PROLOG
Desa, Gunung, dan Sebuah Panggilan yang Tak Terlihat
Kabut pagi selalu datang lebih awal di Desa Awan Biru.
Ia turun perlahan dari perbukitan, menyelimuti atap-atap rumah warga yang masih basah oleh embun. Jalanan tanah tampak sunyi, hanya sesekali terdengar suara ayam berkokok atau langkah kaki warga yang memulai aktivitasnya. Udara dingin menggigit pelan, namun membawa ketenangan yang sulit ditemukan di tempat lain.
Di desa itulah… segala cerita bermula.
Desa Awan Biru bukan desa yang besar. Namun ia menyimpan kehidupan yang hangat, penuh kebersamaan, dan nilai-nilai yang dijaga turun-temurun. Di bawah kepemimpinan Kepala Desa Iwan Setiawan, yang baru saja memulai periode keduanya, desa itu perlahan berubah—lebih tertata, lebih hidup, dan penuh semangat baru.
Namun di balik perubahan itu… ada satu hal yang tetap sama.
Gunung di kejauhan.
Gunung Merbabu.
Ia berdiri kokoh, seolah menjadi penjaga sekaligus saksi dari setiap kehidupan yang tumbuh di bawahnya. Bagi sebagian orang, gunung itu hanyalah bentang alam. Namun bagi yang lain… gunung adalah panggilan.
Dan panggilan itu… tidak selalu bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Di sebuah sudut desa, terdapat bangunan sederhana yang sering dipenuhi suara tawa dan diskusi panjang. Dindingnya terbuat dari kayu yang sudah mulai lapuk, namun terawat dengan baik. Di depan pintu, sebuah papan kayu bertuliskan "Sekretariat Kelompok Pecinta Alam Awan Biru" tergantung sedikit miring, seolah ikut merasakan setiap cerita yang lahir di dalamnya.
Di sanalah, para pemuda desa berkumpul.
Mereka bukan sekadar anak muda biasa. Mereka adalah mereka yang memilih untuk berjalan lebih jauh, melihat lebih luas, dan merasakan lebih dalam. Mereka menamakan diri mereka KPAAB.
Kelompok Pecinta Alam Awan Biru.
Bagi mereka, hutan bukan sekadar pepohonan. Gunung bukan sekadar ketinggian. Dan perjalanan… bukan sekadar langkah.
Tapi apakah semua orang di desa memahami itu?
Tentu tidak.
Ada yang mendukung, ada yang mencibir, ada yang bangga, dan ada pula yang menganggap mereka sekadar anak muda yang suka buang-buang waktu.
"Daripada naik gunung, mending bantu orang tua di sawah!" begitu kata sebagian tetangga.
"Biarkan saja, yang penting mereka tidak merusak," jawab yang lain.
Dan di antara berbagai macam pandangan itu, KPAAB tetap berjalan. Bukan karena mereka tidak peduli, tetapi karena mereka tahu—bahwa ada sesuatu yang lebih besar yang mereka cari. Sesuatu yang tidak bisa ditemukan di sawah atau di pasar. Sesuatu yang hanya bisa ditemukan di ketinggian, di antara kabut dan pepohonan, di antara langkah dan napas yang tersengal.
Namun tidak semua perjalanan dimulai dengan keyakinan.
Ada kalanya… perjalanan dimulai dari rasa penasaran. Dari sebuah ide sederhana. Dari sebuah kalimat yang terucap tanpa diduga—
"Bagaimana kalau kita mencoba jalur yang belum pernah dilalui?"
Kalimat itu terdengar ringan. Hampir seperti candaan di sela-sela obrolan santai. Namun bagi mereka… kalimat itu adalah awal dari segalanya.
Malam itu, di sekretariat yang hanya diterangi lampu minyak tanah, Joko Supraktikno—ketua KPAAB yang dikenal keras kepala namun penuh dedikasi—menggambar sebuah sketsa kasar di papan tulis.
"Ini Gunung Merbabu," katanya, suaranya bergema di ruangan yang sunyi. "Kita semua tahu jalur Selo, jalur Wekas, jalur Suwanting. Tapi lihat di sini..."
Ia menggambar sebuah titik di sisi barat laut gunung.
"Desa Suralaya. Jalur dari sana hampir tidak pernah tercatat."
"Kenapa tidak tercatat?" tanya Hermansyah—wakil ketua yang selalu menjadi penyeimbang antara idealisme dan realisme.
Joko menghela napas. "Karena tidak banyak yang berani mencobanya."
"Atau mungkin karena tidak ada yang selamat?" celetuk Guntur sambil merebahkan badannya di kursi kayu yang sudah reyot.
"Jangan bawa-bawa hal buruk, Tur," tegur Yulia sambil melempar penghapus ke arah Guntur.
"Ah, saya hanya realistis!" balas Guntur sambil tersenyum, menghindari lemparan.
Camelia, yang sejak tadi duduk di pojok sambil memegang buku catatan kecil, akhirnya bersuara. "Aku pernah dengar cerita tentang jalur itu dari nenekku."
Semua mata tertuju padanya.
"Nenek bilang, jalur itu dijaga oleh sesuatu yang tidak terlihat. Bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk menguji," lanjut Camelia dengan suara pelan namun jelas.
"Menguji apa?" tanya Nadia—satu-satunya anggota yang paling rasional di antara mereka, dengan segudang buku tentang navigasi dan survival di kamarnya.
Camelia mengangkat bahu. "Menguji apakah kita benar-benar siap."
Suasana hening sejenak. Lampu minyak tanah berkedip-kedip, diterpa angin malam yang masuk melalui celah-celah dinding kayu.
"Jadi kita akan membiarkan cerita-cerita itu menghentikan kita?" Joko menatap satu per satu anggota yang hadir. "Atau kita akan membuktikan bahwa kita bisa?"
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Hermansyah berdiri. "Joko, aku tidak meragukan kemampuan kita. Tapi jalur alternatif tanpa data resmi, tanpa informasi yang memadai... itu namanya nekat."
"Bukan nekat, Man," jawab Joko tegas. "Itu namanya eksplorasi."
"Eksplorasi butuh persiapan!"
"Dan kita akan mempersiapkan semuanya dengan matang!"
Suara mereka mulai meninggi. Anggota lain hanya bisa terdiam, terbiasa dengan pertentangan antara dua sahabat yang selalu berbeda pandangan ini.
"Sudah, sudah!" potong Guntur sambil mengangkat kedua tangan. "Kalau kalian mau berantem, sekalian aja pakai sarung tinju. Biar seru."
"Guntur, ini serius!" bentak Hermansyah.
"Iya, serius," sahut Guntur santai. "Tapi lihat wajah kalian. Kaya lagi rebutan jodoh."
Yulia tertawa kecil, diikuti oleh beberapa anggota lain. Suasana sedikit mencair.
Joko menarik napas panjang. "Dengar, Man. Aku tahu kamu khawatir. Tapi justru karena jalur ini jarang dilalui... kita bisa belajar banyak."
"Belajar apa?" tanya Hermansyah, masih dengan nada skeptis.
"Belajar tentang batas—batas kita sebagai pendaki, sebagai tim, sebagai manusia."
Hermansyah terdiam. Ia menatap Joko lama, lalu menghela napas. "Kita bicarakan lagi besok. Dengan data yang lebih lengkap."
"Setuju," kata Joko.
Pertemuan malam itu berakhir tanpa keputusan bulat. Namun semua orang tahu—sesuatu telah dimulai. Sesuatu yang tidak bisa dihentikan lagi.
Gunung Merbabu memiliki banyak jalur.
Jalur yang telah dikenal. Jalur yang telah dilalui ribuan pendaki. Namun di antara semua itu… terselip satu jalur yang hampir tidak pernah disebut.
Jalur dari Desa Suralaya.
Jalur yang tidak tercatat secara resmi dalam peta-peta pendakian. Jalur yang hanya dikenal oleh segelintir orang—para pemburu, pengambil getah pinus, dan sesepuh desa yang mewarisi cerita turun-temurun.
Dan jalur… yang menyimpan cerita.
Di kalangan warga sekitar, jalur itu bukan sekadar jalur alternatif. Ia disebut sebagai jalur ujian.
Bukan karena medannya yang sulit. Bukan pula karena jaraknya yang panjang. Melainkan karena… sesuatu yang tidak terlihat.
Konon, ada bagian dari jalur itu di mana arah menjadi tidak pasti. Langkah terasa berputar. Dan pikiran… mulai kehilangan pegangan.
Ada pula yang bercerita tentang suara yang memanggil. Bayangan yang mengikuti. Dan perasaan… bahwa mereka tidak pernah benar-benar sendiri.
Namun seperti semua cerita yang diwariskan secara lisan… tidak semua orang percaya.
"Cerita seperti itu hanya untuk menakut-nakuti," kata sebagian orang.
"Itu bagian dari alam yang belum kita pahami," kata yang lain.
Dan di antara dua pandangan itu… lahirlah perdebatan yang tak pernah benar-benar selesai.
Logika melawan keyakinan. Ilmu melawan intuisi. Dan manusia… berada di tengah-tengahnya.
Namun ada satu hal yang sering dilupakan—bahwa alam tidak pernah berusaha menjelaskan dirinya. Ia hanya ada. Diam. Namun penuh makna.
Pada suatu waktu, jauh sebelum langkah pertama mereka dimulai… seorang tua di Desa Suralaya pernah berkata—
"Gunung tidak pernah menyesatkan manusia. Manusialah yang sering tersesat… karena tidak memahami."
Nama orang tua itu adalah Mbah Jayasuprapta. Usianya tidak ada yang tahu pasti. Ada yang mengatakan tujuh puluh, ada yang mengatakan sudah melewati seratus. Yang jelas, wajahnya dipenuhi keriput yang bercerita tentang ribuan hari yang telah dilewatinya.
Mbah Jayasuprapta adalah satu-satunya orang yang masih ingat—benar-benar ingat—bagaimana jalur Suralaya dulu digunakan oleh para leluhur untuk bersemedi. Bukan untuk sekadar mendaki. Bukan untuk foto-foto atau sekadar mencari sensasi.
Mereka naik ke gunung untuk mencari ketenangan, untuk mencari jawaban, dan untuk menyucikan diri.
"Jalur itu punya kesadaran sendiri," kata Mbah Jayasuprapta kepada siapa pun yang mau mendengarkan. "Dia tidak akan membuka diri untuk sembarang orang. Dia hanya akan membuka diri untuk mereka yang benar-benar siap."
"Dan bagaimana cara mengetahui apakah seseorang siap atau tidak?" pernah ditanya oleh seorang pemuda desa.
Mbah Jayasuprapta tersenyum memperlihatkan giginya yang tinggal beberapa. "Kamu tidak perlu tahu. Jalur itu sendiri yang akan mengetahuinya."
Kalimat itu sederhana. Namun menyimpan arti yang dalam. Bahwa perjalanan bukan hanya tentang arah… tetapi tentang cara memahami. Bahwa tidak semua hal bisa diukur dengan logika manusia. Bahwa ada hal-hal yang hanya bisa dirasakan, bukan dijelaskan.
Dan kini… tanpa mereka sadari… sebuah perjalanan sedang menunggu.
Bukan perjalanan biasa. Bukan sekadar pendakian. Melainkan perjalanan yang akan menguji—bukan hanya fisik… tetapi juga pikiran… dan hati.
Di Desa Awan Biru, pagi itu terasa seperti pagi-pagi sebelumnya. Tidak ada tanda-tanda. Tidak ada pertanda besar. Hanya kabut, embun, dan rutinitas yang berjalan seperti biasa.
Ibu-ibu sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk keluarga. Bapak-bapak bergegas ke sawah atau ke pasar. Anak-anak berlarian menuju sekolah dengan tas yang sedikit terlalu besar untuk tubuh mereka.
Namun di balik itu semua… takdir telah bergerak.
Pelan. Diam. Namun pasti.
Satu keputusan akan dibuat. Satu langkah akan diambil. Dan satu perjalanan akan dimulai.
Perjalanan yang akan membawa mereka… menembus batas yang selama ini hanya mereka dengar. Menghadapi sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Dan menemukan sesuatu… yang tidak pernah mereka cari sebelumnya.
Karena pada akhirnya… tidak semua petualangan dimulai dengan peta. Tidak semua jalan bisa dipahami dengan kompas. Dan tidak semua tujuan… bisa dilihat dengan mata.
Ada perjalanan… yang hanya bisa dirasakan.
Dan jejaknya… akan abadi.
"Jejak Petualang" bukan sekadar kisah tentang mendaki gunung.
Ini adalah kisah tentang manusia… yang berani melangkah ke dalam ketidakpastian, dan menemukan arti dari perjalanan itu sendiri.
Ini adalah kisah tentang persahabatan yang diuji oleh rasa takut dan keraguan. Tentang keyakinan yang diguncang oleh hal-hal yang tidak bisa dijelaskan. Dan tentang keberanian untuk terus melangkah—meskipun arah tidak selalu jelas.
Dalam novel ini, Anda akan bertemu dengan:
Joko Supraktikno — Ketua KPAAB yang keras kepala namun penuh dedikasi. Pemimpin yang selalu ingin membuktikan bahwa batas hanyalah ilusi.
Hermansyah — Wakil ketua yang rasional dan penuh perhitungan. Sahabat sekaligus penyeimbang Joko yang selalu mengingatkan akan risiko.
Guntur — Si pelawak yang selalu mencairkan suasana, namun menyimpan ketakutan yang tidak pernah ia tunjukkan.
Camelia — Gadis misterius yang memiliki kepekaan terhadap hal-hal gaib. Sering dianggap aneh, namun selalu terbukti benar.
Nadia — Ahli navigasi yang logis dan tidak percaya takhayul. Baginya, gunung bisa dijelaskan dengan ilmu pengetahuan.
Anita — Gadis lembut yang selalu mengingatkan anggota lain untuk berdoa sebelum bertindak. Sering dianggap terlalu khawatir.
Yulia — Perempuan tegas yang tidak segan menegur siapa pun. Mulut keras, tapi hati yang paling peduli.
Bayu — Anggota paling penakut yang selalu membayangkan skenario terburuk. Ironisnya, justru kewaspadaannya sering menyelamatkan mereka.
Arga — Pria pendiam yang lebih banyak mendengar daripada berbicara. Namun ketika ia bersuara, semua orang mendengarkan.
Jojon — Anak baru yang penuh semangat namun masih kurang pengalaman. Sering menjadi sumber masalah sekaligus sumber tawa.
Amat Junior — Pemuda sederhana yang ikut karena tidak ingin ditinggal. Mewakili mereka yang tidak punya alasan kuat, tapi tetap setia.
Pak Iwan Setiawan — Kepala Desa Awan Biru yang bijaksana. Memberi restu dengan syarat-syarat yang tidak main-main.
Pak Raditya — Kepala Desa Suralaya yang misterius. Tahu lebih banyak tentang jalur Suralaya daripada yang ia katakan.
Mbah Jayasuprapta — Sesepuh Desa Suralaya yang menyimpan rahasia tentang jalur ujian.
Pak Anto — Sopir mobil yang lebih dari sekadar sopir. Ia adalah pembaca tanda-tanda alam yang sering memberikan petunjuk terselubung.
Dan masih banyak tokoh pendukung lainnya yang akan mewarnai perjalanan ini.
Ada satu hal yang ingin saya sampaikan sebelum Anda benar-benar memulai perjalanan membaca novel ini.
Gunung Merbabu benar-benar ada. Desa Awan Biru dan Desa Suralaya adalah fiksi, namun terinspirasi dari desa-desa nyata di sekitar Gunung Merbabu. Cerita tentang jalur Suralaya—jalur alternatif yang menyimpan misteri—adalah cerita yang hidup di kalangan masyarakat sekitar.
Saya tidak menulis novel ini untuk membuat Anda percaya pada hal-hal gaib, atau sebaliknya, untuk menganggap semuanya hanya sugesti.
Saya menulis novel ini untuk mengajak Anda bertanya—apa sebenarnya makna sebuah perjalanan? Apakah kita berjalan hanya untuk mencapai tujuan? Atau ada sesuatu yang lebih dalam yang kita cari?
Apakah gunung benar-benar sekadar gunung? Atau ia bisa menjadi cermin yang memantulkan kembali siapa diri kita sebenarnya?
Saya tidak akan memberikan jawaban.
Karena jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu… hanya bisa Anda temukan sendiri.
Sama seperti Joko dan kawan-kawan yang harus menemukan jawaban mereka di antara kabut Gunung Merbabu.
Selamat membaca.
Dan selamat berpetualang.
"Karena pada akhirnya… kita semua adalah petualang. Dalam perjalanan yang disebut kehidupan."
** Slamet Riyadi, 2026 **
BAB 1
Bara Semangat di Awan Biru
Pagi itu, Desa Awan Biru masih diselimuti kabut tipis yang menggantung malas di antara perbukitan. Embun menempel di ujung-ujung daun ilalang yang tumbuh di sepanjang pinggir jalan, berkilau diterpa cahaya matahari yang perlahan bangkit dari balik cakrawala.
Udara sejuk membawa aroma tanah basah—aroma yang selalu mengingatkan pada kehidupan, pada awal dari sebuah perjalanan, pada janji bahwa hari baru selalu membawa kemungkinan-kemungkinan baru.
Joko Supraktikno sudah bangun sejak pukul setengah lima. Bukan karena ada yang mendesak, tetapi karena ia tidak bisa tidur lagi. Pikirannya terlalu sibuk—membayangkan rapat sore nanti, membayangkan bagaimana ia harus meyakinkan anggota lain tentang rencananya.
Ia duduk di teras rumahnya yang sederhana, menyeruput kopi hitam pekat buatan ibunya. Rumah Joko terletak di ujung desa, tidak terlalu besar namun cukup untuk keluarganya yang terdiri dari ayah, ibu, dan seorang adik perempuan yang masih duduk di bangku SMP.
"Kok sudah bangun, Jo?" suara ibunya terdengar dari dalam rumah. "Baru jam setengah lima."
"Tidak bisa tidur, Bu," jawab Joko sambil tersenyum. "Banyak pikiran."
Ibunya—Bu Karsinem, seorang perempuan berusia lima puluh tahun dengan wajah yang mulai menunjukkan keriput karena kerja kerasnya—mendekat dan duduk di samping anaknya.
"Pikiran apa lagi?" tanyanya sambil menatap Joko dengan penuh kecemasan. Ibu mana yang tidak cemas melihat anak sulungnya sering pergi ke gunung? "Jangan-jangan mau naik gunung lagi?"
Joko tertawa kecil. "Memangnya saya bisa bohong sama Ibu?"
"Tidak bisa," jawab Bu Karsinem tegas. "Makanya jangan coba-coba."
"Bu, saya sudah dewasa," kata Joko pelan. "Saya tahu risiko."
"Tahu risiko sama siap menghadapi risiko itu beda, Jo."
Joko terdiam. Ibunya benar, seperti biasa. Tapi Joko juga tahu bahwa ia tidak bisa berhenti. Bukan karena ia keras kepala, tetapi karena mendaki gunung sudah menjadi bagian dari dirinya. Seperti udara yang ia hirup. Seperti darah yang mengalir di nadinya.
"Apa Ibu tahu, Bu," kata Joko akhirnya, "rasanya berdiri di puncak gunung, melihat dunia dari atas, merasakan angin yang begitu bebas... rasanya seperti... seperti kita bisa melakukan apa saja."
Bu Karsinem menghela napas. "Ibu tahu kamu suka. Tapi Ibu juga takut, Jo. Setiap kali kamu pergi, Ibu tidak bisa tidur."
"Makanya Ibu jangan khawatir berlebihan."
"Kata siapa khawatir itu bisa diatur?"
Joko tidak bisa membantah. Ia hanya bisa memeluk ibunya dan berjanji dalam hati bahwa ia akan selalu kembali. Selalu.
Sarapan pagi itu terasa berbeda. Biasanya Joko makan dengan lahap tanpa banyak bicara. Tapi pagi ini, ia seperti kehilangan nafsu makan. Nasi, telur dadar, dan tempe goreng di depannya hanya dipindahkan dari satu sisi piring ke sisi lain.
"Mas Joko tidak lahap?" tanya adiknya, Dina, sambil mengunyah roti.
"Lapar, kok," jawab Joko singkat.
"Lapar tapi tidak dimakan?"
Dasar Dina. Mulutnya memang tajam sejak kecil. Joko melempar pandangan kesal, tapi Dina hanya cengar-cengir.
Bapaknya—Pak Suprapto, seorang petani yang bekerja keras sejak subuh hingga petang—hanya diam memperhatikan. Ia sudah tahu. Setiap kali Joko bersikap seperti ini, pasti ada rencana besar.
"Kapan berangkat?" tanya Pak Suprapto tiba-tiba.
Joko menoleh. "Belum pasti, Pak. Masih rapat."
"Rencana apa?"
Joko ragu sejenak. Haruskah ia jujur? Ayahnya tidak pernah melarangnya mendaki, tapi juga tidak pernah benar-benar mendukung. Pak Suprapto adalah tipe orang tua yang membiarkan anaknya membuat keputusan sendiri, selama keputusan itu tidak merugikan orang lain.
"Kami mau coba jalur baru, Pak," jawab Joko akhirnya. "Di Gunung Merbabu."
Pak Suprapto berhenti mengunyah. Matanya menyipit. "Jalur baru? Yang belum pernah dilalui?"
"Iya, Pak."
"Kenapa harus jalur baru? Bukannya jalur yang biasa sudah cukup?"
Joko menarik napas. Pertanyaan ayahnya sama seperti pertanyaan yang akan ia dengar berkali-kali hari ini. Pertanyaan yang membuatnya harus menjelaskan sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak sepenuhnya paham.
"Karena..." Joko mencari kata-kata, "karena kami ingin tahu, Pak. Sejauh mana batas kami."
Pak Suprapto terdiam beberapa saat. Kemudian ia berkata, "Hati-hati. Gunung itu tidak seperti sawah. Sawah bisa kamu atur. Gunung... gunung punya kemauannya sendiri."
"Aku tahu, Pak."
"Sudah, makan dulu biar kenyang. Jangan pusingkan hal yang belum terjadi."
Joko tersenyum. Nasihat ayahnya selalu sederhana, tapi selalu tepat.
Setelah sarapan, Joko bergegas menuju sekretariat KPAAB. Perjalanan yang biasanya ia tempuh dengan santai dalam sepuluh menit, pagi ini terasa lebih singkat. Langkahnya cepat, hampir seperti berlari.
Desa Awan Biru di pagi hari selalu indah. Jalan setapak yang dilapisi tanah merah membelah perkampungan. Di kiri dan kanan, rumah-rumah warga berdiri dengan arsitektur tradisional—dinding kayu, atap seng, dan halaman yang ditumbuhi berbagai macam tanaman.
Beberapa warga yang sudah mulai beraktivitas menyapa Joko.
"Pagi, Jo!"
"Pagi, Pakde!"
"Mau ke sekretariat lagi? Dasar anak gunung!"
"Ya, Pakde. Daripada di rumah nganggur!"
Tawa kecil terdengar. Joko melambai pada seorang bapak-bapak yang sedang membersihkan halaman. "Pakde Slamet, nanti mampir ke sekretariat ya! Kami lagi ada rapat besar!"
"Rapat apa lagi? Mau naik gunung?"
"Iya, Pakde!"
"Ya sudah, hati-hati. Jangan sampai tersesat!"
"Tersesat itu bagian dari petualangan, Pakde!"
"Kurang ajar kamu!"
