Desa Dabulon
Kecamatan Lumbis, Kabupaten Nunukan
NOVEL PULANG

NOVEL PULANG
Sebuah Roman Inspiratif tentang Cinta, Pengabdian, dan Harapan dari Pelosok Negeri
Oleh: Slamet Riyadi
DISCLAIMER
Roman ini merupakan karya fiksi. Seluruh tokoh, nama tempat, peristiwa, dialog, latar, serta konflik yang terdapat di dalamnya merupakan hasil imajinasi penulis.
Apabila terdapat kesamaan nama, tempat, pekerjaan, organisasi, atau peristiwa dengan kehidupan nyata, hal tersebut semata-mata merupakan kebetulan dan tidak dimaksudkan untuk menggambarkan pihak tertentu.
Roman ini ditulis sebagai kisah inspiratif tentang desa, pengabdian, gotong royong, pendidikan, kepemudaan, keluarga, dan cinta yang tumbuh dari keberanian untuk bertahan. Nilai-nilai pembangunan desa yang disampaikan dalam cerita ini diharapkan dapat menjadi renungan bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari hal besar, melainkan dari kepedulian, kerja bersama, dan keberanian untuk mengambil langkah pertama.
PROLOG
Sebuah Jalan yang Mengajarkan Pulang
Hujan turun sejak sore.
Air jatuh dari langit tanpa jeda, membasahi atap-atap seng, halaman rumah, kebun-kebun kecil, dan jalan tanah yang membelah Desa Suka Makmur. Dalam beberapa jam saja, jalan utama desa berubah menjadi lumpur. Parit-parit yang sempit tidak mampu menampung air. Genangan mulai naik ke halaman rumah warga.
Di ujung desa, seorang anak laki-laki berlari sambil membawa sandal di tangannya.
Namanya Danu.
Celananya basah sampai lutut. Bajunya menempel di tubuh karena hujan. Namun, ia tidak berhenti. Ia berlari menuju bangunan kecil di dekat sekolah dasar, sebuah ruangan berdinding papan dengan papan nama yang catnya mulai pudar.
RUMAH BACA HARAPAN
Pintu bangunan itu terbuka.
Di dalam, Khinanti sedang mengangkat beberapa kardus buku ke atas meja. Rambutnya yang tertutup jilbab sudah sedikit basah di bagian depan. Tangannya bergerak cepat, menyelamatkan buku-buku dari lantai yang mulai dimasuki air.
“Kak Khinanti!” teriak Danu dari pintu.
Khinanti menoleh. “Danu? Kenapa kamu keluar rumah? Hujannya deras sekali.”
“Buku-buku ini bagaimana, Kak?” Danu menunjuk tumpukan buku yang masih berada di rak bawah.
Khinanti menatap lantai. Air telah merayap perlahan, membawa lumpur tipis dari halaman.
“Ambil yang kecil-kecil dulu,” katanya. “Taruh di meja. Jangan angkat yang terlalu berat.”
Danu mengangguk. Ia segera masuk dan mengambil beberapa buku cerita bergambar. Tangannya kecil, tetapi gerakannya penuh kesungguhan.
Tidak lama kemudian, dua anak lain datang membantu. Lila membawa kain lap dari rumahnya. Raka datang dengan ember kecil. Mereka bekerja tanpa banyak bicara, seolah telah memahami bahwa tempat itu harus diselamatkan.
Rumah baca itu bukan bangunan besar.
Tidak ada pendingin ruangan.
Tidak ada meja belajar yang seragam.
Rak-raknya dibuat dari papan bekas. Tikarnya mulai menipis. Buku-bukunya sebagian besar merupakan sumbangan dari orang-orang yang pernah percaya bahwa anak-anak desa juga berhak memiliki ruang untuk membaca.
Namun, bagi Danu dan anak-anak lain, rumah baca itu adalah tempat yang lebih luas daripada bangunan mana pun.
Di sana mereka mengenal cerita tentang dunia di luar desa.
Di sana mereka belajar membaca dengan lebih lancar.
Di sana mereka berani berkata bahwa suatu hari nanti mereka ingin menjadi guru, dokter, petani yang berhasil, perawat, polisi, penulis, atau kepala desa.
Khinanti memindahkan sebuah kardus ke atas kursi. Ia menahan napas ketika melihat air mulai masuk lebih jauh.
“Raka, tolong panggil Pak Darmawan ke balai desa,” katanya. “Bilang air sudah masuk ke rumah baca.”
Raka berlari keluar.
Danu masih memegang sebuah buku yang sampulnya mulai basah.
“Kak,” katanya pelan, “kalau rumah baca kebanjiran, besok kami tidak bisa belajar?”
Khinanti berhenti.
Ia memandang anak itu. Wajah Danu tampak cemas, bukan karena takut pada hujan, melainkan karena takut kehilangan tempat yang selama ini membuatnya merasa punya harapan.
Khinanti tersenyum meski dadanya terasa sesak.
“Kita tetap belajar,” jawabnya.
“Di mana?”
“Di mana pun bisa. Di teras rumah, di balai desa, di bawah pohon kalau cuaca sudah cerah. Buku boleh basah, meja boleh rusak, tapi keinginan belajar tidak boleh ikut hanyut.”
Danu mengangguk, meski ia belum sepenuhnya mengerti.
Di luar, hujan semakin deras.
Air dari arah sungai kecil di belakang sekolah mulai meluap. Beberapa warga berteriak memanggil anggota keluarga. Lampu-lampu rumah menyala satu per satu. Dari kejauhan terdengar suara motor yang berusaha melewati jalan berlumpur.
Malam itu, Desa Suka Makmur kembali diuji.
Banjir bukan hal baru.
Jalan rusak bukan hal baru.
Anak-anak belajar di ruang yang terbatas bukan hal baru.
Warga yang pergi ke kota untuk mencari pekerjaan juga bukan hal baru.
Yang baru adalah satu pertanyaan yang perlahan tumbuh di dalam hati banyak orang:
Sampai kapan desa ini hanya bertahan?
Di sebuah kota yang jauh dari Desa Suka Makmur, seorang laki-laki muda duduk sendirian di depan layar komputer. Namanya Erlangga.
Di mejanya, terdapat laporan pembangunan wilayah yang belum selesai. Angka-angka tentang anggaran, infrastruktur, pemberdayaan masyarakat, dan pembangunan ekonomi desa memenuhi layar.
Namun, malam itu, pikirannya tidak berada di kantor.
Sebuah pesan masuk ke telepon genggamnya.
Pesan dari ibunya.
Hujan besar. Jalan desa tergenang lagi. Rumah baca tempat Khinanti mengajar juga kemasukan air.
Erlangga membaca pesan itu berkali-kali.
Tangannya berhenti di atas papan ketik.
Di luar jendela apartemen kecilnya, lampu-lampu kota menyala tanpa henti. Jalan raya dipenuhi kendaraan. Gedung-gedung berdiri tinggi. Semua tampak teratur, cepat, dan sibuk.
Namun, di dalam dirinya, ada sesuatu yang terasa kosong.
Sudah hampir delapan tahun ia meninggalkan Desa Suka Makmur.
Ia pergi dengan keyakinan bahwa pendidikan akan membawanya pada kehidupan yang lebih baik. Ia kuliah di kota. Ia bekerja di perusahaan konsultan pembangunan. Ia belajar menyusun program, membaca data, menghitung kebutuhan anggaran, dan menulis laporan tentang desa-desa yang bahkan belum pernah ia kunjungi.
Ia membantu membuat rencana perubahan untuk banyak tempat.
Tetapi ketika desanya sendiri tenggelam dalam hujan, ia hanya mampu menatap layar telepon.
Erlangga membuka kembali pesan dari ibunya.
Kemudian, tanpa sadar, ia mencari nama Khinanti di daftar kontaknya.
Nama itu masih tersimpan.
Namun, sudah bertahun-tahun ia tidak pernah menghubunginya.
Ada banyak kata yang pernah ingin ia sampaikan.
Ada penjelasan yang tidak pernah selesai.
Ada perpisahan yang terjadi terlalu cepat.
Dan ada rasa bersalah yang semakin lama semakin sulit diucapkan.
Malam itu, Erlangga menutup laptopnya.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia tidak memikirkan proyek, target pekerjaan, atau kenaikan jabatan.
Ia hanya memikirkan satu jalan.
Jalan tanah yang berdebu ketika kemarau.
Jalan berlumpur ketika hujan.
Jalan yang pernah ia tinggalkan dengan membawa mimpi.
Jalan yang kini, tanpa ia sadari, memanggilnya pulang.
BAB I
Jalan Pulang yang Berdebu
Mobil tua itu berhenti mendadak ketika roda depannya masuk ke sebuah lubang besar di tengah jalan.
Tubuh Erlangga terdorong sedikit ke depan. Tas ransel yang diletakkannya di samping kursi bergeser dan hampir jatuh ke lantai mobil. Pak Karman, sopir yang duduk di depan, menghela napas sambil memutar kemudi perlahan agar kendaraan itu dapat keluar dari kubangan.
“Jalan ini memang tidak pernah berubah,” gumam Pak Karman.
Erlangga memandang keluar jendela.
Jalan tanah yang dilalui mobil itu membentang panjang, berwarna cokelat kemerahan, dan penuh lubang. Debu tipis beterbangan setiap kali kendaraan melewati bagian yang kering. Di sisi kanan jalan, pohon-pohon karet berdiri berjajar. Di sisi kiri, ladang jagung dan kebun singkong terlihat membentang hingga ke arah bukit kecil.
Matahari sore menggantung rendah di langit.
Cahayanya jatuh di atas atap seng rumah-rumah warga yang berdiri berjauhan. Beberapa rumah telah berubah menjadi bangunan berdinding semen. Namun, sebagian besar masih berupa rumah kayu dengan halaman luas, pagar bambu, dan kandang ayam di sampingnya.
Erlangga menarik napas perlahan.
Aroma tanah, daun kering, asap dapur, dan kebun yang baru disiram angin sore memenuhi udara.
Aroma itu begitu akrab.
Aroma yang selama bertahun-tahun tidak pernah benar-benar hilang dari ingatannya.
“Sudah lama tidak pulang, Lang?” tanya Pak Karman.
Erlangga tersenyum tipis. “Hampir delapan tahun, Pak.”
Pak Karman mengangguk.
“Delapan tahun itu lama. Waktu kau pergi, jalan ini sudah rusak. Sekarang masih rusak. Bedanya, sekarang lubangnya lebih banyak.”
Erlangga tertawa kecil, tetapi tawanya cepat hilang.
“Desa ini bagaimana, Pak?”
Pak Karman tidak langsung menjawab. Ia memusatkan perhatian pada jalan yang semakin sempit.
“Banyak yang berubah,” katanya kemudian. “Anak-anak yang dulu masih kecil sekarang sudah besar. Ada yang merantau. Ada yang menikah. Ada yang kerja di kebun sawit di luar kecamatan. Tapi banyak juga yang tetap di sini.”
“Pak Sastro sehat?”
“Sehat, walaupun sudah tidak sekuat dulu. Masih ke kebun, tapi tidak setiap hari.”
“Ibu?”
“Bu Marni sering bertanya kapan kau pulang. Kalau ada orang dari kota lewat, dia selalu bilang, ‘Anak saya juga di kota.’”
Kalimat itu membuat dada Erlangga terasa sesak.
Ia membayangkan ibunya yang menunggu.
Membayangkan ayahnya yang mungkin masih menyimpan kecewa.
Membayangkan rumah kayu di ujung desa yang telah lama tidak ia datangi.
“Kalau Khinanti?” tanya Erlangga, hampir seperti bisikan.
Pak Karman meliriknya melalui kaca spion.
“Khinanti?”
Erlangga mengangguk.
“Dia masih di desa. Mengurus rumah baca. Anak-anak senang sekali sama dia.”
Pak Karman tersenyum tipis.
“Dia tidak banyak berubah. Masih keras kepala kalau soal anak-anak dan pendidikan.”
Erlangga menunduk.
“Keras kepala?” tanyanya.
“Bukan keras kepala yang buruk. Dia hanya tidak mudah menyerah.”
Mobil kembali berguncang ketika melewati jalan berbatu. Erlangga memejamkan mata sejenak.
Di dalam kepalanya, nama Khinanti membawa banyak kenangan.
Gadis yang dulu duduk di bangku paling depan saat sekolah.
Gadis yang selalu membawa buku lebih banyak daripada teman-temannya.
Gadis yang pernah berkata kepadanya, saat mereka masih remaja, bahwa desa tidak akan maju jika semua anak mudanya pergi dan tidak pernah kembali.
Waktu itu, Erlangga hanya tertawa.
Ia merasa dunia terlalu luas untuk dibatasi oleh desa kecil.
Kini, setelah bertahun-tahun tinggal di kota, ia justru merasa dunia yang luas itu tidak selalu membuat seseorang menemukan tempatnya.
Mobil berhenti di depan rumah kayu bercat hijau pucat.
Halaman rumah itu masih luas. Pohon mangga di dekat pagar bambu masih berdiri, meski kini batangnya tampak lebih besar dan tua. Di samping rumah, terdapat kebun cabai, beberapa batang pisang, dan kandang ayam sederhana.
Erlangga memandangi rumah itu cukup lama.
Banyak hal berubah dalam hidupnya.
Namun, rumah itu tetap menjadi tempat yang selalu ia bayangkan ketika merasa lelah.
“Sudah sampai,” kata Pak Karman.
Erlangga turun dari mobil. Sepatunya langsung menyentuh tanah yang kering dan berdebu.
Belum sempat ia mengambil tas, pintu rumah terbuka.
Bu Marni keluar dengan langkah cepat.
Wajah perempuan itu tampak lebih tua daripada yang Erlangga ingat. Garis-garis halus terlihat di sekitar matanya. Rambutnya yang dahulu hitam kini mulai dipenuhi uban. Namun, ketika melihat Erlangga berdiri di halaman, matanya langsung berkaca-kaca.
“Langga…”
Suara itu membuat Erlangga tidak mampu berkata apa-apa.
Ia melangkah cepat dan memeluk ibunya.
Bu Marni memegang punggung anaknya erat-erat, seolah takut Erlangga akan kembali pergi jika pelukannya dilepaskan.
“Kau benar-benar pulang,” katanya dengan suara bergetar.
“Iya, Bu.”
“Kau makin kurus.”
Erlangga tersenyum kecil. “Ibu selalu bilang begitu.”
“Karena memang begitu. Di kota kau makan apa?”
“Makan, Bu.”
“Kalau makan, kenapa kurus?”
Erlangga tertawa pelan. Untuk beberapa saat, ia kembali merasa seperti anak kecil yang baru pulang sekolah.
Namun, suasana itu berubah ketika seorang laki-laki keluar dari dalam rumah.
Pak Sastro berdiri di ambang pintu.
Tubuhnya masih tegap, tetapi tidak lagi sekuat dulu. Rambutnya memutih di beberapa bagian. Wajahnya tampak lebih keras, seolah tahun-tahun yang berlalu telah mengajarinya untuk tidak terlalu mudah menunjukkan perasaan.
Erlangga melepaskan pelukan ibunya.
“Bapak,” katanya pelan.
Pak Sastro memandangnya cukup lama.
“Kau akhirnya ingat jalan pulang,” ucapnya.
Kalimat itu tidak diucapkan dengan marah.
Justru itulah yang membuatnya terasa lebih berat.
Erlangga menundukkan kepala.
“Aku pulang, Pak.”
Pak Sastro mengangguk tipis.
“Masuklah. Tidak baik bicara di halaman seperti orang asing.”
Di dalam rumah, suasananya hampir sama seperti yang Erlangga ingat.
Lemari kayu di sudut ruang tamu masih berdiri di tempat yang sama. Foto-foto keluarga masih tergantung di dinding. Ada foto Erlangga ketika memakai seragam sekolah dasar. Ada foto saat ia lulus sekolah menengah. Ada pula foto ketika ia berangkat kuliah ke kota.
Erlangga berdiri di depan foto terakhir itu.
Dalam foto tersebut, ia tersenyum lebar sambil membawa koper kecil. Pak Sastro berdiri di sampingnya dengan wajah bangga. Bu Marni memegang bahunya.
Waktu itu, semua orang percaya bahwa Erlangga akan pulang membawa keberhasilan.
Ia memang pulang.
Tetapi bukan dengan mobil mewah.
Bukan dengan jabatan tinggi.
Bukan dengan rumah baru untuk orang tuanya.
Ia pulang membawa tas ransel, beberapa buku catatan, dan sebuah keputusan yang bahkan belum tentu dipahami keluarganya.
Bu Marni menyuguhkan teh hangat dan singkong goreng.
“Minum dulu,” katanya. “Pasti capek di jalan.”
Erlangga duduk. Pak Sastro duduk di seberangnya.
Beberapa saat, hanya terdengar bunyi sendok menyentuh gelas.
Akhirnya, Pak Sastro membuka percakapan.
“Jadi, kau benar-benar berhenti dari pekerjaanmu?”
Erlangga menatap ayahnya.
“Kontraknya selesai, Pak.”
“Bisa diperpanjang?”
“Bisa.”
“Lalu kenapa tidak?”
Erlangga menghela napas.
“Karena aku tidak ingin memperpanjang.”
Pak Sastro bersandar di kursinya.
“Pekerjaan di kota sulit dicari. Banyak orang desa pergi ke sana untuk mencari hidup yang lebih baik. Kau sudah punya pekerjaan, malah memilih meninggalkannya.”
“Aku ingin mencoba bekerja di sini.”
“Bekerja apa?”
Pertanyaan itu kembali membuat Erlangga diam.
Ia telah memikirkan jawabannya berkali-kali selama perjalanan pulang. Namun, ketika berhadapan dengan ayahnya, semua rencana itu terasa lebih rapuh.
“Aku ingin membantu kegiatan pemuda, pendidikan anak-anak, usaha warga, dan program pembangunan desa.”
Pak Sastro tersenyum tipis.
“Desa ini sudah punya kepala desa. Ada perangkat desa. Ada pendamping. Ada orang-orang yang lebih lama tinggal di sini.”
“Aku tidak ingin menggantikan siapa pun, Pak.”
“Lalu?”
“Aku ingin ikut bekerja.”
Pak Sastro menatapnya tajam.
“Dengan apa? Dengan buku catatan? Dengan gagasan? Kau pikir warga akan makan dari rencana?”
Bu Marni yang berdiri di dapur tampak gelisah.
“Pak, Erlangga baru sampai,” katanya pelan. “Jangan langsung ditekan begitu.”
Pak Sastro tidak menoleh.
“Ayah tidak menekan. Ayah hanya ingin tahu. Dulu kau pergi dengan alasan ingin sekolah dan mencari pekerjaan. Kami menjual sebagian kebun untuk biaya kuliahmu. Kami menahan rindu karena percaya kau sedang menata masa depan.”
Erlangga menunduk.
“Aku tahu, Pak.”
“Sekarang kau pulang dan bilang ingin membangun desa. Apa kau sudah tahu bagaimana sulitnya hidup di sini?”
Kalimat itu membuat ruang tamu terasa semakin sempit.
Erlangga ingin menjawab. Ia ingin mengatakan bahwa ia tahu desa tidak mudah. Ia ingin mengatakan bahwa justru karena tahu ia memilih pulang. Namun, ia sadar bahwa pengetahuan dari buku dan laporan tidak sama dengan pengalaman hidup ayahnya.
Pak Sastro telah hidup puluhan tahun di desa itu.
Ia pernah gagal panen.
Pernah menjual hasil kebun dengan harga murah.
Pernah meminjam uang ketika Erlangga sekolah.
Pernah menunggu bantuan yang tidak kunjung datang.
Bagi Pak Sastro, harapan adalah sesuatu yang harus dihitung dengan sangat hati-hati.
“Aku tidak ingin menjanjikan sesuatu yang besar, Pak,” kata Erlangga akhirnya. “Aku hanya ingin mulai dari hal kecil.”
Pak Sastro berdiri.
“Hal kecil pun butuh biaya. Butuh waktu. Butuh orang yang percaya. Dan desa ini tidak selalu ramah kepada orang yang datang membawa gagasan.”
Ia berjalan menuju pintu, lalu berhenti tanpa menoleh.
“Ayah hanya tidak ingin kau kecewa. Lebih dari itu, ayah tidak ingin kau membuat ibumu berharap terlalu tinggi.”
Setelah itu, Pak Sastro keluar.
Bu Marni duduk di samping Erlangga.
“Bapakmu sebenarnya senang kau pulang,” katanya pelan.
“Tidak terlihat begitu.”
“Dia hanya takut.”
“Takut apa?”
“Takut kau pergi lagi.”
Erlangga menatap ibunya.
Bu Marni tersenyum sedih.
“Dulu ketika kau pergi, Bapakmu selalu bilang kau harus berhasil. Tapi setiap malam, dia yang paling sering melihat jalan. Dia tidak pernah mengaku rindu. Namun, ibu tahu.”
Malam datang dengan tenang.
Di beranda rumah, Erlangga duduk sendiri sambil memegang buku catatan hitam yang dibawanya dari kota. Di dalam buku itu, terdapat banyak tulisan.
Rumah baca.
Pelatihan pemuda.
Kebun pangan keluarga.
Kelompok usaha ibu-ibu.
Bank sampah.
Papan informasi pelayanan desa.
Pelatihan pemasaran hasil kebun.
Program belajar sore.
Semua tampak rapi di atas kertas.
Namun, setelah berbicara dengan ayahnya, Erlangga menyadari bahwa rencana tidak akan berarti apa-apa jika tidak mampu menyentuh kehidupan warga.
Ia membutuhkan waktu.
Ia membutuhkan kepercayaan.
Dan mungkin, ia harus terlebih dahulu belajar kembali menjadi bagian dari desa yang pernah ia tinggalkan.
Keesokan paginya, Erlangga bangun sebelum matahari terbit.
Ia berjalan menuju pusat desa tanpa memberi tahu siapa pun. Udara pagi masih dingin. Embun menggantung di daun-daun rumput. Beberapa warga telah berangkat ke kebun membawa cangkul. Seorang ibu menyapu halaman rumah sambil sesekali memanggil anaknya yang belum siap sekolah.
Ketika melewati sekolah dasar, langkah Erlangga melambat.
Bangunan itu tampak tua.
Cat dindingnya mengelupas. Atap di bagian belakang terlihat sedikit miring. Halaman sekolah dipenuhi bekas genangan hujan. Di salah satu sudut, terdapat tiang bendera yang catnya mulai pudar.
Di samping sekolah, berdiri bangunan kecil dengan papan nama sederhana.
RUMAH BACA HARAPAN
Pintunya terbuka.
Di dalam, beberapa anak duduk di atas tikar. Ada yang membaca buku bergambar. Ada yang menulis huruf di buku tulis. Ada pula yang hanya memperhatikan temannya membaca dengan wajah penuh rasa ingin tahu.
Di antara mereka, seorang perempuan sedang menyusun buku-buku di rak kayu.
Khinanti.
Erlangga berhenti di depan pintu.
Jantungnya berdetak lebih cepat daripada saat ia menghadapi rapat di kantor atau mempresentasikan laporan di depan pimpinan perusahaan.
Delapan tahun adalah waktu yang terlalu panjang untuk diringkas dalam satu sapaan.
Khinanti menoleh.
Tangannya berhenti di atas rak buku.
Wajahnya masih menyimpan ketenangan yang sama seperti yang Erlangga ingat. Namun, kini ada sesuatu yang berbeda. Tatapannya lebih tegas. Sikapnya lebih dewasa. Ia bukan lagi gadis remaja yang menunggu di bawah pohon mangga sambil membawa buku.
Ia adalah perempuan yang telah memilih bertahan.
“Erlangga?” tanyanya.
Erlangga tersenyum tipis.
“Iya. Aku pulang.”
Khinanti tidak langsung tersenyum.
“Aku dengar dari Pak Karman kemarin sore.”
“Aku ingin bertemu denganmu.”
“Untuk apa?”
Pertanyaan itu sederhana, tetapi membuat Erlangga kehilangan kata-kata.
Beberapa anak mulai memperhatikan mereka.
Erlangga menatap sekeliling rumah baca.
“Tempat ini bagus,” katanya. “Kau yang mengelolanya?”
“Bersama warga. Tidak sendiri.”
“Aku dengar sempat kebanjiran.”
“Kau dengar dari siapa?”
“Ibu mengirim pesan.”
Khinanti mengangguk kecil.
“Banjir sudah surut. Buku-buku yang rusak juga tidak banyak.”
“Aku bisa membantu memperbaiki rak atau mencari buku tambahan.”
Khinanti menatapnya.
“Bantuan itu mudah diucapkan, Langga.”
Erlangga diam.
Khinanti menurunkan sebuah buku dari tangannya.
“Dulu kau juga banyak bicara tentang desa. Tentang pendidikan. Tentang anak-anak. Tentang pulang setelah kuliah.”
“Khinanti…”
“Tapi kau pergi tanpa benar-benar menjelaskan apa pun.”
Suara Khinanti tidak keras.
Justru karena tenang, kata-katanya terasa lebih tajam.
Erlangga menundukkan kepala.
“Aku salah.”
“Kau memang salah.”
“Aku ingin minta maaf.”
Khinanti memandang anak-anak di dalam rumah baca. Danu sedang mengeja kata-kata dari buku cerita. Lila membantu temannya menulis. Cahaya pagi masuk dari jendela dan jatuh di atas tikar yang sudah mulai kusam.
“Maaf tidak selalu memperbaiki semua hal,” kata Khinanti.
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa kau pulang?”
Erlangga menarik napas.
Karena lelah, pikirnya.
Karena merasa kosong.
Karena pekerjaannya di kota membuatnya semakin jauh dari dirinya sendiri.
Karena setiap melihat laporan tentang desa, ia selalu teringat Suka Makmur.
Karena pesan tentang banjir membuatnya sadar bahwa ia terlalu lama menjadi penonton.
Namun, semua alasan itu terasa terlalu kecil untuk menebus delapan tahun.
“Aku pulang karena aku ingin berhenti lari,” katanya akhirnya.
Khinanti menatapnya.
“Aku tidak mengerti.”
“Aku pergi karena merasa kota akan memberiku semua jawaban. Tapi ternyata tidak. Aku belajar banyak, bekerja banyak, dan bertemu banyak orang. Namun, semakin lama aku merasa semua yang kulakukan tidak punya arti kalau aku tidak berani melihat kembali tempat aku berasal.”
Khinanti tidak menjawab.
“Aku tidak datang untuk menjadi pahlawan desa,” lanjut Erlangga. “Aku juga tidak datang membawa jawaban untuk semua persoalan. Aku hanya ingin belajar bekerja bersama warga. Kalau kau mengizinkan, aku ingin membantu rumah baca ini.”
Khinanti memandangnya cukup lama.
Di matanya, Erlangga melihat keraguan.
Juga luka lama yang belum selesai.
Namun, ia juga melihat sesuatu yang lebih halus: keinginan untuk percaya, meski perempuan itu belum berani memberikannya.
Akhirnya, Khinanti menunjuk beberapa papan kayu yang diletakkan di sudut ruangan.
“Rak bagian bawah patah sejak banjir,” katanya.
Erlangga menoleh.
“Bisa diperbaiki?”
“Kalau kau memang ingin membantu, jangan mulai dengan janji.”
Erlangga mengangguk.
“Baik.”
“Mulailah dengan itu.”
Erlangga tersenyum kecil.
Untuk pertama kalinya pagi itu, Khinanti tidak segera memalingkan wajah.
Ia kembali kepada anak-anak.
“Danu,” panggilnya. “Tolong ambilkan palu kecil di kotak belakang.”
Danu berlari ke arah sudut ruangan, lalu menatap Erlangga dengan rasa ingin tahu.
“Kakak ini siapa?” tanyanya polos.
Khinanti menoleh sekilas.
“Orang yang katanya mau membantu.”
Danu menyerahkan palu kepada Erlangga.
“Kalau kakak bisa memperbaiki rak, nanti buku cerita dinosaurus jangan sampai jatuh lagi, ya.”
Erlangga menerima palu itu.
“Baik. Aku usahakan.”
Danu mengangguk puas, lalu kembali duduk di tikar.
Erlangga berjongkok di depan rak kayu yang patah. Tangannya mulai kotor oleh debu dan serpihan papan. Dari dalam rumah baca, terdengar suara anak-anak membaca. Dari luar, suara motor dan langkah warga mulai memenuhi jalan desa.
Pagi itu, tidak ada sambutan besar untuk kepulangannya.
Tidak ada ucapan selamat.
Tidak ada orang yang langsung percaya pada niatnya.
Yang ada hanya sebuah rak buku patah, beberapa anak yang menunggu, dan Khinanti yang masih menyimpan jarak.
Namun, bagi Erlangga, itulah awal yang paling jujur.
Ia tidak perlu memulai dengan mimpi besar.
Ia hanya perlu memulai dengan sesuatu yang nyata.
Dengan sebatang paku.
Dengan papan kayu yang retak.
Dengan kesediaan untuk tinggal lebih lama daripada sekadar datang dan berbicara.
Di Desa Suka Makmur, jalan pulang itu memang berdebu.
Tetapi dari debu itulah, Erlangga mulai belajar bahwa pulang bukan hanya tentang kembali ke rumah.
Pulang adalah tentang berani menghadapi apa yang pernah ditinggalkan.
BAB II
Balai Desa yang Sunyi
Palu kecil di tangan Erlangga berhenti sesaat ketika terdengar suara anak-anak tertawa di belakangnya.
Rak buku yang patah itu akhirnya berdiri kembali, meski bentuknya belum sepenuhnya lurus. Salah satu kaki rak harus diganjal dengan potongan kayu bekas. Bagian sisi yang retak diperkuat dengan papan tambahan. Catnya tetap kusam, sudut-sudutnya masih mengelupas, tetapi kini rak itu kembali mampu menahan buku-buku cerita, buku pelajaran, dan beberapa majalah lama yang dikumpulkan Khinanti dari sumbangan warga.
Danu berdiri di samping Erlangga dengan wajah serius, seolah sedang memeriksa hasil pekerjaan seorang tukang profesional.
“Sudah kuat, Kak?” tanyanya.
Erlangga menekan bagian atas rak perlahan.
“Sudah cukup kuat.”
“Kalau buku dinosaurusnya ditaruh di atas, aman?”
“Aman.”
Danu tersenyum lebar.
“Kalau begitu, Kakak boleh datang lagi.”
Anak-anak lain tertawa.
Khinanti yang sedang menyusun buku di meja hanya menggeleng kecil. Ada senyum tipis di wajahnya, tetapi senyum itu cepat menghilang ketika ia kembali melihat daftar buku yang rusak akibat banjir.
“Terima kasih,” katanya kepada Erlangga.
“Tidak perlu.”
“Perlu. Tidak semua orang mau meluangkan waktu untuk memperbaiki sesuatu yang dianggap kecil.”
Erlangga menatap rak buku itu.
“Kadang yang kecil justru penting.”
Khinanti tidak menjawab. Ia mengambil beberapa buku yang sampulnya menggelembung karena terkena air, lalu memasukkannya ke dalam kardus.
“Buku-buku ini tidak bisa dipakai lagi,” katanya. “Sebagian masih bisa dijemur, tapi beberapa sudah rusak.”
“Aku bisa carikan pengganti.”
Khinanti menoleh cepat.
Erlangga segera mengangkat kedua tangannya, seolah menyadari kesalahannya.
“Maaf. Aku tidak bermaksud hanya bicara.”
“Bukan itu,” kata Khinanti. “Aku hanya tidak ingin rumah baca ini menjadi tempat orang datang membawa janji, lalu pergi ketika merasa bosan.”
“Aku mengerti.”
“Tidak, Langga.” Nada suara Khinanti tetap tenang, tetapi lebih dalam. “Kau belum tentu mengerti. Tempat ini pernah hampir tutup dua kali. Pernah ada yang datang membawa buku, memotret anak-anak, lalu tidak pernah kembali. Pernah ada yang menjanjikan bantuan meja dan kursi, tetapi sampai sekarang tidak ada kabarnya. Anak-anak sudah terlalu sering belajar bahwa orang dewasa bisa datang membawa harapan, lalu menghilang.”
Erlangga terdiam.
Kata-kata itu tidak hanya terasa sebagai teguran untuk orang-orang yang pernah mengecewakan rumah baca. Kata-kata itu juga terasa seperti teguran untuk dirinya.
Ia pernah pergi.
Ia pernah meninggalkan Khinanti tanpa penjelasan yang layak.
Ia pernah memilih diam ketika seharusnya menjelaskan.
“Aku tidak bisa meminta kau percaya sekarang,” kata Erlangga. “Tapi aku bisa menunjukkan bahwa aku tidak akan pergi begitu saja.”
Khinanti memandangnya beberapa saat.
“Buktikan.”
Jawaban itu singkat.
Namun, bagi Erlangga, itu adalah pintu yang belum sepenuhnya tertutup.
Menjelang siang, Erlangga berjalan menuju balai desa.
Bangunan itu berada tidak jauh dari lapangan kecil yang biasa digunakan warga untuk bermain bola, mengadakan kerja bakti, atau menggelar perayaan hari besar. Cat dinding balai desa berwarna krem pucat. Sebagian catnya mulai mengelupas. Halamannya luas, tetapi rumput tumbuh tidak beraturan di beberapa sudut.
Di depan bangunan, sebuah papan nama berdiri miring.
KANTOR DESA SUKA MAKMUR
Di bawahnya terdapat papan pengumuman yang hampir kosong.
Hanya ada satu lembar kertas tentang jadwal posyandu bulan lalu, sebuah pengumuman pembayaran pajak yang sudah memudar, dan surat pemberitahuan rapat yang tanggalnya telah lewat hampir dua minggu.
Erlangga berhenti di depan papan itu.
Ia teringat pekerjaannya di kota. Dalam banyak laporan pembangunan desa yang pernah ia susun, papan informasi publik selalu disebut sebagai salah satu bentuk keterbukaan pelayanan. Kalimat itu tampak sederhana ketika ditulis dalam laporan.
Namun, ketika berdiri di depan papan pengumuman yang kosong, ia mulai memahami bahwa persoalannya tidak sesederhana memasang kertas.
Mungkin perangkat desa sibuk.
Mungkin warga tidak terbiasa membaca pengumuman.
Mungkin tidak ada yang merasa perlu memperbaruinya.
Atau mungkin, selama ini tidak ada yang benar-benar bertanya.
Pintu balai desa terbuka sedikit.
Erlangga mengetuk.
“Permisi.”
Tidak ada jawaban.
Ia mengetuk lagi.
“Permisi, Pak.”
Dari dalam terdengar suara kursi digeser. Seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun keluar dari ruangan. Tubuhnya kurus, mengenakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung. Di sakunya terselip beberapa lembar kertas dan sebuah pulpen.
“Cari siapa?” tanyanya.
“Saya Erlangga, Pak. Anak Pak Sastro.”
Laki-laki itu mengamati wajah Erlangga.
“Oh, kau yang baru pulang dari kota itu?”
“Iya, Pak.”
“Saya Mulyono. Sekretaris desa.”
Erlangga mengulurkan tangan. “Senang bertemu, Pak.”
Pak Mulyono menjabat tangannya, tetapi tatapannya tetap menyelidik.
“Masuklah.”
Ruang balai desa itu terasa sunyi.
Ada beberapa meja kayu yang tersusun berjajar. Di atasnya terdapat tumpukan map, buku agenda, berkas surat masuk, dan beberapa gelas bekas minum kopi. Sebuah kipas angin tua berputar lambat di sudut ruangan. Di dinding, terpajang foto Presiden dan Wakil Presiden, foto kepala daerah, serta bagan struktur pemerintahan desa yang sebagian tulisannya mulai pudar.
Di salah satu meja, seorang perempuan muda sedang mengetik di komputer. Ia menoleh sebentar ketika Erlangga masuk, lalu kembali memusatkan perhatian pada layar.
“Itu Rina,” kata Pak Mulyono. “Kaur tata usaha.”
Rina mengangguk singkat.
“Pagi.”
“Pagi,” jawab Erlangga.
Pak Mulyono duduk di kursinya. “Jadi, ada keperluan apa?”
Erlangga menarik kursi di depan meja.
“Saya ingin bertemu Pak Kepala Desa.”
“Pak Darmawan sedang ke kecamatan. Ada urusan laporan.”
“Kalau begitu, saya bisa menunggu.”
Pak Mulyono mengangkat alis.
“Menunggu untuk apa?”
Erlangga tersenyum kecil.
“Saya ingin menyampaikan niat saya untuk ikut membantu kegiatan desa.”
Rina yang semula mengetik perlahan menghentikan tangannya.
Pak Mulyono bersandar di kursi.
“Membantu kegiatan desa?”
“Iya, Pak.”
“Sebagai apa?”
Pertanyaan itu kembali muncul.
Erlangga menyadari bahwa di desa, niat baik harus memiliki bentuk yang jelas. Tidak cukup hanya berkata ingin membantu. Orang-orang perlu tahu siapa dirinya, apa kepentingannya, dan sampai kapan ia akan bertahan.
“Saya belum ingin masuk dalam jabatan apa pun,” jawab Erlangga. “Saya hanya ingin ikut terlibat dalam kegiatan pemuda, pendidikan anak-anak, dan pemberdayaan warga. Kalau ada kegiatan yang membutuhkan tenaga atau bantuan penyusunan rencana, saya siap membantu.”
Pak Mulyono tersenyum tipis.
“Banyak anak muda pernah bilang begitu.”
Erlangga menatapnya.
“Maksud Bapak?”
“Tidak ada maksud buruk. Hanya pengalaman.” Pak Mulyono membuka sebuah map di atas mejanya. “Setiap tahun ada saja yang datang membawa gagasan. Ada yang ingin membuat kelompok tani modern. Ada yang ingin membuat bank sampah. Ada yang ingin membuat wisata desa. Ada yang ingin mengajak pemuda berwirausaha.”
Ia menutup map itu kembali.
“Masalahnya, setelah rapat pertama, orang-orang mulai hilang satu per satu.”
Rina menunduk, tetapi Erlangga melihat perempuan itu seperti menahan senyum pahit.
“Warga akhirnya malas datang rapat,” lanjut Pak Mulyono. “Mereka merasa rapat hanya tempat mendengar rencana. Setelah itu, tidak ada hasil.”
Erlangga mengangguk.
“Saya paham, Pak.”
“Belum tentu.” Pak Mulyono menatapnya lurus. “Kau baru pulang. Kau mungkin melihat banyak yang perlu dibenahi. Jalan rusak, rumah baca kekurangan buku, pemuda banyak menganggur, ibu-ibu belum punya usaha tetap. Semua itu memang ada. Tapi desa ini tidak hanya kekurangan gagasan. Desa ini juga kekurangan dana, tenaga, dan kepercayaan.”
Kalimat terakhir itu menggantung cukup lama.
Erlangga tidak tersinggung. Justru ia merasa Pak Mulyono sedang mengatakan sesuatu yang penting.
“Kalau begitu,” kata Erlangga, “saya ingin mulai dari membangun kepercayaan.”
Pak Mulyono tertawa pelan.
“Itu jawaban yang bagus. Tapi membangun kepercayaan lebih sulit daripada membangun jalan.”
Sebelum Erlangga sempat menjawab, suara motor berhenti di halaman balai desa. Beberapa saat kemudian, seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh lima tahun masuk dengan langkah cepat. Ia mengenakan seragam dinas berwarna cokelat muda dan membawa map biru di bawah lengannya.
Pak Darmawan.
Wajahnya tampak lelah, tetapi matanya tajam. Ia menyalami Pak Mulyono, lalu memandang Erlangga.
“Erlangga?” tanyanya.
“Iya, Pak.”
“Kau sudah pulang, rupanya.”
“Baru kemarin sore, Pak.”
Pak Darmawan mengangguk. “Saya dengar dari ibumu. Katanya kau mau tinggal beberapa waktu di desa.”
“Kalau memungkinkan, saya ingin tinggal lebih lama, Pak.”
Pak Darmawan meletakkan map di atas meja.
“Lebih lama itu berapa lama?”
Erlangga tersenyum tipis.
“Saya belum tahu.”
Pak Darmawan menatapnya beberapa saat, lalu duduk.
“Jawaban yang jujur,” katanya. “Setidaknya kau tidak langsung menjanjikan akan tinggal selamanya.”
Pak Mulyono mengambil beberapa berkas dari meja.
“Erlangga ingin membantu kegiatan desa, Pak.”
Pak Darmawan menoleh kepada Erlangga.
“Kegiatan apa?”
“Saya ingin membantu rumah baca, kegiatan pemuda, dan kalau diperlukan, membantu menyusun program pemberdayaan warga.”
Pak Darmawan menyandarkan punggungnya ke kursi.
“Desa ini memang butuh orang yang mau bekerja. Tapi saya tidak bisa memberi ruang kepada orang hanya karena ia punya niat baik.”
“Saya tidak meminta jabatan, Pak.”
“Bagus.” Pak Darmawan mengangguk. “Karena jabatan bukan hadiah untuk orang yang baru pulang.”
Nada suaranya tegas, tetapi tidak merendahkan.
Erlangga mengangguk.
“Saya mengerti.”
“Kalau kau ingin membantu, ikutlah kegiatan yang sudah ada. Jangan langsung membuat kegiatan baru. Lihat dulu kebutuhan warga. Dengarkan dulu. Jangan datang dengan cara berpikir kota lalu merasa semua harus berubah dalam seminggu.”
Kata-kata itu tepat mengenai bagian paling rapuh dalam diri Erlangga.
Ia memang takut dianggap sebagai orang kota yang pulang membawa teori.
“Ada rapat kecil sore ini,” lanjut Pak Darmawan. “Bukan rapat resmi. Hanya pembahasan tentang saluran air di Dusun Timur dan rencana kerja bakti minggu depan. Kalau kau mau datang, datanglah. Duduk dan dengarkan.”
“Saya akan datang, Pak.”
Pak Darmawan mengangguk.
“Baik. Jam empat.”
Kabar tentang kepulangan Erlangga menyebar lebih cepat daripada yang ia duga.
Ketika ia berjalan pulang dari balai desa, dua orang ibu yang sedang menyapu halaman berhenti sejenak untuk memperhatikannya. Seorang bapak yang duduk di warung kopi menoleh ketika ia lewat. Beberapa pemuda yang sedang memperbaiki motor di bawah pohon rambutan saling berbisik.
“Anak Pak Sastro itu, kan?”
“Yang kuliah di kota?”
“Katanya mau bantu desa.”
“Mau bantu apa? Jalan saja masih begitu.”
Erlangga mendengar sebagian percakapan itu.
Ia tidak menoleh.
Ia tahu, warga berhak ragu.
Desa telah terlalu lama menerima banyak janji.
Di warung kopi dekat pertigaan jalan, beberapa laki-laki duduk mengelilingi meja kayu. Asap rokok bercampur aroma kopi hitam. Di salah satu sudut, Pak Wiryo duduk sambil membaca koran lama.
Pak Wiryo adalah salah satu tokoh yang cukup disegani di Desa Suka Makmur. Usianya sudah lebih dari enam puluh tahun. Ia pernah menjadi ketua lembaga desa beberapa tahun lalu. Banyak warga datang kepadanya jika memiliki persoalan, terutama urusan tanah, kebun, atau perselisihan keluarga.
Ketika Erlangga melewati warung, Pak Wiryo memanggil.
“Langga!”
Erlangga berhenti.
“Pak Wiryo.”
“Masuklah sebentar.”
Erlangga ragu sejenak, lalu masuk. Ia menyalami beberapa orang yang duduk di sana.
Pak Wiryo menunjuk kursi kosong.
“Duduk.”
Erlangga duduk.
“Kau sudah lama tidak kelihatan,” kata Pak Wiryo.
“Iya, Pak. Saya baru pulang.”
“Katanya mau membantu desa?”
Erlangga menatapnya.
“Kalau warga mengizinkan, Pak.”
Pak Wiryo tersenyum tipis.
“Desa ini tidak perlu izin untuk dibantu. Desa ini perlu bukti.”
Beberapa orang di warung tertawa kecil.
Erlangga mengangguk.
“Betul, Pak.”
Pak Wiryo menyeruput kopinya.
“Dulu banyak juga yang pulang membawa semangat. Ada yang mau membuat koperasi. Ada yang mau membuat peternakan ayam. Ada yang mau membuka pelatihan komputer. Semua bagus.”
“Lalu kenapa tidak jalan?”
Pak Wiryo menatapnya.
“Karena desa bukan tempat untuk mencoba-coba.”
Erlangga menahan diri agar tidak langsung membantah.
“Maksud Bapak?”
“Orang kota sering melihat desa sebagai tempat yang bisa diperbaiki dengan ide. Padahal desa ini punya cara hidup sendiri. Warga punya kebiasaan sendiri. Kalau terlalu banyak perubahan, yang ada malah ribut.”
Salah seorang laki-laki di samping Pak Wiryo mengangguk.
“Benar itu. Orang sekarang maunya cepat. Padahal kita hidup dari kebun. Tidak bisa semuanya diatur seperti kantor.”
Erlangga memandang satu per satu wajah mereka.
“Aku tidak ingin mengatur hidup warga,” katanya. “Aku hanya ingin ikut mencari jalan supaya anak-anak punya tempat belajar, pemuda punya kegiatan, dan warga bisa lebih mudah mendapatkan informasi.”
Pak Wiryo mengangkat alis.
“Anak-anak sudah punya sekolah.”
“Sekolah saja tidak selalu cukup, Pak.”
“Pemuda sudah punya kebun.”
“Tidak semua pemuda punya kebun sendiri.”
“Informasi desa juga ada di balai desa.”
Erlangga mengangguk.
“Tapi tidak semua warga tahu kapan harus datang ke balai desa.”
Suasana warung tiba-tiba menjadi lebih sunyi.
Pak Wiryo menatap Erlangga dengan tatapan yang sulit dibaca.
“Kau baru sehari pulang, Langga. Jangan terlalu cepat menilai.”
Erlangga menundukkan kepala.
“Saya tidak bermaksud menilai, Pak.”
“Bagus.” Pak Wiryo meletakkan gelasnya. “Kalau begitu, dengarkan dulu. Desa ini sudah berkali-kali didatangi orang yang ingin mengubah keadaan. Tapi ketika keadaan tidak sesuai harapan, mereka pergi. Yang tinggal tetap warga sini.”
Erlangga mengangguk.
Kata-kata itu kembali mengingatkannya pada Khinanti.
Jangan mulai dengan janji.
Mulailah dengan bukti.
Sore hari, langit mulai berubah kelabu ketika Erlangga kembali ke balai desa.
Rapat kecil yang dimaksud Pak Darmawan ternyata dihadiri lebih banyak orang daripada yang ia bayangkan. Ada perangkat desa, ketua RT, beberapa tokoh pemuda, dua orang ibu dari Dusun Timur, serta beberapa warga yang datang karena rumah mereka sering terdampak genangan.
Khinanti juga hadir.
Ia duduk di dekat Bu Ratna, seorang perempuan paruh baya yang dikenal aktif dalam kegiatan PKK dan posyandu. Ketika melihat Erlangga masuk, Khinanti hanya mengangguk kecil.
Erlangga memilih duduk di bagian belakang.
Pak Darmawan membuka rapat tanpa banyak basa-basi.
“Saluran air di Dusun Timur kembali tersumbat. Hujan kemarin membuat beberapa halaman rumah tergenang. Kita harus menentukan langkah sebelum hujan besar datang lagi.”
Pak Mulyono membuka catatan.
“Usulan sementara adalah kerja bakti membersihkan saluran pada hari Minggu. Tapi ada bagian parit yang ambrol. Kalau hanya dibersihkan, air tetap tidak akan lancar.”
Seorang warga bernama Pak Jono mengangkat tangan.
“Parit di dekat rumah saya memang sudah lama rusak. Tapi kalau mau diperbaiki, butuh semen. Dari mana dananya?”
Bu Ratna ikut berbicara.
“Kalau hanya menunggu bantuan, mungkin sampai musim hujan selesai tidak ada kabar.”
“Lalu ibu mau warga patungan?” tanya seorang laki-laki dari sudut ruangan.
Bu Ratna menatapnya.
“Kalau ada kemampuan, kenapa tidak? Tidak harus uang. Bisa tenaga, bisa batu, bisa makanan untuk yang kerja.”
“Warga sudah susah,” kata laki-laki itu. “Jangan semua dibebankan ke warga.”
Suasana mulai memanas.
Pak Darmawan mengangkat tangan.
“Kita tidak sedang membebankan semuanya kepada warga. Kita sedang mencari cara agar masalah ini tidak dibiarkan.”
Pak Wiryo yang duduk di sisi kanan ruangan berdeham.
“Menurut saya, jangan terburu-buru,” katanya. “Kita perlu lihat dulu apakah saluran itu benar-benar penyebab utama. Jangan sampai warga kerja bakti, habis tenaga, tetapi air tetap masuk ke rumah.”
Beberapa orang mengangguk.
Pak Darmawan menatap Pak Wiryo.
“Kalau menunggu terlalu lama, hujan berikutnya bisa lebih besar.”
Pak Wiryo tersenyum tipis.
“Pak Kades, saya hanya ingin kita hati-hati. Jangan semua masalah diselesaikan dengan kerja bakti. Kadang warga perlu solusi yang lebih jelas.”
Erlangga memperhatikan percakapan itu.
Ia mulai melihat bahwa persoalan desa bukan sekadar masalah saluran air. Ada perbedaan cara pandang. Ada warga yang ingin segera bergerak. Ada yang takut tenaga mereka terbuang. Ada yang tidak percaya pada rencana pemerintah desa. Ada pula yang merasa pendapatnya lebih layak didengar karena sudah lama tinggal di desa.
Pak Darmawan memandang ke seluruh ruangan.
“Apakah ada usulan lain?”
Ruangan hening.
Erlangga menundukkan kepala. Ia teringat pesan Pak Darmawan: duduk dan dengarkan.
Namun, ketika hening berlangsung cukup lama, Khinanti berbicara.
“Kalau boleh,” katanya.
Semua orang menoleh.
“Kita bisa membagi langkahnya. Hari Minggu tetap kerja bakti membersihkan saluran yang tersumbat. Sementara untuk bagian parit yang ambrol, kita ukur dulu panjang kerusakannya dan hitung kebutuhan material.”
Pak Mulyono mengangguk perlahan.
“Itu bisa dilakukan.”
Khinanti melanjutkan.
“Kalau warga melihat hasil pembersihan saluran, setidaknya genangan bisa berkurang. Setelah itu, kita bisa membicarakan perbaikan yang lebih permanen.”
Pak Wiryo menatap Khinanti.
“Kau yakin kerja bakti cukup?”
“Tidak cukup, Pak,” jawab Khinanti. “Tapi diam juga tidak cukup.”
Kalimat itu membuat beberapa orang terdiam.
Erlangga memandang Khinanti dengan kagum. Ia tidak berbicara panjang. Namun, ia mampu menyampaikan sesuatu yang tepat.
Pak Darmawan mengangguk.
“Baik. Kita lakukan begitu.”
