Desa Dabulon
Kecamatan Lumbis, Kabupaten Nunukan
TRILOGI ROMAN EPIK : JEJAK MASA LALU

TRILOGI ROMAN EPIK
JEJAK MASA LALU
Tentang cinta, luka, dan rahasia yang tertinggal di lorong waktu, ketika masa lalu tidak pernah benar-benar pergi dan takdir memaksa hati kembali mengingat apa yang pernah hilang.
Oleh: Slamet Riyadi
DISCLAIMER
Novel ini adalah karya fiksi. Seluruh nama tokoh, tempat, peristiwa, dan dialog dalam cerita ini sebagian merupakan hasil imajinasi penulis dan sebagian terinspirasi dari dinamika kehidupan masyarakat desa, dunia pendidikan, persahabatan, percintaan, perjuangan hidup, serta kenyataan sosial yang berkembang di tengah masyarakat.
Apabila terdapat kesamaan nama, tempat, maupun kejadian dengan kehidupan nyata, hal tersebut semata-mata merupakan kebetulan dan tidak ada unsur kesengajaan.
Novel ini mengandung unsur drama kehidupan, percintaan, pengkhianatan, humor, konflik sosial, perjuangan pendidikan, serta nilai-nilai persahabatan dan kemanusiaan yang disampaikan secara naratif dan emosional.
PROLOG
JEJAK MASA LALU
"Tentang Cinta, Luka, dan Rahasia yang Tertinggal di Lorong Waktu, Ketika Masa Lalu Tidak Pernah Benar-Benar Pergi dan Takdir Memaksa Hati Kembali Mengingat Apa yang Pernah Hilang"
GERHANA DI LANGIT TEGOREJO
Langit Desa Tegorejo malam itu tampak berbeda.
Angin bertiup lebih dingin dari biasanya. Pepohonan bambu di belakang rumah-rumah warga bergesekan pelan, menimbulkan suara gemerisik panjang seperti bisikan makhluk malam. Di langit, bulan perlahan berubah warna. Merah gelap. Pekat. Menyeramkan.
Gerhana bulan total menyelimuti Desa Tegorejo, Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal.
Malam itu, hampir seluruh warga desa memilih menutup pintu rumah lebih awal. Sebagian orang tua melarang anak-anak keluar rumah karena percaya gerhana membawa pertanda buruk. Namun di sebuah rumah kayu sederhana di ujung desa, suara jeritan seorang perempuan justru memecah kesunyian malam.
"Aduh… Ya Allah… sakit…!"
Bu Rosmiyati menggenggam erat kain sarungnya, keringat membasahi seluruh wajahnya. Di sampingnya, Bu Paijem—dukun bayi paling terkenal di Tegorejo—berusaha menenangkan dengan suara lirih namun penuh wibawa.
"Kuat, Lastri… kuat… sebentar lagi…"
Di luar rumah, lolongan anjing terdengar bersahut-sahutan. Beberapa warga mulai saling berbisik dari balik jendela rumah mereka.
"Gerhana kok bareng suara anjing melolong terus ya…"
"Jangan-jangan bakal ada kejadian besar…"
"Katanya kalau bayi lahir pas gerhana itu tandanya nggak biasa…"
Petir tiba-tiba menggelegar keras. Padahal, tidak ada hujan sama sekali. Lampu minyak di ruangan bergoyang hebat. Angin mendadak masuk dari celah-celah dinding papan rumah.
Lalu, bayi itu lahir.
Tangisnya langsung memecah ruangan. Namun sesuatu yang aneh terjadi. Cahaya bulan merah dari luar rumah tiba-tiba menyorot tepat ke wajah bayi perempuan itu. Kulitnya bercahaya lembut, matanya terbuka lebar, padahal bayi baru lahir biasanya masih sulit membuka mata.
Bu Paijem membeku. Matanya membelalak. Tangannya gemetar.
"Ya Gusti…"
Bu Rosmiyati yang kelelahan mencoba membuka mata. "Bu… anak saya… kenapa, Bu…?"
Bu Paijem tidak langsung menjawab. Ia menatap wajah bayi itu lama sekali. Tatapan yang sulit dijelaskan—seolah melihat sesuatu yang tidak mampu dipahami manusia biasa.
Perlahan ia berbisik pelan, "Anak ini… jalan hidupnya bakal panjang."
"Apa maksudnya, Bu?" tanya Pak Salam, ayah bayi itu, dengan wajah pucat.
Bu Paijem menarik napas panjang. "Dia bakal jadi perempuan kuat. Tapi hidupnya tidak akan mudah. Cintanya penuh luka. Hatinya bakal sering disakiti. Banyak lelaki datang dan pergi. Tapi dia akan tetap berdiri. Dia akan sekolah tinggi. Jadi orang terhormat. Dan jadi cahaya bagi banyak orang."
Ruangan mendadak sunyi. Hanya suara bayi kecil itu yang terdengar menangis pelan.
"Namanya siapa, Pak?" tanya Bu Paijem.
Pak Salam menatap istrinya. Bu Rosmiyati tersenyum lemah sambil menahan air mata.
"Yanti… namanya Yanti…"
Bu Paijem mengangguk pelan. Namun sorot matanya masih menyimpan kecemasan. Karena jauh di dalam hatinya, ia merasa bayi itu kelak akan menjalani kehidupan yang tidak biasa. Kehidupan yang penuh cinta, namun juga penuh kehilangan.
TIGA BUKU, SATU PERJALANAN
Perempuan yang lahir di malam gerhana itu bernama Yanti. Namanya kemudian melekat dengan panggilan Sinox, nama sayang yang hanya digunakan oleh orang-orang terdekatnya. Dan perjalanan hidupnya terukir dalam tiga buku yang menjadi satu kesatuan utuh, seperti tiga gerbang yang harus ia lewati untuk sampai pada pemahaman sejati tentang cinta, kehilangan, dan keikhlasan.
BUKU PERTAMA: SENJA DI DESA TEGOREJO, CINTA PERTAMA BERSEMI
"Tentang Sepeda Ontel, Karate, dan Cinta Pertama di Ujung Senja Tegorejo"
Ini adalah awal dari segalanya.
Masa ketika Yanti masih gadis desa dengan seragam putih biru yang sedikit kebesaran. Ketika cinta pertama bernama Mas Nur datang membawa debar jantung dan surat-surat kecil yang ditulis dengan tangan bergetar. Ketika persahabatan dengan Bambang, Dandang, Anita, dan Yuli mewarnai hari-harinya dengan tawa dan air mata.
Ini adalah masa latihan karate di dojo kecil berdebu, di mana seorang kakak kelas bernama Riyadi mengajarinya arti ketekunan dan kehadiran yang tenang. Ini adalah masa sepeda ontel biru yang selalu ia kayuh sambil membonceng seseorang di belakang—tanpa ia sadari, di situlah cinta tumbuh tanpa pernah diucapkan.
Tapi ini juga masa kehilangan pertama yang menghancurkan.
Mas Nur pergi ke Jakarta tanpa pamit. Riyadi menyusul Karwan ke Tangerang tanpa kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal. Dua orang yang paling berarti dalam hidupnya menghilang dalam waktu berdekatan, meninggalkan Yanti dengan pertanyaan yang tidak pernah terjawab:
Mengapa kau pergi tanpa pamit? Apakah aku tidak cukup berarti?
Dan Yanti belajar bahwa cinta pertama tidak selalu berakhir bahagia. Kadang, ia hanya datang untuk meninggalkan kenangan, dan luka yang tidak pernah benar-benar sembuh.
BUKU KEDUA: RINDU DI BANGKU STM TEKSTIL PEDAN
"Tentang Seragam Putih Abu-Abu, Ruang Praktik yang Dingin, dan Seorang Gadis Desa yang Belajar Merajut Harapan di Antara Pelajaran dan Perasaan"
Yanti memulai hidup baru di STM Tekstil Pedan, Klaten. Jauh dari Tegorejo. Jauh dari kenangan. Jauh dari Mas Nur dan Riyadi.
Tapi luka tidak lari sejauh itu.
Di sekolah baru yang didominasi siswa laki-laki, Yanti menjadi pusat perhatian. Ia bertemu dengan Toro, kakak kelas yang disegani, yang cintanya berubah menjadi obsesi yang mencekik. Ia bertemu dengan Riyadi, bukan Riyadi yang dulu, tetapi Riyadi yang berbeda, yang diam-diam menjaga, yang perhatiannya terasa seperti hujan di tengah panas.
Ia juga bertemu dengan Teguh, lelaki sederhana dari Comal yang mencintainya dengan tulus, namun harus pergi selamanya karena cinta yang tak terbalas.
Ini adalah masa persahabatan dengan Dwi, Tina, dan Siti, tiga perempuan yang menjadi saudara baginya di tanah rantau. Ini adalah masa konflik dengan Toro yang posesif, masa kedekatan dengan Riyadi yang membingungkan, dan masa penyesalan yang mendalam ketika Teguh meninggal dengan namanya di bibir.
Yanti belajar bahwa cinta tidak bisa dipaksakan. Bahwa perhatian dan kesetiaan tidak selalu bisa membeli hati. Dan bahwa kadang, kita harus kehilangan seseorang untuk menyadari betapa berharganya ia.
Tapi pelajaran terbesar di buku kedua ini adalah: kadang, cara terbaik untuk menyembuhkan luka adalah dengan melangkah maju, meskipun hati masih tertambat di masa lalu.
BUKU KETIGA: UNTAIAN RINDU DARI SURGA
"Ketika Waktu Memisahkan Dua Hati, Namun Rindu Tetap Menemukan Jalannya Melalui Kenangan, Doa, dan Pengikhlasan"
Tiga puluh tahun kemudian.
Yanti telah menjadi Sinox, seorang istri, ibu dari tiga anak, guru di Mts Gringsing. Mas Sarif, suaminya, adalah petani sederhana yang setia. Mereka hidup damai di Tegorejo, hingga suatu malam, ponsel bergetar.
Akang Riyadi.
Laki-laki yang dulu pergi tanpa pamit. Laki-laki yang selama tiga puluh tahun hanya hadir dalam doa dan mimpi. Kini menelpon, dengan suara yang sama namun berbeda karena usia.
Pertemuan virtual ini membuka kembali luka lama yang tidak pernah benar-benar sembuh. Rindu yang terpendam selama tiga puluh tahun meledak ke permukaan, hampir menghancurkan dua rumah tangga sekaligus.
Ini adalah masa air mata Setya Ningsih, istri Akang yang tidak bersalah. Ini adalah masa kekecewaan Mas Sarif yang merasa dikhianati. Ini adalah masa anak-anak yang kecewa, malu, dan bingung. Ini adalah masa fitnah, gunjingan, dan video viral yang menyebar seperti api di lahan gambut.
Tapi ini juga masa pembelajaran yang paling berharga.
Sinox dan Akang belajar bahwa cinta sejati tidak selalu berarti memiliki. Bahwa kadang, melepaskan adalah bentuk cinta yang paling tulus. Bahwa persahabatan sejati tidak harus dirayakan dengan pertemuan, ia cukup dirayakan dengan doa.
Mereka belajar bahwa rindu yang dulu menjadi dosa, dapat berubah menjadi untaian yang suci. Untaian rindu dari surga.
Dan di ujung perjalanan, setelah air mata kering dan badai berlalu, mereka sampai pada satu pemahaman:
Bahwa tidak semua cinta ditakdirkan untuk bersatu. Sebagian ditakdirkan untuk menjadi guru. Sebagian ditakdirkan untuk menjadi kenangan. Dan sebagian lagi, ditakdirkan untuk menjadi doa yang dipanjatkan setiap malam, tanpa perlu diketahui yang didoakan.
TENTANG MERPATI DAN JANJI
"Merpati tak pernah ingkar janji."
Itulah kalimat yang dulu sering diucapkan Sinok Yanti kepada Akang Riyadi. Janji yang kemudian Akang Riyadi ingkari dengan pergi tanpa pamit.
Namun merpati bukanlah simbol kesetiaan. Merpati adalah simbol perdamaian. Dan perdamaian yang sesungguhnya bukanlah tentang menepati janji, melainkan tentang menerima bahwa beberapa janji tidak perlu ditepati, karena hidup telah membawa kita ke jalan yang berbeda.
Yanti dan Mas Nur tidak pernah bersama.
Yanti dan Riyadi juga tidak pernah bersama.
Namun mereka tidak pernah benar-benar berpisah. Karena dalam setiap langkah yang Yanti ambil, dalam setiap sujud yang ia panjatkan, dalam setiap senja yang ia tonton dari teras rumahnya di Tegorejo, nama mereka selalu hadir, sebagai kenangan, sebagai pelajaran, sebagai untaian rindu yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.
PESAN DARI TRILOGI INI
Kepada siapa pun yang membaca perjalanan panjang Yanti, dari gadis kecil yang lahir di malam gerhana, hingga perempuan tua yang duduk di beranda sambil menatap senja, ingatlah:
Cinta pertama memang tak mudah dilupakan. Tapi ia tidak harus dihidupkan kembali. Cukup dikenang, disyukuri, dan dilepaskan.
Kehilangan adalah bagian dari hidup. Setiap orang yang pergi meninggalkan jejak. Dan jejak itu, jika kita kelola dengan bijak, akan menjadi guru terbaik.
Persahabatan sejati tidak menuntut kehadiran fisik. Ia cukup dirayakan dengan doa, dengan harapan baik, dengan keyakinan bahwa orang yang kita sayangi baik-baik saja di sana.
Pernikahan adalah komitmen. Badai akan datang. Ombak akan menghantam. Tapi kapal yang kuat adalah kapal yang tetap berlayar meskipun bocor di sana-sini, karena nakhodanya memilih untuk bertahan.
Dan yang terpenting: cinta sejati tidak selalu tentang memiliki. Kadang, cinta sejati adalah tentang melepaskan. Tentang membiarkan pergi. Tentang memilih untuk tidak hadir dalam kehidupan seseorang, agar ia bisa bahagia dengan pilihannya.
DI LANGIT YANG SAMA
Di Kapuas, seorang laki-laki tua bernama Akang Riyadi duduk di beranda rumah panggungnya, menatap langit senja yang berwarna jingga keemasan. Di tangannya, sebuah surat tua yang tidak pernah ia kirimkan, surat untuk Sinox Yanti, perempuan yang dulu ia cintai, yang kini hanya hadir dalam doanya.
Di Tegorejo, seorang perempuan tua bernama Sinox Yanti duduk di kursi bambu di teras rumahnya, juga menatap langit senja yang sama. Di pangkuannya, sebuah album foto lama terbuka pada halaman terakhir, foto dua remaja berdiri di depan gerbang SMP, tersenyum tanpa tahu bahwa hidup akan sekeras ini.
Mereka tidak bersama. Tidak pernah bersama. Tidak akan pernah bersama.
Tapi dalam doa, dalam kenangan, dalam untaian rindu yang suci, mereka terhubung.
Oleh langit yang sama. Oleh waktu yang terus berjalan. Oleh cinta yang telah berubah wujud menjadi keikhlasan.
"Merpati tak pernah ingkar janji."
Mungkin itu bukan tentang menepati janji.
Mungkin itu tentang bagaimana, meskipun terpisah oleh ruang dan waktu, hati yang pernah saling mengenal akan selalu menemukan jalannya untuk kembali, bukan sebagai kekasih, tetapi sebagai doa.
Sebagai untaian rindu dari surga.
Selamat membaca perjalanan Yanti Sinox, dalam tiga babak kehidupannya.
Saksikan ia jatuh, bangkit, jatuh lagi, dan belajar bahwa kebahagiaan sejati tidak datang dari mengejar bayangan, tetapi dari mensyukuri apa yang sudah ada di depan mata.
Karena pada akhirnya, jejak masa lalu bukanlah beban yang harus dipikul.
Ia adalah peta yang menunjukkan seberapa jauh kita telah melangkah.
Dan seberapa kuat kita telah bertumbuh.
Oleh: Slamet Riyadi
Desa Tegorejo, Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal
"Sebuah kisah yang terinspirasi dari dinamika kehidupan masyarakat desa, dunia pendidikan, persahabatan, percintaan, perjuangan hidup, serta kenyataan sosial yang berkembang di tengah masyarakat, diolah secara dramatik demi kepentingan narasi dan penguatan emosi cerita."
BUKU PERTAMA
SENJA DI DESA TEGOREJO, CINTA PERTAMA BERSEMI
"Tentang Sepeda Ontel, Karate, dan Cinta Pertama di Ujung Senja Tegorejo"
BAB I
GERHANA DI MALAM KELAHIRAN
Malam itu Desa Tegorejo seperti sedang memendam rahasia besar.
Langit gelap menggantung rendah di atas hamparan sawah yang membentang luas di pinggiran desa. Angin berhembus pelan melewati rumpun bambu dan pepohonan jati tua, menciptakan suara berdesir panjang yang terdengar menyeramkan di telinga warga.
Gerhana bulan total sedang berlangsung.
Bulan yang biasanya bercahaya terang kini berubah menjadi merah gelap seperti bara api yang menggantung di langit malam.
Sebagian warga desa memilih menutup pintu rumah rapat-rapat.
Beberapa orang tua bahkan melarang anak-anak mereka keluar rumah.
Konon katanya…
anak yang lahir saat gerhana akan memiliki nasib yang tidak biasa.
Di sebuah rumah kayu sederhana di ujung Desa Tegorejo, suasana tampak jauh lebih tegang dibanding rumah-rumah lain.
Lampu minyak kecil menggantung di ruang tengah, cahayanya redup bergoyang tertiup angin dari sela-sela dinding papan yang sudah mulai lapuk dimakan usia.
Di atas dipan kayu sederhana…
Bu Rosmiyati menggigit bibir menahan rasa sakit luar biasa.
“Kyaaaahhh…!”
Keringat membasahi dahinya.
Rambutnya yang panjang tampak berantakan menempel di pipi.
“Pak… Salam …” lirihnya sambil meremas kain sarung.
Pak Salam yang berdiri di samping pintu tampak panik. Lelaki sederhana berusia tiga puluhan itu mondar-mandir sambil menggigit kuku.
“Gimana ini, Bu Paijem…?” tanyanya gugup.
Bu Paijem yang duduk di dekat Bu Rosmiyati tetap terlihat tenang.
Perempuan tua itu sudah puluhan tahun menjadi dukun bayi di Desa Tegorejo. Hampir semua anak di desa lahir lewat tangannya.
Namun malam itu…
entah kenapa hatinya terasa tidak tenang.
“Tenang, Pak Salam … iki proses biasa…” ucapnya sambil mengusap perut Bu Rosmiyati perlahan.
Namun sebelum kalimatnya selesai…
DUARRR!!!
Suara petir menggelegar sangat keras.
Padahal…
langit sama sekali tidak hujan.
Pak Salam refleks menoleh keluar rumah.
“Lho… petir?”
Angin mendadak bertiup lebih kencang.
Daun-daun pisang di samping rumah bergoyang liar.
Lalu…
suara lolongan anjing terdengar bersahut-sahutan dari arah ujung desa.
Auuuuuuuu…
Auuuuuuuu…
Auuuuuuuu…
Bu Rosmiyati merinding.
“Pak… aku takut…” lirihnya.
Bu Paijem mencoba tetap fokus membantu persalinan.
“Tahan, Lastri… sedikit lagi…”
Namun sorot mata perempuan tua itu mulai berubah.
Ada kegelisahan yang sulit ia jelaskan.
Sementara di luar rumah…
beberapa tetangga mulai berkumpul di bawah teras sambil berbisik pelan.
“Petir tanpa hujan…”
“Gerhana pula…”
“Anjing melolong terus…”
“Jangan-jangan pertanda aneh…”
Seorang nenek tua berbisik pelan.
“Biasanya kalau ada bayi lahir pas malam kayak gini… hidupnya nggak biasa…”
Di dalam rumah…
Bu Rosmiyati kembali menjerit keras.
“Aaaakkkhhh…!”
“Tahan! Sedikit lagi!” seru Bu Paijem.
Lampu minyak mendadak berkedip.
Angin masuk semakin kuat dari sela-sela dinding rumah.
Lalu…
tangisan bayi pecah memenuhi ruangan.
“Uwaaa… uwaaa… uwaaa…”
Semua mendadak diam.
Pak Salam membelalak lega.
“Alhamdulillah…”
Namun…
sesuatu yang aneh terjadi.
Cahaya merah dari gerhana bulan tiba-tiba masuk melalui jendela bambu yang sedikit terbuka.
Cahaya itu tepat mengenai wajah bayi perempuan kecil tersebut.
Kulit bayi itu terlihat bercahaya lembut.
Bu Paijem membeku.
Tangannya berhenti bergerak.
Matanya menatap bayi itu lama sekali.
“Ya Allah…” bisiknya lirih.
“Kenapa, Bu?” tanya Pak Salam panik.
Bu Paijem tidak langsung menjawab.
Ia justru memandangi langit dari celah jendela.
Petir kembali menggelegar.
DUARRR!!!
Lalu…
seekor burung gagak tiba-tiba melintas di atas rumah sambil mengeluarkan suara parau.
Kraaakkk…
Kraaakkk…
Bulu kuduk Pak Salam mulai berdiri.
“Bu… jangan bikin saya takut…”
Bu Paijem menarik napas panjang.
Perlahan ia menggendong bayi kecil itu.
Bayi itu berhenti menangis.
Aneh sekali.
Matanya justru terbuka lebar menatap wajah Bu Paijem seolah mengerti sesuatu.
Padahal bayi baru lahir biasanya masih sulit membuka mata.
“Anak ini…” gumam Bu Paijem.
“Kenapa, Bu?” tanya Bu Rosmiyati lemah.
Bu Paijem duduk perlahan.
Wajahnya serius.
“Dia bakal jadi perempuan kuat…”
“Tapi hidupnya penuh cobaan…”
Pak Salam langsung menelan ludah.
“Maksudnya apa?”
Bu Paijem menatap bayi itu lagi.
“Banyak lelaki bakal datang dalam hidupnya…”
“Tapi hatinya bakal sering terluka…”
“Dia akan kehilangan orang-orang yang dicintainya…”
Bu Rosmiyati mulai menangis pelan.
“Jangan ngomong gitu, Bu…”
“Tapi anak ini juga bakal membawa kebanggaan…”
“Dia akan sekolah tinggi…”
“Jadi orang terhormat…”
“Dan jadi cahaya bagi banyak orang…”
Ruangan mendadak sunyi.
Hanya suara angin malam terdengar dari luar rumah.
Pak Salam duduk perlahan di kursi bambu.
Wajahnya campur aduk antara bahagia dan takut.
“Namanya siapa?” tanya Bu Paijem.
Bu Rosmiyati tersenyum tipis.
“Yanti…”
Bu Paijem mengangguk pelan.
“Nama yang bagus…”
“Semoga hidupnya benar-benar kuat…”
Malam semakin larut.
Gerhana mulai menghilang perlahan.
Namun kabar tentang kelahiran bayi aneh di rumah Pak Salam sudah menyebar ke seluruh Desa Tegorejo.
Warga mulai ramai membicarakannya.
“Katanya waktu lahir ada cahaya merah…”
“Katanya Bu Paijem sampai gemetar…”
“Pasti anak itu punya garis hidup aneh…”
Tak ada yang tahu…
bahwa bayi kecil bernama Yanti itu kelak akan menjalani kehidupan yang begitu panjang.
Penuh cinta.
Penuh air mata.
Penuh pengkhianatan.
Dan penuh penantian.
Sementara di luar rumah…
angin malam masih berhembus pelan.
Seolah langit Tegorejo sedang menyimpan rahasia besar tentang masa depan seorang bayi perempuan…
yang suatu hari nanti akan dipertemukan dengan cinta sejatinya…
tepat di ujung senja.
BAB II
RAMALAN BU PAIJEM
Pagi pertama setelah kelahiran Yanti terasa berbeda di Desa Tegorejo.
Kabut tipis masih menggantung di atas hamparan sawah ketika ayam-ayam mulai berkokok bersahutan dari belakang rumah warga. Udara desa terasa dingin, lembap, dan tenang.
Namun ketenangan itu tidak benar-benar hadir di rumah Pak Salam .
Sejak subuh tadi…
beberapa tetangga mulai berdatangan.
Ada yang membawa gula merah.
Ada yang membawa beras satu baskom kecil.
Ada pula yang hanya datang karena penasaran.
Kabar tentang bayi yang lahir saat gerhana semalam menyebar begitu cepat.
“Assalamualaikum…”
“Waalaikumsalam… monggo masuk…”
Suara sandal warga terdengar silih berganti di teras rumah kayu sederhana itu.
Di ruang tengah, Bu Rosmiyati masih berbaring lemah sambil menggendong bayi kecilnya.
Yanti tampak tertidur pulas dibalut kain batik lusuh pemberian Bu Paijem.
Sementara itu…
Bu Paijem masih duduk di kursi bambu dekat jendela.
Wajahnya terlihat lebih diam dari biasanya.
Tatapannya sesekali mengarah ke bayi kecil itu.
Seolah ada sesuatu yang terus dipikirkannya sejak tadi malam.
“Bu Paijem…” panggil Pak Salam pelan.
“Eh?”
“Sampeyan kok dari tadi melamun terus…”
Bu Paijem tersenyum tipis.
“Ndak apa-apa…”
“Tapi sampeyan semalam ngomong aneh…”
Bu Paijem terdiam.
Pak Salam duduk perlahan di sebelahnya.
“Jujur saya jadi kepikiran…”
“Anak saya sebenarnya kenapa, Bu?”
Suasana mendadak sunyi.
Dari luar terdengar suara ibu-ibu sedang bercakap pelan.
“Bayine ayu banget katanya…”
“Iya… tapi lahire kok pas gerhana…”
“Katanya ada cahaya merah masuk rumah…”
“Merinding aku…”
Bu Paijem menghela napas panjang.
“Pak Salam …”
“Iya, Bu?”
“Saya sudah puluhan tahun nolong persalinan…”
“Baru kali ini saya lihat kejadian seperti semalam…”
Pak Salam mulai tegang.
“Maksudnya?”
Bu Paijem menatap ke arah Yanti.
“Biasanya bayi lahir ya biasa saja…”
“Tapi anakmu lahir bareng tanda-tanda alam yang aneh…”
“Petir tanpa hujan…”
“Anjing melolong…”
“Gerhana bulan…”
“Dan cahaya itu…”
Pak Salam menelan ludah.
“Memangnya itu pertanda buruk?”
Bu Paijem tidak langsung menjawab.
Ia justru mengambil segelas teh hangat di meja kayu kecil lalu menyeruputnya perlahan.
“Tidak selalu buruk…”
“Tapi biasanya…”
“Anak yang lahir dengan tanda begitu hidupnya tidak biasa…”
Pak Salam makin serius mendengarkan.
“Tolong ngomong terus terang saja, Bu…”
Bu Paijem menghela napas.
“Anakmu bakal jadi perempuan yang kuat…”
“Dia bakal sekolah tinggi…”
“Bisa jadi guru…”
“Bisa jadi orang penting…”
Mata Pak Salam langsung berbinar.
“Alhamdulillah…”
“Tapi…”
Kalimat Bu Paijem menggantung.
“Tapi apa, Bu?”
“Hatine bakal sering disakiti…”
Ruangan mendadak terasa dingin.
Pak Salam terdiam.
“Maksudnya urusan cinta?”
Bu Paijem perlahan mengangguk.
“Dia bakal dicintai banyak lelaki…”
“Tapi jalannya nggak akan mudah…”
“Ada pengkhianatan…”
“Ada kehilangan…”
“Ada air mata…”
Di atas tempat tidur, Bu Rosmiyati yang sedari tadi diam mulai menggenggam bayi kecilnya lebih erat.
“Jangan ngomong begitu, Bu…”
“Saya takut…”
Bu Paijem mendekat perlahan.
“Lastri… hidup manusia itu Gusti Allah yang atur…”
“Saya cuma membaca tanda…”
“Tapi anakmu ini kuat…”
“Dia tidak akan gampang jatuh…”
Yanti kecil tiba-tiba terbangun.
Anehnya…
bayi itu tidak menangis.
Ia justru membuka mata perlahan sambil menatap Bu Paijem.
Perempuan tua itu langsung merinding.
“Ya Allah…”
“Kenapa lagi, Bu?” tanya Bu Rosmiyati panik.
Bu Paijem mengusap lengannya sendiri.
“Matanya…”
“Kenapa matanya?”
“Tatapannya aneh…”
Pak Salam mulai gelisah.
“Bu… jangan bikin kami takut…”
Namun sebelum Bu Paijem menjawab…
dari luar rumah tiba-tiba terdengar suara gaduh.
“Heh! Serius toh semalam ada cahaya?”
“Katanya Bu Paijem sampai pucat…”
“Jangan-jangan bayine keturunan orang sakti…”
Pak Salam langsung berdiri.
“Waduh… warga mulai ngomong macam-macam…”
Ia keluar rumah.
Di teras sudah ada beberapa lelaki desa sedang duduk sambil merokok.
Pak RT ikut datang.
“Piye, Pak Salam ? Anakmu sehat?”
“Alhamdulillah sehat, Pak…”
“Tapi kampung kok ramai ngomongin kelahiran semalam…”
Pak Salam memaksakan senyum.
“Namanya juga orang desa…”
Salah satu warga nyeletuk pelan.
“Tapi aku juga heran…”
“Petirnya keras banget padahal nggak hujan…”
“Iya…”
“Anjing sampai melolong terus…”
“Jangan-jangan anakmu nanti punya kemampuan aneh…”
Pak Salam langsung tersinggung.
“Jangan ngomong sembarangan!”
Suasana mendadak canggung.
Pak RT segera menengahi.
“Sudah… jangan bikin orang tua bayi kepikiran…”
Namun bisik-bisik warga tetap berlanjut.
Karena sejak dulu…
masyarakat Tegorejo masih percaya pada pertanda-pertanda mistis.
Menjelang siang…
rumah Pak Salam mulai sepi.
Tinggal Bu Paijem yang masih duduk dekat bayi kecil itu.
Ia memandangi wajah Yanti lama sekali.
Kulit bayi itu putih bersih.
Bibirnya merah kecil.
Dan matanya…
terlihat tajam untuk ukuran bayi yang baru lahir.
Bu Paijem perlahan berbisik sendiri.
“Hidupmu bakal panjang, Nduk…”
“Tapi juga berat…”
Tiba-tiba Bu Rosmiyati bertanya pelan.
“Bu…”
“Iya?”
“Kalau memang hidup anak saya nanti susah…”
“Apakah dia bisa bahagia?”
Bu Paijem diam cukup lama.
Lalu tersenyum tipis.
“Bahagia…”
“Itu bukan soal hidupnya mudah atau tidak…”
“Tapi soal siapa yang tetap bertahan di samping kita…”
Bu Rosmiyati menatap bayi kecilnya.
Air matanya jatuh perlahan.
“Semoga anak saya kuat…”
Bu Paijem mengangguk.
“Dia akan sangat kuat…”
“Bahkan lebih kuat dari yang kalian bayangkan…”
Angin siang berhembus pelan melewati jendela rumah.
Di luar…
langit Tegorejo mulai cerah.
Namun tak seorang pun di rumah itu tahu…
bahwa ramalan Bu Paijem suatu hari nanti benar-benar akan menjadi kenyataan.
Tentang cinta.
Tentang kehilangan.
Tentang pengkhianatan.
Dan tentang seorang perempuan bernama Yanti…
yang harus menunggu puluhan tahun…
untuk menemukan kebahagiaan sejatinya di ujung senja.
BAB III
ANAK PEREMPUAN DARI TEGOREJO
Waktu berjalan pelan di Desa Tegorejo.
Musim demi musim berganti melewati hamparan sawah yang mengelilingi desa kecil itu. Pohon-pohon kelapa tumbuh semakin tinggi. Jalanan tanah merah yang dulu becek saat hujan perlahan mulai mengeras oleh pijakan kaki warga dan roda sepeda ontel.
Dan bayi kecil yang lahir saat malam gerhana itu…
kini mulai tumbuh menjadi anak perempuan yang lincah.
Namanya Yanti.
Usianya baru menginjak lima tahun, tetapi hampir seluruh warga desa mengenalnya.
“Yantiii… jangan lari-lari terus!” teriak Bu Rosmiyati dari dapur.
“Iyaaaa, Bukkk!” jawab Yanti sambil tertawa kecil.
Anak itu berlari tanpa alas kaki melewati halaman rumah. Rambut hitamnya yang sedikit ikal bergoyang tertiup angin sore.
Tangannya membawa bunga liar yang dipetik dari pinggir sawah.
“Pak! Pak! Lihat bunga!”
Pak Salam yang sedang memperbaiki cangkul tersenyum kecil.
“Wah… cantik sekali bunganya…”
“Cantik aku apa bunganya?” tanya Yanti polos.
Pak Salam tertawa keras.
“Hahaha… ya jelas anak bapak lebih cantik!”
Yanti langsung terkikik senang.
“Berarti nanti aku jadi putri kerajaan ya?”
“Lho kok putri kerajaan?”
“Iya… nanti aku tinggal di istana…”
“Terus bapak jadi apa?”
“Jadi pengawal kerajaan!”
Pak Salam tertawa semakin keras.
Sementara Bu Rosmiyati yang mendengar dari dapur hanya menggeleng sambil tersenyum.
“Dasar anak nggak ada capeknya…”
Masa kecil Yanti berjalan sederhana.
Rumah mereka tidak besar.
Dindingnya masih papan kayu.
Atapnya seng tua yang bocor saat hujan deras datang.
Namun rumah kecil itu selalu terasa hangat.
Setiap pagi…
Bu Rosmiyati memasak nasi jagung di dapur kayu sederhana.
Sementara Pak Salam berangkat ke sawah membawa cangkul di pundaknya.
Dan Yanti…
selalu mengikuti ayahnya sampai pinggir jalan desa.
“Pak… nanti pulangnya jangan malam ya…”
“Iya…”
“Janji?”
“Iya janji…”
“Kalau bohong gimana?”
Pak Salam berpikir sebentar lalu tertawa.
“Kalau bohong nanti bapak dicubit ayam.”
Yanti langsung tertawa ngakak.
“Hahaha! Ayam kok nyubit!”
“Ya habis anak bapak sukanya ngomong aneh…”
Hubungan Yanti dengan ayahnya memang sangat dekat.
Pak Salam selalu menuruti hampir semua ocehan anak semata wayangnya itu.
Bahkan kadang…
ia rela pulang lebih cepat dari sawah hanya karena Yanti menangis ingin ditemani bermain.
Namun di balik keceriaan itu…
kehidupan keluarga mereka sebenarnya tidak mudah.
Penghasilan Pak Salam sebagai buruh tani sering kali tidak cukup.
Kadang mereka harus berutang beras ke warung Bu Minah.
Kadang Bu Rosmiyati harus menahan lapar agar Yanti tetap bisa makan.
Suatu malam…
hujan turun deras sekali.
Air menetes dari atap rumah yang bocor.
Yanti kecil duduk di dekat ibunya sambil memegang piring kosong.
“Buk…”
“Iya, Nduk?”
“Kok ibu nggak makan?”
“Ibu sudah makan tadi…”
“Bohong…”
Bu Rosmiyati tersenyum kecil.
“Kok tahu?”
“Kalau ibu habis makan pasti senyum…”
Kalimat polos itu membuat Bu Rosmiyati terdiam.
Dadanya terasa sesak.
Ia lalu mengusap kepala Yanti perlahan.
“Makan dulu ya…”
“Ibu dulu…”
“Ibu nanti…”
“Enggak mau. Harus bareng.”
Pak Salam yang baru masuk rumah membawa kayu bakar langsung berhenti mendengar percakapan itu.
Lelaki itu diam beberapa detik.
Lalu perlahan duduk di lantai.
Matanya tampak berkaca-kaca.
“Mbah…” kata Yanti tiba-tiba.
“Kenapa?”
“Nanti kalau aku besar…”
“Iya?”
“Aku mau jadi orang pintar…”
Pak Salam tersenyum tipis.
“Supaya apa?”
“Supaya ibu nggak lapar lagi…”
Suasana mendadak hening.
Hanya suara hujan yang terdengar jatuh di atap seng tua.
Bu Rosmiyati langsung memeluk anaknya erat.
Air matanya jatuh diam-diam.
Sejak kecil…
Yanti memang berbeda dibanding anak-anak lain.
Ia sangat suka belajar.
Meski belum masuk sekolah, ia sering memperhatikan tulisan-tulisan di kalender tua yang tergantung di dinding rumah.
“Pak… ini huruf apa?”
“Itu huruf A…”
“Kalau ini?”
“Itu B…”
“Kalau ini?”
“Lho kok banyak banget pertanyaannya…”
Yanti malah tertawa.
“Biar pinter!”
Pak Salam mengacak rambut anaknya pelan.
“Anak bapak memang harus pintar…”
Malam hari…
ketika anak-anak lain sudah tidur…
Yanti masih duduk dekat lampu minyak kecil.
Ia meniru tulisan dari koran bekas pembungkus tempe.
Tangannya kecil.
Tulisan tangannya masih miring-miring.
Namun matanya selalu penuh semangat.
Suatu malam Bu Rosmiyati berkata pelan kepada suaminya.
“Pak…”
“Iya?”
“Kayaknya anak kita benar-benar suka belajar…”
Pak Salam mengangguk.
“Dia beda…”
“Kalau lagi pegang buku matanya berbinar…”
Bu Rosmiyati tersenyum haru.
“Tapi sekolah itu mahal…”
Pak Salam diam.
Tatapannya kosong menembus gelap malam.
“Aku rela kerja apa saja…”
“Asal Yanti sekolah tinggi…”
Keesokan harinya…
Yanti bermain di halaman bersama anak-anak lain.
Ada Bambang si anak tengil.
Ada Dandang yang paling suka melawak.
Ada Anita yang pendiam.
Dan Yuli yang paling cerewet.
“Heh Yanti!” teriak Bambang.
“Apa?”
“Aku punya belalang!”
“Mana?”
Bambang membuka tangan perlahan.
Namun ternyata belalang itu langsung loncat ke wajah Yanti.
“Aaaaaaa!!”
Semua anak langsung tertawa ngakak.
“Hahahaha!”
“Bambang nakal!”
Yanti mengejar Bambang sambil membawa sandal.
“Siniaaa kamu!”
Bambang lari terbirit-birit.
“Ampun Yantiiii!”
Dandang sampai berguling-guling tertawa di tanah.
“Bambang mati nanti!”
Sementara Anita hanya tertawa kecil sambil menutup mulut.
Di tengah canda anak-anak desa itu…
tak ada yang menyangka…
bahwa persahabatan mereka kelak akan berubah menjadi kisah panjang penuh cinta, pengkhianatan, air mata, dan penyesalan.
Sore hari…
Yanti duduk sendirian di pematang sawah.
Langit mulai berwarna jingga.
Ia memandangi burung-burung kecil yang terbang pulang ke sarang.
“Yanti…”
Suara Pak Salam terdengar dari belakang.
“Lho bapak…”
“Kok sendirian?”
Yanti tersenyum kecil.
“Aku suka lihat langit sore…”
Pak Salam duduk di samping anaknya.
“Kenapa?”
“Cantik…”
“Memang cantik…”
Yanti lalu menoleh pelan.
“Pak…”
“Iya?”
“Kalau aku besar…”
“Aku boleh jadi guru?”
Pak Salam menatap wajah anaknya lama sekali.
Lalu tersenyum hangat.
“Bukan boleh lagi…”
“Kamu harus jadi guru…”
Mata Yanti langsung berbinar.
“Benarkah?”
“Iya…”
“Karena bapak percaya…”
“Kamu akan jadi perempuan hebat.”
Angin sore berhembus lembut melewati sawah Tegorejo.
Dan matahari perlahan tenggelam di ufuk barat.
Tak ada yang tahu…
bahwa anak kecil yang sedang duduk di pematang sawah itu…
kelak akan menjalani perjalanan hidup yang sangat panjang.
Penuh cinta.
Penuh kehilangan.
Dan penuh penantian…
BAB IV
LANGIT PAGI SEKOLAH DASAR
Pagi itu Desa Tegorejo tampak lebih hidup dari biasanya. Matahari baru saja muncul dari balik hamparan sawah ketika suara ayam jantan bersahut-sahutan memecah udara pagi. Kabut tipis masih menggantung rendah di pematang sawah, sementara embun menempel di daun-daun pisang dan rerumputan liar di pinggir jalan desa.
Di sebuah rumah sederhana berdinding kayu, tinggal seorang anak perempuan bernama Yanti. Ia dikenal sebagai anak yang rajin dan ceria. Sejak kecil, Yanti sudah terbiasa bangun pagi membantu ibunya sebelum memulai hari.
Ketika Yanti berumur dua tahun, keluarganya kedatangan anggota baru. Ibunya melahirkan seorang bayi perempuan mungil yang diberi nama Ima. Sejak saat itu rumah kecil mereka menjadi semakin ramai oleh suara tangis dan tawa kedua anak itu.
Meski masih kecil, Yanti sangat sayang kepada adiknya. Ia sering membantu ibunya mengambilkan popok kain, menjaga Ima saat menangis, atau mengayun pelan tempat tidur bambu agar adiknya cepat tertidur.
Tahun demi tahun berlalu. Kini Yanti berusia tujuh tahun, sedangkan Ima lima tahun. Yanti akan segera masuk Sekolah Dasar untuk pertama kalinya. Sejak beberapa hari sebelumnya, ia sudah tidak sabar menunggu hari itu datang.
Malam sebelum masuk sekolah, Yanti bahkan sulit tidur karena terlalu bersemangat.
“Bu… besok Yanti benar-benar sekolah ya?” tanyanya sambil rebahan di samping ibunya.
“Iya, Nak,” jawab Bu Rosmiyati sambil mengelus rambut anaknya. “Besok Yanti sudah jadi anak sekolah.”
Yanti tersenyum lebar sampai matanya menyipit.
“Aku mau punya banyak teman.”
“Dan harus rajin belajar,” sahut Pak Salam dari ruang depan.
“Iyaaa, Pak!” jawab Yanti cepat.
Keesokan paginya, suasana rumah Pak Salam terasa jauh lebih sibuk dari biasanya.
“Yanti! Cepat bangun! Nanti kesiangan!” teriak Bu Rosmiyati dari dapur.
“Iyaaaa, Bukkk!” jawab Yanti dari dalam kamar.
Anehnya, pagi itu Yanti bangun lebih cepat dari biasanya. Padahal sehari-hari ia terkenal paling susah dibangunkan.
Di ruang depan, Pak Salam sedang sibuk menyetrika seragam SD merah putih menggunakan setrika arang. Keringat kecil tampak di dahinya.
“Asline kok susah lurus ya…” gumamnya sambil meniup bara arang.
Bu Rosmiyati tertawa kecil dari dapur.
“Namanya juga baru pertama punya anak sekolah.”
“Biarin! Anakku harus rapi!” jawab Pak Salam bangga.
Tak lama kemudian, Yanti muncul dari belakang rumah setelah mandi di sumur. Rambutnya masih basah dan pipinya tampak segar terkena air pagi.
“Ibuuuu! Bajuku mana?” teriaknya.
“Lho, itu di dekat bapakmu!”
Yanti langsung berlari kecil mendekati ayahnya. Matanya berbinar melihat seragam putih merah yang tergantung di kursi bambu.
“Pak…”
“Iya?”
“Aku beneran sekolah hari ini?”
Pak Salam tersenyum hangat.
“Lho iya…”
Yanti memegang seragam itu pelan, seolah sedang memegang sesuatu yang sangat berharga.
“Aku jadi anak sekolah…”
Suaranya lirih penuh takjub.
Bu Rosmiyati yang melihat itu ikut tersenyum haru.
“Iya… anak ibu sudah besar.”
Tiba-tiba Yanti memeluk ibunya erat.
“Aku janji rajin sekolah!”
“Harus!”
“Nggak boleh malas!”
“Siap, Bu Guru!” jawab Yanti sambil hormat.
Mereka langsung tertawa bersama.
Tak lama kemudian, Yanti mulai memakai seragam SD pertamanya. Meski rok merahnya sedikit kebesaran karena dijahit oleh tetangga desa, wajah Yanti tetap tampak sangat bahagia.
Ia berdiri di depan cermin kecil yang kacanya mulai kusam. Dengan kedua tangan, Yanti merapikan kerah bajunya sambil memperhatikan dirinya sendiri.
“Buk…”
“Iya?” sahut Bu Rosmiyati dari dapur.
“Aku cantik nggak?”
Bu Rosmiyati tertawa kecil melihat tingkah anaknya.
“Cantik sekali…”
Yanti makin tersenyum lebar.
“Kayak putri kerajaan?”
“Iya…”
Yanti langsung menoleh ke arah ayahnya yang sedang duduk di kursi bambu.
“Kalau menurut bapak?”
Pak Salam menjawab cepat tanpa berpikir panjang.
“Paling cantik sedunia!”
Yanti tertawa ngakak.
“Hahaha! Bapak lebay!”
Pak Salam pura-pura bingung.
“Itu apa lagi lebay?”
“Katanya Dandang, kalau ngomong berlebihan itu lebay!”
“Wah… baru masuk sekolah saja bahasanya aneh-aneh,” gumam Pak Salam sambil geleng-geleng kepala.
Di sudut ruangan, Ima yang sejak tadi memperhatikan ikut mendekat sambil membawa boneka kain kecilnya.
“Kak Yanti cantik pakai baju sekolah,” katanya polos.
Yanti tersenyum lalu jongkok di depan adiknya.
“Nanti Ima juga sekolah kalau sudah besar.”
“Aku mau ikut sekarang.”
“Belum boleh,” jawab Yanti sambil tertawa kecil. “Ima masih kecil.”
Setelah berpakaian rapi, Yanti duduk di meja makan sederhana bersama keluarganya. Pagi itu Bu Rosmiyati menyiapkan nasi hangat, tempe goreng, dan telur dadar.
“Anak pintar harus sarapan dulu,” kata Pak Salam.
“Iya Pak,” jawab Yanti semangat.
Ima ikut bersuara sambil mengunyah nasi.
“Aku juga mau pintar kayak Kak Yanti.”
“Kalau begitu harus rajin makan,” goda Bu Rosmiyati.
Semua langsung tertawa.
Selesai sarapan, Yanti memakai tas kain biru pemberian ayahnya. Tas itu sederhana dan warnanya sedikit pudar, tetapi Yanti sangat menyayanginya.
Sebelum berangkat, ia mencium tangan ayah dan ibunya.
“Assalamualaikum, Bu… Pak… Yanti berangkat sekolah.”
“Waalaikumsalam. Hati-hati di jalan,” jawab keduanya hampir bersamaan.
Ima berlari kecil sampai ke depan rumah sambil melambaikan tangan.
“Kak Yanti jangan lama-lama pulangnya!”
“Iyaaa…” sahut Yanti ceria.
Dengan langkah kecil penuh semangat, Yanti berjalan menyusuri jalan desa yang masih basah oleh embun pagi. Cahaya matahari mulai menyinari sawah-sawah hijau di sepanjang jalan Tegorejo.
Di bawah langit pagi yang cerah itu, seorang anak kecil berjalan menuju sekolah pertamanya—membawa mimpi-mimpi sederhana yang mulai tumbuh di dalam hatinya.
Yanti menggandeng tangan ayah dan ibunya sepanjang jalan desa.
Tas kain kecil warna biru tergantung di pundaknya.
Di jalan…
banyak anak-anak lain juga berjalan menuju sekolah.
Ada yang memakai sandal jepit.
Ada yang bahkan tidak memakai alas kaki.
“Yantiiii!”
Suara keras tiba-tiba terdengar dari belakang.
Ternyata Bambang.
Anak tengil itu berlari sambil membawa tas lusuh.
“Hahaha! Yanti pakai pita merah!”
Yanti langsung manyun.
“Kenapa?”
“Kayak antena TV!”
“Bambanggg!”
Yanti mengejar Bambang sambil membawa botol minumnya.
Pak Pak Salam hanya tertawa melihat tingkah mereka.
“Dasar anak-anak…”
Dari belakang muncul Dandang sambil membawa bekal pisang goreng.
“Heh Bambang! Jangan ganggu calon bu guru!”
“Siapa calon bu guru?”
“Yanti lah!”
Bambang langsung melirik Yanti.
“Ah masa…”
“Lho memang iya!” jawab Dandang.
Yanti tersipu malu.
“Apaan sih…”
Dandang tertawa.
“Soalnya Yanti kalau ngomong suka kayak guru!”
Mereka terus berjalan sambil bercanda.
Di sepanjang jalan desa…
suasana pagi terasa hangat.
Suara burung-burung kecil terdengar dari pepohonan.
Dan sinar matahari mulai menyinari sawah yang hijau membentang luas.
Bangunan SD Tegorejo tampak sederhana.
Dindingnya masih papan kayu.
Beberapa bagian cat sudah mengelupas.
Halamannya berupa tanah merah yang sedikit berdebu.
Namun bagi Yanti…
tempat itu terlihat sangat megah.
Ia berdiri mematung di depan gerbang sekolah.
Matanya berbinar.
“Pak…”
“Iya?”
“Sekolahku besar ya…”
Pak Pak Salam tersenyum.
“Iya…”
“Kalau aku pintar nanti…”
“Aku bisa sekolah lebih tinggi lagi?”
“Tentu bisa…”
“Setinggi apa?”
“Setinggi langit kalau kamu mau…”
Mata Yanti makin berbinar.
Di halaman sekolah…
anak-anak mulai berbaris.
Suasana sangat ramai.
Ada yang menangis mencari ibunya.
Ada yang tertawa-tawa.
Ada pula yang saling dorong.
Tiba-tiba seorang guru perempuan keluar dari ruang kantor.
Beliau memakai kebaya coklat sederhana dengan rambut disanggul rapi.
“Anak-anak… ayo baris yang rapi…”
Suaranya lembut namun tegas.
Yanti langsung memperhatikan guru itu serius sekali.
“Pak…”
“Hm?”
“Guru itu cantik…”
Pak Pak Salam tertawa kecil.
“Makanya nanti kamu juga harus jadi guru cantik.”
Yanti langsung tersenyum lebar.
Guru perempuan itu kemudian mendekat.
“Namanya siapa?” tanyanya lembut pada Yanti.
“Yanti, Bu…”
“Oh… namanya bagus…”
Yanti tersenyum malu.
“Ini ayah ibunya?”
“Iya Bu…” jawab Pak Pak Salam sopan.
Guru itu mengangguk ramah.
“Anaknya kelihatan pintar…”
Pak Pak Salam langsung tersenyum bangga.
“Semoga saja begitu, Bu Guru…”
“Namanya siapa, Pak?”
“Pak Salam …”
“Pak Pak Salam tidak usah khawatir. Kami akan mendidik anak bapak dengan baik.”
Kalimat itu membuat mata Pak Pak Salam sedikit berkaca-kaca.
Ia menunduk pelan.
“Terima kasih, Bu…”
Saat bel masuk berbunyi…
anak-anak mulai masuk kelas.
Yanti sempat memegang tangan ibunya erat.
“Ibu pulang?”
“Iya…”
“Nanti jemput aku?”
“Iya…”
“Jangan lama-lama ya…”
Bu Rosmiyati tersenyum sambil mengusap kepala anaknya.
“Iya…”
Namun saat Yanti mulai masuk kelas…
ia tiba-tiba kembali berlari memeluk ayahnya.
“Pak…”
“Iya?”
“Aku takut…”
Pak Pak Salam jongkok perlahan.
“Takut kenapa?”
“Kalau aku nggak punya teman…”
Pak Pak Salam tersenyum hangat.
“Kamu pasti punya banyak teman…”
“Kalau ada yang jahil?”
“Ya tinggal jahilin balik…”
Yanti langsung tertawa kecil.
“Bapak ini…”
Pak Pak Salam lalu menatap mata anaknya serius.
“Dengar ya…”
“Iya…”
“Kamu harus sekolah yang rajin…”
“Kenapa?”
“Supaya hidupmu lebih baik dari bapak…”
Kalimat itu membuat Yanti diam.
Meski masih kecil…
ia bisa merasakan kesungguhan dalam suara ayahnya.
“Aku janji…”
“Janji apa?”
“Aku bakal jadi orang pintar…”
“Terus?”
“Biar ibu sama bapak bahagia…”
Pak Pak Salam langsung memeluk anaknya erat.
Sementara Bu Rosmiyati diam-diam menyeka air mata.
Di dalam kelas…
Yanti duduk di bangku kayu dekat jendela.
Ia melihat keluar.
Ayah dan ibunya masih berdiri di halaman sekolah sambil memandang ke arahnya.
Yanti melambaikan tangan kuat-kuat.
Pak Pak Salam membalas dengan senyum lebar.
Dan pagi itu…
di ruang kelas sederhana SD Tegorejo…
langkah pertama perjalanan panjang hidup Yanti akhirnya dimulai.
Perjalanan tentang mimpi.
Tentang persahabatan.
Tentang cinta.
Tentang pengkhianatan.
Dan tentang seorang perempuan desa…
yang kelak harus menunggu sangat lama…
untuk menemukan kebahagiaan sejatinya di ujung senja.
BAB V
BAMBANG SI ANAK TENGIL
Hari-hari pertama di SD Tegorejo menjadi masa yang sangat menyenangkan bagi Yanti.
Setiap pagi ia selalu bangun lebih awal dibanding ayam jantan milik Pak Lurah. Bahkan sebelum ibunya selesai memasak nasi jagung, Yanti sudah mandi dan memakai seragam sekolahnya sendiri.
“Buk! Cepat sisirin rambutku!”
“Lho sabar…”
“Nanti aku telat!”
Bu Rosmiyati sampai geleng-geleng kepala.
“Baru juga sekolah seminggu…”
“Ya biarin! Aku suka sekolah!”
Pak Salam yang sedang minum kopi langsung tertawa.
“Dulu waktu kecil bapaknya malah sembunyi kalau disuruh sekolah…”
“Serius, Pak?”
“Iya…”
“Kenapa?”
“Takut disuruh nulis…”
Yanti langsung tertawa keras.
“Hahaha! Bapak bodoh!”
“Eh enak aja!”
Rumah kecil itu selalu dipenuhi suara tawa setiap pagi.
Namun…
semangat Yanti pergi sekolah ternyata bukan hanya karena suka belajar.
Ada satu hal lain yang diam-diam membuatnya selalu bersemangat.
Teman-temannya.
Di SD Tegorejo…
Yanti mulai akrab dengan banyak anak.
Ada Anita yang pemalu dan lembut.
Ada Dandang yang mulutnya tidak pernah berhenti bercanda.
Ada Yuli yang paling cerewet sedunia.
Dan tentu saja…
Bambang.
Anak laki-laki paling usil satu sekolah.
Tubuh Bambang kecil kurus.
Kulitnya hitam terbakar matahari.
Rambutnya selalu berdiri seperti sapu ijuk karena jarang disisir.
Namun matanya sangat jahil.
Hari itu…
suasana kelas sedang tenang.
Bu Guru Siti sedang menulis huruf di papan tulis.
“Anak-anak, sekarang kita belajar membaca…”
“Iyaaaaa Buuuu…”
Yanti duduk manis di bangku depan.
Sementara Bambang duduk di belakang sambil melirik-lirik rambut Yanti.
Ia menyenggol Dandang pelan.
“Heh…”
“Apa?”
“Lihat…”
Bambang mengambil kertas kecil.
Lalu diam-diam ia membuat gambar monyet.
Setelah selesai…
kertas itu dilempar tepat ke kepala Yanti.
Tok!
Yanti menoleh cepat.
“Apa itu?!”
Dandang langsung menunduk menahan ketawa.
Sementara Bambang pura-pura serius melihat papan tulis.
Yanti membuka kertas itu perlahan.
Gambar monyet dengan tulisan besar:
“YANTI SI RAMBUT ANTENA.”
Yanti langsung melotot.
“Bambanggg!”
Satu kelas langsung menoleh.
Bu Guru Siti ikut berhenti menulis.
“Ada apa ini?”
Yanti berdiri sambil memegang kertas.
“Bambang ngejek saya!”
Bambang langsung pura-pura polos.
“Saya nggak ngapa-ngapain, Bu…”
“Bohong!”
“Buktinya mana?”
Yanti langsung menunjukkan kertas.
Bu Guru Siti membaca tulisan itu.
Lalu menatap Bambang tajam.
“Bambang…”
“Iya Bu…”
“Kamu yang bikin?”
Bambang masih mencoba mengelak.
“Bukan saya…”
Dandang langsung nyeletuk.
“Bohong Bu! Tadi dia gambar monyet mirip dirinya sendiri!”
Satu kelas langsung pecah tertawa.
“Hahahahaha!”
Bambang langsung berdiri.
“Heh Dandang!”
“Apaaa?”
“Kamu jangan ikut campur!”
“Ya habis monyetnya memang mirip kamu!”
Bahkan Bu Guru Siti sampai menahan senyum.
“Sudah… sudah…”
“Tapi Bambang nggak boleh mengejek teman.”
Bambang manyun.
“Iya Bu…”
“Tolong minta maaf.”
Bambang menoleh malas ke arah Yanti.
“Maaf…”
“Nggak ikhlas itu!” kata Yanti kesal.
Satu kelas kembali tertawa.
Namun meski sering jahil…
Bambang sebenarnya diam-diam suka memperhatikan Yanti.
Ia selalu mencari cara agar Yanti memperhatikannya.
Walaupun caranya sering keterlaluan.
Saat jam istirahat…
anak-anak bermain di halaman sekolah.
Ada yang bermain lompat tali.
Ada yang bermain gobak sodor.
Ada pula yang bermain kejar-kejaran.
Yanti duduk bersama Anita di bawah pohon mangga sambil makan bekal.
“Aku bawa tempe goreng…” kata Anita pelan.
“Aku telur dadar!” jawab Yanti bangga.
Tiba-tiba Bambang muncul entah dari mana.
“Heh…”
“Apa lagi?” tanya Yanti curiga.
Bambang duduk sembarangan di depan mereka.
“Kalian makan apa?”
“Rahasia.”
“Peliiiit…”
Yanti langsung menutup kotak makannya.
“Daripada nanti kamu isengin lagi.”
Bambang cengar-cengir.
“Aku nggak jahat kok…”
“Bohong!”
“Serius!”
“Terus kemarin siapa yang masukin belalang ke tasku?”
Bambang langsung tertawa ngakak.
“Hahaha! Lucu banget waktu kamu teriak!”
Yanti langsung mencubit lengan Bambang.
“Awww!”
“Rasakan!”
Anita sampai tertawa kecil melihat mereka.
Namun dari kejauhan…
ada sepasang mata lain yang memperhatikan.
Namanya Lila.
Anak perempuan berambut pendek yang duduk di bangku paling belakang.
Lila sebenarnya tidak terlalu dekat dengan siapa-siapa.
Namun sejak awal…
ia kurang suka melihat Yanti.
Menurutnya…
Yanti terlalu disukai guru.
Terlalu disukai teman-teman.
Dan terlalu sering jadi pusat perhatian.
“Huh…” gumam Lila pelan.
Yuli yang berdiri di dekatnya langsung bertanya.
“Kamu kenapa?”
“Enggak…”
“Tapi kamu lihat nggak…”
“Apa?”
“Semua orang perhatian sama Yanti terus.”
Yuli mengangkat bahu.
“Ya karena Yanti baik…”
Lila mendecih pelan.
“Atau cari perhatian…”
Hari-hari berlalu.
Yanti semakin dikenal sebagai anak pintar di kelas.
Nilai membacanya paling bagus.
Tulisan tangannya paling rapi.
Bahkan Bu Guru Siti sering memujinya di depan kelas.
“Anak-anak, coba lihat tulisan Yanti…”
“Bagus dan rapi…”
“Harus dicontoh…”
Bambang langsung berbisik ke Dandang.
“Kalau tulisan Yanti bagus…”
“Kenapa?”
“Berarti mukanya nggak usah bagus lagi…”
Dandang langsung tertawa terbahak.
“Hahahaha!”
Yanti mendengar itu.
Ia langsung mengambil penghapus lalu melempar Bambang.
Plak!
“Kenaaa!” teriak Dandang.
Satu kelas pecah tertawa lagi.
Bu Guru Siti sampai geleng-geleng kepala.
“Kalian ini…”
Namun suatu hari…
kenakalan Bambang mulai sedikit keterlaluan.
Saat pelajaran olahraga…
anak-anak diminta berlari mengelilingi lapangan kecil sekolah.
Yanti berlari bersama Anita.
Sementara Bambang dan Dandang berlari di belakang.
“Heh lihat…” bisik Bambang.
“Apa?”
“Aku punya ide…”
“Jangan aneh-aneh…”
Namun Bambang diam-diam mengikat tali sepatu Yanti saat mereka berhenti sebentar.
Ketika Yanti mulai berlari lagi…
BRUK!
Yanti jatuh tersungkur di tanah.
“Aduuuhhh!”
Anak-anak langsung kaget.
Bu Guru olahraga berlari mendekat.
“Yanti!”
Lutut Yanti lecet berdarah.
Anita panik.
“Ya Allah…”
Sementara Bambang yang awalnya tertawa…
langsung pucat melihat Yanti menangis.
“Aku… aku cuma bercanda…”
Bu Guru langsung marah besar.
“BAMBANG!”
Bambang menunduk ketakutan.
“Kamu tahu ini berbahaya?!”
“Saya nggak sengaja Bu…”
Yanti masih menangis sambil memegang lututnya.
Bu Guru segera membersihkan lukanya.
Sementara Bambang berdiri diam dengan wajah bersalah.
Untuk pertama kalinya…
ia merasa benar-benar bersalah pada Yanti.
Sepulang sekolah…
Bambang diam-diam mengikuti Yanti dari belakang.
Yanti berjalan pincang kecil sambil membawa tasnya.
“Heh…”
Yanti menoleh malas.
“Apa?”
Bambang menunduk.
“Maaf…”
Yanti diam.
“Aku nggak niat bikin kamu luka…”
“Bohong…”
“Serius…”
“Aku cuma bercanda…”
Yanti masih kesal.
“Bercandamu kebangetan.”
Bambang menggaruk kepala.
“Aku takut kamu nggak mau temenan lagi…”
Yanti melirik Bambang.
Untuk pertama kalinya…
anak tengil itu terlihat benar-benar sedih.
“Huh…”
“Maafin nggak?”
Yanti pura-pura berpikir.
“Kalau aku maafin…”
“Iya?”
“Besok traktir es lilin.”
Bambang langsung semangat.
“Siap!”
“Tapi dua!”
“Lho mahal!”
“Katanya mau minta maaf!”
Bambang langsung pasrah.
“Iya deh…”
Yanti akhirnya tertawa kecil.
Dan sore itu…
di jalan kecil Desa Tegorejo…
persahabatan masa kecil mereka kembali hangat.
Meski tak ada yang tahu…
bahwa kelak…
hubungan mereka akan berubah jauh lebih rumit daripada sekadar jahilan anak-anak sekolah dasar.
BAB VI
SAHABAT MASA KECIL
Musim penghujan mulai datang di Desa Tegorejo.
Langit hampir setiap sore dipenuhi awan gelap. Jalanan tanah merah berubah becek, sementara sawah-sawah tampak semakin hijau oleh guyuran air hujan yang turun hampir setiap hari.
Namun bagi anak-anak SD Tegorejo…
musim hujan justru menjadi musim paling menyenangkan.
Karena itu berarti…
banyak permainan baru.
Dan sore itu…
halaman belakang sekolah berubah menjadi arena perang lumpur.
“Heh! Lempar dia!”
“Jangaaaan!”
Plakkk!
Lumpur basah mengenai wajah Dandang.
Anak itu langsung melotot.
“Bambanggg!”
Satu kelompok anak langsung tertawa terbahak-bahak.
“Hahahahaha!”
Yanti sampai jongkok sambil memegang perut karena terlalu keras tertawa.
Dandang mengusap wajahnya penuh lumpur.
“Tunggu ya kalian…”
Ia mengambil segenggam lumpur besar.
Bambang langsung kabur.
“WOI JANGAN!”
Namun…
BRASSS!
Lumpur itu malah mengenai Anita yang berdiri diam di dekat pohon.
Suasana langsung hening.
Anita membeku.
Rambutnya penuh lumpur.
Pipinya belepotan.
Semua anak langsung menahan napas.
Dandang pucat.
“A… Anita…”
Anita perlahan menoleh.
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Kamu jahat…”
Dandang langsung panik.
“Eh eh eh jangan nangis!”
Namun Anita benar-benar menangis.
“Hiks…”
Yanti langsung mendekat.
“Dandang! Kamu keterlaluan!”
“Aku nggak sengaja!”
“Anita nggak pernah ganggu siapa-siapa!”
Bambang ikut mendekat sambil menahan ketawa.
“Tapi lucu sih…”
“BAMBANG!” bentak Yanti.
“Oke oke salah…”
Anita masih menangis kecil.
“Aku jadi jelek…”
Yuli yang sejak tadi berdiri sambil membawa payung langsung nyeletuk.
“Tenang aja…”
Semua menoleh.
“Kenapa?”
“Anita dari tadi juga udah jelek.”
Satu detik sunyi.
Lalu…
“HHAHAHAHAHAHA!”
Semua anak langsung tertawa keras.
Bahkan Anita ikut tertawa di sela tangisnya.
“Heh Yuliii!”
Yuli tertawa sambil kabur.
“Bercanda!”
Hari-hari mereka selalu ramai.
Persahabatan kecil itu mulai terbentuk sangat kuat.
Meski sering bertengkar…
mereka selalu kembali bermain bersama.
Yanti perlahan menjadi pusat dari lingkaran persahabatan itu.
Bukan karena paling cantik.
Bukan juga karena paling pintar.
Tetapi karena Yanti selalu bisa membuat semua orang merasa nyaman.
Kalau Anita sedih…
Yanti yang menenangkan.
Kalau Bambang bertengkar…
Yanti yang melerai.
Kalau Dandang dihukum guru…
Yanti pula yang membantu mengerjakan tugasnya.
Dan entah kenapa…
semua anak mulai bergantung pada Yanti.
Suatu pagi…
kelas SD Tegorejo sangat ribut.
Bu Guru Siti belum datang.
Anak-anak bebas bermain di dalam kelas.
Dandang berdiri di atas bangku sambil membawa penggaris kayu seperti mikrofon.
“Selamat pagi pemirsa!”
Satu kelas langsung tertawa.
“Hari ini kita akan menyaksikan…”
Dandang menunjuk Bambang.
“Kontes muka paling jelek se-Tegorejo!”
“Hahaha!”
Bambang langsung melempar kapur.
“Heh!”
Namun Dandang menghindar cepat.
“Peserta pertama…”
Ia menunjuk Bambang lagi.
“Bambang si muka sandal jepit!”
Satu kelas langsung meledak tertawa.
“Hahahahaha!”
Bambang berdiri marah.
“Muka sandal jepit apaan?!”
“Soalnya gepeng!”
Tawa makin pecah.
Bahkan Yanti sampai menepuk meja.
“Dandang jahat banget!”
“Lanjut!” teriak anak-anak.
Dandang menunjuk Yuli.
“Peserta kedua…”
“Yuli si radio rusak!”
Yuli langsung melotot.
“Aku bukan radio rusak!”
“Iya…”
“Terus?”
“Radio keliling!”
Satu kelas kembali tertawa keras.
Karena memang…
Yuli terkenal paling cerewet sedunia.
Apa pun berita di sekolah…
pasti Yuli tahu lebih dulu.
“Aku laporin Bu Guru ya!”
“Lapor aja!”
Dandang malah makin semangat.
“Nanti aku bilang Bu Guru kalau kamu suka nguping orang!”
Yuli langsung diam.
“Eh jangan…”
“Hahaha kena!”
Namun di tengah keributan itu…
Lila duduk sendiri di bangku belakang.
Matanya terus memperhatikan Yanti.
Saat Yanti tertawa…
semua ikut tertawa.
Saat Yanti bicara…
semua mendengarkan.
Lila menggigit bibir pelan.
Ia sebenarnya ingin ikut dekat.
Namun gengsi.
Dan dalam hatinya…
mulai tumbuh rasa iri kecil yang perlahan semakin besar.
“Kenapa sih semua suka Yanti…” gumamnya pelan.
Redi yang duduk dekatnya mendengar.
“Karena dia baik…”
Lila mendecih.
“Atau pura-pura baik.”
Redi mengernyit.
“Kamu aneh…”
Lila tidak menjawab.
Matanya masih tertuju pada Yanti yang sedang tertawa bersama teman-temannya.
Tak lama kemudian…
Bu Guru Siti masuk kelas.
“Wah… ramai sekali…”
Anak-anak langsung kembali duduk.
Kecuali Dandang yang masih berdiri di atas meja.
“Dandang…”
“Iya Bu?”
“Kamu mau jadi murid apa jemuran?”
Satu kelas langsung tertawa.
Dandang turun cepat sambil nyengir.
“Siap Bu…”
Bu Guru mulai membagikan hasil ulangan membaca.
“Yang nilainya bagus ibu kasih hadiah.”
Anak-anak langsung semangat.
“Apa hadiahnya Bu?!”
“Nanti lihat saja…”
Satu per satu nama dipanggil.
Namun nilai tertinggi kembali diraih Yanti.
“Selamat ya, Yanti.”
Yanti berdiri malu-malu.
Anak-anak langsung tepuk tangan.
Bambang malah bersiul.
“Wiuuu!”
Bu Guru menyerahkan sebuah buku tulis baru bergambar bunga.
Mata Yanti langsung berbinar.
“Terima kasih Bu…”
“Rajin terus ya…”
“Iya Bu…”
Saat kembali duduk…
Bambang berbisik pelan.
“Heh…”
“Apa?”
“Pinjam bukunya nanti.”
“Buat apa?”
“Biar aku pintar juga.”
Yanti tertawa kecil.
“Kamu mah maunya nyontek.”
“Kalau nyontek sama orang pintar kan ikut pintar…”
“Logika dari mana itu?”
“Logika Bambang.”
Yanti langsung geleng-geleng kepala sambil tertawa.
Jam pulang sekolah tiba.
Hujan turun cukup deras.
Anak-anak terjebak di teras sekolah.
Dandang mulai bosan.
“Heh…”
“Apa lagi?” tanya Yuli.
“Kita cerita horor yuk.”
“Jangan!” Anita langsung takut.
“Kenapa?”
“Nanti aku nggak bisa tidur…”
Bambang langsung mendekat sambil menurunkan suara.
“Katanya…”
“Apa?”
“Di belakang sekolah ada kuntilanak…”
Anita langsung pucat.
“Bohong…”
“Serius…”
“Dia suka muncul kalau hujan…”
“Hiiiii…”
Yanti langsung memukul kepala Bambang pelan.
“Jangan nakut-nakutin!”
“Tapi serius!”
“Tadi malam aku lihat…”
“Lihat apa?”
“Bayangan putih…”
Dandang langsung nyeletuk.
“Itu sarung bapakmu dijemur!”
“Hahaha!”
Semua langsung tertawa lagi.
Suasana teras sekolah terasa hangat meski hujan deras turun di luar.
Mereka duduk berdempetan sambil tertawa, bercanda, dan saling mengejek.
Tak ada yang sadar…
bahwa persahabatan kecil itu suatu hari nanti akan diuji oleh cinta.
Oleh pengkhianatan.
Oleh rasa iri.
Dan oleh waktu yang perlahan mengubah semuanya.
Namun sore itu…
mereka masih hanya sekumpulan anak kecil dari Desa Tegorejo.
Yang belum tahu…
betapa rumitnya dunia orang dewasa nanti.
BAB VII
MIMPI DI BAWAH LAMPU MINYAK
Malam di Desa Tegorejo selalu datang dengan kesunyian yang khas.
Tidak ada suara kendaraan ramai.
Tidak ada lampu jalan terang seperti di kota.
Yang terdengar hanya suara jangkrik dari balik semak, gesekan dedaunan bambu yang tertiup angin malam, dan sesekali gonggongan anjing dari kejauhan.
Di rumah kecil Pak Salam …
lampu minyak mulai dinyalakan.
Cahayanya redup kekuningan.
Bayangan dinding papan tampak bergoyang pelan terkena pantulan api kecil dari sumbu lampu.
Bu Rosmiyati sedang menanak nasi di dapur kayu.
Sementara Pak Salam baru saja pulang dari sawah dengan tubuh penuh lumpur.
“Huhhh… capek juga hari ini…”
Yanti yang sedang duduk di lantai langsung berlari menyambut ayahnya.
“Pakkk!”
“Iyaaa…”
“Kamu bau sawah!”
Pak Salam tertawa.
“Lho ya memang habis dari sawah.”
Yanti memeluk ayahnya sebentar lalu langsung mundur sambil menutup hidung.
“Ihh… kayak kerbau!”
“Eh anak ini!”
Bu Rosmiyati sampai tertawa dari dapur.
“Hahaha! Makanya mandi dulu!”
Pak Salam pura-pura kesal.
“Nanti kalau bapak kaya…”
“Iya?”
“Bapak mandi pakai minyak wangi!”
Yanti langsung tertawa ngakak.
“Bapak mah cocoknya pakai minyak kayu putih!”
“Hahaha!”
Rumah kecil itu kembali dipenuhi suara tawa hangat.
Namun malam itu…
setelah makan malam sederhana dengan lauk tempe goreng dan sambal terasi…
Yanti tidak langsung tidur seperti biasanya.
Ia justru mengambil buku tulis lusuh dan pensil pendeknya.
Lalu duduk dekat lampu minyak.
Pak Salam yang sedang memperbaiki caping menoleh heran.
“Lho…”
“Kenapa Pak?”
“Kamu belum tidur?”
“Belum.”
“Mau ngapain?”
“Belajar.”
Pak Salam dan Bu Rosmiyati saling pandang.
“Belajar malam-malam?”
“Iya…”
“Besok ada PR?”
“Nggak…”
“Terus?”
Yanti tersenyum kecil.
“Aku pengen pintar.”
Suasana mendadak sedikit hening.
Pak Salam memperhatikan anaknya serius.
Di bawah cahaya lampu minyak…
wajah kecil Yanti tampak sangat sungguh-sungguh.
Ia mulai menulis huruf demi huruf dengan lidah sedikit menjulur tanda fokus.
“A…”
“B…”
“C…”
Tulisan tangannya masih belum rapi.
Kadang miring.
Kadang terlalu besar.
Namun matanya…
penuh semangat.
Beberapa menit kemudian…
Bambang tiba-tiba muncul di depan rumah.
“Yantiiii!”
“Apaaa?”
“Ayo main petak umpet!”
“Enggak!”
“Lho kenapa?”
“Aku belajar!”
Bambang langsung masuk sambil melongo.
“Hah?!”
“Aku mau pintar.”
Bambang tertawa keras.
“Hahaha! Belajar malam-malam?!”
“Iya!”
“Kamu aneh…”
Yanti langsung manyun.
“Kamu yang aneh.”
Bambang duduk di lantai sambil memperhatikan buku Yanti.
“Kamu serius suka belajar?”
“Iya.”
“Memangnya enak?”
“Enak.”
“Bagian mana yang enak?”
“Kalau aku pintar…”
“Terus?”
“Aku bisa jadi guru.”
Bambang langsung tertawa lagi.
“Hahaha! Yanti jadi guru!”
“Kenapa ketawa?!”
“Karena nanti murid-muridmu pasti disuruh nulis seribu halaman!”
“Biar pintar!”
“Kalau aku jadi muridmu aku kabur.”
Pak Salam sampai ikut tertawa mendengar percakapan mereka.
Tak lama kemudian…
Dandang dan Yuli ikut datang.
“Heh Bambang ternyata di sini…”
“Yanti lagi belajar!” jawab Bambang.
Dandang langsung melotot lebay.
“Hah?!”
“Kenapa memang?”
“Kamu sakit?”
“Hah?”
“Orang normal malam-malam ya tidur!”
Yanti langsung melempar penghapus kecil ke arah Dandang.
Plak!
“Aduhh!”
Satu rumah langsung tertawa.
Anita yang datang paling belakang hanya tersenyum kecil sambil membawa singkong rebus.
“Ibu nyuruh nganter ini…”
“Waaah singkong!” teriak Bambang.
Belum sempat diizinkan…
Bambang sudah mengambil satu.
“Heh rakus!” kata Yuli.
“Daripada basi!”
Mereka lalu duduk melingkar di lantai rumah sederhana itu.
Lampu minyak kecil di tengah mereka membuat suasana terasa hangat.
Dandang mulai memperhatikan buku Yanti.
“Kamu kalau besar beneran mau jadi guru?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Yanti diam sebentar.
Lalu menjawab pelan.
“Karena guru itu hebat…”
“Hebat gimana?”
“Bisa bikin orang pintar…”
Suasana mendadak lebih tenang.
Bahkan Dandang yang biasanya banyak bercanda ikut diam mendengarkan.
Yanti melanjutkan.
“Kalau aku jadi guru…”
“Aku mau ngajarin anak-anak desa…”
“Supaya mereka nggak susah…”
Pak Salam yang mendengar dari sudut ruangan perlahan menunduk.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Namun di tengah suasana hangat itu…
Lila muncul di depan rumah.
Ia berdiri sambil melipat tangan.
“Kalian rame banget…”
“Oh Lila! Sini!” kata Yuli.
Lila masuk pelan.
Matanya langsung melihat buku Yanti.
“Kamu belajar lagi?”
“Iya.”
“Rajin banget…”
Nada bicara Lila terdengar aneh.
Yanti tidak menyadari.
Namun Yuli melirik sebentar.
Lila duduk perlahan.
Lalu berkata sambil tersenyum tipis.
“Kalau terlalu pintar nanti nggak punya teman lho…”
Bambang langsung nyeletuk.
“Lho Yanti temannya banyak!”
Lila tersenyum kecil.
“Iya sih…”
“Tapi biasanya anak paling pintar suka sombong…”
Suasana mendadak sedikit canggung.
Yanti langsung menggeleng cepat.
“Aku nggak sombong kok…”
“Iya sekarang…”
“Lho maksudmu apa?”
“Ya siapa tahu nanti…”
Dandang mulai merasa suasana tidak enak.
Ia langsung memotong.
“Heh daripada ngomongin pintar…”
“Apa?”
“Kita ngomongin Bambang aja.”
“Kenapa aku?!”
“Soalnya mukamu lebih menarik dibahas.”
“Hahaha!”
Suasana kembali cair.
Namun diam-diam…
kalimat Lila tadi membekas di hati Yanti.
Malam semakin larut.
Satu per satu temannya pulang.
Tinggal Yanti yang masih duduk di bawah lampu minyak.
Matanya mulai mengantuk.
Namun ia tetap menulis.
Pak Salam mendekat perlahan.
“Nduk…”
“Iya Pak…”
“Capek nggak?”
“Sedikit…”
“Tidur dulu…”
“Sebentar lagi…”
Pak Salam duduk di samping anaknya.
“Kenapa sih pengen banget jadi guru?”
Yanti berpikir sebentar.
Lalu menjawab lirih.
“Karena aku nggak mau ibu sama bapak susah terus…”
Kalimat itu membuat dada Pak Pak Salam terasa sesak.
Ia mengusap kepala anaknya perlahan.
“Nggak usah mikir berat-berat…”
“Tapi aku pengen bikin bapak ibu bangga…”
Pak Salam tersenyum hangat.
“Kamu sudah bikin bangga…”
Yanti menatap ayahnya.
“Benarkah?”
“Iya…”
“Bahkan sebelum kamu jadi apa-apa…”
Air mata tipis mulai muncul di mata Yanti kecil.
Namun ia tersenyum.
Dan malam itu…
di bawah cahaya lampu minyak sederhana…
mimpi besar seorang anak desa mulai tumbuh perlahan.
Mimpi yang kelak membawanya pada perjalanan hidup panjang…
penuh cinta…
penuh luka…
dan penuh penantian hingga ujung senja.
BAB VIII
HUJAN DAN SURAT KECIL
Musim hujan semakin akrab dengan Desa Tegorejo.
Hampir setiap siang langit berubah gelap. Angin berembus lebih dingin melewati sawah dan kebun tebu di pinggir desa. Jalanan tanah berubah licin, sementara anak-anak justru semakin senang bermain air hujan.
Namun siang itu…
suasana SD Tegorejo terasa sedikit berbeda bagi Yanti.
Entah kenapa…
sejak pagi Bambang terlihat gelisah.
Biasanya anak itu paling ribut di kelas.
Paling sering bikin guru marah.
Paling banyak bicara.
Tapi hari itu…
ia malah diam.
“Heh…”
Dandang menyenggol lengannya.
“Apa?”
“Kamu sakit?”
“Enggak.”
“Terus kok kayak ayam kehilangan induk?”
Bambang mendecih.
“Ganggu aja…”
Yuli yang duduk di depan langsung menoleh.
“Eh serius…”
“Apa?”
“Dari tadi Bambang nggak jahilin Yanti.”
Satu kelas langsung menoleh ke arah Bambang.
Bambang langsung panik.
“Heh! Jangan keras-keras!”
Dandang langsung menyipitkan mata curiga.
“Wahhh…”
“Apaan?”
“Kamu habis ngelakuin dosa ya?”
“Hah?!”
“Biasanya mulutmu kayak radio rusak…”
“Hahaha!”
Anak-anak mulai tertawa.
Bambang makin salah tingkah.
Sementara Yanti hanya bingung melihat tingkah temannya itu.
Jam pelajaran berlangsung seperti biasa.
Namun diam-diam…
Bambang terus melirik ke arah Yanti.
Di bawah meja kayunya…
tangannya menggenggam selembar kertas kecil yang sudah kusut karena diremas berkali-kali.
Ia tampak gugup luar biasa.
“Heh…” bisik Dandang.
“Apa lagi?”
“Itu apa di tanganmu?”
“Bukan apa-apa!”
“Surat ya?”
Bambang langsung menutup mulut Dandang cepat-cepat.
“Sssttt!”
Dandang langsung membelalak.
“WOOOOY!”
Yuli yang mendengar langsung mendekat.
“Surat apa?!”
“Bukan surat!”
“Bohong!”
“Serius!”
Namun wajah Bambang sudah merah sendiri.
Yuli langsung menyeringai jahil.
“Heh jangan-jangan…”
“Apa?”
“Kamu suka sama Yanti?”
BRUK!
Bambang langsung jatuh dari kursi karena kaget.
Satu kelas langsung tertawa keras.
“HHAHAHAHA!”
Bahkan Bu Guru Siti yang sedang menulis di papan sampai menoleh.
“Bambang!”
“Iya Bu!”
“Kamu kenapa jatuh?”
“Lantainya licin Bu…”
Padahal lantainya kering.
Satu kelas makin susah menahan tawa.
Jam istirahat tiba.
Anak-anak langsung berhamburan keluar kelas.
Namun Bambang masih duduk diam.
Tangannya berkeringat.
Dandang duduk di sampingnya sambil menahan senyum.
“Kamu serius mau kasih?”
Bambang mengangguk pelan.
“Takut…”
“Takut apa?”
“Nanti diketawain…”
Dandang tertawa kecil.
“Ya memang lucu sih…”
“Heh!”
“Tapi yaudah kasih aja…”
Bambang menarik napas panjang.
Lalu melihat ke arah halaman sekolah.
Yanti sedang duduk bersama Anita di bawah pohon mangga sambil makan bekal.
Rambutnya dikepang dua.
Pita merahnya sedikit miring.
Namun senyumnya…
membuat Bambang makin gugup.
“Heh…” kata Dandang pelan.
“Apa?”
“Kamu beneran suka ya?”
Bambang diam cukup lama.
Lalu menjawab lirih.
“Sedikit…”
Dandang langsung tertawa ngakak.
“Hahaha! Bambang jatuh cinta!”
“Diam!”
Hujan mulai turun pelan.
Anak-anak berlari berteduh di teras kelas.
Yanti masih duduk sambil memandangi air hujan jatuh di halaman sekolah.
“Aku suka hujan…” katanya pelan.
Anita tersenyum kecil.
“Kenapa?”
“Dingin…”
“Kalau aku takut petir…”
Tiba-tiba…
Bambang muncul dari belakang mereka.
Wajahnya tegang.
“Heh…”
Yanti menoleh.
“Apa?”
Bambang langsung menyodorkan kertas kecil.
“Ini…”
“Apa?”
“Pokoknya baca nanti…”
“Hah?”
Belum sempat Yanti bertanya lagi…
Bambang langsung kabur.
“Heh Bambang!” teriak Yanti bingung.
Dari kejauhan…
Dandang tertawa sambil memukul tiang teras.
“Hahaha! Pucat banget mukanya!”
Yuli langsung penasaran.
“Itu apa?!”
“Entahlah…”
“Coba buka!”
Yanti membuka lipatan kertas kecil itu perlahan.
Tulisan di dalamnya miring-miring dan berantakan.
Namun masih bisa dibaca.
“Yanti jangan marah ya.
Aku suka lihat kamu ketawa.
Jangan bilang siapa-siapa.
Dari orang rahasia.”
Suasana langsung hening.
Yanti membelalak.
Anita menutup mulut menahan tawa.
Yuli langsung teriak.
“WOOOOOO!”
Satu teras langsung menoleh.
“Apa?!”
“Surat cintaaaa!”
“HAAAAAAAA?!”
Anak-anak langsung heboh.
Bambang yang masih berdiri jauh langsung pucat.
“Heh jangan keras-keras!”
Dandang sampai jongkok karena terlalu keras tertawa.
“Hahaha! Orang rahasia katanya!”
Yuli langsung teriak lagi.
“Padahal tulisannya kayak cakar ayam Bambang!”
Satu sekolah langsung pecah tertawa.
Bambang langsung menutupi wajahnya sendiri.
“Maluuuu…”
Yanti sendiri masih memegang surat kecil itu.
Pipinya mulai merah.
“Aku nggak ngerti…”
Yuli langsung menggoda.
“Cieee…”
“Apaan sih!”
“Yanti disukai Bambang!”
Anita tertawa kecil.
“Sebenarnya lucu juga…”
Yanti langsung manyun.
“Lucu dari mana…”
Namun diam-diam…
ia tersenyum sendiri.
Untuk pertama kalinya…
ada anak laki-laki yang memberinya surat.
Meski tulisannya jelek.
Meski bahasanya aneh.
Tetapi entah kenapa…
surat kecil itu membuat jantung Yanti berdebar aneh.
Namun dari sudut teras sekolah…
Lila memperhatikan semuanya dengan wajah datar.
Matanya menatap surat di tangan Yanti.
Lalu menatap Bambang yang masih malu-malu.
“Huh…”
gumamnya pelan.
Yuli melihat ekspresi itu.
“Kamu kenapa?”
“Enggak…”
“Tapi mukamu jutek banget.”
Lila tersenyum tipis.
“Menurutku itu kekanak-kanakan.”
“Ya memang kita masih anak-anak…” jawab Dandang spontan.
Satu kelompok langsung tertawa.
Lila langsung kesal sendiri.
Hujan semakin deras.
Anak-anak duduk bergerombol di teras sekolah sambil mendengar suara hujan menghantam atap seng.
Bambang akhirnya memberanikan diri mendekat lagi.
“Heh…”
Yanti menoleh.
“Apa?”
“Suratnya…”
“Kenapa?”
“Jangan dibuang ya…”
Yanti menatap Bambang beberapa detik.
Lalu tersenyum kecil.
“Iya…”
Bambang langsung nyengir lebar.
Dandang langsung berbisik ke Yuli.
“Wah bahaya…”
“Kenapa?”
“Bambang resmi jadi penyair kampung.”
“Hahaha!”
Suasana kembali dipenuhi tawa kecil anak-anak desa yang masih polos.
Namun tak ada yang sadar…
bahwa surat kecil sederhana di hari hujan itu…
adalah awal dari kisah panjang tentang cinta…
yang kelak akan tumbuh semakin rumit seiring bertambahnya usia mereka.
BAB IX
LANGIT YANG KEHILANGAN
Hari-hari di rumah kecil keluarga Pak Salam biasanya selalu dipenuhi suara tawa. Suara Ima yang berlari kecil mengejar ayam di halaman, suara Bu Rosmiyati yang memanggil dari dapur, dan suara Yanti yang membaca pelajaran sekolah dengan lantang setiap malam.
Namun beberapa bulan terakhir, suasana itu mulai berubah.
Pak Salam yang biasanya paling kuat bekerja di sawah mulai sering batuk-batuk. Tubuhnya yang dulu tegap perlahan terlihat semakin kurus. Kadang saat pulang dari sawah, ia duduk lama di kursi bambu sambil menahan sesak napas.
Suatu sore, Yanti yang baru pulang sekolah melihat ayahnya duduk termenung di depan rumah.
“Pak… belum masuk?” tanya Yanti sambil melepas tas.
Pak Salam tersenyum kecil.
“Bapak cuma capek sedikit.”
“Tapi bapak pucat.”
“Ah, nanti juga sembuh.”
Yanti mendekat lalu duduk di samping ayahnya.
“Besok Yanti bantu di sawah ya?”
Pak Salam tertawa pelan.
“Anak kecil bantu apa?”
“Bantu nemenin bapak.”
Mata Pak Salam tampak berkaca-kaca mendengar jawaban itu.
“Makasih, Nduk.”
Dari dalam rumah, Bu Rosmiyati keluar membawa segelas teh hangat.
“Masuk dulu, Pak. Anginnya dingin.”
Pak Salam mengangguk pelan.
Namun malam itu, batuk Pak Salam semakin parah.
Suara batuknya terdengar panjang sampai membuat Ima terbangun.
“Ibu… bapak kenapa?” tanya Ima dengan mata setengah menangis.
Bu Rosmiyati mengusap kepala anak kecil itu.
“Bapak cuma sakit sedikit.”
“Tapi kok batuk terus…”
Yanti yang duduk di dekat ayahnya ikut cemas.
Pak Salam mencoba tersenyum meski napasnya terdengar berat.
“Bapak nggak apa-apa.”
Keesokan harinya, Pak Salam dibawa ke puskesmas desa.
Yanti berjalan di belakang sambil memegang tangan Ima erat-erat.
Sepanjang jalan, Yanti diam.
Ia belum pernah melihat ayahnya selemah itu.
Setelah diperiksa dokter, Pak Salam diminta banyak istirahat.
“Jangan terlalu capek bekerja dulu,” kata dokter.
Pak Salam hanya mengangguk.
Tetapi keadaan tidak kunjung membaik.
Hari demi hari, tubuhnya semakin lemah.
Suatu malam hujan turun deras mengguyur Desa Tegorejo.
Lampu minyak di rumah kecil mereka bergoyang tertiup angin.
Pak Salam terbaring di kamar dengan napas tersengal.
Yanti duduk di sampingnya sambil menggenggam tangan ayahnya.
“Pak…” suaranya gemetar.
“Iya, Nduk…”
“Bapak sembuh kan?”
Pak Salam memandang wajah anak sulungnya lama.
Ia tersenyum tipis.
“Yanti harus jadi anak pintar.”
Air mata Yanti langsung jatuh.
“Jangan ngomong begitu…”
“Kamu harus jaga ibu… jaga Ima juga.”
Yanti menggeleng kuat-kuat.
“Enggak! Bapak harus sembuh! Nanti nganter Yanti sekolah lagi…”
Bu Rosmiyati yang berdiri di dekat pintu langsung menutup mulutnya sambil menangis.
Ima yang masih kecil ikut menangis karena melihat semua orang menangis.
“Bapak jangan sakit…” katanya lirih.
Pak Salam mengangkat tangan pelan lalu mengusap kepala Ima.
“Ima anak baik ya…”
Malam semakin larut.
Hujan masih turun tanpa henti.
Tetangga mulai berdatangan setelah mendengar kondisi Pak Salam semakin buruk.
Suara doa terdengar pelan memenuhi rumah kecil itu.
Tak lama kemudian…
Napas Pak Salam mulai melemah.
Bu Rosmiyati langsung mendekat.
“Pak.…”
Yanti mengguncang tangan ayahnya perlahan.
“Pak… jangan tidur…”
Namun beberapa saat kemudian, tangan Pak Salam terkulai lemah.
Ruangan mendadak sunyi.
Hanya suara hujan dan tangis yang terdengar.
“Innalillahi wa innailaihi rojiun…” ucap salah satu tetangga pelan.
Bu Rosmiyati langsung memeluk tubuh suaminya sambil menangis keras.
“Pak… jangan tinggalin kami…”
Yanti ikut memeluk ayahnya.
“Pak… bangun Pak… Yanti belum bikin bapak bangga…”
Ima menangis ketakutan di sudut ruangan.
“Bapak… bapaaaaak…”
Malam itu rumah kecil mereka dipenuhi duka.
Tetangga perempuan membantu menenangkan Bu Rosmiyati.
Sementara para lelaki mulai menyiapkan segala keperluan pemakaman.
Yanti duduk diam di dekat jenazah ayahnya.
Matanya sembab.
Sesekali ia masih berharap ayahnya bangun dan tersenyum seperti biasa.
Tetapi semuanya telah berubah.
Menjelang subuh, jenazah Pak Salam dimandikan.
Yanti berdiri di balik pintu sambil menangis diam-diam.
Ia melihat tubuh ayahnya yang kini terbujur kaku.
Ayah yang dulu selalu menggendongnya saat kecil. Ayah yang selalu berjalan jauh demi membelikan buku tulis. Ayah yang tertawa paling keras setiap Yanti bercanda.
Kini hanya tinggal kenangan.
Saat kain kafan mulai dibungkuskan, Yanti tak kuat menahan tangis.
“Ibu…”
Bu Rosmiyati memeluk anaknya erat.
“Kita harus ikhlas…” katanya terbata-bata.
“Tapi Yanti masih mau sama bapak…”
“Ibu juga…”
Mereka menangis bersama.
Pagi harinya, warga desa mulai memenuhi rumah.
Suasana begitu sunyi meski banyak orang datang.
Beberapa ibu terlihat mengusap air mata.
Pak Salam dikenal sebagai orang baik di desa.
Ketika keranda jenazah diangkat, tangis Yanti pecah lagi.
“Pak… jangan pergi jauh…”
Ima memeluk kaki ibunya.
“Ibu… bapak mau ke mana?”
Bu Rosmiyati tak mampu langsung menjawab.
Air matanya terus mengalir.
“Bapak pergi sama Allah, Nak…”
“Bapak pulang lagi nggak?”
Pertanyaan polos itu membuat orang-orang di sekitar ikut menunduk haru.
Bu Rosmiyati memeluk Ima erat.
“Bapak sekarang tinggal di surga…”
Yanti berjalan di belakang keranda sambil menangis.
Langkah kecilnya terasa berat.
Jalan desa yang biasa dilewati bersama ayahnya kini terasa begitu asing.
Sesampainya di pemakaman desa, langit tampak mendung.
Angin bertiup pelan melewati pepohonan bambu.
Jenazah Pak Salam perlahan diturunkan ke liang lahat.
Yanti langsung menangis keras.
“Pak… Yanti belum sempat balas kebaikan bapak…”
Seorang tetangga menenangkan bahunya.
“Sabar ya, Nduk…”
Namun Yanti terus menangis.
Ia melihat tanah mulai ditimbunkan sedikit demi sedikit.
Setiap suara cangkul terasa seperti menghantam dadanya.
Ima berdiri memeluk ibunya sambil kebingungan.
“Ibu… kenapa bapak ditutup tanah?”
Bu Rosmiyati menangis sambil mencium kepala anak kecil itu.
“Karena semua orang nanti pulang kepada Allah…”
Setelah pemakaman selesai, orang-orang mulai pulang satu per satu.
Yanti masih berdiri di dekat makam ayahnya.
Angin menggerakkan ujung jilbab kecilnya.
“Pak…” bisiknya lirih.
“Aku bakal rajin sekolah…”
“Aku bakal jaga ibu sama Ima…”
“Jadi bapak tenang ya…”
Air matanya jatuh lagi.
Bu Rosmiyati mendekat lalu merangkul kedua anaknya.
Mereka bertiga berdiri di depan makam sederhana itu dalam diam.
Hari itu, langit Desa Tegorejo terasa berbeda.
Bagi Yanti, dunia tidak lagi sama.
Namun di tengah duka yang begitu dalam, ia mulai mengerti satu hal:
bahwa hidup harus tetap berjalan, meski hati kehilangan seseorang yang paling dicintai.
BAB X
MAS NUR DAN PANDANGAN PERTAMA
Waktu berjalan begitu cepat di Desa Tegorejo.
Musim demi musim berlalu.
Sawah-sawah tetap hijau seperti dulu. Suara ayam masih terdengar setiap pagi. Anak-anak kecil yang dulu berlarian tanpa sandal di jalan desa kini mulai tumbuh remaja.
Begitu juga dengan Yanti.
Anak perempuan yang dulu menangis di hari pertama masuk SD itu kini sudah lulus sekolah dasar. Seragam putih merahnya telah disimpan rapi di lemari kayu tua peninggalan ayahnya.
Kini…
ia akan memakai seragam putih biru.
Namun sejak Pak Salam meninggal beberapa tahun lalu, suasana rumah mereka tak pernah benar-benar sama lagi.
Rumah kecil itu masih berdiri sederhana di pinggir sawah. Tetapi kini tidak ada lagi suara tawa keras Pak Salam setiap pagi. Tidak ada lagi suara beliau menyetrika sambil bercanda.
Yang tersisa hanyalah kenangan.
Meski begitu, Bu Rosmiyati berusaha tetap kuat demi kedua anaknya.
Dan pagi itu…
langit Tegorejo tampak cerah menyambut hari pertama masuk SMP.
Di dalam kamar kecilnya, Yanti berdiri di depan cermin kusam sambil merapikan jilbab putih barunya. Tangannya tampak sedikit gemetar karena gugup.
Rambutnya kini mulai panjang.
Wajahnya semakin manis.
Tatapan matanya juga mulai berubah lebih dewasa.
Ia bukan lagi anak kecil yang suka mengejar Bambang sambil membawa sandal atau menangis karena kalah bermain gobak sodor.
Kini…
Yanti mulai tumbuh menjadi gadis remaja.
“Ibukkk…” panggilnya pelan.
“Iya?” sahut Bu Rosmiyati dari dapur.
“Jilbabku miring nggak?”
Bu Rosmiyati masuk sambil membawa sisir kecil. Ia mendekat lalu membetulkan bagian peniti di jilbab anaknya dengan hati-hati.
“Nah… sekarang cantik.”
“Beneran?”
“Iya.”
Yanti memperhatikan dirinya lagi di cermin.
Masih ada rasa tidak percaya dalam dirinya.
“Aku udah SMP ya, Bu…”
Bu Rosmiyati tersenyum tipis.
“Iya… bapakmu pasti bangga lihat kamu sekarang.”
Mendengar itu, wajah Yanti langsung sedikit berubah.
Ia diam sesaat.
Ada rasa rindu yang tiba-tiba datang.
Namun sebelum suasana menjadi sedih, suara Ima terdengar dari luar kamar.
“Kak Yantiiii!”
BRAK!
Anak kecil itu masuk sambil membawa pita rambut warna merah muda.
“Kakak cantik banget!”
Yanti langsung tertawa kecil.
“Ima bikin kaget aja.”
Ima memperhatikan kakaknya dari atas sampai bawah dengan mata berbinar.
“Kayak anak kota…”
“Apaan sih.”
“Beneran!”
Ima lalu mendekat sambil berbisik pelan.
“Nanti pasti banyak cowok suka.”
“Ihhh!” Yanti langsung melotot malu.
Bu Rosmiyati tertawa kecil melihat tingkah kedua anaknya.
“Ima jangan godain kakakmu.”
“Tapi emang cantik…”
Yanti langsung menutup muka dengan kedua tangan.
“Udah ah!”
Ima malah makin semangat menggoda.
“Nanti kalau ada yang suka jangan lupa bilang Ima.”
“Kamu ngerti apa sih?”
“Aku udah gede!” jawab Ima bangga.
“Gede dari mana? Kemarin masih takut ayam.”
“Itu beda!”
Mereka langsung tertawa bersama.
Hari pertama SMP terasa jauh berbeda dibanding SD.
Bangunan sekolah lebih besar.
Muridnya lebih banyak.
Dan suasananya terasa lebih asing.
Yanti berjalan pelan bersama Anita dan Yuli memasuki gerbang sekolah.
Tas mereka masih tampak baru.
Sepatu hitam mereka masih bersih mengilap.
“Ya ampun rame banget…” kata Anita gugup.
“Aku jadi takut…” tambah Yuli.
“Takut kenapa?” tanya Yanti.
“Katanya anak SMP suka galak.”
“Tuh lihat kakak kelasnya…” bisik Anita.
“Mukanya serem-serem.”
Yanti ikut menelan ludah.
Jujur saja, ia juga gugup.
Namun tiba-tiba—
“Heh minggirrr!”
BRUK!
Dandang menabrak mereka sambil berlari.
“Aduhhh!” teriak Yuli.
“Dandanggg!” bentak Anita.
Dandang malah tertawa keras.
“Hahaha! Biar semangat hari pertama!”
“Kamu tuh bikin kaget!”
“Kalau nggak kaget bukan Dandang namanya.”
Tak lama kemudian Bambang muncul sambil membawa tas di pundaknya.
Rambutnya masih sama berantakan seperti dulu.
Namun kini tubuhnya mulai tinggi dan suaranya sedikit lebih berat.
“Heh Yanti…”
“Apa?”
“Kamu gugup ya?”
“Enggak.”
“Bohong.”
“Serius.”
“Tanganmu gemetar tuh.”
Yanti langsung menyembunyikan tangannya cepat-cepat.
“Heh jangan lihat-lihat!”
Bambang tertawa kecil.
Untuk sesaat…
suasana terasa sama seperti masa SD dulu.
Masih ada candaan.
Masih ada keusilan.
Masih ada rasa nyaman karena tumbuh bersama sejak kecil.
Namun…
semuanya mulai berubah ketika seorang laki-laki berjalan melewati mereka.
Langkahnya tenang.
Seragamnya rapi.
Kulitnya sawo matang bersih.
Matanya teduh.
Anak laki-laki itu berjalan sambil membawa buku di dada.
Dan entah kenapa…
kehadirannya membuat beberapa siswi langsung memperhatikan.
“Eh…” bisik Yuli pelan.
“Apa?”
“Itu siapa?”
“Yang mana?”
“Yang lewat tadi…”
Anita ikut melirik.
“Oh…”
“Lumayan ganteng…”
Dandang langsung nyeletuk.
“Ah biasa aja.”
Namun Bambang ikut melirik sekilas.
Dan entah kenapa…
dadanya langsung terasa tidak nyaman.
Sementara Yanti…
diam.
Matanya mengikuti langkah anak laki-laki itu tanpa sadar.
Untuk pertama kalinya…
jantungnya berdegup aneh.
Di dalam kelas…
murid-murid baru mulai duduk mencari tempat.
Yanti duduk dekat jendela bersama Anita.
Sementara Yuli duduk tepat di belakang mereka.
Dandang dan Bambang duduk di pojok sambil bercanda seperti biasa.
Namun beberapa menit kemudian…
anak laki-laki tadi masuk kelas.
Dan ternyata…
ia sekelas dengan mereka.
“Heh…” bisik Yuli cepat.
“Itu lagi…”
Yanti pura-pura tidak peduli.
“Oh…”
Padahal diam-diam ia langsung salah tingkah sendiri.
Tak lama kemudian wali kelas masuk membawa buku absen.
“Selamat pagi anak-anak.”
“Pagiii Buuu…”
“Sebelum belajar, kita perkenalan dulu ya.”
Satu per satu murid mulai berdiri memperkenalkan diri.
Ada yang gugup.
Ada yang terlalu pelan.
Ada juga yang bikin satu kelas tertawa.
Hingga akhirnya giliran anak laki-laki tadi.
Ia berdiri tenang.
“Nama saya Mas Nur.”
Suaranya lembut dan tenang.
“Rumah saya di Dusun Karanganyar.”
“Senang berkenalan dengan semuanya.”
Beberapa siswi langsung saling pandang.
“Wah suaranya enak…”
“Kalem banget…”
Bambang langsung mendecih pelan.
“Halah…”
Dandang menyenggol lengannya.
“Kamu kenapa?”
“Biasa aja.”
“Cemburu ya?”
“Apaan!”
Namun matanya tetap melirik ke arah Mas Nur.
Tak lama kemudian giliran Yanti.
Ia berdiri perlahan sambil menggenggam ujung bajunya karena gugup.
“Nama saya Yanti…”
Belum selesai bicara—
tiba-tiba Bambang nyeletuk keras.
“Anak paling rajin sedunia!”
Satu kelas langsung tertawa.
Yanti langsung melotot.
“Bambang!”
Guru sampai ikut tersenyum.
“Wah berarti pintar ya?”
Yanti malu-malu.
“Biasa aja Bu…”
Namun saat duduk kembali…
tanpa sengaja matanya bertemu dengan Mas Nur.
Dan anak laki-laki itu…
tersenyum kecil padanya.
DEG.
Entah kenapa…
jantung Yanti langsung berdebar keras.
Ia cepat-cepat membuang muka.
Yuli yang melihat langsung menyeringai jahil.
“Heh…”
“Apa?”
“Kamu salting ya?”
“Apaan sih!”
“Hahaha!”
Pipi Yanti mulai memerah sendiri.
Jam istirahat tiba.
Kantin sekolah penuh sesak.
Suara anak-anak bercampur dengan aroma bakso dan gorengan hangat.
Yanti duduk bersama Anita dan Yuli sambil makan bakso.
Tiba-tiba…
sebuah bola plastik menggelinding ke kaki Yanti.
“Heh ambilin!” teriak Dandang dari lapangan.
Yanti mengambil bola itu.
Namun sebelum ia melempar—
Mas Nur datang lebih dulu.
“Biar saya aja.”
“Oh…”
Mas Nur tersenyum kecil lalu mengambil bola dari tangan Yanti.
“Terima kasih.”
“Iya…”
Suasana mendadak canggung.
Yanti jadi salah tingkah sendiri.
Mas Nur lalu menoleh sebentar.
“Kamu dulu SD Tegorejo ya?”
Yanti kaget.
“Kok tahu?”
“Saya pernah lihat waktu lomba cerdas cermat kecamatan.”
“Oh…”
“Kamu juara waktu itu kan?”
Yanti tersenyum malu.
“Iya…”
“Hebat.”
Pipi Yanti langsung memerah.
Sementara dari kejauhan…
Bambang memperhatikan semuanya dengan wajah datar.
Dandang melirik sahabatnya itu sambil menyeringai.
“Heh…”
“Apa?”
“Mukamu kayak ketelan biji salak.”
“Diamlah…”
“Kamu nggak suka ya?”
“Nggak suka apaan?”
“Mas Nur ngobrol sama Yanti.”
Bambang langsung berdiri cepat.
“Aku mau main bola.”
“Padahal bolanya udah berhenti dari tadi,” gumam Dandang sambil tertawa kecil.
Sore hari…
sepulang sekolah…
Yanti berjalan pelan di jalan desa bersama Anita dan Yuli.
Langit mulai berubah jingga.
Angin sore bertiup pelan melewati sawah.
Namun pikiran Yanti terasa kacau.
Bayangan senyum Mas Nur terus muncul di kepalanya.
“Yantiiii…” goda Yuli.
“Apa…”
“Kamu senyum-senyum sendiri.”
“Enggak.”
“Bohong.”
Anita ikut tertawa kecil.
“Kayaknya ada yang mulai suka seseorang…”
Yanti langsung panik.
“Eh nggak!”
“Tadi waktu Mas Nur ngomong mukamu merah.”
“Itu panas!”
“Padahal mendung…”
“Hahaha!”
Yanti langsung malu sendiri.
Sesampainya di rumah, Ima langsung menyambut di depan pintu.
“Kakak pulanggg!”
“Iya.”
“Gimana SMP?”
“Capek.”
“Terus ada cowok ganteng nggak?”
“IMAAA!”
Ima langsung lari sambil tertawa ngakak.
Bu Rosmiyati sampai geleng-geleng kepala dari dapur.
“Kamu ngajarnya apa sih, Ima?”
“Kan penasaran…”
Yanti cuma bisa menghela napas malu.
Namun diam-diam…
ia tersenyum sendiri.
Dan tanpa ia sadari…
hari itu menjadi awal dari sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Perasaan aneh.
Hangat.
Membingungkan.
Dan diam-diam membuatnya mulai menunggu hari esok datang lebih cepat.
Karena sejak hari itu…
nama Mas Nur perlahan mulai tinggal di dalam hatinya.
BAB XI
CINTA PERTAMA DI BANGKU SMP
Hari-hari di SMP mulai terasa lebih cepat bagi Yanti.
Entah kenapa…
ia jadi lebih semangat berangkat sekolah.
Kalau dulu alasannya hanya karena ingin belajar…
sekarang ada alasan lain yang diam-diam tumbuh di dalam hatinya.
Mas Nur.
Kakak kelas yang duduk di kelas tiga SMP.
Nama itu mulai sering muncul dalam pikirannya.
Saat belajar.
Saat makan.
Bahkan saat hendak tidur malam.
Dan itu membuat Yanti sendiri bingung.
Pagi itu…
langit Desa Tegorejo cerah setelah hujan semalaman.
Jalanan desa masih sedikit basah ketika Yanti berjalan menuju sekolah bersama Anita dan Yuli.
Seragam putih biru mereka tampak masih baru karena Yanti dan teman-temannya memang baru duduk di kelas satu SMP.
Namun sejak tadi…
Yuli terus memperhatikan wajah Yanti dengan senyum aneh.
“Heh…”
“Apa?” tanya Yanti curiga.
“Kamu berubah ya…”
“Berubah apa?”
“Sekarang kalau ke sekolah lebih lama dandannya.”
Yanti langsung melotot.
“Apaan sih!”
“Dulu rambutmu kayak sapu ijuk.”
“Heh!”
“Sekarang jilbabmu disetrika rapi.”
Anita ikut tertawa kecil.
“Dan sekarang pakai bedak.”
Pipi Yanti langsung merah.
“Ini bukan bedak!”
“Terus?”
“Bedak bayi…”
“Hahahaha!”
Yuli langsung ngakak sambil memegang perut.
“Ya tetap aja bedak!”
Yanti langsung mengejar mereka sambil malu sendiri.
“Ih kalian nyebelin!”
Namun diam-diam…
ia memang mulai lebih memperhatikan penampilannya.
Semenjak sering bertemu Mas Nur di sekolah.
Sesampainya di sekolah…
suasana halaman SMP Tegorejo sudah ramai.
Anak-anak kelas satu masih tampak kikuk dan malu-malu.
Sementara kakak kelas berjalan santai seolah sudah menguasai sekolah itu sejak lama.
“Heh lihat…” bisik Anita pelan.
“Itu kakak kelas kelas tiga.”
Yanti ikut melirik sekilas.
Dan tanpa sadar…
matanya langsung mencari satu orang.
Mas Nur.
Tak lama kemudian…
ia melihat sosok itu berjalan di koridor lantai depan.
Seragamnya rapi seperti biasa.
Tas hitam tergantung di bahunya.
Beberapa adik kelas perempuan tampak diam-diam memperhatikan saat Mas Nur lewat.
“Ya ampun…” bisik Yuli.
“Kalem banget ya dia.”
Anita mengangguk.
“Pantes banyak yang suka.”
Yanti pura-pura tidak peduli.
“Oh…”
Padahal diam-diam…
jantungnya mulai berdegup lagi.
Di dalam kelas…
suasana masih ramai seperti biasa.
Beberapa anak laki-laki bermain lempar kertas.
Sebagian sibuk menyalin PR pagi-pagi.
Dandang berdiri di atas kursi sambil pura-pura jadi penyiar radio.
“Selamat pagi warga kelas satu B!”
“Hahaha!”
“Hari ini cuaca diperkirakan cerah…”
“Namun hati Bambang mendung…”
Satu kelas langsung menoleh ke arah Bambang.
“Heh!” bentak Bambang.
Dandang tertawa makin keras.
“Karena seseorang sekarang sering lihat kakak kelas!”
“HOOOOOO!”
Kelas langsung heboh.
Yanti yang baru masuk langsung salah tingkah.
“Apaan sih kalian…”
Bambang langsung melempar gulungan kertas ke arah Dandang.
“Diam nggak sih!”
Namun Dandang malah makin semangat.
“Wah ada yang sensitif!”
“Hahaha!”
Yanti buru-buru duduk sambil menahan malu.
Jam istirahat tiba.
Seperti beberapa hari terakhir…
Yanti diam-diam lebih sering keluar kelas saat jam istirahat.
Alasannya sederhana.
Ia berharap bisa bertemu Mas Nur.
Meski hanya melihat sekilas.
Hari itu Yanti sedang membeli es lilin di kantin bersama Anita dan Yuli ketika tiba-tiba—
“Yanti.”
Suara itu membuat Yanti langsung menoleh cepat.
Dan benar saja.
Mas Nur berdiri tidak jauh dari mereka sambil membawa buku.
Yuli langsung melirik Anita sambil menahan senyum.
“Hai…” jawab Yanti pelan.
“Kamu kelas satu B kan?”
“Iya.”
“Udah mulai betah di SMP?”
Yanti mengangguk kecil.
“Lumayan…”
Mas Nur tersenyum hangat.
“Kalau ada apa-apa jangan takut tanya kakak kelas.”
“Iya…”
Yanti langsung salah tingkah sendiri.
Anita dan Yuli pura-pura sibuk minum es supaya tidak tertawa.
Mas Nur lalu menatap buku di tangan Yanti.
“Itu pelajaran Matematika?”
“Iya…”
“Kamu suka Matematika?”
“Suka sih…”
“Bagus. Dulu aku juga suka.”
Yanti diam-diam senang mendengar obrolan sederhana itu.
Karena baginya…
bicara beberapa menit dengan Mas Nur saja sudah cukup membuat harinya terasa berbeda.
Namun dari kejauhan…
Bambang memperhatikan semuanya sambil makan cilok.
Wajahnya tampak datar.
Dandang yang berdiri di sampingnya langsung menyenggol pelan.
“Heh…”
“Apa?”
“Kamu kenapa?”
“Kenapa apaan?”
“Itu Yanti ngobrol sama Mas Nur.”
Bambang pura-pura cuek.
“Ya terus?”
“Cemburu?”
“Najis.”
“Hahaha!”
Dandang tertawa keras.
“Kalau nggak cemburu kenapa mukamu kayak ketelan cabe?”
Bambang langsung manyun.
Padahal dalam hati…
ia memang merasa tidak nyaman.
Sejak kecil Yanti selalu dekat dengan mereka.
Tapi sekarang…
perhatian Yanti mulai berubah.
Beberapa hari kemudian…
sekolah mengadakan kerja bakti bersama.
Anak kelas satu diminta membersihkan taman depan.
Sedangkan kakak kelas membantu mengecat pagar sekolah.
Yanti sedang menyapu daun-daun kering ketika tiba-tiba angin meniup beberapa kertas tugasnya sampai berhamburan.
“Eh!”
Kertas-kertas itu beterbangan ke halaman.
Yanti langsung panik mengejarnya.
Namun seseorang lebih dulu membantu memungut satu per satu.
“Ini punya kamu?”
Yanti langsung berhenti.
Mas Nur.
“Iya… makasih.”
Mas Nur menyerahkan kertas itu sambil tersenyum kecil.
“Kamu ceroboh ya.”
Yanti langsung malu.
“Hehe…”
“Tapi tulisanmu rapi.”
“Ah biasa aja.”
“Serius.”
Pipi Yanti mulai memerah lagi.
Dari kejauhan, Yuli yang melihat langsung menahan tawa.
“Heh lihat…”
“Apa?”
“Yanti salting lagi.”
Anita ikut tertawa kecil.
“Udah parah itu.”
Hari-hari berlalu semakin cepat.
Dan tanpa disadari…
Yanti mulai hafal kebiasaan Mas Nur.
Ia tahu Mas Nur sering duduk di perpustakaan saat jam kosong.
Ia tahu kakak kelas itu suka membaca buku sejarah.
Ia tahu Mas Nur selalu datang pagi.
Dan ia tahu…
senyum Mas Nur selalu berhasil membuat jantungnya kacau.
Suatu sore…
hujan turun deras saat sekolah hampir selesai.
Anak-anak berlarian mencari tempat berteduh.
Yanti berdiri sendirian di teras kelas sambil memeluk tasnya.
Anita dan Yuli sudah dijemput lebih dulu.
Suara hujan terdengar keras di atap sekolah.
“Yanti…”
Ia menoleh.
Ternyata Mas Nur.
“Kamu belum pulang?”
“Belum…”
“Hujannya deres banget.”
Mas Nur lalu membuka tasnya dan mengeluarkan payung biru tua.
“Ayo bareng sampai pertigaan desa.”
Yanti langsung gugup.
“Hah?”
“Rumahmu arah Tegorejo kan?”
“Iya…”
“Aku lewat situ juga.”
Yanti diam beberapa detik.
Lalu mengangguk pelan.
“Yaudah…”
Mereka berjalan berdampingan di bawah payung kecil.
Jalan desa tampak basah.
Udara terasa dingin.
Dan entah kenapa…
suasana terasa sangat berbeda.
Canggung.
Namun hangat.
“Yanti…”
“Iya?”
“Kamu suka hujan?”
Yanti tersenyum kecil.
“Suka.”
“Kenapa?”
“Karena hujan bikin dunia terasa tenang.”
Mas Nur memandang jalan di depan sambil tersenyum tipis.
“Kamu unik ya.”
“Unik gimana?”
“Cara mikirmu beda.”
Yanti menunduk malu.
Hatinya terasa aneh.
Untuk beberapa saat…
mereka berjalan dalam diam.
Hanya suara hujan yang menemani.
Lalu tiba-tiba…
Mas Nur berkata pelan.
“Aku senang kenal kamu.”
Langkah Yanti langsung melambat sedikit.
Jantungnya berdebar keras.
Pipinya terasa panas.
Dan saat itu…
Yanti sadar.
Ia benar-benar mulai jatuh cinta.
Cinta pertama.
Yang datang sederhana.
Di bangku SMP.
Saat ia masih menjadi murid kelas satu…
dan Mas Nur adalah kakak kelas kelas tiga yang diam-diam mulai mengisi hatinya.
BAB XII
KARATE, TEMAN BARU, DAN JANJI PADA IBU
Hari-hari Yanti di SMP mulai terasa semakin sibuk.
Selain pelajaran sekolah yang semakin sulit, ia juga mulai mengenal banyak hal baru di luar kelas.
Dan semua itu bermula pada suatu Minggu pagi.
Pagi itu matahari baru saja muncul di balik sawah Desa Tegorejo. Embun masih menempel di rumput-rumput halaman sekolah ketika Yanti berjalan pelan sambil membawa botol minum kecil.
Ia mengenakan baju olahraga dan celana training biru tua.
Rambutnya diikat rapi.
Di sampingnya, Ima berjalan sambil terus bertanya.
“Kak… karate itu berantem ya?”
Yanti tertawa kecil.
“Bukan.”
“Terus?”
“Olahraga.”
“Tapi kok mukul-mukul?”
“Itu latihan.”
Ima tampak berpikir serius.
“Kalau aku ikut boleh nggak?”
“Kamu masih kecil.”
“Huh… kakak jahat.”
Yanti langsung mencubit pipi adiknya pelan.
“Kalau udah gede ikut aja.”
Mereka tertawa bersama.
Beberapa hari sebelumnya, sekolah mereka membuka kegiatan ekstrakurikuler karate.
Latihannya dilaksanakan setiap Minggu pagi dan Rabu sore di aula belakang sekolah.
Awalnya Yanti tidak terlalu tertarik.
Namun Anita dan Yuli terus membujuk.
“Ayo ikut…” kata Anita.
“Biar keren,” tambah Yuli.
“Lagian katanya banyak kakak kelas ikut.”
Yanti langsung pura-pura cuek.
“Terus kenapa?”
Yuli menyeringai.
“Siapa tahu Mas Nur ikut.”
“Heh!”
Pipi Yanti langsung merah.
Dan akhirnya…
ia benar-benar mendaftar.
Hari pertama latihan karate terasa sangat ramai.
Anak-anak dari berbagai kelas berkumpul di aula sekolah.
Ada yang masih malu-malu. Ada yang terlalu semangat. Ada juga yang cuma ikut karena ingin punya banyak teman.
Yanti berdiri di barisan belakang bersama Anita dan Yuli.
“Heh…” bisik Yuli.
“Apa?”
“Lihat depan.”
Yanti menoleh.
Di depan aula berdiri dua orang pelatih karate.
Yang pertama bertubuh tinggi besar dengan kumis tebal.
Yang kedua lebih muda dan tampak tenang.
Seorang kakak kelas langsung berbisik.
“Itu Sensei Sambas.”
“Yang sebelahnya Sensei Anton.”
Tak lama kemudian Sensei Sambas maju ke depan.
Suaranya keras dan tegas.
“Karate bukan buat cari musuh!”
Suasana aula langsung diam.
“Karate buat melatih disiplin!”
“Melatih hati!”
“Melatih tanggung jawab!”
Semua murid langsung memperhatikan serius.
Sensei Anton lalu melanjutkan dengan suara lebih tenang.
“Kalau ikut karate harus saling menghormati.”
“Tidak boleh sombong.”
“Tidak boleh memakai ilmu untuk menyakiti orang.”
Yanti mendengarkan dengan serius.
Entah kenapa…
ia mulai tertarik.
Latihan pertama dimulai dengan pemanasan.
Dan di situlah kekacauan terjadi.
“SATU!” teriak Sensei Sambas.
“DUA!”
“LARI KELILING AULA!”
“Astaga…” keluh Dandang.
Bambang langsung tertawa.
“Baru juga mulai udah mau pingsan.”
“Heh kamu juga ngos-ngosan!”
Yanti yang sedang lari malah tertawa melihat mereka.
Namun beberapa menit kemudian…
ia sendiri mulai kelelahan.
“Kakiku mau copot…” bisiknya pada Anita.
“Baru awal…” jawab Anita sambil terengah.
Di tengah latihan itu, Yanti mulai mengenal banyak teman baru.
Ada Aziz.
Anak kelas dua yang suka bercanda dan paling ribut saat latihan.
“Kalau push up aku bisa seratus!” katanya sombong.
Namun baru sepuluh kali sudah roboh.
“Hahaha!”
Satu aula langsung tertawa.
Lalu ada Agus.
Tubuhnya kecil tapi gerakannya cepat.
Ia paling rajin membantu membereskan matras.
“Kalau latihan jangan malas,” katanya serius.
Dandang langsung nyeletuk.
“Ini anak kayak bapak-bapak.”
Agus cuma tertawa kecil.
Ada juga Karwan.
Anak pendiam yang jarang bicara.
Namun tendangannya paling kuat.
Sekali latihan…
suara gedebuknya bikin semua orang menoleh.
“Buset…” kata Bambang.
“Kakinya dari besi apa?”
Karwan cuma nyengir malu.
Minggu demi minggu berlalu.
Yanti mulai menikmati latihan karate.
Setiap Minggu pagi ia bangun lebih awal.
Sementara setiap Rabu sore ia langsung menuju aula sepulang sekolah.
Tubuhnya mulai lebih kuat.
Ia juga mulai lebih percaya diri.
Namun yang paling membuat Yanti senang adalah…
lingkar pertemanannya semakin luas.
Ia mulai mengenal banyak orang dari sekolah lain.
Karena ternyata latihan gabungan sering diadakan di kecamatan.
Dan di sanalah Yanti bertemu Riyadi.
Hari itu latihan gabungan dilaksanakan di gedung olahraga kecamatan.
Pesertanya datang dari berbagai SMP.
Suasananya jauh lebih ramai dibanding latihan biasa.
Yanti tampak gugup.
“Banyak banget orang…” bisiknya.
Yuli langsung menyenggol.
“Jangan malu-malu.”
Di tengah keramaian itu, seorang laki-laki menghampiri mereka.
Tubuhnya tinggi.
Kulitnya sedikit gelap karena sering latihan di luar.
Namun wajahnya terlihat ramah.
“Heh kalian dari SMP Tegorejo ya?”
“Iya,” jawab Bambang.
“Aku Riyadi.”
“Dari SMP Karanganyar.”
Ia tersenyum ramah pada semuanya.
Termasuk pada Yanti.
“Namamu siapa?”
“Yanti.”
“Oh…”
“Kamu yang tadi gerakannya bagus waktu latihan kuda-kuda ya?”
Yanti langsung salah tingkah.
“Ah nggak…”
Riyadi tertawa kecil.
“Serius.”
Sejak hari itu…
Riyadi mulai sering ikut latihan gabungan bersama mereka.
Orangnya ramah.
Sopan.
Dan paling sering membantu adik-adik latihan.
Suatu sore setelah latihan…
Riyadi mengantar Yanti sampai dekat jalan desa.
Saat itulah Bu Rosmiyati kebetulan melihat mereka.
Awalnya Yanti langsung panik.
“Waduh…” bisiknya.
Namun Riyadi langsung menunduk sopan.
“Assalamualaikum, Bu.”
“Waalaikumsalam.”
“Kamu teman Yanti?”
“Iya Bu.”
“Sama-sama latihan karate.”
Bu Rosmiyati memperhatikan Riyadi beberapa saat.
Anak itu tampak sopan.
Cara bicaranya juga halus.
“Masuk dulu.”
“Eh nggak usah Bu…”
“Nggak apa-apa.”
Akhirnya Riyadi masuk sebentar.
Ima langsung muncul dari dapur sambil penasaran.
“Heh siapa ini?”
“Teman kakak.”
“Cowok?”
“Ima!”
Riyadi langsung tertawa.
“Adiknya lucu.”
Ima malah mendekat.
“Namanya siapa?”
“Riyadi.”
“Oh…”
“Kalau kak Yanti nakal bilang ya.”
“Heh!”
Semua langsung tertawa.
Malam harinya…
setelah Riyadi pulang…
Bu Rosmiyati memanggil Yanti pelan.
“Yanti…”
“Iya Bu?”
“Kamu sekarang mulai besar.”
Yanti diam.
“Berteman boleh.”
“Tapi jangan macam-macam.”
“Iya Bu…”
Bu Rosmiyati lalu berkata pelan.
“Ibu senang kalau ada teman laki-laki yang bisa jaga kamu seperti kakak.”
“Tapi ibu nggak mau kamu pacaran dulu.”
Yanti langsung menunduk.
“Masih sekolah…” lanjut ibunya.
“Fokus belajar dulu.”
“Iya Bu.”
“Janji?”
Yanti mengangguk pelan.
“Janji.”
Sejak malam itu…
Bu Rosmiyati mulai menganggap Riyadi seperti kakak angkat bagi Yanti.
Dan Riyadi sendiri benar-benar menjaga sikap.
Ia sering mengingatkan Yanti belajar.
Kadang membantu mengantar kalau latihan terlalu sore.
Dan yang paling sering ia katakan adalah:
“Jangan pacaran dulu.”
Yanti selalu manyun mendengarnya.
“Semua orang ngomong begitu…”
Riyadi tertawa.
“Karena kamu masih kecil.”
Selain Riyadi…
Yanti juga mulai dekat dengan beberapa teman baru dari luar sekolah.
Ada Pincuk.
Anak paling jahil saat latihan.
Kerjanya mengganggu orang pemanasan.
“Heh fokus!” bentak Sensei Sambas.
“Siap Sensei!”
Namun lima menit kemudian ia bercanda lagi.
Lalu ada Munasro.
Tubuhnya besar dan suaranya keras.
Tetapi sebenarnya hatinya lembut.
Ia paling takut kalau Sensei Sambas marah.
“Kalau Sensei Sambas lihat kita ngobrol habis kita,” bisiknya suatu hari.
Dan benar saja.
“HEH! LATIHAN ATAU ARISAN?!”
Satu aula langsung diam.
“Hahaha!”
Hari-hari karate menjadi warna baru dalam hidup Yanti.
Ia belajar disiplin.
Belajar menjaga diri.
Belajar mengenal banyak orang.
Dan perlahan…
ia mulai mengerti bahwa dunia ternyata jauh lebih luas dari yang ia bayangkan.
Di antara latihan Minggu pagi yang melelahkan… Di antara sore-sore Rabu yang penuh teriakan semangat… Di antara tawa teman-teman baru…
masa remaja Yanti mulai tumbuh semakin berwarna.
Dan tanpa ia sadari…
semua pertemuan itu kelak akan menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
BAB XIII
CEMBURU DI BALIK TAWA
Sejak pulang bersama di bawah payung sore itu…
hubungan Yanti dan Mas Nur mulai terasa semakin dekat.
Memang belum pernah ada kata cinta yang diucapkan secara langsung.
Belum ada status pacaran.
Belum ada janji apa pun.
Namun hampir semua orang mulai bisa melihat perubahan kecil di antara mereka.
Cara Mas Nur selalu mencari Yanti saat jam istirahat.
Cara Yanti tanpa sadar tersenyum saat melihat kakak kelas itu datang.
Dan tentu saja…
itu tidak pernah luput dari perhatian teman-teman mereka.
Hari Minggu pagi itu aula kecamatan kembali ramai oleh latihan karate gabungan.
Suara teriakan semangat memenuhi ruangan.
“KIHON!”
“SATU!”
“DUA!”
“TIGA!”
Sensei Sambas berdiri di depan dengan wajah galak seperti biasa.
Sementara Sensei Anton berjalan mengelilingi barisan memperhatikan gerakan murid-muridnya.
Yanti berdiri di barisan tengah bersama Anita dan Yuli.
Keringat mulai membasahi dahinya.
Namun wajahnya tampak cerah.
Karena sejak ikut karate…
dunianya terasa jauh lebih ramai.
Ia punya banyak teman baru.
Ada Aziz yang selalu paling ribut.
Agus yang terlalu serius.
Karwan yang pendiam tapi kuat.
Pincuk yang kerjaannya bercanda.
Dan Munasro yang suaranya paling keras saat kiai.
“Heh Sinok!”
Yanti langsung menoleh.
Riyadi melambaikan tangan dari samping aula sambil membawa dua botol air mineral.
Yanti langsung berjalan mendekat.
“Apaan manggil Sinok terus…”
Riyadi tertawa kecil.
“Ya cocok.”
“Apanya yang cocok?”
“Kamu kan anak desa baik-baik.”
“Ih apaan sih…”
Riyadi menyerahkan botol minum itu.
“Nih.”
“Thanks… Kakang.”
Sejak beberapa bulan terakhir…
Yanti mulai memanggil Riyadi dengan sebutan “Kakang”.
Awalnya karena Bu Rosmiyati memang meminta Riyadi menjaga Yanti seperti adik sendiri.
Dan Riyadi benar-benar menjalankan itu.
Kalau latihan pulang terlalu sore, ia sering mengantar.
Kalau Yanti mulai malas belajar, ia yang cerewet mengingatkan.
Bahkan kadang Riyadi lebih galak dari ibunya sendiri.
“Heh Sinok…”
“Apa lagi?”
“Jangan dekat-dekat cowok aneh.”
Yanti langsung melotot.
“Semua cowok menurut Kakang aneh.”
“Ya memang.”
“Mas Nur juga?”
Riyadi langsung diam beberapa detik.
Lalu menyipitkan mata.
“Hm…”
Yanti langsung tertawa.
“Nah kan.”
“Kamu mulai berani sekarang.”
“Hahaha!”
Di sudut aula…
Bambang memperhatikan mereka dari jauh.
Wajahnya langsung berubah datar.
Dandang yang sedang duduk sambil makan gorengan langsung menyenggolnya.
“Heh…”
“Apa?”
“Sekarang ada Kakang Riyadi juga.”
“Terus?”
“Sainganmu banyak.”
Bambang langsung mendecih pelan.
“Siapa juga saingan.”
“Halah.”
Dandang tertawa kecil.
Padahal ia tahu…
Bambang mulai merasa Yanti semakin jauh darinya.
Dulu…
Yanti selalu bermain bersama mereka.
Sekarang…
Yanti punya dunia baru.
Punya banyak teman baru.
Dan itu membuat Bambang diam-diam tidak nyaman.
Hari Senin pagi…
kelas satu B kembali ribut seperti biasa.
Dandang sedang menggambar wajah Bambang di papan tulis dengan tambahan kumis tebal dan telinga monyet.
“Heh itu siapa?!” bentak Bambang.
Dandang pura-pura berpikir.
“Hm… mirip hansip ronda.”
Satu kelas langsung tertawa pecah.
“Hahahaha!”
“Kurang ajar!”
Bambang langsung mengejar Dandang keliling kelas.
Sementara Yuli sibuk bergosip dengan Anita.
“Heh serius…”
“Apa?”
“Semalam Mas Nur lewat depan rumah Yanti.”
Anita langsung membelalak.
“Hah?!”
“Iya!”
“Ngapain?”
“Nggak tahu…”
Yuli menurunkan suara.
“Tapi Yanti senyum-senyum terus pagi ini.”
Anita langsung melirik Yanti yang sedang membuka buku sambil tersenyum sendiri.
“Hahaha iya juga…”
Yanti langsung sadar diperhatikan.
“Heh kenapa lihat-lihat?”
“Cieeeee…”
“Apaan sih!”
“Orang lagi jatuh cinta beda auranya.”
Pipi Yanti langsung merah.
Namun belum sempat ia membalas—
Mas Nur lewat di depan kelas.
Dan seperti biasa…
matanya langsung mencari Yanti.
Saat mata mereka bertemu…
Mas Nur tersenyum kecil.
DEG.
Yanti langsung salah fokus.
Pensilnya jatuh.
BRUK.
“Aduh!”
Bambang yang terkena pensil langsung melotot.
“Kalau lihat orang jangan sambil mabuk.”
Satu kelas langsung tertawa lagi.
Jam olahraga hari itu berlangsung di lapangan belakang sekolah.
Matahari cukup terik.
Anak laki-laki bermain sepak bola.
Sementara anak perempuan bermain voli.
Yanti tertawa lepas bersama Anita dan Yuli.
Rambut-rambut kecil di dekat dahinya basah oleh keringat.
Dan entah kenapa…
Mas Nur beberapa kali diam-diam memperhatikannya dari lapangan bola.
“Heh Mas Nur!” teriak Eko.
“Hah?”
“Konsentrasi!”
BUGH!
Bola langsung mengenai kepala Mas Nur.
“Hahahaha!”
Satu lapangan langsung pecah tertawa.
Mas Nur memegang kepalanya sambil nyengir malu.
Dari lapangan voli…
Yanti ikut tertawa kecil.
Dan Mas Nur malah makin salah tingkah.
Namun siang itu…
sesuatu mulai berubah.
Saat jam istirahat…
seorang siswi baru masuk ke kelas mereka.
Namanya Rina.
Anak pindahan dari kota kecamatan.
Kulitnya putih bersih.
Rambutnya lurus.
Dan cara bicaranya lebih modern dibanding anak-anak desa lain.
“Selamat siang…”
Beberapa anak laki-laki langsung melirik.
“Cantik juga…”
“Anak kota tuh pasti.”
Yuli langsung mendekati Yanti.
“Heh…”
“Apa?”
“Saingan baru.”
“Hah?”
“Itu tuh…”
Yanti melirik sekilas.
“Oh…”
Namun beberapa menit kemudian…
Mas Nur membantu membawakan buku Rina ke bangkunya.
Dan entah kenapa…
dada Yanti langsung terasa aneh.
“Heh…” goda Anita.
“Kamu kenapa?”
“Enggak.”
“Tapi mukamu berubah.”
“Biasa aja.”
Padahal jelas tidak biasa.
Untuk pertama kalinya…
Yanti merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Cemburu.
Sore harinya latihan karate kembali diadakan.
Namun sejak tadi Yanti tampak diam.
Bahkan saat Aziz bercanda…
ia cuma tersenyum kecil.
Riyadi yang sedang membantu membereskan matras langsung sadar.
“Heh Sinok.”
“Apa…”
“Kok muka kamu kayak habis kehilangan ayam?”
Yanti langsung manyun.
“Nggak apa-apa.”
“Kamu kalau bohong jelek.”
Yanti akhirnya menghela napas panjang.
“Kakang…”
“Hm?”
“Kalau ada cowok dekat sama cewek lain tuh normal nggak?”
Riyadi langsung menatap Yanti beberapa detik.
Lalu tertawa kecil.
“Oalah…”
“Apa sih…”
“Kamu cemburu toh.”
Pipi Yanti langsung merah.
“Enggak!”
“Mas Nur?”
Yanti langsung diam.
Riyadi tertawa makin lebar.
“Astaga Sinok…”
“Udah gede ternyata.”
“Ih Kakang!”
Riyadi lalu duduk di samping Yanti.
“Denger ya…”
“Apa?”
“Kalau suka sama orang jangan kebanyakan cemburu.”
“Kenapa?”
“Nanti capek sendiri.”
Yanti menunduk pelan.
“Tapi aku nggak suka lihat dia dekat sama Rina…”
Riyadi mengusap kepala Yanti pelan seperti kakak sendiri.
“Itu tandanya kamu sayang.”
Yanti langsung makin malu.
Malam harinya…
Yanti duduk di teras rumah sambil memandangi langit.
Angin malam terasa dingin.
Namun pikirannya masih kacau.
Tiba-tiba suara langkah terdengar dari depan rumah.
“Yanti…”
Ia langsung menoleh.
Dan jantungnya kembali berdegup cepat.
Mas Nur.
“Kamu?” tanya Yanti gugup.
Mas Nur tersenyum kecil sambil mengangkat sebuah buku.
“Mau balikin catatan.”
“Oh…”
Yanti menerima buku itu pelan.
Namun wajahnya masih sedikit jutek.
Mas Nur langsung sadar.
“Kamu marah?”
“Enggak.”
“Bohong.”
“Serius.”
“Kalau serius kenapa mukamu kayak mau mukul orang?”
Yanti hampir tertawa.
Namun ia tetap pura-pura kesal.
“Ya memang nggak kenapa-kenapa.”
Mas Nur duduk di kursi bambu teras.
“Kamu cemburu ya?”
DEG.
Yanti langsung panik.
“Hah?!”
Mas Nur malah tertawa kecil.
“Berarti benar.”
“Enggak!”
“Terus kenapa jutek?”
Yanti menggigit bibir.
Lalu akhirnya berkata pelan—
“Aku nggak suka lihat kamu dekat sama Rina.”
Suasana langsung hening beberapa detik.
Mas Nur memandang Yanti lama.
Lalu tersenyum hangat.
“Kenapa?”
“Ya… nggak suka aja.”
“Karena?”
Yanti makin salah tingkah.
“Aku nggak tahu…”
Mas Nur tertawa kecil.
Dan senyum itu…
kembali membuat jantung Yanti kacau.
“Yanti…”
“Iya?”
“Aku cuma bantu dia cari kelas.”
“Cuma itu?”
“Iya.”
“Serius?”
“Serius.”
Yanti perlahan menatap Mas Nur.
Dan untuk pertama kalinya…
Mas Nur berkata sangat pelan—
“Aku lebih senang ngobrol sama kamu.”
Kalimat sederhana itu…
langsung membuat wajah Yanti panas.
Ia menunduk sambil tersenyum malu.
Dari balik jendela rumah…
Bu Rosmiyati memperhatikan semuanya sambil menghela napas kecil.
“Ya Allah…”
gumamnya pelan.
“Anak gadisku mulai besar…”
Sementara di ujung jalan desa…
Bambang berdiri diam sejak tadi.
Matanya menatap Yanti dan Mas Nur yang tertawa bersama di teras rumah.
Tangannya mengepal pelan.
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya…
rasa cemburu tumbuh semakin dalam di hati Bambang.
Perasaan yang perlahan…
akan membuat persahabatan mereka menjadi jauh lebih rumit dibanding sebelumnya.
BAB XIV
JARAK, WAKTU, DAN PERTEMUAN-PERTEMUAN KECIL
Waktu terus berjalan di Desa Tegorejo.
Musim hujan berganti kemarau.
Sawah yang dulu hijau perlahan menguning.
Dan tanpa terasa…
tahun ajaran baru kembali dimulai.
Mas Nur akhirnya lulus dari SMP Pegandon.
Hari perpisahan itu berlangsung sederhana di aula sekolah.
Semua murid memakai seragam terbaik mereka.
Beberapa tertawa bahagia.
Sebagian diam-diam menangis karena harus berpisah.
Dan Yanti…
sejak pagi sudah murung sendiri.
Yuli yang duduk di sampingnya langsung menyenggol pelan.
“Heh…”
“Apa…”
“Kamu sedih ya?”
“Biasa aja.”
“Bohong.”
Yanti hanya diam sambil menunduk.
Matanya beberapa kali diam-diam mencari Mas Nur di keramaian.
Hari itu Mas Nur tampak berbeda.
Seragamnya rapi.
Rambutnya dipotong lebih pendek.
Dan entah kenapa…
ia terlihat lebih dewasa dibanding biasanya.
Beberapa adik kelas perempuan tampak sibuk meminta tanda tangan kenang-kenangan.
Namun perhatian Yanti hanya tertuju pada satu hal:
setelah hari ini…
Mas Nur tidak akan ada lagi di sekolah itu.
Setelah acara selesai…
halaman sekolah mulai sepi.
Anak-anak sibuk berfoto bersama teman-temannya.
Sementara Yanti berdiri sendirian dekat taman sekolah.
Angin sore meniup pelan ujung jilbabnya.
“Yanti…”
Ia langsung menoleh cepat.
Mas Nur berjalan mendekat sambil tersenyum kecil.
“Kok sendirian?”
“Enggak apa-apa…”
Mas Nur berdiri di sampingnya.
Suasana mendadak canggung.
Untuk pertama kalinya…
Yanti benar-benar merasa takut kehilangan seseorang.
“Kamu jadi masuk STM ya?” tanyanya pelan.
Mas Nur mengangguk.
“Iya.”
“STM Kendal.”
“Oh…”
“Lumayan jauh.”
“Iya…”
Yanti menunduk.
Dadanya terasa sesak aneh.
Mas Nur lalu tertawa kecil.
“Kamu sedih?”
“Enggak.”
“Bohong.”
Yanti langsung manyun.
“Semua orang bilang aku bohong terus.”
“Karena memang gampang ketahuan.”
Yanti akhirnya ikut tersenyum kecil.
Mas Nur memandangnya beberapa detik.
“Yanti…”
“Hm?”
“Belajar yang rajin ya.”
“Iya.”
“Jangan nakal.”
“Emang aku nakal?”
“Kadang.”
“Ihh…”
Mas Nur tertawa pelan.
Lalu suaranya berubah lebih lembut.
“Nanti kalau aku pulang… kita masih bisa ketemu.”
DEG.
Kalimat sederhana itu langsung membuat hati Yanti hangat.
Hari-hari setelah kelulusan Mas Nur terasa berbeda.
Sekolah terasa lebih sepi bagi Yanti.
Kini ia duduk di kelas dua SMP.
Sementara Mas Nur sudah menjadi anak STM di Kendal.
Karena sekolahnya cukup jauh, Mas Nur tidak setiap hari pulang ke Tegorejo.
Kadang seminggu sekali.
Kadang dua minggu sekali.
Dan setiap kali Mas Nur pulang desa…
entah kenapa kabar itu selalu cepat sampai ke telinga Yanti.
“Heh Yant…” bisik Yuli suatu pagi.
“Apa?”
“Mas Nur pulang.”
“Hah? Dari mana tahu?”
“Tadi pagi aku lihat dia lewat depan warung.”
Yanti langsung salah tingkah sendiri.
“Oh…”
Padahal dalam hati…
ia langsung senang setengah mati.
Di sisi lain…
kehidupan Yanti juga semakin sibuk.
Karate masih menjadi bagian penting dalam hari-harinya.
Latihan Minggu pagi dan Rabu sore tetap berjalan.
Dan kini…
Ima juga ikut karate.
Meski masih kelas enam SD, Ima paling semangat setiap latihan.
“KIAAA!”
teriaknya terlalu keras saat latihan.
Sampai semua orang menoleh.
Pincuk langsung tertawa.
“Buset kecil-kecil suaranya kayak petasan.”
Ima malah makin bangga.
“Heh aku nanti mau jadi juara!”
Dandang langsung nyeletuk.
“Yang penting jangan nangis dulu kalau push up.”
“Heh!”
Semua langsung tertawa.
Sensei Sambas sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka.
Sementara Yanti mulai semakin dekat dengan banyak teman latihan.
Aziz masih tetap paling ribut.
Agus masih paling rajin.
Karwan tetap pendiam.
Munasro masih takut kalau Sensei Sambas marah.
Dan Riyadi…
tetap menjadi “Kakang” yang selalu menjaga Yanti.
Suatu sore sepulang latihan karate…
Riyadi mengantar Yanti dan Ima pulang.
Langit mulai jingga.
Jalan desa masih sedikit basah habis hujan.
Ima berjalan di depan sambil mempraktikkan tendangan karate.
“HYA!”
“Pelan-pelan nanti jatuh,” kata Yanti.
“Enggak!”
BRAK.
Ima langsung terpeleset sendiri.
“Hahaha!”
Riyadi sampai tertawa keras.
“Karate kok kalah sama lumpur.”
Ima langsung manyun.
“Kakang jahat!”
Riyadi mengacak rambutnya.
“Heh Sinok…”
“Apa?”
“Kamu kok senyum terus dari tadi?”
Yanti langsung gugup.
“Enggak tuh.”
“Mas Nur pulang ya?”
DEG.
Yanti langsung melotot.
“Kok tahu sih!”
Riyadi tertawa puas.
“Mukamu gampang dibaca.”
“Ih Kakang…”
Beberapa hari kemudian…
Yanti benar-benar bertemu lagi dengan Mas Nur.
Bukan di sekolah.
Melainkan di pasar kecamatan.
Hari itu Yanti membantu Bu Rosmiyati membeli kebutuhan dapur.
Ia sedang memilih cabai di salah satu kios ketika tiba-tiba mendengar suara familiar.
“Yanti?”
Ia langsung menoleh cepat.
Dan benar saja.
Mas Nur berdiri beberapa langkah di belakangnya sambil membawa kantong plastik.
Jantung Yanti langsung berdebar lagi seperti dulu.
“Kamu?” katanya gugup.
Mas Nur tersenyum kecil.
“Iya.”
“Kebetulan banget.”
“Kamu pulang?”
“Iya. Libur dua hari.”
Yanti tersenyum malu.
Entah kenapa…
meski sudah lama tidak bertemu…
perasaannya tetap sama.
Mas Nur lalu melirik barang bawaan Yanti.
“Berat nggak?”
“Lumayan…”
“Sini aku bantu.”
“Nggak usah…”
Namun Mas Nur sudah lebih dulu mengambil sebagian belanjaan.
Dan seperti dulu…
Yanti kembali salah tingkah sendiri.
Mereka berjalan bersama keluar pasar.
Suasana sore cukup ramai.
Pedagang masih sibuk berteriak menawarkan dagangan.
“Kamu sekarang kelas dua ya?” tanya Mas Nur.
“Iya.”
“Karate masih lanjut?”
Yanti mengangguk.
“Masih.”
“Ima juga ikut sekarang.”
“Serius?”
“Iya. Berisik banget kalau latihan.”
Mas Nur tertawa kecil membayangkannya.
“Pasti lucu.”
“Lucu tapi ngeselin.”
Mereka kembali tertawa bersama.
Dan untuk beberapa saat…
jarak yang sempat muncul karena perpisahan sekolah terasa menghilang begitu saja.
Namun semua itu diam-diam tetap diperhatikan oleh Bambang.
Karena kebetulan sore itu…
ia juga berada di pasar membantu ibunya.
Dari kejauhan ia melihat Mas Nur berjalan bersama Yanti sambil tertawa.
Dan entah kenapa…
dadanya kembali terasa sesak.
Dandang yang berdiri di sampingnya langsung berbisik pelan.
“Heh…”
“Apa?”
“Lihat tuh.”
Bambang langsung mendecih.
“Diamlah.”
“Kamu masih suka ya?”
Bambang tidak menjawab.
Namun matanya tetap mengikuti langkah Yanti dan Mas Nur sampai hilang di ujung jalan pasar.
Malam harinya…
Yanti duduk di teras rumah sambil tersenyum sendiri.
Ima yang sedang belajar langsung melirik curiga.
“Heh…”
“Apa?”
“Kakak habis ketemu Mas Nur ya?”
Yanti langsung kaget.
“Kok tahu?!”
“Hahaha!”
Ima tertawa puas.
“Mukamu beda.”
“Ih sotoy.”
“Tadi pulang senyum-senyum sendiri.”
Yanti langsung melempar bantal kecil ke arah adiknya.
“Heh belajar sana!”
Namun setelah Ima tertawa dan lari masuk rumah…
Yanti kembali diam memandangi langit malam.
Angin desa terasa dingin.
Dan di dalam hatinya…
nama Mas Nur masih tetap tinggal di tempat yang sama.
Meski kini mereka tidak lagi berada di sekolah yang sama.
Meski waktu mulai berjalan membawa mereka ke jalan yang berbeda.
Namun setiap pertemuan kecil itu…
selalu berhasil membuat hati Yanti kembali hangat seperti pertama kali dulu.
BAB XV
MALAM PASAR DAN GENGGAMAN PERTAMA
Waktu terus berjalan di Desa Tegorejo.
Kini Yanti sudah duduk di kelas dua SMP.
Sementara Mas Nur telah menjadi siswa STM di Kendal.
Meski tidak lagi berada di sekolah yang sama…
hubungan mereka justru terasa semakin dekat.
Karena setiap Mas Nur pulang ke desa…
ia hampir selalu menyempatkan bertemu Yanti.
Kadang hanya sebentar di jalan desa.
Kadang di warung dekat lapangan.
Kadang saat Yanti selesai latihan karate.
Dan pertemuan-pertemuan kecil itu…
diam-diam menjadi hal paling ditunggu oleh Yanti.
Minggu pagi itu latihan karate berlangsung lebih ramai dari biasanya.
Lapangan balai desa dipenuhi murid-murid berbagai umur.
Anak-anak kecil berlarian memakai sabuk putih.
Sementara yang lebih senior sibuk pemanasan.
Sensei Sambas berdiri di depan sambil membawa peluit.
“BARIS YANG RAPI!”
Semua langsung panik mencari posisi.
Ima yang kini ikut karate masih tampak paling heboh sendiri.
“Kak! Sabukku lepas!”
“Ya diikat lagi!”
“Aku nggak bisa!”
Yanti sampai geleng-geleng kepala sendiri.
Sementara Riyadi tertawa melihat tingkah mereka.
“Heh Sinok…”
“Apa?”
“Adikmu lebih rame dari pasar.”
Ima langsung melotot.
“Kakang Riyadi jahat!”
“Hahaha!”
Semua langsung tertawa.
Latihan pagi itu cukup berat.
Push up.
Kuda-kuda.
Lari keliling lapangan.
Bahkan Dandang sampai tergeletak di rumput sambil megap-megap.
“Aku melihat cahaya…”
Aziz langsung menyahut.
“Itu matahari goblok.”
“Hahaha!”
Sensei Anton sampai ikut tertawa kecil melihat tingkah mereka.
Sementara Bambang sibuk latihan tendangan bersama Karwan.
BRAK!
Suara tendangan Karwan membuat semua menoleh.
“Buset…” gumam Agus.
“Itu nendang karung apa tembok?”
Karwan cuma nyengir malu.
Di tengah latihan itu…
Yanti beberapa kali tampak melamun sendiri.
Riyadi yang sedang membawa air minum langsung sadar.
“Heh Sinok…”
“Hm?”
“Kamu kenapa?”
“Enggak kenapa-kenapa.”
“Mas Nur pulang ya?”
DEG.
Yanti langsung melotot.
“Kok tahu sih!”
Riyadi tertawa puas.
“Mukamu gampang dibaca.”
“Ih Kakang…”
Dan benar saja.
Siang harinya…
saat latihan selesai…
Mas Nur datang ke lapangan desa.
Ia berdiri dekat pohon ketapang sambil tersenyum kecil melihat Yanti.
Jantung Yanti langsung berdebar lagi.
Padahal mereka baru bertemu minggu lalu.
Namun perasaan itu tetap sama.
Hangat.
Membingungkan.
Dan selalu membuat Yanti salah tingkah.
“Kamu capek?” tanya Mas Nur saat Yanti mendekat.
“Lumayan…”
Mas Nur menyerahkan es teh dalam plastik.
“Nih.”
Yanti menerimanya sambil tersenyum malu.
“Terima kasih…”
Dari kejauhan…
Yuli langsung heboh sendiri.
“Heh lihat tuh…”
Anita ikut tertawa kecil.
“Romantis amat…”
Sementara Bambang hanya diam sambil mengikat tali sepatunya terlalu keras.
Malam harinya…
Desa Tegorejo tampak jauh lebih hidup dibanding biasanya.
Lampu-lampu bohlam menggantung di sekitar lapangan desa.
Musik dangdut terdengar dari pengeras suara tua yang sesekali sember.
Aroma sate ayam, jagung bakar, dan gorengan memenuhi udara malam.
Pasar malam akhirnya datang.
Dan bagi anak-anak remaja desa seperti mereka…
pasar malam selalu menjadi hiburan paling ditunggu setiap tahun.
Sejak sore…
Yanti sudah sibuk memilih baju di rumah.
“Ima…”
“Apa?”
“Bagusan biru apa putih?”
Ima pura-pura berpikir serius.
“Kalau mau ketemu Mas Nur bagusnya yang cantik.”
“Heh!”
Yanti langsung melempar bantal kecil.
Ima malah ngakak sambil kabur.
Bu Rosmiyati yang sedang melipat pakaian hanya tersenyum kecil melihat tingkah kedua anaknya.
“Yang penting sopan.”
“Iya Bu…”
Akhirnya Yanti memilih baju biru muda sederhana dengan jilbab putih.
Saat berdiri di depan cermin kecil…
ia tersenyum sendiri.
Entah kenapa…
malam itu ia ingin terlihat lebih manis.
Di depan rumah Anita…
anak-anak sudah berkumpul.
Ada Dandang yang sibuk menyisir rambut pakai air ludah.
Ada Aziz yang terus bercanda.
Ada Bambang dengan jaket jeans lusuh andalannya.
Ada Yuli yang paling heboh sendiri.
Dan Riyadi yang malam itu ikut menjaga mereka.
“Heh lama banget!” teriak Bambang.
“Cewek emang ribet,” tambah Aziz.
“Kalau aku jadi cewek—”
“Kamu tetap jelek,” potong Yuli cepat.
“HHAHAHAHA!”
Semua langsung tertawa.
Tak lama kemudian…
Yanti datang.
Dan suasana mendadak sedikit berubah.
Dandang sampai melongo lebay.
“Waduh…”
“Apa?” tanya Yanti bingung.
“Kamu habis mandi parfum?”
“Hah?”
“Harum banget…”
Yanti langsung memukul lengan Dandang.
“Apaan sih!”
Namun beberapa detik kemudian…
Mas Nur datang dari ujung jalan.
Memakai kemeja kotak sederhana dan celana hitam.
Saat matanya melihat Yanti…
ia langsung diam sebentar.
Dan Yanti otomatis salah tingkah.
Riyadi yang melihat itu cuma tersenyum tipis sambil geleng-geleng kepala.
“Heh Sinok…”
“Apa…”
“Hati-hati salting di jalan.”
“Ih Kakang…”
Pasar malam benar-benar ramai.
Lampu warna-warni berputar di komidi putar.
Anak-anak kecil berlari membawa balon.
Pedagang mainan sibuk berteriak menawarkan dagangan.
“Jagung bakar!”
“Es puter!”
“Balon warna-warni!”
Yuli langsung heboh.
“Aku mau semuanya!”
Dandang melotot.
“Dompetmu siap nggak?”
“Kan ada kalian.”
“Heh enak aja!”
Mereka berjalan bergerombol sambil tertawa.
Sesekali Aziz membuat lelucon receh.
Kadang Dandang malah mempermalukan dirinya sendiri.
Sementara Ima sibuk membeli gelang lampu warna-warni.
“Kak lihat! Cantik nggak?”
“Cantik.”
“Kayak artis ya?”
“Iya iya.”
“Hahaha!”
Di tengah keramaian itu…
Mas Nur berjalan perlahan di samping Yanti.
Dan entah kenapa…
suasana terasa jauh lebih dekat dibanding sebelumnya.
“Kamu sering ke pasar malam?” tanya Mas Nur.
“Waktu kecil sering…”
“Takut naik bianglala?”
“Sedikit.”
“Kalau bareng aku?”
Yanti langsung melirik cepat.
“Kamu suka bikin orang salting ya.”
Mas Nur tertawa kecil.
Dan senyum itu lagi-lagi membuat jantung Yanti kacau.
Tak lama kemudian…
rombongan mereka memutuskan masuk rumah hantu.
Anita langsung pucat.
“Aku nggak mau…”
“Takut?” goda Yuli.
“Iya…”
Dandang langsung menyombongkan diri.
“Tenang! Ada aku!”
Lima menit kemudian…
yang paling keras teriak justru Dandang sendiri.
“AAAAAAAAAA!”
“Hahaha!”
Satu wahana penuh suara tawa.
Bahkan penjaga rumah hantu sampai ikut tertawa.
“Heh hantunya takut sama Dandang kayaknya!” teriak Aziz.
“Hahaha!”
Saat keluar…
Dandang tampak paling pucat.
“Aku hampir meninggal…”
Bambang langsung ngakak.
“Padahal hantunya cuma pakai bedak!”
Namun kejadian paling tak terlupakan malam itu terjadi saat mereka berjalan di tengah kerumunan pasar.
Suasana sangat padat.
Orang-orang saling berdesakan.
Yanti yang berjalan sambil melihat gantungan lampu kecil…
tidak sadar ada anak kecil berlari menabraknya.
“Awas!”
Refleks…
Mas Nur menarik tangan Yanti.
Dan untuk pertama kalinya…
tangan mereka saling bertaut.
DEG.
Dunia Yanti seperti berhenti beberapa detik.
Suara musik dangdut terasa jauh.
Lampu pasar tampak samar.
Yang ia rasakan hanya hangat tangan Mas Nur.
Jantungnya berdetak sangat keras.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Mas Nur pelan.
Yanti bahkan sulit menjawab.
“I… iya…”
Namun Mas Nur belum melepaskan tangannya.
Dan diam-diam…
Yanti juga tidak ingin genggaman itu dilepas.
Dari belakang…
Yuli langsung menutup mulut.
“ASTAGAAA…”
Anita ikut salah tingkah.
Aziz langsung menyikut Dandang.
“Lihat tuh!”
Dandang berbisik keras.
“Pegangan tangan coy!”
Riyadi yang melihat itu hanya menghela napas kecil sambil tersenyum tipis.
“Heh Sinok…”
gumamnya pelan.
“Udah mulai gede ternyata…”
Sementara Bambang…
langsung diam.
Tawa di wajahnya perlahan hilang.
Meski ia tetap berjalan bersama yang lain…
namun malam itu…
hatinya terasa semakin sesak.
Malam semakin larut.
Lampu pasar mulai redup satu per satu.
Namun hati Yanti justru terasa semakin terang.
Di perjalanan pulang…
ia terus teringat momen genggaman tangan tadi.
Bahkan saat Mas Nur berjalan di sampingnya dalam diam…
dadanya masih berdebar keras.
Sampai akhirnya Mas Nur berkata pelan—
“Yanti…”
“Iya?”
“Aku senang malam ini.”
Yanti tersenyum malu.
“Aku juga…”
Lalu mereka sama-sama diam.
Malu.
Namun bahagia.
Dan malam pasar di Desa Tegorejo itu…
menjadi malam yang tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan Yanti.
Karena malam itu…
untuk pertama kalinya…
ia merasa dicintai dengan sangat sederhana.
Di tengah lampu pasar malam.
Di antara suara tawa sahabat-sahabatnya.
Dan di balik genggaman tangan pertama…
yang membuat hatinya bergetar sangat lama.
BAB XVI
SURAT CINTA YANG TERBONGKAR
Sejak malam pasar itu…
hubungan Yanti dan Mas Nur semakin dekat.
Mereka memang belum resmi berpacaran.
Namun hampir seluruh sekolah mulai menganggap mereka sudah saling suka.
Dan tentu saja…
itu menjadi bahan gosip paling panas di SMP mereka.
Terutama bagi satu orang.
Yuli.
Pagi itu…
baru saja Yanti masuk kelas…
Yuli langsung menyeretnya ke pojok.
“Heh sini!”
“Apa sih?!”
“Cepet!”
Yanti langsung panik.
“Kamu kenapa?”
Yuli menurunkan suara dramatis.
“Kamu jangan kaget…”
“Hah?”
“Tapi semalam…”
“Kenapa?!”
“Aku lihat Mas Nur.”
DEG.
Jantung Yanti langsung berdegup cepat.
“Di mana?”
“Lewat depan rumahmu.”
“Hah?!”
“Terus dia berhenti.”
“Terus?!”
“Terus… dia cuma bengong.”
Yanti langsung melotot.
“YULI!”
“Hahaha!”
Anita yang datang belakangan langsung tertawa kecil.
“Kamu jangan suka bikin orang kaget…”
“Tapi serius…” kata Yuli sambil nyengir.
“Kayaknya Mas Nur beneran suka berat sama Yanti.”
Pipi Yanti mulai merah lagi.
Dan itu membuat Yuli makin senang menggoda.
Namun pagi itu…
Mas Nur belum datang ke kelas.
Dan entah kenapa…
Yanti jadi sering melihat pintu kelas.
“Heh…” goda Anita pelan.
“Apa…”
“Nungguin ya?”
“Enggak!”
“Bohong…”
“Kenapa semua orang bilang aku bohong terus sih…”
Yuli langsung tertawa.
“Karena mukamu gampang dibaca!”
Belum sempat Yanti membalas…
tiba-tiba Bambang masuk kelas sambil membawa sesuatu di tangannya.
Wajahnya penuh senyum jahil.
“Heh heh heh…”
Dandang langsung curiga.
“Mukamu kenapa kayak maling ayam?”
“Aku nemu harta karun.”
“Hah?”
Bambang mengangkat selembar kertas warna pink.
Satu kelas langsung penasaran.
“Itu apa?!”
“Surat cinta kayaknya…”
DEG.
Entah kenapa…
jantung Yanti langsung tidak enak.
Dan benar saja.
Saat Bambang membuka lipatan surat itu…
matanya langsung membesar.
“WADUH.”
“Apa?!”
Dandang langsung mendekat.
Bambang membaca keras-keras.
“Untuk seseorang yang membuatku selalu senang datang ke sekolah…”
Satu kelas langsung heboh.
“WOOOOOO!”
“Surat cinta!”
“Lanjut! Lanjut!”
Yanti mulai pucat.
Karena ia mengenali tulisan itu.
Tulisan Mas Nur.
“Diam dulu!” teriak Bambang sok penting.
Lalu ia lanjut membaca.
“Aku nggak tahu sejak kapan mulai suka melihat senyummu…”
Yuli langsung menjerit.
“ASTAGAAAA!”
Anita menutup mulut sambil tertawa malu.
Sementara Yanti…
sudah ingin menghilang dari muka bumi.
“Itu buat siapa?!” teriak anak-anak.
Bambang membalik halaman belakang.
Dan di pojok bawah tertulis kecil:
Untuk Yanti.
“WOOOOOOOOOOOO!”
Satu kelas langsung pecah total.
Ada yang berdiri di meja.
Ada yang bersiul.
Ada yang tepuk tangan.
Yanti spontan menutupi wajahnya dengan buku.
“MATI AKU…”
Dandang sampai jatuh dari kursi karena terlalu keras tertawa.
“Hahaha! Mas Nur romantis!”
Bambang ikut tertawa meski ada rasa aneh di dadanya.
“Heh Yanti!”
“DIEM!”
“Mukamu merah kayak tomat!”
“Hahaha!”
Dan di saat paling kacau itu…
Mas Nur masuk kelas.
Begitu melihat seluruh kelas ribut…
ia langsung bingung.
“Ini kenapa?”
Semua mata langsung menoleh padanya.
Lalu serempak berteriak:
“CIEEEEEEE!”
Mas Nur langsung berhenti melangkah.
“Apa-apaan…”
Bambang mengangkat surat itu tinggi-tinggi.
“Ini punyamu ya?!”
Wajah Mas Nur langsung berubah.
“HEH!”
Ia cepat-cepat mendekat.
Namun Dandang keburu merebut surat itu.
“Waduh tulisan puitis!”
“Balikin!”
“Sebentar!”
Dandang membaca dramatis seperti pembaca puisi.
“Senyummu bikin hari-hariku jadi lebih indah…”
“HUWOOOOOO!”
Satu kelas makin heboh.
Mas Nur langsung malu setengah mati.
Sementara Yanti sudah benar-benar tidak berani mengangkat wajah.
“BALIKIN!” bentak Mas Nur sambil mengejar Dandang.
Namun Dandang malah lari keliling kelas.
“Hahaha!”
“Penyair kampung jatuh cinta!”
“Heh jangan baca keras-keras!”
Bahkan Bu Guru yang baru masuk kelas sampai terkejut.
“Lho ini kenapa?!”
Suasana langsung hening.
Dandang masih memegang surat.
Bu Guru menyipitkan mata.
“Itu apa?”
Dandang panik.
“Eh…”
Bambang langsung menunjuk Mas Nur.
“Surat cinta Bu!”
Satu kelas kembali pecah.
Mas Nur menutup wajahnya sendiri.
Sementara Bu Guru sampai geleng-geleng kepala sambil menahan tawa.
“Kalian ini…”
Namun beberapa menit kemudian…
setelah suasana agak tenang…
Bu Guru justru berkata santai.
“Sudah sudah…”
“Namanya juga remaja.”
Satu kelas langsung saling pandang.
“Eh Bu Guru ngerti juga…”
“Tapi ingat…”
“Jangan sampai pacaran bikin nilai turun.”
“Iyaaaa Buuuu…”
Yanti masih belum berani melihat Mas Nur.
Namun diam-diam…
hatinya terasa hangat.
Karena isi surat itu benar-benar tulus.
Jam pelajaran berlangsung.
Namun suasana di kelas tetap penuh godaan.
“Heh Yanti…” bisik Yuli.
“Apa…”
“Kamu simpan suratnya nggak?”
“Masih sama Bambang…”
“Wah bahaya…”
Benar saja.
Bambang diam-diam masih membaca surat itu sambil nyengir sendiri.
“Heh balikin!” bentak Mas Nur.
“Bayar dulu.”
“Apaan sih!”
“Dua bakso sama es teh.”
Dandang langsung ikut nimbrung.
“Aku saksi!”
“Hahaha!”
Akhirnya Mas Nur menyerah.
“Yaudah nanti aku traktir.”
Bambang langsung mengembalikan surat itu dengan gaya menang lelang.
“Nah gitu.”
Sepulang sekolah…
Yanti berjalan lebih pelan dari biasanya.
Mas Nur mengejarnya dari belakang.
“Yanti…”
“Iya?”
“Maaf…”
Yanti menoleh bingung.
“Kenapa minta maaf?”
“Suratnya ketahuan…”
Yanti langsung malu lagi.
“Itu salah siapa coba…”
“Aku nyimpennya di buku…”
“Terus?”
“Mungkin jatuh…”
Yanti tertawa kecil.
Untuk pertama kalinya hari itu…
mereka sama-sama tertawa tanpa rasa malu lagi.
Mas Nur lalu berkata pelan.
“Tapi isi suratnya serius.”
DEG.
Yanti kembali salah tingkah.
“Mas Nur…”
“Iya?”
“Aku juga senang…”
“Sama kamu.”
Kalimat itu membuat Mas Nur diam beberapa detik.
Lalu perlahan tersenyum sangat lebar.
Dan sore itu…
di jalan kecil Desa Tegorejo yang mulai disinari cahaya senja…
dua hati remaja mulai saling mengakui perasaan mereka.
Sederhana.
Polos.
Namun begitu tulus.
BAB XVII
RETAKNYA PERSAHABATAN
Hari-hari setelah malam pasar itu…
hubungan Yanti dan Mas Nur terasa semakin dekat.
Meski belum pernah ada kata “pacaran” yang benar-benar diucapkan…
namun hampir semua orang tahu apa yang sedang terjadi di antara mereka.
Cara Mas Nur selalu mencari Yanti setiap pulang ke desa.
Cara Yanti langsung salah tingkah saat mendengar nama Mas Nur disebut.
Dan tentu saja…
teman-teman mereka tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menggoda.
Minggu pagi itu latihan karate kembali berlangsung di lapangan balai desa.
Udara masih dingin.
Embun masih terlihat di rumput.
Namun suasana sudah ramai oleh suara anak-anak latihan.
“KIAAA!”
“SATU!”
“DUA!”
Sensei Sambas berdiri di depan dengan peluit di leher.
Sementara Sensei Anton membantu membetulkan gerakan murid-murid baru.
Ima yang sekarang sudah mulai serius latihan tampak paling semangat.
“Kak lihat tendanganku!”
BRAK!
Tendangannya malah mengenai ember air.
BYUR!
Aziz langsung lompat menghindar.
“Heh! Banjir woi!”
“Hahaha!”
Semua langsung tertawa.
Yanti sampai memegangi perut karena ngakak melihat adiknya panik sendiri.
Sementara Riyadi hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum.
“Heh Sinok…”
“Apa?”
“Adikmu kalau ikut lomba mungkin lawannya kabur duluan.”
Ima langsung melotot.
“Kakang Riyadi jahat!”
“Hahaha!”
Namun di tengah suasana ramai itu…
Bambang justru tampak lebih banyak diam.
Ia tetap ikut latihan.
Tetap bercanda seperlunya.
Namun sekarang tawanya tidak lagi sebebas dulu.
Kadang ia melamun terlalu lama.
Kadang diam-diam memperhatikan Yanti dan Mas Nur.
Dan semua perubahan kecil itu mulai disadari Dandang.
“Heh…” bisiknya saat istirahat.
“Apa?”
“Kamu kenapa?”
“Kenapa apanya?”
“Murung terus.”
Bambang langsung minum air tanpa menjawab.
Dandang menyipitkan mata.
“Kamu masih suka sama Yanti ya?”
DEG.
Bambang langsung diam.
Lama sekali.
Sampai akhirnya ia tertawa kecil hambar.
“Aku juga nggak ngerti…”
Untuk pertama kalinya…
Dandang melihat sahabatnya benar-benar sedih.
Beberapa hari kemudian…
sekolah sedang sibuk mempersiapkan pentas seni antar kelas.
Meski Mas Nur sudah sekolah STM di Kendal…
ia beberapa kali datang membantu adik kelas karena dulu aktif di kegiatan sekolah.
Dan tentu saja…
itu membuat Yanti semakin senang.
Sore itu aula sekolah ramai oleh suara latihan.
Yuli latihan menyanyi meski nadanya sering meleset.
Dandang sibuk latihan drama komedi sambil berlebihan.
Anita membantu dekorasi panggung.
Sementara Yanti duduk di dekat jendela sambil menyalin naskah puisi.
Tak lama kemudian…
Mas Nur datang memasuki aula.
Dan seperti biasa…
mata Yanti langsung otomatis mencarinya.
“Heh tuh datang…” bisik Yuli cepat.
Pipi Yanti langsung merah.
Mas Nur berjalan mendekat sambil membawa beberapa lembar kertas.
“Ini naskah yang kemarin.”
“Oh iya…”
Saat tangan mereka bersentuhan sebentar…
jantung Yanti langsung berdebar lagi.
Dandang yang melihat itu langsung pura-pura muntah.
“Uwekkk…”
“Hahaha!”
Bu Guru lalu meminta mereka mencoba pembacaan puisi berpasangan.
“Mas Nur sama Yanti coba dulu.”
“Aseeeek…” teriak Dandang.
“Heh diam!” bentak Bu Guru.
Semua langsung tertawa.
Mas Nur berdiri di depan aula.
Suaranya tenang dan lembut.
“Jika senja adalah akhir dari hari…
maka biarlah aku menjadi langit yang tetap menunggumu…”
Suasana aula langsung hening.
Beberapa anak perempuan sampai saling melirik.
“Romantis banget…”
Yanti lalu melanjutkan dengan suara pelan.
“Dan jika cinta adalah penantian…
maka biarlah hatiku tinggal di langkahmu…”
“ASTAGAAA…” seru Dandang sambil memegang dada.
Yuli pura-pura pingsan.
“Hahaha!”
Namun di tengah tawa itu…
Bambang tiba-tiba berdiri.
“Heh aku ke belakang.”
Dandang menoleh bingung.
“Lho…”
Namun Bambang sudah keluar aula lebih dulu.
Di belakang sekolah…
Bambang duduk sendirian dekat pohon mangga tua.
Tangannya melempar batu kecil ke tanah berkali-kali.
Wajahnya kusut.
Tak lama kemudian…
Riyadi datang menghampiri.
Karena sore itu ia memang sedang mengantar dokumen karate ke sekolah.
“Heh…”
Bambang langsung menoleh.
“Oh Kakang…”
Riyadi duduk di sampingnya.
“Kamu kenapa?”
“Enggak kenapa-kenapa.”
“Kalau bohong mukamu jelek.”
Bambang tertawa kecil hambar.
Riyadi menatapnya beberapa detik.
“Kamu suka Yanti ya?”
Pertanyaan itu membuat Bambang langsung diam lama.
Lalu akhirnya ia menghela napas.
“Aku suka dia dari kecil…”
Suasana mendadak lebih sunyi.
“Dulu aku kira…” katanya pelan.
“Kira apa?”
“Kalau aku selalu ada buat dia…”
“Dia bakal suka sama aku.”
Riyadi hanya mendengarkan.
Namun tatapannya mulai iba.
“Tapi ternyata…”
“Dia sukanya Mas Nur.”
Kalimat terakhir itu terdengar sangat lirih.
Dan sore itu…
untuk pertama kalinya Bambang benar-benar merasakan patah hati.
Malam harinya…
latihan karate kembali berlangsung di balai desa.
Namun suasana hati Bambang masih kacau.
Saat latihan sparring…
gerakannya jadi terlalu keras.
BRAK!
Aziz sampai hampir jatuh.
“Heh pelan woi!”
Sensei Sambas langsung meniup peluit keras.
“BAMBANG!”
Suasana langsung diam.
“Kamu latihan atau marah-marah?!”
Bambang langsung menunduk.
“Maaf Sensei…”
Yanti yang melihat itu mulai merasa ada yang aneh.
Karena biasanya…
Bambang tidak pernah seperti itu.
Beberapa hari kemudian…
masalah akhirnya benar-benar meledak.
Sore itu anak-anak sedang berkumpul di kelas setelah latihan pentas seni selesai.
Suasana awalnya ramai seperti biasa.
Dandang kembali jadi pusat keributan.
“Heh kalau nanti aku jadi artis…”
“Apa?” tanya Aziz.
“Aku nggak bakal lupa kalian.”
Yuli langsung menyahut cepat.
“Tenang…”
“Kenapa?”
“Kamu nggak mungkin jadi artis.”
“HHAHAHAHA!”
Satu kelas langsung pecah tertawa.
Namun suasana berubah saat Rina masuk ke kelas.
“Heh Mas Nur…”
“Iya?”
“Bisa bantu aku Matematika nanti?”
Belum sempat Mas Nur menjawab—
Bambang tiba-tiba nyeletuk keras.
“Wah cocok tuh.”
Semua langsung menoleh.
“Cocok apaan?” tanya Dandang.
“Mas Nur sama Rina.”
Suasana langsung berubah canggung.
Yanti perlahan diam.
Mas Nur mengernyit.
“Heh ngomong apa sih…”
“Ya kalian sering bareng.”
Rina malah tertawa kecil.
“Boleh juga tuh.”
Darah Yanti langsung naik.
Namun ia masih mencoba tenang.
Dandang langsung sadar suasana mulai tidak enak.
“Heh Bambang jangan aneh-aneh…”
Namun Bambang malah melanjutkan.
“Daripada sama Yanti.”
DEG.
Kelas langsung sunyi.
Yanti menatap Bambang tidak percaya.
“Aku kenapa?”
Bambang berdiri perlahan.
“Enggak kenapa-kenapa.”
“Tapi omonganmu tadi apa maksudnya?!”
“Ya biasa aja.”
“Biasa aja dari mana?!”
Untuk pertama kalinya…
Yanti membentak Bambang.
Suasana kelas benar-benar tegang.
Mas Nur mencoba menenangkan.
“Udah…”
Namun Yanti sudah terlanjur kecewa.
“Kalau kamu punya masalah sama aku bilang!”
Bambang tertawa kecil pahit.
“Masalah?”
“Iya!”
“Aku nggak punya masalah.”
“Tapi kamu berubah!”
Bambang diam beberapa detik.
Lalu berkata pelan—
“Mungkin aku capek lihat kalian.”
Suasana langsung hening total.
Yanti membeku.
“Capek?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Bambang menatap Yanti lama sekali.
Lalu akhirnya berkata jujur—
“Karena dari dulu… aku juga suka sama kamu.”
DEG.
Semua orang langsung diam.
Bahkan Dandang tidak berani bercanda lagi.
Yanti benar-benar tidak menyangka.
Mas Nur ikut terdiam.
Bambang tertawa kecil pahit.
“Lucu ya…”
“Dari kecil aku selalu jahilin kamu…”
“Padahal aku cuma pengen diperhatikan.”
Mata Yanti mulai berkaca-kaca.
Sementara Bambang menatap Mas Nur.
“Tapi ya sudahlah…”
“Yang menang memang bukan aku.”
Kalimat itu membuat suasana semakin sesak.
Dan tanpa menunggu jawaban siapa pun…
Bambang langsung keluar kelas.
BRAK!
Pintu tertutup keras.
Meninggalkan suasana hening panjang.
Yanti perlahan duduk kembali.
Dadanya terasa berat.
Sementara Mas Nur hanya diam memandang pintu kelas.
Di luar kelas…
langit sore Desa Tegorejo mulai berubah mendung.
Dan tanpa mereka sadari…
retakan kecil dalam persahabatan mereka mulai terbentuk.
Retakan yang kelak…
akan mengubah hubungan mereka semua menjadi jauh lebih rumit dibanding sebelumnya.
BAB XVIII
HUJAN, LUKA, DAN PELUKAN PERSAHABATAN
Hari-hari setelah pengakuan Bambang di kelas…
tidak pernah benar-benar kembali sama.
Suasana yang dulu selalu penuh tawa…
perlahan berubah canggung.
Candaan Dandang tak lagi sebebas biasanya.
Yuli mulai hati-hati bicara.
Anita sering diam memperhatikan keadaan.
Dan Yanti…
jadi lebih sering melamun.
Desa Tegorejo mulai memasuki musim hujan.
Pagi-pagi udara terasa dingin.
Kabut turun lebih lama di atas sawah.
Jalan tanah menuju sekolah sering becek.
Namun yang paling terasa berubah…
adalah hubungan mereka.
Kini Mas Nur sudah menjadi siswa STM di Kendal.
Ia jarang datang ke SMP kecuali saat pulang desa atau membantu kegiatan sekolah.
Sementara Yanti masih duduk di kelas dua SMP bersama Anita, Yuli, Bambang, Dandang, Aziz, Agus, dan Karwan.
Sedangkan Ima sekarang duduk di kelas enam SD…
dan semakin aktif ikut latihan karate.
Rabu sore itu…
latihan karate berlangsung lebih sepi dari biasanya.
Hujan gerimis turun sejak siang.
Lapangan balai desa berubah lembap.
Sensei Sambas tetap berdiri tegas di depan barisan.
“KUDA-KUDA!”
“SIAP!”
“KIAAA!”
Suara teriakan murid-murid menggema di udara dingin.
Namun sejak tadi…
Yanti tampak tidak fokus.
Gerakannya terlambat.
Pukulannya lemah.
Bahkan beberapa kali salah arah.
BRAK!
“ADUH!”
Aziz sampai kena siku Yanti.
“Heh Sinok…”
“Aduh maaf…”
Aziz langsung meringis lebay.
“Wah…”
“Hari ini pikirannya nggak di lapangan nih.”
Anak-anak langsung saling pandang.
Karwan tertawa kecil.
“Pasti mikirin Mas Nur.”
Pipi Yanti langsung merah.
“Heh nggak lucu!”
Namun Riyadi yang sejak tadi memperhatikan…
langsung tahu ada sesuatu yang tidak beres.
Saat latihan selesai…
anak-anak mulai duduk istirahat di teras balai desa.
Ima sibuk makan cilok.
Dandang dan Aziz ribut berebut es teh.
Agus sedang membantu membereskan matras.
Sementara Yanti duduk sendirian memandangi hujan kecil di depan lapangan.
Riyadi datang membawa dua gelas teh hangat.
“Nih.”
Yanti menoleh pelan.
“Terima kasih Kakang…”
Riyadi duduk di sampingnya.
“Heh Sinok…”
“Hm?”
“Kamu habis nangis?”
Yanti langsung menggeleng cepat.
“Enggak.”
“Kalau bohong mukamu jelek.”
Yanti akhirnya tertawa kecil.
Namun beberapa detik kemudian…
matanya kembali sayu.
“Kakang…”
“Apa?”
“Kalau persahabatan rusak karena cinta…”
“Bisa balik lagi nggak?”
Riyadi diam beberapa saat.
Angin dingin berembus pelan.
Suara hujan terdengar samar di atap balai desa.
“Bisa…”
“Kalau sama-sama mau menjaga.”
“Tapi…”
“Lukanya biasanya lama hilang.”
Yanti menunduk pelan.
Dan Riyadi tahu…
anak itu sedang benar-benar sedih.
Keesokan harinya…
suasana kelas terasa aneh.
Biasanya pagi-pagi Dandang sudah teriak tidak jelas.
Biasanya Bambang sudah jahil melempar kertas.
Namun sekarang…
kelas lebih banyak sunyi.
Yanti duduk dekat jendela sambil membuka buku.
Namun matanya kosong.
Anita mendekat pelan.
“Kamu belum tidur ya?”
Yanti mengangguk kecil.
“Semalaman kepikiran…”
“Soal Bambang?”
Yanti menunduk.
“Aku nggak nyangka…”
“Dia suka sama aku selama itu.”
Yuli yang biasanya paling cerewet ikut diam.
“Kasihan juga sih…”
Namun sebelum suasana makin sedih—
Dandang datang sambil membawa pisang goreng.
“Heh!”
“Apa…”
“Kalian jangan kayak orang habis kehilangan kambing.”
Yuli langsung melotot.
“Dandang…”
“Aku serius!”
Ia duduk lalu berkata lebih pelan.
“Persahabatan kalian jangan rusak gara-gara beginian.”
Namun bahkan Dandang sendiri sebenarnya khawatir.
Karena ia tahu…
Bambang bukan tipe orang yang gampang menunjukkan perasaannya.
Kalau sampai meledak seperti kemarin…
berarti luka itu sudah terlalu lama dipendam.
Tak lama kemudian…
Bambang masuk kelas.
Seragamnya sedikit basah karena gerimis.
Rambutnya acak-acakan.
Namun wajahnya datar.
Tak ada senyum.
Tak ada candaan.
Ia langsung duduk tanpa melihat siapa pun.
Suasana langsung makin berat.
Yanti beberapa kali ingin bicara…
namun tidak berani.
Sementara Bambang memilih diam sambil memandang meja.
Jam pelajaran berjalan lambat.
Bahkan Bu Guru sampai sadar ada yang aneh.
“Kalian habis berantem?”
Satu kelas langsung diam.
Dandang buru-buru menjawab.
“Enggak Bu…”
Padahal semua tahu itu bohong.
Saat istirahat…
suasana makin tegang.
Mas Nur yang hari itu datang ke sekolah untuk membantu persiapan lomba puisi…
akhirnya mendekati Bambang.
“Heh…”
Bambang diam.
“Kita ngobrol bentar.”
“Ngobrol apa?”
“Di luar.”
Bambang akhirnya berdiri.
Dan seluruh kelas langsung saling pandang.
“Heh…” bisik Yuli.
“Jangan-jangan berantem…”
Dandang langsung berdiri cepat.
“Aku ikut.”
“Hah?”
“Kalau ada tinju bebas aku jadi wasit.”
“Hahaha!”
Namun tidak ada yang benar-benar tertawa.
Karena semua cemas.
Di belakang sekolah…
langit tampak mendung pekat.
Pohon mangga tua bergoyang pelan tertiup angin.
Mas Nur berdiri beberapa langkah di depan Bambang.
“Aku nggak mau kita musuhan.”
Bambang tertawa hambar.
“Siapa yang musuhan?”
“Kamu jelas marah.”
“Ya mungkin.”
“Karena Yanti?”
Bambang menatap Mas Nur cukup lama.
Lalu berkata pelan—
“Kalau kamu di posisiku…”
“Gimana rasanya lihat orang yang kamu suka…”
“Dekat sama sahabatmu sendiri?”
Suasana langsung hening.
Mas Nur tidak langsung menjawab.
Karena ia tahu…
kalau berada di posisi Bambang…
mungkin ia juga akan terluka.
“Aku nggak pernah niat nyakitin kamu,” kata Mas Nur pelan.
Bambang tersenyum tipis.
“Tapi tetap sakit.”
Kalimat itu terasa berat.
Langit semakin gelap.
Angin mulai dingin.
Dan Bambang kembali bicara.
“Tahu nggak…”
“Dari kecil aku selalu mikir…”
“Kalau suatu hari…”
“Yanti bakal sadar kalau aku paling peduli sama dia.”
Mas Nur menunduk.
“Tapi ternyata…”
“Dia milih kamu.”
Mas Nur menarik napas panjang.
“Aku nggak bisa bohong…”
“Aku juga sayang sama Yanti.”
Bambang tertawa kecil pahit.
“Makanya aku kalah.”
Tiba-tiba—
suara langkah kaki terdengar mendekat.
“Heh!”
Ternyata Yanti datang menyusul.
Di belakangnya ada Dandang, Anita, Yuli, Aziz, Agus, dan Karwan.
“Kalian ngapain di sini?!” tanya Yanti panik.
Dandang langsung menjawab cepat.
“Takut ada kejuaraan silat.”
“Hahaha!”
Namun suasana tetap terasa berat.
Yanti menatap Bambang pelan.
“Aku nggak mau kita jadi begini…”
Bambang menoleh.
“Terus harus gimana?”
“Aku tetap anggap kamu sahabat.”
Bambang tertawa kecil hambar.
“Sahabat…”
“Aku pengen lebih dari itu, Yanti.”
Kalimat itu membuat mata Yanti mulai berkaca-kaca.
Dan tepat saat itu…
HUJAAANNN turun deras tiba-tiba.
BRAK!
Petir menggelegar.
Anak-anak langsung panik.
“WOY LARI!”
“HUJAN!”
Dandang yang paling depan malah terpeleset di tanah becek.
BRUK!
“HHAHAHAHA!”
Bahkan Bambang ikut refleks tertawa kecil.
“Kaki gueeee!” teriak Dandang lebay.
Yuli sampai jongkok sambil tertawa keras.
“Makanya jangan sok jadi pengawal!”
Namun di tengah hujan deras itu…
Bambang tetap berdiri diam.
Air hujan membasahi wajahnya.
Yanti perlahan mendekat.
“Heh…”
Bambang menatapnya.
Dan untuk pertama kalinya…
Yanti melihat mata sahabat kecilnya benar-benar terluka.
“Aku minta maaf…”
Bambang menggeleng kecil.
“Kamu nggak salah.”
“Tapi…”
“Cinta itu nggak bisa dipaksa kan?”
Kalimat itu membuat dada Yanti terasa sesak.
Mas Nur lalu melangkah mendekat.
Suasana kembali tegang.
Namun tak disangka…
Bambang justru mengulurkan tangan.
“Aku masih kesel sama kamu.”
Mas Nur menatap tangannya beberapa detik.
Lalu menjabatnya pelan.
“Tapi…”
“Jangan sakiti Yanti.”
Mas Nur mengangguk.
“Aku janji.”
Hujan terus turun deras.
Namun untuk sesaat…
ketegangan di antara mereka mulai mencair.
Meski luka Bambang belum sembuh…
setidaknya persahabatan mereka belum benar-benar hancur.
Malam harinya…
Yanti duduk sendirian di teras rumah.
Hujan masih turun rintik-rintik.
Ima sudah tidur lebih dulu.
Bu Rosmiyati sedang menjahit di dalam rumah.
Namun Yanti masih diam memandangi jalanan gelap desa.
Pikirannya kacau.
Tentang Bambang.
Tentang Mas Nur.
Tentang persahabatan mereka.
Dan tentang rasa bersalah yang terus mengganggu hatinya.
Tak lama kemudian…
terdengar suara motor berhenti di depan rumah.
“Klek…”
Yanti menoleh.
Ternyata Riyadi.
“Heh Sinok…”
“Kakang?”
“Belum tidur?”
Yanti menggeleng kecil.
Riyadi duduk di sampingnya sambil membawa kantong kecil gorengan.
“Nih.”
Yanti tersenyum tipis.
“Makasih…”
Beberapa saat mereka diam mendengarkan suara hujan.
Lalu Riyadi berkata pelan—
“Kamu jangan nyalahin diri sendiri terus.”
Yanti menunduk.
“Tapi semua jadi berubah…”
“Namanya juga hidup.”
“Kadang orang datang buat bikin bahagia…”
“Kadang buat ngajarin kita dewasa.”
Yanti memandang Riyadi pelan.
Dan entah kenapa…
setiap bersama kakak angkatnya itu…
hatinya selalu terasa lebih tenang.
Malam semakin larut.
Hujan perlahan reda.
Namun di hati mereka…
semua baru saja dimulai.
Karena cinta pertama…
ternyata bukan hanya tentang bahagia.
Tetapi juga tentang luka.
Tentang kehilangan.
Dan tentang belajar menerima bahwa…
tidak semua perasaan bisa memiliki balasan yang sama.
BAB XIX
FITNAH DAN AIR MATA DI KELAS DELAPAN
Hari-hari setelah hujan sore itu…
keadaan memang perlahan terlihat membaik.
Bambang mulai kembali bercanda meski tak sebebas dulu.
Mas Nur masih sering datang dari Kendal saat akhir pekan atau ketika ada kegiatan sekolah.
Yanti mulai bisa tersenyum lagi.
Dan latihan karate di balai desa kembali ramai seperti biasanya.
Namun…
di balik semua ketenangan itu…
sesuatu perlahan sedang tumbuh.
Sesuatu yang kecil.
Tapi panas.
Dan diam-diam bisa menghancurkan semuanya.
Iri hati.
Pagi Minggu di balai desa Tegorejo terasa ramai.
Anak-anak karate sudah memenuhi lapangan sejak matahari belum tinggi.
“KIAAA!”
“SATU!”
“DUA!”
Sensei Sambas berjalan mondar-mandir sambil memegang rotan kecil.
Sementara Sensei Anton membantu membetulkan posisi tendangan anak-anak.
Ima tampak paling semangat pagi itu.
“Kak lihat!”
BRAK!
Tendangannya malah mengenai ember air lagi.
BYUR!
Aziz langsung melompat mundur.
“Heh! Lagi-lagi banjir!”
“HHAHAHAHA!”
Semua langsung tertawa.
Dandang sampai jongkok sambil memegangi perut.
“Ini bukan karate…”
“Ini latihan tsunami!”
Ima langsung manyun.
“Kalian jahat!”
Riyadi yang sedang membantu mengatur barisan hanya tertawa kecil.
“Heh Sinok…”
“Apa Kakang?”
“Adikmu nanti sabuk hitamnya khusus penghancur ember.”
Yanti sampai tertawa keras.
Untuk sesaat…
beban di hatinya terasa hilang.
Namun di sisi lain lapangan…
Lila memperhatikan semuanya diam-diam.
Ia sebenarnya juga ikut ekstrakurikuler seni tari yang kadang latihan di balai desa.
Dan sejak dulu…
ia tidak pernah benar-benar suka pada Yanti.
Di SD dulu…
Yanti selalu jadi murid kesayangan guru.
Masuk SMP…
Yanti tetap disukai banyak teman.
Cantik.
Pintar.
Aktif karate.
Dekat dengan banyak orang.
Bahkan sekarang…
Mas Nur yang terkenal kalem dan disukai banyak siswi…
justru memilih dekat dengan Yanti.
Hal itu membuat hati Lila perlahan dipenuhi iri.
“Lihat tuh…” bisik Lila pada Rina.
“Apa?”
“Mas Nur pulang dari Kendal pasti nyari Yanti.”
Rina melirik sekilas.
“Oh…”
“Padahal banyak yang lebih cantik.”
Rina tertawa kecil.
“Kamu termasuk?”
Lila langsung tersenyum tipis.
“Minimal nggak sok alim.”
Mereka tertawa pelan.
Sementara dari kejauhan…
Yanti sama sekali tidak sadar sedang diperhatikan.
Beberapa hari kemudian…
suasana sekolah makin sibuk karena pentas seni antar kelas semakin dekat.
Aula sekolah hampir tidak pernah sepi.
Ada yang latihan drama.
Ada yang latihan puisi.
Ada yang latihan tari.
Dan sebagian lagi…
hanya numpang ribut.
Dandang berdiri di atas meja sambil latihan lawakan.
“Kalau aku sukses nanti…”
“Apa?” tanya Bambang malas.
“Aku bakal punya rumah tiga tingkat.”
“Modalnya?”
“Ketampanan.”
Satu aula langsung diam.
Lalu—
“HHAHAHAHA!”
Bahkan penjaga sekolah ikut tertawa dari luar.
Yuli sampai tepuk meja.
“Kalau muka kamu modal…”
“Bangkrut dari lahir!”
“Hahaha!”
Dandang langsung tersinggung.
“Heh! Kalian nggak ngerti seni!”
Aziz nyeletuk cepat.
“Yang ada muka kamu bikin seni menderita.”
“HHAHAHAHA!”
Suasana aula pecah oleh tawa.
Bahkan Yanti sampai memegangi perut.
Dan Mas Nur yang baru datang dari Kendal hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum kecil melihat tingkah mereka.
Namun di sudut aula…
Lila mulai memainkan sesuatu.
Ia duduk bersama Rina sambil pura-pura serius melihat latihan.
“Kamu tahu nggak…”
“Apa?”
“Katanya Yanti sama Mas Nur sering jalan malam.”
Rina mengangkat alis.
“Serius?”
“Iya…”
“Anak karate juga banyak yang lihat katanya.”
Padahal itu dilebih-lebihkan.
Rina mulai tertarik.
“Terus?”
“Ya nggak baik aja dilihatnya.”
Lila tersenyum tipis.
Dan dari situlah…
fitnah kecil mulai lahir.
Awalnya hanya bisik-bisik kecil.
Lalu berubah jadi gosip.
Dan semakin lama…
ceritanya makin liar.
“Katanya Yanti sama Mas Nur sering ketemu malam-malam…”
“Serius?”
“Iya.”
“Bukannya Mas Nur sekolah STM di Kendal?”
“Makanya…”
“Kalau pulang pasti nyari Yanti.”
“Heh katanya mereka pernah pegangan tangan di pasar malam.”
“Yang itu mah semua orang lihat.”
“Tapi katanya mereka sering pergi diam-diam.”
“Wah…”
Sedikit demi sedikit…
nama Yanti mulai jadi bahan omongan.
Saat jam istirahat…
Yanti mulai merasa ada yang aneh.
Beberapa siswi melihatnya sambil berbisik.
Bahkan ada yang tertawa kecil saat ia lewat.
“Heh…” kata Anita pelan.
“Apa?”
“Kayaknya ada gosip tentang kamu.”
“Hah?”
Yuli datang tergesa-gesa.
“Gawat.”
“Ada apa lagi?”
“Anak kelas sebelah ngomongin kamu sama Mas Nur.”
Yanti langsung bingung.
“Ngomongin apa?”
Yuli ragu sebentar.
“Katanya kalian suka jalan malam berdua.”
“Hah?!”
“Dan katanya…”
Yuli makin pelan.
“Kalian udah pacaran kelewatan.”
DEG.
Wajah Yanti langsung pucat.
“Apa-apaan itu?!”
Anita langsung ikut emosi.
“Kurang ajar banget…”
Namun sebelum mereka sempat mencari tahu—
beberapa anak laki-laki lewat sambil tertawa.
“Eh Yantiii…”
“Kalau malam jangan pulang terlalu larut ya…”
“HHAHAHAHA!”
Muka Yanti langsung merah karena malu dan marah.
Di kelas…
suasana makin tidak nyaman.
Mas Nur yang baru tahu gosip itu langsung berubah serius.
“Siapa yang nyebarin?”
Bambang ikut berdiri.
“Kalau ketemu orangnya gue tabok.”
Dandang langsung menggulung lengan baju.
“Setuju.”
Aziz ikut nimbrung.
“Aku pegangin orangnya.”
Karwan menyahut.
“Aku yang nyari bambunya.”
“HHAHAHAHA!”
Biasanya candaan itu akan membuat semua tertawa.
Namun kali ini…
tak ada yang benar-benar merasa lucu.
Karena Yanti mulai menahan air mata.
“Aku nggak pernah ngelakuin itu…”
Mas Nur menatapnya lembut.
“Aku tahu.”
“Tapi semua orang ngomongin…”
Suara Yanti mulai bergetar.
Dan untuk pertama kalinya…
ia merasa harga dirinya benar-benar terluka.
Tak lama kemudian…
keadaan makin buruk.
Saat pelajaran berlangsung…
selembar kertas tiba-tiba dilempar ke meja Yanti.
PLAK.
Yuli cepat mengambilnya.
Dan saat dibuka—
wajahnya langsung berubah marah.
“Astaga…”
“Apa?” tanya Anita.
Di kertas itu tertulis:
“Anak alim ternyata suka jalan sama cowok malam-malam.”
Yanti langsung membeku.
Tangannya gemetar.
Sementara beberapa anak belakang malah cekikikan.
Mas Nur berdiri cepat.
“Siapa yang lempar?!”
Tak ada yang menjawab.
Namun matanya langsung tertuju pada kelompok Budi dan beberapa anak kelas sebelah yang sedang tertawa.
Budi menyeringai santai.
“Lho salah sendiri kalau jadi bahan gosip.”
BRAK!
Mas Nur langsung memukul meja keras.
Satu kelas kaget.
Karena selama ini…
Mas Nur dikenal paling tenang.
“Jangan sembarangan ngomong!” bentaknya.
Suasana langsung panas.
Budi berdiri sambil tersenyum menantang.
“Kenapa?”
“Takut rahasianya ketahuan?”
“Heh!” bentak Bambang.
“Mulutmu dijaga!”
Namun Budi malah tertawa.
“Wah sekarang pahlawan semua ya?”
Dandang ikut berdiri.
Meski tubuhnya paling kecil…
gayanya paling galak.
“Gue kecil begini…”
“Bisa nendang limpa lo.”
“HHAHAHAHA!”
Beberapa anak tertawa gugup.
Namun suasana tetap tegang.
Yanti akhirnya berdiri.
“CUKUP!”
Satu kelas langsung diam.
Air matanya mulai jatuh.
“Aku nggak pernah ngelakuin apa yang kalian omongin…”
Suasana mendadak sunyi.
“Aku capek…”
“Kenapa kalian jahat banget…”
Kalimat itu membuat beberapa anak mulai merasa bersalah.
Namun Lila yang duduk di belakang…
hanya memandang datar.
Mas Nur mendekat perlahan.
“Yanti…”
Namun Yanti langsung pergi keluar kelas sambil menangis.
Anita dan Yuli buru-buru mengejar.
“Heh Yanti tunggu!”
Sementara di dalam kelas…
suasana hampir meledak.
Bambang langsung mendekati Budi.
“Kalau lo masih ngomong sembarangan…”
“Kenapa?”
“Gue hajar.”
Budi ikut maju.
“Coba aja.”
Suasana langsung ricuh.
“WOY WOY WOY!”
Dandang panik melerai.
Aziz ikut menarik Bambang.
Karwan menahan Budi.
Bahkan meja hampir jatuh karena dorong-dorongan.
Di luar kelas…
Yanti menangis di dekat taman belakang sekolah.
Dadanya sesak.
Ia tidak pernah menyangka…
namanya akan jadi bahan omongan seperti itu.
Anita memeluk pundaknya.
“Udah…”
Yuli ikut duduk di sampingnya.
“Orang-orang emang suka ngomong sembarangan.”
“Tapi kenapa harus aku…” lirih Yanti.
Air matanya terus jatuh.
“Aku malu…”
Saat itulah—
terdengar suara motor berhenti di depan sekolah.
Ternyata Riyadi datang mengantar perlengkapan karate untuk acara pentas seni.
Ia langsung melihat Yanti menangis.
“Heh Sinok…”
Yanti cepat menghapus air mata.
Namun Riyadi sudah tahu.
“Ada apa?”
Tak ada yang langsung menjawab.
Sampai akhirnya Yuli mengomel panjang.
“Anak-anak nyebar gosip nggak jelas!”
“Fitnah semua!”
Mata Riyadi langsung berubah serius.
“Siapa?”
Tak lama kemudian…
Riyadi berjalan masuk ke kelas.
Suasana masih panas.
Mas Nur berdiri dengan emosi tertahan.
Bambang masih menatap tajam ke arah Budi.
Dan Dandang sibuk jadi penengah gagal.
“Heh santai woi…”
Begitu Riyadi masuk…
kelas langsung sedikit diam.
Karena hampir semua anak tahu—
Riyadi adalah senior karate yang disegani.
“Ada apa ini?” tanyanya tenang.
Tak ada yang langsung menjawab.
Sampai akhirnya Mas Nur berkata pelan—
“Yanti difitnah.”
Riyadi menatap satu per satu wajah anak di kelas.
Lalu berkata dengan nada dingin—
“Bercanda ada batasnya.”
“Kalau sampai bikin perempuan nangis…”
“Itu pengecut.”
Suasana langsung hening.
Budi yang tadi paling berani…
kini mulai salah tingkah.
Malam harinya…
Yanti duduk diam di teras rumah.
Langit mendung.
Angin malam terasa dingin.
Ima duduk di dekatnya sambil membawa buku sekolah.
“Kak…”
“Hm?”
“Jangan sedih terus.”
Yanti tersenyum kecil.
“Kamu ngerti apa?”
Ima mengangguk serius.
“Kalau Kak Yanti sedih…”
“Rumah jadi ikut sedih.”
Kalimat polos itu membuat dada Yanti menghangat.
Tak lama kemudian—
Riyadi datang membawa kantong gorengan.
“Nih.”
Yanti tertawa kecil.
“Kakang selalu bawa gorengan.”
“Karena orang sedih nggak boleh lapar.”
Untuk pertama kalinya hari itu…
Yanti tersenyum sedikit lebih lega.
Dan Riyadi kembali sadar—
betapa besar ia ingin menjaga adik angkatnya itu dari semua luka dunia.
BAB XX
TAMPARAN, RAHASIA, DAN AWAL PENGKHIANATAN
Hujan turun sejak subuh di Desa Tegorejo.
Langit tampak kelabu menggantung rendah di atas hamparan sawah. Jalan-jalan kecil desa berubah becek. Air menetes dari daun pisang di depan rumah-rumah warga.
Pagi itu suasana rumah Bu Rosmiyati terasa lebih sunyi dibanding biasanya.
Yanti duduk di depan cermin kecil dengan wajah pucat. Matanya sembab karena semalaman menangis memikirkan gosip yang terus menyebar di sekolah.
Di belakangnya, Ima yang kini duduk di kelas enam SD sedang mengenakan seragam olahraga karate.
“Ima berangkat latihan nanti sore ya, Mbak,” katanya pelan sambil mengepang rambut sendiri.
Yanti hanya mengangguk kecil.
Bu Rosmiyati keluar dari dapur membawa teh hangat.
“Sinok…” katanya lembut.
Yanti menoleh pelan.
“Jangan dipikir terlalu dalam.”
“Tapi orang-orang ngomong terus, Buk…”
Bu Rosmiyati duduk di samping anak gadisnya.
“Mulut orang nggak bisa ditutup.”
“Tapi hati kita bisa dijaga.”
Air mata Yanti hampir jatuh lagi.
“Aku malu…”
“Kenapa malu kalau kamu nggak salah?”
Yanti menggigit bibirnya pelan.
“Di sekolah semua lihat aku aneh sekarang…”
Ima ikut mendekat.
“Kalau ada yang nakal, bilang Kakang Riyadi aja.”
Yanti tersenyum kecil mendengar itu.
Sejak Yanti ikut karate di ranting kecamatan, Riyadi memang sering hadir sebagai sosok penenang. Lelaki yang lebih tua beberapa tahun itu sudah dianggap kakak sendiri oleh keluarga mereka.
Bahkan Bu Rosmiyati pernah berkata langsung padanya:
“Yadi… tolong jagain Sinok.”
Dan sejak saat itu, Riyadi selalu menjaga Yanti seperti adik kandungnya sendiri.
Di SMP Tegorejo…
suasana jauh lebih panas dibanding cuaca pagi itu.
Begitu Yanti masuk gerbang sekolah, beberapa bisik langsung terdengar.
“Itu Yanti…”
“Katanya semalam dianter Mas Nur lagi…”
“Anak alim ternyata…”
Yanti langsung menunduk.
Dadanya sesak.
Anita yang melihat cepat menggandeng tangannya.
“Udah nggak usah didengerin.”
Namun Yanti tahu…
gosip itu sudah menyebar terlalu jauh.
Di lorong kelas delapan…
Dandang sedang berdiri di atas bangku sambil pura-pura pidato.
“Saudara-saudara!”
“Negara kita sedang krisis!”
Yuli melotot.
“Krisis apaan?”
“Krisis cinta dan gosip!”
“HHAHAHAHA!”
Beberapa anak tertawa.
Namun tawa itu cepat hilang saat Yanti masuk kelas.
Suasana langsung canggung.
Bahkan Bambang yang biasanya paling ribut hanya diam sambil memainkan pulpen.
Ia melirik Yanti sekilas.
Lalu membuang muka.
Tak lama kemudian…
Budi datang dari kelas sebelah bersama dua temannya.
Anak STM biasanya terkenal lebih urakan.
Dan meski Budi masih SMP, tingkahnya sering seperti anak jalanan.
“Heh…” katanya sambil menyeringai.
“Pagi Yanti…”
Tak ada jawaban.
Budi malah tertawa kecil.
“Mas Nur mana?”
Suasana kelas langsung berubah tegang.
Mas Nur memang sudah lulus SMP Tegorejo beberapa bulan lalu dan kini sekolah di STM Kendal.
Namun karena rumahnya masih satu desa dan sering pulang sore melewati Tegorejo, ia kadang masih menemui Yanti sepulang sekolah atau saat latihan karate selesai.
Itulah yang kemudian jadi bahan gosip.
“Heh Bud…” kata Bambang pelan.
“Mulutmu dijaga.”
Budi malah tertawa.
“Kenapa?”
“Emang salah?”
Dandang langsung berdiri.
“Kalau nyari ribut bilang dari awal.”
“Hahaha… si pelawak ikut marah.”
Dandang menunjuk dirinya sendiri.
“Aku ini artis masa depan.”
“Bukan satpam cinta.”
Beberapa anak tertawa kecil.
Namun suasana tetap panas.
Saat pelajaran berlangsung…
Yanti benar-benar tidak bisa fokus.
Tangannya dingin.
Pikirannya kacau.
Bahkan tulisan di papan terasa kabur.
Bu Ratna yang sedang mengajar Bahasa Indonesia sampai memperhatikan.
“Yanti?”
Yanti kaget.
“Iya Bu?”
“Kamu sakit?”
“Enggak…”
“Kamu pucat.”
Seluruh kelas langsung melihat ke arahnya.
Dan itu membuat Yanti makin tidak nyaman.
Saat istirahat…
keributan besar akhirnya pecah.
Semua bermula ketika Budi duduk di depan kelas sambil bercanda keras bersama anak-anak lain.
“Heh katanya Mas Nur anak STM sekarang ya?”
“Iya.”
“Wah anak STM terkenal berani tuh.”
“Hahaha!”
Lalu tiba-tiba…
Budi berkata keras sengaja agar Yanti mendengar.
“Pantes aja Yanti suka.”
“Habis anak STM lebih keren daripada anak SMP.”
Beberapa anak langsung saling pandang.
Yanti mengepalkan tangan.
Namun Budi belum berhenti.
“Kalau malam dianter pulang naik motor pasti romantis tuh.”
PLAK!
Suara tamparan keras menggema satu kelas.
Semua membeku.
Yanti berdiri dengan napas gemetar.
Tangannya masih terangkat.
Ia benar-benar menampar Budi.
Anita sampai menutup mulut.
“Ya Allah…”
Bambang langsung berdiri cepat.
Dandang melongo.
“Heh…”
Budi memegang pipinya perlahan.
Matanya membelalak tak percaya.
“Kamu nampar gue?”
Air mata Yanti jatuh.
“Jangan hina aku…”
Suaranya bergetar.
“Aku nggak pernah bikin malu siapa pun…”
Kelas benar-benar sunyi.
Tak ada yang berani bicara.
Namun masalah belum selesai.
Karena siang itu…
berita tamparan itu langsung menyebar ke seluruh sekolah.
“Yanti nampar Budi!”
“Serius?!”
“Gara-gara Mas Nur katanya!”
“Waduh…”
Dan seperti api kena bensin…
gosip itu makin membesar.
Sore harinya…
langit masih mendung ketika latihan karate dimulai di balai desa kecamatan.
Suara teriakan kiai karate menggema.
“HIAAAAT!”
Anak-anak berbaris memakai seragam putih.
Sensei Sambas berjalan mengawasi satu per satu.
“Posisi kaki yang benar!”
“Karwan jangan melamun!”
“Hahaha!”
Agus langsung tertawa.
Karwan nyengir malu.
Di sudut aula…
Yanti tampak murung sejak datang.
Bahkan gerakannya kacau.
Sensei Anton sampai mengernyit.
“Sinok!”
Yanti kaget.
“Iya Sensei…”
“Konsentrasi!”
“Siap…”
Namun jelas pikirannya tidak ada di tempat itu.
Saat istirahat latihan…
Riyadi datang membawa teh hangat plastik dari warung depan.
“Heh Sinok…”
Yanti menoleh pelan.
“Kakang…”
Riyadi duduk di sampingnya.
“Aku dengar soal sekolah.”
Yanti langsung diam.
“Aku malu, Kang…”
Riyadi tersenyum kecil.
“Kenapa?”
“Semua orang ngomongin aku.”
“Memangnya mereka yang nentuin hidupmu?”
Yanti menunduk.
“Tapi capek…”
Riyadi mengacak pelan kepala Yanti seperti kakak sendiri.
“Kamu itu terlalu mikirin omongan orang.”
“Tapi aku takut ibu sedih…”
Riyadi menatapnya lembut.
“Bu Rosmiyati justru bangga punya anak kayak kamu.”
Yanti perlahan mulai menangis lagi.
Dan seperti biasa…
Riyadi hanya diam menemani.
Tidak banyak bertanya.
Tidak menghakimi.
Hanya hadir.
Dan itu cukup membuat hati Yanti lebih tenang.
Namun dari kejauhan…
seseorang memperhatikan mereka.
Lila.
Ia datang menjemput sepupunya yang ikut karate.
Dan ketika melihat Riyadi duduk dekat Yanti…
matanya langsung menyipit.
“Hm…”
Pikirannya mulai berjalan lagi.
“Jadi bukan cuma Mas Nur…”
gumamnya pelan.
Dan untuk pertama kalinya…
ia mulai menyusun fitnah yang lebih besar.
Malam harinya…
Mas Nur datang ke rumah Yanti.
Bukan memakai seragam SMP lagi.
Melainkan jaket abu-abu STM Kendal dengan tas teknik di pundaknya.
Suara motor tuanya berhenti pelan di depan rumah.
Ima langsung berlari keluar.
“Kak Mas Nuuur!”
Mas Nur tersenyum kecil.
“Heh Ima…”
Bu Rosmiyati keluar dari dalam rumah.
“Mari masuk, Nur.”
“Iya Buk…”
Namun saat melihat Yanti keluar dengan mata sembab…
senyum Mas Nur perlahan hilang.
“Kamu nangis lagi?”
Yanti diam.
Mas Nur mengepalkan tangan pelan.
“Budi keterlaluan.”
“Kamu jangan cari ribut lagi…”
“Aku nggak suka lihat kamu disakitin.”
Suasana teras rumah terasa hangat namun penuh tekanan.
Lampu minyak kecil bergoyang diterpa angin malam.
Dan di tengah suara jangkrik desa…
hubungan mereka perlahan memasuki fase baru.
Fase yang lebih rumit.
Lebih dewasa.
Dan lebih menyakitkan.
Karena kini…
yang mereka hadapi bukan lagi sekadar rasa suka masa SMP.
Melainkan omongan orang.
Harga diri.
Kecemburuan.
Dan pengkhianatan yang mulai tumbuh dari lingkaran pertemanan mereka sendiri.
BAB XXI
MALAM PENTAS SENI DAN HATI YANG MULAI TERPECAH
Waktu berjalan cepat di Desa Tegorejo.
Sawah-sawah masih hijau seperti dulu. Jalan desa masih dipenuhi suara sepeda ontel dan motor tua setiap pagi. Namun anak-anak yang dulu berlarian di halaman SD kini mulai tumbuh semakin dewasa.
Yanti sekarang duduk di kelas sembilan SMP Tegorejo.
Sementara Ima, adiknya, akhirnya resmi masuk SMP yang sama sebagai murid kelas tujuh.
Dan Mas Nur…
kini sudah menjadi siswa STM Kendal tingkat dua.
Ia tidak lagi memakai seragam putih biru.
Sekarang ia lebih sering terlihat memakai seragam abu-abu khas STM dengan sepatu hitam penuh debu bengkel dan tas teknik yang berat.
Namun meski sekolah mereka berbeda…
hubungan Yanti dan Mas Nur justru semakin rumit.
Karena semakin hari…
rasa sayang mereka mulai bercampur dengan rasa cemburu.
Pagi itu SMP Tegorejo sudah ramai luar biasa.
Hari pentas seni tahunan akhirnya tiba.
Anak-anak sibuk menghias panggung sederhana di lapangan sekolah. Bendera warna-warni dipasang miring di sana-sini. Kursi plastik dipinjam dari rumah warga. Speaker tua milik balai desa dipasang dekat panggung hingga suaranya kadang mendengung.
“TESSS… TESSS…”
“Masuk nggak suaranya?!”
“Masuk kuping doang!”
“HHAHAHAHA!”
Suasana sekolah benar-benar heboh.
Di belakang panggung…
Dandang menjadi orang paling ribut sedunia.
Ia muncul memakai jas cokelat kebesaran milik pamannya.
Lengannya sampai menutupi telapak tangan.
Celananya menggantung setengah betis.
Dan rambutnya penuh minyak sampai mengilap seperti penggorengan bakwan.
Yuli langsung memekik.
“YA AMPUN!”
Anita sampai duduk sambil tertawa.
“Dang… kamu kayak penyanyi organ tunggal gagal!”
Dandang tersinggung.
“Heh! Ini style anak kota!”
Bambang langsung nyeletuk sambil makan gorengan.
“Kota mana?”
“Kendal!”
“Lebih tepatnya pasar Kendal.”
“HHAHAHAHA!”
Satu ruangan langsung pecah.
Bahkan Ima yang baru pertama ikut pentas seni SMP sampai tertawa sambil memegang perut.
“Kak Dandang lucu banget…”
Dandang langsung bangga.
“Nah dengar tuh! Adiknya Yanti aja ngerti fashion!”
“Fashion apaan?!” teriak Yuli.
Namun di tengah keramaian itu…
Yanti justru terlihat murung.
Ia duduk di depan cermin kecil sambil membetulkan jilbab putihnya perlahan.
Anita memperhatikan sahabatnya itu cukup lama.
“Kamu kenapa?”
“Enggak…”
“Bohong.”
Yuli ikut duduk di sampingnya.
“Mas Nur lagi?”
Yanti diam beberapa detik.
Lalu menghela napas pelan.
“Semalam kita berantem lagi…”
Anita langsung mengernyit.
“Gara-gara apa?”
“Karena Riyadi.”
Yuli spontan melotot.
“Hah?”
Masalah itu memang mulai sering muncul beberapa bulan terakhir.
Sejak Yanti makin aktif di karate dan organisasi sekolah…
pergaulannya semakin luas.
Ia dekat dengan banyak teman.
Ada Agus, Aziz, Karwan, Munasro, bahkan anak-anak ranting karate dari desa lain.
Dan yang paling dekat tentu saja Riyadi.
Kakang Riyadi.
Lelaki yang sudah dianggap kakak sendiri oleh keluarga Yanti.
Namun Mas Nur…
tidak pernah benar-benar nyaman dengan semua itu.
Flashback malam sebelumnya…
Di depan rumah Bu Rosmiyati…
Mas Nur duduk diam di kursi bambu.
Wajahnya dingin.
Sementara Yanti mulai kesal.
“Kamu kenapa sih?”
“Biasa aja.”
“Kalau biasa aja nggak mungkin diem dari tadi.”
Mas Nur menatap jalan desa gelap di depan rumah.
“Tadi sore kamu pulang sama Riyadi lagi.”
Yanti langsung menghela napas.
“Ya karena habis latihan karate bareng.”
“Tapi kenapa harus berdua terus?”
“Lho yang lain juga ada!”
“Yang aku lihat cuma kamu sama dia.”
Nada suara Mas Nur mulai berubah.
Yanti ikut naik emosi.
“Kakang Riyadi itu kayak kakakku sendiri!”
“Tapi dia bukan kakak kandungmu.”
DEG.
Kalimat itu langsung membuat Yanti terluka.
“Kamu nggak percaya sama aku?”
“Bukan gitu…”
“Terus apa?!”
Suasana langsung tegang.
Dari dalam rumah…
Bu Rosmiyati hanya bisa saling pandang dengan Ima.
Ima sampai berbisik kecil.
“Mbak sama Mas Nur berantem lagi…”
Bu Rosmiyati menghela napas panjang.
Kembali ke hari pentas seni…
Yanti masih terlihat memikirkan pertengkaran itu.
Sampai tiba-tiba…
suara motor terdengar memasuki halaman sekolah.
BRRRRMMM…
Beberapa siswi langsung menoleh.
“Itu anak STM Kendal ya?”
“Kayaknya Mas Nur…”
Dan benar saja.
Mas Nur datang bersama dua temannya sesama STM.
Memakai jaket abu-abu bengkel dan celana hitam.
Begitu turun dari motor…
beberapa siswi langsung salah tingkah.
“Anak STM emang auranya beda ya…”
“Ih serem tapi keren…”
Namun Mas Nur tidak memperhatikan siapa pun.
Matanya langsung mencari Yanti.
Dan saat melihat Yanti tertawa bersama Aziz dan Karwan dekat panggung…
wajahnya langsung berubah sedikit dingin.
Aziz sedang membantu memasang lampu.
“Heh Yanti pegang bawahnya!”
“Iya iya!”
Karwan ikut bercanda.
“Kalau lampunya jatuh kita pura-pura mati aja.”
“HHAHAHA!”
Yanti tertawa kecil.
Namun tawanya perlahan hilang saat melihat Mas Nur datang.
“Mas…”
Mas Nur mendekat pelan.
“Kamu sibuk.”
“Iya ini bantu dekorasi.”
Mas Nur melirik Aziz dan Karwan sekilas.
Lalu berkata datar.
“Rame ya temen cowokmu sekarang.”
Suasana langsung berubah canggung.
Aziz cepat-cepat turun dari kursi.
“Heh aku ke depan dulu.”
Karwan ikut kabur.
“Hahaha iya gue juga.”
Begitu mereka pergi…
Yanti langsung menatap Mas Nur kesal.
“Kamu mulai lagi?”
“Aku ngomong salah?”
“Iya!”
“Aku cuma bantu acara sekolah!”
“Tapi kamu terlalu dekat sama mereka.”
Yanti mulai emosi.
“Semua orang juga temenan!”
“Tapi nggak semua orang ketawa terus sama cowok lain.”
Kalimat itu menusuk hati Yanti.
“Kamu posesif banget sekarang…”
Mas Nur diam.
Namun jelas wajahnya penuh cemburu.
Di kejauhan…
Bambang memperhatikan semuanya sambil duduk di pagar sekolah.
Dandang datang membawa es lilin.
“Heh…”
“Apa?”
“Mereka berantem lagi.”
Bambang mengangguk kecil.
“Mas Nur terlalu takut kehilangan.”
Dandang ikut duduk.
“Kalau kamu jadi dia gimana?”
Bambang tertawa hambar.
“Kalau aku jadi dia…”
“Aku juga bakal takut.”
Acara pentas seni akhirnya dimulai malam hari.
Lapangan sekolah penuh warga desa.
Anak-anak kecil berlarian membawa balon.
Pedagang cilok dan jagung bakar memenuhi pinggir lapangan.
Lampu panggung berkedip-kedip tidak jelas.
Dan seperti biasa…
MC paling rusuh sedunia adalah Dandang.
“SELAMAT MALAM WARGA TEGOREJOOO!”
“WOOOO!”
“Kalau ada yang kehilangan sandal harap jangan nuduh saya!”
“HHAHAHAHA!”
Kepala sekolah sampai geleng-geleng kepala.
Penampilan demi penampilan berlangsung meriah.
Ima ikut tampil tari tradisional bersama anak kelas tujuh.
Yanti tersenyum bangga melihat adiknya.
“Kamu bagus tadi.”
Ima langsung senyum lebar.
“Beneran?”
“Iya.”
Namun sebelum suasana hangat itu lama…
Mas Nur datang lagi.
Dan wajahnya masih terlihat dingin.
“Kamu habis ngobrol sama siapa tadi belakang panggung?”
Yanti langsung lelah sendiri.
“Mas…”
“Aziz lagi?”
“Ya Allah…”
“Kamu kenapa sih?”
“Aku cuma nggak suka.”
“Kenapa harus nggak suka?!”
Karena emosi mulai menumpuk…
suara Yanti ikut meninggi.
Beberapa anak mulai melirik.
Yuli langsung panik.
“Heh jangan ribut di sini…”
Namun pertengkaran mereka terus berlanjut.
“Aku capek dicurigain terus!” bentak Yanti.
“Aku juga capek lihat kamu dekat sama banyak cowok!”
“Itu temen!”
“Tapi kamu terlalu nyaman sama mereka!”
Yanti benar-benar sakit hati.
“Kalau gitu sekalian aja aku nggak usah punya temen!”
Mas Nur langsung diam.
Namun emosinya juga belum reda.
“Aku cuma takut kehilangan kamu…”
Kalimat itu membuat suasana mendadak sunyi.
Yanti menatap Mas Nur dengan mata berkaca-kaca.
“Tapi cara kamu bikin aku sesak…”
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya…
Yanti berjalan pergi meninggalkan Mas Nur di tengah keramaian pentas seni.
Air matanya jatuh.
Ia terus berjalan sampai keluar gerbang sekolah.
Melewati jalan desa yang gelap dan dingin.
Sampai akhirnya…
suara motor pelan berhenti di sampingnya.
“Sinok…”
Yanti menoleh.
“Kakang…”
Ternyata Riyadi.
Wajah lelaki itu langsung berubah khawatir melihat Yanti menangis.
“Heh…”
“Kenapa lagi?”
Yanti langsung menangis lebih keras.
“Capek Kang…”
Riyadi menghela napas pelan.
“Mas Nur lagi?”
Yanti mengangguk.
“Dia nggak suka aku punya banyak temen…”
Riyadi diam beberapa saat.
Lalu membuka helmnya.
“Naik dulu.”
Yanti menurut pelan.
Dan malam itu…
di tengah angin dingin Desa Tegorejo…
Riyadi kembali menjadi tempat Yanti menenangkan hati.
Mereka berhenti di warung kopi kecil dekat jembatan desa.
Lampu temaram.
Suara jangkrik terdengar jelas.
Riyadi membeli teh hangat.
“Nih.”
Yanti menerima gelas plastik itu pelan.
“Kakang…”
“Hm?”
“Aku salah nggak sih?”
Riyadi tersenyum kecil.
“Kalau soal hati…”
“Nggak selalu ada yang salah.”
“Tapi Mas Nur terlalu cemburu…”
“Karena dia sayang.”
“Kalau sayang harus bikin sesak ya?”
Pertanyaan itu membuat Riyadi diam cukup lama.
Lalu ia berkata pelan.
“Cinta pertama itu biasanya memang berisik.”
Yanti tertawa kecil di sela tangisnya.
“Berisik gimana?”
“Ya begini.”
“Sedikit-sedikit cemburu.”
“Sedikit-sedikit takut kehilangan.”
“Sedikit-sedikit putus.”
Yanti tersenyum tipis.
“Terus nyambung lagi?”
“Nah itu…”
“Hahaha…”
Untuk pertama kalinya malam itu…
Yanti kembali tertawa kecil.
Dan Riyadi merasa lega melihatnya.
Sementara di sekolah…
Mas Nur masih berdiri diam dekat panggung.
Bambang mendekat perlahan.
“Kamu keterlaluan tadi.”
Mas Nur mengusap wajahnya kasar.
“Aku takut kehilangan dia.”
Bambang menatap keramaian lapangan cukup lama.
Lalu berkata lirih.
“Kalau terlalu dikekang…”
“Perempuan juga bisa capek.”
Angin malam berembus dingin melewati lapangan SMP Tegorejo.
Lampu panggung masih berkedip.
Suara tawa masih terdengar.
Namun di balik meriahnya pentas seni malam itu…
hubungan Yanti dan Mas Nur mulai retak perlahan.
Bukan karena tidak saling sayang.
Melainkan karena rasa takut kehilangan…
yang diam-diam mulai tumbuh terlalu besar di hati mereka masing-masing.
BAB XXII
FOTO, CEMBURU, DAN MALAM YANG MENGUBAH SEGALANYA
Musim penghujan mulai benar-benar turun di Desa Tegorejo.
Pagi sering datang bersama kabut tipis di sawah.
Jalanan desa berubah becek.
Parit-parit kecil di pinggir rumah mulai penuh air.
Dan suara kodok bersahutan hampir setiap malam.
Namun di tengah udara dingin itu…
hubungan Yanti dan Mas Nur justru semakin panas.
Waktu terus berjalan.
Kini Yanti sudah duduk di kelas sembilan SMP Tegorejo.
Ima, adik Yanti, baru masuk kelas tujuh di sekolah yang sama.
Sementara Mas Nur…
sudah bukan siswa SMP lagi.
Ia kini menjadi siswa STM di Kendal.
Seragamnya bukan lagi putih biru.
Melainkan putih abu-abu dengan jaket praktik warna abu tua yang sering berbau oli bengkel.
Dan sejak masuk STM…
Mas Nur mulai jarang datang ke Tegorejo.
Ia lebih sibuk.
Kadang pulang sore.
Kadang malah hampir magrib karena kegiatan praktik.
Namun justru karena jarang bertemu itulah…
hubungannya dengan Yanti makin sering dipenuhi salah paham.
Pagi itu…
suasana SMP Tegorejo cukup ramai.
Anak-anak kelas sembilan sedang sibuk latihan untuk persiapan ujian praktik seni.
Di lapangan belakang sekolah…
terdengar suara anak-anak karate sedang latihan.
“HIYAAAT!”
“KUDA-KUDA YANG BENAR!”
Sensei Sambas berdiri sambil membawa peluit.
Sementara Ima terlihat serius mengikuti gerakan dasar bersama anak-anak baru.
“Heh Ima!” teriak Dandang dari pinggir lapangan.
Ima menoleh.
“Kakakmu mana?”
“Di aula!”
“Bilang jangan galak terus!”
Ima langsung melotot kecil.
“Situ aja yang nggak usah ganggu Kak Yanti!”
“Hahaha!”
Anak-anak langsung tertawa.
Di aula sekolah…
Yanti sedang membantu Anita menghias mading kelas.
Namun sejak tadi…
wajahnya tampak murung.
Anita melirik pelan.
“Kamu berantem lagi?”
Yanti diam.
“Mas Nur?”
Yanti menghela napas panjang.
“Semalam.”
“Lagi?”
“Iya…”
Yuli yang baru datang sambil membawa gunting langsung ikut nimbrung.
“Sekarang masalahnya apa?”
Yanti tampak kesal sendiri.
“Dia marah karena aku latihan karate sampai sore.”
“Hah?”
“Katanya aku terlalu dekat sama anak-anak cowok.”
Yuli langsung melongo.
“Lho memangnya salah?”
“Katanya aku sekarang beda…”
Kilatan kejadian semalam langsung teringat di kepala Yanti.
Malam sebelumnya…
Yanti baru pulang latihan karate hari Rabu sore.
Lapangan balai desa masih ramai waktu itu.
Aziz dan Agus sedang bercanda sambil membereskan matras.
Karwan—yang sedang pulang sebentar dari Tangerang—ikut datang melihat latihan.
“Heh Sinok!” panggil Riyadi sambil tertawa kecil.
Yanti menoleh.
“Apa Kakang?”
“Besok jangan lupa latihan fisik.”
“Iya…”
Riyadi memang selalu begitu.
Tenang.
Tidak banyak bicara.
Namun selalu hadir saat Yanti sedang kacau.
Dan sejak dulu…
atas permintaan Bu Rosmiyati…
Riyadi memang dianggap seperti kakak sendiri bagi Yanti.
Bahkan Ima juga memanggilnya “Kakang Riyadi”.
Namun malam itu…
saat Yanti pulang…
Mas Nur ternyata sudah menunggu di depan rumah.
Wajahnya dingin.
“Kamu dari mana?”
“Latihan karate…”
“Sampai malam?”
Yanti langsung tahu nada bicara itu.
Nada cemburu.
“Nggak malam juga…”
Mas Nur menatap tajam.
“Tadi aku lihat kamu ketawa-ketawa sama Riyadi.”
DEG.
Yanti langsung kesal.
“Lho Kakang Riyadi itu kayak kakak sendiri!”
“Tapi kalian dekat banget.”
“Karena dari dulu memang dekat!”
Mas Nur tertawa kecil hambar.
“Sekarang cowok di sekitarmu banyak banget ya.”
Kalimat itu langsung menusuk hati Yanti.
Kembali ke aula sekolah…
Yanti memejamkan mata sebentar mengingat semuanya.
Anita memegang bahunya pelan.
“Kamu capek ya?”
Yanti mengangguk kecil.
“Aku bingung…”
“Mas Nur sekarang gampang marah.”
Di sisi lain…
di STM Kendal…
Mas Nur juga sedang tidak tenang.
Suasana bengkel praktik pagi itu ramai suara besi.
TING!
TRANG!
Mesin bubut berdengung.
Anak-anak STM sibuk praktik.
Namun sejak tadi…
Mas Nur malah melamun sambil memegang kunci inggris.
“Heh Nur!”
Ternyata Aris—teman sekelasnya.
“Apa?”
“Kamu dari tadi bengong.”
“Enggak.”
“Boong.”
Aris tertawa kecil.
“Masalah cewek ya?”
Mas Nur langsung diam.
Dan diamnya sudah cukup menjawab.
Sementara itu…
sepulang sekolah…
Yanti ikut latihan karate Minggu pagi pengganti jadwal yang sempat libur hujan.
Lapangan balai desa cukup ramai.
Sensei Anton memimpin pemanasan.
“Satu!”
“Dua!”
“Tiga!”
Anak-anak mengikuti gerakan bersama.
Ima bahkan mulai terlihat lebih percaya diri.
“Heh Ima!” goda Agus.
“Sekarang tendanganmu lumayan.”
Ima langsung bangga.
“Tentu dong!”
“Hahaha!”
Sementara Yanti duduk sebentar di pinggir lapangan sambil minum.
Riyadi datang membawa es teh plastik.
“Nih.”
Yanti menoleh.
“Makasih Kakang.”
Riyadi duduk di sampingnya.
“Kamu habis nangis?”
Yanti langsung menunduk.
“Kelihatan ya?”
“Lumayan.”
Riyadi tersenyum tipis.
“Mas Nur lagi?”
Yanti diam cukup lama.
Lalu mengangguk kecil.
Riyadi memandang lapangan karate.
Anak-anak masih berteriak latihan kuda-kuda.
Angin pagi bertiup pelan membawa bau rumput basah.
“Kamu tahu nggak kenapa cowok gampang cemburu?”
“Kenapa?”
“Karena takut kehilangan.”
Yanti menatap Riyadi pelan.
“Tapi aku capek kalau dicurigai terus…”
Riyadi menghela napas.
“Cinta pertama memang paling ribet.”
Yanti malah tertawa kecil.
“Kakang sok tua.”
“Hahaha!”
“Padahal Kakang sendiri galau.”
Riyadi langsung nyengir hambar.
“Eh jangan bongkar aib.”
Memang…
belakangan Riyadi juga sedang bingung soal hidupnya sendiri.
Ia baru lulus dari SMA Negeri 1 Pegandon beberapa bulan lalu.
Namun sampai sekarang…
belum tahu harus kerja di mana.
Kadang ia ikut membantu pamannya di bengkel.
Kadang membantu di sawah.
Kadang hanya nongkrong di pos ronda sambil memikirkan masa depan.
Sementara Karwan…
teman sepermainannya dulu…
sudah bekerja di Tangerang.
Kadang Karwan mengirim surat atau titipan kabar lewat orang kampung.
“Di sini kerja capek…” katanya suatu waktu.
“Tapi lumayan buat bantu keluarga.”
Dan diam-diam…
Riyadi mulai berpikir ingin merantau juga.
Namun siang itu…
konflik Yanti dan Mas Nur justru makin membesar.
Semuanya bermula dari sebuah foto.
Hari itu anak-anak karate foto bersama setelah latihan.
Sensei Sambas berdiri di tengah.
Anak-anak berjejer.
Aziz iseng mengangkat sabuk tinggi-tinggi.
Agus malah gaya seperti jagoan film.
“Hahaha!”
Suasana ramai penuh tawa.
Dan tanpa sadar…
Riyadi berdiri cukup dekat di samping Yanti.
Klik.
Foto pun jadi.
Sore harinya…
entah bagaimana…
foto itu sampai ke tangan Mas Nur.
Kemungkinan dari teman STM yang masih kenal anak-anak Tegorejo.
Dan saat melihat foto itu…
hati Mas Nur langsung panas.
Malamnya…
ia datang ke rumah Yanti dengan wajah tegang.
“Kamu sekarang nyaman banget ya dekat sama Riyadi.”
Yanti yang sejak tadi sudah lelah langsung tersulut emosi.
“Mas Nur cukup!”
“Aku capek dicurigai terus!”
“Karena aku sayang sama kamu!”
“Tapi caramu bikin aku sesak!”
Suasana teras rumah langsung hening.
Ima yang sedang belajar di dalam sampai mengintip pelan.
Bu Rosmiyati juga mulai cemas mendengar suara mereka meninggi.
Mas Nur mengepalkan tangan.
“Aku cuma takut kehilangan kamu.”
Yanti menahan air mata.
“Aku nggak pernah ninggalin kamu…”
“Tapi kamu berubah.”
“Aku berubah gimana?!”
“Sekarang kamu lebih sering sama teman-teman karate.”
“Karena aku punya hidup sendiri!”
Kalimat itu langsung membuat Mas Nur diam.
Dan untuk pertama kalinya…
ia merasa jarak di antara mereka mulai benar-benar nyata.
Tak lama kemudian…
Riyadi muncul dari ujung jalan setelah mengantar Karwan ke rumah pamannya.
Melihat suasana tegang…
ia langsung berhenti.
“Heh…”
Mas Nur menoleh.
Dan entah kenapa…
tatapan keduanya langsung panas.
Yanti cepat berkata:
“Kakang jangan ikut-ikut…”
Namun Mas Nur sudah terlanjur emosi.
“Kalau bukan karena dia…”
Riyadi langsung memotong tenang.
“Jangan nyalahin orang lain kalau hubungan kalian lagi kacau.”
DEG.
Suasana makin tegang.
Mas Nur mendekat sedikit.
“Kamu nggak usah ikut campur.”
Riyadi tetap tenang.
“Aku cuma nggak suka lihat Sinok nangis terus.”
Kalimat itu justru makin membuat Mas Nur cemburu.
“Sinok… Sinok…”
“Dekat banget ya panggilannya.”
Yanti langsung panik.
“Mas Nur udah!”
Namun emosinya sudah terlalu tinggi.
Di tengah ketegangan itu…
tiba-tiba hujan turun deras.
BRAK!
Petir menyambar jauh di langit desa.
Angin malam meniup pohon bambu keras-keras.
Namun tak satu pun dari mereka bergerak.
Yanti akhirnya menangis.
“Aku capek…”
Suasana langsung berubah hening.
Air mata Yanti jatuh deras.
“Aku sayang sama kamu…”
“Tapi aku juga capek terus dicurigai…”
Mas Nur membeku.
Sementara Riyadi hanya diam memandang hujan.
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya…
Mas Nur pulang tanpa berpamitan.
Ia berjalan sendiri menembus hujan menuju jalan raya.
Meninggalkan Yanti yang masih menangis di teras rumah.
Meninggalkan hati yang mulai retak perlahan.
Riyadi mendekat pelan.
“Sinok…”
Yanti menunduk.
“Aku salah ya Kang?”
Riyadi menggeleng pelan.
“Kalian cuma sama-sama takut kehilangan.”
Ima ikut duduk di samping kakaknya.
“Kak Yanti jangan nangis…”
Yanti langsung memeluk adiknya erat.
Dan di tengah suara hujan malam Desa Tegorejo…
mereka semua mulai sadar…
bahwa cinta pertama tidak selalu tumbuh semakin indah.
Kadang…
semakin dewasa perasaan itu…
semakin banyak pula luka yang ikut tumbuh bersamanya.
BAB XXIII
CEMBURU YANG MULAI MEMBAKAR
Musim hujan belum benar-benar pergi dari Desa Tegorejo.
Pagi sering datang bersama kabut tipis yang menggantung di atas sawah.
Jalan-jalan kecil desa masih lembap.
Daun bambu basah oleh embun.
Dan langit kelabu seolah ikut menyimpan sesuatu yang berat.
Begitu juga hati Yanti.
Sejak pertengkaran malam di teras rumahnya…
hubungannya dengan Mas Nur tidak pernah benar-benar kembali seperti dulu.
Mereka masih saling bertemu.
Masih saling menyapa.
Namun rasa hangat itu perlahan menghilang.
Digantikan diam yang panjang.
Digantikan curiga.
Dan perlahan…
digantikan luka.
Kini Yanti sudah kelas sembilan SMP Tegorejo.
Sementara Mas Nur sudah menjadi siswa STM di Kendal.
Jarak sekolah yang berbeda membuat mereka makin jarang bertemu.
Mas Nur berangkat pagi buta naik bus kecil jurusan Kendal.
Pulang sore dengan tubuh lelah dan tangan kadang masih bau oli bengkel.
Sedangkan Yanti…
masih sibuk dengan sekolah, kegiatan karate, dan persiapan ujian akhir.
Namun justru karena jarang bertemu itulah…
rasa takut kehilangan di antara mereka tumbuh semakin besar.
Pagi itu…
suasana SMP Tegorejo cukup ramai.
Anak-anak kelas sembilan sedang latihan baris-berbaris untuk acara perpisahan sekolah.
“Heh lurus woi!” teriak Dandang.
“Kakimu jangan kayak kepiting!”
“Hahaha!”
Anak-anak langsung tertawa.
Sensei Sambas yang kebetulan lewat menuju aula sampai geleng-geleng kepala.
“Kalau mulutmu ikut lomba pasti juara.”
“Hahaha!”
Namun di tengah keramaian itu…
Yanti tampak jauh lebih diam.
Ia berdiri sambil memegang buku.
Tatapannya kosong.
Ima yang kini mulai akrab dengan kakak-kakak kelas mendekat pelan.
“Kak…”
Yanti menoleh.
“Iya?”
“Kakak habis nangis lagi ya?”
DEG.
Yanti langsung memalingkan wajah.
“Enggak.”
“Bohong…”
Ima menggenggam tangan kakaknya perlahan.
“Kalau Kak Yanti sedih terus… Ima juga ikut sedih.”
Kalimat itu langsung membuat dada Yanti sesak.
Sementara itu…
di STM Kendal…
Mas Nur juga sedang tidak tenang.
Suasana bengkel praktik pagi itu ramai suara mesin.
TRANG!
TING!
Anak-anak STM sibuk mengelas dan membongkar mesin motor.
Namun sejak tadi…
Mas Nur hanya duduk diam sambil memandangi foto kecil di dompetnya.
Foto Yanti.
“Heh Nur!”
Aris datang sambil membawa obeng.
“Kamu kenapa?”
“Enggak kenapa-kenapa.”
“Boong.”
Aris duduk di sampingnya.
“Masalah cewek lagi?”
Mas Nur tertawa kecil hambar.
“Kayaknya aku capek.”
“Capek pacaran?”
Mas Nur diam.
Lalu berkata lirih:
“Aku takut kehilangan dia…”
Sore harinya…
latihan karate kembali digelar di balai desa.
Lapangan cukup ramai.
Agus sibuk bercanda dengan Aziz.
Pincuk sedang membantu menggulung matras.
Munasro latihan tendangan sambil teriak terlalu keras sampai Dandang yang numpang lewat tertawa ngakak.
“Heh Nasro!”
“Apa?!”
“Tendanganmu kayak ayam masuk angin!”
“Hahaha!”
Suasana sempat ramai oleh tawa.
Namun Yanti tetap terlihat murung.
Riyadi yang sejak tadi duduk di gardu pinggir lapangan memperhatikannya diam-diam.
“Heh Sinok…”
Yanti menoleh pelan.
“Apa Kang…”
“Kamu latihan nggak fokus.”
Yanti tersenyum kecil hambar.
“Iya ya…”
Riyadi berjalan mendekat.
“Kalian berantem lagi?”
Yanti diam beberapa detik.
Lalu mengangguk pelan.
Angin sore bertiup pelan melewati pohon jati di pinggir lapangan.
Anak-anak masih latihan di belakang mereka.
“Heh…” kata Riyadi pelan.
“Kamu tahu nggak…”
“Apa?”
“Kadang orang yang terlalu takut kehilangan…”
“Justru bikin semuanya rusak sendiri.”
Yanti menunduk.
“Aku juga salah Kang…”
“Kenapa?”
“Aku capek dicurigai terus…”
Air matanya mulai menggenang.
“Tapi aku juga nggak bisa jauh dari dia…”
Malamnya…
pertengkaran besar akhirnya benar-benar terjadi.
Mas Nur datang ke rumah Yanti dengan wajah dingin.
Tidak seperti biasanya.
Tidak ada senyum.
Tidak ada candaan kecil.
Hanya wajah lelah penuh emosi.
Bu Rosmiyati yang sedang melipat pakaian langsung merasa suasana tidak enak.
“Ibu ke belakang dulu ya…”
Yanti hanya mengangguk kecil.
Di teras rumah…
suasana langsung hening.
Lampu bohlam kuning menggantung redup.
Suara jangkrik terdengar dari sawah belakang rumah.
Dan malam terasa sangat panjang.
“Kamu sekarang dekat banget sama Riyadi.”
Kalimat pertama Mas Nur langsung membuat Yanti lelah.
“Mas Nur…”
“Aku capek dengar itu terus.”
“Tapi memang begitu kenyataannya.”
“Dia itu Kakangku!”
“Tapi kalian terlalu dekat.”
Yanti langsung berdiri.
“Terus maumu apa?!”
Mas Nur ikut berdiri.
“Aku cuma pengen kamu ngerti perasaanku!”
“Aku juga pengen kamu ngerti aku!”
Suasana langsung memanas.
“Aku nggak pernah selingkuh!”
“Aku nggak bilang kamu selingkuh!”
“Tapi kamu selalu nuduh!”
“Karena aku takut kehilangan kamu!”
“Tapi caramu bikin aku sesak!”
Kalimat itu langsung menghantam dada Mas Nur.
Dan untuk pertama kalinya…
ia benar-benar terlihat lelah.
Beberapa detik mereka hanya saling diam.
Lalu Mas Nur berkata sangat pelan.
“Mungkin…”
“Kita memang harus jauh dulu.”
DEG.
Dunia Yanti seperti berhenti.
“Apa?”
Mas Nur memalingkan wajah.
“Aku capek curiga terus…”
“Aku capek cemburu…”
“Aku capek takut kehilangan kamu setiap hari.”
Air mata Yanti langsung jatuh.
“Kamu mau putus?”
Mas Nur diam.
Namun diamnya itu…
sudah cukup menjadi jawaban.
Yanti mulai menangis.
“Jadi segampang itu?”
“Enggak gampang…”
“Terus kenapa?”
Mas Nur mengepalkan tangan.
“Karena aku ngerasa aku makin nyakitin kamu.”
Kalimat itu membuat Yanti makin hancur.
“Aku sayang sama kamu…”
Suara Yanti bergetar hebat.
“Kenapa kita jadi begini…”
Mas Nur menatapnya lama sekali.
Matanya juga mulai merah.
Namun ia hanya berkata lirih:
“Maaf…”
Malam itu…
Mas Nur pulang tanpa banyak kata lagi.
Dan sejak malam itu…
hubungan mereka benar-benar retak.
Hari-hari setelahnya terasa sangat berat.
Yanti tetap sekolah.
Tetap ikut karate.
Tetap membantu ibunya di rumah.
Namun semuanya terasa kosong.
Ia jadi lebih sering diam.
Lebih sering melamun.
Dan lebih sering menangis diam-diam malam hari.
Ima sampai beberapa kali ikut menangis melihat kakaknya seperti itu.
Suatu sore…
Yanti duduk sendirian di pinggir sawah dekat jalan bambu.
Langit mendung.
Angin dingin bertiup pelan.
Dan matanya kosong memandang jauh.
Tiba-tiba suara langkah terdengar.
“Heh Sinok…”
Ternyata Riyadi.
Yanti langsung menghapus air matanya cepat.
“Kakang…”
“Kamu nangis lagi.”
“Enggak.”
“Matamu bohong.”
Riyadi duduk di sampingnya.
Beberapa saat mereka diam.
“Aku masih sayang banget sama dia Kang…”
Kalimat itu akhirnya keluar juga.
Dan setelah mengatakannya…
Yanti justru menangis semakin keras.
“Aku nggak ngerti kenapa jadi begini…”
Riyadi memandang sawah di depan.
“Aku tahu…”
“Tahu apa?”
“Cinta pertama memang paling susah dilupain.”
Yanti memeluk lututnya.
“Aku ngerasa kehilangan separuh hidupku…”
Riyadi tersenyum kecil hambar.
“Kamu tahu…”
“Dulu aku juga pernah ngerasain begitu.”
Yanti menoleh.
“Kakang pernah patah hati?”
“Ya pernah lah…”
“Hahaha…”
Meski tertawa kecil…
air mata Yanti tetap jatuh.
Namun luka terbesar belum datang.
Karena tiga hari kemudian…
kabar itu akhirnya terdengar.
Mas Nur pergi ke Jakarta.
Awalnya Yanti tahu dari Bambang.
Sore itu Bambang datang tergesa ke rumah.
“Heh Yanti!”
Yanti yang sedang menyapu langsung menoleh.
“Apa?”
“Mas Nur…”
DEG.
Jantung Yanti langsung berdebar.
“Kenapa?”
“Dia berangkat ke Jakarta.”
Dunia Yanti langsung terasa runtuh.
“Hah…?”
“Kata Eko… dia ikut omnya kerja.”
Yanti membeku.
“Berangkat kapan?”
“Tadi pagi.”
Air mata langsung jatuh begitu saja.
“Tapi…”
“Dia nggak pamit?”
Bambang perlahan menunduk.
“Nggak…”
Kalimat itu menghancurkan semuanya.
Mas Nur pergi.
Tanpa pamit.
Tanpa penjelasan.
Tanpa pelukan terakhir.
Tanpa ucapan selamat tinggal.
Malam itu…
Yanti menangis paling keras sepanjang hidupnya.
Di kamar kecilnya…
ia memeluk surat lama dari Mas Nur sambil sesenggukan.
Ima ikut menangis di sampingnya.
Bu Rosmiyati hanya bisa memeluk anak gadisnya erat.
“Udah Nduk…”
“Tapi sakit banget Buk…”
Kalimat itu membuat hati ibunya ikut hancur.
Hari-hari berikutnya menjadi masa paling gelap bagi Yanti.
Ia kehilangan semangat.
Di sekolah ia sering melamun.
Di latihan karate gerakannya kosong.
Bahkan Sensei Anton sampai bertanya:
“Kamu sakit?”
Yanti hanya tersenyum kecil.
“Enggak Sensei…”
Padahal hatinya benar-benar sakit.
Dan di titik terendah itu…
Riyadi selalu hadir.
Kadang mengajaknya jalan sore ke pematang sawah.
Kadang membawakan cilok favoritnya.
Kadang hanya duduk diam menemaninya menangis.
“Heh Sinok…”
“Apa…”
“Kalau mau nangis… nangis aja.”
Yanti langsung menunduk.
“Aku bodoh ya Kang…”
“Kenapa?”
“Aku masih nunggu dia pulang…”
Riyadi tersenyum tipis.
“Itu bukan bodoh.”
“Terus?”
“Itu namanya cinta.”
Air mata Yanti kembali jatuh.
Malam demi malam berlalu.
Dan perlahan…
Yanti mulai belajar satu hal yang paling menyakitkan dalam hidupnya:
bahwa cinta pertama…
tidak selalu berakhir bersama.
Kadang…
ia hanya datang untuk meninggalkan kenangan.
Kenangan yang begitu indah…
namun juga meninggalkan luka paling dalam.
BAB XXIV
AIR MATA DI BAWAH POHON TREMBESI
Langit Desa Tegorejo pagi itu tampak muram.
Awan kelabu menggantung rendah di atas hamparan sawah yang mulai menguning. Udara dingin turun sejak subuh. Jalan-jalan kecil desa masih basah oleh gerimis malam tadi.
Dan pagi itu…
hati Yanti jauh lebih dingin daripada cuaca desa.
Sudah hampir dua minggu Mas Nur menghilang.
Bukan sekadar menjauh.
Bukan sekadar marah.
Tetapi benar-benar pergi dari hidupnya.
Mas Nur sudah tidak sekolah lagi.
Setelah beberapa bulan masuk STM di Kendal…
ia memilih berhenti.
Keadaan ekonomi keluarganya yang semakin sulit membuatnya tidak bisa melanjutkan sekolah.
Dan tanpa banyak cerita…
ia memutuskan merantau ke Jakarta mengikuti temannya bekerja di proyek bangunan.
Keputusan itu datang begitu cepat.
Bahkan Yanti tidak sempat benar-benar memahami semuanya.
Yang paling menyakitkan…
Mas Nur pergi tanpa pamit baik-baik.
Tanpa penjelasan panjang.
Tanpa perpisahan yang layak.
Hanya meninggalkan luka yang menggantung di hati Yanti.
Pagi itu…
Yanti duduk diam di depan jendela kamarnya.
Seragam SMP-nya sudah rapi.
Namun matanya kosong.
Di luar rumah…
suara ibu-ibu desa mulai terdengar sibuk menyapu halaman.
Motor lewat sesekali.
Ayam berkokok.
Hidup tetap berjalan seperti biasa.
Namun tidak bagi Yanti.
Di tangannya…
masih ada surat kecil lusuh dari Mas Nur beberapa bulan lalu.
Tulisan tangan itu mulai pudar.
“Aku nggak akan ninggalin kamu.”
Air mata Yanti jatuh perlahan.
“Kenapa sekarang malah pergi…”
gumamnya lirih.
Bu Rosmiyati yang sejak tadi memperhatikan dari dapur mulai khawatir.
“Nduk…”
Yanti buru-buru menghapus air matanya.
“Iya Bu…”
“Kamu akhir-akhir ini kurusan.”
“Enggak kok…”
“Kamu habis nangis lagi ya?”
Yanti memaksa tersenyum.
Sulit menjelaskan pada ibunya…
bahwa yang hancur sekarang bukan tubuhnya.
Melainkan hatinya.
Di SMP…
suasana kelas sembilan mulai sibuk menghadapi ujian akhir.
Namun Yanti justru semakin sering melamun.
Anita sampai berkali-kali menyenggol lengannya.
“Heh…”
“Hm?”
“Kamu nggak nyatet.”
Yanti tersadar.
“Oh…”
Yuli yang duduk di belakang ikut menghela napas.
“Masih kepikiran Mas Nur?”
Kelas mendadak terasa sunyi bagi Yanti.
Ia menunduk pelan.
“Dia pergi tanpa pamit…”
Suara Yanti langsung bergetar.
“Aku bahkan nggak tahu sekarang dia tinggal di mana…”
Anita menggenggam tangannya pelan.
“Dia pasti balik…”
Namun Yanti menggeleng.
“Perasaanku nggak enak…”
Sementara itu…
di Jakarta…
Mas Nur duduk di atas tumpukan semen proyek bangunan.
Tangannya penuh debu.
Bajunya lusuh.
Suara mesin molen bercampur klakson kendaraan kota terdengar bising.
Jakarta jauh berbeda dari Tegorejo.
Tidak ada sawah.
Tidak ada jalan kecil desa.
Tidak ada suara jangkrik malam.
Dan yang paling terasa…
tidak ada Yanti.
“Heh Nur!”
Seorang pekerja memanggil.
“Apa Bang?”
“Melamun terus. Lagi mikirin cewek ya?”
Beberapa pekerja langsung tertawa.
Mas Nur hanya tersenyum hambar.
Namun malam-malamnya memang selalu dipenuhi bayangan Yanti.
Ia pergi karena merasa gagal.
Merasa tidak pantas lagi mendampingi Yanti.
Apalagi setelah pertengkaran mereka semakin sering terjadi.
Cemburu.
Salah paham.
Tangisan.
Dan surat fitnah itu…
masih menghantuinya.
Di Desa Tegorejo…
latihan karate justru semakin padat.
Ujian kenaikan tingkat akan dilaksanakan di Semarang.
Semua peserta sibuk berlatih setiap sore.
Ima yang kini sudah masuk SMP tampak semangat luar biasa.
“Kak Yantiii!”
“Apa?”
“Nanti kalau aku sabuk coklat keren nggak?”
Dandang langsung nyeletuk.
“Kamu sabuk jemuran aja belum kuat.”
“HHAHAHA!”
Suasana balai desa kembali ramai.
Namun Yanti tetap terlihat murung.
Kakang Riyadi yang sejak tadi memperhatikan hanya diam.
Riyadi kini sudah lulus dari SMA Negeri 1 Pegandon.
Namun hidupnya sendiri masih penuh kebingungan.
Kuliah belum jelas.
Kerja juga belum pasti.
Temannya, Karwan, bahkan sudah bekerja di Tangerang sejak tahun lalu.
Mereka masih sering surat-suratan soal pekerjaan.
Tetapi Riyadi tetap lebih sering berada di desa.
Dan akhir-akhir ini…
ia selalu hadir setiap Yanti mulai runtuh.
Sore itu…
latihan lari pemanasan dilakukan mengelilingi lapangan desa.
Aspal terasa panas.
Dan seperti biasa…
karena terlalu melamun…
Yanti lupa memakai sandal.
“Heh.”
Yanti menoleh.
Riyadi berdiri sambil membawa sandal jepitnya.
“Pakai.”
“Hah?”
“Kakimu merah.”
“Nggak usah…”
“Pakai aja Sinok.”
Nada suaranya lembut sekali.
Yanti akhirnya memakai sandal itu perlahan.
Dan entah kenapa…
dadanya terasa sedikit tenang.
Malam hari setelah latihan…
anak-anak karate masih duduk bergerombol di depan balai desa.
Dandang sibuk makan gorengan lagi.
“Heh Dang…”
“Apa?”
“Kamu latihan karate apa latihan ngabisin warung?”
“HHAHAHA!”
Ima sampai tertawa terbahak-bahak.
Namun Yanti hanya tersenyum kecil.
Riyadi duduk di sampingnya.
“Masih sedih?”
Yanti diam beberapa detik.
“Aku tuh bingung…”
“Kenapa?”
“Kenapa orang yang bilang sayang…”
“Bisa pergi begitu aja.”
Angin malam bertiup pelan.
Riyadi memandang jalan desa yang mulai sepi.
Lalu berkata pelan.
“Kadang orang pergi bukan karena nggak sayang.”
“Tapi karena merasa dirinya nggak cukup baik.”
Kalimat itu membuat Yanti perlahan menoleh.
Karena itulah yang paling ia rasakan dari Mas Nur sebelum pergi.
Beberapa minggu kemudian…
rombongan karate berangkat ke Semarang untuk ujian kenaikan tingkat.
Mereka naik truk dan bus kecil sejak dini hari.
Perjalanan penuh keributan.
Dandang muntah dua kali.
“Huek!”
“HHAHAHAHA!”
Yuli sampai pindah tempat duduk.
“Bau banget sumpah!”
Ima malah sibuk melihat lampu kota dengan mata berbinar.
“Keren banget…”
Sementara Yanti duduk dekat jendela.
Diam memandang jalan.
Jakarta terasa jauh sekali.
Dan entah kenapa…
ia terus bertanya dalam hati:
“Mas Nur sekarang lagi apa ya…”
Mereka menginap di Asrama Haji Semarang.
Malamnya…
anak-anak sempat jalan-jalan ke Mall Matahari Simpang Lima.
Lampu kota Semarang terlihat indah.
Ramai.
Penuh kendaraan.
Berbeda jauh dengan Tegorejo yang tenang.
Dandang langsung norak melihat eskalator.
“WOY TANGGANYA GERAK SENDIRI!”
“HHAHAHA!”
Bambang sampai menarik kerah bajunya.
“Jangan malu-maluin cabang Kendal!”
Di lantai atas mall…
Yanti berdiri dekat pagar kaca memandang lampu kota.
Angin malam terasa lembut.
Riyadi berdiri di sampingnya.
“Capek?”
“Sedikit.”
“Masih mikirin dia?”
Yanti tersenyum pahit.
“Kalau cinta pertama…”
“Susah dilupain ya.”
Riyadi diam.
Lalu Yanti berkata lirih:
“Merpati tak pernah ingkar janji…”
“Itu kata-kata Mas Nur dulu.”
Matanya mulai berkaca-kaca lagi.
Namun Riyadi tetap mendengarkan tanpa memotong sedikit pun.
Karena ia tahu…
kadang luka tidak butuh nasihat.
Hanya butuh ditemani.
Hari ujian kenaikan tingkat akhirnya tiba.
Pagi-pagi sekali…
peserta dibangunkan untuk pemanasan lari.
Dan lagi-lagi…
karena melamun…
Yanti lupa memakai sandal.
“Heh Sinok…”
“Apa?”
“Ini pakai lagi.”
Riyadi kembali menyerahkan sandalnya.
Yanti langsung tertawa kecil.
“Kakang nggak capek nyelametin aku terus?”
“Kalau kamu nggak nangis terus mungkin nggak capek.”
Yanti akhirnya benar-benar tertawa.
Dan itu pertama kalinya sejak Mas Nur pergi…
tawanya terdengar tulus.
Ujian berlangsung sangat berat.
Kihon.
Kata.
Kumite.
Push-up.
Lari.
Semua peserta kelelahan luar biasa.
Ima bahkan hampir menangis saat push-up terakhir.
“Kak… tanganku mau copot…”
“Hahaha…”
Namun Yanti justru tampil sangat kuat hari itu.
Semua rasa sakit di hatinya…
seolah berubah menjadi tenaga.
Dan saat pengumuman kelulusan dibacakan…
“Yanti lulus sabuk coklat!”
“WOOOO!”
Semua langsung bersorak.
Riyadi ikut tersenyum bangga.
“Nah gitu dong Sinok.”
Air mata Yanti jatuh.
Namun kali ini…
bukan karena patah hati.
Melainkan karena untuk pertama kalinya…
ia merasa masih bisa bangkit.
Namun perjalanan pulang justru menjadi kejadian paling lucu.
Karena setelah seluruh peserta cabang Kendal pulang…
mereka baru sadar satu hal.
“HEH!”
“Apa?!”
“Kakang Riyadi mana?!”
Semua langsung panik.
Ternyata Riyadi masih tertidur sendirian di kamar Asrama Haji.
“HHAHAHAHA!”
Dandang sampai jatuh terguling.
“DITINGGAL WOY!”
Riyadi akhirnya bangun dalam asrama yang sudah sepi total.
“Heh…?”
Sunyi.
Tak ada siapa-siapa.
“ASTAGAAA…”
Akhirnya ia pulang sendiri dari Semarang naik bus kecil menuju Kaliwungu.
Lalu menumpang bus karyawan PT KLI sampai dekat Desa Tegorejo.
Saat sampai desa sore hari…
anak-anak langsung menertawakannya habis-habisan.
“PAHLAWAN TERTINGGAL!”
“HHAHAHAHA!”
Bahkan Yanti sampai tertawa sambil memegang perut.
Dan melihat tawa itu…
Riyadi akhirnya ikut tertawa juga.
Karena baginya…
asal Sinok bisa tersenyum lagi…
itu sudah cukup.
Namun malam harinya…
saat semua kembali sepi…
Yanti duduk sendiri di bawah pohon trembesi depan rumahnya.
Angin malam bertiup dingin.
Dan meski ia mulai bisa tertawa lagi…
di dalam hatinya…
nama Mas Nur masih tinggal sangat dalam.
Cinta pertamanya belum benar-benar pergi.
Dan luka itu…
masih hidup di sana.
BAB XXV
MALAM YANG MEMECAHKAN HATI
Kepergian Mas Nur ke Jakarta menjadi luka paling dalam dalam hidup Yanti.
Bukan hanya karena laki-laki itu pergi tanpa pamit…
tetapi karena semua terjadi saat hubungan mereka sedang retak-retaknya.
Dan yang paling menyakitkan…
Yanti bahkan tidak sempat memperbaiki semuanya.
Sudah hampir dua minggu Mas Nur tidak memberi kabar.
Tak ada surat.
Tak ada pesan titipan.
Tak ada salam lewat teman STM Kendal.
Seolah laki-laki itu benar-benar menghilang begitu saja dari hidupnya.
Dan setiap malam…
Sinok hanya bisa menangis diam-diam di kamar.
Pagi itu Desa Tegorejo masih diselimuti embun tipis.
Ayam berkokok bersahutan dari belakang rumah-rumah warga.
Jalan tanah desa masih sedikit becek karena hujan semalam.
Namun suasana hati Yanti jauh lebih kacau daripada langit pagi.
Ia duduk di depan rumah sambil memandangi jalan kecil menuju arah Kaliwungu.
Jalan yang dulu sering dilewati Mas Nur saat pulang dari STM Kendal.
Sekarang…
jalan itu terasa kosong.
Ima yang kini sudah masuk SMP yang sama berjalan keluar sambil membawa tas.
“Mbak…”
Yanti menoleh pelan.
“Apa?”
“Mau berangkat latihan karate jam berapa?”
“Nanti siang.”
Ima duduk di samping kakaknya.
“Mbak masih mikirin Mas Nur ya?”
Pertanyaan itu langsung menusuk hati Yanti.
Namun ia hanya tersenyum kecil.
“Udah sana siap-siap sekolah.”
Ima menghela napas.
Sejak Mas Nur pergi…
rumah mereka memang terasa berubah.
Yanti jauh lebih pendiam.
Jarang tertawa.
Bahkan suara radionya yang dulu sering diputar tiap sore kini hampir tidak pernah terdengar lagi.
Di sekolah…
suasana kelas sembilan mulai sibuk menghadapi ujian akhir.
Guru-guru makin galak.
Jam tambahan mulai bermunculan.
Namun di tengah kesibukan itu…
nama Yanti justru makin terkenal karena karate.
Sejak berhasil juara satu Kejurda Jawa Tengah…
ia resmi terpilih masuk Tim Karate Jawa Tengah untuk Kejurnas di Padang.
Dan itu membuat seluruh sekolah bangga.
“Heh Sinok!”
teriak Dandang dari belakang kelas.
“Apa?”
“Nanti kalau udah masuk TV jangan lupa sama rakyat kecil.”
“Hahaha!”
Yuli langsung nyeletuk.
“Rakyat kecil apanya…”
“Muka kamu aja kayak anggota DPR gagal.”
“HHAHAHAHA!”
Kelas langsung pecah tertawa.
Namun Yanti hanya tersenyum tipis.
Tawanya kini tidak lagi sebebas dulu.
Sensei Sambas masuk ke kelas siang itu bersama Sensei Anton.
Keduanya memang sering datang ke sekolah untuk memantau atlet-atlet karate.
“Heh Yanti,” panggil Sensei Sambas.
“Iya Sensei.”
“Besok kumpul di dojo jam tujuh pagi.”
“Ada apa Sensei?”
“Persiapan TC.”
Kelas langsung heboh.
“WOOOO!”
“Padang woooy!”
Dandang sampai berdiri di atas bangku.
“Heh kalau ketemu artis Padang jangan lupa foto!”
Sensei Anton langsung menatap tajam.
“Kamu ikut latihan juga nggak pernah.”
Dandang langsung duduk lagi.
“Hidup saya memang penuh penolakan Sensei…”
“HHAHAHAHA!”
Namun di balik kebanggaan itu…
hati Yanti tetap kosong.
Karena setiap ada kabar bahagia…
orang pertama yang ingin ia ceritakan justru sudah pergi jauh.
Sore harinya dojo Desa Tegorejo ramai.
Suara pukulan dan tendangan memenuhi ruangan.
Anak-anak berlatih keras.
“KIYAA!”
“Lagi!” bentak Sensei Anton.
Keringat membasahi lantai dojo.
Namun Yanti berlatih jauh lebih keras dari biasanya.
Seolah ia sedang melampiaskan semua rasa sakitnya lewat latihan.
“Heh Sinok…”
Anita yang ikut latihan mendekat.
“Kamu nggak capek?”
Yanti menggeleng.
“Kalau berhenti…”
“Aku malah kepikiran.”
Anita langsung diam.
Ia tahu…
yang dimaksud Yanti bukan latihan.
Melainkan Mas Nur.
Di luar dojo…
Riyadi duduk sendirian di atas motor bututnya.
Sejak lulus SMA Negeri 1 Pegandon…
ia memang lebih sering melamun.
Teman-temannya satu per satu mulai bekerja.
Karwan bahkan sudah hampir setahun merantau di Tangerang.
Dan hampir tiap minggu…
Karwan mengirim surat atau menelepon wartel Kaliwungu.
“Heh Di,” suara Karwan dari telepon beberapa hari lalu masih teringat jelas.
“Apa?”
“Kalau serius mau kerja sini aja.”
“Kerja apa?”
“Pabrik dulu.”
Riyadi diam waktu itu.
“Sambil cari jalan.”
Dan sejak percakapan itu…
kepala Riyadi terus penuh pikiran.
Ia ingin merantau.
Ingin membantu ekonomi keluarga.
Namun ada satu hal yang membuatnya berat pergi.
Sinok.
Sejak Mas Nur pergi…
Yanti memang sering terlihat rapuh.
Dan entah sejak kapan…
Riyadi selalu merasa ingin menjaganya.
Bukan sebagai pacar.
Bukan pula sebagai pengganti siapa-siapa.
Tetapi sebagai seseorang yang tidak tega melihat Sinok terus menangis sendirian.
Latihan selesai menjelang magrib.
Anak-anak duduk kelelahan di teras dojo.
Sensei Sambas membagikan jadwal TC.
“TC di Cepu tiga bulan.”
“WOOO!”
Beberapa anak langsung mengeluh.
“Tiga bulan jauh dari rumah…”
“Bisa kurus gue.”
“Hahaha!”
Namun kemudian Sensei Anton berkata pelan.
“Yang berangkat cuma Yanti.”
Suasana langsung hening.
“Hah?”
“Yang lain belum lolos seleksi akhir.”
Wajah beberapa anak langsung kecewa.
Termasuk Bambang.
Namun ia tetap tersenyum kecil pada Yanti.
“Hebat lo, Nok.”
Yanti justru terlihat sedih.
Karena ia tahu…
perjalanan ini akan makin sepi.
Malam itu…
Riyadi mengantar Yanti pulang naik motor.
Jalan desa gelap.
Hanya lampu-lampu rumah yang redup menemani perjalanan mereka.
Angin malam terasa dingin.
Namun suasana di antara mereka justru tenang.
“Heh Nok…”
“Apa Kang?”
“Kamu masih nangis tiap malam ya?”
Yanti langsung diam.
Riyadi tersenyum kecil.
“Ketahuan.”
Air mata Yanti perlahan jatuh lagi.
“Aku nggak ngerti…”
“Kenapa dia pergi tanpa pamit…”
Suara Yanti bergetar.
Riyadi hanya mendengarkan.
Karena kadang…
orang sedih tidak butuh nasihat.
Hanya butuh ditemani.
“Nok…”
“Hm?”
“Kalau orang pergi…”
“Bukan berarti kenangannya ikut hilang.”
Yanti menunduk.
“Tapi sakit Kang…”
“Iya.”
“Banget.”
Riyadi tersenyum kecil pahit.
“Namanya juga cinta pertama.”
Kalimat itu membuat Yanti menangis lebih keras.
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya…
ia menangis di bahu Riyadi.
Hari keberangkatan TC akhirnya tiba.
Terminal kecil Kaliwungu ramai oleh atlet karate.
Tas besar berserakan.
Suara ibu-ibu terdengar saling mengingatkan.
“Jangan telat makan!”
“Jaga kesehatan!”
“Belajar juga!”
“Hahaha!”
Namun Yanti justru tampak murung.
Karena jauh di dalam hatinya…
ia berharap Mas Nur tiba-tiba datang.
Minimal untuk mengucapkan selamat.
Namun sampai bus berangkat…
orang itu tidak pernah muncul.
Perjalanan menuju Cepu terasa panjang.
Hutan jati membentang di sepanjang jalan.
Udara panas khas Cepu langsung menyambut mereka.
Asrama sederhana tempat TC dipenuhi atlet dari seluruh Jawa Tengah.
Dan di situlah…
hari-hari berat Yanti dimulai.
Latihan dimulai sejak subuh.
Lari pagi.
Fisik.
Kata.
Kumite.
Sparring.
Dan semuanya benar-benar melelahkan.
“Heh Sinok!”
teriak salah satu atlet Semarang.
“Ayo larinya dipercepat!”
“KIYAA!”
Yanti terus memaksa dirinya kuat.
Meski malam hari…
ia sering diam-diam menangis di kamar asrama.
Suatu malam…
setelah latihan berat…
Yanti duduk sendirian di belakang asrama.
Langit Cepu penuh bintang.
Namun matanya kosong.
Tiba-tiba…
telepon wartel asrama dipanggil penjaga.
“Yanti! Ada telepon!”
Yanti buru-buru masuk.
Dan saat mengangkat gagang telepon…
suara itu terdengar.
“Heh Nok…”
DEG.
“Kang Riyadi?”
“Iya.”
Air mata Yanti langsung jatuh lagi.
“Kenapa nangis terus sih…”
“Aku capek…”
Riyadi tertawa kecil.
“Jagoan kok capek.”
“Aku kangen rumah…”
Dan sebenarnya…
yang paling ia rindukan bukan rumah.
Melainkan seseorang yang telah pergi.
TC berjalan tiga bulan penuh.
Dan perlahan…
Yanti mulai berubah.
Ia menjadi jauh lebih kuat.
Lebih dewasa.
Meski luka di hatinya belum benar-benar sembuh.
Hingga akhirnya…
hari keberangkatan menuju Padang tiba.
Tim Jawa Tengah berangkat penuh semangat.
Bandara menjadi pengalaman pertama bagi sebagian besar atlet.
“Heh ini pesawat gede banget…”
“Kalau jatuh gimana?”
“Mulutmu Dandang banget.”
“HHAHAHAHA!”
Kejurnas berlangsung sangat keras.
Atlet dari seluruh Indonesia datang.
Suasana GOR Padang penuh teriakan supporter.
Sensei Sambas berdiri tegang di pinggir arena.
“Fokus Yanti!”
“Jangan takut!”
Pertandingan demi pertandingan berjalan berat.
Namun Yanti bertarung seperti orang yang membawa seluruh rasa sakitnya ke arena.
Dan akhirnya…
BRAK!
Pukulan terakhirnya membuat lawan jatuh.
“IPPON!”
Suasana langsung meledak.
“WOOOOOO!”
Sensei Anton sampai melompat kegirangan.
“JUARA!”
Air mata Yanti jatuh.
Namun kali ini…
bukan karena sedih.