Joko tertawa sambil terus melangkah. Interaksi seperti ini sudah menjadi rutinitas. Warga desa memang sudah terbiasa dengan tingkah laku anak-anak muda KPAAB. Ada yang mendukung, ada yang sekadar ikut-ikutan, ada juga yang benar-benar tidak peduli.
Namun bagi Joko, dukungan sekecil apa pun tetap berarti. Karena mendaki gunung bukan hanya tentang dirinya sendiri. Ini tentang mewakili desa, mewakili keluarganya, mewakili semua orang yang percaya padanya.
Sekretariat KPAAB adalah bangunan sederhana berukuran sekitar enam kali delapan meter. Dindingnya terbuat dari papan kayu yang sudah mulai lapuk di beberapa bagian, namun masih kokoh berdiri. Atapnya dari seng, yang jika hujan akan berbunyi keras—sering menjadi bahan keluhan saat rapat malam.
Di dalam, terdapat beberapa meja dan kursi kayu yang sudah tidak terhitung usianya. Di dinding, tergantung berbagai macam peta—peta Gunung Merbabu, Gunung Merapi, Gunung Lawu, dan beberapa gunung lain di Jawa Tengah.
Ada juga foto-foto kegiatan KPAAB: pendakian, penanaman pohon, bakti sosial, dan berbagai acara lain yang telah mereka lakukan selama bertahun-tahun.
Di pojok ruangan, terdapat rak buku yang berisi buku-buku tentang alam, navigasi, pertolongan pertama, dan beberapa novel petualangan. Buku-buku itu sudah usang, penuh dengan coretan dan catatan kecil dari anggota yang membacanya.
Namun yang paling mencuri perhatian adalah sebuah papan tulis putih besar yang tergantung di dinding depan. Papan itu sudah penuh dengan coretan—rencana pendakian, jadwal latihan, dan berbagai catatan penting.
Pagi itu, ruangan itu sepi. Joko tiba lebih awal dari yang lain. Ia duduk di kursi ketua—kursi yang sedikit lebih besar dari yang lain, meskipun sama-sama tidak nyaman—dan menatap papan tulis itu.
Di sana, masih tergambar sketsa Gunung Merbabu yang ia buat semalam. Jalur Suralaya digambar dengan garis putus-putus, tanda tanya besar di sampingnya.
"Ini akan terjadi," gumam Joko pada dirinya sendiri. "Ini pasti akan terjadi."
Sepuluh menit kemudian, pintu sekretariat terbuka dengan suara berdecit yang keras.
"Woy! Sepi amat! Yang lain pada mati kali!"
Itu Guntur. Tidak perlu lihat wajahnya, suaranya yang khas sudah cukup untuk dikenali. Guntur masuk dengan langkah santai, rambutnya acak-acakan, dan kaos oblong yang terlihat seperti baru dipakai dari tumpukan baju kotor.
"Lo doang yang pagi-pagi udah kayak setan," sahut Joko sambil tersenyum.
"Setan yang ganteng, maksudnya," balas Guntur sambil duduk di kursi di samping Joko. "Gue belum sarapan nih, Jo. Ada yang bisa dimakan?"
"Loh, rumah lo kan dekat. Kenapa gak sarapan dulu?"
"Males. Lagian gue kira lo yang traktir."
"Ya enak aja."
Guntur tertawa. "Bercanda, Jo. Gue udah sarapan tadi. Cuma pengen ngeluh doang."
"Ya ampun, Tur. Lo emang..."
"Emang apa? Ganteng? Tampan? Low profile?"
"Banyak bacot."
Mereka tertawa bersama. Persahabatan Joko dan Guntur sudah terjalin sejak kecil. Mereka tetanggaan, satu SD, satu SMP, dan sempat satu SMA sebelum Joko memilih sekolah yang berbeda. Meskipun sering berbeda pendapat, mereka tetap dekat—mungkin karena Guntur adalah satu-satunya orang yang bisa membuat Joko tertawa di saat paling stres.
"Jadi," kata Guntur sambil merebahkan badan di kursi, "rencana gila lo itu jadi?"
"Rencana apa yang gila?"
"Jalur Suralaya, Jo. Jangan pura-pura lupa."
Joko menghela napas. "Bukan rencana gila. Itu tantangan."
"Tantangan buat mati, maksudnya?"
"Tur, lo bisa gak sih serius dikit?"
Guntur duduk tegak. Wajahnya berubah—dari santai menjadi sedikit serius. "Gue serius, Jo. Gue denger cerita tentang jalur itu dari Mbah Jayasuprapta."
Joko terkejut. "Lo kenal Mbah Jayasuprapta?"
"Waktu kecil, gue pernah ikut kakek ke Desa Suralaya. Mbah Jayasuprapta itu sesepuh di sana. Gue denger sendiri cerita tentang jalur ujian."
"Apa yang lo dengar?"
Guntur terdiam sejenak. Matanya tampak menerawang, seperti mengingat sesuatu yang tidak ingin ia ingat. "Cerita itu... gak enak, Jo. Orang yang masuk ke jalur itu... mereka tidak hanya tersesat secara fisik. Mereka tersesat secara mental."
Joko menatap Guntur tajam. "Lo percaya?"
"Awalnya gak. Tapi makin lama gue mikir, makin banyak hal yang gak bisa dijelaskan sama logika."
"Jadi lo percaya sekarang?"
Guntur menggeleng. "Gue gak tahu harus percaya apa. Tapi gue tahu... jalur itu berbahaya. Lebih berbahaya dari yang lo bayangkan."
Joko terdiam. Ia tidak menyangka Guntur—orang yang paling sering meremehkan hal-hal mistis—akan memiliki kekhawatiran seperti ini.
"Makanya lo ikut," kata Joko akhirnya. "Biar gue gak sendirian."
Guntur tersenyum tipis. "Ya, gue bakal ikut. Bukan karena gue setuju dengan rencana lo. Tapi karena gue gak mau lo mati sendirian."
"Wah, romantis banget."
"Udah, jangan lebay."
Satu per satu, anggota KPAAB mulai berdatangan.
Hermansyah datang dengan tas ransel di punggungnya—seperti biasa. Ia tidak pernah pergi ke mana pun tanpa tas, meskipun hanya ke sekretariat yang jaraknya lima menit dari rumahnya.
"Pagi," sapanya singkat sambil duduk.
"Pagi, Man," jawab Joko. "Bawa apa lagi lo?"
"Persiapan."
"Persiapan buat rapat?"
"Persiapan buat apa pun yang terjadi."
Guntur terkekeh. "Lo tuh kayak mau perang, Man."
"Lebih baik siap daripada menyesal," jawab Hermansyah datar.
Kemudian datanglah Nadia—perempuan berambut pendek dengan kacamata tebal di wajahnya. Ia membawa sebuah buku tebal yang sudah penuh dengan stiker dan catatan.
"Pagi, semua," sapanya.
"Pagi, Nad. Buku apa lagi itu?" tanya Guntur.
"Buku tentang navigasi gunung. Ada beberapa teknik baru yang mungkin berguna."
"Lo tuh bukunya dibaca atau dipeluk?"
"Keduanya," jawab Nadia sambil tersenyum.
Disusul oleh Yulia yang datang dengan langkah tegas, seperti biasa. Perempuan ini tidak pernah berjalan lambat. Semua yang ia lakukan selalu cepat, termasuk marah.
"Pagi," katanya sambil melempar tasnya ke kursi. "Rapat jam berapa sih? Kok pada datang pagi-pagi buta?"
"Jam delapan, Yul," jawab Joko. "Sekarang masih jam setengah delapan."
"Ya udah, gue sarapan dulu. Ada yang mau nitip?"
"Gue, beliin nasi pecel," kata Guntur cepat.
"Gue juga," tambah Jojon yang baru saja masuk.
"Lo udah datang, Jon?" tanya Yulia.
"Iya, kebetulan lewat."
"Ya ampun, lo tuh kayak hantu. Muncul tiba-tiba."
Jojon hanya tertawa. Anak baru ini memang punya bakat untuk muncul di saat yang tidak terduga.
Setelah Yulia kembali dengan bungkusan nasi pecel, suasana menjadi semakin hangat. Mereka makan bersama—meskipun hanya nasi pecel dan beberapa gorengan yang dibeli di warung dekat sekretariat.
"Enak banget nasi pecelnya," kata Arga yang baru datang.
"Lo baru dateng, udah makan aja," ejek Bayu.
"Lapar, masa gak boleh?"
"Boleh, boleh. Yang penting jangan abisin semua. Gue juga mau."
Mereka tertawa. Suasana yang semula tegang perlahan berubah menjadi lebih santai. Inilah kelebihan KPAAB—mereka bisa serius dalam perencanaan, tapi juga bisa santai dalam kebersamaan.
Anita datang dengan senyum lebar. Ia membawa kotak kue buatan ibunya.
"Ibu nitip kue buat kalian," katanya sambil meletakkan kotak itu di meja.
"Wah, Makasih, Nit!" seru Guntur sambil langsung meraih kue.
"Santai, jangan banyak-banyak. Nanti gak kebagian yang lain," tegur Anita.
"Gue cuma ambil satu, kok."
"Tangan lo udah masuk dua kali."
"Ya... satu untuk tangan kanan, satu untuk tangan kiri."
Camelia datang paling akhir. Ia berjalan pelan, dengan tatapan yang sedikit kosong—seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu yang berat.
"Pagi, Mel," sapa Joko.
"Pagi," jawab Camelia singkat.
"Kok keliatan lesu? Kurang tidur?"
"Tidur cukup. Cuma... mimpi aneh."
Semua langsung menatap Camelia. Mereka tahu bahwa Camelia sering mendapat firasat melalui mimpinya. Dan mimpi Camelia jarang sekali salah.
"Mimpi apa?" tanya Yulia.
Camelia terdiam sejenak. "Nanti saja ceritanya. Biar semua pada kumpul."
Jam delapan tepat, semua anggota KPAAB sudah hadir. Joko berdiri di depan papan tulis, memandang satu per satu wajah yang ada di hadapannya.
Hitung-hitungan: Joko, Hermansyah, Guntur, Camelia, Nadia, Anita, Yulia, Bayu, Arga, Jojon, dan Amat Junior. Sebelas orang. Cukup untuk sebuah ekspedisi, meskipun beberapa di antaranya masih minim pengalaman.
"Baik," kata Joko memulai, "kita mulai rapat."
"Sebelum mulai," potong Guntur, "gue usul, kita nyanyi dulu. Biar semangat."
"Gak usah, Tur."
"Lagu Indonesia Raya aja, gak papa."
"Tur, seriusan, gue bisa tendang lo keluar."
"Baik, baik. Lanjut."
Joko menghela napas. "Seperti yang sudah kita bahas minggu lalu, kita punya rencana untuk melakukan pendakian eksplorasi di Gunung Merbabu melalui jalur alternatif dari Desa Suralaya."
Ia menunjuk peta yang digantung di papan tulis.
"Ini jalurnya. Tidak tercatat secara resmi. Hanya diketahui oleh masyarakat setempat."
"Dan kenapa kita harus ambil jalur itu?" tanya Hermansyah—pertanyaan yang sudah ia duga.
"Karena kita ingin menjadi yang pertama," jawab Joko tegas.
"Menjadi yang pertama dalam hal apa?"
"Yang pertama mendokumentasikan jalur itu secara resmi. Yang pertama memetakan titik-titik berbahaya. Yang pertama membuka jalan bagi pendaki lain."
"Tapi apakah itu perlu?" tanya Nadia. "Bukannya jalur yang sudah ada sudah cukup?"
Joko tersenyum. "Nad, lo tuh ahli navigasi. Lo pasti tahu pentingnya memiliki data lengkap tentang sebuah jalur pendakian."
"Tentu saja," jawab Nadia. "Tapi untuk apa kita mengorbankan keselamatan demi data?"
"Bukan mengorbankan keselamatan. Kita akan mempersiapkan semuanya dengan matang."
"Seberapa matang?" tanya Hermansyah lagi.
Joko mengambil sebuah map tebal dari meja. Ia membukanya dan menunjukkan isinya—halaman demi halaman berisi rencana perjalanan, estimasi waktu, daftar perlengkapan, pembagian tugas, rencana darurat, dan berbagai macam hal lain yang sudah ia persiapkan selama berminggu-minggu.
"Ini," kata Joko. "Ini tingkat kematangan persiapan kita."
Hermansyah mengambil map itu dan membacanya dengan saksama. Matanya bergerak cepat dari satu halaman ke halaman lain. Wajahnya berubah—dari skeptis menjadi sedikit terkesan, meskipun ia tidak mau mengakuinya.
"Ini... cukup lengkap," katanya akhirnya.
"Makasih," kata Joko. "Gue gak akan asal-asalan, Man. Lo kenal gue."
"Gue kenal lo. Tapi gue juga tahu bahwa lo kadang terlalu ambisius."
"Apa salahnya punya ambisi?"
"Ambisi itu bagus. Tapi kalau buta, namanya nekat."
Suasana mulai memanas. Anggota lain hanya bisa terdiam, melihat dua pemimpin mereka beradu argumen.
Guntur mengangkat tangan. "Gue usul, kita voting aja."
"Bukan masalah voting," potong Yulia. "Ini masalah keselamatan. Kalau mayoritas setuju tapi persiapan kurang matang, kita tetap berbahaya."
"Makanya kita harus yakin dulu," kata Nadia. "Apakah persiapan ini cukup? Apakah kita siap menghadapi risiko?"
"Risiko apa yang paling besar?" tanya Bayu—anggota yang paling penakut.
Semua terdiam.
Camelia akhirnya bersuara. "Risiko terbesar bukan medan. Bukan cuaca. Bukan kelelahan."
"Lalu apa?" tanya Amat.
Camelia menatap satu per satu. "Risiko terbesar adalah... kita kehilangan arah. Bukan arah di peta, tapi arah dalam pikiran."
"Mel, lo mulai lagi," keluh Guntur.
"Lo dulu dengar cerita dari Mbah Jayasuprapta," kata Camelia. "Cerita tentang jalur ujian. Lo tahu itu tidak main-main."
Guntur terdiam. Wajahnya berubah pucat.
"Cerita apa?" tanya Yulia penasaran.
Guntur menghela napas panjang. "Cerita tentang orang-orang yang masuk ke jalur itu... dan tidak bisa keluar. Bukan karena mereka mati. Tapi karena... mereka berubah."
"Berubah bagaimana?" tanya Arga.
"Menjadi orang yang berbeda. Lupa siapa diri mereka. Lupa keluarga, lupa teman, lupa segalanya. Seperti... otak mereka direset."
Suasana menjadi hening. Sangat hening. Angin di luar seolah ikut berhenti.
"Tur," kata Joko akhirnya, "lo percaya cerita itu?"
"Awalnya gak," jawab Guntur pelan. "Tapi makin gue pikir, makin banyak hal yang gak bisa dijelaskan."
"Dan lo baru cerita sekarang?"
"Gue kira cerita itu cuma omongan kosong. Tapi setelah Mel bilang mimpi aneh... gue jadi mikir."
Semua mata beralih ke Camelia.
"Mel," kata Joko, "cerita tentang mimpi lo."
Camelia menarik napas dalam-dalam.
"Gue mimpi berada di tengah hutan," mulainya pelan. "Kabut tebal banget. Gue gak bisa lihat apa-apa. Tapi gue dengar suara."
"Suara apa?" tanya Anita.
"Suara langkah kaki. Banyak. Seperti ada orang yang berjalan mengelilingi gue. Tapi gue gak bisa lihat siapa mereka."
"Terus?"
"Lalu... gue dengar suara yang familiar. Suara Joko."
Joko terkejut. "Suara gue?"
"Iya. Lo manggil nama gue. Berulang-ulang. Tapi gue tahu itu bukan lo."
"Kenapa lo tahu?"
"Karena suara itu... dingin. Gak seperti suara lo yang biasa. Rasanya... seperti dipaksakan."
Nadia menyilangkan tangan. "Mel, lo yakin itu bukan cuma mimpi biasa?"
"Gue gak tahu. Tapi gue bangun dengan perasaan... takut. Bukan takut karena mimpi, tapi takut karena sesuatu yang gak bisa dijelaskan."
Hening kembali.
Joko berdiri. Ia menatap semua anggota.
"Gue paham ketakutan kalian," katanya. "Gue juga takut. Tapi ketakutan itu gak boleh menghentikan kita. Kalau kita berhenti karena takut, kita gak akan pernah tumbuh."
"Tapi ada batas antara berani dan bodoh, Jo," kata Hermansyah.
"Dan gue yakin kita masih di sisi berani."
"Berdasarkan apa?"
"Berdasarkan persiapan kita. Berdasarkan kebersamaan kita. Berdasarkan keyakinan bahwa kita bisa."
Hermansyah menggeleng. "Keyakinan tanpa data hanyalah harapan kosong."
"Lalu apa yang lo usulkan?"
"Gue usulkan kita cari informasi lebih dulu. Turun ke Desa Suralaya, bicara dengan warga, kumpulkan data sebanyak mungkin. Baru setelah itu kita putuskan."
Joko menghela napas. Itu usulan yang masuk akal. Namun Joko tahu—jika mereka terlalu lama mempersiapkan, semangat akan luntur. Dan tanpa semangat, perjalanan tidak akan pernah dimulai.
"Baik," kata Joko akhirnya. "Kita setuju. Minggu depan, kita ke Desa Suralaya. Kita cari informasi."
"Dan siapa yang akan pergi?" tanya Yulia.
"Gue, Man, Tur, Mel, Nad, dan Anita. Cukup enam orang."
"Kenapa gue gak ikut?" protes Yulia.
"Lo tugasnya jaga sekretariat. Siapa tahu ada yang perlu."
Yulia mendengus kesal, tapi tidak membantah.
Rapat pun selesai. Namun keputusan belum final. Perdebatan masih akan berlanjut. Dan di balik semua itu, bayangan jalur Suralaya terus menghantui pikiran mereka—seperti gunung yang terus memanggil, tanpa pernah berusaha dijelaskan.
Setelah rapat, suasana di luar sekretariat terasa lebih tenang.
Matahari sudah cukup tinggi, menghilangkan kabut yang semula menyelimuti desa. Anak-anak mulai bermain di lapangan, sementara ibu-ibu sibuk berjualan di pasar desa.
Joko dan Hermansyah duduk di bangku kayu di depan sekretariat. Udara masih sejuk, meskipun matahari sudah bersinar terang.
"Lo yakin dengan rencana ini, Jo?" tanya Hermansyah pelan.
"Gue gak yakin seratus persen," jawab Joko jujur. "Tapi gue yakin kalau kita gak mencoba, kita akan menyesal."
"Menyesal karena apa?"
"Karena melewatkan kesempatan untuk melakukan sesuatu yang berarti."
Hermansyah terdiam. Ia menatap Gunung Merbabu yang tampak dari kejauhan.
"Lo tahu," katanya akhirnya, "setiap kali gue lihat gunung itu, gue selalu bertanya-tanya."
"Bertanya-tanya tentang apa?"
"Tentang apa yang ada di sana. Tentang apa yang belum kita lihat. Tentang... apakah ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan."
Joko tersenyum. "Jadi lo juga penasaran?"
"Penasaran, iya. Tapi gue gak mau penasaran membuat kita ceroboh."
"Dan gue gak akan ceroboh. Janji."
Mereka berjabat tangan. Dua sahabat yang berbeda pendapat, namun satu tujuan.
Di dalam sekretariat, Guntur dan Camelia sedang duduk berdua.
"Mel," kata Guntur pelan, "mimpi lo... seberapa serius?"
Camelia menatap Guntur. "Lo percaya?"
"Gue gak tahu. Tapi... gue merasakan sesuatu yang sama."
"Apa yang lo rasakan?"
Guntur menghela napas. "Seperti ada yang memanggil. Bukan suara, tapi... perasaan. Seperti ada sesuatu di gunung itu yang ingin kita temukan."
"Atau ingin kita temukan," kata Camelia.
Mereka berdua terdiam. Masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Sore harinya, Joko berjalan sendirian ke sawah di belakang rumahnya.
Pemandangan di sana selalu menenangkannya. Hamparan padi yang mulai menguning, gunung di kejauhan, dan langit yang berwarna jingga—semuanya seperti lukisan yang sempurna.
Ia duduk di pematang sawah, merasakan tanah yang sedikit lembap di bawah kakinya. Angin berhembus pelan, membawa aroma padi dan tanah basah.
"Masih suka ke sini, ya?"
Joko menoleh. Itu Dina, adiknya, yang berdiri sambil membawa dua gelas es teh.
"Iya," jawab Joko. "Masih sama seperti dulu."
"Bapak dulu sering ngajak Mas ke sini waktu kecil," kata Dina sambil duduk di samping Joko. "Katanya, kalau lagi bingung, lihat aja sawah. Pasti nemu jawaban."
Joko tersenyum. "Bapak memang bijak."
"Mas lagi bingung?"
Joko menghela napas. "Sedikit."
"Tentang rencana pendakian?"
"Lo tahu?"
"Dengar dari Ibu," jawab Dina. "Mas, jangan marah ya... tapi Ibu khawatir banget."
"Gue tahu."
"Tapi Mas tetap akan pergi, kan?"
Joko menatap adiknya. "Lo setuju?"
Dina tersenyum. "Gue setuju selama Mas yakin. Tapi kalau Mas ragu... lebih baik jangan."
"Gue tidak ragu. Gue hanya... waspada."
"Ya sudah. Kalau begitu, pergi saja. Tapi janji bakal pulang."
"Janji."
Mereka berdua memandang Gunung Merbabu yang mulai diselimuti kabut sore.
Di kejauhan, gunung itu berdiri diam. Menyimpan rahasia. Menunggu kedatangan mereka.
Malam harinya, Joko duduk di kamarnya. Lampu minyak tanah menyala redup, menerangi buku catatan yang ia buka.
Ia menulis:
"Hari ini rapat. Perdebatan masih berlangsung. Man masih skeptis. Tur mulai percaya pada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan. Mel punya mimpi aneh. Dan gue... gue merasa ini adalah awal dari sesuatu yang besar.
Gue tidak tahu apa yang menanti di jalur Suralaya. Tapi gue yakin satu hal: perjalanan ini akan mengubah kita semua.
Apakah kita siap? Mungkin tidak. Tapi apakah kita akan menyesal jika tidak mencoba? Pasti.
Maka tidak ada pilihan lain selain melangkah.
Gunung, tunggu kami. Kami akan datang."
Ia menutup buku catatannya dan memejamkan mata.
Di luar, angin malam berhembus lebih dingin.
Dan di kejauhan, Gunung Merbabu berdiri sunyi—menyaksikan, menunggu, dan mungkin... tersenyum.
BAB 2
Restu dan Tanggung Jawab
Langit Desa Awan Biru siang itu tampak cerah, seolah memberi restu diam-diam atas rencana besar yang sedang disusun oleh para pemuda desa. Awan putih bergerak lambat di atas perbukitan, menciptakan bayangan yang bergerak-gerak di hamparan sawah dan kebun.
Namun di balik semangat yang membuncah, langkah berikutnya tidak lagi sekadar soal keberanian—melainkan tentang tanggung jawab.
Sejak rapat kemarin, suasana di sekretariat KPAAB berubah. Tidak lagi sekadar tempat berkumpul dan bercanda, tetapi menjadi pusat koordinasi yang serius. Setiap anggota diberikan tugas masing-masing. Ada yang bertugas mengurus perizinan, ada yang mengumpulkan logistik, ada yang mempelajari peta dan jalur, dan ada pula yang bertugas mencari informasi tentang Desa Suralaya.
