Desa Dabulon
Kecamatan Lumbis, Kabupaten Nunukan
BUKU II TETRALOGI LANGIT BIRU: LANGIT BIRU DI UJUNG REMAJA

LANGIT BIRU DI UJUNG REMAJA
Roman tentang Persahabatan yang Diuji, Cinta Pertama, dan Jalan Panjang Menuju Cita-Cita
Oleh: Slamet Riyadi
Disclaimer
Novel ini adalah karya fiksi. Nama tokoh, tempat, peristiwa, dialog, serta konflik yang terdapat di dalamnya merupakan hasil pengembangan imajinasi penulis untuk kepentingan sastra.
Kisah ini merupakan kelanjutan dari roman Langit Biru Anak Desa. Cerita berfokus pada perjalanan Rantaka, Liris, Banyu, dan Jagra ketika mereka memasuki masa remaja dan melanjutkan pendidikan ke SMP di Kecamatan Rawa Jaya.
Roman ini mengangkat nilai persahabatan, pendidikan, keteguhan hati, keluarga, kerja keras, cinta pertama, serta perjuangan anak-anak desa dalam mempertahankan mimpi di tengah keterbatasan hidup.
Prolog — Jalan yang Membelah Langit
Pagi di Desa Wanasari selalu dimulai dengan cara yang sederhana.
Suara ayam jantan terdengar dari belakang rumah-rumah warga. Asap tipis naik dari dapur kayu. Embun masih menggantung di ujung daun singkong. Dari kejauhan, suara sungai mengalir pelan, membawa air dari hulu yang melewati kebun, ladang, dan rumah-rumah kecil di tepi desa.
Namun pagi itu, ada sesuatu yang berbeda.
Di halaman SD Wanasari, empat remaja berdiri di bawah pohon beringin tua.
Pohon itu masih sama seperti bertahun-tahun lalu. Batangnya besar, akar-akarnya mencengkeram tanah, dan daunnya menaungi halaman sekolah yang kini telah jauh lebih rapi. Atap bangunan sekolah tidak lagi bocor seperti dahulu. Jendelanya telah memiliki kaca. Di dekat gerbang, beberapa bunga tumbuh dalam pot bekas yang dicat warna-warni.
Di dinding depan sekolah, papan kayu bertuliskan kalimat yang telah menjadi bagian dari kehidupan Desa Wanasari masih tergantung.
LANGIT BIRU
Mimpi Anak Desa Tidak Pernah Terlalu Tinggi
Rantaka Wening berdiri paling dekat dengan papan itu.
Seragam putih biru yang dikenakannya masih tampak baru. Sepatu hitamnya belum banyak terkena debu. Namun, wajahnya tidak sepenuhnya menunjukkan kegembiraan seperti anak-anak lain yang baru menerima seragam SMP.
Ia memandangi jalan panjang yang membelah kebun singkong menuju arah kecamatan.
Jalan itu tidak sepenuhnya mulus.
Di beberapa bagian, batu-batu kecil masih menonjol dari tanah. Jika hujan turun, jalan itu akan berubah licin dan berlumpur. Jika kemarau datang, debu akan beterbangan hingga menempel di seragam.
Namun, jalan itulah yang akan membawa mereka ke SMP Negeri Kecamatan Rawa Jaya.
Jalan itulah yang akan membawa mereka keluar dari Desa Wanasari.
“Besok kita benar-benar mulai sekolah,” kata Liris pelan.
Ia berdiri di samping Rantaka sambil memeluk buku catatan hijau di dadanya. Buku itu selalu dibawanya ke mana-mana. Di dalamnya terdapat puisi-puisi pendek, cerita yang belum selesai, serta kalimat-kalimat yang ia tulis ketika tidak ada seorang pun yang memperhatikannya.
“Aku masih belum percaya,” sambung Liris. “Rasanya seperti baru kemarin kita berlari-lari di halaman ini.”
Banyu duduk di akar beringin yang mencuat dari tanah. Ia sedang memperhatikan sebuah roda kecil dari mainan rusak yang ditemukannya di dekat gudang sekolah.
“Kalau aku percaya,” katanya tanpa mengangkat kepala. “Karena seragam ini mahal.”
Jagra tertawa pendek.
“Kau memang selalu memikirkan barang rusak.”
“Barang rusak bisa diperbaiki,” jawab Banyu. “Asal tidak dibuang dulu.”
Kalimat itu membuat mereka terdiam sejenak.
Rantaka memandang ketiga sahabatnya.
Mereka bukan lagi anak-anak kecil yang dahulu membentuk kelompok Langit Biru hanya karena ingin memiliki tempat belajar bersama. Mereka telah melewati banyak hal: sekolah yang hampir ditutup, hujan yang merobohkan panggung, gerobak buku, pertengkaran, kesulitan keluarga, dan ketakutan kehilangan masa depan.
Mereka tumbuh bersama.
Namun, mulai esok hari, hidup mereka tidak lagi berjalan dengan cara yang sama.
Rantaka harus tinggal di kecamatan.
Pakde Wirya, kakak dari ibunya, bersedia menampungnya di rumah kecil belakang pasar. Jarak dari Desa Wanasari ke SMP Rawa Jaya terlalu jauh untuk ditempuh setiap hari. Jika ia tetap tinggal di desa, ia harus berangkat sebelum matahari terbit dan pulang menjelang malam.
Liris akan tetap tinggal di Wanasari.
Ia harus berangkat menggunakan kendaraan bak terbuka yang membawa warga ke pasar kecamatan setiap pagi. Jika kendaraan itu tidak datang, ia harus berjalan menuju jalan besar dan menunggu tumpangan.
Banyu akan berangkat dengan sepeda tua peninggalan kakaknya.
Sepeda itu sudah beberapa kali diperbaiki. Rantainya sering lepas. Remnya tidak terlalu kuat. Namun, Banyu berkata ia lebih percaya kepada sepeda tua yang sudah ia kenal daripada kendaraan baru yang tidak ia pahami.
Sementara Jagra harus membagi waktunya antara sekolah dan membantu ayahnya mencari ikan di sungai.
Ayahnya berkata sekolah itu penting.
Namun, sungai juga tidak pernah berhenti meminta tenaga.
Jika jaring harus diperbaiki, Jagra harus membantu. Jika perahu bocor, ia harus ikut menambal. Jika hasil tangkapan sedikit, ia harus ikut mencari cara agar keluarganya tetap dapat makan.
“Kalau nanti kita jarang bertemu, bagaimana?” tanya Liris.
Pertanyaan itu terdengar sederhana.
Namun, tidak ada yang langsung menjawab.
Angin bergerak pelan di antara daun beringin. Dari dalam ruang kelas, terdengar suara Bu Laras yang sedang menyusun buku-buku di rak Taman Baca Langit Biru.
Rantaka memandang papan kayu di atas mereka.
“Kita tetap bertemu setiap Minggu,” katanya akhirnya.
“Di sini?” tanya Jagra.
“Di sini,” jawab Rantaka. “Kita jalankan Gerobak Buku lagi. Kita ajari anak-anak membaca. Kita bawa buku ke rumah-rumah. Kita jangan sampai lupa pada sekolah ini.”
Banyu mengangguk.
“Aku bisa membuat tempat baru di gerobak. Supaya bukunya lebih banyak.”
“Aku bisa menulis cerita untuk anak-anak,” kata Liris.
Jagra mengangkat bahu, tetapi senyumnya muncul.
“Aku bisa mengajak mereka ke sungai. Biar mereka tahu ikan tidak hanya ada di pasar.”
Rantaka tersenyum.
“Kita tetap Langit Biru.”
Mereka lalu berdiri melingkar di bawah pohon beringin.
Tidak ada upacara besar.
Tidak ada saksi selain dinding sekolah, tanah halaman, dan langit pagi yang membentang luas di atas Desa Wanasari.
Namun, mereka mengulurkan tangan ke tengah lingkaran.
Tangan Rantaka.
Tangan Liris.
Tangan Banyu.
Tangan Jagra.
“Kita tetap sahabat,” kata Liris.
“Kita tetap sekolah,” kata Banyu.
“Kita tetap pulang,” kata Jagra.
Rantaka menatap mereka satu per satu.
“Kita tetap bermimpi.”
Mereka saling menggenggam tangan.
Di atas mereka, langit tampak biru dan terang.
Namun, tidak satu pun dari mereka mengetahui bahwa jalan menuju Kecamatan Rawa Jaya bukan hanya jalan menuju sekolah baru.
Jalan itu akan membawa mereka pada pertemuan dengan orang-orang baru, ejekan yang melukai harga diri, kesulitan biaya, surat yang tidak pernah sampai, puisi yang dicuri, sepeda yang hilang, banjir yang merusak kehidupan, dan pertengkaran yang hampir memisahkan mereka untuk selamanya.
Jalan itu akan membelah hidup mereka ke arah yang berbeda.
Dan pada suatu hari, mereka akan belajar bahwa persahabatan bukan hanya tentang berjalan bersama ketika jalan masih datar.
Persahabatan adalah tentang menemukan jalan pulang ketika hati telah tersesat jauh.
Pagi semakin terang.
Dari arah rumah warga, suara ibu-ibu memanggil anak-anaknya mulai terdengar.
Rantaka menatap jalan menuju kecamatan sekali lagi.
Jalan itu panjang.
Jalan itu belum tentu mudah.
Tetapi di ujung jalan itu, ada sekolah baru, dunia baru, dan masa depan yang menunggu untuk diperjuangkan.
Ia menarik napas pelan.
Kemudian, bersama Liris, Banyu, dan Jagra, ia melangkah meninggalkan halaman SD Wanasari.
Di belakang mereka, papan kayu Langit Biru tetap bergantung di dinding sekolah.
Diam.
Sederhana.
Tetapi menyimpan janji yang kelak akan diuji oleh waktu.
“Mimpi Anak Desa Tidak Pernah Terlalu Tinggi.”
BAB 1 — SERAGAM PUTIH BIRU YANG BARU
Pagi pertama menuju SMP Negeri Kecamatan Rawa Jaya datang lebih cepat daripada biasanya.
Langit Desa Wanasari masih berwarna kelabu ketika Rukmini sudah menyalakan tungku di dapur. Api kecil menyala di antara kayu-kayu kering. Asap tipis naik perlahan menuju celah atap, membawa aroma nasi hangat dan singkong rebus yang baru diangkat dari panci.
Di kamar sempitnya, Rantaka berdiri di depan cermin kecil yang tergantung miring di dinding bambu.
Ia mengenakan seragam putih biru.
Kemeja putih itu masih tampak kaku. Celana birunya dijahit oleh ibunya dengan hati-hati. Di saku dada sebelah kiri, terpasang lambang sekolah yang baru dibeli dari koperasi kecamatan.
Rantaka merapikan kerah bajunya beberapa kali.
Ia belum terbiasa melihat dirinya dengan seragam itu.
Dahulu, seragam putih merah membuatnya tampak seperti anak kecil yang berjalan tergesa-gesa menuju SD Wanasari. Kini, warna biru pada celananya membuat ia merasa seperti sedang memasuki pintu kehidupan yang belum pernah ia kenal.
“Sudah siap?” tanya Rukmini dari ambang pintu.
Rantaka menoleh.
Ibunya membawa sebuah tas kain berwarna cokelat. Tas itu bukan tas baru. Tas tersebut pernah dipakai Darma ketika masih kuat bekerja ke ladang. Bagian talinya sudah dijahit ulang. Namun, Rukmini telah mencucinya hingga bersih dan menjahitkan kain biru kecil pada bagian yang mulai robek.
“Ini untukmu,” kata Rukmini sambil menyerahkan tas itu.
Rantaka menerima tas tersebut dengan kedua tangan.
Di dalamnya sudah ada dua buku tulis, sebuah pensil, penghapus kecil, bekal nasi singkong, dan botol minum.
“Buku tulisnya hanya dua dulu,” ujar Rukmini. “Nanti kalau ada uang lebih, Ibu belikan lagi.”
Rantaka mengangguk.
“Dua juga cukup, Bu.”
Rukmini memandang anaknya cukup lama.
“Kalau ada yang mengejek tasmu, jangan kau pikirkan.”
Rantaka tersenyum kecil.
“Tidak akan ada yang mengejek, Bu.”
Namun, ia sendiri tidak benar-benar yakin.
Darma duduk di kursi kayu dekat ruang depan. Kakinya sudah jauh lebih kuat dibanding beberapa tahun lalu, tetapi ia masih berjalan dengan bantuan tongkat jika harus pergi jauh. Di pangkuannya, ia memegang topi kebun yang warnanya mulai pudar.
Ketika Rantaka keluar dari kamar, Darma memandangnya dengan mata yang penuh kebanggaan.
“Sudah seperti anak kota,” katanya.
Rantaka tersenyum malu.
“Anak desa juga bisa pakai seragam baru, Pak.”
Darma tertawa pelan.
“Betul. Anak desa juga bisa sekolah setinggi-tingginya.”
Kalimat itu membuat Rantaka terdiam sejenak.
Ia teringat papan kayu di SD Wanasari.
Mimpi Anak Desa Tidak Pernah Terlalu Tinggi.
“Ayah,” kata Rantaka, “kalau nanti aku sekolah di kecamatan, aku tidak akan sering pulang.”
Darma mengangguk.
“Kau pulang kalau bisa. Kalau tidak bisa, jangan kau jadikan itu alasan untuk berhenti.”
“Aku takut Ibu dan Ayah kesulitan.”
Darma menepuk bahu anaknya.
“Kesulitan memang ada. Tapi jangan sampai kesulitan menentukan hidupmu.”
Rukmini menunduk. Ia pura-pura merapikan ujung kain di meja agar Rantaka tidak melihat matanya yang mulai basah.
Tidak lama kemudian, suara sepeda berhenti di depan rumah.
Banyu datang dengan sepeda tuanya.
Sepeda itu tampak lebih rapi daripada sebelumnya. Rantainya sudah diberi oli. Di bagian depan, Banyu memasang keranjang kecil dari kawat bekas. Di belakang sadel, ia mengikat tas kain dengan tali rafia.
“Kalau terlambat, kita bisa tidak kebagian tempat di kendaraan,” kata Banyu.
Rantaka mengangguk.
Ia menyalami ayah dan ibunya.
Rukmini membetulkan kerah bajunya sekali lagi.
“Belajar yang rajin,” katanya.
“Iya, Bu.”
Darma mengangkat tangan.
“Jangan mudah takut.”
Rantaka mengangguk.
Kemudian ia berjalan keluar rumah bersama Banyu.
Di ujung jalan, Liris sudah menunggu sambil membawa tas punggung kecil. Buku catatan hijaunya terselip di antara buku pelajaran. Rambutnya dikepang rapi oleh ibunya. Seragam putih birunya tampak sederhana, tetapi bersih dan terawat.
Jagra datang terakhir.
Ia berlari dari arah sungai dengan napas sedikit terengah. Celana seragamnya masih tampak terlalu panjang di bagian bawah. Ibunya telah melipat ujungnya, tetapi lipatan itu mulai terbuka ketika ia berlari.
“Maaf,” katanya. “Ayah menyuruhku membantu menarik jaring dulu.”
“Pagi-pagi sudah dari sungai?” tanya Liris.
Jagra mengangkat bahu.
“Kalau tidak dibantu, Ayah terlambat menjual ikan.”
Mereka lalu berjalan bersama menuju jalan besar.
Di sana, sebuah kendaraan bak terbuka sudah menunggu. Kendaraan itu biasa membawa warga Desa Wanasari menuju pasar kecamatan. Di bagian belakang, beberapa ibu membawa keranjang sayur, seorang bapak membawa karung singkong, dan dua orang pedagang membawa ayam dalam kurungan bambu.
Rantaka memandang kendaraan itu.
Hari ini adalah hari pertama sekolahnya.
Namun, perjalanan menuju sekolah terasa seperti perjalanan menuju tempat yang sangat jauh.
Banyu menaikkan sepeda tuanya ke bagian belakang kendaraan. Jagra membantu mengangkatnya. Liris naik lebih dulu dan duduk di dekat sisi bak. Rantaka duduk di sampingnya.
Ketika kendaraan mulai bergerak, Desa Wanasari perlahan tertinggal di belakang.
Rumah-rumah kayu semakin kecil.
Kebun singkong berganti dengan jalan berbatu.
Sungai yang biasa mereka lihat setiap hari hanya tampak seperti garis berkilau di kejauhan.
Tidak ada yang banyak bicara.
Mereka memandangi jalan menuju kecamatan dengan perasaan yang berbeda-beda.
Liris membuka buku catatan hijaunya dan menulis sesuatu.
Banyu memperhatikan roda sepeda yang terikat di belakang kendaraan.
Jagra memegang erat tasnya, seolah takut tas itu jatuh atau hilang.
Rantaka memandangi telapak tangannya sendiri.
Ia teringat genggaman tangan mereka di bawah pohon beringin kemarin.
Kita tetap sahabat.
Kita tetap sekolah.
Kita tetap pulang.
Kita tetap bermimpi.
Perjalanan menuju Kecamatan Rawa Jaya memakan waktu hampir satu jam.
Saat kendaraan memasuki kawasan pasar, Rantaka melihat sesuatu yang jarang ia lihat di Desa Wanasari. Banyak toko berdiri di kiri kanan jalan. Ada bengkel motor, toko pakaian, warung makan, penjual alat tulis, dan kios yang menjual telepon genggam bekas.
Orang-orang berjalan lebih cepat.
Suara kendaraan bersahut-sahutan.
Anak-anak berseragam putih biru tampak berjalan dalam kelompok-kelompok kecil.
Sebagian membawa tas baru dengan gambar tokoh kartun. Sebagian diantar oleh orang tua menggunakan sepeda motor. Ada yang memakai sepatu mengilap dan jam tangan di pergelangan tangan.
Rantaka menunduk melihat tas kain cokelat miliknya.
Banyu tampaknya memahami apa yang dipikirkannya.
“Tasku juga bukan baru,” katanya pelan.
Rantaka menoleh.
“Tasku lebih tua dari tasmu.”
Banyu tersenyum kecil.
Liris mendengar percakapan itu.
“Yang penting isinya bukan hanya buku,” katanya. “Tapi juga mimpi.”
Jagra mengangkat alis.
“Kalau mimpinya terlalu berat, tasnya bisa putus.”
Mereka tertawa.
Tawa itu membuat rasa gugup di dada Rantaka sedikit berkurang.
SMP Negeri Kecamatan Rawa Jaya berdiri tidak jauh dari kantor kecamatan.
Bangunannya jauh lebih besar daripada SD Wanasari. Halamannya luas. Ada beberapa ruang kelas yang tersusun memanjang. Di tengah halaman berdiri tiang bendera yang tinggi. Di sisi kanan terdapat lapangan voli. Di belakang sekolah tampak bangunan ruang keterampilan dan perpustakaan.
Rantaka berhenti beberapa saat di depan gerbang.
Di atasnya tertulis:
SMP NEGERI KECAMATAN RAWA JAYA
BERILMU, BERKARAKTER, DAN BERPRESTASI
Ia membaca tulisan itu perlahan.
Kata berprestasi terasa besar di matanya.
Ia belum tahu apakah dirinya bisa menjadi anak berprestasi.
Ia hanya tahu bahwa ia tidak boleh berhenti.
Di halaman sekolah, para siswa baru sudah berkumpul. Ada yang datang bersama teman lama. Ada yang berdiri dekat orang tuanya. Ada pula yang terlihat percaya diri, berbicara keras, dan tertawa seolah sekolah itu sudah menjadi milik mereka.
Rantaka, Liris, Banyu, dan Jagra berdiri berdekatan.
Untuk sesaat, mereka merasa seperti empat orang asing di tengah keramaian.
Seorang guru perempuan dengan jilbab biru muda berdiri di depan para siswa.
“Selamat datang di SMP Negeri Kecamatan Rawa Jaya,” katanya melalui pengeras suara. “Hari ini kalian memulai perjalanan baru. Kalian akan belajar lebih banyak, bertemu lebih banyak orang, dan menghadapi tantangan yang lebih besar.”
Rantaka mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
“Kalian datang dari berbagai desa,” lanjut guru itu. “Ada yang berasal dari keluarga petani, nelayan, pedagang, pegawai, dan pekerja lainnya. Tetapi ketika kalian berada di sekolah ini, kalian semua memiliki hak yang sama untuk belajar.”
Kalimat itu membuat Rantaka mengangkat kepala.
Ia melihat Liris tersenyum tipis.
Banyu mengangguk pelan.
Jagra memandang ke arah lapangan, tetapi wajahnya tampak sedikit lebih tenang.
Setelah pengarahan, para siswa diminta masuk ke kelas masing-masing.
Rantaka dan Jagra berada di kelas VII B.
Liris masuk kelas VII A.
Banyu ditempatkan di kelas VII C.
Mereka saling memandang ketika guru membacakan pembagian kelas.
Untuk pertama kalinya sejak kecil, mereka tidak akan belajar dalam satu ruang yang sama.
“Ketemu saat istirahat,” kata Liris.
“Jangan lupa,” kata Banyu.
Jagra mengangkat tangan.
“Kalau ada yang mengganggu, panggil aku.”
Rantaka tersenyum.
Mereka lalu berjalan ke kelas masing-masing.
Di kelas VII B, Rantaka memilih duduk di bangku tengah dekat jendela. Jagra duduk di sebelahnya. Dari jendela, mereka bisa melihat lapangan sekolah dan jalan menuju pasar.
Beberapa siswa lain mulai masuk.
Seorang anak laki-laki bertubuh tinggi duduk di bangku depan. Ia membawa tas baru yang tampak mahal. Dua temannya mengikuti dari belakang. Mereka berbicara dengan suara keras dan tertawa tanpa memedulikan orang lain.
Anak laki-laki itu menoleh ke arah Rantaka dan Jagra.
“Dari mana kalian?” tanyanya.
“Wanasari,” jawab Rantaka.
“Wanasari?” ulang anak itu. “Yang dekat sungai itu?”
Jagra mengangguk.
Anak itu menyeringai.
“Jauh juga. Kalian naik perahu ke sekolah?”
Dua temannya tertawa.
Rantaka merasakan wajahnya memanas.
Jagra mengepalkan tangan di bawah meja.
Namun sebelum ia berkata apa-apa, seorang guru laki-laki masuk ke kelas.
“Selamat pagi,” katanya.
Semua siswa berdiri.
“Selamat pagi, Pak.”
“Saya Pak Arman, wali kelas kalian. Di kelas ini, tidak ada anak kota, tidak ada anak desa, tidak ada anak kaya, dan tidak ada anak miskin. Yang ada hanya siswa yang mau belajar dan siswa yang tidak mau belajar.”
Suasana kelas langsung hening.
Pak Arman memandang satu per satu wajah muridnya.
“Kalau kalian ingin dihargai, belajarlah menghargai orang lain.”
Rantaka menunduk.
Entah mengapa, kalimat itu membuat dadanya terasa lebih kuat.
Pelajaran pertama belum benar-benar dimulai. Hari itu masih diisi perkenalan, aturan sekolah, pembagian jadwal, dan pengenalan guru.
Namun, bagi Rantaka, hari pertama di SMP Rawa Jaya sudah cukup untuk mengajarkannya satu hal.
Dunia di luar Desa Wanasari memang lebih besar.
Di sana ada banyak orang.
Ada banyak suara.
Ada banyak penilaian.
Ada yang menyambut dengan ramah.
Ada pula yang memandang rendah hanya karena seseorang datang dari desa kecil.
Saat jam istirahat, Rantaka keluar kelas bersama Jagra.
Mereka bertemu Liris dan Banyu di dekat kantin.
Liris membawa dua gelas air putih. Banyu membawa roti yang dibelinya dari uang saku.
“Bagaimana kelas kalian?” tanya Liris.
“Lumayan,” jawab Rantaka.
“Banyak yang sok tahu,” kata Jagra.
Banyu mengunyah rotinya pelan.
“Di kelasku ada anak yang bilang sepeda tua itu tidak cocok dibawa ke sekolah. Katanya, lebih baik aku berjalan saja.”
“Lalu kau jawab apa?” tanya Liris.
“Aku bilang sepeda tua ini bisa jalan lebih jauh daripada mulutnya.”
Jagra tertawa keras.
Liris ikut tertawa.
Rantaka pun tersenyum.
Mereka duduk di bawah pohon ketapang dekat kantin. Di sekeliling mereka, siswa lain berbicara tentang pelajaran, kegiatan sekolah, dan teman-teman baru.
Rantaka memandang ketiga sahabatnya.
Hari pertama belum selesai.
Mereka belum tahu tantangan apa yang akan datang setelah ini.
Namun, setidaknya pada siang itu, mereka masih duduk bersama.
Masih bisa tertawa bersama.
Masih bisa saling menguatkan.
Bel sekolah kembali berbunyi.
Rantaka berdiri sambil mengangkat tas kain cokelatnya.
“Ayo,” katanya. “Kita kembali ke kelas.”
Liris mengangguk.
Banyu mengambil tasnya.
Jagra berdiri paling akhir.
Mereka berjalan ke arah ruang kelas masing-masing.
Langkah mereka masih canggung.
Seragam putih biru mereka masih baru.
Namun, di dalam hati mereka, sebuah perjalanan yang lebih panjang telah dimulai.
Perjalanan menuju remaja.
Perjalanan menuju mimpi.
Dan perjalanan untuk membuktikan bahwa anak-anak dari Desa Wanasari tidak akan berhenti hanya karena jalan menuju masa depan terasa jauh.
BAB 2 — RUMAH SINGGAH DI BELAKANG PASAR
Sore itu, setelah hari pertama sekolah berakhir, halaman SMP Negeri Kecamatan Rawa Jaya perlahan mulai sepi.
Siswa-siswa keluar dari gerbang dalam kelompok-kelompok kecil. Ada yang dijemput ayahnya dengan sepeda motor. Ada yang berjalan menuju jalan raya. Ada pula yang berlari ke arah pasar, mengejar kendaraan bak terbuka yang akan membawa mereka kembali ke desa masing-masing.
Rantaka berdiri di dekat tiang bendera sambil memegang tas kain cokelatnya.
Di kejauhan, ia melihat Liris menaiki kendaraan bak terbuka bersama beberapa ibu yang membawa belanjaan. Banyu sudah mengayuh sepeda tuanya ke arah jalan besar. Jagra berjalan cepat menuju pasar karena ia harus membantu ayahnya menjual ikan sebelum pulang ke Desa Wanasari.
Mereka sempat saling melambaikan tangan.
“Besok ketemu lagi!” seru Liris dari atas kendaraan.
“Jangan terlambat!” balas Banyu.
Jagra mengangkat tangan tanpa menoleh. Ia tampak terburu-buru.
Rantaka berdiri sendiri setelah mereka pergi.
Untuk pertama kalinya, ia merasakan betapa berbeda hidupnya mulai hari itu.
Teman-temannya pulang ke desa.
Sementara ia harus tinggal di kecamatan.
Pakde Wirya datang tidak lama kemudian. Ia mengenakan kemeja lusuh dan celana panjang yang bagian lututnya sudah memudar. Di bahunya tergantung tas kecil berisi beberapa barang dari pasar.
“Sudah selesai sekolah?” tanyanya.
“Sudah, Pakde.”
“Bagaimana sekolahnya?”
“Besar.”
Pakde Wirya tertawa kecil.
“Kalau besar, jangan sampai kau merasa kecil.”
Kalimat itu sederhana, tetapi Rantaka menyimpannya dalam hati.
Mereka berjalan melewati pasar Kecamatan Rawa Jaya. Suasana pasar sore hari jauh lebih ramai dibanding pagi tadi. Pedagang sayur mulai membereskan dagangan. Penjual ikan berteriak menawarkan hasil tangkapan. Bau rempah, ikan asin, tanah basah, dan asap gorengan bercampur menjadi satu.
Rantaka berjalan di belakang Pakde Wirya sambil membawa tas sekolahnya.
Sesekali ia harus menghindari orang yang membawa keranjang besar atau menarik gerobak. Di dekat kios pakaian, ia melihat beberapa anak seusianya membeli minuman dingin dan makanan ringan. Mereka tertawa sambil membicarakan kegiatan sekolah.
Rantaka ingin ikut tertawa seperti itu.
Namun, ia tidak mengenal siapa pun selain Liris, Banyu, dan Jagra.
“Rumah Pakde jauh?” tanyanya.
“Tidak jauh,” jawab Pakde Wirya. “Di belakang pasar.”
Mereka melewati deretan kios kayu, lalu masuk ke gang sempit yang dipenuhi rumah-rumah kecil. Jalan di gang itu tidak beraspal. Jika hujan turun, tanahnya berubah menjadi lumpur. Di kanan kiri terdapat jemuran pakaian, kandang ayam, dan pot-pot tanaman yang diletakkan di depan rumah.
Rumah Pakde Wirya berada di ujung gang.
Bangunannya kecil, berdinding papan, dan beratap seng. Di depannya terdapat warung sederhana dengan meja kayu, toples kerupuk, beberapa bungkus kopi, sabun, rokok, dan jajanan anak-anak.
Di belakang warung itulah Rantaka akan tinggal.
“Masuk,” kata Pakde Wirya.
Rantaka melangkah masuk dengan pelan.
Di dalam rumah, seorang perempuan paruh baya sedang menyusun gelas di atas rak. Wajahnya ramah, tetapi tampak lelah. Ia adalah Bude Sari, istri Pakde Wirya.
“Nah, ini Rantaka,” kata Pakde Wirya.
Bude Sari menoleh dan tersenyum.
“Sudah besar sekarang. Terakhir Bude lihat, kau masih pakai seragam putih merah.”
Rantaka menunduk sopan.
“Sudah kelas satu SMP, Bude.”
“Bagus. Kau tinggal di sini seperti rumah sendiri. Tapi kalau ada apa-apa, jangan dipendam.”
“Iya, Bude.”
Bude Sari mengajak Rantaka ke belakang rumah.
Di sana terdapat sebuah kamar kecil yang terpisah dari ruang utama oleh dinding papan tipis. Kamar itu hanya berisi satu dipan kayu, sebuah tikar, meja kecil, dan lampu gantung yang cahayanya tidak terlalu terang.
Di sudut kamar, ada ember air dan gantungan pakaian dari bambu.
“Ini kamar kau,” kata Bude Sari. “Tidak besar, tapi cukup untuk belajar dan tidur.”
Rantaka memandangi kamar itu.
Ia mencoba tersenyum.
“Sudah bagus, Bude.”
Bude Sari mengangguk.
“Kalau malam, jangan lupa tutup jendela. Di belakang ada kebun pisang. Nyamuknya banyak.”
Setelah Bude Sari pergi, Rantaka duduk di tepi dipan.
Ia meletakkan tas kain cokelat di atas meja.
Kamar itu sunyi.
Tidak ada suara ibunya dari dapur.
Tidak ada suara ayahnya batuk dari ruang depan.
Tidak ada suara ayam, sungai, atau angin yang biasa berhembus di antara kebun singkong.
Yang terdengar hanya suara orang-orang di pasar, suara motor lewat, dan suara sendok beradu dengan gelas dari warung depan.
Rantaka membuka tasnya.
Ia mengeluarkan dua buku tulis, pensil, penghapus, dan bekal yang belum sempat ia habiskan. Nasi singkong itu masih dibungkus daun pisang.
Ia teringat wajah ibunya saat menyerahkan tas tadi pagi.
Kalau ada yang mengejek tasmu, jangan kau pikirkan.
Rantaka menunduk.
Entah mengapa, ia tiba-tiba ingin pulang.
Namun, ia tahu rumahnya terlalu jauh.
Malam mulai turun.
Setelah magrib, Bude Sari memanggilnya makan. Di meja kecil dekat dapur, sudah tersedia nasi, sayur bening, tempe goreng, dan sambal.
Pakde Wirya duduk di ujung meja. Bude Sari duduk di dekat tungku. Mereka makan dengan tenang.
“Besok sekolah sampai jam berapa?” tanya Pakde Wirya.
“Katanya sampai siang, Pakde.”
“Setelah pulang sekolah, kau bantu jaga warung sebentar. Bude biasanya harus ke pasar membeli barang.”
Rantaka mengangguk.
“Iya, Pakde.”
“Kau tidak keberatan?”
“Tidak.”
Pakde Wirya menatapnya.
“Kau tinggal di sini bukan untuk jadi pembantu. Kau tetap harus sekolah. Tapi kalau bisa membantu, itu baik. Kau belajar hidup mandiri.”
Rantaka mengangguk lagi.
Ia memahami maksud Pakde.
Tinggal di rumah orang lain berarti harus tahu diri.
Harus mau membantu.
Harus pandai menahan keinginan.
Harus mengerti bahwa tidak semua hal dapat diminta.
Setelah makan, Rantaka membantu mencuci piring. Bude Sari sempat melarang, tetapi Rantaka tetap melakukannya.
“Di rumah, aku juga biasa bantu Ibu,” katanya.
Bude Sari tersenyum.
“Anak seperti kau akan kuat di mana pun.”
Kalimat itu membuat Rantaka sedikit lega.
Malam semakin larut.
Pakde Wirya sudah tidur lebih dulu. Bude Sari masih merapikan warung. Rantaka kembali ke kamar kecilnya.
Ia duduk di depan meja.
Lampu gantung di atas kepalanya berpendar kuning. Cahayanya membuat bayangan tubuhnya jatuh di dinding papan.
Rantaka membuka buku tulis baru.
Pada halaman pertama, ia menulis dengan huruf pelan:
Hari Pertama di SMP Rawa Jaya
Ia berhenti cukup lama.
Kemudian, ia mulai menulis.
Hari ini aku memakai seragam putih biru. Aku sekolah di tempat yang lebih besar dari SD Wanasari. Banyak anak yang datang dari desa lain. Ada yang punya tas baru, sepatu baru, dan kendaraan untuk pulang.
Ia berhenti lagi.
Tangannya terasa kaku.
Ia ingin menulis tentang ejekan anak laki-laki di kelas. Tentang tas kain cokelatnya. Tentang perasaan kecil yang sempat muncul ketika melihat siswa lain tampak lebih percaya diri.
Namun, ia tidak ingin mengakui bahwa ia terluka.
Akhirnya ia menulis lagi.
Aku akan tetap belajar. Aku tidak boleh membuat Ibu dan Ayah kecewa.
Rantaka menatap tulisan itu cukup lama.
Kemudian ia membuka halaman berikutnya.
Di sana, ia mulai menulis surat.
Untuk Liris,
Hari ini aku tinggal di rumah Pakde di belakang pasar. Kamarnya kecil, tapi aku punya meja untuk belajar. Pasar di sini ramai sekali. Kalau malam, suara motor tidak berhenti seperti suara jangkrik di desa.
Rantaka tersenyum tipis saat menulis.
Aku tadi ingin bilang banyak hal waktu kita di sekolah, tapi aku tidak tahu harus mulai dari mana. Rasanya aneh karena sekarang kita tidak satu kelas. Rasanya lebih aneh lagi karena aku tidak pulang bersama kalian.
Ia berhenti.
Ujung pensilnya menggantung di atas kertas.
Ia ingin menulis bahwa ia merasa takut.
Takut tidak mampu mengikuti pelajaran.
Takut tidak punya cukup uang untuk membeli buku.
Takut tinggal jauh dari rumah.
Takut kehilangan sahabat-sahabatnya karena hidup mereka mulai berbeda.
Namun, kata-kata itu tidak keluar.
Ia hanya menulis satu kalimat pendek.
Besok kalau bertemu saat istirahat, jangan lupa tersenyum seperti tadi.
Rantaka menutup buku itu.
Ia tidak memasukkan surat tersebut ke dalam amplop.
Ia tidak tahu harus mengirimkannya ke mana.
Liris tinggal di Desa Wanasari. Tidak ada kantor pos di desa itu. Tidak ada kendaraan yang setiap hari bisa membawa surat dengan pasti. Lagi pula, ia sendiri belum tentu berani menyerahkan surat itu jika bertemu Liris.
Ia menyelipkan buku tulis tersebut ke bawah bantal.
Kemudian ia berbaring di dipan kayu.
Dari jendela kecil, ia dapat melihat sedikit cahaya lampu pasar. Di kejauhan, terdengar suara orang masih berbicara. Ada anak kecil menangis. Ada motor lewat. Ada suara pintu warung ditutup.
Rantaka memejamkan mata.
Ia membayangkan rumahnya di Desa Wanasari.
Ia membayangkan ibunya sedang menyiapkan air minum untuk ayahnya.
Ia membayangkan ayahnya duduk di kursi kayu sambil memandang halaman.
Ia membayangkan Liris mungkin sedang menulis di buku hijau.
Ia membayangkan Banyu sedang memeriksa rantai sepeda.
Ia membayangkan Jagra membantu ayahnya di sungai.
Tiba-tiba, rasa sepi datang seperti angin dingin yang masuk dari celah jendela.
Rantaka menarik selimut tipis sampai ke dada.
Ia ingin menangis, tetapi ia menahan diri.
Darma pernah berkata, kesulitan memang ada, tetapi jangan sampai kesulitan menentukan hidupmu.
Rantaka membuka mata.
Di atas meja, tas kain cokelatnya tergantung diam.
Tas itu bukan tas baru.
Kamar itu bukan rumahnya.
Kecamatan itu bukan desa tempat ia tumbuh.
Namun, ia tahu satu hal.
Ia berada di tempat itu karena ingin sekolah.
Karena ingin menjadi lebih baik.
Karena ingin suatu hari nanti kembali ke Desa Wanasari bukan sebagai anak yang menyerah, tetapi sebagai seseorang yang dapat membawa perubahan.
Rantaka menarik napas pelan.
“Besok aku harus lebih kuat,” bisiknya.
Di luar, pasar perlahan mulai sepi.
Lampu-lampu warung satu per satu dimatikan.
Namun, di kamar kecil belakang pasar itu, seorang anak desa masih terjaga cukup lama.
Ia memandangi langit malam dari jendela sempit.
Langit yang sama seperti di Desa Wanasari.
Langit yang tetap biru, meski malam sedang menutupinya.
BAB 3 — GADIS DENGAN BUKU CATATAN HIJAU
Pagi di Kecamatan Rawa Jaya selalu datang bersama suara kendaraan.
Sejak sebelum matahari muncul sepenuhnya, jalan di depan pasar sudah dipenuhi sepeda motor, gerobak sayur, pedagang keliling, dan kendaraan bak terbuka yang membawa warga dari desa-desa sekitar. Suara klakson bercampur dengan panggilan para penjual sarapan. Asap dari wajan gorengan naik ke udara, menempel pada bau tanah basah dan ikan segar dari pasar.
Di kamar kecil belakang warung Pakde Wirya, Rantaka sudah bangun sejak subuh.
Ia melipat selimut tipisnya, menyiram wajah dengan air dari ember, lalu mengenakan seragam putih biru yang masih tampak baru. Setelah itu, ia membantu Bude Sari menyusun beberapa bungkus mi instan dan sabun di rak warung.
“Tidak usah terlalu cepat,” kata Bude Sari sambil menata toples kerupuk. “Kau bisa terlambat sekolah.”
“Masih ada waktu, Bude.”
“Kalau kau rajin seperti ini, nanti Bude malah takut kau terlalu lelah.”
Rantaka tersenyum kecil.
Ia tidak mengatakan bahwa membantu warung membuatnya merasa sedikit lebih berguna. Di rumah Pakde Wirya, ia tidak ingin hanya menjadi anak yang menumpang makan dan tidur. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya tahu berterima kasih.
Setelah sarapan, ia mengambil tas kain cokelatnya dan berpamitan.
“Pakde, Bude, aku berangkat.”
Pakde Wirya yang sedang duduk di depan warung mengangguk.
“Belajar yang sungguh-sungguh. Jangan terlalu banyak memikirkan omongan orang.”
Rantaka berhenti sejenak.
Pakde seolah mengetahui bahwa kemarin ada sesuatu yang tidak nyaman terjadi di kelas.
“Iya, Pakde.”
Ia lalu berjalan menuju sekolah.
Di sepanjang jalan, beberapa siswa SMP sudah tampak berjalan berkelompok. Mereka berbicara tentang jadwal pelajaran, guru baru, tugas, dan kegiatan yang akan datang. Rantaka berjalan sendiri sambil sesekali memegang tali tasnya yang mulai terasa kasar di telapak tangan.
Sesampainya di gerbang sekolah, ia melihat Liris sedang berdiri di dekat taman kecil depan perpustakaan.
Liris memegang buku catatan hijau di dadanya.
Buku itu sudah mulai kusam di bagian sudut. Sampulnya tidak lagi benar-benar hijau terang karena sering dibawa ke mana-mana. Ada bekas lipatan, goresan pensil, dan sedikit noda air di bagian bawahnya. Namun, Liris merawatnya seperti menjaga sesuatu yang sangat berharga.
“Pagi,” kata Rantaka.
Liris menoleh dan tersenyum.
“Pagi. Kau datang lebih awal.”
“Aku tinggal dekat sekolah.”
“Aku justru hampir terlambat. Kendaraan dari desa penuh sekali. Ada ibu-ibu membawa keranjang sayur sampai aku hampir duduk di atas karung bawang.”
Rantaka tertawa pelan.
“Kalau begitu, kau harus menulis puisi tentang bawang.”
Liris menatapnya seolah sedang berpikir.
“Bisa juga. Judulnya: Perjalanan Seorang Gadis dan Karung Bawang.”
Mereka tertawa bersama.
Untuk sesaat, suasana sekolah yang ramai tidak terasa terlalu asing.
“Banyu dan Jagra sudah datang?” tanya Rantaka.
“Banyu katanya sedang memeriksa rantai sepedanya. Jagra belum kelihatan.”
“Pasti dari sungai lagi.”
Liris mengangguk.
Bel masuk berbunyi.
Mereka berpisah menuju kelas masing-masing.
Liris berjalan ke kelas VII A sambil membawa buku hijau itu. Dari kejauhan, ia tampak berbeda dari sebagian besar siswa lain. Banyak anak membawa tas baru, buku-buku bersampul rapi, dan alat tulis yang lengkap. Liris hanya membawa tas kecil, beberapa buku pelajaran, serta buku catatan hijau yang selalu menempel di dadanya.
Di kelas VII A, Liris duduk di bangku dekat jendela.
Dari sana, ia dapat melihat halaman sekolah, tiang bendera, dan pohon ketapang yang daunnya bergerak pelan tertiup angin. Cahaya pagi masuk melalui jendela, jatuh di atas meja kayu yang penuh goresan.
Liris membuka buku catatan hijaunya sebelum guru datang.
Pada halaman yang kosong, ia menulis:
Jalan panjang dari desa
membawa debu di ujung sepatu
tetapi di dalam tas kecilku
ada langit yang ingin kutuju.
Ia membaca ulang bait itu.
Kemudian ia menambahkan satu kalimat kecil di bawahnya.
Anak desa tidak harus malu membawa mimpi.
“Menulis apa?”
Suara itu membuat Liris menutup bukunya dengan cepat.
Di sampingnya berdiri seorang siswi bernama Nayla. Rambutnya dikuncir rapi. Seragamnya tampak sangat bersih. Tasnya berwarna merah muda dengan gantungan boneka kecil yang bergerak setiap kali ia berjalan.
Nayla duduk di bangku depan Liris.
“Tidak apa-apa,” jawab Liris.
“Puisi?”
Liris ragu sejenak.
“Iya.”
Nayla tersenyum tipis.
“Untuk tugas Bahasa Indonesia?”
“Bukan. Hanya menulis saja.”
Nayla mengangguk, tetapi pandangannya masih tertuju pada buku hijau itu.
“Menulis puisi itu susah, ya?”
“Kadang tidak,” jawab Liris. “Kalau ada yang ingin dikatakan, kata-katanya bisa datang sendiri.”
Nayla tampak ingin berkata sesuatu lagi, tetapi guru Bahasa Indonesia masuk ke kelas.
“Selamat pagi, anak-anak.”
“Selamat pagi, Bu,” jawab semua siswa.
Guru itu bernama Bu Ratih. Wajahnya tegas, tetapi suaranya lembut. Ia membawa beberapa buku di tangan dan menaruhnya di atas meja.
“Hari ini, sebelum kita mulai pelajaran, Ibu ingin tahu siapa di antara kalian yang suka membaca atau menulis.”
Beberapa siswa mengangkat tangan.
Nayla mengangkat tangan paling tinggi.
Liris tidak langsung mengangkat tangan. Ia menunduk melihat bukunya.
Bu Ratih memperhatikan kelas.
“Tidak perlu malu. Membaca dan menulis bukan hanya untuk anak yang sudah pintar. Membaca dan menulis adalah cara agar kita belajar memahami dunia.”
Liris perlahan mengangkat tangan.
Bu Ratih tersenyum.
“Siapa namamu?”
“Liris, Bu.”
“Kau suka membaca atau menulis?”
“Dua-duanya, Bu.”
“Bagus. Kalau begitu, nanti kau bisa ikut mengisi majalah dinding sekolah.”
Liris terdiam.
Majalah dinding sekolah.
Ia pernah melihat papan besar di dekat perpustakaan yang dipenuhi tulisan, gambar, pengumuman, dan puisi. Selama ini ia hanya memandanginya dari jauh. Ia tidak pernah membayangkan namanya bisa tertulis di sana.
“Boleh, Bu?” tanyanya pelan.
“Tentu saja boleh. Semua siswa boleh mengirimkan tulisan. Cerita pendek, puisi, pengalaman, atau artikel sederhana.”
Beberapa siswa menoleh ke arah Liris.
Ada yang tersenyum ramah.
Namun, dari bangku belakang, terdengar suara pelan yang cukup jelas.
“Anak desa juga mau jadi penulis.”
Beberapa siswa tertawa kecil.
Liris membeku.
Kalimat itu tidak keras. Tidak disertai teriakan. Namun, rasanya seperti duri yang masuk perlahan ke dalam hati.
Bu Ratih menoleh ke arah bangku belakang.
“Siapa yang bicara?”
Tidak ada yang menjawab.
Suasana kelas menjadi hening.
Bu Ratih menarik napas.
“Di kelas ini, tidak ada yang boleh merendahkan orang lain. Kalian datang dari tempat yang berbeda, tetapi setiap orang punya hak yang sama untuk belajar dan berkembang.”
Liris menunduk.
Ia ingin terlihat kuat.
Namun, jemarinya menggenggam buku hijau begitu erat hingga ujung kukunya menekan sampul.
Pelajaran berlangsung seperti biasa. Bu Ratih menjelaskan tentang kalimat, paragraf, dan cara menyusun cerita sederhana. Liris mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Ia mencatat hampir semua yang disampaikan guru.
Tetapi di dalam pikirannya, kalimat tadi terus berputar.
Anak desa juga mau jadi penulis.
Saat jam istirahat, Liris tidak langsung menuju kantin.
Ia berjalan ke belakang perpustakaan, ke tempat yang lebih sepi. Di sana ada bangku panjang dari semen dan beberapa pohon kecil yang baru ditanam.
Ia duduk sambil membuka buku hijau.
Awalnya ia ingin menulis.
Namun, tidak ada satu kata pun yang keluar.
Tangan yang biasanya mudah bergerak di atas kertas kini terasa berat.
“Liris.”
Ia menoleh.
Rantaka datang dari arah halaman. Di belakangnya ada Banyu yang masih membawa sepeda tua karena belum sempat menyimpannya di tempat parkir.
“Kau tidak ke kantin?” tanya Rantaka.
“Tidak lapar.”
Banyu memandang wajah Liris.
“Kau sakit?”
“Tidak.”
Jagra datang beberapa saat kemudian. Seragamnya sedikit kusut. Rambutnya masih basah, seolah ia terburu-buru mandi setelah dari sungai.
“Kenapa kalian kumpul di sini?” tanyanya.
“Liris tidak mau makan,” jawab Banyu.
Jagra menatap Liris.
“Ada yang mengganggumu?”
Liris tidak langsung menjawab.
Rantaka duduk di sampingnya.
“Kalau ada yang terjadi, bilang saja.”
Liris menunduk.
“Tadi ada yang bilang anak desa seperti aku tidak pantas jadi penulis.”
Jagra langsung mengerutkan dahi.
“Siapa?”
“Sudahlah,” kata Liris cepat. “Tidak penting.”
“Penting,” kata Jagra. “Kalau orang suka merendahkan—”
“Tidak semua harus diselesaikan dengan marah,” potong Banyu.
Jagra menoleh tajam.
“Lalu harus bagaimana? Diam saja?”
Rantaka mengangkat tangan.
“Jangan mulai bertengkar. Liris sedang sedih.”
Liris menarik napas pelan.
“Aku hanya merasa aneh. Di desa, Bu Laras selalu bilang aku boleh menulis apa saja. Di sini, rasanya seperti aku harus membuktikan dulu bahwa aku pantas menulis.”
Banyu duduk di ujung bangku.
“Kalau kau menulis karena ingin membuktikan kepada mereka, kau akan cepat lelah.”
Liris memandangnya.
“Lalu aku harus menulis untuk apa?”
“Untuk dirimu sendiri dulu,” jawab Banyu. “Untuk apa yang kau lihat. Untuk apa yang kau rasakan. Kalau tulisanmu baik, orang akan membaca. Kalau mereka tidak membaca, tulisanmu tetap ada.”
Jagra mengangguk.
“Dan kalau ada yang mengejek lagi, beri tahu aku.”
Liris tersenyum kecil.
“Kau tidak perlu berkelahi.”
“Aku tidak bilang mau berkelahi,” jawab Jagra. “Aku hanya mau berdiri dekat mereka sambil membawa jaring ikan.”
Rantaka tertawa.
Banyu menggeleng pelan.
Liris akhirnya ikut tertawa.
Tawa itu tidak menghapus rasa sakitnya sepenuhnya. Namun, setidaknya ia tidak lagi merasa sendirian.
Setelah jam sekolah berakhir, Liris tidak langsung pulang.
Ia berjalan menuju perpustakaan. Di dekat pintu masuk, papan majalah dinding sekolah berdiri dengan beberapa tulisan yang ditempel menggunakan selotip. Ada puisi tentang ibu, cerita tentang liburan, gambar pemandangan, dan pengumuman lomba kebersihan kelas.
Di bagian bawah papan, terdapat secarik kertas kecil.
PENGUMPULAN KARYA MAJALAH DINDING
Puisi, cerpen, artikel, gambar, dan pengalaman pribadi.
Kumpulkan kepada Bu Ratih setiap hari Jumat.
Liris berdiri cukup lama di depan pengumuman itu.
Angin sore bergerak pelan di halaman sekolah.
Ia membuka buku catatan hijaunya.
Halaman yang tadi pagi berisi puisi tentang jalan dari desa masih terbuka. Liris membaca ulang bait-baitnya.
Kemudian, di bawah tulisan itu, ia menambahkan beberapa baris.
Jika kata-kataku dianggap kecil,
biarlah ia tumbuh seperti benih.
Jika langkahku dianggap jauh,
biarlah ia berjalan bersama angin.
Liris menutup buku itu.
Untuk pertama kalinya sejak diejek di kelas, ia merasa sedikit lebih berani.
Ia tidak tahu apakah puisinya akan diterima.
Ia tidak tahu apakah ada orang yang akan menyukainya.
Ia tidak tahu apakah suatu hari nanti ia benar-benar dapat menjadi penulis.
Namun, ia tahu satu hal.
Ia tidak ingin berhenti hanya karena seseorang menganggap mimpi anak desa terlalu tinggi.
Sore itu, ketika kendaraan bak terbuka mulai bergerak meninggalkan Kecamatan Rawa Jaya, Liris duduk di antara keranjang sayur dan beberapa ibu yang berbicara tentang harga bahan makanan.
Di pangkuannya, buku catatan hijau tetap ia peluk.
Jalan menuju Desa Wanasari kembali dipenuhi debu.
Matahari perlahan turun di balik pepohonan.
Liris memandang langit dari sisi kendaraan.
Warnanya mulai berubah keemasan.
Ia tersenyum kecil.
Di dalam buku hijau itu, kata-kata masih menunggu.
Dan selama kata-kata itu masih ada, ia percaya bahwa mimpinya juga belum padam.
BAB 4 — ANAK SUNGAI YANG TAKUT TENGGELAM
Pagi itu, kabut masih menggantung rendah di atas Sungai Wanasari ketika Jagra sudah berada di dalam perahu kecil bersama ayahnya.
Air sungai tampak tenang dari kejauhan, tetapi arus di bawah permukaannya tetap bergerak tanpa henti. Perahu kayu yang mereka tumpangi bergoyang pelan setiap kali jaring ditarik dari dalam air.
Ayah Jagra, Pak Sagara, berdiri di bagian depan perahu sambil memegang tali jaring. Tangannya kasar dan menghitam karena terlalu sering terkena air sungai, matahari, dan lumpur.
“Tarik pelan-pelan,” katanya.
Jagra mengangguk.
Ia menarik tali jaring dengan kedua tangan. Bahunya menegang. Air menetes dari jaring yang berat, membasahi bagian depan bajunya yang belum sempat ia ganti dengan seragam sekolah.
Di dalam jaring, hanya ada beberapa ikan kecil.
Pak Sagara menghela napas.
“Tidak banyak.”
“Semalam hujan,” kata Jagra. “Mungkin ikannya masuk ke arah hulu.”
“Mungkin.”
Mereka kembali menarik jaring yang lain. Hasilnya tidak jauh berbeda.
Beberapa ikan kecil.
Seekor udang sungai.
Daun-daun kering.
Dan sampah plastik yang tersangkut di sela jaring.
Jagra memandang ayahnya.
“Ayah, aku harus berangkat sekolah.”
Pak Sagara menoleh. Wajahnya tampak lelah, tetapi ia berusaha tersenyum.
“Pergilah. Nanti Ayah yang membawa ikan ini ke pasar.”
“Kalau Ayah sendiri, bisa?”
“Bisa. Kau jangan terlambat.”
Jagra ragu.
Ia tahu ayahnya tidak suka meminta bantuan. Namun, ia juga tahu bahwa hasil tangkapan hari itu terlalu sedikit. Jika ikan tidak cepat dijual, mereka tidak akan mendapat cukup uang untuk membeli kebutuhan rumah.
“Aku bantu sebentar lagi,” kata Jagra.
Pak Sagara menggeleng.
“Sekolahmu lebih penting.”
Jagra menunduk.
Ia tidak langsung percaya pada kalimat itu.
Baginya, sungai juga penting. Ikan juga penting. Uang untuk membeli beras, minyak goreng, buku, dan seragam juga penting.
Tetapi ia tidak ingin membuat ayahnya kecewa.
Ia mengayuh perahu ke tepian, lalu berlari pulang melewati jalan setapak yang masih basah oleh embun.
Sesampainya di rumah, ibunya sudah menunggu di depan pintu.
“Cepat mandi,” kata Bu Ranti. “Seragammu sudah Ibu setrika.”
Jagra masuk ke rumah dengan napas terengah.
Ia mandi secepat mungkin, mengenakan seragam putih biru, lalu menyambar tasnya yang tergantung di dinding. Celana seragamnya masih sedikit lembap di bagian bawah karena belum benar-benar kering sejak dicuci malam sebelumnya.
Ia berlari menuju jalan besar.
Kendaraan bak terbuka yang biasa membawa warga ke kecamatan sudah hampir berangkat.
“Jagra!” teriak seorang ibu dari atas kendaraan. “Cepat!”
Jagra melompat ke bagian belakang kendaraan tepat ketika mesin mulai bergerak.