Seorang pemuda di bagian belakang ruangan berkata, “Kalau begitu, pemuda bisa bantu mengukur parit besok pagi.”
Pak Darmawan menoleh.
“Siapa yang bisa ikut?”
Beberapa tangan terangkat.
Jatmiko, pemuda bertubuh tinggi yang duduk dekat pintu, mengangkat tangan paling dulu.
“Saya ikut, Pak.”
Pak Darmawan mencatat namanya.
Kemudian, tanpa disangka, Jatmiko menoleh kepada Erlangga.
“Mas Erlangga ikut juga, kan?”
Beberapa pasang mata langsung mengarah kepada Erlangga.
Ia memahami bahwa inilah saatnya.
Bukan untuk memberi pidato.
Bukan untuk menjelaskan rencana besar.
Hanya untuk menunjukkan bahwa ia bersedia turun ke lapangan.
Erlangga berdiri.
“Saya ikut,” katanya.
Pak Wiryo menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Kau bisa mengukur parit?”
Erlangga menatapnya.
“Saya bisa belajar.”
Beberapa warga tertawa kecil.
Namun, kali ini tawa itu tidak sepenuhnya bernada mengejek.
Khinanti menunduk, tetapi Erlangga melihat sudut bibirnya bergerak sedikit, seperti menahan senyum.
Rapat berakhir ketika langit di luar mulai gelap.
Warga keluar satu per satu dari balai desa. Sebagian masih membicarakan kerja bakti. Sebagian lain pulang dengan wajah ragu. Tidak semua persoalan selesai dalam rapat itu. Bahkan, mungkin belum ada satu pun masalah yang benar-benar selesai.
Namun, setidaknya ada keputusan kecil.
Ada langkah pertama.
Di halaman balai desa, Erlangga berdiri sambil melihat papan pengumuman yang hampir kosong. Khinanti keluar beberapa saat kemudian.
“Kau tidak harus ikut semua kegiatan,” katanya.
Erlangga menoleh.
“Aku ingin ikut.”
“Karena ingin membantu desa?”
“Iya.”
“atau karena ingin membuat orang percaya padamu?”
Erlangga tersenyum kecil.
“Mungkin keduanya.”
Khinanti memandang langit yang mulai gelap.
“Kepercayaan warga tidak datang karena kau hadir sekali dalam rapat.”
“Aku tahu.”
“Kepercayaan juga tidak datang karena kau memperbaiki satu rak buku.”
“Aku tahu.”
“Kau harus siap kalau nanti ada yang meremehkanmu. Ada yang menyindir. Ada yang tidak percaya. Bahkan mungkin ada yang menunggu kau gagal.”
Erlangga memandangnya.
“Kalau kau?”
Khinanti menatapnya cukup lama.
“Aku belum tahu.”
Jawaban itu jujur.
Dan justru karena itu, Erlangga tidak merasa kecewa.
Ia mengangguk.
“Tidak apa-apa.”
Khinanti berjalan beberapa langkah, lalu berhenti.
“Besok pagi, jangan terlambat. Jatmiko orangnya tidak suka menunggu.”
Erlangga tersenyum.
“Baik.”
Khinanti melanjutkan langkahnya.
Erlangga tetap berdiri di halaman balai desa yang mulai sunyi. Angin sore membawa aroma tanah basah dari arah Dusun Timur. Di kejauhan, terdengar suara ayam pulang ke kandang dan anak-anak yang bermain sebelum malam benar-benar turun.
Balai desa itu masih tampak sepi.
Papan pengumumannya masih kosong.
Tumpukan berkas masih memenuhi meja perangkat desa.
Warga masih ragu.
Pak Sastro masih belum memahami keputusannya.
Khinanti masih menjaga jarak.
Namun, Erlangga mulai mengerti bahwa perubahan tidak akan dimulai dari ruangan yang ramai oleh pidato.
Perubahan mungkin justru dimulai dari balai desa yang sunyi.
Dari beberapa orang yang mau duduk bersama.
Dari sebuah saluran air yang tersumbat.
Dari kerja bakti yang belum tentu berhasil.
Dari keberanian untuk tetap datang, meski belum ada yang benar-benar percaya.
BAB III
Perempuan di Rumah Baca
Pagi di Desa Suka Makmur selalu datang dengan cara yang sederhana.
Cahaya matahari menyelinap di antara daun-daun pisang yang masih basah oleh embun. Dari kejauhan terdengar suara ayam berkokok bersahut-sahutan, disusul bunyi lesung dari rumah seorang warga yang sedang menumbuk padi. Jalan tanah di depan rumah-rumah penduduk masih lembap akibat hujan semalam. Di beberapa bagian, bekas roda sepeda motor membentuk kubangan kecil yang memantulkan warna langit pagi.
Bagi sebagian orang, pagi seperti itu mungkin tidak berbeda dari pagi-pagi sebelumnya.
Namun, bagi Khinanti, pagi itu terasa lebih panjang.
Ia sudah membuka pintu Rumah Baca Harapan sejak matahari belum terlalu tinggi. Bangunan kecil di samping sekolah dasar itu berdiri sederhana dengan dinding papan bercat putih yang mulai kusam. Jendelanya lebar, tetapi salah satu engselnya sudah longgar. Atap seng di bagian belakang sedikit bocor ketika hujan turun terlalu deras.
Di atas pintu, sebuah papan kayu bertuliskan:
RUMAH BACA HARAPAN
Tulisan itu dibuat sendiri oleh anak-anak beberapa tahun lalu. Huruf-hurufnya tidak sepenuhnya rapi. Cat birunya sudah mulai pudar. Namun, bagi Khinanti, papan itu lebih berharga daripada papan nama yang baru dan mengilap.
Di dalam ruangan, dua rak kayu berdiri berdampingan. Rak sebelah kiri berisi buku cerita anak, majalah bekas, buku pelajaran, kamus, serta beberapa novel lama. Rak sebelah kanan berisi buku keterampilan, buku pertanian sederhana, buku agama, dan beberapa buku pengetahuan umum yang sudah mulai menguning.
Di tengah ruangan, tikar pandan terbentang. Ada papan tulis kecil, meja pendek, serta beberapa kursi plastik yang warnanya tidak lagi seragam.
Khinanti sedang menyusun buku-buku yang semalam dipinjam anak-anak. Tangannya bergerak perlahan, tetapi pikirannya tidak sepenuhnya berada di sana.
Sejak rapat di balai desa kemarin, wajah Erlangga beberapa kali muncul dalam ingatannya.
Ia tidak menyangka laki-laki itu benar-benar pulang.
Delapan tahun bukan waktu yang singkat.
Dulu, Erlangga adalah anak muda yang paling sering berbicara tentang mimpi. Ketika teman-teman mereka masih sibuk memikirkan pekerjaan setelah lulus sekolah, Erlangga sudah berbicara tentang kuliah, pembangunan desa, pendidikan anak-anak, dan masa depan kampung halaman.
Khinanti pernah percaya pada semua itu.
Mereka tumbuh bersama di Desa Suka Makmur. Mereka pernah berjalan pulang dari sekolah melalui jalan tanah yang sama. Mereka pernah duduk di bawah pohon mangga dekat lapangan desa sambil membicarakan cita-cita. Erlangga ingin menjadi orang yang berguna bagi banyak orang. Khinanti ingin menjadi guru dan membuka tempat belajar bagi anak-anak desa.
Waktu itu, semua terdengar sederhana.
Mereka masih terlalu muda untuk memahami bahwa mimpi kadang tidak hanya membutuhkan keberanian, tetapi juga kesetiaan untuk bertahan.
Ketika Erlangga pergi ke kota, pada awalnya ia masih sering mengirim kabar. Ia bercerita tentang kampus, tugas kuliah, pekerjaan sambilan, dan kehidupan kota yang selalu terburu-buru. Khinanti membaca pesan-pesan itu dengan senyum yang sulit disembunyikan.
Namun, perlahan, kabar itu semakin jarang.
Pesan yang dahulu datang setiap minggu berubah menjadi sebulan sekali. Lalu, menjadi beberapa bulan sekali. Hingga pada akhirnya, Erlangga benar-benar menghilang dari kehidupannya tanpa penjelasan yang cukup.
Khinanti tidak pernah meminta penjelasan.
Ia tidak ingin menjadi seseorang yang menahan langkah orang lain.
Tetapi, ia juga tidak bisa membohongi dirinya sendiri.
Ada kekecewaan yang tumbuh diam-diam.
Bukan hanya karena Erlangga pergi.
Melainkan karena ia pergi tanpa benar-benar berpamitan.
Pintu Rumah Baca Harapan terbuka.
Seorang anak perempuan kecil masuk sambil membawa tas merah muda yang hampir sebesar tubuhnya.
“Kak Khinanti,” panggilnya riang.
Khinanti segera tersenyum.
“Pagi, Lila. Cepat sekali datangnya.”
“Aku mau pinjam buku cerita putri kerajaan yang kemarin,” jawab Lila. “Aku sudah selesai baca, tapi mau baca lagi.”
“Kalau begitu, ambil saja. Tapi nanti kamu harus cerita lagi kepada teman-temanmu, ya.”
Lila mengangguk cepat, lalu berlari menuju rak buku.
Tidak lama kemudian, beberapa anak lain mulai berdatangan. Ada yang membawa buku tulis, ada yang membawa pensil pendek, dan ada pula yang datang hanya untuk melihat gambar-gambar di buku cerita.
“Kak, aku tidak bisa mengerjakan matematika,” kata seorang anak laki-laki bernama Raka.
“Bagian mana?”
“Pembagian.”
Khinanti duduk di samping Raka. Ia mengambil pensil dan menggambar beberapa lingkaran kecil di buku tulis.
“Kalau ada dua belas mangga dan dibagi untuk tiga orang, setiap orang dapat berapa?”
“Empat,” jawab Raka.
“Nah, itu pembagian.”
Raka mengangguk pelan, seolah baru menemukan sesuatu yang sangat penting.
Di sudut lain, Lila sedang membaca buku bergambar sambil sesekali memperlihatkan gambar kepada temannya. Dua anak laki-laki berebut majalah tentang hewan. Seorang anak perempuan duduk diam sambil menyalin tulisan di papan tulis.
Khinanti memandang mereka satu per satu.
Bagi banyak orang, Rumah Baca Harapan mungkin hanya bangunan kecil dengan buku-buku lama. Tidak ada komputer. Tidak ada pendingin ruangan. Tidak ada meja belajar yang lengkap.
Namun, bagi Khinanti, tempat itu adalah ruang untuk menjaga mimpi.
Ia pernah melihat anak-anak yang berhenti sekolah karena harus membantu orang tua di kebun. Ia pernah melihat remaja yang merasa tidak perlu melanjutkan pendidikan karena menganggap masa depan mereka hanya akan berakhir di tempat yang sama.
Khinanti tidak pernah memandang pekerjaan di kebun sebagai sesuatu yang rendah.
Ayahnya sendiri seorang petani.
Namun, ia percaya bahwa setiap anak harus memiliki pilihan.
Dan pilihan hanya dapat tumbuh jika mereka diberi kesempatan untuk belajar.
Menjelang siang, anak-anak mulai pulang satu per satu untuk makan. Rumah baca kembali sunyi. Khinanti duduk di beranda sambil memeriksa daftar buku yang rusak.
Ada buku yang sampulnya lepas.
Ada halaman yang sobek.
Ada buku pelajaran yang sudah terlalu lama untuk digunakan, tetapi tetap dibaca karena tidak ada pilihan lain.
Sari datang membawa dua bungkus gorengan dan segelas teh hangat.
“Kau belum makan, kan?” tanyanya.
Khinanti menerima teh itu.
“Terima kasih.”
Sari duduk di sampingnya.
“Aku dengar Erlangga datang ke rumah baca kemarin.”
Khinanti menatap sahabatnya sekilas.
“Anak-anak yang bilang?”
“Siapa lagi? Mereka bilang ada abang-abang tinggi datang, berdiri lama di depan pintu, lalu bicara dengan Kak Khinanti.”
Khinanti tersenyum tipis.
“Anak-anak memang tidak pernah kehabisan cerita.”
“Jadi, bagaimana?” Sari mendekatkan wajahnya. “Dia benar-benar pulang untuk tinggal?”
“Katanya begitu.”
“Dan kau percaya?”
Khinanti menatap jalan di depan rumah baca. Seorang ibu melintas sambil membawa keranjang sayur. Di kejauhan, beberapa anak kecil bermain bola dengan sandal sebagai gawang.
“Rencana itu mudah dibuat,” kata Khinanti perlahan. “Yang sulit adalah bertahan ketika kenyataan tidak sesuai harapan.”
Sari terdiam sejenak.
“Kau masih marah?”
Khinanti tidak langsung menjawab.
“Aku tidak marah,” katanya akhirnya. “Aku hanya tidak ingin mengulang kesalahan yang sama.”
“Kesalahan apa?”
“Terlalu percaya sebelum melihat bukti.”
Sari mengangguk pelan.
Ia memahami bahwa ada luka yang tidak selalu tampak dalam kata-kata.
Tidak lama kemudian, suara sepeda motor terdengar dari arah jalan utama. Sari menoleh lebih dulu.
“Itu Jatmiko, bukan?”
Khinanti ikut melihat.
Sebuah sepeda motor berhenti di depan Rumah Baca Harapan. Jatmiko duduk di bagian depan. Di belakangnya, Erlangga turun sambil membawa dua kardus cukup besar. Jatmiko segera membantu menurunkan kardus kedua dari motor.
Sari menoleh kepada Khinanti dengan senyum jahil.
“Sepertinya bukti itu sedang datang.”
“Jangan mulai,” jawab Khinanti, meski suaranya tidak setegas biasanya.
Erlangga melangkah mendekat.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam,” jawab Khinanti dan Sari bersamaan.
Khinanti memandang kardus-kardus itu.
“Apa ini?”
“Buku,” jawab Erlangga.
“Buku?”
“Ada buku cerita anak, buku pelajaran, buku keterampilan, dan beberapa buku pengetahuan umum. Tidak semuanya baru, tapi masih layak dibaca.”
Khinanti masih memandang kardus itu dengan ragu.
“Kau membawa ini dari kota?”
“Sebagian sudah kubawa sejak pulang. Sebagian lagi aku beli sebelum berangkat.”
Jatmiko menyahut sambil mengusap keringat di dahinya.
“Dia juga menyuruhku mencarikan papan. Katanya rak buku di sini sudah miring.”
Khinanti menatap Erlangga.
“Kau tidak perlu melakukan semua ini.”
“Aku tahu,” jawab Erlangga. “Aku melakukannya karena ingin.”
Sari tersenyum.
“Kalau begitu, jangan berdiri di luar. Mari kita lihat isinya.”
Mereka membawa kardus-kardus itu ke dalam rumah baca.
Tidak lama kemudian, anak-anak yang baru selesai makan mulai berdatangan kembali. Mereka mengintip dari pintu ketika melihat ada dua kardus besar di tengah ruangan.
“Kak, itu apa?” tanya Lila.
“Buku baru,” jawab Sari.
Mata anak-anak langsung berbinar.
Ketika kardus dibuka, suasana rumah baca berubah ramai.
Ada buku cerita bergambar tentang hewan, buku dongeng nusantara, ensiklopedia sederhana, buku mewarnai, buku tentang tanaman, pertanian, kerajinan tangan, serta beberapa buku pelajaran untuk tingkat sekolah dasar dan menengah.
Lila mengambil sebuah buku bergambar tentang luar angkasa.
“Kak, ini tentang bintang?” tanyanya kepada Erlangga.
“Iya,” jawab Erlangga sambil berjongkok di hadapannya. “Di dalamnya ada cerita tentang planet, bulan, dan bintang.”
“Kalau aku rajin baca, aku bisa pergi ke bulan?”
Erlangga tersenyum.
“Kalau kamu rajin belajar, kamu bisa menjadi apa pun yang kamu inginkan. Bisa jadi guru, dokter, penulis, ilmuwan, atau orang yang membuat desa ini semakin maju.”
Lila memeluk buku itu ke dadanya.
“Aku mau jadi orang yang bikin desa maju.”
Anak-anak lain tertawa.
Namun, Erlangga tidak ikut tertawa.
Ia justru memandang Lila dengan serius.
“Bagus. Mulai dari sekarang, kamu harus rajin membaca.”
Khinanti memperhatikan percakapan itu tanpa berkata-kata.
Ada ketulusan dalam cara Erlangga berbicara kepada anak-anak. Tidak berlebihan. Tidak seperti seseorang yang ingin terlihat hebat. Ia berbicara dengan sederhana, seolah benar-benar percaya bahwa anak-anak itu memiliki masa depan.
Tetapi Khinanti tetap menjaga hatinya.
Satu kebaikan kecil tidak cukup untuk menghapus tahun-tahun ketika Erlangga pergi tanpa kabar.
Siang itu, Erlangga dan Jatmiko mulai memperbaiki rak buku yang sudah lama goyah. Mereka memindahkan buku-buku, mengencangkan paku, dan mengganti satu papan yang lapuk.
Anak-anak duduk di tikar sambil memperhatikan.
“Abang Erlangga bisa jadi tukang juga?” tanya Raka.
Jatmiko tertawa keras.
“Dia bisa apa saja, asal jangan disuruh masak.”
“Aku bisa masak,” bantah Erlangga.
“Masak mi instan bukan berarti bisa masak,” jawab Jatmiko.
Anak-anak tertawa semakin keras.
Erlangga menggeleng sambil tetap memegang palu.
“Kalau begitu, nanti aku buktikan.”
“Jangan,” kata Jatmiko cepat. “Kita semua masih ingin hidup.”
Tawa kembali pecah.
Khinanti yang sedang menyusun buku di rak lain tidak dapat menahan senyum.
Untuk pertama kalinya sejak Erlangga pulang, suasana di Rumah Baca Harapan terasa lebih hangat.
Menjelang sore, rak buku itu akhirnya berdiri lebih kokoh. Catnya masih kusam. Bentuknya tidak sempurna. Namun, rak itu kembali dapat digunakan.
Anak-anak pulang satu per satu.
Sari pamit lebih dulu karena harus membantu ibunya menyiapkan dagangan. Jatmiko juga pergi menuju bengkel kecil milik pamannya.
Tinggallah Erlangga dan Khinanti di beranda Rumah Baca Harapan.
Angin sore bergerak pelan. Daun-daun kering jatuh di halaman. Dari lapangan sekolah terdengar suara anak-anak yang masih bermain bola.
“Terima kasih,” kata Khinanti akhirnya.
Erlangga menoleh.
“Untuk apa?”
“Untuk buku-buku dan raknya.”
“Itu belum seberapa.”
“Bagi anak-anak di sini, itu cukup berarti.”
Erlangga mengangguk.
“Aku ingin membantu lebih banyak, kalau kau tidak keberatan.”
Khinanti menatapnya.
“Membantu seperti apa?”
“Aku ingin membuat kegiatan rutin untuk anak-anak dan pemuda. Mungkin kelas belajar tambahan, pelatihan keterampilan sederhana, diskusi untuk remaja, atau kegiatan kebersihan lingkungan.”
“Kau sudah punya rencana?”
Erlangga mengambil buku hitam dari tasnya.
“Ada beberapa catatan. Tapi aku tidak ingin menjalankan apa pun tanpa mendengar kebutuhan warga.”
Khinanti menerima buku itu.
Di dalamnya terdapat tulisan tangan yang rapi. Ada daftar gagasan, jadwal kegiatan, kebutuhan dasar, serta catatan tentang potensi Desa Suka Makmur.
Pada salah satu halaman tertulis:
Rumah Baca Harapan bukan hanya tempat membaca. Rumah baca dapat menjadi ruang belajar, ruang berkumpul, dan ruang tumbuh bagi anak-anak desa.
Khinanti berhenti membaca.
“Kau menulis ini kapan?”
“Beberapa bulan sebelum pulang.”
“Jadi, kau sudah merencanakan kepulanganmu?”
Erlangga menghela napas perlahan.
“Sudah lama aku ingin pulang. Tapi aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut dianggap gagal. Takut Bapak kecewa. Takut orang-orang menganggap aku pulang karena tidak mampu bertahan di kota.”
Khinanti menutup buku itu.
“Dan sekarang?”
“Sekarang aku lebih takut kalau aku tidak pernah mencoba.”
Khinanti terdiam.
Ia tahu tidak mudah bagi seseorang untuk meninggalkan pekerjaan di kota dan kembali ke desa dengan segala ketidakpastian. Namun, ia juga tahu bahwa niat baik saja belum cukup.
“Kalau kau benar-benar ingin membantu,” kata Khinanti, “mulailah dengan mengenal anak-anak ini. Kenali keluarga mereka. Kenali kenapa ada yang malas sekolah, kenapa ada yang tidak punya buku, kenapa ada yang lebih memilih bekerja. Jangan datang hanya dengan program.”
Erlangga mengangguk sungguh-sungguh.
“Aku akan belajar.”
“Dan jangan menjanjikan sesuatu yang belum tentu bisa kau lakukan.”
“Aku tidak akan.”
Khinanti masuk ke dalam rumah baca. Ia mengambil sebuah buku tulis kosong, lalu menyerahkannya kepada Erlangga.
“Ini daftar anak-anak yang sering datang ke sini,” katanya. “Ada juga catatan kecil tentang kebutuhan mereka. Tidak lengkap, tapi mungkin bisa menjadi awal.”
Erlangga menerima buku itu dengan hati-hati.
“Terima kasih, Khinanti.”
“Jangan berterima kasih dulu,” jawab Khinanti. “Buktikan saja.”
Erlangga tersenyum kecil.
Kali ini, Khinanti tidak langsung memalingkan wajah.
Mereka berjalan bersama menuju jalan utama desa ketika matahari mulai condong ke barat. Cahaya senja menyinari jalan tanah dengan warna keemasan.
Di kejauhan, Lila melambaikan tangan sambil memeluk buku tentang bintang.
“Terima kasih, Abang Erlangga!” teriaknya.
Erlangga membalas lambaian itu.
Khinanti melihat pemandangan tersebut dengan hati yang perlahan berubah.
Ia belum sepenuhnya percaya.
Ia belum siap membuka kembali pintu yang pernah ia tutup rapat.
Namun, sore itu, di antara tawa anak-anak, rak buku yang diperbaiki, dan buku-buku sederhana yang baru memenuhi Rumah Baca Harapan, Khinanti mulai memahami bahwa mungkin ada orang yang pulang bukan hanya untuk mengenang masa lalu.
Mungkin ada juga yang pulang untuk memperbaiki masa depan.
Dan bagi Khinanti, Rumah Baca Harapan bukan lagi sekadar tempat ia menjaga mimpi anak-anak desa.
Tempat itu perlahan menjadi awal dari kerja sama, perjuangan, dan perasaan yang pernah hilang, tetapi belum benar-benar mati.
BAB IV
Janji yang Tertinggal
Senja turun perlahan di Desa Suka Makmur.
Langit di atas perbukitan berubah warna, dari biru pucat menjadi jingga yang lembut. Cahaya matahari terakhir menyentuh daun-daun kelapa, atap rumah warga, dan jalan tanah yang membentang di antara kebun-kebun. Dari kejauhan, terdengar suara azan magrib yang mengalun dari surau kecil di dekat lapangan desa.
Erlangga berjalan pulang dengan langkah pelan.
Di tangannya masih ada buku tulis yang diberikan Khinanti di Rumah Baca Harapan. Buku itu tidak tebal. Sampulnya berwarna cokelat muda, sudut-sudutnya sudah sedikit terlipat. Namun, isi di dalamnya membuat Erlangga berkali-kali berhenti membacanya.
Di halaman pertama tertulis daftar nama anak-anak yang sering datang ke rumah baca.
Lila, kelas tiga sekolah dasar. Suka membaca buku bergambar. Ingin menjadi guru.
Raka, kelas empat sekolah dasar. Kesulitan berhitung. Sering tidak masuk sekolah saat membantu orang tua di kebun.
Danu, kelas lima sekolah dasar. Aktif bertanya. Tidak memiliki banyak buku pelajaran di rumah.
Ada pula catatan tentang anak-anak lain. Tentang keluarga mereka. Tentang kesulitan yang mereka hadapi. Tentang mimpi-mimpi kecil yang terkadang terdengar sederhana, tetapi sebenarnya begitu besar bagi anak-anak desa.
Erlangga berhenti di dekat pohon mangga tua yang tumbuh di tepi jalan.
Pohon itu masih sama seperti dahulu.
Batangnya besar. Daunnya rimbun. Akar-akarnya menjalar ke tanah seperti tangan tua yang memeluk bumi. Ketika masih sekolah, tempat itu sering menjadi tempat Erlangga dan Khinanti duduk sepulang sekolah.
Di bawah pohon itu pula, bertahun-tahun lalu, mereka pernah membuat janji.
Erlangga masih mengingat sore itu dengan jelas.
Saat itu mereka baru lulus sekolah menengah. Khinanti duduk di atas batu besar sambil memegang buku catatan. Angin sore meniup rambutnya perlahan. Erlangga berdiri tidak jauh darinya, membawa map berisi berkas pendaftaran kuliah.
“Aku takut,” kata Khinanti waktu itu.
Erlangga menoleh. “Takut apa?”
“Takut setelah kau pergi, semuanya berubah.”
Erlangga tersenyum muda, penuh keyakinan yang belum diuji oleh kehidupan.
“Aku pergi bukan untuk meninggalkan desa ini.”
“Lalu untuk apa?”
“Aku mau belajar. Aku mau mencari pengalaman. Setelah itu aku pulang.”
Khinanti menatapnya.
“Benarkah?”
“Benar.”
“Kalau nanti kau sudah punya pekerjaan di kota, punya teman baru, punya hidup baru, kau masih mau pulang?”
Erlangga duduk di sampingnya.
“Aku akan pulang.”
“Janji?”
“Janji.”
Khinanti menunduk sambil memainkan ujung buku catatannya.
“Kalau aku?”
“Kau tetap di sini?”
“Aku ingin menjadi guru,” jawab Khinanti. “Aku ingin anak-anak desa punya tempat belajar. Aku ingin mereka tidak merasa bahwa hidup mereka hanya berhenti di sini.”
Erlangga tersenyum.
“Kalau begitu, nanti kita bangun tempat belajar bersama.”
“Tempat belajar?”
“Iya. Tidak harus besar. Yang penting ada buku, ada meja, ada anak-anak yang datang.”
Khinanti tertawa kecil.
“Kau terlalu banyak bermimpi.”
“Tidak apa-apa. Mimpi itu gratis.”
“Kalau mimpi kita tidak tercapai?”
Erlangga memandang langit sore.
“Setidaknya kita pernah berani punya mimpi.”
Kalimat itu dahulu terdengar indah.
Namun, bertahun-tahun kemudian, Erlangga menyadari bahwa mimpi tanpa keberanian untuk bertahan dapat berubah menjadi janji yang menyakitkan.
Ia telah pergi.
Ia telah sibuk mengejar kehidupan yang tidak pernah benar-benar ia miliki.
Ia telah membiarkan jarak tumbuh antara dirinya dan Khinanti.
Dan ketika ia akhirnya kembali, Khinanti sudah membangun rumah baca itu seorang diri.
Erlangga duduk di bawah pohon mangga tua.
Ia membuka kembali buku catatan anak-anak yang diberikan Khinanti. Tangannya berhenti pada halaman terakhir. Di sana, dengan tulisan yang lebih kecil, terdapat catatan sederhana:
Rumah Baca Harapan dibuka setiap sore. Buku boleh dipinjam, tetapi harus dikembalikan. Anak-anak boleh bermimpi, tetapi harus belajar untuk mewujudkannya.
Erlangga menghela napas panjang.
Khinanti tidak menunggu janji itu terwujud.
Ia memilih mewujudkannya sendiri.
Malam itu, suasana rumah Pak Sastro terasa lebih sunyi dari biasanya.
Ibu Erlangga sedang menyiapkan makan malam di dapur. Aroma sayur bening dan ikan goreng memenuhi rumah. Pak Sastro duduk di ruang depan sambil membaca koran lama. Namun, Erlangga tahu ayahnya tidak benar-benar membaca. Pandangannya berkali-kali berhenti pada satu halaman tanpa bergerak.
Erlangga masuk dan meletakkan buku catatan di atas meja.
“Dari rumah baca?” tanya ibunya.
“Iya, Bu.”
“Anak-anak senang dengan buku yang kau bawa?”
“Senang sekali.”
Ibu Erlangga tersenyum.
“Bagus. Anak-anak memang mudah bahagia kalau diberi perhatian.”
Pak Sastro melipat korannya.
“Kau bertemu Khinanti?”
Erlangga mengangguk.
“Bertemu.”
“Dia bagaimana?”
“Baik.”
Pak Sastro memandang anaknya cukup lama.
“Dan kau?”
Pertanyaan itu membuat Erlangga diam.
“Aku sedang berusaha baik, Pak.”
“Berusaha baik untuk siapa?”
Erlangga menunduk.
“Untuk diriku sendiri. Untuk desa ini. Dan mungkin... untuk seseorang yang pernah aku kecewakan.”
Pak Sastro menghela napas.
“Dulu Bapak tidak banyak bertanya ketika kau pergi ke kota. Bapak pikir, kau harus mencari jalanmu sendiri. Tapi ada satu hal yang selalu Bapak ingat.”
“Apa itu, Pak?”
“Kau pergi dengan banyak keyakinan. Kau bilang ingin pulang membawa ilmu. Kau bilang ingin membangun sesuatu di desa ini.”
Erlangga menggenggam tangannya.
“Aku tahu, Pak.”
“Tapi kau pulang tanpa kabar selama bertahun-tahun.”
Nada suara Pak Sastro tidak keras. Justru karena tenang, kata-kata itu terasa lebih berat.
“Aku malu, Pak.”
“Malu karena apa?”
“Karena hidup di kota tidak seperti yang kubayangkan.” Erlangga menatap ayahnya. “Aku bekerja dari satu tempat ke tempat lain. Pernah menjadi staf administrasi, pernah membantu proyek kecil, pernah tinggal di kamar sempit bersama teman-teman. Aku terus berpikir, kalau aku belum berhasil, aku belum pantas pulang.”
Ibu Erlangga berhenti mengaduk sayur.
Pak Sastro tetap diam.
“Aku takut Bapak kecewa,” lanjut Erlangga. “Aku takut Khinanti melihatku sebagai orang yang gagal. Jadi aku memilih menjauh. Aku pikir, kalau aku diam, semua akan lebih mudah.”
“Dan ternyata?” tanya Pak Sastro.
“Diam justru membuat semuanya lebih buruk.”
Pak Sastro menatapnya dengan mata yang mulai melembut.
“Kesalahanmu bukan karena kau belum berhasil di kota, Langga.”
Erlangga mengangkat wajahnya.
“Kesalahanmu karena kau mengira orang-orang yang menyayangimu hanya akan menghargaimu saat kau berhasil.”
Erlangga tidak mampu langsung menjawab.
Kalimat itu seperti membuka pintu yang selama ini ia tutup rapat.
Ia selalu merasa harus pulang membawa sesuatu yang besar: pekerjaan tetap, uang yang cukup, jabatan yang membanggakan, atau keberhasilan yang bisa diceritakan kepada warga. Ia tidak pernah memahami bahwa ayah dan ibunya mungkin hanya ingin mendengar kabarnya.
Dan Khinanti mungkin hanya ingin tahu bahwa ia tidak dilupakan.
“Bapak tidak butuh anak yang pulang membawa banyak uang,” kata Pak Sastro. “Bapak hanya ingin anak yang tidak lari dari hidupnya sendiri.”
Erlangga menunduk.
“Maaf, Pak.”
Pak Sastro mengangguk perlahan.
“Kalau memang kau mau tinggal, jangan tinggal hanya karena sedang kecewa dengan kota.”
“Aku tidak tinggal karena kecewa.”
“Lalu karena apa?”
Erlangga menarik napas.
“Karena aku sadar, ada hal yang selama ini kucari di tempat lain, padahal mungkin sudah ada di sini.”
Pak Sastro tidak menjawab lagi. Ia berdiri, lalu berjalan menuju dapur.
“Kalau begitu, makan dulu. Besok kau bisa mulai membuktikannya.”
Keesokan harinya, Erlangga kembali ke Rumah Baca Harapan.
Ia datang lebih pagi daripada biasanya. Di tangannya ada beberapa lembar kertas, sebuah spidol, dan papan kecil yang ia bawa dari rumah. Ia ingin membantu Khinanti membuat jadwal kegiatan belajar untuk anak-anak.
Namun, ketika sampai di depan rumah baca, ia melihat Khinanti sedang berbicara dengan seorang ibu.
Ibu itu bernama Bu Marni, salah satu warga yang rumahnya berada di ujung desa. Wajahnya tampak cemas. Di sampingnya berdiri seorang anak laki-laki berusia sekitar sebelas tahun.
“Dimas sudah dua minggu tidak masuk sekolah,” kata Bu Marni pelan.
Khinanti berjongkok di hadapan anak itu.
“Kenapa tidak masuk sekolah, Dimas?”
Anak itu tidak menjawab.
Bu Marni menghela napas.
“Bapaknya sedang sakit. Dimas membantu saya di kebun. Kalau tidak ikut, saya tidak sanggup menyelesaikan pekerjaan.”
Khinanti memandang Dimas dengan lembut.
“Dimas, kamu masih mau sekolah?”
Anak itu mengangguk kecil.
“Tapi Ibu butuh bantuan,” katanya lirih.
Erlangga berdiri beberapa langkah dari mereka. Ia tidak ingin memotong pembicaraan. Namun, ketika melihat wajah Dimas, ia teringat pada banyak anak yang mungkin harus memilih antara belajar dan membantu keluarga.
Khinanti berdiri perlahan.
“Bu Marni, kalau Dimas datang ke rumah baca sore hari, saya bisa bantu pelajarannya. Tidak apa-apa kalau ia belum bisa masuk sekolah penuh beberapa hari ini. Yang penting jangan sampai ia berhenti belajar.”
Bu Marni menatap Khinanti dengan mata berkaca-kaca.
“Terima kasih, Nanti. Saya hanya takut dia tertinggal.”
“Selama Dimas mau belajar, dia tidak akan tertinggal sendirian.”
Setelah Bu Marni dan Dimas pergi, Erlangga mendekat.
“Kau menghadapi banyak hal seperti itu?” tanyanya.
Khinanti mengangguk.
“Lebih banyak dari yang orang kira.”
“Kenapa kau tidak pernah bercerita?”
“Karena tidak semua hal bisa selesai hanya dengan diceritakan.”
Erlangga memandang halaman rumah baca.
“Kalau ada yang bisa kubantu, katakan.”
Khinanti menoleh.
“Aku sudah mengatakan kemarin. Kenali dulu anak-anak ini. Jangan hanya melihat mereka sebagai bagian dari program.”
Erlangga mengangguk.
“Aku mengerti.”
“Benarkah?”
“Belum sepenuhnya. Tapi aku ingin mengerti.”
Khinanti terdiam beberapa saat.
Kemudian ia menunjuk papan kecil yang dibawa Erlangga.
“Itu untuk apa?”
“Aku ingin membuat jadwal belajar.”
“Kau sudah bertanya kepada anak-anak kapan mereka bisa datang?”
Erlangga terdiam.
Khinanti tidak tersenyum mengejek. Ia hanya memandangnya dengan tenang.
“Sebagian anak membantu orang tua di pagi hari. Ada yang sore hari harus menjaga adik. Ada yang hanya bisa datang setelah magrib. Kalau kau membuat jadwal tanpa memahami kehidupan mereka, jadwal itu hanya akan menjadi tulisan di papan.”
Erlangga menatap papan kecil di tangannya.
Ia merasa seperti kembali menjadi murid.
Namun, kali ini ia tidak merasa dipermalukan.
Ia justru merasa diajari sesuatu yang selama ini tidak pernah ia pahami di kota.
“Kalau begitu,” katanya, “aku akan bertanya kepada mereka satu per satu.”
Khinanti mengangguk.
“Mulailah dari sana.”
Sore itu, anak-anak datang ke Rumah Baca Harapan seperti biasa.
Erlangga tidak langsung mengeluarkan kertas atau membuat jadwal. Ia duduk bersama mereka di tikar. Ia mendengarkan Lila bercerita tentang buku bintang. Ia membantu Raka mengerjakan pembagian. Ia mendengar Danu bercerita tentang ayahnya yang ingin membelikan sepeda, tetapi belum mampu.
Ketika anak-anak mulai nyaman, Erlangga bertanya dengan sederhana.
“Kalau rumah baca buka lebih lama, kalian lebih suka datang pagi, sore, atau malam?”
“Kalau sore,” jawab Lila.
“Kalau malam,” kata Danu. “Soalnya sore aku bantu Ibu.”
“Kalau hari Minggu,” kata Raka. “Karena Bapak tidak ke kebun.”
Jawaban mereka berbeda-beda.
Erlangga mencatat semuanya.
Namun, kali ini ia tidak hanya mencatat jadwal. Ia mencatat kehidupan mereka.
Khinanti memperhatikan dari kejauhan.
Ia melihat Erlangga mendengarkan tanpa terburu-buru memberi jawaban. Ia melihat laki-laki itu menahan diri untuk tidak menjadikan setiap percakapan sebagai rencana besar. Ia melihatnya mulai belajar hadir.
Saat matahari mulai tenggelam, anak-anak pulang satu per satu.
Erlangga masih duduk di tikar ketika Khinanti menghampirinya.
“Kau tidak jadi membuat jadwal?” tanyanya.
“Jadi,” jawab Erlangga. “Tapi bukan hari ini.”
“Kapan?”
“Setelah aku benar-benar tahu jadwal hidup mereka.”
Khinanti menatapnya.
Untuk sesaat, tidak ada kata-kata di antara mereka.
Angin sore masuk melalui jendela rumah baca. Buku-buku di rak bergerak pelan terkena hembusannya. Di luar, langit mulai gelap.
“Aku tidak tahu apakah kau akan benar-benar bertahan,” kata Khinanti akhirnya.
Erlangga mengangguk.
“Aku juga tidak bisa memintamu percaya sekarang.”
“Lalu apa yang bisa kau lakukan?”
Erlangga memandang rumah baca itu.
“Aku bisa datang lagi besok.”
Khinanti menatapnya cukup lama.
Kemudian ia berkata pelan, “Datanglah.”
Satu kata itu tidak menghapus masa lalu.
Tidak menyembuhkan seluruh luka.
Tidak menjadikan Khinanti kembali seperti dahulu.
Namun, bagi Erlangga, kata itu adalah kesempatan.
Kesempatan untuk memperbaiki janji yang pernah tertinggal.
Kesempatan untuk membuktikan bahwa pulang bukan sekadar kembali ke tempat asal, melainkan keberanian untuk tinggal, menghadapi kesalahan, dan menanam harapan baru di tanah yang pernah ditinggalkan.
Di luar Rumah Baca Harapan, malam mulai turun.
Tetapi bagi Erlangga, untuk pertama kalinya, jalan pulang itu tidak lagi terasa gelap.
BAB V
Gagasan dari Beranda Sekolah
Meja-meja belajar sederhana itu akhirnya selesai dibuat tiga hari kemudian.
Jumlahnya tidak banyak, hanya enam buah. Ukurannya pun tidak sepenuhnya sama. Ada yang sedikit lebih tinggi, ada yang kakinya tidak benar-benar sejajar, dan ada pula yang permukaannya masih memperlihatkan bekas paku serta serat kayu yang kasar. Bahan yang digunakan berasal dari papan-papan sisa yang tersedia di toko bangunan kecil di ujung desa. Sebagian lagi adalah kayu bekas dari rumah warga yang sudah tidak dipakai.
Namun, bagi anak-anak Rumah Baca Harapan, enam meja itu terasa seperti hadiah besar.
Selama ini mereka lebih sering belajar di atas tikar. Jika ingin menulis, mereka harus bertumpu pada lutut sendiri, menaruh buku di lantai, atau bergantian menggunakan satu meja kecil yang sudah lama ada di sudut ruangan. Ketika hujan turun dan lantai menjadi lembap, buku-buku mereka sering harus dialasi kardus bekas agar tidak terkena air.
Kini, mereka dapat duduk berdua, membuka buku, dan mengerjakan tugas dengan lebih nyaman.
Pagi itu, Khinanti berdiri di depan pintu Rumah Baca Harapan sambil memandangi anak-anak yang mulai memenuhi ruangan. Beberapa anak langsung memilih meja yang paling dekat dengan jendela. Yang lain berebut duduk bersama sahabatnya. Suara kursi plastik yang digeser, tawa kecil, dan panggilan antaranak memenuhi bangunan sederhana itu.
“Jangan dorong-dorongan,” kata Khinanti sambil tersenyum. “Semua kebagian.”
“Meja ini punya siapa, Kak?” tanya Lila sambil mengusap permukaan meja yang masih baru.
“Punya kita semua,” jawab Khinanti.
“Yang buat Abang Erlangga?”
“Iya, dibantu Kak Jatmiko.”
Lila menoleh kepada Erlangga yang sedang menata beberapa buku di rak. Wajahnya tampak serius, tetapi matanya berbinar melihat anak-anak mulai menggunakan meja yang mereka buat.
“Terima kasih, Abang,” kata Lila.
Erlangga tersenyum. “Belajarnya yang rajin, ya.”
“Kalau aku rajin belajar, nanti aku bisa buat meja juga?”
“Bisa,” jawab Erlangga. “Bahkan kau bisa membuat lebih banyak dari ini. Bisa membuat meja, rumah baca yang lebih besar, atau apa pun yang berguna untuk banyak orang.”
Lila mengangguk dengan wajah penuh keyakinan, seolah satu kalimat sederhana itu cukup untuk membuat masa depan terasa lebih dekat.
Di sudut ruangan, Raka duduk sendiri sambil memegang pensil.
Ia adalah anak laki-laki berusia tiga belas tahun yang jarang berbicara. Rambutnya selalu dipotong pendek. Wajahnya sedikit lebih gelap karena sering membantu ayahnya di kebun. Seragam sekolahnya tampak mulai kusam, terutama pada bagian lengan dan kerah. Tas yang dibawanya pun sudah dijahit beberapa kali oleh ibunya.
Raka masih terdaftar sebagai siswa sekolah menengah pertama di desa kecamatan. Namun, ia semakin jarang masuk. Kadang ia datang hanya dua atau tiga hari dalam seminggu. Selebihnya, ia membantu orang tuanya mengangkut hasil kebun, mengambil rumput untuk ternak, atau menjaga adiknya ketika ibunya pergi bekerja.
Khinanti sudah beberapa kali berbicara dengannya. Namun, Raka selalu menjawab singkat.
“Sekolah jauh, Kak.”
“Atau aku harus bantu Bapak.”
“Atau buku pelajarannya susah.”
Khinanti memahami bahwa persoalan Raka tidak sesederhana malas belajar. Ada beban keluarga yang terlalu cepat diletakkan di pundak anak seusianya.
Erlangga memperhatikan Raka dari kejauhan.
“Anak itu siapa?” tanyanya pelan kepada Khinanti.
“Raka,” jawab Khinanti. “Dia sebenarnya pintar. Dulu nilainya bagus. Tapi sekarang sering tidak masuk sekolah.”
“Kenapa?”
“Ayahnya sakit-sakitan. Ibunya bekerja membantu panen di kebun orang. Raka banyak membantu di rumah.”
Erlangga mengangguk perlahan. “Apa sekolahnya tahu?”
“Tahu. Gurunya pernah datang, tapi keluarganya merasa malu. Mereka takut dianggap tidak mampu mengurus anak.”
Erlangga menatap Raka yang sedang menggambar sesuatu di buku tulisnya.
“Kita perlu bicara dengannya.”
“Pelan-pelan,” kata Khinanti. “Jangan membuatnya merasa dikasihani.”
“Aku mengerti.”
“Kau belum tentu mengerti,” jawab Khinanti dengan nada lembut. “Tapi kau bisa belajar.”
Erlangga tersenyum kecil. “Baik. Aku belajar.”
Tak lama kemudian, Khinanti meminta anak-anak membuka buku pelajaran masing-masing. Ia membagi mereka ke beberapa meja sesuai tingkat kelas. Lila dan dua temannya membaca buku cerita di dekat jendela. Danu membantu adiknya mengeja kata-kata. Sementara Raka tetap duduk sendiri, menatap buku matematika dengan wajah muram.
Erlangga mendekat, tetapi tidak langsung duduk di sampingnya.
“Kau menggambar apa?” tanyanya.
Raka menutup bukunya sedikit.
“Tidak apa-apa.”
“Boleh aku lihat?”
Raka ragu sejenak, lalu membuka kembali halaman itu.
Di sana terdapat gambar rumah kecil dengan kebun di belakangnya. Di samping rumah, ada seorang laki-laki membawa cangkul. Di depan rumah, seorang anak laki-laki berdiri sambil membawa tas sekolah.
“Itu rumahmu?” tanya Erlangga.
Raka mengangguk.
“Yang bawa cangkul itu Bapak?”
“Iya.”
“Kalau yang bawa tas?”
“Aku.”
“Kenapa kamu menggambar dua-duanya?”
Raka menunduk.
“Karena kadang aku sekolah. Kadang aku ke kebun.”
Erlangga tidak langsung menjawab.
Ia tahu ada jawaban-jawaban yang tidak membutuhkan nasihat panjang. Ada jawaban yang cukup dihargai dengan diam.
“Kau suka menggambar?” tanyanya kemudian.
“Sedikit.”
“Bagus. Nanti kalau ada waktu, kita bisa buat papan gambar di rumah baca.”
Raka memandangnya, seolah belum yakin.
“Benarkah?”
“Benar. Tapi kau harus tetap belajar juga.”
Raka tidak menjawab. Namun, ia tidak lagi menutup bukunya.
Menjelang siang, setelah anak-anak pulang, Erlangga duduk di beranda sekolah dasar yang berada tepat di samping Rumah Baca Harapan. Bangunan sekolah itu sepi karena kegiatan belajar telah selesai. Hanya suara sapu penjaga sekolah yang terdengar dari arah belakang. Di halaman, beberapa daun kering bergerak tertiup angin.
Khinanti datang membawa dua gelas teh hangat. Ia menyerahkan satu gelas kepada Erlangga, lalu duduk tidak jauh darinya.
“Terima kasih,” kata Erlangga.
“Jangan terlalu sering mengucapkan terima kasih,” jawab Khinanti. “Nanti terdengar seperti orang kota.”
Erlangga tertawa kecil. “Aku memang lama tinggal di kota.”
“Bukan itu maksudku.”
“Aku tahu.”
Mereka terdiam beberapa saat. Angin siang membawa aroma tanah dan daun-daun kering. Dari lapangan, terdengar suara beberapa anak yang masih bermain bola meski matahari cukup terik.
“Kau pernah berpikir,” kata Erlangga perlahan, “kalau rumah baca ini bisa menjadi lebih dari sekadar tempat anak-anak meminjam buku?”
Khinanti menoleh. “Maksudmu?”
“Bisa menjadi tempat belajar tambahan. Tempat remaja berdiskusi. Tempat ibu-ibu belajar keterampilan. Tempat pemuda merencanakan kegiatan. Tempat warga saling bertukar informasi.”
Khinanti memandang bangunan kecil di samping mereka.
“Pernah,” jawabnya. “Tapi untuk membuat semua itu, kita perlu orang, waktu, dan biaya.”
“Tidak semua harus dimulai dengan biaya besar.”
“Kau selalu mengatakan itu.”
“Karena memang begitu.”
Khinanti tersenyum tipis. “Kau masih keras kepala.”
“Bukan keras kepala. Aku hanya percaya bahwa banyak hal bisa dimulai dari yang sederhana.”
“Seperti enam meja belajar?”
“Seperti enam meja belajar.”
Khinanti menatap meja-meja kecil yang tampak dari jendela rumah baca. Anak-anak mungkin tidak menyadari bahwa meja itu dibuat dari papan biasa. Namun, mereka merasakan manfaatnya. Bagi Khinanti, hal kecil semacam itu memang dapat menjadi awal.
“Apa rencanamu?” tanyanya.
Erlangga mengeluarkan buku catatan hitam dari tasnya. Ia membuka beberapa halaman yang telah dipenuhi tulisan.
“Aku memikirkan beberapa kegiatan,” katanya. “Bukan untuk langsung dijalankan semua. Kita pilih yang paling mungkin.”
Ia menunjukkan catatan itu kepada Khinanti.
Di sana tertulis beberapa gagasan:
- Kelas Belajar Sore untuk anak-anak yang membutuhkan pendampingan pelajaran.
- Kelas Keterampilan Remaja seperti komputer dasar, menulis, membuat poster, dan pengelolaan media sederhana.
- Kelompok Pemuda Peduli Desa untuk kegiatan gotong royong, kebersihan lingkungan, olahraga, dan kerja sosial.
- Kebun Pangan Keluarga bersama kelompok ibu-ibu untuk menanam sayur, cabai, dan tanaman obat.
- Pojok Informasi Desa yang memuat pengumuman kegiatan, jadwal pelayanan, serta informasi pendidikan dan kesehatan.
- Forum Warga Bulanan agar masyarakat dapat menyampaikan kebutuhan dan persoalan secara terbuka.
Khinanti membaca daftar itu dengan perlahan.
“Ini bagus,” katanya. “Tapi juga cukup banyak.”
“Kita tidak harus menjalankan semuanya.”
“Kalau begitu, mana yang paling penting?”
Erlangga berpikir sejenak. “Menurutku, mulai dari anak-anak dan pemuda. Karena mereka yang paling mudah diajak bergerak.”
Khinanti mengangguk. “Anak-anak memang perlu pendampingan. Pemuda juga banyak yang tidak punya kegiatan.”
“Jatmiko bilang banyak pemuda menghabiskan waktu di warung kopi atau pergi ke kecamatan untuk mencari kerja serabutan.”
“Karena mereka merasa tidak ada yang bisa dilakukan di desa.”
“Kalau begitu, kita buat sesuatu yang membuat mereka merasa dibutuhkan.”
Khinanti menutup buku catatan itu.
“Tidak mudah mengajak pemuda,” katanya. “Mereka sudah sering diajak rapat, tapi biasanya hanya datang di awal. Setelah itu, kegiatan berhenti karena tidak ada yang mengurus.”
“Kalau mereka dilibatkan sejak awal, mungkin berbeda.”
“Kau yakin?”
“Tidak,” jawab Erlangga jujur. “Tapi aku ingin mencoba.”
Khinanti memandangnya cukup lama. Ia mulai memahami bahwa Erlangga tidak datang dengan keyakinan bahwa ia dapat menyelesaikan semua masalah. Ia datang dengan kesediaan untuk belajar dan mencoba.
Itu membuatnya sedikit lebih percaya.
Sore harinya, Erlangga dan Khinanti mengunjungi rumah Jatmiko. Rumah itu berada di dekat bengkel kecil milik pamannya. Di halaman, beberapa pemuda sedang duduk sambil memperbaiki sepeda motor dan berbincang santai.
Jatmiko sedang mengencangkan baut motor ketika melihat mereka datang.