Malam kemenangan itu…
ia duduk sendirian di balkon penginapan.
Angin Padang terasa dingin.
Lalu ia berbisik pelan.
“Mas Nur…”
“Aku juara…”
Namun orang yang paling ingin mendengar kabar itu…
tetap tidak ada.
Sekembalinya dari Padang…
Desa Tegorejo menyambut Yanti bak pahlawan kecil.
Spanduk sederhana dipasang di depan sekolah.
Guru-guru bangga.
Tetangga datang memberi selamat.
Namun di balik semua kebahagiaan itu…
Riyadi justru makin gelisah.
Karena ia tahu…
sebentar lagi ia juga akan pergi.
Menyusul Karwan ke Tangerang.
Dan ia belum tahu…
bagaimana cara mengatakan itu pada Sinok.
BAB XXVI
HARI-HARI YANG TERASA TERLALU SINGKAT
Sepulang dari Kejurnas Padang…
hidup Yanti perlahan mulai berubah lagi.
Luka karena kepergian Mas Nur memang belum benar-benar hilang.
Kadang…
saat malam terlalu sunyi…
atau ketika melihat jalan menuju Kaliwungu…
dadanya masih terasa nyeri.
Namun kini…
ada seseorang yang selalu hadir mengisi hari-harinya.
Kakang Riyadi.
Tidak pernah dengan kata-kata berlebihan.
Tidak pernah memaksa.
Tidak pernah meminta Yanti melupakan siapa pun.
Tetapi entah kenapa…
setiap ada Riyadi…
hati Sinok terasa jauh lebih tenang.
Pagi itu Desa Tegorejo masih diselimuti kabut tipis.
Udara dingin khas selepas hujan membuat jalan desa tampak basah mengilap.
Dari kejauhan…
suara sepeda onthel tua terdengar berdecit.
Ciiit… ciiit…
“Heh Sinok!”
teriak Riyadi dari depan rumah.
Yanti yang sedang menyapu halaman langsung menoleh.
Dan seperti biasa…
ia langsung tersenyum kecil.
Riyadi datang memakai jaket coklat lusuh kesayangannya.
Celana training biru.
Dan rambut berantakan kena angin pagi.
Namun entah kenapa…
di mata Yanti…
laki-laki itu selalu terlihat menenangkan.
Bu Rosmiyati keluar sambil membawa tampah singkong.
“Heh Riyadi…”
“Iya Buk.”
“Mampir dulu.”
“Kalau mampir terus nanti saya nggak pulang-pulang.”
Bu Rosmiyati langsung tertawa kecil.
“Saya malah senang.”
Yanti langsung malu sendiri.
“Ibuuu…”
Riyadi duduk santai di kursi bambu.
“Heh Nok…”
“Apa?”
“Hari ini latihan Cepiring jadi?”
“Jadi.”
“Boncenganku masih kuat?”
Yanti langsung melirik sepeda onthel tua warna hijau itu.
“Kalau jalannya nggak nanjak.”
“Hahaha!”
Sejak pulang dari Padang…
hubungan Yanti dan Riyadi memang makin dekat.
Hampir setiap sore mereka latihan bersama.
Kadang di dojo Tegorejo.
Kadang latihan gabungan di Cepiring.
Kadang cuma jogging sore menyusuri pematang sawah.
Dan tanpa sadar…
orang-orang mulai menganggap mereka pasangan.
“Heh lihat tuh…”
bisik Aziz suatu sore di dojo Cepiring.
“Apa?”
“Itu Sinok sama Riyadi.”
Pincuk langsung menoleh.
“Wah…”
“Lengket terus kayak perangko.”
“HHAHAHAHA!”
Yanti yang mendengar langsung melotot.
“Heh kalian apaan sih!”
Aziz malah makin semangat.
“Cieeee…”
“Naik onthel berdua lagi.”
Pincuk ikut nyeletuk.
“Kalau pulang jangan lewat sawah gelap-gelap ya!”
“HHAHAHAHA!”
Riyadi cuma geleng-geleng kepala sambil ketawa kecil.
Namun Yanti sudah merah padam.
Sore itu latihan berlangsung keras.
Sensei Sambas datang langsung memimpin.
“Yanti!”
“Iya Sensei!”
“Kamu jangan kendor habis juara.”
“Siap!”
“Riyadi!”
“Apa Sensei?”
“Kamu meski nggak tanding tetap bantu sparring.”
“Siap!”
Suara pukulan memenuhi dojo.
“KIAAA!”
Keringat bercucuran.
Namun di sela latihan…
tatapan Riyadi pada Yanti selalu berbeda.
Tenang.
Hangat.
Dan penuh perhatian kecil yang sederhana.
Saat istirahat…
Yanti duduk kelelahan di teras dojo.
Napasnya ngos-ngosan.
“Kamu minum dulu.”
Riyadi menyodorkan botol air.
“Makasih.”
“Capek?”
“Banget.”
Riyadi tertawa kecil.
“Juara nasional kok ngeluh.”
“Juara juga manusia.”
“Hahaha!”
Tak lama kemudian…
seorang perempuan datang ke dojo Cepiring.
“Heh Riyadi!”
Riyadi menoleh.
“Oh Ev!”
Ternyata Evianti.
Teman lama Riyadi dari sekolah.
Yanti langsung memperhatikan diam-diam.
Evianti tersenyum lebar.
“Lama nggak ketemu!”
“Iya.”
“Katanya mau merantau?”
Riyadi langsung sedikit kikuk.
“Eh… belum tahu.”
Namun Yanti langsung diam.
Hatinya mendadak tidak enak.
Evianti lalu melirik Yanti.
“Heh ini siapa?”
“Oh…”
Riyadi tampak salah tingkah.
“Ini Yanti.”
Evianti tersenyum jahil.
“Ohhh…”
“Pacarnya ya?”
DEG.
Wajah Yanti langsung panas.
“Bukan!”
jawab Yanti terlalu cepat.
Aziz yang mendengar langsung tertawa keras.
“HHAHAHAHA!”
“Kalau bukan ngapain tiap hari boncengan!”
Pincuk ikut tepuk tangan.
“Cocok banget itu!”
Riyadi cuma tertawa malu sambil garuk kepala.
Namun diam-diam…
hati Yanti terasa hangat.
Sepulang latihan…
langit mulai jingga.
Sawah-sawah Cepiring terlihat indah terkena cahaya matahari sore.
Yanti duduk di boncengan sepeda onthel Riyadi.
Tangannya memegang sisi belakang jok.
Sementara Riyadi mengayuh pelan.
Angin sore meniup rambut-rambut kecil di wajah Yanti.
“Heh Nok…”
“Hm?”
“Kamu capek?”
“Lumayan.”
“Kalau jatuh jangan salahin sepeda ya.”
“Hahaha!”
Jalan desa sore itu ramai anak-anak kecil bermain layangan.
Beberapa ibu pulang dari pasar.
Dan seperti biasa…
orang-orang mulai menggoda.
“Heh Riyadi!”
teriak Pak Darto dari gardu ronda.
“Apa Pak?”
“Pelan-pelan bawanya!”
“Hahaha!”
Yanti langsung menunduk malu.
Riyadi malah santai.
“Siap Pak!”
Di tengah perjalanan…
rantai sepeda tiba-tiba lepas.
“Lho…”
Riyadi langsung turun.
“Rusak?”
“Tua memang begini.”
“Hahaha!”
Yanti ikut turun sambil menahan tawa melihat Riyadi belepotan oli.
Aziz dan Pincuk yang kebetulan lewat naik motor langsung berhenti.
“HHAHAHAHA!”
“Romantis-romantis rantainya putus!”
Pincuk sampai tepuk paha.
Aziz langsung nyeletuk.
“Ini pertanda hubungan kalian diuji!”
“Mulutmu…”
kata Yanti sambil melempar daun.
Riyadi akhirnya berhasil memasang rantai lagi.
Namun tangannya hitam semua kena oli.
“Heh Nok…”
“Apa?”
“Lap dong.”
“Hah?”
“Teman kok tega.”
Yanti akhirnya mengambil sapu tangan kecilnya.
Lalu membersihkan tangan Riyadi pelan-pelan.
Dan beberapa detik…
mereka saling diam.
Aziz langsung memekik.
“WOOOO!”
“MESRAAA!”
Yanti langsung sadar lalu buru-buru menjauh.
“Hahaha!”
Hari-hari seperti itu terus berjalan.
Sederhana.
Namun hangat.
Kadang mereka belajar bersama.
Kadang latihan sampai malam.
Kadang cuma duduk di pinggir sawah sambil makan gorengan.
Dan tanpa sadar…
Yanti mulai takut kehilangan lagi.
Karena setiap bersama Riyadi…
ia merasa nyaman.
Terlalu nyaman.
Suatu malam…
mereka duduk di jembatan kecil dekat sungai.
Suara air terdengar pelan.
Langit penuh bintang.
“Heh Kang…”
“Apa Nok?”
“Kamu pernah takut kehilangan seseorang nggak?”
Riyadi diam sebentar.
“Pernah.”
“Siapa?”
Riyadi tersenyum kecil.
“Rahasia.”
Yanti langsung manyun.
“Ah pelit.”
“Hahaha!”
Namun beberapa detik kemudian…
Riyadi berkata pelan.
“Nok…”
“Hm?”
“Kalau suatu hari aku pergi…”
“Hah?”
“Kamu jangan nangis ya.”
DEG.
Hati Yanti langsung tidak enak.
“Pergi ke mana?”
Riyadi menatap sungai cukup lama.
Belum menjawab.
Dan entah kenapa…
angin malam tiba-tiba terasa lebih dingin.
Hari berikutnya…
Riyadi mulai sering terlihat melamun.
Kadang saat latihan.
Kadang saat nongkrong.
Kadang saat mengantar Yanti pulang.
Yanti mulai sadar ada sesuatu yang disembunyikan.
“Heh Kang…”
“Apa?”
“Kamu kenapa akhir-akhir ini aneh.”
“Apanya?”
“Sering bengong.”
Riyadi tertawa kecil.
“Mikir masa depan.”
Kalimat itu membuat Yanti diam.
Karena ia tahu…
Riyadi memang sedang bingung menentukan arah hidupnya.
Sementara itu…
Karwan kembali menghubungi Riyadi lewat wartel Kaliwungu.
“Di…”
“Apa?”
“Kalau jadi berangkat bulan depan masih bisa.”
Riyadi menunduk.
“Kerjanya berat nggak?”
“Namanya kerja ya berat.”
“Gajinya?”
“Lumayan buat bantu keluarga.”
Riyadi diam lama.
Dan sejak malam itu…
keputusan dalam hatinya mulai bulat.
Namun justru itulah yang membuatnya makin takut dekat dengan Yanti.
Karena semakin hari…
ia makin sulit pergi.
Sore terakhir sebelum semuanya berubah…
mereka kembali latihan di Cepiring.
Suasana dojo ramai.
Aziz dan Pincuk masih seperti biasa menggoda.
“Heh Riyadi!”
“Apa?”
“Kalau nikah undang kami ya.”
“HHAHAHAHA!”
Yanti langsung melempar handuk ke arah mereka.
Namun di balik semua tawa itu…
Riyadi justru memandang Yanti cukup lama.
Seolah sedang menyimpan sesuatu.
Malamnya…
Riyadi duduk sendirian di depan rumah.
Tas kecil sudah mulai ia siapkan diam-diam.
Beberapa baju dilipat rapi.
Alamat Karwan di Tangerang terselip di dompetnya.
Dan untuk pertama kalinya…
dadanya terasa sesak.
Karena kini ia sadar…
hari-hari bersama Sinok…
mungkin tinggal menghitung waktu.
BAB XXVII
PERGI TANPA PAMIT
Langit Desa Tegorejo sore itu berwarna jingga pucat.
Angin dari arah persawahan bertiup pelan membawa bau tanah basah selepas hujan siang.
Di depan rumahnya…
Riyadi duduk diam di atas tas ransel hitam lusuh.
Matanya memandang jauh ke arah jalan desa.
Sepi.
Namun justru terlalu banyak hal berputar di kepalanya.
Di dalam rumah…
suara ibunya terdengar pelan.
“Di…”
“Iya Buk…”
“Kamu yakin mau berangkat?”
Riyadi menghela napas panjang.
“Kalau tetap di rumah terus…”
“Aku nggak bantu apa-apa.”
Ibunya diam beberapa detik.
Lalu berkata lirih.
“Jaga diri di perantauan.”
Kalimat itu sederhana.
Namun cukup membuat dada Riyadi terasa berat.
Sudah hampir seminggu ia memikirkan keputusan ini.
Menyusul Karwan ke Tangerang.
Bekerja di pabrik.
Meninggalkan desa.
Meninggalkan dojo.
Meninggalkan semua kebiasaan yang selama ini menjadi bagian hidupnya.
Dan yang paling sulit…
meninggalkan Sinok.
Sebenarnya…
berkali-kali Riyadi ingin berpamitan pada Yanti.
Ingin bilang baik-baik.
Ingin melihat wajah gadis itu sekali lagi sebelum pergi.
Namun setiap kali mencoba…
hatinya justru makin tidak kuat.
Karena ia tahu…
kalau Sinok menangis…
mungkin ia tidak jadi berangkat.
Sore itu…
Aziz datang naik motor bututnya.
“Heh Di!”
“Apa?”
“Jadi berangkat hari ini?”
Riyadi mengangguk pelan.
Aziz langsung diam.
Biasanya mulutnya paling ramai sedunia.
Namun kali ini…
ia ikut merasa berat.
“Heh…”
kata Aziz sambil duduk di samping Riyadi.
“Kamu udah pamit sama Sinok?”
Riyadi langsung menunduk.
“Belum.”
“Lho kok belum?”
“Aku nggak bisa.”
Aziz menghela napas panjang.
“Kasihan dia nanti.”
Riyadi tersenyum pahit.
“Aku tahu.”
Dan justru karena tahu itulah…
ia memilih pergi diam-diam.
Menjelang magrib…
langit mulai gelap.
Suara azan dari mushola desa terdengar samar.
Riyadi akhirnya berdiri pelan sambil membawa tasnya.
Ibunya menatap dengan mata berkaca-kaca.
“Hati-hati ya Nduk…”
“Iya Buk.”
Ayahnya hanya menepuk bahunya pelan.
Namun tepukan sederhana itu terasa lebih berat daripada seribu nasihat.
Motor Aziz melaju pelan meninggalkan Desa Tegorejo.
Melewati jalan kecil yang biasa dilewati Riyadi dan Yanti sepulang latihan.
Melewati jembatan kecil tempat mereka sering duduk malam-malam.
Melewati sawah tempat Sinok pernah tertawa sampai menangis karena rantai sepeda putus.
Semua kenangan itu terasa menghantam dadanya satu per satu.
“Heh Di…”
“Apa?”
“Masih mau balik?”
Aziz setengah bercanda.
Namun Riyadi justru diam lama.
Sampai akhirnya berkata pelan.
“Kalau aku lihat Sinok sekarang…”
“Mungkin aku nggak jadi pergi.”
Angin sore bertiup dingin.
Motor terus melaju menuju perempatan Patebon.
Sementara itu…
di rumah Yanti…
gadis itu justru sedang belajar untuk ujian nasional.
Buku Matematika terbuka di depannya.
Namun pikirannya melayang ke mana-mana.
Ima yang duduk di lantai memperhatikan kakaknya.
“Mbak…”
“Hm?”
“Kakang Riyadi nggak datang lagi ya hari ini?”
Yanti tersenyum kecil.
“Mungkin sibuk.”
Padahal entah kenapa…
hatinya sejak siang terasa tidak tenang.
Di perempatan Patebon…
lampu-lampu kendaraan mulai menyala.
Warung kopi pinggir jalan ramai sopir dan penumpang bus.
Riyadi berdiri sambil memegang tasnya erat.
Sementara Aziz menemani di samping.
“Heh…”
kata Aziz pelan.
“Apa?”
“Kalau nanti sukses…”
“Jangan lupa traktir.”
Riyadi tertawa kecil.
“Pasti.”
Namun beberapa detik kemudian…
senyumnya hilang lagi.
Karena bus tujuan Jakarta mulai terlihat dari kejauhan.
Lampunya menyala terang menembus gelap.
DEG.
Dadanya langsung sesak.
Aziz menepuk pundaknya.
“Masih ada waktu buat batal.”
Riyadi menggeleng pelan.
“Kalau nggak sekarang…”
“Aku nggak bakal pernah berani pergi.”
Bus berhenti perlahan.
Suara kernet langsung terdengar keras.
“JAKARTAAA! TANGERANG!”
Riyadi menarik napas panjang.
Lalu naik ke dalam bus.
Namun sebelum masuk…
ia menoleh sekali lagi ke arah jalan desa yang gelap di kejauhan.
Dan di dalam hatinya…
hanya ada satu nama.
Sinok.
Malam itu…
Yanti tidak bisa tidur.
Entah kenapa dadanya terasa gelisah.
Ia keluar rumah sebentar.
Duduk di bawah langit malam yang dingin.
Dan tanpa sadar…
ia memandangi jalan desa berharap Riyadi muncul seperti biasa.
Namun sampai larut malam…
tak ada suara sepeda onthel.
Tak ada suara tawa Aziz.
Tak ada suara Riyadi memanggilnya.
“Heh Nok…”
Tidak ada.
Keesokan paginya…
Yanti baru tahu semuanya.
Saat datang ke dojo.
Pincuk yang melihatnya langsung mendekat.
“Heh Sinok…”
“Apa?”
“Kamu belum tahu?”
“Tahu apa?”
“Riyadi berangkat ke Tangerang semalam.”
DEG.
Wajah Yanti langsung pucat.
“Hah?”
“Pergi kerja.”
Dunia Yanti seperti berhenti beberapa detik.
“Bo… bohong…”
Aziz yang baru datang hanya diam menunduk.
Dan diamnya…
sudah cukup menjadi jawaban.
“Heh Aziz…”
suara Yanti mulai gemetar.
“Kakang pergi?”
Aziz mengangguk pelan.
“Kenapa nggak pamit sama aku…”
Tak ada yang bisa menjawab.
Karena bahkan Aziz sendiri tidak tahu bagaimana menjelaskan semuanya.
Air mata Yanti langsung jatuh.
Dadanya terasa kosong luar biasa.
Bukan hanya sedih.
Tetapi seperti kehilangan tempat pulang.
Hari itu…
Sinok pulang lebih cepat dari dojo.
Dan sepanjang jalan…
ia menangis sendirian.
Semua tempat mendadak terasa penuh kenangan.
Jembatan kecil.
Jalan sawah.
Warung es.
Lapangan tempat latihan lari.
Semua mengingatkannya pada Riyadi.
Malamnya…
Yanti duduk di kamar sambil memegang sapu tangan kecil milik Riyadi yang pernah tertinggal di sepedanya.
Tangisnya pecah lagi.
“Kenapa semua orang pergi…”
Suara itu lirih sekali.
Namun cukup membuat Bu Rosmiyati ikut sedih dari luar kamar.
Hari-hari setelah kepergian Riyadi terasa sangat hampa.
Yanti kembali sering melamun.
Di sekolah…
ia jadi lebih diam.
Yuli sampai bingung sendiri.
“Heh…”
“Apa?”
“Kamu habis ditinggal dua orang sekaligus ya?”
Yanti langsung menunduk.
Anita cepat menyikut Yuli.
“Heh jangan gitu.”
“Aku cuma bercanda…”
Namun Yuli akhirnya ikut diam.
Karena kali ini…
bahkan candaan terasa tidak lucu lagi.
Ujian nasional semakin dekat.
Guru-guru mulai serius.
Jam tambahan terus bertambah.
Namun Yanti belajar seperti orang kehilangan arah.
Kadang ia menatap buku lama sekali tanpa benar-benar membaca.
Kadang tiba-tiba menangis sendiri.
Kadang diam memandangi kursi kosong di dojo.
Suatu sore…
Aziz datang ke rumah.
“Heh Sinok…”
“Apa?”
“Ada titipan.”
Yanti langsung menoleh cepat.
Aziz menyerahkan kertas kecil.
“Tadi Karwan nelepon wartel.”
“Tulisannya Riyadi.”
Tangan Yanti langsung gemetar membuka kertas itu.
Tulisan tangan Riyadi tampak berantakan.
“Nok…
maaf aku pergi tanpa pamit.
Aku takut nggak jadi berangkat kalau lihat kamu nangis.
Jaga diri baik-baik.
Belajar yang rajin.
Jangan suka ngelamun terus.
Dan jangan lupa makan.”
Air mata Yanti langsung jatuh membasahi kertas itu.
“Dia jahat…”
gumam Yanti sambil menangis.
Aziz tersenyum kecil pahit.
“Dia cuma terlalu sayang sama kamu.”
Kalimat itu membuat hati Yanti makin sesak.
Waktu terus berjalan.
Dan perlahan…
ujian nasional akhirnya tiba.
Hari pertama ujian…
langit Tegorejo cerah.
Yanti duduk di kelas dengan tangan dingin.
Namun sebelum mulai mengerjakan soal…
ia teringat satu kalimat Riyadi.
“Jangan suka ngelamun terus.”
Tanpa sadar…
ia tersenyum kecil.
Hari-hari ujian berlalu melelahkan.
Dan akhirnya…
pengumuman kelulusan tiba.
Sekolah ramai luar biasa.
Anak-anak berteriak histeris.
Ada yang menangis.
Ada yang lompat-lompat.
Dan saat nama Yanti dinyatakan lulus…
Bu Rosmiyati langsung memeluk anaknya bangga.
“Nduk…”
“Iya Bu…”
“Kamu berhasil.”
Namun di tengah semua kebahagiaan itu…
Yanti tetap merasa ada yang kurang.
Karena dua orang yang paling mengubah hidupnya…
tidak ada di sampingnya.
Mas Nur.
Dan Riyadi.
Beberapa minggu kemudian…
Yanti akhirnya memutuskan melanjutkan sekolah ke STM Tekstil Pedan di Klaten.
Keputusan yang membuat banyak temannya kaget.
“Heh jauh banget…”
kata Yuli.
“Iya.”
“Yakin?”
Yanti mengangguk pelan.
“Aku pengen mulai hidup baru.”
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun sebenarnya…
ia sedang mencoba lari dari semua kenangan yang terlalu menyakitkan di Desa Tegorejo.
Malam sebelum berangkat ke Klaten…
Yanti kembali duduk di bawah langit desa.
Angin malam bertiup pelan.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
ia berbisik lirih sambil tersenyum kecil.
“Kakang…”
“Aku bakal lanjut jalan…”
Meski hatinya masih penuh luka…
Sinok akhirnya mulai belajar satu hal penting.
Bahwa hidup…
tetap harus berjalan.
Meski orang-orang yang pernah membuat kita bahagia…
tidak lagi berjalan di samping kita.
BAB XXVIII
HARI-HARI SUNYI TANPA MAS NUR DAN KAKANG RIYADI
Langit Desa Tegorejo pagi itu tampak pucat.
Musim kemarau mulai datang perlahan, namun udara justru terasa dingin bagi Yanti.
Atau mungkin…
yang dingin sebenarnya bukan udara pagi.
Melainkan hatinya.
Sudah hampir dua bulan Mas Nur pergi ke Jakarta.
Dan hampir tiga minggu Kakang Riyadi menyusul Karwan ke Tangerang.
Dua orang yang selama ini paling mengisi hari-harinya…
hilang dalam waktu berdekatan.
Meninggalkan ruang kosong yang sulit dijelaskan.
Pagi itu…
Bu Rosmiyati sibuk di dapur menanak nasi.
Suara kayu terbakar terdengar pelan dari tungku belakang rumah.
Sementara Yanti duduk diam di kursi bambu teras depan.
Seragam SMP-nya sudah rapi.
Namun wajahnya kosong.
Tatapannya hanya lurus ke jalan desa.
Jalan kecil yang dulu sering dilewati Mas Nur.
Dan jalan yang sama…
tempat Riyadi biasa muncul naik sepeda ontelnya sambil tersenyum.
“Heh Sinok…”
“Berangkat sekolah yuk.”
Kini…
jalan itu terasa sepi sekali.
“Nduk…” panggil Bu Rosmiyati dari dapur.
“Iya Bu…”
“Kok belum berangkat?”
“Sebentar…”
Ibunya keluar sambil membawa teh panas.
Lalu duduk di samping Yanti.
“Kamu masih kepikiran Riyadi sama Mas Nur?”
Yanti tersenyum kecil.
Namun matanya langsung basah.
“Sedikit…”
Bu Rosmiyati mengusap kepala anaknya perlahan.
“Hidup itu memang begitu…”
“Kadang orang yang bikin kita nyaman…”
“Belum tentu bisa terus tinggal.”
Kalimat itu membuat dada Yanti kembali sesak.
Di sekolah…
suasana SMP Negeri tempat Yanti belajar mulai sibuk menghadapi Ujian Nasional.
Spanduk motivasi dipasang di depan kelas.
“SEMANGAT UNAS!”
“LULUS 100%!”
Namun bagi Yanti…
semuanya terasa hambar.
Saat masuk kelas…
Yuli langsung mendekat.
“Heh…”
“Apa…”
“Kamu makin kurus.”
Dandang ikut datang sambil membawa buku.
“Ini bukan kurus…”
“Ini gagal move on.”
“HHAHAHAHA!”
Biasanya…
Yanti akan ikut tertawa.
Namun kali ini…
ia hanya tersenyum kecil.
Dan itu membuat Dandang langsung diam.
Bambang yang duduk di dekat jendela memperhatikan Yanti cukup lama.
Kini…
bahkan Bambang tak lagi banyak bercanda.
Karena semua tahu…
Sinok benar-benar sedang kehilangan.
Jam pelajaran berlangsung lambat.
Pak Guru Matematika menerangkan rumus di papan tulis.
Namun pikiran Yanti entah ke mana.
Kadang ia teringat Mas Nur.
Kadang teringat Riyadi.
Kadang ingin menangis tiba-tiba.
“Heh Yanti!”
Suara Pak Guru membuat satu kelas menoleh.
“Iya Pak…”
“Kalau melamun terus nanti UN jawabannya pakai perasaan?”
Satu kelas tertawa kecil.
“Hahaha…”
Yanti langsung menunduk malu.
Namun bahkan tawanya terasa lemah.
Saat istirahat…
anak-anak ramai membahas sekolah lanjutan.
“Aku mau ke STM Kendal.”
“Aku ke SMA Boja.”
“Aku ikut bapakku dagang aja.”
Suasana kantin penuh obrolan masa depan.
Namun Yanti justru diam.
Anita menatapnya pelan.
“Kamu jadi ke STM Pedan?”
Yanti mengangguk kecil.
“Iya…”
“Jauh juga…”
“Biar suasana baru.”
Padahal…
alasan sebenarnya bukan hanya itu.
Yanti ingin pergi dari semua kenangan.
Sepulang sekolah…
langit mulai mendung.
Yanti berjalan sendirian melewati jalan dekat sawah.
Angin sore bertiup pelan.
Dan tanpa sadar…
kakinya berhenti di bawah pohon trembesi depan sekolah.
Pohon yang dulu jadi saksi begitu banyak cerita.
Tempat ia menangis karena Mas Nur.
Tempat Riyadi pernah menenangkannya diam-diam.
Tempat Bambang pernah memarahinya karena terlalu keras menangis.
Semua terasa dekat.
Namun orang-orangnya sudah pergi.
Yanti duduk pelan di bawah pohon itu.
Lalu mengeluarkan sebuah benda dari tasnya.
Pita cokelat kecil.
Pemberian Riyadi waktu latihan karate di Cepiring.
“Heh Sinok…”
“Kalau rambutmu berantakan…”
“Kamu tetap cantik.”
Yanti langsung menunduk sambil tersenyum sedih.
“Kenapa semua pergi sih…”
gumamnya lirih.
Tak terasa…
air matanya jatuh lagi.
Dan saat itulah…
suara langkah kaki terdengar.
“Heh…”
Ternyata Bambang.
“Kamu di sini lagi.”
Yanti buru-buru menghapus air mata.
“Kok tahu?”
“Dari dulu…”
“Kalau sedih kamu pasti ke sini.”
Bambang duduk di sampingnya.
Beberapa detik mereka diam.
“Masih kangen mereka ya?” tanya Bambang pelan.
Yanti tertawa hambar.
“Kelihatan banget?”
“Lumayan.”
Angin sore bertiup pelan.
Sawah di depan mereka mulai menguning.
Suasana desa terasa sunyi.
“Aku tuh bingung…” kata Yanti lirih.
“Kenapa?”
“Apa aku kurang baik…”
“Sampai semua orang pergi.”
Bambang langsung menoleh cepat.
“Heh jangan ngomong gitu.”
“Tapi kenyataannya begitu.”
“Mas Nur pergi.”
“Kakang Riyadi juga pergi.”
Suara Yanti mulai pecah.
Dan Bambang tahu…
luka ini jauh lebih besar dari sekadar cinta remaja biasa.
“Kadang…” kata Bambang pelan.
“Orang pergi bukan karena kita nggak cukup baik.”
“Terus?”
“Karena hidup mereka memang harus jalan.”
Yanti diam mendengarkan.
Bambang tersenyum tipis.
“Walaupun nyakitin.”
Kalimat itu membuat Yanti kembali menangis kecil.
Malam harinya…
Yanti belajar untuk try out terakhir.
Namun pikirannya tetap kacau.
Ia membuka buku IPA.
Lalu tiba-tiba teringat Riyadi.
“Heh Sinok…”
“Kalau capek belajar…”
“Jangan dipaksa.”
Ia membuka buku Bahasa Indonesia.
Lalu teringat Mas Nur.
“Kalau kamu lulus…”
“Aku traktir bakso.”
Yanti langsung menutup bukunya pelan.
Dadanya sesak lagi.
Di luar rumah…
suara kentongan ronda terdengar.
Anjing menggonggong jauh di ujung desa.
Dan malam terasa panjang sekali.
Hari ujian nasional akhirnya tiba.
Satu sekolah tampak tegang.
Anak-anak membawa kartu ujian.
Ada yang belajar sampai detik terakhir.
Ada yang malah bercanda panik.
Dandang bahkan salah membawa pensil.
“Heh gue bawa sendok!”
“HHAHAHAHA!”
Yuli sampai memukul kepalanya sendiri.
“Kamu ini gimana sih!”
Namun Yanti tetap diam.
Ia duduk memandangi lembar soal.
Dan untuk sesaat…
ia merasa benar-benar sendiri.
Biasanya ada Riyadi yang menyemangati.
Biasanya ada Mas Nur yang diam-diam menunggu di luar sekolah.
Kini…
tak ada siapa-siapa.
Hari-hari ujian berjalan melelahkan.
Namun perlahan…
Yanti mulai bertahan.
Karena ia sadar…
hidup tidak mungkin berhenti hanya karena kehilangan.
Pengumuman kelulusan tiba di awal siang yang panas.
Seluruh sekolah ramai.
Anak-anak berdesakan melihat papan pengumuman.
Dandang bahkan hampir jatuh karena terlalu semangat.
“Heh minggir!”
“Nama gue mana?!”
“HHAHAHAHA!”
Dan beberapa detik kemudian…
teriakan pecah.
“LULUSSSS!”
Satu sekolah langsung ramai.
Ada yang menangis.
Ada yang loncat-loncat.
Ada yang saling siram air.
Yuli langsung memeluk Yanti.
“Kita lulus!”
Anita ikut menangis haru.
Bahkan Bambang tersenyum lega.
Namun di tengah semua kebahagiaan itu…
hati Yanti justru terasa kosong.
Karena orang-orang yang paling ingin ia lihat hari itu…
tidak ada.
Tak ada Mas Nur.
Tak ada Kakang Riyadi.
Sore harinya…
anak-anak berkumpul di lapangan sekolah untuk perpisahan sederhana.
Mereka saling tanda tangan di seragam.
Menulis pesan.
Dan saling bercanda untuk terakhir kalinya sebagai anak SMP.
“Heh jangan lupa gue kalau udah sukses!” teriak Dandang.
Yuli langsung menjawab cepat.
“Kamu sukses dulu baru ngomong!”
“HHAHAHAHA!”
Namun tawa itu terasa berbeda sekarang.
Karena semua sadar…
masa kecil mereka benar-benar selesai.
Saat matahari mulai turun…
Yanti berdiri sendirian memandang sekolahnya.
Bangunan sederhana itu menyimpan terlalu banyak kenangan.
Tentang cinta pertama.
Tentang sahabat.
Tentang air mata.
Tentang kehilangan.
Dan untuk pertama kalinya…
Yanti benar-benar mengerti satu hal:
bahwa menjadi dewasa ternyata dimulai
dari belajar kehilangan orang-orang yang paling kita sayangi.
Angin sore berembus pelan melewati halaman SMP itu.
Membawa pergi suara tawa masa kecil mereka.
Dan di bawah langit Desa Tegorejo yang mulai temaram…
Sinok melangkah perlahan menuju hidup baru.
Dengan hati yang belum sembuh sepenuhnya.
Namun diam-diam…
mulai belajar kuat sendiri.
BAB XXIX
BANGKIT DARI KETERPURUKAN
Pagi di Desa Tegorejo terasa berbeda setelah pengumuman kelulusan SMP itu.
Tidak ada lagi suara anak-anak berseragam biru putih berangkat sekolah bersama.
Tidak ada lagi keributan Dandang di depan kelas.
Tidak ada lagi candaan Yuli yang memenuhi kantin.
Dan tidak ada lagi alasan bagi Yanti untuk diam-diam berharap melihat Mas Nur lewat di jalan desa.
Semuanya telah selesai.
Masa SMP mereka benar-benar berakhir.
Namun justru setelah semua kehilangan itu…
perlahan sesuatu mulai tumbuh di hati Yanti.
Bukan lagi kesedihan yang menghancurkan.
Melainkan tekad.
Tekad untuk bangkit.
Pagi itu…
Bu Rosmiyati sedang menjemur pakaian di halaman belakang rumah.
Sementara Yanti membantu melipat seragam SMP-nya yang sudah mulai kekecilan.
Seragam itu penuh coretan tanda tangan teman-temannya.
Ada tulisan dari Yuli:
“Jangan galau terus, nanti cepat tua!”
Ada tulisan Dandang:
“Kalau sukses jangan lupa traktir bakso!”
Dan ada tulisan kecil dari Bambang:
“Jangan nangis terus, Sinok.”
Yanti tersenyum kecil membaca semuanya.
Namun kali ini…
senyumnya tidak lagi terlalu sedih.
“Nduk…” panggil Bu Rosmiyati.
“Iya Bu?”
“Kamu jadi daftar sekolah ke Klaten?”
Yanti mengangguk pelan.
“Iya…”
Ibunya lalu duduk di sampingnya.
“STM Tekstil Pedan itu bagus.”
“Katanya lulusannya gampang kerja.”
Yanti menunduk memandangi seragamnya.
“Aku pengen hidup berubah, Bu…”
Kalimat itu membuat Bu Rosmiyati menatap anaknya cukup lama.
Sejak kecil…
Bu Rosmiyati tahu Yanti anak yang lembut.
Terlalu lembut bahkan.
Mudah memikirkan orang lain.
Mudah terluka.
Dan terlalu dalam mencintai.
Namun setelah semua yang terjadi…
ia mulai melihat sesuatu yang berbeda di mata anaknya.
Ada luka.
Tetapi juga ada kekuatan baru.
“Kamu harus sekolah tinggi,” kata Bu Rosmiyati pelan.
“Biar hidupmu nggak susah kayak ibu.”
Yanti langsung memeluk ibunya perlahan.
“Aku bakal bikin ibu bangga.”
Di sisi lain rumah…
Ima yang masih memakai seragam SMP tertawa sambil makan pisang goreng.
“Heh Mbak…”
“Apa?”
“Kalau nanti sekolah di Klaten…”
“Jangan lupa sama aku.”
Yanti langsung mencubit pipinya pelan.
“Bawel.”
Ima tertawa keras.
“Hahaha!”
Meski masih SMP…
Ima mulai tumbuh jadi anak yang ceria dan cantik seperti kakaknya.
Bahkan beberapa tetangga mulai sering berkata:
“Adiknya Yanti sekarang mulai gede ya.”
Dan itu sering membuat Yanti tersenyum kecil.
Hari-hari setelah kelulusan mulai terasa lebih sibuk.
Yanti membantu ibunya di rumah.
Kadang membantu mencuci.
Kadang ikut ke pasar.
Kadang membantu Ima belajar.
Namun di sela-sela kesibukan itu…
ia mulai mencoba melupakan luka lama.
Meski tetap saja…
kadang malam masih terasa berat.
Terutama ketika angin malam bertiup pelan melewati jendela kamarnya.
Karena di saat seperti itu…
kenangan tentang Mas Nur dan Riyadi sering datang tiba-tiba.
“Heh Sinok…”
“Ayo latihan karate.”
“Heh Sinok…”
“Jangan nangis terus.”
“Heh Sinok…”
“Kamu cantik kalau senyum.”
Suara-suara itu masih tinggal di kepalanya.
Namun kini…
Yanti mulai belajar menerima.
Bahwa tidak semua orang yang singgah akan menetap.
Suatu sore…
Bambang datang ke rumah membawa brosur sekolah.
“Heh!”
“Apa?”
“Ini sekolah STM yang di Kendal.”
Yanti menerima brosur itu pelan.
Namun ia menggeleng kecil.
“Aku tetap ke Pedan.”
“Serius sejauh itu?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Yanti tersenyum kecil.
“Aku pengen suasana baru.”
Bambang langsung diam.
Karena ia tahu…
Yanti memang ingin pergi dari terlalu banyak kenangan.
“Tapi…” kata Bambang pelan.
“Kamu pasti kangen Tegorejo.”
Yanti tertawa kecil.
“Ya jelas.”
“Terutama sama aku?”
“Hahaha!”
Bambang langsung cengengesan.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
Yanti bisa tertawa tanpa terasa dipaksa.
Malam harinya…
Yanti duduk belajar sendiri di kamar.
Kali ini bukan belajar UN lagi.
Melainkan mulai membaca buku-buku tentang tekstil.
Tentang mesin tenun.
Tentang dunia industri.
Tentang kehidupan baru yang sama sekali asing baginya.
Namun anehnya…
ia mulai bersemangat.
“Aku nggak boleh terus sedih…”
gumamnya pelan.
“Aku harus punya masa depan.”
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
Yanti tidur tanpa menangis.
Hari pendaftaran STM Tekstil Pedan akhirnya tiba.
Subuh-subuh sekali…
Bu Rosmiyati sudah sibuk menyiapkan bekal nasi bungkus.
Bu Rosmiyati meminjam motor tetangga untuk mengantar mereka ke terminal.
Sementara Ima ribut sendiri di rumah.
“Heh Mbak…”
“Nanti kalau udah sekolah jauh…”
“Bawain aku oleh-oleh.”
“Emang aku mau ke luar negeri?”
“Hahaha!”
Perjalanan menuju Klaten terasa panjang.
Bus tua yang mereka naiki berguncang terus sepanjang jalan.
Namun Yanti justru menikmati semuanya.
Ia duduk dekat jendela.
Memandangi sawah.
Gunung di kejauhan.
Dan kota-kota kecil yang mereka lewati.
Seolah hidupnya benar-benar sedang bergerak menuju sesuatu yang baru.
Saat tiba di STM Tekstil Pedan…
mata Yanti langsung membesar kagum.
Bangunan sekolah itu jauh lebih besar dibanding SMP-nya dulu.
Banyak siswa memakai seragam abu-abu putih.
Ada bengkel praktik.
Ada ruang mesin tekstil.
Dan suasananya terasa sangat berbeda.
Degup jantungnya langsung cepat.
“Aku bakal sekolah di sini…”
gumamnya pelan.
Bu Rosmiyati tersenyum melihat wajah anaknya.
“Takut?”
“Sedikit…”
“Tapi semangat?”
Yanti mengangguk.
“Iya.”
Saat proses pendaftaran berlangsung…
Yanti melihat banyak siswa dari berbagai daerah.
Ada yang dari Solo.
Ada yang dari Boyolali.
Ada yang dari Klaten kota.
Dan untuk pertama kalinya…
ia sadar dunia ternyata jauh lebih luas dari Desa Tegorejo.
Sepulang dari Pedan…
senyum Yanti mulai kembali muncul.
Tidak sepenuhnya bahagia memang.
Luka lama masih ada.
Namun kini…
ia punya tujuan baru.
Malam itu…
ia berdiri di depan rumah memandangi langit.
Angin desa bertiup lembut.
Dan entah kenapa…
hatinya terasa lebih ringan.
“Heh Mas Nur…”
gumamnya lirih.
“Heh Kakang Riyadi…”
“Aku nggak akan terus nangis.”
Air matanya memang masih jatuh sedikit.
Namun kali ini berbeda.
Karena di balik air mata itu…
mulai tumbuh harapan.
Di dalam rumah…
Ima masih ribut sendiri belajar pelajaran SMP.
“Mbak!”
“Apa lagi?”
“Kalau nanti aku lulus…”
“Aku ikut Mbak sekolah di kota juga!”
Yanti langsung tertawa kecil.
“Belajar dulu yang bener.”
“Hahaha!”
Suara tawa kecil itu memenuhi rumah sederhana mereka.
Dan untuk pertama kalinya sejak kehilangan besar itu…
rumah Yanti kembali terasa hangat.
Malam semakin larut.
Lampu minyak mulai redup.
Namun di hati Yanti…
perlahan muncul cahaya baru.
Bukan lagi tentang cinta pertama.
Bukan lagi tentang kehilangan.
Melainkan tentang masa depan.
Tentang bangkit.
Dan tentang seorang gadis desa bernama Sinok…
yang akhirnya mulai belajar berdiri dengan kekuatannya sendiri.
EPILOG
MENUJU HARI ESOK
Subuh masih gelap ketika Desa Tegorejo mulai terbangun perlahan.
Suara ayam jantan bersahutan dari kejauhan.
Kabut tipis turun di antara sawah-sawah yang membentang panjang.
Dan di rumah sederhana di pinggir desa itu…
lampu dapur sudah menyala sejak dini hari.
Bu Rosmiyati sibuk menyiapkan bekal.
Nasi hangat dibungkus daun pisang.
Tempe goreng dimasukkan ke rantang kecil.
Sesekali ia mengusap matanya sendiri.
Entah karena asap tungku…
atau karena hatinya mulai berat melepas anak gadisnya pergi sekolah jauh.
Sementara itu…
di kamar kecil dekat ruang tengah…
Yanti duduk di tepi ranjang sambil memandangi koper biru tuanya.
Tidak banyak isi koper itu.
Beberapa baju.
Seragam baru abu-abu putih.
Mukena.
Buku tulis.
Dan sebuah pita cokelat kecil yang masih ia simpan rapi di sela buku.
Pemberian Riyadi dulu.
Yanti tersenyum kecil.
Begitu banyak hal sudah terjadi dalam hidupnya.
Tentang cinta pertama yang kandas.
Tentang kehilangan.
Tentang air mata di bawah pohon trembesi.
Tentang malam-malam panjang yang terasa sunyi.
Dan tentang orang-orang yang pernah mengisi hatinya…
lalu pergi meninggalkan kenangan.
Mas Nur.
Kakang Riyadi.
Semua pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
Dan meski luka itu belum benar-benar hilang…
kini Yanti mulai mengerti satu hal:
bahwa hidup harus terus berjalan.
“Nduk…” panggil Bu Rosmiyati lembut dari luar kamar.
“Iya Bu…”
“Sudah siap?”
Yanti menarik napas panjang.
Lalu mengangguk kecil.
“Sudah.”
Di ruang depan…
Ima sudah duduk sambil mengunyah singkong goreng.
Matanya masih setengah mengantuk.
“Heh Mbak…”
“Apa?”
“Kalau nanti punya teman baru…”
“Jangan lupa sama aku.”
Yanti tertawa kecil.
“Bawel.”
Ima langsung memeluk kakaknya erat.
Dan untuk sesaat…
Yanti merasa hangat sekali.
Tak lama kemudian…
ibunya memanggil dari depan rumah.
“Bus pagi nanti lewat cepat.”
“Iya bu!”
Suasana rumah mendadak sibuk.
Tetangga dekat mulai berdatangan untuk berpamitan.
“Wah Yanti sekarang sekolah di Klaten.”
“Pinter ya…”
“Jangan lupa pulang.”
Yanti hanya tersenyum malu.
Namun jauh di dalam hatinya…
ia sedang berjanji pada dirinya sendiri.
Bahwa ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Perjalanan menuju Klaten dimulai saat matahari mulai muncul dari balik persawahan.
Bus tua yang mereka naiki bergerak perlahan meninggalkan Tegorejo.
Yanti duduk dekat jendela.
Memandangi desa yang perlahan menjauh.
Warung kecil dekat pertigaan.
Lapangan tempat mereka sering latihan karate.
Jalan menuju sekolah SMP.
Pohon trembesi itu…
semuanya perlahan tertinggal di belakang.
Dan anehnya…
kali ini Yanti tidak menangis.
Ia hanya diam.
Menikmati setiap kenangan yang lewat di kepalanya.
Ia teringat Dandang yang selalu membuat semua orang tertawa.
Teringat Yuli yang cerewet tapi perhatian.
Teringat Anita yang selalu menenangkan.
Teringat Bambang yang diam-diam selalu menjaganya.
Teringat Mas Nur…
cinta pertamanya yang mengajarkan rasa rindu dan kehilangan.
Dan teringat Riyadi…
yang selalu hadir saat hatinya runtuh.
Semua kenangan itu…
tidak lagi terasa seperti luka.
Melainkan bagian dari perjalanan hidup yang membuatnya tumbuh dewasa.
Bus terus melaju.
Melewati kota demi kota.
Sawah demi sawah.
Hingga akhirnya…
bangunan STM Tekstil Pedan mulai terlihat dari kejauhan.
Jantung Yanti berdegup pelan.
Ada gugup.
Ada takut.
Namun juga ada semangat baru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
“Inilah hidup baruku…”
gumamnya pelan.
Bu Rosmiyati menatap anaknya sambil tersenyum bangga.
“Kamu pasti bisa.”
Yanti mengangguk kecil.
“Iya Bu.”
Angin pagi berembus lembut saat ia turun dari bus.
Suasana sekolah baru itu terasa asing.
Namun langit pagi tampak begitu cerah.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
Yanti merasa masa depan tidak lagi menakutkan.
Karena kini…
ia bukan lagi gadis kecil yang hanya menangisi kehilangan.
Ia telah menjadi seseorang yang belajar bangkit dari luka.
Belajar menerima perpisahan.
Dan belajar berjalan menuju hidup yang lebih besar.
Di bawah langit Klaten yang biru…
Sinok melangkah perlahan memasuki gerbang STM Tekstil Pedan.
Meninggalkan masa SMP yang penuh cinta dan air mata.
Menuju hari esok yang belum ia kenal.
Namun kali ini…
dengan hati yang jauh lebih kuat.
Dan sebuah keyakinan kecil di dalam dirinya:
bahwa setiap kehilangan selalu membawa seseorang menuju versi terbaik dari dirinya sendiri.
Buku Kedua
RINDU DI BANGKU STM TEKSTIL PEDAN
“Tentang Seragam Putih Abu-Abu, Ruang Praktik yang Dingin, dan Seorang Gadis Desa yang Belajar Merajut Harapan di Antara Pelajaran dan Perasaan”
PROLOG
MERPATI TAK PERNAH INGKAR JANJI
Ada masa dalam hidup…
ketika seseorang datang bukan untuk tinggal selamanya.
Melainkan hanya untuk mengajarkan arti kehilangan.
Dan Yanti…
terlalu muda untuk memahami itu semua.
Malam itu…
angin Desa Tegorejo berembus pelan melewati sawah yang mulai menguning.
Suara jangkrik terdengar dari pematang.
Lampu-lampu rumah penduduk tampak redup kekuningan.
Dan di bawah pohon mangga depan rumah…
Yanti duduk sendirian sambil memeluk lututnya.
Matanya kosong.
Tatapannya jauh.
Seolah sebagian jiwanya ikut pergi bersama seseorang.
Sudah hampir tiga bulan…
Mas Nur tidak pernah kembali.
Tidak ada surat.
Tidak ada kabar.
Tidak ada pesan.
Ia pergi begitu saja ke Jakarta…
membawa semua janji yang dulu pernah diucapkannya di bawah langit sore Desa Tegorejo.
Dan yang paling menyakitkan…
ia pergi tanpa pamit.
“Heh…”
Suara Ima terdengar pelan dari belakang.
“Mbak belum tidur?”
Yanti menoleh kecil.
Belum sempat menjawab…
Ima sudah duduk di sampingnya.
“Masih mikirin Mas Nur ya?”
Yanti tersenyum kecil hambar.
“Enggak.”
“Bohong.”
“Bener.”
“Kalau enggak kenapa tiap malam duduk terus di sini?”
Yanti terdiam.
Karena bahkan dirinya sendiri tidak tahu…
apa yang sebenarnya sedang ia tunggu.
Mungkin…
suara langkah kaki.
Mungkin…
seseorang datang sambil tersenyum lalu berkata:
“Aku pulang…”
Atau mungkin…
ia hanya belum siap menerima kenyataan…
bahwa cinta pertamanya benar-benar pergi.
Ima memandangi kakaknya lama.
Lalu berkata pelan.
“Mbak…”
“Apa?”
“Kalau orang pergi…”
“Belum tentu lupa.”
Kalimat sederhana itu…
membuat dada Yanti terasa semakin sesak.
Di kejauhan…
langit malam Tegorejo tampak gelap.
Dan bagi Yanti…
desa itu sudah tidak lagi terasa sama.
Lapangan karate yang dulu penuh tawa…
kini hanya menyisakan kenangan.
Jalan kecil dekat kebun bambu…
masih mengingat langkah-langkah sore mereka dulu.
Pohon trembesi depan sekolah…
masih berdiri diam seperti saksi bisu semua tangis yang pernah jatuh di bawahnya.
Dan setiap sudut desa…
selalu mengingatkannya pada seseorang.
Mas Nur.
Namun kehilangan tidak berhenti di situ.
Karena beberapa bulan setelah Mas Nur pergi…
Kakang Riyadi juga meninggalkan Tegorejo.
Pergi menyusul Karwan ke Tangerang.
Tanpa pamit.
Tanpa pelukan terakhir.
Tanpa memberi kesempatan pada Yanti untuk berkata:
“Jangan pergi…”
Dan sejak saat itu…
hidup Yanti benar-benar berubah.
Dulu…
ia adalah gadis paling ramai di antara teman-temannya.
Tertawa paling keras.
Bercanda paling heboh.
Bahkan sering membuat satu kampung ribut hanya karena suara tawanya.
Namun sekarang…
ia lebih sering diam.
Lebih sering melamun.
Dan lebih sering menangis diam-diam di kamar.
Bu Rosmiyati sampai berkali-kali menghela napas melihat anak sulungnya berubah.
“Nduk…”
“Iya Bu…”
“Kamu nggak boleh terus begini.”
Yanti menunduk pelan.
“Aku capek Bu…”
“Capek apa?”
“Hidup.”
Kalimat itu membuat Bu Rosmiyati langsung menatap anaknya lekat.
“Kamu masih muda.”
“Tapi rasanya hati aku udah tua…”
Suara Yanti lirih.
“Semua orang pergi…”
Bu Rosmiyati mengusap kepala anaknya perlahan.
“Orang pergi bukan berarti hidup selesai.”
“Tapi rasanya sepi banget…”
“Maka kamu harus mulai hidup baru.”
Dan malam itulah…
untuk pertama kalinya…
Bu Rosmiyati mengucapkan nama sekolah itu.
STM Tekstil Pedan.
“Kamu sekolah saja di Klaten.”
Yanti langsung menoleh.
“Hah?”
“Biar suasananya baru.”
“Biar pikiranmu berubah.”
“Tapi jauh Bu…”
“Kadang…”
“Kalau hati terlalu penuh kenangan…”
“Manusia memang harus pergi sebentar.”
Yanti langsung diam.
Klaten.
Nama kota itu terasa asing baginya.
Ia belum pernah membayangkan hidup jauh dari rumah.
Jauh dari Tegorejo.
Jauh dari sawah.
Jauh dari suara adzan mushola kampung.
Dan jauh…
dari semua kenangan yang selama ini diam-diam masih ia peluk erat.
Namun hidup memang tidak pernah memberi manusia pilihan untuk terus diam di tempat yang sama.
Kadang…
seseorang harus berjalan meski hatinya belum siap.
Hari-hari setelah itu terasa cepat.
Pendaftaran sekolah.
Menjahit seragam baru.
Membeli buku tulis.
Mempersiapkan hidup baru.
Namun satu hal yang tidak pernah benar-benar siap adalah hati Yanti sendiri.
Malam sebelum keberangkatannya…
Yanti kembali duduk sendirian di bawah langit Tegorejo.
Angin malam terasa dingin.
Dan tanpa sadar…
ia kembali mengingat suara seseorang.
“Aku pengen jagain kamu terus…”
Air mata Yanti jatuh lagi.
“Heh…”
Suara itu masih jelas di kepalanya.
Suara Mas Nur.
Suara cinta pertamanya.
Suara yang dulu membuat dunia terasa hangat.
Namun kini…
hanya tinggal gema kenangan.
Yanti memejamkan mata pelan.
Lalu berbisik lirih pada malam.
“Mas…”
“Kalau benar merpati tak pernah ingkar janji…”
“Kenapa kamu nggak pernah pulang…”
Angin malam berembus pelan.
Membawa suara daun bambu bergesekan.
Namun tak ada jawaban.
Dan sejak malam itu…
perjalanan hidup Yanti benar-benar dimulai.
Perjalanan seorang gadis desa…
yang membawa luka menuju kota asing.
Perjalanan tentang persahabatan.
Tentang cinta yang posesif.
Tentang lelaki-lelaki yang datang silih berganti mengisi hidupnya.
Tentang kehilangan demi kehilangan.
Dan tentang seorang gadis yang perlahan belajar:
bahwa tidak semua orang yang kita cintai…
ditakdirkan untuk tinggal.
Di STM Tekstil Pedan nanti…
Yanti akan bertemu:
orang-orang baru,
dunia baru,
dan kisah baru.
Namun jauh di lubuk hati paling dalam…
ia tetap menyimpan satu nama.
Nama yang tidak pernah benar-benar pergi.
Mas Nur.
Dan tanpa Yanti sadari…
semua luka masa lalunya…
baru saja dimulai kembali.
BAB I
SENJA TERAKHIR DI BANGKU SMP
“Tentang Pengumuman Kelulusan, Masa Remaja yang Mulai Berakhir, dan Seorang Gadis Desa yang Bersiap Meninggalkan Kampung Halamannya…”
Pagi itu langit Tegorejo cerah. Matahari baru naik setinggi pohon kelapa. Embun masih menggantung di daun-daun singkong belakang rumah.
Namun berbeda dengan pagi biasanya, hari itu suasana kampung terasa jauh lebih ramai. Karena hari itu adalah hari pengumuman kelulusan SMP.
Di rumah sederhana berdinding papan itu, Yanti duduk diam di depan cermin kecil kamarnya. Seragam putih biru masih tergantung rapi di pintu. Sepatunya mulai kusam dimakan waktu.
Dan entah kenapa, semua benda itu terasa begitu berharga pagi ini. Seolah hari itu menjadi batas terakhir antara masa remaja dan kehidupan baru yang belum ia kenal.
“Heh Mbak!” Suara Ima muncul dari pintu sambil nyengir. “Kok belum siap?”
Yanti melirik malas. “Maleees…”
“Halah. Takut nggak lulus ya?”
Yanti langsung melempar bantal kecil. “Bawel!”
Ima kabur sambil tertawa ke dapur. Namun beberapa detik kemudian, senyum Yanti perlahan hilang lagi. Hari itu ia sadar satu hal: masa SMP-nya benar-benar akan selesai.
Bu Rosmiyati masuk lalu duduk di belakang Yanti. “Sini, rambutmu ibu rapikan.”
Perlahan ia menyisir rambut panjang anak gadisnya dengan penuh kasih sayang.
“Kamu harus semangat. Ini hari bahagia.”
Yanti tersenyum kecil. “Deg-degan malah.”
Ibunya lalu menatap wajah Yanti dari cermin kecil itu. “Kamu sekarang sudah besar. Sebentar lagi STM. Mau sekolah jauh.”
Yanti menunduk pelan. Ada rasa takut yang belum sempat ia ceritakan pada siapa pun. Takut meninggalkan rumah. Takut memasuki lingkungan baru. Takut memulai semuanya dari nol.
Tak lama kemudian, suara klakson sepeda terdengar dari depan rumah.
TINNN! TINNN!
“Heh Sinok! Ayo berangkat!” Dwi, gadis cerewet berambut sebahu itu, sudah berdiri di pagar sambil tertawa. “Heh jangan dandan lama-lama. Ini pengumuman kelulusan, bukan lomba putri Indonesia.”
Yanti manyun. “Biarin.”
“Hahaha!”
Perjalanan menuju SMP Pengandon pagi itu terasa berbeda. Jalan desa ramai oleh anak-anak berseragam. Ada yang tertawa keras, ada yang terlihat tegang, ada yang sibuk menebak nilai. Namun Yanti lebih banyak diam.
“Heh, kamu kok serius amat?” Dwi mengayuh di sampingnya.
“Biasa.”
“Mukamu kayak mau sidang pengadilan.”
Yanti tertawa kecil. “Lebay.”
Mereka melewati jalan kecil dekat kebun bambu. Angin pagi bertiup pelan. Dan tanpa sadar, langkah sepeda Yanti melambat. Karena jalan itu menyimpan terlalu banyak kenangan masa SMP. Tempat pulang sekolah. Tempat bercanda bersama teman-teman. Yanti tersenyum kecil sendiri.
Saat tiba di sekolah, halaman SMP Pengandon sudah penuh. Anak-anak bergerombol di depan papan pengumuman yang masih ditutup kain. Suasana benar-benar ramai.
Dandang berteriak dari kejauhan. “WOI KALAU GUE NGGAK LULUS, GUE JADI ARTIS!”
Bambang nyeletuk. “Modal muka dulu!”
Satu halaman pecah tertawa.
“Heh Sinok!” Yuli langsung memeluk Yanti. “Deg-degan nggak?”
“Lumayan.”
Dandang datang sambil sok dramatis. “Kalau kita nggak lulus, kita bikin grup dangdut. Namanya Air Mata Pendidikan!”
Bahkan beberapa guru ikut tertawa.
Bel sekolah berbunyi. Kepala sekolah naik ke podium memberikan sambutan panjang tentang perjuangan dan masa depan. Namun sebagian anak malah sibuk sendiri. Dandang berbisik, “Kalau pidato Pak Kepala Sekolah dijual, mungkin bisa buat selimut.”
Bambang menyikutnya. “Diam woi!”
Akhirnya pengumuman dibuka. Anak-anak berdesakan mendekati papan nilai. Suasana kacau. Ada yang berteriak histeris, ada yang meloncat kegirangan.
Yanti berdiri diam. Tangannya mulai dingin. Dadanya berdebar kencang. Matanya mencari namanya sendiri di antara deretan panjang murid.
Sampai akhirnya ia menemukannya.
YANTI — LULUS
Air matanya langsung jatuh.
“Heh Sinok! Kamu lulus!” Dwi memeluknya keras.
“ALHAMDULILLAH!” teriak Yuli.
Dandang malah naik kursi. “AKHIRNYA NEGARA INI SELAMAT! KITA RESMI JADI PENGANGGURAN TERDIDIK!”
Satu sekolah kembali pecah tertawa.
Namun di tengah keramaian itu, Yanti perlahan menjauh. Langkahnya membawanya ke belakang sekolah, ke dekat pohon trembesi tua. Tempat yang selama ini selalu terasa teduh bagi masa remajanya.
Angin siang bertiup lembut. Daun-daun kecil berguguran ke tanah. Dan di bawah pohon itu, Yanti duduk diam sambil memandangi halaman sekolah dari kejauhan.
“Aku lulus,” lirihnya sambil tersenyum kecil.
Namun anehnya, ada rasa haru yang sulit dijelaskan. Bukan sedih, bukan juga bahagia sepenuhnya. Melainkan perasaan kehilangan masa yang tidak akan pernah kembali.
“Heh, kamu malah ngumpet di sini.” Bambang datang lalu duduk di sampingnya.
“Rame banget di depan,” jawab Yanti.
“Kamu jadi sekolah ke Klaten? STM Tekstil ya? Jauh juga.”
Yanti mengangguk pelan.
Bambang menatap halaman sekolah beberapa saat. “Cepat banget ya. Kita udah lulus aja. Padahal dulu kita masih rebutan bangku depan. Terus Dandang pernah dihukum gara-gara tidur di kelas.”
Yanti tertawa. “Yang ngiler di meja itu?”
“Iya!”
Mereka tertawa bersama cukup lama.
“Heh Sinok, nanti kalau udah jauh, jangan lupa pulang.”
Yanti tersenyum hangat. “Memangnya aku mau jadi TKI?”
“Hahaha!”
Sore harinya, sepulang dari sekolah, Yanti kembali melewati jalan kecil dekat sawah. Langit mulai berubah jingga. Angin sore bertiup lembut. Ia mengayuh sepeda pelan sambil memandangi langit senja Tegorejo.
Dan entah kenapa, hatinya mulai berbisik pelan.
“Hidupku bakal berubah…”
Ia tahu, setelah hari itu, tak akan ada lagi seragam putih biru. Tak akan ada lagi kelas kecil SMP Pengandon. Tak akan ada lagi masa remaja sederhana yang selama ini ia jalani.
Karena setelah senja itu, hidup baru sudah menunggunya.
Dan perjalanan menuju STM Tekstil Pedan…
baru saja dimulai.
BAB II
JALAN PANJANG MENUJU PEDAN
“Tentang Terminal Kecil, Tangis yang Disembunyikan, dan Langkah Pertama Meninggalkan Tegorejo”
Pagi itu Desa Tegorejo masih diselimuti embun tipis. Udara dingin turun dari arah persawahan. Suara ayam berkokok bersahutan dari belakang rumah-rumah warga.
Namun pagi itu berbeda. Tidak ada suara Yanti bernyanyi sambil menyapu halaman. Tidak ada suara cekcok kecil antara Yanti dan Ima. Tidak ada tawa keras seperti biasanya.
Karena pagi itu adalah pagi keberangkatan Yanti menuju Klaten. Menuju STM Tekstil Pedan. Menuju kehidupan baru yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
Yanti duduk diam di dipan bambu ruang tengah. Di sebelahnya ada koper kecil warna cokelat tua milik almarhum ayahnya. Sudah kusam. Pegangannya mulai retak. Namun koper itu tetap dipakai Bu Rosmiyati karena hanya itu yang paling layak.
Beberapa baju sudah dilipat rapi di dalamnya. Seragam putih abu-abu baru. Mukena. Handuk kecil. Buku tulis. Dan satu foto lama yang diam-diam disimpan Yanti di sela pakaian — foto dirinya bersama Mas Nur saat acara pentas seni SMP dulu.
Yanti memegang foto itu cukup lama. Lalu perlahan memasukkannya kembali ke koper.
“Nduk, makan dulu,” panggil Bu Rosmiyati dari dapur.
Yanti menghela napas lalu berjalan ke meja kayu yang sudah berisi nasi hangat, telur dadar, dan sayur bening. Masakan sederhana. Namun pagi itu rasanya jauh lebih berat dari biasanya.
Ima duduk sambil memperhatikan kakaknya. “Kak, nanti kalau udah sekolah di Klaten jangan lupa sama Ima ya.”
Yanti tersenyum kecil. “Apaan sih…”
“Serius. Takutnya kakak punya temen baru terus lupa.”
Yanti mencubit pipinya pelan. “Bawel.”
Namun beberapa detik kemudian mata Ima mulai berkaca-kaca. “Kak, nanti kalau ada yang jahat sama kakak gimana…”
Kalimat itu langsung membuat suasana mendadak hening. Bu Rosmiyati yang sedang menuang teh pun ikut diam. Karena sebenarnya, itulah yang paling mereka khawatirkan. Yanti akan sekolah jauh. Naik bus sendiri. Tinggal di tempat baru. Bertemu orang-orang baru. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, ia harus belajar berdiri tanpa orang-orang yang dulu selalu ada di dekatnya.
Bu Rosmiyati akhirnya duduk di dekat anak gadisnya. “Nduk, sekolah yang bener. Jangan neko-neko. Jaga diri baik-baik.”
Yanti mengangguk pelan.
“Ibu tahu kamu masih sedih. Ibu juga tahu kamu masih mikirin Nur.”
Yanti langsung menunduk. Air matanya terasa penuh di pelupuk mata, namun ia buru-buru menahannya.
“Bu, kalau orang pergi tanpa pamit, berarti dia nggak sayang ya?”
Bu Rosmiyati terdiam cukup lama. “Kadang orang pergi bukan karena nggak sayang. Tapi karena hidupnya belum selesai.”
Yanti kembali menunduk. Dadanya sesak.
Tak lama kemudian suara klakson colt bak terbuka terdengar dari depan rumah. “TIN! Udah siap belum?!” teriak Pakde Sastro dari luar.
“Itu pakdemu datang.”
Yanti buru-buru mengusap air matanya.
Saat keluar rumah, beberapa tetangga sudah berdiri di pinggir jalan.
“Eh Yanti arep sekolah ning Klaten ya? Sing pinter ya nduk! Jangan lupa kampung!”
Yanti mencoba tersenyum. Namun hatinya tetap berat.
Koper kecil dimasukkan ke belakang colt. Ima langsung memeluk kakaknya erat.
“Kak, kalau kangen gimana…”
Yanti tertawa kecil sambil ikut menangis. “Ya surat-suratan.”
“Bener ya?”
“Iya.”
Bu Rosmiyati ikut memeluk anak gadisnya. Tidak banyak kata. Namun pelukan itu sudah cukup menjelaskan segalanya.
Colt mulai berjalan perlahan meninggalkan rumah. Yanti menoleh ke belakang. Rumah kecilnya makin jauh. Pohon mangga depan rumah. Jemuran. Pagar bambu. Semua perlahan mengecil.
Dan entah kenapa, dadanya terasa sangat sesak.
Sepanjang perjalanan menuju Weleri, Yanti lebih banyak diam. Pakde Sastro beberapa kali mencoba menghibur.
“Nanti kalau udah STM jangan galak-galak ya.”
Yanti tersenyum kecil. “Memangnya aku galak?”
“Lho kamu kalau marah kayak mandor tebu.”
“Hehehe…”
Namun tawanya cepat hilang lagi.
Terminal Weleri pagi itu ramai. Suara kondektur saling bersahutan. “Asli Solooo! Semarang Semarang! Jogja langsung!” Pedagang asongan mondar-mandir menawarkan makanan. Suasana bising. Panas. Dan melelahkan.
Pakde membantu membawakan koper Yanti. “Nanti turun Pedan jangan sampai kelewatan. Kalau bingung tanya orang. Jangan malu.”
Yanti mengangguk pelan.
Tak lama kemudian bus jurusan Solo datang. Bus tua dengan cat mulai pudar. Namun bagi Yanti, itulah kendaraan menuju masa depannya.
Saat naik ke bus, Yanti kembali menoleh ke belakang. Pakde Sastro melambaikan tangan.
“Hati-hatiii!”
“Iya Pakde!”
Bus mulai berjalan perlahan. Dan untuk pertama kalinya, Yanti benar-benar meninggalkan Tegorejo.
Perjalanan terasa panjang. Sawah demi sawah berganti. Kota demi kota terlewati. Yanti duduk dekat jendela sambil memeluk tas kecilnya. Angin masuk lewat kaca bus yang terbuka separuh.
Namun pikirannya terus kembali pada masa lalu. Tentang Mas Nur. Tentang Kakang Riyadi. Tentang malam-malam latihan karate. Tentang tawa di bawah pohon trembesi.
Air mata Yanti kembali jatuh diam-diam. Ia buru-buru menghapusnya sebelum penumpang lain melihat.
Menjelang sore, bus akhirnya memasuki wilayah Klaten. Suasana mulai berbeda. Jalan lebih ramai. Motor berseliweran. Banyak pelajar berseragam putih abu-abu.
Dan saat bus melewati papan besar bertuliskan “PEDAN” , jantung Yanti langsung berdegup lebih cepat.
“Inggih mbak… Pedan…” kata kondektur.
Yanti buru-buru berdiri sambil membawa koper. Tangannya dingin. Kakinya gemetar. Namun ia tetap turun.
Dan saat kedua kakinya menginjak kota kecil itu, Yanti menarik napas panjang. Langit sore mulai jingga. Kehidupan baru sudah menunggunya di depan sana.
Namun Yanti belum tahu bahwa di kota kecil bernama Pedan itu, ia akan menemukan persahabatan baru, luka baru, cinta baru, dan kehilangan yang jauh lebih rumit dari yang pernah ia alami sebelumnya.
Dan tanpa sadar, langkah kecilnya sore itu sedang membawanya menuju masa paling liar dalam hidupnya.
BAB III
ASRAMA, SERAGAM PUTIH ABU-ABU, DAN DUNIA BARU
“Tentang Lorong Sekolah yang Asing, Tatapan Puluhan Cowok STM, dan Seorang Gadis Desa yang Mulai Belajar Bertahan”
Sore pertama di Pedan, Yanti berdiri bingung di depan terminal kecil. Koper tua di genggamannya. Orang-orang berlalu lalang. Becak, sepeda, bus kecil, pedagang kaki lima. Suara klakson bersahutan.
Berbeda dengan Tegorejo yang tenang. Di sini semuanya lebih cepat, lebih ramai, lebih asing.
Namun sebelum sempat bertanya-tanya lebih lama, bangunan sekolah itu sudah terlihat di kejauhan. Gedung panjang bercat krem kusam. Pagar besi besar. Dan tulisan: “STM TEKSTIL PEDAN”
Jantung Yanti berdegup lebih cepat.
Di halaman sekolah, beberapa siswa masih berkumpul. Mayoritas laki-laki. Suara mereka keras, tertawa bebas. Ada yang duduk di motor, ada yang main gitar. Dan saat melihat Yanti masuk gerbang, beberapa langsung menoleh.
“Heh anak baru… cewek tuh?”
Yanti menunduk sambil mempercepat langkah.
Namun baru beberapa meter berjalan — BRAK! Seseorang menabrak kopernya dari belakang.
“Aduh! Eh maaf! Maaf!”
Seorang cowok kurus tinggi dengan rambut sedikit gondrong tersenyum kocak. “Maaf mbak… eh siswi baru ya?”
Yanti mengangguk kecil.
Cowok itu langsung nyengir. “Selamat datang di hutan binatang.”
“Hah?”
Belum sempat Yanti menjawab, teman-temannya sudah tertawa. “Ahmad jangan nakut-nakutin!”
“Oh iya lupa kenalan. Ahmad.” Ia mengulurkan tangan.
“Yanti…”
“Oalah Yanti.” Ahmad langsung berteriak ke teman-temannya. “WOI ADA CEWEK BARU!”
Yanti malu setengah mati.
Dari kejauhan, seorang cowok bertubuh tinggi berjalan santai melewati mereka. Langkahnya tenang. Tatapannya tajam. Dan anehnya, begitu dia lewat, suasana di sekitar langsung berubah lebih sunyi.
Yanti menatap punggung cowok itu yang menjauh. “Siapa itu?”
Ahmad tersenyum misterius. “Toro. Cowok paling ditakuti di STM.”
Yanti mengernyit bingung. Namun sebelum sempat bertanya lebih lanjut, seorang perempuan berkacamata keluar dari kantor sekolah.
“Kamu Yanti dari Kendal? Saya Bu Rina, wali asrama putri. Yuk ikut.”
Asrama putri berada di belakang sekolah. Bangunan sederhana dua lantai, catnya mulai pudar namun cukup bersih.
“Ini Yanti. Nanti satu kamar sama Dwi, Tina, sama Siti,” kata Bu Rina.
Tiga gadis langsung berdiri.
Yang pertama mendekat, cewek berambut pendek sebahu dengan senyum tenang. “Hai, aku Dwi.”
Yang kedua langsung heboh sendiri. “YA AMPUN AKHIRNYA ADA TEMEN BARU! Aku Tina!” Belum sempat Yanti menjawab, Tina sudah menarik kopernya masuk kamar.
Sementara satu lagi hanya duduk diam di pojok sambil membaca buku. “Siti,” katanya pendek.
Tina berbisik, “Dia emang gitu. Hemat bicara.”
Kamar mereka sederhana. Empat ranjang besi, lemari kecil, jendela kayu besar. “Yang kosong ini buat kamu,” kata Dwi menunjuk ranjang dekat jendela.
Malam mulai turun. Untuk pertama kalinya Yanti benar-benar sadar — ia jauh dari rumah.
Setelah makan malam, mereka mengobrol santai. “Kamu dari mana?” tanya Tina.
“Tegorejo, Kendal.”
“Oalah jauh juga. Masuk jurusan apa?”
“Pemintalan.”
“Wih cewek kuat.”
Untuk pertama kalinya sejak datang, Yanti mulai tertawa kecil lagi.
Namun tiba-tiba suara teriakan cowok terdengar dari luar asrama. “WOI ANAK BARU!”
Yanti mengintip dari jendela. Di luar pagar, belasan cowok berdiri sambil tertawa-tawa. “Heh yang jilbab biru namanya siapa?! Cakep juga!”
Yanti langsung menutup jendela cepat-cepat. Mukanya merah total.
Tina malah ngakak. “Selamat. Kamu baru sehari udah terkenal.”
Dwi tersenyum. “Nanti juga biasa. Di sini cewek sedikit, jadi pasti diperhatiin.”
Yanti langsung lemas. Dalam hati ia mulai berpikir: “Ya Allah… ini sekolah apa…”
Keesokan paginya, hari pertama MOS dimulai. Lapangan sekolah sudah ramai. Puluhan siswa baru berbaris memakai seragam putih abu-abu. Jumlah cowok jauh lebih banyak.
Saat Yanti datang bersama Dwi, Tina, dan Siti, hampir semua mata langsung menoleh.
“Heh itu cewek baru kemarin. Cakep.”
Yanti gugup. “Tenang aja,” kata Dwi pelan. “Nanti juga mereka bosan.” Tina langsung nyeletuk, “Bohong.”
Saat itulah Toro lewat di depan barisan. Langkahnya santai. Tatapannya tajam. Semua anak langsung diam.
Cowok itu tiba-tiba berhenti. Lalu menoleh ke arah barisan cewek. Dan untuk beberapa detik, tatapannya berhenti tepat pada Yanti.
Jantung Yanti berdetak aneh.
Toro hanya diam beberapa detik, lalu berjalan lagi tanpa bicara. Namun Tina langsung heboh. “WADUH, dia ngelihat kamu!”
Dwi ikut serius. “Kalau Toro mulai tertarik sama seseorang, biasanya nggak pernah setengah-setengah.”
Yanti makin bingung. Namun jauh di dalam hatinya, ia mulai merasa — hari pertamanya di STM Pedan baru saja membuka pintu menuju kisah yang akan mengubah hidupnya selamanya.
BAB IV
EMPAT CEWEK DAN TIGA PULUH LIMA COWOK
“Tentang Kelas yang Berisik, Candaan Anak STM, dan Seorang Gadis Desa yang Mendadak Jadi Pusat Perhatian”
Hari pertama masuk kelas menjadi salah satu hari paling melelahkan bagi Yanti. Bukan karena pelajaran, bukan karena tugas, tetapi karena tatapan puluhan anak laki-laki yang seolah tak pernah berhenti memperhatikannya.
Pagi itu bel pertama berbunyi nyaring. Suasana koridor STM Tekstil Pedan langsung riuh. Suara sepatu, teriakan, candaan kasar ala anak STM, dan bau oli dari ruang praktik bercampur dengan udara pagi.
Yanti berjalan bersama Dwi menuju kelas. Tangannya memeluk buku erat. Ia gugup. Sangat gugup.
“Kamu tegang banget,” kata Dwi sambil tersenyum.
“Ya iyalah… cowoknya banyak banget.”
Dwi tertawa. “Baru tahu?”
“Aku kira seimbang…”
“HAHAHAHA!”
Saat sampai di depan kelas, Yanti berhenti. Tulisan besar di pintu: “1 TEX A”. Dari dalam, suara gaduh terdengar seperti pasar malam.
“Heh goblok jangan dilempar!” “WOI BANGKU GUE!”
Yanti melirik Dwi panik. “Ini kelas?”
“Iya.”
“Serius?”
“Iya.”
“Ya Allah…”
Baru saja mereka masuk, SEMUA LANGSUNG DIAM. Puluhan pasang mata langsung menatap Yanti.
Dwi menarik tangan Yanti masuk. “Udah biasa.” Namun jelas Yanti belum biasa sama sekali.
Di kelas itu hanya ada empat perempuan: Yanti, Dwi, Tina, dan Siti. Sisanya cowok semua. Tiga puluh lima orang.
“SELAMAT DATANG DI KEBUN BINATANG!” teriak seseorang dari belakang. Satu kelas tertawa. Ternyata Ahmad, cowok humoris yang kemarin menabrak koper Yanti.
“Nama lengkap siapa?” teriaknya lagi.
“WOI jangan diteriakin!” kata Dwi kesal.
Ahmad malah makin semangat. “Perkenalan dong!”
Guru belum datang. Tina menunjuk bangku kosong. Yanti cepat-cepat duduk.
Seorang cowok berkacamata langsung maju. “Kalau butuh catatan nanti pinjam aja. Aku Deni.” Tina berbisik, “Dia idealis. Sedikit-sedikit ngomong masa depan bangsa.”
Belum selesai, cowok lain datang membawa penggaris panjang lalu mengukur meja Yanti. Semua tertawa. “Herman. Anak paling aneh sekelas,” kata Tina. Herman menatap Yanti serius. “Kalau kamu duduk di sini, meja kelas jadi lebih indah.” Yanti malu setengah mati.
Tak lama kemudian guru masuk.
“SELAMAT PAGI!” teriak semua siswa.
Pak guru menaruh buku tebal di meja. “Kelas ini lengkap?”
“Lengkap Pak!”
“Yang perempuan empat?”
“Iya Pak.”
Matanya berhenti pada Yanti. “Kamu murid baru dari Kendal? Semoga betah di sini.”
Dari belakang, Ahmad nyeletuk pelan, “Kalau nggak betah sama aku aja.” PLAK! Kepalanya langsung dipukul Herman.
Jam istirahat tiba. Suasana langsung kacau. “Heh kantin yuk!” “WOI traktir!”
Tina menarik tangan Yanti. “Ayo.”
Kantin STM sederhana. Bangunan semi terbuka dengan meja panjang kayu. Bau gorengan dan kopi bercampur. Dan lagi-lagi, semua mata tertuju pada Yanti.
“Anak baru tuh. Cakep asli.”
Yanti gugup. “Kenapa semua lihat aku terus…”
Tina tertawa. “Karena di sini cewek langka. Kayak panda.”
“HHAHAHAHA!”
Saat sedang makan, seseorang duduk di depan mereka. Cowok tinggi, kulit sawo matang, tatapan tenang.
“Boleh duduk?”
“Oh iya…”
Cowok itu tersenyum kecil. “Aku Riyadi.”
Nama itu membuat Yanti sedikit terdiam. Karena mengingatkannya pada Kakang Riyadi di Tegorejo.
“Kamu dari Kendal ya? Naik bus sendiri? Hebat juga.” Yanti tersenyum kecil.
Berbeda dari cowok lain, Riyadi tidak banyak bercanda. Nada bicaranya tenang. Matanya teduh. “Kalau butuh bantuan, bilang aja.”
Belum sempat lanjut ngobrol, Ahmad datang. “WOI RIYADI, cepet amat deketin anak baru.” Riyadi geleng-geleng kepala.
Namun sebelum suasana makin ramai, semua mendadak diam.
Toro masuk kantin. Langkahnya santai, tapi auranya membuat anak-anak otomatis minggir. Ia berjalan perlahan sambil memasukkan tangan ke saku. Tatapannya tajam.
Saat melewati meja Yanti, ia berhenti.
Beberapa detik suasana benar-benar sunyi.
Toro menatap Yanti. “Anak baru?”
“I… iya…”
Toro mengangguk kecil lalu berjalan lagi tanpa senyum. Namun setelah ia pergi, suasana kantin langsung meledak.
“WADUH, Toro ngomong sama dia. Bahaya.”
Yanti makin bingung. “Ada apa sih…”
Riyadi hanya diam sambil meminum tehnya. Namun untuk pertama kalinya, ia mulai merasa tidak nyaman.
Dan Yanti belum tahu bahwa hari-hari berikutnya akan membuat hidupnya jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan. Karena di STM Pedan, persahabatan, cinta, dan pertarungan harga diri sering kali tumbuh bersamaan.
BAB V
GADIS DESA YANG JADI PUSAT PERHATIAN
“Tentang Lorong STM, Candaan yang Mulai Berlebihan, dan Seorang Gadis Tomboy yang Tidak Pernah Sadar Dirinya Istimewa”
Hari-hari pertama di STM Tekstil Pedan berjalan semakin cepat. Tanpa Yanti sadari, namanya mulai dikenal hampir satu sekolah.
Bukan karena ia mencari perhatian. Justru sebaliknya. Yanti tidak jaim, tidak manja, dan berani bicara dengan siapa saja. Dan entah kenapa, sifat tomboynya justru membuat banyak orang memperhatikannya.
Pagi itu, Yanti berjalan bersama Tina menuju kelas. Baru beberapa langkah, teriakan khas terdengar.
“WOI KENDAL!”
Ahmad berdiri di atas bangku sambil melambai. Yanti menggeleng. “Apaan sih…”
“Yantiii! Kalau nggak mau dipanggil, traktir es dulu!”
Anak-anak lain tertawa. Tina nyengir. “Tuh kan. Kamu udah terkenal.”
Begitu masuk kelas, Herman langsung muncul membawa bunga plastik. Ia berlutut dramatis di depan meja Yanti. “Terimalah bunga ini.”
Satu kelas pecah. Yanti menutup muka pakai buku. “Malu tau!”
Ahmad nyeletuk, “Herman kalau nembak tuh mandi dulu!”
Pelajaran praktik tekstil dimulai. Ruangan besar, bising, penuh mesin. Bau oli dan kapas bercampur jadi satu. Yanti mengeluh pelan, “Ya Allah…”
Tina tertawa. “Baru mulai. Nanti kalau mesin hidup semua, kupingmu mau copot.”
Anak-anak cowok terlihat santai. Sementara Yanti masih bingung sendiri.
Saat itulah Riyadi datang mendekat. “Kamu belum ngerti?”
“Iya…”
Dengan sabar ia menjelaskan, menunjuk bagian-bagian mesin satu per satu. Nadanya pelan, tenang. Berbeda dari anak STM kebanyakan.
“Nah ini buat narik serat. Kalau ini pengatur gulungan.”
“Oh… makasih.”
Riyadi tersenyum kecil. Dari kejauhan, Ahmad berbisik ke Aris, “Riyadi mulai.” Aris tertawa. “Anak pendiem kalau jatuh cinta serem.”
Riyadi melotot. “Berisik lu.” Tapi telinganya memerah.
Jam istirahat, mereka duduk di bawah pohon dekat lapangan. Muji bertanya, “Kamu dulu SMP di mana?”
“Pengandon.”
“Berarti udah biasa dikerubungi cowok dong?”
Yanti melempar tisu ke arahnya. “Ngawur!”
Namun sebelum suasana makin ramai, Toro datang. Semua langsung diam. Ia berdiri memandang Yanti cukup lama.
“Nama kamu Yanti kan? Kendal?”
“Iya…”
Toro mengangguk lalu duduk begitu saja di bangku dekat mereka. Suasana canggung. Bahkan Ahmad yang paling cerewet ikut diam.
“Kamu betah di sini?”
“Lumayan…”
“Kalau ada yang ganggu, bilang.”
Ahmad hampir keselek teh. Yanti bengong. “I… iya…”
Toro berdiri lagi. “Ya udah.” Lalu pergi.
Begitu ia menghilang, semua langsung ribut. “ASTAGA, dia perhatian sama Yanti. Fix kacau.”
Yanti makin bingung. “Emang kenapa sih sama dia?”
Muji berbisik, “Toro paling disegani di sekolah. Kalau marah, bisa satu sekolah diem.”
Ahmad nyeletuk, “Dia mah preman akademik.”
Riyadi hanya diam. Untuk pertama kalinya, ia merasa takut kehilangan sesuatu sebelum benar-benar memilikinya.
Sore harinya, Yanti duduk sendirian di jendela asrama. Langit Pedan mulai jingga.
Hari-harinya kini terasa jauh berbeda dari Tegorejo. Lebih ramai, lebih liar, lebih melelahkan. Namun anehnya, sedikit demi sedikit, hatinya mulai hidup kembali.
Meski jauh di lubuk hati, ia masih sering memikirkan satu nama.
Mas Nur.
BAB VI
RIYADI YANG SELALU DIAM-DIAM MENJAGA
“Tentang Perhatian Kecil yang Tidak Pernah Diminta, Jalan Pulang yang Selalu Ditemani, dan Hati yang Perlahan Belajar Nyaman Lagi”
Hari-hari di STM Tekstil Pedan mulai berjalan lebih cepat. Yanti perlahan terbiasa dengan suara mesin praktik, terbiasa dengan kelas yang selalu gaduh, terbiasa dengan candaan Ahmad yang tak pernah ada habisnya.
Namun ada satu hal yang belum benar-benar ia sadari — sejak awal masuk sekolah, selalu ada seseorang yang diam-diam memperhatikannya. Riyadi. Teman sekelasnya yang pendiam itu. Bukan Kakang Riyadi di Tegorejo yang sudah merantau ke Tangerang, melainkan Riyadi yang berbeda.
Cowok itu memang tidak seperti Ahmad yang suka cari perhatian. Tidak juga seperti beberapa anak laki-laki lain yang mulai terang-terangan mendekati Yanti. Riyadi lebih banyak diam. Namun justru karena diam itulah, perhatian-perhatian kecilnya terasa berbeda.
Dan Yanti seringkali berpikir dalam hati — namanya sama dengan Kakang Riyadi, tapi sifatnya berbeda. Kakang Riyadi dulu lebih banyak bercanda dan melindungi dengan cara yang hangat. Sedangkan Riyadi yang ini... pendiam. Hampir tidak pernah bicara banyak. Tapi justru itu yang membuatnya terasa hangat dengan cara yang baru.
Pagi itu udara Pedan cukup dingin setelah hujan semalaman. Yanti datang agak terlambat sambil ngos-ngosan.
“Heh, Pak Wiryo masuk belum?”
Tina menunjuk depan kelas. “Belum. Tapi bentar lagi.”
Yanti buru-buru duduk. Dan baru sadar — di atas mejanya sudah ada segelas teh hangat.
Dwi melirik sambil nyengir. “Tuh. Ada malaikat lewat tadi pagi.”
Yanti menoleh. Riyadi sedang duduk di bangku belakang sambil membaca buku. Seolah tidak terjadi apa-apa.
Yanti mendekat pelan. “Heh, ini kamu yang beli?”
Riyadi mengangkat kepala. “Oh… iya.”
“Kok repot-repot?”
Ia mengangkat bahu kecil. “Tadi lihat kamu datang kehujanan.”
Yanti diam beberapa detik. Kalimat sederhana. Tapi hangat sekali.
Ahmad yang melihat langsung nyeletuk keras. “WOOOO! Bapak Riyadi mulai bergerak!” Satu kelas ribut. Yanti buru-buru kembali ke tempat duduk sambil malu. “Berisik banget sih!”
Sejak hari itu Yanti mulai memperhatikan Riyadi lebih sering. Dan ia baru sadar — cowok pendiam itu selalu ada saat ia butuh bantuan.
Saat praktik dan benangnya kusut, Riyadi yang membantu. Saat Yanti lupa membawa penggaris, Riyadi meminjamkan. Saat Yanti tertidur di kelas karena kecapekan, Riyadi diam-diam menutup jendela agar angin tidak terlalu dingin.
Hal-hal kecil. Namun terus berulang. Dan tanpa sadar, perlahan membuat hati Yanti nyaman.
Sore hari sepulang sekolah, mereka sering berjalan bersama menuju jalan besar. Biasanya ramai-ramai: Yanti, Dwi, Ahmad, Muji, Aris, dan Riyadi.
Namun hari itu hanya Yanti dan Riyadi yang tersisa. Ahmad pulang duluan. Dwi diajak Tina ke pasar. Muji dan Aris masih praktik tambahan.
Jalanan sore sepi. Langit mulai jingga. Yanti tiba-tiba jadi kikuk sendiri.
Riyadi membuka suara lebih dulu. “Kamu masih sering kepikiran rumah?”
Yanti tersenyum kecil. “Masih.”
“Kangen?”
“Iya.”
“Pulang aja.”
“Nggak bisa semudah itu.”
Riyadi mengangguk pelan. “Aku tahu.”
Mereka kembali diam. Lalu tiba-tiba Riyadi berkata pelan, “Kamu sebenarnya kuat.”
Yanti menoleh. “Hah?”
“Kamu keliatan ceria… padahal sebenarnya banyak sedihnya.”
Kalimat itu membuat langkah Yanti melambat. Karena untuk pertama kalinya ada seseorang yang benar-benar melihat sisi rapuhnya.
“Kamu sok tahu.”
Riyadi tertawa kecil. “Sedikit.”
Yanti ikut tersenyum. Berjalan pulang bersamanya terasa nyaman. Tidak memaksa. Tidak membuat sesak. Berbeda dengan luka-luka cinta yang dulu pernah ia rasakan.
Hari-hari berikutnya kedekatan mereka mulai jadi bahan olokan satu kelas.
“Heh Yanti! Bodyguardmu belum datang tuh!” Ahmad langsung menunjuk Riyadi yang baru masuk kelas. “TUH DATANG!”
Riyadi cuma geleng-geleng kepala. Yanti melempar kapur ke Ahmad. “Mulutmu nggak bisa diem ya!”
Namun sebenarnya Yanti tidak marah. Karena jauh di dalam dirinya, ia memang mulai merasa nyaman dengan keberadaan Riyadi.
Suatu siang jam olahraga selesai lebih cepat. Yanti terlihat lemas karena belum sarapan.
“Heh kamu pucet,” kata Dwi.
“Nggak apa-apa.”
Namun beberapa detik kemudian perut Yanti berbunyi keras. KRUUUKKK…
Satu kelompok langsung ngakak. Yanti menutup muka malu. Ahmad sampai tepuk tangan. “Sound system Dolby!”
Tak lama kemudian Riyadi datang membawa roti dan teh. “Nih.”
Yanti melongo. “Kamu lagi?”
“Makan dulu.”
“Tapi…”
“Udah.”
Nadanya tenang. Namun justru itu yang membuat Yanti tidak bisa menolak.
Dwi berbisik ke Tina, “Kalau aku jadi Yanti, udah klepek-klepek.” Yanti langsung melotot. “Kalian apaan sih!”
Hari demi hari perhatian Riyadi semakin terlihat. Namun bukan perhatian yang berlebihan. Ia tidak pernah memaksa dekat, tidak pernah menggoda aneh-aneh, tidak pernah sok romantis. Ia hanya selalu ada.
Dan justru itu yang membuat Yanti perlahan bergantung pada keberadaannya.
Suatu sore hujan turun sangat deras. Anak-anak tertahan di kelas.
Riyadi berdiri. “Mau ke kantin?”
“Hah? Hujan gitu?”
Ia mengangguk santai. “Sekalian beli makan.”
Ahmad langsung heboh. “Titip gorengan! Aku mie rebus! Es teh!”
Yanti tertawa. “Kasihan amat jadi babu.”
Namun Riyadi cuma tersenyum kecil lalu berlari menerobos hujan. Beberapa menit kemudian ia kembali dengan rambut basah kuyup sambil membawa plastik makanan.
“Heh gila… kamu kehujanan semua.”
Riyadi cuma mengusap rambut. “Nggak apa-apa.”
Dan tanpa sadar, mata Yanti terus memperhatikannya.
Malam itu di kamar kos, Yanti diam cukup lama setelah belajar.
Dwi melirik. “Kamu suka ya sama Riyadi?”
Yanti salah tingkah. “Apaan sih!”
“Jawab aja.”
“Nggak.”
“Bohong.”
Yanti diam. Lalu pelan berkata, “Aku cuma nyaman.”
Dwi tersenyum tipis. “Nah. Itu awal bahaya.”
Yanti sendiri bingung. Setiap kali dekat dengan Riyadi, ia merasa tenang. Tidak seperti saat bersama Mas Nur dulu yang penuh cemburu dan rasa takut kehilangan. Riyadi justru membuatnya merasa aman.
Bahkan berbeda dengan Kakang Riyadi di Tegorejo yang dulu melindunginya dengan cara yang hangat dan penuh tawa. Riyadi yang ini berbeda — lebih pendiam, lebih tenang. Tapi justru ketenangannya yang membuat Yanti perlahan merasa... pulang.
Dan mungkin, untuk pertama kalinya sejak patah hati, Yanti mulai membuka sedikit pintu hatinya lagi.
Namun di luar sana, ada seseorang yang mulai memperhatikan kedekatan mereka. Seseorang yang nantinya akan mengubah hubungan persahabatan mereka menjadi jauh lebih rumit.
Dan tanpa Yanti sadari, dunia STM yang awalnya terasa hangat perlahan mulai membawa konflik baru dalam hidupnya.
BAB VII
PERSAHABATAN LIMA ORANG
“Tentang Jalan Pulang yang Selalu Ramai, Tawa yang Mengusir Luka, dan Seorang Gadis yang Dijaga Seperti Ratu”
Hari-hari Yanti di STM Tekstil Pedan perlahan berubah menjadi lebih berwarna. Jika dulu ia selalu pulang dengan hati berat karena memikirkan Mas Nur dan Kakang Riyadi, kini sedikit demi sedikit tawanya mulai kembali.
Dan penyebabnya adalah lima orang cowok paling berisik di kelasnya: Riyadi, Muji, Aris, Adi, dan Yono.
Awalnya kedekatan mereka terjadi begitu saja. Karena sering satu kelompok praktik, sering pulang bareng, sering nongkrong di kantin yang sama. Namun lama-lama mereka menjadi seperti lingkaran kecil yang tak terpisahkan. Dan di tengah lingkaran itu, Yanti selalu jadi pusat keramaian.
Pagi itu kelas masih sepi. Yanti baru masuk sambil membawa tas besar. Belum sempat duduk, tasnya langsung direbut Muji.
“Sini, bawain.”
Yanti melotot. “Aku nggak cacat kali.”
Muji santai duduk sambil menaruh tas Yanti di kursi. “Daripada kamu ngeluh setengah jam.”
Tak lama kemudian Adi datang membawa gorengan. “Nih sarapan.”
Yanti bengong. “Kenapa sih kalian rajin amat ngasih makan aku?”
Yono nyeletuk, “Karena kamu kalau lapar, galaknya naik dua kali lipat.”
Semua tertawa. Aris ikut tersenyum kecil. Sementara Riyadi hanya memperhatikan dari bangku belakang. Dan entah kenapa, di antara semua perhatian itu, perhatian Riyadi tetap terasa paling berbeda bagi Yanti.
Jam pelajaran berlangsung seperti biasa. Saat Pak Wiryo menjelaskan, Ahmad sibuk menggambar wajah Muji di buku — hidung segede terong, rambut tinggal tiga helai. Yanti tertawa sampai menepuk meja.
Pak Wiryo menoleh tajam. “YANG BELAKANG! LUCU YA?!”
Ahmad refleks berdiri. “Enggak Pak. Ini edukasi seni rupa.”
Satu kelas pecah.
Sepulang sekolah, mereka berlima selalu menunggu Yanti. Begitu Yanti keluar dengan buku bertumpuk, Riyadi langsung mengambil sebagian tanpa bicara.
“Heh, aku bisa bawa sendiri.”
“Tahu.”
“Terus?”
“Capek lihat kamu ngeluh.”
Yanti manyun. Yang lain ngakak.
Jalan pulang mereka selalu ramai. Kadang bercanda, saling ejek, kadang nyanyi ngawur di jalan. Ahmad bilang, “Kalian ini kayak rombongan pengamen gagal.”
Suatu sore mereka berhenti di warung es dekat sekolah. Ibu warung datang membawa lima es teh. Padahal mereka belum pesan.
“Iya tadi sudah dibayar.”
Semua menoleh ke Riyadi. Cowok itu pura-pura sibuk minum.
Adi menggeleng dramatis. “Ya Tuhan… cinta diam-diam memang mengerikan.”
Yanti salah tingkah. “Apaan sih…”
Meski sering diolok, Riyadi tidak pernah marah. Ia tetap sama. Tenang. Pendiam. Namun selalu ada. Dan semua teman mulai sadar — cowok itu benar-benar menyukai Yanti.
Suatu hari mereka mendapat tugas kelompok besar. Akhirnya belajar bersama di rumah kontrakan Muji — rumah sederhana dekat persawahan, lantai tegel lama, radio kecil di ruang tamu.
Yanti duduk di lantai membuka buku. Baru lima menit, Ahmad malah tiduran. “Aku menyerah.”
Muji melempar bantal. “Belajar woi!”
Yono sibuk menggambar diagram ngawur. Adi malah makan terus. Yanti tertawa sampai sakit perut. Untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa benar-benar punya teman. Teman yang membuatnya lupa sedih.
Malam makin larut. Lampu rumah mulai redup. Angin sawah masuk lewat jendela. Saat yang lain ribut sendiri, Yanti tiba-tiba diam memandang suasana itu.
Riyadi yang duduk dekat jendela melirik. “Kenapa?”
Yanti tersenyum kecil. “Senang aja. Aku kira pindah ke sini bakal sendirian.”
Riyadi diam beberapa detik. Lalu berkata pelan, “Kamu nggak sendiri.”
Kalimat sederhana itu anehnya membuat dada Yanti hangat.
Hari-hari berikutnya persahabatan mereka makin erat. Ke mana-mana selalu berlima. Ke kantin, ke perpustakaan, ke tempat fotokopi, bahkan kadang jalan-jalan sore keliling Pedan.
Karena terlalu sering bersama, mereka mulai jadi bahan omongan satu sekolah. “Heh itu geng Yanti. Bodyguard semua.”
Namun mereka tidak peduli. Kebersamaan itu terasa tulus.
Suatu siang hujan turun deras. Mereka berteduh di gazebo belakang sekolah. Yanti duduk memeluk lutut. “Dingin…”
Adi nyeletuk, “Pinjem jaket Riyadi aja.”
Riyadi melotot kecil. Namun beberapa detik kemudian ia benar-benar melepas jaketnya.
“Nih.”
“Nggak usah.”
“Pakai aja.”
Muji tepuk tangan. “WOOOO! ROMANTIS!”
Yanti merah malu. “Berisik banget sih kalian…”
Namun diam-diam ia memakai jaket itu. Aroma hujan bercampur aroma jaket Riyadi terasa menenangkan.
Malam hari di kos, Dwi memandangi Yanti yang sedang melamun sambil melipat jaket.
“Kamu mulai suka ya?”
Yanti pura-pura sibuk. “Suka apaan.”
“Sama Riyadi.”
Yanti diam lama sekali. Lalu menjawab pelan, “Aku takut.”
“Takut kenapa?”
“Takut nanti kehilangan lagi.”
Suasana kamar hening. Dwi tahu — luka kehilangan Mas Nur dan Kakang Riyadi belum benar-benar sembuh. Dan mungkin itulah alasan terbesar kenapa Yanti masih menahan hatinya sendiri.
Namun di luar semua ketakutan itu, persahabatan lima orang terus berjalan hangat. Mereka tertawa bersama, belajar bersama, melindungi satu sama lain.
Dan Yanti belum sadar bahwa kebersamaan itu suatu hari nanti akan diuji oleh sesuatu yang jauh lebih rumit daripada sekadar persahabatan.
Sesuatu bernama: cinta.
BAB VIII
UMBUL DAN TAWA MASA MUDA
“Tentang Mata Air yang Jernih, Langit Senja yang Hangat, dan Sekelompok Anak STM yang Belajar Menyimpan Bahagia di Tengah Rumitnya Perasaan”
Hari-hari di STM Tekstil Pedan mulai terasa seperti rumah kedua bagi Yanti. Pagi sekolah, siang praktik, sore nongkrong, malam belajar sambil bercanda di kos.
Dan di antara semua rutinitas itu, ada satu tempat yang perlahan menjadi favorit mereka: Umbul. Sebuah mata air kecil di pinggir Pedan, dikelilingi pohon besar dan hamparan sawah. Tempat sederhana, namun penuh kenangan.
Sore itu pelajaran selesai lebih cepat. Ahmad langsung heboh. “Umbul yuk!”
Muji berdiri. “Ayo, panas banget ini.”
Yono ikut mengangkat tas. “Sekalian nyari angin.”
Yanti awalnya ragu. “Nggak ganggu belajar?”
Ahmad dramatis. “Belajar terus bisa jadi pertapa!”
Akhirnya mereka berangkat — Yanti, Dwi, Tina, Riyadi, Muji, Aris, Adi, Yono, dan Ahmad. Jalan menuju Umbul melewati persawahan panjang. Angin sore bertiup pelan. Langit mulai menguning. Yanti diam menikmati suasana itu. Sudah lama ia tidak merasa setenang ini.
Sesampainya di Umbul, airnya jernih sekali. Di pinggirnya ada pohon besar tempat orang duduk santai. Anak-anak kecil mandi sambil lompat-lompatan.
“Wah enak banget…” kata Tina.
Ahmad langsung mencelupkan kaki. “Surga dunia.”
Yanti duduk di batu pinggir Umbul. Riyadi datang membawa dua bungkus gorengan. “Nih.”
Yanti melongo. “Kamu kenapa sih suka ngasih makan?”
Riyadi duduk di sampingnya. “Biar nggak kurus.”
Adi berteriak. “WOOOO! Perhatian banget!” Yanti melempar daun ke arah mereka.
Suasana Umbul sore itu hangat. Mereka bercanda, cerita soal guru, saling ejek seperti keluarga sendiri. Dan di tengah semua itu, Yanti merasa sangat hidup.
“Heh Yanti, kalau nanti sukses mau jadi apa?” tanya Ahmad.
“Belum tahu.”
Muji tertawa. “Kalau aku pengin kaya.”
Yono nyeletuk. “Kamu tiap hari mikir makan doang.”
Dwi menatap langit. “Aku pengin kerja, bantu orang tua.”
Tina mengangguk. “Iya, kasihan kalau terus nyusahin rumah.”
Riyadi dari tadi diam. Yanti melirik. “Kamu?”
“Pengin hidup tenang aja.”
Yanti tersenyum. “Sederhana banget.”
Ahmad nyeletuk, “Kalau aku pengin punya istri cantik.” Tina langsung menjitak kepalanya. “Mimpi!”
Langit mulai berubah jingga. Sinar matahari sore memantul di permukaan air. Yanti memeluk lutut sambil memandang senja. Entah kenapa ia jadi ingat Tegorejo. Ingat jalan sawah. Ingat latihan karate sore. Ingat seseorang yang pernah membuatnya menangis sangat lama.
“Heh, kamu kepikiran lagi ya?” suara Riyadi membuyarkan lamunannya.
Yanti tersenyum kecil. “Kelihatan?”
“Iya.”
Yanti menatap air pelan. “Aku kadang masih mikir… kenapa orang yang bilang sayang malah pergi.”
Riyadi terdiam. Lalu berkata pelan, “Mungkin karena hidup nggak selalu kasih kita orang yang ingin kita miliki.”
Yanti menoleh perlahan. Tatapan Riyadi tenang, namun terlihat sangat tulus.
Ahmad tiba-tiba muncul dari belakang. “WOI! Jangan serius-serius amat!” Suasana kembali pecah.
Muji mengeluarkan gitar butut dari jok motor. Mereka akhirnya bernyanyi ramai-ramai — lagu lama, campursari, kadang lagu ngawur bikinan sendiri. Yanti tertawa sampai sakit perut melihat Ahmad joget seperti artis dangdut.
Senja makin turun. Langit berubah oranye kemerahan. Angin sore bertiup lembut. Untuk sesaat, semua masalah terasa jauh. Tidak ada luka, tidak ada kehilangan, tidak ada cinta yang menyakitkan. Yang ada hanya persahabatan, tawa, dan masa muda yang sedang tumbuh bersama.
Saat mereka hendak pulang, Yanti berjalan sedikit di belakang. Riyadi otomatis ikut melambat.
“Makasih ya.”
Riyadi bingung. “Buat apa?”
“Udah bikin aku nggak terlalu sedih.”
Ia tersenyum kecil. “Kamu sendiri yang kuat.”
Yanti menggeleng. “Nggak. Kalau sendirian, kayaknya aku udah nyerah dari dulu.”
Riyadi diam. Lalu berkata sangat pelan, “Kalau gitu… jangan sendirian.”
Jantung Yanti berdegup aneh. Sepanjang perjalanan pulang, kalimat itu terus terngiang di kepalanya.
Namun tanpa mereka sadari, kedekatan Yanti dan Riyadi mulai diperhatikan banyak orang di sekolah. Bisik-bisik kecil mulai muncul.
Dan seseorang diam-diam mulai merasa tidak suka melihat Yanti terlalu bahagia. Seseorang yang nantinya akan membawa perubahan besar dalam hidup mereka.
Toro.
BAB IX
KERETA KE MALIOBORO
“Tentang Tiket Murah, Tawa di Gerbong Ekonomi, dan Hari-Hari yang Tak Akan Pernah Kembali”
Pagi itu udara Pedan terasa lebih dingin dari biasanya. Kabut tipis masih menggantung di depan STM Tekstil Pedan ketika Yanti turun dari angkot. Jam menunjukkan pukul setengah enam, tapi halaman sekolah sudah ramai.
Suara anak-anak STM bercampur tawa. Ada yang membawa gitar, ada yang membawa kresek berisi makanan. Dan seperti biasa, rombongan paling ribut milik Ahmad.
“Heh cepat woi! Kereta nggak nungguin orang ganteng!”
Muji nyeletuk. “Muka kayak kamu mah satpam stasiun juga nggak bakal ngira penumpang.”
Ahmad melempar sandal. “Bangsat!”
Hari itu mereka akan pergi ke Yogyakarta naik kereta ekonomi dari Stasiun Klaten. Bagi Yanti, ini pertama kalinya ia pergi jauh bersama teman-teman STM.
“Yantiii!” Tina melambai dari depan gerbang. “Cepet sini, nanti ditinggal!”
Yanti tertawa. “Kereta jam delapan, Tin…”
“Biarin! Yang penting vibes liburannya dapet!”
Dwi menggeleng pasrah. “Kalau Tina udah heboh, biasanya dunia nggak aman.”
Tak lama kemudian Riyadi datang naik motor pinjaman Muji — motor butut yang suaranya mirip traktor sawah. Satu halaman langsung menoleh. Ahmad memegang dada. “Kirain tank perang.”
Muji turun sambil ketawa. “Motor legenda bos! Kalau jatuh nggak sakit, karena sebelum jatuh udah mati duluan.”
Yanti tertawa sampai menunduk. Riyadi hanya tersenyum kecil sambil memperhatikan Yanti diam-diam.
Sejak beberapa bulan terakhir, hubungan Yanti dan Riyadi memang semakin dekat. Bukan sebagai pacar, tapi lebih dari sekadar teman biasa. Riyadi selalu ada, selalu mendengar cerita Yanti. Bersamanya Yanti merasa tenang. Meski jauh di dalam hati, nama Mas Nur masih belum benar-benar hilang.
Perjalanan menuju Stasiun Klaten naik colt sewaan. Anak-anak duduk berhimpitan. Cowok-cowok STM berubah seperti sekumpulan monyet lepas kandang — nyanyi keras, mukulin atap mobil.
“MAS SOPIR, kita nyanyi boleh?”
“Boleh… ASAL JANGAN FALSSS!”
Lalu dimulailah konser paling kacau sedunia. Yanti sampai memegang perut. Dwi hampir jatuh dari kursi. Riyadi duduk dekat jendela, diam sambil sesekali tersenyum melihat Yanti tertawa. Dan diam-diam, itu sudah cukup membuatnya bahagia.
Sesampainya di Stasiun Klaten, semua langsung heboh. Bagi anak desa seperti mereka, stasiun terasa seperti dunia lain. Suara peluit, pengumuman dari speaker, kereta panjang yang berdiri megah di rel.
“YA ALLAHHH! Keren banget!” teriak Tina.
Saat membeli tiket, terjadi kekacauan. Muji kehilangan uang tiket. Semua panik mencari — sampai lima menit kemudian uang itu ditemukan di kantong belakang celana Muji sendiri.
Ahmad langsung menjitak kepalanya. “TOLOLLLL!”
Satu stasiun hampir pecah karena tawa mereka.
Kereta ekonomi akhirnya datang. Anak-anak berebut masuk. Gerbong penuh sesak, panas, berisik. Namun justru terasa menyenangkan karena mereka pergi bersama.
Yanti duduk dekat jendela. Riyadi berdiri karena kehabisan kursi.
“Sini duduk gantian,” kata Yanti.
“Nggak usah.”
Setelah dipaksa Dwi, Riyadi akhirnya duduk di pinggir kursi sempit itu — dekat sekali dengan Yanti. Jantungnya berdegup lebih cepat.
Kereta mulai berjalan. Pemandangan sawah bergerak mundur. Angin masuk lewat jendela. Yanti memandang keluar sambil tersenyum. “Indah ya…”
Riyadi menatapnya beberapa detik. “Iya…”
Namun sebenarnya, yang ia lihat indah bukan pemandangan di luar, melainkan senyum gadis di sampingnya.
Di gerbong lain, Ahmad pura-pura jadi pedagang asongan. “NASI PECELLL! TEH BOTOLLL! CINTA MURAH MERIAHHH!”
Satu gerbong tertawa. Bahkan penumpang lain ikut terhibur.
Menjelang masuk Yogyakarta, langit mulai cerah. Saat kereta memasuki Stasiun Tugu, semua langsung heboh. “JOGJAAAA! WOOOO!”
Ahmad hampir mencium tiang stasiun karena terlalu semangat.
Begitu keluar stasiun, mereka berjalan kaki menuju Malioboro. Yanti langsung terpukau. Lampu-lampu toko, pedagang kaki lima, musisi jalanan, suara andong, bau sate. Semua terasa magis bagi gadis desa seperti dirinya.
Mereka duduk lesehan di pinggir Malioboro, makan nasi kucing, minum teh hangat, dan ngobrol panjang tentang masa depan.
“Kalau lulus STM, lo mau jadi apa?” tanya Muji.
“Orang kaya,” jawab Ahmad cepat.
Aris menghela napas. “Gue pengen kerja, bantu orang tua.”
Dwi menatap Yanti. “Kamu, Tik?”
Yanti diam sebentar. Angin malam Malioboro meniup rambut depannya. “Aku nggak tahu… tapi aku pengen hidupku berarti.”
Suasana mendadak hening. Jawaban sederhana itu terasa sangat dalam.
Riyadi menatap Yanti diam-diam. “Kamu masih sering mikirin Mas Nur?”
Yanti terdiam. Lalu tersenyum kecil. “Kadang… tapi sekarang aku cuma pengen bahagia.”
Riyadi tersenyum tipis. Meski jauh di dalam hati, ia tahu dirinya mungkin hanya tempat singgah sementara di hidup Yanti.
Malam semakin larut. Lampu Malioboro semakin indah. Dan mereka terus tertawa — tanpa sadar bahwa hari-hari seperti itu suatu saat akan menjadi kenangan paling mahal dalam hidup mereka. Kenangan yang nanti akan mereka rindukan, saat semuanya telah tumbuh dewasa dan berjalan ke arah hidup masing-masing.
BAB X
TORO SANG KAKAK KELAS
“Tentang Tatapan Pertama yang Mengubah Segalanya, Lelaki yang Disukai Banyak Orang, dan Awal Ketakutan yang Disangka Cinta”
Setelah perjalanan ke Malioboro, hubungan Yanti dengan teman-temannya semakin dekat. Terutama dengan Riyadi. Kini hampir setiap hari mereka bersama — berangkat praktik, makan di kantin, belajar kelompok. Dan seperti biasa, itu selalu menjadi bahan olokan satu kelas.
“Heh Riyadi! Kamu tuh kalau dekat Yanti mukanya kayak dispenser baru.”
Ahmad kabur sebelum dilempar buku. Riyadi geleng-geleng kepala. Yanti tertawa sampai menunduk.
“Kasihan amat sih kamu, Di…”
Muji nyeletuk. “Dia mah rela jadi karpet juga kalau buat kamu.”
Riyadi melempar penghapus. “Anjir kalian…”
Namun pagi itu, sesuatu mulai berubah.
Jam istirahat pertama, koridor STM mendadak ramai. Anak-anak bergerombol sambil berbisik-bisik.
“Itu Toro datang.”
“Yang anak kuliahan itu? Serem banget sumpah.”
Yanti mengernyit. “Toro siapa?”
Tina heboh. “Kamu nggak tahu? Toro itu kakak kelas legend. Sekarang kuliah sambil bantu organisasi sekolah. Anaknya galak, semua angkatan takut sama dia.”
Ahmad nimbrung. “Bukan takut, tapi males cari masalah.”
“Bedanya?”
“Sama aja sih.”
Tak lama kemudian koridor mendadak sunyi. Beberapa anak minggir. Dari ujung lorong muncullah seorang laki-laki tinggi memakai jaket hitam lusuh. Langkahnya tenang, tatapannya tajam. Auranya langsung membuat satu lorong terasa berbeda.
“Itu Toro,” bisik Tina.
Yanti ikut menoleh. Mata mereka bertemu. Yanti merasa tidak nyaman — bukan takut, tapi ada yang aneh dari tatapan lelaki itu. Terlalu tajam. Terlalu fokus. Terlalu berani.
Toro berhenti beberapa langkah dari mereka. “Heh, ketua bengkel mana?”
“Di ruang praktik, Bang.”
Toro mengangguk. Namun sebelum pergi, matanya kembali melirik Yanti. Hanya sebentar, tapi cukup membuat Yanti merasa aneh.
Setelah Toro pergi, Tina memegang lengan Yanti. “Dia lihat kamu!”
Dwi mengangguk. “Dan itu nggak biasa.”
Ahmad tertawa. “Kalau Toro udah fokus sama orang, biasanya nggak bakal gampang lepas.”
Yanti bingung. Tapi ucapan Ahmad membuat hatinya sedikit tidak tenang.
Hari-hari berikutnya nama Toro mulai semakin sering terdengar. Kadang ia muncul di bengkel praktik, kadang membantu acara sekolah. Dan anehnya, setiap kali muncul, matanya hampir selalu mencari Yanti.
Di perpustakaan, Dwi menyenggol Yanti. “Itu Toro lagi.”
Yanti menoleh. Toro berdiri dekat pintu, berbicara dengan guru. Beberapa detik kemudian ia melirik Yanti. Yanti buru-buru pura-pura membaca. Dwi menahan tawa. “Kayaknya ada yang mulai naksir.”
Bukan hanya Yanti yang sadar. Riyadi juga. Dan entah kenapa, ia mulai merasa tidak suka.
Sore itu mereka duduk di Umbul. Langit menjelang magrib tampak jingga. Ahmad sibuk melempar batu, Muji rebahan.
Aris bicara pelan. “Toro suka sama Yanti ya?”
Ahmad tertawa. “Kelihatan banget.”
Yanti melotot. “Kalian jangan ngawur.”
Muji ikut nimbrung. “Kalau dia naksir, bahaya. Toro tuh orangnya serius. Kalau suka sesuatu, dia bakal ngejar habis-habisan.”
Riyadi sejak tadi diam. Lalu bicara pelan, “Yang penting Yanti hati-hati aja.”
“Hati-hati kenapa?”
Ahmad mendahului. “Toro tuh bukan cowok biasa. Dia bisa baik banget, tapi juga bisa serem banget.”
Angin sore terasa lebih dingin. Untuk pertama kalinya, nama Toro mulai terasa seperti pertanda sesuatu yang besar akan datang.
Beberapa hari kemudian kejadian aneh mulai terjadi. Yanti datang ke kelas lebih awal. Saat membuka meja, ia menemukan cokelat SilverQueen kecil dan secarik kertas.
“Tetap semangat praktiknya.” — T
Tina yang baru masuk langsung menjerit. “ITU PASTI DARI TORO!”
Sejak hari itu perhatian kecil berdatangan — kadang minuman di meja, kadang roti, kadang pesan titipan. Semua tanpa nama jelas. Tapi semua orang tahu siapa pelakunya.
Yanti justru mulai merasa risih. “Kenapa sih dia kayak gitu…”
Dwi mengangkat bahu. “Mungkin suka beneran.”
“Tapi aku nggak kenal dia.”
“Kadang orang nggak butuh kenal lama buat suka.”
Yanti diam. Karena dulu ia juga pernah jatuh cinta begitu saja pada Mas Nur. Tapi bedanya, tatapan Mas Nur terasa hangat. Sedangkan Toro membuatnya merasa seperti sedang diawasi.
Suatu sore setelah praktik selesai, Yanti pulang bersama Riyadi dan Muji. Mereka berjalan melewati lorong belakang bengkel yang mulai sepi.
“Yanti.”
Mereka menoleh. Toro berdiri di dekat tangga, sendirian.
Suasana canggung. Riyadi refleks berdiri sedikit di depan Yanti. Toro menatapnya beberapa detik, lalu kembali ke Yanti. “Boleh ngomong sebentar?”
Muji berbisik, “Kita duluan aja, Di.”
Riyadi tampak tidak rela, tapi akhirnya ikut pergi. Meski sebelum pergi, ia masih sempat menoleh.
Kini tinggal mereka berdua. Lorong belakang sunyi. Toro berdiri tenang. Yanti mulai gugup.
“Ada apa?”
Toro menatapnya lama. “Aku suka lihat kamu. Kamu beda dari cewek-cewek lain di sini.”
Yanti tertawa kecil karena gugup. “Mas bercanda ya…”
“Aku nggak pernah bercanda soal yang aku suka.”
Yanti mulai tidak nyaman. “Kalau nggak ada apa-apa, aku pulang dulu.”
Namun saat hendak pergi, Toro memanggil lagi. “Yanti. Jangan terlalu dekat sama Riyadi. Dia nggak cocok buat kamu.”
Langkah Yanti berhenti. Bukan karena bentakan atau ancaman, tapi karena cara Toro bicara — terlalu yakin, terlalu mengatur. Seolah dirinya sudah punya hak atas hidup Yanti.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak masuk STM, Yanti sulit tidur. Bayangan tatapan Toro terus muncul di kepalanya.
Dan tanpa ia sadari, hari itu menjadi awal dari perubahan besar dalam hidupnya. Awal dari cinta yang rumit. Obsesi. Persahabatan yang retak. Dan luka panjang yang perlahan akan mengubah semuanya.
BAB XI
LELAKI YANG DITAKUTI SEMUA ANGKATAN
“Tentang Cinta yang Mulai Berubah Menjadi Obsesi, Tatapan yang Membuat Takut, dan Persahabatan yang Perlahan Retak”
Sejak Toro mengatakan “Jangan terlalu dekat sama Riyadi” di lorong belakang bengkel, nama itu semakin dekat dengan hidup Yanti. Terlalu dekat. Dan semuanya berubah lebih cepat daripada yang ia bayangkan.
Kini hampir setiap hari Toro selalu muncul. Kadang berdiri di depan bengkel, kadang duduk di kantin sambil memperhatikan dari jauh, kadang pura-pura ada urusan dengan guru hanya untuk lewat depan kelas Yanti. Dan yang membuat semua orang heboh — Toro tidak pernah memperhatikan cewek lain. Hanya Yanti.
“Wah, Titik udah jadi ratu STM sekarang,” celetuk Ahmad.
Yanti melempar penghapus. Tapi berbeda dengan teman-temannya yang menikmati keramaian itu, Riyadi justru semakin sering diam.
Sore itu mereka berkumpul di Umbul. Langit jingga. Air kolam memantulkan cahaya matahari. Suasana terasa berbeda.
Riyadi tiba-tiba bicara pelan. “Kamu suka sama Toro?”
Yanti menoleh cepat. “Ngawur.”
“Terus kenapa dia selalu nyari kamu?”
“Aku juga nggak tahu.”
Riyadi memandang air kolam. “Pokoknya hati-hati aja.”
Yanti bisa merasakan sesuatu di balik nada suaranya — sesuatu yang perlahan berubah menjadi rasa cemburu.
Beberapa hari kemudian, situasi semakin panas. Anak kelas dua dilaporkan ngegodain Yanti sambil bilang “cantik” di kantin. Toro mendengar. Dan tanpa banyak bicara, ia langsung mencengkeram kerah anak itu di belakang bengkel.
“MULUTMU DIJAGA!”
Wajah Toro benar-benar menyeramkan. Yanti berdiri membeku saat melihat dari kejauhan. Untuk pertama kalinya, ia mulai mengerti kenapa semua angkatan takut pada Toro.
Guru BP datang membubarkan keributan. Saat suasana reda, mata Toro langsung mencari Yanti. Dan anehnya, meski baru saja marah besar, ekspresinya langsung berubah lebih tenang saat tatapan mereka bertemu.
Malamnya, Tina cerita di kos. “Katanya anak itu ngegodain kamu, terus Toro langsung mukul meja, habis itu dibawa ke belakang bengkel.”
Yanti merinding. Bukan karena perhatian Toro yang membuatnya takut. Tapi karena ia mulai sadar — ia takut menjadi alasan seseorang berubah seperti itu.
Suatu pagi, satu kelas heboh karena ada sekotak roti dan susu di meja Yanti. “Dari Toro lagi nih!”
Riyadi yang biasanya diam tiba-tiba berdiri, mengambil kotak roti itu, lalu meletakkannya di meja belakang tanpa bicara. Wajahnya murung.
Sepulang sekolah, Yanti mengejarnya di depan gerbang. “Kamu marah?”
“Aku cuma nggak suka cara Toro lihat kamu.”
“Aku nggak ada apa-apa sama dia.”
Riyadi terdiam. Lalu berkata pelan, “Tapi dia serius sama kamu. Dan aku takut…”
Yanti menatapnya. Tapi Riyadi tidak melanjutkan. “Nggak jadi,” katanya sambil tersenyum kecil.
Belum sempat suasana mencair, suara motor terdengar. Toro datang. Tatapannya langsung tertuju pada Riyadi — bukan marah, tapi dingin, tajam, penuh peringatan.
“Heh Yanti. Mau pulang? Aku anter.”
Riyadi menjawab lebih dulu. “Nggak usah.”
Toro menatapnya. “Kamu siapa ngelarang?”
Riyadi mencoba tenang. “Aku nggak ngelarang. Tapi Yanti bisa pulang sendiri.”
Toro tersenyum tipis — senyum yang sama sekali tidak hangat. “Aku ngomong sama Yanti.”
Yanti panik. Dua lelaki itu saling menatap tajam. Dan untuk pertama kalinya, Yanti benar-benar merasa berada di tengah sesuatu yang berbahaya.
Akhirnya Yanti memilih pulang naik angkot bersama Dwi dan Tina. Tapi sepanjang perjalanan, dadanya tidak tenang. Karena ia mulai sadar — Toro bukan sekadar lelaki yang jatuh cinta. Ia adalah seseorang yang terbiasa mendapatkan apa yang ia inginkan. Dan sekarang, orang yang ia inginkan adalah dirinya.
Sementara di sisi lain, Riyadi mulai terluka diam-diam. Dan tanpa siapa pun sadari, persahabatan mereka perlahan mulai retak karena satu nama.
Toro.
✔ Akhir Bab XI (Versi Final)
BAB XII
RIYADI DIPUKUL PULANG SEKOLAH
“Tentang Persahabatan yang Mulai Berdarah, Cinta yang Berubah Menjadi Ancaman, dan Ketakutan yang Perlahan Menguasai Hari-Hari Yanti”
Pagi itu langit Pedan mendung sejak subuh. Udara dingin masuk lewat jendela kelas, tapi suasana kelas tetap ribut seperti biasa. Ahmad dikejar Tina karena menyembunyikan sisir. Muji tidur sambil mendengkur.
Yanti yang sejak tadi murung akhirnya tertawa kecil. Tapi tawanya cepat hilang saat melihat Toro berdiri di depan kelas.
“Heh Yanti. Nanti pulang jangan dulu. Ada yang mau aku omongin.”
Tanpa menunggu jawaban, Toro pergi. Meninggalkan suasana aneh.
“Dia makin serem sumpah,” bisik Tina.
Riyadi yang duduk dekat jendela hanya diam memandang keluar. Wajahnya murung.
Jam praktik berlangsung kacau. Yanti berkali-kali salah memasang pola benang. Pikirannya tidak fokus. Riyadi juga lebih banyak diam. Biasanya ia suka membantu, tapi hari itu ia bahkan nyaris tidak bicara.
Yanti mendekat. “Kamu marah lagi?”
Riyadi tersenyum hambar. “Aku nggak suka lihat kamu dekat sama Toro.”
“Aku juga nggak dekat sama dia.”
“Tapi dia jelas pengen punya kamu. Kadang cowok kayak gitu nggak peduli kamu suka atau nggak.”
Kalimat itu terasa seperti pertanda buruk.
Jam pulang tiba. Hujan gerimis mulai turun. Yanti keluar gerbang bersama Dwi dan Tina. Toro sudah menunggu di seberang jalan, bersandar di motor hitamnya.
“Habis? Ayo, ngobrol bentar.”
Belum sempat Yanti menjawab, Riyadi muncul dari belakang. “Heh Yanti, ayo pulang.”
Suasana langsung berubah dingin.
Toro menatap tajam. “Aku lagi ngomong sama Yanti.”
Riyadi membalas tatapannya. “Dia bisa milih sendiri.”
Anak-anak sekitar mulai memperhatikan. Yanti panik. Tapi Toro sudah melangkah mendekat ke Riyadi.
“Kamu tuh dari dulu ganggu terus ya. Deketin Yanti.”
“Dia temanku.”
“Teman?” Toro tersenyum sinis. “Muka lo nggak kelihatan kayak teman.”
Riyadi tetap berdiri tenang, tapi matanya mulai tajam. “Kalau suka sama orang, bukan berarti bisa ngatur hidup dia.”
BRAK!
Toro mendorong bahu Riyadi keras. Anak-anak menjerit. Riyadi membalas dorongan itu. Dan dalam hitungan detik, perkelahian pecah di depan gerbang sekolah.
BUK! Pukulan pertama Toro mengenai pipi Riyadi.
Yanti menjerit. “RIYADI!”
Tapi Toro sudah terlanjur emosi. “JANGAN DEKAT-DEKAT SAMA YANTI!”
Riyadi balas memukul. Suasana benar-benar kacau. Hujan mulai turun semakin deras. Teriakan bercampur air hujan membuat sore itu terasa begitu tragis.
Akhirnya beberapa senior dan guru berhasil melerai mereka. Riyadi terduduk di pinggir jalan. Bibirnya berdarah. Pelipisnya memar. Toro masih ditahan beberapa anak karena emosinya belum reda.
“Kalau lo masih dekat sama dia, gue nggak bakal diem!”
Yanti menangis sambil memegang tangan Riyadi. “Ri…”
Riyadi tersenyum kecil meski wajahnya babak belur. “Nggak apa.”
Toro pergi dengan motor sambil membanting gas. Suaranya menghilang bersama hujan sore. Tapi ketakutan yang ditinggalkannya tetap tinggal di hati Yanti.
Yanti tidak bisa tinggal diam. Ia memaksa Dwi mengantarnya ke rumah kontrakan Riyadi. Sesampainya di sana, ia langsung masuk dengan napas memburu. Dan saat melihat wajah Riyadi yang lebam dan berdarah, air matanya jatuh lagi.
“Ini gara-gara aku ya?!”
Riyadi malah tertawa kecil. “Lah terus? Mau tak pukul balik?”
“Kamu masih bisa bercanda?!”
Ahmad yang dari tadi mondar-mandir emosi. “Toro keterlaluan. Dia bilang Riyadi nggak boleh deket-deket Yanti lagi. Katanya semua cowok yang deket kamu bikin dia nggak suka.”
Yanti menunduk. Rasa bersalah perlahan menghancurkan pikirannya.
Riyadi menatapnya lama. “Bukan salahmu. Tapi salah orang yang terlalu pengen memiliki.”
Yanti duduk di kursi kayu dekat Riyadi. Tangannya gemetar mengompres luka di pelipisnya. Momen itu terasa sangat menyakitkan. Untuk pertama kalinya, Yanti merasa persahabatan mereka benar-benar terancam.
“Ri… jauhin aku aja.”
Semua menoleh. “Apa?!”
“Biar kalian nggak kenapa-napa lagi.”
Ahmad berdiri. “Lah kok gitu?! Justru kita temen!”
Namun Riyadi hanya diam. Di dalam hati kecilnya, ia tahu Yanti benar-benar ketakutan.
Sepulang dari rumah Riyadi, perjalanan pulang terasa sunyi. Yanti dibonceng Dwi. Hujan tinggal gerimis.
“Dwi, aku capek.”
“Karena Toro?”
Yanti mengangguk. “Aku nggak suka diatur. Tapi aku juga takut nyakitin dia.”
Dwi menghela napas. “Kamu itu terlalu mikirin perasaan semua orang. Padahal hati sendiri capek.”
Malam itu Yanti tidak bisa tidur. Ia duduk dekat jendela kamar kos, memandangi hujan yang belum berhenti. Bayangan wajah Riyadi yang berdarah terus muncul di kepalanya. Untuk pertama kalinya sejak masuk STM, ia mulai takut pada cinta. Karena cinta yang datang pada hidupnya justru mulai melukai orang-orang yang ia sayangi.
Sementara itu, di bengkel motor dekat terminal, Toro duduk sendirian. Rokok menyala di tangannya. Wajahnya dingin, tapi matanya menyimpan emosi yang kacau.
Adi duduk di sampingnya. “Lo keterlaluan. Riyadi nggak salah apa-apa.”
Toro bicara lirih. “Gue cuma nggak suka dia deket Yanti.”
“Semua cowok juga deket Yanti. Terus mau lo pukulin semua?”
Toro terdiam. Untuk pertama kalinya, ia mulai sadar — rasa sukanya pada Yanti perlahan berubah menjadi obsesi.
Dan tanpa disadari siapa pun, retakan kecil dalam persahabatan mereka mulai berubah menjadi luka yang jauh lebih besar. Karena sejak hari itu, tak ada lagi yang benar-benar sama.
Tidak bagi Yanti.
Tidak bagi Riyadi.
Dan tidak juga bagi Toro.
BAB XIII
BONEKA PANDA DI BULAN DESEMBER
“Tentang Hujan Akhir Tahun, Ulang Tahun yang Sunyi, dan Seorang Lelaki yang Datang Membawa Boneka Kecil serta Perasaan yang Sulit Ditolak”
Desember datang bersama hujan. Langit Klaten hampir setiap hari mendung. Sejak kejadian Riyadi dipukul Toro, hubungan mereka semua mulai berubah. Toro semakin sering muncul, semakin sering mengawasi. Dan kehadirannya mulai membuat hidup Yanti terasa sempit.
Pagi itu kelas XI Tekstil sudah ramai seperti biasa. Tapi Yanti hanya duduk diam dekat jendela, tatapannya kosong. Riyadi di bangku belakang diam-diam memperhatikannya.
“Heh Riyad, lo kenapa murung? Karena Yanti?” Ahmad menyenggol pelan. Riyadi melempar penghapus. “Bacot.”
Tawa mereka perlahan berhenti saat Toro muncul di depan kelas. Hari itu wajahnya terlihat lebih tenang. Ia berdiri di depan pintu sambil membawa plastik hitam kecil.
“Heh Tik, bisa keluar bentar?”
Yanti berdiri pelan. Langkahnya terasa berat. Di lorong sekolah, Toro menyerahkan plastik itu. “Buat kamu.”
“Apa ini?”
“Buka aja nanti.”
“Kenapa ngasih beginian?”
Toro tersenyum kecil. “Besok ulang tahunmu kan? Gue cuma pengen bikin lo senyum lagi.”
Yanti terdiam. Untuk pertama kalinya ia melihat sisi Toro yang berbeda — tidak menyeramkan, tidak galak, tidak seperti waktu memukul Riyadi. Toro pergi meninggalkannya di lorong.
Saat masuk kelas lagi, semua heboh. Yanti membuka plastik itu pelan. Di dalamnya ada boneka panda kecil warna coklat muda, dibungkus pita merah. Tina menjerit. Dwi ikut gemas. “Toro romantis juga ternyata.”
Namun di sudut kelas, Riyadi menunduk diam. Dadanya terasa aneh. Muji berbisik, “Tuh cewek lo dikasih panda.” Riyadi tertawa hambar. “Dia bukan cewek gue.”
Sore harinya hujan turun lagi. Yanti duduk di bangku depan kelas sambil memeluk tas. Boneka panda itu ada di pangkuannya. Riyadi datang pelan. Matanya melihat boneka itu. Suasana mendadak canggung.
“Bagus ya. Toro ngasih?”
Yanti mengangguk kecil. “Aku bingung, Riyad.”
Riyadi menatap hujan. “Bingung apa?”
“Aku nggak ngerti perasaanku sendiri.”
Diam. Suara hujan makin deras. Riyadi merasa dadanya sesak. Karena ia tahu — semakin lama, Yanti mulai membuka hati untuk Toro.
“Heh Tik, kalau suatu hari kamu pacaran sama Toro, jangan lupain kita-kita.”
Yanti menoleh. Hatinya hangat sekaligus sedih. “Aku nggak bakal lupain kalian. Janji.”
Janji sederhana itu diam-diam membuat Riyadi makin terluka. Karena di dalam hati kecilnya, ia menyayangi Yanti lebih dari sekadar teman.
Malam harinya anak-anak kos merayakan ulang tahun Yanti sederhana — mi rebus, teh hangat, lilin kecil di atas roti. Suasananya hangat. Tapi di tengah tawa, Yanti mendadak diam. Ia teringat Tegorejo. Teringat ibunya. Teringat Ima. Teringat Kakang Riyadi. Dan paling menyakitkan — teringat Mas Nur.
Dwi menyenggol pelan. “Kamu nangis?” Yanti cepat-cepat tersenyum. “Enggak.” Tapi air matanya sudah jatuh.
Malam semakin larut. Yanti duduk dekat jendela kamar kos, boneka panda di sampingnya. Sambil memandang hujan Desember, ia bertanya pada dirinya sendiri — apakah hati seseorang bisa benar-benar berpindah saat cinta pertamanya belum selesai dilupakan?
Sementara itu di warung kopi dekat terminal, Toro duduk bersama Adi. “Lo serius sama Yanti?” Toro mengangguk. “Serius.” Adi menghela napas. “Kalau serius, jangan pake cara kasar lagi.” Toro diam. “Gue takut kehilangan dia.” Adi tertawa kecil hambar. “Orang yang terlalu takut kehilangan biasanya malah bikin semuanya pergi.”
Malam Desember itu, untuk pertama kalinya, Toro mulai takut pada dirinya sendiri.
BAB XIV
SANGKAR YANG BERNAMA CINTA
“Tentang Perhatian yang Berubah Menjadi Larangan, Cemburu yang Perlahan Menyesakkan, dan Seorang Gadis yang Mulai Kehilangan Langitnya”
Sejak ulang tahunnya, hubungan Yanti dengan Toro semakin dekat. Terlalu dekat. Toro mulai sering menjemput, menunggu di depan gerbang, mengantar pulang, bahkan sesekali datang ke kos membawa makanan. Awalnya semua terasa manis. Tapi perlahan Yanti mulai kehilangan ruang bernapas.
Suatu pagi, seperti biasa Riyadi menggeser kursi di dekat Yanti. “Belum sarapan?” Ia mengeluarkan bungkusan kecil. “Lemper.” Yanti tertawa. “Kamu tuh kayak bapak-bapak.”
Dari luar kelas, Toro memperhatikan. Tatapannya dingin.
Beberapa menit kemudian ia masuk tanpa permisi. “Heh Tik, ntar pulang tunggu gue. Mau ngajak makan.” Ahmad bersiul. Tina heboh. Tapi Riyadi hanya diam. Toro meliriknya sekilas — dan suasana mendadak tidak nyaman.
Saat jam istirahat, Yanti duduk bersama Dwi, Tina, dan Siti di kantin. Tiba-tiba Toro datang dan duduk di sebelahnya. “Kamu nanti jangan pulang sama Riyadi lagi. Gue nggak suka.”
Suasana meja langsung sunyi.
“Riyadi itu temenku.”
“Gue tahu. Tapi gue nggak nyaman.”
“Aku nggak bisa jauhin temen-temenku.”
“Gue nggak nyuruh jauhin semua. Tapi jangan terlalu dekat.”
“Kenapa?”
“Karena gue cemburu.”
Yanti kesal. “Aku nggak suka diatur.”
Toro menatapnya lama. “Gue cuma takut kehilangan lo.”
“Kenapa semua cowok ngomong gitu? Mas Nur dulu juga begitu.”
Nama itu langsung mengubah suasana. Toro terdiam. “Lo masih suka dia?” Yanti tidak menjawab. Hanya suara sendok dan piring yang terdengar. “Aku nggak tahu,” katanya akhirnya. Toro tertawa kecil hambar. “Jawaban paling nyakitin tuh memang ‘nggak tahu’.”
Hari-hari berikutnya Toro semakin mengatur. Kalau Yanti terlalu lama ngobrol dengan Riyadi, Toro marah. Kalau pulang rame-rame dengan Muji dan Yono, Toro ngambek. Kalau ikut nongkrong di Umbul, Toro datang mendadak. Semua itu mulai membuat Yanti lelah.
Suatu sore mereka duduk di Umbul seperti biasa. Ahmad bercanda, “Kalau nanti kita sukses, kita bikin pabrik tekstil sendiri. Gue jadi direktur, kerjaannya makan gorengan.” Semua tertawa. Yanti tertawa cukup keras — sudah lama ia tidak merasa sebebas itu.
Tapi beberapa menit kemudian Toro datang dengan wajah dingin.
“Heh Tik, gue nyariin dari tadi.”
“Aku tadi bilang mau ke Umbul.”
Toro melirik semua cowok di situ, tatapannya berhenti lama pada Riyadi. “Pulang.”
“Aku masih mau di sini.”
“Udah sore.”
“Aku tahu.”
“Tik…” Nadanya mulai berubah.
Riyadi berdiri. “Heh Ro, dia bukan anak kecil.”
Toro tertawa kecil — tapi dingin. “Gue ngomong sama cewek gue.”
Yanti langsung membeku. Toro belum pernah benar-benar menyatakan mereka pacaran. “Aku bukan barang,” katanya pelan. “Aku nggak suka diperlakukan kayak gini.”
Toro mulai emosi. “Gue cuma perhatian!”
“Tapi caramu bikin aku sesak!”
Suasana Umbul sunyi. Angin sore terasa dingin. Untuk pertama kalinya Yanti melihat luka di mata Toro.
“Jadi sekarang gue salah?”
“Aku nggak bilang gitu…”
“Tapi lo lebih nyaman sama mereka daripada sama gue.”
Riyadi mengepalkan tangan. Tapi ia memilih diam. Toro akhirnya tertawa hambar. “Oke. Kalau begitu lanjut aja nongkrongnya.” Motor tuanya melaju cepat meninggalkan Umbul.
Sejak sore itu, hati Yanti mulai benar-benar lelah.
Malam harinya Yanti menangis diam-diam di kamar kos. Dwi duduk di sampingnya. “Toro lagi?” Yanti mengangguk. “Aku kayak burung dalam sangkar.”
Dwi memeluknya pelan. “Cinta itu harusnya bikin tenang, bukan bikin takut.”
Di luar hujan turun lagi. Tanpa Yanti sadari, ia mulai merindukan satu hal yang dulu pernah ia miliki bersama Kakang Riyadi dan Mas Nur — kebebasan untuk tertawa tanpa takut kehilangan dirinya sendiri.
Pagi itu kabut masih turun tipis. Yanti datang ke sekolah lebih pagi. Matanya sembab. Di kelas hanya ada Riyadi yang sedang membaca buku.
“Kamu nangis lagi?”
“Enggak.”
“Bohong.”
Riyadi mengeluarkan plastik kecil. “Nih, roti.” Yanti tertawa kecil. “Kamu tiap hari nyuruh aku makan.” “Soalnya tiap sedih kamu nggak pernah sarapan.”
Tapi kehangatan itu tak berlangsung lama. Toro muncul di depan kelas. “Heh Tik, keluar bentar.”
Di lorong, Toro berkata, “Aku nggak suka kamu dekat-dekat Riyadi terus.” Yanti lelah mendengarnya. “Ro, dia temanku.” “Semua cowok di sekolah ini temenmu.” “Karena aku emang berteman sama siapa aja.” “Dan gue nggak suka.”
Yanti menatapnya lama. “Aku bukan anak kecil.”
Toro menghela napas. “Gue cuma takut kehilangan lo.”
“Kenapa semua harus tentang takut kehilangan?”
Toro diam. Dan diamnya membuat Yanti makin sesak.
Jam istirahat, Yanti duduk sendirian di belakang gedung praktik. Tempat itu sepi. Ia memeluk lutut. Lalu suara langkah kaki mendekat.
Abdul — kakak kelas yang selama ini hanya ia kenal sekilas. Ia membawa dua teh gelas dingin. “Mukamu kayak habis ditinggal lebaran.” Yanti spontan tertawa.
Abdul duduk di sampingnya. Wajahnya teduh, nadanya tenang. “Toro bikin kamu nangis lagi?” Yanti diam. “Dia emang kalau sayang sesuatu, pengen punya sepenuhnya.”
“Aku capek.”
Abdul mengangguk. “Wajar.”
“Aku nggak ngerti kenapa semua jadi rumit.”
Abdul tersenyum. “Karena kamu cantik.”
“Ih apaan sih.”
“Hahaha.”
Untuk pertama kalinya sejak lama, Yanti merasa bisa bernapas lega.
“Dulu Toro nggak pernah kayak gini. Dia berubah sejak kenal kamu — jadi takut.” Yanti menggigit bibir. “Aku nggak mau nyakitin dia.” “Terus kenapa nangis terus?”
Yanti tak bisa menjawab.
Abdul berkata pelan, “Kalau capek, cerita aja sama aku.”
Kalimat itu membuat dada Yanti hangat. Sejak Kakang Riyadi pergi, sudah lama tidak ada orang yang bicara padanya dengan nada setenang itu.
Hari-hari setelahnya Abdul mulai sering dekat dengan Yanti. Bukan seperti Toro yang penuh tekanan, bukan seperti Riyadi yang diam-diam perhatian. Tapi seperti seseorang yang hanya ingin memastikan Yanti baik-baik saja.
Kadang ia datang ke kelas membawa gorengan, kadang membantu praktik, kadang cuma duduk menemani di kantin. Dan Yanti perlahan mulai nyaman.
Suatu sore sepulang sekolah, mereka duduk di halte kecil depan STM. Hujan baru reda. Jalanan basah mengilap.
“Heh Dul, kamu nggak takut dimarahin Toro dekat sama aku?”
Abdul tertawa. “Takut lah.”
“Terus kenapa masih dekat?”
“Karena ada orang yang lebih takut lagi.”
“Apa?”
“Kalau kamu terus sedih.”
Yanti terdiam. Beberapa detik hanya suara bus tua lewat dan aroma tanah basah.
“Heh Tik, kadang orang yang paling sayang bukan yang paling keras memiliki.”
Yanti menoleh pelan. Untuk pertama kalinya ia merasa seperti sedang mendengar Kakang Riyadi berbicara lagi.
Malam harinya Yanti menulis di buku kecilnya:
“Aku mulai lelah dicintai dengan cara yang membuatku takut. Aku hanya ingin seseorang yang membuatku tetap jadi diriku sendiri.”
Di bawah tulisan itu, tanpa sadar ia menulis satu nama kecil: Abdul.
Sementara itu di bengkel, Adi berkata pada Toro, “Kalau terus bikin Yanti sesak, bisa-bisa dia nyaman sama orang lain.”
Toro diam. Untuk pertama kalinya ia mulai takut kehilangan Yanti bukan karena cowok lain — tapi karena sikapnya sendiri.
BAB XV
BURUNG YANG KEHILANGAN LANGIT
“Tentang Hati yang Mulai Lelah, Kebebasan yang Perlahan Hilang, dan Seorang Gadis yang Tak Lagi Mengenali Dirinya Sendiri”
Hari-hari di STM Tekstil Pedan terus berjalan. Bel sekolah tetap berbunyi setiap pagi. Mesin praktik tetap meraung. Anak-anak tetap bercanda. Namun tidak bagi Yanti. Perlahan ia mulai merasa hidupnya tidak lagi benar-benar miliknya sendiri.
Toro semakin sering datang. Semakin sering mengatur. Dan semakin sering membuat Yanti bingung antara merasa dicintai atau dikurung.
Pagi itu Yanti turun dari bus. Baru beberapa langkah menuju gerbang, suara motor terdengar dari belakang. Toro.
“Kemarin habis dari mana?” tanyanya.
“Dari kos.”
“Tadi malam aku nyariin kamu ke Umbul.”
“Aku nggak ke sana. Aku belajar kelompok di tempat Dwi.”
Tatapan Toro membuat dada Yanti sesak. “Kamu kenapa jadi begini sih?” Toro tertawa hambar. “Karena gue sayang sama lo.”
“Sayang bukan berarti harus curiga terus!”
Toro mematikan motornya. “Naik.”
“Aku bisa jalan sendiri.”
“Naik.”
“YANTI.” Suaranya keras. Yanti langsung diam. Di dalam hati kecilnya, ia mulai takut — bukan takut dipukul, tapi takut karena dirinya mulai kehilangan keberanian untuk menjadi dirinya sendiri.
Hari itu suasana kelas terasa berat. Yanti lebih banyak diam. Dwi mulai khawatir. “Toro lagi?” Yanti mengangguk pelan.
Tina mendekat. “Dia posesif banget sih.” Siti bicara lirih. “Aku aja takut lihatnya.” Yanti tersenyum pahit. “Aku juga mulai takut…”
Di bangku belakang, Riyadi diam-diam memperhatikan. Dadanya ikut sakit.
Jam praktik dimulai. Suara mesin pertenunan memenuhi ruangan. Biasanya Yanti paling ramai, paling aktif. Tapi sekarang ia lebih banyak diam.
“Heh Tik! Benangnya salah masuk!” teriak Ahmad. BRAK. Benang kusut berantakan. Yanti panik, tangannya gemetar. Riyadi datang membantu. “Lain kali kalau pikiran lagi kacau, jangan dipake ngelawan mesin.” Yanti tertawa kecil. Sudah lama Riyadi tidak melihat senyum setenang itu.
Tapi dari luar ruang praktik, Toro melihat semuanya. Wajahnya kembali dingin.
Sepulang sekolah hujan turun deras. Yanti duduk bersama Dwi dan Siti di lorong. Toro datang.
“Pulang sama gue.”
“Aku mau balik sama anak-anak.”
“Kenapa?”
“Karena aku pengen.”
“Dan Riyadi ikut?”
Yanti mulai lelah. “Kenapa sih semuanya harus tentang Riyadi terus?”
“Karena gue nggak suka cara dia lihat lo.”
Yanti berdiri cepat. “TERUS AKU HARUS GIMANA?!” Suasana lorong hening. Semua anak menoleh.
“Aku capek Toro… Aku capek selalu ditanya, capek selalu dicurigai. Aku bahkan udah nggak bisa ketawa bebas!”
Toro terdiam. Untuk pertama kalinya ia melihat air mata Yanti jatuh bukan karena sedih, tapi karena lelah.
“Aku cuma takut kehilangan kamu…”
Yanti tertawa pahit. “Tapi kamu nggak sadar. Cara kamu takut kehilangan justru bikin aku perlahan hilang.”
Tak ada yang bicara lagi. Hanya suara hujan deras. Yanti pergi meninggalkan lorong sambil menangis.
Malam harinya Yanti duduk sendirian di kamar kos. Lampu redup. Hujan belum berhenti.
Dwi masuk membawa teh hangat. “Kamu masih sayang Toro?”
Yanti diam lama. “Aku nggak tahu… Yang aku tahu, aku mulai nggak bahagia.”
Tina dari kasur ikut bicara. “Tik, cinta itu harusnya bikin hidup tambah hidup. Bukan bikin kamu kehilangan diri sendiri.”
Air mata Yanti jatuh lagi. Untuk pertama kalinya ia mulai sadar — ia tidak lagi merasa bebas menjadi Yanti yang dulu. Yanti yang tomboy, yang tertawa keras, yang bebas berteman dengan siapa saja, yang bisa duduk di Umbul sampai sore tanpa takut dimarahi.
Kini ia seperti burung yang sayapnya perlahan dipotong. Masih hidup. Masih bernapas. Tapi tidak lagi punya langit untuk terbang.
Sementara itu di luar kos, Toro berdiri cukup lama di bawah hujan. Menatap jendela kamar Yanti yang masih menyala.
Untuk pertama kalinya, ia mulai takut bahwa cintanya sendiri perlahan sedang menghancurkan orang yang paling ia sayangi.
BAB XVI
RUMAH SAKIT DAN AIR MATA
“Tentang Tubuh yang Mulai Lelah Menanggung Luka, dan Hati yang Diam-Diam Kehilangan Kebebasannya”
Hujan turun sejak sore. Rintiknya memukul genting rumah kos kecil di Pedan dengan suara pelan berulang-ulang. Yanti duduk di tepi ranjang. Tubuhnya terasa lemas sejak beberapa hari terakhir. Tapi yang paling sakit bukan tubuhnya — melainkan pikirannya.
Sejak hubungannya dengan Toro semakin dekat, hidup Yanti perlahan berubah. Ia memang tidak pernah dipukul, tidak pernah dibentak kasar, tidak pernah dimaki. Tapi perhatian Toro yang terlalu besar mulai terasa menyesakkan.
“Jangan pulang sama Riyadi.”
“Kalau ke Umbul jangan terlalu malam.”
“Kamu nggak usah terlalu dekat sama cowok.”
“Kamu milik aku.”
Kalimat-kalimat itu awalnya terdengar seperti cinta. Tapi lama-lama terasa seperti sangkar.
Malam itu Dwi sedang melipat baju. Tina sibuk bercermin. Siti belajar matematika sambil ngemil peyek. Yanti hanya diam memandangi hujan.
“Heh, kamu kenapa sih akhir-akhir ini? Makin kurus,” kata Dwi.
Tina nimbrung. “Iya sumpah, mukamu kayak habis ditinggal negara.”
Yanti hanya tersenyum kecil.
Siti bicara pelan. “Kamu capek ya?”
Pertanyaan sederhana itu langsung menusuk hati Yanti. Karena sebenarnya ia memang capek. Sangat capek.
“Aku nggak apa-apa…” bohongnya.
Dwi mendekat. “Tik, kita temenan bukan sehari dua hari. Kalau ada masalah cerita.”
Yanti menghela napas. “Aku cuma pengen tenang.”
“Toro lagi?” tanya Tina.
Yanti diam. Dan diamnya sudah menjadi jawaban.
Malam makin larut. Hujan belum reda. Tiba-tiba Yanti memegangi kepalanya.
“Kamu kenapa?” Dwi panik.
“Kepalaku… pusing…”
Tubuh Yanti limbung. BRUK. Ia jatuh pingsan di lantai.
“YANTIII!”
Tina histeris. Siti panik sampai menjatuhkan buku. Dwi mengguncang tubuh Yanti. Tapi Yanti tidak merespons. Wajahnya pucat. Tubuhnya panas.
Malam itu penghuni kos geger. Ibu kos datang panik. “Ya Allah… cepet panggil becak!”
Yanti dibawa ke rumah sakit kecil di Klaten. Lampu IGD terasa silau. Bau obat menyengat. Hujan masih turun di luar.
“Tadi siang dia belum makan…” kata Dwi cemas.
Perawat mulai memeriksa. “Demam tinggi… mungkin kecapekan dan stres.”
Dwi dan Tina saling pandang. Mereka tahu — stres Yanti bukan soal sekolah, tapi soal hidupnya sendiri.
Kabar Yanti masuk rumah sakit cepat menyebar. Orang pertama yang datang adalah Toro.
BRAK! Pintu ruang rawat terbuka cepat.
“YANTI?!”
Napas Toro memburu. Wajahnya penuh panik. Rambutnya basah kehujanan. Dwi langsung berdiri. “Pelan-pelan!”
Toro mendekat ke ranjang. Melihat Yanti terbaring lemah dengan infus di tangan. Untuk pertama kalinya, wajah lelaki paling ditakuti di STM itu terlihat sangat rapuh.
“Kenapa bisa begini…” gumamnya lirih.
Dwi menatap Toro lama. “Karena dia capek.”
Toro terdiam.
Malam itu ruang rawat Yanti dipenuhi kecemasan. Toro duduk diam sambil memegangi tangan Yanti. Adi beberapa kali keluar membeli obat dan makanan.
Beberapa jam kemudian Yanti mulai sadar. Kelopak matanya bergerak pelan.
“Yanti…” Toro langsung bangkit.
Pandangan Yanti masih kabur. Saat melihat Toro, air matanya langsung jatuh.
“Aku di mana…?”
“Rumah sakit. Kamu pingsan.”
Yanti memejamkan mata lagi. Tubuhnya masih sangat lemas.
Toro menggenggam tangannya perlahan. “Maaf…”
Yanti menoleh. “Hah?”
“Aku bikin kamu capek ya…” Suara Toro sangat pelan, nyaris bergetar.
Yanti diam. Dan diamnya membuat Toro makin merasa bersalah.
“Aku cuma takut kehilangan kamu… Makanya aku selalu marah kalau kamu dekat sama mereka.”
Air mata Yanti jatuh lagi. “Aku nggak pernah ninggalin kamu. Tapi aku juga nggak bisa kehilangan teman-temanku.”
Toro menunduk. Untuk pertama kalinya ia mulai sadar — cintanya perlahan berubah menjadi sesuatu yang menyakitkan.
Adi bicara pelan. “Cinta itu dijaga, bukan dikurung.”
Suasana hening. Toro menoleh ke arah Adi. Kali ini ia tidak marah. Karena jauh di dalam hati, ia tahu Adi benar.
Pagi harinya matahari muncul malu-malu. Hujan reda. Udara terasa dingin.
Ahmad, Muji, Aris, Yono, dan Riyadi datang menjenguk bersama. Ruangan langsung ramai.
“Heh, muka kamu kayak tahu rebus,” celetuk Ahmad. Yanti tertawa kecil — untuk pertama kalinya sejak kemarin.
Muji membawa jeruk satu kantong. “Ini titipan anak-anak kelas. Sebagian hasil malak.”
Semua tertawa.
Di tengah keramaian itu, Riyadi diam berdiri di dekat pintu. Matanya memperhatikan Yanti.
Yanti menoleh. “Riyad…”
Riyadi tersenyum kecil. “Udah mendingan?”
“Iya…”
“Jangan maksa kuat terus.”
Kalimat sederhana itu membuat hati Yanti hangat.
Toro yang melihat mereka bicara langsung diam. Dadanya terasa aneh lagi. Cemburu. Takut kehilangan. Tapi kali ini ia memilih diam. Karena untuk pertama kalinya Toro mulai sadar — kalau ia terus seperti ini, yang pergi bukan teman-teman Yanti, melainkan Yanti sendiri.
Siang itu, setelah semua teman pulang, Yanti memandangi langit dari jendela rumah sakit. Biru. Tenang. Tapi hatinya belum benar-benar sembuh.
Ia mulai sadar — hidupnya berubah terlalu cepat. Dari gadis desa yang bebas tertawa, menjadi seseorang yang mulai takut menjadi dirinya sendiri.
Dan jauh di dalam hati kecilnya, Yanti mulai bertanya:
“Apakah cinta memang harus sesakit ini…?”
BAB XVII
LELAKI YANG MENUNGGU DI SAMPING TEMPAT TIDUR
“Tentang Seseorang yang Bertahan Menjaga, Meski Takut Kehilangan dengan Cara yang Salah”
Pagi di rumah sakit kecil Klaten terasa dingin. Cahaya matahari masuk samar lewat jendela kaca yang sedikit berembun. Bau obat masih memenuhi ruangan. Di atas ranjang nomor tujuh, Yanti masih terbaring lemas. Infus tergantung di sampingnya. Wajahnya pucat. Tapi setidaknya demamnya mulai turun.
Toro duduk di kursi plastik dekat ranjang. Sedari malam ia belum pulang. Matanya sembab karena kurang tidur. Rambutnya acak-acakan. Tapi ia tetap bertahan di sana. Menunggu. Menjaga. Seolah takut Yanti akan menghilang jika ia pergi sebentar saja.
Di luar ruang rawat, Adi baru datang membawa sarapan. Toro menerima bubur itu. “Thanks.”
Adi duduk di sebelahnya. “Kamu serius sayang sama dia?”
Toro tertawa hambar. “Pertanyaan bodoh.”
“Kalau serius, kenapa malah bikin dia sakit?”
Toro terdiam. Ia memandangi Yanti lama. “Aku takut kehilangan dia.”
Adi menghela napas. “Takut kehilangan sama nyakitin itu beda.”
Untuk pertama kalinya, kalimat itu benar-benar menghantam pikirannya.
Tak lama kemudian Yanti mulai bangun. Matanya membuka perlahan. Hal pertama yang ia lihat adalah Toro yang masih duduk di dekatnya.
“Kamu belum pulang…”
Toro tersenyum kecil. “Nanti aja.”
“Kamu sekolah gimana?”
“Bodo amat.”
Yanti mengernyit. “Jangan gitu…”
Toro tertawa kecil. “Aku lebih takut kehilangan kamu daripada kehilangan pelajaran.”
Kalimat itu membuat dada Yanti terasa aneh. Hangat. Tapi juga berat.
Pukul sembilan pagi Dwi dan Tina datang. “Heh putri tidur…” Tina langsung nyelonong masuk.
Dwi mendekat sambil membawakan teh hangat. “Udah mendingan? Dokter bilang jangan stres.”
Tina nyeletuk. “Kalau Toro posesif lagi, tak suntik pakai infus.”
Toro cuma geleng-geleng kepala.
Tiba-tiba suasana berubah saat Riyadi muncul di pintu. Ia datang sendirian, membawa plastik berisi buah. Wajahnya tenang.
Yanti menoleh. “Riyad…”
Riyadi tersenyum kecil. “Udah sehat?”
“Iya…”
“Syukur.” Ia meletakkan buah di meja kecil, lalu berdiri canggung.
Toro memperhatikan diam-diam. Setiap ada Riyadi, dadanya selalu terasa tidak nyaman.
Riyadi menatap Yanti sebentar. “Jangan terlalu keras sama diri sendiri.”
Kalimat itu sederhana. Tapi selalu terasa hangat di telinga Yanti. Berbeda dengan Toro yang mencintai dengan api besar, Riyadi justru seperti hujan — tenang, diam, menenangkan.
Toro akhirnya berdiri. “Aku beli makan dulu.” Padahal sebenarnya ia hanya ingin keluar sebentar karena pikirannya mulai penuh.
Di luar rumah sakit, Toro menyalakan rokok. Tangannya gemetar kecil. Adi menyusul berdiri di sampingnya.
“Kamu cemburu lagi?”
Toro tertawa hambar. “Gue capek begini.”
“Ya jangan jadi monster.”
“Aku nggak bisa lihat cowok lain dekat sama dia.”
Adi menghela napas panjang. “Kalau kamu terus begitu, Yanti bakal makin jauh.”
Kalimat itu kembali menusuk Toro.
Sementara di dalam ruang rawat, Dwi dan Tina keluar membeli minum. Tinggal Yanti dan Riyadi berdua.
“Kamu takut ya?” tanya Riyadi pelan.
Yanti menunduk. “Aku capek…”
“Karena Toro?”
Yanti diam cukup lama, lalu mengangguk kecil.
Riyadi tersenyum tipis. “Kamu itu dari dulu nggak bisa hidup dikekang. Dulu waktu di Tegorejo, kamu bebas banget. Mau main ke mana aja, mau ketawa sama siapa aja, mau nangis pun rame-rame.”
Air mata Yanti mulai berkumpul. “Aku kangen diriku yang dulu…”
Riyadi menatapnya lama. Di dalam hatinya ada rasa sakit yang diam-diam tumbuh. Karena semakin hari ia semakin sayang pada Yanti. Tapi ia sadar — Yanti tidak pernah benar-benar melihatnya sebagai lelaki.
“Kamu bahagia sama dia?” pertanyaan itu keluar pelan sekali.
Yanti terdiam. Lama. Sangat lama. “Aku nggak tahu…”
Jawaban itu membuat hati Riyadi terasa nyeri. Tapi ia hanya tersenyum kecil. “Kalau capek, jangan dipaksa.”
Tak lama kemudian Toro kembali masuk. Suasana langsung berubah canggung lagi.
“Heh, makan dulu.” Toro menyerahkan roti pada Yanti.
Yanti menerimanya pelan. “Thanks.”
Riyadi berdiri. “Aku balik sekolah dulu.”
“Cepet amat…” kata Yanti.
“Masih ada praktik.”
Sebelum pergi, Riyadi berkata pelan, “Cepet sembuh ya.”
“Iya…” jawab Yanti.
Toro hanya diam memperhatikan.
Setelah Riyadi pergi, ruangan menjadi sunyi. Toro duduk kembali. Wajahnya murung.
Yanti menyadarinya. “Kamu kenapa?”
Toro diam sebentar. “Kamu sayang sama Riyadi?”
Yanti kaget. “Hah? Itu pertanyaan apaan sih…”
“Aku cuma pengen tahu.”
Yanti menghela napas. “Dia sahabat.”
Toro tertawa kecil hambar. “Semua cowok di dekat kamu sahabat.”
“Aku capek dicurigain terus…” kata Yanti lirih.
“Aku juga capek takut kehilangan kamu.”
“Tapi bukan berarti kamu boleh ngatur hidupku…”
Toro diam.
Dan lagi-lagi mereka terjebak di lingkaran yang sama. Cinta. Cemburu. Takut kehilangan. Lalu saling melukai.
Sore harinya dokter memperbolehkan Yanti pulang besok pagi. Tapi ia harus istirahat total beberapa hari.
Malam kembali turun. Lampu rumah sakit mulai redup. Adi sudah pulang. Dwi dan Tina juga kembali ke kos. Kini tinggal Toro dan Yanti berdua.
Yanti memandangi langit malam dari jendela. “Kamu nggak capek?”
Toro menggeleng. “Nungguin kamu nggak capek.”
Yanti tersenyum kecil. Tapi hatinya justru semakin berat.
Karena semakin Toro mencintainya, semakin ia merasa kehilangan kebebasannya sendiri.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Yanti mulai takut pada masa depannya sendiri. Takut jika suatu hari cinta yang terlalu besar itu benar-benar menghancurkan dirinya perlahan.
BAB XVIII
KETIKA IBU MENITIPKAN ANAK GADISNYA
“Tentang Kepercayaan Seorang Ibu, dan Seorang Lelaki yang Berjanji Menjaga dengan Caranya Sendiri”
Pagi di Klaten terasa dingin setelah hujan semalaman. Kabut tipis masih menggantung di jalanan depan rumah sakit. Daun-daun trembesi basah. Udara lembap.
Di dalam ruang rawat, Yanti baru saja selesai sarapan. Wajahnya masih pucat, tapi setidaknya ia sudah bisa tersenyum lagi.
Dwi sibuk membereskan tas. Tina malah sibuk makan apel jatah pasien. “Heh itu buat Yanti!” “Kan Yanti lagi kenyang.” Siti cuma geleng-geleng sambil melipat selimut.
Toro duduk diam di dekat jendela. Matanya sembab. Tapi ia tetap bertahan.
Tak lama kemudian langkah kaki tergesa terdengar dari lorong. Bu Rosmiyati muncul di depan pintu.
“NDUK!”
Yanti spontan menangis. Bu Rosmiyati langsung memeluk anak gadisnya erat. “Ya Allah… kamu bikin ibu takut…”
Dwi dan teman-teman minggir memberi ruang. Toro berdiri canggung di sudut.
Bu Rosmiyati mengusap rambut Yanti perlahan. “Kamu kenapa sampai sakit begini…”
“Aku cuma kecapekan…”
“Kamu jangan bohong sama ibu.”
Yanti diam. Ibunya mengenalnya terlalu baik. Tahu kapan anaknya benar-benar kuat dan tahu kapan sedang hancur diam-diam.
Beberapa menit kemudian Bu Rosmiyati menoleh ke Toro. “Kamu Toro?”
Toro gugup. “I-iya Bu…”
“Kemarin yang jaga Yanti?”
“Iya Bu…”
Bu Rosmiyati tersenyum kecil. “Terima kasih ya.”
Toro salah tingkah. “Iya Bu… nggak apa-apa…”
Dari belakang, Tina berbisik ke Siti, “Calon mantu mode aktif.” Siti langsung cubit pelan. “Diem.”
Sekitar pukul sepuluh, dokter memperbolehkan Yanti pulang. Di perjalanan menuju kos, Bu Rosmiyati menggenggam tangan Yanti pelan. “Kamu jangan terlalu dipikir macam-macam. Sekolah yang tenang.” Yanti mengangguk. Tapi matanya kosong.
Sesampainya di kos, Bu Rosmiyati membantu membereskan barang. Toro berdiri kikuk di teras, tidak berani masuk terlalu jauh.
Bu Rosmiyati akhirnya menghampirinya. “Kamu serius sama anak saya?”
Toro tegang. “I-iya Bu. Serius banget malah.”
Bu Rosmiyati tersenyum kecil. “Yanti itu keras kepala. Tapi hatinya lembut. Dia dari kecil terbiasa bebas. Suka berteman. Suka ketawa. Kalau sedih dipendem sendiri.” Suaranya mulai pelan. “Jangan bikin dia takut jadi dirinya sendiri.”
Kalimat itu langsung menghantam Toro. Karena tanpa sadar, itulah yang selama ini ia lakukan.
“Maaf Bu… saya cuma takut kehilangan dia.”
Bu Rosmiyati menghela napas. “Cinta itu dijaga, bukan dikurung.”
Beberapa detik hening. Lalu Bu Rosmiyati berkata pelan, “Ibu nitip Yanti ya. Ibu nggak bisa selalu ada di sini. Kalau dia sakit, kalau dia sedih, kalau dia kenapa-kenapa… tolong dijaga.”
Untuk pertama kalinya Toro merasa dipercaya sepenuhnya. “Iya Bu. Saya janji.”
Dari balik pintu kamar, Yanti diam-diam mendengar semuanya. Dadanya sesak. Karena ia tahu — Toro memang mencintainya. Sangat mencintainya. Tapi cinta sebesar itu kadang justru terasa menakutkan.
Siang itu Bu Rosmiyati pamit pulang. Sebelum pergi, ia memeluk Yanti erat. “Nduk, jangan terlalu keras sama hidup.”
Air mata Yanti jatuh. “Aku kangen rumah…”
Bu Rosmiyati tersenyum sedih. “Rumah selalu nunggu kamu pulang.”
Setelah ibunya pulang, Yanti duduk di kamar kos. Sunyi. Toro masuk membawa bubur ayam. “Nih… harus makan.” Yanti menerimanya pelan.
Toro duduk di samping ranjang. Beberapa saat mereka diam. Lalu ia berkata lirih, “Aku bakal berubah. Aku nggak mau bikin kamu sakit lagi.”
Air mata Yanti kembali berkumpul. Ia tahu Toro sedang berusaha. Tapi mengubah rasa takut kehilangan tidak pernah mudah.
Sore harinya anak-anak datang menjenguk. Suasana langsung ramai. Ahmad masuk bawa komik. “Heh pasien gagal move on!” Muji bawa rambutan. “Ini hasil nyolong tetangga.” Yono duduk selonjoran. “Kalau Yanti mati, siapa yang nyontekin gue nanti?” Satu ruangan melempar bantal ke arah Yono.
Untuk pertama kalinya sejak sakit, Yanti tertawa cukup lama.
Toro hanya memandangi dari sudut ruangan. Diam. Karena akhirnya ia sadar — yang membuat Yanti hidup bukan hanya cinta. Tapi juga teman-temannya. Tawa mereka. Kebebasannya. Dunianya sendiri.
Malam itu, saat semua sudah pulang, Toro berdiri di depan kos. “Heh, aku belajar pelan-pelan ya.”
“Belajar apa?”
“Belajar nggak takut kehilangan. Karena kalau aku terus begini, yang hilang malah kamu.”
Yanti terdiam.
Angin malam bertiup pelan melewati halaman kos. Di bawah lampu jalan yang redup, untuk pertama kalinya Yanti melihat sisi lain dari Toro. Bukan lelaki galak yang ditakuti satu STM. Melainkan seorang laki-laki muda yang sebenarnya hanya takut ditinggalkan sendirian.
BAB XIX
CINTA YANG TAK BISA DIPAKSA
“Tentang Seseorang yang Datang Membawa Kesetiaan, Namun Tak Pernah Benar-Benar Memiliki Tempat di Hati”
Musim hujan mulai sering turun di Pedan. Pagi-pagi terasa dingin. Setelah sakitnya, hidup Yanti perlahan kembali normal. Ia kembali masuk sekolah, kembali bercanda bersama Dwi, Tina, dan Siti.
Namun ada sesuatu yang berubah. Kini Toro mulai berusaha menahan dirinya. Ia tidak lagi terlalu sering melarang, tidak lagi mudah marah saat Yanti bersama teman-temannya. Meski kadang rasa cemburu itu masih terlihat jelas di matanya. Dan justru karena perubahan itu, Yanti mulai merasa bersalah sendiri.
Pagi itu kelas Teknik Tekstil ribut seperti biasa. Ahmad menggambar karikatur guru, Muji tidur sambil ngiler, sementara Yono dan Adi debat soal offside. Yanti baru masuk, rambutnya masih basah terkena gerimis.
“Woiii Yanti datang… pagi ratu STM!”
Yanti melempar penghapus ke arah Ahmad. “Ratu ndasmu!”
Satu kelas pecah tertawa. Tina mendekat sambil berbisik. “Kamu sadar nggak? Toro sekarang berubah banget.”
Yanti menoleh ke luar kelas. Toro berdiri di koridor, bersandar di tembok, memperhatikan dari jauh. Tapi kali ini ia tidak masuk, tidak marah, tidak menarik Yanti keluar. Ia hanya diam. Dan itu justru membuat hati Yanti terasa aneh.
“Tik, kamu masih takut sama Toro?” tanya Dwi.
Yanti terdiam. “Aku bingung. Dia sekarang baik banget… Kalau aku tetap nggak bisa cinta gimana?”
Dwi ikut diam. Karena ia tahu — selama ini Yanti mencoba menerima Toro, mencoba membuka hati. Tapi semakin dipaksa, hatinya justru semakin lelah.
Jam praktik dimulai. Suara mesin pintal memenuhi ruangan. Yanti berdiri di dekat mesin bersama Riyadi dan Muji. Tiba-tiba mesin Yanti macet. Benang kusut berantakan.
Riyadi langsung mendekat. “Heh minggir bentar.” Tangannya membantu membetulkan mesin dengan tenang. Beberapa menit kemudian mesin kembali normal.
“Makasih…” kata Yanti.
Riyadi tersenyum tipis. “Biasa.”
Dari pintu praktik, Toro melihat semuanya. Rahangnya mengeras. Tapi ia diam.
Siang harinya hujan turun deras. Anak-anak berteduh di teras gedung praktik. Yanti duduk bersama Dwi dan Siti. Tiba-tiba seseorang datang dari arah gerbang — membawa payung hitam, jaket abu-abu lusuh.
Teguh.
“Heh…” Ia tersenyum gugup.
Yanti kaget. “Kamu ke sini? Hujan-hujan begini?”
“Pengen ketemu aja.”
Teguh mengeluarkan plastik kecil dari tasnya. “Roti. Kamu dulu bilang suka roti kacang.”
Yanti terdiam. Ia sendiri lupa pernah bilang itu.
“Kamu jauh-jauh cuma buat nganter roti?”
Teguh tertawa malu. “Iya. Biar nggak lupa makan.”
Kalimat sederhana itu membuat hati Yanti tidak enak. Lelaki di depannya benar-benar tulus. Tidak pernah memaksa, tidak pernah marah, tidak pernah melarang. Ia hanya datang, diam-diam memperhatikan.
Namun suasana berubah saat Toro muncul dari belakang. Matanya tertuju pada Teguh. Udara mendadak dingin.
“Kamu siapa?” suara Toro datar.
Teguh tersenyum sopan. “Aku temannya Yanti.”
Toro tertawa kecil hambar. “Teman?”
Yanti mulai kesal. “Toro, jangan mulai.”
Teguh berdiri pelan. “Aku pulang aja…” Yanti merasa tidak enak. Tapi Teguh hanya tersenyum. “Nggak apa-apa.” Lalu ia menoleh ke Toro. “Jaga Yanti baik-baik ya.”
Kalimat itu membuat Toro membeku sesaat. Yanti justru semakin merasa bersalah. Karena lelaki seperti Teguh — bahkan saat hatinya terluka — masih sempat memikirkan kebahagiaan orang lain.
Setelah Teguh pergi, suasana di teras menjadi sunyi. Toro berdiri memandang jalanan basah.
“Kamu harus begitu tadi?” kata Yanti kesal.
“Aku salah?”
“Kamu bikin dia nggak nyaman.”
Toro tertawa pahit. “Aku cuma capek lihat cowok selalu datang ke hidupmu.”
Yanti terdiam. “Bukan aku yang minta mereka datang.”
Toro menoleh. Matanya terlihat lelah. “Aku tahu. Tapi aku takut. Takut someday kamu sadar kalau aku bukan orang yang kamu mau.”
Yanti membeku. Untuk pertama kalinya Toro terdengar sangat rapuh.
Malam harinya Yanti duduk sendirian di kamar kos. Lampu redup. Dwi dan Tina sudah tidur. Siti masih membaca di pojok. Pikiran Yanti penuh — tentang Toro, tentang Teguh, tentang Riyadi. Tentang semua orang yang datang membawa rasa sayang. Tapi anehnya, hatinya justru semakin kosong.
“Heh, kamu belum tidur?” Dwi turun dari kasur.
“Belum.”
“Mikirin siapa?”
Yanti tersenyum hambar. “Aku capek.”
“Karena cinta?”
“Karena hidup.”
Dwi duduk di sampingnya. “Kamu tahu nggak? Kadang orang yang paling tulus belum tentu jadi orang yang paling kita cinta.”
Yanti menunduk. Air matanya jatuh perlahan. Karena semakin hari ia sadar — perhatian, kesetiaan, dan pengorbanan tidak selalu bisa memaksa hati untuk mencintai.
Dan itulah luka paling menyakitkan. Bagi seseorang yang mencintai terlalu dalam. Namun tidak pernah benar-benar dimiliki.
BAB XX
ASAP ROKOK DAN LUKA YANG TAK SELESAI
“Tentang Seorang Gadis yang Mulai Kehilangan Arah, dan Asap yang Perlahan Menjadi Tempat Pelariannya”
Malam di Pedan terasa dingin.
Angin berembus pelan melewati jendela kos yang sedikit terbuka.
Lampu kamar menyala redup.
Dan di sudut ranjang dekat dinding…
Yanti duduk sendirian sambil memeluk lututnya.
Di luar kamar…
suara Tina masih terdengar ribut menelepon temannya.
Dwi sedang mencuci pakaian.
Sedangkan Siti sibuk belajar sambil mendengarkan radio kecil.
Namun Yanti…
diam.
Pikirannya jauh ke mana-mana.
Sudah beberapa minggu sejak ia sakit.
Sudah beberapa minggu pula Toro berubah lebih tenang.
Lebih sabar.
Lebih berusaha mengerti dirinya.
Namun anehnya…
justru hati Yanti semakin lelah.
Karena ternyata…
bukan hanya Toro yang membuatnya sesak.
Melainkan hidupnya sendiri.
Ia lelah menjadi pusat perhatian.
Lelah diperebutkan.
Lelah dicintai terlalu besar.
Dan lebih dari semuanya…
ia lelah kehilangan orang-orang yang ia sayangi.
Mas Nur pergi.
Kakang Riyadi menghilang dari hidupnya.
Persahabatan masa SMP perlahan menjauh.
Dan kini…
bahkan hidup di STM pun mulai terasa berat.
Tok.
Tok.
Tok.
“Heh…”
Dwi masuk sambil membawa handuk.
“Kamu belum tidur?”
“Belum ngantuk.”
Dwi duduk di sampingnya.
“Kamu akhir-akhir ini sering bengong.”
Yanti tersenyum kecil hambar.
“Capek aja.”
“Karena Toro?”
Yanti diam.
Lalu menggeleng pelan.
“Karena hidup.”
Dwi menatap sahabatnya lama.
Ia tahu…
ada luka yang belum selesai di hati Yanti.
Dan luka itu jauh lebih dalam daripada sekadar soal pacar.
“Kamu masih mikirin Kakang ya?”
DEG.
Yanti langsung memalingkan wajah.
Dwi menghela napas kecil.
“Aku tahu kok…”
“Kamu paling kehilangan dia.”
Air mata Yanti mulai berkumpul.
“Aku nggak ngerti…”
“Kenapa semua orang pergi tanpa pamit…”
Suasana kamar mendadak sunyi.
Hanya suara kipas angin kecil yang terdengar pelan.
Dwi menggenggam tangan Yanti.
“Tik…”
“Orang datang dan pergi itu biasa.”
“Tapi hidupmu jangan ikut berhenti.”
Yanti tersenyum tipis.
Namun matanya mulai basah.
Malam makin larut.
Semua penghuni kos mulai tidur.
Lampu dimatikan.
Dan suasana menjadi sunyi.
Namun sekitar tengah malam…
Yanti justru keluar pelan dari kamar.
Ia berjalan menuju belakang kos.
Ke dekat sumur tua kecil yang biasa dipakai mencuci.
Udara malam terasa dingin.
Langit gelap.
Dan suara jangkrik terdengar bersahutan.
Yanti duduk di kursi kayu tua.
Lalu dari saku sweternya…
ia mengeluarkan sesuatu.
Sebungkus rokok.
Tangannya gemetar kecil.
Ia memandang benda itu lama.
Lalu tertawa hambar sendiri.
“Beginian ya…”
Perlahan…
ia menyalakan korek.
Ctak.
Api kecil menyala.
Dan beberapa detik kemudian…
asap pertama keluar dari bibirnya.
Batuk.
“Heekh… uhuk!”
Yanti langsung meringis.
“Pahit…”
Namun entah kenapa…
kepalanya terasa sedikit ringan.
Ia kembali menghisap pelan.
Dan asap putih itu perlahan naik ke udara malam.
Di saat itulah…
suara langkah kaki terdengar dari belakang.
“Heh!”
Yanti langsung kaget.
Ternyata Abdul.
“Kak Abdul?!”
Abdul melongo.
“Astaga…”
“Kamu ngerokok?!”
Yanti langsung panik menyembunyikan rokoknya.
“Eh… ini…”
“Ini apaan?!”
Abdul mendekat cepat.
Lalu merebut rokok dari tangan Yanti.
“Sejak kapan kamu beginian?!”
Yanti diam.
Abdul benar-benar shock.
Karena selama ini…
meski tomboy…
Yanti tetap gadis yang ceria dan hangat.
Dan melihatnya duduk sendirian merokok tengah malam…
membuat hati Abdul terasa sakit.
“Kamu stres segitunya?”
Yanti menunduk.
Air matanya jatuh pelan.
“Aku capek…”
Suara itu lirih sekali.
Rapuh sekali.
Dan untuk pertama kalinya…
Abdul benar-benar melihat betapa hancurnya hati Yanti selama ini.
“Kamu jangan nyakitin diri sendiri begini…”
“Aku cuma pengen tenang…”
“Rokok bukan jawaban.”
“Aku nggak tahu harus gimana lagi…”
Abdul menghela napas panjang.
Lalu duduk di samping Yanti.
Beberapa saat mereka diam.
Memandangi langit malam.
“Kamu masih mikirin Kakang?”
tanya Abdul pelan.
DEG.
Yanti langsung menangis lagi.
“Aku kangen…”
“Dulu waktu ada dia…”
“Aku nggak pernah ngerasa sendirian…”
Abdul mendengarkan diam-diam.
“Sekarang…”
“Semua berubah…”
“Mas Nur pergi…”
“Kakang pergi…”
“Teman-teman berubah…”
“Aku capek…”
Abdul menatap Yanti lama.
Lalu berkata pelan.
“Kamu tahu kenapa semua orang sayang sama kamu?”
Yanti menggeleng pelan.
“Karena kamu selalu bikin orang nyaman.”
“Tapi kamu nggak pernah benar-benar cerita kalau kamu sendiri juga butuh disayang.”
Air mata Yanti makin deras.
Abdul lalu mengambil bungkus rokok itu.
Dan tanpa banyak bicara…
ia membuangnya ke selokan kecil dekat sumur.
“Heh!”
“Itu mahal tau…”
“Kalau mau ngerokok…”
“Mending bakar jagung aja.”
“Hahaha…”
Yanti akhirnya tertawa kecil di tengah tangisnya.
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya sejak lama…
Yanti merasa ada seseorang yang benar-benar mengerti dirinya tanpa menghakimi.
Keesokan harinya…
hari kembali berjalan seperti biasa.
Sekolah ramai.
Mesin tekstil berdengung.
Suara guru memenuhi kelas.
Namun kini…
Yanti mulai lebih sering diam.
Ia masih tertawa bersama teman-temannya.
Masih bercanda.
Masih terlihat ceria.
Tetapi orang-orang dekatnya mulai sadar…
senyum Yanti tidak lagi setulus dulu.
Saat jam istirahat…
Riyadi menghampirinya di taman belakang sekolah.
“Heh…”
“Apa?”
“Kamu kurang tidur?”
“Kok tahu?”
“Mata kamu kayak panda kesiangan.”
“Hahaha…”
Riyadi duduk di sebelahnya.
Lalu menyerahkan teh botol dingin.
“Nih.”
“Makasih.”
Beberapa saat mereka diam.
Lalu Riyadi berkata pelan.
“Kalau capek…”
“Jangan dipendem sendiri.”
DEG.
Kalimat itu…
persis seperti yang dikatakan Abdul tadi malam.
Yanti menatap Riyadi lama.
Dan entah kenapa…
dadanya terasa hangat sekaligus sesak.
Karena semakin banyak orang menyayanginya…
semakin ia takut menyakiti mereka semua.
Sore harinya…
Toro datang menjemput seperti biasa.
“Heh cantik…”
Yanti tersenyum kecil.
Namun saat Toro menggenggam tangannya…
entah kenapa…
Yanti tidak lagi merasakan debar yang sama seperti dulu.
Dan itu membuatnya takut.
Takut kalau sebenarnya…
hatinya mulai lelah untuk mencintai.
Malam kembali turun di Pedan.
Dan di balik jendela kamar kos…
Yanti memandangi langit sambil berbisik lirih:
“Kenapa hidup rasanya makin berat ya…”
BAB XXI
SURAT DARI COMAL
“Tentang Hujan yang Membawa Kabar, Nama yang Dipanggil Saat Sakit, dan Seorang Gadis yang Mulai Kehilangan Arah Hidupnya”
Langit Pedan siang itu mendung. Angin dari arah persawahan bertiup pelan. Suara mesin tekstil mulai berhenti satu per satu. Anak-anak kelas dua keluar ruangan. Yanti berjalan paling belakang bersama Dwi. Wajahnya murung. Rokok yang mulai sering ia sembunyikan di saku tas membuat Dwi khawatir.
“Heh, kamu semalam ngerokok lagi ya?”
Yanti diam.
“Tik, kamu nggak bakal tenang kalau caranya begini.”
Yanti tertawa hambar. “Memangnya hidupku masih bisa tenang?”
Di depan bengkel, Riyadi duduk bersama Muji, Aris, Yono, dan Adi. Ahmad sibuk bercanda. “Heh Riyadi, Yanti makin cantik ya kalau lagi stres.”
Muji memukul kepala Ahmad. Tapi Riyadi hanya diam memperhatikan Yanti dari kejauhan. Tatapannya teduh. Adi melirik. “Kamu nggak capek ya suka sama orang yang nggak bakal bisa kamu miliki?”
Riyadi tersenyum kecil. “Siapa bilang aku pengin memiliki? Aku cuma pengin dia nggak sedih terus.”
Di parkiran, Toro sudah menunggu. “Kamu lama banget.”
Yanti menghela napas. “Tadi bersihin ruang praktik.”
Toro melirik Riyadi dan yang lain. Yanti langsung kesal. “Toro, aku capek kalau tiap hari dicurigai terus.”
Toro terdiam. Rahangnya mengeras. Dwi menarik Yanti. “Ayo pulang.”
Toro berkata pelan, “Nanti malam aku ke kos.”
Yanti malas menjawab. “Terserah.”
Sepanjang perjalanan pulang, Yanti lebih banyak diam. Dwi bertanya, “Kamu bahagia nggak sih sama Toro?”
Yanti terdiam lama. “Aku nggak tahu.”
“Kalau nggak bahagia kenapa dipertahanin?”
Yanti menatap langit mendung. “Karena aku capek kehilangan orang.”
Dwi menoleh. Untuk pertama kalinya ia sadar — Yanti sebenarnya tidak sedang mempertahankan cinta. Ia hanya takut ditinggalkan lagi.
Malam harinya hujan turun deras. Yanti duduk di teras kos, rokok tipis mengepul dari tangannya. Tiba-tiba suara ketukan pagar terdengar. Toro datang membawa bakso.
“Kamu hujan-hujanan cuma buat nganter bakso?”
Toro duduk di sampingnya. “Aku takut kamu belum makan.”
Beberapa saat hening. “Aku sebenarnya nggak suka marah sama kamu. Tapi aku takut kehilangan kamu.”
Kalimat itu membuat dada Yanti sesak. Kata-kata yang dulu pernah ia dengar dari Mas Nur. Luka lama itu terasa lagi.
Tiba-tiba suara motor berhenti di depan kos. Seorang ibu paruh baya turun, bajunya basah. “Permisi… saya cari Yanti.”
Yanti berdiri. “Saya, Bu.”
Ibu itu menatapnya lama, matanya berkaca-kaca. “Saya ibunya Teguh.”
Jantung Yanti berdegup keras.
Mereka duduk di ruang tamu. Ibu Teguh mengeluarkan amplop lusuh. “Ini buat kamu.”
Tangan Yanti gemetar menerima surat itu.
“Untuk Yanti… kalau suatu hari surat ini sampai ke tanganmu, mungkin aku sudah jauh.
Aku nggak pernah nyalahin kamu karena nggak bisa mencintaiku. Karena cinta memang nggak bisa dipaksa.
Aku cuma pengin kamu tahu — kamu adalah alasan paling indah yang pernah bikin aku semangat hidup.
Kalau nanti aku nggak ada, jangan merasa bersalah. Yang salah bukan kamu. Yang salah mungkin aku — terlalu mencintai seseorang sampai lupa menjaga diriku sendiri.
Dan kalau suatu hari kamu sedih, ingat satu hal ini: ada seseorang di Comal yang pernah mencintaimu dengan tulus.”
Tangisan Yanti pecah. Toro memegang pundaknya, tapi Yanti justru semakin hancur. Ibu Teguh mulai menangis.
“Sejak kamu nolak dia, dia berubah. Sering mabuk, sering ngurung diri. Paru-parunya makin parah… Waktu koma, dia nyebut nama kamu terus.”
Yanti membeku. “Dia bilang… Yanti… tolong jangan pergi…”
Suasana ruangan sunyi. Hanya suara hujan dan tangis.
Malam semakin larut. Ibu Teguh pamit pulang. “Kalau suatu hari sempat, datanglah ke makam Teguh. Dia pasti senang.”
Yanti hanya bisa menangis sambil mengangguk.
Dwi memeluknya erat. “Aku jahat ya…” “Jangan ngomong gitu…” “Aku bikin orang meninggal…” “Bukan salahmu…”
Tapi Yanti terus menangis. Untuk pertama kalinya ia benar-benar membenci dirinya sendiri.
Toro masih duduk diam. Lalu berkata pelan, “Aku takut kehilangan kamu juga.”
Yanti semakin hancur. Karena kini kata kehilangan bukan lagi sekadar rasa takut. Melainkan sesuatu yang benar-benar mulai merenggut orang-orang di sekitarnya.
Di luar, hujan belum berhenti. Angin malam Pedan terasa dingin. Dan di kamar kos sederhana itu, seorang gadis desa bernama Yanti mulai tenggelam semakin dalam ke dalam luka hidupnya sendiri.
BAB XXII
NAMA YANG DISEBUT SAAT KOMA
“Tentang Perjalanan ke Comal, Makam yang Basah oleh Hujan, dan Hati Seorang Gadis yang Semakin Kehilangan Arah”
Sejak kedatangan ibu Teguh malam itu, hidup Yanti kembali berubah. Bukan karena cinta, bukan karena Toro, bukan pula karena kenangan tentang Mas Nur atau Kakang Riyadi. Tetapi karena untuk pertama kalinya ia merasa benar-benar menjadi penyebab luka seseorang. Dan rasa bersalah itu pelan-pelan mulai memakan dirinya dari dalam.
Pagi di STM Tekstil Pedan terasa lebih dingin dari biasanya. Kabut tipis masih turun di halaman sekolah. Yanti sudah duduk sendiri di depan ruang praktik. Matanya sembab. Wajahnya pucat. Dwi datang membawa teh hangat.
“Kamu nggak tidur ya semalam?”
Yanti tersenyum hambar. “Kalau merem, yang kebayang wajah ibunya Teguh terus.”
Dwi terdiam. “Tik, kamu jahat ya?” Yanti bertanya lirih. “Jangan ngomong begitu. Dia sampai sakit karena cinta nggak bisa dipaksa.”
“Kenapa hidupku jadi begini…” Air mata Yanti jatuh lagi.
Dari kejauhan, Riyadi diam-diam memperhatikan. Ahmad menyenggol pelan. “Kamu nggak nyamperin?” Riyadi menggeleng. “Dia lagi pengin sendiri. Yanti makin kurus. Dia terlalu banyak nyimpen luka sendirian.”
Jam pelajaran berlangsung lambat. Praktik menenun, tapi Yanti terus salah memasang benang. Tangannya gemetar. Pikirannya kosong. Bu guru sampai menegur. Toro yang berada di dekat pintu praktik memperhatikan dengan rahang mengeras. Ia tak suka melihat Yanti seperti itu, tapi setiap kali mencoba mendekat, Yanti justru semakin menjauh.
Jam istirahat, Yanti tidak makan. Ia duduk di belakang sekolah, rokok kembali menyala di tangannya. Toro datang dan merebutnya.
“Kembalikan.”
“Nggak.”
“Aku lagi pengin sendiri.”
“Aku takut kamu makin hancur.”
Yanti tertawa pahit. “Memangnya aku masih bisa lebih hancur?”
Toro duduk di sampingnya. “Kita ke Comal. Ziarah ke makam Teguh.”
Yanti membeku. “Aku nggak sanggup.”
“Justru karena itu kamu harus datang.”
Malam harinya Yanti terus memikirkan ucapan Toro. Dadanya semakin sesak. Ia ingin datang, tapi takut menghadapi rasa bersalahnya sendiri.
Dua hari kemudian mereka berangkat. Bukan hanya Toro dan Yanti, tapi juga Dwi, Riyadi, Muji, Aris, dan Ahmad. Kereta ekonomi pagi dari Klaten menuju Pekalongan. Suasana stasiun ramai. Ahmad langsung bercanda.
“Kalau nanti aku hilang, jangan dicari.”
“Kenapa?”
“Aku ikut mbak-mbak kantin.”
Semua tertawa. Yanti tersenyum kecil — dan itu membuat Riyadi sedikit lega.
Perjalanan terasa panjang. Yanti duduk dekat jendela, diam. Toro di seberangnya. Dwi berbisik, “Kamu masih takut?” Yanti mengangguk. “Aku takut ibunya benci sama aku.” “Kalau benci, nggak mungkin beliau datang baik-baik ke kos.”
Siang hari mereka sampai di Comal. Udara pantura panas. Rumah Teguh di gang kecil dekat pasar. Ibu Teguh langsung menangis melihat Yanti.
“Nduk…”
Yanti menunduk. “Maaf, Bu…”
Wanita itu memeluknya erat. Tidak ada kemarahan di sana. Hanya kesedihan seorang ibu yang kehilangan anaknya.
Mereka duduk di ruang tamu sederhana. Foto Teguh terpajang di meja. Yanti menatapnya lama. Wajah yang dulu sering tersenyum padanya, kini tinggal kenangan.
“Sejak kenal kamu, Teguh jadi sering pulang cepat. Rajin mandi. Suka nyisir rambut. Dia sering cerita tentang kamu — katanya ada gadis tomboy dari Tegorejo yang bikin dia semangat hidup.”
Air mata Yanti jatuh lagi. Toro menggenggam tangannya. Kali ini Yanti tidak menolak. Tubuhnya benar-benar lemas.
Sore hari mereka pergi ke makam Teguh. Langit mendung. Rumput basah sisa hujan malam. Saat melihat nisan bertuliskan nama Teguh, lutut Yanti lemas. Dwi buru-buru memeganginya.
Yanti menangis pelan. “Aku minta maaf… aku nggak pernah bermaksud nyakitin kamu…”
Angin sore bertiup dingin. Semua terdiam. Bahkan Ahmad yang paling cerewet hanya menunduk.
Toro berdiri agak jauh. Sementara Riyadi diam memperhatikan Yanti. Dan untuk pertama kalinya, Riyadi sadar satu hal — hidup Yanti terlalu penuh luka. Dan semua orang yang mencintainya selalu datang membawa rasa sakit baru.
Yanti duduk lama di depan makam. Tangannya gemetar menabur bunga.
“Aku jahat ya…”
Dwi memeluk pundaknya. “Kamu cuma belum bisa mencintai dia.”
“Tapi dia mati karena aku…”
“Bukan.” Suara Riyadi tiba-tiba terdengar. Semua menoleh. Riyadi melangkah pelan mendekat. “Orang nggak mati karena cinta. Kadang orang cuma terlalu kehilangan arah hidup.”
Kalimat itu membuat suasana hening. Dan untuk pertama kalinya, Yanti menatap Riyadi cukup lama. Tatapan yang teduh. Tenang. Tidak menuntut apa pun.
Malamnya mereka menginap di rumah Dwi di Pekalongan. Suasana sedikit lebih hangat. Ibu Dwi memasakkan nasi megono dan ikan asin. Ahmad mulai bercanda lagi.
“Kalau aku mati nanti, jangan nangis ya.”
Muji langsung menyumpal mulutnya dengan kerupuk. “Mulutmu sumpah!”
“Hahaha!”
Untuk pertama kalinya sejak berhari-hari, Yanti tertawa kecil. Dan semua orang langsung menoleh. Karena mereka rindu mendengar tawa itu.
Namun malam semakin larut, dan kesedihan kembali datang. Yanti duduk sendiri di teras rumah Dwi. Angin malam Pekalongan terasa dingin. Riyadi datang membawa teh hangat.
“Nih.”
“Makasih.”
Mereka diam cukup lama. Lalu Riyadi berkata pelan, “Kamu nggak boleh nyalahin diri sendiri terus.”
“Aku capek, Yad…”
“Capek kenapa?”
“Capek bikin orang sedih.”
Riyadi tersenyum tipis. “Kamu tahu kenapa banyak orang sayang sama kamu?”
Yanti menoleh pelan.
“Karena kamu selalu bikin mereka merasa hidup.”
DEG. Yanti langsung diam. Air matanya jatuh lagi.
Riyadi melanjutkan lirih, “Tapi kamu lupa — diri kamu sendiri juga butuh disayang.”
Malam terasa semakin sunyi. Di bawah langit Pekalongan yang mendung, Yanti mulai sadar — selama ini ia terlalu sibuk menjaga perasaan orang lain sampai lupa menjaga dirinya sendiri.
Namun tanpa Yanti sadari, di dalam rumah, Toro memperhatikan semuanya dari balik jendela. Tatapannya perlahan berubah gelap. Karena lagi-lagi ia melihat Yanti lebih tenang bersama Riyadi. Dan rasa takut kehilangan itu pelan-pelan mulai berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
BAB XXIII
MAKAM DAN PENYESALAN
“Tentang Hujan di Atas Nisan, Rokok yang Tak Lagi Menenangkan, dan Hati yang Mulai Kehilangan Cahaya”
Keesokan harinya suasana sekolah kembali panas. Gosip menyebar — Yanti sering pergi malam bersama Riyadi. Anak-anak STM memang cepat sekali membuat gosip.
“Heh katanya Toro mulai kalah saing.”
“Riyadi diem-diem nyalip.”
Muji kesal mendengarnya. “Mulut kalian tuh…”
Tapi gosip sudah telanjur menyebar. Dan itu membuat hubungan Toro dan Yanti semakin memburuk.
Sementara Yanti semakin merasa lelah. Ia mulai kehilangan semangat sekolah. Nilainya turun. Sering melamun. Makin sering merokok diam-diam. Bahkan Dwi mulai takut — karena sahabatnya itu perlahan benar-benar kehilangan cahaya dalam hidupnya.
Malam harinya hujan turun deras. Kos-kosan terasa dingin. Tina sibuk membaca majalah. Siti menjahit kancing baju. Dwi mulai kesal melihat Yanti yang kembali duduk di teras sambil merokok.
“Tiiik, kamu mau sampai kapan begini?”
Yanti diam.
“Asap nggak bakal nyelesain masalah.”
“Aku tahu.”
“Terus kenapa tetap dilakuin?”
Yanti tersenyum pahit. “Karena aku nggak tahu lagi cara nenangin diri.”
Kalimat itu membuat Dwi ikut sedih.
TOK TOK TOK. Pagar kos diketuk. Toro datang. Wajahnya dingin.
“Kita ngobrol.”
“Sekarang?”
“Iya.”
Mereka berjalan ke warung kopi kecil dekat jalan raya. Hujan masih gerimis. Lampu jalan redup. Suasana malam Pedan terasa sepi.
Toro duduk diam cukup lama. “Kamu suka Riyadi?”
Yanti menoleh cepat. “Apa?”
“Jawab aja.”
“Toro, kamu mulai lagi.”
“Aku capek lihat kalian terus.”
“Dia sahabatku!”
“Semua cowok yang deket sama kamu selalu cuma sahabat!”
Yanti berdiri. “Kalau kamu nggak percaya, ngapain terus sama aku?”
Toro ikut berdiri. “Aku takut kehilangan kamu!”
“Terus semua harus kamu atur?”
Suasana mulai panas. Beberapa orang warung mulai melirik.
Toro meremas rambutnya frustrasi. “Aku nggak ngerti lagi harus gimana…”
“Aku juga capek,” suara Yanti mulai bergetar. “Aku capek selalu jadi alasan orang ribut.”
Hening. Hanya suara hujan kecil.
“Aku pengin hidup tenang.”
Toro langsung diam. Untuk pertama kalinya ia sadar — cintanya mulai membuat Yanti sesak.
Sepulang dari warung, Yanti tidak langsung masuk kos. Ia berjalan sendiri ke jalan kecil dekat rel kereta. Angin malam dingin. Langit hitam. Pikirannya kembali kacau.
Ia teringat Teguh. Teringat makam itu. Teringat suara ibunya. “Waktu koma… dia nyebut nama kamu terus…”
Air mata Yanti jatuh lagi. Ia mulai merasa hidupnya dipenuhi penyesalan.
Tiba-tiba sebuah motor berhenti di dekatnya. Riyadi.
“Kamu ngapain sendirian malam-malam?”
Yanti buru-buru menghapus air mata. “Nggak apa-apa.”
“Bohong.”
Riyadi turun dari motor. “Kamu habis berantem lagi sama Toro?”
Yanti tertawa kecil pahit. “Kok semua orang gampang nebak hidupku…”
“Karena mukamu nggak pernah bisa bohong.”
Mereka duduk di dekat rel. Kereta malam melintas perlahan. Suara gemuruhnya memecah sunyi.
“Kamu tahu, orang yang terlalu banyak nyimpen luka biasanya lupa caranya bahagia,” kata Riyadi pelan.
Yanti menatap rel panjang di depannya. “Aku pengin bahagia lagi.”
“Bisa.”
“Gimana caranya?”
Riyadi tersenyum kecil. “Pelan-pelan.”
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Yanti merasa sedikit tenang. Bukan karena cinta. Bukan karena janji. Tetapi karena ada seseorang yang mau mendengarkan tanpa menuntut apa pun.
Namun malam itu, di kejauhan, Toro melihat mereka lagi. Dan kali ini sesuatu di dalam dirinya benar-benar mulai pecah.
Keesokan harinya suasana sekolah kembali panas. Gosip yang sudah menyebar semakin menjadi-jadi. Hubungan Toro dan Yanti semakin memburuk.
Sementara Yanti semakin merasa lelah. Ia mulai kehilangan semangat sekolah. Nilainya turun. Sering melamun. Dan makin sering merokok diam-diam. Bahkan Dwi mulai takut — karena sahabatnya itu perlahan benar-benar kehilangan cahaya dalam hidupnya.
Dan tanpa Yanti sadari, masa paling gelap dalam hidupnya baru saja dimulai.
BAB XXIV
KERETA YANG PERGI TANPA PAMIT
“Tentang Terminal Sore Hari, Tangis yang Tak Sempat Dicegah, dan Kepergian yang Mengubah Segalanya”
Langit Desa Tegorejo sore itu berwarna jingga pucat. Angin kemarau bertiup pelan melewati pematang sawah. Daun-daun padi bergoyang seperti sedang mengucapkan selamat tinggal. Tapi tidak ada yang tahu bahwa sore itu akan menjadi sore terakhir sebelum semuanya berubah.
Sejak beberapa minggu terakhir, Riyadi semakin sering diam. Ia masih datang ke rumah Yanti, masih mengantar latihan karate, masih bercanda bersama Aziz dan Pincuk. Tapi sorot matanya berbeda. Ada sesuatu yang sedang dipikirkan sangat dalam.
Karwan sudah hampir setahun bekerja di Tangerang. Sesekali ia mengirim surat. Katanya, pabrik tempatnya bekerja sedang membuka lowongan. Sejak saat itu pikiran Riyadi tidak tenang. Setelah lulus SMA Pegandon, ia merasa hidupnya jalan di tempat. Sementara teman-temannya mulai pergi merantau.
Sore itu Riyadi duduk sendirian di gardu dekat mushola desa. Aziz datang.
“Kau jadi berangkat?”
Riyadi diam beberapa detik. “Iya.”
“Kapan?”
“Sore ini.”
Aziz menatapnya lama. “Kau serius nggak pamit sama Sinok?”
Riyadi terdiam. Angin sore berhembus pelan. “Aku nggak kuat pamit.”
“Dia pasti hancur.”
“Aku tahu.”
“Terus kenapa tetap pergi diam-diam?”
Riyadi tersenyum hambar. “Karena kalau lihat dia nangis, aku nggak bakal jadi berangkat.”
Di sisi lain, Yanti sama sekali tidak tahu. Hari itu ia sedang sibuk belajar untuk ujian nasional. Buku matematika terbuka di meja, tapi pikirannya kacau. Setelah kehilangan Mas Nur, Riyadi adalah satu-satunya orang yang masih selalu ada untuknya. Yang selalu mendengarkan ceritanya. Yang selalu membuatnya tertawa saat sedih. Tanpa sadar, kehadirannya sudah menjadi bagian penting dalam hidupnya.
Menjelang magrib, langit mulai gelap. Aziz dan Riyadi berjalan menuju perempatan Patebon. Sebuah tas besar tergantung di pundak Riyadi — berisi beberapa baju, sarung, jaket karate, dan alamat Karwan.
Mereka berjalan pelan di pinggir jalan pantura. “Heh Di, kalau sukses jangan lupa traktir.”
Riyadi tertawa kecil. “Kalau gagal?”
“Ya pulang lagi.”
Mereka tertawa hambar. Tapi di balik tawa itu, Aziz tahu sahabatnya sedang menahan sesuatu.
Saat sampai di perempatan, bus malam tujuan Jakarta mulai terlihat. Lampunya menyala terang menembus senja. Jantung Riyadi terasa berat.
“Masih bisa batal,” kata Aziz.
Riyadi menggeleng. “Nggak bisa.”
“Karena Sinok?”
“Justru karena Sinok.” Aziz mengernyit bingung. “Aku nggak mau selamanya cuma jadi bayangan tempat dia bersandar. Aku sayang sama dia. Tapi aku tahu — hatinya masih penuh Mas Nur. Dan aku capek berharap.”
Bus berhenti. Kernet berteriak keras. Aziz membantu menaikkan tas Riyadi.
“Jaga diri.”
“Kau juga.”
Aziz menatapnya lama. “Kau yakin nggak mau pamit?”
Riyadi menoleh ke arah langit senja. Matanya mulai merah. “Tolong, kalau Sinok tanya, bilang aku baik-baik aja.”
Kalimat itu langsung membuat Aziz tahu — Riyadi sebenarnya sedang sangat terluka.
Bus mulai berjalan perlahan. Aziz berdiri di pinggir jalan sambil melambaikan tangan. Riyadi duduk dekat jendela, menatap lampu-lampu desa yang perlahan menjauh. Dan untuk pertama kalinya, air matanya jatuh.
Sementara itu di rumah, Yanti sedang duduk di teras. Hatinya gelisah. Bu Rosmiyati keluar membawa teh hangat. “Kamu kenapa bengong terus?”
“Enggak tahu, Bu.” Yanti menatap jalan desa yang mulai gelap. “Kayak ada yang hilang.”
Malam semakin larut. Di dalam bus menuju Jakarta, Riyadi masih belum bisa tidur. Bayangan Yanti terus muncul — tertawa di atas sepeda ontel, marah saat latihan karate, menangis saat ditinggal Mas Nur. Semuanya bercampur jadi satu. Satu kalimat terus terngiang di kepalanya: “Merpati tak pernah ingkar janji…”
Keesokan paginya Yanti datang ke tempat latihan karate. Suasana terasa aneh. Aziz murung. Pincuk lebih banyak diam.
“Kakang Riyadi mana?”
Aziz salah tingkah. Tak ada yang menjawab. Jantung Yanti berdebar tidak enak.
Aziz menghela napas panjang. “Riyadi berangkat ke Tangerang semalam. Nyusul Karwan kerja.”
Dunia Yanti seperti berhenti. “Bohong…”
Aziz menggeleng. “Dia naik bus semalam.”
Saat itulah sesuatu di dalam hati Yanti runtuh lagi.
“Kenapa nggak pamit…” Suaranya bergetar. Air matanya jatuh. “Kenapa semuanya pergi tanpa pamit…”
Aziz menunduk. Pincuk menghela napas berat. Mereka tahu — luka kehilangan Mas Nur saja belum sembuh. Dan sekarang Riyadi ikut pergi.
Hari-hari setelah itu terasa sangat sunyi bagi Yanti. Tidak ada lagi suara sepeda ontel di depan rumah. Tidak ada lagi yang menunggunya selesai latihan. Tidak ada lagi yang diam-diam membawakan es teh. Semua mendadak hilang. Dan yang paling menyakitkan — Riyadi pergi tanpa memberi kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal.
Suatu sore ia duduk sendiri di bawah pohon trembesi depan sekolah. Tempat yang dulu sering menjadi tempatnya menangis. Angin sore bertiup pelan. Untuk pertama kalinya Yanti benar-benar merasa sendiri. Mas Nur pergi. Riyadi pergi. Dua orang paling berarti dalam hidupnya hilang hampir bersamaan.
“Aku capek kehilangan…” gumamnya lirih.
Tapi di tengah semua luka itu, Yanti tetap bertahan. Ia mulai belajar lebih keras. Mulai fokus pada masa depan. Karena ia tahu — hidup tidak akan berhenti hanya karena hatinya patah.
Hari pengumuman kelulusan akhirnya tiba. Suasana SMP Pengandon ramai. Anak-anak berpelukan, menangis, tertawa histeris. Saat nama Yanti diumumkan lulus, Bu Rosmiyati langsung menangis haru. Yanti tersenyum tipis sambil memeluk ibunya. Tapi jauh di dalam hati, ada dua orang yang ingin sekali ia lihat hari itu — Mas Nur dan Kakang Riyadi. Keduanya tidak ada.
Malam harinya Yanti duduk di depan rumah. Angin desa terasa dingin. Suara jangkrik dari sawah. Untuk pertama kalinya sejak lama, Yanti mulai mengerti satu hal — bahwa tumbuh dewasa ternyata sesakit ini. Karena semakin dewasa seseorang, semakin banyak orang yang harus pergi meninggalkan hidupnya.
Tapi di balik semua kehilangan itu, perlahan sebuah tekad mulai tumbuh. Ia tidak ingin terus terpuruk. Ia ingin melanjutkan sekolah. Pergi keluar kota. Membuka hidup baru.
Di bawah langit Tegorejo yang sunyi, Yanti berbisik pada dirinya sendiri: “Aku harus kuat…”
BAB XXV
HARI-HARI SUNYI TANPA MEREKA
“Tentang Kehilangan yang Datang Bersamaan, Ujian Nasional yang Terasa Hampa, dan Seorang Gadis yang Belajar Berdiri di Tengah Luka”
Sejak kepergian Mas Nur ke Jakarta dan Riyadi menyusul Karwan ke Tangerang, hidup Yanti berubah menjadi jauh lebih sunyi. Desa Tegorejo masih sama — suara ayam pagi, pematang sawah hijau, anak-anak bermain layangan. Tapi bagi Yanti semuanya terasa berbeda. Dua orang yang selama ini selalu mengisi hari-harinya sudah pergi.
Pagi itu Yanti duduk di teras sambil memegang buku IPA. Besok ujian nasional dimulai. Tapi ia hanya menatap halaman buku tanpa benar-benar membaca. Bu Rosmiyati keluar membawa teh panas. “Belajar kok malah melamun.”
Yanti tersenyum hambar. “Capek, Bu.”
“Kamu masih mikirin mereka ya?”
Yanti tidak menjawab. Air matanya jatuh. Bu Rosmiyati menghela napas. “Ibu tahu kamu kehilangan. Tapi hidup nggak boleh berhenti.”
“Kenapa semua orang pergi, Bu…” Suaranya lirih. Bu Rosmiyati ikut diam. Bahkan sebagai seorang ibu, ia tidak tahu cara menyembuhkan luka anak gadisnya.
Hari pertama ujian nasional tiba. Suasana SMP Pengandon ramai. Yanti lebih banyak diam. Yuli menghampirinya. “Kamu udah sarapan?” “Udah.” “Bohong. Mukamu kayak orang habis puasa tiga hari.”
Saat bel masuk, Yanti duduk di bangku dekat jendela. Angin pagi masuk pelan. Bayangan Riyadi kembali muncul — suara sepeda ontelnya, candaan gilanya, cara dia diam-diam memperhatikan. Semua terasa begitu dekat, padahal orangnya sudah jauh.
Pengawas membuyarkan lamunannya. “Fokus.” Yanti membuka soal. Tapi pikirannya tetap bertanya — apakah Riyadi sudah sampai? Apakah Mas Nur baik-baik saja? Dan kenapa orang-orang yang ia sayangi selalu pergi meninggalkannya?
Sepulang ujian, Yanti berjalan sendirian melewati jalan kecil dekat kebun bambu. Biasanya Riyadi sering menunggu di tikungan sana, kadang sambil membawa es lilin. “Sinok, kalau nanti kaya jangan lupa sama aku.” Dan Yanti biasanya tertawa. Tapi sekarang jalan itu kosong.
Malam harinya Yanti membuka kotak kecil berisi barang-barang lama: pita biru pemberian Riyadi, foto latihan karate, dan secarik kertas: “Merpati tak pernah ingkar janji.” Air matanya jatuh lagi. Untuk pertama kalinya ia merasa benar-benar sendirian.
Hari-hari ujian berlalu lambat. Semakin dekat pengumuman kelulusan, semakin berat hati Yanti. Karena ia sadar masa SMP benar-benar akan berakhir — masa yang penuh cinta pertama, persahabatan, tangis, cemburu, dan kehilangan.
Suatu sore Yanti pergi ke tempat latihan karate di Cepiring. Sensei Sambas dan Sensei Anton langsung sadar — gadis itu jauh lebih murung dari biasanya.
Latihan dimulai. Tapi gerakan Yanti tidak fokus. Pukulannya meleset. Aziz bingung. Pincuk nyeletuk, “Jangan-jangan mikirin Kakang Riyadi.” Biasanya Yanti akan marah-marah. Kali ini ia hanya diam.
Setelah latihan, Aziz duduk di sampingnya. “Kamu marah sama Riyadi?”
Yanti menggeleng. “Aku cuma sedih.”
“Dia berat banget berangkat. Dia takut nggak bisa pergi kalau pamit sama kamu.”
Dada Yanti sesak lagi. “Dia sayang banget sama kamu. Tapi dia sadar — kamu nggak pernah benar-benar bisa lupa sama Mas Nur.”
Air mata Yanti jatuh. Untuk pertama kalinya ia sadar — Riyadi pergi sambil membawa luka juga.
Malam itu Yanti tidak bisa tidur. Ia duduk di bawah pohon mangga depan rumah. Langit penuh bintang. Udara desa dingin. Di tengah kesunyian, ia berbicara pada dirinya sendiri. “Aku jahat ya…” Tanpa sadar ia telah membuat banyak orang terluka. Mas Nur pergi membawa kecewa. Riyadi pergi membawa perasaan yang tidak sempat diucapkan. Dan yang tersisa hanya dirinya sendiri.
Hari pengumuman kelulusan tiba. Suasana sekolah penuh teriakan dan tangisan. Saat nama Yanti dinyatakan lulus, Bu Rosmiyati memeluknya erat. Yanti tersenyum menahan tangis. Tapi di tengah keramaian, ia merasa kosong. Dua orang yang paling ingin ia lihat tidak ada.
Sore harinya anak-anak kelas tiga berkumpul untuk perpisahan sederhana. Dandang membawa gitar. Bambang bercanda. Yuli dan Anita menangis. Tapi di tengah tawa, mata Yanti terus mencari seseorang.
Saat matahari tenggelam, Yanti berdiri sendiri di bawah pohon trembesi depan sekolah. Pohon yang dulu menjadi saksi semua cerita cintanya. Kini ia berdiri sendirian. Air matanya jatuh. “Kenapa semuanya berubah…”
Tapi di balik kesedihan, perlahan tekad baru mulai tumbuh. Ia tidak boleh terus hidup dalam kenangan. Ia harus melangkah. Harus punya masa depan. Untuk pertama kalinya ia mulai memikirkan satu tempat yang terus dibicarakan ibunya — STM Tekstil Pedan. Sekolah jauh di Klaten yang akan membawanya keluar dari Tegorejo, keluar dari semua kenangan lama.
Malam itu Yanti menatap langit desa dari jendela kamarnya. Suara jangkrik terdengar panjang. Kali ini di balik kesedihannya ada sedikit keberanian yang mulai tumbuh — keberanian untuk meninggalkan masa lalu dan memulai hidup baru.
Meski jauh di lubuk hati paling dalam, ia masih belum benar-benar bisa melupakan Mas Nur dan Kakang Riyadi.
BAB XXVI
CINTA LAMA YANG TAK PERNAH BENAR-BENAR PERGI
“Tentang Kepulangan, Luka yang Belum Selesai, dan Dua Hati yang Kembali Bertemu dalam Keadaan Berbeda”
Tiga tahun berlalu seperti angin. Hari-hari di STM Tekstil Pedan perlahan membentuk hidup Yanti menjadi baru. Ia belajar hidup jauh dari rumah, menghadapi kerasnya lingkungan STM, tertawa lagi bersama sahabat-sahabatnya. Tapi satu hal yang tak pernah berubah — kenangan tentang cinta pertamanya, Mas Nur.
Kini Yanti bukan lagi gadis SMP yang mudah menangis di bawah pohon trembesi. Ia tumbuh lebih dewasa, lebih tenang, lebih kuat. Tapi juga lebih pandai menyembunyikan luka.
Hari kelulusan STM tiba. Suasana sekolah ramai penuh pelukan dan tangisan. Dwi menangis paling keras. Yanti tertawa sambil memeluk sahabatnya.
Di sisi lain halaman, Toro berdiri memandang Yanti dari jauh. Hubungan mereka sudah lama berakhir. Abdul menepuk pundaknya. “Udahlah…” Toro tersenyum pahit. “Gue cuma pengen lihat dia bahagia.” Untuk pertama kalinya, Toro benar-benar belajar mencintai tanpa memaksa memiliki.
Setelah kelulusan, Yanti memilih kembali ke Tegorejo. Ia ingin pulang, melihat rumah, melihat ibunya, melihat sawah dan jalan desa yang dulu membesarkannya. Meski di dalam hati ada rasa takut — kampung itu penuh kenangan.
Bus memasuki wilayah Kendal menjelang sore. Saat melihat hamparan sawah Tegorejo, dada Yanti sesak. Tiga tahun pergi, tapi semua kenangan terasa masih sangat dekat.
Bu Rosmiyati memeluknya erat. Ima yang kini lebih besar langsung memeluk kakaknya. Suasana rumah kembali hangat. Tapi di balik senyumnya, Yanti diam-diam masih merasa kosong.
Malam pertama di rumah, Yanti tidak bisa tidur. Ia duduk di teras. Suara jangkrik masih sama. Angin sawah masih membawa aroma tanah yang familiar. Bayangan Mas Nur kembali muncul begitu jelas.
Keesokan harinya Yanti berjalan sendirian melewati jalan desa. Langkahnya berhenti di depan pohon trembesi dekat sekolah lama. Pohon itu masih berdiri kokoh. Semua kenangan datang bersamaan — tangis, cemburu, Mas Nur, Riyadi. Air matanya jatuh.
“Heh…”
Yanti menoleh cepat. Jantungnya berhenti beberapa detik.
Mas Nur.
Lelaki itu berdiri beberapa meter di belakangnya. Tubuhnya lebih tinggi, kulit lebih gelap, tatapan lebih dewasa. Tapi senyumnya masih sama.
“Udah lama ya…”
Yanti tak bisa menjawab. Semua rasa yang dulu ia kubur mendadak hidup kembali.
Mereka duduk di bawah pohon trembesi. Beberapa detik hanya diam. Sama-sama canggung. Sama-sama menyimpan terlalu banyak kenangan.
“Kamu berubah,” kata Mas Nur.
Yanti tertawa kecil. “Kamu juga.”
“Aku dengar kamu kerja di Jakarta?”
Mas Nur mengangguk. “Capek banget.”
Mereka tertawa kecil. Lalu suasana sunyi.
“Maafin aku ya,” kata Mas Nur pelan. “Aku pergi tanpa pamit. Aku pengecut.”
Air mata Yanti menggenang. Kalimat itu yang selama bertahun-tahun ingin ia dengar.
“Aku marah banget waktu itu. Aku nungguin kamu…”
Mas Nur menatap tanah. “Aku tahu. Tapi waktu itu aku malu. Malu karena nggak punya masa depan. Aku pikir kalau aku pergi, kamu bakal lebih bahagia.”
Yanti menggeleng cepat. “Kamu salah. Pergimu justru bikin aku hancur.”
Mas Nur terdiam. Matanya mulai merah. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, mereka sama-sama menangis lagi.
Tapi di tengah tangis itu, Yanti sadar — perasaannya pada Mas Nur memang belum hilang. Tapi rasanya sudah berbeda. Tak lagi sebergelora saat SMP, tak lagi penuh obsesi. Kini lebih tenang. Seperti rumah lama yang selalu membuat hati nyaman saat kembali.
Sore mulai turun. Langit Tegorejo berubah jingga.
“Kalau waktu bisa diulang, aku nggak bakal pergi tanpa pamit,” kata Mas Nur.
Yanti tersenyum kecil. “Kalau aku, aku nggak bakal nangis selama itu buat cowok.”
Mas Nur tertawa keras. Untuk pertama kalinya mereka bisa tertawa bersama tanpa rasa marah.
Hari-hari berikutnya Mas Nur sering datang ke rumah Yanti. Mereka ngobrol santai, kadang membahas masa lalu, kadang hanya duduk diam menikmati sore. Bu Rosmiyati hanya tersenyum kecil — cinta pertama memang sulit hilang.
Tapi Yanti sadar — hidup tak bisa benar-benar kembali seperti dulu. Mereka sudah berubah. Sudah melewati terlalu banyak luka. Bukan lagi anak SMP yang hanya mengerti cinta sebatas cemburu dan posesif.
Suatu malam Yanti duduk bersama Mas Nur di depan rumah.
“Kamu masih sayang sama aku?”
Mas Nur tersenyum. “Kamu sendiri?”
Yanti terdiam lama. “Aku nggak tahu. Tapi setiap lihat kamu, aku masih merasa pulang.”
Mas Nur diam. Malam itu untuk pertama kalinya mereka sama-sama memahami — cinta pertama mungkin tak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berubah bentuk menjadi kenangan yang menetap diam-diam di hati.
Hidup tetap harus berjalan. Masa depan tetap menunggu. Di bawah langit malam Tegorejo, Yanti akhirnya belajar menerima semuanya — tentang kehilangan, tentang luka, tentang orang-orang yang pernah pergi lalu kembali.
Karena pada akhirnya, tidak semua cinta ditakdirkan untuk memiliki. Sebagian hanya ditakdirkan untuk dikenang seumur hidup.
EPILOG
MENUJU BANGKU KULIAH
“Tentang Luka yang Perlahan Menjadi Dewasa”
Musim kemarau mulai datang di Desa Tegorejo.
Sawah-sawah kembali menguning.
Angin sore berhembus pelan melewati jalan kecil depan rumah tua peninggalan almarhum Bu Rosmiyati.
Dan rumah itu…
kini terasa jauh lebih sunyi.
Tidak ada lagi suara lembut ibunya memanggil dari dapur.
Tidak ada lagi teh hangat setiap pagi.
Tidak ada lagi nasihat-nasihat kecil yang dulu sering membuat Yanti kesal.
Kepergian Bu Rosmiyati beberapa waktu lalu…
masih meninggalkan lubang besar di hati Yanti.
Karena setelah kehilangan banyak orang dalam hidupnya…
kini ia kembali kehilangan tempat pulang yang paling menenangkan.
Pagi itu…
Yanti duduk sendirian di teras rumah.
Tangannya memegang map cokelat berisi ijazah STM Tekstil Pedan.
Matanya kosong menatap jalan desa.
Di sampingnya…
Ima sedang melipat pakaian sambil sesekali mencuri pandang ke kakaknya.
“Mbak…”
“Hm?”
“Jadi berangkat kuliah beneran?”
Yanti mengangguk kecil.
“Iya.”
“Takut nggak?”
Yanti tersenyum tipis.
“Takut.”
“Terus kenapa tetep pergi?”
Yanti diam cukup lama.
Lalu menjawab pelan.
“Karena hidup harus jalan terus…”
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun sebenarnya…
Yanti sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
Sejak ibunya meninggal…
Yanti berubah jauh lebih pendiam.
Tidak lagi seceria dulu.
Tidak lagi mudah tertawa keras seperti masa STM.
Ia lebih sering melamun sendiri di depan rumah.
Memandangi langit sore.
Atau duduk diam di kamar sambil membuka kotak kenangan lamanya.
Di sana masih tersimpan:
foto-foto karate,
tiket kereta ke Malioboro,
surat kecil dari Dwi,
boneka panda pemberian Toro,
dan pita rambut kecil masa SMP.
Benda-benda sederhana…
namun menyimpan terlalu banyak kenangan.
Kadang…
saat malam terlalu sunyi…
Yanti masih teringat semua orang yang pernah datang dalam hidupnya.
Mas Nur.
Cinta pertamanya yang pergi merantau tanpa pamit.
Kakang Riyadi.
Lelaki yang pernah menjadi tempat paling nyaman untuk bersandar.
Toro.
Yang mencintainya terlalu besar sampai berubah menjadi luka.
Teguh.
Yang bahkan membawa cintanya sampai akhir hidup.
Dan teman-teman STM…
yang dulu membuat hidupnya terasa penuh warna.
Semua kini seperti tinggal bayangan jauh.
Sore itu…
Dwi datang dari Klaten bersama Tina.
Mereka sudah lama tidak bertemu.
Namun begitu bertatap muka…
pelukan panjang langsung pecah bersama tangis.
“Heh…”
Tina langsung mengusap mata.
“Jangan nangis woi…”
“Kamu dulu yang mulai…”
“Hahaha…”
Namun tawa mereka terasa berbeda sekarang.
Lebih dewasa.
Lebih pelan.
Karena hidup ternyata sudah banyak mengubah mereka.
Dwi memandang rumah Yanti perlahan.
“Sepi banget sekarang…”
Yanti hanya tersenyum kecil.
“Iya…”
“Kangen Bu Rosmiyati…”
DEG.
Kalimat itu langsung membuat mata Yanti kembali panas.
Ia menunduk pelan.
“Aku juga…”
Suasana mendadak sunyi.
Karena kehilangan ibu…
adalah luka yang tidak pernah benar-benar selesai.
Malam harinya…
mereka duduk bertiga di teras rumah.
Angin malam terasa dingin.
Suara jangkrik terdengar dari sawah belakang rumah.
Dan seperti masa STM dulu…
mereka kembali bercerita panjang.
Tentang sekolah.
Tentang cinta.
Tentang masa muda yang terasa begitu cepat berlalu.
“Heh Tik…”
“Apa?”
“Kamu masih inget Ahmad?”
“Yang suka gambar guru itu?”
“Iya!”
Yanti tertawa kecil.
“Masih lah…”
“Sekarang dia kerja di Solo katanya.”
“Tetep tengil nggak?”
“Lebih tengil.”
“HHAHAHAHA!”
Untuk beberapa saat…
Yanti akhirnya bisa tertawa lepas lagi.
Namun setelah Dwi dan Tina pulang…
kesunyian kembali datang.
Yanti masuk ke kamar pelan.
Lalu membuka lemari kayu tua peninggalan ibunya.
Di sana…
masih tersimpan rapi kain kebaya milik Bu Rosmiyati.
Yanti memeluk kain itu perlahan.
Dan air matanya jatuh tanpa suara.
“Ibu…”
“Aku capek…”
Dadanya terasa sesak.
Karena selama ini…
ia selalu terlihat kuat di depan semua orang.
Padahal sebenarnya…
ia masih gadis kecil yang takut kehilangan.
Beberapa hari kemudian…
surat penerimaan kuliah akhirnya datang.
Yanti diterima.
Tangannya gemetar saat membuka amplop itu.
Ima langsung melonjak senang.
“MBAK LOLOS!”
Yanti tersenyum kecil.
Namun matanya justru berkaca-kaca.
Karena di momen seperti ini…
ia paling ingin mendengar suara ibunya.
Malam sebelum keberangkatan…
Yanti duduk sendiri di makam Bu Rosmiyati.
Langit penuh bintang.
Udara malam terasa dingin.
Tangannya perlahan menyentuh batu nisan sederhana itu.
“Ibu…”
“Aku mau pergi lagi…”
Air matanya jatuh pelan.
“Aku nggak tahu nanti hidupku bakal kayak gimana…”
“Tapi aku janji…”
“Aku bakal kuat.”
Angin malam berhembus lembut.
Dan entah kenapa…
Yanti merasa seperti ibunya sedang mendengarkan.
Pagi keberangkatan tiba.
Tas besar sudah siap di ruang tamu.
Ima membantu membereskan barang-barangnya.
Sedangkan Yanti berdiri lama memandangi rumah kecil itu.
Rumah tempat ia tumbuh.
Rumah penuh kenangan.
Rumah yang kini terasa kosong tanpa ibunya.
Bus pagi mulai berjalan meninggalkan Tegorejo.
Pelan.
Perlahan.
Yanti duduk dekat jendela.
Memandangi desa yang semakin jauh.
Pohon trembesi.
Jalan kecil menuju sekolah.
Lapangan tempat latihan karate.
Semua perlahan menghilang dari pandangan.
Dan tanpa sadar…
air matanya jatuh lagi.
Namun kali ini…
bukan karena patah hati.
Bukan karena kehilangan cinta.
Melainkan karena ia sadar…
masa kecilnya benar-benar telah selesai.
Di perjalanan menuju bangku kuliah…
Yanti memejamkan mata perlahan.
Dan semua kenangan datang silih berganti.
Tawa masa SMP.
Tangis di STM.
Persahabatan.
Cinta.
Kehilangan.
Semua pernah menghancurkannya.
Namun semua itu pula…
yang membuatnya tumbuh menjadi lebih kuat.
Langit pagi mulai terang.
Bus terus melaju menuju kota baru.
Menuju kehidupan baru.
Menuju masa depan yang belum ia kenal.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
Yanti tersenyum kecil pada dirinya sendiri.
Karena kini ia mengerti:
Tidak semua orang yang pergi berarti meninggalkan.
Sebagian…
tetap hidup di hati.
Menjadi kenangan.
Menjadi pelajaran.
Menjadi alasan seseorang terus melangkah.
Dan gadis kecil dari Desa Tegorejo itu…
akhirnya mulai belajar berjalan sendiri.
Menuju hidup yang benar-benar baru.
BUKU KE TIGA
UNTAIAN RINDU DARI SURGA
“Ketika waktu memisahkan dua hati, namun rindu tetap menemukan jalannya melalui kenangan, doa, dan pengikhlasan.”
Prolog
Tiga puluh tahun bukan waktu yang singkat untuk mengubur kenangan.
Namun cinta yang tak pernah benar-benar dimiliki sering kali menjadi kenangan paling abadi.
Di tengah kehidupan rumah tangga yang tampak tenang, Sinox Yanti dan Akang Riyadi dipertemukan kembali oleh media sosial. Sebuah pertemuan virtual yang membuka kembali luka lama, rindu yang tertahan, dan kisah remaja yang tak pernah selesai.
Mereka tak pernah bersentuhan lagi secara fisik. Tak pernah duduk berdua seperti dulu.
Namun suara melalui WhatsApp dan tatapan lewat video call mampu mengguncang dua rumah tangga yang telah dibangun puluhan tahun.
Di antara rasa cemburu pasangan, fitnah sosial, luka masa lalu, dan cinta yang tak pernah mati, mereka harus menentukan arti sebenarnya dari hubungan mereka: Apakah ini cinta lama yang belum selesai? Ataukah persahabatan sejati yang dipertemukan kembali oleh takdir?
BAB I
Malam yang Gelisah
Malam itu tidak ada hujan. Tidak juga ada angin.
Tapi di rumah kecil bercat krem di ujung Desa Tegorejo, seorang perempuan paruh baya terbaring di atas kasur tanpa bisa memejamkan mata. Matanya menatap langit-langit yang retak di beberapa sudut, tapi pikirannya melayang jauh, melampaui tiga puluh tahun yang telah lalu.
Sinox Yanti. Usianya kini empat puluh sembilan tahun. Wajahnya masih menyimpan sisa-sisa kecantikan masa remaja, hanya saja garis-garis halus di sudut mata dan pelipisnya menjadi saksi bisu perjalanan panjang hidup yang tak semuanya mudah. Rambutnya yang panjang kini lebih sering diikat sederhana, dan tubuhnya yang dulu lincah melompat saat latihan karate, kini lebih sering duduk tenang di ruang kelas Mts Gringsing tempatnya mengajar.
Di sampingnya, Mas Sarif, suaminya, telah tertidur pulas. Dengkur pelannya terdengar teratur, napas yang naik turun seperti ombak kecil di pantai yang damai. Sinox menoleh sejenak, menatap wajah pria yang telah menjadi pendamping hidupnya selama lebih dari dua dekade. Wajah yang jujur, kasar karena terbiasa bekerja di bawah terik matahari, namun penuh ketulusan. Mas Sarif bukan pria romantis. Dia tidak pernah memberi puisi atau bunga. Tapi dia setia, dan itu lebih dari cukup untuk sebagian besar perempuan.
Sinox seharusnya merasa tenang.
Tapi malam ini ada yang berbeda. Ada yang menggerogoti dadanya dari dalam, seperti akar pohon beringin yang perlahan memecah bebatuan. Perasaan yang tidak bisa ia beri nama, namun sangat ia kenali.
Rindu.
Bukan rindu biasa. Rindu yang sudah tertimbun selama tiga puluh tahun, lalu tiba-tiba muncul ke permukaan tanpa izin. Rindu yang tidak diundang, tidak dicari, tapi tiba-tiba hadir di sela-sela suara jangkrik dan dinginnya malam.
"Akang Riyadi," bisiknya lirih, nyaris tanpa suara.
Nama itu terasa asing di lidahnya. Sudah lama tidak ia ucapkan. Bahkan hampir ia lupa bagaimana rasanya menyebut nama itu. Tapi malam ini, nama itu kembali dengan membawa serta ribuan kenangan yang tak pernah benar-benar mati.
Sinox teringat masa ketika dia masih mengenakan seragam putih biru sebagai siswa kelas I SMP Negeri I Pegandon. Saat itu dia masih lugu, masih mudah tertawa, dan masih penuh mimpi. Dan di masa itu, ada seorang laki-laki yang selalu hadir di setiap sudut kenangannya.
Akang Riyadi. Siswa kelas 2 SMAN I Pegandon. Dua tahun lebih tua darinya. Berbadan tegap karena terbiasa latihan karate. Wajahnya tidak terlalu tampan menurut ukuran orang kebanyakan, tapi matanya, Sinox tidak pernah bisa melupakan matanya. Mata yang teduh tapi penuh ketegasan. Mata yang bisa menenangkannya hanya dengan satu tatapan.
Mereka bukan kekasih. Tidak pernah resmi berpacaran.
Tapi hubungan mereka lebih dari sekadar teman, dan kurang dari sepasang kekasih. Sebuah wilayah abu-abu yang paling berbahaya bagi hati manusia. Karena di sanalah cinta bisa tumbuh tanpa izin, tanpa pengakuan, dan tanpa kejelasan.
Akang selalu ada untuk Sinox. Setiap kali Sinox bertengkar dengan orang tuanya, Akang yang mendengarkan keluh kesahnya. Setiap kali Sinox patah hati karena cinta pertamanya, Mas Nur, yang penuh misteri dan konflik, Akang yang menjadi tempatnya bersandar. Setiap kali latihan karate, Akang yang dengan sabar mengajarinya jurus demi jurus. Bahkan saat bersepeda ontel, anehnya justru Sinox yang mengayuh sambil membonceng Akang di belakang, tertawa-tawa, melaju di antara hamparan sawah dan langit sore yang jingga.
Akang sudah seperti kakak laki-laki yang tak pernah ia miliki. Sinox tidak punya saudara laki-laki. Hanya seorang adik perempuan bernama Ima. Dan Akang mengisi ruang kosong itu dengan begitu sempurna.
Tapi ada yang tidak pernah Sinox ketahui saat itu.
Akang mencintainya.
Bukan sebagai adik. Sebagai perempuan. Sebagai seseorang yang ingin ia jaga seumur hidup. Namun atas saran dari ibu Sinox, Bu Ros, agar mereka fokus sekolah dan tidak terlibat percintaan di masa muda, Akang menelan rasa cintanya dalam-dalam. Memendamnya di relung hati yang paling tersembunyi. Lalu menguburnya di bawah ribuan alasan yang masuk akal: Dia masih kecil, dia fokus sekolah, aku tidak pantas, aku tidak punya apa-apa.
Dan ketika akhirnya Akang pergi merantau ke Jakarta, lalu bertahun-tahun kemudian ke Kapuas, ke tanah transmigrasi lahan gambut sejuta hektar yang bahkan tak terbayang oleh Sinox seperti apa rupanya, Akang pergi tanpa pamit. Tanpa sepatah kata. Tanpa kesempatan untuk Sinox mempertahankannya, atau setidaknya mengucapkan selamat tinggal.
Sinox remaja saat itu hancur.
Hatinya hancur berkeping-keping, meski ia sendiri tidak sepenuhnya mengerti mengapa. Apakah itu cinta? Apakah itu kehilangan? Apakah itu hanya rasa kecewa karena seseorang yang ia anggap sebagai tempat aman tiba-tiba menghilang?
Ia tak tahu. Yang ia tahu, nama Akang Riyadi terpatri di sudut hatinya yang paling dalam. Dan selama tiga puluh tahun, ia membiarkan nama itu tertidur. Tidak diganggu, tidak disentuh, tidak dikenang sengaja.
Sampai malam ini.
Tanpa sebab yang jelas, tanpa pemicu yang bisa ia jelaskan, tiba-tiba saja semua kenangan itu hidup kembali. Seperti album foto lama yang jatuh dari lemari dan terbuka dengan sendirinya di halaman yang paling sering ia hindari.
Kenapa sekarang? batinnya. Setelah tiga puluh tahun? Setelah aku punya suami? Setelah aku punya tiga anak?
Anak pertama perempuan, kini sedang kuliah di kota. Anak kedua, Rahman, mondok di pesantren Aliah. Anak ketiga, Eko, yang masih duduk di Mts di desanya dan sebentar lagi akan disunat. Semua berjalan normal. Semua baik-baik saja.
Lalu kenapa gelisah ini tidak pergi?
Sinox bangkit dari tempat tidur. Perlahan, agar tidak membangunkan Mas Sarif, ia meraih ponselnya dari atas meja kayu di samping tempat tidur. Layar ponsel menyala redup di kegelapan. Jari-jarinya bergerak tanpa rencana yang jelas.
Membuka Facebook. Menggulir perlahan.
Tidak ada.
Mencoba Instagram. Mengetik nama yang sama di kolom pencarian.
Tidak ada.
"Akang Riyadi... di mana kamu sekarang?" bisiknya.
Yang ia tahu, Akang tinggal di daerah Kapuas. Eks Transmigrasi Lahan Gambut Sejuta Hektar. Tapi desa apa? Alamat apa? Nomor telepon apa? Sinox tidak punya satu pun. Yang ia miliki hanyalah nama, kenangan, dan gelisah yang semakin menjadi-jadi.
Di saat yang sama, ribuan kilometer dari Tegorejo, di sebuah desa transmigrasi di Kapuas yang sudah menjadi desa definitif, seorang laki-laki juga terbangun di tengah malam.
Akang Riyadi. Usianya lima puluh satu tahun. Wajahnya kini lebih kasar karena angin gambut dan panasnya lahan transmigrasi. Rambutnya mulai memutih di pelipis. Namun matanya, masih teduh itu.
Ia duduk di beranda rumah panggungnya, menatap gelapnya hutan karet yang membatasi perkampungan dengan tanah gambut yang dalam. Sepi. Hanya suara jangkrik dan sesekali suara burung hantu.
Di tangannya, ponsel tua dengan layar agak retak di sudut kanan.
"Sinox Yanti," gumamnya lirih.
Dia juga sedang mencari.
Sejak sore tadi, ia membuka Facebook. Mencari nama yang tiga puluh tahun lalu sering ia panggil dengan nada bercanda, Nox, Nox, jangan nakal. Dulu Sinox cerewet dan manja, tapi cerdas. Sangat cerdas. Dan Akang, yang pendiam, yang lebih suka mendengar daripada berbicara, menikmati setiap ocehan Sinox seolah itu adalah musik terindah di dunia.
Akang menggulir layar. Mencari profil. Memeriksa teman-teman yang mungkin masih terhubung dengan Sinox. Hingga akhirnya, jari Akang berhenti.
Sebuah foto profil. Seorang perempuan paruh baya dengan senyum yang samar-samar ia kenali.
Sinox Yanti.
Bukan foto terbaru mungkin, karena profil itu terlihat sudah lama tidak diperbarui. Tapi fitur wajahnya, bentuk matanya, cara ia tersenyum, masih sama. Hanya lebih matang. Lebih dewasa. Tapi tetap Sinox.
Akang hampir menekan tombol Message. Tapi urung.
Tidak aktif. Mungkin nomornya sudah berganti. Mungkin dia tidak akan pernah membaca pesan ini.
Maka ia pun mengubah strategi. Mulai mencari teman-teman yang sama-sama mereka kenal. Seseorang yang mungkin masih memiliki kontak Sinox. Butuh waktu berjam-jam. Namun pada akhirnya, setelah meyakinkan seorang teman lama lewat Messenger bahwa ia benar-benar Akang Riyadi dari Kapuas, teman itu memberi kabar pada Sinox.
"Ada seseorang bernama Akang Riyadi mencari kamu. Dari Kapuas."
Sinox hampir menjatuhkan ponselnya saat membaca pesan itu. Tangannya gemetar. Dadanya sesak. Ia tidak tahu harus menangis atau tertawa. Selama tiga puluh tahun dia mendiamkan nama itu, dan malam ini, di malam yang gelisah yang sama, takdir seolah berkata: Kamu tidak bisa terus lari.
Nomor ponsel Akang diberikan kepadanya. Dan dengan napas yang terengah-engah, tanpa memberi kesempatan pada akal sehatnya untuk memprotes, Sinox membuka WhatsApp.
Jari-jarinya mengetik. Menyimpan nomor itu. Lalu ia menekan tombol hijau.
Telepon.
Belum sempat satu kali pun nada panggil berbunyi, sambungan telah terbuka.
Seakan Akang juga sedang menunggu.
Suara itu. Suara yang sama tapi berbeda. Berat, sedikit serak karena usia, tapi intonasinya, cara dia mengucapkan kata "Halo", sama persis.
"Halo... Sinox?"
Dan Sinox hanya bisa terdiam, air mata mengalir di pipinya yang mulai keriput, sementara di luar jendela desa Tegorejo, bulan purnama bersinar terang seolah menjadi saksi bisu bahwa malam ini, setelah tiga puluh tahun, untaian rindu dari surga mulai terurai.
BAB II
Jejak di Media Sosial
Panggilan telepon itu berlangsung lebih dari dua jam.
Sinox tidak tahu bagaimana ia bisa berbicara selama itu. Biasanya, telepon dengan Mas Sarif pun jarang melebihi lima menit, kecuali ada urusan anak atau acara keluarga. Tapi malam ini, kata-kata mengalir begitu saja dari mulutnya, seperti air sungai yang telah lama dibendung, kini meluap tanpa bisa ditahan lagi.
"Akang, kamu masih ingat sepeda ontel itu?" tanya Sinox di tengah percakapan, suaranya setengah berbisik karena Mas Sarif masih tidur di sampingnya.
"Sepeda biru yang bannya bocor terus?" suara Akang terdengar tersenyum di seberang sana. "Kamu selalu bilang mau boncengin aku, padahal kakimu hampir tidak menggapai pedal."
"Tapi aku kuat, kan?" Sinox terkekeh pelan. "Aku yang boncengin kamu. Bukan kamu yang boncengin aku."
"Kuat sih. Tapi kami hampir masuk sawah dua kali."
Mereka tertawa bersamaan. Tawa yang sama seperti tiga puluh tahun lalu. Dan di sela-sela tawa itu, Sinox merasakan sesuatu yang ganjil di dadanya. Seperti ada luka lama yang mulai terkelupas keraknya, tapi belum sempat mengering dengan sempurna.
"Akang, kenapa dulu kamu pergi tanpa pamit?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja. Sinox sendiri terkejut mendengar suaranya sendiri. Ia bermaksud menahan pertanyaan itu setidaknya sampai beberapa hari ke depan, sampai ia cukup kuat untuk mendengar jawabannya. Tapi malam ini, di tengah gelisah yang tidak reda-reda, pertanyaan itu lolos dari sela-sela hatinya yang paling rapuh.
Diam.
Akang diam cukup lama. Sinox bisa mendengar suara napasnya yang memburu di seberang sana. Mungkin Akang sedang mengumpulkan kata-kata. Atau mungkin, seperti Sinox sendiri, ia juga sedang menahan sesuatu yang sudah terlalu lama ditahan.
"Aku tidak punya pilihan, Nox," akhirnya Akang bicara. Suaranya berbeda. Lebih berat. Lebih dalam. Seperti ada beban yang ia pikul selama tiga puluh tahun dan baru malam ini ia letakkan sejenak. "Keluarga kami tidak mampu saat itu. Ayah sakit-sakitan. Ibu hanya buruh tani. Aku harus bekerja. Harus merantau. Dan jika aku pamit..." Ia berhenti. Menelan ludah. "Jika aku pamit, aku takut tidak bisa pergi."
Sinox menutup mulutnya dengan tangannya. Dadanya terasa sesak. Bukan sesak karena marah, bukan juga karena kecewa. Tapi sesak karena baru sekarang, setelah tiga puluh tahun, ia mengerti bahwa kepergian Akang bukan karena ia lalai atau tidak peduli. Justru sebaliknya. Akang pergi karena ia peduli terlalu dalam, dan tidak tahu cara mengatakannya.
"Aku mencarimu, Akang," bisik Sinox, air matanya mulai menggenang. "Setelah kamu pergi, aku mencari kabar. Bertanya pada teman-temanmu. Tapi tidak ada yang tahu. Kamu benar-benar menghilang."
"Karena aku ingin menghilang, Nox. Saat itu aku merasa tidak pantas. Untuk siapa pun. Termasuk kamu."
Kalimat itu menggantung di udara. Berat. Bermakna ganda. Sinox ingin bertanya lebih jauh. Ingin menggali apa maksud kata termasuk kamu. Apakah itu berarti Akang menyimpan rasa untuknya? Atau hanya perasaan tidak berharga seorang anak muda yang hidup dalam tekanan ekonomi?
Tapi malam itu, Sinox tidak bertanya.
Karena ia takut pada jawabannya.
Pagi yang Berbeda
Sinox bangun pukul setengah lima, seperti biasa. Namun ada yang berbeda pagi ini. Biasanya ia bergerak gesit, menggoreng telur, memanaskan nasi, menyiapkan bekal untuk Eko. Tapi pagi ini ia terduduk di tepi tempat tidur cukup lama, memandangi ponselnya yang tergeletak di atas bantal.
Apakah semuanya benar terjadi? Apakah aku benar-benar berbicara dengan Akang tadi malam? Atau itu hanya mimpi basah seorang perempuan paruh baya yang terlalu lama memendam rindu?
Ia mengangkat ponsel. Membuka WhatsApp. Dan di sana, di daftar chat terbaru, tertulis sebuah nama:
Akang Riyadi
Terakhir online 02.47
Sinox tidak tahu harus tersenyum atau menangis. Ia memilih keduanya. Tersenyum sambil meneteskan air mata, lalu menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangan.
"Ya Allah... ini benar-benar terjadi."
"Terjadi apa?"
Suara Mas Sarif di belakangnya membuat Sinox tersentak. Ia cepat-cepat menyimpan ponselnya di saku kain batik yang ia kenakan. Berpura-pura merapikan ujung sarung yang tidak berantakan.
"Eh, nggak, Mas. Cuma... cuma tadi kurang tidur."
Mas Sarif mengernyit. Matanya yang masih sayu karena baru bangun tidur menatap Sinox dengan tatapan yang, meski tidak curiga, tetap membuat Sinox merasa tidak nyaman.
"Kurang tidur? Kamu tidur jam sembilan, Sin. Aku yang tidur setelah Isya, kamu sudah ngorok di sampingku."
"Aku ngorok?" Sinox tertawa gugup. "Impossible, Mas. Aku tidak pernah ngorok."
"Tadi kamu ngorok."
"Tidak."
"Iya."
"Tidak, Mas."
Mas Sarif terkekeh, lalu beranjak menuju kamar mandi. Sinox menarik napas lega. Tapi rasa lega itu hanya bertahan sebentar, karena di dalam dadanya, gelisah semalam belum benar-benar pergi. Ia hanya menundanya. Menyimpannya sebentar di lemari hati yang paling rapat.
Sementara di seberang sana, di Kapuas yang lembab dan berasap tipis karena lahan gambut, Akang Riyadi juga menghadapi pagi yang berbeda.
Desa Transmigrasi Eks PLG
Desa tempat Akang Riyadi tinggal bukanlah desa biasa. Dulu, puluhan tahun lalu, tempat ini masih berupa hutan gambut yang dalam, rawa-rawa, dan lahan yang belum tersentuh tangan manusia. Pemerintah membuka lahan transmigrasi seluas sejuta hektar, sebuah proyek ambisius yang mengundang ribuan keluarga dari Pulau Jawa untuk mengadu nasib di tanah Kalimantan.
Akang datang ke sini bukan karena transmigrasi resmi. Ia datang karena nasib. Setelah bertahun-tahun merantau di Jakarta, menjadi kuli bangunan, menjadi satpam malam, menjadi apa saja yang penting bisa makan, ia akhirnya diajak oleh temannya untuk mencoba peruntungan di Kapuas. Lahan gambut, sawit, karet, dan kehidupan yang keras namun menjanjikan.
Saat ini, Akang menjabat sebagai perangkat desa. Sekretaris desa, tepatnya. Pekerjaan yang cukup terhormat untuk ukuran desa transmigrasi. Bahkan putra keduanya, Iwan, bekerja sebagai staf di kantor desa yang sama, membantu ayahnya mengurus administrasi dan pelayanan warga.
Anak pertama Akang, Anto, sudah menikah enam tahun lalu. Ia tinggal tidak jauh dari rumah orang tuanya, membuka warung kelontong kecil-kecilan. Dan anak ketiganya, Raha, masih duduk di bangku kelas VIII SMPN Mantangai. Seorang remaja pendiam seperti ayahnya, namun lebih cerewet jika sedang bersama teman-temannya.
Istri Akang, Setya Ningsih, adalah perempuan asli Kapuas. Bukan keturunan transmigran. Rambutnya panjang dan hitam pekat, kulitnya sawo matang karena terbiasa bekerja di kebun karet. Dia bukan perempuan yang banyak bicara, tapi matanya tajam. Sangat tajam. Seperti pisau yang bisa mengupas kulit bawang tanpa merobek dagingnya.
Dan pagi itu, mata tajam itu menatap suaminya dengan intensitas yang tidak biasa.
"Mas, tadi malam kamu ke mana?"
Akang yang sedang menyeduh kopi di dapur mendongak. "Ke mana maksudmu? Tidur di kamar."
"Tidak. Aku bangun jam dua. Kamu tidak ada di sampingku."
"Ah, itu... aku kegerahan. Duduk di beranda sebentar."
Setya Ningsih tidak berbicara. Ia hanya menatap. Diam-diam, matanya beralih ke ponsel Akang yang tergeletak di atas meja makan. Layar ponsel itu menyala sebentar, ada notifikasi WhatsApp masuk.
Dan Setya Ningsih melihat namanya.
Sinox Yanti.
Bukan nama yang ia kenal. Bukan nama yang pernah disebut suaminya selama puluhan tahun menikah. Tapi ada sesuatu dari nama itu, mungkin cara Akang menyimpannya, mungkin cara notifikasi itu muncul, yang membuat Setya Ningsih merasa ada sesuatu yang tidak beres.
"Sinox Yanti itu siapa, Mas?"
Akang berhenti menyeduh kopi. Tangannya menggantung di udara. Ia tidak menoleh ke belakang, tapi dadanya berdebar tidak karuan.
"Teman lama. Dari zaman masih di Jawa."
"Teman lama?" Setya Ningsih mengulangi kata itu dengan intonasi yang aneh. Bukan marah. Belum marah. Tapi seperti kucing yang mulai mengendus ikan di dapur orang. "Teman lama yang menghubungi jam dua malam?"
"Dia tidak menghubungi. Aku yang tadi tidak bisa tidur, lalu iseng membuka HP. Dia kebetulan online."
Dusta kecil yang dilontarkan Akang terasa berduri di lidahnya. Ia tidak pernah berbohong pada Setya Ningsih. Bukan karena takut, tapi karena ia menghormati istrinya itu. Namun malam tadi, saat Sinox menelepon, Setya sedang tidur nyenyak. Dan Akang memilih untuk tidak membangunkannya. Lalu memilih pergi ke beranda. Lalu memilih untuk berbicara berjam-jam.
Dan sekarang, ia memilih untuk berbohong.
Hanya untuk melindungi perasaan istriku, batinnya. Bukan karena aku bersembunyi.
Tapi di lubuk hatinya yang paling jujur, Akang tahu: ia bersembunyi. Karena ia tidak yakin apakah hubungannya dengan Sinox, yang baru pulih semalam, adalah sesuatu yang bisa ia jelaskan pada Setya Ningsih.
"Oh," Setya Ningsih bergumam datar. "Teman lama."
Ia beranjak dari meja makan, mengambil piring dan mangkuk, lalu mencuci piring semalam yang belum sempat dibersihkan. Akang masih berdiri di dapur dengan kopi di tangan, tapi tidak ada satu teguk pun yang ia minum.
Dari balik punggung istrinya, Akang bisa melihat bagaimana gerakan Setya Ningsih tiba-tiba menjadi lebih kasar dari biasanya. Bukan marah. Belum. Tapi sudah ada getaran kecil yang mengganggu air tenang rumah tangga mereka.
Siang yang Mencekam di Tegorejo
Sementara itu, di Desa Tegorejo, Sinox menghadapi perang batin yang tidak kalah mencekam.
Seusai mengajar di Mts Gringsing, lima jam pelajaran tentang fiqih dan akhlak yang nyaris tidak ia ingat satu kata pun yang ia sampaikan, Sinox pulang lebih awal. Biasanya ia mampir ke pasar atau mengobrol dengan guru-guru lain di ruang kantor. Tapi siang ini ia langsung melesat ke rumah.
Eko sudah pulang sekolah. Bocah kelas VIII Mts yang rambutnya mulai panjang dan suka protes jika disuruh potong rambut itu sedang bermain game di ponsel jadul miliknya.
"Nak, Bapak ke mana?"
"Ke sawah, Bu. Kata Pak Sarif tadi, mau ngairin padi. Sebentar lagi panen."
Sinox mengangguk lega. Mas Sarif tidak di rumah. Aku bisa bernapas sebentar.
Ia masuk ke kamar, mengunci pintu dari dalam, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Lalu duduk di tepi tempat tidur, menggenggam ponsel seperti menggenggam benda suci yang tidak berani ia lihat terlalu lama.
Ponselnya bergetar.
Akang Riyadi: Nox, kamu sudah pulang?
Jantung Sinox berdegup kencang. Jari-jarinya mengetik cepat, lalu dihapus, lalu diketik lagi, lalu dihapus lagi. Enam kali. Baru pada percobaan ketujuh ia mengirim balasan:
Iya, Akang. Baru sampai. Kamu?
Akang Riyadi: Lagi di kantor desa. Tapi pikiran ke mana-mana.
Ke mana?
Akang Riyadi: Kepikiran suaramu tadi malam.
Sinox menahan napas.
Suaraku kenapa?
Akang Riyadi: Masih sama. Masih cerewet. Masih manja. Tapi sekarang ada nada dewasa yang dulu tidak ada. Aneh kedengarannya. Tapi nyaman.
Sinox tersenyum. Senyum yang tidak ia sadari, senyum yang membuat wajahnya yang mulai berkeriput itu terlihat seperti gadis remaja lagi.
Kamu juga masih pendiam, Akang. Dulu kamu pendiam. Sekarang juga pendiam. Tapi kalau sudah bicara, langsung nyambung ke hati.
Akang Riyadi: Hati siapa?
Hati siapa ya? :)
Akang Riyadi: Jangan main-main, Nox. Aku sudah tua. Jantungku tidak sekuat dulu.
Sinox tertawa pelan. Tapi tawa itu segera sirna ketika dari balik pintu kamar, terdengar suara Mas Sarif.
"Sinox! Pintu kamar kenapa dikunci?"
Sinox panik. Ia langsung mematikan notifikasi WhatsApp, menyimpan ponsel di bawah bantal, lalu berjalan ke pintu dengan ekspresi yang ia usahakan senormal mungkin.
"Ah, Mas... tadi aku ganti baju. Lupa buka kuncinya."
Ia membuka pintu. Mas Sarif berdiri di ambang pintu dengan tubuh penuh lumpur, kotor karena baru dari sawah. Wajahnya berkeringat, namun matanya tetap tajam menatap Sinox.
"Ada apa, Mas?" tanya Sinox berusaha tenang.
"Kamu kenapa? Dari tadi pagi aku lihat kamu aneh. Biasanya kalau pulang ngajar kamu langsung masak. Ini kamu malah ngunci diri di kamar."
"Aku capek, Mas. Mana Eko minta ini itu terus."
Mas Sarif tidak menjawab. Ia hanya menatap istrinya lebih lama dari biasanya. Lalu tanpa berkata apa-apa, ia pergi ke belakang rumah untuk membersihkan diri.
Sinox menarik napas panjang. Tapi dadanya masih sesak. Bukan hanya karena hampir ketahuan, tapi karena ia sadar: sejak malam itu, ia mulai hidup dalam dua dunia.
Dunia nyata bersama Mas Sarif dan anak-anaknya.
Dan dunia digital bersama Akang Riyadi.
Dan kedua dunia itu, tanpa sepengetahuannya, sedang bergerak menuju tabrakan yang tidak bisa ia hindari.
Malam Kedua
Malam itu, tanpa saling berjanji, Akang dan Sinox kembali terhubung. Bukan telepon, tapi chat WhatsApp yang panjang. Mengalir seperti sungai yang tidak pernah kering.
Mereka membicarakan banyak hal. Tentang anak-anak, tentang pekerjaan, tentang desa masing-masing. Sinox bercerita tentang Tegorejo yang kini sudah lebih maju, jalan aspal, listrik masuk desa, anak-anak muda yang sekarang lebih suka main ponsel daripada main di sawah. Akang bercerita tentang Kapuas, tentang lahan gambut yang mudah terbakar di musim kemarau, tentang warga transmigran yang keras kepala namun baik hati, tentang hutan karet yang menjadi sumber kehidupan mereka.
Tapi di antara semua percakapan ringan itu, ada satu topik yang kedua-duanya hindari dengan sengaja.
Perasaan.
Masa lalu yang belum selesai.
Cinta yang tidak pernah diakui.
Sinox tahu Akang menyembunyikan sesuatu. Akang juga tahu Sinox tidak sepenuhnya jujur. Tapi mereka membiarkan saja, karena mungkin, di usia yang tidak lagi muda ini, kejujuran penuh adalah sesuatu yang terlalu berat untuk dihadapi.
Akang, kamu tidur?
Akang Riyadi: Belum. Masih di sini.
Aku juga.
Akang Riyadi: Kita ini kenapa, Nox? Tua-tua begini malah tidak bisa tidur karena chattingan seperti ABG.
Aku tidak tahu, Akang. Mungkin kita memang belum selesai dengan masa lalu.
Akang Riyadi: Atau mungkin kita sedang memulai sesuatu yang baru?
Pertanyaan itu menggantung di udara. Menggantung di layar ponsel masing-masing. Menggantung di antara untaian rindu yang mulai terurai tanpa bisa dikendalikan.
Sinox tidak menjawab. Akang tidak memaksa.
Mereka hanya diam.
Tidak bisa tidur.
Dan di rumah masing-masing, di dua pulau yang berbeda, dua pasangan yang tidak bersalah, Mas Sarif dan Setya Ningsih, terbangun di tengah malam, mendapati orang yang mereka cintai sedang tersenyum sendiri di sudut ruangan, memandangi layar ponsel seperti papan pengumuman surga.
Di Balik Tirai yang Mulai Terbuka
Setya Ningsih tidak tidur.
Setelah suaminya pergi ke kamar mandi pada pukul setengah dua malam, dengan alasan perut mulas, Setya bangkit dari tempat tidur. Ia tahu Akang tidak mulas. Suaminya itu tidak pernah mulas kecuali jika makan pedas berlebihan. Dan hari ini tidak ada makanan pedas di dapurnya.
Ia mengintip dari balik pintu. Akang duduk di beranda, ponsel di tangan, layar menyala redup. Kadang tersenyum. Kadang mengetik. Kadang berhenti lama, seolah menunggu jawaban yang sangat ia nantikan.
Setya Ningsih kembali ke tempat tidur dengan hati yang tidak tenang.
Bukan cemburu.
Belum.
Tapi ada perasaan aneh di dadanya. Seperti ada sesuatu yang dirahasiakan darinya. Sesuatu yang melibatkan nama Sinox Yanti, nama yang pagi ini ia lihat di notifikasi ponsel suaminya.
"Teman lama," bisiknya sendiri. "Teman lama yang bikin suamiku begadang dan tersenyum sendiri."
Ia menggigit bibir bawahnya.
Di dalam dadanya, seekor ular kecil mulai merayap. Namanya curiga.
Dan ular itu tidak akan pergi sebelum ia menemukan kebenarannya.
BAB III
Foto Profil yang Membuka Kenangan
Sinox Yanti tidak pernah mengira bahwa sebuah foto bisa sekuat itu.
Bukan foto dengan komposisi sempurna. Bukan foto dengan lampu studio atau editan yang membuat seseorang terlihat sepuluh tahun lebih muda. Hanya foto biasa, diambil dengan kamera ponsel kualitas sedang, di ruang tamu rumahnya yang sederhana, dengan latar belakang lemari kayu jati tua dan jendela yang kusennya mulai lapuk.
Sinox mengenakan baju batik lengan panjang warna hijau tua dengan motif parang rusak yang mulai pudar di beberapa bagian. Rambutnya yang panjang diikat ke belakang dengan karet hitam biasa, beberapa helai terlepas dan jatuh di pelipis, memperlihatkan uban yang mulai banyak bermunculan. Senyumnya tidak lebar. Hanya setengah, dengan mata yang sedikit menyipit karena cahaya matahari sore yang masuk dari jendela.
Itu foto profil Facebook-nya.
Foto yang sudah lebih dari dua tahun tidak ia perbarui.
Foto yang bagi Sinox hanyalah formalitas, sebuah gambar kecil di pojok kanan atas akun media sosial yang jarang ia buka.
Tapi bagi Akang Riyadi, foto itu adalah pintu waktu.
Di Beranda Rumah Gambut
Kapuas, tiga malam setelah panggilan telepon pertama.
Akang Riyadi duduk di beranda rumah panggungnya sendirian. Pukul sebelas malam. Angin gambut bertiup pelan, membawa bau tanah asam dan dedaunan kering yang mengering sebelum waktunya. Rumah panggungnya terbuat dari kayu ulin, keras dan gelap seperti karakter orang-orang yang tinggal di tanah ini.
Istrinya, Setya Ningsih, sudah tidur sejak pukul sembilan. Biasanya Akang ikut tidur lebih awal, karena tubuhnya yang tidak muda lagi membutuhkan istirahat cukup sebelum berangkat ke kantor desa setiap pagi. Tapi tiga malam terakhir ini, Akang tidak bisa tidur sebelum tengah malam. Kadang sampai pukul satu, dua, bahkan tiga dini hari.
Bukan insomnia.
Bukan pekerjaan.
Bukan juga penyakit.
Tapi ponsel. Selalu ponsel.
Dan di ponsel itu, Akang membuka Facebook. Bukan untuk menggulir berita atau melihat video lucu. Ia kembali ke profil Sinox Yanti, ke foto profil yang sama, yang sudah ia lihat berkali-kali dalam tiga hari terakhir.
Kenapa foto ini? batinnya. Kenapa bukan foto lain?
Ia menggulir ke bawah. Melihat dinding Facebook Sinox yang sudah lama tidak diperbarui. Postingan terakhir adalah berbagi artikel tentang doa untuk keselamatan anak-anak saat ujian nasional, itu pun dari dua tahun lalu. Sebelumnya, foto makanan. Sebelumnya lagi, kutipan motivasi tentang ibu yang kuat.
Tidak ada yang istimewa.
Tidak ada yang menunjukkan bahwa perempuan ini adalah Sinox Yanti yang dulu ia kenal.
Tapi foto profil itu, foto batik hijau tua dengan senyum setengah dan rambut yang mulai memutih, entah kenapa berbicara banyak pada Akang.
Dia sudah tua, pikir Akang. Kita sama-sama sudah tua.
Tapi matanya... matanya masih sama.
Akang memperbesar foto itu. Jarinya menggesek layar hingga wajah Sinox memenuhi layar ponsel. Matanya, bulat dengan sedikit lipatan di ujung luar karena usia, memancarkan keteduhan yang sama seperti tiga puluh tahun lalu. Cara Sinox menatap kamera, seolah sedang menatap seseorang yang ia kenal baik, adalah cara yang dulu selalu membuat Akang merasa melihat.
Dia tidak berubah, bisik Akang dalam hati. Dia hanya menjadi versi dewasa dari dirinya.
Dan aku... aku merindukannya.
Itu pertama kalinya Akang mengakui pada dirinya sendiri. Selama tiga puluh tahun, rasa rindu itu ia kubur di bawah tumpukan alasan: aku harus fokus kerja, aku harus menghidupi keluarga, aku sudah punya istri, aku tidak boleh mengingat masa lalu.
Tapi malam ini, di beranda rumah panggung di tengah lahan gambut yang sepi, Akang membiarkan rasa rindu itu muncul ke permukaan.
Dan rasanya sakit.
Bukan sakit yang menusuk, tapi sakit yang tumpul, seperti gigitan semut yang terus menerus di sekujur dada. Tidak cukup kuat untuk membuatnya berteriak, tapi cukup kuat untuk membuatnya tidak bisa bernapas lega.
Tegorejo, Waktu yang Sama
Jarak ribuan kilometer tidak berarti apa-apa bagi kerinduan.
Di rumahnya yang sederhana di Desa Tegorejo, Sinox juga terbangun di tengah malam. Bukan karena mimpi buruk, tapi karena ia lupa mematikan notifikasi Facebook, dan sebuah suara ding dari ponselnya membangunkannya dari tidur ringan.
Ia mengucek mata. Layar ponsel menyala redup.
Notifikasi: Akang Riyadi membagikan sebuah kenangan bersamamu.
Sinox mengernyit. Ia membuka notifikasi itu. Akang telah membagikan sebuah unggahan lama, foto yang tidak pernah Sinox lihat sebelumnya. Foto itu berasal dari album teman mereka di masa SMP, seseorang yang memindai foto cetak lama ke Facebook.
Foto itu hitam putih, dengan pinggiran bergerigi karena sudah lama tersimpan di album fisik. Di foto itu, empat orang remaja berdiri di depan gerbang SMP Negeri I Pegandon. Dua laki-laki, dua perempuan. Mereka tertawa. Seragam putih abu-abu kusut, rambut yang tidak rapi, dan sepatu yang bolong di bagian jempol.
Sinox langsung mengenali dirinya di foto itu. Ia yang paling kecil di antara mereka, berdiri di paling kiri dengan rambut yang dipotong pendek ala anak tomboi. Pipinya masih chubby, giginya masih lengkap dengan kawat di dua gigi depan, yang dulu membuatnya malu luar biasa.
Dan di sebelahnya, tepat di samping kanannya, berdiri Akang Riyadi.
Akang saat itu masih berusia tujuh belas tahun. Tinggi, kurus, dengan rambut yang tidak pernah rapi karena terlalu malas menyisir. Ia tersenyum tipis, senyum khasnya yang tidak lebar namun hangat. Tangannya sedikit menggenggam ujung tas selempang yang melintang di dada.
Dulu Akang selalu di sebelah kananku, kenang Sinox. Selalu. Di setiap foto, di setiap kegiatan, di setiap perjalanan.
Bahkan saat tidak ada kamera, Akang selalu ada di sebelah kananku.
Sinox menggenggam ponselnya lebih erat. Perasaannya campur aduk. Rindu, haru, sedih, dan rasa bersalah karena ia menikmati semua ini diam-diam di balik punggung Mas Sarif.
Tapi ia tidak bisa berhenti.
Seperti pecandu yang tahu dirinya sedang tenggelam, Sinox tetap melanjutkan. Jarinya bergerak membuka kolom komentar di unggahan Akang.
Akang Riyadi: "Kenangan tiga puluh tahun lalu. Kita di sini masih polos, masih punya mimpi. Tidak ada yang tahu kalau hidup akan sekeras ini. Tidak ada yang tahu kalau waktu akan secepat ini. Sinox Yanti, kamu masih ingat hari itu?"
Sinox mengetik. Tangannya bergetar.
Sinox Yanti: "Aku ingat, Akang. Itu hari setelah lomba karate. Kita kalah. Kamu bilang, 'Tidak apa-apa, kalah itu biasa. Yang penting tidak menyerah.' Lalu kita foto di depan gerbang. Aku tidak pernah lupa kalimat itu."
Dua menit kemudian, ponsel Sinox bergetar. Chat WhatsApp dari Akang.
Akang Riyadi: Kamu juga tidak tidur?
Sinox tersenyum getir.
Aku juga tidak bisa tidur sejak malam pertama kita bicara. Rumahku terasa pengap. Pikiranku terasa kacau. Dan semua karena dirimu, Akang. Semua karena dirimu.
Tapi yang ia ketik hanya:
Iya. Kamu juga?
Akang Riyadi: Lihat foto tadi. Jadi tidak bisa tidur.
Foto yang mana?
Akang Riyadi: Foto di Facebook. Foto lama. Foto yang membuatku sadar bahwa waktu berlalu tanpa permisi.
Kita sudah tua, Akang.
Akang Riyadi: Tapi rindu ini tidak tua, Nox. Rindu ini masih seperti tiga puluh tahun lalu.
Sinox berhenti. Dadanya sesak. Kata-kata Akang menusuk tepat di sela-sela tulang rusuknya, masuk ke jantung, lalu berdenyut di sana.
Jangan, Akang. Jangan memulai sesuatu yang tidak bisa kita selesaikan.
Tapi ia tidak mengetik itu.
Ia hanya mengetik:
Kita bicara besok, Akang. Aku harus tidur. Mas Sarif bisa bangun kapan saja.
Akang Riyadi: Iya. Selamat malam, Nox. Jaga kesehatan.
Kamu juga.
Pagi yang Penuh Tanya
Pagi itu, Setya Ningsih tidak bertanya.
Ia sudah bangun lebih dulu dari Akang, sesuatu yang jarang terjadi. Biasanya Akang yang bangun paling pagi, menyiapkan air panas untuk kopi, lalu membersihkan halaman rumah dari daun-daun kering yang berguguran.
Tapi pagi ini, Setya Ningsih bangun pukul setengah lima dan mendapati suaminya masih terbaring di tempat tidur. Ponsel Akang tergeletak di atas bantal, sesuatu yang tidak pernah terjadi. Akang selalu menyimpan ponselnya di meja kecil sebelum tidur. Katanya, radiasi ponsel bisa mengganggu tidur.
Tapi tiga malam terakhir, Akang selalu tertidur sambil menggenggam ponselnya.
Setya Ningsih mengambil ponsel itu dengan hati-hati. Layar menyala saat ia menyentuhnya. WhatsApp masih terbuka.
Dan di layar itu, Setya membaca chat terakhir antara suaminya dan seseorang bernama Sinox Yanti.
Kita bicara besok, Akang. Aku harus tidur. Mas Sarif bisa bangun kapan saja.
Iya. Selamat malam, Nox. Jaga kesehatan.
Kamu juga.
Setya Ningsih membaca chat itu tiga kali. Lalu menaruh ponsel kembali di atas bantal dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah ponsel itu adalah bom yang bisa meledak kapan saja.
Ia pergi ke dapur. Menyalakan api kompor. Merebus air.
Tangannya tidak gemetar. Matanya tidak basah.
Tapi di dalam dadanya, ular curiga itu mulai membelit lebih erat.
Nox, pikir Setya Ningsih. Dia memanggilnya Nox. Bukan Yanti. Bukan Bu Sinox. Tapi Nox. Nama panggilan yang intim. Nama panggilan yang tidak sembarangan orang bisa menggunakannya.
Setya Ningsih menyesap air panas dari cangkirnya, tanpa kopi, tanpa gula. Pahit. Dan ia membiarkan rasa pahit itu mengalir di kerongkongannya.
Siapa kau, Sinox Yanti?
Dan mengapa kau muncul sekarang, setelah tiga puluh tahun, untuk mengusik ketenangan rumah tanggaku?
Saat Kenangan Menjadi Bom Waktu
Siang harinya, Sinox menerima pesan suara dari Akang di WhatsApp.
Akang Riyadi (pesan suara): "Nox, aku tadi pagi hampir ketahuan istri. Dia lihat ponselku saat aku tidur. Aku tidak tahu apakah dia membaca chat kita atau tidak. Tapi aku merasa dia mulai curiga. Mungkin kita harus... mungkin kita harus mengurangi frekuensi chat, ya? Cuma sementara. Sampai situasi tenang."