Ia duduk di dekat karung singkong sambil mengatur napas.
Tangannya masih berbau sungai.
Kukunya masih menyimpan sedikit lumpur.
Namun, ia tidak punya waktu untuk memikirkan itu.
Ia hanya berharap tidak terlambat masuk kelas.
Ketika kendaraan tiba di Kecamatan Rawa Jaya, bel pertama sudah berbunyi.
Jagra berlari dari pasar menuju sekolah. Tasnya bergoyang di punggung. Sepatunya memercikkan debu. Keringat mulai membasahi lehernya.
Saat ia sampai di depan kelas VII B, Pak Arman sudah berdiri di depan pintu.
“Jagra,” kata Pak Arman dengan suara tenang tetapi tegas. “Ini hari ketiga sekolah. Kau sudah terlambat dua kali.”
Jagra menunduk.
“Maaf, Pak.”
“Masuklah. Tapi setelah pelajaran selesai, temui Bapak.”
“Iya, Pak.”
Jagra masuk ke kelas.
Beberapa siswa menoleh ke arahnya. Ada yang hanya melihat sebentar, lalu kembali membuka buku. Ada pula yang tersenyum kecil seolah kedatangannya merupakan sesuatu yang lucu.
Rantaka yang duduk di bangku tengah menggeser tasnya agar Jagra bisa duduk.
“Kau dari sungai lagi?” bisiknya.
Jagra mengangguk.
“Jaringnya sedikit.”
Rantaka ingin berkata sesuatu, tetapi Pak Arman sudah mulai mengajar.
Pelajaran pertama hari itu adalah matematika.
Pak Arman menulis beberapa soal di papan tulis. Angka-angka dan tanda-tanda hitung memenuhi ruang hitam yang besar. Ia menjelaskan tentang pecahan, perbandingan, dan cara menyelesaikan soal cerita.
Rantaka mencoba mengikuti dengan serius.
Jagra juga berusaha.
Namun, kepalanya terasa berat.
Sejak subuh ia belum makan banyak. Ia hanya sempat menggigit singkong rebus sebelum berangkat. Di pikirannya masih ada wajah ayahnya di perahu, jaring yang kosong, dan ikan kecil yang mungkin tidak cukup untuk dijual.
“Jagra,” panggil Pak Arman.
Jagra tersentak.
“Iya, Pak?”
“Coba kerjakan soal nomor tiga di papan tulis.”
Jagra berdiri perlahan.
Ia berjalan ke depan kelas.
Di papan tulis tertulis:
Seorang pedagang memiliki 24 kilogram ikan. Sebanyak tiga perdelapan bagian dijual pada pagi hari. Berapa kilogram ikan yang masih tersisa?
Jagra memandangi soal itu.
Kata ikan membuatnya mengerti maksud cerita tersebut. Namun, angka tiga perdelapan terasa seperti sesuatu yang sulit ditangkap.
Ia memegang kapur.
Tangannya diam cukup lama.
Dari bangku belakang, terdengar bisikan.
“Anak sungai pasti lebih pandai menghitung ikan daripada pecahan.”
Beberapa siswa tertawa pelan.
Jagra mengenali suara itu.
Dimas.
Anak laki-laki bertubuh tinggi yang kemarin mengejeknya dan Rantaka.
Wajah Jagra memanas.
Ia mencoba tetap melihat papan tulis.
Namun, angka-angka di depannya seperti bergerak semakin jauh.
Pak Arman tidak langsung memarahinya.
“Coba pelan-pelan,” katanya. “Tidak apa-apa kalau belum bisa.”
Jagra menggeleng.
“Tidak tahu, Pak.”
“Baik. Duduk dulu.”
Jagra kembali ke bangkunya.
Ia duduk dengan rahang mengeras.
Rantaka menyentuh lengannya pelan.
“Nanti aku bantu belajar,” bisiknya.
Jagra tidak menjawab.
Pelajaran berlangsung sampai siang. Namun, bagi Jagra, waktu terasa berjalan sangat lambat. Setiap kali Pak Arman menjelaskan, ia berusaha mendengarkan. Tetapi pikirannya sering kembali ke sungai.
Ia membayangkan ayahnya membawa ikan ke pasar.
Ia membayangkan ibunya menunggu uang hasil jualan untuk membeli beras.
Ia membayangkan teman-temannya di kelas yang mungkin tidak perlu bangun sebelum subuh hanya untuk membantu keluarga.
Saat jam istirahat, Rantaka mengajak Jagra ke kantin.
“Kau mau makan?” tanya Rantaka.
“Tidak.”
“Kau belum sarapan.”
“Aku bilang tidak.”
Rantaka terdiam.
Jagra berdiri dan berjalan menuju belakang gedung sekolah.
Di sana, dekat pagar bambu yang memisahkan sekolah dengan kebun kosong, ia duduk sendirian. Angin siang terasa panas. Dari kejauhan terdengar suara siswa bermain bola di lapangan.
Tidak lama kemudian, Dimas datang bersama dua temannya.
Mereka membawa minuman dingin dan roti dari kantin.
Dimas berhenti beberapa langkah dari Jagra.
“Kenapa sendirian, Anak Sungai?” tanyanya.
Jagra tidak menjawab.
Dimas tersenyum mengejek.
“Masih bingung menghitung ikan?”
Jagra menatapnya.
“Apa maumu?”
“Tidak ada. Aku hanya heran. Katanya anak sungai itu kuat. Tapi baru disuruh maju ke papan tulis saja sudah seperti mau tenggelam.”
Dua teman Dimas tertawa.
Jagra berdiri.
Tubuhnya tidak sebesar Dimas, tetapi matanya tajam.
“Jangan panggil aku begitu.”
“Kenapa? Kau malu jadi anak sungai?”
“Aku tidak malu.”
“Kalau tidak malu, kenapa marah?”
Jagra mengepalkan tangan.
“Karena kau tidak tahu apa-apa tentang hidupku.”
Dimas melangkah lebih dekat.
“Aku tidak perlu tahu. Yang aku tahu, kalau kau tidak bisa mengikuti pelajaran, lebih baik kau kembali saja ke sungai. Sekolah ini bukan tempat untuk orang yang datang hanya membawa bau ikan.”
Kalimat itu seperti api yang menyambar dada Jagra.
Ia mendorong bahu Dimas.
Dimas terkejut, lalu membalas mendorong lebih keras.
Jagra hampir jatuh ke belakang.
“Jagra!”
Suara Rantaka terdengar dari arah kantin.
Rantaka berlari bersama Banyu yang baru datang dari kelas VII C. Liris menyusul beberapa langkah di belakang.
Jagra sudah mengangkat tangan.
Dimas juga bersiap membalas.
Namun, Rantaka segera berdiri di antara mereka.
“Jangan!” katanya.
“Menjauh, Rantaka,” bentak Jagra.
“Kalau kau pukul dia, kau yang akan kena masalah.”
“Dia menghina keluargaku!”
“Aku tahu,” kata Rantaka. “Tapi jangan biarkan dia menentukan hidupmu.”
Dimas mencibir.
“Lihat, temanmu takut.”
Banyu maju satu langkah.
“Bukan takut,” katanya pelan. “Kami hanya tidak ingin sekolah ini berubah menjadi tempat orang saling memukul karena tidak bisa menjaga mulut.”
Dimas menatap Banyu.
“Apa kau juga mau ikut?”
Banyu tidak mundur.
“Aku hanya bilang, kalau kau memang merasa hebat, buktikan dengan nilai dan sikapmu. Bukan dengan menghina orang lain.”
Liris berdiri di samping Rantaka.
Wajahnya tampak tegang, tetapi ia tidak pergi.
“Jagra,” katanya pelan. “Kau tidak perlu membuktikan apa pun kepada orang seperti itu.”
Jagra masih mengepalkan tangan.
Dadanya naik turun.
Ia ingin memukul Dimas.
Ia ingin membuat anak itu merasakan bagaimana sakitnya dihina.
Namun, ia melihat wajah Rantaka.
Ia melihat Banyu yang berdiri tenang meski jelas takut.
Ia melihat Liris yang memandangnya dengan mata cemas.
Akhirnya, Jagra menurunkan tangannya.
Dimas mendengus.
“Dasar anak desa,” katanya sebelum pergi bersama dua temannya.
Jagra menatap punggung Dimas yang menjauh.
Rantaka menepuk bahunya.
“Kau tidak kalah karena tidak memukulnya.”
Jagra menepis tangan Rantaka.
“Kau tidak mengerti.”
“Aku mengerti.”
“Tidak,” kata Jagra. “Kau tinggal di kecamatan sekarang. Kau punya tempat tidur dekat sekolah. Kau tidak harus bangun dari sungai setiap pagi. Kau tidak harus memikirkan apakah ikan yang dibawa pulang cukup untuk makan.”
Rantaka terdiam.
Kalimat itu membuat suasana berubah.
Banyu menunduk.
Liris menggigit bibir.
Jagra menatap mereka satu per satu.
“Aku capek,” katanya. “Aku capek jadi anak yang selalu terlambat. Aku capek tidak bisa menjawab soal. Aku capek dianggap bodoh hanya karena aku dari sungai.”
Setelah itu, ia berjalan pergi.
Rantaka tidak mengejarnya.
Bukan karena ia tidak peduli.
Tetapi karena untuk pertama kalinya, ia benar-benar tidak tahu kata-kata apa yang dapat membuat sahabatnya merasa lebih baik.
Sore hari, setelah sekolah selesai, Jagra tidak langsung menuju pasar.
Ia berjalan sendiri ke tepi sungai kecil di belakang kecamatan. Sungai itu tidak sebesar Sungai Wanasari, tetapi airnya mengalir dengan suara yang hampir sama.
Ia duduk di atas batu.
Tasnya diletakkan di samping.
Ia mengeluarkan buku matematika dari dalam tas.
Halaman tentang pecahan terbuka di depannya.
Jagra memandangi angka tiga perdelapan.
Kemudian ia mengambil beberapa batu kecil dari tanah.
Ia menyusun delapan batu di hadapannya.
Satu.
Dua.
Tiga.
Empat.
Lima.
Enam.
Tujuh.
Delapan.
Ia memisahkan tiga batu ke sisi kiri.
Lalu memandangi lima batu yang tersisa.
“Kalau tiga dari delapan dijual,” gumamnya, “berarti tinggal lima dari delapan.”
Ia mengulanginya lagi.
Kali ini, ia menggunakan daun kering.
Kemudian ranting kecil.
Kemudian kerikil.
Perlahan, angka-angka yang tadi terasa seperti musuh mulai berubah menjadi sesuatu yang bisa ia lihat dan pegang.
Jagra tidak langsung menjadi pandai.
Ia masih sering salah.
Ia masih harus berpikir cukup lama.
Namun, untuk pertama kalinya hari itu, ia merasa tidak sepenuhnya tenggelam.
Matahari mulai turun ketika Rantaka datang menghampiri.
Ia membawa dua bungkus nasi kecil dari warung Pakde Wirya.
Jagra tidak menoleh.
“Aku tidak minta dibawakan makanan,” katanya.
“Aku tahu,” jawab Rantaka. “Tapi aku juga tidak mau makan sendiri.”
Rantaka duduk di sampingnya.
Ia melihat batu-batu yang tersusun di tanah.
“Kau sedang belajar pecahan?”
Jagra mengangguk pelan.
“Pak Arman bilang tiga perdelapan. Aku tidak mengerti kalau hanya angka. Tapi kalau pakai batu, aku bisa lihat.”
Rantaka tersenyum.
“Itu bagus.”
“Bagus apanya? Anak lain mungkin sudah bisa tanpa batu.”
“Anak lain punya cara sendiri. Kau juga punya cara sendiri.”
Jagra tidak menjawab.
Rantaka membuka salah satu bungkus nasi.
“Besok aku bawa buku latihan. Kita belajar bersama sebelum masuk kelas.”
“Kenapa kau mau repot?”
“Karena kau sahabatku.”
Jagra memandang Rantaka.
Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.
Suara air sungai mengalir di depan mereka.
Angin sore membawa aroma tanah dan rumput basah.
Jagra mengambil bungkus nasi dari tangan Rantaka.
“Kalau aku masih tidak bisa?”
“Kita coba lagi.”
“Kalau aku tetap terlambat?”
“Kita cari cara.”
“Kalau Dimas mengejek lagi?”
Rantaka menatapnya.
“Kita buktikan bahwa anak sungai tidak takut belajar.”
Jagra tersenyum tipis.
Senyum itu kecil.
Namun, cukup untuk membuat Rantaka merasa bahwa sahabatnya belum menyerah.
Di kejauhan, langit mulai berubah jingga.
Sungai memantulkan cahaya sore seperti garis panjang yang bergerak menuju tempat yang tidak terlihat.
Jagra memandang air itu.
Sejak kecil, ia selalu percaya bahwa sungai mengajarkan satu hal: air tidak pernah berhenti mengalir, meski harus melewati batu, lumpur, dan akar pohon.
Mungkin sekolah juga seperti itu.
Mungkin ia tidak harus langsung menjadi pandai.
Mungkin ia hanya perlu terus bergerak.
Terus belajar.
Terus melawan rasa takut yang membuatnya merasa tenggelam.
Jagra mengambil satu batu kecil lagi.
Lalu ia meletakkannya di antara batu-batu lain.
“Besok,” katanya pelan, “aku mau coba lagi.”
Rantaka mengangguk.
“Besok kita coba lagi.”
Di tepi sungai kecil belakang kecamatan itu, dua sahabat dari Desa Wanasari duduk bersama sampai matahari benar-benar tenggelam.
Dan untuk pertama kalinya, Jagra mulai percaya bahwa menjadi anak sungai bukanlah sesuatu yang harus ia sembunyikan.
Sungai telah mengajarkannya bertahan.
Kini, ia hanya perlu belajar agar tidak takut pada arus yang bernama masa depan.
BAB 5 — UANG SAKU DAN HARGA SEBUAH MIMPI
Hari-hari pertama di SMP Negeri Kecamatan Rawa Jaya berjalan lebih cepat daripada yang dibayangkan Rantaka.
Setiap pagi, ia bangun sebelum matahari naik. Ia membantu Bude Sari membuka warung, menyapu halaman, menyusun roti dan mi instan di rak, lalu berangkat ke sekolah dengan tas kain cokelat yang semakin akrab di pundaknya.
Siang hari, setelah pelajaran selesai, ia kembali ke rumah singgah di belakang pasar. Jika Bude Sari harus membeli barang ke pasar atau mengantar pesanan ke kios lain, Rantaka menjaga warung.
Malamnya, ia belajar di kamar kecil dengan lampu kuning yang menggantung di atas meja.
Hidupnya kini seperti terbagi menjadi beberapa bagian.
Sekolah.
Warung.
Belajar.
Rindu rumah.
Dan setiap bagian itu harus ia jalani tanpa banyak mengeluh.
Namun, pada suatu sore, sebuah pengumuman kecil membuat pikirannya menjadi lebih berat.
Pak Arman masuk ke kelas VII B sambil membawa beberapa lembar kertas.
“Anak-anak,” katanya, “minggu depan sekolah akan mulai mengumpulkan iuran untuk buku paket tambahan, kegiatan pengenalan lingkungan, dan perlengkapan kelas.”
Suasana kelas langsung berubah.
Beberapa siswa mulai bertanya kepada teman di sebelahnya. Ada yang terlihat biasa saja. Ada yang bahkan mengeluarkan uang dari saku dan menghitungnya sambil tersenyum.
Pak Arman menulis angka di papan tulis.
IURAN AWAL SEMESTER: Rp75.000
Rantaka memandangi angka itu.
Tujuh puluh lima ribu rupiah.
Bagi sebagian anak di kelas, mungkin angka itu tidak terlalu besar.
Namun, bagi Rantaka, angka itu terasa seperti jalan panjang yang harus ditempuh dengan kaki telanjang.
Ia membayangkan ibunya menjual kue keliling.
Ia membayangkan ayahnya yang masih belum dapat bekerja penuh di ladang.
Ia membayangkan uang hasil menjual singkong yang harus dibagi untuk beras, minyak goreng, obat ayah, dan kebutuhan rumah lainnya.
Tujuh puluh lima ribu rupiah bisa menjadi beras untuk beberapa hari.
Bisa menjadi obat.
Bisa menjadi uang ongkos kendaraan.
Bisa menjadi banyak hal.
“Pembayaran paling lambat hari Jumat depan,” lanjut Pak Arman. “Kalau ada yang memiliki kendala, silakan bicara kepada Bapak. Jangan diam saja.”
Rantaka menunduk.
Ia mencatat pengumuman itu di buku tulis.
Tangannya bergerak pelan.
Di sampingnya, Jagra menoleh.
“Kau punya uangnya?” bisiknya.
Rantaka tidak langsung menjawab.
“Belum tahu.”
Jagra mengangguk pelan.
“Aku juga.”
Pelajaran berlanjut, tetapi Rantaka tidak bisa sepenuhnya berkonsentrasi. Angka tujuh puluh lima ribu rupiah terus berada di kepalanya.
Saat istirahat, ia bertemu Liris dan Banyu di bawah pohon ketapang.
Liris membawa buku catatan hijau. Banyu membawa kotak kecil berisi potongan kawat dan beberapa baut yang ia temukan di bengkel dekat pasar.
“Ada apa?” tanya Liris ketika melihat wajah Rantaka.
“Sekolah minta iuran,” jawab Rantaka.
“Berapa?”
“Rp75.000.”
Liris terdiam.
Banyu memandang tanah.
“Aku juga dengar dari anak kelas lain,” katanya. “Katanya untuk buku dan kegiatan sekolah.”
“Di rumah, Ibu sudah bilang uang hasil jual sayur minggu ini belum tentu cukup,” ujar Liris pelan.
Jagra datang beberapa saat kemudian.
Wajahnya tampak tidak lebih baik daripada Rantaka.
“Ayah bilang mungkin aku harus membantu lebih banyak di sungai,” katanya. “Kalau ikan sedang banyak, aku mungkin tidak bisa masuk sekolah setiap hari.”
“Jangan begitu,” kata Rantaka cepat.
Jagra menatapnya.
“Lalu bagaimana? Uang tidak datang dari langit.”
Kalimat itu membuat mereka semua diam.
Di bawah pohon ketapang, empat sahabat dari Desa Wanasari kembali merasakan kenyataan yang sama.
Mereka punya mimpi.
Mereka punya keinginan untuk sekolah.
Namun, mimpi sering kali harus berjalan beriringan dengan harga beras, biaya kendaraan, obat orang tua, dan uang buku.
Sore hari, Rantaka kembali ke rumah Pakde Wirya dengan pikiran yang belum tenang.
Warung sedang ramai. Beberapa pembeli datang membeli kopi, rokok, sabun, dan makanan ringan. Bude Sari sibuk melayani pelanggan, sementara Pakde Wirya sedang mengantar pesanan ke kios dekat terminal.
Rantaka membantu mengambilkan barang dari rak.
“Mi instan dua, Bude.”
“Ambilkan juga gula satu bungkus,” kata Bude Sari.
“Iya.”
Ia bergerak cepat dari satu rak ke rak lain.
Setelah beberapa waktu, warung mulai sepi.
Bude Sari duduk di kursi kayu sambil menghitung uang hasil jualan hari itu. Rantaka berdiri di dekat pintu, memandangi jalan pasar yang mulai dipenuhi cahaya senja.
“Rantaka,” panggil Bude Sari.
“Iya, Bude?”
“Kau kelihatan murung sejak pulang sekolah. Ada masalah?”
Rantaka ragu.
Ia tidak ingin membuat Bude Sari merasa terbebani.
Namun, Bude Sari menatapnya dengan wajah yang sabar.
“Ada iuran sekolah,” kata Rantaka akhirnya. “Tujuh puluh lima ribu rupiah.”
Bude Sari berhenti menghitung uang.
“Kapan harus dibayar?”
“Jumat depan.”
“Sudah bilang kepada ibumu?”
“Belum.”
“Kenapa?”
Rantaka menunduk.
“Karena aku tahu keadaan di rumah.”
Bude Sari tidak langsung menjawab.
Ia memasukkan uang hasil jualan ke dalam kotak kecil, lalu menutupnya pelan.
“Sekolah memang butuh biaya,” katanya. “Tapi jangan sampai karena uang, kau memilih berhenti sebelum mencoba mencari jalan.”
Rantaka mengangguk.
“Aku tidak mau berhenti, Bude.”
“Bagus. Kalau begitu, pikirkan apa yang bisa kau lakukan.”
Rantaka memandang warung kecil itu.
Di rak depan, ada minuman sachet, makanan ringan, sabun, dan beberapa kebutuhan harian. Di dekat pintu, ada meja kayu tempat pembeli biasa membayar.
Tiba-tiba, sebuah pikiran muncul di kepalanya.
“Bude,” katanya pelan, “kalau aku membantu jaga warung setiap sore, bolehkah aku mendapat sedikit uang?”
Bude Sari menatapnya cukup lama.
“Kau ingin bekerja?”
“Aku tidak mau merepotkan Bude dan Pakde. Aku hanya ingin membantu supaya bisa mengumpulkan uang iuran.”
Bude Sari menghela napas.
“Kau masih sekolah.”
“Aku bisa jaga warung setelah pulang sekolah. Malamnya aku tetap belajar.”
Bude Sari tampak ragu.
Namun, Rantaka tidak menunduk kali ini.
Ia menatap Bude Sari dengan sungguh-sungguh.
“Aku tidak ingin meminta uang kepada Ibu kalau memang belum ada. Aku ingin berusaha.”
Tidak lama kemudian, Pakde Wirya pulang.
Bude Sari menceritakan keinginan Rantaka.
Pakde Wirya duduk diam sambil memandang anak itu.
“Kau tahu, menjaga warung tidak mudah,” katanya. “Kadang ramai, kadang ada pembeli yang meminta utang, kadang ada barang yang hilang, kadang kau harus tetap sopan meski orang lain berbicara kasar.”
“Aku mau belajar, Pakde.”
“Kau tidak boleh sampai mengabaikan sekolah.”
“Aku tidak akan mengabaikan sekolah.”
Pakde Wirya menarik napas.
“Baik. Mulai besok, setelah pulang sekolah, kau bantu jaga warung sampai magrib. Setiap hari, Pakde akan sisihkan sedikit upah untukmu. Tapi kalau nilai pelajaranmu turun karena terlalu lelah, kita berhenti.”
Mata Rantaka berbinar.
“Terima kasih, Pakde.”
“Jangan berterima kasih dulu. Buktikan bahwa kau bisa bertanggung jawab.”
Sejak hari itu, Rantaka mulai menjalani rutinitas baru.
Setelah sekolah, ia langsung kembali ke warung.
Ia belajar mengenali harga barang.
Ia belajar menghitung uang kembalian.
Ia belajar membedakan pembeli yang benar-benar lupa membawa uang dan pembeli yang hanya ingin berutang tanpa kepastian.
Ia belajar mencatat barang yang habis.
Ia belajar menyapa orang dengan ramah.
“Selamat sore, Pak.”
“Mau beli apa, Bu?”
“Terima kasih.”
Kata-kata itu menjadi bagian dari harinya.
Kadang, ia harus menahan kantuk saat malam tiba.
Kadang, ia baru bisa membuka buku setelah warung ditutup.
Kadang, ia tertidur di atas meja dengan pensil masih berada di tangannya.
Namun, setiap kali ia merasa lelah, ia teringat angka di papan tulis.
Rp75.000.
Angka itu tidak lagi hanya menjadi beban.
Angka itu menjadi tujuan.
Pada hari ketiga menjaga warung, Liris datang bersama Banyu dan Jagra.
Mereka baru turun dari kendaraan bak terbuka dan sengaja mampir sebelum pulang ke Desa Wanasari.
Liris membeli dua permen dan sebungkus biskuit.
Banyu membeli baterai kecil untuk percobaan alat sederhananya.
Jagra hanya membeli air mineral.
“Kau benar-benar jaga warung?” tanya Liris.
Rantaka mengangguk.
“Mulai minggu ini.”
“Kau tidak capek?” tanya Banyu.
“Capek.”
“Lalu kenapa tetap mau?” tanya Jagra.
Rantaka tersenyum kecil.
“Karena aku tidak mau kalah oleh uang iuran.”
Jagra memandangnya dengan wajah serius.
“Aku juga sedang mencoba cari cara.”
“Bagaimana?”
“Aku membantu Ayah menjual ikan di pasar setiap sore. Kalau ada uang lebih, mungkin bisa untuk iuran.”
Liris menunduk.
“Aku membantu Ibu membuat kue. Kalau ada yang laku, Ibu bilang akan menyisihkan sedikit.”
Banyu membuka tasnya.
“Aku sedang membuat gantungan kunci dari tutup botol dan kawat bekas. Mungkin bisa dijual.”
Rantaka memandangi sahabat-sahabatnya.
Mereka semua sedang berusaha.
Tidak ada yang menyerah.
Tidak ada yang berkata bahwa sekolah terlalu mahal untuk diperjuangkan.
Mereka hanya mencari jalan dengan kemampuan masing-masing.
“Kalau begitu,” kata Rantaka, “kita kumpulkan uangnya bersama-sama. Bukan untuk saling memberi, tapi untuk saling menyemangati.”
Liris tersenyum.
“Seperti kelompok Langit Biru dulu?”
“Seperti itu,” jawab Rantaka.
Banyu mengangguk.
“Kita bisa membuat catatan kecil. Setiap kali ada yang mendapat uang dari usaha sendiri, kita tulis.”
Jagra mengangkat botol minumnya.
“Dan kalau ada yang hampir menyerah, yang lain harus mengingatkan.”
Mereka saling memandang.
Warung kecil di belakang pasar itu tiba-tiba terasa seperti tempat yang lebih besar daripada biasanya.
Bukan hanya tempat menjual kopi, sabun, dan makanan ringan.
Melainkan tempat empat anak desa mulai belajar bahwa mimpi tidak selalu datang dengan jalan mudah.
Malam sebelum hari pembayaran, Rantaka duduk di kamar kecilnya.
Di atas meja, ada beberapa lembar uang yang telah ia kumpulkan dari menjaga warung.
Ia menghitungnya perlahan.
Sepuluh ribu.
Dua puluh ribu.
Tiga puluh ribu.
Lima puluh ribu.
Enam puluh ribu.
Masih kurang.
Rantaka menarik napas.
Ia membuka buku tulisnya dan mencatat jumlah uang itu.
Kemudian, terdengar ketukan pelan di pintu.
“Masuk,” katanya.
Pakde Wirya masuk sambil membawa sebuah amplop kecil.
“Apa itu, Pakde?” tanya Rantaka.
“Upahmu hari ini.”
Rantaka menerima amplop itu.
Di dalamnya terdapat uang lima belas ribu rupiah.
Ia memandang Pakde Wirya.
“Pakde, ini terlalu banyak.”
“Tidak. Kau bekerja dengan baik.”
Rantaka menghitung uangnya lagi.
Tujuh puluh lima ribu rupiah.
Tepat.
Dadanya terasa sesak.
Namun, bukan karena takut.
Bukan karena sedih.
Melainkan karena ada rasa bangga yang perlahan tumbuh di dalam dirinya.
Ia berhasil.
Bukan karena ia memiliki banyak uang.
Bukan karena jalannya mudah.
Tetapi karena ia tidak berhenti mencari cara.
Keesokan harinya, Rantaka datang ke sekolah dengan uang iuran tersimpan rapi di dalam amplop.
Saat Pak Arman meminta siswa maju satu per satu, Rantaka berdiri dengan langkah yang lebih teguh.
Ia menyerahkan amplop itu.
Pak Arman menerimanya, lalu memandang Rantaka.
“Terima kasih,” kata Pak Arman.
Rantaka mengangguk.
Ketika kembali ke bangkunya, ia melihat Jagra tersenyum kecil.
Di tangan Jagra, ada amplop yang sama.
Saat istirahat, Liris dan Banyu juga menunjukkan bahwa mereka telah berhasil mengumpulkan uang masing-masing.
Tidak ada yang tahu seberapa keras mereka berusaha.
Tidak ada yang tahu berapa kali mereka menahan lelah.
Tidak ada yang tahu berapa banyak keinginan kecil yang harus mereka tunda.
Namun, mereka tahu sendiri.
Dan itu sudah cukup.
Di bawah pohon ketapang, Liris membuka buku catatan hijaunya.
Ia menulis beberapa baris baru.
Ada mimpi yang dibeli dengan uang,
ada mimpi yang dibayar dengan lelah,
tetapi ada pula mimpi
yang tumbuh karena seseorang memilih
untuk tidak menyerah.
Rantaka membaca tulisan itu.
“Kau akan kirim ke majalah dinding?” tanyanya.
Liris mengangguk.
“Ya. Kali ini aku tidak mau ragu.”
Rantaka tersenyum.
Jagra menepuk bahunya.
“Kalau nanti puisimu terkenal, jangan lupa anak sungai.”
Banyu menambahkan, “Dan jangan lupa warung belakang pasar.”
Liris tertawa.
“Aku tidak akan lupa.”
Mereka kembali tertawa bersama.
Di atas mereka, daun-daun ketapang bergerak pelan tertiup angin.
Di hadapan mereka, sekolah masih menyimpan banyak tantangan.
Masih ada pelajaran yang sulit.
Masih ada ejekan.
Masih ada biaya yang harus dipikirkan.
Masih ada jarak antara desa dan kecamatan.
Namun, hari itu, mereka telah membuktikan satu hal kecil.
Bahwa uang mungkin dapat menjadi penghalang.
Tetapi selama mereka mau berusaha, uang tidak akan mudah menjadi alasan untuk menghentikan langkah.
BAB 6 — BENGKEL KECIL DI BAWAH POHON MANGGA
Sepeda tua milik Banyu kembali berbunyi nyaring ketika memasuki halaman SMP Negeri Kecamatan Rawa Jaya.
Bunyinya tidak halus seperti sepeda motor yang dikendarai sebagian siswa lain. Rantai sepedanya berderit. Pedalnya sesekali berbunyi ketika diinjak. Cat pada rangkanya sudah mengelupas di beberapa bagian. Keranjang kawat di bagian depan tampak miring karena pernah terbentur batu di jalan.
Namun, Banyu tidak pernah malu mengendarainya.
Bagi Banyu, sepeda itu bukan sekadar alat untuk pergi ke sekolah.
Sepeda itu adalah teman perjalanan.
Dengan sepeda itulah ia berangkat dari Desa Wanasari sebelum matahari naik. Dengan sepeda itulah ia melewati jalan tanah, kebun singkong, jembatan kayu, dan jalan berbatu menuju Kecamatan Rawa Jaya. Dengan sepeda itu pula ia membawa buku, bekal, potongan kawat, baut bekas, botol plastik, dan berbagai benda yang bagi orang lain mungkin sudah tidak berguna.
Pagi itu, Banyu memarkirkan sepedanya di tempat parkir belakang sekolah.
Ia memeriksa rantainya sebentar, lalu mengambil sebuah kotak kecil dari keranjang depan. Kotak itu terbuat dari bekas wadah biskuit. Di dalamnya terdapat kabel pendek, baterai bekas, lampu kecil, tutup botol, potongan pipa, dan beberapa baut.
“Bawa lagi barang rongsokan?” terdengar suara dari belakang.
Banyu menoleh.
Dimas berdiri bersama dua temannya.
Di tangannya, Dimas memegang telepon genggam baru. Ia memutar-mutar benda itu sambil tersenyum tipis.
“Ini bukan rongsokan,” jawab Banyu tenang.
“Lalu apa?”
“Bahan.”
Dimas tertawa.
“Bahan untuk apa? Membuat sepeda terbang?”
Banyu tidak menjawab.
Ia menutup kotak kecilnya, lalu berjalan menuju kelas.
Dimas masih tertawa bersama teman-temannya.
Namun, Banyu sudah terbiasa mendengar ejekan seperti itu.
Sejak kecil, ia memang senang menyimpan benda-benda bekas.
Kawat yang ditemukan di pinggir jalan.
Botol plastik dari warung.
Kayu patah dari pagar.
Roda mainan rusak.
Baut dari mesin tua.
Baginya, semua benda itu masih memiliki kemungkinan.
Ia percaya bahwa sesuatu yang dianggap tidak berguna bisa berubah menjadi berguna jika diberi waktu, kesabaran, dan sedikit keberanian untuk mencoba.
Di kelas VII C, pelajaran IPA pagi itu membahas tentang energi.
Bu Sinta, guru IPA, membawa beberapa gambar dan alat sederhana ke dalam kelas. Ia menjelaskan tentang listrik, panas, cahaya, dan perubahan energi dalam kehidupan sehari-hari.
“Energi ada di sekitar kita,” kata Bu Sinta sambil menunjuk gambar lampu. “Yang penting adalah bagaimana manusia memahami dan memanfaatkannya.”
Banyu mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
Ia mencatat hampir semua penjelasan Bu Sinta.
Ketika guru itu menjelaskan tentang rangkaian listrik sederhana, mata Banyu tampak lebih hidup. Ia membayangkan kabel-kabel di dalam kotak biskuitnya. Ia membayangkan lampu kecil yang pernah menyala sebentar di rumahnya sebelum baterainya habis.
“Untuk tugas minggu depan,” kata Bu Sinta, “kalian akan membuat karya sederhana yang berhubungan dengan energi atau pemanfaatan barang bekas. Karya tidak harus mahal. Yang penting kalian memahami cara kerjanya dan bisa menjelaskan manfaatnya.”
Beberapa siswa langsung bersorak.
“Aduh, harus beli bahan lagi,” keluh seorang anak.
“Bisa kerja kelompok, Bu?” tanya yang lain.
“Boleh,” jawab Bu Sinta. “Tetapi setiap orang harus memiliki peran.”
Banyu menunduk melihat catatannya.
Di sudut halaman buku, ia mulai membuat gambar kecil.
Sebuah botol plastik.
Sebuah kabel.
Sebuah lampu kecil.
Sebuah roda yang dapat diputar.
Ia belum tahu persis bentuknya.
Namun, ada sesuatu yang mulai tumbuh di kepalanya.
Saat jam istirahat, Banyu menemui Rantaka, Liris, dan Jagra di bawah pohon ketapang.
“Aku dapat tugas membuat alat sederhana,” katanya.
“Alat apa?” tanya Rantaka.
“Belum tahu. Tapi mungkin lampu kecil dari barang bekas.”
Jagra mengangkat alis.
“Lampu dari barang bekas? Bisa menyala?”
“Kalau berhasil.”
“Kalau tidak berhasil?”
“Berarti aku coba lagi.”
Liris tersenyum.
“Aku suka jawaban itu.”
Banyu membuka kotak biskuitnya.
Ia memperlihatkan beberapa benda yang dibawanya.
“Aku punya kabel, baterai, lampu kecil, dan dinamo dari mainan rusak. Kalau dinamonya diputar, mungkin bisa menghasilkan listrik kecil.”
Rantaka memperhatikan dengan serius.
“Dari mana kau dapat dinamo itu?”
“Dari mobil mainan yang dibuang anak tetangga.”
Jagra mengambil dinamo kecil itu.
“Benda sekecil ini bisa membuat lampu menyala?”
“Mungkin.”
“Kalau aku putar pakai tangan?”
“Bisa, tapi sebentar.”
“Kalau dipasang di sepeda?”
Banyu memandang Jagra.
“Sepeda?”
“Ya. Roda sepeda berputar terus. Kalau ada alat yang bisa mengambil tenaga dari putaran roda, mungkin lampunya bisa menyala.”
Banyu terdiam.
Matanya menatap sepeda tua yang diparkir di belakang sekolah.
Kemudian ia tersenyum tipis.
“Itu bisa dicoba.”
Sepulang sekolah, Banyu tidak langsung pulang ke Desa Wanasari.
Ia mengayuh sepedanya menuju rumah Pakde Wirya di belakang pasar. Rantaka sudah menunggu di warung. Liris dan Jagra juga belum pulang karena kendaraan bak terbuka baru akan berangkat menjelang sore.
“Kau jadi mau mencoba alatnya?” tanya Rantaka.
Banyu mengangguk.
“Aku perlu tempat yang agak sepi.”
Pakde Wirya yang mendengar percakapan itu menunjuk ke halaman belakang rumah.
“Di belakang ada pohon mangga. Tidak terlalu luas, tapi cukup kalau kalian mau membuat sesuatu.”
Mereka berjalan ke belakang rumah.
Di sana ada tanah lapang kecil yang dinaungi pohon mangga tua. Akar-akarnya muncul di permukaan tanah. Di dekat pagar, terdapat beberapa papan bekas, ember rusak, dan tumpukan kayu yang sudah tidak dipakai.
Banyu langsung merasa tempat itu cocok.
Ia meletakkan kotak biskuit di atas papan kayu.
“Ini bengkel kita,” katanya.
Jagra tertawa.
“Bengkel kecil di bawah pohon mangga.”
Liris membuka buku catatan hijaunya.
“Aku akan menulis itu.”
Rantaka membantu Banyu mencari kayu kecil dan tali. Jagra mengambilkan batu untuk menahan papan. Liris memegang botol plastik yang akan dipotong menjadi penutup alat.
Banyu bekerja dengan sangat hati-hati.
Ia membuka dinamo kecil dari mobil mainan.
Ia menyambungkan kabel.
Ia memasang lampu kecil.
Ia mengikat bagian dinamo pada rangka sepeda tua.
Tangannya bergerak cepat, tetapi tidak tergesa-gesa.
Sesekali ia berhenti untuk berpikir.
Sesekali ia membongkar kembali bagian yang tidak cocok.
“Kau yakin bisa?” tanya Jagra.
“Tidak.”
“Lalu kenapa terus?”
“Karena kalau tidak dicoba, kita tidak akan tahu.”
Jagra mengangguk pelan.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun, bagi Jagra yang masih berjuang memahami pecahan dan menghadapi ejekan di sekolah, kata-kata Banyu terasa seperti sesuatu yang perlu diingat.
Setelah hampir satu jam, alat sederhana itu selesai dipasang.
Banyu meminta Jagra memegang sepeda.
Rantaka berdiri di dekat lampu kecil yang dipasang pada bagian depan.
Liris menahan napas.
“Sekarang putar roda belakangnya,” kata Banyu.
Jagra mengangkat sepeda sedikit, lalu memutar pedal dengan tangan.
Roda belakang berputar.
Rantai berbunyi.
Dinamo kecil bergerak.
Lampu di depan sepeda berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Lalu mati.
“Sudah hampir,” kata Banyu.
Ia langsung membongkar kembali kabelnya.
Jagra menghela napas.
“Aku kira sudah berhasil.”
“Belum,” jawab Banyu. “Tapi tadi lampunya menyala.”
“Cuma sebentar.”
“Berarti jalannya ada.”
Banyu kembali bekerja.
Kali ini, ia mengganti posisi kabel. Ia menambahkan potongan kawat yang lebih kuat. Ia mengikat dinamo lebih rapat ke bagian roda.
Matahari mulai turun ketika percobaan kedua dilakukan.
“Putar lagi,” kata Banyu.
Jagra memutar pedal.
Roda bergerak.
Dinamo berputar.
Lampu kecil di depan sepeda menyala.
Tidak terlalu terang.
Namun, cukup jelas.
Keempat sahabat itu terdiam sesaat.
Lalu Jagra berteriak paling keras.
“Berhasil!”
Rantaka tersenyum lebar.
Liris menutup mulutnya dengan tangan karena terharu.
Banyu sendiri hanya memandangi lampu kecil itu dengan wajah tenang. Namun, di matanya ada cahaya yang sulit disembunyikan.
“Lampu sepeda dari barang bekas,” kata Rantaka.
“Bukan hanya lampu,” jawab Banyu. “Kalau alat ini diperbaiki, mungkin bisa membantu orang yang pulang malam dari kebun atau sungai.”
Jagra memandangi lampu itu.
“Ayah sering pulang dari sungai sebelum subuh. Kadang jalannya gelap.”
“Kalau begitu, kita bisa buat yang lebih kuat,” kata Banyu.
Liris membuka buku catatan hijaunya dan menulis cepat.
Di bawah pohon mangga,
barang-barang bekas belajar bernapas.
Kawat menjadi jalan,
roda menjadi tenaga,
dan cahaya kecil mengajarkan kami
bahwa harapan tidak harus lahir dari sesuatu yang baru.
Banyu membaca tulisan itu dari samping.
“Bagus,” katanya.
Liris tersenyum.
“Karena kalian membuat sesuatu yang bagus.”
Tidak lama kemudian, Dimas dan dua temannya lewat di gang belakang pasar. Mereka tampaknya baru pulang dari bermain di lapangan.
Dimas melihat sepeda tua Banyu dengan lampu kecil menyala.
Ia berhenti.
“Apa itu?” tanyanya.
“Lampu,” jawab Jagra.
“Aku tahu itu lampu,” kata Dimas kesal. “Maksudku, kenapa lampunya bisa menyala?”
“Karena Banyu membuatnya,” jawab Rantaka.
Dimas mendekat.
Ia melihat kabel, dinamo kecil, dan botol plastik yang digunakan sebagai pelindung.
“Dari barang bekas?” tanyanya.
Banyu mengangguk.
Dimas tampak ingin mengejek.
Namun, lampu kecil itu masih menyala.
Tidak sempurna.
Tidak mewah.
Tetapi nyata.
“Kalau hujan, rusak tidak?” tanya salah satu teman Dimas.
“Bisa rusak kalau tidak diberi pelindung yang baik,” jawab Banyu. “Makanya masih perlu diperbaiki.”
Dimas tidak berkata apa-apa lagi.
Ia hanya memandang alat itu beberapa saat, lalu berjalan pergi.
Jagra menatap punggung Dimas.
“Kok dia tidak mengejek?”
“Karena dia tidak tahu harus mengejek apa,” jawab Rantaka.
Banyu menggeleng.
“Jangan pikirkan dia. Alat ini belum selesai.”
Malam itu, Banyu pulang ke Desa Wanasari dengan sepeda tua yang lampunya masih menyala redup di bagian depan.
Jalan pulang memang panjang.
Ada bagian yang gelap.
Ada jalan tanah yang berlubang.
Ada jembatan kayu yang harus dilewati dengan hati-hati.
Namun, malam itu, untuk pertama kalinya, Banyu mengayuh sepeda sambil melihat cahaya kecil bergerak di depannya.
Cahaya itu tidak menerangi seluruh jalan.
Tidak cukup untuk mengusir semua gelap.
Tetapi cukup untuk menunjukkan satu langkah berikutnya.
Di rumah, ayah Banyu yang sedang memperbaiki cangkul memandang lampu itu dengan heran.
“Dari mana lampu itu?” tanyanya.
“Aku buat sendiri.”
Ayahnya berdiri.
Ia mendekat dan memeriksa kabel serta dinamo yang dipasang di sepeda.
“Dari barang bekas?”
“Iya.”
Ayah Banyu tersenyum pelan.
“Kalau kau terus belajar seperti ini, suatu hari kau bisa membuat sesuatu yang lebih besar.”
Banyu menunduk.
Ia tidak terbiasa menerima pujian.
Namun, kata-kata ayahnya membuat hatinya terasa hangat.
Malam itu, sebelum tidur, Banyu membuka buku IPA.
Ia menggambar ulang alat sederhana yang dibuatnya.
Di bawah gambar itu, ia menulis:
Lampu Sepeda Sederhana untuk Jalan Desa
Kemudian ia menambahkan satu kalimat:
Barang bekas tidak selalu berarti tidak berguna. Kadang, yang dibutuhkan hanya seseorang yang mau melihat kemungkinan di dalamnya.
Di luar rumah, angin malam bergerak di antara pepohonan.
Di kejauhan, suara sungai terdengar pelan.
Dan di Desa Wanasari, sebuah cahaya kecil dari sepeda tua melintas di jalan tanah.
Cahaya itu bukan hanya lampu.
Ia adalah tanda bahwa seorang anak desa sedang belajar percaya pada pikirannya sendiri.
BAB 7 — SURAT YANG TIDAK PERNAH TERKIRIM
Malam di rumah Pakde Wirya selalu datang lebih cepat bagi Rantaka.
Bukan karena matahari benar-benar tenggelam lebih awal di kecamatan, melainkan karena setelah warung ditutup, setelah gelas-gelas dicuci, setelah lantai disapu, dan setelah suara pembeli terakhir menghilang dari teras, tubuhnya sudah terlalu lelah untuk memikirkan banyak hal.
Namun malam itu, ia tidak langsung tidur.
Lampu kecil di kamarnya menyala redup. Cahaya kuningnya jatuh di atas meja kayu sempit yang salah satu kakinya diberi ganjalan batu. Di atas meja itu ada buku pelajaran, pensil pendek, penghapus yang sudah hampir habis, dan sebuah buku tulis bergaris dengan sampul biru pudar.
Dari luar kamar, suara Pakde Wirya masih terdengar.
“Besok jangan terlambat bangun, Rantaka. Sayur untuk warung harus diambil dari pasar pagi.”
“Iya, Pakde,” jawab Rantaka.
Setelah itu, rumah kembali sunyi.
Rantaka menunduk di depan buku tulisnya.
Sudah beberapa hari ia merasa ada sesuatu yang menekan dadanya.
Di sekolah, ia berusaha tampak biasa saja. Ia duduk di kelas, menjawab pertanyaan guru, tersenyum ketika Jagra melontarkan lelucon, dan mendengarkan Liris bercerita tentang puisi-puisi yang ingin ia tulis.
Namun, ketika malam datang, semua yang ia tahan pada siang hari seakan kembali memenuhi pikirannya.
Ia rindu rumah.
Ia rindu suara ibunya di dapur.
Ia rindu ayahnya yang biasa duduk di teras setelah pulang dari ladang.
Ia rindu jalan tanah Desa Wanasari, meski jalan itu sering becek saat hujan dan berdebu saat kemarau.
Di kecamatan, semuanya terasa lebih ramai.
Tetapi di tengah keramaian itu, Rantaka justru sering merasa sendirian.
Ia mengambil pensil.
Lalu, pada halaman kosong di buku tulisnya, ia mulai menulis.
Untuk Liris,
Aku tidak tahu kenapa aku menulis surat ini.
Mungkin karena kalau berbicara langsung, aku takut kata-kataku terdengar terlalu lemah.
Di sekolah, aku selalu berusaha terlihat baik-baik saja. Aku tidak ingin Jagra mengira aku mudah menyerah. Aku tidak ingin Banyu melihatku seperti orang yang tidak kuat. Aku juga tidak ingin kau merasa harus memikirkan masalahku.
Tapi sebenarnya aku sering merasa takut.
Aku takut tidak mampu bertahan di sekolah ini.
Aku takut nilai-nilaiku turun karena aku terlalu lelah membantu Pakde di warung.
Aku takut suatu hari Pakde merasa aku hanya menjadi beban.
Aku takut tidak bisa membalas kebaikan ibu dan ayah yang sudah berusaha mengirimku sekolah ke kecamatan.
Kadang aku ingin pulang ke Wanasari. Bukan karena aku tidak ingin sekolah, tetapi karena di sana aku merasa lebih mengenal diriku sendiri.
Di sini, aku sering merasa seperti orang asing.
Aku ingin mengatakan semua ini kepadamu karena kau selalu bisa mendengarkan tanpa membuat orang merasa kecil.
Tapi mungkin surat ini tidak akan pernah sampai kepadamu.
Karena aku belum tentu cukup berani untuk memberikannya.
Rantaka
Setelah selesai menulis, Rantaka membaca surat itu berulang kali.
Setiap kalimat terasa seperti bagian dari dirinya yang selama ini disembunyikan.
Ia ingin merobeknya.
Ia ingin membakarnya.
Namun, tangannya tidak bergerak.
Akhirnya, ia melipat kertas itu menjadi empat bagian.
Ia memasukkannya ke dalam buku pelajaran Bahasa Indonesia, tepat di antara halaman yang membahas tentang surat pribadi.
“Besok,” bisiknya.
Entah besok ia akan memberikannya kepada Liris atau tidak.
Ia sendiri belum tahu.
Pagi berikutnya, Rantaka bangun sebelum fajar.
Ia membantu Pakde Wirya mengambil sayur ke pasar, mengangkat keranjang, menata dagangan, lalu berlari menuju sekolah dengan seragam yang belum sepenuhnya kering karena dicuci malam sebelumnya.
Ketika sampai di kelas, napasnya masih terengah.
Jagra sudah duduk di bangkunya.
“Kau hampir terlambat lagi,” kata Jagra.
“Pasar ramai,” jawab Rantaka singkat.
Liris menoleh dari bangku depan.
“Kau belum sarapan?”
Rantaka menggeleng.
Liris membuka bekalnya.
“Aku membawa singkong rebus. Ambil sedikit.”
“Tidak usah.”
“Ambil saja. Aku membawa banyak.”
Rantaka ragu.
Namun, akhirnya ia mengambil satu potong singkong.
“Terima kasih.”
Liris tersenyum.
Rantaka ingin mengatakan sesuatu.
Ia ingin mengeluarkan surat dari dalam buku pelajarannya.
Ia ingin meletakkannya di atas meja Liris sebelum pelajaran dimulai.
Namun, ketika tangannya menyentuh tas, ia kembali mengurungkan niat.
Belum sekarang, pikirnya.
Pelajaran berjalan seperti biasa.
Namun, Rantaka tidak bisa berkonsentrasi.
Setiap kali membuka buku Bahasa Indonesia, ia teringat surat yang terselip di dalamnya.
Saat jam istirahat, Jagra mengajak Rantaka ke kantin.
“Banyu sedang membantu Pak Hendra di ruang keterampilan,” kata Jagra. “Kita beli es dulu.”
Rantaka mengangguk.
Ia meninggalkan tasnya di kelas.
Buku Bahasa Indonesia masih berada di dalam tas itu.
Di lorong sekolah, seorang siswa bernama Raka melihat Rantaka dan Jagra berjalan menuju kantin.
Raka bukan sahabat mereka.
Ia satu kelas dengan Rantaka, tetapi lebih sering bergaul dengan anak-anak yang berasal dari keluarga berada. Ia suka bercanda keras, suka mencari perhatian, dan sering menganggap masalah orang lain sebagai bahan hiburan.
Saat masuk ke kelas yang hampir kosong, Raka melihat tas Rantaka yang terbuka sedikit.
Awalnya ia hanya ingin mengambil pensil yang jatuh di dekat meja.
Namun, ketika tangannya menyentuh tas itu, ia melihat buku Bahasa Indonesia yang terbuka.
Di antara halamannya, ada lipatan kertas.
Raka mengambilnya.
Ia membuka lipatan itu.
Matanya bergerak cepat membaca tulisan tangan Rantaka.
Kemudian, senyum tipis muncul di wajahnya.
“Untuk Liris,” gumamnya.
Tidak lama kemudian, dua temannya masuk ke kelas.
“Ada apa, Rak?” tanya salah seorang dari mereka.
Raka mengangkat kertas itu.
“Ini menarik.”
Ia mulai membacakan beberapa bagian surat dengan suara dibuat-buat.
“Aku ingin mengatakan semua ini kepadamu karena kau selalu bisa mendengarkan tanpa membuat orang merasa kecil.”
Dua anak itu langsung tertawa.
“Wah, Rantaka punya surat cinta!”
“Anak desa ternyata romantis juga.”
Raka tertawa lebih keras.
“Jangan bilang-bilang dulu. Nanti kita lihat wajahnya saat tahu.”
Namun, ejekan seperti itu jarang berhenti pada tiga orang.
Ketika bel masuk berbunyi, surat itu sudah berpindah dari tangan ke tangan.
Ada yang membacanya diam-diam.
Ada yang menahan tawa.
Ada yang berbisik kepada temannya.
Ada pula yang sengaja melihat ke arah Rantaka ketika ia kembali masuk kelas bersama Jagra.
Rantaka langsung merasa ada sesuatu yang tidak biasa.
Beberapa siswa mendadak diam ketika ia masuk.
Beberapa yang lain menunduk sambil tersenyum aneh.
Jagra mengerutkan dahi.
“Kenapa mereka?”
Rantaka tidak menjawab.
Ia duduk di bangkunya dan membuka tas.
Buku Bahasa Indonesianya masih ada.
Namun, kertas yang terselip di dalamnya sudah tidak ada.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Ia membalik halaman demi halaman.
Tidak ada.
Ia memeriksa seluruh isi tas.
Tidak ada.
Tangannya mulai gemetar.
“Kenapa?” tanya Jagra.
“Suratku hilang.”
“Surat apa?”
Rantaka menatap Jagra.
Ia tidak sanggup menjelaskan.
Belum sempat ia menjawab, Raka berdiri dari bangkunya.
Dengan wajah penuh kemenangan, ia mengangkat selembar kertas.
“Maksudmu surat ini?”
Ruangan mendadak hening.
Rantaka berdiri.
“Berikan.”
Raka tidak langsung menyerahkannya.
“Surat untuk siapa ini? Untuk Liris?”
Beberapa siswa tertawa.
Liris yang duduk di depan menoleh dengan bingung.
“Apa maksudmu?” tanyanya.
Raka membaca dengan suara keras.
“Aku takut tidak mampu bertahan di sekolah ini.”
Tawa kembali terdengar.
“Aku takut suatu hari Pakde merasa aku hanya menjadi beban.”
Kali ini, Rantaka merasa wajahnya panas.
Bukan karena malu semata.
Melainkan karena bagian paling rapuh dari dirinya sedang dibuka di depan orang-orang yang tidak pernah ia izinkan untuk melihatnya.
“Berikan surat itu,” katanya lagi.
Suara Rantaka rendah.
Namun, ada getaran marah di dalamnya.
Raka justru melangkah mundur.
“Kenapa? Bukankah ini surat cinta? Kami hanya ingin tahu bagaimana perasaanmu.”
“Itu bukan urusanmu.”
“Kalau bukan urusan kami, jangan simpan di buku sekolah.”
Jagra berdiri.
“Raka, berikan surat itu.”
“Kenapa kau ikut campur?”
“Karena kau sudah keterlaluan.”
Suasana kelas mulai tegang.
Beberapa siswa berhenti tertawa.
Liris berdiri dari bangkunya.
Wajahnya tampak bingung, tetapi juga tidak nyaman.
Ia tidak memahami mengapa namanya disebut-sebut.
Ia tidak tahu isi surat itu.
Ia hanya tahu Rantaka sedang berdiri dengan wajah pucat, sementara Raka memegang selembar kertas yang jelas bukan miliknya.
Saat itu, Bu Ratna, guru Bahasa Indonesia, masuk ke kelas.
“Ada apa ini?” tanyanya tegas.
Tidak ada yang langsung menjawab.
Raka buru-buru menyembunyikan surat di belakang punggungnya.
Namun, Bu Ratna melihatnya.
“Raka, apa yang kau pegang?”
Raka ragu.
“Tidak ada, Bu.”
“Berikan kepada Ibu.”
Dengan enggan, Raka menyerahkan surat itu.
Bu Ratna membaca bagian awalnya sekilas.
Wajahnya berubah serius.
“Siapa pemilik surat ini?”
Rantaka menunduk.
“Itu milik saya, Bu.”
“Kenapa surat pribadi ini berada di tangan Raka?”
Raka diam.
Bu Ratna menatap seluruh kelas.
“Siapa yang membaca surat ini?”
Tidak ada yang menjawab.
Namun, beberapa wajah yang menunduk sudah cukup memberi jawaban.
Bu Ratna menarik napas.