Joko tidak bisa tidur nyenyak semalaman. Pikirannya terlalu sibuk membayangkan pertemuan dengan Kepala Desa nanti. Pak Iwan Setiawan bukan orang yang mudah dibujuk. Ia pemimpin yang bijaksana, namun juga sangat protektif terhadap warganya—terutama anak-anak muda yang sering dianggapnya terlalu nekat.
"Jangan sampai ada yang salah ngomong, ya," bisik Yulia saat mereka berjalan menuju kantor desa.
"Tenang saja," jawab Guntur santai, "yang penting jangan kamu yang ngomong duluan."
Yulia menyikutnya pelan. "Bisa nggak sih kamu serius sedikit?"
"Serius itu mahal, Yul. Aku lagi nabung," balas Guntur sambil tersenyum.
"Lo tuh..."
"Sudah, sudah," potong Joko. "Jangan berantem sekarang. Kita harus fokus."
Rombongan KPAAB berjalan beriringan menuju kantor desa yang terletak di pusat Desa Awan Biru. Bangunan itu tidak terlalu besar, namun terlihat kokoh dengan dinding bata putih dan atap genteng merah. Di halaman, bendera Merah Putih berkibar pelan, seolah ikut menyambut kedatangan mereka.
Di dalam ruangan utama, suasana terasa lebih khidmat. Beberapa perangkat desa duduk di kursi-kursi yang disusun rapi di samping ruangan. Di depan, di balik meja kayu jati yang besar, duduk Pak Iwan Setiawan dengan tenang.
Tatapannya tajam, namun penuh wibawa. Ia bukan hanya pemimpin, tapi juga sosok yang memahami betul karakter pemuda-pemuda di hadapannya. Ia tahu bahwa mereka adalah anak-anak yang baik—keras kepala, mungkin, tapi baik.
"Silakan duduk," kata Pak Iwan sambil menunjuk kursi-kursi yang telah disediakan.
Joko memimpin rombongan duduk dengan rapi. Guntur yang biasanya banyak bicara, kali ini memilih diam. Yulia yang biasanya tegas, kali ini terlihat gugup. Bahkan Hermansyah yang selalu tenang, terlihat sedikit gelisah.
"Jadi," suara Pak Iwan memecah suasana, "kalian ingin membuka jalur baru di Gunung Merbabu?"
Joko mengangguk mantap. "Iya, Pak. Kami sudah diskusikan matang-matang."
"Matang?" ulang Pak Iwan, sedikit mengernyit. "Gunung itu bukan ladang jagung yang bisa kalian ukur dengan langkah kaki biasa."
Joko menarik napas. Ia sudah menduga akan mendapat pertanyaan seperti ini.
"Kami sadar risikonya, Pak," katanya. "Tapi kami juga sudah mempersiapkan diri."
"Persiapan seperti apa?"
Joko membuka map yang dibawanya. Ia mengeluarkan berkas tebal berisi rencana perjalanan, estimasi waktu, kebutuhan logistik, serta pembagian tugas. Semua disusun rapi, dengan cover yang jelas dan halaman yang diberi nomor.
"Ini, Pak. Rencana lengkap kami," kata Joko sambil menyerahkan berkas itu.
Pak Iwan mengambil berkas itu, membacanya dengan saksama. Suasana menjadi hening. Bahkan suara detak jarum jam dinding terdengar jelas.
Beberapa menit berlalu. Pak Iwan membalik halaman demi halaman, matanya bergerak cepat, membaca setiap detail.
"Secara administratif… ini sudah cukup rapi," ujar Pak Iwan akhirnya. "Tapi kalian harus ingat, ini bukan hanya soal kertas dan rencana."
"Lalu apa lagi, Pak?" tanya Nadia.
Pak Iwan bersandar di kursinya. "Mental. Kekompakan. Dan… hal-hal yang tidak bisa kalian jelaskan dengan logika."
Beberapa anggota saling pandang.
"Bapak maksud…?" tanya Amat pelan.
Pak Iwan tersenyum tipis. "Kalian ini anak gunung, pasti tahu maksud saya."
Camelia menunduk, seolah memahami.
Namun Guntur mengangkat tangan. "Pak, kalau boleh jujur… saya lebih percaya sama peta dan kompas daripada hal-hal begitu."
Pak Iwan menatapnya tajam, namun tidak marah. "Dan itu tidak salah. Tapi jangan pernah merasa bahwa apa yang tidak kamu percaya… tidak ada."
Ruangan kembali hening.
Guntur membuka mulut ingin membantah, tapi Hermansyah menarik tangannya pelan, memberi isyarat untuk diam.
"Pak," kata Joko pelan, "kami akan tetap menjaga sikap. Kami tidak akan meremehkan apa pun."
Pak Iwan mengangguk pelan. "Itu baru jawaban yang saya harapkan."
Ia kemudian meletakkan berkas di meja.
"Saya izinkan," katanya tegas.
Sejenak, semua seperti tidak percaya.
"Serius, Pak?" seru Jojon spontan.
Guntur langsung menepuk bahunya. "Woi, jaga wibawa dikit!"
Tawa kecil terdengar, mencairkan suasana. Pak Iwan pun tersenyum, meskipun tetap terlihat serius.
"Tapi…" lanjut Pak Iwan, membuat semua kembali fokus, "izin ini bukan tanpa syarat."
Joko mengangguk. "Kami siap, Pak."
"Pertama, kalian wajib mengurus izin resmi ke Polsek Kecamatan Kabut Merah."
"Sudah kami urus, Pak," kata Hermansyah cepat.
"Belum selesai. Kalian harus mengurus surat keterangan dari desa, yang nanti akan dilampirkan ke polsek."
"Baik, Pak."
"Kedua, koordinasi dengan desa tujuan, yaitu Desa Suralaya. Kalian harus mendapatkan izin dari kepala desa setempat. Tidak boleh memaksakan diri jika ditolak."
"Kami akan segera ke sana, Pak," kata Joko.
"Ketiga, laporan lengkap sebelum dan sesudah pendakian. Saya ingin tahu rencana detail kalian, termasuk rute, waktu, dan personel. Setelah pendakian, saya ingin laporan evaluasi—apa yang berjalan baik, apa yang tidak, dan apa yang bisa dipelajari."
"Siap, Pak!" jawab mereka serempak.
"Dan yang terakhir," suara Pak Iwan sedikit melembut, "jaga satu sama lain. Jangan ada yang pulang sendirian… atau tidak pulang sama sekali."
Kalimat itu membuat suasana kembali sunyi.
Anita menunduk, menggenggam tangannya erat. Yulia menggigit bibirnya. Bahkan Guntur yang biasanya banyak bicara, hanya bisa diam.
"Baik, Pak," jawab Joko pelan, namun penuh keyakinan.
Pak Iwan berdiri. "Kalau begitu, saya tunggu kabar baik dari kalian."
Setelah pertemuan selesai, rombongan KPAAB keluar dari kantor desa dengan perasaan campur aduk. Lega karena mendapat izin. Tapi juga sedikit terbebani dengan tanggung jawab yang diberikan.
"Gila, deg-degan banget tadi," kata Bayu sambil mengelus dadanya.
"Aku sampe lupa napas," sahut Jojon.
"Lo tuh dari awal emang gak pernah napas," ejek Guntur.
"Eh, kurang ajar lo!"
Mereka tertawa, meskipun tidak sepenuhnya lepas.
Joko berhenti di halaman kantor desa. Ia menatap langit yang cerah.
"Ini baru awal," katanya. "Perjalanan kita masih panjang."
"Dan masih banyak yang harus dipersiapkan," tambah Hermansyah.
"Jadi sekarang kita ke polsek?" tanya Nadia.
"Besok saja," jawab Joko. "Sekarang kita kembali ke sekretariat. Kita rapikan semua berkas."
"Setuju," kata yang lain.
Mereka berjalan kembali ke sekretariat, melewati jalan desa yang mulai ramai oleh aktivitas warga. Beberapa orang menyapa, beberapa hanya melambai. Ada yang bertanya tentang rencana mereka, ada yang hanya tersenyum.
"Anak-anak KPAAB itu ya... suka bikin repot," kata seorang bapak-bapak kepada temannya.
"Tapi mereka tidak pernah merusak," jawab temannya. "Mereka hanya... berbeda."
"Dan perbedaan itu kadang membuat khawatir."
"Tapi juga membuat bangga."
Sekretariat KPAAB sore itu berubah menjadi pusat komando.
Joko duduk di depan papan tulis, menuliskan daftar tugas yang harus diselesaikan. Hermansyah sibuk dengan laptopnya—laptop tua yang hanya bisa digunakan untuk mengetik dan membuka file sederhana—membuat daftar perizinan yang diperlukan.
Nadia dan Anita sibuk memeriksa perlengkapan pendakian. Tali, carabiner, tenda, kompor, dan berbagai macam peralatan lainnya dikeluarkan dari gudang dan diperiksa satu per satu.
"Tali ini udah agak aus," kata Nadia sambil memeriksa tali nilon biru.
"Masih bisa dipakai?" tanya Anita.
"Untuk beban ringan, iya. Tapi untuk medan ekstrem, sebaiknya ganti."
"Catat," kata Joko dari kejauhan. "Kita cari dana untuk beli tali baru."
Yulia dan Guntur sibuk dengan logistik makanan. Mereka menghitung kebutuhan kalori per orang per hari, lalu mengalikannya dengan jumlah hari dan jumlah anggota.
"Kita butuh sekitar tiga ratus ribu kalori total," kata Yulia serius.
"Artinya?" tanya Guntur.
"Artinya kita butuh banyak makanan."
"Ya ampun, pusing gue."
"Lo tuh gak usah banyak pikiran. Cukup pikirin cara buat orang lain ketawa."
"Itu sudah job description gue."
Sementara itu, Camelia duduk di pojok dengan buku catatannya. Ia menulis sesuatu—bukan tentang persiapan teknis, tapi tentang hal-hal yang tidak bisa dijelaskan.
"Mau nulis apa, Mel?" tanya Arga yang duduk di sampingnya.
"Catatan tentang mimpi," jawab Camelia singkat.
"Kok serius banget?"
"Karena ini penting."
Arga tidak bertanya lebih lanjut. Ia sudah tahu bahwa Camelia adalah orang yang berbeda. Bukan berbeda dalam arti aneh, tapi berbeda dalam cara memandang dunia.
Saat mereka asyik dengan kesibukan masing-masing, pintu sekretariat terbuka dengan suara berdecit.
Seorang pria paruh baya masuk dengan langkah santai. Ia mengenakan kemeja batik lengan panjang, celana kain hitam, dan sandal kulit. Wajahnya familiar—terlalu familiar.
"Pak Lurah?" seru Joko terkejut.
Pak Iwan tersenyum. "Boleh saya ikut?"
"Silakan, Pak. Silakan," kata Joko cepat, berdiri dan mempersilakan kursi terbaik.
"Tidak usah repot," kata Pak Iwan sambil duduk di kursi kayu biasa. "Saya hanya ingin melihat persiapan kalian."
"Kami masih merapikan, Pak," kata Hermansyah.
"Bagus. Saya suka melihat anak muda yang bekerja keras."
Pak Iwan memandang sekeliling ruangan. Matanya berhenti di papan tulis yang penuh dengan catatan, di tumpukan berkas di meja, dan di peralatan pendakian yang berserakan.
"Kalian serius," katanya.
"Kami selalu serius, Pak," jawab Joko.
"Tidak semua anak muda seperti kalian. Banyak yang lebih suka main game atau nongkrong gak jelas."
"Tidak ada yang salah dengan itu, Pak," kata Guntur. "Setiap orang punya cara masing-masing untuk bahagia."
Pak Iwan menatap Guntur. "Kamu bijak, Nak."
Guntur tersenyum malu. "Kebanyakan nonton sinetron, Pak."
Semua tertawa.
Pak Iwan kemudian berbicara lebih serius.
"Anak-anak," katanya, "saya izinkan kalian melakukan pendakian ini bukan karena saya yakin kalian bisa."
Semua terdiam.
"Lalu kenapa, Pak?" tanya Joko.
"Karena saya percaya pada proses. Saya percaya bahwa perjalanan—dengan segala risikonya—adalah guru terbaik. Kalian akan belajar banyak. Tentang gunung, tentang alam, tentang tim, dan tentang diri kalian sendiri."
"Tapi bagaimana jika kami gagal, Pak?" tanya Anita pelan.
"Kegagalan juga bagian dari proses," jawab Pak Iwan. "Yang penting kalian tidak berhenti belajar."
Ia berdiri.
"Saya harus kembali ke kantor. Teruskan kerja kalian. Dan ingat—saya akan memantau."
"Terima kasih, Pak," kata Joko.
Pak Iwan berjalan ke pintu, lalu berhenti. Ia menoleh.
"Satu pesan terakhir."
"Ya, Pak?"
"Jangan pernah meremehkan gunung. Tapi juga jangan pernah takut berlebihan. Karena gunung bukan musuh kalian. Gunung adalah guru. Dan guru yang baik... akan menguji muridnya."
Ia keluar, meninggalkan mereka dengan perasaan yang lebih dalam dari sekadar rasa hormat.
Malam mulai turun saat mereka menyelesaikan sebagian besar persiapan.
"Gue capek banget," kata Jojon sambil merebahkan diri di lantai.
"Belum apa-apa udah capek," ejek Bayu.
"Ini namanya latihan, Yu. Latihan buat yang sesungguhnya."
"Latihan apa? Latihan rebahan?"
"Ya, latihan bertahan hidup di lantai."
Mereka tertawa, meskipun kelelahan.
Joko melihat jam dinding. Sudah pukul delapan malam.
"Baik, kita cukupkan sampai di sini," katanya. "Besok kita lanjut. Jangan lupa, jam delapan pagi kita sudah harus kumpul lagi."
"Siap, Komandan!" seru Jojon sambil memberi hormat.
"Turunkan tanganmu, itu bukan militer," kata Yulia sambil tersenyum.
Mereka bergegas pulang. Satu per satu meninggalkan sekretariat, hingga hanya tersisa Joko dan Hermansyah.
"Lo gak pulang, Man?" tanya Joko sambil merapikan berkas.
"Sebentar lagi," jawab Hermansyah. "Lo duluan aja."
"Gue nunggu lo."
Mereka duduk berdua di teras sekretariat. Langit malam di Desa Awan Biru selalu indah—ribuan bintang bertaburan, tanpa polusi cahaya.
"Indah ya," kata Hermansyah.
"Iya," jawab Joko.
"Kadang gue mikir... kenapa kita gak bisa hidup sederhana aja? Kerja, punya keluarga, hidup tenang."
"Karena kalau semua orang hidup sederhana, gak akan ada yang melakukan hal-hal besar."
"Apakah pendakian ini termasuk hal besar?"
Joko tersenyum. "Mungkin tidak untuk orang lain. Tapi untuk kita... iya."
Hermansyah menghela napas. "Lo tahu, Jo, gue takut."
"Takut apa?"
"Takut kehilangan. Bukan kehilangan nyawa, tapi kehilangan... sesuatu yang lebih penting."
"Seperti apa?"
Hermansyah terdiam sejenak. "Gue gak tahu. Tapi perasaan itu ada."
Joko menepuk pundak sahabatnya. "Kita akan hadapi bersama. Apa pun yang terjadi."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berjabat tangan dalam gelap, di bawah cahaya bintang yang berkelap-kelip.
Joko tiba di rumah sekitar pukul sembilan malam. Lampu di ruang tamu masih menyala—pertanda bahwa ibunya belum tidur.
"Jo, sudah makan?" tanya Bu Karsinem dari dapur.
"Belum, Bu."
"Ya ampun, anak ibu. Kerja terus sampai lupa makan."
Bu Karsinem menyiapkan nasi hangat dengan lauk sederhana—telur dadar dan sayur bening. Joko makan dengan lahap, meskipun sebenarnya ia sudah tidak terlalu lapar.
"Ibu," katanya di sela-sela suapan, "kita sudah dapat izin dari Pak Iwan."
Bu Karsinem terdiam. Wajahnya berubah.
"Jadi... jadi jadi?"
"Iya, Bu. Kami akan mulai persiapan serius besok."
Bu Karsinem duduk di samping Joko. Ia memegang tangan anaknya.
"Jo... Ibu tidak akan melarang. Tapi Ibu minta satu hal."
"Apa, Bu?"
"Janji, lo akan jaga diri. Janji lo akan kembali."
Joko menatap mata ibunya yang mulai berkaca-kaca.
"Ibu, saya janji."
"Jangan janji kalau tidak bisa ditepati."
"Saya bisa, Bu. Saya pasti bisa."
Bu Karsinem memeluk Joko. Air matanya jatuh, meskipun ia berusaha menyembunyikannya.
Malam itu, setelah Joko tidur, Bu Karsinem duduk di ruang tamu sendirian.
Ia memegang tasbih tua peninggalan neneknya. Bibirnya bergerak-gerak, melantunkan doa-doa yang sudah ia hafal sejak kecil.
"Ya Allah... lindungi anakku. Jaga dia di perjalanannya. Kembalikan dia dengan selamat. Aamiin."
Air matanya jatuh lagi.
Seorang ibu tidak pernah berhenti berdoa untuk anaknya. Tidak peduli seberapa besar anak itu, atau seberapa jauh ia melangkah. Doa ibu adalah doa yang paling tulus, paling kuat, dan paling mustajab.
Dan malam itu, di Desa Awan Biru, seorang ibu berdoa untuk anaknya yang akan memulai perjalanan.
Di kejauhan, Gunung Merbabu berdiri diam.
Seolah mendengar.
Seolah mencatat.
Keesokan harinya, rombongan KPAAB berangkat ke Polsek Kecamatan Kabut Merah. Bangunan sederhana itu tampak ramai oleh aktivitas masyarakat. Beberapa orang mengurus administrasi, beberapa lainnya hanya duduk di kursi panjang menunggu giliran.
Seorang petugas polisi menyambut mereka. "Ada keperluan apa?"
Joko maju. "Kami ingin mengurus surat izin pendakian, Pak."
"Pendakian biasa atau luar biasa?" tanya petugas itu sambil tersenyum tipis.
Guntur langsung menjawab, "Kalau bisa sih luar biasa, Pak. Biar ada diskonnya."
Semua tertawa, termasuk petugas tersebut.
"Baik, baik. Silakan isi formulir dulu," katanya.
Proses administrasi berlangsung cukup lama. Beberapa anggota mulai terlihat lelah.
"Kalau tahu begini, aku bawa bantal," gumam Arga.
"Sekalian kasur, biar bisa langsung camping di sini," sahut Jojon.
"Eh, jangan macam-macam. Ini kantor polisi," bisik Yulia.
"Justru itu, biar aman," jawab Guntur santai.
Petugas polisi itu hanya tersenyum mendengar candaan mereka. Ia sudah terbiasa dengan tingkah anak muda.
Setelah semua berkas selesai, petugas menyerahkan surat izin tersebut.
"Ini tanggung jawab besar, ya. Jangan sampai kami dapat laporan yang tidak diinginkan."
Joko menerima surat itu dengan hormat. "Siap, Pak. Kami akan jaga nama baik desa."
Malam mulai turun saat mereka kembali ke sekretariat.
Di bawah lampu sederhana, mereka berkumpul lagi. Kali ini, suasana berbeda. Tidak lagi sekadar penuh semangat—melainkan juga penuh kesadaran.
"Kita sudah dapat izin dari Pak Iwan dan dari polsek," kata Joko sambil mengangkat surat. "Artinya… ini benar-benar akan terjadi."
"Deg-degan juga ya," ujar Nadia.
"Baru sekarang?" Guntur tertawa. "Aku dari tadi sudah deg-degan, cuma disembunyikan."
Hermansyah menatap peta yang terbentang. "Perjalanan kita nggak akan mudah."
"Memang nggak," sahut Camelia. "Tapi kita nggak sendiri."
Anita mengangguk. "Selama kita saling jaga… kita pasti bisa."
Joko memandang mereka semua. "Mulai besok, kita fokus persiapan. Tidak ada yang main-main."
"Siap, Komandan!" seru Jojon sambil memberi hormat berlebihan.
"Turunkan tanganmu, itu bukan militer," kata Yulia sambil tertawa.
Tawa kembali pecah, namun kali ini terasa lebih hangat… dan lebih dalam.
Di luar, malam semakin pekat. Angin berhembus pelan, membawa suara-suara alam yang tak sepenuhnya bisa dijelaskan.
Seolah ada sesuatu yang menunggu.
Menunggu langkah mereka.
Menunggu keberanian mereka.
Dan mungkin… menguji batas yang belum pernah mereka sentuh.
Joko berdiri di depan pintu sekretariat. Ia menatap langit malam yang gelap.
"Gunung," bisiknya pelan, "kami akan datang. Siapkan dirimu."
Dan di kejauhan, Gunung Merbabu seolah berkedip—bukan dengan cahaya, tapi dengan keheningan yang penuh makna.
BAB 3
Perjalanan Penuh Tawa
Pagi di Desa Awan Biru kali ini terasa berbeda.
Bukan hanya karena langit yang cerah tanpa awan, tetapi juga karena semangat yang menggantung di udara—semangat petualangan yang tak bisa lagi dibendung. Burung-burung berkicau lebih riang dari biasanya. Angin berhembus lebih segar. Bahkan matahari seolah bangun lebih awal, ingin menyaksikan apa yang akan terjadi hari ini.
Di halaman sekretariat KPAAB, sebuah mobil minibus berwarna putih sudah terparkir. Catnya sudah mulai pudar di beberapa bagian, namun mesinnya masih berbunyi halus—tanda bahwa mobil ini sudah terbiasa dengan perjalanan jauh.
Di samping mobil, seorang pria dengan topi lusuh dan senyum lebar berdiri sambil bersandar santai. Ia mengenakan kemeja kotak-kotak lengan pendek, celana jeans yang sudah usang, dan sandal jepit. Wajahnya coklat terbakar matahari, dengan kumis tipis di atas bibirnya.
"Itu pasti sopirnya," bisik Yulia.
"Kalau dari gayanya sih… lebih cocok jadi dukun keliling," sahut Guntur pelan.
"Eh, jangan sembarangan," tegur Nadia.
Pria itu mendekat sambil melambaikan tangan. "Pagi, anak-anak petualang! Saya Anto. Sopir sekaligus… pembaca tanda-tanda alam."
Semua saling pandang.
"Pembaca… apa, Pak?" tanya Jojon.
"Ah, nanti juga kalian tahu," jawab Anto misterius, lalu terkekeh.
Guntur langsung berbisik, "Nah kan, aku bilang juga…"
Joko maju dan menjabat tangan Anto. "Kami siap berangkat, Pak."
"Siap? Belum tentu," jawab Anto santai. "Perjalanan itu bukan soal siap atau tidak… tapi soal siapa yang paling banyak doa."
"Kalau begitu, kita aman," kata Anita sambil tersenyum. "Doa kita banyak."
"Bagus," ujar Anto. "Karena jalur yang kalian tuju… bukan jalur biasa."
Kalimat itu membuat suasana sedikit berubah.
Namun Jojon segera menyela, "Yang penting mobilnya biasa saja, Pak. Jangan sampai tiba-tiba terbang."
Tawa pun pecah, mencairkan ketegangan.
Perjalanan pun dimulai.
Mobil minibus melaju perlahan meninggalkan Desa Awan Biru. Di dalam, suasana riuh oleh canda dan tawa. Para anggota KPAAB duduk berdesakan—beberapa di kursi, beberapa di lantai mobil, dan satu di pangkuan yang lain.