Sinox mendengarkan pesan itu dua kali. Lalu ia membalas dengan pesan suara juga, suaranya sedikit serak karena menahan perasaan yang campur aduk.
Sinox Yanti (pesan suara): "Iya, Akang. Kamu benar. Aku juga hampir ketahuan Mas Sarif kemarin. Dia bilang aku aneh. Mungkin memang kita harus lebih hati-hati. Tapi... jangan hilang lagi, Akang. Tolong jangan hilang lagi. Aku tidak akan kuat jika kamu hilang kedua kalinya."
Pesan suara itu terkirim.
Sinox menyesal sedetik setelahnya. Kenapa aku bilang begitu? Kenapa aku terlihat lemah? Kenapa aku memintanya untuk tidak pergi, seperti aku berhak memintanya?
Tapi pesan sudah terkirim. Dan tidak ada fitur hapus yang bisa menghapus perasaan di balik kata-kata itu.
Sore harinya, Akang membalas.
Bukan dengan pesan suara, tapi dengan satu kalimat pendek di chat.
Akang Riyadi: "Aku tidak akan pergi, Nox. Bukan lagi. Tidak setelah aku menemukanmu kembali."
Sinox membaca kalimat itu berulang kali. Matanya panas. Hidungnya tersumbat. Dan di ruang tamu rumahnya, saat Eko sedang bermain di teras dan Mas Sarif sedang tidur siang di kamar, Sinox menangis.
Bukan tangis bahagia.
Bukan juga tangis sedih.
Tangis lega.
Karena setelah tiga puluh tahun, akhirnya ada seseorang yang berjanji tidak akan meninggalkannya.
Meskipun janji itu datang dari laki-laki yang bukan suaminya.
Pertemuan yang Tertunda
Malam itu, tanpa sengaja, Sinox dan Akang kembali ke topik yang paling mereka hindari: foto profil.
Sinox Yanti: "Akang, kenapa kamu terus melihat foto profilku? Katamu tadi, kamu jadi tidak bisa tidur karena lihat fotoku. Apa istimewanya foto batik lusuh itu?"
Akang Riyadi: "Karena di foto itu, matamu bicara."
Sinox terdiam.
Akang Riyadi: "Matamu bilang, 'Aku masih di sini, Akang. Aku masih menunggu meskipun aku tidak tahu sedang menunggu apa.' Dan aku membalas, 'Aku juga di sini, Nox. Aku juga tidak tahu sedang menunggu apa. Tapi aku senang kita menunggu bersama.'"
Sinox menggigit bibirnya. Membaca kalimat itu berulang kali seperti mantra.
Dia masih puitis, batin Sinox. Dulu dia pendiam, tapi kalau menulis, selalu dalam. Sekarang juga sama.
Sinox Yanti: "Foto profilmu juga, Akang. Foto yang kamu pakai di WhatsApp. Kamu pakai foto di kantor desa, pakai kemeja batik lengan pendek. Di belakangmu ada peta desa. Senyummu setengah-setengah, seperti biasa. Tapi matamu... matamu bilang, 'Aku lelah, Nox. Tapi aku bertahan.'"
Akang Riyadi: "Kamu masih bisa membaca mataku?"
Sinox Yanti: "Aku bisa membaca matamu sejak tiga puluh tahun lalu, Akang. Itu sebabnya aku selalu berlindung padamu. Karena matamu tidak pernah berbohong."
Tidak ada balasan dari Akang selama lima menit. Sinox hampir mengira sinyalnya mati atau ponselnya error. Tapi akhirnya, satu pesan masuk.
Akang Riyadi: "Kalau begitu, kamu pasti tahu bahwa malam ini, mataku berkata: 'Aku merindukanmu, Nox. Bukan sebagai teman. Sebagai sesuatu yang lebih. Dan aku takut karena aku tidak boleh merasakan ini.'"
Sinox tidak membalas.
Ia hanya mematikan ponselnya, meletakkannya di atas meja dengan posisi layar menghadap ke bawah, lalu berbaring di samping Mas Sarif yang sudah tidur nyenyak.
Tapi hatinya, yang tidak bisa tidur, hanya bisa berbisik dalam gelap:
Aku juga, Akang. Aku juga merindukanmu. Dan aku juga takut.
Di Balik Layar yang Tidak Pernah Mati
Setya Ningsih tidak buta.
Sejak pagi, ia sudah memasang aplikasi pencatat notifikasi di ponsel suaminya, aplikasi yang ia unduh karena rasa penasarannya yang tidak terkendali. Setiap chat masuk, setiap pesan suara, setiap panggilan WhatsApp, semuanya tercatat.
Setya tahu ini salah. Tahu ini melanggar privasi. Tahu ini bisa menghancurkan kepercayaan dalam pernikahannya.
Tapi ular curiga di dadanya tidak peduli.
Dan malam itu, Setya membaca semua chat antara Akang dan Sinox.
Dari "Aku tidak akan pergi, Nox" hingga "Aku merindukanmu sebagai sesuatu yang lebih."
Setya Ningsih tidak menangis.
Ia hanya duduk di dapur, di kegelapan, tanpa menyalakan lampu. Tangannya memegang ponsel dengan genggaman yang keras.
Jadi ini siapa kau, Sinox Yanti.
Kau bukan teman lama. Kau adalah cinta lama suamiku yang tidak pernah mati.
Dan kau muncul sekarang, setelah tiga puluh tahun, setelah aku membantunya membangun rumah tangga ini, setelah aku memberinya tiga anak, untuk mengambilnya kembali?
Setya Ningsih berdiri.
Ia berjalan menuju kamar tidur. Akang sudah tertidur, ponsel masih di tangannya. Setya mengambil ponsel itu dengan hati-hati, lalu meletakkannya di atas lemari, jauh dari jangkauan Akang.
Kemudian ia berbaring di samping suaminya, menatap wajahnya dalam gelap.
Aku tidak akan kehilanganmu, Mas, bisiknya dalam hati. Bukan kepada perempuan itu. Bukan kepada siapa pun. Kamu milikku. Dan aku tidak akan melepaskannya.
Saat Bom Itu Mulai Berdetak
Sinox tidak tahu apa yang terjadi di rumah Akang malam itu.
Ia hanya merasakan ada yang tidak beres saat bangun pagi dan melihat ponselnya. Ada lima belas notifikasi dari grup WhatsApp sekolah, tiga dari tetangga yang meminjam uang, dan satu pesan dari Akang, dikirim pukul 3.47 dini hari.
Akang Riyadi: "Nox, istriku tahu. Dia membaca chat kita. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Tapi apapun yang terjadi, ingatlah: aku tidak akan pernah menyesal menemukanmu kembali. Kamu adalah bagian dari hidupku yang selama ini hilang. Dan sekarang kamu sudah kembali. Maaf jika ini membahayakanmu. Maaf jika ini membahayakan kami berdua. Tapi aku tidak bisa berpura-pura bahwa kamu tidak berarti."
Sinox membaca pesan itu. Membacanya lagi. Lalu membacanya sekali lagi.
Tangannya dingin.
Dadanya berdebar tidak karuan.
Dan untuk pertama kalinya sejak panggilan telepon pertama malam itu, Sinox merasakan ketakutan yang sesungguhnya.
Bukan ketakutan kehilangan Akang lagi.
Tapi ketakutan bahwa cinta masa lalu yang indah ini akan menghancurkan dua rumah tangga sekaligus.
Dan tidak ada yang bisa menghentikannya.
BAB IV
Nomor yang Mengubah Segalanya
Tiga puluh tahun.
Butuh tiga puluh tahun bagi sebuah nomor telepon untuk mengubah segalanya.
Sinox Yanti tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari nanti, sebuah deretan angka yang ia simpan di kontak ponsel dengan nama Akang Riyadi akan memiliki kekuatan sebesar itu. Bukan hanya untuk membangkitkan kenangan, tapi juga untuk meruntuhkan tembok-tembok yang selama ini ia bangun dengan susah payah. Tembok pernikahan. Tembok kesabaran. Tembok kepalsuan bahwa ia baik-baik saja tanpa jawaban atas pertanyaan yang selama tiga puluh tahun tidak pernah terjawab.
Mengapa Akang pergi tanpa pamit?
Apakah ia pernah mencintaiku?
Dan jika iya, mengapa ia tidak pernah mengatakannya?
Nomor itu, nomor yang diberikan oleh teman lama lewat Facebook, adalah kunci yang membuka peti mati masa lalu yang selama ini ia kira sudah terkubur dengan aman. Tapi peti itu tidak pernah benar-benar terkubur. Ia hanya ditutupi tanah tipis, dan sekarang, dengan satu sentuhan jari di layar ponsel, tanah itu tersapu, dan semua isi peti itu meledak ke permukaan dengan kekuatan yang hampir meruntuhkan kewarasannya.
Malam Sebelum Badai
Minggu kedua setelah pertemuan virtual mereka.
Sinox duduk di ruang tamu rumahnya, seorang diri. Eko sudah tidur sejak pukul delapan. Mas Sarif sedang di luar, menghadiri pengajian rutin malam Senin di rumah pak RT. Biasanya Sinox ikut, tapi malam ini ia mengeluh pusing.
Pusing yang sebenarnya tidak ia rasakan.
Hanya alasan. Alasan untuk duduk sendiri. Alasan untuk memegang ponselnya tanpa gangguan. Alasan untuk menunggu, meskipun ia sendiri tidak yakin sedang menunggu apa.
Ponselnya bergetar.
Akang Riyadi: Nox, kamu ada waktu?
Sinox menahan napas. Dadanya berdegup seperti ada burung yang berusaha keluar dari sangkar tulang rusuknya.
Ada, Akang. Mas Sarif keluar. Eko sudah tidur. Kenapa?
Akang Riyadi: Aku ingin menelepon. Aku perlu mendengar suaramu. Hari ini berat sekali di sini.
Berat kenapa?
Akang Riyadi: Istriku masih marah. Sejak dia tahu, dia tidak bicara padaku kecuali untuk urusan anak atau makan. Aku seperti tinggal dengan hantu.
Sinox membaca pesan itu berkali-kali. Rasa bersalah menjalari sekujur tubuhnya. Ini salahku. Jika aku tidak mencari Akang, jika aku tidak terlalu lemah untuk menahan rindu, mungkin dia tidak akan begini.
Tapi di sisi lain, ada suara lain di kepalanya, suara egois yang selalu ada sejak tiga puluh tahun lalu. Suara yang berbisik: Tapi kamu berhak tahu, Sinox. Kamu berhak mendapat jawaban. Kamu yang ditinggalkan tanpa pamit. Kamu yang bertahun-tahun bertanya-tanya. Kamu yang tidak pernah bisa move on sepenuhnya karena satu laki-laki itu tidak pernah memberi titik pada cerita kalian.
Sinox menghela napas. Lalu menekan tombol panggilan suara di WhatsApp.
Akang menjawab di nada ketiga.
"Nox."
"Akang."
Hanya itu. Hanya nama mereka yang disebut. Tapi di dalam kedua nama itu tersimpan segala sesuatu yang tidak pernah terucap selama tiga puluh tahun.
"Aku minta maaf," kata Sinox pelan, suaranya nyaris berbisik. "Aku yang memulai semuanya. Aku yang cari tahu nomormu. Aku yang telepon pertama kali. Kalau sampai rumah tanggamu terganggu, itu salahku."
"Bukan salah siapa pun, Nox." Suara Akang terdengar letih. Lebih letih dari biasanya. "Ini sudah takdir. Mungkin sudah waktunya kita menyelesaikan sesuatu yang tertunda."
"Tertunda?"
"Ya. Cerita kita."
Sinox diam. Kalimat itu terlalu berat. Cerita kita. Seolah-olah mereka memang memiliki sebuah cerita. Seolah-olah hubungan mereka dulu bukan sekadar persahabatan yang kelewat batas, tapi sebuah narasi yang belum selesai.
"Kita tidak punya cerita, Akang," kata Sinox akhirnya, suaranya pahit. "Kamu pergi tanpa pamit. Kamu meninggalkanku tanpa kabar selama tiga puluh tahun. Apa yang mau diselesaikan?"
"Kamu marah."
"Aku tidak marah. Aku hanya... lelah. Selama tiga puluh tahun aku bertanya-tanya. Dan sekarang kamu muncul, dan aku harus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja? Bahwa hatiku tidak hancur waktu itu?"
Diam panjang.
Lalu suara Akang, lebih pelan sekarang, hampir seperti bisikan, terdengar di seberang sana.
"Waktu itu aku pulang ke Tegorejo, Nox."
Sinox terkejut. "Apa?"
"Tahun 1995. Tiga tahun setelah aku pergi. Aku pulang ke Tegorejo. Aku ingin menemuimu. Aku ingin minta maaf. Tapi..."
"Tapi apa?"
"Ibu Ros, ibumu, bilang kamu sudah punya pacar. Laki-laki dari kota. Namanya Mas Nur. Katanya kamu serius. Dan ibu minta aku tidak usah muncul."
Sinox terdiam. Dadanya terasa ditekan batu besar.
"Aku tidak tahu, Akang. Ibu tidak pernah bilang."
"Karena aku minta dia tidak bilang. Aku pikir kau sudah bahagia. Kau sudah move on. Aku tidak punya hak merusak kebahagiaanmu hanya karena aku menyesal pergi."
Sinox menutup matanya. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Kau bodoh, Akang. Sangat bodoh."
"Aku tahu."
"Mas Nur dan aku tidak jadi. Tidak pernah serius. Dia hanya... dia hanya pelarian. Karena aku kecewa padamu. Karena kau pergi. Karena kau menghilang."
"Aku tidak tahu itu."
"Karena kau tidak bertanya. Kau tidak pernah bertanya, Akang. Kau hanya pergi. Kau hanya menghilang. Dan kau meninggalkanku dengan seribu pertanyaan yang tidak pernah terjawab sampai, sampai malam itu, saat aku menekan nomormu."
Akang tidak menjawab.
Tapi Sinox bisa mendengar napasnya yang memburu. Bisa mendengar isak tertahan di seberang sana. Laki-laki yang dulu ia anggap sekuat baja itu, sekarang menangis.
Dan untuk pertama kalinya, Sinox merasa tidak sendirian dalam rasa sakit ini.
Saat Kenangan Menjadi Nyata
Telepon itu berlangsung lebih lama dari yang seharusnya.
Mereka berbicara tentang banyak hal. Tentang tahun 1992, saat Sinox masih kelas I SMP dan Akang kelas 2 SMA. Tentang latihan karate di dojo kecil di belakang rumah pak RT, tempat mereka belajar menghormati lawan dan mengendalikan amarah. Tentang sepeda ontel biru yang selalu dipinjam Sinox, dan bagaimana Akang duduk di boncengan belakang sambil memegang pundak Sinox, dengan jantung yang berdebar setiap kali tangan Sinox menyentuh jari-jarinya.
"Kau tahu," kata Akang pelan, "setiap kali kau bonceng aku, aku selalu berdoa agar perjalanannya lebih lama. Agar kita tidak cepat sampai. Agar waktu berhenti sebentar."
Sinox tersenyum getir. "Aku juga."
"Apa?"
"Aku juga berdoa begitu, Akang. Tapi aku tidak pernah tahu kenapa. Aku pikir aku hanya senang punya teman. Tapi ternyata..."
"Ternyata?"
"Ternyata hatiku sudah lebih dulu tahu sebelum otakku menyadari."
Kalimat itu menggantung di udara.
Mereka berdua diam.
Dan di dalam diam itu, ada pengakuan yang tidak perlu diucapkan. Pengakuan bahwa tiga puluh tahun yang lalu, di antara latihan karate, sepeda ontel, dan curhatan malam, sebenarnya cinta telah tumbuh. Tapi mereka terlalu muda, terlalu takut, dan terlalu bodoh untuk menyadarinya.
Sekarang, di usia yang tidak lagi muda, mereka menyadari semuanya.
Tapi semuanya sudah terlambat.
Panggilan yang Tak Sengaja Terdengar
Di Kapuas, malam itu tidak seperti malam-malam sebelumnya.
Setya Ningsih tidak pergi ke pengajian. Ia bilang pada Akang ia mau tidur lebih awal karena pusing, alasan yang sama persis dengan alasan Sinox malam itu. Tapi Setya tidak tidur. Ia berbaring di kamar, di samping ponsel Akang yang tertinggal di atas kasur karena suaminya pergi ke dapur untuk mengambil air minum.
Setya tidak bermaksud menguping.
Tapi ketika ponsel Akang bergetar dan layar menyala, Setya melihat nama yang paling ia takuti: Sinox Yanti.
Bukan chat. Panggilan suara.
Setya mengangkatnya.
Bukan karena ingin. Tapi karena jari-jarinya bergerak sendiri, seperti ada kekuatan gaib yang mendorongnya untuk mengetahui kebenaran yang selama ini ia hindari.
"Akang."
"Nox."
Dua kata itu cukup.
Setya mendengar semuanya. Dari "Aku minta maaf" hingga "Kau bodoh, Akang. Sangat bodoh." Dari "Cerita kita" hingga "Aku juga berdoa begitu, Akang."
Setya mendengarkan sampai panggilan itu berakhir. Lalu ia meletakkan ponsel kembali di atas kasur, persis seperti posisi semula. Berbaring. Menutup mata.
Tapi di bawah kelopak matanya yang terpejam, dunia terasa runtuh.
Dia mencintai suamiku. Dan suamiku mencintainya.
Bukan sebagai teman. Tapi sebagai sesuatu yang lebih.
Dan cinta itu tidak pernah mati.
Setya Ningsih tidak menangis malam itu. Ia hanya menggigit bibirnya sampai berdarah, menahan teriakan yang tidak bisa ia keluarkan karena takut anak-anaknya terbangun.
Aku akan bertahan, pikirnya. Aku tidak akan menyerah. Suamiku tidak akan kuberikan pada perempuan itu.
Tapi di dalam hatinya, ada suara lain yang lebih jujur.
Tapi bagaimana jika suamiku sendiri yang memilih pergi?
Setya Ningsih memejamkan mata lebih erat, mengusir suara itu. Tapi suara itu tetap ada. Menggantung. Mengancam. Seperti badai yang belum datang, tapi sudah tercium baunya.
Tegorejo, Dini Hari
Pukul satu malam. Mas Sarif belum pulang dari pengajian, mungkin sedang ngobrol lama dengan teman-temannya, seperti biasa. Eko sudah tidur dengan mimpi yang mungkin lebih indah dari kehidupan orang tuanya.
Sinox masih terjaga. Ponsel di tangan. Chat dengan Akang belum ditutup.
Sinox Yanti: Aku harus tidur, Akang. Mas Sarif bisa pulang kapan saja.
Akang Riyadi: Iya. Aku juga. Nox...
Iya?
Akang Riyadi: Terima kasih sudah mau bicara jujur. Aku sudah tiga puluh tahun menyimpan semuanya sendiri. Malam ini rasanya... lega.
Sinox tersenyum. Air mata masih basah di pipinya.
Aku juga lega, Akang. Selamat malam.
Akang Riyadi: Selamat malam. Jangan lupa baca doa sebelum tidur.
Aku tidak akan lupa.
Akang Riyadi: Baca doa juga untukku.
Untuk apa?
Akang Riyadi: Agar aku bisa ikhlas jika suatu hari nanti kita harus berhenti.
Sinox tidak membalas.
Ia hanya mematikan ponsel, berbaring di atas kasur, dan menatap gelapnya langit-langit kamar.
Bagaimana caranya ikhlas, Akang? batinnya. Jika aku saja belum pernah benar-benar memulai?
Perubahan Kecil yang Tidak Terlihat
Mas Sarif pulang pukul setengah dua.
Rumah gelap. Sinox sudah berbaring dengan posisi menyamping, membelakangi pintu. Mas Sarif mengira istrinya tidur. Ia berganti pakaian dengan hati-hati agar tidak berisik, lalu merebahkan diri di sisi tempat tidur yang kosong.
Tapi Mas Sarif tidak tidur.
Matanya terbuka lebar di kegelapan.
Karena saat ia masuk tadi, saat ia melewati ruang tamu, ia melihat ponsel istrinya menyala sebentar. Sebuah notifikasi WhatsApp masuk. Dan Mas Sarif membaca nama pengirimnya.
Akang Riyadi.
Mas Sarif tidak tahu siapa itu. Tapi nada notifikasi yang Sinox atur khusus untuk kontak itu, nada yang berbeda dari nada biasanya, membuat Mas Sarif bertanya-tanya.
Siapa Akang Riyadi?
Mengapa istriku membedakan notifikasinya?
Dan mengapa, di tengah malam buta begini, seseorang masih mengirim pesan pada istriku?
Mas Sarif tidak bertanya malam itu. Ia terlalu lelah. Atau mungkin terlalu takut dengan jawabannya.
Tapi di dalam dadanya, seekor ular lain mulai merayap. Ular bernama prasangka.
Dan ular itu, tidak seperti ular curiga yang merayap di dada Setya Ningsih, memiliki bisa yang lebih mematikan. Karena prasangka tidak butuh bukti. Prasangka hanya butuh satu notifikasi, satu nama asing, dan satu malam yang terlalu sunyi.
Nomor Itu
Sinox tidak pernah membayangkan bahwa satu nomor telepon bisa mengubah hidupnya sebegini dramatis.
Nomor itu, yang ia simpan di kontak ponsel dengan ikon hati kecil di samping nama Akang Riyadi, adalah pusat dari segalanya. Pusat rasa rindu yang membuncah. Pusat rasa bersalah yang menggerogoti. Pusat kebahagiaan yang terlarang. Pusat kehancuran yang perlahan tapi pasti meruntuhkan fondasi rumah tangganya.
Tapi Sinox tidak bisa menghapus nomor itu.
Bukan karena ia tidak mau. Tapi karena menghapus nomor itu berarti menghapus bagian terpenting dari dirinya yang selama tiga puluh tahun ia kira sudah mati. Padahal tidak pernah mati. Hanya tidur. Dan sekarang, dengan satu panggilan telepon, ia terbangun dengan kekuatan yang luar biasa.
Mungkin ini ujian, pikir Sinox. Mungkin Tuhan mempertemukan kami kembali bukan untuk bersatu, tapi untuk melepaskan.
Tapi bagaimana cara melepaskan sesuatu yang tidak pernah benar-benar dimiliki?
Sinox tidak tahu.
Yang ia tahu, malam itu, saat Mas Sarif tidur di sampingnya dengan wajah yang mulai lelah dan ponselnya bergetar dengan nama Akang Riyadi di layar, Sinox Yanti berdoa.
Bukan doa panjang dengan bahasa Arab yang indah.
Tapi doa pendek yang keluar dari hati yang paling jujur.
Ya Allah, jika Akang adalah cinta yang tidak halal untukku, cabutlah rasa ini dari hatiku. Namun jika ia adalah ujian, berikan aku kekuatan. Dan jika ia adalah rahmat, tolong tunjukkan aku bagaimana cara menyikapi rahmat tanpa menghancurkan apa yang sudah aku bangun selama ini.
Ponselnya bergetar sekali lagi.
Sinox tidak membukanya.
Ia hanya berbaring, memejamkan mata, dan membiarkan air mata merembes pelan di sudut matanya.
Karena dia tahu, meskipun belum sepenuhnya, bahwa nomor itu bukan hanya mengubah hidupnya.
Tapi juga akan mengubah hidup orang-orang yang ia cintai.
Dan tidak ada yang bisa menghentikannya sekarang.
BAB V
Percakapan Tengah Malam
Malam adalah saat yang paling jujur bagi mereka yang takut pada siang.
Karena di bawah gelapnya langit dan sunyi yang menyelimuti desa, semua topeng jatuh. Semua kepura-puraan lenyap. Yang tersisa hanyalah suara, napas, dan getaran suara yang merambat dari satu ponsel ke ponsel lain, melintasi lautan, melintasi pulau, melintasi tiga puluh tahun waktu yang terbuang sia-sia.
Inilah percakapan tengah malam yang membuka luka lama sekaligus mengobatinya. Inilah percakapan yang membuat Akang Riyadi dan Sinox Yanti sadar bahwa persahabatan mereka dulu bukan hanya persahabatan. Bahwa cinta yang tidak pernah mereka akui ternyata lebih besar dari apa yang mereka kira.
Inilah percakapan yang, tanpa mereka sadari, sedang meracuni dan menyembuhkan mereka secara bersamaan.
Malam Kesembilan
Kapuas, pukul 23.47.
Akang Riyadi duduk di beranda rumah panggungnya. Lampu luar rumah sengaja ia matikan. Yang tersisa hanyalah cahaya ponsel yang menerangi wajahnya yang mulai dipenuhi kerutan usia. Di luar, suara jangkrik dan katak sawah bersahutan, menciptakan simfoni alam yang mengiringi kesendiriannya.
Setya Ningsih sudah tidur. Atau pura-pura tidur. Akang tidak pernah tahu lagi. Dalam satu minggu terakhir, istrinya itu menjadi seperti patung hidup. Bicara seperlunya, hanya untuk urusan makan dan anak. Tidak ada tawa. Tidak ada gurauan. Tidak ada sentuhan lembut yang dulu selalu Setya berikan saat Akang pulang lelah dari kantor desa.
Kami seperti orang asing yang tinggal serumah, pikir Akang.
Dan di sinilah letak ironinya. Semakin dingin rumahnya, semakin hangat chat-nya dengan Sinox. Semakin jauh istrinya, semakin dekat ia dengan bayangan masa lalu. Seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan.
Ponselnya bergetar.
Sinox Yanti: Akang, kamu masih bangun?
Akang tersenyum getir. Sudah sembilan malam berturut-turut Sinox menanyakan hal yang sama. Seolah ia takut Akang akan menghilang lagi jika ia tidak memastikannya setiap malam.
Akang Riyadi: Masih. Kamu kenapa belum tidur?
Sinox Yanti: Tidak bisa tidur. Rasanya ada yang mengganjal di dada.
Akang Riyadi: Apa?
Sinox Yanti: Perasaan bersalah. Setiap kali kita bicara, aku merasa bersalah pada Mas Sarif. Tapi jika kita tidak bicara, aku merasa sesak. Dilema yang tidak masuk akal.
Akang membaca pesan itu berulang kali. Ia memahami setiap kata. Karena ia juga merasakan hal yang sama setiap malam. Setiap kali ia membuka WhatsApp, setiap kali jarinya mengetik nama Sinox, setiap kali suara Sinox terdengar di panggilan suara, ada rasa bersalah yang menjalari sekujur tubuhnya. Tapi rasa bersalah itu selalu kalah oleh rasa rindu yang lebih besar.
Akang Riyadi: Kita tidak salah, Nox. Kita hanya... menyelesaikan sesuatu yang tertunda.
Sinox Yanti: Apakah kita yakin ini bukan awal dari sesuatu yang baru?
Pertanyaan itu menusuk.
Akang terdiam cukup lama. Jarinya menggantung di atas layar ponsel, tidak tahu harus mengetik apa. Karena sejujurnya, ia juga tidak tahu. Apakah yang mereka lakukan ini sekadar "penyelesaian masa lalu"? Atau, jujur pada diri sendiri, apakah ini adalah awal dari sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang dilarang, sesuatu yang bisa menghancurkan dua keluarga sekaligus?
Akang Riyadi: Aku tidak tahu, Nox. Yang aku tahu, aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Sinox Yanti: Memikirkan apa?
Akang Riyadi: Memikirkan kamu. Bukan kamu yang sekarang saja. Tapi kamu yang dulu. Gadis kecil yang selalu cerewet dan manja itu. Yang selalu curhat tentang Mas Nur. Yang naik sepeda ontel sambil membonceng aku di belakang. Yang menangis di pundakku saat kalah lomba karate.
Sinox tidak membalas selama beberapa menit.
Lalu:
Sinox Yanti: Kamu masih ingat semua itu?
Akang Riyadi: Aku mengingat setiap detiknya, Nox. Seperti itu terjadi kemarin.
Sinox Yanti: Kenapa?
Akang Riyadi: Karena saat itu adalah masa-masa terindah dalam hidupku. Dan karena saat itu aku dekat denganmu. Sangat dekat.
Tentang Mas Nur
Sinox tidak tahu mengapa malam itu ia memutuskan untuk membuka luka yang paling dalam.
Mungkin karena kegelapan membuatnya berani. Mungkin karena suara Akang di seberang sana membuatnya merasa aman. Atau mungkin, mungkin karena sudah waktunya.
"Akang, aku ingin cerita tentang Mas Nur."
Diam sejenak di seberang sana. Lalu suara Akang yang pelan, nyaris berbisik.
"Cerita apa, Nox?"
"Cerita yang tidak pernah aku ceritakan pada siapa pun. Tentang cinta pertamaku yang penuh misteri dan konflik. Tentang betapa sakitnya saat itu. Tentang bagaimana, pada saat paling hancurnya aku, hanya kamu yang ada di sana."
Akang tidak menjawab. Ia hanya mendengarkan.
Dan Sinox pun bercerita.
Tentang Mas Nur, laki-laki dari kota, tiga tahun lebih tua, berambut gondrong dan bermata sayu yang membuat Sinox remaja jatuh cinta pada pandangan pertama. Tentang bagaimana hubungan mereka dimulai dengan surat-surat yang dititipkan lewat teman. Tentang bagaimana Sinox rela membolos sekolah hanya untuk bertemu Mas Nur di perempatan jalan dekat pasar.
"Aku sangat mencintainya, Akang," kata Sinox, suaranya pecah di tengah kalimat. "Atau setidaknya itu yang aku pikir saat itu. Tapi cinta pertamaku beracun."
Akang tidak bertanya. Ia hanya menunggu.
"Dua kali aku hamil," lanjut Sinox, dan suaranya kini bergetar hebat. "Dua kali, Akang. Dan dua kali pula aku kehilangan. Aku belum menikah saat itu. Aku malu. Aku takut. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Dan di saat-saat paling gelap dalam hidupku, Mas Nur... dia menghilang."
Air mata Sinox jatuh. Ia tidak menyeka.
"Dia bilang dia akan bertanggung jawab. Tapi dia tidak pernah muncul. Tidak pernah menelepon. Tidak pernah mengirim kabar. Hanya... hilang. Seperti kamu, Akang. Tapi bedanya, kamu pergi karena ekonomi. Dia pergi karena pengecut."
Akang terdiam panjang.
Dan ketika ia bicara, suaranya serak.
"Kenapa kamu tidak pernah bilang, Nox?"
"Karena aku malu. Karena aku takut kau akan melihatku sebagai perempuan yang kotor. Perempuan yang tidak pantas."
"Kau tidak pernah kotor, Nox. Dan kau selalu pantas. Sejak dulu hingga sekarang. Kau adalah perempuan paling berharga yang pernah aku kenal."
Sinox tersedu-sedu.
"Karena itu, setiap kali aku curhat padamu tentang Mas Nur, sebenarnya aku tidak butuh solusi. Aku hanya butuh didengar. Dan kau selalu mendengarkan, Akang. Kau selalu ada. Di setiap air mataku, di setiap patah hatiku, di setiap malam ketika aku merasa tidak berharga, kau selalu ada."
"Tapi sekarang kau tidak ada di sini," kata Sinox lirih. "Sekarang kau di Kapuas. Aku di Tegorejo. Dan kita hanya punya suara."
Akang menutup matanya. Air mata mengalir di pipinya yang kasar.
"Tapi suaraku masih untukmu, Nox. Seperti dulu. Aku masih di sini. Mungkin tidak secara fisik. Tapi hatiku, hatiku tidak pernah pergi dari Tegorejo. Sejak aku pergi tiga puluh tahun lalu, aku meninggalkan tubuhku di Jakarta dan Kapuas, tapi hatiku... hatiku kutinggal bersamamu."
Tentang Janji pada Bu Ros
Malam itu, untuk pertama kalinya, Akang menceritakan dengan jujur apa yang terjadi sebelum ia pergi dari Tegorejo.
"Sebelum aku berangkat ke Jakarta, aku mampir ke rumahmu."
"Apa?" Sinox terkejut. "Kapan?"
"Sore. Sebelum maghrib. Ibu, Bu Ros, sedang sendiri di rumah. Ima ada di rumah temannya. Dan kamu, kamu sedang di sawah membantu ayah."
"Aku tidak tahu, Akang. Ibu tidak pernah bilang."
"Karena aku minta ibu tidak bilang. Aku datang hanya untuk satu hal."
"Apa?"
"Aku ingin minta izin pada ibumu untuk meminangmu."
Dunia Sinox berhenti berputar.
"Apa katamu?" bisiknya, suaranya hampir tidak terdengar.
"Aku bilang, 'Bu, saya mencintai Sinox. Saya ingin serius dengan dia. Saya akan bekerja di Jakarta, mengumpulkan uang, lalu kembali untuk meminangnya.' Tapi ibumu... dia bilang tidak."
Sinox terdiam. Dadanya terasa ditekan oleh sesuatu yang sangat berat.
"Dia bilang, 'Akang, kamu anak baik. Tapi Sinox masih kecil. Dia harus sekolah dulu. Dia harus selesai SMP, lalu SMA. Jangan ganggu konsentrasinya dengan pacaran. Kalau kamu benar-benar mencintainya, tunggu sampai dia dewasa. Tapi untuk sekarang, jangan hubungi dia. Fokuslah pada masa depanmu sendiri.'"
"Dan kau menurut?" suara Sinox pahit. "Kau menurut begitu saja?"
"Aku tidak punya pilihan, Nox. Ibumu benar. Aku tidak punya apa-apa saat itu. Tidak punya pekerjaan tetap. Tidak punya rumah. Tidak punya tabungan. Apa yang bisa kuberikan padamu selain janji? Dan janji, aku tahu, tidak cukup untuk menghidupi istri."
Sinox ingin marah. Ingin membentak. Ingin berteriak bahwa Akang seharusnya tidak mendengarkan ibunya. Seharusnya Akang bertahan. Seharusnya Akang tetap berusaha.
Tapi ia tidak bisa.
Karena ia tahu, ibu tidak pernah bercerita tentang itu. Selama tiga puluh tahun, ibu membiarkannya bertanya-tanya, membiarkannya sakit hati, membiarkannya berpikir bahwa Akang pergi karena tidak peduli.
"Kenapa ibu tidak pernah bilang?" bisik Sinox, lebih pada dirinya sendiri.
"Karena ibu melindungimu, Nox. Ibu tidak ingin kau hidup susah denganku. Ibu ingin kau mendapatkan laki-laki yang lebih siap. Dan ibu benar. Mas Sarif, dia jauh lebih baik dariku. Dia punya tanah, punya rumah, punya pekerjaan tetap. Dia bisa memberimu kehidupan yang layak."
"Tapi dia tidak memberiku kebahagiaan yang kau berikan, Akang. Dan itu tidak bisa diukur dengan tanah atau rumah."
Akang terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Karena sejujurnya, ia juga sering berpikir: Bagaimana jika dulu aku melawan? Bagaimana jika aku tetap berjuang? Mungkin sekarang Sinox adalah istriku. Mungkin anak-anak yang dia lahirkan adalah darah dagingku. Mungkin kita tertawa bersama di kursi tua ini, menikmati senja sambil mengenang masa muda.
Tapi hidup tidak berjalan dengan skenario "bagaimana jika".
Hidup berjalan dengan kenyataan pahit yang harus diterima.
Dan kenyataannya adalah: Akang menikah dengan Setya Ningsih, perempuan baik yang tidak bersalah. Sinox menikah dengan Mas Sarif, laki-laki baik yang juga tidak bersalah. Mereka berdua memiliki anak-anak yang tidak meminta dilahirkan dalam situasi rumit seperti ini.
Dan semua ini terjadi karena satu janji yang ditepati oleh seorang pemuda miskin yang terlalu hormat pada orang tua.
Tentang Rindu yang Tak Terkatakan
Percakapan tengah malam itu berlangsung hingga pukul setengah tiga.
Mereka berbicara tentang rasa rindu yang selama tiga puluh tahun mereka pendam.
"Aku merindukanmu setiap hari, Nox," kata Akang. Jujur. Tanpa tedeng aling-aling. "Bukan hanya saat aku sendiri. Tapi saat aku bersama istriku, saat aku bersama anak-anakku, saat aku bekerja di kantor desa, setiap saat, namamu selalu hadir di kepalaku."
"Aku juga," bisik Sinox. "Setiap kali aku melihat sepasang remaja naik sepeda bersama, aku ingat kamu. Setiap kali aku mendengar lagu-lagu tahun 90-an, aku ingat kamu. Setiap kali aku sedih atau senang, selalu saja ada ruang kecil di hatiku yang berbisik: 'Andai Akang di sini.'"
"Kita ini kenapa, Nox?" suara Akang terdengar letih dan putus asa. "Kenapa kita membiarkan waktu tiga puluh tahun berlalu begitu saja? Kenapa kita tidak saling mencari lebih awal? Kenapa kita membiarkan rasa malu dan ego menghalangi?"
"Karena kita bodoh, Akang. Karena kita takut. Karena kita tidak pernah cukup berani untuk mengatakan apa yang sebenarnya kita rasakan."
Diam.
"Tapi sekarang?" tanya Akang.
"Sekarang?" Sinox menghela napas panjang. "Sekarang kita sudah punya tanggung jawab. Sekarang bukan hanya tentang kita. Ada Mas Sarif, ada Setya, ada anak-anak kita. Mereka tidak bersalah. Mengapa mereka harus terluka karena cinta kita yang tiga puluh tahun lalu tidak pernah selesai?"
Akang tidak bisa menjawab.
Karena ia tahu, Sinox benar.
Tidak ada jalan keluar yang mudah dari situasi ini. Cinta mereka adalah cinta yang lahir di waktu yang salah, tumbuh di tempat yang salah, dan sekarang, di usia senja mereka, cinta itu mekar kembali dengan kekuatan yang justru menghancurkan.
Di Antara Dua Dunia
Setelah panggilan telepon berakhir, Sinox tidak bisa tidur.
Ia berbaring di samping Mas Sarif, menatap wajah suaminya yang polos dalam tidur. Laki-laki itu tidak tahu apa-apa. Laki-laki itu masih percaya bahwa istrinya setia, bukan hanya secara fisik, tapi juga secara hati.
Tapi hati Sinox sudah tidak sepenuhnya di sini.
Sebagian kecil, atau mungkin sebagian besar, hatinya melayang ke Kapuas, ke beranda rumah panggung, ke laki-laki yang pernah ia cintai tanpa pernah ia akui.
Maafkan aku, Mas, bisik Sinox dalam hati. Aku tidak bermaksud begini. Aku tidak pernah memilih untuk mencintai Akang lagi. Tapi cinta ini... cinta ini tidak pernah mati. Ia hanya tidur. Dan sekarang ia bangun, dan aku tidak bisa memaksanya tidur lagi.
Mas Sarif bergerak dalam tidurnya. Tangannya secara refleks meraih tangan Sinox, seperti yang selalu ia lakukan setiap malam. Tanpa sadar, tanpa rencana. Hanya kebiasaan seorang suami yang mencintai istrinya dengan sederhana dan tulus.
Dan sentuhan itu, sentuhan yang sederhana dan tulus, membuat Sinox menangis.
Kenapa cinta harus serumit ini?
Kenapa aku tidak bisa mencintai Mas Sarif dengan sepenuh hati, tanpa ada bayangan Akang di belakangnya?
Kenapa takdir mempertemukanku dengan Akang lagi, setelah aku membangun rumah tangga yang damai dengan laki-laki lain?
Sinox tidak tahu jawabannya.
Yang ia tahu, malam itu ia berdoa lebih khusyuk dari biasanya. Bukan dengan ayat-ayat suci yang dihafal sejak kecil, tapi dengan tangis yang tulus dan hati yang hancur.
Ya Allah, jika ini ujian, aku menerimanya. Jika ini dosa, ampunilah aku. Jika ini rahmat, tolong tunjukkan jalan yang tidak melukai siapa pun. Karena aku lelah, Ya Allah. Aku sangat lelah.
Saat Fajar Menyingsing
Pukul empat pagi.
Di Kapuas, Akang Riyadi masih duduk di beranda. Asap tipis dari lahan gambut mulai tercium, tanda-tanda kebakaran hutan yang selalu datang setiap musim kemarau. Di kejauhan, suara azan subuh mulai berkumandang dari pengeras suara masjid desa.
Akang bangkit. Masuk ke dalam rumah. Mengambil air wudhu di kamar mandi.
Saat ia melewati kamar tidur, ia melihat Setya Ningsih terbaring dengan mata terbuka. Menatap langit-langit. Tidak bergerak.
"Kamu belum tidur?" tanya Akang pelan.
"Kamu tidak tidur sama sekali," balas Setya, suaranya datar. Tanpa emosi. Seperti robot.
"Aku ada pekerjaan yang harus diselesaikan."
"Pekerjaan," ulang Setya, dengan nada yang penuh makna. "Atau dia?"
Akang berhenti melangkah. Ia menoleh. Menatap istrinya yang selama 25 tahun menemani suka dukanya. Wajah Setya kini tampak lebih tua dari usianya, karena begadang, karena cemburu, karena luka yang tidak kunjung sembuh.
"Kita bicara nanti, Ning," kata Akang. "Aku harus salat dulu."
"Kita tidak akan pernah bicara, Mas," bisik Setya, suaranya pecah. "Karena Mas terlalu sibuk bicara dengan dia."
Akang tidak menjawab.
Ia pergi ke musala kecil di pojok rumah, menghadap kiblat, dan menegakkan salat subuh. Tapi kali ini, ia tidak khusyuk. Fikirannya tercerai-berai. Antara suara bacaan imam yang sayup terdengar dari masjid, antara suara istrinya yang penuh luka, dan antara suara Sinox yang masih bergema di kepalanya.
Ya Allah, tolong aku, doanya dalam hati. Aku tidak tahu harus memilih antara kewajiban dan cinta lama. Tolong tunjukkan jalan. Karena aku tersesat di antara dua dunia yang tidak pernah bisa aku satukan.
Di Tegorejo, Sinox juga melaksanakan salat subuh. Lebih khusyuk dari biasanya. Lebih lama dari biasanya.
Setelah salam, ia tidak segera bangkit. Ia duduk di atas sajadah, memandang karpet merah usang yang sudah ia gunakan sejak dua puluh tahun lalu, dan berdoa dengan air mata yang tidak berhenti mengalir.
Ya Allah, lindungi rumah tanggaku. Lindungi rumah tangga Akang. Jangan biarkan dosa kami menimpa anak-anak kami. Dan jika cinta ini tidak Engkau berkahi, cabutlah dari hatiku. Perlahan-lahan. Agar aku tidak mati karenanya. Karena aku sudah tua, Ya Allah. Hatiku tidak sekuat dulu. Ampunilah aku.
Di luar rumah, ayam jantan mulai berkokok. Sinar matahari mulai menembus celah-celah jendela. Dan kehidupan sehari-hari, yang terus berjalan tanpa peduli pada perasaan manusia, kembali dimulai.
Eko terbangun. Minta sarapan.
Mas Sarif keluar dari kamar, mengucek mata, dan bertanya pada Sinox, "Kok kamu kelihatan kurang tidur?"
Sinox tersenyum. Palsu. Tapi siapa yang bisa membedakannya?
"Tadi mimpi buruk, Mas."
"Mimpi apa?"
"Mimpi yang nyatanya terlalu menyakitkan untuk diceritakan."
Mas Sarif tidak bertanya lebih lanjut. Ia hanya mengangguk, lalu berjalan ke dapur untuk mengambil air minum.
Dan Sinox, di belakang suaminya yang tidak tahu apa-apa, hanya bisa berbisik pelan:
Maafkan aku, Mas. Maafkan aku.
Percakapan tengah malam itu bukan sekadar percakapan.
Ia adalah pengakuan.
Ia adalah pelepasan.
Ia adalah awal dari segala sesuatu yang mungkin tidak akan pernah bisa mereka kendalikan.
Karena ketika dua hati yang pernah saling mencintai di masa lalu bertemu kembali, di masa kini, dengan segala tanggung jawab dan luka yang menyertainya, maka yang terjadi bukanlah akhir dari cerita.
Tapi awal dari badai.
Dan badai itu belum benar-benar datang.
BAB VI
Cinta yang Dipendam
Ada cinta yang tidak pernah mati.
Ia hanya tidur. Terkubur di bawah tumpukan waktu, alasan, dan keputusan-keputusan yang dibuat karena takut. Tapi ia tidak pernah mati. Seperti bara yang tertutup abu, ia tetap panas di dalam. Cukup satu hembusan angin, sekali saja, dan ia akan menyala kembali. Membakar apa pun yang menghalanginya.
Cinta Akang Riyadi pada Sinox Yanti adalah cinta yang dipendam.
Dipendam sejak pertama kali ia menyadari bahwa perasaannya terhadap gadis kecil cerewet itu bukan lagi perasaan kakak pada adik. Dipendam karena janji pada Bu Ros. Dipendam karena kemiskinan. Dipendam karena jarak. Dipendam karena pernikahan. Dipendam selama tiga puluh tahun, hingga pada suatu malam, di tengah sunyi desa Kapuas dan Tegorejo, bara itu akhirnya menemukan angin.
Dan ia menyala.
Bukan dengan api yang indah dan terkendali.
Tapi dengan kobaran yang liar, yang tak peduli siapa yang akan terbakar di sekitarnya.
Di Balik Senyum Setya Ningsih
Kapuas, dua minggu sejak panggilan telepon pertama.
Setya Ningsih sudah tidak marah lagi.
Itulah yang paling ditakuti oleh Akang. Bukan marah yang meledak-ledak dengan banting piring dan teriakan, itu masih bisa dihadapi, masih bisa dinegosiasi. Tapi diamnya Setya sekarang berbeda. Diam yang dingin. Diam yang seperti air tenang tapi penuh buaya. Diam yang membuat Akang tidak pernah tahu apa yang sedang dipikirkan istrinya.
Pagi itu, Setya memasak bubur ayam, masakan favorit Akang. Ia menyajikan di atas meja makan dengan telur rebus yang dipotong rapi, daun bawang dan seledri yang dicincang halus, kerupuk yang masih utuh, dan sambal yang pedasnya pas.
Akang duduk di kursi makan dengan perasaan tidak enak. Ada apa ini? pikirnya. *Terakhir kali Setya masak bubur ayam spesial begini adalah saat ulang tahun pernikahan mereka yang ke-20, lima tahun lalu.*
"Makan, Mas," kata Setya datar. "Nanti keburu dingin."
"Terima kasih, Ning." Akang mengambil sendok, mencicipi bubur itu. Enak. Seperti biasa. Tapi lidahnya terasa pahit karena rasa bersalah yang tidak kunjung reda.
Setya duduk di seberangnya. Ia tidak makan. Ia hanya menatap suaminya dengan mata yang tidak bisa dibaca.
"Masih enak, Mas?"
"Enak, Ning. Kamu memang paling pintar masak bubur."
"Pintar masak bubur tapi tidak pintar menjaga suami," bisik Setya, lebih pada dirinya sendiri.
Akang berhenti mengunyah. "Ning..."
"Tidak apa-apa, Mas. Makan saja. Nanti kita bicara setelah kamu selesai."
Suasana makan pagi itu terasa seperti perjamuan terakhir di ruang pengadilan. Hukuman belum dijatuhkan, tapi semua sudah tahu bahwa vonisnya tidak akan ringan.
Setelah Akang selesai makan, pada kenyataannya ia hanya menghabiskan setengah porsi karena perutnya sudah penuh dengan rasa cemas, Setya membereskan piring tanpa bicara. Kemudian ia duduk kembali di hadapan suaminya.
"Mas, aku sudah 25 tahun bersamamu."
Akang mengangguk pelan.
"Aku ikut kamu ke Kapuas. Meninggalkan keluarga besarku di Jawa. Aku lahirkan tiga anak untukmu. Aku jaga rumah ini saat kamu pergi kerja. Aku tidak pernah mengeluh meskipun hidup di lahan gambut tidak pernah mudah."
"Aku tahu, Ning. Aku..."
"Biarkan aku selesai, Mas." Setya mengangkat tangannya. Matanya mulai berkaca-kaca, tapi ia menahan air mata itu dengan kekuatan yang luar biasa. "Aku tahu ada perempuan lain di hatimu sekarang. Atau mungkin bukan sekarang, mungkin sudah dari dulu. Namanya Sinox Yanti."
Akang membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar.
"Aku tidak tahu persis hubungan kalian dulu. Tapi yang aku tahu, setiap kali ponselmu bergetar, matamu berbinar. Setiap kali kamu dapat pesan darinya, kamu tersenyum seperti anak ABG baru jatuh cinta. Dan setiap malam, setiap malam, Mas, kamu keluar ke beranda untuk bicara dengannya. Lalu kamu kembali ke kamar dengan mata sembab, sehabis menangis."
"Aku tidak pernah melihatmu menangis, Mas. Bahkan saat ayahmu meninggal, bahkan saat rumah kita hampir kebakaran, bahkan saat kita hampir bangkrut karena gagal panen. Tapi perempuan itu, perempuan yang bahkan belum pernah kamu temui secara fisik dalam tiga puluh tahun, bisa membuatmu menangis."
Setya mengambil napas panjang.
"Aku cemburu, Mas. Bukan cemburu biasa. Tapi cemburu yang membakar. Karena aku bersaing dengan bayangan. Dengan kenangan. Dengan cinta yang tidak pernah mati."
Akang menunduk. Air matanya jatuh ke pangkuannya.
"Aku mencintaimu, Ning," katanya lirih. "Aku tidak pernah berhenti mencintaimu."
"Tapi kamu juga mencintai dia."
Pernyataan itu bukan pertanyaan. Setya tidak butuh konfirmasi. Ia sudah tahu jawabannya.
Akang tidak bisa membantah. Ia hanya terdiam, menangis di hadapan istrinya yang hancur karena ulahnya sendiri.
"Aku tidak akan meninggalkanmu, Ning," akhirnya Akang bicara. "Aku tidak akan tinggalkan kamu dan anak-anak. Tapi aku juga tidak bisa berbohong. Sinox... dia bagian dari masa laluku yang tidak pernah selesai. Dan bertemu lagi dengannya, meskipun hanya lewat panggilan telepon, telah membuka sesuatu yang selama ini aku kubur."
"Apa yang kamu kubur, Mas?"
Akang mengangkat kepalanya. Matanya merah, basah, tapi jujur. Sangat jujur.
"Cinta. Cinta yang tiga puluh tahun lalu tidak pernah aku akui. Cinta yang aku kira akan mati dengan sendirinya. Tapi ternyata tidak. Ia tumbuh di dalam diamku, lalu ia tidur, lalu sekarang ia bangun. Dan aku tidak tahu harus berbuat apa."
Setya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia tidak menangis keras-keras. Tangisnya sunyi, tangis yang tertahan, tangis yang paling menyakitkan karena ia berusaha tampak kuat di hadapan suaminya.
"Kalau begitu, Mas harus memilih," bisik Setya dari balik telapak tangannya. "Aku atau dia. Rumah tangga kita atau masa lalumu. Karena aku tidak bisa hidup setengah-setengah dengan suami yang separuh hatinya di tempat lain."
Akang terdiam sangat lama.
Lalu ia berdiri, berjalan ke belakang Setya, dan memeluk istrinya dari belakang. Erat. Seerat mungkin. Seolah-olah ia takut istrinya akan lenyap jika ia melepaskannya.
"Aku memilih kamu, Ning," katanya. "Aku memilih rumah tangga kita. Aku memilih anak-anak kita. Tapi aku butuh waktu untuk menyelesaikan ini. Jangan minta aku melupakan Sinox dalam semalam. Dia telah menjadi bagian dari hidupku selama tiga puluh tahun, meskipun hanya dalam doa dan kenangan. Beri aku waktu untuk meletakkannya kembali ke tempatnya semula."
Setya tidak menjawab.
Ia hanya menangis dalam pelukan suaminya, sementara di luar rumah, asap gambut mulai menebal, seperti kabut yang menyelimuti masa depan mereka yang tidak jelas.
Di Warung Kopi Tegorejo
Sementara itu, di Desa Tegorejo, Mas Sarif duduk sendirian di warung kopi milik Pak Darmo. Pukul sepuluh pagi. Seharusnya ia berada di sawah, menyemprot hama yang mulai menyerang padi. Tapi pagi ini ia malas. Hatinya tidak tenang.
"Kopi satu, Mas," katanya pada Pak Darmo.
"Lho, tumben pagi-pagi sudah di sini. Biasanya kan sore."
"Ada yang mengganjal, Mo."
Pak Darmo mengernyit. "Mengganjal apa? Utang? Sawah kemarau? Anak sekolah?"
Mas Sarif menggeleng. "Bukan. Sinox."
"Sinox? Istrimu sendiri? Ada apa dengan dia?"
Mas Sarif menghela napas panjang. Ia sebenarnya tidak ingin bercerita. Tapi perasaannya terlalu berat dipendam sendiri. Ia butuh tempat meluapkan.
"Belakangan ini dia aneh, Mo. Sering pegang ponsel. Sering tersenyum sendiri. Sering tidak fokus kalau diajak bicara. Kemarin malam, jam dua, ponselnya bergetar. Saya lihat sekilas. Ada nama 'Akang Riyadi' di layarnya."
"Akang Riyadi? Siapa itu?"
"Saya tidak tahu. Tapi namanya tidak pernah saya dengar selama 20 tahun nikah. Bukan keluarga, bukan tetangga, bukan teman sekolahnya yang sering main ke rumah. Saya coba cari tahu dari teman-teman lamanya. Katanya, Akang Riyadi itu teman dekatnya waktu SMP dulu. Tapi sudah putus kontak sejak tiga puluh tahun lalu."
"Trus kenapa sekarang muncul lagi?"
"Itulah yang membuat saya tidak enak hati, Mo. Kenapa baru sekarang? Kenapa setelah 20 tahun saya nikahi dia? Kenapa tidak dulu-dulu, saat saya masih pacaran? Kenapa tidak sebelum kita punya tiga anak?"
Pak Darmo diam sejenak. Ia menuang kopi panas ke cangkir besar, lalu mendorongnya ke arah Mas Sarif.
"Jangan buru-buru ambil kesimpulan, Mas. Bisa saja mereka hanya teman lama yang kangen-kangenan. Namanya juga persahabatan masa muda. Wajar kalau rindu."
"Saya tidak tahu, Mo. Yang saya tahu, hati saya tidak enak. Ada firasat buruk. Seperti akan ada badai yang menghancurkan rumah tangga saya."
"Kamu bicarakan dengan Sinox?"
"Belum. Saya takut."
"Takut apa?"
"Takut jawabannya. Karena jika dia bilang dia memang mencintai laki-laki itu, saya tidak tahu harus berbuat apa. Meninggalkannya? Tapi anak-anak. Bertahan? Tapi sakit."
Pak Darmo menepuk bahu Mas Sarif pelan. "Bicara baik-baik, Mas. Jangan dengan emosi. Bisa jadi itu hanya perasaan cemburu yang tidak beralasan. Bisa jadi Sinox hanya butuh teman curhat. Jangan rusak rumah tangga hanya karena prasangka."
Mas Sarif mengangguk, meskipun hatinya masih tidak tenang. Ia menghabiskan kopinya dalam satu tegukan, lalu pamit pada Pak Darmo.
Di perjalanan pulang, ia melewati sawahnya yang mulai menguning, tanda panen sebentar lagi. Tapi ia tidak melihat keindahan itu. Yang ia lihat hanyalah bayangan Sinox yang tersenyum pada ponselnya. Tersenyum pada laki-laki yang bukan dirinya.
Siapa kau, Akang Riyadi?
Dan mengapa kau muncul sekarang, di saat hidup kami sedang tenang-tenangnya?
Tentang Cinta yang Tidak Berani Bersuara
Malam itu, Sinox dan Akang kembali terhubung.
Tapi kali ini berbeda. Kali ini mereka tidak bercerita tentang masa lalu. Mereka bercerita tentang masa kini. Tentang rasa bersalah. Tentang istri dan suami yang mulai curiga. Tentang ketakutan bahwa apa yang mereka lakukan adalah dosa.
"Akang, aku takut," kata Sinox. Suaranya bergetar. "Mas Sarif belum bilang apa-apa. Tapi aku tahu dia curiga. Cara dia menatapku sekarang berbeda. Seperti dia sedang mencari sesuatu di mataku. Sesuatu yang tidak ingin dia temukan."
"Aku juga, Nox," suara Akang terdengar letih. "Setya minta aku memilih. Antara dia atau kamu."
Sinox terdiam. Jantungnya berdegup kencang. "Lalu? Kamu sudah memilih?"
"Aku bilang aku memilih Setya. Tapi aku butuh waktu untuk meletakkanmu kembali ke tempatmu semula."
Sinox tertawa pahit. "Meletakkanku ke tempat semula? Di mana tempat semulaku, Akang? Karena selama tiga puluh tahun, aku tidak pernah tahu aku ditempatkan di mana. Apakah aku hanya teman? Apakah aku adik? Apakah aku seseorang yang kau cintai tapi kau sembunyikan? Aku tidak pernah tahu, karena kau tidak pernah bilang."
"Aku mencintaimu, Nox."
Kalimat itu keluar begitu saja.
Tanpa persiapan. Tanpa pengantar. Tanpa pemanasan.
Akang Riyadi, setelah tiga puluh tahun memendam, setelah tiga puluh tahun membungkam, setelah tiga puluh tahun berlari dari perasaannya sendiri, akhirnya mengatakan yang sebenarnya.
"Aku mencintaimu sejak pertama kali aku melihatmu tersenyum di depan gerbang SMP. Aku mencintaimu saat kau menangis di pundakku karena kalah karate. Aku mencintaimu saat kau bercerita tentang Mas Nur, meskipun saat itu hatiku sakit karena kau mencintai laki-laki lain. Aku mencintaimu saat kau bonceng aku di sepeda ontel, saat rambutmu terkena angin dan menyentuh wajahku. Aku mencintaimu saat kau marah-marah tanpa sebab, saat kau manja minta ditemani, saat kau cerewet bercerita tentang hal-hal yang tidak penting."
Suara Akang pecah.
"Aku mencintaimu saat aku pergi ke Jakarta. Aku mencintaimu saat aku tinggal di Kapuas. Aku mencintaimu saat aku menikah dengan Setya. Aku mencintaimu saat istriku melahirkan anak-anakku. Aku mencintaimu setiap hari, setiap malam, setiap detik, selama tiga puluh tahun, Nox. Dan aku tidak pernah berhenti."
Sinox menangis.
Ia tidak bisa berkata apa-apa. Mulutnya terbuka, tapi suara tidak keluar. Yang keluar hanyalah isak tangis yang tertahan, isak tangis yang tidak bisa lagi dibendung.
"Kenapa baru sekarang?" akhirnya ia berbisik. "Kenapa kau tidak bilang dulu, saat aku masih sendirian? Saat aku belum punya suami? Saat aku masih bisa memilih?"
"Karena aku pengecut, Nox. Karena aku takut ditolak. Karena aku merasa tidak pantas. Dan karena, mungkin, aku lebih suka memendam daripada kehilanganmu sepenuhnya."
"Tapi kau tetap kehilangan aku, Akang. Kau pergi tanpa pamit. Kau meninggalkan aku selama tiga puluh tahun. Dan sekarang, setelah kita sama-sama berkeluarga, kau bilang kau mencintaiku? Untuk apa? Apa yang bisa kita lakukan dengan cinta ini?"
Diam.
Diam yang panjang.
Diam yang berat.
Lalu suara Akang, pelan, nyaris tidak terdengar, berkata:
"Aku tidak tahu, Nox. Aku hanya ingin kau tahu. Karena selama tiga puluh tahun aku menyimpannya sendiri, dan hampir mati rasanya. Setidaknya sekarang kau tahu. Setidaknya sekarang tidak ada lagi rahasia di antara kita."
Sinox menutup matanya. Air mata masih mengalir.
"Aku juga mencintaimu, Akang," bisiknya akhirnya. "Mungkin sejak pertama kali kau meminjamiku buku karate itu. Atau mungkin sejak pertama kali kau membelaku saat aku diganggu kakak kelas. Aku tidak tahu kapan tepatnya. Yang aku tahu, namamu tidak pernah hilang dari doaku. Selama tiga puluh tahun, setiap kali aku salat, setiap kali aku sujud, aku selalu menyebut namamu. Bukan karena aku sengaja. Tapi karena namamu sudah menyatu dengan doaku."
"Lalu kenapa kau menikah dengan Mas Sarif?" tanya Akang.
"Karena aku lelah menunggu. Karena aku pikir kau tidak akan pernah kembali. Karena aku pikir kau sudah lupa padaku. Dan karena, mungkin, aku juga pengecut. Aku takut sendirian. Aku takut tidak punya siapa-siapa."
Mereka berdua diam.
Hanya suara napas yang terdengar silih berganti.
Dan di antara napas itu, ada cinta yang tidak pernah mati.
Ada cinta yang dipendam selama tiga puluh tahun.
Ada cinta yang akhirnya, di malam itu, di usia senja mereka, berani bersuara.
Tapi pertanyaannya sekarang: setelah cinta itu bersuara, apa yang bisa mereka lakukan?
Karena cinta, sebesar apa pun ia, tidak selalu bisa memiliki.
Setelah Pengakuan
Percakapan itu berakhir pukul satu malam.
Tidak ada janji. Tidak ada rencana. Tidak ada solusi.
Hanya dua orang yang saling mencintai, yang tahu bahwa cinta mereka adalah cinta terlarang. Cinta yang indah tapi haram. Cinta yang membuat mereka bahagia sekaligus tersiksa.
Sinox berbaring di samping Mas Sarif, yang kali ini benar-benar tidur. Ponselnya ia letakkan di lemari, bukan di samping bantal seperti biasanya. Ia menatap wajah suaminya. Laki-laki yang tidak pernah memberinya puisi atau bunga, tapi selalu memberinya makan, selalu membayar listrik dan air, selalu mengantar jemput anak-anak ke sekolah.
Laki-laki baik yang tidak pantas aku sakiti, batin Sinox.
Tapi hatinya sudah terlanjur pergi ke Kapuas.
Maafkan aku, Mas. Maafkan aku.
Di Kapuas, Akang juga berbaring di samping Setya Ningsih. Istrinya sudah tidur, atau pura-pura tidur. Akang tidak pernah tahu lagi. Yang ia tahu, malam ini ia telah melakukan sesuatu yang mungkin adalah dosa terbesar dalam pernikahannya.
Ia telah mengatakan "Aku cinta" pada perempuan lain.
Bukan sembarang perempuan lain. Tapi cinta pertamanya. Cinta yang tiga puluh tahun lalu ia pendam.
Aku telah berkhianat, pikir Akang. Meskipun tidak secara fisik, secara hati aku sudah pergi.
Ia memejamkan mata. Air mata merembes di sudut matanya.
Ya Allah, ampunilah aku.
Cinta yang Dipendam, Cinta yang Membebaskan?
Di dalam novel-novel roman, cinta yang dipendam sering digambarkan sebagai sesuatu yang indah. Sebagai sesuatu yang heroik. Sebagai sesuatu yang pada akhirnya akan membahagiakan semua orang.
Tapi ini bukan novel roman.
Ini kehidupan nyata.
Dan di kehidupan nyata, cinta yang dipendam sering kali bukan pembebasan. Ia adalah belenggu. Ia adalah belenggu yang mengikat hati pada masa lalu, sementara kaki harus melangkah ke masa depan. Ia adalah belenggu yang membuat seseorang tidak bisa mencintai pasangannya dengan sepenuh hati, karena separuh hatinya tertinggal di kenangan.
Akang Riyadi dan Sinox Yanti mungkin adalah manusia paling beruntung di dunia, karena mereka dipertemukan kembali dengan cinta masa lalu mereka.
Tapi mereka juga mungkin adalah manusia paling sial di dunia, karena cinta itu datang terlambat.
Terlambat tiga puluh tahun.
Terlambat setelah mereka berkeluarga.
Terlambat setelah mereka memiliki tanggung jawab yang tidak bisa mereka abaikan.
Dan sekarang, di usia yang tidak lagi muda, mereka harus memilih: mengikuti kata hati, atau mengikuti kata kewajiban?
Mengikuti cinta, atau mengikuti moral?
Dan apakah benar cinta dan moral harus selalu berseberangan?
Sinox tidak tahu.
Akang juga tidak tahu.
Yang mereka tahu malam itu adalah: cinta yang dipendam selama tiga puluh tahun akhirnya keluar juga. Dan meskipun ia keluar dengan cara yang salah, di waktu yang salah, dan dalam situasi yang salah, setidaknya ia keluar.
Setidaknya sekarang tidak ada lagi yang disembunyikan.
Setidaknya sekarang mereka bisa melihat satu sama lain dengan jujur.
Meskipun kejujuran itu, di dalam kehidupan berumah tangga, kadang lebih menyakitkan daripada kebohongan.
BAB VII
Sosok yang Tak Pernah Hilang
Ada orang-orang yang hadir dalam hidup kita hanya sebentar, tapi jejaknya terukir begitu dalam hingga waktu tak mampu mengaburkannya.
Mereka tidak tinggal. Mereka pergi. Mereka meninggalkan kita dengan pertanyaan, dengan rindu, dengan rasa kehilangan yang tak pernah benar-benar sembuh. Namun anehnya, meskipun mereka pergi, mereka tidak pernah benar-benar hilang. Mereka menjelma menjadi sesuatu yang lain, menjadi nama yang selalu disebut dalam doa, menjadi wajah yang muncul di antara ribuan wajah asing, menjadi perasaan yang tiba-tiba hadir di tengah malam tanpa diundang.
Akang Riyadi adalah sosok yang tak pernah hilang dari kehidupan Sinox Yanti.
Bukan karena ia hadir secara fisik. Ia tidak pernah hadir secara fisik sejak tiga puluh tahun lalu. Tapi ia hadir dalam bayang-bayang, dalam ingatan, dalam setiap keputusan besar yang Sinox ambil tanpa menyadari bahwa keputusan itu dipengaruhi oleh kepergiannya.
Dan malam itu, di usia yang tidak lagi muda, di antara kerutan di wajah dan uban di rambut, Sinox akhirnya mengakui pada dirinya sendiri: Akang Riyadi tidak pernah hilang. Ia hanya bersembunyi di sudut hatiku yang paling dalam, menunggu waktu yang tepat untuk muncul kembali.
Saat Kenangan Menjadi Hantu
Tegorejo, tiga minggu sejak panggilan telepon pertama.
Sinox duduk di ruang tamu rumahnya. Sendirian. Eko sudah berangkat sekolah. Mas Sarif ke sawah. Rumah terasa sunyi, hanya suara ayam dan burung gereja yang bersautan di luar jendela.
Di pangkuannya, sebuah album foto lama terbuka. Album yang sudah bertahun-tahun tidak ia sentuh, tersimpan di rak paling atas lemari, tertutup debu dan dilupakan. Tapi pagi ini, tanpa sebab yang jelas, Sinox mengambilnya. Membukanya. Dan membiarkan kenangan mengalir tanpa bisa ia bendung.
Foto pertama: kelas I SMP. Sinox berdiri di barisan paling depan, seragam putih biru yang kebesaran, rambut pendek khas anak tomboi. Matanya belum terkontaminasi luka-luka kehidupan. Masih polos. Masih percaya bahwa dunia adalah tempat yang indah dan semua orang baik.
Foto kedua: lomba karate antarsekolah. Sinox berdiri di samping Akang. Mereka memegang piala kecil di tangan masing-masing. Sinox tersenyum lebar. Akang tersenyum tipis. Tangan mereka hampir bersentuhan, tapi tidak benar-benar menyentuh. Seperti hubungan mereka, selalu dekat, tapi tidak pernah cukup dekat untuk menjadi milik.
Foto ketiga: di depan gerbang SMP. Empat orang remaja. Sinox di paling kiri. Akang di samping kanannya. Mereka tertawa. Ada kebahagiaan sejati di foto itu, kebahagiaan yang tidak bisa direkayasa. Kebahagiaan yang hanya muncul ketika seseorang benar-benar berada di tempat yang tepat, pada waktu yang tepat, dengan orang yang tepat.
Sinox menatap foto itu lama sekali.
"Kita bahagia ya, Akang," bisiknya. "Tanpa kita sadari, saat itu adalah masa-masa terindah dalam hidup kita."
Ia teringat suatu sore. Latihan karate di dojo belakang rumah Pak RT. Hari itu Sinox datang dengan mata sembab karena baru saja bertengkar dengan ibunya. Akang tidak bertanya apa-apa. Ia hanya mengambil sebotol air dingin, memberikannya pada Sinox, lalu duduk di sampingnya tanpa bicara.
"Kamu tidak mau tahu kenapa aku nangis?" tanya Sinox saat itu.
"Kamu akan cerita kalau kamu sudah siap," jawab Akang. "Aku tidak perlu bertanya. Aku hanya perlu di sini."
Sinox menangis lebih keras saat itu. Bukan karena masalahnya dengan ibunya, tapi karena kebaikan Akang yang begitu sederhana namun begitu dalam. Laki-laki itu tidak memberinya solusi, tidak memberi nasihat, tidak memberi apa pun selain kehadirannya. Dan bagi Sinox, itu lebih dari cukup.
Itulah mengapa kau tidak pernah hilang, Akang, pikir Sinox. Karena orang-orang seperti kau, yang hadir tanpa diminta, yang diam tapi selalu ada, adalah orang-orang yang paling sulit dilupakan.
Ketika Akang Menjadi Bayangan di Rumah Tangganya
Sinox tidak pernah mengakuinya, bahkan pada dirinya sendiri. Tapi sepanjang dua puluh tahun pernikahannya dengan Mas Sarif, Akang selalu hadir sebagai bayangan yang tidak terlihat.
Setiap kali Mas Sarif melakukan kesalahan, lupa ulang tahun pernikahan, tidak peka saat Sinox sedang sedih, terlalu sibuk dengan sawah sehingga lupa bertanya kabar istrinya, Sinox tanpa sadar membandingkannya dengan Akang.
Andai Akang di sini, dia pasti ingat.
Andai Akang yang menjadi suamiku, dia tidak akan membiarkanku menangis sendiri.
Andai Akang... andai Akang... andai Akang...
Kata-kata itu selalu hadir di kepalanya, meskipun ia tidak pernah mengucapkannya keras-keras. Ia biarkan kata-kata itu berlalu seperti angin, tanpa ia sadari bahwa angin itu perlahan mengikis batu karang cintanya pada Mas Sarif.
Suatu malam, beberapa tahun lalu, mungkin tahun ketujuh pernikahan mereka, Sinox terbangun dari tidur dengan keringat dingin. Ia bermimpi tentang Akang. Bukan mimpi indah, tapi mimpi buruk. Dalam mimpinya, Akang datang ke rumahnya, berdiri di ambang pintu, tersenyum dengan senyum khasnya. Sinox berlari ke arahnya, ingin memeluknya, ingin menanyakan mengapa ia pergi tanpa pamit. Tapi setiap kali ia mendekat, Akang mundur. Semakin cepat Sinox berlari, semakin cepat Akang mundur. Hingga akhirnya Akang lenyap dalam kabut tebal, dan Sinox hanya sendirian di tengah kegelapan.
Sinox bangun dengan pipi basah. Ia menangis dalam tidurnya.
Mas Sarif yang terbangun karena Sinox bergerak gelisah, bertanya, "Ada apa, Sin? Mimpi buruk?"
"Iya, Mas. Mimpi buruk."
"Mimpi apa?"
"Tidak penting. Tidurlah lagi."
Mas Sarif mengangguk, membolak-balikkan badan, dan kembali tidur. Ia tidak bertanya lebih lanjut. Ia tidak menggali. Ia tidak peduli. Atau mungkin ia peduli, tapi tidak tahu caranya mengekspresikan kepedulian itu.
Dan Sinox, di samping suaminya yang sudah kembali mendengkur, hanya bisa menangis dalam diam, merindukan seseorang yang tidak pernah benar-benar ia miliki.
Akang, kau telah menjadi hantu dalam pernikahanku, bisiknya malam itu. Hantu yang tidak terlihat oleh siapa pun, tapi selalu ada di setiap sudut rumah ini. Hantu yang membuatku tidak bisa mencintai suamiku dengan sepenuh hati. Hantu yang, meskipun aku ingin mengusirmu, aku tidak pernah benar-benar mampu.
Di Kapuas, Cerita yang Sama
Sementara itu, di Kapuas, Setya Ningsih juga hidup dengan hantu yang sama.
Tapi hantunya berbeda.
Hantunya bukan Akang. Hantunya adalah bayangan Sinox Yanti, perempuan yang tidak pernah ia lihat, tidak pernah ia kenal, tapi telah mengambil separuh hati suaminya.
Setya tidak pernah merasa cukup. Selama 25 tahun menikah, ia selalu merasa ada sesuatu yang kurang. Ada jarak yang tidak bisa ia jelaskan, ada tembok tipis yang memisahkan dirinya dengan Akang, meskipun mereka tidur di ranjang yang sama dan makan di meja yang sama.
Ia tidak tahu apa nama tembok itu.
Sampai panggilan telepon pertama itu.
Sampai ia melihat nama Sinox Yanti di layar ponsel suaminya.
Sampai ia mendengar sendiri bagaimana suara Akang berubah ketika berbicara dengan perempuan itu, lebih lembut, lebih hangat, lebih hidup. Berbeda sekali dengan suaranya saat berbicara dengan Setya yang cenderung datar, formal, seperti orang asing yang tinggal satu rumah.
Jadi ini temboknya, pikir Setya dengan pahit. Sinox Yanti.
Perempuan yang tidak pernah kukenal, tapi telah menjadi bayangan dalam pernikahanku selama 25 tahun.
Setya duduk di beranda rumahnya, memandang ke arah kebun karet yang mulai rusak karena kemarau panjang. Angin gambut bertiup membawa bau tanah asam dan keputusasaan.
Ia teringat suatu malam, mungkin sepuluh tahun lalu. Akang pulang dari kantor desa dengan wajah letih. Setya menyiapkan makan malam, nasi, sayur asam, ikan goreng, lalu mereka makan berdua di ruang makan.
"Mas, ada apa? Wajah Mas kusut sekali."
"Ah, tidak ada, Ning. Hanya lelah."
Tapi Setya tahu itu bukan hanya lelah. Ada sesuatu di mata Akang, semacam kesedihan yang tidak bisa ia ungkapkan. Ada rasa rindu yang tidak bisa ia beri nama. Dan malam itu, saat mereka berbaring di tempat tidur, Akang berkata sesuatu yang tidak pernah Setya lupakan.
"Ning, kamu tahu... kadang aku merasa ada bagian dari diriku yang hilang. Aku tidak tahu di mana. Aku tidak tahu bagaimana menemukannya. Tapi aku tahu ada yang hilang. Dan rasanya aku tidak akan pernah utuh tanpa menemukannya kembali."
Saat itu Setya tidak mengerti.
Sekarang ia mengerti.
Bagian yang hilang itu adalah Sinox Yanti, pikir Setya. Dan aku, sekaya apa pun cintaku padanya, tidak akan pernah bisa menggantikan bagian yang hilang itu. Karena bagian itu milik orang lain. Sejak awal, sejak sebelum aku mengenalnya, sejak sebelum kita menikah, hatinya sudah dimiliki perempuan lain.
Setya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Ia tidak menangis. Tidak lagi.
Air matanya sudah habis dua minggu lalu, saat ia membaca chat-chat mesra antara Akang dan Sinox.
Yang tersisa sekarang hanyalah kehampaan.
Dan pertanyaan yang tidak kunjung terjawab: Mengapa aku harus mencintai laki-laki yang hatinya tidak sepenuhnya untukku?
Saat Sinox Menyadari bahwa Akang Tidak Pernah Hilang
Malam itu, Sinox melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya: ia menulis surat.
Bukan surat untuk Akang. Bukan surat untuk Mas Sarif. Tapi surat untuk dirinya sendiri, sebuah upaya untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi dalam hatinya selama ini.
"Aku pikir aku sudah melupakannya," tulis Sinox di buku tulis bergaris yang biasa ia gunakan untuk mencatat resep masakan. "Tapi ternyata tidak. Aku hanya menguburnya di tempat yang tidak bisa aku capai dengan sengaja. Tapi setiap kali aku tidur, setiap kali aku bermimpi, setiap kali aku sendirian, dia selalu muncul. Seolah dia tidak pernah pergi. Seolah dia hanya bersembunyi di balik pintu, menunggu waktu yang tepat untuk keluar dan mengacaukan semuanya."
"Aku mencintai Mas Sarif. Aku sungguh mencintainya. Tapi cintaku pada Mas Sarif berbeda dengan cintaku pada Akang. Cinta pada Mas Sarif adalah cinta yang nyaman, cinta yang tenang, cinta yang tidak membuatku gelisah. Tapi cinta pada Akang, cinta itu liar. Cinta itu membuatku tidak bisa bernapas. Cinta itu membuatku ingin menerobos semua batasan, menghancurkan semua aturan, hanya untuk sekali lagi merasakan bagaimana rasanya dekat dengan dia."
"Aku tidak tahu mana yang benar. Aku tidak tahu mana yang halal dan mana yang haram. Yang aku tahu, Akang Riyadi adalah sosok yang tak pernah hilang dari hidupku. Dan mungkin, mungkin sampai mati, dia akan selalu ada di sana. Di lorong-lorong ingatanku yang paling gelap. Di sudut-sudut hatiku yang paling tersembunyi."
Sinox menutup buku tulis itu, menyimpannya di bawah bantal, lalu menangis.
Ia menangis untuk dirinya sendiri. Untuk Mas Sarif yang tidak bersalah. Untuk anak-anaknya yang tidak tahu apa-apa. Dan untuk Akang, laki-laki yang telah menjadi bayangan dalam hidupnya selama tiga puluh tahun, yang kini kembali hadir secara nyata, dan membuatnya semakin bingung tentang apa yang sebenarnya ia inginkan.
Tentang Memori yang Tidak Bisa Dihapus
Para ilmuwan mengatakan bahwa memori manusia tidak bisa dihapus. Ia bisa memudar, bisa tertimbun oleh memori baru, tapi tidak pernah benar-benar hilang. Setiap pengalaman, setiap pertemuan, setiap perasaan, semuanya tersimpan di suatu tempat di dalam otak, menunggu pemicu yang tepat untuk muncul kembali.
Bagi Sinox, pemicunya adalah panggilan telepon pertama itu.
Sejak malam itu, semua memori tentang Akang kembali hadir dengan kejelasan yang menyakitkan. Bukan hanya memori tentang kejadian-kejadian besar seperti lomba karate atau kepergian Akang. Tapi memori-memori kecil yang dulu ia kira tidak penting.
Memori tentang cara Akang minum kopi, pahit, tanpa gula, dalam cangkir kecil yang retak di bagian pinggir.
Memori tentang cara Akang tertawa, bukan tawa yang keras dan bebas, tapi tawa yang tertahan, seolah ia tidak ingin terlalu menikmati kebahagiaan karena takut kebahagiaan itu akan segera diambil darinya.
Memori tentang cara Akang menyebut namanya, bukan "Sinox", bukan "Yanti", tapi "Nox". Nama panggilan yang hanya Akang yang berhak menggunakannya. Panggilan yang membuatnya merasa istimewa. Panggilan yang, setelah tiga puluh tahun, masih terasa hangat di telinganya.
"Nox," bisik Sinox, menirukan suara Akang di kepalanya. "Nox, jangan nakal. Nox, hati-hati. Nox, aku di sini."
Akang selalu bilang, aku di sini.
Dan selama bertahun-tahun, Sinox merasa aman karena percaya bahwa Akang selalu di sana, meskipun secara fisik ia tidak pernah ada. Ada rasa tenang yang aneh, sebuah keyakinan bahwa jika suatu saat ia benar-benar butuh, Akang akan muncul. Seperti pahlawan super dalam cerita-cerita komik yang selalu datang tepat waktu.
Tapi pahlawan super itu tidak pernah datang.
Hingga malam itu, ketika Sinox sudah hampir kehilangan harapan, Akang muncul. Bukan sebagai pahlawan super dengan jubah dan kekuatan luar biasa. Tapi sebagai manusia biasa, dengan suara yang serak karena usia, dengan napas yang memburu karena emosi, dan dengan kata-kata yang sederhana namun menusuk: "Halo... Sinox?"
Halo.
Hanya itu.
Tapi bagi Sinox, halo itu adalah segalanya. Halo itu adalah jawaban atas doa-doa yang tidak pernah ia ucapkan dengan lantang. Halo itu adalah bukti bahwa Akang Riyadi, sosok yang tak pernah hilang dari hidupnya, benar-benar nyata. Bukan sekadar bayangan. Bukan sekadar kenangan. Tapi manusia hidup, dengan daging dan darah, dengan rindu yang sama besarnya dengan rindunya.
Ketika Mas Sarif Bertanya
Pukul sembilan malam. Eko sudah tidur. Mas Sarif baru pulang dari sawah, mandi, lalu duduk di ruang tamu menemani Sinox yang sedang menonton televisi.
Atmosfer di rumah itu tidak seperti biasanya. Ada jarak. Ada kecanggungan yang tidak bisa dijelaskan.
"Sin," panggil Mas Sarif akhirnya.
"Iya, Mas?"
"Ada yang mau aku tanya."
Sinox menelan ludah. Jantungnya berdegup lebih kencang. Ini dia, pikirnya. Waktunya.
"Apa, Mas?"
"Belakangan ini kamu sering main HP. Malem-malem juga sering terjaga. Aku lihat kamu kadang tersenyum sendiri, kadang nangis sendiri. Ada apa sebenarnya?"
Sinox menggigit bibirnya. Haruskah aku jujur? Atau aku berbohong lagi?
"Mas..." Sinox memulai, suaranya bergetar. "Aku mau cerita sesuatu. Tapi janji Mas tidak akan marah."
Mas Sarif menghela napas panjang. "Aku dengar dulu. Nanti aku putuskan mau marah atau tidak."
Sinox menarik napas dalam-dalam.
"Beberapa minggu yang lalu, aku dihubungi oleh teman lama. Namanya Akang Riyadi. Kami bersahabat waktu SMP dulu. Dia seperti kakak laki-laki yang tidak pernah aku miliki. Dia sudah tiga puluh tahun tidak ada kabar, Mas. Tiba-tiba dia mencari aku lewat Facebook, lalu kami bertukar nomor, lalu..."
"Lalu?" suara Mas Sarif mulai dingin.
"Lalu kami sering berkomunikasi lewat WhatsApp. Hanya sebatas itu, Mas. Tidak lebih."
Mas Sarif diam.
Sinox tidak berani menatap suaminya. Ia hanya menunduk, memandangi ubin lantai yang retak di beberapa bagian, seperti hatinya yang juga retak di sekian banyak tempat.
"Siapa Akang Riyadi bagimu, Sin?" tanya Mas Sarif akhirnya.
Sinox berpikir panjang. Ia bisa menjawab dengan aman: teman lama, saudara, kakak angkat. Tapi ia sudah lelah berbohong. Bukan hanya pada Mas Sarif, tapi pada dirinya sendiri.
"Dulu, waktu aku masih kecil, aku mencintainya, Mas."
Mas Sarif seperti terkena pukulan tinju di dadanya. Ia tidak bicara. Ia hanya menatap istrinya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Tapi itu dulu, Mas. Itu tiga puluh tahun lalu. Aku sudah move on. Aku menikah dengan Mas. Aku punya tiga anak dari Mas. Apa yang aku rasakan dulu tidak ada hubungannya dengan sekarang."
"Lalu kenapa kamu nangis? Kenapa kamu begadang? Kenapa kamu tersenyum sendiri?" tanya Mas Sarif, suaranya meninggi sedikit. "Kalau sudah move on, seharusnya biasa saja. Seharusnya tidak perlu ada air mata dan begadang."
Sinox tidak bisa menjawab.
Karena Mas Sarif benar.
Jika Sinox benar-benar sudah move on, seharusnya komunikasi dengan Akang tidak lebih dari sekadar "kabar baik, terima kasih, sampai jumpa di surga kelak." Bukan obrolan tengah malam yang penuh air mata dan pengakuan cinta.
"Mas, aku tidak akan meninggalkan Mas," kata Sinox lirih. "Dan aku tidak akan pernah berselingkuh secara fisik. Tapi aku tidak bisa mengendalikan hatiku. Hatiku ini... sudah lama kacau. Sebelum aku kenal Mas, hatiku sudah lebih dulu ditinggalkan oleh Akang. Mas menikahi aku dengan hati yang belum sepenuhnya pulih. Dan aku minta maaf untuk itu. Aku sangat minta maaf."
Mas Sarif berdiri.
Ia tidak marah. Tidak berteriak. Tidak membanting pintu.
Ia hanya berjalan ke kamar, mengambil bantal dan selimut, lalu kembali ke ruang tamu.
"Malam ini aku tidur di sini," katanya datar.
"Mas..."
"Aku tidak marah, Sin. Aku hanya butuh waktu. Aku butuh waktu untuk mencerna bahwa selama 20 tahun aku menikahi perempuan yang hatinya masih diisi oleh laki-laki lain. Itu bukan hal yang mudah."
Mas Sarif merebahkan diri di kursi panjang ruang tamu yang sudah usang. Ia membelakangi Sinox.
Sinox hanya bisa berdiri di ambang pintu ruang tamu, menatap punggung suaminya yang membungkuk, dan menangis dalam diam.
Aku telah menghancurkan pernikahanku sendiri, pikirnya. Dan untuk apa? Untuk cinta masa lalu yang tidak akan pernah menjadi milikku?
Bodohnya aku.
Bodohnya aku.
Di Ruang yang Sama, Perasaan yang Sama
Saat Sinox menghancurkan rumah tangganya di Tegorejo, Akang melakukan hal yang sama di Kapuas.
Setya Ningsih tidak lagi bertanya. Ia sudah tidak peduli. Atau pura-pura tidak peduli. Ia menjalani hari-harinya seperti robot, bangun, memasak, membersihkan rumah, tidur lagi. Tidak ada tawa, tidak ada obrolan ringan, tidak ada sentuhan.
Akang merasa seperti tinggal dengan patung.
"Ning, kita bicara," pinta Akang suatu malam.
"Bicara apa, Mas?" suara Setya datar.
"Tentang kita. Tentang rumah tangga kita. Tentang Sinox."
Setya menghela napas panjang. "Apa yang mau dibicarakan, Mas? Mas sudah bilang Mas mencintai dia. Mas sudah bilang Mas tidak bisa melupakannya. Apa yang mau aku katakan selain 'aku menerima kenyataan bahwa suamiku mencintai perempuan lain'?"
"Aku mencintai kamu juga, Ning."
"Tapi tidak sebesar cintamu padanya."
Akang tidak bisa membantah.
"Aku tahu, Mas," lanjut Setya. "Aku selalu tahu. Selama 25 tahun, aku merasa ada jarak di antara kita. Aku pikir aku yang kurang baik, kurang perhatian, kurang cantik. Aku pikir mungkin kalau aku masak lebih enak, atau berdandan lebih menarik, atau lebih sering tersenyum, Mas akan lebih dekat denganku. Tapi ternyata tidak. Ternyata jarak itu bukan karena aku kurang apa-apa. Ternyata jarak itu karena hatimu sudah dimiliki orang lain sejak sebelum kita menikah."
Setya menangis. Akhirnya, setelah berminggu-minggu menahan tangis, Setya Ningsih menangis.
"Aku tidak adil padamu, Ning," kata Akang lirih. "Aku tahu itu. Aku sudah mencoba menjadi suami yang baik. Aku sudah mencoba mencintaimu dengan sepenuh hati. Tapi hati itu, hati yang aku berikan padamu, sebenarnya sudah tidak utuh sejak awal. Aku memberikanmu hati yang sudah retak, yang sudah lebih dulu dicuri oleh perempuan lain."
"Lalu kenapa Mas menikahiku?"
"Karena aku pikir retakan itu akan sembuh. Aku pikir waktu akan menyembuhkan semuanya. Aku pikir dengan membangun keluarga bersamamu, aku akan melupakan Sinox."
"Tapi tidak?"
"Tapi tidak, Ning. Retakan itu tidak pernah sembuh. Aku hanya menutupinya dengan plester. Tapi sekarang plesternya lepas. Dan retakan itu terlihat lagi. Lebih besar. Lebih dalam. Lebih menyakitkan."
Setya mengusap air matanya dengan punggung tangan.
"Aku tidak akan minta cerai, Mas," katanya akhirnya. "Tapi aku tidak akan bisa hidup seperti ini terus. Aku butuh Mas memilih. Bukan dengan kata-kata, tapi dengan tindakan. Apakah Mas akan terus berhubungan dengan perempuan itu, atau Mas akan memutuskan semuanya dan kembali menjadi suamiku sepenuhnya?"
Akang tidak menjawab.
Ia hanya menunduk.
Dan Setya, untuk kesekian kalinya, merasakan bahwa suaminya tidak bisa melepaskan Sinox.
Bahkan ketika ditanya dengan tegas seperti itu, Akang masih diam.
Masih ragu.
Masih memilih untuk tidak memilih.
Dan bagi Setya, diam adalah jawaban yang paling menyakitkan.
Sosok Itu
Malam itu, di rumahnya masing-masing, dua pasangan suami istri tidur terpisah.
Sinox di kamar sendirian, ditemani album foto lama dan kenangan yang tidak kunjung mati.
Mas Sarif di ruang tamu, dengan bantal guling bekas dan selimut tipis yang tidak cukup hangat untuk melindunginya dari dinginnya malam.
Akang di beranda, ditemani rokok dan kopi pahit, merenungi kebodohannya sendiri.
Setya di kamar, berbaring dengan mata terbuka lebar, menatap langit-langit yang retak, seperti hatinya.
Dan di antara mereka semua, ada sosok yang tak pernah hilang.
Sosok yang menjadi bayangan, menjadi hantu, menjadi duri dalam daging.
Sosok yang tidak sengaja hadir, tapi tidak bisa diusir.
Sosok bernama cinta masa lalu, yang indah saat dikenang, tapi menghancurkan saat hadir kembali di waktu yang salah.
Sinox Yanti dan Akang Riyadi mungkin tidak pernah bermaksud melukai siapa pun. Mereka hanya dua manusia yang dipertemukan kembali oleh takdir, setelah tiga puluh tahun berpisah, dengan membawa luka dan rindu yang tidak pernah benar-benar pulih.
Tapi cinta, sebesar apa pun ia, tidak membenarkan segala hal.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Sinox bertanya pada dirinya sendiri:
Mana yang lebih penting: kebahagiaan masa laluku, atau ketenangan masa depanku?
Mana yang lebih aku cintai: kenangan tentang Akang, atau kenyataan bersama Mas Sarif dan anak-anakku?
Dan jika aku harus memilih, akankah aku cukup berani untuk melepaskan salah satunya?
Ia tidak tahu jawabannya.
Tapi ia tahu, suatu saat, ia harus memilih.
Karena tidak ada yang bisa memiliki dua dunia sekaligus.
Tidak ada yang bisa mencintai dua orang sekaligus dengan sepenuh hati.
Dan tidak ada yang bisa hidup selamanya di antara kenangan dan kenyataan.
Sosok yang tak pernah hilang itu, pada akhirnya, harus hilang. Atau harus dipertahankan. Tidak ada jalan tengah.
Dan Sinox, dan Akang, harus berani mengambil keputusan.
Sebelum semuanya hancur.
Sebelum semua terlambat.
BAB VIII
Video Call Pertama
Ada momen-momen dalam hidup yang terasa seperti keluar dari waktu. Ketika jarak dan usia kehilangan maknanya, ketika dua hati yang terpisah selama ribuan hari akhirnya saling menatap, bukan melalui bayangan atau kenangan, tetapi melalui cahaya dari layar ponsel yang menyala redup di tengah malam.
Video call pertama antara Akang Riyadi dan Sinox Yanti bukan sekadar panggilan video.
Ia adalah tabrakan antara masa lalu dan masa kini. Ia adalah jembatan yang menghubungkan tiga puluh tahun keheningan. Ia adalah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah berani mereka ajukan.
Dan ketika layar itu menyala, ketika wajah yang hanya hidup dalam ingatan itu akhirnya tampak secara nyata, dunia mereka berdua berhenti berputar.
Tapi di balik layar itu, ada mata-mata yang mengintai. Ada telinga-telinga yang mendengar. Ada rekaman yang sedang berlangsung tanpa sepengetahuan mereka.
Mereka tidak tahu bahwa malam itu bukan hanya awal dari pertemuan kembali.
Tapi juga awal dari kehancuran.
Pertemuan yang Tertunda
Kapuas, pukul 23.30. Empat minggu sejak panggilan telepon pertama.
Akang duduk di beranda rumah panggungnya. Hujan gerimis mulai turun, jarang terjadi di lahan gambut saat musim kemarau, tapi malam ini alam seolah ikut bersedih. Angin bertiup lebih kencang dari biasanya, membawa bau tanah basah dan dedaunan yang mulai membusuk.
Setya Ningsih sudah tidur.
Atau setidaknya, itu yang Akang kira.
Ponselnya bergetar.
Sinox Yanti: Akang, kamu di rumah saja?
Akang Riyadi: Iya. Di beranda. Kamu?
Sinox Yanti: Di kamar. Mas Sarif sudah tidur.
Akang membaca kalimat terakhir itu. Mas Sarif sudah tidur. Artinya, Sinox sendirian. Artinya, mereka bisa bicara lebih lama malam ini.
Rasa bersalah menjalari sekujur tubuhnya. Tapi rasa rindu lebih besar.
Akang Riyadi: Maafkan aku, Nox. Ini semua salahku.
Sinox Yanti: Bukan siapa-siapa. Ini sudah takdir. Tapi malam ini, aku tidak ingin bicara tentang mereka. Aku hanya ingin melihatmu, Akang. Cuma sekali. Biar aku tahu bahwa kau benar-benar ada. Bukan hanya suara.
Akang menelan ludah.
Jantungnya berdegup kencang.
Video call.
Setelah tiga puluh tahun.
Sinox Yanti: Akang? Kau masih di sana?
Akang Riyadi: Aku di sini, Nox. Aku hanya... aku takut.
Sinox Yanti: Takut apa?
Akang Riyadi: Takut kau kecewa. Aku sudah tua, Nox. Tidak seperti dulu.
Sinox Yanti: Akang, kita sama-sama sudah tua. Tiga puluh tahun bukan waktu yang singkat. Aku juga tidak seperti dulu. Aku gemuk, aku keriput, aku punya uban di mana-mana. Tapi aku ingin kau melihatku. Bukan karena kita masih muda. Tapi karena kita jujur. Setelah tiga puluh tahun, kita pantas untuk jujur.
Akang menarik napas panjang.
Jarinya bergerak ke ikon kamera.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Ia tekan.
Di Balik Pintu Kapuas
Setya Ningsih tidak tidur.
Ia berbaring di tempat tidur, memejamkan mata, tapi telinganya terjaga. Ia mendengar suami bangkit dari tempat tidur. Mendengar langkah kaki menuju beranda. Mendengar suara ponsel bergetar, lalu suara Akang mengetik, kadang cepat, kadang lambat, seperti orang yang sedang berbicara dengan seseorang yang sangat ia perhatikan.
Setya bangkit.
Diam-diam.
Ia berjalan ke pintu kamar yang sedikit terbuka.
Dari sela-sela pintu, ia melihat Akang duduk di beranda. Ponsel di tangan. Layar menyala.
Wajah suaminya, wajah yang sudah 25 tahun ia kenal, tiba-tiba terlihat asing.
Ada senyum di sana. Senyum yang tidak pernah Setya lihat saat Akang bicara dengannya. Lembut. Hangat. Penuh cinta.
Setya mundur selangkah.
Dadanya sesak.
Ia tidak marah. Belum.
Tapi tangannya, tangannya bergerak sendiri.
Ia mengambil ponselnya dari atas lemari.
Membuka kamera.
Mengintip kembali ke sela-sela pintu.
Layar ponselnya menangkap gambar suaminya yang sedang tersenyum manis ke layar ponselnya sendiri.
Rekam.
Setya menekan tombol merah.
Ia tidak tahu mengapa ia melakukannya. Mungkin karena ingin bukti. Mungkin karena ingin mengkonfrontasi suaminya nanti. Mungkin karena, di dalam hatinya yang paling gelap, ia ingin dunia tahu apa yang suaminya lakukan di tengah malam.
Tiga puluh detik.
Lalu Setya berhenti merekam.
Ia menyimpan video itu di galeri ponselnya.
Lalu kembali ke tempat tidur.
Berbaring.
Memejamkan mata.
Tapi air mata merembes dari sudut matanya.
Tegorejo: Ketika Pintu Terbuka
Di saat yang sama, di Tegorejo, Sinox sedang menatap layar ponselnya dengan mata basah.
Wajah Akang muncul di layar. Tua. Keriput. Kumis tebal. Tapi matanya, matanya masih sama. Teduh. Hangat. Seperti dulu.
"Akang..." bisiknya.
"Kamu masih cantik, Nox."
Sinox tertawa sekaligus menangis. "Kampang. Aku sudah tua."
"Bukan soal kerutan atau pipi. Kamu masih Sinox yang dulu. Cerewet. Manja. Cerdas."
"Akang masih pendiam seperti dulu. Tapi mata kamu, matamu bicara lebih keras dari mulutmu."
"Mataku bicara apa sekarang?"
Sinox menatap lebih dalam. "Matamu bilang, 'Aku lelah, Nox. Aku lelah berpura-pura. Aku rindu kamu. Tapi aku tidak tahu harus berbuat apa.'"
Akang terdiam.
Lalu suaranya bergetar. "Matamu juga bicara, Nox. Matamu bilang, 'Aku takut, Akang. Aku takut kehilangan kamu lagi. Tapi aku juga takut mempertahankan kamu. Aku tidak tahu mana yang benar.'"
"Kita ini kenapa, Akang?" bisik Sinox.
"Kita ini dua orang bodoh yang membiarkan cinta berlalu begitu saja, lalu menghabiskan tiga puluh tahun menyesalinya."
Mereka berdua diam.
Menikmati momen itu.
Tidak ada yang tahu bahwa di balik setiap pintu, ada mata yang mengintai.
Gangguan dari Kenyataan
Di tengah video call itu, Sinox mendengar suara dari luar kamarnya.
Krek.
Pintu kamar terbuka.
Bukan terbuka pelan. Tapi terbuka lebar.
Mas Sarif berdiri di ambang pintu.
Mata merah karena kurang tidur. Wajah kusut. Rambut acak-acakan. Tapi matanya, matanya tajam. Sangat tajam.
Sinox panik.
Refleks, ia menekan tombol daya ponselnya. Layar mati.
Tapi sudah terlambat.
"Sin, kamu bicara dengan siapa?" suara Mas Sarif dingin. Tidak seperti biasanya.
"Tidak ada, Mas. Hanya... hanya teman."
"Teman?" Mas Sarif berjalan mendekat. Setiap langkahnya terasa berat di lantai kayu. "Teman yang bicara jam sebelas malam? Teman yang bikin kamu nangis?"
Sinox tidak menjawab. Ia menggenggam ponselnya erat-erat, seolah itu bisa menyembunyikan kebenaran.
Mas Sarif berdiri di depan tempat tidur. Menatap istrinya.
"Akang Riyadi, kan?"
Sinox menggigit bibir. Tidak bisa berbohong lagi.
"Iya, Mas."
"Kamu video call dengan dia?"
"Iya, Mas."
Mas Sarif terdiam.
Diam yang panjang. Diam yang membunuh.
Lalu ia tertawa. Tertawa pahit yang membuat bulu kuduk Sinox meremang.
"Aku sudah bilang, Sin. Aku sudah bilang berkali-kali. Tapi kamu tidak pernah dengar."
"Mas, aku..."
"Apa yang kurang dariku, Sin?" suara Mas Sarif meninggi. Tapi tidak berteriak. Lebih seperti ratapan. "Apa yang laki-laki itu punya yang tidak aku punya?"
"Mas, tidak ada yang kurang..."
"JELAS ADA!" Mas Sarif membentak. Tangannya mengepal. Dadanya naik turun. "Kalau tidak ada yang kurang, kamu tidak akan cari laki-laki lain. Kalau aku cukup, kamu tidak akan video call tengah malam dengan laki-laki yang bahkan belum pernah kamu temui secara fisik!"
Sinox menangis. "Mas, aku minta maaf..."
"Maaf?" Mas Sarif menggeleng. "Maaf tidak akan cukup, Sin."
Ia berbalik. Berjalan ke pintu.
"Mas, mau ke mana?"
Mas Sarif berhenti. Tidak menoleh.
"Aku tidur di ruang tamu."
"Mas..."
"Jangan panggil aku. Aku tidak mau bicara."
Pintu kamar tidak dibanting. Tapi ditutup pelan.
Itu yang lebih menyakitkan.
Sinox jatuh terduduk di tempat tidur.
Ia menatap ponselnya yang mati.
Akang masih di sana. Di seberang sana. Tapi ia tidak berani menyalakan ponselnya lagi.
Ya Allah, doanya dalam hati. Apa yang harus aku lakukan?
Di Ruang Tamu
Mas Sarif duduk di kursi panjang ruang tamu.
Ia tidak berbaring. Tidak tidur. Hanya duduk. Menatap gelapnya langit-langit. Mendengar suara istrinya menangis di kamar.
Ia ingin marah lagi. Ingin membentak. Ingin masuk ke kamar dan merebut ponsel istrinya dan membantingnya ke lantai.
Tapi ia lelah.
Lelah marah.
Lelah cemburu.
Lelah menjadi suami yang istrinya lebih memilih laki-laki lain.
Apa yang kurang dariku? pikirnya lagi.
Ia tidak tahu jawabannya.
Tapi satu hal yang ia tahu, malam ini, untuk pertama kalinya dalam 20 tahun pernikahan, ia merasa bahwa ia mungkin akan kehilangan Sinox.
Dan rasa itu, rasa takut kehilangan, lebih menyakitkan daripada rasa cemburu.
Kapuas: Ketika Setya Berbicara
Kembali ke Kapuas.
Akang baru saja menekan tombol merah saat pintu kamar terbuka.
Setya berdiri di sana.
Bukan dengan mata sembab. Bukan dengan wajah menangis.
Tapi dengan senyum.
Senyum yang dingin. Senyum yang tidak pernah Akang lihat sebelumnya.
"Mas, selesai video call?"
Akang terkejut. "Ning, kamu..."
"Aku dengar semuanya, Mas. Dari awal sampai akhir."
Akang pucat. "Ning, aku bisa jelaskan..."
"Jelaskan apa?" Setya berjalan masuk. Tangannya memegang ponsel. Layar ponsel menyala. "Jelaskan bahwa Mas bilang dia masih cantik? Jelaskan bahwa Mas bilang kangen? Jelaskan bahwa Mas lebih lembut pada perempuan itu daripada padaku selama 25 tahun nikah?"
"Ning, aku..."
"Atau Mas mau jelaskan ini?"
Setya mengacungkan ponselnya.
Layar ponsel memutar video.
Video pendek. Tiga puluh detik.
Wajah Akang di layar. Tersenyum. Lembut.
"Kamu masih cantik, Nox."
Suara Setya dari balik kamera: "Rekam."
Akang terdiam.
Darahnya berubah menjadi es.
"Kamu... kamu merekam?" bisiknya.
"Aku merekam, Mas. Sebagai bukti. Supaya Mas tidak bisa berbohong lagi."
Setya mematikan ponselnya.
Ia duduk di tepi tempat tidur. Tidak menangis. Tidak berteriak.
Hanya diam.
"Aku tidak akan hapus video ini, Mas."
"Ning, tolong..."
"Tidak. Biar Mas ingat. Biar Mas tidak bisa mengelak. Biar suatu hari nanti, jika Mas masih berani berbohong padaku, aku punya bukti."
Akang berlutut di depan istrinya.
"Setya, aku minta maaf. Aku minta maaf sebesar-besarnya."
"Maaf tidak akan menghapus video itu dari ponselku, Mas. Maaf tidak akan membuatku melupakan malam ini."
"Ning, aku janji..."
"Jangan janji, Mas. Janji Mas sudah sering aku dengar."
Setya berdiri.
Ia berjalan ke pintu kamar.
"Ning, mau ke mana?"
"Tidur. Di kamar Raha. Aku tidak bisa tidur di samping Mas malam ini."
"Ning..."
"Selamat malam, Mas."
Pintu kamar tertutup.
Akang hanya bisa terduduk di lantai, di antara rasa bersalah dan ketakutan.
Ia tidak tahu bahwa Setya tidak hanya merekam untuk dirinya sendiri.
Besok, video itu akan dikirim ke seseorang.
Dan dalam hitungan hari, seluruh desa akan tahu.
Setelah Video Call
Sinox tidak bisa tidur.
Ia berbaring di kamar sendirian. Mas Sarif di ruang tamu. Jarak di antara mereka hanya beberapa meter, tapi terasa seperti lautan.
Ia teringat wajah Akang di layar ponsel.
Wajah yang sudah tua. Berkerut. Beruban.
Tapi matanya, matanya masih sama.
Masih teduh.
Masih bisa membuatnya merasa aman.
Satu tatapan, dan aku rela menghancurkan pernikahanku sendiri, pikir Sinox.
Ia memejamkan mata.
Menangis lagi.
Ya Allah, tolong aku. Aku tidak kuat. Aku mencintai suamiku, tapi aku juga mencintai Akang. Aku tidak bisa memilih. Tolong tunjukkan jalan.
Di ruang tamu, Mas Sarif juga tidak bisa tidur.
Ia mendengar istrinya menangis.
Dia menangis karena laki-laki itu, pikirnya.
Bukan karena aku.
Rasa sakit yang ia rasakan tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.
Bukan marah. Bukan cemburu biasa.
Tapi rasa tidak berharga.
Apa yang kurang dariku, Sin? Apa yang laki-laki itu punya yang tidak aku punya?
Ia tidak tahu jawabannya.
Mungkin ia tidak akan pernah tahu.
Di Kapuas, Raha Terbangun
Di Kapuas, Raha terbangun karena haus.
Anak bungsu Akang itu berjalan ke dapur untuk mengambil air minum. Melewati kamar orang tuanya. Pintu kamar sedikit terbuka.
Ia melihat ayahnya duduk di lantai kamar. Wajahnya basah. Matanya merah.
Ayahnya menangis.
Raha belum pernah melihat ayahnya menangis seumur hidupnya.
Ia ingin masuk. Ingin bertanya.
Tapi langkah kakinya terhenti.
Karena ia mendengar suara ibunya dari kamar Raha, suara tangis tertahan.
Ayah dan ibu sama-sama menangis.
Raha tidak mengerti mengapa.
Tapi ia merekam.
Bukan karena iseng.
Tapi karena takut.
Karena ia merasa ada sesuatu yang sangat salah dengan keluarganya malam ini.
Dan ia ingin punya bukti, kalau-kalau besok semuanya berubah.
Ia merekam ayahnya yang duduk lemas di lantai.
Lalu ia merekam suara tangis ibunya dari balik pintu.
Lalu ia kembali ke kamarnya.
Menyimpan video itu.
Dan menangis dalam diam.
Dini Hari
Pukul 02.30.
Akang masih duduk di lantai kamar. Setya sudah tertidur, atau pura-pura tidur, di kamar Raha.
Ia mengambil ponselnya.
Membuka chat dengan Sinox.
Pesan terakhir belum dibaca.
Ia mengetik. Menghapus. Mengetik lagi. Menghapus lagi.
Akhirnya, ia hanya menulis satu kalimat.
Akang Riyadi: Nox, aku minta maaf. Aku tidak tahu ini akan serumit ini.
Pesan itu tidak dibalas.
Akang tidak tahu bahwa Sinox mematikan ponselnya setelah Mas Sarif keluar kamar.
Ia tidak tahu bahwa Sinox sedang berbaring di tempat tidurnya, memandang langit-langit, dan bertanya pada dirinya sendiri: Apakah ini sepadan?
Ia juga tidak tahu bahwa di kamar sebelah, Raha sedang terbangun, memutar ulang video yang ia rekam, dan bertanya pada dirinya sendiri: Kenapa ayah dan ibu menangis?
Ia juga tidak tahu bahwa di galeri ponsel Setya, ada video berdurasi tiga puluh detik yang siap dijadikan senjata.
Video call pertama itu bukan hanya awal dari pertemuan kembali.
Ia adalah awal dari segalanya.
Awal dari kehancuran.
Awal dari air mata.
Awal dari penyesalan.
Tapi juga, tanpa mereka sadari, awal dari proses belajar bahwa cinta tidak selalu berarti memiliki.
Pelajaran dari Video Call Pertama
Akang dan Sinox belum tahu bahwa malam itu akan menjadi titik balik dalam hidup mereka.
Mereka masih terlalu asyik dengan rasa rindu dan cinta yang membuncah.
Mereka tidak tahu bahwa di balik layar ponsel, ada rekaman yang sedang berlangsung.
Ada mata yang mengintai.
Ada hati yang hancur.
Dan ada masa depan yang tidak akan pernah sama lagi.
Tapi suatu saat, setelah semua air mata habis, setelah semua luka mengering, setelah semua rahasia terbongkar, mereka akan mengerti.
Video call pertama bukanlah awal dari persatuan mereka.
Tapi awal dari perpisahan yang sesungguhnya.
Perpisahan yang tidak menyakitkan karena kebencian.
Tapi perpisahan yang damai karena cinta.
Perpisahan yang mengajarkan bahwa kadang, cara terbaik untuk mencintai seseorang adalah dengan melepaskannya.
Tapi untuk sampai ke pemahaman itu, mereka masih harus melalui badai.
Badai yang akan segera datang.
Dan tidak ada yang bisa menghentikannya.
Setya membuka galeri ponselnya sekali lagi sebelum tidur.
Video berdurasi tiga puluh detik itu masih ada.
Ia menontonnya sekali lagi.
Wajah suaminya tersenyum manis ke layar ponsel.
"Kamu masih cantik, Nox."
Setya menyimpan ponselnya di bawah bantal.
Besok, ia akan mengirim video itu ke seseorang.
Bukan untuk disebarkan.
Tapi untuk bertanya: Apa yang harus aku lakukan?
Ia tidak tahu bahwa orang itu akan menyebarkannya lebih luas.
Ia tidak tahu bahwa dalam hitungan hari, video itu akan menjadi viral.
Ia tidak tahu bahwa itu akan menghancurkan dua rumah tangga sekaligus.
Tapi besok, besok ia akan menekan tombol kirim.
Dan tidak ada yang bisa menghentikannya.
BAB IX
Setya Ningsih Mulai Curiga
Curiga tidak pernah lahir dari ruang hampa.
Ia tumbuh dari luka-luka kecil yang tidak diperhatikan, dari kata-kata yang tidak terucap, dari tatapan yang terlalu lama menatap ponsel, dari senyum yang tidak lagi ditujukan pada pasangan sendiri. Curiga adalah tanaman parasit yang akarnya menjalar perlahan, mengisap semua kebahagiaan yang tersisa, hingga akhirnya yang tinggal hanyalah kerangka hubungan yang rapuh dan siap runtuh kapan saja.
Setya Ningsih tidak dilahirkan sebagai perempuan pencemburu.
Dulu, waktu muda dulu, ia adalah perempuan yang percaya diri. Ia tidak pernah cemburu buta, tidak pernah memeriksa ponsel suami, tidak pernah bertanya siapa yang menelepon saat Akang keluar malam. Ia percaya bahwa cinta tidak perlu dibuktikan dengan kecurigaan. Cinta cukup dirawat dengan kepercayaan.
Tapi kepercayaan, sekali retak, tidak pernah bisa kembali utuh.
Dan kepercayaan Setya pada Akang retak pada malam pertama ia melihat nama Sinox Yanti di layar ponsel suaminya.
Sejak malam itu, Setya berubah.
Bukan berubah menjadi monster pencemburu yang histeris. Tapi berubah menjadi detektif yang diam-diam mengintai, mengamati, mengumpulkan bukti, dan menunggu saat yang tepat untuk meledak.
Dan malam ini, setelah video call pertama yang tanpa sengaja ia dengar dari balik pintu, Setya Ningsih tidak hanya curiga.
Ia yakin.
Suaminya selingkuh. Mungkin tidak secara fisik. Tapi secara emosional, hatinya sudah pergi ke perempuan lain.
Dan Setya, istri sah yang telah mendampinginya selama 25 tahun, hanya tinggal nama.
Pagi Setelah Badai
Kapuas, pukul 05.30.
Setya Ningsih bangun lebih awal dari biasanya. Ia tidak tidur semalaman. Matanya sembab, wajahnya pucat, tubuhnya terasa lemas seperti habis sakit keras. Tapi ia tetap bangkit. Memasak air. Menyiapkan nasi goreng untuk sarapan anak-anak.
Tidak ada senyum di wajahnya. Tidak ada sapaan hangat untuk Akang yang masih duduk di beranda dengan muka masam.
Anak bungsu mereka, Raha, yang masih duduk di kelas VIII SMPN Mantangai, turun dari kamarnya dengan wajah mengantuk.
"Bu, masak apa?"
"Nasi goreng. Kamu mau makan?"
"Iya. Tapi Bu... kok muka Bu pucat? Sakit?"
"Tidak. Cuma kurang tidur."
"Kenapa kurang tidur?"
Setya berhenti mengaduk nasi. Ia menatap anak bungsunya yang masih polos, yang tidak tahu apa-apa tentang keretakan rumah tangga orang tuanya.
"Tidak kenapa-kenapa. Makanlah, Nak. Nanti kamu terlambat ke sekolah."
Raha mengangguk. Ia duduk di meja makan, menyantap nasi goreng buatan ibunya. Sesekali ia menatap ayahnya yang masih duduk di beranda, tidak bergerak, seperti patung.
"Pa, Pa tidak makan?"
Akang menoleh. "Nanti, Ra. Pa belum lapar."
"Tapi nasi gorengnya enak, Pa. Ibu masak spesial."
"Pa tahu. Nanti, ya."
Raha mengernyit. Ada yang aneh dengan orang tuanya pagi ini. Biasanya ayah dan ibunya selalu bercanda saat sarapan. Ibu sering menggoda ayah yang cerewet soal makanan. Ayah sering membalas dengan candaan yang membuat ibu tertawa.
Tapi pagi ini, tidak ada canda. Tidak ada tawa. Yang ada hanyalah keheningan yang canggung, dan jarak yang terasa begitu dekat tapi begitu jauh.
Setelah Raha berangkat sekolah, diantar oleh Iwan, kakak keduanya, yang kebetulan sedang libur dari kantor desa, rumah itu kembali sunyi.
Hanya Setya dan Akang.
Istri dan suami yang dulu saling mencintai, kini seperti dua orang asing yang terpaksa tinggal serumah.
"Ning," panggil Akang pelan.
Setya tidak menjawab. Ia mencuci piring di dapur dengan gerakan yang kasar, hampir membanting piring satu per satu.
"Ning, kita perlu bicara."
"Kita sudah bicara, Mas," jawab Setya tanpa menoleh. "Kita sudah bicara berkali-kali. Tapi tidak ada yang berubah. Mas masih berhubungan dengan dia. Mas masih video call tengah malam. Mas masih lebih memilih dia daripada aku."
"Aku tidak memilih dia..."
"Tapi Mas juga tidak memilih aku." Setya menoleh. Matanya merah, tapi tidak ada air mata. Air matanya sudah habis. "Mas diam. Mas tidak mau memilih. Dan dengan tidak memilih, Mas sudah memilih. Mas memilih untuk tetap berada di antara dua perempuan. Mas memilih untuk menyakiti kami berdua."
Akang berjalan mendekati istrinya. Ia meraih tangan Setya yang basah karena air cucian piring.
Setya melepaskan.
"Jangan sentuh aku, Mas," katanya lirih. "Aku tidak kuat. Jika Mas menyentuhku sekarang, aku akan hancur. Dan aku tidak mau hancur di depan Mas."
"Ning, aku masih mencintaimu..."
"Tapi tidak sebesar cintamu padanya. Aku tahu, Mas. Aku sudah tahu sejak lama. Mungkin sejak awal pernikahan kita. Aku hanya tidak mau mengakuinya pada diriku sendiri."
Akang terdiam.
Setya menghela napas panjang.
"Aku ingin minta sesuatu, Mas."
"Apa?"
"Ceritakan tentang dia. Tentang Sinox Yanti. Siapa dia sebenarnya. Apa hubungan kalian dulu. Dan mengapa, setelah 25 tahun menikah denganku, kau masih belum bisa melupakannya."
Akang menatap istrinya. Ada luka di mata Setya, luka yang ia ciptakan sendiri dengan kebodohannya. Ia pantas menerima pertanyaan itu. Ia pantas menjelaskan. Bukan untuk membela diri, tapi untuk memberikan kejelasan pada perempuan yang telah menjadi pendamping hidupnya selama seperempat abad.
"Duduklah, Ning," kata Akang. "Aku akan ceritakan semuanya. Dari awal. Tanpa berbohong."
Kisah yang Tertunda
Mereka duduk di ruang tamu. Berhadapan. Seperti dua orang yang akan menandatangani perjanjian damai, atau perjanjian perpisahan.
Akang bercerita.
Tentang pertemuannya dengan Sinox Yanti di Tegorejo, saat Sinox masih siswa kelas I SMP dan ia masih siswa kelas 2 SMA. Tentang kedekatan mereka yang sulit dijelaskan, bukan pacaran, bukan saudara, tapi sesuatu di antaranya. Tentang latihan karate bersama, tentang sepeda ontel yang selalu dinaiki berdua, tentang curhatan Sinox yang cerewet dan manja, tentang bagaimana Akang menjadi tempat sandarnya saat Sinox patah hati karena Mas Nur.
"Aku mencintainya, Ning," kata Akang jujur. "Aku sudah mencintainya sejak pertama kali aku melihat dia tersenyum. Tapi aku tidak pernah mengakuinya. Kepadanya, maupun kepada diriku sendiri."
"Kenapa?"
"Karena ibunya. Bu Ros. Beliau minta aku fokus sekolah, jangan ganggu konsentrasi Sinox. Aku dianggap seperti kakak baginya. Dan aku, aku terlalu miskin saat itu. Tidak punya apa-apa. Tidak pantas untuk seorang perempuan sepertinya."
Setya mendengarkan tanpa memotong.
"Lalu aku pergi ke Jakarta," lanjut Akang. "Tanpa pamit. Tanpa kabar. Aku pergi karena aku malu. Aku pergi karena aku tidak punya keberanian untuk mengucapkan selamat tinggal. Aku pikir, dengan pergi, aku akan melupakannya. Tapi ternyata tidak. Aku justru semakin merindukannya."
"Lalu Mas menikah denganku," kata Setya. Suaranya pahit. "Mas menikah denganku dengan hati yang masih penuh dengan perempuan lain. Mas menjadikanku pelarian. Pelarian dari rasa sakit karena tidak bisa bersamanya."
"Tidak, Ning. Aku menikah denganmu karena aku mencintaimu. Mungkin awalnya tidak sebesar cintaku pada Sinox. Tapi seiring waktu, aku belajar mencintaimu. Aku belajar menghargaimu. Aku belajar membangun rumah tangga denganmu."
"Tapi tidak pernah sepenuhnya, Mas."
"Aku berusaha, Ning."
"Berusaha tidak sama dengan berhasil, Mas."
Akang menunduk. Ia tidak bisa membantah.
"Aku ingin tahu," kata Setya. "Jika Sinox Yanti tidak menikah, jika ia masih sendirian saat ini, apakah Mas akan meninggalkan aku untuknya?"
Pertanyaan itu menusuk seperti belati.
Akang mengangkat kepalanya. Menatap mata istrinya. Ia ingin berbohong. Ingin mengatakan tidak. Ingin meyakinkan Setya bahwa ia tidak akan pernah meninggalkannya.
Tapi matanya, matanya lebih jujur dari mulutnya.
Setya membaca jawaban di mata suaminya sebelum mulutnya sempat berbicara.
"Cukup, Mas," katanya, mengangkat tangan. "Aku sudah tahu jawabannya. Aku tidak perlu mendengarnya."
"Ning..."
"Aku bilang cukup, Mas. Aku tidak kuat mendengar kebenaran yang lebih menyakitkan dari yang sudah aku duga."
Setya berdiri. Ia berjalan ke kamar, mengunci pintu dari dalam, lalu menangis. Bukan tangis keras yang bisa didengar orang. Tapi tangis sunyi yang paling menyakitkan, tangis yang ditahan di dalam dada, yang hanya keluar sebagai isakan tertahan dan air mata yang tidak berhenti mengalir.
Akang hanya bisa berdiri di luar pintu kamar, mengetuk pelan, memohon agar istrinya membuka pintu.
Tapi Setya tidak membuka.
Untuk pertama kalinya dalam 25 tahun pernikahan mereka, Setya Ningsih menolak suaminya masuk ke kamar tidur mereka.
Itu awal dari segalanya, pikir Akang. Awal dari kehancuran rumah tanggaku.
Di Balik Pintu yang Tertutup
Setya Ningsih tidak menangis lama.
Setelah air matanya habis, ia duduk di tepi tempat tidur, memandang lemari pakaian yang berisi baju-baju mereka berdua, baju Akang di sebelah kiri, bajunya di sebelah kanan. Selama 25 tahun, mereka berbagi lemari. Berbagi tempat tidur. Berbagi hidup.
Tapi sekarang, Setya merasa asing dengan semua itu.
Ia meraih ponselnya. Bukan untuk menelepon siapa pun. Tapi untuk membuka Facebook, mencari nama Sinox Yanti.
Ia menemukannya.
Foto profil perempuan itu adalah foto batik hijau tua dengan senyum setengah. Wajahnya tidak cantik menurut ukuran Setya. Biasa saja. Malah menurut Setya, ia sendiri lebih cantik. Tubuhnya juga lebih langsing. Wajahnya lebih muda meskipun usianya tidak terpaut jauh.
Lalu kenapa suamiku lebih memilih dia?
Apa yang dia punya yang tidak aku punya?
Setya menggulir timeline Sinox. Tidak banyak postingan. Kebanyakan tentang anak-anak, tentang sekolah, tentang kutipan-kutipan motivasi. Tidak ada yang provokatif. Tidak ada yang mengindikasikan bahwa perempuan ini sengaja merebut suami orang.
Dia juga korban, pikir Setya getir. Korban dari cinta masa lalu suamiku yang tidak pernah mati.
Setya membuka Instagram. Mencari nama yang sama. Tidak banyak foto. Hanya beberapa, foto pemandangan, foto masakan, foto anak ketiganya yang sedang tersenyum dengan gigi ompong.
Tapi di salah satu foto, Setya menemukan sesuatu.
Sebuah foto lama, diunggah dua tahun lalu, dengan caption: "Rindu sama seseorang yang tidak pernah benar-benar ada."
Setya membaca caption itu berulang kali.
Rindu sama seseorang yang tidak pernah benar-benar ada.
Apakah itu tentang suamiku? pikir Setya. Apakah selama ini dia juga merindukan Mas, sama seperti Mas merindukan dia?
Setya menutup Instagram. Meletakkan ponsel di samping bantal.
Ia menatap langit-langit kamar, yang retak di beberapa bagian, seperti rumah tangganya yang juga mulai retak.
"Sinox Yanti," bisiknya. "Kita tidak pernah bertemu. Kita tidak pernah saling kenal. Tapi kau telah mengambil setengah hati suamiku. Dan aku tidak tahu apakah aku bisa memaafkanmu untuk itu."
Pertemuan Tanpa Sengaja
Hari Minggu. Akang pergi ke kantor desa meskipun seharusnya libur. Ia tidak betah di rumah. Rumah yang dulu hangat kini terasa dingin seperti kulkas. Setya tidak bicara padanya kecuali untuk urusan anak. Tidak ada masakan spesial. Tidak ada senyuman. Tidak ada sapaan selamat pagi.
Setya tinggal di rumah sendirian. Raha sedang bermain di rumah teman, Iwan sedang bersama tunangannya mempersiapkan pernikahan yang tinggal beberapa minggu lagi, Anto sibuk dengan warung kelontongnya.
Setya duduk di beranda, memandang kebun karet yang mulai mengering. Angin gambut bertiup, membawa debu dan bau tanah kering.
Ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk di WhatsApp. Dari nomor tidak dikenal.
+62 xxx: Maaf, apakah ini Ibu Setya Ningsih?
Setya mengernyit. Nomor asing. Format nomor dari Jawa Tengah, berdasarkan kode area yang ia kenali karena dulu ia juga berasal dari Jawa sebelum pindah ke Kapuas.
Setya Ningsih: Iya. Siapa ini?
+62 xxx: Saya Sinox Yanti. Dari Tegorejo. Istri Mas Sarif. Saya mohon maaf sebelumnya, Bu. Saya tidak bermaksud mengganggu. Tapi saya ingin bicara dengan Ibu. Secara pribadi. Bukan melalui suami saya atau suami Ibu.
Setya terdiam.
Jantungnya berdegup kencang.
Sinox Yanti. Perempuan itu. Perempuan yang selama berminggu-minggu menjadi bayangan dalam pernikahannya. Perempuan yang telah mengambil setengah hati suaminya. Perempuan yang, secara virtual, telah menghancurkan ketenangan rumah tangganya.
Sekarang perempuan itu menghubunginya langsung.
Bukan melalui Akang. Bukan melalui orang ketiga.
Tapi langsung.
Beraninya, pikir Setya setengah marah, setengah kagum.
Setya Ningsih: Apa yang mau Ibu bicarakan dengan saya?
Sinox Yanti: Banyak hal, Bu. Tentang suami Ibu. Tentang suami saya. Tentang masa lalu yang tidak pernah selesai. Dan tentang masa depan, apa yang ingin kita lakukan dari sisa-sisa hubungan yang mungkin sudah seharusnya berakhir sejak dulu.
Setya membaca pesan itu berulang kali.
Ada ketulusan di sana. Ada kerendahan hati. Tidak ada nada menantang atau menyalahkan.
Perempuan ini, setidaknya dari tulisannya, tampak seperti korban yang sama seperti Setya. Korban dari cinta yang lahir di waktu yang salah, tumbuh di tempat yang salah, dan sekarang, di usia yang tidak lagi muda, mekar kembali tanpa bisa dikendalikan.
Setya Ningsih: Ibu tidak takut saya akan marah? Tidak takut saya akan memaki Ibu habis-habisan?
Sinox Yanti: Ibu berhak marah, Bu. Ibu berhak memaki saya. Saya sudah melukai perasaan Ibu meskipun tidak sengaja. Tapi saya lebih takut jika kita tidak bicara. Karena tanpa bicara, prasangka akan tumbuh. Dan prasangka lebih berbahaya daripada kemarahan.
Setya menarik napas panjang.
Ia tidak tahu apakah ini ide bagus. Berbicara dengan perempuan yang menjadi penyebab, atau setidaknya pemicu, keretakan rumah tangganya. Tapi ada suara di kepalanya yang berbisik: Bicaralah. Dengarkan dia. Mungkin ada kebenaran yang perlu kau dengar.
Setya Ningsih: Ibu mau bicara bagaimana? Telepon? Video call?
Sinox Yanti: Apa pun yang Ibu nyaman. Saya tidak akan memaksa. Tapi saya lebih memilih video call, Bu. Supaya kita bisa saling melihat mata. Karena mata tidak bisa berbohong.
Setya tersenyum getir.
Mata tidak bisa berbohong. Itu kalimat yang sama yang pernah diucapkan Akang tentang Sinox. Matanya tidak pernah berbohong.
Jadi perempuan ini memang istimewa. Setya bisa mengerti mengapa suaminya sulit melupakannya.
Setya Ningsih: Baik. Video call. Sekarang?
Sinox Yanti: Sekarang, Bu. Jika Ibu tidak keberatan.
Setya tidak menjawab. Ia langsung menekan tombol video call.
Layar ponselnya menyala.
Dan untuk pertama kalinya, Setya Ningsih melihat wajah Sinox Yanti secara langsung.
Dua Perempuan, Satu Luka
Sinox tampak gugup. Matanya merah, seperti baru saja menangis. Rambutnya diikat sederhana, dengan beberapa helai uban yang terlihat di pelipis. Ia mengenakan kaus longgar berwarna abu-abu.
"Halo, Bu Setya," sapa Sinox pelan. Suaranya bergetar.
"Halo," balas Setya datar. Ia sengaja tidak memanggil nama. Masih terlalu sakit untuk menyebut nama perempuan ini dengan akrab.
"Maaf, Bu. Saya tidak tahu harus memulai dari mana."
"Dari awal saja. Kenapa Ibu menghubungi suami saya? Setelah tiga puluh tahun? Apa Ibu tidak punya rasa malu?"
Pertanyaan itu tajam. Sengaja Setya lempar tanpa ampelas.
Sinox menunduk. Air matanya jatuh. Ia tidak menyekanya.
"Saya malu, Bu. Saya sangat malu. Dan saya menyesal. Tapi saya tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi."
"Jadi Ibu hanya menyesal, tapi Ibu tidak berhenti menghubungi suami saya?"
"Saya sudah mencoba, Bu. Tapi... saya lemah. Suami Ibu adalah cinta pertama saya. Cinta yang tidak pernah saya akui, bahkan pada diri saya sendiri. Selama tiga puluh tahun saya menguburnya. Tapi ketika dia muncul kembali, ketika dia mencari saya, semua perasaan itu keluar dengan sendirinya. Saya tidak bisa mengendalikannya."
"Ibu pikir saya bisa mengendalikan perasaan suami saya?" suara Setya meninggi. "Ibu pikir saya tidak sakit? Saya tidur di samping suami saya setiap malam, tapi hatinya sudah tidak di sini. Hatinya di Tegorejo. Hatinya bersama Ibu. Dan saya, saya hanya tinggal nama!"
Sinox menangis lebih keras. "Saya minta maaf, Bu. Saya minta maaf sebesar-besarnya."
"Maaf Ibu tidak berguna!" Setya hampir berteriak. Tapi ia menahan. Raha mungkin sudah pulang ke rumah. Tidak boleh ada anak yang mendengar ibunya berteriak histeris. "Maaf Ibu tidak akan mengembalikan hati suami saya. Maaf Ibu tidak akan memperbaiki rumah tangga saya."
"Saya tahu, Bu. Saya tahu. Tapi saya tidak tahu harus berbuat apa. Saya tidak bisa memaksa Akang, suami Ibu, untuk melupakan saya. Saya juga tidak bisa memaksa diri saya sendiri untuk melupakan dia. Saya sudah mencoba, Bu. Saya sudah mencoba selama tiga puluh tahun. Tapi tidak pernah berhasil."
Setya terdiam.
Ia menatap Sinox melalui layar ponsel. Melihat air mata perempuan itu, tidak palsu, tidak dibuat-buat. Itu adalah air mata tulus dari seorang perempuan yang juga tersiksa oleh cinta yang tidak bisa ia miliki.
Kita sama, Sinox Yanti, pikir Setya. Kita sama-sama perempuan yang mencintai laki-laki yang tidak sepenuhnya untuk kita.
"Ibu mencintai suami saya?" tanya Setya. Suaranya kini lebih tenang. Lebih lembut. Seperti rasa marahnya mulai terkikis oleh rasa iba.
"Saya mencintainya, Bu. Tapi bukan hanya sebagai laki-laki yang Ibu nikahi. Saya mencintai kenangan tentang dia. Saya mencintai sosok yang dulu menjadi tempat saya bersandar. Saya mencintai masa lalu yang tidak akan pernah kembali. Dan saya tidak tahu, saya tidak yakin, apakah yang saya rasakan sekarang adalah cinta pada suami Ibu yang sekarang, atau cinta pada bayangannya yang sudah berubah."
Jawaban itu jujur. Sangat jujur.
Setya tidak bisa marah pada kejujuran.
"Apa yang Ibu inginkan dari saya?" tanya Setya.
"Saya tidak ingin apa-apa, Bu. Saya tidak ingin merebut suami Ibu. Saya tidak ingin menghancurkan rumah tangga Ibu. Saya hanya ingin... saya hanya ingin berdamai dengan masa lalu. Agar saya tidak lagi dihantui oleh pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab. Agar saya bisa ikhlas. Agar saya bisa menjadi istri yang baik untuk suami saya, tanpa terus-menerus membandingkannya dengan suami Ibu."
"Dan apakah Ibu bisa?"
Sinox menghela napas panjang. "Saya tidak tahu, Bu. Tapi saya ingin mencoba. Dan saya butuh bantuan Ibu."
"Bantuan saya?"
"Ibu punya kekuatan yang tidak saya miliki. Ibu istri sahnya. Ibu yang tinggal bersamanya setiap hari. Ibu yang melihat dia bangun tidur, yang memasak untuknya, yang merawatnya saat sakit. Saya tidak punya semua itu. Saya hanya punya kenangan. Dan kenangan, seindah apa pun, tidak bisa mengalahkan kenyataan."
Setya diam cukup lama.
"Ibu perempuan yang aneh," kata Setya akhirnya. "Ibu datang, mengacaukan rumah tangga saya, lalu minta bantuan saya untuk membereskan kekacauan yang Ibu buat sendiri."
Sinox tersenyum getir. "Saya tahu, Bu. Saya memang aneh. Dan saya egois. Saya minta maaf."
Setya menghela napas panjang.
"Saya tidak bisa berjanji apa-apa, Bu Sinox. Tapi saya berterima kasih Ibu sudah berani menghubungi saya secara langsung. Itu membutuhkan keberanian."
"Saya sudah tidak punya apa-apa lagi selain keberanian, Bu. Reputasi saya sudah hancur di mata suami saya. Rumah tangga saya sudah di ujung tanduk. Yang bisa saya lakukan sekarang hanyalah berusaha memperbaiki, sedikit demi sedikit, apa yang sudah saya rusak."
"Dan suami Ibu? Mas Sarif? Apa dia tahu Ibu menghubungi saya?"
"Tidak. Tapi saya akan beri tahu dia nanti. Saya sudah lelah berbohong, Bu. Kejujuran memang menyakitkan, tapi kebohongan lebih menyakitkan dalam jangka panjang."
Setya mengangguk. "Saya setuju."
Mereka berdua terdiam.
Video call itu berlangsung hampir satu jam. Dua perempuan yang seharusnya bermusuhan, duduk di seberang layar ponsel, satu di Kapuas, satu di Tegorejo, berbagi luka yang sama.
Cinta mereka pada laki-laki yang sama.
Dan penderitaan mereka karena laki-laki yang tidak bisa memilih itu.
"Bu Setya," kata Sinox sebelum menutup telepon.
"Iya?"
"Saya tidak akan minta Ibu memaafkan saya. Itu terlalu berat. Tapi saya minta Ibu percaya: saya tidak akan merebut suami Ibu. Saya berjanji pada diri saya sendiri, dan saya berjanji pada Ibu, saya akan menjaga jarak. Saya akan membatasi komunikasi dengan Akang. Saya akan berusaha melepaskannya, perlahan-lahan. Mungkin tidak dalam semalam. Mungkin butuh waktu. Tapi saya akan berusaha."
Setya menatap Sinox. Mencari kebohongan di matanya.
Tidak ada.
"Saya akan percaya, Bu Sinox," kata Setya. "Tapi janji Ibu tidak cukup. Saya butuh bukti."
"Ibu akan mendapatkannya, Bu. Saya janji."
Video call itu berakhir.
Setya meletakkan ponselnya di pangkuan. Menatap kosong ke arah kebun karet yang mulai gelap karena senja.
Sinox Yanti, pikirnya. Kamu bukan musuhku. Kamu hanya perempuan lain yang juga mencintai suamiku. Dan itu, entah mengapa, membuatku merasa tidak sendirian.
Setelah Video Call
Sinox menutup video call itu dengan perasaan campur aduk.
Ia tidak tahu apakah langkahnya menghubungi Setya Ningsih adalah keputusan yang tepat. Bisa saja Setya marah, memaki, atau bahkan melaporkannya pada Akang. Tapi Sinox sudah tidak peduli. Ia sudah berada di titik terendah dalam hidupnya, tidak ada yang lebih buruk lagi yang bisa terjadi.
Setidaknya aku sudah berusaha, pikir Sinox. Setidaknya aku sudah menunjukkan itikad baik. Sekarang terserah Setya mau menerima atau tidak.
Ia beranjak dari kursi ruang tamu, berjalan ke dapur, dan menyalakan kompor untuk memasak nasi. Mas Sarif belum pulang dari sawah. Eko masih di sekolah. Rumah terasa sepi.
Sinox mengambil ponselnya lagi. Membuka chat dengan Akang.
Sinox Yanti: Akang, aku sudah bicara dengan istrimu.
Balasan datang cepat. Sangat cepat.
Akang Riyadi: Apa?! Kapan?
Sinox Yanti: Tadi. Video call. Sekitar satu jam yang lalu.
Akang Riyadi: Kenapa kau tidak bilang?
Sinox Yanti: Karena aku tidak minta izin. Ini urusanku dengan istrimu. Bukan urusanmu.
Akang Riyadi: Nox, apa yang kalian bicarakan?
Sinox Yanti: Banyak hal. Tentang kamu. Tentang kami. Tentang masa lalu. Tentang masa depan. Tentang bagaimana cara terbaik untuk tidak saling melukai lagi.
Akang Riyadi: Dan?
Sinox Yanti: Dan aku berjanji padanya akan menjaga jarak. Aku berjanji akan melepaskanmu, perlahan-lahan.
Diam cukup lama.
Akang Riyadi: Apa maksudmu melepaskan?
Sinox Yanti: Maksudku, kita tidak bisa terus begini, Akang. Lihatlah apa yang sudah terjadi. Rumah tanggaku hancur. Rumah tanggamu juga hancur. Anak-anak kita mulai bertanya-tanya. Istri dan suami kita menderita. Untuk apa? Untuk cinta yang tidak akan pernah bisa kita miliki?
Akang Riyadi: Kau menyerah?
Sinox Yanti: Bukan menyerah. Tapi sadar diri. Kita sudah tua, Akang. Kita tidak punya waktu untuk drama seperti ini. Yang tersisa dari hidup kita mungkin hanya sepuluh, dua puluh tahun lagi. Kau mau menghabiskan sisa hidupmu dengan menyakiti istrimu? Karena aku tidak mau. Aku sudah cukup melukai Mas Sarif.
Akang Riyadi: Jadi ini akhirnya?
Sinox menangis.
Jarinya bergetar saat mengetik balasan.
Sinox Yanti: Mungkin ini saatnya, Akang. Bukan akhir dari persahabatan kita. Tapi akhir dari drama yang tidak sehat ini. Kita bisa tetap menjadi teman. Tapi tidak lebih dari itu. Tidak ada lagi panggilan tengah malam. Tidak ada lagi video call. Tidak ada lagi pengakuan cinta yang hanya membuat kita tersiksa.
Akang Riyadi: Aku tidak bisa, Nox. Aku belum siap.
Sinox Yanti: Kau harus siap, Akang. Karena jika tidak, kita akan menghancurkan lebih banyak orang. Dan aku tidak mau itu terjadi.
Akang Riyadi: Aku mencintaimu.
Sinox Yanti: Aku juga mencintaimu. Tapi cinta tidak selalu berarti memiliki. Kadang cinta berarti melepaskan. Dan ini saatnya kita melepaskan.
Sinox mematikan ponselnya sebelum Akang sempat membalas.
Ia tidak ingin membaca balasan yang akan membuatnya ragu lagi.
Ia sudah mengambil keputusan.
Mungkin keputusan itu salah. Mungkin keputusan itu benar.
Tapi setidaknya, ia sudah berusaha.
Maafkan aku, Akang, bisiknya dalam hati. Maafkan aku karena aku tidak cukup kuat untuk terus bertahan. Maafkan aku karena aku memilih damai daripada cinta. Maafkan aku karena aku lebih memilih menyelamatkan rumah tanggaku daripada mempertahankan perasaanku padamu.
Ia menangis.
Untuk terakhir kalinya, setidaknya untuk malam ini, ia menangis untuk Akang Riyadi.
Besok, ia akan bangun dengan tekad baru.
Besok, ia akan menjadi istri yang lebih baik untuk Mas Sarif.
Besok, ia akan menjadi ibu yang lebih baik untuk anak-anaknya.
Besok, ia akan memulai hidup baru tanpa bayangan Akang di belakangnya.
Tapi malam ini, malam ini ia masih berhak menangis.
Untuk cinta yang tidak pernah mati.
Untuk cinta yang harus ia relakan.
Untuk cinta yang, mungkin di surga kelak, akan bertemu tanpa batasan.
BAB X
Mas Sarif Merasa Terabaikan
Tidak ada yang lebih menyakitkan bagi seorang suami selain merasa tidak terlihat di rumahnya sendiri.
Bukan karena ia diusir. Bukan karena ia tidak dicintai. Tapi karena perlahan-lahan, tanpa teriakan dan tanpa drama, ia berubah menjadi hantu di antara keluarganya. Kehadirannya tidak lagi berarti. Ucapannya tidak lagi didengar. Sentuhannya tidak lagi dirasakan.
Mas Sarif adalah laki-laki sederhana.
Ia tidak pernah meminta banyak dari kehidupan. Cukup sawah yang subur, istri yang setia, anak-anak yang sehat, dan ketenangan di hari tua. Ia tidak butuh kemewahan, tidak butuh pujian, tidak butuh pengakuan dunia. Yang ia butuhkan hanyalah sebuah keluarga kecil yang hangat, tempat ia pulang setelah lelah membanting tulang di sawah, tempat ia tertawa bersama anak-anaknya, tempat ia berbaring di samping istrinya tanpa harus bertanya-tanya apakah istrinya masih mencintainya.
Tapi dua bulan terakhir ini, semua itu mulai sirna.
Mas Sarif pulang ke rumah, tapi rumah tidak lagi terasa seperti rumah. Istrinya, Sinox, ada di sana secara fisik, tapi hatinya melayang entah ke mana, ke masa lalu, ke laki-laki lain, ke kenangan yang tidak bisa ia ikuti karena ia tidak pernah menjadi bagian dari kenangan itu.
Dan Mas Sarif, laki-laki yang dulu menjadi sandaran keluarga, kini hanya menjadi penonton dalam rumah tangganya sendiri.
Duduk di pojok.
Melihat istrinya perlahan-lahan pergi tanpa benar-benar pergi.
Merasa terabaikan.
Tersisihkan.
Dan yang paling menyakitkan: ia tidak tahu bagaimana cara memperbaikinya.
Pagi yang Dingin
Tegorejo, pukul 06.00.
Mas Sarif sudah bangun sejak pukul setengah lima, seperti biasa. Ia pergi ke sawah, memeriksa saluran air, memastikan padi tidak kekeringan di musim kemarau yang berkepanjangan. Pekerjaan itu sudah ia lakukan setiap pagi selama dua puluh tahun. Tubuhnya hafal setiap langkah, setiap belokan, setiap genangan air di pematang sawah.
Tapi pagi ini, ia tidak fokus.
Pikirannya melayang ke rumah. Ke istrinya. Ke ponsel yang selalu digenggam Sinox akhir-akhir ini.
Setelah selesai di sawah, ia pulang. Rumah masih sunyi. Eko belum bangun, bocah kelas VIII Mts itu sering tidur sampai hampir jam tujuh, lalu berangkat sekolah dengan terburu-buru.
Sinox ada di dapur. Ia sedang menggoreng tempe dan tahu untuk lauk sarapan. Dari belakang, Mas Sarif melihat istrinya. Punggung yang dulu tegap itu kini sedikit membungkuk. Rambut yang dulu hitam pekat itu kini mulai memutih di beberapa bagian. Tangannya yang dulu lembut kini kasar karena pekerjaan rumah tangga dan mengajar.
Dia sudah tua, pikir Mas Sarif. Kita sama-sama sudah tua. Tapi kenapa di usia senja begini, kita justru diuji dengan hal seperti ini?
"Sin," panggilnya pelan.
Sinox menoleh. "Iya, Mas?"
"Kopi, ya. Sekalian sarapan."
"Iya, Mas. Sebentar."
Sinox menyiapkan kopi, pahit, tanpa gula, sesuai selera Mas Sarif. Ia letakkan cangkir di atas meja makan, bersama nasi hangat, tempe goreng, tahu, dan sambal terasi.
Mereka makan berdua di ruang makan. Sunyi. Hanya suara sendok dan nasi yang dikunyah.
Biasanya, sarapan adalah waktu favorit Mas Sarif. Di saat itulah ia dan Sinox bisa bicara banyak hal, tentang anak-anak, tentang sawah, tentang tetangga, tentang rencana ke depan. Sinox yang cerewet akan bercerita panjang lebar tentang apa yang ia lihat di sekolah, tentang ulah murid-muridnya yang lucu-lucu, tentang gosip terbaru di desa.
Tapi pagi ini, Sinox diam.
Matanya sesekali menatap ponsel yang ia letakkan di samping piring, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan dulu. Dulu, ponsel Sinox selalu ia tinggalkan di kamar atau di ruang tamu saat makan. Katanya, "Makan ya makan. Jangan main HP. Tidak sopan."
Sekarang, ia tidak bisa lepas dari benda itu.
Mas Sarif menatap ponsel itu.
Layar ponsel menyala. Sebuah notifikasi WhatsApp muncul.
Mas Sarif membaca dari kejauhan. Akang Riyadi mengirim pesan suara.
Ia tidak mendengar isinya. Tapi cukup melihat nama itu, Akang Riyadi, untuk membuat dadanya sesak.
"Sin," panggilnya lagi.
"Iya, Mas?" Sinox mendongak. Matanya masih setengah tertuju pada ponsel.
"Ponselnya. Matikan sebentar. Kita makan dulu."
Sinox terdiam sejenak. Ia menatap ponsel, lalu menatap suaminya. Ada perang singkat di wajahnya, antara keinginan untuk melihat pesan itu dan rasa hormat pada suami.
Akhirnya, ia membalikkan ponsel sehingga layar menghadap ke bawah.
"Maaf, Mas. Kebiasaan."
Mas Sarif tidak menjawab. Ia hanya makan.
Tapi di dalam dadanya, sesuatu pecah.
Dulu, aku selalu jadi prioritas, pikirnya. Dulu, Sinox tidak akan pernah memilih ponsel di atas aku.
Sekarang, aku harus bersaing dengan laki-laki yang bahkan belum pernah ia temui secara langsung.
Dan aku kalah.
Di Kantor Desa Tegorejo
Mas Sarif tidak hanya petani. Ia juga menjabat sebagai ketua kelompok tani di desanya, posisi yang cukup dihormati. Setiap pagi setelah sarapan, ia biasanya mampir ke kantor desa untuk berbicara dengan perangkat desa tentang program-program pertanian.
Tapi pagi ini, ia tidak pergi ke kantor desa.
Ia pergi ke rumah Pak Lurah.
Bukan untuk urusan dinas. Tapi untuk urusan pribadi. Pak Lurah, sebut saja Pak Hadi, adalah teman lama Mas Sarif. Mereka sudah bersahabat sejak masih sama-sama bujangan. Pak Hadi tahu banyak tentang kehidupan Mas Sarif, termasuk tentang masa lalu Sinox yang samar-samar ia dengar.
"Mas, tumben pagi-pagi sudah ke sini," sapa Pak Hadi. "Ada apa?"
Mas Sarif duduk di kursi tamu rumah Pak Hadi. Wajahnya kusut. Matanya sayu seperti orang kurang tidur.
"Hadi, aku mau cerita. Tapi jangan bilang siapa-siapa."
"Aman, Mas. Cerita saja."
Mas Sarif bercerita. Tentang Sinox yang berubah. Tentang ponsel yang tidak bisa lepas dari tangannya. Tentang nama Akang Riyadi yang muncul di layar ponsel istrinya. Tentang video call tengah malam. Tentang istrinya yang menangis, bukan untuknya, tapi untuk laki-laki lain.
"Aku merasa tidak berguna, Hadi," kata Mas Sarif, suaranya serak. "Selama dua puluh tahun aku bekerja keras untuk keluarga. Sawah ini kutinggali setiap hari, panas terik, hujan deras, banjir, kemarau, semua kuhadapi. Agar Sinox dan anak-anak tidak kekurangan. Tapi sekarang, rasanya semua itu tidak berarti."
"Jangan bilang begitu, Mas. Kamu sudah menjadi suami dan ayah yang baik. Itu tidak bisa dihapus oleh siapa pun, termasuk oleh laki-laki dari masa lalu."
"Tapi Sinox tidak lagi melihat aku, Hadi. Aku di sini, di depannya, tapi matanya kosong. Seperti aku tidak ada."
Pak Hadi menghela napas panjang.
"Pernahkah kamu bicara dengan Sinox secara serius, Mas? Bukan bertengkar, bukan marah-marah. Tapi bicara hati ke hati?"
"Sudah. Dua minggu lalu."
"Lalu?"
"Dia bilang dia mencintai aku. Tapi dia juga bilang dia belum selesai dengan masa lalunya. Dia bilang dia butuh waktu untuk melepaskan."
"Dan kamu? Apa yang kamu butuhkan?"
Mas Sarif terdiam.
"Aku butuh dia kembali. Seperti dulu. Saat dia masih tersenyum padaku setiap pagi. Saat dia masih memasak dengan senang hati, bukan dengan perasaan terpaksa. Saat dia masih memegang tanganku tanpa rasa canggung."
Pak Hadi menepuk bahu Mas Sarif.
"Kalau begitu, jangan menyerah, Mas. Mungkin ini ujian. Mungkin ini saatnya kamu berjuang untuk memenangkan hati istrimu kembali. Bukan dengan kekerasan, bukan dengan amarah. Tapi dengan kesabaran dan kasih sayang."
"Aku sudah mencoba, Hadi. Tapi rasanya seperti memukul tembok."
"Maka pukul terus. Sampai tembok itu runtuh. Atau sampai tanganmu lelah. Tapi jangan berhenti. Karena jika kamu berhenti, kamu akan kehilangan dia selamanya."
Mas Sarif mengangguk pelan.
Ia pamit pada Pak Hadi, lalu berjalan pulang.
Di perjalanan, ia melewati sawahnya. Padi mulai menguning, tanda panen akan segera tiba. Tapi ia tidak melihat keindahan itu. Yang ia lihat hanyalah bayangan Sinox yang semakin menjauh, yang semakin sulit ia raih.
Apakah aku akan kehilangan dia? pikirnya. Apakah setelah dua puluh tahun berjuang bersama, aku harus kehilangan dia karena bayangan masa lalu?
Ia tidak tahu.
Yang ia tahu, ia tidak akan menyerah.
Selama masih ada napas, selama masih ada hati, selama masih ada cinta, ia akan berjuang.
Untuk Sinox.
Untuk anak-anak.
Untuk rumah tangganya.
Ketika Eko Bertanya
Sore itu, Eko pulang sekolah lebih awal karena ada acara keluarga di rumah temannya. Tapi bukannya langsung pergi ke rumah teman, ia duduk di ruang tamu, menatap ayahnya yang sedang duduk termenung di kursi panjang.
"Pa, tumben Pa di rumah," kata Eko.
"Iya, Nak. Pa lagi tidak ke sawah."
Eko duduk di samping ayahnya. Bocah kelas VIII Mts itu mulai memasuki masa remaja, masa di mana ia mulai peka terhadap hal-hal di sekitarnya. Dan akhir-akhir ini, ia merasa ada yang aneh di rumahnya.
"Pa, aku mau tanya."
"Tanya apa, Nak?"
"Bapak dan Ibu... baik-baik saja, kan?"
Mas Sarif menatap anak bungsunya. Wajah Eko masih polos, tapi matanya sudah mulai dewasa. Matanya sudah bisa membaca kegelisahan.
"Kenapa kamu tanya begitu?"
"Ya, soalnya... akhir-akhir ini Ibu sering banget main HP. Ibu juga sering melamun. Kadang Ibu kelihatan nangis. Terus Bapak juga... Bapak jadi pendiam. Bapak jarang senyum. Kayaknya ada yang nggak beres di rumah kita."
Mas Sarif menarik napas panjang. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia tidak ingin membebani anaknya dengan masalah orang dewasa. Tapi ia juga tidak ingin berbohong.
"Ibu lagi ada masalah, Nak. Masalah yang tidak bisa Pa jelaskan sekarang. Tapi Pa janji, Pa akan berusaha menyelesaikannya. Dan semuanya akan kembali baik-baik saja."
"Ibu selingkuh, Pa?"
Pertanyaan Eko melesat seperti anak panah. Mas Sarif terkejut.
"Kamu dapat dari mana?"
"Ya, teman-teman di sekolah suka bergosip. Katanya ada laki-laki dari luar kota yang sering teleponan sama Ibu. Ibu namanya dipanggil 'Nox' sama laki-laki itu."
Mas Sarif terdiam. Fitnah sudah mulai menyebar, pikirnya. Anak-anak di sekolah sudah tahu. Besok, seluruh desa akan tahu.
"Nak, Ibu tidak selingkuh," kata Mas Sarif pelan. "Ibu hanya... Ibu sedang berusaha menyelesaikan masalah masa lalunya. Itu berbeda dengan selingkuh."
"Tapi kenapa Ibu sampai nangis-nangis, Pa? Kenapa Ibu jadi jauh sama kita?"
"Karena... menyelesaikan masalah masa lalu itu tidak mudah, Nak. Kadang sakit. Kadang bikin bingung. Tapi Pa percaya Ibu kuat. Dan Pa percaya Ibu tidak akan meninggalkan kita."
Eko diam. Ia menatap ayahnya dengan mata yang penuh pertanyaan yang tidak terucap.
"Pa, apa Pa masih sayang sama Ibu?"
"Masih, Nak. Lebih dari apa pun."
"Terus Pa akan perjuangkan Ibu?"
"Pa akan perjuangkan. Sampai titik darah penghabisan."
Eko mengangguk. Ia memeluk ayahnya, pelukan singkat yang jarang ia lakukan karena sudah mulai malu-malu sebagai remaja.
"Aku dukung Pa, ya. Jangan menyerah."
Mas Sarif memeluk anaknya balik. Matanya basah.
Anak-anakku lebih kuat dari yang aku kira, pikirnya. Mereka lebih dewasa dari yang aku kira.
Maka aku juga harus kuat. Untuk mereka. Untuk keluarga ini.
Malam yang Panjang
Sinox tahu bahwa Mas Sarif terabaikan.
Ia tidak buta. Ia melihat bagaimana suaminya berusaha mendekat, tapi ia selalu menolak, bukan dengan sengaja, tapi dengan ketidaksadarannya. Ponsel selalu lebih menarik. Chat dengan Akang selalu lebih mengasyikkan. Air mata untuk Akang selalu lebih deras daripada senyum untuk Mas Sarif.
Dan malam itu, saat Mas Sarif tidur di ruang tamu lagi, malam keempat berturut-turut, Sinox sadar bahwa ia telah melakukan kesalahan besar.
Ia bangkit dari tempat tidur. Berjalan ke ruang tamu.
Mas Sarif belum tidur. Ia terbaring di kursi panjang, memandang kipas angin yang berputar lambat.
"Mas," panggil Sinox pelan.
Mas Sarif menoleh. "Ada apa, Sin?"
"Mas masuk kamar, yuk. Tidur di kasur. Kasian kalau di kursi panjang."
"Tidak apa-apa. Aku sudah biasa."
"Mas..." Sinox duduk di samping suaminya. Ia meraih tangan Mas Sarif, tangan yang kasar karena lumpur sawah, tangan yang tidak pernah mengeluh meskipun pegal setiap hari. "Aku minta maaf."
Mas Sarif tidak menjawab.
"Aku tahu, Mas. Aku tahu Mas merasa terabaikan. Aku tahu Mas sakit hati. Aku tahu Mas mungkin berpikir aku tidak mencintai Mas lagi. Tapi itu tidak benar. Aku masih mencintai Mas. Hanya saja... belakangan ini aku seperti kehilangan arah. Aku bingung. Aku tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah."
"Apa yang membuatmu bingung, Sin?" suara Mas Sarif lirih. "Bukankah semuanya sederhana? Aku suamimu. Dia bukan siapa-siapa lagi bagimu. Masa lalu ya masa lalu. Kenapa kau biarkan masa lalu merusak masa depan kita?"
"Karena aku belum selesai dengan masa lalu itu, Mas. Aku tidak pernah benar-benar move on. Aku hanya menguburnya. Dan sekarang dia muncul lagi, bukan Akang-nya saja, tapi semua perasaan lama yang aku kira sudah mati."
"Jadi kau mencintainya?"
Sinox menunduk.
"Aku mencintai kenangan tentang dia, Mas. Aku mencintai sosok yang dulu menjadi tempatku bersandar. Aku mencintai masa mudaku yang tidak bisa aku ulang. Tapi apakah aku mencintai Akang yang sekarang, yang sudah tua, yang punya istri dan anak, yang tinggal di Kapuas? Aku tidak tahu, Mas. Aku butuh waktu untuk memisahkan antara cinta dan nostalgia."
"Aku bisa memberimu waktu," kata Mas Sarif. "Tapi jangan terlalu lama, Sin. Aku juga manusia. Aku juga punya batas. Aku bisa sabar, tapi tidak selamanya."
Sinox menangis.
Ia memeluk suaminya. Erat. Seerat mungkin.
"Terima kasih, Mas. Terima kasih untuk kesabaran Mas. Terima kasih karena Mas tidak pergi ketika aku paling menyakitkan. Terima kasih karena Mas masih di sini."
Mas Sarif membalas pelukan istrinya. Juga erat.
"Aku di sini, Sin. Aku tidak akan pergi. Tapi kau juga harus berusaha. Jangan hanya aku yang berjuang sendirian."
"Aku akan berusaha, Mas. Aku janji."
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, mereka tidur di ranjang yang sama.
Bukan sebagai suami istri yang saling mencintai sepenuhnya.
Tapi sebagai dua orang yang sedang berusaha, berusaha memperbaiki apa yang rusak, berusaha menyembuhkan apa yang luka, berusaha menemukan jalan pulang setelah tersesat begitu lama.
Dan di dalam gelap kamar itu, Mas Sarif berbisik pelan:
"Sin, aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu. Sekalipun kau mencintai laki-laki lain, aku tidak akan berhenti. Karena cintaku padamu bukan cinta yang mudah menyerah. Cintaku padamu adalah cinta yang bertahan, seburuk apa pun keadaannya."
Sinox tidak menjawab.
Ia hanya menangis dalam diam.
Karena kata-kata Mas Sarif, sederhana, tanpa puisi, tanpa retorika, menusuk hatinya lebih dalam daripada semua kata-kata indah yang pernah Akang ucapkan.
Kenapa aku baru menyadari sekarang, batin Sinox. Bahwa cinta sejati tidak selalu berbunga-bunga. Kadang cinta sejati adalah kesabaran seorang suami yang tetap bertahan meskipun istrinya hampir pergi.
Kenapa aku baru menyadari bahwa Mas Sarif, dengan segala kekurangannya, adalah laki-laki yang paling setia yang pernah aku kenal?
Dan kenapa aku hampir kehilangan dia karena kebodohanku sendiri?
Sinox memeluk suaminya lebih erat.
Maafkan aku, Mas. Maafkan aku karena hampir meninggalkanmu. Maafkan aku karena terlalu sibuk merindukan bayangan, sampai aku lupa bahwa kenyataan ada di sampingku.
Besok, aku akan mulai memperbaiki semuanya.
Besok, aku akan menjadi istri yang lebih baik.
Besok, aku akan melepaskan Akang.
Untuk selamanya.
Di Kapuas, Hal yang Hampir Sama
Malam yang sama.
Akang duduk di beranda rumah panggungnya. Di dalam, Setya Ningsih sudah tidur. Istrinya itu akhirnya mau tidur di kamar yang sama setelah seminggu tidur terpisah. Tapi jarak di antara mereka masih terasa. Setya membelakangi Akang saat tidur. Tangannya tidak lagi meraih tangan suaminya seperti dulu.
Akang memandang ponselnya. Pesan terakhir dari Sinox belum ia balas.
Sinox Yanti: Maafkan aku, Akang. Tapi ini untuk kebaikan kita semua. Aku harus melepaskanmu. Dan kau harus melepaskanku. Bukan karena kita tidak saling mencintai. Tapi karena cinta kita adalah racun bagi orang-orang di sekitar kita. Selamat malam. Jangan lupa baca doa sebelum tidur. Baca doa juga untukku. Agar aku bisa ikhlas.
Akang membaca pesan itu berulang kali.
Ia ingin membalas. Ingin mengatakan bahwa ia tidak rela. Ingin mengatakan bahwa ia tidak bisa melepaskan Sinox, tidak bisa hidup tanpa bayangannya.
Tapi ia sadar, Sinox benar.
Cinta mereka adalah racun.
Dan racun, seberapa manis pun rasanya, tetaplah racun. Ia akan membunuh perlahan-lahan. Membunuh kebahagiaan. Membunuh ketenangan. Membunuh rumah tangga yang sudah mereka bangun puluhan tahun.
Akang mengetik balasan:
Akang Riyadi: Aku ikhlas, Nox. Mungkin tidak sekarang. Mungkin butuh waktu. Tapi aku akan berusaha. Untukmu. Untuk istriku. Untuk anak-anak kita. Selamat malam. Semoga di surga kelak, kita bertemu tanpa batasan. Tanpa rasa bersalah. Tanpa tangisan.
Pesan itu terkirim.
Akang mematikan ponselnya.
Ia menatap langit malam Kapuas yang gelap, tanpa bintang. Angin gambut bertiup, membawa bau tanah asam dan dedaunan kering.
Apakah ini yang terbaik? pikirnya. Apakah melepaskan cinta adalah tindakan paling berani atau paling pengecut?
Ia tidak tahu.
Yang ia tahu, ia sudah berjanji pada Sinox akan berusaha.
Berusaha melupakan.
Berusaha ikhlas.
Berusaha menjadi suami yang baik untuk Setya Ningsih, ayah yang baik untuk anak-anaknya, dan manusia yang tidak lagi dihantui oleh masa lalu.
Ya Allah, tolong aku, doanya dalam hati. Tolong beri aku kekuatan untuk melepaskan. Tolong beri aku ketabahan untuk ikhlas. Tolong sembuhkan hatiku yang hancur karena cinta yang tidak halal.
Ia masuk ke dalam rumah.
Berbaring di samping Setya Ningsih.
Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, ia meraih tangan istrinya.
Setya terkejut. Ia setengah bangun, menatap suaminya dengan mata sayu.
"Mas... kenapa?"
"Tidak kenapa-kenapa, Ning. Aku hanya ingin memegang tanganmu. Seperti dulu."
Setya diam. Ia tidak melepaskan tangan suaminya.
Tapi ia juga tidak membalas genggaman itu.
Ia hanya diam. Membiarkan tangan suaminya menggenggam tangannya, tanpa perasaan.
Akang tahu, ia harus sabar. Ia tidak bisa memperbaiki semuanya dalam semalam. Keretakan yang terjadi tidak akan sembuh hanya dengan satu genggaman tangan. Diperlukan waktu. Diperlukan bukti. Diperlukan perubahan nyata yang bisa dilihat dan dirasakan.
Tapi setidaknya, ia sudah memulai.
Memulai langkah kecil menuju perbaikan.
Memulai perjalanan panjang untuk menjadi suami yang layak bagi Setya Ningsih.
Dan melupakan Sinox Yanti, sedikit demi sedikit, hari demi hari, doa demi doa.
Setelah Malam Itu
Sinox bangun keesokan harinya dengan tekad baru.
Ia tidak membuka ponsel begitu bangun tidur, seperti yang biasa ia lakukan akhir-akhir ini. Ia meninggalkan ponsel di kamar, pergi ke dapur, memasak sarapan untuk Mas Sarif dan Eko.
Mas Sarif yang baru turun dari kamar terkejut melihat istrinya sudah sibuk di dapur dengan senyum di wajahnya.
"Sin, tumben pagi-pagi sudah senyum?"
"Tidak boleh, Mas? Senyum gratis. Tidak bayar."
Mas Sarif tersenyum. Senyum pertama dalam beberapa minggu.
"Boleh. Malah aku seneng. Aku kangen lihat kamu senyum."
"Aku kangen lihat Mas senyum juga."
Mereka sarapan bersama. Seperti dulu. Tanpa ponsel di atas meja. Tanpa notifikasi yang mengganggu. Tanpa jarak di antara mereka.
Belum sempurna. Masih ada rasa canggung. Masih ada luka yang belum sembuh. Tapi setidaknya, mereka memulai.
Sinox meletakkan ponselnya di laci kamar. Ia tidak berniat membukanya sampai malam nanti, dan itupun hanya untuk keperluan kerja atau grup sekolah.
Ia sudah mengambil keputusan.
Ia akan melepaskan Akang.
Perlahan-lahan.
Bukan dengan marah atau drama.
Tapi dengan diam. Dengan jarak. Dengan kesadaran bahwa cinta tidak selalu berarti memiliki.
Dan di dalam dadanya, meskipun masih terasa perih, ada kelegaan kecil.
Kelegaan karena ia tidak lagi hidup dalam dua dunia.
Kelegaan karena ia akhirnya memilih, memilih Mas Sarif, memilih anak-anaknya, memilih rumah tangganya.
Kelegaan karena ia berhenti berlari dari kenyataan.
Mas Sarif merasa terabaikan.
Dan Sinox berjanji, tidak akan pernah membiarkan itu terjadi lagi.
BAB XI
Rahasia yang Terbongkar
Rahasia tidak pernah bisa bersembunyi selamanya.
Ia seperti air yang merembes melalui retakan dinding. Pada awalnya hanya setetes, hampir tidak terlihat, mudah diabaikan. Tapi lama-lamaan tetesan itu menjadi genangan, genangan itu menjadi aliran, dan aliran itu menjadi banjir yang menghancurkan semua bendungan yang dibuat dengan susah payah.
Akang dan Sinox telah berusaha menyembunyikan rahasia mereka.
Bukan karena mereka jahat. Tapi karena mereka tahu bahwa kebenaran akan melukai orang-orang yang mereka cintai.
Tapi kebenaran tidak peduli pada kelembutan.
Ia akan keluar pada waktu yang paling tidak terduga, dengan cara yang paling menyakitkan.
Tegorejo: Pagi yang Berubah Jadi Neraka
Hari Senin.
Sinox Yanti sedang mengajar di kelas VIII Mts Gringsing. Tiga puluh dua pasang mata murid menatapnya saat ia menerangkan pelajaran fiqih tentang taubat nasuha, taubat yang sebenar-benarnya taubat.
Ironi yang tidak ia sadari.
Jam menunjukkan pukul 09.15.
Seorang murid laki-laki di bangku belakang, Rizki, anak kepala desa, tiba-tiba mengangkat ponselnya. Wajahnya berubah pucat. Ia mencolek teman di sampingnya. Lalu teman itu mencolek yang lain. Dalam hitungan menit, bisik-bisik menjalar di seluruh kelas seperti api di lahan gambut di musim kemarau.
Sinox mendengar suara-suara aneh. Ia menoleh.
"Ada apa, anak-anak? Ada yang tidak jelas?"
Tidak ada yang menjawab. Tapi semua mata tertuju padanya. Bukan mata hormat seperti biasanya. Tapi mata yang penuh dengan rasa ingin tahu. Dengan rasa iba. Dengan rasa jijik yang samar-samar.
"Bu..." Rizki angkat tangan, suaranya bergetar. "Bu Sinox, lihat... lihat grup WhatsApp."
Sinox mengernyit. Ia meraih ponselnya dari meja guru.
Layar ponsel penuh dengan notifikasi.
Grup guru: Bu Sinox, ada video Ibu yang viral. Hati-hati.
Grup sekolah: Astagfirullah, ini Bu Sinox kita?
Nomor tidak dikenal: Dasar perempuan tak tahu malu.
Sinox membuka video yang dikirim oleh seseorang. Video pendek. Tiga puluh detik. Kualitas buruk, buram, seperti direkam dari balik pintu.
Tapi cukup jelas untuk melihat bahwa itu adalah dirinya. Wajahnya. Suaranya.
"Aku juga kangen kamu, Akang."
Kata-kata itu keluar dari mulutnya sendiri di video itu.
Ponsel Sinox jatuh.
Bukan jatuh ke lantai dengan suara berisik. Tapi jatuh ke lantai dengan bunyi klek yang ringan, tapi terasa seperti gempa bagi semua yang mendengarnya.
Sinox terdiam.
Matanya kosong.
Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar.
Dunia terasa berputar.
"Bu Sinox? Bu!" suara Rizki dari kejauhan.
Tapi Sinox tidak mendengar.
Yang ia dengar hanyalah suara jantungnya sendiri yang berdegup kencang, terlalu kencang, seperti akan meledak.
Halaman Sekolah: Konfrontasi Publik
Sinox tidak ingat bagaimana ia keluar dari kelas.
Yang ia ingat, kakinya berjalan sendiri. Menembus koridor yang tiba-tiba terasa begitu panjang. Guru-guru lain menatapnya dari balik pintu ruang kantor, ada yang iba, ada yang menghakimi, ada yang berpura-pura tidak melihat.
Pak Kepala Sekolah berdiri di depan ruangannya.
"Bu Sinox, ke ruang saya..."
Belum sempat kalimat itu selesai, suara teriakan dari halaman memotong.
"SINOX!"
Suara itu. Suara yang sangat ia kenali.
Mas Sarif.
Sinox berlari ke jendela koridor. Di halaman sekolah, Mas Sarif berdiri di samping sepeda motor bututnya. Ponsel di tangan. Wajah merah padam, bukan karena panas matahari.
Di belakangnya, beberapa orang tua murid mulai berkerumun. Seorang ibu-ibu mengeluarkan ponselnya, merekam. Yang lain berbisik-bisik dengan tangan menutup mulut.
Mas Sarif menatap lurus ke arah Sinox yang berdiri di jendela lantai dua.
"TURUN KAMU SEKARANG!" teriaknya.
Dua orang guru mencoba menenangkan. "Pak Sarif, ini sekolah. Anak-anak melihat..."
"BIAR! BIAR MEREKA LIAT! BIAR MEREKA TAHU IBU MEREKA SEPERTI APA!"
Sinox berjalan menuruni tangga. Kakinya terasa seperti kapas. Dadanya sesak. Dunia terasa tidak nyata.
Ia berdiri di depan suaminya. Jarak satu meter. Tapi terasa satu lautan.
"Mas..." bisiknya.
"Kamu lihat video itu?" Mas Sarif mengacungkan ponselnya.
"Iya, Mas."
"Kamu yang bicara? Kamu yang bilang 'aku kangen kamu' sama laki-laki lain?"
Sinox tidak bisa menjawab. Mulutnya terbuka, tapi kata-kata tidak keluar.
"JAWAB!" teriak Mas Sarif. Suaranya pecah. Air mata mulai mengalir di pipinya yang kasar, sesuatu yang tidak pernah Sinox lihat seumur hidup mereka bersama.
"Iya, Mas," bisik Sinox. "Aku yang bicara."
Mas Sarif terdiam.
Diam yang panjang.
Diam yang membunuh.
Lalu ia tertawa. Tertawa pahit yang membuat bulu kuduk Sinox meremang.
"20 tahun, Sin. 20 tahun kita nikah. Aku kuli sawah buat kamu. Aku keringat, aku lumpur, aku panas terik, aku hujan deras. Semua buat kamu. Buat anak-anak. Dan kamu..." suaranya putus, "kamu lebih milih laki-laki yang bahkan belum pernah kamu temuin secara fisik."
"Mas, aku..."
"DIAM!"
Mata Mas Sarif merah. Dadanya naik turun. Ia berjalan mendekat. Satu langkah. Dua langkah.
Seorang guru menghalangi. "Pak Sarif, jangan..."
"TIDAK USAH DIHALANGI! SAYA SUAMINYA! SAYA BERHAK!"
Sinox mundur satu langkah. Bukan karena takut dipukul, Mas Sarif tidak pernah memukulnya. Tapi karena takut dengan apa yang akan keluar dari mulut suaminya selanjutnya.
"Kamu pilih, Sin."
"Apa, Mas?"
"Sekarang. Di sini. Di depan semua orang." Mas Sarif menatap istrinya dengan mata yang penuh luka. "Aku atau dia. Keluarga kita atau masa lalumu."
Kerumunan di belakang semakin membesar. Beberapa orang tua murid mulai merekam. Guru-guru berusaha membubarkan, tapi tidak ada yang bisa.
Sinox menggigit bibirnya hingga berdarah.
"Mas... jangan di sini. Bukan di depan anak-anak..."
"KALAU KAMU TIDAK PADA BERANI MEMILIH DI DEPAN UMUM, BERARTI KAMU TIDAK SERIUS!"
Dunia Sinox runtuh.
Ia melihat ke arah kerumunan. Di antara orang-orang itu, ia melihat Eko. Anak bungsunya. Wajah pucat. Mata basah. Memegang tas sekolah yang tidak pernah ia buka karena pelajaran baru dimulai tiga puluh menit lalu.
Eko mendengar semuanya.
Anakku mendengar semuanya, pikir Sinox. Ya Allah, anakku mendengar ayahnya membentak ibunya di depan umum.
"Bu..." suara Eko pelan, nyaris tidak terdengar.
Sinox membuka mulut. Ingin mengatakan sesuatu. Ingin mengatakan bahwa ia memilih Mas Sarif. Ingin mengatakan bahwa ia menyesal. Ingin mengatakan bahwa ia akan berubah.
Tapi sebelum suara itu keluar...
Dunia terbalik.
Kepalanya terasa ringan. Telinganya berdengung. Bibirnya dingin.
Lalu gelap.
Pingsan
"BU SINOX!"
Teriakan Rizki dari lantai dua.
Teriakan Bu Rita, guru matematika yang berada paling dekat.
Teriakan Eko, "IBU!"
Sinox tidak merasakan apa pun.
Ia jatuh. Tubuhnya lemas. Kepalanya hampir membentur aspal jika Bu Rita tidak lebih cepat menangkapnya.
Mas Sarif yang tadi marah, tadi berteriak, tadi mengancam, kini berlari mendekat.
"Sin! Sin! Bangun! Jangan main-main!"
Ia memeluk istrinya. Kepala Sinox bersandar di dadanya. Wajahnya pucat seperti kertas. Bibirnya kebiruan. Matanya terpejam.
"SINOX!" Mas Sarif hampir menjerit.
Seorang guru yang punya mobil, Pak Bambang, berlari ke parkiran. "Bawa ke puskesmas! CEPAT!"
Mas Sarif menggendong istrinya. Tubuh Sinox terasa ringan. Terlalu ringan. Seperti ia membawa mayat.
Di dalam mobil, Eko duduk di samping ibunya, memegang tangan Sinox yang dingin.
"Ibu, bangun. Aku nggak marah lagi. Aku maafin Ibu. Bangun, Bu."
Mas Sarif yang duduk di depan, menunduk. Bahunya bergetar.
Pak Bambang melirik ke samping. "Tenang, Pak. Istrinya kuat."
"Saya nggak takut dia meninggal," bisik Mas Sarif. "Saya takut dia nggak bangun. Saya belum sempat maafin dia. Saya belum sempat bilang..."
Suaranya putus.
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Puskesmas Tegorejo
Dokter desa, seorang perempuan muda lulusan tugas belajar, memeriksa Sinox dengan saksama.
"Anemia berat. Tekanan darah rendah. Stres akut." Ia menatap Mas Sarif. "Bapak suami?"
"Iya, Dok."
"Maaf, saya harus bertanya. Apakah Ibu baru saja mengalami kejadian yang sangat mengganggu emosinya?"
Mas Sarif menunduk. "Iya, Dok."
Dokter itu menghela napas. Ia sudah mendengar video viral itu, seluruh desa sudah mendengar. Tapi ia memilih tidak ikut campur.
"Ibu perlu istirahat total. Tidak boleh stres. Tidak boleh memikirkan hal-hal yang berat. Kasih makan bergizi. Banyak minum air putih."
"Apakah dia... apakah dia akan sembuh, Dok?"
"Sembuh? Iya. Fisiknya akan sembuh. Tapi hatinya?" Dokter itu menatap Mas Sarif dengan mata yang tajam. "Itu tergantung Bapak."
Mas Sarif tidak menjawab.
Ia masuk ke ruangan tempat Sinox terbaring. Istrinya masih pucat. Matanya terpejam. Infus menempel di lengan kirinya.
Eko duduk di kursi di samping tempat tidur, masih memegang tangan ibunya.
"Pa," panggil Eko pelan.
"Iya, Nak."
"Apa Ibu akan baik-baik saja?"
Mas Sarif mengelus kepala anaknya. "Ibu akan baik-baik saja. Pa janji."
"Pa marah sama Ibu?"
Mas Sarif terdiam cukup lama.
"Awalnya Pa marah. Sangat marah. Tapi waktu Ibu jatuh tadi..." suaranya serak. "Pa sadar. Pa nggak rela kehilangan Ibu."
"Apa Pa masih sayang sama Ibu?"
Mas Sarif menatap wajah Sinox yang pucat. Wajah yang selama 20 tahun menemani tidurnya. Wajah yang memberinya tiga anak. Wajah yang, meskipun telah menyakiti hatinya, tidak bisa ia benci.
"Pa masih sayang, Nak. Pa mungkin bodoh karena masih sayang. Tapi Pa tidak bisa membohongi perasaan."
Eko menangis. Ia memeluk ayahnya.
Mereka berdua menangis di ruangan puskesmas yang sunyi, di samping Sinox yang masih belum sadarkan diri.
Kapuas: Badai yang Sama
Sementara tubuh Sinox terbaring lemah di Tegorejo, di Kapuas badai yang sama juga tengah menghancurkan.
Akang sedang berada di kantor desa ketika ponselnya bergetar. Bukan satu pesan, puluhan pesan. Dari nomor tidak dikenal. Dari teman. Dari keluarga.
Pak Sekdes, video Bapak viral.
Akang, kamu lihat video ini? Kamu yang di video itu?
Pak, istri Bapak sudah tahu belum?
Akang membuka salah satu video yang dikirim. Wajahnya sendiri. Suaranya sendiri.
"Kamu masih cantik, Nox."
"Aku juga kangen kamu, Akang."
Tangan Akang gemetar. Ponselnya hampir terjatuh.
Ia segera keluar dari kantor desa tanpa pamit. Mengendarai motor dengan kecepatan tinggi. Melesat melewati kebun karet yang mulai mengering karena kemarau.
Di rumah, Setya sudah menunggu.
Ia tidak duduk. Ia berdiri di ruang tamu, ponsel di tangan, wajahnya tidak bisa dibaca.
"Ning..."
"Kamu lihat ini?" Setya mengacungkan ponselnya.
"Aku bisa jelaskan..."
"Jelaskan? Jelaskan apa? Bahwa kamu video call dengan perempuan itu tengah malam? Bahwa kamu bilang dia cantik? Bahwa kamu bilang kangen?"
"Ning, aku..."
Setya tidak membiarkan Akang menyelesaikan kalimatnya.
Krek!
Piring di meja makan jatuh ke lantai. Diinjak? Dilempar? Akang tidak tahu. Yang ia tahu, pecahan piring berserakan di lantai.
Krek! Piring kedua.
Krek! Gelas.
Setya tidak berteriak. Ia hanya melempar. Satu per satu. Benda-benda di ruang tamu berhamburan. Bantal, majalah, gelas, piring, teko.
Dan di sela-sela itu, air mata mengalir di wajahnya.
"25 tahun, Mas," isaknya di sela-sela lemparan. "25 tahun aku jadi istri yang baik. Aku ikut Mas ke sini. Meninggalkan keluarga besarku di Jawa. Aku lahirkan tiga anak untuk Mas. Aku jaga rumah ini. Aku nggak pernah mengeluh meskipun hidup di lahan gambut nggak pernah mudah."
"Ning, aku tahu..."
"KAMU TIDAK TAHU!" Setya berteriak. Suaranya pecah. "Kamu tidak tahu rasanya tidur di samping suami yang hatinya pergi ke perempuan lain. Kamu tidak tahu rasanya melihat suami tersenyum sendiri di tengah malam sambil memegang ponsel. Kamu tidak tahu, Mas. Kamu tidak pernah tahu!"
Histeris.
Setya jatuh terduduk di lantai, di antara pecahan piring dan genangan air. Ia menangis. Bukan tangis biasa. Tangis yang keluar dari dasar hatinya yang paling dalam.
Akang mendekat. Ingin memeluknya.
"JANGAN SENTUH AKU!"
Akang berhenti.
"Aku benci Mas, Mas. Aku benci Mas karena Mas telah menghancurkan hidupku. Aku benci Mas karena Mas lebih memilih dia daripada aku. Aku benci Mas karena Mas tidak pernah cukup mencintaiku!"
Akang terdiam.
Ia tidak bisa marah. Karena semua yang dikatakan Setya adalah benar.
Raha dan Konfrontasi yang Tak Terhindarkan
Di tengah kekacauan itu, pintu kamar Raha terbuka.
Anak bungsu mereka berdiri di ambang pintu. Wajahnya pucat. Matanya merah. Ia sudah mendengar semuanya.
"Pa."
Akang menoleh. "Ra, kamu di rumah? Kamu tidak sekolah?"
Raha tidak menjawab pertanyaan itu. Ia berjalan pelan mendekati ayahnya. Tangannya memegang sesuatu, ponsel.
"Ra, ini bukan tempat..." Akang mencoba.
"Pa, aku yang merekam video itu."
Diam.
Diam yang paling sunyi.
Diam yang paling menyayat.
Setya berhenti menangis. Ia menatap putra bungsunya dengan mata yang tidak percaya.
"Kamu bilang apa, Ra?" suara Setya nyaris berbisik.
"Bu, aku yang merekam video itu. Malam itu, aku bangun, mau ke dapur ambil air. Pa lagi video call di beranda. Wajah Pa kelihatan seneng banget. Aku penasaran. Jadi aku rekam dari balik pintu."
"Kenapa kamu rekam?" tanya Setya, suaranya dingin.
"Aku iseng, Bu. Aku nggak tahu videonya bakal viral. Aku cuma kirim ke satu teman, buat nanya, 'Ini ayahku lagi video call sama siapa, ya?' Tapi temanku itu kirim lagi. Dan seterusnya. Aku nggak tahu, Bu. Aku nggak bermaksud..."
Suara Raha pecah. Ia mulai menangis.
"Aku minta maaf, Bu. Aku minta maaf, Pa. Aku nggak bermaksud jahat. Aku nggak tahu..."
Akang menatap anak bungsunya.
Ia ingin marah. Ingin membentak. Ingin mengatakan, "Kamu sudah menghancurkan keluarga ini!"
Tapi ia tidak bisa.
Karena ini bukan salah Raha.
Ini salahnya.
Dia yang memulai semuanya. Dia yang tidak bisa mengendalikan diri. Dia yang memegang ponsel itu tengah malam, bicara dengan perempuan yang bukan istrinya, berkata-kata yang tidak seharusnya ia ucapkan.
Raha hanyalah anak kecil yang penasaran.
Akang adalah orang dewasa yang seharusnya tahu batasan.
"Ra," panggil Akang pelan.
Raha mendongak. Wajahnya basah.
"Maafkan Bapak."
Raha terdiam. Ia tidak menyangka ayahnya akan meminta maaf.
"Bapak yang salah. Bapak yang memulai semuanya. Bapak yang tidak bisa menjaga diri. Kamu hanya anak-anak. Kamu tidak tahu konsekuensinya. Ini salah Bapak. Bukan salahmu."
"Pa..." Raha menangis lebih keras.
"Bapak minta maaf, Ra. Bapak sudah mengecewakan kalian. Bapak sudah membuat ibu menangis. Bapak sudah membuat keluarga ini hancur."
Akang berlutut. Ia meraih tangan Setya dan tangan Raha.
"Aku minta maaf. Aku tidak pantas kalian maafkan. Tapi aku berjanji. Aku akan berubah. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Tolong..." suaranya tersendat. "Tolong jangan tinggalkan aku."
Setya tidak menjawab.
Ia menarik tangannya dari genggaman Akang.
Lalu ia berdiri.
"Ra, masuk ke kamar. Kemasi barang-barangmu."
"Bu, mau ke mana?"
"Ke Jawa. Kita pergi ke rumah nenek. Sekarang."
"Ning, tolong..." Akang mencoba.
"JANGAN PAKSA AKU, MAS!"
Setya masuk ke kamar. Mulai mengemasi pakaian. Tanpa menangis. Tanpa bicara. Tanpa menoleh.
Raha berdiri di antara ayah dan ibunya. Ia bingung. Ia takut.
"Ra," panggil Akang. "Jaga ibu kamu di sana. Jaga adik sepupu. Jaga nenek. Bapak akan menjemput kalian setelah Bapak... setelah Bapak selesai membereskan semuanya di sini."
"Pa, apa Ibu akan kembali?"
Akang menatap anak bungsunya. Matanya berkaca-kaca.
"Bapak tidak tahu, Ra. Tapi Bapak akan berusaha."
Pintu kamar Setya terbuka. Ia keluar dengan koper di tangan. Raha di belakangnya.
Setya berjalan melewati Akang tanpa menatap.
"Kamu anter kami ke bandara atau kami naik taksi?"
"Ning, aku antar..."
"Hanya anter. Tidak lebih. Tidak ada pembicaraan. Tidak ada maaf-maafan. Hanya anter."
Pertemuan di Perbatasan
Di bandara, Setya dan Raha check in tanpa banyak bicara.
Akang hanya bisa berdiri di belakang, menatap punggung istri dan anak bungsunya.
Saat akan masuk ke ruang tunggu, Raha berbalik. Ia berlari kecil ke arah ayahnya.
"Pa."
"Ya, Ra."
Raha memeluk ayahnya. Cepat. Erat. Lalu melepas.
"Aku sayang Pa. Aku akan doain Pa."
Akang memeluk anaknya balik. Ia tidak mau melepaskan. Tapi waktu tidak bisa ditahan.
"Jaga ibu, Ra."
"Iya, Pa."
Raha berbalik. Berlari kecil kembali ke sisi ibunya. Setya tidak menoleh. Ia hanya menggandeng tangan Raha dan masuk ke ruang tunggu.
Akang berdiri di luar, menatap pintu kaca yang memisahkan mereka.
Hingga Setya dan Raha lenyap di antara kerumunan.
Ia baru menangis saat mobilnya keluar dari area bandara.
Ia menepi di pinggir jalan.
Mematikan mesin.
Membanting setir dengan tinjunya.
Satu kali. Dua kali. Tiga kali.
Dan menangis. Seperti anak kecil yang kehilangan segalanya.
Tegorejo: Setelah Pingsan
Sinox sadar setelah dua jam tidak sadarkan diri.
Matahari sudah meninggi. Sinar masuk melalui jendela puskesmas yang kusam. Bau antiseptik menusuk hidungnya.
Ia melihat Mas Sarif duduk di kursi di samping tempat tidurnya. Laki-laki itu tertidur, atau pura-pura tertidur. Tangan kanannya masih memegang tangan Sinox, bahkan dalam tidurnya.
Eko sudah tidak ada. Mungkin disuruh pulang, atau mungkin pergi sendiri.
Sinox menatap suaminya.
Wajah Mas Sarif letih. Kerutan di dahinya semakin dalam. Rambutnya yang mulai memutih terlihat lebih banyak dari biasanya. Atau mungkin Sinox yang baru sadar sekarang.
Laki-laki ini, pikir Sinox. Dia marah padaku. Dia membentakku di depan umum. Dia hampir membenciku. Tapi dia masih di sini. Dia tidak meninggalkanku.
Marahnya bukan karena benci. Marahnya karena sakit. Sakit karena dikhianati oleh orang yang paling ia percaya.
Sinox menggerakkan tangannya. Pelan.
Mas Sarif terbangun.
"Sin? Kamu sadar? Ada yang sakit? Mau minum?"
"Mas," bisik Sinox, suaranya serak. "Aku minta maaf."
Mas Sarif terdiam.
"Ini bukan saatnya minta maaf," katanya akhirnya. "Ini saatnya sembuh."
"Tapi Mas, aku..."
"Sudah, Sin. Jangan bicara dulu. Kamu masih lemah. Nanti kalau sudah pulang, kita bicara. Tapi sekarang, istirahat."
Mas Sarif membetulkan selimut yang menutupi tubuh Sinox.
Gerakannya hati-hati. Lembut. Seperti ia merawat sesuatu yang paling berharga di dunia.
Sinox menangis.
"Kamu kenapa nangis lagi?" tanya Mas Sarif setengah kesal.
"Aku nggak pantas diperlakukan baik sama Mas."
"Memangnya aku yang baik?" Mas Sarif menghela napas. "Aku juga marah. Aku juga kecewa. Tapi marah dan kecewa tidak akan membuat kamu sehat. Nanti kalau kamu sudah sehat, kita urus semuanya."
"Mas akan tinggalkan aku?"
Mas Sarif menatap istrinya.
"Kamu mau aku tinggalkan?"
"Aku nggak mau."
"Ya sudah. Aku tidak akan meninggalkanmu. Tapi kamu juga harus berusaha. Jangan hanya aku yang berjuang."
Sinox mengangguk. Air mata masih mengalir, tapi kali ini bukan air mata kesedihan.
Air mata lega.
Kapuas: Malam Sepi
Akang pulang ke rumah yang sunyi.
Pecahan piring dan gelas sudah ia bersihkan. Tapi rumah tetap terasa berantakan, bukan secara fisik, tapi secara emosional.
Ia duduk di beranda.
Ponselnya bergetar.
Sebuah pesan dari nomor tidak dikenal.
Pak Akang, saya Mas Sarif. Saya tahu Bapak juga sedang menderita. Tapi saya ingin Bapak tahu, istri saya pingsan hari ini. Di sekolah. Di depan anak-anak. Saya hampir kehilangan dia. Saya tidak ingin itu terjadi pada Bapak juga. Jaga diri Bapak. Jaga keluarga Bapak.
Akang membaca pesan itu berkali-kali.
Ia tidak pernah bertemu Mas Sarif secara langsung.
Tapi pesan ini, pesan dari seorang suami yang hatinya terluka, terasa seperti tamparan sekaligus pelukan.
Ia membalas.
Pak Sarif, saya minta maaf. Saya tidak tahu harus bilang apa selain maaf. Saya berjanji tidak akan menghubungi Sinox lagi. Saya berjanji akan fokus pada keluarga saya. Tolong jaga Sinox. Jaga anak-anak Bapak. Saya akan mendoakan semuanya dari sini.
Balasan dari Mas Sarif hanya satu kalimat.
Saya sudah memaafkan Bapak. Sekarang Bapak harus memaafkan diri Bapak sendiri.
Akang menangis.
Ia menangis untuk Sinox yang terbaring lemah.
Ia menangis untuk Setya yang pergi ke Jawa.
Ia menangis untuk Raha yang hancur karena perbuatannya.
Dan ia menangis untuk dirinya sendiri, laki-laki tua yang baru sadar bahwa ia hampir kehilangan segalanya.
Seminggu Kemudian
Sinox sudah boleh pulang.
Mas Sarif membawanya dari puskesmas dengan hati-hati. Eko berjalan di samping, masih diam, tapi sesekali menatap ibunya dengan mata yang tidak lagi penuh amarah.
Di rumah, Lina sudah menunggu. Ia datang dari kota setelah mendengar kabar.
Rahman juga datang dari pesantren, dengan izin khusus dari kiai-nya.
Sinox dipapah ke tempat tidur. Lina menyiapkan bubur. Rahman membaca doa. Eko mengambil air minum.
Mas Sarif berdiri di pintu kamar, menatap anak-anaknya yang begitu dewasa, begitu peduli, meskipun hati mereka mungkin juga terluka.
"Ini keluarga kita, Sin," kata Mas Sarif pelan. "Mereka yang akan tetap di sini, tidak peduli apa yang terjadi. Jangan sia-siakan mereka."
Sinox menatap satu per satu wajah anak-anaknya. Lina yang tegar. Rahman yang tenang. Eko yang mulai tersenyum meskipun masih canggung.
"Aku sayang kalian," bisik Sinox. "Maafkan Ibu."
Lina memeluk ibunya. Rahman dan Eko menyusul.
Mas Sarif hanya tersenyum dari kejauhan.
Air mata jatuh di pipinya.
Tapi kali ini, air mata haru.
Di Kapuas, Panggilan Panjang
Malam itu, setelah dua hari tidak berkomunikasi, Akang akhirnya menelepon Setya.
"Ning."
"Mas."
"Kamu baik-baik saja di sana?"
"Raha baik. Ibu juga baik. Saya baik-baik saja."
"Kapan kamu pulang?"
"Tidak tahu, Mas. Saya masih butuh waktu."
"Ning, aku minta maaf."
"Maaf Mas sudah sering saya dengar. Saya tidak butuh maaf."
"Kamu butuh apa?"
Setya diam cukup lama.
"Saya butuh Mas membuktikan bahwa Mas bisa berubah. Bukan dengan kata-kata. Tapi dengan tindakan. Jangan cuma janji."
"Aku akan buktikan, Ning."
"Kita lihat saja, Mas. Saya tidak bisa janji akan percaya begitu saja."
"Ning, aku sayang kamu."
"Iya, Mas. Aku juga sayang Mas. Tapi sayang saja tidak cukup."
Panggilan itu berakhir.
Akang masih memegang ponsel di telinganya, meskipun panggilan sudah terputus.
Ia berjalan ke masjid desa.
Salat Isya berjamaah.
Lalu ia duduk di serambi masjid, sendirian, menunggu waktu yang mustajab untuk berdoa.
Ya Allah, doanya dalam hati. Aku telah jatuh. Aku telah hancur. Aku hampir kehilangan semua yang aku cintai. Tapi Engkau masih memberiku kesempatan. Tolong jangan cabut kesempatan itu. Aku akan berubah. Aku berjanji. Amin.
Setelah Badai
Butuh waktu bagi semua orang untuk pulih.
Mas Sarif masih sesekali meledak. Tapi tidak di depan umum. Tidak di depan anak-anak. Hanya di kamar, saat mereka berdua, saat ia tidak bisa menahan sakit yang masih menganga di dadanya.
Sinox sabar mendengarkan. Tidak membantah. Tidak menangis. Hanya mendengar.
Setelah Mas Sarif selesai meluapkan kekesalannya, ia biasanya diam. Lalu memeluk Sinox.
"Maaf, Sin. Aku masih sakit."
"Tidak apa-apa, Mas. Aku sabar."
"Apa kamu masih sayang aku?"
Sinox menatap mata suaminya. Mata yang lelah. Mata yang penuh luka.
"Aku sayang Mas, Mas. Lebih dari yang Mas kira."
"Kalau sayang, buktikan."
"Aku akan buktikan, Mas. Seumur hidupku."
Di Kapuas, Setya masih di Jawa. Raha mulai bersekolah di sana, sementara, sampai situasi membaik.
Akang setiap hari mengirim pesan. Tidak panjang. Hanya kabar. Hanya doa.
Ning, sawah sudah mulai tanam.
Ning, Raha dapat kabar dari sekolahnya di sini. Katanya nilai bagus.
Ning, aku belajar masak. Masih gagal. Tapi aku tidak menyerah.
Setya membaca pesan-pesan itu.
Ia tidak membalas setiap hari.
Tapi sesekali, ia membalas.
Iya, Mas.
Terima kasih, Mas.
Sabar, ya, Mas. Saya masih di sini.
Akang menangis setiap kali mendapat balasan singkat itu.
Bukan tangis sedih.
Tangis haru.
Karena Setya masih di sana.
Masih memberinya kesempatan.
Meskipun ia tidak pantas.
Rahasia telah terbongkar.
Tidak ada yang bisa mengembalikan waktu ke saat sebelum video itu viral.
Tapi yang bisa mereka lakukan adalah bangkit dari reruntuhan.
Memperbaiki apa yang rusak.
Menyembuhkan apa yang luka.
Dengan sabar. Dengan doa. Dengan komitmen untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Sinox belajar bahwa cinta masa lalu tidak harus dihidupkan. Cukup dikenang, lalu dilepaskan.
Akang belajar bahwa kebahagiaan sejati tidak datang dari mengejar bayangan. Tapi dari mensyukuri apa yang sudah ada.
Setya belajar bahwa memaafkan tidak berarti melupakan. Tapi memilih untuk tidak terus tenggelam dalam luka.
Mas Sarif belajar bahwa kemarahan tidak akan menyembuhkan apa pun. Yang bisa menyembuhkan adalah waktu, kesabaran, dan cinta yang bertahan meskipun terluka.
Dan anak-anak mereka belajar bahwa orang tua juga manusia. Bisa salah. Bisa jatuh. Tapi bisa juga bangkit.
Rahasia telah terbongkar.
Tapi di balik reruntuhan itu, sesuatu yang baru mulai dibangun.
Bukan istana yang megah. Bukan rumah yang sempurna.
Tapi rumah yang lebih kuat.
Karena fondasinya bukan lagi ilusi.
Tapi kenyataan.
Kenyataan bahwa cinta sejati tidak selalu tentang memiliki.
Tapi tentang memilih untuk bertahan.
Meskipun badai.
Meskipun luka.
Meskipun segalanya.
BAB XII
Badai di Rumah Tangga: Pertengkaran, Fitnah, dan Guncangan
Ada pertengkaran yang lahir dari kesalahpahaman. Ada yang lahir dari perbedaan pendapat. Dan ada yang lahir dari luka yang sudah terlalu lama dipendam, lalu meledak pada saat yang paling tidak terduga, bukan karena ingin menyakiti, tapi karena sudah tidak sanggup menahan sakitnya sendiri.
Pertengkaran pertama antara Mas Sarif dan Sinox bukan tentang hal besar. Bukan tentang video viral, bukan tentang Akang Riyadi, bukan tentang perselingkuhan emosional yang sudah menjadi konsumsi publik.
Pertengkaran pertama mereka terjadi karena hal sepele: nasi goreng.
Tapi nasi goreng hanyalah pemicu. Yang sebenarnya bertengkar di belakang nasi goreng itu adalah luka yang menganga, kekecewaan yang tidak terucap, dan rasa sakit yang selama berminggu-minggu dipendam oleh dua orang yang saling mencintai tapi tidak tahu bagaimana cara menyembuhkan satu sama lain.
Dan ketika pertengkaran itu akhirnya meledak, tidak ada yang selamat.
Kata-kata terlontar yang tidak seharusnya terlontar. Air mata jatuh yang tidak seharusnya jatuh. Dan rumah yang dulu hangat berubah menjadi medan perang yang sunyi, di mana setiap sudutnya dipenuhi oleh sisa-sisa amarah yang tidak bisa dibersihkan hanya dengan sapu dan pel.
Tegorejo: Sore yang Panas
Tiga hari setelah video itu viral.
Sore itu panas sekali. Matahari menyengat tanpa ampun. Sinox baru pulang dari mengajar. Badannya pegal, kepalanya pusing, dan hatinya tidak karuan. Selama tiga hari, rumahnya terasa seperti kuburan. Mas Sarif tidak bicara padanya. Eko juga tidak bicara padanya, anak bungsunya itu lebih memilih diam di kamar daripada harus berhadapan dengan ibunya yang sekarang menjadi bahan gunjingan di sekolah.
Sinox masuk ke dapur. Ia membuka kulkas. Hanya ada sedikit telur, nasi sisa semalam, dua batang daun bawang, dan setengah bungkus kecap manis.
Nasi goreng saja, pikirnya. Cepat dan tidak ribet.
Ia mulai memasak. Tidak ada bawang merah dan bawang putih, stok habis sejak dua hari lalu. Nasi goreng itu matang dalam sepuluh menit. Sinox menyajikannya di piring, lalu meletakkannya di atas meja makan.
"Mas, Eko, makan!" teriaknya dari dapur.
Eko keluar dari kamar. Ia duduk di kursi, menatap nasi goreng di depannya tanpa nafsu.
"Kenapa, Nak? Tidak suka nasi goreng?" tanya Sinox.
Eko tidak menjawab. Ia hanya mengambil sendok, menyuap sedikit, lalu meletakkan sendoknya kembali.
"Nak, makanlah. Nanti kenyang."
"Aku tidak lapar, Bu."
"Kamu harus makan. Kamu masih sekolah. Butuh energi."
"Energi untuk apa?" Eko menatap ibunya. Matanya merah, seperti orang yang menahan tangis. "Biar teman-temanku makin ramai mengejekku? Biar mereka bilang, 'Eh, itu anaknya Bu Sinox yang video call mesraan sama laki-laki lain'?"
Sinox terdiam. Dadanya terasa ditusuk ratusan jarum.
"Nak, Ibu minta maaf..."
"Maaf Bu tidak akan mengembalikan nama baikku di sekolah!" potong Eko. Suaranya meninggi. "Teman-temanku sudah tahu, Bu. Semua sudah tahu. Bahkan guru-guru juga sudah tahu. Mereka lihat aku dengan tatapan aneh. Mereka bisik-bisik di belakangku. Dan aku, aku tidak bisa berbuat apa-apa selain diam, karena apa yang mereka katakan itu benar. Ibu memang mesraan dengan laki-laki lain!"
Sinox menangis. Tangis yang pecah tanpa bisa dibendung lagi.
"Ibu tidak pernah bermaksud apa-apa! Ibu hanya memikirkan Ibu sendiri! Ibu tidak pernah memikirkan perasaan aku! Perasaan Bapak! Perasaan kakak-kakakku!"
Eko mendorong kursinya ke belakang. Ia berdiri, berlari ke kamar, dan membanting pintu dengan keras.
Gedebuk.
Rumah itu berguncang. Hati Sinox juga berguncang.
Ia menunduk. Air mata jatuh ke piring nasi goreng yang masih utuh.
Anakku sendiri membenciku, pikir Sinox. Anakku sendiri malu menjadi anakku. Apa yang telah aku lakukan?
Pukulan Pertama
Mas Sarif pulang setengah jam kemudian.
Ia tidak bicara. Masuk ke rumah, berjalan ke kamar mandi, membersihkan diri dari lumpur sawah. Lalu duduk di ruang tamu, menyalakan televisi, menonton berita tanpa benar-benar melihatnya.
Sinox menyiapkan piring untuk suaminya. Nasi goreng yang sama, mungkin agak dingin.
"Mas, makan dulu," kata Sinox pelan.
Mas Sarif menatap piring itu. Lalu menatap Sinox.
"Nasi goreng?" tanyanya.
"Iya, Mas. Maaf, stok habis. Jadi cuma ini yang bisa aku buat."
"Tanpa bawang? Tanpa sawi? Tanpa wortel?"
"Iya, Mas. Aku tidak sempat ke pasar."
Mas Sarif tidak mengambil sendok. Ia hanya menatap piring itu dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Sin, dulu," katanya akhirnya, suaranya pelan tapi dingin, "sebelum semua ini terjadi, kau selalu masak dengan penuh cinta. Nasi gorengmu selalu pakai bawang, pakai sayuran, pakai telur ceplok di atasnya. Sekarang, kau masak seenaknya. Seperti kau tidak peduli lagi. Seperti aku tidak penting lagi."
"Mas, tidak seperti itu..."
"Lalu bagaimana?" Mas Sarif menatap istrinya. Matanya tajam. "Kau sibuk dengan ponselmu. Sibuk dengan laki-laki itu. Sampai-sampai kau lupa bahwa suamimu butuh makan yang layak. Kau lupa bahwa anakmu butuh perhatian. Kau lupa bahwa kau punya keluarga yang harus kau jaga."
"Aku tidak lupa, Mas!"
"Buktinya?" Mas Sarif berdiri. Suaranya mulai meninggi. "Buktinya di mana? Selama dua bulan terakhir, kau hanya sibuk dengan dia. Chat-an tengah malam, video call, curhat-curhatan, nangis-nangis. Aku di sini, di depan matamu, tapi kau tidak pernah melihat aku! Aku hanya bayangan! Aku hanya orang asing yang tinggal di rumahmu!"
"Mas Sarif, tolong..."
"Tolong apa? Tolong dimengerti? Tolong dimaafkan? Sinox, aku sudah berusaha mengerti. Aku sudah berusaha sabar. Aku sudah berusaha memberi ruang. Tapi lihat hasilnya! Videomu viral! Seluruh desa tahu! Anakku malu pergi ke sekolah! Aku malu pergi ke sawah karena tetangga-tetangga saling berbisik di belakangku!"
"Aku minta maaf, Mas!"
"Maaf? Maaf tidak cukup!" Mas Sarif hampir berteriak. "Kau tidak tahu rasanya menjadi suami yang istrinya lebih memilih laki-laki lain. Kau tidak tahu rasanya tidur di samping perempuan yang hatinya sudah pergi ke tempat lain. Kau tidak tahu, Sinox! Kau tidak pernah tahu!"
Sinox jatuh terduduk di kursi. Ia tidak bisa menjawab. Tidak bisa membela diri. Karena Mas Sarif benar. Setiap kata yang keluar dari mulut suaminya adalah kebenaran yang telanjang.
"Aku sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi, Sin," kata Mas Sarif, suaranya kini pecah. Air mata mulai mengalir di pipinya yang kasar. "Aku mencintaimu. Tapi mencintaimu sekarang rasanya seperti memegang bara api. Sakit. Tapi aku tidak bisa melepaskannya karena takut kehilangan. Tapi memegangnya terus juga membunuhku perlahan-lahan."
Sinox berdiri. Ia berjalan mendekati suaminya. Ingin memeluknya. Ingin mengatakan bahwa ia akan berubah.
Tapi sebelum ia sempat melangkah, Mas Sarif mengangkat tangan.
"Jangan," katanya. "Jangan mendekat. Aku takut. Jika kau mendekat, aku bisa memaafkanmu. Dan aku belum siap memaafkanmu. Aku masih sakit. Aku masih marah."
Mas Sarif berbalik. Ia berjalan ke kamar, mengambil bantal dan selimut, lalu kembali ke ruang tamu.
"Malam ini aku tidur di sini lagi. Jangan ganggu aku. Aku butuh sendiri."
Sinox hanya bisa berdiri di dapur, memandangi punggung suaminya yang membungkuk, dan menangis tanpa suara.
Ini pertengkaran pertama mereka setelah video itu viral. Tapi Sinox tahu, ini bukan yang terakhir.
Kapuas: Jauh Lebih Panas
Jika di Tegorejo pertengkaran masih bisa ditahan di ranah privat, di Kapuas pertengkaran justru terjadi di depan umum.
Minggu pagi. Akang pergi ke pasar bersama Setya, rutinitas mereka selama puluhan tahun. Tapi pagi itu, suasana berbeda. Setya berjalan cepat di depan Akang, tidak menunggu, tidak menggandeng tangan seperti biasanya.
Di pasar, seorang tetangga menyapa dengan nada yang sedikit aneh.
"Bu Setya, dengar-dengar suami Ibu dekat dengan perempuan di Jawa ya? Sampai video call-an?"
Setya berhenti melangkah. Ia menoleh.
"Maaf, Bu. Itu urusan keluarga saya. Saya tidak perlu cerita pada orang lain."
"Ah, Bu Setya, jangan marah. Saya hanya bertanya. Katanya videonya sudah viral. Sampai di grup WhatsApp arisan saya juga ada."
Setya tidak menjawab. Ia hanya melangkah lebih cepat, meninggalkan Akang dengan perasaan malu yang luar biasa.
Di rumah, Setya membanting pintu.
"Ning, kenapa kamu marah di pasar? Itu kan cuma Bu RT yang kepo."
Setya menoleh. Matanya merah. Wajahnya pucat.
"Jawab baik-baik? Mas lihat sendiri, semua orang sudah tahu. Tidak ada lagi privasi. Tidak ada lagi rahasia. Semua orang tahu bahwa suami saya selingkuh!"
"Aku tidak selingkuh secara fisik..."
"Tapi secara emosional, Mas selingkuh! Dan itu sama saja!" Setya hampir berteriak. "Dulu, saat aku pertama kali curiga, aku masih bisa berpura-pura. Tapi sekarang? Sekarang semua orang sudah tahu. Aku hanya bahan tertawaan. Istri yang suaminya lebih memilih perempuan lain!"
Setya mengambil piring dari meja makan. Ia membantingnya ke lantai.
Krek!
"Aku benci Mas!" teriak Setya. "Aku benci Mas karena Mas telah menghancurkan hidupku! Aku benci Mas karena Mas lebih memilih perempuan itu daripada aku!"
Akang terdiam. Ia tidak pernah melihat Setya seperti ini.
"Maaf tidak akan mengembalikan piring ini!" Setya mengambil piring lain, membantingnya lagi. "Maaf tidak akan mengembalikan rasa hormatku pada Mas!"
Setya jatuh terduduk di lantai, di antara pecahan piring. Ia menangis, bukan tangis pilu, tapi tangis histeris.
"Aku ingin pulang, Mas. Aku ingin ke Jawa. Aku ingin bertemu ibuku. Aku tidak betah lagi di rumah ini. Aku tidak betah lagi melihat wajah Mas."
Akang tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya duduk di samping istrinya, di antara pecahan piring, dan menangis bersama.
Ini pertengkaran pertama mereka setelah video itu viral. Dan Akang tahu, hubungan mereka mungkin tidak akan pernah sama lagi.
Pecahan
Sinox dan Mas Sarif tidak bicara selama dua hari setelah pertengkaran itu.
Mereka tinggal serumah, tapi seperti dua orang asing yang tidak saling mengenal. Mas Sarif berangkat ke sawah pagi-pagi, pulang sore hari, makan malam sendiri, lalu tidur di ruang tamu. Sinox mengajar, pulang, memasak untuk Eko (yang juga tidak mau bicara padanya), lalu berbaring di kamar sambil menatap langit-langit.
Ponselnya sudah ia matikan sejak video itu viral.
Ia hanya ingin sendiri.
Tapi sendiri juga menyakitkan. Karena saat sendiri, ia tidak bisa lari dari bayangannya sendiri.
Aku telah menghancurkan rumah tanggaku, pikir Sinox. Dengan tanganku sendiri. Dengan keputusanku sendiri. Dengan cinta masa laluku yang tidak pernah bisa kulepaskan.
Dan sekarang, tidak ada yang tersisa selain pecahan.
Pecahan piring yang dibanting Setya Ningsih di Kapuas.
Pecahan hati Mas Sarif yang ia tinggalkan di ruang tamu setiap malam.
Pecahan kepercayaan Eko yang hancur berkeping-keping.
Pecahan air mata yang tak terhitung jumlahnya.
Pecahan. Hanya pecahan.
Senja yang Menyendiri
Hari keempat setelah pertengkaran, Sinox duduk di beranda belakang rumahnya. Senja mulai turun, langit berwarna jingga kemerahan.
Ia memandangi sawah di belakang rumah. Padi mulai menguning, tanda panen akan segera tiba. Tapi Sinox tidak merasa senang. Biasanya, menjelang panen, ia dan Mas Sarif sibuk mempersiapkan segalanya. Tahun ini, tidak ada persiapan. Karena Mas Sarif tidak lagi melibatkannya.
"Bu."
Sinox menoleh. Eko berdiri di belakangnya, wajah masih cemberut, tapi matanya tidak lagi setajam sebelumnya.
"Iya, Nak?"
"Aku minta maaf."
Sinox terkejut. "Maaf? Kenapa kamu minta maaf?"
"Karena aku membentak Ibu kemarin. Karena aku bilang aku malu punya ibu seperti Ibu. Itu tidak sopan. Itu menyakiti hati Ibu."
Sinox menangis. "Nak, Ibu yang seharusnya minta maaf. Ibu yang telah membuatmu malu di sekolah."
Eko duduk di samping ibunya. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, ia mendekati Sinox tanpa rasa jijik atau marah.
"Bu, aku masih sayang sama Ibu. Aku marah, iya. Aku kecewa, iya. Tapi aku tidak bisa berhenti sayang sama Ibu. Ibu tetap ibuku. Dan aku tidak punya ibu lain."
Sinox memeluk anaknya. Erat. Seerat mungkin.
"Maafkan Ibu, Nak. Ibu akan berusaha menjadi ibu yang lebih baik. Ibu akan berusaha memperbaiki semuanya."
"Ibu janji tidak akan mengulanginya lagi?"
"Ibu janji."
Eko mengangguk. Ia memeluk ibunya balik.
Mereka berdua duduk di beranda belakang, memandangi senja yang semakin gelap, dan membiarkan waktu berjalan perlahan.
Tidak ada kata-kata indah. Tidak ada janji manis. Hanya pelukan. Dan harapan.
Harapan bahwa besok akan lebih baik dari hari ini. Harapan bahwa pecahan-pecahan itu suatu saat akan bisa direkatkan kembali. Meskipun mungkin tidak akan pernah kembali utuh seperti sedia kala.
Setidaknya, mereka masih berusaha.
Dan usaha, meskipun kecil, adalah awal dari segalanya.
Fitnah dan Gunjingan
Ketika rahasia telah terbongkar, ia tidak lagi menjadi milikmu. Ia menjadi milik semua orang. Setiap mulut berhak mengunyahnya, setiap lidah berhak mencicipinya, setiap telinga berhak menikmatinya, tanpa peduli apakah itu benar, apakah itu adil, atau apakah itu akan membunuh seseorang perlahan-lahan.
Di Tegorejo, tidak ada yang benar-benar anonim. Setiap orang tahu siapa tetangganya, apa pekerjaannya, siapa anaknya, dan paling penting, apa dosa-dosanya.
Warung kopi milik Pak Darmo adalah pusat informasi desa. Hari itu, topiknya hanya satu: Sinox Yanti.
"Kalian sudah lihat videonya?" tanya Pak RT.
"Sudah. Siapa yang belum?" sahut Pak Karto. "Viral di WhatsApp. Sampai di grup keluarga saya juga ada."
"Kasihan Mas Sarif," timpal Pak Darmo. "Orang baik. Rajin ke sawah. Tapi istrinya kok begitu."
"Wanita itu memang kurang ajar," kata Pak Karto. "Sudah diberi suami baik, masih saja mencari laki-laki lain."
"Kata orang, laki-lakinya itu di Kapuas," tambah Pak RT. "Namanya Akang Riyadi. Katanya juga sudah beristri. Jadi selingkuh dua-duanya."
"Jangan buru-buru menghakimi," potong Pak Lik Salim, mantan guru pensiunan yang terkenal bijak. "Kita tidak tahu latar belakangnya. Bisa jadi mereka hanya teman lama yang kangen-kangenan."
"Tapi videonya jelas, Pak Lik," bantah Pak RT. "Mereka bilang 'kangen' dan 'aku mencintaimu'. Itu bukan omongan teman biasa."
"Ya, itu salah," Pak Lik Salim mengakui. "Mereka seharusnya lebih menjaga diri. Tapi kita juga tidak boleh main hakim sendiri. Yang penting mereka bertobat dan memperbaiki diri."
Beberapa orang tertawa, tawa sinis yang menusuk.
Pak Lik Salim menggeleng. Manusia memang kejam, pikirnya. Mereka tidak pernah sadar bahwa hari ini mereka menghakimi orang lain, besok bisa jadi mereka sendiri yang dihakimi.
Sekolah dan Pasar: Dua Dunia yang Menghakimi
Sehari setelah video itu viral, kepala sekolah Mts Gringsing memanggil Sinox.
"Bu Sinox, saya panggil Ibu karena video Ibu sudah sampai ke tangan orang tua murid. Beberapa orang tua komplain. Mereka khawatir anak-anak mereka diajar oleh guru yang bermasalah."
Sinox menunduk. "Apa yang harus saya lakukan, Pak?"
Kepala sekolah menghela napas. "Saya tidak akan memecat Ibu. Tapi untuk sementara, saya minta Ibu tidak mengajar dulu. Istirahatlah di rumah. Sampai gunjingan ini reda."
Sinox menggigit bibirnya. "Baik, Pak. Saya terima."
Di gerbang sekolah, seorang ibu-ibu berdiri menunggunya. Bu Tuti, orang tua murid yang terkenal sengit.
"Saya minta anak saya dipindahkan dari kelas Ibu. Saya tidak mau anak saya diajar oleh guru yang videonya viral kayak gitu."
"Bu Tuti, masalah pribadi saya tidak ada hubungannya dengan kemampuan saya mengajar..."
"Tapi itu mencerminkan moral Ibu! Guru itu panutan! Kalau gurunya saja selingkuh, bagaimana anak-anak akan menghormati institusi pernikahan?"
Beberapa orang tua lain mulai berkumpul di belakang Bu Tuti. "Iya, Bu Sinox! Anak saya juga minta pindah kelas!"
Sinox menunduk. Ia tidak mau menangis di depan mereka. Ia hanya berjalan, masuk ke mobil bututnya, dan di sanalah ia menangis sejadi-jadinya.
Di Kapuas, nasib Akang tidak lebih baik.
Di pasar, ia disambut oleh tatapan aneh dari para pedagang. Beberapa berani menyapa dengan nada menyindir.
"Pak Sekretaris, tumben belanja sendiri. Biasanya kan sama Bu Setya. Apa karena ada yang lebih muda?"
Akang tidak menjawab. Ia hanya mengambil sayuran yang ia beli, membayar, lalu berjalan cepat.
"Itu laki-laki yang videonya viral, ya?" bisik seorang ibu-ibu.
"Iya, Bu. Itu dia. Selingkuh sama perempuan di Jawa. Sampai istrinya kabur."
"Astaga, sudah tua masih begitu. Tidak punya malu."
Akang mendengar semuanya. Setiap bisikan. Setiap tawa sinis.
Di tengah pasar, ia berhenti. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Ya Allah, apa yang telah aku lakukan? doanya dalam hati. Aku telah menjadi aib bagi diriku sendiri, bagi istriku, bagi anak-anakku.
Ia berjalan cepat meninggalkan pasar. Pulang ke rumah. Mengunci pintu. Duduk di sudut ruangan. Dan menangis.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Akang Riyadi, laki-laki yang dulu tegar seperti batu karang, merasa hancur berkeping-keping.
Fitnah vs Fakta
Yang paling menyakitkan dari gunjingan adalah ia tidak selalu didasarkan pada fakta. Kadang, ia lahir dari imajinasi liar orang-orang yang terlalu banyak waktu luang.
"Katanya, Bu Sinox sudah berulang kali bertemu dengan laki-laki itu di hotel."
Padahal fakta: Sinox dan Akang belum pernah bertemu secara fisik sama sekali.
"Katanya, laki-laki itu sudah mengirim uang puluhan juta untuk Bu Sinox."
Padahal fakta: Akang tidak pernah mengirim uang sepeser pun pada Sinox.
"Katanya, suami Bu Sinox sudah minta cerai. Tinggal tunggu sidang."
Padahal fakta: Mas Sarif belum pernah mengucapkan kata cerai.
"Katanya, istri laki-laki itu sudah menggugat cerai dan minta hak asuh anak."
Padahal fakta: Setya Ningsih hanya minta pisah sementara, belum menggugat cerai.
Fitnah menyebar lebih cepat daripada fakta. Karena fakta itu membosankan. Fakta itu tidak punya bumbu. Fakta itu tidak bisa membuat orang bergosip dengan penuh semangat.
Eko yang Bertarung
Eko tidak bisa kabur dari gunjingan di sekolah. Ia menjadi sasaran ejekan teman-temannya.
"Eh, Eko! Ibu kamu artis sekarang? Kayaknya di video bagus banget!"
"Eko, ibumu masih video call-an sama laki-laki itu? Atau sudah putus?"
Eko tidak menjawab. Ia hanya diam. Menunduk. Berjalan cepat.
Suatu siang, di kantin sekolah, seorang anak kelas IX menghampirinya.
"Kamu Eko, anaknya Bu Sinox? Ibumu pelacur, ya? Main sama laki-laki lain padahal sudah bersuami?"
Darah Eko mendidih. Ia mengepalkan tangan.
"Jangan main-main sama ibuku."
"Main-main? Aku bicara serius. Lihat videonya sendiri. Ibumu mesra-mesraan sama laki-laki lain. Itu namanya pelacur."
Pukulan Eko melesat. Langsung mengenai hidung anak itu.
Pertengkaran terjadi di kantin. Guru-guru datang melerai. Eko digelandang ke ruang kepala sekolah. Wajahnya babak belur. Bibirnya pecah. Matanya hitam.
Tapi ia tidak menangis. Ia hanya marah.
Kepala sekolah memanggil Sinox. Saat Sinox melihat wajah anaknya yang babak belur, ia jatuh terduduk.
"Maafkan Ibu, Nak. Maafkan Ibu."
Eko tidak menjawab. Ia hanya diam. Matanya kosong. Seperti anak yang kehilangan masa kecilnya karena ulah ibunya sendiri.
Di Dunia Maya, Lebih Kejam
Akun-akun anonim bermunculan di media sosial, menyebarkan fitnah yang lebih liar.
"Sinox Yanti, guru Mts Gringsing, ternyata sudah berselingkuh dengan laki-laki lain selama bertahun-tahun."
"Anak-anaknya mungkin juga tidak sah. Cek DNA saja."
"Laki-laki di Kapuas itu juga ternyata pejabat desa. Korupsi uang desa untuk biaya selingkuh."
Sinox membaca semua komentar itu. Setiap kata seperti belati. Setiap komentar seperti pukulan.
Ia ingin membalas. Ingin meluruskan fakta. Tapi apa gunanya? Tidak ada yang mau mendengar fakta. Mereka sudah terlanjur menikmati fitnah.
Sinox mematikan ponselnya. Ia meletakkannya di laci. Lalu ia berlutut, bersujud, dan berdoa.
Ya Allah, beri aku kekuatan untuk melewati ini semua. Beri aku kesabaran untuk tidak membalas fitnah dengan fitnah. Beri aku ketabahan untuk tetap tegar meskipun semua orang meninggalkanku. Amin.
Kebenaran yang Tak Pernah Cukup
Beberapa minggu kemudian, Pak Lik Salim menginisiasi pertemuan desa.
"Tetangga-tetangga, saya ingin meluruskan beberapa hal tentang kasus Bu Sinox dan Pak Akang Riyadi."
Semua orang diam. Telinga mereka menajam.
"Faktanya, Bu Sinox dan Pak Akang adalah teman lama yang terpisah selama tiga puluh tahun. Mereka berkomunikasi, ya. Video call, ya. Ada rasa kangen, ya. Tapi mereka tidak pernah bertemu secara fisik. Tidak ada perselingkuhan fisik. Tidak ada uang yang dikirim. Tidak ada hotel. Tidak ada anak tidak sah."
"Tapi mereka mengaku cinta," bantah Bu Tuti. "Itu sudah selingkuh secara emosional."
"Saya setuju, Bu Tuti. Itu salah. Saya tidak membela mereka. Tapi kita juga tidak boleh menambah-nambah fitnah yang tidak benar. Fitnah itu dosa besar."
Suasana di balai desa menjadi hening. Beberapa orang menunduk, mungkin malu. Yang lain masih bergumam, tidak puas.
Tapi setidaknya, ada upaya untuk menghentikan fitnah. Upaya kecil. Mungkin tidak cukup. Tapi setidaknya, ada yang mencoba.
Setelah Badai Kecil
Sinox tidak serta-merta pulih. Gunjingan tidak berhenti dalam semalam. Orang-orang masih berbisik di belakangnya. Beberapa tetangga masih menghindarinya. Murid-muridnya masih bergosip tentang videonya.
Tapi perlahan-lahan, ia mulai bisa bernapas lagi.
Bukan karena fitnah berhenti. Tapi karena ia belajar untuk tidak peduli. Ia belajar bahwa tidak semua pendapat orang perlu didengar. Ia belajar bahwa kebahagiaan tidak datang dari pengakuan orang lain, tapi dari kedamaian hati sendiri.
"Sin," kata Mas Sarif suatu malam, setelah berminggu-minggu tidak bicara.
"Iya, Mas?"
"Aku tidak akan membiarkan orang-orang menghakimi kita. Aku akan lindungi kamu. Meskipun kamu salah. Meskipun aku marah. Tapi kamu tetap istriku. Dan tidak ada yang berhak melemparimu dengan batu fitnah."
Sinox menangis. Ia memeluk suaminya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Mas Sarif membalas pelukannya.
Tidak ada kata maaf yang diucapkan. Tidak ada janji yang dibuat. Hanya pelukan.
Dan di dalam pelukan itu, ada harapan. Harapan bahwa mereka bisa melewati semua ini bersama. Harapan bahwa fitnah dan gunjingan suatu hari akan berlalu. Harapan bahwa cinta, meskipun telah retak, masih bisa diperbaiki.
Tapi untuk itu, mereka butuh waktu. Banyak waktu. Dan kesabaran. Lebih banyak dari yang mereka kira.
BAB XIII
Luka Masa Lalu: Mas Nur dan Kepergian Tanpa Pamit
Ada luka yang tidak pernah benar-benar sembuh. Ia hanya tertutup oleh lapisan-lapisan waktu, oleh kesibukan hidup, oleh kebahagiaan baru yang kita yakini cukup untuk melupakannya. Tapi ketika lapisan-lapisan itu terkoyak, entah oleh sebuah nama, sebuah wajah, atau sebuah kejadian yang tidak terduga, luka lama itu akan terbuka kembali. Berdarah. Sakit. Seperti baru terjadi kemarin.
Mas Nur adalah luka lama Sinox Yanti. Cinta pertama yang penuh misteri dan konflik. Laki-laki yang membuatnya merasa menjadi perempuan paling berharga di dunia, sekaligus yang paling tidak berharga. Laki-laki yang datang dengan janji-janji manis, lalu pergi tanpa kabar, meninggalkan Sinox dengan rahim yang kosong dan hati yang hancur berkeping-keping.
Selama tiga puluh tahun, Sinox mengubur luka itu. Ia tidak pernah bercerita pada siapa pun, tidak pada Mas Sarif, tidak pada anak-anaknya, tidak pada teman-temannya. Hanya satu orang yang tahu: Akang Riyadi.
Akang yang selalu ada saat Sinox menangis karena Mas Nur. Akang yang mendengarkan curhatannya tanpa menghakimi. Akang yang menjadi tempat bersandarnya saat cinta pertamanya yang beracun itu hampir membunuhnya.
Dan kini, di tengah badai yang menghantam rumah tangganya, Sinox merasa bahwa sudah waktunya untuk membuka luka lama itu. Bukan untuk menyakiti dirinya sendiri, tapi untuk melepaskan. Untuk mengakui bahwa ada bagian dari masa lalunya yang belum selesai, dan bahwa Mas Nur, bukan Akang, adalah akar dari segala kekacauan dalam hidupnya.
Malam yang Sunyi, Hati yang Berisik
Tegorejo, pukul 22.00. Mas Sarif sudah tidur di ruang tamu, kebiasaan yang masih terus berlanjut meskipun hubungan mereka perlahan mulai membaik. Sinox duduk di beranda belakang rumah, seorang diri. Langit malam cerah, bertabur bintang, dan bulan purnama bersinar terang seperti lampu gantung raksasa di atas desa.
Ponselnya menyala.
Sebuah pesan dari Akang. Mereka sudah sepakat untuk tidak berkomunikasi intens, tapi tidak sepenuhnya memutus kontak. Kadang, di malam-malam sunyi seperti ini, mereka masih saling mengirim pesan, sekadar menanyakan kabar, sekadar memastikan bahwa yang lain masih hidup.
Akang Riyadi: Nox, kamu masih bangun?
Sinox menatap pesan itu. Ia ingin membalas, tapi tangannya terasa berat.
Haruskah aku membalas? pikirnya. Setiap kali aku membalas, aku merasa seperti mengkhianati Mas Sarif. Tapi jika aku tidak membalas, aku merasa kehilangan.
Ia memilih membalas.
Sinox Yanti: Masih. Tidak bisa tidur. Kamu?
Akang Riyadi: Juga tidak bisa tidur. Pikiran ini kacau terus. Aku teringat masa lalu. Teringat kamu. Teringat semuanya.
Sinox Yanti: Masa lalu yang mana?
Akang Riyadi: Semua. Tapi terutama tentang Mas Nur.
Sinox terdiam. Jantungnya berdegup lebih kencang.
Mengapa Akang tiba-tiba membicarakan Mas Nur? pikirnya. Apakah ia juga sedang membuka luka lamanya? Atau apakah ini sekadar nostalgia?
Akang Riyadi: Nox, aku ingin bertanya sesuatu. Dan aku minta kamu jujur.
Sinox Yanti: Tanya apa?
Akang Riyadi: Apakah Mas Nur adalah alasan mengapa kamu sulit move on? Bukan aku. Tapi dia?
Pertanyaan itu menusuk. Sinox menatap layar ponselnya dengan mata berkaca-kaca.
Mas Nur, pikirnya. Laki-laki yang selama tiga puluh tahun ia coba lupakan. Laki-laki yang mengambil masa mudanya, merenggut harapannya, dan meninggalkannya dengan luka yang tidak pernah benar-benar pulih.
Apakah ia alasan mengapa aku sulit move on? Mungkin. Atau mungkin aku hanya belum pernah menyelesaikannya dengan benar.
Cerita yang Terpendam
Sinox Yanti: Aku tidak pernah cerita detail tentang Mas Nur, kan?
Akang Riyadi: Tidak. Kamu hanya cerita garis besarnya. Tapi tidak pernah detail. Dan aku tidak pernah bertanya karena aku tahu itu menyakitkan bagimu.
Sinox Yanti: Malam ini aku ingin cerita. Kalau kamu mau mendengar.
Akang Riyadi: Aku selalu mau mendengar ceritamu, Nox. Sejak dulu sampai sekarang.
Sinox menarik napas panjang. Ia memejamkan mata, membiarkan ingatan tentang Mas Nur mengalir seperti film usang yang diputar di kepalanya. Gambarannya buram di beberapa bagian, tapi terlalu jelas di bagian-bagian yang paling menyakitkan.
Sinox Yanti: *Aku bertemu Mas Nur saat aku kelas 2 SMP. Dia dari kota, tiga tahun lebih tua. Rambutnya gondrong, matanya sayu, dan dia bisa bermain gitar. Saat itu, aku pikir dia adalah laki-laki paling keren di dunia.*
Akang Riyadi: Aku ingat. Waktu itu kamu cerita terus tentang dia. Sampai aku hafal namanya.
Sinox Yanti: Maaf ya, Akang. Aku tidak tahu kalau kamu mencintaiku saat itu. Aku terlalu sibuk dengan Mas Nur sampai aku buta terhadap perasaanmu.
Akang Riyadi: Tidak apa-apa. Itu sudah berlalu.
Sinox Yanti: Tapi bagiku, belum. Karena Mas Nur, dia bukan cinta biasa. Dia adalah cinta pertama yang beracun. Dan racunnya masih terasa sampai sekarang.
Sinox mulai mengetik lebih cepat, seolah-olah ia sedang membuang semua racun yang selama ini ia pendam.
Sinox Yanti: Kami berpacaran diam-diam. Orang tuaku tidak tahu. Aku sering membolos sekolah untuk bertemu dia. Aku berbohong pada ibuku, pada guruku, pada semua orang. Aku rela melakukan apa pun untuk dia.
Sinox Yanti: Pada suatu malam, saat orang tuaku pergi ke acara pernikahan di luar kota, dia datang ke rumahku. Aku masih ingat semuanya, Akang. Aku masih ingat suara hujan di luar. Aku masih ingat bau parfumnya. Aku masih ingat bagaimana tangannya gemetar saat memegang tanganku.
Sinox Yanti: Kami melakukan hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan oleh anak seusia kami. Aku memberinya segalanya. Tubuhku. Masa depanku. Kepercayaanku. Dan dia menerimanya dengan senang hati.
Akang Riyadi: Nox, kamu tidak perlu meneruskan jika ini terlalu berat.
Sinox Yanti: Tidak. Aku harus meneruskan. Aku sudah menyimpan ini terlalu lama. Aku sudah lelah.
Sinox Yanti: Aku hamil, Akang. Dua kali. Pertama saat aku kelas 2 SMP. Kedua saat aku kelas 3. Dua kali aku mengandung anaknya. Dan dua kali pula aku kehilangan.
Sinox Yanti: Yang pertama keguguran di bulan keempat. Aku ingat rasa sakitnya, bukan hanya fisik, tapi juga hati. Aku ingat darah yang mengalir di antara pahaku saat aku duduk di kamar mandi, sendirian, sementara dia sedang pergi entah ke mana.
Sinox Yanti: Yang kedua, dia memaksa aku untuk aborsi. Katanya, dia belum siap punya anak. Katanya, dia masih ingin sekolah. Katanya, dia tidak mau orang tuanya tahu. Aku menurut, Akang. Karena aku bodoh. Karena aku mencintainya. Karena aku pikir dengan menurut, dia akan bertahan.
Sinox Yanti: Tapi dia tidak bertahan. Setelah aborsi itu, dia semakin jarang datang. Lalu dia berhenti menelepon. Lalu dia berganti nomor. Lalu dia menghilang, seperti dia tidak pernah ada.
Sinox Yanti: Aku mencarinya, Akang. Aku datang ke rumahnya di kota. Tapi orang tuanya bilang dia sudah pindah. Tidak ada yang tahu ke mana. Seperti ditelan bumi.
Sinox Yanti: Aku hancur. Aku pikir hidupku sudah berakhir. Aku tidak layak untuk dicintai siapa pun. Aku perempuan kotor yang sudah memberikan segalanya pada laki-laki yang tidak bertanggung jawab.
Sinox Yanti: Dan di saat-saat paling gelap dalam hidupku, hanya kamu yang ada, Akang. Kamu tidak pernah bertanya. Kamu tidak pernah menghakimi. Kamu hanya mendengarkan. Kamu hanya ada di sana. Dan itu menyelamatkanku.
Akang yang Menangis Membaca Cerita Itu
Di Kapuas, Akang membaca cerita Sinox dengan air mata yang tidak berhenti mengalir.
Ia tidak pernah tahu bahwa Sinox mengalami semua itu. Dulu, saat remaja, Sinox hanya bercerita bahwa ia patah hati karena Mas Nur pergi. Tidak pernah ia ceritakan tentang kehamilan, keguguran, aborsi, dan penghancuran diri yang ia alami.
Mengapa ia tidak pernah cerita? pikir Akang. Mengapa ia memendam semua ini sendirian? Mengapa ia tidak percaya padaku untuk berbagi beban seberat ini?
Tapi Akang tahu jawabannya. Karena saat itu, mereka masih remaja. Karena Sinox malu. Karena Sinox takut Akang akan meninggalkannya jika tahu kebenaran tentang dirinya. Karena luka itu terlalu dalam untuk diucapkan, bahkan pada orang yang paling ia percaya.
Akang Riyadi: Nox, aku tidak pernah tahu. Aku tidak pernah tahu kamu mengalami semua itu.
Sinox Yanti: Aku sengaja tidak cerita. Aku malu, Akang. Aku malu pada diriku sendiri. Aku malu pada kamu. Aku pikir jika kamu tahu, kamu akan melihatku sebagai perempuan yang kotor, perempuan yang tidak pantas, perempuan yang tidak berharga.
Akang Riyadi: Kamu tidak pernah kotor, Nox. Kamu tidak pernah tidak pantas. Kamu tidak pernah tidak berharga. Kamu adalah korban. Kamu adalah perempuan yang kuat karena bisa bertahan melalui semua itu sendirian.
Sinox Yanti: Aku tidak kuat, Akang. Aku hanya bertahan. Dan bertahan itu berbeda dengan kuat. Bertahan adalah ketika kamu tidak punya pilihan selain terus hidup meskipun mati rasanya. Dan aku bertahan selama bertahun-tahun, sampai aku bertemu Mas Sarif.
Sinox Yanti: Mas Sarif menyelamatkanku dari kegelapan itu. Ia tidak tahu masa laluku. Ia menikahiku apa adanya. Ia memberiku rumah, anak-anak, kehidupan yang normal. Dan aku seharusnya bersyukur. Tapi luka lama itu tidak pernah benar-benar sembuh.
Sinox Yanti: Lalu kamu muncul, Akang. Dan semua luka itu terbuka lagi. Bukan karena kamu. Tapi karena Mas Nur. Karena dia adalah pintu masuk bagi semua rasa sakit yang aku pendam. Dan kamu, kamu adalah saksi dari masa laluku. Melihatmu, rasanya seperti melihat diriku yang dulu, yang hancur, yang rapuh, yang tidak berdaya.
Sinox Yanti: Mungkin itu sebabnya aku sulit melepaskanmu. Bukan karena aku mencintaimu sebagai kekasih. Tapi karena aku butuh seseorang yang tahu masa laluku. Seseorang yang bisa menjadi saksi bahwa aku pernah bertahan melalui semua itu. Seseorang yang bisa berkata, 'Aku melihatmu, Nox. Aku melihatmu jatuh, dan aku melihatmu bangkit. Dan kamu hebat.'
Pengakuan yang Membebaskan
Sinox tidak tahu bahwa menulis semua itu akan membuatnya merasa lega. Ia tidak pernah membayangkan bahwa kata-kata yang ia ketik di ponsel, di tengah malam, di beranda belakang rumahnya, dengan air mata yang terus mengalir, akan terasa seperti pengakuan dosa di hadapan Tuhan.
Mengakui luka adalah langkah pertama untuk menyembuhkannya. Mengakui bahwa ia telah disakiti. Mengakui bahwa ia tidak selalu kuat. Mengakui bahwa ia butuh bantuan. Mengakui bahwa ia pantas untuk bahagia.
Akang Riyadi: Nox, terima kasih sudah percaya padaku. Terima kasih sudah berbagi cerita ini. Aku tahu ini tidak mudah.
Sinox Yanti: Aku tidak tahu kenapa aku memilih malam ini untuk cerita. Mungkin karena aku sudah tidak bisa menyimpannya lagi. Atau mungkin karena aku sudah pasrah. Terserah orang mau menilai aku apa. Aku sudah terlalu lelah untuk berpura-pura sempurna.
Akang Riyadi: Kamu tidak perlu sempurna, Nox. Kamu hanya perlu menjadi dirimu sendiri. Dengan semua luka dan cerita masa lalumu. Karena itu yang membuatmu manusia.
Sinox Yanti: Akang, aku minta satu hal.
Akang Riyadi: Apa?
Sinox Yanti: Jangan pernah cerita ini pada siapa pun. Jangan pada Setya. Jangan pada anak-anakmu. Jangan pada siapa pun. Ini rahasiaku. Dan aku hanya percaya padamu untuk menyimpannya.
Akang Riyadi: Aku berjanji. Rahasia ini akan kubawa sampai mati.
Sinox Yanti: Terima kasih, Akang. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan tanpamu.
Akang Riyadi: Kamu akan baik-baik saja, Nox. Kamu sudah bertahan dari yang terburuk. Kamu bisa bertahan dari apa pun.
Percakapan itu berakhir pukul satu malam. Sinox mematikan ponselnya. Ia menatap bulan yang masih bersinar terang di atas desa.
Mengapa aku baru sekarang menceritakan semua ini? pikirnya. Mengapa aku tidak pernah cerita pada Mas Sarif? Apakah karena aku takut ia akan meninggalkanku? Apakah karena aku takut ia akan melihatku sebagai perempuan yang tidak sempurna?
Sinox tidak tahu. Tapi yang ia tahu, malam ini ia merasa lebih ringan. Beban tiga puluh tahun yang ia pikul sendiri, akhirnya ia bagi dengan seseorang. Dan seseorang itu, Akang Riyadi, tidak menghakiminya. Tidak meninggalkannya. Tidak memandangnya dengan jijik. Ia hanya menerima. Menerima Sinox apa adanya. Dengan semua luka dan dosa masa lalunya.
Mungkin itulah arti cinta sejati, pikir Sinox. Bukan tentang memiliki. Tapi tentang menerima. Tentang melihat seseorang dalam keadaan paling rentannya, dan tetap memilih untuk tinggal.
Mas Sarif yang Mendengar
Sinox tidak tahu bahwa Mas Sarif terbangun di tengah malam untuk ke kamar mandi, dan mendengar istrinya menangis di beranda belakang. Ia tidak mendengar isi chat, hanya mendengar isakan tangis yang tertahan, suara Sinox yang sesekali berbisik, "Aku kuat, aku kuat, aku bisa."
Mas Sarif tidak marah. Ia hanya sedih. Sedih karena istrinya masih menyembunyikan sesuatu darinya. Sedih karena istrinya lebih memilih curhat pada laki-laki lain daripada pada suaminya sendiri. Sedih karena ia, sebagai suami, gagal menjadi tempat bersandar yang aman bagi istrinya.
Keesokan paginya, Mas Sarif bertanya, "Sin, tadi malam kamu bicara dengan siapa?"
Sinox terkejut. "Tidak dengan siapa-siapa, Mas. Aku hanya sendiri."
"Aku dengar kamu nangis."
"Hanya mimpi buruk, Mas."
Mas Sarif terdiam. Ia tahu Sinox berbohong. Tapi ia tidak mau memaksa.
"Sin," katanya akhirnya, "aku tahu aku bukan laki-laki paling romantis. Aku tahu aku tidak bisa memberikan puisi atau kata-kata indah seperti yang mungkin dia berikan. Tapi aku suamimu. Aku yang ada di sini setiap hari. Aku yang membanting tulang di sawah untuk keluarga kita. Aku yang tidak akan pernah meninggalkanmu meskipun kau melakukan kesalahan sebesar apa pun."
Sinox menunduk. "Aku tahu, Mas."
"Kalau kau tahu, kenapa kau masih menyembunyikan sesuatu dariku? Apa yang kau takutkan? Apa yang kau pikir akan terjadi jika kau jujur padaku?"
Sinox tidak menjawab.
Mas Sarif menghela napas. "Sin, aku tidak akan memaksamu cerita. Tapi ingatlah: aku di sini. Aku tidak akan pergi. Kapan pun kau siap cerita, aku siap mendengar. Tanpa menghakimi. Tanpa marah. Sebagai suami yang mencintaimu."
Mas Sarif beranjak pergi ke sawah. Sinox hanya bisa berdiri di dapur, menatap punggung suaminya, dan menangis.
Ya Allah, doanya, kenapa aku diberikan suami yang begitu baik? Kenapa aku tidak bisa menjadi istri yang baik untuknya? Kenapa aku masih terus menyakiti hatinya? Ampuni aku, Ya Allah. Ampuniku karena tidak bersyukur atas karunia-Mu.
Kepergian Tanpa Pamit
Ada luka yang tidak disebabkan oleh kebencian, tetapi oleh keheningan. Bukan karena seseorang pergi dengan membanting pintu, tetapi karena ia pergi tanpa suara, tanpa pamit, tanpa kata perpisahan, tanpa kesempatan bagi yang ditinggalkan untuk bertanya, "Mengapa?" atau "Kapan kau kembali?"
Kepergian tanpa pamit adalah luka paling diam, tetapi paling dalam. Karena ia tidak meninggalkan kemarahan yang bisa dilampiaskan, tetapi meninggalkan pertanyaan yang tidak pernah terjawab.
Kepergian Akang Riyadi dari Tegorejo tiga puluh tahun lalu adalah kepergian tanpa pamit. Ia pergi seperti angin, tanpa suara, tanpa tanda, tanpa jejak. Sinox Yanti mengetahui bahwa Akang telah pergi bukan dari mulut Akang sendiri, tetapi dari bisik-bisik tetangga.
Sinox remaja saat itu tidak mengerti. Ia menangis. Ia marah. Ia kecewa. Ia merasa dikhianati oleh orang yang paling ia percaya.
Dan malam ini, setelah video call, setelah fitnah, setelah pertengkaran dengan Mas Sarif, setelah semua kekacauan yang terjadi, Sinox akhirnya mendapatkan jawabannya.
Sinox Yanti: Akang, aku ingin bertanya sesuatu. Dan kali ini, aku minta kamu jujur. Tolong jangan berbohong.
Akang Riyadi: Tanya apa, Nox?
Sinox Yanti: Kenapa dulu kamu pergi tanpa pamit?
Akang terdiam cukup lama. Pertanyaan yang selama tiga puluh tahun tidak pernah ia tanyakan secara langsung. Pertanyaan yang ia hindari karena takut jawabannya akan melukai Sinox lebih dalam.
Sinox Yanti: Aku sudah tiga puluh tahun menunggu jawaban, Akang. Tiga puluh tahun. Aku berhak tahu.
Akang Riyadi: Aku tahu, Nox. Maaf aku membuatmu menunggu selama itu. Baik. Aku akan cerita. Dari awal. Tanpa berbohong.
Cerita Akang: Mengapa Ia Pergi Tanpa Pamit
Akang Riyadi: Keluargaku dulu miskin, Nox. Sangat miskin. Ayahku hanya buruh tani. Rumahku dindingnya anyaman bambu, lantainya tanah. Sementara rumahmu sudah tembok, lantai keramik, punya kipas angin. Aku mencintaimu. Tapi aku merasa tidak pantas. Laki-laki miskin seperti aku tidak pantas mendekati perempuan sepertimu.
Sinox Yanti: Aku tidak pernah memandangmu dari materi, Akang. Aku sayang kamu karena kamu baik, karena kamu selalu ada untukku.
Akang Riyadi: Aku tahu. Tapi perasaan tidak pantas itu tetap ada. Apalagi setelah ibumu bicara padaku.
Sinox Yanti: Ibuku? Apa yang ibu bicarakan?
Akang Riyadi: Suatu sore, sebelum aku berangkat ke Jakarta, aku mampir ke rumahmu. Aku ingin meminta izin padamu, bukan izin untuk pacaran, tapi izin untuk pergi. Aku ingin bilang bahwa aku akan merantau, mencari pekerjaan, lalu kembali untuk melamarmu. Tapi ibumu tidak memberiku kesempatan. Beliau langsung berkata, 'Akang, kamu anak baik. Tapi Sinox masih kecil. Dia harus fokus sekolah. Jangan ganggu konsentrasinya dengan urusan pacaran. Kalau kamu benar-benar sayang padanya, buktikan dengan menjadi sukses dulu. Jangan hanya janji manis.'
Akang Riyadi: Aku tidak marah pada ibumu. Beliau benar. Aku tidak punya apa-apa. Janjiku hanya omong kosong jika tidak ada bukti.
Sinox Yanti: Tapi kenapa kamu tidak pamit padaku secara langsung?
Akang Riyadi: Karena aku takut, Nox. Takut jika aku berpamitan padamu, aku tidak akan bisa pergi. Takut jika melihat matamu menangis, aku akan membatalkan semua rencana. Takut jika kamu memintaku untuk tetap di Tegorejo, aku akan menurut, dan kita berdua akan sengsara.
Akang Riyadi: Aku pergi tanpa pamit karena itu adalah satu-satunya cara untuk pergi. Aku tidak cukup kuat untuk mengucapkan selamat tinggal. Aku tidak cukup tegar untuk melihatmu menangis karena kepergianku.
Sinox Yanti: Tapi aku tetap menangis, Akang. Aku tetap hancur. Aku tetap merasa dikhianati. Bedanya, karena kamu tidak pamit, aku tidak bisa marah pada seseorang. Aku hanya bisa marah pada bayanganmu. Dan itu lebih menyakitkan.
Akang Riyadi: Aku minta maaf, Nox. Aku tahu itu salah. Tapi aku tidak tahu cara lain. Aku masih muda. Aku bodoh. Aku pengecut.
Saat Akang Pulang ke Tegorejo
Sinox Yanti: Aku dengar dari ibuku, sebelum ibu meninggal, bahwa kamu pernah pulang ke Tegorejo. Apakah itu benar?
Akang Riyadi: *Benar. Tahun 1995. Aku sudah bekerja di sebuah perusahaan di Jakarta. Gajiku pas-pasan, tapi aku sudah punya tabungan. Aku ingin pulang, menemuimu, dan meminta maaf.*
Sinox Yanti: Kenapa kamu tidak jadi menemui?
Akang terdiam. Ia tidak ingin menjawab. Tapi ia sudah berjanji akan jujur.
Akang Riyadi: Karena aku melihatmu dengan dia. Dengan Mas Nur. Suatu sore. Aku baru sampai di Tegorejo. Aku berjalan ke rumahmu, ingin kejutkan kamu. Tapi di depan rumah, aku melihat kamu sedang duduk di teras bersama seorang laki-laki. Laki-laki itu memegang tanganmu. Kamu tersenyum padanya. Senyum yang dulu hanya untukku.
Akang Riyadi: Aku bertanya pada tetangga. Mereka bilang itu Mas Nur, pacar baru kamu. Katanya kamu sangat serius dengannya. Bahkan kabarnya kamu sudah, maaf Nox, kamu sudah tidur dengannya.
Sinox Yanti: Itu benar. Tapi itu bukan karena aku mencintainya lebih dari dirimu, Akang. Itu karena aku kecewa padamu. Karena kamu pergi tanpa pamit. Karena kamu menghilang. Aku merasa tidak berharga. Dan Mas Nur datang, memberi perhatian yang selama ini aku rindukan dari kamu. Aku bodoh. Aku tahu itu. Tapi aku sedang sakit, Akang. Aku sakit karena kehilanganmu.
Akang Riyadi: Aku tidak tahu, Nox. Aku pikir kamu sudah move on. Aku pikir kamu bahagia dengan dia. Jadi aku memutuskan untuk pergi lagi. Tanpa pamit lagi. Aku pikir, lebih baik aku menghilang daripada mengganggu kebahagiaanmu.
Sinox menangis.
Sinox Yanti: Kamu seharusnya tidak pergi, Akang. Kamu seharusnya bertanya padaku. Kamu seharusnya memberi aku kesempatan untuk menjelaskan. Tapi kamu hanya melihat sekilas, lalu mengambil kesimpulan. Lalu kamu pergi lagi, tanpa pamit. Dan aku ditinggalkan lagi. Dengan luka yang sama. Hanya kali ini, lukanya lebih dalam.
Akang Riyadi: Aku minta maaf, Nox. Aku tahu maafku tidak akan cukup.
Sinox Yanti: Kamu bisa katakan bahwa kamu mencintaiku. Saat itu. Saat kamu pulang ke Tegorejo dan melihatku dengan Mas Nur. Kamu bisa datang, merebut tanganku dari dia, dan bilang, 'Sinox milikku.' Tapi kamu tidak melakukan itu. Kamu memilih pergi.
Akang Riyadi: Karena aku pengecut, Nox. Aku selalu pengecut. Dan aku menyesalinya sampai sekarang.
Memaafkan dan Melepaskan
Sinox tidak tahu harus marah atau mengerti. Kepergian Akang tanpa pamit telah meninggalkan luka yang begitu dalam. Luka yang membuatnya mengambil keputusan-keputusan bodoh, seperti berpacaran dengan Mas Nur, memberikan tubuhnya pada laki-laki yang salah, dan hampir menghancurkan masa depannya sendiri.
Tapi di sisi lain, ia mengerti. Akang pergi karena ia miskin, karena ia merasa tidak pantas, karena ia takut gagal di depan Sinox. Akang pergi karena ia mencintai Sinox, terlalu mencintai, sehingga ia rela meninggalkannya demi masa depan yang lebih baik.
Sinox Yanti: Akang, aku memaafkanmu.
Akang Riyadi: Apa?
Sinox Yanti: Aku memaafkanmu. Untuk kepergianmu tanpa pamit. Untuk tiga puluh tahun keheningan. Untuk semua air mata yang tidak perlu aku tumpahkan jika saja kamu berani bicara. Aku memaafkanmu.
Akang Riyadi: Apa aku pantas dimaafkan?
Sinox Yanti: Bukan karena kamu pantas. Tapi karena aku lelah marah. Aku lelah menyimpan sakit hati. Aku lelah membawa beban ini selama tiga puluh tahun. Aku ingin bebas, Akang. Aku ingin melepaskan semua ini. Dan satu-satunya cara adalah memaafkanmu.
Akang Riyadi: Terima kasih, Nox. Aku tidak pantas menerima maaf darimu.
Sinox Yanti: Kamu pantas. Karena kamu juga manusia. Karena kamu juga pernah terluka. Karena kamu juga berjuang dengan caramu sendiri. Kita sama-sama korban dari keadaan, dan dari kebodohan kita sendiri.
Akang Riyadi: Apa kita bisa memulai lagi? Sebagai teman?
Sinox Yanti: Kita sudah memulai, Akang. Sejak malam pertama kamu menelepon. Sejak malam pertama aku mengaku bahwa aku merindukanmu. Kita sudah memulai hubungan baru, bukan sebagai kekasih, tapi sebagai dua manusia yang saling menyembuhkan.
Akang Riyadi: Aku tidak akan pergi lagi, Nox. Aku berjanji.
Sinox Yanti: Jangan berjanji. Janji mudah diucapkan, sulit ditepati. Cukup katakan bahwa kamu akan berusaha. Dan aku juga akan berusaha. Bersama-sama.
Setelah Memaafkan
Sinox tidak menyangka bahwa memaafkan Akang akan membuatnya merasa begitu lega. Selama tiga puluh tahun, ia menyimpan kemarahan pada laki-laki yang pergi tanpa pamit. Semua itu ia bawa dalam pernikahannya, dalam hubungannya dengan Mas Sarif, dalam setiap keputusan yang ia ambil.
Tapi malam itu, setelah mengucapkan maaf, Sinox merasa ada beban yang terangkat dari pundaknya.
Mengapa aku tidak memaafkannya sejak dulu? pikir Sinox. Mengapa aku memendam semua ini selama bertahun-tahun?
Tapi ia tahu jawabannya. Karena memaafkan berarti melepaskan. Dan melepaskan berarti mengakui bahwa masa lalu tidak akan pernah kembali. Dan mengakui bahwa masa lalu tidak akan pernah kembali berarti ia harus menerima kenyataan bahwa Akang tidak akan pernah menjadi miliknya.
Sinox Yanti: Akang, aku ingin tidur. Aku lelah. Tapi lega.
Akang Riyadi: Selamat tidur, Nox. Mimpi indah.
Sinox Yanti: Doakan aku agar bisa menjadi istri yang lebih baik untuk Mas Sarif.
Akang Riyadi: Aku akan doakan. Setiap malam.
Percakapan itu berakhir. Sinox mematikan ponselnya. Ia berjalan ke ruang tamu, tempat Mas Sarif tidur di kursi panjang. Ia duduk di lantai, di samping suaminya, dan mencium keningnya pelan.
Mas Sarif terbangun. "Sin? Ada apa?"
"Tidak ada, Mas. Aku hanya ingin bilang, aku mencintaimu."
Mas Sarif bangkit dari kursi. Ia duduk di samping Sinox, meraih tangan istrinya. "Apa yang terjadi, Sin? Ceritakan padaku."
"Aku baru saja memaafkan seseorang, Mas. Seseorang yang telah lama pergi. Dan setelah memaafkannya, aku sadar bahwa selama ini aku tidak pernah benar-benar hadir untukmu. Hatiku selalu setengah di masa lalu. Dan itu tidak adil bagimu."
"Sin, aku tidak pernah minta kamu melupakan masa lalumu..."
"Tapi aku harus, Mas. Bukan melupakan, tapi melepaskan. Melepaskan semua sakit hati, semua kekecewaan, semua pertanyaan yang tidak terjawab. Karena itu tidak penting lagi. Yang penting sekarang adalah aku dan kamu. Keluarga kita. Masa depan kita."
Mas Sarif memeluk istrinya. Ia tidak tahu persis apa yang terjadi pada Sinox malam itu. Tapi ia merasakan perubahan. Ada ketenangan baru di mata istrinya. Ada kelegaan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Mungkin ini awal yang baru, pikir Mas Sarif. Mungkin setelah badai, akhirnya ada pelangi.
Menyembuhkan Luka Lama
Butuh waktu bagi Sinox untuk menyembuhkan luka lamanya. Tidak ada obat yang bisa menyembuhkan trauma dalam semalam. Tidak ada doa yang bisa menghapus kenangan buruk dalam satu kali sujud. Yang bisa ia lakukan hanyalah menerima bahwa luka itu ada, bahwa ia telah sembuh tidak sempurna, dan bahwa ia mungkin akan membawa bekas luka itu seumur hidup.
Tapi ia tidak sendirian. Mas Sarif selalu ada di sana. Eko, meskipun masih marah, masih memanggilnya Ibu. Anak-anaknya yang lain masih menelepon setiap minggu. Dan Akang, di Kapuas, dengan jarak ribuan kilometer, masih menjadi teman curhatnya. Bukan kekasih. Bukan calon suami. Tapi teman. Sahabat. Seseorang yang bisa ia percayai tanpa rasa takut dihakimi.
Keesokan paginya, Sinox bangun dengan senyum. Ia memasak sarapan untuk Mas Sarif, nasi goreng dengan bawang, telur ceplok, irisan timun, dan sambal terasi. Mas Sarif tersenyum melihat istri yang dulu ia kenal, yang memasak dengan penuh cinta, yang hadir seutuhnya untuknya.
"Ini nasi goreng favoritku," kata Mas Sarif.
"Aku tahu, Mas."
"Kamu ingat?"
"Aku ingat semuanya, Mas. Aku hanya butuh waktu untuk mengingat bahwa hal-hal kecil seperti ini, nasi goreng dengan bawang, telur ceplok, dan sambal terasi, adalah cinta. Cinta yang sesungguhnya. Cinta yang tidak perlu diumumkan di media sosial. Cinta yang sederhana, tapi bertahan."
Mas Sarif makan dengan lahap.
Sinox duduk di seberangnya, menatap suaminya dengan penuh kasih.
Ya Allah, doanya dalam hati, terima kasih untuk kesempatan kedua ini. Terima kasih untuk suami yang sabar. Terima kasih untuk anak-anak yang masih mau memanggilku ibu. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku berjanji akan menjadi istri yang lebih baik.
Pelajaran dari Luka Masa Lalu
Luka lama tentang Mas Nur dan kepergian tanpa pamit mengajarkan Sinox dan Akang banyak hal.
Bahwa cinta tidak selalu berarti memiliki. Bahwa kadang, orang pergi bukan karena mereka tidak peduli, tetapi karena mereka terlalu peduli. Bahwa maaf, meskipun datang terlambat, tetap memiliki kekuatan untuk menyembuhkan. Dan bahwa melepaskan, meskipun sakit, adalah tindakan cinta paling berani yang bisa dilakukan seseorang.
Sinox memaafkan Akang karena ia tidak ingin terus terbelenggu oleh masa lalu. Akang melepaskan Sinox karena ia tidak ingin menjadi beban.
Dan mereka berdua, di usia yang tidak lagi muda, akhirnya belajar bahwa cinta sejati tidak selalu tentang bersatu, tetapi tentang saling melepaskan dengan penuh keikhlasan.
Di dalam keikhlasan itu, luka lama mulai mengering. Bukan berarti hilang. Tapi tidak lagi berdarah. Tidak lagi menyiksa. Hanya menjadi bekas, pengingat bahwa suatu saat mereka pernah terluka, pernah bertahan, dan pernah memilih untuk sembuh.
BAB XIV
Panggilan yang Mengguncang
Ada tangis yang tidak pernah dilihat siapa pun.
Tangis yang lahir bukan dari kelemahan, tetapi dari kelelahan. Tangis yang keluar ketika tubuh sudah tidak mampu menahan beban, ketika hati sudah terlalu penuh dengan luka, ketika pikiran sudah terlalu bising dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah terjawab.
Akang Riyadi adalah laki-laki yang terbiasa menangis diam-diam. Sejak kecil, ia diajari bahwa laki-laki tidak boleh menangis. Laki-laki harus tegar. Laki-laki harus menjadi pelindung, bukan yang dilindungi.
Maka selama bertahun-tahun, Akang menangis di tempat-tempat yang tidak pernah dilihat mata manusia.
Di kamar mandi, dengan air keran yang mengalir deras untuk menutupi suara isaknya.
Di beranda rumah, saat malam telah larut dan semua orang terlelap, hanya ditemani oleh suara jangkrik dan angin gambut.
Di dalam mobil, saat ia sendirian di jalanan Kapuas yang sepi, menepi di pinggir jalan, dan membiarkan air mata jatuh di setir mobil.
Akang menangis bukan karena ia lemah. Akang menangis karena ia manusia.
Dan manusia, sekuat apa pun, memiliki batas.
Malam ini, batas itu telah tercapai.
Malam Ketika Akang Runtuh
Kapuas, pukul 23.30. Rumah panggung itu sunyi. Hanya suara angin yang bertiup di sela-sela bilik kayu ulin, menciptakan melodi sendu yang mengiringi kesendirian Akang.
Iwan, anak keduanya, sedang berada di rumah tunangannya, membantu persiapan pernikahan yang tinggal beberapa minggu lagi. Anto, anak pertama, sibuk dengan warung kelontongnya. Raha masih di Jawa bersama Setya, istrinya yang pergi setelah ledakan kemarahan beberapa waktu lalu.
Akang sendirian.
Sendirian untuk pertama kalinya dalam 25 tahun.
Ia duduk di beranda, memandang ke arah kebun karet yang gelap. Ponselnya tergeletak di sampingnya, layar gelap, tanpa notifikasi. Sinox sudah tidak mengirim pesan sejak mereka sepakat untuk mengurangi komunikasi, memberi ruang bagi masing-masing untuk memperbaiki rumah tangga yang retak.
Tapi diam itu menyiksa.
Akang merindukan suara Sinox. Merindukan chat malamnya. Merindukan tawa kecilnya yang sering ia selipkan di sela-sela kalimat. Merindukan perempuan yang tidak pernah benar-benar ia miliki, tetapi terasa begitu dekat di hati.
Ia meraih ponselnya.
Membuka galeri.
Ada satu video yang ia rekam diam-diam, potongan kecil dari panggilan video yang dulu, saat ia menekan tombol rekam tanpa sepengetahuannya. Bukan untuk disebarkan, bukan untuk dijadikan bukti. Hanya untuk dirinya sendiri. Untuk saat-saat seperti ini, saat ia kesepian dan butuh mengingat bahwa ia pernah bahagia, meskipun hanya melalui layar ponsel.
Akang memutar video itu.
Wajah Sinox muncul di layar. Senyumnya. Matanya yang berkaca-kaca. Suaranya yang parau karena menahan tangis.
"Akang, aku kangen kamu. Tiga puluh tahun, setiap hari, setiap malam, aku kangen kamu."
Akang tidak kuat.
Ia mematikan video. Meletakkan ponsel di lantai beranda.
Lalu ia menangis.
Bukan tangis pelan yang tertahan. Tapi tangis keras yang keluar dari dadanya yang sesak. Tangis yang sudah ia tahan selama berminggu-minggu, selama bertahun-tahun, selama tiga puluh tahun.
Ia menangis untuk Sinox, perempuan yang tidak pernah bisa ia miliki.
Ia menangis untuk Setya, istri yang telah ia sakiti, yang kini pergi ke Jawa membawa Raha.
Ia menangis untuk anak-anaknya, yang mungkin kehilangan rasa hormat pada ayahnya.
Ia menangis untuk dirinya sendiri, laki-laki tua yang tersesat di antara cinta masa lalu dan tanggung jawab masa kini.
"Ya Allah," isaknya, suaranya pecah di tengah sunyi malam. "Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak tahu lagi. Aku tersesat. Aku bingung. Aku tidak bisa memilih. Aku tidak bisa melepaskan. Tolong tunjukkan jalan. Tolong beri aku petunjuk. Aku tidak kuat, Ya Allah. Aku tidak kuat."
Tak ada jawaban dari langit.
Hanya angin gambut yang bertiup lebih kencang.
Hanya suara jangkrik yang semakin keras, seolah ikut menangis bersamanya.
Kilas Balik: Air Mata Pertama Akang
Akang tidak terbiasa menangis.
Ia teringat air mata pertamanya saat masih kecil. Usia tujuh tahun. Ayahnya pulang dengan tangan berdarah karena tergores parang saat membersihkan ladang. Akang menangis melihat darah itu, tetapi ayahnya memarahinya.
"Laki-laki tidak boleh menangis! Keringkan air matamu! Kamu harus kuat! Kamu harus menjadi kepala keluarga suatu hari nanti!"
Sejak saat itu, Akang belajar menahan tangis.
Saat ibunya sakit-sakitan dan ia harus mencari kayu bakar di hutan sendirian di usia sembilan tahun, ia tidak menangis.
Saat teman-temannya mengejeknya karena baju seragamnya tambal sulam, ia tidak menangis.
Saat ia gagal masuk perguruan tinggi negeri karena tidak punya uang untuk daftar ulang, ia tidak menangis.
Saat ia tidur di kolong jembatan di Jakarta, perut keroncongan, badan kedinginan, ia tidak menangis.
Saat ia menerima kabar bahwa ayahnya meninggal saat ia sedang merantau dan ia tidak bisa pulang karena tidak punya ongkos, ia tidak menangis.
Tapi malam ini, di usia lima puluh satu tahun, di rumah panggung yang sepi, di tengah lahan gambut yang luas, Akang menangis.
Seperti bendungan yang jebol.
Seperti gunung yang meletus.
Seperti semua air mata yang tertahan selama puluhan tahun akhirnya keluar semua dalam satu malam.
Ia menangis untuk semua hal yang tidak pernah ia tangisi sebelumnya.
Ia menangis untuk masa kecilnya yang keras.
Ia menangis untuk kemiskinan yang merenggut masa mudanya.
Ia menangis untuk cinta yang ia pendam tiga puluh tahun.
Ia menangis untuk semua kesalahan yang ia buat, termasuk kesalahan yang membuat Setya pergi dan Sinox pingsan di sekolah.
Dan setelah air matanya habis, setelah dadanya terasa lebih ringan, Akang terduduk lemas di lantai beranda, memandang kosong ke arah langit malam yang gelap.
Sekarang apa? pikirnya. Setelah semua air mata ini, apa yang harus aku lakukan?
Ia tidak tahu. Tapi ia merasa sedikit lebih ringan.
Seolah-olah menangis adalah doa yang tidak perlu kata-kata.
Seolah-olah Tuhan mendengar isak tangisnya meskipun ia tidak merangkai doa dengan bahasa yang indah.
Seolah-olah ada malaikat yang mencatat setiap tetes air mata yang jatuh di pipinya.
Saat Iwan Pulang
Pukul satu dini hari, Iwan pulang dari rumah tunangannya.
Ia melihat lampu rumah masih menyala, aneh, karena ayahnya biasanya tidur paling lambat pukul sebelas.
Ia masuk ke rumah. Sunyi. Anehnya sunyi.
"Iwan, kamu pulang?" suara Akang dari beranda, parau, seperti habis menangis.
"Iya, Pa. Tumben Pa masih bangun." Iwan berjalan ke beranda. Ia melihat ayahnya duduk di kursi kayu, wajahnya pucat, matanya merah dan sembab.
"Pa, kenapa?" Iwan duduk di samping ayahnya. "Pa nangis?"
Akang tidak menjawab. Ia hanya menunduk.
"Pa, cerita pada Iwan. Iwan anak Pa. Iwan berhak tahu."
Akang menghela napas panjang.
Ia sudah tidak kuat lagi menyembunyikan semuanya sendirian. Ia butuh seseorang untuk mendengar. Seseorang untuk berbagi beban. Dan Iwan, anak keduanya yang akan segera menikah, mungkin adalah orang yang tepat.
"Iwan, Pa minta maaf," kata Akang lirih. "Pa sudah mengecewakan kalian. Pa sudah mengecewakan ibu. Pa sudah mengecewakan keluarga."
"Pa cerita saja. Iwan tidak akan marah."
Akang bercerita. Tentang Sinox. Tentang masa lalu. Tentang cinta yang tidak pernah mati. Tentang panggilan video. Tentang video yang tersebar. Tentang Setya yang pergi. Tentang fitnah dan gunjingan. Tentang rasa bersalah yang tidak kunjung reda.
Iwan mendengarkan tanpa memotong.
Ketika Akang selesai, Iwan tidak marah. Ia tidak kecewa. Ia hanya memeluk ayahnya, pelukan erat yang jarang ia lakukan sejak remaja.
"Pa, Iwan tidak akan menghakimi Pa," kata Iwan pelan. "Iwan tidak tahu rasanya punya cinta masa lalu yang tidak pernah selesai. Tapi Iwan tahu Pa bukan orang jahat. Pa hanya manusia. Manusia boleh salah. Yang penting Pa mau memperbaiki."
"Apa Iwan tidak malu punya ayah seperti Pa?"
"Malu? Kenapa harus malu? Pa tetap ayah Iwan. Pa yang membesarkan Iwan. Pa yang bekerja keras untuk keluarga. Pa yang mengajari Iwan naik sepeda, yang mengantar Iwan ke sekolah setiap pagi, yang menabung bertahun-tahun untuk biaya pernikahan Iwan. Satu kesalahan Pa tidak akan menghapus semua kebaikan Pa selama ini."
Akang menangis lagi. Tapi kali ini, ia tidak menangis sendirian.
Iwan juga menangis.
Ayah dan anak itu duduk di beranda rumah panggung, di tengah malam yang sunyi, berpelukan dan menangis bersama.
Dan di dalam tangis itu, ada pemulihan.
Ada harapan.
Ada keyakinan bahwa besok akan lebih baik.
Setya Ningsih dan Raha di Jawa
Sementara Akang menangis di Kapuas, Setya Ningsih juga menangis di rumah ibunya di Jawa.
Bukan karena ia masih marah pada Akang. Tapi karena ia rindu. Ia rindu pada suaminya meskipun ia yang memutuskan untuk pergi.
Ibu Setya, seorang perempuan tua berusia tujuh puluh tahun yang masih tegar meskipun rambutnya sudah memutih semua, duduk di samping putrinya.
"Ning, kamu masih sayang sama suamimu?" tanya ibu.
Setya mengangguk, air mata mengalir di pipinya. "Tapi aku sakit hati, Bu. Aku merasa dikhianati."
"Ibu mengerti. Tapi ingat, Ning. Pernikahan itu tidak selalu mulus. Kadang ada badai. Kadang ada ombak besar yang menghantam. Tujuan kita bukan menghindari badai, tapi belajar berlayar di tengah badai."
"Aku tidak tahu harus bagaimana, Bu."
"Kamu pulang, Ning. Pulang ke Kapuas. Bicarakan dengan suamimu. Bukan dengan amarah, tapi dengan hati yang terbuka. Dengarkan penjelasannya. Dan jika kamu masih mencintainya, maafkanlah. Bukan karena dia pantas, tapi karena kamu pantas untuk damai."
Setya menatap ibunya. "Bu tidak marah dengan menantu Ibu?"
Ibu tertawa kecil. "Marah? Awalnya iya. Ibu ingin ke Kapuas, memarahi Akang habis-habisan. Tapi setelah Ibu pikir-pikir, apa gunanya marah? Marah hanya akan membuatmu semakin sakit. Yang penting sekarang adalah apa yang terbaik untuk keluarga kalian. Apa yang terbaik untuk anak-anak. Apa yang terbaik untuk masa depan."
Setya terdiam.
Ia memikirkan kata-kata ibunya.
Pulang. Bicara. Maafkan. Bukan karena dia pantas, tapi karena aku pantas untuk damai.
Malam itu, Setya mengambil ponselnya.
Ia mengetik pesan untuk Akang. Pendek. Tanpa basa-basi.
Setya Ningsih: Mas, aku dan Raha akan pulang minggu depan. Tolong jemput kami di bandara.
Balasan dari Akang datang cepat. Sangat cepat.
Akang Riyadi: Iya, Ning. Aku akan jemput. Terima kasih. Terima kasih banyak.
Setya tersenyum.
Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, ia tersenyum.
Bukan senyum bahagia. Tapi senyum lega.
Lega karena ia mengambil keputusan.
Lega karena ia memilih untuk pulang.
Lega karena ia masih punya rumah, meskipun rumah itu saat ini sedang retak.
Pelajaran dari Air Mata
Akang belajar banyak malam itu.
Ia belajar bahwa menangis bukanlah kelemahan. Menangis adalah keberanian untuk mengakui bahwa kita terluka. Bahwa kita tidak selalu kuat. Bahwa kita butuh pertolongan.
Ia belajar bahwa menjadi ayah yang baik bukan berarti harus sempurna. Menjadi ayah yang baik berarti mau mengakui kesalahan di depan anak-anaknya, dan menunjukkan pada mereka bahwa tidak ada yang terlalu terlambat untuk berubah.
Ia belajar bahwa Setya, meskipun telah ia sakiti, masih memberinya kesempatan. Dan kesempatan itu tidak boleh ia sia-siakan.
Ia belajar bahwa cinta pada Sinox tidak akan pernah hilang sepenuhnya. Tapi ia bisa memilih untuk mencintainya dari kejauhan, sebagai doa, sebagai kenangan indah, sebagai bagian dari masa lalu yang membentuk dirinya.