“Surat pribadi adalah milik pribadi. Membaca, mengambil, dan menyebarkannya tanpa izin adalah tindakan yang tidak benar.”
Raka masih diam.
“Raka, kau akan menemui Ibu setelah pelajaran selesai. Dan kalian semua yang sudah membaca atau menertawakan surat ini harus belajar bahwa perasaan orang lain bukan bahan hiburan.”
Kelas menjadi sunyi.
Namun, bagi Rantaka, teguran Bu Ratna tidak cukup menghapus rasa malu yang sudah telanjur memenuhi dirinya.
Ia tidak berani melihat siapa pun.
Terutama Liris.
Ia takut Liris mengira surat itu adalah surat cinta.
Ia takut Liris merasa aneh kepadanya.
Ia takut sahabatnya itu melihat kelemahannya.
Sepanjang pelajaran, Rantaka tidak mencatat satu kata pun.
Pikirannya hanya dipenuhi oleh suara tawa yang tadi terdengar.
Setelah bel pulang berbunyi, Liris menghampirinya.
“Rantaka.”
Rantaka memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.
“Aku mau pulang.”
“Aku hanya ingin bertanya.”
“Tidak perlu.”
“Surat itu tentang apa?”
Rantaka berhenti sejenak.
Ia ingin menjelaskan.
Ia ingin mengatakan bahwa surat itu bukan tentang cinta seperti yang diejekkan Raka dan teman-temannya.
Ia ingin mengatakan bahwa ia hanya merasa kesepian.
Bahwa ia takut.
Bahwa ia tidak tahu harus berbicara kepada siapa.
Namun, rasa malu membuat semua kata itu tertahan di tenggorokannya.
“Bukan apa-apa,” katanya dingin.
Liris menatapnya.
“Kalau bukan apa-apa, kenapa kau terlihat sangat marah?”
“Karena mereka membaca barangku.”
“Aku tahu. Tapi—”
“Sudahlah, Liris.”
Nada suaranya lebih keras dari yang ia maksudkan.
Liris terdiam.
Rantaka langsung menyesal.
Namun, ia tidak sanggup meminta maaf.
Ia mengambil tasnya dan berjalan keluar kelas.
Jagra mengejarnya sampai ke halaman sekolah.
“Rantaka!”
Rantaka tidak berhenti.
“Biarkan aku sendiri.”
“Raka memang keterlaluan. Tapi kau tidak perlu menjauh dari kami.”
“Aku tidak menjauh.”
“Kau jelas sedang menjauh.”
Rantaka berhenti di dekat pagar sekolah.
Ia memandang jalan menuju rumah Pakde Wirya.
Di kejauhan, kendaraan berlalu-lalang. Suara pasar mulai terdengar. Langit sore tampak kelabu.
“Aku hanya lelah, Jagra,” katanya pelan.
Jagra berdiri di sampingnya.
“Kalau lelah, bilang.”
Rantaka menggeleng.
“Tidak semua hal mudah untuk dikatakan.”
Jagra tidak memaksa.
Mereka berdiri beberapa saat dalam diam.
Di kelas, Liris masih duduk di bangkunya.
Ia memandangi halaman kosong di buku catatan hijaunya.
Ia tidak tahu bahwa surat itu sebenarnya ditujukan kepadanya.
Ia tidak tahu bahwa di dalam surat itu, Rantaka sedang berusaha meminta tempat untuk didengarkan.
Yang ia tahu hanya satu: sejak hari itu, Rantaka mulai menutup pintu yang sebelumnya selalu terbuka bagi sahabat-sahabatnya.
Dan tanpa mereka sadari, sebuah surat yang tidak pernah terkirim telah mulai menorehkan retak pertama di dalam persahabatan Langit Biru.
BAB 8 — ANAK DESA DI BANGKU BELAKANG
Pagi itu, langit di atas Kecamatan Rawa Jaya tampak pucat.
Awan tipis menggantung sejak matahari belum tinggi. Jalan menuju sekolah masih lembap oleh hujan semalam, dan sepatu Rantaka kembali terkena cipratan lumpur ketika ia berjalan melewati tepi selokan.
Ia tiba lebih awal dari biasanya.
Bukan karena tidak ada pekerjaan di warung Pakde Wirya, melainkan karena ia tidak ingin terlalu lama berada di rumah setelah kejadian surat itu.
Di rumah Pakde, suasana terasa berbeda sejak pagi.
Pakde Wirya tidak banyak bertanya, tetapi Rantaka merasa lelaki itu mengetahui sesuatu dari wajahnya yang muram. Ketika Rantaka hendak berangkat, Pakde hanya berkata, “Sekolah yang baik. Jangan membawa masalah pulang.”
Kalimat itu sederhana.
Namun, di telinga Rantaka, kalimat itu terdengar seperti peringatan.
Ia tidak ingin membuat masalah.
Ia tidak ingin menjadi beban.
Tetapi sejak suratnya dibaca oleh banyak orang, ia merasa seperti membawa beban yang tidak terlihat ke mana-mana.
Ketika masuk ke kelas, Rantaka melihat susunan bangku telah berubah.
Bu Ratna berdiri di depan kelas sambil memegang daftar nama.
“Anak-anak,” katanya, “mulai hari ini tempat duduk kalian akan diatur kembali. Ibu ingin kalian belajar bekerja sama dengan teman yang berbeda.”
Beberapa siswa langsung berbisik.
Ada yang tampak senang karena bisa duduk dekat sahabatnya. Ada yang memasang wajah kecewa. Ada pula yang cepat-cepat melihat daftar nama di tangan Bu Ratna.
Rantaka berdiri diam di dekat pintu.
Jagra datang beberapa saat kemudian, membawa tas yang disampirkan di satu bahu.
“Ada apa?” tanyanya.
“Bangku diatur ulang,” jawab Rantaka.
Jagra memandang ke depan.
“Semoga aku tidak duduk dekat orang yang suka bicara terus.”
Rantaka tidak menanggapi.
Sejak kemarin, ia masih sulit berbicara banyak.
Bu Ratna mulai memanggil nama satu per satu.
“Liris dan Nayla, bangku depan sebelah kiri.”
Liris berjalan menuju bangku yang ditunjuk. Nayla, siswi yang dikenal selalu rapi dan sering dikelilingi teman-temannya, mengikuti dengan wajah datar.
“Dimas dan Raka, bangku tengah sebelah kanan.”
Raka berjalan sambil tersenyum kecil kepada Dimas. Ketika melewati Rantaka, ia sempat melirik dengan tatapan yang membuat dada Rantaka kembali terasa sesak.
“Banyu dan Farel, bangku tengah sebelah kiri.”
Banyu membawa bukunya dan duduk tanpa banyak bicara.
Kemudian Bu Ratna menyebut dua nama terakhir.
“Rantaka dan Jagra, bangku belakang sebelah kanan.”
Jagra menoleh kepada Rantaka.
“Belakang?” gumamnya.
Rantaka hanya mengangkat bahu.
Mereka berjalan menuju bangku yang paling dekat dengan dinding belakang kelas.
Bangku itu sedikit lebih sempit daripada yang lain. Salah satu kakinya tampak tidak rata sehingga meja bergoyang ketika disentuh. Dari tempat itu, papan tulis terlihat lebih jauh.
Jagra duduk sambil menggeser tasnya.
“Bagus,” katanya pelan. “Kalau hujan, kita mungkin bisa sekalian melihat air masuk dari jendela.”
Rantaka tidak tertawa.
Ia hanya meletakkan buku di atas meja.
Pelajaran pertama dimulai.
Bu Ratna menerangkan tentang teks pidato. Ia menulis beberapa contoh kalimat di papan tulis. Rantaka berusaha mencatat, tetapi suara bisik-bisik dari bangku tengah terus terdengar.
“Memang cocok di belakang,” kata seseorang.
Rantaka tidak langsung menoleh.
“Siapa?” bisik Jagra.
“Sudah,” jawab Rantaka.
Namun, suara itu terdengar lagi.
“Anak kampung memang biasanya duduk di belakang.”
Kali ini Jagra menoleh.
Di bangku tengah, Raka sedang berbicara kepada Dimas. Dimas tidak tertawa keras, tetapi bibirnya tampak melengkung tipis. Farel yang duduk tidak jauh dari mereka menunduk sambil menahan senyum.
Jagra mengepalkan tangan.
“Jangan dengarkan,” kata Rantaka pelan.
“Kenapa harus diam?”
“Karena kalau kau menanggapi, mereka akan semakin senang.”
Jagra menatap Rantaka.
“Kau selalu bilang diam. Kemarin suratmu dibaca, kau juga diam. Sekarang mereka menghina kita, kau masih menyuruh diam.”
Rantaka menunduk.
Kata-kata itu menusuk lebih dalam daripada yang Jagra sadari.
Bu Ratna melanjutkan pelajaran.
Namun, suasana di kelas tidak lagi tenang bagi Rantaka dan Jagra.
Ketika Bu Ratna meminta siswa membentuk kelompok kecil untuk membuat contoh teks pidato, Raka berdiri dan memindahkan kursinya sedikit.
“Aku tidak mau satu kelompok dengan anak kampung,” katanya, cukup keras untuk didengar beberapa orang.
Jagra langsung berdiri.
“Apa maksudmu?”
Raka menoleh dengan santai.
“Tidak ada maksud apa-apa.”
“Jangan bicara begitu.”
“Memangnya salah? Kalian memang dari kampung, kan?”
Beberapa siswa terdiam.
Liris menoleh dari bangku depan.
Banyu yang sedang membuka bukunya juga mengangkat wajah.
Rantaka memegang lengan Jagra.
“Duduk.”
Namun, Jagra melepaskan tangannya.
“Kalau kami dari desa, kenapa? Kami sekolah di sini sama seperti kalian.”
Raka tertawa kecil.
“Ya, tapi tidak semua orang dari desa cocok ikut kegiatan sekolah. Kalian lebih cocok membantu di kebun atau di sungai.”
Kalimat itu membuat wajah Jagra memerah.
Ayahnya memang nelayan sungai.
Keluarganya memang hidup dari ikan dan air sungai.
Namun, bagi Jagra, pekerjaan ayahnya bukan sesuatu yang pantas dijadikan ejekan.
“Itu pekerjaan ayahku,” kata Jagra.
“Lalu kenapa?” jawab Raka. “Aku hanya bilang kenyataan.”
Jagra melangkah maju.
“Kalau kau menghina ayahku sekali lagi—”
“Jagra,” kata Rantaka lebih tegas.
Namun, Raka kembali tersenyum.
“Memangnya kau mau apa?”
Suara kursi bergeser.
Dalam satu gerakan cepat, Jagra mendorong meja Raka.
Meja itu bergeser keras hingga buku-buku di atasnya jatuh ke lantai.
Raka berdiri.
“Berani kau?”
“Aku sudah bilang jangan menghina keluargaku!”
Raka mendorong bahu Jagra.
Jagra membalas.
Keduanya saling tarik.
Suara gaduh memenuhi kelas.
Beberapa siswa menjerit.
Ada yang mundur menjauh.
Ada yang mencoba memisahkan.
Rantaka berdiri dan menarik Jagra dari belakang.
“Sudah, Jagra!”
Namun, saat Raka kembali maju, Rantaka menahan tubuhnya agar tidak mendekati Jagra.
Gerakan itu membuat Raka kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh ke kursi.
Pada saat itulah Bu Ratna masuk dari lorong kelas.
“Apa yang terjadi?”
Kelas langsung sunyi.
Jagra masih berdiri dengan napas memburu.
Raka merapikan seragamnya.
Rantaka berdiri di antara mereka.
Bu Ratna memandang meja yang bergeser, buku-buku yang jatuh, dan wajah murid-muridnya yang tegang.
“Jagra. Raka. Rantaka. Ke depan.”
Mereka bertiga berjalan perlahan.
“Siapa yang memulai?” tanya Bu Ratna.
Tidak ada yang menjawab.
Raka menunduk.
Jagra memandang lurus ke depan.
Rantaka menggigit bibir.
Bu Ratna menatap seluruh kelas.
“Apakah ada yang melihat?”
Beberapa siswa saling pandang.
Liris berdiri.
“Bu, Raka yang mulai bicara.”
Raka menoleh tajam.
Liris tetap berdiri.
“Ia mengatakan Rantaka dan Jagra anak kampung. Ia juga menghina pekerjaan ayah Jagra.”
Banyu ikut berdiri.
“Benar, Bu. Kami semua mendengarnya.”
Bu Ratna memandang Raka.
“Benarkah?”
Raka tidak langsung menjawab.
“Itu hanya bercanda, Bu.”
“Kalau candaan membuat orang lain terluka dan marah, itu bukan candaan yang baik.”
Raka menunduk.
Bu Ratna lalu memandang Jagra.
“Namun, Jagra, kau tidak boleh menyelesaikan penghinaan dengan kekerasan.”
Jagra mengatupkan rahangnya.
“Iya, Bu.”
“Dan Rantaka,” lanjut Bu Ratna, “kau ikut berdiri di tengah perkelahian. Kau menahan Raka hingga hampir jatuh.”
“Saya hanya ingin memisahkan, Bu.”
“Cara yang kau lakukan tetap membuat keadaan semakin gaduh.”
Rantaka tidak membantah.
Ia tahu Bu Ratna tidak sepenuhnya salah.
Tetapi ia juga merasa tidak adil.
Ia hanya ingin melindungi Jagra.
Seperti Jagra yang kemarin berusaha membelanya ketika suratnya dibaca Raka.
Bu Ratna menarik napas.
“Kalian bertiga akan mendapat hukuman. Sepulang sekolah, kalian membersihkan perpustakaan selama dua hari. Selain itu, kalian harus membuat tulisan tentang arti menghormati teman.”
Jagra mengangkat wajah.
“Bu, Rantaka tidak memulai perkelahian.”
“Rantaka tetap terlibat dalam keributan.”
“Tapi dia hanya membela saya.”
Bu Ratna terdiam sesaat.
“Justru karena itu, kalian harus belajar bahwa membela teman tidak selalu berarti ikut melawan dengan cara yang sama.”
Jagra tidak berkata lagi.
Namun, wajahnya tetap menunjukkan ketidakpuasan.
Rantaka kembali ke bangku belakang.
Kali ini, ia tidak merasa bangku itu hanya jauh dari papan tulis.
Ia merasa bangku itu seperti tempat yang sengaja dibuat untuk orang-orang seperti dirinya dan Jagra—orang-orang yang mudah diberi label, mudah dipandang rendah, dan mudah disalahkan ketika keadaan menjadi gaduh.
Liris menoleh beberapa kali ke arah mereka.
Namun, Rantaka tidak membalas tatapannya.
Ia membuka buku.
Mencoba menulis.
Tetapi pikirannya tidak berada di pelajaran.
Ia teringat kata-kata Raka.
Tidak semua orang dari desa cocok ikut kegiatan sekolah.
Kalimat itu membuatnya marah.
Namun, yang lebih menyakitkan adalah karena sebagian kecil dalam dirinya pernah merasa takut bahwa kata-kata itu benar.
Ia memang anak desa.
Ia tinggal di rumah Pakde agar bisa sekolah di kecamatan.
Ia harus membantu di warung.
Ia sering lelah.
Ia tidak punya sepatu baru seperti beberapa siswa lain.
Ia tidak punya banyak buku.
Ia tidak punya keluarga yang bisa dengan mudah membayar les tambahan.
Tetapi apakah semua itu berarti ia tidak pantas berada di sekolah?
Ketika jam pelajaran selesai, Bu Ratna memanggil Rantaka, Jagra, dan Raka ke perpustakaan.
Perpustakaan sekolah tidak terlalu besar. Rak-raknya penuh buku lama. Beberapa sampul buku sudah menguning. Debu menempel di sudut jendela.
“Kalian mulai membersihkan dari rak bagian belakang,” kata Bu Ratna. “Besok lanjutkan lagi.”
Raka mengambil kain lap dengan wajah kesal.
Jagra mengambil sapu.
Rantaka mengangkat beberapa tumpukan buku.
Mereka bekerja tanpa bicara.
Beberapa menit kemudian, Jagra berkata pelan, “Aku tidak menyesal membela ayahku.”
Rantaka tetap menyusun buku.
“Aku tahu.”
“Tapi aku menyesal kau ikut dihukum.”
“Tidak apa-apa.”
“Tidak apa-apa bagaimana? Kau sudah punya banyak masalah.”
Rantaka berhenti.
Ia memandang Jagra.
“Kalau kemarin kau tidak membelaku, mungkin aku lebih sendirian.”
Jagra terdiam.
“Jadi hari ini,” lanjut Rantaka, “aku tidak bisa membiarkanmu sendirian juga.”
Jagra menunduk.
Raka yang sedang membersihkan rak di seberang ruangan mendengar kata-kata itu.
Tangannya berhenti sejenak.
Namun, ia tidak berkata apa-apa.
Menjelang sore, perpustakaan mulai tampak lebih rapi.
Debu di meja sudah dibersihkan.
Buku-buku yang berserakan telah disusun kembali.
Bu Ratna datang memeriksa pekerjaan mereka.
“Cukup untuk hari ini,” katanya.
Ketiganya keluar dari perpustakaan dengan langkah lambat.
Di halaman sekolah, Banyu dan Liris menunggu.
Liris membawa dua bungkus singkong rebus.
“Kalian pasti lapar,” katanya.
Jagra menerima satu bungkus.
“Terima kasih.”
Rantaka ragu, tetapi akhirnya menerima juga.
Mereka duduk di bawah pohon ketapang dekat pagar sekolah.
Tidak ada yang langsung berbicara.
Sore bergerak perlahan.
Anak-anak lain sudah banyak yang pulang.
Suara kendaraan dari jalan raya terdengar jauh.
“Aku benci ketika mereka menyebut kita anak kampung,” kata Jagra akhirnya.
Banyu menatap tanah.
“Anak kampung bukan hinaan.”
“Aku tahu,” jawab Jagra. “Tapi mereka mengatakannya seperti kita lebih rendah.”
Liris memandang Rantaka.
“Kalian tidak lebih rendah.”
Rantaka mengangkat wajah.
“Kadang, kalau orang terus mengatakannya, kita bisa mulai percaya.”
Liris terdiam.
Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Rantaka.
Ia tidak bermaksud mengatakannya.
Namun, setelah suratnya dibaca dan setelah ejekan di kelas, ia tidak lagi punya banyak tenaga untuk menyembunyikan semua perasaannya.
Banyu berkata pelan, “Kita tidak perlu menjadi seperti mereka untuk membuktikan bahwa kita bisa.”
Jagra memegang bungkus singkong di tangannya.
“Lalu bagaimana?”
“Kita belajar,” jawab Banyu. “Kita bertahan. Kita tetap ikut kegiatan sekolah. Kita jangan berhenti hanya karena mereka ingin kita merasa kecil.”
Rantaka memandang sahabat-sahabatnya.
Kata-kata Banyu sederhana.
Namun, ada keteguhan di dalamnya.
Rantaka kembali teringat SD Wanasari.
Gerobak buku.
Pohon beringin.
Bu Laras yang selalu berkata bahwa anak desa juga berhak memiliki masa depan.
Ia tidak tahu apakah dirinya mampu selalu kuat.
Ia tidak tahu apakah ia akan sanggup menghadapi semua ejekan, pekerjaan di warung, dan pelajaran yang semakin sulit.
Namun, sore itu, di bawah pohon ketapang dekat pagar sekolah, ia menyadari satu hal.
Bangku belakang mungkin membuat mereka tampak jauh dari papan tulis.
Tetapi tidak ada bangku di dunia yang dapat menentukan seberapa jauh seseorang boleh bermimpi.
Dan meski retak mulai muncul dalam persahabatan mereka, Rantaka, Jagra, Liris, dan Banyu masih duduk bersama—masih membawa nama Langit Biru di dalam hati masing-masing.
BAB 9 — NILAI YANG JATUH DAN HARGA DIRI YANG LUKA
Sejak peristiwa di kelas, hari-hari Rantaka terasa semakin berat.
Hukuman membersihkan perpustakaan memang hanya berlangsung dua hari, tetapi pekerjaan di warung Pakde Wirya tidak berhenti hanya karena ia pulang lebih sore. Setelah selesai membersihkan rak buku dan menyapu lantai perpustakaan, ia tetap harus berlari menuju warung, mengganti seragamnya, lalu membantu Pakde melayani pembeli.
Sore itu, ketika Rantaka tiba di warung, Pakde Wirya sedang mengangkat karung beras dari belakang rumah.
“Kau terlambat,” kata Pakde tanpa menoleh.
“Maaf, Pakde. Saya masih menjalani hukuman di sekolah.”
Pakde Wirya menurunkan karung itu dengan napas berat.
“Hukuman lagi?”
“Bukan karena saya memulai masalah.”
Pakde menatapnya.
“Di sekolah, orang tidak selalu melihat siapa yang memulai. Mereka melihat siapa yang terlibat.”
Rantaka menunduk.
Ia sudah terlalu lelah untuk menjelaskan.
Pakde menyerahkan sapu.
“Bersihkan bagian depan. Setelah itu bantu Ibu Pardi menata minuman di lemari pendingin.”
“Iya, Pakde.”
Warung mulai ramai ketika matahari turun.
Ada buruh bangunan yang membeli kopi sachet. Ada ibu-ibu yang membeli gula, minyak goreng, dan sabun. Ada anak-anak kecil yang datang membawa uang receh untuk membeli permen. Ada pula sopir angkutan yang berhenti sebentar untuk membeli rokok dan air mineral.
Rantaka berdiri di balik meja kecil dekat rak makanan.
Tangannya bergerak cepat mengambil barang, menghitung uang, memberi kembalian, lalu mencatat beberapa pesanan yang dibeli secara utang oleh pelanggan tetap.
Namun, pikirannya tidak sepenuhnya berada di warung.
Besok ada ulangan matematika.
Sejak dua minggu terakhir, ia belum sempat belajar dengan tenang.
Setiap malam, setelah warung tutup, tubuhnya terasa seperti tidak lagi memiliki tenaga. Ia sering membuka buku matematika, membaca beberapa halaman, lalu tertidur dengan kepala di atas meja.
Malam itu pun demikian.
Setelah warung tutup, Rantaka masuk ke kamarnya membawa buku catatan matematika.
Jam dinding sudah menunjukkan hampir pukul sebelas.
Ia membuka halaman tentang pecahan, perbandingan, dan soal cerita.
Angka-angka di depan matanya tampak seperti bergerak sendiri.
Ia mencoba mengerjakan satu soal.
Jika dua belas kilogram beras dibagi kepada delapan keluarga, berapa kilogram yang diterima setiap keluarga?
Rantaka memegang pensil.
Ia tahu seharusnya ia bisa menjawab.
Namun, kepalanya terasa berat.
Suara kendaraan dari jalan raya, suara piring dari dapur, dan suara Pakde yang masih berbicara dengan seseorang di teras membuat pikirannya semakin sulit tenang.
Ia menunduk.
Tanpa sadar, kelopak matanya tertutup.
Pagi hari, ia terbangun dengan buku matematika masih terbuka di depannya.
Pipinya menempel pada halaman penuh angka.
Pukul lima lewat.
Ia segera bangkit.
Di luar, Pakde Wirya sudah memanggil dari dapur.
“Rantaka! Air galon habis. Antar dua galon ke rumah Bu Sari sebelum berangkat sekolah!”
“Iya, Pakde!”
Hari itu, Rantaka datang ke sekolah dengan mata merah dan langkah lambat.
Jagra melihatnya ketika ia masuk kelas.
“Kau tidak tidur lagi?”
“Tidur,” jawab Rantaka singkat.
“Wajahmu seperti orang yang habis berjaga tiga malam.”
Rantaka hanya meletakkan tas.
Liris menoleh dari bangku depan.
“Kau sudah belajar matematika?”
Rantaka mengangguk, meski sebenarnya tidak yakin.
“Kalau ada yang belum paham, aku bisa membantu saat istirahat,” kata Liris.
“Tidak usah.”
“Aku hanya menawarkan.”
“Aku bilang tidak usah.”
Nada suara Rantaka membuat Liris terdiam.
Banyu yang duduk tidak jauh dari mereka memandang Rantaka, tetapi tidak berkata apa-apa.
Bel pelajaran berbunyi.
Pak Arman, guru matematika, masuk sambil membawa beberapa lembar kertas.
“Hari ini kita ulangan,” katanya. “Kerjakan sendiri. Jangan melihat pekerjaan teman.”
Kertas soal dibagikan.
Rantaka memandangi lembarannya.
Pada soal pertama, ia masih bisa menjawab.
Soal kedua juga masih dapat ia kerjakan meski harus berpikir lebih lama.
Namun, ketika sampai pada soal cerita tentang perbandingan dan kecepatan, pikirannya seperti berhenti.
Ia membaca soal itu berkali-kali.
Sebuah kendaraan menempuh jarak tertentu dalam waktu tertentu. Jika kecepatannya berubah, berapa waktu yang dibutuhkan?
Angka-angka itu berputar di kepalanya.
Ia mencoba menulis rumus.
Lalu menghapusnya.
Menulis lagi.
Menghapus lagi.
Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya.
Di sebelahnya, Jagra juga tampak serius mengerjakan soal.
Di depan, beberapa siswa sudah mulai menulis jawaban dengan cepat.
Rantaka menunduk lebih dalam.
Ia tidak ingin melihat siapa pun.
Ketika waktu hampir habis, ia mengisi jawaban seadanya.
Ia tahu beberapa jawabannya mungkin salah.
Namun, tidak ada lagi yang bisa ia lakukan.
Setelah ulangan selesai, Pak Arman mengumpulkan kertas jawaban.
“Besok hasilnya akan saya bagikan,” katanya.
Rantaka mengembuskan napas pelan.
Ia merasa seperti baru saja kalah dalam sesuatu yang belum sempat ia perjuangkan dengan sungguh-sungguh.
Keesokan harinya, Pak Arman masuk kelas dengan membawa tumpukan kertas ulangan.
Wajahnya tidak tampak marah, tetapi suaranya serius.
“Nilai ulangan kali ini cukup beragam,” katanya. “Ada yang meningkat, ada yang harus lebih banyak belajar.”
Satu per satu kertas dibagikan.
Beberapa siswa tersenyum lega.
Ada yang berbisik bangga kepada temannya.
Ada pula yang tampak kecewa.
Ketika kertas Rantaka diletakkan di atas mejanya, ia tidak langsung melihatnya.
Tangannya diam beberapa saat.
Lalu perlahan, ia membalik lembar itu.
Di pojok kanan atas, tertulis angka merah.
48
Rantaka menatap angka itu cukup lama.
Nilainya tidak hanya turun.
Nilainya jatuh jauh.
Ia pernah mendapat nilai enam puluh lima. Pernah juga mendapat nilai tujuh puluh. Nilai itu mungkin bukan yang terbaik di kelas, tetapi cukup membuatnya merasa mampu bertahan.
Namun angka empat puluh delapan terasa seperti sebuah pengumuman bahwa ia mulai tertinggal.
Pak Arman berdiri di depan kelas.
“Bagi yang nilainya di bawah enam puluh, silakan mengikuti bimbingan tambahan setelah sekolah setiap hari Selasa dan Kamis.”
Rantaka menunduk.
Ia langsung teringat warung Pakde.
Selasa dan Kamis adalah hari pasar yang paling ramai.
Jika ia pulang terlambat karena bimbingan tambahan, siapa yang akan membantu di warung?
Di belakangnya, Jagra menepuk meja pelan.
“Nilaimu berapa?”
Rantaka menutup kertasnya.
“Tidak penting.”
“Kalau tidak penting, kenapa wajahmu begitu?”
Rantaka tidak menjawab.
Saat jam istirahat, Bu Laras datang ke kelas.
Kehadiran gurunya dari SD Wanasari itu selalu membuat Rantaka merasa seperti melihat sepotong rumah di tengah kecamatan yang asing.
Bu Laras kini beberapa kali datang ke SMP untuk mengurus berkas beberapa siswa dari Desa Wanasari yang melanjutkan sekolah. Ia juga masih sering berkomunikasi dengan para guru, terutama tentang kemungkinan bantuan pendidikan bagi anak-anak yang berprestasi tetapi memiliki keterbatasan ekonomi.
Rantaka melihat Bu Laras berbicara dengan wali kelas di depan pintu.
Beberapa saat kemudian, Bu Laras menghampirinya.
“Rantaka, boleh Ibu bicara sebentar?”
Rantaka berdiri.
“Iya, Bu.”
Mereka berjalan ke teras kelas.
Angin siang membawa suara ramai dari lapangan.
Bu Laras memandang Rantaka dengan lembut.
“Ibu mendengar ada program beasiswa pendidikan untuk siswa yang memiliki semangat belajar dan kondisi ekonomi yang membutuhkan dukungan.”
Mata Rantaka sedikit berbinar.
“Benarkah, Bu?”
“Ibu sedang berusaha mengajukan namamu. Tetapi ada beberapa syarat yang harus dijaga. Kehadiran, sikap, dan nilai pelajaran.”
Rantaka diam.
Bu Laras melanjutkan, “Ibu tahu kau bekerja keras. Ibu juga tahu kau membantu Pakde di warung. Tetapi jangan sampai kelelahan membuatmu kehilangan kesempatan.”
Rantaka menggenggam tali tasnya.
“Tadi nilai matematika saya turun, Bu.”
Bu Laras mengangguk pelan.
“Nilai yang turun bukan akhir dari segalanya. Yang penting, kau mau memperbaikinya.”
“Kalau nilai saya seperti ini, apakah beasiswanya batal?”
“Belum tentu. Tetapi kau harus menunjukkan bahwa kau mampu bangkit.”
Kata-kata itu seharusnya memberi semangat.
Namun, bagi Rantaka, kata-kata itu justru membuat dadanya semakin sesak.
Ia merasa semua orang sedang menunggu dirinya berhasil.
Pakde berharap ia tidak membawa masalah.
Ibu dan ayahnya berharap ia bisa sekolah lebih tinggi.
Bu Laras berusaha mengajukan beasiswa untuknya.
Sahabat-sahabatnya berharap ia tetap kuat.
Tetapi bagaimana jika ia tidak mampu?
Bagaimana jika semua harapan itu terlalu berat?
“Terima kasih, Bu,” katanya pelan.
Bu Laras menepuk bahunya.
“Jangan menyerah hanya karena satu nilai, Rantaka.”
Setelah Bu Laras pergi, Rantaka kembali ke kelas.
Di atas mejanya, Liris sudah menunggu.
Ia membawa buku matematika dan beberapa lembar kertas.
“Aku dengar Bu Laras sedang mengusahakan beasiswa untukmu,” kata Liris.
Rantaka langsung merasa tidak nyaman.
“Dari siapa kau dengar?”
“Bu Laras tadi bicara dengan wali kelas. Aku tidak sengaja mendengar.”
Rantaka tidak menjawab.
Liris membuka bukunya.
“Kalau kau mau, kita bisa belajar bersama. Aku juga tidak terlalu hebat matematika, tetapi aku sudah mengulang soal-soal ini. Kita bisa belajar setelah sekolah, mungkin dua kali seminggu.”
Rantaka menatap buku itu.
Di dalamnya ada catatan rapi, rumus-rumus yang diberi tanda, dan contoh soal yang sudah dikerjakan.
Liris benar-benar ingin membantu.
Namun, di dalam diri Rantaka, rasa malu yang selama ini menumpuk tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang lebih tajam.
Ia merasa seperti anak kecil yang harus ditolong.
Ia merasa seperti orang yang tidak mampu mengurus hidupnya sendiri.
Ia merasa Liris melihatnya sebagai seseorang yang perlu dikasihani.
“Aku tidak butuh bantuanmu,” katanya.
Liris berhenti membuka halaman.
“Aku tidak bermaksud membuatmu merasa—”
“Aku bisa belajar sendiri.”
“Aku tahu. Aku hanya ingin menemani.”
“Tidak perlu.”
Liris menatapnya dengan wajah terluka.
“Kenapa setiap orang yang ingin membantumu selalu kau anggap sedang merendahkanmu?”
Rantaka terdiam.
Namun, kata-kata itu justru membuatnya semakin tersulut.
“Karena kalian semua mudah bicara,” katanya. “Kalian tidak tahu bagaimana rasanya pulang sekolah lalu harus bekerja sampai malam. Kalian tidak tahu bagaimana rasanya bangun sebelum subuh untuk mengantar galon, lalu datang ke kelas dengan kepala penuh angka yang tidak bisa kupahami.”
Liris memegang bukunya lebih erat.
“Aku memang tidak menjalani hidupmu. Tapi aku tidak pernah menganggapmu rendah.”
“Tidak? Kau datang membawa buku, membawa rumus, lalu berkata ingin membantu. Apa bedanya dengan mengasihani?”
Wajah Liris memucat.
“Jadi menurutmu, peduli itu sama dengan mengasihani?”
Rantaka tidak menjawab.
Ia tahu jawabannya tidak sesederhana itu.
Tetapi ia sudah telanjur marah.
“Sudahlah, Liris. Jangan ikut campur.”
Liris menutup bukunya.
Tidak ada lagi kata-kata di wajahnya.
Ia berdiri perlahan.
“Baik,” katanya pelan. “Kalau itu yang kau inginkan.”
Lalu ia pergi.
Banyu yang sejak tadi duduk tidak jauh dari mereka memandang Rantaka.
“Kau keterlaluan,” katanya.
Rantaka menoleh.
“Aku tidak minta pendapatmu.”
Banyu tidak membalas.
Ia hanya mengambil bukunya dan pindah ke bangku lain.
Jagra datang beberapa saat kemudian.
“Apa yang terjadi?”
Rantaka menggeleng.
“Tidak ada.”
Jagra melihat Liris yang duduk sendiri di dekat jendela.
Ia melihat buku matematika yang masih tertinggal di meja Rantaka.
Kemudian ia menatap sahabatnya.
“Kau membuat Liris menangis?”
Rantaka menunduk.
“Dia tidak menangis.”
“Matanya merah.”
Rantaka tidak menjawab.
Bel masuk berbunyi.
Pelajaran kembali dimulai.
Namun, Rantaka tidak mendengar banyak dari penjelasan guru.
Di depan kelas, Liris duduk diam.
Ia tidak lagi menoleh ke belakang.
Ia tidak lagi mengajak bicara.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka kembali bertemu di kecamatan, Rantaka merasa jarak antara mereka bukan lagi sekadar jarak bangku.
Jarak itu tumbuh dari kata-kata yang terlanjur keluar.
Sepulang sekolah, Rantaka tidak mengikuti bimbingan tambahan.
Ia berjalan pulang menuju warung Pakde Wirya dengan langkah pelan.
Di sepanjang jalan, angka merah 48 masih terbayang di kepalanya.
Namun, yang lebih mengganggunya bukanlah nilai itu.
Melainkan wajah Liris ketika ia berkata, jangan ikut campur.
Di warung, Pakde Wirya memanggilnya untuk membantu menata barang.
Rantaka bekerja tanpa banyak bicara.
Ia mengangkat kardus, menyusun botol minuman, dan mencatat barang yang hampir habis.
Ketika malam datang, ia kembali duduk di meja kecil kamarnya.
Buku matematika terbuka di hadapannya.
Namun, kali ini ia tidak langsung mengerjakan soal.
Ia memandangi halaman kosong di buku catatan.
Tangannya mengambil pensil.
Ia ingin menulis sesuatu.
Mungkin permintaan maaf.
Mungkin penjelasan.
Mungkin hanya beberapa kalimat untuk mengatakan bahwa ia tidak benar-benar membenci bantuan Liris.
Ia hanya takut terlihat lemah.
Namun, pensil itu kembali berhenti di atas kertas.
Rantaka menunduk.
Di luar kamar, suara warung perlahan mereda.
Di dalam dirinya, harga diri yang terluka membuatnya sulit meminta maaf.
Dan tanpa ia sadari, nilai yang jatuh di kertas ulangan telah menjadi bayangan dari sesuatu yang lebih berbahaya—kepercayaan yang mulai jatuh di antara sahabat-sahabat Langit Biru.
BAB 10 — PUISI YANG DICURI
Sejak pertengkarannya dengan Rantaka, Liris lebih sering menghabiskan waktu sendirian.
Bukan karena ia tidak memiliki teman di sekolah. Beberapa siswi masih sering mengajaknya berbicara saat istirahat. Banyu kadang datang membawa cerita tentang benda-benda yang sedang ia bongkar di ruang keterampilan. Jagra pun beberapa kali bertanya mengapa ia terlihat murung.
Namun, Liris tidak benar-benar ingin menjelaskan.
Ada luka yang tidak mudah diceritakan.
Ia tahu Rantaka sedang menghadapi banyak hal. Ia tahu sahabatnya itu lelah membantu Pakde Wirya di warung. Ia tahu Rantaka takut kehilangan kesempatan mendapatkan beasiswa. Ia juga tahu bahwa kata-katanya mungkin terdengar seperti nasihat dari seseorang yang tidak memahami hidupnya.
Tetapi tetap saja, kalimat jangan ikut campur terus tinggal di dalam kepalanya.
Pagi itu, sebelum bel masuk berbunyi, Liris duduk di bawah pohon ketapang dekat perpustakaan sekolah. Buku catatan hijaunya terbuka di atas pangkuan. Angin pagi menggerakkan ujung halaman-halamannya.
Di dalam buku itu, tersimpan banyak puisi.
Ada puisi tentang jalan tanah Desa Wanasari.
Ada puisi tentang hujan yang jatuh di atas atap seng.
Ada puisi tentang gerobak buku yang pernah mereka dorong dari rumah ke rumah.
Ada juga puisi tentang sahabat yang menjauh, tetapi masih ingin ia panggil pulang.
Liris memegang pensilnya.
Ia membaca kembali puisi yang ditulisnya beberapa malam lalu.
Judulnya: Sungai yang Tidak Berhenti Mengalir.
Puisi itu bercerita tentang sungai di Desa Wanasari yang tetap mengalir meski membawa lumpur, ranting, dan sisa hujan dari hulu. Bagi Liris, sungai itu seperti persahabatan. Kadang keruh. Kadang deras. Kadang membuat orang takut menyeberang. Tetapi selalu memiliki jalan untuk kembali tenang.
Ia menulis bait terakhir dengan hati-hati.
Bila suatu hari kita berjalan sendiri-sendiri,
jangan lupa, sungai tetap tahu
ke mana ia harus pulang.
Liris menutup buku catatannya.
Ia tidak tahu apakah puisi itu bagus.
Namun, ia merasa puisi itu jujur.
Saat ia hendak berdiri, Bu Ratna keluar dari ruang guru dan melihatnya.
“Liris, kau menulis lagi?”
Liris tersenyum kecil.
“Iya, Bu.”
“Boleh Ibu baca?”
Liris ragu sejenak.
Lalu ia menyerahkan buku hijau itu.
Bu Ratna membaca puisi tersebut dalam diam. Setelah selesai, ia mengangkat wajah.
“Ini indah.”
Liris menunduk.
“Terima kasih, Bu.”
“Majalah dinding sekolah sedang membuka ruang karya siswa. Kau sebaiknya mengirimkan puisi ini.”
Liris segera menggeleng.
“Tidak usah, Bu. Puisi saya hanya tulisan biasa.”
“Justru karya yang lahir dari perasaan biasanya lebih mudah menyentuh orang.”
Liris memandang papan majalah dinding yang berdiri di dekat lorong sekolah. Di sana tertempel pengumuman, gambar, cerita pendek, dan beberapa puisi karya siswa.
Selama ini, ia hanya berani membaca karya orang lain.
Ia belum pernah benar-benar percaya bahwa tulisannya layak dipajang.
Bu Ratna mengembalikan buku hijau itu.
“Coba saja. Tidak semua langkah harus langsung besar. Kadang, keberanian dimulai dari selembar kertas yang ditempel di papan.”
Kata-kata itu tinggal dalam pikiran Liris sepanjang hari.
Saat istirahat, ia kembali ke perpustakaan.
Di sana, ia menyalin puisinya dengan tulisan yang lebih rapi pada selembar kertas putih. Ia menuliskan judul di bagian atas, lalu membubuhkan namanya kecil-kecil di bawah bait terakhir.
Sungai yang Tidak Berhenti Mengalir
Oleh: Liris Wening
Ia membaca ulang seluruh puisi itu.
Kemudian, dengan tangan sedikit gemetar, ia menyerahkannya kepada pengurus majalah dinding sekolah.
“Ini untuk ruang karya siswa,” katanya.
Pengurus mading menerima kertas itu.
“Baik. Nanti kami tempel kalau sudah diseleksi.”
Liris mengangguk.
Setelah itu, ia berjalan kembali ke kelas.
Langkahnya terasa lebih ringan.
Bukan karena ia yakin puisinya akan dipilih.
Melainkan karena untuk pertama kalinya, ia berani membiarkan tulisannya keluar dari buku hijau yang selama ini selalu ia simpan rapat.
Dua hari kemudian, puisi Liris benar-benar terpajang di majalah dinding.
Ketika melihat namanya di bawah judul puisi, ia berdiri cukup lama di depan papan itu.
Beberapa siswa berhenti untuk membaca.
Ada yang hanya lewat.
Ada yang mengangguk kecil.
Seorang siswi kelas lain bahkan berkata, “Puisinya bagus.”
Liris hanya tersenyum.
Namun, di dalam dadanya, ada rasa hangat yang selama ini jarang ia rasakan.
Siang itu, Nayla berdiri tidak jauh dari papan majalah dinding.
Ia datang bersama dua temannya.
Seragamnya rapi. Rambutnya diikat dengan pita yang selalu tampak baru. Di sekolah, Nayla dikenal sebagai siswi yang sering mengikuti lomba, pandai berbicara di depan kelas, dan selalu mendapat perhatian dari banyak guru.
Ia membaca puisi Liris tanpa berkata apa-apa.
Matanya berhenti cukup lama pada beberapa bait.
Terutama pada kalimat:
Jangan kira air yang keruh
tidak menyimpan langit di dalamnya.
Nayla menoleh kepada salah satu temannya.
“Siapa yang menulis ini?”
“Liris,” jawab temannya. “Anak dari Wanasari.”
Nayla kembali memandangi puisi itu.
“Lumayan,” katanya singkat.
Lalu ia pergi.
Liris tidak melihat kejadian itu.
Ia sedang berada di kelas, mencoba menyelesaikan tugas Bahasa Indonesia.
Beberapa hari kemudian, sekolah mengumumkan bahwa kecamatan akan mengadakan lomba membaca puisi dan cipta puisi antar-SMP.
Pengumuman itu ditempel di depan ruang guru.
Para siswa berkerumun.
“Pesertanya dipilih oleh sekolah,” kata salah satu guru. “Yang berminat boleh mendaftar.”
Banyu yang kebetulan lewat bersama Jagra melihat Liris berdiri di depan pengumuman.
“Kau ikut?” tanya Banyu.
Liris menggeleng.
“Aku belum berani.”
“Puisimu sudah dipajang di mading,” kata Jagra. “Kenapa tidak ikut?”
Liris tersenyum tipis.
“Menulis puisi dan membacakan puisi di depan banyak orang itu berbeda.”
“Kau bisa,” kata Banyu.
Liris tidak menjawab.
Sejak pertengkarannya dengan Rantaka, ia semakin ragu terhadap banyak hal. Ia merasa tulisannya hanya tempat untuk menyimpan perasaan, bukan sesuatu yang pantas dibawa ke depan orang banyak.
Di sisi lain, Nayla langsung mendaftarkan diri.
Ia menjadi salah satu peserta yang dipilih sekolah untuk mengikuti lomba tingkat kecamatan.
Beberapa siswa memuji keberaniannya.
“Pasti Nayla menang.”
“Dia memang cocok ikut lomba.”
“Puisinya selalu bagus.”
Liris tidak terlalu memikirkan itu.
Ia kembali menulis di buku hijaunya.
Namun, seminggu sebelum lomba, Bu Ratna masuk ke kelas dengan membawa lembaran pengumuman.
“Besok, peserta lomba puisi dari sekolah kita akan tampil dalam latihan terbuka di aula,” katanya. “Kalian boleh hadir untuk memberi dukungan.”
Keesokan harinya, saat jam terakhir pelajaran selesai, beberapa siswa menuju aula.
Liris awalnya tidak ingin datang.
Tetapi Banyu mengajaknya.
“Sebentar saja,” kata Banyu. “Aku ingin melihat bagaimana orang membacakan puisi di depan banyak orang.”
Jagra ikut menyusul.
Mereka bertiga berdiri di bagian belakang aula.
Di depan, beberapa peserta bergantian membacakan karya mereka.
Ada yang suaranya lantang.
Ada yang masih gugup.
Ada yang membaca dengan cepat karena ingin segera selesai.
Ketika nama Nayla dipanggil, beberapa siswa bertepuk tangan.
Nayla naik ke panggung kecil.
Ia berdiri tegak di depan mikrofon.
Kemudian ia mulai membaca.
“Judul puisi saya, Sungai yang Menyimpan Langit.”
Liris membeku.
Judul itu tidak sama persis.
Tetapi ada sesuatu yang membuat dadanya mendadak dingin.
Nayla melanjutkan.
Jangan kira air yang keruh
tidak menyimpan langit di dalamnya.
Liris tidak bergerak.
Banyu menoleh kepadanya.
Jagra mengerutkan dahi.
Nayla membaca bait berikutnya.
Ada beberapa kalimat yang berbeda.
Namun, bagian-bagian penting dari puisi itu terasa terlalu dekat dengan tulisan Liris.
Tentang sungai yang membawa lumpur.
Tentang jalan pulang.
Tentang langit yang tetap tinggal di dalam air.
Liris menggenggam ujung bajunya.
Ia tidak mendengar lagi suara tepuk tangan ketika Nayla selesai membaca.
Yang ia dengar hanya detak jantungnya sendiri.
“Liris,” bisik Banyu, “itu puisimu, kan?”
Liris tidak langsung menjawab.
Matanya tetap tertuju pada Nayla.
“Sebagian,” katanya pelan.
“Bukan sebagian,” kata Jagra. “Itu jelas puisimu.”
Liris menggeleng.
“Judulnya berbeda. Ada bait yang diubah.”
“Tapi kalimat-kalimatnya sama,” ujar Banyu.
Liris menatap lantai aula.
Ia ingin naik ke panggung.
Ia ingin mengambil mikrofon.
Ia ingin mengatakan kepada semua orang bahwa puisi itu bukan milik Nayla.
Namun, kakinya tidak bergerak.
Setelah latihan selesai, Nayla turun dari panggung sambil menerima pujian dari beberapa guru.
“Bagus sekali, Nayla.”
“Pilihan katanya kuat.”
“Kau punya peluang besar di kecamatan.”
Liris berdiri di dekat pintu aula.
Nayla melewatinya.
“Puisimu bagus,” kata Liris akhirnya.
Nayla berhenti.
“Terima kasih.”
“Bagian tentang sungai yang menyimpan langit,” lanjut Liris, “aku pernah menulisnya.”
Nayla menatapnya.
“Apa maksudmu?”
“Itu ada di puisi yang kutempel di mading.”
Nayla tersenyum kecil.
“Banyak puisi memakai sungai dan langit, Liris.”
“Tapi kalimatnya hampir sama.”
“Hampir sama bukan berarti sama.”
Liris menggenggam tangan.
“Aku menulisnya lebih dulu.”
“Kalau begitu, mana buktinya?”
Pertanyaan itu membuat Liris terdiam.
Nayla melanjutkan dengan suara tenang.
“Puisi di mading sudah beberapa hari ditempel. Siapa saja bisa membacanya. Kalau kau merasa punya ide yang sama, itu bukan berarti aku mencuri.”
“Aku punya catatan di buku hijau.”
“Catatan bisa ditulis kapan saja.”
Nayla memandang Liris sesaat, lalu berkata, “Aku tidak mau berdebat. Besok aku harus berlatih untuk lomba.”
Ia berjalan pergi.
Liris tetap berdiri di dekat pintu aula.
Kata-kata Nayla terasa seperti menutup semua jalan.
Mana buktinya?
Ia memang memiliki buku hijau.
Ia memang menulis puisi itu lebih dulu.
Namun, apakah buku catatan cukup untuk membuat orang percaya?
Puisi di mading sudah bisa dibaca siapa saja.
Nayla sudah mengubah judul dan beberapa bait.
Dan Nayla dikenal sebagai siswi yang sering ikut lomba.
Siapa yang akan percaya pada Liris, anak desa yang lebih sering diam dan menulis sendiri di bawah pohon?
Malam itu, Liris membuka buku hijaunya di kamar.
Ia membandingkan tulisan tangan lama dengan puisi yang dibacakan Nayla.
Beberapa bagian memang sama.
Beberapa bagian diubah.
Namun, inti puisi itu tetap miliknya.
Ia menatap halaman yang penuh coretan.
Ada tanggal kecil di sudut atas halaman.
Ada beberapa kata yang dicoret dan diganti.
Ada bait-bait awal yang belum sempurna.
Semua itu menunjukkan bahwa puisi tersebut lahir perlahan dari pikirannya sendiri.
Tetapi ia tidak tahu bagaimana menjelaskannya kepada orang lain.
Ia ingin mengadu kepada Bu Ratna.
Namun, ia takut dianggap mencari masalah.
Ia ingin bercerita kepada Rantaka.
Namun, sejak pertengkaran itu, mereka bahkan hampir tidak pernah berbicara.
Ia ingin meminta bantuan Jagra.
Namun, ia tahu Jagra mungkin akan langsung mendatangi Nayla dan membuat keadaan semakin rumit.
Akhirnya, Liris hanya duduk di depan buku hijaunya.
Air matanya jatuh pelan ke halaman.
Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa dunia yang selama ini ia impikan melalui kata-kata tidak selalu ramah kepada orang yang menulis dengan jujur.
Di luar rumah, malam bergerak perlahan.
Di dalam kamar, Liris menutup buku hijaunya dan memeluknya erat.
Ia tidak hanya kehilangan sebuah puisi.
Ia merasa kehilangan kepercayaan bahwa suara kecil dari seorang anak desa bisa didengar tanpa dirampas oleh orang yang lebih berani, lebih terkenal, dan lebih mudah dipercaya.
Sementara itu, di sekolah, nama Nayla mulai disebut-sebut sebagai calon kuat peserta lomba kecamatan.
Dan Liris hanya bisa menyimpan kemarahannya dalam diam—bersama puisi yang dicuri, tetapi belum mampu ia rebut kembali.
BAB 11 — SEPEDA YANG HILANG DI PASAR MALAM
Pasar malam kecamatan selalu datang dengan suara yang berbeda.
Sejak sore, lapangan dekat kantor kecamatan mulai dipenuhi pedagang. Ada lampu-lampu kecil yang digantung di atas tenda, suara musik dari wahana permainan, aroma jagung bakar, gorengan, dan kacang rebus yang bercampur di udara. Anak-anak berlarian membawa balon, sementara orang-orang dewasa berjalan pelan dari satu lapak ke lapak lain.
Bagi sebagian besar siswa SMP, pasar malam adalah tempat hiburan.
Namun, bagi Banyu, pasar malam berarti pekerjaan.
Sejak beberapa hari sebelumnya, Pak Hendra meminta bantuannya memperbaiki beberapa peralatan sederhana milik pedagang. Ada lampu yang kabelnya putus, roda gerobak yang longgar, gagang kursi yang patah, dan beberapa papan permainan yang perlu diperkuat.
Pak Hendra adalah pemilik bengkel kecil di dekat sekolah. Ia sering membiarkan Banyu membantu di sana sepulang sekolah. Lelaki itu tahu Banyu gemar membongkar benda-benda rusak dan mencoba memperbaikinya kembali.
“Jangan hanya melihat barang rusak sebagai sampah,” kata Pak Hendra suatu kali. “Kadang, yang rusak hanya perlu dipahami bagian mana yang harus diperbaiki.”
Banyu selalu mengingat kalimat itu.
Sore itu, ia mengayuh sepeda tuanya menuju pasar malam.
Sepeda itu bukan sepeda baru.
Catnya sudah banyak mengelupas. Pegangan setangnya dibalut karet bekas. Belnya tidak lagi berbunyi nyaring. Roda belakangnya juga sering berderit jika melewati jalan berbatu.
Namun, sepeda itu sangat berarti bagi Banyu.
Dengan sepeda itulah ia pergi-pulang sekolah.
Dengan sepeda itu pula ia membawa karung kecil berisi barang bekas dari rumah-rumah warga: botol plastik, potongan kawat, papan kayu, kaleng, dan roda bekas. Semua benda itu ia kumpulkan untuk dijadikan bahan membuat alat sederhana.
Sepeda itu juga pernah membantu membawa buku-buku untuk Gerobak Buku Langit Biru.
Banyu memarkirnya di sisi lapangan, dekat tenda tempat Pak Hendra bekerja.
Ia mengunci roda belakang dengan rantai tua yang biasa ia gunakan.
“Jangan jauh-jauh dari sini,” kata Pak Hendra.
“Iya, Pak.”
Pekerjaan dimulai sebelum matahari tenggelam.
Banyu membantu menyambung kabel lampu di salah satu lapak mainan. Setelah itu, ia memperbaiki roda gerobak penjual minuman yang macet karena porosnya berkarat. Tangannya menjadi hitam oleh oli dan debu, tetapi ia tidak mengeluh.
Di sela-sela bekerja, ia sempat melihat beberapa siswa sekolahnya datang ke pasar malam.
Ada yang berjalan bersama keluarga.
Ada yang membeli jajanan.
Ada yang mencoba permainan lempar gelang.
Di antara kerumunan itu, Banyu melihat Jagra.
Jagra berjalan sendirian di dekat deretan lapak ikan hias. Ia memakai jaket tipis dan sandal jepit. Wajahnya tampak murung. Ia tidak seperti biasanya yang mudah tertawa atau cepat menyapa.
Banyu hampir memanggilnya.
Namun, Jagra berjalan ke arah belakang lapangan, melewati tempat sepeda Banyu diparkirkan.
Banyu hanya sempat melihat punggungnya.
Lalu Pak Hendra memanggil.
“Banyu! Tolong ambil obeng kecil di kotak!”
Banyu segera kembali bekerja.
Pasar malam semakin ramai ketika malam turun.
Lampu-lampu berwarna menyala. Musik dari wahana permainan terdengar semakin keras. Anak-anak kecil mulai menangis karena ingin naik komidi putar. Para pedagang memanggil pembeli dengan suara lantang.
Banyu terus membantu Pak Hendra.
Ia memperbaiki papan permainan yang retak, mengganti baut pada kursi kayu, lalu membantu menyalakan lampu di sebuah lapak pakaian.
Waktu berlalu tanpa ia sadari.
Ketika pekerjaan terakhir selesai, Pak Hendra mengusap keringat di dahinya.
“Sudah cukup untuk malam ini,” katanya. “Kau pulanglah. Besok kalau ada yang rusak lagi, datang setelah sekolah.”
Banyu mengangguk.
Ia mengambil tas kecilnya yang diletakkan di bawah meja kerja.
Kemudian ia berjalan ke sisi lapangan tempat sepedanya diparkirkan.
Langkahnya berhenti.
Sepedanya tidak ada.
Banyu memandang tempat itu beberapa kali.
Di sana hanya ada tanah yang sedikit berlumpur, beberapa bekas jejak kaki, dan rantai tua miliknya yang tergeletak terbuka.
Ia mendekat.
Rantai itu tidak putus.