"Eh, siapa yang bawa gitar?" tanya Bayu.
"Aku!" jawab Arga sambil mengangkat gitar dari belakang.
"Wah, siap-siap konser di tengah hutan," kata Guntur.
"Jangan konser horor saja," sahut Yulia.
Tak lama, suara petikan gitar mengalun. Lagu-lagu sederhana mengisi perjalanan, membuat waktu terasa lebih cepat. Mereka menyanyikan lagu-lagu lama—lagu yang tidak asing di telinga, namun selalu berhasil membuat suasana menjadi hangat.
"Naik-naik ke puncak gunung..." nyanyi Jojon dengan suara sumbang.
"Tinggi-tinggi sekali..." sambung yang lain.
"Eh, jangan nyanyi yang gitu! Nanti kita kena imajinasi!" protes Guntur.
"Imajinasi apa?"
"Imajinasi tentang gunung yang tinggi!"
"Emang gunungnya rendah?"
"Ya... relatif."
Mereka tertawa. Anto yang menyetir hanya tersenyum mendengar keributan di belakangnya. Ia sudah terbiasa dengan rombongan anak muda yang penuh semangat.
Di tengah perjalanan, Anto tiba-tiba berbicara.
"Kalian tahu tidak…?" katanya sambil tetap fokus menyetir.
"Apa, Pak?" tanya Hermansyah.
"Kadang… perjalanan yang paling menyenangkan… justru yang paling berbahaya."
Semua terdiam sejenak.
"Wah, mulai lagi," gumam Guntur.
"Serius ini," lanjut Anto. "Saya sudah sering antar pendaki. Banyak yang berangkat dengan tawa… tapi pulang dengan cerita yang berbeda."
"Cerita seperti apa?" tanya Camelia pelan.
Anto tersenyum tipis. "Cerita yang tidak semua orang mau dengar."
"Kalau cerita horor, nanti saja, Pak. Tunggu malam," sahut Jojon.
"Kenapa harus malam?" tanya Anto.
"Biar sekalian lengkap," jawab Jojon santai.
Tawa kembali pecah.
Namun di balik itu, beberapa dari mereka mulai merasakan sesuatu—bukan ketakutan, tapi semacam firasat yang sulit dijelaskan. Seperti ada yang mengawasi dari kejauhan. Seperti ada yang mendengarkan setiap kata mereka.
Perjalanan terus berlanjut. Jalanan mulai menanjak, pemandangan berubah menjadi perbukitan hijau yang memanjakan mata.
"Indah banget…" ujar Nadia kagum.
"Ini baru awal," kata Anto. "Semakin tinggi, semakin banyak yang tidak terlihat."
"Pak…" Guntur menoleh, "kalau terus begitu, nanti kita nggak berani turun dari mobil."
Anto tertawa. "Tenang saja. Kalian ini pemberani. Saya bisa lihat dari mata kalian."
"Wah, bisa baca mata juga, Pak?" tanya Yulia.
"Bisa. Tapi jangan takut kalau saya tahu isi hati kalian."
"Waduh, kalau tahu isi hati Guntur, bisa pusing, Pak," sahut Arga.
"Eh, hati saya bersih!" protes Guntur.
"Bersih karena kosong," balas Jojon cepat.
Tawa kembali menggema di dalam mobil. Bahkan Anto ikut tertawa.
"Kalian ini lucu-lucu," katanya. "Saya suka."
"Jadi gak jadi dukun, Pak?" tanya Jojon.
"Belum tentu. Saya masih bisa berubah kapan saja."
Mereka tertawa lagi.
Beberapa jam kemudian, mereka berhenti di sebuah warung kecil di pinggir jalan.
"Istirahat sebentar," kata Anto. "Saya mau isi bensin juga."
Mereka turun, meregangkan tubuh, dan menikmati udara segar. Warung itu sederhana—hanya terbuat dari kayu dan atap rumbia. Namun tempatnya bersih, dan pemiliknya ramah.
"Capek juga ya," kata Amat sambil duduk di kursi kayu.
"Belum apa-apa sudah capek," ejek Herman.
"Ini latihan," jawab Amat.
"Latihan apa? Latihan duduk?"
"Ya, latihan mengistirahatkan tubuh. Sama pentingnya dengan latihan fisik."
"Lo tuh bisa aja."
Mereka memesan minuman—es teh manis, es jeruk, dan beberapa gorengan. Suasana santai kembali tercipta.
Di sudut warung, Anto berbincang dengan pemilik warung, seorang pria tua dengan rambut putih dan wajah keriput. Mereka berbicara pelan, sesekali tertawa, sesekali menggeleng.
Camelia memperhatikan itu. "Kalian lihat?"
"Apa?" tanya Nadia.
"Orang itu… seperti tahu sesuatu."
"Ah, kamu mulai lagi," kata Guntur.
"Tapi serius," lanjut Camelia, "tatapannya beda."
"Mel, jangan bikin suasana jadi serem," pinta Yulia.
"Aku serius."
Joko mendekat. "Sudah, jangan dipikirkan dulu. Kita fokus perjalanan."
Namun sebelum mereka kembali ke mobil, pria tua itu mendekat.
"Kalian mau ke Merbabu?" tanyanya pelan.
"Iya, Pak," jawab Joko sopan.
"Lewat mana?"
"Desa Suralaya."
Pria itu terdiam sejenak, lalu mengangguk perlahan. "Hati-hati… jalur itu tidak semua orang bisa lewati."
"Kenapa, Pak?" tanya Hermansyah.
Pria itu tersenyum tipis. "Karena… yang tersesat bukan hanya langkah… tapi juga pikiran."
Semua terdiam.
"Bapak pernah lewat jalur itu?" tanya Camelia.
Pria itu menggeleng. "Saya tidak pernah berani. Tapi saya punya teman yang pernah."
"Terus?"
"Temanku itu… berubah setelah pulang. Tidak mau bicara. Tidak mau keluar rumah. Hanya diam dan menatap gunung."
"Apakah dia trauma?" tanya Anita.
"Bukan trauma," jawab pria itu. "Dia seperti… kehilangan sesuatu."
"Kehilangan apa?"
"Kata dia… kehilangan rasa takut."
Hening. Angin berhembus pelan, membuat daun-daun di sekitar warung bergesekan.
"Kenapa kehilangan rasa takut itu buruk?" tanya Guntur.
"Karena rasa takut adalah penjaga kita," jawab pria itu. "Tanpa rasa takut, kita bisa melakukan hal-hal bodoh."
"Terima kasih, Pak," kata Joko akhirnya. "Kami akan berhati-hati."
Pria itu mengangguk. "Semoga kalian tidak mengalami hal yang sama."
Mereka pun kembali ke mobil.
Perjalanan dilanjutkan.
Kali ini, suasana sedikit berbeda. Masih ada tawa, masih ada canda… tapi ada juga keheningan yang sesekali muncul. Seolah setiap orang mulai memikirkan sesuatu.
"Eh, kalau nanti kita tersesat gimana?" tanya Yulia tiba-tiba.
"Ya cari jalan pulang," jawab Guntur.
"Kalau nggak ketemu?"
"Ya… kita buat rumah di sana," jawab Guntur santai.
"Serius ini!" Yulia mulai kesal.
Joko menoleh. "Kita nggak akan tersesat. Kita punya peta, kompas, dan pengalaman."
"Dan…?" tanya Camelia.
Joko tersenyum tipis. "Dan kebersamaan."
Anita mengangguk. "Selama kita bersama… kita pasti bisa."
"Kebersamaan tidak menjamin keselamatan," kata Nadia realistis. "Tapi setidaknya kita tidak sendirian."
"Itu yang penting," kata Hermansyah.
Guntur menghela napas. "Gue jadi ingat kata-kata bijak nih."
"Apa?" tanya Jojon.
"Kalau kamu tersesat, jangan panik. Karena kepanikan hanya akan membuatmu semakin tersesat."
"Itu dari mana?" tanya Arga.
"Gue buat sendiri, barusan."
"Ya ampun."
Mereka tertawa, meskipun tidak sepenuhnya lepas.
Anto, yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara lagi.
"Kalian tahu, dulu saya pernah antar rombongan pendaki ke Merbabu juga."
"Lewat jalur Suralaya?" tanya Joko.
"Bukan. Lewat jalur biasa. Tapi... mereka cerita tentang jalur Suralaya."
"Cerita apa?" tanya Camelia.
"Mereka bilang, jalur itu punya 'penjaga'. Bukan penjaga dalam arti manusia, tapi... energi."
"Energi?" ulang Nadia skeptis.
"Iya. Energi yang hanya bisa dirasakan, tidak dilihat. Dan energi itu akan menguji siapa pun yang masuk."
"Ujiannya seperti apa?" tanya Hermansyah.
Anto menghela napas. "Tergantung orangnya. Ada yang diuji dengan ketakutan, ada yang diuji dengan kebingungan, ada juga yang diuji dengan... masa lalu."
"Masa lalu?" tanya Yulia.
"Iya. Kadang, jalur itu bisa memunculkan hal-hal yang sudah lama terkubur dalam pikiran."
Suasana menjadi hening. Sangat hening.
"Pak," kata Joko pelan, "Bapak percaya itu semua?"
Anto tersenyum. "Saya sopir. Saya hanya mengantar. Tapi saya juga mendengar cerita dari banyak orang. Dan satu hal yang saya pelajari... tidak semua cerita bisa dijelaskan."
"Tapi tidak semua cerita juga benar," kata Nadia.
"Benar," kata Anto. "Tapi tidak semua yang salah... juga salah."
"Wah, filosofis banget, Pak," kata Guntur.
Anto tertawa. "Sudah tua begini, pasti banyak filosofi."
Menjelang sore, mereka akhirnya mulai memasuki wilayah Desa Suralaya.
Desa itu tampak tenang, dengan latar Gunung Merbabu yang menjulang megah di kejauhan. Rumah-rumah warga terbuat dari kayu dan bambu, dengan halaman yang ditumbuhi berbagai macam tanaman.
"Wow..." gumam Bayu.
"Itu dia," kata Anto. "Tujuan kalian."
Semua terdiam, menatap gunung itu dengan perasaan yang campur aduk—kagum, penasaran, dan sedikit gentar.
"Perjalanan baru saja dimulai," ujar Joko pelan.
Dan di dalam hati masing-masing, mereka tahu…
Bahwa perjalanan ini bukan sekadar petualangan. Melainkan awal dari sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang akan menguji mereka. Bukan hanya sebagai pendaki… tetapi sebagai manusia.
Mobil berhenti di depan sebuah balai desa sederhana. Seorang pria paruh baya dengan pakaian rapi menyambut mereka.
"Selamat datang di Desa Suralaya," ucapnya dengan senyum ramah.
"Terima kasih, Pak," kata Joko sambil turun.
"Saya Raditya, Kepala Desa di sini."
"Kami dari Desa Awan Biru, Pak. Kami sudah mengirim surat pemberitahuan sebelumnya."
"Ah, iya, iya. Saya sudah dengar dari Pak Iwan."
Raditya menatap mereka satu per satu. Matanya berhenti beberapa saat di Camelia, lalu di Guntur.
"Kalian terlihat lelah," katanya. "Silakan beristirahat dulu. Besok pagi kita bicara lebih lanjut."
"Terima kasih banyak, Pak."
Mereka dibawa ke sebuah rumah singgah yang telah disiapkan. Bangunan kayu itu sederhana, namun cukup nyaman untuk beristirahat.
"Wah, enak juga tempatnya," kata Jojon sambil merebahkan diri di lantai kayu.
"Jangan manja, Jon," kata Yulia.
"Ini bukan manja, ini... adaptasi."
"Adaptasi apa?"
"Adaptasi dengan lingkungan baru."
Mereka tertawa.
Malam mulai turun di Desa Suralaya.
Udara terasa lebih dingin dari di Awan Biru. Angin berhembus lebih kencang, membawa aroma pepohonan dan tanah basah.
Mereka berkumpul di ruang utama rumah singgah. Lampu minyak tanah menyala redup, menciptakan bayangan yang bergerak-gerak di dinding kayu.
"Besok kita akan bicara dengan Pak Raditya," kata Joko. "Kita harus mendapatkan informasi sebanyak mungkin."
"Dan kita juga harus minta izin," tambah Hermansyah.
"Setuju," kata Nadia. "Kita tidak bisa sembarangan masuk."
"Apakah kalian merasakan sesuatu?" tiba-tiba Camelia bertanya.
"Apa?" tanya Yulia.
"Suasana desa ini... berbeda."
"Berbeda bagaimana?"
Camelia terdiam sejenak. "Seperti... menyembunyikan sesuatu."
"Mel, jangan mulai lagi," keluh Guntur.
"Aku serius. Rasanya seperti ada yang mengawasi kita."
"Ya, warga desa mengawasi kita. Wajar, kita orang asing."
"Bukan itu," kata Camelia tegas. "Ini berbeda."
Suasana menjadi tegang.
Joko berdiri. "Kita tidak akan tahu sebelum kita mencari tahu. Besok kita akan bicara dengan Pak Raditya. Mungkin dia bisa menjelaskan."
"Atau mungkin dia justru menyembunyikan sesuatu," kata Camelia.
"Mungkin," kata Joko. "Tapi kita tidak akan tahu sampai kita bertanya."
Mereka terdiam.
Di luar, angin malam berhembus lebih kencang.
Dan di kejauhan, Gunung Merbabu berdiri gelap—menyaksikan, menunggu, dan mungkin... tersenyum.
Malam itu, tidak semua bisa tidur nyenyak.
Joko berbaring di lantai kayu, memandang langit-langit yang gelap. Pikirannya terlalu sibuk. Bayangan tentang pria tua di warung, tentang cerita Anto, tentang firasat Camelia—semua berputar di kepalanya.
Ia tidak tahu apakah ia takut atau justru bersemangat. Mungkin keduanya.
"Jo... lo tidur?" bisik Hermansyah dari samping.
"Belum."
"Gue juga."
Mereka berdua terdiam beberapa saat.
"Lo percaya dengan cerita-cerita itu?" tanya Hermansyah akhirnya.
"Aku tidak tahu harus percaya atau tidak," jawab Joko jujur. "Tapi aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja."
"Kenapa?"
"Karena... kadang yang tidak bisa dijelaskan itu justru yang paling nyata."
Hermansyah menghela napas. "Lo mulai kayak Mel."
"Mungkin Mel benar."
"Atau mungkin kita semua terlalu banyak berpikir."
"Atau mungkin... tidak cukup."
Mereka berdua terdiam lagi.
Di luar, burung hantu berbunyi. Suaranya sayu, seperti sedang menceritakan sesuatu yang tidak bisa dipahami manusia.
Fajar mulai menyingsing.
Cahaya matahari perlahan masuk melalui celah-celah dinding kayu. Ayam berkokok bersahutan. Suara aktivitas warga mulai terdengar—langkah kaki, suara kayu dipotong, dan percakapan pelan.
Joko sudah bangun sejak subuh. Ia duduk di teras rumah singgah, menyeruput kopi hitam yang dibuatkan oleh pemilik rumah.
Pemandangan di depan matanya sungguh indah.
Sawah terasering menghampar di lereng bukit. Di kejauhan, Gunung Merbabu berdiri megah, diselimuti kabut tipis yang mulai tersibak oleh sinar matahari.
"Ini akan menjadi perjalanan yang tak terlupakan," bisiknya pada diri sendiri.
Ia tidak tahu apakah perjalanan itu akan berakhir bahagia atau justru sebaliknya. Tapi satu hal yang ia tahu—ia tidak akan menyesal telah mencoba.
Karena pada akhirnya, penyesalan terbesar bukanlah kegagalan.
Tapi tidak pernah mencoba sama sekali.
BAB 4
Desa Suralaya dan Pertanda Aneh
Langit sore di Desa Suralaya berwarna jingga keemasan ketika mobil minibus yang ditumpangi rombongan KPAAB perlahan memasuki gerbang desa. Jalan tanah yang membelah perkampungan tampak lengang, hanya sesekali terlihat warga yang menghentikan aktivitasnya untuk memperhatikan kedatangan mereka.
Gunung Merbabu berdiri gagah di kejauhan, seolah mengawasi setiap langkah yang memasuki wilayahnya.
"Ini desa yang akan jadi titik awal kita…" gumam Joko pelan.
"Sekaligus mungkin titik balik," sahut Hermansyah.
"Jangan mulai lagi, Man," kata Guntur sambil turun dari mobil. "Baru sampai, sudah bicara balik."
Namun entah mengapa, suasana di desa itu terasa berbeda. Tenang… tapi bukan sekadar tenang. Ada kesan hening yang terlalu dalam, seperti menyimpan sesuatu yang tidak terucap.
Seorang pria paruh baya dengan pakaian sederhana berjalan mendekat. Wajahnya ramah, namun sorot matanya tajam—seperti bisa menembus kulit hingga ke dalam pikiran.
"Selamat datang di Desa Suralaya," ucapnya.
Joko segera maju. "Terima kasih, Pak. Kami dari Desa Awan Biru."
Pria itu tersenyum. "Saya Raditya. Kepala Desa di sini."
Semua anggota KPAAB langsung memberi salam hormat. Raditya membalas dengan anggukan ramah.
"Kami sudah mendapat kabar dari Pak Iwan," lanjut Raditya. "Kalian akan mendaki melalui jalur alternatif."
"Iya, Pak," jawab Joko mantap.
Raditya mengangguk pelan, lalu menatap Gunung Merbabu sejenak. "Jalur itu… belum banyak yang berani coba."
"Belum banyak atau belum ada, Pak?" tanya Guntur.
Raditya tersenyum tipis. "Ada yang mencoba. Tapi tidak semua… kembali dengan cerita yang jelas."
Suasana seketika berubah hening.
"Wah, kalau begitu kita harus jadi yang pertama bawa cerita lengkap," sahut Jojon mencoba mencairkan suasana.
Raditya tertawa kecil. "Semoga begitu."
Mereka kemudian diajak menuju sebuah rumah singgah yang telah disiapkan. Bangunan kayu itu sederhana, namun cukup nyaman untuk beristirahat. Ada tiga kamar tidur, satu ruang tamu, dan dapur kecil di belakang.
"Silakan gunakan tempat ini untuk bermalam," kata Raditya. "Besok pagi kita akan lakukan pembekalan jalur."
"Terima kasih banyak, Pak," ujar Anita tulus.
"Tidak perlu sungkan. Kalian tamu di sini."
Setelah beristirahat sejenak dan membersihkan diri, mereka berkumpul kembali di balai desa. Malam mulai turun, dan lampu-lampu mulai dinyalakan. Suasana menjadi lebih serius.
Di depan mereka, Raditya membentangkan peta sederhana—peta yang digambar tangan di atas kertas besar, dengan detail yang cukup lengkap.
"Jalur ini memiliki sepuluh basecamp," jelasnya. "Setiap titik punya karakteristik berbeda."
"Sepuluh?" ulang Amat.
"Iya," jawab Raditya. "Dan semakin ke atas, semakin sulit… bukan hanya secara fisik."
Hermansyah mengangguk. "Kami siap, Pak."
Raditya menatap mereka satu per satu. "Basecamp pertama hingga ketiga relatif aman. Tapi setelah itu… kalian harus lebih berhati-hati."
"Kenapa?" tanya Nadia.
Raditya menarik napas pelan. "Di Basecamp Empat… sering terjadi gangguan."
"Gangguan seperti apa?" tanya Camelia, suaranya lebih pelan.
Raditya terdiam sejenak, seolah memilih kata-kata. "Gangguan yang tidak bisa dijelaskan dengan logika."
Guntur mengangkat alis. "Maksudnya…?"
"Suara tanpa sumber," kata Raditya perlahan. "Bayangan tanpa bentuk. Dan… perasaan seperti diawasi."
Beberapa anggota saling pandang. Yulia menggigit bibirnya. Bayu terlihat pucat.
"Pak, kalau begitu kenapa jalur itu tetap dibuka?" tanya Joko.
"Karena alam tidak pernah menutup diri," jawab Raditya. "Manusia yang harus belajar memahami."
"Dan Basecamp sepuluh?" tanya Hermansyah.
Wajah Raditya berubah sedikit lebih serius. Bahkan udara di ruangan itu seolah ikut menurun suhanya.
"Itu yang paling berbahaya."
Semua langsung fokus. Bahkan Guntur yang biasanya tidak serius, kali ini duduk tegak.
"Di sana… kalian bisa tersesat. Bukan karena jalurnya hilang… tapi karena arah seolah berputar."
"Berputar?" ulang Yulia.
"Kalian akan merasa berjalan maju… tapi kembali ke titik yang sama," jelas Raditya.
"Seperti… lingkaran?" tanya Bayu.
"Ya. Dan banyak yang tidak sadar… sampai terlambat."
Suasana menjadi semakin tegang. Joko bisa merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.
"Lalu solusinya, Pak?" tanyanya.
Raditya menggeleng pelan. "Saya belum punya jawaban pasti."
"Serius?" Guntur tampak kaget.
"Namun…" lanjut Raditya, "ada satu petunjuk dari sesepuh desa."
Semua menatapnya penuh harap.
"Katanya… kunci untuk keluar dari jalur itu bukan hanya peta… tapi pemahaman."
"Pemahaman tentang apa?" tanya Camelia.
Raditya menatap mereka dalam-dalam. "Tentang alam. Tentang tanda-tanda. Dan… tentang diri kalian sendiri."
Hening.
Angin malam berhembus pelan, membuat daun-daun di luar bergesekan, menimbulkan suara yang samar namun terasa dekat.
Setelah pembekalan selesai, mereka kembali ke rumah singgah.
Namun suasana tidak lagi sama seperti sebelumnya. Wajah-wajah yang semula penuh semangat, kini dipenuhi oleh kegelisahan. Bahkan Guntur yang biasanya paling banyak bercanda, kali ini diam seribu bahasa.
"Menurut kalian… itu serius atau cuma cerita?" tanya Guntur sambil merebahkan diri di lantai kayu.
"Menurutku serius," jawab Nadia.
"Ah, aku tetap percaya sama logika," kata Guntur. "Kalau tersesat, berarti salah navigasi. Selesai."
"Tidak semua hal bisa dijelaskan seperti itu," sahut Camelia.
"Contohnya?" tantang Guntur.
Camelia terdiam sejenak. "Perasaan."
"Perasaan itu subjektif," balas Guntur cepat.
"Dan kadang… justru itu yang paling nyata," kata Camelia pelan.
Perdebatan mulai terasa. Suasana yang semula dingin, kini mulai memanas.
"Sudah," potong Joko. "Kita tidak perlu sepakat soal itu sekarang. Yang penting kita saling jaga."
Hermansyah mengangguk. "Yang jelas… kita harus ekstra hati-hati."
"Dan jangan sampai panik," tambah Anita.
"Kalau panik, ingat saja wajah Guntur," kata Jojon. "Pasti langsung lupa takut."
"Eh!" Guntur bangkit. "Wajahku ini menenangkan!"
"Menakutkan, maksudnya," sahut Arga.
Tawa kembali pecah, meskipun tidak sekeras sebelumnya. Namun setidaknya, ketegangan sedikit mereda.
Malam semakin larut.
Satu per satu mulai terlelap. Namun tidak semua bisa tidur nyenyak. Camelia masih terjaga, duduk di dekat jendela sambil memandang ke arah gunung.
Bulan bersinar terang, menerangi puncak Merbabu yang tampak seperti mahkota perak di kejauhan.
"Mel, belum tidur?" suara Anita dari balik selimut.
"Belum."