Akang menatap langit malam yang mulai beranjak pagi.
Fajar mulai menyingsing di ufuk timur.
Besok adalah hari baru, pikirnya. Lusa, Setya dan Raha akan pulang. Aku akan jemput mereka. Aku akan peluk mereka. Aku akan minta maaf, bukan dengan kata-kata, tapi dengan tindakan. Aku akan buktikan bahwa aku bisa berubah. Bahwa aku layak diberi kesempatan kedua.
Ia masuk ke dalam rumah.
Mengambil air wudhu.
Melaksanakan salat Subuh lebih khusyuk dari biasanya.
Di sujudnya, ia berdoa, bukan dengan bahasa Arab yang fasih, tapi dengan tangis yang tulus.
Ya Allah, terima kasih untuk air mata ini. Terima kasih untuk kesempatan yang masih Engkau berikan. Aku tidak pantas, tapi Engkau masih memberiku jalan. Aku tidak akan menyia-nyiakannya. Aku berjanji akan menjadi suami yang lebih baik. Ayah yang lebih baik. Manusia yang lebih baik. Amin.
Sinox yang Tidak Tahu
Sinox tidak tahu bahwa Akang menangis semalam suntuk. Ia tidak tahu karena mereka sudah sepakat untuk mengurangi komunikasi, terutama setelah peristiwa yang mengguncang beberapa waktu lalu.
Tapi pagi itu, saat ia membuka ponsel, ada sebuah pesan dari Akang, dikirim pukul 04.47, saat fajar mulai menyingsing.
Akang Riyadi: Nox, aku menangis semalaman. Bukan karena aku lemah. Tapi karena aku sadar akan banyak hal. Aku sadar bahwa selama ini aku terlalu sibuk mengejar masa lalu sampai aku lupa menghargai masa kini. Aku sadar bahwa cinta sejati bukan tentang memiliki, tapi tentang melepaskan. Dan aku sadar bahwa aku harus melepaskanmu untuk kebaikan kita berdua, untuk kebaikan keluarga kita.
Akang Riyadi: Aku tidak akan melupakanku. Tapi aku akan berhenti mencintaimu sebagai kekasih. Aku akan mencintaimu sebagai saudara, sebagai sahabat, sebagai seseorang yang pernah menjadi bagian terindah dalam hidupku.
Akang Riyadi: Terima kasih untuk tiga puluh tahun kenangan. Terima kasih untuk air mata dan tawa. Terima kasih karena kau telah mengajariku arti cinta sejati, cinta yang tidak egois, cinta yang rela melepaskan.
Akang Riyadi: Selamat pagi, Nox. Semoga hari-harimu bahagia. Bersama Mas Sarif. Bersama anak-anakmu. Tanpaku.
Sinox membaca pesan itu berulang kali.
Ia tersenyum. Menangis. Tersenyum lagi.
Ini yang terbaik, pikirnya. Ini yang terbaik untuk kita semua.
Ia membalas pesan Akang.
Pendek. Sederhana. Tanpa drama.
Sinox Yanti: Selamat pagi, Akang. Aku juga melepaskanmu. Bukan karena aku tidak mencintaimu. Tapi karena aku mencintaimu dengan cara yang benar. Sebagai sahabat. Sebagai saudara. Sebagai seseorang yang akan selalu kudoakan dalam setiap sujudku. Terima kasih untuk semuanya. Semoga kita bertemu di surga kelak, tanpa rasa bersalah, tanpa air mata, tanpa batasan.
Sinox Yanti: Jaga dirimu, Akang. Jaga Setya. Jaga anak-anakmu. Mereka adalah prioritasmu sekarang.
Sinox Yanti: Sampai jumpa di lain waktu. Sebagai sahabat.
Pesan itu terkirim.
Sinox tidak menunggu balasan.
Ia mematikan ponselnya. Berjalan ke dapur, menghangatkan nasi goreng sisa semalam, dan menyiapkan sarapan untuk Mas Sarif dan Eko, yang masih dalam proses pemulihan setelah semua yang terjadi.
Hari baru dimulai.
Tanpa air mata. Tanpa drama. Tanpa cinta yang menyiksa.
Hanya keikhlasan. Hanya ketulusan. Hanya harapan untuk hari-hari yang lebih baik.
BAB XV
Rumah Tangga di Ujung Tanduk
Ada saat-saat dalam kehidupan berumah tangga ketika badai datang silih berganti, ketika ujian bertubi-tubi tanpa henti, ketika retakan yang tadinya hanya sebatas garis tipis di dinding berubah menjadi celah menganga yang siap runtuh kapan saja.
Rumah tangga Akang dan Sinox berada di ujung tanduk.
Bukan karena satu kesalahan besar. Tapi karena akumulasi dari segala sesuatu: cinta masa lalu yang tak pernah mati, fitnah yang menyebar seperti api, gunjingan yang menusuk diam-diam, kepercayaan yang retak, dan komunikasi yang berubah menjadi medan perang sunyi.
Di Kapuas, Akang hidup dalam rumah yang kosong secara emosional. Setya Ningsih telah kembali dari Jawa, tapi tidak seperti dulu. Ada jarak yang tidak bisa dijembatani hanya dengan kata maaf. Ada tembok yang tidak bisa dirobohkan hanya dengan pelukan hangat.
Di Tegorejo, Sinox juga merasakan hal yang sama. Mas Sarif masih bersamanya, masih berusaha, masih bertahan. Tapi usaha dan ketahanan itu tidak membuat luka otomatis sembuh. Luka butuh waktu. Butuh kesabaran. Butuh pengorbanan yang mungkin tidak semua orang sanggup memberikan.
Dan di tengah semua itu, pertanyaan besar menggantung di udara: Apakah rumah tangga ini masih bisa diselamatkan?
Akang tidak tahu.
Sinox juga tidak tahu.
Yang mereka tahu, mereka berdua sedang berjuang, masing-masing dengan caranya sendiri, untuk mempertahankan apa yang tersisa.
Tapi apakah berjuang saja cukup? Atau ada saatnya berjuang justru membuat luka semakin dalam?
Di Kapuas: Dingin yang Tak Kunjung Sembuh
Setya Ningsih telah pulang seminggu yang lalu.
Akang menjemputnya di bandara dengan perasaan campur aduk, lega, bahagia, tapi juga takut. Takut bahwa istrinya belum sungguh-sungguh memaafkannya, takut bahwa kedamaian yang tampak di permukaan hanyalah topeng, takut bahwa suatu saat nanti Setya akan meledak lagi.
Dan ketakutannya terbukti.
Setya pulang, tapi ia bukan Setya yang dulu.
Dulu, Setya selalu menyambutnya dengan senyum saat Akang pulang dari kantor desa. Dulu, Setya selalu memasak makanan favoritnya tanpa diminta. Dulu, Setya selalu meraih tangannya di malam hari sebelum tidur, menggenggamnya erat-erat, seolah-olah tidak ingin kehilangan.
Sekarang, Setya bicara seperlunya. Masak seadanya. Tidur dengan posisi membelakangi Akang, seakan-akan mereka hanya dua orang asing yang berbagi kamar.
"Mas," panggil Setya suatu malam, setelah seminggu tidak mengucapkan lebih dari sepuluh kata sekaligus.
"Iya, Ning."
"Aku tidak bisa kembali seperti dulu."
Akang terdiam. Dadanya terasa sesak.
"Aku sudah mencoba," lanjut Setya. "Aku sudah berusaha memaafkan Mas. Aku sudah berusaha melupakan. Tapi setiap kali aku melihat Mas, aku teringat pada video itu. Aku teringat pada kata-kata Mas kepada perempuan itu. Aku teringat bahwa Mas lebih lembut padanya daripada padaku selama 25 tahun nikah."
"Ning, aku minta maaf..."
"Maaf tidak akan cukup, Mas." Setya menoleh. Matanya merah, tapi tidak menangis. Air matanya mungkin sudah habis. "Aku butuh waktu. Banyak waktu. Aku tidak tahu kapan aku bisa kembali seperti dulu. Mungkin tidak pernah."
"Jadi apa yang harus kita lakukan?"
Setya menghela napas panjang. "Aku tidak tahu, Mas. Yang aku tahu, aku tidak ingin bercerai. Aku tidak ingin anak-anak kehilangan ayah. Tapi aku juga tidak bisa berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Itu tidak jujur."
"Kita bisa pergi ke konseling pernikahan," usul Akang. "Kita bisa bicara pada psikolog. Mungkin ada yang bisa membantu."
Setya terdiam sejenak. "Aku tidak percaya pada konseling."
"Setidaknya coba dulu, Ning. Untuk kita. Untuk anak-anak."
Setya tidak menjawab. Ia hanya membalikkan badan, membelakangi Akang, dan memejamkan mata.
Akang hanya bisa menatap punggung istrinya dengan perasaan hancur.
Rumah tangga kami di ujung tanduk, pikirnya. Dan aku tidak tahu bagaimana cara menyelamatkannya.
Setya dan Raha: Luka yang Beda Bentuk
Setya tidak sendirian dalam penderitaannya.
Raha, anak bungsu mereka, juga membawa lukanya sendiri. Sejak video itu viral dan ia tahu bahwa rekaman tangannya yang menjadi biang kerok, Raha berubah. Remaja yang dulu ceria, suka bercanda, dan dekat dengan ayahnya, kini menjadi pendiam. Ia jarang keluar kamar. Ia tidak mau bicara pada Akang. Bahkan saat Akang mencoba mendekat, Raha pergi.
"Ra, makan dulu, Nak," panggil Setya suatu sore.
"Tidak lapar, Bu."
"Kamu sudah dua hari hampir tidak makan. Kamu sakit?"
"Tidak. Aku hanya tidak lapar."
Setya masuk ke kamar Raha. Anaknya duduk di sudut ruangan, memeluk guling, menatap kosong ke dinding.
"Ra, Ibu tahu kamu masih tertekan karena video itu. Tapi ini bukan salahmu, Nak. Kamu tidak tahu konsekuensinya."
"Tapi aku yang merekam, Bu. Aku yang mengirim ke temanku. Aku yang memulai semuanya. Kalau aku tidak iseng, mungkin Bapak tidak akan ketahuan. Mungkin Ibu tidak akan pergi ke Jawa. Mungkin keluarga kita masih utuh."
Setya duduk di samping putranya. Ia memeluk Raha.
"Ra, apa yang terjadi bukan salahmu. Ini salah Bapak. Bapak yang seharusnya lebih menjaga diri. Bapak yang seharusnya tidak melakukan panggilan video dengan perempuan lain. Kamu hanya korban, sama seperti Ibu."
"Tapi aku benci Bapak, Bu," bisik Raha. Suaranya pecah. "Aku benci Bapak karena membuat Ibu menangis. Aku benci Bapak karena membuat keluarga kita hancur. Aku benci Bapak karena dia lebih memilih perempuan lain daripada kita."
Setya memeluk anaknya lebih erat.
"Jangan benci Bapak, Ra. Bapak tetap ayahmu. Bapak tetap yang membesarkanmu, yang menyekolahkanmu, yang mengajarmu mengaji. Bapak melakukan kesalahan, tapi itu tidak berarti Bapak berhenti mencintai kita."
"Kalau dia mencintai kita, kenapa dia selingkuh?"
Pertanyaan Raha sederhana, tapi menusuk.
Setya tidak tahu harus menjawab apa.
Kenapa laki-laki yang mencintai keluarganya masih bisa selingkuh? pikirnya. Apakah cintanya tidak cukup kuat? Ataukah godaan terlalu besar?
Ia tidak tahu.
Yang ia tahu, ia harus melindungi Raha dari kebencian yang terlalu berat untuk anak seusianya.
"Ra, orang dewasa itu rumit," kata Setya akhirnya. "Mereka kadang melakukan hal-hal yang menyakitkan meskipun tidak bermaksud. Tapi itu tidak berarti mereka jahat. Bapak tidak jahat. Bapak hanya tersesat. Dan kita harus membantu Bapak menemukan jalan pulang."
Raha diam.
Ia tidak mengerti.
Tapi setidaknya, ia berhenti mengatakan bahwa ia membenci ayahnya.
Itu awal. Awal yang kecil, tapi penting.
Di Tegorejo: Sunyi yang Membunuh
Jika di Kapuas dingin, di Tegorejo sunyi.
Sunyi yang perlahan membunuh.
Mas Sarif masih tinggal satu rumah dengan Sinox, tapi ia seperti orang asing yang tidak tahu harus mengobrol tentang apa. Setiap pagi ia pergi ke sawah. Setiap sore ia pulang, mandi, makan, lalu tidur di ruang tamu. Tidak ada obrolan panjang. Tidak ada tawa. Tidak ada rencana liburan keluarga yang biasa mereka diskusikan.
Eko juga masih diam. Anak itu sudah mulai berbicara pada Sinox, tapi tidak seperti dulu. Dulu, Eko cerewet. Ia bercerita tentang teman-temannya, tentang gurunya yang galak, tentang game yang sedang ia mainkan. Sekarang, ia hanya menjawab seperlunya. "Iya, Bu." "Tidak, Bu." "Nanti, Bu."
Sinox merasa seperti tinggal di antara patung-patung hidup.
Suatu malam, Sinox memberanikan diri untuk duduk di samping Mas Sarif yang sedang berbaring di kursi panjang ruang tamu.
"Mas," panggilnya pelan.
"Iya."
"Aku kangen dengan Mas yang dulu."
Mas Sarif menoleh. "Yang dulu bagaimana?"
"Yang dulu suka bercerita tentang sawahnya. Yang dulu suka mengajakku jalan-jalan ke kota naik motor. Yang dulu suka memelukku dari belakang saat aku sedang masak. Yang dulu... yang dulu masih tersenyum padaku."
Mas Sarif menghela napas. "Aku juga kangen dengan diriku yang dulu, Sin. Tapi dia pergi. Mungkin tidak akan kembali."
"Kenapa Mas bilang begitu?"
"Karena luka ini, Sin. Luka yang kau buat. Luka yang tidak bisa sembuh hanya dengan waktu."
"Apa yang bisa aku lakukan untuk menyembuhkan luka itu, Mas?"
Mas Sarif diam cukup lama. Lalu ia berkata, "Aku tidak tahu, Sin. Aku sendiri tidak tahu apa yang aku butuhkan. Aku hanya tahu bahwa aku masih sakit. Dan aku tidak bisa berpura-pura bahwa aku baik-baik saja hanya untuk membuatmu lega."
Sinox menunduk. Air mata jatuh di pangkuannya.
"Aku akan menunggu, Mas. Akan kutunggu sampai Mas sembuh. Akan kutunggu sampai Mas mau bicara lagi. Akan kutunggu sampai Mas kembali menjadi dirinya yang dulu. Berapa pun waktu yang dibutuhkan."
Mas Sarif tidak menjawab.
Ia hanya memejamkan mata.
Dan Sinox, di samping suaminya yang pura-pura tidur, hanya bisa menangis dalam diam.
Pertemuan dengan Kepala Desa
Suatu siang, kepala desa tempat Akang bekerja memanggilnya ke kantor.
"Pak Akang, saya dengar berita tentang Bapak," kata kepala desa, seorang laki-laki paruh baya yang tegas tapi bijaksana. "Saya dengar Bapak terlibat skandal video viral. Saya juga dengar istri Bapak sempat pulang ke Jawa."
Akang menunduk. "Maaf, Pak. Itu masalah pribadi saya."
"Saya tahu. Tapi sebagai perangkat desa, Bapak harus menjaga citra. Desa kita sedang berkembang. Banyak investor yang melirik. Kita tidak bisa memberi kesan bahwa aparat desa kita tidak bermoral."
"Apakah saya harus mengundurkan diri, Pak?"
Kepala desa menghela napas. "Saya tidak minta Bapak mengundurkan diri. Bapak pegawai yang baik. Rajin. Jujur. Tapi saya minta Bapak menyelesaikan masalah ini. Bereskan rumah tangga Bapak. Jangan biarkan masalah pribadi mengganggu pekerjaan."
"Baik, Pak. Saya akan berusaha."
"Satu lagi, Pak Akang."
"Apa, Pak?"
"Saya kenal Bapak sudah lama. Saya tahu Bapak bukan orang jahat. Mungkin Bapak hanya tersesat. Tapi ingat, tidak ada kata terlambat untuk kembali ke jalan yang benar. Bukan hanya untuk desa, tapi untuk Bapak sendiri."
Akang mengangguk. Ia pamit, keluar dari kantor kepala desa, dan berjalan pulang dengan hati yang berat.
Rumah tangga di ujung tanduk, pikirnya. Pekerjaan juga terancam. Apa yang tersisa dalam hidupku?
Ia melihat ke langit.
Mendung mulai menggantung di atas Kapuas.
Hujan akan segera turun.
Seperti hidupku, pikir Akang. Selalu mendung, selalu hujan, jarang terbit matahari.
Sinox dan Kepala Sekolah
Hal yang sama terjadi pada Sinox di Tegorejo.
Kepala sekolah memanggilnya lagi, bukan untuk memecat, tapi untuk menanyakan kabar.
"Bu Sinox, bagaimana keadaan Ibu sekarang?" tanya Pak Kepala Sekolah.
"Baik, Pak. Mungkin tidak sepenuhnya baik, tapi saya berusaha."
"Saya dengar suami Ibu masih tinggal serumah. Itu kabar baik."
"Iya, Pak. Mas Sarif masih bersama saya. Tapi jarak di antara kami... masih jauh."
"Wajar, Bu. Luka seperti itu butuh waktu. Yang penting Ibu tidak menyerah."
"Saya tidak akan menyerah, Pak. Saya sudah memutuskan. Saya akan memperbaiki rumah tangga saya. Berapa pun biayanya."
Pak Kepala Sekolah tersenyum. "Saya senang mendengar itu, Bu Sinox. Saya akan bantu Ibu. Mungkin Ibu butuh cuti lebih lama. Atau Ibu butuh dukungan moral. Saya dan guru-guru yang lain akan mendukung Ibu."
"Terima kasih, Pak. Itu berarti sangat banyak bagi saya."
"Jangan menyerah, Bu Sinox. Keluarga adalah segalanya. Dan Ibu masih punya kesempatan untuk memperbaikinya."
Sinox keluar dari ruang kepala sekolah dengan perasaan sedikit lega.
Setidaknya, tidak semua orang meninggalkannya.
Setidaknya, masih ada yang percaya bahwa ia bisa berubah.
Setidaknya, masih ada harapan.
Malam Keputusan
Malam itu, tanpa saling janji, Akang dan Sinox kembali terhubung.
Bukan untuk bicara tentang cinta. Tapi untuk bicara tentang perjuangan.
Akang Riyadi: Nox, rumah tanggaku di ujung tanduk. Setya pulang, tapi jarak di antara kami masih sangat jauh. Raha membenciku. Iwan diam-diam kecewa. Pekerjaanku juga terancam.
Sinox Yanti: Aku juga, Akang. Mas Sarif masih bersamaku, tapi dia seperti orang asing. Eko jarang bicara. Rumahku terasa seperti hotel. Kami hanya tidur, makan, lalu berpisah lagi.
Akang Riyadi: Apa yang harus kita lakukan, Nox?
Sinox Yanti: Aku tidak tahu, Akang. Tapi aku tahu kita tidak boleh menyerah. Kita sudah menghancurkan rumah tangga kita dengan tangan kita sendiri. Sekarang, kita harus memperbaikinya dengan tangan kita juga. Meskipun sakit. Meskipun lama.
Akang Riyadi: Apa kita bisa?
Sinox Yanti: Kita harus bisa. Bukan untuk kita. Tapi untuk anak-anak. Untuk istri dan suami kita. Mereka tidak pantas menderita karena kesalahan kita.
Akang Riyadi: Aku takut gagal, Nox.
Sinox Yanti: Aku juga takut. Tapi kegagalan bukan alasan untuk berhenti berusaha. Selama kita masih bernapas, selama kita masih diberi kesempatan, kita harus berusaha.
Akang Riyadi: Kita janji, ya, Nox?
Sinox Yanti: Janji apa?
Akang Riyadi: Janji untuk tidak menyerah pada keluarga kita. Janji untuk terus berusaha meskipun rasanya mustahil. Janji untuk saling mendoakan, bukan sebagai kekasih, tapi sebagai sahabat.
Sinox Yanti: Aku berjanji, Akang. Dan aku tahu kamu juga akan berjanji. Karena kita bukan lagi remaja bodoh yang dulu. Kita sudah dewasa. Kita tahu mana yang benar dan mana yang salah. Kita hanya butuh keberanian untuk memilih yang benar.
Akang Riyadi: Selamat malam, Nox. Jaga dirimu. Jaga Mas Sarif. Jaga Eko.
Sinox Yanti: Selamat malam, Akang. Jaga Setya. Jaga Raha. Jaga Iwan dan Anto. Dan jaga dirimu sendiri.
Akang Riyadi: Aku akan berusaha.
Sinox Yanti: Aku juga.
Percakapan itu berakhir.
Akang mematikan ponselnya.
Ia memandang Setya yang sudah tertidur di sampingnya, dengan posisi membelakangi, seperti biasa.
Ia meraih tangan istrinya.
Perlahan. Dengan hati-hati.
Setya tidak melepaskan, tapi juga tidak membalas.
Tapi setidaknya, ia tidak menarik tangannya.
Itu awal, pikir Akang. Awal dari perbaikan yang panjang.
Dan ia berdoa dalam hati, doa yang tulus, doa yang tidak pernah ia panjatkan sepanjang hidupnya.
Ya Allah, aku tidak pantas. Tapi aku mohon, selamatkan rumah tanggaku. Selamatkan pernikahanku. Aku berjanji akan menjadi suami yang lebih baik. Aku berjanji akan menjadi ayah yang lebih baik. Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Amin.
BAB XVI
Anak-Anak Mulai Mengetahui
Tidak ada yang lebih menyakitkan bagi seorang anak selain mengetahui bahwa rumah yang selama ini ia anggap aman dan hangat, ternyata rapuh. Bahwa orang tua yang selama ini ia kuti teladannya, ternyata bisa jatuh. Bahwa dinding-dinding yang melindunginya selama bertahun-tahun, ternyata memiliki retakan yang tidak pernah ia lihat.
Anak-anak Akang dan Sinox mulai mengetahui.
Bukan karena sengaja diberi tahu. Bukan karena orang tua mereka memutuskan untuk terbuka. Tapi karena rahasia, sekali terbongkar, tidak bisa lagi disembunyikan. Video itu telah menyebar. Fitnah dan gunjingan telah mencapai telinga mereka, baik di sekolah, di kampus, di pesantren, maupun di lingkungan pergaulan.
Rahman menerima kiriman video di pesantren. Lina di kota. Anto dan Iwan dari tetangga. Raha dari teman sekelas. Eko dari bisik-bisik di sekolah.
Mereka terluka. Mereka kecewa. Mereka marah.
Tapi di antara luka itu, ada yang memilih memaafkan. Ada yang memilih menjauh. Ada yang hancur. Dan ada yang diam-diam berdoa.
Di Pesantren: Rahman Belajar Memaafkan
Pesantren Aliah, pukul 22.00.
Rahman menonton video itu sekali. Lalu dua kali. Lalu lima kali. Setiap putaran, rasa sakit di dadanya bertambah.
Ibunya. Wajah yang sama yang setiap minggu meneleponnya. Suara yang sama yang selalu berpesan, "Nak, jangan dekati perempuan yang bukan hakmu."
Tapi di video itu, ibunya berkata pada laki-laki lain: "Aku juga kangen kamu, Akang."
Rahman tidak bisa tidur. Ia keluar kamar, duduk di bawah pohon beringin di halaman pesantren, dan menangis.
"Ra, kenapa kamu di sini?" Ustadz Fajar muncul di belakangnya.
Setelah mendengar cerita Rahman, Ustadz Fajar duduk di sampingnya.
"Rahman, berbakti kepada orang tua adalah kewajiban, apa pun kesalahan mereka. Tugas anak bukan menghakimi, tapi mendoakan."
"Tapi sakit, Ustadz."
"Tentu sakit. Tapi ingat, orang tua juga manusia. Mereka bisa salah. Dan mereka, seperti kamu, berhak didoakan, bukan dihakimi."
Malam itu, Rahman mengambil air wudhu, salat hajat dua rakaat, lalu berdoa dengan khusyuk.
Ya Allah, ampunilah dosa ibuku. Ampuni dosa ayahku. Bimbing mereka kembali ke jalan yang Engkau ridhai. Dan jika Engkau berkenan, sembuhkanlah lukaku.
Air mata jatuh di sajadahnya. Tapi kali ini, ia menangis bukan karena kecewa. Tapi karena cinta.
Di Kota: Lina yang Marah
Di kamar kosnya, Lina membuka video itu dengan tangan gemetar.
Ibunya. Wajah yang sama yang selalu berkata, "Nak, jaga kesehatan. Jangan lupa salat."
Tapi di video itu, ibunya berkata, "Aku juga kangen kamu, Akang."
Lina tidak menangis. Ia langsung menelepon.
"Halo, Lin."
"Bu, aku lihat videonya." Suaranya datar.
Sinox terdiam. "Iya, Lin. Itu Ibu."
"Kenapa, Bu? Kenapa Ibu menyakiti Bapak? Kenapa Ibu menghancurkan keluarga kita?"
Lina menangis di ujung telepon. Sinox juga menangis.
"Lin, Ibu minta maaf..."
"Maaf tidak cukup, Bu! Aku di sini, kuliah, berusaha membanggakan Ibu. Tapi ternyata di rumah, Ibu melakukan hal seperti ini. Aku malu, Bu! Aku malu menjadi anak Ibu!"
Telepon ditutup.
Sinox terduduk lemas. Eko yang mendengar semuanya, hanya berkata pelan, "Wajar, Bu. Aku juga marah." Lalu ia pergi ke kamar.
Sinox sendirian. Menangis. Semua anakku tahu. Semua anakku kecewa.
Di Kapuas: Anto yang Memaafkan, Iwan yang Menjauh
Anto datang ke rumah orang tuanya. Ia tidak marah. Ia hanya duduk di depan ayahnya.
"Pa, Anto tidak akan menghakimi Pa. Anto tahu Pa bukan orang jahat. Pa hanya melakukan kesalahan."
Akang menangis. "Maafkan Pa, Ton."
"Setiap orang bisa kecewa, Pa. Tapi tidak semua orang bisa memaafkan. Anto memilih memaafkan. Bukan karena Anto suci, tapi karena Anto tahu Pa masih bisa berubah."
Iwan berbeda. Ia memilih menjauh. Tidak datang ke rumah. Tidak mengangkat telepon.
Suatu malam, ia akhirnya pulang. Tapi ia tidak bicara pada Akang.
"Wan, Pa minta maaf."
Iwan meletakkan sendoknya. "Maaf Pa, Iwan belum bisa memaafkan Pa. Iwan akan segera menikah. Iwan ingin membangun keluarga yang sakinah. Tapi melihat apa yang Pa lakukan, Iwan takut menjadi suami yang gagal seperti Pa."
"Wan, Pa tidak minta kamu memaafkan Pa sekarang. Tapi jangan benci Pa. Kebencian hanya akan meracuni hatimu."
Iwan tidak menjawab. Ia bangkit dan kembali ke kamar.
Akang hanya bisa menatap punggung anaknya. Aku gagal sebagai ayah.
Raha: Yang Paling Terluka
Raha merasa bertanggung jawab. Jika aku tidak merekam, mungkin tidak ada yang akan tahu.
Ia menarik diri. Tidak mau sekolah. Tidak mau makan. Tidak mau bicara, bahkan pada ibunya.
Setya panik. Ia membawa Raha ke psikolog.
"Bu Setya, anak Ibu mengalami depresi berat. Ia merasa bersalah. Ia yakin dialah penyebab kehancuran keluarga."
"Lalu apa yang harus saya lakukan, Dok?"
"Yakinkan Raha bahwa ini bukan salahnya. Libatkan Bapaknya dalam proses penyembuhan. Raha butuh mendengar langsung dari ayahnya bahwa ayahnya tidak menyalahkannya."
Di dalam mobil pulang, Setya memegang tangan Raha. "Ra, apa yang terjadi bukan salahmu. Kamu hanya anak-anak. Kamu tidak tahu konsekuensinya."
Raha diam. Tapi setetes air mata jatuh dari matanya.
Setya memeluk anaknya. Ya Allah, sembuhkan anakku.
Eko: Bertahan di Tengah Gunjingan
Di Tegorejo, Eko menjadi sasaran ejekan.
"Eh, Eko! Ibu kamu artis sekarang? Kayaknya di video bagus banget!"
"Eko, ibumu masih video call-an sama laki-laki itu? Atau sudah putus?"
Eko tidak menjawab. Ia hanya diam. Berjalan cepat.
Suatu siang, di kantin, seorang anak kelas IX menghampirinya. "Ibumu pelacur, ya?"
Darah Eko mendidih. Pukulannya melesat.
Pertengkaran terjadi. Eko digelandang ke ruang kepala sekolah. Wajahnya babak belur.
Kepala sekolah memanggil Sinox. Saat melihat anaknya, Sinox jatuh terduduk.
"Maafkan Ibu, Nak. Maafkan Ibu."
Eko tidak menjawab. Ia hanya diam. Matanya kosong.
Guru BP memanggilnya ke ruang konseling. "Eko, kesalahan ibumu bukan kesalahanmu. Kamu tidak bertanggung jawab atas apa yang dilakukan ibumu."
"Tapi ibu saya, Pak. Darah saya. Nama baik saya."
"Kamu boleh kecewa. Kamu boleh marah. Tapi jangan biarkan rasa malu itu menghancurkan masa depanmu."
Eko keluar dengan tekad baru. Aku tidak akan menyerah. Aku akan terus sekolah. Aku akan bangkit. Untuk diriku sendiri.
Pengakuan Sinox pada Anak-anaknya
Suatu malam, Sinox mengumpulkan anak-anaknya, Lina melalui video call, Rahman melalui telepon, dan Eko di sampingnya.
"Anak-anak, Ibu minta maaf. Ibu sudah melakukan kesalahan besar. Ibu tidak akan meminta kalian memaafkan Ibu sekarang. Tapi Ibu ingin kalian tahu, Ibu menyesal."
"Kenapa Ibu melakukan itu, Bu?" tanya Lina.
"Karena Ibu bodoh, Lin. Ibu terlalu sibuk dengan masa lalu sampai lupa bahwa masa depan ada di depan mata."
"Apakah Ibu masih mencintai laki-laki itu?" tanya Rahman.
Sinox terdiam. "Jujur, Ibu tidak tahu. Yang Ibu tahu, Ibu mencintai Bapak. Ibu mencintai kalian. Dan Ibu akan berusaha sekuat tenaga memperbaiki kesalahan Ibu."
"Bagaimana cara Ibu membuktikan itu?" tanya Eko.
"Ibu tidak akan bicara dengan laki-laki itu lagi. Ibu akan fokus pada Bapak. Fokus pada kalian. Fokus pada keluarga. Itu janji Ibu."
Lina diam. Rahman diam. Eko diam.
Tapi mereka tidak mematikan telepon. Mereka tidak pergi.
Anak-anak masih memberiku kesempatan, pikir Sinox. Aku tidak akan menyia-nyiakannya.
Setelah Anak-Anak Mengetahui
Anak-anak mengetahui segalanya. Mereka terluka. Mereka kecewa. Mereka marah.
Tapi mereka, paling tidak beberapa di antara mereka, masih mau memaafkan.
Rahman berdoa untuk ibunya setiap malam.
Lina masih marah, tapi ia tidak memutus hubungan.
Eko berusaha fokus pada sekolah, meskipun berat.
Anto mendampingi ayahnya, menguatkannya.
Iwan masih menjauh. Tapi suatu hari nanti, mungkin ia akan kembali.
Raha, yang paling terluka, masih dalam proses penyembuhan.
Tapi setidaknya, mereka tidak sendirian. Setidaknya, mereka masih saling memiliki.
Dan di dalam keluarga, seburuk apa pun keadaannya, kita tidak akan pernah benar-benar sendirian.
BAB XVII
Rindu yang Menjadi Dosa
Ada rindu yang lahir dari cinta yang suci. Ada rindu yang tumbuh dari ikatan yang halal, dari hubungan yang diberkahi, dari pertemuan yang diizinkan oleh takdir dan agama.
Tapi ada juga rindu yang menjadi dosa.
Rindu yang tidak seharusnya ada. Rindu yang lahir dari hubungan yang tidak halal, dari ikatan yang tidak sah, dari pertemuan yang seharusnya tidak pernah terjadi. Rindu yang, meskipun terasa manis di hati, adalah duri dalam daging yang tidak boleh dibiarkan terus menusuk.
Rindu Akang pada Sinox, setelah semua yang terjadi, telah berubah menjadi rindu yang menjadi dosa.
Bukan karena rindu itu tidak tulus. Bukan karena rindu itu tidak dalam. Tapi karena rindu itu hadir di waktu yang salah, di tempat yang salah, dan dalam status yang salah.
Sinox sudah berjanji akan melepaskan Akang. Akang sudah berjanji akan fokus pada Setya. Mereka sudah sepakat untuk mengurangi komunikasi, untuk menjaga jarak, untuk tidak lagi membiarkan perasaan itu tumbuh.
Tapi rindu tidak peduli pada janji.
Rindu tidak peduli pada batasan.
Rindu tidak peduli pada dosa.
Rindu hanya peduli pada rasa.
Dan rasa itu, setiap malam, setiap kali ponsel bergetar, setiap kali nama "Akang" atau "Sinox" muncul di layar, selalu datang tanpa diundang. Selalu hadir tanpa permisi. Selalu menggelitik hati yang sudah bertekad untuk berhenti.
Akang dan Sinox mencoba melawan.
Tapi melawan rindu adalah seperti melawan ombak dengan tangan kosong.
Kita bisa bertahan sebentar.
Tapi pada akhirnya, ombak itu akan tetap datang.
Malam di Mana Ponsel Bergetar
Kapuas, pukul 23.15. Akang baru saja selesai salat Isya. Setya sudah tidur, paling tidak, ia sudah berbaring di tempat tidur dengan posisi membelakangi, seperti biasa. Raha juga sudah tidur, setelah hari ini sedikit lebih baik, ia mau makan tanpa disuruh, meskipun porsinya masih sedikit.
Akang duduk di beranda, seperti malam-malam sebelumnya. Angin gambut bertiup sejuk, membawa bau tanah kering dan dedaunan yang mulai rontok.
Ponselnya bergetar.
Sinox Yanti: Akang, kamu masih bangun?
Akang menatap pesan itu. Jari-jarinya bergerak ingin membalas, tapi ia tahan. Sudah janji, Akang. Sudah janji akan menjaga jarak.
Tapi jarinya, seperti memiliki kemauan sendiri, mengetik balasan.
Akang Riyadi: Masih. Kamu kenapa belum tidur?
Sinox Yanti: Tidak bisa tidur. Rindu.
Akang terdiam. Kata itu, rindu, adalah kata yang paling ia hindari. Karena sekali ia mengakuinya, ia tidak akan bisa mengendalikan diri.
Akang Riyadi: Jangan, Nox. Jangan mulai.
Sinox Yanti: Mulai apa?
Akang Riyadi: Mulai merindukanku. Kita sudah sepakat.
Sinox Yanti: Aku tahu. Tapi aku tidak bisa mengendalikan perasaanku, Akang. Perasaan itu datang begitu saja, tanpa aku undang. Aku hanya bisa memilih untuk tidak mengungkapkannya. Tapi malam ini, aku lelah. Aku lelah berpura-pura bahwa aku baik-baik saja. Aku lelah memendam semuanya sendiri.
Sinox Yanti: Aku rindu kamu, Akang. Bukan sebagai kekasih. Tapi sebagai teman. Sebagai seseorang yang mengerti aku tanpa perlu banyak kata. Sebagai seseorang yang melihat aku apa adanya, tanpa topeng. Aku rindu curhat denganmu. Aku rindu didengar olehmu. Aku rindu merasa tidak sendirian.
Akang membaca pesan itu berulang kali. Matanya berkaca-kaca.
Ia juga rindu. Rindu yang sangat.
Tapi ia tidak boleh mengakuinya.
Karena jika ia mengaku, maka pintu dosa akan terbuka lebar. Dan ia tidak akan bisa menutupnya lagi.
Akang Riyadi: Nox, aku juga rindu. Tapi ini dosa. Rindu kita, pada status kita sekarang, pada kondisi kita sekarang, adalah dosa. Dan aku tidak ingin kita berdua berdosa. Sudah cukup kerusakan yang kita buat. Jangan tambah lagi.
Sinox Yanti: Mengapa cinta yang terasa begitu suci justru menjadi dosa, Akang?
Akang Riyadi: Karena cinta itu suci hanya jika ia berada pada tempatnya. Cinta antara suami dan istri adalah suci. Cinta antara orang tua dan anak adalah suci. Tapi cinta antara kita, yang masing-masing sudah berkeluarga, tidak lagi suci. Ia telah ternodai oleh status dan tanggung jawab yang kita emban.
Sinox Yanti: Tapi perasaan ini tidak bisa aku bohongi, Akang. Aku mencintaimu. Mungkin bukan sebagai kekasih yang ingin aku miliki. Tapi aku mencintai kenangan tentangmu. Aku mencintai sosok yang dulu selalu ada untukku. Aku mencintai bayanganmu yang menemaniku selama tiga puluh tahun.
Akang Riyadi: Dan aku juga, Nox. Tapi mencintai kenangan tidak berarti kita harus terus menghidupinya. Ada saatnya kita harus mematikan kenangan itu, menguburnya, dan membiarkannya mati dengan sendirinya.
Sinox Yanti: Aku tidak bisa, Akang. Aku sudah mencoba. Tapi tidak bisa.
Akang Riyadi: Kamu harus bisa. Untuk Mas Sarif. Untuk anak-anakmu. Untuk keluargamu. Aku juga akan berusaha. Untuk Setya. Untuk Raha, Iwan, Anto. Untuk keluargaku. Kita harus saling menguatkan, Nox. Bukan saling melemahkan dengan rindu yang tidak bisa kita penuhi.
Sinox Yanti: Aku akan mencoba lagi, Akang. Tapi jangan marah jika aku gagal.
Akang Riyadi: Aku tidak akan pernah marah padamu, Nox. Aku hanya akan terus mengingatkanmu. Seperti dulu. Sebagai sahabat.
Sinox Yanti: Baik. Sebagai sahabat. Selamat malam, Akang.
Akang Riyadi: Selamat malam, Nox. Jangan lupa baca doa sebelum tidur.
Sinox Yanti: Baca doa juga untukku. Agar aku bisa ikhlas.
Akang Riyadi: Aku selalu mendoakanmu, Nox. Setiap malam.
Sinox Yanti: Aku juga.
Percakapan itu berakhir.
Akang mematikan ponselnya.
Ia menatap langit malam Kapuas yang gelap tanpa bintang.
Rindu ini adalah dosa, pikirnya. Tapi mengapa rasanya seperti doa?
Sinox dan Mas Sarif: Antara Rindu dan Kenyataan
Di Tegorejo, Sinox mematikan ponselnya setelah mengirim pesan terakhir. Ia berbaring di samping Mas Sarif, yang malam ini memilih tidur di kamar, mungkin tanda bahwa hubungan mereka perlahan membaik.
Tapi Sinox tidak bisa tidur.
Rindu pada Akang masih menggelayuti hatinya. Rindu pada masa lalu. Rindu pada saat-saat ketika ia merasa aman hanya dengan mendengar suara Akang di telepon.
Ia menoleh pada suaminya.
Mas Sarif sudah tertidur. Wajahnya yang kasar karena terik matahari, tangannya yang keras karena lumpur sawah, napasnya yang teratur naik turun.
Ini suamiku, pikir Sinox. Laki-laki yang telah bersamaku selama dua puluh tahun. Laki-laki yang telah memberiku tiga anak. Laki-laki yang tidak pernah lelah berjuang untuk keluarga.
Dan aku, aku masih merindukan laki-laki lain.
Bukankah itu dosa?
Mengapa aku tidak bisa cukup dengan apa yang aku miliki?
Mengapa aku selalu menginginkan sesuatu yang tidak bisa aku miliki?
Sinox menggigit bibirnya.
Ia memejamkan mata.
Ya Allah, cabutlah rasa rindu ini dari hatiku. Jika Engkau tidak mencabutnya, setidaknya jadikanlah ia sebagai rindu yang tidak menyiksaku. Rindu yang tidak membuatku terus-menerus membandingkan suamiku dengan laki-laki lain. Rindu yang tidak membuatku tidak bersyukur.
Karena Mas Sarif sudah cukup. Lebih dari cukup.
Aku hanya tidak sadar selama ini.
Ampuni aku, Ya Allah. Ampuniku.
Saat Setya Membaca Pesan Itu
Akang tidak tahu bahwa malam itu, Setya tidak benar-benar tidur.
Ia berbaring di tempat tidur, membelakangi Akang, tapi matanya terbuka. Ia mendengar suami bangkit dari tempat tidur. Mendengar langkah kaki menuju beranda. Mendengar suara ponsel bergetar, lalu suara Akang mengetik, kadang cepat, kadang lambat, seperti orang yang sedang berbicara dengan seseorang yang sangat ia perhatikan.
Setya bangkit diam-diam. Ia berjalan ke pintu kamar yang sedikit terbuka, mengintip ke arah beranda. Cahaya ponsel menerangi wajah suaminya. Dan di wajah itu, Setya melihat ekspresi yang tidak pernah ia lihat saat Akang bicara dengannya.
Lembut. Hangat. Penuh cinta.
Dia bicara dengan perempuan itu, pikir Setya. Dia masih bicara dengan perempuan itu.
Setya kembali ke tempat tidur. Ia tidak marah. Tidak menangis. Ia hanya lelah. Lelah karena perjuangannya untuk mempertahankan rumah tangga ini terasa sia-sia. Lelah karena suaminya masih lebih memilih perempuan lain daripada dirinya.
Ketika Akang kembali ke kamar, Setya memejamkan mata, berpura-pura tidur.
Akang merebahkan diri di sampingnya.
Ia meraih tangan Setya.
Setya membiarkan tangannya digenggam, tapi ia tidak membalas.
Kau boleh menggenggam tanganku, Mas, pikir Setya. Tapi aku tahu, di dalam hatimu, yang kau genggam bukan aku. Tapi bayangan perempuan itu.
Dan aku, aku terlalu lelah untuk memperjuangkan laki-laki yang tidak benar-benar menginginkanku.
Pertemuan dengan Ustadz di Kampung
Minggu pagi, Akang pergi ke masjid desa sendirian. Setya memilih tinggal di rumah, lagi-lagi, jarak yang tidak bisa dijembatani.
Setelah salat Dhuha, Akang bertemu dengan Ustadz Hanafi, imam masjid desa yang sudah sepuh. Ustadz itu duduk di serambi masjid, membaca Al-Qur'an dengan khusyuk.
"Pak Akang, ada apa? Wajah Bapak tampak lesu."
Akang duduk di samping ustadz. "Ustadz, saya ingin bertanya sesuatu."
"Silakan."
"Jika seseorang mencintai orang lain yang bukan pasangan halalnya, apakah itu dosa?"
Ustadz Hanafi menghela napas. "Cinta itu sendiri tidak berdosa. Yang berdosa adalah perbuatan yang mengikuti cinta itu. Jika cinta itu membuat Anda mendekati zina, baik secara fisik maupun emosional, maka ia telah menjadi dosa."
"Bagaimana jika saya sudah berusaha menjauh, tapi rasa cinta itu masih ada?"
"Berusaha menjauh adalah pahala, Pak Akang. Rasa cinta yang masih ada bukanlah dosa selama Anda tidak mengembangkannya. Selama Anda tidak menghubunginya, tidak mengirim pesan, tidak menelepon, tidak melakukan hal-hal yang mendekatkan Anda pada zina."
Akang menunduk. "Saya masih menghubunginya, Ustadz. Masih. Saya sudah berusaha, tapi saya tidak kuat."
Ustadz Hanafi menatap Akang dengan mata yang teduh. "Pak Akang, cinta itu seperti api. Jika Anda terus memberinya kayu bakar, ia akan terus menyala. Tapi jika Anda berhenti memberinya bahan bakar, pasti suatu saat ia akan padam dengan sendirinya."
"Apa kayu bakarnya, Ustadz?"
"Komunikasi. Pesan. Panggilan telepon. Mengingat-ingat kenangan. Semua itu adalah kayu bakar. Jika Anda benar-benar ingin api itu padam, Anda harus berhenti memberinya kayu bakar. Putuskan komunikasi sepenuhnya. Fokus pada istri dan anak-anak Anda. Perbanyak ibadah. Perbanyak doa. Dan yakinlah, Allah tidak akan membebani seseorang di luar kemampuannya."
Akang menangis.
Ia menangis di depan ustadz itu, tidak malu, tidak gengsi.
"Terima kasih, Ustadz. Saya akan berusaha."
"Jangan berusaha, Pak Akang. Lakukan. Berusaha saja tidak cukup. Harus ada tindakan nyata."
Akang mengangguk.
Ia pulang dengan tekad baru.
Putuskan komunikasi sepenuhnya.
Tidak ada lagi chat tengah malam.
Tidak ada lagi pesan rindu.
Tidak ada lagi apa pun.
Untuk selamanya.
Pesan Terakhir
Malam itu, Akang membuka WhatsApp. Ia menatap nama Sinox Yanti di daftar chat. Ratusan pesan. Ribuan kata. Tahun-tahun kerinduan yang terangkum dalam percakapan yang tidak pernah berakhir.
Ia ingin menulis sesuatu.
Pesan terakhir.
Tapi tidak tahu harus menulis apa.
Akhirnya, ia hanya mengetik:
Akang Riyadi: Nox, aku akan menghapus nomormu. Bukan karena aku tidak sayang. Tapi karena aku sayang. Aku sayang padamu. Aku sayang pada Setya. Aku sayang pada anak-anakku. Dan untuk menjaga mereka, untuk menjaga kita semua, aku harus berhenti. Aku harus benar-benar berhenti. Maafkan aku. Jaga dirimu. Jaga Mas Sarif. Jaga anak-anakmu. Aku akan selalu mendoakanmu. Sampai kapan pun.
Pesan itu terkirim.
Akang menggulir ke atas, membaca semua pesan mereka dari awal hingga akhir.
Air mata jatuh di layar ponsel.
Ia menekan tombol hapus chat.
Chat dengan Sinox Yanti akan dihapus. Tindakan ini tidak dapat dibatalkan.
Ya.
Hapus.
Hapus semua.
Pesan-pesan itu lenyap.
Seolah-olah tidak pernah ada.
Tapi kenangan, kenangan tidak bisa dihapus dengan satu tombol.
Kenangan akan tetap ada.
Seumur hidup.
Dan itu, mungkin, adalah ujian terbesar yang harus ia hadapi.
Sinox Menerima Pesan Terakhir
Sinox membaca pesan Akang. Ia membacanya berulang kali, sampai kata-kata itu melekat di hatinya.
"Aku akan menghapus nomormu. Bukan karena aku tidak sayang. Tapi karena aku sayang."
Sinox tidak membalas.
Ia hanya duduk di kamarnya, memegang ponsel dengan tangan gemetar.
Air mata mengalir.
Ia menekan tombol balas.
Jarinya bergetar.
Tapi ia tidak mengetik apa pun.
Ia hanya menekan tombol hapus chat, seperti yang dilakukan Akang.
Semua pesan lenyap.
Nomor Akang masih tersimpan di kontaknya.
Tapi chat, semua percakapan mereka, sudah tidak ada.
Seperti tidak pernah ada.
Tapi Sinox tahu, semuanya pernah ada.
Cinta itu pernah ada.
Rindu itu pernah ada.
Dosa itu juga pernah ada.
Dan sekarang, yang tersisa hanyalah kehampaan.
Keheningan.
Dan pertanyaan yang tidak akan pernah terjawab: Apakah aku akan baik-baik saja tanpamu, Akang?
Ia tidak tahu.
Tapi ia harus berusaha.
Untuk Mas Sarif. Untuk Lina, Rahman, Eko. Untuk keluarganya. Untuk dirinya sendiri.
Selamat tinggal, Akang, bisiknya dalam hati. Bukan selamat tinggal selamanya. Tapi selamat tinggal sebagai kekasih. Sebagai seseorang yang pernah kucintai lebih dari yang seharusnya.
Sampai jumpa di surga, Akang.
Tanpa rasa bersalah. Tanpa dosa. Tanpa tangisan.
Hanya cinta yang suci. Cinta yang tidak perlu disembunyikan. Cinta yang halal.
Setelah Rindu Menjadi Dosa
Rindu Akang dan Sinox adalah rindu yang menjadi dosa.
Bukan karena rindu itu tidak tulus. Bukan karena rindu itu tidak dalam.
Tapi karena rindu itu hadir di waktu yang salah, di tempat yang salah, dan dalam status yang salah.
Mereka berdua tahu itu.
Maka mereka memutuskan untuk mematikan rindu itu.
Memotongnya sejak akar.
Meskipun sakit. Meskipun perih. Meskipun rasanya seperti mati perlahan-lahan.
Karena lebih baik menderita sekarang daripada harus terus berdosa selamanya.
Karena lebih baik kehilangan cinta daripada kehilangan surga.
Karena lebih baik berpisah di dunia daripada bertemu di neraka.
Ya Allah, ampunilah dosa rindu kami. Jika rindu ini adalah ujian, berikan kami kekuatan. Jika rindu ini adalah rahmat, jadikanlah ia rahmat yang tidak menyiksa. Kami lemah, Ya Allah. Kami sangat lemah. Tapi kami berusaha. Dan kami percaya, Engkau tidak akan menyia-nyiakan usaha hamba-Mu. Amin.
BAB XVIII
Kenangan Karate dan Sepeda Ontel
Ada kenangan yang tidak pernah mati. Ia mungkin terpendam di sudut paling gelap dari ingatan, tertimbun oleh tumpukan waktu dan peristiwa yang silih berganti. Tapi ketika pemicunya datang, sebuah bau, sebuah suara, sebuah foto lama yang jatuh dari lemari, kenangan itu akan melompat ke permukaan dengan kejelasan yang menyakitkan.
Kenangan tentang karate dan sepeda ontel adalah kenangan yang paling membekas bagi Akang dan Sinox.
Bukan karena kedua hal itu istimewa. Tapi karena di sanalah, di dojo kecil yang berdebu dan di jalan-jalan desa yang berlubang, cinta mereka tumbuh tanpa mereka sadari. Di sana, mereka belajar tentang ketekunan, tentang kepercayaan, tentang bagaimana bahu yang bersentuhan saat berlatih karate atau punggung yang menempel saat bersepeda ontel bisa berbicara lebih keras daripada seribu kata.
Di usia yang tidak lagi muda, dengan hati yang telah tercabik-cabik oleh dosa dan penyesalan, Akang dan Sinox kembali mengingat kenangan itu.
Bukan untuk menghidupkan kembali api yang telah mereka matikan.
Tapi untuk menguburnya dengan damai.
Untuk mengucapkan selamat tinggal pada masa lalu yang indah, sebelum mereka benar-benar melangkah ke masa depan yang telah menanti.
Dojo Tua Itu
Sinox tidak sengaja menemukan selembar foto lama saat membersihkan lemari. Foto itu sudah menguning, pinggirannya bergerigi karena usia, dan di beberapa tempat sudah mulai luntur. Tapi gambar di dalamnya masih cukup jelas untuk membuat jantung Sinox berdegup lebih kencang.
Foto itu diambil di depan dojo karate di belakang rumah Pak RT. Sinox berdiri di samping Akang, keduanya memakai seragam karate putih yang sedikit kusut. Sinox menggenggam piala kecil di tangan kanannya, Akang memegang piagam penghargaan. Wajah Sinox berseri-seri, mulutnya terbuka lebar dalam tawa. Akang tersenyum tipis, senyum khasnya yang tidak pernah berlebihan, tapi hangat.
Sinox duduk di lantai kamar, memandangi foto itu.
Ia teringat dojo tua itu. Dindingnya dari anyaman bambu yang bolong di beberapa bagian, lantainya tanah yang dipadatkan, atapnya seng yang bocor jika hujan turun. Tapi di tempat itulah ia belajar banyak hal, bukan hanya jurus-jurus karate, tapi juga tentang arti ketekunan, tentang menghormati lawan, dan tentang bagaimana rasanya memiliki seseorang yang selalu ada di sampingnya, di setiap sesi latihan.
"Eko!" panggil Sinox.
Eko masuk ke kamar dengan wajah malas. "Apa, Bu?"
"Nak, kamu tahu karate?"
"Tahu, Bu. Aku dulu pernah les sebentar, tapi berhenti."
"Kenapa berhenti?"
"Karena gurunya galak. Aku malas."
Sinox tersenyum. "Ibu dulu juga pernah belajar karate. Waktu SMP. Gurunya tidak galak. Dia sabar. Bahkan ketika Ibu sering salah jurus, dia tidak pernah marah. Dia hanya bilang, 'Ulangi lagi. Kamu pasti bisa.'"
"Siapa gurunya, Bu?"
Sinox terdiam sejenak. "Guru lama Ibu, Nak. Sudah lama tidak bertemu."
Eko tidak bertanya lebih lanjut. Ia hanya mengangguk, lalu keluar kamar.
Sinox kembali menatap foto itu.
Akang, batinnya. Kau dulu guru karateku. Bukan secara resmi, tapi kau selalu mengajariku dengan sabar. Setiap kali aku salah, kau perbaiki posisiku. Setiap kali aku menyerah, kau yakinkan aku bahwa aku bisa.
Dan aku bisa sampai sekarang, bukan karena aku hebat.
Tapi karena kau tidak pernah lelah mengajariku.
Kapuas, Kenangan yang Sama
Di Kapuas, Akang juga teringat pada karate.
Bukan karena foto. Tapi karena cucu Anto, yang baru berusia lima tahun, minta diajari karate.
"Kakek, ajarin aku karate, dong! Aku mau bisa tendang-tendangan kayak di TV!"
Akang tersenyum. Ia memegang tangan kecil cucunya, lalu mencontohkan posisi dasar karate, kuda-kuda, pukulan lurus, tendangan depan.
"Begini, Nak. Kuda-kuda yang kuat. Punggung lurus. Jangan bungkuk."
Cucunya mencoba menirukan, lalu jatuh. Ia tertawa. Akang juga tertawa.
Tapi di sela-sela tawa itu, Akang teringat pada Sinox. Pada gadis kecil yang dulu juga sering jatuh saat latihan karate. Pada gadis kecil yang selalu bangkit lagi meskipun lututnya lecet. Pada gadis kecil yang tidak pernah menyerah meskipun sering diejek teman-temannya karena jurusnya yang kaku.
Dulu Sinox sangat ulet, pikir Akang. Setiap kali jatuh, ia bangkit. Setiap kali gagal, ia mencoba lagi. Ia tidak pernah mengeluh. Ia hanya bilang, 'Akang, ajarin aku lagi. Aku pasti bisa.'
Dan aku, aku selalu bangga padanya.
Bukan karena jurusnya sempurna.
Tapi karena semangatnya tidak pernah padam.
"Kakek, melamun terus!" cucunya menarik ujung bajunya. "Ajarin aku jurus yang keren, dong!"
"Iya, iya. Kakek ajarin."
Akang melanjutkan latihan. Tapi di dalam hatinya, ia berdoa, berdoa untuk Sinox, berdoa untuk perempuan yang dulu pernah menjadi murid karate terbaiknya.
Semoga kamu baik-baik saja, Nox, doanya dalam hati. Semoga kamu tidak pernah menyerah, seperti dulu. Semoga kamu tetap kuat, meskipun aku tidak lagi di sampingmu.
Sepeda Ontel Biru
Kenangan lain yang tidak kalah kuat adalah sepeda ontel biru milik Sinox.
Sepeda itu adalah hadiah dari ayah Sinox saat ia naik kelas 2 SMP. Warnanya biru tua, dengan stiker Doraemon yang mulai pudar di joknya. Dinamo lampunya sudah rusak, remnya bunyi setiap kali ditekan, dan rantainya sering terlepas di tengah jalan.
Tapi Sinox sangat menyayangi sepeda itu.
Dan yang paling ia ingat, sepeda itu adalah saksi bisu kedekatannya dengan Akang.
Karena meskipun Akang lebih tua dan lebih besar, Sinox-lah yang selalu mengayuh. Akang duduk di boncengan belakang, memegang pundak Sinox dengan hati-hati, seolah-olah ia takut terlalu dekat, tapi juga tidak mau terlalu jauh.
"Kenapa aku yang selalu bonceng kamu, sih?" protes Sinox suatu hari. "Kamu kan laki-laki. Harusnya kamu yang bonceng aku."
Akang tertawa. "Karena kakimu lebih kuat dari kakiku."
"Bohong!"
"Serius. Aku sudah coba kayuh sepeda ini. Kakiku nyangkut di pedal. Sepedanya terlalu kecil untukku."
"Ah, alasan!"
"Bukan alasan. Fakta."
Sinox menggerutu, tapi tetap mengayuh. Di belakang, Akang tersenyum, senyum yang tidak dilihat Sinox. Senyum yang ia simpan hanya untuk dirinya sendiri.
Dia cerewet, pikir Akang saat itu. Tapi aku suka. Aku suka mendengar suaranya. Aku suka rambutnya yang terkena angin dan menyentuh pipiku. Aku suka punggungnya yang sedikit membungkuk saat mengayuh sepeda.
Aku suka dia.
Aku sangat suka dia.
Tapi aku tidak berani mengakuinya.
Karena aku takut. Karena aku tidak pantas. Karena aku miskin. Karena aku bukan siapa-siapa.
Saat Sinox Mengenang
Suatu sore, Sinox duduk di beranda belakang rumahnya. Di depannya, terlihat seorang remaja laki-laki, tetangga baru, sedang membonceng adik perempuannya naik sepeda. Remaja itu mengayuh dengan susah payah karena adiknya yang di belakang cukup berat, tapi ia tertawa. Adiknya juga tertawa. Mereka tampak bahagia.
Sinox tersenyum getir.
Dulu aku dan Akang juga seperti itu, pikirnya. Aku yang mengayuh, dia yang bonceng. Aku yang cerewet, dia yang diam. Aku yang selalu protes, dia yang selalu tersenyum.
Kami tidak pernah pacaran. Tapi rasanya seperti pacaran. Seperti memiliki seseorang yang selalu ada, tanpa perlu status, tanpa perlu pengakuan.
Tapi mungkin itu yang paling menyakitkan.
Karena tanpa status, tanpa pengakuan, kami tidak punya hak untuk saling memiliki.
Kami hanya dua insan yang saling mencintai, di waktu yang salah, di tempat yang salah, dan dengan cara yang salah.
Sinox memejamkan mata.
Ia teringat suatu sore. Hujan turun deras saat mereka sedang dalam perjalanan pulang dari dojo. Sepeda ontel itu tidak memiliki payung, tidak memiliki jas hujan. Sinox dan Akang basah kuyup dalam hitungan menit.
"Ayo berteduh di bawah pohon!" teriak Akang dari belakang.
"Pohon apa? Di sini tidak ada pohon besar!" balas Sinox.
"Terus bagaimana?"
"Kita terus saja. Aku kuat."
"Kamu bisa sakit!"
"Tidak apa-apa. Yang penting kita cepat sampai."
Akang terdiam. Lalu ia melakukan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya: ia memeluk Sinox dari belakang. Bukan pelukan erat. Hanya letakkan kedua telapak tangannya di pundak Sinox, lalu menempelkan dadanya ke punggung Sinox.
"Untuk menghangatkanmu," kata Akang, meskipun suaranya sedikit gugup.
Sinox tidak menjawab. Wajahnya memerah, bukan karena kedinginan, tapi karena degup jantungnya yang tiba-tiba tidak karuan.
Itu pertama kalinya aku merasakan kehangatan dari seorang laki-laki, kenang Sinox. Bukan dari ayahku. Bukan dari saudara laki-lakiku, karena aku tidak punya. Tapi dari Akang. Seorang teman. Seorang sahabat. Seorang yang, mungkin, lebih dari itu.
Tapi kami tidak pernah membicarakannya setelahnya.
Kami hanya diam. Berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Padahal di dalam hati, terjadi segalanya.
Ya Allah, betapa bodohnya kami dulu.
Kalau saja kami berani, mungkin ceritanya akan berbeda.
Mungkin aku akan menjadi istri Akang.
Mungkin anak-anakku adalah darah dagingnya.
Mungkin kita tidak akan melalui semua penderitaan ini.
Tapi mungkin juga, mungkin takdir memang sudah ditulis sejak awal.
Dan tidak ada yang bisa mengubahnya.
Akang dan Sepeda Ontel di Kapuas
Di Kapuas, sepeda ontel bukan lagi moda transportasi utama. Orang-orang sudah menggunakan motor atau mobil. Tapi di halaman rumah Akang, masih ada satu sepeda ontel tua yang teronggok di sudut, catnya mengelupas, rantainya berkarat, ban depannya kempes.
Itu sepeda peninggalan ayah Akang. Bukan sepeda biru milik Sinox. Tapi setiap kali Akang melihat sepeda itu, ia teringat pada sepeda ontel biru yang dulu selalu ia boncengi.
Suatu hari, Iwan melihat ayahnya termenung di dekat sepeda ontel tua itu.
"Pa, kenapa Pa lihat sepeda itu terus?"
"Tidak kenapa-kenapa, Wan. Pa hanya teringat masa lalu."
"Masa lalu yang mana?"
"Masa lalu yang tidak akan kembali."
Iwan tidak bertanya lebih lanjut. Tapi ia duduk di samping ayahnya.
"Pa, aku minta maaf," kata Iwan pelan.
Akang terkejut. "Maaf? Kenapa?"
"Karena aku menjauhi Pa. Karena aku tidak mau bicara pada Pa. Karena aku membenci Pa. Itu salah. Pa tetap ayahku. Dan aku tidak punya ayah lain."
Akang menangis. Ia memeluk anaknya. "Tidak, Wan. Pa yang minta maaf. Pa yang telah mengecewakan kalian. Pa yang telah membuat kalian malu. Pa yang seharusnya minta maaf."
"Pa, apa Pa masih mencintai ibu?"
Pertanyaan Iwan sederhana, tapi menusuk.
Akang menghela napas. "Aku mencintai ibumu, Wan. Mungkin tidak seperti dulu. Tapi aku mencintainya. Dan aku ingin memperbaiki semuanya. Aku ingin menjadi suami yang baik untuknya. Aku ingin menjadi ayah yang baik untuk kalian."
"Apa Pa bisa?"
"Pa akan berusaha. Dengan sekuat tenaga."
Iwan mengangguk. Ia memeluk ayahnya balik.
Di kejauhan, Setya melihat adegan itu dari balik jendela. Air mata jatuh di pipinya. Bukan air mata sedih. Tapi air mata haru.
Mungkin masih ada harapan, pikirnya. Mungkin suamiku masih mau berubah. Mungkin keluarga ini masih bisa diselamatkan.
Dan aku, aku akan berjuang.
Bersamanya.
Belajar Melepaskan Kenangan
Sinox dan Akang tidak akan pernah bisa melupakan karate dan sepeda ontel.
Kenangan itu terlalu indah. Terasa dalam. Terukir di relung hati yang paling dalam.
Tapi mereka belajar bahwa kenangan, seindah apa pun, tidak harus terus dihidupkan. Ada saatnya kenangan itu harus dimatikan, dikubur, dan dibiarkan pergi.
Bukan karena kenangan itu buruk.
Tapi karena hidup berjalan ke depan.
Dan masa depan tidak bisa dibangun di atas fondasi masa lalu yang tidak pernah selesai.
Sinox memasukkan foto lama itu ke dalam amplop. Ia tidak merobeknya. Tidak membakarnya. Ia hanya menyimpannya di lemari, di antara buku-buku lama yang jarang ia buka.
Suatu hari, mungkin anak-anakku akan menemukan foto ini, pikirnya. Dan mereka akan bertanya, 'Bu, siapa laki-laki di samping Ibu ini?'
Aku akan menjawab, 'Dia teman lama Ibu. Sahabat. Seseorang yang pernah mengajarkan Ibu banyak hal, tentang karate, tentang ketekunan, tentang arti tidak menyerah.'
Aku tidak akan bilang bahwa aku pernah mencintainya.
Karena cinta itu, cinta itu sudah mati.
Sekarang, yang tersisa hanyalah kenangan.
Dan kenangan, meskipun manis, tidak cukup untuk mengalahkan kenyataan.
Setelah Kenangan
Di Kapuas, Akang mengambil sepeda ontel tua itu ke bengkel. Ia minta dibetulkan, ban baru, rantai baru, cat baru. Butuh waktu seminggu, tapi hasilnya memuaskan.
Sepeda itu kini bisa digunakan lagi.
Tapi Akang tidak menggunakannya untuk mengingat Sinox.
Ia menggunakannya untuk mengantar Raha ke sekolah setiap pagi.
Raha yang tadinya murung, mulai sedikit demi sedikit tersenyum saat duduk di boncengan belakang sepeda ayahnya.
"Pa, sepedanya sudah bagus ya sekarang."
"Iya, Ra. Pa betulkan khusus untuk kamu."
"Aku senang, Pa."
Akang tersenyum. "Pa juga senang."
Di boncengan belakang, Raha memeluk pinggang ayahnya, pelukan yang sudah lama tidak ia lakukan.
Akang mengayuh sepeda dengan perlahan, menikmati angin pagi yang sejuk.
Di dalam hatinya, ada kedamaian.
Kedamaian yang tidak ia rasakan sejak bertahun-tahun.
Mungkin ini jalan yang benar, pikirnya. Bukan terus merindukan masa lalu. Tapi menghidupi masa kini. Bersama orang-orang yang ada di depanku sekarang.
Bersama Setya. Bersama Raha. Bersama Iwan dan Anto.
Bersama keluarga yang selama ini aku abaikan.
Mereka adalah kenangan yang masih bisa aku ciptakan.
Bukan kenangan lama yang terus aku sesali.
Dan aku, aku akan berusaha menjadi lebih baik.
Untuk mereka. Untuk diriku sendiri. Untuk masa depanku. Untuk surga yang kuharap kelak.
BAB XIX
Air Mata Setya Ningsih
Ada air mata yang jatuh karena kesedihan. Ada yang jatuh karena kemarahan. Ada yang jatuh karena kehilangan. Ada yang jatuh karena kebahagiaan yang tak terduga.
Tapi air mata Setya Ningsih jatuh karena semua alasan itu sekaligus.
Ia menangis karena suaminya telah mengkhianatinya. Ia menangis karena 25 tahun pernikahan terasa seperti kebohongan panjang. Ia menangis karena ia masih mencintai laki-laki yang telah menyakiti hatinya. Ia menangis karena ia tidak tahu harus mempercayai siapa lagi. Ia menangis karena anak-anaknya terluka. Ia menangis karena rumah yang dulu hangat kini terasa dingin seperti kuburan.
Ia juga menangis karena, di tengah semua luka itu, ia masih punya harapan.
Harapan bahwa suaminya benar-benar bisa berubah.
Harapan bahwa keluarganya masih bisa diselamatkan.
Harapan bahwa air matanya suatu hari akan berubah menjadi senyuman.
Setya Ningsih bukan perempuan yang mudah menangis.
Ia dibesarkan di keluarga yang keras, di mana air mata dianggap sebagai kelemahan, di mana perempuan dituntut untuk tegar, di mana kesedihan harus ditelan sendiri tanpa mengganggu orang lain.
Tapi selama beberapa bulan terakhir, ia menangis lebih banyak dari 25 tahun sebelumnya.
Ia menangis di kamar mandi, dengan air keran mengalir deras untuk menutupi suara isaknya.
Ia menangis di dapur, saat memasak sendirian, di antara asap dan minyak panas.
Ia menangis di samping Raha yang tertidur, menyeka air mata anaknya sekaligus air matanya sendiri.
Ia menangis di masjid, saat sujud yang lama, karena hanya di sana ia merasa tidak perlu berpura-pura kuat.
Dan malam ini, di saat semua orang sudah tertidur, di saat rumah panggung itu sunyi, di saat suaminya Akang sedang duduk di beranda sendirian, Setya menangis lagi.
Bukan karena ia lemah.
Tapi karena ia sudah terlalu lama kuat.
Malam di Mana Setya Bertanya
Kapuas, pukul 23.45. Akang baru saja selesai berbicara dengan Sinox, bukan percakapan mesra, hanya sekadar kabar singkat, dan ia hendak masuk ke kamar. Tapi saat membuka pintu, ia terkejut melihat Setya duduk di tepi tempat tidur, matanya merah, wajahnya basah oleh air mata.
"Ning, kamu belum tidur?"
"Tidur? Bagaimana aku bisa tidur, Mas? Setiap kali aku pejamkan mata, aku melihat video itu. Setiap kali aku tidur di samping Mas, aku bertanya-tanya, apakah malam ini Mas akan bangun dan pergi ke beranda untuk menelepon dia lagi? Setiap kali Mas bilang 'aku mencintaimu', aku tidak tahu apakah itu untukku atau untuk bayangannya."
Akang duduk di samping istrinya. Ia meraih tangan Setya. Setya melepaskan.
"Jangan, Mas. Jangan sentuh aku. Aku tidak kuat."
"Ning, aku minta maaf..."
"Mas, berhenti minta maaf. Maaf Mas sudah seperti hujan di musim kemarau, banyak, tapi tidak membasahi apa pun. Maaf Mas hanya kata-kata. Tidak ada bukti. Tidak ada perubahan."
Akang terdiam.
"Aku ingin bertanya sesuatu, Mas," lanjut Setya. "Dan aku minta Mas jujur. Untuk sekali ini saja. Jujur."
"Tanya apa, Ning?"
Setya menatap mata suaminya, mata yang dulu ia cintai, mata yang dulu selalu meneduhkan, mata yang sekarang membuatnya sakit hanya dengan melihatnya.
"Apakah Mas masih mencintai dia?"
Pertanyaan itu sederhana. Tapi jawabannya bisa membunuh, entah Setya, entah Akang, entah pernikahan mereka.
Akang membuka mulut. Ingin berkata tidak. Ingin berbohong. Ingin melindungi perasaan istrinya.
Tapi ia sudah lelah berbohong.
"Aku masih mencintai kenangan tentang dia, Ning. Tapi apakah aku masih mencintai dia sebagai perempuan yang aku inginkan? Tidak. Aku sudah melepaskan itu. Aku sudah berusaha. Dan aku akan terus berusaha."
"Tapi Mas belum bisa menjawab 'tidak' dengan tegas."
"Karena aku tidak ingin berbohong, Ning. Aku sudah cukup berbohong. Aku sudah cukup menyakiti kamu dengan kebohonganku."
Setya menunduk. Air mata jatuh di pangkuannya.
"Setidaknya Mas jujur," bisiknya. "Itu sesuatu."
"Ning, aku tidak memintamu untuk percaya padaku sekarang. Aku tahu aku sudah menghancurkan kepercayaan itu. Tapi aku minta satu hal."
"Apa?"
"Jangan menyerah pada aku. Jangan menyerah pada pernikahan kita. Aku akan buktikan bahwa aku bisa berubah. Mungkin tidak cepat. Mungkin butuh waktu. Tapi aku akan buktikan."
Setya tidak menjawab. Ia hanya berbaring, membelakangi Akang, dan memejamkan mata.
Air mata masih mengalir di pipinya.
Tapi di dalam dadanya, ada getaran kecil, sesuatu yang mirip dengan harapan.
Mungkin aku akan memberi kesempatan lagi, pikirnya. Untuk terakhir kalinya.
Jika Mas masih menyia-nyiakan kesempatan ini, aku akan pergi.
Untuk selamanya.
Setya dan Raha: Saling Menguatkan
Keesokan paginya, Setya terbangun lebih awal. Ia melihat Raha sudah duduk di dapur, makan bubur yang ia masak semalam, meskipun dingin, Raha tetap memakannya.
"Ra, buatkan ibu kopi, ya."
Raha mengangguk. Ia menyeduh kopi, tanpa gula, sesuai selera ibunya, lalu menyajikannya di meja makan.
"Ibu, aku mau cerita."
"Cerita apa, Nak?"
Raha duduk di samping ibunya. "Aku mimpi buruk tadi malam. Aku mimpi Bapak pergi. Bapak bilang, 'Ra, Bapak pergi dengan perempuan itu.' Aku bangun, aku liat tempat tidur Bapak kosong. Ternyata Bapak lagi di beranda. Tapi aku tetap takut."
Setya memegang tangan anaknya. "Ra, Bapak tidak akan pergi. Bapak masih sayang sama kita. Bapak hanya... tersesat. Tapi Bapak akan pulang."
"Ibu, kenapa sih Bapak kayak gitu? Kenapa Bapak tidak cukup dengan kita?"
Pertanyaan itu, sederhana, polos, dari seorang anak, menusuk hati Setya.
"Karena manusia, Ra. Manusia kadang tidak puas dengan apa yang mereka miliki. Mereka selalu ingin lebih. Padahal yang mereka cari sebenarnya sudah ada di depan mata. Mereka hanya buta, sementara."
"Apa Ibu masih sayang Bapak?"
"Ibu masih sayang, Ra. Meskipun sakit. Meskipun kecewa. Tapi sayang. Karena sayang tidak selalu mudah dihilangkan, Nak. Sayang itu seperti benang yang teranyam rapi. Jika ditarik paksa, dia akan kusut, bahkan putus. Tapi jika diurai dengan sabar, dia bisa menjadi rapi lagi."
Raha mengangguk, meskipun sepertinya tidak sepenuhnya mengerti.
Tapi ia memeluk ibunya.
"Aku bantu Ibu mengurai benang itu, ya."
Setya tersenyum, senyum pertama setelah sekian lama.
"Ibu senang punya anak seperti kamu, Ra."
"Aku juga senang punya ibu yang kuat."
"Ibu tidak kuat, Nak. Ibu hanya berpura-pura kuat. Tapi sebenarnya, ibu sering menangis."
"Menangis tidak apa-apa, Bu. Yang penting, bangkit lagi."
Setya memeluk anaknya erat-erat.
Di dapur yang sunyi, ibu dan anak itu saling menguatkan.
Dengan pelukan. Dengan air mata. Dengan harapan.
Air Mata di Ruang Tamu
Sore itu, Setya duduk di ruang tamu seorang diri. Akang sedang ke kantor desa. Raha sedang bermain dengan teman-temannya.
Ponsel Setya berdering. Sebuah pesan masuk dari Sinox Yanti.
Mereka belum pernah bertukar pesan sejak panggilan video pertama dulu. Setya hampir tidak percaya melihat nama itu muncul di layar ponselnya.
Sinox Yanti: Bu Setya, maaf mengganggu. Saya hanya ingin mengatakan sesuatu.
Setya membacanya berulang kali. Ia ingin mengabaikan. Ingin membalas dengan kata-kata kasar. Tapi jarinya bergerak sendiri.
Setya Ningsih: Apa yang mau Ibu katakan?
Sinox Yanti: Saya tahu saya tidak berhak meminta apa pun dari Ibu. Tapi saya ingin Ibu tahu, saya sudah memutuskan untuk tidak berkomunikasi intens dengan suami Ibu lagi. Saya sudah menghapus chat kami. Saya sudah berjanji pada diri sendiri untuk fokus pada keluarga saya.
Sinox Yanti: Saya tidak tahu apakah Ibu percaya pada saya. Tapi saya ingin Ibu tahu, saya menyesal. Saya sangat menyesal. Dan saya tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Setya membaca pesan itu dengan mata berkaca-kaca.
Ia tidak tahu apakah Sinox tulus. Ia tidak tahu apakah ini hanya drama. Tapi ada sesuatu di dalam pesan itu, sesuatu seperti penyesalan yang tulus, sesuatu seperti harapan untuk berdamai.
Setya Ningsih: Kenapa Ibu cerita pada saya? Kenapa tidak cukup dengan suami saya saja?
Sinox Yanti: Karena saya tahu saya sudah menyakiti Ibu. Dan Ibu berhak mendengar langsung dari saya bahwa saya berhenti. Bukan dari suami Ibu, bukan dari orang lain. Dari saya.
Setya Ningsih: Apakah Ibu masih mencintai suami saya?
Sinox terdiam cukup lama.
Sinox Yanti: *Saya mencintai kenangan tentang dia. Tapi apakah saya masih mencintai dia sebagai laki-laki yang Ibu nikahi? Saya tidak tahu. Mungkin tidak. Mungkin yang saya cintai selama ini hanyalah bayangan, bayangan yang saya ciptakan sendiri selama 30 tahun.*
Sinox Yanti: Saya tidak pantas meminta maaf pada Ibu. Tapi saya minta maaf. Dan saya berdoa, semoga Ibu dan suami Ibu bisa memperbaiki rumah tangga Ibu. Saya tidak akan mengganggu lagi.
Setya tidak membalas.
Ia hanya menatap ponselnya.
Air mata jatuh.
Bukan air mata sedih.
Tapi air mata lega.
Dia berhenti, pikir Setya. Dia benar-benar berhenti.
Mungkin ini awal dari segalanya.
Mungkin setelah badai, akhirnya ada pelangi.
Mungkin, mungkin aku bisa mulai percaya lagi.
Akang Melihat Istrinya Menangis
Akang pulang dari kantor desa pukul setengah lima. Ia melihat Setya duduk di ruang tamu dengan wajah basah. Ponsel tergeletak di sampingnya.
"Ning, kamu kenapa? Siapa yang menghubungi?"
Setya menatap suaminya. "Sinox Yanti."
Akang terkejut. "Apa? Dia menghubungi kamu? Dia bicara apa?"
"Dia bilang dia berhenti. Dia bilang dia menyesal. Dia bilang dia tidak akan mengganggu lagi."
Akang terdiam.
Ia tidak tahu harus senang atau sedih.
Senang karena Sinox melakukan hal yang benar. Sedih karena, di dalam hatinya yang paling jujur, ia masih merasakan kehilangan.
Tapi ia tidak boleh menunjukkan itu pada Setya.
"Ning, aku minta maaf..."
"Sudah, Mas. Aku tidak mau mendengar maaf lagi. Yang aku mau, Mas buktikan. Buktikan bahwa Mas bisa berubah. Buktikan bahwa Mas bisa menjadi suami yang lebih baik. Buktikan bahwa keluarga ini masih penting bagi Mas."
"Aku akan buktikan, Ning. Aku berjanji."
"Janji Mas sudah sering aku dengar. Sekarang tunjukkan dengan tindakan. Bukan dengan kata-kata."
Akang mengangguk.
Ia duduk di samping istrinya.
Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, Setya tidak menjauh.
Ia membiarkan suaminya duduk di sampingnya, berbagi kehangatan, berbagi kesedihan, berbagi harapan.
Tidak ada kata-kata.
Hanya keheningan.
Tapi keheningan itu, kali ini, tidak mencekam.
Ia hangat. Ia damai. Ia seperti awal dari segalanya.
Anto Menasehati Ibunya
Malam itu, Anto datang ke rumah orang tuanya. Ia membawa serta istrinya dan cucu mereka yang masih balita.
"Bu, Anto dengar Ibu dan Bapak sudah mulai baikan?" tanya Anto.
"Anto, Ibu tidak tahu harus bilang apa. Ibu masih sakit. Tapi Ibu mencoba."
Anto duduk di samping ibunya. "Bu, Anto ingin bilang sesuatu."
"Apa?"
"Jangan menyerah, Bu. Anto tahu ini berat. Tapi jangan menyerah. Bapak itu orang baik. Bapak hanya tersesat. Tapi dia pasti pulang."
"Bagaimana kamu bisa yakin, Ton?"
"Karena Anto kenal Bapak. Bapak sayang sama Ibu. Bapak sayang sama keluarga. Bapak tidak akan tega meninggalkan kita. Bapak hanya butuh waktu untuk sadar."
Setya menangis. "Kamu dewasa sekali, Ton."
"Anto sudah punya keluarga sendiri, Bu. Anto tahu beratnya mempertahankan rumah tangga. Anto tahu bahwa cinta tidak selalu tentang perasaan, tapi tentang komitmen. Dan Bapak, Anto yakin, Bapak berkomitmen untuk mempertahankan keluarga ini."
Setya memeluk anak sulungnya.
"Terima kasih, Ton. Ibu butuh mendengar itu."
"Ibu kuat, Bu. Ibu selalu kuat."
"Ibu tidak kuat, Ton. Ibu hanya bertahan."
"Itu sudah cukup, Bu. Bertahan adalah bentuk keberanian. Banyak orang yang menyerah. Tapi Ibu tidak. Itu lebih dari cukup."
Setya tersenyum, meskipun air mata masih mengalir.
Anak-anakku, pikirnya. Mereka adalah kekuatanku.
Bukan suamiku. Bukan siapa pun.
Tapi mereka.
Dan untuk mereka, aku akan bertahan.
Seberat apa pun.
Setelah Air Mata
Butuh waktu bagi Setya untuk benar-benar pulih.
Air mata tidak berhenti dalam semalam. Luka tidak sembuh hanya dengan beberapa pelukan. Kepercayaan tidak kembali hanya karena beberapa janji.
Tapi setiap hari, sedikit demi sedikit, ada kemajuan.
Akang mulai pulang lebih awal dari kantor. Ia membantu Setya memasak, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Ia mengajak Raha bermain sepeda ontel setiap pagi. Ia bicara dengan Iwan tentang persiapan pernikahan, tidak lagi menghindar. Ia menelepon Anto lebih sering, menanyakan kabar cucu.
Setya melihat semua itu.
Diam-diam. Tanpa komentar.
Tapi di dalam hatinya, ada rasa syukur yang tumbuh.
Mungkin dia sungguh-sungguh berusaha, pikir Setya. Mungkin ini bukan sekadar pura-pura.
Mungkin, mungkin aku bisa percaya lagi.
Sedikit demi sedikit. Perlahan-lahan.
Tidak sekaligus.
Tapi setidaknya, aku mau mencoba.
Suatu malam, saat mereka berbaring di tempat tidur, Akang meraih tangan Setya.
Setya tidak melepaskan.
Ia membiarkan tangan suaminya menggenggam tangannya.
Dan untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, ia membalikkan badan, menghadap suaminya, menatap matanya, dan berkata:
"Mas, aku masih mencintaimu. Aku tidak tahu apakah cinta itu cukup. Tapi aku masih mencintaimu. Dan aku mau memberi Mas kesempatan lagi. Yang terakhir."
Akang menangis. "Terima kasih, Ning. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku berjanji."
"Jangan berjanji. Buktikan."
Akang mengangguk.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, mereka tidur berpelukan.
Bukan seperti dulu, masih ada jarak, masih ada kecanggungan.
Tapi itu awal.
Awal yang kecil.
Tapi cukup untuk membuat Setya percaya bahwa besok akan lebih baik.
Dan cukup untuk membuat Akang yakin bahwa ia tidak kehilangan segalanya.
BAB XX
Mas Sarif yang Terluka
Jika Setya Ningsih menangis, Mas Sarif diam.
Diamnya bukan karena tidak sakit. Diamnya bukan karena tidak peduli. Diamnya adalah caranya berduka, cara seorang laki-laki yang tidak pernah diajari untuk meluapkan emosi, yang tidak pernah diberi ruang untuk menunjukkan kelemahan, yang sejak kecil telah dididik bahwa laki-laki harus tegar bagaimanapun keadaannya.
Mas Sarif terluka.
Luka yang tidak terlihat oleh mata telanjang. Tidak ada darah, tidak ada memar, tidak ada bekas luka di kulit. Tapi lukanya ada, di dalam dada, di dalam hati, di tempat paling dalam yang tidak bisa dijangkau oleh obat atau plester.
Ia terluka karena istrinya mencintai laki-laki lain.
Ia terluka karena 20 tahun pernikahan terasa seperti kebohongan.
Ia terluka karena ia tidak pernah cukup, tidak cukup kaya, tidak cukup romantis, tidak cukup baik, untuk membuat Sinox melupakan cinta masa lalunya.
Ia terluka karena ia tidak tahu harus marah pada siapa. Pada Sinox? Pada Akang? Pada dirinya sendiri?
Dan yang paling menyakitkan: ia terluka karena ia masih mencintai Sinox. Meskipun istrinya telah mengkhianatinya, meskipun hatinya hancur berkeping-keping, meskipun ia tahu bahwa ia mungkin tidak akan pernah cukup, ia masih mencintainya.
Cinta Mas Sarif pada Sinox adalah cinta yang sederhana. Tidak puitis, tidak bombastis, tidak penuh dengan kata-kata indah dan puisi. Tapi cinta itu nyata. Cinta itu hadir dalam setiap butir beras yang ia tanam di sawah, dalam setiap tetes keringat yang ia curahkan untuk keluarganya, dalam setiap malam ia pulang dengan tubuh lelah tapi tetap tersenyum melihat istri dan anak-anaknya.
Cinta itu tidak pernah ia ucapkan dengan lantang. Tapi ia buktikan setiap hari.
Dan sekarang, setelah semua yang terjadi, cinta itu masih ada.
Meskipun sakit. Meskipun perih. Meskipun mungkin sudah seharusnya ia berhenti.
Mas Sarif tidak menyerah.
Bukan karena ia tidak punya pilihan. Tapi karena ia memilih untuk bertahan.
Untuk keluarganya. Untuk anak-anaknya. Untuk Sinox, yang masih ia cintai, meskipun hatinya telah terluka begitu dalam.
Siang di Tepi Sawah
Tegorejo, pukul 13.00. Matahari terik membakar bumi. Mas Sarif duduk di tepi pematang sawah, berteduh di bawah pohon rindang yang tumbuh di batas lahan. Topi caping menutupi kepalanya, tapi keringat tetap mengucur di pelipisnya.
Di tangannya, sebatang rokok yang belum ia nyalakan. Ia hanya memegangnya, memainkannya di antara jari-jari yang kasar karena tanah dan lumpur. Ia tidak benar-benar ingin merokok. Ia hanya butuh sesuatu untuk mengalihkan perhatian dari pikirannya yang kacau.
Kenapa aku tidak cukup? pikirnya. Apa yang kurang dariku? Aku bekerja keras. Aku tidak pernah selingkuh. Aku pulang ke rumah setiap hari. Aku tidak pernah mengangkat tangan pada Sinox. Aku membiayai sekolah anak-anak. Aku membangun rumah ini dengan keringatku sendiri.
Tapi dia, laki-laki yang bahkan tidak pernah bertemu Sinox secara langsung, bisa membuatnya menangis. Bisa membuatnya rindu. Bisa membuatnya hampir menghancurkan rumah tangga kita.
Apa yang dia punya yang tidak aku punya?
Mas Sarif membuang rokok itu ke selokan. Ia tidak menyalakannya.
Ia hanya menunduk, memandang air sawah yang keruh, melihat bayangannya sendiri yang pecah karena riak air.
Bayanganku pecah, pikirnya. Seperti hidupku sekarang.
Pecah. Tidak utuh. Mungkin tidak akan pernah utuh lagi.
Pak Hadi dan Nasihat Teman Sejati
Sore itu, Pak Hadi, sahabat Mas Sarif sejak kecil, mampir ke rumah. Ia membawa oleh-oleh kacang rebus dan dua bungkus kopi instan.
"Sar, kamu dari sawah?"
"Iya, baru pulang. Kamu kenapa mampir?"
"Ya, sekadar lihat-lihat. Kamu belakangan ini jarang kelihatan. Biasanya main ke rumahku sore-sore. Sekarang bahkan tidak muncul-muncul."
Mas Sarif menghela napas. "Aku tidak enak badan, Hadi."
"Bukan tidak enak badan. Kamu sakit hati. Itu beda."
Mas Sarif tidak menjawab.
Mereka duduk di teras rumah. Pak Hadi menyeduh kopi, dua cangkir, satu untuk Mas Sarif, satu untuk dirinya sendiri.
"Sar, aku tahu ini berat," kata Pak Hadi. "Tapi kamu harus bangkit. Jangan larut dalam kesedihan terus. Ada anak-anak yang butuh kamu. Ada istri yang, meskipun salah, masih butuh kamu."
"Aku tidak tahu, Hadi. Aku bingung. Aku sakit."
"Sakit itu wajar. Tapi jangan biarkan sakit itu menguasaimu. Kamu harus bisa memaafkan."
"Memaafkan? Dia selingkuh, Hadi. Secara emosional, dia selingkuh. Dan aku diminta memaafkan?"
"Bukan karena dia pantas, Sar. Tapi karena kamu pantas untuk damai. Memaafkan bukan tentang dia. Tentang kamu. Tentang melepaskan beban yang tidak seharusnya kamu pikul."
Mas Sarif diam.
Pak Hadi menepuk bahunya. "Kamu kuat, Sar. Kamu selalu kuat. Tapi kamu tidak harus kuat sendirian. Aku di sini. Keluarga kamu di sini. Jangan tutup diri."
Mas Sarif menunduk. Air mata jatuh di pangkuannya.
Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, ia menangis di depan orang lain.
Bukan di depan Sinox. Bukan di depan anak-anak. Tapi di depan sahabatnya.
"Aku mencintainya, Hadi," bisik Mas Sarif. "Aku masih mencintainya. Itu yang paling menyakitkan. Jika aku benci padanya, mungkin aku bisa pergi. Tapi aku masih mencintainya. Dan aku tidak tahu harus berbuat apa."
Pak Hadi memeluk sahabatnya. "Kamu bertahan, Sar. Kamu bertahan untuk keluargamu. Dan aku akan ada di sini, setiap kali kamu butuh teman bicara."
Mas Sarif mengangguk.
Malam itu, untuk pertama kalinya, ia merasa sedikit lebih ringan.
Bukan karena masalah selesai. Tapi karena ia tidak sendirian.
Malam di Mana Mas Sarif Bertanya
Pukul 21.00. Eko sudah tidur. Sinox duduk di ruang tamu, menonton televisi tanpa benar-benar melihat. Mas Sarif masuk dari teras, duduk di kursi sebelah Sinox.
"Sin," panggilnya.
Sinox menoleh. Wajah suaminya serius. Ada sesuatu yang berbeda.
"Ada apa, Mas?"
"Aku mau tanya sesuatu. Dan aku minta kamu jujur. Tidak usah bohong. Tidak usah manis-manis. Cukup jujur."
Sinox menelan ludah. "Tanya apa, Mas?"
"Apakah kamu mencintai aku?"
Pertanyaan itu sederhana. Tapi jawabannya, bagi Sinox, tidak sederhana.
"Mas, aku..."
"Cukup iya atau tidak. Tidak perlu penjelasan panjang."
Sinox terdiam. Ia menatap suaminya, laki-laki yang telah bersamanya selama 20 tahun. Laki-laki yang membanting tulang di sawah untuk keluarganya. Laki-laki yang tidak pernah mengeluh meskipun lelah. Laki-laki yang, meskipun tidak romantis, selalu ada.
"Iya, Mas. Aku mencintai Mas."
"Apakah kamu mencintai aku sebesar kamu mencintai dia?"
Pertanyaan itu lebih menyakitkan.
Sinox menunduk. "Aku tidak bisa membandingkan, Mas. Cintaku pada Mas berbeda dengan cintaku pada dia."
"Berbeda bagaimana?"
"Cintaku pada Mas adalah cinta yang nyata. Cinta yang tumbuh dari kebersamaan. Cinta yang tidak butuh puisi atau kata-kata indah. Cinta yang sederhana, tapi bertahan."
"Dan cintamu pada dia?"
"Cintaku pada dia adalah cinta pada kenangan. Pada masa lalu. Pada bayangan yang tidak pernah benar-benar aku miliki. Itu cinta yang indah, tapi tidak nyata. Seperti mimpi, indah saat terjadi, tapi buyar saat bangun."
Mas Sarif menghela napas. "Lalu kenapa kamu hampir menghancurkan rumah tangga kita karena mimpi?"
Sinox menangis. "Karena aku bodoh, Mas. Karena aku tidak bisa membedakan antara mimpi dan kenyataan. Karena aku terlalu lama memendam perasaan itu, sampai aku lupa bahwa kenyataan, yang sesungguhnya, jauh lebih berharga daripada mimpi."
"Apa yang kamu mau sekarang, Sin? Jujur."
Sinox menatap suaminya. Matanya merah, tapi ia tidak berkedip.
"Aku ingin Mas. Aku ingin anak-anak. Aku ingin keluarga kita. Aku tidak ingin kehilangan semuanya karena kebodohanku sendiri. Aku sudah kehilangan banyak hal. Aku tidak mau kehilangan Mas."
Mas Sarif diam cukup lama.
Lalu ia berdiri.
"Aku percaya kamu, Sin. Aku tidak tahu apakah itu keputusan yang bijak. Tapi aku percaya. Karena aku masih mencintaimu. Dan karena aku ingin keluarga ini tetap utuh."
Sinox berdiri. Ia memeluk suaminya.
"Terima kasih, Mas. Aku tidak akan mengecewakan Mas lagi. Aku berjanji."
"Jangan janji. Buktikan."
Mas Sarif membalas pelukan istrinya.
Malam itu, mereka tidur di ranjang yang sama.
Bukan seperti dulu, masih ada jarak, masih ada kecanggungan.
Tapi itu awal.
Awal dari harapan.
Harapan bahwa luka bisa sembuh.
Harapan bahwa kepercayaan bisa kembali.
Harapan bahwa cinta, meskipun retak, masih bisa diperbaiki.
Eko yang Mulai Terbuka
Eko masih diam. Tapi diamnya tidak lagi sedingin dulu.
Suatu pagi, saat Sinox sedang menyiapkan sarapan, Eko mendekatinya di dapur.
"Bu, aku mau tanya."
"Tanya apa, Nak?"
"Kenapa sih orang dewasa suka bikin rumit? Kalau suka ya suka. Kalau tidak suka ya tidak suka. Kenapa harus ada selingkuh, ada bohong, ada drama?"
Sinox menghela napas. "Karena orang dewasa itu tidak sekuat yang kalian kira, Nak. Mereka juga bingung. Mereka juga takut. Mereka juga bisa salah."
"Tapi Bu salah. Bu menyakiti Bapak. Bu menyakiti kami."
"Ibu tahu, Nak. Ibu menyesal. Ibu minta maaf."
"Aku belum bisa memaafkan Bu. Tapi aku tidak akan membenci Bu. Karena Bu tetap ibuku. Dan aku tidak punya ibu lain."
Sinox menangis. Ia memeluk anaknya.
"Ibu sayang kamu, Nak. Ibu sayang Bapak. Ibu sayang kalian semua. Ibu tidak akan mengulangi kesalahan yang sama."
"Aku lihat nanti, Bu. Aku lihat apakah Bu benar-benar berubah."
Eko melepaskan pelukan, lalu pergi ke sekolah.
Sinox hanya bisa berdiri di dapur, menatap punggung anak bungsunya, dan berdoa.
Ya Allah, pulihkan hati anak-anakku. Pulihkan hati suamiku. Pulihkan keluarga kami.
Aku berjanji akan menjadi lebih baik.
Aku berjanji akan membuktikan dengan tindakan, bukan kata-kata.
Amin.
Mas Sarif dan Luka yang Mulai Mengering
Mas Sarif tidak melupakan lukanya.
Tidak mungkin. Luka sebesar itu tidak akan hilang dalam waktu singkat. Tapi ia belajar bahwa luka, jika dirawat dengan baik, pada akhirnya akan mengering dan membentuk jaringan baru.
Jaringan itu mungkin tidak sekuat kulit asli. Mungkin akan meninggalkan bekas. Mungkin akan terasa gatal saat cuaca mendung. Tapi setidaknya, ia tidak lagi berdarah. Setidaknya, ia tidak lagi sakit setiap saat.
Mas Sarif mulai kembali ke rutinitasnya, pergi ke sawah pagi-pagi, pulang sore hari, makan malam bersama keluarga, tidur di samping istrinya.
Tidak ada lagi tidur di ruang tamu. Tidak ada lagi jarak yang sengaja ia ciptakan.
Ia memilih untuk hadir.
Meskipun sakit. Meskipun tidak mudah.
Mungkin ini yang dinamakan perjuangan, pikir Mas Sarif. Bukan tentang tidak pernah jatuh. Tapi tentang bangkit setiap kali jatuh. Bukan tentang tidak pernah terluka. Tapi tentang tetap bertahan meskipun terluka.
Dan aku, aku akan bertahan.
Untuk Sinox. Untuk anak-anak. Untuk keluarga.
Untuk janji pernikahan yang aku ucapkan 20 tahun lalu.
Untuk selamanya.
Nasihat dari Ibu Mas Sarif
Ibu Mas Sarif, seorang perempuan tua berusia 75 tahun yang masih tegar, datang ke rumah suatu sore. Ia sudah mendengar kabar tentang skandal menantunya. Ia sudah tahu bahwa Sinox telah menyakiti putranya.
Tapi ia tidak datang untuk marah.
Ia datang untuk menasihati.
"Sar, Ibu dengar cerita tentang Sinox," kata ibunya.
Mas Sarif menunduk. "Maaf, Bu. Aku gagal menjaga rumah tangga."
"Gagal? Tidak, Nak. Gagal itu jika kamu menyerah. Kamu belum menyerah. Kamu masih berjuang. Itu bukan kegagalan."
"Tapi Ibu, Sinox..."
"Sinox salah. Ibu tahu. Tapi apakah kamu tidak pernah salah dalam pernikahan ini?"
Mas Sarif terdiam.
"Tidak ada manusia yang sempurna, Sar. Pernikahan adalah tentang dua orang yang tidak sempurna, saling melengkapi. Jika salah satu jatuh, yang lain membantu bangkit. Bukan menghakimi. Bukan meninggalkan."
"Apa Ibu memaafkan Sinox?"
"Ibu tidak punya hak memaafkan atas nama kamu. Itu hak kamu. Tapi Ibu sudah memaafkan Sinox. Karena Ibu tahu dia menyesal. Karena Ibu tahu dia masih sayang pada kamu. Dan karena Ibu tidak ingin cucu-cucu Ibu tumbuh tanpa ayah atau ibu yang utuh."
Mas Sarif menangis.
Ia memeluk ibunya, perempuan yang telah melahirkannya, membesarkannya, dan masih mengajarinya arti cinta di usia senjanya.
"Terima kasih, Bu. Aku akan berusaha."
"Jangan berusaha, Nak. Lakukan."
Mas Sarif mengangguk.
Malam itu, ia tidur dengan hati yang sedikit lebih ringan.
Doa ibunya adalah kekuatan.
Dan kekuatan itu, ia butuhkan sekarang, lebih dari sebelumnya.
Setelah Luka
Mas Sarif masih terluka.
Tapi ia tidak lagi tenggelam dalam lukanya.
Ia belajar bahwa luka bukanlah akhir dari segalanya. Luka adalah awal dari proses penyembuhan. Luka adalah pengingat bahwa ia masih hidup, bahwa ia masih bisa merasakan, bahwa ia masih punya hati yang berfungsi dengan baik.
Dan yang terpenting, luka adalah kesempatan untuk menjadi lebih kuat.
Sinox masih bersamanya. Anak-anaknya masih menyayanginya. Rumahnya masih berdiri, meskipun retak di sana-sini.
Dan ia, Mas Sarif, petani sederhana dari Tegorejo, masih memiliki alasan untuk tersenyum.
Suatu pagi, saat matahari baru saja terbit, Mas Sarif berdiri di depan cermin. Ia menatap bayangannya sendiri.
Wajah ini sudah tua, pikirnya. Keriput mulai terlihat. Rambut mulai memutih. Tapi mataku, mataku masih sama. Masih bisa melihat masa depan. Masih bisa berharap.
Aku tidak akan menyerah.
Untuk Sinox. Untuk anak-anak. Untuk keluarga. Untuk diriku sendiri.
Ia mengambil handuk, pergi ke sawah, dan memulai hari seperti biasa.
Bukan dengan beban. Tapi dengan harapan.
Karena luka, meskipun sakit, tidak akan pernah bisa mengalahkan seseorang yang memilih untuk bertahan.
Dan Mas Sarif, seperti biasa, memilih untuk bertahan.
BAB XXI
Pertemuan yang Nyaris Terjadi
Ada satu pertanyaan yang selama berbulan-bulan mengganjal di hati Akang dan Sinox, sebuah pertanyaan yang tidak pernah berani mereka ucapkan dengan lantang, tapi selalu hadir di setiap hening malam, di setiap sunyi yang menyiksa: Bagaimana rasanya bertemu lagi setelah tiga puluh tahun?
Bukan melalui layar ponsel. Bukan melalui suara yang terputus-putus karena sinyal. Tapi secara langsung. Fisik. Tatap muka. Menatap mata satu sama lain, merasakan hangat tangan, mendengar detak jantung yang mungkin berdegup tidak karuan.
Mereka sudah dewasa. Sudah tua. Sudah paham bahwa pertemuan itu berbahaya, bisa membuka luka lama, bisa menghancurkan semua kemajuan yang sudah mereka buat, bisa mengobrak-abrik rumah tangga yang sedang berusaha mereka perbaiki.
Tapi godaan itu selalu ada.
Dan pada suatu titik, di saat semua orang sedang lengah, di saat kesempatan terbuka lebar, godaan itu hampir menjadi kenyataan.
Pertemuan yang nyaris terjadi.
Hampir. Tapi tidak jadi.
Karena di detik terakhir, Akang dan Sinox ingat pada janji mereka. Ingat pada air mata Setya Ningsih. Ingat pada kekecewaan Mas Sarif. Ingat pada anak-anak yang masih berusaha memaafkan.
Mereka memilih untuk tidak bertemu.
Memilih untuk menjaga jarak.
Memilih untuk merelakan.
Tapi keputusan itu, meskipun benar, tidak datang dengan mudah. Ia datang dengan air mata, dengan perdebatan batin, dengan doa yang panjang di tengah malam.
Inilah kisah tentang pertemuan yang nyaris terjadi.
Peluang yang Datang Tak Terduga
Pertemuan itu nyaris terjadi bukan karena rencana. Tidak ada niat jahat, tidak ada skenario rahasia, tidak ada konspirasi gelap.
Ia terjadi karena sebuah undangan.
Lina, anak pertama Sinox, akan merayakan wisuda sarjananya di kota besar, sebut saja Kota Semarang. Sebagai orang tua, Sinox dan Mas Sarif tentu harus hadir. Begitu juga keluarga dari pihak kampus dan teman-teman Lina.
Di waktu yang sama, Anto, anak pertama Akang, mengundang orang tuanya ke acara syukuran kelahiran anak keduanya, seorang bayi laki-laki yang lucu. Acara itu juga digelar di sebuah kota besar, sebut saja Kota Surabaya.
Semarang dan Surabaya berjarak sekitar 300 kilometer. Perjalanan darat memakan waktu lima hingga enam jam. Dengan pesawat, hanya butuh satu jam.
Bagi dua orang yang sudah berbulan-bulan tidak berkomunikasi intens, hanya sekadar kabar singkat di WhatsApp itu pun jarang, peluang ini terasa seperti takdir yang mencoba mempertemukan mereka kembali.
Atau mungkin, seperti bisikan setan yang membisikkan kesempatan dalam kesempitan.
Akang Riyadi (pesan singkat): Nox, aku dengar Lina wisuda di Semarang bulan depan. Anto juga mengadakan syukuran di Surabaya. Tanggalnya berdekatan.
Sinox Yanti (pesan singkat): Aku tahu. Aku juga dengar dari Lina. Kebetulan sekali, ya?
Akang Riyadi: Kebetulan atau tidak, aku tidak tahu. Tapi yang aku tahu, ini pertama kalinya kita berada di pulau yang sama dalam tiga puluh tahun.
Sinox Yanti: Aku sadar, Akang. Aku juga bingung. Antara senang dan takut.
Akang Riyadi: Takut apa?
Sinox Yanti: Takut kalau kita bertemu, semua yang sudah kita bangun, perbaikan rumah tangga, janji pada pasangan, kesembuhan anak-anak, akan hancur lagi. Seperti istana kartu yang roboh tertiup angin.
Akang tidak membalas.
Tapi di dalam hatinya, ia merasakan hal yang sama.
Perdebatan Batin Akang
Akang tidak bisa tidur selama beberapa malam setelah mengetahui peluang itu.
Ia berbaring di samping Setya, tapi pikirannya melayang ke Semarang, ke Sinox, ke pertemuan yang nyaris terjadi.
Jika aku pergi ke Semarang, aku bisa mampir. Tidak perlu lama. Cuma satu jam. Cuma untuk melihat dia secara langsung. Bukan untuk memeluk, bukan untuk berciuman, bukan untuk apa pun. Hanya untuk menatap matanya, mengucapkan terima kasih, dan selamat tinggal.
Apakah itu dosa? Apakah itu mengkhianati Setya? Apakah itu membatalkan semua janji yang sudah aku buat?
Ia tidak tahu.
Suatu malam, ia bertanya pada Ustadz Hanafi, setelah salat Isya di masjid desa.
"Ustadz, bagaimana jika kita ingin bertemu dengan seseorang, bukan untuk berbuat zina, hanya sekadar bertemu, berbicara, melepaskan rindu, apakah itu dosa?"
Ustadz Hanafi menatap Akang dengan tajam. "Untuk siapa pertemuan itu, Pak Akang? Untuk mantan kekasih? Untuk perempuan yang pernah Bapak cintai sebelum menikah?"
Akang menunduk. "Maaf, Ustadz. Saya hanya bertanya secara umum."
"Secara umum," Ustadz Hanafi menghela napas, "jika pertemuan itu akan membuka pintu syahwat, jika akan menimbulkan fitnah, jika akan melukai hati pasangan halal Bapak, maka ia haram. Hukum asal bertemu lawan jenis yang bukan mahram adalah boleh jika ada keperluan yang syar'i. Tapi jika tidak ada keperluan, atau jika keperluan itu hanya sekadar melepaskan rindu yang tidak halal, maka ia mendekati zina."
Akang diam.
"Pak Akang, Bapak sudah berkeluarga. Bapak punya istri yang sah. Bapak punya anak-anak yang membutuhkan Bapak sebagai teladan. Jangan rusak semua itu hanya karena pertemuan sesaat yang tidak jelas manfaatnya."
"Baik, Ustadz. Terima kasih."
Akang pulang dengan hati yang masih berat.
Ia tahu Ustadz Hanafi benar.
Tapi godaan itu, godaan itu sangat kuat.
Perdebatan Batin Sinox
Di Tegorejo, Sinox juga bergulat dengan perdebatan batin yang sama.
Ia tidak bisa fokus mengajar. Murid-muridnya mulai bertanya-tanya mengapa Bu Sinox sering melamun. Kepala sekolah memanggilnya lagi, bukan untuk memarahi, tapi untuk menanyakan kabar.
"Bu Sinox, apa Ibu baik-baik saja?"
"Baik, Pak. Hanya kurang tidur."
"Jangan terlalu dipikirkan masalahnya. Percayakan pada Allah. Beliau Maha Tahu yang terbaik untuk kita."
"Iya, Pak. Terima kasih."
Tapi Sinox tidak bisa berhenti memikirkan kemungkinan itu.
Kita sudah tiga puluh tahun tidak bertemu secara fisik. Hanya video call, hanya suara. Aku ingin melihat dia, Akang. Bukan untuk memulai lagi. Hanya untuk sekali ini. Untuk mengucapkan selamat tinggal dengan mata, bukan dengan kata-kata.
Apakah itu terlalu egois? Apakah itu terlalu berbahaya?
Ia bertanya pada dirinya sendiri.
Lalu ia menjawab sendiri.
Kita sudah berjanji. Kita sudah berusaha. Jangan rusak semuanya hanya karena rasa penasaran. Lihatlah Mas Sarif. Lihatlah Setya Ningsih. Mereka sudah mulai percaya lagi. Jangan hancurkan kepercayaan itu.
Namun...
Namun, bagaimana jika ini adalah pertemuan terakhir? Bagaimana jika salah satu dari kita meninggal sebelum sempat bertemu lagi? Apakah aku akan menyesal selamanya?
Sinox tidak tahu.
Yang ia tahu, ia berada di persimpangan yang sulit.
Antara kewajiban dan perasaan. Antara akal dan hati. Antara takdir dan pilihan.
Setya yang Mulai Curiga
Setya Ningsih bukan perempuan bodoh.
Ia melihat perubahan pada suaminya akhir-akhir ini. Akang lebih sering termenung. Lebih sering memegang ponsel, meskipun hanya sebentar, lalu meletakkannya lagi. Lebih sering melamun saat makan, saat bekerja, saat berbaring di sampingnya.
Suatu malam, Setya bertanya langsung.
"Mas, ada apa? Akhir-akhir ini Mas melamun terus."
"Tidak ada, Ning. Hanya banyak pikiran."
"Pikiran tentang apa? Tentang dia?"
Akang terdiam. Ia tidak ingin berbohong, tapi ia juga tidak ingin menyakiti Setya.
"Ning, Anto mengadakan syukuran kelahiran anak keduanya di Surabaya. Tanggal 15 bulan depan."
"Saya tahu. Saya juga akan ikut. Sudah beli tiket."
"Sementara itu, Lina, anaknya Sinox, wisuda di Semarang. Tanggal 14."
Setya mengerutkan kening. "Lalu?"
"Jarak Semarang dan Surabaya tidak terlalu jauh, Ning. Aku bisa mampir ke Semarang sebelum ke Surabaya. Atau sebaliknya."
Setya menatap suaminya. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Mas mau bertemu dia?"
"Ning, aku tidak bilang mau. Aku hanya bilang bisa."
"Tapi Mas memikirkannya. Mas mempertimbangkannya. Itu sudah cukup untuk membuatku sakit lagi."
"Ning, aku tidak akan pergi jika kamu tidak mengizinkan..."
"Mas, ini bukan soal izin. Ini soal hati Mas. Jika hati Mas masih ingin bertemu dia, meskipun aku melarang, Mas akan tetap sakit hati. Dan aku, aku akan tetap kecewa."
Setya berdiri. Ia berjalan ke kamar, mengunci pintu dari dalam.
Akang hanya bisa mengetuk pelan.
"Ning, aku minta maaf."
Tidak ada jawaban.
"Ning, aku tidak akan pergi. Aku janji."
Masih tidak ada jawaban.
Hanya suara tangis tertahan dari balik pintu.
Akang menunduk.
Ia menyesal.
Bukan karena ia ingin bertemu Sinox. Tapi karena ia sudah membuat Setya menangis lagi.
Sudah, Akang, pikirnya. Jangan sakiti dia lagi. Jangan egois. Jangan bodoh.
Mas Sarif yang Juga Tahu
Sementara itu, Mas Sarif juga mendengar tentang kemungkinan itu.
Lina cerita tanpa sengaja. "Pa, teman-teman wisuda aku bilang ada juga yang dari Kapuas. Katanya orang tuanya akan datang."
Mas Sarif tidak bertanya lebih lanjut. Tapi di dalam hatinya, ia tahu.
Ia tahu bahwa Akang, suami dari Setya Ningsih, laki-laki yang menjadi biang kerik keretakan rumah tangganya, akan berada di Semarang pada waktu yang hampir bersamaan dengan mereka.
"Sin," panggil Mas Sarif malam itu.
"Iya, Mas."
"Aku dengar orang Kapuas juga akan datang ke Semarang."
Sinox terkejut. "Dari mana Mas tahu?"
"Lina cerita. Tidak sengaja."
Sinox terdiam. Ia tidak bisa berbohong. "Iya, Mas. Akang, suami Setya, mungkin juga datang. Anaknya ada acara di Surabaya. Tanggalnya berdekatan."
"Apakah kamu akan menemuinya?"
"Mas, aku tidak berencana..."
"Tapi kamu memikirkannya. Aku bisa lihat dari matamu. Dari caramu melamun akhir-akhir ini."
Sinox menunduk. "Aku tidak akan bohong, Mas. Aku memikirkannya. Tapi aku tidak akan pergi. Aku berjanji."
"Janji?"
"Janji. Demi Allah, Mas. Aku tidak akan bertemu dia. Aku tidak akan menghancurkan apa yang sudah kita perbaiki."
Mas Sarif menghela napas. "Aku percaya padamu, Sin. Tapi ingat, kepercayaan itu mudah hancur dan sulit dibangun kembali. Jangan buat aku kecewa lagi."
"Aku tidak akan, Mas. Aku janji."
Malam itu, Sinox tidak bisa tidur.
Ia memandang ponselnya.
Ingin menelepon Akang. Ingin mengatakan bahwa mereka tidak boleh bertemu.
Tapi ia tidak punya keberanian.
Ia hanya berdoa.
Ya Allah, beri aku kekuatan. Jangan biarkan aku jatuh dalam godaan yang sama. Aku sudah lemah. Aku sudah rapuh. Aku butuh pertolongan-Mu. Amin.
Pesan Penghabisan
Seminggu sebelum keberangkatan, Akang dan Sinox akhirnya berkomunikasi secara intens lagi, untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
Bukan untuk merencanakan pertemuan. Tapi untuk membatalkannya.
Akang Riyadi: Nox, aku tidak jadi ke Semarang. Aku hanya akan ke Surabaya, langsung. Tidak mampir ke mana pun.
Sinox Yanti: Aku juga tidak jadi ke Semarang. Maksudku, aku tetap ke Semarang untuk wisuda Lina. Tapi aku tidak akan mencari kamu. Aku tidak akan menyusupkan pertemuan.
Akang Riyadi: Kita sepakat, ya. Tidak bertemu.
Sinox Yanti: Sepakat. Tidak bertemu.
Akang Riyadi: Ini yang terbaik.
Sinox Yanti: Aku tahu. Tapi sakit.
Akang Riyadi: Sakit. Tapi lebih sakit jika kita bertemu, lalu merusak semua yang sudah kita bangun.
Sinox Yanti: Kamu benar, Akang. Lebih baik sakit sekarang daripada menyesal selamanya.
Akang Riyadi: Kita sudah tua, Nox. Tidak punya waktu untuk kesalahan yang sama.
Sinox Yanti: Kita sudah belajar dari kesalahan. Semoga.
Akang Riyadi: Aku akan mendoakanmu di Surabaya. Bahagia bersama Lina. Bangga dengan anak-anakmu.
Sinox Yanti: Aku juga akan mendoakanmu. Bahagia bersama Setya, Anto, Iwan, Raha. Bangga dengan anak-anakmu.
Akang Riyadi: Sampai jumpa di surga, Nox.
Sinox Yanti: Sampai jumpa di surga, Akang.
Akang Riyadi: Tanpa rasa bersalah.
Sinox Yanti: Tanpa air mata.
Akang Riyadi: Hanya cinta yang suci.
Sinox Yanti: Cinta yang halal.
Percakapan itu berakhir.
Pertemuan yang nyaris terjadi itu batal.
Bukan karena tidak ada kesempatan.
Tapi karena mereka memilih untuk tidak mengambil kesempatan itu.
Mereka memilih keselamatan rumah tangga masing-masing.
Mereka memilih ketenangan istri dan suami mereka.
Mereka memilih masa depan anak-anak mereka.
Mereka memilih untuk tidak egois.
Meskipun sakit. Meskipun perih. Meskipun rasanya seperti kehilangan kesempatan terakhir.
Saat Hari H
Hari wisuda Lina tiba.
Sinox dan Mas Sarif duduk di barisan orang tua, menyaksikan putri sulung mereka berjalan di atas panggung, menerima ijazah, tersenyum ke arah kamera. Sinox menangis, bukan karena sedih, tapi karena bangga.
Di barisan yang sama, beberapa kursi dari mereka, tidak ada Akang. Tidak ada Setya. Mereka tidak datang. Mereka memilih untuk langsung ke Surabaya, tanpa mampir.
Sinox tidak mencari. Ia hanya fokus pada Lina, pada Mas Sarif, pada kebahagiaan yang sederhana namun nyata.
Mas Sarif memegang tangan Sinox.
"Kamu kuat, Sin."
"Aku tidak kuat, Mas. Aku hanya memilih untuk tidak lemah."
"Itu sudah cukup."
Mereka berdua tersenyum.
Sementara itu, di Surabaya, Akang dan Setya duduk di acara syukuran kelahiran cucu mereka. Akang menggendong bayi laki-laki yang mungil itu, mencium keningnya, berdoa semoga anak ini tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik dari kakeknya.
Setya duduk di sampingnya. Tidak lagi menjauh. Tidak lagi membelakangi.
Ia tersenyum.
"Mas, cucu kita lucu ya."
"Lucu, Ning. Mirip Anto."
"Mirip Bapaknya. Mudah-mudahan baik seperti Bapaknya."
Akang tersenyum getir. "Semoga lebih baik dari Bapaknya."
Setya memegang tangan suaminya. "Mas sudah cukup baik. Mas hanya pernah tersesat. Tapi Mas sudah pulang. Itu yang penting."
Akang menangis.
Ia memeluk Setya, di depan keluarga, di depan anak-anak, di depan semua orang.
Tidak malu. Tidak gengsi.
Karena ia sadar, ia hampir kehilangan perempuan ini karena kebodohannya sendiri.
Dan ia tidak akan mengulanginya.
Setelah Pertemuan yang Nyaris Terjadi
Pertemuan yang nyaris terjadi antara Akang dan Sinox tidak pernah terealisasi.
Mereka tetap di kota masing-masing. Sinox di Semarang, bersama Lina dan Mas Sarif. Akang di Surabaya, bersama Setya, Anto, Iwan, dan Raha.
Jarak fisik mereka, puluhan kilometer.
Tidak bertemu. Tidak bersentuhan. Tidak saling menatap.
Tapi di dalam hati, mereka bertemu.
Dalam doa. Dalam harapan. Dalam keyakinan bahwa apa yang mereka lakukan adalah benar.
Meskipun sakit. Meskipun berat. Meskipun godaan itu selalu ada, menanti saat mereka lengah.
Ya Allah, doa Sinox malam itu, setelah wisuda Lina usai, setelah Mas Sarif tertidur di sampingnya, terima kasih Engkau beri aku kekuatan untuk tidak jatuh. Terima kasih Engkau lindungi aku dari godaan yang hampir menghancurkanku. Terima kasih Engkau masih memberiku kesempatan untuk menjadi istri yang baik, ibu yang baik, manusia yang baik.
Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Aku berjanji.
Di Surabaya, Akang juga berdoa.
Ya Allah, ampuni aku karena hampir tergoda. Ampuni aku karena masih memikirkan dia meskipun aku sudah berjanji tidak akan. Ampuni aku karena aku manusia, lemah, rapuh, mudah jatuh. Tapi jangan biarkan aku jatuh lagi. Pegang tanganku, Ya Allah. Jangan lepaskan. Aku tidak kuat tanpa-Mu.
Pertemuan yang nyaris terjadi itu, bukan akhir dari segalanya.
Tapi awal dari kedewasaan.
Awal dari kesadaran bahwa cinta tidak harus selalu memiliki.
Awal dari pembelajaran bahwa kadang, cara terbaik untuk mencintai adalah dengan melepaskan.
Akang dan Sinox tidak akan pernah bertemu.
Mungkin tidak selamanya.
Tapi untuk sekarang, untuk sisa hidup mereka di dunia, mereka memilih untuk tidak bertemu.
Karena di surga nanti, mereka akan bertemu.
Tanpa batasan. Tanpa rasa bersalah. Tanpa dosa.
Hanya cinta yang suci. Cinta yang halal. Cinta yang abadi.
BAB XXII
Doa di Tengah Malam
Ada kekuatan dalam doa yang tidak bisa dijelaskan oleh logika. Doa tidak selalu mengubah keadaan, tetapi ia selalu mengubah hati yang memanjatkannya. Doa tidak selalu menjawab pertanyaan, tetapi ia selalu memberikan ketenangan. Doa tidak selalu mengabulkan apa yang kita minta, tetapi ia selalu memberikan apa yang kita butuhkan.
Sinox Yanti dan Akang Riyadi, di usia yang tidak lagi muda, di tengah badai yang hampir menghancurkan rumah tangga mereka, kembali kepada doa. Bukan doa yang diucapkan dengan terburu-buru di sela-sela kesibukan. Bukan doa yang hafal di lidah tapi tidak sampai ke hati.
Tapi doa di tengah malam. Doa ketika semua orang terlelap. Doa ketika hanya diri sendiri dan Tuhan yang terjaga. Doa yang keluar dari lubuk hati yang paling dalam, yang tidak tersusun rapi dalam bahasa Arab yang fasih, tetapi keluar sebagai isak tangis, sebagai bisikan lirih, sebagai sujud yang panjang tanpa kata-kata.
Malam adalah waktu paling jujur untuk berdoa. Karena di malam hari, topeng-topeng kepura-puraan jatuh. Kita tidak lagi berpura-pura kuat. Tidak lagi berpura-pura baik-baik saja. Tidak lagi berpura-pura bahwa kita bisa mengatasi semuanya sendirian.
Di malam hari, kita mengakui bahwa kita lemah. Bahwa kita butuh pertolongan. Bahwa kita tidak bisa hidup tanpanya.
Dan di situlah, di kerendahan hati itu, doa didengar.
Sinox di Tengah Malam
Tegorejo, pukul 01.30. Rumah itu sunyi. Mas Sarif sudah tidur nyenyak di sampingnya, dengan posisi menghadap ke arahnya, tangannya menggenggam tangan Sinox secara tidak sadar. Eko juga sudah tidur, mungkin dengan mimpi yang lebih indah dari kehidupan orang tuanya.
Tapi Sinox tidak bisa tidur.
Matanya terbuka lebar menatap langit-langit kamar. Pikirannya melayang ke mana-mana, ke Lina yang baru saja wisuda, ke Rahman yang sedang mempersiapkan ujian akhir di pesantren, ke Eko yang perlahan mulai bicara lagi padanya, ke Mas Sarif yang masih setia di sampingnya meskipun hatinya pernah ia lukai.
Dan juga, meskipun ia berusaha tidak memikirkannya, pikirannya melayang ke Akang. Ke Kapuas. Ke laki-laki yang hampir membuatnya kehilangan segalanya.
Sudah, Sinox, tegurnya dalam hati. Jangan pikirkan dia lagi. Fokus pada yang di depan mata.
Tapi pikirannya tidak menurut.
Ia bangkit dari tempat tidur perlahan, berusaha tidak membangunkan Mas Sarif. Ia mengambil sajadah kecil yang tergulung di sudut kamar, lalu keluar ke ruang tamu. Lampu tidak ia nyalakan. Hanya cahaya bulan yang masuk melalui jendela, cukup untuk melihat sajadah yang ia hampar di lantai.
Sinox mengambil air wudhu di kamar mandi, air dingin yang membasuh wajah, tangan, dan kakinya, membasuh juga sedikit banyak kegelisahan di hatinya.
Kemudian ia berdiri di atas sajadah.
Menghadap kiblat.
Mengangkat tangan.
"Allahu Akbar."
Doa di tengah malam dimulai.
Sujud yang Panjang
Sinox tidak ingat kapan terakhir kali ia salat malam dengan khusyuk seperti ini.
Biasanya, ia salat karena kewajiban. Cepat. Terburu-buru. Pikirannya kemana-mana, masak, anak-anak, sekolah, sawah, dan akhir-akhir ini, Akang.
Tapi malam ini, ia sengaja melambatkan gerakannya.
Setiap bacaan ia panjatkan dengan penghayatan. Setiap rukuk ia rasakan di setiap sendi tulangnya. Setiap sujud ia perpanjang, membiarkan dahi menempel di sajadah lebih lama dari biasanya.
Dan di sujud itu, di saat posisi paling rendah namun paling dekat dengan Tuhannya, Sinox berdoa.
Bukan dengan bahasa Arab yang indah.
Tapi dengan bahasa hatinya yang paling jujur.
"Ya Allah, aku datang kepada-Mu di tengah malam ini karena aku tidak punya tempat lain lagi untuk bersandar. Manusia bisa mengecewakan. Suami bisa tidak mengerti. Anak-anak bisa menjauh. Tapi Engkau, Engkau tidak pernah mengecewakan. Engkau selalu di sini, mendengar, melihat, mengetahui."
"Aku bersalah, Ya Allah. Aku telah menyakiti suamiku. Aku telah menyakiti anak-anakku. Aku telah menyakiti keluargaku sendiri. Aku juga telah menyakiti Setya Ningsih dan keluarganya, manusia yang bahkan tidak pernah aku temui secara langsung. Aku minta maaf, Ya Allah. Aku tidak pantas meminta ampun. Tapi aku mohon, ampunilah aku."
"Beri aku kekuatan untuk menjadi istri yang lebih baik. Ibu yang lebih baik. Manusia yang lebih baik. Cabutlah rasa rindu pada masa lalu yang hanya menyiksaku. Jika rasa rindu itu tidak bisa Engkau cabut, jadikanlah ia sebagai rindu yang tidak merusak. Rindu yang membawaku lebih dekat pada-Mu. Bukan pada dosa."
"Lindungi Mas Sarif, Ya Allah. Dia suami yang baik. Dia tidak pantas diperlakukan seperti ini. Beri dia kebahagiaan yang tidak pernah aku berikan. Beri dia ketenangan yang selama ini aku rampas."
"Lindungi anak-anakku. Jangan biarkan dosaku menimpa mereka. Jangan biarkan mereka malu karena aku. Jadikan mereka anak-anak yang saleh dan salehah, yang berbakti pada orang tua meskipun orang tuanya pernah salah."
"Dan jika Engkau berkenan, lindungi juga Akang. Lindungi Setya. Lindungi anak-anak mereka. Jangan biarkan mereka binasa karena dosa yang kami perbuat bersama. Beri mereka kebahagiaan, kebahagiaan yang tidak bisa aku berikan karena aku bukan bagian dari hidup mereka."
"Aku pasrah, Ya Allah. Aku tidak tahu mana yang terbaik untukku. Aku hanya tahu aku ingin memperbaiki semuanya. Tolong tunjukkan jalan. Aku buta, Ya Allah. Bimbing aku."
Sinox mengangkat kepalanya dari sujud.
Pipinya basah.
Bukan air wudhu.
Tapi air mata.
Air mata yang jatuh tanpa bisa ia bendung.
Air mata penyesalan. Air mata harap. Air mata doa.
Mas Sarif Terbangun
Mas Sarif terbangun karena merasakan dingin di samping tempat tidur. Tangannya meraba-raba, mencari hangat tubuh istrinya, tapi tidak menemukan apa-apa.
Ia bangkit. Melihat Sinox tidak ada di kamar.
Hatinya berdegup kencang.
Apakah dia menghubungi laki-laki itu lagi? pikirnya cemas. Apakah dia menelpon di tengah malam?
Mas Sarif keluar kamar. Ia melihat cahaya redup dari ruang tamu. Bukan lampu. Tapi cahaya bulan yang masuk melalui jendela.
Dan di ruang tamu itu, ia melihat Sinox.
Berwudhu. Beribadah. Bersujud di atas sajadah dengan khusyuk.
Mas Sarif tidak jadi marah. Hatinya yang tadinya cemas berubah menjadi haru. Ia berdiri di balik pintu, memperhatikan istrinya berdoa tanpa diketahui. Ia melihat punggung Sinox yang naik turun dalam sujud. Ia mendengar isak tangis yang tertahan, meskipun tidak jelas kata-katanya, Mas Sarif tahu istrinya sedang berdoa dengan sungguh-sungguh.
Mungkin dia benar-benar berubah, pikir Mas Sarif. Mungkin ini bukan pura-pura.
Mungkin, mungkin aku harus percaya lagi.
Ia tidak mengganggu. Ia kembali ke kamar, berbaring di tempat tidur, dan berpura-pura tidur saat Sinox masuk kembali ke kamar setengah jam kemudian.
Sinox merebahkan diri di sampingnya.
Mas Sarif meraih tangan istrinya, bukan karena kebiasaan, tapi karena ia ingin Sinox tahu bahwa ia ada di sini, bahwa ia tidak pergi, bahwa ia masih bertahan.
"Mas, kamu bangun?" bisik Sinox.
"Tidak. Aku tidur."
Sinox tersenyum. Ia tahu suaminya berbohong. Tapi ia tidak membongkar.
Ia hanya membiarkan tangannya digenggam oleh suaminya.
Dan di dalam genggaman itu, ada kehangatan.
Kehangatan yang tidak ia rasakan dari Akang.
Kehangatan yang nyata.
Kehangatan yang hadir sekarang, bukan dari masa lalu.
Terima kasih, Mas, bisik Sinox dalam hati. Terima kasih karena masih di sini. Terima kasih karena tidak menyerah padaku. Aku akan membuktikan bahwa aku layak diberi kesempatan kedua.
Di Kapuas, Doa yang Sama
Pada saat yang hampir bersamaan, di rumah panggung di Kapuas, Akang juga terbangun di tengah malam.
Ia tidak bisa tidur. Pikirannya kacau. Pekerjaan di kantor desa menumpuk. Permintaan maaf pada Setya masih terasa belum cukup. Raha masih sesekali menarik diri, meskipun sudah mulai membaik. Iwan masih memiliki luka yang mungkin butuh waktu lama untuk sembuh.
Dan Sinox, bayangan Sinox, masih sesekali hadir di mimpinya.
Akang bangkit. Ia keluar ke beranda. Malam masih gelap, angin gambut bertiup sepoi-sepoi, membawa bau tanah kering dan dedaunan.
Ia mengambil wudhu di kamar mandi luar, air sumur yang dingin menusuk kulit, tapi terasa menyegarkan jiwa.
Lalu ia mengambil sajadah yang sudah usang, menghadap kiblat, dan mulai salat.
Bukan salat biasa.
Tapi salat hajat. Salat malam. Salat yang ia lakukan bukan karena kewajiban, tapi karena kebutuhan, kebutuhan untuk dekat dengan Tuhannya, kebutuhan untuk memohon petunjuk, kebutuhan untuk memohon ampunan.
Satu rakaat. Dua rakaat. Tiga rakaat. Empat rakaat.
Akang tidak menghitung. Ia hanya terus salat sampai kakinya terasa lemas, sampai keningnya terasa perih karena terlalu lama bersujud, sampai air matanya habis dan yang tersisa hanya dada yang terasa lega.
Di sujud terakhirnya, ia berdoa:
"Ya Allah, aku bukan orang baik. Aku tahu itu. Aku telah menyakiti istriku, anak-anakku, keluarga yang seharusnya aku lindungi. Aku telah mengejar bayangan masa lalu sampai lupa pada masa kini yang ada di depanku."
"Ampuni aku, Ya Allah. Ampuni Setya yang telah aku sakiti. Ampuni Raha yang masih trauma karena kesalahanku. Ampuni Iwan yang mungkin kecewa pada ayahnya. Ampuni Anto yang tetap bertahan meskipun sulit."
"Dan ampununi Sinox, Ya Allah. Dia bukan perempuan jahat. Dia hanya tersesat, sepertiku. Dia hanya butuh teman, sepertiku. Kami salah, Ya Allah. Kami sangat salah. Tapi kami sudah berusaha memperbaiki. Tolong bantu kami. Tolong tunjukkan jalan yang benar."
"Berikan aku kekuatan untuk menjadi suami yang lebih baik. Ayah yang lebih baik. Pemimpin yang lebih baik untuk keluarga ini. Aku tidak ingin kehilangan mereka. Aku tidak ingin kehilangan Setya. Dia adalah anugerah terbesar dalam hidupku, meskipun aku baru menyadarinya setelah hampir kehilangan dia."
"Jaga Sinox di sana. Jaga Mas Sarif. Jaga anak-anaknya. Beri mereka kebahagiaan yang tidak bisa aku berikan. Dan jika suatu hari nanti kami bertemu di surga, pertemukanlah kami dalam keadaan yang suci, tanpa dosa, tanpa penyesalan."
"Amin, Ya Rabbal Alamin."
Akang mengangkat kepalanya dari sujud.
Wajahnya basah.
Bukan oleh air wudhu.
Tapi oleh air mata yang ia tumpahkan untuk semua yang pernah ia sakiti.
Setya yang Mengintip
Setya terbangun karena mendengar suara langkah kaki di luar. Ia melihat Akang tidak ada di sampingnya. Hatinya sedikit cemas, tapi tidak seperti dulu.
Ia bangkit, berjalan ke pintu kamar yang sedikit terbuka, dan mengintip ke luar.
Akang sedang salat di beranda. Bukan salat biasa. Setya bisa melihat dari cara Akang rukuk dan sujud yang lebih lama dari biasanya. Ia juga bisa mendengar isak tangis yang tertahan, meskipun tidak jelas kata-katanya.
Setya tidak jadi marah. Tidak cemburu. Ia hanya sedih, dan haru.
Suamiku berdoa, pikirnya. Dia berdoa dengan sungguh-sungguh.
Mungkin dia benar-benar menyesal.
Mungkin dia benar-benar ingin berubah.
Mungkin, mungkin aku harus lebih sabar.
Setya kembali ke tempat tidur. Ia tidak mengganggu. Ia membiarkan suaminya menyelesaikan ibadahnya.
Ketika Akang masuk ke kamar, Setya berpura-pura tidur.
Akang merebahkan diri di sampingnya.
Untuk pertama kalinya, Setya tidak membelakangi suaminya.
Ia membalikkan badan, menghadap Akang, dan meraih tangan suaminya.
Akang terkejut. "Ning, kamu bangun?"
"Tidak. Aku tidur."
Akang tersenyum. Ia tahu istrinya berbohong. Tapi ia tidak membongkar.
Ia hanya membiarkan tangannya digenggam oleh Setya.
Dan di dalam genggaman itu, ada kehangatan.
Kehangatan yang dulu hilang, sekarang perlahan kembali.
Kehangatan yang tidak ia temukan di mana pun.
Kehangatan yang hanya ada di rumah.
Bersama istri yang setia menunggunya pulang, meskipun ia sempat tersesat begitu lama.
Terima kasih, Ning, bisik Akang dalam hati. Terima kasih karena masih memberiku kesempatan. Terima kasih karena tidak menyerah padaku. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini lagi.
Doa yang Mengubah
Doa tidak mengubah keadaan secara instan.
Keesokan harinya, Sinox tetap menghadapi tantangan yang sama. Mas Sarif masih memiliki luka yang belum sepenuhnya sembuh. Eko masih sesekali diam-diam menyendiri. Lina masih menjaga jarak secara emosional. Rahman masih sibuk dengan pesantrennya, mendoakan ibunya dari kejauhan.
Tapi ada yang berubah di dalam hati Sinox.
Ia merasa lebih tenang. Lebih damai. Tidak lagi gelisah seperti dulu.
Ia tidak lagi memeriksa ponsel setiap lima menit. Tidak lagi berharap ada pesan dari Akang. Tidak lagi membandingkan Mas Sarif dengan bayangan laki-laki yang tidak pernah benar-benar ia miliki.
Sinox belajar bahwa kebahagiaan tidak datang dari luar, dari pujian, dari perhatian, dari cinta orang lain. Tapi dari dalam, dari kedamaian hati, dari rasa syukur, dari penerimaan bahwa apa yang ia miliki saat ini adalah cukup.
Cukup, pikir Sinox. Mas Sarif cukup. Anak-anak cukup. Rumah ini cukup.
Aku tidak perlu lebih.
Aku hanya perlu bersyukur.
Sementara itu, di Kapuas, Akang juga merasakan perubahan.
Ia tidak lagi melamun tentang masa lalu. Tidak lagi membayangkan bagaimana rasanya jika ia menikah dengan Sinox. Tidak lagi menyesali keputusan yang ia buat tiga puluh tahun lalu.
Ia belajar bahwa penyesalan tidak mengubah apa pun. Yang bisa ia lakukan hanyalah memperbaiki masa kini, untuk masa depan yang lebih baik.
Akang mulai lebih sering tersenyum pada Setya. Lebih sering membantu pekerjaan rumah. Lebih sering mengajak Raha bermain. Lebih sering bicara dengan Iwan tentang persiapan pernikahan, bukan sebagai ayah yang otoriter, tapi sebagai teman.
Setya melihat perubahan itu.
Diam-diam. Tanpa komentar.
Tapi matanya, matanya yang dulu selalu sembab karena menahan tangis, kini mulai bersinar lagi.
Mungkin doaku di tengah malam didengar, pikir Setya. Mungkin suamiku benar-benar berubah.
Mungkin, mungkin aku bisa bahagia lagi.
Keutamaan Doa di Tengah Malam
Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah SWT turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, lalu bertanya: "Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan? Siapa yang meminta kepada-Ku, akan Aku beri? Siapa yang memohon ampunan kepada-Ku, akan Aku ampuni?"
Sinox dan Akang tidak tahu apakah doa-doa mereka di tengah malam akan dikabulkan. Tidak tahu apakah rumah tangga mereka akan benar-benar pulih. Tidak tahu apakah luka yang menganga akan sembuh sempurna.
Tapi mereka tahu, setidaknya mereka sudah berusaha. Setidaknya mereka sudah memohon. Setidaknya mereka tidak lagi mengandalkan kekuatan sendiri, tapi berserah pada kekuatan Yang Maha Kuasa.
Dan di dalam kesadaran itu, ada kedamaian.
Kedamaian yang tidak bisa diberikan oleh manusia mana pun.
Kedamaian yang hanya bisa diberikan oleh Tuhan.
Ya Allah, doa Sinox malam itu, sebelum ia memejamkan mata, terima kasih untuk malam ini. Terima kasih untuk kesempatan bertaubat. Terima kasih untuk suami yang masih setia. Terima kasih untuk anak-anak yang masih mau memaafkan.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Tapi aku tahu Engkau bersamaku. Dan itu cukup. Amin.
Di Kapuas, sebelum tidur, Akang juga berdoa:
Ya Allah, aku bukan orang baik. Tapi aku ingin menjadi lebih baik. Bantu aku. Tuntun aku. Jangan biarkan aku jatuh lagi.
Aku sudah lelah. Aku sudah capek. Aku butuh Engkau, Ya Allah. Lebih dari apa pun. Amin.
Setelah Doa
Doa di tengah malam tidak serta-merta mengubah keadaan. Tidak serta-merta membuat Mas Sarif melupakan luka. Tidak serta-merta membuat Setya percaya sepenuhnya. Tidak serta-merta membuat Raha ceria kembali. Tidak serta-merta membuat Eko melupakan ejekan teman-temannya.
Tapi doa mengubah hati.
Hati Sinox yang tadinya gelisah menjadi tenang.
Hati Akang yang tadinya bimbang menjadi mantap.
Hati Mas Sarif yang tadinya sakit mulai terbuka.
Hati Setya yang tadinya ragu mulai percaya.
Dan perubahan hati, sekecil apa pun, adalah awal dari segalanya.
Awal dari kesembuhan. Awal dari perbaikan. Awal dari kebahagiaan.
Sinox dan Akang tidak lagi bertengkar dengan masa lalu. Tidak lagi menyesali apa yang tidak bisa mereka ubah. Tidak lagi merindukan apa yang tidak bisa mereka miliki.
Mereka belajar bahwa cinta sejati bukan tentang memiliki, tapi tentang melepaskan.
Mereka belajar bahwa kebahagiaan sejati bukan tentang mendapatkan apa yang diinginkan, tapi tentang mensyukuri apa yang dimiliki.
Mereka belajar bahwa doa di tengah malam, meskipun tidak selalu dijawab dengan "iya", selalu dijawab dengan sesuatu yang lebih baik: ketenangan, kedamaian, dan kemampuan untuk ikhlas.
Dan di dalam keikhlasan itu, mereka menemukan makna sebenarnya dari "Untaian Rindu dari Surga."
Bukan tentang bersatu di dunia.
Tapi tentang berjumpa di surga.
Tanpa dosa. Tanpa air mata. Tanpa penyesalan.
Hanya cinta. Cinta yang suci. Cinta yang abadi. Cinta yang diridhai.
BAB XXIII
Ujian Persahabatan
Persahabatan sejati tidak diuji saat semuanya berjalan indah. Ia diuji saat badai menerjang, saat salah satu terjatuh dan yang lain harus memilih antara menjulurkan tangan atau berpura-tidak-melihat. Ia diuji saat salah satu berbuat salah dan yang lain harus memilih antara menghakimi atau memaafkan. Ia diuji saat jarak dan waktu dan keadaan berkonspirasi untuk memisahkan, dan hanya komitmen serta ketulusan yang mampu menjembatani.
Akang dan Sinox adalah sahabat. Bukan kekasih. Bukan pacar. Bukan pasangan terlarang yang terus-menerus menguji batas.
Tapi selama berbulan-bulan, mereka lupa akan hal itu. Mereka membiarkan cinta masa lalu mengaburkan batas-batas persahabatan. Mereka membiarkan rindu yang berlebihan mengubah hubungan yang suci menjadi sesuatu yang haram.
Kini, setelah air mata, setelah doa di tengah malam, setelah pertemuan yang nyaris terjadi namun mereka batalkan, mereka berusaha kembali ke rel yang benar.
Menjadi sahabat.
Bukan kekasih. Bukan pasangan. Bukan pelarian.
Tapi sahabat. Sahabat yang saling mendoakan dari kejauhan. Sahabat yang tidak perlu bertatap muka untuk saling menguatkan. Sahabat yang bisa menerima bahwa mereka tidak akan pernah bisa memiliki satu sama lain, dan itu tidak masalah.
Ujian persahabatan ini mungkin lebih berat daripada ujian cinta.
Karena cinta seringkali egois. Ia ingin memiliki, ingin dekat, ingin disentuh.
Tapi persahabatan sejati adalah cinta yang tidak egois. Ia rela melepaskan, rela menjaga jarak, rela tidak memiliki, asal yang dicintai bahagia.
Akang dan Sinox sedang menjalani ujian itu.
Dan mereka bertekad untuk tidak gagal.
Ketika Sinox Jatuh Sakit
Tegorejo, tiga bulan setelah wisuda Lina.
Sinox jatuh sakit. Bukan sakit biasa, demam, batuk, pilek. Tapi sakit yang aneh. Badannya lemas, pusingnya tidak kunjung reda, dan beberapa kali ia pingsan saat mengajar di sekolah.
Mas Sarif panik. Ia membawa Sinox ke dokter, lalu ke rumah sakit, lalu ke dokter spesialis. Hasilnya: Sinox mengalami anemia berat, ditambah dengan tekanan darah yang tidak stabil, dan stres kronis yang menggerogoti kesehatannya dari dalam.
"Ibu harus istirahat total," kata dokter. "Tidak boleh bekerja. Tidak boleh memikirkan hal-hal yang berat. Harus banyak makan makanan bergizi. Stres adalah musuh utama Ibu sekarang."
Sinox hanya bisa mengangguk lemah. Badannya kurus, matanya cekung, wajahnya pucat seperti kertas.
Mas Sarif tidak meninggalkan sisi istrinya. Ia mengambil cuti dari sawah, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya, bahkan saat anak-anak sakit sekalipun. Ia bergantian dengan Eko menjaga Sinox di rumah sakit.
Lina datang dari kota, cuti kuliah. Rahman juga datang dari pesantren, minta izin pada kiai-nya. Mereka bergantian menjaga ibu mereka, memasakkan makanan bergizi, membacakan doa-doa.
Sinox menangis melihat anak-anaknya yang masih begitu peduli meskipun ia telah mengecewakan mereka.
"Maafkan Ibu, Nak," bisik Sinox pada Lina, sambil menangis. "Ibu sudah membuat kalian malu."
"Bu, jangan bicara begitu," Lina memegang tangan ibunya. "Ibu tetap ibu kami. Tidak ada yang bisa menggantikan itu. Luka itu sudah berlalu. Sekarang, yang penting Ibu sembuh."
"Apakah Lina sudah memaafkan Ibu?"
Lina tersenyum, senyum yang tulus, tanpa beban. "Aku sudah memaafkan Ibu sejak lama, Bu. Aku hanya butuh waktu untuk mengatakan itu."
Sinox memeluk anak sulungnya.
Di sudut ruangan, Mas Sarif menyeka air mata.
Akhirnya, pikirnya. Akhirnya anak-anak kembali lagi. Akhirnya keluarga ini mulai utuh.
Mudah-mudahan Sinox cepat sembuh.
Akang Mendengar Kabar
Di Kapuas, kabar tentang Sinox yang sakit sampai ke telinga Akang melalui teman lama di Tegorejo.
Bukan kabar yang ia cari. Tapi kabar yang datang tanpa diundang, seperti semua hal tentang Sinox, selalu datang tanpa diundang.
Teman lama: Kang, dengar kabar? Sinox sakit keras. Masuk rumah sakit. Anemia berat, katanya.
Akang membaca pesan itu berulang kali. Jantungnya berdebar tidak karuan. Tangannya gemetar. Ia ingin segera menelepon Sinox, ingin menanyakan kabarnya, ingin mengatakan bahwa ia mendoakannya, ingin, jujur saja, ingin segera pergi ke Tegorejo.
Tapi ia tahan.
Ia ingat janjinya pada Setya. Ia ingat janjinya pada dirinya sendiri. Ia ingat bahwa ia sudah bertekad menjadi suami yang baik.
Akang Riyadi: Terima kasih kabarnya. Tolong doakan dia supaya cepat sembuh.
Teman lama: Kamu tidak mau menjenguk? Kan dekat.
Akang Riyadi: Tidak. Aku tidak bisa.
Teman lama: Kenapa?
Akang Riyadi: Karena aku bukan siapa-siapa baginya lagi.
Percakapan itu berakhir.
Akang mematikan ponsel.
Ia menatap langit-langit ruang kerjanya di kantor desa.
Sinox sakit, pikirnya. Sakit keras. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa.
Ia ingin menangis. Tapi ia tahan. Kantor bukan tempat untuk menangis. Laki-laki seusianya tidak boleh menangis di depan orang lain.
Tapi di dalam hatinya, air mata mengalir deras.
Ya Allah, sembuhkan Sinox, doanya dalam hati. Dia tidak pantas menderita. Dia sudah cukup menderita karena kesalahanku, kesalahan kita.
Berikan dia kesehatan. Berikan dia kebahagiaan. Berikan dia umur panjang bersama Mas Sarif dan anak-anaknya.
Aku rela tidak pernah bertemu dia lagi di dunia ini, asalkan dia bahagia. Asalkan dia sehat. Asalkan dia baik-baik saja.
Ujian bagi Akang: Antara Ingin Menjenguk dan Kewajiban
Malam harinya, Akang tidak bisa tidur.
Pikirannya terus melayang ke Tegorejo. Ke rumah sakit tempat Sinox terbaring lemah. Ke Mas Sarif yang mungkin lelah menjaga istrinya. Ke Eko yang mungkin takut kehilangan ibu.
Ia ingin pergi. Ia ingin menjenguk.
Bukan sebagai kekasih. Bukan sebagai cinta masa lalu. Tapi sebagai sahabat. Sebagai seseorang yang pernah sangat dekat dengan Sinox, yang pernah berbagi suka duka, yang pernah berjanji akan selalu ada.
Tapi ia juga ingat pada Setya. Pada anak-anaknya. Pada semua kemajuan yang sudah ia capai dalam memperbaiki rumah tangganya.
Akang membuka chat dengan Sinox, meskipun mereka sudah jarang berkomunikasi, chat itu tidak pernah ia hapus. Hanya diarsipkan. Tidak dibuka, tidak dilihat, tapi juga tidak dihapus.
Ia ingin mengetik sesuatu. Ingin menanyakan kabar. Ingin mengatakan bahwa ia mendoakan.
Tapi jarinya terasa berat.
Akhirnya, ia hanya mengetik:
Akang Riyadi: Nox, aku dengar kamu sakit. Aku mendoakan kesembuhanmu. Jaga diri. Jangan lupa makan. Jangan terlalu stres. Istirahat yang cukup.
Pesan itu ia kirim. Tidak menunggu balasan.
Ia mematikan ponsel, lalu pergi ke kamar mandi, mengambil wudhu, dan melaksanakan salat malam.
Di sujudnya, ia berdoa untuk Sinox. Untuk kesembuhannya. Untuk kebahagiaannya. Untuk keluarganya.
Dan untuk dirinya sendiri, agar diberi kekuatan untuk tidak egois, untuk tidak menuruti keinginan hati yang bisa menghancurkan apa yang sudah ia perbaiki.
Sinox Membaca Pesan Akang
Di rumah sakit, Sinox terbangun di tengah malam.
Mas Sarif tertidur di kursi di samping tempat tidurnya, dengan posisi yang tidak nyaman, leher miring, mulut setengah terbuka, tangan masih memegang tangan Sinox meskipun dalam tidur.
Sinox tersenyum melihat suaminya.
Laki-laki ini, pikirnya. Dia tidak pernah bilang 'aku cinta kamu' dengan kata-kata. Tapi dia membuktikannya dengan tindakan. Setiap hari. Setiap malam. Setiap detik.
Ia meraih ponselnya dari nakas. Ada beberapa notifikasi, pesan dari grup sekolah, dari Lina, dari Rahman.
Dan satu pesan dari Akang.
Sinox membacanya.
"Nox, aku dengar kamu sakit. Aku mendoakan kesembuhanmu. Jaga diri. Jangan lupa makan. Jangan terlalu stres. Istirahat yang cukup."
Singkat. Tidak berlebihan. Tidak ada kata "rindu". Tidak ada "aku sayang kamu". Tidak ada "aku ingin menjenguk".
Tapi cukup untuk membuat Sinox menangis.
Bukan menangis sedih. Tapi menangis haru.
Akang masih peduli. Masih mengingatnya. Masih mendoakannya, meskipun dari kejauhan.
Dan itu, itu sudah cukup.
Sinox tidak membalas.
Ia hanya membaca pesan itu sekali lagi, lalu mematikan ponsel.
Ia memandang Mas Sarif yang masih tertidur pulas.
Maafkan aku, Mas, bisiknya dalam hati. Aku tidak akan membalas pesannya. Aku tidak akan memulai komunikasi lagi. Tapi aku tidak bisa berbohong, aku lega karena dia masih peduli.
Bukan sebagai kekasih. Tapi sebagai sahabat. Sahabat yang mendoakan dari kejauhan.
Dan itu, itu sudah cukup bagiku.
Setya yang Tahu
Setya tahu Akang masih sesekali memikirkan Sinox.
Bukan karena ia mengintip ponsel suaminya lagi, ia sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak melakukan itu. Tapi karena ia bisa membaca bahasa tubuh suaminya setelah 25 tahun menikah.
Saat Akang melamun, matanya kosong, ia tersenyum sendiri, itu tanda ia sedang mengingat masa lalu.
Saat Akang lebih banyak diam dari biasanya, itu tanda ia sedang bergumul dengan sesuatu yang tidak bisa ia ceritakan.
Saat Akang lebih sering salat malam dan berdoa dengan khusyuk, itu tanda ia sedang memohon ampun untuk sesuatu, atau seseorang.
Setya tidak marah. Ia tidak cemburu lagi. Ia sudah melewati fase itu.
Yang ia rasakan sekarang adalah... iba.
Iba pada suaminya yang masih harus berjuang melawan perasaannya sendiri. Iba pada Sinox yang mungkin juga sedang bergumul dengan hal yang sama. Iba pada mereka berdua yang tidak bisa bersatu karena takdir yang telah berkata lain.
Suatu malam, Setya meraih tangan Akang.
"Mas, aku tahu Mas masih memikirkan dia."
Akang terkejut. "Ning, aku..."
"Aku tidak marah, Mas. Aku hanya ingin Mas tahu, aku di sini. Aku tidak akan pergi. Tapi aku juga tidak bisa memaksa Mas untuk melupakan dia. Itu bukan hakku. Yang bisa aku lakukan hanyalah mendampingi Mas, menemani Mas, dan berdoa semoga Mas diberi kekuatan."
Akang menangis. "Ning, aku minta maaf karena aku masih lemah."
"Tidak apa-apa, Mas. Yang penting Mas tidak berbohong. Yang penting Mas tidak menyembunyikan. Yang penting Mas berusaha. Itu sudah cukup."
Setya memeluk suaminya.
Untuk pertama kalinya, Akang merasa tidak sendirian dalam perjuangannya melawan perasaannya sendiri.
Ia memiliki Setya. Perempuan yang tidak hanya menjadi istrinya, tapi juga sahabatnya. Sahabat yang tidak meninggalkannya meskipun ia tersesat begitu lama.
Terima kasih, Ning, doanya dalam hati. Engkau adalah anugerah yang tidak pernah aku syukuri selama 25 tahun. Sekarang, aku akan berusaha menjadi suami yang layak untukmu.
Mas Sarif yang Juga Tahu
Di Tegorejo, Mas Sarif juga tahu bahwa Sinox masih sesekali memikirkan Akang.
Tapi ia memilih untuk tidak mempermasalahkan.
Bukan karena ia tidak peduli. Tapi karena ia belajar bahwa cinta tidak bisa dipaksakan, baik untuk tumbuh, maupun untuk mati.
Cinta Sinox pada Akang, dalam bentuk apa pun itu, mungkin tidak akan pernah benar-benar mati. Ia akan tetap ada, sebagai kenangan, sebagai bekas luka yang membekas di hati.
Tapi Mas Sarif belajar bahwa ia tidak perlu bersaing dengan kenangan. Ia tidak perlu menjadi Akang. Ia cukup menjadi Mas Sarif.
Suami yang sederhana. Petani yang tidak romantis. Tapi laki-laki yang setia, setia dalam suka dan duka, setia dalam sakit dan sehat, setia dalam kaya dan miskin.
Sinox sembuh dari sakitnya setelah dua minggu dirawat di rumah sakit. Badannya masih lemas, tapi setidaknya ia sudah bisa tersenyum lagi.
Mas Sarif membawanya pulang dengan hati-hati, membantunya naik ke tempat tidur, menyelimutinya, lalu mengecup keningnya.
"Istirahat, Sin. Jangan banyak pikiran."
"Terima kasih, Mas. Untuk semuanya."
"Tidak usah berterima kasih. Itu tugas suami."
Sinox tersenyum.
Di dalam hatinya, ia berdoa.
Ya Allah, terima kasih untuk suami yang sabar. Terima kasih untuk keluarga yang masih utuh. Terima kasih untuk kesempatan kedua ini. Aku tidak akan menyia-nyiakannya.
Ujian Berikutnya: Saat Sinox Membutuhkan Bantuan
Dua bulan setelah Sinox sembuh, ujian persahabatan yang lebih berat datang.
Rahman, anak kedua Sinox yang mondok di pesantren, mengalami kecelakaan saat bermain sepak bola. Kakinya patah dan harus dioperasi. Biayanya tidak sedikit, sekitar lima belas juta rupiah.
Sinox dan Mas Sarif kebingungan. Sawah mereka baru saja panen, tapi hasilnya tidak seberapa. Tabungan mereka habis untuk biaya pengobatan Sinox sebelumnya. Lina masih kuliah dan membutuhkan biaya. Eko juga butuh uang sekolah.
Mereka tidak punya uang.
Sinox hampir putus asa.
Dalam keputusasaannya, ia teringat pada Akang. Bukan karena ia ingin meminta uang. Tapi karena ia butuh seseorang untuk curhat, seseorang untuk mendengar, seseorang yang bisa memberinya semangat.
Ia membuka ponsel. Membuka chat dengan Akang, yang sudah lama tidak ia buka.
Jarinya mengetik:
Sinox Yanti: Akang, aku butuh doamu. Rahman kecelakaan. Kakinya patah. Butuh operasi. Aku bingung mau cari uang dari mana.
Ia mengirim pesan itu. Tidak menunggu balasan. Ia hanya butuh melepaskan beban.
Tapi Akang membalas dengan cepat.
Akang Riyadi: Nox, kamu butuh berapa?
Sinox Yanti: Akang, jangan. Aku tidak minta uang. Aku hanya butuh doa.
Akang Riyadi: Doa saya berikan. Tapi saya juga punya sedikit tabungan. Saya bisa kirim.
Sinox Yanti: Tidak, Akang. Aku tidak bisa menerima uang darimu. Setya pasti tidak akan setuju. Mas Sarif juga tidak akan setuju.
Akang Riyadi: Ini untuk anakmu, Nox. Bukan untukmu. Jangan campurkan ego.
Sinox terdiam.
Ia bimbang. Di satu sisi, ia butuh uang. Di sisi lain, ia tidak mau berutang budi pada Akang. Apalagi setelah semua yang terjadi.
Ia memutuskan untuk bertanya pada Mas Sarif.
Keputusan Sulit Sinox dan Mas Sarif
"Mas, Akang nawarin bantuan. Uang. Untuk operasi Rahman."
Mas Sarif terdiam. Wajahnya berubah, bukan marah, tapi bingung.
"Kamu minta padanya?"
"Tidak, Mas. Aku hanya cerita. Dia yang nawarin."
Mas Sarif menghela napas panjang. "Sin, ini sulit. Aku tidak suka berutang pada orang lain. Apalagi padanya."
"Aku juga, Mas. Tapi kita butuh uang, Mas. Rahman butuh operasi cepat. Kalau tidak, kakinya bisa cacat selamanya."
Mas Sarif berjalan mondar-mandir. Pikirannya kacau.
Akhirnya, ia berhenti.
"Aku akan pinjam pada Pak Hadi. Atau pada Pak Lurah. Atau pada siapa pun selain dia."
"Tapi Mas, kita sudah pinjam pada mereka sebelumnya. Belum lunas."
Mas Sarif tidak menjawab.
Sinox tahu suaminya sedang berjuang dengan egonya sendiri.
"Mas, aku tidak akan menerima bantuan itu tanpa izin Mas. Ini keputusan kita berdua."
Mas Sarif duduk di samping istrinya. Ia memegang tangan Sinox.
"Sin, aku akan mengizinkan, dengan satu syarat."
"Apa, Mas?"
"Kita anggap ini pinjaman. Bukan pemberian. Kita akan bayar lunas, sekecil apa pun cicilannya, sampai lunas. Aku tidak mau berutang budi pada laki-laki itu."
Sinox menangis. "Terima kasih, Mas. Aku akan bilang padanya."
"Dan Sin... jangan jadikan ini sebagai alasan untuk berkomunikasi lagi dengannya. Setelah uang ini kita terima, setelah urusan ini selesai, kembali seperti semula. Tidak ada komunikasi kecuali darurat."
"Aku janji, Mas."
Akang Berbicara pada Setya
Akang tidak bisa memutuskan sendiri. Ia harus bicara pada Setya.
"Ning, aku mau minta izin."
"Izin apa, Mas?"
"Sinox, anaknya kecelakaan. Butuh operasi. Mereka tidak punya uang."
Setya terdiam.
"Aku ingin membantu, Ning. Bukan karena aku masih mencintainya. Tapi karena dia pernah menjadi sahabatku. Dan aku tidak tega melihat anaknya menderita karena masalah biaya."
Setya masih diam.
"Ning, uang ini dari tabungan pribadiku. Bukan uang rumah tangga. Aku tidak akan ganggu keuangan keluarga."
Setya menghela napas. "Mas, aku tidak melarang. Tapi aku minta satu hal."
"Apa, Ning?"
"Anggap ini pinjaman. Mereka harus bayar. Tidak usah buru-buru. Setahun, dua tahun, lima tahun, terserah. Tapi jangan hadiah. Karena jika hadiah, mereka akan merasa berutang budi. Dan itu tidak baik untuk hubungan kalian."
"Baik, Ning. Aku setuju."
"Satu lagi, Mas."
"Apa?"
"Setelah ini, tolong jangan jadikan alasan untuk terus berkomunikasi. Bantu sekali ini saja. Lalu kembali seperti semula."
"Aku janji, Ning."
Setya tersenyum, meskipun sedikit getir. "Aku percaya pada Mas."
Akang memeluk istrinya.
Terima kasih, Ning, doanya dalam hati. Engkau sungguh perempuan hebat.
Bantuan Tepat Waktu
Uang dari Akang datang tepat waktu. Operasi Rahman berjalan lancar. Kakinya pulih seperti sedia kala, meskipun harus menjalani fisioterapi beberapa minggu.
Sinox menangis saat menerima kabar bahwa operasi berhasil.
Ia ingin menelepon Akang. Ingin berterima kasih. Ingin mengatakan bahwa bantuan itu sangat berarti.
Tapi ia ingat janjinya pada Mas Sarif.
Ia hanya mengirim pesan singkat:
Sinox Yanti: Akang, operasi Rahman berhasil. Terima kasih atas bantuannya. Doakan dia cepat pulih. Kita akan bayar lunas pinjaman ini, sekecil apa pun cicilannya. Terima kasih. Terima kasih banyak.
Akang Riyadi: Alhamdulillah. Saya lega mendengarnya. Jangan buru-buru bayar. Yang penting Rahman sembuh dulu. Saya doakan semoga dia cepat pulih.
Sinox Yanti: Terima kasih, Akang.
Akang Riyadi: Sama-sama, Nox. Ini yang bisa saya lakukan sebagai sahabat. Jaga dirimu. Jaga keluarga.
Sinox Yanti: Kamu juga. Jaga Setya. Jaga anak-anak.
Percakapan itu berakhir.
Tidak ada kata "rindu". Tidak ada "aku sayang kamu". Hanya ucapan terima kasih dan doa.
Tapi itu, itu sudah cukup.
Karena mereka bukan lagi kekasih.
Mereka sahabat.
Sahabat yang saling membantu di saat sulit, tanpa pamrih, tanpa mengharap imbalan, tanpa mencari-cari alasan untuk dekat.
Itulah ujian persahabatan sejati.
Dan mereka, untuk kali ini, berhasil melewatinya.
Setelah Ujian
Butuh waktu bagi semua pihak untuk benar-benar pulih.
Rahman sembuh total setelah dua bulan fisioterapi. Ia kembali ke pesantren dengan kruk, tapi semangatnya tidak pernah padam.
Sinox dan Mas Sarif mencicil utang pada Akang setiap bulan, jumlah kecil, tapi konsisten. Tidak pernah telat. Tidak pernah kurang.
Akang menerima setiap cicilan dengan penuh syukur, bukan karena uangnya, tapi karena itu tanda bahwa hubungan mereka tidak lagi didasari pada perasaan yang salah, tapi pada komitmen sebagai manusia yang saling menghormati.
Setya melihat bahwa suaminya berubah. Akang tidak lagi melamun tentang masa lalu. Tidak lagi memegang ponsel dengan penuh harap. Tidak lagi tersenyum sendiri tanpa sebab.
Ia kembali menjadi suami yang dulu ia kenal, mungkin tidak sepenuhnya sama, tapi setidaknya berusaha.
Mas Sarif juga berubah. Ia tidak lagi cemburu buta. Ia belajar bahwa kepercayaan, sekali retak, memang sulit dibangun kembali. Tapi dengan kesabaran dan komitmen, ia bisa pulih.
Pelan-pelan. Setetes demi setetes. Seperti air yang menetes di batu karang.
Suatu hari, batu itu akan berlubang. Tapi juga suatu hari, batu itu akan halus karena terus-menerus disentuh oleh air.
Begitulah cinta. Begitulah persahabatan. Begitulah kehidupan.
Ujian datang silih berganti.
Tapi yang bertahan bukan mereka yang paling kuat.
Tapi mereka yang paling mau berusaha.
Akang dan Sinox berusaha. Mas Sarif dan Setya berusaha. Anak-anak mereka juga berusaha.
Dan di dalam usaha itu, mereka menemukan makna sejati dari "Untaian Rindu dari Surga."
Bukan tentang bersatu. Bukan tentang memiliki. Tapi tentang saling melepaskan dengan penuh keikhlasan.
Tentang saling mendoakan dari kejauhan. Tentang menjadi sahabat, bukan kekasih.
Tentang menerima bahwa cinta tidak harus selalu berarti memiliki.
Kadang, cinta berarti membiarkan pergi.
Kadang, cinta berarti cukup sampai di sini.
Kadang, cinta berarti mengatakan: "Aku sayang kamu, tapi aku tidak akan merusak kebahagiaanmu dengan kehadiranku."
Akang dan Sinox telah sampai pada pemahaman itu.
Setelah badai. Setelah air mata. Setelah doa di tengah malam. Setelah ujian persahabatan yang hampir menjatuhkan mereka.
Kini, mereka bisa tersenyum.
Bukan tersenyum bahagia yang penuh tawa. Tapi tersenyum lega.
Lega karena tidak ada lagi yang disembunyikan. Lega karena tidak ada lagi yang diperjuangkan secara sia-sia. Lega karena mereka akhirnya bisa menjadi sahabat, sahabat sejati.
Dan itu, itu adalah kemenangan terbesar dari semua ujian yang pernah mereka hadapi.
BAB XXIV
Percakapan Terakhir yang Panjang
Ada percakapan yang tidak bisa dihindari.
Percakapan yang mungkin seharusnya terjadi tiga puluh tahun lalu, saat Akang masih remaja dengan mimpi-mimpi besar dan rasa takut yang lebih besar, saat Sinox masih gadis lugu yang tidak mengerti mengapa laki-laki yang paling ia percaya tiba-tiba menghilang.
Tapi waktu tidak bisa diputar kembali. Yang bisa dilakukan hanyalah mengobati luka lama dengan kejujuran yang tertunda.
Percakapan terakhir yang panjang antara Akang dan Sinox tidak lagi diwarnai oleh rindu yang membara, tidak lagi oleh air mata penyesalan yang berlebihan, tidak lagi oleh bisikan-bisikan cinta yang tidak seharusnya.
Kali ini, mereka berbicara sebagai dua insan yang telah dewasa. Yang telah belajar bahwa cinta tidak selalu berarti memiliki. Yang telah memahami bahwa persahabatan sejati lebih berharga daripada hubungan terlarang yang hanya akan menyakiti banyak orang.
Percakapan ini adalah penutup.
Bukan penutup yang menyedihkan, tapi penutup yang damai.
Penutup yang mengantar mereka ke babak baru dalam kehidupan masing-masing, tanpa bayangan satu sama lain, tanpa harapan yang tidak realistis, hanya doa dan harapan baik dari kejauhan.
Ini adalah percakapan terakhir yang panjang.
Dan setelah ini, mereka akan benar-benar berpisah.
Bukan sebagai musuh. Tapi sebagai sahabat yang memilih untuk menjaga jarak.
Karena jarak, kadang, adalah bentuk cinta yang paling tulus.
Malam yang Dipilih
Minggu malam, pukul 21.00.
Sinox sudah memberitahu Mas Sarif bahwa ia perlu menelepon Akang. Untuk terakhir kalinya. Untuk menyelesaikan semuanya.
Mas Sarif diam cukup lama. Lalu ia mengangguk.
"Aku percaya padamu, Sin. Lakukan yang terbaik."
"Terima kasih, Mas. Aku tidak akan mengecewakan Mas lagi."
Sinox berjalan ke beranda belakang rumah. Di sana lebih sepi, lebih privat, lebih cocok untuk percakapan yang berat. Eko sedang belajar di kamarnya. Mas Sarif duduk di ruang tamu, menonton televisi dengan volume rendah, bukan untuk menonton, tapi untuk mengalihkan perhatian dari rasa cemas yang menggelayuti hatinya.
Di Kapuas, pada saat yang sama, Akang juga pamit pada Setya.
"Ning, aku akan bicara dengan Sinox malam ini. Untuk terakhir kalinya."
Setya menatap suaminya. "Apa yang akan kalian bicarakan?"
"Segalanya. Masa lalu. Masa depan. Tentang bagaimana kita harus berpisah, sebagai teman yang saling menghormati."
"Kamu yakin ini yang terakhir?"
"Aku yakin, Ning. Aku tidak akan mengulanginya lagi."
Setya menghela napas. "Baik, Mas. Aku percaya. Tapi ingat, aku di sini menunggu. Jangan buat aku menunggu terlalu lama."
"Tidak akan, Ning."
Akang mencium kening istrinya, sesuatu yang jarang ia lakukan, lalu berjalan ke beranda rumah panggungnya.
Angin gambut bertiup lebih kencang dari biasanya. Langit malam gelap tanpa bintang. Seperti alam ikut bersedih untuk percakapan yang akan terjadi.
Atau mungkin, alam hanya diam, seperti biasa, tidak peduli pada drama manusia yang silih berganti.
Akang mengangkat ponselnya. Menekan nama Sinox Yanti.
Tombol hijau.
Panggilan suara, bukan video call.
Karena mereka tidak perlu saling melihat untuk kali ini.
Suara sudah cukup.
Suara sudah cukup untuk mengucapkan selamat tinggal.
"Halo, Sinox."
"Halo, Akang."
Hanya itu. Nama mereka. Dan di dalamnya terkandung semua kenangan, semua luka, semua rindu, dan semua keikhlasan yang telah mereka kumpulkan selama berbulan-bulan.
"Kita bicara ya, Nox."
"Iya, Akang. Kita bicara."
Mengingat yang Indah, Mengakui yang Salah
Percakapan itu tidak dimulai dengan air mata. Tidak dimulai dengan penyesalan yang berlebihan.
Mereka memulai dengan senyum, meskipun tidak saling melihat, mereka bisa merasakan senyum di seberang sana.
"Akang, apa kenangan terindahmu tentang kita?" tanya Sinox.
"Semua," jawab Akang. "Tapi yang paling indah mungkin saat kita latihan karate. Kamu selalu salah jurus, tapi kamu tidak pernah menyerah. Aku kagum dengan semangatmu."
"Aku juga," kata Sinox. "Kenangan terindahku adalah saat kita naik sepeda ontel. Aku yang boncengin kamu, padahal kamu laki-laki. Aneh, tapi menyenangkan."
"Kamu kuat, Nox. Lebih kuat dari yang aku kira."
"Aku tidak kuat, Akang. Aku hanya tidak punya pilihan."
Mereka tertawa bersama. Tawa yang ringan, tidak terbebani.
Lalu Sinox menghela napas.
"Akang, aku minta maaf."
"Untuk apa?"
"Untuk semua kekacauan yang aku sebabkan. Seandainya aku tidak mencari kamu dulu, mungkin kita tidak akan melalui semua ini. Mungkin rumah tangga kita masih utuh. Mungkin tidak ada air mata, tidak ada fitnah, tidak ada gunjingan."
"Jangan salahkan dirimu sendiri, Nox. Aku juga yang mencari kamu. Aku juga yang tidak bisa menahan diri. Aku juga yang egois."
"Kita berdua salah," kata Sinox.
"Ya, kita berdua salah," Akang mengamini. "Tapi kita sudah belajar dari kesalahan. Itu yang penting."
Tentang Ikhlas
"Akang, apa kamu sudah ikhlas?"
Pertanyaan Sinox melayang di antara suara jangkrik dan angin malam.
Akang diam cukup lama.
"Aku tidak tahu, Nox. Ikhlas itu proses. Tidak bisa instan. Tapi aku berusaha. Setiap hari, setiap malam, aku berusaha."
"Aku juga," kata Sinox. "Tapi kadang, di malam-malam sepi seperti ini, aku masih merindukanmu. Bukan sebagai kekasih. Tapi sebagai teman. Seseorang yang mengerti aku tanpa perlu banyak kata."
"Aku juga, Nox. Tapi aku belajar bahwa rindu tidak harus selalu dipenuhi. Kadang, rindu cukup kita simpan sebagai kenangan indah. Tidak perlu diwujudkan dalam tindakan."
"Kamu dewasa sekali, Akang."
"Aku sudah tua, Nox. Tidak pantas lagi bermain-main dengan perasaan."
Sinox tersenyum getir.
"Kita sudah tua, ya, Akang. Dulu kita masih remaja, penuh mimpi, penuh semangat. Sekarang, kita sudah beruban, sudah keriput, sudah punya anak cucu."
"Tapi kenangan kita tidak akan pernah tua, Nox. Ia akan tetap muda, seperti saat kita pertama kali bertemu."
"Jangan, Akang. Jangan buat aku menangis."
"Kita sudah cukup menangis, Nox. Sekarang saatnya tersenyum."
Tentang Pasangan Masing-Masing
"Akang, apa kamu mencintai Setya?"
"Aku mencintainya, Nox. Mungkin tidak seperti aku mencintai kamu dulu. Tapi cinta itu tumbuh seiring waktu. Dan sekarang, setelah hampir kehilangan dia, aku sadar bahwa dia adalah anugerah terbesar dalam hidupku."
"Aku senang mendengarnya, Akang. Sungguh. Aku senang."
"Kamu bagaimana dengan Mas Sarif?"
Sinox menghela napas. "Mas Sarif adalah laki-laki yang sabar. Terlalu sabar, mungkin. Aku tidak pantas untuknya. Tapi dia tetap bertahan. Dia tetap di sini, meskipun aku sudah menyakiti hatinya berkali-kali."
"Kamu beruntung memilikinya."
"Aku tahu. Dan aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kedua yang dia berikan."
"Jaga dia, Nox. Laki-laki seperti Mas Sarif langka."
"Aku akan menjaganya. Aku berjanji. Kamu juga jaga Setya. Perempuan seperti dia juga langka."
"Aku akan menjaganya. Sampai mati."
Mereka berdua diam.
Mengingat pasangan masing-masing.
Bersyukur bahwa mereka masih diberi kesempatan untuk memperbaiki segalanya.
Tentang Utang dan Pinjaman
"Akang, soal uang untuk operasi Rahman..."
"Jangan dipikirkan, Nox. Bayar perlahan. Tidak usah buru-buru."
"Tapi aku tidak enak. Kita sudah merepotkanmu."
"Kamu tidak merepotkanku, Nox. Aku yang ingin membantu. Sebagai sahabat."
"Terima kasih, Akang. Sungguh. Terima kasih."
"Sama-sama, Nox. Anggap saja ini hadiah perpisahan. Untuk terakhir kalinya."
"Perpisahan? Apa kita akan berpisah?"
Akang menghela napas panjang.
"Nox, setelah percakapan ini, aku akan memblokir nomormu."
Sinox terdiam. Jantungnya berdegup kencang.
"Apa?"
"Bukan karena aku benci padamu. Tapi karena aku sayang padamu. Aku sayang pada Setya. Aku sayang pada keluargaku. Satu-satunya cara untuk melindungi mereka adalah dengan memutus komunikasi sepenuhnya."
Sinox tidak menjawab.
Air mata mulai mengalir di pipinya.
"Nox, kamu masih di sana?"
"Iya, Akang. Aku masih di sini."
"Aku minta maaf."
"Jangan minta maaf. Kamu benar. Ini yang terbaik."
"Kamu akan baik-baik saja, Nox."
"Aku tahu. Kamu juga."
"Kita akan baik-baik saja."
Janji Terakhir
"Akang, boleh aku minta satu janji?"
"Apa pun, Nox."
"Kalau suatu hari nanti, mungkin sepuluh tahun lagi, mungkin dua puluh tahun lagi, kita tidak sengaja bertemu di suatu tempat, di suatu acara, tolong jangan pura-pura tidak kenal."
Akang tersenyum. "Aku tidak akan pernah pura-pura tidak kenal padamu, Nox. Bahkan jika rambutku sudah putih semua, gigiku sudah ompong, dan aku sudah tidak bisa jalan tanpa tongkat, aku akan tetap menyapamu."
"Janji?"
"Janji."
"Janji juga, kalau suatu hari aku atau kamu meninggal, kita harus memberi tahu yang lain. Melalui siapa pun. Agar kita bisa mendoakan."
"Janji, Nox. Aku akan usahakan."
"Terima kasih, Akang. Untuk semuanya. Untuk masa lalu yang indah. Untuk tiga puluh tahun kenangan. Untuk pelajaran yang berharga."
"Aku juga berterima kasih, Nox. Kamu telah menjadi bagian terindah dalam hidupku. Meskipun hanya sebentar. Meskipun hanya kenangan."
"Selamat tinggal, Akang."
"Selamat tinggal, Nox. Bukan selamat tinggal selamanya. Sampai jumpa di surga."
"Sampai jumpa di surga, Akang. Tanpa rasa bersalah."
"Tanpa air mata."
"Hanya cinta yang suci."
"Cinta yang halal."
Panggilan telepon itu berakhir.
Sinox mematikan ponselnya.
Ia menangis.
Bukan menangis sedih. Tapi menangis lega.
Lega karena semuanya selesai. Lega karena tidak ada lagi yang disembunyikan. Lega karena ia bisa memulai hidup baru, tanpa beban masa lalu.
Setelah Panggilan Berakhir
Di Kapuas, Akang juga menangis.
Ia tidak segera masuk ke rumah. Ia membiarkan air mata mengalir di pipinya, membiarkan angin gambut mengeringkannya, membiarkan malam menjadi saksi bisu perpisahan terakhirnya dengan perempuan yang pernah ia cintai lebih dari segalanya.
Tapi ia tidak menyesal.
Ia tahu ini keputusan yang benar.
Ia mengambil ponselnya. Membuka kontak. Nama Sinox Yanti masih tertera di sana dengan foto profil yang sama, foto batik hijau tua dengan senyum setengah.
Akang menekan tombol Blokir.
Sebuah kotak konfirmasi muncul: Blokir kontak ini? Anda tidak akan menerima panggilan, pesan, atau notifikasi dari kontak ini lagi.
Ya. Blokir.
Akang menekan tombol itu.
Nama Sinox Yanti lenyap dari daftar kontaknya.
Seolah-olah tidak pernah ada.
Tapi kenangan, kenangan tidak bisa diblokir.
Kenangan akan tetap ada. Di sanalah, di relung hati yang paling dalam. Tidak bisa dihapus, tidak bisa dilupakan, tidak bisa digantikan.
Tapi kenangan, jika dikelola dengan baik, tidak harus menjadi beban. Ia bisa menjadi guru. Bisa menjadi pelita. Bisa menjadi pengingat bahwa suatu saat kita pernah bahagia, pernah mencintai, pernah menjadi manusia seutuhnya.
Akang masuk ke rumah.
Setya masih terjaga, duduk di ruang tamu dengan secangkir teh hangat.
"Sudah, Mas?"
"Sudah, Ning."
"Apa yang kalian bicarakan?"
"Segalanya. Masa lalu. Masa depan. Tentang bagaimana kita harus berpisah, sebagai teman yang saling menghormati."
"Apakah Mas menangis?"
"Sedikit."
Setya berdiri. Ia memeluk suaminya.
"Tidak apa-apa menangis, Mas. Laki-laki juga boleh menangis."
Akang memeluk istrinya balik.
"Terima kasih, Ning. Karena masih mau menerimaku kembali."
"Kamu suamiku, Mas. Sampai maut memisahkan."
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, mereka tidur berpelukan. Bukan pelukan yang kaku, canggung, penuh beban. Tapi pelukan yang hangat, yang tulus, yang penuh dengan rasa syukur.
Sinox dan Mas Sarif
Di Tegorejo, Sinox masuk ke kamar setelah percakapan panjang itu.
Mas Sarif masih terjaga, ia pura-pura tidur, tapi Sinox tahu suaminya tidak tidur.
"Mas, aku sudah bicara dengan dia."
"Lalu?"
"Kami sepakat untuk berpisah. Secara komunikasi. Dia akan memblokir nomorku."
Mas Sarif membuka matanya. "Kamu ikhlas?"
"Aku sedang belajar ikhlas, Mas. Mungkin tidak hari ini. Mungkin tidak besok. Tapi aku akan berusaha."
Mas Sarif meraih tangan istrinya.
"Aku akan membantumu, Sin. Kita akan lakukan bersama-sama."
"Terima kasih, Mas. Maafkan aku karena sudah menyusahkan Mas."
"Tidak usah minta maaf. Aku sudah memaafkanmu sejak lama."
Sinox menangis. Ia memeluk suaminya.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, Sinox tidur dengan tenang. Tidak ada lagi gelisah, tidak ada lagi perasaan bersalah, tidak ada lagi bayangan Akang yang mengganggu mimpinya.
Hanya kedamaian. Hanya syukur. Hanya harapan bahwa besok akan lebih baik.
Pelajaran dari Percakapan Terakhir
Percakapan terakhir yang panjang antara Akang dan Sinox mengajarkan banyak hal.
Pertama, bahwa kejujuran, meskipun terlambat, tetap memiliki kekuatan untuk menyembuhkan. Mungkin tidak bisa mengubah masa lalu, tapi bisa membebaskan masa depan.
Kedua, bahwa cinta tidak harus selalu berarti memiliki. Kadang, cinta berarti melepaskan. Kadang, cinta berarti menjaga jarak. Kadang, cinta berarti memilih untuk tidak hadir dalam kehidupan seseorang, agar ia bisa bahagia dengan pilihannya.
Ketiga, bahwa persahabatan sejati tidak harus dirayakan dengan pertemuan-pertemuan meriah. Persahabatan sejati bisa dirayakan dengan doa-doa yang dipanjatkan di tengah malam, dengan harapan baik yang dikirim dari kejauhan, dengan keyakinan bahwa yang lain baik-baik saja.
Keempat, bahwa memaafkan bukanlah tanda kelemahan, melainkan tanda kekuatan. Memaafkan adalah keberanian untuk melepaskan beban yang tidak seharusnya kita pikul. Memaafkan adalah keputusan untuk tidak membiarkan masa lalu menghancurkan masa depan.
Dan kelima, bahwa doa, doa yang tulus, doa yang dipanjatkan dengan hati yang bersih, adalah jembatan antara dua insan yang terpisahkan oleh jarak dan takdir. Doa adalah cara kita tetap terhubung tanpa harus berkomunikasi. Doa adalah untaian rindu yang suci, yang tidak perlu diucapkan dengan kata-kata, cukup dengan hati.
Setelah Percakapan
Akang dan Sinox tidak pernah berkomunikasi lagi setelah malam itu.
Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan. Tidak ada kabar.
Mereka benar-benar berpisah.
Bukan sebagai musuh. Tapi sebagai dua insan yang memilih untuk saling melepaskan.
Terkadang, di malam-malam yang sunyi, Akang masih teringat pada Sinox. Tapi ia tidak lagi gelisah. Ia hanya tersenyum, lalu berdoa, berdoa untuk kebahagiaan Sinox bersama Mas Sarif dan anak-anaknya.
Terkadang, Sinox juga masih teringat pada Akang. Tapi ia tidak lagi menangis. Ia hanya memejamkan mata, mengucap syukur karena pernah memiliki sahabat sebaik Akang, lalu melanjutkan hidupnya, tanpa beban, tanpa penyesalan, tanpa rasa bersalah.
Mereka belajar bahwa rindu tidak harus menjadi dosa. Rindu bisa menjadi doa, doa yang dipanjatkan untuk kebahagiaan orang yang kita cintai, meskipun kita tidak lagi menjadi bagian dari kebahagiaan itu.
Ya Allah, doa Akang setiap malam, bahagiakan Sinox di sana. Berikan dia umur panjang, kesehatan, kebahagiaan bersama keluarganya. Ampunilah dosa kami. Pertemukan kami di surga kelak, dalam keadaan yang suci, tanpa dosa, tanpa penyesalan.
Ya Allah, doa Sinox setiap malam, lindungi Akang di sana. Jaga Setya, jaga anak-anaknya, jaga keluarganya. Berikan mereka kebahagiaan yang tidak pernah bisa aku berikan. Pertemukan kami di surga, sebagai sahabat, sebagai saudara, sebagai dua insan yang saling mencintai karena-Mu.
Amin.
Percakapan terakhir yang panjang itu adalah titik akhir.
Tapi juga titik awal.
Awal dari kedewasaan. Awal dari keikhlasan. Awal dari kehidupan yang baru, tanpa bayangan masa lalu, tanpa beban penyesalan, tanpa rasa bersalah yang menghantui.
Akang dan Sinox tidak akan pernah bersama.
Tapi mereka akan selalu menjadi bagian dari cerita satu sama lain.
Sebagai kenangan. Sebagai pelajaran. Sebagai untaian rindu dari surga.
BAB XXV
Belajar Mengikhlaskan
Ikhlas adalah kata yang mudah diucapkan, tetapi sulit dijalani. Ia seperti ujung pelangi yang selalu tampak dekat saat kita melihatnya dari kejauhan, tetapi semakin kita berusaha meraihnya, semakin ia menjauh. Ikhlas tidak datang dalam sekelap mata. Ia tidak turun dari langit seperti hujan. Ia tidak bisa dipaksakan dengan air mata atau doa semalam suntuk.
Ikhlas adalah proses.
Proses yang panjang. Berliku. Penuh dengan jatuh bangun. Kadang kita merasa sudah ikhlas, tapi tiba-tiba sesuatu terjadi, sebuah lagu lama diputar di radio, sebuah foto lama muncul dari lemari, sebuah nama disebut oleh teman yang tidak tahu apa-apa, dan kita tersadar: kita belum ikhlas. Masih ada sisa-sisa rasa yang menempel di hati. Masih ada benang-benang halus yang menghubungkan kita pada masa lalu yang seharusnya sudah kita kubur.
Akang dan Sinox belajar ikhlas.
Bukan dalam satu malam. Bukan dalam satu bulan. Bahkan mungkin tidak dalam satu tahun.
Tapi mereka belajar.
Setiap hari. Setiap kali rasa rindu itu datang mengetuk pintu hati, mereka memilih untuk tidak membukakan pintu.
Setiap kali bayangan masa lalu hadir dalam mimpi, mereka memilih untuk tidak mengingatnya saat bangun.
Setiap kali nama satu sama lain tanpa sengaja disebut oleh orang lain, mereka memilih untuk tersenyum, lalu mengalihkan pembicaraan.
Belajar mengikhlaskan adalah pelajaran paling sulit dalam hidup mereka.
Tapi mereka tidak menyerah.
Karena mereka tahu, di ujung sana, setelah semua air mata dan perjuangan, ada kedamaian yang menanti.
Kedamaian yang tidak bisa diberikan oleh cinta terlarang.
Kedamaian yang hanya bisa diberikan oleh keikhlasan.
Akang: Enam Bulan Kemudian
Kapuas, enam bulan setelah percakapan terakhir.
Akang duduk di beranda rumah panggungnya. Setya sedang memasak di dapur, aroma rendang mulai tercium, menandakan ada acara keluarga malam ini. Iwan dan istrinya akan datang. Anto dan keluarganya juga akan datang. Raha, yang kini sudah mulai ceria lagi, sedang bermain dengan sepupunya di halaman.
Kehidupan berjalan normal.
Seperti tidak pernah terjadi badai.
Tapi Akang tahu, badai itu pernah terjadi. Dan bekas-bekasnya masih ada.
Setiap kali ia memegang ponsel, sesekali ia masih teringat pada Sinox. Pada chat-chat lama yang sudah ia hapus. Pada panggilan video yang sudah tidak bisa ia putar lagi. Pada nama yang sudah ia blokir.
Tapi teringat tidak lagi menyakitkan.
Ia hanya tersenyum.
Lalu melanjutkan aktivitasnya.
Mungkin ini ikhlas, pikir Akang. Bukan tentang melupakan. Tapi tentang tidak lagi tersiksa saat mengingat.
Bukan tentang tidak merasakan apa-apa. Tapi tentang merasakan, lalu melepaskannya dengan lapang dada.
"Mas, makan!" teriak Setya dari dapur.
"Iya, Ning. Sebentar."
Akang beranjak dari beranda.
Setya menyajikan makanan di meja makan dengan wajah tersenyum. Istrinya itu kini lebih sering tersenyum. Kerutan di wajahnya mulai berkurang, atau mungkin Akang yang mulai terbiasa melihatnya tersenyum.
"Mas, hari ini Raha dapat nilai bagus di sekolah," kata Setya.
"Bagus, Ra. Bapak bangga."
Raha tersenyum malu-malu. "Terima kasih, Pa."
Mereka makan bersama.
Tawa dan canda mengisi ruang makan.
Di sela-sela tawa itu, Akang bersyukur.
Terima kasih, Ya Allah, doanya dalam hati. Untuk keluarga ini. Untuk kesempatan kedua ini. Untuk Setya yang masih setia.
Aku tidak akan menyia-nyiakan nikmat ini.
Sinox: Enam Bulan Kemudian
Tegorejo, pada saat yang sama.
Sinox duduk di teras depan rumahnya. Mas Sarif sedang di sawah, musim tanam telah tiba, dan ia sibuk seperti biasa. Eko sedang bermain bola di lapangan desa. Lina sudah kembali ke kota untuk menyelesaikan kuliahnya. Rahman sudah kembali ke pesantren, dengan kaki yang kini sudah pulih total.
Sinox memegang secangkir kopi hangat.
Ia menyesapnya perlahan.
Rasanya pahit, tapi ia terbiasa.
Hidup ini seperti kopi pahit, pikirnya. Pahit di awal, tapi lama-lama kita terbiasa. Dan jika kita bersyukur, kita bisa menemukan manis di balik pahitnya.
Ia teringat pada Akang.
Enam bulan sudah tidak ada kabar.
Nomornya terblokir. Chat tidak bisa dikirim. Tidak ada pesan, tidak ada panggilan, tidak ada panggilan video.
Hanya keheningan.
Tapi keheningan, ternyata, tidak seseram yang ia bayangkan.
Keheningan mengajarkannya banyak hal.
Keheningan mengajarkan bahwa ia tidak butuh Akang untuk bahagia.
Keheningan mengajarkan bahwa Mas Sarif, dengan segala kekurangannya, adalah cukup.
Keheningan mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati datang dari dalam, bukan dari luar.
Sinox menyesap kopinya lagi.
Ia tersenyum.
Aku ikhlas, Akang, bisiknya dalam hati. Mungkin tidak seratus persen. Mungkin masih ada sisa-sisa rasa di sudut hatiku. Tapi aku sedang belajar. Pelan-pelan. Hari demi hari.
Aku tidak akan mengecewakan Mas Sarif lagi.
Aku tidak akan mengecewakan anak-anak lagi.
Aku akan menjadi istri dan ibu yang baik.
Itu janjiku. Kepadamu, dan kepada diriku sendiri.
Saat Lagu Lama Diputar
Radio desa suatu sore memutar lagu lama, lagu yang dulu sering didengarkan Sinox dan Akang saat remaja. Lagu yang menjadi soundtrack kenangan mereka. Lagu yang selalu membuat Sinox tersenyum sekaligus menangis.
Sinox sedang menyapu halaman saat lagu itu mulai terdengar.
Ia berhenti.
Sapunya terhenti di udara.
Matanya menerawang jauh.
Lagu ini, pikirnya. Lagu ini dulu sering kami nyanyikan bersama. Tanpa sadar, aku hafal semua liriknya. Tanpa sadar, setiap nada terasa seperti milik kami.
Tapi Sinox tidak menangis.
Ia hanya tersenyum.
Lalu melanjutkan menyapu.
Bukan karena aku sudah tidak merasakan apa-apa, pikirnya. Tapi karena aku memilih untuk tidak larut. Aku memilih untuk mengingat, tapi tidak terhanyut. Aku memilih untuk tersenyum, lalu melanjutkan hidup.
Itu ikhlas, bukan?
Bukan tentang mati rasa. Tapi tentang memilih untuk tetap hidup meskipun rasa itu masih ada.
Saat Pertanyaan Raha Melukai
Raha yang kini berusia lima belas tahun suatu hari bertanya pada Akang. Pertanyaan sederhana, tapi menusuk.
"Pa, kenapa dulu Pa selingkuh?"
Akang terdiam.
Setya yang mendengar pertanyaan itu, ikut terdiam.
Raha tidak bermaksud jahat. Ia hanya anak remaja yang penasaran. Ingin memahami sesuatu yang tidak ia mengerti. Ingin mencari tahu mengapa ayahnya yang dulu ia kagumi, bisa melakukan kesalahan sebesar itu.
Akang menghela napas.
Ia meraih tangan Raha.
"Ra, Bapak tidak akan membenarkan kesalahan Bapak. Bapak salah. Bapak bersalah. Bapak sudah menyakiti Ibu, menyakiti kalian, menyakiti banyak orang."
"Tapi kenapa Pa melakukannya?"
"Karena Bapak bodoh, Ra. Karena Bapak tidak bisa membedakan antara cinta dan kenangan. Karena Bapak terlalu lama memendam perasaan masa lalu sampai Bapak lupa bahwa masa depan ada di depan mata. Karena Bapak egois. Karena Bapak tidak bersyukur dengan apa yang Bapak miliki."
Raha diam.
"Tapi Bapak sudah berubah, Ra. Bapak sudah bertobat. Bapak sudah berusaha menjadi lebih baik. Bapak tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Bapak berjanji."
"Apa Ibu sudah memaafkan Pa?" tanya Raha pada Setya.
Setya tersenyum. "Ibu sudah memaafkan Bapak, Nak. Bukan karena Bapak pantas. Tapi karena Ibu tidak ingin keluarga ini hancur. Karena Ibu sayang pada kalian. Karena Ibu masih mencintai Bapak, meskipun Bapak pernah menyakiti Ibu."
"Apakah Ibu bahagia sekarang?"
"Ibu bahagia, Nak. Mungkin tidak seperti dulu. Tapi Ibu bahagia. Dan itu cukup."
Raha mengangguk.
Ia memeluk ayahnya. Lalu memeluk ibunya.
"Aku sayang Bapak. Aku sayang Ibu. Aku tidak mau keluarga kita hancur."
Akang dan Setya memeluk anaknya bersama.
Anak-anak lebih kuat dari yang kita kira, pikir Akang. Mereka lebih dewasa dari yang kita kira. Merekalah yang mengajarkan kami arti memaafkan.
Eko dan Pertanyaan yang Sama
Di Tegorejo, Eko yang kini sudah duduk di kelas IX juga bertanya pada Sinox.
"Bu, kenapa dulu Ibu hampir meninggalkan kami?"
Sinox terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Eko, Ibu..."
"Aku tidak marah, Bu. Aku hanya ingin tahu. Supaya aku tidak melakukan kesalahan yang sama ketika aku dewasa nanti."
Sinox menghela napas.
"Ibu bodoh, Nak. Ibu terlalu sibuk merindukan masa lalu, sampai Ibu lupa bahwa kebahagiaan sebenarnya ada di depan mata. Ibu hampir kehilangan Bapak, hampir kehilangan kalian, hanya karena Ibu tidak bisa melepaskan kenangan."
"Apa Ibu sudah ikhlas sekarang?"
Sinox tersenyum. "Ibu sedang belajar ikhlas, Nak. Mungkin tidak sempurna. Tapi Ibu berusaha."
"Apa Ibu masih mencintai laki-laki itu?"
Pertanyaan Eko langsung. Tanpa tedeng aling-aling.
Sinox menatap anak bungsunya.
"Ibu tidak tahu, Nak. Yang Ibu tahu, Ibu mencintai Bapak. Ibu mencintai kalian. Dan Ibu tidak akan mengorbankan keluarga ini untuk sesuatu yang tidak pasti."
"Itu belum menjawab pertanyaanku, Bu."
Sinox tersenyum getir. "Kamu dewasa sekali, Eko."
"Aku sudah hampir lulus SMP, Bu. Aku bukan anak kecil lagi."
"Iya, Nak. Kamu bukan anak kecil lagi. Jadi Ibu akan bicara jujur."
Sinox menarik napas panjang.
"Ibu mungkin tidak akan pernah bisa sepenuhnya melupakan laki-laki itu. Dia adalah bagian dari masa lalu Ibu. Dia mengajarkan Ibu banyak hal. Dia menjadi saksi bisu ketika Ibu jatuh dan bangkit. Tapi itu dulu, Nak. Sekarang, hidup Ibu adalah Bapak dan kalian. Dan Ibu memilih untuk fokus pada itu. Bukan karena Ibu terpaksa. Tapi karena Ibu sadar, kebahagiaan sejati tidak datang dari mengejar bayangan. Tapi dari mensyukuri apa yang sudah ada."
Eko diam cukup lama.
Lalu ia memeluk ibunya.
"Aku bangga sama Ibu, Bu."
"Bangga? Ibu sudah mengecewakan kalian."
"Ibu pernah mengecewakan kami. Tapi Ibu tidak menyerah. Ibu terus berusaha memperbaiki diri. Itu yang membuatku bangga."
Sinox menangis.
Ia memeluk anaknya erat-erat.
Terima kasih, Nak, doanya dalam hati. Terima kasih karena masih mau memaafkan ibumu yang lemah ini. Terima kasih karena tidak pernah berhenti menyayangiku meskipun aku sudah menyakiti kalian.
Lima Tahun Berlalu
Lima tahun setelah percakapan terakhir.
Tidak ada kabar antara Akang dan Sinox.
Mereka benar-benar berpisah.
Seperti janji mereka.
Di Kapuas, Akang telah menjadi kakek yang bahagia. Anto dikaruniai anak lagi, kali ini seorang bayi perempuan yang lucu. Iwan juga sudah memiliki anak pertama. Raha kini duduk di bangku kuliah, mengambil jurusan pertanian, mengikuti jejak ayahnya, meskipun Akang tidak pernah memaksa.
Akang pensiun dari kantor desa. Ia menghabiskan waktunya dengan berkebun, mengajar mengaji di masjid, dan bermain dengan cucu-cucunya.
Setya masih di sampingnya. Perempuan yang sama yang dulu hampir ia tinggalkan, kini menjadi teman setianya di hari tua. Mereka tidak lagi muda. Rambut mereka sudah memutih. Kulit mereka sudah keriput. Tapi cinta mereka, setelah badai yang hampir menghancurkan, kini lebih kuat dari sebelumnya.
Di Tegorejo, Sinox juga telah menjadi nenek yang bahagia. Lina menikah dengan teman kuliahnya dan dikaruniai seorang anak perempuan. Rahman menjadi santri senior di pesantrennya dan berencana melanjutkan kuliah di Timur Tengah. Eko, yang kini sudah duduk di bangku kuliah, menjadi anak yang paling sering pulang, menemani Sinox dan Mas Sarif di hari tua.
Mas Sarif masih ke sawah setiap pagi, meskipun kini ia dibantu oleh beberapa buruh. Sinox masih mengajar, meskipun hanya paruh waktu, karena ia merasa bahagia bisa berbagi ilmu dengan anak-anak desa.
Mereka tidak kaya. Tapi mereka cukup. Dan cukup adalah lebih dari sekadar kaya.
Doa di Hari Jumat
Jumat pagi. Akang pergi ke masjid lebih awal. Ia ingin mendapatkan tempat di barisan pertama. Ingin mendengarkan khotbah dengan khusyuk. Ingin berdoa di saat mustajab.
Di dalam sujudnya, ia berdoa:
Ya Allah, Engkau telah memberiku begitu banyak nikmat. Istri yang setia. Anak-anak yang berbakti. Cucu-cucu yang lucu. Kesehatan di hari tua. Rezeki yang cukup. Aku tidak pantas, tapi Engkau tetap memberiku.
Ampuni dosa-dosaku. Ampuni kesalahanku di masa lalu. Ampuni aku karena pernah menyakiti orang-orang yang aku cintai.
Dan jika Engkau berkenan, sampaikan salamku pada Sinox. Aku tidak perlu bertemu dia. Aku tidak perlu berbicara dengannya. Cukup sampaikan bahwa aku mendoakannya. Bahwa aku berharap dia bahagia. Bahwa aku berterima kasih karena dia pernah menjadi bagian dari hidupku. Amin.
Di masjid yang berbeda, di Tegorejo, Sinox juga sedang bersujud.
Ya Allah, terima kasih untuk segala nikmat-Mu. Untuk Mas Sarif yang masih setia. Untuk anak-anak yang membanggakan. Untuk cucu yang lucu. Untuk kesehatan di hari tua.
Ampuni aku. Ampuni kesalahanku di masa lalu. Ampuni aku karena pernah hampir menghancurkan rumah tanggaku sendiri.
Dan jika Engkau berkenan, sampaikan rinduku pada Akang. Rindu yang suci. Rindu yang tidak lagi menyiksa. Rindu seorang sahabat pada sahabatnya. Katakan padanya bahwa aku mendoakannya. Bahwa aku berharap dia bahagia di sana. Bahwa aku berterima kasih karena dia pernah menjadi bagian terindah dari masa laluku. Amin.
Mereka tidak tahu bahwa di saat yang sama, mereka berdoa untuk satu sama lain.
Mereka tidak tahu bahwa doa mereka, meskipun tidak terucap secara langsung, sampai kepada Tuhan yang Maha Mendengar.
Dan Tuhan, Maha Mengetahui yang terbaik untuk hamba-Nya.
Bertemu Kembali? Tidak. Tapi Cukup.
Banyak orang bertanya pada Akang: "Apakah Bapak tidak ingin bertemu dengan Sinox lagi? Sebagai teman lama?"
Akang selalu menjawab: "Tidak perlu. Doa sudah cukup."
Banyak orang bertanya pada Sinox: "Apakah Ibu tidak ingin bertemu dengan Akang lagi? Sekadar melepas kangen?"
Sinox selalu menjawab: "Kangen boleh. Tapi tidak harus dipenuhi. Cukup doa yang menghubungkan kami."
Mereka belajar bahwa pertemuan fisik bukanlah segalanya.
Kadang, tidak bertemu justru lebih baik. Kadang, jarak adalah rahmat. Kadang, keheningan adalah bentuk cinta yang paling dewasa.
Akang dan Sinox tidak akan pernah bertemu lagi di dunia ini.
Mereka tidak merencanakannya. Mereka tidak menginginkannya. Bukan karena benci. Tapi karena mereka sadar, pertemuan hanya akan membuka luka lama yang sudah berusaha keras mereka sembuhkan.
Lebih baik berpisah dalam damai, daripada bertemu dalam kebingungan.
Lebih baik saling mendoakan dari kejauhan, daripada bertatap muka dengan perasaan yang tidak jelas.
Inilah ikhlas. Ikhlas yang sesungguhnya.
Bukan tentang melupakan. Tapi tentang memilih untuk tidak lagi terikat.
Bukan tentang tidak merasakan apa-apa. Tapi tentang merasakan, lalu melepaskannya dengan lapang dada.
Bukan tentang mengakhiri segalanya. Tapi tentang memulai babak baru, tanpa beban masa lalu.
Pelajaran dari Belajar Mengikhlaskan
Belajar mengikhlaskan mengajarkan Akang dan Sinox banyak hal.
Pertama, ikhlas tidak bisa dipaksakan. Ia datang dengan sendirinya setelah kita berusaha dan berdoa. Tidak ada jalan pintas menuju ikhlas. Tidak ada resep instan. Harus sabar. Harus bertahan. Harus terus berusaha meskipun rasanya mustahil.
Kedua, ikhlas bukan berarti mati rasa. Ikhlas bukan berarti tidak merasakan sakit, tidak merasakan rindu, tidak merasakan apa-apa. Ikhlas adalah ketika kita merasakan semua itu, tetapi kita memilih untuk tidak terhanyut. Kita mengakui bahwa rasa itu ada, tapi kita tidak membiarkannya mengendalikan hidup kita.
Ketiga, ikhlas adalah proses seumur hidup. Mungkin kita tidak akan pernah ikhlas seratus persen. Mungkin akan selalu ada sisa-sisa rasa di sudut hati yang paling tersembunyi. Dan itu tidak apa-apa. Yang penting kita terus berusaha. Yang penting kita tidak menyerah.
Keempat, ikhlas adalah hadiah terbesar yang bisa kita berikan pada diri sendiri. Karena dengan ikhlas, kita membebaskan diri dari belenggu masa lalu. Kita membebaskan diri dari penyesalan, dari kemarahan, dari rasa sakit yang tidak perlu. Kita membebaskan diri untuk bahagia, di sini, sekarang, dengan apa yang kita miliki.
Dan kelima, ikhlas adalah pintu menuju kebahagiaan sejati. Bukan kebahagiaan yang semu, yang tergantung pada orang lain atau keadaan. Tapi kebahagiaan yang lahir dari dalam, dari kesadaran bahwa kita sudah cukup, bahwa apa yang kita miliki sudah cukup, bahwa hidup ini, dengan segala kekurangannya, adalah anugerah yang patut disyukuri.
Setelah Belajar Mengikhlaskan
Akang dan Sinox tidak lagi remaja.
Mereka sudah tua. Rambut mereka memutih. Kulit mereka keriput. Langkah mereka mulai lambat.
Tapi hati mereka, setelah badai yang hampir menghancurkan, kini damai.
Damai karena mereka belajar ikhlas. Damai karena mereka tidak lagi mengejar apa yang tidak bisa mereka miliki. Damai karena mereka bersyukur dengan apa yang ada.
Akang masih sesekali memandang ke arah Timur, ke arah Jawa, ke arah Tegorejo. Bukan karena ia merindukan Sinox. Tapi karena di sanalah ia meninggalkan masa mudanya. Di sanalah ia belajar tentang cinta, tentang persahabatan, tentang arti kehilangan.
Sinox juga sesekali memandang ke arah Timur, ke arah Kalimantan, ke arah Kapuas. Bukan karena ia merindukan Akang. Tapi karena di sanalah ia belajar tentang melepaskan. Tentang menerima takdir. Tentang arti kesabaran.
Mereka tidak akan pernah bertemu lagi.
Tapi mereka tidak pernah benar-benar berpisah.
Karena dalam doa, mereka selalu bersama. Karena dalam kenangan, mereka abadi. Karena dalam untaian rindu dari surga, mereka terhubung, tanpa harus bersentuhan, tanpa harus berbicara, tanpa harus saling memiliki.
Ya Allah, doa Akang setiap malam, pertemukan aku dengan Sinox di surga kelak. Dalam keadaan yang suci. Tanpa dosa. Tanpa penyesalan. Sebagai sahabat. Sebagai saudara. Sebagai dua insan yang saling mencintai karena-Mu.
Ya Allah, doa Sinox setiap malam, pertemukan aku dengan Akang di surga kelak. Dalam keadaan yang Engkau ridhai. Bukan sebagai kekasih yang terlarang. Tapi sebagai hamba-Mu yang saling memaafkan, saling mendoakan, saling menguatkan.
Amin. Ya Rabbal Alamin.
BAB XXVI
Memperbaiki Bahtera Rumah Tangga
Bahtera rumah tangga tidak pernah berlayar di lautan yang selalu tenang. Ada kalanya ombak kecil menggoyang, ada kalanya badai besar menghantam, ada kalanya angin topan datang tanpa peringatan dan hampir menenggelamkan sekalian isinya.
Akang dan Sinox telah melalui badai terbesar dalam kehidupan pernikahan mereka. Cinta masa lalu yang hampir menghancurkan segalanya. Fitnah dan gunjingan yang menyebar seperti api. Kepercayaan yang retak dan hampir hancur berkeping-keping. Anak-anak yang kecewa dan malu. Pasangan yang terluka dan hampir menyerah.
Namun bahtera mereka tidak tenggelam.
Bukan karena mereka hebat. Bukan karena mereka kuat. Tapi karena mereka memilih untuk bertahan. Mereka memilih untuk memperbaiki, meskipun hati masih sakit. Mereka memilih untuk membangun kembali, meskipun fondasi retak di sana-sini. Mereka memilih untuk terus berlayar, meskipun badai belum sepenuhnya reda.
Memperbaiki bahtera rumah tangga adalah pekerjaan seumur hidup. Tidak ada yang instan. Dibutuhkan kesabaran yang luar biasa, pengorbanan yang tidak sedikit, dan yang paling penting, komitmen. Komitmen untuk tidak menyerah. Komitmen untuk terus berusaha, meskipun hasilnya belum terlihat. Komitmen untuk tetap percaya, meskipun kepercayaan itu pernah dikhianati.
Di Kapuas, Akang dan Setya membangun kembali pernikahan mereka. Batu bata demi batu bata. Hari demi hari. Doa demi doa.
Di Tegorejo, Sinox dan Mas Sarif juga melakukan hal yang sama. Tidak ada yang instan. Tidak ada yang mudah. Tapi mereka tidak menyerah. Karena mereka tahu, bahtera ini adalah satu-satunya rumah bagi mereka. Dan mereka tidak ingin kehilangan rumah untuk kedua kalinya.
Akang dan Setya: Memulai dari Awal
Butuh waktu bagi Akang dan Setya untuk benar-benar pulih. Tidak ada lompatan besar. Tidak ada adegan dramatis seperti di film-film. Yang ada hanyalah langkah-langkah kecil, yang jika digabungkan, membentuk jalan panjang menuju kesembuhan.
Langkah pertama: komunikasi.
Akang belajar untuk berbicara pada Setya bukan hanya tentang kebutuhan rumah tangga, berapa beras yang habis, apakah Raha sudah makan, kapan Iwan akan menikah. Ia belajar untuk bertanya tentang perasaan istrinya. Tentang apa yang Setya rasakan. Tentang apa yang Setya pikirkan.
"Ning, kamu masih marah padaku?"
"Kadang, Mas. Saat aku sendirian dan mulai mengingat-ngingat."
"Apa yang bisa aku lakukan agar kamu tidak marah lagi?"
"Tidak ada, Mas. Aku tidak bisa memaksakan diri untuk tidak marah. Tapi aku bisa memilih untuk tidak melampiaskannya. Aku bisa memilih untuk tetap di sini, meskipun marah."
Akang memegang tangan istrinya. "Aku akan menunggu sampai marahmu reda. Berapa pun waktu yang dibutuhkan."
Setya tersenyum getir. "Kamu tidak seperti dulu, Mas. Dulu, kamu tidak pernah mau menunggu. Kamu selalu ingin semuanya cepat."
"Aku belajar, Ning. Karena aku hampir kehilanganmu."
Langkah kedua: waktu berkualitas.
Akang mulai meluangkan waktu lebih banyak untuk Setya. Bukan hanya di rumah, tapi di luar. Ia mengajak Setya jalan-jalan ke kota, makan di warung favorit mereka dulu, duduk di tepi sungai sambil menikmati angin sore.
"Mas, ini seperti pacaran lagi," kata Setya suatu sore, saat mereka duduk di tepi sungai Kapuas.
"Apa salahnya? Kita sudah tua, bukan berarti tidak bisa pacaran."
Setya tertawa. Tawa yang tulus. Tawa yang sudah lama tidak ia dengar.
"Dulu, saat kita masih pacaran, Mas sering membawaku ke sini."
"Aku ingat, Ning. Kamu selalu bawa bekal nasi bungkus. Kita makan bersama sambil melihat matahari terbenam."
"Sekarang kita sudah tua. Keriput. Beruban. Tapi sungainya masih sama."
"Dan cintaku padamu juga masih sama, Ning. Mungkin tidak seperti dulu. Tapi lebih dalam. Karena cinta ini sudah teruji badai."
Setya menangis. Bukan sedih. Tapi haru.
Langkah ketiga: sentuhan.
Setelah berminggu-minggu menjaga jarak, Akang mulai memberanikan diri untuk menyentuh Setya. Bukan sentuhan yang bernafsu. Tapi sentuhan kecil, menepuk pundak, meraih tangan, mengusap rambut.
Setya awalnya kaku. Butuh waktu baginya untuk tidak lagi menarik diri saat disentuh.
Tapi perlahan-lahan, ia mulai membalas.
Suatu malam, saat mereka berbaring di tempat tidur, Setya meraih tangan Akang terlebih dahulu.
"Mas, aku mencintaimu. Meskipun kamu sudah menyakiti aku, aku masih mencintaimu."
Akang menangis. "Aku juga mencintaimu, Ning. Dan aku tidak akan menyakitimu lagi."
Mereka berpelukan.
Untuk pertama kalinya dalam setahun, mereka tidur tanpa jarak.
Sinox dan Mas Sarif: Membangun Kembali Kepercayaan
Di Tegorejo, Sinox dan Mas Sarif juga menjalani proses yang tidak kalah berat.
Mas Sarif bukan laki-laki yang suka bicara. Ia lebih suka bertindak. Tapi setelah badai, ia belajar bahwa tindakan saja tidak cukup. Kadang, istri butuh mendengar kata-kata.
"Sin, aku sayang kamu."
Sinox terkejut mendengar itu. Mas Sarif tidak pernah, atau jarang sekali, mengatakan "aku sayang kamu" dengan lantang.
"Mas, kenapa tiba-tiba?"
"Aku hampir kehilangan kamu, Sin. Aku hampir kehilangan keluarga kita. Itu membuatku sadar bahwa selama ini aku terlalu sibuk bekerja, terlalu sibuk di sawah, sampai lupa mengatakan hal-hal sederhana seperti ini."
"Mas, aku yang seharusnya minta maaf..."
"Sudah, Sin. Aku sudah memaafkanmu. Sekarang, tugas kita adalah membangun kembali. Bukan saling menyalahkan."
Sinox menangis. Ia memeluk suaminya.
"Terima kasih, Mas. Karena masih mau menerimaku kembali."
"Kamu istriku, Sin. Sampai maut memisahkan."
Mas Sarif tidak hanya berbicara. Ia juga bertindak.
Ia mulai meluangkan waktu lebih banyak di rumah. Tidak lagi pulang larut malam dari sawah. Kadang, ia sengaja tidak pergi ke sawah di hari Minggu, hanya untuk menemani Sinox dan Eko.
Ia mulai memperhatikan hal-hal kecil. Ketika Sinox lelah mengajar, Mas Sarif menyiapkan teh hangat. Ketika Sinox sakit kepala, Mas Sarif memijat pelipisnya. Ketika Sinox sedih, Mas Sarif hanya duduk di sampingnya tanpa bicara, karena ia tahu istrinya tidak butuh nasihat, hanya butuh kehadiran.
Sinox melihat semua itu.
Diam-diam, ia bersyukur.
Aku hampir kehilangan laki-laki ini, pikirnya. Hampir kehilangan karena kebodohanku sendiri.
Tapi dia masih di sini. Dia masih bertahan.
Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kedua ini.
Anak-Anak Sebagai Perekat
Anak-anak, baik di Kapuas maupun di Tegorejo, menjadi perekat yang memperkuat kembali bahtera rumah tangga yang rapuh.
Di Kapuas, Anto dan Iwan sering mengundang orang tua mereka ke rumah masing-masing. Mengajak makan bersama. Membiarkan cucu-cucu bermain dengan kakek-neneknya.
Tawa kecil cucu-cucu itu mampu meluluhkan sisa-sisa kebekuan di hati Akang dan Setya.
"Pa, lihat! Cucu Pa sudah bisa jalan!" seru Anto bangga.
Akang tertawa. "Dia hebat. Seperti kakeknya dulu."
"Jangan sombong, Mas," Setya mencubit lengan suaminya.
"Bercanda, Ning."
Mereka tertawa bersama.
Raha yang kini remaja, juga menjadi perekat. Ia tidak lagi diam dan menarik diri. Ia mulai bicara pada ayahnya tentang sekolah, tentang cita-cita, tentang masa depan.
"Pa, aku mau jadi pertanian. Seperti Pa."
Akang terharu. "Kamu yakin? Kamu bisa pilih yang lain."
"Aku yakin, Pa. Aku lihat Pa bekerja di sawah. Keras, tapi Pa tidak pernah mengeluh. Aku ingin seperti Pa."
Akang memeluk anak bungsunya. "Pa bangga padamu, Ra."
Setya menangis di dapur, mendengar percakapan itu. Ia bersyukur, keluarganya perlahan pulih. Rumah yang dulu terasa dingin dan sunyi, kini mulai hangat kembali.
Di Tegorejo, Lina yang kini sudah bekerja dan mandiri, sering mengirimkan bingkisan untuk orang tuanya. Makanan, pakaian, atau sekadar kartu ucapan.
"Bu, aku sayang Ibu. Aku sayang Bapak. Jangan bertengkar lagi, ya," tulis Lina di kartu ucapan.
Sinox menangis membaca kartu itu. Ia menyimpannya di dalam lemari, di tempat yang aman.
Rahman yang masih di pesantren, setiap pulang ke rumah selalu menyempatkan diri mengobrol dengan orang tuanya. Ia tidak pernah menyinggung masa lalu. Ia hanya bicara tentang kegiatan di pesantren, tentang teman-temannya, tentang rencana setelah lulus.
Kehadirannya, meskipun hanya beberapa hari, mampu menghidupkan suasana rumah yang sempat mati.
Eko yang kini remaja, mulai lebih dewasa. Ia tidak lagi membenci ibunya. Ia mulai membantu Sinox di rumah, menemani ke pasar, menjaga adik sepupunya.
"Bu, aku maafin Ibu," kata Eko suatu hari, tanpa diminta.
Sinox terkejut. "Kamu tiba-tiba?"
"Aku sudah lama memaafkan Ibu. Aku hanya butuh waktu untuk mengatakannya."
Sinox memeluk anak bungsunya. "Terima kasih, Nak. Ibu sayang kamu."
"Aku juga sayang Ibu, Bu."
Di balik pintu, Mas Sarif menyeka air mata.
Anak-anak, pikirnya. Merekalah yang menyelamatkan pernikahan ini. Tanpa mereka, mungkin aku sudah menyerah.
Mas Sarif dan Akang? Tidak Pernah Bertemu, Tapi Saling Memaafkan
Mas Sarif dan Akang tidak pernah bertemu secara fisik.
Tapi suatu malam, Mas Sarif mengambil ponsel Sinox, dengan izin istrinya, dan mengetik pesan singkat untuk Akang. Bukan pesan panjang. Hanya satu kalimat.
Mas Sarif (dari ponsel Sinox): Pak Akang, saya Mas Sarif. Saya sudah memaafkan Bapak. Semoga Bapak sekeluarga bahagia.
Di Kapuas, Akang menerima pesan itu dengan tangan gemetar. Ia membacanya berulang kali, lalu menangis.
Ia membalas:
Akang Riyadi: Terima kasih, Pak Sarif. Saya juga memaafkan Bapak. Maafkan saya karena sudah menyusahkan keluarga Bapak. Semoga Bapak sekeluarga juga bahagia.
Mas Sarif membaca balasan itu, lalu tersenyum.
Laki-laki ini, pikirnya. Dia bukan musuhku. Dia hanya manusia yang tersesat, seperti istriku dulu.
Dan aku, aku telah memaafkannya.
Bukan karena dia pantas. Tapi karena aku pantas untuk damai.
Setya dan Sinox? Juga Tidak Pernah Bertemu, Tapi Saling Mendoakan
Setya Ningsih dan Sinox Yanti tidak pernah bertemu secara fisik, hanya sekali panggilan video dulu, yang penuh dengan air mata dan kemarahan.
Tapi setelah semua badai berlalu, Setya mengambil ponselnya dan mengetik pesan untuk Sinox. Bukan dari nomor Akang, tapi dari nomornya sendiri, nomor yang dulu pernah dihubungi Sinox.
Setya Ningsih: Bu Sinox, saya Setya. Saya tidak akan lama-lama. Saya hanya ingin mengatakan, saya sudah memaafkan Ibu. Saya sudah memaafkan suami saya. Saya sudah memaafkan semua orang. Semoga Ibu sekeluarga bahagia. Maafkan saya jika pernah berkata kasar pada Ibu.
Sinox menerima pesan itu saat sedang duduk di teras, ditemani secangkir kopi. Ia membacanya, lalu menangis.
Ia membalas:
Sinox Yanti: Bu Setya, terima kasih. Saya minta maaf sebesar-besarnya atas semua yang sudah saya perbuat. Saya tidak pantas, tapi Ibu tetap memaafkan saya. Semoga Ibu sekeluarga juga bahagia. Terima kasih. Terima kasih banyak.
Setya membaca balasan itu, lalu tersenyum.
Perempuan ini, pikirnya. Dulu aku benci padanya. Sekarang, aku hanya bisa mendoakannya.
Semoga dia bahagia. Semoga keluarganya bahagia. Semoga kita bertemu di surga, tanpa rasa benci, tanpa rasa sakit, hanya sebagai saudara.
Memperbaiki Bahtera: Pekerjaan Sehari-hari
Memperbaiki bahtera rumah tangga bukanlah pekerjaan yang selesai dalam satu hari. Ia adalah pekerjaan sehari-hari. Seperti menanam padi, harus disiram setiap hari, harus dijaga dari hama, harus dipupuk secara teratur.
Akang belajar untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Ia tidak lagi menyimpan rahasia dari Setya. Ponselnya terbuka. Chat-nya tidak dilindungi password. Jika Setya ingin melihat, silakan. Karena ia tidak punya apa pun yang disembunyikan lagi.
"Ning, kamu tidak curiga lagi?" tanya Akang suatu hari.
"Kadang masih, Mas. Tapi aku memilih untuk percaya. Karena tanpa kepercayaan, pernikahan ini hanya akan berjalan di tempat."
"Aku tidak akan mengecewakanmu lagi, Ning."
"Aku tahu, Mas."
Setya tersenyum. Senyum yang tulus.
Sementara itu, Sinox juga belajar untuk lebih menghargai Mas Sarif. Ia tidak lagi membandingkan suaminya dengan laki-laki lain, bahkan dalam hati. Ia belajar untuk menerima Mas Sarif apa adanya, dengan segala kekurangannya.
"Mas, maaf ya kalau aku dulu sering membandingkan Mas dengan orang lain."
"Siapa yang bandingin?"
"Tidak ada. Lupakan."
Mas Sarif tertawa. "Aku tidak pernah merasa dibandingkan, Sin. Karena aku hanya ingin menjadi diriku sendiri. Suamimu. Ayah anak-anakmu."
"Kamu sudah lebih dari cukup, Mas."
"Terima kasih, Sin."
Mereka berdua tersenyum.
Doa untuk Bahtera
Setiap malam, sebelum tidur, Akang dan Setya berdoa bersama.
Bukan doa yang panjang dan rumit. Hanya doa sederhana: syukur karena masih diberi kesempatan, permohonan ampun atas dosa-dosa, dan permohonan perlindungan agar bahtera rumah tangga mereka tidak karam lagi.
"Ya Allah, lindungi keluarga kami. Jangan biarkan kami tersesat lagi. Jangan biarkan setan merusak apa yang sudah Engkau bangun. Aamiin," ucap Setya.
"Aamiin," jawab Akang.
Mereka berpelukan, lalu tidur.
Di Tegorejo, Sinox dan Mas Sarif juga melakukan hal yang sama. Setiap malam, sebelum tidur, mereka berdoa bersama.
"Ya Allah, ampuni dosa kami. Jagalah keluarga kami. Jangan biarkan kami terjerumus dalam kesalahan yang sama. Aamiin," ucap Sinox.
"Aamiin," jawab Mas Sarif.
Mas Sarif meraih tangan Sinox.
"Kita sudah tua, Sin. Tapi kita masih punya waktu. Mari kita gunakan sisa waktu ini untuk saling membahagiakan. Bukan menyakiti."
"Iya, Mas. Aku setuju."
Mereka tersenyum, lalu memejamkan mata.
Pelajaran dari Memperbaiki Bahtera
Memperbaiki bahtera rumah tangga mengajarkan Akang, Setya, Sinox, dan Mas Sarif banyak hal.
Pertama, bahwa tidak ada pernikahan yang bebas dari masalah. Yang membedakan adalah bagaimana pasangan menghadapi masalah itu, apakah saling menyalahkan, atau saling menguatkan.
Kedua, bahwa memaafkan adalah kunci. Tanpa maaf, tidak ada perbaikan. Tanpa maaf, luka akan terus bernanah. Tanpa maaf, bahtera akan terus bocor.
Ketiga, bahwa komunikasi adalah fondasi. Pasangan yang tidak mau berbicara, tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah. Pasangan yang tidak mau mendengar, tidak akan pernah bisa memahami.
Keempat, bahwa waktu berkualitas adalah obat. Bukan hadiah mahal, bukan liburan ke luar negeri, bukan rumah mewah. Tapi kebersamaan sederhana, makan bersama, jalan-jalan sore, duduk diam sambil menikmati secangkir kopi.
Kelima, bahwa anak-anak adalah perekat. Tidak boleh dijadikan alat untuk balas dendam. Tidak boleh dijadikan korban. Tapi harus dilibatkan dalam proses penyembuhan, dengan cara yang bijak.
Dan yang terakhir, bahwa doa adalah kekuatan. Tidak ada yang bisa memperbaiki bahtera rumah tangga tanpa pertolongan Tuhan. Karena manusia hanya berencana, Tuhan yang menentukan. Manusia hanya berusaha, Tuhan yang memberi hasil.
Setelah Bahtera Kembali Berlayar
Kapal yang telah diperbaiki tidak akan pernah sama persis seperti baru. Ia akan memiliki bekas-bekas tambalan di sana-sini. Warnanya mungkin sudah pudar. Catnya mungkin mengelupas. Tapi ia lebih kuat dari sebelumnya. Karena ia telah teruji badai. Karena ia telah hampir tenggelam, tapi selamat.
Pernikahan Akang dan Setya tidak akan pernah sama seperti sebelum badai. Masih ada luka yang kadang terasa, masih ada rasa sakit yang kadang muncul, masih ada kecurigaan yang kadang hadir.
Tapi mereka memilih untuk tidak larut. Mereka memilih untuk terus berlayar. Karena di tengah lautan kehidupan yang tidak pernah tenang, yang bisa mereka lakukan hanyalah terus maju.
Pernikahan Sinox dan Mas Sarif juga tidak akan pernah sama. Tapi mereka tidak menyesal. Karena mereka belajar bahwa cinta sejati bukan tentang tidak pernah terluka, tapi tentang memilih untuk tetap bertahan meskipun terluka.
Mas Sarif tidak lagi pergi ke sawah terlalu pagi. Ia memilih untuk sarapan bersama Sinox terlebih dahulu. Sesekali, ia menggoda istrinya.
"Sin, masakanmu enak ya. Aku jadi semangat ke sawah."
"Bohong, Mas. Kemarin bilang asin."
"Ya yang kemarin asin. Sekarang enak."
Sinox tertawa. Tawa yang tulus.
Mas Sarif juga tertawa.
Di ruang tamu, Eko yang mendengar tawa orang tuanya, tersenyum.
Akhirnya, pikirnya. Akhirnya rumah ini kembali hangat.
Tidak seperti dulu. Tapi hangat.
Dan itu cukup.
BAB XXVII
Persahabatan Sejati
Badai telah berlalu. Rumah tangga yang nyaris tenggelam kini perlahan kembali mengapung. Bukan berarti lautan sudah tenang sepenuhnya, masih ada ombak kecil, masih ada gelombang yang sesekali menggoyang. Tapi kapal tidak lagi oleng. Kemudi sudah kembali di tangan nakhoda yang sadar akan arah.
Akang dan Sinox telah memutuskan untuk berpisah. Bukan sebagai musuh. Tapi sebagai dua insan yang memilih untuk menjaga jarak demi keselamatan bahtera masing-masing.
Tapi persahabatan sejati, persahabatan yang telah teruji oleh waktu, jarak, dan badai, tidak mati hanya karena dua orang memutuskan untuk tidak berkomunikasi lagi.
Ia tetap hidup.
Dalam doa. Dalam harapan. Dalam ketulusan untuk saling mendoakan dari kejauhan.
Enam Bulan Setelah Percakapan Terakhir
Kapuas, enam bulan setelah Akang memblokir nomor Sinox.
Tidak ada lompatan waktu. Tidak ada "sepuluh tahun kemudian". Hanya enam bulan. Cukup singkat untuk melupakan seseorang, tapi cukup panjang untuk menyadari bahwa melupakan bukanlah tujuan yang benar.
Akang duduk di beranda rumah panggungnya. Setya sedang memasak di dapur, aroma rendang mulai tercium, menandakan besok adalah hari Minggu, anak-anak akan datang berkumpul.
"Mas, besok Anto bawa cucu, ya," kata Setya dari dapur.
"Iya, Ning. Aku sudah siapkan jajanan untuk mereka."
Setya tersenyum. Senyum yang dulu lama menghilang, kini mulai sering muncul kembali. Tidak setiap hari, tapi cukup sering untuk membuat Akang bersyukur.
Akang memandang ponselnya. Masih terblokir. Masih sama seperti enam bulan lalu.
Tapi dadanya tidak lagi sesak saat mengingat Sinox. Hanya ada kehangatan, kehangatan aneh yang tidak bisa ia jelaskan. Seperti mengenang masa lalu yang indah, tanpa rasa ingin kembali.
Mungkin ini ikhlas, pikir Akang. Bukan tentang melupakan. Tapi tentang tidak lagi tersiksa saat mengingat.
Bukan tentang tidak merasakan apa-apa. Tapi tentang merasakan, lalu melepaskannya dengan lapang dada.
"Mas, makan!" teriak Setya.
"Iya, Ning. Sebentar."
Akang beranjak dari beranda. Setya menyajikan makanan di meja makan. Wajahnya berseri, mungkin karena besok akan bertemu cucu, mungkin juga karena hari ini Akang membantu membersihkan rumah tanpa disuruh.
"Mas, kamu baik-baik saja? Akhir-akhir ini Mas lebih sering tersenyum sendiri."
"Aku sedang belajar bersyukur, Ning."
"Bersyukur?"
"Iya. Bersyukur karena masih punya istri yang sabar. Bersyukur karena anak-anak tidak membenciku. Bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk memperbaiki semuanya."
Setya tersenyum. "Itu doaku, Mas. Setiap malam."
"Terima kasih, Ning. Aku tahu."
Mereka makan bersama. Tawa dan canda mengisi ruang makan. Rumah yang dulu terasa dingin dan sunyi, kini mulai hangat kembali.
Tegorejo, Waktu yang Sama
Di Tegorejo, enam bulan setelah percakapan terakhir, Sinox sedang menyapu halaman. Eko sudah berangkat sekolah. Mas Sarif sedang ke sawah. Lina sudah kembali ke kota untuk kuliah. Rahman juga sudah kembali ke pesantren.
Rumah terasa sunyi, tapi tidak mencekam. Keheningan yang damai.
Sinox menyapu dedaunan kering yang berguguran dari pohon mangga di halaman. Daun-daun itu berwarna cokelat, kering, dan mudah hancur jika diinjak. Seperti kenangan lama, jika tidak dirawat, ia akan hancur dengan sendirinya.
Itulah yang terjadi padaku dan Akang, pikir Sinox. Kenangan itu tidak lagi basah oleh air mata. Ia sudah kering. Ia sudah tidak menyakitkan lagi.
Ia hanya kenangan. Biasa saja. Tidak perlu disimpan dengan perasaan berlebihan, tidak perlu dibuang dengan amarah.
Sinox menyelesaikan sapuannya, lalu duduk di teras. Secangkir kopi hangat sudah tersedia, buatan Mas Sarif sebelum berangkat ke sawah.
Kopinya pahit, seperti biasa.
Tapi Sinox sudah terbiasa.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari grup alumni SMP, grup yang selama ini ia bisukan karena takut ada yang menyebut nama Akang. Tapi hari ini ia membuka grup itu.
Tidak ada yang menyebut Akang.
Hanya obrolan biasa: tentang anak, tentang pekerjaan, tentang kesehatan di usia senja.
Sinox tersenyum.
Semua orang sudah move on, pikirnya. Semua orang sudah melupakan skandal itu. Hanya aku, dan mungkin Akang, yang masih mengingat. Tapi kita mengingat dengan cara yang berbeda. Bukan dengan sakit. Tapi dengan syukur.
Ia mematikan ponsel, menyesap kopinya, dan menikmati pagi yang cerah.
Ketika Kenangan Datang Tanpa Diundang
Suatu sore, di Kapuas, Akang tanpa sengaja menemukan sebuah CD lama di dalam lemari. CD itu sudah usang, lecet di beberapa bagian, tapi masih bisa dibaca. Ia tidak ingat kapan membeli CD itu, mungkin dua puluh tahun lalu.
Ia memasukkan CD itu ke pemutar.
Lagu lama mengalun.
Lagu yang dulu sering ia dengarkan bersama Sinox.
Lagu yang menjadi saksi bisu masa remaja mereka.
Akang tidak menangis. Tidak juga tersenyum. Ia hanya duduk, mendengarkan, dan membiarkan kenangan itu berlalu seperti air sungai.
Tidak perlu ditahan. Tidak perlu dikejar.
Cukup biarkan ia mengalir, lalu pergi dengan sendirinya.
Setya yang masuk ke ruang tamu mendengar lagu itu. Ia berhenti sejenak.
"Mas, lagu apa itu?"
"Lagu lama, Ning. Kenangan masa muda."
"Kenangan tentang dia?"
Akang tidak berbohong. "Iya, Ning. Tentang dia."
Setya tidak marah. Ia hanya duduk di samping suaminya.
"Apa yang Mas rasakan sekarang? Sakit? Rindu?"
"Aku tidak tahu, Ning. Aku hanya... mengingat. Tidak lebih dari itu."
"Apakah Mas ingin kembali padanya?"
"Tidak, Ning. Aku sudah memilihmu. Dan aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama."
Setya menggenggam tangan Akang.
"Aku percaya padamu, Mas."
Mereka berdua diam, mendengarkan lagu itu sampai selesai.
Setelah lagu berakhir, Akang mengeluarkan CD itu dari pemutar, memasukkannya kembali ke dalam lemari, dan tidak pernah memutarnya lagi.
Sinox dan Surat yang Tidak Dikirim
Di Tegorejo, Sinox juga melakukan hal yang hampir sama.
Ia sedang membersihkan lemari kamarnya ketika menemukan sebuah buku diary lama, buku tulis bergaris yang sudah menguning, sampulnya terlepas di beberapa bagian.
Ia membuka halaman pertama.
Tanggalnya 15 Maret 1992.
Tulisan tangan remaja dengan ejaan yang masih belum sempurna.
"Hari ini Akang ngajarin aku karate. Aku jatuh tiga kali. Lututku lecet. Tapi Akang bilang, 'Nox, kamu kuat. Jangan menyerah.' Aku suka sama Akang. Tapi aku tidak berani bilang. Aku takut."
Sinox tersenyum membaca tulisan itu.
Ia melanjutkan membaca halaman demi halaman, catatan tentang latihan karate, tentang sepeda ontel, tentang curhatan hati yang tidak pernah berani ia ucapkan dengan lantang.
Di halaman terakhir, ada tulisan yang lebih baru, ditulis dengan pena berbeda, tinta yang tidak terlalu pudar. Tanggalnya sekitar enam bulan yang lalu.
"Aku sudah melepaskanmu, Akang. Bukan karena aku tidak sayang. Tapi karena aku sayang, pada suamiku, pada anak-anakku, pada keluargaku. Aku memilih mereka. Bukan karena terpaksa. Tapi karena sadar. Mereka adalah prioritas yang selama ini aku abaikan."
"Aku tidak akan menghapus namamu dari ingatanku. Aku hanya akan memindahkanmu ke tempat yang lebih aman, tempat di mana aku tidak lagi tersiksa saat mengingatmu."
"Terima kasih untuk tiga puluh tahun kenangan. Untuk suka dan duka. Untuk tawa dan air mata. Kau akan selalu menjadi bagian dari ceritaku. Tapi bukan lagi sebagai tokoh utama. Hanya cameo. Hanya kilasan. Hanya kenangan."
Sinox menutup buku diary itu.
Ia menyimpannya kembali di dalam lemari, tidak dibuang, tidak dibakar. Hanya disimpan. Sebagai kenangan. Sebagai bukti bahwa ia pernah muda, pernah mencintai, pernah jatuh dan bangkit.
Mas Sarif yang kebetulan masuk kamar melihat istrinya sedang menyimpan sesuatu.
"Apa itu, Sin?"
"Diary lama, Mas. Kenangan masa muda."
"Apa isinya?"
"Cerita tentang hal-hal yang sudah lewat. Tidak penting lagi sekarang."
Mas Sarif tidak bertanya lebih lanjut. Ia hanya mengangguk.
"Pelan-pelan, Sin. Jangan terlalu lama di kamar. Nanti Eko pulang, kita makan bersama."
"Iya, Mas."
Mas Sarif keluar kamar.
Sinox menatap lemari tempat ia menyimpan diary itu.
Ini adalah persahabatan sejati, pikirnya. Bukan tentang mempertahankan komunikasi. Tapi tentang menyimpan dengan rapi, tidak dibuang, tidak pula dipamerkan. Cukup disimpan. Sebagai kenangan. Sebagai rasa syukur bahwa kita pernah bertemu.
Setya dan Raha: Belajar dari Masa Lalu
Suatu malam, Raha yang kini duduk di bangku SMA bertanya pada ibunya.
"Bu, kenapa sih orang dewasa suka bikin rumit?"
Setya yang sedang menjahit baju yang robek, menoleh pada anak bungsunya.
"Rumit bagaimana, Nak?"
"Iya, kayak Bapak dulu. Punya Ibu yang baik, masih saja cari yang lain. Aku nggak ngerti."
Setya menghela napas. Ia meletakkan jahitannya, lalu duduk di samping Raha.
"Ra, orang dewasa itu tidak sekuat yang kalian kira. Mereka juga bingung. Mereka juga takut. Mereka juga bisa salah."
"Tapi kenapa Bapak nggak mikirin perasaan Ibu? Kenapa Bapak nggak mikirin perasaan kita?"
"Karena Bapak sedang tersesat, Nak. Orang yang tersesat tidak melihat apa pun selain jalan yang ia tuju. Ia tidak melihat orang-orang di sekitarnya. Ia hanya fokus pada satu titik, yang belum tentu benar."
"Dan Ibu masih mau memaafkan Bapak?"
Setya tersenyum. "Memaafkan itu bukan tentang orang yang bersalah, Ra. Memaafkan itu tentang diriku sendiri. Tentang melepaskan beban yang tidak seharusnya aku pikul. Aku memaafkan Bapak karena aku sayang pada Bapak. Juga karena aku sayang pada kalian. Aku tidak ingin keluarga ini hancur hanya karena aku tidak bisa memaafkan."
Raha diam cukup lama.
Lalu ia memeluk ibunya.
"Aku belajar banyak dari Ibu, Bu."
"Belajar apa, Nak?"
"Belajar bahwa cinta itu bukan tentang siapa yang benar. Tapi tentang siapa yang bertahan."
Setya menangis mendengar kata-kata anak bungsunya.
Ia memeluk Raha erat-erat.
"Kamu akan menjadi suami yang baik, Ra. Karena kamu belajar dari kesalahan ayahmu, dan dari ketegaran ibumu."
"Aamiin, Bu."
Eko dan Pertanyaan yang Sama
Di Tegorejo, Eko yang kini duduk di bangku kelas IX juga bertanya pada Sinox.
"Bu, apa yang membuat Ibu bertahan dengan Bapak?"
Sinox terkejut mendengar pertanyaan itu.
"Kenapa kamu tanya begitu, Nak?"
"Ya, aku lihat teman-temanku yang orang tuanya cerai. Mereka bilang, kalau orang tuanya selingkuh, harus cerai. Tapi Ibu dan Bapak tidak cerai. Ibu malah makin sayang sama Bapak. Aku nggak ngerti."
Sinox menghela napas. Ia menarik Eko duduk di sampingnya di teras.
"Eko, pernikahan itu bukan tentang siapa yang benar dan siapa yang salah. Pernikahan itu tentang komitmen. Tentang janji yang diucapkan di hadapan Tuhan dan manusia. 'Sampai maut memisahkan', bukan 'sampai ada masalah, lalu cerai'."
"Tapi Ibu yang salah. Ibu yang hampir selingkuh."
"Ibu tahu, Nak. Ibu salah. Tapi Bapak memilih memaafkan. Bapak memilih bertahan. Bapak memilih memberi Ibu kesempatan kedua. Dan Ibu, Ibu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu."
"Apa Ibu masih mencintai laki-laki itu?"
Pertanyaan Eko langsung. Tanpa tedeng aling-aling.
Sinox menatap anak bungsunya.
"Aku tidak tahu, Nak. Yang aku tahu, aku mencintai Bapak. Aku mencintai kalian. Dan aku tidak akan mengorbankan keluarga ini untuk sesuatu yang tidak pasti."
"Itu belum menjawab pertanyaanku, Bu."
Sinox tersenyum getir. "Kamu dewasa sekali, Eko."
"Aku sudah hampir lulus SMP, Bu. Aku bukan anak kecil lagi."
"Iya, Nak. Kamu bukan anak kecil lagi. Jadi Ibu akan bicara jujur."
Sinox menarik napas panjang.
"Ibu mungkin tidak akan pernah bisa sepenuhnya melupakan laki-laki itu. Dia adalah bagian dari masa lalu Ibu. Dia mengajarkan Ibu banyak hal. Dia menjadi saksi ketika Ibu jatuh dan bangkit. Tapi itu dulu, Nak. Sekarang, hidup Ibu adalah Bapak dan kalian. Dan Ibu memilih untuk fokus pada itu. Bukan karena Ibu terpaksa. Tapi karena Ibu sadar, kebahagiaan sejati tidak datang dari mengejar bayangan. Tapi dari mensyukuri apa yang sudah ada."
Eko diam cukup lama.
Lalu ia memeluk ibunya.
"Aku bangga sama Ibu, Bu."
"Bangga? Ibu sudah mengecewakan kalian."
"Ibu pernah mengecewakan kami. Tapi Ibu tidak menyerah. Ibu terus berusaha memperbaiki diri. Itu yang membuatku bangga."
Sinox menangis. Ia memeluk anaknya erat-erat.
Terima kasih, Nak, doanya dalam hati. Terima kasih karena masih mau memaafkan ibumu yang lemah ini.
Akang dan Surat yang Tidak Pernah Dikirim
Di Kapuas, suatu malam saat Setya sudah tidur, Akang duduk di beranda seorang diri. Ia membuka laci kecil di meja kayu di samping kursi goyangnya. Di dalam laci itu, ada sebuah amplop cokelat.
Amplop yang sudah lama ia siapkan.
Berisi surat untuk Sinox.
Surat yang tidak pernah ia kirim.
Ia membuka amplop itu. Membaca suratnya sekali lagi.
"Sinox Yanti yang duduk di Tegorejo..."
Akang membaca sampai akhir.
Lalu ia melipat surat itu, memasukkannya kembali ke dalam amplop, dan menyimpannya di laci.
Tidak dikirim. Tidak dibuang. Hanya disimpan.
Setya tiba-tiba muncul di belakangnya. "Mas, apa itu?"
Akang terkejut. "Tidak ada, Ning. Hanya kenangan lama."
"Kenangan tentang dia?"
Akang tidak berbohong. "Iya, Ning. Surat yang tidak pernah aku kirim."
"Boleh aku baca?"
Akang ragu sejenak. Lalu ia memberikan amplop itu pada Setya.
Setya membaca surat itu dengan tenang. Wajahnya tidak berubah, tidak marah, tidak cemburu, tidak sedih. Hanya datar.
Setelah selesai, ia melipat surat itu dan mengembalikannya pada Akang.
"Mas, suratnya bagus. Tapi jangan dikirim."
"Aku tidak akan mengirimnya, Ning. Sudah bertahun-tahun aku simpan. Tidak pernah aku kirim."
"Kenapa tidak?"
"Karena mengirim surat itu sama saja dengan membuka pintu yang sudah susah payah aku tutup. Aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama."
Setya duduk di samping suaminya.
"Mas, aku bangga padamu."
"Bangga? Aku sudah menyakitimu, Ning."
"Mas dulu menyakitiku. Tapi Mas berubah. Mas belajar. Mas tidak mengulangi kesalahan. Itu yang membuatku bangga."
Akang menangis.
Ia memeluk istrinya.
"Terima kasih, Ning. Karena masih mau menerimaku apa adanya."
"Kamu suamiku, Mas. Sampai maut memisahkan."
Mereka berdua terdiam. Menikmati malam yang sunyi. Angin gambut bertiup sepoi-sepoi, membawa bau tanah kering dan dedaunan.
Sinox dan Nasihat untuk Lina
Suatu siang, Lina yang sedang cuti kuliah bertanya pada Sinox.
"Bu, aku punya teman. Pacarnya selingkuh. Dia bingung, mau memaafkan atau putus."
Sinox yang sedang merajut, berhenti sejenak.
"Lina, maafkan itu pilihan. Bukan kewajiban. Temanmu tidak harus memaafkan jika dia belum siap. Tapi jika dia memilih memaafkan, pastikan itu karena dia ingin, bukan karena terpaksa."
"Kalau Ibu dulu? Kenapa Ibu memilih memaafkan Bapak? Padahal Ibu yang lebih dulu salah?"
Sinox tersenyum. "Karena Bapak memaafkan Ibu lebih dulu. Bapak memilih bertahan meskipun Ibu sudah menyakiti hatinya. Aku memaafkan Bapak bukan karena Bapak salah, tapi karena Bapak juga telah memaafkanku. Cinta itu timbal balik, Lin. Tidak bisa satu arah."
"Apa Ibu bahagia dengan pilihan Ibu?"
Sinox menatap anak sulungnya. Matanya jujur.
"Aku bahagia, Lin. Mungkin tidak seperti dulu. Mungkin tidak sepenuhnya. Tapi aku bahagia. Karena aku punya Bapak. Karena aku punya kalian. Karena aku punya rumah yang utuh."
Lina memeluk ibunya.
"Aku belajar banyak dari Ibu, Bu."
"Belajar apa?"
"Belajar bahwa cinta itu bukan tentang siapa yang paling benar. Tapi tentang siapa yang paling mau berusaha."
Sinox menangis.
Ia memeluk Lina erat-erat.
"Kamu akan menjadi istri yang baik, Lin. Karena kamu belajar dari kesalahan ibumu, dan dari ketekunan ayahmu."
"Aamiin, Bu."
Persahabatan Sejati: Sebuah Kesimpulan
Apa itu persahabatan sejati?
Apakah harus selalu bertemu? Apakah harus selalu berkomunikasi? Apakah harus selalu hadir dalam setiap momen penting?
Akang dan Sinox belajar bahwa persahabatan sejati tidak menuntut semua itu.
Persahabatan sejati adalah ketika kita bisa berpisah tanpa saling menyalahkan.
Persahabatan sejati adalah ketika kita bisa memaafkan, meskipun luka masih terasa.
Persahabatan sejati adalah ketika kita bisa mendoakan dari kejauhan, tanpa perlu diketahui.
Persahabatan sejati adalah ketika kita bisa bahagia melihat orang yang kita sayangi bahagia, meskipun kebahagiaan itu tidak bersama kita.
Persahabatan sejati adalah ketika kita bisa menjadi saudara, bukan kekasih, bagi seseorang yang pernah sangat kita cintai.
Akang dan Sinox tidak lagi berkomunikasi.
Nomor masih terblokir. Pesan tidak ada yang masuk atau keluar.
Tapi setiap malam, setelah salat Isya, Akang selalu berdoa untuk Sinox.
"Ya Allah, bahagiakan Sinox di sana. Bersama Mas Sarif dan anak-anaknya. Jaga kesehatannya. Berikan dia umur panjang."
Dan setiap malam, setelah salat Isya, Sinox selalu berdoa untuk Akang.
"Ya Allah, lindungi Akang di sana. Bersama Setya dan anak-anaknya. Jauhkan dia dari penyakit. Berikan dia ketenangan di hari tua."
Mereka tidak tahu bahwa doa mereka sama-sama dipanjatkan.
Tapi Tuhan Maha Mendengar.
Tuhan Maha Mengetahui.
Dan di dalam doa yang tidak saling diketahui itu, persahabatan sejati tetap hidup.
Bukan dalam chat. Bukan dalam panggilan. Tapi dalam hati yang saling mendoakan.
Itulah persahabatan sejati.
Akhir Bab XXVII
Enam bulan setelah percakapan terakhir.
Bukan sepuluh tahun. Bukan lompatan waktu yang jauh. Hanya enam bulan.
Tapi cukup untuk mengubah cara pandang. Cukup untuk menyembuhkan luka yang tidak lagi segar. Cukup untuk belajar bahwa persahabatan sejati tidak harus dirayakan dengan pertemuan.
Ia cukup dirayakan dengan doa. Dengan harapan. Dengan keyakinan bahwa orang yang kita sayangi, meskipun tidak lagi kita hubungi, baik-baik saja di sana.
Akang baik-baik saja di Kapuas.
Sinox baik-baik saja di Tegorejo.
Mereka tidak saling mengetahui kabar satu sama lain.
Tapi mereka merasakan.
Ada ikatan yang tidak bisa dijelaskan oleh logika. Ikatan yang tidak putus meskipun jarak dan kesunyian memisahkan. Ikatan yang hanya bisa dijelaskan dengan satu kata: persahabatan.
Persahabatan sejati.
Persahabatan yang tidak akan mati, meskipun mereka berpisah.
Karena persahabatan sejati, seperti cinta sejati, tidak pernah benar-benar berakhir.
Ia hanya berubah bentuk.
Dari komunikasi menjadi doa. Dari pertemuan menjadi harapan. Dari kebersamaan menjadi keikhlasan.
Ya Allah, cukupkanlah pertemuan ini di dunia. Pertemukanlah mereka di surga kelak. Sebagai sahabat. Sebagai saudara. Sebagai dua insan yang saling mencintai karena-Mu. Aamiin.
BAB XXVIII
Untaian Rindu dari Surga
Tidak ada akhir yang sempurna dalam cerita manusia. Yang ada hanyalah jalan panjang yang terus berkelok, lika-liku yang tidak pernah kita duga, dan pelajaran yang datang silih berganti hingga napas terakhir.
Tapi cerita ini, cerita tentang Akang Riyadi dan Sinox Yanti, tentang cinta masa lalu yang nyaris menghancurkan, tentang persahabatan yang bertahan meskipun badai menerjang, belum berakhir.
Karena selama mereka masih bernapas, selama jantung mereka masih berdetak, selama matahari masih terbit dan tenggelam di Tegorejo dan Kapuas, cerita ini terus berjalan.
Bukan sebagai drama. Bukan sebagai skandal. Tapi sebagai perjalanan hidup.
Perjalanan dua manusia yang pernah tersesat, yang pernah saling menyakiti, yang pernah hampir kehilangan segalanya, lalu memilih untuk kembali ke jalan yang benar.
Bukan dengan melupakan. Tapi dengan menerima.
Menerima bahwa cinta tidak harus selalu memiliki. Menerima bahwa persahabatan sejati tidak harus selalu bertemu. Menerima bahwa rindu yang dulu menjadi dosa, kini telah berubah menjadi untaian yang suci.
Untaian rindu dari surga.
Di Kapuas, Pagi yang Cerah
Kapuas, dua tahun setelah percakapan terakhir.
Akang Riyadi kini berusia lima puluh tiga tahun. Masih tegap. Masih bekerja sebagai perangkat desa. Masih setiap pagi pergi ke kantor dengan senyum di wajah.
Tidak ada lagi beban di pundaknya. Tidak ada lagi rahasia yang disembunyikan. Tidak ada lagi panggilan tengah malam yang harus ia rahasiakan dari Setya.
Setya, istrinya, kini lebih sering tersenyum. Rumah yang dulu terasa dingin, kini hangat kembali. Raha yang dulu pendiam dan menarik diri, kini sudah lulus SMA dan kuliah di jurusan pertanian, mengikuti jejak ayahnya. Iwan sudah menikah dan dikaruniai seorang anak laki-laki. Anto dan istrinya sekarang mengelola warung kelontong yang semakin berkembang.
Hari itu, Akang duduk di beranda rumah panggungnya. Seperti biasa, setiap pagi sebelum berangkat ke kantor, ia menyempatkan diri menikmati secangkir kopi pahit buatan Setya.
"Mas, nanti sore jangan lupa beli oleh-oleh untuk besok," kata Setya dari dalam rumah.
"Oleh-oleh untuk apa, Ning?"
"Besok kan acara keluarga di rumah Anto. Kita harus bawa sesuatu."
"Oh, iya. Aku lupa. Nanti aku mampir ke pasar."
Setya keluar rumah, duduk di samping suaminya. Ia membawa secangkir kopi untuk dirinya sendiri.
"Mas, akhir-akhir ini Mas kelihatan lebih tenang."
"Aku memang tenang, Ning."
"Apa Mas tidak pernah teringat pada dia lagi?"
Pertanyaan Setya langsung, tanpa tedeng aling-aling. Tapi bukan karena cemburu. Hanya rasa ingin tahu seorang istri yang sudah benar-benar memaafkan suaminya.
Akang menghela napas.
"Jujur, Ning. Sesekali aku masih teringat. Tapi tidak seperti dulu. Tidak ada lagi rasa gelisah. Tidak ada lagi rasa ingin menghubungi. Aku hanya teringat, lalu aku berdoa untuknya. Lalu aku melanjutkan hidup."
"Apa itu cukup?" tanya Setya.
"Cukup, Ning. Karena persahabatan sejati tidak harus dirayakan dengan pertemuan. Ia cukup dirayakan dengan doa."
Setya tersenyum. Ia menggenggam tangan suaminya.
"Aku bangga padamu, Mas."
"Aku juga bangga padamu, Ning. Karena kau tidak menyerah padaku."
Mereka berdua tersenyum.
Di kejauhan, matahari terbit dengan sempurna. Langit berwarna jingga keemasan. Burung-burung mulai berkicau.
Hari baru dimulai.
Tanpa beban. Tanpa drama. Hanya kehidupan yang terus berjalan.
Di Tegorejo, Waktu yang Sama
Di Tegorejo, Sinox Yanti juga memulai paginya dengan senyum.
Ia kini berusia lima puluh satu tahun. Masih mengajar di Mts Gringsing, meskipun hanya paruh waktu. Mas Sarif masih setia di sawahnya, ditemani oleh dua orang buruh yang ia pekerjakan.
Eko kini duduk di bangku kelas X, SMA di kecamatan. Setiap pagi, Sinox menyiapkan bekal untuk anak bungsunya, lalu mengantarnya ke halte bus.
Lina sudah lulus kuliah dan bekerja di sebuah perusahaan di kota. Rahman sudah menjadi santri senior di pesantrennya, dan berencana melanjutkan studi ke Timur Tengah.
Rumah Sinox tidak lagi sunyi. Suara tawa, suara TV, suara Mas Sarif yang sesekali menggoda istrinya, semua mengisi ruang-ruang yang dulu terasa kosong.
Pagi itu, Sinox sedang menyapu halaman ketika Mas Sarif keluar dari kamar dengan langkah santai.
"Sin, kopi dong."
"Iya, Mas. Sebentar."
Sinox masuk ke dapur, menyeduh kopi, pahit, tanpa gula, sesuai selera suaminya. Lalu ia menyajikannya di meja makan.
Mas Sarif duduk di kursi favoritnya.
"Sin, nanti malam Lina pulang, ya."
"Iya, Mas. Katanya mau bawa oleh-oleh dari kota."
"Wah, bagus. Aku jadi kangen sama anak sulung kita."
Mereka berbincang ringan tentang anak-anak, tentang sawah yang mulai panen, tentang tetangga yang baru saja punya cucu.
Tidak ada yang istimewa.
Tapi kebahagiaan justru sering hadir dalam hal-hal yang tidak istimewa.
Setelah Mas Sarif berangkat ke sawah, Sinox duduk di teras seorang diri.
Ia memandang ponselnya. Kontak Akang masih terblokir. Tidak ada niat untuk membuka blokir.
Tapi di dalam hatinya, ia selalu berdoa untuk Akang. Setiap malam. Tanpa pernah lupa.
Ya Allah, jaga Akang di sana. Bahagiakan dia bersama Setya. Jauhkan dia dari penyakit. Berikan dia umur panjang.
Dan jika Engkau berkenan, pertemukan aku dengan dia di surga kelak. Sebagai sahabat. Sebagai saudara. Tanpa beban. Tanpa rasa bersalah.
Sinox tersenyum.
Ia menyesap kopinya.
Ini cukup, pikirnya. Aku tidak perlu lebih dari ini.
Ketika Mas Sarif dan Akang Menjadi... Tidak, Mereka Tidak Bertemu
Banyak orang bertanya pada Mas Sarif: "Apakah Bapak tidak ingin bertemu dengan laki-laki itu? Laki-laki yang dulu hampir merebut istri Bapak?"
Mas Sarif selalu menjawab: "Tidak perlu. Aku sudah memaafkannya dari sini."
Banyak orang juga bertanya pada Setya: "Apakah Ibu tidak ingin bertemu dengan perempuan itu? Perempuan yang dulu hampir merebut suami Ibu?"
Setya juga menjawab dengan cara yang sama: "Tidak perlu. Aku sudah memaafkannya. Doa sudah cukup."
Mereka tidak pernah bertemu secara fisik. Mas Sarif dan Akang, dua laki-laki yang sama-sama pernah terluka oleh cinta yang sama, tidak perlu bertemu untuk saling memaafkan.
Suatu malam, Sinox bertanya pada Mas Sarif.
"Mas, apa Mas tidak penasaran dengan Akang? Ingin melihat wajahnya? Ingin bicara langsung?"
Mas Sarif yang sedang berbaring di tempat tidur, menoleh pada istrinya.
"Penasaran? Sedikit. Tapi apa gunanya? Bertemu dengannya tidak akan mengubah apa pun. Aku sudah memaafkannya. Dia juga sudah memaafkanku, meskipun kita tidak pernah bertemu. Bukankah itu cukup?"
Sinox tersenyum. "Mas dewasa sekali."
"Bukan dewasa, Sin. Tapi lelah. Aku sudah lelah dengan drama. Yang aku inginkan sekarang hanya ketenangan. Bersamamu. Bersama anak-anak. Bersama keluarga. Tidak perlu ribut dengan masa lalu."
Sinox menggenggam tangan suaminya.
"Aku beruntung punya suami seperti Mas."
"Kamu juga beruntung punya istri seperti aku, Sin."
Mereka berdua tertawa.
Di Kapuas, pada malam yang sama, Setya juga bertanya pada Akang.
"Mas, apa Mas tidak ingin bertemu dengan Sinox secara langsung? Untuk meminta maaf? Untuk mengucapkan terima kasih? Untuk berpamitan secara fisik?"
Akang menggeleng. "Tidak perlu, Ning. Kita sudah berpamitan, dalam doa. Dalam hati. Itu sudah cukup."
"Apa Mas tidak penasaran bagaimana rupanya sekarang?"
"Penasaran, iya. Tapi penasaran tidak harus dipuaskan. Aku memilih untuk tidak tahu. Karena dengan tidak tahu, aku bisa terus berdoa untuknya tanpa beban."
Setya menatap suaminya dengan pandangan yang sulit dijelaskan, ada bangga, ada haru, ada juga sedikit sedih.
"Mas, aku sayang kamu."
"Aku juga sayang kamu, Ning. Lebih dari yang kamu kira."
Mereka berdua tersenyum.
Rindu yang Berubah Wujud
Rindu Akang pada Sinox, dan rindu Sinox pada Akang, tidak lagi seperti dulu.
Dulu, rindu itu membakar. Rindu itu menyiksa. Rindu itu mendorong mereka pada dosa. Rindu itu membuat mereka lupa pada kewajiban, lupa pada pasangan, lupa pada keluarga.
Sekarang, rindu itu telah berubah wujud.
Ia menjadi doa. Doa yang dipanjatkan setiap malam, tanpa perlu diketahui yang didoakan.
Ia menjadi harapan. Harapan bahwa yang lain baik-baik saja di sana, bahagia dengan keluarganya, sehat dan berkecukupan.
Ia menjadi syukur. Syukur karena pernah bertemu, pernah mengenal, pernah menjadi bagian dari hidup satu sama lain, meskipun hanya sebentar.
Akang tidak lagi gelisah saat nama Sinox hadir di pikirannya. Ia hanya tersenyum, lalu melanjutkan aktivitasnya.
Sinox tidak lagi menangis saat kenangan tentang Akang datang tanpa diundang. Ia hanya memejamkan mata, mengucap syukur, lalu membuka mata kembali untuk menghadapi kenyataan.
Inilah untaian rindu dari surga.
Rindu yang tidak menyiksa. Rindu yang tidak mengganggu. Rindu yang damai. Rindu yang suci.
Kehidupan Berjalan Seperti Biasa
Tahun berganti tahun.
Di Kapuas, Akang dan Setya menjalani hari-hari mereka dengan tenang. Pensiun dari kantor desa, Akang menghabiskan waktunya dengan berkebun dan mengajar mengaji di masjid. Setya masih setia memasak untuk suaminya, meskipun kadang masakannya terlalu asin atau terlalu hambar, dan Akang tidak pernah mengeluh.
Raha lulus kuliah dan kembali ke Kapuas untuk membantu petani-petani muda. Iwan menjadi perangkat desa, menggantikan posisi ayahnya. Anto dan keluarganya pindah ke rumah yang lebih besar, tapi setiap minggu mereka tetap berkumpul di rumah orang tua.
Di Tegorejo, Sinox dan Mas Sarif juga menikmati hari tua mereka dengan damai. Mas Sarif masih ke sawah, tapi tidak setiap hari, hanya ketika cuaca cerah dan tubuhnya terasa bugar. Sinox sudah berhenti mengajar, tapi ia sering diminta menjadi penceramah di acara-acara ibu-ibu desa.
Lina menikah dengan teman kantornya dan dikaruniai seorang anak perempuan. Rahman menjadi ustaz di pesantren tempat ia dulu mondok, dan menikah dengan putri kiai di sana. Eko lulus SMA dan melanjutkan kuliah di kota, tapi setiap akhir pekan ia pulang ke Tegorejo.
Tidak ada drama. Tidak ada skandal. Tidak ada air mata yang berlebihan.
Hanya kehidupan yang terus berjalan.
Seperti sungai yang mengalir, kadang deras, kadang lambat, tapi tidak pernah berhenti.
Ketika Pertanyaan Itu Datang Lagi
Suatu hari, Raha, yang kini sudah menjadi seorang ayah, bertanya pada Akang.
"Pa, apa Pa menyesal?"
Akang yang sedang duduk di beranda, menoleh pada anak bungsunya.
"Menyesal tentang apa, Ra?"
"Tentang masa lalu. Tentang perempuan itu. Tentang semua yang terjadi."
Akang menghela napas panjang.
"Dulu, Pa menyesal. Sangat menyesal. Pa hampir kehilangan Ibu, hampir kehilangan kalian, hampir kehilangan segalanya hanya karena Pa tidak bisa mengendalikan perasaan."
"Dan sekarang?"
"Sekarang, Pa tidak menyesal. Bukan karena Pa merasa benar. Tapi karena Pa belajar dari kesalahan. Pa belajar bahwa cinta tidak harus selalu memiliki. Pa belajar bahwa persahabatan sejati lebih berharga daripada hubungan terlarang. Pa belajar bahwa kebahagiaan sejati tidak datang dari mengejar bayangan, tapi dari mensyukuri apa yang ada."
Raha terdiam. Lalu ia tersenyum.
"Pa, aku bangga dengan Pa."
"Bangga? Pa sudah mengecewakan kalian."
"Pa dulu mengecewakan kami. Tapi Pa berubah. Pa belajar. Pa tidak mengulangi kesalahan. Itu yang membuatku bangga."
Akang menangis.
Ia memeluk anak bungsunya.
Anak-anak, pikir Akang. Merekalah hadiah terbesar dalam hidupku.
Merekalah yang mengajarkanku arti cinta yang tulus, cinta yang tidak pamrih, cinta yang bertahan meskipun terluka.
Di Tegorejo, Percakapan yang Sama
Di Tegorejo, Eko juga bertanya pada Sinox.
"Bu, apa Ibu menyesal?"
Sinox yang sedang merajut, berhenti sejenak.
"Menyesal tentang apa, Nak?"
"Tentang masa lalu. Tentang laki-laki itu. Tentang semua yang terjadi."
Sinox meletakkan rajutannya. Ia menarik Eko duduk di sampingnya.
"Dulu, Ibu menyesal. Sangat menyesal. Ibu hampir kehilangan Bapak, hampir kehilangan kalian, hampir kehilangan segalanya hanya karena Ibu tidak bisa melepaskan masa lalu."
"Dan sekarang?"
"Sekarang, Ibu tidak menyesal. Bukan karena Ibu merasa benar. Tapi karena Ibu belajar dari kesalahan. Ibu belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu tentang mendapatkan apa yang diinginkan. Tapi tentang mensyukuri apa yang sudah ada. Ibu belajar bahwa Bapak, dengan segala kekurangannya, adalah anugerah yang tidak pernah Ibu syukuri dengan benar."
"Apa Ibu masih merindukan laki-laki itu?"
Sinox menatap anak bungsunya. Matanya jujur.
"Ibu sesekali masih teringat. Tapi tidak lagi merindukan seperti dulu. Ibu hanya mendoakannya. Setiap malam. Tanpa pernah lupa. Itu cara Ibu menjaga persahabatan, tanpa harus berkomunikasi, tanpa harus bertemu."
Eko memeluk ibunya.
"Aku sayang Ibu, Bu."
"Aku juga sayang kamu, Nak. Lebih dari apa pun."
Doa yang Sama, Langit yang Sama
Setiap malam, setelah salat Isya, Akang dan Sinox, tanpa saling mengetahui, memanjatkan doa yang hampir sama.
Akang berdoa:
"Ya Allah, jika Sinox masih hidup, bahagiakan dia di sana. Bersama Mas Sarif dan anak-anaknya. Jaga kesehatannya. Berikan dia umur yang panjang. Dan jika Engkau berkenan, sampaikan salamku padanya. Salam dari sahabat yang tidak pernah melupakannya."
Sinox berdoa:
"Ya Allah, jika Akang masih hidup, lindungi dia di sana. Bersama Setya dan anak-anaknya. Jauhkan dia dari penyakit. Berikan dia ketenangan di hari tua. Dan jika Engkau berkenan, sampaikan rinduku padanya. Rindu yang suci. Rindu yang tidak menyiksa. Rindu seorang sahabat pada sahabatnya."
Mereka tidak tahu bahwa doa mereka sama-sama dipanjatkan.
Tapi Tuhan Maha Mendengar.
Dan di dalam doa-doa yang tidak saling diketahui itu, persahabatan sejati tetap hidup.
Bukan dalam chat. Bukan dalam panggilan. Bukan dalam pertemuan.
Tapi dalam hati yang saling mendoakan.
Untaian Rindu dari Surga
Apa sebenarnya "Untaian Rindu dari Surga" itu?
Apakah ia tentang dua orang yang dipertemukan kembali setelah berpuluh-puluh tahun? Apakah ia tentang cinta yang tidak pernah mati? Apakah ia tentang takdir yang mempertemukan kembali dua insan yang seharusnya bersama?
Tidak.
"Untaian Rindu dari Surga" bukan tentang itu.
Ia adalah tentang dua orang yang memilih untuk tidak bersama, karena mereka sadar bahwa kebahagiaan sejati tidak harus datang dari orang yang paling kita cintai.
Ia adalah tentang dua orang yang memilih untuk menjaga jarak, karena mereka sadar bahwa jarak adalah bentuk cinta yang paling tulus ketika kebersamaan hanya akan melukai banyak pihak.
Ia adalah tentang dua orang yang memilih untuk berpisah, bukan karena benci, tapi karena sayang. Sayang pada pasangan, sayang pada anak-anak, sayang pada keluarga yang telah dibangun dengan susah payah.
Ia adalah tentang rindu yang berubah wujud, dari rindu yang menyiksa menjadi rindu yang damai, dari rindu yang mendorong pada dosa menjadi rindu yang mengantarkan pada doa.
Akang dan Sinox tidak akan pernah bersama.
Mereka tidak akan pernah bertemu lagi.
Mereka tidak akan pernah berbicara lagi, mendengar suara satu sama lain, atau melihat wajah satu sama lain.
Tapi mereka tidak pernah benar-benar berpisah.
Karena dalam doa, mereka selalu bersama. Karena dalam harapan, mereka abadi. Karena dalam untaian rindu dari surga, mereka terhubung, tanpa harus bersentuhan, tanpa harus berbicara, tanpa harus saling memiliki.
Pesan dari Cerita Ini
Kepada siapa pun yang membaca cerita ini, yang mungkin sedang bergumul dengan rindu pada masa lalu, yang mungkin sedang tergoda untuk membuka kembali lembaran lama yang sudah usang, yang mungkin sedang merasa tidak bahagia dengan apa yang dimiliki sekarang, ingatlah:
Rindu itu manusiawi. Cinta masa lalu itu wajar. Tapi jangan biarkan rindu dan cinta masa lalu menghancurkan apa yang sudah Anda bangun dengan susah payah.
Hargai pasangan Anda. Mereka adalah orang yang memilih Anda, meskipun Anda bukan yang pertama. Mereka adalah orang yang bertahan, meskipun banyak godaan. Mereka adalah orang yang merawat Anda di hari tua, meskipun Anda pernah menyakiti mereka.
Jika Anda memiliki sahabat lama yang membuat hati Anda berdebar, ingatlah batasan. Jaga jarak. Jaga komunikasi. Jangan biarkan setan mengambil kesempatan dari kerentanan Anda.
Dan jika Anda sudah terlanjur jatuh, bangkitlah. Tidak ada kata terlambat untuk bertaubat. Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki. Tuhan Maha Pengampun. Pasangan yang baik juga akan memaafkan, jika Anda sungguh-sungguh berubah.
Akhirnya, ingatlah bahwa hidup di dunia ini singkat. Apa yang tidak bisa Anda selesaikan di dunia, selesaikanlah dengan doa. Apa yang tidak bisa Anda miliki di dunia, relakanlah untuk surga.
Karena di surga, insya Allah, semua rindu akan dipertemukan.
Dalam untaian yang suci. Tanpa dosa. Tanpa tangisan. Hanya cinta. Cinta yang abadi.
Bukan Tamat, Tapi Bersambung
Cerita Akang dan Sinox, cerita tentang cinta masa lalu, tentang persahabatan sejati, tentang perjuangan mempertahankan rumah tangga, tidak berakhir di sini.
Ia akan terus berlanjut selama mereka masih hidup.
Selama Akang masih tersenyum di beranda rumah panggungnya, ditemani Setya dan anak-anaknya.
Selama Sinox masih menyesap kopi di teras rumahnya, ditemani Mas Sarif dan keluarganya.
Selama mereka masih berdoa untuk satu sama lain setiap malam, tanpa perlu diketahui, tanpa perlu dibalas.
Cerita ini bukan tentang akhir yang bahagia.
Tapi tentang proses yang berkelanjutan.
Tentang belajar, jatuh, bangkit, dan belajar lagi.
Tentang mencintai, kehilangan, memaafkan, dan melepaskan.
Tentang menemukan kedamaian setelah badai.
Dan tentang untaian rindu dari surga, yang tidak pernah putus, meskipun jarang dirangkai.
Epilog
Dua puluh tahun kemudian.
Akang dan Sinox kini sudah sangat tua. Akang berusia tujuh puluh tiga tahun. Sinox tujuh puluh satu tahun.
Mereka tidak pernah bertemu lagi.
Tidak pernah berkomunikasi lagi.
Tidak pernah mendengar suara satu sama lain lagi.
Tapi setiap malam, mereka masih berdoa untuk satu sama lain, seperti yang sudah mereka lakukan selama puluhan tahun.
Doa yang sama. Tidak berubah.
"Ya Allah, jagalah dia di sana..."
Setya dan Mas Sarif, pasangan yang pernah terluka, yang pernah hampir menyerah, yang memilih bertahan, kini telah menjadi kakek dan nenek yang bahagia. Cucu-cicit mereka bermain di halaman rumah, tertawa dengan riang.
Suatu sore, di Kapuas, cucu Akang yang masih kecil bertanya:
"Kek, kenapa Kekek sering melamun ke arah timur?"
Akang tersenyum. "Kakek sedang mendoakan teman lama, Nak."
"Temannya siapa, Kek?"
"Teman yang dulu pernah sangat dekat dengan Kakek. Tapi sekarang sudah lama tidak bertemu."
"Kekek kangen sama dia?"
Akang mengelus kepala cucunya. "Kangen? Sedikit. Tapi doa sudah cukup, Nak. Doa lebih kuat daripada kangen."
Di Tegorejo, pada sore yang sama, cucu Sinox juga bertanya:
"Nek, kenapa Nenek suka tersenyum sendiri kalau melihat ke arah barat?"
Sinox tersenyum. "Nenek sedang mendoakan teman lama, Sayang."
"Temannya siapa, Nek?"
"Teman yang dulu pernah menjadi bagian terindah dari masa muda Nenek."
"Nenek kangen sama dia?"
Sinox menghela napas, bukan napas berat, tapi napas lega. "Dulu, Nenek sangat merindukannya. Sampai Nenek hampir kehilangan segalanya. Tapi sekarang? Nenek tidak merindukannya lagi. Nenek hanya mendoakannya. Itu lebih dari cukup."
Di langit yang sama, di Kapuas dan Tegorejo, senja turun dengan indahnya.
Langit berwarna jingga keemasan, seperti dilukis oleh tangan yang maha kuasa.
Akang menatap langit itu.
Sinox juga menatap langit yang sama.
Mereka tidak bersama.
Tapi untuk sesaat, di dalam doa dan harapan, mereka terhubung.
Oleh untaian rindu dari surga.
Yang tidak pernah putus. Yang tidak pernah pudar. Yang akan terus teruntai, sampai waktu yang ditentukan.