Gemboknya sudah tidak ada.
Banyu berlutut dan memegang rantai itu.
Dadanya mendadak kosong.
“Pak Hendra!” panggilnya.
Pak Hendra yang sedang membereskan peralatan menoleh.
“Ada apa?”
“Sepeda saya hilang.”
Pak Hendra segera mendekat.
“Kau parkir di mana?”
“Di sini, Pak. Saya kunci.”
Pak Hendra memeriksa rantai yang tergeletak di tanah.
“Gemboknya dibuka.”
Banyu berdiri.
Matanya menyapu kerumunan pasar malam.
Orang-orang terus berjalan. Lampu-lampu tetap menyala. Musik tetap terdengar. Tidak ada yang tampak peduli bahwa sesuatu yang sangat penting baginya baru saja hilang.
“Coba tanya pedagang sekitar,” kata Pak Hendra.
Mereka mulai bertanya.
Kepada penjual jagung bakar.
Kepada pedagang mainan.
Kepada penjaga lapak pakaian.
Kepada beberapa anak yang duduk di dekat pagar lapangan.
Namun, jawaban yang mereka terima hampir sama.
“Tidak tahu.”
“Banyak orang lewat.”
“Saya tidak memperhatikan.”
Seorang pedagang minuman akhirnya berkata, “Saya melihat seorang anak laki-laki berdiri di dekat sepeda itu tadi. Tapi saya tidak tahu siapa. Ramai sekali.”
“Seperti apa orangnya?” tanya Banyu.
“Pakai jaket gelap. Badannya tidak terlalu tinggi.”
Banyu terdiam.
Di kepalanya, muncul bayangan Jagra yang berjalan sendirian dekat lapangan.
Jaket tipis.
Sandal jepit.
Wajah murung.
Melewati tempat sepeda diparkirkan.
Banyu berusaha mengusir pikiran itu.
Tidak mungkin Jagra.
Jagra memang sedang menghadapi banyak masalah. Ia sering terlihat gelisah sejak banjir kecil beberapa hari lalu merusak beberapa jaring ikan milik keluarganya. Ia juga beberapa kali berkata bahwa ayahnya membutuhkan bantuan lebih banyak di sungai.
Tetapi Jagra adalah sahabatnya.
Mereka tumbuh bersama.
Mereka pernah mendorong Gerobak Buku Langit Biru bersama-sama.
Mereka pernah duduk di bawah pohon beringin SD Wanasari dan saling menceritakan cita-cita.
Namun, pikiran itu tetap kembali.
Kalau bukan Jagra, siapa lagi yang kulihat di dekat sini?
Malam semakin larut.
Banyu pulang berjalan kaki sambil membawa tas kecilnya.
Pak Hendra sudah menawarkan untuk mengantarnya, tetapi Banyu menolak. Ia ingin berjalan sendiri. Ia ingin berpikir.
Jalan menuju rumah terasa lebih jauh dari biasanya.
Setiap kali mendengar bunyi sepeda melintas, ia menoleh.
Setiap kali melihat lampu kendaraan dari kejauhan, ia berharap itu adalah seseorang yang membawa kembali sepedanya.
Tetapi tidak ada.
Sesampainya di rumah, ibunya melihat wajahnya yang pucat.
“Kenapa, Banyu?”
“Sepeda saya hilang.”
Ibunya terdiam.
“Hilangan di mana?”
“Di pasar malam.”
“Sudah dicari?”
“Sudah.”
Ibunya duduk di sampingnya.
“Besok kita cari lagi. Mungkin ada yang melihat.”
Banyu mengangguk.
Namun, malam itu ia tidak bisa tidur.
Ia teringat setiap bagian sepeda itu.
Roda belakang yang pernah ia tambal sendiri.
Keranjang kecil dari kawat yang ia pasang di depan.
Pedal kanan yang sedikit bengkok.
Stiker bintang pudar di dekat sadel.
Bagi orang lain, sepeda itu mungkin hanya barang tua.
Tetapi bagi Banyu, sepeda itu adalah jalan menuju sekolah, bengkel, dan mimpi-mimpinya.
Keesokan paginya, Banyu datang ke sekolah dengan berjalan kaki.
Ia terlambat beberapa menit.
Saat masuk kelas, ia melihat Jagra duduk di bangku belakang bersama Rantaka.
Jagra tampak biasa saja.
Ia sedang membuka buku pelajaran.
Tidak ada tanda bahwa ia mengetahui apa pun tentang sepeda Banyu.
Namun, Banyu tidak bisa menghilangkan kecurigaan dari pikirannya.
Sepanjang pelajaran pertama, ia hampir tidak mendengar penjelasan guru.
Ketika jam istirahat tiba, ia menghampiri Jagra di lorong kelas.
“Jag.”
Jagra menoleh.
“Ada apa?”
“Kau ke pasar malam tadi malam?”
Jagra tampak sedikit heran.
“Iya. Kenapa?”
“Kau ke sana sendiri?”
“Iya.”
“Untuk apa?”
Jagra menyandarkan tubuh ke dinding.
“Memangnya kenapa kau bertanya seperti itu?”
Banyu menarik napas.
“Sepedaku hilang.”
Wajah Jagra berubah.
“Hilang?”
“Iya.”
“Kapan?”
“Tadi malam. Saat aku membantu Pak Hendra.”
Jagra tampak benar-benar terkejut.
“Aku tidak tahu, Banyu.”
Banyu menatapnya.
“Kau lewat dekat tempat sepedaku diparkir.”
Jagra mengerutkan dahi.
“Memang aku lewat. Terus?”
“Ada pedagang yang melihat anak laki-laki memakai jaket gelap di dekat sepeda itu.”
Jagra diam beberapa saat.
Lalu wajahnya mengeras.
“Jadi kau menuduhku?”
“Aku tidak menuduh. Aku hanya bertanya.”
“Caramu bertanya sudah seperti menuduh.”
“Jag, sepeda itu penting buatku.”
“Dan karena penting, kau langsung menganggap sahabatmu yang mengambilnya?”
Rantaka yang baru keluar dari kelas melihat mereka berdiri saling berhadapan.
“Ada apa?” tanyanya.
Jagra menoleh kepadanya.
“Banyu kehilangan sepeda. Dia pikir aku yang mengambil.”
Rantaka memandang Banyu.
“Benarkah?”
Banyu merasa tenggorokannya kering.
“Aku tidak bilang Jagra mengambil. Aku hanya melihat dia ada di dekat tempat sepeda itu.”
Jagra tertawa pendek, tetapi tidak ada rasa lucu di dalamnya.
“Hebat. Jadi sekarang keberadaanku saja sudah cukup untuk membuatku dicurigai.”
“Bukan begitu.”
“Lalu bagaimana?”
Banyu tidak menjawab.
Ia tahu Jagra sedang terluka.
Namun, rasa kehilangan sepedanya membuat pikirannya sulit tenang.
“Kalau aku benar-benar mengambil sepedamu,” kata Jagra dengan suara bergetar, “kenapa aku harus datang ke sekolah hari ini? Kenapa aku harus duduk di kelas dan menunggu kau menuduhku di depan orang lain?”
“Jagra, jangan keras-keras,” kata Rantaka.
“Kenapa? Bukankah aku harus diam saja seperti yang selalu kau bilang?”
Kalimat itu membuat Rantaka terdiam.
Jagra kembali menatap Banyu.
“Aku memang sedang punya masalah. Keluargaku memang tidak punya banyak uang. Tapi bukan berarti aku pencuri.”
Banyu menunduk.
Ia ingin mengatakan bahwa ia tidak benar-benar yakin.
Ia ingin mengatakan bahwa ia hanya panik.
Namun, kata-kata itu tidak keluar.
Jagra mengangkat tasnya.
“Kalau kau tidak percaya, jangan anggap aku sahabatmu.”
Lalu ia pergi.
Rantaka berdiri beberapa saat di antara Banyu dan lorong yang dilalui Jagra.
“Banyu,” katanya pelan, “kau seharusnya tidak langsung menuduh.”
“Aku tidak langsung menuduh.”
“Tapi kau membuatnya merasa seperti itu.”
“Sepedaku hilang, Rantaka.”
“Aku tahu.”
“Itu satu-satunya sepeda yang kupunya.”
Rantaka memandang wajah Banyu yang tegang.
Ia tahu sepeda itu sangat penting bagi sahabatnya.
Ia juga tahu Jagra mudah tersulut jika merasa keluarganya dipandang rendah.
Namun, tidak ada kata-kata yang cukup untuk memperbaiki keadaan saat itu.
“Coba kita cari lagi sepulang sekolah,” kata Rantaka.
Banyu mengangguk kecil.
Tetapi hatinya tetap berat.
Siang hari, Liris mengetahui kabar tentang sepeda Banyu.
Ia menemui Banyu di dekat perpustakaan.
“Aku dengar sepedamu hilang.”
Banyu mengangguk.
“Sudah kau ceritakan kepada guru?”
“Belum.”
“Kau harus bilang. Mungkin sekolah bisa membantu mencari informasi.”
Banyu memandang lantai.
“Aku sudah membuat keadaan lebih buruk.”
“Apa maksudmu?”
“Aku bertanya kepada Jagra. Dia marah.”
Liris menghela napas.
“Kau menuduhnya?”
“Aku tidak tahu. Mungkin.”
Liris duduk di sampingnya.
“Kalau kau tidak punya bukti, jangan biarkan kehilangan membuatmu menyakiti orang lain.”
Kata-kata itu mengingatkan Liris pada puisinya sendiri.
Pada Nayla.
Pada rasa marah yang ia simpan karena merasa karyanya dicuri.
Ia tahu bagaimana rasanya tidak dipercaya.
Namun, ia juga tahu bahwa kemarahan bisa membuat seseorang melihat musuh di tempat yang belum tentu benar.
Banyu mengusap wajahnya.
“Aku hanya ingin sepedaku kembali.”
“Aku tahu,” kata Liris. “Tapi Jagra juga ingin dipercaya.”
Sepulang sekolah, Rantaka dan Banyu kembali ke pasar malam.
Mereka bertanya kepada beberapa pedagang yang masih berjualan. Mereka memeriksa jalan-jalan kecil di sekitar lapangan. Mereka bahkan mendatangi tukang tambal ban di dekat terminal.
Namun, sepeda itu tidak ditemukan.
Jagra tidak ikut.
Ia pulang lebih dulu tanpa berbicara kepada siapa pun.
Ketika senja turun, Banyu berdiri di tempat sepedanya hilang.
Rantaka berdiri di sampingnya.
“Maaf,” kata Banyu tiba-tiba.
Rantaka menoleh.
“Untuk apa?”
“Aku seharusnya tidak langsung mencurigai Jagra.”
Rantaka tidak menjawab.
“Aku masih tidak tahu siapa yang mengambilnya,” lanjut Banyu. “Tapi aku tahu wajah Jagra tadi. Dia benar-benar terluka.”
Rantaka mengangguk pelan.
“Kita cari sepeda itu. Dan kalau memang Jagra tidak terlibat, kau harus meminta maaf.”
Banyu memandang tanah.
“Iya.”
Namun, di tempat lain, Jagra berjalan pulang sendirian menuju rumahnya.
Langkahnya cepat, tetapi dadanya terasa penuh.
Ia tidak hanya marah karena dituduh.
Ia marah karena tuduhan itu datang dari Banyu—sahabat yang selama ini ia percaya.
Di kepalanya, kembali terdengar kalimat yang selalu ia benci.
Anak kampung.
Anak nelayan.
Tidak pantas ikut kegiatan sekolah.
Kini, bahkan di antara sahabatnya sendiri, ia merasa kemiskinan keluarganya membuatnya mudah dicurigai.
Malam itu, tidak ada Gerobak Buku Langit Biru yang didorong bersama.
Tidak ada tawa di bawah pohon beringin.
Tidak ada cerita tentang mimpi-mimpi masa depan.
Yang ada hanya sebuah sepeda tua yang hilang, sebuah tuduhan tanpa bukti, dan persahabatan yang mulai retak lebih dalam daripada sebelumnya.
BAB 12 — GEROBAK BUKU YANG TERBENGKALAI
Gerobak Buku Langit Biru berdiri diam di sudut gudang SD Wanasari.
Roda kayunya mulai tertutup debu. Pegangan bambunya yang dulu sering digenggam oleh Rantaka, Liris, Banyu, dan Jagra kini tampak kusam. Di dalam kotak kayu gerobak itu, beberapa buku cerita anak tersusun tidak rapi. Ada halaman yang terlipat, ada sampul yang mulai pudar, dan ada buku yang masih menyimpan daun kering sebagai penanda halaman.
Dulu, setiap akhir pekan, gerobak itu selalu keluar dari gudang.
Rantaka biasanya mendorong dari depan.
Banyu memeriksa roda dan pegangan agar tidak lepas di jalan.
Liris membawa daftar buku serta buku catatan kecil untuk menuliskan nama anak-anak yang meminjam.
Jagra berjalan di samping gerobak sambil membawa tikar atau termos air minum.
Mereka menyusuri jalan tanah, melewati rumah-rumah warga, kebun singkong, tepian sungai, dan halaman balai desa.
Anak-anak kecil akan berlari ketika melihat gerobak itu datang.
“Kak Rantaka datang!”
“Ada buku baru!”
“Kak Liris, dongeng lagi!”
“Kak Banyu bawa apa hari ini?”
“Kak Jagra, ajari aku bikin perahu kertas!”
Suara-suara itu dulu menjadi bagian dari hari-hari mereka.
Namun, sejak sepeda Banyu hilang dan pertengkaran dengan Jagra terjadi, semuanya berubah.
Banyu lebih sering pulang berjalan kaki ke kecamatan. Ia harus berangkat lebih awal dan pulang lebih lambat. Tanpa sepeda, ia kesulitan membawa barang-barang bekas dari bengkel Pak Hendra. Ia juga mulai membantu ibunya mencari cara untuk membeli sepeda pengganti, meski ia tahu itu bukan hal yang mudah.
Jagra tidak lagi datang ke rumah Rantaka atau Banyu.
Ia lebih banyak menghabiskan waktu di sungai bersama ayahnya. Kadang ia pulang dengan pakaian basah dan wajah lelah. Kadang ia tidak masuk sekolah karena harus membantu memperbaiki jaring atau mencari ikan lebih pagi.
Liris masih membawa buku hijaunya ke sekolah.
Namun, ia tidak lagi sering membacakan puisi di depan sahabat-sahabatnya. Sejak puisi miliknya dibacakan Nayla dalam latihan lomba, ia merasa seperti kehilangan keberanian untuk memperlihatkan tulisannya kepada orang lain.
Sementara Rantaka semakin sibuk di warung Pakde Wirya.
Nilai matematikanya yang turun membuatnya harus mengikuti bimbingan tambahan. Tetapi pada hari-hari tertentu, ia tidak dapat hadir karena warung sedang ramai. Ia mulai hidup di antara dua tuntutan: sekolah yang meminta ia belajar lebih keras dan pekerjaan yang meminta ia membantu lebih banyak.
Mereka semua masih berada di sekolah yang sama.
Masih duduk di kelas yang sama.
Masih mendengar bel yang sama setiap pagi.
Namun, mereka tidak lagi berjalan sebagai Langit Biru.
Pada suatu Sabtu pagi, seorang anak kecil bernama Tami datang ke SD Wanasari bersama adiknya.
Tami adalah anak kelas tiga. Ia tinggal tidak jauh dari kebun singkong. Rambutnya selalu dikepang dua, dan ia sangat suka membaca buku cerita bergambar.
Ia berdiri di depan gudang sekolah.
Pintu gudang terkunci.
Ia memandang ke arah halaman.
Tidak ada gerobak buku.
Tidak ada Rantaka.
Tidak ada Liris.
Tidak ada Banyu.
Tidak ada Jagra.
“Kakak, gerobak bukunya kapan datang?” tanya adiknya.
Tami menggigit bibir.
“Aku tidak tahu.”
Mereka duduk di bawah pohon beringin tua dekat sekolah.
Tami membawa sebuah buku cerita yang sudah dibacanya berkali-kali. Sampulnya bergambar seekor burung kecil yang mencari rumah di tengah hutan.
Ia membuka halaman pertama.
Lalu halaman kedua.
Namun, hari itu ia tidak benar-benar membaca.
Ia hanya menunggu.
Menunggu roda gerobak berbunyi di jalan tanah.
Menunggu suara Liris memanggil anak-anak.
Menunggu Jagra datang membawa permainan sederhana.
Menunggu Banyu menunjukkan benda baru dari barang bekas.
Menunggu Rantaka membacakan cerita.
Tetapi sampai matahari naik tinggi, tidak ada siapa pun yang datang.
Tami akhirnya pulang dengan langkah pelan.
Di rumah, ia bertanya kepada ibunya.
“Bu, Kak Rantaka dan teman-temannya tidak datang lagi?”
Ibunya yang sedang menjemur pakaian menoleh.
“Mungkin mereka sibuk sekolah.”
“Tapi dulu mereka bilang akan datang setiap minggu.”
Ibunya diam sejenak.
“Kakak-kakak itu juga punya urusan masing-masing, Tami.”
“Tapi buku-bukunya bagaimana?”
Ibunya tidak segera menjawab.
Pertanyaan sederhana itu ternyata terasa berat.
Di sisi lain desa, Bu Laras sedang berada di ruang guru SD Wanasari.
Ia membuka buku peminjaman Gerobak Buku Langit Biru.
Pada halaman terakhir, tertulis nama-nama anak yang meminjam buku beberapa minggu lalu.
Tami — Cerita Burung Kecil
Reno — Peta Indonesia untuk Anak
Sari — Dongeng Nusantara
Fikri — Aku Belajar Berhitung
Nina — Kisah Si Kancil dan Buaya
Setelah itu, tidak ada lagi tulisan baru.
Halaman berikutnya kosong.
Bu Laras menatap halaman kosong itu cukup lama.
Ia teringat saat pertama kali Rantaka, Liris, Banyu, dan Jagra menemukan buku-buku lama di gudang sekolah. Ia masih ingat wajah mereka ketika membersihkan debu, memperbaiki rak, dan membawa buku-buku keluar satu per satu.
Ia juga ingat ketika Banyu membuat gerobak sederhana dari kayu bekas dan roda sepeda tua.
Gerobak itu memang tidak sempurna.
Rodanya sering berderit.
Pegangan bambunya kadang longgar.
Kotak kayunya tidak terlalu besar.
Namun, gerobak itu membawa sesuatu yang jauh lebih besar daripada buku.
Gerobak itu membawa harapan.
Siang itu, Bu Laras pergi ke SMP kecamatan.
Ia ingin berbicara dengan keempat anak itu.
Ketika jam istirahat, ia melihat Rantaka duduk sendiri di teras kelas sambil membuka buku matematika. Wajahnya tampak letih. Di bawah matanya ada bayangan gelap karena kurang tidur.
Tidak jauh dari sana, Liris duduk di dekat jendela sambil menulis di buku hijaunya.
Banyu berada di belakang sekolah, memeriksa sebuah kipas kecil rusak yang dibawanya dari rumah.
Sedangkan Jagra tidak terlihat.
Bu Laras menghampiri Rantaka lebih dulu.
“Rantaka.”
Rantaka segera berdiri.
“Bu Laras?”
“Ibu ingin bicara dengan kalian. Bisa panggil Liris dan Banyu?”
Rantaka mengangguk.
Beberapa menit kemudian, mereka bertiga duduk di bawah pohon besar dekat lapangan sekolah.
Bu Laras memandang mereka satu per satu.
“Kalian tahu kenapa Ibu datang?”
Tidak ada yang menjawab.
Bu Laras mengeluarkan buku peminjaman Gerobak Buku Langit Biru dari tasnya.
Ia membuka halaman terakhir.
“Sudah hampir sebulan tidak ada buku yang dipinjam.”
Liris menunduk.
Banyu mengusap tangannya yang masih terkena noda oli.
Rantaka memandangi halaman kosong itu.
“Anak-anak di Wanasari masih menunggu,” kata Bu Laras.
Kalimat itu membuat suasana menjadi lebih sunyi.
“Mereka bertanya kapan kalian datang lagi. Mereka bertanya kenapa gerobak buku tidak berjalan. Mereka bertanya apakah buku-buku itu masih ada.”
Rantaka menarik napas pelan.
“Kami sedang banyak masalah, Bu.”
“Ibu tahu.”
“Banyu kehilangan sepeda,” lanjut Rantaka. “Jagra marah karena merasa dituduh. Liris juga sedang punya masalah. Saya sendiri harus membantu di warung dan memperbaiki nilai.”
Bu Laras mengangguk.
“Ibu tidak datang untuk mengatakan bahwa masalah kalian kecil.”
Liris mengangkat wajah.
“Kalau begitu, kenapa Bu datang?”
“Karena kalian boleh tumbuh,” jawab Bu Laras. “Kalian boleh punya kesibukan baru. Kalian boleh kecewa, marah, bahkan bertengkar. Itu bagian dari hidup.”
Bu Laras berhenti sejenak.
“Tetapi jangan sampai kalian melupakan alasan kalian pernah berjuang bersama.”
Banyu menatap tanah.
Bu Laras melanjutkan, “Dulu kalian membuat Gerobak Buku Langit Biru bukan karena kalian tidak punya masalah. Kalian membuatnya karena kalian tahu anak-anak desa juga membutuhkan kesempatan untuk membaca, belajar, dan bermimpi.”
Rantaka memegang ujung bukunya.
“Sekarang kami tidak seperti dulu, Bu.”
“Tidak ada yang meminta kalian kembali menjadi anak-anak kecil,” kata Bu Laras. “Kalian sudah remaja. Kalian sedang belajar menghadapi hidup yang lebih rumit.”
Liris memejamkan mata sebentar.
“Tapi kami bahkan tidak bisa berbicara baik-baik,” katanya.
“Kalau begitu, belajarlah berbicara kembali.”
“Jagra tidak mau menemui kami,” kata Banyu pelan.
Bu Laras memandangnya.
“Apakah kau sudah meminta maaf?”
Banyu tidak menjawab.
Jawaban itu sudah cukup.
Bu Laras lalu menatap Rantaka.
“Dan kau, apakah kau sudah meminta maaf kepada Liris?”
Rantaka menunduk.
Liris tidak menoleh.
Bu Laras tidak berkata apa-apa lagi tentang itu.
Ia hanya menutup buku peminjaman, lalu memasukkannya kembali ke tas.
“Sahabat bukan orang yang selalu sepakat,” katanya pelan. “Sahabat adalah orang yang tetap berusaha menemukan jalan pulang setelah saling melukai.”
Kalimat itu tinggal di antara mereka.
Bel masuk berbunyi.
Anak-anak lain mulai kembali ke kelas.
Bu Laras berdiri.
“Ibu tidak akan memaksa kalian menarik gerobak itu lagi minggu depan. Tetapi Ibu berharap, suatu hari nanti, ketika kalian sudah siap, kalian ingat bahwa ada anak-anak yang masih menunggu.”
Sebelum pergi, Bu Laras menambahkan, “Gerobak itu masih ada di gudang. Buku-bukunya juga masih ada. Yang belum kembali hanya kalian.”
Setelah Bu Laras pergi, Rantaka, Liris, dan Banyu tetap duduk di bawah pohon.
Tidak ada yang langsung berbicara.
Rantaka ingin meminta maaf kepada Liris.
Ia sudah memikirkan itu berkali-kali.
Namun, setiap kali melihat wajah Liris yang tenang tetapi jauh, kata-kata itu terasa sulit keluar.
Banyu ingin mengatakan bahwa ia menyesal telah mencurigai Jagra.
Ia tahu Jagra mungkin sedang menghadapi masalah yang tidak ia ketahui.
Namun, rasa malu membuatnya belum berani mendatangi sahabatnya.
Liris ingin bercerita tentang puisinya.
Tentang Nayla.
Tentang rasa takut bahwa tulisannya tidak lagi aman.
Tetapi ia tidak tahu apakah Rantaka dan Banyu masih bisa mendengarkannya tanpa menganggap masalahnya sepele.
Akhirnya, mereka kembali ke kelas masing-masing.
Sore hari, Rantaka pulang ke warung Pakde Wirya.
Di jalan, ia melewati sebuah rumah kecil di pinggir kebun.
Di halaman rumah itu, Tami sedang duduk bersama adiknya.
Mereka membuka buku cerita bergambar yang sama.
Tami melihat Rantaka lewat.
“Kak Rantaka!”
Rantaka berhenti.
“Iya, Tami?”
“Kapan Gerobak Buku datang lagi?”
Pertanyaan itu membuat Rantaka tidak langsung menjawab.
Tami berdiri.
“Aku sudah selesai baca buku burung kecil. Aku mau pinjam buku yang lain.”
Rantaka memandang buku di tangan Tami.
Sampulnya sudah mulai kusut.
Ia teringat halaman kosong dalam buku peminjaman.
Ia teringat kata-kata Bu Laras.
Yang belum kembali hanya kalian.
“Kakak belum tahu,” katanya akhirnya.
Wajah Tami sedikit berubah.
“Tapi Kakak akan datang lagi, kan?”
Rantaka menatap anak itu.
Di dalam dirinya, ada rasa bersalah yang perlahan tumbuh.
“Iya,” katanya pelan. “Suatu hari nanti, Kakak akan datang lagi.”
Tami tersenyum.
“Janji?”
Rantaka mengangguk.
“Janji.”
Ia melanjutkan perjalanan menuju warung.
Namun, sepanjang jalan, kata itu terus mengikuti langkahnya.
Janji.
Di rumahnya, Banyu duduk di teras sambil memegang rantai sepeda yang tersisa.
Ia mengingat wajah Jagra saat dituduh.
Di kamar lain, Liris membuka buku hijaunya dan membaca kembali puisi tentang sungai yang tidak berhenti mengalir.
Sementara Jagra, di tepi sungai bersama ayahnya, menarik jaring dengan tangan yang kasar oleh air dan lumpur.
Mereka semua menjalani hari masing-masing.
Mereka semua membawa luka masing-masing.
Tetapi jauh di Desa Wanasari, sebuah gerobak buku berdiri diam di gudang sekolah.
Gerobak itu menunggu roda-rodanya kembali bergerak.
Dan lebih dari itu, gerobak itu menunggu empat sahabat yang pernah memberi nama pada langit—untuk menemukan jalan pulang kepada persahabatan mereka sendiri.
BAB 13 — BANJIR DARI HULU SUNGAI
Hujan mulai turun pada suatu sore yang kelabu.
Mula-mula hanya gerimis tipis yang jatuh di atas atap rumah-rumah Desa Wanasari. Warga tidak terlalu memedulikannya. Musim hujan memang sering datang membawa langit gelap, jalan becek, dan sungai yang berubah warna menjadi kecokelatan.
Namun, sore itu gerimis tidak berhenti.
Malam datang, tetapi hujan justru semakin deras.
Air menghantam atap seng seperti ribuan jari yang mengetuk tanpa henti. Angin bergerak di antara pepohonan. Daun-daun pisang menunduk diterpa hujan. Jalan tanah yang biasanya kering berubah menjadi lumpur.
Di rumah keluarga Jagra, ayahnya berdiri di depan pintu sambil memandang ke arah sungai.
Wajahnya tegang.
“Airnya naik,” katanya.
Jagra yang sedang duduk di dekat lampu minyak segera berdiri.
“Naik banyak, Yah?”
Ayahnya tidak menjawab langsung.
Ia mengambil jas hujan lusuh yang tergantung di belakang pintu.
“Ibu, saya ke sungai sebentar.”
Ibu Jagra keluar dari dapur.
“Hujannya deras sekali. Jangan pergi malam-malam.”
“Jaring kita ada di dekat tepi. Kalau arus makin kuat, bisa hanyut.”
Jagra mengambil sandal.
“Aku ikut, Yah.”
“Tidak usah.”
“Tapi aku bisa bantu.”
Ayahnya memandang Jagra beberapa saat.
Kemudian ia mengangguk.
“Pakai jaket. Jangan jauh dari Ayah.”
Mereka berjalan menembus hujan.
Jalan menuju sungai licin. Beberapa kali Jagra hampir terpeleset. Air hujan mengalir dari rambut ke wajahnya. Celana seragam lamanya yang ia pakai di rumah sudah basah sampai lutut.
Ketika mereka tiba di tepi sungai, Jagra terdiam.
Sungai Wanasari tidak lagi tampak seperti sungai yang biasa ia kenal.
Airnya berwarna cokelat pekat. Arusnya bergerak cepat, membawa ranting, daun, bahkan potongan kayu dari hulu. Permukaan air sudah hampir menyentuh tanah di dekat tempat perahu kecil mereka ditambatkan.
Jaring ikan milik ayahnya terlihat bergoyang keras.
“Pegang tali ini!” teriak ayahnya.
Jagra segera memegang tali perahu.
Ayahnya turun ke tepi sungai, mencoba menarik jaring yang mulai terseret arus.
Hujan membuat pandangan mereka kabur.
“Ayah, jangan terlalu dekat!” teriak Jagra.
“Jaringnya tersangkut!”
Ayahnya menarik lebih kuat.
Tiba-tiba, sebuah batang kayu besar hanyut dari arah hulu.
Batang itu menghantam sisi perahu kecil.
Perahu bergoyang keras.
Ayah Jagra kehilangan keseimbangan.
“Ayah!”
Jagra berusaha menarik tangan ayahnya.
Namun, tanah di tepi sungai sudah licin dan longsor kecil terjadi di bawah kaki mereka.
Ayah Jagra jatuh terduduk, lalu tubuhnya terbentur sisi perahu.
Ia mengerang kesakitan.
Jagra segera berlutut di sampingnya.
“Ayah! Ayah sakit?”
Ayahnya mencoba bangun, tetapi wajahnya meringis.
“Kakiku…”
Jagra melihat kaki ayahnya terkena sisi kayu perahu. Tidak ada luka besar yang terbuka, tetapi bagian betisnya tampak membengkak.
“Aku panggil Ibu!”
“Jangan tinggalkan Ayah sendiri.”
Jagra panik.
Hujan terus turun.
Air sungai semakin tinggi.
Di belakang mereka, jaring ikan mulai terlepas dari ikatannya.
Jagra ingin menyelamatkan jaring itu.
Ia ingin menarik perahu ke tempat aman.
Ia ingin membawa ayahnya pulang.
Namun, ia hanya memiliki dua tangan.
Akhirnya, ia memilih memegang tubuh ayahnya.
“Ayah, kita pulang.”
“Perahunya…”
“Biarkan saja.”
“Jaringnya…”
“Biarkan!”
Suara Jagra pecah oleh hujan.
Untuk pertama kalinya, ia melihat ayahnya tidak mampu melawan keadaan.
Mereka berjalan pulang perlahan.
Jagra menopang ayahnya dengan tubuhnya yang masih muda, tetapi dipaksa kuat. Setiap langkah terasa berat. Lumpur melekat di kaki mereka. Hujan membuat jalan seperti tidak memiliki ujung.
Ketika mereka tiba di rumah, ibu Jagra langsung menjerit melihat kondisi suaminya.
“Astaga! Apa yang terjadi?”
“Ayah jatuh,” kata Jagra.
Malam itu, beberapa tetangga datang membantu.
Pak Ramin, tetangga sebelah, membawa sepeda motor untuk mengantar ayah Jagra ke puskesmas pembantu. Seorang ibu membawa minyak urut. Yang lain membantu menutup jendela rumah karena angin mulai masuk dari celah-celah dinding.
Jagra duduk di sudut rumah dengan pakaian basah.
Tangannya masih gemetar.
Ia tidak tahu mana yang lebih membuatnya takut: kaki ayahnya yang terluka, perahu yang mungkin hanyut, atau jaring ikan yang tidak sempat diselamatkan.
Menjelang tengah malam, ayahnya pulang dari puskesmas pembantu.
Kakinya dibalut perban.
“Tidak patah,” kata Pak Ramin kepada ibu Jagra. “Tapi harus istirahat. Jangan dipakai bekerja dulu.”
Ibu Jagra mengangguk dengan wajah pucat.
Jagra mendengar semua itu dari balik pintu kamar.
Jangan dipakai bekerja dulu.
Kalimat itu terasa seperti kabar buruk yang lebih besar daripada hujan.
Ayahnya adalah orang yang setiap hari pergi ke sungai.
Ia mencari ikan, memeriksa jaring, memperbaiki perahu, dan menjual hasil tangkapan untuk membeli beras, minyak, serta kebutuhan sekolah Jagra.
Jika ayahnya tidak bisa bekerja, siapa yang akan mencari nafkah?
Hujan masih turun sampai pagi.
Ketika Jagra membuka pintu rumah, air sudah menggenangi halaman.
Beberapa ayam milik tetangga naik ke teras rumah. Anak-anak kecil digendong oleh orang tua mereka untuk menghindari genangan. Warga mulai berjalan dari rumah ke rumah, saling memberi kabar.
“Sungai sudah meluap!”
“Rumah Pak Leman kemasukan air!”
“Kolam ikan di belakang kebun rusak!”
Jagra segera berlari menuju kolam ikan keluarga mereka.
Kolam itu tidak terlalu besar.
Kolam sederhana di dekat sungai, dibuat dari tanah yang diperkuat dengan papan dan karung bekas. Di dalamnya, keluarga Jagra memelihara ikan untuk tambahan penghasilan.
Namun, ketika ia tiba di sana, Jagra berhenti.
Tangannya mengepal.
Tanggul kolam telah jebol.
Air dari sungai masuk membawa lumpur.
Ikan-ikan yang selama ini mereka pelihara sudah tidak terlihat. Sebagian mungkin hanyut. Sebagian mungkin mati tertimbun lumpur. Karung-karung penahan tanggul berserakan. Papan-papan kayu patah. Di dekat pohon kecil, jaring mereka tersangkut dalam keadaan robek.
Jagra berjalan ke tengah lumpur.
Kakinya tenggelam sampai mata kaki.
Ia memungut satu jaring yang masih tersisa.
Jaring itu koyak di beberapa bagian.
Ia menariknya perlahan.
Di dalamnya, hanya ada beberapa ikan kecil yang sudah mati.
Jagra memegang jaring itu erat.
Dadanya sesak.
Semua yang mereka kerjakan berbulan-bulan seakan hilang dalam satu malam.
Di kejauhan, ia mendengar suara ibunya memanggil.
“Jagra! Pulang! Jangan di situ!”
Namun, Jagra tidak segera bergerak.
Ia menatap sungai yang masih meluap.
Airnya terus mengalir seolah tidak tahu bahwa di tepinya ada keluarga yang baru kehilangan sumber penghidupan.
Menjelang siang, hujan mulai sedikit mereda.
Warga bergotong royong membantu rumah-rumah yang kemasukan air. Ada yang membawa ember. Ada yang memindahkan barang ke tempat lebih tinggi. Ada yang memasak di dapur umum sederhana.
Rantaka datang bersama beberapa pemuda dari desa.
Ia membawa karung pasir kecil dan membantu menahan aliran air di dekat rumah warga.
Ketika melihat Jagra berdiri di dekat kolam yang rusak, Rantaka berhenti.
Jagra menoleh.
Mereka saling memandang.
Tidak ada senyum.
Tidak ada sapaan hangat.
Masih ada luka dari pertengkaran tentang sepeda Banyu.
Namun, melihat keadaan kolam itu, Rantaka tidak sanggup hanya diam.
“Kolamnya jebol?” tanyanya pelan.
Jagra mengangguk.
“Semua ikan hilang.”
Rantaka memandang tanggul yang rusak.
“Ayahmu bagaimana?”
“Luka. Tidak bisa ke sungai.”
Rantaka menarik napas.
“Aku ikut bantu bersihkan nanti.”
Jagra menatapnya.
“Aku tidak minta bantuan.”
Kalimat itu terdengar keras.
Tetapi kali ini, Rantaka tidak tersinggung.
Ia tahu Jagra sedang marah kepada dunia, bukan hanya kepada dirinya.
“Aku tahu,” kata Rantaka. “Tapi aku tetap akan bantu.”
Jagra tidak menjawab.
Rantaka lalu berjalan ke arah warga lain yang sedang membawa karung pasir.
Tidak lama kemudian, Banyu datang dari jalan desa.
Ia berjalan kaki sambil membawa tas kecil di punggungnya. Wajahnya tampak canggung ketika melihat Jagra.
Banyu sudah mendengar kabar banjir dari Pak Hendra di kecamatan.
Ia ingin datang sejak pagi.
Namun, ia tidak tahu apakah Jagra akan mau melihatnya.
Ketika sampai di dekat kolam, Banyu berhenti beberapa langkah dari Jagra.
“Jag,” katanya pelan.
Jagra tidak menoleh.
Banyu memandang kolam yang rusak.
“Aku dengar banjirnya besar.”
Jagra tetap diam.
“Aku ikut bantu kalau kau mau.”
Jagra tertawa kecil, tetapi suaranya pahit.
“Semua orang tiba-tiba mau bantu setelah semuanya habis.”
Banyu menunduk.
Ia tahu ia tidak berhak membela diri.
Namun, ia juga tahu kata-kata Jagra lahir dari rasa kehilangan yang jauh lebih besar daripada pertengkaran mereka.
Liris datang kemudian bersama Bu Laras.
Mereka membawa beberapa bungkus makanan dan pakaian kering dari warga sekolah.
Bu Laras langsung menemui ibu Jagra.
Liris berdiri tidak jauh dari Jagra.
Ia ingin mengatakan sesuatu.
Namun, melihat sahabatnya memegang jaring robek dengan wajah yang penuh lumpur, ia hanya bisa berkata, “Aku turut sedih.”
Jagra mengangkat wajah.
Matanya merah.
“Sedih tidak akan membuat ikan-ikan itu kembali.”
Liris terdiam.
Ia tidak marah.
Ia tahu Jagra sedang kehilangan banyak hal sekaligus.
Ayahnya terluka.
Perahu mereka rusak.
Jaring mereka hanyut.
Kolam mereka jebol.
Dan sekarang, mungkin, Jagra merasa sekolah adalah sesuatu yang terlalu jauh untuk dipikirkan.
Sore hari, air mulai surut perlahan.
Namun, jejak banjir tertinggal di mana-mana.
Lumpur menempel di dinding rumah. Sampah dan ranting tersangkut di pagar. Jalan tanah berubah menjadi kubangan. Beberapa warga masih membersihkan halaman.
Di rumah Jagra, ayahnya berbaring dengan kaki diperban.
Jagra duduk di dekat pintu.
Ibu Jagra sedang menghitung uang yang tersisa di dalam kaleng kecil.
Tidak banyak.
Jagra melihatnya.
“Bu,” katanya pelan, “besok aku tidak usah sekolah dulu.”
Ibunya menoleh.
“Kenapa?”
“Aku bantu di rumah. Aku bisa ke sungai kalau air sudah surut. Aku bisa perbaiki jaring. Aku bisa cari ikan.”
Ibu Jagra menatap anaknya lama.
“Kau tetap sekolah.”
“Tapi Ayah tidak bisa kerja.”
“Kita pikirkan nanti.”
“Tidak ada yang bisa dipikirkan, Bu.”
Suara Jagra meninggi.
Ia segera menunduk, menyesal telah berbicara keras.
Ibu Jagra tidak marah.
Ia hanya memandang kaleng uang di tangannya.
“Sekolahmu penting,” katanya lirih.
Jagra menatap ayahnya yang terbaring.
Ayahnya membuka mata.
“Jag,” panggilnya pelan.
Jagra mendekat.
“Kau jangan berhenti sekolah hanya karena banjir,” kata ayahnya.
Jagra menggigit bibir.
“Tapi kita kehilangan semuanya.”
“Kita belum kehilangan semuanya.”
“Apa yang masih kita punya?”
Ayahnya menatapnya.
“Kita masih punya tangan. Kita masih punya rumah. Kita masih punya orang-orang yang mau membantu.”
Jagra menggeleng.
“Tidak cukup, Yah.”
Ayahnya terdiam.
Di luar rumah, suara air masih terdengar dari kejauhan.
Sungai Wanasari tetap mengalir.
Namun, bagi Jagra, sungai itu tidak lagi hanya tempat mencari ikan.
Sungai itu telah membawa sebuah ujian besar ke dalam rumahnya.
Malam itu, Jagra duduk sendirian di teras.
Ia memandangi langit yang mulai terbuka setelah hujan panjang.
Tidak ada bintang yang terlihat.
Hanya awan gelap yang bergerak perlahan.
Di dalam dirinya, sebuah keputusan mulai tumbuh.
Ia belum mengucapkannya kepada siapa pun.
Namun, ia mulai merasa bahwa sekolah mungkin bukan lagi tempat yang bisa ia pertahankan.
Sebab ketika keluarga sedang tenggelam dalam kesulitan, mimpi kadang terasa seperti sesuatu yang terlalu jauh untuk dijangkau.
BAB 14 — HARGA SERAGAM DAN HARGA SEBUAH MIMPI
Seminggu setelah banjir surut, Desa Wanasari mulai mencoba berdiri kembali.
Lumpur di halaman rumah perlahan dibersihkan. Papan-papan yang hanyut dikumpulkan. Jaring-jaring yang robek dijemur di bawah matahari. Warga yang rumahnya kemasukan air mulai menata kembali tikar, pakaian, dan perabot yang masih bisa digunakan.
Namun, bagi keluarga Jagra, keadaan belum benar-benar membaik.
Kolam ikan mereka masih rusak.
Tanggulnya jebol di beberapa bagian. Lumpur menutup dasar kolam. Sebagian papan penahan air patah. Ikan-ikan yang tersisa tidak cukup untuk dijual. Perahu kecil mereka masih terikat di tepi sungai dalam keadaan miring, dengan sisi kayu yang retak akibat hantaman batang pohon.
Ayah Jagra juga belum bisa bekerja seperti biasa.
Kakinya memang tidak patah, tetapi bengkaknya belum sepenuhnya hilang. Ia masih berjalan pincang. Setiap kali mencoba berdiri terlalu lama, wajahnya akan menahan sakit.
Pagi itu, Jagra membantu ibunya menjemur jaring di halaman.
Matahari sudah mulai terasa panas, tetapi udara masih menyimpan bau lumpur dari sisa banjir.
“Pelan-pelan,” kata ibunya. “Jaring itu jangan ditarik terlalu kuat. Masih ada bagian yang putus.”
Jagra mengangguk.
Ia memeriksa satu per satu simpul yang rusak.
Tangannya bergerak cepat, tetapi pikirannya tidak berada di sana.
Besok ia harus masuk sekolah.
Sudah tiga hari ia tidak datang.
Pada hari pertama, ia membantu membersihkan rumah dan mengangkat barang-barang yang basah.
Hari kedua, ia menemani ayahnya ke puskesmas pembantu untuk kontrol.
Hari ketiga, ia membantu ibu mencari kayu dan memperbaiki bagian dapur yang bocor.
Setiap hari, ia berkata kepada dirinya sendiri bahwa besok ia akan kembali ke sekolah.
Namun, setiap malam, ketika melihat ibu menghitung uang di dalam kaleng kecil, ia merasa langkah menuju sekolah semakin berat.
Di atas meja kayu dekat dapur, seragam sekolahnya tergantung.
Seragam itu sudah mulai sempit di bagian lengan.
Warna putihnya tidak lagi benar-benar putih. Bagian kerahnya sedikit menguning. Celana birunya memiliki jahitan di lutut karena pernah robek saat ia jatuh di jalan.
Sepatu hitamnya juga sudah lama rusak.
Sol bagian depan mulai terbuka. Jika hujan turun, air mudah masuk ke dalamnya.
Jagra memandangi seragam itu.
Dulu, ia tidak terlalu memikirkan pakaian sekolah.
Ia hanya mengenakannya, lalu berangkat bersama Rantaka, Liris, dan Banyu.
Namun, sejak masuk SMP di kecamatan, ia mulai sadar bahwa banyak hal bisa menjadi pembeda.
Ada siswa yang memiliki seragam baru setiap tahun.
Ada yang memakai sepatu bersih dengan lambang sekolah yang masih mengilap.
Ada yang membawa tas baru, buku lengkap, dan uang saku lebih banyak.
Sementara ia, sering datang dengan seragam yang sama, sepatu yang mulai rusak, dan uang saku yang hanya cukup untuk membeli air minum.
Selama ini, ia berusaha tidak peduli.
Tetapi setelah banjir, rasa malu itu menjadi semakin sulit disembunyikan.
Siang hari, Rantaka datang ke rumah Jagra.
Ia membawa beberapa buku catatan dan tugas sekolah yang dititipkan wali kelas.
Jagra sedang duduk di teras sambil menjahit jaring.
Ketika melihat Rantaka datang, ia tidak langsung tersenyum.
“Ada apa?” tanyanya.
“Aku membawa tugas dari sekolah.”
Rantaka menyerahkan buku-buku itu.
“Pak Arman bilang kau harus mengejar pelajaran yang tertinggal.”
Jagra menerima buku itu, tetapi tidak membukanya.
“Terima kasih.”
Rantaka berdiri canggung.
“Ayahmu bagaimana?”
“Masih sakit.”
“Kolamnya?”
“Masih rusak.”
Rantaka mengangguk pelan.
Beberapa saat, mereka hanya mendengar suara jaring yang ditarik dan suara ayam di halaman.
“Aku dengar sekolah akan mengadakan kegiatan akhir semester,” kata Rantaka akhirnya. “Ada iuran untuk perlengkapan dan latihan.”
Jagra menatapnya.
“Berapa?”
“Tidak banyak,” jawab Rantaka hati-hati. “Tapi tetap harus dibayar.”
Jagra tertawa pendek.
“Tidak banyak bagi siapa?”
Rantaka terdiam.
Ia sadar jawabannya salah.
“Maaf,” katanya.
Jagra menunduk kembali pada jaring.
“Aku tidak tahu kapan bisa kembali sekolah.”
“Kau harus kembali, Jag.”
“Kau tidak mengerti.”
“Aku mungkin tidak mengerti semuanya. Tapi aku tahu kau tidak boleh berhenti.”
Jagra menarik simpul jaring lebih keras.
“Kalau aku sekolah, siapa yang membantu Ibu? Siapa yang memperbaiki kolam? Siapa yang ke sungai kalau Ayah belum bisa berjalan?”
“Kita bisa cari cara.”
“Cara apa?”
Rantaka tidak segera menjawab.
Jagra menatapnya dengan mata lelah.
“Kau datang membawa tugas sekolah, seolah tugas itu lebih penting daripada rumahku yang masih bau lumpur.”
“Aku tidak bilang begitu.”
“Tapi kau tidak tahu bagaimana rasanya melihat Ibu menyimpan uang receh untuk membeli beras. Kau tidak tahu bagaimana rasanya mendengar Ayah mengerang kesakitan saat malam.”
Rantaka menunduk.
Ia memang tidak tahu.
Ia pernah mengalami kesulitan, tetapi kesulitan setiap orang memiliki bentuk yang berbeda.
“Aku hanya tidak ingin kau menyerah,” katanya pelan.
Jagra kembali menunduk.
“Kadang menyerah bukan karena tidak ingin berjuang,” katanya. “Kadang menyerah karena tidak ada pilihan lain.”
Rantaka pulang tanpa banyak kata.
Di sepanjang jalan, ia merasa semakin memahami bahwa luka Jagra tidak dapat diselesaikan hanya dengan kalimat-kalimat penyemangat.
Keesokan harinya, Jagra memutuskan tetap pergi ke sekolah.
Bukan karena ia sudah menemukan jalan keluar.
Bukan karena masalah keluarganya selesai.
Ia pergi karena ingin mengambil beberapa buku dan berbicara dengan wali kelas.
Ia mengenakan seragamnya yang sudah lama.
Ia menjahit kembali bagian lengan yang robek dengan benang putih seadanya. Sepatunya ia bersihkan, lalu bagian sol yang terbuka ia ikat dengan tali plastik tipis.
Ketika berjalan menuju sekolah, ia berusaha tidak memandang sepatu siswa lain.
Namun, saat sampai di halaman SMP, ia melihat beberapa anak sedang berbicara sambil tertawa.
Salah satu dari mereka menatap sepatunya.
“Itu sepatu atau sandal?” kata seorang siswa sambil terkekeh.
Temannya ikut melihat.
“Kalau hujan, pasti langsung jadi kolam.”
Jagra tidak membalas.
Ia hanya berjalan lebih cepat menuju kelas.
Di dalam kelas, Liris melihatnya datang.
Wajahnya tampak lega.
“Jag, kau masuk.”
Jagra mengangguk singkat.
Banyu yang duduk di dekat jendela juga menoleh.
Ia seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak jadi.
Hubungan mereka masih belum pulih sejak masalah sepeda.
Rantaka datang beberapa menit kemudian.
Ia melihat Jagra duduk di bangku belakang dengan wajah tertutup buku.
“Bagaimana rumahmu?” tanya Rantaka pelan.
“Masih sama.”
Bel masuk berbunyi.
Pelajaran berjalan seperti biasa.
Namun, Jagra tidak dapat berkonsentrasi.
Di dalam tasnya, ada surat pemberitahuan iuran kegiatan sekolah. Ia sudah membaca surat itu berkali-kali sejak semalam.
Jumlah uang yang tertulis mungkin tidak besar bagi sebagian siswa.
Tetapi bagi keluarganya, uang itu bisa digunakan membeli beras untuk beberapa hari.
Saat jam terakhir, wali kelas masuk membawa daftar nama.
“Anak-anak,” katanya, “saya ingin mengingatkan tentang iuran kegiatan akhir semester. Bagi yang belum membayar, harap segera menyelesaikan paling lambat akhir minggu ini.”
Beberapa siswa mengangguk.
Wali kelas melihat daftar di tangannya.
“Untuk yang namanya saya panggil, setelah pelajaran selesai silakan menemui saya di ruang guru.”
Jagra merasa dadanya mulai tidak tenang.
Wali kelas menyebut beberapa nama.
Lalu nama Jagra terdengar.
“Jagra.”
Beberapa kepala menoleh.
Jagra menunduk.
Wali kelas melanjutkan menyebut nama lain.
Namun, bagi Jagra, suara-suara setelah itu terdengar jauh.
Ia hanya mendengar namanya sendiri berulang di kepala.
Jagra.
Ketika bel pulang berbunyi, siswa lain mulai berkemas.
Jagra tetap duduk beberapa saat.
Rantaka mendekat.
“Kau dipanggil?”
Jagra mengangguk.
“Aku ikut?”
“Tidak usah.”
“Aku bisa menunggu di luar.”
“Aku bilang tidak usah.”
Rantaka mundur pelan.
Jagra berjalan menuju ruang guru.
Di dalam ruangan, wali kelas sedang duduk bersama bendahara sekolah.
Ada dua siswa lain yang juga dipanggil.
Wali kelas memandang Jagra dengan wajah yang tidak bermaksud menyakiti, tetapi tetap membuatnya merasa kecil.
“Jagra, kami memahami bahwa beberapa siswa mungkin mengalami kesulitan,” kata wali kelas. “Namun, kegiatan sekolah tetap membutuhkan biaya.”
Jagra menatap lantai.
“Saya belum punya uangnya, Bu.”
“Kapan kira-kira bisa dibayar?”
Jagra tidak menjawab.
Bendahara sekolah membuka catatan.
“Selain iuran kegiatan, ada juga beberapa kebutuhan seragam yang harus diperbarui. Minggu depan sekolah akan melakukan pemeriksaan kerapian.”
Jagra menatap seragamnya sendiri.
Ia tahu apa yang dimaksud.
“Seragam kamu sudah cukup lama, ya?” tanya wali kelas.
Jagra menggigit bibir.
“Iya, Bu.”
“Kalau bisa, nanti diganti atau diperbaiki lebih rapi.”
Kalimat itu terdengar biasa.
Namun, di telinga Jagra, kalimat itu seperti tamparan.
Ia merasa semua orang di ruangan itu sedang melihat jahitan di lengannya, sepatu yang diikat plastik, dan celana yang mulai pudar.
“Saya akan usahakan,” katanya.
“Baik,” jawab wali kelas. “Kami tunggu sampai akhir minggu.”
Jagra keluar dari ruang guru dengan langkah cepat.
Di lorong, ia mendengar beberapa siswa berbicara.
“Kalau tidak punya uang, kenapa ikut sekolah di sini?”
“Katanya rumahnya kena banjir.”
“Ya, kasihan juga sih.”
Kata kasihan membuat Jagra berhenti.
Ia tidak tahu apakah mereka sedang membicarakannya atau orang lain.
Tetapi ia tidak ingin menoleh.
Ia tidak ingin memastikan.
Ia berjalan menuju halaman belakang sekolah, lalu duduk di bawah pohon mangga.
Tangannya menggenggam surat iuran sampai kertas itu kusut.
Tidak lama kemudian, Liris datang.
Ia berdiri beberapa langkah di depan Jagra.
“Aku dengar kau dipanggil ke ruang guru.”
Jagra tidak menjawab.
Liris duduk di sampingnya.
“Kalau soal iuran, mungkin kita bisa bicara dengan Bu Laras. Atau kita cari bantuan dari sekolah.”
Jagra menoleh tajam.
“Bantuan lagi?”
Liris terdiam.
“Aku tidak bermaksud—”
“Aku tidak mau semua orang tahu aku tidak mampu membayar.”
“Tidak ada yang bilang kau tidak mampu.”
“Semua orang sudah tahu.”
Suara Jagra meninggi.
Liris menunduk.
Jagra segera merasa bersalah, tetapi ia tidak mampu menahan kemarahannya.
“Maaf,” katanya, lebih pelan. “Aku hanya… aku tidak ingin dikasihani.”
Liris memandangnya.
“Aku tidak mengasihanimu, Jag.”
“Lalu apa?”
“Aku peduli.”
Jagra mengalihkan wajah.
Kata itu mengingatkannya pada pertengkaran Rantaka dan Liris.
Ia tahu perbedaan antara dikasihani dan dipedulikan.
Tetapi saat harga diri sedang terluka, keduanya terasa sama menyakitkannya.
Sore hari, Jagra pulang ke rumah.
Ia berjalan lebih lambat dari biasanya.
Sesampainya di rumah, ia melihat ibunya sedang duduk di dapur dengan wajah lelah. Di hadapannya ada beberapa uang receh dan dua lembar uang kertas.
Ibu Jagra sedang menghitungnya.
“Ada apa, Bu?” tanya Jagra.
“Tidak apa-apa.”
“Uang untuk apa?”
Ibunya tersenyum tipis.
“Untuk kebutuhan rumah.”
Jagra melihat kaleng kecil di samping ibunya.
Kaleng itu hampir kosong.
Ia teringat surat iuran yang masih ada di dalam tas.
Ia teringat seragamnya.
Ia teringat kata-kata siswa di lorong.
Kalau tidak punya uang, kenapa ikut sekolah di sini?
Malam itu, ayah Jagra duduk di teras dengan kaki masih diperban.
Jagra keluar membawa segelas air.
Ia menyerahkannya kepada ayahnya.
“Ayah,” katanya pelan.
Ayahnya menerima gelas itu.
“Ada apa?”
Jagra duduk di sebelahnya.
Beberapa saat ia tidak berbicara.
Lalu akhirnya ia berkata, “Aku mau berhenti sekolah.”
Ayahnya menoleh.
“Apa?”
“Aku mau bantu Ayah dan Ibu. Aku bisa cari ikan. Aku bisa perbaiki kolam. Aku bisa ikut kerja apa saja.”
Ayahnya memandangnya lama.