“Wah, lengkap sekali,” katanya. “Ada urusan penting, ya?”
“Ada,” jawab Erlangga. “Kami ingin bicara soal kegiatan pemuda.”
Beberapa pemuda yang duduk di dekat bengkel menoleh. Ada Beni, anak muda yang bekerja serabutan sebagai tukang bangunan; Ardi, pemain bola desa yang dikenal cukup aktif; dan Dimas, pemuda pendiam yang baru pulang dari bekerja di kota tambang.
“Kegiatan apa?” tanya Beni sambil mengusap tangannya yang hitam oleh oli.
“Kami ingin mengadakan pertemuan kecil,” kata Erlangga. “Bukan rapat resmi. Hanya ngobrol tentang apa yang bisa dilakukan pemuda di desa.”
Ardi tertawa kecil. “Biasanya kalau sudah ngomong kegiatan pemuda, ujung-ujungnya bersih-bersih lapangan atau disuruh bantu acara desa.”
“Kalau itu memang perlu, kenapa tidak?” jawab Erlangga.
“Bukan tidak mau,” kata Ardi. “Tapi setelah selesai, ya sudah. Tidak ada kelanjutannya.”
Khinanti melangkah sedikit ke depan.
“Kalau kalian diberi kesempatan memilih kegiatan sendiri, kalian ingin melakukan apa?” tanyanya.
Pertanyaan itu membuat mereka diam.
Beni mengangkat bahu. “Entahlah. Yang penting ada manfaatnya.”
“Manfaat seperti apa?” tanya Khinanti.
“Kalau bisa dapat keterampilan, bagus. Biar tidak cuma jadi buruh harian.”
Dimas yang sejak tadi diam akhirnya berbicara. “Komputer. Banyak kerjaan sekarang minta bisa komputer. Di kota, aku lihat orang yang bisa bikin desain atau urus data lebih mudah dapat kerja.”
Ardi menambahkan, “Kalau ada kegiatan olahraga juga bagus. Anak-anak muda di sini sebenarnya suka bola. Tapi lapangan tidak terurus.”
Erlangga mengangguk sambil mencatat.
“Bagaimana kalau kita mulai dari pertemuan pemuda minggu depan?” katanya. “Kita bahas tiga hal: kegiatan olahraga, pelatihan keterampilan, dan gotong royong memperbaiki lingkungan.”
“Di mana?” tanya Beni.
“Di Rumah Baca Harapan atau di beranda sekolah.”
“Kalau di rumah baca, anak-anak tidak terganggu?” tanya Dimas.
Khinanti menjawab, “Bisa di beranda sekolah setelah sore. Anak-anak biasanya sudah pulang.”
Jatmiko berdiri dan mengusap tangannya dengan kain.
“Kalau begitu, aku yang ajak teman-teman,” katanya. “Tapi jangan terlalu resmi. Kalau terlalu resmi, mereka malas datang.”
“Setuju,” kata Erlangga.
“Dan sediakan kopi,” tambah Ardi.
Khinanti tersenyum. “Kopi bisa diusahakan.”
Pembicaraan itu berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan. Para pemuda mulai menyampaikan keluhan mereka tentang desa: jalan yang rusak, sulitnya mencari pekerjaan, kurangnya kegiatan, dan perasaan bahwa suara mereka tidak pernah dianggap penting.
Erlangga mendengarkan lebih banyak daripada berbicara.
Ia menyadari bahwa selama ini pemuda desa bukan tidak peduli. Mereka hanya tidak pernah benar-benar diberi ruang untuk menentukan peran mereka sendiri.
Saat matahari mulai tenggelam, Erlangga dan Khinanti berjalan pulang bersama melewati jalan kecil di samping lapangan. Langit sore berwarna jingga. Di kejauhan, terdengar suara anak-anak memanggil teman-temannya untuk bermain.
“Kau lihat?” kata Erlangga. “Mereka punya banyak gagasan.”
Khinanti mengangguk. “Mereka hanya butuh seseorang yang mau mendengar.”
“Kalau begitu, kita dengarkan.”
Khinanti berhenti sejenak.
“Kita?” tanyanya.
Erlangga menoleh. “Iya. Aku tidak bisa melakukan ini sendiri.”
Khinanti memandang jalan di depan mereka. Kata kita terdengar sederhana, tetapi ada sesuatu yang hangat dalam kalimat itu. Selama ini, ia menjalankan Rumah Baca Harapan hampir sendirian. Sari memang sering membantu, begitu pula beberapa ibu kader. Namun, tidak banyak orang yang benar-benar ingin menjadikan tempat itu sebagai ruang bersama.
“Aku akan membantu,” katanya akhirnya. “Tapi satu syarat.”
“Apa?”
“Jangan membuatku menyesal karena percaya lagi.”
Erlangga menatapnya dengan sungguh-sungguh.
“Aku tidak akan pergi tanpa kabar lagi.”
Khinanti tidak menjawab. Ia hanya melanjutkan langkahnya.
Namun, untuk pertama kalinya sejak Erlangga pulang, langkah mereka berjalan searah tanpa terasa canggung.
Di belakang mereka, beranda sekolah yang sederhana mulai diselimuti cahaya senja. Tempat itu belum menjadi pusat kegiatan. Belum menjadi ruang besar bagi perubahan.
Namun, dari beranda yang sepi itu, gagasan-gagasan kecil mulai lahir.
Gagasan tentang anak-anak yang belajar lebih giat.
Tentang pemuda yang kembali percaya pada kemampuannya.
Tentang warga yang tidak lagi hanya menunggu.
Dan tentang dua orang yang perlahan belajar bahwa membangun desa tidak selalu dimulai dari proyek besar.
Kadang, semuanya berawal dari sebuah meja belajar, secangkir teh, dan keberanian untuk berkata:
Kita bisa mencoba.
BAB VI
Pemuda yang Kehilangan Arah
Sore itu, beranda sekolah dasar Desa Suka Makmur tampak lebih ramai daripada biasanya.
Matahari belum benar-benar tenggelam, tetapi cahaya keemasannya sudah jatuh miring di halaman sekolah. Debu tipis berterbangan ketika beberapa sepeda motor berhenti di depan pagar. Ada yang datang dengan sandal jepit, ada yang masih mengenakan pakaian kerja, dan ada pula yang datang sambil membawa rokok di sela jari.
Beberapa kursi plastik disusun seadanya. Sebagian pemuda duduk di lantai beralas tikar, sementara yang lain memilih bersandar di tiang-tiang kayu. Di sudut beranda, Jatmiko menyiapkan termos air panas, beberapa gelas, dan sebungkus besar kopi sachet. Tidak ada meja rapat, tidak ada pengeras suara, dan tidak ada susunan acara yang resmi.
Namun, bagi Erlangga, pertemuan sederhana itu jauh lebih penting daripada rapat besar yang pernah ia hadiri di kota.
Di kota, ia pernah duduk di ruangan berpendingin udara bersama orang-orang yang berbicara panjang tentang program, target, dan anggaran. Banyak kata terdengar meyakinkan. Banyak rencana ditulis dengan rapi. Namun, tidak sedikit yang berhenti sebagai dokumen.
Di beranda sekolah itu, tidak ada proposal.
Tidak ada spanduk.
Tidak ada orang yang datang dengan pakaian paling rapi untuk terlihat penting.
Yang ada hanya pemuda-pemuda desa dengan wajah lelah, tangan kasar, dan keinginan yang selama ini tidak pernah benar-benar memiliki tempat untuk dibicarakan.
Satu per satu mereka datang.
Beni hadir dengan kaus yang masih berdebu semen karena baru pulang dari pekerjaan bangunan. Di bahunya tergantung tas kecil berisi alat tukang. Ia duduk sambil meregangkan punggung, seolah tubuhnya belum sempat beristirahat sejak pagi.
Ardi datang membawa bola di bawah lengannya. Ia mengenakan celana pendek dan kaus olahraga yang warnanya sudah mulai pudar. Ia menyapa beberapa orang dengan suara keras, lalu duduk dekat Jatmiko.
Dimas mengenakan jaket hitam lusuh dan duduk agak jauh dari kerumunan. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya seperti menyimpan banyak hal. Ia baru pulang dari kota tambang beberapa bulan lalu setelah kontrak kerjanya tidak diperpanjang.
Ada pula Fajar, Roni, Bagas, Ilham, dan beberapa pemuda lain yang selama ini lebih sering terlihat di warung kopi atau di pinggir lapangan ketika sore.
Khinanti datang bersama Sari membawa gorengan dan pisang rebus. Mereka meletakkan makanan itu di atas tikar.
“Jangan habiskan sebelum pembicaraan dimulai,” kata Sari sambil tersenyum.
“Kalau begitu, cepat mulai,” jawab Ardi, membuat beberapa orang tertawa.
Jatmiko menuangkan air panas ke dalam beberapa gelas.
“Kalau kopi sudah habis sebelum rapat selesai, itu bukan salahku,” katanya.
“Ini bukan rapat,” sahut Beni. “Katanya cuma ngobrol.”
“Kalau begitu, jangan banyak bicara. Minum saja,” jawab Jatmiko.
Tawa kecil kembali terdengar.
Erlangga berdiri di depan mereka. Ia tidak membawa map, tidak membawa proposal, dan tidak membawa pidato panjang. Hanya buku catatan hitam yang selalu ia simpan di dalam tas.
Ia sempat menatap satu per satu wajah yang hadir.
Sebagian tampak penasaran.
Sebagian tampak ragu.
Sebagian lagi mungkin datang hanya karena diajak Jatmiko dan ingin minum kopi gratis.
Namun, Erlangga tidak mempersoalkan itu.
Datang adalah awal.
“Terima kasih sudah datang,” katanya. “Aku tidak mengundang kalian untuk rapat resmi. Aku hanya ingin mendengar. Kalau kita ingin membuat kegiatan pemuda, harus dimulai dari apa yang kalian butuhkan, bukan dari apa yang aku pikir paling baik.”
Beberapa pemuda saling pandang.
Mereka tampak belum terbiasa mendengar kalimat seperti itu.
Biasanya, jika ada pertemuan pemuda, mereka datang untuk menerima instruksi. Ada acara desa yang membutuhkan tenaga. Ada kegiatan peringatan hari besar. Ada kerja bakti menjelang kunjungan pejabat. Ada pertandingan yang harus disiapkan.
Namun, jarang ada yang bertanya apa yang mereka pikirkan.
“Jadi, siapa yang mau mulai?” tanya Erlangga.
Hening.
Suara jangkrik mulai terdengar dari semak di belakang sekolah. Di kejauhan, seorang ibu memanggil anaknya untuk pulang. Tidak ada yang segera menjawab.
Jatmiko akhirnya mengangkat tangan.
“Aku mulai, ya,” katanya. “Menurutku, pemuda di sini butuh kegiatan yang jelas. Jangan cuma kalau ada acara tujuh belasan atau kerja bakti baru dicari.”
“Setuju,” kata Beni. “Kalau ada kerjaan, kami mau ikut. Tapi jangan hanya disuruh angkat kursi dan pasang tenda.”
Tawa kecil terdengar dari beberapa sudut.
“Pernah waktu acara kecamatan,” sambung Beni, “kami kerja dari pagi sampai malam. Pas foto-foto, yang berdiri di depan malah orang-orang yang tidak kelihatan sejak awal.”
“Yang penting mereka punya foto,” ujar Roni.
“Dan kita punya pegal,” tambah Ardi.
Suasana kembali riuh.
Erlangga tidak ikut tertawa terlalu lama. Ia mencatat kalimat Beni di buku hitamnya.
“Kalian merasa hanya dibutuhkan saat ada pekerjaan kasar?” tanyanya.
Beni mengangguk.
“Kurang lebih begitu.”
“Kalau bukan itu, kalian ingin apa?”
Dimas yang sejak tadi diam akhirnya mengangkat wajah.
“Aku ingin belajar komputer,” katanya pelan.
Semua mata tertuju kepadanya.
Dimas tidak langsung melanjutkan. Ia seperti memilih kata-kata yang tepat.
“Di tempat kerja dulu, banyak yang bisa dapat kerja lebih baik karena bisa pakai komputer. Aku tidak perlu langsung ahli. Paling tidak tahu mengetik, bikin surat, atau buat desain sederhana. Kalau ada lowongan, kita tidak selalu bingung minta tolong orang lain.”
“Komputer dari mana?” tanya Roni.
“Bisa pinjam?” jawab Dimas.
“Pinjam dari siapa?” Roni kembali bertanya.
Suasana kembali hening.
Khinanti kemudian berkata, “Di sekolah ada dua komputer lama. Satu masih bisa dipakai, satu lagi kadang hidup kadang tidak. Kalau kepala sekolah mengizinkan, mungkin bisa digunakan sore hari.”
“Kalau listriknya mati bagaimana?” tanya Bagas.
“Kalau listrik mati, kita belajar yang lain,” jawab Erlangga. “Yang penting mulai dulu.”
“Belajar apa?” tanya Bagas.
“Menulis surat, membuat rencana usaha, menghitung biaya sederhana, atau belajar membuat pengumuman kegiatan. Tidak semua keterampilan harus menunggu komputer.”
Dimas mengangguk pelan.
Ardi kemudian mengangkat bola yang dibawanya.
“Kalau aku, ingin lapangan diperbaiki,” katanya. “Anak-anak muda sebenarnya banyak yang suka bola. Tapi rumputnya tinggi, gawangnya rusak, dan kalau hujan lapangannya jadi kubangan.”
“Bola tidak bikin kita punya pekerjaan,” kata Beni.
“Tidak langsung,” jawab Ardi. “Tapi kalau ada kegiatan olahraga, pemuda tidak cuma nongkrong. Bisa lebih kompak.”
Jatmiko mengangguk. “Itu benar. Dulu kita sering main bola. Sekarang lapangan saja sudah seperti kebun.”
Fajar yang duduk di dekat tiang kayu ikut bicara.
“Kalau boleh, ada juga pelatihan usaha kecil. Misalnya servis motor, las, membuat kerajinan, atau cara jualan lewat telepon.”
“Jualan lewat telepon?” Roni tertawa. “Teleponku saja masih tombol.”
“Bukan teleponmu,” jawab Fajar. “Sekarang banyak orang pakai media sosial. Hasil kebun, makanan, atau kerajinan bisa dipromosikan.”
“Siapa yang mau beli?” tanya Roni.
“Kalau kita tidak mencoba, kita tidak akan tahu,” jawab Fajar.
Kalimat itu membuat beberapa orang terdiam.
Erlangga mencatat semua pendapat itu.
Ia mulai melihat pola yang jelas. Pemuda Desa Suka Makmur bukan tidak memiliki keinginan. Mereka hanya terbiasa menyimpan keinginan itu karena merasa tidak ada tempat untuk membicarakannya.
“Kita tidak mungkin menjalankan semua sekaligus,” kata Erlangga setelah beberapa saat. “Tapi kita bisa memilih langkah pertama.”
“Langkah pertama apa?” tanya Beni.
Erlangga menoleh kepada mereka satu per satu.
“Membersihkan lapangan dan lingkungan sekitar sekolah,” jawabnya. “Bukan karena itu satu-satunya kegiatan, tetapi karena kita bisa melakukannya tanpa menunggu bantuan besar. Setelah itu, kita bentuk kelompok pemuda. Dari situ, kita bisa menyusun kegiatan olahraga, belajar komputer, dan pelatihan keterampilan.”
Ardi mengangguk. “Kalau lapangan dibersihkan, aku bisa ajak anak-anak ikut.”
“Bagus,” kata Erlangga. “Kita jadwalkan hari Minggu pagi.”
“Pagi?” keluh Roni. “Hari Minggu itu waktu tidur.”
“Kalau begitu, kau tidur di lapangan,” sahut Jatmiko, membuat suasana kembali riuh oleh tawa.
Khinanti yang sejak tadi mendengarkan akhirnya berbicara.
“Selain membersihkan lapangan, bagaimana kalau kita juga membuat kegiatan untuk anak-anak?” katanya. “Mereka bisa ikut memungut sampah, menanam bunga, atau membuat poster tentang menjaga lingkungan.”
“Itu bagus,” kata Sari. “Ibu-ibu juga bisa membantu menyiapkan makanan sederhana.”
“Jangan sampai ibu-ibu yang bekerja lebih banyak daripada pemudanya,” ujar Khinanti sambil memandang para pemuda.
Beni mengangkat kedua tangannya. “Tenang, Kak. Kali ini kami yang kerja.”
Pertemuan sore itu berakhir ketika langit mulai gelap. Tidak ada keputusan besar, tidak ada tanda tangan, dan tidak ada janji muluk.
Namun, sebelum pulang, mereka sepakat membentuk kelompok sementara bernama Pemuda Harapan Suka Makmur.
Jatmiko dipilih menjadi koordinator lapangan karena paling mengenal banyak pemuda. Ardi bertanggung jawab pada kegiatan olahraga. Dimas diminta membantu menyiapkan rencana kelas komputer dasar. Beni dan Fajar mengurus peralatan kerja bakti. Erlangga diminta membantu menyusun kegiatan, sementara Khinanti dan Sari mendampingi kegiatan anak-anak serta melibatkan kelompok ibu-ibu.
Ketika semua mulai beranjak pulang, Erlangga memandangi daftar nama yang baru ditulis di buku catatannya.
Jumlahnya tidak banyak.
Hanya dua belas orang.
Namun, dua belas orang yang mau bergerak jauh lebih berarti daripada seratus orang yang hanya menunggu.
Minggu pagi tiba dengan langit cerah.
Sejak pukul tujuh, lapangan desa yang selama ini dipenuhi rumput liar mulai ramai. Pemuda datang membawa parang, cangkul, sapu lidi, karung, dan beberapa alat seadanya. Jatmiko mengatur pembagian tugas dengan suara lantang.
“Yang bawa parang ke bagian belakang!” teriaknya. “Jangan ada yang potong rumput dekat anak-anak!”
Ardi bersama beberapa pemuda membersihkan area gawang. Beni dan Fajar memperbaiki pagar bambu yang roboh. Dimas mengumpulkan sampah plastik di sekitar lapangan. Roni, yang semula mengeluh soal bangun pagi, justru datang membawa gerobak kecil milik ayahnya.
“Jangan bilang aku tidak kerja,” katanya kepada Jatmiko.
“Belum juga mulai sudah minta dipuji,” jawab Jatmiko.
Anak-anak juga datang membawa kantong kecil. Mereka memungut bungkus makanan dan botol plastik sambil sesekali saling berlomba siapa yang paling banyak mengumpulkan sampah.
Khinanti mengawasi mereka sambil memberi arahan.
“Jangan ambil pecahan kaca dengan tangan kosong,” katanya. “Kalau menemukan yang tajam, panggil Kak Sari.”
Di bawah pohon mangga, Sari dan beberapa ibu menyiapkan air minum serta singkong rebus. Bu Ratna, Ketua PKK desa, juga datang membawa beberapa ember bibit bunga yang ia ambil dari halaman rumahnya.
“Kalau lapangannya sudah bersih, kita tanam bunga di pinggir jalan,” katanya.
Kegiatan itu mulai menarik perhatian warga.
Beberapa orang yang awalnya hanya lewat berhenti untuk melihat. Ada yang kemudian ikut membantu. Seorang bapak membawa mesin pemotong rumput. Seorang ibu menyumbangkan beberapa kantong bibit cabai. Anak-anak semakin bersemangat ketika melihat lapangan yang perlahan berubah.
Erlangga bekerja bersama Beni mengangkat tumpukan rumput kering ke dalam karung. Keringat membasahi kemejanya. Tangannya mulai kotor oleh tanah. Namun, wajahnya tampak lega.
Beni menatapnya sekilas.
“Di kota dulu kau kerja pakai tangan juga?” tanyanya.
“Tidak sesering ini.”
“Tidak menyesal pulang?”
Erlangga mengangkat satu karung rumput ke atas gerobak.
“Belum tahu. Tapi hari ini aku tidak menyesal.”
Beni tersenyum tipis.
“Kalau kau bertahan sampai musim hujan, baru aku percaya.”
Erlangga tertawa. “Baik. Aku catat.”
Pak Sastro datang menjelang siang membawa dua cangkul tambahan.
Erlangga menoleh dengan terkejut.
“Bapak?” katanya.
Pak Sastro menyerahkan salah satu cangkul kepada seorang pemuda.
“Cangkul kalian kurang,” katanya singkat.
Erlangga tersenyum. “Terima kasih, Pak.”
Pak Sastro tidak langsung menjawab. Ia memandang lapangan yang mulai bersih, lalu melihat anak-anak yang sedang menanam bunga bersama Khinanti.
“Kalau mau membangun sesuatu,” katanya pelan, “jangan hanya bicara. Tangan juga harus ikut kotor.”
Erlangga mengangguk.
Kalimat itu sederhana, tetapi terasa seperti pengakuan kecil dari ayahnya.
Menjelang tengah hari, lapangan desa tampak berbeda. Rumput liar telah dipotong. Sampah-sampah dikumpulkan. Gawang bambu yang rusak mulai diperbaiki. Di pinggir jalan, anak-anak menanam bunga dan tanaman obat dalam botol-botol bekas yang dicat seadanya.
Tidak sempurna.
Namun, hidup.
Saat semua orang beristirahat, Pak Darmawan datang bersama salah seorang perangkat desa. Ia melihat kegiatan itu dengan wajah cukup terkejut.
“Ramai juga,” katanya.
“Alhamdulillah, Pak,” jawab Jatmiko. “Kami bersih-bersih lapangan.”
Pak Darmawan mengangguk. “Bagus. Pemuda memang harus aktif.”
Erlangga menghampiri kepala desa itu.
“Pak, kalau nanti kegiatan ini berlanjut, kami berharap bisa mendapat dukungan dari desa. Tidak harus besar. Mungkin alat kebersihan, cat untuk gawang, atau peminjaman ruangan untuk pelatihan.”
Pak Darmawan tersenyum tipis. “Bisa dibicarakan. Yang penting kegiatannya berjalan dulu.”
“Baik, Pak.”
Pak Darmawan memandang sekeliling. “Kalau pemuda kompak seperti ini, desa tentu terbantu.”
Namun, tidak semua orang melihat kegiatan itu dengan rasa senang.
Di seberang jalan, Pak Wiryo berdiri di dekat mobil pikap miliknya. Ia tidak ikut mendekat. Ia hanya memandang dari jauh, memperhatikan Erlangga yang berbicara dengan Pak Darmawan, lalu memperhatikan pemuda-pemuda yang tampak semakin akrab dengan kegiatan baru mereka.
Wajahnya sulit dibaca.
Beberapa saat kemudian, ia masuk ke mobil dan pergi tanpa menyapa siapa pun.
Khinanti yang melihatnya dari kejauhan berjalan mendekati Erlangga.
“Kau lihat Pak Wiryo?” tanyanya pelan.
“Iya.”
“Dia tidak suka kalau ada sesuatu yang bergerak tanpa melalui orang-orang tertentu.”
Erlangga menatap jalan tempat mobil pikap itu menghilang.
“Ini hanya kerja bakti.”
“Bagi kita, mungkin. Tapi bagi orang yang terbiasa mengatur arah, kegiatan kecil pun bisa dianggap ancaman.”
Erlangga menghela napas.
“Kalau begitu, kita harus lebih hati-hati.”
Khinanti mengangguk. “Hati-hati, tapi jangan takut.”
Menjelang sore, setelah semua pekerjaan selesai, anak-anak mulai bermain bola di lapangan yang lebih bersih. Ardi berdiri di dekat gawang sambil mengatur permainan. Teriakan dan tawa mereka terdengar hingga ke jalan utama desa.
Raka juga ikut bermain.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, ia tampak tersenyum lepas. Erlangga melihatnya berlari mengejar bola, lalu jatuh di tanah dan bangkit lagi tanpa mengeluh.
Khinanti berdiri di samping Erlangga.
“Lihat Raka,” katanya. “Hari ini dia datang lebih awal daripada anak-anak lain.”
“Dia suka bola,” jawab Erlangga.
“Mungkin kita bisa mengajak dia membantu kegiatan pemuda nanti.”
“Pelan-pelan,” kata Erlangga, mengingat ucapan Khinanti sebelumnya.
Khinanti tersenyum.
Tidak jauh dari mereka, Dimas sedang berbicara dengan Fajar. Mereka membahas kemungkinan meminjam komputer sekolah. Beni dan Jatmiko mengukur gawang yang baru diperbaiki. Ardi mengajari beberapa anak cara mengoper bola.
Di tengah kegiatan sederhana itu, Erlangga melihat sesuatu yang selama ini sulit ia temukan di kota: rasa memiliki.
Tidak ada yang dibayar untuk datang.
Tidak ada yang dipaksa.
Namun, setiap orang mulai merasa bahwa lapangan itu adalah milik mereka. Bahwa kebersihan itu adalah tanggung jawab mereka. Bahwa masa depan desa tidak selalu harus menunggu orang lain datang membawa jawaban.
Sore itu, lapangan desa bukan lagi tempat yang dipenuhi rumput liar dan sampah.
Lapangan itu kembali menjadi ruang bermain, ruang bertemu, dan ruang bagi pemuda untuk merasa bahwa mereka masih memiliki tempat di kampung sendiri.
Erlangga memandangi mereka dengan hati yang penuh harapan.
Ia tahu perjalanan mereka masih panjang. Kegiatan hari itu tidak serta-merta memperbaiki jalan rusak, membuka lapangan pekerjaan, atau menghapus semua persoalan desa.
Namun, setidaknya ada satu hal yang berubah.
Pemuda yang selama ini kehilangan arah mulai menemukan alasan untuk berkumpul.
Bukan hanya untuk menghabiskan waktu.
Melainkan untuk mulai membangun jalan mereka sendiri.
BAB VII
Rumah Baca dan Mimpi Anak Desa
Sejak kegiatan bersih-bersih lapangan, suasana Desa Suka Makmur terasa sedikit berbeda.
Perubahan itu belum tampak besar. Jalan desa masih berlubang. Saluran air masih tersumbat di beberapa titik. Sebagian warga tetap berangkat ke kebun sebelum matahari terbit dan pulang menjelang senja dengan tubuh lelah. Di beberapa rumah, anak-anak masih belajar dengan penerangan lampu seadanya. Di warung kopi, keluhan tentang harga hasil kebun, biaya sekolah, dan sulitnya mencari pekerjaan masih menjadi percakapan sehari-hari.
Namun, ada percakapan baru yang mulai terdengar di warung kopi, di teras rumah, dan di halaman sekolah.
Orang-orang mulai membicarakan kegiatan pemuda.
Mereka membicarakan lapangan yang kini lebih bersih. Mereka membicarakan anak-anak yang menanam bunga di pinggir jalan. Mereka membicarakan Erlangga yang pulang dari kota, lalu ikut mengangkat rumput dan sampah bersama warga.
Sebagian menyambutnya dengan senang.
“Setidaknya ada yang mau bergerak,” kata Bu Ratna suatu pagi kepada tetangganya.
Sebagian lagi masih menunggu.
“Kita lihat saja nanti,” ujar seorang lelaki di warung kopi. “Awal-awal memang semangat. Nanti kalau sudah capek, balik lagi seperti dulu.”
Dan ada pula yang memilih diam, tetapi memperhatikan.
Di Rumah Baca Harapan, Khinanti memilih tidak terlalu memikirkan komentar orang. Baginya, anak-anak tetap harus belajar. Buku-buku tetap harus dirapikan. Meja-meja kecil tetap harus dibersihkan. Dan setiap sore, ketika anak-anak datang membawa tugas sekolah atau sekadar ingin membaca cerita, rumah baca itu harus tetap terbuka.
Rumah baca itu tidak besar.
Bangunannya hanya terdiri dari satu ruangan utama dengan rak-rak kayu di dinding. Sebagian buku berasal dari sumbangan sekolah, sebagian lagi dari para relawan yang pernah datang ke desa beberapa tahun lalu. Ada buku cerita anak, buku pelajaran bekas, majalah lama, buku pertanian, dan beberapa novel yang sampulnya sudah mulai kusam.
Di salah satu sudut, terdapat tikar yang sudah mulai pudar warnanya. Di sudut lain, ada papan tulis kecil yang cat hitamnya mulai mengelupas. Namun, bagi Khinanti, tempat itu adalah ruang yang harus dipertahankan.
Ia tidak ingin anak-anak Desa Suka Makmur tumbuh dengan keyakinan bahwa masa depan hanya milik orang-orang yang tinggal di kota.
Hari itu, hujan turun sejak siang.
Langit menjadi gelap lebih cepat. Jalan tanah di depan sekolah berubah menjadi licin. Beberapa anak tidak datang karena orang tua mereka khawatir hujan semakin deras. Namun, beberapa anak tetap hadir, berjalan sambil membawa payung atau mengenakan jas hujan tipis.
Lila datang dengan rambut sedikit basah. Ia memeluk sebuah buku pelajaran di dadanya.
“Kak Khinanti, aku ada tugas,” katanya.
“Tugas apa?”
“Buat cerita tentang cita-cita.”
Khinanti tersenyum. “Sudah tahu mau jadi apa?”
Lila menggeleng. “Aku ingin jadi banyak.”
“Banyak itu seperti apa?”
“Aku ingin jadi guru, dokter, penulis, dan juga orang yang bisa pergi ke bulan.”
Anak-anak lain tertawa mendengar jawaban itu.
Khinanti tidak ikut tertawa. Ia justru mengambil sebuah buku tulis dan memberikannya kepada Lila.
“Kalau begitu, tulis semuanya,” katanya. “Tidak ada yang salah dengan punya banyak cita-cita.”
Lila menerima buku itu dengan wajah berseri.
“Kalau pergi ke bulan harus sekolah tinggi, ya, Kak?”
“Iya.”
“Kalau aku sekolah tinggi, nanti Ibu sendirian di rumah.”
“Kau bisa tetap sayang pada Ibu dan tetap mengejar cita-cita.”
“Kalau aku sudah besar, aku mau bawa Ibu ke bulan juga.”
Khinanti tertawa kecil. “Baik. Tapi jangan lupa bawa Kak Khinanti.”
“Boleh,” jawab Lila cepat. “Tapi Abang Erlangga juga harus ikut. Biar dia yang memperbaiki roketnya.”
Anak-anak kembali tertawa.
Di sudut ruangan, Raka duduk sendiri. Ia datang terlambat dengan celana yang bagian bawahnya basah oleh lumpur. Di tangannya ada buku tulis yang sudah mulai robek di bagian sampul.
Khinanti mendekatinya.
“Kau baru pulang dari kebun?” tanyanya.
Raka mengangguk.
“Bapak minta bantu angkat singkong.”
“Sudah makan?”
“Sudah.”
“Besok sekolah?”
Raka tidak langsung menjawab.
Khinanti duduk di sampingnya. “Raka, Kakak tidak mau memaksa. Tapi Kakak ingin tahu, kenapa kau makin jarang masuk sekolah?”
Raka memandangi lantai.
“Teman-teman sudah jauh pelajarannya,” katanya pelan. “Aku kalau masuk, tidak mengerti. Guru tanya, aku diam. Lebih baik bantu Bapak.”
“Kalau kau tidak mengerti, kita bisa belajar pelan-pelan di sini.”
Raka menggeleng. “Aku tidak sepintar yang lain.”
“Kau bukan tidak pintar,” kata Khinanti. “Kau hanya tertinggal karena terlalu banyak hal yang harus kau pikirkan.”
Raka tidak menjawab lagi.
Khinanti tidak memaksa. Ia tahu, anak seperti Raka membutuhkan waktu. Mereka tidak bisa diselamatkan hanya dengan nasihat. Mereka perlu diyakinkan bahwa ada orang yang benar-benar mau menemani mereka berjalan.
Sore itu, Erlangga datang membawa sebuah tas ransel besar. Bajunya sedikit basah karena hujan. Di belakangnya, Jatmiko membawa sebuah kotak kardus.
“Assalamu’alaikum,” ucap Erlangga dari pintu.
“Wa’alaikumussalam,” jawab anak-anak.
“Ada apa itu, Abang?” tanya Lila dengan penuh rasa ingin tahu.
Erlangga meletakkan tasnya di atas meja.
“Ada beberapa alat belajar,” jawabnya. “Tapi sebelum dibuka, semua harus janji satu hal.”
“Janji apa?” tanya anak-anak serempak.
“Dipakai bersama, dijaga bersama, dan tidak berebut.”
Anak-anak mengangguk cepat.
Erlangga membuka kardus itu. Di dalamnya terdapat beberapa buku tulis, pensil, penghapus, penggaris, pensil warna, serta dua papan tulis kecil yang dapat dipindahkan. Tidak semuanya baru, tetapi masih bersih dan layak digunakan.
“Ini dari mana?” tanya Khinanti.
“Ada teman di kota yang membantu mengumpulkan. Aku juga membeli sebagian,” jawab Erlangga.
Khinanti menatapnya. “Kau menghubungi teman-temanmu?”
“Iya. Aku cerita tentang rumah baca ini. Ternyata ada beberapa yang mau membantu.”
“Jangan sampai anak-anak menganggap bantuan selalu datang dari luar,” kata Khinanti.
Erlangga mengangguk. “Aku setuju. Karena itu, aku ingin anak-anak juga belajar menjaga dan mengembangkan apa yang sudah ada.”
Ia lalu menempelkan sebuah kertas besar di dinding.
Di bagian atas tertulis:
PETA MIMPI ANAK DESA
“Mulai hari ini,” kata Erlangga, “setiap orang boleh menulis atau menggambar cita-citanya di kertas kecil. Tidak harus hebat. Tidak harus sama dengan orang lain. Setelah itu, kita tempel di sini.”
Anak-anak tampak antusias.
“Aku mau jadi pemain bola!” teriak seorang anak laki-laki.
“Aku mau jadi dokter!” sahut yang lain.
“Aku mau jadi polisi!”
“Aku mau jadi guru seperti Kak Khinanti!”
“Aku mau jadi pembuat kue!” kata seorang anak perempuan dari belakang.
Khinanti tersenyum melihat keramaian itu. Ia mengambil kertas-kertas kecil dan membagikannya kepada anak-anak.
“Tidak perlu malu,” katanya. “Tulis apa yang benar-benar kalian inginkan.”
Anak-anak mulai menulis dan menggambar. Ada yang menulis dengan huruf besar-besar. Ada yang menggambar rumah sakit, pesawat, sekolah, mobil, kebun, dan lapangan bola. Lila menggambar roket besar dengan bintang-bintang di sekelilingnya.
Raka tidak segera menulis.
Ia hanya memegang pensil sambil memandangi kertas kosong di depannya.
Erlangga menghampirinya dan duduk di sebelahnya.
“Belum tahu mau menulis apa?” tanya Erlangga.
Raka menggeleng.
“Tidak apa-apa. Dulu aku juga pernah bingung.”
“Abang dulu ingin jadi apa?”
Erlangga berpikir sejenak. “Dulu aku ingin jadi orang yang bisa membuat desa ini lebih baik.”
“Sudah jadi?”
Pertanyaan itu membuat Erlangga tersenyum kecil.
“Belum,” jawabnya jujur. “Aku masih belajar.”
Raka menatapnya.
“Kalau aku tidak punya cita-cita bagaimana?”
“Kau pasti punya. Mungkin belum berani mengucapkannya.”
Raka kembali memandang kertas kosong.
“Aku ingin bisa memperbaiki motor,” katanya pelan.
“Kenapa?”
“Biar bisa punya bengkel. Bapak tidak perlu kerja terlalu berat di kebun.”
Erlangga mengangguk. “Itu cita-cita yang bagus.”
“Tapi aku tidak tahu caranya.”
“Tidak tahu sekarang bukan berarti tidak bisa nanti.”
Erlangga mengambil pensil warna dan menyerahkannya kepada Raka.
“Coba gambar bengkelmu.”
Raka tampak ragu. Namun, beberapa saat kemudian ia mulai menggambar. Garis-garisnya masih sederhana, tetapi terlihat sebuah bangunan kecil dengan papan nama, sepeda motor, dan seorang laki-laki berdiri di depannya.
Khinanti yang memperhatikan dari jauh merasa dadanya menghangat.
Ia tahu, tidak semua anak membutuhkan jawaban. Kadang mereka hanya membutuhkan seseorang yang percaya bahwa mimpi mereka layak didengar.
Hujan mulai reda menjelang sore. Cahaya matahari menembus awan dan masuk melalui jendela rumah baca. Dinding yang tadinya tampak kusam kini dipenuhi kertas-kertas kecil berwarna-warni.
Ada mimpi menjadi guru.
Ada mimpi menjadi dokter.
Ada mimpi menjadi petani yang memiliki kebun besar.
Ada mimpi menjadi pemain bola.
Ada mimpi menjadi polisi.
Ada mimpi menjadi penulis.
Ada pula mimpi sederhana: membantu orang tua, membuat rumah yang nyaman, atau bisa membaca buku sebanyak mungkin.
Di antara semua itu, gambar bengkel milik Raka menempel di bagian bawah.
Khinanti berdiri di depan Peta Mimpi Anak Desa bersama Erlangga.
“Dinding ini akan penuh,” kata Erlangga.
“Semoga,” jawab Khinanti.
“Kalau penuh, kita buat yang lebih besar.”
Khinanti menoleh kepadanya. “Kau selalu berpikir jauh.”
“Karena kalau tidak, kita akan terlalu mudah menyerah.”
Anak-anak mulai pulang ketika hujan benar-benar berhenti. Mereka membawa buku, pensil, dan semangat baru. Lila bahkan berulang kali menoleh ke arah dinding untuk memastikan gambar roketnya masih menempel.
Raka menjadi salah satu anak terakhir yang pulang.
Sebelum keluar, ia berhenti di pintu dan menoleh kepada Khinanti.
“Kak,” katanya.
“Iya?”
“Besok aku mau datang lagi.”
Khinanti tersenyum. “Kakak tunggu.”
Namun, tidak semua orang tua memandang Rumah Baca Harapan dengan keyakinan yang sama.
Keesokan harinya, ketika Khinanti sedang menyapu halaman rumah baca, seorang perempuan bernama Bu Sulastri datang bersama anaknya, Wawan. Wajahnya tampak lelah. Di tangannya, ia membawa keranjang berisi sayur yang baru dipetik dari kebun.
“Bu Sulastri,” sapa Khinanti. “Silakan masuk.”
Perempuan itu tidak langsung masuk.
“Saya mau bicara sebentar, Nanti,” katanya.
“Silakan, Bu.”
Bu Sulastri menoleh kepada Wawan yang berdiri di sampingnya.
“Kemarin dia pulang terlambat dari sini,” katanya. “Saya kira dia main ke mana-mana. Ternyata di rumah baca.”
Wawan menunduk.
“Kami minta maaf kalau membuat Ibu khawatir,” kata Khinanti. “Kemarin hujan, jadi anak-anak pulang sedikit terlambat.”
“Bukan itu saja,” lanjut Bu Sulastri. “Dia sekarang bilang mau jadi dokter. Mau sekolah tinggi. Mau ke kota. Saya tidak tahu harus senang atau takut.”
Khinanti memandangnya dengan tenang.
“Kenapa takut, Bu?”
“Karena kami ini orang susah,” jawab Bu Sulastri. “Kalau anak-anak terlalu banyak mimpi, nanti mereka kecewa. Saya tidak mau dia berharap terlalu tinggi.”
Kalimat itu membuat Khinanti terdiam sejenak.
Ia memahami ketakutan seorang ibu yang hidup dalam keterbatasan. Bukan karena Bu Sulastri tidak ingin anaknya maju, tetapi karena hidup telah berkali-kali mengajarkan bahwa harapan sering terasa mahal.
“Kami tidak mengajarkan anak-anak untuk melupakan keadaan mereka, Bu,” kata Khinanti perlahan. “Kami hanya ingin mereka tahu bahwa keadaan hari ini tidak harus menjadi batas untuk seluruh hidup mereka.”
Bu Sulastri memandangi rumah baca itu.
“Kalau nanti dia tidak bisa jadi dokter?”
“Tidak apa-apa,” jawab Khinanti. “Yang penting dia tetap belajar. Bisa jadi ia menjadi perawat, guru, petani yang berhasil, atau apa pun yang membuat hidupnya lebih baik. Mimpi bukan janji bahwa semuanya pasti mudah. Mimpi adalah alasan untuk terus berusaha.”
Wawan menatap ibunya.
“Bu, aku tetap bantu kebun,” katanya pelan. “Tapi aku mau belajar juga.”
Bu Sulastri menarik napas panjang.
“Jangan sampai sekolahmu terbengkalai,” katanya.
Wawan mengangguk cepat.
“Kalau begitu, datanglah ke rumah baca,” ujar Khinanti. “Tapi setelah membantu Ibu dan menyelesaikan tugas rumah.”
Bu Sulastri tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan sebelum pergi.
Bagi Khinanti, itu sudah cukup.
Satu ibu yang tidak lagi melarang anaknya datang adalah satu pintu yang mulai terbuka.
Setelah Raka pulang, Rumah Baca Harapan kembali sepi. Hanya suara tetesan air dari atap yang masih terdengar. Erlangga membantu Khinanti merapikan meja dan mengumpulkan pensil warna.
“Kau lihat?” kata Khinanti. “Raka mau datang lagi.”
“Itu langkah kecil,” jawab Erlangga.
“Bagi anak yang hampir menyerah sekolah, langkah kecil bisa berarti besar.”
Erlangga mengangguk.
Mereka lalu duduk di beranda rumah baca. Udara setelah hujan terasa sejuk. Tanah di halaman mengeluarkan aroma khas yang mengingatkan Erlangga pada masa kecilnya.
“Khinanti,” katanya setelah beberapa saat, “aku ingin membuat kelas belajar sore yang lebih teratur.”
Khinanti menoleh. “Setiap hari?”
“Tidak perlu setiap hari. Mungkin tiga kali seminggu. Kita bisa bagi kelompok berdasarkan usia. Anak-anak yang kesulitan membaca, berhitung, atau mengerjakan tugas bisa dibantu.”
“Siapa yang mengajar?”
“Kau, aku, Sari, dan kalau bisa beberapa pemuda yang mau membantu. Dimas mungkin bisa mengajarkan komputer dasar kalau nanti sekolah mengizinkan memakai komputer.”
Khinanti memikirkan gagasan itu.
“Kalau kegiatan terlalu banyak, kita bisa kewalahan,” katanya.
“Kita mulai kecil saja. Sepuluh anak, dua jam, tiga kali seminggu.”
Khinanti mengangguk perlahan. “Baik. Tapi kita harus bicara dengan orang tua mereka.”
“Setuju.”
“Dan jangan sampai kegiatan ini membuat anak-anak merasa seperti sedang dihukum karena tertinggal pelajaran.”
“Kalau begitu, kita buat suasananya menyenangkan.”
Khinanti tersenyum tipis. “Kau punya banyak cara untuk membuat sesuatu terdengar mudah.”
“Bukan mudah,” jawab Erlangga. “Hanya mungkin.”
Sore itu, sebelum pulang, mereka menempelkan satu tulisan baru di bawah Peta Mimpi Anak Desa.
Mimpi tidak harus lahir dari tempat yang besar. Mimpi hanya membutuhkan tempat untuk dijaga.
Beberapa hari kemudian, tulisan itu mulai dibaca oleh banyak orang.
Anak-anak membacanya sebelum masuk rumah baca.
Para ibu membacanya ketika menjemput anak.
Pemuda yang lewat di depan sekolah berhenti sejenak untuk melihat dinding penuh cita-cita.
Bahkan Pak Sastro yang suatu sore datang membawa singkong rebus untuk Erlangga, berdiri cukup lama di depan Peta Mimpi Anak Desa.
Ia tidak berkata apa-apa.
Namun, ketika pulang, ia membawa satu lembar kertas kecil yang terjatuh dari dinding. Di atasnya terdapat tulisan seorang anak:
Aku ingin desa kami punya sekolah yang bagus.
Pak Sastro menyimpan kertas itu di saku bajunya.
Di Desa Suka Makmur, rumah baca kecil itu perlahan menjadi lebih dari sekadar tempat meminjam buku.
Ia menjadi tempat anak-anak belajar percaya pada diri sendiri.
Tempat pemuda mulai melihat bahwa mereka dapat menjadi bagian dari perubahan.
Dan bagi Erlangga serta Khinanti, rumah baca itu menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak selalu dimulai dari jalan beton, gedung besar, atau anggaran yang banyak.
Kadang, pembangunan dimulai dari satu anak yang berani menuliskan mimpinya.
Lalu dari satu orang dewasa yang memilih untuk tidak membiarkan mimpi itu hilang.
BAB VIII
Jalan yang Tidak Selalu Mulus
Sejak Danu mulai datang ke Rumah Baca Harapan, suasana di tempat itu berubah dengan cara yang tidak langsung terlihat oleh semua orang.
Ia tidak tiba-tiba menjadi anak yang banyak bicara. Ia juga tidak serta-merta mampu membaca dengan lancar. Setiap kali Khinanti memintanya mengeja kata-kata sederhana, Danu masih sering berhenti terlalu lama. Matanya bergerak mengikuti huruf-huruf di halaman buku, lalu ia menghela napas kecil seolah setiap kalimat adalah jalan panjang yang harus dilalui sendirian.
Namun, ia datang.
Itu sudah cukup bagi Khinanti.
Setiap Sabtu sore, Danu selalu muncul beberapa menit sebelum kegiatan dimulai. Kadang ia membawa sapu. Kadang membawa palu kecil. Kadang hanya datang dengan tangan kosong dan wajah canggung. Tetapi ia tidak lagi berdiri jauh di luar pagar seperti sebelumnya.
Ia masuk.
Ia duduk.
Ia mencoba.
Suatu sore, ketika anak-anak sedang belajar membaca, Lila duduk tidak jauh dari Danu. Anak perempuan itu memegang buku cerita bergambar tentang seekor burung kecil yang ingin belajar terbang.
“Bang Danu,” katanya tiba-tiba, “ini bacanya apa?”
Danu menoleh. “Yang mana?”
“Ini.”
Lila menunjuk sebuah kata di halaman buku.
Danu memandangi kata itu cukup lama.
“Te… r… bang,” katanya perlahan.
“Terbang,” ulang Lila dengan gembira. “Betul.”
Danu tersenyum tipis.
Tidak ada yang menertawakannya karena membaca perlahan. Tidak ada yang berkata bahwa ia terlalu besar untuk belajar dari buku anak-anak. Anak-anak justru menerimanya dengan cara mereka sendiri: tanpa banyak pertanyaan, tanpa rasa curiga, dan tanpa mengingat kesalahannya berulang-ulang.
Namun, penerimaan itu tidak selalu datang dari orang dewasa.
Beberapa hari setelah Danu membantu membersihkan Rumah Baca Harapan, Khinanti mendengar percakapan dua orang ibu di dekat warung kecil depan sekolah.
“Aku dengar anak yang masuk dari jendela itu sekarang malah boleh belajar di rumah baca,” kata seorang ibu.
“Iya,” jawab yang lain. “Kalau begitu, nanti anak-anak lain bisa berpikir kalau berbuat salah tidak apa-apa. Tinggal minta maaf, lalu selesai.”
Khinanti yang sedang membeli gula tidak langsung menanggapi. Ia memilih membayar belanjaannya, lalu berjalan pulang dengan hati yang tidak tenang.
Ia memahami kekhawatiran mereka.
Rumah baca bukan tempat yang boleh dianggap mudah dimasuki tanpa izin. Anak-anak juga perlu belajar bahwa setiap perbuatan memiliki akibat. Namun, Khinanti tidak ingin Danu hanya dikenang sebagai anak yang pernah melakukan kesalahan.
Ia ingin Danu punya kesempatan untuk dikenal sebagai anak yang sedang berusaha berubah.
Sore itu, Khinanti menceritakan percakapan tersebut kepada Erlangga. Mereka duduk di beranda rumah baca setelah anak-anak pulang. Langit mulai berubah jingga. Dari lapangan, terdengar suara Ardi dan beberapa pemuda yang sedang berlatih sepak bola.
“Menurutmu, apakah aku terlalu lunak?” tanya Khinanti.
Erlangga menatap halaman rumah baca yang mulai sepi.
“Tidak,” jawabnya. “Kau memberi dia tanggung jawab. Kau tidak membiarkan kesalahannya begitu saja.”
“Tapi orang-orang tidak selalu melihat bagian itu.”
“Orang sering lebih mudah melihat kesalahan daripada proses seseorang memperbaikinya.”
Khinanti menghela napas.
“Aku takut rumah baca ini dianggap tempat yang tidak punya aturan.”
“Kalau begitu, kita buat aturannya lebih jelas,” kata Erlangga. “Bukan untuk menghukum, tetapi supaya semua orang mengerti bahwa tempat ini dijaga bersama.”
Khinanti menoleh kepadanya.
“Aturan seperti apa?”
“Kita buat kesepakatan rumah baca. Anak-anak, pemuda, orang tua, semua ikut menyusun. Tentang menjaga buku, menjaga kebersihan, datang dengan izin, dan saling menghormati.”
“Dan kalau ada yang melanggar?”
“Harus ada tanggung jawab yang sesuai. Tapi jangan sampai orang merasa pintu rumah baca tertutup selamanya.”
Khinanti memikirkan kata-kata itu.
Ia lalu mengambil papan tulis kecil dan mulai menulis beberapa kalimat.
Rumah Baca Harapan adalah milik bersama.
Buku dijaga, bukan dirusak.
Barang dipinjam dengan izin.
Setiap orang berhak belajar.
Setiap orang wajib menghormati orang lain.
Kesalahan harus diperbaiki, bukan disembunyikan.
Ketika Danu datang keesokan harinya, ia membaca tulisan itu cukup lama.
“Ini karena aku?” tanyanya pelan.
Khinanti tidak ingin berbohong.
“Sebagian karena kejadian kemarin,” jawabnya. “Tapi bukan hanya karena kau. Semua orang perlu belajar menjaga tempat ini.”
Danu menunduk.
“Aku bikin orang repot.”
“Kau membuat kesalahan,” kata Khinanti. “Tapi sekarang kau sedang belajar memperbaikinya. Itu yang penting.”
Danu memandang papan tulis itu lagi.
“Kalau aku bantu jaga rumah baca, boleh?”
Khinanti tersenyum.
“Boleh. Tapi kau tidak harus melakukannya sendiri.”
Sejak hari itu, Danu mendapat tugas kecil setiap Sabtu sore. Ia membantu membuka jendela, memeriksa rak buku, merapikan meja, dan memastikan pintu belakang tertutup sebelum kegiatan selesai. Raka sering membantunya. Pada awalnya mereka tidak banyak berbicara. Namun, lama-kelamaan, keduanya mulai akrab.
Raka masih sering malu ketika diminta menjawab soal pelajaran. Danu masih gugup ketika diminta membaca. Tetapi di rumah baca, mereka menemukan ruang untuk sama-sama belajar tanpa harus merasa paling tertinggal.
Suatu sore, Raka membawa buku matematika yang sudah kusut.
“Bang Danu,” katanya, “kalau dua belas dibagi tiga berapa?”
