yang sedang berduka.
Matanya bundar dan kuning. Ia tidak berbunyi. Hanya menatap.
Seolah ikut berduka. Seolah ikut kehilangan. Seolah ikut meratapi nasib penjaga hati yang harus kehilangan anaknya.
Tapi ia juga tahu bahwa kesedihan ini tidak akan bertahan selamanya. Bahwa suatu hari, Sultan Hasan dan Pandan Wangi akan bangkit. Bahwa mereka akan melanjutkan hidup. Bahwa mereka akan tetap menjaga telaga. Tetap menjaga pusaka. Tetap menjaga hati.
Meskipun hati mereka hancur.
Karena itulah tugas penjaga hati. Menjaga. Meskipun terluka. Meskipun patah. Meskipun hancur.
Selamanya.
BAB LXX
Kabar dari Pandu Hati: Pandu Hati Menjadi Anak Buah Saudagar Kaya dan Hidup Bermewah-mewahan
Tiga bulan setelah Sultan Hasan kembali dari pencariannya, tiga bulan setelah ia mengira anaknya sudah mati dan dimakamkan di kuburan umum, tiga bulan setelah ia dan Pandan Wangi berkabung, meratapi nasib, dan hampir kehilangan akal... sebuah surat datang.
Surat itu tidak dikirim melalui kantor pos. Tidak pula diantar oleh kurir. Surat itu tiba-tiba muncul di atas meja kayu di pondok mereka, tanpa ada yang tahu siapa yang meletakkannya. Pandan Wangi yang menemukannya pertama kali. Ia sedang menyapu halaman ketika ia masuk ke dalam pondok untuk mengambil air minum. Di atas meja, di samping tumpukan daun lontar milik Sultan Hasan, sebuah amplop putih bersih tergeletak. Tidak ada cap. Tidak ada perangko. Tidak ada alamat pengirim. Hanya nama penerima di bagian depan: Sultan Hasan & Pandan Wangi – Dukuh Wangi.
Pandan Wangi memegang amplop itu. Tangannya gemetar. Ia memanggil suaminya.
"Sultan... lihat ini."
Sultan Hasan yang sedang duduk di tepi telaga, bergegas masuk. Ia mengambil amplop itu, membukanya dengan hati-hati. Di dalamnya, selembar kertas berkualitas tinggi, berwarna krem, dengan bau parfum yang harum. Tulisan di atasnya rapi, indah, jelas ditulis oleh seseorang yang terdidik.
Ayah, Ibu.
Maafkan aku. Aku tidak bisa mengirim kabar selama ini. Aku tahu kalian pasti khawatir. Tapi aku baik-baik saja. Aku selamat.
Aku tidak jadi pergi ke Bandar Cendana atau Kota Rajapura. Aku pergi ke arah timur, ke kota pelabuhan. Aku bertemu dengan seorang saudagar kaya. Namanya Tuan Salim. Ia baik padaku. Ia memberiku pekerjaan. Aku menjadi kepercayaannya. Aku mengelola gudang, menghitung barang, berurusan dengan pedagang asing.
Sekarang aku hidup mewah. Aku punya rumah. Aku punya kuda. Aku punya pakaian indah. Aku punya uang banyak. Aku tidak akan kembali ke Dukuh Wangi. Tidak akan kembali ke pondok reot itu. Tidak akan kembali ke telaga yang tidak berguna itu.
Aku minta kalian tidak usah mencari aku. Aku bahagia di sini. Aku tidak butuh tradisi keluarga. Aku tidak butuh pusaka. Aku tidak butuh menjadi penjaga hati.
Pandu Hati.
Sultan Hasan membaca surat itu berulang-ulang. Tangannya gemetar. Air matanya mengalir. Bukan sedih. Tapi lega. Sangat lega. Anaknya tidak mati. Anaknya selamat. Anaknya hidup.
"Pandan!" teriaknya. "Pandu Hati hidup! Ia tidak mati! Ia mengirim surat!"
Pandan Wangi membaca surat itu. Ia juga menangis.
"Syukur, ya Allah. Syukur. Anak kami hidup."
Mereka berdua berpelukan. Menangis. Tertawa. Bersyukur.
Tapi kebahagiaan mereka tidak bertahan lama.
Setelah membaca surat itu berulang-ulang, Sultan Hasan mulai merasakan keanehan. Nada surat itu dingin. Jauh. Tidak seperti Pandu Hati yang dulu. Pandu Hati memang keras kepala, tapi ia tidak pernah sejahat itu. Ia tidak pernah menyebut pondok reot. Ia tidak pernah menyebut telaga tidak berguna. Ia tidak pernah menyuruh mereka tidak usah mencari.
"Ada yang tidak beres," kata Sultan Hasan.
"Apa maksudmu?" tanya Pandan Wangi.
"Surat ini. Nadanya tidak seperti Pandu Hati. Seperti ada yang memengaruhinya. Atau... mungkin surat ini palsu."
"Palsu? Siapa yang akan memalsukan surat atas nama Pandu Hati?"
"Aku tidak tahu. Tapi aku harus mencari tahu."
"Kau akan pergi lagi?"
"Iya. Aku akan pergi ke kota pelabuhan. Menemui Tuan Salim. Mencari Pandu Hati."
"Tapi kau baru saja kembali. Tubuhmu masih lemah. Istirahatlah dulu."
"Aku tidak bisa istirahat, Pandan. Anak kita mungkin dalam bahaya."
Sultan Hasan mengemasi barang-barangnya. Tidak banyak. Hanya pakaian seadanya, bekal makanan, sebotol air, dan batu akik merah di dadanya.
Pandan Wangi menangis. "Aku takut kehilanganmu, Sultan. Aku takut kau tidak kembali."
"Aku akan kembali, Pandan. Aku janji."
"Kau selalu berjanji. Tapi kadang kau tidak bisa menepati."
"Kali ini aku akan menepati. Aku tidak akan meninggalkanmu selamanya."
Mereka berdua berpelukan. Sultan Hasan mencium kening Pandan Wangi.
"Jagalah dirimu."
"Jagalah dirimu juga."
Sultan Hasan berjalan. Meninggalkan Dukuh Wangi. Meninggalkan telaga. Meninggalkan Pandan Wangi.
Menuju kota pelabuhan. Mencari anaknya. Membawanya pulang.
Perjalanan ke kota pelabuhan memakan waktu lima hari.
Sultan Hasan tidak berjalan kaki seperti dulu. Ia menyewa kuda. Ia juga membawa surat dari Tuan Abdullah, kenalan lamanya di Bandar Cendana, untuk memudahkan bertemu dengan Tuan Salim.
Ia tiba di kota itu pada sore hari. Langit berwarna jingga keemasan. Burung-burung camar terbang di atas dermaga. Bau garam dan ikan menyengat di hidung.
Ia pergi ke gudang Tuan Salim. Ia menunjukkan surat dari Tuan Abdullah. Para penjaga mengizinkannya masuk.
Tuan Salim sedang duduk di kantornya, menghitung uang. Ia sudah tua. Rambutnya putih semua. Wajahnya keriput. Tapi matanya masih tajam.
"Kau Sultan Hasan?" tanyanya.
"Saya, Tuan."
"Tuan Abdullah sudah bercerita tentang kau. Katanya kau karyawan terbaik yang pernah ia miliki. Jujur. Cerdas. Rajin."
"Terima kasih, Tuan."
"Apa yang bisa aku bantu?"
"Saya mencari anak saya. Pandu Hati. Katanya ia bekerja di sini. Menjadi kepercayaan Tuan."
Tuan Salim mengerutkan kening. "Pandu Hati? Aku tidak kenal nama itu."
"Pemuda. Lima belas tahun. Rambut panjang. Kurus. Cerdas. Mungkin memakai nama samaran."
Tuan Salim menggeleng. "Aku punya banyak karyawan. Tapi tidak ada yang bernama Pandu Hati. Tidak ada pemuda lima belas tahun yang menjadi kepercayaanku."
Sultan Hasan terkejut. "Tapi anak saya mengirim surat. Ia bilang ia bekerja untuk Tuan. Ia bilang Tuan memberinya pekerjaan. Ia bilang ia hidup mewah."
"Tunjukkan suratnya."
Sultan Hasan menunjukkan surat itu. Tuan Salim membacanya. Wajahnya berubah.
"Ini tidak mungkin," katanya. "Aku tidak pernah menulis surat ini. Aku tidak pernah mempekerjakan anak muda bernama Pandu Hati. Aku tidak pernah memberi siapa pun rumah, kuda, pakaian indah, dan uang banyak. Ini palsu."
"Palsu? Siapa yang memalsukannya?"
"Aku tidak tahu. Tapi kau harus hati-hati, Sultan Hasan. Mungkin ada yang ingin menjebakmu. Atau mungkin... anakmu sedang dalam bahaya."
Sultan Hasan gemetar. "Tuan tahu di mana anak saya?"
"Aku tidak tahu. Tapi aku bisa membantu mencarinya. Aku punya banyak relasi di kota ini. Aku akan bertanya."
"Terima kasih, Tuan."
Tiga hari kemudian, Tuan Salim mendapat kabar.
Seorang pemuda kurus, rambut panjang, berusia sekitar lima belas tahun, pernah terlihat di sekitar pelabuhan. Ia mengamen. Menyanyi. Kadang mengemis. Tapi beberapa bulan lalu, ia menghilang. Ada yang mengatakan ia diculik. Ada yang mengatakan ia direkrut oleh sindikat kejahatan. Ada yang mengatakan ia sudah mati.
Sultan Hasan pusing. Informasi simpang siur. Tidak ada yang jelas.
Ia memutuskan untuk mencari sendiri. Ia pergi ke daerah-daerah kumuh di sekitar pelabuhan. Ia bertanya pada gelandangan, pengemis, anak jalanan. Apakah mereka pernah melihat Pandu Hati?
Seorang anak jalanan perempuan, berusia sekitar dua belas tahun, mengangguk. "Aku kenal dia. Namanya Pandu. Ia baik. Sering berbagi makanan dengan kami. Tapi ia diculik. Sekelompok preman membawanya pergi. Katanya ia akan dipekerjakan di kapal. Tapi tidak ada kabar lagi setelah itu."
"Kau tahu di mana preman-preman itu?"
"Di gudang tua di timur pelabuhan. Tapi hati-hati, Pak. Mereka berbahaya. Mereka bersenjata. Mereka tidak segan membunuh."
"Aku tidak takut."
Sultan Hasan pergi ke gudang tua di timur pelabuhan.
Gudang itu besar. Kusam. Catnya mengelupas. Jendelanya pecah. Di depan pintu, dua preman berdiri, memegang golok.
"Kau siapa?" bentak salah satu preman.
"Ayah dari Pandu Hati. Anak yang kalian culik."
Preman itu tertawa. "Pandu Hati? Tidak ada. Pergi sana!"
Sultan Hasan tidak bergeming. "Bawa aku ke anakku, atau kau akan merasakan akibatnya."
"Kau mau lawan kami berdua? Kau pikir kau siapa?"
Sultan Hasan tidak menjawab. Ia bergerak cepat. Dalam hitungan detik, kedua preman itu sudah tergeletak di tanah, golok mereka melayang ke udara, jatuh di semak-semak.
Ia masuk ke dalam gudang. Gelap. Bau apek. Bau darah.
Di sudut gudang, ia melihat Pandu Hati. Anaknya terbaring di atas tumpukan karung. Tubuhnya kurus kering. Wajahnya pucat. Matanya cekung. Ada luka di pergelangan tangannya. Ada bekas cambuk di punggungnya.
"PANDU HATI!" teriak Sultan Hasan.
Ia berlari. Memeluk anaknya. Pandu Hati membuka mata. Samar-samar.
"Ayah..." bisiknya. "Ayah... maafkan aku... aku tidak mendengarkan nasihat Ayah..."
"Diam, Nak. Ayah akan membawamu pulang."
"Tapi... Ayah... aku sudah... aku sudah... tidak punya tenaga... untuk berjalan..."
"Ayah akan menggendongmu."
Sultan Hasan mengangkat Pandu Hati ke punggungnya. Anak itu ringan. Sangat ringan. Hampir tidak berbobot.
Ia berjalan keluar dari gudang. Preman-preman lain yang melihatnya, mundur takut. Mereka sudah mendengar bahwa Sultan Hasan adalah pendekar sakti.
"Jangan coba-coba mengikuti," kata Sultan Hasan. "Kalian akan merasakan pedangku."
Preman-preman itu lari tunggang langgang.
Sultan Hasan terus berjalan. Menuju dermaga. Menuju kapal. Menuju pulang.
Di perjalanan pulang, Pandu Hati bercerita.
Ia tidak jadi bekerja pada saudagar kaya. Surat itu palsu. Ia disuruh menulis surat itu oleh preman-preman yang menjebaknya. Mereka ingin Sultan Hasan datang ke kota pelabuhan, lalu mereka akan menculiknya, meminta tebusan dari adipati.
Tapi rencana mereka gagal. Sultan Hasan terlalu kuat. Terlalu cerdas. Terlalu berani.
"Ayah," bisik Pandu Hati. "Aku malu. Aku sudah meremehkan Ayah. Aku menganggap Ayah kolot. Ternyata Ayah hebat."
"Ayah tidak hebat, Nak. Ayah hanya berusaha menjadi ayah yang baik."
"Kau lebih dari ayah yang baik, Ayah. Kau pahlawanku."
Sultan Hasan tersenyum. Air matanya menetes.
"Pulanglah, Nak. Ibu menunggumu."
BAB LXXI
Sultan Hasan Menyusul ke Kota – Pandu Hati Menolak Pulang
Perjalanan pulang dari kota pelabuhan ke Dukuh Wangi memakan waktu tujuh hari. Sultan Hasan tidak bisa memacu kuda terlalu kencang karena Pandu Hati masih lemah. Tubuh anak itu kurus kering, penuh luka, dan masih dalam masa pemulihan. Mereka beristirahat di setiap desa yang mereka lewati, kadang di rumah penduduk, kadang di balai desa, kadang di tepi sungai jika tidak ada yang bersedia menampung.
Pandu Hati banyak diam selama perjalanan. Ia tidak bicara. Ia hanya memandang langit, memandang pepohonan, memandang sungai-sungai yang mereka lewati. Sultan Hasan tidak memaksa. Ia tahu anaknya butuh waktu. Butuh kesendirian. Butuh merenungkan semua yang telah terjadi.
Tapi ketika mereka tiba di Dukuh Wangi, ketika pondok kecil di tepi telaga sudah terlihat dari kejauhan, Pandu Hati berhenti.
"Ayah," katanya.
"Ya, Nak?"
"Aku tidak bisa pulang."
Sultan Hasan terkejut. "Kenapa? Ibu sudah menunggumu. Rumah sudah menunggumu. Telaga sudah menunggumu."
"Aku malu, Ayah. Aku sudah lari dari rumah. Aku sudah mengirim surat palsu. Aku sudah mengecewakan Ayah dan Ibu. Aku tidak pantas kembali."
"Tidak ada yang tidak pantas, Nak. Ayah dan ibu sudah memaafkanmu."
"Tapi aku belum memaafkan diriku sendiri."
Sultan Hasan terdiam. Ia tahu perasaan itu. Dulu, setelah ia gagal melindungi Pandan Wangi, setelah ia dikirim ke pulau penjara, setelah ia kehilangan segalanya, ia juga merasa tidak pantas kembali. Tapi Pandan Wangi tetap menerimanya. Pandan Wangi tetap mencintainya. Pandan Wangi tetap setia menunggu.
"Nak," kata Sultan Hasan pelan. "Kau tahu, dulu ayah juga pernah merasa tidak pantas. Ayah juga pernah gagal. Ayah juga pernah lari dari kenyataan. Tapi ibu tidak pernah menyerah pada ayah. Ia selalu menunggu. Ia selalu percaya bahwa ayah akan kembali. Dan ayah kembali. Bukan karena ayah pantas. Tapi karena ibu membutuhkan ayah. Sekarang, ibu membutuhkanmu. Jangan kecewakan ibu."
Pandu Hati menangis. Sultan Hasan memeluknya.
"Aku takut, Ayah."
"Takut apa?"
"Aku takut jika aku kembali, aku akan menjadi beban. Aku tidak bisa membantu Ayah di ladang. Aku tidak bisa membantu Ibu menenun. Aku hanya bisa merepotkan."
"Kau tidak akan menjadi beban, Nak. Kau adalah anak kami. Tanggung jawab kami merawatmu. Tidak ada istilah beban dalam keluarga."
Pandu Hati masih ragu.
"Bagaimana kalau aku hanya tinggal sebentar? Sampai lukaku sembuh. Lalu aku akan kembali ke kota. Aku ingin bekerja. Aku ingin mandiri. Aku tidak ingin bergantung pada Ayah dan Ibu selamanya."
"Terserah kau, Nak. Yang penting kau pulang dulu. Ibu sudah rindu."
Pandan Wangi menangis ketika melihat Pandu Hati masuk ke pondok.
Ia memeluk anaknya erat-erat, tidak mau melepaskan. "Kamu tidak boleh pergi lagi, Nak. Ibu tidak mau kehilanganmu lagi."
"Ibu, aku hanya tinggal sebentar. Sampai sembuh."
"Tidak. Kamu harus tinggal selamanya. Ibu tidak akan mengizinkanmu pergi."
"Ibu..."
"Tidak ada tapi. Ibu sudah kehilanganmu sekali. Ibu tidak mau kehilanganmu lagi."
Pandu Hati memandang ayahnya. Sultan Hasan mengangkat bahu. "Ibu mu keras kepala. Tidak bisa dibantah."
Pandan Wangi menatap suaminya tajam. "Kau juga keras kepala. Makanya anakmu keras kepala."
Mereka bertiga tertawa. Tawa yang melegakan. Tawa yang melupakan sejenak semua kesedihan dan penderitaan.
Pandu Hati tinggal di pondok selama dua bulan.
Lukanya sembuh. Tubuhnya berisi kembali. Wajahnya tidak pucat lagi. Matanya mulai bersinar lagi.
Ia membantu Sultan Hasan di ladang. Membantu Pandan Wangi menenun. Ia juga belajar menulis syair, meskipun tidak serius. Sultan Hasan mengajari, Pandu Hati mendengarkan.
"Kau punya bakat, Nak," kata Sultan Hasan suatu hari. "Syairmu bagus. Perasaannya dalam."
"Aku hanya menulis apa yang aku rasakan, Ayah. Tidak lebih."
"Itulah bakat. Tidak semua orang bisa menuangkan perasaan ke dalam kata-kata."
"Ayah bisa. Ayah hebat."
"Ayah tidak hebat. Ayah hanya tekun."
Mereka berdua tersenyum.
Tapi ketika Pandu Hati benar-benar pulih, ia mulai gelisah. Ia ingin kembali ke kota. Ia ingin bekerja. Ia ingin mandiri. Pandan Wangi menangis. Sultan Hasan menghela napas.
"Biarkan ia pergi, Pandan," kata Sultan Hasan. "Ia sudah dewasa. Ia harus belajar hidup mandiri."
"Tapi aku takut ia akan celaka lagi."
"Kali ini ia akan hati-hati. Ia sudah belajar dari pengalaman."
"Ibu," kata Pandu Hati. "Aku janji akan hati-hati. Aku janji akan mengirim surat setiap minggu. Aku janji akan kembali jika aku libur. Aku janji tidak akan membuat Ibu khawatir."
Pandan Wangi masih ragu. Tapi akhirnya ia mengangguk.
"Baiklah. Ibu izinkan. Tapi jangan lupa janjimu."
"Aku tidak akan lupa, Ibu."
Pandu Hati berangkat ke kota pada suatu pagi.
Ia naik kereta kuda yang disewa Sultan Hasan. Tidak banyak barang yang ia bawa. Hanya satu buntalan kecil berisi pakaian, beberapa kitab, dan bekal makanan dari Pandan Wangi. Sama seperti dulu.
Sultan Hasan memeluk anaknya. "Jagalah dirimu, Nak. Jangan mudah percaya pada orang asing. Jangan tergiur dengan kemewahan palsu."
"Aku akan, Ayah."
Pandan Wangi memeluk anaknya. "Jangan lupa menulis surat, Nak. Ibu akan selalu menunggu."
"Aku akan menulis, Ibu. Setiap minggu."
Kereta kuda itu berangkat. Pandu Hati melambaikan tangan. Sultan Hasan dan Pandan Wangi melambaikan tangan balik.
Air mata mereka mengalir.
Tapi kali ini bukan air mata kesedihan. Bukan juga air mata kekhawatiran. Tapi air mata keikhlasan. Melepaskan anaknya untuk belajar hidup mandiri. Untuk menemukan jati dirinya. Untuk menjadi penjaga hati, dengan caranya sendiri.
Malam harinya, Sultan Hasan duduk di tepi telaga sendirian.
Pandan Wangi sibuk di dapur. Ia memasak sayur asem dan ikan bakar, kesukaan Sultan Hasan. Mungkin sebagai hadiah karena telah berhasil membawa Pulang Pandu Hati. Atau mungkin hanya karena ia ingin membuat suaminya bahagia.
Sultan Hasan memandang air telaga yang jernih. Memandang bulan sabit tipis di langit.
"Pandan Wangi," bisiknya.
"Ya?" Pandan Wangi keluar dari pondok.
"Apakah kita sudah menjadi orang tua yang baik?"
"Menurutku, ya. Kita sudah melakukan yang terbaik untuk Pandu Hati."
"Tapi ia tetap pergi. Ia tetap memilih hidup di kota daripada di sini."
"Itu pilihannya. Kita tidak bisa memaksanya. Seperti dulu, ayahmu tidak bisa memaksamu menjadi bangsawan."
"Aku ingin ia menjadi penjaga hati. Tapi ia tidak mau."
"Dia tetap penjaga hati, meskipun tidak tinggal di sini. Penjaga hati tidak harus duduk di tepi telaga dan menulis syair. Penjaga hati bisa menjadi apa pun. Asalkan ia menjaga hati. Hatinya sendiri. Hati orang lain."
"Kau yakin?"
"Aku yakin. Percayalah pada Pandu Hati. Ia anak kita. Ia memiliki darah penjaga hati."
Sultan Hasan tersenyum. Ia memeluk Pandan Wangi.
"Terima kasih, istriku. Kau selalu bisa menenangkanku."
"Itu tugasku sebagai istri."
Mereka berdua diam. Menikmati malam. Menikmati kebersamaan. Merindukan anak mereka yang pergi, tapi tidak lagi bersedih.
Karena mereka tahu, Pandu Hati akan baik-baik saja. Pandu Hati akan menemukan jalannya. Pandu Hati akan menjadi penjaga hati, dengan caranya sendiri.
Suatu hari nanti.
Selamanya.
BAB LXXII
Pusaka Akik Merah Retak: Saat Pandu Hati Menolak Pulang, Batu Akik Merah Retak Sedikit – Sultan Hasan Menangis
Kepergian Pandu Hati untuk kedua kalinya meninggalkan luka yang tidak terlihat. Sultan Hasan tidak menangis di depan istrinya. Ia tidak mengeluh. Ia tidak menunjukkan kesedihan. Tapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang pecah. Bukan sekali ini ia kehilangan orang yang dicintai. Ayahnya lenyap di hutan. Ibunya meninggal saat ia masih kecil. Nini Mas Intan meninggal saat ia mulai belajar menjadi penjaga hati. Mak Umi meninggal saat ia remaja. Mardjo meninggal karena racun. Kiai Pati meninggal di Pulau Penjara. Dan sekarang, anak kandungnya sendiri — darah dagingnya — lebih memilih hidup di kota daripada di sampingnya, di tepi telaga, di rumah yang telah ia bangun dengan susah payah.
Sultan Hasan tidak menyalahkan Pandu Hati. Ia mengerti. Anak itu masih muda. Anak itu ingin mandiri. Anak itu ingin mencari jati dirinya. Seperti dulu, Sultan Hasan juga pernah muda dan ingin mandiri. Tapi tetap saja, rasa sakit itu ada. Rasa sakit karena ditolak. Rasa sakit karena dianggap tidak cukup baik. Rasa sakit karena anak lebih memilih dunia luar daripada rumahnya sendiri.
Malam setelah Pandu Hati berangkat, Sultan Hasan duduk di tepi telaga lebih lama dari biasanya. Pandan Wangi sudah tidur di dalam pondok, kelelahan setelah berminggu-minggu cemas dan menangis. Sultan Hasan memandang air telaga yang jernih, memandang bulan yang mulai membesar menuju purnama, memandang bintang-bintang yang bertaburan seperti butiran beras.
Ia memegang batu akik merah di dadanya. Batu itu terasa hangat. Berdenyut pelan. Menemaninya seperti biasa.
"Pusaka," bisiknya. "Apakah kau juga merasakan apa yang aku rasakan? Kesepian? Kesedihan? Kehilangan?"
Batu itu berdenyut lebih kencang. Seperti menjawab: "Aku merasakannya. Aku selalu merasakan apa yang kau rasakan."
"Apa yang harus aku lakukan? Anakku pergi. Ia tidak mau kembali. Ia tidak mau menjadi penjaga hati. Ia tidak mau menghormati tradisi. Aku merasa gagal sebagai ayah."
"Kau tidak gagal, Sultan Hasan. Kau telah melakukan yang terbaik. Memberinya kasih sayang. Memberinya pendidikan. Memberinya kebebasan untuk memilih. Itu sudah lebih dari cukup."
"Tapi ia tetap pergi."
"Ia akan kembali. Suatu hari. Ketika ia sudah lelah dengan dunia. Ketika ia sudah muak dengan kepalsuan. Ketika ia sadar bahwa rumah adalah tempat yang paling aman. Kau dulu juga seperti itu. Kau pergi. Kau merantau. Kau mencari jati diri. Tapi pada akhirnya, kau kembali. Ke telaga ini. Ke Pandan Wangi. Ke rumahmu."
"Aku berharap ia juga akan kembali."
"Dia akan kembali. Percayalah."
Sultan Hasan tersenyum pahit. Ia mengelus batu itu dengan ibu jarinya.
Saat jarinya menyentuh permukaan batu akik merah itu, ia merasakan sesuatu yang aneh. Biasanya, permukaan batu itu halus, licin, seperti kaca. Tapi malam ini, ada bagian yang kasar. Seperti ada retakan kecil.
Sultan Hasan terkejut. Ia membawa batu itu mendekat ke cahaya bulan. Ia memeriksanya dengan saksama.
Di permukaan batu itu, tepat di tengah, ada sebuah retakan. Kecil. Tipis. Hampir tidak terlihat. Tapi jelas. Seperti garis rambut yang pecah.
"Pusaka... kau retak?"
Batu itu berdenyut. Pelan. Lembut. Seperti sedang sakit.
"Iya. Aku retak."
"Sejak kapan?"
"Sejak Pandu Hati menolak pulang. Sejak ia mengatakan bahwa ia tidak ingin kembali ke Dukuh Wangi. Sejak ia memilih hidup di kota daripada di sampingmu. Aku merasakan patah hatimu. Dan patah hati itu meretakkanku."
"Tapi... tapi kau bisa sembuh, kan?"
"Aku bisa. Jika kau bahagia. Jika kau ikhlas. Jika kau tidak lagi bersedih."
"Aku tidak bisa berhenti bersedih, pusaka. Anakku pergi."
"Kau bisa. Kau harus. Karena jika aku retak parah, aku bisa hancur. Dan jika aku hancur, telaga ini akan mati. Dan jika telaga ini mati, Pandan Wangi akan sakit. Apakah kau ingin itu terjadi?"
Sultan Hasan gemetar. "Tidak. Aku tidak ingin itu terjadi."
"Maka berhentilah bersedih. Ikhlaslah. Lepaskan Pandu Hati dengan cinta. Biarkan ia pergi. Biarkan ia mencari jalannya. Dan yakinlah bahwa suatu hari ia akan kembali."
Air mata Sultan Hasan mengalir. Ia tidak bisa berhenti bersedih. Tapi ia akan berusaha. Untuk pusaka. Untuk telaga. Untuk Pandan Wangi. Untuk dirinya sendiri.
"Baiklah," bisiknya. "Aku akan berusaha."
Batu itu berdenyut sekali lagi. Hangat. Seperti memberikan semangat.
"Kau kuat, Sultan Hasan. Aku bangga menjadi pusakamu."
Sultan Hasan tersenyum. Ia menyeka air matanya. Ia memandang batu itu sekali lagi. Retakannya masih ada. Tapi tidak melebar. Setidaknya untuk sekarang.
Ia berdiri. Ia berjalan pulang ke pondok. Pandan Wangi masih tidur. Ia merebahkan diri di samping istrinya. Ia memeluknya dari belakang.
"Selamat malam, Pandan."
"Selamat malam, Sultan."
Mereka berdua tertidur.
Keesokan paginya, Sultan Hasan bangun dengan tekad baru.
Ia akan ikhlas melepaskan Pandu Hati. Ia akan percaya bahwa anaknya akan baik-baik saja. Ia akan fokus pada hidupnya sendiri. Pada istrinya. Pada telaganya. Pada pusakanya. Pada syair-syairnya.
Ia pergi ke ladang. Mencangkul. Menanam. Menyiram. Bekerja seperti biasa. Pandan Wangi memasak di dapur. Menenun di beranda. Seperti biasa.
Kehidupan berjalan normal. Tapi ada yang berbeda. Pondok itu lebih sunyi. Tidak ada suara Pandu Hati yang membaca buku di sudut. Tidak ada suara Pandu Hati yang berdebat dengan ayahnya tentang tradisi dan modernitas. Tidak ada suara Pandu Hati yang tertawa mendengar lelucon ayahnya.
Tapi Sultan Hasan tidak lagi menangis. Ia sudah ikhlas. Setidaknya ia berusaha ikhlas.
"Pandan," katanya suatu sore, saat mereka berdua duduk di tepi telaga.
"Ya?"
"Aku sudah tidak sedih lagi."
"Kau bohong. Aku bisa melihat matamu. Masih ada luka di sana."
"Luka akan sembuh. Butuh waktu."
"Kita punya waktu. Banyak waktu."
Mereka berdua tersenyum.
Di dadanya, batu akik merah masih retak. Tapi retakannya tidak melebar. Sultan Hasan merawatnya setiap hari. Membersihkannya dengan air telaga. Mengusapnya dengan lembut. Berbicara padanya. Berdoa untuknya.
"Pusaka," bisiknya setiap malam sebelum tidur. "Aku akan menjagamu. Aku akan membuatmu sembuh. Aku berjanji."
Batu itu berdenyut. Pelan. Lembut. Hangat.
"Aku tahu. Aku percaya padamu."
Sultan Hasan tersenyum. Ia memejamkan mata. Ia tidur.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatapnya. Matanya bundar dan kuning. Ia tidak berbunyi. Hanya menatap.
Seolah setuju. Seolah merestui. Seolah tahu bahwa Sultan Hasan akan sembuh. Bahwa pusaka akan sembuh. Bahwa Pandu Hati akan kembali. Suatu hari.
Selamanya.
BAB LXXIII
Pandan Wangi Wafat: Istri Tercinta Meninggal di Pangkuan Sultan Hasan – Hatinya Remuk Redam
Tidak ada yang tahu persis kapan penyakit itu mulai bersarang dalam diri Pandan Wangi. Mungkin sudah lama, tapi ia menyembunyikannya dengan baik. Mungkin sejak Pandu Hati pergi untuk kedua kalinya, sejak ia menahan tangis di depan suaminya, sejak ia berpura-pura kuat padahal hatinya hancur. Atau mungkin sejak ia menjadi penunggu telaga puluhan tahun lalu, sejak ia mengorbankan kemanusiaannya untuk menjaga air, sejak ia bersumpah untuk tidak pernah meninggalkan telaga itu.
Yang pasti, pada suatu pagi, ketika Sultan Hasan bangun dan mencium kening istrinya seperti biasa, ia merasakan sesuatu yang aneh. Kening Pandan Wangi panas. Sangat panas. Seperti terbakar.
"Pandan," bisiknya. "Kau demam?"
"Aku tidak demam," jawab Pandan Wangi lemah. "Aku hanya... sedikit pusing."
"Aku akan memanggil dukun."
"Tidak usah. Istirahat saja. Nanti sembuh sendiri."
Tapi tidak sembuh. Suhu tubuh Pandan Wangi terus naik. Wajahnya memerah. Bibirnya mengering. Matanya sayu. Ia tidak bisa bangun dari tempat tidur. Sultan Hasan cemas. Ia memanggil dukun dari desa sebelah. Dukun itu memeriksa Pandan Wangi dengan saksama. Wajahnya berubah muram.
"Ini bukan sakit biasa, Sultan Hasan. Ini... ini kepunahan."
"Kepunahan? Maksudnya?"
"Pandan Wangi adalah penunggu telaga. Ia hidup dari energi telaga itu. Selama telaga itu hidup, ia hidup. Selama telaga itu sehat, ia sehat. Tapi telaga itu... telaga itu sedang sakit."