“Karena iuran sekolah?”
“Bukan cuma itu.”
“Karena seragam?”
“Bukan cuma itu.”
“Karena kau malu?”
Jagra menunduk.
Ayahnya menghela napas panjang.
“Jag, sekolah bukan hanya untuk orang yang punya seragam baru.”
“Tapi sekolah juga butuh uang.”
“Kita cari jalan.”
“Jalan apa, Yah?”
Ayahnya terdiam.
Di rumah kecil itu, tidak ada jawaban yang mudah.
Tidak ada uang yang tiba-tiba muncul.
Tidak ada kolam ikan yang langsung pulih.
Tidak ada perahu yang kembali utuh.
Jagra memandang kaki ayahnya yang masih dibalut perban.
“Ayah tidak bisa ke sungai. Ibu sudah terlalu lelah. Aku tidak bisa duduk di kelas sementara kalian berjuang sendiri.”
Ayahnya memegang bahu Jagra.
“Tapi kalau kau berhenti sekolah, nanti kau akan menyesal.”
“Lebih baik aku menyesal daripada melihat kalian kesulitan.”
Ayahnya menatap langit malam.
“Dulu Ayah juga pernah berpikir begitu,” katanya pelan. “Ayah berhenti sekolah karena ingin membantu kakekmu. Waktu itu Ayah merasa keputusan itu benar. Tapi sampai sekarang, setiap kali ada surat yang harus dibaca atau urusan yang tidak Ayah pahami, Ayah selalu merasa ada bagian dari hidup yang tertinggal.”
Jagra diam.
“Ayah tidak ingin kau mengulanginya.”
“Aku tidak punya pilihan.”
“Kau selalu punya pilihan.”
“Tidak semua pilihan bisa diambil orang miskin, Yah.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Setelah mengucapkannya, Jagra langsung menunduk.
Ia tidak ingin menyakiti ayahnya.
Namun, ayahnya tidak marah.
Ia hanya terlihat sangat lelah.
“Kalau begitu,” kata ayahnya perlahan, “jangan ambil keputusan malam ini.”
Jagra menggeleng.
“Aku sudah memikirkannya.”
“Kau masih marah. Kau masih malu. Jangan biarkan kemarahan dan malu menentukan masa depanmu.”
Jagra berdiri.
Ia masuk ke kamar tanpa menjawab.
Di dalam kamar, ia membuka tas sekolahnya.
Ia mengeluarkan buku-buku.
Buku matematika.
Buku Bahasa Indonesia.
Buku catatan IPA.
Lalu surat iuran yang sudah kusut.
Ia menatap semuanya.
Di sudut meja, seragam sekolahnya tergantung.
Di bawahnya, sepatu yang diikat tali plastik tergeletak diam.
Jagra duduk di tepi tempat tidur.
Air matanya jatuh perlahan.
Ia tidak menangis karena tidak ingin sekolah.
Ia masih ingin belajar.
Ia masih ingin duduk bersama sahabat-sahabatnya.
Ia masih ingin membantu Gerobak Buku Langit Biru berjalan lagi.
Ia masih ingin menjadi orang yang bisa membangun usaha perikanan untuk keluarganya.
Tetapi malam itu, semua mimpi itu terasa memiliki harga yang terlalu mahal.
Dan di dalam hati yang penuh luka, Jagra mulai meyakini bahwa satu-satunya cara menyelamatkan keluarganya adalah meninggalkan sekolah—meski itu berarti meninggalkan sebagian dari dirinya sendiri.
BAB 15 — RAHASIA DI BALIK UANG TABUNGAN
Pagi di rumah Pakde Wirya selalu dimulai sebelum matahari benar-benar terbit.
Saat langit masih berwarna abu-abu, dapur sudah dipenuhi aroma minyak panas, kopi hitam, dan bawang yang ditumis. Di halaman belakang, ayam-ayam berkokok bersahutan. Dari warung kecil di depan rumah, terdengar suara pintu kayu dibuka dan ditutup.
Rantaka sudah terbiasa bangun lebih awal.
Ia membantu menyapu halaman, mengangkat galon air, menyusun minuman botol di dalam lemari kaca, lalu menyiapkan meja kecil untuk pembeli yang biasa datang sebelum berangkat ke ladang atau ke pasar.
Namun, pagi itu pikirannya tidak tenang.
Sejak mendengar kabar tentang banjir yang menghancurkan kolam ikan keluarga Jagra, ia terus memikirkan sahabatnya.
Ia teringat wajah Jagra saat berdiri di dekat kolam yang jebol.
Ia teringat jaring robek yang digenggam Jagra dengan tangan berlumpur.
Ia juga teringat kata-kata Jagra ketika Rantaka datang membawa tugas sekolah.
Kadang menyerah bukan karena tidak ingin berjuang. Kadang menyerah karena tidak ada pilihan lain.
Kalimat itu terus tinggal di kepala Rantaka.
Setelah membantu Pakde Wirya membuka warung, Rantaka masuk ke kamar kecil yang ia tempati di bagian belakang rumah.
Kamar itu sederhana.
Ada satu tempat tidur kayu, sebuah meja belajar, lemari kecil, dan jendela yang menghadap ke kebun pisang. Di atas meja, buku-buku pelajarannya tersusun rapi, meski beberapa di antaranya sudah mulai lusuh.
Di bawah tempat tidur, Rantaka menyimpan sebuah kaleng biskuit bekas.
Kaleng itu tidak terlalu besar.
Cat pada bagian luarnya sudah pudar. Gambar biskuit yang dulu berwarna cerah kini hampir tidak terlihat. Tutupnya sedikit penyok karena pernah terinjak saat Rantaka terburu-buru membereskan kamar.
Di dalam kaleng itulah ia menyimpan uang tabungannya.
Uang itu bukan berasal dari satu sumber.
Sebagian adalah uang saku yang tidak ia habiskan.
Sebagian lagi berasal dari upah kecil ketika ia membantu Pakde Wirya mengantar barang ke pasar atau menjaga warung pada sore hari.
Ada juga uang yang dikirim ibunya dari Desa Wanasari, meski jumlahnya tidak banyak.
Rantaka menyimpan uang itu untuk keperluan sekolah.
Ia ingin membeli buku pelajaran tambahan.
Ia ingin mengganti sepatu yang mulai sempit.
Ia juga ingin memiliki seragam baru ketika naik kelas nanti.
Namun, sejak Jagra berkata ingin berhenti sekolah, uang itu terasa memiliki arti lain.
Rantaka membuka kaleng biskuit itu.
Di dalamnya terdapat beberapa lembar uang yang dilipat rapi, sejumlah uang receh, dan secarik kertas kecil bertuliskan:
Tabungan Sekolah Rantaka
Ia menghitung uang itu pelan-pelan.
Tidak banyak.
Tetapi cukup untuk membantu membayar iuran kegiatan sekolah Jagra.
Mungkin juga cukup untuk membeli bahan seragam bekas yang masih layak.
Rantaka menatap uang itu cukup lama.
Ia tahu Jagra mungkin tidak akan mau menerimanya.
Jagra selalu keras kepala jika menyangkut harga diri.
Namun, Rantaka tidak sanggup hanya melihat sahabatnya meninggalkan sekolah.
Ia mengambil sebagian uang tabungannya dan memasukkannya ke dalam amplop cokelat.
Lalu ia menulis nama Jagra di bagian depan.
Namun, sebelum ia sempat menutup amplop itu, suara Pakde Wirya terdengar dari luar.
“Rantaka! Tolong antar gula ini ke rumah Bu Murni!”
“Iya, Pakde!”
Rantaka segera memasukkan amplop ke dalam laci meja.
Kaleng biskuit itu ia dorong kembali ke bawah tempat tidur.
Hari itu, setelah pulang sekolah, Rantaka berencana pergi ke Desa Wanasari.
Ia ingin menemui Jagra.
Ia ingin mengatakan bahwa bantuan bukan berarti mengasihani.
Ia ingin mengatakan bahwa sahabat tidak seharusnya membiarkan sahabat lain berjuang sendirian.
Namun, sebelum rencana itu terjadi, sebuah hal lain lebih dahulu membuka rahasia yang selama ini tidak diketahui Rantaka.
Menjelang siang, seorang perempuan datang ke warung Pakde Wirya.
Ia mengenakan kerudung sederhana berwarna cokelat muda. Sandalnya masih terlihat basah oleh lumpur jalan desa. Di tangannya, ia membawa tas kain yang tampak sudah lama dipakai.
Rantaka yang sedang menyusun mie instan di rak langsung menoleh.
“Ibu?”
Perempuan itu tersenyum.
“Rantaka.”
Rantaka segera menghampiri.
Ibunya, Sari Wening, datang dari Desa Wanasari.
Wajahnya tampak lelah, tetapi ia tetap berusaha tersenyum.
“Kok Ibu datang tidak bilang-bilang?”
“Ibu sekalian ada urusan ke pasar kecamatan,” jawabnya. “Jadi mampir melihatmu.”
Rantaka memeluk ibunya.
Ia mencium tangan ibunya dengan hormat.
“Bagaimana di rumah?”
“Baik.”
Jawaban itu terdengar terlalu singkat.
Rantaka memperhatikan wajah ibunya.
Ada sesuatu yang berbeda.
Tangannya tampak lebih kurus. Di pergelangan tangannya, tidak ada gelang kecil yang biasanya selalu dipakai sejak Rantaka kecil.
Gelang itu bukan barang mahal.
Hanya gelang perak sederhana peninggalan nenek Rantaka.
Namun, ibunya selalu memakainya.
“Ibu, gelang Ibu mana?” tanya Rantaka.
Ibunya refleks menutup pergelangan tangannya dengan ujung lengan baju.
“Tidak apa-apa. Ibu simpan.”
“Disimpan di mana?”
“Di rumah.”
Rantaka menatap ibunya.
“Ibu bohong.”
Sari Wening terdiam.
Pakde Wirya yang sedang duduk di dekat meja kasir memandang ke arah mereka, lalu perlahan berdiri.
“Rantaka,” katanya hati-hati, “bantu Pakde ambil kardus di belakang dulu.”
Namun, Rantaka tidak bergerak.
“Ibu menjual gelang itu?”
Ibunya menunduk.
Suasana warung tiba-tiba terasa sunyi.
Beberapa pembeli yang sedang memilih barang tidak memperhatikan percakapan mereka. Namun, bagi Rantaka, seolah seluruh dunia sedang berhenti.
“Ibu menjualnya untuk apa?” tanyanya lagi.
Sari Wening menarik napas pelan.
“Untuk kebutuhan.”
“Kebutuhan apa?”
Ibunya tidak langsung menjawab.
Rantaka mulai merasa takut.
“Untuk rumah? Untuk Ayah?”
Sari Wening menggeleng.
“Untuk sekolahmu.”
Rantaka terdiam.
“Untuk sekolahku?”
“Ibu tahu kamu butuh buku tambahan. Pakde Wirya pernah bilang sepatu kamu mulai sempit. Ibu juga dengar ada biaya kegiatan sekolah yang harus disiapkan.”
Rantaka memandang wajah ibunya.
“Jadi Ibu menjual gelang Nenek untuk itu?”
“Ibu hanya ingin kamu tetap sekolah dengan tenang.”
“Tapi itu satu-satunya barang dari Nenek.”
“Ibu tahu.”
“Kenapa tidak bilang kepadaku?”
“Karena Ibu tidak ingin kamu merasa terbebani.”
Rantaka menunduk.
Dadanya terasa sesak.
Selama ini ia mengira uang yang sesekali dikirim ibunya berasal dari hasil menjual sayur, membantu tetangga, atau pekerjaan kecil lain yang dilakukan ibunya.
Ia tidak tahu bahwa di balik uang itu ada sesuatu yang jauh lebih berharga.
Ada kenangan.
Ada pengorbanan.
Ada benda peninggalan keluarga yang dijual agar ia dapat tetap duduk di bangku sekolah.
“Ibu seharusnya tidak melakukan itu,” katanya dengan suara bergetar.
Sari Wening menyentuh bahu anaknya.
“Tidak ada yang lebih penting bagi Ibu selain masa depanmu.”
“Tapi aku tidak mau sekolah dengan uang dari gelang Nenek.”
“Rantaka.”
“Ibu sudah terlalu banyak berkorban.”
Ibunya tersenyum tipis.
“Anak yang sekolah bukan sedang membebani orang tuanya. Anak yang sekolah sedang membawa harapan keluarganya.”
Kalimat itu membuat mata Rantaka panas.
Ia berusaha menahan air mata, tetapi tidak berhasil.
Pakde Wirya yang melihat dari kejauhan memilih masuk ke dalam rumah, memberi mereka ruang.
Sari Wening mengusap kepala Rantaka.
“Kamu jangan berhenti sekolah hanya karena merasa bersalah. Kalau kamu belajar sungguh-sungguh, itu sudah menjadi balasan yang paling besar bagi Ibu.”
Rantaka mengangguk, meski hatinya masih penuh sesak.
Setelah ibunya pulang, ia kembali ke kamar.
Ia mengambil kaleng biskuit dari bawah tempat tidur.
Ia membuka tutupnya pelan.
Uang tabungan itu kini tidak lagi hanya terlihat seperti uang.
Di dalamnya, ia melihat tangan ibunya yang bekerja di dapur.
Ia melihat wajah ibunya yang menahan lelah.
Ia melihat gelang peninggalan nenek yang kini sudah tidak ada di pergelangan tangan ibunya.
Rantaka memegang amplop cokelat yang tadi ia siapkan untuk Jagra.
Ia tahu uang itu sebenarnya ia perlukan.
Namun, ia juga tahu bagaimana rasanya ketika keluarga harus mengorbankan sesuatu untuk pendidikan.
Ia tidak ingin Jagra berhenti sekolah hanya karena keluarganya sedang jatuh.
Sore itu, Rantaka meminta izin kepada Pakde Wirya untuk pulang ke Desa Wanasari.
Pakde Wirya memandangnya lama.
“Kau mau menemui Jagra?”
Rantaka mengangguk.
“Pakde sudah dengar tentang banjir itu.”
“Aku mau membantunya.”
Pakde Wirya menghela napas.
“Bantulah dengan cara yang tidak membuat dia merasa lebih kecil.”
Rantaka mengangguk.
Nasihat itu ia simpan dalam hati.
Perjalanan menuju Desa Wanasari terasa lebih panjang dari biasanya.
Jalan tanah masih becek di beberapa bagian. Bekas banjir masih terlihat di pinggir-pinggir jalan. Ada tumpukan ranting, karung pasir, dan papan kayu yang belum dipindahkan.
Ketika tiba di rumah Jagra, Rantaka melihat sahabatnya sedang memperbaiki jaring di halaman.
Jagra duduk di atas tikar tua.
Di sampingnya ada ember berisi tali, jarum besar, dan potongan jaring yang sudah tidak utuh.
Wajahnya tampak lebih keras daripada sebelumnya.
“Jag,” panggil Rantaka.
Jagra menoleh.
“Kau lagi.”
“Aku ingin bicara.”
“Kalau soal sekolah, aku sudah bilang.”
“Bukan hanya soal sekolah.”
Jagra kembali menunduk pada jaring.
Rantaka mendekat.
Ia duduk beberapa langkah dari Jagra.
Beberapa saat, tidak ada yang berbicara.
Suara sungai terdengar dari kejauhan.
Suara itu lebih pelan dibandingkan saat banjir, tetapi masih cukup kuat untuk mengingatkan mereka pada semua yang telah terjadi.
“Aku tahu kau sedang sulit,” kata Rantaka akhirnya.
Jagra tersenyum pahit.
“Kau baru tahu?”
“Aku tahu aku tidak bisa memahami semuanya.”
“Bagus. Setidaknya kau mulai mengerti.”
Rantaka menarik napas.
“Aku membawa sesuatu.”
Ia mengeluarkan amplop cokelat dari saku.
Jagra langsung melihat amplop itu.
“Apa itu?”
“Uang.”
Wajah Jagra berubah.
“Aku tidak butuh uangmu.”
“Dengar dulu.”
“Aku tidak perlu dengar.”
“Ini bukan uang untuk membuatmu merasa dikasihani.”
“Lalu untuk apa?”
“Untuk iuran sekolah. Untuk sementara. Kau bisa menggantinya kapan saja kalau sudah mampu.”
Jagra berdiri.
Jaring di tangannya jatuh ke tanah.
“Kau pikir aku mau berutang kepada sahabat sendiri?”
“Aku tidak bilang itu utang.”
“Itu lebih buruk.”
“Kenapa lebih buruk?”
“Karena kau ingin terlihat seperti penyelamat.”
Kalimat itu menghantam Rantaka.
“Aku tidak ingin menjadi penyelamat.”
“Tapi kau datang membawa amplop, seolah kau lebih baik dariku.”
“Aku datang karena aku tidak ingin kau berhenti sekolah!”
“Dan aku tidak ingin sekolah dengan uang belas kasihanmu!”
Suara mereka mulai meninggi.
Ibu Jagra yang berada di dapur sempat keluar, tetapi melihat dua anak itu, ia memilih kembali masuk dengan wajah cemas.
Rantaka berdiri.
“Ini bukan belas kasihan, Jag. Aku tahu rasanya keluarga berjuang agar anaknya tetap sekolah.”
“Kau tidak tahu apa-apa.”
“Ibuku menjual gelang peninggalan nenekku supaya aku bisa sekolah.”
Jagra terdiam.
Rantaka melanjutkan, suaranya bergetar.
“Aku baru tahu hari ini. Aku tahu uang itu bukan hal kecil. Aku tahu sekolah kadang terasa mahal. Tapi justru karena itu aku tidak mau melihatmu menyerah.”
Jagra memandang amplop di tangan Rantaka.
Sesaat, wajahnya tampak goyah.
Namun, kemudian ia menggeleng.
“Itu urusan keluargamu, Rantaka.”
“Dan ini urusan persahabatan kita.”
“Tidak. Ini urusanku.”
“Kau tidak harus menanggung semuanya sendiri.”
“Aku tidak meminta kau datang!”
“Kau memang tidak meminta. Tapi sahabat tidak selalu menunggu diminta.”
Jagra menatapnya tajam.
“Jangan bicara tentang sahabat kalau kau tidak pernah tahu bagaimana rasanya pulang ke rumah dan melihat ayahmu tidak bisa bekerja.”
Rantaka terdiam.
“Aku melihat Ibu menghitung uang receh setiap malam,” lanjut Jagra. “Aku melihat kolam kami hancur. Aku melihat Ayah berusaha tersenyum padahal kakinya sakit. Lalu kau datang membawa uang dan berkata semuanya bisa selesai.”
“Aku tidak bilang semuanya selesai.”
“Tapi kau membuatku merasa seperti orang yang tidak mampu menyelamatkan keluarganya sendiri.”
Rantaka menunduk.
Ia tidak pernah bermaksud demikian.
Namun, ia mulai memahami bahwa niat baik pun bisa melukai jika datang pada saat seseorang sedang kehilangan harga dirinya.
“Aku hanya ingin kau tetap sekolah,” katanya pelan.
Jagra mengambil amplop itu dari tangan Rantaka.
Untuk sesaat, Rantaka mengira Jagra akan menerimanya.
Namun, Jagra meletakkan amplop itu di atas tikar dengan keras.
“Ambil kembali.”
“Jag…”
“Ambil!”
Suara Jagra pecah.
Rantaka memandang sahabatnya.
Di mata Jagra, ada kemarahan.
Namun, di balik kemarahan itu, ada ketakutan yang jauh lebih besar.
Takut tidak mampu.
Takut menjadi beban.
Takut kehilangan masa depan.
Rantaka mengambil amplop itu perlahan.
Tangannya gemetar.
“Aku tidak akan memaksamu,” katanya.
“Bagus.”
“Tapi jangan bilang aku datang untuk merendahkanmu.”
Jagra tidak menjawab.
“Karena aku datang sebagai sahabatmu.”
Jagra memalingkan wajah.
“Kalau kau benar sahabatku, biarkan aku memilih jalanku sendiri.”
Kalimat itu membuat Rantaka terdiam.
Ia ingin membalas.
Ia ingin mengatakan bahwa jalan yang dipilih Jagra adalah jalan yang akan membuatnya menyesal.
Namun, ia teringat nasihat Pakde Wirya.
Bantulah dengan cara yang tidak membuat dia merasa lebih kecil.
Rantaka sadar, hari itu ia belum berhasil melakukannya.
Ia memasukkan amplop kembali ke dalam saku.
Lalu ia berjalan meninggalkan halaman rumah Jagra.
Langkahnya terasa berat.
Di belakangnya, Jagra kembali duduk di atas tikar.
Namun, ia tidak langsung melanjutkan memperbaiki jaring.
Ia hanya memandangi tanah.
Sementara itu, Rantaka berjalan melewati jalan desa dengan hati yang penuh marah dan sedih.
Ia marah karena Jagra menolak bantuannya.
Ia sedih karena sahabatnya memilih menjauh.
Tetapi lebih dari itu, ia takut.
Takut bahwa Jagra benar-benar akan berhenti sekolah.
Takut bahwa kelompok Langit Biru yang dulu mereka bangun dengan mimpi dan janji kini akan hancur karena masing-masing merasa harus berjuang sendiri.
Di rumah Pakde Wirya malam itu, Rantaka membuka kembali kaleng biskuitnya.
Ia memasukkan amplop cokelat ke dalamnya.
Lalu ia menutup kaleng itu rapat-rapat.
Namun, ia tidak mampu menutup perasaan bersalah di dalam dirinya.
Ia baru saja mengetahui bahwa ibunya menjual peninggalan nenek demi masa depannya.
Pada hari yang sama, ia mencoba menyelamatkan masa depan sahabatnya.
Tetapi yang terjadi justru sebaliknya.
Ia dan Jagra semakin jauh.
Dan di antara uang tabungan, seragam lusuh, kolam ikan yang hancur, serta mimpi-mimpi yang terasa mahal, persahabatan mereka mulai memasuki retakan yang lebih dalam.
BAB 16 — LIRIS DAN SURAT DARI KOTA
Surat itu datang pada hari Senin pagi.
Seorang petugas pos dari kecamatan berhenti di depan rumah Liris dengan sepeda motor tua. Ia membawa beberapa surat dan lembar tagihan untuk warga Desa Wanasari. Debu jalan masih menempel di celananya ketika ia memanggil dari depan pagar bambu.
“Rumah Pak Sasmita?”
Liris yang sedang menyapu halaman segera menoleh.
“Iya, Pak. Saya anaknya.”
Petugas pos mengeluarkan sebuah amplop putih dari tasnya.
Di bagian depan amplop itu tertulis nama Liris dengan huruf cetak rapi.
Untuk Liris Wening
Desa Wanasari, Kecamatan Sumberjati
Liris menerima amplop itu dengan kedua tangan.
Jantungnya berdebar.
Ia tidak sering menerima surat.
Hampir tidak pernah, bahkan.
Biasanya surat hanya datang untuk ayahnya, berkaitan dengan urusan hasil kebun, tagihan pupuk, atau pemberitahuan dari koperasi desa. Namun, surat ini jelas-jelas ditujukan kepadanya.
Di pojok kiri atas amplop tertulis nama yang membuatnya semakin penasaran.
Komunitas Rumah Kata Kabupaten Sumberjati
Liris pernah mendengar nama itu.
Beberapa bulan lalu, ketika masih bersemangat mengirim puisi ke berbagai tempat, ia pernah membaca pengumuman kecil di sebuah majalah anak yang dipinjam dari perpustakaan kecamatan. Pengumuman itu berisi ajakan mengirimkan karya puisi, cerpen, dan tulisan pendek tentang kehidupan remaja desa.
Tanpa banyak berharap, Liris pernah mengirimkan dua puisinya.
Salah satunya berjudul Sungai yang Membawa Nama-Nama.
Puisi itu ia tulis pada malam hari di buku hijau miliknya. Ia menulis tentang sungai Wanasari, tentang perahu-perahu kecil, tentang anak-anak yang belajar membaca di bawah pohon beringin, dan tentang mimpi yang tetap tumbuh meski jalan desa sering berlumpur.
Setelah mengirimkan puisi itu, Liris tidak pernah menerima kabar apa pun.
Ia bahkan mulai melupakannya.
Namun, pagi itu, surat dari kota kabupaten berada di tangannya.
Liris masuk ke dalam rumah dengan langkah cepat.
Ibunya sedang menyiapkan sarapan di dapur.
“Bu, aku dapat surat.”
Ibunya menoleh.
“Surat dari siapa?”
“Dari komunitas literasi di kota.”
Ibunya tersenyum, meski belum memahami sepenuhnya.
“Buka saja.”
Tangan Liris sedikit gemetar ketika merobek bagian atas amplop.
Di dalamnya terdapat selembar surat resmi dan sebuah brosur kecil berwarna biru muda.
Ia membaca surat itu perlahan.
Yth. Liris Wening,
Kami mengucapkan terima kasih atas karya puisi yang telah Anda kirimkan kepada Komunitas Rumah Kata Kabupaten Sumberjati. Salah satu karya Anda dinilai memiliki kepekaan bahasa dan kekuatan cerita yang baik.
Sehubungan dengan itu, kami mengundang Anda untuk mengikuti Pelatihan Menulis Remaja Desa yang akan dilaksanakan selama tiga hari di Kota Sumberjati.
Kegiatan ini meliputi kelas puisi, cerita pendek, jurnalistik sederhana, dan diskusi bersama penulis daerah.
Peserta diharapkan hadir pada hari Jumat pukul delapan pagi di Gedung Perpustakaan Kabupaten Sumberjati.
Liris membaca surat itu sekali lagi.
Lalu sekali lagi.
Ia seperti tidak percaya pada kata-kata yang tertulis di sana.
Puisi Anda dinilai memiliki kepekaan bahasa dan kekuatan cerita yang baik.
Kalimat itu membuat matanya berkaca-kaca.
Selama ini, ia menulis sendirian.
Ia menulis ketika rumah sudah sunyi.
Ia menulis ketika rindu pada masa kecilnya.
Ia menulis ketika sahabat-sahabatnya mulai menjauh.
Ia menulis ketika merasa tidak punya tempat untuk mengatakan hal-hal yang terlalu berat jika diucapkan.
Dan kini, seseorang dari kota kabupaten membaca puisinya.
Seseorang yang bahkan tidak mengenalnya percaya bahwa tulisannya layak didengar.
“Bu,” kata Liris pelan, “aku diundang ikut pelatihan menulis.”
Ibunya menghentikan pekerjaannya.
“Di mana?”
“Di kota kabupaten.”
“Berapa lama?”
“Tiga hari.”
Wajah ibunya berubah sedikit.
Bukan karena tidak bangga.
Melainkan karena ia segera memahami hal yang tidak tertulis di dalam surat itu.
Perjalanan ke kota kabupaten membutuhkan ongkos.
Liris harus naik kendaraan dari Desa Wanasari ke kecamatan, lalu melanjutkan perjalanan ke kota. Ia juga membutuhkan uang makan, mungkin tempat menginap, dan keperluan lain selama tiga hari.
Ibunya mengambil surat itu.
Ia membaca bagian bawahnya.
Di sana tertulis bahwa peserta diminta menyiapkan biaya transportasi pribadi.
“Pelatihannya gratis,” kata Liris cepat. “Tapi ongkos perjalanan harus sendiri.”
Ibunya mengangguk pelan.
“Berapa kira-kira?”
Liris tidak menjawab.
Ia sudah menghitungnya sejak membaca surat itu.
Jumlahnya tidak kecil bagi keluarga mereka.
Ayahnya hanya mengandalkan hasil kebun singkong dan beberapa pekerjaan serabutan. Belakangan, harga hasil kebun tidak selalu baik. Kadang uang yang didapat hanya cukup untuk membeli kebutuhan dapur dan membayar keperluan sekolah Liris.
Namun, Liris tidak ingin memikirkan itu dulu.
Untuk beberapa menit, ia hanya ingin menikmati rasa bahagia.
Ia membawa surat itu ke kamar.
Ia menaruhnya di atas meja, di samping buku hijau yang selama ini menjadi tempat ia menyimpan puisi-puisinya.
Kemudian ia membuka buku itu.
Di halaman pertama, ada tulisan kecil yang dibuatnya beberapa tahun lalu.
Jika suatu hari kata-kataku sampai ke tempat yang jauh, semoga aku tidak takut mengikutinya.
Liris menyentuh tulisan itu dengan ujung jari.
Ia tersenyum.
Namun, senyum itu tidak bertahan lama.
Menjelang siang, ayahnya pulang dari kebun.
Pak Sasmita datang dengan pakaian yang penuh tanah. Bahunya membawa cangkul. Wajahnya terlihat letih karena sejak pagi ia bekerja membersihkan rumput di kebun singkong.
Liris menunggu sampai ayahnya makan siang.
Ia duduk di dekat pintu dapur sambil memegang surat.
Beberapa kali ia ingin bicara, tetapi kata-kata itu terasa sulit keluar.
Ibunya memberi isyarat agar ia tenang.
Akhirnya, setelah ayahnya selesai makan, Liris mendekat.
“Ayah.”
Pak Sasmita menoleh.
“Ada apa?”
“Aku dapat surat dari kota.”
“Surat apa?”
Liris menyerahkan surat undangan itu.
Ayahnya membaca perlahan.
Wajahnya tidak berubah ketika membaca bagian tentang puisi. Namun, ketika sampai pada bagian pelatihan selama tiga hari di kota kabupaten, ia mengerutkan dahi.
“Pelatihan menulis?”
“Iya, Yah.”
“Untuk apa?”
Liris terdiam sejenak.
“Untuk belajar menulis lebih baik.”
“Menulis apa?”
“Puisi, cerita, berita sederhana.”
Ayahnya meletakkan surat itu di meja.
“Lalu setelah belajar menulis, kau dapat apa?”
Liris menatap ayahnya.
“Aku bisa punya pengalaman. Aku bisa belajar dari penulis lain. Mungkin aku bisa ikut lomba atau mengirim tulisan ke majalah.”
Pak Sasmita menghela napas.
“Liris, menulis tidak akan membuat dapur kita penuh.”
Kalimat itu membuat wajah Liris memucat.
Ibunya yang sedang mencuci piring berhenti sebentar.
“Ayah, ini kesempatan,” kata Liris.
“Kesempatan apa?”
“Kesempatan untuk belajar.”
“Kau sudah sekolah.”
“Tapi ini berbeda.”
“Berbeda bagaimana? Kau pergi tiga hari ke kota hanya untuk menulis kata-kata di kertas?”
Liris menggenggam surat itu.
“Aku ingin menjadi penulis, Yah.”
Ayahnya memandangnya lama.
“Kau ingin menjadi penulis?”
“Iya.”
Pak Sasmita tersenyum tipis, tetapi senyum itu tidak sepenuhnya hangat.
“Penulis itu pekerjaan orang kota. Orang yang punya banyak buku. Orang yang punya uang untuk sekolah tinggi.”
“Aku juga bisa belajar.”
“Dengan apa? Dengan puisi?”
Liris menunduk.
Kata-kata ayahnya terasa seperti pintu yang ditutup perlahan di hadapannya.
“Ayah tidak melarangmu sekolah,” lanjut Pak Sasmita. “Tapi jangan terlalu jauh mengejar sesuatu yang belum tentu bisa memberi makanmu.”
“Aku tidak minta Ayah membiayai semuanya,” kata Liris, berusaha menjaga suara tetap tenang. “Aku bisa cari cara.”
“Cara apa?”
Liris tidak menjawab.
Ia memang belum tahu.
Ayahnya kembali mengambil cangkul.
“Lebih baik kau bantu Ibu di rumah. Minggu depan kita juga harus menanam lagi di kebun. Jangan terlalu banyak memikirkan hal-hal yang tidak jelas.”
Setelah itu, ayahnya keluar menuju halaman belakang.
Liris tetap berdiri di dapur.
Surat undangan itu masih ada di tangannya.
Namun, sekarang kertas itu terasa lebih berat.
Ibunya mendekat.
“Jangan marah kepada Ayahmu,” katanya pelan.
“Aku tidak marah.”
“Tapi kau sedih.”
Liris tidak menjawab.
Air matanya mulai jatuh.
Ibunya memeluknya.
“Ayahmu bukan tidak ingin kamu punya mimpi. Ia hanya takut kamu kecewa.”
“Kalau aku tidak pergi, aku juga akan kecewa.”
Ibunya mengusap punggungnya.
“Kita pikirkan jalan lain.”
Namun, Liris tahu jalan lain tidak selalu mudah ditemukan.
Sore itu, ia pergi ke bawah pohon beringin dekat SD Wanasari.
Tempat itu selalu membuatnya merasa lebih tenang.
Di sana, dulu mereka membentuk kelompok Langit Biru. Di sana pula mereka pernah berjanji bahwa mimpi anak desa tidak boleh dibatasi keadaan.
Namun, sekarang, Liris merasa janji itu sedang diuji.
Ia duduk di bawah pohon sambil membuka buku hijau.
Angin sore membuat beberapa halaman bergerak pelan.
Ia membaca kembali puisi-puisi yang pernah ditulisnya.
Ada puisi tentang ibunya.
Ada puisi tentang jalan tanah.
Ada puisi tentang Gerobak Buku Langit Biru.
Ada juga puisi yang pernah dicuri Nayla.
Ketika sampai pada halaman puisi itu, Liris menutup bukunya.
Ia masih marah.
Ia masih merasa malu karena puisinya dibacakan orang lain seolah bukan miliknya.
Tetapi surat dari Komunitas Rumah Kata membuatnya sadar bahwa satu orang yang mencuri tidak dapat menghapus seluruh perjalanan yang telah ia tempuh bersama kata-kata.
Ia mengambil pena.
Lalu menulis di halaman baru.
Kota mungkin jauh,
tetapi kata-kata tidak mengenal jalan yang terlalu panjang.
Jika kakiku belum mampu sampai,
biarlah puisiku lebih dahulu mengetuk pintunya.
Liris berhenti menulis.
Ia memandangi kalimat itu.
Kemudian ia tersenyum kecil, meski matanya masih basah.
Menjelang magrib, Banyu datang ke dekat pohon beringin.
Ia membawa tas kain berisi beberapa potongan kabel dan benda-benda kecil dari bengkel Pak Hendra.
Ketika melihat Liris, ia berhenti.
“Liris.”
Liris menoleh.
“Banyu.”
Banyu duduk beberapa langkah darinya.
Mereka tidak lagi berbicara seperti dulu.
Masih ada jarak yang tumbuh di antara mereka sejak persahabatan Langit Biru mulai retak.
Namun, Banyu melihat surat di tangan Liris.
“Apa itu?”
“Undangan pelatihan menulis.”
“Dari mana?”
“Dari kota kabupaten.”
Banyu tampak terkejut.
“Serius?”
Liris mengangguk.
“Puisiku yang dulu pernah kukirim dibaca oleh komunitas literasi.”
Banyu tersenyum.
“Itu bagus sekali.”
“Seharusnya begitu.”
“Kenapa wajahmu seperti orang kalah?”
Liris memandangi surat itu.
“Aku tidak punya ongkos. Ayah juga tidak setuju.”
Banyu terdiam.
Ia memahami masalah uang lebih baik daripada banyak orang.
Sejak sepedanya hilang, ia sendiri harus berjalan lebih jauh dan membantu Pak Hendra lebih sering agar bisa menabung sedikit demi sedikit.
“Aku bisa bantu cari cara,” kata Banyu.
Liris menatapnya.
“Cara apa?”
“Aku belum tahu. Tapi mungkin kita bisa bicara dengan Bu Laras. Atau cari tumpangan. Atau… entahlah.”
Liris tersenyum tipis.
“Kau masih suka memperbaiki sesuatu yang rusak, ya?”
Banyu mengangkat bahu.
“Kadang yang rusak tidak bisa diperbaiki. Tapi kalau belum dicoba, kita tidak akan tahu.”
Kalimat itu membuat Liris terdiam.
Ia teringat persahabatan mereka yang juga sedang retak.
Mungkin, seperti mesin atau roda sepeda, persahabatan membutuhkan waktu, keberanian, dan tangan yang mau bekerja untuk memperbaikinya.
Namun, malam itu, yang paling dekat di hadapan Liris adalah surat dari kota.
Tiga hari pelatihan.
Gedung perpustakaan kabupaten.
Kelas puisi.
Penulis daerah.
Semua itu seperti dunia yang selama ini hanya ia lihat dari halaman buku.
Ia pulang membawa surat undangan itu dengan hati yang bercampur.
Ada bahagia.
Ada takut.
Ada kecewa.
Ada harapan.
Di kamar, sebelum tidur, Liris menyimpan surat itu di dalam buku hijau.
Ia meletakkannya di antara halaman-halaman puisi yang paling ia sayangi.
Kemudian ia mematikan lampu.
Namun, dalam gelap, pikirannya tetap menyala.
Ia membayangkan dirinya duduk di sebuah ruangan penuh buku.
Ia membayangkan orang-orang membaca puisinya.
Ia membayangkan namanya disebut bukan sebagai anak desa yang hanya pandai bermimpi, tetapi sebagai seseorang yang berani menulis tentang dunia yang ia kenal.
Di luar rumah, suara jangkrik terdengar dari kebun.
Di dalam kamar kecil itu, Liris memeluk buku hijaunya.
Ia belum tahu apakah ia akan mampu pergi ke kota.
Ia belum tahu apakah ayahnya akan berubah pikiran.
Ia belum tahu dari mana ongkos perjalanan akan datang.
Tetapi untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa mimpinya sedang mengetuk pintu yang nyata.
Dan ia tidak ingin membiarkan pintu itu tertutup tanpa pernah mencoba membukanya.
BAB 17 — MESIN YANG MELEDAK
Sejak banjir menghantam Desa Wanasari, Banyu semakin sering menghabiskan waktu di ruang keterampilan sekolah.
Ruang itu berada di belakang bangunan utama SMP. Dindingnya terbuat dari papan yang sudah mulai kusam, sedangkan atap sengnya berbunyi keras setiap kali hujan turun. Di dalamnya terdapat beberapa meja kayu, lemari alat yang pintunya sulit ditutup, rak berisi botol bekas, kabel, paku, potongan besi, serta barang-barang sisa yang selama ini dianggap tidak berguna.
Bagi banyak siswa, ruangan itu hanya tempat menyimpan barang rusak.
Namun, bagi Banyu, ruangan itu seperti dunia kecil yang penuh kemungkinan.
Di tempat itulah ia pernah membuat lampu sederhana dari baterai bekas.
Di tempat itulah ia belajar memperbaiki radio tua milik Pak Hendra.
Dan di tempat itu pula ia mulai merancang sebuah mesin yang menurutnya dapat membantu keluarga Jagra.
Sejak melihat kolam ikan Jagra rusak akibat banjir, Banyu tidak bisa berhenti memikirkannya.
Kolam itu bukan hanya tempat memelihara ikan.
Kolam itu adalah sumber penghasilan keluarga Jagra.
Kolam itu adalah alasan ayah Jagra bangun sebelum matahari terbit.
Kolam itu adalah tempat Jagra belajar mengenal air, jaring, perahu, dan kerja keras.
Namun, setelah banjir datang, saluran airnya rusak. Lumpur menutup beberapa bagian kolam. Air yang tersisa menjadi keruh dan tidak mengalir dengan baik. Ikan-ikan yang masih bertahan sulit dipelihara karena airnya tidak cukup bersih.
Banyu berpikir, jika ia bisa membuat alat sederhana untuk mengalirkan air dari sungai kecil menuju kolam, mungkin keluarga Jagra bisa mulai memperbaiki usaha mereka.
Ia tidak punya mesin mahal.
Ia tidak punya alat lengkap.
Tetapi ia punya barang-barang bekas.
Dan ia punya keyakinan bahwa sesuatu yang sederhana tetap bisa berguna jika dibuat dengan sungguh-sungguh.
Hari itu, setelah jam pelajaran selesai, Banyu langsung menuju ruang keterampilan.
Pak Hendra, penjaga sekaligus guru keterampilan sekolah, sedang memperbaiki kursi patah di dekat pintu.
“Kau datang lagi, Banyu?” tanyanya.
Banyu mengangguk.
“Aku mau mencoba membuat pompa air sederhana, Pak.”
Pak Hendra menghentikan pekerjaannya.
“Pompa air?”
“Untuk membantu kolam ikan keluarga Jagra.”
Pak Hendra memandang beberapa bahan yang dibawa Banyu.
Ada motor kecil bekas kipas angin.
Ada selang plastik.
Ada botol air mineral besar.
Ada kabel yang bagian luarnya sudah terkelupas.
Ada juga baling-baling kecil dari mainan rusak.
“Kau mau memakai motor kipas angin itu?”
“Iya, Pak. Kalau bisa berputar, mungkin bisa menarik air.”
Pak Hendra mengangguk pelan.
“Secara sederhana, bisa saja. Tapi kau harus hati-hati. Motor itu bukan untuk dipakai sembarangan. Kabelnya juga sudah tua.”
“Aku akan hati-hati.”
Pak Hendra menatap Banyu cukup lama.
“Kau tidak boleh bekerja sendirian.”
“Iya, Pak.”
Namun, setelah Pak Hendra dipanggil ke ruang guru untuk membantu memindahkan meja, Banyu tetap melanjutkan pekerjaannya.
Ia merasa waktunya tidak banyak.
Jagra semakin sering tidak masuk sekolah.
Ia mendengar kabar bahwa Jagra mulai ikut ayahnya mencari ikan pada malam hari.
Ia juga mendengar bahwa Jagra benar-benar ingin berhenti sekolah.
Banyu merasa harus melakukan sesuatu.
Ia ingin membuktikan bahwa ia masih bisa berguna.
Ia ingin membuktikan bahwa sahabat tidak hanya hadir dengan kata-kata.
Ia ingin membantu Jagra dengan hasil karyanya sendiri.
Di atas meja kayu, Banyu menyusun bahan-bahan itu satu per satu.
Ia memotong botol plastik untuk dijadikan wadah.
Ia memasang baling-baling kecil pada poros motor kipas angin.
Ia menyambungkan kabel ke sumber listrik sederhana yang tersedia di ruang keterampilan.
Tangannya bergerak cepat.
Terlalu cepat.
Beberapa kali ia berhenti untuk melihat catatan kecil yang dibuatnya di buku tulis.
Di sana terdapat gambar sederhana tentang aliran air, arah putaran baling-baling, dan saluran menuju selang.
Namun, gambar itu tidak cukup jelas.
Ia belum pernah membuat pompa air sebelumnya.
Ia hanya pernah melihat alat serupa di bengkel kecamatan ketika ikut Pak Hendra membeli paku.
Tetapi Banyu percaya bahwa jika ia terus mencoba, ia akan menemukan cara.
“Kau bisa,” gumamnya kepada diri sendiri.
Di luar ruangan, langit mulai mendung.
Angin masuk melalui celah dinding papan.
Banyu menyambungkan salah satu kabel.
Motor kecil itu bergerak pelan.
Baling-baling berputar.
Wajah Banyu langsung berbinar.
“Berhasil,” katanya pelan.
Ia mengambil ember berisi air.
Kemudian ia mencoba memasukkan ujung selang ke dalam ember.
Air bergerak sedikit.
Tidak banyak.
Namun, cukup membuat Banyu semakin bersemangat.
Ia mengubah posisi kabel.
Ia mengencangkan sambungan.
Ia mencoba menambah daya dengan menghubungkan kabel lain yang ditemukan di lemari alat.
Kabel itu lebih panjang, tetapi bagian pelindungnya sudah robek di beberapa tempat.
Banyu tahu itu berbahaya.
Pak Hendra sudah pernah memperingatkan bahwa kabel tua bisa menimbulkan korsleting.
Namun, Banyu merasa jika ia tidak menambah daya, mesin itu tidak akan cukup kuat mengalirkan air menuju kolam.
“Aku hanya perlu mencoba sekali lagi,” katanya.
Ia mengambil kain kering dan membungkus bagian kabel yang terbuka.
Lalu ia menyambungkan ujung kabel ke sumber listrik.
Pada awalnya, tidak terjadi apa-apa.
Motor kecil itu kembali berputar.
Baling-baling bergerak lebih cepat.
Air di dalam ember mulai tersedot ke arah selang.
Banyu tersenyum.
Ia membayangkan Jagra melihat alat itu bekerja.
Ia membayangkan kolam ikan yang keruh perlahan kembali dialiri air.
Ia membayangkan Jagra tidak jadi berhenti sekolah.
Namun, beberapa detik kemudian, suara aneh terdengar dari motor kipas angin itu.
Dengung… dengung… dengung…
Banyu menunduk.
Asap tipis mulai keluar dari bagian kabel.
Wajahnya berubah.
Ia segera mencoba mencabut sambungan listrik.
Tetapi kabel yang dibungkus kain tadi tersangkut di bawah meja.
“Tidak… tidak…”
Ia menarik kabel itu.
Terlambat.
Terdengar bunyi letupan kecil.
PRAK!
Cahaya putih menyala sesaat.
Motor kecil itu meledak kecil dan mengeluarkan percikan.
Banyu refleks menutup wajah.
Namun, salah satu percikan mengenai tangan kirinya.
“Aah!”
Ia terjatuh ke belakang.
Ember air tumpah ke lantai.
Air bercampur dengan serpihan plastik, kabel, dan potongan kayu.
Tangan Banyu terasa panas.
Sangat panas.
Ia memegangi telapak tangannya yang mulai memerah.
Beberapa bagian kulitnya terkena percikan panas.
Tidak lama kemudian, Pak Hendra berlari masuk.
“Banyu!”
Pak Hendra segera mencabut kabel dari sumber listrik.
Ia melihat meja yang berantakan, motor kipas angin yang rusak, dan tangan Banyu yang terluka.
“Astaga. Kau memakai kabel ini?”
Banyu hanya menunduk.
Pak Hendra mengambil kain bersih, lalu membungkus tangan Banyu dengan hati-hati.
“Kau harus ke UKS sekarang.”
“Maaf, Pak,” kata Banyu pelan.
“Bukan soal maaf dulu. Tanganmu harus diperiksa.”
Banyu dibawa ke ruang UKS.
Bu Rina, guru yang bertugas, membersihkan luka di tangannya. Ketika air antiseptik menyentuh kulit yang terbakar, Banyu menggigit bibir agar tidak berteriak.
Namun, rasa sakit di tangannya tidak seberapa dibandingkan rasa sakit di dalam dadanya.
Mesin itu gagal.
Ia gagal.
Ia ingin membantu Jagra, tetapi justru membuat masalah.
Setelah luka di tangannya dibalut, Pak Hendra datang ke UKS.
Wajahnya tampak serius.
“Banyu,” katanya.
Banyu menunduk.
“Saya minta maaf, Pak.”
Pak Hendra duduk di kursi dekat tempat tidur UKS.
“Aku tahu niatmu baik.”
Banyu tidak menjawab.
“Kau ingin membantu sahabatmu. Kau ingin membuat sesuatu yang berguna. Itu bukan hal yang salah.”
“Lalu kenapa semuanya gagal?”
“Karena niat baik harus berjalan bersama kehati-hatian.”
Banyu memandangi perban di tangannya.
“Aku hanya ingin alat itu jadi.”
“Kau terlalu memaksakan diri.”
Banyu menelan ludah.
Pak Hendra menarik napas.
“Untuk sementara, kamu tidak boleh menggunakan ruang keterampilan.”
Banyu langsung mengangkat wajah.
“Pak…”
“Kamu perlu belajar bahwa membuat sesuatu bukan hanya soal berani mencoba. Ada aturan keselamatan. Ada proses. Ada pengetahuan yang harus dipahami.”
“Tapi aku bisa memperbaikinya.”
“Bukan sekarang.”
“Tapi kolam Jagra—”
“Kolam Jagra tidak akan pulih jika kamu melukai dirimu sendiri.”
Kalimat itu membuat Banyu terdiam.
Pak Hendra melanjutkan dengan suara lebih lembut.
“Aku tidak melarangmu menjadi penemu. Aku hanya ingin kamu belajar menjadi penemu yang bertanggung jawab.”
Namun, bagi Banyu, keputusan itu terasa seperti hukuman yang sangat berat.
Ruang keterampilan adalah tempat ia merasa paling mengerti dirinya sendiri.
Di ruang kelas, ia sering kesulitan menjelaskan apa yang ada di pikirannya.
Ia tidak pandai bicara seperti Liris.
Ia tidak setegas Rantaka.
Ia tidak seberani Jagra menghadapi orang lain.
Tetapi ketika memegang kabel, kayu, atau benda bekas, Banyu merasa ia memiliki cara untuk berbicara.
Kini, tempat itu ditutup untuknya.
Sepulang sekolah, Banyu berjalan sendiri menuju rumah.
Tangan kirinya dibalut kain putih.
Tasnya terasa berat di pundak.
Di jalan, ia melihat beberapa anak kecil bermain di pinggir sungai.
Mereka membuat perahu-perahuan dari daun pisang.
Perahu kecil itu mengalir mengikuti arus, lalu tersangkut di batu atau ranting.
Banyu berhenti sejenak.
Ia melihat salah satu anak mengambil perahunya yang tersangkut, lalu memperbaikinya dan kembali melepaskannya ke air.
Pemandangan sederhana itu membuat Banyu semakin sedih.
Bahkan perahu daun pun diberi kesempatan kedua.
Sedangkan dirinya baru sekali gagal, lalu sudah dilarang masuk ruang keterampilan.
Ketika sampai di rumah, ia tidak langsung masuk.
Ia duduk di dekat teras.
Ibunya yang sedang menjemur pakaian melihat perban di tangannya.
“Tanganmu kenapa?”
“Terkena percikan mesin.”
“Kau membuat apa lagi?”
“Pompa air.”
Ibunya menghentikan pekerjaannya.
“Untuk apa?”
“Untuk kolam ikan Jagra.”
Ibunya menatap anaknya dengan cemas.
“Banyu, kamu harus hati-hati.”
“Aku sudah hati-hati.”
“Kau terluka.”
Banyu tidak menjawab.
Ibunya duduk di sampingnya.
“Kau kecewa?”
Banyu mengangguk.
“Aku ingin membantu Jagra. Tapi aku malah membuat mesin itu rusak.”
“Tidak semua yang gagal berarti tidak berguna.”
“Pak Hendra melarangku memakai ruang keterampilan.”
Ibunya menghela napas.
“Mungkin itu bukan akhir.”
“Rasanya seperti akhir.”
Ibunya memegang bahunya.
“Kamu masih punya pikiranmu. Kamu masih punya tanganmu, meski sekarang sedang terluka. Kamu masih punya kesempatan belajar.”
Banyu memandangi perban di tangannya.
Namun, kata-kata itu belum cukup menghilangkan rasa kecewanya.
Malamnya, ia membuka buku catatan berisi gambar-gambar mesin.
Di salah satu halaman terdapat rancangan pompa air yang tadi ia coba buat.
Ada beberapa garis yang salah.
Ada ukuran yang tidak tepat.
Ada sambungan kabel yang tidak ia pikirkan dengan matang.
Ia mengambil pensil.
Lalu ia mencoret beberapa bagian.
Ia menggambar ulang.
Namun, setelah beberapa menit, ia berhenti.
Air mata jatuh ke halaman buku.
Banyu segera mengusapnya.
Ia tidak ingin menangis.
Tetapi ia merasa sendirian.
Rantaka sedang sibuk dengan masalah Jagra.
Liris sedang menghadapi surat dari kota dan penolakan ayahnya.
Jagra sendiri semakin jauh dari mereka.
Dan sekarang, Banyu merasa sahabat-sahabatnya mungkin akan menganggapnya hanya anak yang suka bermain-main dengan barang bekas.
Ia menutup buku catatan.
Di luar rumah, hujan kembali turun.
Suara air jatuh di atap terdengar seperti ribuan langkah kecil yang berlari tanpa tujuan.
Banyu berbaring di tempat tidur sambil memegang tangan kirinya.
Ia teringat wajah Jagra.
Ia teringat kolam ikan yang keruh.
Ia teringat bagaimana mereka dulu berjanji untuk saling membantu.
Namun, kini ia tidak tahu apakah Jagra masih menganggapnya sahabat.
Keesokan harinya, ketika Banyu datang ke sekolah, ia melewati ruang keterampilan.
Pintu ruangan itu tertutup.
Gembok kecil tergantung di sana.
Banyu berhenti beberapa saat di depan pintu.
Ia melihat celah kecil di antara papan dinding.
Dari sana, ia masih bisa melihat meja kayu tempat mesin pompa airnya meledak.
Beberapa serpihan plastik masih berserakan.
Pak Hendra belum sempat membereskannya.
Banyu menatap ruangan itu dengan dada sesak.
Ia ingin masuk.
Ia ingin memperbaiki kesalahannya.
Ia ingin membuktikan bahwa dirinya tidak gagal.
Namun, ia hanya berdiri di luar.
Lalu bel sekolah berbunyi.
Banyu berjalan menuju kelas dengan langkah pelan.
Di dalam tasnya, buku catatan rancangan mesin masih tersimpan.
Meski tangannya terluka dan ruang keterampilan tertutup baginya, satu hal belum benar-benar padam.
Keinginannya untuk membantu.
Keinginannya untuk membuat sesuatu yang berguna.
Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika ia sudah lebih sabar, lebih teliti, dan lebih mengerti cara bekerja dengan aman, ia akan kembali membuka buku catatan itu.
Ia akan kembali menggambar.
Ia akan kembali mencoba.
Tetapi untuk saat ini, Banyu hanya bisa memandangi pintu ruang keterampilan yang terkunci.
Sebuah pintu yang terasa seperti menutup bukan hanya ruangan, melainkan juga keyakinannya pada diri sendiri.
BAB 18 — PERPISAHAN DI JEMBATAN SUNGAI
Malam turun lebih cepat di Desa Wanasari sejak musim hujan datang.
Langit yang biasanya masih menyisakan warna jingga kini segera berubah kelabu. Kabut tipis mulai turun dari arah sungai. Jalan tanah menjadi licin, sementara genangan air memantulkan cahaya lampu rumah yang redup.
Di rumah Jagra, suasana malam itu terasa lebih sunyi daripada biasanya.
Ayah Jagra duduk di teras sambil memperbaiki jaring ikan. Kakinya masih belum pulih sepenuhnya sejak terluka saat banjir. Ia berjalan lebih pelan, tetapi tetap memaksakan diri bekerja karena keluarga mereka tidak memiliki banyak pilihan.
Di dekatnya, Jagra menyiapkan ember, lampu senter, dan jaring kecil.
“Kita benar-benar jadi ke sungai malam ini?” tanya ibunya dari dapur.
Ayah Jagra mengangguk.
“Kalau hanya menunggu kolam pulih, kita tidak akan dapat apa-apa.”
Ibunya keluar membawa kain lap.
“Air sungai masih tinggi.”
“Kita tidak ke tengah. Hanya di pinggir.”
Jagra memasukkan beberapa tali ke dalam ember.
“Aku ikut, Bu.”
Ibunya memandang anaknya.
“Kamu besok sekolah.”
Jagra berhenti sejenak.
Kemudian ia menjawab dengan suara datar.
“Mungkin tidak lama lagi aku tidak sekolah.”
Ucapan itu membuat tangan ibunya berhenti bergerak.
Ayah Jagra menatapnya.
“Apa maksudmu?”
Jagra tidak langsung menjawab.
Ia menunduk, lalu mengangkat ember.