TAMAT
\
TRILOGI ROMAN EPIK
JEJAK MASA LALU
Tentang cinta, luka, dan rahasia yang tertinggal di lorong waktu, ketika masa lalu tidak pernah benar-benar pergi dan takdir memaksa hati kembali mengingat apa yang pernah hilang.
Oleh: Slamet Riyadi
DISCLAIMER
Novel ini adalah karya fiksi. Seluruh nama tokoh, tempat, peristiwa, dan dialog dalam cerita ini sebagian merupakan hasil imajinasi penulis dan sebagian terinspirasi dari dinamika kehidupan masyarakat desa, dunia pendidikan, persahabatan, percintaan, perjuangan hidup, serta kenyataan sosial yang berkembang di tengah masyarakat.
Apabila terdapat kesamaan nama, tempat, maupun kejadian dengan kehidupan nyata, hal tersebut semata-mata merupakan kebetulan dan tidak ada unsur kesengajaan.
Novel ini mengandung unsur drama kehidupan, percintaan, pengkhianatan, humor, konflik sosial, perjuangan pendidikan, serta nilai-nilai persahabatan dan kemanusiaan yang disampaikan secara naratif dan emosional.
PROLOG
JEJAK MASA LALU
"Tentang Cinta, Luka, dan Rahasia yang Tertinggal di Lorong Waktu, Ketika Masa Lalu Tidak Pernah Benar-Benar Pergi dan Takdir Memaksa Hati Kembali Mengingat Apa yang Pernah Hilang"
GERHANA DI LANGIT TEGOREJO
Langit Desa Tegorejo malam itu tampak berbeda.
Angin bertiup lebih dingin dari biasanya. Pepohonan bambu di belakang rumah-rumah warga bergesekan pelan, menimbulkan suara gemerisik panjang seperti bisikan makhluk malam. Di langit, bulan perlahan berubah warna. Merah gelap. Pekat. Menyeramkan.
Gerhana bulan total menyelimuti Desa Tegorejo, Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal.
Malam itu, hampir seluruh warga desa memilih menutup pintu rumah lebih awal. Sebagian orang tua melarang anak-anak keluar rumah karena percaya gerhana membawa pertanda buruk. Namun di sebuah rumah kayu sederhana di ujung desa, suara jeritan seorang perempuan justru memecah kesunyian malam.
"Aduh… Ya Allah… sakit…!"
Bu Rosmiyati menggenggam erat kain sarungnya, keringat membasahi seluruh wajahnya. Di sampingnya, Bu Paijem—dukun bayi paling terkenal di Tegorejo—berusaha menenangkan dengan suara lirih namun penuh wibawa.
"Kuat, Lastri… kuat… sebentar lagi…"
Di luar rumah, lolongan anjing terdengar bersahut-sahutan. Beberapa warga mulai saling berbisik dari balik jendela rumah mereka.
"Gerhana kok bareng suara anjing melolong terus ya…"
"Jangan-jangan bakal ada kejadian besar…"
"Katanya kalau bayi lahir pas gerhana itu tandanya nggak biasa…"
Petir tiba-tiba menggelegar keras. Padahal, tidak ada hujan sama sekali. Lampu minyak di ruangan bergoyang hebat. Angin mendadak masuk dari celah-celah dinding papan rumah.
Lalu, bayi itu lahir.
Tangisnya langsung memecah ruangan. Namun sesuatu yang aneh terjadi. Cahaya bulan merah dari luar rumah tiba-tiba menyorot tepat ke wajah bayi perempuan itu. Kulitnya bercahaya lembut, matanya terbuka lebar, padahal bayi baru lahir biasanya masih sulit membuka mata.
Bu Paijem membeku. Matanya membelalak. Tangannya gemetar.
"Ya Gusti…"
Bu Rosmiyati yang kelelahan mencoba membuka mata. "Bu… anak saya… kenapa, Bu…?"
Bu Paijem tidak langsung menjawab. Ia menatap wajah bayi itu lama sekali. Tatapan yang sulit dijelaskan—seolah melihat sesuatu yang tidak mampu dipahami manusia biasa.
Perlahan ia berbisik pelan, "Anak ini… jalan hidupnya bakal panjang."
"Apa maksudnya, Bu?" tanya Pak Salam, ayah bayi itu, dengan wajah pucat.
Bu Paijem menarik napas panjang. "Dia bakal jadi perempuan kuat. Tapi hidupnya tidak akan mudah. Cintanya penuh luka. Hatinya bakal sering disakiti. Banyak lelaki datang dan pergi. Tapi dia akan tetap berdiri. Dia akan sekolah tinggi. Jadi orang terhormat. Dan jadi cahaya bagi banyak orang."
Ruangan mendadak sunyi. Hanya suara bayi kecil itu yang terdengar menangis pelan.
"Namanya siapa, Pak?" tanya Bu Paijem.
Pak Salam menatap istrinya. Bu Rosmiyati tersenyum lemah sambil menahan air mata.
"Yanti… namanya Yanti…"
Bu Paijem mengangguk pelan. Namun sorot matanya masih menyimpan kecemasan. Karena jauh di dalam hatinya, ia merasa bayi itu kelak akan menjalani kehidupan yang tidak biasa. Kehidupan yang penuh cinta, namun juga penuh kehilangan.
TIGA BUKU, SATU PERJALANAN
Perempuan yang lahir di malam gerhana itu bernama Yanti. Namanya kemudian melekat dengan panggilan Sinox, nama sayang yang hanya digunakan oleh orang-orang terdekatnya. Dan perjalanan hidupnya terukir dalam tiga buku yang menjadi satu kesatuan utuh, seperti tiga gerbang yang harus ia lewati untuk sampai pada pemahaman sejati tentang cinta, kehilangan, dan keikhlasan.
BUKU PERTAMA: SENJA DI DESA TEGOREJO, CINTA PERTAMA BERSEMI
"Tentang Sepeda Ontel, Karate, dan Cinta Pertama di Ujung Senja Tegorejo"
Ini adalah awal dari segalanya.
Masa ketika Yanti masih gadis desa dengan seragam putih biru yang sedikit kebesaran. Ketika cinta pertama bernama Mas Nur datang membawa debar jantung dan surat-surat kecil yang ditulis dengan tangan bergetar. Ketika persahabatan dengan Bambang, Dandang, Anita, dan Yuli mewarnai hari-harinya dengan tawa dan air mata.
Ini adalah masa latihan karate di dojo kecil berdebu, di mana seorang kakak kelas bernama Riyadi mengajarinya arti ketekunan dan kehadiran yang tenang. Ini adalah masa sepeda ontel biru yang selalu ia kayuh sambil membonceng seseorang di belakang—tanpa ia sadari, di situlah cinta tumbuh tanpa pernah diucapkan.
Tapi ini juga masa kehilangan pertama yang menghancurkan.
Mas Nur pergi ke Jakarta tanpa pamit. Riyadi menyusul Karwan ke Tangerang tanpa kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal. Dua orang yang paling berarti dalam hidupnya menghilang dalam waktu berdekatan, meninggalkan Yanti dengan pertanyaan yang tidak pernah terjawab:
Mengapa kau pergi tanpa pamit? Apakah aku tidak cukup berarti?
Dan Yanti belajar bahwa cinta pertama tidak selalu berakhir bahagia. Kadang, ia hanya datang untuk meninggalkan kenangan, dan luka yang tidak pernah benar-benar sembuh.
BUKU KEDUA: RINDU DI BANGKU STM TEKSTIL PEDAN
"Tentang Seragam Putih Abu-Abu, Ruang Praktik yang Dingin, dan Seorang Gadis Desa yang Belajar Merajut Harapan di Antara Pelajaran dan Perasaan"
Yanti memulai hidup baru di STM Tekstil Pedan, Klaten. Jauh dari Tegorejo. Jauh dari kenangan. Jauh dari Mas Nur dan Riyadi.
Tapi luka tidak lari sejauh itu.
Di sekolah baru yang didominasi siswa laki-laki, Yanti menjadi pusat perhatian. Ia bertemu dengan Toro, kakak kelas yang disegani, yang cintanya berubah menjadi obsesi yang mencekik. Ia bertemu dengan Riyadi, bukan Riyadi yang dulu, tetapi Riyadi yang berbeda, yang diam-diam menjaga, yang perhatiannya terasa seperti hujan di tengah panas.
Ia juga bertemu dengan Teguh, lelaki sederhana dari Comal yang mencintainya dengan tulus, namun harus pergi selamanya karena cinta yang tak terbalas.
Ini adalah masa persahabatan dengan Dwi, Tina, dan Siti, tiga perempuan yang menjadi saudara baginya di tanah rantau. Ini adalah masa konflik dengan Toro yang posesif, masa kedekatan dengan Riyadi yang membingungkan, dan masa penyesalan yang mendalam ketika Teguh meninggal dengan namanya di bibir.
Yanti belajar bahwa cinta tidak bisa dipaksakan. Bahwa perhatian dan kesetiaan tidak selalu bisa membeli hati. Dan bahwa kadang, kita harus kehilangan seseorang untuk menyadari betapa berharganya ia.
Tapi pelajaran terbesar di buku kedua ini adalah: kadang, cara terbaik untuk menyembuhkan luka adalah dengan melangkah maju, meskipun hati masih tertambat di masa lalu.
BUKU KETIGA: UNTAIAN RINDU DARI SURGA
"Ketika Waktu Memisahkan Dua Hati, Namun Rindu Tetap Menemukan Jalannya Melalui Kenangan, Doa, dan Pengikhlasan"
Tiga puluh tahun kemudian.
Yanti telah menjadi Sinox, seorang istri, ibu dari tiga anak, guru di Mts Gringsing. Mas Sarif, suaminya, adalah petani sederhana yang setia. Mereka hidup damai di Tegorejo, hingga suatu malam, ponsel bergetar.
Akang Riyadi.
Laki-laki yang dulu pergi tanpa pamit. Laki-laki yang selama tiga puluh tahun hanya hadir dalam doa dan mimpi. Kini menelpon, dengan suara yang sama namun berbeda karena usia.
Pertemuan virtual ini membuka kembali luka lama yang tidak pernah benar-benar sembuh. Rindu yang terpendam selama tiga puluh tahun meledak ke permukaan, hampir menghancurkan dua rumah tangga sekaligus.
Ini adalah masa air mata Setya Ningsih, istri Akang yang tidak bersalah. Ini adalah masa kekecewaan Mas Sarif yang merasa dikhianati. Ini adalah masa anak-anak yang kecewa, malu, dan bingung. Ini adalah masa fitnah, gunjingan, dan video viral yang menyebar seperti api di lahan gambut.
Tapi ini juga masa pembelajaran yang paling berharga.
Sinox dan Akang belajar bahwa cinta sejati tidak selalu berarti memiliki. Bahwa kadang, melepaskan adalah bentuk cinta yang paling tulus. Bahwa persahabatan sejati tidak harus dirayakan dengan pertemuan, ia cukup dirayakan dengan doa.
Mereka belajar bahwa rindu yang dulu menjadi dosa, dapat berubah menjadi untaian yang suci. Untaian rindu dari surga.
Dan di ujung perjalanan, setelah air mata kering dan badai berlalu, mereka sampai pada satu pemahaman:
Bahwa tidak semua cinta ditakdirkan untuk bersatu. Sebagian ditakdirkan untuk menjadi guru. Sebagian ditakdirkan untuk menjadi kenangan. Dan sebagian lagi, ditakdirkan untuk menjadi doa yang dipanjatkan setiap malam, tanpa perlu diketahui yang didoakan.
TENTANG MERPATI DAN JANJI
"Merpati tak pernah ingkar janji."
Itulah kalimat yang dulu sering diucapkan Sinok Yanti kepada Akang Riyadi. Janji yang kemudian Akang Riyadi ingkari dengan pergi tanpa pamit.
Namun merpati bukanlah simbol kesetiaan. Merpati adalah simbol perdamaian. Dan perdamaian yang sesungguhnya bukanlah tentang menepati janji, melainkan tentang menerima bahwa beberapa janji tidak perlu ditepati, karena hidup telah membawa kita ke jalan yang berbeda.
Yanti dan Mas Nur tidak pernah bersama.
Yanti dan Riyadi juga tidak pernah bersama.
Namun mereka tidak pernah benar-benar berpisah. Karena dalam setiap langkah yang Yanti ambil, dalam setiap sujud yang ia panjatkan, dalam setiap senja yang ia tonton dari teras rumahnya di Tegorejo, nama mereka selalu hadir, sebagai kenangan, sebagai pelajaran, sebagai untaian rindu yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.
PESAN DARI TRILOGI INI
Kepada siapa pun yang membaca perjalanan panjang Yanti, dari gadis kecil yang lahir di malam gerhana, hingga perempuan tua yang duduk di beranda sambil menatap senja, ingatlah:
Cinta pertama memang tak mudah dilupakan. Tapi ia tidak harus dihidupkan kembali. Cukup dikenang, disyukuri, dan dilepaskan.
Kehilangan adalah bagian dari hidup. Setiap orang yang pergi meninggalkan jejak. Dan jejak itu, jika kita kelola dengan bijak, akan menjadi guru terbaik.
Persahabatan sejati tidak menuntut kehadiran fisik. Ia cukup dirayakan dengan doa, dengan harapan baik, dengan keyakinan bahwa orang yang kita sayangi baik-baik saja di sana.
Pernikahan adalah komitmen. Badai akan datang. Ombak akan menghantam. Tapi kapal yang kuat adalah kapal yang tetap berlayar meskipun bocor di sana-sini, karena nakhodanya memilih untuk bertahan.
Dan yang terpenting: cinta sejati tidak selalu tentang memiliki. Kadang, cinta sejati adalah tentang melepaskan. Tentang membiarkan pergi. Tentang memilih untuk tidak hadir dalam kehidupan seseorang, agar ia bisa bahagia dengan pilihannya.
DI LANGIT YANG SAMA
Di Kapuas, seorang laki-laki tua bernama Akang Riyadi duduk di beranda rumah panggungnya, menatap langit senja yang berwarna jingga keemasan. Di tangannya, sebuah surat tua yang tidak pernah ia kirimkan, surat untuk Sinox Yanti, perempuan yang dulu ia cintai, yang kini hanya hadir dalam doanya.
Di Tegorejo, seorang perempuan tua bernama Sinox Yanti duduk di kursi bambu di teras rumahnya, juga menatap langit senja yang sama. Di pangkuannya, sebuah album foto lama terbuka pada halaman terakhir, foto dua remaja berdiri di depan gerbang SMP, tersenyum tanpa tahu bahwa hidup akan sekeras ini.
Mereka tidak bersama. Tidak pernah bersama. Tidak akan pernah bersama.
Tapi dalam doa, dalam kenangan, dalam untaian rindu yang suci, mereka terhubung.
Oleh langit yang sama. Oleh waktu yang terus berjalan. Oleh cinta yang telah berubah wujud menjadi keikhlasan.
"Merpati tak pernah ingkar janji."
Mungkin itu bukan tentang menepati janji.
Mungkin itu tentang bagaimana, meskipun terpisah oleh ruang dan waktu, hati yang pernah saling mengenal akan selalu menemukan jalannya untuk kembali, bukan sebagai kekasih, tetapi sebagai doa.
Sebagai untaian rindu dari surga.
Selamat membaca perjalanan Yanti Sinox, dalam tiga babak kehidupannya.
Saksikan ia jatuh, bangkit, jatuh lagi, dan belajar bahwa kebahagiaan sejati tidak datang dari mengejar bayangan, tetapi dari mensyukuri apa yang sudah ada di depan mata.
Karena pada akhirnya, jejak masa lalu bukanlah beban yang harus dipikul.
Ia adalah peta yang menunjukkan seberapa jauh kita telah melangkah.
Dan seberapa kuat kita telah bertumbuh.
Oleh: Slamet Riyadi
Desa Tegorejo, Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal
"Sebuah kisah yang terinspirasi dari dinamika kehidupan masyarakat desa, dunia pendidikan, persahabatan, percintaan, perjuangan hidup, serta kenyataan sosial yang berkembang di tengah masyarakat, diolah secara dramatik demi kepentingan narasi dan penguatan emosi cerita."
BUKU PERTAMA
SENJA DI DESA TEGOREJO, CINTA PERTAMA BERSEMI
"Tentang Sepeda Ontel, Karate, dan Cinta Pertama di Ujung Senja Tegorejo"
BAB I
GERHANA DI MALAM KELAHIRAN
Malam itu Desa Tegorejo seperti sedang memendam rahasia besar.
Langit gelap menggantung rendah di atas hamparan sawah yang membentang luas di pinggiran desa. Angin berhembus pelan melewati rumpun bambu dan pepohonan jati tua, menciptakan suara berdesir panjang yang terdengar menyeramkan di telinga warga.
Gerhana bulan total sedang berlangsung.
Bulan yang biasanya bercahaya terang kini berubah menjadi merah gelap seperti bara api yang menggantung di langit malam.
Sebagian warga desa memilih menutup pintu rumah rapat-rapat.
Beberapa orang tua bahkan melarang anak-anak mereka keluar rumah.
Konon katanya…
anak yang lahir saat gerhana akan memiliki nasib yang tidak biasa.
Di sebuah rumah kayu sederhana di ujung Desa Tegorejo, suasana tampak jauh lebih tegang dibanding rumah-rumah lain.
Lampu minyak kecil menggantung di ruang tengah, cahayanya redup bergoyang tertiup angin dari sela-sela dinding papan yang sudah mulai lapuk dimakan usia.
Di atas dipan kayu sederhana…
Bu Rosmiyati menggigit bibir menahan rasa sakit luar biasa.
“Kyaaaahhh…!”
Keringat membasahi dahinya.
Rambutnya yang panjang tampak berantakan menempel di pipi.
“Pak… Salam …” lirihnya sambil meremas kain sarung.
Pak Salam yang berdiri di samping pintu tampak panik. Lelaki sederhana berusia tiga puluhan itu mondar-mandir sambil menggigit kuku.
“Gimana ini, Bu Paijem…?” tanyanya gugup.
Bu Paijem yang duduk di dekat Bu Rosmiyati tetap terlihat tenang.
Perempuan tua itu sudah puluhan tahun menjadi dukun bayi di Desa Tegorejo. Hampir semua anak di desa lahir lewat tangannya.
Namun malam itu…
entah kenapa hatinya terasa tidak tenang.
“Tenang, Pak Salam … iki proses biasa…” ucapnya sambil mengusap perut Bu Rosmiyati perlahan.
Namun sebelum kalimatnya selesai…
DUARRR!!!
Suara petir menggelegar sangat keras.
Padahal…
langit sama sekali tidak hujan.
Pak Salam refleks menoleh keluar rumah.
“Lho… petir?”
Angin mendadak bertiup lebih kencang.
Daun-daun pisang di samping rumah bergoyang liar.
Lalu…
suara lolongan anjing terdengar bersahut-sahutan dari arah ujung desa.
Auuuuuuuu…
Auuuuuuuu…
Auuuuuuuu…
Bu Rosmiyati merinding.
“Pak… aku takut…” lirihnya.
Bu Paijem mencoba tetap fokus membantu persalinan.
“Tahan, Lastri… sedikit lagi…”
Namun sorot mata perempuan tua itu mulai berubah.
Ada kegelisahan yang sulit ia jelaskan.
Sementara di luar rumah…
beberapa tetangga mulai berkumpul di bawah teras sambil berbisik pelan.
“Petir tanpa hujan…”
“Gerhana pula…”
“Anjing melolong terus…”
“Jangan-jangan pertanda aneh…”
Seorang nenek tua berbisik pelan.
“Biasanya kalau ada bayi lahir pas malam kayak gini… hidupnya nggak biasa…”
Di dalam rumah…
Bu Rosmiyati kembali menjerit keras.
“Aaaakkkhhh…!”
“Tahan! Sedikit lagi!” seru Bu Paijem.
Lampu minyak mendadak berkedip.
Angin masuk semakin kuat dari sela-sela dinding rumah.
Lalu…
tangisan bayi pecah memenuhi ruangan.
“Uwaaa… uwaaa… uwaaa…”
Semua mendadak diam.
Pak Salam membelalak lega.
“Alhamdulillah…”
Namun…
sesuatu yang aneh terjadi.
Cahaya merah dari gerhana bulan tiba-tiba masuk melalui jendela bambu yang sedikit terbuka.
Cahaya itu tepat mengenai wajah bayi perempuan kecil tersebut.
Kulit bayi itu terlihat bercahaya lembut.
Bu Paijem membeku.
Tangannya berhenti bergerak.
Matanya menatap bayi itu lama sekali.
“Ya Allah…” bisiknya lirih.
“Kenapa, Bu?” tanya Pak Salam panik.
Bu Paijem tidak langsung menjawab.
Ia justru memandangi langit dari celah jendela.
Petir kembali menggelegar.
DUARRR!!!
Lalu…
seekor burung gagak tiba-tiba melintas di atas rumah sambil mengeluarkan suara parau.
Kraaakkk…
Kraaakkk…
Bulu kuduk Pak Salam mulai berdiri.
“Bu… jangan bikin saya takut…”
Bu Paijem menarik napas panjang.
Perlahan ia menggendong bayi kecil itu.
Bayi itu berhenti menangis.
Aneh sekali.
Matanya justru terbuka lebar menatap wajah Bu Paijem seolah mengerti sesuatu.
Padahal bayi baru lahir biasanya masih sulit membuka mata.
“Anak ini…” gumam Bu Paijem.
“Kenapa, Bu?” tanya Bu Rosmiyati lemah.
Bu Paijem duduk perlahan.
Wajahnya serius.
“Dia bakal jadi perempuan kuat…”
“Tapi hidupnya penuh cobaan…”
Pak Salam langsung menelan ludah.
“Maksudnya apa?”
Bu Paijem menatap bayi itu lagi.
“Banyak lelaki bakal datang dalam hidupnya…”
“Tapi hatinya bakal sering terluka…”
“Dia akan kehilangan orang-orang yang dicintainya…”
Bu Rosmiyati mulai menangis pelan.
“Jangan ngomong gitu, Bu…”
“Tapi anak ini juga bakal membawa kebanggaan…”
“Dia akan sekolah tinggi…”
“Jadi orang terhormat…”
“Dan jadi cahaya bagi banyak orang…”
Ruangan mendadak sunyi.
Hanya suara angin malam terdengar dari luar rumah.
Pak Salam duduk perlahan di kursi bambu.
Wajahnya campur aduk antara bahagia dan takut.
“Namanya siapa?” tanya Bu Paijem.
Bu Rosmiyati tersenyum tipis.
“Yanti…”
Bu Paijem mengangguk pelan.
“Nama yang bagus…”
“Semoga hidupnya benar-benar kuat…”
Malam semakin larut.
Gerhana mulai menghilang perlahan.
Namun kabar tentang kelahiran bayi aneh di rumah Pak Salam sudah menyebar ke seluruh Desa Tegorejo.
Warga mulai ramai membicarakannya.
“Katanya waktu lahir ada cahaya merah…”
“Katanya Bu Paijem sampai gemetar…”
“Pasti anak itu punya garis hidup aneh…”
Tak ada yang tahu…
bahwa bayi kecil bernama Yanti itu kelak akan menjalani kehidupan yang begitu panjang.
Penuh cinta.
Penuh air mata.
Penuh pengkhianatan.
Dan penuh penantian.
Sementara di luar rumah…
angin malam masih berhembus pelan.
Seolah langit Tegorejo sedang menyimpan rahasia besar tentang masa depan seorang bayi perempuan…
yang suatu hari nanti akan dipertemukan dengan cinta sejatinya…
tepat di ujung senja.
BAB II
RAMALAN BU PAIJEM
Pagi pertama setelah kelahiran Yanti terasa berbeda di Desa Tegorejo.
Kabut tipis masih menggantung di atas hamparan sawah ketika ayam-ayam mulai berkokok bersahutan dari belakang rumah warga. Udara desa terasa dingin, lembap, dan tenang.
Namun ketenangan itu tidak benar-benar hadir di rumah Pak Salam .
Sejak subuh tadi…
beberapa tetangga mulai berdatangan.
Ada yang membawa gula merah.
Ada yang membawa beras satu baskom kecil.
Ada pula yang hanya datang karena penasaran.
Kabar tentang bayi yang lahir saat gerhana semalam menyebar begitu cepat.
“Assalamualaikum…”
“Waalaikumsalam… monggo masuk…”
Suara sandal warga terdengar silih berganti di teras rumah kayu sederhana itu.
Di ruang tengah, Bu Rosmiyati masih berbaring lemah sambil menggendong bayi kecilnya.
Yanti tampak tertidur pulas dibalut kain batik lusuh pemberian Bu Paijem.
Sementara itu…
Bu Paijem masih duduk di kursi bambu dekat jendela.
Wajahnya terlihat lebih diam dari biasanya.
Tatapannya sesekali mengarah ke bayi kecil itu.
Seolah ada sesuatu yang terus dipikirkannya sejak tadi malam.
“Bu Paijem…” panggil Pak Salam pelan.
“Eh?”
“Sampeyan kok dari tadi melamun terus…”
Bu Paijem tersenyum tipis.
“Ndak apa-apa…”
“Tapi sampeyan semalam ngomong aneh…”
Bu Paijem terdiam.
Pak Salam duduk perlahan di sebelahnya.
“Jujur saya jadi kepikiran…”
“Anak saya sebenarnya kenapa, Bu?”
Suasana mendadak sunyi.
Dari luar terdengar suara ibu-ibu sedang bercakap pelan.
“Bayine ayu banget katanya…”
“Iya… tapi lahire kok pas gerhana…”
“Katanya ada cahaya merah masuk rumah…”
“Merinding aku…”
Bu Paijem menghela napas panjang.
“Pak Salam …”
“Iya, Bu?”
“Saya sudah puluhan tahun nolong persalinan…”
“Baru kali ini saya lihat kejadian seperti semalam…”
Pak Salam mulai tegang.
“Maksudnya?”
Bu Paijem menatap ke arah Yanti.
“Biasanya bayi lahir ya biasa saja…”
“Tapi anakmu lahir bareng tanda-tanda alam yang aneh…”
“Petir tanpa hujan…”
“Anjing melolong…”
“Gerhana bulan…”
“Dan cahaya itu…”
Pak Salam menelan ludah.
“Memangnya itu pertanda buruk?”
Bu Paijem tidak langsung menjawab.
Ia justru mengambil segelas teh hangat di meja kayu kecil lalu menyeruputnya perlahan.
“Tidak selalu buruk…”
“Tapi biasanya…”
“Anak yang lahir dengan tanda begitu hidupnya tidak biasa…”
Pak Salam makin serius mendengarkan.
“Tolong ngomong terus terang saja, Bu…”
Bu Paijem menghela napas.
“Anakmu bakal jadi perempuan yang kuat…”
“Dia bakal sekolah tinggi…”
“Bisa jadi guru…”
“Bisa jadi orang penting…”
Mata Pak Salam langsung berbinar.
“Alhamdulillah…”
“Tapi…”
Kalimat Bu Paijem menggantung.
“Tapi apa, Bu?”
“Hatine bakal sering disakiti…”
Ruangan mendadak terasa dingin.
Pak Salam terdiam.
“Maksudnya urusan cinta?”
Bu Paijem perlahan mengangguk.
“Dia bakal dicintai banyak lelaki…”
“Tapi jalannya nggak akan mudah…”
“Ada pengkhianatan…”
“Ada kehilangan…”
“Ada air mata…”
Di atas tempat tidur, Bu Rosmiyati yang sedari tadi diam mulai menggenggam bayi kecilnya lebih erat.
“Jangan ngomong begitu, Bu…”
“Saya takut…”
Bu Paijem mendekat perlahan.
“Lastri… hidup manusia itu Gusti Allah yang atur…”
“Saya cuma membaca tanda…”
“Tapi anakmu ini kuat…”
“Dia tidak akan gampang jatuh…”
Yanti kecil tiba-tiba terbangun.
Anehnya…
bayi itu tidak menangis.
Ia justru membuka mata perlahan sambil menatap Bu Paijem.
Perempuan tua itu langsung merinding.
“Ya Allah…”
“Kenapa lagi, Bu?” tanya Bu Rosmiyati panik.
Bu Paijem mengusap lengannya sendiri.
“Matanya…”
“Kenapa matanya?”
“Tatapannya aneh…”
Pak Salam mulai gelisah.
“Bu… jangan bikin kami takut…”
Namun sebelum Bu Paijem menjawab…
dari luar rumah tiba-tiba terdengar suara gaduh.
“Heh! Serius toh semalam ada cahaya?”
“Katanya Bu Paijem sampai pucat…”
“Jangan-jangan bayine keturunan orang sakti…”
Pak Salam langsung berdiri.
“Waduh… warga mulai ngomong macam-macam…”
Ia keluar rumah.
Di teras sudah ada beberapa lelaki desa sedang duduk sambil merokok.
Pak RT ikut datang.
“Piye, Pak Salam ? Anakmu sehat?”
“Alhamdulillah sehat, Pak…”
“Tapi kampung kok ramai ngomongin kelahiran semalam…”
Pak Salam memaksakan senyum.
“Namanya juga orang desa…”
Salah satu warga nyeletuk pelan.
“Tapi aku juga heran…”
“Petirnya keras banget padahal nggak hujan…”
“Iya…”
“Anjing sampai melolong terus…”
“Jangan-jangan anakmu nanti punya kemampuan aneh…”
Pak Salam langsung tersinggung.
“Jangan ngomong sembarangan!”
Suasana mendadak canggung.
Pak RT segera menengahi.
“Sudah… jangan bikin orang tua bayi kepikiran…”
Namun bisik-bisik warga tetap berlanjut.
Karena sejak dulu…
masyarakat Tegorejo masih percaya pada pertanda-pertanda mistis.
Menjelang siang…
rumah Pak Salam mulai sepi.
Tinggal Bu Paijem yang masih duduk dekat bayi kecil itu.
Ia memandangi wajah Yanti lama sekali.
Kulit bayi itu putih bersih.
Bibirnya merah kecil.
Dan matanya…
terlihat tajam untuk ukuran bayi yang baru lahir.
Bu Paijem perlahan berbisik sendiri.
“Hidupmu bakal panjang, Nduk…”
“Tapi juga berat…”
Tiba-tiba Bu Rosmiyati bertanya pelan.
“Bu…”
“Iya?”
“Kalau memang hidup anak saya nanti susah…”
“Apakah dia bisa bahagia?”
Bu Paijem diam cukup lama.
Lalu tersenyum tipis.
“Bahagia…”
“Itu bukan soal hidupnya mudah atau tidak…”
“Tapi soal siapa yang tetap bertahan di samping kita…”
Bu Rosmiyati menatap bayi kecilnya.
Air matanya jatuh perlahan.
“Semoga anak saya kuat…”
Bu Paijem mengangguk.
“Dia akan sangat kuat…”
“Bahkan lebih kuat dari yang kalian bayangkan…”
Angin siang berhembus pelan melewati jendela rumah.
Di luar…
langit Tegorejo mulai cerah.
Namun tak seorang pun di rumah itu tahu…
bahwa ramalan Bu Paijem suatu hari nanti benar-benar akan menjadi kenyataan.
Tentang cinta.
Tentang kehilangan.
Tentang pengkhianatan.
Dan tentang seorang perempuan bernama Yanti…
yang harus menunggu puluhan tahun…
untuk menemukan kebahagiaan sejatinya di ujung senja.
BAB III
ANAK PEREMPUAN DARI TEGOREJO
Waktu berjalan pelan di Desa Tegorejo.
Musim demi musim berganti melewati hamparan sawah yang mengelilingi desa kecil itu. Pohon-pohon kelapa tumbuh semakin tinggi. Jalanan tanah merah yang dulu becek saat hujan perlahan mulai mengeras oleh pijakan kaki warga dan roda sepeda ontel.
Dan bayi kecil yang lahir saat malam gerhana itu…
kini mulai tumbuh menjadi anak perempuan yang lincah.
Namanya Yanti.
Usianya baru menginjak lima tahun, tetapi hampir seluruh warga desa mengenalnya.
“Yantiii… jangan lari-lari terus!” teriak Bu Rosmiyati dari dapur.
“Iyaaaa, Bukkk!” jawab Yanti sambil tertawa kecil.
Anak itu berlari tanpa alas kaki melewati halaman rumah. Rambut hitamnya yang sedikit ikal bergoyang tertiup angin sore.
Tangannya membawa bunga liar yang dipetik dari pinggir sawah.
“Pak! Pak! Lihat bunga!”
Pak Salam yang sedang memperbaiki cangkul tersenyum kecil.
“Wah… cantik sekali bunganya…”
“Cantik aku apa bunganya?” tanya Yanti polos.
Pak Salam tertawa keras.
“Hahaha… ya jelas anak bapak lebih cantik!”
Yanti langsung terkikik senang.
“Berarti nanti aku jadi putri kerajaan ya?”
“Lho kok putri kerajaan?”
“Iya… nanti aku tinggal di istana…”
“Terus bapak jadi apa?”
“Jadi pengawal kerajaan!”
Pak Salam tertawa semakin keras.
Sementara Bu Rosmiyati yang mendengar dari dapur hanya menggeleng sambil tersenyum.
“Dasar anak nggak ada capeknya…”
Masa kecil Yanti berjalan sederhana.
Rumah mereka tidak besar.
Dindingnya masih papan kayu.
Atapnya seng tua yang bocor saat hujan deras datang.
Namun rumah kecil itu selalu terasa hangat.
Setiap pagi…
Bu Rosmiyati memasak nasi jagung di dapur kayu sederhana.
Sementara Pak Salam berangkat ke sawah membawa cangkul di pundaknya.
Dan Yanti…
selalu mengikuti ayahnya sampai pinggir jalan desa.
“Pak… nanti pulangnya jangan malam ya…”
“Iya…”
“Janji?”
“Iya janji…”
“Kalau bohong gimana?”
Pak Salam berpikir sebentar lalu tertawa.
“Kalau bohong nanti bapak dicubit ayam.”
Yanti langsung tertawa ngakak.
“Hahaha! Ayam kok nyubit!”
“Ya habis anak bapak sukanya ngomong aneh…”
Hubungan Yanti dengan ayahnya memang sangat dekat.
Pak Salam selalu menuruti hampir semua ocehan anak semata wayangnya itu.
Bahkan kadang…
ia rela pulang lebih cepat dari sawah hanya karena Yanti menangis ingin ditemani bermain.
Namun di balik keceriaan itu…
kehidupan keluarga mereka sebenarnya tidak mudah.
Penghasilan Pak Salam sebagai buruh tani sering kali tidak cukup.
Kadang mereka harus berutang beras ke warung Bu Minah.
Kadang Bu Rosmiyati harus menahan lapar agar Yanti tetap bisa makan.
Suatu malam…
hujan turun deras sekali.
Air menetes dari atap rumah yang bocor.
Yanti kecil duduk di dekat ibunya sambil memegang piring kosong.
“Buk…”
“Iya, Nduk?”
“Kok ibu nggak makan?”
“Ibu sudah makan tadi…”
“Bohong…”
Bu Rosmiyati tersenyum kecil.
“Kok tahu?”
“Kalau ibu habis makan pasti senyum…”
Kalimat polos itu membuat Bu Rosmiyati terdiam.
Dadanya terasa sesak.
Ia lalu mengusap kepala Yanti perlahan.
“Makan dulu ya…”
“Ibu dulu…”
“Ibu nanti…”
“Enggak mau. Harus bareng.”
Pak Salam yang baru masuk rumah membawa kayu bakar langsung berhenti mendengar percakapan itu.
Lelaki itu diam beberapa detik.
Lalu perlahan duduk di lantai.
Matanya tampak berkaca-kaca.
“Mbah…” kata Yanti tiba-tiba.
“Kenapa?”
“Nanti kalau aku besar…”
“Iya?”
“Aku mau jadi orang pintar…”
Pak Salam tersenyum tipis.
“Supaya apa?”
“Supaya ibu nggak lapar lagi…”
Suasana mendadak hening.
Hanya suara hujan yang terdengar jatuh di atap seng tua.
Bu Rosmiyati langsung memeluk anaknya erat.
Air matanya jatuh diam-diam.
Sejak kecil…
Yanti memang berbeda dibanding anak-anak lain.
Ia sangat suka belajar.
Meski belum masuk sekolah, ia sering memperhatikan tulisan-tulisan di kalender tua yang tergantung di dinding rumah.
“Pak… ini huruf apa?”
“Itu huruf A…”
“Kalau ini?”
“Itu B…”
“Kalau ini?”
“Lho kok banyak banget pertanyaannya…”
Yanti malah tertawa.
“Biar pinter!”
Pak Salam mengacak rambut anaknya pelan.
“Anak bapak memang harus pintar…”
Malam hari…
ketika anak-anak lain sudah tidur…
Yanti masih duduk dekat lampu minyak kecil.
Ia meniru tulisan dari koran bekas pembungkus tempe.
Tangannya kecil.
Tulisan tangannya masih miring-miring.
Namun matanya selalu penuh semangat.
Suatu malam Bu Rosmiyati berkata pelan kepada suaminya.
“Pak…”
“Iya?”
“Kayaknya anak kita benar-benar suka belajar…”
Pak Salam mengangguk.
“Dia beda…”
“Kalau lagi pegang buku matanya berbinar…”
Bu Rosmiyati tersenyum haru.
“Tapi sekolah itu mahal…”
Pak Salam diam.
Tatapannya kosong menembus gelap malam.
“Aku rela kerja apa saja…”
“Asal Yanti sekolah tinggi…”
Keesokan harinya…
Yanti bermain di halaman bersama anak-anak lain.
Ada Bambang si anak tengil.
Ada Dandang yang paling suka melawak.
Ada Anita yang pendiam.
Dan Yuli yang paling cerewet.
“Heh Yanti!” teriak Bambang.
“Apa?”
“Aku punya belalang!”
“Mana?”
Bambang membuka tangan perlahan.
Namun ternyata belalang itu langsung loncat ke wajah Yanti.
“Aaaaaaa!!”
Semua anak langsung tertawa ngakak.
“Hahahaha!”
“Bambang nakal!”
Yanti mengejar Bambang sambil membawa sandal.
“Siniaaa kamu!”
Bambang lari terbirit-birit.
“Ampun Yantiiii!”
Dandang sampai berguling-guling tertawa di tanah.
“Bambang mati nanti!”
Sementara Anita hanya tertawa kecil sambil menutup mulut.
Di tengah canda anak-anak desa itu…
tak ada yang menyangka…
bahwa persahabatan mereka kelak akan berubah menjadi kisah panjang penuh cinta, pengkhianatan, air mata, dan penyesalan.
Sore hari…
Yanti duduk sendirian di pematang sawah.
Langit mulai berwarna jingga.
Ia memandangi burung-burung kecil yang terbang pulang ke sarang.
“Yanti…”
Suara Pak Salam terdengar dari belakang.
“Lho bapak…”
“Kok sendirian?”
Yanti tersenyum kecil.
“Aku suka lihat langit sore…”
Pak Salam duduk di samping anaknya.
“Kenapa?”
“Cantik…”
“Memang cantik…”
Yanti lalu menoleh pelan.
“Pak…”
“Iya?”
“Kalau aku besar…”
“Aku boleh jadi guru?”
Pak Salam menatap wajah anaknya lama sekali.
Lalu tersenyum hangat.
“Bukan boleh lagi…”
“Kamu harus jadi guru…”
Mata Yanti langsung berbinar.
“Benarkah?”
“Iya…”
“Karena bapak percaya…”
“Kamu akan jadi perempuan hebat.”
Angin sore berhembus lembut melewati sawah Tegorejo.
Dan matahari perlahan tenggelam di ufuk barat.
Tak ada yang tahu…
bahwa anak kecil yang sedang duduk di pematang sawah itu…
kelak akan menjalani perjalanan hidup yang sangat panjang.
Penuh cinta.
Penuh kehilangan.
Dan penuh penantian…
BAB IV
LANGIT PAGI SEKOLAH DASAR
Pagi itu Desa Tegorejo tampak lebih hidup dari biasanya. Matahari baru saja muncul dari balik hamparan sawah ketika suara ayam jantan bersahut-sahutan memecah udara pagi. Kabut tipis masih menggantung rendah di pematang sawah, sementara embun menempel di daun-daun pisang dan rerumputan liar di pinggir jalan desa.
Di sebuah rumah sederhana berdinding kayu, tinggal seorang anak perempuan bernama Yanti. Ia dikenal sebagai anak yang rajin dan ceria. Sejak kecil, Yanti sudah terbiasa bangun pagi membantu ibunya sebelum memulai hari.
Ketika Yanti berumur dua tahun, keluarganya kedatangan anggota baru. Ibunya melahirkan seorang bayi perempuan mungil yang diberi nama Ima. Sejak saat itu rumah kecil mereka menjadi semakin ramai oleh suara tangis dan tawa kedua anak itu.
Meski masih kecil, Yanti sangat sayang kepada adiknya. Ia sering membantu ibunya mengambilkan popok kain, menjaga Ima saat menangis, atau mengayun pelan tempat tidur bambu agar adiknya cepat tertidur.
Tahun demi tahun berlalu. Kini Yanti berusia tujuh tahun, sedangkan Ima lima tahun. Yanti akan segera masuk Sekolah Dasar untuk pertama kalinya. Sejak beberapa hari sebelumnya, ia sudah tidak sabar menunggu hari itu datang.
Malam sebelum masuk sekolah, Yanti bahkan sulit tidur karena terlalu bersemangat.
“Bu… besok Yanti benar-benar sekolah ya?” tanyanya sambil rebahan di samping ibunya.
“Iya, Nak,” jawab Bu Rosmiyati sambil mengelus rambut anaknya. “Besok Yanti sudah jadi anak sekolah.”
Yanti tersenyum lebar sampai matanya menyipit.
“Aku mau punya banyak teman.”
“Dan harus rajin belajar,” sahut Pak Salam dari ruang depan.
“Iyaaa, Pak!” jawab Yanti cepat.
Keesokan paginya, suasana rumah Pak Salam terasa jauh lebih sibuk dari biasanya.
“Yanti! Cepat bangun! Nanti kesiangan!” teriak Bu Rosmiyati dari dapur.
“Iyaaaa, Bukkk!” jawab Yanti dari dalam kamar.
Anehnya, pagi itu Yanti bangun lebih cepat dari biasanya. Padahal sehari-hari ia terkenal paling susah dibangunkan.
Di ruang depan, Pak Salam sedang sibuk menyetrika seragam SD merah putih menggunakan setrika arang. Keringat kecil tampak di dahinya.
“Asline kok susah lurus ya…” gumamnya sambil meniup bara arang.
Bu Rosmiyati tertawa kecil dari dapur.
“Namanya juga baru pertama punya anak sekolah.”
“Biarin! Anakku harus rapi!” jawab Pak Salam bangga.
Tak lama kemudian, Yanti muncul dari belakang rumah setelah mandi di sumur. Rambutnya masih basah dan pipinya tampak segar terkena air pagi.
“Ibuuuu! Bajuku mana?” teriaknya.
“Lho, itu di dekat bapakmu!”
Yanti langsung berlari kecil mendekati ayahnya. Matanya berbinar melihat seragam putih merah yang tergantung di kursi bambu.
“Pak…”
“Iya?”
“Aku beneran sekolah hari ini?”
Pak Salam tersenyum hangat.
“Lho iya…”
Yanti memegang seragam itu pelan, seolah sedang memegang sesuatu yang sangat berharga.
“Aku jadi anak sekolah…”
Suaranya lirih penuh takjub.
Bu Rosmiyati yang melihat itu ikut tersenyum haru.
“Iya… anak ibu sudah besar.”
Tiba-tiba Yanti memeluk ibunya erat.
“Aku janji rajin sekolah!”
“Harus!”
“Nggak boleh malas!”
“Siap, Bu Guru!” jawab Yanti sambil hormat.
Mereka langsung tertawa bersama.
Tak lama kemudian, Yanti mulai memakai seragam SD pertamanya. Meski rok merahnya sedikit kebesaran karena dijahit oleh tetangga desa, wajah Yanti tetap tampak sangat bahagia.
Ia berdiri di depan cermin kecil yang kacanya mulai kusam. Dengan kedua tangan, Yanti merapikan kerah bajunya sambil memperhatikan dirinya sendiri.
“Buk…”
“Iya?” sahut Bu Rosmiyati dari dapur.
“Aku cantik nggak?”
Bu Rosmiyati tertawa kecil melihat tingkah anaknya.
“Cantik sekali…”
Yanti makin tersenyum lebar.
“Kayak putri kerajaan?”
“Iya…”
Yanti langsung menoleh ke arah ayahnya yang sedang duduk di kursi bambu.
“Kalau menurut bapak?”
Pak Salam menjawab cepat tanpa berpikir panjang.
“Paling cantik sedunia!”
Yanti tertawa ngakak.
“Hahaha! Bapak lebay!”
Pak Salam pura-pura bingung.
“Itu apa lagi lebay?”
“Katanya Dandang, kalau ngomong berlebihan itu lebay!”
“Wah… baru masuk sekolah saja bahasanya aneh-aneh,” gumam Pak Salam sambil geleng-geleng kepala.
Di sudut ruangan, Ima yang sejak tadi memperhatikan ikut mendekat sambil membawa boneka kain kecilnya.
“Kak Yanti cantik pakai baju sekolah,” katanya polos.
Yanti tersenyum lalu jongkok di depan adiknya.
“Nanti Ima juga sekolah kalau sudah besar.”
“Aku mau ikut sekarang.”
“Belum boleh,” jawab Yanti sambil tertawa kecil. “Ima masih kecil.”
Setelah berpakaian rapi, Yanti duduk di meja makan sederhana bersama keluarganya. Pagi itu Bu Rosmiyati menyiapkan nasi hangat, tempe goreng, dan telur dadar.
“Anak pintar harus sarapan dulu,” kata Pak Salam.
“Iya Pak,” jawab Yanti semangat.
Ima ikut bersuara sambil mengunyah nasi.
“Aku juga mau pintar kayak Kak Yanti.”
“Kalau begitu harus rajin makan,” goda Bu Rosmiyati.
Semua langsung tertawa.
Selesai sarapan, Yanti memakai tas kain biru pemberian ayahnya. Tas itu sederhana dan warnanya sedikit pudar, tetapi Yanti sangat menyayanginya.
Sebelum berangkat, ia mencium tangan ayah dan ibunya.
“Assalamualaikum, Bu… Pak… Yanti berangkat sekolah.”
“Waalaikumsalam. Hati-hati di jalan,” jawab keduanya hampir bersamaan.
Ima berlari kecil sampai ke depan rumah sambil melambaikan tangan.
“Kak Yanti jangan lama-lama pulangnya!”
“Iyaaa…” sahut Yanti ceria.
Dengan langkah kecil penuh semangat, Yanti berjalan menyusuri jalan desa yang masih basah oleh embun pagi. Cahaya matahari mulai menyinari sawah-sawah hijau di sepanjang jalan Tegorejo.
Di bawah langit pagi yang cerah itu, seorang anak kecil berjalan menuju sekolah pertamanya—membawa mimpi-mimpi sederhana yang mulai tumbuh di dalam hatinya.
Yanti menggandeng tangan ayah dan ibunya sepanjang jalan desa.
Tas kain kecil warna biru tergantung di pundaknya.
Di jalan…
banyak anak-anak lain juga berjalan menuju sekolah.
Ada yang memakai sandal jepit.
Ada yang bahkan tidak memakai alas kaki.
“Yantiiii!”
Suara keras tiba-tiba terdengar dari belakang.
Ternyata Bambang.
Anak tengil itu berlari sambil membawa tas lusuh.
“Hahaha! Yanti pakai pita merah!”
Yanti langsung manyun.
“Kenapa?”
“Kayak antena TV!”
“Bambanggg!”
Yanti mengejar Bambang sambil membawa botol minumnya.
Pak Pak Salam hanya tertawa melihat tingkah mereka.
“Dasar anak-anak…”
Dari belakang muncul Dandang sambil membawa bekal pisang goreng.
“Heh Bambang! Jangan ganggu calon bu guru!”
“Siapa calon bu guru?”
“Yanti lah!”
Bambang langsung melirik Yanti.
“Ah masa…”
“Lho memang iya!” jawab Dandang.
Yanti tersipu malu.
“Apaan sih…”
Dandang tertawa.
“Soalnya Yanti kalau ngomong suka kayak guru!”
Mereka terus berjalan sambil bercanda.
Di sepanjang jalan desa…
suasana pagi terasa hangat.
Suara burung-burung kecil terdengar dari pepohonan.
Dan sinar matahari mulai menyinari sawah yang hijau membentang luas.
Bangunan SD Tegorejo tampak sederhana.
Dindingnya masih papan kayu.
Beberapa bagian cat sudah mengelupas.
Halamannya berupa tanah merah yang sedikit berdebu.
Namun bagi Yanti…
tempat itu terlihat sangat megah.
Ia berdiri mematung di depan gerbang sekolah.
Matanya berbinar.
“Pak…”
“Iya?”
“Sekolahku besar ya…”
Pak Pak Salam tersenyum.
“Iya…”
“Kalau aku pintar nanti…”
“Aku bisa sekolah lebih tinggi lagi?”
“Tentu bisa…”
“Setinggi apa?”
“Setinggi langit kalau kamu mau…”
Mata Yanti makin berbinar.
Di halaman sekolah…
anak-anak mulai berbaris.
Suasana sangat ramai.
Ada yang menangis mencari ibunya.
Ada yang tertawa-tawa.
Ada pula yang saling dorong.
Tiba-tiba seorang guru perempuan keluar dari ruang kantor.
Beliau memakai kebaya coklat sederhana dengan rambut disanggul rapi.
“Anak-anak… ayo baris yang rapi…”
Suaranya lembut namun tegas.
Yanti langsung memperhatikan guru itu serius sekali.
“Pak…”
“Hm?”
“Guru itu cantik…”
Pak Pak Salam tertawa kecil.
“Makanya nanti kamu juga harus jadi guru cantik.”
Yanti langsung tersenyum lebar.
Guru perempuan itu kemudian mendekat.
“Namanya siapa?” tanyanya lembut pada Yanti.
“Yanti, Bu…”
“Oh… namanya bagus…”
Yanti tersenyum malu.
“Ini ayah ibunya?”
“Iya Bu…” jawab Pak Pak Salam sopan.
Guru itu mengangguk ramah.
“Anaknya kelihatan pintar…”
Pak Pak Salam langsung tersenyum bangga.
“Semoga saja begitu, Bu Guru…”
“Namanya siapa, Pak?”
“Pak Salam …”
“Pak Pak Salam tidak usah khawatir. Kami akan mendidik anak bapak dengan baik.”
Kalimat itu membuat mata Pak Pak Salam sedikit berkaca-kaca.
Ia menunduk pelan.
“Terima kasih, Bu…”
Saat bel masuk berbunyi…
anak-anak mulai masuk kelas.
Yanti sempat memegang tangan ibunya erat.
“Ibu pulang?”
“Iya…”
“Nanti jemput aku?”
“Iya…”
“Jangan lama-lama ya…”
Bu Rosmiyati tersenyum sambil mengusap kepala anaknya.
“Iya…”
Namun saat Yanti mulai masuk kelas…
ia tiba-tiba kembali berlari memeluk ayahnya.
“Pak…”
“Iya?”
“Aku takut…”
Pak Pak Salam jongkok perlahan.
“Takut kenapa?”
“Kalau aku nggak punya teman…”
Pak Pak Salam tersenyum hangat.
“Kamu pasti punya banyak teman…”
“Kalau ada yang jahil?”
“Ya tinggal jahilin balik…”
Yanti langsung tertawa kecil.
“Bapak ini…”
Pak Pak Salam lalu menatap mata anaknya serius.
“Dengar ya…”
“Iya…”
“Kamu harus sekolah yang rajin…”
“Kenapa?”
“Supaya hidupmu lebih baik dari bapak…”
Kalimat itu membuat Yanti diam.
Meski masih kecil…
ia bisa merasakan kesungguhan dalam suara ayahnya.
“Aku janji…”
“Janji apa?”
“Aku bakal jadi orang pintar…”
“Terus?”
“Biar ibu sama bapak bahagia…”
Pak Pak Salam langsung memeluk anaknya erat.
Sementara Bu Rosmiyati diam-diam menyeka air mata.
Di dalam kelas…
Yanti duduk di bangku kayu dekat jendela.
Ia melihat keluar.
Ayah dan ibunya masih berdiri di halaman sekolah sambil memandang ke arahnya.
Yanti melambaikan tangan kuat-kuat.
Pak Pak Salam membalas dengan senyum lebar.
Dan pagi itu…
di ruang kelas sederhana SD Tegorejo…
langkah pertama perjalanan panjang hidup Yanti akhirnya dimulai.
Perjalanan tentang mimpi.
Tentang persahabatan.
Tentang cinta.
Tentang pengkhianatan.
Dan tentang seorang perempuan desa…
yang kelak harus menunggu sangat lama…
untuk menemukan kebahagiaan sejatinya di ujung senja.
BAB V
BAMBANG SI ANAK TENGIL
Hari-hari pertama di SD Tegorejo menjadi masa yang sangat menyenangkan bagi Yanti.
Setiap pagi ia selalu bangun lebih awal dibanding ayam jantan milik Pak Lurah. Bahkan sebelum ibunya selesai memasak nasi jagung, Yanti sudah mandi dan memakai seragam sekolahnya sendiri.
“Buk! Cepat sisirin rambutku!”
“Lho sabar…”
“Nanti aku telat!”
Bu Rosmiyati sampai geleng-geleng kepala.
“Baru juga sekolah seminggu…”
“Ya biarin! Aku suka sekolah!”
Pak Salam yang sedang minum kopi langsung tertawa.
“Dulu waktu kecil bapaknya malah sembunyi kalau disuruh sekolah…”
“Serius, Pak?”
“Iya…”
“Kenapa?”
“Takut disuruh nulis…”
Yanti langsung tertawa keras.
“Hahaha! Bapak bodoh!”
“Eh enak aja!”
Rumah kecil itu selalu dipenuhi suara tawa setiap pagi.
Namun…
semangat Yanti pergi sekolah ternyata bukan hanya karena suka belajar.
Ada satu hal lain yang diam-diam membuatnya selalu bersemangat.
Teman-temannya.
Di SD Tegorejo…
Yanti mulai akrab dengan banyak anak.
Ada Anita yang pemalu dan lembut.
Ada Dandang yang mulutnya tidak pernah berhenti bercanda.
Ada Yuli yang paling cerewet sedunia.
Dan tentu saja…
Bambang.
Anak laki-laki paling usil satu sekolah.
Tubuh Bambang kecil kurus.
Kulitnya hitam terbakar matahari.
Rambutnya selalu berdiri seperti sapu ijuk karena jarang disisir.
Namun matanya sangat jahil.
Hari itu…
suasana kelas sedang tenang.
Bu Guru Siti sedang menulis huruf di papan tulis.
“Anak-anak, sekarang kita belajar membaca…”
“Iyaaaaa Buuuu…”
Yanti duduk manis di bangku depan.
Sementara Bambang duduk di belakang sambil melirik-lirik rambut Yanti.
Ia menyenggol Dandang pelan.
“Heh…”
“Apa?”
“Lihat…”
Bambang mengambil kertas kecil.
Lalu diam-diam ia membuat gambar monyet.
Setelah selesai…
kertas itu dilempar tepat ke kepala Yanti.
Tok!
Yanti menoleh cepat.
“Apa itu?!”
Dandang langsung menunduk menahan ketawa.
Sementara Bambang pura-pura serius melihat papan tulis.
Yanti membuka kertas itu perlahan.
Gambar monyet dengan tulisan besar:
“YANTI SI RAMBUT ANTENA.”
Yanti langsung melotot.
“Bambanggg!”
Satu kelas langsung menoleh.
Bu Guru Siti ikut berhenti menulis.
“Ada apa ini?”
Yanti berdiri sambil memegang kertas.
“Bambang ngejek saya!”
Bambang langsung pura-pura polos.
“Saya nggak ngapa-ngapain, Bu…”
“Bohong!”
“Buktinya mana?”
Yanti langsung menunjukkan kertas.
Bu Guru Siti membaca tulisan itu.
Lalu menatap Bambang tajam.
“Bambang…”
“Iya Bu…”
“Kamu yang bikin?”
Bambang masih mencoba mengelak.
“Bukan saya…”
Dandang langsung nyeletuk.
“Bohong Bu! Tadi dia gambar monyet mirip dirinya sendiri!”
Satu kelas langsung pecah tertawa.
“Hahahahaha!”
Bambang langsung berdiri.
“Heh Dandang!”
“Apaaa?”
“Kamu jangan ikut campur!”
“Ya habis monyetnya memang mirip kamu!”
Bahkan Bu Guru Siti sampai menahan senyum.
“Sudah… sudah…”
“Tapi Bambang nggak boleh mengejek teman.”
Bambang manyun.
“Iya Bu…”
“Tolong minta maaf.”
Bambang menoleh malas ke arah Yanti.
“Maaf…”
“Nggak ikhlas itu!” kata Yanti kesal.
Satu kelas kembali tertawa.
Namun meski sering jahil…
Bambang sebenarnya diam-diam suka memperhatikan Yanti.
Ia selalu mencari cara agar Yanti memperhatikannya.
Walaupun caranya sering keterlaluan.
Saat jam istirahat…
anak-anak bermain di halaman sekolah.
Ada yang bermain lompat tali.
Ada yang bermain gobak sodor.
Ada pula yang bermain kejar-kejaran.
Yanti duduk bersama Anita di bawah pohon mangga sambil makan bekal.
“Aku bawa tempe goreng…” kata Anita pelan.
“Aku telur dadar!” jawab Yanti bangga.
Tiba-tiba Bambang muncul entah dari mana.
“Heh…”
“Apa lagi?” tanya Yanti curiga.
Bambang duduk sembarangan di depan mereka.
“Kalian makan apa?”
“Rahasia.”
“Peliiiit…”
Yanti langsung menutup kotak makannya.
“Daripada nanti kamu isengin lagi.”
Bambang cengar-cengir.
“Aku nggak jahat kok…”
“Bohong!”
“Serius!”
“Terus kemarin siapa yang masukin belalang ke tasku?”
Bambang langsung tertawa ngakak.
“Hahaha! Lucu banget waktu kamu teriak!”
Yanti langsung mencubit lengan Bambang.
“Awww!”
“Rasakan!”
Anita sampai tertawa kecil melihat mereka.
Namun dari kejauhan…
ada sepasang mata lain yang memperhatikan.
Namanya Lila.
Anak perempuan berambut pendek yang duduk di bangku paling belakang.
Lila sebenarnya tidak terlalu dekat dengan siapa-siapa.
Namun sejak awal…
ia kurang suka melihat Yanti.
Menurutnya…
Yanti terlalu disukai guru.
Terlalu disukai teman-teman.
Dan terlalu sering jadi pusat perhatian.
“Huh…” gumam Lila pelan.
Yuli yang berdiri di dekatnya langsung bertanya.
“Kamu kenapa?”
“Enggak…”
“Tapi kamu lihat nggak…”
“Apa?”
“Semua orang perhatian sama Yanti terus.”
Yuli mengangkat bahu.
“Ya karena Yanti baik…”
Lila mendecih pelan.
“Atau cari perhatian…”
Hari-hari berlalu.
Yanti semakin dikenal sebagai anak pintar di kelas.
Nilai membacanya paling bagus.
Tulisan tangannya paling rapi.
Bahkan Bu Guru Siti sering memujinya di depan kelas.
“Anak-anak, coba lihat tulisan Yanti…”
“Bagus dan rapi…”
“Harus dicontoh…”
Bambang langsung berbisik ke Dandang.
“Kalau tulisan Yanti bagus…”
“Kenapa?”
“Berarti mukanya nggak usah bagus lagi…”
Dandang langsung tertawa terbahak.
“Hahahaha!”
Yanti mendengar itu.
Ia langsung mengambil penghapus lalu melempar Bambang.
Plak!
“Kenaaa!” teriak Dandang.
Satu kelas pecah tertawa lagi.
Bu Guru Siti sampai geleng-geleng kepala.
“Kalian ini…”
Namun suatu hari…
kenakalan Bambang mulai sedikit keterlaluan.
Saat pelajaran olahraga…
anak-anak diminta berlari mengelilingi lapangan kecil sekolah.
Yanti berlari bersama Anita.
Sementara Bambang dan Dandang berlari di belakang.
“Heh lihat…” bisik Bambang.
“Apa?”
“Aku punya ide…”
“Jangan aneh-aneh…”
Namun Bambang diam-diam mengikat tali sepatu Yanti saat mereka berhenti sebentar.
Ketika Yanti mulai berlari lagi…
BRUK!
Yanti jatuh tersungkur di tanah.
“Aduuuhhh!”
Anak-anak langsung kaget.
Bu Guru olahraga berlari mendekat.
“Yanti!”
Lutut Yanti lecet berdarah.
Anita panik.
“Ya Allah…”
Sementara Bambang yang awalnya tertawa…
langsung pucat melihat Yanti menangis.
“Aku… aku cuma bercanda…”
Bu Guru langsung marah besar.
“BAMBANG!”
Bambang menunduk ketakutan.
“Kamu tahu ini berbahaya?!”
“Saya nggak sengaja Bu…”
Yanti masih menangis sambil memegang lututnya.
Bu Guru segera membersihkan lukanya.
Sementara Bambang berdiri diam dengan wajah bersalah.
Untuk pertama kalinya…
ia merasa benar-benar bersalah pada Yanti.
Sepulang sekolah…
Bambang diam-diam mengikuti Yanti dari belakang.
Yanti berjalan pincang kecil sambil membawa tasnya.
“Heh…”
Yanti menoleh malas.
“Apa?”
Bambang menunduk.
“Maaf…”
Yanti diam.
“Aku nggak niat bikin kamu luka…”
“Bohong…”
“Serius…”
“Aku cuma bercanda…”
Yanti masih kesal.
“Bercandamu kebangetan.”
Bambang menggaruk kepala.
“Aku takut kamu nggak mau temenan lagi…”
Yanti melirik Bambang.
Untuk pertama kalinya…
anak tengil itu terlihat benar-benar sedih.
“Huh…”
“Maafin nggak?”
Yanti pura-pura berpikir.
“Kalau aku maafin…”
“Iya?”
“Besok traktir es lilin.”
Bambang langsung semangat.
“Siap!”
“Tapi dua!”
“Lho mahal!”
“Katanya mau minta maaf!”
Bambang langsung pasrah.
“Iya deh…”
Yanti akhirnya tertawa kecil.
Dan sore itu…
di jalan kecil Desa Tegorejo…
persahabatan masa kecil mereka kembali hangat.
Meski tak ada yang tahu…
bahwa kelak…
hubungan mereka akan berubah jauh lebih rumit daripada sekadar jahilan anak-anak sekolah dasar.
BAB VI
SAHABAT MASA KECIL
Musim penghujan mulai datang di Desa Tegorejo.
Langit hampir setiap sore dipenuhi awan gelap. Jalanan tanah merah berubah becek, sementara sawah-sawah tampak semakin hijau oleh guyuran air hujan yang turun hampir setiap hari.
Namun bagi anak-anak SD Tegorejo…
musim hujan justru menjadi musim paling menyenangkan.
Karena itu berarti…
banyak permainan baru.
Dan sore itu…
halaman belakang sekolah berubah menjadi arena perang lumpur.
“Heh! Lempar dia!”
“Jangaaaan!”
Plakkk!
Lumpur basah mengenai wajah Dandang.
Anak itu langsung melotot.
“Bambanggg!”
Satu kelompok anak langsung tertawa terbahak-bahak.
“Hahahahaha!”
Yanti sampai jongkok sambil memegang perut karena terlalu keras tertawa.
Dandang mengusap wajahnya penuh lumpur.
“Tunggu ya kalian…”
Ia mengambil segenggam lumpur besar.
Bambang langsung kabur.
“WOI JANGAN!”
Namun…
BRASSS!
Lumpur itu malah mengenai Anita yang berdiri diam di dekat pohon.
Suasana langsung hening.
Anita membeku.
Rambutnya penuh lumpur.
Pipinya belepotan.
Semua anak langsung menahan napas.
Dandang pucat.
“A… Anita…”
Anita perlahan menoleh.
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Kamu jahat…”
Dandang langsung panik.
“Eh eh eh jangan nangis!”
Namun Anita benar-benar menangis.
“Hiks…”
Yanti langsung mendekat.
“Dandang! Kamu keterlaluan!”
“Aku nggak sengaja!”
“Anita nggak pernah ganggu siapa-siapa!”
Bambang ikut mendekat sambil menahan ketawa.
“Tapi lucu sih…”
“BAMBANG!” bentak Yanti.
“Oke oke salah…”
Anita masih menangis kecil.
“Aku jadi jelek…”
Yuli yang sejak tadi berdiri sambil membawa payung langsung nyeletuk.
“Tenang aja…”
Semua menoleh.
“Kenapa?”
“Anita dari tadi juga udah jelek.”
Satu detik sunyi.
Lalu…
“HHAHAHAHAHAHA!”
Semua anak langsung tertawa keras.
Bahkan Anita ikut tertawa di sela tangisnya.
“Heh Yuliii!”
Yuli tertawa sambil kabur.
“Bercanda!”
Hari-hari mereka selalu ramai.
Persahabatan kecil itu mulai terbentuk sangat kuat.
Meski sering bertengkar…
mereka selalu kembali bermain bersama.
Yanti perlahan menjadi pusat dari lingkaran persahabatan itu.
Bukan karena paling cantik.
Bukan juga karena paling pintar.
Tetapi karena Yanti selalu bisa membuat semua orang merasa nyaman.
Kalau Anita sedih…
Yanti yang menenangkan.
Kalau Bambang bertengkar…
Yanti yang melerai.
Kalau Dandang dihukum guru…
Yanti pula yang membantu mengerjakan tugasnya.
Dan entah kenapa…
semua anak mulai bergantung pada Yanti.
Suatu pagi…
kelas SD Tegorejo sangat ribut.
Bu Guru Siti belum datang.
Anak-anak bebas bermain di dalam kelas.
Dandang berdiri di atas bangku sambil membawa penggaris kayu seperti mikrofon.
“Selamat pagi pemirsa!”
Satu kelas langsung tertawa.
“Hari ini kita akan menyaksikan…”
Dandang menunjuk Bambang.
“Kontes muka paling jelek se-Tegorejo!”
“Hahaha!”
Bambang langsung melempar kapur.
“Heh!”
Namun Dandang menghindar cepat.
“Peserta pertama…”
Ia menunjuk Bambang lagi.
“Bambang si muka sandal jepit!”
Satu kelas langsung meledak tertawa.
“Hahahahaha!”
Bambang berdiri marah.
“Muka sandal jepit apaan?!”
“Soalnya gepeng!”
Tawa makin pecah.
Bahkan Yanti sampai menepuk meja.
“Dandang jahat banget!”
“Lanjut!” teriak anak-anak.
Dandang menunjuk Yuli.
“Peserta kedua…”
“Yuli si radio rusak!”
Yuli langsung melotot.
“Aku bukan radio rusak!”
“Iya…”
“Terus?”
“Radio keliling!”
Satu kelas kembali tertawa keras.
Karena memang…
Yuli terkenal paling cerewet sedunia.
Apa pun berita di sekolah…
pasti Yuli tahu lebih dulu.
“Aku laporin Bu Guru ya!”
“Lapor aja!”
Dandang malah makin semangat.
“Nanti aku bilang Bu Guru kalau kamu suka nguping orang!”
Yuli langsung diam.
“Eh jangan…”
“Hahaha kena!”
Namun di tengah keributan itu…
Lila duduk sendiri di bangku belakang.
Matanya terus memperhatikan Yanti.
Saat Yanti tertawa…
semua ikut tertawa.
Saat Yanti bicara…
semua mendengarkan.
Lila menggigit bibir pelan.
Ia sebenarnya ingin ikut dekat.
Namun gengsi.
Dan dalam hatinya…
mulai tumbuh rasa iri kecil yang perlahan semakin besar.
“Kenapa sih semua suka Yanti…” gumamnya pelan.
Redi yang duduk dekatnya mendengar.
“Karena dia baik…”
Lila mendecih.
“Atau pura-pura baik.”
Redi mengernyit.
“Kamu aneh…”
Lila tidak menjawab.
Matanya masih tertuju pada Yanti yang sedang tertawa bersama teman-temannya.
Tak lama kemudian…
Bu Guru Siti masuk kelas.
“Wah… ramai sekali…”
Anak-anak langsung kembali duduk.
Kecuali Dandang yang masih berdiri di atas meja.
“Dandang…”
“Iya Bu?”
“Kamu mau jadi murid apa jemuran?”
Satu kelas langsung tertawa.
Dandang turun cepat sambil nyengir.
“Siap Bu…”
Bu Guru mulai membagikan hasil ulangan membaca.
“Yang nilainya bagus ibu kasih hadiah.”
Anak-anak langsung semangat.
“Apa hadiahnya Bu?!”
“Nanti lihat saja…”
Satu per satu nama dipanggil.
Namun nilai tertinggi kembali diraih Yanti.
“Selamat ya, Yanti.”
Yanti berdiri malu-malu.
Anak-anak langsung tepuk tangan.
Bambang malah bersiul.
“Wiuuu!”
Bu Guru menyerahkan sebuah buku tulis baru bergambar bunga.
Mata Yanti langsung berbinar.
“Terima kasih Bu…”
“Rajin terus ya…”
“Iya Bu…”
Saat kembali duduk…
Bambang berbisik pelan.
“Heh…”
“Apa?”
“Pinjam bukunya nanti.”
“Buat apa?”
“Biar aku pintar juga.”
Yanti tertawa kecil.
“Kamu mah maunya nyontek.”
“Kalau nyontek sama orang pintar kan ikut pintar…”
“Logika dari mana itu?”
“Logika Bambang.”
Yanti langsung geleng-geleng kepala sambil tertawa.
Jam pulang sekolah tiba.
Hujan turun cukup deras.
Anak-anak terjebak di teras sekolah.
Dandang mulai bosan.
“Heh…”
“Apa lagi?” tanya Yuli.
“Kita cerita horor yuk.”
“Jangan!” Anita langsung takut.
“Kenapa?”
“Nanti aku nggak bisa tidur…”
Bambang langsung mendekat sambil menurunkan suara.
“Katanya…”
“Apa?”
“Di belakang sekolah ada kuntilanak…”
Anita langsung pucat.
“Bohong…”
“Serius…”
“Dia suka muncul kalau hujan…”
“Hiiiii…”
Yanti langsung memukul kepala Bambang pelan.
“Jangan nakut-nakutin!”
“Tapi serius!”
“Tadi malam aku lihat…”
“Lihat apa?”
“Bayangan putih…”
Dandang langsung nyeletuk.
“Itu sarung bapakmu dijemur!”
“Hahaha!”
Semua langsung tertawa lagi.
Suasana teras sekolah terasa hangat meski hujan deras turun di luar.
Mereka duduk berdempetan sambil tertawa, bercanda, dan saling mengejek.
Tak ada yang sadar…
bahwa persahabatan kecil itu suatu hari nanti akan diuji oleh cinta.
Oleh pengkhianatan.
Oleh rasa iri.
Dan oleh waktu yang perlahan mengubah semuanya.
Namun sore itu…
mereka masih hanya sekumpulan anak kecil dari Desa Tegorejo.
Yang belum tahu…
betapa rumitnya dunia orang dewasa nanti.
BAB VII
MIMPI DI BAWAH LAMPU MINYAK
Malam di Desa Tegorejo selalu datang dengan kesunyian yang khas.
Tidak ada suara kendaraan ramai.
Tidak ada lampu jalan terang seperti di kota.
Yang terdengar hanya suara jangkrik dari balik semak, gesekan dedaunan bambu yang tertiup angin malam, dan sesekali gonggongan anjing dari kejauhan.
Di rumah kecil Pak Salam …
lampu minyak mulai dinyalakan.
Cahayanya redup kekuningan.
Bayangan dinding papan tampak bergoyang pelan terkena pantulan api kecil dari sumbu lampu.
Bu Rosmiyati sedang menanak nasi di dapur kayu.
Sementara Pak Salam baru saja pulang dari sawah dengan tubuh penuh lumpur.
“Huhhh… capek juga hari ini…”
Yanti yang sedang duduk di lantai langsung berlari menyambut ayahnya.
“Pakkk!”
“Iyaaa…”
“Kamu bau sawah!”
Pak Salam tertawa.
“Lho ya memang habis dari sawah.”
Yanti memeluk ayahnya sebentar lalu langsung mundur sambil menutup hidung.
“Ihh… kayak kerbau!”
“Eh anak ini!”
Bu Rosmiyati sampai tertawa dari dapur.
“Hahaha! Makanya mandi dulu!”
Pak Salam pura-pura kesal.
“Nanti kalau bapak kaya…”
“Iya?”
“Bapak mandi pakai minyak wangi!”
Yanti langsung tertawa ngakak.
“Bapak mah cocoknya pakai minyak kayu putih!”
“Hahaha!”
Rumah kecil itu kembali dipenuhi suara tawa hangat.
Namun malam itu…
setelah makan malam sederhana dengan lauk tempe goreng dan sambal terasi…
Yanti tidak langsung tidur seperti biasanya.
Ia justru mengambil buku tulis lusuh dan pensil pendeknya.
Lalu duduk dekat lampu minyak.
Pak Salam yang sedang memperbaiki caping menoleh heran.
“Lho…”
“Kenapa Pak?”
“Kamu belum tidur?”
“Belum.”
“Mau ngapain?”
“Belajar.”
Pak Salam dan Bu Rosmiyati saling pandang.
“Belajar malam-malam?”
“Iya…”
“Besok ada PR?”
“Nggak…”
“Terus?”
Yanti tersenyum kecil.
“Aku pengen pintar.”
Suasana mendadak sedikit hening.
Pak Salam memperhatikan anaknya serius.
Di bawah cahaya lampu minyak…
wajah kecil Yanti tampak sangat sungguh-sungguh.
Ia mulai menulis huruf demi huruf dengan lidah sedikit menjulur tanda fokus.
“A…”
“B…”
“C…”
Tulisan tangannya masih belum rapi.
Kadang miring.
Kadang terlalu besar.
Namun matanya…
penuh semangat.
Beberapa menit kemudian…
Bambang tiba-tiba muncul di depan rumah.
“Yantiiii!”
“Apaaa?”
“Ayo main petak umpet!”
“Enggak!”
“Lho kenapa?”
“Aku belajar!”
Bambang langsung masuk sambil melongo.
“Hah?!”
“Aku mau pintar.”
Bambang tertawa keras.
“Hahaha! Belajar malam-malam?!”
“Iya!”
“Kamu aneh…”
Yanti langsung manyun.
“Kamu yang aneh.”
Bambang duduk di lantai sambil memperhatikan buku Yanti.
“Kamu serius suka belajar?”
“Iya.”
“Memangnya enak?”
“Enak.”
“Bagian mana yang enak?”
“Kalau aku pintar…”
“Terus?”
“Aku bisa jadi guru.”
Bambang langsung tertawa lagi.
“Hahaha! Yanti jadi guru!”
“Kenapa ketawa?!”
“Karena nanti murid-muridmu pasti disuruh nulis seribu halaman!”
“Biar pintar!”
“Kalau aku jadi muridmu aku kabur.”
Pak Salam sampai ikut tertawa mendengar percakapan mereka.
Tak lama kemudian…
Dandang dan Yuli ikut datang.
“Heh Bambang ternyata di sini…”
“Yanti lagi belajar!” jawab Bambang.
Dandang langsung melotot lebay.
“Hah?!”
“Kenapa memang?”
“Kamu sakit?”
“Hah?”
“Orang normal malam-malam ya tidur!”
Yanti langsung melempar penghapus kecil ke arah Dandang.
Plak!
“Aduhh!”
Satu rumah langsung tertawa.
Anita yang datang paling belakang hanya tersenyum kecil sambil membawa singkong rebus.
“Ibu nyuruh nganter ini…”
“Waaah singkong!” teriak Bambang.
Belum sempat diizinkan…
Bambang sudah mengambil satu.
“Heh rakus!” kata Yuli.
“Daripada basi!”
Mereka lalu duduk melingkar di lantai rumah sederhana itu.
Lampu minyak kecil di tengah mereka membuat suasana terasa hangat.
Dandang mulai memperhatikan buku Yanti.
“Kamu kalau besar beneran mau jadi guru?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Yanti diam sebentar.
Lalu menjawab pelan.
“Karena guru itu hebat…”
“Hebat gimana?”
“Bisa bikin orang pintar…”
Suasana mendadak lebih tenang.
Bahkan Dandang yang biasanya banyak bercanda ikut diam mendengarkan.
Yanti melanjutkan.
“Kalau aku jadi guru…”
“Aku mau ngajarin anak-anak desa…”
“Supaya mereka nggak susah…”
Pak Salam yang mendengar dari sudut ruangan perlahan menunduk.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Namun di tengah suasana hangat itu…
Lila muncul di depan rumah.
Ia berdiri sambil melipat tangan.
“Kalian rame banget…”
“Oh Lila! Sini!” kata Yuli.
Lila masuk pelan.
Matanya langsung melihat buku Yanti.
“Kamu belajar lagi?”
“Iya.”
“Rajin banget…”
Nada bicara Lila terdengar aneh.
Yanti tidak menyadari.
Namun Yuli melirik sebentar.
Lila duduk perlahan.
Lalu berkata sambil tersenyum tipis.
“Kalau terlalu pintar nanti nggak punya teman lho…”
Bambang langsung nyeletuk.
“Lho Yanti temannya banyak!”
Lila tersenyum kecil.
“Iya sih…”
“Tapi biasanya anak paling pintar suka sombong…”
Suasana mendadak sedikit canggung.
Yanti langsung menggeleng cepat.
“Aku nggak sombong kok…”
“Iya sekarang…”
“Lho maksudmu apa?”
“Ya siapa tahu nanti…”
Dandang mulai merasa suasana tidak enak.
Ia langsung memotong.
“Heh daripada ngomongin pintar…”
“Apa?”
“Kita ngomongin Bambang aja.”
“Kenapa aku?!”
“Soalnya mukamu lebih menarik dibahas.”
“Hahaha!”
Suasana kembali cair.
Namun diam-diam…
kalimat Lila tadi membekas di hati Yanti.
Malam semakin larut.
Satu per satu temannya pulang.
Tinggal Yanti yang masih duduk di bawah lampu minyak.
Matanya mulai mengantuk.
Namun ia tetap menulis.
Pak Salam mendekat perlahan.
“Nduk…”
“Iya Pak…”
“Capek nggak?”
“Sedikit…”
“Tidur dulu…”
“Sebentar lagi…”
Pak Salam duduk di samping anaknya.
“Kenapa sih pengen banget jadi guru?”
Yanti berpikir sebentar.
Lalu menjawab lirih.
“Karena aku nggak mau ibu sama bapak susah terus…”
Kalimat itu membuat dada Pak Pak Salam terasa sesak.
Ia mengusap kepala anaknya perlahan.
“Nggak usah mikir berat-berat…”
“Tapi aku pengen bikin bapak ibu bangga…”
Pak Salam tersenyum hangat.
“Kamu sudah bikin bangga…”
Yanti menatap ayahnya.
“Benarkah?”
“Iya…”
“Bahkan sebelum kamu jadi apa-apa…”
Air mata tipis mulai muncul di mata Yanti kecil.
Namun ia tersenyum.
Dan malam itu…
di bawah cahaya lampu minyak sederhana…
mimpi besar seorang anak desa mulai tumbuh perlahan.
Mimpi yang kelak membawanya pada perjalanan hidup panjang…
penuh cinta…
penuh luka…
dan penuh penantian hingga ujung senja.
BAB VIII
HUJAN DAN SURAT KECIL
Musim hujan semakin akrab dengan Desa Tegorejo.
Hampir setiap siang langit berubah gelap. Angin berembus lebih dingin melewati sawah dan kebun tebu di pinggir desa. Jalanan tanah berubah licin, sementara anak-anak justru semakin senang bermain air hujan.
Namun siang itu…
suasana SD Tegorejo terasa sedikit berbeda bagi Yanti.
Entah kenapa…
sejak pagi Bambang terlihat gelisah.
Biasanya anak itu paling ribut di kelas.
Paling sering bikin guru marah.
Paling banyak bicara.
Tapi hari itu…
ia malah diam.
“Heh…”
Dandang menyenggol lengannya.
“Apa?”
“Kamu sakit?”
“Enggak.”
“Terus kok kayak ayam kehilangan induk?”
Bambang mendecih.
“Ganggu aja…”
Yuli yang duduk di depan langsung menoleh.
“Eh serius…”
“Apa?”
“Dari tadi Bambang nggak jahilin Yanti.”
Satu kelas langsung menoleh ke arah Bambang.
Bambang langsung panik.
“Heh! Jangan keras-keras!”
Dandang langsung menyipitkan mata curiga.
“Wahhh…”
“Apaan?”
“Kamu habis ngelakuin dosa ya?”
“Hah?!”
“Biasanya mulutmu kayak radio rusak…”
“Hahaha!”
Anak-anak mulai tertawa.
Bambang makin salah tingkah.
Sementara Yanti hanya bingung melihat tingkah temannya itu.
Jam pelajaran berlangsung seperti biasa.
Namun diam-diam…
Bambang terus melirik ke arah Yanti.
Di bawah meja kayunya…
tangannya menggenggam selembar kertas kecil yang sudah kusut karena diremas berkali-kali.
Ia tampak gugup luar biasa.
“Heh…” bisik Dandang.
“Apa lagi?”
“Itu apa di tanganmu?”
“Bukan apa-apa!”
“Surat ya?”
Bambang langsung menutup mulut Dandang cepat-cepat.
“Sssttt!”
Dandang langsung membelalak.
“WOOOOY!”
Yuli yang mendengar langsung mendekat.
“Surat apa?!”
“Bukan surat!”
“Bohong!”
“Serius!”
Namun wajah Bambang sudah merah sendiri.
Yuli langsung menyeringai jahil.
“Heh jangan-jangan…”
“Apa?”
“Kamu suka sama Yanti?”
BRUK!
Bambang langsung jatuh dari kursi karena kaget.
Satu kelas langsung tertawa keras.
“HHAHAHAHA!”
Bahkan Bu Guru Siti yang sedang menulis di papan sampai menoleh.
“Bambang!”
“Iya Bu!”
“Kamu kenapa jatuh?”
“Lantainya licin Bu…”
Padahal lantainya kering.
Satu kelas makin susah menahan tawa.
Jam istirahat tiba.
Anak-anak langsung berhamburan keluar kelas.
Namun Bambang masih duduk diam.
Tangannya berkeringat.
Dandang duduk di sampingnya sambil menahan senyum.
“Kamu serius mau kasih?”
Bambang mengangguk pelan.
“Takut…”
“Takut apa?”
“Nanti diketawain…”
Dandang tertawa kecil.
“Ya memang lucu sih…”
“Heh!”
“Tapi yaudah kasih aja…”
Bambang menarik napas panjang.
Lalu melihat ke arah halaman sekolah.
Yanti sedang duduk bersama Anita di bawah pohon mangga sambil makan bekal.
Rambutnya dikepang dua.
Pita merahnya sedikit miring.
Namun senyumnya…
membuat Bambang makin gugup.
“Heh…” kata Dandang pelan.
“Apa?”
“Kamu beneran suka ya?”
Bambang diam cukup lama.
Lalu menjawab lirih.
“Sedikit…”
Dandang langsung tertawa ngakak.
“Hahaha! Bambang jatuh cinta!”
“Diam!”
Hujan mulai turun pelan.
Anak-anak berlari berteduh di teras kelas.
Yanti masih duduk sambil memandangi air hujan jatuh di halaman sekolah.
“Aku suka hujan…” katanya pelan.
Anita tersenyum kecil.
“Kenapa?”
“Dingin…”
“Kalau aku takut petir…”
Tiba-tiba…
Bambang muncul dari belakang mereka.
Wajahnya tegang.
“Heh…”
Yanti menoleh.
“Apa?”
Bambang langsung menyodorkan kertas kecil.
“Ini…”
“Apa?”
“Pokoknya baca nanti…”
“Hah?”
Belum sempat Yanti bertanya lagi…
Bambang langsung kabur.
“Heh Bambang!” teriak Yanti bingung.
Dari kejauhan…
Dandang tertawa sambil memukul tiang teras.
“Hahaha! Pucat banget mukanya!”
Yuli langsung penasaran.
“Itu apa?!”
“Entahlah…”
“Coba buka!”
Yanti membuka lipatan kertas kecil itu perlahan.
Tulisan di dalamnya miring-miring dan berantakan.
Namun masih bisa dibaca.
“Yanti jangan marah ya.
Aku suka lihat kamu ketawa.
Jangan bilang siapa-siapa.
Dari orang rahasia.”
Suasana langsung hening.
Yanti membelalak.
Anita menutup mulut menahan tawa.
Yuli langsung teriak.
“WOOOOOO!”
Satu teras langsung menoleh.
“Apa?!”
“Surat cintaaaa!”
“HAAAAAAAA?!”
Anak-anak langsung heboh.
Bambang yang masih berdiri jauh langsung pucat.
“Heh jangan keras-keras!”
Dandang sampai jongkok karena terlalu keras tertawa.
“Hahaha! Orang rahasia katanya!”
Yuli langsung teriak lagi.
“Padahal tulisannya kayak cakar ayam Bambang!”
Satu sekolah langsung pecah tertawa.
Bambang langsung menutupi wajahnya sendiri.
“Maluuuu…”
Yanti sendiri masih memegang surat kecil itu.
Pipinya mulai merah.
“Aku nggak ngerti…”
Yuli langsung menggoda.
“Cieee…”
“Apaan sih!”
“Yanti disukai Bambang!”
Anita tertawa kecil.
“Sebenarnya lucu juga…”
Yanti langsung manyun.
“Lucu dari mana…”
Namun diam-diam…
ia tersenyum sendiri.
Untuk pertama kalinya…
ada anak laki-laki yang memberinya surat.
Meski tulisannya jelek.
Meski bahasanya aneh.
Tetapi entah kenapa…
surat kecil itu membuat jantung Yanti berdebar aneh.
Namun dari sudut teras sekolah…
Lila memperhatikan semuanya dengan wajah datar.
Matanya menatap surat di tangan Yanti.
Lalu menatap Bambang yang masih malu-malu.
“Huh…”
gumamnya pelan.
Yuli melihat ekspresi itu.
“Kamu kenapa?”
“Enggak…”
“Tapi mukamu jutek banget.”
Lila tersenyum tipis.
“Menurutku itu kekanak-kanakan.”
“Ya memang kita masih anak-anak…” jawab Dandang spontan.
Satu kelompok langsung tertawa.
Lila langsung kesal sendiri.
Hujan semakin deras.
Anak-anak duduk bergerombol di teras sekolah sambil mendengar suara hujan menghantam atap seng.
Bambang akhirnya memberanikan diri mendekat lagi.
“Heh…”
Yanti menoleh.
“Apa?”
“Suratnya…”
“Kenapa?”
“Jangan dibuang ya…”
Yanti menatap Bambang beberapa detik.
Lalu tersenyum kecil.
“Iya…”
Bambang langsung nyengir lebar.
Dandang langsung berbisik ke Yuli.
“Wah bahaya…”
“Kenapa?”
“Bambang resmi jadi penyair kampung.”
“Hahaha!”
Suasana kembali dipenuhi tawa kecil anak-anak desa yang masih polos.
Namun tak ada yang sadar…
bahwa surat kecil sederhana di hari hujan itu…
adalah awal dari kisah panjang tentang cinta…
yang kelak akan tumbuh semakin rumit seiring bertambahnya usia mereka.
BAB IX
LANGIT YANG KEHILANGAN
Hari-hari di rumah kecil keluarga Pak Salam biasanya selalu dipenuhi suara tawa. Suara Ima yang berlari kecil mengejar ayam di halaman, suara Bu Rosmiyati yang memanggil dari dapur, dan suara Yanti yang membaca pelajaran sekolah dengan lantang setiap malam.
Namun beberapa bulan terakhir, suasana itu mulai berubah.
Pak Salam yang biasanya paling kuat bekerja di sawah mulai sering batuk-batuk. Tubuhnya yang dulu tegap perlahan terlihat semakin kurus. Kadang saat pulang dari sawah, ia duduk lama di kursi bambu sambil menahan sesak napas.
Suatu sore, Yanti yang baru pulang sekolah melihat ayahnya duduk termenung di depan rumah.
“Pak… belum masuk?” tanya Yanti sambil melepas tas.
Pak Salam tersenyum kecil.
“Bapak cuma capek sedikit.”
“Tapi bapak pucat.”
“Ah, nanti juga sembuh.”
Yanti mendekat lalu duduk di samping ayahnya.
“Besok Yanti bantu di sawah ya?”
Pak Salam tertawa pelan.
“Anak kecil bantu apa?”
“Bantu nemenin bapak.”
Mata Pak Salam tampak berkaca-kaca mendengar jawaban itu.
“Makasih, Nduk.”
Dari dalam rumah, Bu Rosmiyati keluar membawa segelas teh hangat.
“Masuk dulu, Pak. Anginnya dingin.”
Pak Salam mengangguk pelan.
Namun malam itu, batuk Pak Salam semakin parah.
Suara batuknya terdengar panjang sampai membuat Ima terbangun.
“Ibu… bapak kenapa?” tanya Ima dengan mata setengah menangis.
Bu Rosmiyati mengusap kepala anak kecil itu.
“Bapak cuma sakit sedikit.”
“Tapi kok batuk terus…”
Yanti yang duduk di dekat ayahnya ikut cemas.
Pak Salam mencoba tersenyum meski napasnya terdengar berat.
“Bapak nggak apa-apa.”
Keesokan harinya, Pak Salam dibawa ke puskesmas desa.
Yanti berjalan di belakang sambil memegang tangan Ima erat-erat.
Sepanjang jalan, Yanti diam.
Ia belum pernah melihat ayahnya selemah itu.
Setelah diperiksa dokter, Pak Salam diminta banyak istirahat.
“Jangan terlalu capek bekerja dulu,” kata dokter.
Pak Salam hanya mengangguk.
Tetapi keadaan tidak kunjung membaik.
Hari demi hari, tubuhnya semakin lemah.
Suatu malam hujan turun deras mengguyur Desa Tegorejo.
Lampu minyak di rumah kecil mereka bergoyang tertiup angin.
Pak Salam terbaring di kamar dengan napas tersengal.
Yanti duduk di sampingnya sambil menggenggam tangan ayahnya.
“Pak…” suaranya gemetar.
“Iya, Nduk…”
“Bapak sembuh kan?”
Pak Salam memandang wajah anak sulungnya lama.
Ia tersenyum tipis.
“Yanti harus jadi anak pintar.”
Air mata Yanti langsung jatuh.
“Jangan ngomong begitu…”
“Kamu harus jaga ibu… jaga Ima juga.”
Yanti menggeleng kuat-kuat.
“Enggak! Bapak harus sembuh! Nanti nganter Yanti sekolah lagi…”
Bu Rosmiyati yang berdiri di dekat pintu langsung menutup mulutnya sambil menangis.
Ima yang masih kecil ikut menangis karena melihat semua orang menangis.
“Bapak jangan sakit…” katanya lirih.
Pak Salam mengangkat tangan pelan lalu mengusap kepala Ima.
“Ima anak baik ya…”
Malam semakin larut.
Hujan masih turun tanpa henti.
Tetangga mulai berdatangan setelah mendengar kondisi Pak Salam semakin buruk.
Suara doa terdengar pelan memenuhi rumah kecil itu.
Tak lama kemudian…
Napas Pak Salam mulai melemah.
Bu Rosmiyati langsung mendekat.
“Pak.…”
Yanti mengguncang tangan ayahnya perlahan.
“Pak… jangan tidur…”
Namun beberapa saat kemudian, tangan Pak Salam terkulai lemah.
Ruangan mendadak sunyi.
Hanya suara hujan dan tangis yang terdengar.
“Innalillahi wa innailaihi rojiun…” ucap salah satu tetangga pelan.
Bu Rosmiyati langsung memeluk tubuh suaminya sambil menangis keras.
“Pak… jangan tinggalin kami…”
Yanti ikut memeluk ayahnya.
“Pak… bangun Pak… Yanti belum bikin bapak bangga…”
Ima menangis ketakutan di sudut ruangan.
“Bapak… bapaaaaak…”
Malam itu rumah kecil mereka dipenuhi duka.
Tetangga perempuan membantu menenangkan Bu Rosmiyati.
Sementara para lelaki mulai menyiapkan segala keperluan pemakaman.
Yanti duduk diam di dekat jenazah ayahnya.
Matanya sembab.
Sesekali ia masih berharap ayahnya bangun dan tersenyum seperti biasa.
Tetapi semuanya telah berubah.
Menjelang subuh, jenazah Pak Salam dimandikan.
Yanti berdiri di balik pintu sambil menangis diam-diam.
Ia melihat tubuh ayahnya yang kini terbujur kaku.
Ayah yang dulu selalu menggendongnya saat kecil. Ayah yang selalu berjalan jauh demi membelikan buku tulis. Ayah yang tertawa paling keras setiap Yanti bercanda.
Kini hanya tinggal kenangan.
Saat kain kafan mulai dibungkuskan, Yanti tak kuat menahan tangis.
“Ibu…”
Bu Rosmiyati memeluk anaknya erat.
“Kita harus ikhlas…” katanya terbata-bata.
“Tapi Yanti masih mau sama bapak…”
“Ibu juga…”
Mereka menangis bersama.
Pagi harinya, warga desa mulai memenuhi rumah.
Suasana begitu sunyi meski banyak orang datang.
Beberapa ibu terlihat mengusap air mata.
Pak Salam dikenal sebagai orang baik di desa.
Ketika keranda jenazah diangkat, tangis Yanti pecah lagi.
“Pak… jangan pergi jauh…”
Ima memeluk kaki ibunya.
“Ibu… bapak mau ke mana?”
Bu Rosmiyati tak mampu langsung menjawab.
Air matanya terus mengalir.
“Bapak pergi sama Allah, Nak…”
“Bapak pulang lagi nggak?”
Pertanyaan polos itu membuat orang-orang di sekitar ikut menunduk haru.
Bu Rosmiyati memeluk Ima erat.
“Bapak sekarang tinggal di surga…”
Yanti berjalan di belakang keranda sambil menangis.
Langkah kecilnya terasa berat.
Jalan desa yang biasa dilewati bersama ayahnya kini terasa begitu asing.
Sesampainya di pemakaman desa, langit tampak mendung.
Angin bertiup pelan melewati pepohonan bambu.
Jenazah Pak Salam perlahan diturunkan ke liang lahat.
Yanti langsung menangis keras.
“Pak… Yanti belum sempat balas kebaikan bapak…”
Seorang tetangga menenangkan bahunya.
“Sabar ya, Nduk…”
Namun Yanti terus menangis.
Ia melihat tanah mulai ditimbunkan sedikit demi sedikit.
Setiap suara cangkul terasa seperti menghantam dadanya.
Ima berdiri memeluk ibunya sambil kebingungan.
“Ibu… kenapa bapak ditutup tanah?”
Bu Rosmiyati menangis sambil mencium kepala anak kecil itu.
“Karena semua orang nanti pulang kepada Allah…”
Setelah pemakaman selesai, orang-orang mulai pulang satu per satu.
Yanti masih berdiri di dekat makam ayahnya.
Angin menggerakkan ujung jilbab kecilnya.
“Pak…” bisiknya lirih.
“Aku bakal rajin sekolah…”
“Aku bakal jaga ibu sama Ima…”
“Jadi bapak tenang ya…”
Air matanya jatuh lagi.
Bu Rosmiyati mendekat lalu merangkul kedua anaknya.
Mereka bertiga berdiri di depan makam sederhana itu dalam diam.
Hari itu, langit Desa Tegorejo terasa berbeda.
Bagi Yanti, dunia tidak lagi sama.
Namun di tengah duka yang begitu dalam, ia mulai mengerti satu hal:
bahwa hidup harus tetap berjalan, meski hati kehilangan seseorang yang paling dicintai.
BAB X
MAS NUR DAN PANDANGAN PERTAMA
Waktu berjalan begitu cepat di Desa Tegorejo.
Musim demi musim berlalu.
Sawah-sawah tetap hijau seperti dulu. Suara ayam masih terdengar setiap pagi. Anak-anak kecil yang dulu berlarian tanpa sandal di jalan desa kini mulai tumbuh remaja.
Begitu juga dengan Yanti.
Anak perempuan yang dulu menangis di hari pertama masuk SD itu kini sudah lulus sekolah dasar. Seragam putih merahnya telah disimpan rapi di lemari kayu tua peninggalan ayahnya.
Kini…
ia akan memakai seragam putih biru.
Namun sejak Pak Salam meninggal beberapa tahun lalu, suasana rumah mereka tak pernah benar-benar sama lagi.
Rumah kecil itu masih berdiri sederhana di pinggir sawah. Tetapi kini tidak ada lagi suara tawa keras Pak Salam setiap pagi. Tidak ada lagi suara beliau menyetrika sambil bercanda.
Yang tersisa hanyalah kenangan.
Meski begitu, Bu Rosmiyati berusaha tetap kuat demi kedua anaknya.
Dan pagi itu…
langit Tegorejo tampak cerah menyambut hari pertama masuk SMP.
Di dalam kamar kecilnya, Yanti berdiri di depan cermin kusam sambil merapikan jilbab putih barunya. Tangannya tampak sedikit gemetar karena gugup.
Rambutnya kini mulai panjang.
Wajahnya semakin manis.
Tatapan matanya juga mulai berubah lebih dewasa.
Ia bukan lagi anak kecil yang suka mengejar Bambang sambil membawa sandal atau menangis karena kalah bermain gobak sodor.
Kini…
Yanti mulai tumbuh menjadi gadis remaja.
“Ibukkk…” panggilnya pelan.
“Iya?” sahut Bu Rosmiyati dari dapur.
“Jilbabku miring nggak?”
Bu Rosmiyati masuk sambil membawa sisir kecil. Ia mendekat lalu membetulkan bagian peniti di jilbab anaknya dengan hati-hati.
“Nah… sekarang cantik.”
“Beneran?”
“Iya.”
Yanti memperhatikan dirinya lagi di cermin.
Masih ada rasa tidak percaya dalam dirinya.
“Aku udah SMP ya, Bu…”
Bu Rosmiyati tersenyum tipis.
“Iya… bapakmu pasti bangga lihat kamu sekarang.”
Mendengar itu, wajah Yanti langsung sedikit berubah.
Ia diam sesaat.
Ada rasa rindu yang tiba-tiba datang.
Namun sebelum suasana menjadi sedih, suara Ima terdengar dari luar kamar.
“Kak Yantiiii!”
BRAK!
Anak kecil itu masuk sambil membawa pita rambut warna merah muda.
“Kakak cantik banget!”
Yanti langsung tertawa kecil.
“Ima bikin kaget aja.”
Ima memperhatikan kakaknya dari atas sampai bawah dengan mata berbinar.
“Kayak anak kota…”
“Apaan sih.”
“Beneran!”
Ima lalu mendekat sambil berbisik pelan.
“Nanti pasti banyak cowok suka.”
“Ihhh!” Yanti langsung melotot malu.
Bu Rosmiyati tertawa kecil melihat tingkah kedua anaknya.
“Ima jangan godain kakakmu.”
“Tapi emang cantik…”
Yanti langsung menutup muka dengan kedua tangan.
“Udah ah!”
Ima malah makin semangat menggoda.
“Nanti kalau ada yang suka jangan lupa bilang Ima.”
“Kamu ngerti apa sih?”
“Aku udah gede!” jawab Ima bangga.
“Gede dari mana? Kemarin masih takut ayam.”
“Itu beda!”
Mereka langsung tertawa bersama.
Hari pertama SMP terasa jauh berbeda dibanding SD.
Bangunan sekolah lebih besar.
Muridnya lebih banyak.
Dan suasananya terasa lebih asing.
Yanti berjalan pelan bersama Anita dan Yuli memasuki gerbang sekolah.
Tas mereka masih tampak baru.
Sepatu hitam mereka masih bersih mengilap.
“Ya ampun rame banget…” kata Anita gugup.
“Aku jadi takut…” tambah Yuli.
“Takut kenapa?” tanya Yanti.
“Katanya anak SMP suka galak.”
“Tuh lihat kakak kelasnya…” bisik Anita.
“Mukanya serem-serem.”
Yanti ikut menelan ludah.
Jujur saja, ia juga gugup.
Namun tiba-tiba—
“Heh minggirrr!”
BRUK!
Dandang menabrak mereka sambil berlari.
“Aduhhh!” teriak Yuli.
“Dandanggg!” bentak Anita.
Dandang malah tertawa keras.
“Hahaha! Biar semangat hari pertama!”
“Kamu tuh bikin kaget!”
“Kalau nggak kaget bukan Dandang namanya.”
Tak lama kemudian Bambang muncul sambil membawa tas di pundaknya.
Rambutnya masih sama berantakan seperti dulu.
Namun kini tubuhnya mulai tinggi dan suaranya sedikit lebih berat.
“Heh Yanti…”
“Apa?”
“Kamu gugup ya?”
“Enggak.”
“Bohong.”
“Serius.”
“Tanganmu gemetar tuh.”
Yanti langsung menyembunyikan tangannya cepat-cepat.
“Heh jangan lihat-lihat!”
Bambang tertawa kecil.
Untuk sesaat…
suasana terasa sama seperti masa SD dulu.
Masih ada candaan.
Masih ada keusilan.
Masih ada rasa nyaman karena tumbuh bersama sejak kecil.
Namun…
semuanya mulai berubah ketika seorang laki-laki berjalan melewati mereka.
Langkahnya tenang.
Seragamnya rapi.
Kulitnya sawo matang bersih.
Matanya teduh.
Anak laki-laki itu berjalan sambil membawa buku di dada.
Dan entah kenapa…
kehadirannya membuat beberapa siswi langsung memperhatikan.
“Eh…” bisik Yuli pelan.
“Apa?”
“Itu siapa?”
“Yang mana?”
“Yang lewat tadi…”
Anita ikut melirik.
“Oh…”
“Lumayan ganteng…”
Dandang langsung nyeletuk.
“Ah biasa aja.”
Namun Bambang ikut melirik sekilas.
Dan entah kenapa…
dadanya langsung terasa tidak nyaman.
Sementara Yanti…
diam.
Matanya mengikuti langkah anak laki-laki itu tanpa sadar.
Untuk pertama kalinya…
jantungnya berdegup aneh.
Di dalam kelas…
murid-murid baru mulai duduk mencari tempat.
Yanti duduk dekat jendela bersama Anita.
Sementara Yuli duduk tepat di belakang mereka.
Dandang dan Bambang duduk di pojok sambil bercanda seperti biasa.
Namun beberapa menit kemudian…
anak laki-laki tadi masuk kelas.
Dan ternyata…
ia sekelas dengan mereka.
“Heh…” bisik Yuli cepat.
“Itu lagi…”
Yanti pura-pura tidak peduli.
“Oh…”
Padahal diam-diam ia langsung salah tingkah sendiri.
Tak lama kemudian wali kelas masuk membawa buku absen.
“Selamat pagi anak-anak.”
“Pagiii Buuu…”
“Sebelum belajar, kita perkenalan dulu ya.”
Satu per satu murid mulai berdiri memperkenalkan diri.
Ada yang gugup.
Ada yang terlalu pelan.
Ada juga yang bikin satu kelas tertawa.
Hingga akhirnya giliran anak laki-laki tadi.
Ia berdiri tenang.
“Nama saya Mas Nur.”
Suaranya lembut dan tenang.
“Rumah saya di Dusun Karanganyar.”
“Senang berkenalan dengan semuanya.”
Beberapa siswi langsung saling pandang.
“Wah suaranya enak…”
“Kalem banget…”
Bambang langsung mendecih pelan.
“Halah…”
Dandang menyenggol lengannya.
“Kamu kenapa?”
“Biasa aja.”
“Cemburu ya?”
“Apaan!”
Namun matanya tetap melirik ke arah Mas Nur.
Tak lama kemudian giliran Yanti.
Ia berdiri perlahan sambil menggenggam ujung bajunya karena gugup.
“Nama saya Yanti…”
Belum selesai bicara—
tiba-tiba Bambang nyeletuk keras.
“Anak paling rajin sedunia!”
Satu kelas langsung tertawa.
Yanti langsung melotot.
“Bambang!”
Guru sampai ikut tersenyum.
“Wah berarti pintar ya?”
Yanti malu-malu.
“Biasa aja Bu…”
Namun saat duduk kembali…
tanpa sengaja matanya bertemu dengan Mas Nur.
Dan anak laki-laki itu…
tersenyum kecil padanya.
DEG.
Entah kenapa…
jantung Yanti langsung berdebar keras.
Ia cepat-cepat membuang muka.
Yuli yang melihat langsung menyeringai jahil.
“Heh…”
“Apa?”
“Kamu salting ya?”
“Apaan sih!”
“Hahaha!”
Pipi Yanti mulai memerah sendiri.
Jam istirahat tiba.
Kantin sekolah penuh sesak.
Suara anak-anak bercampur dengan aroma bakso dan gorengan hangat.
Yanti duduk bersama Anita dan Yuli sambil makan bakso.
Tiba-tiba…
sebuah bola plastik menggelinding ke kaki Yanti.
“Heh ambilin!” teriak Dandang dari lapangan.
Yanti mengambil bola itu.
Namun sebelum ia melempar—
Mas Nur datang lebih dulu.
“Biar saya aja.”
“Oh…”
Mas Nur tersenyum kecil lalu mengambil bola dari tangan Yanti.
“Terima kasih.”
“Iya…”
Suasana mendadak canggung.
Yanti jadi salah tingkah sendiri.
Mas Nur lalu menoleh sebentar.
“Kamu dulu SD Tegorejo ya?”
Yanti kaget.
“Kok tahu?”
“Saya pernah lihat waktu lomba cerdas cermat kecamatan.”
“Oh…”
“Kamu juara waktu itu kan?”
Yanti tersenyum malu.
“Iya…”
“Hebat.”
Pipi Yanti langsung memerah.
Sementara dari kejauhan…
Bambang memperhatikan semuanya dengan wajah datar.
Dandang melirik sahabatnya itu sambil menyeringai.
“Heh…”
“Apa?”
“Mukamu kayak ketelan biji salak.”
“Diamlah…”
“Kamu nggak suka ya?”
“Nggak suka apaan?”
“Mas Nur ngobrol sama Yanti.”
Bambang langsung berdiri cepat.
“Aku mau main bola.”
“Padahal bolanya udah berhenti dari tadi,” gumam Dandang sambil tertawa kecil.
Sore hari…
sepulang sekolah…
Yanti berjalan pelan di jalan desa bersama Anita dan Yuli.
Langit mulai berubah jingga.
Angin sore bertiup pelan melewati sawah.
Namun pikiran Yanti terasa kacau.
Bayangan senyum Mas Nur terus muncul di kepalanya.
“Yantiiii…” goda Yuli.
“Apa…”
“Kamu senyum-senyum sendiri.”
“Enggak.”
“Bohong.”
Anita ikut tertawa kecil.
“Kayaknya ada yang mulai suka seseorang…”
Yanti langsung panik.
“Eh nggak!”
“Tadi waktu Mas Nur ngomong mukamu merah.”
“Itu panas!”
“Padahal mendung…”
“Hahaha!”
Yanti langsung malu sendiri.
Sesampainya di rumah, Ima langsung menyambut di depan pintu.
“Kakak pulanggg!”
“Iya.”
“Gimana SMP?”
“Capek.”
“Terus ada cowok ganteng nggak?”
“IMAAA!”
Ima langsung lari sambil tertawa ngakak.
Bu Rosmiyati sampai geleng-geleng kepala dari dapur.
“Kamu ngajarnya apa sih, Ima?”
“Kan penasaran…”
Yanti cuma bisa menghela napas malu.
Namun diam-diam…
ia tersenyum sendiri.
Dan tanpa ia sadari…
hari itu menjadi awal dari sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Perasaan aneh.
Hangat.
Membingungkan.
Dan diam-diam membuatnya mulai menunggu hari esok datang lebih cepat.
Karena sejak hari itu…
nama Mas Nur perlahan mulai tinggal di dalam hatinya.
BAB XI
CINTA PERTAMA DI BANGKU SMP
Hari-hari di SMP mulai terasa lebih cepat bagi Yanti.
Entah kenapa…
ia jadi lebih semangat berangkat sekolah.
Kalau dulu alasannya hanya karena ingin belajar…
sekarang ada alasan lain yang diam-diam tumbuh di dalam hatinya.
Mas Nur.
Kakak kelas yang duduk di kelas tiga SMP.
Nama itu mulai sering muncul dalam pikirannya.
Saat belajar.
Saat makan.
Bahkan saat hendak tidur malam.
Dan itu membuat Yanti sendiri bingung.
Pagi itu…
langit Desa Tegorejo cerah setelah hujan semalaman.
Jalanan desa masih sedikit basah ketika Yanti berjalan menuju sekolah bersama Anita dan Yuli.
Seragam putih biru mereka tampak masih baru karena Yanti dan teman-temannya memang baru duduk di kelas satu SMP.
Namun sejak tadi…
Yuli terus memperhatikan wajah Yanti dengan senyum aneh.
“Heh…”
“Apa?” tanya Yanti curiga.
“Kamu berubah ya…”
“Berubah apa?”
“Sekarang kalau ke sekolah lebih lama dandannya.”
Yanti langsung melotot.
“Apaan sih!”
“Dulu rambutmu kayak sapu ijuk.”
“Heh!”
“Sekarang jilbabmu disetrika rapi.”
Anita ikut tertawa kecil.
“Dan sekarang pakai bedak.”
Pipi Yanti langsung merah.
“Ini bukan bedak!”
“Terus?”
“Bedak bayi…”
“Hahahaha!”
Yuli langsung ngakak sambil memegang perut.
“Ya tetap aja bedak!”
Yanti langsung mengejar mereka sambil malu sendiri.
“Ih kalian nyebelin!”
Namun diam-diam…
ia memang mulai lebih memperhatikan penampilannya.
Semenjak sering bertemu Mas Nur di sekolah.
Sesampainya di sekolah…
suasana halaman SMP Tegorejo sudah ramai.
Anak-anak kelas satu masih tampak kikuk dan malu-malu.
Sementara kakak kelas berjalan santai seolah sudah menguasai sekolah itu sejak lama.
“Heh lihat…” bisik Anita pelan.
“Itu kakak kelas kelas tiga.”
Yanti ikut melirik sekilas.
Dan tanpa sadar…
matanya langsung mencari satu orang.
Mas Nur.
Tak lama kemudian…
ia melihat sosok itu berjalan di koridor lantai depan.
Seragamnya rapi seperti biasa.
Tas hitam tergantung di bahunya.
Beberapa adik kelas perempuan tampak diam-diam memperhatikan saat Mas Nur lewat.
“Ya ampun…” bisik Yuli.
“Kalem banget ya dia.”
Anita mengangguk.
“Pantes banyak yang suka.”
Yanti pura-pura tidak peduli.
“Oh…”
Padahal diam-diam…
jantungnya mulai berdegup lagi.
Di dalam kelas…
suasana masih ramai seperti biasa.
Beberapa anak laki-laki bermain lempar kertas.
Sebagian sibuk menyalin PR pagi-pagi.
Dandang berdiri di atas kursi sambil pura-pura jadi penyiar radio.
“Selamat pagi warga kelas satu B!”
“Hahaha!”
“Hari ini cuaca diperkirakan cerah…”
“Namun hati Bambang mendung…”
Satu kelas langsung menoleh ke arah Bambang.
“Heh!” bentak Bambang.
Dandang tertawa makin keras.
“Karena seseorang sekarang sering lihat kakak kelas!”
“HOOOOOO!”
Kelas langsung heboh.
Yanti yang baru masuk langsung salah tingkah.
“Apaan sih kalian…”
Bambang langsung melempar gulungan kertas ke arah Dandang.
“Diam nggak sih!”
Namun Dandang malah makin semangat.
“Wah ada yang sensitif!”
“Hahaha!”
Yanti buru-buru duduk sambil menahan malu.
Jam istirahat tiba.
Seperti beberapa hari terakhir…
Yanti diam-diam lebih sering keluar kelas saat jam istirahat.
Alasannya sederhana.
Ia berharap bisa bertemu Mas Nur.
Meski hanya melihat sekilas.
Hari itu Yanti sedang membeli es lilin di kantin bersama Anita dan Yuli ketika tiba-tiba—
“Yanti.”
Suara itu membuat Yanti langsung menoleh cepat.
Dan benar saja.
Mas Nur berdiri tidak jauh dari mereka sambil membawa buku.
Yuli langsung melirik Anita sambil menahan senyum.
“Hai…” jawab Yanti pelan.
“Kamu kelas satu B kan?”
“Iya.”
“Udah mulai betah di SMP?”
Yanti mengangguk kecil.
“Lumayan…”
Mas Nur tersenyum hangat.
“Kalau ada apa-apa jangan takut tanya kakak kelas.”
“Iya…”
Yanti langsung salah tingkah sendiri.
Anita dan Yuli pura-pura sibuk minum es supaya tidak tertawa.
Mas Nur lalu menatap buku di tangan Yanti.
“Itu pelajaran Matematika?”
“Iya…”
“Kamu suka Matematika?”
“Suka sih…”
“Bagus. Dulu aku juga suka.”
Yanti diam-diam senang mendengar obrolan sederhana itu.
Karena baginya…
bicara beberapa menit dengan Mas Nur saja sudah cukup membuat harinya terasa berbeda.
Namun dari kejauhan…
Bambang memperhatikan semuanya sambil makan cilok.
Wajahnya tampak datar.
Dandang yang berdiri di sampingnya langsung menyenggol pelan.
“Heh…”
“Apa?”
“Kamu kenapa?”
“Kenapa apaan?”
“Itu Yanti ngobrol sama Mas Nur.”
Bambang pura-pura cuek.
“Ya terus?”
“Cemburu?”
“Najis.”
“Hahaha!”
Dandang tertawa keras.
“Kalau nggak cemburu kenapa mukamu kayak ketelan cabe?”
Bambang langsung manyun.
Padahal dalam hati…
ia memang merasa tidak nyaman.
Sejak kecil Yanti selalu dekat dengan mereka.
Tapi sekarang…
perhatian Yanti mulai berubah.
Beberapa hari kemudian…
sekolah mengadakan kerja bakti bersama.
Anak kelas satu diminta membersihkan taman depan.
Sedangkan kakak kelas membantu mengecat pagar sekolah.
Yanti sedang menyapu daun-daun kering ketika tiba-tiba angin meniup beberapa kertas tugasnya sampai berhamburan.
“Eh!”
Kertas-kertas itu beterbangan ke halaman.
Yanti langsung panik mengejarnya.
Namun seseorang lebih dulu membantu memungut satu per satu.
“Ini punya kamu?”
Yanti langsung berhenti.
Mas Nur.
“Iya… makasih.”
Mas Nur menyerahkan kertas itu sambil tersenyum kecil.
“Kamu ceroboh ya.”
Yanti langsung malu.
“Hehe…”
“Tapi tulisanmu rapi.”
“Ah biasa aja.”
“Serius.”
Pipi Yanti mulai memerah lagi.
Dari kejauhan, Yuli yang melihat langsung menahan tawa.
“Heh lihat…”
“Apa?”
“Yanti salting lagi.”
Anita ikut tertawa kecil.
“Udah parah itu.”
Hari-hari berlalu semakin cepat.
Dan tanpa disadari…
Yanti mulai hafal kebiasaan Mas Nur.
Ia tahu Mas Nur sering duduk di perpustakaan saat jam kosong.
Ia tahu kakak kelas itu suka membaca buku sejarah.
Ia tahu Mas Nur selalu datang pagi.
Dan ia tahu…
senyum Mas Nur selalu berhasil membuat jantungnya kacau.
Suatu sore…
hujan turun deras saat sekolah hampir selesai.
Anak-anak berlarian mencari tempat berteduh.
Yanti berdiri sendirian di teras kelas sambil memeluk tasnya.
Anita dan Yuli sudah dijemput lebih dulu.
Suara hujan terdengar keras di atap sekolah.
“Yanti…”
Ia menoleh.
Ternyata Mas Nur.
“Kamu belum pulang?”
“Belum…”
“Hujannya deres banget.”
Mas Nur lalu membuka tasnya dan mengeluarkan payung biru tua.
“Ayo bareng sampai pertigaan desa.”
Yanti langsung gugup.
“Hah?”
“Rumahmu arah Tegorejo kan?”
“Iya…”
“Aku lewat situ juga.”
Yanti diam beberapa detik.
Lalu mengangguk pelan.
“Yaudah…”
Mereka berjalan berdampingan di bawah payung kecil.
Jalan desa tampak basah.
Udara terasa dingin.
Dan entah kenapa…
suasana terasa sangat berbeda.
Canggung.
Namun hangat.
“Yanti…”
“Iya?”
“Kamu suka hujan?”
Yanti tersenyum kecil.
“Suka.”
“Kenapa?”
“Karena hujan bikin dunia terasa tenang.”
Mas Nur memandang jalan di depan sambil tersenyum tipis.
“Kamu unik ya.”
“Unik gimana?”
“Cara mikirmu beda.”
Yanti menunduk malu.
Hatinya terasa aneh.
Untuk beberapa saat…
mereka berjalan dalam diam.
Hanya suara hujan yang menemani.
Lalu tiba-tiba…
Mas Nur berkata pelan.
“Aku senang kenal kamu.”
Langkah Yanti langsung melambat sedikit.
Jantungnya berdebar keras.
Pipinya terasa panas.
Dan saat itu…
Yanti sadar.
Ia benar-benar mulai jatuh cinta.
Cinta pertama.
Yang datang sederhana.
Di bangku SMP.
Saat ia masih menjadi murid kelas satu…
dan Mas Nur adalah kakak kelas kelas tiga yang diam-diam mulai mengisi hatinya.
BAB XII
KARATE, TEMAN BARU, DAN JANJI PADA IBU
Hari-hari Yanti di SMP mulai terasa semakin sibuk.
Selain pelajaran sekolah yang semakin sulit, ia juga mulai mengenal banyak hal baru di luar kelas.
Dan semua itu bermula pada suatu Minggu pagi.
Pagi itu matahari baru saja muncul di balik sawah Desa Tegorejo. Embun masih menempel di rumput-rumput halaman sekolah ketika Yanti berjalan pelan sambil membawa botol minum kecil.
Ia mengenakan baju olahraga dan celana training biru tua.
Rambutnya diikat rapi.
Di sampingnya, Ima berjalan sambil terus bertanya.
“Kak… karate itu berantem ya?”
Yanti tertawa kecil.
“Bukan.”
“Terus?”
“Olahraga.”
“Tapi kok mukul-mukul?”
“Itu latihan.”
Ima tampak berpikir serius.
“Kalau aku ikut boleh nggak?”
“Kamu masih kecil.”
“Huh… kakak jahat.”
Yanti langsung mencubit pipi adiknya pelan.
“Kalau udah gede ikut aja.”
Mereka tertawa bersama.
Beberapa hari sebelumnya, sekolah mereka membuka kegiatan ekstrakurikuler karate.
Latihannya dilaksanakan setiap Minggu pagi dan Rabu sore di aula belakang sekolah.
Awalnya Yanti tidak terlalu tertarik.
Namun Anita dan Yuli terus membujuk.
“Ayo ikut…” kata Anita.
“Biar keren,” tambah Yuli.
“Lagian katanya banyak kakak kelas ikut.”
Yanti langsung pura-pura cuek.
“Terus kenapa?”
Yuli menyeringai.
“Siapa tahu Mas Nur ikut.”
“Heh!”
Pipi Yanti langsung merah.
Dan akhirnya…
ia benar-benar mendaftar.
Hari pertama latihan karate terasa sangat ramai.
Anak-anak dari berbagai kelas berkumpul di aula sekolah.
Ada yang masih malu-malu. Ada yang terlalu semangat. Ada juga yang cuma ikut karena ingin punya banyak teman.
Yanti berdiri di barisan belakang bersama Anita dan Yuli.
“Heh…” bisik Yuli.
“Apa?”
“Lihat depan.”
Yanti menoleh.
Di depan aula berdiri dua orang pelatih karate.
Yang pertama bertubuh tinggi besar dengan kumis tebal.
Yang kedua lebih muda dan tampak tenang.
Seorang kakak kelas langsung berbisik.
“Itu Sensei Sambas.”
“Yang sebelahnya Sensei Anton.”
Tak lama kemudian Sensei Sambas maju ke depan.
Suaranya keras dan tegas.
“Karate bukan buat cari musuh!”
Suasana aula langsung diam.
“Karate buat melatih disiplin!”
“Melatih hati!”
“Melatih tanggung jawab!”
Semua murid langsung memperhatikan serius.
Sensei Anton lalu melanjutkan dengan suara lebih tenang.
“Kalau ikut karate harus saling menghormati.”
“Tidak boleh sombong.”
“Tidak boleh memakai ilmu untuk menyakiti orang.”
Yanti mendengarkan dengan serius.
Entah kenapa…
ia mulai tertarik.
Latihan pertama dimulai dengan pemanasan.
Dan di situlah kekacauan terjadi.
“SATU!” teriak Sensei Sambas.
“DUA!”
“LARI KELILING AULA!”
“Astaga…” keluh Dandang.
Bambang langsung tertawa.
“Baru juga mulai udah mau pingsan.”
“Heh kamu juga ngos-ngosan!”
Yanti yang sedang lari malah tertawa melihat mereka.
Namun beberapa menit kemudian…
ia sendiri mulai kelelahan.
“Kakiku mau copot…” bisiknya pada Anita.
“Baru awal…” jawab Anita sambil terengah.
Di tengah latihan itu, Yanti mulai mengenal banyak teman baru.
Ada Aziz.
Anak kelas dua yang suka bercanda dan paling ribut saat latihan.
“Kalau push up aku bisa seratus!” katanya sombong.
Namun baru sepuluh kali sudah roboh.
“Hahaha!”
Satu aula langsung tertawa.
Lalu ada Agus.
Tubuhnya kecil tapi gerakannya cepat.
Ia paling rajin membantu membereskan matras.
“Kalau latihan jangan malas,” katanya serius.
Dandang langsung nyeletuk.
“Ini anak kayak bapak-bapak.”
Agus cuma tertawa kecil.
Ada juga Karwan.
Anak pendiam yang jarang bicara.
Namun tendangannya paling kuat.
Sekali latihan…
suara gedebuknya bikin semua orang menoleh.
“Buset…” kata Bambang.
“Kakinya dari besi apa?”
Karwan cuma nyengir malu.
Minggu demi minggu berlalu.
Yanti mulai menikmati latihan karate.
Setiap Minggu pagi ia bangun lebih awal.
Sementara setiap Rabu sore ia langsung menuju aula sepulang sekolah.
Tubuhnya mulai lebih kuat.
Ia juga mulai lebih percaya diri.
Namun yang paling membuat Yanti senang adalah…
lingkar pertemanannya semakin luas.
Ia mulai mengenal banyak orang dari sekolah lain.
Karena ternyata latihan gabungan sering diadakan di kecamatan.
Dan di sanalah Yanti bertemu Riyadi.
Hari itu latihan gabungan dilaksanakan di gedung olahraga kecamatan.
Pesertanya datang dari berbagai SMP.
Suasananya jauh lebih ramai dibanding latihan biasa.
Yanti tampak gugup.
“Banyak banget orang…” bisiknya.
Yuli langsung menyenggol.
“Jangan malu-malu.”
Di tengah keramaian itu, seorang laki-laki menghampiri mereka.
Tubuhnya tinggi.
Kulitnya sedikit gelap karena sering latihan di luar.
Namun wajahnya terlihat ramah.
“Heh kalian dari SMP Tegorejo ya?”
“Iya,” jawab Bambang.
“Aku Riyadi.”
“Dari SMP Karanganyar.”
Ia tersenyum ramah pada semuanya.
Termasuk pada Yanti.
“Namamu siapa?”
“Yanti.”
“Oh…”
“Kamu yang tadi gerakannya bagus waktu latihan kuda-kuda ya?”
Yanti langsung salah tingkah.
“Ah nggak…”
Riyadi tertawa kecil.
“Serius.”
Sejak hari itu…
Riyadi mulai sering ikut latihan gabungan bersama mereka.
Orangnya ramah.
Sopan.
Dan paling sering membantu adik-adik latihan.
Suatu sore setelah latihan…
Riyadi mengantar Yanti sampai dekat jalan desa.
Saat itulah Bu Rosmiyati kebetulan melihat mereka.
Awalnya Yanti langsung panik.
“Waduh…” bisiknya.
Namun Riyadi langsung menunduk sopan.
“Assalamualaikum, Bu.”
“Waalaikumsalam.”
“Kamu teman Yanti?”
“Iya Bu.”
“Sama-sama latihan karate.”
Bu Rosmiyati memperhatikan Riyadi beberapa saat.
Anak itu tampak sopan.
Cara bicaranya juga halus.
“Masuk dulu.”
“Eh nggak usah Bu…”
“Nggak apa-apa.”
Akhirnya Riyadi masuk sebentar.
Ima langsung muncul dari dapur sambil penasaran.
“Heh siapa ini?”
“Teman kakak.”
“Cowok?”
“Ima!”
Riyadi langsung tertawa.
“Adiknya lucu.”
Ima malah mendekat.
“Namanya siapa?”
“Riyadi.”
“Oh…”
“Kalau kak Yanti nakal bilang ya.”
“Heh!”
Semua langsung tertawa.
Malam harinya…
setelah Riyadi pulang…
Bu Rosmiyati memanggil Yanti pelan.
“Yanti…”
“Iya Bu?”
“Kamu sekarang mulai besar.”
Yanti diam.
“Berteman boleh.”
“Tapi jangan macam-macam.”
“Iya Bu…”
Bu Rosmiyati lalu berkata pelan.
“Ibu senang kalau ada teman laki-laki yang bisa jaga kamu seperti kakak.”
“Tapi ibu nggak mau kamu pacaran dulu.”
Yanti langsung menunduk.
“Masih sekolah…” lanjut ibunya.
“Fokus belajar dulu.”
“Iya Bu.”
“Janji?”
Yanti mengangguk pelan.
“Janji.”
Sejak malam itu…
Bu Rosmiyati mulai menganggap Riyadi seperti kakak angkat bagi Yanti.
Dan Riyadi sendiri benar-benar menjaga sikap.
Ia sering mengingatkan Yanti belajar.
Kadang membantu mengantar kalau latihan terlalu sore.
Dan yang paling sering ia katakan adalah:
“Jangan pacaran dulu.”
Yanti selalu manyun mendengarnya.
“Semua orang ngomong begitu…”
Riyadi tertawa.
“Karena kamu masih kecil.”
Selain Riyadi…
Yanti juga mulai dekat dengan beberapa teman baru dari luar sekolah.
Ada Pincuk.
Anak paling jahil saat latihan.
Kerjanya mengganggu orang pemanasan.
“Heh fokus!” bentak Sensei Sambas.
“Siap Sensei!”
Namun lima menit kemudian ia bercanda lagi.
Lalu ada Munasro.
Tubuhnya besar dan suaranya keras.
Tetapi sebenarnya hatinya lembut.
Ia paling takut kalau Sensei Sambas marah.
“Kalau Sensei Sambas lihat kita ngobrol habis kita,” bisiknya suatu hari.
Dan benar saja.
“HEH! LATIHAN ATAU ARISAN?!”
Satu aula langsung diam.
“Hahaha!”
Hari-hari karate menjadi warna baru dalam hidup Yanti.
Ia belajar disiplin.
Belajar menjaga diri.
Belajar mengenal banyak orang.
Dan perlahan…
ia mulai mengerti bahwa dunia ternyata jauh lebih luas dari yang ia bayangkan.
Di antara latihan Minggu pagi yang melelahkan… Di antara sore-sore Rabu yang penuh teriakan semangat… Di antara tawa teman-teman baru…
masa remaja Yanti mulai tumbuh semakin berwarna.
Dan tanpa ia sadari…
semua pertemuan itu kelak akan menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
BAB XIII
CEMBURU DI BALIK TAWA
Sejak pulang bersama di bawah payung sore itu…
hubungan Yanti dan Mas Nur mulai terasa semakin dekat.
Memang belum pernah ada kata cinta yang diucapkan secara langsung.
Belum ada status pacaran.
Belum ada janji apa pun.
Namun hampir semua orang mulai bisa melihat perubahan kecil di antara mereka.
Cara Mas Nur selalu mencari Yanti saat jam istirahat.
Cara Yanti tanpa sadar tersenyum saat melihat kakak kelas itu datang.
Dan tentu saja…
itu tidak pernah luput dari perhatian teman-teman mereka.
Hari Minggu pagi itu aula kecamatan kembali ramai oleh latihan karate gabungan.
Suara teriakan semangat memenuhi ruangan.
“KIHON!”
“SATU!”
“DUA!”
“TIGA!”
Sensei Sambas berdiri di depan dengan wajah galak seperti biasa.
Sementara Sensei Anton berjalan mengelilingi barisan memperhatikan gerakan murid-muridnya.
Yanti berdiri di barisan tengah bersama Anita dan Yuli.
Keringat mulai membasahi dahinya.
Namun wajahnya tampak cerah.
Karena sejak ikut karate…
dunianya terasa jauh lebih ramai.
Ia punya banyak teman baru.
Ada Aziz yang selalu paling ribut.
Agus yang terlalu serius.
Karwan yang pendiam tapi kuat.
Pincuk yang kerjaannya bercanda.
Dan Munasro yang suaranya paling keras saat kiai.
“Heh Sinok!”
Yanti langsung menoleh.
Riyadi melambaikan tangan dari samping aula sambil membawa dua botol air mineral.
Yanti langsung berjalan mendekat.
“Apaan manggil Sinok terus…”
Riyadi tertawa kecil.
“Ya cocok.”
“Apanya yang cocok?”
“Kamu kan anak desa baik-baik.”
“Ih apaan sih…”
Riyadi menyerahkan botol minum itu.
“Nih.”
“Thanks… Kakang.”
Sejak beberapa bulan terakhir…
Yanti mulai memanggil Riyadi dengan sebutan “Kakang”.
Awalnya karena Bu Rosmiyati memang meminta Riyadi menjaga Yanti seperti adik sendiri.
Dan Riyadi benar-benar menjalankan itu.
Kalau latihan pulang terlalu sore, ia sering mengantar.
Kalau Yanti mulai malas belajar, ia yang cerewet mengingatkan.
Bahkan kadang Riyadi lebih galak dari ibunya sendiri.
“Heh Sinok…”
“Apa lagi?”
“Jangan dekat-dekat cowok aneh.”
Yanti langsung melotot.
“Semua cowok menurut Kakang aneh.”
“Ya memang.”
“Mas Nur juga?”
Riyadi langsung diam beberapa detik.
Lalu menyipitkan mata.
“Hm…”
Yanti langsung tertawa.
“Nah kan.”
“Kamu mulai berani sekarang.”
“Hahaha!”
Di sudut aula…
Bambang memperhatikan mereka dari jauh.
Wajahnya langsung berubah datar.
Dandang yang sedang duduk sambil makan gorengan langsung menyenggolnya.
“Heh…”
“Apa?”
“Sekarang ada Kakang Riyadi juga.”
“Terus?”
“Sainganmu banyak.”
Bambang langsung mendecih pelan.
“Siapa juga saingan.”
“Halah.”
Dandang tertawa kecil.
Padahal ia tahu…
Bambang mulai merasa Yanti semakin jauh darinya.
Dulu…
Yanti selalu bermain bersama mereka.
Sekarang…
Yanti punya dunia baru.
Punya banyak teman baru.
Dan itu membuat Bambang diam-diam tidak nyaman.
Hari Senin pagi…
kelas satu B kembali ribut seperti biasa.
Dandang sedang menggambar wajah Bambang di papan tulis dengan tambahan kumis tebal dan telinga monyet.
“Heh itu siapa?!” bentak Bambang.
Dandang pura-pura berpikir.
“Hm… mirip hansip ronda.”
Satu kelas langsung tertawa pecah.
“Hahahaha!”
“Kurang ajar!”
Bambang langsung mengejar Dandang keliling kelas.
Sementara Yuli sibuk bergosip dengan Anita.
“Heh serius…”
“Apa?”
“Semalam Mas Nur lewat depan rumah Yanti.”
Anita langsung membelalak.
“Hah?!”
“Iya!”
“Ngapain?”
“Nggak tahu…”
Yuli menurunkan suara.
“Tapi Yanti senyum-senyum terus pagi ini.”
Anita langsung melirik Yanti yang sedang membuka buku sambil tersenyum sendiri.
“Hahaha iya juga…”
Yanti langsung sadar diperhatikan.
“Heh kenapa lihat-lihat?”
“Cieeeee…”
“Apaan sih!”
“Orang lagi jatuh cinta beda auranya.”
Pipi Yanti langsung merah.
Namun belum sempat ia membalas—
Mas Nur lewat di depan kelas.
Dan seperti biasa…
matanya langsung mencari Yanti.
Saat mata mereka bertemu…
Mas Nur tersenyum kecil.
DEG.
Yanti langsung salah fokus.
Pensilnya jatuh.
BRUK.
“Aduh!”
Bambang yang terkena pensil langsung melotot.
“Kalau lihat orang jangan sambil mabuk.”
Satu kelas langsung tertawa lagi.
Jam olahraga hari itu berlangsung di lapangan belakang sekolah.
Matahari cukup terik.
Anak laki-laki bermain sepak bola.
Sementara anak perempuan bermain voli.
Yanti tertawa lepas bersama Anita dan Yuli.
Rambut-rambut kecil di dekat dahinya basah oleh keringat.
Dan entah kenapa…
Mas Nur beberapa kali diam-diam memperhatikannya dari lapangan bola.
“Heh Mas Nur!” teriak Eko.
“Hah?”
“Konsentrasi!”
BUGH!
Bola langsung mengenai kepala Mas Nur.
“Hahahaha!”
Satu lapangan langsung pecah tertawa.
Mas Nur memegang kepalanya sambil nyengir malu.
Dari lapangan voli…
Yanti ikut tertawa kecil.
Dan Mas Nur malah makin salah tingkah.
Namun siang itu…
sesuatu mulai berubah.
Saat jam istirahat…
seorang siswi baru masuk ke kelas mereka.
Namanya Rina.
Anak pindahan dari kota kecamatan.
Kulitnya putih bersih.
Rambutnya lurus.
Dan cara bicaranya lebih modern dibanding anak-anak desa lain.
“Selamat siang…”
Beberapa anak laki-laki langsung melirik.
“Cantik juga…”
“Anak kota tuh pasti.”
Yuli langsung mendekati Yanti.
“Heh…”
“Apa?”
“Saingan baru.”
“Hah?”
“Itu tuh…”
Yanti melirik sekilas.
“Oh…”
Namun beberapa menit kemudian…
Mas Nur membantu membawakan buku Rina ke bangkunya.
Dan entah kenapa…
dada Yanti langsung terasa aneh.
“Heh…” goda Anita.
“Kamu kenapa?”
“Enggak.”
“Tapi mukamu berubah.”
“Biasa aja.”
Padahal jelas tidak biasa.
Untuk pertama kalinya…
Yanti merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Cemburu.
Sore harinya latihan karate kembali diadakan.
Namun sejak tadi Yanti tampak diam.
Bahkan saat Aziz bercanda…
ia cuma tersenyum kecil.
Riyadi yang sedang membantu membereskan matras langsung sadar.
“Heh Sinok.”
“Apa…”
“Kok muka kamu kayak habis kehilangan ayam?”
Yanti langsung manyun.
“Nggak apa-apa.”
“Kamu kalau bohong jelek.”
Yanti akhirnya menghela napas panjang.
“Kakang…”
“Hm?”
“Kalau ada cowok dekat sama cewek lain tuh normal nggak?”
Riyadi langsung menatap Yanti beberapa detik.
Lalu tertawa kecil.
“Oalah…”
“Apa sih…”
“Kamu cemburu toh.”
Pipi Yanti langsung merah.
“Enggak!”
“Mas Nur?”
Yanti langsung diam.
Riyadi tertawa makin lebar.
“Astaga Sinok…”
“Udah gede ternyata.”
“Ih Kakang!”
Riyadi lalu duduk di samping Yanti.
“Denger ya…”
“Apa?”
“Kalau suka sama orang jangan kebanyakan cemburu.”
“Kenapa?”
“Nanti capek sendiri.”
Yanti menunduk pelan.
“Tapi aku nggak suka lihat dia dekat sama Rina…”
Riyadi mengusap kepala Yanti pelan seperti kakak sendiri.
“Itu tandanya kamu sayang.”
Yanti langsung makin malu.
Malam harinya…
Yanti duduk di teras rumah sambil memandangi langit.
Angin malam terasa dingin.
Namun pikirannya masih kacau.
Tiba-tiba suara langkah terdengar dari depan rumah.
“Yanti…”
Ia langsung menoleh.
Dan jantungnya kembali berdegup cepat.
Mas Nur.
“Kamu?” tanya Yanti gugup.
Mas Nur tersenyum kecil sambil mengangkat sebuah buku.
“Mau balikin catatan.”
“Oh…”
Yanti menerima buku itu pelan.
Namun wajahnya masih sedikit jutek.
Mas Nur langsung sadar.
“Kamu marah?”
“Enggak.”
“Bohong.”
“Serius.”
“Kalau serius kenapa mukamu kayak mau mukul orang?”
Yanti hampir tertawa.
Namun ia tetap pura-pura kesal.
“Ya memang nggak kenapa-kenapa.”
Mas Nur duduk di kursi bambu teras.
“Kamu cemburu ya?”
DEG.
Yanti langsung panik.
“Hah?!”
Mas Nur malah tertawa kecil.
“Berarti benar.”
“Enggak!”
“Terus kenapa jutek?”
Yanti menggigit bibir.
Lalu akhirnya berkata pelan—
“Aku nggak suka lihat kamu dekat sama Rina.”
Suasana langsung hening beberapa detik.
Mas Nur memandang Yanti lama.
Lalu tersenyum hangat.
“Kenapa?”
“Ya… nggak suka aja.”
“Karena?”
Yanti makin salah tingkah.
“Aku nggak tahu…”
Mas Nur tertawa kecil.
Dan senyum itu…
kembali membuat jantung Yanti kacau.
“Yanti…”
“Iya?”
“Aku cuma bantu dia cari kelas.”
“Cuma itu?”
“Iya.”
“Serius?”
“Serius.”
Yanti perlahan menatap Mas Nur.
Dan untuk pertama kalinya…
Mas Nur berkata sangat pelan—
“Aku lebih senang ngobrol sama kamu.”
Kalimat sederhana itu…
langsung membuat wajah Yanti panas.
Ia menunduk sambil tersenyum malu.
Dari balik jendela rumah…
Bu Rosmiyati memperhatikan semuanya sambil menghela napas kecil.
“Ya Allah…”
gumamnya pelan.
“Anak gadisku mulai besar…”
Sementara di ujung jalan desa…
Bambang berdiri diam sejak tadi.
Matanya menatap Yanti dan Mas Nur yang tertawa bersama di teras rumah.
Tangannya mengepal pelan.
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya…
rasa cemburu tumbuh semakin dalam di hati Bambang.
Perasaan yang perlahan…
akan membuat persahabatan mereka menjadi jauh lebih rumit dibanding sebelumnya.
BAB XIV
JARAK, WAKTU, DAN PERTEMUAN-PERTEMUAN KECIL
Waktu terus berjalan di Desa Tegorejo.
Musim hujan berganti kemarau.
Sawah yang dulu hijau perlahan menguning.
Dan tanpa terasa…
tahun ajaran baru kembali dimulai.
Mas Nur akhirnya lulus dari SMP Pegandon.
Hari perpisahan itu berlangsung sederhana di aula sekolah.
Semua murid memakai seragam terbaik mereka.
Beberapa tertawa bahagia.
Sebagian diam-diam menangis karena harus berpisah.
Dan Yanti…
sejak pagi sudah murung sendiri.
Yuli yang duduk di sampingnya langsung menyenggol pelan.
“Heh…”
“Apa…”
“Kamu sedih ya?”
“Biasa aja.”
“Bohong.”
Yanti hanya diam sambil menunduk.
Matanya beberapa kali diam-diam mencari Mas Nur di keramaian.
Hari itu Mas Nur tampak berbeda.
Seragamnya rapi.
Rambutnya dipotong lebih pendek.
Dan entah kenapa…
ia terlihat lebih dewasa dibanding biasanya.
Beberapa adik kelas perempuan tampak sibuk meminta tanda tangan kenang-kenangan.
Namun perhatian Yanti hanya tertuju pada satu hal:
setelah hari ini…
Mas Nur tidak akan ada lagi di sekolah itu.
Setelah acara selesai…
halaman sekolah mulai sepi.
Anak-anak sibuk berfoto bersama teman-temannya.
Sementara Yanti berdiri sendirian dekat taman sekolah.
Angin sore meniup pelan ujung jilbabnya.
“Yanti…”
Ia langsung menoleh cepat.
Mas Nur berjalan mendekat sambil tersenyum kecil.
“Kok sendirian?”
“Enggak apa-apa…”
Mas Nur berdiri di sampingnya.
Suasana mendadak canggung.
Untuk pertama kalinya…
Yanti benar-benar merasa takut kehilangan seseorang.
“Kamu jadi masuk STM ya?” tanyanya pelan.
Mas Nur mengangguk.
“Iya.”
“STM Kendal.”
“Oh…”
“Lumayan jauh.”
“Iya…”
Yanti menunduk.
Dadanya terasa sesak aneh.
Mas Nur lalu tertawa kecil.
“Kamu sedih?”
“Enggak.”
“Bohong.”
Yanti langsung manyun.
“Semua orang bilang aku bohong terus.”
“Karena memang gampang ketahuan.”
Yanti akhirnya ikut tersenyum kecil.
Mas Nur memandangnya beberapa detik.
“Yanti…”
“Hm?”
“Belajar yang rajin ya.”
“Iya.”
“Jangan nakal.”
“Emang aku nakal?”
“Kadang.”
“Ihh…”
Mas Nur tertawa pelan.
Lalu suaranya berubah lebih lembut.
“Nanti kalau aku pulang… kita masih bisa ketemu.”
DEG.
Kalimat sederhana itu langsung membuat hati Yanti hangat.
Hari-hari setelah kelulusan Mas Nur terasa berbeda.
Sekolah terasa lebih sepi bagi Yanti.
Kini ia duduk di kelas dua SMP.
Sementara Mas Nur sudah menjadi anak STM di Kendal.
Karena sekolahnya cukup jauh, Mas Nur tidak setiap hari pulang ke Tegorejo.
Kadang seminggu sekali.
Kadang dua minggu sekali.
Dan setiap kali Mas Nur pulang desa…
entah kenapa kabar itu selalu cepat sampai ke telinga Yanti.
“Heh Yant…” bisik Yuli suatu pagi.
“Apa?”
“Mas Nur pulang.”
“Hah? Dari mana tahu?”
“Tadi pagi aku lihat dia lewat depan warung.”
Yanti langsung salah tingkah sendiri.
“Oh…”
Padahal dalam hati…
ia langsung senang setengah mati.
Di sisi lain…
kehidupan Yanti juga semakin sibuk.
Karate masih menjadi bagian penting dalam hari-harinya.
Latihan Minggu pagi dan Rabu sore tetap berjalan.
Dan kini…
Ima juga ikut karate.
Meski masih kelas enam SD, Ima paling semangat setiap latihan.
“KIAAA!”
teriaknya terlalu keras saat latihan.
Sampai semua orang menoleh.
Pincuk langsung tertawa.
“Buset kecil-kecil suaranya kayak petasan.”
Ima malah makin bangga.
“Heh aku nanti mau jadi juara!”
Dandang langsung nyeletuk.
“Yang penting jangan nangis dulu kalau push up.”
“Heh!”
Semua langsung tertawa.
Sensei Sambas sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka.
Sementara Yanti mulai semakin dekat dengan banyak teman latihan.
Aziz masih tetap paling ribut.
Agus masih paling rajin.
Karwan tetap pendiam.
Munasro masih takut kalau Sensei Sambas marah.
Dan Riyadi…
tetap menjadi “Kakang” yang selalu menjaga Yanti.
Suatu sore sepulang latihan karate…
Riyadi mengantar Yanti dan Ima pulang.
Langit mulai jingga.
Jalan desa masih sedikit basah habis hujan.
Ima berjalan di depan sambil mempraktikkan tendangan karate.
“HYA!”
“Pelan-pelan nanti jatuh,” kata Yanti.
“Enggak!”
BRAK.
Ima langsung terpeleset sendiri.
“Hahaha!”
Riyadi sampai tertawa keras.
“Karate kok kalah sama lumpur.”
Ima langsung manyun.
“Kakang jahat!”
Riyadi mengacak rambutnya.
“Heh Sinok…”
“Apa?”
“Kamu kok senyum terus dari tadi?”
Yanti langsung gugup.
“Enggak tuh.”
“Mas Nur pulang ya?”
DEG.
Yanti langsung melotot.
“Kok tahu sih!”
Riyadi tertawa puas.
“Mukamu gampang dibaca.”
“Ih Kakang…”
Beberapa hari kemudian…
Yanti benar-benar bertemu lagi dengan Mas Nur.
Bukan di sekolah.
Melainkan di pasar kecamatan.
Hari itu Yanti membantu Bu Rosmiyati membeli kebutuhan dapur.
Ia sedang memilih cabai di salah satu kios ketika tiba-tiba mendengar suara familiar.
“Yanti?”
Ia langsung menoleh cepat.
Dan benar saja.
Mas Nur berdiri beberapa langkah di belakangnya sambil membawa kantong plastik.
Jantung Yanti langsung berdebar lagi seperti dulu.
“Kamu?” katanya gugup.
Mas Nur tersenyum kecil.
“Iya.”
“Kebetulan banget.”
“Kamu pulang?”
“Iya. Libur dua hari.”
Yanti tersenyum malu.
Entah kenapa…
meski sudah lama tidak bertemu…
perasaannya tetap sama.
Mas Nur lalu melirik barang bawaan Yanti.
“Berat nggak?”
“Lumayan…”
“Sini aku bantu.”
“Nggak usah…”
Namun Mas Nur sudah lebih dulu mengambil sebagian belanjaan.
Dan seperti dulu…
Yanti kembali salah tingkah sendiri.
Mereka berjalan bersama keluar pasar.
Suasana sore cukup ramai.
Pedagang masih sibuk berteriak menawarkan dagangan.
“Kamu sekarang kelas dua ya?” tanya Mas Nur.
“Iya.”
“Karate masih lanjut?”
Yanti mengangguk.
“Masih.”
“Ima juga ikut sekarang.”
“Serius?”
“Iya. Berisik banget kalau latihan.”
Mas Nur tertawa kecil membayangkannya.
“Pasti lucu.”
“Lucu tapi ngeselin.”
Mereka kembali tertawa bersama.
Dan untuk beberapa saat…
jarak yang sempat muncul karena perpisahan sekolah terasa menghilang begitu saja.
Namun semua itu diam-diam tetap diperhatikan oleh Bambang.
Karena kebetulan sore itu…
ia juga berada di pasar membantu ibunya.
Dari kejauhan ia melihat Mas Nur berjalan bersama Yanti sambil tertawa.
Dan entah kenapa…
dadanya kembali terasa sesak.
Dandang yang berdiri di sampingnya langsung berbisik pelan.
“Heh…”
“Apa?”
“Lihat tuh.”
Bambang langsung mendecih.
“Diamlah.”
“Kamu masih suka ya?”
Bambang tidak menjawab.
Namun matanya tetap mengikuti langkah Yanti dan Mas Nur sampai hilang di ujung jalan pasar.
Malam harinya…
Yanti duduk di teras rumah sambil tersenyum sendiri.
Ima yang sedang belajar langsung melirik curiga.
“Heh…”
“Apa?”
“Kakak habis ketemu Mas Nur ya?”
Yanti langsung kaget.
“Kok tahu?!”
“Hahaha!”
Ima tertawa puas.
“Mukamu beda.”
“Ih sotoy.”
“Tadi pulang senyum-senyum sendiri.”
Yanti langsung melempar bantal kecil ke arah adiknya.
“Heh belajar sana!”
Namun setelah Ima tertawa dan lari masuk rumah…
Yanti kembali diam memandangi langit malam.
Angin desa terasa dingin.
Dan di dalam hatinya…
nama Mas Nur masih tetap tinggal di tempat yang sama.
Meski kini mereka tidak lagi berada di sekolah yang sama.
Meski waktu mulai berjalan membawa mereka ke jalan yang berbeda.
Namun setiap pertemuan kecil itu…
selalu berhasil membuat hati Yanti kembali hangat seperti pertama kali dulu.
BAB XV
MALAM PASAR DAN GENGGAMAN PERTAMA
Waktu terus berjalan di Desa Tegorejo.
Kini Yanti sudah duduk di kelas dua SMP.
Sementara Mas Nur telah menjadi siswa STM di Kendal.
Meski tidak lagi berada di sekolah yang sama…
hubungan mereka justru terasa semakin dekat.
Karena setiap Mas Nur pulang ke desa…
ia hampir selalu menyempatkan bertemu Yanti.
Kadang hanya sebentar di jalan desa.
Kadang di warung dekat lapangan.
Kadang saat Yanti selesai latihan karate.
Dan pertemuan-pertemuan kecil itu…
diam-diam menjadi hal paling ditunggu oleh Yanti.
Minggu pagi itu latihan karate berlangsung lebih ramai dari biasanya.
Lapangan balai desa dipenuhi murid-murid berbagai umur.
Anak-anak kecil berlarian memakai sabuk putih.
Sementara yang lebih senior sibuk pemanasan.
Sensei Sambas berdiri di depan sambil membawa peluit.
“BARIS YANG RAPI!”
Semua langsung panik mencari posisi.
Ima yang kini ikut karate masih tampak paling heboh sendiri.
“Kak! Sabukku lepas!”
“Ya diikat lagi!”
“Aku nggak bisa!”
Yanti sampai geleng-geleng kepala sendiri.
Sementara Riyadi tertawa melihat tingkah mereka.
“Heh Sinok…”
“Apa?”
“Adikmu lebih rame dari pasar.”
Ima langsung melotot.
“Kakang Riyadi jahat!”
“Hahaha!”
Semua langsung tertawa.
Latihan pagi itu cukup berat.
Push up.
Kuda-kuda.
Lari keliling lapangan.
Bahkan Dandang sampai tergeletak di rumput sambil megap-megap.
“Aku melihat cahaya…”
Aziz langsung menyahut.
“Itu matahari goblok.”
“Hahaha!”
Sensei Anton sampai ikut tertawa kecil melihat tingkah mereka.
Sementara Bambang sibuk latihan tendangan bersama Karwan.
BRAK!
Suara tendangan Karwan membuat semua menoleh.
“Buset…” gumam Agus.
“Itu nendang karung apa tembok?”
Karwan cuma nyengir malu.
Di tengah latihan itu…
Yanti beberapa kali tampak melamun sendiri.
Riyadi yang sedang membawa air minum langsung sadar.
“Heh Sinok…”
“Hm?”
“Kamu kenapa?”
“Enggak kenapa-kenapa.”
“Mas Nur pulang ya?”
DEG.
Yanti langsung melotot.
“Kok tahu sih!”
Riyadi tertawa puas.
“Mukamu gampang dibaca.”
“Ih Kakang…”
Dan benar saja.
Siang harinya…
saat latihan selesai…
Mas Nur datang ke lapangan desa.
Ia berdiri dekat pohon ketapang sambil tersenyum kecil melihat Yanti.
Jantung Yanti langsung berdebar lagi.
Padahal mereka baru bertemu minggu lalu.
Namun perasaan itu tetap sama.
Hangat.
Membingungkan.
Dan selalu membuat Yanti salah tingkah.
“Kamu capek?” tanya Mas Nur saat Yanti mendekat.
“Lumayan…”
Mas Nur menyerahkan es teh dalam plastik.
“Nih.”
Yanti menerimanya sambil tersenyum malu.
“Terima kasih…”
Dari kejauhan…
Yuli langsung heboh sendiri.
“Heh lihat tuh…”
Anita ikut tertawa kecil.
“Romantis amat…”
Sementara Bambang hanya diam sambil mengikat tali sepatunya terlalu keras.
Malam harinya…
Desa Tegorejo tampak jauh lebih hidup dibanding biasanya.
Lampu-lampu bohlam menggantung di sekitar lapangan desa.
Musik dangdut terdengar dari pengeras suara tua yang sesekali sember.
Aroma sate ayam, jagung bakar, dan gorengan memenuhi udara malam.
Pasar malam akhirnya datang.
Dan bagi anak-anak remaja desa seperti mereka…
pasar malam selalu menjadi hiburan paling ditunggu setiap tahun.
Sejak sore…
Yanti sudah sibuk memilih baju di rumah.
“Ima…”
“Apa?”
“Bagusan biru apa putih?”
Ima pura-pura berpikir serius.
“Kalau mau ketemu Mas Nur bagusnya yang cantik.”
“Heh!”
Yanti langsung melempar bantal kecil.
Ima malah ngakak sambil kabur.
Bu Rosmiyati yang sedang melipat pakaian hanya tersenyum kecil melihat tingkah kedua anaknya.
“Yang penting sopan.”
“Iya Bu…”
Akhirnya Yanti memilih baju biru muda sederhana dengan jilbab putih.
Saat berdiri di depan cermin kecil…
ia tersenyum sendiri.
Entah kenapa…
malam itu ia ingin terlihat lebih manis.
Di depan rumah Anita…
anak-anak sudah berkumpul.
Ada Dandang yang sibuk menyisir rambut pakai air ludah.
Ada Aziz yang terus bercanda.
Ada Bambang dengan jaket jeans lusuh andalannya.
Ada Yuli yang paling heboh sendiri.
Dan Riyadi yang malam itu ikut menjaga mereka.
“Heh lama banget!” teriak Bambang.
“Cewek emang ribet,” tambah Aziz.
“Kalau aku jadi cewek—”
“Kamu tetap jelek,” potong Yuli cepat.
“HHAHAHAHA!”
Semua langsung tertawa.
Tak lama kemudian…
Yanti datang.
Dan suasana mendadak sedikit berubah.
Dandang sampai melongo lebay.
“Waduh…”
“Apa?” tanya Yanti bingung.
“Kamu habis mandi parfum?”
“Hah?”
“Harum banget…”
Yanti langsung memukul lengan Dandang.
“Apaan sih!”
Namun beberapa detik kemudian…
Mas Nur datang dari ujung jalan.
Memakai kemeja kotak sederhana dan celana hitam.
Saat matanya melihat Yanti…
ia langsung diam sebentar.
Dan Yanti otomatis salah tingkah.
Riyadi yang melihat itu cuma tersenyum tipis sambil geleng-geleng kepala.
“Heh Sinok…”
“Apa…”
“Hati-hati salting di jalan.”
“Ih Kakang…”
Pasar malam benar-benar ramai.
Lampu warna-warni berputar di komidi putar.
Anak-anak kecil berlari membawa balon.
Pedagang mainan sibuk berteriak menawarkan dagangan.
“Jagung bakar!”
“Es puter!”
“Balon warna-warni!”
Yuli langsung heboh.
“Aku mau semuanya!”
Dandang melotot.
“Dompetmu siap nggak?”
“Kan ada kalian.”
“Heh enak aja!”
Mereka berjalan bergerombol sambil tertawa.
Sesekali Aziz membuat lelucon receh.
Kadang Dandang malah mempermalukan dirinya sendiri.
Sementara Ima sibuk membeli gelang lampu warna-warni.
“Kak lihat! Cantik nggak?”
“Cantik.”
“Kayak artis ya?”
“Iya iya.”
“Hahaha!”
Di tengah keramaian itu…
Mas Nur berjalan perlahan di samping Yanti.
Dan entah kenapa…
suasana terasa jauh lebih dekat dibanding sebelumnya.
“Kamu sering ke pasar malam?” tanya Mas Nur.
“Waktu kecil sering…”
“Takut naik bianglala?”
“Sedikit.”
“Kalau bareng aku?”
Yanti langsung melirik cepat.
“Kamu suka bikin orang salting ya.”
Mas Nur tertawa kecil.
Dan senyum itu lagi-lagi membuat jantung Yanti kacau.
Tak lama kemudian…
rombongan mereka memutuskan masuk rumah hantu.
Anita langsung pucat.
“Aku nggak mau…”
“Takut?” goda Yuli.
“Iya…”
Dandang langsung menyombongkan diri.
“Tenang! Ada aku!”
Lima menit kemudian…
yang paling keras teriak justru Dandang sendiri.
“AAAAAAAAAA!”
“Hahaha!”
Satu wahana penuh suara tawa.
Bahkan penjaga rumah hantu sampai ikut tertawa.
“Heh hantunya takut sama Dandang kayaknya!” teriak Aziz.
“Hahaha!”
Saat keluar…
Dandang tampak paling pucat.
“Aku hampir meninggal…”
Bambang langsung ngakak.
“Padahal hantunya cuma pakai bedak!”
Namun kejadian paling tak terlupakan malam itu terjadi saat mereka berjalan di tengah kerumunan pasar.
Suasana sangat padat.
Orang-orang saling berdesakan.
Yanti yang berjalan sambil melihat gantungan lampu kecil…
tidak sadar ada anak kecil berlari menabraknya.
“Awas!”
Refleks…
Mas Nur menarik tangan Yanti.
Dan untuk pertama kalinya…
tangan mereka saling bertaut.
DEG.
Dunia Yanti seperti berhenti beberapa detik.
Suara musik dangdut terasa jauh.
Lampu pasar tampak samar.
Yang ia rasakan hanya hangat tangan Mas Nur.
Jantungnya berdetak sangat keras.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Mas Nur pelan.
Yanti bahkan sulit menjawab.
“I… iya…”
Namun Mas Nur belum melepaskan tangannya.
Dan diam-diam…
Yanti juga tidak ingin genggaman itu dilepas.
Dari belakang…
Yuli langsung menutup mulut.
“ASTAGAAA…”
Anita ikut salah tingkah.
Aziz langsung menyikut Dandang.
“Lihat tuh!”
Dandang berbisik keras.
“Pegangan tangan coy!”
Riyadi yang melihat itu hanya menghela napas kecil sambil tersenyum tipis.
“Heh Sinok…”
gumamnya pelan.
“Udah mulai gede ternyata…”
Sementara Bambang…
langsung diam.
Tawa di wajahnya perlahan hilang.
Meski ia tetap berjalan bersama yang lain…
namun malam itu…
hatinya terasa semakin sesak.
Malam semakin larut.
Lampu pasar mulai redup satu per satu.
Namun hati Yanti justru terasa semakin terang.
Di perjalanan pulang…
ia terus teringat momen genggaman tangan tadi.
Bahkan saat Mas Nur berjalan di sampingnya dalam diam…
dadanya masih berdebar keras.
Sampai akhirnya Mas Nur berkata pelan—
“Yanti…”
“Iya?”
“Aku senang malam ini.”
Yanti tersenyum malu.
“Aku juga…”
Lalu mereka sama-sama diam.
Malu.
Namun bahagia.
Dan malam pasar di Desa Tegorejo itu…
menjadi malam yang tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan Yanti.
Karena malam itu…
untuk pertama kalinya…
ia merasa dicintai dengan sangat sederhana.
Di tengah lampu pasar malam.
Di antara suara tawa sahabat-sahabatnya.
Dan di balik genggaman tangan pertama…
yang membuat hatinya bergetar sangat lama.
BAB XVI
SURAT CINTA YANG TERBONGKAR
Sejak malam pasar itu…
hubungan Yanti dan Mas Nur semakin dekat.
Mereka memang belum resmi berpacaran.
Namun hampir seluruh sekolah mulai menganggap mereka sudah saling suka.
Dan tentu saja…
itu menjadi bahan gosip paling panas di SMP mereka.
Terutama bagi satu orang.
Yuli.
Pagi itu…
baru saja Yanti masuk kelas…
Yuli langsung menyeretnya ke pojok.
“Heh sini!”
“Apa sih?!”
“Cepet!”
Yanti langsung panik.
“Kamu kenapa?”
Yuli menurunkan suara dramatis.
“Kamu jangan kaget…”
“Hah?”
“Tapi semalam…”
“Kenapa?!”
“Aku lihat Mas Nur.”
DEG.
Jantung Yanti langsung berdegup cepat.
“Di mana?”
“Lewat depan rumahmu.”
“Hah?!”
“Terus dia berhenti.”
“Terus?!”
“Terus… dia cuma bengong.”
Yanti langsung melotot.
“YULI!”
“Hahaha!”
Anita yang datang belakangan langsung tertawa kecil.
“Kamu jangan suka bikin orang kaget…”
“Tapi serius…” kata Yuli sambil nyengir.
“Kayaknya Mas Nur beneran suka berat sama Yanti.”
Pipi Yanti mulai merah lagi.
Dan itu membuat Yuli makin senang menggoda.
Namun pagi itu…
Mas Nur belum datang ke kelas.
Dan entah kenapa…
Yanti jadi sering melihat pintu kelas.
“Heh…” goda Anita pelan.
“Apa…”
“Nungguin ya?”
“Enggak!”
“Bohong…”
“Kenapa semua orang bilang aku bohong terus sih…”
Yuli langsung tertawa.
“Karena mukamu gampang dibaca!”
Belum sempat Yanti membalas…
tiba-tiba Bambang masuk kelas sambil membawa sesuatu di tangannya.
Wajahnya penuh senyum jahil.
“Heh heh heh…”
Dandang langsung curiga.
“Mukamu kenapa kayak maling ayam?”
“Aku nemu harta karun.”
“Hah?”
Bambang mengangkat selembar kertas warna pink.
Satu kelas langsung penasaran.
“Itu apa?!”
“Surat cinta kayaknya…”
DEG.
Entah kenapa…
jantung Yanti langsung tidak enak.
Dan benar saja.
Saat Bambang membuka lipatan surat itu…
matanya langsung membesar.
“WADUH.”
“Apa?!”
Dandang langsung mendekat.
Bambang membaca keras-keras.
“Untuk seseorang yang membuatku selalu senang datang ke sekolah…”
Satu kelas langsung heboh.
“WOOOOOO!”
“Surat cinta!”
“Lanjut! Lanjut!”
Yanti mulai pucat.
Karena ia mengenali tulisan itu.
Tulisan Mas Nur.
“Diam dulu!” teriak Bambang sok penting.
Lalu ia lanjut membaca.
“Aku nggak tahu sejak kapan mulai suka melihat senyummu…”
Yuli langsung menjerit.
“ASTAGAAAA!”
Anita menutup mulut sambil tertawa malu.
Sementara Yanti…
sudah ingin menghilang dari muka bumi.
“Itu buat siapa?!” teriak anak-anak.
Bambang membalik halaman belakang.
Dan di pojok bawah tertulis kecil:
Untuk Yanti.
“WOOOOOOOOOOOO!”
Satu kelas langsung pecah total.
Ada yang berdiri di meja.
Ada yang bersiul.
Ada yang tepuk tangan.
Yanti spontan menutupi wajahnya dengan buku.
“MATI AKU…”
Dandang sampai jatuh dari kursi karena terlalu keras tertawa.
“Hahaha! Mas Nur romantis!”
Bambang ikut tertawa meski ada rasa aneh di dadanya.
“Heh Yanti!”
“DIEM!”
“Mukamu merah kayak tomat!”
“Hahaha!”
Dan di saat paling kacau itu…
Mas Nur masuk kelas.
Begitu melihat seluruh kelas ribut…
ia langsung bingung.
“Ini kenapa?”
Semua mata langsung menoleh padanya.
Lalu serempak berteriak:
“CIEEEEEEE!”
Mas Nur langsung berhenti melangkah.
“Apa-apaan…”
Bambang mengangkat surat itu tinggi-tinggi.
“Ini punyamu ya?!”
Wajah Mas Nur langsung berubah.
“HEH!”
Ia cepat-cepat mendekat.
Namun Dandang keburu merebut surat itu.
“Waduh tulisan puitis!”
“Balikin!”
“Sebentar!”
Dandang membaca dramatis seperti pembaca puisi.
“Senyummu bikin hari-hariku jadi lebih indah…”
“HUWOOOOOO!”
Satu kelas makin heboh.
Mas Nur langsung malu setengah mati.
Sementara Yanti sudah benar-benar tidak berani mengangkat wajah.
“BALIKIN!” bentak Mas Nur sambil mengejar Dandang.
Namun Dandang malah lari keliling kelas.
“Hahaha!”
“Penyair kampung jatuh cinta!”
“Heh jangan baca keras-keras!”
Bahkan Bu Guru yang baru masuk kelas sampai terkejut.
“Lho ini kenapa?!”
Suasana langsung hening.
Dandang masih memegang surat.
Bu Guru menyipitkan mata.
“Itu apa?”
Dandang panik.
“Eh…”
Bambang langsung menunjuk Mas Nur.
“Surat cinta Bu!”
Satu kelas kembali pecah.
Mas Nur menutup wajahnya sendiri.
Sementara Bu Guru sampai geleng-geleng kepala sambil menahan tawa.
“Kalian ini…”
Namun beberapa menit kemudian…
setelah suasana agak tenang…
Bu Guru justru berkata santai.
“Sudah sudah…”
“Namanya juga remaja.”
Satu kelas langsung saling pandang.
“Eh Bu Guru ngerti juga…”
“Tapi ingat…”
“Jangan sampai pacaran bikin nilai turun.”
“Iyaaaa Buuuu…”
Yanti masih belum berani melihat Mas Nur.
Namun diam-diam…
hatinya terasa hangat.
Karena isi surat itu benar-benar tulus.
Jam pelajaran berlangsung.
Namun suasana di kelas tetap penuh godaan.
“Heh Yanti…” bisik Yuli.
“Apa…”
“Kamu simpan suratnya nggak?”
“Masih sama Bambang…”
“Wah bahaya…”
Benar saja.
Bambang diam-diam masih membaca surat itu sambil nyengir sendiri.
“Heh balikin!” bentak Mas Nur.
“Bayar dulu.”
“Apaan sih!”
“Dua bakso sama es teh.”
Dandang langsung ikut nimbrung.
“Aku saksi!”
“Hahaha!”
Akhirnya Mas Nur menyerah.
“Yaudah nanti aku traktir.”
Bambang langsung mengembalikan surat itu dengan gaya menang lelang.
“Nah gitu.”
Sepulang sekolah…
Yanti berjalan lebih pelan dari biasanya.
Mas Nur mengejarnya dari belakang.
“Yanti…”
“Iya?”
“Maaf…”
Yanti menoleh bingung.
“Kenapa minta maaf?”
“Suratnya ketahuan…”
Yanti langsung malu lagi.
“Itu salah siapa coba…”
“Aku nyimpennya di buku…”
“Terus?”
“Mungkin jatuh…”
Yanti tertawa kecil.
Untuk pertama kalinya hari itu…
mereka sama-sama tertawa tanpa rasa malu lagi.
Mas Nur lalu berkata pelan.
“Tapi isi suratnya serius.”
DEG.
Yanti kembali salah tingkah.
“Mas Nur…”
“Iya?”
“Aku juga senang…”
“Sama kamu.”
Kalimat itu membuat Mas Nur diam beberapa detik.
Lalu perlahan tersenyum sangat lebar.
Dan sore itu…
di jalan kecil Desa Tegorejo yang mulai disinari cahaya senja…
dua hati remaja mulai saling mengakui perasaan mereka.
Sederhana.
Polos.
Namun begitu tulus.
BAB XVII
RETAKNYA PERSAHABATAN
Hari-hari setelah malam pasar itu…
hubungan Yanti dan Mas Nur terasa semakin dekat.
Meski belum pernah ada kata “pacaran” yang benar-benar diucapkan…
namun hampir semua orang tahu apa yang sedang terjadi di antara mereka.
Cara Mas Nur selalu mencari Yanti setiap pulang ke desa.
Cara Yanti langsung salah tingkah saat mendengar nama Mas Nur disebut.
Dan tentu saja…
teman-teman mereka tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menggoda.
Minggu pagi itu latihan karate kembali berlangsung di lapangan balai desa.
Udara masih dingin.
Embun masih terlihat di rumput.
Namun suasana sudah ramai oleh suara anak-anak latihan.
“KIAAA!”
“SATU!”
“DUA!”
Sensei Sambas berdiri di depan dengan peluit di leher.
Sementara Sensei Anton membantu membetulkan gerakan murid-murid baru.
Ima yang sekarang sudah mulai serius latihan tampak paling semangat.
“Kak lihat tendanganku!”
BRAK!
Tendangannya malah mengenai ember air.
BYUR!
Aziz langsung lompat menghindar.
“Heh! Banjir woi!”
“Hahaha!”
Semua langsung tertawa.
Yanti sampai memegangi perut karena ngakak melihat adiknya panik sendiri.
Sementara Riyadi hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum.
“Heh Sinok…”
“Apa?”
“Adikmu kalau ikut lomba mungkin lawannya kabur duluan.”
Ima langsung melotot.
“Kakang Riyadi jahat!”
“Hahaha!”
Namun di tengah suasana ramai itu…
Bambang justru tampak lebih banyak diam.
Ia tetap ikut latihan.
Tetap bercanda seperlunya.
Namun sekarang tawanya tidak lagi sebebas dulu.
Kadang ia melamun terlalu lama.
Kadang diam-diam memperhatikan Yanti dan Mas Nur.
Dan semua perubahan kecil itu mulai disadari Dandang.
“Heh…” bisiknya saat istirahat.
“Apa?”
“Kamu kenapa?”
“Kenapa apanya?”
“Murung terus.”
Bambang langsung minum air tanpa menjawab.
Dandang menyipitkan mata.
“Kamu masih suka sama Yanti ya?”
DEG.
Bambang langsung diam.
Lama sekali.
Sampai akhirnya ia tertawa kecil hambar.
“Aku juga nggak ngerti…”
Untuk pertama kalinya…
Dandang melihat sahabatnya benar-benar sedih.
Beberapa hari kemudian…
sekolah sedang sibuk mempersiapkan pentas seni antar kelas.
Meski Mas Nur sudah sekolah STM di Kendal…
ia beberapa kali datang membantu adik kelas karena dulu aktif di kegiatan sekolah.
Dan tentu saja…
itu membuat Yanti semakin senang.
Sore itu aula sekolah ramai oleh suara latihan.
Yuli latihan menyanyi meski nadanya sering meleset.
Dandang sibuk latihan drama komedi sambil berlebihan.
Anita membantu dekorasi panggung.
Sementara Yanti duduk di dekat jendela sambil menyalin naskah puisi.
Tak lama kemudian…
Mas Nur datang memasuki aula.
Dan seperti biasa…
mata Yanti langsung otomatis mencarinya.
“Heh tuh datang…” bisik Yuli cepat.
Pipi Yanti langsung merah.
Mas Nur berjalan mendekat sambil membawa beberapa lembar kertas.
“Ini naskah yang kemarin.”
“Oh iya…”
Saat tangan mereka bersentuhan sebentar…
jantung Yanti langsung berdebar lagi.
Dandang yang melihat itu langsung pura-pura muntah.
“Uwekkk…”
“Hahaha!”
Bu Guru lalu meminta mereka mencoba pembacaan puisi berpasangan.
“Mas Nur sama Yanti coba dulu.”
“Aseeeek…” teriak Dandang.
“Heh diam!” bentak Bu Guru.
Semua langsung tertawa.
Mas Nur berdiri di depan aula.
Suaranya tenang dan lembut.
“Jika senja adalah akhir dari hari…
maka biarlah aku menjadi langit yang tetap menunggumu…”
Suasana aula langsung hening.
Beberapa anak perempuan sampai saling melirik.
“Romantis banget…”
Yanti lalu melanjutkan dengan suara pelan.
“Dan jika cinta adalah penantian…
maka biarlah hatiku tinggal di langkahmu…”
“ASTAGAAA…” seru Dandang sambil memegang dada.
Yuli pura-pura pingsan.
“Hahaha!”
Namun di tengah tawa itu…
Bambang tiba-tiba berdiri.
“Heh aku ke belakang.”
Dandang menoleh bingung.
“Lho…”
Namun Bambang sudah keluar aula lebih dulu.
Di belakang sekolah…
Bambang duduk sendirian dekat pohon mangga tua.
Tangannya melempar batu kecil ke tanah berkali-kali.
Wajahnya kusut.
Tak lama kemudian…
Riyadi datang menghampiri.
Karena sore itu ia memang sedang mengantar dokumen karate ke sekolah.
“Heh…”
Bambang langsung menoleh.
“Oh Kakang…”
Riyadi duduk di sampingnya.
“Kamu kenapa?”
“Enggak kenapa-kenapa.”
“Kalau bohong mukamu jelek.”
Bambang tertawa kecil hambar.
Riyadi menatapnya beberapa detik.
“Kamu suka Yanti ya?”
Pertanyaan itu membuat Bambang langsung diam lama.
Lalu akhirnya ia menghela napas.
“Aku suka dia dari kecil…”
Suasana mendadak lebih sunyi.
“Dulu aku kira…” katanya pelan.
“Kira apa?”
“Kalau aku selalu ada buat dia…”
“Dia bakal suka sama aku.”
Riyadi hanya mendengarkan.
Namun tatapannya mulai iba.
“Tapi ternyata…”
“Dia sukanya Mas Nur.”
Kalimat terakhir itu terdengar sangat lirih.
Dan sore itu…
untuk pertama kalinya Bambang benar-benar merasakan patah hati.
Malam harinya…
latihan karate kembali berlangsung di balai desa.
Namun suasana hati Bambang masih kacau.
Saat latihan sparring…
gerakannya jadi terlalu keras.
BRAK!
Aziz sampai hampir jatuh.
“Heh pelan woi!”
Sensei Sambas langsung meniup peluit keras.
“BAMBANG!”
Suasana langsung diam.
“Kamu latihan atau marah-marah?!”
Bambang langsung menunduk.
“Maaf Sensei…”
Yanti yang melihat itu mulai merasa ada yang aneh.
Karena biasanya…
Bambang tidak pernah seperti itu.
Beberapa hari kemudian…
masalah akhirnya benar-benar meledak.
Sore itu anak-anak sedang berkumpul di kelas setelah latihan pentas seni selesai.
Suasana awalnya ramai seperti biasa.
Dandang kembali jadi pusat keributan.
“Heh kalau nanti aku jadi artis…”
“Apa?” tanya Aziz.
“Aku nggak bakal lupa kalian.”
Yuli langsung menyahut cepat.
“Tenang…”
“Kenapa?”
“Kamu nggak mungkin jadi artis.”
“HHAHAHAHA!”
Satu kelas langsung pecah tertawa.
Namun suasana berubah saat Rina masuk ke kelas.
“Heh Mas Nur…”
“Iya?”
“Bisa bantu aku Matematika nanti?”
Belum sempat Mas Nur menjawab—
Bambang tiba-tiba nyeletuk keras.
“Wah cocok tuh.”
Semua langsung menoleh.
“Cocok apaan?” tanya Dandang.
“Mas Nur sama Rina.”
Suasana langsung berubah canggung.
Yanti perlahan diam.
Mas Nur mengernyit.
“Heh ngomong apa sih…”
“Ya kalian sering bareng.”
Rina malah tertawa kecil.
“Boleh juga tuh.”
Darah Yanti langsung naik.
Namun ia masih mencoba tenang.
Dandang langsung sadar suasana mulai tidak enak.
“Heh Bambang jangan aneh-aneh…”
Namun Bambang malah melanjutkan.
“Daripada sama Yanti.”
DEG.
Kelas langsung sunyi.
Yanti menatap Bambang tidak percaya.
“Aku kenapa?”
Bambang berdiri perlahan.
“Enggak kenapa-kenapa.”
“Tapi omonganmu tadi apa maksudnya?!”
“Ya biasa aja.”
“Biasa aja dari mana?!”
Untuk pertama kalinya…
Yanti membentak Bambang.
Suasana kelas benar-benar tegang.
Mas Nur mencoba menenangkan.
“Udah…”
Namun Yanti sudah terlanjur kecewa.
“Kalau kamu punya masalah sama aku bilang!”
Bambang tertawa kecil pahit.
“Masalah?”
“Iya!”
“Aku nggak punya masalah.”
“Tapi kamu berubah!”
Bambang diam beberapa detik.
Lalu berkata pelan—
“Mungkin aku capek lihat kalian.”
Suasana langsung hening total.
Yanti membeku.
“Capek?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Bambang menatap Yanti lama sekali.
Lalu akhirnya berkata jujur—
“Karena dari dulu… aku juga suka sama kamu.”
DEG.
Semua orang langsung diam.
Bahkan Dandang tidak berani bercanda lagi.
Yanti benar-benar tidak menyangka.
Mas Nur ikut terdiam.
Bambang tertawa kecil pahit.
“Lucu ya…”
“Dari kecil aku selalu jahilin kamu…”
“Padahal aku cuma pengen diperhatikan.”
Mata Yanti mulai berkaca-kaca.
Sementara Bambang menatap Mas Nur.
“Tapi ya sudahlah…”
“Yang menang memang bukan aku.”
Kalimat itu membuat suasana semakin sesak.
Dan tanpa menunggu jawaban siapa pun…
Bambang langsung keluar kelas.
BRAK!
Pintu tertutup keras.
Meninggalkan suasana hening panjang.
Yanti perlahan duduk kembali.
Dadanya terasa berat.
Sementara Mas Nur hanya diam memandang pintu kelas.
Di luar kelas…
langit sore Desa Tegorejo mulai berubah mendung.
Dan tanpa mereka sadari…
retakan kecil dalam persahabatan mereka mulai terbentuk.
Retakan yang kelak…
akan mengubah hubungan mereka semua menjadi jauh lebih rumit dibanding sebelumnya.
BAB XVIII
HUJAN, LUKA, DAN PELUKAN PERSAHABATAN
Hari-hari setelah pengakuan Bambang di kelas…
tidak pernah benar-benar kembali sama.
Suasana yang dulu selalu penuh tawa…
perlahan berubah canggung.
Candaan Dandang tak lagi sebebas biasanya.
Yuli mulai hati-hati bicara.
Anita sering diam memperhatikan keadaan.
Dan Yanti…
jadi lebih sering melamun.
Desa Tegorejo mulai memasuki musim hujan.
Pagi-pagi udara terasa dingin.
Kabut turun lebih lama di atas sawah.
Jalan tanah menuju sekolah sering becek.
Namun yang paling terasa berubah…
adalah hubungan mereka.
Kini Mas Nur sudah menjadi siswa STM di Kendal.
Ia jarang datang ke SMP kecuali saat pulang desa atau membantu kegiatan sekolah.
Sementara Yanti masih duduk di kelas dua SMP bersama Anita, Yuli, Bambang, Dandang, Aziz, Agus, dan Karwan.
Sedangkan Ima sekarang duduk di kelas enam SD…
dan semakin aktif ikut latihan karate.
Rabu sore itu…
latihan karate berlangsung lebih sepi dari biasanya.
Hujan gerimis turun sejak siang.
Lapangan balai desa berubah lembap.
Sensei Sambas tetap berdiri tegas di depan barisan.
“KUDA-KUDA!”
“SIAP!”
“KIAAA!”
Suara teriakan murid-murid menggema di udara dingin.
Namun sejak tadi…
Yanti tampak tidak fokus.
Gerakannya terlambat.
Pukulannya lemah.
Bahkan beberapa kali salah arah.
BRAK!
“ADUH!”
Aziz sampai kena siku Yanti.
“Heh Sinok…”
“Aduh maaf…”
Aziz langsung meringis lebay.
“Wah…”
“Hari ini pikirannya nggak di lapangan nih.”
Anak-anak langsung saling pandang.
Karwan tertawa kecil.
“Pasti mikirin Mas Nur.”
Pipi Yanti langsung merah.
“Heh nggak lucu!”
Namun Riyadi yang sejak tadi memperhatikan…
langsung tahu ada sesuatu yang tidak beres.
Saat latihan selesai…
anak-anak mulai duduk istirahat di teras balai desa.
Ima sibuk makan cilok.
Dandang dan Aziz ribut berebut es teh.
Agus sedang membantu membereskan matras.
Sementara Yanti duduk sendirian memandangi hujan kecil di depan lapangan.
Riyadi datang membawa dua gelas teh hangat.
“Nih.”
Yanti menoleh pelan.
“Terima kasih Kakang…”
Riyadi duduk di sampingnya.
“Heh Sinok…”
“Hm?”
“Kamu habis nangis?”
Yanti langsung menggeleng cepat.
“Enggak.”
“Kalau bohong mukamu jelek.”
Yanti akhirnya tertawa kecil.
Namun beberapa detik kemudian…
matanya kembali sayu.
“Kakang…”
“Apa?”
“Kalau persahabatan rusak karena cinta…”
“Bisa balik lagi nggak?”
Riyadi diam beberapa saat.
Angin dingin berembus pelan.
Suara hujan terdengar samar di atap balai desa.
“Bisa…”
“Kalau sama-sama mau menjaga.”
“Tapi…”
“Lukanya biasanya lama hilang.”
Yanti menunduk pelan.
Dan Riyadi tahu…
anak itu sedang benar-benar sedih.
Keesokan harinya…
suasana kelas terasa aneh.
Biasanya pagi-pagi Dandang sudah teriak tidak jelas.
Biasanya Bambang sudah jahil melempar kertas.
Namun sekarang…
kelas lebih banyak sunyi.
Yanti duduk dekat jendela sambil membuka buku.
Namun matanya kosong.
Anita mendekat pelan.
“Kamu belum tidur ya?”
Yanti mengangguk kecil.
“Semalaman kepikiran…”
“Soal Bambang?”
Yanti menunduk.
“Aku nggak nyangka…”
“Dia suka sama aku selama itu.”
Yuli yang biasanya paling cerewet ikut diam.
“Kasihan juga sih…”
Namun sebelum suasana makin sedih—
Dandang datang sambil membawa pisang goreng.
“Heh!”
“Apa…”
“Kalian jangan kayak orang habis kehilangan kambing.”
Yuli langsung melotot.
“Dandang…”
“Aku serius!”
Ia duduk lalu berkata lebih pelan.
“Persahabatan kalian jangan rusak gara-gara beginian.”
Namun bahkan Dandang sendiri sebenarnya khawatir.
Karena ia tahu…
Bambang bukan tipe orang yang gampang menunjukkan perasaannya.
Kalau sampai meledak seperti kemarin…
berarti luka itu sudah terlalu lama dipendam.
Tak lama kemudian…
Bambang masuk kelas.
Seragamnya sedikit basah karena gerimis.
Rambutnya acak-acakan.
Namun wajahnya datar.
Tak ada senyum.
Tak ada candaan.
Ia langsung duduk tanpa melihat siapa pun.
Suasana langsung makin berat.
Yanti beberapa kali ingin bicara…
namun tidak berani.
Sementara Bambang memilih diam sambil memandang meja.
Jam pelajaran berjalan lambat.
Bahkan Bu Guru sampai sadar ada yang aneh.
“Kalian habis berantem?”
Satu kelas langsung diam.
Dandang buru-buru menjawab.
“Enggak Bu…”
Padahal semua tahu itu bohong.
Saat istirahat…
suasana makin tegang.
Mas Nur yang hari itu datang ke sekolah untuk membantu persiapan lomba puisi…
akhirnya mendekati Bambang.
“Heh…”
Bambang diam.
“Kita ngobrol bentar.”
“Ngobrol apa?”
“Di luar.”
Bambang akhirnya berdiri.
Dan seluruh kelas langsung saling pandang.
“Heh…” bisik Yuli.
“Jangan-jangan berantem…”
Dandang langsung berdiri cepat.
“Aku ikut.”
“Hah?”
“Kalau ada tinju bebas aku jadi wasit.”
“Hahaha!”
Namun tidak ada yang benar-benar tertawa.
Karena semua cemas.
Di belakang sekolah…
langit tampak mendung pekat.
Pohon mangga tua bergoyang pelan tertiup angin.
Mas Nur berdiri beberapa langkah di depan Bambang.
“Aku nggak mau kita musuhan.”
Bambang tertawa hambar.
“Siapa yang musuhan?”
“Kamu jelas marah.”
“Ya mungkin.”
“Karena Yanti?”
Bambang menatap Mas Nur cukup lama.
Lalu berkata pelan—
“Kalau kamu di posisiku…”
“Gimana rasanya lihat orang yang kamu suka…”
“Dekat sama sahabatmu sendiri?”
Suasana langsung hening.
Mas Nur tidak langsung menjawab.
Karena ia tahu…
kalau berada di posisi Bambang…
mungkin ia juga akan terluka.
“Aku nggak pernah niat nyakitin kamu,” kata Mas Nur pelan.
Bambang tersenyum tipis.
“Tapi tetap sakit.”
Kalimat itu terasa berat.
Langit semakin gelap.
Angin mulai dingin.
Dan Bambang kembali bicara.
“Tahu nggak…”
“Dari kecil aku selalu mikir…”
“Kalau suatu hari…”
“Yanti bakal sadar kalau aku paling peduli sama dia.”
Mas Nur menunduk.
“Tapi ternyata…”
“Dia milih kamu.”
Mas Nur menarik napas panjang.
“Aku nggak bisa bohong…”
“Aku juga sayang sama Yanti.”
Bambang tertawa kecil pahit.
“Makanya aku kalah.”
Tiba-tiba—
suara langkah kaki terdengar mendekat.
“Heh!”
Ternyata Yanti datang menyusul.
Di belakangnya ada Dandang, Anita, Yuli, Aziz, Agus, dan Karwan.
“Kalian ngapain di sini?!” tanya Yanti panik.
Dandang langsung menjawab cepat.
“Takut ada kejuaraan silat.”
“Hahaha!”
Namun suasana tetap terasa berat.
Yanti menatap Bambang pelan.
“Aku nggak mau kita jadi begini…”
Bambang menoleh.
“Terus harus gimana?”
“Aku tetap anggap kamu sahabat.”
Bambang tertawa kecil hambar.
“Sahabat…”
“Aku pengen lebih dari itu, Yanti.”
Kalimat itu membuat mata Yanti mulai berkaca-kaca.
Dan tepat saat itu…
HUJAAANNN turun deras tiba-tiba.
BRAK!
Petir menggelegar.
Anak-anak langsung panik.
“WOY LARI!”
“HUJAN!”
Dandang yang paling depan malah terpeleset di tanah becek.
BRUK!
“HHAHAHAHA!”
Bahkan Bambang ikut refleks tertawa kecil.
“Kaki gueeee!” teriak Dandang lebay.
Yuli sampai jongkok sambil tertawa keras.
“Makanya jangan sok jadi pengawal!”
Namun di tengah hujan deras itu…
Bambang tetap berdiri diam.
Air hujan membasahi wajahnya.
Yanti perlahan mendekat.
“Heh…”
Bambang menatapnya.
Dan untuk pertama kalinya…
Yanti melihat mata sahabat kecilnya benar-benar terluka.
“Aku minta maaf…”
Bambang menggeleng kecil.
“Kamu nggak salah.”
“Tapi…”
“Cinta itu nggak bisa dipaksa kan?”
Kalimat itu membuat dada Yanti terasa sesak.
Mas Nur lalu melangkah mendekat.
Suasana kembali tegang.
Namun tak disangka…
Bambang justru mengulurkan tangan.
“Aku masih kesel sama kamu.”
Mas Nur menatap tangannya beberapa detik.
Lalu menjabatnya pelan.
“Tapi…”
“Jangan sakiti Yanti.”
Mas Nur mengangguk.
“Aku janji.”
Hujan terus turun deras.
Namun untuk sesaat…
ketegangan di antara mereka mulai mencair.
Meski luka Bambang belum sembuh…
setidaknya persahabatan mereka belum benar-benar hancur.
Malam harinya…
Yanti duduk sendirian di teras rumah.
Hujan masih turun rintik-rintik.
Ima sudah tidur lebih dulu.
Bu Rosmiyati sedang menjahit di dalam rumah.
Namun Yanti masih diam memandangi jalanan gelap desa.
Pikirannya kacau.
Tentang Bambang.
Tentang Mas Nur.
Tentang persahabatan mereka.
Dan tentang rasa bersalah yang terus mengganggu hatinya.
Tak lama kemudian…
terdengar suara motor berhenti di depan rumah.
“Klek…”
Yanti menoleh.
Ternyata Riyadi.
“Heh Sinok…”
“Kakang?”
“Belum tidur?”
Yanti menggeleng kecil.
Riyadi duduk di sampingnya sambil membawa kantong kecil gorengan.
“Nih.”
Yanti tersenyum tipis.
“Makasih…”
Beberapa saat mereka diam mendengarkan suara hujan.
Lalu Riyadi berkata pelan—
“Kamu jangan nyalahin diri sendiri terus.”
Yanti menunduk.
“Tapi semua jadi berubah…”
“Namanya juga hidup.”
“Kadang orang datang buat bikin bahagia…”
“Kadang buat ngajarin kita dewasa.”
Yanti memandang Riyadi pelan.
Dan entah kenapa…
setiap bersama kakak angkatnya itu…
hatinya selalu terasa lebih tenang.
Malam semakin larut.
Hujan perlahan reda.
Namun di hati mereka…
semua baru saja dimulai.
Karena cinta pertama…
ternyata bukan hanya tentang bahagia.
Tetapi juga tentang luka.
Tentang kehilangan.
Dan tentang belajar menerima bahwa…
tidak semua perasaan bisa memiliki balasan yang sama.
BAB XIX
FITNAH DAN AIR MATA DI KELAS DELAPAN
Hari-hari setelah hujan sore itu…
keadaan memang perlahan terlihat membaik.
Bambang mulai kembali bercanda meski tak sebebas dulu.
Mas Nur masih sering datang dari Kendal saat akhir pekan atau ketika ada kegiatan sekolah.
Yanti mulai bisa tersenyum lagi.
Dan latihan karate di balai desa kembali ramai seperti biasanya.
Namun…
di balik semua ketenangan itu…
sesuatu perlahan sedang tumbuh.
Sesuatu yang kecil.
Tapi panas.
Dan diam-diam bisa menghancurkan semuanya.
Iri hati.
Pagi Minggu di balai desa Tegorejo terasa ramai.
Anak-anak karate sudah memenuhi lapangan sejak matahari belum tinggi.
“KIAAA!”
“SATU!”
“DUA!”
Sensei Sambas berjalan mondar-mandir sambil memegang rotan kecil.
Sementara Sensei Anton membantu membetulkan posisi tendangan anak-anak.
Ima tampak paling semangat pagi itu.
“Kak lihat!”
BRAK!
Tendangannya malah mengenai ember air lagi.
BYUR!
Aziz langsung melompat mundur.
“Heh! Lagi-lagi banjir!”
“HHAHAHAHA!”
Semua langsung tertawa.
Dandang sampai jongkok sambil memegangi perut.
“Ini bukan karate…”
“Ini latihan tsunami!”
Ima langsung manyun.
“Kalian jahat!”
Riyadi yang sedang membantu mengatur barisan hanya tertawa kecil.
“Heh Sinok…”
“Apa Kakang?”
“Adikmu nanti sabuk hitamnya khusus penghancur ember.”
Yanti sampai tertawa keras.
Untuk sesaat…
beban di hatinya terasa hilang.
Namun di sisi lain lapangan…
Lila memperhatikan semuanya diam-diam.
Ia sebenarnya juga ikut ekstrakurikuler seni tari yang kadang latihan di balai desa.
Dan sejak dulu…
ia tidak pernah benar-benar suka pada Yanti.
Di SD dulu…
Yanti selalu jadi murid kesayangan guru.
Masuk SMP…
Yanti tetap disukai banyak teman.
Cantik.
Pintar.
Aktif karate.
Dekat dengan banyak orang.
Bahkan sekarang…
Mas Nur yang terkenal kalem dan disukai banyak siswi…
justru memilih dekat dengan Yanti.
Hal itu membuat hati Lila perlahan dipenuhi iri.
“Lihat tuh…” bisik Lila pada Rina.
“Apa?”
“Mas Nur pulang dari Kendal pasti nyari Yanti.”
Rina melirik sekilas.
“Oh…”
“Padahal banyak yang lebih cantik.”
Rina tertawa kecil.
“Kamu termasuk?”
Lila langsung tersenyum tipis.
“Minimal nggak sok alim.”
Mereka tertawa pelan.
Sementara dari kejauhan…
Yanti sama sekali tidak sadar sedang diperhatikan.
Beberapa hari kemudian…
suasana sekolah makin sibuk karena pentas seni antar kelas semakin dekat.
Aula sekolah hampir tidak pernah sepi.
Ada yang latihan drama.
Ada yang latihan puisi.
Ada yang latihan tari.
Dan sebagian lagi…
hanya numpang ribut.
Dandang berdiri di atas meja sambil latihan lawakan.
“Kalau aku sukses nanti…”
“Apa?” tanya Bambang malas.
“Aku bakal punya rumah tiga tingkat.”
“Modalnya?”
“Ketampanan.”
Satu aula langsung diam.
Lalu—
“HHAHAHAHA!”
Bahkan penjaga sekolah ikut tertawa dari luar.
Yuli sampai tepuk meja.
“Kalau muka kamu modal…”
“Bangkrut dari lahir!”
“Hahaha!”
Dandang langsung tersinggung.
“Heh! Kalian nggak ngerti seni!”
Aziz nyeletuk cepat.
“Yang ada muka kamu bikin seni menderita.”
“HHAHAHAHA!”
Suasana aula pecah oleh tawa.
Bahkan Yanti sampai memegangi perut.
Dan Mas Nur yang baru datang dari Kendal hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum kecil melihat tingkah mereka.
Namun di sudut aula…
Lila mulai memainkan sesuatu.
Ia duduk bersama Rina sambil pura-pura serius melihat latihan.
“Kamu tahu nggak…”
“Apa?”
“Katanya Yanti sama Mas Nur sering jalan malam.”
Rina mengangkat alis.
“Serius?”
“Iya…”
“Anak karate juga banyak yang lihat katanya.”
Padahal itu dilebih-lebihkan.
Rina mulai tertarik.
“Terus?”
“Ya nggak baik aja dilihatnya.”
Lila tersenyum tipis.
Dan dari situlah…
fitnah kecil mulai lahir.
Awalnya hanya bisik-bisik kecil.
Lalu berubah jadi gosip.
Dan semakin lama…
ceritanya makin liar.
“Katanya Yanti sama Mas Nur sering ketemu malam-malam…”
“Serius?”
“Iya.”
“Bukannya Mas Nur sekolah STM di Kendal?”
“Makanya…”
“Kalau pulang pasti nyari Yanti.”
“Heh katanya mereka pernah pegangan tangan di pasar malam.”
“Yang itu mah semua orang lihat.”
“Tapi katanya mereka sering pergi diam-diam.”
“Wah…”
Sedikit demi sedikit…
nama Yanti mulai jadi bahan omongan.
Saat jam istirahat…
Yanti mulai merasa ada yang aneh.
Beberapa siswi melihatnya sambil berbisik.
Bahkan ada yang tertawa kecil saat ia lewat.
“Heh…” kata Anita pelan.
“Apa?”
“Kayaknya ada gosip tentang kamu.”
“Hah?”
Yuli datang tergesa-gesa.
“Gawat.”
“Ada apa lagi?”
“Anak kelas sebelah ngomongin kamu sama Mas Nur.”
Yanti langsung bingung.
“Ngomongin apa?”
Yuli ragu sebentar.
“Katanya kalian suka jalan malam berdua.”
“Hah?!”
“Dan katanya…”
Yuli makin pelan.
“Kalian udah pacaran kelewatan.”
DEG.
Wajah Yanti langsung pucat.
“Apa-apaan itu?!”
Anita langsung ikut emosi.
“Kurang ajar banget…”
Namun sebelum mereka sempat mencari tahu—
beberapa anak laki-laki lewat sambil tertawa.
“Eh Yantiii…”
“Kalau malam jangan pulang terlalu larut ya…”
“HHAHAHAHA!”
Muka Yanti langsung merah karena malu dan marah.
Di kelas…
suasana makin tidak nyaman.
Mas Nur yang baru tahu gosip itu langsung berubah serius.
“Siapa yang nyebarin?”
Bambang ikut berdiri.
“Kalau ketemu orangnya gue tabok.”
Dandang langsung menggulung lengan baju.
“Setuju.”
Aziz ikut nimbrung.
“Aku pegangin orangnya.”
Karwan menyahut.
“Aku yang nyari bambunya.”
“HHAHAHAHA!”
Biasanya candaan itu akan membuat semua tertawa.
Namun kali ini…
tak ada yang benar-benar merasa lucu.
Karena Yanti mulai menahan air mata.
“Aku nggak pernah ngelakuin itu…”
Mas Nur menatapnya lembut.
“Aku tahu.”
“Tapi semua orang ngomongin…”
Suara Yanti mulai bergetar.
Dan untuk pertama kalinya…
ia merasa harga dirinya benar-benar terluka.
Tak lama kemudian…
keadaan makin buruk.
Saat pelajaran berlangsung…
selembar kertas tiba-tiba dilempar ke meja Yanti.
PLAK.
Yuli cepat mengambilnya.
Dan saat dibuka—
wajahnya langsung berubah marah.
“Astaga…”
“Apa?” tanya Anita.
Di kertas itu tertulis:
“Anak alim ternyata suka jalan sama cowok malam-malam.”
Yanti langsung membeku.
Tangannya gemetar.
Sementara beberapa anak belakang malah cekikikan.
Mas Nur berdiri cepat.
“Siapa yang lempar?!”
Tak ada yang menjawab.
Namun matanya langsung tertuju pada kelompok Budi dan beberapa anak kelas sebelah yang sedang tertawa.
Budi menyeringai santai.
“Lho salah sendiri kalau jadi bahan gosip.”
BRAK!
Mas Nur langsung memukul meja keras.
Satu kelas kaget.
Karena selama ini…
Mas Nur dikenal paling tenang.
“Jangan sembarangan ngomong!” bentaknya.
Suasana langsung panas.
Budi berdiri sambil tersenyum menantang.
“Kenapa?”
“Takut rahasianya ketahuan?”
“Heh!” bentak Bambang.
“Mulutmu dijaga!”
Namun Budi malah tertawa.
“Wah sekarang pahlawan semua ya?”
Dandang ikut berdiri.
Meski tubuhnya paling kecil…
gayanya paling galak.
“Gue kecil begini…”
“Bisa nendang limpa lo.”
“HHAHAHAHA!”
Beberapa anak tertawa gugup.
Namun suasana tetap tegang.
Yanti akhirnya berdiri.
“CUKUP!”
Satu kelas langsung diam.
Air matanya mulai jatuh.
“Aku nggak pernah ngelakuin apa yang kalian omongin…”
Suasana mendadak sunyi.
“Aku capek…”
“Kenapa kalian jahat banget…”
Kalimat itu membuat beberapa anak mulai merasa bersalah.
Namun Lila yang duduk di belakang…
hanya memandang datar.
Mas Nur mendekat perlahan.
“Yanti…”
Namun Yanti langsung pergi keluar kelas sambil menangis.
Anita dan Yuli buru-buru mengejar.
“Heh Yanti tunggu!”
Sementara di dalam kelas…
suasana hampir meledak.
Bambang langsung mendekati Budi.
“Kalau lo masih ngomong sembarangan…”
“Kenapa?”
“Gue hajar.”
Budi ikut maju.
“Coba aja.”
Suasana langsung ricuh.
“WOY WOY WOY!”
Dandang panik melerai.
Aziz ikut menarik Bambang.
Karwan menahan Budi.
Bahkan meja hampir jatuh karena dorong-dorongan.
Di luar kelas…
Yanti menangis di dekat taman belakang sekolah.
Dadanya sesak.
Ia tidak pernah menyangka…
namanya akan jadi bahan omongan seperti itu.
Anita memeluk pundaknya.
“Udah…”
Yuli ikut duduk di sampingnya.
“Orang-orang emang suka ngomong sembarangan.”
“Tapi kenapa harus aku…” lirih Yanti.
Air matanya terus jatuh.
“Aku malu…”
Saat itulah—
terdengar suara motor berhenti di depan sekolah.
Ternyata Riyadi datang mengantar perlengkapan karate untuk acara pentas seni.
Ia langsung melihat Yanti menangis.
“Heh Sinok…”
Yanti cepat menghapus air mata.
Namun Riyadi sudah tahu.
“Ada apa?”
Tak ada yang langsung menjawab.
Sampai akhirnya Yuli mengomel panjang.
“Anak-anak nyebar gosip nggak jelas!”
“Fitnah semua!”
Mata Riyadi langsung berubah serius.
“Siapa?”
Tak lama kemudian…
Riyadi berjalan masuk ke kelas.
Suasana masih panas.
Mas Nur berdiri dengan emosi tertahan.
Bambang masih menatap tajam ke arah Budi.
Dan Dandang sibuk jadi penengah gagal.
“Heh santai woi…”
Begitu Riyadi masuk…
kelas langsung sedikit diam.
Karena hampir semua anak tahu—
Riyadi adalah senior karate yang disegani.
“Ada apa ini?” tanyanya tenang.
Tak ada yang langsung menjawab.
Sampai akhirnya Mas Nur berkata pelan—
“Yanti difitnah.”
Riyadi menatap satu per satu wajah anak di kelas.
Lalu berkata dengan nada dingin—
“Bercanda ada batasnya.”
“Kalau sampai bikin perempuan nangis…”
“Itu pengecut.”
Suasana langsung hening.
Budi yang tadi paling berani…
kini mulai salah tingkah.
Malam harinya…
Yanti duduk diam di teras rumah.
Langit mendung.
Angin malam terasa dingin.
Ima duduk di dekatnya sambil membawa buku sekolah.
“Kak…”
“Hm?”
“Jangan sedih terus.”
Yanti tersenyum kecil.
“Kamu ngerti apa?”
Ima mengangguk serius.
“Kalau Kak Yanti sedih…”
“Rumah jadi ikut sedih.”
Kalimat polos itu membuat dada Yanti menghangat.
Tak lama kemudian—
Riyadi datang membawa kantong gorengan.
“Nih.”
Yanti tertawa kecil.
“Kakang selalu bawa gorengan.”
“Karena orang sedih nggak boleh lapar.”
Untuk pertama kalinya hari itu…
Yanti tersenyum sedikit lebih lega.
Dan Riyadi kembali sadar—
betapa besar ia ingin menjaga adik angkatnya itu dari semua luka dunia.
BAB XX
TAMPARAN, RAHASIA, DAN AWAL PENGKHIANATAN
Hujan turun sejak subuh di Desa Tegorejo.
Langit tampak kelabu menggantung rendah di atas hamparan sawah. Jalan-jalan kecil desa berubah becek. Air menetes dari daun pisang di depan rumah-rumah warga.
Pagi itu suasana rumah Bu Rosmiyati terasa lebih sunyi dibanding biasanya.
Yanti duduk di depan cermin kecil dengan wajah pucat. Matanya sembab karena semalaman menangis memikirkan gosip yang terus menyebar di sekolah.
Di belakangnya, Ima yang kini duduk di kelas enam SD sedang mengenakan seragam olahraga karate.
“Ima berangkat latihan nanti sore ya, Mbak,” katanya pelan sambil mengepang rambut sendiri.
Yanti hanya mengangguk kecil.
Bu Rosmiyati keluar dari dapur membawa teh hangat.
“Sinok…” katanya lembut.
Yanti menoleh pelan.
“Jangan dipikir terlalu dalam.”
“Tapi orang-orang ngomong terus, Buk…”
Bu Rosmiyati duduk di samping anak gadisnya.
“Mulut orang nggak bisa ditutup.”
“Tapi hati kita bisa dijaga.”
Air mata Yanti hampir jatuh lagi.
“Aku malu…”
“Kenapa malu kalau kamu nggak salah?”
Yanti menggigit bibirnya pelan.
“Di sekolah semua lihat aku aneh sekarang…”
Ima ikut mendekat.
“Kalau ada yang nakal, bilang Kakang Riyadi aja.”
Yanti tersenyum kecil mendengar itu.
Sejak Yanti ikut karate di ranting kecamatan, Riyadi memang sering hadir sebagai sosok penenang. Lelaki yang lebih tua beberapa tahun itu sudah dianggap kakak sendiri oleh keluarga mereka.
Bahkan Bu Rosmiyati pernah berkata langsung padanya:
“Yadi… tolong jagain Sinok.”
Dan sejak saat itu, Riyadi selalu menjaga Yanti seperti adik kandungnya sendiri.
Di SMP Tegorejo…
suasana jauh lebih panas dibanding cuaca pagi itu.
Begitu Yanti masuk gerbang sekolah, beberapa bisik langsung terdengar.
“Itu Yanti…”
“Katanya semalam dianter Mas Nur lagi…”
“Anak alim ternyata…”
Yanti langsung menunduk.
Dadanya sesak.
Anita yang melihat cepat menggandeng tangannya.
“Udah nggak usah didengerin.”
Namun Yanti tahu…
gosip itu sudah menyebar terlalu jauh.
Di lorong kelas delapan…
Dandang sedang berdiri di atas bangku sambil pura-pura pidato.
“Saudara-saudara!”
“Negara kita sedang krisis!”
Yuli melotot.
“Krisis apaan?”
“Krisis cinta dan gosip!”
“HHAHAHAHA!”
Beberapa anak tertawa.
Namun tawa itu cepat hilang saat Yanti masuk kelas.
Suasana langsung canggung.
Bahkan Bambang yang biasanya paling ribut hanya diam sambil memainkan pulpen.
Ia melirik Yanti sekilas.
Lalu membuang muka.
Tak lama kemudian…
Budi datang dari kelas sebelah bersama dua temannya.
Anak STM biasanya terkenal lebih urakan.
Dan meski Budi masih SMP, tingkahnya sering seperti anak jalanan.
“Heh…” katanya sambil menyeringai.
“Pagi Yanti…”
Tak ada jawaban.
Budi malah tertawa kecil.
“Mas Nur mana?”
Suasana kelas langsung berubah tegang.
Mas Nur memang sudah lulus SMP Tegorejo beberapa bulan lalu dan kini sekolah di STM Kendal.
Namun karena rumahnya masih satu desa dan sering pulang sore melewati Tegorejo, ia kadang masih menemui Yanti sepulang sekolah atau saat latihan karate selesai.
Itulah yang kemudian jadi bahan gosip.
“Heh Bud…” kata Bambang pelan.
“Mulutmu dijaga.”
Budi malah tertawa.
“Kenapa?”
“Emang salah?”
Dandang langsung berdiri.
“Kalau nyari ribut bilang dari awal.”
“Hahaha… si pelawak ikut marah.”
Dandang menunjuk dirinya sendiri.
“Aku ini artis masa depan.”
“Bukan satpam cinta.”
Beberapa anak tertawa kecil.
Namun suasana tetap panas.
Saat pelajaran berlangsung…
Yanti benar-benar tidak bisa fokus.
Tangannya dingin.
Pikirannya kacau.
Bahkan tulisan di papan terasa kabur.
Bu Ratna yang sedang mengajar Bahasa Indonesia sampai memperhatikan.
“Yanti?”
Yanti kaget.
“Iya Bu?”
“Kamu sakit?”
“Enggak…”
“Kamu pucat.”
Seluruh kelas langsung melihat ke arahnya.
Dan itu membuat Yanti makin tidak nyaman.
Saat istirahat…
keributan besar akhirnya pecah.
Semua bermula ketika Budi duduk di depan kelas sambil bercanda keras bersama anak-anak lain.
“Heh katanya Mas Nur anak STM sekarang ya?”
“Iya.”
“Wah anak STM terkenal berani tuh.”
“Hahaha!”
Lalu tiba-tiba…
Budi berkata keras sengaja agar Yanti mendengar.
“Pantes aja Yanti suka.”
“Habis anak STM lebih keren daripada anak SMP.”
Beberapa anak langsung saling pandang.
Yanti mengepalkan tangan.
Namun Budi belum berhenti.
“Kalau malam dianter pulang naik motor pasti romantis tuh.”
PLAK!
Suara tamparan keras menggema satu kelas.
Semua membeku.
Yanti berdiri dengan napas gemetar.
Tangannya masih terangkat.
Ia benar-benar menampar Budi.
Anita sampai menutup mulut.
“Ya Allah…”
Bambang langsung berdiri cepat.
Dandang melongo.
“Heh…”
Budi memegang pipinya perlahan.
Matanya membelalak tak percaya.
“Kamu nampar gue?”
Air mata Yanti jatuh.
“Jangan hina aku…”
Suaranya bergetar.
“Aku nggak pernah bikin malu siapa pun…”
Kelas benar-benar sunyi.
Tak ada yang berani bicara.
Namun masalah belum selesai.
Karena siang itu…
berita tamparan itu langsung menyebar ke seluruh sekolah.
“Yanti nampar Budi!”
“Serius?!”
“Gara-gara Mas Nur katanya!”
“Waduh…”
Dan seperti api kena bensin…
gosip itu makin membesar.
Sore harinya…
langit masih mendung ketika latihan karate dimulai di balai desa kecamatan.
Suara teriakan kiai karate menggema.
“HIAAAAT!”
Anak-anak berbaris memakai seragam putih.
Sensei Sambas berjalan mengawasi satu per satu.
“Posisi kaki yang benar!”
“Karwan jangan melamun!”
“Hahaha!”
Agus langsung tertawa.
Karwan nyengir malu.
Di sudut aula…
Yanti tampak murung sejak datang.
Bahkan gerakannya kacau.
Sensei Anton sampai mengernyit.
“Sinok!”
Yanti kaget.
“Iya Sensei…”
“Konsentrasi!”
“Siap…”
Namun jelas pikirannya tidak ada di tempat itu.
Saat istirahat latihan…
Riyadi datang membawa teh hangat plastik dari warung depan.
“Heh Sinok…”
Yanti menoleh pelan.
“Kakang…”
Riyadi duduk di sampingnya.
“Aku dengar soal sekolah.”
Yanti langsung diam.
“Aku malu, Kang…”
Riyadi tersenyum kecil.
“Kenapa?”
“Semua orang ngomongin aku.”
“Memangnya mereka yang nentuin hidupmu?”
Yanti menunduk.
“Tapi capek…”
Riyadi mengacak pelan kepala Yanti seperti kakak sendiri.
“Kamu itu terlalu mikirin omongan orang.”
“Tapi aku takut ibu sedih…”
Riyadi menatapnya lembut.
“Bu Rosmiyati justru bangga punya anak kayak kamu.”
Yanti perlahan mulai menangis lagi.
Dan seperti biasa…
Riyadi hanya diam menemani.
Tidak banyak bertanya.
Tidak menghakimi.
Hanya hadir.
Dan itu cukup membuat hati Yanti lebih tenang.
Namun dari kejauhan…
seseorang memperhatikan mereka.
Lila.
Ia datang menjemput sepupunya yang ikut karate.
Dan ketika melihat Riyadi duduk dekat Yanti…
matanya langsung menyipit.
“Hm…”
Pikirannya mulai berjalan lagi.
“Jadi bukan cuma Mas Nur…”
gumamnya pelan.
Dan untuk pertama kalinya…
ia mulai menyusun fitnah yang lebih besar.
Malam harinya…
Mas Nur datang ke rumah Yanti.
Bukan memakai seragam SMP lagi.
Melainkan jaket abu-abu STM Kendal dengan tas teknik di pundaknya.
Suara motor tuanya berhenti pelan di depan rumah.
Ima langsung berlari keluar.
“Kak Mas Nuuur!”
Mas Nur tersenyum kecil.
“Heh Ima…”
Bu Rosmiyati keluar dari dalam rumah.
“Mari masuk, Nur.”
“Iya Buk…”
Namun saat melihat Yanti keluar dengan mata sembab…
senyum Mas Nur perlahan hilang.
“Kamu nangis lagi?”
Yanti diam.
Mas Nur mengepalkan tangan pelan.
“Budi keterlaluan.”
“Kamu jangan cari ribut lagi…”
“Aku nggak suka lihat kamu disakitin.”
Suasana teras rumah terasa hangat namun penuh tekanan.
Lampu minyak kecil bergoyang diterpa angin malam.
Dan di tengah suara jangkrik desa…
hubungan mereka perlahan memasuki fase baru.
Fase yang lebih rumit.
Lebih dewasa.
Dan lebih menyakitkan.
Karena kini…
yang mereka hadapi bukan lagi sekadar rasa suka masa SMP.
Melainkan omongan orang.
Harga diri.
Kecemburuan.
Dan pengkhianatan yang mulai tumbuh dari lingkaran pertemanan mereka sendiri.
BAB XXI
MALAM PENTAS SENI DAN HATI YANG MULAI TERPECAH
Waktu berjalan cepat di Desa Tegorejo.
Sawah-sawah masih hijau seperti dulu. Jalan desa masih dipenuhi suara sepeda ontel dan motor tua setiap pagi. Namun anak-anak yang dulu berlarian di halaman SD kini mulai tumbuh semakin dewasa.
Yanti sekarang duduk di kelas sembilan SMP Tegorejo.
Sementara Ima, adiknya, akhirnya resmi masuk SMP yang sama sebagai murid kelas tujuh.
Dan Mas Nur…
kini sudah menjadi siswa STM Kendal tingkat dua.
Ia tidak lagi memakai seragam putih biru.
Sekarang ia lebih sering terlihat memakai seragam abu-abu khas STM dengan sepatu hitam penuh debu bengkel dan tas teknik yang berat.
Namun meski sekolah mereka berbeda…
hubungan Yanti dan Mas Nur justru semakin rumit.
Karena semakin hari…
rasa sayang mereka mulai bercampur dengan rasa cemburu.
Pagi itu SMP Tegorejo sudah ramai luar biasa.
Hari pentas seni tahunan akhirnya tiba.
Anak-anak sibuk menghias panggung sederhana di lapangan sekolah. Bendera warna-warni dipasang miring di sana-sini. Kursi plastik dipinjam dari rumah warga. Speaker tua milik balai desa dipasang dekat panggung hingga suaranya kadang mendengung.
“TESSS… TESSS…”
“Masuk nggak suaranya?!”
“Masuk kuping doang!”
“HHAHAHAHA!”
Suasana sekolah benar-benar heboh.
Di belakang panggung…
Dandang menjadi orang paling ribut sedunia.
Ia muncul memakai jas cokelat kebesaran milik pamannya.
Lengannya sampai menutupi telapak tangan.
Celananya menggantung setengah betis.
Dan rambutnya penuh minyak sampai mengilap seperti penggorengan bakwan.
Yuli langsung memekik.
“YA AMPUN!”
Anita sampai duduk sambil tertawa.
“Dang… kamu kayak penyanyi organ tunggal gagal!”
Dandang tersinggung.
“Heh! Ini style anak kota!”
Bambang langsung nyeletuk sambil makan gorengan.
“Kota mana?”
“Kendal!”
“Lebih tepatnya pasar Kendal.”
“HHAHAHAHA!”
Satu ruangan langsung pecah.
Bahkan Ima yang baru pertama ikut pentas seni SMP sampai tertawa sambil memegang perut.
“Kak Dandang lucu banget…”
Dandang langsung bangga.
“Nah dengar tuh! Adiknya Yanti aja ngerti fashion!”
“Fashion apaan?!” teriak Yuli.
Namun di tengah keramaian itu…
Yanti justru terlihat murung.
Ia duduk di depan cermin kecil sambil membetulkan jilbab putihnya perlahan.
Anita memperhatikan sahabatnya itu cukup lama.
“Kamu kenapa?”
“Enggak…”
“Bohong.”
Yuli ikut duduk di sampingnya.
“Mas Nur lagi?”
Yanti diam beberapa detik.
Lalu menghela napas pelan.
“Semalam kita berantem lagi…”
Anita langsung mengernyit.
“Gara-gara apa?”
“Karena Riyadi.”
Yuli spontan melotot.
“Hah?”
Masalah itu memang mulai sering muncul beberapa bulan terakhir.
Sejak Yanti makin aktif di karate dan organisasi sekolah…
pergaulannya semakin luas.
Ia dekat dengan banyak teman.
Ada Agus, Aziz, Karwan, Munasro, bahkan anak-anak ranting karate dari desa lain.
Dan yang paling dekat tentu saja Riyadi.
Kakang Riyadi.
Lelaki yang sudah dianggap kakak sendiri oleh keluarga Yanti.
Namun Mas Nur…
tidak pernah benar-benar nyaman dengan semua itu.
Flashback malam sebelumnya…
Di depan rumah Bu Rosmiyati…
Mas Nur duduk diam di kursi bambu.
Wajahnya dingin.
Sementara Yanti mulai kesal.
“Kamu kenapa sih?”
“Biasa aja.”
“Kalau biasa aja nggak mungkin diem dari tadi.”
Mas Nur menatap jalan desa gelap di depan rumah.
“Tadi sore kamu pulang sama Riyadi lagi.”
Yanti langsung menghela napas.
“Ya karena habis latihan karate bareng.”
“Tapi kenapa harus berdua terus?”
“Lho yang lain juga ada!”
“Yang aku lihat cuma kamu sama dia.”
Nada suara Mas Nur mulai berubah.
Yanti ikut naik emosi.
“Kakang Riyadi itu kayak kakakku sendiri!”
“Tapi dia bukan kakak kandungmu.”
DEG.
Kalimat itu langsung membuat Yanti terluka.
“Kamu nggak percaya sama aku?”
“Bukan gitu…”
“Terus apa?!”
Suasana langsung tegang.
Dari dalam rumah…
Bu Rosmiyati hanya bisa saling pandang dengan Ima.
Ima sampai berbisik kecil.
“Mbak sama Mas Nur berantem lagi…”
Bu Rosmiyati menghela napas panjang.
Kembali ke hari pentas seni…
Yanti masih terlihat memikirkan pertengkaran itu.
Sampai tiba-tiba…
suara motor terdengar memasuki halaman sekolah.
BRRRRMMM…
Beberapa siswi langsung menoleh.
“Itu anak STM Kendal ya?”
“Kayaknya Mas Nur…”
Dan benar saja.
Mas Nur datang bersama dua temannya sesama STM.
Memakai jaket abu-abu bengkel dan celana hitam.
Begitu turun dari motor…
beberapa siswi langsung salah tingkah.
“Anak STM emang auranya beda ya…”
“Ih serem tapi keren…”
Namun Mas Nur tidak memperhatikan siapa pun.
Matanya langsung mencari Yanti.
Dan saat melihat Yanti tertawa bersama Aziz dan Karwan dekat panggung…
wajahnya langsung berubah sedikit dingin.
Aziz sedang membantu memasang lampu.
“Heh Yanti pegang bawahnya!”
“Iya iya!”
Karwan ikut bercanda.
“Kalau lampunya jatuh kita pura-pura mati aja.”
“HHAHAHA!”
Yanti tertawa kecil.
Namun tawanya perlahan hilang saat melihat Mas Nur datang.
“Mas…”
Mas Nur mendekat pelan.
“Kamu sibuk.”
“Iya ini bantu dekorasi.”
Mas Nur melirik Aziz dan Karwan sekilas.
Lalu berkata datar.
“Rame ya temen cowokmu sekarang.”
Suasana langsung berubah canggung.
Aziz cepat-cepat turun dari kursi.
“Heh aku ke depan dulu.”
Karwan ikut kabur.
“Hahaha iya gue juga.”
Begitu mereka pergi…
Yanti langsung menatap Mas Nur kesal.
“Kamu mulai lagi?”
“Aku ngomong salah?”
“Iya!”
“Aku cuma bantu acara sekolah!”
“Tapi kamu terlalu dekat sama mereka.”
Yanti mulai emosi.
“Semua orang juga temenan!”
“Tapi nggak semua orang ketawa terus sama cowok lain.”
Kalimat itu menusuk hati Yanti.
“Kamu posesif banget sekarang…”
Mas Nur diam.
Namun jelas wajahnya penuh cemburu.
Di kejauhan…
Bambang memperhatikan semuanya sambil duduk di pagar sekolah.
Dandang datang membawa es lilin.
“Heh…”
“Apa?”
“Mereka berantem lagi.”
Bambang mengangguk kecil.
“Mas Nur terlalu takut kehilangan.”
Dandang ikut duduk.
“Kalau kamu jadi dia gimana?”
Bambang tertawa hambar.
“Kalau aku jadi dia…”
“Aku juga bakal takut.”
Acara pentas seni akhirnya dimulai malam hari.
Lapangan sekolah penuh warga desa.
Anak-anak kecil berlarian membawa balon.
Pedagang cilok dan jagung bakar memenuhi pinggir lapangan.
Lampu panggung berkedip-kedip tidak jelas.
Dan seperti biasa…
MC paling rusuh sedunia adalah Dandang.
“SELAMAT MALAM WARGA TEGOREJOOO!”
“WOOOO!”
“Kalau ada yang kehilangan sandal harap jangan nuduh saya!”
“HHAHAHAHA!”
Kepala sekolah sampai geleng-geleng kepala.
Penampilan demi penampilan berlangsung meriah.
Ima ikut tampil tari tradisional bersama anak kelas tujuh.
Yanti tersenyum bangga melihat adiknya.
“Kamu bagus tadi.”
Ima langsung senyum lebar.
“Beneran?”
“Iya.”
Namun sebelum suasana hangat itu lama…
Mas Nur datang lagi.
Dan wajahnya masih terlihat dingin.
“Kamu habis ngobrol sama siapa tadi belakang panggung?”
Yanti langsung lelah sendiri.
“Mas…”
“Aziz lagi?”
“Ya Allah…”
“Kamu kenapa sih?”
“Aku cuma nggak suka.”
“Kenapa harus nggak suka?!”
Karena emosi mulai menumpuk…
suara Yanti ikut meninggi.
Beberapa anak mulai melirik.
Yuli langsung panik.
“Heh jangan ribut di sini…”
Namun pertengkaran mereka terus berlanjut.
“Aku capek dicurigain terus!” bentak Yanti.
“Aku juga capek lihat kamu dekat sama banyak cowok!”
“Itu temen!”
“Tapi kamu terlalu nyaman sama mereka!”
Yanti benar-benar sakit hati.
“Kalau gitu sekalian aja aku nggak usah punya temen!”
Mas Nur langsung diam.
Namun emosinya juga belum reda.
“Aku cuma takut kehilangan kamu…”
Kalimat itu membuat suasana mendadak sunyi.
Yanti menatap Mas Nur dengan mata berkaca-kaca.
“Tapi cara kamu bikin aku sesak…”
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya…
Yanti berjalan pergi meninggalkan Mas Nur di tengah keramaian pentas seni.
Air matanya jatuh.
Ia terus berjalan sampai keluar gerbang sekolah.
Melewati jalan desa yang gelap dan dingin.
Sampai akhirnya…
suara motor pelan berhenti di sampingnya.
“Sinok…”
Yanti menoleh.
“Kakang…”
Ternyata Riyadi.
Wajah lelaki itu langsung berubah khawatir melihat Yanti menangis.
“Heh…”
“Kenapa lagi?”
Yanti langsung menangis lebih keras.
“Capek Kang…”
Riyadi menghela napas pelan.
“Mas Nur lagi?”
Yanti mengangguk.
“Dia nggak suka aku punya banyak temen…”
Riyadi diam beberapa saat.
Lalu membuka helmnya.
“Naik dulu.”
Yanti menurut pelan.
Dan malam itu…
di tengah angin dingin Desa Tegorejo…
Riyadi kembali menjadi tempat Yanti menenangkan hati.
Mereka berhenti di warung kopi kecil dekat jembatan desa.
Lampu temaram.
Suara jangkrik terdengar jelas.
Riyadi membeli teh hangat.
“Nih.”
Yanti menerima gelas plastik itu pelan.
“Kakang…”
“Hm?”
“Aku salah nggak sih?”
Riyadi tersenyum kecil.
“Kalau soal hati…”
“Nggak selalu ada yang salah.”
“Tapi Mas Nur terlalu cemburu…”
“Karena dia sayang.”
“Kalau sayang harus bikin sesak ya?”
Pertanyaan itu membuat Riyadi diam cukup lama.
Lalu ia berkata pelan.
“Cinta pertama itu biasanya memang berisik.”
Yanti tertawa kecil di sela tangisnya.
“Berisik gimana?”
“Ya begini.”
“Sedikit-sedikit cemburu.”
“Sedikit-sedikit takut kehilangan.”
“Sedikit-sedikit putus.”
Yanti tersenyum tipis.
“Terus nyambung lagi?”
“Nah itu…”
“Hahaha…”
Untuk pertama kalinya malam itu…
Yanti kembali tertawa kecil.
Dan Riyadi merasa lega melihatnya.
Sementara di sekolah…
Mas Nur masih berdiri diam dekat panggung.
Bambang mendekat perlahan.
“Kamu keterlaluan tadi.”
Mas Nur mengusap wajahnya kasar.
“Aku takut kehilangan dia.”
Bambang menatap keramaian lapangan cukup lama.
Lalu berkata lirih.
“Kalau terlalu dikekang…”
“Perempuan juga bisa capek.”
Angin malam berembus dingin melewati lapangan SMP Tegorejo.
Lampu panggung masih berkedip.
Suara tawa masih terdengar.
Namun di balik meriahnya pentas seni malam itu…
hubungan Yanti dan Mas Nur mulai retak perlahan.
Bukan karena tidak saling sayang.
Melainkan karena rasa takut kehilangan…
yang diam-diam mulai tumbuh terlalu besar di hati mereka masing-masing.
BAB XXII
FOTO, CEMBURU, DAN MALAM YANG MENGUBAH SEGALANYA
Musim penghujan mulai benar-benar turun di Desa Tegorejo.
Pagi sering datang bersama kabut tipis di sawah.
Jalanan desa berubah becek.
Parit-parit kecil di pinggir rumah mulai penuh air.
Dan suara kodok bersahutan hampir setiap malam.
Namun di tengah udara dingin itu…
hubungan Yanti dan Mas Nur justru semakin panas.
Waktu terus berjalan.
Kini Yanti sudah duduk di kelas sembilan SMP Tegorejo.
Ima, adik Yanti, baru masuk kelas tujuh di sekolah yang sama.
Sementara Mas Nur…
sudah bukan siswa SMP lagi.
Ia kini menjadi siswa STM di Kendal.
Seragamnya bukan lagi putih biru.
Melainkan putih abu-abu dengan jaket praktik warna abu tua yang sering berbau oli bengkel.
Dan sejak masuk STM…
Mas Nur mulai jarang datang ke Tegorejo.
Ia lebih sibuk.
Kadang pulang sore.
Kadang malah hampir magrib karena kegiatan praktik.
Namun justru karena jarang bertemu itulah…
hubungannya dengan Yanti makin sering dipenuhi salah paham.
Pagi itu…
suasana SMP Tegorejo cukup ramai.
Anak-anak kelas sembilan sedang sibuk latihan untuk persiapan ujian praktik seni.
Di lapangan belakang sekolah…
terdengar suara anak-anak karate sedang latihan.
“HIYAAAT!”
“KUDA-KUDA YANG BENAR!”
Sensei Sambas berdiri sambil membawa peluit.
Sementara Ima terlihat serius mengikuti gerakan dasar bersama anak-anak baru.
“Heh Ima!” teriak Dandang dari pinggir lapangan.
Ima menoleh.
“Kakakmu mana?”
“Di aula!”
“Bilang jangan galak terus!”
Ima langsung melotot kecil.
“Situ aja yang nggak usah ganggu Kak Yanti!”
“Hahaha!”
Anak-anak langsung tertawa.
Di aula sekolah…
Yanti sedang membantu Anita menghias mading kelas.
Namun sejak tadi…
wajahnya tampak murung.
Anita melirik pelan.
“Kamu berantem lagi?”
Yanti diam.
“Mas Nur?”
Yanti menghela napas panjang.
“Semalam.”
“Lagi?”
“Iya…”
Yuli yang baru datang sambil membawa gunting langsung ikut nimbrung.
“Sekarang masalahnya apa?”
Yanti tampak kesal sendiri.
“Dia marah karena aku latihan karate sampai sore.”
“Hah?”
“Katanya aku terlalu dekat sama anak-anak cowok.”
Yuli langsung melongo.
“Lho memangnya salah?”
“Katanya aku sekarang beda…”
Kilatan kejadian semalam langsung teringat di kepala Yanti.
Malam sebelumnya…
Yanti baru pulang latihan karate hari Rabu sore.
Lapangan balai desa masih ramai waktu itu.
Aziz dan Agus sedang bercanda sambil membereskan matras.
Karwan—yang sedang pulang sebentar dari Tangerang—ikut datang melihat latihan.
“Heh Sinok!” panggil Riyadi sambil tertawa kecil.
Yanti menoleh.
“Apa Kakang?”
“Besok jangan lupa latihan fisik.”
“Iya…”
Riyadi memang selalu begitu.
Tenang.
Tidak banyak bicara.
Namun selalu hadir saat Yanti sedang kacau.
Dan sejak dulu…
atas permintaan Bu Rosmiyati…
Riyadi memang dianggap seperti kakak sendiri bagi Yanti.
Bahkan Ima juga memanggilnya “Kakang Riyadi”.
Namun malam itu…
saat Yanti pulang…
Mas Nur ternyata sudah menunggu di depan rumah.
Wajahnya dingin.
“Kamu dari mana?”
“Latihan karate…”
“Sampai malam?”
Yanti langsung tahu nada bicara itu.
Nada cemburu.
“Nggak malam juga…”
Mas Nur menatap tajam.
“Tadi aku lihat kamu ketawa-ketawa sama Riyadi.”
DEG.
Yanti langsung kesal.
“Lho Kakang Riyadi itu kayak kakak sendiri!”
“Tapi kalian dekat banget.”
“Karena dari dulu memang dekat!”
Mas Nur tertawa kecil hambar.
“Sekarang cowok di sekitarmu banyak banget ya.”
Kalimat itu langsung menusuk hati Yanti.
Kembali ke aula sekolah…
Yanti memejamkan mata sebentar mengingat semuanya.
Anita memegang bahunya pelan.
“Kamu capek ya?”
Yanti mengangguk kecil.
“Aku bingung…”
“Mas Nur sekarang gampang marah.”
Di sisi lain…
di STM Kendal…
Mas Nur juga sedang tidak tenang.
Suasana bengkel praktik pagi itu ramai suara besi.
TING!
TRANG!
Mesin bubut berdengung.
Anak-anak STM sibuk praktik.
Namun sejak tadi…
Mas Nur malah melamun sambil memegang kunci inggris.
“Heh Nur!”
Ternyata Aris—teman sekelasnya.
“Apa?”
“Kamu dari tadi bengong.”
“Enggak.”
“Boong.”
Aris tertawa kecil.
“Masalah cewek ya?”
Mas Nur langsung diam.
Dan diamnya sudah cukup menjawab.
Sementara itu…
sepulang sekolah…
Yanti ikut latihan karate Minggu pagi pengganti jadwal yang sempat libur hujan.
Lapangan balai desa cukup ramai.
Sensei Anton memimpin pemanasan.
“Satu!”
“Dua!”
“Tiga!”
Anak-anak mengikuti gerakan bersama.
Ima bahkan mulai terlihat lebih percaya diri.
“Heh Ima!” goda Agus.
“Sekarang tendanganmu lumayan.”
Ima langsung bangga.
“Tentu dong!”
“Hahaha!”
Sementara Yanti duduk sebentar di pinggir lapangan sambil minum.
Riyadi datang membawa es teh plastik.
“Nih.”
Yanti menoleh.
“Makasih Kakang.”
Riyadi duduk di sampingnya.
“Kamu habis nangis?”
Yanti langsung menunduk.
“Kelihatan ya?”
“Lumayan.”
Riyadi tersenyum tipis.
“Mas Nur lagi?”
Yanti diam cukup lama.
Lalu mengangguk kecil.
Riyadi memandang lapangan karate.
Anak-anak masih berteriak latihan kuda-kuda.
Angin pagi bertiup pelan membawa bau rumput basah.
“Kamu tahu nggak kenapa cowok gampang cemburu?”
“Kenapa?”
“Karena takut kehilangan.”
Yanti menatap Riyadi pelan.
“Tapi aku capek kalau dicurigai terus…”
Riyadi menghela napas.
“Cinta pertama memang paling ribet.”
Yanti malah tertawa kecil.
“Kakang sok tua.”
“Hahaha!”
“Padahal Kakang sendiri galau.”
Riyadi langsung nyengir hambar.
“Eh jangan bongkar aib.”
Memang…
belakangan Riyadi juga sedang bingung soal hidupnya sendiri.
Ia baru lulus dari SMA Negeri 1 Pegandon beberapa bulan lalu.
Namun sampai sekarang…
belum tahu harus kerja di mana.
Kadang ia ikut membantu pamannya di bengkel.
Kadang membantu di sawah.
Kadang hanya nongkrong di pos ronda sambil memikirkan masa depan.
Sementara Karwan…
teman sepermainannya dulu…
sudah bekerja di Tangerang.
Kadang Karwan mengirim surat atau titipan kabar lewat orang kampung.
“Di sini kerja capek…” katanya suatu waktu.
“Tapi lumayan buat bantu keluarga.”
Dan diam-diam…
Riyadi mulai berpikir ingin merantau juga.
Namun siang itu…
konflik Yanti dan Mas Nur justru makin membesar.
Semuanya bermula dari sebuah foto.
Hari itu anak-anak karate foto bersama setelah latihan.
Sensei Sambas berdiri di tengah.
Anak-anak berjejer.
Aziz iseng mengangkat sabuk tinggi-tinggi.
Agus malah gaya seperti jagoan film.
“Hahaha!”
Suasana ramai penuh tawa.
Dan tanpa sadar…
Riyadi berdiri cukup dekat di samping Yanti.
Klik.
Foto pun jadi.
Sore harinya…
entah bagaimana…
foto itu sampai ke tangan Mas Nur.
Kemungkinan dari teman STM yang masih kenal anak-anak Tegorejo.
Dan saat melihat foto itu…
hati Mas Nur langsung panas.
Malamnya…
ia datang ke rumah Yanti dengan wajah tegang.
“Kamu sekarang nyaman banget ya dekat sama Riyadi.”
Yanti yang sejak tadi sudah lelah langsung tersulut emosi.
“Mas Nur cukup!”
“Aku capek dicurigai terus!”
“Karena aku sayang sama kamu!”
“Tapi caramu bikin aku sesak!”
Suasana teras rumah langsung hening.
Ima yang sedang belajar di dalam sampai mengintip pelan.
Bu Rosmiyati juga mulai cemas mendengar suara mereka meninggi.
Mas Nur mengepalkan tangan.
“Aku cuma takut kehilangan kamu.”
Yanti menahan air mata.
“Aku nggak pernah ninggalin kamu…”
“Tapi kamu berubah.”
“Aku berubah gimana?!”
“Sekarang kamu lebih sering sama teman-teman karate.”
“Karena aku punya hidup sendiri!”
Kalimat itu langsung membuat Mas Nur diam.
Dan untuk pertama kalinya…
ia merasa jarak di antara mereka mulai benar-benar nyata.
Tak lama kemudian…
Riyadi muncul dari ujung jalan setelah mengantar Karwan ke rumah pamannya.
Melihat suasana tegang…
ia langsung berhenti.
“Heh…”
Mas Nur menoleh.
Dan entah kenapa…
tatapan keduanya langsung panas.
Yanti cepat berkata:
“Kakang jangan ikut-ikut…”
Namun Mas Nur sudah terlanjur emosi.
“Kalau bukan karena dia…”
Riyadi langsung memotong tenang.
“Jangan nyalahin orang lain kalau hubungan kalian lagi kacau.”
DEG.
Suasana makin tegang.
Mas Nur mendekat sedikit.
“Kamu nggak usah ikut campur.”
Riyadi tetap tenang.
“Aku cuma nggak suka lihat Sinok nangis terus.”
Kalimat itu justru makin membuat Mas Nur cemburu.
“Sinok… Sinok…”
“Dekat banget ya panggilannya.”
Yanti langsung panik.
“Mas Nur udah!”
Namun emosinya sudah terlalu tinggi.
Di tengah ketegangan itu…
tiba-tiba hujan turun deras.
BRAK!
Petir menyambar jauh di langit desa.
Angin malam meniup pohon bambu keras-keras.
Namun tak satu pun dari mereka bergerak.
Yanti akhirnya menangis.
“Aku capek…”
Suasana langsung berubah hening.
Air mata Yanti jatuh deras.
“Aku sayang sama kamu…”
“Tapi aku juga capek terus dicurigai…”
Mas Nur membeku.
Sementara Riyadi hanya diam memandang hujan.
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya…
Mas Nur pulang tanpa berpamitan.
Ia berjalan sendiri menembus hujan menuju jalan raya.
Meninggalkan Yanti yang masih menangis di teras rumah.
Meninggalkan hati yang mulai retak perlahan.
Riyadi mendekat pelan.
“Sinok…”
Yanti menunduk.
“Aku salah ya Kang?”
Riyadi menggeleng pelan.
“Kalian cuma sama-sama takut kehilangan.”
Ima ikut duduk di samping kakaknya.
“Kak Yanti jangan nangis…”
Yanti langsung memeluk adiknya erat.
Dan di tengah suara hujan malam Desa Tegorejo…
mereka semua mulai sadar…
bahwa cinta pertama tidak selalu tumbuh semakin indah.
Kadang…
semakin dewasa perasaan itu…
semakin banyak pula luka yang ikut tumbuh bersamanya.
BAB XXIII
CEMBURU YANG MULAI MEMBAKAR
Musim hujan belum benar-benar pergi dari Desa Tegorejo.
Pagi sering datang bersama kabut tipis yang menggantung di atas sawah.
Jalan-jalan kecil desa masih lembap.
Daun bambu basah oleh embun.
Dan langit kelabu seolah ikut menyimpan sesuatu yang berat.
Begitu juga hati Yanti.
Sejak pertengkaran malam di teras rumahnya…
hubungannya dengan Mas Nur tidak pernah benar-benar kembali seperti dulu.
Mereka masih saling bertemu.
Masih saling menyapa.
Namun rasa hangat itu perlahan menghilang.
Digantikan diam yang panjang.
Digantikan curiga.
Dan perlahan…
digantikan luka.
Kini Yanti sudah kelas sembilan SMP Tegorejo.
Sementara Mas Nur sudah menjadi siswa STM di Kendal.
Jarak sekolah yang berbeda membuat mereka makin jarang bertemu.
Mas Nur berangkat pagi buta naik bus kecil jurusan Kendal.
Pulang sore dengan tubuh lelah dan tangan kadang masih bau oli bengkel.
Sedangkan Yanti…
masih sibuk dengan sekolah, kegiatan karate, dan persiapan ujian akhir.
Namun justru karena jarang bertemu itulah…
rasa takut kehilangan di antara mereka tumbuh semakin besar.
Pagi itu…
suasana SMP Tegorejo cukup ramai.
Anak-anak kelas sembilan sedang latihan baris-berbaris untuk acara perpisahan sekolah.
“Heh lurus woi!” teriak Dandang.
“Kakimu jangan kayak kepiting!”
“Hahaha!”
Anak-anak langsung tertawa.
Sensei Sambas yang kebetulan lewat menuju aula sampai geleng-geleng kepala.
“Kalau mulutmu ikut lomba pasti juara.”
“Hahaha!”
Namun di tengah keramaian itu…
Yanti tampak jauh lebih diam.
Ia berdiri sambil memegang buku.
Tatapannya kosong.
Ima yang kini mulai akrab dengan kakak-kakak kelas mendekat pelan.
“Kak…”
Yanti menoleh.
“Iya?”
“Kakak habis nangis lagi ya?”
DEG.
Yanti langsung memalingkan wajah.
“Enggak.”
“Bohong…”
Ima menggenggam tangan kakaknya perlahan.
“Kalau Kak Yanti sedih terus… Ima juga ikut sedih.”
Kalimat itu langsung membuat dada Yanti sesak.
Sementara itu…
di STM Kendal…
Mas Nur juga sedang tidak tenang.
Suasana bengkel praktik pagi itu ramai suara mesin.
TRANG!
TING!
Anak-anak STM sibuk mengelas dan membongkar mesin motor.
Namun sejak tadi…
Mas Nur hanya duduk diam sambil memandangi foto kecil di dompetnya.
Foto Yanti.
“Heh Nur!”
Aris datang sambil membawa obeng.
“Kamu kenapa?”
“Enggak kenapa-kenapa.”
“Boong.”
Aris duduk di sampingnya.
“Masalah cewek lagi?”
Mas Nur tertawa kecil hambar.
“Kayaknya aku capek.”
“Capek pacaran?”
Mas Nur diam.
Lalu berkata lirih:
“Aku takut kehilangan dia…”
Sore harinya…
latihan karate kembali digelar di balai desa.
Lapangan cukup ramai.
Agus sibuk bercanda dengan Aziz.
Pincuk sedang membantu menggulung matras.
Munasro latihan tendangan sambil teriak terlalu keras sampai Dandang yang numpang lewat tertawa ngakak.
“Heh Nasro!”
“Apa?!”
“Tendanganmu kayak ayam masuk angin!”
“Hahaha!”
Suasana sempat ramai oleh tawa.
Namun Yanti tetap terlihat murung.
Riyadi yang sejak tadi duduk di gardu pinggir lapangan memperhatikannya diam-diam.
“Heh Sinok…”
Yanti menoleh pelan.
“Apa Kang…”
“Kamu latihan nggak fokus.”
Yanti tersenyum kecil hambar.
“Iya ya…”
Riyadi berjalan mendekat.
“Kalian berantem lagi?”
Yanti diam beberapa detik.
Lalu mengangguk pelan.
Angin sore bertiup pelan melewati pohon jati di pinggir lapangan.
Anak-anak masih latihan di belakang mereka.
“Heh…” kata Riyadi pelan.
“Kamu tahu nggak…”
“Apa?”
“Kadang orang yang terlalu takut kehilangan…”
“Justru bikin semuanya rusak sendiri.”
Yanti menunduk.
“Aku juga salah Kang…”
“Kenapa?”
“Aku capek dicurigai terus…”
Air matanya mulai menggenang.
“Tapi aku juga nggak bisa jauh dari dia…”
Malamnya…
pertengkaran besar akhirnya benar-benar terjadi.
Mas Nur datang ke rumah Yanti dengan wajah dingin.
Tidak seperti biasanya.
Tidak ada senyum.
Tidak ada candaan kecil.
Hanya wajah lelah penuh emosi.
Bu Rosmiyati yang sedang melipat pakaian langsung merasa suasana tidak enak.
“Ibu ke belakang dulu ya…”
Yanti hanya mengangguk kecil.
Di teras rumah…
suasana langsung hening.
Lampu bohlam kuning menggantung redup.
Suara jangkrik terdengar dari sawah belakang rumah.
Dan malam terasa sangat panjang.
“Kamu sekarang dekat banget sama Riyadi.”
Kalimat pertama Mas Nur langsung membuat Yanti lelah.
“Mas Nur…”
“Aku capek dengar itu terus.”
“Tapi memang begitu kenyataannya.”
“Dia itu Kakangku!”
“Tapi kalian terlalu dekat.”
Yanti langsung berdiri.
“Terus maumu apa?!”
Mas Nur ikut berdiri.
“Aku cuma pengen kamu ngerti perasaanku!”
“Aku juga pengen kamu ngerti aku!”
Suasana langsung memanas.
“Aku nggak pernah selingkuh!”
“Aku nggak bilang kamu selingkuh!”
“Tapi kamu selalu nuduh!”
“Karena aku takut kehilangan kamu!”
“Tapi caramu bikin aku sesak!”
Kalimat itu langsung menghantam dada Mas Nur.
Dan untuk pertama kalinya…
ia benar-benar terlihat lelah.
Beberapa detik mereka hanya saling diam.
Lalu Mas Nur berkata sangat pelan.
“Mungkin…”
“Kita memang harus jauh dulu.”
DEG.
Dunia Yanti seperti berhenti.
“Apa?”
Mas Nur memalingkan wajah.
“Aku capek curiga terus…”
“Aku capek cemburu…”
“Aku capek takut kehilangan kamu setiap hari.”
Air mata Yanti langsung jatuh.
“Kamu mau putus?”
Mas Nur diam.
Namun diamnya itu…
sudah cukup menjadi jawaban.
Yanti mulai menangis.
“Jadi segampang itu?”
“Enggak gampang…”
“Terus kenapa?”
Mas Nur mengepalkan tangan.
“Karena aku ngerasa aku makin nyakitin kamu.”
Kalimat itu membuat Yanti makin hancur.
“Aku sayang sama kamu…”
Suara Yanti bergetar hebat.
“Kenapa kita jadi begini…”
Mas Nur menatapnya lama sekali.
Matanya juga mulai merah.
Namun ia hanya berkata lirih:
“Maaf…”
Malam itu…
Mas Nur pulang tanpa banyak kata lagi.
Dan sejak malam itu…
hubungan mereka benar-benar retak.
Hari-hari setelahnya terasa sangat berat.
Yanti tetap sekolah.
Tetap ikut karate.
Tetap membantu ibunya di rumah.
Namun semuanya terasa kosong.
Ia jadi lebih sering diam.
Lebih sering melamun.
Dan lebih sering menangis diam-diam malam hari.
Ima sampai beberapa kali ikut menangis melihat kakaknya seperti itu.
Suatu sore…
Yanti duduk sendirian di pinggir sawah dekat jalan bambu.
Langit mendung.
Angin dingin bertiup pelan.
Dan matanya kosong memandang jauh.
Tiba-tiba suara langkah terdengar.
“Heh Sinok…”
Ternyata Riyadi.
Yanti langsung menghapus air matanya cepat.
“Kakang…”
“Kamu nangis lagi.”
“Enggak.”
“Matamu bohong.”
Riyadi duduk di sampingnya.
Beberapa saat mereka diam.
“Aku masih sayang banget sama dia Kang…”
Kalimat itu akhirnya keluar juga.
Dan setelah mengatakannya…
Yanti justru menangis semakin keras.
“Aku nggak ngerti kenapa jadi begini…”
Riyadi memandang sawah di depan.
“Aku tahu…”
“Tahu apa?”
“Cinta pertama memang paling susah dilupain.”
Yanti memeluk lututnya.
“Aku ngerasa kehilangan separuh hidupku…”
Riyadi tersenyum kecil hambar.
“Kamu tahu…”
“Dulu aku juga pernah ngerasain begitu.”
Yanti menoleh.
“Kakang pernah patah hati?”
“Ya pernah lah…”
“Hahaha…”
Meski tertawa kecil…
air mata Yanti tetap jatuh.
Namun luka terbesar belum datang.
Karena tiga hari kemudian…
kabar itu akhirnya terdengar.
Mas Nur pergi ke Jakarta.
Awalnya Yanti tahu dari Bambang.
Sore itu Bambang datang tergesa ke rumah.
“Heh Yanti!”
Yanti yang sedang menyapu langsung menoleh.
“Apa?”
“Mas Nur…”
DEG.
Jantung Yanti langsung berdebar.
“Kenapa?”
“Dia berangkat ke Jakarta.”
Dunia Yanti langsung terasa runtuh.
“Hah…?”
“Kata Eko… dia ikut omnya kerja.”
Yanti membeku.
“Berangkat kapan?”
“Tadi pagi.”
Air mata langsung jatuh begitu saja.
“Tapi…”
“Dia nggak pamit?”
Bambang perlahan menunduk.
“Nggak…”
Kalimat itu menghancurkan semuanya.
Mas Nur pergi.
Tanpa pamit.
Tanpa penjelasan.
Tanpa pelukan terakhir.
Tanpa ucapan selamat tinggal.
Malam itu…
Yanti menangis paling keras sepanjang hidupnya.
Di kamar kecilnya…
ia memeluk surat lama dari Mas Nur sambil sesenggukan.
Ima ikut menangis di sampingnya.
Bu Rosmiyati hanya bisa memeluk anak gadisnya erat.
“Udah Nduk…”
“Tapi sakit banget Buk…”
Kalimat itu membuat hati ibunya ikut hancur.
Hari-hari berikutnya menjadi masa paling gelap bagi Yanti.
Ia kehilangan semangat.
Di sekolah ia sering melamun.
Di latihan karate gerakannya kosong.
Bahkan Sensei Anton sampai bertanya:
“Kamu sakit?”
Yanti hanya tersenyum kecil.
“Enggak Sensei…”
Padahal hatinya benar-benar sakit.
Dan di titik terendah itu…
Riyadi selalu hadir.
Kadang mengajaknya jalan sore ke pematang sawah.
Kadang membawakan cilok favoritnya.
Kadang hanya duduk diam menemaninya menangis.
“Heh Sinok…”
“Apa…”
“Kalau mau nangis… nangis aja.”
Yanti langsung menunduk.
“Aku bodoh ya Kang…”
“Kenapa?”
“Aku masih nunggu dia pulang…”
Riyadi tersenyum tipis.
“Itu bukan bodoh.”
“Terus?”
“Itu namanya cinta.”
Air mata Yanti kembali jatuh.
Malam demi malam berlalu.
Dan perlahan…
Yanti mulai belajar satu hal yang paling menyakitkan dalam hidupnya:
bahwa cinta pertama…
tidak selalu berakhir bersama.
Kadang…
ia hanya datang untuk meninggalkan kenangan.
Kenangan yang begitu indah…
namun juga meninggalkan luka paling dalam.
BAB XXIV
AIR MATA DI BAWAH POHON TREMBESI
Langit Desa Tegorejo pagi itu tampak muram.
Awan kelabu menggantung rendah di atas hamparan sawah yang mulai menguning. Udara dingin turun sejak subuh. Jalan-jalan kecil desa masih basah oleh gerimis malam tadi.
Dan pagi itu…
hati Yanti jauh lebih dingin daripada cuaca desa.
Sudah hampir dua minggu Mas Nur menghilang.
Bukan sekadar menjauh.
Bukan sekadar marah.
Tetapi benar-benar pergi dari hidupnya.
Mas Nur sudah tidak sekolah lagi.
Setelah beberapa bulan masuk STM di Kendal…
ia memilih berhenti.
Keadaan ekonomi keluarganya yang semakin sulit membuatnya tidak bisa melanjutkan sekolah.
Dan tanpa banyak cerita…
ia memutuskan merantau ke Jakarta mengikuti temannya bekerja di proyek bangunan.
Keputusan itu datang begitu cepat.
Bahkan Yanti tidak sempat benar-benar memahami semuanya.
Yang paling menyakitkan…
Mas Nur pergi tanpa pamit baik-baik.
Tanpa penjelasan panjang.
Tanpa perpisahan yang layak.
Hanya meninggalkan luka yang menggantung di hati Yanti.
Pagi itu…
Yanti duduk diam di depan jendela kamarnya.
Seragam SMP-nya sudah rapi.
Namun matanya kosong.
Di luar rumah…
suara ibu-ibu desa mulai terdengar sibuk menyapu halaman.
Motor lewat sesekali.
Ayam berkokok.
Hidup tetap berjalan seperti biasa.
Namun tidak bagi Yanti.
Di tangannya…
masih ada surat kecil lusuh dari Mas Nur beberapa bulan lalu.
Tulisan tangan itu mulai pudar.
“Aku nggak akan ninggalin kamu.”
Air mata Yanti jatuh perlahan.
“Kenapa sekarang malah pergi…”
gumamnya lirih.
Bu Rosmiyati yang sejak tadi memperhatikan dari dapur mulai khawatir.
“Nduk…”
Yanti buru-buru menghapus air matanya.
“Iya Bu…”
“Kamu akhir-akhir ini kurusan.”
“Enggak kok…”
“Kamu habis nangis lagi ya?”
Yanti memaksa tersenyum.
Sulit menjelaskan pada ibunya…
bahwa yang hancur sekarang bukan tubuhnya.
Melainkan hatinya.
Di SMP…
suasana kelas sembilan mulai sibuk menghadapi ujian akhir.
Namun Yanti justru semakin sering melamun.
Anita sampai berkali-kali menyenggol lengannya.
“Heh…”
“Hm?”
“Kamu nggak nyatet.”
Yanti tersadar.
“Oh…”
Yuli yang duduk di belakang ikut menghela napas.
“Masih kepikiran Mas Nur?”
Kelas mendadak terasa sunyi bagi Yanti.
Ia menunduk pelan.
“Dia pergi tanpa pamit…”
Suara Yanti langsung bergetar.
“Aku bahkan nggak tahu sekarang dia tinggal di mana…”
Anita menggenggam tangannya pelan.
“Dia pasti balik…”
Namun Yanti menggeleng.
“Perasaanku nggak enak…”
Sementara itu…
di Jakarta…
Mas Nur duduk di atas tumpukan semen proyek bangunan.
Tangannya penuh debu.
Bajunya lusuh.
Suara mesin molen bercampur klakson kendaraan kota terdengar bising.
Jakarta jauh berbeda dari Tegorejo.
Tidak ada sawah.
Tidak ada jalan kecil desa.
Tidak ada suara jangkrik malam.
Dan yang paling terasa…
tidak ada Yanti.
“Heh Nur!”
Seorang pekerja memanggil.
“Apa Bang?”
“Melamun terus. Lagi mikirin cewek ya?”
Beberapa pekerja langsung tertawa.
Mas Nur hanya tersenyum hambar.
Namun malam-malamnya memang selalu dipenuhi bayangan Yanti.
Ia pergi karena merasa gagal.
Merasa tidak pantas lagi mendampingi Yanti.
Apalagi setelah pertengkaran mereka semakin sering terjadi.
Cemburu.
Salah paham.
Tangisan.
Dan surat fitnah itu…
masih menghantuinya.
Di Desa Tegorejo…
latihan karate justru semakin padat.
Ujian kenaikan tingkat akan dilaksanakan di Semarang.
Semua peserta sibuk berlatih setiap sore.
Ima yang kini sudah masuk SMP tampak semangat luar biasa.
“Kak Yantiii!”
“Apa?”
“Nanti kalau aku sabuk coklat keren nggak?”
Dandang langsung nyeletuk.
“Kamu sabuk jemuran aja belum kuat.”
“HHAHAHA!”
Suasana balai desa kembali ramai.
Namun Yanti tetap terlihat murung.
Kakang Riyadi yang sejak tadi memperhatikan hanya diam.
Riyadi kini sudah lulus dari SMA Negeri 1 Pegandon.
Namun hidupnya sendiri masih penuh kebingungan.
Kuliah belum jelas.
Kerja juga belum pasti.
Temannya, Karwan, bahkan sudah bekerja di Tangerang sejak tahun lalu.
Mereka masih sering surat-suratan soal pekerjaan.
Tetapi Riyadi tetap lebih sering berada di desa.
Dan akhir-akhir ini…
ia selalu hadir setiap Yanti mulai runtuh.
Sore itu…
latihan lari pemanasan dilakukan mengelilingi lapangan desa.
Aspal terasa panas.
Dan seperti biasa…
karena terlalu melamun…
Yanti lupa memakai sandal.
“Heh.”
Yanti menoleh.
Riyadi berdiri sambil membawa sandal jepitnya.
“Pakai.”
“Hah?”
“Kakimu merah.”
“Nggak usah…”
“Pakai aja Sinok.”
Nada suaranya lembut sekali.
Yanti akhirnya memakai sandal itu perlahan.
Dan entah kenapa…
dadanya terasa sedikit tenang.
Malam hari setelah latihan…
anak-anak karate masih duduk bergerombol di depan balai desa.
Dandang sibuk makan gorengan lagi.
“Heh Dang…”
“Apa?”
“Kamu latihan karate apa latihan ngabisin warung?”
“HHAHAHA!”
Ima sampai tertawa terbahak-bahak.
Namun Yanti hanya tersenyum kecil.
Riyadi duduk di sampingnya.
“Masih sedih?”
Yanti diam beberapa detik.
“Aku tuh bingung…”
“Kenapa?”
“Kenapa orang yang bilang sayang…”
“Bisa pergi begitu aja.”
Angin malam bertiup pelan.
Riyadi memandang jalan desa yang mulai sepi.
Lalu berkata pelan.
“Kadang orang pergi bukan karena nggak sayang.”
“Tapi karena merasa dirinya nggak cukup baik.”
Kalimat itu membuat Yanti perlahan menoleh.
Karena itulah yang paling ia rasakan dari Mas Nur sebelum pergi.
Beberapa minggu kemudian…
rombongan karate berangkat ke Semarang untuk ujian kenaikan tingkat.
Mereka naik truk dan bus kecil sejak dini hari.
Perjalanan penuh keributan.
Dandang muntah dua kali.
“Huek!”
“HHAHAHAHA!”
Yuli sampai pindah tempat duduk.
“Bau banget sumpah!”
Ima malah sibuk melihat lampu kota dengan mata berbinar.
“Keren banget…”
Sementara Yanti duduk dekat jendela.
Diam memandang jalan.
Jakarta terasa jauh sekali.
Dan entah kenapa…
ia terus bertanya dalam hati:
“Mas Nur sekarang lagi apa ya…”
Mereka menginap di Asrama Haji Semarang.
Malamnya…
anak-anak sempat jalan-jalan ke Mall Matahari Simpang Lima.
Lampu kota Semarang terlihat indah.
Ramai.
Penuh kendaraan.
Berbeda jauh dengan Tegorejo yang tenang.
Dandang langsung norak melihat eskalator.
“WOY TANGGANYA GERAK SENDIRI!”
“HHAHAHA!”
Bambang sampai menarik kerah bajunya.
“Jangan malu-maluin cabang Kendal!”
Di lantai atas mall…
Yanti berdiri dekat pagar kaca memandang lampu kota.
Angin malam terasa lembut.
Riyadi berdiri di sampingnya.
“Capek?”
“Sedikit.”
“Masih mikirin dia?”
Yanti tersenyum pahit.
“Kalau cinta pertama…”
“Susah dilupain ya.”
Riyadi diam.
Lalu Yanti berkata lirih:
“Merpati tak pernah ingkar janji…”
“Itu kata-kata Mas Nur dulu.”
Matanya mulai berkaca-kaca lagi.
Namun Riyadi tetap mendengarkan tanpa memotong sedikit pun.
Karena ia tahu…
kadang luka tidak butuh nasihat.
Hanya butuh ditemani.
Hari ujian kenaikan tingkat akhirnya tiba.
Pagi-pagi sekali…
peserta dibangunkan untuk pemanasan lari.
Dan lagi-lagi…
karena melamun…
Yanti lupa memakai sandal.
“Heh Sinok…”
“Apa?”
“Ini pakai lagi.”
Riyadi kembali menyerahkan sandalnya.
Yanti langsung tertawa kecil.
“Kakang nggak capek nyelametin aku terus?”
“Kalau kamu nggak nangis terus mungkin nggak capek.”
Yanti akhirnya benar-benar tertawa.
Dan itu pertama kalinya sejak Mas Nur pergi…
tawanya terdengar tulus.
Ujian berlangsung sangat berat.
Kihon.
Kata.
Kumite.
Push-up.
Lari.
Semua peserta kelelahan luar biasa.
Ima bahkan hampir menangis saat push-up terakhir.
“Kak… tanganku mau copot…”
“Hahaha…”
Namun Yanti justru tampil sangat kuat hari itu.
Semua rasa sakit di hatinya…
seolah berubah menjadi tenaga.
Dan saat pengumuman kelulusan dibacakan…
“Yanti lulus sabuk coklat!”
“WOOOO!”
Semua langsung bersorak.
Riyadi ikut tersenyum bangga.
“Nah gitu dong Sinok.”
Air mata Yanti jatuh.
Namun kali ini…
bukan karena patah hati.
Melainkan karena untuk pertama kalinya…
ia merasa masih bisa bangkit.
Namun perjalanan pulang justru menjadi kejadian paling lucu.
Karena setelah seluruh peserta cabang Kendal pulang…
mereka baru sadar satu hal.
“HEH!”
“Apa?!”
“Kakang Riyadi mana?!”
Semua langsung panik.
Ternyata Riyadi masih tertidur sendirian di kamar Asrama Haji.
“HHAHAHAHA!”
Dandang sampai jatuh terguling.
“DITINGGAL WOY!”
Riyadi akhirnya bangun dalam asrama yang sudah sepi total.
“Heh…?”
Sunyi.
Tak ada siapa-siapa.
“ASTAGAAA…”
Akhirnya ia pulang sendiri dari Semarang naik bus kecil menuju Kaliwungu.
Lalu menumpang bus karyawan PT KLI sampai dekat Desa Tegorejo.
Saat sampai desa sore hari…
anak-anak langsung menertawakannya habis-habisan.
“PAHLAWAN TERTINGGAL!”
“HHAHAHAHA!”
Bahkan Yanti sampai tertawa sambil memegang perut.
Dan melihat tawa itu…
Riyadi akhirnya ikut tertawa juga.
Karena baginya…
asal Sinok bisa tersenyum lagi…
itu sudah cukup.
Namun malam harinya…
saat semua kembali sepi…
Yanti duduk sendiri di bawah pohon trembesi depan rumahnya.
Angin malam bertiup dingin.
Dan meski ia mulai bisa tertawa lagi…
di dalam hatinya…
nama Mas Nur masih tinggal sangat dalam.
Cinta pertamanya belum benar-benar pergi.
Dan luka itu…
masih hidup di sana.
BAB XXV
MALAM YANG MEMECAHKAN HATI
Kepergian Mas Nur ke Jakarta menjadi luka paling dalam dalam hidup Yanti.
Bukan hanya karena laki-laki itu pergi tanpa pamit…
tetapi karena semua terjadi saat hubungan mereka sedang retak-retaknya.
Dan yang paling menyakitkan…
Yanti bahkan tidak sempat memperbaiki semuanya.
Sudah hampir dua minggu Mas Nur tidak memberi kabar.
Tak ada surat.
Tak ada pesan titipan.
Tak ada salam lewat teman STM Kendal.
Seolah laki-laki itu benar-benar menghilang begitu saja dari hidupnya.
Dan setiap malam…
Sinok hanya bisa menangis diam-diam di kamar.
Pagi itu Desa Tegorejo masih diselimuti embun tipis.
Ayam berkokok bersahutan dari belakang rumah-rumah warga.
Jalan tanah desa masih sedikit becek karena hujan semalam.
Namun suasana hati Yanti jauh lebih kacau daripada langit pagi.
Ia duduk di depan rumah sambil memandangi jalan kecil menuju arah Kaliwungu.
Jalan yang dulu sering dilewati Mas Nur saat pulang dari STM Kendal.
Sekarang…
jalan itu terasa kosong.
Ima yang kini sudah masuk SMP yang sama berjalan keluar sambil membawa tas.
“Mbak…”
Yanti menoleh pelan.
“Apa?”
“Mau berangkat latihan karate jam berapa?”
“Nanti siang.”
Ima duduk di samping kakaknya.
“Mbak masih mikirin Mas Nur ya?”
Pertanyaan itu langsung menusuk hati Yanti.
Namun ia hanya tersenyum kecil.
“Udah sana siap-siap sekolah.”
Ima menghela napas.
Sejak Mas Nur pergi…
rumah mereka memang terasa berubah.
Yanti jauh lebih pendiam.
Jarang tertawa.
Bahkan suara radionya yang dulu sering diputar tiap sore kini hampir tidak pernah terdengar lagi.
Di sekolah…
suasana kelas sembilan mulai sibuk menghadapi ujian akhir.
Guru-guru makin galak.
Jam tambahan mulai bermunculan.
Namun di tengah kesibukan itu…
nama Yanti justru makin terkenal karena karate.
Sejak berhasil juara satu Kejurda Jawa Tengah…
ia resmi terpilih masuk Tim Karate Jawa Tengah untuk Kejurnas di Padang.
Dan itu membuat seluruh sekolah bangga.
“Heh Sinok!”
teriak Dandang dari belakang kelas.
“Apa?”
“Nanti kalau udah masuk TV jangan lupa sama rakyat kecil.”
“Hahaha!”
Yuli langsung nyeletuk.
“Rakyat kecil apanya…”
“Muka kamu aja kayak anggota DPR gagal.”
“HHAHAHAHA!”
Kelas langsung pecah tertawa.
Namun Yanti hanya tersenyum tipis.
Tawanya kini tidak lagi sebebas dulu.
Sensei Sambas masuk ke kelas siang itu bersama Sensei Anton.
Keduanya memang sering datang ke sekolah untuk memantau atlet-atlet karate.
“Heh Yanti,” panggil Sensei Sambas.
“Iya Sensei.”
“Besok kumpul di dojo jam tujuh pagi.”
“Ada apa Sensei?”
“Persiapan TC.”
Kelas langsung heboh.
“WOOOO!”
“Padang woooy!”
Dandang sampai berdiri di atas bangku.
“Heh kalau ketemu artis Padang jangan lupa foto!”
Sensei Anton langsung menatap tajam.
“Kamu ikut latihan juga nggak pernah.”
Dandang langsung duduk lagi.
“Hidup saya memang penuh penolakan Sensei…”
“HHAHAHAHA!”
Namun di balik kebanggaan itu…
hati Yanti tetap kosong.
Karena setiap ada kabar bahagia…
orang pertama yang ingin ia ceritakan justru sudah pergi jauh.
Sore harinya dojo Desa Tegorejo ramai.
Suara pukulan dan tendangan memenuhi ruangan.
Anak-anak berlatih keras.
“KIYAA!”
“Lagi!” bentak Sensei Anton.
Keringat membasahi lantai dojo.
Namun Yanti berlatih jauh lebih keras dari biasanya.
Seolah ia sedang melampiaskan semua rasa sakitnya lewat latihan.
“Heh Sinok…”
Anita yang ikut latihan mendekat.
“Kamu nggak capek?”
Yanti menggeleng.
“Kalau berhenti…”
“Aku malah kepikiran.”
Anita langsung diam.
Ia tahu…
yang dimaksud Yanti bukan latihan.
Melainkan Mas Nur.
Di luar dojo…
Riyadi duduk sendirian di atas motor bututnya.
Sejak lulus SMA Negeri 1 Pegandon…
ia memang lebih sering melamun.
Teman-temannya satu per satu mulai bekerja.
Karwan bahkan sudah hampir setahun merantau di Tangerang.
Dan hampir tiap minggu…
Karwan mengirim surat atau menelepon wartel Kaliwungu.
“Heh Di,” suara Karwan dari telepon beberapa hari lalu masih teringat jelas.
“Apa?”
“Kalau serius mau kerja sini aja.”
“Kerja apa?”
“Pabrik dulu.”
Riyadi diam waktu itu.
“Sambil cari jalan.”
Dan sejak percakapan itu…
kepala Riyadi terus penuh pikiran.
Ia ingin merantau.
Ingin membantu ekonomi keluarga.
Namun ada satu hal yang membuatnya berat pergi.
Sinok.
Sejak Mas Nur pergi…
Yanti memang sering terlihat rapuh.
Dan entah sejak kapan…
Riyadi selalu merasa ingin menjaganya.
Bukan sebagai pacar.
Bukan pula sebagai pengganti siapa-siapa.
Tetapi sebagai seseorang yang tidak tega melihat Sinok terus menangis sendirian.
Latihan selesai menjelang magrib.
Anak-anak duduk kelelahan di teras dojo.
Sensei Sambas membagikan jadwal TC.
“TC di Cepu tiga bulan.”
“WOOO!”
Beberapa anak langsung mengeluh.
“Tiga bulan jauh dari rumah…”
“Bisa kurus gue.”
“Hahaha!”
Namun kemudian Sensei Anton berkata pelan.
“Yang berangkat cuma Yanti.”
Suasana langsung hening.
“Hah?”
“Yang lain belum lolos seleksi akhir.”
Wajah beberapa anak langsung kecewa.
Termasuk Bambang.
Namun ia tetap tersenyum kecil pada Yanti.
“Hebat lo, Nok.”
Yanti justru terlihat sedih.
Karena ia tahu…
perjalanan ini akan makin sepi.
Malam itu…
Riyadi mengantar Yanti pulang naik motor.
Jalan desa gelap.
Hanya lampu-lampu rumah yang redup menemani perjalanan mereka.
Angin malam terasa dingin.
Namun suasana di antara mereka justru tenang.
“Heh Nok…”
“Apa Kang?”
“Kamu masih nangis tiap malam ya?”
Yanti langsung diam.
Riyadi tersenyum kecil.
“Ketahuan.”
Air mata Yanti perlahan jatuh lagi.
“Aku nggak ngerti…”
“Kenapa dia pergi tanpa pamit…”
Suara Yanti bergetar.
Riyadi hanya mendengarkan.
Karena kadang…
orang sedih tidak butuh nasihat.
Hanya butuh ditemani.
“Nok…”
“Hm?”
“Kalau orang pergi…”
“Bukan berarti kenangannya ikut hilang.”
Yanti menunduk.
“Tapi sakit Kang…”
“Iya.”
“Banget.”
Riyadi tersenyum kecil pahit.
“Namanya juga cinta pertama.”
Kalimat itu membuat Yanti menangis lebih keras.
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya…
ia menangis di bahu Riyadi.
Hari keberangkatan TC akhirnya tiba.
Terminal kecil Kaliwungu ramai oleh atlet karate.
Tas besar berserakan.
Suara ibu-ibu terdengar saling mengingatkan.
“Jangan telat makan!”
“Jaga kesehatan!”
“Belajar juga!”
“Hahaha!”
Namun Yanti justru tampak murung.
Karena jauh di dalam hatinya…
ia berharap Mas Nur tiba-tiba datang.
Minimal untuk mengucapkan selamat.
Namun sampai bus berangkat…
orang itu tidak pernah muncul.
Perjalanan menuju Cepu terasa panjang.
Hutan jati membentang di sepanjang jalan.
Udara panas khas Cepu langsung menyambut mereka.
Asrama sederhana tempat TC dipenuhi atlet dari seluruh Jawa Tengah.
Dan di situlah…
hari-hari berat Yanti dimulai.
Latihan dimulai sejak subuh.
Lari pagi.
Fisik.
Kata.
Kumite.
Sparring.
Dan semuanya benar-benar melelahkan.
“Heh Sinok!”
teriak salah satu atlet Semarang.
“Ayo larinya dipercepat!”
“KIYAA!”
Yanti terus memaksa dirinya kuat.
Meski malam hari…
ia sering diam-diam menangis di kamar asrama.
Suatu malam…
setelah latihan berat…
Yanti duduk sendirian di belakang asrama.
Langit Cepu penuh bintang.
Namun matanya kosong.
Tiba-tiba…
telepon wartel asrama dipanggil penjaga.
“Yanti! Ada telepon!”
Yanti buru-buru masuk.
Dan saat mengangkat gagang telepon…
suara itu terdengar.
“Heh Nok…”
DEG.
“Kang Riyadi?”
“Iya.”
Air mata Yanti langsung jatuh lagi.
“Kenapa nangis terus sih…”
“Aku capek…”
Riyadi tertawa kecil.
“Jagoan kok capek.”
“Aku kangen rumah…”
Dan sebenarnya…
yang paling ia rindukan bukan rumah.
Melainkan seseorang yang telah pergi.
TC berjalan tiga bulan penuh.
Dan perlahan…
Yanti mulai berubah.
Ia menjadi jauh lebih kuat.
Lebih dewasa.
Meski luka di hatinya belum benar-benar sembuh.
Hingga akhirnya…
hari keberangkatan menuju Padang tiba.
Tim Jawa Tengah berangkat penuh semangat.
Bandara menjadi pengalaman pertama bagi sebagian besar atlet.
“Heh ini pesawat gede banget…”
“Kalau jatuh gimana?”
“Mulutmu Dandang banget.”
“HHAHAHAHA!”
Kejurnas berlangsung sangat keras.
Atlet dari seluruh Indonesia datang.
Suasana GOR Padang penuh teriakan supporter.
Sensei Sambas berdiri tegang di pinggir arena.
“Fokus Yanti!”
“Jangan takut!”
Pertandingan demi pertandingan berjalan berat.
Namun Yanti bertarung seperti orang yang membawa seluruh rasa sakitnya ke arena.
Dan akhirnya…
BRAK!
Pukulan terakhirnya membuat lawan jatuh.
“IPPON!”
Suasana langsung meledak.
“WOOOOOO!”
Sensei Anton sampai melompat kegirangan.
“JUARA!”
Air mata Yanti jatuh.
Namun kali ini…
bukan karena sedih.
Malam kemenangan itu…
ia duduk sendirian di balkon penginapan.
Angin Padang terasa dingin.
Lalu ia berbisik pelan.