"Sakit? Telaga itu airnya masih jernih. Dasarnya masih terlihat. Tanaman air masih tumbuh. Ikan-ikan masih berenang."
"Yang sakit bukan yang terlihat. Tapi yang tidak terlihat. Pusaka di dadamu retak. Kau tahu itu. Retakan itu mempengaruhi telaga. Dan telaga mempengaruhi Pandan Wangi."
Sultan Hasan gemetar. Ia memegang batu akik merah di dadanya. Retakan itu masih ada. Tidak melebar. Tapi juga tidak menutup.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanyanya.
"Kau harus menyembuhkan pusakamu. Buat ia utuh kembali. Agar telaga sehat kembali. Agar Pandan Wangi selamat."
"Bagaimana caranya?"
"Aku tidak tahu. Itu urusanmu. Kau pemilik pusaka itu."
Dukun itu pergi. Meninggalkan Sultan Hasan yang terdiam di samping istrinya yang terbaring lemah.
Sultan Hasan berusaha segalanya.
Ia membersihkan pusaka dengan air telaga. Ia mengusapnya dengan lembut. Ia berbicara padanya. Ia berdoa. Ia memohon pada Tuhan, pada alam, pada Nini Mas Intan, pada Ki Ageng Jagaraga, pada Kiai Pati, pada semua guru yang pernah membimbingnya. Semoga pusaka itu sembuh. Semoga telaga itu sehat. Semoga Pandan Wangi selamat.
Tapi pusaka itu tetap retak. Tidak melebar. Tapi juga tidak menutup.
"Pusaka," bisik Sultan Hasan. "Apa yang harus aku lakukan? Katakan padaku."
Batu itu berdenyut. Pelan. Lembut. Tapi tidak menjawab. Seperti sedang sekarat. Seperti tidak punya energi untuk bicara.
Sultan Hasan menangis. Ia memeluk batu itu erat-erat.
"Jangan mati, pusaka. Aku tidak bisa hidup tanpamu."
Ia memandang istrinya. Pandan Wangi masih terbaring lemah. Matanya terpejam. Dadanya naik turun pelan.
"Pandan... jangan tinggalkan aku... aku tidak bisa hidup tanpamu..."
Hari-hari berlalu. Minggu-minggu berganti. Pandan Wangi tidak kunjung sembuh.
Ia semakin kurus. Wajahnya semakin pucat. Matanya semakin cekung. Rambutnya yang dulu hitam legam, kini mulai beruban. Ia tidak bisa makan. Hanya bisa minum sedikit air. Sultan Hasan menyuapinya bubur, tapi ia sering muntah.
"Pandan," bisik Sultan Hasan suatu malam, saat ia duduk di samping istrinya. "Kau harus kuat. Kita harus melewati ini bersama."
"Sultan," bisik Pandan Wangi balik. "Aku sudah tidak kuat. Aku sudah lelah. Aku ingin... istirahat."
"Kau tidak boleh menyerah, Pandan. Kau harus hidup. Untuk aku. Untuk Pandu Hati. Untuk telaga. Untuk pusaka."
"Aku sudah hidup cukup lama, Sultan. Aku sudah merasakan cinta. Aku sudah merasakan kebahagiaan. Aku sudah merasakan menjadi istri. Menjadi ibu. Itu sudah lebih dari cukup."
"Tapi aku belum siap kehilanganmu, Pandan."
"Tidak ada yang siap kehilangan, Sultan. Tapi kita harus siap. Karena kematian adalah bagian dari kehidupan."
Sultan Hasan menangis. Ia memeluk istrinya erat-erat.
"Jangan pergi, Pandan. Aku tidak bisa sendirian."
"Kau tidak sendirian, Sultan. Kau punya telaga. Kau punya pusaka. Kau punya Pandu Hati. Kau punya kenangan tentang aku. Aku akan selalu bersamamu. Di hatimu. Selamanya."
Pada malam purnama, Pandan Wangi menghembuskan napas terakhirnya.
Ia meninggal dengan tenang. Di pangkuan Sultan Hasan. Di pondok kecil tepi telaga. Di bawah cahaya bulan yang terang. Burung-burung hantu berbunyi dari kejauhan. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Seperti lagu duka.
Sultan Hasan tidak menangis. Ia hanya duduk diam. Memeluk tubuh istrinya yang sudah dingin. Memandang wajahnya yang cantik, yang tidak akan pernah tersenyum lagi. Memandang bibirnya yang tipis, yang tidak akan pernah berbisik cinta lagi. Memandang matanya yang terpejam, yang tidak akan pernah terbuka lagi.
Ia ingat saat pertama kali mereka bertemu di telaga. Ia masih kecil, baru berusia lima tahun. Pandan Wangi duduk di batu hitam, tersenyum padanya. Ia ingat syair-syair yang diajarkan Pandan Wangi. Tentang hati. Tentang cinta. Tentang menjaga. Ia ingat janji mereka di telaga, di bawah bulan purnama. Untuk saling menjaga. Sampai mati. Sampai setelah mati. Selamanya.
Dan sekarang, janji itu harus diputuskan. Bukan karena mereka berhenti saling menjaga. Tapi karena kematian memisahkan mereka.
"Pandan," bisik Sultan Hasan. "Kau sudah pergi. Tapi cintaku padamu tidak akan pernah mati. Aku akan terus mencintaimu. Sampai aku mati. Sampai setelah aku mati. Selamanya."
Ia mengecup kening Pandan Wangi. Dingin. Tapi terasa hangat di hatinya.
Pandu Hati datang tiga hari setelah ibunya meninggal.
Ia menerima kabar dari tetangga yang kebetulan lewat di depan pondok. Ia bergegas pulang, meninggalkan pekerjaannya, meninggalkan hidupnya di kota, meninggalkan semua yang selama ini ia perjuangkan.
Ia tiba di Dukuh Wangi saat matahari hampir terbenam. Pondok itu sunyi. Tidak ada asap dari dapur. Tidak ada suara nenun dari beranda. Tidak ada wangi masakan Pandan Wangi yang semerbak.
Ia masuk ke pondok. Ayahnya sedang duduk di samping jenazah ibunya yang sudah terbungkus kain putih.
"Ayah..." bisik Pandu Hati.
Sultan Hasan menoleh. Matanya sembab. Wajahnya pucat. Ia sudah tidak menangis. Air matanya sudah habis.
"Kau datang, Nak."
"Aku datang, Ayah. Maaf, aku terlambat."
"Tidak terlambat. Ibumu masih di sini. Pamitlah padanya."
Pandu Hati berlutut di samping jenazah ibunya. Ia memegang tangan ibunya yang dingin.
"Ibu... maafkan aku... aku tidak bisa menjadi anak yang baik... aku selalu membuat Ibu khawatir... aku selalu membuat Ibu sedih... aku tidak pernah mendengarkan nasihat Ibu... maafkan aku, Ibu..."
Ia menangis. Sultan Hasan memeluknya.
"Ibumu sudah memaafkanmu sejak lama, Nak. Ia tidak pernah menyimpan dendam. Ia hanya ingin kau bahagia."
"Aku tidak bahagia, Ayah. Aku tidak pernah bahagia sejak aku pergi dari sini. Aku hanya berpura-pura. Aku hanya lari dari kenyataan."
"Kau tidak perlu lari lagi, Nak. Rumah ini selalu terbuka untukmu. Telaga ini selalu menunggumu."
Pandan Wangi dimakamkan di tepi telaga, di bawah pohon beringin tua, tempat ia biasa duduk bersama Sultan Hasan saat masih muda.
Sultan Hasan dan Pandu Hati menggali liang lahat sendiri. Menurunkan jenazah ke dalam tanah. Menimbunnya dengan tanah. Membacakan doa-doa.
Tidak banyak orang yang datang. Hanya tetangga terdekat. Jaya. Kakek buta dan istrinya. Dukun beranak yang pernah menolong Pandan Wangi melahirkan. Beberapa orang tua yang masih ingat kebaikan Pandan Wangi.
Setelah pemakaman selesai, semua orang pulang. Sultan Hasan dan Pandu Hati duduk di tepi telaga. Diam. Memandang air yang jernih. Memandang bulan yang mulai muncul.
"Ayah," kata Pandu Hati.
"Ya, Nak?"
"Aku ingin tinggal di sini. Selamanya. Aku tidak akan kembali ke kota."
"Kau yakin?"
"Aku yakin. Aku sudah lelah dengan dunia luar. Aku sudah muak dengan kepalsuan. Aku ingin hidup sederhana. Seperti Ayah. Seperti Ibu. Menjaga telaga. Menjaga pusaka. Menjaga hati."
Sultan Hasan tersenyum. "Ibumu pasti bangga mendengar itu."
"Aku harap ia mendengarku dari surga."
"Dia mendengar, Nak. Ia selalu mendengar."
Mereka berdua diam. Menikmati malam. Menikmati kebersamaan. Merindukan Pandan Wangi yang telah tiada.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap mereka. Matanya bundar dan kuning. Ia tidak berbunyi. Hanya menatap.
Seolah setuju. Seolah merestui. Seolah bahagia bahwa Pandu Hati akhirnya pulang. Bahwa ia akhirnya mau menjadi penjaga hati. Bahwa ia akhirnya menghormati tradisi keluarga.
Selamanya.
BAB LXXIV
Sultan Hasan Mengasingkan Diri: Ia Masuk ke Gua Tempatnya Dulu Belajar – Tidak Keluar Selama 40 Hari
Pemakaman Pandan Wangi meninggalkan kekosongan yang tidak bisa diisi oleh apa pun.
Pondok di tepi telaga yang dulu hangat dan ramai, kini terasa dingin dan sunyi. Tidak ada lagi suara Pandan Wangi yang bernyanyi sambil menenun. Tidak ada lagi wangi masakannya yang semerbak di pagi hari. Tidak ada lagi senyumnya yang menyambut Sultan Hasan pulang dari ladang. Tidak ada lagi pelukannya yang menghangatkan di malam hari.
Sultan Hasan tidak bisa tidur. Setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat wajah Pandan Wangi. Cantik. Lembut. Tersenyum. Setiap kali ia terbangun, ia meraih ke samping, berharap istrinya masih ada di sana. Tapi hanya kehampaan yang ia temukan.
Pandu Hati mencoba menghibur ayahnya. "Ayah, makanlah. Ayah harus kuat."
"Aku tidak lapar, Nak."
"Ayah, tidurlah. Ayah harus istirahat."
"Aku tidak bisa tidur, Nak."
Pandu Hati tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya bisa duduk di samping ayahnya, menemani, kadang menangis dalam diam.
Tujuh hari setelah Pandan Wangi meninggal, Sultan Hasan mengambil keputusan.
"Nak," katanya pada Pandu Hati. "Ayah akan pergi sebentar."
"Ke mana, Ayah?"
"Ke gua. Gua tempat ayah dulu belajar. Di hulu sungai. Di balik air terjun."
"Kenapa, Ayah? Ayah mau apa di sana?"
"Ayah mau... menyendiri. Merenung. Berdoa. Memohon petunjuk. Ayah tidak bisa terus begini. Ayah harus menemukan ketenangan."
"Berapa lama, Ayah?"
"Empat puluh hari. Atau sampai ayah merasa siap untuk keluar."
"Ayah, jangan pergi. Aku takut kehilangan Ayah juga."
"Kau tidak akan kehilangan ayah, Nak. Ayah akan kembali. Ayah janji."
Pandu Hati menangis. Sultan Hasan memeluknya.
"Jaga telaga ini, Nak. Jaga pusaka ini. Jaga dirimu. Ayah percaya padamu."
"Aku akan menjaga semuanya, Ayah. Tapi Ayah harus kembali. Aku tidak bisa sendirian."
"Kau tidak sendirian, Nak. Kau punya telaga. Kau punya pusaka. Kau punya kenangan tentang ibumu. Dan kau punya ayah yang akan kembali."
Mereka berdua berpelukan lama.
Sultan Hasan berjalan ke hulu sungai. Sendirian. Tanpa bekal. Tanpa senjata. Hanya batu akik merah di dadanya yang masih retak.
Ia ingat jalan ini. Dulu, ketika ia masih muda, ia sering melewati jalan ini untuk belajar pada Ki Ageng Jagaraga. Jalan setapak yang menanjak, berbatu-batu, licin jika hujan. Pohon-pohon besar menjulang di kiri kanan. Burung-burung berkicau di dahan. Sesekali ia melihat monyet bergelantungan, atau kadal terbang melintas.
Ia tiba di air terjun setelah berjalan setengah hari. Air terjun itu masih sama. Tinggi, gemuruh, memercikkan kabut ke mana-mana. Di belakangnya, gua tempat ia dulu menyembuhkan jantung telaga.
Ia menembus air terjun. Tubuhnya basah kuyup. Dingin. Tapi ia tidak peduli.
Ia masuk ke dalam gua. Gelap. Sangat gelap. Tidak ada cahaya matahari yang tembus. Hanya kegelapan pekat yang terasa menyentuh kulit, masuk ke pori-pori, meresap ke dalam tulang.
Tapi Sultan Hasan tidak takut. Ia sudah biasa dengan kegelapan. Ia sudah biasa dengan kesunyian. Ia sudah biasa dengan keheningan.
Ia duduk di lantai gua yang dingin dan lembab. Ia memejamkan mata. Ia mulai bermeditasi.
Hari-hari berlalu. Sultan Hasan tidak keluar dari gua.
Ia tidak makan. Hanya minum air tetesan dari stalaktit di langit-langit gua. Ia tidak tidur. Hanya sesekali memejamkan mata, merenung, berdoa.
Ia berbicara pada pusaka di dadanya. Pusaka itu berdenyut. Pelan. Lembut. Retakannya masih ada. Tidak melebar. Tapi juga tidak menutup.
"Pusaka," bisiknya. "Aku rindu Pandan Wangi. Aku tidak bisa hidup tanpanya."
Batu itu berdenyut. Seperti menjawab: "Aku tahu. Aku juga rindu. Tapi kau harus kuat. Kau harus hidup. Untuk telaga. Untuk Pandu Hati. Untuk dirimu sendiri."
"Bagaimana caranya? Hatiku hancur. Aku tidak punya semangat lagi."
"Carilah ketenangan di dalam dirimu. Bukan di luar. Pandan Wangi tidak akan pernah benar-benar pergi. Ia selalu bersamamu. Di hatimu. Selamanya."
"Aku ingin bertemu dengannya. Dalam mimpi. Seperti dulu."
"Dia akan datang. Ketika kau sudah siap. Ketika kau sudah tenang. Ketika kau sudah ikhlas."
Sultan Hasan menangis. Batu itu berdenyut hangat. Seperti menghibur.
Pada malam ke-40, Sultan Hasan bermimpi.
Dalam mimpinya, ia berdiri di tepi telaga. Airnya jernih. Dasarnya terlihat. Tanaman air bergoyang-goyang. Bulan purnama bersinar terang, memantul di permukaan air, menciptakan ribuan titik berkilauan.
Dan di batu hitam, Pandan Wangi duduk. Tersenyum. Cantik. Seperti dulu, saat mereka masih muda.
"Pandan!" teriak Sultan Hasan.
Ia berlari. Memeluk istrinya. Hangat. Nyata. Seperti tidak pernah pergi.
"Kau datang," bisik Pandan Wangi.
"Aku selalu datang. Setiap malam. Aku merindukanmu."
"Aku juga merindukanmu. Tapi kau tidak bisa terus begini, Sultan. Kau harus hidup. Kau harus melanjutkan perjalanan."
"Aku tidak bisa tanpa dirimu."
"Kau bisa. Kau kuat. Kau sudah melalui banyak ujian. Ini hanya ujian lain. Kau bisa melewatinya."
"Aku takut, Pandan. Aku takut sendiri."
"Kau tidak sendiri. Aku selalu bersamamu. Di sini."
Pandan Wangi menunjuk dada Sultan Hasan. Tepat di tempat batu akik merah itu berada.
"Di dalam hatimu. Selamanya."
Pandan Wangi mengecup kening Sultan Hasan.
"Selamat jalan, suamiku. Aku mencintaimu. Sampai mati. Sampai setelah mati. Selamanya."
Kemudian ia menghilang. Perlahan. Seperti kabut yang ditiup angin.
Sultan Hasan terbangun.
Ia duduk di lantai gua. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Tapi hatinya tenang. Untuk pertama kalinya setelah 40 hari, ia merasa tenang.
Ia memegang batu akik merah di dadanya. Retakannya masih ada. Tapi tidak selebar dulu. Sedikit demi sedikit, mulai menutup.
"Pusaka," bisiknya. "Aku siap keluar."
Batu itu berdenyut. Kencang. Hangat.
"Bagus. Pandu Hati menunggumu. Telaga menunggumu. Dunia menunggumu."
Sultan Hasan berdiri. Tubuhnya terasa lemas setelah 40 hari tidak makan. Tapi ia kuat. Ia bisa berjalan.
Ia keluar dari gua. Menembus air terjun. Tubuhnya basah kuyup. Dingin. Tapi ia tidak peduli.
Matahari bersinar terang. Burung-burung berkicau. Angin berembus sejuk.
Ia tersenyum.
"Pandan," bisiknya. "Aku akan hidup. Aku akan melanjutkan perjalanan. Untukmu. Untuk telaga. Untuk Pandu Hati. Untuk pusaka. Untuk diriku sendiri."
Ia berjalan pulang.
Menuju Dukuh Wangi. Menuju pondok. Menuju anaknya.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatapnya. Matanya bundar dan kuning. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu berbunyi.
Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti sambutan untuk Sultan Hasan yang baru. Yang lebih tenang. Yang lebih ikhlas. Yang lebih siap menghadapi hidup.
Selamanya.
BAB LXXV
Pandu Hati Kembali Karena Kematian Ibunya: Pandu Hati Menyesal – Ia Melihat Ayahnya yang Sudah Tua dan Lemah
Ketika Sultan Hasan kembali dari gua setelah empat puluh hari mengasingkan diri, Pandu Hati terkejut melihat kondisi ayahnya.
Sultan Hasan tidak lagi tegap seperti dulu. Tubuhnya kurus kering, tulang-tulangnya menonjol di bawah kulit yang keriput. Rambutnya yang hitam legam kini hampir seluruhnya beruban. Wajahnya dipenuhi kerutan-kerutan dalam, seperti peta yang menggambarkan perjalanan panjang penuh lika-liku. Matanya yang dulu teduh dan bersinar, kini sayu dan redup. Ia berjalan dengan tertatih-tatih, sesekali berhenti untuk mengatur napas.
"Ayah..." bisik Pandu Hati sambil menahan tangis.
"Ayah baik-baik saja, Nak. Hanya sedikit lelah."
"Ayah tidak baik-baik saja. Ayah kurus. Ayah pucat. Ayah... Ayah seperti... seperti orang yang sudah hampir mati."
Sultan Hasan tersenyum. "Ayah tidak akan mati sekarang, Nak. Ayah masih punya banyak yang harus dilakukan. Menjaga telaga. Menjaga pusaka. Menjagamu."
"Tapi Ayah..."
"Sudahlah, Nak. Bawakan ayah air. Ayah haus."
Pandu Hati berlari mengambil air dari telaga. Sultan Hasan meminumnya dengan lahap. Air telaga itu dingin, segar, menyegarkan. Ia merasa sedikit lebih baik.
"Ibu... Ibu tidak akan pernah melihat Ayah seperti ini," kata Pandu Hati sambil menunduk. "Ibu pasti sedih."
"Ibumu melihat dari surga, Nak. Ia pasti bangga karena ayah masih kuat."
"Ayah tidak kuat, Ayah. Ayah pura-pura kuat."
"Kadang, pura-pura kuat adalah satu-satunya cara untuk menjadi benar-benar kuat."
Pandu Hati merawat ayahnya dengan penuh kasih.
Ia memasak bubur untuk ayahnya. Ia membacakan syair-syair yang dulu ditulis Sultan Hasan untuk Pandan Wangi. Ia menemani ayahnya berjalan-jalan di tepi telaga setiap sore. Ia belajar menenun dari buku-buku yang ditinggalkan ibunya, berusaha menghidupkan kembali tradisi yang sempat putus.
Tapi ia juga tidak bisa menutupi rasa bersalahnya. Setiap kali memandang ayahnya yang tua dan lemah, ia teringat pada ibunya yang meninggal sendirian, tanpa sempat ia temani. Setiap kali memandang telaga yang mulai keruh, ia teringat pada pusaka di dada ayahnya yang masih retak. Setiap kali memandang pondok yang sunyi, ia teringat pada suara tawa ibunya yang kini tak pernah terdengar lagi.
"Ayah," katanya suatu malam, saat mereka berdua duduk di tepi telaga. "Aku menyesal."
"Menyesal untuk apa, Nak?"
"Aku menyesal karena dulu aku pergi. Aku menyesal karena tidak mendengarkan nasihat Ayah dan Ibu. Aku menyesal karena tidak menghormati tradisi keluarga. Aku menyesal karena tidak menjadi penjaga hati. Aku menyesal karena... karena aku tidak ada di sini saat Ibu sakit. Aku menyesal karena tidak bisa melihat Ibu untuk terakhir kalinya."
Sultan Hasan memandang anaknya. Matanya teduh, tidak ada kemarahan, tidak ada kekecewaan.
"Nak," katanya pelan. "Kesalahan adalah bagian dari hidup. Tidak ada manusia yang sempurna. Yang penting kita mau belajar dari kesalahan. Yang penting kita mau memperbaiki diri. Yang penting kita tidak mengulangi kesalahan yang sama."
"Tapi aku sudah terlalu banyak salah, Ayah. Aku tidak tahu harus mulai dari mana untuk memperbaiki semuanya."
"Mulai dari sekarang. Mulai dari hari ini. Mulai dari hal kecil. Membantu ayah di ladang. Membersihkan telaga. Merawat pusaka. Menulis syair. Menjaga hati. Itu sudah lebih dari cukup."
Pandu Hati menangis. Sultan Hasan memeluknya.
"Ayah mencintaimu, Nak. Ibu juga mencintaimu. Kami tidak pernah berhenti mencintaimu, meskipun kau pergi. Meskipun kau berbuat salah. Meskipun kau tidak menjadi penjaga hati."
"Aku akan menjadi penjaga hati, Ayah. Aku janji. Aku akan menjaga telaga. Aku akan menjaga pusaka. Aku akan menjaga Ayah. Aku akan menjaga hati. Seperti Ayah dulu. Seperti Ibu dulu. Seperti leluhur kita."
"Ay a h senang mendengarnya, Nak. Tapi jangan karena tekanan. Jangan karena rasa bersalah. Lakukan karena cinta. Karena kau mencintai telaga ini. Karena kau mencintai pusaka ini. Karena kau mencintai Ayah dan Ibu. Karena kau mencintai dirimu sendiri."
"Aku akan melakukannya karena cinta, Ayah. Aku janji."
Hari-hari berlalu. Sultan Hasan perlahan pulih.
Tubuhnya tidak sekurus dulu. Wajahnya tidak sepucat dulu. Matanya mulai bersinar lagi. Ia bisa berjalan tanpa tertatih-tatih. Ia bisa bekerja di ladang lagi. Ia bisa menulis syair lagi.
Pandu Hati setia menemani. Ia belajar semua yang diajarkan ayahnya. Tentang telaga. Tentang pusaka. Tentang syair penjaga hati. Tentang Nini Mas Intan. Tentang Ki Ageng Jagaraga. Tentang Kiai Pati. Tentang Kyai Buyut Cakar Mase. Tentang semua yang pernah membimbing Sultan Hasan menjadi penjaga hati.
"Ayah," kata Pandu Hati suatu hari. "Aku sudah bisa membersihkan pusaka sendiri."
"Bagus. Lakukan setiap hari. Jangan pernah putus."
"Aku juga sudah hafal syair penjaga hati. Seluruhnya. Seribu baris."
"Bagus. Tapi menghafal tidak cukup. Kau harus meresapi maknanya. Kau harus mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari."
"Aku akan, Ayah."
Suatu malam, saat bulan purnama bersinar terang, Sultan Hasan dan Pandu Hati duduk di batu hitam di tepi telaga.
Air telaga jernih. Dasarnya terlihat. Tanaman air bergoyang-goyang. Ikan-ikan kecil berenang gembira.
Sultan Hasan memandang pusaka di dadanya. Retakannya hampir menutup. Tinggal garis tipis yang masih terlihat.
"Pusaka," bisiknya. "Kau hampir sembuh."
Batu itu berdenyut. Hangat.
"Karena kau sudah ikhlas. Karena kau sudah tidak bersedih lagi. Karena kau sudah menerima kenyataan bahwa Pandan Wangi telah pergi."
"Aku belum sepenuhnya ikhlas. Tapi aku berusaha."
"Usahamu sudah cukup. Sisanya, biarkan waktu yang menyembuhkan."
Sultan Hasan tersenyum. Ia memandang anaknya.
"Pandu Hati," katanya.
"Ya, Ayah?"
"Kau akan menjadi penjaga hati yang hebat. Ayah yakin."
"Terima kasih, Ayah. Aku akan berusaha menjadi yang terbaik."
"Tidak perlu menjadi yang terbaik. Cukup menjadi yang tulus. Karena penjaga hati sejati tidak dinilai dari seberapa hebat ia. Tapi dari seberapa tulus ia menjaga."
"Tulus dalam menjaga. Ayah, aku akan mengingatnya."
Mereka berdua diam. Menikmati malam. Menikmati kebersamaan. Menikmati kehadiran satu sama lain.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap mereka. Matanya bundar dan kuning. Ia tidak berbunyi. Hanya menatap.
Seolah setuju. Seolah merestui. Seolah bahagia bahwa Pandu Hati akhirnya kembali. Bahwa ia mau menjadi penjaga hati. Bahwa ayah dan anak itu bersatu dalam cinta dan tradisi.
Selamanya.
BAB LXXVI
Rekonsiliasi: Sultan Hasan Memaafkan Pandu Hati Tanpa Syarat – Ia Mengajarkan Satu Bait: "Penjaga Hati Tidak Pernah Memutus Tali, Ia Hanya Merentangkannya Lebih Panjang"
Pagi itu, setelah berminggu-minggu Pandu Hati tinggal di pondok dan merawat ayahnya, Sultan Hasan memanggil anaknya ke tepi telaga. Matahari baru saja terbit. Cahayanya masih merah keemasan, hangat, tidak menyengat. Embun masih membasahi rumput-rumput di halaman. Burung-burung mulai berkicau di dahan-dahan pohon. Ayam-ayam jantan berkokok bersahutan dari kejauhan.
"Duduklah, Nak," kata Sultan Hasan sambil menepuk batu hitam di sampingnya.
Pandu Hati duduk. Ia memandang ayahnya. Wajah Sultan Hasan sudah tidak setua dan sekurus dulu, tapi tetap ada kerutan-kerutan dalam yang tidak akan pernah hilang. Matanya teduh, tidak ada kemarahan, tidak ada kekecewaan. Hanya cinta. Hanya penerimaan. Hanya ketulusan.
"Ayah," kata Pandu Hati pelan. "Aku tahu aku sudah banyak salah. Aku sudah lari dari rumah. Aku sudah mengirim surat palsu. Aku sudah membuat Ayah dan Ibu khawatir. Aku sudah... aku sudah menjadi anak durhaka."
Sultan Hasan tidak menjawab. Ia hanya memandang telaga. Airnya jernih. Dasarnya terlihat. Tanaman air bergoyang-goyang ditarik arus yang lembut.
"Ayah, aku minta maaf. Aku mohon Ayah memaafkan aku."
Sultan Hasan menoleh. Ia memandang anaknya. Matanya berkaca-kaca. Tapi ia tersenyum.
"Nak," katanya. "Ayah sudah memaafkanmu sejak lama. Sejak kau masih di kota. Sejak kau mengirim surat palsu itu. Sejak kau menolak pulang. Ayah tidak pernah menyimpan dendam padamu."
"Tapi Ayah... aku sudah membuat Ayah sedih. Aku sudah membuat Ayah sakit. Aku sudah membuat pusaka di dada Ayah retak."
"Kesedihan itu wajar. Sakit itu wajar. Pusaka retak itu wajar. Semua karena cinta. Karena ayah mencintaimu. Karena ayah khawatir padamu. Karena ayah ingin yang terbaik untukmu."
"Tapi aku tidak memberikan yang terbaik untuk Ayah. Aku hanya memberikan kekecewaan."
"Kau tidak memberikan kekecewaan, Nak. Kau memberikan pelajaran. Pelajaran bahwa cinta tidak bisa dipaksakan. Pelajaran bahwa setiap orang punya jalannya sendiri. Pelajaran bahwa anak bukanlah milik orang tua. Anak adalah titipan Tuhan. Anak adalah amanah. Dan ayah harus ikhlas melepaskan."
Pandu Hati menangis. Sultan Hasan memeluknya.
"Ayah mencintaimu, Nak. Ayah tidak akan pernah berhenti mencintaimu. Apa pun yang kau lakukan. Di mana pun kau berada. Ayah akan selalu mencintaimu."
Setelah tangis Pandu Hati reda, Sultan Hasan berkata, "Nak, ayah ingin mengajarkanmu satu bait. Bait terakhir dari syair penjaga hati. Bait yang tidak pernah ayah tulis di daun lontar. Bait yang hanya ayah simpan di dalam hati."
"Apa itu, Ayah?"
Sultan Hasan memejamkan mata. Ia mengambil napas panjang. Kemudian ia membuka mata. Ia memandang anaknya dengan tatapan yang dalam.
"Penjaga hati tidak pernah memutus tali,
Ia hanya merentangkannya lebih panjang.
Agar yang jauh bisa tetap tersambung,
Agar yang terpisah bisa tetap berjumpa.
Karena cinta sejati tidak pernah putus,
Ia hanya berubah bentuk.
Seperti air yang menguap menjadi awan,
Lalu turun menjadi hujan,
Lalu mengalir kembali ke telaga.
Abadi.
Selamanya."
Pandu Hati terpaku. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Kata-kata itu masuk ke dalam dadanya seperti anak panah. Menembus dinding-dinding kebencian yang selama ini ia bangun. Menembus tembok-tembok kesombongan yang selama ini ia jaga. Menembus benteng-benteng kekecewaan yang selama ini ia pertahankan.
"Ayah..." bisiknya. "Aku... aku tidak pantas mendengar syair itu."
"Setiap orang pantas, Nak. Karena syair itu bukan untuk orang baik saja. Syair itu untuk semua orang. Untuk yang tersesat. Untuk yang terluka. Untuk yang kecewa. Untuk yang putus asa. Karena mereka yang paling membutuhkan pengingat bahwa cinta sejati tidak pernah mati."
"Ayah, aku akan mengingat syair itu seumur hidupku. Aku akan menjadikannya pegangan. Aku akan mengajarkannya pada anak-anakku kelak. Aku akan mewariskannya pada generasi berikutnya."
"Bagus, Nak. Itulah yang ayah harapkan."
Malam harinya, Sultan Hasan dan Pandu Hati duduk di tepi telaga. Bulan purnama bersinar terang. Air telaga jernih, memantulkan cahaya bulan, menciptakan ribuan titik berkilauan seperti berlian.
"Ayah," kata Pandu Hati. "Aku ingin bertanya sesuatu."
"Apa, Nak?"
"Apakah Ibu bahagia di surga? Melihat kita berdua di sini, bersama, berdamai?"
Sultan Hasan tersenyum. "Ibumu pasti sangat bahagia. Ia selalu menginginkan kita rukun. Ia selalu menginginkan kita saling memaafkan. Ia selalu menginginkan kita menjadi penjaga hati yang baik."
"Aku kangen Ibu, Ayah. Aku ingin ia ada di sini. Duduk di samping kita. Menenun. Tersenyum. Mendengarkan kita bercerita."
"Ayah juga kangen, Nak. Tapi kita tidak bisa memaksakan kehendak. Ibumu sudah pergi. Sekarang tugas kita melanjutkan apa yang ia mulai. Menjaga telaga. Menjaga pusaka. Menjaga hati."
"Aku akan melakukan yang terbaik, Ayah. Aku janji."
"Ayah tahu. Ayah percaya padamu."
Mereka berdua diam. Menikmati malam. Menikmati kebersamaan. Menikmati kedamaian yang sudah lama tidak mereka rasakan.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap mereka.
Matanya bundar dan kuning. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu terbang. Meninggalkan suara yang nyaring.
Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti seruan untuk memulai babak baru dalam kehidupan mereka.
Babak di mana ayah dan anak tidak lagi bertengkar.
Babak di mana mereka saling memahami.
Babak di mana mereka saling mencintai tanpa syarat.
Selamanya.