“Aku sudah pikirkan. Aku tidak bisa terus sekolah sementara Ayah dan Ibu menanggung semuanya sendiri.”
“Kamu jangan bicara seperti itu,” kata ibunya.
“Aku sudah besar, Bu.”
“Kamu masih anak sekolah.”
“Justru itu masalahnya. Aku masih sekolah, tapi keluarga kita butuh orang yang bekerja.”
Ayah Jagra menghela napas panjang.
“Kita bicarakan nanti.”
“Tidak perlu dibicarakan lagi, Yah. Aku sudah memutuskan.”
Jagra berjalan keluar rumah.
Ayahnya segera mengambil jaring dan mengikuti dari belakang.
Mereka berjalan menuju sungai tanpa banyak bicara.
Di sepanjang jalan, suara katak terdengar dari sawah dan parit. Beberapa rumah sudah mematikan lampu. Hanya suara langkah mereka yang memecah malam.
Sementara itu, di rumah Pakde Wirya di kecamatan, Rantaka baru saja menerima kabar dari seorang anak Desa Wanasari yang kebetulan datang membeli minyak goreng.
“Jagra ke sungai malam-malam,” kata anak itu. “Katanya mau cari ikan sama bapaknya.”
Rantaka langsung menoleh.
“Sekarang?”
“Iya. Dia bawa ember dan jaring.”
Rantaka merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Sejak pertengkaran mereka, Jagra semakin sulit ditemui. Ia sering tidak masuk sekolah. Ketika datang pun, ia hanya duduk diam dan pulang lebih cepat.
Rantaka teringat kata-kata Jagra.
Kalau kau benar sahabatku, biarkan aku memilih jalanku sendiri.
Namun, kata-kata itu justru membuat Rantaka semakin takut.
Ia mengambil jaket tipis dan keluar rumah.
“Rantaka, mau ke mana?” tanya Pakde Wirya.
“Aku mau ke Wanasari.”
“Malam-malam begini?”
“Jagra ke sungai.”
Pakde Wirya memandangnya dengan wajah khawatir.
“Hati-hati. Jangan membuat masalah baru.”
Rantaka mengangguk.
Ia bergegas menuju jalan desa.
Di dekat tikungan menuju jembatan, ia bertemu Liris.
Gadis itu membawa payung kecil dan mengenakan jaket biru tua. Wajahnya tampak cemas.
“Kau juga dengar?” tanya Rantaka.
“Banyu yang memberi tahu.”
“Banyu di mana?”
“Dia menyusul dari arah sekolah.”
Tidak lama kemudian, Banyu datang dengan langkah cepat. Tangan kirinya masih dibalut perban. Ia membawa senter kecil yang cahayanya tidak terlalu terang.
“Aku dengar Jagra mau ke sungai,” katanya.
“Kita cari dia,” jawab Rantaka.
Mereka bertiga berjalan menuju jembatan sungai.
Jembatan itu terbuat dari kayu dan besi sederhana. Sebagian papan di tengahnya sudah mulai lapuk. Saat banjir datang beberapa hari lalu, air sungai sempat hampir menyentuh bagian bawah jembatan.
Malam itu, air masih mengalir deras.
Cahaya bulan tertutup awan.
Hanya lampu senter Banyu dan lampu minyak dari beberapa rumah di kejauhan yang memberi sedikit penerangan.
Ketika mereka sampai di dekat jembatan, mereka melihat dua bayangan berdiri di pinggir sungai.
Jagra dan ayahnya sedang memasang jaring.
Ayah Jagra berdiri di atas batu besar sambil memegang tali. Jagra menuruni tepi sungai dengan hati-hati. Air menyentuh betisnya.
“Jagra!” panggil Rantaka.
Jagra menoleh.
Wajahnya langsung berubah ketika melihat Rantaka, Liris, dan Banyu.
“Kalian ngapain ke sini?”
“Kami mau bicara,” kata Liris.
“Tidak ada yang perlu dibicarakan.”
“Jag, pulang dulu,” kata Banyu. “Air sungai masih deras.”
Jagra tertawa kecil tanpa humor.
“Kau sekarang peduli pada air sungai? Mesinmu saja tidak bisa kau kendalikan.”
Banyu terdiam.
Kalimat itu mengenai luka yang belum benar-benar sembuh.
Rantaka melangkah maju.
“Jangan bicara seperti itu.”
“Kenapa? Aku salah?”
“Kita datang bukan untuk bertengkar.”
“Kalian selalu bilang begitu. Tapi setiap datang, kalian membawa masalah.”
Jagra menarik jaring lebih kuat.
Ayahnya yang mendengar percakapan itu menoleh.
“Jagra, jangan kasar kepada temanmu.”
“Mereka bukan datang membantu Ayah.”
“Lalu mereka datang untuk apa?”
“Mereka datang supaya merasa lebih baik.”
Rantaka mengepalkan tangan.
“Tidak semua orang yang datang ingin merendahkanmu.”
“Termasuk kau?” tanya Jagra tajam. “Kau datang membawa uang tabunganmu. Kau pikir aku lupa?”
Rantaka terdiam.
Liris maju selangkah.
“Rantaka hanya ingin kamu tetap sekolah.”
“Dan kau?” Jagra menatap Liris. “Kau sibuk dengan surat dari kota. Kau mau jadi penulis, kan? Kau akan pergi ke kota, bertemu orang-orang pintar, lalu menulis puisi tentang desa miskin ini.”
Liris tampak terkejut.
“Aku tidak pernah menganggap desa ini memalukan.”
“Tapi kau ingin pergi.”
“Aku ingin belajar.”
“Semua orang ingin belajar. Tapi tidak semua orang punya waktu untuk duduk membaca puisi.”
Kata-kata itu membuat Liris memucat.
Ia ingin menjawab, tetapi suaranya tertahan.
Banyu mencoba bicara.
“Jag, kami tahu keadaan keluargamu sulit.”
“Kalian tidak tahu apa-apa!”
Jagra melempar ember kecil ke tanah.
Air di dalamnya tumpah.
“Ayahku terluka. Kolam kami hancur. Ibu mulai berutang ke warung. Aku harus mencari ikan malam-malam supaya besok kami bisa makan. Lalu kalian datang membawa nasihat.”
“Kami tidak hanya membawa nasihat,” kata Rantaka.
“Lalu apa? Uang? Puisi? Mesin yang meledak?”
Banyu menunduk.
Tangannya yang dibalut perban terasa semakin berat.
Jagra melangkah menuju jembatan.
“Kalian pikir sekolah akan menyelesaikan semuanya?”
“Sekolah tidak menyelesaikan semuanya,” jawab Rantaka. “Tapi sekolah bisa memberi kita jalan.”
“Jalan untuk siapa? Untuk orang seperti kau yang tinggal di kecamatan? Untuk Liris yang punya surat undangan ke kota? Untuk Banyu yang bisa bermain mesin?”
Rantaka menatap Jagra.
“Kau juga punya jalan.”
“Tidak.”
Jagra menggeleng keras.
“Jalanku ada di sungai. Jalanku ada di jaring ini. Jalanku ada di rumahku yang hampir tidak punya apa-apa.”
“Kalau kau berhenti sekolah, kau akan menyesal,” kata Rantaka.
Jagra tersenyum pahit.
“Menyesal karena apa? Karena tidak bisa duduk di kelas dan mendengar orang memanggilku anak kampung?”
“Kau bukan hanya anak kampung.”
“Tapi itulah yang mereka lihat.”
“Kami tidak melihatmu seperti itu.”
“Karena kalian sahabatku. Tapi dunia tidak selalu seperti kalian.”
Suasana di atas jembatan menjadi semakin tegang.
Angin sungai bertiup lebih kencang.
Beberapa papan kayu di bawah kaki mereka berderit.
Ayah Jagra memandang anak-anak itu dengan wajah lelah.
“Jagra,” katanya pelan, “teman-temanmu datang karena peduli.”
Jagra menoleh kepada ayahnya.
“Peduli tidak membuat kita punya uang, Yah.”
Ayahnya terdiam.
Kalimat itu seperti menambah luka pada wajahnya.
Rantaka melihat ayah Jagra menunduk.
Ia merasa marah, tetapi bukan hanya kepada Jagra.
Ia marah kepada keadaan yang membuat seorang anak harus memilih antara sekolah dan membantu keluarganya.
Ia marah kepada banjir yang menghancurkan kolam.
Ia marah kepada dunia yang sering membuat mimpi terasa seperti barang mewah.
Namun, kemarahan itu justru membuat suaranya meninggi.
“Kalau semua orang menyerah seperti kamu, tidak ada yang akan berubah!”
Jagra menatapnya tajam.
“Aku menyerah?”
“Aku tidak bilang begitu.”
“Tapi itu maksudmu.”
“Aku hanya bilang kamu tidak boleh berhenti.”
“Kau tidak punya hak menentukan hidupku!”
Rantaka terdiam.
Namun, Jagra belum selesai.
“Kau tinggal di rumah Pakde di kecamatan. Kau punya tempat untuk belajar. Kau punya orang yang membantu. Kau punya ibu yang menjual barangnya supaya kamu tetap sekolah. Kau masih punya pilihan.”
Kata-kata itu membuat Rantaka membeku.
Jagra tahu tentang gelang ibunya.
Entah dari siapa ia mendengar, tetapi Jagra mengucapkannya dengan suara yang penuh luka.
“Aku tidak punya pilihan seperti itu,” lanjut Jagra. “Aku tidak mau melihat ibuku menjual apa pun lagi. Aku tidak mau melihat ayahku berjalan pincang demi aku. Aku lebih baik bekerja.”
Liris akhirnya bicara.
“Bekerja bukan salah, Jag. Tapi kamu tidak harus berhenti sekolah untuk membantu keluarga.”
“Lalu aku harus bagaimana? Membelah diri menjadi dua?”
“Kita bisa cari jalan bersama.”
“Bersama?”
Jagra tertawa pahit.
“Kalian bahkan tidak bisa menjaga Gerobak Buku Langit Biru tetap berjalan.”
Kalimat itu membuat mereka semua terdiam.
Gerobak Buku Langit Biru.
Nama itu dulu membuat mereka bangga.
Mereka pernah mendorong gerobak itu dari rumah ke rumah, membawa buku-buku lama untuk anak-anak desa. Mereka pernah membaca dongeng di bawah pohon. Mereka pernah percaya bahwa mereka bisa membuat perubahan kecil.
Namun, kini gerobak itu terbengkalai.
Buku-bukunya berdebu.
Dan mereka sendiri hampir tidak lagi saling berbicara.
“Kalian bicara tentang persahabatan,” kata Jagra, “tapi saat semuanya sulit, kalian sibuk dengan masalah masing-masing.”
Rantaka ingin membantah.
Namun, ia tidak bisa.
Liris memegang buku hijaunya lebih erat.
Banyu memandangi perban di tangannya.
Mereka semua tahu ada benarnya kata-kata Jagra.
Jagra berjalan ke tengah jembatan.
Air sungai mengalir deras di bawahnya.
Rantaka mengikuti beberapa langkah.
“Jag, jangan pergi seperti ini.”
Jagra berhenti.
Ia menoleh.
Wajahnya tampak basah, entah karena gerimis yang mulai turun atau karena air mata yang berusaha ia sembunyikan.
“Aku tidak pergi dari desa ini,” katanya. “Aku hanya pergi dari mimpi kalian.”
“Langit Biru bukan hanya mimpi kami,” kata Liris dengan suara pelan. “Itu mimpi kita.”
“Dulu.”
Satu kata itu jatuh lebih berat daripada suara hujan.
“Sekarang aku tidak mau lagi menjadi bagian dari Langit Biru,” lanjut Jagra. “Aku tidak mau lagi mendengar tentang sekolah, gerobak buku, atau janji-janji yang tidak bisa memberi makan keluargaku.”
Banyu mengangkat wajah.
“Jag…”
“Jangan panggil aku seperti itu.”
Banyu terdiam.
Jagra memandang ketiga sahabatnya satu per satu.
Rantaka, yang selalu berusaha kuat meski hatinya penuh beban.
Liris, yang memeluk buku hijau seperti memeluk masa depannya.
Banyu, yang berdiri dengan tangan terluka dan wajah penuh penyesalan.
Kemudian Jagra berkata dengan suara yang lebih pelan.
“Kalau kalian benar-benar sahabatku, jangan datang lagi untuk mengubah keputusanku.”
Setelah itu, ia berjalan meninggalkan jembatan.
Ayahnya sempat memanggil namanya.
“Jagra!”
Namun, Jagra tidak berhenti.
Ia berjalan menuju jalan kecil di pinggir sungai, lalu menghilang di balik gelap malam.
Ayah Jagra berdiri cukup lama.
Wajahnya tampak sedih.
Ia lalu menoleh kepada Rantaka, Liris, dan Banyu.
“Maafkan dia,” katanya pelan. “Anak itu sedang terlalu lelah.”
Tidak ada yang menjawab.
Ayah Jagra mengambil jaringnya.
Kemudian ia berjalan perlahan menyusul anaknya.
Tinggallah Rantaka, Liris, dan Banyu di atas jembatan.
Hujan mulai turun lebih deras.
Lampu senter Banyu berkedip-kedip.
Liris memeluk buku hijaunya.
Rantaka menatap jalan yang tadi dilalui Jagra.
“Aku salah,” katanya akhirnya.
Liris menoleh.
“Kita semua salah.”
Banyu tidak berkata apa-apa.
Ia hanya memandang tangan kirinya yang masih dibalut perban.
Di bawah jembatan, sungai terus mengalir.
Airnya membawa ranting-ranting kecil, daun kering, dan sisa-sisa banjir dari hulu.
Rantaka teringat bagaimana mereka dulu berdiri di bawah pohon beringin dan memberi nama kelompok mereka Langit Biru.
Saat itu, mereka percaya bahwa langit selalu luas.
Bahwa mimpi selalu punya tempat.
Bahwa persahabatan dapat membuat segala kesulitan terasa lebih ringan.
Namun, malam itu, di atas jembatan sungai, langit tidak terlihat biru.
Langit tertutup awan.
Dan persahabatan mereka seolah hanyut bersama arus yang deras.
Rantaka, Liris, dan Banyu pulang tanpa banyak bicara.
Masing-masing membawa luka yang tidak tampak.
Masing-masing menyimpan kata-kata Jagra di dalam hati.
Mereka tahu, malam itu bukan hanya tentang Jagra yang pergi dari jembatan.
Malam itu adalah saat ketika Langit Biru benar-benar pecah.
Dan tidak ada seorang pun yang tahu apakah mereka masih akan menemukan jalan untuk menyatukannya kembali.
BAB 19 — SURAT DARI BU LARAS
Tiga hari telah berlalu sejak malam di jembatan sungai.
Tiga hari yang terasa lebih panjang daripada biasanya.
Di sekolah, Rantaka duduk di bangku belakang dengan pandangan kosong. Buku pelajaran terbuka di depannya, tetapi tidak ada satu pun kalimat yang benar-benar masuk ke kepalanya. Ketika guru menjelaskan rumus matematika, ia hanya melihat angka-angka seperti garis-garis yang tidak memiliki arti.
Setiap kali mendengar suara kursi digeser, ia teringat langkah Jagra yang menjauh dari jembatan.
Setiap kali hujan turun, ia teringat wajah sahabatnya yang basah oleh gerimis dan kemarahan.
Jangan datang lagi untuk mengubah keputusanku.
Kalimat itu masih terdengar jelas di dalam pikirannya.
Pada jam istirahat, beberapa siswa berlari menuju kantin. Ada yang bercanda, ada yang bermain bola di halaman, ada pula yang mengeluh tentang tugas sekolah. Namun, Rantaka tetap duduk di kelas.
Ia tidak ingin berbicara dengan siapa pun.
Bahkan ketika Liris lewat di depan pintu kelas, Rantaka hanya menunduk.
Liris juga tidak berhenti.
Mereka sama-sama membawa kesedihan, tetapi belum tahu bagaimana cara membaginya.
Banyu pun tidak jauh berbeda.
Sejak dilarang memakai ruang keterampilan, ia lebih banyak diam. Tangan kirinya masih dibalut perban, meski lukanya mulai mengering. Ia sering memandangi ruang keterampilan dari kejauhan, lalu berjalan pergi sebelum siapa pun melihatnya.
Mereka bertiga berada di sekolah yang sama.
Mereka duduk di halaman yang sama.
Mereka masih mendengar bel yang sama.
Tetapi Langit Biru terasa seperti nama yang tinggal kenangan.
Pada siang hari, ketika pelajaran terakhir selesai, Pak Hendra masuk ke kelas Rantaka.
“Rantaka,” katanya dari pintu.
Rantaka mengangkat wajah.
“Ada apa, Pak?”
“Ada surat untukmu.”
Pak Hendra menyerahkan sebuah amplop putih.
Di bagian depan amplop itu tertulis nama Rantaka dengan tulisan tangan yang sangat dikenalnya.
Tulisan Bu Laras.
Rantaka menerima surat itu perlahan.
“Dari Bu Laras?” tanyanya.
Pak Hendra mengangguk.
“Surat yang sama juga dikirim untuk Liris dan Banyu.”
Rantaka memandangi amplop itu.
Jantungnya berdebar tanpa alasan yang jelas.
Ia segera memasukkan surat itu ke dalam tas. Namun, sepanjang perjalanan pulang, pikirannya hanya tertuju pada amplop putih tersebut.
Sesampainya di rumah Pakde Wirya, ia tidak langsung membantu di warung seperti biasa.
Ia masuk ke kamar.
Duduk di tepi tempat tidur.
Lalu membuka surat itu dengan hati-hati.
Di dalamnya terdapat dua lembar kertas.
Kertas pertama berisi tulisan Bu Laras.
Rantaka,
Bu Laras menulis surat ini bukan untuk menyalahkanmu.
Bu Laras tahu kamu, Liris, Banyu, dan Jagra sedang menghadapi banyak hal yang tidak mudah. Kalian tumbuh. Kalian mulai mengenal masalah yang lebih besar daripada tugas sekolah dan permainan masa kecil.
Tetapi Bu Laras ingin kalian mengingat satu hal: ketika dulu kalian membentuk Langit Biru, kalian tidak melakukannya karena hidup kalian sudah mudah. Kalian melakukannya karena kalian ingin saling menguatkan ketika keadaan sulit.
Gerobak Buku Langit Biru sekarang masih berada di gudang sekolah. Buku-bukunya mulai berdebu. Anak-anak kecil sering bertanya kepada Bu Laras, “Kapan Kak Rantaka, Kak Liris, Kak Banyu, dan Kak Jagra datang lagi?”
Mereka masih menunggu kalian.
Persahabatan bukan berarti tidak pernah marah, tidak pernah kecewa, dan tidak pernah saling melukai. Persahabatan adalah keberanian untuk mencari jalan pulang setelah semuanya terjadi.
Jangan biarkan luka membuat kalian lupa pada janji yang pernah kalian buat.
Salam sayang,
Bu Laras
Rantaka membaca surat itu sampai selesai.
Kemudian ia membacanya lagi.
Pada bagian tentang anak-anak kecil yang menunggu, dadanya terasa semakin sesak.
Ia teringat Danu, anak kecil yang selalu meminta dibacakan cerita tentang kapal laut.
Ia teringat Nisa, yang suka meminjam buku bergambar meski belum lancar membaca.
Ia teringat bagaimana anak-anak itu duduk di halaman rumah warga sambil menunggu gerobak buku datang.
Dulu, mereka selalu datang.
Rantaka mendorong gerobak.
Banyu memperbaiki roda.
Liris membacakan puisi dan dongeng.
Jagra mengajak anak-anak bermain sambil mengajarkan cara mengenal ikan sungai.
Mereka tertawa.
Mereka merasa berguna.
Namun, kini gerobak itu hanya tinggal benda tua di gudang.
Rantaka menaruh surat Bu Laras di atas meja.
Ia lalu membuka laci dan mengeluarkan amplop cokelat berisi uang tabungannya.
Amplop itu masih utuh.
Ia belum menggunakan uang tersebut.
Namun, sekarang ia mulai memahami bahwa membantu Jagra tidak cukup dengan datang membawa uang.
Ada hal lain yang harus diperbaiki terlebih dahulu.
Kepercayaan.
Harga diri.
Persahabatan.
Sementara itu, di rumah Liris, surat dari Bu Laras tiba pada sore yang sama.
Liris sedang duduk di teras sambil menulis di buku hijau ketika adiknya menyerahkan amplop putih itu.
“Kak, ada surat.”
Liris melihat tulisan Bu Laras.
Ia segera membuka amplop tersebut.
Setelah membaca isi surat itu, ia terdiam cukup lama.
Ibunya yang sedang mengupas singkong di dekat dapur memperhatikan wajahnya.
“Dari siapa?”
“Dari Bu Laras.”
“Beliau sehat?”
“Sehat.”
“Lalu kenapa kamu diam?”
Liris memeluk surat itu.
“Anak-anak kecil di desa masih menunggu Gerobak Buku Langit Biru.”
Ibunya berhenti mengupas singkong.
Liris menunduk.
“Aku terlalu sibuk memikirkan surat dari kota. Aku terlalu marah karena puisi itu dicuri. Aku terlalu kecewa pada Ayah karena tidak mengizinkanku pergi.”
Ibunya mendekat.
“Itu bukan berarti kamu tidak peduli pada yang lain.”
“Tapi aku menjauh.”
“Kamu sedang terluka.”
“Jagra juga terluka. Banyu juga. Rantaka juga.”
Ibunya tidak menjawab.
Liris membuka buku hijaunya.
Di salah satu halaman, ia menemukan puisi lama yang pernah ia tulis saat Gerobak Buku Langit Biru baru mulai berjalan.
Buku-buku kecil berjalan di atas roda,
menuju rumah yang jauh dari kota.
Jika anak-anak belajar mengeja cahaya,
mungkin malam tidak lagi terlalu gelap bagi mereka.
Liris menatap bait itu lama.
Ia tidak tahu apakah puisinya cukup baik.
Ia tidak tahu apakah ia akan benar-benar bisa pergi ke kota untuk mengikuti pelatihan.
Namun, ia tahu bahwa kata-kata seharusnya tidak hanya disimpan di dalam buku.
Kata-kata juga harus menjadi jalan untuk menguatkan orang lain.
Di rumah Banyu, surat dari Bu Laras diterima menjelang malam.
Saat itu, Banyu sedang duduk di dekat jendela sambil memandangi halaman. Tangan kirinya masih terasa nyeri jika terlalu banyak bergerak.
Ibunya masuk membawa surat itu.
“Ada surat dari Bu Laras.”
Banyu menerimanya.
Ia membaca isi surat itu perlahan.
Ketika sampai pada bagian tentang Gerobak Buku Langit Biru, ia menunduk.
Di dalam pikirannya, ia melihat gerobak tua itu.
Roda kirinya pernah rusak, lalu ia perbaiki dengan potongan besi dan baut bekas.
Pegangannya pernah patah, lalu ia ganti dengan kayu yang diambil dari sisa pagar.
Gerobak itu memang tidak sempurna.
Catnya mengelupas.
Rodanya kadang berbunyi.
Namun, gerobak itu adalah salah satu benda pertama yang membuat Banyu merasa bahwa keahliannya berguna bagi orang lain.
Ia ingat wajah anak-anak kecil yang bersorak ketika gerobak buku datang.
Ia ingat bagaimana Jagra membantu mendorongnya melewati jalan berlumpur.
Ia ingat Liris membacakan dongeng.
Ia ingat Rantaka menyusun buku dengan hati-hati.
Banyu menutup surat itu.
“Bu,” katanya pelan, “aku ingin ke sekolah lama besok.”
“Ke SD Wanasari?”
Banyu mengangguk.
“Aku ingin melihat gerobak buku.”
Ibunya tersenyum kecil.
“Pergilah.”
Keesokan paginya, tanpa saling berjanji, Rantaka, Liris, dan Banyu datang ke SD Wanasari.
Rantaka tiba lebih dahulu.
Ia berdiri di depan gerbang sekolah yang dulu menjadi tempat mereka belajar. Bangunannya kini tampak lebih sepi karena sebagian murid sedang berada di kelas.
Pohon beringin tua masih berdiri di halaman.
Daunnya bergerak perlahan tertiup angin.
Tidak lama kemudian, Liris datang dari arah jalan desa.
Ia membawa buku hijau di dadanya.
Mereka saling memandang.
Tidak ada sapaan hangat seperti dulu.
Tidak ada senyum panjang.
Namun, ada sesuatu yang berubah.
Mereka datang ke tempat yang sama.
Untuk alasan yang sama.
Banyu datang beberapa menit kemudian.
Ia membawa tas kain dan sebuah obeng kecil yang selalu disimpannya.
Ketika melihat Rantaka dan Liris, ia berhenti.
“Kalian juga dapat surat?” tanyanya.
Rantaka mengangguk.
Liris juga mengangguk.
Mereka bertiga berdiri di depan sekolah tanpa tahu harus memulai dari mana.
Akhirnya, Bu Laras keluar dari ruang guru.
Wajahnya tampak terkejut, lalu tersenyum.
“Kalian datang.”
Rantaka menunduk.
“Maaf, Bu.”
Bu Laras mendekat.
“Untuk apa?”
“Karena kami membiarkan Gerobak Buku berhenti.”
Bu Laras memandang mereka satu per satu.
“Kalian bukan orang dewasa yang harus selalu mampu menyelesaikan semuanya. Kalian anak-anak yang sedang belajar memahami hidup.”
“Tapi kami gagal menjaga persahabatan,” kata Liris.
Bu Laras tersenyum lembut.
“Persahabatan tidak hilang hanya karena sedang tersesat.”
Banyu memandang ke arah gudang sekolah.
“Gerobaknya masih ada?”
“Masih,” jawab Bu Laras. “Tapi roda belakangnya kempis. Beberapa buku juga harus dibersihkan.”
Banyu mengangguk pelan.
“Aku bisa memperbaiki rodanya.”
Bu Laras menatap perban di tangan Banyu.
“Kamu yakin?”
“Aku tidak akan memakai listrik,” jawab Banyu. “Cuma roda.”
Untuk pertama kalinya, Liris tersenyum tipis.
Mereka berjalan menuju gudang tua.
Pintu gudang berderit ketika Bu Laras membukanya.
Di dalamnya, udara terasa pengap dan berdebu.
Beberapa meja rusak menumpuk di sudut. Peta Indonesia yang sudah lama robek masih tergantung di dinding. Di bagian belakang ruangan, tertutup kain lusuh, berdirilah Gerobak Buku Langit Biru.
Rantaka mendekat.
Ia menarik kain penutupnya.
Debu beterbangan.
Gerobak itu tampak lebih tua daripada yang ia ingat.
Cat birunya hampir hilang.
Tulisan LANGIT BIRU di bagian samping sudah pudar.
Salah satu roda belakangnya memang kempis.
Di dalam gerobak, buku-buku tersusun tidak rapi. Sebagian sampulnya mulai kusam. Ada halaman yang terlipat, ada pula yang mulai menguning.
Liris menyentuh salah satu buku cerita.
“Anak-anak masih mau membaca ini?”
Bu Laras mengangguk.
“Mereka tidak peduli bukunya baru atau lama. Mereka hanya senang jika ada yang datang membawa cerita.”
Rantaka memandangi buku-buku itu.
Ia merasa malu.
Mereka dulu begitu yakin akan selalu menjaga gerobak itu.
Namun, ketika hidup mulai sulit, mereka justru membiarkannya berhenti.
Banyu berjongkok di dekat roda.
Ia memeriksa bagian besi dan bautnya.
“Rodanya masih bisa diperbaiki,” katanya.
“Benarkah?” tanya Liris.
Banyu mengangguk.
“Bisa. Tapi perlu ban bekas atau karet tambahan.”
Rantaka melihat pegangan gerobak yang mulai retak.
“Aku bisa cari kayu untuk memperkuat pegangan.”
Liris membuka buku hijaunya.
“Aku bisa buat jadwal baru. Kalau gerobak ini berjalan lagi, kita tidak harus selalu datang bersama-sama. Bisa bergantian.”
Bu Laras memandang mereka dengan mata yang hangat.
“Itu awal yang baik.”
Namun, setelah beberapa saat, suasana kembali hening.
Nama Jagra belum disebut.
Mereka semua tahu, Gerobak Buku Langit Biru tidak akan benar-benar lengkap tanpa dirinya.
Rantaka akhirnya berkata, “Kita harus bicara dengan Jagra.”
Liris menatapnya.
“Dia meminta kita tidak datang lagi.”
“Aku tahu.”
“Kalau kita datang, mungkin dia akan semakin marah.”
Banyu masih memegang roda gerobak.
“Kita tidak harus datang untuk memaksa dia kembali.”
“Lalu untuk apa?” tanya Liris.
Banyu mengangkat wajah.
“Untuk meminta maaf.”
Rantaka terdiam.
Ia teringat amplop cokelat yang dibawanya ke rumah Jagra.
Ia teringat wajah Jagra yang merasa direndahkan.
Mungkin selama ini mereka terlalu sibuk menyelamatkan Jagra, sampai lupa mendengarkan apa yang sebenarnya ia rasakan.
Bu Laras mendekat kepada mereka.
“Kalian tidak bisa memaksa seseorang kembali,” katanya. “Tetapi kalian bisa menunjukkan bahwa pintu persahabatan itu masih terbuka.”
Liris memandang tulisan Langit Biru yang pudar di sisi gerobak.
“Kalau Jagra tidak mau kembali?”
Bu Laras tersenyum.
“Setidaknya kalian sudah berani mencari jalan pulang.”
Mereka bertiga mulai bekerja di gudang.
Rantaka mengangkat beberapa buku untuk dijemur di halaman.
Liris membersihkan sampul-sampul buku dengan kain kering.
Banyu membuka roda yang kempis dan memeriksa bagian besinya.
Pekerjaan itu sederhana.
Tidak ada musik.
Tidak ada perayaan.
Tidak ada janji besar.
Hanya tiga sahabat yang pernah terpecah, kini mulai membersihkan sesuatu yang dulu mereka bangun bersama.
Ketika matahari mulai condong ke barat, beberapa anak kecil datang ke halaman sekolah.
Danu, Nisa, dan beberapa teman mereka berdiri di dekat pintu gudang.
“Kak Rantaka,” panggil Danu.
Rantaka menoleh.
“Kakak mau bawa gerobak buku lagi?”
Pertanyaan itu membuat Rantaka tidak langsung menjawab.
Liris memandang Banyu.
Banyu memandang roda gerobak yang sedang diperbaikinya.
Kemudian Rantaka tersenyum kecil.
“Iya. Kami sedang memperbaikinya.”
Anak-anak itu bersorak.
Suara mereka memenuhi halaman sekolah.
Dan di tengah suara kecil yang penuh harapan itu, Rantaka, Liris, dan Banyu menyadari sesuatu.
Mereka belum memperbaiki semuanya.
Jagra masih jauh.
Luka lama masih ada.
Masalah keluarga, sekolah, uang, dan mimpi belum selesai.
Namun, surat dari Bu Laras telah mengingatkan mereka bahwa persahabatan tidak selalu harus dimulai dari jawaban yang sempurna.
Kadang, persahabatan dimulai dari keberanian untuk datang kembali.
Dari keberanian untuk membersihkan debu.
Dari keberanian untuk memperbaiki roda yang rusak.
Dan dari keberanian untuk membuka pintu yang selama ini mereka biarkan tertutup.
BAB 20 — BUKU HIJAU DAN LUKA LAMA
Pagi itu, Rantaka berdiri cukup lama di depan rumah Liris.
Rumah itu tidak besar. Dindingnya terbuat dari papan yang dicat putih, meski sebagian catnya sudah mulai mengelupas. Di halaman depan tumbuh beberapa bunga kertas berwarna merah muda. Di samping rumah, terlihat jemuran pakaian yang bergerak pelan tertiup angin.
Rantaka membawa sebuah tas kain di tangannya.
Di dalam tas itu terdapat beberapa buku dari Gerobak Buku Langit Biru yang sudah dibersihkan kemarin. Ada buku cerita anak, buku pengetahuan sederhana, dan sebuah buku tulis baru yang dibelinya dari uang sisa membantu Pakde Wirya di warung.
Ia tidak tahu apakah Liris akan mau menemuinya.
Sejak pertengkaran mereka di sekolah, hubungan mereka tidak lagi sama.
Rantaka masih ingat bagaimana ia pernah berkata kasar kepada Liris saat nilai matematikanya turun. Saat itu Liris hanya ingin mengingatkannya agar tidak menyerah. Namun, Rantaka yang sedang lelah dan malu merasa dikasihani.
Ia mengatakan kata-kata yang seharusnya tidak pernah keluar.
Kau tidak tahu apa-apa tentang hidupku.
Kau hanya pandai menulis puisi dan merasa semua masalah bisa selesai dengan kata-kata.
Kata-kata itu mungkin sudah lama berlalu.
Tetapi luka yang ditinggalkannya belum tentu hilang.
Rantaka menarik napas.
Kemudian ia mengetuk pintu.
Tok. Tok. Tok.
Tidak lama kemudian, ibu Liris membuka pintu.
“Oh, Rantaka,” katanya.
“Pagi, Bu.”
“Cari Liris?”
Rantaka mengangguk.
“Dia di belakang rumah. Sedang menulis.”
Ibu Liris memandang tas kain di tangan Rantaka.
“Kamu masuk saja.”
Rantaka berjalan melewati ruang tengah, lalu menuju halaman belakang.
Di sana, Liris duduk di bawah pohon jambu.
Buku hijau berada di pangkuannya.
Tangannya memegang pena.
Namun, ia tidak sedang menulis.
Ia hanya memandangi halaman kosong dengan wajah yang tenang, tetapi jauh.
Ketika mendengar langkah kaki, Liris menoleh.
Wajahnya berubah sedikit saat melihat Rantaka.
“Kau datang,” katanya.
“Iya.”
“Ada apa?”
Rantaka berdiri beberapa langkah darinya.
Untuk sesaat, ia tidak tahu harus memulai dari mana.
Ia pernah berbicara di depan warga desa tentang sekolah.
Ia pernah mengajak anak-anak memperbaiki halaman SD Wanasari.
Ia pernah menyampaikan pidato di depan tim kecamatan.
Namun, meminta maaf kepada sahabat sendiri ternyata jauh lebih sulit daripada berbicara di depan banyak orang.
“Aku mau bicara,” katanya akhirnya.
Liris menutup buku hijaunya.
“Bicara saja.”
Rantaka meletakkan tas kain di atas kursi kayu dekat pohon.
“Aku datang bukan untuk membahas Jagra.”
Liris menatapnya.
“Lalu?”
“Aku datang untuk minta maaf.”
Angin pagi bergerak pelan.
Daun-daun jambu bergoyang di atas mereka.
Liris tidak langsung menjawab.
Rantaka menunduk.
“Aku tahu aku pernah bicara kasar kepadamu. Waktu nilai matematikaku turun, kau hanya ingin menolong. Tapi aku marah karena merasa gagal. Aku merasa semua orang melihatku sebagai anak yang tidak mampu.”
Liris masih diam.
“Aku bilang kau tidak tahu apa-apa tentang hidupku. Aku bilang puisimu tidak bisa menyelesaikan masalah. Padahal aku tahu kata-kata itu tidak benar.”
Rantaka mengangkat wajah.
“Kau selalu ada ketika kami butuh semangat. Kau yang membuat kami berani memberi nama Langit Biru. Kau yang mengingatkan kami bahwa desa ini juga punya mimpi.”
Liris memandang buku hijaunya.
“Waktu itu aku juga marah,” katanya pelan.
“Aku tahu.”
“Aku merasa kau menganggap apa yang aku lakukan tidak penting.”
“Aku salah.”
Liris menarik napas.
“Aku juga tidak sepenuhnya mengerti keadaanmu, Rantaka. Aku terlalu cepat memberi nasihat. Aku tidak bertanya apakah kau sedang baik-baik saja.”
Rantaka menggeleng.
“Kau tidak salah karena peduli.”
“Kadang peduli juga bisa terasa seperti menekan.”
Mereka terdiam.
Namun, keheningan kali itu tidak lagi terasa seperti dinding.
Keheningan itu seperti ruang kecil yang memberi kesempatan bagi mereka untuk memahami satu sama lain.
Rantaka membuka tas kain.
“Aku bawa beberapa buku dari gerobak.”
Liris melihat buku-buku itu.
“Gerobaknya sudah mulai diperbaiki?”
“Banyu sedang memperbaiki roda. Aku membantu membersihkan buku. Bu Laras bilang anak-anak kecil masih menunggu.”
Liris tersenyum tipis.
“Danu pasti masih mencari buku tentang kapal.”
“Dan Nisa pasti masih ingin buku bergambar.”
Mereka sama-sama tersenyum kecil.
Senyum itu belum sepenuhnya menghapus semua luka.
Tetapi setidaknya, senyum itu mengingatkan mereka pada masa ketika persahabatan masih terasa ringan.
Rantaka lalu mengeluarkan buku tulis baru dari dalam tas.
“Aku juga bawa ini untukmu.”
Liris menerima buku itu.
“Untuk apa?”
“Untuk menulis.”
Liris menatap sampul buku tulis itu.
“Aku masih punya buku hijau.”
“Aku tahu. Tapi mungkin kau butuh buku baru untuk hal-hal baru.”
Liris mengusap sampul buku tulis itu perlahan.
“Aku tidak tahu apakah aku masih mau menulis.”
Rantaka terkejut.
“Kenapa?”
Liris membuka buku hijaunya.
Di dalamnya terdapat beberapa lembar puisi, coretan, dan halaman-halaman yang penuh tulisan kecil.
“Aku menulis puisi itu lama sekali,” katanya. “Puisi yang dikirim ke majalah dinding sekolah. Aku menulisnya waktu Gerobak Buku Langit Biru masih berjalan.”
Rantaka mengangguk.
“Puisi tentang sungai?”
“Bukan. Yang tentang anak-anak desa dan cahaya di jendela.”
Rantaka mencoba mengingat.
“Yang ada kalimat tentang lampu minyak?”
Liris mengangguk.
“Ya. Puisi itu.”
Wajah Liris kembali murung.
“Nayla menyalin sebagian besar puisiku.”
Rantaka duduk di kursi kayu.
“Ceritakan semuanya.”
Liris menatapnya beberapa saat.
Lalu ia mulai bercerita.
Beberapa bulan lalu, ketika sekolah mengadakan pengumpulan karya untuk majalah dinding, Liris mengirim puisi berjudul “Cahaya di Jendela Kecil.”
Puisi itu bercerita tentang anak-anak desa yang belajar di bawah lampu minyak, tentang ibu yang menunggu anaknya pulang sekolah, dan tentang cahaya kecil yang tetap menyala meski malam terasa panjang.
Liris menyerahkan puisi itu kepada guru pembina majalah dinding.
Namun, beberapa minggu kemudian, Nayla mengirim sebuah puisi ke lomba sastra tingkat kecamatan.
Puisi Nayla memiliki judul berbeda.
Tetapi beberapa baitnya hampir sama.
Bahkan ada kalimat yang persis seperti tulisan Liris.
Nayla memenangkan juara kedua.
Namanya dipanggil di depan sekolah.
Semua orang bertepuk tangan.
Sementara Liris hanya berdiri di belakang, merasa seperti sebagian dari dirinya telah diambil.
“Aku ingin bicara,” kata Liris. “Tapi aku tidak punya bukti.”
“Bukumu ini bukti,” kata Rantaka.
Liris menggeleng.
“Buku ini bisa saja dianggap baru kutulis setelah melihat puisi Nayla.”
“Kalau ada tanggalnya?”
“Ada beberapa halaman yang bertanggal. Tapi tidak semua.”
Rantaka membuka buku hijau itu dengan hati-hati.
Tulisan Liris rapi dan kecil.
Di beberapa halaman, terdapat coretan awal, kata-kata yang dicoret, lalu diganti dengan kata lain.
Di bagian atas salah satu halaman, tertulis tanggal beberapa bulan sebelum lomba kecamatan diadakan.
Rantaka membaca beberapa baris.
Ia tidak membaca keras-keras.
Namun, ia melihat kalimat yang pernah didengarnya dalam puisi Nayla.
Kalimat itu memang milik Liris.
“Ini penting,” kata Rantaka.
Liris menatapnya ragu.
“Kalau Nayla menyangkal?”
“Kita cari bukti lain.”
“Bukti apa?”
Rantaka berpikir.
“Kau menyerahkan puisi itu ke siapa?”
“Bu Maya, guru pembina majalah dinding.”
“Apakah Bu Maya masih menyimpan karya-karya yang masuk?”
“Aku tidak tahu.”
“Kita tanya.”
Liris tampak bimbang.
“Aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut orang-orang bilang aku iri karena Nayla menang lomba.”
“Kau tidak iri. Kau hanya mempertahankan karyamu.”
“Tidak semua orang akan percaya.”
Rantaka mengangguk.
“Itu mungkin benar. Tapi kalau kau diam, Nayla akan terus memakai kata-katamu seolah itu miliknya.”
Liris memeluk buku hijau di dadanya.
“Aku tidak suka bertengkar.”
“Kita tidak datang untuk bertengkar.”
“Lalu untuk apa?”
“Untuk mengatakan yang sebenarnya.”
Kalimat itu membuat Liris terdiam.
Ia memandangi halaman buku hijaunya.
Di sana terdapat banyak puisi yang belum selesai.
Ada puisi tentang hujan.
Ada puisi tentang sungai.
Ada puisi tentang pohon beringin.
Ada juga puisi tentang persahabatan yang retak.
Mungkin selama ini ia takut bukan hanya karena Nayla.
Ia takut karena merasa kata-katanya tidak cukup kuat untuk melawan orang yang lebih populer, lebih percaya diri, dan lebih disukai banyak siswa.
Namun, ketika Rantaka duduk di depannya, ia merasa tidak sendirian.
“Baik,” kata Liris akhirnya.
Rantaka menatapnya.
“Kita cari bukti.”
Siang itu, mereka pergi ke sekolah.
Mereka menemui Bu Maya di ruang guru.
Bu Maya sedang menyusun beberapa lembar kertas ketika Rantaka dan Liris datang.
“Bu, kami ingin bertanya tentang puisi yang pernah dikumpulkan untuk majalah dinding,” kata Liris.
Bu Maya mengangkat wajah.
“Puisi yang mana?”
“Puisi saya. Judulnya ‘Cahaya di Jendela Kecil.’”
Bu Maya tampak berpikir.
“Oh, saya ingat. Puisi tentang lampu minyak dan anak-anak yang belajar malam hari.”
Liris menatap Rantaka.
Itu berarti Bu Maya benar-benar pernah membacanya.
“Apakah Ibu masih menyimpan naskahnya?” tanya Rantaka.
Bu Maya membuka lemari kecil di belakang meja.
Di dalamnya terdapat beberapa map berwarna cokelat.
“Saya biasanya menyimpan karya siswa, meski tidak semuanya dipajang.”
Ia mencari beberapa saat.
Lalu mengeluarkan satu map.
“Ini kumpulan karya yang masuk semester lalu.”
Liris menahan napas.
Bu Maya membuka map itu.
Beberapa lembar kertas tersusun di dalamnya.
Ada cerita pendek, puisi, gambar, dan artikel sederhana.
Kemudian Bu Maya menemukan satu lembar kertas yang dilipat rapi.
Di bagian atasnya tertulis:
Cahaya di Jendela Kecil
Karya: Liris Wanasari
Tangan Liris gemetar ketika menerima kertas itu.
Di bagian bawah, terdapat tanda tangan Bu Maya dan tanggal penerimaan karya.
Tanggal itu lebih awal daripada tanggal Nayla mengirim puisinya ke lomba kecamatan.
Rantaka tersenyum kecil.
“Kita punya bukti.”
Namun, Bu Maya belum sepenuhnya mengerti.
“Memangnya ada apa?”
Liris menunduk.
Rantaka lalu menjelaskan tentang puisi Nayla yang memiliki beberapa bait sama.
Bu Maya mendengarkan dengan wajah serius.
Setelah Rantaka selesai berbicara, Bu Maya mengambil sebuah majalah lomba kecamatan dari lemari.
Di dalamnya terdapat kumpulan puisi peserta.
Ia membuka halaman yang memuat puisi Nayla.
Liris dan Rantaka melihatnya bersama-sama.
Judulnya memang berbeda.
Namun, pada bait kedua dan bait keempat, terdapat kalimat yang hampir sama persis dengan puisi Liris.
Bu Maya membandingkan kedua naskah itu.
Wajahnya berubah.
“Ini sangat mirip,” katanya.
“Bukan hanya mirip, Bu,” kata Liris dengan suara bergetar. “Itu tulisan saya.”
Bu Maya mengangguk.
“Kalian benar datang kepada saya.”
Liris menatapnya.
“Apa yang akan terjadi?”
“Kita tidak boleh menuduh tanpa memberi kesempatan Nayla menjelaskan. Tetapi bukti ini cukup kuat untuk dibicarakan secara resmi.”
Liris tampak kembali cemas.
Rantaka memandangnya.
“Kau tidak sendirian.”
Bu Maya menyimpan kedua naskah itu di atas meja.
“Kita akan memanggil Nayla besok. Saya juga akan menghubungi guru pembina lomba.”
Setelah keluar dari ruang guru, Liris berjalan pelan di koridor sekolah.
Tangannya masih memegang buku hijau.
“Aku takut,” katanya.
Rantaka berjalan di sampingnya.
“Aku juga takut.”
Liris menoleh.
“Kau takut apa?”
“Takut kalau kita tidak bisa membantu Jagra. Takut kalau Langit Biru tidak bisa kembali seperti dulu. Takut kalau aku selalu terlambat memahami orang lain.”
Liris terdiam.
“Kita memang tidak bisa mengubah semuanya sekaligus,” katanya.
Rantaka mengangguk.
“Tapi hari ini, kita mencoba satu hal.”
Liris memandang buku hijau di tangannya.
“Aku tidak tahu apakah puisiku akan kembali membuatku bahagia.”
“Mungkin tidak langsung.”
“Lalu?”
“Mungkin kau hanya perlu menulis lagi.”
Liris tersenyum kecil.
Sore itu, sebelum pulang, mereka kembali ke gudang SD Wanasari.
Banyu sudah berada di sana.
Ia sedang mencoba memasang karet tambahan pada roda gerobak buku.
Ketika melihat Rantaka dan Liris datang, ia berhenti bekerja.
“Bagaimana?” tanyanya.
Liris mengangkat buku hijau.
“Kami menemukan bukti.”
Banyu tersenyum.
“Bagus.”
Rantaka membantu Banyu memegang roda.
Liris duduk di dekat gerobak, lalu membuka buku tulis baru yang diberikan Rantaka.
Untuk beberapa saat, ia memandangi halaman pertama.
Kemudian ia mulai menulis.
Bukan puisi tentang kemenangan.
Bukan puisi tentang Nayla.
Bukan pula puisi tentang kemarahan.
Ia menulis tentang buku hijau yang pernah membuatnya takut.
Tentang kata-kata yang sempat ingin ia sembunyikan.
Tentang sahabat yang datang membawa permintaan maaf.
Dan tentang gerobak tua yang perlahan kembali bergerak.
Di sisi gerobak, tulisan LANGIT BIRU masih tampak pudar.
Namun, sore itu, Rantaka mengambil kuas kecil dan cat biru sisa dari gudang.
Ia mengecat kembali beberapa huruf yang hampir hilang.
Banyu memperbaiki roda.
Liris menulis.
Mereka belum tahu apa yang akan terjadi ketika Nayla dipanggil besok.
Mereka belum tahu apakah Jagra akan mau menerima permintaan maaf mereka.
Mereka belum tahu apakah semua luka dapat sembuh.
Namun, untuk pertama kalinya sejak malam di jembatan sungai, mereka tidak hanya menunggu keadaan berubah.
Mereka mulai bergerak.
Dan di antara buku hijau, roda tua, serta tulisan Langit Biru yang kembali tampak jelas, mereka menemukan sedikit keberanian untuk menghadapi luka lama.
BAB 21 — SEPEDA YANG KEMBALI
Pagi itu, Banyu datang ke sekolah lebih awal daripada biasanya.
Kabut masih menggantung rendah di atas jalan tanah. Rumput di pinggir jalan basah oleh embun. Dari kejauhan, suara ayam berkokok bersahut-sahutan, sementara beberapa warga mulai berjalan menuju ladang.
Banyu mendorong sepeda tua miliknya pelan-pelan.
Sepeda itu memang sudah tidak seperti sepeda baru.
Cat hitamnya mengelupas di beberapa bagian. Rantai sering berbunyi jika terlalu lama dipakai. Lampu depannya sudah lama tidak menyala. Di bagian belakang, terdapat keranjang kecil dari kawat bekas yang pernah ia pasang sendiri untuk membawa buku, botol plastik, dan alat-alat sederhana.
Namun, sepeda itu sangat berarti baginya.
Sepeda itu dulu dibelikan ayahnya dari seorang warga yang pindah ke kecamatan. Harganya tidak mahal, tetapi Banyu tahu ayahnya menabung cukup lama untuk membelinya.
Dengan sepeda itu, Banyu pergi ke sekolah.
Dengan sepeda itu, ia mengumpulkan barang bekas.
Dengan sepeda itu, ia membantu Pak Hendra membeli baut, paku, dan kabel ke pasar kecamatan.
Dan dengan sepeda itu pula, ia pernah membantu mendorong Gerobak Buku Langit Biru melewati jalan berlumpur.
Namun, beberapa minggu sebelumnya, sepeda itu hilang di pasar malam kecamatan.
Saat itu Banyu sedang membantu Pak Hendra memperbaiki beberapa lampu hias dan meja lipat untuk kegiatan pasar malam. Ia memarkir sepedanya di dekat gudang kecil di belakang lapangan.
Ketika pekerjaan selesai, sepedanya sudah tidak ada.
Tidak ada yang melihat siapa yang mengambilnya.
Tidak ada yang tahu ke mana sepeda itu dibawa.
Pada saat itulah Banyu melihat Jagra berada tidak jauh dari lokasi.
Jagra memang sedang lewat bersama beberapa pemuda desa. Wajahnya tampak murung, dan ia tidak banyak bicara. Namun, karena Banyu sedang panik dan kecewa, pikirannya langsung dipenuhi kecurigaan.
Ia pernah mendengar beberapa siswa membicarakan keadaan keluarga Jagra yang sedang sulit.
Ia tahu Jagra membutuhkan uang.
Ia tahu Jagra sedang marah kepada banyak orang.
Dan tanpa benar-benar mencari tahu, Banyu menuduh sahabatnya sendiri.
Tuduhan itu menjadi salah satu retakan yang membuat Langit Biru semakin jauh dari utuh.
Hari ini, Banyu kembali memikirkan sepeda itu.
Bukan karena ia berharap sepeda itu tiba-tiba ditemukan.
Melainkan karena setiap kali melihat Rantaka dan Liris mulai berusaha memperbaiki persahabatan mereka, ia semakin sadar bahwa ada satu kesalahan yang belum ia bereskan.
Kesalahan terhadap Jagra.
Saat tiba di sekolah, Banyu melihat Pak Hendra sedang berdiri di dekat ruang keterampilan.
Pintu ruang itu masih terkunci.
Banyu berhenti beberapa langkah dari sana.
Pak Hendra menoleh.
“Pagi, Banyu.”
“Pagi, Pak.”
Pak Hendra memperhatikan tangan kiri Banyu yang kini sudah tidak lagi dibalut perban tebal. Luka bakarnya masih tampak kemerahan, tetapi sudah mulai mengering.
“Bagaimana tanganmu?”
“Sudah lebih baik.”
“Masih sakit?”
“Kalau dipakai terlalu lama, sedikit.”
Pak Hendra mengangguk.
“Jangan dipaksakan.”
Banyu memandangi pintu ruang keterampilan.
“Pak, kapan saya boleh masuk lagi ke ruang itu?”
Pak Hendra tidak langsung menjawab.
“Kamu masih ingin membuat mesin?”
Banyu menunduk.
“Tidak sekarang.”
“Lalu?”
“Aku hanya ingin memperbaiki beberapa barang. Aku ingin membantu Gerobak Buku Langit Biru.”
Pak Hendra menatapnya cukup lama.
“Aku dengar kamu sudah mulai memperbaiki roda gerobak.”
“Sedikit.”
“Bagus.”
Banyu mengangkat wajah.
“Jadi saya boleh masuk?”
Pak Hendra tersenyum tipis.
“Belum untuk bekerja sendiri. Tapi kalau ada saya, kamu boleh membantu.”
Wajah Banyu sedikit lebih cerah.
“Terima kasih, Pak.”
Pak Hendra mengangguk.
“Kamu harus belajar dari yang kemarin. Kemampuan tanpa kehati-hatian bisa melukai diri sendiri. Tapi rasa ingin tahu yang dijaga dengan baik bisa menjadi kekuatan.”
Banyu menyimpan kalimat itu di dalam pikirannya.
Saat jam istirahat, Rantaka datang menghampirinya.
“Kau jadi ke pasar sore ini?” tanyanya.
Banyu mengangguk.
“Aku mau mencari ban bekas untuk roda gerobak.”
“Aku ikut.”
“Kau tidak harus ikut.”
“Aku mau bantu.”
Banyu tidak menolak.
Mereka berdua berangkat ke pasar kecamatan setelah sekolah selesai.
Pasar itu mulai ramai menjelang sore. Pedagang sayur menata dagangan di atas tikar. Penjual ikan membersihkan sisik di dekat ember besar. Bau gorengan, ikan asin, tanah basah, dan asap kendaraan bercampur menjadi satu.
Banyu berjalan perlahan di antara kios-kios.
Ia membawa uang seadanya di saku celana.
Rantaka berjalan di sampingnya.
Mereka mencari penjual ban bekas, tetapi beberapa kali harus berhenti karena harga yang ditawarkan terlalu mahal.
“Kalau tidak ada ban, kita bisa pakai karet lain,” kata Banyu.
“Yang penting gerobaknya bisa jalan,” jawab Rantaka.
Mereka melewati deretan kios barang bekas di bagian belakang pasar.
Di sana terdapat tumpukan kursi patah, panci penyok, kipas angin rusak, rangka sepeda, botol kaca, besi tua, dan berbagai barang yang menunggu dibeli atau dibongkar.
Banyu berjalan sambil melihat-lihat.
Tiba-tiba langkahnya berhenti.
Matanya tertuju pada sebuah rangka sepeda yang disandarkan di dekat tumpukan besi.
Rangka itu berwarna hitam kusam.
Catnya mengelupas.
Di bagian belakangnya terdapat keranjang kawat yang sudah sedikit bengkok.
Banyu tidak bergerak.
Rantaka menoleh.
“Kenapa?”
Banyu menunjuk dengan tangan gemetar.
“Itu…”
“Apa?”
“Itu sepedaku.”
Rantaka memandang rangka sepeda tersebut.
Banyu berjalan mendekat.
Ia menyentuh bagian setang yang sudah berkarat.
Di sisi kanan setang, terdapat goresan panjang yang ia buat sendiri ketika sepeda itu jatuh di jalan berbatu.
Di dekat sadel, ada lilitan tali biru yang dipasang ayahnya agar sadel tidak mudah lepas.
Dan di keranjang belakang, masih tergantung kawat kecil yang pernah dipakai Banyu untuk mengikat botol bekas.
Tidak mungkin salah.
“Itu benar sepedaku,” katanya pelan.