Danu mengernyitkan dahi.
“Empat, mungkin.”
“Betul,” sahut Erlangga dari meja sebelah.
Danu tampak sedikit terkejut.
“Serius?”
“Serius,” kata Erlangga. “Kau bisa.”
Danu tidak menjawab. Namun, wajahnya tampak sedikit lebih terang.
Di luar rumah baca, persoalan lain mulai muncul.
Hujan turun hampir setiap sore selama beberapa hari. Air mengalir dari jalan tanah menuju halaman sekolah. Saluran kecil di depan rumah baca tersumbat oleh daun, plastik, dan tanah yang terbawa arus. Pada suatu malam, hujan turun sangat deras hingga air masuk ke bagian depan ruangan.
Pagi harinya, Khinanti datang dan menemukan lantai rumah baca basah.
Beberapa tikar lembap. Dua buku di rak paling bawah terkena air. Sudut dinding mulai mengelupas. Bau tanah dan kayu basah memenuhi ruangan.
Khinanti berdiri di pintu dengan wajah cemas.
Tidak lama kemudian, Erlangga datang membawa sarapan untuk anak-anak yang dijadwalkan belajar pagi itu. Ketika melihat keadaan ruangan, ia langsung meletakkan bungkusan makanan di atas meja.
“Air masuk dari mana?” tanyanya.
“Dari depan. Salurannya tersumbat.”
Erlangga memeriksa halaman. Ia melihat selokan kecil yang dipenuhi sampah. Air hujan tidak punya jalan untuk mengalir, lalu meluap ke arah rumah baca.
“Kita harus bersihkan ini sekarang,” katanya.
“Kita tidak bisa hanya bersihkan sekali,” jawab Khinanti. “Kalau hujan lagi, akan tersumbat lagi.”
“Berarti kita perlu memperbaiki salurannya.”
“Kita perlu alat. Perlu tenaga. Perlu persetujuan sekolah juga karena ini masih halaman sekolah.”
Erlangga memandang Khinanti.
“Aku bicara dengan Pak Darmawan.”
Khinanti mengangguk, tetapi wajahnya tidak sepenuhnya tenang.
Ia mulai memahami bahwa membangun kegiatan di desa tidak hanya soal mengumpulkan orang dan menyalakan semangat. Ada banyak hal kecil yang sering dianggap sepele: jendela yang longgar, buku yang basah, saluran air yang tersumbat, atap yang bocor, dan tempat belajar yang belum benar-benar aman.
Hal-hal kecil itu bisa menghentikan langkah besar jika dibiarkan.
Siang itu, Erlangga menemui Pak Darmawan di kantor desa. Kepala desa itu sedang memeriksa beberapa berkas bersama sekretaris desa ketika Erlangga datang.
“Pak, saya ingin menyampaikan soal Rumah Baca Harapan,” kata Erlangga.
Pak Darmawan mempersilakannya duduk.
“Ada apa?”
“Saluran air di depan sekolah tersumbat. Semalam air masuk ke rumah baca. Kalau tidak diperbaiki, buku-buku dan kegiatan anak-anak bisa terganggu.”
Pak Darmawan mengangguk pelan.
“Saya dengar dari Pak Sastro tadi pagi.”
“Apakah desa bisa membantu?”
Pak Darmawan tidak langsung menjawab.
“Anggaran desa sudah berjalan,” katanya. “Untuk pekerjaan seperti itu, perlu dilihat dulu apakah bisa masuk dalam kegiatan pemeliharaan atau dilakukan secara gotong royong.”
“Kalau gotong royong, kami siap.”
“Baik. Saya akan minta Kasi Kaur Pembangunan melihat lokasinya. Kalau memungkinkan, kita bantu alat dan material sederhana.”
Erlangga merasa lega, meski jawaban itu belum sepenuhnya pasti.
Ketika ia keluar dari kantor desa, ia melihat Pak Wiryo berdiri di dekat mobil pikapnya. Lelaki itu sedang berbicara dengan dua orang warga. Begitu melihat Erlangga, Pak Wiryo menghentikan pembicaraan.
“Rumah baca lagi ada masalah?” tanyanya.
“Saluran air tersumbat,” jawab Erlangga.
Pak Wiryo mengangguk.
“Begitulah kalau terlalu banyak kegiatan. Tempat kecil dipakai macam-macam, akhirnya tidak terurus.”
Nada suaranya terdengar tenang, tetapi Erlangga menangkap sesuatu di balik kalimat itu.
“Kami akan urus bersama warga,” jawab Erlangga.
Pak Wiryo tersenyum tipis.
“Bagus. Tapi ingat, membangun desa itu tidak cukup dengan semangat anak muda. Ada aturan, ada prosedur, ada orang-orang yang harus dihormati.”
Erlangga menatapnya.
“Saya setuju, Pak. Karena itu kami datang ke kantor desa dan melibatkan warga.”
Pak Wiryo tidak menjawab. Ia hanya masuk ke mobilnya, lalu pergi perlahan.
Malam harinya, Erlangga menceritakan pertemuan itu kepada Khinanti.
“Pak Wiryo mulai tidak nyaman,” kata Khinanti.
“Karena rumah baca?”
“Bukan hanya rumah baca. Karena orang-orang mulai berkumpul tanpa harus selalu menunggu arah dari dia.”
Erlangga terdiam.
“Aku tidak ingin kegiatan ini menjadi alasan untuk konflik,” katanya.
“Kita juga tidak mencari konflik,” jawab Khinanti. “Tapi perubahan kadang membuat orang yang terbiasa memegang kendali merasa terganggu.”
Dua hari kemudian, gotong royong membersihkan saluran air dilakukan.
Pemuda datang membawa cangkul dan sekop. Beberapa bapak membantu membuka tanah yang menutup aliran air. Ibu-ibu membawa minuman dan makanan kecil. Anak-anak diminta mengumpulkan sampah plastik yang tersangkut di sekitar halaman.
Danu datang paling awal.
Ia membawa sebuah karung besar dan berdiri di dekat Erlangga.
“Aku bagian apa?” tanyanya.
Erlangga tersenyum.
“Kau bantu Raka kumpulkan sampah di bagian belakang.”
Danu mengangguk.
Pekerjaan itu tidak mudah. Lumpur menempel di kaki. Bau selokan cukup menyengat. Beberapa orang mengeluh karena hujan gerimis kembali turun menjelang siang. Namun, tidak ada yang pulang.
Pak Sastro datang membawa parang dan membantu memotong akar-akar kecil yang menutup jalur air. Ketika melihat Danu bekerja bersama Raka, ia berhenti sejenak.
“Itu anak yang kemarin masuk rumah baca?” tanyanya kepada Erlangga.
“Iya, Pak.”
Pak Sastro memandangi Danu beberapa saat.
“Dia mau kerja juga.”
“Dia sedang berusaha berubah.”
Pak Sastro mengangguk pelan.
“Kalau begitu, jangan biarkan dia sendirian.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, bagi Erlangga, itu adalah bentuk dukungan yang penting.
Menjelang sore, saluran air mulai terbuka. Air yang sebelumnya menggenang perlahan mengalir menuju parit di belakang sekolah. Halaman rumah baca masih becek, tetapi tidak lagi tergenang.
Anak-anak berdiri di bawah teras sambil melihat air bergerak melalui saluran yang baru dibersihkan.
“Sekarang kalau hujan, rumah baca tidak banjir lagi?” tanya Lila.
“Semoga tidak,” jawab Khinanti.
“Kalau banjir lagi?”
“Kita bersihkan lagi,” kata Danu tiba-tiba.
Lila menoleh kepadanya.
“Bang Danu ikut bersihkan?”
“Ikut.”
“Jangan ambil pensil warna lagi, ya.”
Danu tertawa kecil.
“Tidak.”
Anak-anak lain ikut tertawa. Kali ini, tawa itu tidak terasa seperti ejekan. Tawa itu seperti tanda bahwa Danu mulai diterima kembali.
Saat matahari mulai tenggelam, warga satu per satu pulang. Di halaman rumah baca, tersisa Erlangga, Khinanti, Raka, dan Danu yang masih merapikan alat.
Khinanti memandang dinding rumah baca yang mulai mengering. Di sana, Peta Mimpi Anak Desa masih menempel. Beberapa kertas memang sedikit kusut karena terkena lembap, tetapi tidak ada yang benar-benar hilang.
“Kita harus mengganti beberapa buku,” kata Khinanti.
“Kita bisa cari lagi,” jawab Erlangga.
“Kita juga perlu memperbaiki rak bagian bawah.”
“Kita kerjakan bersama pemuda.”
Khinanti tersenyum kecil.
“Kau masih ingin menyelesaikan semuanya.”
“Tidak,” kata Erlangga. “Sekarang aku ingin mengajak orang lain menyelesaikannya bersama.”
Khinanti menatapnya cukup lama.
Ia melihat perubahan pada Erlangga. Dulu, lelaki itu datang dengan banyak gagasan dan keinginan untuk segera memperbaiki keadaan. Kini, ia mulai memahami bahwa desa bukan sesuatu yang dapat dibangun oleh satu orang, bahkan oleh dua orang.
Desa hanya dapat bertumbuh ketika warganya merasa ikut memiliki.
Di dekat pintu, Danu sedang memeriksa kait jendela belakang yang telah diperbaiki. Ia menariknya pelan untuk memastikan jendela itu benar-benar terkunci.
“Sudah aman,” katanya.
Raka mengangguk.
“Besok kita belajar lagi?”
Danu memandang rumah baca itu, lalu menoleh kepada Raka.
“Iya,” jawabnya. “Besok kita belajar lagi.”
Jalan menuju perubahan memang tidak selalu mulus.
Ada jalan yang berlumpur setelah hujan. Ada saluran yang tersumbat oleh sampah. Ada buku yang basah, jendela yang longgar, dan kepercayaan yang harus dibangun perlahan.
Ada pula anak-anak yang pernah tersesat karena tidak tahu ke mana harus pulang.
Namun, di Desa Suka Makmur, setiap kesulitan mulai dihadapi dengan cara yang berbeda.
Bukan dengan saling menyalahkan.
Bukan dengan menunggu orang lain datang membawa jawaban.
Melainkan dengan berkumpul, berbicara, bekerja, dan menjaga harapan agar tidak hanyut bersama hujan.
BAB IX
BISIK-BISIK DI WARUNG KOPI
Warung kopi Pak Maman berdiri di tepi jalan utama Desa Suka Makmur, tidak jauh dari pertigaan yang menghubungkan dusun-dusun kecil dengan pasar kecamatan. Bangunannya sederhana, berdinding papan tua yang warnanya mulai pudar dimakan hujan dan panas. Atap sengnya tidak lagi rata. Di beberapa bagian, seng itu melengkung seperti punggung orang tua yang terlalu lama memikul beban.
Di depan warung terdapat dua bangku panjang dari kayu. Salah satunya sudah retak di bagian tengah, tetapi tetap dipakai karena Pak Maman selalu berkata bahwa bangku tua lebih kuat daripada bangku baru. Di atas meja panjang dekat dapur, tersedia beberapa toples plastik berisi kerupuk, kacang goreng, biskuit murah, dan rokok berbagai merek. Sebuah radio kecil yang tergantung di sudut ruangan sesekali mengeluarkan suara lagu lama, lalu hilang tertelan suara angin atau gangguan sinyal.
Bagi warga Desa Suka Makmur, warung kopi Pak Maman bukan hanya tempat untuk minum kopi.
Di tempat itu, kabar kelahiran anak pertama kali diumumkan. Harga karet dan singkong dibicarakan. Jalan rusak dikeluhkan. Hasil panen dibandingkan. Politik desa diperdebatkan. Kadang-kadang, masalah keluarga seseorang dapat diketahui lebih cepat di warung itu daripada oleh keluarga yang bersangkutan.
Warung kopi adalah tempat kabar tumbuh.
Dan seperti tanaman liar di pinggir jalan, kabar itu tidak selalu tumbuh dengan arah yang baik.
Sore itu, hujan baru saja berhenti. Langit masih dipenuhi awan kelabu, tetapi cahaya matahari mulai muncul tipis dari baliknya. Jalan tanah di depan warung tampak basah, berlumpur, dan dipenuhi bekas roda motor. Beberapa motor terparkir di bawah pohon mangga yang tumbuh di samping warung.
Pak Maman berdiri di belakang meja, menuangkan air panas ke dalam gelas-gelas kaca yang sudah mulai kusam. Aroma kopi hitam bercampur dengan bau tanah basah, daun mangga, dan asap rokok.
Pak Wiryo datang menjelang sore.
Ia mengenakan kemeja lengan panjang berwarna cokelat tua dan celana kain hitam. Sandalnya tampak bersih, tidak seperti kebanyakan warga yang baru pulang dari kebun. Ia berjalan perlahan, lalu duduk di bangku dekat jendela bersama Pak Darto dan Pak Karman.
Pak Maman meletakkan segelas kopi di depan Pak Wiryo.
“Seperti biasa, Pak?” tanyanya.
Pak Wiryo mengangguk singkat.
Tidak lama kemudian, pembicaraan mulai mengarah pada hal yang belakangan ini sering menjadi bahan percakapan warga.
“Rumah Baca Harapan itu ramai juga sekarang,” kata Pak Darto sambil meniup kopi panasnya. “Anak saya tiap sore minta pergi ke sana.”
Pak Karman mengangguk.
“Anak saya juga,” katanya. “Kemarin pulang-pulang membawa buku cerita. Katanya mau jadi penulis.”
Pak Darto tertawa kecil.
“Bagus itu. Daripada keluyuran tidak jelas.”
Pak Wiryo yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.
“Memang bagus kalau anak-anak punya kegiatan,” katanya datar. “Tapi kita juga harus hati-hati.”
Pak Darto menoleh.
“Hati-hati bagaimana, Pak?”
Pak Wiryo menyandarkan tubuhnya ke kursi kayu.
“Sekarang semua kegiatan seperti berpusat pada satu orang. Rumah baca, kegiatan pemuda, lapangan, kelas komputer. Semua Erlangga yang ikut mengurus.”
Pak Karman mengaduk kopinya pelan.
“Dia memang kelihatan aktif.”
“Ya,” jawab Pak Wiryo. “Terlalu aktif, mungkin.”
Kalimat itu tidak diucapkan keras. Namun, cukup jelas untuk membuat beberapa orang yang duduk di bangku lain mulai mendengarkan.
Pak Darto mengernyitkan dahi.
“Menurut Pak Wiryo, itu tidak baik?”
Pak Wiryo tersenyum tipis.
“Bukan tidak baik. Saya hanya pernah melihat hal seperti itu. Orang datang membawa semangat, mengajak warga bergerak, membuat kegiatan, lalu setelah beberapa bulan hilang. Yang tertinggal hanya warga yang sudah berharap.”
Pak Karman mengangguk perlahan.
“Memang pernah ada pelatihan dari luar dulu. Katanya mau bantu petani buat pupuk organik. Foto-foto banyak, tapi setelah itu tidak ada lagi.”
“Itulah,” kata Pak Wiryo. “Kita jangan terlalu cepat kagum. Erlangga baru pulang dari kota. Kita belum tahu apakah dia benar-benar ingin tinggal atau hanya sedang bosan dengan hidupnya di sana.”
Di ujung warung, Ardi duduk bersama Beni dan Roni. Mereka baru selesai memperbaiki salah satu gawang bambu di lapangan desa. Baju mereka masih sedikit kotor oleh tanah. Tangan Beni bahkan masih terlihat hitam karena memegang kawat dan bambu basah.
Ardi menatap Beni.
“Kau dengar itu?” katanya pelan.
Beni menghela napas.
“Dengar.”
“Mereka bicara seperti Abang Erlangga cuma mau cari nama.”
“Kalau kita langsung marah, nanti malah jadi ribut,” jawab Beni.
Roni yang biasanya paling suka bercanda kali ini tidak tersenyum.
“Orang memang paling mudah bicara kalau tidak ikut bekerja,” katanya. “Mereka tidak ikut bersih-bersih lapangan. Tidak ikut angkat rumput. Tidak ikut bantu anak-anak belajar. Tapi paling cepat menilai.”
Pak Maman datang membawa tiga gelas teh hangat.
“Sudah,” katanya. “Jangan ikut panas.”
“Tapi, Pak, kalau kabar seperti itu dibiarkan, nanti orang-orang percaya,” kata Ardi.
Pak Maman duduk di bangku kecil dekat mereka.
“Di desa, kalau ada orang bergerak, pasti ada yang mendukung dan ada yang meragukan. Itu biasa.”
“Kalau mereka terus membicarakan Erlangga bagaimana?”
Pak Maman tersenyum tipis.
“Kabar itu seperti asap dapur. Kalau tidak ada api, lama-lama hilang sendiri. Tapi kalau ada api besar, orang akan tahu dari mana asalnya.”
Ardi memandangi gelas tehnya.
Ia belum sepenuhnya memahami maksud Pak Maman. Namun, ia tahu satu hal: bisik-bisik di warung kopi tidak boleh dibalas dengan kemarahan.
Sementara itu, di Rumah Baca Harapan, suasana sore jauh berbeda.
Khinanti sedang menempelkan jadwal kelas belajar yang baru di dinding. Kertas itu dibuat dari karton bekas yang diberi garis dengan spidol hitam. Di bagian atasnya tertulis:
JADWAL KEGIATAN RUMAH BACA HARAPAN
Selasa: Belajar Membaca dan Berhitung
Kamis: Kelas Tugas Sekolah dan Komputer Dasar
Sabtu: Membaca, Menulis, dan Kegiatan Kreatif
Di bawah jadwal itu, Danu sedang merapikan buku-buku ke dalam rak kayu. Ia kini mulai datang lebih rutin ke rumah baca. Walau masih sering malu jika diminta membaca, ia sudah tidak lagi duduk menyendiri di sudut ruangan.
Raka mengerjakan soal matematika di meja kecil dekat jendela. Sesekali ia menggigit ujung pensil ketika tidak menemukan jawaban.
Sari datang dengan wajah sedikit tergesa.
“Khinanti,” katanya pelan.
Khinanti menoleh.
“Ada apa?”
“Aku baru dari warung Pak Maman.”
Khinanti berhenti menempelkan kertas.
“Kenapa?”
Sari mendekat dan menurunkan suaranya.
“Ada yang membicarakan Erlangga.”
Khinanti menatapnya.
“Membicarakan apa?”
“Katanya Erlangga terlalu banyak ikut campur. Katanya kegiatan rumah baca dan pemuda itu hanya untuk mencari perhatian.”
Tangan Khinanti berhenti.
Sari melanjutkan.
“Ada juga yang bilang mungkin dia ingin punya jabatan di desa.”
Danu yang mendengar percakapan itu berhenti menyusun buku. Raka juga mengangkat wajah dari buku tulisnya.
“Siapa yang bilang?” tanya Khinanti.
Sari tidak langsung menjawab.
“Beberapa warga,” katanya akhirnya. “Pak Wiryo juga ada di sana.”
Khinanti menarik napas pelan.
Ia tahu bahwa di desa kecil, setiap langkah mudah menjadi bahan pembicaraan. Ia tahu bahwa orang bisa menyimpulkan banyak hal hanya dari satu pertemuan, satu bantuan, atau satu percakapan.
Namun, ia tetap merasa sesak.
Bukan karena Erlangga tidak mampu menghadapi gosip.
Melainkan karena ia tahu, laki-laki itu sudah cukup lama memikul perasaan bersalah karena pernah pergi meninggalkan desa.
“Erlangga tahu?” tanya Khinanti.
“Belum. Jatmiko katanya mau memberi tahu.”
Khinanti menatap papan jadwal yang baru ditempel.
Tulisan-tulisan itu mendadak terasa lebih berat.
Sore menjelang malam ketika Erlangga datang ke Rumah Baca Harapan. Ia membawa beberapa lembar bahan belajar dan sebuah kantong plastik berisi kapur tulis. Bajunya sedikit basah karena ia harus melewati jalan berlumpur dari rumahnya.
“Assalamu’alaikum,” sapanya dari pintu.
“Wa’alaikumussalam,” jawab anak-anak.
Lila berlari menghampirinya.
“Abang Erlangga, hari ini aku bisa membaca cerita sampai selesai!”
“Bagus sekali,” kata Erlangga sambil tersenyum. “Nanti ceritakan isinya kepada Abang.”
Lila mengangguk dengan bangga.
Erlangga kemudian membantu Raka mengerjakan soal matematika. Ia menjelaskan perlahan tentang perkalian dan pembagian. Setelah itu, ia memeriksa jendela belakang rumah baca yang masih longgar.
Khinanti memperhatikannya cukup lama.
Akhirnya, ketika anak-anak mulai sibuk belajar bersama Sari, ia berkata, “Langga, aku mau bicara.”
Erlangga menoleh.
“Ada apa?”
“Bisa di luar sebentar?”
Mereka keluar ke beranda rumah baca.
Langit mulai gelap. Dari kejauhan terdengar suara jangkrik. Angin malam membawa aroma tanah basah dan daun-daun singkong dari kebun belakang sekolah.
Khinanti berdiri dengan kedua tangan saling menggenggam.
“Ada orang yang membicarakanmu di warung kopi,” katanya.
Erlangga tidak tampak terkejut.
“Mereka bilang apa?”
“Kau dianggap terlalu banyak ikut campur. Ada yang bilang kau hanya ingin mencari perhatian. Ada yang curiga kau punya maksud lain.”
Erlangga terdiam sejenak.
“Siapa yang bicara?”
“Apakah itu penting?”
“Tidak,” jawab Erlangga. “Aku hanya ingin tahu seberapa jauh kabarnya.”
Khinanti menatapnya.
“Kau tidak marah?”
Erlangga tersenyum kecil. Namun, senyumnya tidak benar-benar terlihat bahagia.
“Marah tidak akan mengubah apa-apa.”
“Mereka tidak tahu apa yang sudah kau lakukan.”
“Mereka juga tidak wajib langsung percaya.”
“Kau terlalu tenang.”
Erlangga memandang halaman rumah baca yang mulai gelap.
“Tidak, Khinanti,” katanya pelan. “Aku hanya pernah pergi terlalu lama. Aku tahu kenapa mereka ragu.”
Khinanti terdiam.
Erlangga melanjutkan.
“Aku pulang setelah bertahun-tahun tinggal di kota. Lalu tiba-tiba aku ikut mengurus rumah baca, kegiatan pemuda, dan anak-anak. Wajar kalau ada yang bertanya apakah aku akan bertahan.”
“Tapi kau memang ingin bertahan.”
“Aku tahu itu. Kau mungkin mulai tahu. Jatmiko, Ardi, Beni, dan anak-anak juga tahu. Tapi warga lain belum tentu.”
Khinanti memandangi wajahnya.
Ada keteguhan di sana, tetapi juga luka kecil yang berusaha ia sembunyikan.
“Lalu apa yang akan kau lakukan?” tanyanya.
“Tidak ada.”
“Tidak ada?”
“Aku tidak akan mendatangi warung kopi dan menjelaskan satu per satu. Aku tidak akan membela diri dengan kata-kata. Kalau aku benar-benar serius, waktu akan menjawabnya.”
Khinanti menghela napas.
“Kadang aku ingin membela kamu.”
Erlangga menatapnya dengan lembut.
“Terima kasih. Tapi jangan sampai rumah baca ini berubah menjadi tempat kita melawan orang-orang.”
“Aku hanya tidak suka mereka meremehkanmu.”
“Jangan khawatir. Selama kita tetap bekerja dengan baik, anak-anak tetap belajar, dan pemuda tetap bergerak, orang akan melihat sendiri.”
Malam itu, Khinanti pulang dengan pikiran yang tidak tenang.
Di sepanjang jalan, ia memikirkan kata-kata Erlangga.
Ia kagum pada cara laki-laki itu menahan diri. Namun, ia juga merasa kesal karena kebaikan sering kali harus melewati begitu banyak kecurigaan.
Keesokan harinya, kabar dari warung kopi mulai menyebar.
Ada yang mengatakan Erlangga ingin menjadi perangkat desa.
Ada yang mengatakan ia sedang membangun pengaruh agar suatu hari bisa mencalonkan diri sebagai kepala desa.
Ada pula yang mengatakan kegiatan rumah baca hanya akan bertahan selama Erlangga masih memiliki uang.
Sebagian warga tidak percaya.
Sebagian lagi memilih diam.
Namun, bisik-bisik itu cukup untuk membuat beberapa orang mulai menjaga jarak.
Dua ibu yang biasanya datang membawa makanan untuk anak-anak tidak terlihat selama beberapa hari. Seorang pemuda yang sebelumnya ingin ikut kelas komputer mendadak membatalkan niatnya. Bahkan ada orang tua yang bertanya kepada Khinanti apakah anak-anak mereka harus membayar untuk mengikuti kelas belajar.
“Tidak ada biaya,” jawab Khinanti.
“Benarkah? Katanya nanti akan ada iuran.”
“Tidak ada iuran,” ulang Khinanti dengan tegas. “Kalau suatu hari ada kebutuhan kegiatan, semuanya akan dibicarakan terbuka dengan warga.”
Namun, pertanyaan itu membuatnya sadar bahwa bisik-bisik telah mulai memengaruhi kepercayaan warga.
Sore itu, jumlah anak yang datang ke rumah baca lebih sedikit dari biasanya.
Lila tetap hadir. Raka datang membawa buku matematika. Danu juga datang, lalu membantu menyapu halaman. Namun, beberapa anak lain tidak muncul.
Khinanti duduk di dekat jendela sambil memandangi kursi-kursi kosong.
Erlangga datang tidak lama kemudian. Ia langsung menyadari suasana yang berbeda.
“Anak-anak lebih sedikit,” katanya.
“Iya.”
“Karena hujan?”
Khinanti menggeleng.
Erlangga tidak bertanya lagi. Ia sudah memahami.
Danu yang sedang menyusun buku di rak tiba-tiba berkata, “Kalau orang-orang tidak percaya, kenapa Abang tetap datang?”
Erlangga menoleh.
Danu tampak ragu, tetapi ia melanjutkan.
“Dulu aku juga tidak percaya kalau Kak Khinanti mau menerima aku lagi. Tapi Kak Khinanti tetap bilang aku boleh datang.”
Khinanti memandang Danu.
Erlangga tersenyum kecil.
“Karena kadang orang tidak percaya bukan karena mereka jahat,” jawabnya. “Mereka hanya pernah kecewa.”
“Kalau mereka tetap tidak percaya?” tanya Danu.
“Ya, kita tetap lakukan yang benar.”
Danu mengangguk pelan.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi bagi Khinanti, kata-kata Erlangga seperti menguatkan sesuatu di dalam dirinya.
Ia lalu berdiri dan mengambil papan tulis kecil.
“Baik,” katanya kepada anak-anak. “Hari ini kita belajar membuat surat.”
“Surat untuk siapa?” tanya Lila.
“Untuk masa depan kalian,” jawab Khinanti.
Anak-anak tampak bingung, tetapi mereka mulai mengambil buku tulis.
Erlangga membantu membagikan kertas. Raka menulis dengan serius. Danu yang masih kesulitan membaca meminta bantuan Khinanti untuk mengeja beberapa kata.
Di luar, langit sore mulai berubah jingga.
Di warung kopi, bisik-bisik mungkin masih berlanjut.
Di beberapa rumah, orang mungkin masih mempertanyakan niat Erlangga.
Namun, di Rumah Baca Harapan, kegiatan tetap berjalan.
Anak-anak tetap membaca.
Pemuda tetap belajar.
Danu tetap mencoba mengeja kata demi kata.
Dan Erlangga tetap datang.
Bukan untuk membuktikan dirinya dalam satu hari, melainkan untuk menunjukkan bahwa kepulangan tidak selalu harus dijelaskan dengan pidato panjang.
Kadang, kepulangan cukup dibuktikan dengan hadir.
Hari demi hari.
Saat orang lain meragukan.
Saat jalan terasa sepi.
Saat tidak semua orang menyambut.
Karena bagi seseorang yang benar-benar ingin membangun, bisik-bisik bukan alasan untuk berhenti.
Bisik-bisik hanyalah ujian pertama untuk melihat apakah sebuah niat mampu bertahan dalam diam.
Namun, Erlangga tidak menyadari bahwa bisik-bisik itu bukan hanya lahir dari percakapan biasa di warung kopi.
Ada orang-orang yang mulai merasa tidak nyaman melihat pemuda desa berkumpul tanpa harus menunggu perintah.
Ada orang-orang yang merasa pengaruh mereka perlahan berkurang ketika warga mulai berani memiliki gagasan sendiri.
Dan di balik senyum tipis Pak Wiryo, mulai tumbuh rencana yang jauh lebih besar daripada sekadar cerita di warung kopi.
BAB X
HUJAN DI ATAS LAPANGAN DESA
Sejak bisik-bisik mulai beredar di warung kopi, suasana kegiatan pemuda di Desa Suka Makmur tidak lagi sama seperti sebelumnya.
Bukan karena lapangan kembali dipenuhi rumput liar. Bukan pula karena Rumah Baca Harapan berhenti membuka pintunya. Semua kegiatan tetap berjalan, meski dengan langkah yang lebih pelan. Anak-anak masih datang membaca pada sore hari. Pemuda masih berkumpul setiap akhir pekan untuk membersihkan lapangan. Ibu-ibu tetap membantu menyiapkan makanan sederhana jika ada kegiatan bersama.
Namun, ada sesuatu yang berubah dalam cara sebagian warga memandang Erlangga dan kelompok pemuda.
Beberapa orang yang biasanya hanya menonton dari kejauhan kini terlihat semakin jarang berhenti di sekitar lapangan. Ada pula yang datang, tetapi tidak lagi banyak bertanya atau memberi semangat. Mereka seakan memilih menunggu dari jauh, ingin melihat apakah gerakan kecil itu benar-benar bertahan atau akan hilang seperti kegiatan-kegiatan lain yang pernah datang dan pergi.
Bagi Jatmiko, keadaan itu cukup mengganggu.
Ia tidak pernah terbiasa berpura-pura tidak mendengar. Sejak kecil, ia dikenal sebagai pemuda yang mudah tersulut jika melihat sesuatu yang menurutnya tidak adil. Namun, sejak ikut mengurus kegiatan pemuda, ia mulai belajar bahwa kemarahan tidak selalu menyelesaikan masalah.
Meski begitu, bukan berarti ia tidak merasa kesal.
Sore itu, ia duduk di pinggir lapangan sambil mengikat tali pada salah satu tiang gawang bambu. Langit masih cerah, tetapi awan kelabu sudah mulai terlihat menggantung di kejauhan. Di sebelahnya, Ardi sedang memeriksa bola yang mulai mengempis. Beni dan Fajar membawa beberapa karung pasir untuk menutup bagian lapangan yang berlubang.
Lapangan Desa Suka Makmur memang sudah jauh lebih bersih dibandingkan beberapa minggu sebelumnya. Rumput liar telah dipotong. Sampah-sampah plastik sudah tidak lagi menumpuk di pinggir lapangan. Gawang bambu yang dulu hampir roboh mulai diperbaiki. Namun, tanahnya masih tidak rata. Jika hujan turun, beberapa bagian langsung berubah menjadi kubangan.
“Kita harus jadi mengadakan pertandingan persahabatan itu,” kata Ardi sambil menekan bola dengan kedua tangannya.
“Kalau hujan bagaimana?” tanya Beni.
“Kalau hujan, ya ditunda.”
“Sudah dua minggu hujan hampir tiap sore.”
Ardi menghela napas.
“Kalau terus menunggu cuaca bagus, kita tidak akan pernah mulai.”
Jatmiko berhenti mengikat tali.
“Pertandingan ini bukan cuma soal bola,” katanya. “Kita sudah mengundang pemuda dari Dusun Timur. Kalau jadi, warga akan lihat bahwa lapangan ini memang bisa dipakai lagi.”
Beni mengangguk.
“Tapi peralatan kita kurang. Gawang masih miring. Garis lapangan belum ada. Bola cuma satu yang layak.”
“Yang penting jalan dulu,” jawab Jatmiko.
Fajar meletakkan karung pasir di tanah.
“Aku dengar ada yang bilang pertandingan ini cuma akal-akalan Erlangga supaya kelihatan hebat.”
Jatmiko langsung menoleh.
“Siapa yang bilang?”
“Entahlah. Aku dengar dari adikku. Katanya ada orang ngobrol di warung kopi.”
Wajah Jatmiko berubah tegang.
“Warung kopi lagi.”
Beni menghela napas.
“Sudahlah. Jangan dibahas terus.”
“Tapi mereka tidak pernah capek bicara,” kata Jatmiko. “Kita yang kerja, mereka yang menilai. Kalau nanti pertandingan batal gara-gara hujan, pasti mereka bilang kegiatan kita gagal.”
Ardi melempar bola pelan ke arah Jatmiko.
“Kalau kita terlalu sibuk memikirkan omongan orang, kita tidak akan selesai memperbaiki lapangan.”
Jatmiko menangkap bola itu.
Ia tidak menjawab, tetapi tangannya kembali mengikat tali gawang dengan lebih kuat.
Tidak lama kemudian, Erlangga datang membawa beberapa papan tipis dan dua kaleng cat putih. Bajunya sedikit kotor karena baru pulang dari rumah Pak Sastro setelah membantu memperbaiki pagar kebun.
“Ini untuk apa?” tanya Ardi.
“Untuk papan skor sederhana,” jawab Erlangga. “Dan cat untuk garis lapangan.”
“Dari mana kau dapat?” tanya Beni.
“Ada sisa di gudang rumah.”
Beni tersenyum.
“Untung kau pulang dari kota, tapi masih punya barang-barang kampung.”
Erlangga tertawa kecil.
“Barang kampung lebih berguna daripada banyak barang kota.”
Mereka mulai bekerja.
Ardi dan Fajar mengukur lapangan menggunakan tali rafia. Beni mencampur cat dengan air di dalam ember. Jatmiko memasang papan skor dari kayu bekas. Erlangga membantu menegakkan kembali tiang gawang yang miring.
Beberapa anak datang dan duduk di bawah pohon mangga. Mereka memperhatikan para pemuda bekerja dengan penuh rasa ingin tahu.
“Bang, nanti benar ada pertandingan?” tanya seorang anak bernama Iqbal.
“Kalau tidak hujan, ada,” jawab Ardi.
“Kalau hujan?”
“Kalau hujan, kalian bantu doa supaya cepat berhenti.”
Anak-anak tertawa.
Raka datang belakangan membawa dua botol air minum. Ia menyerahkan salah satunya kepada Erlangga.
“Dari Kak Khinanti,” katanya.
“Terima kasih,” jawab Erlangga.
Raka berdiri cukup lama di dekat lapangan.
“Kau mau ikut bantu?” tanya Jatmiko.
Raka mengangguk.
“Boleh?”
“Boleh. Ambil sapu lidi, bersihkan pinggir lapangan.”
Raka tersenyum kecil. Ia lalu berlari mengambil sapu yang tersandar di dekat pagar sekolah.
Menjelang petang, awan hitam mulai berkumpul di atas desa.
Angin bertiup lebih kencang dari biasanya. Daun-daun pohon di sekitar lapangan bergoyang. Anak-anak yang sejak tadi bermain bola mulai berlari ke pinggir lapangan sambil membawa sandal mereka.
“Sepertinya hujan,” kata Fajar.
“Cepat selesaikan garisnya,” jawab Ardi.
Beni mempercepat gerakannya. Ia mengaduk cat putih lebih keras. Erlangga dan Jatmiko berusaha menegakkan papan skor yang masih belum kokoh.
Namun, hujan turun sebelum pekerjaan selesai.
Awalnya hanya gerimis kecil.
Lalu, dalam hitungan menit, air turun semakin deras.
Cat putih yang baru saja dibuat di beberapa bagian lapangan mulai larut dan mengalir bersama air. Tanah yang telah diratakan kembali berubah menjadi lumpur. Karung-karung pasir yang belum digunakan basah terkena hujan.
“Angkat catnya!” teriak Beni.
“Papan skornya!” sahut Jatmiko.
“Raka, masuk ke teras sekolah!” seru Erlangga.
Mereka berlari menyelamatkan peralatan seadanya. Erlangga dan Ardi mengangkat papan skor ke bawah atap sekolah. Fajar membawa ember cat. Beni berusaha menahan tiang gawang agar tidak roboh diterpa angin.
Namun, satu tiang bambu tetap patah.
Bunyi retaknya terdengar cukup keras.
Semua orang berhenti sejenak.
Tiang itu jatuh ke tanah berlumpur.
Jatmiko memandangnya dengan wajah kesal.
“Sudah susah-susah diperbaiki,” katanya.
Tidak ada yang menjawab.
Hujan terus turun.
Lapangan yang beberapa hari lalu mulai tampak rapi kini kembali dipenuhi genangan. Garis-garis yang dibuat dengan susah payah hilang. Di beberapa bagian, tanah tergerus dan membentuk lubang baru.
Ardi duduk di bawah teras sekolah sambil memegang bola yang basah.
“Pertandingannya pasti batal,” katanya.
“Belum tentu,” jawab Erlangga.
Ardi menoleh.
“Lihat lapangannya, Langga. Mau main di mana?”
“Kita lihat besok. Kalau tidak bisa hari Minggu, kita jadwalkan ulang.”
“Kalau dijadwalkan ulang, pemuda Dusun Timur belum tentu bisa datang lagi,” kata Jatmiko. “Mereka juga punya kegiatan sendiri.”
Erlangga memandang lapangan yang diguyur hujan.
Ia memahami kekecewaan teman-temannya. Mereka telah bekerja keras. Mereka ingin membuktikan bahwa pemuda desa mampu membuat sesuatu tanpa selalu menunggu bantuan. Namun, hujan tidak peduli pada rencana mereka.
Khinanti datang membawa beberapa gelas teh hangat dari rumah baca. Ia ditemani Sari yang membawa singkong rebus dalam wadah plastik.
“Kalian semua basah,” kata Khinanti.
“Lapangan lebih basah,” jawab Ardi sambil tersenyum hambar.
Khinanti melihat tiang gawang yang patah dan garis lapangan yang hilang.
“Tidak apa-apa,” katanya pelan. “Yang rusak bisa diperbaiki.”
Jatmiko menggeleng.
“Bukan cuma itu, Kak. Orang-orang sudah mulai meragukan kita. Kalau pertandingan batal, mereka akan bilang benar: kegiatan ini cuma ramai di awal.”
Khinanti terdiam.
Ia tahu kata-kata Jatmiko bukan sekadar keluhan. Sejak bisik-bisik di warung kopi menyebar, para pemuda merasa seolah setiap langkah mereka sedang dinilai. Kegagalan kecil bisa berubah menjadi bahan pembicaraan besar.
Erlangga menerima gelas teh dari Khinanti.
“Kita tidak boleh menjalankan kegiatan hanya untuk membungkam omongan orang,” katanya.
“Lalu untuk apa?” tanya Jatmiko.
“Untuk diri kita sendiri. Untuk anak-anak yang ingin punya tempat bermain. Untuk pemuda yang ingin punya kegiatan. Untuk desa yang ingin bergerak.”
“Tapi orang-orang tetap akan bicara.”
“Biarkan.”
Jatmiko memandang Erlangga dengan wajah tidak puas.
“Kau selalu bilang biarkan,” katanya. “Tapi kami yang mendengar omongan itu setiap hari.”
Suasana menjadi hening.
Hujan masih turun di depan mereka. Air mengalir dari ujung atap sekolah dan jatuh ke tanah dengan suara yang berulang-ulang.
Erlangga tidak langsung menjawab.
Ia tahu Jatmiko sedang lelah. Ia juga tahu kemarahan itu bukan sepenuhnya ditujukan kepadanya.
“Aku mengerti,” kata Erlangga akhirnya. “Aku mungkin tidak mendengar semuanya seperti kalian. Tapi aku juga tidak ingin kalian bekerja keras hanya untuk merasa sendirian.”
Jatmiko menunduk.
“Kita cari cara,” lanjut Erlangga. “Kalau lapangan tidak bisa dipakai, pertandingan tidak harus langsung batal. Kita bisa ubah menjadi kegiatan lain. Kita bisa adakan kerja bakti bersama pemuda Dusun Timur. Setelah itu, kita buat diskusi atau latihan di teras sekolah.”
“Latihan apa?” tanya Ardi.
“Latihan kepemimpinan sederhana. Pembagian tim. Rencana kegiatan bersama.”
Beni mengangkat alis.
“Orang datang mau main bola, bukan ikut rapat.”
“Tidak perlu rapat panjang,” jawab Erlangga. “Kita tetap main kalau cuaca memungkinkan. Tapi kalau tidak, kita jangan pulang tanpa menghasilkan apa-apa.”
Khinanti memandang Erlangga. Ia mulai memahami arah pikirannya.
“Kita bisa mengajak anak-anak membuat poster dukungan untuk pemuda,” katanya. “Mereka bisa menulis tentang olahraga, kebersihan, dan semangat gotong royong.”
Sari menambahkan, “Ibu-ibu bisa menyiapkan makanan. Bukan besar-besaran, sekadar menyambut tamu dari Dusun Timur.”
Ardi yang sejak tadi diam mulai tampak berpikir.
“Kalau begitu, kegiatan tetap jalan,” katanya.
“Ya,” jawab Erlangga. “Hujan boleh mengubah rencana, tapi tidak harus menghentikan langkah.”
Malam itu, pemuda Suka Makmur kembali berkumpul di rumah Jatmiko.
Rumah Jatmiko tidak besar. Ruang tamunya hanya beralaskan tikar dan memiliki beberapa kursi plastik. Di dinding tergantung kalender lama serta foto keluarga yang sudah mulai pudar. Ibunya menyiapkan kopi dan pisang goreng untuk mereka.
Jatmiko duduk di tengah ruangan dengan wajah masih serius.
“Kalau mereka jadi datang besok, kita harus siap,” katanya.
“Siap apa?” tanya Fajar.
“Siap bekerja. Jangan sampai pemuda Dusun Timur datang, lalu kita hanya berdiri melihat lapangan becek.”
Beni mengangguk.
“Aku bisa bawa cangkul dari rumah.”
“Aku bawa karung tambahan,” kata Fajar.
“Aku bawa tali dan palu,” tambah Ardi.
Dimas yang baru datang dari rumah baca ikut berbicara.
“Aku bisa buat tulisan sederhana untuk kegiatan besok. Biar anak-anak tahu ini bukan cuma pertandingan bola.”
“Bagus,” kata Erlangga. “Tulis saja: Pemuda Bersatu, Lapangan Kembali Hidup.”
Raka yang duduk di dekat pintu memperhatikan mereka dengan serius.
“Aku boleh ikut?” tanyanya.
“Kau ikut membantu anak-anak saja,” kata Jatmiko.
“Aku bisa angkat pasir.”
“Kau masih kecil.”
“Tapi aku kuat.”
Semua orang tertawa kecil.
Erlangga menepuk bahu Raka.
“Besok kau bantu Kak Khinanti mengatur anak-anak. Itu juga pekerjaan penting.”
Raka tampak sedikit kecewa, tetapi akhirnya mengangguk.
Keesokan harinya, hujan masih turun sejak pagi.
Tidak deras seperti sore sebelumnya, tetapi cukup untuk membuat lapangan tidak mungkin digunakan. Tanah berubah menjadi lumpur tebal. Genangan air mengisi bagian tengah lapangan. Tiang gawang yang patah belum sempat diperbaiki sepenuhnya.
Jatmiko berdiri di depan lapangan sambil memandangi jalan desa.
“Kalau mereka tidak datang, aku tidak bisa menyalahkan mereka,” katanya.
Namun, menjelang pukul sembilan, terdengar suara beberapa motor dari arah Dusun Timur.
Lima pemuda datang dengan pakaian olahraga yang dilapisi jas hujan. Mereka membawa bola, beberapa botol minum, dan wajah penuh rasa ingin tahu.
Salah satu dari mereka, seorang pemuda bernama Rendi, turun dari motor sambil melihat lapangan yang becek.
“Ini lapangannya?” tanyanya.
“Iya,” jawab Ardi, sedikit malu.
Rendi tertawa kecil.
“Kalau main di sini, bukan pertandingan bola. Ini pertandingan cari lumpur.”
Beberapa orang tertawa.
Jatmiko menghampiri mereka.
“Maaf, lapangannya tidak seperti yang kami harapkan. Hujan semalam merusak beberapa bagian.”
Rendi memandang sekeliling.
Ia lalu melihat tiang gawang yang patah, garis lapangan yang hilang, dan beberapa pemuda Suka Makmur yang masih membawa cangkul serta karung pasir.
“Kalian tetap mau memperbaikinya?” tanyanya.
“Tentu,” jawab Jatmiko.
Rendi menoleh kepada teman-temannya.
“Kalau begitu, kita bantu dulu,” katanya.
Tidak ada yang menyangka jawaban itu.
Pemuda Dusun Timur melepas jas hujan dan ikut mengambil cangkul. Mereka membantu menutup lubang, mengangkat pasir, memperbaiki tiang gawang, serta membersihkan saluran kecil di pinggir lapangan agar air dapat mengalir keluar.
Kegiatan yang awalnya direncanakan sebagai pertandingan persahabatan berubah menjadi kerja bakti bersama.
Anak-anak datang membawa poster yang dibuat di rumah baca. Di atas kertas-kertas itu tertulis kalimat sederhana:
Lapangan Bersih, Pemuda Kompak.
Olahraga Membuat Kami Sehat.
Desa Kami Bisa Maju Bersama.
Raka membawa poster paling besar. Tulisan di posternya tidak terlalu rapi, tetapi cukup jelas.
Pemuda Kuat, Desa Hebat.
Khinanti melihat poster itu dan tersenyum.
“Kau yang buat?”
Raka mengangguk.
“Danu bantu menulis.”
Tidak lama kemudian, beberapa ibu datang membawa gorengan, teh panas, dan singkong rebus. Bu Ratna ikut membantu membagikan makanan. Pak Maman dari warung kopi datang membawa termos besar berisi kopi.
“Biar yang kerja tidak masuk angin,” katanya.
“Terima kasih, Pak,” kata Jatmiko.
Pak Maman mengangguk sambil melihat pemuda-pemuda yang bekerja di tengah lumpur.
“Jangan terlalu lama berdiri di air. Nanti masuk angin semua.”
Erlangga melihat pemandangan itu dengan perasaan hangat.
Tidak semua orang datang karena percaya penuh kepada dirinya. Sebagian mungkin datang karena ingin melihat. Sebagian lagi karena penasaran. Namun, ketika mereka melihat pemuda bekerja bersama di tengah hujan dan lumpur, perlahan sikap mereka mulai berubah.
Pak Karman yang beberapa hari lalu ikut mendengar pembicaraan di warung kopi berdiri di bawah payung. Ia memperhatikan Beni dan Rendi memperbaiki tiang gawang.
“Anak-anak ini serius juga,” katanya kepada Pak Maman.
Pak Maman mengangguk.
“Kadang orang baru percaya setelah melihat tangan yang kotor.”
Pak Karman tidak menjawab, tetapi wajahnya tampak berpikir.
Di dekat pagar lapangan, Pak Wiryo berdiri bersama Pak Darto. Ia tidak membawa payung. Ia hanya mengenakan topi tua dan jaket tipis.
Pak Darto melihat ke arah para pemuda.
“Lumayan juga mereka,” katanya. “Bukan hanya bicara.”
Pak Wiryo tidak langsung menjawab.
“Ya, kita lihat saja sampai kapan,” katanya akhirnya.
Namun, nada suaranya tidak lagi setenang sebelumnya.
Menjelang siang, hujan mulai reda.
Lapangan belum sepenuhnya kering. Pertandingan bola tidak mungkin dilakukan seperti rencana awal. Namun, setelah kerja bakti selesai, Ardi mengajak semua pemuda berdiri membentuk lingkaran di pinggir lapangan.
“Kita mungkin tidak bisa main sebelas lawan sebelas,” katanya. “Tapi kita bisa tetap bermain sebentar di bagian lapangan yang tidak terlalu becek.”
Rendi tersenyum.
“Main lima lawan lima saja.”
Mereka lalu membagi tim kecil.
Anak-anak bersorak dari pinggir lapangan. Bola bergerak di antara genangan dan tanah basah. Pemuda-pemuda berlari sambil tertawa ketika kaki mereka terpeleset. Tidak ada seragam lengkap. Tidak ada wasit resmi. Tidak ada hadiah.
Namun, ada semangat yang sulit dijelaskan.
Untuk pertama kalinya, lapangan Desa Suka Makmur benar-benar hidup.
Bukan karena semuanya sempurna.
Melainkan karena banyak orang memilih tetap hadir meski keadaan tidak sesuai rencana.
Jatmiko menjadi salah satu yang paling bersemangat. Ia berlari mengejar bola, lalu terpeleset ketika mencoba merebutnya dari Rendi. Tubuhnya jatuh ke lumpur. Wajahnya penuh tanah. Anak-anak tertawa keras.
“Bang Jatmiko jadi patung lumpur!” teriak Lila.
Jatmiko bangkit sambil mengusap wajah.
“Kalau begitu, patung lumpur ini masih bisa cetak gol!”
Ia kembali berlari.
Beberapa menit kemudian, ia benar-benar berhasil memasukkan bola ke gawang kecil yang dibuat dari sandal.
Sorak-sorai terdengar dari anak-anak dan warga yang menonton.
Di pinggir lapangan, Khinanti berdiri bersama Erlangga.
“Kau benar,” katanya.
“Benar tentang apa?”
“Hujan tidak menghentikan langkah.”
Erlangga memandang para pemuda yang masih bermain.
“Bukan aku yang membuat mereka tetap bergerak,” katanya. “Mereka sendiri yang memilih bertahan.”
Khinanti tersenyum.
“Kau memberi mereka alasan untuk percaya.”
“Tidak,” jawab Erlangga. “Mereka sudah punya alasan itu. Mungkin selama ini hanya belum ada yang mengajak mereka melihatnya.”
Sore hari, ketika kegiatan selesai, pemuda Dusun Timur berpamitan.
“Kami akan datang lagi kalau lapangannya sudah kering,” kata Rendi kepada Ardi.
“Bukan hanya untuk main bola,” tambahnya. “Kita bisa buat kegiatan bersama.”
Ardi mengangguk penuh semangat.
“Kita bisa bikin turnamen kecil nanti.”
“Atau kerja bakti di Dusun Timur,” kata Rendi.
“Setuju,” jawab Jatmiko.
Sebelum naik motor, Rendi menghampiri Erlangga.
“Bagus kegiatan kalian,” katanya. “Tidak banyak desa yang pemudanya mau bergerak seperti ini.”
Erlangga tersenyum.
“Kami juga masih belajar.”
“Kalau begitu, terus belajar. Jangan berhenti hanya karena ada yang bicara.”
Erlangga mengangguk.
Setelah pemuda Dusun Timur pergi, lapangan kembali sepi.
Namun, kesepian itu berbeda dari sebelumnya.
Di tanah yang masih basah, terlihat bekas-bekas kaki, roda motor, cangkul, dan sandal anak-anak. Gawang bambu yang tadi patah kini berdiri lebih kuat setelah diperbaiki bersama. Saluran air di pinggir lapangan sudah mulai mengalirkan genangan ke parit kecil.