BAB LXXVII
Pandu Hati Menikah: Pandu Hati Membawa Seorang Perempuan Baik-Baik Bernama Rukmini
Dua tahun telah berlalu sejak kematian Pandan Wangi. Dua tahun yang penuh dengan pemulihan, pembelajaran, dan pendekatan antara ayah dan anak. Sultan Hasan tidak lagi setua dan sekurus dulu. Ia sudah bisa makan dengan lahap, tidur dengan nyenyak, dan bekerja di ladang seperti biasa. Rambutnya yang dulu hampir seluruhnya beruban, kini kembali menghitam di beberapa bagian. Kerutan di wajahnya tidak sedalam dulu. Matanya kembali teduh dan bersinar.
Pandu Hati juga berubah. Ia tidak lagi keras kepala seperti dulu. Ia tidak lagi menolak tradisi. Ia tidak lagi meremehkan kearifan lokal. Ia belajar menghormati ayahnya, menghormati telaga, menghormati pusaka, menghormati leluhur. Ia juga belajar menulis syair, meskipun tidak sehebat ayahnya. Ia belajar menenun, meskipun tidak setrampil ibunya. Ia belajar menjadi penjaga hati, dengan caranya sendiri.
Pada suatu sore, saat Sultan Hasan sedang duduk di beranda pondok, menikmati angin sepoi-sepoi dari telaga, Pandu Hati datang dengan wajah berseri-seri.
"Ayah," katanya. "Aku ingin membawa seseorang menemui Ayah."
"Siapa, Nak?"
"Namanya Rukmini. Gadis dari desa sebelah. Aku bertemu dengannya saat membantu panen di ladang Pak Karta. Ia baik. Ia pintar. Ia rajin. Ia juga... ia juga mau belajar menenun dan menulis syair."
Sultan Hasan tersenyum. "Kau sudah dewasa, Nak. Usiamu sudah sembilan belas tahun. Waktunya kau berpikir tentang masa depan. Tentang berkeluarga."
"Aku ingin menikah dengan Rukmini, Ayah. Tapi aku tidak berani meminangnya sebelum Ayah merestui."
"Apakah kau mencintainya, Nak?"
"Aku mencintainya, Ayah. Sejak pertama kali aku melihatnya. Ia mengingatkanku pada Ibu. Baik. Lembut. Sabar. Selalu tersenyum."
"Apakah ia mencintaimu balik?"
"Aku harap begitu, Ayah. Tapi aku belum pernah bertanya. Aku malu."
Sultan Hasan tertawa. "Kau mirip ayah dulu. Juga malu saat akan melamar ibumu. Tapi ayah tidak menyesal. Ibumu adalah wanita terbaik yang pernah ayah kenal."
"Ayah, apakah Ayah mengizinkan aku meminang Rukmini?"
"Tentu, Nak. Ayah akan membantumu. Ayah akan meminangnya untukmu. Ayah akan memberikan mahar terbaik yang ayah punya."
"Apa itu, Ayah?"
"Sepasang batu akik merah. Satu untukmu. Satu untuk Rukmini. Batu ini adalah bagian dari pusaka keluarga. Batu ini akan menjaga kalian. Batu ini akan mengingatkan kalian pada cinta sejati. Seperti dulu, ayah dan ibu juga memiliki batu yang sama."
Pandu Hati menangis. Ia memeluk ayahnya.
"Terima kasih, Ayah. Aku tidak pantas mendapatkan Ayah yang sebaik ini."
"Kau pantas, Nak. Karena kau adalah anak ayah. Dan ayah akan selalu memberikan yang terbaik untukmu."
Tiga hari kemudian, Sultan Hasan dan Pandu Hati berangkat ke desa sebelah.
Mereka naik kereta kuda sewaan. Sultan Hasan membawa sepiring kue tradisional buatannya sendiri. Pandu Hati membawa setangkai bunga melati putih dari kebun belakang pondok. Mereka berdua berpakaian rapi, meskipun sederhana. Sultan Hasan memakai kain putih dan blangkon hitam. Pandu Hati memakai kain batik peninggalan ibunya dan peci hitam.
Mereka tiba di rumah Rukmini pada siang hari. Rumah itu sederhana, terbuat dari kayu dan bambu, dengan halaman yang ditanami sayur-sayuran dan bunga-bunga. Seorang perempuan muda sedang duduk di beranda, menenun. Ia cantik. Tidak secantik Pandan Wangi. Tapi ada kelembutan di wajahnya. Ada ketulusan di matanya.
"Ibu, Bapak," katanya pada orang tuanya yang ada di dalam rumah. "Ada tamu."
Orang tua Rukmini keluar. Mereka terkejut melihat Sultan Hasan dan Pandu Hati.
"Kami dari Dukuh Wangi," kata Sultan Hasan. "Saya Sultan Hasan. Ini anak saya, Pandu Hati. Kami datang untuk... meminang putri Bapak Ibu, Rukmini."
Orang tua Rukmini terkejut. Mereka saling berpandangan.
"Kami tidak menyangka," kata bapak Rukmini. "Rukmini belum pernah bercerita tentang anak Bapak."
"Kami baru kenal beberapa bulan, Pak," kata Pandu Hati. "Saya membantu panen di ladang Pak Karta. Rukmini juga membantu. Kami sering bertemu di sana."
"Dan kau sudah berani meminangnya?" tanya ibu Rukmini.
"Saya sudah jatuh cinta padanya, Bu. Saya tidak ingin menunda-nunda. Saya takut ada orang lain yang meminangnya lebih dulu."
Rukmini tersenyum malu. Orang tuanya juga tersenyum.
"Kami tidak keberatan, Nak," kata bapak Rukmini. "Tapi kami ingin tahu, apa pekerjaanmu? Apa kau bisa menghidupi anak kami?"
"Saya petani, Pak. Saya memiliki ladang di belakang pondok. Tidak luas. Tapi cukup untuk memenuhi kebutuhan kami berdua. Saya juga bisa menulis syair. Kadang saya jual ke pasar. Hasilnya lumayan."
"Dan kau, Pak Sultan Hasan?" tanya ibu Rukmini. "Apa pekerjaan Bapak?"
"Saya sudah pensiun, Bu. Saya hanya menulis syair dan menjaga telaga. Tapi saya punya tabungan cukup untuk membiayai pernikahan anak saya."
Orang tua Rukmini mengangguk.
"Baiklah," kata bapak Rukmini. "Kami terima lamaran anak Bapak. Tapi ada satu syarat."
"Apa syaratnya, Pak?"
"Anak kami harus bahagia. Jika suatu hari ia tidak bahagia, ia boleh kembali ke rumah kami. Dan kalian tidak boleh menghalanginya."
"Kami tidak akan menghalanginya, Pak. Kebahagiaan Rukmini adalah kebahagiaan kami juga."
Pernikahan Pandu Hati dan Rukmini dilangsungkan sebulan kemudian.
Tidak besar. Tidak mewah. Hanya di pondok tepi telaga. Di bawah pohon beringin tua. Disaksikan oleh tetangga-tetangga terdekat: Jaya, kakek buta dan istrinya, dukun beranak yang dulu menolong Pandan Wangi melahirkan, beberapa orang tua yang masih ingat kebaikan Pandan Wangi.
Sultan Hasan memimpin jalannya pernikahan. Ia membacakan doa-doa. Ia memakaikan mahar kepada Rukmini: sepasang batu akik merah. Satu untuk Pandu Hati, satu untuk Rukmini.
"Batu ini," kata Sultan Hasan, "adalah bagian dari pusaka keluarga. Batu ini akan menjaga kalian. Batu ini akan mengingatkan kalian pada cinta sejati. Jagalah batu ini baik-baik. Karena jika batu ini rusak, cinta kalian juga akan rusak."
Kami akan menjaganya, Pak," kata Pandu Hati dan Rukmini bersama.
Mereka berdua tersenyum.
Malam harinya, setelah semua tamu pulang, Sultan Hasan duduk di tepi telaga sendirian.
Ia memandang air yang jernih. Ia memandang bulan yang bersinar. Ia memandang batu akik merah di dadanya yang kini sudah hampir pulih. Retakannya tinggal garis tipis. Hampir tidak terlihat.
"Pandan," bisiknya. "Anak kita sudah menikah. Ia membawa perempuan yang baik. Namanya Rukmini. Ia mirip denganmu. Baik. Lembut. Sabar. Selalu tersenyum."
Ia memandang ke langit. Bintang-bintang bertaburan. Seolah berkedip-kedip.
"Kau pasti bangga, ya? Melihat anak kita tumbuh dewasa. Menikah. Memiliki keluarga. Meneruskan tradisi keluarga. Menjadi penjaga hati."
Air matanya menetes. Bukan sedih. Tapi haru. Bangga. Bahagia.
"Aku merindukanmu, Pandan. Setiap hari. Setiap malam. Tapi aku ikhlas. Karena kau sudah pergi ke tempat yang lebih baik. Dan suatu hari, kita akan bertemu lagi. Di telaga ini. Di surga. Selamanya."
Ia memegang batu akik merah di dadanya. Batu itu berdenyut. Hangat.
"Dia mendengarmu," bisik batu itu. "Dia juga merindukanmu. Tapi ia bahagia. Melihatmu kuat. Melihatmu ikhlas. Melihatmu menjadi penjaga hati yang baik."
"Terima kasih, pusaka. Karena selalu bersamaku."
"Aku akan selalu bersamamu. Sampai mati. Sampai setelah mati. Selamanya."
Sultan Hasan tersenyum. Ia berdiri. Ia berjalan pulang ke pondok.
Pandu Hati dan Rukmini sedang duduk di beranda, berbincang pelan, tertawa kecil.
"Selamat malam, anak-anak," kata Sultan Hasan.
"Selamat malam, Ayah," kata mereka bersama.
Sultan Hasan masuk ke dalam pondok. Ia merebahkan diri di tempat tidur.
Ia memejamkan mata.
Ia tersenyum.
Ia bahagia.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap pondok itu. Matanya bundar dan kuning. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu berbunyi.
Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti sambutan untuk keluarga baru penjaga hati.
Selamanya.
BAB LXXVIII
Sultan Hasan Menjadi Kakek: Rukmini Hamil – Sultan Hasan Menangis Bahagia untuk Pertama Kalinya Setelah Kematian Pandan Wangi
Tanda-tanda kehamilan Rukmini mulai terlihat ketika musim kemarau tiba.
Ia yang biasanya bersemangat membantu Pandu Hati di ladang dan menenun di beranda, tiba-tiba malas bangun pagi. Ia mengeluh mual setiap kali mencium bau masakan. Ia sering muntah di pagi hari, kadang juga di sore hari. Pandu Hati cemas. Ia mengira istrinya sakit.
"Rukmini, apa kau tidak enak badan?" tanyanya suatu pagi, saat Rukmini berlari ke belakang pondok untuk muntah.
"Aku tidak tahu, Mas. Mungkin karena terlalu banyak makan ikan asin kemarin."
"Tapi kau juga mual kemarin. Dan lusa. Dan seminggu yang lalu."
Rukmini terdiam. Ia menghitung dalam hati. Sudah berapa lama ia tidak mendapat bulan? Dua bulan? Tiga bulan? Ia tidak ingat persis. Sejak menikah, ia tidak terlalu memperhatikan siklus tubuhnya.
"Mas," katanya pelan. "Mungkin... mungkin aku hamil."
Pandu Hati terkejut. "Hamil? Kau yakin?"
"Belum yakin. Tapi ini tanda-tandanya. Aku pernah melihat ibu-ibu di desa yang hamil. Mereka juga mual-mual di pagi hari."
Pandu Hati memeluk istrinya. "Kalau benar kau hamil, ini berkah. Anak pertama kita."
"Tapi aku takut, Mas. Aku belum pernah hamil sebelumnya. Aku tidak tahu harus berbuat apa."
"Kita tanya Ayah. Ayah pasti tahu. Ayah sudah berpengalaman."
Mereka berdua pergi menemui Sultan Hasan yang sedang duduk di tepi telaga, menulis syair.
"Ayah," kata Pandu Hati. "Rukmini... mungkin hamil."
Sultan Hasan berhenti menulis. Ia memandang menantunya. Matanya berbinar.
"Benarkah, Nak?" tanyanya pada Rukmini.
"Aku belum yakin, Ayah. Tapi tanda-tandanya... aku mual setiap pagi. Aku sering muntah. Aku juga tidak haid dua bulan ini."
Sultan Hasan tersenyum. "Itu tanda-tanda kehamilan, Nak. Aku sudah sering melihatnya dulu, saat ibumu mengandung Pandu Hati."
"Ayah, apa yang harus kami lakukan?" tanya Pandu Hati.
"Panggil dukun beranak. Biarkan ia memeriksa Rukmini. Ia lebih tahu."
Pandu Hati segera pergi ke desa sebelah memanggil dukun beranak. Dukun itu sudah sangat tua. Rambutnya putih semua. Kulitnya keriput. Tapi matanya masih tajam. Ia pernah menolong Pandan Wangi melahirkan Pandu Hati dulu. Kini, ia akan menolong menantu Pandan Wangi.
Ia memeriksa Rukmini dengan saksama. Merasakan denyut di perutnya. Mendengarkan napasnya. Mengamati wajahnya.
"Selamat, Nak," katanya pada Pandu Hati. "Istrimu memang hamil. Usianya sekitar tiga bulan. Janinnya sehat. Denyutnya kuat."
Pandu Hati menangis. Ia memeluk Rukmini.
"Kita punya anak, Min. Kita punya anak."
Rukmini juga menangis. "Aku tidak menyangka. Aku pikir aku mandul."
"Tidak ada yang mandul di dunia ini, Nak," kata dukun itu. "Yang ada hanya yang belum diberi kepercayaan oleh Tuhan. Sekarang kalian diberi kepercayaan. Jaga baik-baik janin ini. Jangan biarkan ia stres. Jangan biarkan ibunya jatuh. Jangan biarkan ibunya makan sembarangan."
"Kami akan menjaganya, Nek," kata Pandu Hati.
Sultan Hasan yang dari tadi diam, tiba-tiba menangis. Bukan isak tangis biasa. Tangis haru. Tangis bahagia. Tangis yang sudah lama tidak ia keluarkan, sejak Pandan Wangi meninggal.
"Pandan," bisiknya. "Kau dengar? Kita akan punya cucu. Anak dari anak kita. Darah daging kita. Penerus tradisi keluarga. Penjaga hati berikutnya."
Ia memandang ke langit. Seolah Pandan Wangi ada di sana, tersenyum, menangis bahagia bersamanya.
Kehamilan Rukmini berjalan lancar.
Bulan keempat, perutnya mulai membesar. Bulan kelima, ia sudah bisa merasakan gerakan janin di dalam rahimnya. Bulan keenam, janin itu sudah sangat aktif. Kadang menendang, kadang meninju, kadang berguling.
Pandu Hati sibuk merawat istrinya. Ia memasak. Ia mencuci. Ia membersihkan rumah. Ia bekerja di ladang. Kadang ia kewalahan. Tapi ia tidak pernah mengeluh. Ia bahagia. Karena ia akan menjadi ayah.
Sultan Hasan juga sibuk. Ia menulis syair tentang calon cucunya. Ia membersihkan pusaka setiap hari. Ia berdoa di tepi telaga. Ia memohon pada Tuhan, pada alam, pada Pandan Wangi, pada Nini Mas Intan, pada semua leluhur, semoga cucunya lahir selamat.
Setiap malam, sebelum tidur, Sultan Hasan meletakkan batu akik merah di dadanya di atas perut Rukmini. Batu itu berdenyut. Hangat.
"Ayah, apa yang Ayah lakukan?" tanya Pandu Hati.
"Aku memberkati calon cucuku. Dengan pusaka ini. Dengan doa. Dengan cinta."
"Apakah kakek juga melakukan hal yang sama untukku dulu?"
"Iya. Kakek juga meletakkan pusaka di perut ibumu. Dan kau lahir selamat. Sehat. Kuat. Cerdas."
"Aku tidak pernah tahu itu."
"Banyak hal yang tidak kau tahu, Nak. Tentang orang tuamu. Tentang perjuangan mereka. Tentang doa-doa mereka untukmu."
Pandu Hati menunduk. Ia merasa bersalah. Selama ini, ia mengira orang tuanya tidak peduli. Selama ini, ia mengira mereka hanya memaksakan kehendak. Padahal, mereka hanya ingin yang terbaik untuknya.
"Maafkan aku, Ayah," bisiknya. "Aku sudah menjadi anak yang durhaka."
"Sudahlah, Nak. Masa lalu biarlah berlalu. Sekarang kita fokus pada masa depan. Pada cucuku. Penerus tradisi keluarga."
Pada bulan ketujuh kehamilan Rukmini, Sultan Hasan bermimpi.
Dalam mimpinya, ia berdiri di tepi telaga. Airnya jernih. Dasarnya terlihat. Tanaman air bergoyang-goyang. Bulan purnama bersinar terang, memantul di permukaan air, menciptakan ribuan titik berkilauan.
Di batu hitam, Pandan Wangi duduk. Tersenyum. Cantik. Seperti dulu.
"Pandan!" teriak Sultan Hasan.
Ia berlari. Memeluk istrinya. Hangat. Nyata. Seperti tidak pernah pergi.
"Aku datang untuk memberitahumu kabar gembira," kata Pandan Wangi.
"Apa itu?"
"Calon cucumu akan lahir selamat. Ia perempuan. Cantik. Cerdas. Baik hati. Ia akan menjadi penjaga hati yang hebat. Lebih hebat dari kita semua."
"Kau yakin?"
"Aku yakin. Aku bisa melihatnya dari sini."
"Boleh aku tahu namanya?"
"Kau yang akan memberinya nama. Tapi ingat, beri nama yang baik. Nama yang penuh makna. Nama yang akan menginspirasinya seumur hidup."
"Aku akan memikirkannya."
"Jangan terlalu lama. Waktu tidak menunggu."
Pandan Wangi mengecup kening Sultan Hasan.
"Selamat menjadi kakek, suamiku. Aku bangga padamu."
Kemudian ia menghilang. Perlahan. Seperti kabut yang ditiup angin.
Sultan Hasan terbangun.
Ia duduk di tempat tidur. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Tapi hatinya hangat. Bahagia.
"Pandan," bisiknya. "Terima kasih untuk kabar gembiranya. Aku akan memberikan nama terbaik untuk cucu kita."
Pada bulan kesembilan, Rukmini melahirkan.
Persalinan berlangsung lancar. Dukun beranak yang sama menolongnya. Pandu Hati setia menemani di samping istrinya, menggenggam tangannya erat-erat, menyemangatinya, mengusap keringat di dahinya.
Sultan Hasan duduk di tepi telaga. Ia memegang batu akik merah di dadanya. Berdoa. Memohon keselamatan untuk menantunya dan calon cucunya.
"Ya Allah, lindungi mereka. Berikan mereka kesehatan. Berikan mereka kebahagiaan. Aku rela apa pun terjadi. Asalkan mereka selamat."
Batu akik merah itu berdenyut. Kencang. Hangat. Seperti memberikan semangat.
Dan kemudian, suara tangis bayi memecah kesunyian malam.
"Selamat, Nak," kata dukun beranak itu. "Perempuan. Sehat. Kuat. Tidak ada cacat."
Pandu Hati menangis. Rukmini menangis. Sultan Hasan yang mendengar dari kejauhan, juga menangis.
Ia berlari ke pondok. Ia melihat cucunya. Bayi perempuan. Merah. Keriput. Menangis keras. Tapi sehat. Kuat. Cantik.
"Cucuku," bisik Sultan Hasan. "Cucuku."
Ia menggendong bayi itu dengan hati-hati. Bayi itu berhenti menangis. Matanya terbuka. Hitam pekat. Menatap Sultan Hasan.
"Kau mirip nenekmu," bisik Sultan Hasan. "Cantik. Lembut. Matamu teduh."
"Sudah punya nama, Ayah?" tanya Pandu Hati.
"Sudah. Namanya Hj. Fatimah Zahra. Panggil saja Zahra."
"Hj. Fatimah Zahra. Nama yang indah."
"Ia akan menjadi penjaga hati yang hebat. Seperti neneknya. Seperti ayahnya. Seperti kakeknya."
Mereka semua tersenyum.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap pondok itu. Matanya bundar dan kuning. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu terbang. Meninggalkan suara yang nyaring.
Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti sambutan untuk penjaga hati baru.
Selamanya.
BAB LXXIX
Lahirnya Cucu Perempuan: Seorang Bayi Perempuan Lahir dengan Tangisan yang Persis seperti Tangisan Sultan Hasan Dulu
Tujuh hari telah berlalu sejak kelahiran Zahra. Bayi itu tumbuh sehat. Berat badannya bertambah. Tangisnya keras. Senyumnya menggemaskan. Rukmini sibuk menyusui dan merawatnya. Pandu Hati sibuk membantu istrinya. Sultan Hasan sibuk menulis syair tentang cucunya.
Tapi ada satu hal yang mengganggu pikiran Sultan Hasan. Tangisan Zahra. Ia sudah mendengar tangisan banyak bayi dalam hidupnya. Tangisan Pandu Hati dulu. Tangisan anak-anak tetangga. Tangisan bayi-bayi yang lahir di desanya. Tapi tangisan Zahra berbeda. Tangisannya persis seperti tangisannya dulu, saat ia lahir di malam gerhana. Keras. Nyaring. Dan seolah-olah... sudah tua.
"Pandu," kata Sultan Hasan suatu sore, saat mereka berdua duduk di beranda pondok. Rukmini sedang tertidur di dalam, bersama Zahra di sampingnya.
"Ya, Ayah?"
"Apakah kau tidak merasakan keanehan pada tangisan Zahra?"
"Keanehan apa, Ayah?"
"Tangisannya. Persis seperti tangisanku dulu. Saat aku lahir di malam gerhana. Nini Mas Intan bilang, aku menangis bukan karena takut. Tapi karena aku sudah tahu betapa berat tugasku kelak."
"Kau pikir Zahra juga begitu, Ayah?"
"Aku tidak tahu. Tapi aku bisa merasakannya. Ada sesuatu yang istimewa pada dirinya."
Pandu Hati terdiam. Ia memandang ke dalam pondok, ke arah istrinya dan bayinya.
"Ayah, apa kau tidak takut? Jika Zahra memang terpilih menjadi penjaga hati, ia akan mengalami penderitaan seperti Ayah dulu. Dikucilkan. Dibenci. Dilempari kerikil. Hampir dijadikan sesaji."
"Tidak, Nak. Zaman sudah berubah. Orang-orang sudah lebih mengerti. Ia tidak akan mengalami penderitaan seperti aku dulu. Tapi ia akan menghadapi tantangan yang berbeda. Tantangan zaman. Tantangan teknologi. Tantangan kesibukan. Tantangan melupakan hati."
"Apa yang harus kita lakukan, Ayah?"
"Kita harus mendidiknya dengan baik. Mengajarinya tentang cinta. Tentang kasih sayang. Tentang empati. Tentang menjadi manusia yang baik. Selebihnya, biarkan ia memilih jalannya sendiri."
Pandu Hati mengangguk. "Aku akan berusaha menjadi ayah yang baik, Ayah. Seperti Ayah."
"Kau sudah menjadi ayah yang baik, Nak. Aku bangga padamu."
Malam harinya, Sultan Hasan tidak bisa tidur.
Ia berbaring di tempat tidurnya, memandang langit-langit pondok yang gelap. Di luar, burung hantu berbunyi. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Seperti memanggil.
Ia bangkit. Ia berjalan ke tepi telaga. Bulan purnama bersinar terang. Air telaga jernih, memantulkan cahaya bulan, menciptakan ribuan titik berkilauan.
Ia duduk di batu hitam. Batu yang sama tempat ia duduk bersama Pandan Wangi dulu. Batu yang sama tempat ia menunggu Pandan Wangi setiap malam. Batu yang sama tempat ia menangis ketika Pandan Wangi tidak datang.
Ia memegang batu akik merah di dadanya. Batu itu berdenyut. Hangat. Retakannya hampir tidak terlihat lagi. Hampir pulih.
"Pusaka," bisiknya. "Apakah kau juga merasakan keanehan pada tangisan Zahra?"
Batu itu berdenyut lebih kencang.
"Aku merasakannya. Tangisannya persis seperti tangisanmu dulu. Penuh dengan kesadaran. Penuh dengan pengertian. Penuh dengan beban."
"Apakah itu berarti ia terpilih menjadi penjaga hati?"
"Ia terpilih. Seperti kau. Seperti Pandan Wangi. Seperti Nini Mas Intan. Seperti Ki Ageng Jagaraga. Seperti Kiai Pati. Seperti semua penjaga hati sebelum kalian."
"Aku tidak tahu harus merasa bangga atau khawatir."
"Kau boleh merasa keduanya. Bangga karena keturunanmu akan melanjutkan tradisi. Khawatir karena ia akan menghadapi tantangan yang berat. Tapi ingat, ia tidak sendirian. Ia punya kau. Ia punya Pandu Hati. Ia punya Rukmini. Ia punya telaga. Ia punya pusaka. Ia punya leluhur yang akan selalu menjaganya dari alam lain."
"Terima kasih, pusaka. Kau selalu bisa menenangkanku."
"Itu tugasku sebagai pusaka. Mengingatkan. Menenangkan. Menjaga."
Sultan Hasan tersenyum.
Keesokan paginya, Sultan Hasan menggendong Zahra.
Ia membawa cucunya ke tepi telaga. Rukmini dan Pandu Hati mengikuti dari belakang, cemas.
"Ayah, apa yang Ayah lakukan?" tanya Pandu Hati.
"Aku akan mengenalkan Zahra pada telaga. Pada pusaka. Pada leluhurnya."
"Ayah, ia masih bayi. Ia belum mengerti apa-apa."
"Ia akan mengerti. Mungkin tidak sekarang. Tapi suatu hari nanti."
Sultan Hasan mendekatkan Zahra ke air telaga. Bayi itu membuka matanya. Hitam pekat. Menatap air yang jernih. Menatap dasarnya yang terlihat. Menatap tanaman air yang bergoyang-goyang.
Ia tersenyum. Tanpa gigi. Tapi senyum yang membuat hati Sultan Hasan meleleh.
"Zahra," bisik Sultan Hasan. "Ini telaga. Telaga tempat kakek dulu bermain. Tempat kakek dulu bertemu nenekmu. Tempat kakek dulu belajar menjadi penjaga hati. Kelak, jika kakek sudah tiada, kakek titipkan telaga ini padamu. Jagalah ia. Karena ia adalah sumber kehidupan. Sumber cinta. Sumber kebijaksanaan."
Zahra menangis. Tangis yang keras. Nyaring. Seperti tangisan Sultan Hasan dulu. Bukan tangisan biasa. Tangisan yang sudah tua. Tangisan yang tahu.
Rukmini menangis mendengarnya. Pandu Hati juga.
"Ayah," kata Pandu Hati. "Apa yang terjadi?"
"Sama seperti yang terjadi padaku dulu," kata Sultan Hasan. "Zahra menangis bukan karena takut. Tapi karena ia sudah tahu betapa berat tugasnya kelak. Tugas menjadi penjaga hati."
Setelah menenangkan Zahra dan memberikannya kembali pada Rukmini, Sultan Hasan duduk di batu hitam. Pandu Hati duduk di sampingnya.
"Ayah," kata Pandu Hati. "Aku takut."
"Takut apa, Nak?"
"Aku takut Zahra akan mengalami penderitaan seperti Ayah dulu. Aku takut ia akan dikucilkan. Dibenci. Dilempari kerikil. Hampir dibunuh."
"Kau tidak perlu takut, Nak. Zahra tidak akan mengalami penderitaan seperti itu. Zaman sudah berubah. Orang-orang sudah lebih mengerti. Tapi ia akan menghadapi tantangan yang berbeda. Tantangan zaman. Tantangan teknologi. Tantangan kesibukan. Tantangan melupakan hati."
"Bisakah kita melindunginya?"
"Kita bisa. Tapi tidak selamanya. Suatu hari, kita akan tua. Suatu hari, kita akan mati. Zahra harus bisa melindungi dirinya sendiri."
"Bagaimana caranya?"
"Kita didik ia dengan baik. Ajari ia tentang cinta. Tentang kasih sayang. Tentang empati. Tentang menjadi manusia yang baik. Ajari ia tentang telaga. Tentang pusaka. Tentang syair penjaga hati. Ajari ia tentang leluhur. Tentang tradisi. Tentang menjadi penjaga hati."
"Aku akan melakukan yang terbaik, Ayah."
"Ayah tahu. Ayah percaya padamu."
Mereka berdua diam. Menikmati pagi. Menikmati kebersamaan. Menikmati kehadiran Zahra yang kini tertidur damai di pangkuan Rukmini.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap mereka.
Matanya bundar dan kuning. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu berbunyi.
Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti sambutan untuk penjaga hati baru.
Seorang bayi perempuan yang lahir dengan tangisan yang persis seperti tangisan Sultan Hasan dulu. Tangisan yang sudah tua. Tangisan yang tahu betapa berat tugasnya kelak.
Tapi ia tidak sendirian. Ia punya keluarga. Ia punya telaga. Ia punya pusaka. Ia punya leluhur yang akan selalu menjaganya.
Selamanya.
BAB LXXX
Nama untuk Cucu: Sultan Hasan Memberi Nama Hj. Fatimah Zahra – Panggilan Sehari-hari: Zahra
Tiga puluh lima hari telah berlalu sejak kelahiran Zahra. Bayi itu kini sudah tidak sekecil dulu. Pipinya yang tadinya keriput kini mulai berisi. Kulitnya yang tadinya kemerahan kini mulai memutih. Rambutnya yang tadinya hanya sedikit kini mulai tumbuh tebal dan hitam legam, seperti rambut Pandan Wangi dulu. Matanya yang hitam pekat semakin jernih, semakin teduh, semakin dalam.
Sultan Hasan sudah memikirkan nama untuk cucunya sejak lama. Sejak Rukmini masih hamil. Sejak ia bermimpi bertemu Pandan Wangi di telaga. Sejak ia merasakan bahwa cucunya akan menjadi penjaga hati yang hebat.
Tapi ia tidak terburu-buru. Nama adalah doa. Nama adalah harapan. Nama adalah identitas yang akan melekat seumur hidup. Ia tidak mau salah memberi nama.
Ia merenung. Ia berdoa. Ia memohon petunjuk pada Tuhan, pada alam, pada Pandan Wangi, pada Nini Mas Intan, pada semua leluhur.
Dan pada malam ke-35, saat bulan purnama bersinar terang, Sultan Hasan mendapat jawaban.
Ia sedang duduk di tepi telaga, sendirian. Pandu Hati dan Rukmini sudah tidur di dalam pondok, bersama Zahra di samping mereka. Sultan Hasan memandang air telaga yang jernih, memandang bulan yang bersinar, memandang bintang-bintang yang bertaburan.
Ia memegang batu akik merah di dadanya. Batu itu berdenyut. Hangat.
"Kau sudah menemukan namanya?" bisik batu itu.
"Belum. Aku masih bingung."
"Dengar. Ada bisikan dari alam. Dari telaga. Dari Pandan Wangi."
Sultan Hasan memejamkan mata. Ia mendengarkan.
Angin berembus pelan. Membawa wangi pandan. Juga bisikan. Samar. Tapi jelas.
"Fatimah Zahra..."
Sultan Hasan membuka mata. "Fatimah Zahra?"
"Fatimah Zahra. Nama yang indah. Fatimah berarti perempuan yang disapih. Zahra berarti bercahaya. Fatimah Zahra. Perempuan yang disapih dan bercahaya."
"Apakah itu nama yang baik untuk penjaga hati?"
"Nama yang sangat baik. Fatimah Zahra adalah putri kesayangan Nabi Muhammad. Ia dikenal sebagai pemimpin wanita di surga. Ia lembut. Ia penyayang. Ia sabar. Ia juga berani. Ia membela kebenaran. Ia tidak takut pada siapa pun kecuali Tuhan. Itulah teladan yang baik untuk cucumu."
"Terima kasih, pusaka. Aku akan memberinya nama itu."
Keesokan paginya, Sultan Hasan memanggil seluruh keluarga ke tepi telaga.
Pandu Hati dan Rukmini datang. Mereka duduk di tikar anyaman pandan. Zahra digendong Rukmini. Bayi itu terjaga. Matanya hitam pekat terbuka lebar, memandang telaga, memandang bulan yang masih tersisa di ufuk barat, memandang burung-burung yang mulai berkicau.
"Ayah," kata Pandu Hati. "Ada apa? Mengapa Ayah memanggil kami sepagi ini?"
"Aku sudah menemukan nama untuk cucuku," kata Sultan Hasan.
"Sudah, Ayah? Apa namanya?"
"Nama lengkapnya Hj. Fatimah Zahra. Panggilan sehari-hari: Zahra."
"Hj. Fatimah Zahra," ulang Rukmini. "Nama yang indah. Apa artinya, Ayah?"
"Fatimah berarti perempuan yang disapih. Zahra berarti bercahaya. Jadi Hj. Fatimah Zahra adalah perempuan yang disapih dan bercahaya. Semoga ia menjadi wanita yang mandiri, tidak bergantung pada siapa pun, dan selalu menjadi cahaya bagi orang-orang di sekitarnya."