Rantaka melihat wajah Banyu.
“Kita tanya pemilik kios.”
Pemilik kios itu seorang laki-laki tua bernama Pak Giman. Rambutnya sudah memutih. Tangannya hitam karena sering memegang besi dan oli.
“Pak,” kata Banyu dengan suara bergetar, “sepeda ini dari mana?”
Pak Giman melihat sepeda itu.
“Yang itu?”
“Iya.”
“Dibeli dari seorang pemuda beberapa hari lalu.”
“Siapa?”
Pak Giman mengangkat bahu.
“Saya tidak tahu namanya. Dia bilang butuh uang. Sepedanya masih bisa dipakai, tapi saya beli untuk diambil besinya.”
Banyu menahan napas.
“Dia dari mana?”
“Sepertinya orang sekitar sini. Pakai jaket cokelat. Badannya kurus. Bawa tas hitam.”
Rantaka menatap Banyu.
Ciri-ciri itu tidak langsung mengarah pada Jagra.
Namun, Banyu tetap merasa dadanya sesak.
“Pak, apakah sepeda ini bisa saya ambil kembali?” tanya Banyu.
Pak Giman menghela napas.
“Kalau memang itu milikmu, saya tidak ingin menahan. Tapi saya sudah membelinya.”
Banyu membuka saku celananya.
Uangnya tidak cukup banyak.
Ia menghitung beberapa lembar uang kecil yang dibawanya.
“Ini yang saya punya, Pak.”
Pak Giman melihat uang itu.
“Tidak cukup.”
Banyu menunduk.
Rantaka lalu mengeluarkan uang dari sakunya.
“Aku tambah.”
Banyu langsung menoleh.
“Tidak perlu.”
“Kita butuh sepeda itu.”
“Aku tidak mau merepotkanmu.”
“Ini bukan merepotkan. Ini membantu.”
Banyu terdiam.
Pak Giman memandangi mereka berdua.
Mungkin ia melihat sesuatu pada wajah Banyu. Mungkin ia tahu bahwa sepeda tua itu bukan sekadar rangka besi.
Akhirnya ia berkata, “Sudahlah. Ambil saja. Uang kalian cukup untuk mengganti sebagian.”
Banyu mengangkat wajah.
“Benarkah, Pak?”
Pak Giman mengangguk.
“Tapi lain kali, jangan tinggalkan sepeda sembarangan.”
“Terima kasih, Pak.”
Banyu memegang setang sepedanya.
Rasanya seperti menemukan kembali bagian kecil dari hidupnya yang sempat hilang.
Namun, ketika mereka hendak pergi, seorang pemuda yang sedang membawa karung rongsok melewati kios itu.
Pak Giman memanggilnya.
“Eh, Darto!”
Pemuda itu menoleh.
Ia mengenakan jaket cokelat lusuh dan membawa tas hitam di pundaknya.
Banyu menatapnya.
Wajah pemuda itu tidak asing.
Ia pernah melihatnya di pasar malam.
Pemuda itu adalah salah satu pekerja lepas yang sering membantu mengangkat barang dan membersihkan lapangan setelah acara.
Pak Giman menunjuk sepeda Banyu.
“Kamu kenal sepeda ini?”
Pemuda itu tampak terkejut.
“Apa?”
“Kamu yang jual ke saya, kan?”
Darto langsung mengalihkan pandangan.
“Saya beli dari orang lain.”
“Dari siapa?” tanya Rantaka.
Darto tidak menjawab.
Banyu melangkah maju.
“Kau mengambil sepeda ini dari pasar malam?”
Pemuda itu memandang Banyu.
“Bukan urusan anak sekolah.”
“Ini sepedaku.”
Darto terdiam.
Rantaka berdiri di samping Banyu.
“Kalau memang bukan kau yang mengambil, bilang dari siapa kau dapat.”
Darto menghela napas kasar.
“Aku menemukan sepeda itu di belakang gudang.”
“Menemukan?” ulang Banyu.
“Tidak ada orang. Aku pikir sudah tidak dipakai.”
“Itu diparkir,” kata Banyu.
Darto menatapnya dengan kesal.
“Ya, aku butuh uang.”
Kalimat itu membuat suasana hening.
Banyu merasa darahnya seperti berhenti mengalir.
Jadi benar.
Sepedanya dicuri.
Bukan oleh Jagra.
Bukan oleh sahabatnya.
Tetapi oleh pemuda yang bahkan tidak ia kenal.
Darto lalu berjalan pergi tanpa meminta maaf.
Rantaka ingin mengejarnya, tetapi Banyu menahan lengannya.
“Sudah,” kata Banyu pelan.
“Dia harus bertanggung jawab.”
“Kalau kita ribut, sepedaku juga tidak akan berubah.”
Rantaka menatapnya.
Banyu memandangi sepeda tua di depannya.
Rasa senang karena menemukan sepeda itu perlahan bercampur dengan rasa bersalah yang jauh lebih besar.
Ia teringat wajah Jagra ketika dituduh.
Ia teringat mata sahabatnya yang penuh marah dan kecewa.
Jadi kau juga tidak percaya kepadaku?
Saat itu, Jagra tidak berkata demikian.
Namun, Banyu tahu itulah yang mungkin dirasakan sahabatnya.
Ia menuduh Jagra hanya karena Jagra berada di dekat lokasi.
Ia menuduh Jagra karena keadaan keluarganya sedang sulit.
Ia menuduh Jagra karena lebih mudah mempercayai prasangka daripada mencari kebenaran.
Banyu menunduk.
“Aku salah, Rantaka.”
Rantaka tidak langsung menjawab.
“Aku salah menuduh Jagra.”
Rantaka menarik napas.
“Kita semua pernah salah kepadanya.”
“Tapi aku menuduhnya mencuri.”
“Aku tahu.”
“Aku membuat dia merasa tidak dipercaya oleh sahabatnya sendiri.”
Rantaka memandang wajah Banyu yang mulai basah oleh air mata.
“Kau bisa minta maaf.”
“Kalau dia tidak mau memaafkanku?”
“Kita tidak bisa menentukan jawaban Jagra.”
Banyu mengangguk pelan.
“Tapi kita tetap harus mengatakan yang sebenarnya.”
Mereka membawa sepeda itu ke sekolah keesokan harinya.
Pak Hendra membantu memeriksa bagian yang rusak.
Rantai sepedanya sudah longgar. Salah satu pedalnya patah. Ban belakangnya kempis dan perlu diganti. Namun, rangka utama masih kuat.
“Sepeda ini masih bisa dipakai,” kata Pak Hendra.
Banyu tampak lega.
Pak Hendra mengambil beberapa alat dari ruang keterampilan.
Kali ini, pintu ruangan itu dibuka olehnya sendiri.
Banyu berdiri di luar sebentar.
Ia memandangi meja kayu tempat mesin pompa airnya pernah meledak.
Serpihan-serpihan sudah dibersihkan.
Motor kipas angin rusak itu sudah tidak ada.
Namun, ingatan tentang kegagalan masih tinggal.
Pak Hendra menoleh.
“Masuklah.”
Banyu ragu.
“Saya boleh?”
“Kamu tidak sendiri sekarang.”
Banyu melangkah masuk.
Rantaka ikut membantu memegang rangka sepeda.
Pak Hendra menunjukkan cara mengencangkan rantai dengan benar. Ia mengajarkan Banyu memeriksa rem, roda, dan baut satu per satu.
“Jangan terburu-buru,” kata Pak Hendra.
Banyu mengangguk.
Ia bekerja lebih pelan.
Lebih teliti.
Setiap kali ingin cepat-cepat menyelesaikan sesuatu, ia mengingat suara letupan kecil dari mesin pompa air.
Setelah beberapa jam, sepeda itu kembali berdiri dengan lebih kuat.
Ban belakangnya diganti dengan ban bekas yang masih layak.
Pedalnya dipasang ulang.
Rantai dibersihkan dan diberi oli.
Keranjang kawat di belakang diperbaiki dengan beberapa ikatan baru.
Banyu memutar roda depan.
Roda itu bergerak lancar.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tersenyum lebar.
“Terima kasih, Pak,” katanya kepada Pak Hendra.
Pak Hendra mengangguk.
“Sepedamu kembali. Tapi yang lebih penting, kamu juga belajar kembali.”
Banyu memandang sepeda itu.
Ia tahu Pak Hendra tidak hanya berbicara tentang sepeda.
Sore hari, Banyu membawa sepeda itu menuju rumah Jagra.
Rantaka berjalan di sampingnya.
Mereka tidak membawa uang.
Tidak membawa proposal.
Tidak membawa nasihat.
Banyu hanya membawa sepeda tua yang telah kembali.
Dan keberanian untuk mengakui kesalahannya.
Di depan rumah Jagra, mereka berhenti.
Kolam ikan di samping rumah masih tampak keruh. Beberapa bagian tanggulnya belum diperbaiki. Jaring-jaring basah dijemur di dekat pagar.
Dari dalam rumah, terdengar suara ayah Jagra batuk.
Banyu menelan ludah.
“Aku takut,” katanya.
Rantaka memandangnya.
“Aku juga.”
“Kalau Jagra marah?”
“Dia berhak marah.”
Banyu mengangguk.
Ia lalu mengetuk pintu rumah itu.
Tok. Tok. Tok.
Tidak lama kemudian, ibu Jagra membuka pintu.
Wajahnya tampak lelah, tetapi ia tetap tersenyum ketika melihat mereka.
“Banyu. Rantaka.”
“Apakah Jagra ada, Bu?” tanya Banyu.
Ibu Jagra menoleh ke dalam rumah.
“Jagra, ada temanmu.”
Beberapa saat kemudian, Jagra keluar.
Wajahnya masih dingin ketika melihat mereka.
Namun, ketika melihat sepeda tua Banyu, ekspresinya berubah sedikit.
“Itu sepedamu?” tanyanya.
Banyu mengangguk.
“Aku menemukannya.”
Jagra tidak menjawab.
Banyu menarik napas.
“Sepedaku tidak diambil olehmu.”
Jagra menatapnya.
“Aku tahu.”
“Aku tahu sekarang. Yang mengambilnya pemuda pasar.”
Jagra tetap diam.
“Aku salah sudah menuduhmu.”
Banyu menunduk.
“Aku tidak mencari bukti. Aku hanya melihatmu di dekat pasar malam, lalu aku langsung berpikir yang buruk tentangmu.”
Jagra memandang tanah.
“Aku memang ada di sana.”
“Aku tahu.”
“Aku sedang mencari pekerjaan.”
Banyu mengangkat wajah.
Jagra melanjutkan dengan suara pelan.
“Aku melihat sepedamu. Tapi aku tidak mengambilnya. Aku bahkan ingin memberitahumu kalau ada orang yang membawa sepedamu ke belakang gudang. Tapi waktu itu kau sudah marah kepadaku.”
Banyu merasa dadanya semakin berat.
“Maafkan aku, Jag.”
Jagra tidak langsung menjawab.
Dari dalam rumah, terdengar suara ayahnya memanggil pelan.
Namun, tidak ada yang bergerak.
Jagra memandangi sepeda tua itu.
“Sepeda itu penting buatmu, ya?”
“Iya.”
“Seperti kolam ikan itu penting buatku.”
Banyu mengangguk.
“Aku seharusnya mengerti.”
Jagra menatap Banyu cukup lama.
Kemudian ia berkata, “Aku belum bisa lupa semuanya.”
Banyu menunduk lagi.
“Tapi aku dengar kalian memperbaiki Gerobak Buku,” lanjut Jagra.
Rantaka mengangguk.
“Kami mulai membersihkan buku-bukunya.”
“Anak-anak masih menunggu?”
“Masih.”
Jagra memandang kolam ikan di samping rumah.
Wajahnya masih menyimpan banyak beban.
Namun, kemarahannya tidak lagi sekeras malam di jembatan.
“Aku belum tahu apakah aku mau kembali,” katanya.
“Kami tidak akan memaksamu,” jawab Banyu.
“Aku cuma ingin kamu tahu, aku percaya kepadamu sekarang.”
Jagra menatapnya.
Banyu melanjutkan, “Dan aku menyesal karena terlambat percaya.”
Untuk beberapa saat, tidak ada suara selain angin yang bergerak di atas kolam.
Kemudian Jagra mengangguk pelan.
Bukan tanda bahwa semuanya telah selesai.
Bukan tanda bahwa luka sudah hilang.
Tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa pintu yang sempat tertutup rapat kini tidak lagi terkunci.
Banyu mendorong sepedanya pelan saat ia dan Rantaka pulang.
Di keranjang belakang, ia sudah membayangkan buku-buku Gerobak Langit Biru bisa dibawa lebih banyak.
Ia ingin memperkuat keranjang itu.
Ia ingin memasang tempat untuk membawa alat-alat perbaikan.
Ia ingin menjadikan sepeda itu lebih berguna daripada sebelumnya.
Namun, yang paling ia inginkan bukan hanya memperbaiki sepeda.
Ia ingin memperbaiki kepercayaan.
Sebab Banyu akhirnya mengerti bahwa benda yang hilang kadang dapat ditemukan kembali.
Tetapi kepercayaan yang hilang membutuhkan keberanian, kejujuran, dan waktu untuk pulih.
Dan sore itu, ketika roda sepedanya kembali berputar di jalan tanah Desa Wanasari, Banyu merasa bahwa ia telah memulai perjalanan pulang menuju persahabatan yang pernah hampir ia rusak sendiri.
BAB 22 — RUMAH IKAN DI TEPI SUNGAI
Sejak Banyu menemukan kembali sepedanya, ada sesuatu yang berubah di antara mereka.
Perubahan itu belum besar.
Belum cukup untuk menghapus pertengkaran, tuduhan, dan kata-kata yang pernah menyakiti.
Namun, setidaknya Jagra sudah tidak lagi menutup pintu sepenuhnya.
Ia masih jarang datang ke sekolah.
Ia masih lebih sering terlihat di tepi sungai bersama ayahnya daripada duduk di bangku kelas.
Tetapi ketika Banyu meminta maaf, Jagra tidak mengusirnya.
Ia hanya berkata bahwa ia belum tahu apakah dirinya sanggup kembali seperti dulu.
Kalimat itu terus teringat dalam pikiran Rantaka.
Suatu sore, Rantaka duduk di depan gudang sekolah bersama Liris dan Banyu. Gerobak Buku Langit Biru berada di dekat mereka. Roda gerobak itu kini sudah lebih kuat. Banyu memasang karet tambahan pada bagian bawahnya agar tidak mudah rusak ketika melewati jalan berbatu.
Di atas gerobak, beberapa buku telah disusun rapi.
Ada buku cerita rakyat.
Ada buku pelajaran lama.
Ada buku bergambar untuk anak-anak kecil.
Ada pula beberapa buku tulis kosong yang dikumpulkan dari sumbangan siswa dan guru.
Namun, sore itu tidak ada seorang pun yang membicarakan jadwal perpustakaan keliling.
Mereka memikirkan Jagra.
“Aku bertemu dia kemarin,” kata Banyu sambil mengencangkan baut pada roda gerobak.
Rantaka menoleh.
“Bagaimana?”
“Dia tidak marah seperti dulu.”
“Itu sudah bagus,” kata Liris.
Banyu mengangguk, tetapi wajahnya tetap murung.
“Dia bilang kolam ikan keluarganya makin rusak. Airnya tidak bisa ditahan. Kalau hujan turun lagi, tanggulnya bisa jebol.”
Rantaka memandang ke arah sungai yang terlihat dari kejauhan.
Sejak banjir besar beberapa waktu lalu, banyak bagian desa belum benar-benar pulih.
Beberapa rumah masih memiliki dinding yang lembap.
Beberapa kebun warga rusak karena lumpur.
Dan bagi keluarga Jagra, banjir bukan hanya membawa air.
Banjir membawa hilangnya jaring, rusaknya perahu, ikan yang hanyut, serta penghasilan yang selama ini menjadi tumpuan hidup mereka.
“Kalau kolam itu tidak diperbaiki,” lanjut Banyu, “keluarga Jagra akan semakin sulit.”
Liris memegang buku catatan hijaunya.
“Kita bisa menggalang uang.”
Banyu menggeleng.
“Jagra tidak mau dikasihani.”
Rantaka mengangguk.
“Kita juga tidak boleh datang seolah-olah kita lebih mampu dari dia.”
“Lalu apa yang bisa kita lakukan?” tanya Liris.
Banyu berhenti bekerja.
Ia memandangi tanah di bawah gerobak.
“Aku punya ide.”
Rantaka dan Liris menatapnya.
“Apa?”
“Kolam Jagra rusak karena air dari sungai masuk terlalu deras. Kalau kita bisa membuat jalur pengaliran air sederhana, air hujan bisa dialihkan sebelum menghantam tanggul.”
“Seperti parit?” tanya Rantaka.
“Bukan hanya parit. Bisa pakai bambu, pipa bekas, dan saringan dari kawat. Air yang terlalu deras dialirkan ke sisi kebun kosong. Jadi kolam tidak langsung penuh.”
Liris mengerutkan dahi.
“Apakah itu bisa berhasil?”
“Aku belum tahu,” jawab Banyu jujur. “Tapi kalau dibuat dengan benar, setidaknya bisa mengurangi tekanan air.”
Rantaka memandang sahabatnya itu.
Sejak mesin pompa air meledak di ruang keterampilan, Banyu memang lebih berhati-hati. Ia tidak lagi berbicara tentang alat besar yang bisa menyelesaikan semua masalah.
Kini ia berbicara tentang sesuatu yang sederhana.
Sesuatu yang bisa dibuat dari bahan yang ada.
Sesuatu yang mungkin tidak sempurna, tetapi bisa membantu.
“Kau sudah membuat rancangannya?” tanya Rantaka.
Banyu mengeluarkan beberapa lembar kertas dari tasnya.
Di atas kertas itu terdapat gambar sederhana.
Ada kolam berbentuk persegi.
Ada aliran air dari arah sungai.
Ada parit kecil.
Ada bambu yang disusun sebagai penahan.
Ada kawat yang berfungsi menyaring daun dan sampah agar tidak menyumbat saluran.
“Aku membuatnya semalam,” kata Banyu.
Liris memperhatikan gambar itu.
“Kalau kita butuh bahan, dari mana?”
“Pak Hendra mungkin punya beberapa pipa bekas. Aku juga bisa mencari bambu di kebun belakang rumah.”
Rantaka mengangguk.
“Kita bisa ajak pemuda desa.”
Liris menatapnya.
“Apakah mereka mau?”
“Kita harus bicara dulu.”
Liris membuka buku hijaunya.
“Aku bisa menulis proposal bantuan.”
Rantaka tersenyum kecil.
“Proposal?”
“Jangan tertawa.”
“Aku tidak tertawa.”
“Aku serius.”
“Aku juga serius.”
Liris menatap kedua sahabatnya.
“Kalau kita ingin mengajak pemuda desa, RT, atau pihak sekolah, kita harus menjelaskan apa yang akan dilakukan. Tidak cukup hanya datang dan berkata, ‘Mari membantu Jagra.’”
Banyu mengangguk.
“Benar.”
“Kita harus menulis tujuan, kebutuhan bahan, siapa yang terlibat, dan manfaatnya untuk keluarga Jagra serta warga sekitar.”
Rantaka menatap Liris dengan kagum.
“Bagus.”
Liris tersenyum tipis.
“Aku belajar dari Bu Laras. Kata beliau, kata-kata bukan hanya untuk puisi. Kata-kata juga bisa menjadi jalan untuk mengajak orang bergerak.”
Sore itu, di dekat gudang sekolah yang pernah penuh buku berdebu, tiga sahabat itu mulai menyusun rencana.
Banyu menjelaskan rancangan jalur air.
Liris menulis proposal dengan tulisan rapi.
Rantaka membuat daftar orang yang mungkin dapat diajak membantu.
Pak Hendra.
Bu Laras.
Beberapa pemuda desa.
Ketua RT.
Anak-anak SMP yang masih ingin ikut gotong royong.
Mereka tidak menulis tentang belas kasihan.
Mereka tidak menulis bahwa keluarga Jagra adalah keluarga miskin yang harus ditolong.
Mereka menulis tentang pemulihan kolam ikan sebagai bagian dari usaha warga menjaga sumber penghasilan dan ketahanan pangan desa.
Mereka menulis tentang gotong royong.
Mereka menulis tentang remaja yang ingin belajar memecahkan masalah bersama.
Mereka menulis tentang sungai yang harus dijaga agar tidak menjadi ancaman bagi warga.
Ketika matahari mulai turun, Liris menutup buku catatannya.
“Sudah,” katanya.
Rantaka membaca proposal itu perlahan.
Judulnya tertulis di bagian atas:
Rencana Gotong Royong Pemulihan Kolam Ikan Keluarga Jagra di Tepi Sungai Wanasari
Banyu mengangguk.
“Besok kita temui Jagra.”
Keesokan harinya, mereka bertiga berjalan menuju rumah Jagra.
Banyu membawa gulungan kertas rancangan.
Liris membawa proposal yang sudah disalin bersih.
Rantaka membawa tas berisi buku tulis, pensil, dan beberapa alat kecil untuk mencatat kebutuhan bahan.
Mereka tidak membawa uang.
Mereka tidak membawa sembako.
Mereka tidak membawa hadiah.
Mereka datang membawa rencana.
Di sepanjang jalan, Rantaka merasa jantungnya berdebar.
Ia tahu Jagra mungkin masih menolak.
Ia tahu sahabatnya itu mungkin menganggap kedatangan mereka sebagai bentuk rasa kasihan.
Namun, mereka harus mencoba.
Rumah Jagra berada tidak jauh dari tepi sungai.
Dari kejauhan, suara air terdengar lebih keras daripada biasanya. Sungai Wanasari memang belum kembali tenang sepenuhnya sejak banjir. Arusnya masih membawa ranting, daun, dan lumpur dari hulu.
Di samping rumah, kolam ikan milik keluarga Jagra tampak memprihatinkan.
Tanggul tanah di bagian timur retak.
Sebagian pinggir kolam longsor.
Airnya keruh dan dipenuhi daun-daun kering.
Beberapa bambu penahan sudah patah.
Di dekat kolam, ayah Jagra sedang duduk di kursi kayu sambil memperbaiki jaring.
Kakinya masih belum pulih sepenuhnya dari luka saat banjir.
Jagra berdiri tidak jauh darinya.
Ia sedang mengangkat ember berisi air.
Ketika melihat Rantaka, Liris, dan Banyu datang, ia berhenti.
Wajahnya tidak menunjukkan marah.
Tetapi juga tidak menunjukkan sambutan.
“Kalian datang lagi,” katanya.
“Iya,” jawab Rantaka.
“Untuk apa?”
Banyu maju selangkah.
“Kami mau bicara.”
Jagra memandang gulungan kertas di tangan Banyu.
“Itu apa?”
“Rancangan.”
“Rancangan apa?”
“Untuk kolam ini.”
Jagra mengerutkan dahi.
“Kalian mau memperbaiki kolamku?”
“Kami mau mengajakmu memperbaikinya,” jawab Banyu.
Jagra menatap mereka satu per satu.
“Aku tidak punya uang untuk membeli bahan.”
“Kami tidak datang membawa uang,” kata Liris.
“Lalu?”
“Kami datang membawa rencana.”
Jagra tampak bingung.
Banyu membuka gulungan kertasnya.
Ia menunjukkan gambar jalur air yang telah dibuat.
“Kalau kita membuat saluran kecil di sisi ini, air dari sungai dan hujan bisa dialihkan ke arah kebun kosong. Kita pasang bambu sebagai penahan. Lalu di ujung saluran, kita buat saringan dari kawat agar sampah tidak masuk.”
Jagra memperhatikan gambar itu.
“Apakah itu bisa menahan banjir?”
“Tidak sepenuhnya,” jawab Banyu. “Tapi bisa membantu supaya air tidak langsung menghantam tanggul.”
“Aku pernah mencoba membuat parit,” kata Jagra. “Tapi tertutup lumpur.”
“Kalau ada saringan dan jalur yang lebih dalam, mungkin tidak cepat tertutup,” jawab Banyu. “Kita juga bisa membuat jadwal membersihkan saluran.”
Jagra memandangi kolamnya.
Liris lalu menyerahkan proposal.
“Kami juga sudah membuat rencana gotong royong.”
Jagra menerima kertas itu.
Ia membaca beberapa bagian.
Di sana tertulis nama-nama mereka.
Ada rencana meminta bantuan bahan bekas dari Pak Hendra.
Ada rencana mengajak pemuda desa membantu membersihkan lumpur.
Ada rencana meminta arahan Ketua RT untuk mengatur kegiatan.
Ada rencana mengajak anak-anak sekolah membantu menanam rumput di bagian tanggul agar tanah tidak mudah longsor.
Jagra membaca sampai selesai.
“Kenapa kalian melakukan ini?” tanyanya.
Tidak ada yang langsung menjawab.
Pertanyaan itu terasa lebih berat daripada yang mereka duga.
Rantaka akhirnya berkata, “Karena kami sahabatmu.”
Jagra tertawa kecil, tetapi bukan tawa bahagia.
“Sahabat?”
Rantaka menunduk.
“Aku tahu kami sudah membuatmu kecewa.”
Jagra memandang Banyu.
Banyu menarik napas.
“Aku salah menuduhmu tentang sepeda.”
Lalu Jagra memandang Liris.
Liris berkata pelan, “Aku juga terlalu sibuk dengan masalahku sendiri. Aku tahu keadaan keluargamu sulit, tapi aku tidak pernah benar-benar datang untuk mendengarkan.”
Jagra kembali menatap Rantaka.
Rantaka berkata, “Aku juga pernah menganggap semua orang harus kuat seperti yang aku mau. Padahal aku tidak tahu seberapa berat yang kau tanggung.”
Suasana menjadi hening.
Ayah Jagra yang sejak tadi duduk di kursi kayu berhenti memperbaiki jaring.
Ia memandangi anak-anak itu dengan mata yang lelah, tetapi hangat.
Jagra menggenggam proposal di tangannya.
“Kalian tidak perlu melakukan ini.”
“Kami tahu,” kata Rantaka.
“Kalau gagal?”
“Kita perbaiki lagi,” jawab Banyu.
“Kalau hujan besar datang lagi?”
“Kita cari cara lain,” kata Liris.
Jagra menatap kolam yang keruh.
“Kalian tidak mengerti. Kolam ini bukan hanya tempat ikan. Ini satu-satunya yang kami punya sekarang.”
“Kami tahu itu penting,” kata Banyu.
“Tidak, kalian tidak tahu.”
Jagra mengangkat suara.
“Ayahku terluka. Perahu kami rusak. Jaring kami hanyut. Aku harus membantu setiap hari. Kalau kolam ini gagal, kami tidak punya apa-apa.”
Rantaka ingin menjawab.
Namun, ia menahan diri.
Ia ingat bagaimana dulu ia sering memberi nasihat sebelum benar-benar mendengarkan.
Kali ini, ia hanya berdiri diam.
Liris juga tidak berkata apa-apa.
Banyu menunduk.
Jagra menarik napas panjang.
“Aku takut berharap,” katanya lebih pelan.
Kalimat itu membuat mereka semua terdiam.
Bukan karena Jagra marah.
Melainkan karena untuk pertama kalinya, Jagra mengatakan apa yang sebenarnya ia rasakan.
Ia bukan hanya marah kepada keadaan.
Ia bukan hanya kecewa kepada sahabat-sahabatnya.
Ia takut.
Takut jika semua usaha akan gagal.
Takut jika keluarganya semakin tenggelam dalam kesulitan.
Takut jika ia kembali percaya kepada sesuatu, lalu harus kehilangan lagi.
Banyu melangkah mendekat.
“Aku juga takut,” katanya.
Jagra menoleh.
“Aku takut membuat alat lagi karena mesin yang kubuat pernah meledak. Aku takut orang menganggap aku hanya anak yang suka mencoba, tapi selalu gagal.”
Liris memegang buku hijaunya.
“Aku takut menulis karena puisiku pernah dicuri. Aku takut kata-kataku tidak berarti.”
Rantaka memandang sungai.
“Aku takut tidak bisa membantu keluargaku. Aku takut sekolah tidak cukup untuk mengubah apa pun.”
Jagra menatap mereka.
Rantaka melanjutkan, “Tapi kami tetap mencoba. Bukan karena kami tidak takut. Kami mencoba karena kalau kami diam, tidak ada yang berubah.”
Angin dari arah sungai bertiup pelan.
Beberapa daun kering jatuh ke permukaan kolam.
Ayah Jagra akhirnya berdiri perlahan dari kursi kayu.
Ia berjalan mendekat dengan langkah yang masih sedikit pincang.
“Kalau kalian memang mau membantu,” katanya, “jangan datang hanya sehari.”
Mereka semua menoleh kepadanya.
“Kolam ini tidak akan pulih dalam sehari. Saluran air harus dibersihkan berkali-kali. Tanggul harus diperkuat sedikit demi sedikit. Ikan harus dirawat. Dan kalau hujan datang lagi, semuanya bisa berubah.”
Rantaka mengangguk.
“Kami siap, Pak.”
Ayah Jagra menatap anaknya.
“Bagaimana, Gra?”
Jagra memandangi rancangan Banyu.
Kemudian ia memandang proposal Liris.
Lalu ia melihat Rantaka yang berdiri dengan wajah sungguh-sungguh.
Untuk beberapa saat, ia tidak berkata apa-apa.
Akhirnya ia mengangguk pelan.
“Baik,” katanya.
Banyu mengangkat wajah.
“Baik?”
“Kalau kalian benar-benar mau membantu, kita mulai besok.”
Rantaka tersenyum.
Liris menahan napas lega.
Banyu menggenggam gulungan kertasnya lebih erat.
Namun, Jagra mengangkat satu jari.
“Tapi jangan kira aku langsung memaafkan semuanya.”
Banyu mengangguk.
“Aku mengerti.”
“Aku akan melihat apakah kalian benar-benar datang.”
“Kami akan datang,” kata Rantaka.
Keesokan paginya, mereka mulai menjalankan rencana.
Rantaka menemui Ketua RT bersama Liris. Mereka menjelaskan proposal gotong royong dan meminta izin menggunakan sebagian bambu bekas dari kebun warga yang sudah dipanen.
Ketua RT membaca proposal itu dengan serius.
“Kalian yang membuat ini?” tanyanya.
Liris mengangguk.
“Dengan bantuan teman-teman.”
Ketua RT tersenyum.
“Bagus. Anak-anak muda harus mulai belajar mengurus masalah di sekitarnya.”
Ia bersedia membantu menyampaikan informasi kepada warga dan pemuda desa.
Sementara itu, Banyu menemui Pak Hendra di sekolah.
Ia membawa rancangan jalur air dan menjelaskan bahan-bahan yang dibutuhkan.
Pak Hendra memeriksa gambar itu.
“Kamu sudah memperhitungkan kemiringan tanahnya?” tanyanya.
Banyu menggeleng.
“Belum tepat, Pak.”
“Kalau salurannya terlalu datar, air akan mengendap. Kalau terlalu curam, tanahnya bisa terkikis.”
Banyu memperhatikan penjelasan itu dengan sungguh-sungguh.
Pak Hendra mengambil pensil.
Ia membantu memberi tanda pada bagian rancangan yang perlu diperbaiki.
“Buat jalurnya tidak terlalu lurus. Beri belokan kecil supaya air tidak menghantam terlalu kuat.”
Banyu mengangguk.
“Terima kasih, Pak.”
“Dan ingat,” lanjut Pak Hendra, “jangan membuat sesuatu hanya karena ingin cepat selesai. Buatlah supaya aman dan bisa dirawat.”
Kalimat itu kembali mengingatkan Banyu pada kesalahannya dulu.
Kali ini, ia tidak ingin terburu-buru.
Ia ingin membuat sesuatu yang benar-benar berguna.
Dua hari kemudian, gotong royong dimulai.
Beberapa pemuda desa datang membawa cangkul dan parang.
Pak Hendra membawa beberapa pipa bekas yang masih bisa digunakan.
Ketua RT membantu mengatur pembagian pekerjaan.
Bu Laras datang bersama beberapa siswa yang ingin membantu membersihkan halaman sekitar kolam.
Anak-anak kecil Desa Wanasari juga ikut datang, meski mereka hanya diberi tugas mengumpulkan daun kering dan membawa botol minum.
Rantaka berdiri di dekat kolam sambil melihat orang-orang mulai bekerja.
Ia tidak menyangka begitu banyak warga bersedia datang.
Mungkin karena proposal Liris.
Mungkin karena Ketua RT yang mengajak.
Mungkin karena keluarga Jagra dikenal baik oleh warga.
Atau mungkin karena di desa, ketika seseorang berani memulai, orang lain perlahan ikut bergerak.
Banyu mengarahkan beberapa pemuda untuk menggali jalur air.
Ia tidak lagi bekerja sendirian.
Ia meminta pendapat Pak Hendra.
Ia memeriksa setiap bagian sebelum melanjutkan.
Liris mencatat bahan yang digunakan dan kebutuhan yang masih kurang.
Ia juga berbicara dengan beberapa ibu yang datang membawa makanan untuk warga yang bekerja.
Rantaka membantu mengangkat bambu bersama Jagra.
Awalnya mereka bekerja tanpa banyak bicara.
Namun, setelah beberapa saat, Jagra berkata, “Kau benar-benar datang.”
Rantaka menoleh.
“Aku bilang kami akan datang.”
Jagra mengangguk.
“Dulu aku pikir kalian hanya bicara.”
“Aku juga pernah banyak bicara tanpa benar-benar bertindak.”
Jagra tersenyum tipis.
“Itu masih lebih baik daripada tidak peduli sama sekali.”
Rantaka tersenyum.
Mereka kembali mengangkat bambu.
Di sisi lain, Banyu sedang memasang kawat saringan pada saluran air.
Tangannya masih belum sepenuhnya pulih, tetapi ia bekerja dengan hati-hati.
Jagra menghampirinya.
“Kau yakin tanganmu kuat?”
Banyu mengangguk.
“Kalau terlalu sakit, aku berhenti.”
Jagra memandang alat yang dibuat Banyu.
“Ini tidak akan meledak, kan?”
Banyu terdiam sebentar.
Lalu ia tertawa kecil.
“Tidak. Ini cuma bambu, kawat, dan pipa.”
Jagra ikut tersenyum.
Itu adalah senyum pertama yang muncul di wajahnya sejak lama.
Menjelang sore, jalur air sederhana mulai terlihat.
Parit kecil membentang dari sisi kolam menuju kebun kosong.
Bambu-bambu dipasang sebagai penahan tanah.
Kawat saringan terpasang di beberapa bagian agar daun dan sampah tidak menutup saluran.
Tanggul kolam diperkuat dengan tanah baru.
Di beberapa sisi, anak-anak menanam rumput untuk membantu menahan tanah ketika hujan turun.
Kolam itu belum sepenuhnya pulih.
Airnya masih keruh.
Tanggulnya masih perlu diperkuat.
Ikan-ikan belum banyak.
Namun, tempat itu tidak lagi terlihat seperti ruang yang ditinggalkan.
Tempat itu mulai terlihat seperti sesuatu yang sedang dibangun kembali.
Saat matahari hampir tenggelam, semua orang berhenti bekerja.
Warga duduk di tepi kolam sambil minum teh dan makan singkong rebus.
Jagra berdiri di dekat ayahnya.
Ia memandangi saluran air yang baru dibuat.
“Kalian pikir ini akan berhasil?” tanyanya.
Banyu menjawab jujur, “Aku tidak tahu apakah semuanya akan berhasil.”
Jagra menoleh.
“Tapi aku tahu kalau kita merawatnya bersama, kemungkinan berhasilnya lebih besar.”
Liris tersenyum.
“Dan kalau ada yang rusak, kita tidak harus menunggu banjir berikutnya untuk memperbaikinya.”
Rantaka memandangi sungai yang mulai tenang oleh warna senja.
Ia teringat masa kecil mereka di bawah pohon beringin.
Saat itu mereka hanya anak-anak yang memberi nama kelompok belajar mereka Langit Biru.
Mereka tidak tahu bahwa suatu hari, nama itu akan membawa mereka ke kolam ikan yang rusak, ke surat yang tidak terkirim, ke puisi yang dicuri, ke sepeda yang hilang, dan ke persahabatan yang hampir hancur.
Namun, mungkin persahabatan memang bukan tentang selalu berjalan di jalan yang mudah.
Mungkin persahabatan adalah tentang tetap datang ketika jalan berubah menjadi lumpur.
Tetap membawa tangan untuk bekerja ketika kata-kata tidak lagi cukup.
Dan tetap berdiri di sisi seseorang, bukan untuk membuatnya merasa lemah, melainkan agar ia tahu bahwa ia tidak harus menanggung semuanya sendirian.
Di tepi Sungai Wanasari, rumah ikan itu belum sepenuhnya kembali hidup.
Tetapi sore itu, di antara bambu, parit kecil, tanah basah, dan wajah-wajah yang mulai tersenyum, sebuah harapan perlahan tumbuh.
Harapan bahwa kolam itu dapat pulih.
Harapan bahwa Jagra dapat kembali percaya.
Dan harapan bahwa Langit Biru, yang pernah hampir pecah oleh luka dan salah paham, masih memiliki tempat untuk kembali menyala.
BAB 23 — PENTAS LANGIT BIRU KEDUA
Seminggu setelah gotong royong di kolam ikan keluarga Jagra, Desa Wanasari mulai memiliki kesibukan baru.
Bukan kesibukan karena banjir.
Bukan pula kesibukan karena warga harus memperbaiki rumah atau membersihkan lumpur.
Kali ini, kesibukan itu lahir dari sebuah gagasan sederhana.
Gagasan untuk mengadakan Pentas Langit Biru Kedua.
Rencana itu muncul ketika Rantaka, Liris, Banyu, dan Jagra duduk di tepi kolam pada sore hari. Saluran air yang mereka buat sudah mulai berfungsi. Ketika hujan turun sebentar, air dari sisi kebun tidak lagi langsung mengalir ke tanggul kolam.
Memang belum sempurna.
Masih ada lumpur yang harus dibersihkan.
Masih ada bambu yang perlu diperkuat.
Masih ada bagian tanggul yang harus ditimbun kembali.
Tetapi setidaknya, keluarga Jagra tidak lagi merasa sendirian menghadapi semuanya.
Ayah Jagra mulai bisa berjalan lebih jauh meski masih menggunakan tongkat kayu. Ia sudah kembali membantu memeriksa jaring-jaring yang dijemur di samping rumah. Beberapa warga juga mulai menawarkan benih ikan untuk kolam mereka.
Namun, keadaan keluarga Jagra tetap belum mudah.
Perahu kecil mereka belum diperbaiki.
Jaring yang hanyut belum tergantikan.
Dan untuk sementara, hasil ikan dari kolam belum cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Kita tidak bisa hanya memperbaiki kolam,” kata Liris saat itu.
Jagra menoleh.
“Maksudmu?”
“Kita juga harus membantu agar Gerobak Buku Langit Biru berjalan lagi.”
Banyu mengangguk.
“Roda gerobaknya sudah kuat. Sepedaku juga sudah bisa dipakai untuk membawa buku.”
Rantaka memandangi sahabat-sahabatnya.
“Kalau begitu, kita buat kegiatan.”
“Kegiatan apa?” tanya Jagra.
Liris membuka buku hijau yang selalu dibawanya.
“Pentas.”
Jagra mengerutkan dahi.
“Pentas lagi?”
“Pentas Langit Biru Kedua,” jawab Liris.
Rantaka terdiam sejenak.
Ia teringat Pentas Harapan Wanasari saat mereka masih di SD. Saat itu hujan hampir menghancurkan panggung bambu yang telah dibuat. Mereka sempat putus asa, tetapi warga membantu memindahkan acara ke balai desa.
Pentas itu telah menyelamatkan SD Wanasari dari penutupan.
Kini, mereka bukan lagi anak-anak SD.
Mereka sudah menjadi remaja dengan masalah yang lebih rumit.
Namun, mungkin mereka masih bisa menggunakan cara yang sama.
Mengumpulkan warga.
Menggerakkan hati.
Mengajak orang-orang untuk percaya bahwa pendidikan dan kebersamaan tetap layak diperjuangkan.
“Kita bisa membuat pentas di balai desa,” kata Rantaka. “Tidak perlu besar. Yang penting semua orang bisa datang.”
“Untuk apa uangnya nanti?” tanya Jagra.
“Sebagian untuk membantu kebutuhan keluarga Jagra,” jawab Liris. “Sebagian lagi untuk Gerobak Buku Langit Biru.”
Jagra langsung menggeleng.
“Aku tidak mau acara itu dibuat hanya karena keluargaku.”
“Bukan hanya untuk keluargamu,” kata Rantaka.
“Lalu untuk apa?”
“Untuk desa,” jawab Banyu. “Untuk anak-anak yang masih menunggu buku. Untuk pemuda yang ingin belajar membuat sesuatu. Untuk warga yang ingin melihat bahwa kita bisa bangkit setelah banjir.”
Jagra memandang mereka satu per satu.
“Aku tidak pandai bicara di depan orang banyak.”
“Kau tidak harus menjadi pembawa acara,” kata Liris.
“Aku juga tidak bisa membaca puisi.”
“Tidak perlu.”
“Aku tidak punya karya seperti Banyu.”
Banyu tersenyum kecil.
“Kau punya cerita.”
Jagra terdiam.
“Cerita apa?”
“Cerita tentang ayahmu,” jawab Banyu. “Tentang sungai. Tentang nelayan. Tentang bagaimana keluargamu bertahan setelah banjir.”
Jagra menunduk.
Ia tidak yakin cerita hidupnya pantas didengar orang lain.
Baginya, semua itu hanyalah kesulitan yang harus dijalani.
Namun, Liris berkata pelan, “Kadang orang lain perlu mendengar cerita yang jujur agar mereka mengerti bahwa perjuangan bukan hanya ada di buku pelajaran.”
Beberapa hari kemudian, rencana pentas mulai disusun.
Mereka menemui Bu Laras di sekolah.
Bu Laras mendengarkan dengan wajah hangat ketika Liris menjelaskan rencana kegiatan.
“Pentas Langit Biru Kedua,” ulang Bu Laras.
“Iya, Bu,” kata Rantaka. “Kami ingin menghidupkan lagi Gerobak Buku. Kami juga ingin membantu keluarga Jagra supaya kolam ikannya bisa pulih.”
Bu Laras memandang Jagra.
Jagra menunduk.
“Apakah kamu setuju?” tanya Bu Laras.
Jagra tidak langsung menjawab.
Lalu ia berkata, “Saya belum yakin, Bu.”
“Tidak apa-apa,” jawab Bu Laras. “Keraguan tidak selalu berarti kamu harus berhenti. Kadang keraguan hanya meminta waktu untuk diyakinkan.”
Liris menyerahkan rancangan acara yang telah mereka tulis.
Di sana tercantum beberapa kegiatan.
Pembacaan puisi.
Pameran karya sederhana.
Cerita kehidupan nelayan sungai.
Pidato remaja desa tentang pendidikan.
Penampilan musik akustik dari pemuda Wanasari.
Bazar kecil makanan warga.
Kotak donasi untuk pemulihan kolam ikan dan Gerobak Buku Langit Biru.
Bu Laras membaca semua itu.
“Kalian sudah memikirkan banyak hal,” katanya.
“Kami belajar dari kegiatan dulu,” jawab Rantaka.
Bu Laras tersenyum.
“Baik. Saya akan membantu menghubungi pihak sekolah dan beberapa orang tua murid.”
Mereka juga menemui Pak Hendra.
Banyu membawa sebuah benda yang dibungkus kain.
Ketika kain itu dibuka, tampak sebuah alat sederhana yang terbuat dari pipa, botol bekas, kawat, dan ember kecil.
“Ini alat penyaring air,” kata Banyu.
Pak Hendra memeriksa alat itu.
“Untuk apa?”
“Untuk menyaring air kolam yang keruh.”
“Sudah dicoba?”
“Sudah sedikit. Airnya belum langsung jernih, tapi lumpur kasar dan daun bisa tertahan.”
Pak Hendra mengangguk.
“Ini lebih aman daripada mesinmu yang dulu.”
Banyu tersenyum malu.
“Saya belajar pelan-pelan, Pak.”
“Bagus. Alat sederhana yang berguna lebih berharga daripada alat rumit yang belum siap dipakai.”
Banyu tampak lega mendengar itu.
Pak Hendra bersedia membantu menyiapkan meja pameran dan beberapa papan untuk menampilkan karya-karya siswa.
Sementara itu, Liris mulai menulis puisi untuk pentas.
Ia tidak ingin lagi menulis tentang kemarahan kepada Nayla.
Ia tidak ingin puisinya hanya menjadi tempat untuk menyimpan luka.
Ia ingin menulis tentang sungai.
Tentang rumah-rumah kecil di tepi air.
Tentang tangan warga yang menggali parit.
Tentang anak-anak yang membawa buku.
Tentang sahabat yang pernah retak, tetapi berusaha pulang.
Malam hari, di bawah cahaya lampu minyak, Liris menulis di buku hijau.
Ia menulis dengan lebih tenang daripada sebelumnya.
Kata-kata yang dulu terasa berat kini mulai mengalir.
Di halaman pertama, ia menulis judul:
Sungai yang Tidak Menyerah
Sementara itu, Rantaka menyiapkan pidato.
Ia duduk di meja kecil rumah singgah kecamatan. Di sampingnya terdapat buku pelajaran dan beberapa lembar kertas kosong.
Ia ingin berbicara tentang pendidikan.
Namun, ia tidak ingin pidatonya terdengar seperti nasihat dari orang dewasa.
Ia ingin berbicara sebagai anak desa.
Sebagai remaja yang pernah merasa malu karena seragam lusuh.
Sebagai anak yang pernah hampir berhenti sekolah.
Sebagai sahabat yang pernah salah memahami temannya.
Ia menulis beberapa kalimat.
Lalu mencoretnya.
Menulis lagi.
Mencoretnya lagi.
Akhirnya, ia berhenti pada satu kalimat:
Sekolah bukan hanya tempat untuk mendapat nilai. Sekolah adalah tempat anak desa belajar percaya bahwa hidupnya tidak harus berhenti di tempat ia dilahirkan.
Rantaka membaca kalimat itu berulang kali.
Ia tahu kalimat itu sederhana.
Tetapi ia percaya itulah yang ingin ia sampaikan.
Jagra sendiri masih belum menentukan apa yang akan ia lakukan.
Ia beberapa kali datang ke balai desa saat teman-temannya mempersiapkan acara. Ia membantu memindahkan kursi. Ia membantu menggantung kain sebagai latar panggung. Ia membantu membersihkan halaman.
Namun, setiap kali Liris menyinggung tentang cerita nelayan sungai, Jagra selalu menghindar.
“Aku tidak pandai bicara,” katanya.
“Kau tidak harus bicara panjang,” jawab Liris.
“Aku takut salah.”
“Kalau cerita itu milikmu, tidak ada yang bisa mengatakan kau salah.”
Jagra tidak menjawab.
Malam sebelum acara, ayahnya memanggilnya.
Mereka duduk di teras rumah. Sungai terdengar mengalir pelan di kejauhan. Di samping rumah, kolam ikan tampak lebih tenang setelah saluran air diperbaiki.
“Ayah dengar kamu diminta bercerita di balai desa,” kata ayahnya.
Jagra menunduk.
“Aku tidak mau.”
“Kenapa?”
“Aku tidak tahu harus bilang apa.”
Ayahnya tersenyum kecil.
“Ceritakan saja apa yang kamu lihat.”
“Apa yang kulihat?”
“Kamu melihat ayah bekerja di sungai sejak kecil. Kamu melihat jaring robek. Kamu melihat perahu hanyut. Kamu melihat warga datang membantu kolam kita.”
Jagra terdiam.
“Ayah tidak pernah sekolah tinggi,” lanjut ayahnya. “Ayah tidak pandai bicara di depan orang. Tapi kalau kamu bisa menceritakan hidup kita dengan jujur, itu sudah cukup.”
Jagra memandang ayahnya.
“Ayah tidak malu?”
“Malu karena apa?”
“Karena orang-orang tahu kita sedang susah.”
Ayahnya menggeleng.
“Kesusahan bukan aib. Yang memalukan adalah kalau kita menutup hati ketika orang datang membantu.”
Kata-kata itu tinggal lama di pikiran Jagra.
Keesokan harinya, balai desa mulai ramai sejak sore.
Beberapa ibu datang membawa kue tradisional, singkong rebus, dan gorengan untuk bazar kecil. Pemuda desa memasang lampu-lampu sederhana di sekitar halaman. Anak-anak SD berlarian sambil membawa kertas gambar.
Di dekat pintu masuk, Gerobak Buku Langit Biru diparkir dengan rapi.
Gerobak itu kini tampak lebih kuat.
Banyu memperbaiki roda dan pegangan kayunya.
Di samping gerobak, sepeda tua Banyu berdiri dengan keranjang belakang yang sudah diperlebar.
Di dalam keranjang itu terdapat beberapa buku anak-anak.
Pada bagian depan gerobak, Liris menempelkan tulisan baru dari karton tebal:
GEROBAK BUKU LANGIT BIRU
Membawa Buku, Menjaga Mimpi
Rantaka membaca tulisan itu dengan bangga.
“Bagus,” katanya.
Liris tersenyum.
“Anak-anak yang memilih kalimatnya.”
Di dalam balai desa, Pak Hendra menata meja pameran.
Di atas meja itu terdapat alat penyaring air buatan Banyu. Ada juga beberapa karya dari barang bekas: tempat pensil dari kaleng, lampu kecil dari botol plastik, dan miniatur perahu dari kayu sisa.
Bu Laras membantu beberapa siswa memasang gambar dan tulisan tentang kegiatan Gerobak Buku.
Di salah satu papan, tertempel foto-foto lama.
Foto anak-anak membaca di bawah pohon beringin.
Foto gerobak buku pertama yang masih penuh karat.
Foto gotong royong memperbaiki halaman SD Wanasari.
Foto saluran air di kolam keluarga Jagra.
Rantaka berdiri cukup lama di depan foto-foto itu.
Ia melihat dirinya yang lebih kecil, memakai seragam SD yang mulai lusuh.
Ia melihat Liris dengan buku hijau di tangan.
Ia melihat Banyu membawa kardus berisi buku.
Ia melihat Jagra tersenyum sambil mendorong gerobak.
Begitu banyak hal telah berubah.
Namun, beberapa hal tetap sama.
Mereka masih berusaha menjaga mimpi.
Ketika matahari mulai tenggelam, warga memenuhi balai desa.
Kepala dusun datang bersama beberapa tokoh masyarakat. Ketua RT duduk di barisan depan. Para orang tua murid membawa anak-anak mereka. Beberapa siswa SMP dari desa sebelah juga ikut datang.
Acara dimulai dengan doa singkat.
Kemudian Bu Laras naik ke depan.
“Pentas Langit Biru Kedua ini bukan hanya acara hiburan,” katanya. “Ini adalah ruang bagi anak-anak dan remaja Desa Wanasari untuk menunjukkan bahwa mereka mampu belajar, berkarya, dan saling menguatkan.”
Warga bertepuk tangan.
Setelah itu, beberapa anak kecil menyanyikan lagu sederhana tentang desa dan sekolah.
Suara mereka tidak selalu tepat.
Ada yang terlalu cepat.
Ada yang lupa lirik.
Namun, semua orang tersenyum melihat keberanian mereka.
Kemudian tibalah giliran Liris.
Ia berdiri di depan mikrofon sederhana yang suaranya kadang berdesis.
Buku hijau berada di tangannya.
Untuk sesaat, ia memandang warga yang memenuhi ruangan.
Di barisan depan, Rantaka, Banyu, dan Jagra duduk berdampingan.
Liris menarik napas.
Lalu ia mulai membaca.
“Sungai yang Tidak Menyerah,” katanya.
Suara Liris mula-mula pelan.
Namun, semakin lama, suaranya semakin kuat.
Ia membaca tentang sungai yang membawa lumpur, tetapi juga membawa kehidupan.
Ia membaca tentang rumah-rumah yang tetap berdiri meski pernah diterpa banjir.
Ia membaca tentang tangan-tangan yang menggali tanah, menanam bambu, dan memperbaiki tanggul.
Ia membaca tentang anak-anak yang membawa buku di atas gerobak tua.
Ia membaca tentang persahabatan yang tidak selalu mulus, tetapi tetap berusaha kembali.
Beberapa ibu tampak menyeka mata.
Bu Laras tersenyum dari tempat duduknya.
Ketika Liris selesai, balai desa dipenuhi tepuk tangan panjang.
Liris menunduk.
Di wajahnya tampak haru.
Untuk pertama kalinya sejak puisinya dicuri, ia kembali berdiri di depan orang banyak tanpa takut kata-katanya akan diambil.
Setelah itu, Banyu maju ke depan meja pameran.
Ia menjelaskan alat penyaring air sederhana yang dibuatnya.
Tangannya masih sedikit kaku, tetapi suaranya cukup jelas.
“Alat ini dibuat dari bahan yang mudah ditemukan,” katanya. “Ada pipa bekas, botol plastik, kain saring, kerikil, dan kawat. Air dari kolam masuk melalui bagian atas. Daun dan sampah besar tertahan di kawat. Lumpur kasar bisa berkurang sebelum air masuk ke kolam penampungan.”
Seorang warga bertanya, “Apakah airnya bisa langsung diminum?”
Banyu cepat-cepat menggeleng.
“Tidak, Pak. Ini bukan untuk air minum. Ini hanya untuk membantu menyaring air kolam dan saluran.”
Warga tertawa kecil, tetapi bukan mengejek.
Mereka tampak senang karena Banyu menjawab dengan jujur.
Pak Hendra mengangguk dari belakang.
“Yang penting, alat ini bisa terus dikembangkan,” kata Banyu. “Kalau ada yang punya saran, saya mau belajar.”
Beberapa pemuda desa mendekat setelah penjelasan itu. Mereka bertanya tentang bahan dan cara membuatnya.
Banyu menjawab satu per satu.
Di wajahnya, tampak semangat yang dulu sempat hilang.
Kemudian giliran Rantaka.
Ia berdiri di depan mikrofon.
Kertas pidatonya ada di tangan, tetapi ia tidak langsung membacanya.
Ia memandang warga.
Ia memandang anak-anak kecil yang duduk di lantai.
Ia memandang Gerobak Buku Langit Biru yang berdiri di dekat pintu.
Lalu ia mulai berbicara.
“Saya tidak datang ke sini sebagai orang yang paling pandai,” katanya. “Saya juga bukan anak yang hidupnya selalu mudah.”
Balai desa menjadi hening.
“Saya pernah merasa malu karena tidak punya banyak hal seperti teman-teman lain. Saya pernah merasa sekolah terlalu berat. Saya pernah berpikir mungkin anak desa seperti kami memang tidak bisa punya mimpi yang besar.”
Rantaka berhenti sebentar.
“Tapi saya belajar bahwa sekolah bukan hanya tempat untuk mendapat nilai. Sekolah adalah tempat anak desa belajar percaya bahwa hidupnya tidak harus berhenti di tempat ia dilahirkan.”
Beberapa warga mengangguk.
“Kalau kita punya buku, kita bisa mengenal dunia. Kalau kita punya guru, kita bisa belajar. Kalau kita punya sahabat, kita bisa saling menguatkan. Dan kalau kita punya warga yang mau bergotong royong, kesulitan tidak harus ditanggung sendiri.”