Erlangga berdiri di tengah lapangan.
Langit mulai cerah. Cahaya matahari sore menembus awan, memantul pada genangan air yang tersisa.
Ia teringat bisik-bisik di warung kopi.
Ia teringat keraguan warga.
Ia teringat wajah Jatmiko yang kesal ketika tiang gawang patah.
Namun, hari itu ia memahami sesuatu.
Kepercayaan tidak tumbuh karena semua rencana berhasil.
Kepercayaan justru tumbuh ketika orang-orang melihat bagaimana seseorang bertahan saat rencana tidak berjalan seperti yang diharapkan.
Hujan memang telah merusak garis lapangan.
Hujan telah menjatuhkan tiang gawang.
Hujan telah mengubah pertandingan menjadi kerja bakti.
Tetapi hujan juga memperlihatkan siapa yang benar-benar mau tinggal, bekerja, dan berjalan bersama.
Dan di atas lapangan desa yang becek itu, Erlangga melihat sebuah harapan baru tumbuh.
Bukan dari sorak kemenangan.
Melainkan dari lumpur, keringat, dan tangan-tangan yang memilih untuk tidak menyerah.
Di kejauhan, Pak Wiryo kembali berdiri di dekat jalan.
Ia memandangi lapangan cukup lama.
Lalu ia berbalik dan berjalan pulang tanpa berkata apa-apa.
Namun, langkahnya tidak lagi setenang biasanya.
Ia mulai menyadari bahwa kegiatan pemuda bukan sekadar permainan anak-anak desa.
Kegiatan itu mulai mengubah cara warga berkumpul.
Mulai mengubah cara pemuda berbicara.
Mulai mengubah cara masyarakat melihat kemungkinan.
Dan bagi orang-orang yang terbiasa mengendalikan arah desa, perubahan kecil sering kali menjadi sesuatu yang sulit diterima.
BAB XI
Surat dari Kota
Tiga hari setelah kegiatan kerja bakti di lapangan desa, sebuah surat datang ke rumah Pak Sastro.
Pagi itu, Desa Suka Makmur masih diselimuti udara dingin sisa hujan malam sebelumnya. Daun-daun pisang di belakang rumah Pak Sastro tampak basah. Dari arah kebun, terdengar suara burung kecil yang bersahut-sahutan. Jalan tanah di depan rumah masih menyisakan beberapa genangan, memantulkan cahaya matahari yang baru mulai naik.
Pak Sastro sedang menyapu halaman ketika suara sepeda motor berhenti di depan pagar bambu rumahnya.
“Pak Sastro!” panggil seseorang.
Pak Sastro menoleh.
Pak Rudi, petugas pengantar surat yang biasa melewati jalan utama desa setiap minggu, berdiri di samping sepeda motor tuanya. Di bagian belakang motor itu tergantung tas besar berisi berbagai surat, tagihan, undangan rapat, serta dokumen dari kecamatan.
Pak Rudi bukan orang yang banyak bicara. Namun, hampir semua warga mengenalnya. Ia tahu rumah siapa yang menerima surat dari anaknya di perantauan, rumah siapa yang sedang menunggu dokumen tanah, dan rumah siapa yang sering mendapat undangan dari kantor kecamatan.
Pagi itu, ia membawa sebuah amplop putih yang tampak lebih rapi daripada surat-surat biasa.
“Untuk Erlangga,” katanya sambil menyerahkan amplop itu.
Pak Sastro menerima surat tersebut dengan tangan yang masih memegang sapu.
Amplop itu cukup tebal. Di bagian depan tertulis nama Erlangga dengan huruf cetak yang rapi. Di sudut kiri atas terdapat nama sebuah perusahaan yang tidak asing bagi Pak Sastro.
Ia membaca tulisan itu pelan.
Lalu ia mengangguk.
“Terima kasih, Pak Rudi.”
Pak Rudi mengangguk kembali.
“Kalau Erlangga ada, sampaikan suratnya penting. Tadi di kantor pos kecamatan, petugasnya bilang itu kiriman dari kota.”
Pak Sastro hanya menjawab singkat.
“Baik.”
Setelah Pak Rudi pergi, Pak Sastro membawa surat itu masuk ke dalam rumah. Ia meletakkannya di atas meja kayu dekat jendela. Beberapa saat kemudian, ia duduk di kursi sambil menatap amplop tersebut.
Ia tidak membuka surat itu.
Ia tahu, surat yang ditujukan kepada anaknya bukan haknya untuk dibaca.
Namun, dari nama perusahaan yang tercetak di pojok amplop, ia dapat menebak bahwa surat itu mungkin membawa sesuatu yang penting.
Sesuatu dari masa lalu Erlangga di kota.
Sesuatu yang mungkin akan kembali mengubah arah hidup anaknya.
Tidak lama kemudian, Erlangga pulang dari kebun belakang rumah. Kausnya sedikit basah oleh keringat. Di pundaknya ia membawa beberapa batang bambu yang baru dipotong. Sejak pagi, ia membantu Beni memperbaiki tiang gawang lapangan desa yang patah akibat hujan.
Ia meletakkan bambu-bambu itu di samping rumah, lalu masuk ke dapur untuk mengambil minum.
Pak Sastro memanggilnya.
“Langga.”
Erlangga menoleh.
“Ada surat untukmu.”
Erlangga mendekat.
“Dari siapa, Pak?”
Pak Sastro menunjuk amplop di atas meja.
Erlangga mengambilnya.
Begitu melihat nama perusahaan di sudut kiri atas amplop, wajahnya langsung berubah.
Tangannya berhenti sejenak.
Pak Sastro memperhatikan perubahan itu tanpa bertanya.
Erlangga membuka amplop perlahan.
Di dalamnya terdapat selembar surat dengan kop resmi perusahaan konsultan pembangunan tempat ia pernah bekerja di kota. Kertas itu masih bersih dan rapi, dengan tulisan yang dicetak jelas.
Erlangga membaca bagian pertama.
Wajahnya menjadi semakin serius.
Pak Sastro akhirnya bertanya.
“Dari kota?”
Erlangga mengangguk pelan.
“Pekerjaan?”
“Ya.”
Pak Sastro tidak bertanya lagi.
Ia mengambil cangkir kopi yang masih hangat, lalu duduk di kursi dekat jendela. Ia membiarkan Erlangga membaca surat itu sampai selesai.
Surat tersebut berasal dari Pak Arman, mantan atasan Erlangga di perusahaan konsultan pembangunan. Dalam surat itu, Pak Arman menjelaskan bahwa perusahaan sedang membuka kembali posisi koordinator lapangan untuk proyek pembangunan di kota kabupaten.
Posisi itu bukan pekerjaan biasa.
Erlangga akan menangani koordinasi pembangunan beberapa fasilitas umum, termasuk perbaikan jalan lingkungan, pembangunan saluran air, dan pengawasan proyek pasar rakyat. Ia akan mendapatkan gaji yang jauh lebih besar daripada penghasilannya selama tinggal di desa.
Selain itu, perusahaan juga menawarkan tempat tinggal, kendaraan operasional, uang makan, dan kesempatan untuk naik jabatan dalam waktu dekat.
Di bagian akhir surat, Pak Arman menulis:
“Pengalaman dan kemampuan Saudara Erlangga masih kami butuhkan. Kami berharap Saudara dapat kembali bergabung. Kami menunggu jawaban paling lambat dua minggu sejak surat ini diterima.”
Erlangga membaca bagian itu berulang kali.
Dua minggu.
Waktu yang tidak terlalu panjang.
Namun cukup untuk membuat hidupnya terasa seperti berada di persimpangan.
Ia melipat surat itu kembali.
Untuk beberapa saat, ia hanya berdiri diam di dekat meja.
Pak Sastro menatapnya.
“Kesempatan bagus?” tanyanya.
“Bagus, Pak.”
“Gajinya besar?”
“Cukup besar.”
Pak Sastro mengangguk pelan.
“Kalau begitu, kenapa wajahmu seperti orang kehilangan sesuatu?”
Pertanyaan itu membuat Erlangga tersenyum kecil.
Namun senyumnya tidak bertahan lama.
“Aku tidak tahu harus bagaimana,” katanya.
Pak Sastro menyesap kopi.
“Dulu kau pergi ke kota karena ingin hidup lebih baik,” katanya. “Sekarang kota memanggilmu lagi. Tidak ada yang salah kalau kau mempertimbangkannya.”
Erlangga duduk di kursi seberang ayahnya.
“Kalau aku pergi, bagaimana dengan kegiatan di desa?”
Pak Sastro menatap halaman rumah yang masih basah.
“Desa sudah ada sebelum kau pulang.”
“Bukan begitu maksudku.”
“Aku tahu.”
Pak Sastro menaruh cangkir kopinya.
“Tapi jangan merasa semua hal bergantung padamu. Kalau memang yang kau bangun itu baik, harusnya tetap bisa berjalan meski kau tidak selalu ada.”
Erlangga menunduk.
Kata-kata ayahnya terdengar sederhana, tetapi menekan bagian paling dalam dari pikirannya.
Selama ini, ia merasa harus hadir di setiap kegiatan.
Ia membantu rumah baca.
Ia membantu pemuda memperbaiki lapangan.
Ia membantu warga memperbaiki pagar, kursi, atau atap rumah yang rusak.
Ia ikut memikirkan kebutuhan anak-anak yang belajar.
Ia bahkan sering menggunakan tabungannya untuk membeli buku, cat, alat tulis, atau bola untuk kegiatan pemuda.
Ia takut jika dirinya tidak ada, semua kegiatan itu akan berhenti.
Namun, apakah sesuatu yang hanya bertumpu pada satu orang benar-benar bisa disebut sebagai gerakan bersama?
Ataukah selama ini ia hanya sedang menggantikan peran yang seharusnya dimiliki oleh banyak orang?
Pertanyaan itu mengikuti Erlangga sepanjang hari.
Di Rumah Baca Harapan, Khinanti sedang mengajari anak-anak membuat jadwal belajar.
Hari itu jumlah anak yang datang lebih banyak dari biasanya. Beberapa membawa buku pelajaran. Beberapa membawa pensil warna. Ada pula yang datang hanya karena ingin duduk bersama teman-temannya.
Raka duduk di bagian depan dengan buku tulis terbuka.
Danu membantu membagikan pensil.
Lila sibuk menggambar rumah impiannya dengan halaman penuh bunga, pohon mangga, dan sebuah ayunan kecil.
“Kalau sudah besar, aku mau punya rumah seperti ini,” kata Lila sambil menunjukkan gambarnya kepada Khinanti.
“Rumahnya besar sekali,” kata Khinanti sambil tersenyum.
“Biar semua teman bisa datang.”
“Kalau begitu, rumahmu nanti seperti rumah baca.”
Lila mengangguk bangga.
“Lebih besar dari rumah baca.”
Anak-anak lain tertawa.
Erlangga datang lebih lambat dari biasanya.
Ia membawa tas kecil di pundaknya. Wajahnya tampak tenang, tetapi Khinanti segera menyadari ada sesuatu yang berbeda.
Biasanya Erlangga datang dengan cerita tentang kebun, lapangan, atau rencana kegiatan pemuda. Kadang ia membawa papan kecil, buku, atau alat tulis tambahan.
Namun hari itu, ia datang membawa diam.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Khinanti ketika anak-anak sedang sibuk menulis.
“Aku baik.”
“Kau terlihat tidak seperti biasanya.”
Erlangga tersenyum tipis.
“Kau selalu bisa tahu.”
“Karena kau biasanya datang membawa banyak cerita. Hari ini kau datang membawa diam.”
Erlangga memandang anak-anak di dalam ruangan.
“Nanti setelah kelas selesai, aku mau bicara.”
Khinanti mengangguk.
Ia tidak bertanya lagi.
Sore itu, setelah anak-anak pulang, Rumah Baca Harapan kembali sunyi.
Cahaya matahari masuk dari jendela dan membentuk garis-garis tipis di lantai kayu. Beberapa buku masih terbuka di atas meja. Ada pensil warna yang tertinggal di sudut ruangan. Danu sudah pulang setelah membantu menyapu halaman. Raka pulang lebih awal karena diminta ibunya membeli minyak goreng ke warung.
Khinanti sedang menyusun buku ketika Erlangga mengeluarkan surat dari dalam tasnya.
“Aku dapat ini pagi tadi,” katanya.
Khinanti menerima surat itu.
Ia membacanya perlahan.
Wajahnya berubah ketika sampai pada bagian tentang tawaran pekerjaan.
“Ini kesempatan besar,” katanya.
“Iya.”
“Kau ingin kembali?”
Erlangga tidak langsung menjawab.
“Aku belum tahu.”
Khinanti melipat surat itu dengan hati-hati.
“Kalau kau menerima, kapan harus berangkat?”
“Mungkin dua minggu lagi.”
Khinanti menatap jendela.
Di luar, beberapa anak masih bermain di halaman sekolah. Suara mereka terdengar samar. Ada yang berteriak memanggil temannya. Ada yang tertawa ketika bola kecil mereka masuk ke semak-semak.
“Kau sudah lama menunggu kesempatan seperti ini,” kata Khinanti.
“Aku dulu memang ingin bekerja di tempat yang lebih besar. Aku ingin punya penghasilan tetap, pengalaman, dan hidup yang lebih jelas.”
“Dan sekarang?”
Erlangga memandang ruangan itu.
Rak buku yang tidak terlalu besar.
Meja-meja kayu yang sebagian sudah mulai kusam.
Papan tulis dengan tulisan jadwal belajar.
Kertas-kertas Peta Mimpi Anak Desa yang masih menempel di dinding.
“Sekarang aku merasa hidupku ada di sini,” katanya.
Khinanti menoleh kepadanya.
“Jangan membuat keputusan hanya karena rumah baca atau karena aku,” katanya pelan.
Erlangga terdiam.
“Aku serius,” lanjut Khinanti. “Aku tidak ingin kau tinggal hanya karena merasa bertanggung jawab pada semua orang. Kalau suatu hari kau menyesal, kau akan menyalahkan desa ini. Kau akan menyalahkan kegiatan ini. Bahkan mungkin kau akan menyalahkan dirimu sendiri.”
“Aku tidak akan begitu.”
“Kita tidak pernah tahu.”
Erlangga menatapnya dengan sungguh-sungguh.
“Khinanti, aku tidak pulang hanya untuk singgah.”
Khinanti tidak menjawab.
“Aku pulang karena aku mulai lelah mengejar hidup yang tidak pernah benar-benar terasa milikku,” lanjut Erlangga. “Aku bekerja di kota. Aku punya gaji. Aku punya tempat tinggal. Aku punya banyak rencana. Tapi setiap kali pulang, aku melihat desa ini seperti menunggu sesuatu.”
Khinanti menunduk.
“Aku melihat anak-anak yang belajar dengan buku seadanya,” kata Erlangga. “Aku melihat pemuda yang ingin bergerak, tapi tidak tahu harus mulai dari mana. Aku melihat Bapak yang semakin tua. Dan aku melihatmu tetap bertahan di rumah baca ini.”
Khinanti menggenggam surat itu lebih erat.
“Aku tidak ingin kembali ke kota hanya karena tawarannya lebih besar,” kata Erlangga. “Tapi aku juga tidak ingin menolak tanpa berpikir. Aku harus jujur pada diriku sendiri.”
“Kalau begitu, pikirkan dengan baik,” jawab Khinanti.
Mereka terdiam cukup lama.
Tidak ada kata-kata romantis yang berlebihan.
Tidak ada janji yang diucapkan tergesa-gesa.
Namun, di antara mereka, ada ketakutan yang sama.
Kemungkinan bahwa jalan yang mulai mereka tempuh bersama dapat kembali terpisah.
Malam hari, Erlangga pergi ke warung kopi Pak Maman.
Warung itu tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa warga yang duduk sambil minum kopi. Televisi kecil di atas rak sedang menayangkan berita malam. Suaranya pelan, bercampur dengan bunyi sendok yang beradu dengan gelas.
Jatmiko duduk di ujung bangku bersama Ardi dan Beni.
Mereka sedang membicarakan rencana memperbaiki lapangan pada akhir pekan.
“Kalau kita tambah pasir di bagian tengah, airnya tidak terlalu menggenang,” kata Beni.
“Masalahnya pasir dari mana?” jawab Ardi.
“Kita bisa minta bantuan Pak Karman.”
“Pak Karman belum tentu mau.”
“Kalau kita tidak coba bicara, kita tidak akan tahu.”
Ketika Erlangga datang, Jatmiko langsung memanggilnya.
“Langga, sini. Kita mau bahas jadwal.”
Erlangga duduk di dekat mereka.
“Ada apa?” tanya Ardi.
Erlangga mengeluarkan surat dari tasnya dan meletakkannya di atas meja.
“Aku dapat tawaran kerja dari kota.”
Jatmiko mengambil surat itu dan membaca bagian awalnya.
Wajahnya langsung berubah.
“Serius?”
Erlangga mengangguk.
“Gajinya besar?” tanya Beni.
“Lumayan.”
“Terus kau mau pergi?” tanya Ardi.
“Aku belum tahu.”
Jatmiko meletakkan surat itu dengan pelan.
“Kalau kau pergi, kegiatan kita bagaimana?”
Pertanyaan itu kembali menghantam Erlangga.
Pertanyaan yang sama seperti yang muncul di rumah bersama ayahnya.
Pertanyaan yang sama seperti yang muncul ketika ia melihat Rumah Baca Harapan sore tadi.
“Kalau kegiatan ini hanya bisa berjalan karena aku ada,” jawab Erlangga, “berarti kita belum benar-benar membangun apa-apa.”
“Tapi kau yang mulai semuanya,” kata Jatmiko.
“Bukan. Kita yang mulai.”
Jatmiko tampak tidak sepenuhnya setuju.
“Tidak sama,” katanya. “Kalau tidak ada kau, mungkin kami masih duduk di warung seperti dulu.”
Erlangga memandang sahabatnya.
“Kalau aku pergi, apakah kau akan berhenti?”
Jatmiko terdiam.
Ardi menatap meja.
Beni mengaduk kopinya tanpa bicara.
Erlangga melanjutkan.
“Aku belum memutuskan apa pun. Tapi apa pun keputusanku nanti, aku ingin kalian tetap bergerak. Lapangan ini bukan milikku. Rumah baca bukan milik Khinanti. Desa ini bukan milik satu orang.”
Pak Maman yang mendengar percakapan itu dari balik meja berkata pelan.
“Kalau pohon hanya kuat karena satu akar, angin sedikit saja bisa membuatnya tumbang.”
Semua orang menoleh kepadanya.
Pak Maman melanjutkan.
“Yang kalian bangun harus punya banyak akar. Biar siapa pun yang pergi atau datang, tetap ada yang menjaga.”
Jatmiko mengangguk perlahan.
Malam semakin larut.
Erlangga pulang melewati jalan desa yang sepi. Lampu-lampu rumah warga menyala redup. Dari beberapa halaman terdengar suara radio, suara anak kecil menangis, dan percakapan keluarga yang samar.
Di depan rumahnya, Pak Sastro masih duduk di beranda.
“Sudah makan?” tanya ayahnya.
“Sudah.”
Pak Sastro mengangguk.
“Kau sudah bicara dengan Khinanti?”
“Sudah.”
“Dengan pemuda?”
“Sudah.”
“Lalu?”
“Aku masih belum tahu, Pak.”
Pak Sastro tersenyum tipis.
“Tidak semua keputusan harus selesai dalam satu malam.”
Erlangga duduk di samping ayahnya.
Mereka memandangi jalan desa yang gelap. Angin malam membawa aroma tanah basah dari kebun-kebun di belakang rumah.
“Pak,” kata Erlangga, “kalau dulu Bapak diberi kesempatan pergi dari desa, Bapak akan pergi?”
Pak Sastro berpikir cukup lama.
“Mungkin,” jawabnya. “Waktu muda, semua orang ingin mencari jalan yang lebih luas.”
Erlangga menatap ayahnya.
“Tapi setelah jauh berjalan,” lanjut Pak Sastro, “orang biasanya mengerti bahwa jalan luas tidak selalu membawa pulang.”
Erlangga terdiam.
“Yang penting,” kata Pak Sastro, “jangan memilih karena takut. Jangan tinggal karena takut kehilangan. Jangan pergi karena takut dianggap gagal. Pilih karena kau tahu di mana kau bisa menjadi manusia yang paling berguna.”
Kalimat itu tinggal lama dalam pikiran Erlangga.
Malam itu, ia kembali membaca surat dari kota di kamarnya.
Tawaran pekerjaan itu tampak jelas.
Masa depan yang lebih pasti terbuka di hadapannya.
Gaji yang lebih besar.
Karier yang lebih terarah.
Kehidupan yang lebih nyaman.
Namun, dari jendela kamarnya, ia juga dapat melihat cahaya redup dari arah Rumah Baca Harapan yang tidak terlalu jauh.
Di sana, Khinanti mungkin sedang merapikan buku.
Di sana, Raka mungkin besok akan datang membawa soal matematika.
Di sana, Danu mungkin akan kembali belajar membaca.
Di luar, lapangan desa masih basah oleh hujan beberapa hari lalu.
Namun, di dalam diri Erlangga, sebuah pertanyaan mulai tumbuh semakin kuat.
Apakah pulang berarti menetap?
Ataukah pulang berarti menemukan alasan untuk tidak lagi pergi tanpa arah?
Surat dari kota belum ia jawab.
Tetapi sejak surat itu datang, Erlangga tahu bahwa hidupnya telah sampai pada sebuah persimpangan.
Dan di persimpangan itu, ia harus memilih bukan hanya antara desa dan kota.
Ia harus memilih antara kehidupan yang menjanjikan kenyamanan, dan kehidupan yang menuntut keberanian untuk bertahan.
BAB XII
Pilihan di Persimpangan
Sejak surat dari kota datang, Erlangga menjadi lebih pendiam.
Ia tetap datang ke Rumah Baca Harapan. Ia tetap membantu pemuda memperbaiki lapangan. Ia tetap menyapa warga yang ditemuinya di jalan desa. Namun, Khinanti dapat merasakan bahwa sebagian pikiran Erlangga tidak benar-benar berada di tempat yang sama.
Kadang, ketika anak-anak sedang membaca, Erlangga duduk terlalu lama memandangi halaman rumah baca. Kadang, saat Jatmiko menjelaskan rencana kegiatan pemuda, ia hanya mengangguk tanpa banyak memberi pendapat. Bahkan ketika Pak Sastro memintanya membantu di kebun, Erlangga bekerja dalam diam.
Surat dari kota itu masih tersimpan di dalam tasnya.
Amplop putih itu mulai sedikit kusut karena terlalu sering dibuka dan dilipat kembali. Tulisan nama perusahaan di bagian depan sudah mulai pudar terkena tangan Erlangga yang berkali-kali memegangnya.
Setiap kali melihat surat itu, Erlangga seperti dihadapkan pada dua jalan.
Jalan pertama membawanya kembali ke kota.
Di sana ada pekerjaan yang lebih jelas, penghasilan yang lebih baik, dan kehidupan yang lebih teratur. Ia dapat kembali bekerja di bidang yang selama ini ia tekuni. Ia dapat memakai pakaian rapi, pergi ke kantor, bertemu orang-orang yang memahami pekerjaannya, serta menyusun masa depan dengan cara yang lebih pasti.
Di kota, ia tidak perlu memikirkan apakah Rumah Baca Harapan memiliki cukup buku.
Ia tidak perlu memikirkan apakah lapangan desa akan kembali rusak setelah hujan.
Ia tidak perlu memikirkan apakah warga akan percaya atau justru kembali meragukan niatnya.
Semua akan lebih sederhana.
Namun, jalan kedua membawanya tetap tinggal di Desa Suka Makmur.
Jalan itu tidak menjanjikan gaji besar.
Tidak ada kantor dengan ruangan nyaman.
Tidak ada kendaraan operasional.
Tidak ada kepastian bahwa semua gagasan akan diterima warga.
Yang ada hanya jalan tanah yang berlumpur ketika hujan, rumah baca sederhana dengan rak buku yang belum penuh, lapangan desa yang masih perlu diperbaiki, serta orang-orang yang perlahan mulai belajar percaya pada perubahan.
Namun, justru di jalan itu, Erlangga merasa dirinya dibutuhkan.
Bukan karena ia paling hebat.
Bukan karena ia paling tahu.
Tetapi karena ia mulai melihat bahwa perubahan kecil dapat tumbuh ketika seseorang bersedia hadir lebih lama daripada sekadar memberi saran.
Suatu pagi, Pak Sastro menemukan Erlangga duduk di bawah pohon mangga di belakang rumah.
Pohon itu sudah tua. Batangnya besar dan kasar. Akarnya menjalar ke tanah seperti tangan-tangan yang mencengkeram kuat. Di bawahnya, tanah terasa lebih sejuk meski matahari mulai naik.
Di pangkuan Erlangga terdapat buku catatan dan surat dari kota yang sudah beberapa kali dilipat.
Pak Sastro datang membawa cangkul dari kebun. Ia berhenti beberapa langkah dari anaknya.
“Kau belum menjawab surat itu?” tanyanya.
“Belum, Pak.”
“Batas waktunya kapan?”
“Empat hari lagi.”
Pak Sastro duduk di sampingnya.
“Sudah kau pikirkan?”
“Setiap hari.”
“Lalu apa yang membuatmu masih ragu?”
Erlangga memandangi kebun singkong di depan mereka.
Daun-daun singkong bergerak pelan ditiup angin pagi. Di kejauhan, terdengar suara warga yang sedang menuju kebun. Ada suara motor, suara anak-anak berangkat sekolah, dan suara ayam yang berkokok dari halaman rumah tetangga.
“Aku takut salah memilih,” kata Erlangga akhirnya.
Pak Sastro tersenyum tipis.
“Tidak ada orang yang bisa memastikan pilihannya tidak salah.”
“Kalau aku tinggal, aku takut tidak bisa memberi kehidupan yang cukup baik untuk Bapak. Aku juga takut kegiatan di desa ini tidak berkembang seperti yang aku harapkan.”
“Kalau kau pergi?”
“Aku takut semua yang baru mulai di sini akan berhenti.”
Pak Sastro mengambil sehelai daun kering yang jatuh di dekat kakinya.
Ia memutar daun itu di antara jari-jarinya.
“Dulu, ketika kau masih kecil, kau pernah bertanya kenapa pohon mangga ini tidak tumbang meski sering diterpa angin,” katanya.
Erlangga menoleh.
“Aku jawab karena akarnya kuat. Tapi sebenarnya, pohon ini juga bertahan karena dia tidak melawan angin dengan kaku.”
Erlangga mendengarkan.
“Kalau angin datang, pohon ini bergerak,” lanjut Pak Sastro. “Rantingnya bergoyang. Daunnya jatuh. Kadang cabangnya patah. Tapi akarnya tetap ada. Setelah angin berhenti, dia berdiri lagi.”
Erlangga menatap pohon mangga di atas mereka.
“Pilihan hidup juga begitu,” kata Pak Sastro. “Kadang bukan soal memilih jalan yang paling aman. Kadang soal memilih jalan yang membuatmu tetap punya akar.”
“Akar?”
“Orang, tempat, dan nilai yang membuatmu tahu siapa dirimu.”
Erlangga terdiam.
Ia memikirkan kota.
Ia memikirkan pekerjaan lamanya.
Ia memikirkan rekan-rekan kerja yang dulu sering mengajaknya makan malam setelah lembur.
Ia memikirkan kamar kontrakan kecilnya yang selalu dingin karena pendingin ruangan.
Ia memikirkan jalan-jalan ramai yang tidak pernah benar-benar memberinya waktu untuk berhenti.
Lalu ia memikirkan desa.
Rumah baca.
Lapangan.
Suara anak-anak.
Tawa Danu ketika berhasil membaca satu paragraf tanpa terbata-bata.
Wajah Jatmiko yang selalu terlihat serius saat membicarakan kegiatan pemuda.
Dan Khinanti, yang tidak pernah memaksanya tinggal, tetapi selalu membuatnya merasa bahwa pulang bukanlah sesuatu yang sia-sia.
“Kalau menurut Bapak,” kata Erlangga, “aku harus tinggal?”
Pak Sastro menggeleng.
“Aku tidak akan memilihkan hidupmu.”
“Kenapa?”
“Karena kalau aku yang memilihkan, nanti kau akan hidup untuk membuktikan bahwa pilihan Bapak benar atau salah. Padahal hidupmu bukan milik Bapak.”
Erlangga menatap ayahnya.
Pak Sastro melanjutkan.
“Kalau kau pergi karena ingin berkembang, pergilah dengan baik. Jangan merasa bersalah karena ingin punya kehidupan yang lebih layak.”
“Kalau aku tinggal?”
“Kalau kau tinggal karena ingin mengabdi, tinggallah dengan sungguh-sungguh. Jangan tinggal setengah hati.”
Kata-kata itu kembali membuat Erlangga berpikir.
Ia tahu bahwa selama ini ia terlalu takut membuat keputusan.
Ia takut meninggalkan desa.
Namun, ia juga takut tinggal dan gagal.
Ia takut mengecewakan ayahnya.
Ia takut mengecewakan Khinanti.
Ia takut mengecewakan anak-anak yang mulai menaruh harapan padanya.
Namun, semakin lama ia berpikir, semakin ia sadar bahwa hidup tidak selalu memberi pilihan tanpa risiko.
Kadang, seseorang harus memilih meski tidak semua jawabannya tersedia.
Siang hari, Erlangga pergi ke Rumah Baca Harapan.
Khinanti sedang menyusun buku-buku baru yang dikirim oleh seorang teman Erlangga dari kota. Buku-buku itu tidak banyak, tetapi cukup untuk membuat rak rumah baca tampak lebih penuh.
Ada buku cerita anak.
Ada buku pengetahuan sederhana tentang tumbuhan, hewan, dan tubuh manusia.
Ada buku latihan matematika.
Ada pula beberapa majalah bekas yang masih layak dibaca.
Danu sedang membantu mengelap sampul buku dengan kain kering.
“Jangan terlalu keras,” kata Khinanti. “Nanti sampulnya sobek.”
Danu mengangguk.
“Aku pelan-pelan, Kak.”
Lila duduk di lantai sambil membaca buku bergambar tentang laut.
“Kak,” katanya, “ikan di laut itu benar-benar sebanyak ini?”
“Lebih banyak,” jawab Khinanti.
“Kalau begitu, laut besar sekali.”
“Ya.”
“Aku ingin lihat laut.”
Khinanti tersenyum.
“Nanti kalau sudah besar, kamu bisa pergi.”
Erlangga berdiri di pintu dan mendengar percakapan itu.
Ia tersenyum kecil.
“Kau datang lebih awal,” kata Khinanti ketika melihatnya.
“Aku ingin membantu.”
Khinanti menatapnya sebentar.
“Atau kau sedang ingin menghindari sesuatu?”
Erlangga tersenyum tipis.
“Kau memang sulit dibohongi.”
“Tidak perlu dibohongi.”
Mereka menyusun buku dalam diam.
Erlangga memasukkan buku cerita ke rak bagian bawah agar mudah dijangkau anak-anak kecil. Khinanti menata buku pelajaran di bagian atas. Danu membantu menempelkan label sederhana pada beberapa buku.
Setelah beberapa saat, Khinanti berkata, “Kau sudah memutuskan?”
“Belum.”
“Batas waktunya semakin dekat.”
“Iya.”
Khinanti berhenti menyusun buku.
“Langga, aku ingin kau tahu satu hal.”
Erlangga menoleh.
“Aku tidak ingin menjadi alasanmu tinggal.”
Erlangga menarik napas.
“Kau sudah pernah mengatakan itu.”
“Aku perlu mengulanginya karena aku tahu keputusan ini berat.”
Khinanti duduk di kursi kayu dekat meja.
“Kita sedang membangun banyak hal di desa. Tapi hidupmu tidak boleh berhenti hanya karena semua orang mengandalkanmu.”
“Aku tidak merasa hidupku berhenti di sini.”
“Mungkin sekarang tidak,” kata Khinanti. “Tapi bagaimana lima tahun lagi? Sepuluh tahun lagi?”
Erlangga tidak menjawab.
“Kalau rumah baca ini tetap kecil, kalau kegiatan pemuda tidak berkembang, kalau warga kembali tidak peduli, apakah kau tetap bisa menerima semuanya?”
Pertanyaan itu membuat Erlangga terdiam lebih lama.
Ia ingin menjawab bahwa ia akan tetap bertahan.
Namun, ia tahu Khinanti tidak sedang meragukan kesungguhannya.
Khinanti sedang mengingatkan bahwa semangat saja tidak cukup.
“Aku percaya kau tulus,” lanjut Khinanti. “Tapi ketulusan juga perlu arah. Kau tidak bisa terus mengorbankan masa depanmu tanpa rencana.”
“Aku punya rencana,” kata Erlangga pelan.
Khinanti menatapnya.
“Apa?”
Erlangga mengambil buku catatan dari tasnya.
Ia membuka beberapa halaman yang selama ini penuh coretan.
Ada jadwal kegiatan.
Ada daftar kebutuhan rumah baca.
Ada rencana pembagian tugas untuk pemuda.
Ada catatan tentang pelatihan komputer.
Ada pula beberapa gagasan tentang usaha kecil warga.
“Aku ingin membentuk kelompok belajar dan kegiatan pemuda yang bisa berjalan mandiri,” katanya.
Khinanti mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
“Aku ingin Dimas mengelola kelas komputer,” lanjut Erlangga. “Aku ingin Jatmiko memimpin kegiatan pemuda. Aku ingin rumah baca punya jadwal dan pengurus tetap.”
Ia menunjuk halaman lain.
“Aku ingin warga ikut menyumbang, bukan hanya menunggu. Tidak harus uang. Bisa buku, waktu, tenaga, atau makanan untuk anak-anak.”
Khinanti melihat catatan itu.
“Aku juga ingin membantu kelompok ibu-ibu membuat produk sederhana,” kata Erlangga. “Mungkin makanan olahan, kerajinan, atau hasil kebun yang bisa dipasarkan. Tidak harus besar. Tapi kalau ada penghasilan kecil, kegiatan ini bisa lebih bertahan.”
“Kau sudah memikirkan semuanya,” kata Khinanti.
“Belum semuanya. Tapi aku tidak ingin tinggal hanya dengan semangat. Aku ingin tinggal dengan rencana.”
Khinanti memandang halaman-halaman catatan itu.
Untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa keraguan Erlangga bukan karena ia tidak tahu apa yang diinginkan.
Keraguan itu muncul karena ia sedang mencoba memastikan bahwa pilihannya tidak hanya didorong oleh perasaan sesaat.
Ia tidak ingin tinggal hanya karena rindu.
Ia ingin tinggal karena memiliki tujuan.
Sore itu, Jatmiko datang bersama Ardi dan Beni.
Mereka membawa beberapa papan kayu untuk memperbaiki tempat duduk di pinggir lapangan.
“Langga, kau jadi ikut ke lapangan?” tanya Jatmiko.
“Nanti aku menyusul.”
Jatmiko melihat surat dari kota yang terletak di atas meja.
“Masih belum dijawab?”
“Belum.”
Jatmiko duduk di kursi dekat pintu.
“Kalau kau mau pergi, bilang saja,” katanya.
Erlangga menatap sahabatnya.
“Kami tidak akan marah,” lanjut Jatmiko.
“Tapi?” tanya Erlangga.
“Tapi jangan pergi karena merasa kami tidak bisa apa-apa tanpa kau.”
Erlangga terdiam.
Jatmiko menghela napas.
“Kami memang baru belajar. Kami masih sering bingung. Kami masih sering menunggu arahan. Tapi kami juga tidak ingin terus bergantung.”
Ardi mengangguk.
“Lapangan ini nanti tetap kami urus.”
“Dimas juga bilang kelas komputer bisa tetap jalan,” tambah Beni. “Walaupun cuma satu laptop.”
Jatmiko tersenyum tipis.
“Kalau kau tinggal, kami senang. Kalau kau pergi, kami tetap harus bergerak. Itu yang kau ajarkan, kan?”
Erlangga merasa dadanya menghangat.
Selama ini ia terlalu sibuk memikirkan apakah desa membutuhkan dirinya.
Ia lupa bahwa orang-orang di sekitarnya juga sedang tumbuh.
Mereka tidak lagi hanya menunggu arahan.
Mereka mulai memiliki keberanian untuk mengambil tanggung jawab.
Malam sebelum batas waktu surat itu berakhir, Erlangga pergi sendiri ke lapangan desa.
Langit cerah.
Bulan tampak menggantung di atas pohon-pohon.
Lapangan masih sederhana, tetapi kini terlihat lebih rapi daripada sebelumnya. Tiang gawang sudah berdiri kembali. Di pinggir lapangan terdapat beberapa bangku kayu yang baru diperbaiki oleh pemuda.
Erlangga duduk di salah satu bangku.
Ia mengingat hari pertama ketika pulang ke desa.
Jalan berdebu.
Balai desa yang sunyi.
Rumah baca yang hampir tidak dikenal banyak orang.
Pemuda yang kehilangan arah.
Anak-anak yang membawa mimpi-mimpi kecil di atas kertas.
Ia juga mengingat kota.
Gedung-gedung tinggi.
Jalan yang ramai.
Ruang kerja yang dingin.
Penghasilan yang lebih pasti.
Kehidupan yang dulu ia anggap sebagai tujuan.
Namun malam itu, ia menyadari bahwa pulang bukan berarti menolak masa depan.
Pulang berarti memilih masa depan yang ingin ia bangun sendiri.
Ia tidak ingin menjadi orang yang tinggal di desa hanya karena takut mencoba lagi.
Ia juga tidak ingin menjadi orang yang kembali ke kota hanya karena takut menghadapi kesulitan.
Ia ingin tinggal karena ia percaya bahwa desa ini dapat tumbuh.
Bukan hanya karena dirinya.
Tetapi karena warga, pemuda, anak-anak, dan orang-orang yang mulai berani percaya bahwa perubahan dapat dimulai dari hal kecil.
Keesokan paginya, Erlangga duduk di meja kecil di kamarnya.
Ia menyiapkan selembar kertas.
Lalu ia mulai menulis jawaban untuk Pak Arman.
Ia menulis dengan tangan yang tenang.
Ia mengucapkan terima kasih atas kepercayaan dan kesempatan yang diberikan.
Ia mengakui bahwa tawaran tersebut sangat berarti.
Ia juga menulis bahwa keputusan itu tidak mudah.
Namun, ia menjelaskan bahwa saat ini ia memilih untuk tetap berada di Desa Suka Makmur.
Ia tidak menulis bahwa ia menolak kota karena desa lebih mudah.
Ia tidak menulis bahwa ia sudah memiliki semua jawaban.
Ia hanya menulis bahwa ia sedang membangun sesuatu yang ingin ia perjuangkan dengan sungguh-sungguh.
Setelah selesai, ia membaca surat itu sekali lagi.
Lalu ia memasukkannya ke dalam amplop.
Ketika Erlangga keluar rumah, Pak Sastro sedang menyapu halaman.
“Sudah kau putuskan?” tanya ayahnya.
Erlangga mengangguk.
“Aku memilih tinggal, Pak.”
Pak Sastro berhenti menyapu.
“Sudah yakin?”
“Tidak ada pilihan yang membuatku seratus persen tidak takut. Tapi aku yakin ini jalan yang ingin aku jalani.”
Pak Sastro memandang anaknya cukup lama.
Kemudian ia tersenyum.
“Kalau begitu, jangan hanya tinggal.”
Erlangga menunggu kalimat berikutnya.
“Bangunlah sesuatu yang membuat orang lain juga bisa berdiri.”
Erlangga mengangguk.
Pagi itu, ia berjalan menuju Rumah Baca Harapan dengan langkah yang terasa lebih ringan.
Di depan rumah baca, Khinanti sedang menyiram tanaman dalam botol-botol bekas.
Tanaman itu baru beberapa minggu ditanam oleh anak-anak. Ada cabai, bunga kertas, daun bawang, dan beberapa tanaman hias kecil.
Ketika melihat Erlangga datang, Khinanti tersenyum.
“Kau sudah menjawab surat itu?” tanyanya.
“Sudah.”
“Dan?”
“Aku memilih tinggal.”
Khinanti berhenti menyiram.
“Karena rumah baca?”
“Karena banyak hal,” jawab Erlangga. “Karena Bapak. Karena anak-anak. Karena pemuda. Karena desa ini. Dan karena aku ingin menjalani hidup yang terasa benar bagiku.”
Khinanti menatapnya dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “jangan tinggal sendirian.”
Erlangga tersenyum.
“Aku tidak akan.”
Mereka berdiri di depan Rumah Baca Harapan yang sederhana.
Matahari pagi mulai naik.
Dari kejauhan, terdengar suara anak-anak berjalan menuju sekolah.
Di desa itu, tidak ada perayaan besar atas keputusan Erlangga.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada pidato.
Hanya seorang laki-laki yang memilih menetap.
Dan seorang perempuan yang memilih untuk tetap berjalan di sampingnya.
Namun, dari pilihan sederhana itu, sebuah perjalanan baru benar-benar dimulai.
Bukan lagi perjalanan pulang.
Melainkan perjalanan untuk membangun.
BAB XIII
Khinanti dan Cahaya yang Hampir Padam
Keputusan Erlangga untuk tetap tinggal di Desa Suka Makmur tidak serta-merta mengubah segala sesuatu menjadi lebih mudah.
Rumah Baca Harapan masih berdinding papan yang mulai kusam dimakan waktu. Sebagian lantainya berbunyi pelan ketika diinjak. Rak-rak bukunya dibuat dari papan bekas yang disusun sederhana oleh pemuda desa. Buku-buku yang tersedia juga belum banyak. Ada buku cerita anak, buku pelajaran bekas, majalah lama, beberapa buku keterampilan, serta buku-buku sumbangan dari orang-orang yang pernah mendengar kabar tentang rumah baca kecil itu.
Lapangan desa pun belum benar-benar sempurna. Tiang gawang bambunya masih tampak baru diperbaiki. Beberapa bagian tanahnya masih tidak rata. Jika hujan turun terlalu deras, air akan kembali menggenang di tengah lapangan. Namun, setiap sore, anak-anak tetap datang membawa bola plastik. Mereka berlari, tertawa, dan berebut tempat bermain tanpa terlalu memikirkan apakah lapangan itu sudah layak atau belum.
Kegiatan pemuda juga belum selalu ramai.
Ada hari-hari ketika Jatmiko, Ardi, Beni, dan beberapa pemuda lain datang membawa cangkul atau sapu. Mereka membersihkan selokan, memperbaiki bangku kayu, atau membicarakan rencana kegiatan kecil. Namun, ada juga hari ketika hanya dua atau tiga orang yang hadir. Sebagian pemuda masih memilih duduk di warung kopi. Sebagian lagi sibuk di kebun. Sebagian merasa kegiatan desa tidak akan memberi mereka apa-apa.
Tetapi perlahan, ada sesuatu yang berubah.
Warga mulai melihat bahwa Erlangga tidak kembali ke kota ketika kesempatan itu datang. Ia tidak pergi setelah lapangan desa mulai dibersihkan. Ia tidak berhenti datang ke rumah baca ketika bisik-bisik warga mulai menyebar. Ia tetap hadir dalam kegiatan kecil yang kadang tidak terlihat penting bagi banyak orang.
Ia membantu Pak Darto memperbaiki pagar kebun.
Ia ikut mengangkat karung pupuk milik Pak Karman.
Ia membantu anak-anak membuat jadwal belajar.
Ia mendampingi Jatmiko menyusun rencana kegiatan pemuda.
Ia bahkan beberapa kali duduk bersama ibu-ibu di teras rumah Bu Ratna untuk mendengarkan keluhan mereka tentang harga hasil kebun, biaya sekolah anak, dan kebutuhan rumah tangga yang semakin meningkat.
Erlangga tidak banyak bicara tentang perubahan.
Ia hanya bekerja.
Dan dari cara itulah, perlahan-lahan, warga mulai melihat bahwa kepulangannya bukan sekadar cerita sementara.
Namun, di tengah semua kegiatan yang mulai tumbuh, ada satu orang yang justru semakin merasa lelah.
Khinanti.
Selama ini, banyak orang melihat Khinanti sebagai sosok yang kuat.
Ia dikenal sebagai perempuan yang selalu membuka Rumah Baca Harapan setiap sore. Ia yang menyambut anak-anak dengan senyum. Ia yang mengajari mereka membaca, berhitung, menulis, dan menggambar. Ia yang mengingatkan anak-anak agar tidak merusak buku. Ia yang mencari cara agar rumah baca tetap hidup meski uang sering kali tidak cukup.
Bagi anak-anak, Khinanti adalah kakak yang sabar.
Bagi ibu-ibu, ia adalah perempuan muda yang rajin dan peduli.
Bagi pemuda desa, ia adalah orang yang tidak mudah menyerah.
Namun, tidak banyak yang tahu bahwa di balik senyumnya, Khinanti sering pulang dengan tubuh yang sangat lelah.
Setiap pagi, ia membantu ibunya di rumah.
Ia mencuci pakaian, memasak, membersihkan halaman, dan terkadang menerima jahitan kecil dari tetangga untuk menambah penghasilan. Siang hari, ia mengajar les kepada beberapa anak sekolah dasar. Sore hari, ia membuka Rumah Baca Harapan. Malam hari, ia masih harus menyiapkan bahan belajar untuk keesokan harinya.
Tidak jarang, ia tertidur di atas meja dengan buku-buku yang masih terbuka.
Tidak jarang, ia lupa makan karena terlalu sibuk.
Tidak jarang pula, ia menahan tangis sendirian ketika memikirkan biaya kebutuhan rumah yang semakin banyak.
Suatu sore, setelah anak-anak pulang, Rumah Baca Harapan kembali sunyi.
Matahari mulai turun perlahan di balik pohon-pohon kelapa. Cahaya jingga masuk melalui jendela kayu yang salah satu kacanya sudah retak. Debu tipis terlihat menari di udara. Di atas meja, beberapa buku cerita anak masih berserakan. Ada pensil yang patah. Ada kertas gambar yang belum dibersihkan. Ada bekas remah biskuit yang jatuh di lantai.
Khinanti duduk di kursi kecil dekat rak buku.
Di tangannya terdapat sebuah buku cerita anak dengan sampul yang sobek. Ia sudah beberapa kali berusaha memperbaikinya menggunakan lem dan selotip. Namun, sore itu, tangannya terasa terlalu berat untuk bergerak.
Ia hanya memandangi buku itu.
Di luar rumah baca, suara anak-anak masih terdengar dari arah lapangan. Mereka bermain sambil berteriak-teriak. Sesekali terdengar suara bola mengenai pagar bambu. Biasanya, suara itu membuat Khinanti tersenyum.
Namun sore itu, suara itu justru terasa jauh.
Khinanti menghela napas panjang.
Ia memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa ingin berhenti.
Bukan berhenti karena tidak peduli.
Bukan berhenti karena tidak sayang pada anak-anak.
Tetapi karena tubuh dan pikirannya seperti tidak lagi mampu berjalan dengan kecepatan yang sama.
Pintu rumah baca terbuka pelan.
Sari masuk sambil membawa kantong plastik berisi gorengan.
“Kau belum pulang?” tanyanya.
Khinanti membuka mata dan tersenyum kecil.
“Belum.”
Sari meletakkan kantong plastik di atas meja.
“Aku kira anak-anak masih ada.”
“Mereka baru pulang.”
Sari memperhatikan wajah Khinanti.
“Kau sakit?”
“Tidak.”
“Wajahmu pucat.”
Khinanti menggeleng pelan.
“Aku hanya capek.”
Sari menarik kursi dan duduk di sampingnya.
“Kau sudah beberapa hari seperti ini.”
“Seperti apa?”
“Diam. Tidak banyak bicara. Bahkan tadi ketika Lila menjatuhkan buku, biasanya kau langsung tertawa dan bilang tidak apa-apa. Tapi tadi kau hanya memungut bukunya.”
Khinanti menunduk.
Sari mengenal sahabatnya cukup lama. Ia tahu Khinanti bukan orang yang mudah mengeluh. Jika ia mengatakan dirinya lelah, berarti ada banyak hal yang sudah dipendam terlalu lama.
“Ada masalah di rumah?” tanya Sari pelan.
Khinanti tidak langsung menjawab.
Ia memandangi lantai kayu di bawah kakinya.
“Ada,” katanya akhirnya.
“Dengan ibumu?”
Khinanti mengangguk.
“Ibu sering pusing akhir-akhir ini. Kadang badannya lemas. Tapi kalau aku ajak periksa ke puskesmas, Ibu selalu bilang tidak apa-apa.”
“Kenapa tidak kau paksa?”
“Kau tahu sendiri, Sar. Kalau periksa, pasti ada biaya. Kalau harus beli obat, ada biaya lagi. Kalau harus bolak-balik ke kecamatan, juga perlu ongkos.”
Sari terdiam.
Khinanti melanjutkan dengan suara lebih pelan.
“Aku juga takut.”
“Takut apa?”
“Takut kalau ternyata Ibu sakit serius.”
Sari menggenggam tangan Khinanti.
“Kita periksa saja dulu. Jangan terlalu jauh memikirkan yang belum terjadi.”
Khinanti tersenyum tipis, tetapi matanya mulai berkaca-kaca.
“Kadang aku merasa semuanya datang bersamaan,” katanya. “Rumah baca, kegiatan anak-anak, kebutuhan rumah, kesehatan Ibu, omongan warga, dan sekarang semua orang mulai berharap banyak karena Erlangga tinggal.”
“Bukankah itu hal baik?”
“Baik,” jawab Khinanti. “Tapi aku takut.”
“Takut apa lagi?”
“Aku takut rumah baca ini hanya hidup karena aku terus memaksakan diri. Aku takut kalau aku berhenti satu hari saja, anak-anak tidak punya tempat belajar. Aku takut kalau aku tidak bisa menjaga semuanya, orang-orang akan bilang bahwa rumah baca ini memang tidak akan bertahan.”
Sari menatap sahabatnya dengan serius.
“Khinanti, rumah baca ini tidak akan runtuh hanya karena kau istirahat dua hari.”
“Tapi selama ini semua orang datang kepadaku.”
“Karena kau selalu ada.”
“Kalau aku tidak ada?”
“Kalau kau tidak ada, mungkin sekarang waktunya orang lain belajar ada.”
Kalimat itu membuat Khinanti terdiam.
Ia tidak langsung percaya.
Selama bertahun-tahun, ia terbiasa mengerjakan semuanya sendiri. Ia terbiasa membuka pintu rumah baca sendiri. Ia terbiasa menyapu sendiri. Ia terbiasa menyusun buku sendiri. Ia terbiasa mencari bantuan sendiri.
Meminta bantuan terasa seperti kelemahan.
Padahal, mungkin yang ia butuhkan bukan menjadi lebih kuat.
Melainkan berhenti merasa bahwa ia harus selalu kuat.