"Amin," kata Pandu Hati dan Rukmini bersama.
"Ada lagi," kata Sultan Hasan. "Fatimah Zahra juga nama putri kesayangan Nabi Muhammad. Ia dikenal sebagai pemimpin wanita di surga. Ia lembut. Ia penyayang. Ia sabar. Ia juga berani. Ia membela kebenaran. Ia tidak takut pada siapa pun kecuali Tuhan. Semoga cucuku meneladani sifat-sifat mulia itu."
"Amin," ulang mereka.
Sultan Hasan menggendong Zahra. Bayi itu tersenyum. Sultan Hasan tersenyum balik.
"Zahra," bisiknya. "Kau akan menjadi penjaga hati yang hebat. Kakek yakin. Tapi ingat, kau tidak harus menjadi sempurna. Kau hanya harus menjadi tulus. Tulus dalam menjaga. Tulus dalam mencintai. Tulus dalam berbagi."
Zahra menangis. Tangis yang keras. Nyaring. Seperti tangisan Sultan Hasan dulu. Bukan tangisan biasa. Tangisan yang sudah tua. Tangisan yang tahu.
Rukmini menangis mendengarnya. Pandu Hati juga.
"Ayah," kata Pandu Hati. "Apa yang terjadi?"
"Sama seperti yang terjadi padaku dulu," kata Sultan Hasan. "Zahra menangis bukan karena takut. Tapi karena ia sudah tahu betapa berat tugasnya kelak. Tugas menjadi penjaga hati."
"Ayah, aku takut."
"Kau tidak perlu takut, Nak. Zahra tidak sendirian. Ia punya kau. Ia punya Rukmini. Ia punya kakek. Ia punya telaga. Ia punya pusaka. Ia punya leluhur yang akan selalu menjaganya dari alam lain."
Pandu Hati mengangguk. Ia memeluk Rukmini.
Mereka berdoa bersama. Memohon keselamatan untuk Zahra. Memohon bimbingan untuk Zahra. Memohon kekuatan untuk Zahra.
Setelah doa selesai, Sultan Hasan membawa Zahra ke tepi telaga.
Ia mendekatkan cucunya ke air. Air telaga jernih. Dasarnya terlihat. Tanaman air bergoyang-goyang.
"Zahra," bisiknya. "Ini telaga. Telaga tempat kakek dulu bermain. Tempat kakek dulu bertemu nenekmu. Tempat kakek dulu belajar menjadi penjaga hati. Kelak, jika kakek sudah tiada, kakek titipkan telaga ini padamu. Jagalah ia. Karena ia adalah sumber kehidupan. Sumber cinta. Sumber kebijaksanaan."
Ia mencelupkan jari telunjuknya ke air telaga. Lalu ia menyentuhkan jari itu ke kening Zahra, ke pipinya, ke bibirnya, ke dadanya.
"Dengan air telaga ini, kusucikan hatimu. Dengan izin Tuhan, dengan izin alam, dengan izin leluhur. Semoga kau menjadi penjaga hati yang baik. Seperti kakek. Seperti nenekmu. Seperti Nini Mas Intan. Seperti semua penjaga hati sebelum kalian."
Zahra tidak menangis. Ia hanya tersenyum. Senyum tanpa gigi. Tapi senyum yang membuat hati Sultan Hasan meleleh.
"Terima kasih, Tuhan," bisik Sultan Hasan. "Terima kasih telah memberiku cucu yang cantik, yang cerdas, yang baik hati. Aku akan menjaganya. Aku akan membimbingnya. Aku akan mencintainya. Sampai mati. Sampai setelah mati. Selamanya."
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap mereka.
Matanya bundar dan kuning. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu terbang. Meninggalkan suara yang nyaring.
Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti sambutan untuk penjaga hati baru.
Seorang bayi perempuan bernama Hj. Fatimah Zahra.
Panggilan sehari-hari: Zahra.
Yang akan tumbuh menjadi wanita yang disapih dan bercahaya.
Yang akan menjadi penerus tradisi keluarga.
Yang akan menjaga telaga.
Yang akan menjaga pusaka.
Yang akan menjaga hati.
Selamanya.
Bagian Lima: Generasi Penerus
"Generasi penerus tidak selalu lahir dari rahim yang sama. Kadang, ia lahir dari mimpi yang diwariskan. Dari syair yang dihafalkan. Dari pusaka yang dijaga. Dari telaga yang tidak pernah kering. Inilah kisah tentang seorang gadis kecil bernama Zahra yang dipilih menjadi penjaga hati termuda. Tentang bagaimana ia belajar dari kakeknya, dari pusaka, dari telaga, dan dari leluhur. Tentang ujian yang menguji keteguhan hatinya. Dan tentang lingkaran waktu yang akhirnya tertutup, ketika cicitnya lahir dengan tanda yang sama di keningnya."
Di mana Zahra tumbuh menjadi penjaga hati. Di mana ia menghadapi ujian keluarga yang nyaris menghancurkan. Di mana ia berhasil melewati segalanya dengan gemilang. Dan di mana ia mengajarkan syair pertama kepada cicitnya yang bernama Sultan Hasan Kecil—penanda bahwa tradisi akan terus berlanjut, dari generasi ke generasi, selamanya.
BAB LXXXI
Zahra Mulai Berjalan: Zahra Kecil Sering Duduk di Samping Sultan Hasan – Ia Suka Mendengar Cerita Kakeknya
Zahra tumbuh menjadi anak yang cerdas dan lincah. Pada usia delapan bulan, ia sudah bisa merangkak dengan cepat. Pada usia sepuluh bulan, ia sudah bisa berdiri dengan berpegangan pada dinding bambu pondok. Pada usia satu tahun, ia sudah bisa berjalan sendiri, tanpa bantuan siapa pun, meskipun kadang masih jatuh.
Sultan Hasan senang sekali melihat perkembangan cucunya. Setiap hari, ia duduk di beranda pondok, mengawasi Zahra bermain di halaman. Kadang Zahra mengejar kupu-kupu. Kadang ia memetik bunga-bunga liar. Kadang ia hanya duduk di tanah, memandang semut-semut yang berbaris membawa makanan.
"Zahra," panggil Sultan Hasan suatu sore.
Zahra yang sedang asyik memandang bunga, menoleh. Ia berlari kecil mendekati kakeknya. Kakinya yang mungil terhuyung-huyung, tapi ia tetap bersemangat.
"Apa, Kek?" tanyanya.
"Duduk di sini. Kakek mau bercerita."
Zahra duduk di samping kakeknya. Ia memandang kakeknya dengan mata berbinar. Ia suka mendengar cerita kakeknya. Cerita tentang telaga. Cerita tentang neneknya. Cerita tentang pusaka. Cerita tentang penjaga hati.
"Hari ini, kakek mau cerita tentang telaga," kata Sultan Hasan.
"Telaga? Yang di belakang pondok itu?"
"Iya. Telaga itu istimewa, Zahra. Airnya tidak pernah kering. Bahkan di musim kemarau paling panjang sekalipun."
"Kenapa tidak pernah kering, Kek?"
"Karena telaga itu dijaga oleh nenekmu. Pandan Wangi. Nenekmu adalah penunggu telaga. Ia menjaga airnya. Menjaga ikannya. Menjaga tanamannya. Menjaga semuanya."
"Kalau nenek menjaga telaga, kenapa nenek tidak ada di sini?"
Sultan Hasan terdiam. Matanya berkaca-kaca. Tapi ia tersenyum. "Nenek sudah pergi ke surga, Zahra. Tapi ia tidak pernah benar-benar pergi. Ia selalu di sini. Di telaga ini. Di pusaka ini. Di hatiku."
Zahra tidak mengerti sepenuhnya. Ia masih kecil. Tapi ia merasakan kesedihan kakeknya. Ia memeluk kakeknya.
"Jangan sedih, Kek. Zahra di sini."
Sultan Hasan memeluk cucunya. Air matanya menetes. Tapi ia bahagia.
Setiap hari, Zahra duduk di samping kakeknya, mendengarkan cerita-cerita kakeknya. Sultan Hasan tidak pernah kehabisan cerita. Tentang masa kecilnya di Dukuh Wangi. Tentang ibunya, Dewi Rengganis, yang meninggal saat ia masih kecil. Tentang ayahnya, Hasan, yang lenyap di hutan. Tentang Nini Mas Intan yang menolong kelahirannya. Tentang Mak Umi yang merawatnya. Tentang Jaya, sahabat setianya.
Zahra mendengarkan dengan saksama. Matanya tidak berkedip. Ia bertanya tentang tokoh-tokoh dalam cerita kakeknya. Tentang Mak Umi. Tentang Nini Mas Intan. Tentang Ki Ageng Jagaraga. Tentang Kyai Buyut Cakar Mase. Tentang Kiai Pati. Tentang semua yang pernah membimbing kakeknya menjadi penjaga hati.
"Kek, kenapa kakek dulu dipukuli teman-teman?" tanya Zahra suatu hari.
"Karena mereka menganggap kakek anak setan. Kakek lahir di malam gerhana. Itu dianggap pertanda buruk."
"Tapi kakek baik. Kakek tidak jahat."
"Memang. Tapi orang-orang sering takut pada hal-hal yang tidak mereka mengerti. Dan ketakutan sering berwujud kebencian."
"Zahra tidak akan membenci orang yang berbeda, Kek. Zahra akan menyayangi mereka."
Sultan Hasan tersenyum. Ia mengelus rambut Zahra. "Kau baik, Zahra. Lebih baik dari kakek. Kakek bangga padamu."
Suatu sore, saat Zahra sedang duduk di samping kakeknya di tepi telaga, ia melihat burung hantu di dahan pohon asam.
"Kek, lihat! Burung hantu!" teriak Zahra.
Sultan Hasan memandang ke arah yang ditunjuk Zahra. Seekor burung hantu bertengger di dahan pohon asam, menatap mereka dengan mata bundar dan kuning.
"Itu burung hantu, Nak. Ia sudah lama tinggal di pohon itu. Sejak kakek masih kecil."
"Kenapa ia tidak pernah pergi?"
"Mungkin ia menjaga telaga ini. Menjaga kakek. Menjaga keluarga kita."
"Boleh Zahra mendekat?"
"Jangan. Burung hantu takut pada manusia. Jika kau mendekat, ia akan terbang."
Zahra tidak jadi mendekat. Ia hanya memandang burung hantu dari kejauhan. Burung hantu itu menatap balik. Matanya bundar dan kuning. Ia tidak berbunyi. Hanya menatap.
"Kek, burung hantu itu bisa bicara?"
Sultan Hasan tersenyum. "Tidak, Nak. Ia hanya burung. Ia tidak bisa bicara seperti manusia."
"Tapi matanya... matanya seperti ingin bicara."
"Mungkin ia bisa bicara dengan hati. Tanpa kata-kata. Tanpa suara. Hanya perasaan."
Zahra mengangguk. Ia tidak sepenuhnya mengerti. Tapi ia percaya pada kakeknya.
Hari-hari berlalu. Zahra semakin besar. Ia mulai bisa membaca dan menulis. Sultan Hasan mengajarinya. Pandu Hati juga membantu. Rukmini mengajari menenun.
Zahra belajar dengan cepat. Ia cerdas. Sangat cerdas. Seperti ayahnya dulu. Tapi ia tidak keras kepala seperti ayahnya. Ia patuh pada kakeknya. Ia patuh pada orang tuanya. Ia juga menghormati tradisi keluarga.
"Kakek," kata Zahra suatu hari. "Zahra ingin belajar syair penjaga hati."
"Kau masih kecil, Nak. Syair itu panjang. Ratusan baris. Ribuan suku kata."
"Zahra bisa. Zahra sudah hafal doa-doa pendek. Zahra sudah hafal surat-surat pendek. Zahra pasti bisa hafal syair penjaga hati."
Sultan Hasan tersenyum. "Baiklah. Kakek akan mengajarimu. Tapi tidak sekaligus. Sedikit demi sedikit."
"Baik, Kek."
Maka dimulailah pelajaran syair penjaga hati untuk Zahra. Sultan Hasan membaca baris demi baris. Zahra mengulangi. Sultan Hasan menjelaskan maknanya. Zahra mendengarkan.
"Hati yang tidak dijaga akan diambil angin,
Hati yang dijaga terlalu keras akan retak oleh tangannya sendiri."
"Apa artinya, Kek?" tanya Zahra.
"Artinya, kita harus menjaga hati. Tidak boleh terlalu longgar, sehingga mudah diambil angin. Tidak boleh terlalu ketat, sehingga retak oleh tangannya sendiri. Seimbang. Seperti napas. Seperti air telaga yang tenang."
Zahra mengangguk. Ia menghafal baris itu. Ia mengulanginya berkali-kali sampai hafal.
"Kakek, Zahra suka syair ini. Indah. Dalam. Penuh makna."
"Syair itu adalah warisan leluhur, Zahra. Dulu, Nini Mas Intan mengajarkannya pada kakek. Kakek mengajarkannya pada ayahmu. Sekarang, kakek mengajarkannya padamu. Kelak, kau harus mengajarkannya pada anak cucumu."
"Zahra akan mengajarkannya, Kek. Zahra janji."
Malam harinya, setelah Zahra tidur, Sultan Hasan duduk di tepi telaga sendirian.
Ia memandang air yang jernih. Ia memandang bulan yang bersinar. Ia memandang batu akik merah di dadanya yang kini sudah pulih sempurna. Retakannya sudah tidak terlihat.
"Pandan," bisiknya. "Zahra sudah besar. Ia sudah bisa berjalan. Ia sudah bisa bicara. Ia suka mendengar cerita-ceritaku. Ia juga belajar syair penjaga hati. Ia akan menjadi penjaga hati yang hebat. Lebih hebat dari kita semua."
Air matanya menetes. Bukan sedih. Tapi haru. Bangga. Bahagia.
Ia memandang ke langit. Bintang-bintang bertaburan. Seolah berkedip-kedip.
"Kau pasti bangga, ya? Melihat cucu kita tumbuh. Belajar. Menjadi penjaga hati. Meneruskan tradisi keluarga."
Angin berembus pelan. Membawa wangi pandan.
Sultan Hasan tersenyum. "Aku merindukanmu, Pandan. Setiap hari. Setiap malam. Tapi aku ikhlas. Karena kau sudah pergi ke tempat yang lebih baik. Dan suatu hari, kita akan bertemu lagi. Di telaga ini. Di surga. Selamanya."
Ia berdiri. Ia berjalan pulang.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatapnya. Matanya bundar dan kuning. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu berbunyi.
Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti seruan untuk terus menjaga. Menjaga telaga. Menjaga pusaka. Menjaga cucu. Menjaga hati.
Selamanya.
BAB LXXXII
Zahra dan Pusaka: Zahra Bisa Membuat Batu Akik Merah yang Retak Itu Bersinar Kembali – Sultan Hasan Terkejut
Usia Zahra menginjak tujuh tahun ketika keajaiban pertama terjadi.
Sudah lima tahun ia hidup di pondok tepi telaga, belajar dari kakeknya tentang syair, tentang telaga, tentang pusaka, tentang menjadi penjaga hati. Ia sudah hafal ratusan baris syair penjaga hati. Ia sudah bisa menulis dengan indah di atas daun lontar. Ia sudah bisa menenun seperti ibunya. Ia sudah bisa bertani seperti ayahnya.
Tapi ada satu hal yang belum pernah ia lakukan: menyentuh pusaka keluarga. Batu akik merah yang selalu digantung di dada kakeknya. Batu yang berdenyut seperti jantung. Batu yang konon bisa bicara, meskipun tidak pernah terdengar oleh telinga biasa.
"Kakek," kata Zahra suatu sore, saat mereka berdua duduk di tepi telaga. "Boleh Zahra memegang pusaka Kakek?"
Sultan Hasan terkejut. "Kau ingin memegang pusaka?"
"Iya, Kek. Zahra penasaran. Zahra ingin merasakan denyutnya. Zahra ingin melihat apakah ia benar-benar bisa bicara seperti kata Kakek."
Sultan Hasan terdiam. Ia memandang batu akik merah di dadanya. Batu itu berdenyut. Hangat.
"Biarkan," bisik batu itu. "Biarkan ia memegang aku. Aku ingin dekat dengannya."
"Baiklah," kata Sultan Hasan. "Tapi hati-hati. Batu ini sakral. Jangan sampai jatuh. Jangan sampai rusak."
Ia melepas kalung batu akik merah dari lehernya. Diberikannya pada Zahra.
Zahra menerima dengan hati-hati. Tangannya gemetar. Matanya berbinar.
Begitu batu itu menyentuh telapak tangan Zahra, sebuah keajaiban terjadi.
Batu yang selama ini berdenyut pelan, tiba-tiba berdenyut kencang. Sangat kencang. Hampir seperti mau lepas dari genggaman Zahra. Cahaya merahnya memancar terang, menyilaukan. Seluruh tubuh Zahra berpendar, seperti dipeluk oleh cahaya.
"Kakek!" teriak Zahra. "Ada apa?"
Sultan Hasan tidak bisa menjawab. Ia terpaku. Ia belum pernah melihat batu itu bersinar begitu terang. Dulu, saat batu itu masih utuh, sebelum retak, cahayanya memang terang. Tapi tidak seterang ini. Dulu, saat batu itu menyatu dengan jantung telaga di dalam gua, cahayanya memang terang. Tapi tidak seterang ini.
"Ini... ini luar biasa," bisik Sultan Hasan.
Cahaya itu semakin terang. Membungkus seluruh tubuh Zahra. Membungkus Sultan Hasan. Membungkus telaga. Membungkus pohon-pohon di sekitarnya. Seluruh desa Dukuh Wangi seketika terang benderang, seperti disinari matahari di tengah malam.
Warga desa keluar dari rumah mereka. Mereka terkejut. Mereka tidak tahu apa yang terjadi. Beberapa orang berlari ke arah telaga, ingin melihat sumber cahaya.
Tapi ketika mereka sampai di tepi telaga, cahaya itu sudah meredup. Zahra masih duduk di samping kakeknya, memegang batu akik merah yang kini tampak lebih utuh, lebih bersinar, lebih hidup dari sebelumnya.
"Apa yang terjadi, Kek?" tanya Zahra.
"Kau... kau telah menyembuhkan pusaka ini," kata Sultan Hasan. "Retakannya sudah hilang. Batu ini utuh kembali. Seperti baru."
"Zahra hanya memegangnya, Kek. Zahra tidak melakukan apa-apa."
"Kau tidak sadar, Nak. Tapi energi dalam dirimu telah menyembuhkan batu ini. Mungkin karena kau masih suci. Mungkin karena kau adalah penjaga hati sejati. Mungkin karena kau ditakdirkan untuk meneruskan tradisi keluarga."
Zahra tidak mengerti sepenuhnya. Tapi ia tersenyum. "Zahra senang bisa membantu, Kek."
Sultan Hasan memeluk cucunya. Air matanya mengalir. "Kakek bangga padamu, Zahra. Kakek sangat bangga."
Kabar tentang keajaiban itu menyebar dengan cepat.
Seluruh warga Dukuh Wangi membicarakannya. Ada yang percaya. Ada yang tidak. Ada yang menganggap itu hanya kebetulan. Ada yang menganggap itu campur tangan makhluk halus. Ada yang menganggap Zahra adalah anak sakti, penerus Nini Mas Intan, penerus Sultan Hasan, penerus Pandan Wangi.
Pandu Hati dan Rukmini juga terkejut. Mereka tidak menyangka anak mereka memiliki kemampuan seperti itu.
"Ayah," kata Pandu Hati. "Apa ini berarti Zahra terpilih menjadi penjaga hati?"
"Sepertinya begitu," kata Sultan Hasan.
"Aku takut, Ayah. Aku takut Zahra akan mengalami penderitaan seperti Ayah dulu."
"Kau tidak perlu takut, Nak. Zahra tidak akan mengalami penderitaan seperti itu. Zaman sudah berubah. Orang-orang sudah lebih mengerti. Tapi ia akan menghadapi tantangan yang berbeda. Tantangan zaman. Tantangan teknologi. Tantangan kesibukan. Tantangan melupakan hati."
"Apa yang harus kita lakukan, Ayah?"
"Kita harus mendidiknya dengan baik. Mengajarinya tentang cinta. Tentang kasih sayang. Tentang empati. Tentang menjadi manusia yang baik. Ajari ia tentang telaga. Tentang pusaka. Tentang syair penjaga hati. Dan yang terpenting, ajari ia untuk tetap rendah hati. Jangan sampai ia sombong dengan kemampuannya."
"Aku akan melakukan yang terbaik, Ayah."
"Ayah tahu. Ayah percaya padamu."
Malam harinya, Sultan Hasan duduk di tepi telaga sendirian.
Ia memegang batu akik merah di dadanya. Batu itu kini utuh sempurna. Tidak ada retakan. Warnanya merah menyala, lebih terang dari sebelumnya. Denyutnya kuat, teratur, seperti jantung yang sehat.
"Pusaka," bisiknya. "Kau sudah sembuh."
Batu itu berdenyut. Hangat.
"Karena Zahra. Karena ketulusannya. Karena kesuciannya. Karena cintanya."
"Apakah ia benar-benar terpilih menjadi penjaga hati?"
"Ia terpilih. Seperti kau dulu. Seperti Pandan Wangi. Seperti Nini Mas Intan. Seperti semua penjaga hati sebelum kalian."
"Aku tidak tahu harus merasa bangga atau khawatir."
"Kau boleh merasa keduanya. Bangga karena keturunanmu akan melanjutkan tradisi. Khawatir karena ia akan menghadapi tantangan yang berat. Tapi ingat, ia tidak sendirian. Ia punya kau. Ia punya Pandu Hati. Ia punya Rukmini. Ia punya telaga. Ia punya aku. Ia punya leluhur yang akan selalu menjaganya dari alam lain."
"Terima kasih, pusaka. Kau selalu bisa menenangkanku."
"Itu tugasku sebagai pusaka. Mengingatkan. Menenangkan. Menjaga."
Sultan Hasan tersenyum.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap Sultan Hasan.
Matanya bundar dan kuning. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu terbang. Meninggalkan suara yang nyaring.
Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti seruan untuk terus menjaga. Menjaga telaga. Menjaga pusaka. Menjaga Zahra. Menjaga hati.
Selamanya.
BAB LXXXIII
Mengajar Zahra Syair Pertama: Zahra Hafal di Luar Kepala dalam Sekali Dengar – Ia Lebih Cepat dari Pandu Hati
Pagi itu, matahari baru saja terbit. Cahayanya masih merah keemasan, hangat, tidak menyengat. Embun masih membasahi rumput-rumput di halaman pondok. Burung-burung mulai berkicau di dahan-dahan pohon. Ayam-ayam jantan berkokok bersahutan dari kejauhan.
Sultan Hasan duduk di beranda pondok, menikmati secangkir kopi hitam buatan menantunya, Rukmini. Pandu Hati sudah pergi ke ladang sejak subuh. Rukmini sibuk di dapur menyiapkan sarapan. Zahra duduk di samping kakeknya, matanya berbinar.
"Kakek," kata Zahra. "Hari ini, Zahra mau belajar syair penjaga hati. Zahra sudah hafal bait pertama. 'Hati yang tidak dijaga akan diambil angin. Hati yang dijaga terlalu keras akan retak oleh tangannya sendiri.' Zahra mau lanjut ke bait kedua."
Sultan Hasan tersenyum. "Kau rajin, Zahra. Kakek bangga. Tapi ingat, menghafal tidak cukup. Kau harus memahami maknanya. Kau harus merasakan dalam hati. Kau harus mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari."
"Zahra akan berusaha, Kek."
"Baiklah. Bait kedua adalah tentang telaga. Dengarkan baik-baik."
Sultan Hasan memejamkan mata. Ia menarik napas panjang. Kemudian ia mulai membacakan.
"Telaga ini bukan telaga biasa,
Ia adalah cermin hati yang jernih.
Siapa pun yang memandangnya akan melihat dirinya yang sejati,
Bukan dirinya yang dipikirkan, bukan dirinya yang diinginkan,
Tapi dirinya yang sesungguhnya."
Ia membuka mata. "Nah, Zahra. Coba kau ulangi."
Zahra tersenyum. Tanpa ragu, ia mengulangi.
"Telaga ini bukan telaga biasa,
Ia adalah cermin hati yang jernih.
Siapa pun yang memandangnya akan melihat dirinya yang sejati,
Bukan dirinya yang dipikirkan, bukan dirinya yang diinginkan,
Tapi dirinya yang sesungguhnya."
Sultan Hasan terkejut. "Kau hafal? Sekali dengar?"
"Iya, Kek. Zahra punya ingatan yang kuat. Sejak kecil."
"Kakek baru sadar. Kau memang istimewa, Zahra."
Sultan Hasan melanjutkan mengajarkan bait demi bait. Zahra menghafal dengan mudah. Sekali dengar, langsung hafal. Tidak perlu diulang. Tidak perlu dijelaskan berulang-ulang.
Setelah satu jam, Zahra sudah hafal dua puluh bait. Sultan Hasan kagum. Pandu Hati dulu tidak secepat itu. Pandu Hati butuh waktu berminggu-minggu untuk menghafal dua puluh bait. Bahkan Sultan Hasan sendiri, saat masih kecil, butuh waktu berhari-hari untuk menghafal bait pertama.
"Kakek," kata Zahra. "Kenapa Kakek terkejut? Apakah Zahra melakukan kesalahan?"
"Tidak, Nak. Kau tidak salah. Kakek hanya... terkejut. Karena kau sangat cepat menghafal. Lebih cepat dari ayahmu. Lebih cepat dari kakek. Mungkin lebih cepat dari semua penjaga hati sebelumnya."
"Apakah itu buruk, Kek?"
"Tidak. Itu bagus. Itu berarti kau punya bakat. Bakat yang luar biasa. Tapi ingat, bakat tanpa ketekunan akan sia-sia. Bakat tanpa kerendahan hati akan menjadi kesombongan. Bakat tanpa cinta akan menjadi kebinasaan."
"Zahra akan tetap tekun, Kek. Zahra akan tetap rendah hati, Kek. Zahra akan tetap mencintai, Kek."
Sultan Hasan memeluk cucunya. "Kakek bangga padamu, Zahra. Kakek sangat bangga."
Rukmini yang mendengar dari dapur, ikut bangga. Ia keluar dengan membawa nampan berisi nasi, sayur asem, dan ikan bakar.
"Zahra, kamu hebat," katanya. "Ibu bangga."
"Terima kasih, Ibu."
"Makan dulu. Nanti kau bisa lanjut belajar."
Zahra makan dengan lahap. Sultan Hasan juga. Rukmini duduk di samping mereka, ikut menikmati sarapan.
"Ibu," kata Zahra. "Kakek bilang, syair penjaga hati adalah warisan leluhur. Kakek belajar dari Nini Mas Intan. Nini Mas Intan belajar dari siapa?"
"Nini Mas Intan belajar dari gurunya. Dan gurunya belajar dari gurunya. Begitu seterusnya, sampai ke tujuh penjaga hati pertama yang menulis kitab."
"Tujuh penjaga hati? Siapa mereka?"
"Mereka adalah lelaki dan perempuan sakti yang hidup ribuan tahun lalu. Mereka mengumpulkan semua pengalaman mereka, semua kegagalan mereka, semua keberhasilan mereka, lalu menuliskannya dalam Kitab Tujuh Penjaga."
"Boleh Zahra membaca kitab itu?"
"Kitab itu disimpan kakek. Tanyakan pada kakek."
Zahra memandang kakeknya. "Kek, boleh Zahra membaca Kitab Tujuh Penjaga?"
Sultan Hasan tersenyum. "Belum, Nak. Kau masih terlalu kecil. Ayat-ayat dalam kitab itu berat. Kau belum bisa memahaminya."
"Kapan Zahra boleh membacanya?"
"Ketika kau sudah dewasa. Ketika kau sudah siap. Ketika kau sudah memiliki pengalaman hidup yang cukup."
Zahra tidak memaksa. Ia hanya mengangguk. "Baik, Kek. Zahra akan sabar."
Sore harinya, setelah Zahra tidur siang, Sultan Hasan duduk di tepi telaga bersama Pandu Hati.
"Ayah," kata Pandu Hati. "Zahra memang istimewa. Aku tidak menyangka ia bisa secepat itu menghafal syair."
"Ayah juga tidak menyangka. Tapi ayah tidak terkejut. Sejak ia lahir, ayah sudah merasakan bahwa ia istimewa. Ia terpilih menjadi penjaga hati."
"Apakah ia akan mengalami penderitaan seperti Ayah dulu?"
"Tidak. Zaman sudah berubah. Orang-orang sudah lebih mengerti. Tapi ia akan menghadapi tantangan yang berbeda. Tantangan zaman. Tantangan teknologi. Tantangan kesibukan. Tantangan melupakan hati."
"Apa yang harus kita lakukan, Ayah?"
"Kita harus terus mendidiknya. Mengajarinya tentang cinta. Tentang kasih sayang. Tentang empati. Tentang menjadi manusia yang baik. Ajari ia tentang telaga. Tentang pusaka. Tentang syair penjaga hati. Dan yang terpenting, ajari ia untuk tetap rendah hati. Jangan sampai ia sombong dengan kemampuannya."
"Aku akan melakukan yang terbaik, Ayah."
"Ayah tahu. Ayah percaya padamu."
Malam harinya, sebelum tidur, Zahra duduk di samping kakeknya di tepi telaga.
Bulan purnama bersinar terang. Air telaga jernih, memantulkan cahaya bulan, menciptakan ribuan titik berkilauan.
"Kakek," kata Zahra. "Zahra sudah hafal lima puluh bait syair penjaga hati. Besok, Zahra mau lanjut ke lima puluh bait berikutnya."
"Kau tidak capek, Nak?"
"Tidak. Zahra senang belajar. Zahra suka syair-syair itu. Indah. Dalam. Penuh makna."
"Kakek senang mendengarnya. Tapi ingat, jangan terlalu memaksakan diri. Istirahatlah jika lelah."
"Zahra akan istirahat, Kek. Tapi Zahra juga tidak mau menunda-nunda. Zahra ingin segera hafal semua syair. Zahra ingin menjadi penjaga hati yang baik. Seperti Kakek. Seperti Nenek. Seperti leluhur kita."
Sultan Hasan memeluk cucunya. "Kakek yakin kau akan menjadi penjaga hati yang hebat, Zahra. Lebih hebat dari kakek. Lebih hebat dari nenekmu. Lebih hebat dari semua penjaga hati sebelumnya."
"Zahra hanya ingin menjadi penjaga hati yang tulus, Kek. Tidak perlu hebat."
"Tulus itu sudah hebat, Zahra. Karena tidak semua orang bisa tulus."
Zahra tersenyum.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap mereka. Matanya bundar dan kuning. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu berbunyi.
Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti seruan untuk terus belajar. Terus menghafal. Terus menjadi penjaga hati.
Selamanya.
BAB LXXXIV
Pandu Hati Cemburu pada Anaknya Sendiri: Pandu Hati Merasa Ayahnya Lebih Sayang Zahra
Keistimewaan Zahra tidak hanya terbatas pada kemampuannya menghafal syair dengan cepat. Ia juga pandai menenun, pandai bertani, pandai memasak, pandai mengurus rumah tangga. Ia juga baik hati, suka menolong, tidak sombong, dan sangat menyayangi kakeknya.
Sultan Hasan bangga pada cucunya. Setiap hari, ia menghabiskan waktu bersama Zahra. Mengajarinya hal-hal baru. Bercerita tentang masa lalu. Membantunya memecahkan masalah. Memberinya nasihat.
Pandu Hati tidak keberatan pada awalnya. Ia senang karena ayahnya bahagia. Ia senang karena Zahra mendapatkan perhatian yang layak. Tapi lama-lama, ia mulai merasa cemburu.
"Ayah lebih sayang Zahra daripada aku," keluhnya pada Rukmini suatu malam, saat mereka berdua di kamar.
"Mas, itu tidak benar. Ayah sayang kalian berdua. Hanya saja Zahra masih kecil. Wajar jika Ayah lebih perhatian padanya."
"Dulu, waktu aku kecil, Ayah tidak pernah seperhatian itu. Ayah sibuk bekerja. Ayah sibuk menulis. Ayah sibuk merawat Ibu yang sakit. Aku hampir tidak pernah mendapat perhatian."
"Itu karena kondisi yang berbeda, Mas. Dulu, Ayah harus bekerja keras untuk menghidupi keluarga. Sekarang, Ayah sudah pensiun. Ia punya banyak waktu luang. Wajar jika ia habiskan waktu dengan Zahra."
"Tapi... aku iri, Min. Aku iri melihat Ayah tersenyum setiap kali melihat Zahra. Aku iri melihat Ayah memeluk Zahra setiap saat. Aku iri melihat Ayah bangga pada Zahra. Padahal, aku juga anaknya. Aku juga ingin disayang. Aku juga ingin dipuji. Aku juga ingin dibanggakan."