"Aku juga susah tidur."
Camelia menoleh. "Kamu juga merasakan?"
"Merasa apa?"
"Seperti… ada yang memperhatikan."
Anita terdiam. Kemudian ia bangkit dan duduk di samping Camelia.
"Jujur, aku juga," kata Anita pelan. "Sejak kita masuk desa ini, rasanya seperti... ada mata di mana-mana."
"Bukan mata warga," kata Camelia. "Tapi mata yang lain."
"Mata gunung?"
Camelia menghela napas. "Aku tidak tahu. Tapi aku yakin... ada sesuatu di gunung itu."
Mereka berdua terdiam, menatap ke arah gunung yang berdiri gagah dalam gelap.
Di luar, angin berhembus lebih dingin. Dan dari kejauhan, terdengar suara seperti bisikan—terlalu samar untuk dipahami, namun terlalu jelas untuk diabaikan.
Keesokan paginya, sebelum memulai pembekalan lebih lanjut, Raditya mengajak mereka bertemu dengan sesepuh desa.
"Ada seseorang yang ingin kalian temui," katanya.
Mereka berjalan menyusuri jalan desa yang masih basah oleh embun. Rumah-rumah kayu berjajar di kiri kanan, dengan asap dapur yang mulai mengepul.
Akhirnya mereka sampai di sebuah rumah tua yang terbuat dari kayu jati. Rumah itu tampak sederhana, namun terawat dengan baik. Di halaman, seorang pria tua duduk di kursi bambu, memandang ke arah gunung.
"Selamat pagi, Mbah," sapa Raditya hormat.
Orang tua itu menoleh. Wajahnya dipenuhi keriput, namun matanya masih jernih—seperti masih muda.
"Ah, Raditya," katanya dengan suara serak. "Ada tamu?"
"Ini, Mbah. Mereka dari Desa Awan Biru. Ingin mendaki lewat jalur Suralaya."
Mata orang tua itu menyipit. Ia menatap satu per satu anggota KPAAB.
"Kalian mau ke gunung?" tanyanya.
"Iya, Mbah," jawab Joko.
"Lewat jalur yang mana?"
"Jalur Suralaya, Mbah."
Orang tua itu terdiam sejenak. Kemudian ia tertawa kecil—tawa yang terdengar aneh, seperti campuran antara kegembiraan dan kesedihan.
"Kalian pemberani," katanya. "Atau bodoh. Saya belum tahu."
"Mbah," kata Hermansyah, "kami sudah mempersiapkan semuanya dengan matang."
"Persiapan?" ulang orang tua itu. "Persiapan tidak cukup untuk jalur itu."
"Lalu apa yang cukup, Mbah?" tanya Camelia.
Orang tua itu menatap Camelia lama. Matanya berbinar.
"Kamu peka," katanya. "Itu bagus."
Ia kemudian berdiri—perlahan, dengan bantuan tongkat kayu.
"Ikuti saya."
Mbah Jayasuprapta—demikian nama orang tua itu—membawa mereka ke belakang rumahnya. Di sana, terdapat sebuah bangunan kecil yang digunakan sebagai tempat sembahyang.
"Duduklah," katanya.
Mereka duduk di lantai kayu, membentuk lingkaran. Mbah Jayasuprapta duduk di tengah, dengan sebuah kotak kayu di pangkuannya.
"Jalur Suralaya," mulainya, "bukan jalur biasa. Dulu, jalur itu digunakan oleh para leluhur untuk bersemedi."
"Bersemedi?" tanya Guntur.
"Iya. Mereka naik ke gunung untuk mencari ketenangan, untuk memurnikan diri, dan untuk... berkomunikasi."
"Berkomunikasi dengan siapa, Mbah?" tanya Nadia.
"Dengan alam. Dengan leluhur. Dengan... hal-hal yang tidak terlihat."
Hening.
"Jalur itu punya kesadaran," lanjut Mbah Jayasuprapta. "Dia bisa merasakan siapa yang masuk. Dia bisa membedakan... siapa yang tulus dan siapa yang hanya ingin sensasi."
"Jadi, Mbah, kalau kita masuk dengan niat tulus... kita akan selamat?" tanya Anita.
Mbah Jayasuprapta menggeleng. "Belum tentu. Karena jalur itu juga menguji. Ia akan memberikan apa yang kamu butuhkan, bukan apa yang kamu inginkan."
"Artinya?" tanya Joko.
"Artinya, jika kamu butuh ketakutan untuk belajar... kamu akan diberi ketakutan. Jika kamu butuh kebingungan untuk introspeksi... kamu akan diberi kebingungan."
"Jadi... jalur itu seperti cermin?" tanya Camelia.
Mbah Jayasuprapta tersenyum. "Tepat. Jalur itu adalah cermin. Ia akan memantulkan kembali siapa dirimu sebenarnya."
Mbah Jayasuprapta kemudian membuka kotak kayu di pangkuannya. Di dalamnya, terdapat sebuah peta kuno—terbuat dari kain, dengan tinta yang sudah pudar.
"Ini peta jalur Suralaya," katanya. "Diberikan oleh leluhur saya kepada saya, dan sekarang akan saya berikan kepada kalian."
"Untuk kami, Mbah?" tanya Joko terkejut.
"Iya. Karena kalian membutuhkannya."
Ia menyerahkan peta itu kepada Joko.
"Tapi ingat," katanya, "peta ini hanya alat. Yang terpenting adalah hati kalian. Jika hati kalian bersih, kalian akan menemukan jalan. Jika hati kalian kotor... kalian akan tersesat."
"Bagaimana cara membersihkan hati, Mbah?" tanya Anita.
"Bukan dengan ritual. Bukan dengan doa-doa panjang. Tapi dengan niat. Jika niat kalian tulus—bukan untuk pamer, bukan untuk sensasi, tapi untuk belajar—maka hati kalian akan bersih."
Semua terdiam, merenungkan kata-kata Mbah Jayasuprapta.
"Dan satu lagi," lanjutnya. "Jangan pernah saling meninggalkan. Di jalur itu, kebersamaan adalah kunci. Jika kalian terpisah... kalian akan hilang."
"Terima kasih, Mbah," kata Joko.
Mbah Jayasuprapta mengangguk. "Semoga kalian selamat. Dan semoga kalian... menemukan apa yang kalian cari."
Mereka kembali ke rumah singgah dengan perasaan yang berbeda.
Bukan hanya lega, tapi juga sedikit terbebani. Kata-kata Mbah Jayasuprapta masih terngiang di telinga mereka.
"Jadi... kita harus benar-benar jaga kebersamaan," kata Yulia.
"Itu sudah pasti," jawab Hermansyah.
"Dan kita juga harus jaga niat," tambah Anita.
"Niat kita sudah jelas, kan?" tanya Arga.
"Belum tentu," kata Camelia pelan. "Kadang, kita tidak sadar bahwa niat kita tidak sebersih yang kita kira."
"Apa maksudmu?" tanya Guntur.
Camelia menghela napas. "Kita bilang kita ingin mendaki untuk belajar. Tapi apakah ada bagian dari diri kita yang hanya ingin sensasi? Atau ingin pamer? Atau ingin membuktikan sesuatu?"
Semua terdiam.
"Kita harus introspeksi," kata Joko akhirnya. "Masing-masing."
"Setuju," kata Hermansyah.
Mereka pun duduk melingkar, masing-masing merenung.
"Gue mulai," kata Joko. "Gue ingin mendaki karena gue ingin membuktikan bahwa KPAAB bisa melakukan hal-hal besar. Tapi mungkin... ada juga ego di dalamnya. Gue ingin diakui."
"Itu wajar," kata Nadia.
"Wajar, tapi tidak sepenuhnya tulus," kata Camelia.
"Gue," kata Guntur, "gue ikut karena gue tidak mau ditinggal. Tapi jujur... gue juga penasaran. Gue ingin tahu apakah cerita-cerita itu benar."
"Gue ikut karena gue ingin belajar navigasi di medan yang sulit," kata Nadia. "Tapi mungkin... gue juga ingin membuktikan bahwa logika lebih kuat dari takhayul."
"Gue ikut karena teman-teman pada ikut," kata Amat polos.
Semua tersenyum.
"Gue ikut karena gue ingin melindungi kalian," kata Hermansyah. "Tapi mungkin... gue juga takut kehilangan kontrol."
"Gue ikut karena gue ingin merasakan petualangan sejati," kata Yulia. "Tapi mungkin... gue juga ingin lari dari masalah di rumah."
Anita memeluk Yulia. "Gue ikut karena gue ingin dekat dengan alam. Tapi mungkin... gue juga mencari ketenangan."
Camelia menjadi yang terakhir.
"Gue ikut karena gue mendengar panggilan," katanya. "Seperti ada suara yang memanggil gue ke gunung itu. Dan gue tidak tahu apakah itu panggilan yang baik atau buruk."
Hening.
"Yang penting," kata Joko, "kita sadar akan niat kita. Dan kita berusaha untuk meluruskan."
"Setuju," kata yang lain.
Malam itu, mereka tidur dengan perasaan yang lebih ringan. Seperti ada beban yang terangkat.
Namun di tengah malam, Camelia terbangun.
Ia mendengar suara—bukan suara biasa, tapi suara yang familiar. Suara yang pernah ia dengar dalam mimpinya.
"Ke sini..." bisik suara itu.
Camelia duduk tegak. Ia melihat sekeliling. Semua masih tidur.
Ia berjalan ke jendela. Di luar, bulan purnama bersinar terang. Gunung Merbabu tampak jelas, seperti sedang memanggil.
"Ke sini..." bisik suara itu lagi.
Camelia menggigit bibirnya. Ia ingin pergi, tapi ia tahu itu bukan ide yang baik.
Ia kembali ke tempat tidurnya, memejamkan mata, dan berusaha tidur.
Tapi suara itu terus bergema di kepalanya.
"Ke sini... ke sini..."
Pagi harinya, mereka memulai persiapan terakhir.
Peralatan diperiksa ulang. Logistik dibagi. Peta dipelajari.
"Kita akan mulai pendakian besok pagi," kata Joko. "Jadi hari ini, kita istirahat total."
"Setuju," kata Hermansyah. "Kita butuh energi."
"Tapi jangan terlalu banyak makan," tambah Nadia. "Nanti malah mual."
"Gue rencananya mau makan sepuluh porsi," kata Guntur.
"Lo mau muntah di tengah jalan?" tanya Yulia.
"Biar jadi pupuk."
"Jorok lo!"
Mereka tertawa.
Raditya datang dengan senyum ramah. "Bagaimana persiapannya?"
"Lumayan, Pak," jawab Joko. "Kami akan mulai besok."
"Baik. Saya akan mengantar kalian sampai titik Puncak."
"Terima kasih banyak, Pak."
Raditya menatap mereka satu per satu. "Ingat pesan Mbah Jayasuprapta. Jaga kebersamaan. Jaga niat."
"Kami ingat, Pak."
"Dan satu lagi..." Raditya mendekat, menurunkan suaranya. "Jika kalian merasa ada yang tidak beres... jangan dipaksakan. Lebih baik turun dan mencoba lagi lain waktu."
"Baik, Pak."
Raditya mengangguk, lalu pergi.
Sore harinya, mereka duduk di teras rumah singgah.
Pemandangan gunung terlihat jelas. Kabut tipis mulai turun, menciptakan suasana yang magis.
"Besok kita akan di sana," kata Joko sambil menunjuk ke arah puncak.
"Rasanya tidak nyata," kata Anita.
"Memang tidak nyata," kata Guntur. "Sampai kita benar-benar menjejakkan kaki di sana."
"Lo filosofis banget hari ini, Tur," kata Jojon.
"Persiapan mental, Jon. Persiapan mental."
Mereka tertawa.
Namun di balik tawa itu, ada kegelisahan yang tidak terucap.
Apa yang akan mereka hadapi besok?
Apakah mereka siap?
Apakah mereka akan kembali?
Tidak ada yang tahu.
Malam harinya, sebelum tidur, mereka berdoa bersama.
Anita memimpin doa. Suaranya lembut, menenangkan.
"Ya Allah... lindungi kami dalam perjalanan ini. Beri kami kekuatan, keberanian, dan kebijaksanaan. Jaga kami dari bahaya. Dan kembalikan kami dengan selamat. Aamiin."
"Aamiin," jawab yang lain.
Mereka kemudian tidur.
Tapi tidur malam itu tidak nyenyak.
Mimpi-mimpi aneh menghantui beberapa dari mereka.
Camelia bermimpi lagi—mimpi yang sama. Berada di tengah kabut, dikelilingi suara-suara yang tidak dikenal.
Joko bermimpi tentang masa lalunya—tentang ayahnya yang meninggal ketika ia masih kecil.
Guntur bermimpi tentang jatuh—jatuh dari tebing yang sangat tinggi.
Namun ketika mereka bangun, tidak ada yang menceritakan mimpi mereka.
Mereka hanya diam, bersiap untuk hari yang akan mengubah hidup mereka.
BAB 5
Langkah Awal Menuju Ketidakpastian
Fajar di Desa Suralaya datang dengan perlahan, menyibak kabut yang menggantung di lereng-lereng gunung. Udara terasa lebih dingin dibandingkan pagi di Desa Awan Biru, seolah memberi isyarat bahwa perjalanan hari ini bukanlah perjalanan biasa.
Ayam-ayam mulai berkokok, bersahutan dari satu kandang ke kandang lain. Asap dapur mengepul dari rumah-rumah warga yang mulai memasak sarapan. Namun di rumah singgah, suasana berbeda.
Di halaman rumah singgah, anggota KPAAB sudah bersiap. Ransel besar tergeletak rapi di lantai kayu, tali sepatu dikencangkan satu per satu, dan wajah-wajah yang semalam diliputi kegelisahan kini berubah menjadi tekad.
"Semua sudah siap?" tanya Joko sambil memeriksa daftar perlengkapan untuk yang kesekian kalinya.
"Siap!" jawab mereka serempak, meski beberapa suara terdengar masih mengantuk.
"Yang belum siap, silakan pulang," celetuk Guntur.
"Yang belum siap itu kamu," balas Yulia cepat.
"Gue sudah siap dari lahir!"
"Sayangnya yang lahir cuma mulut lo."
Tawa kecil terdengar, menghangatkan suasana pagi yang dingin.
Tak lama, Kepala Desa Suralaya, Raditya, datang menghampiri mereka. Ia membawa sebuah tongkat kayu dan tas kecil di pundaknya. Pakaiannya sederhana—kemeja lengan panjang, celana gunung, dan sepatu boot yang sudah usang.
"Saya akan mengantar sampai titik jalur puncak," katanya.
"Terima kasih, Pak," ujar Joko.
Raditya mengangguk, lalu memandang mereka dengan serius. "Ingat, jalur ini bukan hanya soal arah. Kalian harus peka."
"Peka terhadap apa, Pak?" tanya Amat.
Raditya tersenyum tipis. "Terhadap perubahan… sekecil apa pun."
Guntur berbisik pelan ke Hermansyah, "Kalau perubahan cuaca sih masih masuk akal…"
Hermansyah hanya menggeleng kecil. "Dengar saja dulu."
Sebelum berangkat, Raditya mengajak mereka berdoa bersama di balai desa.
"Sebentar," katanya. "Ada satu ritual kecil yang biasa kami lakukan sebelum mendaki."
"Ritual apa, Pak?" tanya Anita.
"Doa. Bukan doa untuk meminta sesuatu, tapi doa untuk memohon izin."
"Minta izin kepada siapa, Pak?" tanya Nadia skeptis.
"Kepada gunung. Kepada alam. Kepada leluhur yang menjaga tempat ini."
Nadia ingin membantah, tapi Joko menahan.
"Baik, Pak," kata Joko. "Kami ikut."
Mereka duduk melingkar di halaman balai desa. Raditya memimpin doa dengan bahasa Jawa kuno—kata-kata yang tidak semua bisa dipahami, namun terdengar khidmat.
Anita memejamkan mata, tangannya menggenggam erat. Camelia mengikuti dengan serius, seolah mengerti setiap kata. Guntur terlihat canggung, tapi berusaha menghormati.
Setelah doa selesai, Raditya berdiri.
"Sekarang, kalian siap."
"Terima kasih, Pak," kata Joko.
Perjalanan pun dimulai.
Langkah pertama mereka menapaki jalur tanah yang masih lembap oleh embun. Pepohonan tinggi menjulang di kiri dan kanan, membentuk lorong alami yang seolah menyambut… sekaligus menguji.
Di awal perjalanan, suasana masih ringan. Canda dan tawa masih terdengar. Guntur bercerita tentang pengalaman lucunya waktu tersesat di pasar.
"Lo tersesat di pasar?" tanya Jojon tidak percaya.
"Iya, gue ketinggalan rombongan waktu beli jajan."
"Terus?"
"Gue muter-muter tiga jam. Ternyata pasar cuma satu hektar."
"Ya ampun."
Mereka tertawa. Raditya yang berjalan di depan hanya tersenyum.
"Indah banget," ujar Nadia sambil mengamati sekitar. Pepohonan hijau, lumut yang menempel di batang, dan suara burung yang berkicau merdu.
"Ini baru pemanasan," kata Raditya.
Basecamp pertama mereka capai tanpa kesulitan berarti. Suasana masih ringan, bahkan canda tawa masih terdengar.
"Kalau begini sih, kita bisa sampai puncak sambil nyanyi," kata Jojon.
"Jangan sombong dulu," sahut Anita.
"Bukan sombong, Nit. Ini optimisme."
"Optimisme yang buta namanya nekat."
Perjalanan berlanjut ke basecamp kedua dan ketiga. Jalur mulai menanjak, napas mulai terasa berat, namun semangat masih terjaga.
"Minum dulu," kata Joko.
Mereka berhenti sejenak. Suara hutan terdengar jelas—burung, angin, dan gesekan daun.
Namun di sela-sela itu, Camelia tiba-tiba diam.
"Kalian dengar?" tanyanya pelan.
"Dengar apa?" tanya Yulia.
"Seperti… ada suara langkah."
Semua terdiam.
Guntur mendengarkan sejenak, lalu menghela napas. "Itu suara kita sendiri, Mel."
Camelia menggeleng. "Bukan."
Raditya yang sejak tadi diam, akhirnya berbicara. "Kita lanjut saja."
Nada suaranya tenang, tapi tegas.
Memasuki jalur menuju basecamp empat, suasana mulai berubah.
Cahaya matahari terasa lebih redup, meskipun waktu masih siang. Pepohonan semakin rapat, dan udara terasa lebih dingin. Bukan dingin biasa, tapi dingin yang menusuk hingga ke tulang.
"Kenapa tiba-tiba jadi begini?" gumam Arga.
"Karena kita mulai masuk wilayah yang berbeda," jawab Raditya singkat.
"Berbeda bagaimana, Pak?" tanya Hermansyah.
Raditya tidak langsung menjawab. Ia hanya melangkah lebih pelan, seolah memberi kesempatan mereka untuk merasakan sendiri.
Dan memang… sesuatu terasa berbeda.
Angin yang tadinya sepoi-sepoi kini terasa lebih berat—seperti ada beban yang tidak terlihat. Suara hutan menjadi lebih samar, seperti tertelan oleh keheningan. Bahkan langkah kaki mereka terdengar aneh, seperti dipantulkan kembali oleh pepohonan.
"Ko…" bisik Anita, "aku jadi nggak enak."
Joko menoleh. "Tetap di dekatku."
Guntur mencoba tersenyum. "Santai saja. Ini cuma sugesti."
"Kalau sugesti, kenapa aku juga merasakan?" tanya Nadia—orang yang paling tidak percaya hal-hal mistis.
Guntur terdiam sejenak. "Ya… berarti sugestinya menular."
"Ini bukan lucu, Tur," kata Hermansyah tegas.
"Gue tahu. Tapi kalau kita panik, kita gak akan bisa berpikir jernih."
Dia benar. Panik hanya akan memperburuk keadaan.
Mereka akhirnya tiba di sebuah area yang agak terbuka.
Raditya berhenti.
"Inilah… basecamp empat."
Semua langsung memperhatikan sekitar.
Tidak ada yang tampak aneh secara kasat mata. Hanya tanah datar, beberapa batu besar yang ditumbuhi lumut, dan pepohonan yang mengelilingi seperti dinding alami.
Namun suasananya…
terlalu sunyi.
Tidak ada suara burung. Tidak ada suara serangga. Bahkan angin seolah berhenti.
"Ini tempatnya?" tanya Jojon.
Raditya mengangguk. "Ya."
"Kelihatannya biasa saja," kata Guntur, berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
"Tunggu sebentar," jawab Raditya pelan.
Mereka pun beristirahat sejenak. Beberapa duduk di atas batu, sebagian membuka botol minum untuk menghilangkan dahaga.
Namun tiba-tiba—
KRESEK…
Suara itu terdengar jelas.
Semua langsung menoleh ke arah yang sama.
"Siapa itu?" tanya Yulia dengan suara bergetar.
Tidak ada jawaban.
"Paling binatang," kata Guntur, meski suaranya sedikit berubah—tidak seremeh biasanya.
"Binatang apa yang langkahnya seperti itu?" tanya Camelia.
KRESEK… KRESEK…
Suara itu terdengar lagi. Kali ini… seperti lebih dekat.
Anita meraih tangan Nadia. "Aku takut…"
Joko berdiri. "Semua tetap tenang."
Hermansyah mengamati sekitar. "Arah suara berubah."
"Berubah bagaimana?" tanya Arga.
"Tadi di kiri… sekarang di kanan," jawabnya.
Guntur menelan ludah. "Oke… ini mulai tidak lucu."
Raditya tetap berdiri tenang. Ia memejamkan mata sejenak, lalu berkata pelan, "Jangan panik. Jangan terpancing."
"Terpancing apa, Pak?" tanya Jojon.
"Perasaan kalian sendiri," jawab Raditya.
Suasana semakin tegang.
Tiba-tiba, angin berhembus lebih kencang. Daun-daun berguguran seperti hujan. Dan di antara pepohonan yang bergoyang… seolah ada bayangan yang bergerak cepat.
"Lihat itu!" teriak Bayu.
Semua menoleh—namun tidak ada apa-apa. Hanya pepohonan dan kabut tipis yang mulai turun.
"Di sana tadi!" Bayu menunjuk ke arah barat.
"Tidak ada," kata Guntur cepat.
"Aku lihat!" balas Bayu, suaranya meninggi.
Perdebatan mulai muncul.
"Ini cuma halusinasi," kata Guntur.
"Tidak!" sahut Camelia. "Ini nyata!"
"Kalau nyata, mana buktinya?"
"Tidak semua harus ada bukti untuk dipercaya!"
"Dan tidak semua yang dirasakan itu benar!"
Suara mereka mulai meninggi. Emosi mulai memuncak. Beberapa anggota lain hanya bisa terdiam, bingung harus berpihak ke mana.
"CUKUP!"
Joko berteriak.
Semua terdiam. Hening. Sangat hening.
"Kita tidak akan bertengkar di sini," lanjutnya tegas. "Kita satu tim."
Raditya membuka mata. "Kalian sudah merasakan… bukan?"
Tidak ada yang menjawab.
"Tapi ingat," lanjutnya, "ini baru awal."
Kalimat itu terasa seperti beban yang jatuh di hati masing-masing.
Setelah beberapa saat, suasana mulai kembali tenang. Napas mulai teratur. Jantung mulai normal.
"Pak… kita lanjut?" tanya Joko.
Raditya mengangguk. "Kita lanjut."