Malam itu, Khinanti pulang lebih cepat dari biasanya.
Rumahnya berada di ujung jalan kecil dekat kebun singkong. Halamannya tidak luas, tetapi dipenuhi tanaman dalam botol-botol bekas. Ada cabai, serai, bunga kertas, dan beberapa tanaman obat yang dirawat ibunya.
Ketika Khinanti masuk, ibunya sedang duduk di ruang tengah sambil memilah daun singkong.
“Kau pulang cepat,” kata ibunya.
“Iya, Bu.”
“Rumah baca sepi?”
“Tidak. Anak-anak banyak yang datang.”
Ibunya tersenyum.
“Itu bagus. Kau selalu senang kalau rumah baca ramai.”
Khinanti duduk di dekat ibunya.
“Ibu sudah makan?”
“Sudah sedikit.”
“Minum obat?”
“Sudah.”
“Kapan terakhir Ibu periksa ke puskesmas?”
Ibunya berhenti memilah daun singkong.
“Nanti saja.”
“Ibu selalu bilang nanti.”
“Ibu hanya capek.”
Khinanti memperhatikan wajah ibunya.
Ada garis-garis lelah yang semakin jelas. Rambut ibunya yang dulu hitam kini semakin banyak memutih. Tangannya tampak kurus. Bahkan ketika tersenyum, wajahnya tetap terlihat pucat.
“Ibu harus periksa,” kata Khinanti.
“Tidak perlu membuat biaya bertambah.”
“Kalau Ibu sakit, biaya bisa lebih besar.”
Ibunya menatap Khinanti.
“Kau sudah banyak memikirkan rumah baca. Jangan tambah pikiranmu dengan Ibu.”
Khinanti menunduk.
Justru itulah yang membuat dadanya semakin sesak.
Bagaimana mungkin ia tidak memikirkan ibunya?
Malam itu, Khinanti sulit tidur.
Suara jangkrik terdengar dari kebun belakang rumah. Atap dapur menetes pelan karena bekas hujan sore tadi. Di kamar sebelah, ibunya beberapa kali batuk.
Khinanti memandangi langit-langit kamarnya.
Ia memikirkan Rumah Baca Harapan.
Ia memikirkan anak-anak.
Ia memikirkan ibunya.
Ia memikirkan Erlangga.
Sejak Erlangga memilih tinggal, hubungan mereka memang semakin dekat. Namun, kedekatan itu juga membawa ketakutan baru. Khinanti takut menjadi alasan Erlangga menetap. Ia takut orang-orang kembali berbisik. Ia takut jika suatu hari Erlangga merasa hidupnya terlalu berat di desa, ia akan menyalahkan semua yang telah ia tinggalkan.
Ia tidak ingin menjadi beban.
Ia tidak ingin menjadi alasan seseorang mengorbankan masa depannya.
Pagi berikutnya, Khinanti tidak membuka Rumah Baca Harapan.
Di pintu depan, ia menempelkan kertas kecil.
Rumah Baca Harapan libur dua hari. Kegiatan belajar akan dilanjutkan kembali setelah pemberitahuan berikutnya.
Anak-anak yang datang sore itu tampak kecewa.
Raka berdiri di depan pintu sambil membawa buku matematika.
“Kenapa Kak Khinanti tidak buka?” tanyanya kepada Danu.
“Mungkin sakit,” jawab Danu.
“Apa kita boleh datang ke rumahnya?”
“Jangan,” kata Danu. “Nanti mengganggu.”
Raka menunduk.
Ia tampak ingin pulang, tetapi langkahnya lambat.
Tidak lama kemudian, Erlangga datang dari arah jalan desa. Di tangannya terdapat beberapa buku yang baru ia pinjam dari sekolah kecamatan.
Ia melihat anak-anak berkumpul di depan rumah baca.
“Kenapa kalian di luar?” tanyanya.
Danu menunjuk kertas di pintu.
“Kak Khinanti libur.”
Erlangga membaca tulisan itu.
Ia lalu memandang wajah anak-anak yang kecewa.
“Kalian sudah makan?” tanyanya.
“Sudah,” jawab Raka.
“Kalau begitu, hari ini kita belajar di teras sekolah.”
Danu tampak ragu.
“Tapi tidak ada Kak Khinanti.”
“Aku tahu,” kata Erlangga. “Kita tidak akan menggantikan Kak Khinanti. Kita hanya menjaga supaya kalian tidak berhenti belajar.”
Anak-anak mulai saling memandang.
“Belajar apa?” tanya Lila.
“Belajar menulis cerita,” jawab Erlangga. “Tentang rumah, keluarga, atau mimpi kalian.”
Anak-anak tampak lebih bersemangat.
Mereka berjalan bersama menuju teras sekolah. Erlangga menggelar tikar kecil. Ia membagikan buku tulis dan pensil. Raka duduk paling depan. Danu membantu anak-anak kecil mengeja beberapa kata. Lila mulai menggambar rumah dengan halaman penuh bunga.
Sore itu, kegiatan belajar tetap berjalan.
Tidak serapi ketika Khinanti mengajar.
Tidak semua anak duduk tenang.
Ada yang masih berlari-lari. Ada yang lebih suka menggambar daripada menulis. Ada pula yang berkali-kali bertanya kapan Kak Khinanti akan kembali.
Namun, Erlangga melihat sesuatu yang penting.
Rumah baca bukan hanya sebuah bangunan.
Rumah baca adalah kebiasaan untuk belajar.
Dan kebiasaan itu harus tetap hidup, bahkan ketika orang yang paling sering menjaganya sedang membutuhkan waktu untuk beristirahat.
Setelah anak-anak pulang, Erlangga berjalan menuju rumah Khinanti.
Di depan rumah, Khinanti sedang menjemur pakaian. Wajahnya tampak lelah. Rambutnya diikat sederhana. Di dekat kakinya, terdapat ember berisi pakaian yang belum dijemur.
“Kau tidak membuka rumah baca,” kata Erlangga.
Khinanti menoleh.
“Aku sedang ada urusan rumah.”
“Apa ibumu sakit?”
“Tidak terlalu.”
“Khinanti.”
Nada suara Erlangga membuat Khinanti berhenti menjemur pakaian.
“Aku bisa mengurus semuanya,” katanya.
“Aku tidak bilang kau tidak bisa.”
“Lalu kenapa kau datang?”
“Aku ingin tahu apakah kau butuh bantuan.”
Khinanti menghela napas.
“Aku tidak ingin semua orang merasa harus menolongku hanya karena aku mengelola rumah baca.”
“Ini bukan soal rumah baca.”
“Bagi orang desa, semua selalu ada hubungannya.”
Erlangga terdiam.
Khinanti menunduk.
Ia tahu kata-katanya terdengar keras. Namun, ia sedang terlalu lelah untuk berpura-pura baik-baik saja.
“Aku lelah, Langga,” katanya akhirnya.
Erlangga tidak langsung menjawab.
“Aku lelah harus terlihat kuat setiap hari,” lanjut Khinanti. “Aku lelah memikirkan rumah baca, anak-anak, Ibu, kebutuhan rumah, dan omongan orang. Aku lelah merasa bahwa kalau aku berhenti sebentar saja, semuanya akan runtuh.”
Erlangga berdiri beberapa langkah di depannya.
Ia tidak memaksa mendekat.
Ia tidak buru-buru memberi nasihat.
Ia hanya mendengarkan.
“Kau tidak harus kuat setiap saat,” katanya pelan.
“Kalau aku tidak kuat, siapa yang akan mengurus semuanya?”
“Bukan hanya kau.”
“Siapa? Kau?”
“Bukan aku saja,” jawab Erlangga. “Sari. Jatmiko. Danu. Anak-anak yang mulai besar. Warga yang perlahan mulai percaya. Kita bisa membagi tugas.”
Khinanti menggeleng.
“Tidak semudah itu.”
“Memang tidak mudah. Tapi bukan berarti tidak bisa.”
Khinanti menatap Erlangga. Matanya mulai berkaca-kaca.
“Aku takut berharap terlalu banyak.”
Erlangga menatapnya dengan tenang.
“Berharap bukan berarti menyerahkan semuanya kepada orang lain,” katanya. “Berharap berarti memberi kesempatan kepada orang lain untuk ikut peduli.”
Khinanti tidak menjawab.
Dari dalam rumah terdengar suara batuk.
Khinanti segera masuk.
Erlangga mengikuti dari belakang, tetapi berhenti di ambang pintu ketika melihat ibu Khinanti berusaha bangun dari tempat tidur.
“Ibu,” kata Khinanti, “kenapa tidak panggil aku?”
Ibunya tersenyum lemah.
“Ibu hanya mau minum.”
Erlangga mengambilkan air hangat dari dapur. Ia membantu meletakkan gelas di meja kecil dekat tempat tidur.
“Terima kasih, Langga,” kata ibu Khinanti.
Erlangga mengangguk sopan.
“Kita sebaiknya periksa ke puskesmas,” katanya hati-hati.
Ibunya menggeleng pelan.
“Tidak perlu. Ibu hanya lelah.”
Namun, Khinanti melihat wajah ibunya yang pucat.
Kekhawatiran yang selama ini ia tahan mulai berubah menjadi ketakutan.
Keesokan paginya, Erlangga datang bersama Sari dan Bu Ratna.
Pak Maman juga datang membawa mobil pikap tua milik saudaranya yang biasa digunakan untuk mengangkut hasil kebun.
“Kita antar Ibu ke puskesmas,” kata Bu Ratna.
Khinanti langsung menggeleng.
“Aku bisa mengantar sendiri.”
“Kau bisa,” jawab Bu Ratna. “Tapi hari ini tidak perlu sendirian.”
Khinanti memandang satu per satu wajah mereka.
Sari berdiri sambil membawa tas kecil berisi pakaian dan air minum.
Erlangga menunggu dengan tenang.
Pak Maman membuka pintu mobil.
Tidak ada yang memaksa.
Namun, kehadiran mereka membuat Khinanti akhirnya mengangguk.
Di puskesmas kecamatan, ibu Khinanti diperiksa oleh dokter.
Setelah pemeriksaan, dokter menjelaskan bahwa tekanan darahnya tidak stabil. Tubuhnya juga mengalami kelelahan cukup serius karena kurang istirahat dan pola makan yang tidak teratur. Tidak ada penyakit berat yang langsung mengancam, tetapi dokter meminta agar ia lebih banyak beristirahat, menjaga makanan, dan rutin memeriksakan diri.
Khinanti merasa lega.
Namun, rasa lega itu bercampur dengan rasa bersalah.
Selama ini, ia terlalu sibuk mengurus banyak hal sampai tidak menyadari bahwa ibunya semakin membutuhkan perhatian.
Dalam perjalanan pulang, ibu Khinanti memegang tangan anaknya.
“Maaf membuatmu khawatir,” katanya.
Khinanti menggeleng.
“Jangan minta maaf, Bu. Aku yang seharusnya lebih memperhatikan Ibu.”
Ibunya tersenyum.
“Kau sudah terlalu banyak memikirkan orang lain. Sekarang belajar juga memikirkan dirimu sendiri.”
Kalimat itu membuat Khinanti menahan air mata.
Sore hari, ketika mereka sampai di rumah, beberapa anak sudah menunggu di depan halaman.
Raka membawa sebuah gambar.
Danu membawa beberapa buku yang sudah ia rapikan.
Lila membawa bunga kecil dari halaman rumahnya.
“Kak Khinanti,” kata Raka, “kami mau rumah baca buka lagi. Tapi kalau Kakak capek, kami bisa bantu bersih-bersih.”
Khinanti memandang mereka satu per satu.
Danu maju selangkah.
“Aku bisa menyapu,” katanya.
“Aku bisa merapikan buku,” kata Lila.
“Aku bisa mengingatkan teman-teman supaya tidak merusak buku,” tambah Raka.
Anak-anak lain ikut mengangguk.
Khinanti merasa dadanya penuh.
Selama ini, ia selalu melihat anak-anak sebagai orang yang harus ia bantu.
Namun sore itu, anak-anak itu datang membawa kekuatan untuknya.
Ia berjongkok di hadapan mereka.
“Rumah baca akan buka lagi,” katanya pelan. “Tapi mulai sekarang, kita jaga bersama-sama.”
Anak-anak bersorak kecil.
Raka mengangkat gambarnya.
“Aku gambar rumah baca,” katanya bangga.
Khinanti menerima gambar itu.
Di atas kertas tersebut, terlihat sebuah bangunan kecil dengan jendela besar, rak buku, dan banyak anak berdiri di depannya. Di atas bangunan itu, Raka menulis dengan huruf yang belum terlalu rapi:
Rumah Baca Harapan Milik Kita Semua.
Khinanti menatap tulisan itu cukup lama.
Lalu ia memeluk Raka.
Di kejauhan, Erlangga berdiri bersama Sari dan Bu Ratna.
Ia tidak berkata apa-apa.
Ia hanya melihat Khinanti tersenyum untuk pertama kalinya setelah beberapa hari yang berat.
Malam itu, Khinanti duduk di beranda rumah bersama Erlangga.
Langit tampak cerah. Cahaya bulan jatuh di atas halaman yang masih basah oleh embun. Dari kejauhan, terdengar suara pemuda yang masih berbincang di lapangan desa.
“Aku tadi berpikir,” kata Khinanti.
“Pikir apa?”
“Mungkin aku terlalu lama menganggap rumah baca ini hanya tanggung jawabku.”
Erlangga menoleh.
“Rumah baca ini memang kau yang mulai,” lanjut Khinanti. “Tapi mungkin sekarang sudah waktunya menjadi milik banyak orang.”
Erlangga tersenyum.
“Itu bukan berarti peranmu berkurang.”
“Aku tahu. Tapi mungkin peranku harus berubah.”
“Menjadi apa?”
“Menjadi orang yang tidak hanya bekerja sendiri, tetapi juga mengajak orang lain bertumbuh.”
Erlangga memandangnya dengan hangat.
“Kau selalu menjadi cahaya di rumah baca itu,” katanya.
Khinanti tersenyum kecil.
“Cahaya juga bisa redup kalau tidak dijaga.”
“Karena itu, kita jaga bersama.”
Mereka terdiam dalam suasana yang tenang.
Khinanti masih memiliki banyak kekhawatiran.
Kondisi ibunya belum sepenuhnya pulih.
Rumah baca masih membutuhkan banyak perbaikan.
Kegiatan pemuda masih belum selalu ramai.
Omongan warga mungkin belum benar-benar berhenti.
Namun malam itu, ia tidak lagi merasa sendirian.
Ia mulai memahami bahwa cahaya tidak harus selalu menyala karena satu orang.
Cahaya dapat bertahan karena banyak tangan menjaga nyalanya.
Dan di tengah segala kelelahan yang hampir membuatnya menyerah, Khinanti menemukan kembali alasan untuk tetap berdiri.
Bukan karena ia harus kuat seorang diri.
Melainkan karena kini ia memiliki orang-orang yang bersedia berjalan bersamanya.
Rumah Baca Harapan mungkin masih kecil.
Namun, sejak sore itu, tempat itu tidak lagi hanya menjadi milik Khinanti.
Ia menjadi milik anak-anak yang ingin belajar.
Milik pemuda yang ingin bergerak.
Milik ibu-ibu yang ingin membantu.
Milik warga yang perlahan mulai percaya.
Dan bagi Khinanti, itu adalah cahaya baru.
Cahaya yang tidak lagi bergantung pada satu hati yang lelah.
Melainkan pada banyak hati yang mulai belajar untuk peduli.
BAB XIV
Desa yang Bersatu
Hujan turun sejak sore hari.
Pada awalnya, warga Desa Suka Makmur tidak terlalu mengkhawatirkannya. Hujan adalah bagian dari kehidupan desa. Ia datang bersama aroma tanah basah, suara daun-daun yang diguyur air, dan harapan baru bagi kebun-kebun warga yang mulai mengering setelah beberapa hari panas.
Di beberapa rumah, orang-orang bahkan menyambut hujan dengan lega.
Pak Sastro menutup jendela ruang tamu sambil tersenyum kecil.
“Bagus juga hujannya,” katanya. “Singkong di belakang rumah sudah mulai butuh air.”
Di rumah Khinanti, ibunya meletakkan ember di bawah bagian atap dapur yang bocor. Air menetes pelan ke dalam ember, menciptakan bunyi berulang yang terdengar seperti ketukan kecil di tengah malam.
“Besok kalau hujan reda, kita minta tolong Pak Jono lihat atap ini,” kata Khinanti.
Ibunya mengangguk, lalu kembali menyiapkan teh hangat.
Di warung kopi Pak Maman, beberapa warga masih duduk sambil menonton hujan dari bawah atap seng. Suara hujan memukul atap begitu keras hingga percakapan mereka harus dilakukan dengan suara lebih tinggi.
“Kalau begini terus sampai malam, parit belakang bisa penuh,” kata Pak Maman sambil menuangkan kopi.
Pak Wiryo yang duduk di ujung bangku mengangkat bahu.
“Setiap musim hujan juga begitu. Besok paling surut sendiri.”
Namun, malam itu hujan tidak seperti biasanya.
Langit seakan menumpahkan seluruh airnya ke atas Desa Suka Makmur. Angin bertiup semakin kencang. Pohon-pohon di pinggir jalan bergoyang keras. Petir beberapa kali membelah langit, disusul suara gemuruh yang membuat jendela rumah bergetar.
Menjelang pukul sembilan malam, air mulai mengalir deras dari arah perbukitan menuju jalan-jalan desa.
Parit kecil yang biasanya hanya dipenuhi air setinggi mata kaki berubah menjadi aliran keruh. Lumpur, ranting, daun, dan sampah dari kebun ikut terbawa arus. Beberapa warga yang tinggal di bagian bawah desa mulai keluar rumah untuk memeriksa halaman mereka.
Di Dusun Timur, keadaan lebih buruk.
Dusun itu berada di bagian desa yang lebih rendah. Jika hujan turun terlalu lama, air dari kebun dan perbukitan sering mengalir ke arah rumah-rumah warga. Selama ini, banjir memang pernah terjadi, tetapi tidak pernah sebesar malam itu.
Sekitar pukul sebelas malam, suara motor terdengar memecah hujan.
Seorang pemuda bernama Rendi datang ke rumah Pak Sastro dengan pakaian basah kuyup. Celananya penuh lumpur. Napasnya terengah-engah.
“Pak Sastro!” teriaknya dari depan pagar. “Pak Sastro!”
Erlangga yang sedang membaca buku di ruang tengah segera keluar.
“Ada apa, Ren?” tanyanya.
Rendi menatap Erlangga dengan wajah panik.
“Air sudah masuk ke rumah-rumah di Dusun Timur. Rumah Pak Darto sudah setinggi lutut. Anak-anak dan orang tua banyak yang belum bisa keluar.”
Erlangga tidak bertanya lagi.
Ia segera mengambil jas hujan, senter, tali tambang, dan sepatu bot yang tersimpan di dekat pintu. Pak Sastro ikut berdiri.
“Bapak ikut,” katanya.
“Tidak, Pak. Bapak di rumah saja. Saya ke balai desa dulu.”
Pak Sastro menatap anaknya beberapa saat.
“Kalau air makin tinggi, jangan nekat.”
Erlangga mengangguk.
“Kalau ada warga yang datang ke sini, buka rumah. Biar mereka bisa berteduh.”
Pak Sastro mengangguk pelan.
“Pergilah. Tapi jangan lupa, menolong orang lain bukan berarti lupa menjaga diri.”
Erlangga dan Rendi segera menuju balai desa.
Di sepanjang jalan, mereka melihat beberapa warga keluar rumah membawa senter. Air sudah mengalir di sisi jalan. Beberapa bagian tanah mulai longsor kecil. Batu-batu dari jalan berbukit terbawa arus hingga menutup saluran air.
Ketika mereka tiba di balai desa, suasana sudah ramai.
Pak Darmawan, Kepala Desa Suka Makmur, berdiri di bawah teras balai desa sambil berbicara dengan Jatmiko, Ardi, Beni, dan beberapa perangkat desa. Wajah semua orang tampak tegang.
“Air di Dusun Timur naik cepat,” kata Jatmiko. “Kalau hujan tidak berhenti, rumah-rumah dekat sungai kecil bisa terendam sampai pinggang.”
“Kita harus evakuasi sekarang,” kata Erlangga.
Pak Darmawan mengangguk.
“Balai desa dibuka untuk tempat pengungsian. Pemuda dibagi menjadi beberapa kelompok. Kelompok pertama ke Dusun Timur untuk evakuasi. Kelompok kedua menyiapkan balai desa. Kelompok ketiga mencari perahu, gerobak, dan kendaraan yang bisa dipakai.”
“Bagaimana dengan makanan?” tanya Bu Ratna yang baru datang membawa payung besar.
“Ibu-ibu tolong bantu dapur umum,” jawab Pak Darmawan. “Yang punya beras, mi, telur, atau kayu bakar, bawa ke balai desa.”
Tidak ada lagi perdebatan.
Tidak ada lagi pertanyaan tentang siapa yang harus memulai.
Malam itu, Desa Suka Makmur bergerak.
Erlangga, Jatmiko, Ardi, Beni, Rendi, dan beberapa pemuda lain berangkat menuju Dusun Timur. Mereka membawa senter, tali tambang, jas hujan, dan beberapa karung kosong untuk mengamankan barang-barang kecil warga.
Khinanti datang beberapa menit kemudian bersama Sari.
Ia membawa kotak obat sederhana, beberapa kain kering, minyak kayu putih, dan selimut tipis.
“Kau tidak perlu ikut ke sana,” kata Erlangga ketika melihatnya.
Khinanti menatapnya tegas.
“Anak-anak dan orang tua pasti butuh bantuan. Aku tidak akan diam di rumah saat orang lain sedang kesulitan.”
Erlangga ingin membantah, tetapi ia tahu Khinanti tidak akan berubah pikiran.
“Baik,” katanya. “Tapi jangan jauh dari kami.”
Khinanti mengangguk.
Mereka berjalan menembus hujan.
Jalan menuju Dusun Timur yang biasanya hanya membutuhkan waktu lima belas menit kini terasa jauh lebih panjang. Air mengalir deras di beberapa bagian. Lumpur membuat kaki mereka sulit berpijak. Sesekali, mereka harus berpegangan pada tali yang dibentangkan dari satu pohon ke pohon lain.
Di kejauhan, terdengar suara warga memanggil nama keluarga mereka.
“Pak Darto!”
“Bu Sumi!”
“Anak-anak sudah keluar belum?”
Ketika rombongan tiba di rumah pertama, air sudah mencapai lutut orang dewasa.
Pak Darto berdiri di depan pintu rumah sambil memegang tangan istrinya. Di belakang mereka, dua anak kecil menangis ketakutan.
“Pak, keluar dulu!” teriak Erlangga.
Pak Darto menggeleng.
“Barang-barang saya masih di dalam. Beras, pakaian, surat-surat.”
“Nyawa lebih penting, Pak!” jawab Jatmiko.
Pak Darto tampak ragu.
Air terus naik.
Erlangga mendekat dan memegang bahunya.
“Pak, saya janji kita bantu selamatkan yang bisa diselamatkan. Tapi sekarang Ibu dan anak-anak harus keluar dulu.”
Akhirnya Pak Darto mengangguk.
Jatmiko menggendong anak paling kecil. Ardi membantu istri Pak Darto berjalan melewati air. Beni dan Rendi masuk ke rumah untuk mengambil tas berisi dokumen, beberapa pakaian, serta beras yang masih sempat diselamatkan.
Di rumah berikutnya, keadaan lebih menegangkan.
Seorang ibu tua bernama Bu Marni masih berada di dalam rumah bersama cucunya yang berusia lima tahun. Air sudah masuk hingga hampir mencapai paha.
“Kak Khinanti!” teriak seorang warga. “Bu Marni tidak mau keluar. Dia bilang cucunya ketakutan.”
Khinanti segera mendekat.
“Bu Marni!” panggilnya dari depan pintu. “Saya Khinanti. Mari kita keluar dulu.”
Dari dalam rumah, terdengar suara gemetar.
“Saya tidak bisa jalan, Nak. Kaki saya sakit.”
Erlangga dan Ardi masuk ke rumah. Mereka menemukan Bu Marni duduk di kursi kayu sambil memeluk cucunya yang menangis.
“Bu, saya gendong cucunya dulu,” kata Khinanti lembut.
Anak kecil itu memeluk boneka kain yang sudah basah.
“Aku takut,” katanya sambil menangis.
Khinanti mengusap rambutnya.
“Tidak apa-apa. Kita pergi ke tempat yang terang. Banyak teman-temanmu di sana.”
Anak itu mengangguk pelan.
Ardi menggendong Bu Marni di punggungnya. Erlangga membantu menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Khinanti membawa anak kecil itu sambil berjalan hati-hati di tengah arus.
Ketika mereka keluar rumah, angin bertiup lebih keras. Sebuah dahan pohon patah dan jatuh tidak jauh dari mereka.
Semua orang terkejut.
“Cepat!” teriak Erlangga.
Mereka berlari menuju jalan yang lebih tinggi.
Khinanti memeluk anak kecil itu lebih erat. Air hujan membasahi wajahnya. Namun, ia tidak berhenti.
Di tengah perjalanan menuju balai desa, konflik mulai muncul.
Beberapa warga yang rumahnya berada di bagian lebih tinggi menolak membuka pintu ketika tetangga mereka meminta tempat berteduh.
“Rumah saya juga kecil,” kata seorang warga bernama Pak Jono. “Kalau semua masuk, nanti keluarga saya sendiri bagaimana?”
Seorang ibu yang membawa dua anak menangis di depan rumahnya.
“Pak, kami hanya butuh tempat sampai air surut.”
Pak Jono terlihat bingung.
Ia bukan orang jahat. Namun, rasa takut membuatnya lebih memikirkan keluarganya sendiri.
Erlangga yang mendengar keributan itu segera datang.
“Pak Jono,” katanya, “balai desa sedang disiapkan. Tapi jalan ke sana masih sulit dilewati. Boleh mereka berteduh sebentar di teras rumah Bapak?”
Pak Jono menatap warga yang basah kuyup.
Ia melihat anak-anak yang menggigil. Ia melihat seorang ibu tua yang duduk lemas sambil memegang tas kecil.
Namun, ia masih ragu.
“Kalau rumah saya ikut kemasukan air bagaimana?” katanya.
Khinanti mendekat.
“Pak, tidak ada yang meminta rumah Bapak. Mereka hanya butuh tempat kering untuk duduk sebentar.”
Pak Jono menunduk.
Beberapa detik terasa sangat panjang.
Akhirnya ia membuka pintu rumah.
“Masuklah,” katanya pelan. “Tapi jangan terlalu banyak. Anak-anak dulu.”
Warga yang berada di depan rumah itu segera masuk ke teras. Seorang ibu mengucapkan terima kasih sambil menangis.
Erlangga memandang Pak Jono dengan hormat.
“Terima kasih, Pak.”
Pak Jono tidak menjawab. Ia hanya berdiri di pintu sambil melihat hujan yang belum juga reda.
Di balai desa, suasana tidak kalah sibuk.
Ibu-ibu menyalakan kompor besar di dapur belakang. Mereka memasak nasi, mi rebus, telur, dan air jahe. Beberapa warga membawa bahan makanan dari rumah mereka. Ada yang membawa beras, ada yang membawa pisang, ada yang membawa sayur dari kebun.
Bu Ratna memimpin pembagian tugas.
“Sari, tolong catat warga yang datang. Jangan sampai ada yang belum terdata.”
“Iya, Bu.”
“Bu Yani, tolong siapkan tempat untuk anak-anak di sudut ruangan.”
“Baik.”
“Yang punya selimut, tolong kumpulkan. Jangan semua dipakai sendiri.”
Anak-anak duduk di atas tikar dengan pakaian basah. Sebagian menangis. Sebagian tertidur di pangkuan ibu mereka.
Danu dan Raka membantu membagikan gelas air hangat.
“Kak Khinanti belum pulang?” tanya Raka.
“Masih menolong warga,” jawab Danu.
“Aku takut hujannya tidak berhenti.”
Danu menatap pintu balai desa.
“Aku juga takut. Tapi banyak orang di sini.”
Raka mengangguk.
Tidak lama kemudian, Khinanti datang bersama rombongan evakuasi. Wajahnya pucat, rambutnya basah, dan pakaiannya penuh lumpur. Namun, begitu melihat anak-anak di balai desa, ia langsung mendekat.
“Siapa yang belum makan?” tanyanya.
Beberapa tangan kecil terangkat.
Khinanti tersenyum tipis.
“Baik. Kita makan sedikit-sedikit. Setelah itu kalian tidur.”
Seorang anak perempuan memegang tangan Khinanti.
“Kak, rumahku kebanjiran.”
Khinanti berjongkok di hadapannya.
“Aku tahu. Tapi sekarang kamu aman di sini.”
“Besok rumahku masih ada?”
Pertanyaan itu membuat Khinanti terdiam sejenak.
Ia tidak ingin berbohong.
“Kita akan lihat besok,” jawabnya pelan. “Kalau ada yang rusak, kita perbaiki bersama-sama.”
Anak itu memandangnya.
“Benarkah?”
“Benar.”
Di luar balai desa, Erlangga dan Jatmiko kembali bersiap menuju Dusun Timur. Masih ada beberapa rumah yang belum diperiksa.
Saat itulah Pak Wiryo datang.
Ia mengenakan jas hujan hitam dan membawa senter besar. Wajahnya tampak keras seperti biasa, tetapi malam itu ada kegelisahan yang tidak bisa disembunyikan.
“Kenapa Bapak ke sini?” tanya Jatmiko.
Pak Wiryo tidak langsung menjawab.
“Rumah adik saya di Dusun Timur,” katanya. “Istrinya sedang sakit. Saya belum tahu mereka sudah keluar atau belum.”
Erlangga mengangguk.
“Kami akan ke sana.”
Pak Wiryo menatapnya.
“Saya ikut.”
Jatmiko tampak ragu.
“Jalannya berbahaya, Pak.”
“Saya tahu jalan itu lebih baik daripada kalian,” jawab Pak Wiryo.
Tidak ada yang membantah.
Mereka kembali menuju Dusun Timur.
Dalam perjalanan, Pak Wiryo beberapa kali menunjukkan jalan yang lebih aman. Ia tahu letak kebun, parit, dan jalan kecil yang bisa dilewati. Ketika mereka sampai di rumah adiknya, air sudah hampir mencapai pinggang.
Di dalam rumah, adik Pak Wiryo, Pak Giman, sedang berusaha mengangkat istrinya yang lemah ke atas meja kayu.
“Mas!” teriak Pak Giman ketika melihat Pak Wiryo.
Pak Wiryo segera masuk tanpa memikirkan pakaian dan tubuhnya yang basah.
“Kenapa belum keluar?” tanyanya.
“Istri saya tidak kuat jalan.”
Erlangga dan Ardi membantu membuat tandu sederhana dari bambu dan kain terpal. Pak Wiryo memegang salah satu sisi tandu. Ia berjalan di tengah air dengan wajah tegang, berusaha menjaga agar adiknya tidak terguncang.
Dalam perjalanan keluar, kaki Pak Wiryo terpeleset.
Tubuhnya hampir jatuh ke dalam arus.
Erlangga cepat menarik lengannya.
Pak Wiryo terdiam beberapa saat, napasnya berat.
“Pegang tali, Pak,” kata Erlangga.
Pak Wiryo mengangguk.
Untuk pertama kalinya, ia melihat Erlangga bukan sebagai pemuda yang terlalu banyak mimpi.
Ia melihat seorang laki-laki yang tidak meninggalkan siapa pun di tengah bahaya.
Menjelang dini hari, hujan mulai melemah.
Tidak langsung berhenti, tetapi tidak lagi turun sekeras sebelumnya. Air di beberapa bagian desa mulai surut perlahan. Namun, ketika cahaya pagi mulai muncul, kerusakan yang ditinggalkan banjir terlihat jelas.
Jalan desa berubah menjadi lumpur.
Parit-parit tersumbat oleh ranting dan sampah.
Beberapa pagar rumah roboh.
Kebun singkong dan sayur warga terendam.
Rumah Pak Darto mengalami kerusakan pada dapur.
Rumah Bu Marni dipenuhi lumpur.
Rumah Baca Harapan juga terkena dampak. Air tidak sampai masuk terlalu tinggi, tetapi halaman rumah baca dipenuhi lumpur, ranting, dan sampah dari parit kecil di belakang bangunan.
Beberapa buku yang disimpan di rak bawah basah.
Khinanti berdiri di depan rumah baca dengan wajah sedih.
Ia mengambil sebuah buku cerita anak yang halamannya sudah lembap.
“Buku ini baru saja diperbaiki,” katanya pelan.
Erlangga yang sedang mengangkat meja kayu dari halaman menoleh.
“Kita jemur.”
“Tidak semua bisa diselamatkan.”
“Tidak apa-apa,” jawab Erlangga. “Yang penting rumah baca ini tetap ada.”
Khinanti memandang ruangan yang berantakan.
“Kadang aku merasa semua yang kita bangun mudah sekali rusak.”
Erlangga berhenti bekerja.
“Bangunan bisa rusak. Jalan bisa rusak. Buku bisa basah. Tapi kalau orang-orangnya tetap mau bergerak, semuanya bisa dibangun lagi.”
Khinanti menatapnya cukup lama.
Kata-kata itu tidak menghapus rasa sedihnya. Namun, kata-kata itu memberinya kekuatan untuk kembali bergerak.
Di halaman balai desa, warga mulai berkumpul setelah memastikan keluarga mereka aman.
Suasana pagi itu berbeda dari hari-hari biasa.
Tidak ada warga yang datang untuk sekadar melihat.
Tidak ada yang hanya berdiri sambil berkomentar.
Semua membawa sesuatu.
Ada yang membawa cangkul.
Ada yang membawa sekop.
Ada yang membawa sapu lidi.
Ada yang membawa makanan.
Ada yang membawa ember dan karung.
Pak Darmawan berdiri di depan warga.
“Kita sudah selamat dari malam ini,” katanya. “Tapi pekerjaan kita belum selesai. Kita harus membersihkan jalan, memperbaiki saluran air, membantu rumah-rumah yang rusak, dan memastikan tidak ada warga yang sakit.”
Jatmiko maju selangkah.
“Pemuda siap membersihkan jalan utama dan saluran air.”
Bu Ratna menambahkan, “Ibu-ibu akan tetap menyiapkan makanan untuk warga yang rumahnya belum bisa dipakai.”
Sari berkata, “Kami akan mendata kebutuhan warga. Siapa yang butuh obat, bahan makanan, atau bantuan membersihkan rumah.”
Erlangga berdiri di tengah mereka.
Ia tidak ingin menjadi orang yang hanya memberi perintah.
“Kita tidak bisa menunggu semuanya datang dari luar,” katanya. “Kalau bantuan datang, kita terima dengan baik. Tapi sebelum itu, kita mulai dari apa yang bisa kita lakukan bersama.”
Beberapa warga mengangguk.
Pak Wiryo yang sejak tadi berdiri di belakang kerumunan tiba-tiba melangkah maju.
Wajahnya masih tampak lelah. Pakaiannya penuh lumpur. Namun, suaranya terdengar jelas.
“Saya punya cangkul, sekop, dan gerobak di rumah,” katanya. “Saya bawa semua ke sini.”
Warga menoleh.
Selama ini Pak Wiryo dikenal sebagai orang yang sering meragukan kegiatan pemuda. Ia pernah berkata bahwa rumah baca tidak akan bertahan. Ia pernah menilai kegiatan lapangan hanya membuat anak muda lupa bekerja. Ia juga pernah ikut menyebarkan keraguan tentang Erlangga dan Khinanti.
Namun pagi itu, ia berdiri bukan untuk mengkritik.
Ia berdiri untuk membantu.
Erlangga memandangnya.
“Terima kasih, Pak.”
Pak Wiryo mengangguk pelan.
“Saya baru mengerti satu hal,” katanya. “Desa ini tidak akan berubah kalau semua orang hanya pandai menilai dari jauh.”
Tidak ada yang tertawa.
Tidak ada yang menyindir.
Warga hanya diam, seolah memahami bahwa pengakuan seperti itu tidak mudah diucapkan.
Sejak pagi hingga sore, Desa Suka Makmur bekerja bersama.
Pemuda membersihkan jalan utama.
Mereka mengangkat lumpur, membuka saluran air, dan memperbaiki bagian jalan yang rusak.
Para bapak membantu memperbaiki pagar rumah Pak Darto dan dapur rumah Bu Marni.
Ibu-ibu menyiapkan makanan di balai desa.
Anak-anak membantu mengumpulkan sampah ringan, membawa botol air, dan merapikan tikar.
Danu dan Raka ikut membantu di Rumah Baca Harapan.
“Aku bisa jemur buku,” kata Raka.
“Kalau terlalu basah, jangan dibuka terlalu keras,” kata Khinanti.
Danu membawa beberapa buku ke halaman.
“Kak, ini masih bisa dibaca.”
Khinanti tersenyum.
“Kalau begitu, kita selamatkan yang masih bisa.”
Menjelang sore, jalan utama desa mulai dapat dilalui kembali.
Saluran air mulai terbuka.
Beberapa warga yang mengungsi di balai desa mulai pulang untuk membersihkan rumah mereka.
Tidak semua masalah selesai.
Banjir meninggalkan banyak kerusakan.
Ada kebun yang gagal panen.
Ada rumah yang perlu diperbaiki.
Ada keluarga yang kehilangan sebagian barang mereka.
Namun, ada sesuatu yang tumbuh dari musibah itu.
Warga yang sebelumnya saling menjaga jarak mulai duduk bersama.
Pemuda yang dulu dianggap hanya pandai berkumpul kini dipercaya memimpin kerja bakti.
Rumah Baca Harapan tidak lagi dianggap sebagai tempat kecil milik Khinanti.
Lapangan desa tidak lagi dianggap sebagai tempat bermain tanpa tujuan.
Semua tempat itu kini menjadi bagian dari desa yang ingin bergerak bersama.
Sore hari, ketika pekerjaan mulai berkurang, Pak Wiryo duduk di teras balai desa.
Tangannya memegang segelas teh hangat.
Erlangga datang membawa satu gelas teh lagi.
“Satu untuk Bapak,” katanya.
Pak Wiryo menerima gelas itu.
“Kau bekerja keras,” ucapnya.
“Kita semua bekerja keras, Pak.”
Pak Wiryo memandang jalan desa yang masih basah.
“Dulu saya pikir kalian hanya anak muda yang terlalu banyak mimpi.”
Erlangga tersenyum tipis.
“Mungkin kami memang banyak mimpi.”
Pak Wiryo menghela napas.
“Tapi sekarang saya tahu, mimpi kalian bukan untuk diri sendiri.”
Erlangga tidak langsung menjawab.
Pak Wiryo melanjutkan, “Saya melihat kalian malam tadi. Kalian tidak memilih rumah mana yang harus ditolong dulu berdasarkan siapa yang dekat atau siapa yang penting. Kalian menolong semua orang.”
Erlangga menatapnya dengan hormat.
“Kami juga masih belajar, Pak.”
Pak Wiryo mengangguk.
“Desa ini perlu orang-orang yang mau bertahan. Bukan hanya orang yang pandai bicara.”
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun bagi Erlangga, kata-kata itu memiliki arti besar.
Bukan karena ia ingin dipuji.
Melainkan karena ia tahu, kepercayaan warga tidak selalu tumbuh dari rapat, rencana, atau janji.
Kepercayaan tumbuh ketika orang-orang melihat siapa yang tetap hadir saat keadaan sulit.
Di halaman Rumah Baca Harapan, Khinanti berdiri sambil melihat buku-buku yang dijemur di bawah cahaya matahari sore.
Beberapa buku masih basah.
Beberapa halaman sudah tidak bisa diselamatkan.
Namun, anak-anak tetap datang.
Mereka duduk di bawah pohon sambil membaca buku yang masih kering.
Raka membaca dengan suara pelan.
Danu membantu Lila mengeja kata-kata.
Khinanti memandang mereka dengan mata berkaca-kaca.
Erlangga datang dan berdiri di sampingnya.
“Capek?” tanyanya.
“Capek,” jawab Khinanti.
“Tapi?”
Khinanti tersenyum kecil.
“Tapi aku tidak merasa sendirian.”
Erlangga menatap halaman rumah baca.
Di sana, anak-anak belajar.
Pemuda membawa kayu untuk memperbaiki pagar.
Ibu-ibu datang membawa makanan.
Beberapa warga membantu membersihkan lumpur.
Khinanti benar.
Rumah baca itu tidak lagi berdiri hanya karena satu orang.
Lapangan desa tidak lagi hidup hanya karena satu kelompok pemuda.
Desa Suka Makmur tidak lagi bergerak karena satu tokoh.
Desa itu mulai bergerak karena banyak orang mulai percaya bahwa mereka memiliki peran.
Di bawah langit sore yang perlahan cerah, Desa Suka Makmur tampak berbeda.
Banjir memang meninggalkan lumpur, kerusakan, dan kesedihan.
Namun, banjir juga meninggalkan kesadaran.
Bahwa sebuah desa tidak akan bangkit hanya dengan keluhan.
Bahwa perubahan tidak akan datang jika semua orang memilih menunggu.
Bahwa perbedaan pendapat tidak harus membuat warga saling menjauh.
Dan bahwa ketika musibah datang, yang paling berharga bukanlah siapa yang paling kuat.
Melainkan siapa yang memilih untuk tetap tinggal, saling menolong, dan berjalan bersama.
Desa Suka Makmur mungkin belum menjadi desa yang maju.
Jalannya masih sederhana.
Rumah bacanya masih kecil.
Lapangan desanya masih membutuhkan perbaikan.
Kebun-kebun warga masih harus dipulihkan.
Namun, hari itu, desa tersebut telah menjadi desa yang mulai percaya pada kekuatannya sendiri.
Sebuah desa yang tidak lagi hanya menunggu bantuan.
Sebuah desa yang tidak lagi hanya mengeluh ketika menghadapi kesulitan.
Sebuah desa yang mulai memahami bahwa harapan tidak selalu datang dari luar.
Kadang, harapan tumbuh dari tangan-tangan yang berlumpur, dari bahu yang saling menopang, dan dari hati yang memilih untuk tidak menyerah.
Dan sejak malam banjir itu, Desa Suka Makmur tidak lagi hanya dikenal sebagai desa yang pernah dilanda musibah.
Desa itu mulai dikenal sebagai desa yang belajar bersatu.
BAB XV
Musyawarah Harapan Baru
Tiga hari setelah banjir surut, Desa Suka Makmur perlahan mulai kembali bernapas.
Lumpur memang masih terlihat di beberapa sudut jalan. Bekas banjir masih menempel di dinding rumah warga, di pagar bambu, di halaman sekolah, bahkan di beberapa pohon yang batangnya dipenuhi sampah ranting dan daun kering. Jalan menuju Dusun Timur masih berlubang. Jika hujan turun lagi, warga harus berjalan lebih hati-hati karena tanahnya licin dan sebagian pinggir jalan mulai terkikis.
Namun, kehidupan tidak berhenti.
Pagi hari, anak-anak kembali berjalan menuju sekolah dengan sepatu yang masih kotor oleh tanah. Para petani mulai memeriksa kebun mereka, menghitung tanaman yang rusak dan yang masih dapat diselamatkan. Ibu-ibu menjemur kasur, pakaian, buku-buku sekolah, dan peralatan rumah tangga yang sempat terendam air. Dari beberapa dapur, kembali terdengar suara panci dan wajan. Dari kebun, terdengar suara cangkul dan orang-orang yang mulai membersihkan batang-batang tanaman yang roboh.
Banjir telah meninggalkan kerusakan.
Namun, banjir juga meninggalkan sesuatu yang lain.
Kesadaran.
Warga mulai menyadari bahwa mereka tidak dapat terus hidup dengan menunggu. Mereka tidak dapat hanya mengeluh ketika jalan rusak, ketika saluran air tersumbat, ketika kebun terendam, atau ketika anak-anak tidak memiliki tempat belajar yang layak.
Karena itulah, Pak Darmawan selaku Kepala Desa Suka Makmur mengundang seluruh warga untuk menghadiri musyawarah desa.
Undangan disampaikan melalui pengeras suara masjid selepas Asar. Beberapa pemuda juga berkeliling dari rumah ke rumah menggunakan sepeda motor. Di papan pengumuman balai desa, ditempelkan selembar kertas sederhana dengan tulisan besar:
MUSYAWARAH DESA SUKA MAKMUR
Menyusun Harapan Baru Bersama Warga
Tidak ada kata-kata yang rumit dalam undangan itu.
Namun, bagi warga yang baru saja menghadapi banjir bersama-sama, kalimat tersebut terasa berbeda.
Mereka tahu bahwa malam itu bukan sekadar pertemuan biasa.
Malam itu adalah kesempatan untuk menentukan apakah Desa Suka Makmur akan kembali menjalani hari-hari seperti sebelumnya, atau mulai membangun sesuatu yang lebih kuat.
Sejak sore, halaman balai desa mulai ramai.
Para pemuda memasang lampu tambahan di pendopo. Jatmiko memeriksa kabel listrik yang sempat terkena cipratan air hujan. Ardi dan Beni menyusun kursi-kursi plastik yang dipinjam dari rumah warga. Beberapa remaja membantu membersihkan lantai pendopo yang masih sedikit lembap.
Di sisi kanan balai desa, ibu-ibu menyiapkan teh hangat, kopi, singkong rebus, dan gorengan. Bu Ratna terlihat sibuk membagi tugas.
“Yang ini untuk warga yang datang dari Dusun Timur,” katanya kepada seorang ibu. “Mereka mungkin pulangnya agak malam. Jangan sampai tidak kebagian.”
Sari berada di dekat papan tulis besar yang dipasang di depan pendopo. Ia menempelkan lima lembar kertas berukuran besar. Di setiap kertas tertulis satu tema utama:
- Jalan dan saluran air
- Pendidikan dan Rumah Baca Harapan
- Usaha warga
- Kebun pangan
- Pelayanan desa
Khinanti berdiri di dekatnya sambil memeriksa spidol, kertas catatan, dan buku daftar hadir.
“Semoga warga mau bicara,” katanya pelan.
Erlangga yang sedang membantu mengangkat meja menoleh.
“Mereka akan bicara,” jawabnya.
“Kau yakin?”
Erlangga meletakkan meja di depan pendopo, lalu memandang halaman balai desa yang mulai dipenuhi warga.
“Setelah banjir, mereka tahu bahwa diam tidak menyelesaikan apa-apa.”
Khinanti mengangguk, tetapi wajahnya masih menyimpan keraguan.
Selama ini, musyawarah desa sering kali hanya dihadiri oleh orang-orang tertentu. Ada warga yang datang, tetapi lebih banyak diam. Ada yang merasa pendapatnya tidak akan dianggap penting. Ada pula yang lebih memilih membicarakan masalah desa di warung kopi daripada menyampaikannya secara langsung.
Namun, malam itu terasa berbeda.
Satu per satu warga datang.
Para bapak duduk di bagian depan. Ibu-ibu mengambil tempat di sisi kanan pendopo. Pemuda duduk bersama di dekat pintu masuk. Beberapa remaja mencatat nama warga yang hadir. Anak-anak yang datang bersama orang tua mereka duduk di bagian belakang sambil bermain pelan, meski sesekali mereka memperhatikan suasana rapat.
Pak Darto datang bersama istrinya. Wajahnya masih terlihat lelah setelah rumahnya sempat terendam banjir. Bu Sulastri membawa buku catatan kecil. Pak Hasan datang sambil membawa map berisi beberapa dokumen. Bahkan beberapa warga dari Dusun Timur yang biasanya jarang menghadiri rapat desa malam hari ikut datang.
Pak Wiryo muncul ketika pendopo hampir penuh.
Ia datang dengan langkah pelan. Tidak seperti biasanya, ia tidak langsung duduk di kursi depan dekat kepala desa. Ia memilih duduk di tengah, di antara warga lain.
Beberapa orang memperhatikannya.
Namun, tidak ada yang berkata apa-apa.
Sejak banjir, sikap Pak Wiryo memang mulai berubah. Ia tidak lagi banyak mengkritik kegiatan pemuda atau rumah baca. Ia bahkan ikut membantu membersihkan saluran air dan meminjamkan beberapa alat kerja kepada warga.
Ketika jam menunjukkan pukul delapan malam, Pak Darmawan berdiri di depan pendopo.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab warga serempak.
Pak Darmawan memandang seluruh ruangan.
Wajahnya tampak serius, tetapi suaranya tenang.
“Banjir yang baru kita alami telah memberi kita pelajaran besar. Kita semua melihat bagaimana jalan rusak, rumah warga terendam, kebun terdampak, dan anak-anak harus berhenti belajar beberapa hari.”
Suasana pendopo menjadi hening.
“Namun, kita juga melihat sesuatu yang baik,” lanjutnya. “Kita melihat warga saling membantu. Pemuda membantu evakuasi. Ibu-ibu memasak untuk pengungsi. Anak-anak ikut membawa air. Tokoh masyarakat ikut turun ke lapangan. Kita semua bergerak.”
Pak Darmawan berhenti sejenak.
“Karena itu, malam ini kita tidak berkumpul hanya untuk membicarakan masalah. Kita berkumpul untuk menyusun langkah. Kita ingin Desa Suka Makmur menjadi lebih siap, lebih kuat, dan lebih baik.”
Ia menatap warga satu per satu.
“Malam ini, tidak ada pendapat yang kecil. Tidak ada suara yang tidak penting. Semua warga berhak menyampaikan kebutuhan dan harapan.”
Beberapa warga saling pandang.
Kata-kata itu sederhana, tetapi bagi sebagian orang, itu adalah undangan untuk berani bicara.
Pak Darmawan kemudian mempersilakan Erlangga berdiri di depan papan kertas.
Erlangga membawa buku catatan kecil. Ia tidak berbicara dengan suara keras, tetapi semua warga dapat mendengarnya dengan jelas.
“Kita tidak akan membuat rencana yang terlalu tinggi dan sulit dilakukan,” katanya. “Kita akan mulai dari persoalan yang benar-benar kita rasakan bersama.”
Ia menunjuk lima kertas besar yang tertempel di dinding.
“Jalan dan saluran air. Pendidikan anak-anak. Usaha warga. Kebun pangan. Dan pelayanan desa.”
Beberapa warga mengangguk.
“Kita akan membahas satu per satu,” lanjut Erlangga. “Apa masalahnya. Apa yang bisa kita lakukan bersama. Dan apa yang harus diperjuangkan melalui pemerintah desa, kecamatan, atau pihak lain.”
Seorang warga dari belakang mengangkat tangan.
“Kalau usul kita tidak langsung bisa dilaksanakan bagaimana?” tanyanya.
Erlangga menoleh.
“Usul tetap dicatat,” jawabnya. “Tidak semua rencana bisa selesai dalam satu hari. Tidak semua kebutuhan bisa langsung dibiayai. Tapi tanpa usul dan kesepakatan, kita tidak punya arah.”
Pak Darmawan mengangguk.