“Mas Nur…”
“Aku juara…”
Namun orang yang paling ingin mendengar kabar itu…
tetap tidak ada.
Sekembalinya dari Padang…
Desa Tegorejo menyambut Yanti bak pahlawan kecil.
Spanduk sederhana dipasang di depan sekolah.
Guru-guru bangga.
Tetangga datang memberi selamat.
Namun di balik semua kebahagiaan itu…
Riyadi justru makin gelisah.
Karena ia tahu…
sebentar lagi ia juga akan pergi.
Menyusul Karwan ke Tangerang.
Dan ia belum tahu…
bagaimana cara mengatakan itu pada Sinok.
BAB XXVI
HARI-HARI YANG TERASA TERLALU SINGKAT
Sepulang dari Kejurnas Padang…
hidup Yanti perlahan mulai berubah lagi.
Luka karena kepergian Mas Nur memang belum benar-benar hilang.
Kadang…
saat malam terlalu sunyi…
atau ketika melihat jalan menuju Kaliwungu…
dadanya masih terasa nyeri.
Namun kini…
ada seseorang yang selalu hadir mengisi hari-harinya.
Kakang Riyadi.
Tidak pernah dengan kata-kata berlebihan.
Tidak pernah memaksa.
Tidak pernah meminta Yanti melupakan siapa pun.
Tetapi entah kenapa…
setiap ada Riyadi…
hati Sinok terasa jauh lebih tenang.
Pagi itu Desa Tegorejo masih diselimuti kabut tipis.
Udara dingin khas selepas hujan membuat jalan desa tampak basah mengilap.
Dari kejauhan…
suara sepeda onthel tua terdengar berdecit.
Ciiit… ciiit…
“Heh Sinok!”
teriak Riyadi dari depan rumah.
Yanti yang sedang menyapu halaman langsung menoleh.
Dan seperti biasa…
ia langsung tersenyum kecil.
Riyadi datang memakai jaket coklat lusuh kesayangannya.
Celana training biru.
Dan rambut berantakan kena angin pagi.
Namun entah kenapa…
di mata Yanti…
laki-laki itu selalu terlihat menenangkan.
Bu Rosmiyati keluar sambil membawa tampah singkong.
“Heh Riyadi…”
“Iya Buk.”
“Mampir dulu.”
“Kalau mampir terus nanti saya nggak pulang-pulang.”
Bu Rosmiyati langsung tertawa kecil.
“Saya malah senang.”
Yanti langsung malu sendiri.
“Ibuuu…”
Riyadi duduk santai di kursi bambu.
“Heh Nok…”
“Apa?”
“Hari ini latihan Cepiring jadi?”
“Jadi.”
“Boncenganku masih kuat?”
Yanti langsung melirik sepeda onthel tua warna hijau itu.
“Kalau jalannya nggak nanjak.”
“Hahaha!”
Sejak pulang dari Padang…
hubungan Yanti dan Riyadi memang makin dekat.
Hampir setiap sore mereka latihan bersama.
Kadang di dojo Tegorejo.
Kadang latihan gabungan di Cepiring.
Kadang cuma jogging sore menyusuri pematang sawah.
Dan tanpa sadar…
orang-orang mulai menganggap mereka pasangan.
“Heh lihat tuh…”
bisik Aziz suatu sore di dojo Cepiring.
“Apa?”
“Itu Sinok sama Riyadi.”
Pincuk langsung menoleh.
“Wah…”
“Lengket terus kayak perangko.”
“HHAHAHAHA!”
Yanti yang mendengar langsung melotot.
“Heh kalian apaan sih!”
Aziz malah makin semangat.
“Cieeee…”
“Naik onthel berdua lagi.”
Pincuk ikut nyeletuk.
“Kalau pulang jangan lewat sawah gelap-gelap ya!”
“HHAHAHAHA!”
Riyadi cuma geleng-geleng kepala sambil ketawa kecil.
Namun Yanti sudah merah padam.
Sore itu latihan berlangsung keras.
Sensei Sambas datang langsung memimpin.
“Yanti!”
“Iya Sensei!”
“Kamu jangan kendor habis juara.”
“Siap!”
“Riyadi!”
“Apa Sensei?”
“Kamu meski nggak tanding tetap bantu sparring.”
“Siap!”
Suara pukulan memenuhi dojo.
“KIAAA!”
Keringat bercucuran.
Namun di sela latihan…
tatapan Riyadi pada Yanti selalu berbeda.
Tenang.
Hangat.
Dan penuh perhatian kecil yang sederhana.
Saat istirahat…
Yanti duduk kelelahan di teras dojo.
Napasnya ngos-ngosan.
“Kamu minum dulu.”
Riyadi menyodorkan botol air.
“Makasih.”
“Capek?”
“Banget.”
Riyadi tertawa kecil.
“Juara nasional kok ngeluh.”
“Juara juga manusia.”
“Hahaha!”
Tak lama kemudian…
seorang perempuan datang ke dojo Cepiring.
“Heh Riyadi!”
Riyadi menoleh.
“Oh Ev!”
Ternyata Evianti.
Teman lama Riyadi dari sekolah.
Yanti langsung memperhatikan diam-diam.
Evianti tersenyum lebar.
“Lama nggak ketemu!”
“Iya.”
“Katanya mau merantau?”
Riyadi langsung sedikit kikuk.
“Eh… belum tahu.”
Namun Yanti langsung diam.
Hatinya mendadak tidak enak.
Evianti lalu melirik Yanti.
“Heh ini siapa?”
“Oh…”
Riyadi tampak salah tingkah.
“Ini Yanti.”
Evianti tersenyum jahil.
“Ohhh…”
“Pacarnya ya?”
DEG.
Wajah Yanti langsung panas.
“Bukan!”
jawab Yanti terlalu cepat.
Aziz yang mendengar langsung tertawa keras.
“HHAHAHAHA!”
“Kalau bukan ngapain tiap hari boncengan!”
Pincuk ikut tepuk tangan.
“Cocok banget itu!”
Riyadi cuma tertawa malu sambil garuk kepala.
Namun diam-diam…
hati Yanti terasa hangat.
Sepulang latihan…
langit mulai jingga.
Sawah-sawah Cepiring terlihat indah terkena cahaya matahari sore.
Yanti duduk di boncengan sepeda onthel Riyadi.
Tangannya memegang sisi belakang jok.
Sementara Riyadi mengayuh pelan.
Angin sore meniup rambut-rambut kecil di wajah Yanti.
“Heh Nok…”
“Hm?”
“Kamu capek?”
“Lumayan.”
“Kalau jatuh jangan salahin sepeda ya.”
“Hahaha!”
Jalan desa sore itu ramai anak-anak kecil bermain layangan.
Beberapa ibu pulang dari pasar.
Dan seperti biasa…
orang-orang mulai menggoda.
“Heh Riyadi!”
teriak Pak Darto dari gardu ronda.
“Apa Pak?”
“Pelan-pelan bawanya!”
“Hahaha!”
Yanti langsung menunduk malu.
Riyadi malah santai.
“Siap Pak!”
Di tengah perjalanan…
rantai sepeda tiba-tiba lepas.
“Lho…”
Riyadi langsung turun.
“Rusak?”
“Tua memang begini.”
“Hahaha!”
Yanti ikut turun sambil menahan tawa melihat Riyadi belepotan oli.
Aziz dan Pincuk yang kebetulan lewat naik motor langsung berhenti.
“HHAHAHAHA!”
“Romantis-romantis rantainya putus!”
Pincuk sampai tepuk paha.
Aziz langsung nyeletuk.
“Ini pertanda hubungan kalian diuji!”
“Mulutmu…”
kata Yanti sambil melempar daun.
Riyadi akhirnya berhasil memasang rantai lagi.
Namun tangannya hitam semua kena oli.
“Heh Nok…”
“Apa?”
“Lap dong.”
“Hah?”
“Teman kok tega.”
Yanti akhirnya mengambil sapu tangan kecilnya.
Lalu membersihkan tangan Riyadi pelan-pelan.
Dan beberapa detik…
mereka saling diam.
Aziz langsung memekik.
“WOOOO!”
“MESRAAA!”
Yanti langsung sadar lalu buru-buru menjauh.
“Hahaha!”
Hari-hari seperti itu terus berjalan.
Sederhana.
Namun hangat.
Kadang mereka belajar bersama.
Kadang latihan sampai malam.
Kadang cuma duduk di pinggir sawah sambil makan gorengan.
Dan tanpa sadar…
Yanti mulai takut kehilangan lagi.
Karena setiap bersama Riyadi…
ia merasa nyaman.
Terlalu nyaman.
Suatu malam…
mereka duduk di jembatan kecil dekat sungai.
Suara air terdengar pelan.
Langit penuh bintang.
“Heh Kang…”
“Apa Nok?”
“Kamu pernah takut kehilangan seseorang nggak?”
Riyadi diam sebentar.
“Pernah.”
“Siapa?”
Riyadi tersenyum kecil.
“Rahasia.”
Yanti langsung manyun.
“Ah pelit.”
“Hahaha!”
Namun beberapa detik kemudian…
Riyadi berkata pelan.
“Nok…”
“Hm?”
“Kalau suatu hari aku pergi…”
“Hah?”
“Kamu jangan nangis ya.”
DEG.
Hati Yanti langsung tidak enak.
“Pergi ke mana?”
Riyadi menatap sungai cukup lama.
Belum menjawab.
Dan entah kenapa…
angin malam tiba-tiba terasa lebih dingin.
Hari berikutnya…
Riyadi mulai sering terlihat melamun.
Kadang saat latihan.
Kadang saat nongkrong.
Kadang saat mengantar Yanti pulang.
Yanti mulai sadar ada sesuatu yang disembunyikan.
“Heh Kang…”
“Apa?”
“Kamu kenapa akhir-akhir ini aneh.”
“Apanya?”
“Sering bengong.”
Riyadi tertawa kecil.
“Mikir masa depan.”
Kalimat itu membuat Yanti diam.
Karena ia tahu…
Riyadi memang sedang bingung menentukan arah hidupnya.
Sementara itu…
Karwan kembali menghubungi Riyadi lewat wartel Kaliwungu.
“Di…”
“Apa?”
“Kalau jadi berangkat bulan depan masih bisa.”
Riyadi menunduk.
“Kerjanya berat nggak?”
“Namanya kerja ya berat.”
“Gajinya?”
“Lumayan buat bantu keluarga.”
Riyadi diam lama.
Dan sejak malam itu…
keputusan dalam hatinya mulai bulat.
Namun justru itulah yang membuatnya makin takut dekat dengan Yanti.
Karena semakin hari…
ia makin sulit pergi.
Sore terakhir sebelum semuanya berubah…
mereka kembali latihan di Cepiring.
Suasana dojo ramai.
Aziz dan Pincuk masih seperti biasa menggoda.
“Heh Riyadi!”
“Apa?”
“Kalau nikah undang kami ya.”
“HHAHAHAHA!”
Yanti langsung melempar handuk ke arah mereka.
Namun di balik semua tawa itu…
Riyadi justru memandang Yanti cukup lama.
Seolah sedang menyimpan sesuatu.
Malamnya…
Riyadi duduk sendirian di depan rumah.
Tas kecil sudah mulai ia siapkan diam-diam.
Beberapa baju dilipat rapi.
Alamat Karwan di Tangerang terselip di dompetnya.
Dan untuk pertama kalinya…
dadanya terasa sesak.
Karena kini ia sadar…
hari-hari bersama Sinok…
mungkin tinggal menghitung waktu.
BAB XXVII
PERGI TANPA PAMIT
Langit Desa Tegorejo sore itu berwarna jingga pucat.
Angin dari arah persawahan bertiup pelan membawa bau tanah basah selepas hujan siang.
Di depan rumahnya…
Riyadi duduk diam di atas tas ransel hitam lusuh.
Matanya memandang jauh ke arah jalan desa.
Sepi.
Namun justru terlalu banyak hal berputar di kepalanya.
Di dalam rumah…
suara ibunya terdengar pelan.
“Di…”
“Iya Buk…”
“Kamu yakin mau berangkat?”
Riyadi menghela napas panjang.
“Kalau tetap di rumah terus…”
“Aku nggak bantu apa-apa.”
Ibunya diam beberapa detik.
Lalu berkata lirih.
“Jaga diri di perantauan.”
Kalimat itu sederhana.
Namun cukup membuat dada Riyadi terasa berat.
Sudah hampir seminggu ia memikirkan keputusan ini.
Menyusul Karwan ke Tangerang.
Bekerja di pabrik.
Meninggalkan desa.
Meninggalkan dojo.
Meninggalkan semua kebiasaan yang selama ini menjadi bagian hidupnya.
Dan yang paling sulit…
meninggalkan Sinok.
Sebenarnya…
berkali-kali Riyadi ingin berpamitan pada Yanti.
Ingin bilang baik-baik.
Ingin melihat wajah gadis itu sekali lagi sebelum pergi.
Namun setiap kali mencoba…
hatinya justru makin tidak kuat.
Karena ia tahu…
kalau Sinok menangis…
mungkin ia tidak jadi berangkat.
Sore itu…
Aziz datang naik motor bututnya.
“Heh Di!”
“Apa?”
“Jadi berangkat hari ini?”
Riyadi mengangguk pelan.
Aziz langsung diam.
Biasanya mulutnya paling ramai sedunia.
Namun kali ini…
ia ikut merasa berat.
“Heh…”
kata Aziz sambil duduk di samping Riyadi.
“Kamu udah pamit sama Sinok?”
Riyadi langsung menunduk.
“Belum.”
“Lho kok belum?”
“Aku nggak bisa.”
Aziz menghela napas panjang.
“Kasihan dia nanti.”
Riyadi tersenyum pahit.
“Aku tahu.”
Dan justru karena tahu itulah…
ia memilih pergi diam-diam.
Menjelang magrib…
langit mulai gelap.
Suara azan dari mushola desa terdengar samar.
Riyadi akhirnya berdiri pelan sambil membawa tasnya.
Ibunya menatap dengan mata berkaca-kaca.
“Hati-hati ya Nduk…”
“Iya Buk.”
Ayahnya hanya menepuk bahunya pelan.
Namun tepukan sederhana itu terasa lebih berat daripada seribu nasihat.
Motor Aziz melaju pelan meninggalkan Desa Tegorejo.
Melewati jalan kecil yang biasa dilewati Riyadi dan Yanti sepulang latihan.
Melewati jembatan kecil tempat mereka sering duduk malam-malam.
Melewati sawah tempat Sinok pernah tertawa sampai menangis karena rantai sepeda putus.
Semua kenangan itu terasa menghantam dadanya satu per satu.
“Heh Di…”
“Apa?”
“Masih mau balik?”
Aziz setengah bercanda.
Namun Riyadi justru diam lama.
Sampai akhirnya berkata pelan.
“Kalau aku lihat Sinok sekarang…”
“Mungkin aku nggak jadi pergi.”
Angin sore bertiup dingin.
Motor terus melaju menuju perempatan Patebon.
Sementara itu…
di rumah Yanti…
gadis itu justru sedang belajar untuk ujian nasional.
Buku Matematika terbuka di depannya.
Namun pikirannya melayang ke mana-mana.
Ima yang duduk di lantai memperhatikan kakaknya.
“Mbak…”
“Hm?”
“Kakang Riyadi nggak datang lagi ya hari ini?”
Yanti tersenyum kecil.
“Mungkin sibuk.”
Padahal entah kenapa…
hatinya sejak siang terasa tidak tenang.
Di perempatan Patebon…
lampu-lampu kendaraan mulai menyala.
Warung kopi pinggir jalan ramai sopir dan penumpang bus.
Riyadi berdiri sambil memegang tasnya erat.
Sementara Aziz menemani di samping.
“Heh…”
kata Aziz pelan.
“Apa?”
“Kalau nanti sukses…”
“Jangan lupa traktir.”
Riyadi tertawa kecil.
“Pasti.”
Namun beberapa detik kemudian…
senyumnya hilang lagi.
Karena bus tujuan Jakarta mulai terlihat dari kejauhan.
Lampunya menyala terang menembus gelap.
DEG.
Dadanya langsung sesak.
Aziz menepuk pundaknya.
“Masih ada waktu buat batal.”
Riyadi menggeleng pelan.
“Kalau nggak sekarang…”
“Aku nggak bakal pernah berani pergi.”
Bus berhenti perlahan.
Suara kernet langsung terdengar keras.
“JAKARTAAA! TANGERANG!”
Riyadi menarik napas panjang.
Lalu naik ke dalam bus.
Namun sebelum masuk…
ia menoleh sekali lagi ke arah jalan desa yang gelap di kejauhan.
Dan di dalam hatinya…
hanya ada satu nama.
Sinok.
Malam itu…
Yanti tidak bisa tidur.
Entah kenapa dadanya terasa gelisah.
Ia keluar rumah sebentar.
Duduk di bawah langit malam yang dingin.
Dan tanpa sadar…
ia memandangi jalan desa berharap Riyadi muncul seperti biasa.
Namun sampai larut malam…
tak ada suara sepeda onthel.
Tak ada suara tawa Aziz.
Tak ada suara Riyadi memanggilnya.
“Heh Nok…”
Tidak ada.
Keesokan paginya…
Yanti baru tahu semuanya.
Saat datang ke dojo.
Pincuk yang melihatnya langsung mendekat.
“Heh Sinok…”
“Apa?”
“Kamu belum tahu?”
“Tahu apa?”
“Riyadi berangkat ke Tangerang semalam.”
DEG.
Wajah Yanti langsung pucat.
“Hah?”
“Pergi kerja.”
Dunia Yanti seperti berhenti beberapa detik.
“Bo… bohong…”
Aziz yang baru datang hanya diam menunduk.
Dan diamnya…
sudah cukup menjadi jawaban.
“Heh Aziz…”
suara Yanti mulai gemetar.
“Kakang pergi?”
Aziz mengangguk pelan.
“Kenapa nggak pamit sama aku…”
Tak ada yang bisa menjawab.
Karena bahkan Aziz sendiri tidak tahu bagaimana menjelaskan semuanya.
Air mata Yanti langsung jatuh.
Dadanya terasa kosong luar biasa.
Bukan hanya sedih.
Tetapi seperti kehilangan tempat pulang.
Hari itu…
Sinok pulang lebih cepat dari dojo.
Dan sepanjang jalan…
ia menangis sendirian.
Semua tempat mendadak terasa penuh kenangan.
Jembatan kecil.
Jalan sawah.
Warung es.
Lapangan tempat latihan lari.
Semua mengingatkannya pada Riyadi.
Malamnya…
Yanti duduk di kamar sambil memegang sapu tangan kecil milik Riyadi yang pernah tertinggal di sepedanya.
Tangisnya pecah lagi.
“Kenapa semua orang pergi…”
Suara itu lirih sekali.
Namun cukup membuat Bu Rosmiyati ikut sedih dari luar kamar.
Hari-hari setelah kepergian Riyadi terasa sangat hampa.
Yanti kembali sering melamun.
Di sekolah…
ia jadi lebih diam.
Yuli sampai bingung sendiri.
“Heh…”
“Apa?”
“Kamu habis ditinggal dua orang sekaligus ya?”
Yanti langsung menunduk.
Anita cepat menyikut Yuli.
“Heh jangan gitu.”
“Aku cuma bercanda…”
Namun Yuli akhirnya ikut diam.
Karena kali ini…
bahkan candaan terasa tidak lucu lagi.
Ujian nasional semakin dekat.
Guru-guru mulai serius.
Jam tambahan terus bertambah.
Namun Yanti belajar seperti orang kehilangan arah.
Kadang ia menatap buku lama sekali tanpa benar-benar membaca.
Kadang tiba-tiba menangis sendiri.
Kadang diam memandangi kursi kosong di dojo.
Suatu sore…
Aziz datang ke rumah.
“Heh Sinok…”
“Apa?”
“Ada titipan.”
Yanti langsung menoleh cepat.
Aziz menyerahkan kertas kecil.
“Tadi Karwan nelepon wartel.”
“Tulisannya Riyadi.”
Tangan Yanti langsung gemetar membuka kertas itu.
Tulisan tangan Riyadi tampak berantakan.
“Nok…
maaf aku pergi tanpa pamit.
Aku takut nggak jadi berangkat kalau lihat kamu nangis.
Jaga diri baik-baik.
Belajar yang rajin.
Jangan suka ngelamun terus.
Dan jangan lupa makan.”
Air mata Yanti langsung jatuh membasahi kertas itu.
“Dia jahat…”
gumam Yanti sambil menangis.
Aziz tersenyum kecil pahit.
“Dia cuma terlalu sayang sama kamu.”
Kalimat itu membuat hati Yanti makin sesak.
Waktu terus berjalan.
Dan perlahan…
ujian nasional akhirnya tiba.
Hari pertama ujian…
langit Tegorejo cerah.
Yanti duduk di kelas dengan tangan dingin.
Namun sebelum mulai mengerjakan soal…
ia teringat satu kalimat Riyadi.
“Jangan suka ngelamun terus.”
Tanpa sadar…
ia tersenyum kecil.
Hari-hari ujian berlalu melelahkan.
Dan akhirnya…
pengumuman kelulusan tiba.
Sekolah ramai luar biasa.
Anak-anak berteriak histeris.
Ada yang menangis.
Ada yang lompat-lompat.
Dan saat nama Yanti dinyatakan lulus…
Bu Rosmiyati langsung memeluk anaknya bangga.
“Nduk…”
“Iya Bu…”
“Kamu berhasil.”
Namun di tengah semua kebahagiaan itu…
Yanti tetap merasa ada yang kurang.
Karena dua orang yang paling mengubah hidupnya…
tidak ada di sampingnya.
Mas Nur.
Dan Riyadi.
Beberapa minggu kemudian…
Yanti akhirnya memutuskan melanjutkan sekolah ke STM Tekstil Pedan di Klaten.
Keputusan yang membuat banyak temannya kaget.
“Heh jauh banget…”
kata Yuli.
“Iya.”
“Yakin?”
Yanti mengangguk pelan.
“Aku pengen mulai hidup baru.”
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun sebenarnya…
ia sedang mencoba lari dari semua kenangan yang terlalu menyakitkan di Desa Tegorejo.
Malam sebelum berangkat ke Klaten…
Yanti kembali duduk di bawah langit desa.
Angin malam bertiup pelan.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
ia berbisik lirih sambil tersenyum kecil.
“Kakang…”
“Aku bakal lanjut jalan…”
Meski hatinya masih penuh luka…
Sinok akhirnya mulai belajar satu hal penting.
Bahwa hidup…
tetap harus berjalan.
Meski orang-orang yang pernah membuat kita bahagia…
tidak lagi berjalan di samping kita.
BAB XXVIII
HARI-HARI SUNYI TANPA MAS NUR DAN KAKANG RIYADI
Langit Desa Tegorejo pagi itu tampak pucat.
Musim kemarau mulai datang perlahan, namun udara justru terasa dingin bagi Yanti.
Atau mungkin…
yang dingin sebenarnya bukan udara pagi.
Melainkan hatinya.
Sudah hampir dua bulan Mas Nur pergi ke Jakarta.
Dan hampir tiga minggu Kakang Riyadi menyusul Karwan ke Tangerang.
Dua orang yang selama ini paling mengisi hari-harinya…
hilang dalam waktu berdekatan.
Meninggalkan ruang kosong yang sulit dijelaskan.
Pagi itu…
Bu Rosmiyati sibuk di dapur menanak nasi.
Suara kayu terbakar terdengar pelan dari tungku belakang rumah.
Sementara Yanti duduk diam di kursi bambu teras depan.
Seragam SMP-nya sudah rapi.
Namun wajahnya kosong.
Tatapannya hanya lurus ke jalan desa.
Jalan kecil yang dulu sering dilewati Mas Nur.
Dan jalan yang sama…
tempat Riyadi biasa muncul naik sepeda ontelnya sambil tersenyum.
“Heh Sinok…”
“Berangkat sekolah yuk.”
Kini…
jalan itu terasa sepi sekali.
“Nduk…” panggil Bu Rosmiyati dari dapur.
“Iya Bu…”
“Kok belum berangkat?”
“Sebentar…”
Ibunya keluar sambil membawa teh panas.
Lalu duduk di samping Yanti.
“Kamu masih kepikiran Riyadi sama Mas Nur?”
Yanti tersenyum kecil.
Namun matanya langsung basah.
“Sedikit…”
Bu Rosmiyati mengusap kepala anaknya perlahan.
“Hidup itu memang begitu…”
“Kadang orang yang bikin kita nyaman…”
“Belum tentu bisa terus tinggal.”
Kalimat itu membuat dada Yanti kembali sesak.
Di sekolah…
suasana SMP Negeri tempat Yanti belajar mulai sibuk menghadapi Ujian Nasional.
Spanduk motivasi dipasang di depan kelas.
“SEMANGAT UNAS!”
“LULUS 100%!”
Namun bagi Yanti…
semuanya terasa hambar.
Saat masuk kelas…
Yuli langsung mendekat.
“Heh…”
“Apa…”
“Kamu makin kurus.”
Dandang ikut datang sambil membawa buku.
“Ini bukan kurus…”
“Ini gagal move on.”
“HHAHAHAHA!”
Biasanya…
Yanti akan ikut tertawa.
Namun kali ini…
ia hanya tersenyum kecil.
Dan itu membuat Dandang langsung diam.
Bambang yang duduk di dekat jendela memperhatikan Yanti cukup lama.
Kini…
bahkan Bambang tak lagi banyak bercanda.
Karena semua tahu…
Sinok benar-benar sedang kehilangan.
Jam pelajaran berlangsung lambat.
Pak Guru Matematika menerangkan rumus di papan tulis.
Namun pikiran Yanti entah ke mana.
Kadang ia teringat Mas Nur.
Kadang teringat Riyadi.
Kadang ingin menangis tiba-tiba.
“Heh Yanti!”
Suara Pak Guru membuat satu kelas menoleh.
“Iya Pak…”
“Kalau melamun terus nanti UN jawabannya pakai perasaan?”
Satu kelas tertawa kecil.
“Hahaha…”
Yanti langsung menunduk malu.
Namun bahkan tawanya terasa lemah.
Saat istirahat…
anak-anak ramai membahas sekolah lanjutan.
“Aku mau ke STM Kendal.”
“Aku ke SMA Boja.”
“Aku ikut bapakku dagang aja.”
Suasana kantin penuh obrolan masa depan.
Namun Yanti justru diam.
Anita menatapnya pelan.
“Kamu jadi ke STM Pedan?”
Yanti mengangguk kecil.
“Iya…”
“Jauh juga…”
“Biar suasana baru.”
Padahal…
alasan sebenarnya bukan hanya itu.
Yanti ingin pergi dari semua kenangan.
Sepulang sekolah…
langit mulai mendung.
Yanti berjalan sendirian melewati jalan dekat sawah.
Angin sore bertiup pelan.
Dan tanpa sadar…
kakinya berhenti di bawah pohon trembesi depan sekolah.
Pohon yang dulu jadi saksi begitu banyak cerita.
Tempat ia menangis karena Mas Nur.
Tempat Riyadi pernah menenangkannya diam-diam.
Tempat Bambang pernah memarahinya karena terlalu keras menangis.
Semua terasa dekat.
Namun orang-orangnya sudah pergi.
Yanti duduk pelan di bawah pohon itu.
Lalu mengeluarkan sebuah benda dari tasnya.
Pita cokelat kecil.
Pemberian Riyadi waktu latihan karate di Cepiring.
“Heh Sinok…”
“Kalau rambutmu berantakan…”
“Kamu tetap cantik.”
Yanti langsung menunduk sambil tersenyum sedih.
“Kenapa semua pergi sih…”
gumamnya lirih.
Tak terasa…
air matanya jatuh lagi.
Dan saat itulah…
suara langkah kaki terdengar.
“Heh…”
Ternyata Bambang.
“Kamu di sini lagi.”
Yanti buru-buru menghapus air mata.
“Kok tahu?”
“Dari dulu…”
“Kalau sedih kamu pasti ke sini.”
Bambang duduk di sampingnya.
Beberapa detik mereka diam.
“Masih kangen mereka ya?” tanya Bambang pelan.
Yanti tertawa hambar.
“Kelihatan banget?”
“Lumayan.”
Angin sore bertiup pelan.
Sawah di depan mereka mulai menguning.
Suasana desa terasa sunyi.
“Aku tuh bingung…” kata Yanti lirih.
“Kenapa?”
“Apa aku kurang baik…”
“Sampai semua orang pergi.”
Bambang langsung menoleh cepat.
“Heh jangan ngomong gitu.”
“Tapi kenyataannya begitu.”
“Mas Nur pergi.”
“Kakang Riyadi juga pergi.”
Suara Yanti mulai pecah.
Dan Bambang tahu…
luka ini jauh lebih besar dari sekadar cinta remaja biasa.
“Kadang…” kata Bambang pelan.
“Orang pergi bukan karena kita nggak cukup baik.”
“Terus?”
“Karena hidup mereka memang harus jalan.”
Yanti diam mendengarkan.
Bambang tersenyum tipis.
“Walaupun nyakitin.”
Kalimat itu membuat Yanti kembali menangis kecil.
Malam harinya…
Yanti belajar untuk try out terakhir.
Namun pikirannya tetap kacau.
Ia membuka buku IPA.
Lalu tiba-tiba teringat Riyadi.
“Heh Sinok…”
“Kalau capek belajar…”
“Jangan dipaksa.”
Ia membuka buku Bahasa Indonesia.
Lalu teringat Mas Nur.
“Kalau kamu lulus…”
“Aku traktir bakso.”
Yanti langsung menutup bukunya pelan.
Dadanya sesak lagi.
Di luar rumah…
suara kentongan ronda terdengar.
Anjing menggonggong jauh di ujung desa.
Dan malam terasa panjang sekali.
Hari ujian nasional akhirnya tiba.
Satu sekolah tampak tegang.
Anak-anak membawa kartu ujian.
Ada yang belajar sampai detik terakhir.
Ada yang malah bercanda panik.
Dandang bahkan salah membawa pensil.
“Heh gue bawa sendok!”
“HHAHAHAHA!”
Yuli sampai memukul kepalanya sendiri.
“Kamu ini gimana sih!”
Namun Yanti tetap diam.
Ia duduk memandangi lembar soal.
Dan untuk sesaat…
ia merasa benar-benar sendiri.
Biasanya ada Riyadi yang menyemangati.
Biasanya ada Mas Nur yang diam-diam menunggu di luar sekolah.
Kini…
tak ada siapa-siapa.
Hari-hari ujian berjalan melelahkan.
Namun perlahan…
Yanti mulai bertahan.
Karena ia sadar…
hidup tidak mungkin berhenti hanya karena kehilangan.
Pengumuman kelulusan tiba di awal siang yang panas.
Seluruh sekolah ramai.
Anak-anak berdesakan melihat papan pengumuman.
Dandang bahkan hampir jatuh karena terlalu semangat.
“Heh minggir!”
“Nama gue mana?!”
“HHAHAHAHA!”
Dan beberapa detik kemudian…
teriakan pecah.
“LULUSSSS!”
Satu sekolah langsung ramai.
Ada yang menangis.
Ada yang loncat-loncat.
Ada yang saling siram air.
Yuli langsung memeluk Yanti.
“Kita lulus!”
Anita ikut menangis haru.
Bahkan Bambang tersenyum lega.
Namun di tengah semua kebahagiaan itu…
hati Yanti justru terasa kosong.
Karena orang-orang yang paling ingin ia lihat hari itu…
tidak ada.
Tak ada Mas Nur.
Tak ada Kakang Riyadi.
Sore harinya…
anak-anak berkumpul di lapangan sekolah untuk perpisahan sederhana.
Mereka saling tanda tangan di seragam.
Menulis pesan.
Dan saling bercanda untuk terakhir kalinya sebagai anak SMP.
“Heh jangan lupa gue kalau udah sukses!” teriak Dandang.
Yuli langsung menjawab cepat.
“Kamu sukses dulu baru ngomong!”
“HHAHAHAHA!”
Namun tawa itu terasa berbeda sekarang.
Karena semua sadar…
masa kecil mereka benar-benar selesai.
Saat matahari mulai turun…
Yanti berdiri sendirian memandang sekolahnya.
Bangunan sederhana itu menyimpan terlalu banyak kenangan.
Tentang cinta pertama.
Tentang sahabat.
Tentang air mata.
Tentang kehilangan.
Dan untuk pertama kalinya…
Yanti benar-benar mengerti satu hal:
bahwa menjadi dewasa ternyata dimulai
dari belajar kehilangan orang-orang yang paling kita sayangi.
Angin sore berembus pelan melewati halaman SMP itu.
Membawa pergi suara tawa masa kecil mereka.
Dan di bawah langit Desa Tegorejo yang mulai temaram…
Sinok melangkah perlahan menuju hidup baru.
Dengan hati yang belum sembuh sepenuhnya.
Namun diam-diam…
mulai belajar kuat sendiri.
BAB XXIX
BANGKIT DARI KETERPURUKAN
Pagi di Desa Tegorejo terasa berbeda setelah pengumuman kelulusan SMP itu.
Tidak ada lagi suara anak-anak berseragam biru putih berangkat sekolah bersama.
Tidak ada lagi keributan Dandang di depan kelas.
Tidak ada lagi candaan Yuli yang memenuhi kantin.
Dan tidak ada lagi alasan bagi Yanti untuk diam-diam berharap melihat Mas Nur lewat di jalan desa.
Semuanya telah selesai.
Masa SMP mereka benar-benar berakhir.
Namun justru setelah semua kehilangan itu…
perlahan sesuatu mulai tumbuh di hati Yanti.
Bukan lagi kesedihan yang menghancurkan.
Melainkan tekad.
Tekad untuk bangkit.
Pagi itu…
Bu Rosmiyati sedang menjemur pakaian di halaman belakang rumah.
Sementara Yanti membantu melipat seragam SMP-nya yang sudah mulai kekecilan.
Seragam itu penuh coretan tanda tangan teman-temannya.
Ada tulisan dari Yuli:
“Jangan galau terus, nanti cepat tua!”
Ada tulisan Dandang:
“Kalau sukses jangan lupa traktir bakso!”
Dan ada tulisan kecil dari Bambang:
“Jangan nangis terus, Sinok.”
Yanti tersenyum kecil membaca semuanya.
Namun kali ini…
senyumnya tidak lagi terlalu sedih.
“Nduk…” panggil Bu Rosmiyati.
“Iya Bu?”
“Kamu jadi daftar sekolah ke Klaten?”
Yanti mengangguk pelan.
“Iya…”
Ibunya lalu duduk di sampingnya.
“STM Tekstil Pedan itu bagus.”
“Katanya lulusannya gampang kerja.”
Yanti menunduk memandangi seragamnya.
“Aku pengen hidup berubah, Bu…”
Kalimat itu membuat Bu Rosmiyati menatap anaknya cukup lama.
Sejak kecil…
Bu Rosmiyati tahu Yanti anak yang lembut.
Terlalu lembut bahkan.
Mudah memikirkan orang lain.
Mudah terluka.
Dan terlalu dalam mencintai.
Namun setelah semua yang terjadi…
ia mulai melihat sesuatu yang berbeda di mata anaknya.
Ada luka.
Tetapi juga ada kekuatan baru.
“Kamu harus sekolah tinggi,” kata Bu Rosmiyati pelan.
“Biar hidupmu nggak susah kayak ibu.”
Yanti langsung memeluk ibunya perlahan.
“Aku bakal bikin ibu bangga.”
Di sisi lain rumah…
Ima yang masih memakai seragam SMP tertawa sambil makan pisang goreng.
“Heh Mbak…”
“Apa?”
“Kalau nanti sekolah di Klaten…”
“Jangan lupa sama aku.”
Yanti langsung mencubit pipinya pelan.
“Bawel.”
Ima tertawa keras.
“Hahaha!”
Meski masih SMP…
Ima mulai tumbuh jadi anak yang ceria dan cantik seperti kakaknya.
Bahkan beberapa tetangga mulai sering berkata:
“Adiknya Yanti sekarang mulai gede ya.”
Dan itu sering membuat Yanti tersenyum kecil.
Hari-hari setelah kelulusan mulai terasa lebih sibuk.
Yanti membantu ibunya di rumah.
Kadang membantu mencuci.
Kadang ikut ke pasar.
Kadang membantu Ima belajar.
Namun di sela-sela kesibukan itu…
ia mulai mencoba melupakan luka lama.
Meski tetap saja…
kadang malam masih terasa berat.
Terutama ketika angin malam bertiup pelan melewati jendela kamarnya.
Karena di saat seperti itu…
kenangan tentang Mas Nur dan Riyadi sering datang tiba-tiba.
“Heh Sinok…”
“Ayo latihan karate.”
“Heh Sinok…”
“Jangan nangis terus.”
“Heh Sinok…”
“Kamu cantik kalau senyum.”
Suara-suara itu masih tinggal di kepalanya.
Namun kini…
Yanti mulai belajar menerima.
Bahwa tidak semua orang yang singgah akan menetap.
Suatu sore…
Bambang datang ke rumah membawa brosur sekolah.
“Heh!”
“Apa?”
“Ini sekolah STM yang di Kendal.”
Yanti menerima brosur itu pelan.
Namun ia menggeleng kecil.
“Aku tetap ke Pedan.”
“Serius sejauh itu?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Yanti tersenyum kecil.
“Aku pengen suasana baru.”
Bambang langsung diam.
Karena ia tahu…
Yanti memang ingin pergi dari terlalu banyak kenangan.
“Tapi…” kata Bambang pelan.
“Kamu pasti kangen Tegorejo.”
Yanti tertawa kecil.
“Ya jelas.”
“Terutama sama aku?”
“Hahaha!”
Bambang langsung cengengesan.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
Yanti bisa tertawa tanpa terasa dipaksa.
Malam harinya…
Yanti duduk belajar sendiri di kamar.
Kali ini bukan belajar UN lagi.
Melainkan mulai membaca buku-buku tentang tekstil.
Tentang mesin tenun.
Tentang dunia industri.
Tentang kehidupan baru yang sama sekali asing baginya.
Namun anehnya…
ia mulai bersemangat.
“Aku nggak boleh terus sedih…”
gumamnya pelan.
“Aku harus punya masa depan.”
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
Yanti tidur tanpa menangis.
Hari pendaftaran STM Tekstil Pedan akhirnya tiba.
Subuh-subuh sekali…
Bu Rosmiyati sudah sibuk menyiapkan bekal nasi bungkus.
Bu Rosmiyati meminjam motor tetangga untuk mengantar mereka ke terminal.
Sementara Ima ribut sendiri di rumah.
“Heh Mbak…”
“Nanti kalau udah sekolah jauh…”
“Bawain aku oleh-oleh.”
“Emang aku mau ke luar negeri?”
“Hahaha!”
Perjalanan menuju Klaten terasa panjang.
Bus tua yang mereka naiki berguncang terus sepanjang jalan.
Namun Yanti justru menikmati semuanya.
Ia duduk dekat jendela.
Memandangi sawah.
Gunung di kejauhan.
Dan kota-kota kecil yang mereka lewati.
Seolah hidupnya benar-benar sedang bergerak menuju sesuatu yang baru.
Saat tiba di STM Tekstil Pedan…
mata Yanti langsung membesar kagum.
Bangunan sekolah itu jauh lebih besar dibanding SMP-nya dulu.
Banyak siswa memakai seragam abu-abu putih.
Ada bengkel praktik.
Ada ruang mesin tekstil.
Dan suasananya terasa sangat berbeda.
Degup jantungnya langsung cepat.
“Aku bakal sekolah di sini…”
gumamnya pelan.
Bu Rosmiyati tersenyum melihat wajah anaknya.
“Takut?”
“Sedikit…”
“Tapi semangat?”
Yanti mengangguk.
“Iya.”
Saat proses pendaftaran berlangsung…
Yanti melihat banyak siswa dari berbagai daerah.
Ada yang dari Solo.
Ada yang dari Boyolali.
Ada yang dari Klaten kota.
Dan untuk pertama kalinya…
ia sadar dunia ternyata jauh lebih luas dari Desa Tegorejo.
Sepulang dari Pedan…
senyum Yanti mulai kembali muncul.
Tidak sepenuhnya bahagia memang.
Luka lama masih ada.
Namun kini…
ia punya tujuan baru.
Malam itu…
ia berdiri di depan rumah memandangi langit.
Angin desa bertiup lembut.
Dan entah kenapa…
hatinya terasa lebih ringan.
“Heh Mas Nur…”
gumamnya lirih.
“Heh Kakang Riyadi…”
“Aku nggak akan terus nangis.”
Air matanya memang masih jatuh sedikit.
Namun kali ini berbeda.
Karena di balik air mata itu…
mulai tumbuh harapan.
Di dalam rumah…
Ima masih ribut sendiri belajar pelajaran SMP.
“Mbak!”
“Apa lagi?”
“Kalau nanti aku lulus…”
“Aku ikut Mbak sekolah di kota juga!”
Yanti langsung tertawa kecil.
“Belajar dulu yang bener.”
“Hahaha!”
Suara tawa kecil itu memenuhi rumah sederhana mereka.
Dan untuk pertama kalinya sejak kehilangan besar itu…
rumah Yanti kembali terasa hangat.
Malam semakin larut.
Lampu minyak mulai redup.
Namun di hati Yanti…
perlahan muncul cahaya baru.
Bukan lagi tentang cinta pertama.
Bukan lagi tentang kehilangan.
Melainkan tentang masa depan.
Tentang bangkit.
Dan tentang seorang gadis desa bernama Sinok…
yang akhirnya mulai belajar berdiri dengan kekuatannya sendiri.
EPILOG
MENUJU HARI ESOK
Subuh masih gelap ketika Desa Tegorejo mulai terbangun perlahan.
Suara ayam jantan bersahutan dari kejauhan.
Kabut tipis turun di antara sawah-sawah yang membentang panjang.
Dan di rumah sederhana di pinggir desa itu…
lampu dapur sudah menyala sejak dini hari.
Bu Rosmiyati sibuk menyiapkan bekal.
Nasi hangat dibungkus daun pisang.
Tempe goreng dimasukkan ke rantang kecil.
Sesekali ia mengusap matanya sendiri.
Entah karena asap tungku…
atau karena hatinya mulai berat melepas anak gadisnya pergi sekolah jauh.
Sementara itu…
di kamar kecil dekat ruang tengah…
Yanti duduk di tepi ranjang sambil memandangi koper biru tuanya.
Tidak banyak isi koper itu.
Beberapa baju.
Seragam baru abu-abu putih.
Mukena.
Buku tulis.
Dan sebuah pita cokelat kecil yang masih ia simpan rapi di sela buku.
Pemberian Riyadi dulu.
Yanti tersenyum kecil.
Begitu banyak hal sudah terjadi dalam hidupnya.
Tentang cinta pertama yang kandas.
Tentang kehilangan.
Tentang air mata di bawah pohon trembesi.
Tentang malam-malam panjang yang terasa sunyi.
Dan tentang orang-orang yang pernah mengisi hatinya…
lalu pergi meninggalkan kenangan.
Mas Nur.
Kakang Riyadi.
Semua pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
Dan meski luka itu belum benar-benar hilang…
kini Yanti mulai mengerti satu hal:
bahwa hidup harus terus berjalan.
“Nduk…” panggil Bu Rosmiyati lembut dari luar kamar.
“Iya Bu…”
“Sudah siap?”
Yanti menarik napas panjang.
Lalu mengangguk kecil.
“Sudah.”
Di ruang depan…
Ima sudah duduk sambil mengunyah singkong goreng.
Matanya masih setengah mengantuk.
“Heh Mbak…”
“Apa?”
“Kalau nanti punya teman baru…”
“Jangan lupa sama aku.”
Yanti tertawa kecil.
“Bawel.”
Ima langsung memeluk kakaknya erat.
Dan untuk sesaat…
Yanti merasa hangat sekali.
Tak lama kemudian…
ibunya memanggil dari depan rumah.
“Bus pagi nanti lewat cepat.”
“Iya bu!”
Suasana rumah mendadak sibuk.
Tetangga dekat mulai berdatangan untuk berpamitan.
“Wah Yanti sekarang sekolah di Klaten.”
“Pinter ya…”
“Jangan lupa pulang.”
Yanti hanya tersenyum malu.
Namun jauh di dalam hatinya…
ia sedang berjanji pada dirinya sendiri.
Bahwa ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Perjalanan menuju Klaten dimulai saat matahari mulai muncul dari balik persawahan.
Bus tua yang mereka naiki bergerak perlahan meninggalkan Tegorejo.
Yanti duduk dekat jendela.
Memandangi desa yang perlahan menjauh.
Warung kecil dekat pertigaan.
Lapangan tempat mereka sering latihan karate.
Jalan menuju sekolah SMP.
Pohon trembesi itu…
semuanya perlahan tertinggal di belakang.
Dan anehnya…
kali ini Yanti tidak menangis.
Ia hanya diam.
Menikmati setiap kenangan yang lewat di kepalanya.
Ia teringat Dandang yang selalu membuat semua orang tertawa.
Teringat Yuli yang cerewet tapi perhatian.
Teringat Anita yang selalu menenangkan.
Teringat Bambang yang diam-diam selalu menjaganya.
Teringat Mas Nur…
cinta pertamanya yang mengajarkan rasa rindu dan kehilangan.
Dan teringat Riyadi…
yang selalu hadir saat hatinya runtuh.
Semua kenangan itu…
tidak lagi terasa seperti luka.
Melainkan bagian dari perjalanan hidup yang membuatnya tumbuh dewasa.
Bus terus melaju.
Melewati kota demi kota.
Sawah demi sawah.
Hingga akhirnya…
bangunan STM Tekstil Pedan mulai terlihat dari kejauhan.
Jantung Yanti berdegup pelan.
Ada gugup.
Ada takut.
Namun juga ada semangat baru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
“Inilah hidup baruku…”
gumamnya pelan.
Bu Rosmiyati menatap anaknya sambil tersenyum bangga.
“Kamu pasti bisa.”
Yanti mengangguk kecil.
“Iya Bu.”
Angin pagi berembus lembut saat ia turun dari bus.
Suasana sekolah baru itu terasa asing.
Namun langit pagi tampak begitu cerah.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
Yanti merasa masa depan tidak lagi menakutkan.
Karena kini…
ia bukan lagi gadis kecil yang hanya menangisi kehilangan.
Ia telah menjadi seseorang yang belajar bangkit dari luka.
Belajar menerima perpisahan.
Dan belajar berjalan menuju hidup yang lebih besar.
Di bawah langit Klaten yang biru…
Sinok melangkah perlahan memasuki gerbang STM Tekstil Pedan.
Meninggalkan masa SMP yang penuh cinta dan air mata.
Menuju hari esok yang belum ia kenal.
Namun kali ini…
dengan hati yang jauh lebih kuat.
Dan sebuah keyakinan kecil di dalam dirinya:
bahwa setiap kehilangan selalu membawa seseorang menuju versi terbaik dari dirinya sendiri.
Buku Kedua
RINDU DI BANGKU STM TEKSTIL PEDAN
“Tentang Seragam Putih Abu-Abu, Ruang Praktik yang Dingin, dan Seorang Gadis Desa yang Belajar Merajut Harapan di Antara Pelajaran dan Perasaan”
PROLOG
MERPATI TAK PERNAH INGKAR JANJI
Ada masa dalam hidup…
ketika seseorang datang bukan untuk tinggal selamanya.
Melainkan hanya untuk mengajarkan arti kehilangan.
Dan Yanti…
terlalu muda untuk memahami itu semua.
Malam itu…
angin Desa Tegorejo berembus pelan melewati sawah yang mulai menguning.
Suara jangkrik terdengar dari pematang.
Lampu-lampu rumah penduduk tampak redup kekuningan.
Dan di bawah pohon mangga depan rumah…
Yanti duduk sendirian sambil memeluk lututnya.
Matanya kosong.
Tatapannya jauh.
Seolah sebagian jiwanya ikut pergi bersama seseorang.
Sudah hampir tiga bulan…
Mas Nur tidak pernah kembali.
Tidak ada surat.
Tidak ada kabar.
Tidak ada pesan.
Ia pergi begitu saja ke Jakarta…
membawa semua janji yang dulu pernah diucapkannya di bawah langit sore Desa Tegorejo.
Dan yang paling menyakitkan…
ia pergi tanpa pamit.
“Heh…”
Suara Ima terdengar pelan dari belakang.
“Mbak belum tidur?”
Yanti menoleh kecil.
Belum sempat menjawab…
Ima sudah duduk di sampingnya.
“Masih mikirin Mas Nur ya?”
Yanti tersenyum kecil hambar.
“Enggak.”
“Bohong.”
“Bener.”
“Kalau enggak kenapa tiap malam duduk terus di sini?”
Yanti terdiam.
Karena bahkan dirinya sendiri tidak tahu…
apa yang sebenarnya sedang ia tunggu.
Mungkin…
suara langkah kaki.
Mungkin…
seseorang datang sambil tersenyum lalu berkata:
“Aku pulang…”
Atau mungkin…
ia hanya belum siap menerima kenyataan…
bahwa cinta pertamanya benar-benar pergi.
Ima memandangi kakaknya lama.
Lalu berkata pelan.
“Mbak…”
“Apa?”
“Kalau orang pergi…”
“Belum tentu lupa.”
Kalimat sederhana itu…
membuat dada Yanti terasa semakin sesak.
Di kejauhan…
langit malam Tegorejo tampak gelap.
Dan bagi Yanti…
desa itu sudah tidak lagi terasa sama.
Lapangan karate yang dulu penuh tawa…
kini hanya menyisakan kenangan.
Jalan kecil dekat kebun bambu…
masih mengingat langkah-langkah sore mereka dulu.
Pohon trembesi depan sekolah…
masih berdiri diam seperti saksi bisu semua tangis yang pernah jatuh di bawahnya.
Dan setiap sudut desa…
selalu mengingatkannya pada seseorang.
Mas Nur.
Namun kehilangan tidak berhenti di situ.
Karena beberapa bulan setelah Mas Nur pergi…
Kakang Riyadi juga meninggalkan Tegorejo.
Pergi menyusul Karwan ke Tangerang.
Tanpa pamit.
Tanpa pelukan terakhir.
Tanpa memberi kesempatan pada Yanti untuk berkata:
“Jangan pergi…”
Dan sejak saat itu…
hidup Yanti benar-benar berubah.
Dulu…
ia adalah gadis paling ramai di antara teman-temannya.
Tertawa paling keras.
Bercanda paling heboh.
Bahkan sering membuat satu kampung ribut hanya karena suara tawanya.
Namun sekarang…
ia lebih sering diam.
Lebih sering melamun.
Dan lebih sering menangis diam-diam di kamar.
Bu Rosmiyati sampai berkali-kali menghela napas melihat anak sulungnya berubah.
“Nduk…”
“Iya Bu…”
“Kamu nggak boleh terus begini.”
Yanti menunduk pelan.
“Aku capek Bu…”
“Capek apa?”
“Hidup.”
Kalimat itu membuat Bu Rosmiyati langsung menatap anaknya lekat.
“Kamu masih muda.”
“Tapi rasanya hati aku udah tua…”
Suara Yanti lirih.
“Semua orang pergi…”
Bu Rosmiyati mengusap kepala anaknya perlahan.
“Orang pergi bukan berarti hidup selesai.”
“Tapi rasanya sepi banget…”
“Maka kamu harus mulai hidup baru.”
Dan malam itulah…
untuk pertama kalinya…
Bu Rosmiyati mengucapkan nama sekolah itu.
STM Tekstil Pedan.
“Kamu sekolah saja di Klaten.”
Yanti langsung menoleh.
“Hah?”
“Biar suasananya baru.”
“Biar pikiranmu berubah.”
“Tapi jauh Bu…”
“Kadang…”
“Kalau hati terlalu penuh kenangan…”
“Manusia memang harus pergi sebentar.”
Yanti langsung diam.
Klaten.
Nama kota itu terasa asing baginya.
Ia belum pernah membayangkan hidup jauh dari rumah.
Jauh dari Tegorejo.
Jauh dari sawah.
Jauh dari suara adzan mushola kampung.
Dan jauh…
dari semua kenangan yang selama ini diam-diam masih ia peluk erat.
Namun hidup memang tidak pernah memberi manusia pilihan untuk terus diam di tempat yang sama.
Kadang…
seseorang harus berjalan meski hatinya belum siap.
Hari-hari setelah itu terasa cepat.
Pendaftaran sekolah.
Menjahit seragam baru.
Membeli buku tulis.
Mempersiapkan hidup baru.
Namun satu hal yang tidak pernah benar-benar siap adalah hati Yanti sendiri.
Malam sebelum keberangkatannya…
Yanti kembali duduk sendirian di bawah langit Tegorejo.
Angin malam terasa dingin.
Dan tanpa sadar…
ia kembali mengingat suara seseorang.
“Aku pengen jagain kamu terus…”
Air mata Yanti jatuh lagi.
“Heh…”
Suara itu masih jelas di kepalanya.
Suara Mas Nur.
Suara cinta pertamanya.
Suara yang dulu membuat dunia terasa hangat.
Namun kini…
hanya tinggal gema kenangan.
Yanti memejamkan mata pelan.
Lalu berbisik lirih pada malam.
“Mas…”
“Kalau benar merpati tak pernah ingkar janji…”
“Kenapa kamu nggak pernah pulang…”
Angin malam berembus pelan.
Membawa suara daun bambu bergesekan.
Namun tak ada jawaban.
Dan sejak malam itu…
perjalanan hidup Yanti benar-benar dimulai.
Perjalanan seorang gadis desa…
yang membawa luka menuju kota asing.
Perjalanan tentang persahabatan.
Tentang cinta yang posesif.
Tentang lelaki-lelaki yang datang silih berganti mengisi hidupnya.
Tentang kehilangan demi kehilangan.
Dan tentang seorang gadis yang perlahan belajar:
bahwa tidak semua orang yang kita cintai…
ditakdirkan untuk tinggal.
Di STM Tekstil Pedan nanti…
Yanti akan bertemu:
orang-orang baru,
dunia baru,
dan kisah baru.
Namun jauh di lubuk hati paling dalam…
ia tetap menyimpan satu nama.
Nama yang tidak pernah benar-benar pergi.
Mas Nur.
Dan tanpa Yanti sadari…
semua luka masa lalunya…
baru saja dimulai kembali.
BAB I
SENJA TERAKHIR DI BANGKU SMP
“Tentang Pengumuman Kelulusan, Masa Remaja yang Mulai Berakhir, dan Seorang Gadis Desa yang Bersiap Meninggalkan Kampung Halamannya…”
Pagi itu langit Tegorejo cerah. Matahari baru naik setinggi pohon kelapa. Embun masih menggantung di daun-daun singkong belakang rumah.
Namun berbeda dengan pagi biasanya, hari itu suasana kampung terasa jauh lebih ramai. Karena hari itu adalah hari pengumuman kelulusan SMP.
Di rumah sederhana berdinding papan itu, Yanti duduk diam di depan cermin kecil kamarnya. Seragam putih biru masih tergantung rapi di pintu. Sepatunya mulai kusam dimakan waktu.
Dan entah kenapa, semua benda itu terasa begitu berharga pagi ini. Seolah hari itu menjadi batas terakhir antara masa remaja dan kehidupan baru yang belum ia kenal.
“Heh Mbak!” Suara Ima muncul dari pintu sambil nyengir. “Kok belum siap?”
Yanti melirik malas. “Maleees…”
“Halah. Takut nggak lulus ya?”
Yanti langsung melempar bantal kecil. “Bawel!”
Ima kabur sambil tertawa ke dapur. Namun beberapa detik kemudian, senyum Yanti perlahan hilang lagi. Hari itu ia sadar satu hal: masa SMP-nya benar-benar akan selesai.
Bu Rosmiyati masuk lalu duduk di belakang Yanti. “Sini, rambutmu ibu rapikan.”
Perlahan ia menyisir rambut panjang anak gadisnya dengan penuh kasih sayang.
“Kamu harus semangat. Ini hari bahagia.”
Yanti tersenyum kecil. “Deg-degan malah.”
Ibunya lalu menatap wajah Yanti dari cermin kecil itu. “Kamu sekarang sudah besar. Sebentar lagi STM. Mau sekolah jauh.”
Yanti menunduk pelan. Ada rasa takut yang belum sempat ia ceritakan pada siapa pun. Takut meninggalkan rumah. Takut memasuki lingkungan baru. Takut memulai semuanya dari nol.
Tak lama kemudian, suara klakson sepeda terdengar dari depan rumah.
TINNN! TINNN!
“Heh Sinok! Ayo berangkat!” Dwi, gadis cerewet berambut sebahu itu, sudah berdiri di pagar sambil tertawa. “Heh jangan dandan lama-lama. Ini pengumuman kelulusan, bukan lomba putri Indonesia.”
Yanti manyun. “Biarin.”
“Hahaha!”
Perjalanan menuju SMP Pengandon pagi itu terasa berbeda. Jalan desa ramai oleh anak-anak berseragam. Ada yang tertawa keras, ada yang terlihat tegang, ada yang sibuk menebak nilai. Namun Yanti lebih banyak diam.
“Heh, kamu kok serius amat?” Dwi mengayuh di sampingnya.
“Biasa.”
“Mukamu kayak mau sidang pengadilan.”
Yanti tertawa kecil. “Lebay.”
Mereka melewati jalan kecil dekat kebun bambu. Angin pagi bertiup pelan. Dan tanpa sadar, langkah sepeda Yanti melambat. Karena jalan itu menyimpan terlalu banyak kenangan masa SMP. Tempat pulang sekolah. Tempat bercanda bersama teman-teman. Yanti tersenyum kecil sendiri.
Saat tiba di sekolah, halaman SMP Pengandon sudah penuh. Anak-anak bergerombol di depan papan pengumuman yang masih ditutup kain. Suasana benar-benar ramai.
Dandang berteriak dari kejauhan. “WOI KALAU GUE NGGAK LULUS, GUE JADI ARTIS!”
Bambang nyeletuk. “Modal muka dulu!”
Satu halaman pecah tertawa.
“Heh Sinok!” Yuli langsung memeluk Yanti. “Deg-degan nggak?”
“Lumayan.”
Dandang datang sambil sok dramatis. “Kalau kita nggak lulus, kita bikin grup dangdut. Namanya Air Mata Pendidikan!”
Bahkan beberapa guru ikut tertawa.
Bel sekolah berbunyi. Kepala sekolah naik ke podium memberikan sambutan panjang tentang perjuangan dan masa depan. Namun sebagian anak malah sibuk sendiri. Dandang berbisik, “Kalau pidato Pak Kepala Sekolah dijual, mungkin bisa buat selimut.”
Bambang menyikutnya. “Diam woi!”
Akhirnya pengumuman dibuka. Anak-anak berdesakan mendekati papan nilai. Suasana kacau. Ada yang berteriak histeris, ada yang meloncat kegirangan.
Yanti berdiri diam. Tangannya mulai dingin. Dadanya berdebar kencang. Matanya mencari namanya sendiri di antara deretan panjang murid.
Sampai akhirnya ia menemukannya.
YANTI — LULUS
Air matanya langsung jatuh.
“Heh Sinok! Kamu lulus!” Dwi memeluknya keras.
“ALHAMDULILLAH!” teriak Yuli.
Dandang malah naik kursi. “AKHIRNYA NEGARA INI SELAMAT! KITA RESMI JADI PENGANGGURAN TERDIDIK!”
Satu sekolah kembali pecah tertawa.
Namun di tengah keramaian itu, Yanti perlahan menjauh. Langkahnya membawanya ke belakang sekolah, ke dekat pohon trembesi tua. Tempat yang selama ini selalu terasa teduh bagi masa remajanya.
Angin siang bertiup lembut. Daun-daun kecil berguguran ke tanah. Dan di bawah pohon itu, Yanti duduk diam sambil memandangi halaman sekolah dari kejauhan.
“Aku lulus,” lirihnya sambil tersenyum kecil.
Namun anehnya, ada rasa haru yang sulit dijelaskan. Bukan sedih, bukan juga bahagia sepenuhnya. Melainkan perasaan kehilangan masa yang tidak akan pernah kembali.
“Heh, kamu malah ngumpet di sini.” Bambang datang lalu duduk di sampingnya.
“Rame banget di depan,” jawab Yanti.
“Kamu jadi sekolah ke Klaten? STM Tekstil ya? Jauh juga.”
Yanti mengangguk pelan.
Bambang menatap halaman sekolah beberapa saat. “Cepat banget ya. Kita udah lulus aja. Padahal dulu kita masih rebutan bangku depan. Terus Dandang pernah dihukum gara-gara tidur di kelas.”
Yanti tertawa. “Yang ngiler di meja itu?”
“Iya!”
Mereka tertawa bersama cukup lama.
“Heh Sinok, nanti kalau udah jauh, jangan lupa pulang.”
Yanti tersenyum hangat. “Memangnya aku mau jadi TKI?”
“Hahaha!”
Sore harinya, sepulang dari sekolah, Yanti kembali melewati jalan kecil dekat sawah. Langit mulai berubah jingga. Angin sore bertiup lembut. Ia mengayuh sepeda pelan sambil memandangi langit senja Tegorejo.
Dan entah kenapa, hatinya mulai berbisik pelan.
“Hidupku bakal berubah…”
Ia tahu, setelah hari itu, tak akan ada lagi seragam putih biru. Tak akan ada lagi kelas kecil SMP Pengandon. Tak akan ada lagi masa remaja sederhana yang selama ini ia jalani.
Karena setelah senja itu, hidup baru sudah menunggunya.
Dan perjalanan menuju STM Tekstil Pedan…
baru saja dimulai.
BAB II
JALAN PANJANG MENUJU PEDAN
“Tentang Terminal Kecil, Tangis yang Disembunyikan, dan Langkah Pertama Meninggalkan Tegorejo”
Pagi itu Desa Tegorejo masih diselimuti embun tipis. Udara dingin turun dari arah persawahan. Suara ayam berkokok bersahutan dari belakang rumah-rumah warga.
Namun pagi itu berbeda. Tidak ada suara Yanti bernyanyi sambil menyapu halaman. Tidak ada suara cekcok kecil antara Yanti dan Ima. Tidak ada tawa keras seperti biasanya.
Karena pagi itu adalah pagi keberangkatan Yanti menuju Klaten. Menuju STM Tekstil Pedan. Menuju kehidupan baru yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
Yanti duduk diam di dipan bambu ruang tengah. Di sebelahnya ada koper kecil warna cokelat tua milik almarhum ayahnya. Sudah kusam. Pegangannya mulai retak. Namun koper itu tetap dipakai Bu Rosmiyati karena hanya itu yang paling layak.
Beberapa baju sudah dilipat rapi di dalamnya. Seragam putih abu-abu baru. Mukena. Handuk kecil. Buku tulis. Dan satu foto lama yang diam-diam disimpan Yanti di sela pakaian — foto dirinya bersama Mas Nur saat acara pentas seni SMP dulu.
Yanti memegang foto itu cukup lama. Lalu perlahan memasukkannya kembali ke koper.
“Nduk, makan dulu,” panggil Bu Rosmiyati dari dapur.
Yanti menghela napas lalu berjalan ke meja kayu yang sudah berisi nasi hangat, telur dadar, dan sayur bening. Masakan sederhana. Namun pagi itu rasanya jauh lebih berat dari biasanya.
Ima duduk sambil memperhatikan kakaknya. “Kak, nanti kalau udah sekolah di Klaten jangan lupa sama Ima ya.”
Yanti tersenyum kecil. “Apaan sih…”
“Serius. Takutnya kakak punya temen baru terus lupa.”
Yanti mencubit pipinya pelan. “Bawel.”
Namun beberapa detik kemudian mata Ima mulai berkaca-kaca. “Kak, nanti kalau ada yang jahat sama kakak gimana…”
Kalimat itu langsung membuat suasana mendadak hening. Bu Rosmiyati yang sedang menuang teh pun ikut diam. Karena sebenarnya, itulah yang paling mereka khawatirkan. Yanti akan sekolah jauh. Naik bus sendiri. Tinggal di tempat baru. Bertemu orang-orang baru. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, ia harus belajar berdiri tanpa orang-orang yang dulu selalu ada di dekatnya.
Bu Rosmiyati akhirnya duduk di dekat anak gadisnya. “Nduk, sekolah yang bener. Jangan neko-neko. Jaga diri baik-baik.”
Yanti mengangguk pelan.
“Ibu tahu kamu masih sedih. Ibu juga tahu kamu masih mikirin Nur.”
Yanti langsung menunduk. Air matanya terasa penuh di pelupuk mata, namun ia buru-buru menahannya.
“Bu, kalau orang pergi tanpa pamit, berarti dia nggak sayang ya?”
Bu Rosmiyati terdiam cukup lama. “Kadang orang pergi bukan karena nggak sayang. Tapi karena hidupnya belum selesai.”
Yanti kembali menunduk. Dadanya sesak.
Tak lama kemudian suara klakson colt bak terbuka terdengar dari depan rumah. “TIN! Udah siap belum?!” teriak Pakde Sastro dari luar.
“Itu pakdemu datang.”
Yanti buru-buru mengusap air matanya.
Saat keluar rumah, beberapa tetangga sudah berdiri di pinggir jalan.
“Eh Yanti arep sekolah ning Klaten ya? Sing pinter ya nduk! Jangan lupa kampung!”
Yanti mencoba tersenyum. Namun hatinya tetap berat.
Koper kecil dimasukkan ke belakang colt. Ima langsung memeluk kakaknya erat.
“Kak, kalau kangen gimana…”
Yanti tertawa kecil sambil ikut menangis. “Ya surat-suratan.”
“Bener ya?”
“Iya.”
Bu Rosmiyati ikut memeluk anak gadisnya. Tidak banyak kata. Namun pelukan itu sudah cukup menjelaskan segalanya.
Colt mulai berjalan perlahan meninggalkan rumah. Yanti menoleh ke belakang. Rumah kecilnya makin jauh. Pohon mangga depan rumah. Jemuran. Pagar bambu. Semua perlahan mengecil.
Dan entah kenapa, dadanya terasa sangat sesak.
Sepanjang perjalanan menuju Weleri, Yanti lebih banyak diam. Pakde Sastro beberapa kali mencoba menghibur.
“Nanti kalau udah STM jangan galak-galak ya.”
Yanti tersenyum kecil. “Memangnya aku galak?”
“Lho kamu kalau marah kayak mandor tebu.”
“Hehehe…”
Namun tawanya cepat hilang lagi.
Terminal Weleri pagi itu ramai. Suara kondektur saling bersahutan. “Asli Solooo! Semarang Semarang! Jogja langsung!” Pedagang asongan mondar-mandir menawarkan makanan. Suasana bising. Panas. Dan melelahkan.
Pakde membantu membawakan koper Yanti. “Nanti turun Pedan jangan sampai kelewatan. Kalau bingung tanya orang. Jangan malu.”
Yanti mengangguk pelan.
Tak lama kemudian bus jurusan Solo datang. Bus tua dengan cat mulai pudar. Namun bagi Yanti, itulah kendaraan menuju masa depannya.
Saat naik ke bus, Yanti kembali menoleh ke belakang. Pakde Sastro melambaikan tangan.
“Hati-hatiii!”
“Iya Pakde!”
Bus mulai berjalan perlahan. Dan untuk pertama kalinya, Yanti benar-benar meninggalkan Tegorejo.
Perjalanan terasa panjang. Sawah demi sawah berganti. Kota demi kota terlewati. Yanti duduk dekat jendela sambil memeluk tas kecilnya. Angin masuk lewat kaca bus yang terbuka separuh.
Namun pikirannya terus kembali pada masa lalu. Tentang Mas Nur. Tentang Kakang Riyadi. Tentang malam-malam latihan karate. Tentang tawa di bawah pohon trembesi.
Air mata Yanti kembali jatuh diam-diam. Ia buru-buru menghapusnya sebelum penumpang lain melihat.
Menjelang sore, bus akhirnya memasuki wilayah Klaten. Suasana mulai berbeda. Jalan lebih ramai. Motor berseliweran. Banyak pelajar berseragam putih abu-abu.
Dan saat bus melewati papan besar bertuliskan “PEDAN” , jantung Yanti langsung berdegup lebih cepat.
“Inggih mbak… Pedan…” kata kondektur.
Yanti buru-buru berdiri sambil membawa koper. Tangannya dingin. Kakinya gemetar. Namun ia tetap turun.
Dan saat kedua kakinya menginjak kota kecil itu, Yanti menarik napas panjang. Langit sore mulai jingga. Kehidupan baru sudah menunggunya di depan sana.
Namun Yanti belum tahu bahwa di kota kecil bernama Pedan itu, ia akan menemukan persahabatan baru, luka baru, cinta baru, dan kehilangan yang jauh lebih rumit dari yang pernah ia alami sebelumnya.
Dan tanpa sadar, langkah kecilnya sore itu sedang membawanya menuju masa paling liar dalam hidupnya.
BAB III
ASRAMA, SERAGAM PUTIH ABU-ABU, DAN DUNIA BARU
“Tentang Lorong Sekolah yang Asing, Tatapan Puluhan Cowok STM, dan Seorang Gadis Desa yang Mulai Belajar Bertahan”
Sore pertama di Pedan, Yanti berdiri bingung di depan terminal kecil. Koper tua di genggamannya. Orang-orang berlalu lalang. Becak, sepeda, bus kecil, pedagang kaki lima. Suara klakson bersahutan.
Berbeda dengan Tegorejo yang tenang. Di sini semuanya lebih cepat, lebih ramai, lebih asing.
Namun sebelum sempat bertanya-tanya lebih lama, bangunan sekolah itu sudah terlihat di kejauhan. Gedung panjang bercat krem kusam. Pagar besi besar. Dan tulisan: “STM TEKSTIL PEDAN”
Jantung Yanti berdegup lebih cepat.
Di halaman sekolah, beberapa siswa masih berkumpul. Mayoritas laki-laki. Suara mereka keras, tertawa bebas. Ada yang duduk di motor, ada yang main gitar. Dan saat melihat Yanti masuk gerbang, beberapa langsung menoleh.
“Heh anak baru… cewek tuh?”
Yanti menunduk sambil mempercepat langkah.
Namun baru beberapa meter berjalan — BRAK! Seseorang menabrak kopernya dari belakang.
“Aduh! Eh maaf! Maaf!”
Seorang cowok kurus tinggi dengan rambut sedikit gondrong tersenyum kocak. “Maaf mbak… eh siswi baru ya?”
Yanti mengangguk kecil.
Cowok itu langsung nyengir. “Selamat datang di hutan binatang.”
“Hah?”
Belum sempat Yanti menjawab, teman-temannya sudah tertawa. “Ahmad jangan nakut-nakutin!”
“Oh iya lupa kenalan. Ahmad.” Ia mengulurkan tangan.
“Yanti…”
“Oalah Yanti.” Ahmad langsung berteriak ke teman-temannya. “WOI ADA CEWEK BARU!”
Yanti malu setengah mati.
Dari kejauhan, seorang cowok bertubuh tinggi berjalan santai melewati mereka. Langkahnya tenang. Tatapannya tajam. Dan anehnya, begitu dia lewat, suasana di sekitar langsung berubah lebih sunyi.
Yanti menatap punggung cowok itu yang menjauh. “Siapa itu?”
Ahmad tersenyum misterius. “Toro. Cowok paling ditakuti di STM.”
Yanti mengernyit bingung. Namun sebelum sempat bertanya lebih lanjut, seorang perempuan berkacamata keluar dari kantor sekolah.
“Kamu Yanti dari Kendal? Saya Bu Rina, wali asrama putri. Yuk ikut.”
Asrama putri berada di belakang sekolah. Bangunan sederhana dua lantai, catnya mulai pudar namun cukup bersih.
“Ini Yanti. Nanti satu kamar sama Dwi, Tina, sama Siti,” kata Bu Rina.
Tiga gadis langsung berdiri.
Yang pertama mendekat, cewek berambut pendek sebahu dengan senyum tenang. “Hai, aku Dwi.”
Yang kedua langsung heboh sendiri. “YA AMPUN AKHIRNYA ADA TEMEN BARU! Aku Tina!” Belum sempat Yanti menjawab, Tina sudah menarik kopernya masuk kamar.
Sementara satu lagi hanya duduk diam di pojok sambil membaca buku. “Siti,” katanya pendek.
Tina berbisik, “Dia emang gitu. Hemat bicara.”
Kamar mereka sederhana. Empat ranjang besi, lemari kecil, jendela kayu besar. “Yang kosong ini buat kamu,” kata Dwi menunjuk ranjang dekat jendela.
Malam mulai turun. Untuk pertama kalinya Yanti benar-benar sadar — ia jauh dari rumah.
Setelah makan malam, mereka mengobrol santai. “Kamu dari mana?” tanya Tina.
“Tegorejo, Kendal.”
“Oalah jauh juga. Masuk jurusan apa?”
“Pemintalan.”
“Wih cewek kuat.”
Untuk pertama kalinya sejak datang, Yanti mulai tertawa kecil lagi.
Namun tiba-tiba suara teriakan cowok terdengar dari luar asrama. “WOI ANAK BARU!”
Yanti mengintip dari jendela. Di luar pagar, belasan cowok berdiri sambil tertawa-tawa. “Heh yang jilbab biru namanya siapa?! Cakep juga!”
Yanti langsung menutup jendela cepat-cepat. Mukanya merah total.
Tina malah ngakak. “Selamat. Kamu baru sehari udah terkenal.”
Dwi tersenyum. “Nanti juga biasa. Di sini cewek sedikit, jadi pasti diperhatiin.”
Yanti langsung lemas. Dalam hati ia mulai berpikir: “Ya Allah… ini sekolah apa…”
Keesokan paginya, hari pertama MOS dimulai. Lapangan sekolah sudah ramai. Puluhan siswa baru berbaris memakai seragam putih abu-abu. Jumlah cowok jauh lebih banyak.
Saat Yanti datang bersama Dwi, Tina, dan Siti, hampir semua mata langsung menoleh.
“Heh itu cewek baru kemarin. Cakep.”
Yanti gugup. “Tenang aja,” kata Dwi pelan. “Nanti juga mereka bosan.” Tina langsung nyeletuk, “Bohong.”
Saat itulah Toro lewat di depan barisan. Langkahnya santai. Tatapannya tajam. Semua anak langsung diam.
Cowok itu tiba-tiba berhenti. Lalu menoleh ke arah barisan cewek. Dan untuk beberapa detik, tatapannya berhenti tepat pada Yanti.
Jantung Yanti berdetak aneh.
Toro hanya diam beberapa detik, lalu berjalan lagi tanpa bicara. Namun Tina langsung heboh. “WADUH, dia ngelihat kamu!”
Dwi ikut serius. “Kalau Toro mulai tertarik sama seseorang, biasanya nggak pernah setengah-setengah.”
Yanti makin bingung. Namun jauh di dalam hatinya, ia mulai merasa — hari pertamanya di STM Pedan baru saja membuka pintu menuju kisah yang akan mengubah hidupnya selamanya.
BAB IV
EMPAT CEWEK DAN TIGA PULUH LIMA COWOK
“Tentang Kelas yang Berisik, Candaan Anak STM, dan Seorang Gadis Desa yang Mendadak Jadi Pusat Perhatian”
Hari pertama masuk kelas menjadi salah satu hari paling melelahkan bagi Yanti. Bukan karena pelajaran, bukan karena tugas, tetapi karena tatapan puluhan anak laki-laki yang seolah tak pernah berhenti memperhatikannya.
Pagi itu bel pertama berbunyi nyaring. Suasana koridor STM Tekstil Pedan langsung riuh. Suara sepatu, teriakan, candaan kasar ala anak STM, dan bau oli dari ruang praktik bercampur dengan udara pagi.
Yanti berjalan bersama Dwi menuju kelas. Tangannya memeluk buku erat. Ia gugup. Sangat gugup.
“Kamu tegang banget,” kata Dwi sambil tersenyum.
“Ya iyalah… cowoknya banyak banget.”
Dwi tertawa. “Baru tahu?”
“Aku kira seimbang…”
“HAHAHAHA!”
Saat sampai di depan kelas, Yanti berhenti. Tulisan besar di pintu: “1 TEX A”. Dari dalam, suara gaduh terdengar seperti pasar malam.
“Heh goblok jangan dilempar!” “WOI BANGKU GUE!”
Yanti melirik Dwi panik. “Ini kelas?”
“Iya.”
“Serius?”
“Iya.”
“Ya Allah…”
Baru saja mereka masuk, SEMUA LANGSUNG DIAM. Puluhan pasang mata langsung menatap Yanti.
Dwi menarik tangan Yanti masuk. “Udah biasa.” Namun jelas Yanti belum biasa sama sekali.
Di kelas itu hanya ada empat perempuan: Yanti, Dwi, Tina, dan Siti. Sisanya cowok semua. Tiga puluh lima orang.
“SELAMAT DATANG DI KEBUN BINATANG!” teriak seseorang dari belakang. Satu kelas tertawa. Ternyata Ahmad, cowok humoris yang kemarin menabrak koper Yanti.
“Nama lengkap siapa?” teriaknya lagi.
“WOI jangan diteriakin!” kata Dwi kesal.
Ahmad malah makin semangat. “Perkenalan dong!”
Guru belum datang. Tina menunjuk bangku kosong. Yanti cepat-cepat duduk.
Seorang cowok berkacamata langsung maju. “Kalau butuh catatan nanti pinjam aja. Aku Deni.” Tina berbisik, “Dia idealis. Sedikit-sedikit ngomong masa depan bangsa.”
Belum selesai, cowok lain datang membawa penggaris panjang lalu mengukur meja Yanti. Semua tertawa. “Herman. Anak paling aneh sekelas,” kata Tina. Herman menatap Yanti serius. “Kalau kamu duduk di sini, meja kelas jadi lebih indah.” Yanti malu setengah mati.
Tak lama kemudian guru masuk.
“SELAMAT PAGI!” teriak semua siswa.
Pak guru menaruh buku tebal di meja. “Kelas ini lengkap?”
“Lengkap Pak!”
“Yang perempuan empat?”
“Iya Pak.”
Matanya berhenti pada Yanti. “Kamu murid baru dari Kendal? Semoga betah di sini.”
Dari belakang, Ahmad nyeletuk pelan, “Kalau nggak betah sama aku aja.” PLAK! Kepalanya langsung dipukul Herman.
Jam istirahat tiba. Suasana langsung kacau. “Heh kantin yuk!” “WOI traktir!”
Tina menarik tangan Yanti. “Ayo.”
Kantin STM sederhana. Bangunan semi terbuka dengan meja panjang kayu. Bau gorengan dan kopi bercampur. Dan lagi-lagi, semua mata tertuju pada Yanti.
“Anak baru tuh. Cakep asli.”
Yanti gugup. “Kenapa semua lihat aku terus…”
Tina tertawa. “Karena di sini cewek langka. Kayak panda.”
“HHAHAHAHA!”
Saat sedang makan, seseorang duduk di depan mereka. Cowok tinggi, kulit sawo matang, tatapan tenang.
“Boleh duduk?”
“Oh iya…”
Cowok itu tersenyum kecil. “Aku Riyadi.”
Nama itu membuat Yanti sedikit terdiam. Karena mengingatkannya pada Kakang Riyadi di Tegorejo.
“Kamu dari Kendal ya? Naik bus sendiri? Hebat juga.” Yanti tersenyum kecil.
Berbeda dari cowok lain, Riyadi tidak banyak bercanda. Nada bicaranya tenang. Matanya teduh. “Kalau butuh bantuan, bilang aja.”
Belum sempat lanjut ngobrol, Ahmad datang. “WOI RIYADI, cepet amat deketin anak baru.” Riyadi geleng-geleng kepala.
Namun sebelum suasana makin ramai, semua mendadak diam.
Toro masuk kantin. Langkahnya santai, tapi auranya membuat anak-anak otomatis minggir. Ia berjalan perlahan sambil memasukkan tangan ke saku. Tatapannya tajam.
Saat melewati meja Yanti, ia berhenti.
Beberapa detik suasana benar-benar sunyi.
Toro menatap Yanti. “Anak baru?”
“I… iya…”
Toro mengangguk kecil lalu berjalan lagi tanpa senyum. Namun setelah ia pergi, suasana kantin langsung meledak.
“WADUH, Toro ngomong sama dia. Bahaya.”
Yanti makin bingung. “Ada apa sih…”
Riyadi hanya diam sambil meminum tehnya. Namun untuk pertama kalinya, ia mulai merasa tidak nyaman.
Dan Yanti belum tahu bahwa hari-hari berikutnya akan membuat hidupnya jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan. Karena di STM Pedan, persahabatan, cinta, dan pertarungan harga diri sering kali tumbuh bersamaan.
BAB V
GADIS DESA YANG JADI PUSAT PERHATIAN
“Tentang Lorong STM, Candaan yang Mulai Berlebihan, dan Seorang Gadis Tomboy yang Tidak Pernah Sadar Dirinya Istimewa”
Hari-hari pertama di STM Tekstil Pedan berjalan semakin cepat. Tanpa Yanti sadari, namanya mulai dikenal hampir satu sekolah.
Bukan karena ia mencari perhatian. Justru sebaliknya. Yanti tidak jaim, tidak manja, dan berani bicara dengan siapa saja. Dan entah kenapa, sifat tomboynya justru membuat banyak orang memperhatikannya.
Pagi itu, Yanti berjalan bersama Tina menuju kelas. Baru beberapa langkah, teriakan khas terdengar.
“WOI KENDAL!”
Ahmad berdiri di atas bangku sambil melambai. Yanti menggeleng. “Apaan sih…”
“Yantiii! Kalau nggak mau dipanggil, traktir es dulu!”
Anak-anak lain tertawa. Tina nyengir. “Tuh kan. Kamu udah terkenal.”
Begitu masuk kelas, Herman langsung muncul membawa bunga plastik. Ia berlutut dramatis di depan meja Yanti. “Terimalah bunga ini.”
Satu kelas pecah. Yanti menutup muka pakai buku. “Malu tau!”
Ahmad nyeletuk, “Herman kalau nembak tuh mandi dulu!”
Pelajaran praktik tekstil dimulai. Ruangan besar, bising, penuh mesin. Bau oli dan kapas bercampur jadi satu. Yanti mengeluh pelan, “Ya Allah…”
Tina tertawa. “Baru mulai. Nanti kalau mesin hidup semua, kupingmu mau copot.”
Anak-anak cowok terlihat santai. Sementara Yanti masih bingung sendiri.
Saat itulah Riyadi datang mendekat. “Kamu belum ngerti?”
“Iya…”
Dengan sabar ia menjelaskan, menunjuk bagian-bagian mesin satu per satu. Nadanya pelan, tenang. Berbeda dari anak STM kebanyakan.
“Nah ini buat narik serat. Kalau ini pengatur gulungan.”
“Oh… makasih.”
Riyadi tersenyum kecil. Dari kejauhan, Ahmad berbisik ke Aris, “Riyadi mulai.” Aris tertawa. “Anak pendiem kalau jatuh cinta serem.”
Riyadi melotot. “Berisik lu.” Tapi telinganya memerah.
Jam istirahat, mereka duduk di bawah pohon dekat lapangan. Muji bertanya, “Kamu dulu SMP di mana?”
“Pengandon.”
“Berarti udah biasa dikerubungi cowok dong?”
Yanti melempar tisu ke arahnya. “Ngawur!”
Namun sebelum suasana makin ramai, Toro datang. Semua langsung diam. Ia berdiri memandang Yanti cukup lama.
“Nama kamu Yanti kan? Kendal?”
“Iya…”
Toro mengangguk lalu duduk begitu saja di bangku dekat mereka. Suasana canggung. Bahkan Ahmad yang paling cerewet ikut diam.
“Kamu betah di sini?”
“Lumayan…”
“Kalau ada yang ganggu, bilang.”
Ahmad hampir keselek teh. Yanti bengong. “I… iya…”
Toro berdiri lagi. “Ya udah.” Lalu pergi.
Begitu ia menghilang, semua langsung ribut. “ASTAGA, dia perhatian sama Yanti. Fix kacau.”
Yanti makin bingung. “Emang kenapa sih sama dia?”
Muji berbisik, “Toro paling disegani di sekolah. Kalau marah, bisa satu sekolah diem.”
Ahmad nyeletuk, “Dia mah preman akademik.”
Riyadi hanya diam. Untuk pertama kalinya, ia merasa takut kehilangan sesuatu sebelum benar-benar memilikinya.
Sore harinya, Yanti duduk sendirian di jendela asrama. Langit Pedan mulai jingga.
Hari-harinya kini terasa jauh berbeda dari Tegorejo. Lebih ramai, lebih liar, lebih melelahkan. Namun anehnya, sedikit demi sedikit, hatinya mulai hidup kembali.
Meski jauh di lubuk hati, ia masih sering memikirkan satu nama.
Mas Nur.
BAB VI
RIYADI YANG SELALU DIAM-DIAM MENJAGA
“Tentang Perhatian Kecil yang Tidak Pernah Diminta, Jalan Pulang yang Selalu Ditemani, dan Hati yang Perlahan Belajar Nyaman Lagi”
Hari-hari di STM Tekstil Pedan mulai berjalan lebih cepat. Yanti perlahan terbiasa dengan suara mesin praktik, terbiasa dengan kelas yang selalu gaduh, terbiasa dengan candaan Ahmad yang tak pernah ada habisnya.
Namun ada satu hal yang belum benar-benar ia sadari — sejak awal masuk sekolah, selalu ada seseorang yang diam-diam memperhatikannya. Riyadi. Teman sekelasnya yang pendiam itu. Bukan Kakang Riyadi di Tegorejo yang sudah merantau ke Tangerang, melainkan Riyadi yang berbeda.
Cowok itu memang tidak seperti Ahmad yang suka cari perhatian. Tidak juga seperti beberapa anak laki-laki lain yang mulai terang-terangan mendekati Yanti. Riyadi lebih banyak diam. Namun justru karena diam itulah, perhatian-perhatian kecilnya terasa berbeda.
Dan Yanti seringkali berpikir dalam hati — namanya sama dengan Kakang Riyadi, tapi sifatnya berbeda. Kakang Riyadi dulu lebih banyak bercanda dan melindungi dengan cara yang hangat. Sedangkan Riyadi yang ini... pendiam. Hampir tidak pernah bicara banyak. Tapi justru itu yang membuatnya terasa hangat dengan cara yang baru.
Pagi itu udara Pedan cukup dingin setelah hujan semalaman. Yanti datang agak terlambat sambil ngos-ngosan.
“Heh, Pak Wiryo masuk belum?”
Tina menunjuk depan kelas. “Belum. Tapi bentar lagi.”
Yanti buru-buru duduk. Dan baru sadar — di atas mejanya sudah ada segelas teh hangat.
Dwi melirik sambil nyengir. “Tuh. Ada malaikat lewat tadi pagi.”
Yanti menoleh. Riyadi sedang duduk di bangku belakang sambil membaca buku. Seolah tidak terjadi apa-apa.
Yanti mendekat pelan. “Heh, ini kamu yang beli?”
Riyadi mengangkat kepala. “Oh… iya.”
“Kok repot-repot?”
Ia mengangkat bahu kecil. “Tadi lihat kamu datang kehujanan.”
Yanti diam beberapa detik. Kalimat sederhana. Tapi hangat sekali.
Ahmad yang melihat langsung nyeletuk keras. “WOOOO! Bapak Riyadi mulai bergerak!” Satu kelas ribut. Yanti buru-buru kembali ke tempat duduk sambil malu. “Berisik banget sih!”
Sejak hari itu Yanti mulai memperhatikan Riyadi lebih sering. Dan ia baru sadar — cowok pendiam itu selalu ada saat ia butuh bantuan.
Saat praktik dan benangnya kusut, Riyadi yang membantu. Saat Yanti lupa membawa penggaris, Riyadi meminjamkan. Saat Yanti tertidur di kelas karena kecapekan, Riyadi diam-diam menutup jendela agar angin tidak terlalu dingin.
Hal-hal kecil. Namun terus berulang. Dan tanpa sadar, perlahan membuat hati Yanti nyaman.
Sore hari sepulang sekolah, mereka sering berjalan bersama menuju jalan besar. Biasanya ramai-ramai: Yanti, Dwi, Ahmad, Muji, Aris, dan Riyadi.
Namun hari itu hanya Yanti dan Riyadi yang tersisa. Ahmad pulang duluan. Dwi diajak Tina ke pasar. Muji dan Aris masih praktik tambahan.
Jalanan sore sepi. Langit mulai jingga. Yanti tiba-tiba jadi kikuk sendiri.
Riyadi membuka suara lebih dulu. “Kamu masih sering kepikiran rumah?”
Yanti tersenyum kecil. “Masih.”
“Kangen?”
“Iya.”
“Pulang aja.”
“Nggak bisa semudah itu.”
Riyadi mengangguk pelan. “Aku tahu.”
Mereka kembali diam. Lalu tiba-tiba Riyadi berkata pelan, “Kamu sebenarnya kuat.”
Yanti menoleh. “Hah?”
“Kamu keliatan ceria… padahal sebenarnya banyak sedihnya.”
Kalimat itu membuat langkah Yanti melambat. Karena untuk pertama kalinya ada seseorang yang benar-benar melihat sisi rapuhnya.
“Kamu sok tahu.”
Riyadi tertawa kecil. “Sedikit.”
Yanti ikut tersenyum. Berjalan pulang bersamanya terasa nyaman. Tidak memaksa. Tidak membuat sesak. Berbeda dengan luka-luka cinta yang dulu pernah ia rasakan.
Hari-hari berikutnya kedekatan mereka mulai jadi bahan olokan satu kelas.
“Heh Yanti! Bodyguardmu belum datang tuh!” Ahmad langsung menunjuk Riyadi yang baru masuk kelas. “TUH DATANG!”
Riyadi cuma geleng-geleng kepala. Yanti melempar kapur ke Ahmad. “Mulutmu nggak bisa diem ya!”
Namun sebenarnya Yanti tidak marah. Karena jauh di dalam dirinya, ia memang mulai merasa nyaman dengan keberadaan Riyadi.
Suatu siang jam olahraga selesai lebih cepat. Yanti terlihat lemas karena belum sarapan.
“Heh kamu pucet,” kata Dwi.
“Nggak apa-apa.”
Namun beberapa detik kemudian perut Yanti berbunyi keras. KRUUUKKK…
Satu kelompok langsung ngakak. Yanti menutup muka malu. Ahmad sampai tepuk tangan. “Sound system Dolby!”
Tak lama kemudian Riyadi datang membawa roti dan teh. “Nih.”
Yanti melongo. “Kamu lagi?”
“Makan dulu.”
“Tapi…”
“Udah.”
Nadanya tenang. Namun justru itu yang membuat Yanti tidak bisa menolak.
Dwi berbisik ke Tina, “Kalau aku jadi Yanti, udah klepek-klepek.” Yanti langsung melotot. “Kalian apaan sih!”
Hari demi hari perhatian Riyadi semakin terlihat. Namun bukan perhatian yang berlebihan. Ia tidak pernah memaksa dekat, tidak pernah menggoda aneh-aneh, tidak pernah sok romantis. Ia hanya selalu ada.
Dan justru itu yang membuat Yanti perlahan bergantung pada keberadaannya.
Suatu sore hujan turun sangat deras. Anak-anak tertahan di kelas.
Riyadi berdiri. “Mau ke kantin?”
“Hah? Hujan gitu?”
Ia mengangguk santai. “Sekalian beli makan.”
Ahmad langsung heboh. “Titip gorengan! Aku mie rebus! Es teh!”
Yanti tertawa. “Kasihan amat jadi babu.”
Namun Riyadi cuma tersenyum kecil lalu berlari menerobos hujan. Beberapa menit kemudian ia kembali dengan rambut basah kuyup sambil membawa plastik makanan.
“Heh gila… kamu kehujanan semua.”
Riyadi cuma mengusap rambut. “Nggak apa-apa.”
Dan tanpa sadar, mata Yanti terus memperhatikannya.
Malam itu di kamar kos, Yanti diam cukup lama setelah belajar.
Dwi melirik. “Kamu suka ya sama Riyadi?”
Yanti salah tingkah. “Apaan sih!”
“Jawab aja.”
“Nggak.”
“Bohong.”
Yanti diam. Lalu pelan berkata, “Aku cuma nyaman.”
Dwi tersenyum tipis. “Nah. Itu awal bahaya.”
Yanti sendiri bingung. Setiap kali dekat dengan Riyadi, ia merasa tenang. Tidak seperti saat bersama Mas Nur dulu yang penuh cemburu dan rasa takut kehilangan. Riyadi justru membuatnya merasa aman.
Bahkan berbeda dengan Kakang Riyadi di Tegorejo yang dulu melindunginya dengan cara yang hangat dan penuh tawa. Riyadi yang ini berbeda — lebih pendiam, lebih tenang. Tapi justru ketenangannya yang membuat Yanti perlahan merasa... pulang.
Dan mungkin, untuk pertama kalinya sejak patah hati, Yanti mulai membuka sedikit pintu hatinya lagi.
Namun di luar sana, ada seseorang yang mulai memperhatikan kedekatan mereka. Seseorang yang nantinya akan mengubah hubungan persahabatan mereka menjadi jauh lebih rumit.
Dan tanpa Yanti sadari, dunia STM yang awalnya terasa hangat perlahan mulai membawa konflik baru dalam hidupnya.
BAB VII
PERSAHABATAN LIMA ORANG
“Tentang Jalan Pulang yang Selalu Ramai, Tawa yang Mengusir Luka, dan Seorang Gadis yang Dijaga Seperti Ratu”
Hari-hari Yanti di STM Tekstil Pedan perlahan berubah menjadi lebih berwarna. Jika dulu ia selalu pulang dengan hati berat karena memikirkan Mas Nur dan Kakang Riyadi, kini sedikit demi sedikit tawanya mulai kembali.
Dan penyebabnya adalah lima orang cowok paling berisik di kelasnya: Riyadi, Muji, Aris, Adi, dan Yono.
Awalnya kedekatan mereka terjadi begitu saja. Karena sering satu kelompok praktik, sering pulang bareng, sering nongkrong di kantin yang sama. Namun lama-lama mereka menjadi seperti lingkaran kecil yang tak terpisahkan. Dan di tengah lingkaran itu, Yanti selalu jadi pusat keramaian.
Pagi itu kelas masih sepi. Yanti baru masuk sambil membawa tas besar. Belum sempat duduk, tasnya langsung direbut Muji.
“Sini, bawain.”
Yanti melotot. “Aku nggak cacat kali.”
Muji santai duduk sambil menaruh tas Yanti di kursi. “Daripada kamu ngeluh setengah jam.”
Tak lama kemudian Adi datang membawa gorengan. “Nih sarapan.”
Yanti bengong. “Kenapa sih kalian rajin amat ngasih makan aku?”
Yono nyeletuk, “Karena kamu kalau lapar, galaknya naik dua kali lipat.”
Semua tertawa. Aris ikut tersenyum kecil. Sementara Riyadi hanya memperhatikan dari bangku belakang. Dan entah kenapa, di antara semua perhatian itu, perhatian Riyadi tetap terasa paling berbeda bagi Yanti.
Jam pelajaran berlangsung seperti biasa. Saat Pak Wiryo menjelaskan, Ahmad sibuk menggambar wajah Muji di buku — hidung segede terong, rambut tinggal tiga helai. Yanti tertawa sampai menepuk meja.
Pak Wiryo menoleh tajam. “YANG BELAKANG! LUCU YA?!”
Ahmad refleks berdiri. “Enggak Pak. Ini edukasi seni rupa.”
Satu kelas pecah.
Sepulang sekolah, mereka berlima selalu menunggu Yanti. Begitu Yanti keluar dengan buku bertumpuk, Riyadi langsung mengambil sebagian tanpa bicara.
“Heh, aku bisa bawa sendiri.”
“Tahu.”
“Terus?”
“Capek lihat kamu ngeluh.”
Yanti manyun. Yang lain ngakak.
Jalan pulang mereka selalu ramai. Kadang bercanda, saling ejek, kadang nyanyi ngawur di jalan. Ahmad bilang, “Kalian ini kayak rombongan pengamen gagal.”
Suatu sore mereka berhenti di warung es dekat sekolah. Ibu warung datang membawa lima es teh. Padahal mereka belum pesan.
“Iya tadi sudah dibayar.”
Semua menoleh ke Riyadi. Cowok itu pura-pura sibuk minum.
Adi menggeleng dramatis. “Ya Tuhan… cinta diam-diam memang mengerikan.”
Yanti salah tingkah. “Apaan sih…”
Meski sering diolok, Riyadi tidak pernah marah. Ia tetap sama. Tenang. Pendiam. Namun selalu ada. Dan semua teman mulai sadar — cowok itu benar-benar menyukai Yanti.
Suatu hari mereka mendapat tugas kelompok besar. Akhirnya belajar bersama di rumah kontrakan Muji — rumah sederhana dekat persawahan, lantai tegel lama, radio kecil di ruang tamu.
Yanti duduk di lantai membuka buku. Baru lima menit, Ahmad malah tiduran. “Aku menyerah.”
Muji melempar bantal. “Belajar woi!”
Yono sibuk menggambar diagram ngawur. Adi malah makan terus. Yanti tertawa sampai sakit perut. Untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa benar-benar punya teman. Teman yang membuatnya lupa sedih.
Malam makin larut. Lampu rumah mulai redup. Angin sawah masuk lewat jendela. Saat yang lain ribut sendiri, Yanti tiba-tiba diam memandang suasana itu.
Riyadi yang duduk dekat jendela melirik. “Kenapa?”
Yanti tersenyum kecil. “Senang aja. Aku kira pindah ke sini bakal sendirian.”
Riyadi diam beberapa detik. Lalu berkata pelan, “Kamu nggak sendiri.”
Kalimat sederhana itu anehnya membuat dada Yanti hangat.
Hari-hari berikutnya persahabatan mereka makin erat. Ke mana-mana selalu berlima. Ke kantin, ke perpustakaan, ke tempat fotokopi, bahkan kadang jalan-jalan sore keliling Pedan.
Karena terlalu sering bersama, mereka mulai jadi bahan omongan satu sekolah. “Heh itu geng Yanti. Bodyguard semua.”
Namun mereka tidak peduli. Kebersamaan itu terasa tulus.
Suatu siang hujan turun deras. Mereka berteduh di gazebo belakang sekolah. Yanti duduk memeluk lutut. “Dingin…”
Adi nyeletuk, “Pinjem jaket Riyadi aja.”
Riyadi melotot kecil. Namun beberapa detik kemudian ia benar-benar melepas jaketnya.
“Nih.”
“Nggak usah.”
“Pakai aja.”
Muji tepuk tangan. “WOOOO! ROMANTIS!”
Yanti merah malu. “Berisik banget sih kalian…”
Namun diam-diam ia memakai jaket itu. Aroma hujan bercampur aroma jaket Riyadi terasa menenangkan.
Malam hari di kos, Dwi memandangi Yanti yang sedang melamun sambil melipat jaket.
“Kamu mulai suka ya?”
Yanti pura-pura sibuk. “Suka apaan.”
“Sama Riyadi.”
Yanti diam lama sekali. Lalu menjawab pelan, “Aku takut.”
“Takut kenapa?”
“Takut nanti kehilangan lagi.”
Suasana kamar hening. Dwi tahu — luka kehilangan Mas Nur dan Kakang Riyadi belum benar-benar sembuh. Dan mungkin itulah alasan terbesar kenapa Yanti masih menahan hatinya sendiri.
Namun di luar semua ketakutan itu, persahabatan lima orang terus berjalan hangat. Mereka tertawa bersama, belajar bersama, melindungi satu sama lain.
Dan Yanti belum sadar bahwa kebersamaan itu suatu hari nanti akan diuji oleh sesuatu yang jauh lebih rumit daripada sekadar persahabatan.
Sesuatu bernama: cinta.
BAB VIII
UMBUL DAN TAWA MASA MUDA
“Tentang Mata Air yang Jernih, Langit Senja yang Hangat, dan Sekelompok Anak STM yang Belajar Menyimpan Bahagia di Tengah Rumitnya Perasaan”
Hari-hari di STM Tekstil Pedan mulai terasa seperti rumah kedua bagi Yanti. Pagi sekolah, siang praktik, sore nongkrong, malam belajar sambil bercanda di kos.
Dan di antara semua rutinitas itu, ada satu tempat yang perlahan menjadi favorit mereka: Umbul. Sebuah mata air kecil di pinggir Pedan, dikelilingi pohon besar dan hamparan sawah. Tempat sederhana, namun penuh kenangan.
Sore itu pelajaran selesai lebih cepat. Ahmad langsung heboh. “Umbul yuk!”
Muji berdiri. “Ayo, panas banget ini.”
Yono ikut mengangkat tas. “Sekalian nyari angin.”
Yanti awalnya ragu. “Nggak ganggu belajar?”
Ahmad dramatis. “Belajar terus bisa jadi pertapa!”
Akhirnya mereka berangkat — Yanti, Dwi, Tina, Riyadi, Muji, Aris, Adi, Yono, dan Ahmad. Jalan menuju Umbul melewati persawahan panjang. Angin sore bertiup pelan. Langit mulai menguning. Yanti diam menikmati suasana itu. Sudah lama ia tidak merasa setenang ini.
Sesampainya di Umbul, airnya jernih sekali. Di pinggirnya ada pohon besar tempat orang duduk santai. Anak-anak kecil mandi sambil lompat-lompatan.
“Wah enak banget…” kata Tina.
Ahmad langsung mencelupkan kaki. “Surga dunia.”
Yanti duduk di batu pinggir Umbul. Riyadi datang membawa dua bungkus gorengan. “Nih.”
Yanti melongo. “Kamu kenapa sih suka ngasih makan?”
Riyadi duduk di sampingnya. “Biar nggak kurus.”
Adi berteriak. “WOOOO! Perhatian banget!” Yanti melempar daun ke arah mereka.
Suasana Umbul sore itu hangat. Mereka bercanda, cerita soal guru, saling ejek seperti keluarga sendiri. Dan di tengah semua itu, Yanti merasa sangat hidup.
“Heh Yanti, kalau nanti sukses mau jadi apa?” tanya Ahmad.
“Belum tahu.”
Muji tertawa. “Kalau aku pengin kaya.”
Yono nyeletuk. “Kamu tiap hari mikir makan doang.”
Dwi menatap langit. “Aku pengin kerja, bantu orang tua.”
Tina mengangguk. “Iya, kasihan kalau terus nyusahin rumah.”
Riyadi dari tadi diam. Yanti melirik. “Kamu?”
“Pengin hidup tenang aja.”
Yanti tersenyum. “Sederhana banget.”
Ahmad nyeletuk, “Kalau aku pengin punya istri cantik.” Tina langsung menjitak kepalanya. “Mimpi!”
Langit mulai berubah jingga. Sinar matahari sore memantul di permukaan air. Yanti memeluk lutut sambil memandang senja. Entah kenapa ia jadi ingat Tegorejo. Ingat jalan sawah. Ingat latihan karate sore. Ingat seseorang yang pernah membuatnya menangis sangat lama.
“Heh, kamu kepikiran lagi ya?” suara Riyadi membuyarkan lamunannya.
Yanti tersenyum kecil. “Kelihatan?”
“Iya.”
Yanti menatap air pelan. “Aku kadang masih mikir… kenapa orang yang bilang sayang malah pergi.”
Riyadi terdiam. Lalu berkata pelan, “Mungkin karena hidup nggak selalu kasih kita orang yang ingin kita miliki.”
Yanti menoleh perlahan. Tatapan Riyadi tenang, namun terlihat sangat tulus.
Ahmad tiba-tiba muncul dari belakang. “WOI! Jangan serius-serius amat!” Suasana kembali pecah.
Muji mengeluarkan gitar butut dari jok motor. Mereka akhirnya bernyanyi ramai-ramai — lagu lama, campursari, kadang lagu ngawur bikinan sendiri. Yanti tertawa sampai sakit perut melihat Ahmad joget seperti artis dangdut.
Senja makin turun. Langit berubah oranye kemerahan. Angin sore bertiup lembut. Untuk sesaat, semua masalah terasa jauh. Tidak ada luka, tidak ada kehilangan, tidak ada cinta yang menyakitkan. Yang ada hanya persahabatan, tawa, dan masa muda yang sedang tumbuh bersama.
Saat mereka hendak pulang, Yanti berjalan sedikit di belakang. Riyadi otomatis ikut melambat.
“Makasih ya.”
Riyadi bingung. “Buat apa?”
“Udah bikin aku nggak terlalu sedih.”
Ia tersenyum kecil. “Kamu sendiri yang kuat.”
Yanti menggeleng. “Nggak. Kalau sendirian, kayaknya aku udah nyerah dari dulu.”
Riyadi diam. Lalu berkata sangat pelan, “Kalau gitu… jangan sendirian.”
Jantung Yanti berdegup aneh. Sepanjang perjalanan pulang, kalimat itu terus terngiang di kepalanya.
Namun tanpa mereka sadari, kedekatan Yanti dan Riyadi mulai diperhatikan banyak orang di sekolah. Bisik-bisik kecil mulai muncul.
Dan seseorang diam-diam mulai merasa tidak suka melihat Yanti terlalu bahagia. Seseorang yang nantinya akan membawa perubahan besar dalam hidup mereka.
Toro.
BAB IX
KERETA KE MALIOBORO
“Tentang Tiket Murah, Tawa di Gerbong Ekonomi, dan Hari-Hari yang Tak Akan Pernah Kembali”
Pagi itu udara Pedan terasa lebih dingin dari biasanya. Kabut tipis masih menggantung di depan STM Tekstil Pedan ketika Yanti turun dari angkot. Jam menunjukkan pukul setengah enam, tapi halaman sekolah sudah ramai.
Suara anak-anak STM bercampur tawa. Ada yang membawa gitar, ada yang membawa kresek berisi makanan. Dan seperti biasa, rombongan paling ribut milik Ahmad.
“Heh cepat woi! Kereta nggak nungguin orang ganteng!”
Muji nyeletuk. “Muka kayak kamu mah satpam stasiun juga nggak bakal ngira penumpang.”
Ahmad melempar sandal. “Bangsat!”
Hari itu mereka akan pergi ke Yogyakarta naik kereta ekonomi dari Stasiun Klaten. Bagi Yanti, ini pertama kalinya ia pergi jauh bersama teman-teman STM.
“Yantiii!” Tina melambai dari depan gerbang. “Cepet sini, nanti ditinggal!”
Yanti tertawa. “Kereta jam delapan, Tin…”
“Biarin! Yang penting vibes liburannya dapet!”
Dwi menggeleng pasrah. “Kalau Tina udah heboh, biasanya dunia nggak aman.”
Tak lama kemudian Riyadi datang naik motor pinjaman Muji — motor butut yang suaranya mirip traktor sawah. Satu halaman langsung menoleh. Ahmad memegang dada. “Kirain tank perang.”
Muji turun sambil ketawa. “Motor legenda bos! Kalau jatuh nggak sakit, karena sebelum jatuh udah mati duluan.”
Yanti tertawa sampai menunduk. Riyadi hanya tersenyum kecil sambil memperhatikan Yanti diam-diam.
Sejak beberapa bulan terakhir, hubungan Yanti dan Riyadi memang semakin dekat. Bukan sebagai pacar, tapi lebih dari sekadar teman biasa. Riyadi selalu ada, selalu mendengar cerita Yanti. Bersamanya Yanti merasa tenang. Meski jauh di dalam hati, nama Mas Nur masih belum benar-benar hilang.
Perjalanan menuju Stasiun Klaten naik colt sewaan. Anak-anak duduk berhimpitan. Cowok-cowok STM berubah seperti sekumpulan monyet lepas kandang — nyanyi keras, mukulin atap mobil.
“MAS SOPIR, kita nyanyi boleh?”
“Boleh… ASAL JANGAN FALSSS!”
Lalu dimulailah konser paling kacau sedunia. Yanti sampai memegang perut. Dwi hampir jatuh dari kursi. Riyadi duduk dekat jendela, diam sambil sesekali tersenyum melihat Yanti tertawa. Dan diam-diam, itu sudah cukup membuatnya bahagia.
Sesampainya di Stasiun Klaten, semua langsung heboh. Bagi anak desa seperti mereka, stasiun terasa seperti dunia lain. Suara peluit, pengumuman dari speaker, kereta panjang yang berdiri megah di rel.
“YA ALLAHHH! Keren banget!” teriak Tina.
Saat membeli tiket, terjadi kekacauan. Muji kehilangan uang tiket. Semua panik mencari — sampai lima menit kemudian uang itu ditemukan di kantong belakang celana Muji sendiri.
Ahmad langsung menjitak kepalanya. “TOLOLLLL!”
Satu stasiun hampir pecah karena tawa mereka.
Kereta ekonomi akhirnya datang. Anak-anak berebut masuk. Gerbong penuh sesak, panas, berisik. Namun justru terasa menyenangkan karena mereka pergi bersama.
Yanti duduk dekat jendela. Riyadi berdiri karena kehabisan kursi.
“Sini duduk gantian,” kata Yanti.
“Nggak usah.”
Setelah dipaksa Dwi, Riyadi akhirnya duduk di pinggir kursi sempit itu — dekat sekali dengan Yanti. Jantungnya berdegup lebih cepat.
Kereta mulai berjalan. Pemandangan sawah bergerak mundur. Angin masuk lewat jendela. Yanti memandang keluar sambil tersenyum. “Indah ya…”
Riyadi menatapnya beberapa detik. “Iya…”
Namun sebenarnya, yang ia lihat indah bukan pemandangan di luar, melainkan senyum gadis di sampingnya.
Di gerbong lain, Ahmad pura-pura jadi pedagang asongan. “NASI PECELLL! TEH BOTOLLL! CINTA MURAH MERIAHHH!”
Satu gerbong tertawa. Bahkan penumpang lain ikut terhibur.
Menjelang masuk Yogyakarta, langit mulai cerah. Saat kereta memasuki Stasiun Tugu, semua langsung heboh. “JOGJAAAA! WOOOO!”
Ahmad hampir mencium tiang stasiun karena terlalu semangat.
Begitu keluar stasiun, mereka berjalan kaki menuju Malioboro. Yanti langsung terpukau. Lampu-lampu toko, pedagang kaki lima, musisi jalanan, suara andong, bau sate. Semua terasa magis bagi gadis desa seperti dirinya.
Mereka duduk lesehan di pinggir Malioboro, makan nasi kucing, minum teh hangat, dan ngobrol panjang tentang masa depan.
“Kalau lulus STM, lo mau jadi apa?” tanya Muji.
“Orang kaya,” jawab Ahmad cepat.
Aris menghela napas. “Gue pengen kerja, bantu orang tua.”
Dwi menatap Yanti. “Kamu, Tik?”
Yanti diam sebentar. Angin malam Malioboro meniup rambut depannya. “Aku nggak tahu… tapi aku pengen hidupku berarti.”
Suasana mendadak hening. Jawaban sederhana itu terasa sangat dalam.
Riyadi menatap Yanti diam-diam. “Kamu masih sering mikirin Mas Nur?”
Yanti terdiam. Lalu tersenyum kecil. “Kadang… tapi sekarang aku cuma pengen bahagia.”
Riyadi tersenyum tipis. Meski jauh di dalam hati, ia tahu dirinya mungkin hanya tempat singgah sementara di hidup Yanti.
Malam semakin larut. Lampu Malioboro semakin indah. Dan mereka terus tertawa — tanpa sadar bahwa hari-hari seperti itu suatu saat akan menjadi kenangan paling mahal dalam hidup mereka. Kenangan yang nanti akan mereka rindukan, saat semuanya telah tumbuh dewasa dan berjalan ke arah hidup masing-masing.
BAB X
TORO SANG KAKAK KELAS
“Tentang Tatapan Pertama yang Mengubah Segalanya, Lelaki yang Disukai Banyak Orang, dan Awal Ketakutan yang Disangka Cinta”
Setelah perjalanan ke Malioboro, hubungan Yanti dengan teman-temannya semakin dekat. Terutama dengan Riyadi. Kini hampir setiap hari mereka bersama — berangkat praktik, makan di kantin, belajar kelompok. Dan seperti biasa, itu selalu menjadi bahan olokan satu kelas.
“Heh Riyadi! Kamu tuh kalau dekat Yanti mukanya kayak dispenser baru.”
Ahmad kabur sebelum dilempar buku. Riyadi geleng-geleng kepala. Yanti tertawa sampai menunduk.
“Kasihan amat sih kamu, Di…”
Muji nyeletuk. “Dia mah rela jadi karpet juga kalau buat kamu.”
Riyadi melempar penghapus. “Anjir kalian…”
Namun pagi itu, sesuatu mulai berubah.
Jam istirahat pertama, koridor STM mendadak ramai. Anak-anak bergerombol sambil berbisik-bisik.
“Itu Toro datang.”
“Yang anak kuliahan itu? Serem banget sumpah.”
Yanti mengernyit. “Toro siapa?”
Tina heboh. “Kamu nggak tahu? Toro itu kakak kelas legend. Sekarang kuliah sambil bantu organisasi sekolah. Anaknya galak, semua angkatan takut sama dia.”
Ahmad nimbrung. “Bukan takut, tapi males cari masalah.”
“Bedanya?”
“Sama aja sih.”
Tak lama kemudian koridor mendadak sunyi. Beberapa anak minggir. Dari ujung lorong muncullah seorang laki-laki tinggi memakai jaket hitam lusuh. Langkahnya tenang, tatapannya tajam. Auranya langsung membuat satu lorong terasa berbeda.
“Itu Toro,” bisik Tina.
Yanti ikut menoleh. Mata mereka bertemu. Yanti merasa tidak nyaman — bukan takut, tapi ada yang aneh dari tatapan lelaki itu. Terlalu tajam. Terlalu fokus. Terlalu berani.
Toro berhenti beberapa langkah dari mereka. “Heh, ketua bengkel mana?”
“Di ruang praktik, Bang.”
Toro mengangguk. Namun sebelum pergi, matanya kembali melirik Yanti. Hanya sebentar, tapi cukup membuat Yanti merasa aneh.
Setelah Toro pergi, Tina memegang lengan Yanti. “Dia lihat kamu!”
Dwi mengangguk. “Dan itu nggak biasa.”
Ahmad tertawa. “Kalau Toro udah fokus sama orang, biasanya nggak bakal gampang lepas.”
Yanti bingung. Tapi ucapan Ahmad membuat hatinya sedikit tidak tenang.
Hari-hari berikutnya nama Toro mulai semakin sering terdengar. Kadang ia muncul di bengkel praktik, kadang membantu acara sekolah. Dan anehnya, setiap kali muncul, matanya hampir selalu mencari Yanti.
Di perpustakaan, Dwi menyenggol Yanti. “Itu Toro lagi.”
Yanti menoleh. Toro berdiri dekat pintu, berbicara dengan guru. Beberapa detik kemudian ia melirik Yanti. Yanti buru-buru pura-pura membaca. Dwi menahan tawa. “Kayaknya ada yang mulai naksir.”
Bukan hanya Yanti yang sadar. Riyadi juga. Dan entah kenapa, ia mulai merasa tidak suka.
Sore itu mereka duduk di Umbul. Langit menjelang magrib tampak jingga. Ahmad sibuk melempar batu, Muji rebahan.
Aris bicara pelan. “Toro suka sama Yanti ya?”
Ahmad tertawa. “Kelihatan banget.”
Yanti melotot. “Kalian jangan ngawur.”
Muji ikut nimbrung. “Kalau dia naksir, bahaya. Toro tuh orangnya serius. Kalau suka sesuatu, dia bakal ngejar habis-habisan.”
Riyadi sejak tadi diam. Lalu bicara pelan, “Yang penting Yanti hati-hati aja.”
“Hati-hati kenapa?”
Ahmad mendahului. “Toro tuh bukan cowok biasa. Dia bisa baik banget, tapi juga bisa serem banget.”
Angin sore terasa lebih dingin. Untuk pertama kalinya, nama Toro mulai terasa seperti pertanda sesuatu yang besar akan datang.
Beberapa hari kemudian kejadian aneh mulai terjadi. Yanti datang ke kelas lebih awal. Saat membuka meja, ia menemukan cokelat SilverQueen kecil dan secarik kertas.
“Tetap semangat praktiknya.” — T
Tina yang baru masuk langsung menjerit. “ITU PASTI DARI TORO!”
Sejak hari itu perhatian kecil berdatangan — kadang minuman di meja, kadang roti, kadang pesan titipan. Semua tanpa nama jelas. Tapi semua orang tahu siapa pelakunya.
Yanti justru mulai merasa risih. “Kenapa sih dia kayak gitu…”
Dwi mengangkat bahu. “Mungkin suka beneran.”
“Tapi aku nggak kenal dia.”
“Kadang orang nggak butuh kenal lama buat suka.”
Yanti diam. Karena dulu ia juga pernah jatuh cinta begitu saja pada Mas Nur. Tapi bedanya, tatapan Mas Nur terasa hangat. Sedangkan Toro membuatnya merasa seperti sedang diawasi.
Suatu sore setelah praktik selesai, Yanti pulang bersama Riyadi dan Muji. Mereka berjalan melewati lorong belakang bengkel yang mulai sepi.
“Yanti.”
Mereka menoleh. Toro berdiri di dekat tangga, sendirian.
Suasana canggung. Riyadi refleks berdiri sedikit di depan Yanti. Toro menatapnya beberapa detik, lalu kembali ke Yanti. “Boleh ngomong sebentar?”
Muji berbisik, “Kita duluan aja, Di.”
Riyadi tampak tidak rela, tapi akhirnya ikut pergi. Meski sebelum pergi, ia masih sempat menoleh.
Kini tinggal mereka berdua. Lorong belakang sunyi. Toro berdiri tenang. Yanti mulai gugup.
“Ada apa?”
Toro menatapnya lama. “Aku suka lihat kamu. Kamu beda dari cewek-cewek lain di sini.”
Yanti tertawa kecil karena gugup. “Mas bercanda ya…”
“Aku nggak pernah bercanda soal yang aku suka.”
Yanti mulai tidak nyaman. “Kalau nggak ada apa-apa, aku pulang dulu.”
Namun saat hendak pergi, Toro memanggil lagi. “Yanti. Jangan terlalu dekat sama Riyadi. Dia nggak cocok buat kamu.”
Langkah Yanti berhenti. Bukan karena bentakan atau ancaman, tapi karena cara Toro bicara — terlalu yakin, terlalu mengatur. Seolah dirinya sudah punya hak atas hidup Yanti.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak masuk STM, Yanti sulit tidur. Bayangan tatapan Toro terus muncul di kepalanya.
Dan tanpa ia sadari, hari itu menjadi awal dari perubahan besar dalam hidupnya. Awal dari cinta yang rumit. Obsesi. Persahabatan yang retak. Dan luka panjang yang perlahan akan mengubah semuanya.
BAB XI
LELAKI YANG DITAKUTI SEMUA ANGKATAN
“Tentang Cinta yang Mulai Berubah Menjadi Obsesi, Tatapan yang Membuat Takut, dan Persahabatan yang Perlahan Retak”
Sejak Toro mengatakan “Jangan terlalu dekat sama Riyadi” di lorong belakang bengkel, nama itu semakin dekat dengan hidup Yanti. Terlalu dekat. Dan semuanya berubah lebih cepat daripada yang ia bayangkan.
Kini hampir setiap hari Toro selalu muncul. Kadang berdiri di depan bengkel, kadang duduk di kantin sambil memperhatikan dari jauh, kadang pura-pura ada urusan dengan guru hanya untuk lewat depan kelas Yanti. Dan yang membuat semua orang heboh — Toro tidak pernah memperhatikan cewek lain. Hanya Yanti.
“Wah, Titik udah jadi ratu STM sekarang,” celetuk Ahmad.
Yanti melempar penghapus. Tapi berbeda dengan teman-temannya yang menikmati keramaian itu, Riyadi justru semakin sering diam.
Sore itu mereka berkumpul di Umbul. Langit jingga. Air kolam memantulkan cahaya matahari. Suasana terasa berbeda.
Riyadi tiba-tiba bicara pelan. “Kamu suka sama Toro?”
Yanti menoleh cepat. “Ngawur.”
“Terus kenapa dia selalu nyari kamu?”
“Aku juga nggak tahu.”
Riyadi memandang air kolam. “Pokoknya hati-hati aja.”
Yanti bisa merasakan sesuatu di balik nada suaranya — sesuatu yang perlahan berubah menjadi rasa cemburu.
Beberapa hari kemudian, situasi semakin panas. Anak kelas dua dilaporkan ngegodain Yanti sambil bilang “cantik” di kantin. Toro mendengar. Dan tanpa banyak bicara, ia langsung mencengkeram kerah anak itu di belakang bengkel.
“MULUTMU DIJAGA!”
Wajah Toro benar-benar menyeramkan. Yanti berdiri membeku saat melihat dari kejauhan. Untuk pertama kalinya, ia mulai mengerti kenapa semua angkatan takut pada Toro.
Guru BP datang membubarkan keributan. Saat suasana reda, mata Toro langsung mencari Yanti. Dan anehnya, meski baru saja marah besar, ekspresinya langsung berubah lebih tenang saat tatapan mereka bertemu.
Malamnya, Tina cerita di kos. “Katanya anak itu ngegodain kamu, terus Toro langsung mukul meja, habis itu dibawa ke belakang bengkel.”
Yanti merinding. Bukan karena perhatian Toro yang membuatnya takut. Tapi karena ia mulai sadar — ia takut menjadi alasan seseorang berubah seperti itu.
Suatu pagi, satu kelas heboh karena ada sekotak roti dan susu di meja Yanti. “Dari Toro lagi nih!”
Riyadi yang biasanya diam tiba-tiba berdiri, mengambil kotak roti itu, lalu meletakkannya di meja belakang tanpa bicara. Wajahnya murung.
Sepulang sekolah, Yanti mengejarnya di depan gerbang. “Kamu marah?”
“Aku cuma nggak suka cara Toro lihat kamu.”
“Aku nggak ada apa-apa sama dia.”
Riyadi terdiam. Lalu berkata pelan, “Tapi dia serius sama kamu. Dan aku takut…”
Yanti menatapnya. Tapi Riyadi tidak melanjutkan. “Nggak jadi,” katanya sambil tersenyum kecil.
Belum sempat suasana mencair, suara motor terdengar. Toro datang. Tatapannya langsung tertuju pada Riyadi — bukan marah, tapi dingin, tajam, penuh peringatan.
“Heh Yanti. Mau pulang? Aku anter.”
Riyadi menjawab lebih dulu. “Nggak usah.”
Toro menatapnya. “Kamu siapa ngelarang?”
Riyadi mencoba tenang. “Aku nggak ngelarang. Tapi Yanti bisa pulang sendiri.”
Toro tersenyum tipis — senyum yang sama sekali tidak hangat. “Aku ngomong sama Yanti.”
Yanti panik. Dua lelaki itu saling menatap tajam. Dan untuk pertama kalinya, Yanti benar-benar merasa berada di tengah sesuatu yang berbahaya.
Akhirnya Yanti memilih pulang naik angkot bersama Dwi dan Tina. Tapi sepanjang perjalanan, dadanya tidak tenang. Karena ia mulai sadar — Toro bukan sekadar lelaki yang jatuh cinta. Ia adalah seseorang yang terbiasa mendapatkan apa yang ia inginkan. Dan sekarang, orang yang ia inginkan adalah dirinya.
Sementara di sisi lain, Riyadi mulai terluka diam-diam. Dan tanpa siapa pun sadari, persahabatan mereka perlahan mulai retak karena satu nama.
Toro.
✔ Akhir Bab XI (Versi Final)
BAB XII
RIYADI DIPUKUL PULANG SEKOLAH
“Tentang Persahabatan yang Mulai Berdarah, Cinta yang Berubah Menjadi Ancaman, dan Ketakutan yang Perlahan Menguasai Hari-Hari Yanti”
Pagi itu langit Pedan mendung sejak subuh. Udara dingin masuk lewat jendela kelas, tapi suasana kelas tetap ribut seperti biasa. Ahmad dikejar Tina karena menyembunyikan sisir. Muji tidur sambil mendengkur.
Yanti yang sejak tadi murung akhirnya tertawa kecil. Tapi tawanya cepat hilang saat melihat Toro berdiri di depan kelas.
“Heh Yanti. Nanti pulang jangan dulu. Ada yang mau aku omongin.”
Tanpa menunggu jawaban, Toro pergi. Meninggalkan suasana aneh.
“Dia makin serem sumpah,” bisik Tina.
Riyadi yang duduk dekat jendela hanya diam memandang keluar. Wajahnya murung.
Jam praktik berlangsung kacau. Yanti berkali-kali salah memasang pola benang. Pikirannya tidak fokus. Riyadi juga lebih banyak diam. Biasanya ia suka membantu, tapi hari itu ia bahkan nyaris tidak bicara.
Yanti mendekat. “Kamu marah lagi?”
Riyadi tersenyum hambar. “Aku nggak suka lihat kamu dekat sama Toro.”
“Aku juga nggak dekat sama dia.”
“Tapi dia jelas pengen punya kamu. Kadang cowok kayak gitu nggak peduli kamu suka atau nggak.”
Kalimat itu terasa seperti pertanda buruk.
Jam pulang tiba. Hujan gerimis mulai turun. Yanti keluar gerbang bersama Dwi dan Tina. Toro sudah menunggu di seberang jalan, bersandar di motor hitamnya.
“Habis? Ayo, ngobrol bentar.”
Belum sempat Yanti menjawab, Riyadi muncul dari belakang. “Heh Yanti, ayo pulang.”
Suasana langsung berubah dingin.
Toro menatap tajam. “Aku lagi ngomong sama Yanti.”
Riyadi membalas tatapannya. “Dia bisa milih sendiri.”
Anak-anak sekitar mulai memperhatikan. Yanti panik. Tapi Toro sudah melangkah mendekat ke Riyadi.
“Kamu tuh dari dulu ganggu terus ya. Deketin Yanti.”
“Dia temanku.”
“Teman?” Toro tersenyum sinis. “Muka lo nggak kelihatan kayak teman.”
Riyadi tetap berdiri tenang, tapi matanya mulai tajam. “Kalau suka sama orang, bukan berarti bisa ngatur hidup dia.”
BRAK!
Toro mendorong bahu Riyadi keras. Anak-anak menjerit. Riyadi membalas dorongan itu. Dan dalam hitungan detik, perkelahian pecah di depan gerbang sekolah.
BUK! Pukulan pertama Toro mengenai pipi Riyadi.
Yanti menjerit. “RIYADI!”
Tapi Toro sudah terlanjur emosi. “JANGAN DEKAT-DEKAT SAMA YANTI!”
Riyadi balas memukul. Suasana benar-benar kacau. Hujan mulai turun semakin deras. Teriakan bercampur air hujan membuat sore itu terasa begitu tragis.
Akhirnya beberapa senior dan guru berhasil melerai mereka. Riyadi terduduk di pinggir jalan. Bibirnya berdarah. Pelipisnya memar. Toro masih ditahan beberapa anak karena emosinya belum reda.
“Kalau lo masih dekat sama dia, gue nggak bakal diem!”
Yanti menangis sambil memegang tangan Riyadi. “Ri…”
Riyadi tersenyum kecil meski wajahnya babak belur. “Nggak apa.”
Toro pergi dengan motor sambil membanting gas. Suaranya menghilang bersama hujan sore. Tapi ketakutan yang ditinggalkannya tetap tinggal di hati Yanti.
Yanti tidak bisa tinggal diam. Ia memaksa Dwi mengantarnya ke rumah kontrakan Riyadi. Sesampainya di sana, ia langsung masuk dengan napas memburu. Dan saat melihat wajah Riyadi yang lebam dan berdarah, air matanya jatuh lagi.
“Ini gara-gara aku ya?!”
Riyadi malah tertawa kecil. “Lah terus? Mau tak pukul balik?”
“Kamu masih bisa bercanda?!”
Ahmad yang dari tadi mondar-mandir emosi. “Toro keterlaluan. Dia bilang Riyadi nggak boleh deket-deket Yanti lagi. Katanya semua cowok yang deket kamu bikin dia nggak suka.”
Yanti menunduk. Rasa bersalah perlahan menghancurkan pikirannya.
Riyadi menatapnya lama. “Bukan salahmu. Tapi salah orang yang terlalu pengen memiliki.”
Yanti duduk di kursi kayu dekat Riyadi. Tangannya gemetar mengompres luka di pelipisnya. Momen itu terasa sangat menyakitkan. Untuk pertama kalinya, Yanti merasa persahabatan mereka benar-benar terancam.
“Ri… jauhin aku aja.”
Semua menoleh. “Apa?!”
“Biar kalian nggak kenapa-napa lagi.”
Ahmad berdiri. “Lah kok gitu?! Justru kita temen!”
Namun Riyadi hanya diam. Di dalam hati kecilnya, ia tahu Yanti benar-benar ketakutan.
Sepulang dari rumah Riyadi, perjalanan pulang terasa sunyi. Yanti dibonceng Dwi. Hujan tinggal gerimis.
“Dwi, aku capek.”
“Karena Toro?”
Yanti mengangguk. “Aku nggak suka diatur. Tapi aku juga takut nyakitin dia.”
Dwi menghela napas. “Kamu itu terlalu mikirin perasaan semua orang. Padahal hati sendiri capek.”
Malam itu Yanti tidak bisa tidur. Ia duduk dekat jendela kamar kos, memandangi hujan yang belum berhenti. Bayangan wajah Riyadi yang berdarah terus muncul di kepalanya. Untuk pertama kalinya sejak masuk STM, ia mulai takut pada cinta. Karena cinta yang datang pada hidupnya justru mulai melukai orang-orang yang ia sayangi.
Sementara itu, di bengkel motor dekat terminal, Toro duduk sendirian. Rokok menyala di tangannya. Wajahnya dingin, tapi matanya menyimpan emosi yang kacau.
Adi duduk di sampingnya. “Lo keterlaluan. Riyadi nggak salah apa-apa.”
Toro bicara lirih. “Gue cuma nggak suka dia deket Yanti.”
“Semua cowok juga deket Yanti. Terus mau lo pukulin semua?”
Toro terdiam. Untuk pertama kalinya, ia mulai sadar — rasa sukanya pada Yanti perlahan berubah menjadi obsesi.
Dan tanpa disadari siapa pun, retakan kecil dalam persahabatan mereka mulai berubah menjadi luka yang jauh lebih besar. Karena sejak hari itu, tak ada lagi yang benar-benar sama.
Tidak bagi Yanti.
Tidak bagi Riyadi.
Dan tidak juga bagi Toro.
BAB XIII
BONEKA PANDA DI BULAN DESEMBER
“Tentang Hujan Akhir Tahun, Ulang Tahun yang Sunyi, dan Seorang Lelaki yang Datang Membawa Boneka Kecil serta Perasaan yang Sulit Ditolak”
Desember datang bersama hujan. Langit Klaten hampir setiap hari mendung. Sejak kejadian Riyadi dipukul Toro, hubungan mereka semua mulai berubah. Toro semakin sering muncul, semakin sering mengawasi. Dan kehadirannya mulai membuat hidup Yanti terasa sempit.
Pagi itu kelas XI Tekstil sudah ramai seperti biasa. Tapi Yanti hanya duduk diam dekat jendela, tatapannya kosong. Riyadi di bangku belakang diam-diam memperhatikannya.
“Heh Riyad, lo kenapa murung? Karena Yanti?” Ahmad menyenggol pelan. Riyadi melempar penghapus. “Bacot.”
Tawa mereka perlahan berhenti saat Toro muncul di depan kelas. Hari itu wajahnya terlihat lebih tenang. Ia berdiri di depan pintu sambil membawa plastik hitam kecil.
“Heh Tik, bisa keluar bentar?”
Yanti berdiri pelan. Langkahnya terasa berat. Di lorong sekolah, Toro menyerahkan plastik itu. “Buat kamu.”
“Apa ini?”
“Buka aja nanti.”
“Kenapa ngasih beginian?”
Toro tersenyum kecil. “Besok ulang tahunmu kan? Gue cuma pengen bikin lo senyum lagi.”
Yanti terdiam. Untuk pertama kalinya ia melihat sisi Toro yang berbeda — tidak menyeramkan, tidak galak, tidak seperti waktu memukul Riyadi. Toro pergi meninggalkannya di lorong.
Saat masuk kelas lagi, semua heboh. Yanti membuka plastik itu pelan. Di dalamnya ada boneka panda kecil warna coklat muda, dibungkus pita merah. Tina menjerit. Dwi ikut gemas. “Toro romantis juga ternyata.”
Namun di sudut kelas, Riyadi menunduk diam. Dadanya terasa aneh. Muji berbisik, “Tuh cewek lo dikasih panda.” Riyadi tertawa hambar. “Dia bukan cewek gue.”
Sore harinya hujan turun lagi. Yanti duduk di bangku depan kelas sambil memeluk tas. Boneka panda itu ada di pangkuannya. Riyadi datang pelan. Matanya melihat boneka itu. Suasana mendadak canggung.
“Bagus ya. Toro ngasih?”
Yanti mengangguk kecil. “Aku bingung, Riyad.”
Riyadi menatap hujan. “Bingung apa?”
“Aku nggak ngerti perasaanku sendiri.”
Diam. Suara hujan makin deras. Riyadi merasa dadanya sesak. Karena ia tahu — semakin lama, Yanti mulai membuka hati untuk Toro.
“Heh Tik, kalau suatu hari kamu pacaran sama Toro, jangan lupain kita-kita.”
Yanti menoleh. Hatinya hangat sekaligus sedih. “Aku nggak bakal lupain kalian. Janji.”
Janji sederhana itu diam-diam membuat Riyadi makin terluka. Karena di dalam hati kecilnya, ia menyayangi Yanti lebih dari sekadar teman.
Malam harinya anak-anak kos merayakan ulang tahun Yanti sederhana — mi rebus, teh hangat, lilin kecil di atas roti. Suasananya hangat. Tapi di tengah tawa, Yanti mendadak diam. Ia teringat Tegorejo. Teringat ibunya. Teringat Ima. Teringat Kakang Riyadi. Dan paling menyakitkan — teringat Mas Nur.
Dwi menyenggol pelan. “Kamu nangis?” Yanti cepat-cepat tersenyum. “Enggak.” Tapi air matanya sudah jatuh.
Malam semakin larut. Yanti duduk dekat jendela kamar kos, boneka panda di sampingnya. Sambil memandang hujan Desember, ia bertanya pada dirinya sendiri — apakah hati seseorang bisa benar-benar berpindah saat cinta pertamanya belum selesai dilupakan?
Sementara itu di warung kopi dekat terminal, Toro duduk bersama Adi. “Lo serius sama Yanti?” Toro mengangguk. “Serius.” Adi menghela napas. “Kalau serius, jangan pake cara kasar lagi.” Toro diam. “Gue takut kehilangan dia.” Adi tertawa kecil hambar. “Orang yang terlalu takut kehilangan biasanya malah bikin semuanya pergi.”
Malam Desember itu, untuk pertama kalinya, Toro mulai takut pada dirinya sendiri.
BAB XIV
SANGKAR YANG BERNAMA CINTA
“Tentang Perhatian yang Berubah Menjadi Larangan, Cemburu yang Perlahan Menyesakkan, dan Seorang Gadis yang Mulai Kehilangan Langitnya”
Sejak ulang tahunnya, hubungan Yanti dengan Toro semakin dekat. Terlalu dekat. Toro mulai sering menjemput, menunggu di depan gerbang, mengantar pulang, bahkan sesekali datang ke kos membawa makanan. Awalnya semua terasa manis. Tapi perlahan Yanti mulai kehilangan ruang bernapas.
Suatu pagi, seperti biasa Riyadi menggeser kursi di dekat Yanti. “Belum sarapan?” Ia mengeluarkan bungkusan kecil. “Lemper.” Yanti tertawa. “Kamu tuh kayak bapak-bapak.”
Dari luar kelas, Toro memperhatikan. Tatapannya dingin.
Beberapa menit kemudian ia masuk tanpa permisi. “Heh Tik, ntar pulang tunggu gue. Mau ngajak makan.” Ahmad bersiul. Tina heboh. Tapi Riyadi hanya diam. Toro meliriknya sekilas — dan suasana mendadak tidak nyaman.
Saat jam istirahat, Yanti duduk bersama Dwi, Tina, dan Siti di kantin. Tiba-tiba Toro datang dan duduk di sebelahnya. “Kamu nanti jangan pulang sama Riyadi lagi. Gue nggak suka.”
Suasana meja langsung sunyi.
“Riyadi itu temenku.”
“Gue tahu. Tapi gue nggak nyaman.”
“Aku nggak bisa jauhin temen-temenku.”
“Gue nggak nyuruh jauhin semua. Tapi jangan terlalu dekat.”
“Kenapa?”
“Karena gue cemburu.”
Yanti kesal. “Aku nggak suka diatur.”
Toro menatapnya lama. “Gue cuma takut kehilangan lo.”
“Kenapa semua cowok ngomong gitu? Mas Nur dulu juga begitu.”
Nama itu langsung mengubah suasana. Toro terdiam. “Lo masih suka dia?” Yanti tidak menjawab. Hanya suara sendok dan piring yang terdengar. “Aku nggak tahu,” katanya akhirnya. Toro tertawa kecil hambar. “Jawaban paling nyakitin tuh memang ‘nggak tahu’.”
Hari-hari berikutnya Toro semakin mengatur. Kalau Yanti terlalu lama ngobrol dengan Riyadi, Toro marah. Kalau pulang rame-rame dengan Muji dan Yono, Toro ngambek. Kalau ikut nongkrong di Umbul, Toro datang mendadak. Semua itu mulai membuat Yanti lelah.
Suatu sore mereka duduk di Umbul seperti biasa. Ahmad bercanda, “Kalau nanti kita sukses, kita bikin pabrik tekstil sendiri. Gue jadi direktur, kerjaannya makan gorengan.” Semua tertawa. Yanti tertawa cukup keras — sudah lama ia tidak merasa sebebas itu.
Tapi beberapa menit kemudian Toro datang dengan wajah dingin.
“Heh Tik, gue nyariin dari tadi.”
“Aku tadi bilang mau ke Umbul.”
Toro melirik semua cowok di situ, tatapannya berhenti lama pada Riyadi. “Pulang.”
“Aku masih mau di sini.”
“Udah sore.”
“Aku tahu.”
“Tik…” Nadanya mulai berubah.
Riyadi berdiri. “Heh Ro, dia bukan anak kecil.”
Toro tertawa kecil — tapi dingin. “Gue ngomong sama cewek gue.”
Yanti langsung membeku. Toro belum pernah benar-benar menyatakan mereka pacaran. “Aku bukan barang,” katanya pelan. “Aku nggak suka diperlakukan kayak gini.”
Toro mulai emosi. “Gue cuma perhatian!”
“Tapi caramu bikin aku sesak!”
Suasana Umbul sunyi. Angin sore terasa dingin. Untuk pertama kalinya Yanti melihat luka di mata Toro.
“Jadi sekarang gue salah?”
“Aku nggak bilang gitu…”
“Tapi lo lebih nyaman sama mereka daripada sama gue.”
Riyadi mengepalkan tangan. Tapi ia memilih diam. Toro akhirnya tertawa hambar. “Oke. Kalau begitu lanjut aja nongkrongnya.” Motor tuanya melaju cepat meninggalkan Umbul.
Sejak sore itu, hati Yanti mulai benar-benar lelah.
Malam harinya Yanti menangis diam-diam di kamar kos. Dwi duduk di sampingnya. “Toro lagi?” Yanti mengangguk. “Aku kayak burung dalam sangkar.”
Dwi memeluknya pelan. “Cinta itu harusnya bikin tenang, bukan bikin takut.”
Di luar hujan turun lagi. Tanpa Yanti sadari, ia mulai merindukan satu hal yang dulu pernah ia miliki bersama Kakang Riyadi dan Mas Nur — kebebasan untuk tertawa tanpa takut kehilangan dirinya sendiri.
Pagi itu kabut masih turun tipis. Yanti datang ke sekolah lebih pagi. Matanya sembab. Di kelas hanya ada Riyadi yang sedang membaca buku.
“Kamu nangis lagi?”
“Enggak.”
“Bohong.”
Riyadi mengeluarkan plastik kecil. “Nih, roti.” Yanti tertawa kecil. “Kamu tiap hari nyuruh aku makan.” “Soalnya tiap sedih kamu nggak pernah sarapan.”
Tapi kehangatan itu tak berlangsung lama. Toro muncul di depan kelas. “Heh Tik, keluar bentar.”
Di lorong, Toro berkata, “Aku nggak suka kamu dekat-dekat Riyadi terus.” Yanti lelah mendengarnya. “Ro, dia temanku.” “Semua cowok di sekolah ini temenmu.” “Karena aku emang berteman sama siapa aja.” “Dan gue nggak suka.”
Yanti menatapnya lama. “Aku bukan anak kecil.”
Toro menghela napas. “Gue cuma takut kehilangan lo.”
“Kenapa semua harus tentang takut kehilangan?”
Toro diam. Dan diamnya membuat Yanti makin sesak.
Jam istirahat, Yanti duduk sendirian di belakang gedung praktik. Tempat itu sepi. Ia memeluk lutut. Lalu suara langkah kaki mendekat.
Abdul — kakak kelas yang selama ini hanya ia kenal sekilas. Ia membawa dua teh gelas dingin. “Mukamu kayak habis ditinggal lebaran.” Yanti spontan tertawa.
Abdul duduk di sampingnya. Wajahnya teduh, nadanya tenang. “Toro bikin kamu nangis lagi?” Yanti diam. “Dia emang kalau sayang sesuatu, pengen punya sepenuhnya.”
“Aku capek.”
Abdul mengangguk. “Wajar.”
“Aku nggak ngerti kenapa semua jadi rumit.”
Abdul tersenyum. “Karena kamu cantik.”
“Ih apaan sih.”
“Hahaha.”
Untuk pertama kalinya sejak lama, Yanti merasa bisa bernapas lega.
“Dulu Toro nggak pernah kayak gini. Dia berubah sejak kenal kamu — jadi takut.” Yanti menggigit bibir. “Aku nggak mau nyakitin dia.” “Terus kenapa nangis terus?”
Yanti tak bisa menjawab.
Abdul berkata pelan, “Kalau capek, cerita aja sama aku.”
Kalimat itu membuat dada Yanti hangat. Sejak Kakang Riyadi pergi, sudah lama tidak ada orang yang bicara padanya dengan nada setenang itu.
Hari-hari setelahnya Abdul mulai sering dekat dengan Yanti. Bukan seperti Toro yang penuh tekanan, bukan seperti Riyadi yang diam-diam perhatian. Tapi seperti seseorang yang hanya ingin memastikan Yanti baik-baik saja.
Kadang ia datang ke kelas membawa gorengan, kadang membantu praktik, kadang cuma duduk menemani di kantin. Dan Yanti perlahan mulai nyaman.
Suatu sore sepulang sekolah, mereka duduk di halte kecil depan STM. Hujan baru reda. Jalanan basah mengilap.
“Heh Dul, kamu nggak takut dimarahin Toro dekat sama aku?”
Abdul tertawa. “Takut lah.”
“Terus kenapa masih dekat?”
“Karena ada orang yang lebih takut lagi.”
“Apa?”
“Kalau kamu terus sedih.”
Yanti terdiam. Beberapa detik hanya suara bus tua lewat dan aroma tanah basah.
“Heh Tik, kadang orang yang paling sayang bukan yang paling keras memiliki.”
Yanti menoleh pelan. Untuk pertama kalinya ia merasa seperti sedang mendengar Kakang Riyadi berbicara lagi.
Malam harinya Yanti menulis di buku kecilnya:
“Aku mulai lelah dicintai dengan cara yang membuatku takut. Aku hanya ingin seseorang yang membuatku tetap jadi diriku sendiri.”
Di bawah tulisan itu, tanpa sadar ia menulis satu nama kecil: Abdul.
Sementara itu di bengkel, Adi berkata pada Toro, “Kalau terus bikin Yanti sesak, bisa-bisa dia nyaman sama orang lain.”
Toro diam. Untuk pertama kalinya ia mulai takut kehilangan Yanti bukan karena cowok lain — tapi karena sikapnya sendiri.
BAB XV
BURUNG YANG KEHILANGAN LANGIT
“Tentang Hati yang Mulai Lelah, Kebebasan yang Perlahan Hilang, dan Seorang Gadis yang Tak Lagi Mengenali Dirinya Sendiri”
Hari-hari di STM Tekstil Pedan terus berjalan. Bel sekolah tetap berbunyi setiap pagi. Mesin praktik tetap meraung. Anak-anak tetap bercanda. Namun tidak bagi Yanti. Perlahan ia mulai merasa hidupnya tidak lagi benar-benar miliknya sendiri.
Toro semakin sering datang. Semakin sering mengatur. Dan semakin sering membuat Yanti bingung antara merasa dicintai atau dikurung.
Pagi itu Yanti turun dari bus. Baru beberapa langkah menuju gerbang, suara motor terdengar dari belakang. Toro.
“Kemarin habis dari mana?” tanyanya.
“Dari kos.”
“Tadi malam aku nyariin kamu ke Umbul.”
“Aku nggak ke sana. Aku belajar kelompok di tempat Dwi.”
Tatapan Toro membuat dada Yanti sesak. “Kamu kenapa jadi begini sih?” Toro tertawa hambar. “Karena gue sayang sama lo.”
“Sayang bukan berarti harus curiga terus!”
Toro mematikan motornya. “Naik.”
“Aku bisa jalan sendiri.”
“Naik.”
“YANTI.” Suaranya keras. Yanti langsung diam. Di dalam hati kecilnya, ia mulai takut — bukan takut dipukul, tapi takut karena dirinya mulai kehilangan keberanian untuk menjadi dirinya sendiri.
Hari itu suasana kelas terasa berat. Yanti lebih banyak diam. Dwi mulai khawatir. “Toro lagi?” Yanti mengangguk pelan.
Tina mendekat. “Dia posesif banget sih.” Siti bicara lirih. “Aku aja takut lihatnya.” Yanti tersenyum pahit. “Aku juga mulai takut…”
Di bangku belakang, Riyadi diam-diam memperhatikan. Dadanya ikut sakit.
Jam praktik dimulai. Suara mesin pertenunan memenuhi ruangan. Biasanya Yanti paling ramai, paling aktif. Tapi sekarang ia lebih banyak diam.
“Heh Tik! Benangnya salah masuk!” teriak Ahmad. BRAK. Benang kusut berantakan. Yanti panik, tangannya gemetar. Riyadi datang membantu. “Lain kali kalau pikiran lagi kacau, jangan dipake ngelawan mesin.” Yanti tertawa kecil. Sudah lama Riyadi tidak melihat senyum setenang itu.
Tapi dari luar ruang praktik, Toro melihat semuanya. Wajahnya kembali dingin.
Sepulang sekolah hujan turun deras. Yanti duduk bersama Dwi dan Siti di lorong. Toro datang.
“Pulang sama gue.”
“Aku mau balik sama anak-anak.”
“Kenapa?”
“Karena aku pengen.”
“Dan Riyadi ikut?”
Yanti mulai lelah. “Kenapa sih semuanya harus tentang Riyadi terus?”
“Karena gue nggak suka cara dia lihat lo.”
Yanti berdiri cepat. “TERUS AKU HARUS GIMANA?!” Suasana lorong hening. Semua anak menoleh.
“Aku capek Toro… Aku capek selalu ditanya, capek selalu dicurigai. Aku bahkan udah nggak bisa ketawa bebas!”
Toro terdiam. Untuk pertama kalinya ia melihat air mata Yanti jatuh bukan karena sedih, tapi karena lelah.
“Aku cuma takut kehilangan kamu…”
Yanti tertawa pahit. “Tapi kamu nggak sadar. Cara kamu takut kehilangan justru bikin aku perlahan hilang.”
Tak ada yang bicara lagi. Hanya suara hujan deras. Yanti pergi meninggalkan lorong sambil menangis.
Malam harinya Yanti duduk sendirian di kamar kos. Lampu redup. Hujan belum berhenti.
Dwi masuk membawa teh hangat. “Kamu masih sayang Toro?”
Yanti diam lama. “Aku nggak tahu… Yang aku tahu, aku mulai nggak bahagia.”
Tina dari kasur ikut bicara. “Tik, cinta itu harusnya bikin hidup tambah hidup. Bukan bikin kamu kehilangan diri sendiri.”
Air mata Yanti jatuh lagi. Untuk pertama kalinya ia mulai sadar — ia tidak lagi merasa bebas menjadi Yanti yang dulu. Yanti yang tomboy, yang tertawa keras, yang bebas berteman dengan siapa saja, yang bisa duduk di Umbul sampai sore tanpa takut dimarahi.
Kini ia seperti burung yang sayapnya perlahan dipotong. Masih hidup. Masih bernapas. Tapi tidak lagi punya langit untuk terbang.
Sementara itu di luar kos, Toro berdiri cukup lama di bawah hujan. Menatap jendela kamar Yanti yang masih menyala.
Untuk pertama kalinya, ia mulai takut bahwa cintanya sendiri perlahan sedang menghancurkan orang yang paling ia sayangi.
BAB XVI
RUMAH SAKIT DAN AIR MATA
“Tentang Tubuh yang Mulai Lelah Menanggung Luka, dan Hati yang Diam-Diam Kehilangan Kebebasannya”
Hujan turun sejak sore. Rintiknya memukul genting rumah kos kecil di Pedan dengan suara pelan berulang-ulang. Yanti duduk di tepi ranjang. Tubuhnya terasa lemas sejak beberapa hari terakhir. Tapi yang paling sakit bukan tubuhnya — melainkan pikirannya.
Sejak hubungannya dengan Toro semakin dekat, hidup Yanti perlahan berubah. Ia memang tidak pernah dipukul, tidak pernah dibentak kasar, tidak pernah dimaki. Tapi perhatian Toro yang terlalu besar mulai terasa menyesakkan.
“Jangan pulang sama Riyadi.”
“Kalau ke Umbul jangan terlalu malam.”
“Kamu nggak usah terlalu dekat sama cowok.”
“Kamu milik aku.”
Kalimat-kalimat itu awalnya terdengar seperti cinta. Tapi lama-lama terasa seperti sangkar.
Malam itu Dwi sedang melipat baju. Tina sibuk bercermin. Siti belajar matematika sambil ngemil peyek. Yanti hanya diam memandangi hujan.
“Heh, kamu kenapa sih akhir-akhir ini? Makin kurus,” kata Dwi.
Tina nimbrung. “Iya sumpah, mukamu kayak habis ditinggal negara.”
Yanti hanya tersenyum kecil.
Siti bicara pelan. “Kamu capek ya?”
Pertanyaan sederhana itu langsung menusuk hati Yanti. Karena sebenarnya ia memang capek. Sangat capek.
“Aku nggak apa-apa…” bohongnya.
Dwi mendekat. “Tik, kita temenan bukan sehari dua hari. Kalau ada masalah cerita.”
Yanti menghela napas. “Aku cuma pengen tenang.”
“Toro lagi?” tanya Tina.
Yanti diam. Dan diamnya sudah menjadi jawaban.
Malam makin larut. Hujan belum reda. Tiba-tiba Yanti memegangi kepalanya.
“Kamu kenapa?” Dwi panik.
“Kepalaku… pusing…”
Tubuh Yanti limbung. BRUK. Ia jatuh pingsan di lantai.
“YANTIII!”
Tina histeris. Siti panik sampai menjatuhkan buku. Dwi mengguncang tubuh Yanti. Tapi Yanti tidak merespons. Wajahnya pucat. Tubuhnya panas.
Malam itu penghuni kos geger. Ibu kos datang panik. “Ya Allah… cepet panggil becak!”
Yanti dibawa ke rumah sakit kecil di Klaten. Lampu IGD terasa silau. Bau obat menyengat. Hujan masih turun di luar.
“Tadi siang dia belum makan…” kata Dwi cemas.
Perawat mulai memeriksa. “Demam tinggi… mungkin kecapekan dan stres.”
Dwi dan Tina saling pandang. Mereka tahu — stres Yanti bukan soal sekolah, tapi soal hidupnya sendiri.
Kabar Yanti masuk rumah sakit cepat menyebar. Orang pertama yang datang adalah Toro.
BRAK! Pintu ruang rawat terbuka cepat.
“YANTI?!”
Napas Toro memburu. Wajahnya penuh panik. Rambutnya basah kehujanan. Dwi langsung berdiri. “Pelan-pelan!”
Toro mendekat ke ranjang. Melihat Yanti terbaring lemah dengan infus di tangan. Untuk pertama kalinya, wajah lelaki paling ditakuti di STM itu terlihat sangat rapuh.
“Kenapa bisa begini…” gumamnya lirih.
Dwi menatap Toro lama. “Karena dia capek.”
Toro terdiam.
Malam itu ruang rawat Yanti dipenuhi kecemasan. Toro duduk diam sambil memegangi tangan Yanti. Adi beberapa kali keluar membeli obat dan makanan.
Beberapa jam kemudian Yanti mulai sadar. Kelopak matanya bergerak pelan.
“Yanti…” Toro langsung bangkit.
Pandangan Yanti masih kabur. Saat melihat Toro, air matanya langsung jatuh.
“Aku di mana…?”
“Rumah sakit. Kamu pingsan.”
Yanti memejamkan mata lagi. Tubuhnya masih sangat lemas.
Toro menggenggam tangannya perlahan. “Maaf…”
Yanti menoleh. “Hah?”
“Aku bikin kamu capek ya…” Suara Toro sangat pelan, nyaris bergetar.
Yanti diam. Dan diamnya membuat Toro makin merasa bersalah.
“Aku cuma takut kehilangan kamu… Makanya aku selalu marah kalau kamu dekat sama mereka.”
Air mata Yanti jatuh lagi. “Aku nggak pernah ninggalin kamu. Tapi aku juga nggak bisa kehilangan teman-temanku.”
Toro menunduk. Untuk pertama kalinya ia mulai sadar — cintanya perlahan berubah menjadi sesuatu yang menyakitkan.
Adi bicara pelan. “Cinta itu dijaga, bukan dikurung.”
Suasana hening. Toro menoleh ke arah Adi. Kali ini ia tidak marah. Karena jauh di dalam hati, ia tahu Adi benar.
Pagi harinya matahari muncul malu-malu. Hujan reda. Udara terasa dingin.
Ahmad, Muji, Aris, Yono, dan Riyadi datang menjenguk bersama. Ruangan langsung ramai.
“Heh, muka kamu kayak tahu rebus,” celetuk Ahmad. Yanti tertawa kecil — untuk pertama kalinya sejak kemarin.
Muji membawa jeruk satu kantong. “Ini titipan anak-anak kelas. Sebagian hasil malak.”
Semua tertawa.
Di tengah keramaian itu, Riyadi diam berdiri di dekat pintu. Matanya memperhatikan Yanti.
Yanti menoleh. “Riyad…”
Riyadi tersenyum kecil. “Udah mendingan?”
“Iya…”
“Jangan maksa kuat terus.”
Kalimat sederhana itu membuat hati Yanti hangat.
Toro yang melihat mereka bicara langsung diam. Dadanya terasa aneh lagi. Cemburu. Takut kehilangan. Tapi kali ini ia memilih diam. Karena untuk pertama kalinya Toro mulai sadar — kalau ia terus seperti ini, yang pergi bukan teman-teman Yanti, melainkan Yanti sendiri.
Siang itu, setelah semua teman pulang, Yanti memandangi langit dari jendela rumah sakit. Biru. Tenang. Tapi hatinya belum benar-benar sembuh.
Ia mulai sadar — hidupnya berubah terlalu cepat. Dari gadis desa yang bebas tertawa, menjadi seseorang yang mulai takut menjadi dirinya sendiri.
Dan jauh di dalam hati kecilnya, Yanti mulai bertanya:
“Apakah cinta memang harus sesakit ini…?”
BAB XVII
LELAKI YANG MENUNGGU DI SAMPING TEMPAT TIDUR
“Tentang Seseorang yang Bertahan Menjaga, Meski Takut Kehilangan dengan Cara yang Salah”
Pagi di rumah sakit kecil Klaten terasa dingin. Cahaya matahari masuk samar lewat jendela kaca yang sedikit berembun. Bau obat masih memenuhi ruangan. Di atas ranjang nomor tujuh, Yanti masih terbaring lemas. Infus tergantung di sampingnya. Wajahnya pucat. Tapi setidaknya demamnya mulai turun.
Toro duduk di kursi plastik dekat ranjang. Sedari malam ia belum pulang. Matanya sembab karena kurang tidur. Rambutnya acak-acakan. Tapi ia tetap bertahan di sana. Menunggu. Menjaga. Seolah takut Yanti akan menghilang jika ia pergi sebentar saja.
Di luar ruang rawat, Adi baru datang membawa sarapan. Toro menerima bubur itu. “Thanks.”
Adi duduk di sebelahnya. “Kamu serius sayang sama dia?”
Toro tertawa hambar. “Pertanyaan bodoh.”
“Kalau serius, kenapa malah bikin dia sakit?”
Toro terdiam. Ia memandangi Yanti lama. “Aku takut kehilangan dia.”
Adi menghela napas. “Takut kehilangan sama nyakitin itu beda.”
Untuk pertama kalinya, kalimat itu benar-benar menghantam pikirannya.
Tak lama kemudian Yanti mulai bangun. Matanya membuka perlahan. Hal pertama yang ia lihat adalah Toro yang masih duduk di dekatnya.
“Kamu belum pulang…”
Toro tersenyum kecil. “Nanti aja.”
“Kamu sekolah gimana?”
“Bodo amat.”
Yanti mengernyit. “Jangan gitu…”
Toro tertawa kecil. “Aku lebih takut kehilangan kamu daripada kehilangan pelajaran.”
Kalimat itu membuat dada Yanti terasa aneh. Hangat. Tapi juga berat.
Pukul sembilan pagi Dwi dan Tina datang. “Heh putri tidur…” Tina langsung nyelonong masuk.
Dwi mendekat sambil membawakan teh hangat. “Udah mendingan? Dokter bilang jangan stres.”
Tina nyeletuk. “Kalau Toro posesif lagi, tak suntik pakai infus.”
Toro cuma geleng-geleng kepala.
Tiba-tiba suasana berubah saat Riyadi muncul di pintu. Ia datang sendirian, membawa plastik berisi buah. Wajahnya tenang.
Yanti menoleh. “Riyad…”
Riyadi tersenyum kecil. “Udah sehat?”
“Iya…”
“Syukur.” Ia meletakkan buah di meja kecil, lalu berdiri canggung.
Toro memperhatikan diam-diam. Setiap ada Riyadi, dadanya selalu terasa tidak nyaman.
Riyadi menatap Yanti sebentar. “Jangan terlalu keras sama diri sendiri.”
Kalimat itu sederhana. Tapi selalu terasa hangat di telinga Yanti. Berbeda dengan Toro yang mencintai dengan api besar, Riyadi justru seperti hujan — tenang, diam, menenangkan.
Toro akhirnya berdiri. “Aku beli makan dulu.” Padahal sebenarnya ia hanya ingin keluar sebentar karena pikirannya mulai penuh.
Di luar rumah sakit, Toro menyalakan rokok. Tangannya gemetar kecil. Adi menyusul berdiri di sampingnya.
“Kamu cemburu lagi?”
Toro tertawa hambar. “Gue capek begini.”
“Ya jangan jadi monster.”
“Aku nggak bisa lihat cowok lain dekat sama dia.”
Adi menghela napas panjang. “Kalau kamu terus begitu, Yanti bakal makin jauh.”
Kalimat itu kembali menusuk Toro.
Sementara di dalam ruang rawat, Dwi dan Tina keluar membeli minum. Tinggal Yanti dan Riyadi berdua.
“Kamu takut ya?” tanya Riyadi pelan.
Yanti menunduk. “Aku capek…”
“Karena Toro?”
Yanti diam cukup lama, lalu mengangguk kecil.
Riyadi tersenyum tipis. “Kamu itu dari dulu nggak bisa hidup dikekang. Dulu waktu di Tegorejo, kamu bebas banget. Mau main ke mana aja, mau ketawa sama siapa aja, mau nangis pun rame-rame.”
Air mata Yanti mulai berkumpul. “Aku kangen diriku yang dulu…”
Riyadi menatapnya lama. Di dalam hatinya ada rasa sakit yang diam-diam tumbuh. Karena semakin hari ia semakin sayang pada Yanti. Tapi ia sadar — Yanti tidak pernah benar-benar melihatnya sebagai lelaki.
“Kamu bahagia sama dia?” pertanyaan itu keluar pelan sekali.
Yanti terdiam. Lama. Sangat lama. “Aku nggak tahu…”
Jawaban itu membuat hati Riyadi terasa nyeri. Tapi ia hanya tersenyum kecil. “Kalau capek, jangan dipaksa.”
Tak lama kemudian Toro kembali masuk. Suasana langsung berubah canggung lagi.
“Heh, makan dulu.” Toro menyerahkan roti pada Yanti.
Yanti menerimanya pelan. “Thanks.”
Riyadi berdiri. “Aku balik sekolah dulu.”
“Cepet amat…” kata Yanti.
“Masih ada praktik.”
Sebelum pergi, Riyadi berkata pelan, “Cepet sembuh ya.”
“Iya…” jawab Yanti.
Toro hanya diam memperhatikan.
Setelah Riyadi pergi, ruangan menjadi sunyi. Toro duduk kembali. Wajahnya murung.
Yanti menyadarinya. “Kamu kenapa?”
Toro diam sebentar. “Kamu sayang sama Riyadi?”
Yanti kaget. “Hah? Itu pertanyaan apaan sih…”
“Aku cuma pengen tahu.”
Yanti menghela napas. “Dia sahabat.”
Toro tertawa kecil hambar. “Semua cowok di dekat kamu sahabat.”
“Aku capek dicurigain terus…” kata Yanti lirih.
“Aku juga capek takut kehilangan kamu.”
“Tapi bukan berarti kamu boleh ngatur hidupku…”
Toro diam.
Dan lagi-lagi mereka terjebak di lingkaran yang sama. Cinta. Cemburu. Takut kehilangan. Lalu saling melukai.
Sore harinya dokter memperbolehkan Yanti pulang besok pagi. Tapi ia harus istirahat total beberapa hari.
Malam kembali turun. Lampu rumah sakit mulai redup. Adi sudah pulang. Dwi dan Tina juga kembali ke kos. Kini tinggal Toro dan Yanti berdua.
Yanti memandangi langit malam dari jendela. “Kamu nggak capek?”
Toro menggeleng. “Nungguin kamu nggak capek.”
Yanti tersenyum kecil. Tapi hatinya justru semakin berat.
Karena semakin Toro mencintainya, semakin ia merasa kehilangan kebebasannya sendiri.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Yanti mulai takut pada masa depannya sendiri. Takut jika suatu hari cinta yang terlalu besar itu benar-benar menghancurkan dirinya perlahan.
BAB XVIII
KETIKA IBU MENITIPKAN ANAK GADISNYA
“Tentang Kepercayaan Seorang Ibu, dan Seorang Lelaki yang Berjanji Menjaga dengan Caranya Sendiri”
Pagi di Klaten terasa dingin setelah hujan semalaman. Kabut tipis masih menggantung di jalanan depan rumah sakit. Daun-daun trembesi basah. Udara lembap.
Di dalam ruang rawat, Yanti baru saja selesai sarapan. Wajahnya masih pucat, tapi setidaknya ia sudah bisa tersenyum lagi.
Dwi sibuk membereskan tas. Tina malah sibuk makan apel jatah pasien. “Heh itu buat Yanti!” “Kan Yanti lagi kenyang.” Siti cuma geleng-geleng sambil melipat selimut.
Toro duduk diam di dekat jendela. Matanya sembab. Tapi ia tetap bertahan.
Tak lama kemudian langkah kaki tergesa terdengar dari lorong. Bu Rosmiyati muncul di depan pintu.
“NDUK!”
Yanti spontan menangis. Bu Rosmiyati langsung memeluk anak gadisnya erat. “Ya Allah… kamu bikin ibu takut…”
Dwi dan teman-teman minggir memberi ruang. Toro berdiri canggung di sudut.
Bu Rosmiyati mengusap rambut Yanti perlahan. “Kamu kenapa sampai sakit begini…”
“Aku cuma kecapekan…”
“Kamu jangan bohong sama ibu.”
Yanti diam. Ibunya mengenalnya terlalu baik. Tahu kapan anaknya benar-benar kuat dan tahu kapan sedang hancur diam-diam.
Beberapa menit kemudian Bu Rosmiyati menoleh ke Toro. “Kamu Toro?”
Toro gugup. “I-iya Bu…”
“Kemarin yang jaga Yanti?”
“Iya Bu…”
Bu Rosmiyati tersenyum kecil. “Terima kasih ya.”
Toro salah tingkah. “Iya Bu… nggak apa-apa…”
Dari belakang, Tina berbisik ke Siti, “Calon mantu mode aktif.” Siti langsung cubit pelan. “Diem.”
Sekitar pukul sepuluh, dokter memperbolehkan Yanti pulang. Di perjalanan menuju kos, Bu Rosmiyati menggenggam tangan Yanti pelan. “Kamu jangan terlalu dipikir macam-macam. Sekolah yang tenang.” Yanti mengangguk. Tapi matanya kosong.
Sesampainya di kos, Bu Rosmiyati membantu membereskan barang. Toro berdiri kikuk di teras, tidak berani masuk terlalu jauh.
Bu Rosmiyati akhirnya menghampirinya. “Kamu serius sama anak saya?”
Toro tegang. “I-iya Bu. Serius banget malah.”
Bu Rosmiyati tersenyum kecil. “Yanti itu keras kepala. Tapi hatinya lembut. Dia dari kecil terbiasa bebas. Suka berteman. Suka ketawa. Kalau sedih dipendem sendiri.” Suaranya mulai pelan. “Jangan bikin dia takut jadi dirinya sendiri.”
Kalimat itu langsung menghantam Toro. Karena tanpa sadar, itulah yang selama ini ia lakukan.
“Maaf Bu… saya cuma takut kehilangan dia.”
Bu Rosmiyati menghela napas. “Cinta itu dijaga, bukan dikurung.”
Beberapa detik hening. Lalu Bu Rosmiyati berkata pelan, “Ibu nitip Yanti ya. Ibu nggak bisa selalu ada di sini. Kalau dia sakit, kalau dia sedih, kalau dia kenapa-kenapa… tolong dijaga.”
Untuk pertama kalinya Toro merasa dipercaya sepenuhnya. “Iya Bu. Saya janji.”
Dari balik pintu kamar, Yanti diam-diam mendengar semuanya. Dadanya sesak. Karena ia tahu — Toro memang mencintainya. Sangat mencintainya. Tapi cinta sebesar itu kadang justru terasa menakutkan.
Siang itu Bu Rosmiyati pamit pulang. Sebelum pergi, ia memeluk Yanti erat. “Nduk, jangan terlalu keras sama hidup.”
Air mata Yanti jatuh. “Aku kangen rumah…”
Bu Rosmiyati tersenyum sedih. “Rumah selalu nunggu kamu pulang.”
Setelah ibunya pulang, Yanti duduk di kamar kos. Sunyi. Toro masuk membawa bubur ayam. “Nih… harus makan.” Yanti menerimanya pelan.
Toro duduk di samping ranjang. Beberapa saat mereka diam. Lalu ia berkata lirih, “Aku bakal berubah. Aku nggak mau bikin kamu sakit lagi.”
Air mata Yanti kembali berkumpul. Ia tahu Toro sedang berusaha. Tapi mengubah rasa takut kehilangan tidak pernah mudah.
Sore harinya anak-anak datang menjenguk. Suasana langsung ramai. Ahmad masuk bawa komik. “Heh pasien gagal move on!” Muji bawa rambutan. “Ini hasil nyolong tetangga.” Yono duduk selonjoran. “Kalau Yanti mati, siapa yang nyontekin gue nanti?” Satu ruangan melempar bantal ke arah Yono.
Untuk pertama kalinya sejak sakit, Yanti tertawa cukup lama.
Toro hanya memandangi dari sudut ruangan. Diam. Karena akhirnya ia sadar — yang membuat Yanti hidup bukan hanya cinta. Tapi juga teman-temannya. Tawa mereka. Kebebasannya. Dunianya sendiri.
Malam itu, saat semua sudah pulang, Toro berdiri di depan kos. “Heh, aku belajar pelan-pelan ya.”
“Belajar apa?”
“Belajar nggak takut kehilangan. Karena kalau aku terus begini, yang hilang malah kamu.”
Yanti terdiam.
Angin malam bertiup pelan melewati halaman kos. Di bawah lampu jalan yang redup, untuk pertama kalinya Yanti melihat sisi lain dari Toro. Bukan lelaki galak yang ditakuti satu STM. Melainkan seorang laki-laki muda yang sebenarnya hanya takut ditinggalkan sendirian.
BAB XIX
CINTA YANG TAK BISA DIPAKSA
“Tentang Seseorang yang Datang Membawa Kesetiaan, Namun Tak Pernah Benar-Benar Memiliki Tempat di Hati”
Musim hujan mulai sering turun di Pedan. Pagi-pagi terasa dingin. Setelah sakitnya, hidup Yanti perlahan kembali normal. Ia kembali masuk sekolah, kembali bercanda bersama Dwi, Tina, dan Siti.
Namun ada sesuatu yang berubah. Kini Toro mulai berusaha menahan dirinya. Ia tidak lagi terlalu sering melarang, tidak lagi mudah marah saat Yanti bersama teman-temannya. Meski kadang rasa cemburu itu masih terlihat jelas di matanya. Dan justru karena perubahan itu, Yanti mulai merasa bersalah sendiri.
Pagi itu kelas Teknik Tekstil ribut seperti biasa. Ahmad menggambar karikatur guru, Muji tidur sambil ngiler, sementara Yono dan Adi debat soal offside. Yanti baru masuk, rambutnya masih basah terkena gerimis.
“Woiii Yanti datang… pagi ratu STM!”
Yanti melempar penghapus ke arah Ahmad. “Ratu ndasmu!”
Satu kelas pecah tertawa. Tina mendekat sambil berbisik. “Kamu sadar nggak? Toro sekarang berubah banget.”
Yanti menoleh ke luar kelas. Toro berdiri di koridor, bersandar di tembok, memperhatikan dari jauh. Tapi kali ini ia tidak masuk, tidak marah, tidak menarik Yanti keluar. Ia hanya diam. Dan itu justru membuat hati Yanti terasa aneh.
“Tik, kamu masih takut sama Toro?” tanya Dwi.
Yanti terdiam. “Aku bingung. Dia sekarang baik banget… Kalau aku tetap nggak bisa cinta gimana?”
Dwi ikut diam. Karena ia tahu — selama ini Yanti mencoba menerima Toro, mencoba membuka hati. Tapi semakin dipaksa, hatinya justru semakin lelah.
Jam praktik dimulai. Suara mesin pintal memenuhi ruangan. Yanti berdiri di dekat mesin bersama Riyadi dan Muji. Tiba-tiba mesin Yanti macet. Benang kusut berantakan.
Riyadi langsung mendekat. “Heh minggir bentar.” Tangannya membantu membetulkan mesin dengan tenang. Beberapa menit kemudian mesin kembali normal.
“Makasih…” kata Yanti.
Riyadi tersenyum tipis. “Biasa.”
Dari pintu praktik, Toro melihat semuanya. Rahangnya mengeras. Tapi ia diam.
Siang harinya hujan turun deras. Anak-anak berteduh di teras gedung praktik. Yanti duduk bersama Dwi dan Siti. Tiba-tiba seseorang datang dari arah gerbang — membawa payung hitam, jaket abu-abu lusuh.
Teguh.
“Heh…” Ia tersenyum gugup.
Yanti kaget. “Kamu ke sini? Hujan-hujan begini?”
“Pengen ketemu aja.”
Teguh mengeluarkan plastik kecil dari tasnya. “Roti. Kamu dulu bilang suka roti kacang.”
Yanti terdiam. Ia sendiri lupa pernah bilang itu.
“Kamu jauh-jauh cuma buat nganter roti?”
Teguh tertawa malu. “Iya. Biar nggak lupa makan.”
Kalimat sederhana itu membuat hati Yanti tidak enak. Lelaki di depannya benar-benar tulus. Tidak pernah memaksa, tidak pernah marah, tidak pernah melarang. Ia hanya datang, diam-diam memperhatikan.
Namun suasana berubah saat Toro muncul dari belakang. Matanya tertuju pada Teguh. Udara mendadak dingin.
“Kamu siapa?” suara Toro datar.
Teguh tersenyum sopan. “Aku temannya Yanti.”
Toro tertawa kecil hambar. “Teman?”
Yanti mulai kesal. “Toro, jangan mulai.”
Teguh berdiri pelan. “Aku pulang aja…” Yanti merasa tidak enak. Tapi Teguh hanya tersenyum. “Nggak apa-apa.” Lalu ia menoleh ke Toro. “Jaga Yanti baik-baik ya.”
Kalimat itu membuat Toro membeku sesaat. Yanti justru semakin merasa bersalah. Karena lelaki seperti Teguh — bahkan saat hatinya terluka — masih sempat memikirkan kebahagiaan orang lain.
Setelah Teguh pergi, suasana di teras menjadi sunyi. Toro berdiri memandang jalanan basah.
“Kamu harus begitu tadi?” kata Yanti kesal.
“Aku salah?”
“Kamu bikin dia nggak nyaman.”
Toro tertawa pahit. “Aku cuma capek lihat cowok selalu datang ke hidupmu.”
Yanti terdiam. “Bukan aku yang minta mereka datang.”
Toro menoleh. Matanya terlihat lelah. “Aku tahu. Tapi aku takut. Takut someday kamu sadar kalau aku bukan orang yang kamu mau.”
Yanti membeku. Untuk pertama kalinya Toro terdengar sangat rapuh.
Malam harinya Yanti duduk sendirian di kamar kos. Lampu redup. Dwi dan Tina sudah tidur. Siti masih membaca di pojok. Pikiran Yanti penuh — tentang Toro, tentang Teguh, tentang Riyadi. Tentang semua orang yang datang membawa rasa sayang. Tapi anehnya, hatinya justru semakin kosong.
“Heh, kamu belum tidur?” Dwi turun dari kasur.
“Belum.”
“Mikirin siapa?”
Yanti tersenyum hambar. “Aku capek.”
“Karena cinta?”
“Karena hidup.”
Dwi duduk di sampingnya. “Kamu tahu nggak? Kadang orang yang paling tulus belum tentu jadi orang yang paling kita cinta.”
Yanti menunduk. Air matanya jatuh perlahan. Karena semakin hari ia sadar — perhatian, kesetiaan, dan pengorbanan tidak selalu bisa memaksa hati untuk mencintai.
Dan itulah luka paling menyakitkan. Bagi seseorang yang mencintai terlalu dalam. Namun tidak pernah benar-benar dimiliki.
BAB XX
ASAP ROKOK DAN LUKA YANG TAK SELESAI
“Tentang Seorang Gadis yang Mulai Kehilangan Arah, dan Asap yang Perlahan Menjadi Tempat Pelariannya”
Malam di Pedan terasa dingin.
Angin berembus pelan melewati jendela kos yang sedikit terbuka.
Lampu kamar menyala redup.
Dan di sudut ranjang dekat dinding…
Yanti duduk sendirian sambil memeluk lututnya.
Di luar kamar…
suara Tina masih terdengar ribut menelepon temannya.
Dwi sedang mencuci pakaian.
Sedangkan Siti sibuk belajar sambil mendengarkan radio kecil.
Namun Yanti…
diam.
Pikirannya jauh ke mana-mana.
Sudah beberapa minggu sejak ia sakit.
Sudah beberapa minggu pula Toro berubah lebih tenang.
Lebih sabar.
Lebih berusaha mengerti dirinya.
Namun anehnya…
justru hati Yanti semakin lelah.
Karena ternyata…
bukan hanya Toro yang membuatnya sesak.
Melainkan hidupnya sendiri.
Ia lelah menjadi pusat perhatian.
Lelah diperebutkan.
Lelah dicintai terlalu besar.
Dan lebih dari semuanya…
ia lelah kehilangan orang-orang yang ia sayangi.
Mas Nur pergi.
Kakang Riyadi menghilang dari hidupnya.
Persahabatan masa SMP perlahan menjauh.
Dan kini…
bahkan hidup di STM pun mulai terasa berat.
Tok.
Tok.
Tok.
“Heh…”
Dwi masuk sambil membawa handuk.
“Kamu belum tidur?”
“Belum ngantuk.”
Dwi duduk di sampingnya.
“Kamu akhir-akhir ini sering bengong.”
Yanti tersenyum kecil hambar.
“Capek aja.”
“Karena Toro?”
Yanti diam.
Lalu menggeleng pelan.
“Karena hidup.”
Dwi menatap sahabatnya lama.
Ia tahu…
ada luka yang belum selesai di hati Yanti.
Dan luka itu jauh lebih dalam daripada sekadar soal pacar.
“Kamu masih mikirin Kakang ya?”
DEG.
Yanti langsung memalingkan wajah.
Dwi menghela napas kecil.
“Aku tahu kok…”
“Kamu paling kehilangan dia.”
Air mata Yanti mulai berkumpul.
“Aku nggak ngerti…”
“Kenapa semua orang pergi tanpa pamit…”
Suasana kamar mendadak sunyi.
Hanya suara kipas angin kecil yang terdengar pelan.
Dwi menggenggam tangan Yanti.
“Tik…”
“Orang datang dan pergi itu biasa.”
“Tapi hidupmu jangan ikut berhenti.”
Yanti tersenyum tipis.
Namun matanya mulai basah.
Malam makin larut.
Semua penghuni kos mulai tidur.
Lampu dimatikan.
Dan suasana menjadi sunyi.
Namun sekitar tengah malam…
Yanti justru keluar pelan dari kamar.
Ia berjalan menuju belakang kos.
Ke dekat sumur tua kecil yang biasa dipakai mencuci.
Udara malam terasa dingin.
Langit gelap.
Dan suara jangkrik terdengar bersahutan.
Yanti duduk di kursi kayu tua.
Lalu dari saku sweternya…
ia mengeluarkan sesuatu.
Sebungkus rokok.
Tangannya gemetar kecil.
Ia memandang benda itu lama.
Lalu tertawa hambar sendiri.
“Beginian ya…”
Perlahan…
ia menyalakan korek.
Ctak.
Api kecil menyala.
Dan beberapa detik kemudian…
asap pertama keluar dari bibirnya.
Batuk.
“Heekh… uhuk!”
Yanti langsung meringis.
“Pahit…”
Namun entah kenapa…
kepalanya terasa sedikit ringan.
Ia kembali menghisap pelan.
Dan asap putih itu perlahan naik ke udara malam.
Di saat itulah…
suara langkah kaki terdengar dari belakang.
“Heh!”
Yanti langsung kaget.
Ternyata Abdul.
“Kak Abdul?!”
Abdul melongo.
“Astaga…”
“Kamu ngerokok?!”
Yanti langsung panik menyembunyikan rokoknya.
“Eh… ini…”
“Ini apaan?!”
Abdul mendekat cepat.
Lalu merebut rokok dari tangan Yanti.
“Sejak kapan kamu beginian?!”
Yanti diam.
Abdul benar-benar shock.
Karena selama ini…
meski tomboy…
Yanti tetap gadis yang ceria dan hangat.
Dan melihatnya duduk sendirian merokok tengah malam…
membuat hati Abdul terasa sakit.
“Kamu stres segitunya?”
Yanti menunduk.
Air matanya jatuh pelan.
“Aku capek…”
Suara itu lirih sekali.
Rapuh sekali.
Dan untuk pertama kalinya…
Abdul benar-benar melihat betapa hancurnya hati Yanti selama ini.
“Kamu jangan nyakitin diri sendiri begini…”
“Aku cuma pengen tenang…”
“Rokok bukan jawaban.”
“Aku nggak tahu harus gimana lagi…”
Abdul menghela napas panjang.
Lalu duduk di samping Yanti.
Beberapa saat mereka diam.
Memandangi langit malam.
“Kamu masih mikirin Kakang?”
tanya Abdul pelan.
DEG.
Yanti langsung menangis lagi.
“Aku kangen…”
“Dulu waktu ada dia…”
“Aku nggak pernah ngerasa sendirian…”
Abdul mendengarkan diam-diam.
“Sekarang…”
“Semua berubah…”
“Mas Nur pergi…”
“Kakang pergi…”
“Teman-teman berubah…”
“Aku capek…”
Abdul menatap Yanti lama.
Lalu berkata pelan.
“Kamu tahu kenapa semua orang sayang sama kamu?”
Yanti menggeleng pelan.
“Karena kamu selalu bikin orang nyaman.”
“Tapi kamu nggak pernah benar-benar cerita kalau kamu sendiri juga butuh disayang.”
Air mata Yanti makin deras.
Abdul lalu mengambil bungkus rokok itu.
Dan tanpa banyak bicara…
ia membuangnya ke selokan kecil dekat sumur.
“Heh!”
“Itu mahal tau…”
“Kalau mau ngerokok…”
“Mending bakar jagung aja.”
“Hahaha…”
Yanti akhirnya tertawa kecil di tengah tangisnya.
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya sejak lama…
Yanti merasa ada seseorang yang benar-benar mengerti dirinya tanpa menghakimi.
Keesokan harinya…
hari kembali berjalan seperti biasa.
Sekolah ramai.
Mesin tekstil berdengung.
Suara guru memenuhi kelas.
Namun kini…
Yanti mulai lebih sering diam.
Ia masih tertawa bersama teman-temannya.
Masih bercanda.
Masih terlihat ceria.
Tetapi orang-orang dekatnya mulai sadar…
senyum Yanti tidak lagi setulus dulu.
Saat jam istirahat…
Riyadi menghampirinya di taman belakang sekolah.
“Heh…”
“Apa?”
“Kamu kurang tidur?”
“Kok tahu?”
“Mata kamu kayak panda kesiangan.”
“Hahaha…”
Riyadi duduk di sebelahnya.
Lalu menyerahkan teh botol dingin.
“Nih.”
“Makasih.”
Beberapa saat mereka diam.
Lalu Riyadi berkata pelan.
“Kalau capek…”
“Jangan dipendem sendiri.”
DEG.
Kalimat itu…
persis seperti yang dikatakan Abdul tadi malam.
Yanti menatap Riyadi lama.
Dan entah kenapa…
dadanya terasa hangat sekaligus sesak.
Karena semakin banyak orang menyayanginya…
semakin ia takut menyakiti mereka semua.
Sore harinya…
Toro datang menjemput seperti biasa.
“Heh cantik…”
Yanti tersenyum kecil.
Namun saat Toro menggenggam tangannya…
entah kenapa…
Yanti tidak lagi merasakan debar yang sama seperti dulu.
Dan itu membuatnya takut.
Takut kalau sebenarnya…
hatinya mulai lelah untuk mencintai.
Malam kembali turun di Pedan.
Dan di balik jendela kamar kos…
Yanti memandangi langit sambil berbisik lirih:
“Kenapa hidup rasanya makin berat ya…”
BAB XXI
SURAT DARI COMAL
“Tentang Hujan yang Membawa Kabar, Nama yang Dipanggil Saat Sakit, dan Seorang Gadis yang Mulai Kehilangan Arah Hidupnya”
Langit Pedan siang itu mendung. Angin dari arah persawahan bertiup pelan. Suara mesin tekstil mulai berhenti satu per satu. Anak-anak kelas dua keluar ruangan. Yanti berjalan paling belakang bersama Dwi. Wajahnya murung. Rokok yang mulai sering ia sembunyikan di saku tas membuat Dwi khawatir.
“Heh, kamu semalam ngerokok lagi ya?”
Yanti diam.
“Tik, kamu nggak bakal tenang kalau caranya begini.”
Yanti tertawa hambar. “Memangnya hidupku masih bisa tenang?”
Di depan bengkel, Riyadi duduk bersama Muji, Aris, Yono, dan Adi. Ahmad sibuk bercanda. “Heh Riyadi, Yanti makin cantik ya kalau lagi stres.”
Muji memukul kepala Ahmad. Tapi Riyadi hanya diam memperhatikan Yanti dari kejauhan. Tatapannya teduh. Adi melirik. “Kamu nggak capek ya suka sama orang yang nggak bakal bisa kamu miliki?”
Riyadi tersenyum kecil. “Siapa bilang aku pengin memiliki? Aku cuma pengin dia nggak sedih terus.”
Di parkiran, Toro sudah menunggu. “Kamu lama banget.”
Yanti menghela napas. “Tadi bersihin ruang praktik.”
Toro melirik Riyadi dan yang lain. Yanti langsung kesal. “Toro, aku capek kalau tiap hari dicurigai terus.”
Toro terdiam. Rahangnya mengeras. Dwi menarik Yanti. “Ayo pulang.”
Toro berkata pelan, “Nanti malam aku ke kos.”
Yanti malas menjawab. “Terserah.”
Sepanjang perjalanan pulang, Yanti lebih banyak diam. Dwi bertanya, “Kamu bahagia nggak sih sama Toro?”
Yanti terdiam lama. “Aku nggak tahu.”
“Kalau nggak bahagia kenapa dipertahanin?”
Yanti menatap langit mendung. “Karena aku capek kehilangan orang.”
Dwi menoleh. Untuk pertama kalinya ia sadar — Yanti sebenarnya tidak sedang mempertahankan cinta. Ia hanya takut ditinggalkan lagi.
Malam harinya hujan turun deras. Yanti duduk di teras kos, rokok tipis mengepul dari tangannya. Tiba-tiba suara ketukan pagar terdengar. Toro datang membawa bakso.
“Kamu hujan-hujanan cuma buat nganter bakso?”
Toro duduk di sampingnya. “Aku takut kamu belum makan.”
Beberapa saat hening. “Aku sebenarnya nggak suka marah sama kamu. Tapi aku takut kehilangan kamu.”
Kalimat itu membuat dada Yanti sesak. Kata-kata yang dulu pernah ia dengar dari Mas Nur. Luka lama itu terasa lagi.
Tiba-tiba suara motor berhenti di depan kos. Seorang ibu paruh baya turun, bajunya basah. “Permisi… saya cari Yanti.”
Yanti berdiri. “Saya, Bu.”
Ibu itu menatapnya lama, matanya berkaca-kaca. “Saya ibunya Teguh.”
Jantung Yanti berdegup keras.
Mereka duduk di ruang tamu. Ibu Teguh mengeluarkan amplop lusuh. “Ini buat kamu.”
Tangan Yanti gemetar menerima surat itu.
“Untuk Yanti… kalau suatu hari surat ini sampai ke tanganmu, mungkin aku sudah jauh.
Aku nggak pernah nyalahin kamu karena nggak bisa mencintaiku. Karena cinta memang nggak bisa dipaksa.
Aku cuma pengin kamu tahu — kamu adalah alasan paling indah yang pernah bikin aku semangat hidup.
Kalau nanti aku nggak ada, jangan merasa bersalah. Yang salah bukan kamu. Yang salah mungkin aku — terlalu mencintai seseorang sampai lupa menjaga diriku sendiri.
Dan kalau suatu hari kamu sedih, ingat satu hal ini: ada seseorang di Comal yang pernah mencintaimu dengan tulus.”
Tangisan Yanti pecah. Toro memegang pundaknya, tapi Yanti justru semakin hancur. Ibu Teguh mulai menangis.
“Sejak kamu nolak dia, dia berubah. Sering mabuk, sering ngurung diri. Paru-parunya makin parah… Waktu koma, dia nyebut nama kamu terus.”
Yanti membeku. “Dia bilang… Yanti… tolong jangan pergi…”
Suasana ruangan sunyi. Hanya suara hujan dan tangis.
Malam semakin larut. Ibu Teguh pamit pulang. “Kalau suatu hari sempat, datanglah ke makam Teguh. Dia pasti senang.”
Yanti hanya bisa menangis sambil mengangguk.
Dwi memeluknya erat. “Aku jahat ya…” “Jangan ngomong gitu…” “Aku bikin orang meninggal…” “Bukan salahmu…”
Tapi Yanti terus menangis. Untuk pertama kalinya ia benar-benar membenci dirinya sendiri.
Toro masih duduk diam. Lalu berkata pelan, “Aku takut kehilangan kamu juga.”
Yanti semakin hancur. Karena kini kata kehilangan bukan lagi sekadar rasa takut. Melainkan sesuatu yang benar-benar mulai merenggut orang-orang di sekitarnya.
Di luar, hujan belum berhenti. Angin malam Pedan terasa dingin. Dan di kamar kos sederhana itu, seorang gadis desa bernama Yanti mulai tenggelam semakin dalam ke dalam luka hidupnya sendiri.
BAB XXII
NAMA YANG DISEBUT SAAT KOMA
“Tentang Perjalanan ke Comal, Makam yang Basah oleh Hujan, dan Hati Seorang Gadis yang Semakin Kehilangan Arah”
Sejak kedatangan ibu Teguh malam itu, hidup Yanti kembali berubah. Bukan karena cinta, bukan karena Toro, bukan pula karena kenangan tentang Mas Nur atau Kakang Riyadi. Tetapi karena untuk pertama kalinya ia merasa benar-benar menjadi penyebab luka seseorang. Dan rasa bersalah itu pelan-pelan mulai memakan dirinya dari dalam.
Pagi di STM Tekstil Pedan terasa lebih dingin dari biasanya. Kabut tipis masih turun di halaman sekolah. Yanti sudah duduk sendiri di depan ruang praktik. Matanya sembab. Wajahnya pucat. Dwi datang membawa teh hangat.
“Kamu nggak tidur ya semalam?”
Yanti tersenyum hambar. “Kalau merem, yang kebayang wajah ibunya Teguh terus.”
Dwi terdiam. “Tik, kamu jahat ya?” Yanti bertanya lirih. “Jangan ngomong begitu. Dia sampai sakit karena cinta nggak bisa dipaksa.”
“Kenapa hidupku jadi begini…” Air mata Yanti jatuh lagi.
Dari kejauhan, Riyadi diam-diam memperhatikan. Ahmad menyenggol pelan. “Kamu nggak nyamperin?” Riyadi menggeleng. “Dia lagi pengin sendiri. Yanti makin kurus. Dia terlalu banyak nyimpen luka sendirian.”
Jam pelajaran berlangsung lambat. Praktik menenun, tapi Yanti terus salah memasang benang. Tangannya gemetar. Pikirannya kosong. Bu guru sampai menegur. Toro yang berada di dekat pintu praktik memperhatikan dengan rahang mengeras. Ia tak suka melihat Yanti seperti itu, tapi setiap kali mencoba mendekat, Yanti justru semakin menjauh.
Jam istirahat, Yanti tidak makan. Ia duduk di belakang sekolah, rokok kembali menyala di tangannya. Toro datang dan merebutnya.
“Kembalikan.”
“Nggak.”
“Aku lagi pengin sendiri.”
“Aku takut kamu makin hancur.”
Yanti tertawa pahit. “Memangnya aku masih bisa lebih hancur?”
Toro duduk di sampingnya. “Kita ke Comal. Ziarah ke makam Teguh.”
Yanti membeku. “Aku nggak sanggup.”
“Justru karena itu kamu harus datang.”
Malam harinya Yanti terus memikirkan ucapan Toro. Dadanya semakin sesak. Ia ingin datang, tapi takut menghadapi rasa bersalahnya sendiri.
Dua hari kemudian mereka berangkat. Bukan hanya Toro dan Yanti, tapi juga Dwi, Riyadi, Muji, Aris, dan Ahmad. Kereta ekonomi pagi dari Klaten menuju Pekalongan. Suasana stasiun ramai. Ahmad langsung bercanda.
“Kalau nanti aku hilang, jangan dicari.”
“Kenapa?”
“Aku ikut mbak-mbak kantin.”
Semua tertawa. Yanti tersenyum kecil — dan itu membuat Riyadi sedikit lega.
Perjalanan terasa panjang. Yanti duduk dekat jendela, diam. Toro di seberangnya. Dwi berbisik, “Kamu masih takut?” Yanti mengangguk. “Aku takut ibunya benci sama aku.” “Kalau benci, nggak mungkin beliau datang baik-baik ke kos.”
Siang hari mereka sampai di Comal. Udara pantura panas. Rumah Teguh di gang kecil dekat pasar. Ibu Teguh langsung menangis melihat Yanti.
“Nduk…”
Yanti menunduk. “Maaf, Bu…”
Wanita itu memeluknya erat. Tidak ada kemarahan di sana. Hanya kesedihan seorang ibu yang kehilangan anaknya.
Mereka duduk di ruang tamu sederhana. Foto Teguh terpajang di meja. Yanti menatapnya lama. Wajah yang dulu sering tersenyum padanya, kini tinggal kenangan.
“Sejak kenal kamu, Teguh jadi sering pulang cepat. Rajin mandi. Suka nyisir rambut. Dia sering cerita tentang kamu — katanya ada gadis tomboy dari Tegorejo yang bikin dia semangat hidup.”
Air mata Yanti jatuh lagi. Toro menggenggam tangannya. Kali ini Yanti tidak menolak. Tubuhnya benar-benar lemas.
Sore hari mereka pergi ke makam Teguh. Langit mendung. Rumput basah sisa hujan malam. Saat melihat nisan bertuliskan nama Teguh, lutut Yanti lemas. Dwi buru-buru memeganginya.
Yanti menangis pelan. “Aku minta maaf… aku nggak pernah bermaksud nyakitin kamu…”
Angin sore bertiup dingin. Semua terdiam. Bahkan Ahmad yang paling cerewet hanya menunduk.
Toro berdiri agak jauh. Sementara Riyadi diam memperhatikan Yanti. Dan untuk pertama kalinya, Riyadi sadar satu hal — hidup Yanti terlalu penuh luka. Dan semua orang yang mencintainya selalu datang membawa rasa sakit baru.
Yanti duduk lama di depan makam. Tangannya gemetar menabur bunga.
“Aku jahat ya…”
Dwi memeluk pundaknya. “Kamu cuma belum bisa mencintai dia.”
“Tapi dia mati karena aku…”
“Bukan.” Suara Riyadi tiba-tiba terdengar. Semua menoleh. Riyadi melangkah pelan mendekat. “Orang nggak mati karena cinta. Kadang orang cuma terlalu kehilangan arah hidup.”
Kalimat itu membuat suasana hening. Dan untuk pertama kalinya, Yanti menatap Riyadi cukup lama. Tatapan yang teduh. Tenang. Tidak menuntut apa pun.
Malamnya mereka menginap di rumah Dwi di Pekalongan. Suasana sedikit lebih hangat. Ibu Dwi memasakkan nasi megono dan ikan asin. Ahmad mulai bercanda lagi.
“Kalau aku mati nanti, jangan nangis ya.”
Muji langsung menyumpal mulutnya dengan kerupuk. “Mulutmu sumpah!”
“Hahaha!”
Untuk pertama kalinya sejak berhari-hari, Yanti tertawa kecil. Dan semua orang langsung menoleh. Karena mereka rindu mendengar tawa itu.
Namun malam semakin larut, dan kesedihan kembali datang. Yanti duduk sendiri di teras rumah Dwi. Angin malam Pekalongan terasa dingin. Riyadi datang membawa teh hangat.
“Nih.”
“Makasih.”
Mereka diam cukup lama. Lalu Riyadi berkata pelan, “Kamu nggak boleh nyalahin diri sendiri terus.”
“Aku capek, Yad…”
“Capek kenapa?”
“Capek bikin orang sedih.”
Riyadi tersenyum tipis. “Kamu tahu kenapa banyak orang sayang sama kamu?”
Yanti menoleh pelan.
“Karena kamu selalu bikin mereka merasa hidup.”
DEG. Yanti langsung diam. Air matanya jatuh lagi.
Riyadi melanjutkan lirih, “Tapi kamu lupa — diri kamu sendiri juga butuh disayang.”
Malam terasa semakin sunyi. Di bawah langit Pekalongan yang mendung, Yanti mulai sadar — selama ini ia terlalu sibuk menjaga perasaan orang lain sampai lupa menjaga dirinya sendiri.
Namun tanpa Yanti sadari, di dalam rumah, Toro memperhatikan semuanya dari balik jendela. Tatapannya perlahan berubah gelap. Karena lagi-lagi ia melihat Yanti lebih tenang bersama Riyadi. Dan rasa takut kehilangan itu pelan-pelan mulai berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
BAB XXIII
MAKAM DAN PENYESALAN
“Tentang Hujan di Atas Nisan, Rokok yang Tak Lagi Menenangkan, dan Hati yang Mulai Kehilangan Cahaya”
Keesokan harinya suasana sekolah kembali panas. Gosip menyebar — Yanti sering pergi malam bersama Riyadi. Anak-anak STM memang cepat sekali membuat gosip.
“Heh katanya Toro mulai kalah saing.”
“Riyadi diem-diem nyalip.”
Muji kesal mendengarnya. “Mulut kalian tuh…”
Tapi gosip sudah telanjur menyebar. Dan itu membuat hubungan Toro dan Yanti semakin memburuk.
Sementara Yanti semakin merasa lelah. Ia mulai kehilangan semangat sekolah. Nilainya turun. Sering melamun. Makin sering merokok diam-diam. Bahkan Dwi mulai takut — karena sahabatnya itu perlahan benar-benar kehilangan cahaya dalam hidupnya.
Malam harinya hujan turun deras. Kos-kosan terasa dingin. Tina sibuk membaca majalah. Siti menjahit kancing baju. Dwi mulai kesal melihat Yanti yang kembali duduk di teras sambil merokok.
“Tiiik, kamu mau sampai kapan begini?”
Yanti diam.
“Asap nggak bakal nyelesain masalah.”
“Aku tahu.”
“Terus kenapa tetap dilakuin?”
Yanti tersenyum pahit. “Karena aku nggak tahu lagi cara nenangin diri.”
Kalimat itu membuat Dwi ikut sedih.
TOK TOK TOK. Pagar kos diketuk. Toro datang. Wajahnya dingin.
“Kita ngobrol.”
“Sekarang?”
“Iya.”
Mereka berjalan ke warung kopi kecil dekat jalan raya. Hujan masih gerimis. Lampu jalan redup. Suasana malam Pedan terasa sepi.
Toro duduk diam cukup lama. “Kamu suka Riyadi?”
Yanti menoleh cepat. “Apa?”
“Jawab aja.”
“Toro, kamu mulai lagi.”
“Aku capek lihat kalian terus.”
“Dia sahabatku!”
“Semua cowok yang deket sama kamu selalu cuma sahabat!”
Yanti berdiri. “Kalau kamu nggak percaya, ngapain terus sama aku?”
Toro ikut berdiri. “Aku takut kehilangan kamu!”
“Terus semua harus kamu atur?”
Suasana mulai panas. Beberapa orang warung mulai melirik.
Toro meremas rambutnya frustrasi. “Aku nggak ngerti lagi harus gimana…”
“Aku juga capek,” suara Yanti mulai bergetar. “Aku capek selalu jadi alasan orang ribut.”
Hening. Hanya suara hujan kecil.
“Aku pengin hidup tenang.”
Toro langsung diam. Untuk pertama kalinya ia sadar — cintanya mulai membuat Yanti sesak.
Sepulang dari warung, Yanti tidak langsung masuk kos. Ia berjalan sendiri ke jalan kecil dekat rel kereta. Angin malam dingin. Langit hitam. Pikirannya kembali kacau.
Ia teringat Teguh. Teringat makam itu. Teringat suara ibunya. “Waktu koma… dia nyebut nama kamu terus…”
Air mata Yanti jatuh lagi. Ia mulai merasa hidupnya dipenuhi penyesalan.
Tiba-tiba sebuah motor berhenti di dekatnya. Riyadi.
“Kamu ngapain sendirian malam-malam?”
Yanti buru-buru menghapus air mata. “Nggak apa-apa.”
“Bohong.”
Riyadi turun dari motor. “Kamu habis berantem lagi sama Toro?”
Yanti tertawa kecil pahit. “Kok semua orang gampang nebak hidupku…”
“Karena mukamu nggak pernah bisa bohong.”
Mereka duduk di dekat rel. Kereta malam melintas perlahan. Suara gemuruhnya memecah sunyi.
“Kamu tahu, orang yang terlalu banyak nyimpen luka biasanya lupa caranya bahagia,” kata Riyadi pelan.
Yanti menatap rel panjang di depannya. “Aku pengin bahagia lagi.”
“Bisa.”
“Gimana caranya?”
Riyadi tersenyum kecil. “Pelan-pelan.”
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Yanti merasa sedikit tenang. Bukan karena cinta. Bukan karena janji. Tetapi karena ada seseorang yang mau mendengarkan tanpa menuntut apa pun.
Namun malam itu, di kejauhan, Toro melihat mereka lagi. Dan kali ini sesuatu di dalam dirinya benar-benar mulai pecah.
Keesokan harinya suasana sekolah kembali panas. Gosip yang sudah menyebar semakin menjadi-jadi. Hubungan Toro dan Yanti semakin memburuk.
Sementara Yanti semakin merasa lelah. Ia mulai kehilangan semangat sekolah. Nilainya turun. Sering melamun. Dan makin sering merokok diam-diam. Bahkan Dwi mulai takut — karena sahabatnya itu perlahan benar-benar kehilangan cahaya dalam hidupnya.
Dan tanpa Yanti sadari, masa paling gelap dalam hidupnya baru saja dimulai.
BAB XXIV
KERETA YANG PERGI TANPA PAMIT
“Tentang Terminal Sore Hari, Tangis yang Tak Sempat Dicegah, dan Kepergian yang Mengubah Segalanya”
Langit Desa Tegorejo sore itu berwarna jingga pucat. Angin kemarau bertiup pelan melewati pematang sawah. Daun-daun padi bergoyang seperti sedang mengucapkan selamat tinggal. Tapi tidak ada yang tahu bahwa sore itu akan menjadi sore terakhir sebelum semuanya berubah.
Sejak beberapa minggu terakhir, Riyadi semakin sering diam. Ia masih datang ke rumah Yanti, masih mengantar latihan karate, masih bercanda bersama Aziz dan Pincuk. Tapi sorot matanya berbeda. Ada sesuatu yang sedang dipikirkan sangat dalam.
Karwan sudah hampir setahun bekerja di Tangerang. Sesekali ia mengirim surat. Katanya, pabrik tempatnya bekerja sedang membuka lowongan. Sejak saat itu pikiran Riyadi tidak tenang. Setelah lulus SMA Pegandon, ia merasa hidupnya jalan di tempat. Sementara teman-temannya mulai pergi merantau.
Sore itu Riyadi duduk sendirian di gardu dekat mushola desa. Aziz datang.
“Kau jadi berangkat?”
Riyadi diam beberapa detik. “Iya.”
“Kapan?”
“Sore ini.”
Aziz menatapnya lama. “Kau serius nggak pamit sama Sinok?”
Riyadi terdiam. Angin sore berhembus pelan. “Aku nggak kuat pamit.”
“Dia pasti hancur.”
“Aku tahu.”
“Terus kenapa tetap pergi diam-diam?”
Riyadi tersenyum hambar. “Karena kalau lihat dia nangis, aku nggak bakal jadi berangkat.”
Di sisi lain, Yanti sama sekali tidak tahu. Hari itu ia sedang sibuk belajar untuk ujian nasional. Buku matematika terbuka di meja, tapi pikirannya kacau. Setelah kehilangan Mas Nur, Riyadi adalah satu-satunya orang yang masih selalu ada untuknya. Yang selalu mendengarkan ceritanya. Yang selalu membuatnya tertawa saat sedih. Tanpa sadar, kehadirannya sudah menjadi bagian penting dalam hidupnya.
Menjelang magrib, langit mulai gelap. Aziz dan Riyadi berjalan menuju perempatan Patebon. Sebuah tas besar tergantung di pundak Riyadi — berisi beberapa baju, sarung, jaket karate, dan alamat Karwan.
Mereka berjalan pelan di pinggir jalan pantura. “Heh Di, kalau sukses jangan lupa traktir.”
Riyadi tertawa kecil. “Kalau gagal?”
“Ya pulang lagi.”
Mereka tertawa hambar. Tapi di balik tawa itu, Aziz tahu sahabatnya sedang menahan sesuatu.
Saat sampai di perempatan, bus malam tujuan Jakarta mulai terlihat. Lampunya menyala terang menembus senja. Jantung Riyadi terasa berat.
“Masih bisa batal,” kata Aziz.
Riyadi menggeleng. “Nggak bisa.”
“Karena Sinok?”
“Justru karena Sinok.” Aziz mengernyit bingung. “Aku nggak mau selamanya cuma jadi bayangan tempat dia bersandar. Aku sayang sama dia. Tapi aku tahu — hatinya masih penuh Mas Nur. Dan aku capek berharap.”
Bus berhenti. Kernet berteriak keras. Aziz membantu menaikkan tas Riyadi.
“Jaga diri.”
“Kau juga.”
Aziz menatapnya lama. “Kau yakin nggak mau pamit?”
Riyadi menoleh ke arah langit senja. Matanya mulai merah. “Tolong, kalau Sinok tanya, bilang aku baik-baik aja.”
Kalimat itu langsung membuat Aziz tahu — Riyadi sebenarnya sedang sangat terluka.
Bus mulai berjalan perlahan. Aziz berdiri di pinggir jalan sambil melambaikan tangan. Riyadi duduk dekat jendela, menatap lampu-lampu desa yang perlahan menjauh. Dan untuk pertama kalinya, air matanya jatuh.
Sementara itu di rumah, Yanti sedang duduk di teras. Hatinya gelisah. Bu Rosmiyati keluar membawa teh hangat. “Kamu kenapa bengong terus?”
“Enggak tahu, Bu.” Yanti menatap jalan desa yang mulai gelap. “Kayak ada yang hilang.”
Malam semakin larut. Di dalam bus menuju Jakarta, Riyadi masih belum bisa tidur. Bayangan Yanti terus muncul — tertawa di atas sepeda ontel, marah saat latihan karate, menangis saat ditinggal Mas Nur. Semuanya bercampur jadi satu. Satu kalimat terus terngiang di kepalanya: “Merpati tak pernah ingkar janji…”
Keesokan paginya Yanti datang ke tempat latihan karate. Suasana terasa aneh. Aziz murung. Pincuk lebih banyak diam.
“Kakang Riyadi mana?”
Aziz salah tingkah. Tak ada yang menjawab. Jantung Yanti berdebar tidak enak.
Aziz menghela napas panjang. “Riyadi berangkat ke Tangerang semalam. Nyusul Karwan kerja.”
Dunia Yanti seperti berhenti. “Bohong…”
Aziz menggeleng. “Dia naik bus semalam.”
Saat itulah sesuatu di dalam hati Yanti runtuh lagi.
“Kenapa nggak pamit…” Suaranya bergetar. Air matanya jatuh. “Kenapa semuanya pergi tanpa pamit…”
Aziz menunduk. Pincuk menghela napas berat. Mereka tahu — luka kehilangan Mas Nur saja belum sembuh. Dan sekarang Riyadi ikut pergi.
Hari-hari setelah itu terasa sangat sunyi bagi Yanti. Tidak ada lagi suara sepeda ontel di depan rumah. Tidak ada lagi yang menunggunya selesai latihan. Tidak ada lagi yang diam-diam membawakan es teh. Semua mendadak hilang. Dan yang paling menyakitkan — Riyadi pergi tanpa memberi kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal.
Suatu sore ia duduk sendiri di bawah pohon trembesi depan sekolah. Tempat yang dulu sering menjadi tempatnya menangis. Angin sore bertiup pelan. Untuk pertama kalinya Yanti benar-benar merasa sendiri. Mas Nur pergi. Riyadi pergi. Dua orang paling berarti dalam hidupnya hilang hampir bersamaan.
“Aku capek kehilangan…” gumamnya lirih.
Tapi di tengah semua luka itu, Yanti tetap bertahan. Ia mulai belajar lebih keras. Mulai fokus pada masa depan. Karena ia tahu — hidup tidak akan berhenti hanya karena hatinya patah.
Hari pengumuman kelulusan akhirnya tiba. Suasana SMP Pengandon ramai. Anak-anak berpelukan, menangis, tertawa histeris. Saat nama Yanti diumumkan lulus, Bu Rosmiyati langsung menangis haru. Yanti tersenyum tipis sambil memeluk ibunya. Tapi jauh di dalam hati, ada dua orang yang ingin sekali ia lihat hari itu — Mas Nur dan Kakang Riyadi. Keduanya tidak ada.
Malam harinya Yanti duduk di depan rumah. Angin desa terasa dingin. Suara jangkrik dari sawah. Untuk pertama kalinya sejak lama, Yanti mulai mengerti satu hal — bahwa tumbuh dewasa ternyata sesakit ini. Karena semakin dewasa seseorang, semakin banyak orang yang harus pergi meninggalkan hidupnya.
Tapi di balik semua kehilangan itu, perlahan sebuah tekad mulai tumbuh. Ia tidak ingin terus terpuruk. Ia ingin melanjutkan sekolah. Pergi keluar kota. Membuka hidup baru.
Di bawah langit Tegorejo yang sunyi, Yanti berbisik pada dirinya sendiri: “Aku harus kuat…”
BAB XXV
HARI-HARI SUNYI TANPA MEREKA
“Tentang Kehilangan yang Datang Bersamaan, Ujian Nasional yang Terasa Hampa, dan Seorang Gadis yang Belajar Berdiri di Tengah Luka”
Sejak kepergian Mas Nur ke Jakarta dan Riyadi menyusul Karwan ke Tangerang, hidup Yanti berubah menjadi jauh lebih sunyi. Desa Tegorejo masih sama — suara ayam pagi, pematang sawah hijau, anak-anak bermain layangan. Tapi bagi Yanti semuanya terasa berbeda. Dua orang yang selama ini selalu mengisi hari-harinya sudah pergi.
Pagi itu Yanti duduk di teras sambil memegang buku IPA. Besok ujian nasional dimulai. Tapi ia hanya menatap halaman buku tanpa benar-benar membaca. Bu Rosmiyati keluar membawa teh panas. “Belajar kok malah melamun.”
Yanti tersenyum hambar. “Capek, Bu.”
“Kamu masih mikirin mereka ya?”
Yanti tidak menjawab. Air matanya jatuh. Bu Rosmiyati menghela napas. “Ibu tahu kamu kehilangan. Tapi hidup nggak boleh berhenti.”
“Kenapa semua orang pergi, Bu…” Suaranya lirih. Bu Rosmiyati ikut diam. Bahkan sebagai seorang ibu, ia tidak tahu cara menyembuhkan luka anak gadisnya.
Hari pertama ujian nasional tiba. Suasana SMP Pengandon ramai. Yanti lebih banyak diam. Yuli menghampirinya. “Kamu udah sarapan?” “Udah.” “Bohong. Mukamu kayak orang habis puasa tiga hari.”
Saat bel masuk, Yanti duduk di bangku dekat jendela. Angin pagi masuk pelan. Bayangan Riyadi kembali muncul — suara sepeda ontelnya, candaan gilanya, cara dia diam-diam memperhatikan. Semua terasa begitu dekat, padahal orangnya sudah jauh.
Pengawas membuyarkan lamunannya. “Fokus.” Yanti membuka soal. Tapi pikirannya tetap bertanya — apakah Riyadi sudah sampai? Apakah Mas Nur baik-baik saja? Dan kenapa orang-orang yang ia sayangi selalu pergi meninggalkannya?
Sepulang ujian, Yanti berjalan sendirian melewati jalan kecil dekat kebun bambu. Biasanya Riyadi sering menunggu di tikungan sana, kadang sambil membawa es lilin. “Sinok, kalau nanti kaya jangan lupa sama aku.” Dan Yanti biasanya tertawa. Tapi sekarang jalan itu kosong.
Malam harinya Yanti membuka kotak kecil berisi barang-barang lama: pita biru pemberian Riyadi, foto latihan karate, dan secarik kertas: “Merpati tak pernah ingkar janji.” Air matanya jatuh lagi. Untuk pertama kalinya ia merasa benar-benar sendirian.
Hari-hari ujian berlalu lambat. Semakin dekat pengumuman kelulusan, semakin berat hati Yanti. Karena ia sadar masa SMP benar-benar akan berakhir — masa yang penuh cinta pertama, persahabatan, tangis, cemburu, dan kehilangan.
Suatu sore Yanti pergi ke tempat latihan karate di Cepiring. Sensei Sambas dan Sensei Anton langsung sadar — gadis itu jauh lebih murung dari biasanya.
Latihan dimulai. Tapi gerakan Yanti tidak fokus. Pukulannya meleset. Aziz bingung. Pincuk nyeletuk, “Jangan-jangan mikirin Kakang Riyadi.” Biasanya Yanti akan marah-marah. Kali ini ia hanya diam.
Setelah latihan, Aziz duduk di sampingnya. “Kamu marah sama Riyadi?”
Yanti menggeleng. “Aku cuma sedih.”
“Dia berat banget berangkat. Dia takut nggak bisa pergi kalau pamit sama kamu.”
Dada Yanti sesak lagi. “Dia sayang banget sama kamu. Tapi dia sadar — kamu nggak pernah benar-benar bisa lupa sama Mas Nur.”
Air mata Yanti jatuh. Untuk pertama kalinya ia sadar — Riyadi pergi sambil membawa luka juga.
Malam itu Yanti tidak bisa tidur. Ia duduk di bawah pohon mangga depan rumah. Langit penuh bintang. Udara desa dingin. Di tengah kesunyian, ia berbicara pada dirinya sendiri. “Aku jahat ya…” Tanpa sadar ia telah membuat banyak orang terluka. Mas Nur pergi membawa kecewa. Riyadi pergi membawa perasaan yang tidak sempat diucapkan. Dan yang tersisa hanya dirinya sendiri.
Hari pengumuman kelulusan tiba. Suasana sekolah penuh teriakan dan tangisan. Saat nama Yanti dinyatakan lulus, Bu Rosmiyati memeluknya erat. Yanti tersenyum menahan tangis. Tapi di tengah keramaian, ia merasa kosong. Dua orang yang paling ingin ia lihat tidak ada.
Sore harinya anak-anak kelas tiga berkumpul untuk perpisahan sederhana. Dandang membawa gitar. Bambang bercanda. Yuli dan Anita menangis. Tapi di tengah tawa, mata Yanti terus mencari seseorang.
Saat matahari tenggelam, Yanti berdiri sendiri di bawah pohon trembesi depan sekolah. Pohon yang dulu menjadi saksi semua cerita cintanya. Kini ia berdiri sendirian. Air matanya jatuh. “Kenapa semuanya berubah…”
Tapi di balik kesedihan, perlahan tekad baru mulai tumbuh. Ia tidak boleh terus hidup dalam kenangan. Ia harus melangkah. Harus punya masa depan. Untuk pertama kalinya ia mulai memikirkan satu tempat yang terus dibicarakan ibunya — STM Tekstil Pedan. Sekolah jauh di Klaten yang akan membawanya keluar dari Tegorejo, keluar dari semua kenangan lama.
Malam itu Yanti menatap langit desa dari jendela kamarnya. Suara jangkrik terdengar panjang. Kali ini di balik kesedihannya ada sedikit keberanian yang mulai tumbuh — keberanian untuk meninggalkan masa lalu dan memulai hidup baru.
Meski jauh di lubuk hati paling dalam, ia masih belum benar-benar bisa melupakan Mas Nur dan Kakang Riyadi.
BAB XXVI
CINTA LAMA YANG TAK PERNAH BENAR-BENAR PERGI
“Tentang Kepulangan, Luka yang Belum Selesai, dan Dua Hati yang Kembali Bertemu dalam Keadaan Berbeda”
Tiga tahun berlalu seperti angin. Hari-hari di STM Tekstil Pedan perlahan membentuk hidup Yanti menjadi baru. Ia belajar hidup jauh dari rumah, menghadapi kerasnya lingkungan STM, tertawa lagi bersama sahabat-sahabatnya. Tapi satu hal yang tak pernah berubah — kenangan tentang cinta pertamanya, Mas Nur.
Kini Yanti bukan lagi gadis SMP yang mudah menangis di bawah pohon trembesi. Ia tumbuh lebih dewasa, lebih tenang, lebih kuat. Tapi juga lebih pandai menyembunyikan luka.
Hari kelulusan STM tiba. Suasana sekolah ramai penuh pelukan dan tangisan. Dwi menangis paling keras. Yanti tertawa sambil memeluk sahabatnya.
Di sisi lain halaman, Toro berdiri memandang Yanti dari jauh. Hubungan mereka sudah lama berakhir. Abdul menepuk pundaknya. “Udahlah…” Toro tersenyum pahit. “Gue cuma pengen lihat dia bahagia.” Untuk pertama kalinya, Toro benar-benar belajar mencintai tanpa memaksa memiliki.
Setelah kelulusan, Yanti memilih kembali ke Tegorejo. Ia ingin pulang, melihat rumah, melihat ibunya, melihat sawah dan jalan desa yang dulu membesarkannya. Meski di dalam hati ada rasa takut — kampung itu penuh kenangan.
Bus memasuki wilayah Kendal menjelang sore. Saat melihat hamparan sawah Tegorejo, dada Yanti sesak. Tiga tahun pergi, tapi semua kenangan terasa masih sangat dekat.
Bu Rosmiyati memeluknya erat. Ima yang kini lebih besar langsung memeluk kakaknya. Suasana rumah kembali hangat. Tapi di balik senyumnya, Yanti diam-diam masih merasa kosong.
Malam pertama di rumah, Yanti tidak bisa tidur. Ia duduk di teras. Suara jangkrik masih sama. Angin sawah masih membawa aroma tanah yang familiar. Bayangan Mas Nur kembali muncul begitu jelas.
Keesokan harinya Yanti berjalan sendirian melewati jalan desa. Langkahnya berhenti di depan pohon trembesi dekat sekolah lama. Pohon itu masih berdiri kokoh. Semua kenangan datang bersamaan — tangis, cemburu, Mas Nur, Riyadi. Air matanya jatuh.
“Heh…”
Yanti menoleh cepat. Jantungnya berhenti beberapa detik.
Mas Nur.
Lelaki itu berdiri beberapa meter di belakangnya. Tubuhnya lebih tinggi, kulit lebih gelap, tatapan lebih dewasa. Tapi senyumnya masih sama.
“Udah lama ya…”
Yanti tak bisa menjawab. Semua rasa yang dulu ia kubur mendadak hidup kembali.
Mereka duduk di bawah pohon trembesi. Beberapa detik hanya diam. Sama-sama canggung. Sama-sama menyimpan terlalu banyak kenangan.
“Kamu berubah,” kata Mas Nur.
Yanti tertawa kecil. “Kamu juga.”
“Aku dengar kamu kerja di Jakarta?”
Mas Nur mengangguk. “Capek banget.”
Mereka tertawa kecil. Lalu suasana sunyi.
“Maafin aku ya,” kata Mas Nur pelan. “Aku pergi tanpa pamit. Aku pengecut.”
Air mata Yanti menggenang. Kalimat itu yang selama bertahun-tahun ingin ia dengar.
“Aku marah banget waktu itu. Aku nungguin kamu…”
Mas Nur menatap tanah. “Aku tahu. Tapi waktu itu aku malu. Malu karena nggak punya masa depan. Aku pikir kalau aku pergi, kamu bakal lebih bahagia.”
Yanti menggeleng cepat. “Kamu salah. Pergimu justru bikin aku hancur.”
Mas Nur terdiam. Matanya mulai merah. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, mereka sama-sama menangis lagi.
Tapi di tengah tangis itu, Yanti sadar — perasaannya pada Mas Nur memang belum hilang. Tapi rasanya sudah berbeda. Tak lagi sebergelora saat SMP, tak lagi penuh obsesi. Kini lebih tenang. Seperti rumah lama yang selalu membuat hati nyaman saat kembali.
Sore mulai turun. Langit Tegorejo berubah jingga.
“Kalau waktu bisa diulang, aku nggak bakal pergi tanpa pamit,” kata Mas Nur.
Yanti tersenyum kecil. “Kalau aku, aku nggak bakal nangis selama itu buat cowok.”
Mas Nur tertawa keras. Untuk pertama kalinya mereka bisa tertawa bersama tanpa rasa marah.
Hari-hari berikutnya Mas Nur sering datang ke rumah Yanti. Mereka ngobrol santai, kadang membahas masa lalu, kadang hanya duduk diam menikmati sore. Bu Rosmiyati hanya tersenyum kecil — cinta pertama memang sulit hilang.
Tapi Yanti sadar — hidup tak bisa benar-benar kembali seperti dulu. Mereka sudah berubah. Sudah melewati terlalu banyak luka. Bukan lagi anak SMP yang hanya mengerti cinta sebatas cemburu dan posesif.
Suatu malam Yanti duduk bersama Mas Nur di depan rumah.
“Kamu masih sayang sama aku?”
Mas Nur tersenyum. “Kamu sendiri?”
Yanti terdiam lama. “Aku nggak tahu. Tapi setiap lihat kamu, aku masih merasa pulang.”
Mas Nur diam. Malam itu untuk pertama kalinya mereka sama-sama memahami — cinta pertama mungkin tak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berubah bentuk menjadi kenangan yang menetap diam-diam di hati.
Hidup tetap harus berjalan. Masa depan tetap menunggu. Di bawah langit malam Tegorejo, Yanti akhirnya belajar menerima semuanya — tentang kehilangan, tentang luka, tentang orang-orang yang pernah pergi lalu kembali.
Karena pada akhirnya, tidak semua cinta ditakdirkan untuk memiliki. Sebagian hanya ditakdirkan untuk dikenang seumur hidup.
EPILOG
MENUJU BANGKU KULIAH
“Tentang Luka yang Perlahan Menjadi Dewasa”
Musim kemarau mulai datang di Desa Tegorejo.
Sawah-sawah kembali menguning.
Angin sore berhembus pelan melewati jalan kecil depan rumah tua peninggalan almarhum Bu Rosmiyati.
Dan rumah itu…
kini terasa jauh lebih sunyi.
Tidak ada lagi suara lembut ibunya memanggil dari dapur.
Tidak ada lagi teh hangat setiap pagi.
Tidak ada lagi nasihat-nasihat kecil yang dulu sering membuat Yanti kesal.
Kepergian Bu Rosmiyati beberapa waktu lalu…
masih meninggalkan lubang besar di hati Yanti.
Karena setelah kehilangan banyak orang dalam hidupnya…
kini ia kembali kehilangan tempat pulang yang paling menenangkan.
Pagi itu…
Yanti duduk sendirian di teras rumah.
Tangannya memegang map cokelat berisi ijazah STM Tekstil Pedan.
Matanya kosong menatap jalan desa.
Di sampingnya…
Ima sedang melipat pakaian sambil sesekali mencuri pandang ke kakaknya.
“Mbak…”
“Hm?”
“Jadi berangkat kuliah beneran?”
Yanti mengangguk kecil.
“Iya.”
“Takut nggak?”
Yanti tersenyum tipis.
“Takut.”
“Terus kenapa tetep pergi?”
Yanti diam cukup lama.
Lalu menjawab pelan.
“Karena hidup harus jalan terus…”
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun sebenarnya…
Yanti sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
Sejak ibunya meninggal…
Yanti berubah jauh lebih pendiam.
Tidak lagi seceria dulu.
Tidak lagi mudah tertawa keras seperti masa STM.
Ia lebih sering melamun sendiri di depan rumah.
Memandangi langit sore.
Atau duduk diam di kamar sambil membuka kotak kenangan lamanya.
Di sana masih tersimpan:
foto-foto karate,
tiket kereta ke Malioboro,
surat kecil dari Dwi,
boneka panda pemberian Toro,
dan pita rambut kecil masa SMP.
Benda-benda sederhana…
namun menyimpan terlalu banyak kenangan.
Kadang…
saat malam terlalu sunyi…
Yanti masih teringat semua orang yang pernah datang dalam hidupnya.
Mas Nur.
Cinta pertamanya yang pergi merantau tanpa pamit.
Kakang Riyadi.
Lelaki yang pernah menjadi tempat paling nyaman untuk bersandar.
Toro.
Yang mencintainya terlalu besar sampai berubah menjadi luka.
Teguh.
Yang bahkan membawa cintanya sampai akhir hidup.
Dan teman-teman STM…
yang dulu membuat hidupnya terasa penuh warna.
Semua kini seperti tinggal bayangan jauh.
Sore itu…
Dwi datang dari Klaten bersama Tina.
Mereka sudah lama tidak bertemu.
Namun begitu bertatap muka…
pelukan panjang langsung pecah bersama tangis.
“Heh…”
Tina langsung mengusap mata.
“Jangan nangis woi…”
“Kamu dulu yang mulai…”
“Hahaha…”
Namun tawa mereka terasa berbeda sekarang.
Lebih dewasa.
Lebih pelan.
Karena hidup ternyata sudah banyak mengubah mereka.
Dwi memandang rumah Yanti perlahan.
“Sepi banget sekarang…”
Yanti hanya tersenyum kecil.
“Iya…”
“Kangen Bu Rosmiyati…”
DEG.
Kalimat itu langsung membuat mata Yanti kembali panas.
Ia menunduk pelan.
“Aku juga…”
Suasana mendadak sunyi.
Karena kehilangan ibu…
adalah luka yang tidak pernah benar-benar selesai.
Malam harinya…
mereka duduk bertiga di teras rumah.
Angin malam terasa dingin.
Suara jangkrik terdengar dari sawah belakang rumah.
Dan seperti masa STM dulu…
mereka kembali bercerita panjang.
Tentang sekolah.
Tentang cinta.
Tentang masa muda yang terasa begitu cepat berlalu.
“Heh Tik…”
“Apa?”
“Kamu masih inget Ahmad?”
“Yang suka gambar guru itu?”
“Iya!”
Yanti tertawa kecil.
“Masih lah…”
“Sekarang dia kerja di Solo katanya.”
“Tetep tengil nggak?”
“Lebih tengil.”
“HHAHAHAHA!”
Untuk beberapa saat…
Yanti akhirnya bisa tertawa lepas lagi.
Namun setelah Dwi dan Tina pulang…
kesunyian kembali datang.
Yanti masuk ke kamar pelan.
Lalu membuka lemari kayu tua peninggalan ibunya.
Di sana…
masih tersimpan rapi kain kebaya milik Bu Rosmiyati.
Yanti memeluk kain itu perlahan.
Dan air matanya jatuh tanpa suara.
“Ibu…”
“Aku capek…”
Dadanya terasa sesak.
Karena selama ini…
ia selalu terlihat kuat di depan semua orang.
Padahal sebenarnya…
ia masih gadis kecil yang takut kehilangan.
Beberapa hari kemudian…
surat penerimaan kuliah akhirnya datang.
Yanti diterima.
Tangannya gemetar saat membuka amplop itu.
Ima langsung melonjak senang.
“MBAK LOLOS!”
Yanti tersenyum kecil.
Namun matanya justru berkaca-kaca.
Karena di momen seperti ini…
ia paling ingin mendengar suara ibunya.
Malam sebelum keberangkatan…
Yanti duduk sendiri di makam Bu Rosmiyati.
Langit penuh bintang.
Udara malam terasa dingin.
Tangannya perlahan menyentuh batu nisan sederhana itu.
“Ibu…”
“Aku mau pergi lagi…”
Air matanya jatuh pelan.
“Aku nggak tahu nanti hidupku bakal kayak gimana…”
“Tapi aku janji…”
“Aku bakal kuat.”
Angin malam berhembus lembut.
Dan entah kenapa…
Yanti merasa seperti ibunya sedang mendengarkan.
Pagi keberangkatan tiba.
Tas besar sudah siap di ruang tamu.
Ima membantu membereskan barang-barangnya.
Sedangkan Yanti berdiri lama memandangi rumah kecil itu.
Rumah tempat ia tumbuh.
Rumah penuh kenangan.
Rumah yang kini terasa kosong tanpa ibunya.
Bus pagi mulai berjalan meninggalkan Tegorejo.
Pelan.
Perlahan.
Yanti duduk dekat jendela.
Memandangi desa yang semakin jauh.
Pohon trembesi.
Jalan kecil menuju sekolah.
Lapangan tempat latihan karate.
Semua perlahan menghilang dari pandangan.
Dan tanpa sadar…
air matanya jatuh lagi.
Namun kali ini…
bukan karena patah hati.
Bukan karena kehilangan cinta.
Melainkan karena ia sadar…
masa kecilnya benar-benar telah selesai.
Di perjalanan menuju bangku kuliah…
Yanti memejamkan mata perlahan.
Dan semua kenangan datang silih berganti.
Tawa masa SMP.
Tangis di STM.
Persahabatan.
Cinta.
Kehilangan.
Semua pernah menghancurkannya.
Namun semua itu pula…
yang membuatnya tumbuh menjadi lebih kuat.
Langit pagi mulai terang.
Bus terus melaju menuju kota baru.
Menuju kehidupan baru.
Menuju masa depan yang belum ia kenal.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
Yanti tersenyum kecil pada dirinya sendiri.
Karena kini ia mengerti:
Tidak semua orang yang pergi berarti meninggalkan.
Sebagian…
tetap hidup di hati.
Menjadi kenangan.
Menjadi pelajaran.
Menjadi alasan seseorang terus melangkah.
Dan gadis kecil dari Desa Tegorejo itu…
akhirnya mulai belajar berjalan sendiri.
Menuju hidup yang benar-benar baru.
BUKU KE TIGA
UNTAIAN RINDU DARI SURGA
“Ketika waktu memisahkan dua hati, namun rindu tetap menemukan jalannya melalui kenangan, doa, dan pengikhlasan.”
Prolog
Tiga puluh tahun bukan waktu yang singkat untuk mengubur kenangan.
Namun cinta yang tak pernah benar-benar dimiliki sering kali menjadi kenangan paling abadi.
Di tengah kehidupan rumah tangga yang tampak tenang, Sinox Yanti dan Akang Riyadi dipertemukan kembali oleh media sosial. Sebuah pertemuan virtual yang membuka kembali luka lama, rindu yang tertahan, dan kisah remaja yang tak pernah selesai.
Mereka tak pernah bersentuhan lagi secara fisik. Tak pernah duduk berdua seperti dulu.
Namun suara melalui WhatsApp dan tatapan lewat video call mampu mengguncang dua rumah tangga yang telah dibangun puluhan tahun.
Di antara rasa cemburu pasangan, fitnah sosial, luka masa lalu, dan cinta yang tak pernah mati, mereka harus menentukan arti sebenarnya dari hubungan mereka: Apakah ini cinta lama yang belum selesai? Ataukah persahabatan sejati yang dipertemukan kembali oleh takdir?
BAB I
Malam yang Gelisah
Malam itu tidak ada hujan. Tidak juga ada angin.
Tapi di rumah kecil bercat krem di ujung Desa Tegorejo, seorang perempuan paruh baya terbaring di atas kasur tanpa bisa memejamkan mata. Matanya menatap langit-langit yang retak di beberapa sudut, tapi pikirannya melayang jauh, melampaui tiga puluh tahun yang telah lalu.
Sinox Yanti. Usianya kini empat puluh sembilan tahun. Wajahnya masih menyimpan sisa-sisa kecantikan masa remaja, hanya saja garis-garis halus di sudut mata dan pelipisnya menjadi saksi bisu perjalanan panjang hidup yang tak semuanya mudah. Rambutnya yang panjang kini lebih sering diikat sederhana, dan tubuhnya yang dulu lincah melompat saat latihan karate, kini lebih sering duduk tenang di ruang kelas Mts Gringsing tempatnya mengajar.
Di sampingnya, Mas Sarif, suaminya, telah tertidur pulas. Dengkur pelannya terdengar teratur, napas yang naik turun seperti ombak kecil di pantai yang damai. Sinox menoleh sejenak, menatap wajah pria yang telah menjadi pendamping hidupnya selama lebih dari dua dekade. Wajah yang jujur, kasar karena terbiasa bekerja di bawah terik matahari, namun penuh ketulusan. Mas Sarif bukan pria romantis. Dia tidak pernah memberi puisi atau bunga. Tapi dia setia, dan itu lebih dari cukup untuk sebagian besar perempuan.
Sinox seharusnya merasa tenang.
Tapi malam ini ada yang berbeda. Ada yang menggerogoti dadanya dari dalam, seperti akar pohon beringin yang perlahan memecah bebatuan. Perasaan yang tidak bisa ia beri nama, namun sangat ia kenali.
Rindu.
Bukan rindu biasa. Rindu yang sudah tertimbun selama tiga puluh tahun, lalu tiba-tiba muncul ke permukaan tanpa izin. Rindu yang tidak diundang, tidak dicari, tapi tiba-tiba hadir di sela-sela suara jangkrik dan dinginnya malam.
"Akang Riyadi," bisiknya lirih, nyaris tanpa suara.
Nama itu terasa asing di lidahnya. Sudah lama tidak ia ucapkan. Bahkan hampir ia lupa bagaimana rasanya menyebut nama itu. Tapi malam ini, nama itu kembali dengan membawa serta ribuan kenangan yang tak pernah benar-benar mati.
Sinox teringat masa ketika dia masih mengenakan seragam putih biru sebagai siswa kelas I SMP Negeri I Pegandon. Saat itu dia masih lugu, masih mudah tertawa, dan masih penuh mimpi. Dan di masa itu, ada seorang laki-laki yang selalu hadir di setiap sudut kenangannya.
Akang Riyadi. Siswa kelas 2 SMAN I Pegandon. Dua tahun lebih tua darinya. Berbadan tegap karena terbiasa latihan karate. Wajahnya tidak terlalu tampan menurut ukuran orang kebanyakan, tapi matanya, Sinox tidak pernah bisa melupakan matanya. Mata yang teduh tapi penuh ketegasan. Mata yang bisa menenangkannya hanya dengan satu tatapan.
Mereka bukan kekasih. Tidak pernah resmi berpacaran.
Tapi hubungan mereka lebih dari sekadar teman, dan kurang dari sepasang kekasih. Sebuah wilayah abu-abu yang paling berbahaya bagi hati manusia. Karena di sanalah cinta bisa tumbuh tanpa izin, tanpa pengakuan, dan tanpa kejelasan.
Akang selalu ada untuk Sinox. Setiap kali Sinox bertengkar dengan orang tuanya, Akang yang mendengarkan keluh kesahnya. Setiap kali Sinox patah hati karena cinta pertamanya, Mas Nur, yang penuh misteri dan konflik, Akang yang menjadi tempatnya bersandar. Setiap kali latihan karate, Akang yang dengan sabar mengajarinya jurus demi jurus. Bahkan saat bersepeda ontel, anehnya justru Sinox yang mengayuh sambil membonceng Akang di belakang, tertawa-tawa, melaju di antara hamparan sawah dan langit sore yang jingga.
Akang sudah seperti kakak laki-laki yang tak pernah ia miliki. Sinox tidak punya saudara laki-laki. Hanya seorang adik perempuan bernama Ima. Dan Akang mengisi ruang kosong itu dengan begitu sempurna.
Tapi ada yang tidak pernah Sinox ketahui saat itu.
Akang mencintainya.
Bukan sebagai adik. Sebagai perempuan. Sebagai seseorang yang ingin ia jaga seumur hidup. Namun atas saran dari ibu Sinox, Bu Ros, agar mereka fokus sekolah dan tidak terlibat percintaan di masa muda, Akang menelan rasa cintanya dalam-dalam. Memendamnya di relung hati yang paling tersembunyi. Lalu menguburnya di bawah ribuan alasan yang masuk akal: Dia masih kecil, dia fokus sekolah, aku tidak pantas, aku tidak punya apa-apa.
Dan ketika akhirnya Akang pergi merantau ke Jakarta, lalu bertahun-tahun kemudian ke Kapuas, ke tanah transmigrasi lahan gambut sejuta hektar yang bahkan tak terbayang oleh Sinox seperti apa rupanya, Akang pergi tanpa pamit. Tanpa sepatah kata. Tanpa kesempatan untuk Sinox mempertahankannya, atau setidaknya mengucapkan selamat tinggal.
Sinox remaja saat itu hancur.
Hatinya hancur berkeping-keping, meski ia sendiri tidak sepenuhnya mengerti mengapa. Apakah itu cinta? Apakah itu kehilangan? Apakah itu hanya rasa kecewa karena seseorang yang ia anggap sebagai tempat aman tiba-tiba menghilang?
Ia tak tahu. Yang ia tahu, nama Akang Riyadi terpatri di sudut hatinya yang paling dalam. Dan selama tiga puluh tahun, ia membiarkan nama itu tertidur. Tidak diganggu, tidak disentuh, tidak dikenang sengaja.
Sampai malam ini.
Tanpa sebab yang jelas, tanpa pemicu yang bisa ia jelaskan, tiba-tiba saja semua kenangan itu hidup kembali. Seperti album foto lama yang jatuh dari lemari dan terbuka dengan sendirinya di halaman yang paling sering ia hindari.
Kenapa sekarang? batinnya. Setelah tiga puluh tahun? Setelah aku punya suami? Setelah aku punya tiga anak?
Anak pertama perempuan, kini sedang kuliah di kota. Anak kedua, Rahman, mondok di pesantren Aliah. Anak ketiga, Eko, yang masih duduk di Mts di desanya dan sebentar lagi akan disunat. Semua berjalan normal. Semua baik-baik saja.
Lalu kenapa gelisah ini tidak pergi?
Sinox bangkit dari tempat tidur. Perlahan, agar tidak membangunkan Mas Sarif, ia meraih ponselnya dari atas meja kayu di samping tempat tidur. Layar ponsel menyala redup di kegelapan. Jari-jarinya bergerak tanpa rencana yang jelas.
Membuka Facebook. Menggulir perlahan.
Tidak ada.
Mencoba Instagram. Mengetik nama yang sama di kolom pencarian.
Tidak ada.
"Akang Riyadi... di mana kamu sekarang?" bisiknya.
Yang ia tahu, Akang tinggal di daerah Kapuas. Eks Transmigrasi Lahan Gambut Sejuta Hektar. Tapi desa apa? Alamat apa? Nomor telepon apa? Sinox tidak punya satu pun. Yang ia miliki hanyalah nama, kenangan, dan gelisah yang semakin menjadi-jadi.
Di saat yang sama, ribuan kilometer dari Tegorejo, di sebuah desa transmigrasi di Kapuas yang sudah menjadi desa definitif, seorang laki-laki juga terbangun di tengah malam.
Akang Riyadi. Usianya lima puluh satu tahun. Wajahnya kini lebih kasar karena angin gambut dan panasnya lahan transmigrasi. Rambutnya mulai memutih di pelipis. Namun matanya, masih teduh itu.
Ia duduk di beranda rumah panggungnya, menatap gelapnya hutan karet yang membatasi perkampungan dengan tanah gambut yang dalam. Sepi. Hanya suara jangkrik dan sesekali suara burung hantu.
Di tangannya, ponsel tua dengan layar agak retak di sudut kanan.
"Sinox Yanti," gumamnya lirih.
Dia juga sedang mencari.
Sejak sore tadi, ia membuka Facebook. Mencari nama yang tiga puluh tahun lalu sering ia panggil dengan nada bercanda, Nox, Nox, jangan nakal. Dulu Sinox cerewet dan manja, tapi cerdas. Sangat cerdas. Dan Akang, yang pendiam, yang lebih suka mendengar daripada berbicara, menikmati setiap ocehan Sinox seolah itu adalah musik terindah di dunia.
Akang menggulir layar. Mencari profil. Memeriksa teman-teman yang mungkin masih terhubung dengan Sinox. Hingga akhirnya, jari Akang berhenti.
Sebuah foto profil. Seorang perempuan paruh baya dengan senyum yang samar-samar ia kenali.
Sinox Yanti.
Bukan foto terbaru mungkin, karena profil itu terlihat sudah lama tidak diperbarui. Tapi fitur wajahnya, bentuk matanya, cara ia tersenyum, masih sama. Hanya lebih matang. Lebih dewasa. Tapi tetap Sinox.
Akang hampir menekan tombol Message. Tapi urung.
Tidak aktif. Mungkin nomornya sudah berganti. Mungkin dia tidak akan pernah membaca pesan ini.
Maka ia pun mengubah strategi. Mulai mencari teman-teman yang sama-sama mereka kenal. Seseorang yang mungkin masih memiliki kontak Sinox. Butuh waktu berjam-jam. Namun pada akhirnya, setelah meyakinkan seorang teman lama lewat Messenger bahwa ia benar-benar Akang Riyadi dari Kapuas, teman itu memberi kabar pada Sinox.
"Ada seseorang bernama Akang Riyadi mencari kamu. Dari Kapuas."
Sinox hampir menjatuhkan ponselnya saat membaca pesan itu. Tangannya gemetar. Dadanya sesak. Ia tidak tahu harus menangis atau tertawa. Selama tiga puluh tahun dia mendiamkan nama itu, dan malam ini, di malam yang gelisah yang sama, takdir seolah berkata: Kamu tidak bisa terus lari.
Nomor ponsel Akang diberikan kepadanya. Dan dengan napas yang terengah-engah, tanpa memberi kesempatan pada akal sehatnya untuk memprotes, Sinox membuka WhatsApp.
Jari-jarinya mengetik. Menyimpan nomor itu. Lalu ia menekan tombol hijau.
Telepon.
Belum sempat satu kali pun nada panggil berbunyi, sambungan telah terbuka.
Seakan Akang juga sedang menunggu.
Suara itu. Suara yang sama tapi berbeda. Berat, sedikit serak karena usia, tapi intonasinya, cara dia mengucapkan kata "Halo", sama persis.
"Halo... Sinox?"
Dan Sinox hanya bisa terdiam, air mata mengalir di pipinya yang mulai keriput, sementara di luar jendela desa Tegorejo, bulan purnama bersinar terang seolah menjadi saksi bisu bahwa malam ini, setelah tiga puluh tahun, untaian rindu dari surga mulai terurai.
BAB II
Jejak di Media Sosial
Panggilan telepon itu berlangsung lebih dari dua jam.
Sinox tidak tahu bagaimana ia bisa berbicara selama itu. Biasanya, telepon dengan Mas Sarif pun jarang melebihi lima menit, kecuali ada urusan anak atau acara keluarga. Tapi malam ini, kata-kata mengalir begitu saja dari mulutnya, seperti air sungai yang telah lama dibendung, kini meluap tanpa bisa ditahan lagi.
"Akang, kamu masih ingat sepeda ontel itu?" tanya Sinox di tengah percakapan, suaranya setengah berbisik karena Mas Sarif masih tidur di sampingnya.
"Sepeda biru yang bannya bocor terus?" suara Akang terdengar tersenyum di seberang sana. "Kamu selalu bilang mau boncengin aku, padahal kakimu hampir tidak menggapai pedal."
"Tapi aku kuat, kan?" Sinox terkekeh pelan. "Aku yang boncengin kamu. Bukan kamu yang boncengin aku."
"Kuat sih. Tapi kami hampir masuk sawah dua kali."
Mereka tertawa bersamaan. Tawa yang sama seperti tiga puluh tahun lalu. Dan di sela-sela tawa itu, Sinox merasakan sesuatu yang ganjil di dadanya. Seperti ada luka lama yang mulai terkelupas keraknya, tapi belum sempat mengering dengan sempurna.
"Akang, kenapa dulu kamu pergi tanpa pamit?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja. Sinox sendiri terkejut mendengar suaranya sendiri. Ia bermaksud menahan pertanyaan itu setidaknya sampai beberapa hari ke depan, sampai ia cukup kuat untuk mendengar jawabannya. Tapi malam ini, di tengah gelisah yang tidak reda-reda, pertanyaan itu lolos dari sela-sela hatinya yang paling rapuh.
Diam.
Akang diam cukup lama. Sinox bisa mendengar suara napasnya yang memburu di seberang sana. Mungkin Akang sedang mengumpulkan kata-kata. Atau mungkin, seperti Sinox sendiri, ia juga sedang menahan sesuatu yang sudah terlalu lama ditahan.
"Aku tidak punya pilihan, Nox," akhirnya Akang bicara. Suaranya berbeda. Lebih berat. Lebih dalam. Seperti ada beban yang ia pikul selama tiga puluh tahun dan baru malam ini ia letakkan sejenak. "Keluarga kami tidak mampu saat itu. Ayah sakit-sakitan. Ibu hanya buruh tani. Aku harus bekerja. Harus merantau. Dan jika aku pamit..." Ia berhenti. Menelan ludah. "Jika aku pamit, aku takut tidak bisa pergi."
Sinox menutup mulutnya dengan tangannya. Dadanya terasa sesak. Bukan sesak karena marah, bukan juga karena kecewa. Tapi sesak karena baru sekarang, setelah tiga puluh tahun, ia mengerti bahwa kepergian Akang bukan karena ia lalai atau tidak peduli. Justru sebaliknya. Akang pergi karena ia peduli terlalu dalam, dan tidak tahu cara mengatakannya.
"Aku mencarimu, Akang," bisik Sinox, air matanya mulai menggenang. "Setelah kamu pergi, aku mencari kabar. Bertanya pada teman-temanmu. Tapi tidak ada yang tahu. Kamu benar-benar menghilang."
"Karena aku ingin menghilang, Nox. Saat itu aku merasa tidak pantas. Untuk siapa pun. Termasuk kamu."
Kalimat itu menggantung di udara. Berat. Bermakna ganda. Sinox ingin bertanya lebih jauh. Ingin menggali apa maksud kata termasuk kamu. Apakah itu berarti Akang menyimpan rasa untuknya? Atau hanya perasaan tidak berharga seorang anak muda yang hidup dalam tekanan ekonomi?
Tapi malam itu, Sinox tidak bertanya.
Karena ia takut pada jawabannya.
Pagi yang Berbeda
Sinox bangun pukul setengah lima, seperti biasa. Namun ada yang berbeda pagi ini. Biasanya ia bergerak gesit, menggoreng telur, memanaskan nasi, menyiapkan bekal untuk Eko. Tapi pagi ini ia terduduk di tepi tempat tidur cukup lama, memandangi ponselnya yang tergeletak di atas bantal.
Apakah semuanya benar terjadi? Apakah aku benar-benar berbicara dengan Akang tadi malam? Atau itu hanya mimpi basah seorang perempuan paruh baya yang terlalu lama memendam rindu?
Ia mengangkat ponsel. Membuka WhatsApp. Dan di sana, di daftar chat terbaru, tertulis sebuah nama:
Akang Riyadi
Terakhir online 02.47
Sinox tidak tahu harus tersenyum atau menangis. Ia memilih keduanya. Tersenyum sambil meneteskan air mata, lalu menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangan.
"Ya Allah... ini benar-benar terjadi."
"Terjadi apa?"
Suara Mas Sarif di belakangnya membuat Sinox tersentak. Ia cepat-cepat menyimpan ponselnya di saku kain batik yang ia kenakan. Berpura-pura merapikan ujung sarung yang tidak berantakan.
"Eh, nggak, Mas. Cuma... cuma tadi kurang tidur."
Mas Sarif mengernyit. Matanya yang masih sayu karena baru bangun tidur menatap Sinox dengan tatapan yang, meski tidak curiga, tetap membuat Sinox merasa tidak nyaman.
"Kurang tidur? Kamu tidur jam sembilan, Sin. Aku yang tidur setelah Isya, kamu sudah ngorok di sampingku."
"Aku ngorok?" Sinox tertawa gugup. "Impossible, Mas. Aku tidak pernah ngorok."
"Tadi kamu ngorok."
"Tidak."
"Iya."
"Tidak, Mas."
Mas Sarif terkekeh, lalu beranjak menuju kamar mandi. Sinox menarik napas lega. Tapi rasa lega itu hanya bertahan sebentar, karena di dalam dadanya, gelisah semalam belum benar-benar pergi. Ia hanya menundanya. Menyimpannya sebentar di lemari hati yang paling rapat.
Sementara di seberang sana, di Kapuas yang lembab dan berasap tipis karena lahan gambut, Akang Riyadi juga menghadapi pagi yang berbeda.
Desa Transmigrasi Eks PLG
Desa tempat Akang Riyadi tinggal bukanlah desa biasa. Dulu, puluhan tahun lalu, tempat ini masih berupa hutan gambut yang dalam, rawa-rawa, dan lahan yang belum tersentuh tangan manusia. Pemerintah membuka lahan transmigrasi seluas sejuta hektar, sebuah proyek ambisius yang mengundang ribuan keluarga dari Pulau Jawa untuk mengadu nasib di tanah Kalimantan.
Akang datang ke sini bukan karena transmigrasi resmi. Ia datang karena nasib. Setelah bertahun-tahun merantau di Jakarta, menjadi kuli bangunan, menjadi satpam malam, menjadi apa saja yang penting bisa makan, ia akhirnya diajak oleh temannya untuk mencoba peruntungan di Kapuas. Lahan gambut, sawit, karet, dan kehidupan yang keras namun menjanjikan.
Saat ini, Akang menjabat sebagai perangkat desa. Sekretaris desa, tepatnya. Pekerjaan yang cukup terhormat untuk ukuran desa transmigrasi. Bahkan putra keduanya, Iwan, bekerja sebagai staf di kantor desa yang sama, membantu ayahnya mengurus administrasi dan pelayanan warga.
Anak pertama Akang, Anto, sudah menikah enam tahun lalu. Ia tinggal tidak jauh dari rumah orang tuanya, membuka warung kelontong kecil-kecilan. Dan anak ketiganya, Raha, masih duduk di bangku kelas VIII SMPN Mantangai. Seorang remaja pendiam seperti ayahnya, namun lebih cerewet jika sedang bersama teman-temannya.
Istri Akang, Setya Ningsih, adalah perempuan asli Kapuas. Bukan keturunan transmigran. Rambutnya panjang dan hitam pekat, kulitnya sawo matang karena terbiasa bekerja di kebun karet. Dia bukan perempuan yang banyak bicara, tapi matanya tajam. Sangat tajam. Seperti pisau yang bisa mengupas kulit bawang tanpa merobek dagingnya.
Dan pagi itu, mata tajam itu menatap suaminya dengan intensitas yang tidak biasa.
"Mas, tadi malam kamu ke mana?"
Akang yang sedang menyeduh kopi di dapur mendongak. "Ke mana maksudmu? Tidur di kamar."
"Tidak. Aku bangun jam dua. Kamu tidak ada di sampingku."
"Ah, itu... aku kegerahan. Duduk di beranda sebentar."
Setya Ningsih tidak berbicara. Ia hanya menatap. Diam-diam, matanya beralih ke ponsel Akang yang tergeletak di atas meja makan. Layar ponsel itu menyala sebentar, ada notifikasi WhatsApp masuk.
Dan Setya Ningsih melihat namanya.
Sinox Yanti.
Bukan nama yang ia kenal. Bukan nama yang pernah disebut suaminya selama puluhan tahun menikah. Tapi ada sesuatu dari nama itu, mungkin cara Akang menyimpannya, mungkin cara notifikasi itu muncul, yang membuat Setya Ningsih merasa ada sesuatu yang tidak beres.
"Sinox Yanti itu siapa, Mas?"
Akang berhenti menyeduh kopi. Tangannya menggantung di udara. Ia tidak menoleh ke belakang, tapi dadanya berdebar tidak karuan.
"Teman lama. Dari zaman masih di Jawa."
"Teman lama?" Setya Ningsih mengulangi kata itu dengan intonasi yang aneh. Bukan marah. Belum marah. Tapi seperti kucing yang mulai mengendus ikan di dapur orang. "Teman lama yang menghubungi jam dua malam?"
"Dia tidak menghubungi. Aku yang tadi tidak bisa tidur, lalu iseng membuka HP. Dia kebetulan online."
Dusta kecil yang dilontarkan Akang terasa berduri di lidahnya. Ia tidak pernah berbohong pada Setya Ningsih. Bukan karena takut, tapi karena ia menghormati istrinya itu. Namun malam tadi, saat Sinox menelepon, Setya sedang tidur nyenyak. Dan Akang memilih untuk tidak membangunkannya. Lalu memilih pergi ke beranda. Lalu memilih untuk berbicara berjam-jam.
Dan sekarang, ia memilih untuk berbohong.
Hanya untuk melindungi perasaan istriku, batinnya. Bukan karena aku bersembunyi.
Tapi di lubuk hatinya yang paling jujur, Akang tahu: ia bersembunyi. Karena ia tidak yakin apakah hubungannya dengan Sinox, yang baru pulih semalam, adalah sesuatu yang bisa ia jelaskan pada Setya Ningsih.
"Oh," Setya Ningsih bergumam datar. "Teman lama."
Ia beranjak dari meja makan, mengambil piring dan mangkuk, lalu mencuci piring semalam yang belum sempat dibersihkan. Akang masih berdiri di dapur dengan kopi di tangan, tapi tidak ada satu teguk pun yang ia minum.
Dari balik punggung istrinya, Akang bisa melihat bagaimana gerakan Setya Ningsih tiba-tiba menjadi lebih kasar dari biasanya. Bukan marah. Belum. Tapi sudah ada getaran kecil yang mengganggu air tenang rumah tangga mereka.
Siang yang Mencekam di Tegorejo
Sementara itu, di Desa Tegorejo, Sinox menghadapi perang batin yang tidak kalah mencekam.
Seusai mengajar di Mts Gringsing, lima jam pelajaran tentang fiqih dan akhlak yang nyaris tidak ia ingat satu kata pun yang ia sampaikan, Sinox pulang lebih awal. Biasanya ia mampir ke pasar atau mengobrol dengan guru-guru lain di ruang kantor. Tapi siang ini ia langsung melesat ke rumah.
Eko sudah pulang sekolah. Bocah kelas VIII Mts yang rambutnya mulai panjang dan suka protes jika disuruh potong rambut itu sedang bermain game di ponsel jadul miliknya.
"Nak, Bapak ke mana?"
"Ke sawah, Bu. Kata Pak Sarif tadi, mau ngairin padi. Sebentar lagi panen."
Sinox mengangguk lega. Mas Sarif tidak di rumah. Aku bisa bernapas sebentar.
Ia masuk ke kamar, mengunci pintu dari dalam, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Lalu duduk di tepi tempat tidur, menggenggam ponsel seperti menggenggam benda suci yang tidak berani ia lihat terlalu lama.
Ponselnya bergetar.
Akang Riyadi: Nox, kamu sudah pulang?
Jantung Sinox berdegup kencang. Jari-jarinya mengetik cepat, lalu dihapus, lalu diketik lagi, lalu dihapus lagi. Enam kali. Baru pada percobaan ketujuh ia mengirim balasan:
Iya, Akang. Baru sampai. Kamu?
Akang Riyadi: Lagi di kantor desa. Tapi pikiran ke mana-mana.
Ke mana?
Akang Riyadi: Kepikiran suaramu tadi malam.
Sinox menahan napas.
Suaraku kenapa?
Akang Riyadi: Masih sama. Masih cerewet. Masih manja. Tapi sekarang ada nada dewasa yang dulu tidak ada. Aneh kedengarannya. Tapi nyaman.
Sinox tersenyum. Senyum yang tidak ia sadari, senyum yang membuat wajahnya yang mulai berkeriput itu terlihat seperti gadis remaja lagi.
Kamu juga masih pendiam, Akang. Dulu kamu pendiam. Sekarang juga pendiam. Tapi kalau sudah bicara, langsung nyambung ke hati.
Akang Riyadi: Hati siapa?
Hati siapa ya? :)
Akang Riyadi: Jangan main-main, Nox. Aku sudah tua. Jantungku tidak sekuat dulu.
Sinox tertawa pelan. Tapi tawa itu segera sirna ketika dari balik pintu kamar, terdengar suara Mas Sarif.
"Sinox! Pintu kamar kenapa dikunci?"
Sinox panik. Ia langsung mematikan notifikasi WhatsApp, menyimpan ponsel di bawah bantal, lalu berjalan ke pintu dengan ekspresi yang ia usahakan senormal mungkin.
"Ah, Mas... tadi aku ganti baju. Lupa buka kuncinya."
Ia membuka pintu. Mas Sarif berdiri di ambang pintu dengan tubuh penuh lumpur, kotor karena baru dari sawah. Wajahnya berkeringat, namun matanya tetap tajam menatap Sinox.
"Ada apa, Mas?" tanya Sinox berusaha tenang.
"Kamu kenapa? Dari tadi pagi aku lihat kamu aneh. Biasanya kalau pulang ngajar kamu langsung masak. Ini kamu malah ngunci diri di kamar."
"Aku capek, Mas. Mana Eko minta ini itu terus."
Mas Sarif tidak menjawab. Ia hanya menatap istrinya lebih lama dari biasanya. Lalu tanpa berkata apa-apa, ia pergi ke belakang rumah untuk membersihkan diri.
Sinox menarik napas panjang. Tapi dadanya masih sesak. Bukan hanya karena hampir ketahuan, tapi karena ia sadar: sejak malam itu, ia mulai hidup dalam dua dunia.
Dunia nyata bersama Mas Sarif dan anak-anaknya.
Dan dunia digital bersama Akang Riyadi.
Dan kedua dunia itu, tanpa sepengetahuannya, sedang bergerak menuju tabrakan yang tidak bisa ia hindari.
Malam Kedua
Malam itu, tanpa saling berjanji, Akang dan Sinox kembali terhubung. Bukan telepon, tapi chat WhatsApp yang panjang. Mengalir seperti sungai yang tidak pernah kering.
Mereka membicarakan banyak hal. Tentang anak-anak, tentang pekerjaan, tentang desa masing-masing. Sinox bercerita tentang Tegorejo yang kini sudah lebih maju, jalan aspal, listrik masuk desa, anak-anak muda yang sekarang lebih suka main ponsel daripada main di sawah. Akang bercerita tentang Kapuas, tentang lahan gambut yang mudah terbakar di musim kemarau, tentang warga transmigran yang keras kepala namun baik hati, tentang hutan karet yang menjadi sumber kehidupan mereka.
Tapi di antara semua percakapan ringan itu, ada satu topik yang kedua-duanya hindari dengan sengaja.
Perasaan.
Masa lalu yang belum selesai.
Cinta yang tidak pernah diakui.
Sinox tahu Akang menyembunyikan sesuatu. Akang juga tahu Sinox tidak sepenuhnya jujur. Tapi mereka membiarkan saja, karena mungkin, di usia yang tidak lagi muda ini, kejujuran penuh adalah sesuatu yang terlalu berat untuk dihadapi.
Akang, kamu tidur?
Akang Riyadi: Belum. Masih di sini.
Aku juga.
Akang Riyadi: Kita ini kenapa, Nox? Tua-tua begini malah tidak bisa tidur karena chattingan seperti ABG.
Aku tidak tahu, Akang. Mungkin kita memang belum selesai dengan masa lalu.
Akang Riyadi: Atau mungkin kita sedang memulai sesuatu yang baru?
Pertanyaan itu menggantung di udara. Menggantung di layar ponsel masing-masing. Menggantung di antara untaian rindu yang mulai terurai tanpa bisa dikendalikan.
Sinox tidak menjawab. Akang tidak memaksa.
Mereka hanya diam.
Tidak bisa tidur.
Dan di rumah masing-masing, di dua pulau yang berbeda, dua pasangan yang tidak bersalah, Mas Sarif dan Setya Ningsih, terbangun di tengah malam, mendapati orang yang mereka cintai sedang tersenyum sendiri di sudut ruangan, memandangi layar ponsel seperti papan pengumuman surga.
Di Balik Tirai yang Mulai Terbuka
Setya Ningsih tidak tidur.
Setelah suaminya pergi ke kamar mandi pada pukul setengah dua malam, dengan alasan perut mulas, Setya bangkit dari tempat tidur. Ia tahu Akang tidak mulas. Suaminya itu tidak pernah mulas kecuali jika makan pedas berlebihan. Dan hari ini tidak ada makanan pedas di dapurnya.
Ia mengintip dari balik pintu. Akang duduk di beranda, ponsel di tangan, layar menyala redup. Kadang tersenyum. Kadang mengetik. Kadang berhenti lama, seolah menunggu jawaban yang sangat ia nantikan.
Setya Ningsih kembali ke tempat tidur dengan hati yang tidak tenang.
Bukan cemburu.
Belum.
Tapi ada perasaan aneh di dadanya. Seperti ada sesuatu yang dirahasiakan darinya. Sesuatu yang melibatkan nama Sinox Yanti, nama yang pagi ini ia lihat di notifikasi ponsel suaminya.
"Teman lama," bisiknya sendiri. "Teman lama yang bikin suamiku begadang dan tersenyum sendiri."
Ia menggigit bibir bawahnya.
Di dalam dadanya, seekor ular kecil mulai merayap. Namanya curiga.
Dan ular itu tidak akan pergi sebelum ia menemukan kebenarannya.
BAB III
Foto Profil yang Membuka Kenangan
Sinox Yanti tidak pernah mengira bahwa sebuah foto bisa sekuat itu.
Bukan foto dengan komposisi sempurna. Bukan foto dengan lampu studio atau editan yang membuat seseorang terlihat sepuluh tahun lebih muda. Hanya foto biasa, diambil dengan kamera ponsel kualitas sedang, di ruang tamu rumahnya yang sederhana, dengan latar belakang lemari kayu jati tua dan jendela yang kusennya mulai lapuk.
Sinox mengenakan baju batik lengan panjang warna hijau tua dengan motif parang rusak yang mulai pudar di beberapa bagian. Rambutnya yang panjang diikat ke belakang dengan karet hitam biasa, beberapa helai terlepas dan jatuh di pelipis, memperlihatkan uban yang mulai banyak bermunculan. Senyumnya tidak lebar. Hanya setengah, dengan mata yang sedikit menyipit karena cahaya matahari sore yang masuk dari jendela.
Itu foto profil Facebook-nya.
Foto yang sudah lebih dari dua tahun tidak ia perbarui.
Foto yang bagi Sinox hanyalah formalitas, sebuah gambar kecil di pojok kanan atas akun media sosial yang jarang ia buka.
Tapi bagi Akang Riyadi, foto itu adalah pintu waktu.
Di Beranda Rumah Gambut
Kapuas, tiga malam setelah panggilan telepon pertama.
Akang Riyadi duduk di beranda rumah panggungnya sendirian. Pukul sebelas malam. Angin gambut bertiup pelan, membawa bau tanah asam dan dedaunan kering yang mengering sebelum waktunya. Rumah panggungnya terbuat dari kayu ulin, keras dan gelap seperti karakter orang-orang yang tinggal di tanah ini.
Istrinya, Setya Ningsih, sudah tidur sejak pukul sembilan. Biasanya Akang ikut tidur lebih awal, karena tubuhnya yang tidak muda lagi membutuhkan istirahat cukup sebelum berangkat ke kantor desa setiap pagi. Tapi tiga malam terakhir ini, Akang tidak bisa tidur sebelum tengah malam. Kadang sampai pukul satu, dua, bahkan tiga dini hari.
Bukan insomnia.
Bukan pekerjaan.
Bukan juga penyakit.
Tapi ponsel. Selalu ponsel.
Dan di ponsel itu, Akang membuka Facebook. Bukan untuk menggulir berita atau melihat video lucu. Ia kembali ke profil Sinox Yanti, ke foto profil yang sama, yang sudah ia lihat berkali-kali dalam tiga hari terakhir.
Kenapa foto ini? batinnya. Kenapa bukan foto lain?
Ia menggulir ke bawah. Melihat dinding Facebook Sinox yang sudah lama tidak diperbarui. Postingan terakhir adalah berbagi artikel tentang doa untuk keselamatan anak-anak saat ujian nasional, itu pun dari dua tahun lalu. Sebelumnya, foto makanan. Sebelumnya lagi, kutipan motivasi tentang ibu yang kuat.
Tidak ada yang istimewa.
Tidak ada yang menunjukkan bahwa perempuan ini adalah Sinox Yanti yang dulu ia kenal.
Tapi foto profil itu, foto batik hijau tua dengan senyum setengah dan rambut yang mulai memutih, entah kenapa berbicara banyak pada Akang.
Dia sudah tua, pikir Akang. Kita sama-sama sudah tua.
Tapi matanya... matanya masih sama.
Akang memperbesar foto itu. Jarinya menggesek layar hingga wajah Sinox memenuhi layar ponsel. Matanya, bulat dengan sedikit lipatan di ujung luar karena usia, memancarkan keteduhan yang sama seperti tiga puluh tahun lalu. Cara Sinox menatap kamera, seolah sedang menatap seseorang yang ia kenal baik, adalah cara yang dulu selalu membuat Akang merasa melihat.
Dia tidak berubah, bisik Akang dalam hati. Dia hanya menjadi versi dewasa dari dirinya.
Dan aku... aku merindukannya.
Itu pertama kalinya Akang mengakui pada dirinya sendiri. Selama tiga puluh tahun, rasa rindu itu ia kubur di bawah tumpukan alasan: aku harus fokus kerja, aku harus menghidupi keluarga, aku sudah punya istri, aku tidak boleh mengingat masa lalu.
Tapi malam ini, di beranda rumah panggung di tengah lahan gambut yang sepi, Akang membiarkan rasa rindu itu muncul ke permukaan.
Dan rasanya sakit.
Bukan sakit yang menusuk, tapi sakit yang tumpul, seperti gigitan semut yang terus menerus di sekujur dada. Tidak cukup kuat untuk membuatnya berteriak, tapi cukup kuat untuk membuatnya tidak bisa bernapas lega.
Tegorejo, Waktu yang Sama
Jarak ribuan kilometer tidak berarti apa-apa bagi kerinduan.
Di rumahnya yang sederhana di Desa Tegorejo, Sinox juga terbangun di tengah malam. Bukan karena mimpi buruk, tapi karena ia lupa mematikan notifikasi Facebook, dan sebuah suara ding dari ponselnya membangunkannya dari tidur ringan.
Ia mengucek mata. Layar ponsel menyala redup.
Notifikasi: Akang Riyadi membagikan sebuah kenangan bersamamu.
Sinox mengernyit. Ia membuka notifikasi itu. Akang telah membagikan sebuah unggahan lama, foto yang tidak pernah Sinox lihat sebelumnya. Foto itu berasal dari album teman mereka di masa SMP, seseorang yang memindai foto cetak lama ke Facebook.
Foto itu hitam putih, dengan pinggiran bergerigi karena sudah lama tersimpan di album fisik. Di foto itu, empat orang remaja berdiri di depan gerbang SMP Negeri I Pegandon. Dua laki-laki, dua perempuan. Mereka tertawa. Seragam putih abu-abu kusut, rambut yang tidak rapi, dan sepatu yang bolong di bagian jempol.
Sinox langsung mengenali dirinya di foto itu. Ia yang paling kecil di antara mereka, berdiri di paling kiri dengan rambut yang dipotong pendek ala anak tomboi. Pipinya masih chubby, giginya masih lengkap dengan kawat di dua gigi depan, yang dulu membuatnya malu luar biasa.
Dan di sebelahnya, tepat di samping kanannya, berdiri Akang Riyadi.
Akang saat itu masih berusia tujuh belas tahun. Tinggi, kurus, dengan rambut yang tidak pernah rapi karena terlalu malas menyisir. Ia tersenyum tipis, senyum khasnya yang tidak lebar namun hangat. Tangannya sedikit menggenggam ujung tas selempang yang melintang di dada.
Dulu Akang selalu di sebelah kananku, kenang Sinox. Selalu. Di setiap foto, di setiap kegiatan, di setiap perjalanan.
Bahkan saat tidak ada kamera, Akang selalu ada di sebelah kananku.
Sinox menggenggam ponselnya lebih erat. Perasaannya campur aduk. Rindu, haru, sedih, dan rasa bersalah karena ia menikmati semua ini diam-diam di balik punggung Mas Sarif.
Tapi ia tidak bisa berhenti.
Seperti pecandu yang tahu dirinya sedang tenggelam, Sinox tetap melanjutkan. Jarinya bergerak membuka kolom komentar di unggahan Akang.
Akang Riyadi: "Kenangan tiga puluh tahun lalu. Kita di sini masih polos, masih punya mimpi. Tidak ada yang tahu kalau hidup akan sekeras ini. Tidak ada yang tahu kalau waktu akan secepat ini. Sinox Yanti, kamu masih ingat hari itu?"
Sinox mengetik. Tangannya bergetar.
Sinox Yanti: "Aku ingat, Akang. Itu hari setelah lomba karate. Kita kalah. Kamu bilang, 'Tidak apa-apa, kalah itu biasa. Yang penting tidak menyerah.' Lalu kita foto di depan gerbang. Aku tidak pernah lupa kalimat itu."
Dua menit kemudian, ponsel Sinox bergetar. Chat WhatsApp dari Akang.
Akang Riyadi: Kamu juga tidak tidur?
Sinox tersenyum getir.
Aku juga tidak bisa tidur sejak malam pertama kita bicara. Rumahku terasa pengap. Pikiranku terasa kacau. Dan semua karena dirimu, Akang. Semua karena dirimu.
Tapi yang ia ketik hanya:
Iya. Kamu juga?
Akang Riyadi: Lihat foto tadi. Jadi tidak bisa tidur.
Foto yang mana?
Akang Riyadi: Foto di Facebook. Foto lama. Foto yang membuatku sadar bahwa waktu berlalu tanpa permisi.
Kita sudah tua, Akang.
Akang Riyadi: Tapi rindu ini tidak tua, Nox. Rindu ini masih seperti tiga puluh tahun lalu.
Sinox berhenti. Dadanya sesak. Kata-kata Akang menusuk tepat di sela-sela tulang rusuknya, masuk ke jantung, lalu berdenyut di sana.
Jangan, Akang. Jangan memulai sesuatu yang tidak bisa kita selesaikan.
Tapi ia tidak mengetik itu.
Ia hanya mengetik:
Kita bicara besok, Akang. Aku harus tidur. Mas Sarif bisa bangun kapan saja.
Akang Riyadi: Iya. Selamat malam, Nox. Jaga kesehatan.
Kamu juga.
Pagi yang Penuh Tanya
Pagi itu, Setya Ningsih tidak bertanya.
Ia sudah bangun lebih dulu dari Akang, sesuatu yang jarang terjadi. Biasanya Akang yang bangun paling pagi, menyiapkan air panas untuk kopi, lalu membersihkan halaman rumah dari daun-daun kering yang berguguran.
Tapi pagi ini, Setya Ningsih bangun pukul setengah lima dan mendapati suaminya masih terbaring di tempat tidur. Ponsel Akang tergeletak di atas bantal, sesuatu yang tidak pernah terjadi. Akang selalu menyimpan ponselnya di meja kecil sebelum tidur. Katanya, radiasi ponsel bisa mengganggu tidur.
Tapi tiga malam terakhir, Akang selalu tertidur sambil menggenggam ponselnya.
Setya Ningsih mengambil ponsel itu dengan hati-hati. Layar menyala saat ia menyentuhnya. WhatsApp masih terbuka.
Dan di layar itu, Setya membaca chat terakhir antara suaminya dan seseorang bernama Sinox Yanti.
Kita bicara besok, Akang. Aku harus tidur. Mas Sarif bisa bangun kapan saja.
Iya. Selamat malam, Nox. Jaga kesehatan.
Kamu juga.
Setya Ningsih membaca chat itu tiga kali. Lalu menaruh ponsel kembali di atas bantal dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah ponsel itu adalah bom yang bisa meledak kapan saja.
Ia pergi ke dapur. Menyalakan api kompor. Merebus air.
Tangannya tidak gemetar. Matanya tidak basah.
Tapi di dalam dadanya, ular curiga itu mulai membelit lebih erat.
Nox, pikir Setya Ningsih. Dia memanggilnya Nox. Bukan Yanti. Bukan Bu Sinox. Tapi Nox. Nama panggilan yang intim. Nama panggilan yang tidak sembarangan orang bisa menggunakannya.
Setya Ningsih menyesap air panas dari cangkirnya, tanpa kopi, tanpa gula. Pahit. Dan ia membiarkan rasa pahit itu mengalir di kerongkongannya.
Siapa kau, Sinox Yanti?
Dan mengapa kau muncul sekarang, setelah tiga puluh tahun, untuk mengusik ketenangan rumah tanggaku?
Saat Kenangan Menjadi Bom Waktu
Siang harinya, Sinox menerima pesan suara dari Akang di WhatsApp.
Akang Riyadi (pesan suara): "Nox, aku tadi pagi hampir ketahuan istri. Dia lihat ponselku saat aku tidur. Aku tidak tahu apakah dia membaca chat kita atau tidak. Tapi aku merasa dia mulai curiga. Mungkin kita harus... mungkin kita harus mengurangi frekuensi chat, ya? Cuma sementara. Sampai situasi tenang."