Namun sebelum melangkah, ia berkata pelan, hampir seperti berbisik—
"Jangan pernah merasa sendirian di tempat seperti ini…"
"Kenapa, Pak?" tanya Amat.
"Karena perasaan sendirian… adalah pintu masuk bagi ketakutan."
Semua merenung.
Raditya melanjutkan, "Apa yang kalian dengar, apa yang kalian lihat, dan apa yang kalian rasakan… mungkin tidak semuanya nyata. Tapi perasaan kalian… perasaan kalian sangat nyata."
"Jadi, kami harus mengabaikan apa yang kami rasakan?" tanya Nadia.
"Tidak. Justru kalian harus memahami. Tanya pada diri sendiri: Apakah ini benar-benar nyata, atau hanya sugesti? Apakah ini benar-benar berbahaya, atau hanya ketakutan yang membesar?"
"Bagaimana cara membedakannya?" tanya Hermansyah.
Raditya tersenyum. "Latihan. Dan kalian akan banyak berlatih di sini."
Mereka melanjutkan perjalanan. Langkah lebih hati-hati. Pikiran lebih waspada.
Beberapa ratus meter dari basecamp empat, keanehan kembali terjadi.
Kali ini, bukan suara. Tapi bayangan.
Bayu, yang berjalan di posisi tengah, tiba-tiba berhenti.
"Itu... lihat itu!" katanya sambil menunjuk ke arah pepohonan.
Semua menoleh. Di antara celah-celah pohon, tampak bayangan sesosok tubuh. Tidak jelas. Seperti kabut yang membentuk manusia.
"Ada apa itu?" tanya Arga.
"Siapa di sana?" teriak Jojon.
Tidak ada jawaban. Bayangan itu diam, tidak bergerak.
"Jangan didekati," kata Raditya cepat.
"Kenapa, Pak?" tanya Yulia.
"Karena belum tentu... itu ramah."
Hening.
Bayangan itu masih di sana. Seperti memperhatikan mereka.
"Kita lewat saja," kata Joko. "Jangan fokus ke sana."
Mereka berjalan lebih cepat, berusaha tidak menoleh. Namun beberapa dari mereka tidak bisa menahan rasa penasaran.
Guntur menoleh sekilas.
Bayangan itu... tersenyum.
Atau setidaknya, itu yang ia lihat.
"Tur, ayo!" panggil Yulia.
Guntur berbalik dan berjalan lebih cepat. Jantungnya berdebar tidak karuan.
"Lo lihat apa?" tanya Hermansyah pelan.
"Jangan tanya," jawab Guntur.
Mereka akhirnya tiba di basecamp lima saat matahari mulai tenggelam.
"Kita berhenti di sini," kata Raditya. "Besok pagi kita lanjut."
Mereka mendirikan tenda dengan cepat. Api unggun dinyalakan, meskipun kayu bakar agak sulit didapat karena kelembapan.
Suasana malam di gunung berbeda. Dingin, sunyi, dan terasa lebih dekat dengan langit.
"Gue belum pernah merasa seperti ini," kata Anita sambil menggenggam cangkir teh hangat.
"Seperti apa?" tanya Yulia.
"Seperti... kecil. Sangat kecil."
"Kita memang kecil," kata Camelia. "Di alam semesta ini, kita hanyalah debu."
"Filosofis banget, Mel," kata Guntur.
"Ini bukan filosofi. Ini fakta."
Mereka terdiam, menatap api unggun yang berkedip-kedip.
"Jadi, besok kita akan sampai di basecamp sepuluh?" tanya Amat.
"Kalau tidak ada hambatan," jawab Hermansyah.
"Semoga tidak ada hambatan."
"Atau semoga hambatannya tidak terlalu berat," kata Joko.
Mereka tertawa kecil.
Raditya duduk di dekat api unggun, memanaskan tangannya.
"Kalian tahu," katanya, "dulu, sebelum kalian lahir, ada sekelompok pendaki yang melewati jalur ini."
Mereka langsung fokus.
"Jumlahnya tujuh orang. Semua laki-laki. Mereka datang dari kota, ingin petualangan."
"Terus?" tanya Jojon.
"Mereka berhasil sampai puncak. Tapi... dalam perjalanan turun, mereka kehilangan satu orang."
"Kehilangan? Meninggal?" tanya Yulia.
"Hilang," kata Raditya. "Tidak pernah ditemukan."
Hening.
"Apakah mereka mencari?" tanya Anita.
"Mencari. Tiga hari. Tapi tidak ada jejak. Seperti ditelan bumi."
"Kenapa bisa begitu?" tanya Nadia skeptis.
"Kami tidak tahu. Dan sampai sekarang, keluarga orang itu masih berharap... dia suatu hari akan pulang."
Suasana menjadi semakin berat.
"Pak," kata Joko, "kenapa Bapak cerita ini?"
"Karena kalian harus tahu. Jalur ini tidak hanya indah. Ia juga menyimpan sejarah. Dan sejarah... tidak selalu bahagia."
"Tapi kami tidak akan kehilangan siapa pun," kata Hermansyah tegas.
Raditya tersenyum. "Saya harap begitu."
Malam itu, tidur terasa mustahil.
Guntur berbaring di dalam tenda, memandang langit-langit yang gelap. Pikirannya terlalu sibuk.
"Tur, lo tidur?" bisik Joko dari tenda sebelah.
"Belum."
"Gue juga."
Mereka berdua terdiam.
"Jo," kata Guntur akhirnya, "lo percaya cerita Raditya tadi?"
"Aku tidak tahu harus percaya atau tidak. Tapi aku tidak bisa mengabaikannya."
"Kenapa?"
"Karena... kadang kebenaran lebih aneh dari fiksi."
Guntur menghela napas. "Gue jadi mikir... apakah ini ide yang bagus?"
"Apakah ada ide yang benar-benar bagus? Atau semua ide punya risiko?"
"Filosofis banget lo malam ini."
"Pengaruh gunung."
Mereka tertawa kecil.
Di tengah malam, Camelia terbangun.
Ia mendengar suara lagi—suara yang sama seperti di desa.
"Ke sini..."
Camelia duduk. Ia melihat sekeliling. Semua masih tidur.
Suara itu lebih jelas kali ini. Seperti berasal dari arah timur—arah yang belum mereka lewati.
"Ke sini... aku akan menunjukkan sesuatu..."
Camelia ingin bangun. Ingin mengikuti suara itu. Tapi ia ingat pesan Raditya: jangan pernah sendirian.
Ia menggigit bibirnya, lalu berbaring lagi.
Tapi suara itu terus memanggil.
Sepanjang malam.
Fajar datang dengan kabut tebal.
Mereka bangun dengan perasaan tidak nyaman. Tidur yang tidak nyenyak membuat tubuh terasa lelah, meskipun baru memulai hari.
"Kita harus segera berangkat," kata Raditya. "Kabut ini bisa semakin tebal."
"Tapi kami belum sarapan," protes Guntur.
"Makan sambil jalan."
Mereka bergegas membereskan tenda dan perlengkapan. Sarapan dilakukan dengan cepat—roti, selai, dan teh hangat.
"Pak," kata Joko, "apakah kabut ini normal?"
"Tidak," jawab Raditya singkat. "Ini terlalu tebal untuk waktu begini."
"Artinya?"
Raditya menghela napas. "Artinya... alam sedang tidak bersahabat."
Semua terdiam.
"Tapi kita tetap jalan," kata Joko tegas.
"Kita tetap jalan," ulang Raditya.
Perjalanan dalam kabut sangat sulit.
Jarak pandang hanya beberapa meter. Mereka harus berjalan beriringan, hampir saling menyentuh, agar tidak terpisah.
"Jangan ada yang jauh," perintah Joko.
"Gue pegang ransel lo, Jo," kata Guntur.
"Jangan pegang yang aneh-aneh."
"Ya iyalah."
Mereka berjalan perlahan. Suara langkah kaki terdengar seperti gema—terpantul-pantul oleh kabut.
Tiba-tiba, Nadia berhenti.
"Kompasku error," katanya.
"Apa?" tanya Hermansyah.
"Jarumnya berputar terus. Tidak stabil."
"Ini belum pernah terjadi sebelumnya," kata Nadia dengan suara gemetar.
Raditya mendekat. "Itu pertanda."
"Pertanda apa, Pak?" tanya Yulia.
"Kita sudah dekat dengan... sesuatu."
Dan tanpa mereka sadari…
sesuatu telah menunggu sejak awal.
Sesuatu yang tidak bisa dihindari.
Sesuatu yang telah menunggu…
sejak mereka memutuskan untuk datang.
Di tengah kabut yang semakin tebal, sesosok bayangan terlihat samar. Tidak bergerak. Hanya berdiri.
"Siapa di sana?" teriak Joko.
Tidak ada jawaban.
Bayangan itu... melambai.
"Jangan ikuti," bisik Raditya.
Tapi sudah terlambat.
Bayu melangkah maju.
"Bayu! Berhenti!" teriak Yulia.
Bayu tidak mendengar. Atau mungkin... ia mendengar sesuatu yang lain.
"Bayu!"
BAB 6
Basecamp Empat – Saat Dunia Tak Terlihat Menyapa
"Bayu! Berhenti!" teriak Yulia sekali lagi, suaranya pecah oleh ketakutan yang tidak lagi bisa disembunyikan.
Namun Bayu terus melangkah. Kakinya bergerak seperti orang yang sedang berjalan dalam mimpi—lambat, kaku, dan tanpa kesadaran. Matanya kosong, menatap lurus ke arah bayangan yang berdiri di tengah kabut.
"Ada apa dengan dia?" tanya Arga dengan suara gemetar.
"Dia terhipnotis atau apa?" sahut Jojon.
Joko bergerak cepat. Ia meraih lengan Bayu dan menariknya keras.
"Bayu! Sadar!"
Bayu tersentak. Matanya berkedip beberapa kali, lalu ia menoleh ke Joko dengan ekspresi bingung.
"Jo...? Kenapa?"
"Lo jalan sendiri, Yu. Kita panggil-panggil gak dengar."
Bayu mengernyit. "Gue dengar suara."
"Suara apa?"
Bayu menunjuk ke arah bayangan itu. "Dia manggil gue. Bilang... 'ke sini, aku akan tunjukkan sesuatu'."
Camelia menggigit bibirnya. "Itu suara yang sama."
"Suara apa?" tanya Hermansyah.
"Suara dalam mimpiku," jawab Camelia pelan.
Raditya yang sejak tadi diam, akhirnya maju ke depan. Ia menatap bayangan itu dengan mata menyipit.
"Kita harus pergi dari sini," katanya tegas. "Sekarang."
"Tapi, Pak..." Guntur ingin membantah.
"Tidak ada tapi. Ini tidak aman."
Mereka bergegas meninggalkan area itu. Langkah mereka cepat, hampir seperti berlari. Kabut masih tebal, tapi Raditya seolah tahu persis arah yang harus dituju.
Bayu sesekali menoleh ke belakang. Bayangan itu masih di sana.
Masih berdiri.
Masih melambai.
Setelah berjalan sekitar dua puluh menit dengan kecepatan tinggi, mereka akhirnya sampai di area yang sedikit lebih terbuka. Kabut mulai menipis, meskipun belum sepenuhnya hilang.
"Berhenti," kata Raditya sambil mengangkat tangan.
Mereka berhenti, membungkuk, mengatur napas yang tersengal-sengal.
"Pak... itu tadi... apa?" tanya Anita di sela-sela napasnya.
Raditya duduk di atas batu. Wajahnya tampak lelah, bukan karena fisik, tapi karena beban pikiran.
"Itu... penjaga," jawabnya akhirnya.
"Penjaga?" ulang Nadia skeptis. "Maksud Bapak, hantu?"
Raditya menggeleng. "Bukan hantu. Bukan juga makhluk halus dalam pengertian kalian. Itu adalah... energi. Energi yang terbentuk dari sejarah tempat ini."
"Sejarah apa?" tanya Hermansyah.
Raditya menghela napas. "Dulu, di tempat itu, ada seorang pria yang meninggal karena tersesat. Ia tidak ditemukan selama berminggu-minggu. Ketika ditemukan, tubuhnya sudah tidak utuh."
Hening.
"Konon," lanjut Raditya, "arahan... energinya masih ada di sana. Bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk memperingatkan."
"Memperingatkan tentang apa?" tanya Yulia.
"Bahwa jalur ini tidak boleh dianggap remeh."
Joko duduk di samping Raditya. "Pak, apakah semua pendaki yang lewat sini mengalami hal yang sama?"
"Tidak semua. Hanya mereka yang... peka."
"Peka seperti Mel dan Bayu?"
"Atau peka karena ketakutan," kata Raditya. "Ketakutan bisa membuka pintu indra yang biasanya tertutup."
Guntur yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara. "Jadi, kalau kita tidak takut, kita tidak akan melihat atau mendengar hal-hal aneh?"
"Teorinya begitu," kata Raditya. "Tapi mengatakan 'jangan takut' lebih mudah daripada melakukannya."
Mereka beristirahat lebih lama dari biasanya. Raditya memutuskan untuk tidak terburu-buru, karena kondisi mental beberapa anggota sedang tidak stabil.
"Aku tidak bisa melanjutkan kalau terus begini," kata Bayu tiba-tiba.
Semua menatapnya.
"Apa maksudmu?" tanya Joko.
"Aku takut, Jo. Bukan takut mati, tapi takut... kehilangan diriku sendiri."
Camelia mendekati Bayu. "Kamu tidak akan kehilangan dirimu sendiri. Selama kamu masih ingat siapa kamu."
"Tapi aku hampir berjalan ke arah bayangan itu. Tanpa sadar."
"Itu karena kamu panik," kata Nadia. "Panik membuatmu rentan."
"Lalu bagaimana caranya agar tidak panik?" tanya Bayu.
"Latihan," jawab Hermansyah. "Kontrol napas. Fokus pada hal-hal yang nyata."
"Apa yang nyata di sini?" tanya Bayu sambil melihat sekeliling. "Kabut? Pohon? Atau bayangan-bayangan itu?"
Semua terdiam.
"Yang nyata," kata Joko perlahan, "adalah kita. Kita yang berjalan, kita yang bernapas, kita yang saling memegang. Itu nyata."
Bayu menatap Joko lama. Kemudian ia mengangguk.
"Baik. Aku akan coba."
Perjalanan dilanjutkan. Namun kali ini, mereka berjalan lebih rapat. Tangan hampir saling menyentuh. Suara napas terdengar silih berganti.
Mereka akhirnya tiba di basecamp lima saat matahari mulai condong ke barat. Kabut hampir sepenuhnya hilang, digantikan oleh langit jingga yang indah.
"Ini basecamp lima," kata Raditya. "Mulai dari sini, kalian akan memasuki wilayah yang berbeda."
"Berbeda bagaimana?" tanya Amat.
"Di sini, tidak ada satupun hewan. Tidak ada burung. Tidak ada serangga. Hanya kalian, pepohonan, dan keheningan."
Yulia melihat sekeliling. Raditya benar-benar tidak salah. Tidak ada suara burung, tidak ada suara jangkrik. Hanya angin yang berhembus pelan.
"Ini menyeramkan," bisiknya.
"Biasakan," kata Raditya. "Karena ini akan kalian rasakan sampai basecamp sembilan."
Mereka mendirikan tenda di area yang agak datar. Api unggun dinyalakan, meskipun kayu bakar harus dicari cukup jauh.
"Pak," kata Joko sambil membantu Raditya mengumpulkan kayu, "Bapak pernah naik sampai puncak lewat jalur ini?"
Raditya tersenyum tipis. "Pernah. Tiga kali."
"Lalu kenapa Bapak tidak naik lagi?"
Raditya berhenti mengumpulkan kayu. Ia menatap ke arah puncak yang mulai tertutup kabut sore.
"Karena... setiap kali saya naik, saya merasa ada bagian dari diri saya yang tertinggal di sana."
"Tertinggal bagaimana?"
"Seperti... kenangan, perasaan, atau mungkin... jiwa."
Joko terdiam. Ia tidak tahu harus merespon apa.
"Saya sudah tua, Jo," lanjut Raditya. "Saya tidak ingin kehilangan lebih banyak lagi."
Malam di basecamp lima benar-benar sunyi.
Tidak ada suara apa pun selain desisan angin dan gemerisik dedaunan. Bahkan api unggun pun terdengar seperti bisikan—lembut dan menenangkan, namun juga sedikit mencekam.
Mereka duduk melingkar di sekitar api. Wajah masing-masing diterangi cahaya yang berkedip-kedip.
"Gue usul kita main game," kata Guntur mencairkan suasana.
"Game apa?" tanya Jojon.
"Tebak-tebakan."
"Serius? Di tengah hutan yang sunyi begini?"
"Justru biar gak sunyi."
"Baiklah," kata Yulia. "Gue mulai. Ada binatang, kakinya empat, suaranya 'embek', apa hayo?"
"Kambing," jawab Amat cepat.
"Bukan."
"Domba?"
"Bukan."
"Lalu apa?"
"Kambing yang pake sepatu."
Semua terdiam.
"Itu garing banget, Yul," kata Guntur.
"Yang penting berhasil bikin kalian berpikir."
"Berpikir? Kami malah bingung."
Mereka tertawa. Tawa kecil yang terasa hangat di tengah dinginnya malam.
Setelah suasana sedikit mencair, Camelia mulai berbicara.
"Aku ingin cerita tentang mimpiku. Lengkap."
Semua menatapnya.
"Mimpi itu bukan hanya sekali. Sudah tiga kali. Dan setiap kali, detailnya semakin jelas."
"Ceritakan," kata Joko.
Camelia menarik napas dalam.
"Aku berdiri di tengah hutan. Kabut tebal. Tidak bisa melihat apa-apa. Tapi aku mendengar suara langkah kaki—banyak, seperti puluhan orang berjalan mengelilingiku."
"Terus?" tanya Anita.
"Lalu, aku melihat bayangan. Satu bayangan, lalu dua, lalu banyak. Mereka berdiri di sekelilingku, membentuk lingkaran."
"Apakah mereka mengancam?" tanya Hermansyah.
"Tidak. Mereka hanya... memandang. Seperti menilai."
"Menilai apa?"
"Aku tidak tahu. Tapi aku merasa... mereka mencari sesuatu."
"Mencari apa?"
"Entah. Mungkin seseorang. Atau mungkin... jawaban."
Hening.
"Lalu," lanjut Camelia, "aku mendengar suara. Suara Joko, memanggil namaku. Tapi suara itu dingin. Tidak seperti suara Joko yang biasa."
"Itu bukan aku," kata Joko cepat.
"Aku tahu. Tapi suara itu terus memanggil. Berulang-ulang. Hingga aku bangun."
"Dan setelah bangun?" tanya Nadia.
"Aku merasa... ada yang berbeda. Seperti ada yang berubah dalam diriku, tapi aku tidak tahu apa."
Mbah Jayasuprapta pernah berkata bahwa jalur itu adalah cermin. Mungkin Camelia sedang bercermin. Tapi apa yang ia lihat?
Hermansyah yang biasanya pendiam, tiba-tiba bersuara.
"Aku juga punya mimpi."
Semua menoleh.
"Tapi mimpiku bukan tentang bayangan atau suara. Mimpiku tentang... masa lalu."
"Masa lalu siapa?" tanya Guntur.
"Masa laluku."
Hermansyah menatap api unggun. Wajahnya tampak lebih serius dari biasanya.
"Aku bermimpi tentang ayahku. Beliau meninggal ketika aku masih kecil. Tapi dalam mimpi itu... dia masih hidup. Dia memanggilku."
"Memanggil untuk apa?" tanya Yulia.
"Dia bilang... 'jangan pergi ke gunung'. Dia bilang... 'kamu akan tersesat'."
Hening.
"Man," kata Joko pelan, "itu hanya mimpi."
"Aku tahu. Tapi rasanya... nyata. Sangat nyata."
"Apakah ayahmu dulu pernah melarangmu mendaki?" tanya Anita.
"Tidak. Beliau tidak pernah melarang apapun. Beliau meninggal sebelum aku bisa bertanya."
Suasana menjadi semakin berat.
"Kita semua punya ketakutan masing-masing," kata Joko akhirnya. "Tapi kita tidak boleh membiarkan ketakutan itu mengendalikan kita."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Hermansyah.
"Kita hadapi. Bersama."
Guntur yang biasanya selalu bercanda, kali ini duduk diam. Matanya menerawang ke arah api.
"Tur," panggil Yulia, "lo kenapa?"
Guntur menghela napas. "Gue... gue juga mau cerita."
"Cerita apa?"
"Gue takut."
Semua terdiam. Guntur—orang yang paling sering tertawa, paling sering bercanda, paling sering meremehkan bahaya—mengatakan bahwa ia takut.
"Lo takut sama apa?" tanya Jojon pelan.
"Gue takut... gue gak cukup kuat. Fisik gue mungkin kuat, tapi mental gue... gue gak tahu."
"Kenapa lo mikir begitu?" tanya Joko.
"Karena gue selalu lari dari ketakutan. Gue tutup dengan tawa, dengan candaan, dengan tingkah konyol. Tapi malam ini... di tempat begini... gue gak bisa lari lagi."
Camelia meraih tangan Guntur. "Kamu tidak sendirian, Tur."
"Gue tahu. Tapi rasa takut itu tetap ada."
"Rasa takut itu wajar," kata Raditya. "Yang tidak wajar adalah jika kamu mengabaikannya sampai kamu tidak bisa mengendalikannya."
"Lalu apa yang harus aku lakukan dengan rasa takut itu?"
"Peluk," kata Raditya sederhana. "Terima. Dan biarkan ia menjadi bagian dari dirimu, bukan musuhmu."
Guntur menatap Raditya lama. Kemudian ia tersenyum—senyum yang berbeda dari biasanya. Lebih tulus. Lebih dewasa.
"Makasih, Pak."
Malam semakin larut. Beberapa anggota mulai tidur, namun Joko dan Hermansyah memutuskan untuk berjaga.
Mereka duduk di dekat api unggun yang mulai redup. Sesekali menambahkan kayu agar api tidak padam.
"Man," kata Joko pelan, "lo pikir kita bisa?"
"Bisa apa?"
"Sampai puncak. Dan kembali."
Hermansyah terdiam sejenak. "Gue gak tahu. Tapi gue yakin kita akan mencoba yang terbaik."
"Itu belum cukup."
"Maka kita harus membuatnya cukup."
Mereka berdua terdiam, menatap kegelapan di luar lingkaran api.
"Jo," kata Hermansyah, "lo tahu, selama ini gue selalu mengimbangi lo. Setiap kali lo punya ide gila, gue yang mengingatkan risiko. Setiap kali lo terlalu ambisius, gue yang menahan."
"Aku tahu."
"Tapi kali ini... gue gak bisa menahan. Karena gue juga ingin."
"Kamu ingin apa?"
"Buktikan pada diri sendiri bahwa gue tidak hanya jadi penyeimbang. Bahwa gue juga punya keberanian."
Joko menepuk pundak Hermansyah. "Lo punya, Man. Lo punya."
Sekitar pukul dua dini hari, ketika sebagian besar sudah terlelap, Camelia terbangun lagi.
Suara itu kembali.
Tapi kali ini, suaranya berbeda. Tidak lagi memanggil namanya. Tidak lagi menyuruhnya mendekat.
Suara itu... menyanyi.
Lagu yang tidak dikenal. Melodi yang aneh, seperti campuran antara ratapan dan bisikan.
Camelia duduk. Ia melihat ke luar tenda. Joko dan Hermansyah masih berjaga, tapi mereka tampak tidak mendengar apa-apa.