Rukmini memeluk suaminya. "Mas, Ayah sayang padamu. Ayah tidak pernah berhenti menyayangimu. Mungkin caranya berbeda. Tapi cintanya sama. Percayalah."
Pandu Hati tidak menjawab. Ia hanya diam.
Suatu sore, ketika Sultan Hasan sedang mengajar Zahra menulis syair di beranda pondok, Pandu Hati duduk di pojok, memperhatikan mereka. Wajahnya muram.
"Zahra, tulisannya bagus," puji Sultan Hasan. "Kau cepat belajar."
"Terima kasih, Kek. Karena Kek guru yang baik."
"Bukan karena kakek. Tapi karena kau punya bakat. Bakat menulis. Bakat menjadi penjaga hati."
Zahra tersenyum. Sultan Hasan mengelus rambutnya.
Pandu Hati yang melihat itu, hatinya perih. Dulu, ayahnya tidak pernah memujinya seperti itu. Dulu, ayahnya tidak pernah mengelus rambutnya seperti itu. Dulu, ayahnya hanya sibuk dengan urusannya sendiri.
"Ayah," kata Pandu Hati.
Sultan Hasan menoleh. "Ya, Nak?"
"Aku mau bicara."
"Tentang apa?"
"Aku... aku iri."
Sultan Hasan terkejut. "Iri? Pada siapa?"
"Pada Zahra. Ayah lebih sayang Zahra daripada aku."
Sultan Hasan terdiam. Zahra juga terdiam. Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
"Nak," kata Sultan Hasan pelan. "Ayah sayang kalian berdua. Tidak ada yang lebih. Tidak ada yang kurang."
"Tapi Ayah lebih perhatian pada Zahra. Ayah lebih sering tersenyum pada Zahra. Ayah lebih sering memuji Zahra. Ayah lebih sering mengelus rambut Zahra. Dulu, Ayah tidak pernah melakukan itu padaku."
"Karena dulu ayah sibuk, Nak. Ayah harus bekerja. Ayah harus merawat ibumu yang sakit. Ayah harus mencari nafkah. Ayah tidak punya banyak waktu."
"Tapi Ayah punya waktu sekarang. Kenapa Ayah tidak menghabiskannya dengan aku? Kenapa Ayah selalu dengan Zahra?"
"Karena Zahra masih kecil, Nak. Ia butuh bimbingan. Ia butuh perhatian. Ia butuh kasih sayang. Kau sudah dewasa. Kau sudah punya keluarga sendiri. Kau tidak butuh ayah lagi."
"Aku tetap butuh ayah, Ayah. Aku tetap butuh perhatian. Aku tetap butuh kasih sayang. Aku tidak pernah berhenti menjadi anak ayah."
Sultan Hasan menangis. Ia memeluk Pandu Hati.
"Maafkan ayah, Nak. Ayah lupa. Ayah terlalu fokus pada Zahra. Ayah lupa bahwa kau juga anak ayah. Ayah lupa bahwa kau juga butuh perhatian."
"Aku minta maaf juga, Ayah. Aku tidak seharusnya cemburu pada anakku sendiri. Aku tidak seharusnya iri pada kebahagiaan ayah. Aku egois."
"Tidak, Nak. Kau tidak egois. Kau hanya rindu. Rindu pada ayah. Rindu pada masa kecil yang tidak pernah kau dapatkan."
Mereka berdua berpelukan lama. Zahra ikut menangis melihat ayah dan kakeknya.
Rukmini yang mendengar dari dapur, keluar. Ia memeluk suami dan mertuanya.
"Keluarga kita harus rukun," katanya. "Jangan biarkan rasa cemburu merusak kebahagiaan kita. Kita semua sayang satu sama lain. Tidak ada yang lebih. Tidak ada yang kurang."
"Ibu benar," kata Zahra. "Zahra sayang Ayah. Zahra sayang Ibu. Zahra sayang Kakek. Kita satu keluarga. Kita harus saling menyayangi."
Sultan Hasan tersenyum. "Zahra, kau bijak. Lebih bijak dari kakek. Lebih bijak dari ayahmu."
"Zahra hanya anak kecil, Kek. Tapi Zahra tahu, cinta tidak bisa dibagi. Cinta hanya bisa dilipatgandakan. Jika kita saling mencintai, cinta itu akan semakin besar. Tidak akan pernah habis."
Mereka semua terharu. Mereka berpelukan bersama.
Malam harinya, Sultan Hasan duduk di tepi telaga sendirian.
Ia memandang air yang jernih. Ia memandang bulan yang bersinar. Ia memandang batu akik merah di dadanya yang berdenyut tenang.
"Pandan," bisiknya. "Aku hampir menghancurkan keluarga kita. Aku terlalu fokus pada Zahra. Aku lupa pada Pandu Hati. Aku membuatnya cemburu. Aku membuatnya sakit hati."
Angin berembus pelan. Membawa wangi pandan.
"Tapi sekarang semuanya sudah baik. Kami sudah berdamai. Kami sudah saling memaafkan. Kami sudah saling memahami."
Ia memegang batu akik merah di dadanya. Batu itu berdenyut. Hangat.
"Kau tidak salah, Sultan Hasan. Kau hanya manusia. Manusia pasti punya keterbatasan. Tapi kau sudah berusaha memperbaiki kesalahan. Itu yang penting."
"Terima kasih, pusaka. Karena selalu mengingatkanku."
"Itu tugasku sebagai pusaka. Mengingatkan. Menenangkan. Menjaga."
Sultan Hasan tersenyum. Ia berdiri. Ia berjalan pulang.
Di pondok, Pandu Hati, Rukmini, dan Zahra sedang duduk di beranda, tertawa bersama.
"Kakek!" teriak Zahra. "Ayo sini. Ayah sedang bercerita lucu."
Sultan Hasan menghampiri. Ia duduk di samping mereka.
"Ayah, maafkan aku," kata Pandu Hati.
"Sudah, Nak. Ayah sudah memaafkanmu. Yang penting kita bersama. Seperti ini. Bahagia."
Mereka semua tersenyum.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap mereka. Matanya bundar dan kuning. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu berbunyi.
Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti seruan untuk terus menjaga. Menjaga keluarga. Menjaga cinta. Menjaga hati.
Selamanya.
BAB LXXXV
Sultan Hasan Terserang Penyakit Tua: Kakinya Lumpuh – Ia Tidak Bisa Berjalan Jauh
Usia Sultan Hasan kini telah menginjak delapan puluh tahun. Delapan puluh tahun yang penuh dengan perjalanan, perjuangan, cinta, air mata, dan kebijaksanaan. Delapan puluh tahun yang telah mengubah seorang anak yang lahir di malam gerhana, yang dikutuk dan diusir oleh desanya sendiri, menjadi seorang penjaga hati yang dihormati oleh banyak orang.
Tapi usia tak bisa dilawan. Tubuh yang dulu tegap dan kuat, kini mulai rapuh. Rambutnya yang dulu hitam legam, kini hampir seluruhnya putih. Wajahnya yang dulu tampan, kini dipenuhi kerutan-kerutan dalam. Matanya yang dulu teduh dan bersinar, kini sayu dan redup.
Pada suatu pagi, saat ia bangun dari tidurnya, Sultan Hasan tidak bisa menggerakkan kaki kirinya.
"Pandan," panggilnya lemah. Pandan Wangi sudah lama tiada. Yang ia panggil adalah menantunya, Rukmini.
Rukmini yang sedang memasak di dapur, berlari menghampiri. "Ada apa, Ayah?"
"Aku tidak bisa menggerakkan kaki kiriku. Rasanya... mati. Tidak terasa apa-apa."
Rukmini cemas. Ia memanggil Pandu Hati yang sedang di ladang. Pandu Hati bergegas pulang.
"Ayah, apa yang terjadi?"
"Aku tidak tahu, Nak. Tiba-tiba kaki kiriku lumpuh."
Pandu Hati memeriksa kaki ayahnya. Tidak bengkak. Tidak memar. Tidak ada luka. Tapi ayahnya tidak bisa menggerakkannya.
"Aku panggil dukun, Ayah."
"Tidak usah. Tidak ada gunanya. Ini sudah takdir. Tubuhku sudah tua. Waktunya sudah dekat."
"Ayah jangan bicara begitu. Ayah masih kuat."
"Ayah tidak kuat lagi, Nak. Ayah sudah lelah. Ayah sudah siap pergi."
Pandu Hati menangis. Rukmini juga menangis. Zahra yang mendengar dari kamarnya, berlari menghampiri. Ia memeluk kakeknya.
"Kakek jangan pergi. Zahra belum siap."
"Kakek juga belum siap, Nak. Tapi kematian tidak menunggu kesiapan kita. Ia datang kapan saja. Tanpa permisi. Tanpa pamit."
"Tapi Kakek... Zahra sayang Kakek. Zahra tidak bisa hidup tanpa Kakek."
"Kau bisa, Nak. Kau kuat. Kau sudah belajar banyak dari kakek. Kau sudah hafal syair penjaga hati. Kau sudah bisa menulis. Kau sudah bisa menenun. Kau sudah bisa menjadi penjaga hati yang baik. Kakek yakin."
Zahra menangis tersedu-sedu.
Sejak hari itu, Sultan Hasan tidak bisa berjalan jauh lagi.
Ia hanya bisa duduk di kursi bambu di beranda pondok, atau di batu hitam di tepi telaga, ditemani oleh cucunya, Zahra. Pandu Hati dan Rukmini bergantian merawatnya. Memberinya makan. Memandikannya. Mengganti pakaiannya. Membawanya ke belakang jika ia ingin buang air.
Sultan Hasan tidak pernah mengeluh. Ia menerima keadaannya dengan ikhlas.
"Ini sudah takdir," katanya. "Aku bersyukur masih diberi umur panjang. Masih bisa melihat anak dan cucuku. Masih bisa merasakan hangatnya matahari. Masih bisa mendengar burung-burung berkicau. Masih bisa mencium wangi pandan dari telaga."
Setiap hari, Zahra duduk di samping kakeknya. Ia membacakan syair-syair yang sudah ia hafal. Sultan Hasan mendengarkan dengan saksama. Kadang ia tersenyum. Kadang ia menangis. Kadang ia membenarkan jika Zahra salah melafalkan.
"Kakek," kata Zahra suatu sore. "Zahra rindu saat Kakek masih bisa berjalan. Saat Kakek masih bisa mengajak Zahra ke ladang. Saat Kakek masih bisa memetik bunga untuk Zahra."
"Kakek juga rindu, Nak. Tapi kakek tidak bisa memaksa tubuh. Tubuh ini sudah tua. Sudah waktunya beristirahat."
"Zahra akan merawat Kakek. Zahra tidak akan pernah meninggalkan Kakek."
"Kakek tahu. Kakek percaya padamu."
Pandu Hati merasa bersalah. Ia merasa tidak cukup merawat ayahnya. Ia merasa terlalu sibuk dengan ladang, terlalu sibuk dengan keluarganya, sehingga lupa pada ayahnya yang sudah tua dan lumpuh.
"Ayah, maafkan aku," katanya suatu malam, saat ia duduk di samping ayahnya di tepi telaga.
"Maaf untuk apa, Nak?"
"Aku tidak cukup merawat Ayah. Aku terlalu sibuk. Aku lupa pada Ayah."
"Kau tidak lupa, Nak. Kau di sini. Setiap hari. Setiap malam. Kau merawat ayah dengan sabar. Itu sudah lebih dari cukup."
"Tapi Ayah... aku merasa bersalah karena dulu aku pernah cemburu pada Zahra. Aku pernah merasa Ayah lebih sayang Zahra daripada aku."
"Itu sudah lama, Nak. Masa lalu biarlah berlalu. Sekarang kita fokus pada saat ini. Nikmati kebersamaan kita. Karena waktu tidak akan terulang."
"Ayah, aku sayang Ayah."
"Ayah juga sayang kamu, Nak. Ayah tidak pernah berhenti menyayangimu."
Mereka berdua berpelukan.
Rukmini juga merasa bersalah. Ia merasa tidak cukup menjadi menantu yang baik. Ia merasa terlalu sibuk dengan urusan dapur dan rumah tangga, sehingga lupa pada mertuanya yang sudah tua dan lumpuh.
"Ayah, maafkan aku," katanya suatu pagi, saat ia menyuapi Sultan Hasan bubur.
"Maaf untuk apa, Nak?"
"Aku tidak cukup merawat Ayah. Aku terlalu sibuk."
"Kau tidak lupa, Nak. Kau di sini. Setiap hari. Setiap malam. Kau merawat ayah dengan sabar. Itu sudah lebih dari cukup."
"Tapi Ayah... aku merasa tidak pantas menjadi menantu Ayah. Aku hanya gadis desa biasa. Tidak punya bakat khusus. Tidak punya keistimewaan."
"Kau tidak perlu bakat khusus, Nak. Kau tidak perlu keistimewaan. Cukup kau baik hati. Cukup kau rajin. Cukup kau menyayangi keluarga. Itu sudah lebih dari cukup."
Rukmini menangis. Sultan Hasan mengusap kepalanya.
"Kau sudah menjadi menantu yang baik, Nak. Ayah bangga padamu."
Malam harinya, setelah semua orang tidur, Sultan Hasan duduk di kursi rodanya di tepi telaga. Ia ditemani oleh Zahra yang tidak mau tidur sebelum kakeknya tidur.
"Kakek," kata Zahra. "Zahra takut."
"Takut apa, Nak?"
"Zahra takut Kakek mati. Zahra takut ditinggal Kakek. Zahra takut sendiri."
"Kau tidak sendiri, Nak. Kau punya ayah. Kau punya ibu. Kau punya telaga. Kau punya pusaka. Kau punya leluhur yang akan selalu menjagamu dari alam lain."
"Tapi Zahra tetap takut, Kek."
"Ketakutan adalah wajar, Nak. Setiap orang pasti punya ketakutan. Tapi jangan biarkan ketakutan menghentikanmu. Teruslah melangkah. Teruslah belajar. Teruslah menjadi penjaga hati."
Zahra memeluk kakeknya. "Zahra akan berusaha, Kek. Zahra janji."
Sultan Hasan tersenyum. Ia mengecup kening Zahra.
"Kakek sayang kamu, Zahra."
"Zahra juga sayang Kakek."
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap mereka. Matanya bundar dan kuning. Ia tidak berbunyi. Hanya menatap.
Seolah tahu bahwa waktu Sultan Hasan sudah dekat. Bahwa ia akan segera pergi, bergabung dengan Pandan Wangi, Nini Mas Intan, dan semua leluhur di alam lain.
Tapi ia juga tahu bahwa warisannya akan tetap hidup. Dalam diri Zahra. Dalam diri Pandu Hati. Dalam diri Rukmini. Dalam diri telaga. Dalam diri pusaka. Dalam diri syair-syair yang ia tulis.
Selamanya.
BAB LXXXVI
Wasiat Lisan: Sultan Hasan Memanggil Seluruh Keluarga – Ia Menunjuk Zahra sebagai Penerus "Penjaga Hati", Bukan Pandu Hati
Tiga bulan telah berlalu sejak kaki Sultan Hasan lumpuh. Tiga bulan yang penuh dengan perawatan, doa, dan kebersamaan. Pandu Hati, Rukmini, dan Zahra bergantian merawatnya dengan penuh kasih sayang. Sultan Hasan tidak pernah mengeluh. Ia menerima keadaannya dengan ikhlas. Tapi ia juga tahu, waktunya di dunia ini tidak lama lagi.
Pada suatu pagi, saat matahari baru saja terbit, Sultan Hasan memanggil seluruh keluarganya ke tepi telaga. Pandu Hati mengangkat kursi rodanya ke batu hitam – batu yang sama tempat ia duduk bersama Pandan Wangi dulu, tempat ia menunggu Pandan Wangi setiap malam, tempat ia menangis ketika Pandan Wangi tidak datang. Rukmini membawa tikar anyaman pandan dan bantal kecil. Zahra membawa bunga melati putih dari kebun belakang pondok.
"Duduklah," kata Sultan Hasan. Suaranya lemah, tapi jelas.
Mereka semua duduk di sekelilingnya. Pandu Hati di sebelah kanan. Rukmini di sebelah kiri. Zahra di depan, tepat di hadapan kakeknya.
"Ayah," kata Pandu Hati. "Ada apa? Mengapa Ayah memanggil kami sepagi ini?"
"Ayah ingin bicara. Ayah ingin... mewasiatkan sesuatu."
Pandu Hati terkejut. "Wasiat? Ayah mau pergi ke mana?"
"Ayah tidak akan ke mana-mana, Nak. Ayah masih di sini. Tapi ayah tidak tahu sampai kapan. Usia ayah sudah delapan puluh tahun. Tubuh ayah sudah rapuh. Ayah tidak ingin meninggal tanpa mewasiatkan sesuatu yang penting."
"Apa itu, Ayah?"
"Tentang penerus. Tentau s siapa yang akan menjaga telaga ini. Menjaga pusaka ini. Menjadi penjaga hati setelah ayah tiada."
Pandu Hati menunduk. Ia sudah menduga. Selama ini, ia merasa tidak pantas menjadi penerus. Ia sudah lari dari rumah. Ia sudah mengirim surat palsu. Ia sudah menolak tradisi. Ia sudah menjadi anak durhaka. Ia tidak layak.
"Ayah," katanya. "Aku tahu aku tidak pantas. Aku sudah mengecewakan Ayah. Aku sudah..."
"Kau tidak mengecewakan ayah, Nak. Kau hanya berbeda. Tapi ayah tidak akan menunjukmu sebagai penerus."
Pandu Hati mengangkat kepalanya. Matanya basah. "Ayah menunjuk siapa?"
Sultan Hasan memandang Zahra. "Zahra. Cucu ayah. Anak perempuanmu."
Pandu Hati terkejut. Rukmini juga terkejut. Zahra terdiam.
"Ayah... Zahra masih kecil. Ia baru berusia tujuh tahun. Ia belum cukup umur untuk menjadi penjaga hati."
"Usia bukanlah ukuran, Nak. Nini Mas Intan sudah menjadi penjaga hati sejak usia muda. Pandan Wangi juga. Ayah juga. Yang penting bukan usia. Tapi kesiapan. Tapi ketulusan. Tapi cinta."
"Ayah yakin Zahra siap?"
"Ayah yakin. Zahra sudah hafal syair penjaga hati. Zahra sudah bisa menulis. Zahra sudah bisa menenun. Zahra sudah bisa bertani. Zahra juga sudah bisa menyembuhkan pusaka. Ia berbakat. Ia istimewa. Ia terpilih."
Pandu Hati menangis. "Ayah, aku tidak cemburu. Aku hanya... sedih. Karena aku tidak bisa menjadi apa yang Ayah harapkan."
"Kau sudah menjadi apa yang ayah harapkan, Nak. Kau menjadi ayah yang baik untuk Zahra. Kau menjadi suami yang baik untuk Rukmini. Kau menjadi anak yang baik untuk ayah. Itu sudah lebih dari cukup."
Zahra yang dari tadi diam, tiba-tiba berbicara. "Kakek, Zahra tidak siap. Zahra masih kecil. Zahra masih ingin bermain. Zahra masih ingin belajar. Zahra tidak mau menjadi penjaga hati. Zahra hanya ingin menjadi Zahra."
Sultan Hasan tersenyum. "Kau tidak perlu berubah, Nak. Kau tetap jadi Zahra. Tugas menjadi penjaga hati tidak akan mengubahmu. Justru akan membuatmu lebih baik. Lebih bijak. Lebih penyayang."
"Tapi Kakek, Zahra takut. Zahra takut gagal. Zahra takut mengecewakan Kakek."
"Kau tidak akan gagal, Nak. Kakek akan membimbingmu. Selama kakek masih hidup. Dan setelah kakek mati, kakek akan tetap menjagamu dari alam lain. Seperti Nini Mas Intan dulu menjaga kakek."
Zahra menangis. Sultan Hasan memeluknya.
"Kakek sayang kamu, Zahra. Kakek tidak akan pernah memaksamu. Jika kau belum siap, kakek bisa menunjuk orang lain. Tapi kakek yakin, kau adalah orang yang tepat."
Zahra terdiam. Ia memandang ayahnya. Pandu Hati mengangguk.
"Zahra," kata Pandu Hati. "Ayah mendukungmu. Apa pun keputusanmu. Ayah akan selalu mendukungmu."
"Ayah juga," kata Rukmini.
Zahra memandang kakeknya. "Baik, Kek. Zahra akan berusaha. Zahra akan menjadi penjaga hati. Zahra akan menjaga telaga. Zahra akan menjaga pusaka. Zahra akan menjaga tradisi keluarga. Zahra akan melakukan yang terbaik."
Sultan Hasan tersenyum. "Kakek bangga padamu, Zahra. Kakek sangat bangga."
Sultan Hasan melepas kalung batu akik merah dari lehernya. Batu itu berdenyut. Hangat.
"Zahra, ini pusaka keluarga. Batu akik merah. Batu ini sudah menemani kakek sejak lahir. Batu ini sudah membantu kakek melewati banyak ujian. Batu ini sudah menjadi saksi cinta kakek pada nenekmu. Sekarang, kakek berikan padamu. Jagalah ia baik-baik. Karena ia adalah bagian dari dirimu. Seperti hati. Seperti jiwa. Seperti cinta."
Zahra menerima kalung itu dengan hati-hati. Tangannya gemetar. Matanya berkaca-kaca.
"Kakek, Zahra akan menjaganya. Zahra janji."
"Bagus. Sekarang, pakailah."
Zahra memakai kalung itu di lehernya. Batu akik merah itu berdenyut. Kencang. Hangat. Cahaya merahnya memancar, menerangi seluruh telaga. Air telaga beriak. Tanaman air bergoyang. Ikan-ikan kecil berenang ke permukaan.
Pandu Hati dan Rukmini terpaku. Mereka belum pernah melihat pemandangan seindah itu.
"Ini pertanda," kata Sultan Hasan. "Telaga menerima Zahra sebagai penjaga baru. Alam memberkatinya. Leluhur merestuinya."
Zahra menangis. Sultan Hasan memeluknya.
"Kakek sayang kamu, Zahra."
"Zahra juga sayang Kakek."
Malam harinya, Sultan Hasan duduk di kursi rodanya di tepi telaga. Zahra duduk di sampingnya. Pandu Hati dan Rukmini sudah tidur di dalam pondok.
"Kakek," kata Zahra. "Zahra takut."
"Takut apa, Nak?"
"Zahra takut tidak bisa menjadi penjaga hati yang baik. Zahra takut mengecewakan Kakek. Zahra takut menghancurkan tradisi keluarga."
"Kau tidak perlu takut, Nak. Kakek sudah melalui semua itu. Kakek juga pernah takut. Kakek juga pernah ragu. Kakek juga pernah hampir menyerah. Tapi kakek tidak menyerah. Karena kakek ingat pesan Nini Mas Intan: 'Penjaga hati bukanlah orang yang tak pernah terluka. Tapi orang yang lukanya tidak membuatnya lupa mencintai.'"
"Apa artinya, Kek?"
"Artinya, kau boleh sakit. Kau boleh sedih. Kau boleh kecewa. Tapi jangan biarkan semua itu membuatmu berhenti mencintai. Teruslah mencintai. Teruslah menjaga. Teruslah menjadi penjaga hati."
Zahra mengangguk. "Zahra akan mengingatnya, Kek."
"Bagus. Sekarang, tidurlah. Besok kau harus bangun pagi. Ada banyak yang harus kau pelajari."
"Selamat malam, Kek."
"Selamat malam, Zahra."
Zahra berjalan ke pondok. Sultan Hasan tetap duduk di tepi telaga.
Ia memandang air yang jernih. Ia memandang bulan yang bersinar. Ia memandang bintang-bintang yang bertaburan.
"Pandan," bisiknya. "Aku sudah menunjuk Zahra sebagai penerus. Ia masih kecil. Tapi ia berbakat. Ia istimewa. Ia terpilih. Semoga ia menjadi penjaga hati yang baik. Lebih baik dari aku. Lebih baik dari kita semua."
Angin berembus pelan. Membawa wangi pandan.
Sultan Hasan tersenyum. "Aku merindukanmu, Pandan. Setiap hari. Setiap malam. Tapi aku ikhlas. Karena kau sudah pergi ke tempat yang lebih baik. Dan suatu hari, kita akan bertemu lagi. Di telaga ini. Di surga. Selamanya."
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatapnya. Matanya bundar dan kuning. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu terbang. Meninggalkan suara yang nyaring.
Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti seruan untuk terus menjaga. Menjaga telaga. Menjaga pusaka. Menjaga Zahra. Menjaga hati.
Selamanya.
BAB LXXXVII
Pandu Hati Marah Besar: Pandu Hati Mengancam Akan Merusak Semua Pusaka dan Membakar Syair
Keputusan Sultan Hasan untuk menunjuk Zahra sebagai penerus "Penjaga Hati" mengguncang hati Pandu Hati lebih dalam daripada yang ia duga. Meskipun di permukaan ia terlihat menerima, di dalam hatinya ada badai yang tidak bisa ia redakan. Bukan karena ia ingin menjadi penjaga hati – ia sudah lama menolak tradisi itu. Bukan karena ia iri pada Zahra – ia sayang pada anaknya sendiri. Tapi karena ia merasa tidak dianggap. Tidak dihargai. Tidak diakui.
"Selama ini aku sudah berusaha," gumamnya sendiri di ladang, ketika ia sedang mencangkul sendirian. "Aku sudah kembali ke pondok. Aku sudah merawat Ayah. Aku sudah belajar menghormati tradisi. Aku sudah menjadi anak yang baik. Tapi tetap saja, Ayah lebih memilih Zahra daripada aku."
Ia membanting cangkulnya ke tanah. Tanahnya keras, kering, retak-retak.
"Kenapa Ayah tidak memilih aku?" lanjutnya. "Aku anak kandungnya. Aku darah dagingnya. Aku yang akan meneruskan garis keturunan. Tapi Ayah lebih memilih seorang perempuan. Seorang anak kecil yang baru berusia tujuh tahun."
Ia teringat pada masa lalunya. Saat ia masih kecil, ayahnya terlalu sibuk. Sibuk menulis. Sibuk merawat ibunya yang sakit. Sibuk mengurus telaga. Ia hampir tidak pernah mendapat perhatian.
Saat ia remaja, ayahnya memaksanya menjadi penjaga hati. Padahal ia tidak mau. Ia ingin sekolah. Ia ingin merantau. Ia ingin hidup bebas.
Saat ia dewasa, ia lari dari rumah. Ia mengirim surat palsu. Ia menolak pulang. Ia menghabiskan waktu bertahun-tahun di kota, jauh dari ayahnya.
Dan sekarang, setelah ia kembali, setelah ia berusaha menjadi anak yang baik, ayahnya tetap tidak memilihnya.
"Tidak adil," bisiknya. "Tidak adil."
Malam harinya, saat semua orang sudah tidur, Pandu Hati tidak bisa memejamkan mata.
Ia duduk di beranda pondok, seorang diri. Di tangannya, ia memegang sebuah keris kecil – pusaka pemberian ayahnya dulu, ketika ia masih kecil. Keris itu sudah lama tidak ia gunakan. Berkarat. Kusam. Tumpul.
Ia memandang keris itu. Ia memandang pondok tempat ayahnya tidur. Ia memandang telaga di kejauhan.
"Ayah," bisiknya. "Ayah tidak adil. Ayah lebih memilih Zahra daripada aku. Ayah tidak pernah menganggapku ada."
Ia berdiri. Ia berjalan ke ruang tengah pondok. Di sana, di rak kayu, tersimpan tumpukan daun lontar – syair-syair yang ditulis Sultan Hasan selama puluhan tahun. Juga kitab-kitab kuno peninggalan Nini Mas Intan, Ki Ageng Jagaraga, Kyai Buyut Cakar Mase, dan Kiai Pati.
Pandu Hati memegang setumpuk daun lontar itu. Tangannya gemetar.
"Aku akan membakar semuanya," bisiknya. "Aku akan menghancurkan semua pusaka. Aku akan mengakhiri tradisi ini. Aku tidak akan membiarkan Zahra menjadi penjaga hati."
Ia membawa tumpukan daun lontar itu ke halaman. Ia mengambil minyak tanah dari dapur. Ia menyiramkannya ke tumpukan daun lontar itu.
"Satu korek api," bisiknya. "Hanya satu korek api. Dan semuanya akan lenyap."
Namun ketika ia hendak menyalakan korek api, sebuah suara menghentikannya.
"Ayah, jangan!"
Zahra berdiri di pintu pondok. Matanya merah. Wajahnya basah oleh air mata.
"Ayah, apa yang Ayah lakukan?"
Pandu Hati terkejut. "Zahra? Kenapa kau bangun?"
"Zahra tidak bisa tidur, Ayah. Zahra mendengar Ayah bicara sendiri di beranda. Zahra khawatir. Zahra ikuti Ayah ke sini."
"Pergi tidur, Zahra. Ini urusan ayah."
"Tidak, Ayah. Ini urusan keluarga. Zahra tidak akan tinggal diam jika Ayah mau menghancurkan pusaka dan membakar syair."
"Kau masih kecil, Zahra. Kau tidak mengerti."
"Zahra mengerti, Ayah. Ayah marah. Ayah kecewa. Ayah merasa Kakek tidak adil. Tapi membakar pusaka dan syair tidak akan menyelesaikan masalah."
Pandu Hati terdiam. Ia tidak menyangka anaknya yang masih kecil akan berkata seperti itu.
"Ayah, Zahra sayang Ayah. Zahra tidak ingin Ayah menyesal. Jika Ayah membakar syair-syair itu, Kakek akan sedih. Kakek akan sakit. Kakek bisa mati."
"Biarkan saja. Aku tidak peduli."
"Ayah bohong. Ayah peduli. Zahra tahu Ayah peduli. Ayah merawat Kakek setiap hari. Ayah memandikan Kakek. Ayah menyuapi Kakek. Ayah menemani Kakek ke belakang. Ayah tidak mungkin tega menyakiti Kakek."
Pandu Hati menangis. Ia melepaskan tumpukan daun lontar itu. Ia menjatuhkan korek api.
"Zahra... maafkan Ayah... Ayah sudah hampir melakukan hal bodoh."
Zahra berlari memeluk ayahnya. "Zahra tidak marah, Ayah. Zahra hanya sedih."
"Ayah malu, Zahra. Ayah tega pada pusaka keluarga. Ayah tega pada Kakek. Ayah tega pada leluhur."
"Ayah, Zahra tidak akan menjadi penjaga hati jika Ayah tidak setuju. Zahra akan menolak wasiat Kakek. Zahra akan meminta Kakek menunjuk Ayah sebagai penerus."
"Tidak, Zahra. Kakek benar menunjukmu. Kau lebih pantas. Kau lebih berbakat. Kau lebih istimewa. Ayah tidak pantas."
"Tapi Ayah, Zahra tidak mau jika Ayah tidak merestui."
"Kau tidak butuh restu ayah, Nak. Kau butuh restu Tuhan. Restu alam. Restu leluhur. Dan semuanya sudah kau dapatkan."
Mereka berdua berpelukan.
Sultan Hasan yang terbangun karena suara ribut di halaman, dibawa oleh Rukmini dengan kursi rodanya.
"Ayah, maafkan aku," kata Pandu Hati sambil berlutut. "Aku hampir menghancurkan pusaka. Aku hampir membakar syair. Aku hampir menjadi anak durhaka."
Sultan Hasan tidak marah. Ia hanya tersenyum.
"Nak, ayah sudah tahu. Ayah sudah merasakan kegelisahanmu sejak sore. Ayah sudah berdoa semoga kau tidak melakukan hal bodoh. Dan syukur, kau tidak jadi melakukannya. Zahra menyelamatkanmu."
"Zahra lebih baik dari ayah. Zahra lebih bijak. Zahra lebih sabar. Zahra lebih berani."
"Kau juga baik, Nak. Kau juga bijak. Kau juga sabar. Kau juga berani. Hanya saja, kau sedang diliputi amarah. Amarah buta. Amarah yang bisa menghancurkan segalanya."
"Ayah, maafkan aku."
"Ayah sudah memaafkanmu sejak lama. Sejak kau masih di kota. Sejak kau mengirim surat palsu. Sejak kau menolak pulang. Ayah tidak pernah menyimpan dendam padamu."
Pandu Hati menangis. Sultan Hasan memeluknya.
"Ayah sayang kamu, Nak. Ayah tidak akan pernah berhenti menyayangimu."
Malam itu, Sultan Hasan, Pandu Hati, Rukmini, dan Zahra duduk di tepi telaga.
Bulan purnama bersinar terang. Air telaga jernih, memantulkan cahaya bulan, menciptakan ribuan titik berkilauan.