“Yang penting malam ini kita menentukan prioritas.”
Pembahasan pertama dimulai dari jalan dan saluran air.
Pak Darto berdiri dari kursinya.
“Jalan menuju Dusun Timur harus diperbaiki,” katanya. “Waktu banjir kemarin, kami hampir tidak bisa keluar. Air masuk ke rumah. Anak-anak sulit dibawa ke tempat aman. Kalau hujan besar datang lagi, kami bisa terisolasi.”
Warga dari Dusun Timur mengangguk.
“Selain itu,” lanjut Pak Darto, “hasil kebun kami sulit dibawa keluar. Kalau jalan rusak, motor tidak bisa lewat. Kalau motor tidak bisa lewat, hasil panen bisa busuk sebelum sampai ke pasar.”
Bu Sulastri kemudian berdiri.
“Saluran air juga harus diperbaiki,” katanya. “Air dari atas bukit langsung turun ke rumah-rumah warga. Paritnya terlalu kecil. Banyak sampah dan tanah yang menutup aliran.”
Jatmiko mengangkat tangan.
“Pemuda bisa membantu kerja bakti untuk membersihkan saluran air,” katanya. “Kami juga bisa membantu memperbaiki jalan sementara dengan batu dan tanah keras. Tapi untuk gorong-gorong dan pengerasan jalan, itu harus masuk program prioritas desa.”
Pak Darmawan mencatat dengan sungguh-sungguh.
“Baik,” katanya. “Jalan dan saluran air menjadi prioritas pertama.”
Beberapa warga bertepuk tangan pelan.
Pembahasan kedua adalah pendidikan dan Rumah Baca Harapan.
Khinanti berdiri sambil membawa beberapa buku yang sampulnya masih terlihat lembap akibat terkena banjir.
“Rumah Baca Harapan sudah mulai digunakan lagi,” katanya. “Anak-anak tetap datang, meski tempatnya masih sederhana. Tapi kita semua tahu, rumah baca itu masih membutuhkan banyak perbaikan.”
Ia mengangkat sebuah buku yang halamannya mulai bergelombang.
“Waktu banjir, beberapa buku rusak. Atap rumah baca juga bocor. Kalau hujan deras, anak-anak harus duduk berhimpitan agar tidak terkena air.”
Suasana menjadi hening.
“Anak-anak desa kita membutuhkan ruang belajar,” lanjut Khinanti. “Bukan hanya untuk membaca. Mereka perlu tempat untuk bertanya, belajar, mengenal komputer, dan melihat bahwa masa depan mereka tidak hanya terbatas pada apa yang mereka lihat setiap hari.”
Bu Ratna mengangkat tangan.
“Anak saya sekarang lebih rajin belajar sejak ada rumah baca,” katanya. “Dulu kalau sore hanya bermain. Sekarang pulang-pulang membawa buku dan bertanya soal pelajaran.”
Seorang bapak di bagian depan menyahut.
“Kalau perlu, kita gotong royong memperbaiki atap rumah baca.”
“Bambu untuk memperkuat dinding bisa saya sumbang,” tambah warga lain.
Sari tersenyum.
“Kami juga ingin membuat jadwal relawan,” katanya. “Tidak hanya Khinanti dan Erlangga yang mengajar. Pemuda dan remaja yang bisa membantu pelajaran anak-anak juga bisa ikut bergantian.”
Pak Darmawan mencatat lagi.
“Rumah baca menjadi prioritas kedua. Perbaikan tempat, penambahan buku, jadwal relawan, dan kegiatan belajar anak-anak.”
Pembahasan ketiga adalah kelompok usaha warga.
Bu Ratna berdiri sambil membawa satu bungkus keripik singkong.
“Setelah kegiatan festival kemarin, banyak warga bertanya apakah keripik singkong ini bisa terus dibuat,” katanya. “Kami ingin membentuk kelompok usaha ibu-ibu.”
Ia membuka bungkus keripik itu.
“Tidak hanya keripik singkong. Bisa juga olahan pisang, kue kering, sambal, atau hasil kebun lainnya. Tapi kami perlu belajar soal kemasan dan pemasaran.”
Beberapa ibu-ibu mulai berbicara pelan.
“Kami juga perlu alat sederhana,” ujar Bu Sulastri. “Kalau masih pakai alat seadanya, hasilnya tidak banyak.”
“Kalau kemasannya bagus, mungkin bisa dijual ke kecamatan,” kata ibu lain.
Erlangga menulis di papan besar.
Kelompok Usaha Warga:
Pelatihan pengolahan hasil kebun, kemasan, pemasaran, dan penguatan kelompok.
Pak Darmawan berkata, “Kalau kelompoknya sudah terbentuk, pemerintah desa bisa membantu menghubungkan dengan pelatihan dari kecamatan.”
Wajah Bu Ratna tampak lega.
“Kami siap membentuk kelompoknya,” katanya.
Pembahasan keempat adalah kebun pangan.
Untuk beberapa saat, suasana menjadi sunyi.
Lalu Pak Wiryo berdiri.
Semua orang menoleh.
Selama ini, Pak Wiryo dikenal sebagai orang yang sering meragukan gagasan-gagasan baru. Ia pernah mengatakan bahwa rumah baca tidak akan bertahan. Ia juga pernah menganggap kegiatan pemuda hanya akan ramai sesaat.
Namun, malam itu suaranya terdengar berbeda.
“Saya ingin bicara soal kebun,” katanya.
Ia memandang warga yang duduk di hadapannya.
“Waktu banjir kemarin, banyak warga kesulitan mendapatkan sayur. Kebun rusak. Jalan sulit dilalui. Kita terlalu bergantung membeli dari luar.”
Ia menoleh kepada Erlangga dan Khinanti.
“Kebun kecil di rumah baca itu memang belum besar. Tapi saya lihat anak-anak mulai belajar menanam. Saya lihat ibu-ibu mulai tertarik menanam cabai dan sayur di halaman rumah.”
Pak Wiryo menarik napas.
“Kalau setiap rumah punya sayur sederhana, setidaknya warga punya cadangan pangan. Tidak perlu langsung besar. Yang penting mulai.”
Erlangga tersenyum.
“Itu usul yang baik, Pak.”
Pak Wiryo mengangguk.
“Kita bisa mulai dari cabai, kangkung, bayam, tomat, dan sayur yang mudah tumbuh. Kita juga bisa belajar membuat pupuk kompos dari sampah rumah tangga.”
Khinanti menambahkan, “Kebun pangan juga bisa menjadi tempat belajar anak-anak. Mereka bisa belajar menanam, merawat tanaman, dan memahami bahwa makanan tidak datang begitu saja dari pasar.”
Warga mulai berdiskusi.
Ada yang mengusulkan pembagian bibit.
Ada yang menawarkan lahan kosong dekat balai desa.
Ada pula yang mengusulkan agar setiap RT memiliki kebun kecil bersama.
Pak Darmawan mencatat dengan sungguh-sungguh.
“Kebun pangan keluarga dan kebun bersama menjadi prioritas keempat.”
Pembahasan terakhir adalah pelayanan desa.
Pak Hasan berdiri sambil membawa map yang sejak tadi berada di pangkuannya.
“Kalau warga mengurus surat, kadang harus menunggu lama karena informasi tidak jelas,” katanya. “Ada yang tidak tahu syaratnya. Ada yang datang dua kali karena berkas kurang. Ada yang tidak tahu kapan kantor desa buka.”
Beberapa warga mengangguk.
“Kalau bisa, ada papan informasi,” tambah Bu Sulastri. “Supaya warga tahu apa yang harus dibawa kalau mengurus surat keterangan, kartu keluarga, atau dokumen lain.”
Erlangga menatap Pak Darmawan.
Pak Darmawan mengangguk.
“Itu masukan yang benar,” katanya. “Pelayanan desa harus lebih terbuka dan mudah dipahami.”
Sari kemudian berdiri.
“Kita bisa membuat jadwal pelayanan yang jelas,” katanya. “Bisa juga dibuat buku pengaduan warga. Kalau ada masalah, warga tidak hanya mengeluh di luar. Mereka bisa menyampaikan langsung melalui jalur yang tersedia.”
“Informasi bantuan dan kegiatan desa juga perlu ditempel,” tambah seorang pemuda.
Pak Darmawan tersenyum.
“Baik. Pelayanan desa akan kita benahi bersama.”
Musyawarah berlangsung hingga malam semakin larut.
Lampu-lampu di pendopo tetap menyala. Teh hangat terus dibagikan. Anak-anak mulai mengantuk di pangkuan ibu mereka. Namun, tidak ada warga yang terburu-buru pulang.
Mereka masih ingin mendengar.
Mereka masih ingin bicara.
Mereka masih ingin memastikan bahwa malam itu bukan hanya menjadi pertemuan biasa.
Setelah seluruh pembahasan selesai, Erlangga berdiri kembali di depan papan kertas yang kini penuh dengan catatan.
Ia membacakan hasil kesepakatan warga.
Pertama, perbaikan jalan dan saluran air.
Kedua, penguatan Rumah Baca Harapan dan kegiatan pendidikan anak-anak.
Ketiga, pembentukan kelompok usaha warga.
Keempat, pengembangan kebun pangan keluarga dan kebun bersama.
Kelima, peningkatan pelayanan desa yang lebih terbuka, jelas, dan mudah diakses.
Pak Darmawan kemudian berdiri untuk menutup pertemuan.
“Malam ini, kita telah menyusun harapan baru,” katanya. “Harapan ini bukan hanya milik pemerintah desa. Harapan ini milik kita semua.”
Ia memandang warga satu per satu.
“Besok, kita mulai dari hal kecil. Kita bentuk kelompok kerja. Kita bagi tugas. Kita lakukan apa yang dapat kita lakukan. Untuk hal yang membutuhkan anggaran dan bantuan lebih besar, kita perjuangkan melalui rencana pembangunan desa.”
Tepuk tangan terdengar di pendopo balai desa.
Tidak terlalu riuh.
Namun, tepuk tangan itu terasa penuh keyakinan.
Setelah musyawarah selesai, warga mulai pulang perlahan.
Beberapa masih berdiskusi di halaman. Ibu-ibu membereskan gelas dan piring. Pemuda membantu mengangkat kursi. Anak-anak yang sudah mengantuk digendong oleh orang tua mereka.
Erlangga berdiri di depan papan kertas yang penuh dengan rencana.
Khinanti mendekat.
“Banyak sekali yang harus dikerjakan,” katanya.
“Iya,” jawab Erlangga.
“Kau tidak takut?”
Erlangga memandang daftar rencana itu.
“Takut,” katanya. “Tapi sekarang kita tidak mengerjakannya sendiri.”
Khinanti tersenyum.
Di dekat pintu pendopo, Pak Wiryo berdiri sambil memandangi hasil musyawarah.
Sebelum pulang, ia menghampiri Erlangga.
“Besok pagi saya akan datang ke lahan kosong dekat balai desa,” katanya.
“Untuk apa, Pak?”
“Kita lihat apakah bisa dipakai untuk kebun bersama.”
Erlangga tersenyum.
“Baik, Pak. Saya juga akan datang.”
Pak Wiryo mengangguk, lalu berjalan pulang.
Malam itu, lampu balai desa masih menyala lebih lama dari biasanya.
Di dalamnya, tersimpan catatan-catatan sederhana tentang jalan, rumah baca, usaha warga, kebun pangan, dan pelayanan desa.
Namun, di balik semua catatan itu, ada sesuatu yang jauh lebih besar.
Ada warga yang mulai percaya bahwa suara mereka berarti.
Ada pemuda yang mulai dipercaya untuk mengambil tanggung jawab.
Ada ibu-ibu yang mulai berani membangun usaha bersama.
Ada anak-anak yang mulai memiliki tempat untuk belajar dan bermimpi.
Ada tokoh masyarakat yang mulai membuka diri terhadap perubahan.
Dan ada sebuah desa yang perlahan mulai menemukan arah.
Desa Suka Makmur belum menjadi desa yang sempurna.
Masih banyak jalan yang harus diperbaiki.
Masih banyak rumah yang membutuhkan perhatian.
Masih banyak rencana yang belum tentu berjalan mudah.
Namun, sejak malam itu, warga Desa Suka Makmur memahami satu hal.
Masa depan tidak datang begitu saja.
Masa depan harus direncanakan.
Masa depan harus diperjuangkan.
Dan masa depan hanya dapat dibangun ketika seluruh warga memilih untuk berjalan bersama.
BAB XVI
Menolak Jalan yang Mudah
Pagi di Desa Suka Makmur selalu dimulai dengan suara-suara sederhana.
Ayam berkokok dari kandang belakang rumah warga. Asap tipis mengepul dari dapur-dapur kayu. Suara cangkul beradu dengan tanah terdengar dari arah kebun. Beberapa anak berjalan menuju sekolah sambil membawa tas yang sudah mulai pudar warnanya. Di pinggir jalan, ibu-ibu menyapu halaman dan menjemur pakaian yang masih tersisa dari dampak banjir beberapa hari lalu.
Namun, meski kehidupan mulai kembali berjalan, bekas musibah itu belum benar-benar hilang.
Jalan menuju Dusun Timur masih berlumpur di beberapa bagian. Saluran air yang tersumbat baru dibersihkan sebagian. Kebun-kebun warga masih menyisakan tanaman yang rebah dan membusuk. Rumah Pak Darto belum sepenuhnya diperbaiki. Di beberapa halaman, warga masih menjemur kasur, pakaian, dan buku-buku sekolah yang sempat terkena air.
Di tengah keadaan itu, Desa Suka Makmur mulai belajar membangun kembali.
Setelah musyawarah desa, warga memiliki banyak rencana. Jalan dan saluran air akan diperbaiki. Rumah Baca Harapan akan diperkuat. Kelompok usaha ibu-ibu akan dibentuk. Kebun pangan bersama akan dimulai. Pelayanan desa akan dibenahi.
Namun, rencana-rencana itu tidak datang dengan jawaban yang mudah.
Semua membutuhkan tenaga.
Semua membutuhkan biaya.
Dan yang paling sulit, semua membutuhkan kesabaran.
Pagi itu, Erlangga sedang membantu Jatmiko dan beberapa pemuda membuat pagar sederhana di lahan kosong dekat balai desa. Lahan itu rencananya akan digunakan sebagai kebun pangan bersama.
Bambu-bambu dipotong dan ditancapkan ke tanah. Tali rafia diikatkan satu per satu. Ardi membawa cangkul. Beni mengangkat karung berisi tanah kompos. Pak Wiryo berdiri tidak jauh dari mereka sambil memperhatikan bentuk pagar.
“Bagian sebelah sana jangan terlalu dekat parit,” kata Pak Wiryo. “Kalau hujan besar lagi, tanahnya bisa longsor.”
Jatmiko mengangguk.
“Baik, Pak. Nanti kami geser sedikit.”
Erlangga tersenyum melihat pemandangan itu.
Dulu, Pak Wiryo sering datang hanya untuk mengkritik. Ia selalu punya alasan untuk meragukan setiap kegiatan. Ketika rumah baca mulai dibuka, ia mengatakan anak-anak lebih baik membantu orang tua di kebun. Ketika pemuda mulai memperbaiki lapangan, ia menganggap kegiatan itu hanya akan ramai beberapa minggu. Ketika Erlangga mengajak warga membuat kebun kecil, ia berkata bahwa desa tidak akan berubah hanya karena menanam cabai.
Namun, setelah banjir, sesuatu di dalam diri Pak Wiryo perlahan berubah.
Ia melihat sendiri bagaimana warga saling membantu tanpa memikirkan perbedaan. Ia melihat Erlangga dan Khinanti bekerja sampai malam tanpa meminta pujian. Ia melihat pemuda yang selama ini dianggap hanya suka berkumpul ternyata mampu mengangkat barang, membersihkan lumpur, dan membantu warga yang rumahnya rusak.
Sejak saat itu, Pak Wiryo tidak lagi hanya berdiri di pinggir.
Ia mulai ikut bekerja.
“Langga,” panggil Pak Wiryo.
Erlangga menoleh.
“Kalau kebun ini jadi, jangan hanya tanam cabai dan kangkung.”
“Menurut Bapak, sebaiknya apa lagi?”
“Singkong. Ubi. Pisang. Sayur cepat panen. Jangan semua berharap pada satu jenis tanaman.”
Erlangga mengangguk.
“Baik, Pak. Nanti kita susun bersama.”
Pak Wiryo mengangguk pelan. Wajahnya tetap tegas seperti biasa, tetapi kini ada sesuatu yang berbeda di matanya. Ia tidak lagi memandang kegiatan itu sebagai mimpi anak muda. Ia mulai melihatnya sebagai kemungkinan.
Menjelang siang, sebuah mobil hitam memasuki jalan utama Desa Suka Makmur.
Mobil itu terlihat mencolok di antara motor tua, sepeda, dan kendaraan warga yang biasa melewati jalan desa. Ban mobilnya bergerak pelan melewati jalan yang masih berlubang. Beberapa anak yang sedang bermain di dekat balai desa berhenti dan memperhatikannya.
Mobil itu berhenti di depan kantor desa.
Dari dalam, turun dua laki-laki berpakaian rapi. Salah satunya mengenakan kemeja putih dan celana hitam. Yang lain membawa map besar berwarna biru. Mereka berjalan menuju kantor desa dengan langkah tenang.
Pak Darmawan yang sedang memeriksa beberapa berkas segera keluar.
“Selamat siang,” kata salah satu laki-laki itu.
“Selamat siang,” jawab Pak Darmawan.
“Kami dari PT Cakra Karya Nusantara. Kami ingin bertemu dengan Kepala Desa.”
Pak Darmawan mempersilakan mereka masuk.
Tidak lama kemudian, kabar tentang kedatangan orang kota mulai menyebar.
Di warung Pak Maman, beberapa warga mulai membicarakannya.
“Katanya perusahaan besar,” ujar seorang warga.
“Mau bangun apa?” tanya yang lain.
“Mungkin mau memperbaiki jalan.”
“Atau mau buka perkebunan baru.”
“Kalau ada pekerjaan, lumayan. Banyak warga habis banjir ini kebunnya rusak.”
Kabar itu menyebar lebih cepat daripada angin sore.
Ketika Erlangga dan para pemuda selesai membuat pagar kebun, Jatmiko datang membawa kabar.
“Langga, Pak Darmawan memanggilmu ke kantor desa.”
“Ada apa?”
“Ada orang dari kota. Katanya mereka mencari orang yang pernah bekerja di bidang pembangunan.”
Erlangga mengernyit.
“Siapa?”
“Entahlah. Tapi Pak Darmawan bilang kau harus datang.”
Erlangga segera berjalan menuju kantor desa.
Di dalam ruangan, Pak Darmawan duduk bersama dua laki-laki yang datang dari kota. Salah satu dari mereka berdiri ketika Erlangga masuk.
“Erlangga?” tanyanya.
“Iya.”
Laki-laki itu tersenyum dan mengulurkan tangan.
“Saya Bagus Pratama. Manajer lapangan PT Cakra Karya Nusantara.”
Erlangga menjabat tangannya.
“Saya pernah mendengar nama Anda,” lanjut Bagus. “Anda pernah bekerja di perusahaan konsultan pembangunan di kota kabupaten, bukan?”
“Pernah.”
“Kami mendapat informasi bahwa Anda sekarang tinggal di desa ini.”
Erlangga menatapnya dengan hati-hati.
“Ada yang bisa saya bantu?”
Bagus membuka map biru di atas meja.
“Kami sedang merencanakan pembangunan kawasan pengolahan hasil perkebunan di wilayah sekitar sini. Ada rencana pembangunan gudang, jalan akses, dan tempat penampungan hasil pertanian.”
Pak Darmawan memandang dokumen di meja.
“Di wilayah mana?” tanyanya.
Bagus menunjuk peta sederhana.
“Di area dekat sungai kecil, menuju batas Dusun Timur.”
Erlangga melihat peta itu.
Dadanya langsung terasa berat.
Area yang ditunjuk berada tidak jauh dari kebun warga.
Bahkan sebagian lahan itu merupakan tanah garapan beberapa keluarga. Ada pula jalur air kecil yang selama ini digunakan warga untuk mengairi kebun dan kebutuhan sehari-hari.
“Lahan itu milik siapa?” tanya Erlangga.
Bagus tersenyum tipis.
“Kami masih dalam tahap penjajakan. Karena itu kami datang untuk berbicara dengan pemerintah desa dan masyarakat.”
“Apakah akan ada pembebasan lahan?” tanya Pak Darmawan.
“Mungkin,” jawab Bagus. “Tetapi tentu semuanya akan dilakukan sesuai prosedur.”
Laki-laki yang duduk di sebelahnya kemudian membuka sebuah lembar proposal.
“Perusahaan kami juga akan membuka lapangan kerja. Warga desa dapat bekerja sebagai tenaga lapangan, penjaga gudang, sopir, dan pekerja pendukung lainnya.”
Pak Darmawan tampak berpikir.
“Berapa banyak tenaga kerja yang dibutuhkan?”
“Untuk tahap awal, sekitar lima puluh orang. Jika proyek berkembang, jumlahnya bisa lebih banyak.”
Kalimat itu membuat ruangan menjadi hening.
Lima puluh pekerjaan.
Bagi desa yang baru saja dilanda banjir, angka itu terdengar seperti harapan.
Namun, Erlangga tidak dapat mengabaikan peta di atas meja.
Ia tahu lokasi itu.
Ia tahu aliran air dari perbukitan sering turun melewati area tersebut saat hujan besar. Ia tahu jika lahan itu ditimbun dan dibangun tanpa perencanaan yang baik, air dapat mengalir ke rumah-rumah warga di Dusun Timur.
Ia juga tahu bahwa beberapa keluarga menggantungkan hidup dari kebun di sekitar sana.
“Kenapa Anda mencari saya?” tanya Erlangga.
Bagus menatapnya.
“Kami membutuhkan koordinator lapangan yang mengenal kondisi desa. Seseorang yang bisa berkomunikasi dengan warga, memahami wilayah, dan membantu proses pembangunan berjalan baik.”
Erlangga tidak langsung menjawab.
“Kami mendengar Anda punya pengalaman,” lanjut Bagus. “Dan kami siap menawarkan posisi yang baik.”
“Posisi apa?”
“Koordinator lapangan untuk wilayah Desa Suka Makmur dan sekitarnya.”
Bagus menyebutkan angka gaji yang cukup besar.
Jauh lebih besar daripada penghasilan apa pun yang mungkin diperoleh Erlangga di desa.
Ada kendaraan operasional.
Ada tempat tinggal di kota kecamatan.
Ada uang tambahan jika proyek berjalan lancar.
Bagi banyak orang, tawaran itu adalah kesempatan yang sulit ditolak.
Namun, Erlangga justru merasa seperti sedang berdiri di tepi jalan yang pernah ia tinggalkan.
Jalan yang nyaman.
Jalan yang menjanjikan.
Jalan yang mudah.
“Kami tidak meminta jawaban sekarang,” kata Bagus. “Kami akan kembali minggu depan untuk melakukan sosialisasi kepada warga. Pikirkan baik-baik.”
Setelah kedua orang itu pergi, Pak Darmawan masih duduk di kursinya.
“Bagaimana menurutmu?” tanyanya.
Erlangga memandangi peta di atas meja.
“Saya belum tahu, Pak.”
“Kau pernah bekerja di bidang seperti ini.”
“Iya.”
“Apakah proyek seperti itu bisa membawa manfaat?”
“Bisa,” jawab Erlangga. “Kalau dilakukan dengan benar.”
“Dan kalau tidak?”
Erlangga menarik napas.
“Kalau tidak, desa bisa kehilangan lebih banyak daripada yang didapat.”
Sore itu, berita tentang proyek perusahaan menyebar ke seluruh desa.
Di warung kopi, warga mulai terbagi dalam pendapat.
Sebagian merasa proyek itu dapat membuka pekerjaan.
“Kalau ada gudang, hasil kebun kita mungkin lebih mudah dijual,” kata Pak Hasan.
“Anak saya sudah lama tidak punya pekerjaan tetap,” ujar seorang warga lain. “Kalau perusahaan membuka lowongan, kenapa harus ditolak?”
Namun, sebagian warga mulai merasa khawatir.
“Kalau lahan kita dibeli, kita mau berkebun di mana?” tanya Pak Darto.
“Kalau sungai tertutup atau alirannya berubah, banjir bisa lebih parah,” kata Bu Sulastri.
“Perusahaan selalu bicara soal pekerjaan,” ujar seorang ibu. “Tapi setelah tanah dijual, apakah pekerjaan itu akan tetap ada?”
Perdebatan semakin ramai.
Ada yang berkata proyek itu adalah kesempatan.
Ada yang berkata proyek itu ancaman.
Ada pula yang memilih diam karena tidak tahu harus percaya kepada siapa.
Malam itu, Erlangga datang ke Rumah Baca Harapan.
Khinanti sedang membantu Raka dan Danu menyusun buku-buku yang baru dikeringkan setelah terkena cipratan air banjir. Lampu di dalam rumah baca menyala redup. Di luar, angin malam bergerak pelan melewati halaman.
“Kau terlihat seperti membawa masalah,” kata Khinanti tanpa menoleh.
Erlangga tersenyum tipis.
“Kau selalu tahu.”
“Kau datang dengan wajah yang terlalu serius.”
Erlangga duduk di dekat rak buku.
“Ada perusahaan dari kota datang ke desa.”
Khinanti berhenti menyusun buku.
“Mau apa?”
“Mereka ingin membangun kawasan pengolahan hasil perkebunan. Gudang, jalan akses, dan beberapa bangunan lain.”
“Itu terdengar bagus.”
“Lokasinya dekat sungai kecil menuju Dusun Timur.”
Khinanti menatapnya.
“Dekat kebun warga?”
“Iya.”
“Dan mereka menawarkan pekerjaan kepadamu?”
Erlangga mengangguk.
Khinanti tidak langsung menjawab.
“Gajinya besar?” tanyanya pelan.
“Cukup besar.”
“Kau tertarik?”
Erlangga menunduk.
“Aku tidak tahu.”
Khinanti duduk di hadapannya.
“Langga, kau tidak harus merasa bersalah kalau mempertimbangkan tawaran itu.”
“Aku tahu.”
“Tapi kau juga harus melihat semuanya dengan jelas.”
“Aku takut kalau proyek itu justru merugikan warga.”
“Apakah kau yakin?”
“Belum. Tapi aku tahu wilayah itu. Aku tahu jalur airnya. Aku tahu kebun warga ada di sana.”
Khinanti memandang halaman rumah baca.
“Kadang jalan yang terlihat mudah memang membawa kita lebih cepat,” katanya. “Tapi belum tentu membawa kita ke tempat yang benar.”
Erlangga menatapnya.
“Kalau aku menerima pekerjaan itu, mungkin aku bisa membantu mengawasi agar proyeknya tidak merugikan warga.”
“Mungkin,” kata Khinanti. “Tapi kau juga harus bertanya pada dirimu sendiri. Apakah kau benar-benar bisa mengubah keputusan perusahaan? Atau kau hanya akan menjadi orang yang diminta membuat warga menerima sesuatu yang belum tentu mereka inginkan?”
Kata-kata itu membuat Erlangga terdiam.
Ia pernah bekerja di kota.
Ia tahu bagaimana proyek besar berjalan.
Ia tahu bahwa dalam banyak rapat, suara masyarakat kecil sering hanya dicatat sebagai formalitas. Ia tahu bahwa kata “pembangunan” dapat terdengar indah, tetapi kadang menyimpan kepentingan yang tidak selalu terlihat.
“Aku tidak ingin menjadi alasan warga kehilangan tanahnya,” kata Erlangga pelan.
Khinanti mengangguk.
“Kalau begitu, jangan terburu-buru memilih.”
Keesokan harinya, Pak Darmawan mengumumkan bahwa akan diadakan pertemuan warga untuk mendengar penjelasan dari perusahaan.
Pendopo balai desa kembali ramai.
Namun, suasana kali ini berbeda dengan musyawarah sebelumnya.
Jika musyawarah harapan baru dipenuhi semangat, pertemuan kali ini dipenuhi ketegangan.
Warga duduk dalam kelompok-kelompok kecil. Ada yang berbicara pelan. Ada yang terlihat bersemangat. Ada pula yang datang dengan wajah khawatir.
Bagus Pratama berdiri di depan bersama rekannya. Di belakang mereka tergantung peta lokasi proyek.
“Bapak dan Ibu,” katanya, “kami datang bukan untuk mengambil hak warga. Kami datang untuk membuka peluang.”
Ia menjelaskan rencana pembangunan gudang hasil perkebunan, jalan akses, dan fasilitas pendukung. Ia menjanjikan pekerjaan. Ia menjanjikan kemudahan pemasaran hasil kebun. Ia menjanjikan peningkatan ekonomi.
Beberapa warga tampak tertarik.
Namun, ketika sesi tanya jawab dibuka, Pak Darto langsung berdiri.
“Kalau lahan kami dibeli, kami berkebun di mana?”
Bagus tersenyum.
“Tentu akan ada ganti rugi yang layak.”
“Ganti rugi itu habis dalam beberapa tahun,” kata Pak Darto. “Tapi tanah bisa diwariskan kepada anak.”
Suasana mulai berubah.
Bu Sulastri berdiri.
“Kalau bangunan dibuat dekat sungai, apakah perusahaan menjamin banjir tidak akan lebih parah?”
Bagus tampak berhenti sejenak.
“Kami akan melakukan kajian teknis.”
“Kajian itu sudah dilakukan atau belum?” tanya Bu Sulastri.
“Masih dalam proses.”
Beberapa warga mulai berbisik.
Pak Hasan kemudian berdiri.
“Tapi warga juga butuh pekerjaan. Tidak semua orang punya kebun besar. Kalau perusahaan membuka lowongan, itu bisa membantu.”
“Betul,” sahut warga lain. “Jangan semua ditolak hanya karena takut.”
Suara-suara mulai saling bertabrakan.
“Ada yang butuh pekerjaan!”
“Ada yang takut kehilangan tanah!”
“Kalau tidak ada pembangunan, desa kita akan tetap begini!”
“Kalau pembangunan merusak desa, untuk apa?”
Pak Darmawan berusaha menenangkan warga.
Namun, ketegangan terus meningkat.
Di tengah suasana itu, Pak Wiryo berdiri.
Semua orang mendadak diam.
Selama ini, banyak warga mengira Pak Wiryo akan mendukung perusahaan. Ia dikenal sebagai orang yang praktis. Ia sering mengatakan bahwa desa harus mencari jalan untuk maju. Ia juga memiliki beberapa kebun di sekitar wilayah yang direncanakan menjadi lokasi proyek.
Pak Wiryo memandang peta di depan.
“Saya tidak menolak pembangunan,” katanya.
Warga mendengarkan.
“Saya juga tidak menolak pekerjaan untuk anak-anak desa. Tapi pembangunan yang baik tidak boleh membuat warga kehilangan tempat berpijak.”
Bagus Pratama menatapnya.
Pak Wiryo melanjutkan, “Kami baru saja terkena banjir. Kami tahu air bisa datang dari mana saja. Kalau tanah dekat sungai ditimbun tanpa perhitungan, siapa yang menanggung akibatnya?”
Tidak ada yang menjawab.
“Kalau perusahaan ingin membangun,” lanjut Pak Wiryo, “maka perusahaan harus terbuka. Harus ada kajian lingkungan. Harus ada kepastian soal jalur air. Harus ada perlindungan untuk kebun warga. Dan harus ada kesepakatan yang tidak merugikan masyarakat.”
Tepuk tangan kecil terdengar dari beberapa warga.
Erlangga memandang Pak Wiryo dengan rasa hormat.
Laki-laki tua itu telah berubah.
Bukan menjadi orang yang selalu setuju dengan Erlangga.
Tetapi menjadi seseorang yang mulai berani berdiri untuk kepentingan bersama.
Ketika suasana kembali tenang, Erlangga berdiri.
Ia tidak membawa pidato panjang.
Ia hanya membawa beberapa catatan kecil.
“Saya pernah bekerja di bidang pembangunan,” katanya. “Saya tahu proyek seperti ini bisa membawa manfaat. Tapi saya juga tahu proyek dapat membawa masalah kalau warga tidak dilibatkan sejak awal.”
Ia memandang warga satu per satu.
“Kita tidak harus menolak semua tawaran dari luar. Tapi kita juga tidak boleh menerima sesuatu hanya karena terlihat menjanjikan.”
Ia menunjuk peta.
“Desa ini baru saja belajar bahwa air, tanah, jalan, rumah, dan kebun saling berhubungan. Kita tidak bisa membangun gudang tanpa memikirkan sungai. Kita tidak bisa membuka pekerjaan tanpa memikirkan tanah warga. Kita tidak bisa bicara kemajuan kalau sebagian warga harus kehilangan sumber hidupnya.”
Warga mulai diam.
“Kita perlu waktu,” lanjut Erlangga. “Kita perlu kajian yang jelas. Kita perlu musyawarah yang jujur. Dan kita perlu memastikan bahwa pembangunan yang datang benar-benar membawa manfaat bagi desa, bukan hanya bagi pihak tertentu.”
Bagus Pratama menatap Erlangga.
“Apakah Anda menolak proyek ini?” tanyanya.
Erlangga menarik napas.
“Saya menolak keputusan yang dibuat terburu-buru.”
Bagus tampak tidak sepenuhnya puas.
Namun, ia tidak dapat membantah.
Pak Darmawan kemudian berdiri.
“Desa Suka Makmur akan membentuk tim kecil untuk mempelajari rencana ini. Kami akan meminta penjelasan tertulis, kajian lingkungan, serta jaminan perlindungan terhadap lahan dan jalur air.”
Ia memandang warga.
“Sampai semua jelas, tidak ada warga yang boleh menandatangani apa pun sendiri-sendiri.”
Keputusan itu disambut anggukan warga.
Pertemuan selesai menjelang malam.
Warga pulang dengan pikiran yang masih penuh pertanyaan.
Tidak semua orang senang.
Sebagian merasa kesempatan kerja sedang ditunda.
Sebagian lagi merasa lega karena desa tidak langsung menyerahkan tanah dan masa depannya.
Di luar balai desa, Bagus Pratama menghampiri Erlangga.
“Anda punya pengaruh besar di sini,” katanya.
“Saya hanya warga desa.”
“Perusahaan kami tetap tertarik dengan kemampuan Anda. Tawaran sebagai koordinator lapangan masih terbuka.”
Erlangga menatapnya.
“Kalau saya menerima, apa saya bisa menjamin warga tidak dirugikan?”
Bagus tersenyum tipis.
“Dalam pembangunan, selalu ada penyesuaian.”
Jawaban itu terasa dingin.
Erlangga mengerti maksudnya.
Penyesuaian sering kali berarti ada pihak yang harus mengalah.
Dan biasanya, pihak yang paling mudah diminta mengalah adalah masyarakat kecil.
Malam itu, Erlangga berjalan pulang melewati jalan desa yang masih basah.
Di beberapa rumah, lampu menyala. Dari dalam terdengar percakapan warga tentang proyek perusahaan. Ada yang berharap. Ada yang takut. Ada yang bingung.
Di depan rumahnya, Bu Marni sedang duduk di beranda.
“Kau baru pulang?” tanyanya.
“Iya, Bu.”
“Pertemuan perusahaan itu bagaimana?”
“Belum ada keputusan.”
Bu Marni mengangguk.
“Kau ditawari pekerjaan juga?”
Erlangga terdiam beberapa saat.
“Iya.”
“Kau mau menerimanya?”
Erlangga duduk di samping ibunya.
“Dulu aku pikir jalan mudah selalu berarti jalan yang baik,” katanya. “Tapi sekarang aku mulai mengerti, kadang jalan mudah justru membuat kita lupa siapa yang harus kita jaga.”
Bu Marni memandang anaknya.
“Kau sudah punya jawaban?”
Erlangga mengangguk pelan.
“Kau mau tinggal di desa?”
“Aku mau tetap bekerja untuk desa. Tapi bukan dengan cara yang membuat warga kehilangan haknya.”
Keesokan pagi, Erlangga kembali menemui Bagus Pratama di kantor desa.
Ia membawa surat sederhana.
Di dalamnya, ia menyampaikan bahwa ia tidak dapat menerima tawaran sebagai koordinator lapangan perusahaan.
Ia mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan.
Namun, ia memilih untuk tetap berada di pihak warga Desa Suka Makmur.
Bagus membaca surat itu dengan wajah datar.
“Anda yakin?” tanyanya.
Erlangga mengangguk.
“Saya yakin.”
“Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali.”
“Mungkin,” jawab Erlangga. “Tapi kesempatan untuk menjaga tempat sendiri juga tidak selalu datang dua kali.”
Bagus memasukkan surat itu ke dalam map.
“Baik. Kami menghargai keputusan Anda.”
Setelah mobil perusahaan meninggalkan desa, Erlangga berdiri cukup lama di depan kantor desa.
Ia tidak merasa menang.
Ia juga tidak merasa telah menyelesaikan masalah.
Proyek itu belum benar-benar berhenti.
Warga masih harus menentukan sikap.
Desa masih harus belajar memahami hak-haknya.
Namun, setidaknya hari itu, Erlangga telah memilih jalan yang tidak mudah.
Ia menolak pekerjaan dengan gaji besar.
Ia menolak kesempatan yang dapat membuat hidupnya lebih nyaman.
Ia menolak menjadi penghubung antara perusahaan dan warga jika pada akhirnya ia harus meminta warga menyerahkan sesuatu yang belum tentu dapat mereka dapatkan kembali.
Siang hari, Erlangga pergi ke kebun bersama dekat balai desa.
Jatmiko dan beberapa pemuda sedang memasang pagar terakhir. Bu Ratna membawa bibit kangkung. Pak Wiryo membawa cangkul. Anak-anak dari Rumah Baca Harapan ikut datang membawa botol bekas untuk dijadikan tempat semai.
Khinanti berdiri di bawah pohon sambil membagikan bibit kepada anak-anak.
Ketika melihat Erlangga datang, ia tersenyum.
“Bagaimana?” tanyanya.
“Aku menolak tawaran itu.”
Khinanti terdiam sejenak.
“Kau yakin?”
Erlangga memandang kebun kecil yang sedang dibangun warga.
“Tidak ada jalan yang benar-benar mudah,” katanya. “Tapi aku ingin memilih jalan yang tidak membuatku kehilangan diriku sendiri.”
Khinanti mengangguk.
“Kalau begitu, kita lanjutkan.”
Erlangga mengambil sebuah cangkul.
Ia ikut menggali tanah bersama warga.
Di bawah matahari yang mulai tinggi, tangan-tangan warga bergerak bersama.
Ada yang menanam.
Ada yang membuat pagar.
Ada yang membawa air.
Ada yang menyusun bibit.
Tidak ada gedung besar.
Tidak ada kendaraan mewah.
Tidak ada janji tentang kekayaan yang datang dalam waktu singkat.
Yang ada hanyalah tanah, keringat, harapan, dan orang-orang yang mulai belajar menentukan masa depannya sendiri.
Di tengah kebun kecil itu, Desa Suka Makmur kembali menemukan kekuatannya.
Bukan pada jalan yang paling mudah.
Bukan pada tawaran yang paling besar.
Melainkan pada keberanian untuk memilih jalan yang adil, meski harus ditempuh dengan langkah yang lebih pelan.
BAB XVII
Cinta yang Bertumbuh Bersama Desa
Sejak Erlangga memutuskan untuk menolak pekerjaan di kota, hari-hari di Desa Suka Makmur terasa semakin sibuk.
Keputusan itu tidak diumumkan dalam acara besar. Tidak ada pidato panjang di balai desa. Tidak ada tepuk tangan yang berlebihan. Erlangga bahkan tidak pernah berniat menjadikan pilihannya sebagai sesuatu yang patut dibicarakan oleh banyak orang.
Namun, di desa kecil seperti Suka Makmur, kabar selalu menemukan jalannya sendiri.
Kabar itu bergerak dari satu rumah ke rumah lain, dari kebun ke warung kopi, dari halaman masjid ke balai desa. Ada yang mendengarnya dari pemuda yang membantu kerja bakti. Ada yang mengetahuinya dari Bu Ratna ketika membeli minyak goreng. Ada pula yang mendengarnya dari anak-anak yang melihat Erlangga tetap datang ke Rumah Baca Harapan setiap sore.
“Erlangga memilih tetap tinggal,” kata seorang warga di warung Pak Hasan.
“Dia benar-benar menolak kerja di kota?” tanya warga lain.
“Iya. Katanya mau membantu menjalankan rencana desa.”
“Padahal katanya gajinya besar.”
“Entahlah. Mungkin dia memang sudah merasa cocok tinggal di sini.”
Sebagian warga merasa kagum. Sebagian lagi hanya mengangguk sambil berkata bahwa pilihan itu tentu tidak mudah. Ada pula yang masih menyimpan keraguan, menganggap keputusan Erlangga mungkin hanya akan bertahan beberapa waktu.
Namun, Erlangga tidak ingin membuktikan apa pun melalui kata-kata.
Ia memilih bekerja.
Pagi hari, ia membantu para pemuda membersihkan lahan kosong untuk kebun bersama. Tanah yang sebelumnya dipenuhi rumput liar dan semak kecil mulai dicangkul perlahan. Bambu-bambu dikumpulkan untuk membuat pagar sederhana. Batu-batu kecil disusun di pinggir lahan agar air hujan tidak langsung menggenang.
Siang hari, Erlangga mendampingi Pak Darmawan menyusun catatan hasil musyawarah desa. Ia membantu menuliskan daftar kebutuhan warga, membuat pembagian tugas, dan mencatat program-program yang harus diperjuangkan melalui pemerintah kecamatan.
Sore hari, ia hampir selalu datang ke Rumah Baca Harapan.
Kadang ia membantu anak-anak belajar berhitung. Kadang ia memperbaiki kaki meja yang goyah. Kadang ia hanya duduk di sudut ruangan, mendengarkan anak-anak membaca dengan suara keras dan terbata-bata.
Di sela semua kegiatan itu, Khinanti selalu ada.
Ia mengatur jadwal rumah baca.
Ia mengajak anak-anak menanam sayur di halaman.
Ia membantu ibu-ibu menyusun catatan sederhana untuk kelompok usaha.
Ia mengingatkan para pemuda agar tidak lupa membawa alat ketika kerja bakti.
Ia juga sering menjadi orang pertama yang datang ketika ada warga membutuhkan bantuan, meskipun dirinya sendiri sering pulang paling akhir.
Kebersamaan Erlangga dan Khinanti tidak lagi menjadi sesuatu yang asing bagi warga desa.
Mereka sering terlihat berjalan menuju balai desa bersama. Mereka sering berdiskusi di halaman rumah baca. Mereka juga sering hadir di kebun bersama ketika warga mulai menanam bibit cabai, kangkung, bayam, dan tomat.
Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang pernah membicarakan perasaan secara terbuka.
Mereka terlalu sibuk dengan banyak hal.
Atau mungkin, mereka sama-sama takut bahwa perasaan dapat membuat langkah mereka menjadi lebih rumit.
Mereka tahu, desa kecil memiliki mata yang banyak dan telinga yang panjang. Sedikit perubahan sikap dapat menjadi bahan pembicaraan. Sedikit kedekatan dapat disalahartikan. Mereka tidak ingin kerja yang telah dibangun bersama warga justru dipandang sebagai kepentingan pribadi.
Karena itu, mereka memilih menyimpan banyak hal dalam diam.
Suatu sore, Rumah Baca Harapan dipenuhi anak-anak.
Cahaya matahari masuk melalui jendela kayu yang sudah mulai diperbaiki. Di lantai, beberapa anak duduk bersila sambil memegang buku. Ada yang membaca cerita rakyat. Ada yang mengerjakan soal matematika. Ada pula yang menggambar kebun pangan dengan pensil warna yang mulai pendek.
Danu sedang membaca cerita di sudut ruangan dengan suara pelan.
“Pada suatu hari,” bacanya terbata-bata, “seekor… seekor… kancil…”
“Bukan kancil, Nu,” kata Raka sambil tertawa. “Itu kelinci.”
Danu menatap buku itu dengan wajah kesal.
“Hurufnya kecil.”
“Bukan hurufnya yang kecil,” jawab Raka. “Matamu yang belum terbiasa.”
Anak-anak lain tertawa kecil.
Khinanti yang berdiri di dekat jendela hanya tersenyum melihat mereka. Ia tidak langsung menegur. Ia tahu, tawa kecil seperti itu sering membuat anak-anak lebih berani belajar.
Di meja tengah, Raka dan Lila sedang membuat gambar kebun pangan. Raka menggambar lapangan desa yang di sampingnya terdapat kebun cabai. Lila menggambar rumah kecil dengan halaman penuh tanaman kangkung dan tomat.
Beberapa anak lain membantu Sari menyusun buku-buku yang baru disumbangkan oleh warga kecamatan. Buku-buku itu tidak semuanya baru. Ada yang sampulnya sudah kusam. Ada yang halamannya sedikit menguning. Tetapi bagi anak-anak Desa Suka Makmur, buku-buku itu tetap terasa seperti jendela baru menuju dunia yang lebih luas.
Khinanti memandangi ruangan itu cukup lama.
“Dulu ruangan ini sunyi,” katanya.
Erlangga yang sedang memperbaiki kaki meja menoleh.
“Sekarang terlalu ramai?”
Khinanti tersenyum.
“Tidak. Sekarang terasa hidup.”
Erlangga memandang anak-anak yang tertawa ketika Raka salah mengeja sebuah kata. Ia kemudian melihat Danu yang kembali mencoba membaca dengan lebih keras.
“Kadang aku masih tidak percaya semuanya bisa sampai sejauh ini,” katanya.
“Kita belum sampai jauh,” jawab Khinanti.
Erlangga menoleh.
“Kita baru mulai.”
Kalimat itu sederhana, tetapi selalu berhasil membuat Erlangga kembali berpijak.
Mereka memang baru mulai.
Rumah baca masih sederhana.
Kebun bersama masih dalam tahap awal.
Kelompok usaha ibu-ibu masih belajar membuat kemasan.
Jalan desa masih banyak yang rusak.
Saluran air belum sepenuhnya diperbaiki.
Pelayanan desa juga masih membutuhkan banyak pembenahan.
Namun, setiap hari ada perubahan kecil yang terlihat.
Ada anak yang mulai lancar membaca.
Ada ibu yang berani menjual hasil olahan.
Ada pemuda yang datang lebih awal saat kerja bakti.
Ada warga yang mulai bertanya tentang cara mengurus surat tanpa harus disuruh.
Ada bapak-bapak yang mulai membawa bibit sayur untuk kebun bersama.
Perubahan-perubahan kecil itu menjadi alasan mereka terus bergerak.
Menjelang magrib, anak-anak mulai pulang satu per satu.
Danu membawa buku cerita yang dipinjamnya.
Raka membawa gambar lapangan sepak bola.
Lila membawa beberapa bibit kangkung yang akan ditanam di halaman rumahnya.
“Kak Khinanti,” kata Danu sebelum pulang, “besok aku mau datang lebih awal.”
“Untuk apa?” tanya Khinanti.
“Aku mau belajar membaca lebih lancar.”
Khinanti tersenyum.
“Baik. Kakak tunggu.”
Danu mengangguk dengan wajah sungguh-sungguh.
“Aku mau bisa baca seperti Kak Erlangga.”
Erlangga yang mendengar itu tersenyum kecil.
“Kalau begitu, besok kita belajar bersama.”
Danu tampak senang.
“Benar?”
“Benar.”
Setelah anak-anak pulang, Rumah Baca Harapan kembali tenang.
Suara mereka yang tadi memenuhi ruangan perlahan digantikan oleh bunyi angin sore yang bergerak di antara daun-daun. Cahaya matahari mulai berkurang. Bayangan rak buku jatuh panjang di lantai kayu.
Sari pamit lebih dulu karena harus membantu ibunya di rumah.
“Aku pulang dulu,” katanya sambil membawa beberapa buku yang perlu diperbaiki sampulnya.
“Hati-hati,” jawab Khinanti.
“Tolong jangan terlalu lama di rumah baca,” kata Sari sambil tersenyum tipis. “Besok masih banyak kerjaan.”
Khinanti hanya mengangguk.
Tinggallah Erlangga dan Khinanti di dalam ruangan sederhana itu.
Cahaya sore masuk melalui jendela. Rak-rak buku berdiri di sepanjang dinding. Di sudut ruangan, beberapa pot tanaman kecil diletakkan dekat pintu. Di meja tengah, masih ada kertas gambar, pensil warna, dan penghapus yang belum dirapikan.
Erlangga menutup buku yang tadi ia baca.
“Khinanti,” katanya pelan.
Khinanti yang sedang menyusun buku menoleh.
“Iya?”
“Ada sesuatu yang ingin aku katakan.”
Khinanti berhenti bergerak.
Wajahnya tampak tenang, tetapi Erlangga dapat melihat bahwa ia mulai menunggu dengan sungguh-sungguh.
Erlangga berdiri. Tangannya terasa sedikit kaku. Ia bukan orang yang pandai merangkai kata-kata indah, terlebih ketika harus berbicara tentang perasaan.
Selama ini, ia lebih mudah berbicara tentang jalan desa, kebun pangan, rumah baca, atau rencana kelompok usaha warga.
Namun, berbicara tentang Khinanti membuatnya merasa seperti seorang anak muda yang baru pertama kali belajar memahami isi hatinya sendiri.
“Aku sudah lama ingin mengatakan ini,” ujarnya.
Khinanti tidak menjawab.
“Aku bersyukur bisa pulang ke desa ini. Aku bersyukur bisa bekerja bersama warga. Aku bersyukur melihat anak-anak mulai belajar, ibu-ibu mulai berani membuat usaha, dan pemuda mulai punya kegiatan.”
Ia berhenti sejenak.
“Tapi di antara semua hal yang terjadi, ada satu hal yang membuatku merasa lebih kuat.”
Ia memandang Khinanti.
“Itu kamu.”
Khinanti menunduk sebentar.
Erlangga melanjutkan.
“Sejak awal, kamu tidak pernah hanya datang untuk memberi saran. Kamu ikut bekerja. Kamu ikut mendengar keluhan warga. Kamu ikut menjaga anak-anak. Kamu ikut berdiri ketika banyak orang masih ragu.”
Suara Erlangga terdengar pelan, tetapi jelas.
“Ketika aku hampir memilih pergi ke kota, kamu tidak memaksaku tinggal. Kamu tidak membuatku merasa bersalah. Kamu hanya mengingatkanku untuk memilih dengan jujur.”
Erlangga menarik napas.
“Dan dari situ aku sadar, aku tidak hanya ingin membangun desa ini bersamamu sebagai teman.”
Khinanti mengangkat wajahnya.
Erlangga menatapnya dengan sungguh-sungguh.
“Aku menyayangimu, Khinanti.”
Ruangan itu menjadi hening.
Tidak ada suara selain angin sore yang masuk dari jendela dan bunyi daun-daun yang bergerak di halaman.
Khinanti memegang salah satu buku di tangannya lebih erat.