Camelia merangkak keluar.
"Mel? Kenapa?" tanya Joko.
"Kamu tidak dengar?"
"Dengar apa?"
"Nyanyian."
Joko mengernyit. "Tidak ada."
Camelia terdiam. Suara itu masih ada. Jelas. Sangat jelas.
"Mel, mungkin kamu mimpi."
"Aku tidak mimpi. Aku sadar."
Hermansyah berdiri. "Apa yang kamu dengar?"
Camelia menggigit bibirnya. "Nyanyian. Tapi aku tidak tahu bahasanya."
"Ini tidak baik," kata Hermansyah. "Kita bangunkan Raditya."
Raditya yang sudah terbangun karena suara mereka, keluar dari tenda.
"Apa yang terjadi?"
Camelia menjelaskan. Raditya mendengarkan dengan serius.
"Kamu dengar nyanyian?" tanyanya.
"Iya, Pak. Jelas."
Raditya menghela napas. "Itu panggilan."
"Panggilan dari siapa?"
"Panggilan dari... antara."
Camelia tidak mengerti. Tapi ia merasakan sesuatu—bahwa suara itu bukan untuk ditakuti. Suara itu... sedih.
"Haruskah aku mengikuti?" tanyanya.
"Tidak," jawab Raditya tegas. "Jangan pernah mengikuti suara yang tidak dikenal."
Tapi Camelia merasa... suara itu ingin mengatakan sesuatu. Sesuatu yang penting.
Fajar datang dengan warna yang berbeda.
Langit tidak jingga atau merah muda, tapi keabu-abuan, seperti senja yang tertukar waktu. Matahari tidak terlihat, hanya cahaya pucat yang menerobos kabut tipis.
"Cuaca aneh," kata Nadia sambil memandang langit.
"Ini bukan cuaca," kata Raditya. "Ini... tanda."
"Tanda apa, Pak?"
"Bahwa kita harus cepat."
Mereka bergegas membereskan tenda. Sarapan dilakukan dengan cepat—hanya roti dan air hangat. Tidak ada yang benar-benar lapar. Perasaan cemas lebih dominan daripada rasa haus atau lapar.
"Kita akan mencapai basecamp enam sebelum siang," kata Raditya. "Tapi dari basecamp enam ke tujuh... itu yang paling berat."
"Kenapa?" tanya Arga.
"Karena medannya terjal. Dan... karena di situlah ujian sebenarnya dimulai."
"Ujian apa?" tanya Bayu—yang sejak kejadian kemarin masih terlihat belum pulih sepenuhnya.
"Ujian kesabaran. Ujian ketekunan. Dan ujian... ketidakpastian."
Perjalanan menuju basecamp enam melelahkan.
Jalurnya tidak terlalu curam, tapi berliku-liku. Mereka sering kali harus memutar balik karena jalan buntu—bukan karena tersesat, tapi karena medan yang tidak memungkinkan.
"Kapan sampai sih?" keluh Jojon.
"Sabarlah," kata Yulia.
"Gue sabar kok. Cuma... kaki gue mulai protes."
"Bilang sama kaki lo, 'sabar, nanti kita istirahat'."
"Gue coba deh."
Jojon berbicara pada kakinya sendiri, membuat yang lain tertawa.
"Lo tuh aneh, Jon," kata Guntur.
"Biar aneh, yang penting semangat."
Mereka akhirnya tiba di basecamp enam sekitar pukul sebelas siang. Area ini lebih kecil dari basecamp sebelumnya, hanya berupa tanah datar seluas sekitar lima meter persegi, dikelilingi pohon-pohon besar.
"Kita istirahat di sini," kata Raditya.
"Lalu kita lanjut ke tujuh?" tanya Joko.
"Tidak. Kita akan bermalam di sini. Perjalanan ke tujuh terlalu berat untuk dilakukan siang hari."
"Kenapa?"
"Karena di jalur menuju tujuh, sinar matahari hampir tidak pernah masuk. Gelap. Lembab. Dan... banyak kejutan."
"Kejutan seperti apa?"
Raditya tersenyum tipis. "Nanti kalian lihat sendiri."
Karena masih siang dan tidak terlalu lelah, beberapa anggota memutuskan untuk menjelajahi sekitar basecamp enam.
"Jangan pergi jauh," pesan Raditya.
"Kami hanya di sekitar sini, Pak," kata Anita.
Mereka berjalan berkelompok—Anita, Yulia, Nadia, dan Guntur. Sisanya beristirahat di tenda.
"Indah juga tempat ini," kata Yulia sambil melihat pepohonan yang tinggi.
"Indah tapi serem," sahut Guntur.
"Seremnya di mana?"
"Sunyi. Terlalu sunyi."
Nadia yang sejak tadi diam, tiba-tiba berhenti.
"Ada apa?" tanya Anita.
Nadia menunjuk ke arah sebuah pohon besar.
Di batang pohon itu, terukir sesuatu.
Bukan ukiran biasa. Tapi tulisan.
"Nadia? Di Sini? 12 Mei 1998"
"Ada nama Nadia juga?" tanya Yulia heran.
"Bukan aku," kata Nadia cepat. "Namanya sama, tapi bukan aku."
"Atau mungkin kamu di kehidupan sebelumnya?" celetuk Guntur.
"Jangan konyol."
Mereka mendekati pohon itu. Ternyata ada banyak tulisan di sana—nama-nama, tanggal, dan beberapa kalimat pendek.
"Joko, 15 Maret 2001"
"Hermansyah, 3 Juli 2003"
"Camelia, 22 September 1999"
"Guntur, 10 Januari 2002"
"Yulia, 7 Agustus 2000"
Semua nama anggota KPAAB ada di sana. Dengan tanggal yang berbeda-beda.
"Ini tidak mungkin," kata Nadia pucat.
"Pohon ini... sudah ada sebelum kita lahir," kata Yulia. "Bagaimana mungkin nama kita sudah terukir di sini?"
Guntur mencoba tenang. "Mungkin cuma kebetulan."
"Kebetulan? Semua nama kita? Ini tidak masuk akal."
Mereka bergegas kembali ke tenda, membawa kabar yang mengguncang.
"Ada apa? Kok kalian pada pucat?" tanya Joko begitu mereka kembali.
Mereka menceritakan apa yang mereka lihat.
Raditya yang mendengar cerita itu, langsung berdiri.
"Ajak saya ke sana."
Mereka kembali ke pohon itu. Raditya mengamati dengan saksama.
"Ini... bukan ukiran biasa," katanya.
"Lalu apa, Pak?"
"Ini... peninggalan."
"Peninggalan siapa?"
Raditya menghela napas. "Dulu, ada ritual di sini. Para leluhur menuliskan nama-nama yang akan datang."
"Maksud Bapak... mereka sudah tahu bahwa kami akan datang?"
"Bukan tahu. Tapi... merasakan."
"Ini gila," kata Guntur. "Ini benar-benar gila."
Camelia mendekati pohon itu. Ia menyentuh ukiran namanya.
Tanggalnya: 22 September 1999.
Ia lahir pada 22 September 1999.
"Ini tanggal lahirku," bisiknya.
Semua terdiam.
"Dan ini tanggal lahirku juga," kata Yulia, menunjuk ke ukiran namanya.
"7 Agustus 2000. Iya, itu tanggal lahirku."
Satu per satu, mereka menyadari bahwa tanggal yang terukir adalah tanggal lahir mereka masing-masing.
"Ini... pesan," kata Camelia.
"Pesan apa?"
"Bahwa kita memang ditakdirkan untuk ke sini."
Kembali ke tenda, suasana sangat berbeda. Tidak ada lagi canda tawa. Yang ada hanya kebingungan dan ketakutan yang tidak bisa dijelaskan.
"Pak," kata Joko, "apa yang sebenarnya terjadi di gunung ini?"
Raditya duduk di tanah, memandang mereka satu per satu.
"Gunung ini... adalah tempat di mana waktu tidak berjalan linear. Masa lalu, masa kini, dan masa depan... bisa bertemu."
"Seperti... pintu waktu?" tanya Nadia skeptis.
"Bukan pintu. Lebih seperti... sungai. Arusnya bisa ke depan, bisa ke belakang, bisa berputar."
"Dan pohon itu?"
"Pohon itu adalah saksi. Ia mencatat siapa saja yang akan datang. Mungkin leluhur kalian—atau seseorang yang terhubung dengan kalian—pernah ke sini dan menuliskan nama kalian."
"Apa yang harus kami lakukan?"
Raditya tersenyum tipis. "Lanjutkan perjalanan. Karena kalian sudah dipanggil. Dan panggilan itu... tidak bisa diabaikan."
Malam itu, mereka tidur dengan perasaan yang sangat berbeda. Bukan hanya takut. Tapi juga... penasaran.
Siapa yang menulis nama mereka?
Mengapa tanggal lahir mereka ada di sana?
Dan apa yang menanti di puncak?
Tidak ada yang tahu.
Tapi satu hal yang pasti—mereka tidak bisa berhenti sekarang.
BAB 7
Labirin di Basecamp Sepuluh
Pagi harinya, mereka berangkat lebih awal dari biasanya. Matahari baru saja muncul di ufuk timur saat mereka mulai melangkah meninggalkan basecamp enam.
Perjalanan menuju basecamp tujuh sungguh melelahkan.
Jalurnya terjal, penuh dengan akar pohon yang menjulur seperti ular, dan batu-batu licin yang ditumbuhi lumut. Sinar matahari hampir tidak pernah menembus kanopi pohon yang lebat, membuat suasana terasa seperti senja abadi.
"Hati-hati di sini," kata Raditya. "Banyak yang tergelincir."
"Pak," tanya Amat sambil terengah-engah, "apa benar tidak ada yang pernah mencapai puncak lewat jalur ini?"
"Ada. Tapi tidak banyak."
"Berapa banyak?"
Raditya berpikir sejenak. "Mungkin... lima kelompok dalam lima puluh tahun terakhir."
"Lima kelompok? Itu sangat sedikit."
"Karena banyak yang menyerah di tengah jalan. Atau... tersesat."
"Tersesat seperti yang Bapak ceritakan?"
"Ya."
Mereka melanjutkan perjalanan dalam diam. Pikiran masing-masing dipenuhi oleh pertanyaan yang tidak terjawab.
Mereka tiba di basecamp tujuh sekitar pukul dua siang. Area ini lebih luas dari sebelumnya, dengan pemandangan yang cukup indah—jika cuaca bersahabat. Sayangnya, kabut tipis terus menggantung, mengurangi jarak pandang.
"Ini basecamp terakhir sebelum zona rawan," kata Raditya.
"Zona rawan?" tanya Yulia.
"Basecamp delapan, sembilan, dan sepuluh. Itu adalah zona di mana banyak pendaki mengalami gangguan."
"Gangguan seperti yang kami alami kemarin?"
"Lebih parah."
Mereka mendirikan tenda dengan lebih rapi dari biasanya, karena mereka akan menghabiskan lebih banyak waktu di sini. Raditya memutuskan untuk beristirahat total selama sisa hari itu, agar energi terkumpul untuk perjalanan besok.
"Besok kita akan mencapai basecamp sepuluh," kata Raditya. "Dan dari sana... kita akan lihat."
"Lihat apa, Pak?" tanya Jojon.
"Lihat apakah kalian layak."
Malam itu, di sekitar api unggun yang menyala redup, Raditya mulai bercerita tentang masa lalunya.
"Saya pertama kali melewati jalur ini ketika saya berumur dua puluh tahun," katanya. "Saya ikut dengan ayah saya."
"Ayah Bapak?" tanya Anita.
"Iya. Ayah saya adalah salah satu dari sedikit orang yang tahu jalur ini. Beliau mewarisi pengetahuan itu dari kakek saya, dan seterusnya."
"Lalu apa yang terjadi?"
"Saat itu, kami berhasil sampai puncak. Tapi dalam perjalanan turun... ayah saya jatuh sakit."
"Sakit apa?" tanya Hermansyah.
"Bukan sakit biasa. Beliau... berubah. Seperti orang yang kehilangan semangat hidup."
"Kenapa bisa begitu?"
"Kami tidak tahu. Tapi sejak itu, ayah saya tidak pernah mau kembali ke gunung. Dan beliau berpesan pada saya... 'jangan pernah membawa orang yang tidak siap ke jalur ini'."
Raditya terdiam. Matanya tampak berkaca-kaca.
"Setelah ayah saya meninggal, saya kembali ke gunung ini sendirian. Saya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada ayah saya."
"Dan apa yang Bapak temukan?" tanya Camelia.
"Tidak ada. Hanya keheningan. Tapi saya merasa... ayah saya ada di sana. Menjaga. Menunggu."
Hening.
"Mungkin," lanjut Raditya, "ayah saya memang dimaksudkan untuk menjaga jalur ini. Dan saya... hanya penerusnya."
Keesokan paginya, mereka bangun lebih awal dari biasanya. Raditya sudah berkemas sejak subuh.
"Kita harus segera berangkat," katanya. "Semakin siang, semakin sulit."
Mereka bergegas. Sarapan hanya dengan energi bar dan air putih. Tidak ada yang benar-benar nafsu makan.
"Pak," kata Joko, "apa yang harus kami lakukan jika mengalami gangguan?"
"Jangan panik. Jangan sendirian. Dan yang paling penting... jangan pernah mengikuti suara atau bayangan apa pun."
"Baik, Pak."
Perjalanan menuju basecamp delapan terasa seperti melewati lorong waktu. Pepohonan semakin rapat, dan udara semakin dingin. Napas mereka beruap, meskipun cuaca tidak terlalu dingin.
"Ini aneh," kata Nadia. "Suhu tidak dingin, tapi napas beruap."
"Fisika tidak berlaku di sini," kata Raditya singkat.
"Apa maksud Bapak?"
"Beberapa hukum alam... tidak berjalan seperti biasanya."
Basecamp delapan adalah area yang sangat kecil—hanya cukup untuk dua tenda kecil. Tidak ada pemandangan, hanya pepohonan yang mengelilingi seperti tembok.
"Kita tidak akan berhenti lama di sini," kata Raditya. "Langsung ke sembilan."
"Kenapa tidak istirahat, Pak?" tanya Yulia.
"Karena tempat ini... tidak nyaman."
Yulia tidak bertanya lebih lanjut. Ia sudah bisa merasakan sendiri—ada sesuatu yang menekan dadanya, seperti beban yang tidak terlihat.
Mereka melanjutkan perjalanan. Langkah semakin berat. Beberapa anggota mulai merasakan pusing.
"Gue mau muntah," kata Jojon.
"Tahan," kata Hermansyah. "Jangan berhenti."
"Aku tidak bisa..."
"Kamu bisa."
Jojon memaksakan diri. Ia berjalan sambil memegang perutnya.
Basecamp sembilan adalah titik di mana mereka bisa melihat puncak untuk pertama kalinya sejak memulai pendakian.
"Wow..." gumam Bayu.
Puncak Gunung Merbabu tampak begitu dekat, namun terasa begitu jauh. Kabut tipis menyelimuti, membuatnya terlihat seperti istana di awan.
"Itu tujuan kita," kata Joko.
"Tapi kita belum sampai," kata Raditya. "Masih ada basecamp sepuluh."
"Apa yang ada di basecamp sepuluh, Pak?" tanya Camelia.
"Labirin."
"Labirin?"
"Iya. Labirin alam. Jalur yang berputar, arah yang membingungkan, dan pikiran yang bisa... tersesat."
"Bagaimana cara melewatinya?" tanya Hermansyah.
Raditya menghela napas. "Tidak ada cara pasti. Setiap orang punya pengalaman berbeda. Tapi satu hal yang pasti... jangan pernah kehilangan satu sama lain."
Mereka beristirahat di basecamp sembilan lebih lama dari biasanya. Raditya memerintahkan mereka untuk makan sebanyak mungkin, karena perjalanan ke basecamp sepuluh akan menguras energi.
Perjalanan menuju basecamp sepuluh dimulai dengan optimisme yang hati-hati.
Jalurnya tidak terlalu terjal, tapi aneh. Setiap beberapa puluh meter, arahnya berubah. Belok kiri, lalu belok kanan, lalu lurus, lalu berputar.
"Kompasku masih error," kata Nadia frustrasi.
"Jangan pakai kompas," kata Raditya. "Pakai insting."
"Insting tidak bisa diandalkan."
"Coba saja."
Nadia menggigit bibirnya. Ia menutup kompas dan memasukkannya ke dalam tas.
Mereka berjalan lebih lama dari perkiraan. Waktu terasa... aneh. Seperti berjalan di tempat yang sama berulang-ulang.
"Ko... kita sudah lewat sini tadi, kan?" suara Arga memecah keheningan.
Joko berhenti. Ia menatap sekeliling.
Sebuah pohon besar dengan akar menjulur ke tanah. Batu datar di sampingnya. Dan bekas jejak sepatu yang samar.
Ia mengernyit.
"Sepertinya… iya."
Guntur langsung bereaksi, "Lho, kok bisa?"
"Kita sudah jalan lurus dari tadi," sahut Hermansyah.
"Kompas?" tanya Nadia.
Hermansyah membuka kompasnya. Jarumnya berputar… tidak stabil.
"Ini tidak normal," katanya.
"Ah, paling rusak," ujar Guntur, meski suaranya tidak seyakinnya dulu.
"Tidak. Ini seperti… ada gangguan," jawab Hermansyah.
Mereka mencoba melanjutkan.
Langkah dihitung. Arah ditentukan ulang. Tanda-tanda mulai dibuat—ranting dipatahkan, kain diikat di pohon.
Namun beberapa waktu kemudian—
"Ko…" suara Yulia kembali terdengar, lebih pelan, "kita… kembali lagi."
Semua berhenti.
Di depan mereka… kain yang tadi diikat.
Masih tergantung.
Belum berubah.
Hening.
"Tidak mungkin…" gumam Bayu.
"Ini pasti salah jalur," kata Guntur cepat.
"Kita tidak belok," bantah Joko.
"Berarti…?" tanya Anita.
Tidak ada yang menjawab.
Waktu terus berjalan. Atau mungkin… berhenti.
Mereka mencoba lagi. Kali ini lebih hati-hati. Namun hasilnya sama. Mereka kembali ke titik yang sama. Pohon yang sama. Tanda yang sama. Dan rasa… yang semakin menekan.
"Aku bilang juga apa…" suara Guntur mulai meninggi, "ini bukan normal!"
"Sekarang kamu percaya?" tanya Camelia.
"Ini bukan soal percaya atau tidak!" balas Guntur. "Ini nyata!"
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Yulia, hampir menangis.
Hermansyah mencoba berpikir. "Kita harus tenang. Pasti ada penjelasan."
"Penjelasan apa?" tanya Arga. "Kita berjalan, tapi tidak berpindah!"
"Berarti kita yang salah," jawab Hermansyah.
"Tidak!" sahut Camelia. "Ini bukan soal salah. Ini… ujian."
"Ujian apa lagi?" tanya Guntur kesal.
"Ujian untuk memahami," jawab Camelia.
"Memahami apa? Kita ini tersesat!"
Perdebatan semakin memanas. Suara mulai meninggi. Emosi mulai lepas kendali.
"CUKUP!"
Joko kembali berteriak.
Semua terdiam.
"Kita tidak akan keluar dari sini kalau kita saling menyalahkan," katanya tegas.
Ia menarik napas dalam.
"Dengar… kita masih punya logika. Kita masih punya pengalaman. Dan kita masih bersama."
"Kalau semua itu tidak cukup?" tanya Guntur pelan.
Joko menatapnya. "Maka kita cari cara lain."
Mereka duduk melingkar. Wajah-wajah lelah. Keringat bercampur dingin.
Anita memejamkan mata, berdoa dalam diam. Nadia menggenggam tangannya.
Sementara itu, Camelia memandang sekeliling dengan lebih tenang.
"Ini bukan sekadar tersesat," katanya pelan.
"Lalu?" tanya Hermansyah.
"Ini seperti… kita diputar," jawabnya.
"Diputar oleh apa?" tanya Arga.
Camelia menatap sebuah pohon besar di dekat mereka.
Pohon beringin.
Akar-akarnya menjulur panjang, seperti jari-jari yang mencengkeram tanah.
"Pohon itu…" katanya.
Semua menoleh.
"Kenapa dengan pohon itu?" tanya Jojon.
Camelia berdiri. "Sesepuh desa bilang… ada tanda di alam."
"Dan kamu pikir itu pohonnya?" tanya Guntur.
"Aku tidak tahu," jawab Camelia. "Tapi kita tidak punya pilihan lain."
Mereka mendekati pohon tersebut.
Hermansyah mengamati. "Akar di sisi ini lebih besar…"
"Dan lumutnya lebih tebal di bagian ini," tambah Nadia.
"Biasanya lumut tumbuh di arah tertentu," kata Joko.
"Utara," jawab Hermansyah.
Mereka mulai menghubungkan. Akar. Lumut. Arah angin.
"Kalau ini utara…" gumam Joko, "berarti kita harus ke sana."
Ia menunjuk ke arah yang berlawanan dengan jalur sebelumnya.
"Yakin?" tanya Guntur.
"Tidak," jawab Joko jujur. "Tapi ini masuk akal."
"Dan kalau salah?" tanya Yulia.
Camelia tersenyum tipis. "Kita sudah mencoba yang logis. Sekarang… kita coba memahami."
Mereka melanjutkan perjalanan. Langkah lebih pelan. Lebih hati-hati.
Namun kali ini… berbeda.
Tidak ada rasa berputar. Tidak ada tanda yang sama.
"Ko…" bisik Anita, "ini… jalan baru."
Joko mengangguk. "Kita keluar."
Rasa lega mulai muncul. Namun belum sepenuhnya.
Beberapa saat kemudian… kabut mulai menipis. Cahaya matahari perlahan menembus. Dan di kejauhan… terlihat jalur terbuka menuju puncak.
Semua terdiam.
"Berhasil…" gumam Bayu.
Nadia meneteskan air mata. "Kita berhasil…"
Guntur duduk lemas. "Aku… tidak akan meremehkan lagi…"
Hermansyah tersenyum tipis. "Kadang… logika butuh bantuan."
Camelia menatap pohon di belakang mereka.
"Dan kadang… alam hanya ingin kita belajar."
Joko berdiri di depan. Ia memandang jalur menuju puncak. Hanya tinggal satu kilometer lagi. Namun perjalanan yang mereka lalui… terasa seperti seumur hidup.
"Kita lanjut," katanya pelan.
Dan kali ini… tidak ada yang ragu.
Di belakang mereka, kabut kembali turun. Menutup jalur yang baru saja mereka lewati. Seolah… tidak pernah ada jalan di sana.
Mereka akhirnya tiba di basecamp sepuluh saat matahari tepat di atas kepala.
Tidak ada yang istimewa dari tempat ini. Hanya tanah datar seluas lapangan basket, dengan beberapa batu besar yang tersebar. Tapi pemandangan dari sini… sungguh luar biasa.
Puncak Gunung Merbabu tampak begitu dekat. Hanya beberapa ratus meter lagi.
"Ini dia," kata Raditya. "Basecamp sepuluh."
"Dan dari sini kita lanjut ke puncak?" tanya Joko.
"Besok pagi. Sekarang kita istirahat. Kalian butuh energi."
Mereka mendirikan tenda. Kali ini, tidak ada lagi canda tawa. Yang ada hanya kelelahan dan rasa syukur bahwa mereka berhasil melewati labirin.
"Pak," kata Anita, "apakah kita benar-benar berhasil?"