"Nak," kata Sultan Hasan pada Pandu Hati. "Ayah ingin kau tahu, ayah tidak memilih Zahra karena ayah lebih sayang padanya. Ayah memilih Zahra karena ia lebih berbakat. Ia lebih cepat belajar. Ia lebih mudah memahami ajaran leluhur. Bukan berarti kau tidak berbakat. Bukan berarti kau tidak bisa belajar. Tapi kau sudah memilih jalanmu sendiri. Kau sudah menjadi ayah yang baik. Kau sudah menjadi suami yang baik. Itu sudah lebih dari cukup."
"Ayah, aku mengerti sekarang. Aku tidak akan cemburu lagi. Aku tidak akan marah lagi. Aku akan mendukung Zahra. Aku akan membantunya menjadi penjaga hati yang baik."
"Bagus, Nak. Ayah bangga padamu."
"Zahra," kata Pandu Hati pada anaknya. "Ayah minta maaf. Ayah sudah hampir menghancurkan masa depanmu."
"Tidak apa-apa, Ayah. Zahra memaafkan Ayah. Zahra sayang Ayah."
"Ayah juga sayang kamu, Zahra. Ayah akan selalu mendukungmu. Apa pun yang terjadi."
Mereka semua berpelukan.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap mereka. Matanya bundar dan kuning. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu berbunyi.
Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti seruan untuk terus menjaga. Menjaga keluarga. Menjaga cinta. Menjaga hati.
Selamanya.
BAB LXXXVIII
Zahra yang Berusia 10 Tahun Berbicara: "Ayah, kakek tidak membenci Ayah. Kakek hanya tahu bahwa tugas penjaga hati bukan untuk yang terkuat, tapi untuk yang paling tahan rindu"
Tiga tahun telah berlalu sejak Sultan Hasan menunjuk Zahra sebagai penerus “Penjaga Hati”. Tiga tahun yang penuh dengan pembelajaran, pendekatan, dan penyembuhan luka lama. Pandu Hati tidak lagi cemburu pada anaknya. Ia justru menjadi guru kedua bagi Zahra, setelah Sultan Hasan. Ia mengajari Zahra bertani, berkebun, memancing, dan hal-hal praktis lainnya. Rukmini mengajari Zahra menenun, memasak, dan mengurus rumah tangga. Sultan Hasan mengajari Zahra syair, sejarah leluhur, dan filosofi menjadi penjaga hati.
Zahra tumbuh menjadi anak yang cerdas, bijak, dan penyayang. Usianya baru sepuluh tahun, tapi cara bicaranya sudah dewasa. Matanya teduh, seperti mata Sultan Hasan dulu. Hatinya lembut, seperti hati Pandan Wangi dulu.
Suatu sore, saat mereka sekeluarga duduk di beranda pondok menikmati angin sepoi-sepoi dari telaga, Pandu Hati bertanya pada ayahnya, “Ayah, mengapa dulu Ayah memilih Zahra sebagai penerus? Mengapa tidak aku?”
Sultan Hasan tersenyum. Ia sudah menduga pertanyaan itu akan muncul suatu hari.
“Karena kau lebih cocok menjadi ayah, Nak. Kau lebih cocok menjadi suami. Kau lebih cocok menjadi petani. Kau lebih cocok menjadi kepala keluarga. Tugas penjaga hati bukan untuk yang terkuat, tapi untuk yang paling tahan rindu.”
“Tahan rindu? Maksud Ayah?”
“Penjaga hati harus bisa merindukan tanpa putus asa. Harus bisa mencintai tanpa memiliki. Harus bisa menjaga tanpa diakui. Itu berat. Tidak semua orang sanggup. Ayah yakin kau tidak sanggup. Bukan karena kau lemah. Tapi karena kau punya kebahagiaan lain. Kau punya istri. Kau punya anak. Kau punya keluarga. Kau tidak perlu menjadi penjaga hati.”
Pandu Hati terdiam. Ia merenungkan kata-kata ayahnya.
Zahra yang mendengar percakapan itu dari dalam pondok, keluar. Ia duduk di samping ayahnya.
“Ayah,” katanya. “Kakek tidak membenci Ayah. Kakek hanya tahu bahwa tugas penjaga hati bukan untuk yang terkuat, tapi untuk yang paling tahan rindu. Ayah tidak tahan rindu. Ayah punya Ibu. Ayah punya Zahra. Ayah punya keluarga. Kakek dulu tidak punya siapa-siapa selain Nenek. Ketika Nenek meninggal, Kakek hanya punya pusaka dan telaga. Kakek tahan rindu. Itu sebabnya Kakek menjadi penjaga hati.”
Pandu Hati terkejut. Ia tidak menyangka anaknya yang baru berusia sepuluh tahun bisa berkata sebijak itu.
“Zahra, bagaimana kau tahu semua itu?”
“Kakek sering bercerita, Ayah. Tentang masa kecilnya. Tentang Nenek. Tentang perjuangan mereka. Tentang kesepian Kakek di pulau penjara. Tentang rindu yang tak pernah terobati. Zahra mendengarkan. Zahra meresapi. Zahra belajar.”
Pandu Hati memeluk anaknya. “Ayah bangga padamu, Zahra. Ayah tidak akan pernah bisa menjadi sepertimu.”
“Ayah tidak perlu menjadi seperti Zahra, Ayah. Ayah cukup menjadi ayah yang baik untuk Zahra. Itu sudah lebih dari cukup.”
Sultan Hasan yang mendengar percakapan itu, tersenyum. Air matanya menetes. Bukan sedih. Tapi haru. Bangga. Bahagia.
“Zahra,” katanya. “Kau sudah menjadi penjaga hati yang baik. Lebih baik dari kakek. Lebih baik dari nenekmu. Kakek bangga padamu.”
“Zahra belum apa-apa, Kek. Zahra masih belajar. Zahra masih banyak kekurangan.”
“Kekurangan adalah bagian dari manusia, Nak. Tidak ada manusia yang sempurna. Yang penting kau mau belajar. Mau memperbaiki diri. Mau menjadi lebih baik.”
“Zahra akan terus belajar, Kek. Zahra tidak akan pernah berhenti.”
“Bagus. Kakek yakin kau akan menjadi penjaga hati yang hebat.”
Malam harinya, Sultan Hasan duduk di kursi rodanya di tepi telaga. Zahra duduk di sampingnya, seperti biasa.
“Kakek,” kata Zahra. “Zahra ingin bertanya sesuatu.”
“Apa, Nak?”
“Apakah Kakek rindu pada Nenek?”
Sultan Hasan terdiam. Ia memandang air telaga yang jernih. Memandang bulan yang bersinar. Memandang bintang-bintang yang bertaburan.
“Setiap hari, Nak. Setiap malam. Setiap detik. Kakek merindukan nenekmu.”
“Apakah Kakek sedih?”
“Dulu, iya. Sekarang tidak. Karena kakek tahu, nenekmu ada di tempat yang lebih baik. Nenekmu bahagia di sana. Dan suatu hari, kakek akan bertemu dengannya lagi.”
“Zahra juga merindukan Nenek, meskipun Zahra belum pernah melihatnya. Zahra hanya tahu cerita Kakek. Tapi Zahra merasakan kehadirannya. Di telaga ini. Di pusaka ini. Di hati Kakek.”
“Nenekmu pasti senang mendengarnya. Ia pasti bangga padamu.”
“Zahra harap begitu, Kek.”
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap mereka.
Matanya bundar dan kuning. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu terbang. Meninggalkan suara yang nyaring.
Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti seruan untuk terus belajar. Terus merindukan. Terus menjadi penjaga hati.
Selamanya.
BAB LXXXIX
Pandu Hati Menangis dan Minta Maaf: Ia Sadar bahwa Selama Ini Ia Salah Memahami Cinta Ayahnya
Malam itu, setelah Zahra tidur, Pandu Hati tidak bisa memejamkan mata. Ia berbaring di samping Rukmini, memandang langit-langit pondok yang gelap, mendengar suara jangkrik di kejauhan, dan suara ayahnya yang batuk-batuk di kamar sebelah.
"Mas, kau tidak bisa tidur?" tanya Rukmini pelan.
"Aku tidak bisa, Min. Pikiranku kacau."
"Karena apa?"
"Karena Ayah. Karena Zahra. Karena masa lalu. Karena semua kesalahan yang pernah aku buat."
Rukmini memeluk suaminya. "Mas, masa lalu biarlah berlalu. Yang penting sekarang kau sudah berubah. Kau sudah menjadi anak yang baik. Kau sudah menjadi ayah yang baik. Kau sudah menjadi suami yang baik."
"Tapi aku belum pernah minta maaf pada Ayah. Belum pernah secara langsung. Belum pernah dari hati ke hati."
"Kenapa tidak sekarang?"
"Sudah malam. Ayah sudah tidur."
"Ayah belum tidur. Aku mendengarnya batuk-batuk tadi. Mungkin ia juga tidak bisa tidur."
Pandu Hati berdiri. Ia berjalan ke kamar ayahnya.
Sultan Hasan terbaring di tempat tidurnya, matanya terbuka. Ia memandang langit-langit pondok, seperti sedang merenung.
"Ayah," bisik Pandu Hati.
Sultan Hasan menoleh. "Nak? Kenapa belum tidur?"
"Aku tidak bisa tidur, Ayah. Aku ingin... bicara."
"Duduklah."
Pandu Hati duduk di samping tempat tidur ayahnya. Ia memegang tangan ayahnya. Tangan itu keriput, dingin, tapi masih terasa hangat di hatinya.
"Ayah," katanya. "Aku minta maaf."
"Maaf untuk apa, Nak?"
"Untuk semuanya. Untuk dulu aku lari dari rumah. Untuk surat palsu yang aku kirim. Untuk membuat Ayah dan Ibu khawatir. Untuk membuat Ibu sakit. Untuk membuat Ayah sedih. Untuk hampir membakar pusaka dan syair. Untuk semua kesalahan yang pernah aku buat."
Sultan Hasan tersenyum. "Nak, ayah sudah memaafkanmu sejak lama. Ayah tidak pernah menyimpan dendam padamu."
"Tapi Ayah, aku tidak pernah benar-benar minta maaf. Aku hanya diam. Aku hanya berusaha memperbaiki diri tanpa mengucapkan kata maaf. Itu tidak cukup. Ayah berhak mendengar kata maaf dari mulutku."
"Kata-kata tidak selalu penting, Nak. Tindakan lebih penting. Dan kau sudah menunjukkan tindakan. Kau merawat ayah. Kau menemani ayah. Kau membant ayah. Itu sudah lebih dari cukup."
"Tapi Ayah, aku masih merasa bersalah. Aku merasa tidak pantas diampuni."
"Setiap orang pantas diampuni, Nak. Tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni, kecuali dosa yang tidak mau dimaafkan."
"Ayah, aku sayang Ayah. Aku tidak pernah berhenti menyayangi Ayah, meskipun dulu aku pernah membenci Ayah."
"Kau membenci ayah?"
"Dulu, iya. Aku menganggap Ayah terlalu kolot. Terlalu memaksakan tradisi. Terlalu mengatur hidupku. Tapi sekarang aku sadar, Ayah hanya ingin yang terbaik untukku."
"Ayah memang ingin yang terbaik untukmu, Nak. Tapi ayah lupa, bahwa yang terbaik menurut ayah belum tentu yang terbaik menurutmu."
"Ayah tidak salah. Aku yang salah. Aku terlalu keras kepala. Aku terlalu sombong. Aku terlalu tidak mau mendengarkan."
Mereka berdua menangis.
Rukmini yang mendengar dari kamarnya, ikut menangis. Zahra yang terbangun karena suara tangis, keluar dari kamarnya.
"Ayah, Kakek, kenapa kalian menangis?" tanyanya.
"Ini tangis bahagia, Zahra," kata Sultan Hasan. "Kakek dan ayahmu sedang berdamai. Secara sungguh-sungguh."
Zahra menghampiri. Ia memeluk ayah dan kakeknya. "Zahra ikut bahagia."
Rukmini juga menghampiri. Mereka semua berpelukan.
"Ini keluarga," bisik Rukmini. "Keluarga yang saling menyayangi. Keluarga yang saling memaafkan. Keluarga yang saling mendukung."
"Aku bersyukur memiliki kalian," kata Pandu Hati. "Aku tidak pantas memiliki keluarga sebaik ini."
"Kau pantas, Nak," kata Sultan Hasan. "Karena kau adalah anak ayah. Dan ayah akan selalu memberikan yang terbaik untukmu."
Malam itu, mereka semua tidur di ruang tengah. Berpelukan. Hangat. Bahagia.
Sultan Hasan terbangun di tengah malam. Ia memandang anak, menantu, dan cucunya yang tidur nyenyak di sekelilingnya.
"Pandan," bisiknya. "Ayah kita sudah berdamai. Anak kita sudah minta maaf. Keluarga kita sudah utuh. Kau pasti bangga, ya?"
Angin berembus pelan. Membawa wangi pandan.
Sultan Hasan tersenyum. "Aku merindukanmu, Pandan. Setiap hari. Setiap malam. Tapi aku ikhlas. Karena kau sudah pergi ke tempat yang lebih baik. Dan suatu hari, kita akan bertemu lagi. Di telaga ini. Di surga. Selamanya."
Ia memejamkan mata. Ia tertidur dengan damai.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatapnya. Matanya bundar dan kuning. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu terbang. Meninggalkan suara yang nyaring.
Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti seruan untuk terus menjaga. Menjaga keluarga. Menjaga cinta. Menjaga hati.
Selamanya.
BAB XC
Sultan Hasan Mengajarkan Rahasia Terakhir: Ada Satu Bait Syair yang Tidak Pernah Diajarkan kepada Siapa Pun – Hanya untuk Penjaga Hati Sejati
Pagi itu, Sultan Hasan terbangun lebih awal dari biasanya. Matahari belum terbit. Kabut masih menutupi telaga. Burung-burung belum mulai berkicau. Hanya suara jangkrik yang masih terdengar samar-samar di kejauhan.
Ia duduk di kursi rodanya. Pandu Hati dan Rukmini masih tidur di ruang tengah. Zahra tidur di samping kakeknya, di dalam kamar. Sultan Hasan membangunkan cucunya dengan lembut.
"Zahra... bangun, Nak."
Zahra menguap. Matanya masih sayu. "Kek, masih pagi."
"Ayah dan ibumu masih tidur. Ajak kakek ke telaga."
Zahra bangkit. Ia mendorong kursi roda kakeknya ke luar pondok, melewati halaman yang basah oleh embun, menuju ke tepi telaga.
"Kek, ada apa? Kenapa Kakek bangun sepagi ini?"
"Kakek ingin mengajarkanmu sesuatu. Rahasia terakhir. Sesuatu yang tidak pernah kakek ajarkan kepada siapa pun."
"Rahasia terakhir, Kek? Apa itu?"
Sultan Hasan memandang telaga. Airnya jernih. Dasarnya terlihat. Tanaman air bergoyang-goyang ditarik arus yang lembut. Bulan sabit tipis masih terlihat di ufuk barat, sebelum akhirnya lenyap ditelan cahaya fajar.
"Zahra, selama ini kakek sudah mengajarkanmu hampir semua bait syair penjaga hati. Tapi ada satu bait yang tidak pernah kakek ajarkan. Bait paling rahasia. Bait paling sakral. Bait yang hanya boleh diajarkan kepada penjaga hati sejati."
"Kenapa baru sekarang, Kek? Kenapa tidak dulu?"
"Karena kau belum siap, Zahra. Dulu, kau masih kecil. Kau belum bisa memahami maknanya. Sekarang kau sudah berusia sepuluh tahun. Kakek rasa kau sudah siap."
"Zahra siap, Kek. Zahra akan mendengarkan."
Sultan Hasan memejamkan mata. Ia mengambil napas panjang. Kemudian ia mulai membacakan.
"Pada akhirnya, setelah badai berlalu,
Setelah gelap berganti terang,
Setelah perih menjadi tawa,
Kita akan sadar bahwa cinta sejati tidak pernah mati.
Ia hanya berubah bentuk.
Seperti air yang menguap menjadi awan,
Lalu turun menjadi hujan,
Lalu mengalir kembali ke telaga.
Abadi.
Selamanya."
Ia membuka mata. "Itu dia, Nak. Bait terakhir."
Zahra terdiam. Ia meresapi kata demi kata. Matanya berkaca-kaca.
"Kek, bait ini... indah sekali. Dalam sekali. Zahra belum pernah mendengar yang seperti ini."
"Karena bait ini tidak pernah kakek tulis di daun lontar. Tidak pernah kakek bacakan di depan umum. Hanya kakek simpan di dalam hati. Hanya untuk penjaga hati sejati."
"Kenapa Kakek tidak menulisnya, Kek? Bukankah syair adalah warisan yang harus disebarluaskan?"
"Warisan tidak harus disebarluaskan, Nak. Kadang, warisan harus dijaga kerahasiaannya. Karena jika semua orang tahu, maka ia akan kehilangan maknanya. Ia akan menjadi biasa. Tidak istimewa."
"Tapi Kakek, Zahra akan menulisnya. Zahra akan menyimpannya. Zahra akan mengajarkannya kepada anak cucu Zahra. Hanya kepada penjaga hati sejati."
"Bagus, Nak. Itulah tugasmu. Menjaga rahasia ini. Mewariskannya pada generasi berikutnya."
Zahra mengambil sehelai daun lontar dan pisau kecil dari saku bajunya. Ia mulai menulis. Perlahan. Hati-hati. Setiap goresan, setiap aksara, ia buat dengan penuh penghayatan.
Sultan Hasan memperhatikan cucunya menulis. Ia tersenyum.
"Kakek," kata Zahra selesai menulis. "Zahra akan menyimpan daun lontar ini di tempat yang aman. Tidak akan ada yang tahu kecuali Zahra. Dan kelak, anak cucu Zahra."
"Kakek percaya padamu, Zahra. Kakek yakin kau akan menjadi penjaga hati yang baik. Lebih baik dari kakek. Lebih baik dari nenekmu. Lebih baik dari semua penjaga hati sebelumnya."
"Zahra hanya ingin menjadi penjaga hati yang tulus, Kek. Tidak perlu hebat."
"Tulus itu sudah hebat, Zahra. Karena tidak semua orang bisa tulus."
Matahari mulai terbit. Cahayanya merah keemasan, hangat, tidak menyengat. Burung-burung mulai berkicau. Ayam-ayam jantan mulai berkokok.
"Kakek," kata Zahra. "Zahra boleh bertanya sesuatu?"
"Apa, Nak?"
"Apakah Kakek bahagia? Sepanjang hidup Kakek? Apakah Kakek bahagia?"
Sultan Hasan terdiam. Ia memandang telaga. Memandang langit. Memandang cucunya.
"Kakek bahagia, Nak. Bukan karena kakek kaya. Bukan karena kakek terkenal. Bukan karena kakek punya segalanya. Tapi karena kakek punya cinta. Cinta dari nenekmu. Cinta dari ayahmu. Cinta dari ibu mu. Cinta darimu. Cinta dari telaga. Cinta dari pusaka. Cinta dari leluhur. Itu sudah lebih dari cukup."
Zahra memeluk kakeknya. "Zahra juga bahagia, Kek. Karena Zahra punya Kakek. Karena Zahra punya Ayah. Karena Zahra punya Ibu. Karena Zahra punya telaga. Karena Zahra punya pusaka. Karena Zahra punya cinta."
Mereka berdua tersenyum.
Pandu Hati dan Rukmini terbangun ketika matahari sudah tinggi. Mereka terkejut melihat Sultan Hasan dan Zahra sudah di tepi telaga sejak pagi.
"Ayah, kau sudah bangun sejak kapan?" tanya Pandu Hati.
"Sejak subuh, Nak. Ajak Zahra ke sini. Kakek mau mengajarkan rahasia terakhir."
"Rahasia terakhir, Ayah? Apa itu?"
"Itu rahasia, Nak. Hanya Zahra yang tahu."
Pandu Hati tidak memaksa. Ia tahu ayahnya punya alasan.
"Sudah, Nak. Bawa kakek kembali ke pondok. Kakek lapar."
Zahra mendorong kursi roda kakeknya ke pondok. Pandu Hati dan Rukmini mengikuti di belakang.
Mereka sarapan bersama. Nasi. Sayur asem. Ikan bakar. Tahu tempe. Sederhana. Tapi hangat.
"Ayah," kata Pandu Hati. "Aku bersyukur masih bisa sarapan bersama Ayah. Meskipun Ayah sudah tua. Meskipun Ayah sakit. Meskipun Ayah tidak bisa berjalan. Yang penting kita bersama."
"Ayah juga bersyukur, Nak. Masih diberi umur panjang. Masih bisa melihat anak dan cucu. Masih bisa merasakan hangatnya matahari. Masih bisa mendengar burung berkicau. Masih bisa mencium wangi pandan dari telaga."
"Kakek," kata Zahra. "Zahra akan merawat Kakek. Zahra tidak akan pernah meninggalkan Kakek."
"Kakek tahu. Kakek percaya padamu."
Mereka semua tersenyum.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap mereka. Matanya bundar dan kuning. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu terbang. Meninggalkan suara yang nyaring.
Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti seruan untuk terus menjaga. Menjaga telaga. Menjaga pusaka. Menjaga rahasia. Menjaga hati.
Selamanya.
BAB XCI
Zahra Memasuki Telaga Larangan: Atas Petunjuk Sultan Hasan, Zahra Masuk Telaga – Ia Keluar dengan Pusaka Baru: Sebuah Keris Kecil dari Air
Tiga bulan telah berlalu sejak Sultan Hasan mengajarkan rahasia terakhir kepada Zahra. Tiga bulan yang penuh dengan latihan, perenungan, dan persiapan. Zahra tidak hanya menghafal syair, tetapi juga meresapi maknanya. Ia tidak hanya belajar menenun, tetapi juga memahami filosofi di balik setiap benang yang ia jalin. Ia tidak hanya bertani, tetapi juga merasakan siklus kehidupan yang diajarkan oleh alam.
Pada suatu malam, saat bulan purnama bersinar terang, Sultan Hasan memanggil Zahra ke tepi telaga. Pandu Hati dan Rukmini juga hadir, duduk di tikar anyaman pandan, menunggu dengan perasaan cemas.
"Zahra," kata Sultan Hasan. "Malam ini, kau harus masuk ke telaga."
Zahra terkejut. "Masuk ke telaga, Kek? Untuk apa?"
"Untuk mengambil pusaka baru. Pusaka yang hanya bisa diambil oleh penjaga hati sejati."
"Apa pusaka itu, Kek?"
"Sebuah keris kecil. Keris dari air."
"Keris dari air? Apakah itu tidak akan hancur?"
"Keris itu tidak hancur, Nak. Keris itu terbuat dari energi telaga. Ia akan mewujud ketika kau menyentuhnya. Dan ia akan menjadi senjata yang ampuh untuk melindungi telaga, melindungi pusaka, melindungi hati."
"Apa yang harus Zahra lakukan, Kek?"
"Kau harus masuk ke telaga. Berenang ke tengah. Selam ke dasar. Di sana, kau akan melihat cahaya. Kejar cahaya itu. Sentuhlah. Dan keris itu akan muncul."
"Apakah berbahaya, Kek?"
"Tidak. Telaga ini bersahabat denganmu. Ia mengenalmu. Ia sudah memilihmu sejak kau lahir."
Zahra memandang ayah dan ibunya. Pandu Hati mengangguk. Rukmini tersenyum meskipun matanya basah.
"Zahra akan melakukannya, Kek."
Zahra melepas sandalnya. Ia melepas kalung batu akik merah dari lehernya, memberikannya pada kakeknya untuk sementara.
"Jaga dulu, Kek. Nanti Zahra ambil lagi."
"Kakek akan menjaganya."
Zahra berjalan ke tepi telaga. Airnya dingin, tapi tidak mengagetkan. Ia masuk perlahan. Kaki-kakinya yang mungil menyentuh dasar telaga yang berlumpur, tapi tidak terasa kotor.
Ia berenang ke tengah. Air telaga jernih. Ia bisa melihat dasarnya. Tanaman air bergoyang-goyang. Ikan-ikan kecil berenang di sekitarnya, tidak takut, seolah menyambutnya.
Ia menyelam.
Di dasar telaga, ia melihat cahaya. Bukan cahaya biasa. Cahaya keemasan, hangat, berdenyut seperti jantung. Cahaya itu berasal dari sebuah batu besar – batu yang sama yang dulu pernah dirawat oleh Sultan Hasan, batu yang menjadi jantung telaga, batu yang disatukan dengan pusaka keluarga.
Zahra mendekat. Ia mengulurkan tangannya. Ia menyentuh cahaya itu.
Sekejap, seluruh telaga bergetar. Airnya beriak, bergolak, tapi tidak menakutkan. Cahaya itu semakin terang, menyilaukan, membungkus seluruh tubuh Zahra.
Pandu Hati dan Rukmini yang melihat dari tepi, cemas.
"Tidak apa-apa," kata Sultan Hasan. "Itu pertanda. Telaga sedang memberkatinya."
Cahaya itu meredup. Zahra masih di dasar telaga. Di tangannya, kini ada sebuah keris kecil. Keris dari air. Berwarna biru kehijauan, tembus pandang, tapi terlihat kokoh. Berdenyut. Hangat. Seperti batu akik merah.
Zahra naik ke permukaan. Ia berenang ke tepi. Pandu Hati dan Rukmini berlari menyambutnya.
"Zahra! Kau selamat!" teriak Rukmini sambil memeluk anaknya.
"Zahra selamat, Ibu. Zahra juga membawa pusaka baru."
Ia menunjukkan keris kecil di tangannya. Keris itu berdenyut. Hangat. Cahayanya memancar, menerangi seluruh telaga.
Sultan Hasan tersenyum. "Keris itu, Nak, adalah lambang kekuatan. Kekuatan untuk melindungi. Kekuatan untuk membela kebenaran. Kekuatan untuk menjaga hati."
"Apa yang harus Zahra lakukan dengan keris ini, Kek?"
"Simpan di tempat yang aman. Gunakan hanya jika diperlukan. Jangan pernah menyalahgunakannya."
"Zahra akan menjaganya, Kek. Zahra janji."
Malam itu, Sultan Hasan, Pandu Hati, Rukmini, dan Zahra duduk di tepi telaga. Bulan purnama bersinar terang. Air telaga jernih, memantulkan cahaya bulan, menciptakan ribuan titik berkilauan.
"Kakek," kata Zahra. "Zahra sudah memiliki dua pusaka sekarang. Batu akik merah di leher. Keris air di tangan. Apakah masih ada pusaka lain yang harus Zahra cari?"
"Tidak, Nak. Cukup dua itu. Batu akik merah untuk menjaga hati. Keris air untuk melindungi hati. Keduanya saling melengkapi. Tidak bisa dipisahkan."
"Apakah Zahra sudah menjadi penjaga hati yang sempurna?"
"Belum, Nak. Masih panjang perjalananmu. Masih banyak yang harus kau pelajari. Tapi kau sudah di jalan yang benar."
"Zahra akan terus belajar, Kek. Zahra tidak akan pernah berhenti."
"Kakek tahu. Kakek percaya padamu."
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap mereka.
Matanya bundar dan kuning. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu terbang. Meninggalkan suara yang nyaring.
Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti seruan untuk terus menjaga. Menjaga telaga. Menjaga pusaka. Menjaga keris. Menjaga hati.
Selamanya.
BAB XCII
Sultan Hasan Merasa Tenang: Ia Berkata kepada Pandu Hati, "Sekarang Aku Boleh Mati"
Tujuh hari telah berlalu sejak Zahra mengambil keris air dari dasar telaga. Tujuh hari yang penuh dengan rasa syukur dan kebahagiaan. Sultan Hasan tidak henti-hentinya tersenyum. Ia memandang cucunya dengan penuh kasih sayang, sesekali mengelus rambutnya, sesekali mencium keningnya.
"Zahra," katanya suatu sore, saat mereka berdua duduk di tepi telaga. "Kakek sudah tenang sekarang."
"Tenang, Kek? Maksudnya?"
"Kakek sudah tua, Nak. Kakek sudah tidak punya banyak waktu lagi. Tapi kakek tidak khawatir. Karena kakek tahu, telaga ini akan dijaga olehmu. Pusaka ini akan dijaga olehmu. Tradisi keluarga akan dilanjutkan olehmu."
"Kakek jangan bicara begitu, Kek. Kakek masih panjang umur. Kakek masih bisa melihat Zahra dewasa. Kakek masih bisa melihat Zahra menikah. Kakek masih bisa melihat cicit Kakek."
Sultan Hasan tersenyum pahit. "Kakek tidak akan sepanjang itu, Nak. Tubuh kakek sudah rapuh. Tapi kakek ikhlas. Kakek sudah siap."
"Zahra tidak siap, Kek. Zahra belum siap kehilangan Kakek."
"Tidak ada yang siap kehilangan, Nak. Tapi kita harus siap. Karena kematian adalah bagian dari kehidupan."
Zahra menangis. Sultan Hasan memeluknya.
"Jangan menangis, Nak. Kakek sayang kamu. Kakek tidak akan pernah berhenti menyayangimu, meskipun kakek sudah tiada."
Malam harinya, Sultan Hasan memanggil Pandu Hati ke kamarnya.
"Duduklah, Nak," katanya.
Pandu Hati duduk di samping tempat tidur ayahnya. Ia memegang tangan ayahnya yang keriput dan dingin.
"Ayah, ada apa?"
"Ayah ingin bicara. Ayah ingin... pamit."
Pandu Hati terkejut. "Pamit? Ayah mau ke mana?"
"Ayah mau pergi, Nak. Mau bergabung dengan ibumu. Dengan Pandan Wangi. Dengan Nini Mas Intan. Dengan semua leluhur."
"Ayah, jangan bicara begitu. Ayah masih kuat."
"Ayah tidak kuat lagi, Nak. Ayah sudah lelah. Ayah sudah siap. Sekarang ayah tenang. Karena ayah tahu, telaga ini akan dijaga oleh Zahra. Pusaka ini akan dijaga oleh Zahra. Tradisi keluarga akan dilanjutkan oleh Zahra."
"Ayah, aku tidak bisa tanpa Ayah."
"Kau bisa, Nak. Kau sudah dewasa. Kau sudah punya keluarga. Kau sudah bisa mandiri. Kau tidak butuh ayah lagi."
"Aku tetap butuh ayah, Ayah. Aku tidak pernah berhenti membutuhkan ayah."
"Ayah tahu. Tapi ayah tidak bisa selamanya. Setiap orang pasti mati. Tidak terkecuali ayah."
Pandu Hati menangis. Sultan Hasan memeluknya.
"Jangan menangis, Nak. Ayah sayang kamu. Ayah tidak akan pernah berhenti menyayangimu, meskipun ayah sudah tiada."
"Ayah, aku minta maaf untuk semua kesalahanku. Aku minta maaf karena dulu aku lari dari rumah. Aku minta maaf karena aku membuat Ayah dan Ibu khawatir. Aku minta maaf karena aku hampir membakar pusaka. Aku minta maaf..."
"Sudah, Nak. Ayah sudah memaafkanmu. Ayah sudah lama memaafkanmu. Ayah tidak pernah menyimpan dendam padamu."
"Aku sayang Ayah."
"Ayah juga sayang kamu."
Sultan Hasan memanggil Rukmini ke kamarnya.
"Duduklah, Nak."
Rukmini duduk di samping tempat tidur mertuanya. Ia memegang tangan Sultan Hasan. Tangannya hangat, meskipun tubuhnya sudah lemah.
"Ayah, ada apa?"
"Ayah ingin berterima kasih padamu."
"Berterima kasih? Untuk apa, Ayah?"
"Kau sudah menjadi menantu yang baik. Kau sudah merawat ayah dengan sabar. Kau sudah menemani ayah di saat sakit. Kau sudah memberi ayah cucu yang cantik dan cerdas. Ayah tidak akan pernah bisa membalas kebaikanmu."
"Ayah tidak perlu membalas apa pun, Ayah. Ini kewajibanku sebagai menantu."
"Kau tidak punya kewajiban, Nak. Kau melakukannya karena kebaikan hati. Dan ayah sangat berterima kasih."
"Ayah, aku yang berterima kasih. Karena Ayah telah menerimaku sebagai menantu. Karena Ayah tidak pernah membedakan aku dengan anak kandung. Karena Ayah selalu menyayangiku."
"Kau adalah anak ayah, Nak. Sama seperti Pandu Hati. Sama seperti Zahra. Tidak ada perbedaan."
Rukmini menangis. Sultan Hasan memeluknya.
"Jangan menangis, Nak. Ayah sayang kamu. Ayah tidak akan pernah berhenti menyayangimu, meskipun ayah sudah tiada."
Sultan Hasan memanggil Zahra ke kamarnya.
"Duduklah di sini, Nak."
Zahra duduk di samping kakeknya. Ia sudah menangis sejak tadi. Matanya merah. Wajahnya basah.
"Kakek, jangan pergi. Zahra belum siap."