Sinox mendengarkan pesan itu dua kali. Lalu ia membalas dengan pesan suara juga, suaranya sedikit serak karena menahan perasaan yang campur aduk.
Sinox Yanti (pesan suara): "Iya, Akang. Kamu benar. Aku juga hampir ketahuan Mas Sarif kemarin. Dia bilang aku aneh. Mungkin memang kita harus lebih hati-hati. Tapi... jangan hilang lagi, Akang. Tolong jangan hilang lagi. Aku tidak akan kuat jika kamu hilang kedua kalinya."
Pesan suara itu terkirim.
Sinox menyesal sedetik setelahnya. Kenapa aku bilang begitu? Kenapa aku terlihat lemah? Kenapa aku memintanya untuk tidak pergi, seperti aku berhak memintanya?
Tapi pesan sudah terkirim. Dan tidak ada fitur hapus yang bisa menghapus perasaan di balik kata-kata itu.
Sore harinya, Akang membalas.
Bukan dengan pesan suara, tapi dengan satu kalimat pendek di chat.
Akang Riyadi: "Aku tidak akan pergi, Nox. Bukan lagi. Tidak setelah aku menemukanmu kembali."
Sinox membaca kalimat itu berulang kali. Matanya panas. Hidungnya tersumbat. Dan di ruang tamu rumahnya, saat Eko sedang bermain di teras dan Mas Sarif sedang tidur siang di kamar, Sinox menangis.
Bukan tangis bahagia.
Bukan juga tangis sedih.
Tangis lega.
Karena setelah tiga puluh tahun, akhirnya ada seseorang yang berjanji tidak akan meninggalkannya.
Meskipun janji itu datang dari laki-laki yang bukan suaminya.
Pertemuan yang Tertunda
Malam itu, tanpa sengaja, Sinox dan Akang kembali ke topik yang paling mereka hindari: foto profil.
Sinox Yanti: "Akang, kenapa kamu terus melihat foto profilku? Katamu tadi, kamu jadi tidak bisa tidur karena lihat fotoku. Apa istimewanya foto batik lusuh itu?"
Akang Riyadi: "Karena di foto itu, matamu bicara."
Sinox terdiam.
Akang Riyadi: "Matamu bilang, 'Aku masih di sini, Akang. Aku masih menunggu meskipun aku tidak tahu sedang menunggu apa.' Dan aku membalas, 'Aku juga di sini, Nox. Aku juga tidak tahu sedang menunggu apa. Tapi aku senang kita menunggu bersama.'"
Sinox menggigit bibirnya. Membaca kalimat itu berulang kali seperti mantra.
Dia masih puitis, batin Sinox. Dulu dia pendiam, tapi kalau menulis, selalu dalam. Sekarang juga sama.
Sinox Yanti: "Foto profilmu juga, Akang. Foto yang kamu pakai di WhatsApp. Kamu pakai foto di kantor desa, pakai kemeja batik lengan pendek. Di belakangmu ada peta desa. Senyummu setengah-setengah, seperti biasa. Tapi matamu... matamu bilang, 'Aku lelah, Nox. Tapi aku bertahan.'"
Akang Riyadi: "Kamu masih bisa membaca mataku?"
Sinox Yanti: "Aku bisa membaca matamu sejak tiga puluh tahun lalu, Akang. Itu sebabnya aku selalu berlindung padamu. Karena matamu tidak pernah berbohong."
Tidak ada balasan dari Akang selama lima menit. Sinox hampir mengira sinyalnya mati atau ponselnya error. Tapi akhirnya, satu pesan masuk.
Akang Riyadi: "Kalau begitu, kamu pasti tahu bahwa malam ini, mataku berkata: 'Aku merindukanmu, Nox. Bukan sebagai teman. Sebagai sesuatu yang lebih. Dan aku takut karena aku tidak boleh merasakan ini.'"
Sinox tidak membalas.
Ia hanya mematikan ponselnya, meletakkannya di atas meja dengan posisi layar menghadap ke bawah, lalu berbaring di samping Mas Sarif yang sudah tidur nyenyak.
Tapi hatinya, yang tidak bisa tidur, hanya bisa berbisik dalam gelap:
Aku juga, Akang. Aku juga merindukanmu. Dan aku juga takut.
Di Balik Layar yang Tidak Pernah Mati
Setya Ningsih tidak buta.
Sejak pagi, ia sudah memasang aplikasi pencatat notifikasi di ponsel suaminya, aplikasi yang ia unduh karena rasa penasarannya yang tidak terkendali. Setiap chat masuk, setiap pesan suara, setiap panggilan WhatsApp, semuanya tercatat.
Setya tahu ini salah. Tahu ini melanggar privasi. Tahu ini bisa menghancurkan kepercayaan dalam pernikahannya.
Tapi ular curiga di dadanya tidak peduli.
Dan malam itu, Setya membaca semua chat antara Akang dan Sinox.
Dari "Aku tidak akan pergi, Nox" hingga "Aku merindukanmu sebagai sesuatu yang lebih."
Setya Ningsih tidak menangis.
Ia hanya duduk di dapur, di kegelapan, tanpa menyalakan lampu. Tangannya memegang ponsel dengan genggaman yang keras.
Jadi ini siapa kau, Sinox Yanti.
Kau bukan teman lama. Kau adalah cinta lama suamiku yang tidak pernah mati.
Dan kau muncul sekarang, setelah tiga puluh tahun, setelah aku membantunya membangun rumah tangga ini, setelah aku memberinya tiga anak, untuk mengambilnya kembali?
Setya Ningsih berdiri.
Ia berjalan menuju kamar tidur. Akang sudah tertidur, ponsel masih di tangannya. Setya mengambil ponsel itu dengan hati-hati, lalu meletakkannya di atas lemari, jauh dari jangkauan Akang.
Kemudian ia berbaring di samping suaminya, menatap wajahnya dalam gelap.
Aku tidak akan kehilanganmu, Mas, bisiknya dalam hati. Bukan kepada perempuan itu. Bukan kepada siapa pun. Kamu milikku. Dan aku tidak akan melepaskannya.
Saat Bom Itu Mulai Berdetak
Sinox tidak tahu apa yang terjadi di rumah Akang malam itu.
Ia hanya merasakan ada yang tidak beres saat bangun pagi dan melihat ponselnya. Ada lima belas notifikasi dari grup WhatsApp sekolah, tiga dari tetangga yang meminjam uang, dan satu pesan dari Akang, dikirim pukul 3.47 dini hari.
Akang Riyadi: "Nox, istriku tahu. Dia membaca chat kita. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Tapi apapun yang terjadi, ingatlah: aku tidak akan pernah menyesal menemukanmu kembali. Kamu adalah bagian dari hidupku yang selama ini hilang. Dan sekarang kamu sudah kembali. Maaf jika ini membahayakanmu. Maaf jika ini membahayakan kami berdua. Tapi aku tidak bisa berpura-pura bahwa kamu tidak berarti."
Sinox membaca pesan itu. Membacanya lagi. Lalu membacanya sekali lagi.
Tangannya dingin.
Dadanya berdebar tidak karuan.
Dan untuk pertama kalinya sejak panggilan telepon pertama malam itu, Sinox merasakan ketakutan yang sesungguhnya.
Bukan ketakutan kehilangan Akang lagi.
Tapi ketakutan bahwa cinta masa lalu yang indah ini akan menghancurkan dua rumah tangga sekaligus.
Dan tidak ada yang bisa menghentikannya.
BAB IV
Nomor yang Mengubah Segalanya
Tiga puluh tahun.
Butuh tiga puluh tahun bagi sebuah nomor telepon untuk mengubah segalanya.
Sinox Yanti tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari nanti, sebuah deretan angka yang ia simpan di kontak ponsel dengan nama Akang Riyadi akan memiliki kekuatan sebesar itu. Bukan hanya untuk membangkitkan kenangan, tapi juga untuk meruntuhkan tembok-tembok yang selama ini ia bangun dengan susah payah. Tembok pernikahan. Tembok kesabaran. Tembok kepalsuan bahwa ia baik-baik saja tanpa jawaban atas pertanyaan yang selama tiga puluh tahun tidak pernah terjawab.
Mengapa Akang pergi tanpa pamit?
Apakah ia pernah mencintaiku?
Dan jika iya, mengapa ia tidak pernah mengatakannya?
Nomor itu, nomor yang diberikan oleh teman lama lewat Facebook, adalah kunci yang membuka peti mati masa lalu yang selama ini ia kira sudah terkubur dengan aman. Tapi peti itu tidak pernah benar-benar terkubur. Ia hanya ditutupi tanah tipis, dan sekarang, dengan satu sentuhan jari di layar ponsel, tanah itu tersapu, dan semua isi peti itu meledak ke permukaan dengan kekuatan yang hampir meruntuhkan kewarasannya.
Malam Sebelum Badai
Minggu kedua setelah pertemuan virtual mereka.
Sinox duduk di ruang tamu rumahnya, seorang diri. Eko sudah tidur sejak pukul delapan. Mas Sarif sedang di luar, menghadiri pengajian rutin malam Senin di rumah pak RT. Biasanya Sinox ikut, tapi malam ini ia mengeluh pusing.
Pusing yang sebenarnya tidak ia rasakan.
Hanya alasan. Alasan untuk duduk sendiri. Alasan untuk memegang ponselnya tanpa gangguan. Alasan untuk menunggu, meskipun ia sendiri tidak yakin sedang menunggu apa.
Ponselnya bergetar.
Akang Riyadi: Nox, kamu ada waktu?
Sinox menahan napas. Dadanya berdegup seperti ada burung yang berusaha keluar dari sangkar tulang rusuknya.
Ada, Akang. Mas Sarif keluar. Eko sudah tidur. Kenapa?
Akang Riyadi: Aku ingin menelepon. Aku perlu mendengar suaramu. Hari ini berat sekali di sini.
Berat kenapa?
Akang Riyadi: Istriku masih marah. Sejak dia tahu, dia tidak bicara padaku kecuali untuk urusan anak atau makan. Aku seperti tinggal dengan hantu.
Sinox membaca pesan itu berkali-kali. Rasa bersalah menjalari sekujur tubuhnya. Ini salahku. Jika aku tidak mencari Akang, jika aku tidak terlalu lemah untuk menahan rindu, mungkin dia tidak akan begini.
Tapi di sisi lain, ada suara lain di kepalanya, suara egois yang selalu ada sejak tiga puluh tahun lalu. Suara yang berbisik: Tapi kamu berhak tahu, Sinox. Kamu berhak mendapat jawaban. Kamu yang ditinggalkan tanpa pamit. Kamu yang bertahun-tahun bertanya-tanya. Kamu yang tidak pernah bisa move on sepenuhnya karena satu laki-laki itu tidak pernah memberi titik pada cerita kalian.
Sinox menghela napas. Lalu menekan tombol panggilan suara di WhatsApp.
Akang menjawab di nada ketiga.
"Nox."
"Akang."
Hanya itu. Hanya nama mereka yang disebut. Tapi di dalam kedua nama itu tersimpan segala sesuatu yang tidak pernah terucap selama tiga puluh tahun.
"Aku minta maaf," kata Sinox pelan, suaranya nyaris berbisik. "Aku yang memulai semuanya. Aku yang cari tahu nomormu. Aku yang telepon pertama kali. Kalau sampai rumah tanggamu terganggu, itu salahku."
"Bukan salah siapa pun, Nox." Suara Akang terdengar letih. Lebih letih dari biasanya. "Ini sudah takdir. Mungkin sudah waktunya kita menyelesaikan sesuatu yang tertunda."
"Tertunda?"
"Ya. Cerita kita."
Sinox diam. Kalimat itu terlalu berat. Cerita kita. Seolah-olah mereka memang memiliki sebuah cerita. Seolah-olah hubungan mereka dulu bukan sekadar persahabatan yang kelewat batas, tapi sebuah narasi yang belum selesai.
"Kita tidak punya cerita, Akang," kata Sinox akhirnya, suaranya pahit. "Kamu pergi tanpa pamit. Kamu meninggalkanku tanpa kabar selama tiga puluh tahun. Apa yang mau diselesaikan?"
"Kamu marah."
"Aku tidak marah. Aku hanya... lelah. Selama tiga puluh tahun aku bertanya-tanya. Dan sekarang kamu muncul, dan aku harus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja? Bahwa hatiku tidak hancur waktu itu?"
Diam panjang.
Lalu suara Akang, lebih pelan sekarang, hampir seperti bisikan, terdengar di seberang sana.
"Waktu itu aku pulang ke Tegorejo, Nox."
Sinox terkejut. "Apa?"
"Tahun 1995. Tiga tahun setelah aku pergi. Aku pulang ke Tegorejo. Aku ingin menemuimu. Aku ingin minta maaf. Tapi..."
"Tapi apa?"
"Ibu Ros, ibumu, bilang kamu sudah punya pacar. Laki-laki dari kota. Namanya Mas Nur. Katanya kamu serius. Dan ibu minta aku tidak usah muncul."
Sinox terdiam. Dadanya terasa ditekan batu besar.
"Aku tidak tahu, Akang. Ibu tidak pernah bilang."
"Karena aku minta dia tidak bilang. Aku pikir kau sudah bahagia. Kau sudah move on. Aku tidak punya hak merusak kebahagiaanmu hanya karena aku menyesal pergi."
Sinox menutup matanya. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Kau bodoh, Akang. Sangat bodoh."
"Aku tahu."
"Mas Nur dan aku tidak jadi. Tidak pernah serius. Dia hanya... dia hanya pelarian. Karena aku kecewa padamu. Karena kau pergi. Karena kau menghilang."
"Aku tidak tahu itu."
"Karena kau tidak bertanya. Kau tidak pernah bertanya, Akang. Kau hanya pergi. Kau hanya menghilang. Dan kau meninggalkanku dengan seribu pertanyaan yang tidak pernah terjawab sampai, sampai malam itu, saat aku menekan nomormu."
Akang tidak menjawab.
Tapi Sinox bisa mendengar napasnya yang memburu. Bisa mendengar isak tertahan di seberang sana. Laki-laki yang dulu ia anggap sekuat baja itu, sekarang menangis.
Dan untuk pertama kalinya, Sinox merasa tidak sendirian dalam rasa sakit ini.
Saat Kenangan Menjadi Nyata
Telepon itu berlangsung lebih lama dari yang seharusnya.
Mereka berbicara tentang banyak hal. Tentang tahun 1992, saat Sinox masih kelas I SMP dan Akang kelas 2 SMA. Tentang latihan karate di dojo kecil di belakang rumah pak RT, tempat mereka belajar menghormati lawan dan mengendalikan amarah. Tentang sepeda ontel biru yang selalu dipinjam Sinox, dan bagaimana Akang duduk di boncengan belakang sambil memegang pundak Sinox, dengan jantung yang berdebar setiap kali tangan Sinox menyentuh jari-jarinya.
"Kau tahu," kata Akang pelan, "setiap kali kau bonceng aku, aku selalu berdoa agar perjalanannya lebih lama. Agar kita tidak cepat sampai. Agar waktu berhenti sebentar."
Sinox tersenyum getir. "Aku juga."
"Apa?"
"Aku juga berdoa begitu, Akang. Tapi aku tidak pernah tahu kenapa. Aku pikir aku hanya senang punya teman. Tapi ternyata..."
"Ternyata?"
"Ternyata hatiku sudah lebih dulu tahu sebelum otakku menyadari."
Kalimat itu menggantung di udara.
Mereka berdua diam.
Dan di dalam diam itu, ada pengakuan yang tidak perlu diucapkan. Pengakuan bahwa tiga puluh tahun yang lalu, di antara latihan karate, sepeda ontel, dan curhatan malam, sebenarnya cinta telah tumbuh. Tapi mereka terlalu muda, terlalu takut, dan terlalu bodoh untuk menyadarinya.
Sekarang, di usia yang tidak lagi muda, mereka menyadari semuanya.
Tapi semuanya sudah terlambat.
Panggilan yang Tak Sengaja Terdengar
Di Kapuas, malam itu tidak seperti malam-malam sebelumnya.
Setya Ningsih tidak pergi ke pengajian. Ia bilang pada Akang ia mau tidur lebih awal karena pusing, alasan yang sama persis dengan alasan Sinox malam itu. Tapi Setya tidak tidur. Ia berbaring di kamar, di samping ponsel Akang yang tertinggal di atas kasur karena suaminya pergi ke dapur untuk mengambil air minum.
Setya tidak bermaksud menguping.
Tapi ketika ponsel Akang bergetar dan layar menyala, Setya melihat nama yang paling ia takuti: Sinox Yanti.
Bukan chat. Panggilan suara.
Setya mengangkatnya.
Bukan karena ingin. Tapi karena jari-jarinya bergerak sendiri, seperti ada kekuatan gaib yang mendorongnya untuk mengetahui kebenaran yang selama ini ia hindari.
"Akang."
"Nox."
Dua kata itu cukup.
Setya mendengar semuanya. Dari "Aku minta maaf" hingga "Kau bodoh, Akang. Sangat bodoh." Dari "Cerita kita" hingga "Aku juga berdoa begitu, Akang."
Setya mendengarkan sampai panggilan itu berakhir. Lalu ia meletakkan ponsel kembali di atas kasur, persis seperti posisi semula. Berbaring. Menutup mata.
Tapi di bawah kelopak matanya yang terpejam, dunia terasa runtuh.
Dia mencintai suamiku. Dan suamiku mencintainya.
Bukan sebagai teman. Tapi sebagai sesuatu yang lebih.
Dan cinta itu tidak pernah mati.
Setya Ningsih tidak menangis malam itu. Ia hanya menggigit bibirnya sampai berdarah, menahan teriakan yang tidak bisa ia keluarkan karena takut anak-anaknya terbangun.
Aku akan bertahan, pikirnya. Aku tidak akan menyerah. Suamiku tidak akan kuberikan pada perempuan itu.
Tapi di dalam hatinya, ada suara lain yang lebih jujur.
Tapi bagaimana jika suamiku sendiri yang memilih pergi?
Setya Ningsih memejamkan mata lebih erat, mengusir suara itu. Tapi suara itu tetap ada. Menggantung. Mengancam. Seperti badai yang belum datang, tapi sudah tercium baunya.
Tegorejo, Dini Hari
Pukul satu malam. Mas Sarif belum pulang dari pengajian, mungkin sedang ngobrol lama dengan teman-temannya, seperti biasa. Eko sudah tidur dengan mimpi yang mungkin lebih indah dari kehidupan orang tuanya.
Sinox masih terjaga. Ponsel di tangan. Chat dengan Akang belum ditutup.
Sinox Yanti: Aku harus tidur, Akang. Mas Sarif bisa pulang kapan saja.
Akang Riyadi: Iya. Aku juga. Nox...
Iya?
Akang Riyadi: Terima kasih sudah mau bicara jujur. Aku sudah tiga puluh tahun menyimpan semuanya sendiri. Malam ini rasanya... lega.
Sinox tersenyum. Air mata masih basah di pipinya.
Aku juga lega, Akang. Selamat malam.
Akang Riyadi: Selamat malam. Jangan lupa baca doa sebelum tidur.
Aku tidak akan lupa.
Akang Riyadi: Baca doa juga untukku.
Untuk apa?
Akang Riyadi: Agar aku bisa ikhlas jika suatu hari nanti kita harus berhenti.
Sinox tidak membalas.
Ia hanya mematikan ponsel, berbaring di atas kasur, dan menatap gelapnya langit-langit kamar.
Bagaimana caranya ikhlas, Akang? batinnya. Jika aku saja belum pernah benar-benar memulai?
Perubahan Kecil yang Tidak Terlihat
Mas Sarif pulang pukul setengah dua.
Rumah gelap. Sinox sudah berbaring dengan posisi menyamping, membelakangi pintu. Mas Sarif mengira istrinya tidur. Ia berganti pakaian dengan hati-hati agar tidak berisik, lalu merebahkan diri di sisi tempat tidur yang kosong.
Tapi Mas Sarif tidak tidur.
Matanya terbuka lebar di kegelapan.
Karena saat ia masuk tadi, saat ia melewati ruang tamu, ia melihat ponsel istrinya menyala sebentar. Sebuah notifikasi WhatsApp masuk. Dan Mas Sarif membaca nama pengirimnya.
Akang Riyadi.
Mas Sarif tidak tahu siapa itu. Tapi nada notifikasi yang Sinox atur khusus untuk kontak itu, nada yang berbeda dari nada biasanya, membuat Mas Sarif bertanya-tanya.
Siapa Akang Riyadi?
Mengapa istriku membedakan notifikasinya?
Dan mengapa, di tengah malam buta begini, seseorang masih mengirim pesan pada istriku?
Mas Sarif tidak bertanya malam itu. Ia terlalu lelah. Atau mungkin terlalu takut dengan jawabannya.
Tapi di dalam dadanya, seekor ular lain mulai merayap. Ular bernama prasangka.
Dan ular itu, tidak seperti ular curiga yang merayap di dada Setya Ningsih, memiliki bisa yang lebih mematikan. Karena prasangka tidak butuh bukti. Prasangka hanya butuh satu notifikasi, satu nama asing, dan satu malam yang terlalu sunyi.
Nomor Itu
Sinox tidak pernah membayangkan bahwa satu nomor telepon bisa mengubah hidupnya sebegini dramatis.
Nomor itu, yang ia simpan di kontak ponsel dengan ikon hati kecil di samping nama Akang Riyadi, adalah pusat dari segalanya. Pusat rasa rindu yang membuncah. Pusat rasa bersalah yang menggerogoti. Pusat kebahagiaan yang terlarang. Pusat kehancuran yang perlahan tapi pasti meruntuhkan fondasi rumah tangganya.
Tapi Sinox tidak bisa menghapus nomor itu.
Bukan karena ia tidak mau. Tapi karena menghapus nomor itu berarti menghapus bagian terpenting dari dirinya yang selama tiga puluh tahun ia kira sudah mati. Padahal tidak pernah mati. Hanya tidur. Dan sekarang, dengan satu panggilan telepon, ia terbangun dengan kekuatan yang luar biasa.
Mungkin ini ujian, pikir Sinox. Mungkin Tuhan mempertemukan kami kembali bukan untuk bersatu, tapi untuk melepaskan.
Tapi bagaimana cara melepaskan sesuatu yang tidak pernah benar-benar dimiliki?
Sinox tidak tahu.
Yang ia tahu, malam itu, saat Mas Sarif tidur di sampingnya dengan wajah yang mulai lelah dan ponselnya bergetar dengan nama Akang Riyadi di layar, Sinox Yanti berdoa.
Bukan doa panjang dengan bahasa Arab yang indah.
Tapi doa pendek yang keluar dari hati yang paling jujur.
Ya Allah, jika Akang adalah cinta yang tidak halal untukku, cabutlah rasa ini dari hatiku. Namun jika ia adalah ujian, berikan aku kekuatan. Dan jika ia adalah rahmat, tolong tunjukkan aku bagaimana cara menyikapi rahmat tanpa menghancurkan apa yang sudah aku bangun selama ini.
Ponselnya bergetar sekali lagi.
Sinox tidak membukanya.
Ia hanya berbaring, memejamkan mata, dan membiarkan air mata merembes pelan di sudut matanya.
Karena dia tahu, meskipun belum sepenuhnya, bahwa nomor itu bukan hanya mengubah hidupnya.
Tapi juga akan mengubah hidup orang-orang yang ia cintai.
Dan tidak ada yang bisa menghentikannya sekarang.
BAB V
Percakapan Tengah Malam
Malam adalah saat yang paling jujur bagi mereka yang takut pada siang.
Karena di bawah gelapnya langit dan sunyi yang menyelimuti desa, semua topeng jatuh. Semua kepura-puraan lenyap. Yang tersisa hanyalah suara, napas, dan getaran suara yang merambat dari satu ponsel ke ponsel lain, melintasi lautan, melintasi pulau, melintasi tiga puluh tahun waktu yang terbuang sia-sia.
Inilah percakapan tengah malam yang membuka luka lama sekaligus mengobatinya. Inilah percakapan yang membuat Akang Riyadi dan Sinox Yanti sadar bahwa persahabatan mereka dulu bukan hanya persahabatan. Bahwa cinta yang tidak pernah mereka akui ternyata lebih besar dari apa yang mereka kira.
Inilah percakapan yang, tanpa mereka sadari, sedang meracuni dan menyembuhkan mereka secara bersamaan.
Malam Kesembilan
Kapuas, pukul 23.47.
Akang Riyadi duduk di beranda rumah panggungnya. Lampu luar rumah sengaja ia matikan. Yang tersisa hanyalah cahaya ponsel yang menerangi wajahnya yang mulai dipenuhi kerutan usia. Di luar, suara jangkrik dan katak sawah bersahutan, menciptakan simfoni alam yang mengiringi kesendiriannya.
Setya Ningsih sudah tidur. Atau pura-pura tidur. Akang tidak pernah tahu lagi. Dalam satu minggu terakhir, istrinya itu menjadi seperti patung hidup. Bicara seperlunya, hanya untuk urusan makan dan anak. Tidak ada tawa. Tidak ada gurauan. Tidak ada sentuhan lembut yang dulu selalu Setya berikan saat Akang pulang lelah dari kantor desa.
Kami seperti orang asing yang tinggal serumah, pikir Akang.
Dan di sinilah letak ironinya. Semakin dingin rumahnya, semakin hangat chat-nya dengan Sinox. Semakin jauh istrinya, semakin dekat ia dengan bayangan masa lalu. Seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan.
Ponselnya bergetar.
Sinox Yanti: Akang, kamu masih bangun?
Akang tersenyum getir. Sudah sembilan malam berturut-turut Sinox menanyakan hal yang sama. Seolah ia takut Akang akan menghilang lagi jika ia tidak memastikannya setiap malam.
Akang Riyadi: Masih. Kamu kenapa belum tidur?
Sinox Yanti: Tidak bisa tidur. Rasanya ada yang mengganjal di dada.
Akang Riyadi: Apa?
Sinox Yanti: Perasaan bersalah. Setiap kali kita bicara, aku merasa bersalah pada Mas Sarif. Tapi jika kita tidak bicara, aku merasa sesak. Dilema yang tidak masuk akal.
Akang membaca pesan itu berulang kali. Ia memahami setiap kata. Karena ia juga merasakan hal yang sama setiap malam. Setiap kali ia membuka WhatsApp, setiap kali jarinya mengetik nama Sinox, setiap kali suara Sinox terdengar di panggilan suara, ada rasa bersalah yang menjalari sekujur tubuhnya. Tapi rasa bersalah itu selalu kalah oleh rasa rindu yang lebih besar.
Akang Riyadi: Kita tidak salah, Nox. Kita hanya... menyelesaikan sesuatu yang tertunda.
Sinox Yanti: Apakah kita yakin ini bukan awal dari sesuatu yang baru?
Pertanyaan itu menusuk.
Akang terdiam cukup lama. Jarinya menggantung di atas layar ponsel, tidak tahu harus mengetik apa. Karena sejujurnya, ia juga tidak tahu. Apakah yang mereka lakukan ini sekadar "penyelesaian masa lalu"? Atau, jujur pada diri sendiri, apakah ini adalah awal dari sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang dilarang, sesuatu yang bisa menghancurkan dua keluarga sekaligus?
Akang Riyadi: Aku tidak tahu, Nox. Yang aku tahu, aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Sinox Yanti: Memikirkan apa?
Akang Riyadi: Memikirkan kamu. Bukan kamu yang sekarang saja. Tapi kamu yang dulu. Gadis kecil yang selalu cerewet dan manja itu. Yang selalu curhat tentang Mas Nur. Yang naik sepeda ontel sambil membonceng aku di belakang. Yang menangis di pundakku saat kalah lomba karate.
Sinox tidak membalas selama beberapa menit.
Lalu:
Sinox Yanti: Kamu masih ingat semua itu?
Akang Riyadi: Aku mengingat setiap detiknya, Nox. Seperti itu terjadi kemarin.
Sinox Yanti: Kenapa?
Akang Riyadi: Karena saat itu adalah masa-masa terindah dalam hidupku. Dan karena saat itu aku dekat denganmu. Sangat dekat.
Tentang Mas Nur
Sinox tidak tahu mengapa malam itu ia memutuskan untuk membuka luka yang paling dalam.
Mungkin karena kegelapan membuatnya berani. Mungkin karena suara Akang di seberang sana membuatnya merasa aman. Atau mungkin, mungkin karena sudah waktunya.
"Akang, aku ingin cerita tentang Mas Nur."
Diam sejenak di seberang sana. Lalu suara Akang yang pelan, nyaris berbisik.
"Cerita apa, Nox?"
"Cerita yang tidak pernah aku ceritakan pada siapa pun. Tentang cinta pertamaku yang penuh misteri dan konflik. Tentang betapa sakitnya saat itu. Tentang bagaimana, pada saat paling hancurnya aku, hanya kamu yang ada di sana."
Akang tidak menjawab. Ia hanya mendengarkan.
Dan Sinox pun bercerita.
Tentang Mas Nur, laki-laki dari kota, tiga tahun lebih tua, berambut gondrong dan bermata sayu yang membuat Sinox remaja jatuh cinta pada pandangan pertama. Tentang bagaimana hubungan mereka dimulai dengan surat-surat yang dititipkan lewat teman. Tentang bagaimana Sinox rela membolos sekolah hanya untuk bertemu Mas Nur di perempatan jalan dekat pasar.
"Aku sangat mencintainya, Akang," kata Sinox, suaranya pecah di tengah kalimat. "Atau setidaknya itu yang aku pikir saat itu. Tapi cinta pertamaku beracun."
Akang tidak bertanya. Ia hanya menunggu.
"Dua kali aku hamil," lanjut Sinox, dan suaranya kini bergetar hebat. "Dua kali, Akang. Dan dua kali pula aku kehilangan. Aku belum menikah saat itu. Aku malu. Aku takut. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Dan di saat-saat paling gelap dalam hidupku, Mas Nur... dia menghilang."
Air mata Sinox jatuh. Ia tidak menyeka.
"Dia bilang dia akan bertanggung jawab. Tapi dia tidak pernah muncul. Tidak pernah menelepon. Tidak pernah mengirim kabar. Hanya... hilang. Seperti kamu, Akang. Tapi bedanya, kamu pergi karena ekonomi. Dia pergi karena pengecut."
Akang terdiam panjang.
Dan ketika ia bicara, suaranya serak.
"Kenapa kamu tidak pernah bilang, Nox?"
"Karena aku malu. Karena aku takut kau akan melihatku sebagai perempuan yang kotor. Perempuan yang tidak pantas."
"Kau tidak pernah kotor, Nox. Dan kau selalu pantas. Sejak dulu hingga sekarang. Kau adalah perempuan paling berharga yang pernah aku kenal."
Sinox tersedu-sedu.
"Karena itu, setiap kali aku curhat padamu tentang Mas Nur, sebenarnya aku tidak butuh solusi. Aku hanya butuh didengar. Dan kau selalu mendengarkan, Akang. Kau selalu ada. Di setiap air mataku, di setiap patah hatiku, di setiap malam ketika aku merasa tidak berharga, kau selalu ada."
"Tapi sekarang kau tidak ada di sini," kata Sinox lirih. "Sekarang kau di Kapuas. Aku di Tegorejo. Dan kita hanya punya suara."
Akang menutup matanya. Air mata mengalir di pipinya yang kasar.
"Tapi suaraku masih untukmu, Nox. Seperti dulu. Aku masih di sini. Mungkin tidak secara fisik. Tapi hatiku, hatiku tidak pernah pergi dari Tegorejo. Sejak aku pergi tiga puluh tahun lalu, aku meninggalkan tubuhku di Jakarta dan Kapuas, tapi hatiku... hatiku kutinggal bersamamu."
Tentang Janji pada Bu Ros
Malam itu, untuk pertama kalinya, Akang menceritakan dengan jujur apa yang terjadi sebelum ia pergi dari Tegorejo.
"Sebelum aku berangkat ke Jakarta, aku mampir ke rumahmu."
"Apa?" Sinox terkejut. "Kapan?"
"Sore. Sebelum maghrib. Ibu, Bu Ros, sedang sendiri di rumah. Ima ada di rumah temannya. Dan kamu, kamu sedang di sawah membantu ayah."
"Aku tidak tahu, Akang. Ibu tidak pernah bilang."
"Karena aku minta ibu tidak bilang. Aku datang hanya untuk satu hal."
"Apa?"
"Aku ingin minta izin pada ibumu untuk meminangmu."
Dunia Sinox berhenti berputar.
"Apa katamu?" bisiknya, suaranya hampir tidak terdengar.
"Aku bilang, 'Bu, saya mencintai Sinox. Saya ingin serius dengan dia. Saya akan bekerja di Jakarta, mengumpulkan uang, lalu kembali untuk meminangnya.' Tapi ibumu... dia bilang tidak."
Sinox terdiam. Dadanya terasa ditekan oleh sesuatu yang sangat berat.
"Dia bilang, 'Akang, kamu anak baik. Tapi Sinox masih kecil. Dia harus sekolah dulu. Dia harus selesai SMP, lalu SMA. Jangan ganggu konsentrasinya dengan pacaran. Kalau kamu benar-benar mencintainya, tunggu sampai dia dewasa. Tapi untuk sekarang, jangan hubungi dia. Fokuslah pada masa depanmu sendiri.'"
"Dan kau menurut?" suara Sinox pahit. "Kau menurut begitu saja?"
"Aku tidak punya pilihan, Nox. Ibumu benar. Aku tidak punya apa-apa saat itu. Tidak punya pekerjaan tetap. Tidak punya rumah. Tidak punya tabungan. Apa yang bisa kuberikan padamu selain janji? Dan janji, aku tahu, tidak cukup untuk menghidupi istri."
Sinox ingin marah. Ingin membentak. Ingin berteriak bahwa Akang seharusnya tidak mendengarkan ibunya. Seharusnya Akang bertahan. Seharusnya Akang tetap berusaha.
Tapi ia tidak bisa.
Karena ia tahu, ibu tidak pernah bercerita tentang itu. Selama tiga puluh tahun, ibu membiarkannya bertanya-tanya, membiarkannya sakit hati, membiarkannya berpikir bahwa Akang pergi karena tidak peduli.
"Kenapa ibu tidak pernah bilang?" bisik Sinox, lebih pada dirinya sendiri.
"Karena ibu melindungimu, Nox. Ibu tidak ingin kau hidup susah denganku. Ibu ingin kau mendapatkan laki-laki yang lebih siap. Dan ibu benar. Mas Sarif, dia jauh lebih baik dariku. Dia punya tanah, punya rumah, punya pekerjaan tetap. Dia bisa memberimu kehidupan yang layak."
"Tapi dia tidak memberiku kebahagiaan yang kau berikan, Akang. Dan itu tidak bisa diukur dengan tanah atau rumah."
Akang terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Karena sejujurnya, ia juga sering berpikir: Bagaimana jika dulu aku melawan? Bagaimana jika aku tetap berjuang? Mungkin sekarang Sinox adalah istriku. Mungkin anak-anak yang dia lahirkan adalah darah dagingku. Mungkin kita tertawa bersama di kursi tua ini, menikmati senja sambil mengenang masa muda.
Tapi hidup tidak berjalan dengan skenario "bagaimana jika".
Hidup berjalan dengan kenyataan pahit yang harus diterima.
Dan kenyataannya adalah: Akang menikah dengan Setya Ningsih, perempuan baik yang tidak bersalah. Sinox menikah dengan Mas Sarif, laki-laki baik yang juga tidak bersalah. Mereka berdua memiliki anak-anak yang tidak meminta dilahirkan dalam situasi rumit seperti ini.
Dan semua ini terjadi karena satu janji yang ditepati oleh seorang pemuda miskin yang terlalu hormat pada orang tua.
Tentang Rindu yang Tak Terkatakan
Percakapan tengah malam itu berlangsung hingga pukul setengah tiga.
Mereka berbicara tentang rasa rindu yang selama tiga puluh tahun mereka pendam.
"Aku merindukanmu setiap hari, Nox," kata Akang. Jujur. Tanpa tedeng aling-aling. "Bukan hanya saat aku sendiri. Tapi saat aku bersama istriku, saat aku bersama anak-anakku, saat aku bekerja di kantor desa, setiap saat, namamu selalu hadir di kepalaku."
"Aku juga," bisik Sinox. "Setiap kali aku melihat sepasang remaja naik sepeda bersama, aku ingat kamu. Setiap kali aku mendengar lagu-lagu tahun 90-an, aku ingat kamu. Setiap kali aku sedih atau senang, selalu saja ada ruang kecil di hatiku yang berbisik: 'Andai Akang di sini.'"
"Kita ini kenapa, Nox?" suara Akang terdengar letih dan putus asa. "Kenapa kita membiarkan waktu tiga puluh tahun berlalu begitu saja? Kenapa kita tidak saling mencari lebih awal? Kenapa kita membiarkan rasa malu dan ego menghalangi?"
"Karena kita bodoh, Akang. Karena kita takut. Karena kita tidak pernah cukup berani untuk mengatakan apa yang sebenarnya kita rasakan."
Diam.
"Tapi sekarang?" tanya Akang.
"Sekarang?" Sinox menghela napas panjang. "Sekarang kita sudah punya tanggung jawab. Sekarang bukan hanya tentang kita. Ada Mas Sarif, ada Setya, ada anak-anak kita. Mereka tidak bersalah. Mengapa mereka harus terluka karena cinta kita yang tiga puluh tahun lalu tidak pernah selesai?"
Akang tidak bisa menjawab.
Karena ia tahu, Sinox benar.
Tidak ada jalan keluar yang mudah dari situasi ini. Cinta mereka adalah cinta yang lahir di waktu yang salah, tumbuh di tempat yang salah, dan sekarang, di usia senja mereka, cinta itu mekar kembali dengan kekuatan yang justru menghancurkan.
Di Antara Dua Dunia
Setelah panggilan telepon berakhir, Sinox tidak bisa tidur.
Ia berbaring di samping Mas Sarif, menatap wajah suaminya yang polos dalam tidur. Laki-laki itu tidak tahu apa-apa. Laki-laki itu masih percaya bahwa istrinya setia, bukan hanya secara fisik, tapi juga secara hati.
Tapi hati Sinox sudah tidak sepenuhnya di sini.
Sebagian kecil, atau mungkin sebagian besar, hatinya melayang ke Kapuas, ke beranda rumah panggung, ke laki-laki yang pernah ia cintai tanpa pernah ia akui.
Maafkan aku, Mas, bisik Sinox dalam hati. Aku tidak bermaksud begini. Aku tidak pernah memilih untuk mencintai Akang lagi. Tapi cinta ini... cinta ini tidak pernah mati. Ia hanya tidur. Dan sekarang ia bangun, dan aku tidak bisa memaksanya tidur lagi.
Mas Sarif bergerak dalam tidurnya. Tangannya secara refleks meraih tangan Sinox, seperti yang selalu ia lakukan setiap malam. Tanpa sadar, tanpa rencana. Hanya kebiasaan seorang suami yang mencintai istrinya dengan sederhana dan tulus.
Dan sentuhan itu, sentuhan yang sederhana dan tulus, membuat Sinox menangis.
Kenapa cinta harus serumit ini?
Kenapa aku tidak bisa mencintai Mas Sarif dengan sepenuh hati, tanpa ada bayangan Akang di belakangnya?
Kenapa takdir mempertemukanku dengan Akang lagi, setelah aku membangun rumah tangga yang damai dengan laki-laki lain?
Sinox tidak tahu jawabannya.
Yang ia tahu, malam itu ia berdoa lebih khusyuk dari biasanya. Bukan dengan ayat-ayat suci yang dihafal sejak kecil, tapi dengan tangis yang tulus dan hati yang hancur.
Ya Allah, jika ini ujian, aku menerimanya. Jika ini dosa, ampunilah aku. Jika ini rahmat, tolong tunjukkan jalan yang tidak melukai siapa pun. Karena aku lelah, Ya Allah. Aku sangat lelah.
Saat Fajar Menyingsing
Pukul empat pagi.
Di Kapuas, Akang Riyadi masih duduk di beranda. Asap tipis dari lahan gambut mulai tercium, tanda-tanda kebakaran hutan yang selalu datang setiap musim kemarau. Di kejauhan, suara azan subuh mulai berkumandang dari pengeras suara masjid desa.
Akang bangkit. Masuk ke dalam rumah. Mengambil air wudhu di kamar mandi.
Saat ia melewati kamar tidur, ia melihat Setya Ningsih terbaring dengan mata terbuka. Menatap langit-langit. Tidak bergerak.
"Kamu belum tidur?" tanya Akang pelan.
"Kamu tidak tidur sama sekali," balas Setya, suaranya datar. Tanpa emosi. Seperti robot.
"Aku ada pekerjaan yang harus diselesaikan."
"Pekerjaan," ulang Setya, dengan nada yang penuh makna. "Atau dia?"
Akang berhenti melangkah. Ia menoleh. Menatap istrinya yang selama 25 tahun menemani suka dukanya. Wajah Setya kini tampak lebih tua dari usianya, karena begadang, karena cemburu, karena luka yang tidak kunjung sembuh.
"Kita bicara nanti, Ning," kata Akang. "Aku harus salat dulu."
"Kita tidak akan pernah bicara, Mas," bisik Setya, suaranya pecah. "Karena Mas terlalu sibuk bicara dengan dia."
Akang tidak menjawab.
Ia pergi ke musala kecil di pojok rumah, menghadap kiblat, dan menegakkan salat subuh. Tapi kali ini, ia tidak khusyuk. Fikirannya tercerai-berai. Antara suara bacaan imam yang sayup terdengar dari masjid, antara suara istrinya yang penuh luka, dan antara suara Sinox yang masih bergema di kepalanya.
Ya Allah, tolong aku, doanya dalam hati. Aku tidak tahu harus memilih antara kewajiban dan cinta lama. Tolong tunjukkan jalan. Karena aku tersesat di antara dua dunia yang tidak pernah bisa aku satukan.
Di Tegorejo, Sinox juga melaksanakan salat subuh. Lebih khusyuk dari biasanya. Lebih lama dari biasanya.
Setelah salam, ia tidak segera bangkit. Ia duduk di atas sajadah, memandang karpet merah usang yang sudah ia gunakan sejak dua puluh tahun lalu, dan berdoa dengan air mata yang tidak berhenti mengalir.
Ya Allah, lindungi rumah tanggaku. Lindungi rumah tangga Akang. Jangan biarkan dosa kami menimpa anak-anak kami. Dan jika cinta ini tidak Engkau berkahi, cabutlah dari hatiku. Perlahan-lahan. Agar aku tidak mati karenanya. Karena aku sudah tua, Ya Allah. Hatiku tidak sekuat dulu. Ampunilah aku.
Di luar rumah, ayam jantan mulai berkokok. Sinar matahari mulai menembus celah-celah jendela. Dan kehidupan sehari-hari, yang terus berjalan tanpa peduli pada perasaan manusia, kembali dimulai.
Eko terbangun. Minta sarapan.
Mas Sarif keluar dari kamar, mengucek mata, dan bertanya pada Sinox, "Kok kamu kelihatan kurang tidur?"
Sinox tersenyum. Palsu. Tapi siapa yang bisa membedakannya?
"Tadi mimpi buruk, Mas."
"Mimpi apa?"
"Mimpi yang nyatanya terlalu menyakitkan untuk diceritakan."
Mas Sarif tidak bertanya lebih lanjut. Ia hanya mengangguk, lalu berjalan ke dapur untuk mengambil air minum.
Dan Sinox, di belakang suaminya yang tidak tahu apa-apa, hanya bisa berbisik pelan:
Maafkan aku, Mas. Maafkan aku.
Percakapan tengah malam itu bukan sekadar percakapan.
Ia adalah pengakuan.
Ia adalah pelepasan.
Ia adalah awal dari segala sesuatu yang mungkin tidak akan pernah bisa mereka kendalikan.
Karena ketika dua hati yang pernah saling mencintai di masa lalu bertemu kembali, di masa kini, dengan segala tanggung jawab dan luka yang menyertainya, maka yang terjadi bukanlah akhir dari cerita.
Tapi awal dari badai.
Dan badai itu belum benar-benar datang.
BAB VI
Cinta yang Dipendam
Ada cinta yang tidak pernah mati.
Ia hanya tidur. Terkubur di bawah tumpukan waktu, alasan, dan keputusan-keputusan yang dibuat karena takut. Tapi ia tidak pernah mati. Seperti bara yang tertutup abu, ia tetap panas di dalam. Cukup satu hembusan angin, sekali saja, dan ia akan menyala kembali. Membakar apa pun yang menghalanginya.
Cinta Akang Riyadi pada Sinox Yanti adalah cinta yang dipendam.
Dipendam sejak pertama kali ia menyadari bahwa perasaannya terhadap gadis kecil cerewet itu bukan lagi perasaan kakak pada adik. Dipendam karena janji pada Bu Ros. Dipendam karena kemiskinan. Dipendam karena jarak. Dipendam karena pernikahan. Dipendam selama tiga puluh tahun, hingga pada suatu malam, di tengah sunyi desa Kapuas dan Tegorejo, bara itu akhirnya menemukan angin.
Dan ia menyala.
Bukan dengan api yang indah dan terkendali.
Tapi dengan kobaran yang liar, yang tak peduli siapa yang akan terbakar di sekitarnya.
Di Balik Senyum Setya Ningsih
Kapuas, dua minggu sejak panggilan telepon pertama.
Setya Ningsih sudah tidak marah lagi.
Itulah yang paling ditakuti oleh Akang. Bukan marah yang meledak-ledak dengan banting piring dan teriakan, itu masih bisa dihadapi, masih bisa dinegosiasi. Tapi diamnya Setya sekarang berbeda. Diam yang dingin. Diam yang seperti air tenang tapi penuh buaya. Diam yang membuat Akang tidak pernah tahu apa yang sedang dipikirkan istrinya.
Pagi itu, Setya memasak bubur ayam, masakan favorit Akang. Ia menyajikan di atas meja makan dengan telur rebus yang dipotong rapi, daun bawang dan seledri yang dicincang halus, kerupuk yang masih utuh, dan sambal yang pedasnya pas.
Akang duduk di kursi makan dengan perasaan tidak enak. Ada apa ini? pikirnya. *Terakhir kali Setya masak bubur ayam spesial begini adalah saat ulang tahun pernikahan mereka yang ke-20, lima tahun lalu.*
"Makan, Mas," kata Setya datar. "Nanti keburu dingin."
"Terima kasih, Ning." Akang mengambil sendok, mencicipi bubur itu. Enak. Seperti biasa. Tapi lidahnya terasa pahit karena rasa bersalah yang tidak kunjung reda.
Setya duduk di seberangnya. Ia tidak makan. Ia hanya menatap suaminya dengan mata yang tidak bisa dibaca.
"Masih enak, Mas?"
"Enak, Ning. Kamu memang paling pintar masak bubur."
"Pintar masak bubur tapi tidak pintar menjaga suami," bisik Setya, lebih pada dirinya sendiri.
Akang berhenti mengunyah. "Ning..."
"Tidak apa-apa, Mas. Makan saja. Nanti kita bicara setelah kamu selesai."
Suasana makan pagi itu terasa seperti perjamuan terakhir di ruang pengadilan. Hukuman belum dijatuhkan, tapi semua sudah tahu bahwa vonisnya tidak akan ringan.
Setelah Akang selesai makan, pada kenyataannya ia hanya menghabiskan setengah porsi karena perutnya sudah penuh dengan rasa cemas, Setya membereskan piring tanpa bicara. Kemudian ia duduk kembali di hadapan suaminya.
"Mas, aku sudah 25 tahun bersamamu."
Akang mengangguk pelan.
"Aku ikut kamu ke Kapuas. Meninggalkan keluarga besarku di Jawa. Aku lahirkan tiga anak untukmu. Aku jaga rumah ini saat kamu pergi kerja. Aku tidak pernah mengeluh meskipun hidup di lahan gambut tidak pernah mudah."
"Aku tahu, Ning. Aku..."
"Biarkan aku selesai, Mas." Setya mengangkat tangannya. Matanya mulai berkaca-kaca, tapi ia menahan air mata itu dengan kekuatan yang luar biasa. "Aku tahu ada perempuan lain di hatimu sekarang. Atau mungkin bukan sekarang, mungkin sudah dari dulu. Namanya Sinox Yanti."
Akang membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar.
"Aku tidak tahu persis hubungan kalian dulu. Tapi yang aku tahu, setiap kali ponselmu bergetar, matamu berbinar. Setiap kali kamu dapat pesan darinya, kamu tersenyum seperti anak ABG baru jatuh cinta. Dan setiap malam, setiap malam, Mas, kamu keluar ke beranda untuk bicara dengannya. Lalu kamu kembali ke kamar dengan mata sembab, sehabis menangis."
"Aku tidak pernah melihatmu menangis, Mas. Bahkan saat ayahmu meninggal, bahkan saat rumah kita hampir kebakaran, bahkan saat kita hampir bangkrut karena gagal panen. Tapi perempuan itu, perempuan yang bahkan belum pernah kamu temui secara fisik dalam tiga puluh tahun, bisa membuatmu menangis."
Setya mengambil napas panjang.
"Aku cemburu, Mas. Bukan cemburu biasa. Tapi cemburu yang membakar. Karena aku bersaing dengan bayangan. Dengan kenangan. Dengan cinta yang tidak pernah mati."
Akang menunduk. Air matanya jatuh ke pangkuannya.
"Aku mencintaimu, Ning," katanya lirih. "Aku tidak pernah berhenti mencintaimu."
"Tapi kamu juga mencintai dia."
Pernyataan itu bukan pertanyaan. Setya tidak butuh konfirmasi. Ia sudah tahu jawabannya.
Akang tidak bisa membantah. Ia hanya terdiam, menangis di hadapan istrinya yang hancur karena ulahnya sendiri.
"Aku tidak akan meninggalkanmu, Ning," akhirnya Akang bicara. "Aku tidak akan tinggalkan kamu dan anak-anak. Tapi aku juga tidak bisa berbohong. Sinox... dia bagian dari masa laluku yang tidak pernah selesai. Dan bertemu lagi dengannya, meskipun hanya lewat panggilan telepon, telah membuka sesuatu yang selama ini aku kubur."
"Apa yang kamu kubur, Mas?"
Akang mengangkat kepalanya. Matanya merah, basah, tapi jujur. Sangat jujur.
"Cinta. Cinta yang tiga puluh tahun lalu tidak pernah aku akui. Cinta yang aku kira akan mati dengan sendirinya. Tapi ternyata tidak. Ia tumbuh di dalam diamku, lalu ia tidur, lalu sekarang ia bangun. Dan aku tidak tahu harus berbuat apa."
Setya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia tidak menangis keras-keras. Tangisnya sunyi, tangis yang tertahan, tangis yang paling menyakitkan karena ia berusaha tampak kuat di hadapan suaminya.
"Kalau begitu, Mas harus memilih," bisik Setya dari balik telapak tangannya. "Aku atau dia. Rumah tangga kita atau masa lalumu. Karena aku tidak bisa hidup setengah-setengah dengan suami yang separuh hatinya di tempat lain."
Akang terdiam sangat lama.
Lalu ia berdiri, berjalan ke belakang Setya, dan memeluk istrinya dari belakang. Erat. Seerat mungkin. Seolah-olah ia takut istrinya akan lenyap jika ia melepaskannya.
"Aku memilih kamu, Ning," katanya. "Aku memilih rumah tangga kita. Aku memilih anak-anak kita. Tapi aku butuh waktu untuk menyelesaikan ini. Jangan minta aku melupakan Sinox dalam semalam. Dia telah menjadi bagian dari hidupku selama tiga puluh tahun, meskipun hanya dalam doa dan kenangan. Beri aku waktu untuk meletakkannya kembali ke tempatnya semula."
Setya tidak menjawab.
Ia hanya menangis dalam pelukan suaminya, sementara di luar rumah, asap gambut mulai menebal, seperti kabut yang menyelimuti masa depan mereka yang tidak jelas.
Di Warung Kopi Tegorejo
Sementara itu, di Desa Tegorejo, Mas Sarif duduk sendirian di warung kopi milik Pak Darmo. Pukul sepuluh pagi. Seharusnya ia berada di sawah, menyemprot hama yang mulai menyerang padi. Tapi pagi ini ia malas. Hatinya tidak tenang.
"Kopi satu, Mas," katanya pada Pak Darmo.
"Lho, tumben pagi-pagi sudah di sini. Biasanya kan sore."
"Ada yang mengganjal, Mo."
Pak Darmo mengernyit. "Mengganjal apa? Utang? Sawah kemarau? Anak sekolah?"
Mas Sarif menggeleng. "Bukan. Sinox."
"Sinox? Istrimu sendiri? Ada apa dengan dia?"
Mas Sarif menghela napas panjang. Ia sebenarnya tidak ingin bercerita. Tapi perasaannya terlalu berat dipendam sendiri. Ia butuh tempat meluapkan.
"Belakangan ini dia aneh, Mo. Sering pegang ponsel. Sering tersenyum sendiri. Sering tidak fokus kalau diajak bicara. Kemarin malam, jam dua, ponselnya bergetar. Saya lihat sekilas. Ada nama 'Akang Riyadi' di layarnya."
"Akang Riyadi? Siapa itu?"
"Saya tidak tahu. Tapi namanya tidak pernah saya dengar selama 20 tahun nikah. Bukan keluarga, bukan tetangga, bukan teman sekolahnya yang sering main ke rumah. Saya coba cari tahu dari teman-teman lamanya. Katanya, Akang Riyadi itu teman dekatnya waktu SMP dulu. Tapi sudah putus kontak sejak tiga puluh tahun lalu."
"Trus kenapa sekarang muncul lagi?"
"Itulah yang membuat saya tidak enak hati, Mo. Kenapa baru sekarang? Kenapa setelah 20 tahun saya nikahi dia? Kenapa tidak dulu-dulu, saat saya masih pacaran? Kenapa tidak sebelum kita punya tiga anak?"
Pak Darmo diam sejenak. Ia menuang kopi panas ke cangkir besar, lalu mendorongnya ke arah Mas Sarif.
"Jangan buru-buru ambil kesimpulan, Mas. Bisa saja mereka hanya teman lama yang kangen-kangenan. Namanya juga persahabatan masa muda. Wajar kalau rindu."
"Saya tidak tahu, Mo. Yang saya tahu, hati saya tidak enak. Ada firasat buruk. Seperti akan ada badai yang menghancurkan rumah tangga saya."
"Kamu bicarakan dengan Sinox?"
"Belum. Saya takut."
"Takut apa?"
"Takut jawabannya. Karena jika dia bilang dia memang mencintai laki-laki itu, saya tidak tahu harus berbuat apa. Meninggalkannya? Tapi anak-anak. Bertahan? Tapi sakit."
Pak Darmo menepuk bahu Mas Sarif pelan. "Bicara baik-baik, Mas. Jangan dengan emosi. Bisa jadi itu hanya perasaan cemburu yang tidak beralasan. Bisa jadi Sinox hanya butuh teman curhat. Jangan rusak rumah tangga hanya karena prasangka."
Mas Sarif mengangguk, meskipun hatinya masih tidak tenang. Ia menghabiskan kopinya dalam satu tegukan, lalu pamit pada Pak Darmo.
Di perjalanan pulang, ia melewati sawahnya yang mulai menguning, tanda panen sebentar lagi. Tapi ia tidak melihat keindahan itu. Yang ia lihat hanyalah bayangan Sinox yang tersenyum pada ponselnya. Tersenyum pada laki-laki yang bukan dirinya.
Siapa kau, Akang Riyadi?
Dan mengapa kau muncul sekarang, di saat hidup kami sedang tenang-tenangnya?
Tentang Cinta yang Tidak Berani Bersuara
Malam itu, Sinox dan Akang kembali terhubung.
Tapi kali ini berbeda. Kali ini mereka tidak bercerita tentang masa lalu. Mereka bercerita tentang masa kini. Tentang rasa bersalah. Tentang istri dan suami yang mulai curiga. Tentang ketakutan bahwa apa yang mereka lakukan adalah dosa.
"Akang, aku takut," kata Sinox. Suaranya bergetar. "Mas Sarif belum bilang apa-apa. Tapi aku tahu dia curiga. Cara dia menatapku sekarang berbeda. Seperti dia sedang mencari sesuatu di mataku. Sesuatu yang tidak ingin dia temukan."
"Aku juga, Nox," suara Akang terdengar letih. "Setya minta aku memilih. Antara dia atau kamu."
Sinox terdiam. Jantungnya berdegup kencang. "Lalu? Kamu sudah memilih?"
"Aku bilang aku memilih Setya. Tapi aku butuh waktu untuk meletakkanmu kembali ke tempatmu semula."
Sinox tertawa pahit. "Meletakkanku ke tempat semula? Di mana tempat semulaku, Akang? Karena selama tiga puluh tahun, aku tidak pernah tahu aku ditempatkan di mana. Apakah aku hanya teman? Apakah aku adik? Apakah aku seseorang yang kau cintai tapi kau sembunyikan? Aku tidak pernah tahu, karena kau tidak pernah bilang."
"Aku mencintaimu, Nox."
Kalimat itu keluar begitu saja.
Tanpa persiapan. Tanpa pengantar. Tanpa pemanasan.
Akang Riyadi, setelah tiga puluh tahun memendam, setelah tiga puluh tahun membungkam, setelah tiga puluh tahun berlari dari perasaannya sendiri, akhirnya mengatakan yang sebenarnya.
"Aku mencintaimu sejak pertama kali aku melihatmu tersenyum di depan gerbang SMP. Aku mencintaimu saat kau menangis di pundakku karena kalah karate. Aku mencintaimu saat kau bercerita tentang Mas Nur, meskipun saat itu hatiku sakit karena kau mencintai laki-laki lain. Aku mencintaimu saat kau bonceng aku di sepeda ontel, saat rambutmu terkena angin dan menyentuh wajahku. Aku mencintaimu saat kau marah-marah tanpa sebab, saat kau manja minta ditemani, saat kau cerewet bercerita tentang hal-hal yang tidak penting."
Suara Akang pecah.
"Aku mencintaimu saat aku pergi ke Jakarta. Aku mencintaimu saat aku tinggal di Kapuas. Aku mencintaimu saat aku menikah dengan Setya. Aku mencintaimu saat istriku melahirkan anak-anakku. Aku mencintaimu setiap hari, setiap malam, setiap detik, selama tiga puluh tahun, Nox. Dan aku tidak pernah berhenti."
Sinox menangis.
Ia tidak bisa berkata apa-apa. Mulutnya terbuka, tapi suara tidak keluar. Yang keluar hanyalah isak tangis yang tertahan, isak tangis yang tidak bisa lagi dibendung.
"Kenapa baru sekarang?" akhirnya ia berbisik. "Kenapa kau tidak bilang dulu, saat aku masih sendirian? Saat aku belum punya suami? Saat aku masih bisa memilih?"
"Karena aku pengecut, Nox. Karena aku takut ditolak. Karena aku merasa tidak pantas. Dan karena, mungkin, aku lebih suka memendam daripada kehilanganmu sepenuhnya."
"Tapi kau tetap kehilangan aku, Akang. Kau pergi tanpa pamit. Kau meninggalkan aku selama tiga puluh tahun. Dan sekarang, setelah kita sama-sama berkeluarga, kau bilang kau mencintaiku? Untuk apa? Apa yang bisa kita lakukan dengan cinta ini?"
Diam.
Diam yang panjang.
Diam yang berat.
Lalu suara Akang, pelan, nyaris tidak terdengar, berkata:
"Aku tidak tahu, Nox. Aku hanya ingin kau tahu. Karena selama tiga puluh tahun aku menyimpannya sendiri, dan hampir mati rasanya. Setidaknya sekarang kau tahu. Setidaknya sekarang tidak ada lagi rahasia di antara kita."
Sinox menutup matanya. Air mata masih mengalir.
"Aku juga mencintaimu, Akang," bisiknya akhirnya. "Mungkin sejak pertama kali kau meminjamiku buku karate itu. Atau mungkin sejak pertama kali kau membelaku saat aku diganggu kakak kelas. Aku tidak tahu kapan tepatnya. Yang aku tahu, namamu tidak pernah hilang dari doaku. Selama tiga puluh tahun, setiap kali aku salat, setiap kali aku sujud, aku selalu menyebut namamu. Bukan karena aku sengaja. Tapi karena namamu sudah menyatu dengan doaku."
"Lalu kenapa kau menikah dengan Mas Sarif?" tanya Akang.
"Karena aku lelah menunggu. Karena aku pikir kau tidak akan pernah kembali. Karena aku pikir kau sudah lupa padaku. Dan karena, mungkin, aku juga pengecut. Aku takut sendirian. Aku takut tidak punya siapa-siapa."
Mereka berdua diam.
Hanya suara napas yang terdengar silih berganti.
Dan di antara napas itu, ada cinta yang tidak pernah mati.
Ada cinta yang dipendam selama tiga puluh tahun.
Ada cinta yang akhirnya, di malam itu, di usia senja mereka, berani bersuara.
Tapi pertanyaannya sekarang: setelah cinta itu bersuara, apa yang bisa mereka lakukan?
Karena cinta, sebesar apa pun ia, tidak selalu bisa memiliki.
Setelah Pengakuan
Percakapan itu berakhir pukul satu malam.
Tidak ada janji. Tidak ada rencana. Tidak ada solusi.
Hanya dua orang yang saling mencintai, yang tahu bahwa cinta mereka adalah cinta terlarang. Cinta yang indah tapi haram. Cinta yang membuat mereka bahagia sekaligus tersiksa.
Sinox berbaring di samping Mas Sarif, yang kali ini benar-benar tidur. Ponselnya ia letakkan di lemari, bukan di samping bantal seperti biasanya. Ia menatap wajah suaminya. Laki-laki yang tidak pernah memberinya puisi atau bunga, tapi selalu memberinya makan, selalu membayar listrik dan air, selalu mengantar jemput anak-anak ke sekolah.
Laki-laki baik yang tidak pantas aku sakiti, batin Sinox.
Tapi hatinya sudah terlanjur pergi ke Kapuas.
Maafkan aku, Mas. Maafkan aku.
Di Kapuas, Akang juga berbaring di samping Setya Ningsih. Istrinya sudah tidur, atau pura-pura tidur. Akang tidak pernah tahu lagi. Yang ia tahu, malam ini ia telah melakukan sesuatu yang mungkin adalah dosa terbesar dalam pernikahannya.
Ia telah mengatakan "Aku cinta" pada perempuan lain.
Bukan sembarang perempuan lain. Tapi cinta pertamanya. Cinta yang tiga puluh tahun lalu ia pendam.
Aku telah berkhianat, pikir Akang. Meskipun tidak secara fisik, secara hati aku sudah pergi.
Ia memejamkan mata. Air mata merembes di sudut matanya.
Ya Allah, ampunilah aku.
Cinta yang Dipendam, Cinta yang Membebaskan?
Di dalam novel-novel roman, cinta yang dipendam sering digambarkan sebagai sesuatu yang indah. Sebagai sesuatu yang heroik. Sebagai sesuatu yang pada akhirnya akan membahagiakan semua orang.
Tapi ini bukan novel roman.
Ini kehidupan nyata.
Dan di kehidupan nyata, cinta yang dipendam sering kali bukan pembebasan. Ia adalah belenggu. Ia adalah belenggu yang mengikat hati pada masa lalu, sementara kaki harus melangkah ke masa depan. Ia adalah belenggu yang membuat seseorang tidak bisa mencintai pasangannya dengan sepenuh hati, karena separuh hatinya tertinggal di kenangan.
Akang Riyadi dan Sinox Yanti mungkin adalah manusia paling beruntung di dunia, karena mereka dipertemukan kembali dengan cinta masa lalu mereka.
Tapi mereka juga mungkin adalah manusia paling sial di dunia, karena cinta itu datang terlambat.
Terlambat tiga puluh tahun.
Terlambat setelah mereka berkeluarga.
Terlambat setelah mereka memiliki tanggung jawab yang tidak bisa mereka abaikan.
Dan sekarang, di usia yang tidak lagi muda, mereka harus memilih: mengikuti kata hati, atau mengikuti kata kewajiban?
Mengikuti cinta, atau mengikuti moral?
Dan apakah benar cinta dan moral harus selalu berseberangan?
Sinox tidak tahu.
Akang juga tidak tahu.
Yang mereka tahu malam itu adalah: cinta yang dipendam selama tiga puluh tahun akhirnya keluar juga. Dan meskipun ia keluar dengan cara yang salah, di waktu yang salah, dan dalam situasi yang salah, setidaknya ia keluar.
Setidaknya sekarang tidak ada lagi yang disembunyikan.
Setidaknya sekarang mereka bisa melihat satu sama lain dengan jujur.
Meskipun kejujuran itu, di dalam kehidupan berumah tangga, kadang lebih menyakitkan daripada kebohongan.
BAB VII
Sosok yang Tak Pernah Hilang
Ada orang-orang yang hadir dalam hidup kita hanya sebentar, tapi jejaknya terukir begitu dalam hingga waktu tak mampu mengaburkannya.
Mereka tidak tinggal. Mereka pergi. Mereka meninggalkan kita dengan pertanyaan, dengan rindu, dengan rasa kehilangan yang tak pernah benar-benar sembuh. Namun anehnya, meskipun mereka pergi, mereka tidak pernah benar-benar hilang. Mereka menjelma menjadi sesuatu yang lain, menjadi nama yang selalu disebut dalam doa, menjadi wajah yang muncul di antara ribuan wajah asing, menjadi perasaan yang tiba-tiba hadir di tengah malam tanpa diundang.
Akang Riyadi adalah sosok yang tak pernah hilang dari kehidupan Sinox Yanti.
Bukan karena ia hadir secara fisik. Ia tidak pernah hadir secara fisik sejak tiga puluh tahun lalu. Tapi ia hadir dalam bayang-bayang, dalam ingatan, dalam setiap keputusan besar yang Sinox ambil tanpa menyadari bahwa keputusan itu dipengaruhi oleh kepergiannya.
Dan malam itu, di usia yang tidak lagi muda, di antara kerutan di wajah dan uban di rambut, Sinox akhirnya mengakui pada dirinya sendiri: Akang Riyadi tidak pernah hilang. Ia hanya bersembunyi di sudut hatiku yang paling dalam, menunggu waktu yang tepat untuk muncul kembali.
Saat Kenangan Menjadi Hantu
Tegorejo, tiga minggu sejak panggilan telepon pertama.
Sinox duduk di ruang tamu rumahnya. Sendirian. Eko sudah berangkat sekolah. Mas Sarif ke sawah. Rumah terasa sunyi, hanya suara ayam dan burung gereja yang bersautan di luar jendela.
Di pangkuannya, sebuah album foto lama terbuka. Album yang sudah bertahun-tahun tidak ia sentuh, tersimpan di rak paling atas lemari, tertutup debu dan dilupakan. Tapi pagi ini, tanpa sebab yang jelas, Sinox mengambilnya. Membukanya. Dan membiarkan kenangan mengalir tanpa bisa ia bendung.
Foto pertama: kelas I SMP. Sinox berdiri di barisan paling depan, seragam putih biru yang kebesaran, rambut pendek khas anak tomboi. Matanya belum terkontaminasi luka-luka kehidupan. Masih polos. Masih percaya bahwa dunia adalah tempat yang indah dan semua orang baik.
Foto kedua: lomba karate antarsekolah. Sinox berdiri di samping Akang. Mereka memegang piala kecil di tangan masing-masing. Sinox tersenyum lebar. Akang tersenyum tipis. Tangan mereka hampir bersentuhan, tapi tidak benar-benar menyentuh. Seperti hubungan mereka, selalu dekat, tapi tidak pernah cukup dekat untuk menjadi milik.
Foto ketiga: di depan gerbang SMP. Empat orang remaja. Sinox di paling kiri. Akang di samping kanannya. Mereka tertawa. Ada kebahagiaan sejati di foto itu, kebahagiaan yang tidak bisa direkayasa. Kebahagiaan yang hanya muncul ketika seseorang benar-benar berada di tempat yang tepat, pada waktu yang tepat, dengan orang yang tepat.
Sinox menatap foto itu lama sekali.
"Kita bahagia ya, Akang," bisiknya. "Tanpa kita sadari, saat itu adalah masa-masa terindah dalam hidup kita."
Ia teringat suatu sore. Latihan karate di dojo belakang rumah Pak RT. Hari itu Sinox datang dengan mata sembab karena baru saja bertengkar dengan ibunya. Akang tidak bertanya apa-apa. Ia hanya mengambil sebotol air dingin, memberikannya pada Sinox, lalu duduk di sampingnya tanpa bicara.
"Kamu tidak mau tahu kenapa aku nangis?" tanya Sinox saat itu.
"Kamu akan cerita kalau kamu sudah siap," jawab Akang. "Aku tidak perlu bertanya. Aku hanya perlu di sini."
Sinox menangis lebih keras saat itu. Bukan karena masalahnya dengan ibunya, tapi karena kebaikan Akang yang begitu sederhana namun begitu dalam. Laki-laki itu tidak memberinya solusi, tidak memberi nasihat, tidak memberi apa pun selain kehadirannya. Dan bagi Sinox, itu lebih dari cukup.
Itulah mengapa kau tidak pernah hilang, Akang, pikir Sinox. Karena orang-orang seperti kau, yang hadir tanpa diminta, yang diam tapi selalu ada, adalah orang-orang yang paling sulit dilupakan.
Ketika Akang Menjadi Bayangan di Rumah Tangganya
Sinox tidak pernah mengakuinya, bahkan pada dirinya sendiri. Tapi sepanjang dua puluh tahun pernikahannya dengan Mas Sarif, Akang selalu hadir sebagai bayangan yang tidak terlihat.
Setiap kali Mas Sarif melakukan kesalahan, lupa ulang tahun pernikahan, tidak peka saat Sinox sedang sedih, terlalu sibuk dengan sawah sehingga lupa bertanya kabar istrinya, Sinox tanpa sadar membandingkannya dengan Akang.
Andai Akang di sini, dia pasti ingat.
Andai Akang yang menjadi suamiku, dia tidak akan membiarkanku menangis sendiri.
Andai Akang... andai Akang... andai Akang...
Kata-kata itu selalu hadir di kepalanya, meskipun ia tidak pernah mengucapkannya keras-keras. Ia biarkan kata-kata itu berlalu seperti angin, tanpa ia sadari bahwa angin itu perlahan mengikis batu karang cintanya pada Mas Sarif.
Suatu malam, beberapa tahun lalu, mungkin tahun ketujuh pernikahan mereka, Sinox terbangun dari tidur dengan keringat dingin. Ia bermimpi tentang Akang. Bukan mimpi indah, tapi mimpi buruk. Dalam mimpinya, Akang datang ke rumahnya, berdiri di ambang pintu, tersenyum dengan senyum khasnya. Sinox berlari ke arahnya, ingin memeluknya, ingin menanyakan mengapa ia pergi tanpa pamit. Tapi setiap kali ia mendekat, Akang mundur. Semakin cepat Sinox berlari, semakin cepat Akang mundur. Hingga akhirnya Akang lenyap dalam kabut tebal, dan Sinox hanya sendirian di tengah kegelapan.
Sinox bangun dengan pipi basah. Ia menangis dalam tidurnya.
Mas Sarif yang terbangun karena Sinox bergerak gelisah, bertanya, "Ada apa, Sin? Mimpi buruk?"
"Iya, Mas. Mimpi buruk."
"Mimpi apa?"
"Tidak penting. Tidurlah lagi."
Mas Sarif mengangguk, membolak-balikkan badan, dan kembali tidur. Ia tidak bertanya lebih lanjut. Ia tidak menggali. Ia tidak peduli. Atau mungkin ia peduli, tapi tidak tahu caranya mengekspresikan kepedulian itu.
Dan Sinox, di samping suaminya yang sudah kembali mendengkur, hanya bisa menangis dalam diam, merindukan seseorang yang tidak pernah benar-benar ia miliki.
Akang, kau telah menjadi hantu dalam pernikahanku, bisiknya malam itu. Hantu yang tidak terlihat oleh siapa pun, tapi selalu ada di setiap sudut rumah ini. Hantu yang membuatku tidak bisa mencintai suamiku dengan sepenuh hati. Hantu yang, meskipun aku ingin mengusirmu, aku tidak pernah benar-benar mampu.
Di Kapuas, Cerita yang Sama
Sementara itu, di Kapuas, Setya Ningsih juga hidup dengan hantu yang sama.
Tapi hantunya berbeda.
Hantunya bukan Akang. Hantunya adalah bayangan Sinox Yanti, perempuan yang tidak pernah ia lihat, tidak pernah ia kenal, tapi telah mengambil separuh hati suaminya.
Setya tidak pernah merasa cukup. Selama 25 tahun menikah, ia selalu merasa ada sesuatu yang kurang. Ada jarak yang tidak bisa ia jelaskan, ada tembok tipis yang memisahkan dirinya dengan Akang, meskipun mereka tidur di ranjang yang sama dan makan di meja yang sama.
Ia tidak tahu apa nama tembok itu.
Sampai panggilan telepon pertama itu.
Sampai ia melihat nama Sinox Yanti di layar ponsel suaminya.
Sampai ia mendengar sendiri bagaimana suara Akang berubah ketika berbicara dengan perempuan itu, lebih lembut, lebih hangat, lebih hidup. Berbeda sekali dengan suaranya saat berbicara dengan Setya yang cenderung datar, formal, seperti orang asing yang tinggal satu rumah.
Jadi ini temboknya, pikir Setya dengan pahit. Sinox Yanti.
Perempuan yang tidak pernah kukenal, tapi telah menjadi bayangan dalam pernikahanku selama 25 tahun.
Setya duduk di beranda rumahnya, memandang ke arah kebun karet yang mulai rusak karena kemarau panjang. Angin gambut bertiup membawa bau tanah asam dan keputusasaan.
Ia teringat suatu malam, mungkin sepuluh tahun lalu. Akang pulang dari kantor desa dengan wajah letih. Setya menyiapkan makan malam, nasi, sayur asam, ikan goreng, lalu mereka makan berdua di ruang makan.
"Mas, ada apa? Wajah Mas kusut sekali."
"Ah, tidak ada, Ning. Hanya lelah."
Tapi Setya tahu itu bukan hanya lelah. Ada sesuatu di mata Akang, semacam kesedihan yang tidak bisa ia ungkapkan. Ada rasa rindu yang tidak bisa ia beri nama. Dan malam itu, saat mereka berbaring di tempat tidur, Akang berkata sesuatu yang tidak pernah Setya lupakan.
"Ning, kamu tahu... kadang aku merasa ada bagian dari diriku yang hilang. Aku tidak tahu di mana. Aku tidak tahu bagaimana menemukannya. Tapi aku tahu ada yang hilang. Dan rasanya aku tidak akan pernah utuh tanpa menemukannya kembali."
Saat itu Setya tidak mengerti.
Sekarang ia mengerti.
Bagian yang hilang itu adalah Sinox Yanti, pikir Setya. Dan aku, sekaya apa pun cintaku padanya, tidak akan pernah bisa menggantikan bagian yang hilang itu. Karena bagian itu milik orang lain. Sejak awal, sejak sebelum aku mengenalnya, sejak sebelum kita menikah, hatinya sudah dimiliki perempuan lain.
Setya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Ia tidak menangis. Tidak lagi.
Air matanya sudah habis dua minggu lalu, saat ia membaca chat-chat mesra antara Akang dan Sinox.
Yang tersisa sekarang hanyalah kehampaan.
Dan pertanyaan yang tidak kunjung terjawab: Mengapa aku harus mencintai laki-laki yang hatinya tidak sepenuhnya untukku?
Saat Sinox Menyadari bahwa Akang Tidak Pernah Hilang
Malam itu, Sinox melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya: ia menulis surat.
Bukan surat untuk Akang. Bukan surat untuk Mas Sarif. Tapi surat untuk dirinya sendiri, sebuah upaya untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi dalam hatinya selama ini.
"Aku pikir aku sudah melupakannya," tulis Sinox di buku tulis bergaris yang biasa ia gunakan untuk mencatat resep masakan. "Tapi ternyata tidak. Aku hanya menguburnya di tempat yang tidak bisa aku capai dengan sengaja. Tapi setiap kali aku tidur, setiap kali aku bermimpi, setiap kali aku sendirian, dia selalu muncul. Seolah dia tidak pernah pergi. Seolah dia hanya bersembunyi di balik pintu, menunggu waktu yang tepat untuk keluar dan mengacaukan semuanya."
"Aku mencintai Mas Sarif. Aku sungguh mencintainya. Tapi cintaku pada Mas Sarif berbeda dengan cintaku pada Akang. Cinta pada Mas Sarif adalah cinta yang nyaman, cinta yang tenang, cinta yang tidak membuatku gelisah. Tapi cinta pada Akang, cinta itu liar. Cinta itu membuatku tidak bisa bernapas. Cinta itu membuatku ingin menerobos semua batasan, menghancurkan semua aturan, hanya untuk sekali lagi merasakan bagaimana rasanya dekat dengan dia."
"Aku tidak tahu mana yang benar. Aku tidak tahu mana yang halal dan mana yang haram. Yang aku tahu, Akang Riyadi adalah sosok yang tak pernah hilang dari hidupku. Dan mungkin, mungkin sampai mati, dia akan selalu ada di sana. Di lorong-lorong ingatanku yang paling gelap. Di sudut-sudut hatiku yang paling tersembunyi."
Sinox menutup buku tulis itu, menyimpannya di bawah bantal, lalu menangis.
Ia menangis untuk dirinya sendiri. Untuk Mas Sarif yang tidak bersalah. Untuk anak-anaknya yang tidak tahu apa-apa. Dan untuk Akang, laki-laki yang telah menjadi bayangan dalam hidupnya selama tiga puluh tahun, yang kini kembali hadir secara nyata, dan membuatnya semakin bingung tentang apa yang sebenarnya ia inginkan.
Tentang Memori yang Tidak Bisa Dihapus
Para ilmuwan mengatakan bahwa memori manusia tidak bisa dihapus. Ia bisa memudar, bisa tertimbun oleh memori baru, tapi tidak pernah benar-benar hilang. Setiap pengalaman, setiap pertemuan, setiap perasaan, semuanya tersimpan di suatu tempat di dalam otak, menunggu pemicu yang tepat untuk muncul kembali.
Bagi Sinox, pemicunya adalah panggilan telepon pertama itu.
Sejak malam itu, semua memori tentang Akang kembali hadir dengan kejelasan yang menyakitkan. Bukan hanya memori tentang kejadian-kejadian besar seperti lomba karate atau kepergian Akang. Tapi memori-memori kecil yang dulu ia kira tidak penting.
Memori tentang cara Akang minum kopi, pahit, tanpa gula, dalam cangkir kecil yang retak di bagian pinggir.
Memori tentang cara Akang tertawa, bukan tawa yang keras dan bebas, tapi tawa yang tertahan, seolah ia tidak ingin terlalu menikmati kebahagiaan karena takut kebahagiaan itu akan segera diambil darinya.
Memori tentang cara Akang menyebut namanya, bukan "Sinox", bukan "Yanti", tapi "Nox". Nama panggilan yang hanya Akang yang berhak menggunakannya. Panggilan yang membuatnya merasa istimewa. Panggilan yang, setelah tiga puluh tahun, masih terasa hangat di telinganya.
"Nox," bisik Sinox, menirukan suara Akang di kepalanya. "Nox, jangan nakal. Nox, hati-hati. Nox, aku di sini."
Akang selalu bilang, aku di sini.
Dan selama bertahun-tahun, Sinox merasa aman karena percaya bahwa Akang selalu di sana, meskipun secara fisik ia tidak pernah ada. Ada rasa tenang yang aneh, sebuah keyakinan bahwa jika suatu saat ia benar-benar butuh, Akang akan muncul. Seperti pahlawan super dalam cerita-cerita komik yang selalu datang tepat waktu.
Tapi pahlawan super itu tidak pernah datang.
Hingga malam itu, ketika Sinox sudah hampir kehilangan harapan, Akang muncul. Bukan sebagai pahlawan super dengan jubah dan kekuatan luar biasa. Tapi sebagai manusia biasa, dengan suara yang serak karena usia, dengan napas yang memburu karena emosi, dan dengan kata-kata yang sederhana namun menusuk: "Halo... Sinox?"
Halo.
Hanya itu.
Tapi bagi Sinox, halo itu adalah segalanya. Halo itu adalah jawaban atas doa-doa yang tidak pernah ia ucapkan dengan lantang. Halo itu adalah bukti bahwa Akang Riyadi, sosok yang tak pernah hilang dari hidupnya, benar-benar nyata. Bukan sekadar bayangan. Bukan sekadar kenangan. Tapi manusia hidup, dengan daging dan darah, dengan rindu yang sama besarnya dengan rindunya.
Ketika Mas Sarif Bertanya
Pukul sembilan malam. Eko sudah tidur. Mas Sarif baru pulang dari sawah, mandi, lalu duduk di ruang tamu menemani Sinox yang sedang menonton televisi.
Atmosfer di rumah itu tidak seperti biasanya. Ada jarak. Ada kecanggungan yang tidak bisa dijelaskan.
"Sin," panggil Mas Sarif akhirnya.
"Iya, Mas?"
"Ada yang mau aku tanya."
Sinox menelan ludah. Jantungnya berdegup lebih kencang. Ini dia, pikirnya. Waktunya.
"Apa, Mas?"
"Belakangan ini kamu sering main HP. Malem-malem juga sering terjaga. Aku lihat kamu kadang tersenyum sendiri, kadang nangis sendiri. Ada apa sebenarnya?"
Sinox menggigit bibirnya. Haruskah aku jujur? Atau aku berbohong lagi?
"Mas..." Sinox memulai, suaranya bergetar. "Aku mau cerita sesuatu. Tapi janji Mas tidak akan marah."
Mas Sarif menghela napas panjang. "Aku dengar dulu. Nanti aku putuskan mau marah atau tidak."
Sinox menarik napas dalam-dalam.
"Beberapa minggu yang lalu, aku dihubungi oleh teman lama. Namanya Akang Riyadi. Kami bersahabat waktu SMP dulu. Dia seperti kakak laki-laki yang tidak pernah aku miliki. Dia sudah tiga puluh tahun tidak ada kabar, Mas. Tiba-tiba dia mencari aku lewat Facebook, lalu kami bertukar nomor, lalu..."
"Lalu?" suara Mas Sarif mulai dingin.
"Lalu kami sering berkomunikasi lewat WhatsApp. Hanya sebatas itu, Mas. Tidak lebih."
Mas Sarif diam.
Sinox tidak berani menatap suaminya. Ia hanya menunduk, memandangi ubin lantai yang retak di beberapa bagian, seperti hatinya yang juga retak di sekian banyak tempat.
"Siapa Akang Riyadi bagimu, Sin?" tanya Mas Sarif akhirnya.
Sinox berpikir panjang. Ia bisa menjawab dengan aman: teman lama, saudara, kakak angkat. Tapi ia sudah lelah berbohong. Bukan hanya pada Mas Sarif, tapi pada dirinya sendiri.
"Dulu, waktu aku masih kecil, aku mencintainya, Mas."
Mas Sarif seperti terkena pukulan tinju di dadanya. Ia tidak bicara. Ia hanya menatap istrinya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Tapi itu dulu, Mas. Itu tiga puluh tahun lalu. Aku sudah move on. Aku menikah dengan Mas. Aku punya tiga anak dari Mas. Apa yang aku rasakan dulu tidak ada hubungannya dengan sekarang."
"Lalu kenapa kamu nangis? Kenapa kamu begadang? Kenapa kamu tersenyum sendiri?" tanya Mas Sarif, suaranya meninggi sedikit. "Kalau sudah move on, seharusnya biasa saja. Seharusnya tidak perlu ada air mata dan begadang."
Sinox tidak bisa menjawab.
Karena Mas Sarif benar.
Jika Sinox benar-benar sudah move on, seharusnya komunikasi dengan Akang tidak lebih dari sekadar "kabar baik, terima kasih, sampai jumpa di surga kelak." Bukan obrolan tengah malam yang penuh air mata dan pengakuan cinta.
"Mas, aku tidak akan meninggalkan Mas," kata Sinox lirih. "Dan aku tidak akan pernah berselingkuh secara fisik. Tapi aku tidak bisa mengendalikan hatiku. Hatiku ini... sudah lama kacau. Sebelum aku kenal Mas, hatiku sudah lebih dulu ditinggalkan oleh Akang. Mas menikahi aku dengan hati yang belum sepenuhnya pulih. Dan aku minta maaf untuk itu. Aku sangat minta maaf."
Mas Sarif berdiri.
Ia tidak marah. Tidak berteriak. Tidak membanting pintu.
Ia hanya berjalan ke kamar, mengambil bantal dan selimut, lalu kembali ke ruang tamu.
"Malam ini aku tidur di sini," katanya datar.
"Mas..."
"Aku tidak marah, Sin. Aku hanya butuh waktu. Aku butuh waktu untuk mencerna bahwa selama 20 tahun aku menikahi perempuan yang hatinya masih diisi oleh laki-laki lain. Itu bukan hal yang mudah."
Mas Sarif merebahkan diri di kursi panjang ruang tamu yang sudah usang. Ia membelakangi Sinox.
Sinox hanya bisa berdiri di ambang pintu ruang tamu, menatap punggung suaminya yang membungkuk, dan menangis dalam diam.
Aku telah menghancurkan pernikahanku sendiri, pikirnya. Dan untuk apa? Untuk cinta masa lalu yang tidak akan pernah menjadi milikku?
Bodohnya aku.
Bodohnya aku.
Di Ruang yang Sama, Perasaan yang Sama
Saat Sinox menghancurkan rumah tangganya di Tegorejo, Akang melakukan hal yang sama di Kapuas.
Setya Ningsih tidak lagi bertanya. Ia sudah tidak peduli. Atau pura-pura tidak peduli. Ia menjalani hari-harinya seperti robot, bangun, memasak, membersihkan rumah, tidur lagi. Tidak ada tawa, tidak ada obrolan ringan, tidak ada sentuhan.
Akang merasa seperti tinggal dengan patung.
"Ning, kita bicara," pinta Akang suatu malam.
"Bicara apa, Mas?" suara Setya datar.
"Tentang kita. Tentang rumah tangga kita. Tentang Sinox."
Setya menghela napas panjang. "Apa yang mau dibicarakan, Mas? Mas sudah bilang Mas mencintai dia. Mas sudah bilang Mas tidak bisa melupakannya. Apa yang mau aku katakan selain 'aku menerima kenyataan bahwa suamiku mencintai perempuan lain'?"
"Aku mencintai kamu juga, Ning."
"Tapi tidak sebesar cintamu padanya."
Akang tidak bisa membantah.
"Aku tahu, Mas," lanjut Setya. "Aku selalu tahu. Selama 25 tahun, aku merasa ada jarak di antara kita. Aku pikir aku yang kurang baik, kurang perhatian, kurang cantik. Aku pikir mungkin kalau aku masak lebih enak, atau berdandan lebih menarik, atau lebih sering tersenyum, Mas akan lebih dekat denganku. Tapi ternyata tidak. Ternyata jarak itu bukan karena aku kurang apa-apa. Ternyata jarak itu karena hatimu sudah dimiliki orang lain sejak sebelum kita menikah."
Setya menangis. Akhirnya, setelah berminggu-minggu menahan tangis, Setya Ningsih menangis.
"Aku tidak adil padamu, Ning," kata Akang lirih. "Aku tahu itu. Aku sudah mencoba menjadi suami yang baik. Aku sudah mencoba mencintaimu dengan sepenuh hati. Tapi hati itu, hati yang aku berikan padamu, sebenarnya sudah tidak utuh sejak awal. Aku memberikanmu hati yang sudah retak, yang sudah lebih dulu dicuri oleh perempuan lain."
"Lalu kenapa Mas menikahiku?"
"Karena aku pikir retakan itu akan sembuh. Aku pikir waktu akan menyembuhkan semuanya. Aku pikir dengan membangun keluarga bersamamu, aku akan melupakan Sinox."
"Tapi tidak?"
"Tapi tidak, Ning. Retakan itu tidak pernah sembuh. Aku hanya menutupinya dengan plester. Tapi sekarang plesternya lepas. Dan retakan itu terlihat lagi. Lebih besar. Lebih dalam. Lebih menyakitkan."
Setya mengusap air matanya dengan punggung tangan.
"Aku tidak akan minta cerai, Mas," katanya akhirnya. "Tapi aku tidak akan bisa hidup seperti ini terus. Aku butuh Mas memilih. Bukan dengan kata-kata, tapi dengan tindakan. Apakah Mas akan terus berhubungan dengan perempuan itu, atau Mas akan memutuskan semuanya dan kembali menjadi suamiku sepenuhnya?"
Akang tidak menjawab.
Ia hanya menunduk.
Dan Setya, untuk kesekian kalinya, merasakan bahwa suaminya tidak bisa melepaskan Sinox.
Bahkan ketika ditanya dengan tegas seperti itu, Akang masih diam.
Masih ragu.
Masih memilih untuk tidak memilih.
Dan bagi Setya, diam adalah jawaban yang paling menyakitkan.
Sosok Itu
Malam itu, di rumahnya masing-masing, dua pasangan suami istri tidur terpisah.
Sinox di kamar sendirian, ditemani album foto lama dan kenangan yang tidak kunjung mati.
Mas Sarif di ruang tamu, dengan bantal guling bekas dan selimut tipis yang tidak cukup hangat untuk melindunginya dari dinginnya malam.
Akang di beranda, ditemani rokok dan kopi pahit, merenungi kebodohannya sendiri.
Setya di kamar, berbaring dengan mata terbuka lebar, menatap langit-langit yang retak, seperti hatinya.
Dan di antara mereka semua, ada sosok yang tak pernah hilang.
Sosok yang menjadi bayangan, menjadi hantu, menjadi duri dalam daging.
Sosok yang tidak sengaja hadir, tapi tidak bisa diusir.
Sosok bernama cinta masa lalu, yang indah saat dikenang, tapi menghancurkan saat hadir kembali di waktu yang salah.
Sinox Yanti dan Akang Riyadi mungkin tidak pernah bermaksud melukai siapa pun. Mereka hanya dua manusia yang dipertemukan kembali oleh takdir, setelah tiga puluh tahun berpisah, dengan membawa luka dan rindu yang tidak pernah benar-benar pulih.
Tapi cinta, sebesar apa pun ia, tidak membenarkan segala hal.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Sinox bertanya pada dirinya sendiri:
Mana yang lebih penting: kebahagiaan masa laluku, atau ketenangan masa depanku?
Mana yang lebih aku cintai: kenangan tentang Akang, atau kenyataan bersama Mas Sarif dan anak-anakku?
Dan jika aku harus memilih, akankah aku cukup berani untuk melepaskan salah satunya?
Ia tidak tahu jawabannya.
Tapi ia tahu, suatu saat, ia harus memilih.
Karena tidak ada yang bisa memiliki dua dunia sekaligus.
Tidak ada yang bisa mencintai dua orang sekaligus dengan sepenuh hati.
Dan tidak ada yang bisa hidup selamanya di antara kenangan dan kenyataan.
Sosok yang tak pernah hilang itu, pada akhirnya, harus hilang. Atau harus dipertahankan. Tidak ada jalan tengah.
Dan Sinox, dan Akang, harus berani mengambil keputusan.
Sebelum semuanya hancur.
Sebelum semua terlambat.
BAB VIII
Video Call Pertama
Ada momen-momen dalam hidup yang terasa seperti keluar dari waktu. Ketika jarak dan usia kehilangan maknanya, ketika dua hati yang terpisah selama ribuan hari akhirnya saling menatap, bukan melalui bayangan atau kenangan, tetapi melalui cahaya dari layar ponsel yang menyala redup di tengah malam.
Video call pertama antara Akang Riyadi dan Sinox Yanti bukan sekadar panggilan video.
Ia adalah tabrakan antara masa lalu dan masa kini. Ia adalah jembatan yang menghubungkan tiga puluh tahun keheningan. Ia adalah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah berani mereka ajukan.
Dan ketika layar itu menyala, ketika wajah yang hanya hidup dalam ingatan itu akhirnya tampak secara nyata, dunia mereka berdua berhenti berputar.
Tapi di balik layar itu, ada mata-mata yang mengintai. Ada telinga-telinga yang mendengar. Ada rekaman yang sedang berlangsung tanpa sepengetahuan mereka.
Mereka tidak tahu bahwa malam itu bukan hanya awal dari pertemuan kembali.
Tapi juga awal dari kehancuran.
Pertemuan yang Tertunda
Kapuas, pukul 23.30. Empat minggu sejak panggilan telepon pertama.
Akang duduk di beranda rumah panggungnya. Hujan gerimis mulai turun, jarang terjadi di lahan gambut saat musim kemarau, tapi malam ini alam seolah ikut bersedih. Angin bertiup lebih kencang dari biasanya, membawa bau tanah basah dan dedaunan yang mulai membusuk.
Setya Ningsih sudah tidur.
Atau setidaknya, itu yang Akang kira.
Ponselnya bergetar.
Sinox Yanti: Akang, kamu di rumah saja?
Akang Riyadi: Iya. Di beranda. Kamu?
Sinox Yanti: Di kamar. Mas Sarif sudah tidur.
Akang membaca kalimat terakhir itu. Mas Sarif sudah tidur. Artinya, Sinox sendirian. Artinya, mereka bisa bicara lebih lama malam ini.
Rasa bersalah menjalari sekujur tubuhnya. Tapi rasa rindu lebih besar.
Akang Riyadi: Maafkan aku, Nox. Ini semua salahku.
Sinox Yanti: Bukan siapa-siapa. Ini sudah takdir. Tapi malam ini, aku tidak ingin bicara tentang mereka. Aku hanya ingin melihatmu, Akang. Cuma sekali. Biar aku tahu bahwa kau benar-benar ada. Bukan hanya suara.
Akang menelan ludah.
Jantungnya berdegup kencang.
Video call.
Setelah tiga puluh tahun.
Sinox Yanti: Akang? Kau masih di sana?
Akang Riyadi: Aku di sini, Nox. Aku hanya... aku takut.
Sinox Yanti: Takut apa?
Akang Riyadi: Takut kau kecewa. Aku sudah tua, Nox. Tidak seperti dulu.
Sinox Yanti: Akang, kita sama-sama sudah tua. Tiga puluh tahun bukan waktu yang singkat. Aku juga tidak seperti dulu. Aku gemuk, aku keriput, aku punya uban di mana-mana. Tapi aku ingin kau melihatku. Bukan karena kita masih muda. Tapi karena kita jujur. Setelah tiga puluh tahun, kita pantas untuk jujur.
Akang menarik napas panjang.
Jarinya bergerak ke ikon kamera.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Ia tekan.
Di Balik Pintu Kapuas
Setya Ningsih tidak tidur.
Ia berbaring di tempat tidur, memejamkan mata, tapi telinganya terjaga. Ia mendengar suami bangkit dari tempat tidur. Mendengar langkah kaki menuju beranda. Mendengar suara ponsel bergetar, lalu suara Akang mengetik, kadang cepat, kadang lambat, seperti orang yang sedang berbicara dengan seseorang yang sangat ia perhatikan.
Setya bangkit.
Diam-diam.
Ia berjalan ke pintu kamar yang sedikit terbuka.
Dari sela-sela pintu, ia melihat Akang duduk di beranda. Ponsel di tangan. Layar menyala.
Wajah suaminya, wajah yang sudah 25 tahun ia kenal, tiba-tiba terlihat asing.
Ada senyum di sana. Senyum yang tidak pernah Setya lihat saat Akang bicara dengannya. Lembut. Hangat. Penuh cinta.
Setya mundur selangkah.
Dadanya sesak.
Ia tidak marah. Belum.
Tapi tangannya, tangannya bergerak sendiri.
Ia mengambil ponselnya dari atas lemari.
Membuka kamera.
Mengintip kembali ke sela-sela pintu.
Layar ponselnya menangkap gambar suaminya yang sedang tersenyum manis ke layar ponselnya sendiri.
Rekam.
Setya menekan tombol merah.
Ia tidak tahu mengapa ia melakukannya. Mungkin karena ingin bukti. Mungkin karena ingin mengkonfrontasi suaminya nanti. Mungkin karena, di dalam hatinya yang paling gelap, ia ingin dunia tahu apa yang suaminya lakukan di tengah malam.
Tiga puluh detik.
Lalu Setya berhenti merekam.
Ia menyimpan video itu di galeri ponselnya.
Lalu kembali ke tempat tidur.
Berbaring.
Memejamkan mata.
Tapi air mata merembes dari sudut matanya.
Tegorejo: Ketika Pintu Terbuka
Di saat yang sama, di Tegorejo, Sinox sedang menatap layar ponselnya dengan mata basah.
Wajah Akang muncul di layar. Tua. Keriput. Kumis tebal. Tapi matanya, matanya masih sama. Teduh. Hangat. Seperti dulu.
"Akang..." bisiknya.
"Kamu masih cantik, Nox."
Sinox tertawa sekaligus menangis. "Kampang. Aku sudah tua."
"Bukan soal kerutan atau pipi. Kamu masih Sinox yang dulu. Cerewet. Manja. Cerdas."
"Akang masih pendiam seperti dulu. Tapi mata kamu, matamu bicara lebih keras dari mulutmu."
"Mataku bicara apa sekarang?"
Sinox menatap lebih dalam. "Matamu bilang, 'Aku lelah, Nox. Aku lelah berpura-pura. Aku rindu kamu. Tapi aku tidak tahu harus berbuat apa.'"
Akang terdiam.
Lalu suaranya bergetar. "Matamu juga bicara, Nox. Matamu bilang, 'Aku takut, Akang. Aku takut kehilangan kamu lagi. Tapi aku juga takut mempertahankan kamu. Aku tidak tahu mana yang benar.'"
"Kita ini kenapa, Akang?" bisik Sinox.
"Kita ini dua orang bodoh yang membiarkan cinta berlalu begitu saja, lalu menghabiskan tiga puluh tahun menyesalinya."
Mereka berdua diam.
Menikmati momen itu.
Tidak ada yang tahu bahwa di balik setiap pintu, ada mata yang mengintai.
Gangguan dari Kenyataan
Di tengah video call itu, Sinox mendengar suara dari luar kamarnya.
Krek.
Pintu kamar terbuka.
Bukan terbuka pelan. Tapi terbuka lebar.
Mas Sarif berdiri di ambang pintu.
Mata merah karena kurang tidur. Wajah kusut. Rambut acak-acakan. Tapi matanya, matanya tajam. Sangat tajam.
Sinox panik.
Refleks, ia menekan tombol daya ponselnya. Layar mati.
Tapi sudah terlambat.
"Sin, kamu bicara dengan siapa?" suara Mas Sarif dingin. Tidak seperti biasanya.
"Tidak ada, Mas. Hanya... hanya teman."
"Teman?" Mas Sarif berjalan mendekat. Setiap langkahnya terasa berat di lantai kayu. "Teman yang bicara jam sebelas malam? Teman yang bikin kamu nangis?"
Sinox tidak menjawab. Ia menggenggam ponselnya erat-erat, seolah itu bisa menyembunyikan kebenaran.
Mas Sarif berdiri di depan tempat tidur. Menatap istrinya.
"Akang Riyadi, kan?"
Sinox menggigit bibir. Tidak bisa berbohong lagi.
"Iya, Mas."
"Kamu video call dengan dia?"
"Iya, Mas."
Mas Sarif terdiam.
Diam yang panjang. Diam yang membunuh.
Lalu ia tertawa. Tertawa pahit yang membuat bulu kuduk Sinox meremang.
"Aku sudah bilang, Sin. Aku sudah bilang berkali-kali. Tapi kamu tidak pernah dengar."
"Mas, aku..."
"Apa yang kurang dariku, Sin?" suara Mas Sarif meninggi. Tapi tidak berteriak. Lebih seperti ratapan. "Apa yang laki-laki itu punya yang tidak aku punya?"
"Mas, tidak ada yang kurang..."
"JELAS ADA!" Mas Sarif membentak. Tangannya mengepal. Dadanya naik turun. "Kalau tidak ada yang kurang, kamu tidak akan cari laki-laki lain. Kalau aku cukup, kamu tidak akan video call tengah malam dengan laki-laki yang bahkan belum pernah kamu temui secara fisik!"
Sinox menangis. "Mas, aku minta maaf..."
"Maaf?" Mas Sarif menggeleng. "Maaf tidak akan cukup, Sin."
Ia berbalik. Berjalan ke pintu.
"Mas, mau ke mana?"
Mas Sarif berhenti. Tidak menoleh.
"Aku tidur di ruang tamu."
"Mas..."
"Jangan panggil aku. Aku tidak mau bicara."
Pintu kamar tidak dibanting. Tapi ditutup pelan.
Itu yang lebih menyakitkan.
Sinox jatuh terduduk di tempat tidur.
Ia menatap ponselnya yang mati.
Akang masih di sana. Di seberang sana. Tapi ia tidak berani menyalakan ponselnya lagi.
Ya Allah, doanya dalam hati. Apa yang harus aku lakukan?
Di Ruang Tamu
Mas Sarif duduk di kursi panjang ruang tamu.
Ia tidak berbaring. Tidak tidur. Hanya duduk. Menatap gelapnya langit-langit. Mendengar suara istrinya menangis di kamar.
Ia ingin marah lagi. Ingin membentak. Ingin masuk ke kamar dan merebut ponsel istrinya dan membantingnya ke lantai.
Tapi ia lelah.
Lelah marah.
Lelah cemburu.
Lelah menjadi suami yang istrinya lebih memilih laki-laki lain.
Apa yang kurang dariku? pikirnya lagi.
Ia tidak tahu jawabannya.
Tapi satu hal yang ia tahu, malam ini, untuk pertama kalinya dalam 20 tahun pernikahan, ia merasa bahwa ia mungkin akan kehilangan Sinox.
Dan rasa itu, rasa takut kehilangan, lebih menyakitkan daripada rasa cemburu.
Kapuas: Ketika Setya Berbicara
Kembali ke Kapuas.
Akang baru saja menekan tombol merah saat pintu kamar terbuka.
Setya berdiri di sana.
Bukan dengan mata sembab. Bukan dengan wajah menangis.
Tapi dengan senyum.
Senyum yang dingin. Senyum yang tidak pernah Akang lihat sebelumnya.
"Mas, selesai video call?"
Akang terkejut. "Ning, kamu..."
"Aku dengar semuanya, Mas. Dari awal sampai akhir."
Akang pucat. "Ning, aku bisa jelaskan..."
"Jelaskan apa?" Setya berjalan masuk. Tangannya memegang ponsel. Layar ponsel menyala. "Jelaskan bahwa Mas bilang dia masih cantik? Jelaskan bahwa Mas bilang kangen? Jelaskan bahwa Mas lebih lembut pada perempuan itu daripada padaku selama 25 tahun nikah?"
"Ning, aku..."
"Atau Mas mau jelaskan ini?"
Setya mengacungkan ponselnya.
Layar ponsel memutar video.
Video pendek. Tiga puluh detik.
Wajah Akang di layar. Tersenyum. Lembut.
"Kamu masih cantik, Nox."
Suara Setya dari balik kamera: "Rekam."
Akang terdiam.
Darahnya berubah menjadi es.
"Kamu... kamu merekam?" bisiknya.
"Aku merekam, Mas. Sebagai bukti. Supaya Mas tidak bisa berbohong lagi."
Setya mematikan ponselnya.
Ia duduk di tepi tempat tidur. Tidak menangis. Tidak berteriak.
Hanya diam.
"Aku tidak akan hapus video ini, Mas."
"Ning, tolong..."
"Tidak. Biar Mas ingat. Biar Mas tidak bisa mengelak. Biar suatu hari nanti, jika Mas masih berani berbohong padaku, aku punya bukti."
Akang berlutut di depan istrinya.
"Setya, aku minta maaf. Aku minta maaf sebesar-besarnya."
"Maaf tidak akan menghapus video itu dari ponselku, Mas. Maaf tidak akan membuatku melupakan malam ini."
"Ning, aku janji..."
"Jangan janji, Mas. Janji Mas sudah sering aku dengar."
Setya berdiri.
Ia berjalan ke pintu kamar.
"Ning, mau ke mana?"
"Tidur. Di kamar Raha. Aku tidak bisa tidur di samping Mas malam ini."
"Ning..."
"Selamat malam, Mas."
Pintu kamar tertutup.
Akang hanya bisa terduduk di lantai, di antara rasa bersalah dan ketakutan.
Ia tidak tahu bahwa Setya tidak hanya merekam untuk dirinya sendiri.
Besok, video itu akan dikirim ke seseorang.
Dan dalam hitungan hari, seluruh desa akan tahu.
Setelah Video Call
Sinox tidak bisa tidur.
Ia berbaring di kamar sendirian. Mas Sarif di ruang tamu. Jarak di antara mereka hanya beberapa meter, tapi terasa seperti lautan.
Ia teringat wajah Akang di layar ponsel.
Wajah yang sudah tua. Berkerut. Beruban.
Tapi matanya, matanya masih sama.
Masih teduh.
Masih bisa membuatnya merasa aman.
Satu tatapan, dan aku rela menghancurkan pernikahanku sendiri, pikir Sinox.
Ia memejamkan mata.
Menangis lagi.
Ya Allah, tolong aku. Aku tidak kuat. Aku mencintai suamiku, tapi aku juga mencintai Akang. Aku tidak bisa memilih. Tolong tunjukkan jalan.
Di ruang tamu, Mas Sarif juga tidak bisa tidur.
Ia mendengar istrinya menangis.
Dia menangis karena laki-laki itu, pikirnya.
Bukan karena aku.
Rasa sakit yang ia rasakan tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.
Bukan marah. Bukan cemburu biasa.
Tapi rasa tidak berharga.
Apa yang kurang dariku, Sin? Apa yang laki-laki itu punya yang tidak aku punya?
Ia tidak tahu jawabannya.
Mungkin ia tidak akan pernah tahu.
Di Kapuas, Raha Terbangun
Di Kapuas, Raha terbangun karena haus.
Anak bungsu Akang itu berjalan ke dapur untuk mengambil air minum. Melewati kamar orang tuanya. Pintu kamar sedikit terbuka.
Ia melihat ayahnya duduk di lantai kamar. Wajahnya basah. Matanya merah.
Ayahnya menangis.
Raha belum pernah melihat ayahnya menangis seumur hidupnya.
Ia ingin masuk. Ingin bertanya.
Tapi langkah kakinya terhenti.
Karena ia mendengar suara ibunya dari kamar Raha, suara tangis tertahan.
Ayah dan ibu sama-sama menangis.
Raha tidak mengerti mengapa.
Tapi ia merekam.
Bukan karena iseng.
Tapi karena takut.
Karena ia merasa ada sesuatu yang sangat salah dengan keluarganya malam ini.
Dan ia ingin punya bukti, kalau-kalau besok semuanya berubah.
Ia merekam ayahnya yang duduk lemas di lantai.
Lalu ia merekam suara tangis ibunya dari balik pintu.
Lalu ia kembali ke kamarnya.
Menyimpan video itu.
Dan menangis dalam diam.
Dini Hari
Pukul 02.30.
Akang masih duduk di lantai kamar. Setya sudah tertidur, atau pura-pura tidur, di kamar Raha.
Ia mengambil ponselnya.
Membuka chat dengan Sinox.
Pesan terakhir belum dibaca.
Ia mengetik. Menghapus. Mengetik lagi. Menghapus lagi.
Akhirnya, ia hanya menulis satu kalimat.
Akang Riyadi: Nox, aku minta maaf. Aku tidak tahu ini akan serumit ini.
Pesan itu tidak dibalas.
Akang tidak tahu bahwa Sinox mematikan ponselnya setelah Mas Sarif keluar kamar.
Ia tidak tahu bahwa Sinox sedang berbaring di tempat tidurnya, memandang langit-langit, dan bertanya pada dirinya sendiri: Apakah ini sepadan?
Ia juga tidak tahu bahwa di kamar sebelah, Raha sedang terbangun, memutar ulang video yang ia rekam, dan bertanya pada dirinya sendiri: Kenapa ayah dan ibu menangis?
Ia juga tidak tahu bahwa di galeri ponsel Setya, ada video berdurasi tiga puluh detik yang siap dijadikan senjata.
Video call pertama itu bukan hanya awal dari pertemuan kembali.
Ia adalah awal dari segalanya.
Awal dari kehancuran.
Awal dari air mata.
Awal dari penyesalan.
Tapi juga, tanpa mereka sadari, awal dari proses belajar bahwa cinta tidak selalu berarti memiliki.
Pelajaran dari Video Call Pertama
Akang dan Sinox belum tahu bahwa malam itu akan menjadi titik balik dalam hidup mereka.
Mereka masih terlalu asyik dengan rasa rindu dan cinta yang membuncah.
Mereka tidak tahu bahwa di balik layar ponsel, ada rekaman yang sedang berlangsung.
Ada mata yang mengintai.
Ada hati yang hancur.
Dan ada masa depan yang tidak akan pernah sama lagi.
Tapi suatu saat, setelah semua air mata habis, setelah semua luka mengering, setelah semua rahasia terbongkar, mereka akan mengerti.
Video call pertama bukanlah awal dari persatuan mereka.
Tapi awal dari perpisahan yang sesungguhnya.
Perpisahan yang tidak menyakitkan karena kebencian.
Tapi perpisahan yang damai karena cinta.
Perpisahan yang mengajarkan bahwa kadang, cara terbaik untuk mencintai seseorang adalah dengan melepaskannya.
Tapi untuk sampai ke pemahaman itu, mereka masih harus melalui badai.
Badai yang akan segera datang.
Dan tidak ada yang bisa menghentikannya.
Setya membuka galeri ponselnya sekali lagi sebelum tidur.
Video berdurasi tiga puluh detik itu masih ada.
Ia menontonnya sekali lagi.
Wajah suaminya tersenyum manis ke layar ponsel.
"Kamu masih cantik, Nox."
Setya menyimpan ponselnya di bawah bantal.
Besok, ia akan mengirim video itu ke seseorang.
Bukan untuk disebarkan.
Tapi untuk bertanya: Apa yang harus aku lakukan?
Ia tidak tahu bahwa orang itu akan menyebarkannya lebih luas.
Ia tidak tahu bahwa dalam hitungan hari, video itu akan menjadi viral.
Ia tidak tahu bahwa itu akan menghancurkan dua rumah tangga sekaligus.
Tapi besok, besok ia akan menekan tombol kirim.
Dan tidak ada yang bisa menghentikannya.
BAB IX
Setya Ningsih Mulai Curiga
Curiga tidak pernah lahir dari ruang hampa.
Ia tumbuh dari luka-luka kecil yang tidak diperhatikan, dari kata-kata yang tidak terucap, dari tatapan yang terlalu lama menatap ponsel, dari senyum yang tidak lagi ditujukan pada pasangan sendiri. Curiga adalah tanaman parasit yang akarnya menjalar perlahan, mengisap semua kebahagiaan yang tersisa, hingga akhirnya yang tinggal hanyalah kerangka hubungan yang rapuh dan siap runtuh kapan saja.
Setya Ningsih tidak dilahirkan sebagai perempuan pencemburu.
Dulu, waktu muda dulu, ia adalah perempuan yang percaya diri. Ia tidak pernah cemburu buta, tidak pernah memeriksa ponsel suami, tidak pernah bertanya siapa yang menelepon saat Akang keluar malam. Ia percaya bahwa cinta tidak perlu dibuktikan dengan kecurigaan. Cinta cukup dirawat dengan kepercayaan.
Tapi kepercayaan, sekali retak, tidak pernah bisa kembali utuh.
Dan kepercayaan Setya pada Akang retak pada malam pertama ia melihat nama Sinox Yanti di layar ponsel suaminya.
Sejak malam itu, Setya berubah.
Bukan berubah menjadi monster pencemburu yang histeris. Tapi berubah menjadi detektif yang diam-diam mengintai, mengamati, mengumpulkan bukti, dan menunggu saat yang tepat untuk meledak.
Dan malam ini, setelah video call pertama yang tanpa sengaja ia dengar dari balik pintu, Setya Ningsih tidak hanya curiga.
Ia yakin.
Suaminya selingkuh. Mungkin tidak secara fisik. Tapi secara emosional, hatinya sudah pergi ke perempuan lain.
Dan Setya, istri sah yang telah mendampinginya selama 25 tahun, hanya tinggal nama.
Pagi Setelah Badai
Kapuas, pukul 05.30.
Setya Ningsih bangun lebih awal dari biasanya. Ia tidak tidur semalaman. Matanya sembab, wajahnya pucat, tubuhnya terasa lemas seperti habis sakit keras. Tapi ia tetap bangkit. Memasak air. Menyiapkan nasi goreng untuk sarapan anak-anak.
Tidak ada senyum di wajahnya. Tidak ada sapaan hangat untuk Akang yang masih duduk di beranda dengan muka masam.
Anak bungsu mereka, Raha, yang masih duduk di kelas VIII SMPN Mantangai, turun dari kamarnya dengan wajah mengantuk.
"Bu, masak apa?"
"Nasi goreng. Kamu mau makan?"
"Iya. Tapi Bu... kok muka Bu pucat? Sakit?"
"Tidak. Cuma kurang tidur."
"Kenapa kurang tidur?"
Setya berhenti mengaduk nasi. Ia menatap anak bungsunya yang masih polos, yang tidak tahu apa-apa tentang keretakan rumah tangga orang tuanya.
"Tidak kenapa-kenapa. Makanlah, Nak. Nanti kamu terlambat ke sekolah."
Raha mengangguk. Ia duduk di meja makan, menyantap nasi goreng buatan ibunya. Sesekali ia menatap ayahnya yang masih duduk di beranda, tidak bergerak, seperti patung.
"Pa, Pa tidak makan?"
Akang menoleh. "Nanti, Ra. Pa belum lapar."
"Tapi nasi gorengnya enak, Pa. Ibu masak spesial."
"Pa tahu. Nanti, ya."
Raha mengernyit. Ada yang aneh dengan orang tuanya pagi ini. Biasanya ayah dan ibunya selalu bercanda saat sarapan. Ibu sering menggoda ayah yang cerewet soal makanan. Ayah sering membalas dengan candaan yang membuat ibu tertawa.
Tapi pagi ini, tidak ada canda. Tidak ada tawa. Yang ada hanyalah keheningan yang canggung, dan jarak yang terasa begitu dekat tapi begitu jauh.
Setelah Raha berangkat sekolah, diantar oleh Iwan, kakak keduanya, yang kebetulan sedang libur dari kantor desa, rumah itu kembali sunyi.
Hanya Setya dan Akang.
Istri dan suami yang dulu saling mencintai, kini seperti dua orang asing yang terpaksa tinggal serumah.
"Ning," panggil Akang pelan.
Setya tidak menjawab. Ia mencuci piring di dapur dengan gerakan yang kasar, hampir membanting piring satu per satu.
"Ning, kita perlu bicara."
"Kita sudah bicara, Mas," jawab Setya tanpa menoleh. "Kita sudah bicara berkali-kali. Tapi tidak ada yang berubah. Mas masih berhubungan dengan dia. Mas masih video call tengah malam. Mas masih lebih memilih dia daripada aku."
"Aku tidak memilih dia..."
"Tapi Mas juga tidak memilih aku." Setya menoleh. Matanya merah, tapi tidak ada air mata. Air matanya sudah habis. "Mas diam. Mas tidak mau memilih. Dan dengan tidak memilih, Mas sudah memilih. Mas memilih untuk tetap berada di antara dua perempuan. Mas memilih untuk menyakiti kami berdua."
Akang berjalan mendekati istrinya. Ia meraih tangan Setya yang basah karena air cucian piring.
Setya melepaskan.
"Jangan sentuh aku, Mas," katanya lirih. "Aku tidak kuat. Jika Mas menyentuhku sekarang, aku akan hancur. Dan aku tidak mau hancur di depan Mas."
"Ning, aku masih mencintaimu..."
"Tapi tidak sebesar cintamu padanya. Aku tahu, Mas. Aku sudah tahu sejak lama. Mungkin sejak awal pernikahan kita. Aku hanya tidak mau mengakuinya pada diriku sendiri."
Akang terdiam.
Setya menghela napas panjang.
"Aku ingin minta sesuatu, Mas."
"Apa?"
"Ceritakan tentang dia. Tentang Sinox Yanti. Siapa dia sebenarnya. Apa hubungan kalian dulu. Dan mengapa, setelah 25 tahun menikah denganku, kau masih belum bisa melupakannya."
Akang menatap istrinya. Ada luka di mata Setya, luka yang ia ciptakan sendiri dengan kebodohannya. Ia pantas menerima pertanyaan itu. Ia pantas menjelaskan. Bukan untuk membela diri, tapi untuk memberikan kejelasan pada perempuan yang telah menjadi pendamping hidupnya selama seperempat abad.
"Duduklah, Ning," kata Akang. "Aku akan ceritakan semuanya. Dari awal. Tanpa berbohong."
Kisah yang Tertunda
Mereka duduk di ruang tamu. Berhadapan. Seperti dua orang yang akan menandatangani perjanjian damai, atau perjanjian perpisahan.
Akang bercerita.
Tentang pertemuannya dengan Sinox Yanti di Tegorejo, saat Sinox masih siswa kelas I SMP dan ia masih siswa kelas 2 SMA. Tentang kedekatan mereka yang sulit dijelaskan, bukan pacaran, bukan saudara, tapi sesuatu di antaranya. Tentang latihan karate bersama, tentang sepeda ontel yang selalu dinaiki berdua, tentang curhatan Sinox yang cerewet dan manja, tentang bagaimana Akang menjadi tempat sandarnya saat Sinox patah hati karena Mas Nur.
"Aku mencintainya, Ning," kata Akang jujur. "Aku sudah mencintainya sejak pertama kali aku melihat dia tersenyum. Tapi aku tidak pernah mengakuinya. Kepadanya, maupun kepada diriku sendiri."
"Kenapa?"
"Karena ibunya. Bu Ros. Beliau minta aku fokus sekolah, jangan ganggu konsentrasi Sinox. Aku dianggap seperti kakak baginya. Dan aku, aku terlalu miskin saat itu. Tidak punya apa-apa. Tidak pantas untuk seorang perempuan sepertinya."
Setya mendengarkan tanpa memotong.
"Lalu aku pergi ke Jakarta," lanjut Akang. "Tanpa pamit. Tanpa kabar. Aku pergi karena aku malu. Aku pergi karena aku tidak punya keberanian untuk mengucapkan selamat tinggal. Aku pikir, dengan pergi, aku akan melupakannya. Tapi ternyata tidak. Aku justru semakin merindukannya."
"Lalu Mas menikah denganku," kata Setya. Suaranya pahit. "Mas menikah denganku dengan hati yang masih penuh dengan perempuan lain. Mas menjadikanku pelarian. Pelarian dari rasa sakit karena tidak bisa bersamanya."
"Tidak, Ning. Aku menikah denganmu karena aku mencintaimu. Mungkin awalnya tidak sebesar cintaku pada Sinox. Tapi seiring waktu, aku belajar mencintaimu. Aku belajar menghargaimu. Aku belajar membangun rumah tangga denganmu."
"Tapi tidak pernah sepenuhnya, Mas."
"Aku berusaha, Ning."
"Berusaha tidak sama dengan berhasil, Mas."
Akang menunduk. Ia tidak bisa membantah.
"Aku ingin tahu," kata Setya. "Jika Sinox Yanti tidak menikah, jika ia masih sendirian saat ini, apakah Mas akan meninggalkan aku untuknya?"
Pertanyaan itu menusuk seperti belati.
Akang mengangkat kepalanya. Menatap mata istrinya. Ia ingin berbohong. Ingin mengatakan tidak. Ingin meyakinkan Setya bahwa ia tidak akan pernah meninggalkannya.
Tapi matanya, matanya lebih jujur dari mulutnya.
Setya membaca jawaban di mata suaminya sebelum mulutnya sempat berbicara.
"Cukup, Mas," katanya, mengangkat tangan. "Aku sudah tahu jawabannya. Aku tidak perlu mendengarnya."
"Ning..."
"Aku bilang cukup, Mas. Aku tidak kuat mendengar kebenaran yang lebih menyakitkan dari yang sudah aku duga."
Setya berdiri. Ia berjalan ke kamar, mengunci pintu dari dalam, lalu menangis. Bukan tangis keras yang bisa didengar orang. Tapi tangis sunyi yang paling menyakitkan, tangis yang ditahan di dalam dada, yang hanya keluar sebagai isakan tertahan dan air mata yang tidak berhenti mengalir.
Akang hanya bisa berdiri di luar pintu kamar, mengetuk pelan, memohon agar istrinya membuka pintu.
Tapi Setya tidak membuka.
Untuk pertama kalinya dalam 25 tahun pernikahan mereka, Setya Ningsih menolak suaminya masuk ke kamar tidur mereka.
Itu awal dari segalanya, pikir Akang. Awal dari kehancuran rumah tanggaku.
Di Balik Pintu yang Tertutup
Setya Ningsih tidak menangis lama.
Setelah air matanya habis, ia duduk di tepi tempat tidur, memandang lemari pakaian yang berisi baju-baju mereka berdua, baju Akang di sebelah kiri, bajunya di sebelah kanan. Selama 25 tahun, mereka berbagi lemari. Berbagi tempat tidur. Berbagi hidup.
Tapi sekarang, Setya merasa asing dengan semua itu.
Ia meraih ponselnya. Bukan untuk menelepon siapa pun. Tapi untuk membuka Facebook, mencari nama Sinox Yanti.
Ia menemukannya.
Foto profil perempuan itu adalah foto batik hijau tua dengan senyum setengah. Wajahnya tidak cantik menurut ukuran Setya. Biasa saja. Malah menurut Setya, ia sendiri lebih cantik. Tubuhnya juga lebih langsing. Wajahnya lebih muda meskipun usianya tidak terpaut jauh.
Lalu kenapa suamiku lebih memilih dia?
Apa yang dia punya yang tidak aku punya?
Setya menggulir timeline Sinox. Tidak banyak postingan. Kebanyakan tentang anak-anak, tentang sekolah, tentang kutipan-kutipan motivasi. Tidak ada yang provokatif. Tidak ada yang mengindikasikan bahwa perempuan ini sengaja merebut suami orang.
Dia juga korban, pikir Setya getir. Korban dari cinta masa lalu suamiku yang tidak pernah mati.
Setya membuka Instagram. Mencari nama yang sama. Tidak banyak foto. Hanya beberapa, foto pemandangan, foto masakan, foto anak ketiganya yang sedang tersenyum dengan gigi ompong.
Tapi di salah satu foto, Setya menemukan sesuatu.
Sebuah foto lama, diunggah dua tahun lalu, dengan caption: "Rindu sama seseorang yang tidak pernah benar-benar ada."
Setya membaca caption itu berulang kali.
Rindu sama seseorang yang tidak pernah benar-benar ada.
Apakah itu tentang suamiku? pikir Setya. Apakah selama ini dia juga merindukan Mas, sama seperti Mas merindukan dia?
Setya menutup Instagram. Meletakkan ponsel di samping bantal.
Ia menatap langit-langit kamar, yang retak di beberapa bagian, seperti rumah tangganya yang juga mulai retak.
"Sinox Yanti," bisiknya. "Kita tidak pernah bertemu. Kita tidak pernah saling kenal. Tapi kau telah mengambil setengah hati suamiku. Dan aku tidak tahu apakah aku bisa memaafkanmu untuk itu."
Pertemuan Tanpa Sengaja
Hari Minggu. Akang pergi ke kantor desa meskipun seharusnya libur. Ia tidak betah di rumah. Rumah yang dulu hangat kini terasa dingin seperti kulkas. Setya tidak bicara padanya kecuali untuk urusan anak. Tidak ada masakan spesial. Tidak ada senyuman. Tidak ada sapaan selamat pagi.
Setya tinggal di rumah sendirian. Raha sedang bermain di rumah teman, Iwan sedang bersama tunangannya mempersiapkan pernikahan yang tinggal beberapa minggu lagi, Anto sibuk dengan warung kelontongnya.
Setya duduk di beranda, memandang kebun karet yang mulai mengering. Angin gambut bertiup, membawa debu dan bau tanah kering.
Ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk di WhatsApp. Dari nomor tidak dikenal.
+62 xxx: Maaf, apakah ini Ibu Setya Ningsih?
Setya mengernyit. Nomor asing. Format nomor dari Jawa Tengah, berdasarkan kode area yang ia kenali karena dulu ia juga berasal dari Jawa sebelum pindah ke Kapuas.
Setya Ningsih: Iya. Siapa ini?
+62 xxx: Saya Sinox Yanti. Dari Tegorejo. Istri Mas Sarif. Saya mohon maaf sebelumnya, Bu. Saya tidak bermaksud mengganggu. Tapi saya ingin bicara dengan Ibu. Secara pribadi. Bukan melalui suami saya atau suami Ibu.
Setya terdiam.
Jantungnya berdegup kencang.
Sinox Yanti. Perempuan itu. Perempuan yang selama berminggu-minggu menjadi bayangan dalam pernikahannya. Perempuan yang telah mengambil setengah hati suaminya. Perempuan yang, secara virtual, telah menghancurkan ketenangan rumah tangganya.
Sekarang perempuan itu menghubunginya langsung.
Bukan melalui Akang. Bukan melalui orang ketiga.
Tapi langsung.
Beraninya, pikir Setya setengah marah, setengah kagum.
Setya Ningsih: Apa yang mau Ibu bicarakan dengan saya?
Sinox Yanti: Banyak hal, Bu. Tentang suami Ibu. Tentang suami saya. Tentang masa lalu yang tidak pernah selesai. Dan tentang masa depan, apa yang ingin kita lakukan dari sisa-sisa hubungan yang mungkin sudah seharusnya berakhir sejak dulu.
Setya membaca pesan itu berulang kali.
Ada ketulusan di sana. Ada kerendahan hati. Tidak ada nada menantang atau menyalahkan.
Perempuan ini, setidaknya dari tulisannya, tampak seperti korban yang sama seperti Setya. Korban dari cinta yang lahir di waktu yang salah, tumbuh di tempat yang salah, dan sekarang, di usia yang tidak lagi muda, mekar kembali tanpa bisa dikendalikan.
Setya Ningsih: Ibu tidak takut saya akan marah? Tidak takut saya akan memaki Ibu habis-habisan?
Sinox Yanti: Ibu berhak marah, Bu. Ibu berhak memaki saya. Saya sudah melukai perasaan Ibu meskipun tidak sengaja. Tapi saya lebih takut jika kita tidak bicara. Karena tanpa bicara, prasangka akan tumbuh. Dan prasangka lebih berbahaya daripada kemarahan.
Setya menarik napas panjang.
Ia tidak tahu apakah ini ide bagus. Berbicara dengan perempuan yang menjadi penyebab, atau setidaknya pemicu, keretakan rumah tangganya. Tapi ada suara di kepalanya yang berbisik: Bicaralah. Dengarkan dia. Mungkin ada kebenaran yang perlu kau dengar.
Setya Ningsih: Ibu mau bicara bagaimana? Telepon? Video call?
Sinox Yanti: Apa pun yang Ibu nyaman. Saya tidak akan memaksa. Tapi saya lebih memilih video call, Bu. Supaya kita bisa saling melihat mata. Karena mata tidak bisa berbohong.
Setya tersenyum getir.
Mata tidak bisa berbohong. Itu kalimat yang sama yang pernah diucapkan Akang tentang Sinox. Matanya tidak pernah berbohong.
Jadi perempuan ini memang istimewa. Setya bisa mengerti mengapa suaminya sulit melupakannya.
Setya Ningsih: Baik. Video call. Sekarang?
Sinox Yanti: Sekarang, Bu. Jika Ibu tidak keberatan.
Setya tidak menjawab. Ia langsung menekan tombol video call.
Layar ponselnya menyala.
Dan untuk pertama kalinya, Setya Ningsih melihat wajah Sinox Yanti secara langsung.
Dua Perempuan, Satu Luka
Sinox tampak gugup. Matanya merah, seperti baru saja menangis. Rambutnya diikat sederhana, dengan beberapa helai uban yang terlihat di pelipis. Ia mengenakan kaus longgar berwarna abu-abu.
"Halo, Bu Setya," sapa Sinox pelan. Suaranya bergetar.
"Halo," balas Setya datar. Ia sengaja tidak memanggil nama. Masih terlalu sakit untuk menyebut nama perempuan ini dengan akrab.
"Maaf, Bu. Saya tidak tahu harus memulai dari mana."
"Dari awal saja. Kenapa Ibu menghubungi suami saya? Setelah tiga puluh tahun? Apa Ibu tidak punya rasa malu?"
Pertanyaan itu tajam. Sengaja Setya lempar tanpa ampelas.
Sinox menunduk. Air matanya jatuh. Ia tidak menyekanya.
"Saya malu, Bu. Saya sangat malu. Dan saya menyesal. Tapi saya tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi."
"Jadi Ibu hanya menyesal, tapi Ibu tidak berhenti menghubungi suami saya?"
"Saya sudah mencoba, Bu. Tapi... saya lemah. Suami Ibu adalah cinta pertama saya. Cinta yang tidak pernah saya akui, bahkan pada diri saya sendiri. Selama tiga puluh tahun saya menguburnya. Tapi ketika dia muncul kembali, ketika dia mencari saya, semua perasaan itu keluar dengan sendirinya. Saya tidak bisa mengendalikannya."
"Ibu pikir saya bisa mengendalikan perasaan suami saya?" suara Setya meninggi. "Ibu pikir saya tidak sakit? Saya tidur di samping suami saya setiap malam, tapi hatinya sudah tidak di sini. Hatinya di Tegorejo. Hatinya bersama Ibu. Dan saya, saya hanya tinggal nama!"
Sinox menangis lebih keras. "Saya minta maaf, Bu. Saya minta maaf sebesar-besarnya."
"Maaf Ibu tidak berguna!" Setya hampir berteriak. Tapi ia menahan. Raha mungkin sudah pulang ke rumah. Tidak boleh ada anak yang mendengar ibunya berteriak histeris. "Maaf Ibu tidak akan mengembalikan hati suami saya. Maaf Ibu tidak akan memperbaiki rumah tangga saya."
"Saya tahu, Bu. Saya tahu. Tapi saya tidak tahu harus berbuat apa. Saya tidak bisa memaksa Akang, suami Ibu, untuk melupakan saya. Saya juga tidak bisa memaksa diri saya sendiri untuk melupakan dia. Saya sudah mencoba, Bu. Saya sudah mencoba selama tiga puluh tahun. Tapi tidak pernah berhasil."
Setya terdiam.
Ia menatap Sinox melalui layar ponsel. Melihat air mata perempuan itu, tidak palsu, tidak dibuat-buat. Itu adalah air mata tulus dari seorang perempuan yang juga tersiksa oleh cinta yang tidak bisa ia miliki.
Kita sama, Sinox Yanti, pikir Setya. Kita sama-sama perempuan yang mencintai laki-laki yang tidak sepenuhnya untuk kita.
"Ibu mencintai suami saya?" tanya Setya. Suaranya kini lebih tenang. Lebih lembut. Seperti rasa marahnya mulai terkikis oleh rasa iba.
"Saya mencintainya, Bu. Tapi bukan hanya sebagai laki-laki yang Ibu nikahi. Saya mencintai kenangan tentang dia. Saya mencintai sosok yang dulu menjadi tempat saya bersandar. Saya mencintai masa lalu yang tidak akan pernah kembali. Dan saya tidak tahu, saya tidak yakin, apakah yang saya rasakan sekarang adalah cinta pada suami Ibu yang sekarang, atau cinta pada bayangannya yang sudah berubah."
Jawaban itu jujur. Sangat jujur.
Setya tidak bisa marah pada kejujuran.
"Apa yang Ibu inginkan dari saya?" tanya Setya.
"Saya tidak ingin apa-apa, Bu. Saya tidak ingin merebut suami Ibu. Saya tidak ingin menghancurkan rumah tangga Ibu. Saya hanya ingin... saya hanya ingin berdamai dengan masa lalu. Agar saya tidak lagi dihantui oleh pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab. Agar saya bisa ikhlas. Agar saya bisa menjadi istri yang baik untuk suami saya, tanpa terus-menerus membandingkannya dengan suami Ibu."
"Dan apakah Ibu bisa?"
Sinox menghela napas panjang. "Saya tidak tahu, Bu. Tapi saya ingin mencoba. Dan saya butuh bantuan Ibu."
"Bantuan saya?"
"Ibu punya kekuatan yang tidak saya miliki. Ibu istri sahnya. Ibu yang tinggal bersamanya setiap hari. Ibu yang melihat dia bangun tidur, yang memasak untuknya, yang merawatnya saat sakit. Saya tidak punya semua itu. Saya hanya punya kenangan. Dan kenangan, seindah apa pun, tidak bisa mengalahkan kenyataan."
Setya diam cukup lama.
"Ibu perempuan yang aneh," kata Setya akhirnya. "Ibu datang, mengacaukan rumah tangga saya, lalu minta bantuan saya untuk membereskan kekacauan yang Ibu buat sendiri."
Sinox tersenyum getir. "Saya tahu, Bu. Saya memang aneh. Dan saya egois. Saya minta maaf."
Setya menghela napas panjang.
"Saya tidak bisa berjanji apa-apa, Bu Sinox. Tapi saya berterima kasih Ibu sudah berani menghubungi saya secara langsung. Itu membutuhkan keberanian."
"Saya sudah tidak punya apa-apa lagi selain keberanian, Bu. Reputasi saya sudah hancur di mata suami saya. Rumah tangga saya sudah di ujung tanduk. Yang bisa saya lakukan sekarang hanyalah berusaha memperbaiki, sedikit demi sedikit, apa yang sudah saya rusak."
"Dan suami Ibu? Mas Sarif? Apa dia tahu Ibu menghubungi saya?"
"Tidak. Tapi saya akan beri tahu dia nanti. Saya sudah lelah berbohong, Bu. Kejujuran memang menyakitkan, tapi kebohongan lebih menyakitkan dalam jangka panjang."
Setya mengangguk. "Saya setuju."
Mereka berdua terdiam.
Video call itu berlangsung hampir satu jam. Dua perempuan yang seharusnya bermusuhan, duduk di seberang layar ponsel, satu di Kapuas, satu di Tegorejo, berbagi luka yang sama.
Cinta mereka pada laki-laki yang sama.
Dan penderitaan mereka karena laki-laki yang tidak bisa memilih itu.
"Bu Setya," kata Sinox sebelum menutup telepon.
"Iya?"
"Saya tidak akan minta Ibu memaafkan saya. Itu terlalu berat. Tapi saya minta Ibu percaya: saya tidak akan merebut suami Ibu. Saya berjanji pada diri saya sendiri, dan saya berjanji pada Ibu, saya akan menjaga jarak. Saya akan membatasi komunikasi dengan Akang. Saya akan berusaha melepaskannya, perlahan-lahan. Mungkin tidak dalam semalam. Mungkin butuh waktu. Tapi saya akan berusaha."
Setya menatap Sinox. Mencari kebohongan di matanya.
Tidak ada.
"Saya akan percaya, Bu Sinox," kata Setya. "Tapi janji Ibu tidak cukup. Saya butuh bukti."
"Ibu akan mendapatkannya, Bu. Saya janji."
Video call itu berakhir.
Setya meletakkan ponselnya di pangkuan. Menatap kosong ke arah kebun karet yang mulai gelap karena senja.
Sinox Yanti, pikirnya. Kamu bukan musuhku. Kamu hanya perempuan lain yang juga mencintai suamiku. Dan itu, entah mengapa, membuatku merasa tidak sendirian.
Setelah Video Call
Sinox menutup video call itu dengan perasaan campur aduk.
Ia tidak tahu apakah langkahnya menghubungi Setya Ningsih adalah keputusan yang tepat. Bisa saja Setya marah, memaki, atau bahkan melaporkannya pada Akang. Tapi Sinox sudah tidak peduli. Ia sudah berada di titik terendah dalam hidupnya, tidak ada yang lebih buruk lagi yang bisa terjadi.
Setidaknya aku sudah berusaha, pikir Sinox. Setidaknya aku sudah menunjukkan itikad baik. Sekarang terserah Setya mau menerima atau tidak.
Ia beranjak dari kursi ruang tamu, berjalan ke dapur, dan menyalakan kompor untuk memasak nasi. Mas Sarif belum pulang dari sawah. Eko masih di sekolah. Rumah terasa sepi.
Sinox mengambil ponselnya lagi. Membuka chat dengan Akang.
Sinox Yanti: Akang, aku sudah bicara dengan istrimu.
Balasan datang cepat. Sangat cepat.
Akang Riyadi: Apa?! Kapan?
Sinox Yanti: Tadi. Video call. Sekitar satu jam yang lalu.
Akang Riyadi: Kenapa kau tidak bilang?
Sinox Yanti: Karena aku tidak minta izin. Ini urusanku dengan istrimu. Bukan urusanmu.
Akang Riyadi: Nox, apa yang kalian bicarakan?
Sinox Yanti: Banyak hal. Tentang kamu. Tentang kami. Tentang masa lalu. Tentang masa depan. Tentang bagaimana cara terbaik untuk tidak saling melukai lagi.
Akang Riyadi: Dan?
Sinox Yanti: Dan aku berjanji padanya akan menjaga jarak. Aku berjanji akan melepaskanmu, perlahan-lahan.
Diam cukup lama.
Akang Riyadi: Apa maksudmu melepaskan?
Sinox Yanti: Maksudku, kita tidak bisa terus begini, Akang. Lihatlah apa yang sudah terjadi. Rumah tanggaku hancur. Rumah tanggamu juga hancur. Anak-anak kita mulai bertanya-tanya. Istri dan suami kita menderita. Untuk apa? Untuk cinta yang tidak akan pernah bisa kita miliki?
Akang Riyadi: Kau menyerah?
Sinox Yanti: Bukan menyerah. Tapi sadar diri. Kita sudah tua, Akang. Kita tidak punya waktu untuk drama seperti ini. Yang tersisa dari hidup kita mungkin hanya sepuluh, dua puluh tahun lagi. Kau mau menghabiskan sisa hidupmu dengan menyakiti istrimu? Karena aku tidak mau. Aku sudah cukup melukai Mas Sarif.
Akang Riyadi: Jadi ini akhirnya?
Sinox menangis.
Jarinya bergetar saat mengetik balasan.
Sinox Yanti: Mungkin ini saatnya, Akang. Bukan akhir dari persahabatan kita. Tapi akhir dari drama yang tidak sehat ini. Kita bisa tetap menjadi teman. Tapi tidak lebih dari itu. Tidak ada lagi panggilan tengah malam. Tidak ada lagi video call. Tidak ada lagi pengakuan cinta yang hanya membuat kita tersiksa.
Akang Riyadi: Aku tidak bisa, Nox. Aku belum siap.
Sinox Yanti: Kau harus siap, Akang. Karena jika tidak, kita akan menghancurkan lebih banyak orang. Dan aku tidak mau itu terjadi.
Akang Riyadi: Aku mencintaimu.
Sinox Yanti: Aku juga mencintaimu. Tapi cinta tidak selalu berarti memiliki. Kadang cinta berarti melepaskan. Dan ini saatnya kita melepaskan.
Sinox mematikan ponselnya sebelum Akang sempat membalas.
Ia tidak ingin membaca balasan yang akan membuatnya ragu lagi.
Ia sudah mengambil keputusan.
Mungkin keputusan itu salah. Mungkin keputusan itu benar.
Tapi setidaknya, ia sudah berusaha.
Maafkan aku, Akang, bisiknya dalam hati. Maafkan aku karena aku tidak cukup kuat untuk terus bertahan. Maafkan aku karena aku memilih damai daripada cinta. Maafkan aku karena aku lebih memilih menyelamatkan rumah tanggaku daripada mempertahankan perasaanku padamu.
Ia menangis.
Untuk terakhir kalinya, setidaknya untuk malam ini, ia menangis untuk Akang Riyadi.
Besok, ia akan bangun dengan tekad baru.
Besok, ia akan menjadi istri yang lebih baik untuk Mas Sarif.
Besok, ia akan menjadi ibu yang lebih baik untuk anak-anaknya.
Besok, ia akan memulai hidup baru tanpa bayangan Akang di belakangnya.
Tapi malam ini, malam ini ia masih berhak menangis.
Untuk cinta yang tidak pernah mati.
Untuk cinta yang harus ia relakan.
Untuk cinta yang, mungkin di surga kelak, akan bertemu tanpa batasan.
BAB X
Mas Sarif Merasa Terabaikan
Tidak ada yang lebih menyakitkan bagi seorang suami selain merasa tidak terlihat di rumahnya sendiri.
Bukan karena ia diusir. Bukan karena ia tidak dicintai. Tapi karena perlahan-lahan, tanpa teriakan dan tanpa drama, ia berubah menjadi hantu di antara keluarganya. Kehadirannya tidak lagi berarti. Ucapannya tidak lagi didengar. Sentuhannya tidak lagi dirasakan.
Mas Sarif adalah laki-laki sederhana.
Ia tidak pernah meminta banyak dari kehidupan. Cukup sawah yang subur, istri yang setia, anak-anak yang sehat, dan ketenangan di hari tua. Ia tidak butuh kemewahan, tidak butuh pujian, tidak butuh pengakuan dunia. Yang ia butuhkan hanyalah sebuah keluarga kecil yang hangat, tempat ia pulang setelah lelah membanting tulang di sawah, tempat ia tertawa bersama anak-anaknya, tempat ia berbaring di samping istrinya tanpa harus bertanya-tanya apakah istrinya masih mencintainya.
Tapi dua bulan terakhir ini, semua itu mulai sirna.
Mas Sarif pulang ke rumah, tapi rumah tidak lagi terasa seperti rumah. Istrinya, Sinox, ada di sana secara fisik, tapi hatinya melayang entah ke mana, ke masa lalu, ke laki-laki lain, ke kenangan yang tidak bisa ia ikuti karena ia tidak pernah menjadi bagian dari kenangan itu.
Dan Mas Sarif, laki-laki yang dulu menjadi sandaran keluarga, kini hanya menjadi penonton dalam rumah tangganya sendiri.
Duduk di pojok.
Melihat istrinya perlahan-lahan pergi tanpa benar-benar pergi.
Merasa terabaikan.
Tersisihkan.
Dan yang paling menyakitkan: ia tidak tahu bagaimana cara memperbaikinya.
Pagi yang Dingin
Tegorejo, pukul 06.00.
Mas Sarif sudah bangun sejak pukul setengah lima, seperti biasa. Ia pergi ke sawah, memeriksa saluran air, memastikan padi tidak kekeringan di musim kemarau yang berkepanjangan. Pekerjaan itu sudah ia lakukan setiap pagi selama dua puluh tahun. Tubuhnya hafal setiap langkah, setiap belokan, setiap genangan air di pematang sawah.
Tapi pagi ini, ia tidak fokus.
Pikirannya melayang ke rumah. Ke istrinya. Ke ponsel yang selalu digenggam Sinox akhir-akhir ini.
Setelah selesai di sawah, ia pulang. Rumah masih sunyi. Eko belum bangun, bocah kelas VIII Mts itu sering tidur sampai hampir jam tujuh, lalu berangkat sekolah dengan terburu-buru.
Sinox ada di dapur. Ia sedang menggoreng tempe dan tahu untuk lauk sarapan. Dari belakang, Mas Sarif melihat istrinya. Punggung yang dulu tegap itu kini sedikit membungkuk. Rambut yang dulu hitam pekat itu kini mulai memutih di beberapa bagian. Tangannya yang dulu lembut kini kasar karena pekerjaan rumah tangga dan mengajar.
Dia sudah tua, pikir Mas Sarif. Kita sama-sama sudah tua. Tapi kenapa di usia senja begini, kita justru diuji dengan hal seperti ini?
"Sin," panggilnya pelan.
Sinox menoleh. "Iya, Mas?"
"Kopi, ya. Sekalian sarapan."
"Iya, Mas. Sebentar."
Sinox menyiapkan kopi, pahit, tanpa gula, sesuai selera Mas Sarif. Ia letakkan cangkir di atas meja makan, bersama nasi hangat, tempe goreng, tahu, dan sambal terasi.
Mereka makan berdua di ruang makan. Sunyi. Hanya suara sendok dan nasi yang dikunyah.
Biasanya, sarapan adalah waktu favorit Mas Sarif. Di saat itulah ia dan Sinox bisa bicara banyak hal, tentang anak-anak, tentang sawah, tentang tetangga, tentang rencana ke depan. Sinox yang cerewet akan bercerita panjang lebar tentang apa yang ia lihat di sekolah, tentang ulah murid-muridnya yang lucu-lucu, tentang gosip terbaru di desa.
Tapi pagi ini, Sinox diam.
Matanya sesekali menatap ponsel yang ia letakkan di samping piring, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan dulu. Dulu, ponsel Sinox selalu ia tinggalkan di kamar atau di ruang tamu saat makan. Katanya, "Makan ya makan. Jangan main HP. Tidak sopan."
Sekarang, ia tidak bisa lepas dari benda itu.
Mas Sarif menatap ponsel itu.
Layar ponsel menyala. Sebuah notifikasi WhatsApp muncul.
Mas Sarif membaca dari kejauhan. Akang Riyadi mengirim pesan suara.
Ia tidak mendengar isinya. Tapi cukup melihat nama itu, Akang Riyadi, untuk membuat dadanya sesak.
"Sin," panggilnya lagi.
"Iya, Mas?" Sinox mendongak. Matanya masih setengah tertuju pada ponsel.
"Ponselnya. Matikan sebentar. Kita makan dulu."
Sinox terdiam sejenak. Ia menatap ponsel, lalu menatap suaminya. Ada perang singkat di wajahnya, antara keinginan untuk melihat pesan itu dan rasa hormat pada suami.
Akhirnya, ia membalikkan ponsel sehingga layar menghadap ke bawah.
"Maaf, Mas. Kebiasaan."
Mas Sarif tidak menjawab. Ia hanya makan.
Tapi di dalam dadanya, sesuatu pecah.
Dulu, aku selalu jadi prioritas, pikirnya. Dulu, Sinox tidak akan pernah memilih ponsel di atas aku.
Sekarang, aku harus bersaing dengan laki-laki yang bahkan belum pernah ia temui secara langsung.
Dan aku kalah.
Di Kantor Desa Tegorejo
Mas Sarif tidak hanya petani. Ia juga menjabat sebagai ketua kelompok tani di desanya, posisi yang cukup dihormati. Setiap pagi setelah sarapan, ia biasanya mampir ke kantor desa untuk berbicara dengan perangkat desa tentang program-program pertanian.
Tapi pagi ini, ia tidak pergi ke kantor desa.
Ia pergi ke rumah Pak Lurah.
Bukan untuk urusan dinas. Tapi untuk urusan pribadi. Pak Lurah, sebut saja Pak Hadi, adalah teman lama Mas Sarif. Mereka sudah bersahabat sejak masih sama-sama bujangan. Pak Hadi tahu banyak tentang kehidupan Mas Sarif, termasuk tentang masa lalu Sinox yang samar-samar ia dengar.
"Mas, tumben pagi-pagi sudah ke sini," sapa Pak Hadi. "Ada apa?"
Mas Sarif duduk di kursi tamu rumah Pak Hadi. Wajahnya kusut. Matanya sayu seperti orang kurang tidur.
"Hadi, aku mau cerita. Tapi jangan bilang siapa-siapa."
"Aman, Mas. Cerita saja."
Mas Sarif bercerita. Tentang Sinox yang berubah. Tentang ponsel yang tidak bisa lepas dari tangannya. Tentang nama Akang Riyadi yang muncul di layar ponsel istrinya. Tentang video call tengah malam. Tentang istrinya yang menangis, bukan untuknya, tapi untuk laki-laki lain.
"Aku merasa tidak berguna, Hadi," kata Mas Sarif, suaranya serak. "Selama dua puluh tahun aku bekerja keras untuk keluarga. Sawah ini kutinggali setiap hari, panas terik, hujan deras, banjir, kemarau, semua kuhadapi. Agar Sinox dan anak-anak tidak kekurangan. Tapi sekarang, rasanya semua itu tidak berarti."
"Jangan bilang begitu, Mas. Kamu sudah menjadi suami dan ayah yang baik. Itu tidak bisa dihapus oleh siapa pun, termasuk oleh laki-laki dari masa lalu."
"Tapi Sinox tidak lagi melihat aku, Hadi. Aku di sini, di depannya, tapi matanya kosong. Seperti aku tidak ada."
Pak Hadi menghela napas panjang.
"Pernahkah kamu bicara dengan Sinox secara serius, Mas? Bukan bertengkar, bukan marah-marah. Tapi bicara hati ke hati?"
"Sudah. Dua minggu lalu."
"Lalu?"
"Dia bilang dia mencintai aku. Tapi dia juga bilang dia belum selesai dengan masa lalunya. Dia bilang dia butuh waktu untuk melepaskan."
"Dan kamu? Apa yang kamu butuhkan?"
Mas Sarif terdiam.
"Aku butuh dia kembali. Seperti dulu. Saat dia masih tersenyum padaku setiap pagi. Saat dia masih memasak dengan senang hati, bukan dengan perasaan terpaksa. Saat dia masih memegang tanganku tanpa rasa canggung."
Pak Hadi menepuk bahu Mas Sarif.
"Kalau begitu, jangan menyerah, Mas. Mungkin ini ujian. Mungkin ini saatnya kamu berjuang untuk memenangkan hati istrimu kembali. Bukan dengan kekerasan, bukan dengan amarah. Tapi dengan kesabaran dan kasih sayang."
"Aku sudah mencoba, Hadi. Tapi rasanya seperti memukul tembok."
"Maka pukul terus. Sampai tembok itu runtuh. Atau sampai tanganmu lelah. Tapi jangan berhenti. Karena jika kamu berhenti, kamu akan kehilangan dia selamanya."
Mas Sarif mengangguk pelan.
Ia pamit pada Pak Hadi, lalu berjalan pulang.
Di perjalanan, ia melewati sawahnya. Padi mulai menguning, tanda panen akan segera tiba. Tapi ia tidak melihat keindahan itu. Yang ia lihat hanyalah bayangan Sinox yang semakin menjauh, yang semakin sulit ia raih.
Apakah aku akan kehilangan dia? pikirnya. Apakah setelah dua puluh tahun berjuang bersama, aku harus kehilangan dia karena bayangan masa lalu?
Ia tidak tahu.
Yang ia tahu, ia tidak akan menyerah.
Selama masih ada napas, selama masih ada hati, selama masih ada cinta, ia akan berjuang.
Untuk Sinox.
Untuk anak-anak.
Untuk rumah tangganya.
Ketika Eko Bertanya
Sore itu, Eko pulang sekolah lebih awal karena ada acara keluarga di rumah temannya. Tapi bukannya langsung pergi ke rumah teman, ia duduk di ruang tamu, menatap ayahnya yang sedang duduk termenung di kursi panjang.
"Pa, tumben Pa di rumah," kata Eko.
"Iya, Nak. Pa lagi tidak ke sawah."
Eko duduk di samping ayahnya. Bocah kelas VIII Mts itu mulai memasuki masa remaja, masa di mana ia mulai peka terhadap hal-hal di sekitarnya. Dan akhir-akhir ini, ia merasa ada yang aneh di rumahnya.
"Pa, aku mau tanya."
"Tanya apa, Nak?"
"Bapak dan Ibu... baik-baik saja, kan?"
Mas Sarif menatap anak bungsunya. Wajah Eko masih polos, tapi matanya sudah mulai dewasa. Matanya sudah bisa membaca kegelisahan.
"Kenapa kamu tanya begitu?"
"Ya, soalnya... akhir-akhir ini Ibu sering banget main HP. Ibu juga sering melamun. Kadang Ibu kelihatan nangis. Terus Bapak juga... Bapak jadi pendiam. Bapak jarang senyum. Kayaknya ada yang nggak beres di rumah kita."
Mas Sarif menarik napas panjang. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia tidak ingin membebani anaknya dengan masalah orang dewasa. Tapi ia juga tidak ingin berbohong.
"Ibu lagi ada masalah, Nak. Masalah yang tidak bisa Pa jelaskan sekarang. Tapi Pa janji, Pa akan berusaha menyelesaikannya. Dan semuanya akan kembali baik-baik saja."
"Ibu selingkuh, Pa?"
Pertanyaan Eko melesat seperti anak panah. Mas Sarif terkejut.
"Kamu dapat dari mana?"
"Ya, teman-teman di sekolah suka bergosip. Katanya ada laki-laki dari luar kota yang sering teleponan sama Ibu. Ibu namanya dipanggil 'Nox' sama laki-laki itu."
Mas Sarif terdiam. Fitnah sudah mulai menyebar, pikirnya. Anak-anak di sekolah sudah tahu. Besok, seluruh desa akan tahu.
"Nak, Ibu tidak selingkuh," kata Mas Sarif pelan. "Ibu hanya... Ibu sedang berusaha menyelesaikan masalah masa lalunya. Itu berbeda dengan selingkuh."
"Tapi kenapa Ibu sampai nangis-nangis, Pa? Kenapa Ibu jadi jauh sama kita?"
"Karena... menyelesaikan masalah masa lalu itu tidak mudah, Nak. Kadang sakit. Kadang bikin bingung. Tapi Pa percaya Ibu kuat. Dan Pa percaya Ibu tidak akan meninggalkan kita."
Eko diam. Ia menatap ayahnya dengan mata yang penuh pertanyaan yang tidak terucap.
"Pa, apa Pa masih sayang sama Ibu?"
"Masih, Nak. Lebih dari apa pun."
"Terus Pa akan perjuangkan Ibu?"
"Pa akan perjuangkan. Sampai titik darah penghabisan."
Eko mengangguk. Ia memeluk ayahnya, pelukan singkat yang jarang ia lakukan karena sudah mulai malu-malu sebagai remaja.
"Aku dukung Pa, ya. Jangan menyerah."
Mas Sarif memeluk anaknya balik. Matanya basah.
Anak-anakku lebih kuat dari yang aku kira, pikirnya. Mereka lebih dewasa dari yang aku kira.
Maka aku juga harus kuat. Untuk mereka. Untuk keluarga ini.
Malam yang Panjang
Sinox tahu bahwa Mas Sarif terabaikan.
Ia tidak buta. Ia melihat bagaimana suaminya berusaha mendekat, tapi ia selalu menolak, bukan dengan sengaja, tapi dengan ketidaksadarannya. Ponsel selalu lebih menarik. Chat dengan Akang selalu lebih mengasyikkan. Air mata untuk Akang selalu lebih deras daripada senyum untuk Mas Sarif.
Dan malam itu, saat Mas Sarif tidur di ruang tamu lagi, malam keempat berturut-turut, Sinox sadar bahwa ia telah melakukan kesalahan besar.
Ia bangkit dari tempat tidur. Berjalan ke ruang tamu.
Mas Sarif belum tidur. Ia terbaring di kursi panjang, memandang kipas angin yang berputar lambat.
"Mas," panggil Sinox pelan.
Mas Sarif menoleh. "Ada apa, Sin?"
"Mas masuk kamar, yuk. Tidur di kasur. Kasian kalau di kursi panjang."
"Tidak apa-apa. Aku sudah biasa."
"Mas..." Sinox duduk di samping suaminya. Ia meraih tangan Mas Sarif, tangan yang kasar karena lumpur sawah, tangan yang tidak pernah mengeluh meskipun pegal setiap hari. "Aku minta maaf."
Mas Sarif tidak menjawab.
"Aku tahu, Mas. Aku tahu Mas merasa terabaikan. Aku tahu Mas sakit hati. Aku tahu Mas mungkin berpikir aku tidak mencintai Mas lagi. Tapi itu tidak benar. Aku masih mencintai Mas. Hanya saja... belakangan ini aku seperti kehilangan arah. Aku bingung. Aku tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah."
"Apa yang membuatmu bingung, Sin?" suara Mas Sarif lirih. "Bukankah semuanya sederhana? Aku suamimu. Dia bukan siapa-siapa lagi bagimu. Masa lalu ya masa lalu. Kenapa kau biarkan masa lalu merusak masa depan kita?"
"Karena aku belum selesai dengan masa lalu itu, Mas. Aku tidak pernah benar-benar move on. Aku hanya menguburnya. Dan sekarang dia muncul lagi, bukan Akang-nya saja, tapi semua perasaan lama yang aku kira sudah mati."
"Jadi kau mencintainya?"
Sinox menunduk.
"Aku mencintai kenangan tentang dia, Mas. Aku mencintai sosok yang dulu menjadi tempatku bersandar. Aku mencintai masa mudaku yang tidak bisa aku ulang. Tapi apakah aku mencintai Akang yang sekarang, yang sudah tua, yang punya istri dan anak, yang tinggal di Kapuas? Aku tidak tahu, Mas. Aku butuh waktu untuk memisahkan antara cinta dan nostalgia."
"Aku bisa memberimu waktu," kata Mas Sarif. "Tapi jangan terlalu lama, Sin. Aku juga manusia. Aku juga punya batas. Aku bisa sabar, tapi tidak selamanya."
Sinox menangis.
Ia memeluk suaminya. Erat. Seerat mungkin.
"Terima kasih, Mas. Terima kasih untuk kesabaran Mas. Terima kasih karena Mas tidak pergi ketika aku paling menyakitkan. Terima kasih karena Mas masih di sini."
Mas Sarif membalas pelukan istrinya. Juga erat.
"Aku di sini, Sin. Aku tidak akan pergi. Tapi kau juga harus berusaha. Jangan hanya aku yang berjuang sendirian."
"Aku akan berusaha, Mas. Aku janji."
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, mereka tidur di ranjang yang sama.
Bukan sebagai suami istri yang saling mencintai sepenuhnya.
Tapi sebagai dua orang yang sedang berusaha, berusaha memperbaiki apa yang rusak, berusaha menyembuhkan apa yang luka, berusaha menemukan jalan pulang setelah tersesat begitu lama.
Dan di dalam gelap kamar itu, Mas Sarif berbisik pelan:
"Sin, aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu. Sekalipun kau mencintai laki-laki lain, aku tidak akan berhenti. Karena cintaku padamu bukan cinta yang mudah menyerah. Cintaku padamu adalah cinta yang bertahan, seburuk apa pun keadaannya."
Sinox tidak menjawab.
Ia hanya menangis dalam diam.
Karena kata-kata Mas Sarif, sederhana, tanpa puisi, tanpa retorika, menusuk hatinya lebih dalam daripada semua kata-kata indah yang pernah Akang ucapkan.
Kenapa aku baru menyadari sekarang, batin Sinox. Bahwa cinta sejati tidak selalu berbunga-bunga. Kadang cinta sejati adalah kesabaran seorang suami yang tetap bertahan meskipun istrinya hampir pergi.
Kenapa aku baru menyadari bahwa Mas Sarif, dengan segala kekurangannya, adalah laki-laki yang paling setia yang pernah aku kenal?
Dan kenapa aku hampir kehilangan dia karena kebodohanku sendiri?
Sinox memeluk suaminya lebih erat.
Maafkan aku, Mas. Maafkan aku karena hampir meninggalkanmu. Maafkan aku karena terlalu sibuk merindukan bayangan, sampai aku lupa bahwa kenyataan ada di sampingku.
Besok, aku akan mulai memperbaiki semuanya.
Besok, aku akan menjadi istri yang lebih baik.
Besok, aku akan melepaskan Akang.
Untuk selamanya.
Di Kapuas, Hal yang Hampir Sama
Malam yang sama.
Akang duduk di beranda rumah panggungnya. Di dalam, Setya Ningsih sudah tidur. Istrinya itu akhirnya mau tidur di kamar yang sama setelah seminggu tidur terpisah. Tapi jarak di antara mereka masih terasa. Setya membelakangi Akang saat tidur. Tangannya tidak lagi meraih tangan suaminya seperti dulu.
Akang memandang ponselnya. Pesan terakhir dari Sinox belum ia balas.
Sinox Yanti: Maafkan aku, Akang. Tapi ini untuk kebaikan kita semua. Aku harus melepaskanmu. Dan kau harus melepaskanku. Bukan karena kita tidak saling mencintai. Tapi karena cinta kita adalah racun bagi orang-orang di sekitar kita. Selamat malam. Jangan lupa baca doa sebelum tidur. Baca doa juga untukku. Agar aku bisa ikhlas.
Akang membaca pesan itu berulang kali.
Ia ingin membalas. Ingin mengatakan bahwa ia tidak rela. Ingin mengatakan bahwa ia tidak bisa melepaskan Sinox, tidak bisa hidup tanpa bayangannya.
Tapi ia sadar, Sinox benar.
Cinta mereka adalah racun.
Dan racun, seberapa manis pun rasanya, tetaplah racun. Ia akan membunuh perlahan-lahan. Membunuh kebahagiaan. Membunuh ketenangan. Membunuh rumah tangga yang sudah mereka bangun puluhan tahun.
Akang mengetik balasan:
Akang Riyadi: Aku ikhlas, Nox. Mungkin tidak sekarang. Mungkin butuh waktu. Tapi aku akan berusaha. Untukmu. Untuk istriku. Untuk anak-anak kita. Selamat malam. Semoga di surga kelak, kita bertemu tanpa batasan. Tanpa rasa bersalah. Tanpa tangisan.
Pesan itu terkirim.
Akang mematikan ponselnya.
Ia menatap langit malam Kapuas yang gelap, tanpa bintang. Angin gambut bertiup, membawa bau tanah asam dan dedaunan kering.
Apakah ini yang terbaik? pikirnya. Apakah melepaskan cinta adalah tindakan paling berani atau paling pengecut?
Ia tidak tahu.
Yang ia tahu, ia sudah berjanji pada Sinox akan berusaha.
Berusaha melupakan.
Berusaha ikhlas.
Berusaha menjadi suami yang baik untuk Setya Ningsih, ayah yang baik untuk anak-anaknya, dan manusia yang tidak lagi dihantui oleh masa lalu.
Ya Allah, tolong aku, doanya dalam hati. Tolong beri aku kekuatan untuk melepaskan. Tolong beri aku ketabahan untuk ikhlas. Tolong sembuhkan hatiku yang hancur karena cinta yang tidak halal.
Ia masuk ke dalam rumah.
Berbaring di samping Setya Ningsih.
Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, ia meraih tangan istrinya.
Setya terkejut. Ia setengah bangun, menatap suaminya dengan mata sayu.
"Mas... kenapa?"
"Tidak kenapa-kenapa, Ning. Aku hanya ingin memegang tanganmu. Seperti dulu."
Setya diam. Ia tidak melepaskan tangan suaminya.
Tapi ia juga tidak membalas genggaman itu.
Ia hanya diam. Membiarkan tangan suaminya menggenggam tangannya, tanpa perasaan.
Akang tahu, ia harus sabar. Ia tidak bisa memperbaiki semuanya dalam semalam. Keretakan yang terjadi tidak akan sembuh hanya dengan satu genggaman tangan. Diperlukan waktu. Diperlukan bukti. Diperlukan perubahan nyata yang bisa dilihat dan dirasakan.
Tapi setidaknya, ia sudah memulai.
Memulai langkah kecil menuju perbaikan.
Memulai perjalanan panjang untuk menjadi suami yang layak bagi Setya Ningsih.
Dan melupakan Sinox Yanti, sedikit demi sedikit, hari demi hari, doa demi doa.
Setelah Malam Itu
Sinox bangun keesokan harinya dengan tekad baru.
Ia tidak membuka ponsel begitu bangun tidur, seperti yang biasa ia lakukan akhir-akhir ini. Ia meninggalkan ponsel di kamar, pergi ke dapur, memasak sarapan untuk Mas Sarif dan Eko.
Mas Sarif yang baru turun dari kamar terkejut melihat istrinya sudah sibuk di dapur dengan senyum di wajahnya.
"Sin, tumben pagi-pagi sudah senyum?"
"Tidak boleh, Mas? Senyum gratis. Tidak bayar."
Mas Sarif tersenyum. Senyum pertama dalam beberapa minggu.
"Boleh. Malah aku seneng. Aku kangen lihat kamu senyum."
"Aku kangen lihat Mas senyum juga."
Mereka sarapan bersama. Seperti dulu. Tanpa ponsel di atas meja. Tanpa notifikasi yang mengganggu. Tanpa jarak di antara mereka.
Belum sempurna. Masih ada rasa canggung. Masih ada luka yang belum sembuh. Tapi setidaknya, mereka memulai.
Sinox meletakkan ponselnya di laci kamar. Ia tidak berniat membukanya sampai malam nanti, dan itupun hanya untuk keperluan kerja atau grup sekolah.
Ia sudah mengambil keputusan.
Ia akan melepaskan Akang.
Perlahan-lahan.
Bukan dengan marah atau drama.
Tapi dengan diam. Dengan jarak. Dengan kesadaran bahwa cinta tidak selalu berarti memiliki.
Dan di dalam dadanya, meskipun masih terasa perih, ada kelegaan kecil.
Kelegaan karena ia tidak lagi hidup dalam dua dunia.
Kelegaan karena ia akhirnya memilih, memilih Mas Sarif, memilih anak-anaknya, memilih rumah tangganya.
Kelegaan karena ia berhenti berlari dari kenyataan.
Mas Sarif merasa terabaikan.
Dan Sinox berjanji, tidak akan pernah membiarkan itu terjadi lagi.
BAB XI
Rahasia yang Terbongkar
Rahasia tidak pernah bisa bersembunyi selamanya.
Ia seperti air yang merembes melalui retakan dinding. Pada awalnya hanya setetes, hampir tidak terlihat, mudah diabaikan. Tapi lama-lamaan tetesan itu menjadi genangan, genangan itu menjadi aliran, dan aliran itu menjadi banjir yang menghancurkan semua bendungan yang dibuat dengan susah payah.
Akang dan Sinox telah berusaha menyembunyikan rahasia mereka.
Bukan karena mereka jahat. Tapi karena mereka tahu bahwa kebenaran akan melukai orang-orang yang mereka cintai.
Tapi kebenaran tidak peduli pada kelembutan.
Ia akan keluar pada waktu yang paling tidak terduga, dengan cara yang paling menyakitkan.
Tegorejo: Pagi yang Berubah Jadi Neraka
Hari Senin.
Sinox Yanti sedang mengajar di kelas VIII Mts Gringsing. Tiga puluh dua pasang mata murid menatapnya saat ia menerangkan pelajaran fiqih tentang taubat nasuha, taubat yang sebenar-benarnya taubat.
Ironi yang tidak ia sadari.
Jam menunjukkan pukul 09.15.
Seorang murid laki-laki di bangku belakang, Rizki, anak kepala desa, tiba-tiba mengangkat ponselnya. Wajahnya berubah pucat. Ia mencolek teman di sampingnya. Lalu teman itu mencolek yang lain. Dalam hitungan menit, bisik-bisik menjalar di seluruh kelas seperti api di lahan gambut di musim kemarau.
Sinox mendengar suara-suara aneh. Ia menoleh.
"Ada apa, anak-anak? Ada yang tidak jelas?"
Tidak ada yang menjawab. Tapi semua mata tertuju padanya. Bukan mata hormat seperti biasanya. Tapi mata yang penuh dengan rasa ingin tahu. Dengan rasa iba. Dengan rasa jijik yang samar-samar.
"Bu..." Rizki angkat tangan, suaranya bergetar. "Bu Sinox, lihat... lihat grup WhatsApp."
Sinox mengernyit. Ia meraih ponselnya dari meja guru.
Layar ponsel penuh dengan notifikasi.
Grup guru: Bu Sinox, ada video Ibu yang viral. Hati-hati.
Grup sekolah: Astagfirullah, ini Bu Sinox kita?
Nomor tidak dikenal: Dasar perempuan tak tahu malu.
Sinox membuka video yang dikirim oleh seseorang. Video pendek. Tiga puluh detik. Kualitas buruk, buram, seperti direkam dari balik pintu.
Tapi cukup jelas untuk melihat bahwa itu adalah dirinya. Wajahnya. Suaranya.
"Aku juga kangen kamu, Akang."
Kata-kata itu keluar dari mulutnya sendiri di video itu.
Ponsel Sinox jatuh.
Bukan jatuh ke lantai dengan suara berisik. Tapi jatuh ke lantai dengan bunyi klek yang ringan, tapi terasa seperti gempa bagi semua yang mendengarnya.
Sinox terdiam.
Matanya kosong.
Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar.
Dunia terasa berputar.
"Bu Sinox? Bu!" suara Rizki dari kejauhan.
Tapi Sinox tidak mendengar.
Yang ia dengar hanyalah suara jantungnya sendiri yang berdegup kencang, terlalu kencang, seperti akan meledak.
Halaman Sekolah: Konfrontasi Publik
Sinox tidak ingat bagaimana ia keluar dari kelas.
Yang ia ingat, kakinya berjalan sendiri. Menembus koridor yang tiba-tiba terasa begitu panjang. Guru-guru lain menatapnya dari balik pintu ruang kantor, ada yang iba, ada yang menghakimi, ada yang berpura-pura tidak melihat.
Pak Kepala Sekolah berdiri di depan ruangannya.
"Bu Sinox, ke ruang saya..."
Belum sempat kalimat itu selesai, suara teriakan dari halaman memotong.
"SINOX!"
Suara itu. Suara yang sangat ia kenali.
Mas Sarif.
Sinox berlari ke jendela koridor. Di halaman sekolah, Mas Sarif berdiri di samping sepeda motor bututnya. Ponsel di tangan. Wajah merah padam, bukan karena panas matahari.
Di belakangnya, beberapa orang tua murid mulai berkerumun. Seorang ibu-ibu mengeluarkan ponselnya, merekam. Yang lain berbisik-bisik dengan tangan menutup mulut.
Mas Sarif menatap lurus ke arah Sinox yang berdiri di jendela lantai dua.
"TURUN KAMU SEKARANG!" teriaknya.
Dua orang guru mencoba menenangkan. "Pak Sarif, ini sekolah. Anak-anak melihat..."
"BIAR! BIAR MEREKA LIAT! BIAR MEREKA TAHU IBU MEREKA SEPERTI APA!"
Sinox berjalan menuruni tangga. Kakinya terasa seperti kapas. Dadanya sesak. Dunia terasa tidak nyata.
Ia berdiri di depan suaminya. Jarak satu meter. Tapi terasa satu lautan.
"Mas..." bisiknya.
"Kamu lihat video itu?" Mas Sarif mengacungkan ponselnya.
"Iya, Mas."
"Kamu yang bicara? Kamu yang bilang 'aku kangen kamu' sama laki-laki lain?"
Sinox tidak bisa menjawab. Mulutnya terbuka, tapi kata-kata tidak keluar.
"JAWAB!" teriak Mas Sarif. Suaranya pecah. Air mata mulai mengalir di pipinya yang kasar, sesuatu yang tidak pernah Sinox lihat seumur hidup mereka bersama.
"Iya, Mas," bisik Sinox. "Aku yang bicara."
Mas Sarif terdiam.
Diam yang panjang.
Diam yang membunuh.
Lalu ia tertawa. Tertawa pahit yang membuat bulu kuduk Sinox meremang.
"20 tahun, Sin. 20 tahun kita nikah. Aku kuli sawah buat kamu. Aku keringat, aku lumpur, aku panas terik, aku hujan deras. Semua buat kamu. Buat anak-anak. Dan kamu..." suaranya putus, "kamu lebih milih laki-laki yang bahkan belum pernah kamu temuin secara fisik."
"Mas, aku..."
"DIAM!"
Mata Mas Sarif merah. Dadanya naik turun. Ia berjalan mendekat. Satu langkah. Dua langkah.
Seorang guru menghalangi. "Pak Sarif, jangan..."
"TIDAK USAH DIHALANGI! SAYA SUAMINYA! SAYA BERHAK!"
Sinox mundur satu langkah. Bukan karena takut dipukul, Mas Sarif tidak pernah memukulnya. Tapi karena takut dengan apa yang akan keluar dari mulut suaminya selanjutnya.
"Kamu pilih, Sin."
"Apa, Mas?"
"Sekarang. Di sini. Di depan semua orang." Mas Sarif menatap istrinya dengan mata yang penuh luka. "Aku atau dia. Keluarga kita atau masa lalumu."
Kerumunan di belakang semakin membesar. Beberapa orang tua murid mulai merekam. Guru-guru berusaha membubarkan, tapi tidak ada yang bisa.
Sinox menggigit bibirnya hingga berdarah.
"Mas... jangan di sini. Bukan di depan anak-anak..."
"KALAU KAMU TIDAK PADA BERANI MEMILIH DI DEPAN UMUM, BERARTI KAMU TIDAK SERIUS!"
Dunia Sinox runtuh.
Ia melihat ke arah kerumunan. Di antara orang-orang itu, ia melihat Eko. Anak bungsunya. Wajah pucat. Mata basah. Memegang tas sekolah yang tidak pernah ia buka karena pelajaran baru dimulai tiga puluh menit lalu.
Eko mendengar semuanya.
Anakku mendengar semuanya, pikir Sinox. Ya Allah, anakku mendengar ayahnya membentak ibunya di depan umum.
"Bu..." suara Eko pelan, nyaris tidak terdengar.
Sinox membuka mulut. Ingin mengatakan sesuatu. Ingin mengatakan bahwa ia memilih Mas Sarif. Ingin mengatakan bahwa ia menyesal. Ingin mengatakan bahwa ia akan berubah.
Tapi sebelum suara itu keluar...
Dunia terbalik.
Kepalanya terasa ringan. Telinganya berdengung. Bibirnya dingin.
Lalu gelap.
Pingsan
"BU SINOX!"
Teriakan Rizki dari lantai dua.
Teriakan Bu Rita, guru matematika yang berada paling dekat.
Teriakan Eko, "IBU!"
Sinox tidak merasakan apa pun.
Ia jatuh. Tubuhnya lemas. Kepalanya hampir membentur aspal jika Bu Rita tidak lebih cepat menangkapnya.
Mas Sarif yang tadi marah, tadi berteriak, tadi mengancam, kini berlari mendekat.
"Sin! Sin! Bangun! Jangan main-main!"
Ia memeluk istrinya. Kepala Sinox bersandar di dadanya. Wajahnya pucat seperti kertas. Bibirnya kebiruan. Matanya terpejam.
"SINOX!" Mas Sarif hampir menjerit.
Seorang guru yang punya mobil, Pak Bambang, berlari ke parkiran. "Bawa ke puskesmas! CEPAT!"
Mas Sarif menggendong istrinya. Tubuh Sinox terasa ringan. Terlalu ringan. Seperti ia membawa mayat.
Di dalam mobil, Eko duduk di samping ibunya, memegang tangan Sinox yang dingin.
"Ibu, bangun. Aku nggak marah lagi. Aku maafin Ibu. Bangun, Bu."
Mas Sarif yang duduk di depan, menunduk. Bahunya bergetar.
Pak Bambang melirik ke samping. "Tenang, Pak. Istrinya kuat."
"Saya nggak takut dia meninggal," bisik Mas Sarif. "Saya takut dia nggak bangun. Saya belum sempat maafin dia. Saya belum sempat bilang..."
Suaranya putus.
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Puskesmas Tegorejo
Dokter desa, seorang perempuan muda lulusan tugas belajar, memeriksa Sinox dengan saksama.
"Anemia berat. Tekanan darah rendah. Stres akut." Ia menatap Mas Sarif. "Bapak suami?"
"Iya, Dok."
"Maaf, saya harus bertanya. Apakah Ibu baru saja mengalami kejadian yang sangat mengganggu emosinya?"
Mas Sarif menunduk. "Iya, Dok."
Dokter itu menghela napas. Ia sudah mendengar video viral itu, seluruh desa sudah mendengar. Tapi ia memilih tidak ikut campur.
"Ibu perlu istirahat total. Tidak boleh stres. Tidak boleh memikirkan hal-hal yang berat. Kasih makan bergizi. Banyak minum air putih."
"Apakah dia... apakah dia akan sembuh, Dok?"
"Sembuh? Iya. Fisiknya akan sembuh. Tapi hatinya?" Dokter itu menatap Mas Sarif dengan mata yang tajam. "Itu tergantung Bapak."
Mas Sarif tidak menjawab.
Ia masuk ke ruangan tempat Sinox terbaring. Istrinya masih pucat. Matanya terpejam. Infus menempel di lengan kirinya.
Eko duduk di kursi di samping tempat tidur, masih memegang tangan ibunya.
"Pa," panggil Eko pelan.
"Iya, Nak."
"Apa Ibu akan baik-baik saja?"
Mas Sarif mengelus kepala anaknya. "Ibu akan baik-baik saja. Pa janji."
"Pa marah sama Ibu?"
Mas Sarif terdiam cukup lama.
"Awalnya Pa marah. Sangat marah. Tapi waktu Ibu jatuh tadi..." suaranya serak. "Pa sadar. Pa nggak rela kehilangan Ibu."
"Apa Pa masih sayang sama Ibu?"
Mas Sarif menatap wajah Sinox yang pucat. Wajah yang selama 20 tahun menemani tidurnya. Wajah yang memberinya tiga anak. Wajah yang, meskipun telah menyakiti hatinya, tidak bisa ia benci.
"Pa masih sayang, Nak. Pa mungkin bodoh karena masih sayang. Tapi Pa tidak bisa membohongi perasaan."
Eko menangis. Ia memeluk ayahnya.
Mereka berdua menangis di ruangan puskesmas yang sunyi, di samping Sinox yang masih belum sadarkan diri.
Kapuas: Badai yang Sama
Sementara tubuh Sinox terbaring lemah di Tegorejo, di Kapuas badai yang sama juga tengah menghancurkan.
Akang sedang berada di kantor desa ketika ponselnya bergetar. Bukan satu pesan, puluhan pesan. Dari nomor tidak dikenal. Dari teman. Dari keluarga.
Pak Sekdes, video Bapak viral.
Akang, kamu lihat video ini? Kamu yang di video itu?
Pak, istri Bapak sudah tahu belum?
Akang membuka salah satu video yang dikirim. Wajahnya sendiri. Suaranya sendiri.
"Kamu masih cantik, Nox."
"Aku juga kangen kamu, Akang."
Tangan Akang gemetar. Ponselnya hampir terjatuh.
Ia segera keluar dari kantor desa tanpa pamit. Mengendarai motor dengan kecepatan tinggi. Melesat melewati kebun karet yang mulai mengering karena kemarau.
Di rumah, Setya sudah menunggu.
Ia tidak duduk. Ia berdiri di ruang tamu, ponsel di tangan, wajahnya tidak bisa dibaca.
"Ning..."
"Kamu lihat ini?" Setya mengacungkan ponselnya.
"Aku bisa jelaskan..."
"Jelaskan? Jelaskan apa? Bahwa kamu video call dengan perempuan itu tengah malam? Bahwa kamu bilang dia cantik? Bahwa kamu bilang kangen?"
"Ning, aku..."
Setya tidak membiarkan Akang menyelesaikan kalimatnya.
Krek!
Piring di meja makan jatuh ke lantai. Diinjak? Dilempar? Akang tidak tahu. Yang ia tahu, pecahan piring berserakan di lantai.
Krek! Piring kedua.
Krek! Gelas.
Setya tidak berteriak. Ia hanya melempar. Satu per satu. Benda-benda di ruang tamu berhamburan. Bantal, majalah, gelas, piring, teko.
Dan di sela-sela itu, air mata mengalir di wajahnya.
"25 tahun, Mas," isaknya di sela-sela lemparan. "25 tahun aku jadi istri yang baik. Aku ikut Mas ke sini. Meninggalkan keluarga besarku di Jawa. Aku lahirkan tiga anak untuk Mas. Aku jaga rumah ini. Aku nggak pernah mengeluh meskipun hidup di lahan gambut nggak pernah mudah."
"Ning, aku tahu..."
"KAMU TIDAK TAHU!" Setya berteriak. Suaranya pecah. "Kamu tidak tahu rasanya tidur di samping suami yang hatinya pergi ke perempuan lain. Kamu tidak tahu rasanya melihat suami tersenyum sendiri di tengah malam sambil memegang ponsel. Kamu tidak tahu, Mas. Kamu tidak pernah tahu!"
Histeris.
Setya jatuh terduduk di lantai, di antara pecahan piring dan genangan air. Ia menangis. Bukan tangis biasa. Tangis yang keluar dari dasar hatinya yang paling dalam.
Akang mendekat. Ingin memeluknya.
"JANGAN SENTUH AKU!"
Akang berhenti.
"Aku benci Mas, Mas. Aku benci Mas karena Mas telah menghancurkan hidupku. Aku benci Mas karena Mas lebih memilih dia daripada aku. Aku benci Mas karena Mas tidak pernah cukup mencintaiku!"
Akang terdiam.
Ia tidak bisa marah. Karena semua yang dikatakan Setya adalah benar.
Raha dan Konfrontasi yang Tak Terhindarkan
Di tengah kekacauan itu, pintu kamar Raha terbuka.
Anak bungsu mereka berdiri di ambang pintu. Wajahnya pucat. Matanya merah. Ia sudah mendengar semuanya.
"Pa."
Akang menoleh. "Ra, kamu di rumah? Kamu tidak sekolah?"
Raha tidak menjawab pertanyaan itu. Ia berjalan pelan mendekati ayahnya. Tangannya memegang sesuatu, ponsel.
"Ra, ini bukan tempat..." Akang mencoba.
"Pa, aku yang merekam video itu."
Diam.
Diam yang paling sunyi.
Diam yang paling menyayat.
Setya berhenti menangis. Ia menatap putra bungsunya dengan mata yang tidak percaya.
"Kamu bilang apa, Ra?" suara Setya nyaris berbisik.
"Bu, aku yang merekam video itu. Malam itu, aku bangun, mau ke dapur ambil air. Pa lagi video call di beranda. Wajah Pa kelihatan seneng banget. Aku penasaran. Jadi aku rekam dari balik pintu."
"Kenapa kamu rekam?" tanya Setya, suaranya dingin.
"Aku iseng, Bu. Aku nggak tahu videonya bakal viral. Aku cuma kirim ke satu teman, buat nanya, 'Ini ayahku lagi video call sama siapa, ya?' Tapi temanku itu kirim lagi. Dan seterusnya. Aku nggak tahu, Bu. Aku nggak bermaksud..."
Suara Raha pecah. Ia mulai menangis.
"Aku minta maaf, Bu. Aku minta maaf, Pa. Aku nggak bermaksud jahat. Aku nggak tahu..."
Akang menatap anak bungsunya.
Ia ingin marah. Ingin membentak. Ingin mengatakan, "Kamu sudah menghancurkan keluarga ini!"
Tapi ia tidak bisa.
Karena ini bukan salah Raha.
Ini salahnya.
Dia yang memulai semuanya. Dia yang tidak bisa mengendalikan diri. Dia yang memegang ponsel itu tengah malam, bicara dengan perempuan yang bukan istrinya, berkata-kata yang tidak seharusnya ia ucapkan.
Raha hanyalah anak kecil yang penasaran.
Akang adalah orang dewasa yang seharusnya tahu batasan.
"Ra," panggil Akang pelan.
Raha mendongak. Wajahnya basah.
"Maafkan Bapak."
Raha terdiam. Ia tidak menyangka ayahnya akan meminta maaf.
"Bapak yang salah. Bapak yang memulai semuanya. Bapak yang tidak bisa menjaga diri. Kamu hanya anak-anak. Kamu tidak tahu konsekuensinya. Ini salah Bapak. Bukan salahmu."
"Pa..." Raha menangis lebih keras.
"Bapak minta maaf, Ra. Bapak sudah mengecewakan kalian. Bapak sudah membuat ibu menangis. Bapak sudah membuat keluarga ini hancur."
Akang berlutut. Ia meraih tangan Setya dan tangan Raha.
"Aku minta maaf. Aku tidak pantas kalian maafkan. Tapi aku berjanji. Aku akan berubah. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Tolong..." suaranya tersendat. "Tolong jangan tinggalkan aku."
Setya tidak menjawab.
Ia menarik tangannya dari genggaman Akang.
Lalu ia berdiri.
"Ra, masuk ke kamar. Kemasi barang-barangmu."
"Bu, mau ke mana?"
"Ke Jawa. Kita pergi ke rumah nenek. Sekarang."
"Ning, tolong..." Akang mencoba.
"JANGAN PAKSA AKU, MAS!"
Setya masuk ke kamar. Mulai mengemasi pakaian. Tanpa menangis. Tanpa bicara. Tanpa menoleh.
Raha berdiri di antara ayah dan ibunya. Ia bingung. Ia takut.
"Ra," panggil Akang. "Jaga ibu kamu di sana. Jaga adik sepupu. Jaga nenek. Bapak akan menjemput kalian setelah Bapak... setelah Bapak selesai membereskan semuanya di sini."
"Pa, apa Ibu akan kembali?"
Akang menatap anak bungsunya. Matanya berkaca-kaca.
"Bapak tidak tahu, Ra. Tapi Bapak akan berusaha."
Pintu kamar Setya terbuka. Ia keluar dengan koper di tangan. Raha di belakangnya.
Setya berjalan melewati Akang tanpa menatap.
"Kamu anter kami ke bandara atau kami naik taksi?"
"Ning, aku antar..."
"Hanya anter. Tidak lebih. Tidak ada pembicaraan. Tidak ada maaf-maafan. Hanya anter."
Pertemuan di Perbatasan
Di bandara, Setya dan Raha check in tanpa banyak bicara.
Akang hanya bisa berdiri di belakang, menatap punggung istri dan anak bungsunya.
Saat akan masuk ke ruang tunggu, Raha berbalik. Ia berlari kecil ke arah ayahnya.
"Pa."
"Ya, Ra."
Raha memeluk ayahnya. Cepat. Erat. Lalu melepas.
"Aku sayang Pa. Aku akan doain Pa."
Akang memeluk anaknya balik. Ia tidak mau melepaskan. Tapi waktu tidak bisa ditahan.
"Jaga ibu, Ra."
"Iya, Pa."
Raha berbalik. Berlari kecil kembali ke sisi ibunya. Setya tidak menoleh. Ia hanya menggandeng tangan Raha dan masuk ke ruang tunggu.
Akang berdiri di luar, menatap pintu kaca yang memisahkan mereka.
Hingga Setya dan Raha lenyap di antara kerumunan.
Ia baru menangis saat mobilnya keluar dari area bandara.
Ia menepi di pinggir jalan.
Mematikan mesin.
Membanting setir dengan tinjunya.
Satu kali. Dua kali. Tiga kali.
Dan menangis. Seperti anak kecil yang kehilangan segalanya.
Tegorejo: Setelah Pingsan
Sinox sadar setelah dua jam tidak sadarkan diri.
Matahari sudah meninggi. Sinar masuk melalui jendela puskesmas yang kusam. Bau antiseptik menusuk hidungnya.
Ia melihat Mas Sarif duduk di kursi di samping tempat tidurnya. Laki-laki itu tertidur, atau pura-pura tertidur. Tangan kanannya masih memegang tangan Sinox, bahkan dalam tidurnya.
Eko sudah tidak ada. Mungkin disuruh pulang, atau mungkin pergi sendiri.
Sinox menatap suaminya.
Wajah Mas Sarif letih. Kerutan di dahinya semakin dalam. Rambutnya yang mulai memutih terlihat lebih banyak dari biasanya. Atau mungkin Sinox yang baru sadar sekarang.
Laki-laki ini, pikir Sinox. Dia marah padaku. Dia membentakku di depan umum. Dia hampir membenciku. Tapi dia masih di sini. Dia tidak meninggalkanku.
Marahnya bukan karena benci. Marahnya karena sakit. Sakit karena dikhianati oleh orang yang paling ia percaya.
Sinox menggerakkan tangannya. Pelan.
Mas Sarif terbangun.
"Sin? Kamu sadar? Ada yang sakit? Mau minum?"
"Mas," bisik Sinox, suaranya serak. "Aku minta maaf."
Mas Sarif terdiam.
"Ini bukan saatnya minta maaf," katanya akhirnya. "Ini saatnya sembuh."
"Tapi Mas, aku..."
"Sudah, Sin. Jangan bicara dulu. Kamu masih lemah. Nanti kalau sudah pulang, kita bicara. Tapi sekarang, istirahat."
Mas Sarif membetulkan selimut yang menutupi tubuh Sinox.
Gerakannya hati-hati. Lembut. Seperti ia merawat sesuatu yang paling berharga di dunia.
Sinox menangis.
"Kamu kenapa nangis lagi?" tanya Mas Sarif setengah kesal.
"Aku nggak pantas diperlakukan baik sama Mas."
"Memangnya aku yang baik?" Mas Sarif menghela napas. "Aku juga marah. Aku juga kecewa. Tapi marah dan kecewa tidak akan membuat kamu sehat. Nanti kalau kamu sudah sehat, kita urus semuanya."
"Mas akan tinggalkan aku?"
Mas Sarif menatap istrinya.
"Kamu mau aku tinggalkan?"
"Aku nggak mau."
"Ya sudah. Aku tidak akan meninggalkanmu. Tapi kamu juga harus berusaha. Jangan hanya aku yang berjuang."
Sinox mengangguk. Air mata masih mengalir, tapi kali ini bukan air mata kesedihan.
Air mata lega.
Kapuas: Malam Sepi
Akang pulang ke rumah yang sunyi.
Pecahan piring dan gelas sudah ia bersihkan. Tapi rumah tetap terasa berantakan, bukan secara fisik, tapi secara emosional.
Ia duduk di beranda.
Ponselnya bergetar.
Sebuah pesan dari nomor tidak dikenal.
Pak Akang, saya Mas Sarif. Saya tahu Bapak juga sedang menderita. Tapi saya ingin Bapak tahu, istri saya pingsan hari ini. Di sekolah. Di depan anak-anak. Saya hampir kehilangan dia. Saya tidak ingin itu terjadi pada Bapak juga. Jaga diri Bapak. Jaga keluarga Bapak.
Akang membaca pesan itu berkali-kali.
Ia tidak pernah bertemu Mas Sarif secara langsung.
Tapi pesan ini, pesan dari seorang suami yang hatinya terluka, terasa seperti tamparan sekaligus pelukan.
Ia membalas.
Pak Sarif, saya minta maaf. Saya tidak tahu harus bilang apa selain maaf. Saya berjanji tidak akan menghubungi Sinox lagi. Saya berjanji akan fokus pada keluarga saya. Tolong jaga Sinox. Jaga anak-anak Bapak. Saya akan mendoakan semuanya dari sini.
Balasan dari Mas Sarif hanya satu kalimat.
Saya sudah memaafkan Bapak. Sekarang Bapak harus memaafkan diri Bapak sendiri.
Akang menangis.
Ia menangis untuk Sinox yang terbaring lemah.
Ia menangis untuk Setya yang pergi ke Jawa.
Ia menangis untuk Raha yang hancur karena perbuatannya.
Dan ia menangis untuk dirinya sendiri, laki-laki tua yang baru sadar bahwa ia hampir kehilangan segalanya.
Seminggu Kemudian
Sinox sudah boleh pulang.
Mas Sarif membawanya dari puskesmas dengan hati-hati. Eko berjalan di samping, masih diam, tapi sesekali menatap ibunya dengan mata yang tidak lagi penuh amarah.
Di rumah, Lina sudah menunggu. Ia datang dari kota setelah mendengar kabar.
Rahman juga datang dari pesantren, dengan izin khusus dari kiai-nya.
Sinox dipapah ke tempat tidur. Lina menyiapkan bubur. Rahman membaca doa. Eko mengambil air minum.
Mas Sarif berdiri di pintu kamar, menatap anak-anaknya yang begitu dewasa, begitu peduli, meskipun hati mereka mungkin juga terluka.
"Ini keluarga kita, Sin," kata Mas Sarif pelan. "Mereka yang akan tetap di sini, tidak peduli apa yang terjadi. Jangan sia-siakan mereka."
Sinox menatap satu per satu wajah anak-anaknya. Lina yang tegar. Rahman yang tenang. Eko yang mulai tersenyum meskipun masih canggung.
"Aku sayang kalian," bisik Sinox. "Maafkan Ibu."
Lina memeluk ibunya. Rahman dan Eko menyusul.
Mas Sarif hanya tersenyum dari kejauhan.
Air mata jatuh di pipinya.
Tapi kali ini, air mata haru.
Di Kapuas, Panggilan Panjang
Malam itu, setelah dua hari tidak berkomunikasi, Akang akhirnya menelepon Setya.
"Ning."
"Mas."
"Kamu baik-baik saja di sana?"
"Raha baik. Ibu juga baik. Saya baik-baik saja."
"Kapan kamu pulang?"
"Tidak tahu, Mas. Saya masih butuh waktu."
"Ning, aku minta maaf."
"Maaf Mas sudah sering saya dengar. Saya tidak butuh maaf."
"Kamu butuh apa?"
Setya diam cukup lama.
"Saya butuh Mas membuktikan bahwa Mas bisa berubah. Bukan dengan kata-kata. Tapi dengan tindakan. Jangan cuma janji."
"Aku akan buktikan, Ning."
"Kita lihat saja, Mas. Saya tidak bisa janji akan percaya begitu saja."
"Ning, aku sayang kamu."
"Iya, Mas. Aku juga sayang Mas. Tapi sayang saja tidak cukup."
Panggilan itu berakhir.
Akang masih memegang ponsel di telinganya, meskipun panggilan sudah terputus.
Ia berjalan ke masjid desa.
Salat Isya berjamaah.
Lalu ia duduk di serambi masjid, sendirian, menunggu waktu yang mustajab untuk berdoa.
Ya Allah, doanya dalam hati. Aku telah jatuh. Aku telah hancur. Aku hampir kehilangan semua yang aku cintai. Tapi Engkau masih memberiku kesempatan. Tolong jangan cabut kesempatan itu. Aku akan berubah. Aku berjanji. Amin.
Setelah Badai
Butuh waktu bagi semua orang untuk pulih.
Mas Sarif masih sesekali meledak. Tapi tidak di depan umum. Tidak di depan anak-anak. Hanya di kamar, saat mereka berdua, saat ia tidak bisa menahan sakit yang masih menganga di dadanya.
Sinox sabar mendengarkan. Tidak membantah. Tidak menangis. Hanya mendengar.
Setelah Mas Sarif selesai meluapkan kekesalannya, ia biasanya diam. Lalu memeluk Sinox.
"Maaf, Sin. Aku masih sakit."
"Tidak apa-apa, Mas. Aku sabar."
"Apa kamu masih sayang aku?"
Sinox menatap mata suaminya. Mata yang lelah. Mata yang penuh luka.
"Aku sayang Mas, Mas. Lebih dari yang Mas kira."
"Kalau sayang, buktikan."
"Aku akan buktikan, Mas. Seumur hidupku."
Di Kapuas, Setya masih di Jawa. Raha mulai bersekolah di sana, sementara, sampai situasi membaik.
Akang setiap hari mengirim pesan. Tidak panjang. Hanya kabar. Hanya doa.
Ning, sawah sudah mulai tanam.
Ning, Raha dapat kabar dari sekolahnya di sini. Katanya nilai bagus.
Ning, aku belajar masak. Masih gagal. Tapi aku tidak menyerah.
Setya membaca pesan-pesan itu.
Ia tidak membalas setiap hari.
Tapi sesekali, ia membalas.
Iya, Mas.
Terima kasih, Mas.
Sabar, ya, Mas. Saya masih di sini.
Akang menangis setiap kali mendapat balasan singkat itu.
Bukan tangis sedih.
Tangis haru.
Karena Setya masih di sana.
Masih memberinya kesempatan.
Meskipun ia tidak pantas.
Rahasia telah terbongkar.
Tidak ada yang bisa mengembalikan waktu ke saat sebelum video itu viral.
Tapi yang bisa mereka lakukan adalah bangkit dari reruntuhan.
Memperbaiki apa yang rusak.
Menyembuhkan apa yang luka.
Dengan sabar. Dengan doa. Dengan komitmen untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Sinox belajar bahwa cinta masa lalu tidak harus dihidupkan. Cukup dikenang, lalu dilepaskan.
Akang belajar bahwa kebahagiaan sejati tidak datang dari mengejar bayangan. Tapi dari mensyukuri apa yang sudah ada.
Setya belajar bahwa memaafkan tidak berarti melupakan. Tapi memilih untuk tidak terus tenggelam dalam luka.
Mas Sarif belajar bahwa kemarahan tidak akan menyembuhkan apa pun. Yang bisa menyembuhkan adalah waktu, kesabaran, dan cinta yang bertahan meskipun terluka.
Dan anak-anak mereka belajar bahwa orang tua juga manusia. Bisa salah. Bisa jatuh. Tapi bisa juga bangkit.
Rahasia telah terbongkar.
Tapi di balik reruntuhan itu, sesuatu yang baru mulai dibangun.
Bukan istana yang megah. Bukan rumah yang sempurna.
Tapi rumah yang lebih kuat.
Karena fondasinya bukan lagi ilusi.
Tapi kenyataan.
Kenyataan bahwa cinta sejati tidak selalu tentang memiliki.
Tapi tentang memilih untuk bertahan.
Meskipun badai.
Meskipun luka.
Meskipun segalanya.
BAB XII
Badai di Rumah Tangga: Pertengkaran, Fitnah, dan Guncangan
Ada pertengkaran yang lahir dari kesalahpahaman. Ada yang lahir dari perbedaan pendapat. Dan ada yang lahir dari luka yang sudah terlalu lama dipendam, lalu meledak pada saat yang paling tidak terduga, bukan karena ingin menyakiti, tapi karena sudah tidak sanggup menahan sakitnya sendiri.
Pertengkaran pertama antara Mas Sarif dan Sinox bukan tentang hal besar. Bukan tentang video viral, bukan tentang Akang Riyadi, bukan tentang perselingkuhan emosional yang sudah menjadi konsumsi publik.
Pertengkaran pertama mereka terjadi karena hal sepele: nasi goreng.
Tapi nasi goreng hanyalah pemicu. Yang sebenarnya bertengkar di belakang nasi goreng itu adalah luka yang menganga, kekecewaan yang tidak terucap, dan rasa sakit yang selama berminggu-minggu dipendam oleh dua orang yang saling mencintai tapi tidak tahu bagaimana cara menyembuhkan satu sama lain.
Dan ketika pertengkaran itu akhirnya meledak, tidak ada yang selamat.
Kata-kata terlontar yang tidak seharusnya terlontar. Air mata jatuh yang tidak seharusnya jatuh. Dan rumah yang dulu hangat berubah menjadi medan perang yang sunyi, di mana setiap sudutnya dipenuhi oleh sisa-sisa amarah yang tidak bisa dibersihkan hanya dengan sapu dan pel.
Tegorejo: Sore yang Panas
Tiga hari setelah video itu viral.
Sore itu panas sekali. Matahari menyengat tanpa ampun. Sinox baru pulang dari mengajar. Badannya pegal, kepalanya pusing, dan hatinya tidak karuan. Selama tiga hari, rumahnya terasa seperti kuburan. Mas Sarif tidak bicara padanya. Eko juga tidak bicara padanya, anak bungsunya itu lebih memilih diam di kamar daripada harus berhadapan dengan ibunya yang sekarang menjadi bahan gunjingan di sekolah.
Sinox masuk ke dapur. Ia membuka kulkas. Hanya ada sedikit telur, nasi sisa semalam, dua batang daun bawang, dan setengah bungkus kecap manis.
Nasi goreng saja, pikirnya. Cepat dan tidak ribet.
Ia mulai memasak. Tidak ada bawang merah dan bawang putih, stok habis sejak dua hari lalu. Nasi goreng itu matang dalam sepuluh menit. Sinox menyajikannya di piring, lalu meletakkannya di atas meja makan.
"Mas, Eko, makan!" teriaknya dari dapur.
Eko keluar dari kamar. Ia duduk di kursi, menatap nasi goreng di depannya tanpa nafsu.
"Kenapa, Nak? Tidak suka nasi goreng?" tanya Sinox.
Eko tidak menjawab. Ia hanya mengambil sendok, menyuap sedikit, lalu meletakkan sendoknya kembali.
"Nak, makanlah. Nanti kenyang."
"Aku tidak lapar, Bu."
"Kamu harus makan. Kamu masih sekolah. Butuh energi."
"Energi untuk apa?" Eko menatap ibunya. Matanya merah, seperti orang yang menahan tangis. "Biar teman-temanku makin ramai mengejekku? Biar mereka bilang, 'Eh, itu anaknya Bu Sinox yang video call mesraan sama laki-laki lain'?"
Sinox terdiam. Dadanya terasa ditusuk ratusan jarum.
"Nak, Ibu minta maaf..."
"Maaf Bu tidak akan mengembalikan nama baikku di sekolah!" potong Eko. Suaranya meninggi. "Teman-temanku sudah tahu, Bu. Semua sudah tahu. Bahkan guru-guru juga sudah tahu. Mereka lihat aku dengan tatapan aneh. Mereka bisik-bisik di belakangku. Dan aku, aku tidak bisa berbuat apa-apa selain diam, karena apa yang mereka katakan itu benar. Ibu memang mesraan dengan laki-laki lain!"
Sinox menangis. Tangis yang pecah tanpa bisa dibendung lagi.
"Ibu tidak pernah bermaksud apa-apa! Ibu hanya memikirkan Ibu sendiri! Ibu tidak pernah memikirkan perasaan aku! Perasaan Bapak! Perasaan kakak-kakakku!"
Eko mendorong kursinya ke belakang. Ia berdiri, berlari ke kamar, dan membanting pintu dengan keras.
Gedebuk.
Rumah itu berguncang. Hati Sinox juga berguncang.
Ia menunduk. Air mata jatuh ke piring nasi goreng yang masih utuh.
Anakku sendiri membenciku, pikir Sinox. Anakku sendiri malu menjadi anakku. Apa yang telah aku lakukan?
Pukulan Pertama
Mas Sarif pulang setengah jam kemudian.
Ia tidak bicara. Masuk ke rumah, berjalan ke kamar mandi, membersihkan diri dari lumpur sawah. Lalu duduk di ruang tamu, menyalakan televisi, menonton berita tanpa benar-benar melihatnya.
Sinox menyiapkan piring untuk suaminya. Nasi goreng yang sama, mungkin agak dingin.
"Mas, makan dulu," kata Sinox pelan.
Mas Sarif menatap piring itu. Lalu menatap Sinox.
"Nasi goreng?" tanyanya.
"Iya, Mas. Maaf, stok habis. Jadi cuma ini yang bisa aku buat."
"Tanpa bawang? Tanpa sawi? Tanpa wortel?"
"Iya, Mas. Aku tidak sempat ke pasar."
Mas Sarif tidak mengambil sendok. Ia hanya menatap piring itu dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Sin, dulu," katanya akhirnya, suaranya pelan tapi dingin, "sebelum semua ini terjadi, kau selalu masak dengan penuh cinta. Nasi gorengmu selalu pakai bawang, pakai sayuran, pakai telur ceplok di atasnya. Sekarang, kau masak seenaknya. Seperti kau tidak peduli lagi. Seperti aku tidak penting lagi."
"Mas, tidak seperti itu..."
"Lalu bagaimana?" Mas Sarif menatap istrinya. Matanya tajam. "Kau sibuk dengan ponselmu. Sibuk dengan laki-laki itu. Sampai-sampai kau lupa bahwa suamimu butuh makan yang layak. Kau lupa bahwa anakmu butuh perhatian. Kau lupa bahwa kau punya keluarga yang harus kau jaga."
"Aku tidak lupa, Mas!"
"Buktinya?" Mas Sarif berdiri. Suaranya mulai meninggi. "Buktinya di mana? Selama dua bulan terakhir, kau hanya sibuk dengan dia. Chat-an tengah malam, video call, curhat-curhatan, nangis-nangis. Aku di sini, di depan matamu, tapi kau tidak pernah melihat aku! Aku hanya bayangan! Aku hanya orang asing yang tinggal di rumahmu!"
"Mas Sarif, tolong..."
"Tolong apa? Tolong dimengerti? Tolong dimaafkan? Sinox, aku sudah berusaha mengerti. Aku sudah berusaha sabar. Aku sudah berusaha memberi ruang. Tapi lihat hasilnya! Videomu viral! Seluruh desa tahu! Anakku malu pergi ke sekolah! Aku malu pergi ke sawah karena tetangga-tetangga saling berbisik di belakangku!"
"Aku minta maaf, Mas!"
"Maaf? Maaf tidak cukup!" Mas Sarif hampir berteriak. "Kau tidak tahu rasanya menjadi suami yang istrinya lebih memilih laki-laki lain. Kau tidak tahu rasanya tidur di samping perempuan yang hatinya sudah pergi ke tempat lain. Kau tidak tahu, Sinox! Kau tidak pernah tahu!"
Sinox jatuh terduduk di kursi. Ia tidak bisa menjawab. Tidak bisa membela diri. Karena Mas Sarif benar. Setiap kata yang keluar dari mulut suaminya adalah kebenaran yang telanjang.
"Aku sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi, Sin," kata Mas Sarif, suaranya kini pecah. Air mata mulai mengalir di pipinya yang kasar. "Aku mencintaimu. Tapi mencintaimu sekarang rasanya seperti memegang bara api. Sakit. Tapi aku tidak bisa melepaskannya karena takut kehilangan. Tapi memegangnya terus juga membunuhku perlahan-lahan."
Sinox berdiri. Ia berjalan mendekati suaminya. Ingin memeluknya. Ingin mengatakan bahwa ia akan berubah.
Tapi sebelum ia sempat melangkah, Mas Sarif mengangkat tangan.
"Jangan," katanya. "Jangan mendekat. Aku takut. Jika kau mendekat, aku bisa memaafkanmu. Dan aku belum siap memaafkanmu. Aku masih sakit. Aku masih marah."
Mas Sarif berbalik. Ia berjalan ke kamar, mengambil bantal dan selimut, lalu kembali ke ruang tamu.
"Malam ini aku tidur di sini lagi. Jangan ganggu aku. Aku butuh sendiri."
Sinox hanya bisa berdiri di dapur, memandangi punggung suaminya yang membungkuk, dan menangis tanpa suara.
Ini pertengkaran pertama mereka setelah video itu viral. Tapi Sinox tahu, ini bukan yang terakhir.
Kapuas: Jauh Lebih Panas
Jika di Tegorejo pertengkaran masih bisa ditahan di ranah privat, di Kapuas pertengkaran justru terjadi di depan umum.
Minggu pagi. Akang pergi ke pasar bersama Setya, rutinitas mereka selama puluhan tahun. Tapi pagi itu, suasana berbeda. Setya berjalan cepat di depan Akang, tidak menunggu, tidak menggandeng tangan seperti biasanya.
Di pasar, seorang tetangga menyapa dengan nada yang sedikit aneh.
"Bu Setya, dengar-dengar suami Ibu dekat dengan perempuan di Jawa ya? Sampai video call-an?"
Setya berhenti melangkah. Ia menoleh.
"Maaf, Bu. Itu urusan keluarga saya. Saya tidak perlu cerita pada orang lain."
"Ah, Bu Setya, jangan marah. Saya hanya bertanya. Katanya videonya sudah viral. Sampai di grup WhatsApp arisan saya juga ada."
Setya tidak menjawab. Ia hanya melangkah lebih cepat, meninggalkan Akang dengan perasaan malu yang luar biasa.
Di rumah, Setya membanting pintu.
"Ning, kenapa kamu marah di pasar? Itu kan cuma Bu RT yang kepo."
Setya menoleh. Matanya merah. Wajahnya pucat.
"Jawab baik-baik? Mas lihat sendiri, semua orang sudah tahu. Tidak ada lagi privasi. Tidak ada lagi rahasia. Semua orang tahu bahwa suami saya selingkuh!"
"Aku tidak selingkuh secara fisik..."
"Tapi secara emosional, Mas selingkuh! Dan itu sama saja!" Setya hampir berteriak. "Dulu, saat aku pertama kali curiga, aku masih bisa berpura-pura. Tapi sekarang? Sekarang semua orang sudah tahu. Aku hanya bahan tertawaan. Istri yang suaminya lebih memilih perempuan lain!"
Setya mengambil piring dari meja makan. Ia membantingnya ke lantai.
Krek!
"Aku benci Mas!" teriak Setya. "Aku benci Mas karena Mas telah menghancurkan hidupku! Aku benci Mas karena Mas lebih memilih perempuan itu daripada aku!"
Akang terdiam. Ia tidak pernah melihat Setya seperti ini.
"Maaf tidak akan mengembalikan piring ini!" Setya mengambil piring lain, membantingnya lagi. "Maaf tidak akan mengembalikan rasa hormatku pada Mas!"
Setya jatuh terduduk di lantai, di antara pecahan piring. Ia menangis, bukan tangis pilu, tapi tangis histeris.
"Aku ingin pulang, Mas. Aku ingin ke Jawa. Aku ingin bertemu ibuku. Aku tidak betah lagi di rumah ini. Aku tidak betah lagi melihat wajah Mas."
Akang tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya duduk di samping istrinya, di antara pecahan piring, dan menangis bersama.
Ini pertengkaran pertama mereka setelah video itu viral. Dan Akang tahu, hubungan mereka mungkin tidak akan pernah sama lagi.
Pecahan
Sinox dan Mas Sarif tidak bicara selama dua hari setelah pertengkaran itu.
Mereka tinggal serumah, tapi seperti dua orang asing yang tidak saling mengenal. Mas Sarif berangkat ke sawah pagi-pagi, pulang sore hari, makan malam sendiri, lalu tidur di ruang tamu. Sinox mengajar, pulang, memasak untuk Eko (yang juga tidak mau bicara padanya), lalu berbaring di kamar sambil menatap langit-langit.
Ponselnya sudah ia matikan sejak video itu viral.
Ia hanya ingin sendiri.
Tapi sendiri juga menyakitkan. Karena saat sendiri, ia tidak bisa lari dari bayangannya sendiri.
Aku telah menghancurkan rumah tanggaku, pikir Sinox. Dengan tanganku sendiri. Dengan keputusanku sendiri. Dengan cinta masa laluku yang tidak pernah bisa kulepaskan.
Dan sekarang, tidak ada yang tersisa selain pecahan.
Pecahan piring yang dibanting Setya Ningsih di Kapuas.
Pecahan hati Mas Sarif yang ia tinggalkan di ruang tamu setiap malam.
Pecahan kepercayaan Eko yang hancur berkeping-keping.
Pecahan air mata yang tak terhitung jumlahnya.
Pecahan. Hanya pecahan.
Senja yang Menyendiri
Hari keempat setelah pertengkaran, Sinox duduk di beranda belakang rumahnya. Senja mulai turun, langit berwarna jingga kemerahan.
Ia memandangi sawah di belakang rumah. Padi mulai menguning, tanda panen akan segera tiba. Tapi Sinox tidak merasa senang. Biasanya, menjelang panen, ia dan Mas Sarif sibuk mempersiapkan segalanya. Tahun ini, tidak ada persiapan. Karena Mas Sarif tidak lagi melibatkannya.
"Bu."
Sinox menoleh. Eko berdiri di belakangnya, wajah masih cemberut, tapi matanya tidak lagi setajam sebelumnya.
"Iya, Nak?"
"Aku minta maaf."
Sinox terkejut. "Maaf? Kenapa kamu minta maaf?"
"Karena aku membentak Ibu kemarin. Karena aku bilang aku malu punya ibu seperti Ibu. Itu tidak sopan. Itu menyakiti hati Ibu."
Sinox menangis. "Nak, Ibu yang seharusnya minta maaf. Ibu yang telah membuatmu malu di sekolah."
Eko duduk di samping ibunya. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, ia mendekati Sinox tanpa rasa jijik atau marah.
"Bu, aku masih sayang sama Ibu. Aku marah, iya. Aku kecewa, iya. Tapi aku tidak bisa berhenti sayang sama Ibu. Ibu tetap ibuku. Dan aku tidak punya ibu lain."
Sinox memeluk anaknya. Erat. Seerat mungkin.
"Maafkan Ibu, Nak. Ibu akan berusaha menjadi ibu yang lebih baik. Ibu akan berusaha memperbaiki semuanya."
"Ibu janji tidak akan mengulanginya lagi?"
"Ibu janji."
Eko mengangguk. Ia memeluk ibunya balik.
Mereka berdua duduk di beranda belakang, memandangi senja yang semakin gelap, dan membiarkan waktu berjalan perlahan.
Tidak ada kata-kata indah. Tidak ada janji manis. Hanya pelukan. Dan harapan.
Harapan bahwa besok akan lebih baik dari hari ini. Harapan bahwa pecahan-pecahan itu suatu saat akan bisa direkatkan kembali. Meskipun mungkin tidak akan pernah kembali utuh seperti sedia kala.
Setidaknya, mereka masih berusaha.
Dan usaha, meskipun kecil, adalah awal dari segalanya.
Fitnah dan Gunjingan
Ketika rahasia telah terbongkar, ia tidak lagi menjadi milikmu. Ia menjadi milik semua orang. Setiap mulut berhak mengunyahnya, setiap lidah berhak mencicipinya, setiap telinga berhak menikmatinya, tanpa peduli apakah itu benar, apakah itu adil, atau apakah itu akan membunuh seseorang perlahan-lahan.
Di Tegorejo, tidak ada yang benar-benar anonim. Setiap orang tahu siapa tetangganya, apa pekerjaannya, siapa anaknya, dan paling penting, apa dosa-dosanya.
Warung kopi milik Pak Darmo adalah pusat informasi desa. Hari itu, topiknya hanya satu: Sinox Yanti.
"Kalian sudah lihat videonya?" tanya Pak RT.
"Sudah. Siapa yang belum?" sahut Pak Karto. "Viral di WhatsApp. Sampai di grup keluarga saya juga ada."
"Kasihan Mas Sarif," timpal Pak Darmo. "Orang baik. Rajin ke sawah. Tapi istrinya kok begitu."
"Wanita itu memang kurang ajar," kata Pak Karto. "Sudah diberi suami baik, masih saja mencari laki-laki lain."
"Kata orang, laki-lakinya itu di Kapuas," tambah Pak RT. "Namanya Akang Riyadi. Katanya juga sudah beristri. Jadi selingkuh dua-duanya."
"Jangan buru-buru menghakimi," potong Pak Lik Salim, mantan guru pensiunan yang terkenal bijak. "Kita tidak tahu latar belakangnya. Bisa jadi mereka hanya teman lama yang kangen-kangenan."
"Tapi videonya jelas, Pak Lik," bantah Pak RT. "Mereka bilang 'kangen' dan 'aku mencintaimu'. Itu bukan omongan teman biasa."
"Ya, itu salah," Pak Lik Salim mengakui. "Mereka seharusnya lebih menjaga diri. Tapi kita juga tidak boleh main hakim sendiri. Yang penting mereka bertobat dan memperbaiki diri."
Beberapa orang tertawa, tawa sinis yang menusuk.
Pak Lik Salim menggeleng. Manusia memang kejam, pikirnya. Mereka tidak pernah sadar bahwa hari ini mereka menghakimi orang lain, besok bisa jadi mereka sendiri yang dihakimi.
Sekolah dan Pasar: Dua Dunia yang Menghakimi
Sehari setelah video itu viral, kepala sekolah Mts Gringsing memanggil Sinox.
"Bu Sinox, saya panggil Ibu karena video Ibu sudah sampai ke tangan orang tua murid. Beberapa orang tua komplain. Mereka khawatir anak-anak mereka diajar oleh guru yang bermasalah."
Sinox menunduk. "Apa yang harus saya lakukan, Pak?"
Kepala sekolah menghela napas. "Saya tidak akan memecat Ibu. Tapi untuk sementara, saya minta Ibu tidak mengajar dulu. Istirahatlah di rumah. Sampai gunjingan ini reda."
Sinox menggigit bibirnya. "Baik, Pak. Saya terima."
Di gerbang sekolah, seorang ibu-ibu berdiri menunggunya. Bu Tuti, orang tua murid yang terkenal sengit.
"Saya minta anak saya dipindahkan dari kelas Ibu. Saya tidak mau anak saya diajar oleh guru yang videonya viral kayak gitu."
"Bu Tuti, masalah pribadi saya tidak ada hubungannya dengan kemampuan saya mengajar..."
"Tapi itu mencerminkan moral Ibu! Guru itu panutan! Kalau gurunya saja selingkuh, bagaimana anak-anak akan menghormati institusi pernikahan?"
Beberapa orang tua lain mulai berkumpul di belakang Bu Tuti. "Iya, Bu Sinox! Anak saya juga minta pindah kelas!"
Sinox menunduk. Ia tidak mau menangis di depan mereka. Ia hanya berjalan, masuk ke mobil bututnya, dan di sanalah ia menangis sejadi-jadinya.
Di Kapuas, nasib Akang tidak lebih baik.
Di pasar, ia disambut oleh tatapan aneh dari para pedagang. Beberapa berani menyapa dengan nada menyindir.
"Pak Sekretaris, tumben belanja sendiri. Biasanya kan sama Bu Setya. Apa karena ada yang lebih muda?"
Akang tidak menjawab. Ia hanya mengambil sayuran yang ia beli, membayar, lalu berjalan cepat.
"Itu laki-laki yang videonya viral, ya?" bisik seorang ibu-ibu.
"Iya, Bu. Itu dia. Selingkuh sama perempuan di Jawa. Sampai istrinya kabur."
"Astaga, sudah tua masih begitu. Tidak punya malu."
Akang mendengar semuanya. Setiap bisikan. Setiap tawa sinis.
Di tengah pasar, ia berhenti. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Ya Allah, apa yang telah aku lakukan? doanya dalam hati. Aku telah menjadi aib bagi diriku sendiri, bagi istriku, bagi anak-anakku.
Ia berjalan cepat meninggalkan pasar. Pulang ke rumah. Mengunci pintu. Duduk di sudut ruangan. Dan menangis.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Akang Riyadi, laki-laki yang dulu tegar seperti batu karang, merasa hancur berkeping-keping.
Fitnah vs Fakta
Yang paling menyakitkan dari gunjingan adalah ia tidak selalu didasarkan pada fakta. Kadang, ia lahir dari imajinasi liar orang-orang yang terlalu banyak waktu luang.
"Katanya, Bu Sinox sudah berulang kali bertemu dengan laki-laki itu di hotel."
Padahal fakta: Sinox dan Akang belum pernah bertemu secara fisik sama sekali.
"Katanya, laki-laki itu sudah mengirim uang puluhan juta untuk Bu Sinox."
Padahal fakta: Akang tidak pernah mengirim uang sepeser pun pada Sinox.
"Katanya, suami Bu Sinox sudah minta cerai. Tinggal tunggu sidang."
Padahal fakta: Mas Sarif belum pernah mengucapkan kata cerai.
"Katanya, istri laki-laki itu sudah menggugat cerai dan minta hak asuh anak."
Padahal fakta: Setya Ningsih hanya minta pisah sementara, belum menggugat cerai.
Fitnah menyebar lebih cepat daripada fakta. Karena fakta itu membosankan. Fakta itu tidak punya bumbu. Fakta itu tidak bisa membuat orang bergosip dengan penuh semangat.
Eko yang Bertarung
Eko tidak bisa kabur dari gunjingan di sekolah. Ia menjadi sasaran ejekan teman-temannya.
"Eh, Eko! Ibu kamu artis sekarang? Kayaknya di video bagus banget!"
"Eko, ibumu masih video call-an sama laki-laki itu? Atau sudah putus?"
Eko tidak menjawab. Ia hanya diam. Menunduk. Berjalan cepat.
Suatu siang, di kantin sekolah, seorang anak kelas IX menghampirinya.
"Kamu Eko, anaknya Bu Sinox? Ibumu pelacur, ya? Main sama laki-laki lain padahal sudah bersuami?"
Darah Eko mendidih. Ia mengepalkan tangan.
"Jangan main-main sama ibuku."
"Main-main? Aku bicara serius. Lihat videonya sendiri. Ibumu mesra-mesraan sama laki-laki lain. Itu namanya pelacur."
Pukulan Eko melesat. Langsung mengenai hidung anak itu.
Pertengkaran terjadi di kantin. Guru-guru datang melerai. Eko digelandang ke ruang kepala sekolah. Wajahnya babak belur. Bibirnya pecah. Matanya hitam.
Tapi ia tidak menangis. Ia hanya marah.
Kepala sekolah memanggil Sinox. Saat Sinox melihat wajah anaknya yang babak belur, ia jatuh terduduk.
"Maafkan Ibu, Nak. Maafkan Ibu."
Eko tidak menjawab. Ia hanya diam. Matanya kosong. Seperti anak yang kehilangan masa kecilnya karena ulah ibunya sendiri.
Di Dunia Maya, Lebih Kejam
Akun-akun anonim bermunculan di media sosial, menyebarkan fitnah yang lebih liar.
"Sinox Yanti, guru Mts Gringsing, ternyata sudah berselingkuh dengan laki-laki lain selama bertahun-tahun."
"Anak-anaknya mungkin juga tidak sah. Cek DNA saja."
"Laki-laki di Kapuas itu juga ternyata pejabat desa. Korupsi uang desa untuk biaya selingkuh."
Sinox membaca semua komentar itu. Setiap kata seperti belati. Setiap komentar seperti pukulan.
Ia ingin membalas. Ingin meluruskan fakta. Tapi apa gunanya? Tidak ada yang mau mendengar fakta. Mereka sudah terlanjur menikmati fitnah.
Sinox mematikan ponselnya. Ia meletakkannya di laci. Lalu ia berlutut, bersujud, dan berdoa.
Ya Allah, beri aku kekuatan untuk melewati ini semua. Beri aku kesabaran untuk tidak membalas fitnah dengan fitnah. Beri aku ketabahan untuk tetap tegar meskipun semua orang meninggalkanku. Amin.
Kebenaran yang Tak Pernah Cukup
Beberapa minggu kemudian, Pak Lik Salim menginisiasi pertemuan desa.
"Tetangga-tetangga, saya ingin meluruskan beberapa hal tentang kasus Bu Sinox dan Pak Akang Riyadi."
Semua orang diam. Telinga mereka menajam.
"Faktanya, Bu Sinox dan Pak Akang adalah teman lama yang terpisah selama tiga puluh tahun. Mereka berkomunikasi, ya. Video call, ya. Ada rasa kangen, ya. Tapi mereka tidak pernah bertemu secara fisik. Tidak ada perselingkuhan fisik. Tidak ada uang yang dikirim. Tidak ada hotel. Tidak ada anak tidak sah."
"Tapi mereka mengaku cinta," bantah Bu Tuti. "Itu sudah selingkuh secara emosional."
"Saya setuju, Bu Tuti. Itu salah. Saya tidak membela mereka. Tapi kita juga tidak boleh menambah-nambah fitnah yang tidak benar. Fitnah itu dosa besar."
Suasana di balai desa menjadi hening. Beberapa orang menunduk, mungkin malu. Yang lain masih bergumam, tidak puas.
Tapi setidaknya, ada upaya untuk menghentikan fitnah. Upaya kecil. Mungkin tidak cukup. Tapi setidaknya, ada yang mencoba.
Setelah Badai Kecil
Sinox tidak serta-merta pulih. Gunjingan tidak berhenti dalam semalam. Orang-orang masih berbisik di belakangnya. Beberapa tetangga masih menghindarinya. Murid-muridnya masih bergosip tentang videonya.
Tapi perlahan-lahan, ia mulai bisa bernapas lagi.
Bukan karena fitnah berhenti. Tapi karena ia belajar untuk tidak peduli. Ia belajar bahwa tidak semua pendapat orang perlu didengar. Ia belajar bahwa kebahagiaan tidak datang dari pengakuan orang lain, tapi dari kedamaian hati sendiri.
"Sin," kata Mas Sarif suatu malam, setelah berminggu-minggu tidak bicara.
"Iya, Mas?"
"Aku tidak akan membiarkan orang-orang menghakimi kita. Aku akan lindungi kamu. Meskipun kamu salah. Meskipun aku marah. Tapi kamu tetap istriku. Dan tidak ada yang berhak melemparimu dengan batu fitnah."
Sinox menangis. Ia memeluk suaminya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Mas Sarif membalas pelukannya.
Tidak ada kata maaf yang diucapkan. Tidak ada janji yang dibuat. Hanya pelukan.
Dan di dalam pelukan itu, ada harapan. Harapan bahwa mereka bisa melewati semua ini bersama. Harapan bahwa fitnah dan gunjingan suatu hari akan berlalu. Harapan bahwa cinta, meskipun telah retak, masih bisa diperbaiki.
Tapi untuk itu, mereka butuh waktu. Banyak waktu. Dan kesabaran. Lebih banyak dari yang mereka kira.
BAB XIII
Luka Masa Lalu: Mas Nur dan Kepergian Tanpa Pamit
Ada luka yang tidak pernah benar-benar sembuh. Ia hanya tertutup oleh lapisan-lapisan waktu, oleh kesibukan hidup, oleh kebahagiaan baru yang kita yakini cukup untuk melupakannya. Tapi ketika lapisan-lapisan itu terkoyak, entah oleh sebuah nama, sebuah wajah, atau sebuah kejadian yang tidak terduga, luka lama itu akan terbuka kembali. Berdarah. Sakit. Seperti baru terjadi kemarin.
Mas Nur adalah luka lama Sinox Yanti. Cinta pertama yang penuh misteri dan konflik. Laki-laki yang membuatnya merasa menjadi perempuan paling berharga di dunia, sekaligus yang paling tidak berharga. Laki-laki yang datang dengan janji-janji manis, lalu pergi tanpa kabar, meninggalkan Sinox dengan rahim yang kosong dan hati yang hancur berkeping-keping.
Selama tiga puluh tahun, Sinox mengubur luka itu. Ia tidak pernah bercerita pada siapa pun, tidak pada Mas Sarif, tidak pada anak-anaknya, tidak pada teman-temannya. Hanya satu orang yang tahu: Akang Riyadi.
Akang yang selalu ada saat Sinox menangis karena Mas Nur. Akang yang mendengarkan curhatannya tanpa menghakimi. Akang yang menjadi tempat bersandarnya saat cinta pertamanya yang beracun itu hampir membunuhnya.
Dan kini, di tengah badai yang menghantam rumah tangganya, Sinox merasa bahwa sudah waktunya untuk membuka luka lama itu. Bukan untuk menyakiti dirinya sendiri, tapi untuk melepaskan. Untuk mengakui bahwa ada bagian dari masa lalunya yang belum selesai, dan bahwa Mas Nur, bukan Akang, adalah akar dari segala kekacauan dalam hidupnya.
Malam yang Sunyi, Hati yang Berisik
Tegorejo, pukul 22.00. Mas Sarif sudah tidur di ruang tamu, kebiasaan yang masih terus berlanjut meskipun hubungan mereka perlahan mulai membaik. Sinox duduk di beranda belakang rumah, seorang diri. Langit malam cerah, bertabur bintang, dan bulan purnama bersinar terang seperti lampu gantung raksasa di atas desa.
Ponselnya menyala.
Sebuah pesan dari Akang. Mereka sudah sepakat untuk tidak berkomunikasi intens, tapi tidak sepenuhnya memutus kontak. Kadang, di malam-malam sunyi seperti ini, mereka masih saling mengirim pesan, sekadar menanyakan kabar, sekadar memastikan bahwa yang lain masih hidup.
Akang Riyadi: Nox, kamu masih bangun?
Sinox menatap pesan itu. Ia ingin membalas, tapi tangannya terasa berat.
Haruskah aku membalas? pikirnya. Setiap kali aku membalas, aku merasa seperti mengkhianati Mas Sarif. Tapi jika aku tidak membalas, aku merasa kehilangan.
Ia memilih membalas.
Sinox Yanti: Masih. Tidak bisa tidur. Kamu?
Akang Riyadi: Juga tidak bisa tidur. Pikiran ini kacau terus. Aku teringat masa lalu. Teringat kamu. Teringat semuanya.
Sinox Yanti: Masa lalu yang mana?
Akang Riyadi: Semua. Tapi terutama tentang Mas Nur.
Sinox terdiam. Jantungnya berdegup lebih kencang.
Mengapa Akang tiba-tiba membicarakan Mas Nur? pikirnya. Apakah ia juga sedang membuka luka lamanya? Atau apakah ini sekadar nostalgia?
Akang Riyadi: Nox, aku ingin bertanya sesuatu. Dan aku minta kamu jujur.
Sinox Yanti: Tanya apa?
Akang Riyadi: Apakah Mas Nur adalah alasan mengapa kamu sulit move on? Bukan aku. Tapi dia?
Pertanyaan itu menusuk. Sinox menatap layar ponselnya dengan mata berkaca-kaca.
Mas Nur, pikirnya. Laki-laki yang selama tiga puluh tahun ia coba lupakan. Laki-laki yang mengambil masa mudanya, merenggut harapannya, dan meninggalkannya dengan luka yang tidak pernah benar-benar pulih.
Apakah ia alasan mengapa aku sulit move on? Mungkin. Atau mungkin aku hanya belum pernah menyelesaikannya dengan benar.
Cerita yang Terpendam
Sinox Yanti: Aku tidak pernah cerita detail tentang Mas Nur, kan?
Akang Riyadi: Tidak. Kamu hanya cerita garis besarnya. Tapi tidak pernah detail. Dan aku tidak pernah bertanya karena aku tahu itu menyakitkan bagimu.
Sinox Yanti: Malam ini aku ingin cerita. Kalau kamu mau mendengar.
Akang Riyadi: Aku selalu mau mendengar ceritamu, Nox. Sejak dulu sampai sekarang.
Sinox menarik napas panjang. Ia memejamkan mata, membiarkan ingatan tentang Mas Nur mengalir seperti film usang yang diputar di kepalanya. Gambarannya buram di beberapa bagian, tapi terlalu jelas di bagian-bagian yang paling menyakitkan.
Sinox Yanti: *Aku bertemu Mas Nur saat aku kelas 2 SMP. Dia dari kota, tiga tahun lebih tua. Rambutnya gondrong, matanya sayu, dan dia bisa bermain gitar. Saat itu, aku pikir dia adalah laki-laki paling keren di dunia.*
Akang Riyadi: Aku ingat. Waktu itu kamu cerita terus tentang dia. Sampai aku hafal namanya.
Sinox Yanti: Maaf ya, Akang. Aku tidak tahu kalau kamu mencintaiku saat itu. Aku terlalu sibuk dengan Mas Nur sampai aku buta terhadap perasaanmu.
Akang Riyadi: Tidak apa-apa. Itu sudah berlalu.
Sinox Yanti: Tapi bagiku, belum. Karena Mas Nur, dia bukan cinta biasa. Dia adalah cinta pertama yang beracun. Dan racunnya masih terasa sampai sekarang.
Sinox mulai mengetik lebih cepat, seolah-olah ia sedang membuang semua racun yang selama ini ia pendam.
Sinox Yanti: Kami berpacaran diam-diam. Orang tuaku tidak tahu. Aku sering membolos sekolah untuk bertemu dia. Aku berbohong pada ibuku, pada guruku, pada semua orang. Aku rela melakukan apa pun untuk dia.
Sinox Yanti: Pada suatu malam, saat orang tuaku pergi ke acara pernikahan di luar kota, dia datang ke rumahku. Aku masih ingat semuanya, Akang. Aku masih ingat suara hujan di luar. Aku masih ingat bau parfumnya. Aku masih ingat bagaimana tangannya gemetar saat memegang tanganku.
Sinox Yanti: Kami melakukan hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan oleh anak seusia kami. Aku memberinya segalanya. Tubuhku. Masa depanku. Kepercayaanku. Dan dia menerimanya dengan senang hati.
Akang Riyadi: Nox, kamu tidak perlu meneruskan jika ini terlalu berat.
Sinox Yanti: Tidak. Aku harus meneruskan. Aku sudah menyimpan ini terlalu lama. Aku sudah lelah.
Sinox Yanti: Aku hamil, Akang. Dua kali. Pertama saat aku kelas 2 SMP. Kedua saat aku kelas 3. Dua kali aku mengandung anaknya. Dan dua kali pula aku kehilangan.
Sinox Yanti: Yang pertama keguguran di bulan keempat. Aku ingat rasa sakitnya, bukan hanya fisik, tapi juga hati. Aku ingat darah yang mengalir di antara pahaku saat aku duduk di kamar mandi, sendirian, sementara dia sedang pergi entah ke mana.
Sinox Yanti: Yang kedua, dia memaksa aku untuk aborsi. Katanya, dia belum siap punya anak. Katanya, dia masih ingin sekolah. Katanya, dia tidak mau orang tuanya tahu. Aku menurut, Akang. Karena aku bodoh. Karena aku mencintainya. Karena aku pikir dengan menurut, dia akan bertahan.
Sinox Yanti: Tapi dia tidak bertahan. Setelah aborsi itu, dia semakin jarang datang. Lalu dia berhenti menelepon. Lalu dia berganti nomor. Lalu dia menghilang, seperti dia tidak pernah ada.
Sinox Yanti: Aku mencarinya, Akang. Aku datang ke rumahnya di kota. Tapi orang tuanya bilang dia sudah pindah. Tidak ada yang tahu ke mana. Seperti ditelan bumi.
Sinox Yanti: Aku hancur. Aku pikir hidupku sudah berakhir. Aku tidak layak untuk dicintai siapa pun. Aku perempuan kotor yang sudah memberikan segalanya pada laki-laki yang tidak bertanggung jawab.
Sinox Yanti: Dan di saat-saat paling gelap dalam hidupku, hanya kamu yang ada, Akang. Kamu tidak pernah bertanya. Kamu tidak pernah menghakimi. Kamu hanya mendengarkan. Kamu hanya ada di sana. Dan itu menyelamatkanku.
Akang yang Menangis Membaca Cerita Itu
Di Kapuas, Akang membaca cerita Sinox dengan air mata yang tidak berhenti mengalir.
Ia tidak pernah tahu bahwa Sinox mengalami semua itu. Dulu, saat remaja, Sinox hanya bercerita bahwa ia patah hati karena Mas Nur pergi. Tidak pernah ia ceritakan tentang kehamilan, keguguran, aborsi, dan penghancuran diri yang ia alami.
Mengapa ia tidak pernah cerita? pikir Akang. Mengapa ia memendam semua ini sendirian? Mengapa ia tidak percaya padaku untuk berbagi beban seberat ini?
Tapi Akang tahu jawabannya. Karena saat itu, mereka masih remaja. Karena Sinox malu. Karena Sinox takut Akang akan meninggalkannya jika tahu kebenaran tentang dirinya. Karena luka itu terlalu dalam untuk diucapkan, bahkan pada orang yang paling ia percaya.
Akang Riyadi: Nox, aku tidak pernah tahu. Aku tidak pernah tahu kamu mengalami semua itu.
Sinox Yanti: Aku sengaja tidak cerita. Aku malu, Akang. Aku malu pada diriku sendiri. Aku malu pada kamu. Aku pikir jika kamu tahu, kamu akan melihatku sebagai perempuan yang kotor, perempuan yang tidak pantas, perempuan yang tidak berharga.
Akang Riyadi: Kamu tidak pernah kotor, Nox. Kamu tidak pernah tidak pantas. Kamu tidak pernah tidak berharga. Kamu adalah korban. Kamu adalah perempuan yang kuat karena bisa bertahan melalui semua itu sendirian.
Sinox Yanti: Aku tidak kuat, Akang. Aku hanya bertahan. Dan bertahan itu berbeda dengan kuat. Bertahan adalah ketika kamu tidak punya pilihan selain terus hidup meskipun mati rasanya. Dan aku bertahan selama bertahun-tahun, sampai aku bertemu Mas Sarif.
Sinox Yanti: Mas Sarif menyelamatkanku dari kegelapan itu. Ia tidak tahu masa laluku. Ia menikahiku apa adanya. Ia memberiku rumah, anak-anak, kehidupan yang normal. Dan aku seharusnya bersyukur. Tapi luka lama itu tidak pernah benar-benar sembuh.
Sinox Yanti: Lalu kamu muncul, Akang. Dan semua luka itu terbuka lagi. Bukan karena kamu. Tapi karena Mas Nur. Karena dia adalah pintu masuk bagi semua rasa sakit yang aku pendam. Dan kamu, kamu adalah saksi dari masa laluku. Melihatmu, rasanya seperti melihat diriku yang dulu, yang hancur, yang rapuh, yang tidak berdaya.
Sinox Yanti: Mungkin itu sebabnya aku sulit melepaskanmu. Bukan karena aku mencintaimu sebagai kekasih. Tapi karena aku butuh seseorang yang tahu masa laluku. Seseorang yang bisa menjadi saksi bahwa aku pernah bertahan melalui semua itu. Seseorang yang bisa berkata, 'Aku melihatmu, Nox. Aku melihatmu jatuh, dan aku melihatmu bangkit. Dan kamu hebat.'
Pengakuan yang Membebaskan
Sinox tidak tahu bahwa menulis semua itu akan membuatnya merasa lega. Ia tidak pernah membayangkan bahwa kata-kata yang ia ketik di ponsel, di tengah malam, di beranda belakang rumahnya, dengan air mata yang terus mengalir, akan terasa seperti pengakuan dosa di hadapan Tuhan.
Mengakui luka adalah langkah pertama untuk menyembuhkannya. Mengakui bahwa ia telah disakiti. Mengakui bahwa ia tidak selalu kuat. Mengakui bahwa ia butuh bantuan. Mengakui bahwa ia pantas untuk bahagia.
Akang Riyadi: Nox, terima kasih sudah percaya padaku. Terima kasih sudah berbagi cerita ini. Aku tahu ini tidak mudah.
Sinox Yanti: Aku tidak tahu kenapa aku memilih malam ini untuk cerita. Mungkin karena aku sudah tidak bisa menyimpannya lagi. Atau mungkin karena aku sudah pasrah. Terserah orang mau menilai aku apa. Aku sudah terlalu lelah untuk berpura-pura sempurna.
Akang Riyadi: Kamu tidak perlu sempurna, Nox. Kamu hanya perlu menjadi dirimu sendiri. Dengan semua luka dan cerita masa lalumu. Karena itu yang membuatmu manusia.
Sinox Yanti: Akang, aku minta satu hal.
Akang Riyadi: Apa?
Sinox Yanti: Jangan pernah cerita ini pada siapa pun. Jangan pada Setya. Jangan pada anak-anakmu. Jangan pada siapa pun. Ini rahasiaku. Dan aku hanya percaya padamu untuk menyimpannya.
Akang Riyadi: Aku berjanji. Rahasia ini akan kubawa sampai mati.
Sinox Yanti: Terima kasih, Akang. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan tanpamu.
Akang Riyadi: Kamu akan baik-baik saja, Nox. Kamu sudah bertahan dari yang terburuk. Kamu bisa bertahan dari apa pun.
Percakapan itu berakhir pukul satu malam. Sinox mematikan ponselnya. Ia menatap bulan yang masih bersinar terang di atas desa.
Mengapa aku baru sekarang menceritakan semua ini? pikirnya. Mengapa aku tidak pernah cerita pada Mas Sarif? Apakah karena aku takut ia akan meninggalkanku? Apakah karena aku takut ia akan melihatku sebagai perempuan yang tidak sempurna?
Sinox tidak tahu. Tapi yang ia tahu, malam ini ia merasa lebih ringan. Beban tiga puluh tahun yang ia pikul sendiri, akhirnya ia bagi dengan seseorang. Dan seseorang itu, Akang Riyadi, tidak menghakiminya. Tidak meninggalkannya. Tidak memandangnya dengan jijik. Ia hanya menerima. Menerima Sinox apa adanya. Dengan semua luka dan dosa masa lalunya.
Mungkin itulah arti cinta sejati, pikir Sinox. Bukan tentang memiliki. Tapi tentang menerima. Tentang melihat seseorang dalam keadaan paling rentannya, dan tetap memilih untuk tinggal.
Mas Sarif yang Mendengar
Sinox tidak tahu bahwa Mas Sarif terbangun di tengah malam untuk ke kamar mandi, dan mendengar istrinya menangis di beranda belakang. Ia tidak mendengar isi chat, hanya mendengar isakan tangis yang tertahan, suara Sinox yang sesekali berbisik, "Aku kuat, aku kuat, aku bisa."
Mas Sarif tidak marah. Ia hanya sedih. Sedih karena istrinya masih menyembunyikan sesuatu darinya. Sedih karena istrinya lebih memilih curhat pada laki-laki lain daripada pada suaminya sendiri. Sedih karena ia, sebagai suami, gagal menjadi tempat bersandar yang aman bagi istrinya.
Keesokan paginya, Mas Sarif bertanya, "Sin, tadi malam kamu bicara dengan siapa?"
Sinox terkejut. "Tidak dengan siapa-siapa, Mas. Aku hanya sendiri."
"Aku dengar kamu nangis."
"Hanya mimpi buruk, Mas."
Mas Sarif terdiam. Ia tahu Sinox berbohong. Tapi ia tidak mau memaksa.
"Sin," katanya akhirnya, "aku tahu aku bukan laki-laki paling romantis. Aku tahu aku tidak bisa memberikan puisi atau kata-kata indah seperti yang mungkin dia berikan. Tapi aku suamimu. Aku yang ada di sini setiap hari. Aku yang membanting tulang di sawah untuk keluarga kita. Aku yang tidak akan pernah meninggalkanmu meskipun kau melakukan kesalahan sebesar apa pun."
Sinox menunduk. "Aku tahu, Mas."
"Kalau kau tahu, kenapa kau masih menyembunyikan sesuatu dariku? Apa yang kau takutkan? Apa yang kau pikir akan terjadi jika kau jujur padaku?"
Sinox tidak menjawab.
Mas Sarif menghela napas. "Sin, aku tidak akan memaksamu cerita. Tapi ingatlah: aku di sini. Aku tidak akan pergi. Kapan pun kau siap cerita, aku siap mendengar. Tanpa menghakimi. Tanpa marah. Sebagai suami yang mencintaimu."
Mas Sarif beranjak pergi ke sawah. Sinox hanya bisa berdiri di dapur, menatap punggung suaminya, dan menangis.
Ya Allah, doanya, kenapa aku diberikan suami yang begitu baik? Kenapa aku tidak bisa menjadi istri yang baik untuknya? Kenapa aku masih terus menyakiti hatinya? Ampuni aku, Ya Allah. Ampuniku karena tidak bersyukur atas karunia-Mu.
Kepergian Tanpa Pamit
Ada luka yang tidak disebabkan oleh kebencian, tetapi oleh keheningan. Bukan karena seseorang pergi dengan membanting pintu, tetapi karena ia pergi tanpa suara, tanpa pamit, tanpa kata perpisahan, tanpa kesempatan bagi yang ditinggalkan untuk bertanya, "Mengapa?" atau "Kapan kau kembali?"
Kepergian tanpa pamit adalah luka paling diam, tetapi paling dalam. Karena ia tidak meninggalkan kemarahan yang bisa dilampiaskan, tetapi meninggalkan pertanyaan yang tidak pernah terjawab.
Kepergian Akang Riyadi dari Tegorejo tiga puluh tahun lalu adalah kepergian tanpa pamit. Ia pergi seperti angin, tanpa suara, tanpa tanda, tanpa jejak. Sinox Yanti mengetahui bahwa Akang telah pergi bukan dari mulut Akang sendiri, tetapi dari bisik-bisik tetangga.
Sinox remaja saat itu tidak mengerti. Ia menangis. Ia marah. Ia kecewa. Ia merasa dikhianati oleh orang yang paling ia percaya.
Dan malam ini, setelah video call, setelah fitnah, setelah pertengkaran dengan Mas Sarif, setelah semua kekacauan yang terjadi, Sinox akhirnya mendapatkan jawabannya.
Sinox Yanti: Akang, aku ingin bertanya sesuatu. Dan kali ini, aku minta kamu jujur. Tolong jangan berbohong.
Akang Riyadi: Tanya apa, Nox?
Sinox Yanti: Kenapa dulu kamu pergi tanpa pamit?
Akang terdiam cukup lama. Pertanyaan yang selama tiga puluh tahun tidak pernah ia tanyakan secara langsung. Pertanyaan yang ia hindari karena takut jawabannya akan melukai Sinox lebih dalam.
Sinox Yanti: Aku sudah tiga puluh tahun menunggu jawaban, Akang. Tiga puluh tahun. Aku berhak tahu.
Akang Riyadi: Aku tahu, Nox. Maaf aku membuatmu menunggu selama itu. Baik. Aku akan cerita. Dari awal. Tanpa berbohong.
Cerita Akang: Mengapa Ia Pergi Tanpa Pamit
Akang Riyadi: Keluargaku dulu miskin, Nox. Sangat miskin. Ayahku hanya buruh tani. Rumahku dindingnya anyaman bambu, lantainya tanah. Sementara rumahmu sudah tembok, lantai keramik, punya kipas angin. Aku mencintaimu. Tapi aku merasa tidak pantas. Laki-laki miskin seperti aku tidak pantas mendekati perempuan sepertimu.
Sinox Yanti: Aku tidak pernah memandangmu dari materi, Akang. Aku sayang kamu karena kamu baik, karena kamu selalu ada untukku.
Akang Riyadi: Aku tahu. Tapi perasaan tidak pantas itu tetap ada. Apalagi setelah ibumu bicara padaku.
Sinox Yanti: Ibuku? Apa yang ibu bicarakan?
Akang Riyadi: Suatu sore, sebelum aku berangkat ke Jakarta, aku mampir ke rumahmu. Aku ingin meminta izin padamu, bukan izin untuk pacaran, tapi izin untuk pergi. Aku ingin bilang bahwa aku akan merantau, mencari pekerjaan, lalu kembali untuk melamarmu. Tapi ibumu tidak memberiku kesempatan. Beliau langsung berkata, 'Akang, kamu anak baik. Tapi Sinox masih kecil. Dia harus fokus sekolah. Jangan ganggu konsentrasinya dengan urusan pacaran. Kalau kamu benar-benar sayang padanya, buktikan dengan menjadi sukses dulu. Jangan hanya janji manis.'
Akang Riyadi: Aku tidak marah pada ibumu. Beliau benar. Aku tidak punya apa-apa. Janjiku hanya omong kosong jika tidak ada bukti.
Sinox Yanti: Tapi kenapa kamu tidak pamit padaku secara langsung?
Akang Riyadi: Karena aku takut, Nox. Takut jika aku berpamitan padamu, aku tidak akan bisa pergi. Takut jika melihat matamu menangis, aku akan membatalkan semua rencana. Takut jika kamu memintaku untuk tetap di Tegorejo, aku akan menurut, dan kita berdua akan sengsara.
Akang Riyadi: Aku pergi tanpa pamit karena itu adalah satu-satunya cara untuk pergi. Aku tidak cukup kuat untuk mengucapkan selamat tinggal. Aku tidak cukup tegar untuk melihatmu menangis karena kepergianku.
Sinox Yanti: Tapi aku tetap menangis, Akang. Aku tetap hancur. Aku tetap merasa dikhianati. Bedanya, karena kamu tidak pamit, aku tidak bisa marah pada seseorang. Aku hanya bisa marah pada bayanganmu. Dan itu lebih menyakitkan.
Akang Riyadi: Aku minta maaf, Nox. Aku tahu itu salah. Tapi aku tidak tahu cara lain. Aku masih muda. Aku bodoh. Aku pengecut.
Saat Akang Pulang ke Tegorejo
Sinox Yanti: Aku dengar dari ibuku, sebelum ibu meninggal, bahwa kamu pernah pulang ke Tegorejo. Apakah itu benar?
Akang Riyadi: *Benar. Tahun 1995. Aku sudah bekerja di sebuah perusahaan di Jakarta. Gajiku pas-pasan, tapi aku sudah punya tabungan. Aku ingin pulang, menemuimu, dan meminta maaf.*
Sinox Yanti: Kenapa kamu tidak jadi menemui?
Akang terdiam. Ia tidak ingin menjawab. Tapi ia sudah berjanji akan jujur.
Akang Riyadi: Karena aku melihatmu dengan dia. Dengan Mas Nur. Suatu sore. Aku baru sampai di Tegorejo. Aku berjalan ke rumahmu, ingin kejutkan kamu. Tapi di depan rumah, aku melihat kamu sedang duduk di teras bersama seorang laki-laki. Laki-laki itu memegang tanganmu. Kamu tersenyum padanya. Senyum yang dulu hanya untukku.
Akang Riyadi: Aku bertanya pada tetangga. Mereka bilang itu Mas Nur, pacar baru kamu. Katanya kamu sangat serius dengannya. Bahkan kabarnya kamu sudah, maaf Nox, kamu sudah tidur dengannya.
Sinox Yanti: Itu benar. Tapi itu bukan karena aku mencintainya lebih dari dirimu, Akang. Itu karena aku kecewa padamu. Karena kamu pergi tanpa pamit. Karena kamu menghilang. Aku merasa tidak berharga. Dan Mas Nur datang, memberi perhatian yang selama ini aku rindukan dari kamu. Aku bodoh. Aku tahu itu. Tapi aku sedang sakit, Akang. Aku sakit karena kehilanganmu.
Akang Riyadi: Aku tidak tahu, Nox. Aku pikir kamu sudah move on. Aku pikir kamu bahagia dengan dia. Jadi aku memutuskan untuk pergi lagi. Tanpa pamit lagi. Aku pikir, lebih baik aku menghilang daripada mengganggu kebahagiaanmu.
Sinox menangis.
Sinox Yanti: Kamu seharusnya tidak pergi, Akang. Kamu seharusnya bertanya padaku. Kamu seharusnya memberi aku kesempatan untuk menjelaskan. Tapi kamu hanya melihat sekilas, lalu mengambil kesimpulan. Lalu kamu pergi lagi, tanpa pamit. Dan aku ditinggalkan lagi. Dengan luka yang sama. Hanya kali ini, lukanya lebih dalam.
Akang Riyadi: Aku minta maaf, Nox. Aku tahu maafku tidak akan cukup.
Sinox Yanti: Kamu bisa katakan bahwa kamu mencintaiku. Saat itu. Saat kamu pulang ke Tegorejo dan melihatku dengan Mas Nur. Kamu bisa datang, merebut tanganku dari dia, dan bilang, 'Sinox milikku.' Tapi kamu tidak melakukan itu. Kamu memilih pergi.
Akang Riyadi: Karena aku pengecut, Nox. Aku selalu pengecut. Dan aku menyesalinya sampai sekarang.
Memaafkan dan Melepaskan
Sinox tidak tahu harus marah atau mengerti. Kepergian Akang tanpa pamit telah meninggalkan luka yang begitu dalam. Luka yang membuatnya mengambil keputusan-keputusan bodoh, seperti berpacaran dengan Mas Nur, memberikan tubuhnya pada laki-laki yang salah, dan hampir menghancurkan masa depannya sendiri.
Tapi di sisi lain, ia mengerti. Akang pergi karena ia miskin, karena ia merasa tidak pantas, karena ia takut gagal di depan Sinox. Akang pergi karena ia mencintai Sinox, terlalu mencintai, sehingga ia rela meninggalkannya demi masa depan yang lebih baik.
Sinox Yanti: Akang, aku memaafkanmu.
Akang Riyadi: Apa?
Sinox Yanti: Aku memaafkanmu. Untuk kepergianmu tanpa pamit. Untuk tiga puluh tahun keheningan. Untuk semua air mata yang tidak perlu aku tumpahkan jika saja kamu berani bicara. Aku memaafkanmu.
Akang Riyadi: Apa aku pantas dimaafkan?
Sinox Yanti: Bukan karena kamu pantas. Tapi karena aku lelah marah. Aku lelah menyimpan sakit hati. Aku lelah membawa beban ini selama tiga puluh tahun. Aku ingin bebas, Akang. Aku ingin melepaskan semua ini. Dan satu-satunya cara adalah memaafkanmu.
Akang Riyadi: Terima kasih, Nox. Aku tidak pantas menerima maaf darimu.
Sinox Yanti: Kamu pantas. Karena kamu juga manusia. Karena kamu juga pernah terluka. Karena kamu juga berjuang dengan caramu sendiri. Kita sama-sama korban dari keadaan, dan dari kebodohan kita sendiri.
Akang Riyadi: Apa kita bisa memulai lagi? Sebagai teman?
Sinox Yanti: Kita sudah memulai, Akang. Sejak malam pertama kamu menelepon. Sejak malam pertama aku mengaku bahwa aku merindukanmu. Kita sudah memulai hubungan baru, bukan sebagai kekasih, tapi sebagai dua manusia yang saling menyembuhkan.
Akang Riyadi: Aku tidak akan pergi lagi, Nox. Aku berjanji.
Sinox Yanti: Jangan berjanji. Janji mudah diucapkan, sulit ditepati. Cukup katakan bahwa kamu akan berusaha. Dan aku juga akan berusaha. Bersama-sama.
Setelah Memaafkan
Sinox tidak menyangka bahwa memaafkan Akang akan membuatnya merasa begitu lega. Selama tiga puluh tahun, ia menyimpan kemarahan pada laki-laki yang pergi tanpa pamit. Semua itu ia bawa dalam pernikahannya, dalam hubungannya dengan Mas Sarif, dalam setiap keputusan yang ia ambil.
Tapi malam itu, setelah mengucapkan maaf, Sinox merasa ada beban yang terangkat dari pundaknya.
Mengapa aku tidak memaafkannya sejak dulu? pikir Sinox. Mengapa aku memendam semua ini selama bertahun-tahun?
Tapi ia tahu jawabannya. Karena memaafkan berarti melepaskan. Dan melepaskan berarti mengakui bahwa masa lalu tidak akan pernah kembali. Dan mengakui bahwa masa lalu tidak akan pernah kembali berarti ia harus menerima kenyataan bahwa Akang tidak akan pernah menjadi miliknya.
Sinox Yanti: Akang, aku ingin tidur. Aku lelah. Tapi lega.
Akang Riyadi: Selamat tidur, Nox. Mimpi indah.
Sinox Yanti: Doakan aku agar bisa menjadi istri yang lebih baik untuk Mas Sarif.
Akang Riyadi: Aku akan doakan. Setiap malam.
Percakapan itu berakhir. Sinox mematikan ponselnya. Ia berjalan ke ruang tamu, tempat Mas Sarif tidur di kursi panjang. Ia duduk di lantai, di samping suaminya, dan mencium keningnya pelan.
Mas Sarif terbangun. "Sin? Ada apa?"
"Tidak ada, Mas. Aku hanya ingin bilang, aku mencintaimu."
Mas Sarif bangkit dari kursi. Ia duduk di samping Sinox, meraih tangan istrinya. "Apa yang terjadi, Sin? Ceritakan padaku."
"Aku baru saja memaafkan seseorang, Mas. Seseorang yang telah lama pergi. Dan setelah memaafkannya, aku sadar bahwa selama ini aku tidak pernah benar-benar hadir untukmu. Hatiku selalu setengah di masa lalu. Dan itu tidak adil bagimu."
"Sin, aku tidak pernah minta kamu melupakan masa lalumu..."
"Tapi aku harus, Mas. Bukan melupakan, tapi melepaskan. Melepaskan semua sakit hati, semua kekecewaan, semua pertanyaan yang tidak terjawab. Karena itu tidak penting lagi. Yang penting sekarang adalah aku dan kamu. Keluarga kita. Masa depan kita."
Mas Sarif memeluk istrinya. Ia tidak tahu persis apa yang terjadi pada Sinox malam itu. Tapi ia merasakan perubahan. Ada ketenangan baru di mata istrinya. Ada kelegaan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Mungkin ini awal yang baru, pikir Mas Sarif. Mungkin setelah badai, akhirnya ada pelangi.
Menyembuhkan Luka Lama
Butuh waktu bagi Sinox untuk menyembuhkan luka lamanya. Tidak ada obat yang bisa menyembuhkan trauma dalam semalam. Tidak ada doa yang bisa menghapus kenangan buruk dalam satu kali sujud. Yang bisa ia lakukan hanyalah menerima bahwa luka itu ada, bahwa ia telah sembuh tidak sempurna, dan bahwa ia mungkin akan membawa bekas luka itu seumur hidup.
Tapi ia tidak sendirian. Mas Sarif selalu ada di sana. Eko, meskipun masih marah, masih memanggilnya Ibu. Anak-anaknya yang lain masih menelepon setiap minggu. Dan Akang, di Kapuas, dengan jarak ribuan kilometer, masih menjadi teman curhatnya. Bukan kekasih. Bukan calon suami. Tapi teman. Sahabat. Seseorang yang bisa ia percayai tanpa rasa takut dihakimi.
Keesokan paginya, Sinox bangun dengan senyum. Ia memasak sarapan untuk Mas Sarif, nasi goreng dengan bawang, telur ceplok, irisan timun, dan sambal terasi. Mas Sarif tersenyum melihat istri yang dulu ia kenal, yang memasak dengan penuh cinta, yang hadir seutuhnya untuknya.
"Ini nasi goreng favoritku," kata Mas Sarif.
"Aku tahu, Mas."
"Kamu ingat?"
"Aku ingat semuanya, Mas. Aku hanya butuh waktu untuk mengingat bahwa hal-hal kecil seperti ini, nasi goreng dengan bawang, telur ceplok, dan sambal terasi, adalah cinta. Cinta yang sesungguhnya. Cinta yang tidak perlu diumumkan di media sosial. Cinta yang sederhana, tapi bertahan."
Mas Sarif makan dengan lahap.
Sinox duduk di seberangnya, menatap suaminya dengan penuh kasih.
Ya Allah, doanya dalam hati, terima kasih untuk kesempatan kedua ini. Terima kasih untuk suami yang sabar. Terima kasih untuk anak-anak yang masih mau memanggilku ibu. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku berjanji akan menjadi istri yang lebih baik.
Pelajaran dari Luka Masa Lalu
Luka lama tentang Mas Nur dan kepergian tanpa pamit mengajarkan Sinox dan Akang banyak hal.
Bahwa cinta tidak selalu berarti memiliki. Bahwa kadang, orang pergi bukan karena mereka tidak peduli, tetapi karena mereka terlalu peduli. Bahwa maaf, meskipun datang terlambat, tetap memiliki kekuatan untuk menyembuhkan. Dan bahwa melepaskan, meskipun sakit, adalah tindakan cinta paling berani yang bisa dilakukan seseorang.
Sinox memaafkan Akang karena ia tidak ingin terus terbelenggu oleh masa lalu. Akang melepaskan Sinox karena ia tidak ingin menjadi beban.
Dan mereka berdua, di usia yang tidak lagi muda, akhirnya belajar bahwa cinta sejati tidak selalu tentang bersatu, tetapi tentang saling melepaskan dengan penuh keikhlasan.
Di dalam keikhlasan itu, luka lama mulai mengering. Bukan berarti hilang. Tapi tidak lagi berdarah. Tidak lagi menyiksa. Hanya menjadi bekas, pengingat bahwa suatu saat mereka pernah terluka, pernah bertahan, dan pernah memilih untuk sembuh.
BAB XIV
Panggilan yang Mengguncang
Ada tangis yang tidak pernah dilihat siapa pun.
Tangis yang lahir bukan dari kelemahan, tetapi dari kelelahan. Tangis yang keluar ketika tubuh sudah tidak mampu menahan beban, ketika hati sudah terlalu penuh dengan luka, ketika pikiran sudah terlalu bising dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah terjawab.
Akang Riyadi adalah laki-laki yang terbiasa menangis diam-diam. Sejak kecil, ia diajari bahwa laki-laki tidak boleh menangis. Laki-laki harus tegar. Laki-laki harus menjadi pelindung, bukan yang dilindungi.
Maka selama bertahun-tahun, Akang menangis di tempat-tempat yang tidak pernah dilihat mata manusia.
Di kamar mandi, dengan air keran yang mengalir deras untuk menutupi suara isaknya.
Di beranda rumah, saat malam telah larut dan semua orang terlelap, hanya ditemani oleh suara jangkrik dan angin gambut.
Di dalam mobil, saat ia sendirian di jalanan Kapuas yang sepi, menepi di pinggir jalan, dan membiarkan air mata jatuh di setir mobil.
Akang menangis bukan karena ia lemah. Akang menangis karena ia manusia.
Dan manusia, sekuat apa pun, memiliki batas.
Malam ini, batas itu telah tercapai.
Malam Ketika Akang Runtuh
Kapuas, pukul 23.30. Rumah panggung itu sunyi. Hanya suara angin yang bertiup di sela-sela bilik kayu ulin, menciptakan melodi sendu yang mengiringi kesendirian Akang.
Iwan, anak keduanya, sedang berada di rumah tunangannya, membantu persiapan pernikahan yang tinggal beberapa minggu lagi. Anto, anak pertama, sibuk dengan warung kelontongnya. Raha masih di Jawa bersama Setya, istrinya yang pergi setelah ledakan kemarahan beberapa waktu lalu.
Akang sendirian.
Sendirian untuk pertama kalinya dalam 25 tahun.
Ia duduk di beranda, memandang ke arah kebun karet yang gelap. Ponselnya tergeletak di sampingnya, layar gelap, tanpa notifikasi. Sinox sudah tidak mengirim pesan sejak mereka sepakat untuk mengurangi komunikasi, memberi ruang bagi masing-masing untuk memperbaiki rumah tangga yang retak.
Tapi diam itu menyiksa.
Akang merindukan suara Sinox. Merindukan chat malamnya. Merindukan tawa kecilnya yang sering ia selipkan di sela-sela kalimat. Merindukan perempuan yang tidak pernah benar-benar ia miliki, tetapi terasa begitu dekat di hati.
Ia meraih ponselnya.
Membuka galeri.
Ada satu video yang ia rekam diam-diam, potongan kecil dari panggilan video yang dulu, saat ia menekan tombol rekam tanpa sepengetahuannya. Bukan untuk disebarkan, bukan untuk dijadikan bukti. Hanya untuk dirinya sendiri. Untuk saat-saat seperti ini, saat ia kesepian dan butuh mengingat bahwa ia pernah bahagia, meskipun hanya melalui layar ponsel.
Akang memutar video itu.
Wajah Sinox muncul di layar. Senyumnya. Matanya yang berkaca-kaca. Suaranya yang parau karena menahan tangis.
"Akang, aku kangen kamu. Tiga puluh tahun, setiap hari, setiap malam, aku kangen kamu."
Akang tidak kuat.
Ia mematikan video. Meletakkan ponsel di lantai beranda.
Lalu ia menangis.
Bukan tangis pelan yang tertahan. Tapi tangis keras yang keluar dari dadanya yang sesak. Tangis yang sudah ia tahan selama berminggu-minggu, selama bertahun-tahun, selama tiga puluh tahun.
Ia menangis untuk Sinox, perempuan yang tidak pernah bisa ia miliki.
Ia menangis untuk Setya, istri yang telah ia sakiti, yang kini pergi ke Jawa membawa Raha.
Ia menangis untuk anak-anaknya, yang mungkin kehilangan rasa hormat pada ayahnya.
Ia menangis untuk dirinya sendiri, laki-laki tua yang tersesat di antara cinta masa lalu dan tanggung jawab masa kini.
"Ya Allah," isaknya, suaranya pecah di tengah sunyi malam. "Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak tahu lagi. Aku tersesat. Aku bingung. Aku tidak bisa memilih. Aku tidak bisa melepaskan. Tolong tunjukkan jalan. Tolong beri aku petunjuk. Aku tidak kuat, Ya Allah. Aku tidak kuat."
Tak ada jawaban dari langit.
Hanya angin gambut yang bertiup lebih kencang.
Hanya suara jangkrik yang semakin keras, seolah ikut menangis bersamanya.
Kilas Balik: Air Mata Pertama Akang
Akang tidak terbiasa menangis.
Ia teringat air mata pertamanya saat masih kecil. Usia tujuh tahun. Ayahnya pulang dengan tangan berdarah karena tergores parang saat membersihkan ladang. Akang menangis melihat darah itu, tetapi ayahnya memarahinya.
"Laki-laki tidak boleh menangis! Keringkan air matamu! Kamu harus kuat! Kamu harus menjadi kepala keluarga suatu hari nanti!"
Sejak saat itu, Akang belajar menahan tangis.
Saat ibunya sakit-sakitan dan ia harus mencari kayu bakar di hutan sendirian di usia sembilan tahun, ia tidak menangis.
Saat teman-temannya mengejeknya karena baju seragamnya tambal sulam, ia tidak menangis.
Saat ia gagal masuk perguruan tinggi negeri karena tidak punya uang untuk daftar ulang, ia tidak menangis.
Saat ia tidur di kolong jembatan di Jakarta, perut keroncongan, badan kedinginan, ia tidak menangis.
Saat ia menerima kabar bahwa ayahnya meninggal saat ia sedang merantau dan ia tidak bisa pulang karena tidak punya ongkos, ia tidak menangis.
Tapi malam ini, di usia lima puluh satu tahun, di rumah panggung yang sepi, di tengah lahan gambut yang luas, Akang menangis.
Seperti bendungan yang jebol.
Seperti gunung yang meletus.
Seperti semua air mata yang tertahan selama puluhan tahun akhirnya keluar semua dalam satu malam.
Ia menangis untuk semua hal yang tidak pernah ia tangisi sebelumnya.
Ia menangis untuk masa kecilnya yang keras.
Ia menangis untuk kemiskinan yang merenggut masa mudanya.
Ia menangis untuk cinta yang ia pendam tiga puluh tahun.
Ia menangis untuk semua kesalahan yang ia buat, termasuk kesalahan yang membuat Setya pergi dan Sinox pingsan di sekolah.
Dan setelah air matanya habis, setelah dadanya terasa lebih ringan, Akang terduduk lemas di lantai beranda, memandang kosong ke arah langit malam yang gelap.
Sekarang apa? pikirnya. Setelah semua air mata ini, apa yang harus aku lakukan?
Ia tidak tahu. Tapi ia merasa sedikit lebih ringan.
Seolah-olah menangis adalah doa yang tidak perlu kata-kata.
Seolah-olah Tuhan mendengar isak tangisnya meskipun ia tidak merangkai doa dengan bahasa yang indah.
Seolah-olah ada malaikat yang mencatat setiap tetes air mata yang jatuh di pipinya.
Saat Iwan Pulang
Pukul satu dini hari, Iwan pulang dari rumah tunangannya.
Ia melihat lampu rumah masih menyala, aneh, karena ayahnya biasanya tidur paling lambat pukul sebelas.
Ia masuk ke rumah. Sunyi. Anehnya sunyi.
"Iwan, kamu pulang?" suara Akang dari beranda, parau, seperti habis menangis.
"Iya, Pa. Tumben Pa masih bangun." Iwan berjalan ke beranda. Ia melihat ayahnya duduk di kursi kayu, wajahnya pucat, matanya merah dan sembab.
"Pa, kenapa?" Iwan duduk di samping ayahnya. "Pa nangis?"
Akang tidak menjawab. Ia hanya menunduk.
"Pa, cerita pada Iwan. Iwan anak Pa. Iwan berhak tahu."
Akang menghela napas panjang.
Ia sudah tidak kuat lagi menyembunyikan semuanya sendirian. Ia butuh seseorang untuk mendengar. Seseorang untuk berbagi beban. Dan Iwan, anak keduanya yang akan segera menikah, mungkin adalah orang yang tepat.
"Iwan, Pa minta maaf," kata Akang lirih. "Pa sudah mengecewakan kalian. Pa sudah mengecewakan ibu. Pa sudah mengecewakan keluarga."
"Pa cerita saja. Iwan tidak akan marah."
Akang bercerita. Tentang Sinox. Tentang masa lalu. Tentang cinta yang tidak pernah mati. Tentang panggilan video. Tentang video yang tersebar. Tentang Setya yang pergi. Tentang fitnah dan gunjingan. Tentang rasa bersalah yang tidak kunjung reda.
Iwan mendengarkan tanpa memotong.
Ketika Akang selesai, Iwan tidak marah. Ia tidak kecewa. Ia hanya memeluk ayahnya, pelukan erat yang jarang ia lakukan sejak remaja.
"Pa, Iwan tidak akan menghakimi Pa," kata Iwan pelan. "Iwan tidak tahu rasanya punya cinta masa lalu yang tidak pernah selesai. Tapi Iwan tahu Pa bukan orang jahat. Pa hanya manusia. Manusia boleh salah. Yang penting Pa mau memperbaiki."
"Apa Iwan tidak malu punya ayah seperti Pa?"
"Malu? Kenapa harus malu? Pa tetap ayah Iwan. Pa yang membesarkan Iwan. Pa yang bekerja keras untuk keluarga. Pa yang mengajari Iwan naik sepeda, yang mengantar Iwan ke sekolah setiap pagi, yang menabung bertahun-tahun untuk biaya pernikahan Iwan. Satu kesalahan Pa tidak akan menghapus semua kebaikan Pa selama ini."
Akang menangis lagi. Tapi kali ini, ia tidak menangis sendirian.
Iwan juga menangis.
Ayah dan anak itu duduk di beranda rumah panggung, di tengah malam yang sunyi, berpelukan dan menangis bersama.
Dan di dalam tangis itu, ada pemulihan.
Ada harapan.
Ada keyakinan bahwa besok akan lebih baik.
Setya Ningsih dan Raha di Jawa
Sementara Akang menangis di Kapuas, Setya Ningsih juga menangis di rumah ibunya di Jawa.
Bukan karena ia masih marah pada Akang. Tapi karena ia rindu. Ia rindu pada suaminya meskipun ia yang memutuskan untuk pergi.
Ibu Setya, seorang perempuan tua berusia tujuh puluh tahun yang masih tegar meskipun rambutnya sudah memutih semua, duduk di samping putrinya.
"Ning, kamu masih sayang sama suamimu?" tanya ibu.
Setya mengangguk, air mata mengalir di pipinya. "Tapi aku sakit hati, Bu. Aku merasa dikhianati."
"Ibu mengerti. Tapi ingat, Ning. Pernikahan itu tidak selalu mulus. Kadang ada badai. Kadang ada ombak besar yang menghantam. Tujuan kita bukan menghindari badai, tapi belajar berlayar di tengah badai."
"Aku tidak tahu harus bagaimana, Bu."
"Kamu pulang, Ning. Pulang ke Kapuas. Bicarakan dengan suamimu. Bukan dengan amarah, tapi dengan hati yang terbuka. Dengarkan penjelasannya. Dan jika kamu masih mencintainya, maafkanlah. Bukan karena dia pantas, tapi karena kamu pantas untuk damai."
Setya menatap ibunya. "Bu tidak marah dengan menantu Ibu?"
Ibu tertawa kecil. "Marah? Awalnya iya. Ibu ingin ke Kapuas, memarahi Akang habis-habisan. Tapi setelah Ibu pikir-pikir, apa gunanya marah? Marah hanya akan membuatmu semakin sakit. Yang penting sekarang adalah apa yang terbaik untuk keluarga kalian. Apa yang terbaik untuk anak-anak. Apa yang terbaik untuk masa depan."
Setya terdiam.
Ia memikirkan kata-kata ibunya.
Pulang. Bicara. Maafkan. Bukan karena dia pantas, tapi karena aku pantas untuk damai.
Malam itu, Setya mengambil ponselnya.
Ia mengetik pesan untuk Akang. Pendek. Tanpa basa-basi.
Setya Ningsih: Mas, aku dan Raha akan pulang minggu depan. Tolong jemput kami di bandara.
Balasan dari Akang datang cepat. Sangat cepat.
Akang Riyadi: Iya, Ning. Aku akan jemput. Terima kasih. Terima kasih banyak.
Setya tersenyum.
Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, ia tersenyum.
Bukan senyum bahagia. Tapi senyum lega.
Lega karena ia mengambil keputusan.
Lega karena ia memilih untuk pulang.
Lega karena ia masih punya rumah, meskipun rumah itu saat ini sedang retak.
Pelajaran dari Air Mata
Akang belajar banyak malam itu.
Ia belajar bahwa menangis bukanlah kelemahan. Menangis adalah keberanian untuk mengakui bahwa kita terluka. Bahwa kita tidak selalu kuat. Bahwa kita butuh pertolongan.
Ia belajar bahwa menjadi ayah yang baik bukan berarti harus sempurna. Menjadi ayah yang baik berarti mau mengakui kesalahan di depan anak-anaknya, dan menunjukkan pada mereka bahwa tidak ada yang terlalu terlambat untuk berubah.
Ia belajar bahwa Setya, meskipun telah ia sakiti, masih memberinya kesempatan. Dan kesempatan itu tidak boleh ia sia-siakan.
Ia belajar bahwa cinta pada Sinox tidak akan pernah hilang sepenuhnya. Tapi ia bisa memilih untuk mencintainya dari kejauhan, sebagai doa, sebagai kenangan indah, sebagai bagian dari masa lalu yang membentuk dirinya.