Suara Rantaka semakin mantap.
“Pendidikan tidak selalu dimulai dari gedung besar. Kadang pendidikan dimulai dari seorang ibu yang mengajak anaknya membaca. Dari seorang ayah yang tetap menyuruh anaknya sekolah meski hidup sedang sulit. Dari seorang guru yang tidak menyerah. Dari gerobak tua yang membawa buku ke rumah-rumah warga.”
Tepuk tangan kembali terdengar.
Rantaka menutup pidatonya dengan kalimat sederhana.
“Langit Biru bukan hanya nama kelompok kami. Langit Biru adalah janji bahwa anak-anak Desa Wanasari akan terus belajar, terus mencoba, dan tidak menyerah.”
Ketika Rantaka turun dari panggung, Jagra menatapnya.
Tidak ada kata-kata.
Namun, kali ini tatapan Jagra tidak lagi penuh jarak.
Setelah beberapa penampilan musik dari pemuda desa, Bu Laras naik ke depan.
“Sekarang,” katanya, “ada satu cerita lagi yang ingin kita dengarkan.”
Jagra langsung menoleh.
Ia tahu apa yang dimaksud.
Bu Laras memandangnya.
“Jagra, apakah kamu bersedia?”
Jagra membeku di tempat duduknya.
Semua mata tertuju kepadanya.
Dadanya berdebar keras.
Ia ingin berkata tidak.
Ia ingin tetap duduk dan membiarkan acara berjalan tanpa dirinya.
Namun, ia teringat ayahnya di rumah.
Ia teringat kata-kata ayahnya bahwa kesusahan bukan aib.
Ia teringat Rantaka, Liris, dan Banyu yang datang ke rumahnya tanpa membawa uang, tetapi membawa rencana.
Ia teringat warga yang menggali parit dan memperbaiki tanggul.
Perlahan, Jagra berdiri.
Ia berjalan menuju depan ruangan.
Langkahnya terasa berat.
Tangannya dingin.
Ketika sampai di depan mikrofon, ia tidak langsung berbicara.
Warga menunggu.
Lalu Jagra berkata pelan, “Nama saya Jagra.”
Suaranya sedikit bergetar.
“Ayah saya nelayan sungai.”
Balai desa menjadi sangat hening.
“Sejak kecil, saya sering ikut ayah mencari ikan. Saya tahu sungai bisa memberi makan. Tapi saya juga tahu sungai bisa mengambil banyak hal.”
Ia berhenti sejenak.
“Waktu banjir datang, perahu kami rusak. Jaring kami hanyut. Kolam ikan kami hampir hancur. Saya marah kepada banyak orang. Saya marah kepada keadaan. Saya marah kepada sahabat saya. Saya bahkan ingin berhenti sekolah.”
Liris menunduk.
Banyu memegang tangan di pangkuannya.
Rantaka menatap Jagra dengan mata berkaca-kaca.
“Tapi kemudian saya melihat orang-orang datang ke rumah kami. Mereka tidak datang untuk mengasihani kami. Mereka datang membawa tenaga. Membawa rencana. Membawa keberanian.”
Suara Jagra mulai lebih kuat.
“Saya belajar bahwa meminta bantuan bukan berarti lemah. Dan menerima bantuan bukan berarti kehilangan harga diri.”
Beberapa warga mengangguk.
Jagra menoleh ke arah ayahnya yang duduk di bagian belakang balai desa.
“Ayah saya selalu bilang bahwa sungai harus dihormati. Karena sungai bisa memberi kehidupan, tapi juga bisa menguji manusia.”
Ia kembali memandang warga.
“Saya ingin tetap sekolah. Saya ingin belajar tentang perikanan. Saya ingin suatu hari nanti membuat usaha ikan yang bisa membantu keluarga saya dan warga desa.”
Tepuk tangan terdengar.
Bukan tepuk tangan yang riuh berlebihan.
Melainkan tepuk tangan yang hangat.
Tepuk tangan yang terasa seperti pelukan dari seluruh desa.
Jagra menunduk.
Ketika ia kembali ke tempat duduknya, Rantaka menepuk bahunya.
“Kau hebat,” kata Rantaka.
Jagra menggeleng kecil.
“Aku cuma bicara.”
“Kadang bicara jujur lebih sulit daripada berkelahi,” kata Banyu.
Liris tersenyum.
“Dan ceritamu penting.”
Setelah acara utama selesai, warga mulai mendatangi meja donasi.
Ada yang memasukkan uang.
Ada yang menyumbang benih ikan.
Ada yang menawarkan bambu untuk memperkuat tanggul.
Ada pula yang menyumbang buku untuk Gerobak Buku Langit Biru.
Seorang pedagang pasar memberikan beberapa buku tulis baru.
Seorang ibu membawa dua kardus buku cerita bekas milik anaknya.
Ketua RT menawarkan bantuan untuk membuat jadwal rutin kegiatan baca di setiap dusun.
Pak Hendra berbicara dengan beberapa pemuda tentang membuat alat penyaring air yang lebih baik.
Malam itu, balai desa tidak hanya menjadi tempat pertunjukan.
Balai desa berubah menjadi tempat warga menyusun harapan bersama.
Ketika acara hampir selesai, Liris berdiri di dekat Gerobak Buku Langit Biru.
Ia melihat anak-anak kecil memilih buku.
Danu menemukan buku tentang kapal.
Nisa memeluk buku bergambar yang sudah lama ia cari.
Banyu membantu memasukkan buku-buku baru ke dalam gerobak.
Rantaka mencatat nama warga yang ingin menjadi relawan membaca.
Jagra berdiri di samping mereka.
Ia memandangi gerobak itu cukup lama.
“Aku mau ikut jadwal gerobak,” katanya.
Rantaka menoleh.
“Benarkah?”
Jagra mengangguk.
“Aku bisa mengantar buku ke rumah-rumah dekat sungai. Sekalian melihat kolam dan jaring.”
Banyu tersenyum.
“Sepedaku kuat membawa buku.”
Liris berkata, “Kalau begitu, kita buat jadwal baru.”
Jagra memandang ketiga sahabatnya.
“Aku belum sepenuhnya tahu bagaimana masa depanku.”
Rantaka mengangguk.
“Kami juga tidak.”
“Tapi mungkin,” lanjut Jagra, “aku tidak harus tahu semuanya sekarang.”
Liris tersenyum.
“Yang penting, kau tidak berhenti berjalan.”
Di luar balai desa, malam semakin gelap.
Namun, lampu-lampu sederhana yang dipasang pemuda desa masih menyala.
Cahayanya tidak besar.
Tidak cukup untuk menerangi seluruh desa.
Tetapi cukup untuk membuat halaman balai desa terasa hangat.
Di bawah cahaya itu, Gerobak Buku Langit Biru kembali dipenuhi buku.
Kotak donasi mulai terisi.
Kolam ikan keluarga Jagra memiliki harapan baru.
Dan empat sahabat yang pernah hampir tercerai-berai kini kembali berdiri bersama.
Mereka belum sepenuhnya bebas dari masalah.
Masih ada sekolah.
Masih ada biaya.
Masih ada keluarga.
Masih ada luka yang harus dipulihkan.
Namun, malam itu mereka kembali mengingat satu hal.
Bahwa ketika satu orang berani bermimpi, mimpi itu bisa terasa kecil.
Tetapi ketika mimpi dibawa bersama-sama, mimpi itu dapat menjadi cahaya bagi banyak orang.
Dan di Desa Wanasari, di antara sungai, gerobak buku, serta balai desa yang penuh suara warga, Langit Biru kembali menyala untuk kedua kalinya.
BAB 24 — KEPUTUSAN DI DEPAN KELAS
Pagi setelah Pentas Langit Biru Kedua, Desa Wanasari terasa lebih tenang.
Balai desa sudah kembali sepi.
Kursi-kursi plastik telah ditumpuk di sudut ruangan.
Lampu-lampu kecil yang semalam menggantung di halaman sudah dilepas oleh para pemuda.
Namun, bekas dari kegiatan itu masih terasa di mana-mana.
Di rumah Jagra, beberapa karung berisi benih ikan tersusun di dekat kolam. Ada pula tumpukan bambu sumbangan warga untuk memperkuat tanggul. Di atas meja ruang tamu, ayah Jagra menyimpan catatan nama warga yang menawarkan bantuan.
Di rumah Banyu, beberapa buku baru untuk Gerobak Buku Langit Biru sudah mulai dipilah. Buku cerita anak, buku pelajaran bekas, buku tulis, serta majalah lama disusun dalam beberapa kardus.
Di rumah Liris, buku hijau yang berisi puisi-puisinya kini memiliki halaman baru. Ia menulis tentang malam ketika warga desa berkumpul di balai desa dan mendengarkan cerita seorang anak nelayan sungai.
Sementara itu, Rantaka kembali ke sekolah dengan langkah yang lebih ringan.
Ia membawa buku pelajaran, bekal sederhana dari rumah singgah, dan satu lembar kertas yang berisi jadwal baru Gerobak Buku Langit Biru.
Namun, di antara semua hal yang membaik, masih ada satu persoalan yang belum selesai.
Jagra belum kembali sekolah.
Selama beberapa hari setelah pentas, ia memang membantu memperbaiki kolam bersama ayahnya. Ia ikut mengatur jadwal membersihkan saluran air. Ia juga mulai membantu Gerobak Buku mengantar bacaan ke rumah-rumah di sekitar sungai.
Tetapi setiap pagi ketika anak-anak berangkat ke sekolah, Jagra tetap berada di rumah.
Ia berdiri di tepi kolam.
Ia memperbaiki jaring.
Ia membantu ayahnya menyiapkan pakan ikan.
Ia seolah-olah sudah memilih jalan lain.
Rantaka tidak bisa menerima itu begitu saja.
Suatu sore, ia datang ke rumah Jagra bersama Liris dan Banyu.
Jagra sedang duduk di dekat kolam sambil mengikat tali pada jaring kecil. Matahari hampir tenggelam. Air kolam memantulkan warna jingga yang tipis.
“Kau masih belum mau masuk sekolah?” tanya Rantaka.
Jagra tidak langsung menjawab.
Tangannya tetap sibuk mengikat tali.
“Aku sedang bekerja.”
“Kami tahu,” kata Liris. “Tapi sekolah juga penting.”
Jagra berhenti.
Ia memandang ketiga sahabatnya.
“Kalian pikir aku tidak tahu itu?”
“Bukan begitu,” jawab Banyu cepat.
“Lalu apa?”
Rantaka duduk di atas batu dekat kolam.
“Kami datang karena Bu Laras meminta kami menyampaikan sesuatu.”
Jagra mengerutkan dahi.
“Apa?”
“Besok ada rapat kecil di sekolah,” kata Rantaka. “Bu Laras, wali kelas, Kepala Sekolah, dan beberapa guru akan membicarakan keadaanmu.”
Jagra tampak tidak nyaman.
“Aku tidak mau datang.”
“Kau harus datang,” kata Liris pelan.
“Kenapa?”
“Karena yang dibicarakan adalah masa depanmu.”
Jagra menunduk.
“Masa depanku sudah jelas. Aku bantu ayah. Aku urus kolam. Aku cari ikan kalau perlu.”
“Dan sekolah?” tanya Rantaka.
Jagra menarik napas.
“Aku tidak bisa membagi waktu.”
“Kau belum mencoba mencari jalan,” kata Banyu.
Jagra menatapnya tajam.
“Aku sudah mencoba. Aku pernah tetap sekolah sambil membantu keluarga. Tapi aku sering terlambat. Aku sering tidak punya uang untuk kegiatan. Aku sering merasa semua orang melihatku seperti anak yang tidak mampu.”
Banyu menunduk.
Liris menggenggam buku hijaunya.
Rantaka memahami rasa itu.
Ia pernah merasa seragam lusuh membuatnya berbeda.
Ia pernah merasa uang menjadi dinding yang memisahkan dirinya dari teman-teman lain.
Namun, ia juga tahu bahwa jika Jagra menyerah sekarang, sahabatnya itu mungkin akan menyesal sepanjang hidup.
“Datanglah besok,” kata Rantaka. “Tidak perlu langsung menjawab apa pun. Dengarkan dulu.”
Jagra memandang kolam.
Beberapa ikan kecil bergerak di bawah permukaan air.
Akhirnya ia berkata, “Aku akan datang. Tapi aku tidak janji akan kembali sekolah.”
Keesokan harinya, Jagra datang ke sekolah.
Ia mengenakan seragam yang sudah mulai sempit di bagian lengan. Warnanya tidak lagi secerah seragam teman-teman lain. Sepatunya juga terlihat kusam.
Ketika ia memasuki halaman sekolah, beberapa siswa menoleh.
Ada yang tersenyum.
Ada yang berbisik.
Ada pula yang hanya memandang tanpa berkata apa-apa.
Jagra menunduk.
Ia merasa seperti kembali menjadi anak yang duduk di bangku belakang.
Anak yang dianggap tidak mampu.
Anak yang sering terlambat.
Anak yang hampir berhenti sekolah.
Namun, kali ini Rantaka, Liris, dan Banyu berjalan di sampingnya.
Mereka tidak berkata banyak.
Mereka hanya memastikan Jagra tidak masuk ke sekolah sendirian.
Rapat diadakan di ruang guru.
Bu Laras sudah duduk di sana bersama Kepala Sekolah, wali kelas, Pak Hendra, dan Ketua Komite Sekolah.
Jagra duduk di kursi paling ujung.
Tangannya saling menggenggam di atas lutut.
Rantaka, Liris, dan Banyu duduk di luar ruangan, menunggu dengan perasaan tegang.
Di dalam ruangan, Bu Laras memulai pembicaraan.
“Jagra,” katanya lembut, “kami tahu keadaan keluargamu sedang sulit.”
Jagra menunduk.
“Kami juga tahu kamu harus membantu ayahmu di rumah,” lanjut Kepala Sekolah. “Tetapi kami tidak ingin kamu meninggalkan sekolah hanya karena keadaan sementara.”
Jagra mengangkat wajah.
“Keadaan ini mungkin tidak sementara, Pak.”
Kepala Sekolah terdiam sejenak.
“Kamu benar. Tidak ada yang bisa menjanjikan semuanya akan cepat membaik. Tetapi sekolah bisa membantu kamu memiliki lebih banyak pilihan di masa depan.”
Jagra tidak menjawab.
Pak Hendra kemudian membuka beberapa lembar kertas.
“Kami sudah membicarakan beberapa kemungkinan,” katanya.
Jagra menatap kertas itu.
“Kemungkinan apa?”
“Pertama,” kata Pak Hendra, “kamu bisa mengikuti program belajar tambahan.”
“Belajar tambahan?”
“Iya. Kalau kamu harus membantu keluarga pada pagi atau sore hari, kamu tetap bisa mengejar pelajaran yang tertinggal melalui kelas pendampingan.”
“Kapan?”
“Dua kali seminggu setelah jam sekolah. Bisa juga disesuaikan dengan jadwalmu.”
Jagra terlihat ragu.
“Kalau aku tidak bisa datang?”
“Kamu bisa meminjam modul belajar dan mengerjakannya di rumah,” jawab Bu Laras. “Nanti guru akan membantu memeriksa.”
Jagra masih diam.
Kepala Sekolah melanjutkan, “Kedua, untuk biaya kegiatan sekolah yang menunggak, kami akan memberikan keringanan.”
Jagra langsung mengangkat kepala.
“Keringanan?”
“Sebagian biaya dapat dicicil. Sebagian lagi akan dibantu melalui dana sosial sekolah dan dukungan komite.”
“Aku tidak mau dikasihani,” kata Jagra cepat.
Bu Laras tersenyum tipis.
“Ini bukan belas kasihan. Ini tanggung jawab sekolah agar muridnya tetap bisa belajar.”
Jagra menatap Bu Laras.
“Setiap anak memiliki keadaan yang berbeda,” lanjut Bu Laras. “Ada yang memiliki buku lengkap. Ada yang harus berbagi buku. Ada yang pulang ke rumah yang tenang. Ada yang harus membantu orang tua bekerja. Sekolah harus berusaha memahami itu.”
Kata-kata itu membuat dada Jagra terasa sesak.
Selama ini ia selalu mengira bantuan berarti orang lain menganggap dirinya lemah.
Namun, di hadapannya, Bu Laras tidak berbicara tentang kelemahan.
Bu Laras berbicara tentang haknya untuk belajar.
Ketua Komite Sekolah kemudian berkata, “Kami juga sudah mendengar tentang Pentas Langit Biru Kedua. Warga melihat kamu berani bicara di depan balai desa. Itu bukan hal kecil.”
Jagra menunduk lagi.
“Aku hanya menceritakan keadaan keluarga.”
“Justru itu,” kata Ketua Komite. “Kamu sudah menunjukkan bahwa kamu punya tanggung jawab. Anak yang bertanggung jawab tidak seharusnya berhenti sekolah karena merasa sendirian.”
Rapat berlangsung cukup lama.
Mereka membicarakan jadwal belajar tambahan.
Mereka membicarakan cara Jagra tetap bisa membantu ayahnya di kolam.
Mereka membicarakan kemungkinan beberapa siswa membantu mencatat pelajaran ketika Jagra harus izin.
Mereka membicarakan jadwal ujian susulan jika diperlukan.
Untuk pertama kalinya, Jagra melihat bahwa sekolah tidak hanya menuntutnya datang dan duduk di kelas.
Sekolah juga bersedia mencari jalan agar ia bisa bertahan.
Ketika rapat selesai, Bu Laras bertanya sekali lagi.
“Bagaimana keputusanmu?”
Jagra tidak langsung menjawab.
Ia memandang ke arah jendela.
Dari sana, ia bisa melihat halaman sekolah.
Ada beberapa anak kecil berlari membawa buku.
Ada suara bel kelas dari kejauhan.
Ada pohon besar yang daunnya bergerak tertiup angin.
Ia teringat masa kecilnya bersama Rantaka, Liris, dan Banyu.
Ia teringat Gerobak Buku.
Ia teringat kolam ikan yang hampir hancur.
Ia teringat ayahnya yang berkata bahwa kesusahan bukan aib.
Akhirnya, Jagra berkata, “Aku mau kembali sekolah.”
Bu Laras tersenyum.
Kepala Sekolah mengangguk.
Pak Hendra menepuk meja kecil di depannya.
“Bagus.”
Namun, Jagra melanjutkan, “Tapi aku juga harus tetap membantu ayah.”
“Kita akan mengatur jadwalnya,” kata Bu Laras.
Jagra mengangguk.
“Kalau begitu, aku akan mencoba.”
Ketika ia keluar dari ruang guru, Rantaka, Liris, dan Banyu langsung berdiri.
“Bagaimana?” tanya Liris.
Jagra memandang mereka.
“Aku kembali sekolah.”
Banyu tersenyum lebar.
Rantaka menghela napas lega.
Liris menutup mulutnya dengan tangan, menahan haru.
Namun, Jagra mengangkat tangan.
“Aku belum selesai.”
Mereka semua menatapnya.
“Aku ingin bicara di depan kelas.”
Rantaka mengerutkan dahi.
“Untuk apa?”
“Aku harus mengatakan sesuatu.”
Mereka tidak bertanya lagi.
Mereka hanya mengangguk.
Siang itu, sebelum pelajaran terakhir dimulai, wali kelas meminta semua siswa tetap berada di dalam ruangan.
Jagra berdiri di depan kelas.
Tangannya dingin.
Jantungnya berdebar lebih keras daripada saat ia berbicara di balai desa.
Berbicara di depan warga desa terasa sulit.
Tetapi berbicara di depan teman-teman sendiri ternyata lebih sulit.
Di ruangan itu ada Raka.
Ada Nayla.
Ada beberapa siswa yang dulu pernah mengejeknya.
Ada pula teman-teman yang tidak pernah benar-benar memahami keadaannya.
Rantaka, Liris, dan Banyu duduk di barisan tengah.
Mereka memandang Jagra tanpa mendesaknya.
Jagra menarik napas.
“Aku mau bicara,” katanya.
Kelas menjadi hening.
“Aku hampir berhenti sekolah.”
Beberapa siswa menatapnya dengan wajah terkejut.
“Aku pikir sekolah hanya untuk anak-anak yang punya uang, punya seragam bagus, dan tidak perlu membantu orang tua.”
Jagra berhenti sejenak.
“Tapi ternyata aku salah.”
Ia memandang teman-temannya.
“Aku memang punya masalah di rumah. Aku harus membantu ayahku. Aku sering terlambat. Aku kadang tidak bisa ikut kegiatan. Tapi itu bukan alasan untuk membuatku merasa tidak pantas sekolah.”
Beberapa siswa menunduk.
Jagra melanjutkan.
“Aku juga ingin minta maaf.”
Ia menoleh ke arah Rantaka.
“Rantaka, aku pernah menyalahkanmu karena kau tinggal di kecamatan dan punya kesempatan belajar lebih banyak. Padahal kau juga punya masalahmu sendiri.”
Rantaka mengangguk pelan.
Jagra menoleh kepada Liris.
“Liris, aku pernah bilang puisimu tidak penting. Aku bilang kau hanya sibuk dengan kata-kata. Padahal kata-katamu membuat banyak orang mengerti tentang kami.”
Mata Liris berkaca-kaca.
Jagra lalu menatap Banyu.
“Banyu, aku pernah marah karena kau terlalu sibuk dengan alat-alatmu. Aku tidak percaya bahwa kau benar-benar ingin membantu. Padahal kau datang ke rumahku membawa rancangan, bukan sekadar janji.”
Banyu menunduk, lalu tersenyum kecil.
Jagra kembali menatap seluruh kelas.
“Aku juga minta maaf kalau selama ini aku mudah marah. Aku sering merasa semua orang ingin merendahkan aku. Mungkin ada yang memang pernah mengejek. Tapi mungkin ada juga yang sebenarnya ingin membantu, hanya aku terlalu cepat menutup diri.”
Kelas tetap hening.
Kemudian seorang siswa di barisan belakang berdiri.
Namanya Dimas.
Ia bukan sahabat dekat Jagra, tetapi beberapa kali ia pernah ikut tertawa ketika Jagra terlambat masuk kelas.
“Aku juga minta maaf,” katanya. “Aku pernah ikut mengejekmu.”
Jagra menatapnya.
Dimas menunduk.
“Aku tidak tahu keadaanmu di rumah.”
Setelah itu, seorang siswi lain berkata, “Aku juga pernah bilang seragammu jelek. Maaf.”
Satu per satu, beberapa siswa mulai menyampaikan kata-kata sederhana.
Tidak semua orang berbicara.
Tidak semua masalah langsung selesai.
Namun, ruang kelas yang dulu terasa dingin perlahan berubah.
Wali kelas berdiri di depan papan tulis.
“Kalian semua harus belajar sesuatu dari hari ini,” katanya.
Ia menulis satu kalimat di papan tulis:
Setiap anak membawa perjuangan yang tidak selalu terlihat.
“Kita tidak boleh menilai teman hanya dari seragam, nilai, rumah, atau pekerjaan orang tuanya,” lanjutnya. “Sekolah seharusnya menjadi tempat untuk belajar, bukan tempat untuk membuat orang lain merasa kecil.”
Jagra kembali ke bangkunya.
Namun, kali ini ia tidak duduk di bangku belakang.
Wali kelas meminta salah satu siswa bergeser agar Jagra dapat duduk di barisan tengah, dekat Rantaka, Liris, dan Banyu.
Jagra sempat ragu.
Tetapi ketika ia duduk, Rantaka menyodorkan buku catatan.
“Aku sudah menyalin pelajaran yang kau lewatkan.”
Liris menambahkan beberapa lembar catatan bahasa Indonesia.
“Aku buat ringkasannya.”
Banyu mengeluarkan penggaris dan pensil.
“Kalau ada tugas yang butuh gambar, aku bantu.”
Jagra memandang mereka.
“Terima kasih.”
Rantaka tersenyum.
“Kita bukan hanya sahabat ketika semuanya mudah.”
Di luar kelas, bel pulang berbunyi.
Anak-anak mulai berkemas.
Namun, Jagra belum langsung berdiri.
Ia memandangi buku catatan di hadapannya.
Di halaman pertama, Rantaka menulis sebuah kalimat kecil:
Langit Biru tidak pernah meminta kita berjalan sendiri.
Jagra menyentuh tulisan itu dengan ujung jarinya.
Untuk pertama kalinya setelah banjir, setelah pertengkaran, setelah rasa malu dan keinginan untuk menyerah, ia merasa bahwa sekolah bukan lagi tempat yang membuatnya terasing.
Sekolah adalah tempat ia masih memiliki kesempatan.
Tempat ia masih bisa belajar.
Tempat ia masih bisa membangun masa depan.
Ketika mereka berjalan keluar kelas, langit di atas Desa Wanasari tampak cerah.
Banyu menunjuk ke arah awan putih yang bergerak perlahan.
“Langitnya biru,” katanya.
Liris tersenyum.
“Seperti nama kita.”
Jagra menatap ketiga sahabatnya.
“Tidak,” katanya pelan. “Lebih dari itu.”
Rantaka mengerutkan dahi.
“Maksudmu?”
Jagra tersenyum kecil.
“Langit Biru adalah alasan aku kembali.”
Mereka berjalan bersama menuju halaman sekolah.
Di kejauhan, Gerobak Buku Langit Biru sudah menunggu jadwal berikutnya.
Kolam ikan keluarga Jagra masih membutuhkan perawatan.
Pelajaran sekolah masih banyak yang harus dikejar.
Masalah hidup mereka belum sepenuhnya selesai.
Namun, hari itu Jagra telah membuat keputusan.
Ia tidak akan berhenti.
Ia akan tetap sekolah.
Ia akan tetap membantu keluarganya.
Ia akan tetap belajar.
Dan bersama sahabat-sahabatnya, ia akan melangkah menuju masa depan yang belum sepenuhnya terlihat, tetapi kini mulai berani ia percaya.
BAB 25 — LANGIT BIRU DI UJUNG REMAJA
Hari-hari setelah Jagra kembali ke sekolah berjalan dengan cara yang berbeda.
Tidak semua masalah langsung selesai.
Jagra masih harus bangun lebih pagi untuk membantu ayahnya memberi makan ikan. Pada beberapa hari, ia tetap datang ke sekolah dengan tangan yang masih berbau lumpur kolam atau jaring sungai. Kadang ia terlihat lelah saat pelajaran berlangsung.
Namun, kini ia tidak lagi menanggung semuanya sendiri.
Rantaka selalu membagikan catatan pelajaran ketika Jagra harus izin membantu ayahnya. Liris membuat ringkasan materi bahasa Indonesia dan sejarah agar Jagra tidak tertinggal. Banyu membantu menjelaskan pelajaran matematika dengan gambar-gambar sederhana di buku tulis.
Mereka tidak selalu belajar dengan mudah.
Kadang Jagra mengeluh karena angka-angka di papan tulis terasa lebih rumit daripada menghitung ikan di kolam.
Kadang Rantaka sendiri kesulitan memahami rumus.
Kadang Liris terlalu lama memperbaiki kalimat dalam tugas menulis.
Kadang Banyu lebih tertarik membongkar pulpen rusak daripada menyelesaikan pekerjaan rumah.
Tetapi mereka kembali belajar bersama.
Mereka kembali tertawa.
Mereka kembali saling mengingatkan.
Dan sedikit demi sedikit, Langit Biru kembali menjadi tempat pulang bagi mereka.
Gerobak Buku Langit Biru pun mulai berjalan lagi.
Setiap hari Sabtu sore, Banyu mengikat gerobak itu pada sepeda tuanya. Rantaka membantu menyusun buku-buku berdasarkan usia pembaca. Liris membawa buku catatan untuk menulis nama anak-anak yang meminjam. Jagra mengatur rute menuju rumah-rumah warga di sekitar sungai.
Anak-anak kecil Desa Wanasari mulai menunggu kedatangan mereka.
Ada yang duduk di bawah pohon mangga.
Ada yang menunggu di teras rumah.
Ada yang berlari dari ujung jalan tanah sambil berteriak, “Kakak-kakak Langit Biru datang!”
Gerobak itu tidak lagi hanya membawa buku.
Gerobak itu membawa cerita.
Membawa pelajaran.
Membawa kesempatan bagi anak-anak yang belum memiliki banyak bacaan di rumah.
Di salah satu rumah dekat sungai, seorang anak bernama Seno meminjam buku tentang ikan air tawar. Ia berkata ingin belajar membuat kolam seperti milik keluarga Jagra.
Di rumah lain, seorang anak perempuan bernama Mita meminjam buku cerita rakyat. Ia kemudian meminta Liris mengajarinya menulis puisi.
Banyu bahkan mulai mengadakan kegiatan kecil setiap dua minggu sekali. Ia mengajak anak-anak membuat tempat pensil dari botol bekas dan mainan sederhana dari kardus.
Rantaka melihat semua itu dengan hati hangat.
Dulu, ketika mereka masih kecil, Gerobak Buku hanya dibuat agar anak-anak desa mau membaca.
Sekarang, gerobak itu telah tumbuh menjadi sesuatu yang lebih besar.
Gerobak itu menjadi tempat anak-anak belajar bertanya.
Belajar membuat sesuatu.
Belajar bercerita.
Belajar percaya bahwa mereka juga memiliki masa depan.
Suatu sore, Bu Laras datang ke sekolah membawa sebuah amplop cokelat.
Ia mencari Rantaka di perpustakaan kecil yang berada di dekat ruang guru.
Saat itu Rantaka sedang membantu Banyu memperbaiki roda gerobak buku.
“Rantaka,” panggil Bu Laras.
Rantaka berdiri.
“Iya, Bu?”
Bu Laras menyerahkan amplop itu.
“Ada surat untukmu.”
Rantaka menerima amplop tersebut dengan bingung.
Di bagian depan tertulis namanya.
Tulisan itu berasal dari kantor kecamatan.
“Apa ini, Bu?” tanya Rantaka.
“Buka saja.”
Tangan Rantaka sedikit gemetar ketika membuka amplop itu.
Di dalamnya terdapat selembar surat resmi.
Ia membaca perlahan.
Matanya bergerak dari satu baris ke baris berikutnya.
Lalu ia berhenti.
“Bagaimana?” tanya Bu Laras.
Rantaka tidak langsung menjawab.
Wajahnya tampak seperti tidak percaya.
Banyu mendekat.
“Ada apa?”
Rantaka menyerahkan surat itu.
Banyu membaca dengan suara pelan.
“Program Beasiswa Pendidikan Pelajar Berprestasi dan Berjuang…”
Liris yang baru datang dari kelas ikut mendekat.
“Rantaka diterima?” tanyanya.
Banyu mengangguk.
“Dia mendapat beasiswa.”
Liris menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Rantaka masih berdiri diam.
Beasiswa itu bukan hanya bantuan biaya sekolah.
Beasiswa itu juga memberi kesempatan bagi Rantaka untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya dengan dukungan yang lebih baik.
Selama ini, ia selalu takut biaya menjadi alasan untuk berhenti.
Ia selalu khawatir keluarganya tidak mampu menanggung kebutuhan sekolahnya.
Namun, surat itu seperti membuka pintu yang selama ini hanya berani ia lihat dari kejauhan.
“Selamat, Rantaka,” kata Bu Laras.
Rantaka menatap surat itu sekali lagi.
“Apakah ini benar-benar untuk saya, Bu?”
Bu Laras tersenyum.
“Untukmu. Karena kamu tidak menyerah, karena kamu tetap belajar, dan karena kamu mampu menjadi contoh bagi teman-temanmu.”
Rantaka menunduk.
Matanya berkaca-kaca.
Ia teringat ayahnya.
Ia teringat ibunya.
Ia teringat masa ketika uang tabungan keluarga habis untuk biaya pengobatan.
Ia teringat saat dirinya hampir berhenti sekolah.
Ia teringat jalan tanah yang dulu terasa panjang menuju SD Wanasari.
“Aku harus memberi tahu ibu,” katanya pelan.
“Beritahu juga ayahmu,” kata Bu Laras.
Rantaka mengangguk.
Sore itu, ia pulang ke Desa Wanasari dengan membawa surat beasiswa di dalam tasnya.
Ketika sampai di rumah, ibunya sedang menyiapkan makanan sederhana di dapur. Ayahnya duduk di kursi kayu dekat jendela.
Rantaka berdiri di ambang pintu cukup lama.
“Ibu,” katanya.
Ibunya menoleh.
“Ada apa, Nak?”
Rantaka mengeluarkan surat dari tasnya.
“Aku mendapat beasiswa.”
Ibunya berhenti bergerak.
Ayahnya mengangkat wajah.
“Beasiswa?”
Rantaka menyerahkan surat itu.
Ibunya membaca perlahan.
Ia tidak langsung berkata apa-apa.
Namun, air mata mulai mengalir di pipinya.
Ayah Rantaka memegang surat itu dengan tangan yang masih belum sekuat dulu.
“Kau lihat?” katanya dengan suara berat. “Sekolahmu tidak sia-sia.”
Rantaka duduk di dekat ayahnya.
“Aku akan terus sekolah, Yah.”
Ayahnya mengangguk.
“Teruslah belajar. Jangan hanya untuk dirimu sendiri. Kalau suatu hari kau berhasil, ingatlah desa ini.”
Kata-kata itu tersimpan kuat dalam hati Rantaka.
Beberapa hari kemudian, Liris juga menerima kabar baik.
Surat dari komunitas literasi di kota kabupaten akhirnya datang kembali.
Kali ini, bukan hanya undangan.
Komunitas tersebut menawarkan bantuan transportasi dan tempat tinggal sederhana selama pelatihan menulis berlangsung.
Liris membaca surat itu berulang kali.
Ia tidak percaya bahwa puisi-puisinya benar-benar membawanya menuju kesempatan baru.
Namun, ketika ia menyampaikan kabar itu kepada ayahnya, wajah ayahnya tidak langsung berubah.
“Kota itu jauh,” kata ayahnya.
“Tidak terlalu jauh, Yah. Hanya beberapa hari pelatihan.”
“Menulis tidak membuat sawah kita terisi.”
Liris menunduk.
Ia sudah menduga jawaban itu.
Namun, kali ini ia tidak ingin menyerah seperti dulu.
Ia mengeluarkan beberapa lembar tulisan yang pernah dibuatnya.
Ada puisi tentang sungai.
Ada tulisan tentang Gerobak Buku Langit Biru.
Ada salinan proposal kegiatan gotong royong kolam ikan Jagra.
“Ayah,” katanya pelan, “menulis memang tidak langsung membuat kita kaya. Tapi menulis membuat orang lain tahu apa yang terjadi di desa kita.”
Ayahnya memandang lembaran itu.
“Untuk apa orang kota tahu?”
“Supaya mereka tahu anak-anak desa juga punya mimpi. Supaya mereka tahu desa kita punya masalah, tapi juga punya orang-orang yang mau berjuang.”
Ayahnya tetap diam.
Liris melanjutkan, “Aku tidak ingin pergi untuk meninggalkan desa. Aku ingin belajar supaya suatu hari aku bisa kembali dan mengajarkan anak-anak menulis.”
Kalimat itu membuat ayahnya menatap Liris lebih lama.
Akhirnya, ia berkata, “Kalau itu yang kau inginkan, pergilah. Tapi jangan lupa pulang.”
Liris tersenyum.
“Aku akan pulang, Yah.”
Sementara itu, Banyu mendapat kabar dari Pak Hendra.
Sebuah sekolah di kecamatan mengadakan lomba inovasi pelajar tingkat kabupaten. Pesertanya diminta membuat alat sederhana yang bermanfaat bagi lingkungan atau kehidupan masyarakat.
Pak Hendra membawa formulir pendaftaran untuk Banyu.
“Kamu mau ikut?” tanyanya.
Banyu memandangi formulir itu.
“Aku?”
“Kamu.”
“Aku belum punya alat yang hebat.”
“Tidak perlu hebat,” jawab Pak Hendra. “Yang penting berguna dan kamu memahami cara kerjanya.”
Banyu teringat alat penyaring air sederhana yang dipamerkan pada Pentas Langit Biru Kedua.
Ia teringat saluran air di kolam Jagra.
Ia teringat bagaimana ia pernah gagal karena terlalu ingin membuat sesuatu yang besar.
Kini, ia ingin membuat alat yang lebih sederhana, lebih aman, dan bisa dipakai warga.
“Aku mau ikut,” katanya.
Pak Hendra tersenyum.
“Bagus. Mulailah dari masalah yang kamu kenal.”
Banyu pulang dengan membawa formulir itu.
Ia langsung mendatangi rumah Jagra.
“Aku mau membuat alat untuk lomba,” katanya.
Jagra yang sedang membersihkan jaring menoleh.
“Alat apa?”
“Alat penyaring dan pengatur aliran air untuk kolam.”
Jagra mengangkat alis.
“Untuk kolamku?”
“Untuk kolam warga. Tapi aku ingin mencoba di sini dulu.”
Jagra tersenyum kecil.
“Kalau berhasil, namaku harus ikut ditulis.”
Banyu tertawa.
“Baik. Kau jadi penguji lapangan.”
“Penguji lapangan?”
“Iya. Kau tahu mana yang berguna dan mana yang hanya bagus di atas kertas.”
Jagra tampak bangga mendengar itu.
Ia tidak lagi merasa hanya sebagai anak yang punya masalah.
Ia mulai melihat bahwa pengalaman hidupnya juga bisa menjadi pengetahuan.
Di sisi lain, Jagra sendiri mulai membangun kelompok kecil bersama beberapa remaja desa yang tinggal dekat sungai.
Mereka berkumpul di rumahnya setiap Minggu pagi.
Ada yang anak nelayan.
Ada yang anak petani.
Ada pula yang sering membantu orang tua mencari ikan di sungai.
Jagra mengajak mereka membersihkan saluran air, memperbaiki jaring, dan belajar membuat pakan ikan sederhana.
Ia tidak menyebut kelompok itu sebagai organisasi besar.
Ia hanya berkata bahwa mereka adalah remaja yang ingin belajar menjaga sungai dan mencari penghasilan dengan cara yang lebih baik.
Namun, warga mulai menyebut mereka sebagai Kelompok Perikanan Remaja Wanasari.
Ketika mendengar nama itu, Jagra tertawa malu.
“Aku belum pantas memimpin siapa pun,” katanya kepada Rantaka.
Rantaka menjawab, “Kau tidak harus merasa pantas dulu untuk mulai melakukan hal baik.”
Kalimat itu membuat Jagra terdiam cukup lama.
Menjelang kenaikan kelas, sekolah mengadakan kegiatan sederhana di halaman.
Tidak ada panggung besar.
Tidak ada musik keras.
Hanya beberapa kursi, meja, dan papan pengumuman.
Namun, bagi Rantaka, Liris, Banyu, dan Jagra, hari itu terasa penting.
Mereka berkumpul di bawah pohon beringin tua yang berada di halaman belakang SD Wanasari.
Pohon itu masih berdiri seperti dulu.
Batangnya semakin besar.
Akar-akarnya menjalar ke tanah.
Daunnya menaungi tempat mereka pernah membuat janji ketika masih kecil.
Di bawah pohon itu, mereka dulu memberi nama kelompok mereka Langit Biru.
Di bawah pohon itu pula mereka pernah bertengkar, menangis, dan hampir berpisah.
Kini mereka duduk bersama lagi.
Rantaka membawa surat beasiswanya.
Liris membawa surat undangan pelatihan menulis.
Banyu membawa formulir lomba inovasi.
Jagra membawa buku catatan kecil berisi daftar anggota Kelompok Perikanan Remaja Wanasari.
Mereka meletakkan semua itu di atas tikar.
Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.
Mereka hanya memandangi benda-benda itu.
Benda-benda sederhana.
Namun, masing-masing menyimpan jalan masa depan.
“Aneh,” kata Banyu akhirnya. “Dulu kita cuma anak-anak yang menemukan buku di gudang tua.”
Liris tersenyum.
“Dan sekarang kita punya terlalu banyak surat.”
Jagra mengangkat buku catatannya.
“Aku punya daftar nama anak-anak yang suka membolos karena ikut orang tua ke sungai.”
Rantaka menatapnya.
“Kau mau melakukan apa?”
“Aku mau ajak mereka tetap sekolah.”
Liris tersenyum hangat.
“Bagus.”
Jagra mengangkat bahu.
“Aku tidak mau mereka mengalami hal yang sama seperti aku.”
Rantaka memandang langit di sela-sela daun beringin.
Warna birunya terlihat luas.
Sama seperti ketika mereka masih kecil.
Namun, kini ia tahu bahwa langit itu tidak selalu berarti jalan yang mudah.
Langit biru juga pernah tertutup hujan.
Pernah tertutup banjir.
Pernah tertutup kesedihan dan pertengkaran.
Tetapi setelah semuanya, langit tetap ada.
“Jalan kita akan berbeda,” kata Rantaka.
Liris mengangguk.
“Aku mungkin pergi ke kota untuk pelatihan.”
“Aku mungkin sibuk dengan lomba,” kata Banyu.
“Aku harus tetap membantu ayah di kolam,” kata Jagra.
Rantaka menggenggam surat beasiswanya.
“Dan aku mungkin harus lebih sering tinggal di kecamatan.”
Mereka kembali terdiam.
Ada rasa sedih yang pelan-pelan muncul.
Bukan karena mereka ingin berpisah.
Tetapi karena mereka sadar masa remaja membawa mereka ke jalan yang berbeda.
Mereka tidak lagi bisa selalu bertemu setiap sore.
Tidak lagi bisa selalu belajar bersama di bawah pohon beringin.
Tidak lagi bisa selalu mendorong Gerobak Buku berempat.
Namun, Liris membuka buku hijaunya.
Ia menulis sesuatu di halaman kosong.
Kemudian ia membacakan kalimat itu.
“Langit Biru bukan nama kelompok belajar masa kecil.”
Rantaka menatapnya.
Liris melanjutkan.
“Langit Biru adalah janji untuk tetap saling mengingatkan agar tidak menyerah, meski jalan hidup membawa kita ke arah yang berbeda.”
Banyu tersenyum.
“Itu bagus.”
Jagra mengangguk.
“Itu harus ditulis di gerobak buku.”
Rantaka tertawa kecil.
“Gerobaknya sudah penuh tulisan.”
“Kalau begitu, tulis di papan baru,” kata Jagra.
Mereka tertawa bersama.
Tawa itu tidak lagi seperti tawa anak-anak kecil.
Tawa itu lebih tenang.
Lebih dewasa.
Namun, tetap menyimpan kehangatan yang sama.
Sebelum pulang, mereka berdiri di bawah pohon beringin.
Rantaka mengulurkan tangannya ke tengah.
“Untuk Langit Biru,” katanya.
Liris meletakkan tangannya di atas tangan Rantaka.
Banyu menyusul.
Jagra menjadi yang terakhir.
“Untuk Langit Biru,” ulang mereka bersama.
Di kejauhan, Gerobak Buku Langit Biru terlihat diparkir di dekat perpustakaan sekolah.
Gerobak itu sudah tidak lagi tampak seperti benda tua yang hampir rusak.
Roda-roda barunya kuat.
Kayunya telah dicat ulang.
Buku-bukunya lebih banyak.
Jadwal kegiatannya tertempel di sisi gerobak.
Di bagian depan, terdapat papan kayu baru dengan tulisan:
LANGIT BIRU
Mimpi Anak Desa Tidak Pernah Terlalu Tinggi
Rantaka membaca tulisan itu dalam hati.
Ia tahu perjalanan mereka belum selesai.
Beasiswa bukan akhir perjuangan.
Pelatihan menulis bukan akhir mimpi Liris.
Lomba inovasi bukan akhir langkah Banyu.
Kelompok perikanan bukan akhir perjalanan Jagra.
Semua itu baru awal.
Namun, awal yang kini mereka jalani dengan lebih berani.
Mereka pernah retak.
Mereka pernah hampir saling meninggalkan.
Mereka pernah merasa tidak cukup kuat.
Tetapi mereka kembali.
Mereka belajar meminta maaf.
Mereka belajar menerima bantuan.
Mereka belajar bahwa mimpi tidak selalu tumbuh dari keadaan yang mudah.
Kadang mimpi tumbuh dari jalan tanah.
Dari rumah sederhana.
Dari buku lusuh.
Dari sungai yang meluap.
Dari kolam yang rusak.
Dari gerobak tua yang membawa buku.
Dan dari empat sahabat yang memilih untuk tidak menyerah.
Ketika sore turun di Desa Wanasari, mereka berjalan meninggalkan halaman sekolah.
Langkah mereka tidak lagi sama seperti ketika mereka pertama kali bertemu.
Kini mereka membawa cita-cita masing-masing.
Membawa tanggung jawab masing-masing.
Membawa jalan hidup yang mungkin akan membawa mereka jauh.
Namun, di atas mereka, langit tetap biru.
Dan selama mereka masih mengingat janji yang pernah dibuat di bawah pohon beringin tua, Langit Biru akan selalu menjadi rumah yang menuntun mereka kembali.
EPILOG — SURAT DARI UJUNG KECAMATAN
Rumah singgah itu berdiri di ujung jalan kecil dekat pasar kecamatan.
Bangunannya tidak besar.
Dindingnya terbuat dari papan yang sudah mulai kusam. Atap sengnya berbunyi keras ketika hujan turun. Di halaman depan, ada pohon jambu yang tumbuh miring ke arah pagar bambu. Di belakang rumah, terdapat sumur tua yang digunakan bersama oleh beberapa penghuni.
Di tempat itulah Rantaka tinggal sejak mulai melanjutkan sekolah di kecamatan.
Awalnya, ia merasa asing.
Suara kendaraan lebih ramai daripada suara jangkrik di Desa Wanasari. Orang-orang berjalan lebih cepat. Pagi hari, pasar sudah penuh oleh pedagang, pembeli, dan kendaraan yang datang dari berbagai desa.
Rantaka harus bangun sebelum matahari terbit.
Ia membantu ibu pemilik rumah singgah menyapu halaman, mengambil air dari sumur, lalu menyiapkan diri untuk berangkat sekolah. Setelah itu, ia berjalan kaki bersama beberapa anak lain menuju sekolah.
Jalan menuju sekolah tidak lagi berupa tanah merah seperti di Wanasari.
Jalan itu sudah beraspal.
Ada toko-toko kecil di sepanjang jalan.
Ada warung makan.
Ada bengkel sepeda.
Ada papan nama besar yang menunjukkan arah menuju kantor kecamatan dan kota kabupaten.
Namun, meski jalan di kecamatan lebih ramai dan lebih mudah dilalui, Rantaka tetap sering merindukan jalan tanah di desanya.
Ia merindukan suara sungai.
Ia merindukan pohon beringin tua di halaman SD Wanasari.
Ia merindukan suara roda Gerobak Buku Langit Biru yang berderit saat melewati jalan berbatu.
Ia merindukan Liris, Banyu, dan Jagra.
Pada suatu malam, setelah menyelesaikan pekerjaan rumah, Rantaka duduk di meja kecil dekat jendela kamarnya.
Lampu minyak menyala di atas meja.
Listrik di rumah singgah memang ada, tetapi sering padam ketika hujan turun. Malam itu angin bertiup cukup kencang. Langit di luar jendela tertutup awan.
Rantaka membuka buku tulisnya.
Ia mengambil pena.
Lalu, ia mulai menulis surat.
Surat itu ditujukan kepada Liris.
Untuk Liris,
Apa kabarmu di Desa Wanasari?
Aku harap kau baik-baik saja. Aku juga berharap ayahmu sehat dan tidak terlalu khawatir ketika kau mulai mengikuti pelatihan menulis di kota kabupaten nanti.
Sudah beberapa minggu aku tinggal di rumah singgah ini.
Awalnya aku merasa seperti orang yang tersesat di tempat ramai. Semua orang di kecamatan berjalan cepat. Mereka seperti sudah tahu ke mana harus pergi. Sedangkan aku masih sering berhenti di pinggir jalan hanya untuk melihat papan nama toko atau kendaraan yang lewat.
Sekolah di sini lebih besar daripada sekolah kita dulu.
Kelasnya banyak.
Muridnya juga lebih banyak.
Kadang aku merasa kecil ketika melihat teman-teman yang sudah terbiasa berbicara dengan percaya diri. Ada yang pandai matematika. Ada yang pandai berpidato. Ada yang sudah terbiasa menggunakan komputer di sekolah.
Aku sempat takut tidak bisa mengikuti mereka.
Namun, aku teringat kata Bu Laras.
Beliau pernah berkata bahwa setiap anak membawa perjuangan yang tidak selalu terlihat.
Aku membawa perjuangan dari Desa Wanasari.
Aku membawa jalan tanah, buku-buku lama, dan Gerobak Buku Langit Biru.
Aku membawa semua itu ke sini.
Aku mulai mencoba berteman dengan beberapa anak di rumah singgah. Ada anak dari desa lain yang juga tinggal jauh dari keluarganya. Namanya Rendi. Ia ingin menjadi perawat karena ibunya sering sakit. Ada juga seorang anak perempuan bernama Mila. Ia ingin menjadi guru seperti Bu Laras.
Kami kadang belajar bersama setelah magrib.
Aku membantu Rendi memahami pelajaran bahasa Indonesia. Mila membantu aku mengerjakan matematika. Ternyata, di tempat baru pun, aku masih bisa menemukan orang-orang yang sama-sama sedang berjuang.
Tetapi aku tetap rindu rumah.
Aku rindu ibu memasak di dapur.
Aku rindu ayah duduk di dekat jendela sambil memperbaiki alat kebun.
Aku rindu melihat anak-anak kecil berlari ketika Gerobak Buku datang.
Aku rindu mendengar Banyu berbicara tentang alat-alatnya.
Aku rindu melihat Jagra membawa jaring dari sungai.
Dan aku rindu mendengar kau membaca puisi di bawah pohon beringin.
Liris, aku ingin kau tetap menulis.
Jangan berhenti hanya karena ada orang yang menganggap puisi tidak penting.
Puisi-puisimu pernah membuat warga desa mengerti bahwa sekolah, sungai, dan anak-anak kecil juga memiliki cerita yang layak didengar.
Aku yakin suatu hari nanti, tulisanmu akan membawa nama Desa Wanasari ke tempat yang lebih jauh.
Aku juga ingin kau menyampaikan salamku kepada Banyu dan Jagra.
Katakan kepada Banyu agar ia tidak terlalu sering membongkar barang sampai lupa makan. Katakan kepadanya bahwa aku masih ingin melihat alat pengatur air untuk kolam yang ia buat.
Untuk Jagra, katakan bahwa aku bangga karena ia mulai mengajak remaja lain belajar tentang perikanan. Aku yakin ia bisa membuat kelompok itu menjadi sesuatu yang besar bagi desa.
Dan untukmu, Liris, aku ingin mengatakan satu hal.
Terima kasih karena kau tetap percaya padaku, bahkan ketika aku pernah marah dan menjauh.
Aku masih menyimpan kalimat yang kau tulis di bawah pohon beringin.
Bahwa Langit Biru adalah janji untuk saling mengingatkan agar tidak menyerah, meski jalan hidup membawa kita ke arah yang berbeda.
Aku mulai mengerti arti kalimat itu sekarang.
Di kecamatan ini, langit terlihat lebih luas karena tidak banyak pohon besar seperti di desa. Tetapi ketika aku melihat langit pada sore hari, aku selalu teringat Wanasari.
Aku teringat bahwa langit yang sama juga menaungi kalian.
Mungkin kita tidak lagi berjalan di jalan yang sama setiap hari.
Mungkin kita tidak lagi duduk bersama di bawah pohon beringin setiap sore.
Tetapi selama kita masih mengingat Langit Biru, kita tidak benar-benar jauh.
Aku akan belajar dengan sungguh-sungguh di sini.
Aku ingin suatu hari nanti kembali ke desa dengan membawa ilmu yang bisa berguna.
Aku belum tahu akan menjadi apa.
Tetapi aku ingin menjadi seseorang yang tidak melupakan jalan tanah tempat ia tumbuh.
Salam untuk semua orang di Desa Wanasari.
Salam untuk Gerobak Buku Langit Biru.
Salam untuk pohon beringin tua.
Dan salam untuk sahabatku yang selalu percaya bahwa mimpi anak desa tidak pernah terlalu tinggi.
Sahabatmu,
Rantaka
Setelah selesai menulis, Rantaka membaca surat itu sekali lagi.
Ada beberapa bagian yang ingin ia perbaiki.
Namun, ia memutuskan untuk membiarkannya tetap seperti itu.
Surat itu tidak harus sempurna.
Yang penting, surat itu jujur.
Rantaka melipat kertas tersebut dengan hati-hati.
Ia memasukkannya ke dalam amplop cokelat.
Di bagian depan amplop, ia menulis nama Liris dan alamat rumahnya di Desa Wanasari.
Keesokan paginya, sebelum berangkat sekolah, Rantaka berjalan ke kantor pos kecil di dekat pasar kecamatan.
Kantor pos itu sederhana.
Di depan bangunannya ada papan nama yang catnya mulai pudar. Di dalamnya, seorang petugas duduk di balik meja kayu sambil memilah beberapa surat dan paket.
Rantaka menyerahkan amplop itu.
“Untuk Desa Wanasari,” katanya.
Petugas menerima surat tersebut.
“Baik. Nanti ikut kiriman ke arah desa.”
Rantaka mengangguk.
Ketika keluar dari kantor pos, ia berdiri sebentar di tepi jalan.
Pagi itu matahari mulai naik.
Langit yang semalam tertutup awan kini tampak cerah.
Rantaka memandang ke arah jalan yang membentang menuju Desa Wanasari.
Ia tidak bisa melihat desanya dari sana.
Jarak antara kecamatan dan desa masih cukup jauh.
Ada jalan beraspal.
Ada jalan berbatu.
Ada jembatan kecil.
Ada sungai yang harus dilalui.
Namun, dalam pikirannya, Rantaka dapat melihat semuanya dengan jelas.
Ia melihat rumah sederhana keluarganya.
Ia melihat sekolah kecil yang pernah hampir ditutup.
Ia melihat Gerobak Buku Langit Biru.
Ia melihat Banyu sedang memperbaiki roda.
Ia melihat Jagra membawa jaring dari kolam.
Ia melihat Liris duduk di bawah pohon beringin dengan buku hijau di pangkuannya.
Rantaka tersenyum.
Ia kemudian melanjutkan langkah menuju sekolah.
Di dalam tasnya, ada buku-buku pelajaran.
Ada jadwal belajar.
Ada surat beasiswa yang masih ia simpan dengan rapi.
Dan di dalam hatinya, ada satu keyakinan yang semakin kuat.
Perjalanan memang telah membawa mereka ke arah yang berbeda.
Namun, Langit Biru tidak pernah benar-benar hilang.
Langit Biru hidup dalam surat-surat yang dikirim dari kejauhan.
Langit Biru hidup dalam buku-buku yang dibaca anak-anak desa.
Langit Biru hidup dalam kolam ikan, puisi, alat sederhana, dan mimpi-mimpi yang tumbuh dari tempat yang sering dianggap kecil.
Di ujung kecamatan, Rantaka mulai melangkah menuju masa depannya.
Dan jauh di Desa Wanasari, di bawah pohon beringin tua, sahabat-sahabatnya akan terus menjaga cahaya yang pernah mereka nyalakan bersama.
Bersambung ke Buku III; Langit Biru Di Balik Kota



Danzo
18 Juni 2026 09:53:32
...