"Kakek tahu. Tapi kakek tidak bisa berlama-lama lagi. Tubuh kakek sudah tidak kuat. Kakek sudah lelah."
"Zahra akan merawat Kakek. Zahra akan memandikan Kakek. Zahra akan menyuapi Kakek. Zahra akan menemani Kakek setiap saat. Kakek jangan pergi."
"Kau tidak perlu melakukan semua itu, Nak. Kakek sudah tenang. Kakek sudah siap. Sekarang, kakek titipkan telaga ini padamu. Pusaka ini padamu. Keris ini padamu. Tradisi keluarga padamu. Jagalah semuanya dengan baik."
"Zahra akan menjaganya, Kek. Zahra janji."
"Kakek sayang kamu, Zahra. Kakek tidak akan pernah berhenti menyayangimu, meskipun kakek sudah tiada."
"Zahra juga sayang Kakek. Zahra akan selalu merindukan Kakek."
"Rindu itu tidak apa-apa, Nak. Rindu itu tanda bahwa kau pernah mencintai. Rindu itu tanda bahwa kau pernah memiliki."
Malam itu, setelah semua orang tidur, Sultan Hasan duduk di kursi rodanya di tepi telaga. Sendirian. Ditemani oleh bulan, bintang, dan burung hantu di dahan pohon asam.
Ia memandang air telaga yang jernih. Memandang batu akik merah di lehernya yang kini sudah dipakaikan kembali pada Zahra. Memandang keris air yang tersimpan di balik bantal Zahra.
"Pandan," bisiknya. "Aku sudah tenang. Aku sudah siap. Sekarang, aku boleh mati."
Angin berembus pelan. Membawa wangi pandan.
"Kau pasti sudah menungguku, ya? Di surga? Di alam lain? Di tempat yang indah?"
Angin berembus lebih kencang. Seolah menjawab.
"Aku merindukanmu, Pandan. Setiap hari. Setiap malam. Tapi aku tidak sedih lagi. Karena aku tahu, kita akan bertemu lagi. Sebentar lagi."
Ia memejamkan mata. Ia tersenyum.
"Selamat malam, Pandan. Sampai jumpa."
Sultan Hasan memejamkan matanya untuk terakhir kalinya.
Ia pergi dengan tenang. Dengan damai. Dengan senyum di bibirnya.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatapnya. Matanya bundar dan kuning. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu terbang. Meninggalkan suara yang nyaring.
Sekali. Pendek. Panjang. Sedih. Tapi juga lega.
Seperti ucapan selamat jalan. Seperti doa restu. Seperti seruan untuk perjalanan terakhir seorang penjaga hati.
Selamanya.
BAB XCIII
Kematian Sultan Hasan: Sultan Hasan Wafat dengan Damai di Pangkuan Zahra dan Pandu Hati – Pada Saat Itu, Hujan Turun di Musim Kemarau
Pagi itu, matahari tidak terbit seperti biasa.
Awan tebal menutupi seluruh langit. Warna kelabu menyelimuti Dukuh Wangi. Angin berembus kencang, mendinginkan udara yang biasanya panas di musim kemarau. Burung-burung tidak berkicau. Ayam-ayam jantan tidak berkokok. Hanya suara jangkrik yang terdengar samar-samar, seperti ikut berduka.
Zahra terbangun lebih dulu dari biasanya. Ia merasakan keganjilan. Ia memandang kakeknya yang terbaring di sampingnya. Sultan Hasan masih hidup. Dadanya masih naik turun. Napasnya masih terdengar, meskipun lemah. Zahra menghela napas lega.
Ia bangkit. Ia pergi ke dapur membantu ibunya menyiapkan sarapan. Rukmini sudah sibuk menanak nasi dan memasak sayur.
"Ibu, hari ini aneh," kata Zahra. "Awan gelap. Angin kencang. Burung-burung diam. Seperti alam sedang berduka."
"Ibu juga merasakannya, Nak. Mungkin alam sedang bersedih. Mungkin alam sedang kehilangan sesuatu."
"Kehilangan apa, Ibu?"
Rukmini tidak menjawab. Ia hanya memeluk anaknya.
Pukul sembilan pagi, Pandu Hati yang sedang di ladang, berlari pulang. Ia mendengar suara aneh dari dalam pondok. Suara tangis. Suara istrinya. Suara anaknya.
Ia masuk ke kamar ayahnya.
Sultan Hasan terbaring lemah di tempat tidurnya. Matanya sayu. Wajahnya pucat. Napasnya sesak. Bibirnya biru.
"Ayah!" teriak Pandu Hati.
Ia berlutut di samping ayahnya. Ia memegang tangan ayahnya. Tangan itu dingin. Sangat dingin.
"Ayah, jangan pergi. Ayah, aku belum siap."
Sultan Hasan membuka mata. Samar-samar. Ia tersenyum.
"Nak... ayah... sudah... siap... jangan... sedih..."
"Ayah, aku tidak bisa hidup tanpa Ayah."
"Kau... bisa... kau... sudah... dewasa... kau... sudah... punya... keluarga..."
"Ayah, aku sayang Ayah."
"Ayah... juga... sayang... kamu... jaga... Zahra... jaga... telaga... jaga... pusaka..."
"Aku akan menjaganya, Ayah. Aku janji."
Sultan Hasan memandang Zahra yang menangis di samping Rukmini.
"Zahra... sini... Nak..."
Zahra menghampiri. Ia memegang tangan kakeknya. Tangannya dingin, tapi terasa hangat di hati Zahra.
"Kakek... jangan pergi... Zahra belum siap."
"Kau... siap... Nak... kau... sudah... menjadi... penjaga... hati... yang... baik... kakek... bangga... padamu..."
"Zahra belum apa-apa, Kek. Zahra masih banyak kekurangan."
"Kekurangan... adalah... bagian... dari... manusia... tidak... ada... yang... sempurna... kakek... sayang... kamu..."
"Zahra juga sayang Kakek."
Sultan Hasan memandang Rukmini.
"Nak... terima... kasih... untuk... semuanya... kau... sudah... menjadi... menantu... yang... baik... kakek... bangga..."
"Ayah, aku yang berterima kasih. Karena Ayah sudah menerimaku sebagai menantu. Karena Ayah sudah menyayangiku seperti anak kandung."
"Kau... adalah... anak... ayah... selamanya..."
Sultan Hasan memandang semua anggota keluarganya. Ia tersenyum.
"Ayah... pamit... jaga... diri... kalian... baik-baik... ayah... sayang... kalian... semua..."
Ia memejamkan matanya.
Dadanya naik sekali, turun, lalu tidak naik lagi.
Sultan Hasan telah tiada.
Pandu Hati berteriak histeris. Ia memeluk jasad ayahnya. Ia menangis sekeras-kerasnya. Rukmini juga menangis. Zahra juga menangis.
"Ayah! Ayah! Jangan pergi! Aku belum sempat membahagiakan Ayah! Aku belum sempat menebus semua kesalahanku! Ayah!"
Tapi Sultan Hasan tidak menjawab. Ia sudah pergi. Ke alam yang lebih baik. Bergabung dengan Pandan Wangi. Bergabung dengan Nini Mas Intan. Bergabung dengan semua leluhur.
Tepat saat itu, hujan turun.
Hujan di musim kemarau. Tidak biasa. Aneh. Ajaib.
Tetesan air jatuh dari langit. Basahi tanah yang kering. Basahi atap pondok. Basahi wajah-wajah yang sedang berduka.
"Ini pertanda," bisik Rukmini. "Alam menangisi kepergian Ayah."
"Alam kehilangan penjaga hatinya," bisik Zahra. "Tapi Zahra akan melanjutkan tugas Kakek. Zahra akan menjadi penjaga hati yang baik. Zahra janji."
Pandu Hati masih terisak. Rukmini memeluknya.
"Mas, ikhlaslah. Ayah sudah pergi ke tempat yang lebih baik. Ayah sudah tidak menderita lagi. Ayah sudah bahagia di sana."
"Tapi aku belum sempat membahagiakan Ayah, Min. Aku belum sempat..."
"Kau sudah membahagiakan Ayah, Mas. Dengan merawatnya. Dengan menemaninya. Dengan menjadi anak yang baik. Ayah bangga padamu."
"Ayah, maafkan aku. Maafkan aku untuk semua kesalahanku."
"Sudah, Mas. Ayah sudah memaafkanmu. Ayah sudah lama memaafkanmu."
Zahra memandang jasad kakeknya. Ia tidak menangis lagi. Ia sudah ikhlas.
Ia melepas batu akik merah dari lehernya. Ia meletakkannya di dada kakeknya.
"Kakek, bawa pusaka ini. Sebagai bekal di perjalanan. Sebagai pengingat bahwa Zahra akan selalu menjagamu, meskipun kau sudah tiada."
Ia juga mengambil keris air dari balik bantalnya. Ia letakkan di samping jasad kakeknya.
"Kakek, bawa keris ini. Sebagai pelindung. Sebagai senjata. Sebagai lambang bahwa Zahra akan selalu melindungimu, meskipun kau sudah tiada."
Pandu Hati dan Rukmini terharu melihat ketulusan Zahra.
"Zahra, kau sudah menjadi penjaga hati yang baik," kata Pandu Hati.
"Zahra belum apa-apa, Ayah. Tapi Zahra akan berusaha."
Hujan berhenti ketika matahari mulai terbenam.
Langit berubah warna. Jingga keemasan. Cantik. Indah. Seperti pelangi.
"Lihat, Ayah," kata Zahra. "Langit tersenyum. Kakek sudah sampai di surga. Kakek sudah bahagia."
Pandu Hati memandang langit. Air matanya masih mengalir. Tapi hatinya lega.
"Ayah, selamat jalan. Aku akan selalu merindukanmu. Aku akan selalu mencintaimu. Sampai mati. Sampai setelah mati. Selamanya."
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap mereka. Matanya bundar dan kuning. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu terbang. Meninggalkan suara yang nyaring.
Sekali. Pendek. Panjang. Sedih. Tapi juga lega.
Seperti ucapan selamat jalan. Seperti doa restu. Seperti seruan untuk melanjutkan perjuangan. Perjuangan menjaga telaga. Menjaga pusaka. Menjaga hati.
Selamanya.
BAB XCIV
Pemakaman Sultan Hasan: Seluruh Desa Datang – Mereka Menyadari bahwa Mereka Telah Kehilangan Seorang Penjaga Hati Sejati
Kabar tentang wafatnya Sultan Hasan menyebar dengan cepat ke seluruh Dukuh Wangi, lalu ke desa-desa tetangga, lalu ke kota-kota, lalu ke seluruh penjuru bekas Kerajaan Nusantara. Dalam hitungan jam, orang-orang berbondong-bondong datang ke pondok kecil di tepi telaga. Mereka tidak hanya dari Dukuh Wangi, tetapi juga dari Bandar Cendana, dari Kota Rajapura, dari Kota Prapatan, bahkan dari pulau-pulau seberang.
Mereka datang dengan berjalan kaki, dengan kereta kuda, dengan perahu, dengan segala cara yang bisa mereka tempuh. Mereka datang bukan karena dipaksa, bukan karena diundang, tetapi karena hati mereka sendiri yang tergerak. Karena Sultan Hasan bukan hanya seorang pujangga, bukan hanya seorang penjaga hati, tetapi juga seorang guru, seorang sahabat, seorang penolong bagi banyak orang.
"Semasa hidupnya, ia pernah menolong saya saat saya hampir mati kelaparan di Bandar Cendana," kata seorang lelaki paruh baya sambil menangis. "Ia memberi saya makan, memberi saya pakaian, dan membantu saya mendapatkan pekerjaan. Tanpa beliau, saya mungkin sudah mati."
"Beliau pernah menyembuhkan anak saya yang sakit parah dengan air telaga dan doa," kata seorang perempuan tua sambil memeluk cucunya. "Dokter sudah menyerah. Tapi Sultan Hasan tidak menyerah. Beliau berdoa semalaman, dan anak saya sembuh keesokan harinya."
"Beliau pernah menuliskan syair untuk saya," kata seorang pemuda. "Saya sedang patah hati karena ditinggal kekasih. Beliau menuliskan syair tentang kesabaran dan ketulusan. Saya hafal sampai sekarang. Syair itu menyelamatkan saya dari kegilaan."
"Beliau pernah memaafkan saya," kata Jaya, sahabat lama Sultan Hasan yang kini sudah tua dan renta. "Saya dulu durhaka. Saya menjadi kepala desa yang otoriter, korup, dan hampir menghancurkan desa ini. Tapi Sultan Hasan memaafkan saya. Ia memeluk saya seperti saudara. Tanpa beliau, saya tidak akan pernah bisa memaafkan diri saya sendiri."
Mereka semua datang. Mereka semua menangis. Mereka semua merindukan Sultan Hasan.
Pandu Hati, Rukmini, dan Zahra memandu prosesi pemakaman. Mereka tidak menyangka akan ada sebanyak ini orang yang datang. Pondok kecil itu tidak muat menampung mereka semua. Maka mereka memindahkan jenazah Sultan Hasan ke balai desa, tempat yang lebih luas.
Jenazah Sultan Hasan dimandikan, dikafani, dan dishalati oleh para tetua desa. Ribuan orang hadir. Mereka berdesak-desakan, ingin melihat wajah Sultan Hasan untuk terakhir kalinya, ingin memberi penghormatan terakhir, ingin mendoakan yang terbaik.
"Ayah," bisik Pandu Hati. "Ayah tidak pernah menyangka akan dicintai sebanyak ini, ya? Dulu, Ayah dikucilkan. Dulu, Ayah dibenci. Dulu, Ayah hampir dijadikan sesaji. Tapi sekarang, seluruh desa menangisi kepergian Ayah. Seluruh kerajaan berduka."
Ia memegang tangan ayahnya yang sudah dingin.
"Ayah, aku bangga menjadi anak Ayah. Aku tidak akan pernah menyia-nyiakan nama baik Ayah. Aku akan menjadi orang baik, seperti Ayah. Aku akan menjaga telaga, seperti Ayah. Aku akan menjaga pusaka, seperti Ayah. Aku akan menjaga hati, seperti Ayah."
Rukmini memeluk suaminya. "Ayah pasti mendengarmu, Mas. Ayah pasti bangga padamu."
Zahra duduk di samping jenazah kakeknya. Ia tidak menangis. Ia sudah ikhlas. Ia hanya memandang wajah kakeknya yang tenang, yang tersenyum, yang damai.
"Kakek," bisiknya. "Zahra akan melanjutkan perjuangan Kakek. Zahra akan menjadi penjaga hati yang baik. Zahra akan menjaga telaga. Zahra akan menjaga pusaka. Zahra akan menjaga tradisi keluarga. Zahra akan membuat Kakek bangga."
Jenazah Sultan Hasan dimakamkan di tepi telaga, di samping makam Pandan Wangi, di bawah pohon beringin tua.
Liang lahat digali oleh Pandu Hati dan Jaya, dibantu oleh para pemuda desa. Mereka menggali dengan hati-hati, dengan penuh hormat, dengan air mata yang tak henti-hentinya mengalir.
Jenazah diturunkan ke liang lahat. Pandu Hati, Rukmini, dan Zahra menaburkan tanah ke atasnya. Para tetua desa membacakan doa-doa. Seluruh hadirin mengucapkan amin.
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un," kata mereka bersama. "Dari Allah kita berasal, kepada Allah kita kembali."
Setelah pemakaman selesai, orang-orang tidak segera pulang. Mereka duduk di tepi telaga, berdoa bersama, bercerita tentang Sultan Hasan, mengenang kebaikan-kebaikannya.
"Kita telah kehilangan seorang penjaga hati sejati," kata seorang tetua. "Tidak akan ada lagi Sultan Hasan. Tidak akan ada lagi pujangga yang tulus. Tidak akan ada lagi manusia sebaik dia."
"Tapi kita masih punya Zahra," kata yang lain. "Cucunya. Ia akan melanjutkan tradisi. Ia akan menjadi penjaga hati berikutnya."
"Apakah ia siap?" kata yang lain lagi. "Ia masih kecil. Baru berusia dua belas tahun."
"Usia bukanlah ukuran. Sultan Hasan sudah menjadi penjaga hati sejak usia muda. Nini Mas Intan juga. Pandan Wangi juga. Yang penting adalah kesiapan. Ketulusan. Cinta."
Mereka semua memandang Zahra. Zahra tersenyum. Ia memegang batu akik merah di lehernya. Batu itu berdenyut. Hangat.
"Mereka percaya padamu," bisik batu itu. "Jangan kecewakan mereka."
"Zahra tidak akan mengecewakan mereka," bisik Zahra balik. "Zahra akan menjadi penjaga hati yang baik. Zahra janji."
Malam harinya, setelah semua tamu pulang, Pandu Hati, Rukmini, dan Zahra duduk di tepi telaga.
Bulan sabit tipis. Bintang-bintang bertaburan. Air telaga jernih, tenang, memantulkan cahaya bulan yang redup.
"Ayah," kata Zahra. "Zahra akan tinggal di pondok ini. Zahra akan menjaga telaga. Zahra akan menjaga pusaka. Zahra akan menjadi penjaga hati. Seperti Kakek. Seperti Nenek. Seperti leluhur kita."
"Kau tidak akan kembali ke kota?" tanya Pandu Hati. "Kau tidak akan melanjutkan sekolah?"
"Zahra bisa belajar sendiri, Ayah. Zahra punya buku-buku peninggalan Kakek. Zahra punya syair-syair yang diajarkan Kakek. Zahra punya alam sebagai guru."
"Ayah akan mendukungmu, Zahra. Apa pun yang kau pilih. Ayah akan selalu mendukungmu."
"Terima kasih, Ayah."
Rukmini memeluk anaknya. "Ibu juga akan mendukungmu, Zahra. Ibu akan mengajarimu menenun. Ibu akan mengajarimu memasak. Ibu akan mengajarimu mengurus rumah tangga."
"Terima kasih, Ibu."
Mereka semua berpelukan.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap mereka.
Matanya bundar dan kuning. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu terbang. Meninggalkan suara yang nyaring.
Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti seruan untuk melanjutkan perjuangan. Perjuangan menjaga telaga. Menjaga pusaka. Menjaga hati.
Selamanya.
BAB XCV
Zahra yang Berusia 12 Tahun Memulai Tugasnya: Zahra Mulai Mencatat Semua Syair Kakeknya ke dalam Kitab Baru – Ia Akan Menjadi Penjaga Hati Termuda
Tujuh hari telah berlalu sejak pemakaman Sultan Hasan. Tujuh hari yang penuh dengan kesedihan, tapi juga penuh dengan keteguhan hati. Zahra tidak lagi menangis. Ia sudah ikhlas. Ia sudah menerima kenyataan bahwa kakeknya telah pergi. Tapi ia juga bertekad untuk melanjutkan perjuangan kakeknya. Menjaga telaga. Menjaga pusaka. Menjaga syair-syair. Menjadi penjaga hati.
Pada suatu pagi, saat matahari baru saja terbit, Zahra bangun lebih awal dari biasanya. Ia mengambil tumpukan daun lontar yang berisi syair-syair karya kakeknya dari rak kayu di sudut pondok. Daun lontar itu sudah tua. Ada yang rapuh, nyaris hancur. Ada yang dimakan rayap. Ada yang tulisannya mulai pudar. Zahra prihatin.
"Ayah," katanya pada Pandu Hati yang sedang duduk di beranda. "Zahra ingin menyalin semua syair Kakek ke kitab baru."
"Kitab baru? Kau punya kitab baru?"
"Zahra akan membelinya di kota. Atau Zahra akan membuatnya sendiri dari kertas dan sampul kulit."
"Kau punya uang, Nak?"
"Zahra punya tabungan. Dari hasil menenun dan menjual syair. Tidak banyak. Tapi cukup untuk membeli kertas dan sampul."
"Kau yakin, Nak? Itu uang hasil jerih payahmu sendiri."
"Zahra yakin, Ayah. Syair-syair Kakek terlalu berharga untuk dibiarkan rusak. Mereka harus dijaga. Mereka harus diwariskan ke generasi berikutnya."
Pandu Hati tersenyum. "Kau sudah menjadi penjaga hati yang baik, Zahra. Ayah bangga padamu."
Zahra berangkat ke kota dengan kereta kuda yang disewa Pandu Hati. Ia ditemani oleh Rukmini. Mereka pergi ke toko buku di Pasar Prapatan – toko buku langganan Sultan Hasan dulu. Pemilik toko itu, seorang lelaki tua bernama Pak Malik, masih ingat pada Sultan Hasan. Matanya berkaca-kaca ketika mendengar bahwa Sultan Hasan telah tiada.
"Nak," katanya pada Zahra. "Ayahmu adalah pelanggan setiaku. Ia selalu membeli kertas dan sampul kulit untuk menulis syair. Ia juga sering meninggalkan syair-syairnya untuk kubaca. Aku kagum padanya. Ia bukan hanya pujangga hebat, tapi juga manusia hebat."
"Terima kasih, Pak," kata Zahra. "Zahra ingin membeli kertas dan sampul kulit. Zahra ingin menyalin semua syair Kakek ke kitab baru."
"Berapa banyak syair yang akan kau salin, Nak?"
"Ribuan baris, Pak. Mungkin ratusan halaman."
Pak Malik terkejut. "Itu pekerjaan besar. Kau akan melakukannya sendiri?"
"Zahra akan melakukannya sendiri, Pak. Ini tugas Zahra sebagai penjaga hati."
Pak Malik tersenyum. "Kau hebat, Nak. Aku akan memberikan kertas terbaik dan sampul kulit terbaik untukmu. Tidak usah bayar. Ini hadiah untukmu, untuk mengenang ayahmu."
"Terima kasih, Pak. Zahra tidak tahu harus membalas kebaikan Bapak."
"Balaslah dengan menjadi penjaga hati yang baik. Seperti ayahmu. Itu sudah lebih dari cukup."
Zahra memulai pekerjaannya pada malam harinya.
Ia duduk di meja kayu peninggalan kakeknya. Di depannya, terbentang kertas-kertas putih bersih yang dibelinya dari toko Pak Malik. Di sampingnya, bertumpuk daun lontar tua yang berisi syair-syair kakeknya. Di tangannya, sebatang pena bulu ayam dan tinta hitam buatan sendiri dari arang dan getah.
Ia membuka daun lontar pertama. Syair pertama yang ditulis kakeknya, saat masih di Pulau Penjara.
"Rindu ini bukan tentang bertemu,
Bukan tentang berjumpa di ujung jalan.
Rindu ini tentang air di telaga,
Yang tak pernah habis meski terus kau timba."
Zahra menyalin dengan hati-hati. Setiap kata, setiap aksara, setiap tanda baca, ia buat dengan penuh penghayatan. Ia tidak hanya menyalin, tapi juga meresapi. Ia membayangkan kakeknya duduk di tepi pantai, di bawah cahaya bulan, menulis syair dengan kesepian yang hampir membunuhnya.
Ia menangis. Tapi ia tidak berhenti. Ia terus menulis.
Aku ada. Ia mengalir. Ia hidup.
Meski kau tak melihatnya.
Meski kau tak menyentuhnya.
Meski kau jauh di sana.
Hari-hari berlalu. Zahra terus menulis.
Pagi hari, ia membantu ayahnya di ladang. Siang hari, ia membantu ibunya menenun dan memasak. Sore hari, ia belajar membaca kitab-kitab kuno peninggalan kakeknya. Malam hari, ia menyalin syair-syair kakeknya ke kitab baru.
Tidak pernah libur. Tidak pernah berhenti. Tidak pernah mengeluh.
"Zahra, kau istirahatlah," kata Rukmini suatu malam, melihat Zahra masih menulis di meja kayu. "Sudah larut. Besok kau bisa lanjutkan."
"Zahra tidak bisa berhenti, Ibu. Zahra harus menyelesaikan ini. Kertas-kertas ini tidak boleh dibiarkan kosong. Syair-syair Kakek tidak boleh dibiarkan tidak tertulis."
"Tapi kau bisa sakit, Nak. Istirahatlah dulu."
"Zahra tidak akan sakit, Ibu. Zahra kuat. Kakek dulu juga kuat. Kakek menulis ribuan baris di pulau penjara, tanpa kertas bagus, tanpa tinta bagus, tanpa meja bagus. Zahra punya semua itu. Zahra tidak boleh mengeluh."
Rukmini tidak bisa membantah. Ia hanya tersenyum. Ia membawakan segelas susu hangat untuk Zahra.
"Minumlah dulu. Nanti lanjutkan."
"Terima kasih, Ibu."
Setelah satu bulan, Zahra sudah menyalin tiga ratus halaman.
Setelah dua bulan, enam ratus halaman.
Setelah tiga bulan, sembilan ratus halaman.
Setelah empat bulan, seribu dua ratus halaman.
Ia belum selesai. Masih banyak daun lontar yang belum ia salin. Masih banyak syair yang belum ia tulis. Tapi ia tidak menyerah. Ia terus berjuang.
"Ayah," katanya pada Pandu Hati. "Zahra akan menyelesaikan kitab ini. Zahra akan menjilidnya dengan sampul kulit. Zahra akan memberinya judul."
"Judul apa, Nak?"
"Kitab Penjaga Hati. Kumpulan syair lengkap karya Sultan Hasan, Penjaga Hati Nusantara."
"Judul yang bagus, Nak. Kakekmu pasti bangga."
"Zahra harap begitu, Ayah."
Malam harinya, setelah selesai menulis, Zahra duduk di tepi telaga. Bulan purnama bersinar terang. Air telaga jernih, memantulkan cahaya bulan, menciptakan ribuan titik berkilauan.
Ia memegang batu akik merah di lehernya. Batu itu berdenyut. Hangat.
"Kau lelah?" bisik batu itu.
"Zahra lelah, tapi Zahra bahagia."
"Kakekmu pasti bangga padamu."
"Zahra harap begitu."
"Dia bangga. Aku bisa merasakannya. Dari sini. Dari alam lain."
Zahra tersenyum. "Terima kasih, pusaka. Karena selalu bersamaku."
"Aku akan selalu bersamamu. Sampai mati. Sampai setelah mati. Selamanya."
Zahra memejamkan mata. Ia berdoa. Untuk kakeknya. Untuk neneknya. Untuk ayah dan ibunya. Untuk telaga. Untuk pusaka. Untuk semua yang telah membantunya menjadi penjaga hati.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatapnya. Matanya bundar dan kuning. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu terbang. Meninggalkan suara yang nyaring.
Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti sambutan untuk penjaga hati termuda.
Seorang gadis berusia dua belas tahun yang sedang menyalin syair-syair kakeknya ke dalam kitab baru.
Yang akan menjaga telaga.
Yang akan menjaga pusaka.
Yang akan menjadi penjaga hati.
Selamanya.
BAB XCVI
Zahra dan Pusaka yang Bersinar: Zahra Mulai Bisa Berkomunikasi dengan Pusaka seperti Kakeknya Dulu – Pusaka Mengajarinya Banyak Hal
Pada suatu malam, ketika bulan purnama bersinar terang dan telaga sedang tenang, Zahra duduk sendirian di batu hitam — batu yang sama tempat kakeknya duduk dulu, tempat kakeknya menunggu neneknya, tempat kakeknya menangis ketika neneknya tidak datang.
Zahra sedang merenung. Ia memegang batu akik merah di lehernya. Batu itu berdenyut. Hangat. Tapi tidak seperti biasanya. Denyutnya lebih kencang. Lebih teratur. Seperti ada yang ingin disampaikan.
"Pusaka," bisik Zahra. "Apakah kau ingin bicara?"
Batu itu berdenyut lebih kencang. Cahaya merahnya memancar, menerangi wajah Zahra.
"Aku ingin bicara, Zahra. Sudah lama. Sejak kakekmu masih hidup. Tapi kau belum bisa mendengarku. Sekarang kau sudah bisa."
Zahra terkejut. "Kau... kau bisa bicara?"
"Aku selalu bisa bicara. Sejak awal. Tapi tidak semua orang bisa mendengarku. Hanya penjaga hati sejati. Kakekmu bisa. Nenekmu bisa. Nini Mas Intan bisa. Sekarang, kau juga bisa."
"Kenapa baru sekarang? Kenapa tidak dulu?"
"Karena kau belum siap dulu. Kau masih kecil. Hatimu masih terlalu polos untuk memahami kata-kataku. Sekarang kau sudah berusia dua belas tahun. Kau sudah melalui banyak ujian. Kau sudah menyalin ratusan syair kakekmu. Hatimu sudah matang."
"Apa yang akan kau ajarkan padaku?"
"Banyak hal. Tentang telaga. Tentang pusaka. Tentang hati. Tentang cinta. Tentang menjadi penjaga hati yang baik."
"Zahra siap belajar, pusaka. Zahra akan mendengarkan."
Malam itu, pusaka mengajarkan Zahra tentang asal-usul telaga.
"Telaga ini bukan telaga biasa, Zahra. Ia terbentuk ribuan tahun lalu, dari air mata seorang putri yang patah hati karena ditinggal kekasihnya. Air matanya jatuh ke bumi, meresap ke dalam tanah, dan menjadi sumber mata air yang tidak pernah kering. Konon, air mata itu masih mengalir sampai sekarang. Itu sebabnya air telaga ini terasa asin di beberapa bagian."
"Zahra pernah merasakannya, pusaka. Tapi Zahra kira itu hanya karena campuran mineral."
"Bukan. Itu karena air mata. Air mata yang tidak pernah berhenti mengalir. Karena cinta sejati tidak pernah berhenti. Ia terus mengalir. Seperti telaga ini."
Zahra mengangguk. Ia merenung.
"Kakekmu dulu juga merenung di sini, setiap malam. Ia memandang telaga, memandang bulan, memandang bintang. Ia mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya. Dan telaga selalu menjawab. Dengan keheningan. Dengan ketenangan. Dengan kejernihan."
"Apa yang ditanyakan Kakek pada telaga?"
"Banyak hal. Tentang hidup. Tentang cinta. Tentang kehilangan. Tentang kesabaran. Tentang ketulusan. Dan telaga selalu menjawab. Tidak dengan kata-kata, tapi dengan perasaan."
Pusaka juga mengajarkan Zahra tentang batu akik merah itu sendiri.
"Aku tidak selalu berbentuk seperti ini, Zahra. Dulu, aku adalah batu biasa di dasar telaga. Tidak istimewa. Tidak berbeda dengan batu-batu lain. Tapi suatu hari, seorang pertapa sakti mengambilku. Ia membawaku ke gua di hulu sungai. Ia memahatku. Ia membentukku. Ia memberiku energi. Sejak itu, aku menjadi pusaka. Aku bisa berdenyut. Aku bisa bicara. Aku bisa menjaga pemilikku."
"Siapa pertapa itu, pusaka?"
"Namanya tidak penting. Yang penting, ia melakukan semua itu untuk menjaga telaga. Karena ia tahu, suatu hari, telaga ini akan dijaga oleh seorang penjaga hati. Dan penjaga hati itu membutuhkan pusaka untuk membantunya."
"Apakah pertapa itu masih hidup?"
"Sudah mati. Ratusan tahun yang lalu. Tapi rohnya masih ada. Ia menjagaku dari alam lain. Ia juga menjagamu, Zahra. Karena kau adalah penjaga hati yang ditunggu-tunggu."
"Zahra tidak pantas, pusaka. Zahra masih kecil. Zahra masih banyak kekurangan."
"Kekurangan adalah bagian dari manusia, Zahra. Tidak ada yang sempurna. Yang penting kau mau belajar. Mau memperbaiki diri. Mau menjadi lebih baik."
Setiap malam, Zahra belajar dari pusaka.
Tentang telaga. Tentang batu akik. Tentang keris air. Tentang syair-syair yang belum ia pahami maknanya. Tentang para leluhur yang telah menjaga telaga sebelum kakeknya. Tentang Nini Mas Intan yang menolong kelahiran kakeknya. Tentang Pandan Wangi yang menjaga telaga dan jatuh cinta pada kakeknya. Tentang Ki Ageng Jagaraga yang mengajarkan silat. Tentang Kyai Buyut Cakar Mase yang mengajarkan kitab tujuh penjaga. Tentang Kiai Pati yang mengajarkan kesabaran.
Zahra mendengarkan dengan saksama. Matanya tidak berkedip. Hatinya terbuka lebar. Ia bertanya tentang hal-hal yang tidak ia mengerti. Pusaka menjawab dengan sabar.
"Pusaka," kata Zahra suatu malam. "Zahra ingin bertanya sesuatu."
"Apa, Nak?"
"Apakah Kakek bahagia di surga?"
"Sangat bahagia. Ia sudah bertemu dengan nenekmu. Pandan Wangi. Mereka berdua tersenyum. Mereka berdua tertawa. Mereka berdua berpelukan. Seperti dulu, saat mereka masih muda."
"Zahra merindukan Kakek. Setiap hari. Setiap malam."