Akang menatap langit malam yang mulai beranjak pagi.
Fajar mulai menyingsing di ufuk timur.
Besok adalah hari baru, pikirnya. Lusa, Setya dan Raha akan pulang. Aku akan jemput mereka. Aku akan peluk mereka. Aku akan minta maaf, bukan dengan kata-kata, tapi dengan tindakan. Aku akan buktikan bahwa aku bisa berubah. Bahwa aku layak diberi kesempatan kedua.
Ia masuk ke dalam rumah.
Mengambil air wudhu.
Melaksanakan salat Subuh lebih khusyuk dari biasanya.
Di sujudnya, ia berdoa, bukan dengan bahasa Arab yang fasih, tapi dengan tangis yang tulus.
Ya Allah, terima kasih untuk air mata ini. Terima kasih untuk kesempatan yang masih Engkau berikan. Aku tidak pantas, tapi Engkau masih memberiku jalan. Aku tidak akan menyia-nyiakannya. Aku berjanji akan menjadi suami yang lebih baik. Ayah yang lebih baik. Manusia yang lebih baik. Amin.
Sinox yang Tidak Tahu
Sinox tidak tahu bahwa Akang menangis semalam suntuk. Ia tidak tahu karena mereka sudah sepakat untuk mengurangi komunikasi, terutama setelah peristiwa yang mengguncang beberapa waktu lalu.
Tapi pagi itu, saat ia membuka ponsel, ada sebuah pesan dari Akang, dikirim pukul 04.47, saat fajar mulai menyingsing.
Akang Riyadi: Nox, aku menangis semalaman. Bukan karena aku lemah. Tapi karena aku sadar akan banyak hal. Aku sadar bahwa selama ini aku terlalu sibuk mengejar masa lalu sampai aku lupa menghargai masa kini. Aku sadar bahwa cinta sejati bukan tentang memiliki, tapi tentang melepaskan. Dan aku sadar bahwa aku harus melepaskanmu untuk kebaikan kita berdua, untuk kebaikan keluarga kita.
Akang Riyadi: Aku tidak akan melupakanku. Tapi aku akan berhenti mencintaimu sebagai kekasih. Aku akan mencintaimu sebagai saudara, sebagai sahabat, sebagai seseorang yang pernah menjadi bagian terindah dalam hidupku.
Akang Riyadi: Terima kasih untuk tiga puluh tahun kenangan. Terima kasih untuk air mata dan tawa. Terima kasih karena kau telah mengajariku arti cinta sejati, cinta yang tidak egois, cinta yang rela melepaskan.
Akang Riyadi: Selamat pagi, Nox. Semoga hari-harimu bahagia. Bersama Mas Sarif. Bersama anak-anakmu. Tanpaku.
Sinox membaca pesan itu berulang kali.
Ia tersenyum. Menangis. Tersenyum lagi.
Ini yang terbaik, pikirnya. Ini yang terbaik untuk kita semua.
Ia membalas pesan Akang.
Pendek. Sederhana. Tanpa drama.
Sinox Yanti: Selamat pagi, Akang. Aku juga melepaskanmu. Bukan karena aku tidak mencintaimu. Tapi karena aku mencintaimu dengan cara yang benar. Sebagai sahabat. Sebagai saudara. Sebagai seseorang yang akan selalu kudoakan dalam setiap sujudku. Terima kasih untuk semuanya. Semoga kita bertemu di surga kelak, tanpa rasa bersalah, tanpa air mata, tanpa batasan.
Sinox Yanti: Jaga dirimu, Akang. Jaga Setya. Jaga anak-anakmu. Mereka adalah prioritasmu sekarang.
Sinox Yanti: Sampai jumpa di lain waktu. Sebagai sahabat.
Pesan itu terkirim.
Sinox tidak menunggu balasan.
Ia mematikan ponselnya. Berjalan ke dapur, menghangatkan nasi goreng sisa semalam, dan menyiapkan sarapan untuk Mas Sarif dan Eko, yang masih dalam proses pemulihan setelah semua yang terjadi.
Hari baru dimulai.
Tanpa air mata. Tanpa drama. Tanpa cinta yang menyiksa.
Hanya keikhlasan. Hanya ketulusan. Hanya harapan untuk hari-hari yang lebih baik.
BAB XV
Rumah Tangga di Ujung Tanduk
Ada saat-saat dalam kehidupan berumah tangga ketika badai datang silih berganti, ketika ujian bertubi-tubi tanpa henti, ketika retakan yang tadinya hanya sebatas garis tipis di dinding berubah menjadi celah menganga yang siap runtuh kapan saja.
Rumah tangga Akang dan Sinox berada di ujung tanduk.
Bukan karena satu kesalahan besar. Tapi karena akumulasi dari segala sesuatu: cinta masa lalu yang tak pernah mati, fitnah yang menyebar seperti api, gunjingan yang menusuk diam-diam, kepercayaan yang retak, dan komunikasi yang berubah menjadi medan perang sunyi.
Di Kapuas, Akang hidup dalam rumah yang kosong secara emosional. Setya Ningsih telah kembali dari Jawa, tapi tidak seperti dulu. Ada jarak yang tidak bisa dijembatani hanya dengan kata maaf. Ada tembok yang tidak bisa dirobohkan hanya dengan pelukan hangat.
Di Tegorejo, Sinox juga merasakan hal yang sama. Mas Sarif masih bersamanya, masih berusaha, masih bertahan. Tapi usaha dan ketahanan itu tidak membuat luka otomatis sembuh. Luka butuh waktu. Butuh kesabaran. Butuh pengorbanan yang mungkin tidak semua orang sanggup memberikan.
Dan di tengah semua itu, pertanyaan besar menggantung di udara: Apakah rumah tangga ini masih bisa diselamatkan?
Akang tidak tahu.
Sinox juga tidak tahu.
Yang mereka tahu, mereka berdua sedang berjuang, masing-masing dengan caranya sendiri, untuk mempertahankan apa yang tersisa.
Tapi apakah berjuang saja cukup? Atau ada saatnya berjuang justru membuat luka semakin dalam?
Di Kapuas: Dingin yang Tak Kunjung Sembuh
Setya Ningsih telah pulang seminggu yang lalu.
Akang menjemputnya di bandara dengan perasaan campur aduk, lega, bahagia, tapi juga takut. Takut bahwa istrinya belum sungguh-sungguh memaafkannya, takut bahwa kedamaian yang tampak di permukaan hanyalah topeng, takut bahwa suatu saat nanti Setya akan meledak lagi.
Dan ketakutannya terbukti.
Setya pulang, tapi ia bukan Setya yang dulu.
Dulu, Setya selalu menyambutnya dengan senyum saat Akang pulang dari kantor desa. Dulu, Setya selalu memasak makanan favoritnya tanpa diminta. Dulu, Setya selalu meraih tangannya di malam hari sebelum tidur, menggenggamnya erat-erat, seolah-olah tidak ingin kehilangan.
Sekarang, Setya bicara seperlunya. Masak seadanya. Tidur dengan posisi membelakangi Akang, seakan-akan mereka hanya dua orang asing yang berbagi kamar.
"Mas," panggil Setya suatu malam, setelah seminggu tidak mengucapkan lebih dari sepuluh kata sekaligus.
"Iya, Ning."
"Aku tidak bisa kembali seperti dulu."
Akang terdiam. Dadanya terasa sesak.
"Aku sudah mencoba," lanjut Setya. "Aku sudah berusaha memaafkan Mas. Aku sudah berusaha melupakan. Tapi setiap kali aku melihat Mas, aku teringat pada video itu. Aku teringat pada kata-kata Mas kepada perempuan itu. Aku teringat bahwa Mas lebih lembut padanya daripada padaku selama 25 tahun nikah."
"Ning, aku minta maaf..."
"Maaf tidak akan cukup, Mas." Setya menoleh. Matanya merah, tapi tidak menangis. Air matanya mungkin sudah habis. "Aku butuh waktu. Banyak waktu. Aku tidak tahu kapan aku bisa kembali seperti dulu. Mungkin tidak pernah."
"Jadi apa yang harus kita lakukan?"
Setya menghela napas panjang. "Aku tidak tahu, Mas. Yang aku tahu, aku tidak ingin bercerai. Aku tidak ingin anak-anak kehilangan ayah. Tapi aku juga tidak bisa berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Itu tidak jujur."
"Kita bisa pergi ke konseling pernikahan," usul Akang. "Kita bisa bicara pada psikolog. Mungkin ada yang bisa membantu."
Setya terdiam sejenak. "Aku tidak percaya pada konseling."
"Setidaknya coba dulu, Ning. Untuk kita. Untuk anak-anak."
Setya tidak menjawab. Ia hanya membalikkan badan, membelakangi Akang, dan memejamkan mata.
Akang hanya bisa menatap punggung istrinya dengan perasaan hancur.
Rumah tangga kami di ujung tanduk, pikirnya. Dan aku tidak tahu bagaimana cara menyelamatkannya.
Setya dan Raha: Luka yang Beda Bentuk
Setya tidak sendirian dalam penderitaannya.
Raha, anak bungsu mereka, juga membawa lukanya sendiri. Sejak video itu viral dan ia tahu bahwa rekaman tangannya yang menjadi biang kerok, Raha berubah. Remaja yang dulu ceria, suka bercanda, dan dekat dengan ayahnya, kini menjadi pendiam. Ia jarang keluar kamar. Ia tidak mau bicara pada Akang. Bahkan saat Akang mencoba mendekat, Raha pergi.
"Ra, makan dulu, Nak," panggil Setya suatu sore.
"Tidak lapar, Bu."
"Kamu sudah dua hari hampir tidak makan. Kamu sakit?"
"Tidak. Aku hanya tidak lapar."
Setya masuk ke kamar Raha. Anaknya duduk di sudut ruangan, memeluk guling, menatap kosong ke dinding.
"Ra, Ibu tahu kamu masih tertekan karena video itu. Tapi ini bukan salahmu, Nak. Kamu tidak tahu konsekuensinya."
"Tapi aku yang merekam, Bu. Aku yang mengirim ke temanku. Aku yang memulai semuanya. Kalau aku tidak iseng, mungkin Bapak tidak akan ketahuan. Mungkin Ibu tidak akan pergi ke Jawa. Mungkin keluarga kita masih utuh."
Setya duduk di samping putranya. Ia memeluk Raha.
"Ra, apa yang terjadi bukan salahmu. Ini salah Bapak. Bapak yang seharusnya lebih menjaga diri. Bapak yang seharusnya tidak melakukan panggilan video dengan perempuan lain. Kamu hanya korban, sama seperti Ibu."
"Tapi aku benci Bapak, Bu," bisik Raha. Suaranya pecah. "Aku benci Bapak karena membuat Ibu menangis. Aku benci Bapak karena membuat keluarga kita hancur. Aku benci Bapak karena dia lebih memilih perempuan lain daripada kita."
Setya memeluk anaknya lebih erat.
"Jangan benci Bapak, Ra. Bapak tetap ayahmu. Bapak tetap yang membesarkanmu, yang menyekolahkanmu, yang mengajarmu mengaji. Bapak melakukan kesalahan, tapi itu tidak berarti Bapak berhenti mencintai kita."
"Kalau dia mencintai kita, kenapa dia selingkuh?"
Pertanyaan Raha sederhana, tapi menusuk.
Setya tidak tahu harus menjawab apa.
Kenapa laki-laki yang mencintai keluarganya masih bisa selingkuh? pikirnya. Apakah cintanya tidak cukup kuat? Ataukah godaan terlalu besar?
Ia tidak tahu.
Yang ia tahu, ia harus melindungi Raha dari kebencian yang terlalu berat untuk anak seusianya.
"Ra, orang dewasa itu rumit," kata Setya akhirnya. "Mereka kadang melakukan hal-hal yang menyakitkan meskipun tidak bermaksud. Tapi itu tidak berarti mereka jahat. Bapak tidak jahat. Bapak hanya tersesat. Dan kita harus membantu Bapak menemukan jalan pulang."
Raha diam.
Ia tidak mengerti.
Tapi setidaknya, ia berhenti mengatakan bahwa ia membenci ayahnya.
Itu awal. Awal yang kecil, tapi penting.
Di Tegorejo: Sunyi yang Membunuh
Jika di Kapuas dingin, di Tegorejo sunyi.
Sunyi yang perlahan membunuh.
Mas Sarif masih tinggal satu rumah dengan Sinox, tapi ia seperti orang asing yang tidak tahu harus mengobrol tentang apa. Setiap pagi ia pergi ke sawah. Setiap sore ia pulang, mandi, makan, lalu tidur di ruang tamu. Tidak ada obrolan panjang. Tidak ada tawa. Tidak ada rencana liburan keluarga yang biasa mereka diskusikan.
Eko juga masih diam. Anak itu sudah mulai berbicara pada Sinox, tapi tidak seperti dulu. Dulu, Eko cerewet. Ia bercerita tentang teman-temannya, tentang gurunya yang galak, tentang game yang sedang ia mainkan. Sekarang, ia hanya menjawab seperlunya. "Iya, Bu." "Tidak, Bu." "Nanti, Bu."
Sinox merasa seperti tinggal di antara patung-patung hidup.
Suatu malam, Sinox memberanikan diri untuk duduk di samping Mas Sarif yang sedang berbaring di kursi panjang ruang tamu.
"Mas," panggilnya pelan.
"Iya."
"Aku kangen dengan Mas yang dulu."
Mas Sarif menoleh. "Yang dulu bagaimana?"
"Yang dulu suka bercerita tentang sawahnya. Yang dulu suka mengajakku jalan-jalan ke kota naik motor. Yang dulu suka memelukku dari belakang saat aku sedang masak. Yang dulu... yang dulu masih tersenyum padaku."
Mas Sarif menghela napas. "Aku juga kangen dengan diriku yang dulu, Sin. Tapi dia pergi. Mungkin tidak akan kembali."
"Kenapa Mas bilang begitu?"
"Karena luka ini, Sin. Luka yang kau buat. Luka yang tidak bisa sembuh hanya dengan waktu."
"Apa yang bisa aku lakukan untuk menyembuhkan luka itu, Mas?"
Mas Sarif diam cukup lama. Lalu ia berkata, "Aku tidak tahu, Sin. Aku sendiri tidak tahu apa yang aku butuhkan. Aku hanya tahu bahwa aku masih sakit. Dan aku tidak bisa berpura-pura bahwa aku baik-baik saja hanya untuk membuatmu lega."
Sinox menunduk. Air mata jatuh di pangkuannya.
"Aku akan menunggu, Mas. Akan kutunggu sampai Mas sembuh. Akan kutunggu sampai Mas mau bicara lagi. Akan kutunggu sampai Mas kembali menjadi dirinya yang dulu. Berapa pun waktu yang dibutuhkan."
Mas Sarif tidak menjawab.
Ia hanya memejamkan mata.
Dan Sinox, di samping suaminya yang pura-pura tidur, hanya bisa menangis dalam diam.
Pertemuan dengan Kepala Desa
Suatu siang, kepala desa tempat Akang bekerja memanggilnya ke kantor.
"Pak Akang, saya dengar berita tentang Bapak," kata kepala desa, seorang laki-laki paruh baya yang tegas tapi bijaksana. "Saya dengar Bapak terlibat skandal video viral. Saya juga dengar istri Bapak sempat pulang ke Jawa."
Akang menunduk. "Maaf, Pak. Itu masalah pribadi saya."
"Saya tahu. Tapi sebagai perangkat desa, Bapak harus menjaga citra. Desa kita sedang berkembang. Banyak investor yang melirik. Kita tidak bisa memberi kesan bahwa aparat desa kita tidak bermoral."
"Apakah saya harus mengundurkan diri, Pak?"
Kepala desa menghela napas. "Saya tidak minta Bapak mengundurkan diri. Bapak pegawai yang baik. Rajin. Jujur. Tapi saya minta Bapak menyelesaikan masalah ini. Bereskan rumah tangga Bapak. Jangan biarkan masalah pribadi mengganggu pekerjaan."
"Baik, Pak. Saya akan berusaha."
"Satu lagi, Pak Akang."
"Apa, Pak?"
"Saya kenal Bapak sudah lama. Saya tahu Bapak bukan orang jahat. Mungkin Bapak hanya tersesat. Tapi ingat, tidak ada kata terlambat untuk kembali ke jalan yang benar. Bukan hanya untuk desa, tapi untuk Bapak sendiri."
Akang mengangguk. Ia pamit, keluar dari kantor kepala desa, dan berjalan pulang dengan hati yang berat.
Rumah tangga di ujung tanduk, pikirnya. Pekerjaan juga terancam. Apa yang tersisa dalam hidupku?
Ia melihat ke langit.
Mendung mulai menggantung di atas Kapuas.
Hujan akan segera turun.
Seperti hidupku, pikir Akang. Selalu mendung, selalu hujan, jarang terbit matahari.
Sinox dan Kepala Sekolah
Hal yang sama terjadi pada Sinox di Tegorejo.
Kepala sekolah memanggilnya lagi, bukan untuk memecat, tapi untuk menanyakan kabar.
"Bu Sinox, bagaimana keadaan Ibu sekarang?" tanya Pak Kepala Sekolah.
"Baik, Pak. Mungkin tidak sepenuhnya baik, tapi saya berusaha."
"Saya dengar suami Ibu masih tinggal serumah. Itu kabar baik."
"Iya, Pak. Mas Sarif masih bersama saya. Tapi jarak di antara kami... masih jauh."
"Wajar, Bu. Luka seperti itu butuh waktu. Yang penting Ibu tidak menyerah."
"Saya tidak akan menyerah, Pak. Saya sudah memutuskan. Saya akan memperbaiki rumah tangga saya. Berapa pun biayanya."
Pak Kepala Sekolah tersenyum. "Saya senang mendengar itu, Bu Sinox. Saya akan bantu Ibu. Mungkin Ibu butuh cuti lebih lama. Atau Ibu butuh dukungan moral. Saya dan guru-guru yang lain akan mendukung Ibu."
"Terima kasih, Pak. Itu berarti sangat banyak bagi saya."
"Jangan menyerah, Bu Sinox. Keluarga adalah segalanya. Dan Ibu masih punya kesempatan untuk memperbaikinya."
Sinox keluar dari ruang kepala sekolah dengan perasaan sedikit lega.
Setidaknya, tidak semua orang meninggalkannya.
Setidaknya, masih ada yang percaya bahwa ia bisa berubah.
Setidaknya, masih ada harapan.
Malam Keputusan
Malam itu, tanpa saling janji, Akang dan Sinox kembali terhubung.
Bukan untuk bicara tentang cinta. Tapi untuk bicara tentang perjuangan.
Akang Riyadi: Nox, rumah tanggaku di ujung tanduk. Setya pulang, tapi jarak di antara kami masih sangat jauh. Raha membenciku. Iwan diam-diam kecewa. Pekerjaanku juga terancam.
Sinox Yanti: Aku juga, Akang. Mas Sarif masih bersamaku, tapi dia seperti orang asing. Eko jarang bicara. Rumahku terasa seperti hotel. Kami hanya tidur, makan, lalu berpisah lagi.
Akang Riyadi: Apa yang harus kita lakukan, Nox?
Sinox Yanti: Aku tidak tahu, Akang. Tapi aku tahu kita tidak boleh menyerah. Kita sudah menghancurkan rumah tangga kita dengan tangan kita sendiri. Sekarang, kita harus memperbaikinya dengan tangan kita juga. Meskipun sakit. Meskipun lama.
Akang Riyadi: Apa kita bisa?
Sinox Yanti: Kita harus bisa. Bukan untuk kita. Tapi untuk anak-anak. Untuk istri dan suami kita. Mereka tidak pantas menderita karena kesalahan kita.
Akang Riyadi: Aku takut gagal, Nox.
Sinox Yanti: Aku juga takut. Tapi kegagalan bukan alasan untuk berhenti berusaha. Selama kita masih bernapas, selama kita masih diberi kesempatan, kita harus berusaha.
Akang Riyadi: Kita janji, ya, Nox?
Sinox Yanti: Janji apa?
Akang Riyadi: Janji untuk tidak menyerah pada keluarga kita. Janji untuk terus berusaha meskipun rasanya mustahil. Janji untuk saling mendoakan, bukan sebagai kekasih, tapi sebagai sahabat.
Sinox Yanti: Aku berjanji, Akang. Dan aku tahu kamu juga akan berjanji. Karena kita bukan lagi remaja bodoh yang dulu. Kita sudah dewasa. Kita tahu mana yang benar dan mana yang salah. Kita hanya butuh keberanian untuk memilih yang benar.
Akang Riyadi: Selamat malam, Nox. Jaga dirimu. Jaga Mas Sarif. Jaga Eko.
Sinox Yanti: Selamat malam, Akang. Jaga Setya. Jaga Raha. Jaga Iwan dan Anto. Dan jaga dirimu sendiri.
Akang Riyadi: Aku akan berusaha.
Sinox Yanti: Aku juga.
Percakapan itu berakhir.
Akang mematikan ponselnya.
Ia memandang Setya yang sudah tertidur di sampingnya, dengan posisi membelakangi, seperti biasa.
Ia meraih tangan istrinya.
Perlahan. Dengan hati-hati.
Setya tidak melepaskan, tapi juga tidak membalas.
Tapi setidaknya, ia tidak menarik tangannya.
Itu awal, pikir Akang. Awal dari perbaikan yang panjang.
Dan ia berdoa dalam hati, doa yang tulus, doa yang tidak pernah ia panjatkan sepanjang hidupnya.
Ya Allah, aku tidak pantas. Tapi aku mohon, selamatkan rumah tanggaku. Selamatkan pernikahanku. Aku berjanji akan menjadi suami yang lebih baik. Aku berjanji akan menjadi ayah yang lebih baik. Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Amin.
BAB XVI
Anak-Anak Mulai Mengetahui
Tidak ada yang lebih menyakitkan bagi seorang anak selain mengetahui bahwa rumah yang selama ini ia anggap aman dan hangat, ternyata rapuh. Bahwa orang tua yang selama ini ia kuti teladannya, ternyata bisa jatuh. Bahwa dinding-dinding yang melindunginya selama bertahun-tahun, ternyata memiliki retakan yang tidak pernah ia lihat.
Anak-anak Akang dan Sinox mulai mengetahui.
Bukan karena sengaja diberi tahu. Bukan karena orang tua mereka memutuskan untuk terbuka. Tapi karena rahasia, sekali terbongkar, tidak bisa lagi disembunyikan. Video itu telah menyebar. Fitnah dan gunjingan telah mencapai telinga mereka, baik di sekolah, di kampus, di pesantren, maupun di lingkungan pergaulan.
Rahman menerima kiriman video di pesantren. Lina di kota. Anto dan Iwan dari tetangga. Raha dari teman sekelas. Eko dari bisik-bisik di sekolah.
Mereka terluka. Mereka kecewa. Mereka marah.
Tapi di antara luka itu, ada yang memilih memaafkan. Ada yang memilih menjauh. Ada yang hancur. Dan ada yang diam-diam berdoa.
Di Pesantren: Rahman Belajar Memaafkan
Pesantren Aliah, pukul 22.00.
Rahman menonton video itu sekali. Lalu dua kali. Lalu lima kali. Setiap putaran, rasa sakit di dadanya bertambah.
Ibunya. Wajah yang sama yang setiap minggu meneleponnya. Suara yang sama yang selalu berpesan, "Nak, jangan dekati perempuan yang bukan hakmu."
Tapi di video itu, ibunya berkata pada laki-laki lain: "Aku juga kangen kamu, Akang."
Rahman tidak bisa tidur. Ia keluar kamar, duduk di bawah pohon beringin di halaman pesantren, dan menangis.
"Ra, kenapa kamu di sini?" Ustadz Fajar muncul di belakangnya.
Setelah mendengar cerita Rahman, Ustadz Fajar duduk di sampingnya.
"Rahman, berbakti kepada orang tua adalah kewajiban, apa pun kesalahan mereka. Tugas anak bukan menghakimi, tapi mendoakan."
"Tapi sakit, Ustadz."
"Tentu sakit. Tapi ingat, orang tua juga manusia. Mereka bisa salah. Dan mereka, seperti kamu, berhak didoakan, bukan dihakimi."
Malam itu, Rahman mengambil air wudhu, salat hajat dua rakaat, lalu berdoa dengan khusyuk.
Ya Allah, ampunilah dosa ibuku. Ampuni dosa ayahku. Bimbing mereka kembali ke jalan yang Engkau ridhai. Dan jika Engkau berkenan, sembuhkanlah lukaku.
Air mata jatuh di sajadahnya. Tapi kali ini, ia menangis bukan karena kecewa. Tapi karena cinta.
Di Kota: Lina yang Marah
Di kamar kosnya, Lina membuka video itu dengan tangan gemetar.
Ibunya. Wajah yang sama yang selalu berkata, "Nak, jaga kesehatan. Jangan lupa salat."
Tapi di video itu, ibunya berkata, "Aku juga kangen kamu, Akang."
Lina tidak menangis. Ia langsung menelepon.
"Halo, Lin."
"Bu, aku lihat videonya." Suaranya datar.
Sinox terdiam. "Iya, Lin. Itu Ibu."
"Kenapa, Bu? Kenapa Ibu menyakiti Bapak? Kenapa Ibu menghancurkan keluarga kita?"
Lina menangis di ujung telepon. Sinox juga menangis.
"Lin, Ibu minta maaf..."
"Maaf tidak cukup, Bu! Aku di sini, kuliah, berusaha membanggakan Ibu. Tapi ternyata di rumah, Ibu melakukan hal seperti ini. Aku malu, Bu! Aku malu menjadi anak Ibu!"
Telepon ditutup.
Sinox terduduk lemas. Eko yang mendengar semuanya, hanya berkata pelan, "Wajar, Bu. Aku juga marah." Lalu ia pergi ke kamar.
Sinox sendirian. Menangis. Semua anakku tahu. Semua anakku kecewa.
Di Kapuas: Anto yang Memaafkan, Iwan yang Menjauh
Anto datang ke rumah orang tuanya. Ia tidak marah. Ia hanya duduk di depan ayahnya.
"Pa, Anto tidak akan menghakimi Pa. Anto tahu Pa bukan orang jahat. Pa hanya melakukan kesalahan."
Akang menangis. "Maafkan Pa, Ton."
"Setiap orang bisa kecewa, Pa. Tapi tidak semua orang bisa memaafkan. Anto memilih memaafkan. Bukan karena Anto suci, tapi karena Anto tahu Pa masih bisa berubah."
Iwan berbeda. Ia memilih menjauh. Tidak datang ke rumah. Tidak mengangkat telepon.
Suatu malam, ia akhirnya pulang. Tapi ia tidak bicara pada Akang.
"Wan, Pa minta maaf."
Iwan meletakkan sendoknya. "Maaf Pa, Iwan belum bisa memaafkan Pa. Iwan akan segera menikah. Iwan ingin membangun keluarga yang sakinah. Tapi melihat apa yang Pa lakukan, Iwan takut menjadi suami yang gagal seperti Pa."
"Wan, Pa tidak minta kamu memaafkan Pa sekarang. Tapi jangan benci Pa. Kebencian hanya akan meracuni hatimu."
Iwan tidak menjawab. Ia bangkit dan kembali ke kamar.
Akang hanya bisa menatap punggung anaknya. Aku gagal sebagai ayah.
Raha: Yang Paling Terluka
Raha merasa bertanggung jawab. Jika aku tidak merekam, mungkin tidak ada yang akan tahu.
Ia menarik diri. Tidak mau sekolah. Tidak mau makan. Tidak mau bicara, bahkan pada ibunya.
Setya panik. Ia membawa Raha ke psikolog.
"Bu Setya, anak Ibu mengalami depresi berat. Ia merasa bersalah. Ia yakin dialah penyebab kehancuran keluarga."
"Lalu apa yang harus saya lakukan, Dok?"
"Yakinkan Raha bahwa ini bukan salahnya. Libatkan Bapaknya dalam proses penyembuhan. Raha butuh mendengar langsung dari ayahnya bahwa ayahnya tidak menyalahkannya."
Di dalam mobil pulang, Setya memegang tangan Raha. "Ra, apa yang terjadi bukan salahmu. Kamu hanya anak-anak. Kamu tidak tahu konsekuensinya."
Raha diam. Tapi setetes air mata jatuh dari matanya.
Setya memeluk anaknya. Ya Allah, sembuhkan anakku.
Eko: Bertahan di Tengah Gunjingan
Di Tegorejo, Eko menjadi sasaran ejekan.
"Eh, Eko! Ibu kamu artis sekarang? Kayaknya di video bagus banget!"
"Eko, ibumu masih video call-an sama laki-laki itu? Atau sudah putus?"
Eko tidak menjawab. Ia hanya diam. Berjalan cepat.
Suatu siang, di kantin, seorang anak kelas IX menghampirinya. "Ibumu pelacur, ya?"
Darah Eko mendidih. Pukulannya melesat.
Pertengkaran terjadi. Eko digelandang ke ruang kepala sekolah. Wajahnya babak belur.
Kepala sekolah memanggil Sinox. Saat melihat anaknya, Sinox jatuh terduduk.
"Maafkan Ibu, Nak. Maafkan Ibu."
Eko tidak menjawab. Ia hanya diam. Matanya kosong.
Guru BP memanggilnya ke ruang konseling. "Eko, kesalahan ibumu bukan kesalahanmu. Kamu tidak bertanggung jawab atas apa yang dilakukan ibumu."
"Tapi ibu saya, Pak. Darah saya. Nama baik saya."
"Kamu boleh kecewa. Kamu boleh marah. Tapi jangan biarkan rasa malu itu menghancurkan masa depanmu."
Eko keluar dengan tekad baru. Aku tidak akan menyerah. Aku akan terus sekolah. Aku akan bangkit. Untuk diriku sendiri.
Pengakuan Sinox pada Anak-anaknya
Suatu malam, Sinox mengumpulkan anak-anaknya, Lina melalui video call, Rahman melalui telepon, dan Eko di sampingnya.
"Anak-anak, Ibu minta maaf. Ibu sudah melakukan kesalahan besar. Ibu tidak akan meminta kalian memaafkan Ibu sekarang. Tapi Ibu ingin kalian tahu, Ibu menyesal."
"Kenapa Ibu melakukan itu, Bu?" tanya Lina.
"Karena Ibu bodoh, Lin. Ibu terlalu sibuk dengan masa lalu sampai lupa bahwa masa depan ada di depan mata."
"Apakah Ibu masih mencintai laki-laki itu?" tanya Rahman.
Sinox terdiam. "Jujur, Ibu tidak tahu. Yang Ibu tahu, Ibu mencintai Bapak. Ibu mencintai kalian. Dan Ibu akan berusaha sekuat tenaga memperbaiki kesalahan Ibu."
"Bagaimana cara Ibu membuktikan itu?" tanya Eko.
"Ibu tidak akan bicara dengan laki-laki itu lagi. Ibu akan fokus pada Bapak. Fokus pada kalian. Fokus pada keluarga. Itu janji Ibu."
Lina diam. Rahman diam. Eko diam.
Tapi mereka tidak mematikan telepon. Mereka tidak pergi.
Anak-anak masih memberiku kesempatan, pikir Sinox. Aku tidak akan menyia-nyiakannya.
Setelah Anak-Anak Mengetahui
Anak-anak mengetahui segalanya. Mereka terluka. Mereka kecewa. Mereka marah.
Tapi mereka, paling tidak beberapa di antara mereka, masih mau memaafkan.
Rahman berdoa untuk ibunya setiap malam.
Lina masih marah, tapi ia tidak memutus hubungan.
Eko berusaha fokus pada sekolah, meskipun berat.
Anto mendampingi ayahnya, menguatkannya.
Iwan masih menjauh. Tapi suatu hari nanti, mungkin ia akan kembali.
Raha, yang paling terluka, masih dalam proses penyembuhan.
Tapi setidaknya, mereka tidak sendirian. Setidaknya, mereka masih saling memiliki.
Dan di dalam keluarga, seburuk apa pun keadaannya, kita tidak akan pernah benar-benar sendirian.
BAB XVII
Rindu yang Menjadi Dosa
Ada rindu yang lahir dari cinta yang suci. Ada rindu yang tumbuh dari ikatan yang halal, dari hubungan yang diberkahi, dari pertemuan yang diizinkan oleh takdir dan agama.
Tapi ada juga rindu yang menjadi dosa.
Rindu yang tidak seharusnya ada. Rindu yang lahir dari hubungan yang tidak halal, dari ikatan yang tidak sah, dari pertemuan yang seharusnya tidak pernah terjadi. Rindu yang, meskipun terasa manis di hati, adalah duri dalam daging yang tidak boleh dibiarkan terus menusuk.
Rindu Akang pada Sinox, setelah semua yang terjadi, telah berubah menjadi rindu yang menjadi dosa.
Bukan karena rindu itu tidak tulus. Bukan karena rindu itu tidak dalam. Tapi karena rindu itu hadir di waktu yang salah, di tempat yang salah, dan dalam status yang salah.
Sinox sudah berjanji akan melepaskan Akang. Akang sudah berjanji akan fokus pada Setya. Mereka sudah sepakat untuk mengurangi komunikasi, untuk menjaga jarak, untuk tidak lagi membiarkan perasaan itu tumbuh.
Tapi rindu tidak peduli pada janji.
Rindu tidak peduli pada batasan.
Rindu tidak peduli pada dosa.
Rindu hanya peduli pada rasa.
Dan rasa itu, setiap malam, setiap kali ponsel bergetar, setiap kali nama "Akang" atau "Sinox" muncul di layar, selalu datang tanpa diundang. Selalu hadir tanpa permisi. Selalu menggelitik hati yang sudah bertekad untuk berhenti.
Akang dan Sinox mencoba melawan.
Tapi melawan rindu adalah seperti melawan ombak dengan tangan kosong.
Kita bisa bertahan sebentar.
Tapi pada akhirnya, ombak itu akan tetap datang.
Malam di Mana Ponsel Bergetar
Kapuas, pukul 23.15. Akang baru saja selesai salat Isya. Setya sudah tidur, paling tidak, ia sudah berbaring di tempat tidur dengan posisi membelakangi, seperti biasa. Raha juga sudah tidur, setelah hari ini sedikit lebih baik, ia mau makan tanpa disuruh, meskipun porsinya masih sedikit.
Akang duduk di beranda, seperti malam-malam sebelumnya. Angin gambut bertiup sejuk, membawa bau tanah kering dan dedaunan yang mulai rontok.
Ponselnya bergetar.
Sinox Yanti: Akang, kamu masih bangun?
Akang menatap pesan itu. Jari-jarinya bergerak ingin membalas, tapi ia tahan. Sudah janji, Akang. Sudah janji akan menjaga jarak.
Tapi jarinya, seperti memiliki kemauan sendiri, mengetik balasan.
Akang Riyadi: Masih. Kamu kenapa belum tidur?
Sinox Yanti: Tidak bisa tidur. Rindu.
Akang terdiam. Kata itu, rindu, adalah kata yang paling ia hindari. Karena sekali ia mengakuinya, ia tidak akan bisa mengendalikan diri.
Akang Riyadi: Jangan, Nox. Jangan mulai.
Sinox Yanti: Mulai apa?
Akang Riyadi: Mulai merindukanku. Kita sudah sepakat.
Sinox Yanti: Aku tahu. Tapi aku tidak bisa mengendalikan perasaanku, Akang. Perasaan itu datang begitu saja, tanpa aku undang. Aku hanya bisa memilih untuk tidak mengungkapkannya. Tapi malam ini, aku lelah. Aku lelah berpura-pura bahwa aku baik-baik saja. Aku lelah memendam semuanya sendiri.
Sinox Yanti: Aku rindu kamu, Akang. Bukan sebagai kekasih. Tapi sebagai teman. Sebagai seseorang yang mengerti aku tanpa perlu banyak kata. Sebagai seseorang yang melihat aku apa adanya, tanpa topeng. Aku rindu curhat denganmu. Aku rindu didengar olehmu. Aku rindu merasa tidak sendirian.
Akang membaca pesan itu berulang kali. Matanya berkaca-kaca.
Ia juga rindu. Rindu yang sangat.
Tapi ia tidak boleh mengakuinya.
Karena jika ia mengaku, maka pintu dosa akan terbuka lebar. Dan ia tidak akan bisa menutupnya lagi.
Akang Riyadi: Nox, aku juga rindu. Tapi ini dosa. Rindu kita, pada status kita sekarang, pada kondisi kita sekarang, adalah dosa. Dan aku tidak ingin kita berdua berdosa. Sudah cukup kerusakan yang kita buat. Jangan tambah lagi.
Sinox Yanti: Mengapa cinta yang terasa begitu suci justru menjadi dosa, Akang?
Akang Riyadi: Karena cinta itu suci hanya jika ia berada pada tempatnya. Cinta antara suami dan istri adalah suci. Cinta antara orang tua dan anak adalah suci. Tapi cinta antara kita, yang masing-masing sudah berkeluarga, tidak lagi suci. Ia telah ternodai oleh status dan tanggung jawab yang kita emban.
Sinox Yanti: Tapi perasaan ini tidak bisa aku bohongi, Akang. Aku mencintaimu. Mungkin bukan sebagai kekasih yang ingin aku miliki. Tapi aku mencintai kenangan tentangmu. Aku mencintai sosok yang dulu selalu ada untukku. Aku mencintai bayanganmu yang menemaniku selama tiga puluh tahun.
Akang Riyadi: Dan aku juga, Nox. Tapi mencintai kenangan tidak berarti kita harus terus menghidupinya. Ada saatnya kita harus mematikan kenangan itu, menguburnya, dan membiarkannya mati dengan sendirinya.
Sinox Yanti: Aku tidak bisa, Akang. Aku sudah mencoba. Tapi tidak bisa.
Akang Riyadi: Kamu harus bisa. Untuk Mas Sarif. Untuk anak-anakmu. Untuk keluargamu. Aku juga akan berusaha. Untuk Setya. Untuk Raha, Iwan, Anto. Untuk keluargaku. Kita harus saling menguatkan, Nox. Bukan saling melemahkan dengan rindu yang tidak bisa kita penuhi.
Sinox Yanti: Aku akan mencoba lagi, Akang. Tapi jangan marah jika aku gagal.
Akang Riyadi: Aku tidak akan pernah marah padamu, Nox. Aku hanya akan terus mengingatkanmu. Seperti dulu. Sebagai sahabat.
Sinox Yanti: Baik. Sebagai sahabat. Selamat malam, Akang.
Akang Riyadi: Selamat malam, Nox. Jangan lupa baca doa sebelum tidur.
Sinox Yanti: Baca doa juga untukku. Agar aku bisa ikhlas.
Akang Riyadi: Aku selalu mendoakanmu, Nox. Setiap malam.
Sinox Yanti: Aku juga.
Percakapan itu berakhir.
Akang mematikan ponselnya.
Ia menatap langit malam Kapuas yang gelap tanpa bintang.
Rindu ini adalah dosa, pikirnya. Tapi mengapa rasanya seperti doa?
Sinox dan Mas Sarif: Antara Rindu dan Kenyataan
Di Tegorejo, Sinox mematikan ponselnya setelah mengirim pesan terakhir. Ia berbaring di samping Mas Sarif, yang malam ini memilih tidur di kamar, mungkin tanda bahwa hubungan mereka perlahan membaik.
Tapi Sinox tidak bisa tidur.
Rindu pada Akang masih menggelayuti hatinya. Rindu pada masa lalu. Rindu pada saat-saat ketika ia merasa aman hanya dengan mendengar suara Akang di telepon.
Ia menoleh pada suaminya.
Mas Sarif sudah tertidur. Wajahnya yang kasar karena terik matahari, tangannya yang keras karena lumpur sawah, napasnya yang teratur naik turun.
Ini suamiku, pikir Sinox. Laki-laki yang telah bersamaku selama dua puluh tahun. Laki-laki yang telah memberiku tiga anak. Laki-laki yang tidak pernah lelah berjuang untuk keluarga.
Dan aku, aku masih merindukan laki-laki lain.
Bukankah itu dosa?
Mengapa aku tidak bisa cukup dengan apa yang aku miliki?
Mengapa aku selalu menginginkan sesuatu yang tidak bisa aku miliki?
Sinox menggigit bibirnya.
Ia memejamkan mata.
Ya Allah, cabutlah rasa rindu ini dari hatiku. Jika Engkau tidak mencabutnya, setidaknya jadikanlah ia sebagai rindu yang tidak menyiksaku. Rindu yang tidak membuatku terus-menerus membandingkan suamiku dengan laki-laki lain. Rindu yang tidak membuatku tidak bersyukur.
Karena Mas Sarif sudah cukup. Lebih dari cukup.
Aku hanya tidak sadar selama ini.
Ampuni aku, Ya Allah. Ampuniku.
Saat Setya Membaca Pesan Itu
Akang tidak tahu bahwa malam itu, Setya tidak benar-benar tidur.
Ia berbaring di tempat tidur, membelakangi Akang, tapi matanya terbuka. Ia mendengar suami bangkit dari tempat tidur. Mendengar langkah kaki menuju beranda. Mendengar suara ponsel bergetar, lalu suara Akang mengetik, kadang cepat, kadang lambat, seperti orang yang sedang berbicara dengan seseorang yang sangat ia perhatikan.
Setya bangkit diam-diam. Ia berjalan ke pintu kamar yang sedikit terbuka, mengintip ke arah beranda. Cahaya ponsel menerangi wajah suaminya. Dan di wajah itu, Setya melihat ekspresi yang tidak pernah ia lihat saat Akang bicara dengannya.
Lembut. Hangat. Penuh cinta.
Dia bicara dengan perempuan itu, pikir Setya. Dia masih bicara dengan perempuan itu.
Setya kembali ke tempat tidur. Ia tidak marah. Tidak menangis. Ia hanya lelah. Lelah karena perjuangannya untuk mempertahankan rumah tangga ini terasa sia-sia. Lelah karena suaminya masih lebih memilih perempuan lain daripada dirinya.
Ketika Akang kembali ke kamar, Setya memejamkan mata, berpura-pura tidur.
Akang merebahkan diri di sampingnya.
Ia meraih tangan Setya.
Setya membiarkan tangannya digenggam, tapi ia tidak membalas.
Kau boleh menggenggam tanganku, Mas, pikir Setya. Tapi aku tahu, di dalam hatimu, yang kau genggam bukan aku. Tapi bayangan perempuan itu.
Dan aku, aku terlalu lelah untuk memperjuangkan laki-laki yang tidak benar-benar menginginkanku.
Pertemuan dengan Ustadz di Kampung
Minggu pagi, Akang pergi ke masjid desa sendirian. Setya memilih tinggal di rumah, lagi-lagi, jarak yang tidak bisa dijembatani.
Setelah salat Dhuha, Akang bertemu dengan Ustadz Hanafi, imam masjid desa yang sudah sepuh. Ustadz itu duduk di serambi masjid, membaca Al-Qur'an dengan khusyuk.
"Pak Akang, ada apa? Wajah Bapak tampak lesu."
Akang duduk di samping ustadz. "Ustadz, saya ingin bertanya sesuatu."
"Silakan."
"Jika seseorang mencintai orang lain yang bukan pasangan halalnya, apakah itu dosa?"
Ustadz Hanafi menghela napas. "Cinta itu sendiri tidak berdosa. Yang berdosa adalah perbuatan yang mengikuti cinta itu. Jika cinta itu membuat Anda mendekati zina, baik secara fisik maupun emosional, maka ia telah menjadi dosa."
"Bagaimana jika saya sudah berusaha menjauh, tapi rasa cinta itu masih ada?"
"Berusaha menjauh adalah pahala, Pak Akang. Rasa cinta yang masih ada bukanlah dosa selama Anda tidak mengembangkannya. Selama Anda tidak menghubunginya, tidak mengirim pesan, tidak menelepon, tidak melakukan hal-hal yang mendekatkan Anda pada zina."
Akang menunduk. "Saya masih menghubunginya, Ustadz. Masih. Saya sudah berusaha, tapi saya tidak kuat."
Ustadz Hanafi menatap Akang dengan mata yang teduh. "Pak Akang, cinta itu seperti api. Jika Anda terus memberinya kayu bakar, ia akan terus menyala. Tapi jika Anda berhenti memberinya bahan bakar, pasti suatu saat ia akan padam dengan sendirinya."
"Apa kayu bakarnya, Ustadz?"
"Komunikasi. Pesan. Panggilan telepon. Mengingat-ingat kenangan. Semua itu adalah kayu bakar. Jika Anda benar-benar ingin api itu padam, Anda harus berhenti memberinya kayu bakar. Putuskan komunikasi sepenuhnya. Fokus pada istri dan anak-anak Anda. Perbanyak ibadah. Perbanyak doa. Dan yakinlah, Allah tidak akan membebani seseorang di luar kemampuannya."
Akang menangis.
Ia menangis di depan ustadz itu, tidak malu, tidak gengsi.
"Terima kasih, Ustadz. Saya akan berusaha."
"Jangan berusaha, Pak Akang. Lakukan. Berusaha saja tidak cukup. Harus ada tindakan nyata."
Akang mengangguk.
Ia pulang dengan tekad baru.
Putuskan komunikasi sepenuhnya.
Tidak ada lagi chat tengah malam.
Tidak ada lagi pesan rindu.
Tidak ada lagi apa pun.
Untuk selamanya.
Pesan Terakhir
Malam itu, Akang membuka WhatsApp. Ia menatap nama Sinox Yanti di daftar chat. Ratusan pesan. Ribuan kata. Tahun-tahun kerinduan yang terangkum dalam percakapan yang tidak pernah berakhir.
Ia ingin menulis sesuatu.
Pesan terakhir.
Tapi tidak tahu harus menulis apa.
Akhirnya, ia hanya mengetik:
Akang Riyadi: Nox, aku akan menghapus nomormu. Bukan karena aku tidak sayang. Tapi karena aku sayang. Aku sayang padamu. Aku sayang pada Setya. Aku sayang pada anak-anakku. Dan untuk menjaga mereka, untuk menjaga kita semua, aku harus berhenti. Aku harus benar-benar berhenti. Maafkan aku. Jaga dirimu. Jaga Mas Sarif. Jaga anak-anakmu. Aku akan selalu mendoakanmu. Sampai kapan pun.
Pesan itu terkirim.
Akang menggulir ke atas, membaca semua pesan mereka dari awal hingga akhir.
Air mata jatuh di layar ponsel.
Ia menekan tombol hapus chat.
Chat dengan Sinox Yanti akan dihapus. Tindakan ini tidak dapat dibatalkan.
Ya.
Hapus.
Hapus semua.
Pesan-pesan itu lenyap.
Seolah-olah tidak pernah ada.
Tapi kenangan, kenangan tidak bisa dihapus dengan satu tombol.
Kenangan akan tetap ada.
Seumur hidup.
Dan itu, mungkin, adalah ujian terbesar yang harus ia hadapi.
Sinox Menerima Pesan Terakhir
Sinox membaca pesan Akang. Ia membacanya berulang kali, sampai kata-kata itu melekat di hatinya.
"Aku akan menghapus nomormu. Bukan karena aku tidak sayang. Tapi karena aku sayang."
Sinox tidak membalas.
Ia hanya duduk di kamarnya, memegang ponsel dengan tangan gemetar.
Air mata mengalir.
Ia menekan tombol balas.
Jarinya bergetar.
Tapi ia tidak mengetik apa pun.
Ia hanya menekan tombol hapus chat, seperti yang dilakukan Akang.
Semua pesan lenyap.
Nomor Akang masih tersimpan di kontaknya.
Tapi chat, semua percakapan mereka, sudah tidak ada.
Seperti tidak pernah ada.
Tapi Sinox tahu, semuanya pernah ada.
Cinta itu pernah ada.
Rindu itu pernah ada.
Dosa itu juga pernah ada.
Dan sekarang, yang tersisa hanyalah kehampaan.
Keheningan.
Dan pertanyaan yang tidak akan pernah terjawab: Apakah aku akan baik-baik saja tanpamu, Akang?
Ia tidak tahu.
Tapi ia harus berusaha.
Untuk Mas Sarif. Untuk Lina, Rahman, Eko. Untuk keluarganya. Untuk dirinya sendiri.
Selamat tinggal, Akang, bisiknya dalam hati. Bukan selamat tinggal selamanya. Tapi selamat tinggal sebagai kekasih. Sebagai seseorang yang pernah kucintai lebih dari yang seharusnya.
Sampai jumpa di surga, Akang.
Tanpa rasa bersalah. Tanpa dosa. Tanpa tangisan.
Hanya cinta yang suci. Cinta yang tidak perlu disembunyikan. Cinta yang halal.
Setelah Rindu Menjadi Dosa
Rindu Akang dan Sinox adalah rindu yang menjadi dosa.
Bukan karena rindu itu tidak tulus. Bukan karena rindu itu tidak dalam.
Tapi karena rindu itu hadir di waktu yang salah, di tempat yang salah, dan dalam status yang salah.
Mereka berdua tahu itu.
Maka mereka memutuskan untuk mematikan rindu itu.
Memotongnya sejak akar.
Meskipun sakit. Meskipun perih. Meskipun rasanya seperti mati perlahan-lahan.
Karena lebih baik menderita sekarang daripada harus terus berdosa selamanya.
Karena lebih baik kehilangan cinta daripada kehilangan surga.
Karena lebih baik berpisah di dunia daripada bertemu di neraka.
Ya Allah, ampunilah dosa rindu kami. Jika rindu ini adalah ujian, berikan kami kekuatan. Jika rindu ini adalah rahmat, jadikanlah ia rahmat yang tidak menyiksa. Kami lemah, Ya Allah. Kami sangat lemah. Tapi kami berusaha. Dan kami percaya, Engkau tidak akan menyia-nyiakan usaha hamba-Mu. Amin.
BAB XVIII
Kenangan Karate dan Sepeda Ontel
Ada kenangan yang tidak pernah mati. Ia mungkin terpendam di sudut paling gelap dari ingatan, tertimbun oleh tumpukan waktu dan peristiwa yang silih berganti. Tapi ketika pemicunya datang, sebuah bau, sebuah suara, sebuah foto lama yang jatuh dari lemari, kenangan itu akan melompat ke permukaan dengan kejelasan yang menyakitkan.
Kenangan tentang karate dan sepeda ontel adalah kenangan yang paling membekas bagi Akang dan Sinox.
Bukan karena kedua hal itu istimewa. Tapi karena di sanalah, di dojo kecil yang berdebu dan di jalan-jalan desa yang berlubang, cinta mereka tumbuh tanpa mereka sadari. Di sana, mereka belajar tentang ketekunan, tentang kepercayaan, tentang bagaimana bahu yang bersentuhan saat berlatih karate atau punggung yang menempel saat bersepeda ontel bisa berbicara lebih keras daripada seribu kata.
Di usia yang tidak lagi muda, dengan hati yang telah tercabik-cabik oleh dosa dan penyesalan, Akang dan Sinox kembali mengingat kenangan itu.
Bukan untuk menghidupkan kembali api yang telah mereka matikan.
Tapi untuk menguburnya dengan damai.
Untuk mengucapkan selamat tinggal pada masa lalu yang indah, sebelum mereka benar-benar melangkah ke masa depan yang telah menanti.
Dojo Tua Itu
Sinox tidak sengaja menemukan selembar foto lama saat membersihkan lemari. Foto itu sudah menguning, pinggirannya bergerigi karena usia, dan di beberapa tempat sudah mulai luntur. Tapi gambar di dalamnya masih cukup jelas untuk membuat jantung Sinox berdegup lebih kencang.
Foto itu diambil di depan dojo karate di belakang rumah Pak RT. Sinox berdiri di samping Akang, keduanya memakai seragam karate putih yang sedikit kusut. Sinox menggenggam piala kecil di tangan kanannya, Akang memegang piagam penghargaan. Wajah Sinox berseri-seri, mulutnya terbuka lebar dalam tawa. Akang tersenyum tipis, senyum khasnya yang tidak pernah berlebihan, tapi hangat.
Sinox duduk di lantai kamar, memandangi foto itu.
Ia teringat dojo tua itu. Dindingnya dari anyaman bambu yang bolong di beberapa bagian, lantainya tanah yang dipadatkan, atapnya seng yang bocor jika hujan turun. Tapi di tempat itulah ia belajar banyak hal, bukan hanya jurus-jurus karate, tapi juga tentang arti ketekunan, tentang menghormati lawan, dan tentang bagaimana rasanya memiliki seseorang yang selalu ada di sampingnya, di setiap sesi latihan.
"Eko!" panggil Sinox.
Eko masuk ke kamar dengan wajah malas. "Apa, Bu?"
"Nak, kamu tahu karate?"
"Tahu, Bu. Aku dulu pernah les sebentar, tapi berhenti."
"Kenapa berhenti?"
"Karena gurunya galak. Aku malas."
Sinox tersenyum. "Ibu dulu juga pernah belajar karate. Waktu SMP. Gurunya tidak galak. Dia sabar. Bahkan ketika Ibu sering salah jurus, dia tidak pernah marah. Dia hanya bilang, 'Ulangi lagi. Kamu pasti bisa.'"
"Siapa gurunya, Bu?"
Sinox terdiam sejenak. "Guru lama Ibu, Nak. Sudah lama tidak bertemu."
Eko tidak bertanya lebih lanjut. Ia hanya mengangguk, lalu keluar kamar.
Sinox kembali menatap foto itu.
Akang, batinnya. Kau dulu guru karateku. Bukan secara resmi, tapi kau selalu mengajariku dengan sabar. Setiap kali aku salah, kau perbaiki posisiku. Setiap kali aku menyerah, kau yakinkan aku bahwa aku bisa.
Dan aku bisa sampai sekarang, bukan karena aku hebat.
Tapi karena kau tidak pernah lelah mengajariku.
Kapuas, Kenangan yang Sama
Di Kapuas, Akang juga teringat pada karate.
Bukan karena foto. Tapi karena cucu Anto, yang baru berusia lima tahun, minta diajari karate.
"Kakek, ajarin aku karate, dong! Aku mau bisa tendang-tendangan kayak di TV!"
Akang tersenyum. Ia memegang tangan kecil cucunya, lalu mencontohkan posisi dasar karate, kuda-kuda, pukulan lurus, tendangan depan.
"Begini, Nak. Kuda-kuda yang kuat. Punggung lurus. Jangan bungkuk."
Cucunya mencoba menirukan, lalu jatuh. Ia tertawa. Akang juga tertawa.
Tapi di sela-sela tawa itu, Akang teringat pada Sinox. Pada gadis kecil yang dulu juga sering jatuh saat latihan karate. Pada gadis kecil yang selalu bangkit lagi meskipun lututnya lecet. Pada gadis kecil yang tidak pernah menyerah meskipun sering diejek teman-temannya karena jurusnya yang kaku.
Dulu Sinox sangat ulet, pikir Akang. Setiap kali jatuh, ia bangkit. Setiap kali gagal, ia mencoba lagi. Ia tidak pernah mengeluh. Ia hanya bilang, 'Akang, ajarin aku lagi. Aku pasti bisa.'
Dan aku, aku selalu bangga padanya.
Bukan karena jurusnya sempurna.
Tapi karena semangatnya tidak pernah padam.
"Kakek, melamun terus!" cucunya menarik ujung bajunya. "Ajarin aku jurus yang keren, dong!"
"Iya, iya. Kakek ajarin."
Akang melanjutkan latihan. Tapi di dalam hatinya, ia berdoa, berdoa untuk Sinox, berdoa untuk perempuan yang dulu pernah menjadi murid karate terbaiknya.
Semoga kamu baik-baik saja, Nox, doanya dalam hati. Semoga kamu tidak pernah menyerah, seperti dulu. Semoga kamu tetap kuat, meskipun aku tidak lagi di sampingmu.
Sepeda Ontel Biru
Kenangan lain yang tidak kalah kuat adalah sepeda ontel biru milik Sinox.
Sepeda itu adalah hadiah dari ayah Sinox saat ia naik kelas 2 SMP. Warnanya biru tua, dengan stiker Doraemon yang mulai pudar di joknya. Dinamo lampunya sudah rusak, remnya bunyi setiap kali ditekan, dan rantainya sering terlepas di tengah jalan.
Tapi Sinox sangat menyayangi sepeda itu.
Dan yang paling ia ingat, sepeda itu adalah saksi bisu kedekatannya dengan Akang.
Karena meskipun Akang lebih tua dan lebih besar, Sinox-lah yang selalu mengayuh. Akang duduk di boncengan belakang, memegang pundak Sinox dengan hati-hati, seolah-olah ia takut terlalu dekat, tapi juga tidak mau terlalu jauh.
"Kenapa aku yang selalu bonceng kamu, sih?" protes Sinox suatu hari. "Kamu kan laki-laki. Harusnya kamu yang bonceng aku."
Akang tertawa. "Karena kakimu lebih kuat dari kakiku."
"Bohong!"
"Serius. Aku sudah coba kayuh sepeda ini. Kakiku nyangkut di pedal. Sepedanya terlalu kecil untukku."
"Ah, alasan!"
"Bukan alasan. Fakta."
Sinox menggerutu, tapi tetap mengayuh. Di belakang, Akang tersenyum, senyum yang tidak dilihat Sinox. Senyum yang ia simpan hanya untuk dirinya sendiri.
Dia cerewet, pikir Akang saat itu. Tapi aku suka. Aku suka mendengar suaranya. Aku suka rambutnya yang terkena angin dan menyentuh pipiku. Aku suka punggungnya yang sedikit membungkuk saat mengayuh sepeda.
Aku suka dia.
Aku sangat suka dia.
Tapi aku tidak berani mengakuinya.
Karena aku takut. Karena aku tidak pantas. Karena aku miskin. Karena aku bukan siapa-siapa.
Saat Sinox Mengenang
Suatu sore, Sinox duduk di beranda belakang rumahnya. Di depannya, terlihat seorang remaja laki-laki, tetangga baru, sedang membonceng adik perempuannya naik sepeda. Remaja itu mengayuh dengan susah payah karena adiknya yang di belakang cukup berat, tapi ia tertawa. Adiknya juga tertawa. Mereka tampak bahagia.
Sinox tersenyum getir.
Dulu aku dan Akang juga seperti itu, pikirnya. Aku yang mengayuh, dia yang bonceng. Aku yang cerewet, dia yang diam. Aku yang selalu protes, dia yang selalu tersenyum.
Kami tidak pernah pacaran. Tapi rasanya seperti pacaran. Seperti memiliki seseorang yang selalu ada, tanpa perlu status, tanpa perlu pengakuan.
Tapi mungkin itu yang paling menyakitkan.
Karena tanpa status, tanpa pengakuan, kami tidak punya hak untuk saling memiliki.
Kami hanya dua insan yang saling mencintai, di waktu yang salah, di tempat yang salah, dan dengan cara yang salah.
Sinox memejamkan mata.
Ia teringat suatu sore. Hujan turun deras saat mereka sedang dalam perjalanan pulang dari dojo. Sepeda ontel itu tidak memiliki payung, tidak memiliki jas hujan. Sinox dan Akang basah kuyup dalam hitungan menit.
"Ayo berteduh di bawah pohon!" teriak Akang dari belakang.
"Pohon apa? Di sini tidak ada pohon besar!" balas Sinox.
"Terus bagaimana?"
"Kita terus saja. Aku kuat."
"Kamu bisa sakit!"
"Tidak apa-apa. Yang penting kita cepat sampai."
Akang terdiam. Lalu ia melakukan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya: ia memeluk Sinox dari belakang. Bukan pelukan erat. Hanya letakkan kedua telapak tangannya di pundak Sinox, lalu menempelkan dadanya ke punggung Sinox.
"Untuk menghangatkanmu," kata Akang, meskipun suaranya sedikit gugup.
Sinox tidak menjawab. Wajahnya memerah, bukan karena kedinginan, tapi karena degup jantungnya yang tiba-tiba tidak karuan.
Itu pertama kalinya aku merasakan kehangatan dari seorang laki-laki, kenang Sinox. Bukan dari ayahku. Bukan dari saudara laki-lakiku, karena aku tidak punya. Tapi dari Akang. Seorang teman. Seorang sahabat. Seorang yang, mungkin, lebih dari itu.
Tapi kami tidak pernah membicarakannya setelahnya.
Kami hanya diam. Berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Padahal di dalam hati, terjadi segalanya.
Ya Allah, betapa bodohnya kami dulu.
Kalau saja kami berani, mungkin ceritanya akan berbeda.
Mungkin aku akan menjadi istri Akang.
Mungkin anak-anakku adalah darah dagingnya.
Mungkin kita tidak akan melalui semua penderitaan ini.
Tapi mungkin juga, mungkin takdir memang sudah ditulis sejak awal.
Dan tidak ada yang bisa mengubahnya.
Akang dan Sepeda Ontel di Kapuas
Di Kapuas, sepeda ontel bukan lagi moda transportasi utama. Orang-orang sudah menggunakan motor atau mobil. Tapi di halaman rumah Akang, masih ada satu sepeda ontel tua yang teronggok di sudut, catnya mengelupas, rantainya berkarat, ban depannya kempes.
Itu sepeda peninggalan ayah Akang. Bukan sepeda biru milik Sinox. Tapi setiap kali Akang melihat sepeda itu, ia teringat pada sepeda ontel biru yang dulu selalu ia boncengi.
Suatu hari, Iwan melihat ayahnya termenung di dekat sepeda ontel tua itu.
"Pa, kenapa Pa lihat sepeda itu terus?"
"Tidak kenapa-kenapa, Wan. Pa hanya teringat masa lalu."
"Masa lalu yang mana?"
"Masa lalu yang tidak akan kembali."
Iwan tidak bertanya lebih lanjut. Tapi ia duduk di samping ayahnya.
"Pa, aku minta maaf," kata Iwan pelan.
Akang terkejut. "Maaf? Kenapa?"
"Karena aku menjauhi Pa. Karena aku tidak mau bicara pada Pa. Karena aku membenci Pa. Itu salah. Pa tetap ayahku. Dan aku tidak punya ayah lain."
Akang menangis. Ia memeluk anaknya. "Tidak, Wan. Pa yang minta maaf. Pa yang telah mengecewakan kalian. Pa yang telah membuat kalian malu. Pa yang seharusnya minta maaf."
"Pa, apa Pa masih mencintai ibu?"
Pertanyaan Iwan sederhana, tapi menusuk.
Akang menghela napas. "Aku mencintai ibumu, Wan. Mungkin tidak seperti dulu. Tapi aku mencintainya. Dan aku ingin memperbaiki semuanya. Aku ingin menjadi suami yang baik untuknya. Aku ingin menjadi ayah yang baik untuk kalian."
"Apa Pa bisa?"
"Pa akan berusaha. Dengan sekuat tenaga."
Iwan mengangguk. Ia memeluk ayahnya balik.
Di kejauhan, Setya melihat adegan itu dari balik jendela. Air mata jatuh di pipinya. Bukan air mata sedih. Tapi air mata haru.
Mungkin masih ada harapan, pikirnya. Mungkin suamiku masih mau berubah. Mungkin keluarga ini masih bisa diselamatkan.
Dan aku, aku akan berjuang.
Bersamanya.
Belajar Melepaskan Kenangan
Sinox dan Akang tidak akan pernah bisa melupakan karate dan sepeda ontel.
Kenangan itu terlalu indah. Terasa dalam. Terukir di relung hati yang paling dalam.
Tapi mereka belajar bahwa kenangan, seindah apa pun, tidak harus terus dihidupkan. Ada saatnya kenangan itu harus dimatikan, dikubur, dan dibiarkan pergi.
Bukan karena kenangan itu buruk.
Tapi karena hidup berjalan ke depan.
Dan masa depan tidak bisa dibangun di atas fondasi masa lalu yang tidak pernah selesai.
Sinox memasukkan foto lama itu ke dalam amplop. Ia tidak merobeknya. Tidak membakarnya. Ia hanya menyimpannya di lemari, di antara buku-buku lama yang jarang ia buka.
Suatu hari, mungkin anak-anakku akan menemukan foto ini, pikirnya. Dan mereka akan bertanya, 'Bu, siapa laki-laki di samping Ibu ini?'
Aku akan menjawab, 'Dia teman lama Ibu. Sahabat. Seseorang yang pernah mengajarkan Ibu banyak hal, tentang karate, tentang ketekunan, tentang arti tidak menyerah.'
Aku tidak akan bilang bahwa aku pernah mencintainya.
Karena cinta itu, cinta itu sudah mati.
Sekarang, yang tersisa hanyalah kenangan.
Dan kenangan, meskipun manis, tidak cukup untuk mengalahkan kenyataan.
Setelah Kenangan
Di Kapuas, Akang mengambil sepeda ontel tua itu ke bengkel. Ia minta dibetulkan, ban baru, rantai baru, cat baru. Butuh waktu seminggu, tapi hasilnya memuaskan.
Sepeda itu kini bisa digunakan lagi.
Tapi Akang tidak menggunakannya untuk mengingat Sinox.
Ia menggunakannya untuk mengantar Raha ke sekolah setiap pagi.
Raha yang tadinya murung, mulai sedikit demi sedikit tersenyum saat duduk di boncengan belakang sepeda ayahnya.
"Pa, sepedanya sudah bagus ya sekarang."
"Iya, Ra. Pa betulkan khusus untuk kamu."
"Aku senang, Pa."
Akang tersenyum. "Pa juga senang."
Di boncengan belakang, Raha memeluk pinggang ayahnya, pelukan yang sudah lama tidak ia lakukan.
Akang mengayuh sepeda dengan perlahan, menikmati angin pagi yang sejuk.
Di dalam hatinya, ada kedamaian.
Kedamaian yang tidak ia rasakan sejak bertahun-tahun.
Mungkin ini jalan yang benar, pikirnya. Bukan terus merindukan masa lalu. Tapi menghidupi masa kini. Bersama orang-orang yang ada di depanku sekarang.
Bersama Setya. Bersama Raha. Bersama Iwan dan Anto.
Bersama keluarga yang selama ini aku abaikan.
Mereka adalah kenangan yang masih bisa aku ciptakan.
Bukan kenangan lama yang terus aku sesali.
Dan aku, aku akan berusaha menjadi lebih baik.
Untuk mereka. Untuk diriku sendiri. Untuk masa depanku. Untuk surga yang kuharap kelak.
BAB XIX
Air Mata Setya Ningsih
Ada air mata yang jatuh karena kesedihan. Ada yang jatuh karena kemarahan. Ada yang jatuh karena kehilangan. Ada yang jatuh karena kebahagiaan yang tak terduga.
Tapi air mata Setya Ningsih jatuh karena semua alasan itu sekaligus.
Ia menangis karena suaminya telah mengkhianatinya. Ia menangis karena 25 tahun pernikahan terasa seperti kebohongan panjang. Ia menangis karena ia masih mencintai laki-laki yang telah menyakiti hatinya. Ia menangis karena ia tidak tahu harus mempercayai siapa lagi. Ia menangis karena anak-anaknya terluka. Ia menangis karena rumah yang dulu hangat kini terasa dingin seperti kuburan.
Ia juga menangis karena, di tengah semua luka itu, ia masih punya harapan.
Harapan bahwa suaminya benar-benar bisa berubah.
Harapan bahwa keluarganya masih bisa diselamatkan.
Harapan bahwa air matanya suatu hari akan berubah menjadi senyuman.
Setya Ningsih bukan perempuan yang mudah menangis.
Ia dibesarkan di keluarga yang keras, di mana air mata dianggap sebagai kelemahan, di mana perempuan dituntut untuk tegar, di mana kesedihan harus ditelan sendiri tanpa mengganggu orang lain.
Tapi selama beberapa bulan terakhir, ia menangis lebih banyak dari 25 tahun sebelumnya.
Ia menangis di kamar mandi, dengan air keran mengalir deras untuk menutupi suara isaknya.
Ia menangis di dapur, saat memasak sendirian, di antara asap dan minyak panas.
Ia menangis di samping Raha yang tertidur, menyeka air mata anaknya sekaligus air matanya sendiri.
Ia menangis di masjid, saat sujud yang lama, karena hanya di sana ia merasa tidak perlu berpura-pura kuat.
Dan malam ini, di saat semua orang sudah tertidur, di saat rumah panggung itu sunyi, di saat suaminya Akang sedang duduk di beranda sendirian, Setya menangis lagi.
Bukan karena ia lemah.
Tapi karena ia sudah terlalu lama kuat.
Malam di Mana Setya Bertanya
Kapuas, pukul 23.45. Akang baru saja selesai berbicara dengan Sinox, bukan percakapan mesra, hanya sekadar kabar singkat, dan ia hendak masuk ke kamar. Tapi saat membuka pintu, ia terkejut melihat Setya duduk di tepi tempat tidur, matanya merah, wajahnya basah oleh air mata.
"Ning, kamu belum tidur?"
"Tidur? Bagaimana aku bisa tidur, Mas? Setiap kali aku pejamkan mata, aku melihat video itu. Setiap kali aku tidur di samping Mas, aku bertanya-tanya, apakah malam ini Mas akan bangun dan pergi ke beranda untuk menelepon dia lagi? Setiap kali Mas bilang 'aku mencintaimu', aku tidak tahu apakah itu untukku atau untuk bayangannya."
Akang duduk di samping istrinya. Ia meraih tangan Setya. Setya melepaskan.
"Jangan, Mas. Jangan sentuh aku. Aku tidak kuat."
"Ning, aku minta maaf..."
"Mas, berhenti minta maaf. Maaf Mas sudah seperti hujan di musim kemarau, banyak, tapi tidak membasahi apa pun. Maaf Mas hanya kata-kata. Tidak ada bukti. Tidak ada perubahan."
Akang terdiam.
"Aku ingin bertanya sesuatu, Mas," lanjut Setya. "Dan aku minta Mas jujur. Untuk sekali ini saja. Jujur."
"Tanya apa, Ning?"
Setya menatap mata suaminya, mata yang dulu ia cintai, mata yang dulu selalu meneduhkan, mata yang sekarang membuatnya sakit hanya dengan melihatnya.
"Apakah Mas masih mencintai dia?"
Pertanyaan itu sederhana. Tapi jawabannya bisa membunuh, entah Setya, entah Akang, entah pernikahan mereka.
Akang membuka mulut. Ingin berkata tidak. Ingin berbohong. Ingin melindungi perasaan istrinya.
Tapi ia sudah lelah berbohong.
"Aku masih mencintai kenangan tentang dia, Ning. Tapi apakah aku masih mencintai dia sebagai perempuan yang aku inginkan? Tidak. Aku sudah melepaskan itu. Aku sudah berusaha. Dan aku akan terus berusaha."
"Tapi Mas belum bisa menjawab 'tidak' dengan tegas."
"Karena aku tidak ingin berbohong, Ning. Aku sudah cukup berbohong. Aku sudah cukup menyakiti kamu dengan kebohonganku."
Setya menunduk. Air mata jatuh di pangkuannya.
"Setidaknya Mas jujur," bisiknya. "Itu sesuatu."
"Ning, aku tidak memintamu untuk percaya padaku sekarang. Aku tahu aku sudah menghancurkan kepercayaan itu. Tapi aku minta satu hal."
"Apa?"
"Jangan menyerah pada aku. Jangan menyerah pada pernikahan kita. Aku akan buktikan bahwa aku bisa berubah. Mungkin tidak cepat. Mungkin butuh waktu. Tapi aku akan buktikan."
Setya tidak menjawab. Ia hanya berbaring, membelakangi Akang, dan memejamkan mata.
Air mata masih mengalir di pipinya.
Tapi di dalam dadanya, ada getaran kecil, sesuatu yang mirip dengan harapan.
Mungkin aku akan memberi kesempatan lagi, pikirnya. Untuk terakhir kalinya.
Jika Mas masih menyia-nyiakan kesempatan ini, aku akan pergi.
Untuk selamanya.
Setya dan Raha: Saling Menguatkan
Keesokan paginya, Setya terbangun lebih awal. Ia melihat Raha sudah duduk di dapur, makan bubur yang ia masak semalam, meskipun dingin, Raha tetap memakannya.
"Ra, buatkan ibu kopi, ya."
Raha mengangguk. Ia menyeduh kopi, tanpa gula, sesuai selera ibunya, lalu menyajikannya di meja makan.
"Ibu, aku mau cerita."
"Cerita apa, Nak?"
Raha duduk di samping ibunya. "Aku mimpi buruk tadi malam. Aku mimpi Bapak pergi. Bapak bilang, 'Ra, Bapak pergi dengan perempuan itu.' Aku bangun, aku liat tempat tidur Bapak kosong. Ternyata Bapak lagi di beranda. Tapi aku tetap takut."
Setya memegang tangan anaknya. "Ra, Bapak tidak akan pergi. Bapak masih sayang sama kita. Bapak hanya... tersesat. Tapi Bapak akan pulang."
"Ibu, kenapa sih Bapak kayak gitu? Kenapa Bapak tidak cukup dengan kita?"
Pertanyaan itu, sederhana, polos, dari seorang anak, menusuk hati Setya.
"Karena manusia, Ra. Manusia kadang tidak puas dengan apa yang mereka miliki. Mereka selalu ingin lebih. Padahal yang mereka cari sebenarnya sudah ada di depan mata. Mereka hanya buta, sementara."
"Apa Ibu masih sayang Bapak?"
"Ibu masih sayang, Ra. Meskipun sakit. Meskipun kecewa. Tapi sayang. Karena sayang tidak selalu mudah dihilangkan, Nak. Sayang itu seperti benang yang teranyam rapi. Jika ditarik paksa, dia akan kusut, bahkan putus. Tapi jika diurai dengan sabar, dia bisa menjadi rapi lagi."
Raha mengangguk, meskipun sepertinya tidak sepenuhnya mengerti.
Tapi ia memeluk ibunya.
"Aku bantu Ibu mengurai benang itu, ya."
Setya tersenyum, senyum pertama setelah sekian lama.
"Ibu senang punya anak seperti kamu, Ra."
"Aku juga senang punya ibu yang kuat."
"Ibu tidak kuat, Nak. Ibu hanya berpura-pura kuat. Tapi sebenarnya, ibu sering menangis."
"Menangis tidak apa-apa, Bu. Yang penting, bangkit lagi."
Setya memeluk anaknya erat-erat.
Di dapur yang sunyi, ibu dan anak itu saling menguatkan.
Dengan pelukan. Dengan air mata. Dengan harapan.
Air Mata di Ruang Tamu
Sore itu, Setya duduk di ruang tamu seorang diri. Akang sedang ke kantor desa. Raha sedang bermain dengan teman-temannya.
Ponsel Setya berdering. Sebuah pesan masuk dari Sinox Yanti.
Mereka belum pernah bertukar pesan sejak panggilan video pertama dulu. Setya hampir tidak percaya melihat nama itu muncul di layar ponselnya.
Sinox Yanti: Bu Setya, maaf mengganggu. Saya hanya ingin mengatakan sesuatu.
Setya membacanya berulang kali. Ia ingin mengabaikan. Ingin membalas dengan kata-kata kasar. Tapi jarinya bergerak sendiri.
Setya Ningsih: Apa yang mau Ibu katakan?
Sinox Yanti: Saya tahu saya tidak berhak meminta apa pun dari Ibu. Tapi saya ingin Ibu tahu, saya sudah memutuskan untuk tidak berkomunikasi intens dengan suami Ibu lagi. Saya sudah menghapus chat kami. Saya sudah berjanji pada diri sendiri untuk fokus pada keluarga saya.
Sinox Yanti: Saya tidak tahu apakah Ibu percaya pada saya. Tapi saya ingin Ibu tahu, saya menyesal. Saya sangat menyesal. Dan saya tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Setya membaca pesan itu dengan mata berkaca-kaca.
Ia tidak tahu apakah Sinox tulus. Ia tidak tahu apakah ini hanya drama. Tapi ada sesuatu di dalam pesan itu, sesuatu seperti penyesalan yang tulus, sesuatu seperti harapan untuk berdamai.
Setya Ningsih: Kenapa Ibu cerita pada saya? Kenapa tidak cukup dengan suami saya saja?
Sinox Yanti: Karena saya tahu saya sudah menyakiti Ibu. Dan Ibu berhak mendengar langsung dari saya bahwa saya berhenti. Bukan dari suami Ibu, bukan dari orang lain. Dari saya.
Setya Ningsih: Apakah Ibu masih mencintai suami saya?
Sinox terdiam cukup lama.
Sinox Yanti: *Saya mencintai kenangan tentang dia. Tapi apakah saya masih mencintai dia sebagai laki-laki yang Ibu nikahi? Saya tidak tahu. Mungkin tidak. Mungkin yang saya cintai selama ini hanyalah bayangan, bayangan yang saya ciptakan sendiri selama 30 tahun.*
Sinox Yanti: Saya tidak pantas meminta maaf pada Ibu. Tapi saya minta maaf. Dan saya berdoa, semoga Ibu dan suami Ibu bisa memperbaiki rumah tangga Ibu. Saya tidak akan mengganggu lagi.
Setya tidak membalas.
Ia hanya menatap ponselnya.
Air mata jatuh.
Bukan air mata sedih.
Tapi air mata lega.
Dia berhenti, pikir Setya. Dia benar-benar berhenti.
Mungkin ini awal dari segalanya.
Mungkin setelah badai, akhirnya ada pelangi.
Mungkin, mungkin aku bisa mulai percaya lagi.
Akang Melihat Istrinya Menangis
Akang pulang dari kantor desa pukul setengah lima. Ia melihat Setya duduk di ruang tamu dengan wajah basah. Ponsel tergeletak di sampingnya.
"Ning, kamu kenapa? Siapa yang menghubungi?"
Setya menatap suaminya. "Sinox Yanti."
Akang terkejut. "Apa? Dia menghubungi kamu? Dia bicara apa?"
"Dia bilang dia berhenti. Dia bilang dia menyesal. Dia bilang dia tidak akan mengganggu lagi."
Akang terdiam.
Ia tidak tahu harus senang atau sedih.
Senang karena Sinox melakukan hal yang benar. Sedih karena, di dalam hatinya yang paling jujur, ia masih merasakan kehilangan.
Tapi ia tidak boleh menunjukkan itu pada Setya.
"Ning, aku minta maaf..."
"Sudah, Mas. Aku tidak mau mendengar maaf lagi. Yang aku mau, Mas buktikan. Buktikan bahwa Mas bisa berubah. Buktikan bahwa Mas bisa menjadi suami yang lebih baik. Buktikan bahwa keluarga ini masih penting bagi Mas."
"Aku akan buktikan, Ning. Aku berjanji."
"Janji Mas sudah sering aku dengar. Sekarang tunjukkan dengan tindakan. Bukan dengan kata-kata."
Akang mengangguk.
Ia duduk di samping istrinya.
Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, Setya tidak menjauh.
Ia membiarkan suaminya duduk di sampingnya, berbagi kehangatan, berbagi kesedihan, berbagi harapan.
Tidak ada kata-kata.
Hanya keheningan.
Tapi keheningan itu, kali ini, tidak mencekam.
Ia hangat. Ia damai. Ia seperti awal dari segalanya.
Anto Menasehati Ibunya
Malam itu, Anto datang ke rumah orang tuanya. Ia membawa serta istrinya dan cucu mereka yang masih balita.
"Bu, Anto dengar Ibu dan Bapak sudah mulai baikan?" tanya Anto.
"Anto, Ibu tidak tahu harus bilang apa. Ibu masih sakit. Tapi Ibu mencoba."
Anto duduk di samping ibunya. "Bu, Anto ingin bilang sesuatu."
"Apa?"
"Jangan menyerah, Bu. Anto tahu ini berat. Tapi jangan menyerah. Bapak itu orang baik. Bapak hanya tersesat. Tapi dia pasti pulang."
"Bagaimana kamu bisa yakin, Ton?"
"Karena Anto kenal Bapak. Bapak sayang sama Ibu. Bapak sayang sama keluarga. Bapak tidak akan tega meninggalkan kita. Bapak hanya butuh waktu untuk sadar."
Setya menangis. "Kamu dewasa sekali, Ton."
"Anto sudah punya keluarga sendiri, Bu. Anto tahu beratnya mempertahankan rumah tangga. Anto tahu bahwa cinta tidak selalu tentang perasaan, tapi tentang komitmen. Dan Bapak, Anto yakin, Bapak berkomitmen untuk mempertahankan keluarga ini."
Setya memeluk anak sulungnya.
"Terima kasih, Ton. Ibu butuh mendengar itu."
"Ibu kuat, Bu. Ibu selalu kuat."
"Ibu tidak kuat, Ton. Ibu hanya bertahan."
"Itu sudah cukup, Bu. Bertahan adalah bentuk keberanian. Banyak orang yang menyerah. Tapi Ibu tidak. Itu lebih dari cukup."
Setya tersenyum, meskipun air mata masih mengalir.
Anak-anakku, pikirnya. Mereka adalah kekuatanku.
Bukan suamiku. Bukan siapa pun.
Tapi mereka.
Dan untuk mereka, aku akan bertahan.
Seberat apa pun.
Setelah Air Mata
Butuh waktu bagi Setya untuk benar-benar pulih.
Air mata tidak berhenti dalam semalam. Luka tidak sembuh hanya dengan beberapa pelukan. Kepercayaan tidak kembali hanya karena beberapa janji.
Tapi setiap hari, sedikit demi sedikit, ada kemajuan.
Akang mulai pulang lebih awal dari kantor. Ia membantu Setya memasak, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Ia mengajak Raha bermain sepeda ontel setiap pagi. Ia bicara dengan Iwan tentang persiapan pernikahan, tidak lagi menghindar. Ia menelepon Anto lebih sering, menanyakan kabar cucu.
Setya melihat semua itu.
Diam-diam. Tanpa komentar.
Tapi di dalam hatinya, ada rasa syukur yang tumbuh.
Mungkin dia sungguh-sungguh berusaha, pikir Setya. Mungkin ini bukan sekadar pura-pura.
Mungkin, mungkin aku bisa percaya lagi.
Sedikit demi sedikit. Perlahan-lahan.
Tidak sekaligus.
Tapi setidaknya, aku mau mencoba.
Suatu malam, saat mereka berbaring di tempat tidur, Akang meraih tangan Setya.
Setya tidak melepaskan.
Ia membiarkan tangan suaminya menggenggam tangannya.
Dan untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, ia membalikkan badan, menghadap suaminya, menatap matanya, dan berkata:
"Mas, aku masih mencintaimu. Aku tidak tahu apakah cinta itu cukup. Tapi aku masih mencintaimu. Dan aku mau memberi Mas kesempatan lagi. Yang terakhir."
Akang menangis. "Terima kasih, Ning. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku berjanji."
"Jangan berjanji. Buktikan."
Akang mengangguk.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, mereka tidur berpelukan.
Bukan seperti dulu, masih ada jarak, masih ada kecanggungan.
Tapi itu awal.
Awal yang kecil.
Tapi cukup untuk membuat Setya percaya bahwa besok akan lebih baik.
Dan cukup untuk membuat Akang yakin bahwa ia tidak kehilangan segalanya.
BAB XX
Mas Sarif yang Terluka
Jika Setya Ningsih menangis, Mas Sarif diam.
Diamnya bukan karena tidak sakit. Diamnya bukan karena tidak peduli. Diamnya adalah caranya berduka, cara seorang laki-laki yang tidak pernah diajari untuk meluapkan emosi, yang tidak pernah diberi ruang untuk menunjukkan kelemahan, yang sejak kecil telah dididik bahwa laki-laki harus tegar bagaimanapun keadaannya.
Mas Sarif terluka.
Luka yang tidak terlihat oleh mata telanjang. Tidak ada darah, tidak ada memar, tidak ada bekas luka di kulit. Tapi lukanya ada, di dalam dada, di dalam hati, di tempat paling dalam yang tidak bisa dijangkau oleh obat atau plester.
Ia terluka karena istrinya mencintai laki-laki lain.
Ia terluka karena 20 tahun pernikahan terasa seperti kebohongan.
Ia terluka karena ia tidak pernah cukup, tidak cukup kaya, tidak cukup romantis, tidak cukup baik, untuk membuat Sinox melupakan cinta masa lalunya.
Ia terluka karena ia tidak tahu harus marah pada siapa. Pada Sinox? Pada Akang? Pada dirinya sendiri?
Dan yang paling menyakitkan: ia terluka karena ia masih mencintai Sinox. Meskipun istrinya telah mengkhianatinya, meskipun hatinya hancur berkeping-keping, meskipun ia tahu bahwa ia mungkin tidak akan pernah cukup, ia masih mencintainya.
Cinta Mas Sarif pada Sinox adalah cinta yang sederhana. Tidak puitis, tidak bombastis, tidak penuh dengan kata-kata indah dan puisi. Tapi cinta itu nyata. Cinta itu hadir dalam setiap butir beras yang ia tanam di sawah, dalam setiap tetes keringat yang ia curahkan untuk keluarganya, dalam setiap malam ia pulang dengan tubuh lelah tapi tetap tersenyum melihat istri dan anak-anaknya.
Cinta itu tidak pernah ia ucapkan dengan lantang. Tapi ia buktikan setiap hari.
Dan sekarang, setelah semua yang terjadi, cinta itu masih ada.
Meskipun sakit. Meskipun perih. Meskipun mungkin sudah seharusnya ia berhenti.
Mas Sarif tidak menyerah.
Bukan karena ia tidak punya pilihan. Tapi karena ia memilih untuk bertahan.
Untuk keluarganya. Untuk anak-anaknya. Untuk Sinox, yang masih ia cintai, meskipun hatinya telah terluka begitu dalam.
Siang di Tepi Sawah
Tegorejo, pukul 13.00. Matahari terik membakar bumi. Mas Sarif duduk di tepi pematang sawah, berteduh di bawah pohon rindang yang tumbuh di batas lahan. Topi caping menutupi kepalanya, tapi keringat tetap mengucur di pelipisnya.
Di tangannya, sebatang rokok yang belum ia nyalakan. Ia hanya memegangnya, memainkannya di antara jari-jari yang kasar karena tanah dan lumpur. Ia tidak benar-benar ingin merokok. Ia hanya butuh sesuatu untuk mengalihkan perhatian dari pikirannya yang kacau.
Kenapa aku tidak cukup? pikirnya. Apa yang kurang dariku? Aku bekerja keras. Aku tidak pernah selingkuh. Aku pulang ke rumah setiap hari. Aku tidak pernah mengangkat tangan pada Sinox. Aku membiayai sekolah anak-anak. Aku membangun rumah ini dengan keringatku sendiri.
Tapi dia, laki-laki yang bahkan tidak pernah bertemu Sinox secara langsung, bisa membuatnya menangis. Bisa membuatnya rindu. Bisa membuatnya hampir menghancurkan rumah tangga kita.
Apa yang dia punya yang tidak aku punya?
Mas Sarif membuang rokok itu ke selokan. Ia tidak menyalakannya.
Ia hanya menunduk, memandang air sawah yang keruh, melihat bayangannya sendiri yang pecah karena riak air.
Bayanganku pecah, pikirnya. Seperti hidupku sekarang.
Pecah. Tidak utuh. Mungkin tidak akan pernah utuh lagi.
Pak Hadi dan Nasihat Teman Sejati
Sore itu, Pak Hadi, sahabat Mas Sarif sejak kecil, mampir ke rumah. Ia membawa oleh-oleh kacang rebus dan dua bungkus kopi instan.
"Sar, kamu dari sawah?"
"Iya, baru pulang. Kamu kenapa mampir?"
"Ya, sekadar lihat-lihat. Kamu belakangan ini jarang kelihatan. Biasanya main ke rumahku sore-sore. Sekarang bahkan tidak muncul-muncul."
Mas Sarif menghela napas. "Aku tidak enak badan, Hadi."
"Bukan tidak enak badan. Kamu sakit hati. Itu beda."
Mas Sarif tidak menjawab.
Mereka duduk di teras rumah. Pak Hadi menyeduh kopi, dua cangkir, satu untuk Mas Sarif, satu untuk dirinya sendiri.
"Sar, aku tahu ini berat," kata Pak Hadi. "Tapi kamu harus bangkit. Jangan larut dalam kesedihan terus. Ada anak-anak yang butuh kamu. Ada istri yang, meskipun salah, masih butuh kamu."
"Aku tidak tahu, Hadi. Aku bingung. Aku sakit."
"Sakit itu wajar. Tapi jangan biarkan sakit itu menguasaimu. Kamu harus bisa memaafkan."
"Memaafkan? Dia selingkuh, Hadi. Secara emosional, dia selingkuh. Dan aku diminta memaafkan?"
"Bukan karena dia pantas, Sar. Tapi karena kamu pantas untuk damai. Memaafkan bukan tentang dia. Tentang kamu. Tentang melepaskan beban yang tidak seharusnya kamu pikul."
Mas Sarif diam.
Pak Hadi menepuk bahunya. "Kamu kuat, Sar. Kamu selalu kuat. Tapi kamu tidak harus kuat sendirian. Aku di sini. Keluarga kamu di sini. Jangan tutup diri."
Mas Sarif menunduk. Air mata jatuh di pangkuannya.
Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, ia menangis di depan orang lain.
Bukan di depan Sinox. Bukan di depan anak-anak. Tapi di depan sahabatnya.
"Aku mencintainya, Hadi," bisik Mas Sarif. "Aku masih mencintainya. Itu yang paling menyakitkan. Jika aku benci padanya, mungkin aku bisa pergi. Tapi aku masih mencintainya. Dan aku tidak tahu harus berbuat apa."
Pak Hadi memeluk sahabatnya. "Kamu bertahan, Sar. Kamu bertahan untuk keluargamu. Dan aku akan ada di sini, setiap kali kamu butuh teman bicara."
Mas Sarif mengangguk.
Malam itu, untuk pertama kalinya, ia merasa sedikit lebih ringan.
Bukan karena masalah selesai. Tapi karena ia tidak sendirian.
Malam di Mana Mas Sarif Bertanya
Pukul 21.00. Eko sudah tidur. Sinox duduk di ruang tamu, menonton televisi tanpa benar-benar melihat. Mas Sarif masuk dari teras, duduk di kursi sebelah Sinox.
"Sin," panggilnya.
Sinox menoleh. Wajah suaminya serius. Ada sesuatu yang berbeda.
"Ada apa, Mas?"
"Aku mau tanya sesuatu. Dan aku minta kamu jujur. Tidak usah bohong. Tidak usah manis-manis. Cukup jujur."
Sinox menelan ludah. "Tanya apa, Mas?"
"Apakah kamu mencintai aku?"
Pertanyaan itu sederhana. Tapi jawabannya, bagi Sinox, tidak sederhana.
"Mas, aku..."
"Cukup iya atau tidak. Tidak perlu penjelasan panjang."
Sinox terdiam. Ia menatap suaminya, laki-laki yang telah bersamanya selama 20 tahun. Laki-laki yang membanting tulang di sawah untuk keluarganya. Laki-laki yang tidak pernah mengeluh meskipun lelah. Laki-laki yang, meskipun tidak romantis, selalu ada.
"Iya, Mas. Aku mencintai Mas."
"Apakah kamu mencintai aku sebesar kamu mencintai dia?"
Pertanyaan itu lebih menyakitkan.
Sinox menunduk. "Aku tidak bisa membandingkan, Mas. Cintaku pada Mas berbeda dengan cintaku pada dia."
"Berbeda bagaimana?"
"Cintaku pada Mas adalah cinta yang nyata. Cinta yang tumbuh dari kebersamaan. Cinta yang tidak butuh puisi atau kata-kata indah. Cinta yang sederhana, tapi bertahan."
"Dan cintamu pada dia?"
"Cintaku pada dia adalah cinta pada kenangan. Pada masa lalu. Pada bayangan yang tidak pernah benar-benar aku miliki. Itu cinta yang indah, tapi tidak nyata. Seperti mimpi, indah saat terjadi, tapi buyar saat bangun."
Mas Sarif menghela napas. "Lalu kenapa kamu hampir menghancurkan rumah tangga kita karena mimpi?"
Sinox menangis. "Karena aku bodoh, Mas. Karena aku tidak bisa membedakan antara mimpi dan kenyataan. Karena aku terlalu lama memendam perasaan itu, sampai aku lupa bahwa kenyataan, yang sesungguhnya, jauh lebih berharga daripada mimpi."
"Apa yang kamu mau sekarang, Sin? Jujur."
Sinox menatap suaminya. Matanya merah, tapi ia tidak berkedip.
"Aku ingin Mas. Aku ingin anak-anak. Aku ingin keluarga kita. Aku tidak ingin kehilangan semuanya karena kebodohanku sendiri. Aku sudah kehilangan banyak hal. Aku tidak mau kehilangan Mas."
Mas Sarif diam cukup lama.
Lalu ia berdiri.
"Aku percaya kamu, Sin. Aku tidak tahu apakah itu keputusan yang bijak. Tapi aku percaya. Karena aku masih mencintaimu. Dan karena aku ingin keluarga ini tetap utuh."
Sinox berdiri. Ia memeluk suaminya.
"Terima kasih, Mas. Aku tidak akan mengecewakan Mas lagi. Aku berjanji."
"Jangan janji. Buktikan."
Mas Sarif membalas pelukan istrinya.
Malam itu, mereka tidur di ranjang yang sama.
Bukan seperti dulu, masih ada jarak, masih ada kecanggungan.
Tapi itu awal.
Awal dari harapan.
Harapan bahwa luka bisa sembuh.
Harapan bahwa kepercayaan bisa kembali.
Harapan bahwa cinta, meskipun retak, masih bisa diperbaiki.
Eko yang Mulai Terbuka
Eko masih diam. Tapi diamnya tidak lagi sedingin dulu.
Suatu pagi, saat Sinox sedang menyiapkan sarapan, Eko mendekatinya di dapur.
"Bu, aku mau tanya."
"Tanya apa, Nak?"
"Kenapa sih orang dewasa suka bikin rumit? Kalau suka ya suka. Kalau tidak suka ya tidak suka. Kenapa harus ada selingkuh, ada bohong, ada drama?"
Sinox menghela napas. "Karena orang dewasa itu tidak sekuat yang kalian kira, Nak. Mereka juga bingung. Mereka juga takut. Mereka juga bisa salah."
"Tapi Bu salah. Bu menyakiti Bapak. Bu menyakiti kami."
"Ibu tahu, Nak. Ibu menyesal. Ibu minta maaf."
"Aku belum bisa memaafkan Bu. Tapi aku tidak akan membenci Bu. Karena Bu tetap ibuku. Dan aku tidak punya ibu lain."
Sinox menangis. Ia memeluk anaknya.
"Ibu sayang kamu, Nak. Ibu sayang Bapak. Ibu sayang kalian semua. Ibu tidak akan mengulangi kesalahan yang sama."
"Aku lihat nanti, Bu. Aku lihat apakah Bu benar-benar berubah."
Eko melepaskan pelukan, lalu pergi ke sekolah.
Sinox hanya bisa berdiri di dapur, menatap punggung anak bungsunya, dan berdoa.
Ya Allah, pulihkan hati anak-anakku. Pulihkan hati suamiku. Pulihkan keluarga kami.
Aku berjanji akan menjadi lebih baik.
Aku berjanji akan membuktikan dengan tindakan, bukan kata-kata.
Amin.
Mas Sarif dan Luka yang Mulai Mengering
Mas Sarif tidak melupakan lukanya.
Tidak mungkin. Luka sebesar itu tidak akan hilang dalam waktu singkat. Tapi ia belajar bahwa luka, jika dirawat dengan baik, pada akhirnya akan mengering dan membentuk jaringan baru.
Jaringan itu mungkin tidak sekuat kulit asli. Mungkin akan meninggalkan bekas. Mungkin akan terasa gatal saat cuaca mendung. Tapi setidaknya, ia tidak lagi berdarah. Setidaknya, ia tidak lagi sakit setiap saat.
Mas Sarif mulai kembali ke rutinitasnya, pergi ke sawah pagi-pagi, pulang sore hari, makan malam bersama keluarga, tidur di samping istrinya.
Tidak ada lagi tidur di ruang tamu. Tidak ada lagi jarak yang sengaja ia ciptakan.
Ia memilih untuk hadir.
Meskipun sakit. Meskipun tidak mudah.
Mungkin ini yang dinamakan perjuangan, pikir Mas Sarif. Bukan tentang tidak pernah jatuh. Tapi tentang bangkit setiap kali jatuh. Bukan tentang tidak pernah terluka. Tapi tentang tetap bertahan meskipun terluka.
Dan aku, aku akan bertahan.
Untuk Sinox. Untuk anak-anak. Untuk keluarga.
Untuk janji pernikahan yang aku ucapkan 20 tahun lalu.
Untuk selamanya.
Nasihat dari Ibu Mas Sarif
Ibu Mas Sarif, seorang perempuan tua berusia 75 tahun yang masih tegar, datang ke rumah suatu sore. Ia sudah mendengar kabar tentang skandal menantunya. Ia sudah tahu bahwa Sinox telah menyakiti putranya.
Tapi ia tidak datang untuk marah.
Ia datang untuk menasihati.
"Sar, Ibu dengar cerita tentang Sinox," kata ibunya.
Mas Sarif menunduk. "Maaf, Bu. Aku gagal menjaga rumah tangga."
"Gagal? Tidak, Nak. Gagal itu jika kamu menyerah. Kamu belum menyerah. Kamu masih berjuang. Itu bukan kegagalan."
"Tapi Ibu, Sinox..."
"Sinox salah. Ibu tahu. Tapi apakah kamu tidak pernah salah dalam pernikahan ini?"
Mas Sarif terdiam.
"Tidak ada manusia yang sempurna, Sar. Pernikahan adalah tentang dua orang yang tidak sempurna, saling melengkapi. Jika salah satu jatuh, yang lain membantu bangkit. Bukan menghakimi. Bukan meninggalkan."
"Apa Ibu memaafkan Sinox?"
"Ibu tidak punya hak memaafkan atas nama kamu. Itu hak kamu. Tapi Ibu sudah memaafkan Sinox. Karena Ibu tahu dia menyesal. Karena Ibu tahu dia masih sayang pada kamu. Dan karena Ibu tidak ingin cucu-cucu Ibu tumbuh tanpa ayah atau ibu yang utuh."
Mas Sarif menangis.
Ia memeluk ibunya, perempuan yang telah melahirkannya, membesarkannya, dan masih mengajarinya arti cinta di usia senjanya.
"Terima kasih, Bu. Aku akan berusaha."
"Jangan berusaha, Nak. Lakukan."
Mas Sarif mengangguk.
Malam itu, ia tidur dengan hati yang sedikit lebih ringan.
Doa ibunya adalah kekuatan.
Dan kekuatan itu, ia butuhkan sekarang, lebih dari sebelumnya.
Setelah Luka
Mas Sarif masih terluka.
Tapi ia tidak lagi tenggelam dalam lukanya.
Ia belajar bahwa luka bukanlah akhir dari segalanya. Luka adalah awal dari proses penyembuhan. Luka adalah pengingat bahwa ia masih hidup, bahwa ia masih bisa merasakan, bahwa ia masih punya hati yang berfungsi dengan baik.
Dan yang terpenting, luka adalah kesempatan untuk menjadi lebih kuat.
Sinox masih bersamanya. Anak-anaknya masih menyayanginya. Rumahnya masih berdiri, meskipun retak di sana-sini.
Dan ia, Mas Sarif, petani sederhana dari Tegorejo, masih memiliki alasan untuk tersenyum.
Suatu pagi, saat matahari baru saja terbit, Mas Sarif berdiri di depan cermin. Ia menatap bayangannya sendiri.
Wajah ini sudah tua, pikirnya. Keriput mulai terlihat. Rambut mulai memutih. Tapi mataku, mataku masih sama. Masih bisa melihat masa depan. Masih bisa berharap.
Aku tidak akan menyerah.
Untuk Sinox. Untuk anak-anak. Untuk keluarga. Untuk diriku sendiri.
Ia mengambil handuk, pergi ke sawah, dan memulai hari seperti biasa.
Bukan dengan beban. Tapi dengan harapan.
Karena luka, meskipun sakit, tidak akan pernah bisa mengalahkan seseorang yang memilih untuk bertahan.
Dan Mas Sarif, seperti biasa, memilih untuk bertahan.
BAB XXI
Pertemuan yang Nyaris Terjadi
Ada satu pertanyaan yang selama berbulan-bulan mengganjal di hati Akang dan Sinox, sebuah pertanyaan yang tidak pernah berani mereka ucapkan dengan lantang, tapi selalu hadir di setiap hening malam, di setiap sunyi yang menyiksa: Bagaimana rasanya bertemu lagi setelah tiga puluh tahun?
Bukan melalui layar ponsel. Bukan melalui suara yang terputus-putus karena sinyal. Tapi secara langsung. Fisik. Tatap muka. Menatap mata satu sama lain, merasakan hangat tangan, mendengar detak jantung yang mungkin berdegup tidak karuan.
Mereka sudah dewasa. Sudah tua. Sudah paham bahwa pertemuan itu berbahaya, bisa membuka luka lama, bisa menghancurkan semua kemajuan yang sudah mereka buat, bisa mengobrak-abrik rumah tangga yang sedang berusaha mereka perbaiki.
Tapi godaan itu selalu ada.
Dan pada suatu titik, di saat semua orang sedang lengah, di saat kesempatan terbuka lebar, godaan itu hampir menjadi kenyataan.
Pertemuan yang nyaris terjadi.
Hampir. Tapi tidak jadi.
Karena di detik terakhir, Akang dan Sinox ingat pada janji mereka. Ingat pada air mata Setya Ningsih. Ingat pada kekecewaan Mas Sarif. Ingat pada anak-anak yang masih berusaha memaafkan.
Mereka memilih untuk tidak bertemu.
Memilih untuk menjaga jarak.
Memilih untuk merelakan.
Tapi keputusan itu, meskipun benar, tidak datang dengan mudah. Ia datang dengan air mata, dengan perdebatan batin, dengan doa yang panjang di tengah malam.
Inilah kisah tentang pertemuan yang nyaris terjadi.
Peluang yang Datang Tak Terduga
Pertemuan itu nyaris terjadi bukan karena rencana. Tidak ada niat jahat, tidak ada skenario rahasia, tidak ada konspirasi gelap.
Ia terjadi karena sebuah undangan.
Lina, anak pertama Sinox, akan merayakan wisuda sarjananya di kota besar, sebut saja Kota Semarang. Sebagai orang tua, Sinox dan Mas Sarif tentu harus hadir. Begitu juga keluarga dari pihak kampus dan teman-teman Lina.
Di waktu yang sama, Anto, anak pertama Akang, mengundang orang tuanya ke acara syukuran kelahiran anak keduanya, seorang bayi laki-laki yang lucu. Acara itu juga digelar di sebuah kota besar, sebut saja Kota Surabaya.
Semarang dan Surabaya berjarak sekitar 300 kilometer. Perjalanan darat memakan waktu lima hingga enam jam. Dengan pesawat, hanya butuh satu jam.
Bagi dua orang yang sudah berbulan-bulan tidak berkomunikasi intens, hanya sekadar kabar singkat di WhatsApp itu pun jarang, peluang ini terasa seperti takdir yang mencoba mempertemukan mereka kembali.
Atau mungkin, seperti bisikan setan yang membisikkan kesempatan dalam kesempitan.
Akang Riyadi (pesan singkat): Nox, aku dengar Lina wisuda di Semarang bulan depan. Anto juga mengadakan syukuran di Surabaya. Tanggalnya berdekatan.
Sinox Yanti (pesan singkat): Aku tahu. Aku juga dengar dari Lina. Kebetulan sekali, ya?
Akang Riyadi: Kebetulan atau tidak, aku tidak tahu. Tapi yang aku tahu, ini pertama kalinya kita berada di pulau yang sama dalam tiga puluh tahun.
Sinox Yanti: Aku sadar, Akang. Aku juga bingung. Antara senang dan takut.
Akang Riyadi: Takut apa?
Sinox Yanti: Takut kalau kita bertemu, semua yang sudah kita bangun, perbaikan rumah tangga, janji pada pasangan, kesembuhan anak-anak, akan hancur lagi. Seperti istana kartu yang roboh tertiup angin.
Akang tidak membalas.
Tapi di dalam hatinya, ia merasakan hal yang sama.
Perdebatan Batin Akang
Akang tidak bisa tidur selama beberapa malam setelah mengetahui peluang itu.
Ia berbaring di samping Setya, tapi pikirannya melayang ke Semarang, ke Sinox, ke pertemuan yang nyaris terjadi.
Jika aku pergi ke Semarang, aku bisa mampir. Tidak perlu lama. Cuma satu jam. Cuma untuk melihat dia secara langsung. Bukan untuk memeluk, bukan untuk berciuman, bukan untuk apa pun. Hanya untuk menatap matanya, mengucapkan terima kasih, dan selamat tinggal.
Apakah itu dosa? Apakah itu mengkhianati Setya? Apakah itu membatalkan semua janji yang sudah aku buat?
Ia tidak tahu.
Suatu malam, ia bertanya pada Ustadz Hanafi, setelah salat Isya di masjid desa.
"Ustadz, bagaimana jika kita ingin bertemu dengan seseorang, bukan untuk berbuat zina, hanya sekadar bertemu, berbicara, melepaskan rindu, apakah itu dosa?"
Ustadz Hanafi menatap Akang dengan tajam. "Untuk siapa pertemuan itu, Pak Akang? Untuk mantan kekasih? Untuk perempuan yang pernah Bapak cintai sebelum menikah?"
Akang menunduk. "Maaf, Ustadz. Saya hanya bertanya secara umum."
"Secara umum," Ustadz Hanafi menghela napas, "jika pertemuan itu akan membuka pintu syahwat, jika akan menimbulkan fitnah, jika akan melukai hati pasangan halal Bapak, maka ia haram. Hukum asal bertemu lawan jenis yang bukan mahram adalah boleh jika ada keperluan yang syar'i. Tapi jika tidak ada keperluan, atau jika keperluan itu hanya sekadar melepaskan rindu yang tidak halal, maka ia mendekati zina."
Akang diam.
"Pak Akang, Bapak sudah berkeluarga. Bapak punya istri yang sah. Bapak punya anak-anak yang membutuhkan Bapak sebagai teladan. Jangan rusak semua itu hanya karena pertemuan sesaat yang tidak jelas manfaatnya."
"Baik, Ustadz. Terima kasih."
Akang pulang dengan hati yang masih berat.
Ia tahu Ustadz Hanafi benar.
Tapi godaan itu, godaan itu sangat kuat.
Perdebatan Batin Sinox
Di Tegorejo, Sinox juga bergulat dengan perdebatan batin yang sama.
Ia tidak bisa fokus mengajar. Murid-muridnya mulai bertanya-tanya mengapa Bu Sinox sering melamun. Kepala sekolah memanggilnya lagi, bukan untuk memarahi, tapi untuk menanyakan kabar.
"Bu Sinox, apa Ibu baik-baik saja?"
"Baik, Pak. Hanya kurang tidur."
"Jangan terlalu dipikirkan masalahnya. Percayakan pada Allah. Beliau Maha Tahu yang terbaik untuk kita."
"Iya, Pak. Terima kasih."
Tapi Sinox tidak bisa berhenti memikirkan kemungkinan itu.
Kita sudah tiga puluh tahun tidak bertemu secara fisik. Hanya video call, hanya suara. Aku ingin melihat dia, Akang. Bukan untuk memulai lagi. Hanya untuk sekali ini. Untuk mengucapkan selamat tinggal dengan mata, bukan dengan kata-kata.
Apakah itu terlalu egois? Apakah itu terlalu berbahaya?
Ia bertanya pada dirinya sendiri.
Lalu ia menjawab sendiri.
Kita sudah berjanji. Kita sudah berusaha. Jangan rusak semuanya hanya karena rasa penasaran. Lihatlah Mas Sarif. Lihatlah Setya Ningsih. Mereka sudah mulai percaya lagi. Jangan hancurkan kepercayaan itu.
Namun...
Namun, bagaimana jika ini adalah pertemuan terakhir? Bagaimana jika salah satu dari kita meninggal sebelum sempat bertemu lagi? Apakah aku akan menyesal selamanya?
Sinox tidak tahu.
Yang ia tahu, ia berada di persimpangan yang sulit.
Antara kewajiban dan perasaan. Antara akal dan hati. Antara takdir dan pilihan.
Setya yang Mulai Curiga
Setya Ningsih bukan perempuan bodoh.
Ia melihat perubahan pada suaminya akhir-akhir ini. Akang lebih sering termenung. Lebih sering memegang ponsel, meskipun hanya sebentar, lalu meletakkannya lagi. Lebih sering melamun saat makan, saat bekerja, saat berbaring di sampingnya.
Suatu malam, Setya bertanya langsung.
"Mas, ada apa? Akhir-akhir ini Mas melamun terus."
"Tidak ada, Ning. Hanya banyak pikiran."
"Pikiran tentang apa? Tentang dia?"
Akang terdiam. Ia tidak ingin berbohong, tapi ia juga tidak ingin menyakiti Setya.
"Ning, Anto mengadakan syukuran kelahiran anak keduanya di Surabaya. Tanggal 15 bulan depan."
"Saya tahu. Saya juga akan ikut. Sudah beli tiket."
"Sementara itu, Lina, anaknya Sinox, wisuda di Semarang. Tanggal 14."
Setya mengerutkan kening. "Lalu?"
"Jarak Semarang dan Surabaya tidak terlalu jauh, Ning. Aku bisa mampir ke Semarang sebelum ke Surabaya. Atau sebaliknya."
Setya menatap suaminya. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Mas mau bertemu dia?"
"Ning, aku tidak bilang mau. Aku hanya bilang bisa."
"Tapi Mas memikirkannya. Mas mempertimbangkannya. Itu sudah cukup untuk membuatku sakit lagi."
"Ning, aku tidak akan pergi jika kamu tidak mengizinkan..."
"Mas, ini bukan soal izin. Ini soal hati Mas. Jika hati Mas masih ingin bertemu dia, meskipun aku melarang, Mas akan tetap sakit hati. Dan aku, aku akan tetap kecewa."
Setya berdiri. Ia berjalan ke kamar, mengunci pintu dari dalam.
Akang hanya bisa mengetuk pelan.
"Ning, aku minta maaf."
Tidak ada jawaban.
"Ning, aku tidak akan pergi. Aku janji."
Masih tidak ada jawaban.
Hanya suara tangis tertahan dari balik pintu.
Akang menunduk.
Ia menyesal.
Bukan karena ia ingin bertemu Sinox. Tapi karena ia sudah membuat Setya menangis lagi.
Sudah, Akang, pikirnya. Jangan sakiti dia lagi. Jangan egois. Jangan bodoh.
Mas Sarif yang Juga Tahu
Sementara itu, Mas Sarif juga mendengar tentang kemungkinan itu.
Lina cerita tanpa sengaja. "Pa, teman-teman wisuda aku bilang ada juga yang dari Kapuas. Katanya orang tuanya akan datang."
Mas Sarif tidak bertanya lebih lanjut. Tapi di dalam hatinya, ia tahu.
Ia tahu bahwa Akang, suami dari Setya Ningsih, laki-laki yang menjadi biang kerik keretakan rumah tangganya, akan berada di Semarang pada waktu yang hampir bersamaan dengan mereka.
"Sin," panggil Mas Sarif malam itu.
"Iya, Mas."
"Aku dengar orang Kapuas juga akan datang ke Semarang."
Sinox terkejut. "Dari mana Mas tahu?"
"Lina cerita. Tidak sengaja."
Sinox terdiam. Ia tidak bisa berbohong. "Iya, Mas. Akang, suami Setya, mungkin juga datang. Anaknya ada acara di Surabaya. Tanggalnya berdekatan."
"Apakah kamu akan menemuinya?"
"Mas, aku tidak berencana..."
"Tapi kamu memikirkannya. Aku bisa lihat dari matamu. Dari caramu melamun akhir-akhir ini."
Sinox menunduk. "Aku tidak akan bohong, Mas. Aku memikirkannya. Tapi aku tidak akan pergi. Aku berjanji."
"Janji?"
"Janji. Demi Allah, Mas. Aku tidak akan bertemu dia. Aku tidak akan menghancurkan apa yang sudah kita perbaiki."
Mas Sarif menghela napas. "Aku percaya padamu, Sin. Tapi ingat, kepercayaan itu mudah hancur dan sulit dibangun kembali. Jangan buat aku kecewa lagi."
"Aku tidak akan, Mas. Aku janji."
Malam itu, Sinox tidak bisa tidur.
Ia memandang ponselnya.
Ingin menelepon Akang. Ingin mengatakan bahwa mereka tidak boleh bertemu.
Tapi ia tidak punya keberanian.
Ia hanya berdoa.
Ya Allah, beri aku kekuatan. Jangan biarkan aku jatuh dalam godaan yang sama. Aku sudah lemah. Aku sudah rapuh. Aku butuh pertolongan-Mu. Amin.
Pesan Penghabisan
Seminggu sebelum keberangkatan, Akang dan Sinox akhirnya berkomunikasi secara intens lagi, untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
Bukan untuk merencanakan pertemuan. Tapi untuk membatalkannya.
Akang Riyadi: Nox, aku tidak jadi ke Semarang. Aku hanya akan ke Surabaya, langsung. Tidak mampir ke mana pun.
Sinox Yanti: Aku juga tidak jadi ke Semarang. Maksudku, aku tetap ke Semarang untuk wisuda Lina. Tapi aku tidak akan mencari kamu. Aku tidak akan menyusupkan pertemuan.
Akang Riyadi: Kita sepakat, ya. Tidak bertemu.
Sinox Yanti: Sepakat. Tidak bertemu.
Akang Riyadi: Ini yang terbaik.
Sinox Yanti: Aku tahu. Tapi sakit.
Akang Riyadi: Sakit. Tapi lebih sakit jika kita bertemu, lalu merusak semua yang sudah kita bangun.
Sinox Yanti: Kamu benar, Akang. Lebih baik sakit sekarang daripada menyesal selamanya.
Akang Riyadi: Kita sudah tua, Nox. Tidak punya waktu untuk kesalahan yang sama.
Sinox Yanti: Kita sudah belajar dari kesalahan. Semoga.
Akang Riyadi: Aku akan mendoakanmu di Surabaya. Bahagia bersama Lina. Bangga dengan anak-anakmu.
Sinox Yanti: Aku juga akan mendoakanmu. Bahagia bersama Setya, Anto, Iwan, Raha. Bangga dengan anak-anakmu.
Akang Riyadi: Sampai jumpa di surga, Nox.
Sinox Yanti: Sampai jumpa di surga, Akang.
Akang Riyadi: Tanpa rasa bersalah.
Sinox Yanti: Tanpa air mata.
Akang Riyadi: Hanya cinta yang suci.
Sinox Yanti: Cinta yang halal.
Percakapan itu berakhir.
Pertemuan yang nyaris terjadi itu batal.
Bukan karena tidak ada kesempatan.
Tapi karena mereka memilih untuk tidak mengambil kesempatan itu.
Mereka memilih keselamatan rumah tangga masing-masing.
Mereka memilih ketenangan istri dan suami mereka.
Mereka memilih masa depan anak-anak mereka.
Mereka memilih untuk tidak egois.
Meskipun sakit. Meskipun perih. Meskipun rasanya seperti kehilangan kesempatan terakhir.
Saat Hari H
Hari wisuda Lina tiba.
Sinox dan Mas Sarif duduk di barisan orang tua, menyaksikan putri sulung mereka berjalan di atas panggung, menerima ijazah, tersenyum ke arah kamera. Sinox menangis, bukan karena sedih, tapi karena bangga.
Di barisan yang sama, beberapa kursi dari mereka, tidak ada Akang. Tidak ada Setya. Mereka tidak datang. Mereka memilih untuk langsung ke Surabaya, tanpa mampir.
Sinox tidak mencari. Ia hanya fokus pada Lina, pada Mas Sarif, pada kebahagiaan yang sederhana namun nyata.
Mas Sarif memegang tangan Sinox.
"Kamu kuat, Sin."
"Aku tidak kuat, Mas. Aku hanya memilih untuk tidak lemah."
"Itu sudah cukup."
Mereka berdua tersenyum.
Sementara itu, di Surabaya, Akang dan Setya duduk di acara syukuran kelahiran cucu mereka. Akang menggendong bayi laki-laki yang mungil itu, mencium keningnya, berdoa semoga anak ini tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik dari kakeknya.
Setya duduk di sampingnya. Tidak lagi menjauh. Tidak lagi membelakangi.
Ia tersenyum.
"Mas, cucu kita lucu ya."
"Lucu, Ning. Mirip Anto."
"Mirip Bapaknya. Mudah-mudahan baik seperti Bapaknya."
Akang tersenyum getir. "Semoga lebih baik dari Bapaknya."
Setya memegang tangan suaminya. "Mas sudah cukup baik. Mas hanya pernah tersesat. Tapi Mas sudah pulang. Itu yang penting."
Akang menangis.
Ia memeluk Setya, di depan keluarga, di depan anak-anak, di depan semua orang.
Tidak malu. Tidak gengsi.
Karena ia sadar, ia hampir kehilangan perempuan ini karena kebodohannya sendiri.
Dan ia tidak akan mengulanginya.
Setelah Pertemuan yang Nyaris Terjadi
Pertemuan yang nyaris terjadi antara Akang dan Sinox tidak pernah terealisasi.
Mereka tetap di kota masing-masing. Sinox di Semarang, bersama Lina dan Mas Sarif. Akang di Surabaya, bersama Setya, Anto, Iwan, dan Raha.
Jarak fisik mereka, puluhan kilometer.
Tidak bertemu. Tidak bersentuhan. Tidak saling menatap.
Tapi di dalam hati, mereka bertemu.
Dalam doa. Dalam harapan. Dalam keyakinan bahwa apa yang mereka lakukan adalah benar.
Meskipun sakit. Meskipun berat. Meskipun godaan itu selalu ada, menanti saat mereka lengah.
Ya Allah, doa Sinox malam itu, setelah wisuda Lina usai, setelah Mas Sarif tertidur di sampingnya, terima kasih Engkau beri aku kekuatan untuk tidak jatuh. Terima kasih Engkau lindungi aku dari godaan yang hampir menghancurkanku. Terima kasih Engkau masih memberiku kesempatan untuk menjadi istri yang baik, ibu yang baik, manusia yang baik.
Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Aku berjanji.
Di Surabaya, Akang juga berdoa.
Ya Allah, ampuni aku karena hampir tergoda. Ampuni aku karena masih memikirkan dia meskipun aku sudah berjanji tidak akan. Ampuni aku karena aku manusia, lemah, rapuh, mudah jatuh. Tapi jangan biarkan aku jatuh lagi. Pegang tanganku, Ya Allah. Jangan lepaskan. Aku tidak kuat tanpa-Mu.
Pertemuan yang nyaris terjadi itu, bukan akhir dari segalanya.
Tapi awal dari kedewasaan.
Awal dari kesadaran bahwa cinta tidak harus selalu memiliki.
Awal dari pembelajaran bahwa kadang, cara terbaik untuk mencintai adalah dengan melepaskan.
Akang dan Sinox tidak akan pernah bertemu.
Mungkin tidak selamanya.
Tapi untuk sekarang, untuk sisa hidup mereka di dunia, mereka memilih untuk tidak bertemu.
Karena di surga nanti, mereka akan bertemu.
Tanpa batasan. Tanpa rasa bersalah. Tanpa dosa.
Hanya cinta yang suci. Cinta yang halal. Cinta yang abadi.
BAB XXII
Doa di Tengah Malam
Ada kekuatan dalam doa yang tidak bisa dijelaskan oleh logika. Doa tidak selalu mengubah keadaan, tetapi ia selalu mengubah hati yang memanjatkannya. Doa tidak selalu menjawab pertanyaan, tetapi ia selalu memberikan ketenangan. Doa tidak selalu mengabulkan apa yang kita minta, tetapi ia selalu memberikan apa yang kita butuhkan.
Sinox Yanti dan Akang Riyadi, di usia yang tidak lagi muda, di tengah badai yang hampir menghancurkan rumah tangga mereka, kembali kepada doa. Bukan doa yang diucapkan dengan terburu-buru di sela-sela kesibukan. Bukan doa yang hafal di lidah tapi tidak sampai ke hati.
Tapi doa di tengah malam. Doa ketika semua orang terlelap. Doa ketika hanya diri sendiri dan Tuhan yang terjaga. Doa yang keluar dari lubuk hati yang paling dalam, yang tidak tersusun rapi dalam bahasa Arab yang fasih, tetapi keluar sebagai isak tangis, sebagai bisikan lirih, sebagai sujud yang panjang tanpa kata-kata.
Malam adalah waktu paling jujur untuk berdoa. Karena di malam hari, topeng-topeng kepura-puraan jatuh. Kita tidak lagi berpura-pura kuat. Tidak lagi berpura-pura baik-baik saja. Tidak lagi berpura-pura bahwa kita bisa mengatasi semuanya sendirian.
Di malam hari, kita mengakui bahwa kita lemah. Bahwa kita butuh pertolongan. Bahwa kita tidak bisa hidup tanpanya.
Dan di situlah, di kerendahan hati itu, doa didengar.
Sinox di Tengah Malam
Tegorejo, pukul 01.30. Rumah itu sunyi. Mas Sarif sudah tidur nyenyak di sampingnya, dengan posisi menghadap ke arahnya, tangannya menggenggam tangan Sinox secara tidak sadar. Eko juga sudah tidur, mungkin dengan mimpi yang lebih indah dari kehidupan orang tuanya.
Tapi Sinox tidak bisa tidur.
Matanya terbuka lebar menatap langit-langit kamar. Pikirannya melayang ke mana-mana, ke Lina yang baru saja wisuda, ke Rahman yang sedang mempersiapkan ujian akhir di pesantren, ke Eko yang perlahan mulai bicara lagi padanya, ke Mas Sarif yang masih setia di sampingnya meskipun hatinya pernah ia lukai.
Dan juga, meskipun ia berusaha tidak memikirkannya, pikirannya melayang ke Akang. Ke Kapuas. Ke laki-laki yang hampir membuatnya kehilangan segalanya.
Sudah, Sinox, tegurnya dalam hati. Jangan pikirkan dia lagi. Fokus pada yang di depan mata.
Tapi pikirannya tidak menurut.
Ia bangkit dari tempat tidur perlahan, berusaha tidak membangunkan Mas Sarif. Ia mengambil sajadah kecil yang tergulung di sudut kamar, lalu keluar ke ruang tamu. Lampu tidak ia nyalakan. Hanya cahaya bulan yang masuk melalui jendela, cukup untuk melihat sajadah yang ia hampar di lantai.
Sinox mengambil air wudhu di kamar mandi, air dingin yang membasuh wajah, tangan, dan kakinya, membasuh juga sedikit banyak kegelisahan di hatinya.
Kemudian ia berdiri di atas sajadah.
Menghadap kiblat.
Mengangkat tangan.
"Allahu Akbar."
Doa di tengah malam dimulai.
Sujud yang Panjang
Sinox tidak ingat kapan terakhir kali ia salat malam dengan khusyuk seperti ini.
Biasanya, ia salat karena kewajiban. Cepat. Terburu-buru. Pikirannya kemana-mana, masak, anak-anak, sekolah, sawah, dan akhir-akhir ini, Akang.
Tapi malam ini, ia sengaja melambatkan gerakannya.
Setiap bacaan ia panjatkan dengan penghayatan. Setiap rukuk ia rasakan di setiap sendi tulangnya. Setiap sujud ia perpanjang, membiarkan dahi menempel di sajadah lebih lama dari biasanya.
Dan di sujud itu, di saat posisi paling rendah namun paling dekat dengan Tuhannya, Sinox berdoa.
Bukan dengan bahasa Arab yang indah.
Tapi dengan bahasa hatinya yang paling jujur.
"Ya Allah, aku datang kepada-Mu di tengah malam ini karena aku tidak punya tempat lain lagi untuk bersandar. Manusia bisa mengecewakan. Suami bisa tidak mengerti. Anak-anak bisa menjauh. Tapi Engkau, Engkau tidak pernah mengecewakan. Engkau selalu di sini, mendengar, melihat, mengetahui."
"Aku bersalah, Ya Allah. Aku telah menyakiti suamiku. Aku telah menyakiti anak-anakku. Aku telah menyakiti keluargaku sendiri. Aku juga telah menyakiti Setya Ningsih dan keluarganya, manusia yang bahkan tidak pernah aku temui secara langsung. Aku minta maaf, Ya Allah. Aku tidak pantas meminta ampun. Tapi aku mohon, ampunilah aku."
"Beri aku kekuatan untuk menjadi istri yang lebih baik. Ibu yang lebih baik. Manusia yang lebih baik. Cabutlah rasa rindu pada masa lalu yang hanya menyiksaku. Jika rasa rindu itu tidak bisa Engkau cabut, jadikanlah ia sebagai rindu yang tidak merusak. Rindu yang membawaku lebih dekat pada-Mu. Bukan pada dosa."
"Lindungi Mas Sarif, Ya Allah. Dia suami yang baik. Dia tidak pantas diperlakukan seperti ini. Beri dia kebahagiaan yang tidak pernah aku berikan. Beri dia ketenangan yang selama ini aku rampas."
"Lindungi anak-anakku. Jangan biarkan dosaku menimpa mereka. Jangan biarkan mereka malu karena aku. Jadikan mereka anak-anak yang saleh dan salehah, yang berbakti pada orang tua meskipun orang tuanya pernah salah."
"Dan jika Engkau berkenan, lindungi juga Akang. Lindungi Setya. Lindungi anak-anak mereka. Jangan biarkan mereka binasa karena dosa yang kami perbuat bersama. Beri mereka kebahagiaan, kebahagiaan yang tidak bisa aku berikan karena aku bukan bagian dari hidup mereka."
"Aku pasrah, Ya Allah. Aku tidak tahu mana yang terbaik untukku. Aku hanya tahu aku ingin memperbaiki semuanya. Tolong tunjukkan jalan. Aku buta, Ya Allah. Bimbing aku."
Sinox mengangkat kepalanya dari sujud.
Pipinya basah.
Bukan air wudhu.
Tapi air mata.
Air mata yang jatuh tanpa bisa ia bendung.
Air mata penyesalan. Air mata harap. Air mata doa.
Mas Sarif Terbangun
Mas Sarif terbangun karena merasakan dingin di samping tempat tidur. Tangannya meraba-raba, mencari hangat tubuh istrinya, tapi tidak menemukan apa-apa.
Ia bangkit. Melihat Sinox tidak ada di kamar.
Hatinya berdegup kencang.
Apakah dia menghubungi laki-laki itu lagi? pikirnya cemas. Apakah dia menelpon di tengah malam?
Mas Sarif keluar kamar. Ia melihat cahaya redup dari ruang tamu. Bukan lampu. Tapi cahaya bulan yang masuk melalui jendela.
Dan di ruang tamu itu, ia melihat Sinox.
Berwudhu. Beribadah. Bersujud di atas sajadah dengan khusyuk.
Mas Sarif tidak jadi marah. Hatinya yang tadinya cemas berubah menjadi haru. Ia berdiri di balik pintu, memperhatikan istrinya berdoa tanpa diketahui. Ia melihat punggung Sinox yang naik turun dalam sujud. Ia mendengar isak tangis yang tertahan, meskipun tidak jelas kata-katanya, Mas Sarif tahu istrinya sedang berdoa dengan sungguh-sungguh.
Mungkin dia benar-benar berubah, pikir Mas Sarif. Mungkin ini bukan pura-pura.
Mungkin, mungkin aku harus percaya lagi.
Ia tidak mengganggu. Ia kembali ke kamar, berbaring di tempat tidur, dan berpura-pura tidur saat Sinox masuk kembali ke kamar setengah jam kemudian.
Sinox merebahkan diri di sampingnya.
Mas Sarif meraih tangan istrinya, bukan karena kebiasaan, tapi karena ia ingin Sinox tahu bahwa ia ada di sini, bahwa ia tidak pergi, bahwa ia masih bertahan.
"Mas, kamu bangun?" bisik Sinox.
"Tidak. Aku tidur."
Sinox tersenyum. Ia tahu suaminya berbohong. Tapi ia tidak membongkar.
Ia hanya membiarkan tangannya digenggam oleh suaminya.
Dan di dalam genggaman itu, ada kehangatan.
Kehangatan yang tidak ia rasakan dari Akang.
Kehangatan yang nyata.
Kehangatan yang hadir sekarang, bukan dari masa lalu.
Terima kasih, Mas, bisik Sinox dalam hati. Terima kasih karena masih di sini. Terima kasih karena tidak menyerah padaku. Aku akan membuktikan bahwa aku layak diberi kesempatan kedua.
Di Kapuas, Doa yang Sama
Pada saat yang hampir bersamaan, di rumah panggung di Kapuas, Akang juga terbangun di tengah malam.
Ia tidak bisa tidur. Pikirannya kacau. Pekerjaan di kantor desa menumpuk. Permintaan maaf pada Setya masih terasa belum cukup. Raha masih sesekali menarik diri, meskipun sudah mulai membaik. Iwan masih memiliki luka yang mungkin butuh waktu lama untuk sembuh.
Dan Sinox, bayangan Sinox, masih sesekali hadir di mimpinya.
Akang bangkit. Ia keluar ke beranda. Malam masih gelap, angin gambut bertiup sepoi-sepoi, membawa bau tanah kering dan dedaunan.
Ia mengambil wudhu di kamar mandi luar, air sumur yang dingin menusuk kulit, tapi terasa menyegarkan jiwa.
Lalu ia mengambil sajadah yang sudah usang, menghadap kiblat, dan mulai salat.
Bukan salat biasa.
Tapi salat hajat. Salat malam. Salat yang ia lakukan bukan karena kewajiban, tapi karena kebutuhan, kebutuhan untuk dekat dengan Tuhannya, kebutuhan untuk memohon petunjuk, kebutuhan untuk memohon ampunan.
Satu rakaat. Dua rakaat. Tiga rakaat. Empat rakaat.
Akang tidak menghitung. Ia hanya terus salat sampai kakinya terasa lemas, sampai keningnya terasa perih karena terlalu lama bersujud, sampai air matanya habis dan yang tersisa hanya dada yang terasa lega.
Di sujud terakhirnya, ia berdoa:
"Ya Allah, aku bukan orang baik. Aku tahu itu. Aku telah menyakiti istriku, anak-anakku, keluarga yang seharusnya aku lindungi. Aku telah mengejar bayangan masa lalu sampai lupa pada masa kini yang ada di depanku."
"Ampuni aku, Ya Allah. Ampuni Setya yang telah aku sakiti. Ampuni Raha yang masih trauma karena kesalahanku. Ampuni Iwan yang mungkin kecewa pada ayahnya. Ampuni Anto yang tetap bertahan meskipun sulit."
"Dan ampununi Sinox, Ya Allah. Dia bukan perempuan jahat. Dia hanya tersesat, sepertiku. Dia hanya butuh teman, sepertiku. Kami salah, Ya Allah. Kami sangat salah. Tapi kami sudah berusaha memperbaiki. Tolong bantu kami. Tolong tunjukkan jalan yang benar."
"Berikan aku kekuatan untuk menjadi suami yang lebih baik. Ayah yang lebih baik. Pemimpin yang lebih baik untuk keluarga ini. Aku tidak ingin kehilangan mereka. Aku tidak ingin kehilangan Setya. Dia adalah anugerah terbesar dalam hidupku, meskipun aku baru menyadarinya setelah hampir kehilangan dia."
"Jaga Sinox di sana. Jaga Mas Sarif. Jaga anak-anaknya. Beri mereka kebahagiaan yang tidak bisa aku berikan. Dan jika suatu hari nanti kami bertemu di surga, pertemukanlah kami dalam keadaan yang suci, tanpa dosa, tanpa penyesalan."
"Amin, Ya Rabbal Alamin."
Akang mengangkat kepalanya dari sujud.
Wajahnya basah.
Bukan oleh air wudhu.
Tapi oleh air mata yang ia tumpahkan untuk semua yang pernah ia sakiti.
Setya yang Mengintip
Setya terbangun karena mendengar suara langkah kaki di luar. Ia melihat Akang tidak ada di sampingnya. Hatinya sedikit cemas, tapi tidak seperti dulu.
Ia bangkit, berjalan ke pintu kamar yang sedikit terbuka, dan mengintip ke luar.
Akang sedang salat di beranda. Bukan salat biasa. Setya bisa melihat dari cara Akang rukuk dan sujud yang lebih lama dari biasanya. Ia juga bisa mendengar isak tangis yang tertahan, meskipun tidak jelas kata-katanya.
Setya tidak jadi marah. Tidak cemburu. Ia hanya sedih, dan haru.
Suamiku berdoa, pikirnya. Dia berdoa dengan sungguh-sungguh.
Mungkin dia benar-benar menyesal.
Mungkin dia benar-benar ingin berubah.
Mungkin, mungkin aku harus lebih sabar.
Setya kembali ke tempat tidur. Ia tidak mengganggu. Ia membiarkan suaminya menyelesaikan ibadahnya.
Ketika Akang masuk ke kamar, Setya berpura-pura tidur.
Akang merebahkan diri di sampingnya.
Untuk pertama kalinya, Setya tidak membelakangi suaminya.
Ia membalikkan badan, menghadap Akang, dan meraih tangan suaminya.
Akang terkejut. "Ning, kamu bangun?"
"Tidak. Aku tidur."
Akang tersenyum. Ia tahu istrinya berbohong. Tapi ia tidak membongkar.
Ia hanya membiarkan tangannya digenggam oleh Setya.
Dan di dalam genggaman itu, ada kehangatan.
Kehangatan yang dulu hilang, sekarang perlahan kembali.
Kehangatan yang tidak ia temukan di mana pun.
Kehangatan yang hanya ada di rumah.
Bersama istri yang setia menunggunya pulang, meskipun ia sempat tersesat begitu lama.
Terima kasih, Ning, bisik Akang dalam hati. Terima kasih karena masih memberiku kesempatan. Terima kasih karena tidak menyerah padaku. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini lagi.
Doa yang Mengubah
Doa tidak mengubah keadaan secara instan.
Keesokan harinya, Sinox tetap menghadapi tantangan yang sama. Mas Sarif masih memiliki luka yang belum sepenuhnya sembuh. Eko masih sesekali diam-diam menyendiri. Lina masih menjaga jarak secara emosional. Rahman masih sibuk dengan pesantrennya, mendoakan ibunya dari kejauhan.
Tapi ada yang berubah di dalam hati Sinox.
Ia merasa lebih tenang. Lebih damai. Tidak lagi gelisah seperti dulu.
Ia tidak lagi memeriksa ponsel setiap lima menit. Tidak lagi berharap ada pesan dari Akang. Tidak lagi membandingkan Mas Sarif dengan bayangan laki-laki yang tidak pernah benar-benar ia miliki.
Sinox belajar bahwa kebahagiaan tidak datang dari luar, dari pujian, dari perhatian, dari cinta orang lain. Tapi dari dalam, dari kedamaian hati, dari rasa syukur, dari penerimaan bahwa apa yang ia miliki saat ini adalah cukup.
Cukup, pikir Sinox. Mas Sarif cukup. Anak-anak cukup. Rumah ini cukup.
Aku tidak perlu lebih.
Aku hanya perlu bersyukur.
Sementara itu, di Kapuas, Akang juga merasakan perubahan.
Ia tidak lagi melamun tentang masa lalu. Tidak lagi membayangkan bagaimana rasanya jika ia menikah dengan Sinox. Tidak lagi menyesali keputusan yang ia buat tiga puluh tahun lalu.
Ia belajar bahwa penyesalan tidak mengubah apa pun. Yang bisa ia lakukan hanyalah memperbaiki masa kini, untuk masa depan yang lebih baik.
Akang mulai lebih sering tersenyum pada Setya. Lebih sering membantu pekerjaan rumah. Lebih sering mengajak Raha bermain. Lebih sering bicara dengan Iwan tentang persiapan pernikahan, bukan sebagai ayah yang otoriter, tapi sebagai teman.
Setya melihat perubahan itu.
Diam-diam. Tanpa komentar.
Tapi matanya, matanya yang dulu selalu sembab karena menahan tangis, kini mulai bersinar lagi.
Mungkin doaku di tengah malam didengar, pikir Setya. Mungkin suamiku benar-benar berubah.
Mungkin, mungkin aku bisa bahagia lagi.
Keutamaan Doa di Tengah Malam
Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah SWT turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, lalu bertanya: "Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan? Siapa yang meminta kepada-Ku, akan Aku beri? Siapa yang memohon ampunan kepada-Ku, akan Aku ampuni?"
Sinox dan Akang tidak tahu apakah doa-doa mereka di tengah malam akan dikabulkan. Tidak tahu apakah rumah tangga mereka akan benar-benar pulih. Tidak tahu apakah luka yang menganga akan sembuh sempurna.
Tapi mereka tahu, setidaknya mereka sudah berusaha. Setidaknya mereka sudah memohon. Setidaknya mereka tidak lagi mengandalkan kekuatan sendiri, tapi berserah pada kekuatan Yang Maha Kuasa.
Dan di dalam kesadaran itu, ada kedamaian.
Kedamaian yang tidak bisa diberikan oleh manusia mana pun.
Kedamaian yang hanya bisa diberikan oleh Tuhan.
Ya Allah, doa Sinox malam itu, sebelum ia memejamkan mata, terima kasih untuk malam ini. Terima kasih untuk kesempatan bertaubat. Terima kasih untuk suami yang masih setia. Terima kasih untuk anak-anak yang masih mau memaafkan.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Tapi aku tahu Engkau bersamaku. Dan itu cukup. Amin.
Di Kapuas, sebelum tidur, Akang juga berdoa:
Ya Allah, aku bukan orang baik. Tapi aku ingin menjadi lebih baik. Bantu aku. Tuntun aku. Jangan biarkan aku jatuh lagi.
Aku sudah lelah. Aku sudah capek. Aku butuh Engkau, Ya Allah. Lebih dari apa pun. Amin.
Setelah Doa
Doa di tengah malam tidak serta-merta mengubah keadaan. Tidak serta-merta membuat Mas Sarif melupakan luka. Tidak serta-merta membuat Setya percaya sepenuhnya. Tidak serta-merta membuat Raha ceria kembali. Tidak serta-merta membuat Eko melupakan ejekan teman-temannya.
Tapi doa mengubah hati.
Hati Sinox yang tadinya gelisah menjadi tenang.
Hati Akang yang tadinya bimbang menjadi mantap.
Hati Mas Sarif yang tadinya sakit mulai terbuka.
Hati Setya yang tadinya ragu mulai percaya.
Dan perubahan hati, sekecil apa pun, adalah awal dari segalanya.
Awal dari kesembuhan. Awal dari perbaikan. Awal dari kebahagiaan.
Sinox dan Akang tidak lagi bertengkar dengan masa lalu. Tidak lagi menyesali apa yang tidak bisa mereka ubah. Tidak lagi merindukan apa yang tidak bisa mereka miliki.
Mereka belajar bahwa cinta sejati bukan tentang memiliki, tapi tentang melepaskan.
Mereka belajar bahwa kebahagiaan sejati bukan tentang mendapatkan apa yang diinginkan, tapi tentang mensyukuri apa yang dimiliki.
Mereka belajar bahwa doa di tengah malam, meskipun tidak selalu dijawab dengan "iya", selalu dijawab dengan sesuatu yang lebih baik: ketenangan, kedamaian, dan kemampuan untuk ikhlas.
Dan di dalam keikhlasan itu, mereka menemukan makna sebenarnya dari "Untaian Rindu dari Surga."
Bukan tentang bersatu di dunia.
Tapi tentang berjumpa di surga.
Tanpa dosa. Tanpa air mata. Tanpa penyesalan.
Hanya cinta. Cinta yang suci. Cinta yang abadi. Cinta yang diridhai.
BAB XXIII
Ujian Persahabatan
Persahabatan sejati tidak diuji saat semuanya berjalan indah. Ia diuji saat badai menerjang, saat salah satu terjatuh dan yang lain harus memilih antara menjulurkan tangan atau berpura-tidak-melihat. Ia diuji saat salah satu berbuat salah dan yang lain harus memilih antara menghakimi atau memaafkan. Ia diuji saat jarak dan waktu dan keadaan berkonspirasi untuk memisahkan, dan hanya komitmen serta ketulusan yang mampu menjembatani.
Akang dan Sinox adalah sahabat. Bukan kekasih. Bukan pacar. Bukan pasangan terlarang yang terus-menerus menguji batas.
Tapi selama berbulan-bulan, mereka lupa akan hal itu. Mereka membiarkan cinta masa lalu mengaburkan batas-batas persahabatan. Mereka membiarkan rindu yang berlebihan mengubah hubungan yang suci menjadi sesuatu yang haram.
Kini, setelah air mata, setelah doa di tengah malam, setelah pertemuan yang nyaris terjadi namun mereka batalkan, mereka berusaha kembali ke rel yang benar.
Menjadi sahabat.
Bukan kekasih. Bukan pasangan. Bukan pelarian.
Tapi sahabat. Sahabat yang saling mendoakan dari kejauhan. Sahabat yang tidak perlu bertatap muka untuk saling menguatkan. Sahabat yang bisa menerima bahwa mereka tidak akan pernah bisa memiliki satu sama lain, dan itu tidak masalah.
Ujian persahabatan ini mungkin lebih berat daripada ujian cinta.
Karena cinta seringkali egois. Ia ingin memiliki, ingin dekat, ingin disentuh.
Tapi persahabatan sejati adalah cinta yang tidak egois. Ia rela melepaskan, rela menjaga jarak, rela tidak memiliki, asal yang dicintai bahagia.
Akang dan Sinox sedang menjalani ujian itu.
Dan mereka bertekad untuk tidak gagal.
Ketika Sinox Jatuh Sakit
Tegorejo, tiga bulan setelah wisuda Lina.
Sinox jatuh sakit. Bukan sakit biasa, demam, batuk, pilek. Tapi sakit yang aneh. Badannya lemas, pusingnya tidak kunjung reda, dan beberapa kali ia pingsan saat mengajar di sekolah.
Mas Sarif panik. Ia membawa Sinox ke dokter, lalu ke rumah sakit, lalu ke dokter spesialis. Hasilnya: Sinox mengalami anemia berat, ditambah dengan tekanan darah yang tidak stabil, dan stres kronis yang menggerogoti kesehatannya dari dalam.
"Ibu harus istirahat total," kata dokter. "Tidak boleh bekerja. Tidak boleh memikirkan hal-hal yang berat. Harus banyak makan makanan bergizi. Stres adalah musuh utama Ibu sekarang."
Sinox hanya bisa mengangguk lemah. Badannya kurus, matanya cekung, wajahnya pucat seperti kertas.
Mas Sarif tidak meninggalkan sisi istrinya. Ia mengambil cuti dari sawah, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya, bahkan saat anak-anak sakit sekalipun. Ia bergantian dengan Eko menjaga Sinox di rumah sakit.
Lina datang dari kota, cuti kuliah. Rahman juga datang dari pesantren, minta izin pada kiai-nya. Mereka bergantian menjaga ibu mereka, memasakkan makanan bergizi, membacakan doa-doa.
Sinox menangis melihat anak-anaknya yang masih begitu peduli meskipun ia telah mengecewakan mereka.
"Maafkan Ibu, Nak," bisik Sinox pada Lina, sambil menangis. "Ibu sudah membuat kalian malu."
"Bu, jangan bicara begitu," Lina memegang tangan ibunya. "Ibu tetap ibu kami. Tidak ada yang bisa menggantikan itu. Luka itu sudah berlalu. Sekarang, yang penting Ibu sembuh."
"Apakah Lina sudah memaafkan Ibu?"
Lina tersenyum, senyum yang tulus, tanpa beban. "Aku sudah memaafkan Ibu sejak lama, Bu. Aku hanya butuh waktu untuk mengatakan itu."
Sinox memeluk anak sulungnya.
Di sudut ruangan, Mas Sarif menyeka air mata.
Akhirnya, pikirnya. Akhirnya anak-anak kembali lagi. Akhirnya keluarga ini mulai utuh.
Mudah-mudahan Sinox cepat sembuh.
Akang Mendengar Kabar
Di Kapuas, kabar tentang Sinox yang sakit sampai ke telinga Akang melalui teman lama di Tegorejo.
Bukan kabar yang ia cari. Tapi kabar yang datang tanpa diundang, seperti semua hal tentang Sinox, selalu datang tanpa diundang.
Teman lama: Kang, dengar kabar? Sinox sakit keras. Masuk rumah sakit. Anemia berat, katanya.
Akang membaca pesan itu berulang kali. Jantungnya berdebar tidak karuan. Tangannya gemetar. Ia ingin segera menelepon Sinox, ingin menanyakan kabarnya, ingin mengatakan bahwa ia mendoakannya, ingin, jujur saja, ingin segera pergi ke Tegorejo.
Tapi ia tahan.
Ia ingat janjinya pada Setya. Ia ingat janjinya pada dirinya sendiri. Ia ingat bahwa ia sudah bertekad menjadi suami yang baik.
Akang Riyadi: Terima kasih kabarnya. Tolong doakan dia supaya cepat sembuh.
Teman lama: Kamu tidak mau menjenguk? Kan dekat.
Akang Riyadi: Tidak. Aku tidak bisa.
Teman lama: Kenapa?
Akang Riyadi: Karena aku bukan siapa-siapa baginya lagi.
Percakapan itu berakhir.
Akang mematikan ponsel.
Ia menatap langit-langit ruang kerjanya di kantor desa.
Sinox sakit, pikirnya. Sakit keras. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa.
Ia ingin menangis. Tapi ia tahan. Kantor bukan tempat untuk menangis. Laki-laki seusianya tidak boleh menangis di depan orang lain.
Tapi di dalam hatinya, air mata mengalir deras.
Ya Allah, sembuhkan Sinox, doanya dalam hati. Dia tidak pantas menderita. Dia sudah cukup menderita karena kesalahanku, kesalahan kita.
Berikan dia kesehatan. Berikan dia kebahagiaan. Berikan dia umur panjang bersama Mas Sarif dan anak-anaknya.
Aku rela tidak pernah bertemu dia lagi di dunia ini, asalkan dia bahagia. Asalkan dia sehat. Asalkan dia baik-baik saja.
Ujian bagi Akang: Antara Ingin Menjenguk dan Kewajiban
Malam harinya, Akang tidak bisa tidur.
Pikirannya terus melayang ke Tegorejo. Ke rumah sakit tempat Sinox terbaring lemah. Ke Mas Sarif yang mungkin lelah menjaga istrinya. Ke Eko yang mungkin takut kehilangan ibu.
Ia ingin pergi. Ia ingin menjenguk.
Bukan sebagai kekasih. Bukan sebagai cinta masa lalu. Tapi sebagai sahabat. Sebagai seseorang yang pernah sangat dekat dengan Sinox, yang pernah berbagi suka duka, yang pernah berjanji akan selalu ada.
Tapi ia juga ingat pada Setya. Pada anak-anaknya. Pada semua kemajuan yang sudah ia capai dalam memperbaiki rumah tangganya.
Akang membuka chat dengan Sinox, meskipun mereka sudah jarang berkomunikasi, chat itu tidak pernah ia hapus. Hanya diarsipkan. Tidak dibuka, tidak dilihat, tapi juga tidak dihapus.
Ia ingin mengetik sesuatu. Ingin menanyakan kabar. Ingin mengatakan bahwa ia mendoakan.
Tapi jarinya terasa berat.
Akhirnya, ia hanya mengetik:
Akang Riyadi: Nox, aku dengar kamu sakit. Aku mendoakan kesembuhanmu. Jaga diri. Jangan lupa makan. Jangan terlalu stres. Istirahat yang cukup.
Pesan itu ia kirim. Tidak menunggu balasan.
Ia mematikan ponsel, lalu pergi ke kamar mandi, mengambil wudhu, dan melaksanakan salat malam.
Di sujudnya, ia berdoa untuk Sinox. Untuk kesembuhannya. Untuk kebahagiaannya. Untuk keluarganya.
Dan untuk dirinya sendiri, agar diberi kekuatan untuk tidak egois, untuk tidak menuruti keinginan hati yang bisa menghancurkan apa yang sudah ia perbaiki.
Sinox Membaca Pesan Akang
Di rumah sakit, Sinox terbangun di tengah malam.
Mas Sarif tertidur di kursi di samping tempat tidurnya, dengan posisi yang tidak nyaman, leher miring, mulut setengah terbuka, tangan masih memegang tangan Sinox meskipun dalam tidur.
Sinox tersenyum melihat suaminya.
Laki-laki ini, pikirnya. Dia tidak pernah bilang 'aku cinta kamu' dengan kata-kata. Tapi dia membuktikannya dengan tindakan. Setiap hari. Setiap malam. Setiap detik.
Ia meraih ponselnya dari nakas. Ada beberapa notifikasi, pesan dari grup sekolah, dari Lina, dari Rahman.
Dan satu pesan dari Akang.
Sinox membacanya.
"Nox, aku dengar kamu sakit. Aku mendoakan kesembuhanmu. Jaga diri. Jangan lupa makan. Jangan terlalu stres. Istirahat yang cukup."
Singkat. Tidak berlebihan. Tidak ada kata "rindu". Tidak ada "aku sayang kamu". Tidak ada "aku ingin menjenguk".
Tapi cukup untuk membuat Sinox menangis.
Bukan menangis sedih. Tapi menangis haru.
Akang masih peduli. Masih mengingatnya. Masih mendoakannya, meskipun dari kejauhan.
Dan itu, itu sudah cukup.
Sinox tidak membalas.
Ia hanya membaca pesan itu sekali lagi, lalu mematikan ponsel.
Ia memandang Mas Sarif yang masih tertidur pulas.
Maafkan aku, Mas, bisiknya dalam hati. Aku tidak akan membalas pesannya. Aku tidak akan memulai komunikasi lagi. Tapi aku tidak bisa berbohong, aku lega karena dia masih peduli.
Bukan sebagai kekasih. Tapi sebagai sahabat. Sahabat yang mendoakan dari kejauhan.
Dan itu, itu sudah cukup bagiku.
Setya yang Tahu
Setya tahu Akang masih sesekali memikirkan Sinox.
Bukan karena ia mengintip ponsel suaminya lagi, ia sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak melakukan itu. Tapi karena ia bisa membaca bahasa tubuh suaminya setelah 25 tahun menikah.
Saat Akang melamun, matanya kosong, ia tersenyum sendiri, itu tanda ia sedang mengingat masa lalu.
Saat Akang lebih banyak diam dari biasanya, itu tanda ia sedang bergumul dengan sesuatu yang tidak bisa ia ceritakan.
Saat Akang lebih sering salat malam dan berdoa dengan khusyuk, itu tanda ia sedang memohon ampun untuk sesuatu, atau seseorang.
Setya tidak marah. Ia tidak cemburu lagi. Ia sudah melewati fase itu.
Yang ia rasakan sekarang adalah... iba.
Iba pada suaminya yang masih harus berjuang melawan perasaannya sendiri. Iba pada Sinox yang mungkin juga sedang bergumul dengan hal yang sama. Iba pada mereka berdua yang tidak bisa bersatu karena takdir yang telah berkata lain.
Suatu malam, Setya meraih tangan Akang.
"Mas, aku tahu Mas masih memikirkan dia."
Akang terkejut. "Ning, aku..."
"Aku tidak marah, Mas. Aku hanya ingin Mas tahu, aku di sini. Aku tidak akan pergi. Tapi aku juga tidak bisa memaksa Mas untuk melupakan dia. Itu bukan hakku. Yang bisa aku lakukan hanyalah mendampingi Mas, menemani Mas, dan berdoa semoga Mas diberi kekuatan."
Akang menangis. "Ning, aku minta maaf karena aku masih lemah."
"Tidak apa-apa, Mas. Yang penting Mas tidak berbohong. Yang penting Mas tidak menyembunyikan. Yang penting Mas berusaha. Itu sudah cukup."
Setya memeluk suaminya.
Untuk pertama kalinya, Akang merasa tidak sendirian dalam perjuangannya melawan perasaannya sendiri.
Ia memiliki Setya. Perempuan yang tidak hanya menjadi istrinya, tapi juga sahabatnya. Sahabat yang tidak meninggalkannya meskipun ia tersesat begitu lama.
Terima kasih, Ning, doanya dalam hati. Engkau adalah anugerah yang tidak pernah aku syukuri selama 25 tahun. Sekarang, aku akan berusaha menjadi suami yang layak untukmu.
Mas Sarif yang Juga Tahu
Di Tegorejo, Mas Sarif juga tahu bahwa Sinox masih sesekali memikirkan Akang.
Tapi ia memilih untuk tidak mempermasalahkan.
Bukan karena ia tidak peduli. Tapi karena ia belajar bahwa cinta tidak bisa dipaksakan, baik untuk tumbuh, maupun untuk mati.
Cinta Sinox pada Akang, dalam bentuk apa pun itu, mungkin tidak akan pernah benar-benar mati. Ia akan tetap ada, sebagai kenangan, sebagai bekas luka yang membekas di hati.
Tapi Mas Sarif belajar bahwa ia tidak perlu bersaing dengan kenangan. Ia tidak perlu menjadi Akang. Ia cukup menjadi Mas Sarif.
Suami yang sederhana. Petani yang tidak romantis. Tapi laki-laki yang setia, setia dalam suka dan duka, setia dalam sakit dan sehat, setia dalam kaya dan miskin.
Sinox sembuh dari sakitnya setelah dua minggu dirawat di rumah sakit. Badannya masih lemas, tapi setidaknya ia sudah bisa tersenyum lagi.
Mas Sarif membawanya pulang dengan hati-hati, membantunya naik ke tempat tidur, menyelimutinya, lalu mengecup keningnya.
"Istirahat, Sin. Jangan banyak pikiran."
"Terima kasih, Mas. Untuk semuanya."
"Tidak usah berterima kasih. Itu tugas suami."
Sinox tersenyum.
Di dalam hatinya, ia berdoa.
Ya Allah, terima kasih untuk suami yang sabar. Terima kasih untuk keluarga yang masih utuh. Terima kasih untuk kesempatan kedua ini. Aku tidak akan menyia-nyiakannya.
Ujian Berikutnya: Saat Sinox Membutuhkan Bantuan
Dua bulan setelah Sinox sembuh, ujian persahabatan yang lebih berat datang.
Rahman, anak kedua Sinox yang mondok di pesantren, mengalami kecelakaan saat bermain sepak bola. Kakinya patah dan harus dioperasi. Biayanya tidak sedikit, sekitar lima belas juta rupiah.
Sinox dan Mas Sarif kebingungan. Sawah mereka baru saja panen, tapi hasilnya tidak seberapa. Tabungan mereka habis untuk biaya pengobatan Sinox sebelumnya. Lina masih kuliah dan membutuhkan biaya. Eko juga butuh uang sekolah.
Mereka tidak punya uang.
Sinox hampir putus asa.
Dalam keputusasaannya, ia teringat pada Akang. Bukan karena ia ingin meminta uang. Tapi karena ia butuh seseorang untuk curhat, seseorang untuk mendengar, seseorang yang bisa memberinya semangat.
Ia membuka ponsel. Membuka chat dengan Akang, yang sudah lama tidak ia buka.
Jarinya mengetik:
Sinox Yanti: Akang, aku butuh doamu. Rahman kecelakaan. Kakinya patah. Butuh operasi. Aku bingung mau cari uang dari mana.
Ia mengirim pesan itu. Tidak menunggu balasan. Ia hanya butuh melepaskan beban.
Tapi Akang membalas dengan cepat.
Akang Riyadi: Nox, kamu butuh berapa?
Sinox Yanti: Akang, jangan. Aku tidak minta uang. Aku hanya butuh doa.
Akang Riyadi: Doa saya berikan. Tapi saya juga punya sedikit tabungan. Saya bisa kirim.
Sinox Yanti: Tidak, Akang. Aku tidak bisa menerima uang darimu. Setya pasti tidak akan setuju. Mas Sarif juga tidak akan setuju.
Akang Riyadi: Ini untuk anakmu, Nox. Bukan untukmu. Jangan campurkan ego.
Sinox terdiam.
Ia bimbang. Di satu sisi, ia butuh uang. Di sisi lain, ia tidak mau berutang budi pada Akang. Apalagi setelah semua yang terjadi.
Ia memutuskan untuk bertanya pada Mas Sarif.
Keputusan Sulit Sinox dan Mas Sarif
"Mas, Akang nawarin bantuan. Uang. Untuk operasi Rahman."
Mas Sarif terdiam. Wajahnya berubah, bukan marah, tapi bingung.
"Kamu minta padanya?"
"Tidak, Mas. Aku hanya cerita. Dia yang nawarin."
Mas Sarif menghela napas panjang. "Sin, ini sulit. Aku tidak suka berutang pada orang lain. Apalagi padanya."
"Aku juga, Mas. Tapi kita butuh uang, Mas. Rahman butuh operasi cepat. Kalau tidak, kakinya bisa cacat selamanya."
Mas Sarif berjalan mondar-mandir. Pikirannya kacau.
Akhirnya, ia berhenti.
"Aku akan pinjam pada Pak Hadi. Atau pada Pak Lurah. Atau pada siapa pun selain dia."
"Tapi Mas, kita sudah pinjam pada mereka sebelumnya. Belum lunas."
Mas Sarif tidak menjawab.
Sinox tahu suaminya sedang berjuang dengan egonya sendiri.
"Mas, aku tidak akan menerima bantuan itu tanpa izin Mas. Ini keputusan kita berdua."
Mas Sarif duduk di samping istrinya. Ia memegang tangan Sinox.
"Sin, aku akan mengizinkan, dengan satu syarat."
"Apa, Mas?"
"Kita anggap ini pinjaman. Bukan pemberian. Kita akan bayar lunas, sekecil apa pun cicilannya, sampai lunas. Aku tidak mau berutang budi pada laki-laki itu."
Sinox menangis. "Terima kasih, Mas. Aku akan bilang padanya."
"Dan Sin... jangan jadikan ini sebagai alasan untuk berkomunikasi lagi dengannya. Setelah uang ini kita terima, setelah urusan ini selesai, kembali seperti semula. Tidak ada komunikasi kecuali darurat."
"Aku janji, Mas."
Akang Berbicara pada Setya
Akang tidak bisa memutuskan sendiri. Ia harus bicara pada Setya.
"Ning, aku mau minta izin."
"Izin apa, Mas?"
"Sinox, anaknya kecelakaan. Butuh operasi. Mereka tidak punya uang."
Setya terdiam.
"Aku ingin membantu, Ning. Bukan karena aku masih mencintainya. Tapi karena dia pernah menjadi sahabatku. Dan aku tidak tega melihat anaknya menderita karena masalah biaya."
Setya masih diam.
"Ning, uang ini dari tabungan pribadiku. Bukan uang rumah tangga. Aku tidak akan ganggu keuangan keluarga."
Setya menghela napas. "Mas, aku tidak melarang. Tapi aku minta satu hal."
"Apa, Ning?"
"Anggap ini pinjaman. Mereka harus bayar. Tidak usah buru-buru. Setahun, dua tahun, lima tahun, terserah. Tapi jangan hadiah. Karena jika hadiah, mereka akan merasa berutang budi. Dan itu tidak baik untuk hubungan kalian."
"Baik, Ning. Aku setuju."
"Satu lagi, Mas."
"Apa?"
"Setelah ini, tolong jangan jadikan alasan untuk terus berkomunikasi. Bantu sekali ini saja. Lalu kembali seperti semula."
"Aku janji, Ning."
Setya tersenyum, meskipun sedikit getir. "Aku percaya pada Mas."
Akang memeluk istrinya.
Terima kasih, Ning, doanya dalam hati. Engkau sungguh perempuan hebat.
Bantuan Tepat Waktu
Uang dari Akang datang tepat waktu. Operasi Rahman berjalan lancar. Kakinya pulih seperti sedia kala, meskipun harus menjalani fisioterapi beberapa minggu.
Sinox menangis saat menerima kabar bahwa operasi berhasil.
Ia ingin menelepon Akang. Ingin berterima kasih. Ingin mengatakan bahwa bantuan itu sangat berarti.
Tapi ia ingat janjinya pada Mas Sarif.
Ia hanya mengirim pesan singkat:
Sinox Yanti: Akang, operasi Rahman berhasil. Terima kasih atas bantuannya. Doakan dia cepat pulih. Kita akan bayar lunas pinjaman ini, sekecil apa pun cicilannya. Terima kasih. Terima kasih banyak.
Akang Riyadi: Alhamdulillah. Saya lega mendengarnya. Jangan buru-buru bayar. Yang penting Rahman sembuh dulu. Saya doakan semoga dia cepat pulih.
Sinox Yanti: Terima kasih, Akang.
Akang Riyadi: Sama-sama, Nox. Ini yang bisa saya lakukan sebagai sahabat. Jaga dirimu. Jaga keluarga.
Sinox Yanti: Kamu juga. Jaga Setya. Jaga anak-anak.
Percakapan itu berakhir.
Tidak ada kata "rindu". Tidak ada "aku sayang kamu". Hanya ucapan terima kasih dan doa.
Tapi itu, itu sudah cukup.
Karena mereka bukan lagi kekasih.
Mereka sahabat.
Sahabat yang saling membantu di saat sulit, tanpa pamrih, tanpa mengharap imbalan, tanpa mencari-cari alasan untuk dekat.
Itulah ujian persahabatan sejati.
Dan mereka, untuk kali ini, berhasil melewatinya.
Setelah Ujian
Butuh waktu bagi semua pihak untuk benar-benar pulih.
Rahman sembuh total setelah dua bulan fisioterapi. Ia kembali ke pesantren dengan kruk, tapi semangatnya tidak pernah padam.
Sinox dan Mas Sarif mencicil utang pada Akang setiap bulan, jumlah kecil, tapi konsisten. Tidak pernah telat. Tidak pernah kurang.
Akang menerima setiap cicilan dengan penuh syukur, bukan karena uangnya, tapi karena itu tanda bahwa hubungan mereka tidak lagi didasari pada perasaan yang salah, tapi pada komitmen sebagai manusia yang saling menghormati.
Setya melihat bahwa suaminya berubah. Akang tidak lagi melamun tentang masa lalu. Tidak lagi memegang ponsel dengan penuh harap. Tidak lagi tersenyum sendiri tanpa sebab.
Ia kembali menjadi suami yang dulu ia kenal, mungkin tidak sepenuhnya sama, tapi setidaknya berusaha.
Mas Sarif juga berubah. Ia tidak lagi cemburu buta. Ia belajar bahwa kepercayaan, sekali retak, memang sulit dibangun kembali. Tapi dengan kesabaran dan komitmen, ia bisa pulih.
Pelan-pelan. Setetes demi setetes. Seperti air yang menetes di batu karang.
Suatu hari, batu itu akan berlubang. Tapi juga suatu hari, batu itu akan halus karena terus-menerus disentuh oleh air.
Begitulah cinta. Begitulah persahabatan. Begitulah kehidupan.
Ujian datang silih berganti.
Tapi yang bertahan bukan mereka yang paling kuat.
Tapi mereka yang paling mau berusaha.
Akang dan Sinox berusaha. Mas Sarif dan Setya berusaha. Anak-anak mereka juga berusaha.
Dan di dalam usaha itu, mereka menemukan makna sejati dari "Untaian Rindu dari Surga."
Bukan tentang bersatu. Bukan tentang memiliki. Tapi tentang saling melepaskan dengan penuh keikhlasan.
Tentang saling mendoakan dari kejauhan. Tentang menjadi sahabat, bukan kekasih.
Tentang menerima bahwa cinta tidak harus selalu berarti memiliki.
Kadang, cinta berarti membiarkan pergi.
Kadang, cinta berarti cukup sampai di sini.
Kadang, cinta berarti mengatakan: "Aku sayang kamu, tapi aku tidak akan merusak kebahagiaanmu dengan kehadiranku."
Akang dan Sinox telah sampai pada pemahaman itu.
Setelah badai. Setelah air mata. Setelah doa di tengah malam. Setelah ujian persahabatan yang hampir menjatuhkan mereka.
Kini, mereka bisa tersenyum.
Bukan tersenyum bahagia yang penuh tawa. Tapi tersenyum lega.
Lega karena tidak ada lagi yang disembunyikan. Lega karena tidak ada lagi yang diperjuangkan secara sia-sia. Lega karena mereka akhirnya bisa menjadi sahabat, sahabat sejati.
Dan itu, itu adalah kemenangan terbesar dari semua ujian yang pernah mereka hadapi.
BAB XXIV
Percakapan Terakhir yang Panjang
Ada percakapan yang tidak bisa dihindari.
Percakapan yang mungkin seharusnya terjadi tiga puluh tahun lalu, saat Akang masih remaja dengan mimpi-mimpi besar dan rasa takut yang lebih besar, saat Sinox masih gadis lugu yang tidak mengerti mengapa laki-laki yang paling ia percaya tiba-tiba menghilang.
Tapi waktu tidak bisa diputar kembali. Yang bisa dilakukan hanyalah mengobati luka lama dengan kejujuran yang tertunda.
Percakapan terakhir yang panjang antara Akang dan Sinox tidak lagi diwarnai oleh rindu yang membara, tidak lagi oleh air mata penyesalan yang berlebihan, tidak lagi oleh bisikan-bisikan cinta yang tidak seharusnya.
Kali ini, mereka berbicara sebagai dua insan yang telah dewasa. Yang telah belajar bahwa cinta tidak selalu berarti memiliki. Yang telah memahami bahwa persahabatan sejati lebih berharga daripada hubungan terlarang yang hanya akan menyakiti banyak orang.
Percakapan ini adalah penutup.
Bukan penutup yang menyedihkan, tapi penutup yang damai.
Penutup yang mengantar mereka ke babak baru dalam kehidupan masing-masing, tanpa bayangan satu sama lain, tanpa harapan yang tidak realistis, hanya doa dan harapan baik dari kejauhan.
Ini adalah percakapan terakhir yang panjang.
Dan setelah ini, mereka akan benar-benar berpisah.
Bukan sebagai musuh. Tapi sebagai sahabat yang memilih untuk menjaga jarak.
Karena jarak, kadang, adalah bentuk cinta yang paling tulus.
Malam yang Dipilih
Minggu malam, pukul 21.00.
Sinox sudah memberitahu Mas Sarif bahwa ia perlu menelepon Akang. Untuk terakhir kalinya. Untuk menyelesaikan semuanya.
Mas Sarif diam cukup lama. Lalu ia mengangguk.
"Aku percaya padamu, Sin. Lakukan yang terbaik."
"Terima kasih, Mas. Aku tidak akan mengecewakan Mas lagi."
Sinox berjalan ke beranda belakang rumah. Di sana lebih sepi, lebih privat, lebih cocok untuk percakapan yang berat. Eko sedang belajar di kamarnya. Mas Sarif duduk di ruang tamu, menonton televisi dengan volume rendah, bukan untuk menonton, tapi untuk mengalihkan perhatian dari rasa cemas yang menggelayuti hatinya.
Di Kapuas, pada saat yang sama, Akang juga pamit pada Setya.
"Ning, aku akan bicara dengan Sinox malam ini. Untuk terakhir kalinya."
Setya menatap suaminya. "Apa yang akan kalian bicarakan?"
"Segalanya. Masa lalu. Masa depan. Tentang bagaimana kita harus berpisah, sebagai teman yang saling menghormati."
"Kamu yakin ini yang terakhir?"
"Aku yakin, Ning. Aku tidak akan mengulanginya lagi."
Setya menghela napas. "Baik, Mas. Aku percaya. Tapi ingat, aku di sini menunggu. Jangan buat aku menunggu terlalu lama."
"Tidak akan, Ning."
Akang mencium kening istrinya, sesuatu yang jarang ia lakukan, lalu berjalan ke beranda rumah panggungnya.
Angin gambut bertiup lebih kencang dari biasanya. Langit malam gelap tanpa bintang. Seperti alam ikut bersedih untuk percakapan yang akan terjadi.
Atau mungkin, alam hanya diam, seperti biasa, tidak peduli pada drama manusia yang silih berganti.
Akang mengangkat ponselnya. Menekan nama Sinox Yanti.
Tombol hijau.
Panggilan suara, bukan video call.
Karena mereka tidak perlu saling melihat untuk kali ini.
Suara sudah cukup.
Suara sudah cukup untuk mengucapkan selamat tinggal.
"Halo, Sinox."
"Halo, Akang."
Hanya itu. Nama mereka. Dan di dalamnya terkandung semua kenangan, semua luka, semua rindu, dan semua keikhlasan yang telah mereka kumpulkan selama berbulan-bulan.
"Kita bicara ya, Nox."
"Iya, Akang. Kita bicara."
Mengingat yang Indah, Mengakui yang Salah
Percakapan itu tidak dimulai dengan air mata. Tidak dimulai dengan penyesalan yang berlebihan.
Mereka memulai dengan senyum, meskipun tidak saling melihat, mereka bisa merasakan senyum di seberang sana.
"Akang, apa kenangan terindahmu tentang kita?" tanya Sinox.
"Semua," jawab Akang. "Tapi yang paling indah mungkin saat kita latihan karate. Kamu selalu salah jurus, tapi kamu tidak pernah menyerah. Aku kagum dengan semangatmu."
"Aku juga," kata Sinox. "Kenangan terindahku adalah saat kita naik sepeda ontel. Aku yang boncengin kamu, padahal kamu laki-laki. Aneh, tapi menyenangkan."
"Kamu kuat, Nox. Lebih kuat dari yang aku kira."
"Aku tidak kuat, Akang. Aku hanya tidak punya pilihan."
Mereka tertawa bersama. Tawa yang ringan, tidak terbebani.
Lalu Sinox menghela napas.
"Akang, aku minta maaf."
"Untuk apa?"
"Untuk semua kekacauan yang aku sebabkan. Seandainya aku tidak mencari kamu dulu, mungkin kita tidak akan melalui semua ini. Mungkin rumah tangga kita masih utuh. Mungkin tidak ada air mata, tidak ada fitnah, tidak ada gunjingan."
"Jangan salahkan dirimu sendiri, Nox. Aku juga yang mencari kamu. Aku juga yang tidak bisa menahan diri. Aku juga yang egois."
"Kita berdua salah," kata Sinox.
"Ya, kita berdua salah," Akang mengamini. "Tapi kita sudah belajar dari kesalahan. Itu yang penting."
Tentang Ikhlas
"Akang, apa kamu sudah ikhlas?"
Pertanyaan Sinox melayang di antara suara jangkrik dan angin malam.
Akang diam cukup lama.
"Aku tidak tahu, Nox. Ikhlas itu proses. Tidak bisa instan. Tapi aku berusaha. Setiap hari, setiap malam, aku berusaha."
"Aku juga," kata Sinox. "Tapi kadang, di malam-malam sepi seperti ini, aku masih merindukanmu. Bukan sebagai kekasih. Tapi sebagai teman. Seseorang yang mengerti aku tanpa perlu banyak kata."
"Aku juga, Nox. Tapi aku belajar bahwa rindu tidak harus selalu dipenuhi. Kadang, rindu cukup kita simpan sebagai kenangan indah. Tidak perlu diwujudkan dalam tindakan."
"Kamu dewasa sekali, Akang."
"Aku sudah tua, Nox. Tidak pantas lagi bermain-main dengan perasaan."
Sinox tersenyum getir.
"Kita sudah tua, ya, Akang. Dulu kita masih remaja, penuh mimpi, penuh semangat. Sekarang, kita sudah beruban, sudah keriput, sudah punya anak cucu."
"Tapi kenangan kita tidak akan pernah tua, Nox. Ia akan tetap muda, seperti saat kita pertama kali bertemu."
"Jangan, Akang. Jangan buat aku menangis."
"Kita sudah cukup menangis, Nox. Sekarang saatnya tersenyum."
Tentang Pasangan Masing-Masing
"Akang, apa kamu mencintai Setya?"
"Aku mencintainya, Nox. Mungkin tidak seperti aku mencintai kamu dulu. Tapi cinta itu tumbuh seiring waktu. Dan sekarang, setelah hampir kehilangan dia, aku sadar bahwa dia adalah anugerah terbesar dalam hidupku."
"Aku senang mendengarnya, Akang. Sungguh. Aku senang."
"Kamu bagaimana dengan Mas Sarif?"
Sinox menghela napas. "Mas Sarif adalah laki-laki yang sabar. Terlalu sabar, mungkin. Aku tidak pantas untuknya. Tapi dia tetap bertahan. Dia tetap di sini, meskipun aku sudah menyakiti hatinya berkali-kali."
"Kamu beruntung memilikinya."
"Aku tahu. Dan aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kedua yang dia berikan."
"Jaga dia, Nox. Laki-laki seperti Mas Sarif langka."
"Aku akan menjaganya. Aku berjanji. Kamu juga jaga Setya. Perempuan seperti dia juga langka."
"Aku akan menjaganya. Sampai mati."
Mereka berdua diam.
Mengingat pasangan masing-masing.
Bersyukur bahwa mereka masih diberi kesempatan untuk memperbaiki segalanya.
Tentang Utang dan Pinjaman
"Akang, soal uang untuk operasi Rahman..."
"Jangan dipikirkan, Nox. Bayar perlahan. Tidak usah buru-buru."
"Tapi aku tidak enak. Kita sudah merepotkanmu."
"Kamu tidak merepotkanku, Nox. Aku yang ingin membantu. Sebagai sahabat."
"Terima kasih, Akang. Sungguh. Terima kasih."
"Sama-sama, Nox. Anggap saja ini hadiah perpisahan. Untuk terakhir kalinya."
"Perpisahan? Apa kita akan berpisah?"
Akang menghela napas panjang.
"Nox, setelah percakapan ini, aku akan memblokir nomormu."
Sinox terdiam. Jantungnya berdegup kencang.
"Apa?"
"Bukan karena aku benci padamu. Tapi karena aku sayang padamu. Aku sayang pada Setya. Aku sayang pada keluargaku. Satu-satunya cara untuk melindungi mereka adalah dengan memutus komunikasi sepenuhnya."
Sinox tidak menjawab.
Air mata mulai mengalir di pipinya.
"Nox, kamu masih di sana?"
"Iya, Akang. Aku masih di sini."
"Aku minta maaf."
"Jangan minta maaf. Kamu benar. Ini yang terbaik."
"Kamu akan baik-baik saja, Nox."
"Aku tahu. Kamu juga."
"Kita akan baik-baik saja."
Janji Terakhir
"Akang, boleh aku minta satu janji?"
"Apa pun, Nox."
"Kalau suatu hari nanti, mungkin sepuluh tahun lagi, mungkin dua puluh tahun lagi, kita tidak sengaja bertemu di suatu tempat, di suatu acara, tolong jangan pura-pura tidak kenal."
Akang tersenyum. "Aku tidak akan pernah pura-pura tidak kenal padamu, Nox. Bahkan jika rambutku sudah putih semua, gigiku sudah ompong, dan aku sudah tidak bisa jalan tanpa tongkat, aku akan tetap menyapamu."
"Janji?"
"Janji."
"Janji juga, kalau suatu hari aku atau kamu meninggal, kita harus memberi tahu yang lain. Melalui siapa pun. Agar kita bisa mendoakan."
"Janji, Nox. Aku akan usahakan."
"Terima kasih, Akang. Untuk semuanya. Untuk masa lalu yang indah. Untuk tiga puluh tahun kenangan. Untuk pelajaran yang berharga."
"Aku juga berterima kasih, Nox. Kamu telah menjadi bagian terindah dalam hidupku. Meskipun hanya sebentar. Meskipun hanya kenangan."
"Selamat tinggal, Akang."
"Selamat tinggal, Nox. Bukan selamat tinggal selamanya. Sampai jumpa di surga."
"Sampai jumpa di surga, Akang. Tanpa rasa bersalah."
"Tanpa air mata."
"Hanya cinta yang suci."
"Cinta yang halal."
Panggilan telepon itu berakhir.
Sinox mematikan ponselnya.
Ia menangis.
Bukan menangis sedih. Tapi menangis lega.
Lega karena semuanya selesai. Lega karena tidak ada lagi yang disembunyikan. Lega karena ia bisa memulai hidup baru, tanpa beban masa lalu.
Setelah Panggilan Berakhir
Di Kapuas, Akang juga menangis.
Ia tidak segera masuk ke rumah. Ia membiarkan air mata mengalir di pipinya, membiarkan angin gambut mengeringkannya, membiarkan malam menjadi saksi bisu perpisahan terakhirnya dengan perempuan yang pernah ia cintai lebih dari segalanya.
Tapi ia tidak menyesal.
Ia tahu ini keputusan yang benar.
Ia mengambil ponselnya. Membuka kontak. Nama Sinox Yanti masih tertera di sana dengan foto profil yang sama, foto batik hijau tua dengan senyum setengah.
Akang menekan tombol Blokir.
Sebuah kotak konfirmasi muncul: Blokir kontak ini? Anda tidak akan menerima panggilan, pesan, atau notifikasi dari kontak ini lagi.
Ya. Blokir.
Akang menekan tombol itu.
Nama Sinox Yanti lenyap dari daftar kontaknya.
Seolah-olah tidak pernah ada.
Tapi kenangan, kenangan tidak bisa diblokir.
Kenangan akan tetap ada. Di sanalah, di relung hati yang paling dalam. Tidak bisa dihapus, tidak bisa dilupakan, tidak bisa digantikan.
Tapi kenangan, jika dikelola dengan baik, tidak harus menjadi beban. Ia bisa menjadi guru. Bisa menjadi pelita. Bisa menjadi pengingat bahwa suatu saat kita pernah bahagia, pernah mencintai, pernah menjadi manusia seutuhnya.
Akang masuk ke rumah.
Setya masih terjaga, duduk di ruang tamu dengan secangkir teh hangat.
"Sudah, Mas?"
"Sudah, Ning."
"Apa yang kalian bicarakan?"
"Segalanya. Masa lalu. Masa depan. Tentang bagaimana kita harus berpisah, sebagai teman yang saling menghormati."
"Apakah Mas menangis?"
"Sedikit."
Setya berdiri. Ia memeluk suaminya.
"Tidak apa-apa menangis, Mas. Laki-laki juga boleh menangis."
Akang memeluk istrinya balik.
"Terima kasih, Ning. Karena masih mau menerimaku kembali."
"Kamu suamiku, Mas. Sampai maut memisahkan."
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, mereka tidur berpelukan. Bukan pelukan yang kaku, canggung, penuh beban. Tapi pelukan yang hangat, yang tulus, yang penuh dengan rasa syukur.
Sinox dan Mas Sarif
Di Tegorejo, Sinox masuk ke kamar setelah percakapan panjang itu.
Mas Sarif masih terjaga, ia pura-pura tidur, tapi Sinox tahu suaminya tidak tidur.
"Mas, aku sudah bicara dengan dia."
"Lalu?"
"Kami sepakat untuk berpisah. Secara komunikasi. Dia akan memblokir nomorku."
Mas Sarif membuka matanya. "Kamu ikhlas?"
"Aku sedang belajar ikhlas, Mas. Mungkin tidak hari ini. Mungkin tidak besok. Tapi aku akan berusaha."
Mas Sarif meraih tangan istrinya.
"Aku akan membantumu, Sin. Kita akan lakukan bersama-sama."
"Terima kasih, Mas. Maafkan aku karena sudah menyusahkan Mas."
"Tidak usah minta maaf. Aku sudah memaafkanmu sejak lama."
Sinox menangis. Ia memeluk suaminya.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, Sinox tidur dengan tenang. Tidak ada lagi gelisah, tidak ada lagi perasaan bersalah, tidak ada lagi bayangan Akang yang mengganggu mimpinya.
Hanya kedamaian. Hanya syukur. Hanya harapan bahwa besok akan lebih baik.
Pelajaran dari Percakapan Terakhir
Percakapan terakhir yang panjang antara Akang dan Sinox mengajarkan banyak hal.
Pertama, bahwa kejujuran, meskipun terlambat, tetap memiliki kekuatan untuk menyembuhkan. Mungkin tidak bisa mengubah masa lalu, tapi bisa membebaskan masa depan.
Kedua, bahwa cinta tidak harus selalu berarti memiliki. Kadang, cinta berarti melepaskan. Kadang, cinta berarti menjaga jarak. Kadang, cinta berarti memilih untuk tidak hadir dalam kehidupan seseorang, agar ia bisa bahagia dengan pilihannya.
Ketiga, bahwa persahabatan sejati tidak harus dirayakan dengan pertemuan-pertemuan meriah. Persahabatan sejati bisa dirayakan dengan doa-doa yang dipanjatkan di tengah malam, dengan harapan baik yang dikirim dari kejauhan, dengan keyakinan bahwa yang lain baik-baik saja.
Keempat, bahwa memaafkan bukanlah tanda kelemahan, melainkan tanda kekuatan. Memaafkan adalah keberanian untuk melepaskan beban yang tidak seharusnya kita pikul. Memaafkan adalah keputusan untuk tidak membiarkan masa lalu menghancurkan masa depan.
Dan kelima, bahwa doa, doa yang tulus, doa yang dipanjatkan dengan hati yang bersih, adalah jembatan antara dua insan yang terpisahkan oleh jarak dan takdir. Doa adalah cara kita tetap terhubung tanpa harus berkomunikasi. Doa adalah untaian rindu yang suci, yang tidak perlu diucapkan dengan kata-kata, cukup dengan hati.
Setelah Percakapan
Akang dan Sinox tidak pernah berkomunikasi lagi setelah malam itu.
Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan. Tidak ada kabar.
Mereka benar-benar berpisah.
Bukan sebagai musuh. Tapi sebagai dua insan yang memilih untuk saling melepaskan.
Terkadang, di malam-malam yang sunyi, Akang masih teringat pada Sinox. Tapi ia tidak lagi gelisah. Ia hanya tersenyum, lalu berdoa, berdoa untuk kebahagiaan Sinox bersama Mas Sarif dan anak-anaknya.
Terkadang, Sinox juga masih teringat pada Akang. Tapi ia tidak lagi menangis. Ia hanya memejamkan mata, mengucap syukur karena pernah memiliki sahabat sebaik Akang, lalu melanjutkan hidupnya, tanpa beban, tanpa penyesalan, tanpa rasa bersalah.
Mereka belajar bahwa rindu tidak harus menjadi dosa. Rindu bisa menjadi doa, doa yang dipanjatkan untuk kebahagiaan orang yang kita cintai, meskipun kita tidak lagi menjadi bagian dari kebahagiaan itu.
Ya Allah, doa Akang setiap malam, bahagiakan Sinox di sana. Berikan dia umur panjang, kesehatan, kebahagiaan bersama keluarganya. Ampunilah dosa kami. Pertemukan kami di surga kelak, dalam keadaan yang suci, tanpa dosa, tanpa penyesalan.
Ya Allah, doa Sinox setiap malam, lindungi Akang di sana. Jaga Setya, jaga anak-anaknya, jaga keluarganya. Berikan mereka kebahagiaan yang tidak pernah bisa aku berikan. Pertemukan kami di surga, sebagai sahabat, sebagai saudara, sebagai dua insan yang saling mencintai karena-Mu.
Amin.
Percakapan terakhir yang panjang itu adalah titik akhir.
Tapi juga titik awal.
Awal dari kedewasaan. Awal dari keikhlasan. Awal dari kehidupan yang baru, tanpa bayangan masa lalu, tanpa beban penyesalan, tanpa rasa bersalah yang menghantui.
Akang dan Sinox tidak akan pernah bersama.
Tapi mereka akan selalu menjadi bagian dari cerita satu sama lain.
Sebagai kenangan. Sebagai pelajaran. Sebagai untaian rindu dari surga.
BAB XXV
Belajar Mengikhlaskan
Ikhlas adalah kata yang mudah diucapkan, tetapi sulit dijalani. Ia seperti ujung pelangi yang selalu tampak dekat saat kita melihatnya dari kejauhan, tetapi semakin kita berusaha meraihnya, semakin ia menjauh. Ikhlas tidak datang dalam sekelap mata. Ia tidak turun dari langit seperti hujan. Ia tidak bisa dipaksakan dengan air mata atau doa semalam suntuk.
Ikhlas adalah proses.
Proses yang panjang. Berliku. Penuh dengan jatuh bangun. Kadang kita merasa sudah ikhlas, tapi tiba-tiba sesuatu terjadi, sebuah lagu lama diputar di radio, sebuah foto lama muncul dari lemari, sebuah nama disebut oleh teman yang tidak tahu apa-apa, dan kita tersadar: kita belum ikhlas. Masih ada sisa-sisa rasa yang menempel di hati. Masih ada benang-benang halus yang menghubungkan kita pada masa lalu yang seharusnya sudah kita kubur.
Akang dan Sinox belajar ikhlas.
Bukan dalam satu malam. Bukan dalam satu bulan. Bahkan mungkin tidak dalam satu tahun.
Tapi mereka belajar.
Setiap hari. Setiap kali rasa rindu itu datang mengetuk pintu hati, mereka memilih untuk tidak membukakan pintu.
Setiap kali bayangan masa lalu hadir dalam mimpi, mereka memilih untuk tidak mengingatnya saat bangun.
Setiap kali nama satu sama lain tanpa sengaja disebut oleh orang lain, mereka memilih untuk tersenyum, lalu mengalihkan pembicaraan.
Belajar mengikhlaskan adalah pelajaran paling sulit dalam hidup mereka.
Tapi mereka tidak menyerah.
Karena mereka tahu, di ujung sana, setelah semua air mata dan perjuangan, ada kedamaian yang menanti.
Kedamaian yang tidak bisa diberikan oleh cinta terlarang.
Kedamaian yang hanya bisa diberikan oleh keikhlasan.
Akang: Enam Bulan Kemudian
Kapuas, enam bulan setelah percakapan terakhir.
Akang duduk di beranda rumah panggungnya. Setya sedang memasak di dapur, aroma rendang mulai tercium, menandakan ada acara keluarga malam ini. Iwan dan istrinya akan datang. Anto dan keluarganya juga akan datang. Raha, yang kini sudah mulai ceria lagi, sedang bermain dengan sepupunya di halaman.
Kehidupan berjalan normal.
Seperti tidak pernah terjadi badai.
Tapi Akang tahu, badai itu pernah terjadi. Dan bekas-bekasnya masih ada.
Setiap kali ia memegang ponsel, sesekali ia masih teringat pada Sinox. Pada chat-chat lama yang sudah ia hapus. Pada panggilan video yang sudah tidak bisa ia putar lagi. Pada nama yang sudah ia blokir.
Tapi teringat tidak lagi menyakitkan.
Ia hanya tersenyum.
Lalu melanjutkan aktivitasnya.
Mungkin ini ikhlas, pikir Akang. Bukan tentang melupakan. Tapi tentang tidak lagi tersiksa saat mengingat.
Bukan tentang tidak merasakan apa-apa. Tapi tentang merasakan, lalu melepaskannya dengan lapang dada.
"Mas, makan!" teriak Setya dari dapur.
"Iya, Ning. Sebentar."
Akang beranjak dari beranda.
Setya menyajikan makanan di meja makan dengan wajah tersenyum. Istrinya itu kini lebih sering tersenyum. Kerutan di wajahnya mulai berkurang, atau mungkin Akang yang mulai terbiasa melihatnya tersenyum.
"Mas, hari ini Raha dapat nilai bagus di sekolah," kata Setya.
"Bagus, Ra. Bapak bangga."
Raha tersenyum malu-malu. "Terima kasih, Pa."
Mereka makan bersama.
Tawa dan canda mengisi ruang makan.
Di sela-sela tawa itu, Akang bersyukur.
Terima kasih, Ya Allah, doanya dalam hati. Untuk keluarga ini. Untuk kesempatan kedua ini. Untuk Setya yang masih setia.
Aku tidak akan menyia-nyiakan nikmat ini.
Sinox: Enam Bulan Kemudian
Tegorejo, pada saat yang sama.
Sinox duduk di teras depan rumahnya. Mas Sarif sedang di sawah, musim tanam telah tiba, dan ia sibuk seperti biasa. Eko sedang bermain bola di lapangan desa. Lina sudah kembali ke kota untuk menyelesaikan kuliahnya. Rahman sudah kembali ke pesantren, dengan kaki yang kini sudah pulih total.
Sinox memegang secangkir kopi hangat.
Ia menyesapnya perlahan.
Rasanya pahit, tapi ia terbiasa.
Hidup ini seperti kopi pahit, pikirnya. Pahit di awal, tapi lama-lama kita terbiasa. Dan jika kita bersyukur, kita bisa menemukan manis di balik pahitnya.
Ia teringat pada Akang.
Enam bulan sudah tidak ada kabar.
Nomornya terblokir. Chat tidak bisa dikirim. Tidak ada pesan, tidak ada panggilan, tidak ada panggilan video.
Hanya keheningan.
Tapi keheningan, ternyata, tidak seseram yang ia bayangkan.
Keheningan mengajarkannya banyak hal.
Keheningan mengajarkan bahwa ia tidak butuh Akang untuk bahagia.
Keheningan mengajarkan bahwa Mas Sarif, dengan segala kekurangannya, adalah cukup.
Keheningan mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati datang dari dalam, bukan dari luar.
Sinox menyesap kopinya lagi.
Ia tersenyum.
Aku ikhlas, Akang, bisiknya dalam hati. Mungkin tidak seratus persen. Mungkin masih ada sisa-sisa rasa di sudut hatiku. Tapi aku sedang belajar. Pelan-pelan. Hari demi hari.
Aku tidak akan mengecewakan Mas Sarif lagi.
Aku tidak akan mengecewakan anak-anak lagi.
Aku akan menjadi istri dan ibu yang baik.
Itu janjiku. Kepadamu, dan kepada diriku sendiri.
Saat Lagu Lama Diputar
Radio desa suatu sore memutar lagu lama, lagu yang dulu sering didengarkan Sinox dan Akang saat remaja. Lagu yang menjadi soundtrack kenangan mereka. Lagu yang selalu membuat Sinox tersenyum sekaligus menangis.
Sinox sedang menyapu halaman saat lagu itu mulai terdengar.
Ia berhenti.
Sapunya terhenti di udara.
Matanya menerawang jauh.
Lagu ini, pikirnya. Lagu ini dulu sering kami nyanyikan bersama. Tanpa sadar, aku hafal semua liriknya. Tanpa sadar, setiap nada terasa seperti milik kami.
Tapi Sinox tidak menangis.
Ia hanya tersenyum.
Lalu melanjutkan menyapu.
Bukan karena aku sudah tidak merasakan apa-apa, pikirnya. Tapi karena aku memilih untuk tidak larut. Aku memilih untuk mengingat, tapi tidak terhanyut. Aku memilih untuk tersenyum, lalu melanjutkan hidup.
Itu ikhlas, bukan?
Bukan tentang mati rasa. Tapi tentang memilih untuk tetap hidup meskipun rasa itu masih ada.
Saat Pertanyaan Raha Melukai
Raha yang kini berusia lima belas tahun suatu hari bertanya pada Akang. Pertanyaan sederhana, tapi menusuk.
"Pa, kenapa dulu Pa selingkuh?"
Akang terdiam.
Setya yang mendengar pertanyaan itu, ikut terdiam.
Raha tidak bermaksud jahat. Ia hanya anak remaja yang penasaran. Ingin memahami sesuatu yang tidak ia mengerti. Ingin mencari tahu mengapa ayahnya yang dulu ia kagumi, bisa melakukan kesalahan sebesar itu.
Akang menghela napas.
Ia meraih tangan Raha.
"Ra, Bapak tidak akan membenarkan kesalahan Bapak. Bapak salah. Bapak bersalah. Bapak sudah menyakiti Ibu, menyakiti kalian, menyakiti banyak orang."
"Tapi kenapa Pa melakukannya?"
"Karena Bapak bodoh, Ra. Karena Bapak tidak bisa membedakan antara cinta dan kenangan. Karena Bapak terlalu lama memendam perasaan masa lalu sampai Bapak lupa bahwa masa depan ada di depan mata. Karena Bapak egois. Karena Bapak tidak bersyukur dengan apa yang Bapak miliki."
Raha diam.
"Tapi Bapak sudah berubah, Ra. Bapak sudah bertobat. Bapak sudah berusaha menjadi lebih baik. Bapak tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Bapak berjanji."
"Apa Ibu sudah memaafkan Pa?" tanya Raha pada Setya.
Setya tersenyum. "Ibu sudah memaafkan Bapak, Nak. Bukan karena Bapak pantas. Tapi karena Ibu tidak ingin keluarga ini hancur. Karena Ibu sayang pada kalian. Karena Ibu masih mencintai Bapak, meskipun Bapak pernah menyakiti Ibu."
"Apakah Ibu bahagia sekarang?"
"Ibu bahagia, Nak. Mungkin tidak seperti dulu. Tapi Ibu bahagia. Dan itu cukup."
Raha mengangguk.
Ia memeluk ayahnya. Lalu memeluk ibunya.
"Aku sayang Bapak. Aku sayang Ibu. Aku tidak mau keluarga kita hancur."
Akang dan Setya memeluk anaknya bersama.
Anak-anak lebih kuat dari yang kita kira, pikir Akang. Mereka lebih dewasa dari yang kita kira. Merekalah yang mengajarkan kami arti memaafkan.
Eko dan Pertanyaan yang Sama
Di Tegorejo, Eko yang kini sudah duduk di kelas IX juga bertanya pada Sinox.
"Bu, kenapa dulu Ibu hampir meninggalkan kami?"
Sinox terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Eko, Ibu..."
"Aku tidak marah, Bu. Aku hanya ingin tahu. Supaya aku tidak melakukan kesalahan yang sama ketika aku dewasa nanti."
Sinox menghela napas.
"Ibu bodoh, Nak. Ibu terlalu sibuk merindukan masa lalu, sampai Ibu lupa bahwa kebahagiaan sebenarnya ada di depan mata. Ibu hampir kehilangan Bapak, hampir kehilangan kalian, hanya karena Ibu tidak bisa melepaskan kenangan."
"Apa Ibu sudah ikhlas sekarang?"
Sinox tersenyum. "Ibu sedang belajar ikhlas, Nak. Mungkin tidak sempurna. Tapi Ibu berusaha."
"Apa Ibu masih mencintai laki-laki itu?"
Pertanyaan Eko langsung. Tanpa tedeng aling-aling.
Sinox menatap anak bungsunya.
"Ibu tidak tahu, Nak. Yang Ibu tahu, Ibu mencintai Bapak. Ibu mencintai kalian. Dan Ibu tidak akan mengorbankan keluarga ini untuk sesuatu yang tidak pasti."
"Itu belum menjawab pertanyaanku, Bu."
Sinox tersenyum getir. "Kamu dewasa sekali, Eko."
"Aku sudah hampir lulus SMP, Bu. Aku bukan anak kecil lagi."
"Iya, Nak. Kamu bukan anak kecil lagi. Jadi Ibu akan bicara jujur."
Sinox menarik napas panjang.
"Ibu mungkin tidak akan pernah bisa sepenuhnya melupakan laki-laki itu. Dia adalah bagian dari masa lalu Ibu. Dia mengajarkan Ibu banyak hal. Dia menjadi saksi bisu ketika Ibu jatuh dan bangkit. Tapi itu dulu, Nak. Sekarang, hidup Ibu adalah Bapak dan kalian. Dan Ibu memilih untuk fokus pada itu. Bukan karena Ibu terpaksa. Tapi karena Ibu sadar, kebahagiaan sejati tidak datang dari mengejar bayangan. Tapi dari mensyukuri apa yang sudah ada."
Eko diam cukup lama.
Lalu ia memeluk ibunya.
"Aku bangga sama Ibu, Bu."
"Bangga? Ibu sudah mengecewakan kalian."
"Ibu pernah mengecewakan kami. Tapi Ibu tidak menyerah. Ibu terus berusaha memperbaiki diri. Itu yang membuatku bangga."
Sinox menangis.
Ia memeluk anaknya erat-erat.
Terima kasih, Nak, doanya dalam hati. Terima kasih karena masih mau memaafkan ibumu yang lemah ini. Terima kasih karena tidak pernah berhenti menyayangiku meskipun aku sudah menyakiti kalian.
Lima Tahun Berlalu
Lima tahun setelah percakapan terakhir.
Tidak ada kabar antara Akang dan Sinox.
Mereka benar-benar berpisah.
Seperti janji mereka.
Di Kapuas, Akang telah menjadi kakek yang bahagia. Anto dikaruniai anak lagi, kali ini seorang bayi perempuan yang lucu. Iwan juga sudah memiliki anak pertama. Raha kini duduk di bangku kuliah, mengambil jurusan pertanian, mengikuti jejak ayahnya, meskipun Akang tidak pernah memaksa.
Akang pensiun dari kantor desa. Ia menghabiskan waktunya dengan berkebun, mengajar mengaji di masjid, dan bermain dengan cucu-cucunya.
Setya masih di sampingnya. Perempuan yang sama yang dulu hampir ia tinggalkan, kini menjadi teman setianya di hari tua. Mereka tidak lagi muda. Rambut mereka sudah memutih. Kulit mereka sudah keriput. Tapi cinta mereka, setelah badai yang hampir menghancurkan, kini lebih kuat dari sebelumnya.
Di Tegorejo, Sinox juga telah menjadi nenek yang bahagia. Lina menikah dengan teman kuliahnya dan dikaruniai seorang anak perempuan. Rahman menjadi santri senior di pesantrennya dan berencana melanjutkan kuliah di Timur Tengah. Eko, yang kini sudah duduk di bangku kuliah, menjadi anak yang paling sering pulang, menemani Sinox dan Mas Sarif di hari tua.
Mas Sarif masih ke sawah setiap pagi, meskipun kini ia dibantu oleh beberapa buruh. Sinox masih mengajar, meskipun hanya paruh waktu, karena ia merasa bahagia bisa berbagi ilmu dengan anak-anak desa.
Mereka tidak kaya. Tapi mereka cukup. Dan cukup adalah lebih dari sekadar kaya.
Doa di Hari Jumat
Jumat pagi. Akang pergi ke masjid lebih awal. Ia ingin mendapatkan tempat di barisan pertama. Ingin mendengarkan khotbah dengan khusyuk. Ingin berdoa di saat mustajab.
Di dalam sujudnya, ia berdoa:
Ya Allah, Engkau telah memberiku begitu banyak nikmat. Istri yang setia. Anak-anak yang berbakti. Cucu-cucu yang lucu. Kesehatan di hari tua. Rezeki yang cukup. Aku tidak pantas, tapi Engkau tetap memberiku.
Ampuni dosa-dosaku. Ampuni kesalahanku di masa lalu. Ampuni aku karena pernah menyakiti orang-orang yang aku cintai.
Dan jika Engkau berkenan, sampaikan salamku pada Sinox. Aku tidak perlu bertemu dia. Aku tidak perlu berbicara dengannya. Cukup sampaikan bahwa aku mendoakannya. Bahwa aku berharap dia bahagia. Bahwa aku berterima kasih karena dia pernah menjadi bagian dari hidupku. Amin.
Di masjid yang berbeda, di Tegorejo, Sinox juga sedang bersujud.
Ya Allah, terima kasih untuk segala nikmat-Mu. Untuk Mas Sarif yang masih setia. Untuk anak-anak yang membanggakan. Untuk cucu yang lucu. Untuk kesehatan di hari tua.
Ampuni aku. Ampuni kesalahanku di masa lalu. Ampuni aku karena pernah hampir menghancurkan rumah tanggaku sendiri.
Dan jika Engkau berkenan, sampaikan rinduku pada Akang. Rindu yang suci. Rindu yang tidak lagi menyiksa. Rindu seorang sahabat pada sahabatnya. Katakan padanya bahwa aku mendoakannya. Bahwa aku berharap dia bahagia di sana. Bahwa aku berterima kasih karena dia pernah menjadi bagian terindah dari masa laluku. Amin.
Mereka tidak tahu bahwa di saat yang sama, mereka berdoa untuk satu sama lain.
Mereka tidak tahu bahwa doa mereka, meskipun tidak terucap secara langsung, sampai kepada Tuhan yang Maha Mendengar.
Dan Tuhan, Maha Mengetahui yang terbaik untuk hamba-Nya.
Bertemu Kembali? Tidak. Tapi Cukup.
Banyak orang bertanya pada Akang: "Apakah Bapak tidak ingin bertemu dengan Sinox lagi? Sebagai teman lama?"
Akang selalu menjawab: "Tidak perlu. Doa sudah cukup."
Banyak orang bertanya pada Sinox: "Apakah Ibu tidak ingin bertemu dengan Akang lagi? Sekadar melepas kangen?"
Sinox selalu menjawab: "Kangen boleh. Tapi tidak harus dipenuhi. Cukup doa yang menghubungkan kami."
Mereka belajar bahwa pertemuan fisik bukanlah segalanya.
Kadang, tidak bertemu justru lebih baik. Kadang, jarak adalah rahmat. Kadang, keheningan adalah bentuk cinta yang paling dewasa.
Akang dan Sinox tidak akan pernah bertemu lagi di dunia ini.
Mereka tidak merencanakannya. Mereka tidak menginginkannya. Bukan karena benci. Tapi karena mereka sadar, pertemuan hanya akan membuka luka lama yang sudah berusaha keras mereka sembuhkan.
Lebih baik berpisah dalam damai, daripada bertemu dalam kebingungan.
Lebih baik saling mendoakan dari kejauhan, daripada bertatap muka dengan perasaan yang tidak jelas.
Inilah ikhlas. Ikhlas yang sesungguhnya.
Bukan tentang melupakan. Tapi tentang memilih untuk tidak lagi terikat.
Bukan tentang tidak merasakan apa-apa. Tapi tentang merasakan, lalu melepaskannya dengan lapang dada.
Bukan tentang mengakhiri segalanya. Tapi tentang memulai babak baru, tanpa beban masa lalu.
Pelajaran dari Belajar Mengikhlaskan
Belajar mengikhlaskan mengajarkan Akang dan Sinox banyak hal.
Pertama, ikhlas tidak bisa dipaksakan. Ia datang dengan sendirinya setelah kita berusaha dan berdoa. Tidak ada jalan pintas menuju ikhlas. Tidak ada resep instan. Harus sabar. Harus bertahan. Harus terus berusaha meskipun rasanya mustahil.
Kedua, ikhlas bukan berarti mati rasa. Ikhlas bukan berarti tidak merasakan sakit, tidak merasakan rindu, tidak merasakan apa-apa. Ikhlas adalah ketika kita merasakan semua itu, tetapi kita memilih untuk tidak terhanyut. Kita mengakui bahwa rasa itu ada, tapi kita tidak membiarkannya mengendalikan hidup kita.
Ketiga, ikhlas adalah proses seumur hidup. Mungkin kita tidak akan pernah ikhlas seratus persen. Mungkin akan selalu ada sisa-sisa rasa di sudut hati yang paling tersembunyi. Dan itu tidak apa-apa. Yang penting kita terus berusaha. Yang penting kita tidak menyerah.
Keempat, ikhlas adalah hadiah terbesar yang bisa kita berikan pada diri sendiri. Karena dengan ikhlas, kita membebaskan diri dari belenggu masa lalu. Kita membebaskan diri dari penyesalan, dari kemarahan, dari rasa sakit yang tidak perlu. Kita membebaskan diri untuk bahagia, di sini, sekarang, dengan apa yang kita miliki.
Dan kelima, ikhlas adalah pintu menuju kebahagiaan sejati. Bukan kebahagiaan yang semu, yang tergantung pada orang lain atau keadaan. Tapi kebahagiaan yang lahir dari dalam, dari kesadaran bahwa kita sudah cukup, bahwa apa yang kita miliki sudah cukup, bahwa hidup ini, dengan segala kekurangannya, adalah anugerah yang patut disyukuri.
Setelah Belajar Mengikhlaskan
Akang dan Sinox tidak lagi remaja.
Mereka sudah tua. Rambut mereka memutih. Kulit mereka keriput. Langkah mereka mulai lambat.
Tapi hati mereka, setelah badai yang hampir menghancurkan, kini damai.
Damai karena mereka belajar ikhlas. Damai karena mereka tidak lagi mengejar apa yang tidak bisa mereka miliki. Damai karena mereka bersyukur dengan apa yang ada.
Akang masih sesekali memandang ke arah Timur, ke arah Jawa, ke arah Tegorejo. Bukan karena ia merindukan Sinox. Tapi karena di sanalah ia meninggalkan masa mudanya. Di sanalah ia belajar tentang cinta, tentang persahabatan, tentang arti kehilangan.
Sinox juga sesekali memandang ke arah Timur, ke arah Kalimantan, ke arah Kapuas. Bukan karena ia merindukan Akang. Tapi karena di sanalah ia belajar tentang melepaskan. Tentang menerima takdir. Tentang arti kesabaran.
Mereka tidak akan pernah bertemu lagi.
Tapi mereka tidak pernah benar-benar berpisah.
Karena dalam doa, mereka selalu bersama. Karena dalam kenangan, mereka abadi. Karena dalam untaian rindu dari surga, mereka terhubung, tanpa harus bersentuhan, tanpa harus berbicara, tanpa harus saling memiliki.
Ya Allah, doa Akang setiap malam, pertemukan aku dengan Sinox di surga kelak. Dalam keadaan yang suci. Tanpa dosa. Tanpa penyesalan. Sebagai sahabat. Sebagai saudara. Sebagai dua insan yang saling mencintai karena-Mu.
Ya Allah, doa Sinox setiap malam, pertemukan aku dengan Akang di surga kelak. Dalam keadaan yang Engkau ridhai. Bukan sebagai kekasih yang terlarang. Tapi sebagai hamba-Mu yang saling memaafkan, saling mendoakan, saling menguatkan.
Amin. Ya Rabbal Alamin.
BAB XXVI
Memperbaiki Bahtera Rumah Tangga
Bahtera rumah tangga tidak pernah berlayar di lautan yang selalu tenang. Ada kalanya ombak kecil menggoyang, ada kalanya badai besar menghantam, ada kalanya angin topan datang tanpa peringatan dan hampir menenggelamkan sekalian isinya.
Akang dan Sinox telah melalui badai terbesar dalam kehidupan pernikahan mereka. Cinta masa lalu yang hampir menghancurkan segalanya. Fitnah dan gunjingan yang menyebar seperti api. Kepercayaan yang retak dan hampir hancur berkeping-keping. Anak-anak yang kecewa dan malu. Pasangan yang terluka dan hampir menyerah.
Namun bahtera mereka tidak tenggelam.
Bukan karena mereka hebat. Bukan karena mereka kuat. Tapi karena mereka memilih untuk bertahan. Mereka memilih untuk memperbaiki, meskipun hati masih sakit. Mereka memilih untuk membangun kembali, meskipun fondasi retak di sana-sini. Mereka memilih untuk terus berlayar, meskipun badai belum sepenuhnya reda.
Memperbaiki bahtera rumah tangga adalah pekerjaan seumur hidup. Tidak ada yang instan. Dibutuhkan kesabaran yang luar biasa, pengorbanan yang tidak sedikit, dan yang paling penting, komitmen. Komitmen untuk tidak menyerah. Komitmen untuk terus berusaha, meskipun hasilnya belum terlihat. Komitmen untuk tetap percaya, meskipun kepercayaan itu pernah dikhianati.
Di Kapuas, Akang dan Setya membangun kembali pernikahan mereka. Batu bata demi batu bata. Hari demi hari. Doa demi doa.
Di Tegorejo, Sinox dan Mas Sarif juga melakukan hal yang sama. Tidak ada yang instan. Tidak ada yang mudah. Tapi mereka tidak menyerah. Karena mereka tahu, bahtera ini adalah satu-satunya rumah bagi mereka. Dan mereka tidak ingin kehilangan rumah untuk kedua kalinya.
Akang dan Setya: Memulai dari Awal
Butuh waktu bagi Akang dan Setya untuk benar-benar pulih. Tidak ada lompatan besar. Tidak ada adegan dramatis seperti di film-film. Yang ada hanyalah langkah-langkah kecil, yang jika digabungkan, membentuk jalan panjang menuju kesembuhan.
Langkah pertama: komunikasi.
Akang belajar untuk berbicara pada Setya bukan hanya tentang kebutuhan rumah tangga, berapa beras yang habis, apakah Raha sudah makan, kapan Iwan akan menikah. Ia belajar untuk bertanya tentang perasaan istrinya. Tentang apa yang Setya rasakan. Tentang apa yang Setya pikirkan.
"Ning, kamu masih marah padaku?"
"Kadang, Mas. Saat aku sendirian dan mulai mengingat-ngingat."
"Apa yang bisa aku lakukan agar kamu tidak marah lagi?"
"Tidak ada, Mas. Aku tidak bisa memaksakan diri untuk tidak marah. Tapi aku bisa memilih untuk tidak melampiaskannya. Aku bisa memilih untuk tetap di sini, meskipun marah."
Akang memegang tangan istrinya. "Aku akan menunggu sampai marahmu reda. Berapa pun waktu yang dibutuhkan."
Setya tersenyum getir. "Kamu tidak seperti dulu, Mas. Dulu, kamu tidak pernah mau menunggu. Kamu selalu ingin semuanya cepat."
"Aku belajar, Ning. Karena aku hampir kehilanganmu."
Langkah kedua: waktu berkualitas.
Akang mulai meluangkan waktu lebih banyak untuk Setya. Bukan hanya di rumah, tapi di luar. Ia mengajak Setya jalan-jalan ke kota, makan di warung favorit mereka dulu, duduk di tepi sungai sambil menikmati angin sore.
"Mas, ini seperti pacaran lagi," kata Setya suatu sore, saat mereka duduk di tepi sungai Kapuas.
"Apa salahnya? Kita sudah tua, bukan berarti tidak bisa pacaran."
Setya tertawa. Tawa yang tulus. Tawa yang sudah lama tidak ia dengar.
"Dulu, saat kita masih pacaran, Mas sering membawaku ke sini."
"Aku ingat, Ning. Kamu selalu bawa bekal nasi bungkus. Kita makan bersama sambil melihat matahari terbenam."
"Sekarang kita sudah tua. Keriput. Beruban. Tapi sungainya masih sama."
"Dan cintaku padamu juga masih sama, Ning. Mungkin tidak seperti dulu. Tapi lebih dalam. Karena cinta ini sudah teruji badai."
Setya menangis. Bukan sedih. Tapi haru.
Langkah ketiga: sentuhan.
Setelah berminggu-minggu menjaga jarak, Akang mulai memberanikan diri untuk menyentuh Setya. Bukan sentuhan yang bernafsu. Tapi sentuhan kecil, menepuk pundak, meraih tangan, mengusap rambut.
Setya awalnya kaku. Butuh waktu baginya untuk tidak lagi menarik diri saat disentuh.
Tapi perlahan-lahan, ia mulai membalas.
Suatu malam, saat mereka berbaring di tempat tidur, Setya meraih tangan Akang terlebih dahulu.
"Mas, aku mencintaimu. Meskipun kamu sudah menyakiti aku, aku masih mencintaimu."
Akang menangis. "Aku juga mencintaimu, Ning. Dan aku tidak akan menyakitimu lagi."
Mereka berpelukan.
Untuk pertama kalinya dalam setahun, mereka tidur tanpa jarak.
Sinox dan Mas Sarif: Membangun Kembali Kepercayaan
Di Tegorejo, Sinox dan Mas Sarif juga menjalani proses yang tidak kalah berat.
Mas Sarif bukan laki-laki yang suka bicara. Ia lebih suka bertindak. Tapi setelah badai, ia belajar bahwa tindakan saja tidak cukup. Kadang, istri butuh mendengar kata-kata.
"Sin, aku sayang kamu."
Sinox terkejut mendengar itu. Mas Sarif tidak pernah, atau jarang sekali, mengatakan "aku sayang kamu" dengan lantang.
"Mas, kenapa tiba-tiba?"
"Aku hampir kehilangan kamu, Sin. Aku hampir kehilangan keluarga kita. Itu membuatku sadar bahwa selama ini aku terlalu sibuk bekerja, terlalu sibuk di sawah, sampai lupa mengatakan hal-hal sederhana seperti ini."
"Mas, aku yang seharusnya minta maaf..."
"Sudah, Sin. Aku sudah memaafkanmu. Sekarang, tugas kita adalah membangun kembali. Bukan saling menyalahkan."
Sinox menangis. Ia memeluk suaminya.
"Terima kasih, Mas. Karena masih mau menerimaku kembali."
"Kamu istriku, Sin. Sampai maut memisahkan."
Mas Sarif tidak hanya berbicara. Ia juga bertindak.
Ia mulai meluangkan waktu lebih banyak di rumah. Tidak lagi pulang larut malam dari sawah. Kadang, ia sengaja tidak pergi ke sawah di hari Minggu, hanya untuk menemani Sinox dan Eko.
Ia mulai memperhatikan hal-hal kecil. Ketika Sinox lelah mengajar, Mas Sarif menyiapkan teh hangat. Ketika Sinox sakit kepala, Mas Sarif memijat pelipisnya. Ketika Sinox sedih, Mas Sarif hanya duduk di sampingnya tanpa bicara, karena ia tahu istrinya tidak butuh nasihat, hanya butuh kehadiran.
Sinox melihat semua itu.
Diam-diam, ia bersyukur.
Aku hampir kehilangan laki-laki ini, pikirnya. Hampir kehilangan karena kebodohanku sendiri.
Tapi dia masih di sini. Dia masih bertahan.
Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kedua ini.
Anak-Anak Sebagai Perekat
Anak-anak, baik di Kapuas maupun di Tegorejo, menjadi perekat yang memperkuat kembali bahtera rumah tangga yang rapuh.
Di Kapuas, Anto dan Iwan sering mengundang orang tua mereka ke rumah masing-masing. Mengajak makan bersama. Membiarkan cucu-cucu bermain dengan kakek-neneknya.
Tawa kecil cucu-cucu itu mampu meluluhkan sisa-sisa kebekuan di hati Akang dan Setya.
"Pa, lihat! Cucu Pa sudah bisa jalan!" seru Anto bangga.
Akang tertawa. "Dia hebat. Seperti kakeknya dulu."
"Jangan sombong, Mas," Setya mencubit lengan suaminya.
"Bercanda, Ning."
Mereka tertawa bersama.
Raha yang kini remaja, juga menjadi perekat. Ia tidak lagi diam dan menarik diri. Ia mulai bicara pada ayahnya tentang sekolah, tentang cita-cita, tentang masa depan.
"Pa, aku mau jadi pertanian. Seperti Pa."
Akang terharu. "Kamu yakin? Kamu bisa pilih yang lain."
"Aku yakin, Pa. Aku lihat Pa bekerja di sawah. Keras, tapi Pa tidak pernah mengeluh. Aku ingin seperti Pa."
Akang memeluk anak bungsunya. "Pa bangga padamu, Ra."
Setya menangis di dapur, mendengar percakapan itu. Ia bersyukur, keluarganya perlahan pulih. Rumah yang dulu terasa dingin dan sunyi, kini mulai hangat kembali.
Di Tegorejo, Lina yang kini sudah bekerja dan mandiri, sering mengirimkan bingkisan untuk orang tuanya. Makanan, pakaian, atau sekadar kartu ucapan.
"Bu, aku sayang Ibu. Aku sayang Bapak. Jangan bertengkar lagi, ya," tulis Lina di kartu ucapan.
Sinox menangis membaca kartu itu. Ia menyimpannya di dalam lemari, di tempat yang aman.
Rahman yang masih di pesantren, setiap pulang ke rumah selalu menyempatkan diri mengobrol dengan orang tuanya. Ia tidak pernah menyinggung masa lalu. Ia hanya bicara tentang kegiatan di pesantren, tentang teman-temannya, tentang rencana setelah lulus.
Kehadirannya, meskipun hanya beberapa hari, mampu menghidupkan suasana rumah yang sempat mati.
Eko yang kini remaja, mulai lebih dewasa. Ia tidak lagi membenci ibunya. Ia mulai membantu Sinox di rumah, menemani ke pasar, menjaga adik sepupunya.
"Bu, aku maafin Ibu," kata Eko suatu hari, tanpa diminta.
Sinox terkejut. "Kamu tiba-tiba?"
"Aku sudah lama memaafkan Ibu. Aku hanya butuh waktu untuk mengatakannya."
Sinox memeluk anak bungsunya. "Terima kasih, Nak. Ibu sayang kamu."
"Aku juga sayang Ibu, Bu."
Di balik pintu, Mas Sarif menyeka air mata.
Anak-anak, pikirnya. Merekalah yang menyelamatkan pernikahan ini. Tanpa mereka, mungkin aku sudah menyerah.
Mas Sarif dan Akang? Tidak Pernah Bertemu, Tapi Saling Memaafkan
Mas Sarif dan Akang tidak pernah bertemu secara fisik.
Tapi suatu malam, Mas Sarif mengambil ponsel Sinox, dengan izin istrinya, dan mengetik pesan singkat untuk Akang. Bukan pesan panjang. Hanya satu kalimat.
Mas Sarif (dari ponsel Sinox): Pak Akang, saya Mas Sarif. Saya sudah memaafkan Bapak. Semoga Bapak sekeluarga bahagia.
Di Kapuas, Akang menerima pesan itu dengan tangan gemetar. Ia membacanya berulang kali, lalu menangis.
Ia membalas:
Akang Riyadi: Terima kasih, Pak Sarif. Saya juga memaafkan Bapak. Maafkan saya karena sudah menyusahkan keluarga Bapak. Semoga Bapak sekeluarga juga bahagia.
Mas Sarif membaca balasan itu, lalu tersenyum.
Laki-laki ini, pikirnya. Dia bukan musuhku. Dia hanya manusia yang tersesat, seperti istriku dulu.
Dan aku, aku telah memaafkannya.
Bukan karena dia pantas. Tapi karena aku pantas untuk damai.
Setya dan Sinox? Juga Tidak Pernah Bertemu, Tapi Saling Mendoakan
Setya Ningsih dan Sinox Yanti tidak pernah bertemu secara fisik, hanya sekali panggilan video dulu, yang penuh dengan air mata dan kemarahan.
Tapi setelah semua badai berlalu, Setya mengambil ponselnya dan mengetik pesan untuk Sinox. Bukan dari nomor Akang, tapi dari nomornya sendiri, nomor yang dulu pernah dihubungi Sinox.
Setya Ningsih: Bu Sinox, saya Setya. Saya tidak akan lama-lama. Saya hanya ingin mengatakan, saya sudah memaafkan Ibu. Saya sudah memaafkan suami saya. Saya sudah memaafkan semua orang. Semoga Ibu sekeluarga bahagia. Maafkan saya jika pernah berkata kasar pada Ibu.
Sinox menerima pesan itu saat sedang duduk di teras, ditemani secangkir kopi. Ia membacanya, lalu menangis.
Ia membalas:
Sinox Yanti: Bu Setya, terima kasih. Saya minta maaf sebesar-besarnya atas semua yang sudah saya perbuat. Saya tidak pantas, tapi Ibu tetap memaafkan saya. Semoga Ibu sekeluarga juga bahagia. Terima kasih. Terima kasih banyak.
Setya membaca balasan itu, lalu tersenyum.
Perempuan ini, pikirnya. Dulu aku benci padanya. Sekarang, aku hanya bisa mendoakannya.
Semoga dia bahagia. Semoga keluarganya bahagia. Semoga kita bertemu di surga, tanpa rasa benci, tanpa rasa sakit, hanya sebagai saudara.
Memperbaiki Bahtera: Pekerjaan Sehari-hari
Memperbaiki bahtera rumah tangga bukanlah pekerjaan yang selesai dalam satu hari. Ia adalah pekerjaan sehari-hari. Seperti menanam padi, harus disiram setiap hari, harus dijaga dari hama, harus dipupuk secara teratur.
Akang belajar untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Ia tidak lagi menyimpan rahasia dari Setya. Ponselnya terbuka. Chat-nya tidak dilindungi password. Jika Setya ingin melihat, silakan. Karena ia tidak punya apa pun yang disembunyikan lagi.
"Ning, kamu tidak curiga lagi?" tanya Akang suatu hari.
"Kadang masih, Mas. Tapi aku memilih untuk percaya. Karena tanpa kepercayaan, pernikahan ini hanya akan berjalan di tempat."
"Aku tidak akan mengecewakanmu lagi, Ning."
"Aku tahu, Mas."
Setya tersenyum. Senyum yang tulus.
Sementara itu, Sinox juga belajar untuk lebih menghargai Mas Sarif. Ia tidak lagi membandingkan suaminya dengan laki-laki lain, bahkan dalam hati. Ia belajar untuk menerima Mas Sarif apa adanya, dengan segala kekurangannya.
"Mas, maaf ya kalau aku dulu sering membandingkan Mas dengan orang lain."
"Siapa yang bandingin?"
"Tidak ada. Lupakan."
Mas Sarif tertawa. "Aku tidak pernah merasa dibandingkan, Sin. Karena aku hanya ingin menjadi diriku sendiri. Suamimu. Ayah anak-anakmu."
"Kamu sudah lebih dari cukup, Mas."
"Terima kasih, Sin."
Mereka berdua tersenyum.
Doa untuk Bahtera
Setiap malam, sebelum tidur, Akang dan Setya berdoa bersama.
Bukan doa yang panjang dan rumit. Hanya doa sederhana: syukur karena masih diberi kesempatan, permohonan ampun atas dosa-dosa, dan permohonan perlindungan agar bahtera rumah tangga mereka tidak karam lagi.
"Ya Allah, lindungi keluarga kami. Jangan biarkan kami tersesat lagi. Jangan biarkan setan merusak apa yang sudah Engkau bangun. Aamiin," ucap Setya.
"Aamiin," jawab Akang.
Mereka berpelukan, lalu tidur.
Di Tegorejo, Sinox dan Mas Sarif juga melakukan hal yang sama. Setiap malam, sebelum tidur, mereka berdoa bersama.
"Ya Allah, ampuni dosa kami. Jagalah keluarga kami. Jangan biarkan kami terjerumus dalam kesalahan yang sama. Aamiin," ucap Sinox.
"Aamiin," jawab Mas Sarif.
Mas Sarif meraih tangan Sinox.
"Kita sudah tua, Sin. Tapi kita masih punya waktu. Mari kita gunakan sisa waktu ini untuk saling membahagiakan. Bukan menyakiti."
"Iya, Mas. Aku setuju."
Mereka tersenyum, lalu memejamkan mata.
Pelajaran dari Memperbaiki Bahtera
Memperbaiki bahtera rumah tangga mengajarkan Akang, Setya, Sinox, dan Mas Sarif banyak hal.
Pertama, bahwa tidak ada pernikahan yang bebas dari masalah. Yang membedakan adalah bagaimana pasangan menghadapi masalah itu, apakah saling menyalahkan, atau saling menguatkan.
Kedua, bahwa memaafkan adalah kunci. Tanpa maaf, tidak ada perbaikan. Tanpa maaf, luka akan terus bernanah. Tanpa maaf, bahtera akan terus bocor.
Ketiga, bahwa komunikasi adalah fondasi. Pasangan yang tidak mau berbicara, tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah. Pasangan yang tidak mau mendengar, tidak akan pernah bisa memahami.
Keempat, bahwa waktu berkualitas adalah obat. Bukan hadiah mahal, bukan liburan ke luar negeri, bukan rumah mewah. Tapi kebersamaan sederhana, makan bersama, jalan-jalan sore, duduk diam sambil menikmati secangkir kopi.
Kelima, bahwa anak-anak adalah perekat. Tidak boleh dijadikan alat untuk balas dendam. Tidak boleh dijadikan korban. Tapi harus dilibatkan dalam proses penyembuhan, dengan cara yang bijak.
Dan yang terakhir, bahwa doa adalah kekuatan. Tidak ada yang bisa memperbaiki bahtera rumah tangga tanpa pertolongan Tuhan. Karena manusia hanya berencana, Tuhan yang menentukan. Manusia hanya berusaha, Tuhan yang memberi hasil.
Setelah Bahtera Kembali Berlayar
Kapal yang telah diperbaiki tidak akan pernah sama persis seperti baru. Ia akan memiliki bekas-bekas tambalan di sana-sini. Warnanya mungkin sudah pudar. Catnya mungkin mengelupas. Tapi ia lebih kuat dari sebelumnya. Karena ia telah teruji badai. Karena ia telah hampir tenggelam, tapi selamat.
Pernikahan Akang dan Setya tidak akan pernah sama seperti sebelum badai. Masih ada luka yang kadang terasa, masih ada rasa sakit yang kadang muncul, masih ada kecurigaan yang kadang hadir.
Tapi mereka memilih untuk tidak larut. Mereka memilih untuk terus berlayar. Karena di tengah lautan kehidupan yang tidak pernah tenang, yang bisa mereka lakukan hanyalah terus maju.
Pernikahan Sinox dan Mas Sarif juga tidak akan pernah sama. Tapi mereka tidak menyesal. Karena mereka belajar bahwa cinta sejati bukan tentang tidak pernah terluka, tapi tentang memilih untuk tetap bertahan meskipun terluka.
Mas Sarif tidak lagi pergi ke sawah terlalu pagi. Ia memilih untuk sarapan bersama Sinox terlebih dahulu. Sesekali, ia menggoda istrinya.
"Sin, masakanmu enak ya. Aku jadi semangat ke sawah."
"Bohong, Mas. Kemarin bilang asin."
"Ya yang kemarin asin. Sekarang enak."
Sinox tertawa. Tawa yang tulus.
Mas Sarif juga tertawa.
Di ruang tamu, Eko yang mendengar tawa orang tuanya, tersenyum.
Akhirnya, pikirnya. Akhirnya rumah ini kembali hangat.
Tidak seperti dulu. Tapi hangat.
Dan itu cukup.
BAB XXVII
Persahabatan Sejati
Badai telah berlalu. Rumah tangga yang nyaris tenggelam kini perlahan kembali mengapung. Bukan berarti lautan sudah tenang sepenuhnya, masih ada ombak kecil, masih ada gelombang yang sesekali menggoyang. Tapi kapal tidak lagi oleng. Kemudi sudah kembali di tangan nakhoda yang sadar akan arah.
Akang dan Sinox telah memutuskan untuk berpisah. Bukan sebagai musuh. Tapi sebagai dua insan yang memilih untuk menjaga jarak demi keselamatan bahtera masing-masing.
Tapi persahabatan sejati, persahabatan yang telah teruji oleh waktu, jarak, dan badai, tidak mati hanya karena dua orang memutuskan untuk tidak berkomunikasi lagi.
Ia tetap hidup.
Dalam doa. Dalam harapan. Dalam ketulusan untuk saling mendoakan dari kejauhan.
Enam Bulan Setelah Percakapan Terakhir
Kapuas, enam bulan setelah Akang memblokir nomor Sinox.
Tidak ada lompatan waktu. Tidak ada "sepuluh tahun kemudian". Hanya enam bulan. Cukup singkat untuk melupakan seseorang, tapi cukup panjang untuk menyadari bahwa melupakan bukanlah tujuan yang benar.
Akang duduk di beranda rumah panggungnya. Setya sedang memasak di dapur, aroma rendang mulai tercium, menandakan besok adalah hari Minggu, anak-anak akan datang berkumpul.
"Mas, besok Anto bawa cucu, ya," kata Setya dari dapur.
"Iya, Ning. Aku sudah siapkan jajanan untuk mereka."
Setya tersenyum. Senyum yang dulu lama menghilang, kini mulai sering muncul kembali. Tidak setiap hari, tapi cukup sering untuk membuat Akang bersyukur.
Akang memandang ponselnya. Masih terblokir. Masih sama seperti enam bulan lalu.
Tapi dadanya tidak lagi sesak saat mengingat Sinox. Hanya ada kehangatan, kehangatan aneh yang tidak bisa ia jelaskan. Seperti mengenang masa lalu yang indah, tanpa rasa ingin kembali.
Mungkin ini ikhlas, pikir Akang. Bukan tentang melupakan. Tapi tentang tidak lagi tersiksa saat mengingat.
Bukan tentang tidak merasakan apa-apa. Tapi tentang merasakan, lalu melepaskannya dengan lapang dada.
"Mas, makan!" teriak Setya.
"Iya, Ning. Sebentar."
Akang beranjak dari beranda. Setya menyajikan makanan di meja makan. Wajahnya berseri, mungkin karena besok akan bertemu cucu, mungkin juga karena hari ini Akang membantu membersihkan rumah tanpa disuruh.
"Mas, kamu baik-baik saja? Akhir-akhir ini Mas lebih sering tersenyum sendiri."
"Aku sedang belajar bersyukur, Ning."
"Bersyukur?"
"Iya. Bersyukur karena masih punya istri yang sabar. Bersyukur karena anak-anak tidak membenciku. Bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk memperbaiki semuanya."
Setya tersenyum. "Itu doaku, Mas. Setiap malam."
"Terima kasih, Ning. Aku tahu."
Mereka makan bersama. Tawa dan canda mengisi ruang makan. Rumah yang dulu terasa dingin dan sunyi, kini mulai hangat kembali.
Tegorejo, Waktu yang Sama
Di Tegorejo, enam bulan setelah percakapan terakhir, Sinox sedang menyapu halaman. Eko sudah berangkat sekolah. Mas Sarif sedang ke sawah. Lina sudah kembali ke kota untuk kuliah. Rahman juga sudah kembali ke pesantren.
Rumah terasa sunyi, tapi tidak mencekam. Keheningan yang damai.
Sinox menyapu dedaunan kering yang berguguran dari pohon mangga di halaman. Daun-daun itu berwarna cokelat, kering, dan mudah hancur jika diinjak. Seperti kenangan lama, jika tidak dirawat, ia akan hancur dengan sendirinya.
Itulah yang terjadi padaku dan Akang, pikir Sinox. Kenangan itu tidak lagi basah oleh air mata. Ia sudah kering. Ia sudah tidak menyakitkan lagi.
Ia hanya kenangan. Biasa saja. Tidak perlu disimpan dengan perasaan berlebihan, tidak perlu dibuang dengan amarah.
Sinox menyelesaikan sapuannya, lalu duduk di teras. Secangkir kopi hangat sudah tersedia, buatan Mas Sarif sebelum berangkat ke sawah.
Kopinya pahit, seperti biasa.
Tapi Sinox sudah terbiasa.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari grup alumni SMP, grup yang selama ini ia bisukan karena takut ada yang menyebut nama Akang. Tapi hari ini ia membuka grup itu.
Tidak ada yang menyebut Akang.
Hanya obrolan biasa: tentang anak, tentang pekerjaan, tentang kesehatan di usia senja.
Sinox tersenyum.
Semua orang sudah move on, pikirnya. Semua orang sudah melupakan skandal itu. Hanya aku, dan mungkin Akang, yang masih mengingat. Tapi kita mengingat dengan cara yang berbeda. Bukan dengan sakit. Tapi dengan syukur.
Ia mematikan ponsel, menyesap kopinya, dan menikmati pagi yang cerah.
Ketika Kenangan Datang Tanpa Diundang
Suatu sore, di Kapuas, Akang tanpa sengaja menemukan sebuah CD lama di dalam lemari. CD itu sudah usang, lecet di beberapa bagian, tapi masih bisa dibaca. Ia tidak ingat kapan membeli CD itu, mungkin dua puluh tahun lalu.
Ia memasukkan CD itu ke pemutar.
Lagu lama mengalun.
Lagu yang dulu sering ia dengarkan bersama Sinox.
Lagu yang menjadi saksi bisu masa remaja mereka.
Akang tidak menangis. Tidak juga tersenyum. Ia hanya duduk, mendengarkan, dan membiarkan kenangan itu berlalu seperti air sungai.
Tidak perlu ditahan. Tidak perlu dikejar.
Cukup biarkan ia mengalir, lalu pergi dengan sendirinya.
Setya yang masuk ke ruang tamu mendengar lagu itu. Ia berhenti sejenak.
"Mas, lagu apa itu?"
"Lagu lama, Ning. Kenangan masa muda."
"Kenangan tentang dia?"
Akang tidak berbohong. "Iya, Ning. Tentang dia."
Setya tidak marah. Ia hanya duduk di samping suaminya.
"Apa yang Mas rasakan sekarang? Sakit? Rindu?"
"Aku tidak tahu, Ning. Aku hanya... mengingat. Tidak lebih dari itu."
"Apakah Mas ingin kembali padanya?"
"Tidak, Ning. Aku sudah memilihmu. Dan aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama."
Setya menggenggam tangan Akang.
"Aku percaya padamu, Mas."
Mereka berdua diam, mendengarkan lagu itu sampai selesai.
Setelah lagu berakhir, Akang mengeluarkan CD itu dari pemutar, memasukkannya kembali ke dalam lemari, dan tidak pernah memutarnya lagi.
Sinox dan Surat yang Tidak Dikirim
Di Tegorejo, Sinox juga melakukan hal yang hampir sama.
Ia sedang membersihkan lemari kamarnya ketika menemukan sebuah buku diary lama, buku tulis bergaris yang sudah menguning, sampulnya terlepas di beberapa bagian.
Ia membuka halaman pertama.
Tanggalnya 15 Maret 1992.
Tulisan tangan remaja dengan ejaan yang masih belum sempurna.
"Hari ini Akang ngajarin aku karate. Aku jatuh tiga kali. Lututku lecet. Tapi Akang bilang, 'Nox, kamu kuat. Jangan menyerah.' Aku suka sama Akang. Tapi aku tidak berani bilang. Aku takut."
Sinox tersenyum membaca tulisan itu.
Ia melanjutkan membaca halaman demi halaman, catatan tentang latihan karate, tentang sepeda ontel, tentang curhatan hati yang tidak pernah berani ia ucapkan dengan lantang.
Di halaman terakhir, ada tulisan yang lebih baru, ditulis dengan pena berbeda, tinta yang tidak terlalu pudar. Tanggalnya sekitar enam bulan yang lalu.
"Aku sudah melepaskanmu, Akang. Bukan karena aku tidak sayang. Tapi karena aku sayang, pada suamiku, pada anak-anakku, pada keluargaku. Aku memilih mereka. Bukan karena terpaksa. Tapi karena sadar. Mereka adalah prioritas yang selama ini aku abaikan."
"Aku tidak akan menghapus namamu dari ingatanku. Aku hanya akan memindahkanmu ke tempat yang lebih aman, tempat di mana aku tidak lagi tersiksa saat mengingatmu."
"Terima kasih untuk tiga puluh tahun kenangan. Untuk suka dan duka. Untuk tawa dan air mata. Kau akan selalu menjadi bagian dari ceritaku. Tapi bukan lagi sebagai tokoh utama. Hanya cameo. Hanya kilasan. Hanya kenangan."
Sinox menutup buku diary itu.
Ia menyimpannya kembali di dalam lemari, tidak dibuang, tidak dibakar. Hanya disimpan. Sebagai kenangan. Sebagai bukti bahwa ia pernah muda, pernah mencintai, pernah jatuh dan bangkit.
Mas Sarif yang kebetulan masuk kamar melihat istrinya sedang menyimpan sesuatu.
"Apa itu, Sin?"
"Diary lama, Mas. Kenangan masa muda."
"Apa isinya?"
"Cerita tentang hal-hal yang sudah lewat. Tidak penting lagi sekarang."
Mas Sarif tidak bertanya lebih lanjut. Ia hanya mengangguk.
"Pelan-pelan, Sin. Jangan terlalu lama di kamar. Nanti Eko pulang, kita makan bersama."
"Iya, Mas."
Mas Sarif keluar kamar.
Sinox menatap lemari tempat ia menyimpan diary itu.
Ini adalah persahabatan sejati, pikirnya. Bukan tentang mempertahankan komunikasi. Tapi tentang menyimpan dengan rapi, tidak dibuang, tidak pula dipamerkan. Cukup disimpan. Sebagai kenangan. Sebagai rasa syukur bahwa kita pernah bertemu.
Setya dan Raha: Belajar dari Masa Lalu
Suatu malam, Raha yang kini duduk di bangku SMA bertanya pada ibunya.
"Bu, kenapa sih orang dewasa suka bikin rumit?"
Setya yang sedang menjahit baju yang robek, menoleh pada anak bungsunya.
"Rumit bagaimana, Nak?"
"Iya, kayak Bapak dulu. Punya Ibu yang baik, masih saja cari yang lain. Aku nggak ngerti."
Setya menghela napas. Ia meletakkan jahitannya, lalu duduk di samping Raha.
"Ra, orang dewasa itu tidak sekuat yang kalian kira. Mereka juga bingung. Mereka juga takut. Mereka juga bisa salah."
"Tapi kenapa Bapak nggak mikirin perasaan Ibu? Kenapa Bapak nggak mikirin perasaan kita?"
"Karena Bapak sedang tersesat, Nak. Orang yang tersesat tidak melihat apa pun selain jalan yang ia tuju. Ia tidak melihat orang-orang di sekitarnya. Ia hanya fokus pada satu titik, yang belum tentu benar."
"Dan Ibu masih mau memaafkan Bapak?"
Setya tersenyum. "Memaafkan itu bukan tentang orang yang bersalah, Ra. Memaafkan itu tentang diriku sendiri. Tentang melepaskan beban yang tidak seharusnya aku pikul. Aku memaafkan Bapak karena aku sayang pada Bapak. Juga karena aku sayang pada kalian. Aku tidak ingin keluarga ini hancur hanya karena aku tidak bisa memaafkan."
Raha diam cukup lama.
Lalu ia memeluk ibunya.
"Aku belajar banyak dari Ibu, Bu."
"Belajar apa, Nak?"
"Belajar bahwa cinta itu bukan tentang siapa yang benar. Tapi tentang siapa yang bertahan."
Setya menangis mendengar kata-kata anak bungsunya.
Ia memeluk Raha erat-erat.
"Kamu akan menjadi suami yang baik, Ra. Karena kamu belajar dari kesalahan ayahmu, dan dari ketegaran ibumu."
"Aamiin, Bu."
Eko dan Pertanyaan yang Sama
Di Tegorejo, Eko yang kini duduk di bangku kelas IX juga bertanya pada Sinox.
"Bu, apa yang membuat Ibu bertahan dengan Bapak?"
Sinox terkejut mendengar pertanyaan itu.
"Kenapa kamu tanya begitu, Nak?"
"Ya, aku lihat teman-temanku yang orang tuanya cerai. Mereka bilang, kalau orang tuanya selingkuh, harus cerai. Tapi Ibu dan Bapak tidak cerai. Ibu malah makin sayang sama Bapak. Aku nggak ngerti."
Sinox menghela napas. Ia menarik Eko duduk di sampingnya di teras.
"Eko, pernikahan itu bukan tentang siapa yang benar dan siapa yang salah. Pernikahan itu tentang komitmen. Tentang janji yang diucapkan di hadapan Tuhan dan manusia. 'Sampai maut memisahkan', bukan 'sampai ada masalah, lalu cerai'."
"Tapi Ibu yang salah. Ibu yang hampir selingkuh."
"Ibu tahu, Nak. Ibu salah. Tapi Bapak memilih memaafkan. Bapak memilih bertahan. Bapak memilih memberi Ibu kesempatan kedua. Dan Ibu, Ibu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu."
"Apa Ibu masih mencintai laki-laki itu?"
Pertanyaan Eko langsung. Tanpa tedeng aling-aling.
Sinox menatap anak bungsunya.
"Aku tidak tahu, Nak. Yang aku tahu, aku mencintai Bapak. Aku mencintai kalian. Dan aku tidak akan mengorbankan keluarga ini untuk sesuatu yang tidak pasti."
"Itu belum menjawab pertanyaanku, Bu."
Sinox tersenyum getir. "Kamu dewasa sekali, Eko."
"Aku sudah hampir lulus SMP, Bu. Aku bukan anak kecil lagi."
"Iya, Nak. Kamu bukan anak kecil lagi. Jadi Ibu akan bicara jujur."
Sinox menarik napas panjang.
"Ibu mungkin tidak akan pernah bisa sepenuhnya melupakan laki-laki itu. Dia adalah bagian dari masa lalu Ibu. Dia mengajarkan Ibu banyak hal. Dia menjadi saksi ketika Ibu jatuh dan bangkit. Tapi itu dulu, Nak. Sekarang, hidup Ibu adalah Bapak dan kalian. Dan Ibu memilih untuk fokus pada itu. Bukan karena Ibu terpaksa. Tapi karena Ibu sadar, kebahagiaan sejati tidak datang dari mengejar bayangan. Tapi dari mensyukuri apa yang sudah ada."
Eko diam cukup lama.
Lalu ia memeluk ibunya.
"Aku bangga sama Ibu, Bu."
"Bangga? Ibu sudah mengecewakan kalian."
"Ibu pernah mengecewakan kami. Tapi Ibu tidak menyerah. Ibu terus berusaha memperbaiki diri. Itu yang membuatku bangga."
Sinox menangis. Ia memeluk anaknya erat-erat.
Terima kasih, Nak, doanya dalam hati. Terima kasih karena masih mau memaafkan ibumu yang lemah ini.
Akang dan Surat yang Tidak Pernah Dikirim
Di Kapuas, suatu malam saat Setya sudah tidur, Akang duduk di beranda seorang diri. Ia membuka laci kecil di meja kayu di samping kursi goyangnya. Di dalam laci itu, ada sebuah amplop cokelat.
Amplop yang sudah lama ia siapkan.
Berisi surat untuk Sinox.
Surat yang tidak pernah ia kirim.
Ia membuka amplop itu. Membaca suratnya sekali lagi.
"Sinox Yanti yang duduk di Tegorejo..."
Akang membaca sampai akhir.
Lalu ia melipat surat itu, memasukkannya kembali ke dalam amplop, dan menyimpannya di laci.
Tidak dikirim. Tidak dibuang. Hanya disimpan.
Setya tiba-tiba muncul di belakangnya. "Mas, apa itu?"
Akang terkejut. "Tidak ada, Ning. Hanya kenangan lama."
"Kenangan tentang dia?"
Akang tidak berbohong. "Iya, Ning. Surat yang tidak pernah aku kirim."
"Boleh aku baca?"
Akang ragu sejenak. Lalu ia memberikan amplop itu pada Setya.
Setya membaca surat itu dengan tenang. Wajahnya tidak berubah, tidak marah, tidak cemburu, tidak sedih. Hanya datar.
Setelah selesai, ia melipat surat itu dan mengembalikannya pada Akang.
"Mas, suratnya bagus. Tapi jangan dikirim."
"Aku tidak akan mengirimnya, Ning. Sudah bertahun-tahun aku simpan. Tidak pernah aku kirim."
"Kenapa tidak?"
"Karena mengirim surat itu sama saja dengan membuka pintu yang sudah susah payah aku tutup. Aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama."
Setya duduk di samping suaminya.
"Mas, aku bangga padamu."
"Bangga? Aku sudah menyakitimu, Ning."
"Mas dulu menyakitiku. Tapi Mas berubah. Mas belajar. Mas tidak mengulangi kesalahan. Itu yang membuatku bangga."
Akang menangis.
Ia memeluk istrinya.
"Terima kasih, Ning. Karena masih mau menerimaku apa adanya."
"Kamu suamiku, Mas. Sampai maut memisahkan."
Mereka berdua terdiam. Menikmati malam yang sunyi. Angin gambut bertiup sepoi-sepoi, membawa bau tanah kering dan dedaunan.
Sinox dan Nasihat untuk Lina
Suatu siang, Lina yang sedang cuti kuliah bertanya pada Sinox.
"Bu, aku punya teman. Pacarnya selingkuh. Dia bingung, mau memaafkan atau putus."
Sinox yang sedang merajut, berhenti sejenak.
"Lina, maafkan itu pilihan. Bukan kewajiban. Temanmu tidak harus memaafkan jika dia belum siap. Tapi jika dia memilih memaafkan, pastikan itu karena dia ingin, bukan karena terpaksa."
"Kalau Ibu dulu? Kenapa Ibu memilih memaafkan Bapak? Padahal Ibu yang lebih dulu salah?"
Sinox tersenyum. "Karena Bapak memaafkan Ibu lebih dulu. Bapak memilih bertahan meskipun Ibu sudah menyakiti hatinya. Aku memaafkan Bapak bukan karena Bapak salah, tapi karena Bapak juga telah memaafkanku. Cinta itu timbal balik, Lin. Tidak bisa satu arah."
"Apa Ibu bahagia dengan pilihan Ibu?"
Sinox menatap anak sulungnya. Matanya jujur.
"Aku bahagia, Lin. Mungkin tidak seperti dulu. Mungkin tidak sepenuhnya. Tapi aku bahagia. Karena aku punya Bapak. Karena aku punya kalian. Karena aku punya rumah yang utuh."
Lina memeluk ibunya.
"Aku belajar banyak dari Ibu, Bu."
"Belajar apa?"
"Belajar bahwa cinta itu bukan tentang siapa yang paling benar. Tapi tentang siapa yang paling mau berusaha."
Sinox menangis.
Ia memeluk Lina erat-erat.
"Kamu akan menjadi istri yang baik, Lin. Karena kamu belajar dari kesalahan ibumu, dan dari ketekunan ayahmu."
"Aamiin, Bu."
Persahabatan Sejati: Sebuah Kesimpulan
Apa itu persahabatan sejati?
Apakah harus selalu bertemu? Apakah harus selalu berkomunikasi? Apakah harus selalu hadir dalam setiap momen penting?
Akang dan Sinox belajar bahwa persahabatan sejati tidak menuntut semua itu.
Persahabatan sejati adalah ketika kita bisa berpisah tanpa saling menyalahkan.
Persahabatan sejati adalah ketika kita bisa memaafkan, meskipun luka masih terasa.
Persahabatan sejati adalah ketika kita bisa mendoakan dari kejauhan, tanpa perlu diketahui.
Persahabatan sejati adalah ketika kita bisa bahagia melihat orang yang kita sayangi bahagia, meskipun kebahagiaan itu tidak bersama kita.
Persahabatan sejati adalah ketika kita bisa menjadi saudara, bukan kekasih, bagi seseorang yang pernah sangat kita cintai.
Akang dan Sinox tidak lagi berkomunikasi.
Nomor masih terblokir. Pesan tidak ada yang masuk atau keluar.
Tapi setiap malam, setelah salat Isya, Akang selalu berdoa untuk Sinox.
"Ya Allah, bahagiakan Sinox di sana. Bersama Mas Sarif dan anak-anaknya. Jaga kesehatannya. Berikan dia umur panjang."
Dan setiap malam, setelah salat Isya, Sinox selalu berdoa untuk Akang.
"Ya Allah, lindungi Akang di sana. Bersama Setya dan anak-anaknya. Jauhkan dia dari penyakit. Berikan dia ketenangan di hari tua."
Mereka tidak tahu bahwa doa mereka sama-sama dipanjatkan.
Tapi Tuhan Maha Mendengar.
Tuhan Maha Mengetahui.
Dan di dalam doa yang tidak saling diketahui itu, persahabatan sejati tetap hidup.
Bukan dalam chat. Bukan dalam panggilan. Tapi dalam hati yang saling mendoakan.
Itulah persahabatan sejati.
Akhir Bab XXVII
Enam bulan setelah percakapan terakhir.
Bukan sepuluh tahun. Bukan lompatan waktu yang jauh. Hanya enam bulan.
Tapi cukup untuk mengubah cara pandang. Cukup untuk menyembuhkan luka yang tidak lagi segar. Cukup untuk belajar bahwa persahabatan sejati tidak harus dirayakan dengan pertemuan.
Ia cukup dirayakan dengan doa. Dengan harapan. Dengan keyakinan bahwa orang yang kita sayangi, meskipun tidak lagi kita hubungi, baik-baik saja di sana.
Akang baik-baik saja di Kapuas.
Sinox baik-baik saja di Tegorejo.
Mereka tidak saling mengetahui kabar satu sama lain.
Tapi mereka merasakan.
Ada ikatan yang tidak bisa dijelaskan oleh logika. Ikatan yang tidak putus meskipun jarak dan kesunyian memisahkan. Ikatan yang hanya bisa dijelaskan dengan satu kata: persahabatan.
Persahabatan sejati.
Persahabatan yang tidak akan mati, meskipun mereka berpisah.
Karena persahabatan sejati, seperti cinta sejati, tidak pernah benar-benar berakhir.
Ia hanya berubah bentuk.
Dari komunikasi menjadi doa. Dari pertemuan menjadi harapan. Dari kebersamaan menjadi keikhlasan.
Ya Allah, cukupkanlah pertemuan ini di dunia. Pertemukanlah mereka di surga kelak. Sebagai sahabat. Sebagai saudara. Sebagai dua insan yang saling mencintai karena-Mu. Aamiin.
BAB XXVIII
Untaian Rindu dari Surga
Tidak ada akhir yang sempurna dalam cerita manusia. Yang ada hanyalah jalan panjang yang terus berkelok, lika-liku yang tidak pernah kita duga, dan pelajaran yang datang silih berganti hingga napas terakhir.
Tapi cerita ini, cerita tentang Akang Riyadi dan Sinox Yanti, tentang cinta masa lalu yang nyaris menghancurkan, tentang persahabatan yang bertahan meskipun badai menerjang, belum berakhir.
Karena selama mereka masih bernapas, selama jantung mereka masih berdetak, selama matahari masih terbit dan tenggelam di Tegorejo dan Kapuas, cerita ini terus berjalan.
Bukan sebagai drama. Bukan sebagai skandal. Tapi sebagai perjalanan hidup.
Perjalanan dua manusia yang pernah tersesat, yang pernah saling menyakiti, yang pernah hampir kehilangan segalanya, lalu memilih untuk kembali ke jalan yang benar.
Bukan dengan melupakan. Tapi dengan menerima.
Menerima bahwa cinta tidak harus selalu memiliki. Menerima bahwa persahabatan sejati tidak harus selalu bertemu. Menerima bahwa rindu yang dulu menjadi dosa, kini telah berubah menjadi untaian yang suci.
Untaian rindu dari surga.
Di Kapuas, Pagi yang Cerah
Kapuas, dua tahun setelah percakapan terakhir.
Akang Riyadi kini berusia lima puluh tiga tahun. Masih tegap. Masih bekerja sebagai perangkat desa. Masih setiap pagi pergi ke kantor dengan senyum di wajah.
Tidak ada lagi beban di pundaknya. Tidak ada lagi rahasia yang disembunyikan. Tidak ada lagi panggilan tengah malam yang harus ia rahasiakan dari Setya.
Setya, istrinya, kini lebih sering tersenyum. Rumah yang dulu terasa dingin, kini hangat kembali. Raha yang dulu pendiam dan menarik diri, kini sudah lulus SMA dan kuliah di jurusan pertanian, mengikuti jejak ayahnya. Iwan sudah menikah dan dikaruniai seorang anak laki-laki. Anto dan istrinya sekarang mengelola warung kelontong yang semakin berkembang.
Hari itu, Akang duduk di beranda rumah panggungnya. Seperti biasa, setiap pagi sebelum berangkat ke kantor, ia menyempatkan diri menikmati secangkir kopi pahit buatan Setya.
"Mas, nanti sore jangan lupa beli oleh-oleh untuk besok," kata Setya dari dalam rumah.
"Oleh-oleh untuk apa, Ning?"
"Besok kan acara keluarga di rumah Anto. Kita harus bawa sesuatu."
"Oh, iya. Aku lupa. Nanti aku mampir ke pasar."
Setya keluar rumah, duduk di samping suaminya. Ia membawa secangkir kopi untuk dirinya sendiri.
"Mas, akhir-akhir ini Mas kelihatan lebih tenang."
"Aku memang tenang, Ning."
"Apa Mas tidak pernah teringat pada dia lagi?"
Pertanyaan Setya langsung, tanpa tedeng aling-aling. Tapi bukan karena cemburu. Hanya rasa ingin tahu seorang istri yang sudah benar-benar memaafkan suaminya.
Akang menghela napas.
"Jujur, Ning. Sesekali aku masih teringat. Tapi tidak seperti dulu. Tidak ada lagi rasa gelisah. Tidak ada lagi rasa ingin menghubungi. Aku hanya teringat, lalu aku berdoa untuknya. Lalu aku melanjutkan hidup."
"Apa itu cukup?" tanya Setya.
"Cukup, Ning. Karena persahabatan sejati tidak harus dirayakan dengan pertemuan. Ia cukup dirayakan dengan doa."
Setya tersenyum. Ia menggenggam tangan suaminya.
"Aku bangga padamu, Mas."
"Aku juga bangga padamu, Ning. Karena kau tidak menyerah padaku."
Mereka berdua tersenyum.
Di kejauhan, matahari terbit dengan sempurna. Langit berwarna jingga keemasan. Burung-burung mulai berkicau.
Hari baru dimulai.
Tanpa beban. Tanpa drama. Hanya kehidupan yang terus berjalan.
Di Tegorejo, Waktu yang Sama
Di Tegorejo, Sinox Yanti juga memulai paginya dengan senyum.
Ia kini berusia lima puluh satu tahun. Masih mengajar di Mts Gringsing, meskipun hanya paruh waktu. Mas Sarif masih setia di sawahnya, ditemani oleh dua orang buruh yang ia pekerjakan.
Eko kini duduk di bangku kelas X, SMA di kecamatan. Setiap pagi, Sinox menyiapkan bekal untuk anak bungsunya, lalu mengantarnya ke halte bus.
Lina sudah lulus kuliah dan bekerja di sebuah perusahaan di kota. Rahman sudah menjadi santri senior di pesantrennya, dan berencana melanjutkan studi ke Timur Tengah.
Rumah Sinox tidak lagi sunyi. Suara tawa, suara TV, suara Mas Sarif yang sesekali menggoda istrinya, semua mengisi ruang-ruang yang dulu terasa kosong.
Pagi itu, Sinox sedang menyapu halaman ketika Mas Sarif keluar dari kamar dengan langkah santai.
"Sin, kopi dong."
"Iya, Mas. Sebentar."
Sinox masuk ke dapur, menyeduh kopi, pahit, tanpa gula, sesuai selera suaminya. Lalu ia menyajikannya di meja makan.
Mas Sarif duduk di kursi favoritnya.
"Sin, nanti malam Lina pulang, ya."
"Iya, Mas. Katanya mau bawa oleh-oleh dari kota."
"Wah, bagus. Aku jadi kangen sama anak sulung kita."
Mereka berbincang ringan tentang anak-anak, tentang sawah yang mulai panen, tentang tetangga yang baru saja punya cucu.
Tidak ada yang istimewa.
Tapi kebahagiaan justru sering hadir dalam hal-hal yang tidak istimewa.
Setelah Mas Sarif berangkat ke sawah, Sinox duduk di teras seorang diri.
Ia memandang ponselnya. Kontak Akang masih terblokir. Tidak ada niat untuk membuka blokir.
Tapi di dalam hatinya, ia selalu berdoa untuk Akang. Setiap malam. Tanpa pernah lupa.
Ya Allah, jaga Akang di sana. Bahagiakan dia bersama Setya. Jauhkan dia dari penyakit. Berikan dia umur panjang.
Dan jika Engkau berkenan, pertemukan aku dengan dia di surga kelak. Sebagai sahabat. Sebagai saudara. Tanpa beban. Tanpa rasa bersalah.
Sinox tersenyum.
Ia menyesap kopinya.
Ini cukup, pikirnya. Aku tidak perlu lebih dari ini.
Ketika Mas Sarif dan Akang Menjadi... Tidak, Mereka Tidak Bertemu
Banyak orang bertanya pada Mas Sarif: "Apakah Bapak tidak ingin bertemu dengan laki-laki itu? Laki-laki yang dulu hampir merebut istri Bapak?"
Mas Sarif selalu menjawab: "Tidak perlu. Aku sudah memaafkannya dari sini."
Banyak orang juga bertanya pada Setya: "Apakah Ibu tidak ingin bertemu dengan perempuan itu? Perempuan yang dulu hampir merebut suami Ibu?"
Setya juga menjawab dengan cara yang sama: "Tidak perlu. Aku sudah memaafkannya. Doa sudah cukup."
Mereka tidak pernah bertemu secara fisik. Mas Sarif dan Akang, dua laki-laki yang sama-sama pernah terluka oleh cinta yang sama, tidak perlu bertemu untuk saling memaafkan.
Suatu malam, Sinox bertanya pada Mas Sarif.
"Mas, apa Mas tidak penasaran dengan Akang? Ingin melihat wajahnya? Ingin bicara langsung?"
Mas Sarif yang sedang berbaring di tempat tidur, menoleh pada istrinya.
"Penasaran? Sedikit. Tapi apa gunanya? Bertemu dengannya tidak akan mengubah apa pun. Aku sudah memaafkannya. Dia juga sudah memaafkanku, meskipun kita tidak pernah bertemu. Bukankah itu cukup?"
Sinox tersenyum. "Mas dewasa sekali."
"Bukan dewasa, Sin. Tapi lelah. Aku sudah lelah dengan drama. Yang aku inginkan sekarang hanya ketenangan. Bersamamu. Bersama anak-anak. Bersama keluarga. Tidak perlu ribut dengan masa lalu."
Sinox menggenggam tangan suaminya.
"Aku beruntung punya suami seperti Mas."
"Kamu juga beruntung punya istri seperti aku, Sin."
Mereka berdua tertawa.
Di Kapuas, pada malam yang sama, Setya juga bertanya pada Akang.
"Mas, apa Mas tidak ingin bertemu dengan Sinox secara langsung? Untuk meminta maaf? Untuk mengucapkan terima kasih? Untuk berpamitan secara fisik?"
Akang menggeleng. "Tidak perlu, Ning. Kita sudah berpamitan, dalam doa. Dalam hati. Itu sudah cukup."
"Apa Mas tidak penasaran bagaimana rupanya sekarang?"
"Penasaran, iya. Tapi penasaran tidak harus dipuaskan. Aku memilih untuk tidak tahu. Karena dengan tidak tahu, aku bisa terus berdoa untuknya tanpa beban."
Setya menatap suaminya dengan pandangan yang sulit dijelaskan, ada bangga, ada haru, ada juga sedikit sedih.
"Mas, aku sayang kamu."
"Aku juga sayang kamu, Ning. Lebih dari yang kamu kira."
Mereka berdua tersenyum.
Rindu yang Berubah Wujud
Rindu Akang pada Sinox, dan rindu Sinox pada Akang, tidak lagi seperti dulu.
Dulu, rindu itu membakar. Rindu itu menyiksa. Rindu itu mendorong mereka pada dosa. Rindu itu membuat mereka lupa pada kewajiban, lupa pada pasangan, lupa pada keluarga.
Sekarang, rindu itu telah berubah wujud.
Ia menjadi doa. Doa yang dipanjatkan setiap malam, tanpa perlu diketahui yang didoakan.
Ia menjadi harapan. Harapan bahwa yang lain baik-baik saja di sana, bahagia dengan keluarganya, sehat dan berkecukupan.
Ia menjadi syukur. Syukur karena pernah bertemu, pernah mengenal, pernah menjadi bagian dari hidup satu sama lain, meskipun hanya sebentar.
Akang tidak lagi gelisah saat nama Sinox hadir di pikirannya. Ia hanya tersenyum, lalu melanjutkan aktivitasnya.
Sinox tidak lagi menangis saat kenangan tentang Akang datang tanpa diundang. Ia hanya memejamkan mata, mengucap syukur, lalu membuka mata kembali untuk menghadapi kenyataan.
Inilah untaian rindu dari surga.
Rindu yang tidak menyiksa. Rindu yang tidak mengganggu. Rindu yang damai. Rindu yang suci.
Kehidupan Berjalan Seperti Biasa
Tahun berganti tahun.
Di Kapuas, Akang dan Setya menjalani hari-hari mereka dengan tenang. Pensiun dari kantor desa, Akang menghabiskan waktunya dengan berkebun dan mengajar mengaji di masjid. Setya masih setia memasak untuk suaminya, meskipun kadang masakannya terlalu asin atau terlalu hambar, dan Akang tidak pernah mengeluh.
Raha lulus kuliah dan kembali ke Kapuas untuk membantu petani-petani muda. Iwan menjadi perangkat desa, menggantikan posisi ayahnya. Anto dan keluarganya pindah ke rumah yang lebih besar, tapi setiap minggu mereka tetap berkumpul di rumah orang tua.
Di Tegorejo, Sinox dan Mas Sarif juga menikmati hari tua mereka dengan damai. Mas Sarif masih ke sawah, tapi tidak setiap hari, hanya ketika cuaca cerah dan tubuhnya terasa bugar. Sinox sudah berhenti mengajar, tapi ia sering diminta menjadi penceramah di acara-acara ibu-ibu desa.
Lina menikah dengan teman kantornya dan dikaruniai seorang anak perempuan. Rahman menjadi ustaz di pesantren tempat ia dulu mondok, dan menikah dengan putri kiai di sana. Eko lulus SMA dan melanjutkan kuliah di kota, tapi setiap akhir pekan ia pulang ke Tegorejo.
Tidak ada drama. Tidak ada skandal. Tidak ada air mata yang berlebihan.
Hanya kehidupan yang terus berjalan.
Seperti sungai yang mengalir, kadang deras, kadang lambat, tapi tidak pernah berhenti.
Ketika Pertanyaan Itu Datang Lagi
Suatu hari, Raha, yang kini sudah menjadi seorang ayah, bertanya pada Akang.
"Pa, apa Pa menyesal?"
Akang yang sedang duduk di beranda, menoleh pada anak bungsunya.
"Menyesal tentang apa, Ra?"
"Tentang masa lalu. Tentang perempuan itu. Tentang semua yang terjadi."
Akang menghela napas panjang.
"Dulu, Pa menyesal. Sangat menyesal. Pa hampir kehilangan Ibu, hampir kehilangan kalian, hampir kehilangan segalanya hanya karena Pa tidak bisa mengendalikan perasaan."
"Dan sekarang?"
"Sekarang, Pa tidak menyesal. Bukan karena Pa merasa benar. Tapi karena Pa belajar dari kesalahan. Pa belajar bahwa cinta tidak harus selalu memiliki. Pa belajar bahwa persahabatan sejati lebih berharga daripada hubungan terlarang. Pa belajar bahwa kebahagiaan sejati tidak datang dari mengejar bayangan, tapi dari mensyukuri apa yang ada."
Raha terdiam. Lalu ia tersenyum.
"Pa, aku bangga dengan Pa."
"Bangga? Pa sudah mengecewakan kalian."
"Pa dulu mengecewakan kami. Tapi Pa berubah. Pa belajar. Pa tidak mengulangi kesalahan. Itu yang membuatku bangga."
Akang menangis.
Ia memeluk anak bungsunya.
Anak-anak, pikir Akang. Merekalah hadiah terbesar dalam hidupku.
Merekalah yang mengajarkanku arti cinta yang tulus, cinta yang tidak pamrih, cinta yang bertahan meskipun terluka.
Di Tegorejo, Percakapan yang Sama
Di Tegorejo, Eko juga bertanya pada Sinox.
"Bu, apa Ibu menyesal?"
Sinox yang sedang merajut, berhenti sejenak.
"Menyesal tentang apa, Nak?"
"Tentang masa lalu. Tentang laki-laki itu. Tentang semua yang terjadi."
Sinox meletakkan rajutannya. Ia menarik Eko duduk di sampingnya.
"Dulu, Ibu menyesal. Sangat menyesal. Ibu hampir kehilangan Bapak, hampir kehilangan kalian, hampir kehilangan segalanya hanya karena Ibu tidak bisa melepaskan masa lalu."
"Dan sekarang?"
"Sekarang, Ibu tidak menyesal. Bukan karena Ibu merasa benar. Tapi karena Ibu belajar dari kesalahan. Ibu belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu tentang mendapatkan apa yang diinginkan. Tapi tentang mensyukuri apa yang sudah ada. Ibu belajar bahwa Bapak, dengan segala kekurangannya, adalah anugerah yang tidak pernah Ibu syukuri dengan benar."
"Apa Ibu masih merindukan laki-laki itu?"
Sinox menatap anak bungsunya. Matanya jujur.
"Ibu sesekali masih teringat. Tapi tidak lagi merindukan seperti dulu. Ibu hanya mendoakannya. Setiap malam. Tanpa pernah lupa. Itu cara Ibu menjaga persahabatan, tanpa harus berkomunikasi, tanpa harus bertemu."
Eko memeluk ibunya.
"Aku sayang Ibu, Bu."
"Aku juga sayang kamu, Nak. Lebih dari apa pun."
Doa yang Sama, Langit yang Sama
Setiap malam, setelah salat Isya, Akang dan Sinox, tanpa saling mengetahui, memanjatkan doa yang hampir sama.
Akang berdoa:
"Ya Allah, jika Sinox masih hidup, bahagiakan dia di sana. Bersama Mas Sarif dan anak-anaknya. Jaga kesehatannya. Berikan dia umur yang panjang. Dan jika Engkau berkenan, sampaikan salamku padanya. Salam dari sahabat yang tidak pernah melupakannya."
Sinox berdoa:
"Ya Allah, jika Akang masih hidup, lindungi dia di sana. Bersama Setya dan anak-anaknya. Jauhkan dia dari penyakit. Berikan dia ketenangan di hari tua. Dan jika Engkau berkenan, sampaikan rinduku padanya. Rindu yang suci. Rindu yang tidak menyiksa. Rindu seorang sahabat pada sahabatnya."
Mereka tidak tahu bahwa doa mereka sama-sama dipanjatkan.
Tapi Tuhan Maha Mendengar.
Dan di dalam doa-doa yang tidak saling diketahui itu, persahabatan sejati tetap hidup.
Bukan dalam chat. Bukan dalam panggilan. Bukan dalam pertemuan.
Tapi dalam hati yang saling mendoakan.
Untaian Rindu dari Surga
Apa sebenarnya "Untaian Rindu dari Surga" itu?
Apakah ia tentang dua orang yang dipertemukan kembali setelah berpuluh-puluh tahun? Apakah ia tentang cinta yang tidak pernah mati? Apakah ia tentang takdir yang mempertemukan kembali dua insan yang seharusnya bersama?
Tidak.
"Untaian Rindu dari Surga" bukan tentang itu.
Ia adalah tentang dua orang yang memilih untuk tidak bersama, karena mereka sadar bahwa kebahagiaan sejati tidak harus datang dari orang yang paling kita cintai.
Ia adalah tentang dua orang yang memilih untuk menjaga jarak, karena mereka sadar bahwa jarak adalah bentuk cinta yang paling tulus ketika kebersamaan hanya akan melukai banyak pihak.
Ia adalah tentang dua orang yang memilih untuk berpisah, bukan karena benci, tapi karena sayang. Sayang pada pasangan, sayang pada anak-anak, sayang pada keluarga yang telah dibangun dengan susah payah.
Ia adalah tentang rindu yang berubah wujud, dari rindu yang menyiksa menjadi rindu yang damai, dari rindu yang mendorong pada dosa menjadi rindu yang mengantarkan pada doa.
Akang dan Sinox tidak akan pernah bersama.
Mereka tidak akan pernah bertemu lagi.
Mereka tidak akan pernah berbicara lagi, mendengar suara satu sama lain, atau melihat wajah satu sama lain.
Tapi mereka tidak pernah benar-benar berpisah.
Karena dalam doa, mereka selalu bersama. Karena dalam harapan, mereka abadi. Karena dalam untaian rindu dari surga, mereka terhubung, tanpa harus bersentuhan, tanpa harus berbicara, tanpa harus saling memiliki.
Pesan dari Cerita Ini
Kepada siapa pun yang membaca cerita ini, yang mungkin sedang bergumul dengan rindu pada masa lalu, yang mungkin sedang tergoda untuk membuka kembali lembaran lama yang sudah usang, yang mungkin sedang merasa tidak bahagia dengan apa yang dimiliki sekarang, ingatlah:
Rindu itu manusiawi. Cinta masa lalu itu wajar. Tapi jangan biarkan rindu dan cinta masa lalu menghancurkan apa yang sudah Anda bangun dengan susah payah.
Hargai pasangan Anda. Mereka adalah orang yang memilih Anda, meskipun Anda bukan yang pertama. Mereka adalah orang yang bertahan, meskipun banyak godaan. Mereka adalah orang yang merawat Anda di hari tua, meskipun Anda pernah menyakiti mereka.
Jika Anda memiliki sahabat lama yang membuat hati Anda berdebar, ingatlah batasan. Jaga jarak. Jaga komunikasi. Jangan biarkan setan mengambil kesempatan dari kerentanan Anda.
Dan jika Anda sudah terlanjur jatuh, bangkitlah. Tidak ada kata terlambat untuk bertaubat. Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki. Tuhan Maha Pengampun. Pasangan yang baik juga akan memaafkan, jika Anda sungguh-sungguh berubah.
Akhirnya, ingatlah bahwa hidup di dunia ini singkat. Apa yang tidak bisa Anda selesaikan di dunia, selesaikanlah dengan doa. Apa yang tidak bisa Anda miliki di dunia, relakanlah untuk surga.
Karena di surga, insya Allah, semua rindu akan dipertemukan.
Dalam untaian yang suci. Tanpa dosa. Tanpa tangisan. Hanya cinta. Cinta yang abadi.
Bukan Tamat, Tapi Bersambung
Cerita Akang dan Sinox, cerita tentang cinta masa lalu, tentang persahabatan sejati, tentang perjuangan mempertahankan rumah tangga, tidak berakhir di sini.
Ia akan terus berlanjut selama mereka masih hidup.
Selama Akang masih tersenyum di beranda rumah panggungnya, ditemani Setya dan anak-anaknya.
Selama Sinox masih menyesap kopi di teras rumahnya, ditemani Mas Sarif dan keluarganya.
Selama mereka masih berdoa untuk satu sama lain setiap malam, tanpa perlu diketahui, tanpa perlu dibalas.
Cerita ini bukan tentang akhir yang bahagia.
Tapi tentang proses yang berkelanjutan.
Tentang belajar, jatuh, bangkit, dan belajar lagi.
Tentang mencintai, kehilangan, memaafkan, dan melepaskan.
Tentang menemukan kedamaian setelah badai.
Dan tentang untaian rindu dari surga, yang tidak pernah putus, meskipun jarang dirangkai.
Epilog
Dua puluh tahun kemudian.
Akang dan Sinox kini sudah sangat tua. Akang berusia tujuh puluh tiga tahun. Sinox tujuh puluh satu tahun.
Mereka tidak pernah bertemu lagi.
Tidak pernah berkomunikasi lagi.
Tidak pernah mendengar suara satu sama lain lagi.
Tapi setiap malam, mereka masih berdoa untuk satu sama lain, seperti yang sudah mereka lakukan selama puluhan tahun.
Doa yang sama. Tidak berubah.
"Ya Allah, jagalah dia di sana..."
Setya dan Mas Sarif, pasangan yang pernah terluka, yang pernah hampir menyerah, yang memilih bertahan, kini telah menjadi kakek dan nenek yang bahagia. Cucu-cicit mereka bermain di halaman rumah, tertawa dengan riang.
Suatu sore, di Kapuas, cucu Akang yang masih kecil bertanya:
"Kek, kenapa Kekek sering melamun ke arah timur?"
Akang tersenyum. "Kakek sedang mendoakan teman lama, Nak."
"Temannya siapa, Kek?"
"Teman yang dulu pernah sangat dekat dengan Kakek. Tapi sekarang sudah lama tidak bertemu."
"Kekek kangen sama dia?"
Akang mengelus kepala cucunya. "Kangen? Sedikit. Tapi doa sudah cukup, Nak. Doa lebih kuat daripada kangen."
Di Tegorejo, pada sore yang sama, cucu Sinox juga bertanya:
"Nek, kenapa Nenek suka tersenyum sendiri kalau melihat ke arah barat?"
Sinox tersenyum. "Nenek sedang mendoakan teman lama, Sayang."
"Temannya siapa, Nek?"
"Teman yang dulu pernah menjadi bagian terindah dari masa muda Nenek."
"Nenek kangen sama dia?"
Sinox menghela napas, bukan napas berat, tapi napas lega. "Dulu, Nenek sangat merindukannya. Sampai Nenek hampir kehilangan segalanya. Tapi sekarang? Nenek tidak merindukannya lagi. Nenek hanya mendoakannya. Itu lebih dari cukup."
Di langit yang sama, di Kapuas dan Tegorejo, senja turun dengan indahnya.
Langit berwarna jingga keemasan, seperti dilukis oleh tangan yang maha kuasa.
Akang menatap langit itu.
Sinox juga menatap langit yang sama.
Mereka tidak bersama.
Tapi untuk sesaat, di dalam doa dan harapan, mereka terhubung.
Oleh untaian rindu dari surga.
Yang tidak pernah putus. Yang tidak pernah pudar. Yang akan terus teruntai, sampai waktu yang ditentukan.
TAMAT



Slamet Riyadi
29 Juli 2025 03:27:50
Semoga kita bisa kerjasama bu. ...