Desa Dabulon
Kecamatan Lumbis, Kabupaten Nunukan
Pentas Empati KKN 56 Desa Dabulon: Wayang Kardus Ajarkan Anak Tolak Bullying dan Kenali Emosi
Pentas Empati KKN 56 Desa Dabulon: Wayang Kardus Ajarkan Anak Tolak Bullying dan Kenali Emosi
DABULON — Kamis, 2 Juli 2026, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 56 Desa Dabulon kembali melaksanakan agenda program kerja pendidikan melalui kegiatan Lentera Ilmu. Mengusung tema “Pentas Empati: Suara Wayang, Suara Hati”, kegiatan ini menghadirkan pembelajaran kreatif bagi anak-anak Desa Dabulon melalui pementasan drama anti-bullying menggunakan wayang kardus serta pengenalan berbagai macam emosi.
Kegiatan tersebut dikoordinasikan oleh Sintha Agiulina Tarigan yang membawakan pementasan drama anti-bullying dengan media wayang kardus. Melalui tokoh-tokoh wayang sederhana dan cerita yang mudah dipahami, anak-anak diajak melihat contoh perilaku perundungan, dampak yang dapat dirasakan oleh korban, serta pentingnya menjadi teman yang baik.
Pementasan wayang dikemas dengan suasana interaktif dan menyenangkan. Anak-anak terlihat antusias menyaksikan jalan cerita, tertawa saat melihat gerakan wayang, namun juga mulai memahami pesan penting yang disampaikan melalui dialog para tokoh. Dalam cerita tersebut, anak-anak diajak untuk tidak mengejek, tidak mengucilkan teman, tidak melakukan kekerasan, serta berani menolong apabila melihat teman mengalami perlakuan yang tidak baik.
Setelah pementasan drama anti-bullying, kegiatan dilanjutkan oleh Nadia Aulia Vega dengan materi pengenalan macam-macam emosi. Anak-anak diperkenalkan pada beberapa emosi dasar, seperti senang, sedih, marah, takut, kecewa, dan cemas. Melalui penjelasan sederhana, contoh situasi sehari-hari, serta interaksi bersama peserta, anak-anak belajar mengenali perasaan yang sedang mereka alami.
Dalam sesi tersebut, anak-anak juga diberikan pemahaman mengenai cara mengontrol emosi. Mereka diajak untuk tidak langsung meluapkan kemarahan kepada teman, melainkan belajar menenangkan diri, berbicara dengan baik, meminta bantuan kepada orang dewasa, serta menyampaikan perasaan secara positif. Pembelajaran ini menjadi bagian penting dalam membentuk sikap saling menghargai di lingkungan anak-anak Desa Dabulon.
Koordinator kegiatan, Sintha Agiulina Tarigan, menyampaikan bahwa penggunaan wayang kardus dipilih karena mampu menarik perhatian anak-anak sekaligus memudahkan penyampaian pesan moral.
“Melalui wayang kardus, kami ingin memberikan pemahaman kepada anak-anak bahwa bullying bukanlah hal yang biasa dan tidak boleh dianggap sebagai candaan. Setiap anak memiliki perasaan yang harus dihargai. Kami berharap mereka dapat menjadi teman yang saling menjaga, saling menolong, dan tidak menyakiti satu sama lain,” ujar Sintha Agiulina Tarigan.
Ia menambahkan bahwa pementasan tersebut bukan hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana pendidikan karakter yang dapat dipahami anak-anak melalui cerita, tokoh, dan contoh perilaku yang dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari.
Sementara itu, Ketua KKN Kelompok 56 Desa Dabulon menyampaikan bahwa kegiatan Lentera Ilmu merupakan bentuk kepedulian mahasiswa terhadap perkembangan pendidikan dan karakter anak-anak di desa.
“Kegiatan ini kami laksanakan sebagai ruang belajar yang menyenangkan bagi anak-anak. Kami ingin mereka tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga memahami nilai empati, keberanian, kepedulian, dan kemampuan mengendalikan emosi. Pencegahan bullying harus dimulai sejak dini, salah satunya dengan mengajarkan anak-anak untuk menghargai diri sendiri dan orang lain,” ungkap Ketua KKN Kelompok 56 Desa Dabulon.
Kegiatan “Pentas Empati: Suara Wayang, Suara Hati” memiliki maksud untuk membangun kesadaran anak-anak mengenai pentingnya menciptakan lingkungan pergaulan yang aman, ramah, dan bebas dari perundungan. Melalui metode pembelajaran kreatif, anak-anak diajak memahami bahwa setiap tindakan dan perkataan dapat memberikan dampak terhadap perasaan teman di sekitarnya.
Adapun tujuan kegiatan ini adalah untuk mencegah terjadinya bullying di lingkungan anak-anak Desa Dabulon, menanamkan sikap saling menghormati, meningkatkan rasa empati, serta membekali anak-anak dengan kemampuan mengenali dan mengelola emosi. Selain itu, kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan keberanian anak-anak untuk berbicara kepada orang tua, guru, atau orang dewasa apabila mengalami maupun menyaksikan tindakan perundungan.
Antusiasme anak-anak terlihat selama kegiatan berlangsung. Mereka aktif menjawab pertanyaan, menyebutkan berbagai jenis emosi, serta memberikan tanggapan terhadap pesan yang disampaikan dalam drama wayang. Beberapa anak juga tampak berani menceritakan bagaimana seharusnya bersikap ketika melihat teman sedang sedih, marah, atau mendapat perlakuan tidak menyenangkan.
Melalui kegiatan ini, KKN Kelompok 56 Desa Dabulon berharap anak-anak dapat membawa nilai-nilai baik yang diperoleh ke dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah, di sekolah, maupun saat bermain bersama teman. Harapannya, anak-anak Desa Dabulon dapat tumbuh menjadi generasi yang memiliki empati, mampu mengendalikan emosi, berani menolak bullying, serta menjadi pelopor lingkungan pertemanan yang saling menghargai dan penuh kepedulian.



Danzo
18 Juni 2026 09:53:32
...