Raditya tersenyum. "Kalian berhasil melewati ujian terberat. Tapi ingat… perjalanan pulang juga sama beratnya."
"Kami siap, Pak."
Malam di basecamp sepuluh terasa berbeda.
Tidak ada kabut. Tidak ada suara aneh. Hanya langit yang bersih dengan jutaan bintang bertaburan.
"Indah sekali," kata Yulia.
"Ini salah satu malam terindah dalam hidupku," sahut Anita.
Mereka duduk di luar tenda, menikmati keindahan langit malam. Untuk pertama kalinya sejak memulai pendakian, mereka merasa benar-benar tenang.
"Jo," panggil Hermansyah.
"Ya?"
"Besok kita akan berdiri di puncak."
"Iya."
"Rasanya... tidak nyata."
"Memang tidak nyata. Tapi kita akan membuatnya nyata."
Mereka berjabat tangan. Dua sahabat yang telah melalui banyak hal bersama.
Sebelum tidur, Anita mengajak mereka berdoa bersama.
"Ya Allah," kata Anita dengan suara lembut, "terima kasih telah mempertemukan kami di sini. Terima kasih telah melindungi kami sejauh ini. Besok, kami akan melangkah ke puncak. Beri kami kekuatan, keberanian, dan kebijaksanaan. Lindungi kami dari bahaya. Dan bawalah kami kembali dengan selamat. Aamiin."
"Aamiin," jawab yang lain.
Mereka tidur dengan perasaan campur aduk. Haru, bangga, dan sedikit takut. Tapi yang paling kuat adalah rasa syukur.
Fajar datang dengan keindahan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Langit berubah dari hitam ke ungu, dari ungu ke jingga, dari jingga ke emas. Matahari muncul perlahan dari balik Gunung Merapi, menyinari seluruh Jawa Tengah dengan cahaya yang hangat.
"Ini saatnya," kata Joko.
Mereka bergegas. Perlengkapan ditinggal di tenda, hanya membawa air, camilan, dan jaket tebal.
Perjalanan menuju puncak hanya memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Jalurnya tidak terlalu sulit, hanya tanjakan landai dengan bebatuan kecil.
Dan ketika mereka akhirnya menginjakkan kaki di puncak…
semua rasa bercampur menjadi satu.
Lelah. Bahagia. Haru. Dan rasa syukur yang tak terucap.
Bayu langsung mengibarkan bendera Merah Putih. Arga memasang bendera KPAAB. Angin berkibar kencang, membawa bendera itu menari di langit.
"Ini… untuk Desa Awan Biru!" teriak Jojon.
"Untuk kita semua!" sahut yang lain.
Tawa dan tangis pecah bersamaan.
BAB 8
Antara Hidup, Harapan, dan Petunjuk Leluhur
Puncak Gunung Merbabu tidak seperti yang mereka bayangkan.
Tidak ada keramaian. Tidak ada pendaki lain. Hanya mereka berdua belas—sebelas anggota KPAAB dan Raditya—yang berdiri di atas awan.
"Sepi banget," kata Guntur.
"Ini bukan jalur pendakian biasa," kata Raditya. "Jadi wajar jika sepi."
"Tapi ini puncak, Pak. Biasanya ramai."
"Biasanya, ya. Tapi jalur Suralaya tidak biasa."
Mereka duduk di bebatuan, menikmati pemandangan yang tidak akan pernah mereka lupakan.
Di sebelah timur, Gunung Merapi menjulang dengan kawahnya yang sesekali mengepulkan asap tipis. Di sebelah selatan, hamparan kota dan desa terlihat seperti mainan. Di sebelah barat, perbukitan hijau membentang tak berujung. Dan di sebelah utara, Gunung Ungaran tampak samar di balik kabut.
"Ini… luar biasa," kata Nadia.
"Kata-kata tidak cukup untuk menggambarkannya," sahut Anita.
Camelia duduk terpisah sedikit, matanya terpejam. Ia seperti sedang merasakan sesuatu—sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh yang lain.
"Mel, lo kenapa?" tanya Yulia.
Camelia membuka mata. "Aku mendengar suara."
"Suara lagi?"
"Iya. Tapi kali ini... berbeda."
"Berbeda bagaimana?"
"Tidak menakutkan. Seperti... bisikan yang menenangkan."
Raditya mendekat. "Apa yang dikatakan?"
Camelia terdiam sejenak. "Dia bilang... 'selamat datang di rumah'."
Raditya kemudian mengeluarkan sebuah benda kecil dari sakunya. Sebuah kemenyan.
"Apa itu, Pak?" tanya Anita.
"Ini... tradisi leluhur. Setiap kali mencapai puncak, kami membakar kemenyan sebagai tanda terima kasih."
"Kepada siapa?"
"Kepada gunung. Kepada alam. Kepada leluhur yang menjaga tempat ini."
Raditya menyalakan kemenyan dengan korek api. Aroma wangi menyebar pelan, terbawa angin.
"Silakan, kalian juga bisa berdoa sesuai keyakinan masing-masing," katanya.
Anita memejamkan mata, berdoa dengan khusyuk. Camelia melakukan hal yang sama. Yang lain hanya diam, menghormati.
Setelah selesai, Raditya memadamkan kemenyan.
"Sekarang, kalian adalah bagian dari sejarah gunung ini."
"Apa maksud Bapak?" tanya Joko.
"Kalian telah melewati ujian. Kalian telah sampai di sini. Dan kalian akan membawa cerita ini pulang."
"Cerita yang akan kami ceritakan ke generasi berikutnya," kata Hermansyah.
"Tepat sekali."
Arga mengeluarkan kamera—kamera tua yang masih menggunakan film.
"Foto, dong!" katanya.
Mereka berpose di puncak. Beberapa foto serius, beberapa foto lucu, dan beberapa foto yang tidak sengaja.
"Guntur, jangan melongo!" teriak Yulia.
"Ini gaya signature gue!"
"Signature lo kayak orang kesurupan!"
"Ya, kesurupan keindahan alam!"
Mereka tertawa. Tawa yang terasa begitu bebas, begitu lepas.
Setelah puas berfoto, mereka duduk melingkar lagi.
"Pak," kata Joko, "apa yang harus kami lakukan sebelum turun?"
Raditya berpikir sejenak. "Ambil sesuatu."
"Ambil apa?"
"Ambil kenangan. Bukan benda, tapi perasaan. Bawa pulang perasaan ini. Karena ketika kalian kembali ke kehidupan normal, kalian akan butuh mengingatnya."
"Baik, Pak."
Hermansyah—pria yang selalu tegar, selalu rasional, selalu menjadi penyeimbang—tiba-tiba menangis.
Semua terkejut.
"Man, lo kenapa?" tanya Joko.
Hermansyah menggeleng, mencoba tersenyum di tengah air matanya. "Gue... gue gak tahu. Tiba-tiba aja... gue merasa seperti... seperti pulang."
"Pulang ke mana?"
"Ke tempat yang gak pernah gue kunjungi, tapi rasanya familiar."
Camelia mengangguk. "Itu yang aku rasakan."
"Gue juga," kata Anita.
"Ini gunung," kata Raditya. "Dia punya cara untuk membuat kalian merasa... terhubung."
Mereka terdiam, masing-masing merenungkan perasaan yang tidak bisa dijelaskan.
Di tengah keheningan itu, Guntur tiba-tiba berdiri.
"Gue mau ngomong sesuatu."
Semua menatapnya.
"Gue... gue minta maaf."
"Minta maaf kenapa?" tanya Jojon.
"Gue sering bercanda, sering meremehkan, sering bilang hal-hal mistis itu gak masuk akal. Tapi setelah apa yang kita alami... gue sadar. Gak semua hal harus masuk akal. Yang penting... kita bersama."
Yulia tersenyum. "Itu omongan paling dewasa yang pernah gue dengar dari lo."
"Jangan dibiasain, nanti gue jadi serius terus."
Mereka tertawa.
"Gue juga mau ngomong," kata Bayu.
"Apa lagi?"
"Gue minta maaf karena hampir bikin kalian panik. Gue terlalu takut. Tapi ke depannya, gue akan berusaha lebih kuat."
"Gak perlu kuat sendirian, Yu," kata Joko. "Kita akan kuat bersama."
Saat yang lain asyik berbincang, Camelia berjalan ke tepi puncak.
Ia berdiri di sana, sendirian, merasakan angin yang membelai wajahnya.
"Kamu datang," bisik suara itu.
Camelia tidak terkejut. Ia sudah menduganya.
"Aku datang," jawabnya pelan.
"Kamu sudah menemukan apa yang kamu cari?"
"Aku tidak tahu apa yang aku cari."
"Tapi kamu tetap datang."
"Iya."
"Kenapa?"
Camelia tersenyum. "Karena panggilanmu terlalu kuat untuk diabaikan."
Suara itu terdiam sejenak.
"Kamu mirip dengan ibumu," katanya akhirnya.
Camelia terkejut. "Ibu? Kamu mengenal ibuku?"
"Ibu kamu pernah ke sini. Dulu, sebelum kamu lahir."
"Apa yang dia lakukan di sini?"
"Dia mencari kedamaian. Dan dia menemukannya."
"Lalu kenapa dia pergi?"
"Karena kedamaian tidak bisa dimiliki. Dia hanya bisa dirasakan. Dan ibumu... merasakannya."
Camelia meneteskan air mata. Ibunya meninggal ketika ia masih kecil. Ia tidak pernah benar-benar mengenalnya.
"Apa ibu bahagia?" tanyanya.
"Sangat."
Camelia tersenyum di tengah air matanya.
"Terima kasih," bisiknya.
Suara itu tidak menjawab. Tapi angin berhembus lebih hangat, seolah merangkulnya.
Setelah beberapa jam di puncak, Raditya memutuskan untuk segera turun.
"Kita harus turun sebelum siang," katanya. "Perjalanan pulang sama beratnya dengan perjalanan naik."
"Tapi kita sudah lelah, Pak," kata Amat.
"Justru itu. Kelelahan adalah musuh terbesar di gunung."
Mereka bergegas membereskan perlengkapan. Beberapa foto terakhir diambil, beberapa kenangan terakhir diciptakan.
"Jo," panggil Hermansyah.
"Ya?"
"Terima kasih."
"Terima kasih untuk apa?"
"Untuk memaksa kami ikut. Tanpa lo, kita tidak akan pernah ada di sini."
Joko tersenyum. "Bukan aku. Kita semua."
Mereka berpelukan—dua sahabat yang telah melalui begitu banyak hal bersama.
Perjalanan turun melalui basecamp sepuluh terasa lebih mudah.
Mungkin karena mereka sudah tahu arahnya. Mungkin karena mereka sudah tidak takut lagi. Atau mungkin karena alam sedang berbaik hati.
"Kita akan melewati labirin sekali lagi," kata Raditya. "Tapi kali ini, jangan panik."
"Kami siap, Pak," kata Joko.
Mereka memasuki labirin dengan keyakinan yang lebih kuat. Tidak ada lagi rasa takut. Hanya tekad untuk pulang.
Dan labirin itu... membiarkan mereka lewat.
Tidak ada putaran aneh. Tidak ada tanda yang sama. Hanya jalan lurus yang membawa mereka keluar.
"Kita berhasil," kata Yulia lega.
"Belum sepenuhnya," kata Raditya. "Masih ada perjalanan panjang."
Mereka tiba di basecamp sembilan saat matahari mulai condong ke barat.
"Kita bermalam di sini," kata Raditya.
"Tapi kita masih punya waktu, Pak," kata Joko.
"Kelelahan tidak bisa ditawar. Istirahat."
Mereka mendirikan tenda. Api unggun dinyalakan. Makan malam disiapkan.
"Gue gak nyangka kita bisa sejauh ini," kata Jojon.
"Aku juga," sahut Arga.
"Ini semua berkat kebersamaan," kata Anita.
"Dan keberanian," tambah Nadia.
"Jangan lupa sedikit keberuntungan," kata Guntur.
Mereka tertawa.
Malam di basecamp sembilan terasa lebih tenang.
Tidak ada suara aneh. Tidak ada bayangan. Hanya api unggun yang berkedip-kedip dan suara angin yang berhembus.
"Pak," kata Camelia, "apakah kita akan melewati basecamp empat lagi?"
"Iya."
"Apakah kita akan melihat... bayangan itu lagi?"
Raditya menghela napas. "Mungkin. Tapi kalian sudah berbeda sekarang. Kalian tidak akan takut."
"Bagaimana Bapak tahu?"
"Karena kalian sudah melewati ujian terberat. Setelah itu, tidak ada yang bisa menakut-nakuti kalian."
Camelia tersenyum. Ia berharap Raditya benar.
Sebelum tidur, mereka duduk melingkar di sekitar api. Masing-masing menceritakan kenangan terindah selama pendakian.
"Buat gue," kata Guntur, "momen paling indah adalah saat kita tertawa di tengah ketakutan."
"Buat gue," kata Yulia, "saat kita saling membantu melewati medan sulit."
"Buat gue," kata Anita, "saat kita berdoa bersama."
"Buat gue," kata Hermansyah, "saat kita berdiri di puncak dan menyadari bahwa kita bisa."
"Buat gue," kata Camelia, "saat aku mendengar bisikan terakhir. Tentang ibuku."
Semua terdiam.
"Ceritakan, Mel," kata Joko.
Camelia menceritakan apa yang ia dengar di puncak. Tentang ibunya yang pernah ke sana. Tentang kedamaian yang ditemukan ibunya.
"Itu sebabnya ibumu selalu tenang," kata Anita. "Sekarang aku mengerti."
Camelia tersenyum. "Aku juga."
Raditya, yang sejak tadi hanya mendengarkan, akhirnya berbicara.
"Anak-anak," katanya, "kalian telah melakukan sesuatu yang luar biasa. Tapi ingat, pendakian ini bukan akhir."
"Maksud Bapak?" tanya Joko.
"Ini adalah awal. Awal dari perjalanan kalian sebagai manusia yang lebih baik. Bawalah pelajaran dari gunung ini ke dalam kehidupan sehari-hari."
"Pelajaran apa yang paling penting, Pak?" tanya Amat.
Raditya tersenyum. "Bahwa ketakutan bukanlah musuh. Ketakutan adalah guru. Dan bahwa kebersamaan... adalah kekuatan terbesar yang kalian miliki."
Mereka merenung.
"Terima kasih, Pak," kata Joko. "Tanpa Bapak, kami tidak akan sampai sejauh ini."
Raditya menggeleng. "Kalian yang sampai. Saya hanya mengantar."
Keesokan harinya, mereka melewati basecamp empat untuk kedua kalinya.
Suasana berbeda. Tidak ada kabut tebal. Tidak ada suara aneh. Hanya hutan yang sunyi, seperti biasa.
"Ini tempat yang dulu..." kata Bayu.
"Iya," kata Joko. "Tapi sekarang berbeda."
"Kita yang berbeda," kata Camelia.
Mereka berjalan melewati basecamp empat tanpa gangguan. Bahkan bayangan yang dulu muncul, kali ini tidak terlihat.
"Mungkin... ia sudah pergi," kata Guntur.
"Atau mungkin ia hanya tidak perlu muncul lagi," kata Raditya. "Karena kalian sudah lulus."
Mereka tiba di Desa Suralaya pada sore hari.
Warga desa menyambut mereka dengan senyum dan tepuk tangan. Beberapa bahkan menangis haru.
"Mereka selamat!" teriak seorang ibu.
"Alhamdulillah!" sahut yang lain.
Raditya berdiri di depan. "Mereka berhasil."
Sorak sorai bergema.
Joko dan anggota KPAAB lainnya hanya bisa tersenyum lelah. Mereka sudah tidak punya energi untuk bersorak. Tapi hati mereka... penuh dengan kebahagiaan.
Malam itu, Desa Suralaya mengadakan perayaan kecil.
Makanan disiapkan. Musik tradisional dimainkan. Warga dan pendaki bercampur menjadi satu dalam kebahagiaan.
"Kalian adalah pahlawan," kata seorang warga tua.
"Bukan pahlawan, Pak," kata Joko. "Kami hanya anak muda yang ingin belajar."
"Belajar dari gunung," kata warga itu. "Itu pelajaran paling berharga."
Mereka makan bersama, tertawa bersama, dan berbagi cerita.
"Gue gak akan pernah lupa malam ini," kata Jojon.
"Aku juga," sahut Yulia.
"Jadi, kita akan kembali?" tanya Guntur.
"Suatu hari," kata Joko. "Tapi lain waktu. Lain cerita."
Keesokan harinya, rombongan bersiap kembali ke Desa Awan Biru.
Sebelum berangkat, Joko dan seluruh anggota KPAAB berpamitan.
"Terima kasih atas segalanya, Pak," kata Joko kepada Raditya.
Raditya tersenyum. "Jaga perjalanan kalian berikutnya."
"Kami akan kembali," kata Jojon.
Raditya tertawa kecil. "Kalau kembali… bawa cerita yang lebih baik."
Perjalanan pulang terasa lebih singkat. Namun maknanya jauh lebih dalam.
Saat mereka tiba di Desa Awan Biru… suasana haru menyambut.
Keluarga, sahabat, dan warga desa berkumpul.
Pelukan, tangis, dan tawa kembali menyatu.
"Anakku…" Bu Karsinem memeluk Joko erat.
"Maaf, Bu…" jawabnya lirih.
Namun sang ibu hanya tersenyum sambil menangis.
Di tengah keramaian itu, Joko berdiri sejenak.
Ia memandang langit Desa Awan Biru. Langit yang sama… namun terasa berbeda.
Perjalanan itu telah mengubah mereka. Bukan hanya sebagai pendaki. Tetapi sebagai manusia.
"Ko…" panggil Hermansyah.
Joko menoleh. "Ya?"
"Kita berhasil."
Joko tersenyum. "Kita belajar."
BAB 9
Puncak yang Menyatukan Segalanya
Beberapa minggu setelah pendakian, kehidupan di Desa Awan Biru kembali normal.
Namun ada yang berbeda.
Para anggota KPAAB tidak lagi sama seperti dulu. Mereka lebih dewasa, lebih bijaksana, dan lebih menghargai hal-hal kecil.
"Joko, kamu berubah," kata ibunya suatu pagi.
"Berubah menjadi apa, Bu?"
"Menjadi lebih tenang. Seperti... sudah menemukan sesuatu."
Joko tersenyum. "Mungkin iya, Bu."
Sekretariat KPAAB kembali ramai oleh aktivitas.
Tapi kali ini, bukan untuk mempersiapkan pendakian. Mereka sedang menyusun laporan untuk Pak Iwan—laporan tentang pengalaman mereka di Gunung Merbabu.
"Ini harus ditulis dengan jujur," kata Joko. "Termasuk hal-hal yang tidak bisa dijelaskan."
"Apakah Pak Iwan akan percaya?" tanya Yulia.
"Percaya atau tidak, itu hak beliau. Tugas kita melaporkan apa yang kita alami."
Mereka menulis bersama. Setiap anggota menceritakan pengalamannya, lalu ditulis oleh Nadia yang paling rapi tulisannya.
Beberapa hari kemudian, Joko dan Hermansyah menghadap Pak Iwan.
Mereka menyerahkan laporan tebal berisi catatan perjalanan, evaluasi, dan rekomendasi untuk pendaki selanjutnya.
Pak Iwan membacanya dengan saksama.
"Ini... sangat detail," katanya.
"Kami ingin pendaki lain yang menggunakan jalur ini memiliki panduan yang jelas," kata Joko.
"Dan kalian juga menulis tentang hal-hal mistis?"
"Iya, Pak. Karena itu adalah bagian dari pengalaman kami."
Pak Iwan menghela napas. "Kalian jujur. Itu bagus."
"Apakah Bapak percaya, Pak?" tanya Hermansyah.
Pak Iwan tersenyum. "Aku tidak perlu percaya atau tidak. Yang penting, kalian selamat dan kalian belajar."
Suatu sore, Camelia duduk di makam ibunya.
Ia membawa bunga dan dupa. Ia duduk di sana, sendirian, untuk pertama kalinya setelah pendakian.
"Bu," bisiknya, "aku pergi ke gunung. Aku mendengar suara yang mengatakan bahwa Ibu pernah ke sana."
Ia terdiam.
"Aku tidak tahu apakah itu benar. Tapi aku merasakan... Ibu ada di sana. Menjagaku."
Air matanya jatuh.
"Aku merindukan Ibu. Setiap hari."
Angin berhembus pelan, membawa aroma bunga yang ia bawa.
Camelia tersenyum. "Aku akan baik-baik saja, Bu. Janji."
Guntur, yang dulu terkenal sebagai pelawak, kini lebih sering diam.
"Tur, lo kenapa?" tanya Yulia suatu hari.
"Gue lagi mikir."
"Mikir apa?"
"Gue mikir... selama ini gue terlalu banyak bercanda. Mungkin itu cara gue lari dari kenyataan."
"Dan sekarang?"
Guntur tersenyum. "Sekarang gue mau belajar serius. Tapi sesekali tetap bercanda, biar gak stress."
Yulia tertawa. "Itu dia Guntur yang gue kenal."
Hermansyah pergi ke makam ayahnya.
Ia tidak pernah benar-benar berdoa di sana sejak kecil. Tapi hari itu, ia datang.
"Pak," katanya, "maaf, saya jarang ke sini."
Ia duduk di samping makam.
"Saya baru sadar... bahwa Bapak selalu ada. Meskipun tidak terlihat."
Ia menunduk.
"Saya janji, saya akan jaga ibu dan adik. Dan saya akan terus belajar menjadi lebih baik."
Air matanya jatuh. Untuk pertama kalinya sejak ayahnya meninggal, Hermansyah menangis.
Joko menghabiskan lebih banyak waktu dengan keluarganya.
Ia membantu ibunya di dapur. Ia menemani adiknya belajar. Ia berbincang dengan ayahnya di sawah.
"Kamu berbeda, Jo," kata ayahnya.
"Berbeda bagaimana, Pak?"
"Kamu lebih... hadir. Dulu kamu sering melamun, memikirkan gunung. Sekarang kamu lebih fokus pada keluarga."
Joko tersenyum. "Gunung mengajarkan saya bahwa keluarga adalah basecamp sejati."
Pak Suprapto tertawa. "Kamu jadi filosof."
"Terpengaruh gunung, Pak."
Kelompok Pecinta Alam Awan Biru kini dikenal lebih luas.
Banyak pemuda desa yang ingin bergabung. Bukan hanya untuk mendaki, tapi untuk belajar.
"Kita harus selektif," kata Joko dalam rapat. "Tidak semua orang bisa langsung ikut pendakian ekstrem."
"Setuju," kata Hermansyah. "Kita buat pelatihan dasar dulu."
"Dan kita juga harus menjaga nama baik," tambah Nadia. "Jangan sampai ada yang nekat."
Mereka menyusun program pelatihan—mulai dari navigasi, pertolongan pertama, hingga etika di gunung.
Epilog Dimulai
Waktu berlalu.
Namun cerita itu tetap hidup.
Di setiap tawa, di setiap pertemuan, dan di setiap langkah yang mereka ambil setelahnya.
Kelompok Pecinta Alam Awan Biru kini bukan hanya sekadar nama.
Mereka adalah kisah.
Tentang keberanian. Tentang kebersamaan. Dan tentang keyakinan bahwa… tidak semua jalan harus dipahami untuk bisa dilalui.
Beberapa cukup dijalani… dengan hati.
Dan jejak yang mereka tinggalkan… tidak akan pernah hilang.
TAMAT
Slamet Riyadi
29 Juli 2025 03:27:50
Semoga kita bisa kerjasama bu. ...