"Kakekmu juga merindukanmu, Zahra. Tapi ia ikhlas. Karena ia tahu, kau akan menjadi penjaga hati yang baik. Lebih baik darinya."
"Zahra tidak akan mengecewakan Kakek, pusaka. Zahra janji."
"Pusaka tahu. Pusaka percaya padamu."
Malam harinya, setelah belajar dari pusaka, Zahra duduk di tepi telaga sendirian.
Ia memandang air yang jernih. Ia memandang bulan yang bersinar. Ia memandang bintang-bintang yang bertaburan.
"Kakek," bisiknya. "Zahra sekarang sudah bisa bicara dengan pusaka. Zahra belajar banyak hal. Tentang telaga. Tentang leluhur. Tentang cinta. Tentang menjadi penjaga hati. Zahra akan terus belajar, Kek. Zahra tidak akan pernah berhenti."
Angin berembus pelan. Membawa wangi pandan.
"Zahra merindukan Kakek. Tapi Zahra tidak sedih. Karena Zahra tahu, Kakek ada di sana. Menjagaku. Dari alam lain. Selamanya."
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatapnya. Matanya bundar dan kuning. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu terbang. Meninggalkan suara yang nyaring.
Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti sambutan untuk penjaga hati yang mulai mengerti. Yang mulai dewasa. Yang mulai menjadi.
Selamanya.
BAB XCVII
Zahra dan Mimpinya: Zahra Bermimpi Bertemu Kakeknya – Kakeknya Berpesan tentang Sesuatu yang Akan Datang
Empat tahun telah berlalu sejak Zahra mulai bisa berkomunikasi dengan pusaka. Empat tahun yang penuh dengan pembelajaran, perenungan, dan pertumbuhan. Zahra kini berusia enam belas tahun. Ia tidak lagi anak kecil. Tubuhnya mulai berlekuk, wajahnya mulai cantik, suaranya mulai lembut. Namun matanya tetap teduh, seperti mata kakeknya dulu. Hatinya tetap lembut, seperti hati neneknya dulu.
Pada suatu malam, saat bulan purnama bersinar terang dan telaga sedang tenang, Zahra tertidur di batu hitam — batu yang sama tempat kakeknya duduk dulu, tempat kakeknya menunggu neneknya, tempat kakeknya menangis ketika neneknya tidak datang. Ia bermimpi.
Dalam mimpinya, ia berdiri di tepi telaga. Airnya jernih, dasarnya terlihat, tanaman air bergoyang-goyang ditarik arus yang lembut. Bulan purnama bersinar terang, memantul di permukaan air, menciptakan ribuan titik berkilauan seperti berlian.
Di batu hitam, seorang lelaki tua duduk. Wajahnya keriput, rambutnya putih semua, jenggotnya panjang. Ia memakai pakaian sederhana, seperti petani. Matanya teduh, bersinar, penuh kasih.
Zahra mengenalinya. "Kakek!" teriaknya.
Ia berlari. Memeluk kakeknya. Sultan Hasan tersenyum. Ia membelai rambut Zahra.
"Zahra, kau sudah besar," bisiknya.
"Zahra merindukan Kakek, Kek. Setiap hari. Setiap malam."
"Kakek juga merindukanmu, Nak. Tapi kakek tidak bisa sering-sering muncul. Hanya di momen-momen penting."
"Momen penting apa, Kek?"
"Kakek datang untuk memberitahumu tentang sesuatu yang akan datang. Sesuatu yang besar. Sesuatu yang akan menguji keteguhan hatimu."
Zahra terkejut. "Apa itu, Kek?"
"Kakek tidak bisa memberitahumu secara rinci. Nanti kau tahu sendiri. Yang penting, kau harus siap. Kau harus kuat. Kau tidak boleh menyerah."
"Zahra siap, Kek. Zahra kuat. Zahra tidak akan menyerah."
"Kakek tahu. Kakek percaya padamu."
Sultan Hasan memandang telaga. Airnya beriak. Ikan-ikan kecil berenang ke permukaan.
"Zahra, kau tahu, dulu kakek juga diuji. Berkali-kali. Kakek dikucilkan. Dilempari kerikil. Dipukuli. Hampir dijadikan sesaji. Dibuang ke pulau penjara. Dipisahkan dari nenekmu. Kehilangan anak. Kehilangan istri. Tapi kakek tidak menyerah. Karena kakek ingat pesan Nini Mas Intan: 'Penjaga hati bukanlah orang yang tak pernah terluka, tapi orang yang lukanya tidak membuatnya lupa mencintai.'"
"Zahra ingat pesan itu, Kek. Kakek sudah mengajarkannya dulu."
"Bagus. Sekarang, ingatlah selalu. Apa pun yang terjadi. Sekuat apa pun ujian yang kau hadapi. Jangan pernah berhenti mencintai. Jangan pernah berhenti menjaga. Jangan pernah berhenti menjadi penjaga hati."
"Zahra akan mengingatnya, Kek. Zahra janji."
Sultan Hasan memandang batu akik merah di leher Zahra. Batu itu berdenyut. Hangat.
"Pusaka itu sudah bersamamu sejak kau berusia tujuh tahun. Ia sudah membantumu. Ia sudah mengajarimu. Ia akan terus bersamamu. Sampai mati. Sampai setelah mati. Selamanya."
"Zahra sayang pusaka ini, Kek. Zahra tidak akan pernah melepaskannya."
"Jangan terlalu bergantung padanya, Nak. Pusaka hanyalah alat. Kekuatan sejati ada di dalam dirimu. Di hatimu. Di ketulusanmu. Di cintamu."
"Zahra mengerti, Kek."
Sultan Hasan memandang keris air di pinggang Zahra. Keris itu terbuat dari energi telaga. Biru kehijauan, tembus pandang, tapi kokoh.
"Keris itu, Nak, adalah lambang kekuatan. Kekuatan untuk melindungi. Kekuatan untuk membela kebenaran. Kekuatan untuk menjaga hati. Gunakan hanya jika diperlukan. Jangan pernah menyalahgunakannya."
"Zahra tidak akan menyalahgunakannya, Kek. Zahra janji."
Sultan Hasan berdiri. Ia memandang Zahra dengan tatapan yang dalam.
"Zahra, kakek harus pergi sekarang. Masih banyak yang harus kakek lakukan di alam sana."
"Kek, jangan pergi. Zahra masih ingin bicara."
"Kita akan bertemu lagi, Nak. Pada waktunya. Pada saat yang tepat. Pada tempat yang tepat."
"Kapan, Kek?"
"Kau akan tahu. Sekarang, ingatlah pesan kakek: hadapi ujian itu dengan hati yang tenang. Dengan kesabaran. Dengan ketulusan. Dengan cinta."
"Zahra akan mengingatnya, Kek."
Sultan Hasan mengecup kening Zahra.
"Selamat malam, cucuku. Kakek sayang kamu."
"Zahra juga sayang Kakek."
Sultan Hasan mulai menghilang. Perlahan. Seperti kabut yang ditiup angin.
"Kek! Jangan pergi!" teriak Zahra.
Tapi Sultan Hasan sudah lenyap.
Zahra terbangun.
Ia duduk di batu hitam. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Bulan purnama masih bersinar terang. Air telaga masih jernih. Tanaman air masih bergoyang.
Ia memegang batu akik merah di lehernya. Batu itu berdenyut. Hangat.
"Kau bermimpi?" bisik batu itu.
"Zahra bermimpi, pusaka. Bertemu Kakek. Ia berpesan tentang sesuatu yang akan datang. Sesuatu yang besar. Sesuatu yang akan menguji keteguhan hatiku."
"Kakekmu benar. Sesuatu yang besar memang akan datang. Aku juga merasakannya."
"Apa itu, pusaka? Apa yang akan terjadi?"
"Aku tidak tahu persis. Tapi yang pasti, kau harus siap. Kau harus kuat. Kau tidak boleh menyerah."
"Zahra siap, pusaka. Zahra kuat. Zahra tidak akan menyerah."
- "Bagus. Pusaka bangga padamu."*
Zahra memandang ke langit. Bintang-bintang bertaburan. Seolah berkedip-kedip.
"Kakek, jaga aku dari sana. Bimbing aku. Beri aku kekuatan. Zahra tidak akan mengecewakan Kakek. Zahra janji."
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatapnya. Matanya bundar dan kuning. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu terbang. Meninggalkan suara yang nyaring.
Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti peringatan bahwa ujian akan segera datang. Tapi Zahra tidak perlu takut. Karena ia adalah penjaga hati. Dan penjaga hati tidak pernah takut.
Selamanya.
BAB XCVIII
Ujian Zahra: Zahra Dihadapkan pada Ujian Besar yang Meragukan Kemampuannya sebagai Penjaga Hati – Apakah Ia Akan Kuat atau Patah?
Ujian itu datang tidak seperti yang Zahra duga. Bukan dalam wujud badai atau banjir atau kemarau panjang. Bukan dalam wujud makhluk halus atau kutukan dari leluhur. Ujian itu datang dalam wujud keraguan. Keraguan pada dirinya sendiri. Keraguan pada kemampuannya. Keraguan pada cintanya.
Semua berawal ketika seorang perempuan muda dari desa sebelah datang ke pondok tepi telaga. Namanya Wulan. Ia cantik. Lebih cantik dari Zahra. Ia juga pandai berbicara. Lebih pandai dari Zahra. Ia juga pandai menenun. Lebih pandai dari Zahra. Ia juga pandai memasak. Lebih pandai dari Zahra.
Wulan adalah keponakan dari tetangga dekat pondok. Ia datang untuk belajar menenun dari Rukmini. Tapi lama-lama, ia lebih sering menghabiskan waktu dengan Pandu Hati. Mereka berbincang. Mereka tertawa. Mereka bercerita. Kadang sampai larut malam.
Zahra tidak cemburu pada awalnya. Ia percaya pada ayahnya. Ia percaya pada ibunya. Ia percaya bahwa keluarganya kuat. Tapi lama-lama, ia mulai merasakan keanehan. Ayahnya lebih sering tersenyum ketika Wulan ada. Ayahnya lebih sering menanyakan kabar Wulan. Ayahnya lebih sering memuji masakan Wulan. Ayahnya lebih sering menghabiskan waktu dengan Wulan daripada dengan Rukmini.
Rukmini tidak mengeluh. Ia tetap tersenyum. Tetap memasak. Tetap menenun. Tetap mengurus rumah tangga. Tapi Zahra bisa melihat luka di mata ibunya.
"Ibu," kata Zahra suatu malam, saat mereka berdua di dapur. "Ayah.... Apakah Ayah...."
Rukmini memotong. "Ayahmu baik-baik saja, Nak. Jangan khawatir."
"Tapi Ibu, Wulan...."
"Wulan hanya keponakan tetangga. Ia datang untuk belajar menenun. Tidak lebih."
"Ibu berbohong. Zahra bisa melihat Ibu sedih."
Rukmini menangis. "Ibu tidak sedih, Nak. Ibu hanya... lelah."
"Zahra akan bicara pada Ayah. Zahra akan memintanya menjauhkan Wulan."
"Jangan, Nak. Nanti Ayahmu marah. Nanti rumah tangga kita hancur."
"Tapi Ibu...."
"Percayalah pada Ibu, Nak. Semua akan baik-baik saja."
Zahra tidak percaya. Tapi ia tidak bisa memaksa.
Suatu malam, Zahra tidak bisa tidur. Ia berjalan ke tepi telaga. Bulan purnama bersinar terang. Air telaga jernih, memantulkan cahaya bulan, menciptakan ribuan titik berkilauan.
Ia memegang batu akik merah di lehernya. Batu itu berdenyut. Hangat.
"Ada apa, Zahra?" bisik batu itu. "Kau gelisah."
"Zahra gelisah, pusaka. Ayah.... Ayah dekat dengan perempuan lain. Ibu sedih. Zahra takut keluarga Zahra hancur."
"Kau takut apa, Nak? Bahwa ayahmu akan meninggalkan ibumu? Bahwa ayahmu akan menikah lagi? Bahwa keluarganya akan berantakan?"
"Zahra takut semua itu, pusaka."
"Kau tidak bisa mengendalikan orang lain, Zahra. Kau hanya bisa mengendalikan dirimu sendiri. Fokus pada tugasmu sebagai penjaga hati. Jaga telaga. Jaga pusaka. Jaga hatimu."
"Tapi pusaka, Zahra tidak bisa diam melihat Ibu menderita."
"Kau bisa membantu ibumu dengan cara yang tidak merusak hubunganmu dengan ayahmu. Bicara baik-baik. Jangan marah. Jangan menyalahkan. Dengarkan. Pahami. Cari solusi bersama."
"Zahra akan mencoba, pusaka."
Keesokan harinya, Zahra bicara dengan Pandu Hati.
"Ayah, Zahra ingin bicara."
"Tentang apa, Nak?"
"Tentang Wulan."
Pandu Hati terkejut. "Wulan? Ada apa dengan Wulan?"
"Zahra melihat Ayah lebih dekat dengan Wulan daripada dengan Ibu. Zahra melihat Ibu sedih. Zahra takut Ayah... takut Ayah...."
"Takut ayah apa, Nak?"
"Takut Ayah meninggalkan Ibu."
Pandu Hati terdiam. Wajahnya berubah.
"Zahra, ayah tidak akan meninggalkan ibumu. Ayah sayang ibumu. Ayah cuma... ayah cuma butuh teman bicara. Wulan pandai bicara. Ia menghibur ayah. Tidak lebih."
"Tapi Ayah, Ibu juga bisa diajak bicara. Ibu juga bisa menghibur Ayah. Ibu juga butuh perhatian Ayah."
Pandu Hati menunduk. "Ayah... ayah lupa. Maafkan ayah, Zahra."
"Zahra tidak marah, Ayah. Zahra hanya khawatir. Zahra sayang Ayah. Zahra sayang Ibu. Zahra tidak ingin keluarga kita hancur."
"Keluarga kita tidak akan hancur, Nak. Ayah janji."
Mereka berdua berpelukan.
Pandu Hati menjauhkan Wulan. Ia tidak lagi menghabiskan waktu lama dengannya. Ia lebih banyak di rumah. Bersama Rukmini. Bersama Zahra. Mereka bercerita. Mereka tertawa. Mereka makan bersama.
Rukmini bahagia. Zahra juga bahagia. Tapi luka di hati Rukmini tidak bisa hilang begitu saja. Ia masih sering menangis sendirian di dapur. Ia masih sering termenung di beranda. Ia masih sering menarik napas panjang ketika memandang telaga.
Zahra melihat itu. Hatinya perih.
"Ibu," katanya suatu sore. "Zahra minta maaf."
"Maaf untuk apa, Nak?"
"Zahra tidak bisa melindungi Ibu. Zahra tidak bisa mencegah Ayah dari...."
"Tidak ada yang perlu kau maafkan, Nak. Ini bukan salahmu. Ini bukan salah ayahmu. Ini hanya... ujian. Ujian dari Tuhan. Ujian dari alam. Ujian dari kehidupan."
"Ibu kuat, ya?"
"Ibu kuat, Nak. Ibu tidak akan menyerah. Ibu akan terus berjuang. Untuk Ibu sendiri. Untuk Ayah. Untuk Zahra. Untuk keluarga kita."
Zahra memeluk ibunya.
"Ibu, Zahra akan selalu di samping Ibu. Apa pun yang terjadi."
"Terima kasih, Nak. Ibu sayang kamu."
"Zahra juga sayang Ibu."
Malam harinya, Zahra duduk di batu hitam. Bulan purnama bersinar terang. Air telaga jernih, memantulkan cahaya bulan, menciptakan ribuan titik berkilauan.
Ia memegang batu akik merah di lehernya. Batu itu berdenyut. Hangat.
"Kau sedih, Zahra?" bisik batu itu.
"Zahra sedih, pusaka. Ibu masih sedih. Meskipun Ayah sudah menjauhkan Wulan, Ibu masih sedih."
"Luka tidak bisa sembuh dalam semalam, Zahra. Butuh waktu. Butuh kesabaran. Butuh cinta."
"Zahra akan memberi Ibu waktu. Kesabaran. Cinta. Zahra akan melakukan yang terbaik."
"Kau hebat, Zahra. Pusaka bangga padamu."
"Zahra belum hebat, pusaka. Zahra masih banyak kekurangan."
"Kekurangan adalah bagian dari manusia, Zahra. Tidak ada yang sempurna. Yang penting kau mau belajar. Mau memperbaiki diri. Mau menjadi lebih baik."
Zahra memandang ke langit. Bintang-bintang bertaburan. Seolah berkedip-kedip.
"Kakek," bisiknya. "Zahra baru melewati satu ujian. Masih banyak ujian yang akan datang. Tapi Zahra tidak takut. Karena Zahra tahu, Kakek menjaga Zahra. Dari alam lain. Selamanya."
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatapnya. Matanya bundar dan kuning. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu terbang. Meninggalkan suara yang nyaring.
Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti seruan untuk terus berjuang. Terus menjadi penjaga hati. Meskipun ujian datang silih berganti.
Selamanya.
BAB XCIX
Zahra Berhasil: Zahra Melewati Ujian dengan Gemilang – Semua Orang Percaya bahwa Ia Adalah Penerus Sultan Hasan yang Sesungguhnya
Satu tahun telah berlalu sejak ujian pertama Zahra. Satu tahun yang penuh dengan air mata, tawa, dan pembelajaran. Keluarga kecil di pondok tepi telaga itu kini semakin kuat. Pandu Hati dan Rukmini telah berdamai dengan masa lalu. Mereka tidak lagi menyimpan luka. Mereka tidak lagi saling curiga. Mereka belajar untuk saling memahami, saling memaafkan, dan saling mencintai lagi.
Zahra juga berubah. Ia tidak lagi anak kecil yang mudah cemas. Ia kini remaja berusia tujuh belas tahun. Cantik, cerdas, bijak, dan penyayang. Ia telah melewati ujian pertamanya sebagai penjaga hati. Bukan ujian melawan makhluk halus atau bencana alam. Tapi ujian yang lebih rumit: ujian keluarga. Ujian yang menguji kesabaran, ketulusan, dan cintanya pada orang-orang terdekat.
Ia tidak patah. Ia tidak menyerah. Ia tetap tegar. Ia tetap menjaga. Seperti yang diajarkan kakeknya.
"Zahra," kata Pandu Hati suatu pagi, saat mereka berdua duduk di beranda pondok. "Ayah bangga padamu."
"Bangga untuk apa, Ayah?"
"Kau sudah dewasa. Kau sudah bijak. Kau sudah menjadi penjaga hati yang baik. Ayah tidak perlu khawatir lagi."
"Ayah, Zahra masih belajar. Zahra masih banyak kekurangan."
"Kekurangan adalah bagian dari manusia, Nak. Tidak ada yang sempurna. Yang penting kau mau belajar. Mau memperbaiki diri. Mau menjadi lebih baik."
Zahra tersenyum. "Ayah dulu juga sering mengatakan itu pada Zahra."
"Karena itu benar."
Mereka berdua tertawa.
Suatu sore, tetangga-tetangga datang ke pondok. Mereka membawa makanan, buah-buahan, dan hadiah kecil. Mereka ingin merayakan keberhasilan Zahra melewati ujian. Bukan ujian resmi. Tapi ujian kehidupan. Ujian yang membuatnya semakin dewasa. Semakin bijak. Semakin layak disebut penjaga hati.
"Zahra, kau hebat," kata seorang ibu. "Kau bisa menjaga keluargamu dari perpecahan. Itu tidak mudah."
"Zahra hanya melakukan yang terbaik, Bu. Sisanya, Tuhan yang menentukan."
"Kau rendah hati. Seperti kakekmu."
"Zahra hanya ingin menjadi seperti Kakek. Penjaga hati yang tulus."
"Kau sudah menjadi penjaga hati yang tulus, Nak. Kami semua percaya itu."
Yang lain mengangguk. Mereka semua percaya. Zahra adalah penerus Sultan Hasan yang sesungguhnya.
Zahra tersenyum. Ia tidak menyangka akan mendapatkan pengakuan seperti ini. Ia tidak mencari pengakuan. Ia hanya ingin melakukan yang terbaik. Tapi pengakuan itu datang dengan sendirinya.
Malam harinya, setelah semua tamu pulang, Zahra duduk di tepi telaga. Bulan purnama bersinar terang. Air telaga jernih, memantulkan cahaya bulan, menciptakan ribuan titik berkilauan.
Ia memegang batu akik merah di lehernya. Batu itu berdenyut. Hangat.
"Kau bahagia, Zahra?" bisik batu itu.
"Zahra bahagia, pusaka. Tapi tidak karena pujian. Zahra bahagia karena keluarga Zahra utuh. Ibu dan Ayah sudah berdamai. Mereka saling menyayangi lagi."
"Itu karena usahamu, Zahra. Kau yang mempersatukan mereka."
"Zahra hanya perantara, pusaka. Tuhan yang mempersatukan mereka."
"Kau rendah hati, Zahra. Seperti kakekmu."
"Zahra hanya ingin menjadi seperti Kakek."
"Kau sudah menjadi seperti kakekmu, Zahra. Bahkan mungkin lebih baik."
"Zahra tidak mau dibandingkan, pusaka. Zahra hanya ingin menjadi Zahra. Penjaga hati yang tulus."
- "Bagus. Pusaka bangga padamu."*
Zahra memandang ke langit. Bintang-bintang bertaburan. Seolah berkedip-kedip.
"Kakek," bisiknya. "Zahra sudah melewati ujian. Zahra tidak patah. Zahra tidak menyerah. Zahra tetap tegar. Zahra tetap menjaga. Seperti yang Kakek ajarkan."
Angin berembus pelan. Membawa wangi pandan.
"Kakek, Zahra merindukan Kakek. Tapi Zahra tidak sedih. Karena Zahra tahu, Kakek ada di sana. Menjaga Zahra. Dari alam lain. Selamanya."
Ia memejamkan mata. Ia berdoa. Untuk kakeknya. Untuk neneknya. Untuk ayah dan ibunya. Untuk telaga. Untuk pusaka. Untuk semua yang telah membantunya menjadi penjaga hati.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatapnya.
Matanya bundar dan kuning. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu terbang. Meninggalkan suara yang nyaring.
Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti seruan untuk terus berjuang. Terus menjadi penjaga hati. Meskipun ujian datang silih berganti.
Zahra membuka mata. Ia tersenyum.
"Terima kasih, burung hantu. Karena setia menemaniku. Seperti dulu kau setia menemani Kakek."
Burung hantu itu terbang melingkar di atas telaga sekali, lalu kembali ke dahan pohonnya. Ia menatap Zahra lagi. Matanya bundar dan kuning.
Zahra tertawa kecil. "Kau memang tidak bisa bicara. Tapi matamu bisa bicara. Dengan hati."
Ia berdiri. Ia berjalan pulang.
Pondok kecil itu hangat. Lampu minyak menyala di ruang tengah. Pandu Hati dan Rukmini sedang duduk di beranda, berbincang pelan, tertawa kecil.
"Zahra, ayo sini," panggil Rukmini. "Ibu buatkan teh jahe. Hangat."
Zahra menghampiri. Ia duduk di samping orang tuanya.
"Terima kasih, Ibu. Terima kasih, Ayah. Karena sudah menjadi orang tua yang baik. Karena sudah mendidik Zahra dengan sabar. Karena sudah mencintai Zahra dengan tulus."
"Kami yang berterima kasih, Nak," kata Pandu Hati. "Karena kau sudah menjadi anak yang baik. Karena kau sudah menjadi penjaga hati yang hebat."
"Zahra belum hebat, Ayah. Tapi Zahra akan terus belajar."
"Kami tahu. Kami percaya padamu."
Mereka semua tersenyum.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu masih menatap. Matanya bundar dan kuning. Ia tidak berbunyi. Hanya menatap.
Seolah setuju. Seolah merestui. Seolah bangga bahwa Zahra telah melewati ujian dengan gemilang. Bahwa ia adalah penerus Sultan Hasan yang sesungguhnya.
Selamanya.
BAB C
Epilog
Tiga Puluh Tahun Kemudian – Zahra yang Kini Berusia 47 Tahun Mengajarkan Syair Pertama kepada Cicitnya yang Bernama Sultan Hasan Kecil – Lingkaran Waktu Menutup
Tiga puluh tahun telah berlalu sejak Zahra melewati ujian pertamanya sebagai penjaga hati. Tiga puluh tahun yang penuh dengan perjalanan, perjuangan, cinta, air mata, dan kebijaksanaan. Zahra kini telah berusia empat puluh tujuh tahun. Wajahnya mulai tampak kerutan-kerutan halus di sudut mata dan bibir. Rambutnya yang hitam legam mulai diselingi uban di pelipis. Ia sudah tidak segar dan selincah dulu. Tapi matanya masih teduh. Hatinya masih lembut. Cintanya masih tulus.
Ia menikah dengan seorang pemuda dari desa tetangga bernama Arif Budiman. Arif adalah petani sederhana, tidak kaya, tidak tampan, tidak pandai bicara. Tapi ia baik hati. Ia sabar. Ia setia. Ia mendukung Zahra menjadi penjaga hati. Mereka dikaruniai dua orang anak: laki-laki bernama Hasan dan perempuan bernama Wangi. Hasan dinamai dari kakek buyutnya, Sultan Hasan. Wangi dinamai dari nenek buyutnya, Pandan Wangi.
Hasan menikah dengan seorang gadis dari kota bernama Melati. Mereka dikaruniai seorang anak laki-laki. Bayi itu lahir pada malam purnama, tepat tiga puluh tahun setelah wafatnya Sultan Hasan. Tangisannya keras. Matanya hitam pekat. Dan di keningnya, ada sebuah tanda. Bulat. Kecil. Merah. Persis seperti tanda Sultan Hasan dulu.
Zahra menangis ketika melihat tanda itu. "Kakek," bisiknya. "Kakek kembali. Kakek lahir kembali. Dalam diri cicit Kakek."
Bayi itu diberi nama Sultan Hasan Kecil. Nama yang sama. Tanda yang sama. Takdir yang mungkin juga sama.
Pada suatu sore, saat matahari mulai condong ke barat, Zahra duduk di batu hitam di tepi telaga. Sultan Hasan Kecil digendong oleh ibunya, Melati. Bayi itu terjaga. Matanya hitam pekat terbuka lebar, memandang telaga, memandang bulan sabit tipis yang mulai muncul di ufuk timur.
"Zahra," panggil Melati. "Ibu mau memandikan Hasan kecil. Ibu titip sebentar."
"Silakan, Nak. Nenek akan menjaganya."
Zahra menggendong cicitnya. Bayi itu tersenyum. Zahra tersenyum balik.
"Hasan," bisiknya. "Kau tahu, nama panggilanmu sama dengan nama kakek buyutmu. Sultan Hasan. Penjaga hati sejati. Ia sudah tiada. Tapi ajarannya masih hidup. Dalam diri nenek. Dalam dirimu."
Bayi itu tertawa kecil. Zahra juga tertawa.
"Nenek akan mengajarkanmu syair pertama. Syair yang diajarkan kakek buyutmu pada nenek. Yang diajarkan nenek buyutmu pada kakek buyutmu. Yang diajarkan leluhur pada leluhur sebelumnya. Turun-temurun. Dari generasi ke generasi."
Bayi itu diam. Matanya tidak berkedip. Ia memandang Zahra dengan serius.
Zahra memejamkan mata. Ia mengambil napas panjang. Kemudian ia mulai membacakan.
"Hati yang tidak dijaga akan diambil angin.
Hati yang dijaga terlalu keras akan retak oleh tangannya sendiri.
Penjaga hati bukanlah orang yang tak pernah terluka,
Tapi orang yang lukanya tidak membuatnya lupa mencintai.
Penjaga hati bukanlah orang yang tak pernah menangis,
Tapi orang yang air matanya menyiram benih-benih yang layu.
Telaga ini bukan telaga biasa,
Ia adalah cermin hati yang jernih.
Siapa pun yang memandangnya akan melihat dirinya yang sejati,
Bukan dirinya yang dipikirkan, bukan dirinya yang diinginkan,
Tapi dirinya yang sesungguhnya.
Dan pada akhirnya, setelah badai berlalu,
Setelah gelap berganti terang,
Setelah perih menjadi tawa,
Kita akan sadar bahwa cinta sejati tidak pernah mati.
Ia hanya berubah bentuk.
Seperti air yang menguap menjadi awan,
Lalu turun menjadi hujan,
Lalu mengalir kembali ke telaga.
Abadi.
Selamanya."
Ia membuka mata. Sultan Hasan Kecil menangis. Tangis yang keras. Nyaring. Seperti tangisan Sultan Hasan dulu, saat lahir di malam gerhana. Seperti tangisan Zahra dulu, saat lahir di pondok tepi telaga. Bukan tangisan biasa. Tangisan yang sudah tua. Tangisan yang tahu. Tangisan yang mengerti betapa berat tugasnya kelak.
Zahra memeluk cicitnya. "Jangan menangis, Nak. Nenek di sini. Nenek akan menjagamu. Nenek akan membimbingmu. Nenek akan mengajarkanmu. Kau tidak sendirian."
Bayi itu berhenti menangis. Ia tersenyum. Zahra tersenyum balik.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap mereka.
Matanya bundar dan kuning. Ia sudah sangat tua. Bulunya mulai rontok. Sayapnya mulai lemah. Tapi matanya masih tajam. Masih setia. Masih menatap.
Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu terbang. Meninggalkan suara yang nyaring.
Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti seruan bahwa lingkaran waktu telah menutup. Bahwa penjaga hati baru telah lahir. Bahwa tradisi akan terus berlanjut. Dari generasi ke generasi. Selamanya.
Zahra memandang burung hantu itu terbang melingkar di atas telaga. Ia tersenyum.
"Terima kasih, burung hantu. Karena setia menemaniku. Seperti dulu kau setia menemani Kakek."
Burung hantu itu terbang ke arah timur, menuju matahari terbenam, menuju tempat di mana leluhur bersemayam.
Zahra memandang cicitnya. Sultan Hasan Kecil tertidur nyenyak di pangkuannya.
"Hasan," bisiknya. "Kau akan menjadi penjaga hati yang hebat. Nenek yakin. Tapi ingat, kau tidak harus menjadi sempurna. Kau hanya harus menjadi tulus. Tulus dalam menjaga. Tulus dalam mencintai. Tulus dalam berbagi."
Angin berembus pelan. Membawa wangi pandan.
Zahra memejamkan mata. Ia berdoa.
Untuk kakeknya, Sultan Hasan. Untuk neneknya, Pandan Wangi. Untuk Nini Mas Intan. Untuk semua leluhur.
Ia berdoa agar mereka bangga. Agar mereka tersenyum. Agar mereka bahagia melihat bahwa tradisi keluarga terus berlanjut. Bahwa telaga terus dijaga. Bahwa pusaka terus dirawat. Bahwa hati terus dijaga.
Ia membuka mata.
Matahari hampir terbenam. Langit berwarna jingga keemasan, keunguan, kehitaman. Bintang-bintang mulai muncul satu per satu.
Zahra berdiri. Ia menggendong Sultan Hasan Kecil. Ia berjalan pulang ke pondok.
Pondok itu sudah tidak seperti dulu. Dulu, hanya pondok kecil dengan dinding bambu dan atap rumbia. Kini, sudah menjadi rumah kayu yang kokoh, dengan beranda lebar, kamar-kamar yang nyaman, dan halaman yang luas. Pandu Hati dan Rukmini sudah tiada. Mereka meninggal beberapa tahun lalu, dalam usia yang lanjut, dengan damai, dikelilingi oleh anak cucu.
Zahra mewarisi pondok itu. Ia merawatnya. Ia menjaganya. Ia membuatnya tetap hangat. Tetap ramah. Tetap terbuka bagi siapa pun.
"Selamat malam, telaga," bisik Zahra. "Selamat malam, pusaka. Selamat malam, Kakek. Selamat malam, Nenek. Selamat malam, semua leluhur. Sampai jumpa besok. Sampai jumpa selamanya."
Ia masuk ke dalam rumah. Ia menutup pintu.
Di luar, telaga tetap jernih. Airnya mengalir. Tanaman air bergoyang. Ikan-ikan kecil berenang. Bulan purnama bersinar terang, memantul di permukaan air, menciptakan ribuan titik berkilauan seperti berlian.
Di dahan pohon asam yang sudah tidak setua dulu — karena pohon tua itu mati dan digantikan oleh tunas baru yang tumbuh dari akarnya — seekor burung hantu muda bertengger. Matanya bundar dan kuning. Ia menatap rumah Zahra. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu berbunyi.
Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti seruan bahwa lingkaran waktu telah menutup. Bahwa penjaga hati baru telah lahir. Bahwa tradisi akan terus berlanjut. Dari generasi ke generasi. Selamanya.
Tamat Roman Epik PENJAGA.
Oleh: Slamet Iyadi.



Slamet Riyadi
29 Juli 2025 03:27:50
Semoga kita bisa kerjasama bu. ...