“Langga,” katanya pelan.
Erlangga menunggu.
“Aku juga sudah lama tahu bahwa perasaanku kepadamu bukan sekadar rasa kagum.”
Erlangga menatapnya.
“Aku melihat caramu bekerja tanpa ingin terlihat hebat. Aku melihat caramu mendengarkan warga. Aku melihat caramu tetap bertahan ketika keadaan sulit.”
Khinanti tersenyum kecil.
“Ketika orang lain mungkin memilih pergi, kamu memilih tinggal. Ketika banyak hal terasa berat, kamu tidak mencari jalan untuk lari.”
Ia menarik napas perlahan.
“Dan aku juga menyayangimu.”
Erlangga tidak langsung menjawab.
Ada rasa lega yang perlahan memenuhi dadanya. Seolah selama ini ada beban yang ia simpan diam-diam, lalu akhirnya menemukan tempat untuk diletakkan.
Namun, Khinanti melanjutkan.
“Tapi aku tidak ingin perasaan ini membuat kita lupa pada tujuan.”
Erlangga mengangguk.
“Aku juga tidak.”
“Kalau kita berjalan bersama,” kata Khinanti, “aku ingin kita tetap saling mengingatkan. Bukan hanya tentang cinta, tetapi juga tentang tanggung jawab.”
Erlangga tersenyum.
“Setuju.”
Khinanti memandang sekeliling rumah baca.
“Tempat ini menjadi saksi awal banyak hal. Anak-anak mulai belajar di sini. Warga mulai berkumpul di sini. Kita juga mulai memahami bahwa desa ini bisa berubah.”
Erlangga mengikuti arah pandangnya.
“Dan sekarang tempat ini juga menjadi saksi bahwa kita memilih berjalan bersama.”
Khinanti mengangguk.
Mereka tidak saling mengucapkan janji besar.
Tidak ada kata-kata tentang masa depan yang terlalu jauh.
Tidak ada rencana yang dibuat dengan tergesa-gesa.
Mereka tidak membicarakan pernikahan, rumah, atau kehidupan yang sempurna.
Mereka hanya berdiri di dalam rumah baca sederhana, di antara buku-buku, meja kayu, dan gambar-gambar anak-anak.
Namun, bagi mereka, tempat itu terasa lebih berarti daripada ruang mana pun.
Di luar, langit mulai gelap.
Lampu kecil di depan Rumah Baca Harapan menyala. Cahaya kuningnya jatuh ke halaman yang mulai ditumbuhi tanaman. Dari kejauhan, terdengar suara warga yang pulang dari kebun.
Erlangga dan Khinanti keluar ke teras.
Di sana, mereka melihat Danu berlari kembali sambil membawa buku yang tertinggal.
“Kak, bukuku ketinggalan!” katanya.
Khinanti tertawa.
“Masuklah, ambil.”
Danu berlari masuk, lalu keluar lagi dengan wajah ceria.
Sebelum pergi, ia memandang Erlangga dan Khinanti.
“Kak Erlangga, Kak Khinanti, besok jangan lupa datang ke kebun.”
“Kami tidak lupa,” jawab Erlangga.
Danu mengangguk puas, lalu berlari pulang.
Erlangga memandang Khinanti.
“Anak-anak selalu punya cara membuat kita kembali bekerja.”
Khinanti tersenyum.
“Karena mereka tidak tahu kita sedang membicarakan perasaan.”
“Bagus juga begitu.”
“Kenapa?”
“Karena mereka mengingatkan bahwa cinta tidak berhenti pada kata-kata.”
Khinanti menatapnya.
“Lalu cinta harus menjadi apa?”
Erlangga memandang halaman rumah baca, kebun kecil, dan jalan desa yang mulai gelap.
“Cinta harus menjadi alasan untuk saling menguatkan.”
Khinanti mengangguk.
“Dan untuk tetap jujur ketika keadaan tidak mudah.”
Erlangga tersenyum.
Malam itu, keduanya pulang melalui jalan yang sama, tetapi dengan perasaan yang berbeda.
Mereka tidak lagi hanya dua orang yang bekerja bersama untuk desa.
Mereka adalah dua hati yang mulai memahami bahwa pengabdian dan cinta dapat tumbuh dalam tanah yang sama.
Cinta mereka tidak lahir dari kemewahan.
Tidak tumbuh dari janji-janji yang berlebihan.
Tidak hadir dalam pesta atau kata-kata besar.
Cinta itu tumbuh dari lumpur di jalan desa, dari buku-buku yang disusun di rumah baca, dari kebun yang dirawat bersama, dari musyawarah warga, dan dari keberanian untuk tetap tinggal ketika jalan yang mudah terbuka di depan mata.
Dan seperti desa yang sedang mereka bangun, cinta itu juga masih sederhana.
Masih membutuhkan waktu.
Masih membutuhkan kesabaran.
Masih membutuhkan kerja bersama.
Namun, keduanya percaya bahwa selama mereka tetap berjalan dengan tujuan yang sama, cinta itu akan tumbuh kuat.
Bukan hanya untuk mereka.
Tetapi juga untuk Desa Suka Makmur yang telah mempertemukan mereka.
BAB XVIII
Jalan Baru Desa Suka Makmur
Pagi di Desa Suka Makmur terasa lebih hidup daripada biasanya.
Matahari baru naik ketika suara cangkul mulai terdengar dari lahan kosong di dekat balai desa. Embun masih menggantung di ujung rumput. Tanah yang sempat basah oleh hujan malam sebelumnya mulai mengeluarkan aroma khas yang membuat udara pagi terasa lebih segar.
Beberapa pemuda telah datang sejak pagi untuk melanjutkan pembuatan pagar kebun bersama.
Bambu-bambu dipotong, diikat, lalu ditancapkan mengelilingi tanah yang sudah dibersihkan. Ada yang menggali lubang untuk tiang pagar. Ada yang membawa tanah menggunakan karung bekas. Ada pula yang sibuk memindahkan batu-batu kecil dari tengah lahan agar tidak mengganggu tanaman.
Jatmiko berdiri sambil membawa parang kecil.
“Yang di sebelah sana jangan terlalu dekat dengan saluran air,” katanya kepada Ardi. “Kalau hujan deras, tanahnya bisa terbawa.”
Ardi mengangguk.
“Baik. Nanti kita buat bedengnya lebih tinggi.”
Di sisi lain, beberapa ibu membawa bibit cabai, kangkung, bayam, tomat, dan terong. Ada pula yang membawa pupuk kandang dari rumah masing-masing. Mereka tidak datang dengan perlengkapan lengkap atau modal besar. Namun, mereka datang dengan semangat yang sama: ingin membuat kebun pangan desa benar-benar tumbuh.
Bu Ratna membawa dua ember kecil berisi bibit cabai.
“Ini dari halaman rumah saya,” katanya. “Tidak banyak, tapi kalau ditanam bersama bisa jadi banyak.”
Bu Sulastri tersenyum.
“Kalau semua warga membawa sedikit, kebunnya bisa penuh.”
Pak Wiryo berdiri di dekat lahan sambil memeriksa tanah. Tangannya memegang segenggam tanah yang ia remas perlahan.
“Tanahnya cukup baik,” katanya. “Tapi jangan langsung ditanami semua. Sebagian harus diberi pupuk dulu.”
Ardi yang sedang menggali menoleh.
“Kalau cabainya ditanam di bagian mana, Pak?”
“Cabai jangan terlalu dekat satu sama lain,” jawab Pak Wiryo. “Kalau terlalu rapat, nanti susah berkembang. Kangkung dan bayam bisa di bagian yang lebih dekat ke saluran air.”
Dulu, Pak Wiryo sering menjadi orang yang paling keras meragukan kegiatan warga. Ia selalu melihat rencana-rencana baru dengan kecurigaan. Baginya, banyak kegiatan desa hanya akan ramai pada awalnya, lalu berhenti ketika semangat mulai hilang.
Namun, sejak banjir dan musyawarah desa, sesuatu dalam dirinya perlahan berubah.
Ia melihat sendiri bagaimana warga bekerja bersama tanpa menunggu perintah.
Ia melihat Erlangga dan Khinanti tidak hanya berbicara tentang perubahan, tetapi ikut mengangkat lumpur, memperbaiki rumah baca, menolong warga, dan datang ketika desa sedang membutuhkan.
Kini, Pak Wiryo justru menjadi salah satu orang yang paling rajin datang ke kebun bersama.
Ia membawa pengalaman bertani yang dimilikinya. Ia mengajarkan cara membuat bedeng, memilih bibit, mengatur aliran air, dan menjaga tanah agar tidak mudah rusak ketika hujan turun.
Erlangga melihat perubahan itu dari kejauhan.
“Pak Wiryo sekarang lebih sering datang lebih awal daripada kita,” katanya kepada Jatmiko.
Jatmiko tersenyum.
“Kalau sudah bicara soal tanah, beliau memang tidak mau kalah.”
Erlangga tertawa kecil.
“Tidak apa-apa. Desa butuh orang seperti itu.”
“Dulu beliau selalu bilang kita terlalu banyak mimpi,” ujar Jatmiko.
“Sekarang beliau ikut menanam mimpi itu.”
Jatmiko mengangguk sambil memandang Pak Wiryo yang sedang memberi arahan kepada beberapa pemuda.
“Kadang orang tidak berubah karena diberi nasihat,” katanya. “Kadang mereka berubah karena melihat sendiri.”
Di halaman balai desa, Khinanti sedang mendampingi anak-anak yang datang membawa botol bekas dan kaleng kecil. Botol-botol itu akan digunakan sebagai wadah tanaman untuk program kebun pangan keluarga.
Beberapa botol dipotong bagian atasnya. Sebagian diberi lubang kecil di bawah agar air tidak menggenang. Anak-anak kemudian mengisinya dengan tanah yang dicampur pupuk.
“Yang ini diisi tanah sampai tiga perempat,” kata Khinanti sambil memberi contoh.
Danu mengangkat botol plastik yang sudah dipotong.
“Kalau sudah tumbuh, boleh dibawa pulang?”
“Boleh,” jawab Khinanti. “Tapi harus dirawat. Jangan hanya senang saat menanam, lalu lupa menyiram.”
Raka mengangguk dengan wajah serius.
“Aku mau tanam cabai. Biar ibu tidak beli cabai terus.”
Anak-anak lain tertawa.
Khinanti tersenyum.
“Kalau semua rumah punya cabai, bayam, atau kangkung, itu sudah membantu keluarga.”
Lila mengangkat tangannya.
“Kalau tanamannya mati bagaimana?”
“Kalau mati, kita belajar menanam lagi,” jawab Khinanti. “Menanam itu bukan hanya soal berhasil. Menanam juga soal sabar.”
Kata-kata itu membuat anak-anak terdiam sejenak. Mereka mungkin belum sepenuhnya memahami maksudnya. Namun, mereka tetap melanjutkan pekerjaan mereka dengan lebih hati-hati.
Tidak jauh dari mereka, Sari sedang menempelkan jadwal kegiatan Rumah Baca Harapan di papan pengumuman.
Jadwal itu dibuat sederhana, tetapi lebih teratur daripada sebelumnya.
Hari Senin untuk membaca bersama.
Hari Rabu untuk belajar berhitung dan menulis.
Hari Jumat untuk kegiatan kebun dan lingkungan.
Hari Minggu untuk kelas keterampilan, seperti menggambar, bercerita, membuat kerajinan sederhana, dan latihan berbicara di depan teman-teman.
Sejak rumah baca diperbaiki setelah banjir, jumlah anak yang datang semakin banyak. Beberapa orang tua bahkan mulai bergantian menyumbangkan buku bekas, majalah anak-anak, alat tulis, dan papan tulis kecil yang sudah tidak digunakan di rumah.
Khinanti masuk ke rumah baca dan memandangi rak buku yang kini lebih penuh.
Dulu, rak itu hanya berisi beberapa buku cerita, buku pelajaran lama, dan majalah bekas yang sudah lusuh. Kini, meskipun belum lengkap, rak-rak itu mulai berwarna. Ada buku cerita rakyat, buku pengetahuan sederhana, buku menggambar, dan beberapa buku pelajaran.
“Dulu kita hanya punya beberapa buku,” kata Khinanti.
Erlangga yang baru datang membawa papan kayu menoleh.
“Sekarang masih belum banyak.”
“Tapi sudah cukup untuk membuat anak-anak ingin datang.”
Erlangga mengangguk.
“Kadang perubahan memang dimulai dari alasan sederhana. Anak-anak datang karena ingin membaca. Lalu mereka belajar bermimpi.”
Khinanti tersenyum.
“Dan semoga mereka nanti tidak merasa bahwa desa adalah tempat yang harus mereka tinggalkan.”
Erlangga memandang anak-anak yang sedang menanam bibit di halaman.
“Kalaupun mereka pergi untuk belajar, semoga mereka pulang membawa sesuatu.”
Khinanti menatapnya.
“Seperti kamu?”
Erlangga tersenyum kecil.
“Seperti kita.”
Sementara kegiatan rumah baca dan kebun pangan mulai berjalan, kelompok usaha ibu-ibu juga menunjukkan perkembangan.
Bu Ratna bersama beberapa ibu berkumpul di rumahnya setiap Selasa dan Kamis. Mereka membuat keripik singkong, keripik pisang, kue kering, serta olahan sederhana dari hasil kebun warga.
Rumah Bu Ratna selalu ramai pada hari-hari itu.
Ada ibu yang mengupas singkong.
Ada yang mengiris pisang.
Ada yang menggoreng keripik.
Ada yang menimbang hasil olahan.
Ada pula yang sibuk menempelkan label pada plastik kemasan.
Produk-produk itu mulai dikemas dengan plastik bening dan diberi label sederhana bertuliskan:
Rasa Makmur
Produk Warga Desa Suka Makmur
Nama itu dipilih melalui diskusi panjang.
Ada yang mengusulkan nama yang lebih modern. Ada yang ingin memakai nama kelompok ibu-ibu. Ada pula yang ingin menggunakan nama desa secara lengkap.
Namun, akhirnya mereka sepakat memilih nama yang sederhana dan mudah diingat.
Rasa Makmur.
Nama itu bukan hanya tentang rasa makanan.
Nama itu juga menjadi harapan agar warga Desa Suka Makmur dapat merasakan kehidupan yang lebih baik dari hasil kerja mereka sendiri.
Erlangga membantu membuat catatan pengeluaran dan pemasukan. Ia mengajarkan cara menghitung modal, harga jual, dan keuntungan dengan bahasa yang mudah dipahami.
“Kalau uang hasil jualan langsung habis untuk belanja rumah, nanti kita tidak tahu usaha ini untung atau rugi,” katanya.
Bu Ratna mengangguk.
“Berarti harus dipisahkan?”
“Iya. Tidak harus rumit. Yang penting dicatat.”
“Kalau uangnya sedikit bagaimana?”
“Justru kalau sedikit harus dicatat,” jawab Erlangga. “Supaya kita tahu usaha ini berkembang atau tidak.”
Khinanti membantu membuat desain label bersama beberapa remaja putri. Mereka menggambar daun singkong, padi, dan rumah kecil sebagai lambang desa.
Ketika produk pertama selesai dikemas, ibu-ibu memandanginya dengan bangga.
“Kelihatannya seperti barang dari toko,” kata Bu Sulastri.
“Karena memang ini barang dari desa kita,” jawab Bu Ratna.
Produk Rasa Makmur mulai dititipkan di warung Pak Hasan. Beberapa dibawa ke pasar kecamatan. Ada pula yang dibeli oleh pegawai kecamatan ketika mereka datang untuk melihat kegiatan kelompok usaha.
Penjualannya belum besar.
Keuntungannya belum banyak.
Namun, ibu-ibu mulai memiliki keyakinan bahwa hasil kebun dan keterampilan mereka dapat menjadi sumber penghasilan tambahan.
Di kantor desa, perubahan juga mulai terasa.
Pak Darmawan bersama perangkat desa memasang papan informasi di depan kantor. Di papan itu tertulis jadwal pelayanan, persyaratan pembuatan surat, jadwal musyawarah, informasi kegiatan warga, dan nomor yang dapat dihubungi jika ada keperluan mendesak.
Sari membantu membuat buku pengaduan warga.
“Kalau ada keluhan tentang pelayanan atau kebutuhan warga, bisa ditulis di sini,” jelasnya kepada seorang bapak yang datang mengurus surat keterangan.
“Kalau saya tidak bisa menulis?” tanya bapak itu.
“Bisa disampaikan kepada kami. Nanti kami bantu tuliskan.”
Pelayanan desa memang belum sempurna.
Kadang perangkat desa masih harus menghadiri kegiatan di kecamatan.
Kadang jaringan telepon sulit.
Kadang warga datang tanpa membawa berkas lengkap.
Namun, kini warga mulai tahu harus bertanya kepada siapa dan apa yang harus dipersiapkan.
Perubahan kecil itu membuat banyak urusan terasa lebih mudah.
Suatu siang, seorang ibu datang ke kantor desa untuk mengurus surat keterangan.
“Dulu saya takut datang ke kantor desa,” katanya kepada Sari. “Takut salah bawa berkas. Sekarang sudah ada papan informasinya.”
Sari tersenyum.
“Kalau masih kurang jelas, Ibu bisa tanya.”
Ibu itu mengangguk.
“Bagus begini. Rasanya kita tidak bingung lagi.”
Di lapangan desa, pemuda juga mulai memiliki kegiatan yang lebih terarah.
Jatmiko bersama Ardi, Beni, dan Rendi membuat jadwal kerja bakti setiap dua minggu sekali. Selain itu, mereka mengadakan latihan olahraga untuk anak-anak dan remaja.
Lapangan yang dulu dipenuhi rumput liar mulai dibersihkan.
Tiang gawang diperbaiki.
Garis lapangan dibuat ulang menggunakan kapur.
Sebuah papan sederhana dipasang bertuliskan:
Lapangan Desa Suka Makmur
Ruang Bersama untuk Sehat, Kompak, dan Berkarya
Tidak semua pemuda langsung berubah.
Masih ada yang lebih memilih duduk di warung sampai malam.
Masih ada yang datang terlambat ketika kerja bakti.
Masih ada yang merasa kegiatan desa hanya membuang waktu.
Namun, perlahan-lahan, semakin banyak yang mulai ikut terlibat.
Mereka melihat teman-teman mereka bekerja.
Mereka melihat hasil kebun bersama.
Mereka melihat anak-anak yang mulai ramai di rumah baca.
Mereka melihat ibu-ibu yang bangga menjual produk hasil usaha.
Dan mereka mulai merasa bahwa desa juga dapat menjadi tempat untuk berkarya.
Namun, ketika Desa Suka Makmur mulai menemukan irama baru dalam kehidupannya, sebuah kabar datang dari arah kecamatan.
Kabar itu pertama kali dibawa oleh Pak Hasan yang baru pulang dari pasar.
Sore itu, ia datang ke warung sambil membawa wajah yang tampak tidak tenang.
“Ada orang dari perusahaan datang ke kecamatan,” katanya kepada beberapa warga.
“Perusahaan apa?” tanya Jatmiko.
“Katanya perusahaan perkebunan. Mereka mau melihat lahan di sekitar desa-desa sini.”
“Untuk apa?” tanya seorang warga.
Pak Hasan menurunkan suara.
“Katanya untuk rencana kerja sama lahan.”
Kabar itu cepat menyebar.
Ada yang mengatakan perusahaan itu ingin membuka kebun besar.
Ada yang mengatakan mereka akan membeli tanah warga.
Ada pula yang mengatakan perusahaan tersebut akan menawarkan uang kepada warga yang bersedia menyerahkan lahan.
Tidak ada yang tahu pasti.
Namun, kabar itu cukup untuk membuat sebagian warga mulai gelisah.
Malam harinya, Erlangga duduk di teras Rumah Baca Harapan bersama Khinanti. Lampu kecil di depan rumah baca menyala redup. Dari kejauhan, terdengar suara jangkrik dan bunyi motor warga yang pulang dari kebun.
“Kau sudah dengar soal perusahaan itu?” tanya Khinanti.
“Sudah.”
“Menurutmu mereka benar-benar akan datang ke desa?”
Erlangga terdiam sejenak.
“Mungkin.”
Khinanti memandang halaman rumah baca yang mulai ditumbuhi tanaman.
“Aku takut kalau mereka datang membawa janji-janji besar.”
“Kenapa?”
“Karena banyak warga kita sedang butuh uang. Ada yang rumahnya belum selesai diperbaiki setelah banjir. Ada yang hasil kebunnya rusak. Ada yang punya anak sekolah.”
Erlangga mengangguk.
“Itu yang membuat tawaran seperti itu bisa terasa menggiurkan.”
“Kalau mereka menawarkan uang untuk tanah warga?”
“Kita harus tahu dulu apa rencana mereka. Jangan langsung percaya, tapi juga jangan langsung menolak tanpa memahami.”
Khinanti menatap Erlangga.
“Kalau warga mulai berbeda pendapat bagaimana?”
Erlangga memandang jalan desa yang gelap.
“Berarti kita harus memastikan mereka punya ruang untuk bicara. Jangan sampai keputusan besar dibuat hanya karena beberapa orang mendapat tawaran lebih dulu.”
Khinanti menghela napas.
“Desa ini baru mulai berjalan.”
“Justru karena itu, kita harus menjaganya.”
Keesokan harinya, kabar tentang perusahaan semakin jelas.
Sebuah mobil hitam terlihat melintas di jalan utama desa. Mobil itu berhenti sebentar di dekat balai desa. Dua orang laki-laki turun sambil membawa map dan beberapa lembar brosur.
Mereka berbicara dengan salah satu perangkat desa, lalu berjalan menuju arah lahan di dekat perbukitan.
Beberapa warga memperhatikan dari kejauhan.
Pak Wiryo berdiri di depan warung Pak Hasan sambil memandangi mobil itu.
“Orang-orang itu bukan datang hanya untuk melihat pemandangan,” katanya.
Erlangga yang baru datang dari kebun bersama berhenti di sampingnya.
“Bapak tahu mereka?”
Pak Wiryo menggeleng.
“Tapi saya tahu cara orang seperti itu bekerja. Mereka datang membawa kata-kata manis. Mereka bicara soal pekerjaan, uang, jalan, dan kemajuan.”
“Menurut Bapak, kita harus bagaimana?”
Pak Wiryo memandang Erlangga.
“Kita jangan takut. Tapi jangan juga mudah percaya.”
Erlangga mengangguk.
Di sisi lain jalan, Khinanti berdiri bersama Sari. Mereka melihat beberapa warga mulai mendekati mobil tersebut.
“Aku merasa ini akan menjadi masalah,” kata Sari.
Khinanti tidak langsung menjawab.
Ia memandang Desa Suka Makmur yang selama beberapa bulan terakhir mulai tumbuh dengan harapan baru.
Kebun bersama mulai ditanami.
Rumah baca mulai ramai.
Kelompok usaha mulai berjalan.
Pelayanan desa mulai terbuka.
Namun, kini sebuah ancaman baru datang.
Bukan dalam bentuk banjir.
Bukan dalam bentuk jalan rusak.
Bukan dalam bentuk kekurangan buku atau modal.
Ancaman itu datang dalam bentuk tawaran.
Tawaran uang.
Tawaran pekerjaan.
Tawaran kemudahan.
Tawaran yang mungkin membuat sebagian warga merasa bahwa jalan paling cepat menuju kehidupan yang lebih baik adalah menyerahkan tanah mereka.
Khinanti menggenggam tangan Erlangga ketika laki-laki itu mendekat.
“Kita harus hati-hati,” katanya.
Erlangga memandangnya.
“Kita akan hadapi bersama.”
Khinanti mengangguk.
Di bawah langit sore Desa Suka Makmur, jalan baru yang selama ini mulai dibangun warga kini kembali menghadapi ujian.
Desa itu sedang belajar berdiri dengan kekuatannya sendiri.
Namun, untuk mempertahankan langkahnya, warga harus lebih dulu menghadapi pilihan-pilihan yang tidak mudah.
Pilihan antara uang cepat dan masa depan.
Pilihan antara kepentingan pribadi dan kepentingan bersama.
Pilihan antara menyerahkan tanah atau menjaga kehidupan yang telah mereka mulai bangun.
Dan dari sinilah, perjalanan Desa Suka Makmur memasuki jalan yang lebih menantang.
BAB XIX
Menghadapi Bayang-bayang
Tiga hari setelah mobil hitam itu melintasi jalan desa, suasana Desa Suka Makmur tidak lagi sama.
Bukan karena ada perubahan besar yang terlihat. Jalan masih sama. Rumah-rumah warga masih berdiri seperti biasa. Anak-anak masih berlarian di halaman sekolah. Asap dapur masih mengepul dari atap-atap seng ketika matahari mulai condong ke barat.
Namun, ada sesuatu yang bergeser di dalam percakapan warga.
Di warung kopi Pak Hasan, topik pembicaraan berubah dari harga karet dan hasil kebun menjadi satu nama: perusahaan. Di halaman rumah, para ibu yang biasanya berbincang tentang resep masakan atau jadwal posyandu kini mulai bertanya satu sama lain apakah mereka sudah didatangi orang dari kota. Bahkan anak-anak yang bermain di lapangan desa sesekali berhenti ketika mendengar orang dewasa membicarakan "tanah" dan "uang".
Kabar tentang perusahaan itu menyebar seperti riak air.
Ada yang mengatakan perusahaan itu akan membeli seluruh lahan di sekitar Dusun Timur.
Ada yang mengatakan mereka akan membayar mahal.
Ada pula yang mengatakan mereka hanya akan mengambil tanah warga yang sudah tidak produktif.
Tidak ada yang tahu pasti.
Namun, setiap kabar yang beredar—entah benar atau tidak—membawa pengaruh yang sama: sebagian warga mulai merasa gelisah. Sebagian lain mulai menghitung-hitung dalam hati.
Pagi itu, Erlangga berjalan menuju kantor desa dengan langkah lebih cepat dari biasanya.
Di tangannya, ia membawa beberapa lembar kertas berisi catatan yang ia tulis semalam. Ia tidak bisa tidur nyenyak. Pikirannya terus berputar tentang apa yang harus dilakukan jika perusahaan benar-benar datang dengan tawaran yang sulit ditolak oleh warga.
Ketika ia tiba di balai desa, Pak Darmawan sudah duduk di ruang kerjanya bersama Pak Mulyono, sekretaris desa. Wajah keduanya tampak serius. Di atas meja, terdapat beberapa berkas dan selembar surat yang masih baru dibuka.
"Selamat pagi, Pak," sapa Erlangga.
"Pagi, Lang," jawab Pak Darmawan. "Kebetulan saya ingin bicara denganmu."
Erlangga duduk di kursi yang tersedia.
"Ada perkembangan, Pak?"
Pak Darmawan menunjuk surat di atas meja.
"Surat resmi dari perusahaan itu datang tadi pagi. Mereka meminta izin untuk melakukan sosialisasi di desa kita minggu depan."
Erlangga mengambil surat itu dan membacanya dengan teliti.
Bahasa surat itu halus. Penuh dengan kata-kata tentang kemitraan, pembangunan, kesejahteraan, dan kerja sama. Namun, di antara semua kalimat manis itu, Erlangga dapat menangkap satu maksud utama: perusahaan ingin warga bersedia melepaskan lahannya.
"Mereka bergerak cepat," kata Erlangga.
"Terlalu cepat," sahut Pak Mulyono. "Biasanya perusahaan seperti ini butuh waktu berminggu-minggu untuk mengirim surat resmi. Ini baru tiga hari."
"Mereka sudah punya target," kata Erlangga. "Mungkin mereka sudah melakukan survei sebelumnya. Mungkin mereka sudah tahu lahan mana yang mereka incar."
Pak Darmawan menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Pertanyaannya sekarang, bagaimana sikap kita?"
Erlangga memandang surat itu sekali lagi.
"Kita tidak bisa menolak tanpa alasan yang jelas," katanya. "Tapi kita juga tidak bisa menerima tanpa kajian yang matang."
"Lalu?"
"Kita bentuk tim kecil. Terdiri dari perangkat desa, tokoh masyarakat, pemuda, dan warga yang lahannya mungkin terkena dampak. Kita pelajari proposal mereka. Kita tanyakan dampak lingkungan. Kita minta kepastian tentang jalur air dan hak warga."
Pak Darmawan mengangguk perlahan.
"Itu yang saya pikirkan juga. Tapi..."
"Tapi apa, Pak?"
"Tidak semua warga akan setuju dengan cara hati-hati seperti itu. Beberapa orang sudah mulai menghitung uang."
Erlangga menghela napas.
"Aku tahu, Pak. Karena itu, kita harus segera bergerak. Sebelum warga membuat keputusan sendiri-sendiri."
Siang itu, di warung kopi Pak Hasan, suasana mulai memanas.
Beberapa warga duduk di bangku panjang yang sudah retak di beberapa bagian. Ada yang baru pulang dari kebun. Ada yang sengaja datang karena mendengar bahwa perusahaan akan segera datang ke desa.
Pak Hasan yang biasa hanya diam di belakang meja mulai sibuk menuangkan kopi ke gelas-gelas yang berderet. Ia tidak banyak bicara, tetapi telinganya selalu terbuka untuk setiap percakapan.
"Saya dengar mereka mau bayar tiga kali lipat harga tanah," kata Pak Sardi, seorang warga yang kebunnya berada tidak jauh dari Dusun Timur.
"Dari mana kau dengar?" tanya Pak Jono.
"Dari seseorang yang kenal dengan orang dalam."
"Orang dalam macam apa?"
"Entahlah. Tapi katanya serius."
Pak Darto yang sedang memegang gelas kopi mendengarkan percakapan itu dengan wajah gelisah.
"Kalau tiga kali lipat, itu uang besar," katanya pelan.
"Besar sekali," sahut Pak Sardi. "Cukup untuk membeli rumah di kecamatan."
"Apa kau mau menjual?" tanya Pak Jono.
Pak Sardi tidak langsung menjawab. Ia mengaduk kopinya dengan gerakan lambat.
"Aku belum tahu," katanya akhirnya. "Tapi kalau uangnya cukup untuk masa depan anak-anak, kenapa tidak?"
Pak Darto meletakkan gelasnya dengan agak keras.
"Tanah itu warisan," katanya. "Bukan hanya milik kita, tetapi milik anak cucu kita."
"Anak cucu kita juga butuh uang," jawab Pak Sardi.
"Uang habis. Tanah tetap ada."
"Kalau tanahnya tidak produktif, lebih baik dijual."
"Kau bilang tidak produktif karena kau tidak mau mengolahnya dengan sungguh-sungguh."
Suara Pak Darto mulai meninggi.
Beberapa warga lain mulai menengok ke arah mereka. Suasana warung yang biasanya santai tiba-tiba terasa tegang.
Pak Hasan yang melihat situasi mulai memburuk segera melangkah mendekat.
"Sudah," katanya. "Jangan berdebat di sini. Kalau mau bicara, bicaralah dengan kepala dingin. Ini urusan desa. Bukan urusan pribadi."
Pak Darto menggerutu pelan, tetapi ia tidak melanjutkan perdebatan.
Pak Sardi hanya mengangkat bahu.
"Mau bagaimana lagi," katanya. "Semua orang punya kebutuhan masing-masing."
Di sudut lain warung, Pak Wiryo duduk sendiri. Ia tidak ikut dalam perdebatan itu. Namun, matanya tidak berhenti mengamati wajah-wajah warga yang hadir. Ia melihat ada yang gelisah. Ada yang bersemangat. Ada yang bingung. Ada pula yang hanya diam, tetapi diamnya itu justru lebih sulit dibaca.
Pak Wiryo tidak berbicara sepanjang siang itu.
Namun, ketika ia pulang, langkahnya lebih lambat dari biasanya.
Sore hari, Rumah Baca Harapan menjadi tempat persinggahan bagi beberapa warga yang ingin mencurahkan kegelisahan mereka.
Bukan dalam pertemuan resmi. Hanya percakapan santai di teras rumah baca, di antara buku-buku yang baru dirapikan dan tanaman sayur yang mulai tumbuh di halaman.
Khinanti mendengarkan satu per satu keluhan dan pertanyaan warga.
"Kak Khinanti, kalau tanah kami dijual, apakah anak-anak masih bisa sekolah di sini?" tanya seorang ibu.
"Apakah perusahaan itu akan memberi pekerjaan?" tanya yang lain.
"Bagaimana kalau uangnya habis, dan kami tidak punya tempat lagi?"
Khinanti duduk di kursi kayu dekat pintu. Tangannya memegang sebuah buku yang tidak ia baca. Hatinya terasa sesak melihat kekhawatiran yang mulai merayap di antara warga yang baru beberapa bulan lalu bersatu menghadapi banjir.
"Ibu-ibu," katanya pelan, "kita belum tahu apa yang akan ditawarkan perusahaan. Karena itu, kita tidak boleh terburu-buru percaya atau terburu-buru takut."
"Tapi kabarnya sudah banyak beredar," kata seorang ibu.
"Kabar hanya kabar," jawab Khinanti. "Kita tunggu penjelasan resmi. Setelah itu, kita bicara bersama."
"Kalau warga sudah terlanjur setuju sebelum rapat?"
Khinanti terdiam sejenak.
"Kita ingatkan mereka bahwa keputusan besar tidak boleh dibuat sendiri-sendiri."
Beberapa ibu mengangguk, tetapi wajah mereka masih tampak cemas.
Ketika warga mulai pulang satu per satu, Khinanti masih duduk di teras rumah baca. Ia memandangi jalan desa yang mulai gelap.
Erlangga datang tidak lama kemudian. Wajahnya tampak lelah. Di tangannya ada beberapa lembar kertas yang sama seperti yang ia bawa ke kantor desa pagi tadi.
"Kau tahu apa yang terjadi di warung tadi?" tanyanya.
Khinanti mengangguk.
"Aku dengar dari ibu-ibu. Mereka mulai takut."
"Bukan hanya takut," kata Erlangga. "Mereka juga mulai terpecah."
Khinanti menatapnya.
"Seberapa parah?"
"Ada yang sudah membayangkan uang. Ada yang bersikeras tidak mau menjual. Perdebatan di warung hampir berujung pertengkaran."
Khinanti memegang erat buku di tangannya.
"Aku takut," katanya pelan.
Erlangga duduk di sampingnya.
"Takut apa?"
"Aku takut semua yang kita bangun selama ini hancur hanya karena satu tawaran uang."
Erlangga tidak langsung menjawab.
"Aku takut warga yang selama ini mulai percaya pada kebersamaan tiba-tiba berpikir bahwa uang lebih penting," lanjut Khinanti. "Aku takut rumah baca ini, kebun bersama, kelompok usaha, semua yang sudah kita perjuangkan, akan dilupakan."
"Khinanti."
"Kau tahu, Langga? Waktu banjir, aku melihat warga saling membantu tanpa memikirkan siapa yang punya apa. Mereka menggendong anak orang lain. Mereka membuka rumah untuk tetangga. Mereka memberikan makanan meski persediaan mereka sendiri terbatas."
Khinanti menunduk.
"Sekarang, hanya karena kabar tentang uang, mereka mulai saling curiga."
Erlangga menggenggam tangan Khinanti.
"Aku juga takut," katanya jujur. "Tapi kita tidak bisa membiarkan ketakutan membuat kita diam. Kita harus bergerak. Kita harus memberi warga pemahaman yang jernih."
"Apakah mereka akan mendengar?"
"Kita tidak tahu. Tapi kalau kita tidak mencoba, mereka hanya akan mendengar satu sisi cerita."
Khinanti mengangkat wajahnya.
"Apa yang akan kita lakukan?"
"Besok, kita kumpulkan warga. Bukan rapat resmi. Hanya pertemuan kecil. Kita jelaskan apa yang kita tahu dan apa yang belum kita tahu. Kita minta mereka tidak membuat keputusan sebelum semuanya jelas."
"Kau pikir mereka akan datang?"
"Aku akan mengajak Jatmiko, Ardi, dan pemuda yang lain untuk mengundang warga dari rumah ke rumah."
Khinanti mengangguk pelan.
"Aku akan bicara dengan ibu-ibu."
"Bagus."
"Dan Pak Wiryo?"
Erlangga menghela napas.
"Pak Wiryo belum bicara banyak. Tapi aku melihat dia diam-diam memperhatikan. Mungkin dia sedang memikirkan sesuatu."
Khinanti memandang langit senja yang mulai gelap.
"Semoga dia memihak warga."
Erlangga tidak menjawab. Ia hanya memandang ke arah rumah Pak Wiryo yang terletak tidak jauh dari balai desa.
Malam itu, di rumah Pak Wiryo, suasana berbeda dari biasanya.
Pak Wiryo duduk sendirian di beranda rumahnya. Di tangannya, ia memegang sebuah foto lama yang sudah menguning. Foto itu diambil puluhan tahun lalu. Di dalamnya, ia masih muda, berdiri di tengah kebun yang luas dengan senyum percaya diri.
Di sampingnya, istrinya yang telah tiada beberapa tahun lalu. Di belakang mereka, hamparan sawah dan perbukitan yang menjadi saksi bisu kehidupan mereka.
Pak Wiryo memandangi foto itu cukup lama.
Ia teringat masa lalu. Ketika ia masih muda, ada juga orang-orang dari kota yang datang membawa tawaran. Mereka mengatakan akan membeli tanahnya dengan harga tinggi. Mereka mengatakan ia bisa memulai hidup baru dengan uang itu. Mereka mengatakan ia tidak perlu lagi bekerja keras di kebun.
Waktu itu, ia hampir setuju.
Namun, istrinya berkata, "Tanah ini adalah rumah kita. Bukan hanya tempat tinggal. Ini warisan untuk anak cucu kita."
Pak Wiryo mendengarkan istrinya.
Ia tidak menjual tanahnya.
Namun, beberapa temannya menerima tawaran itu. Mereka menjual tanah, pindah ke kota, dan menghabiskan uang dalam beberapa tahun. Sekarang, sebagian dari mereka tidak punya apa-apa. Beberapa bahkan kembali ke desa, tetapi tanah mereka sudah menjadi milik orang lain.
Pak Wiryo menyimpan foto itu kembali.
Ia menarik napas panjang.
Ia tidak ingin warga Desa Suka Makmur mengalami hal yang sama.
Ia tidak ingin mereka tergiur oleh uang cepat yang pada akhirnya hanya membuat mereka kehilangan tempat berpijak.
Di dalam kamar, cucunya, Raka, terbangun karena haus. Anak itu keluar mencari air dan melihat kakeknya masih duduk di beranda.
"Kakek belum tidur?" tanya Raka.
Pak Wiryo menoleh.
"Belum. Kau kenapa?"
"Haus."
"Minum di dapur. Ada air di teko."
Raka mengangguk dan berjalan ke dapur. Setelah minum, ia kembali ke beranda dan duduk di samping kakeknya.
"Kakek sedih?" tanyanya.
"Tidak. Kakek hanya berpikir."
"Pikir apa?"
Pak Wiryo memandang cucunya.
"Kakek berpikir tentang desa ini. Tentang masa depanmu. Tentang semua anak-anak yang belajar di rumah baca."
Raka tampak bingung.
"Kenapa Kakek memikirkan itu?"
"Karena ada orang-orang yang ingin membeli tanah desa. Mereka menawarkan uang banyak. Mungkin ada warga yang tergoda."
"Tanah kita dijual?"
"Belum. Tapi Kakek tidak mau itu terjadi."
Raka mengangguk pelan.
"Aku juga tidak mau."
"Kenapa?"
"Karena di sini aku punya teman-teman. Danu, Lila, Kak Khinanti, Abang Erlangga. Kalau tanahnya dijual, mereka mungkin pindah. Aku tidak mau kehilangan teman."
Pak Wiryo menatap cucunya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Kau benar," katanya. "Desa ini bukan hanya tanah. Desa ini adalah orang-orangnya."
Raka tersenyum.
"Besok aku mau ke rumah baca, Kek. Kak Khinanti bilang mau belajar membuat kebun lagi."
"Kakek ikut."
"Benarkah?"
"Benar. Kakek ingin lihat kebun kalian."
Raka tampak senang. Ia kemudian masuk ke dalam rumah dan kembali tidur.
Pak Wiryo masih duduk di beranda.
Namun, kini pikirannya lebih jernih.
Ia tahu apa yang harus dilakukannya.
Keesokan paginya, balai desa dipenuhi warga.
Tidak semua datang. Beberapa masih bekerja di kebun. Beberapa memilih tidak peduli. Namun, cukup banyak yang hadir untuk membuat ruangan terasa penuh.
Pak Darmawan berdiri di depan bersama Erlangga dan Pak Mulyono. Di sisi kanan, Jatmiko dan beberapa pemuda duduk di kursi yang disediakan. Di sisi kiri, Bu Ratna dan beberapa ibu dari kelompok usaha ikut hadir.
Khinanti duduk di barisan depan bersama Sari.
Pak Wiryo muncul beberapa menit setelah pertemuan dimulai. Ia tidak duduk di depan seperti biasanya. Ia memilih duduk di belakang, di antara warga biasa.
Beberapa orang menoleh ketika melihatnya.
Namun, tidak ada yang berkata apa-apa.
Pak Darmawan membuka pertemuan dengan suara yang tenang.
"Warga sekalian," katanya, "kita berkumpul hari ini bukan untuk membuat keputusan. Kita berkumpul untuk mendengar, bertanya, dan berpikir bersama."
Ia menunjuk ke arah Erlangga.
"Erlangga akan menjelaskan apa yang kita ketahui sejauh ini tentang rencana perusahaan yang ingin datang ke desa kita."
Erlangga berdiri. Ia membawa beberapa lembar kertas yang sudah ia siapkan sejak malam.
"Kita semua sudah mendengar kabar tentang perusahaan yang akan datang," katanya. "Beberapa di antara kita mungkin sudah menghitung potensi uang yang akan ditawarkan. Beberapa mungkin sudah khawatir kehilangan tanah. Itu wajar."
Ia memandang warga satu per satu.
"Tapi hari ini, saya ingin mengingatkan satu hal: kita belum tahu apa yang sebenarnya mereka tawarkan. Kita belum tahu syaratnya. Kita belum tahu dampaknya. Karena itu, saya mengajak semua warga untuk tidak membuat keputusan sendiri-sendiri sebelum kita mendengar penjelasan resmi dan berdiskusi bersama."
Seorang warga dari belakang mengangkat tangan.
"Kalau mereka menawarkan uang banyak, apa kita harus menolak begitu saja?"
Erlangga menatapnya.
"Tidak," jawabnya. "Kita tidak harus menolak atau menerima sebelum kita mengerti. Yang saya minta adalah kesabaran. Jangan terburu-buru. Jangan bertindak sendiri."
Warga lain angkat bicara.
"Kalau tetangga kita sudah setuju, apakah kita ikut?"
"Keputusan setiap orang adalah haknya," jawab Erlangga. "Tapi saya berharap kita semua ingat bahwa tanah ini bukan hanya milik satu orang. Tanah ini adalah bagian dari desa kita. Keputusan yang diambil satu orang dapat mempengaruhi banyak orang."
Suasana mulai ramai.
Beberapa warga mulai berbicara bersamaan.
Pak Darmawan mengangkat tangan.
"Silakan sampaikan pendapat, tetapi satu per satu."
Bu Sulastri berdiri.
"Saya tidak mau tanah saya dijual," katanya tegas. "Saya sudah bertahun-tahun hidup di sini. Anak-anak saya besar di sini. Tidak ada uang yang bisa menggantikan itu."
Beberapa warga mengangguk.
Namun, Pak Sardi juga berdiri.
"Tapi kita juga harus realistis," katanya. "Kebun kita tidak selalu menghasilkan. Harga karet turun. Singkong kadang gagal panen. Kalau ada tawaran yang bisa memberi masa depan lebih baik, kenapa tidak dipertimbangkan?"
"Lebih baik bagaimana?" sahut Bu Sulastri. "Uang habis dalam beberapa tahun. Lalu kita kembali ke desa tanpa tanah."
"Kita bisa membeli tanah di tempat lain."
"Dengan uang yang sama?"
Perdebatan mulai memanas.
Erlangga ingin berbicara, tetapi sebelum ia sempat bersuara, Pak Wiryo berdiri dari kursinya di belakang.
Semua orang menoleh.
Pak Wiryo tidak sering berbicara di depan umum. Ia lebih suka menyampaikan pendapat di warung kopi atau di pertemuan kecil. Karena itu, ketika ia berdiri, semua warga otomatis diam.
"Dengar," kata Pak Wiryo dengan suara yang tidak terlalu keras, tetapi jelas.
"Apa yang dikatakan Bu Sulastri benar. Tanah adalah tempat kita berpijak. Tanpa tanah, kita tidak punya apa-apa."
Ia berhenti sejenak.
"Tapi apa yang dikatakan Pak Sardi juga tidak salah. Kita semua butuh kehidupan yang lebih baik."
Warga mendengarkan dengan saksama.
"Lalu bagaimana, Pak?" tanya seseorang.
Pak Wiryo melangkah ke depan. Ia berdiri di dekat Erlangga.
"Saya sudah tua," katanya. "Saya sudah melihat banyak orang datang dan pergi dari desa ini. Saya juga pernah hampir tergiur menjual tanah saya puluhan tahun lalu."
Ia memandang warga.
"Untungnya, istri saya mengingatkan saya. Tanah bukan hanya soal harga. Tanah adalah tempat anak-anak kita tumbuh. Tempat kita meletakkan harapan."
"Jadi Bapak menolak perusahaan?" tanya Pak Sardi.
Pak Wiryo menggeleng.
"Saya tidak menolak sebelum saya mendengar. Tapi saya juga tidak menerima sebelum saya mengerti."
Ia menoleh kepada Erlangga.
"Anak muda ini," katanya sambil menunjuk, "sudah membuktikan bahwa dia tidak hanya pandai bicara. Dia bekerja. Dia membantu warga. Dia tidak meninggalkan desa ketika keadaan sulit."
Erlangga menunduk.
"Saya percaya dia tidak akan membawa warga ke jalan yang salah," lanjut Pak Wiryo. "Karena itu, saya usulkan kita membentuk tim kecil untuk mempelajari tawaran perusahaan. Tim ini harus terdiri dari perangkat desa, tokoh masyarakat, warga yang lahannya terkena dampak, dan pemuda yang bisa membantu membaca dokumen."
Ia memandang Pak Darmawan.
"Setelah tim ini bekerja, kita adakan musyawarah besar. Semua warga boleh bicara. Semua warga boleh bertanya. Dan keputusan akhir akan diambil bersama."
Ruangan menjadi hening.
Kemudian, satu per satu warga mulai mengangguk.
Pak Sardi yang semula bersikeras untuk mempertimbangkan tawaran uang akhirnya duduk kembali.
Bu Sulastri tersenyum lega.
Pak Darmawan berdiri.
"Usul Pak Wiryo kita terima," katanya. "Kita bentuk tim kecil hari ini. Dan kita sepakat untuk tidak membuat keputusan sendiri-sendiri sampai kita semua mendengar penjelasan resmi."
Erlangga memandang Pak Wiryo dengan rasa hormat.
Lelaki tua itu baru saja melakukan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya: ia berdiri di depan warga dan memilih untuk melindungi mereka.
Bukan dengan kata-kata keras.
Bukan dengan kemarahan.
Tetapi dengan pengalaman dan ketenangan.
Ketika pertemuan selesai, warga mulai pulang perlahan.
Beberapa masih berbincang di halaman balai desa. Beberapa berjalan bersama sambil saling bertukar pikiran. Suasana tidak lagi setegang sebelumnya. Masih ada kekhawatiran. Masih ada pertanyaan yang belum terjawab. Namun, setidaknya warga sepakat untuk tidak bergerak sendiri-sendiri.
Pak Wiryo berjalan keluar dari balai desa dengan langkah pelan.
Erlangga menyusulnya.
"Pak," panggilnya.
Pak Wiryo berhenti.
"Terima kasih," kata Erlangga. "Apa yang Bapak katakan tadi sangat berarti."
Pak Wiryo menatapnya cukup lama.
"Saya tidak melakukannya untukmu," katanya.
"Iya, Pak. Saya tahu. Bapak melakukannya untuk warga."
Pak Wiryo mengangguk pelan.
"Dulu saya terlalu sering melihat semua hal sebagai ancaman. Saya pikir orang-orang yang datang membawa perubahan hanya ingin mengambil keuntungan."
Ia menatap jalan desa di depannya.
"Sekarang saya tahu, tidak semua perubahan buruk. Tapi perubahan yang baik harus melibatkan semua orang."
Erlangga tidak menjawab. Ia hanya berdiri di samping Pak Wiryo, memandang jalan yang sama.
"Kau akan menjaga desa ini?" tanya Pak Wiryo tiba-tiba.
Erlangga menoleh.
"Saya akan berusaha, Pak."
"Berusaha tidak cukup," kata Pak Wiryo. "Kau harus bertahan. Tidak hanya ketika semuanya mudah. Tapi juga ketika semuanya sulit."
Erlangga mengangguk.
"Saya akan bertahan."
Pak Wiryo memandangnya sekali lagi. Kemudian ia berjalan perlahan menuju rumahnya.
Sore itu, Erlangga kembali ke Rumah Baca Harapan.
Khinanti sedang menata buku-buku di rak. Anak-anak sudah pulang. Rumah baca terasa sunyi, tetapi sunyi yang nyaman.
"Bagaimana?" tanya Khinanti tanpa menoleh.
"Pak Wiryo bicara," jawab Erlangga.
Khinanti berhenti menata buku.
"Serius?"
"Serius. Dia berdiri di depan warga dan meminta semua orang bersabar. Dia juga mengusulkan pembentukan tim kajian."
Khinanti menatap Erlangga dengan mata berbinar.
"Aku tidak percaya."
"Aku juga. Tapi itu terjadi."
Khinanti duduk di kursi kayu dekat jendela.
"Pak Wiryo benar-benar berubah," katanya.
"Orang bisa berubah," kata Erlangga. "Yang penting bukan seberapa cepat, tetapi seberapa tulus."
Mereka terdiam beberapa saat.
Di luar, suara anak-anak masih terdengar dari lapangan. Suara tawa dan teriakan mereka mengingatkan bahwa desa itu tetap hidup.
"Khinanti," kata Erlangga pelan.
"Iya?"
"Aku ingin bertanya sesuatu."
"Apa?"
"Kalau suatu hari nanti ada tawaran lain untukmu—pekerjaan yang lebih baik di kota, hidup yang lebih nyaman—apa kau akan pergi?"
Khinanti menoleh.
"Kenapa kau bertanya itu?"
"Aku hanya ingin tahu."
Khinanti memandang rumah baca itu. Rak-rak buku. Meja-meja sederhana. Tanaman di halaman. Jalan desa yang mulai diperbaiki.
"Aku sudah pernah memilih pergi," katanya pelan. "Bukan secara fisik, tetapi dengan hati. Aku pernah lelah. Aku pernah hampir menyerah."
Ia menatap Erlangga.
"Tapi setelah semua yang terjadi—setelah banjir, setelah kebun bersama, setelah melihat anak-anak belajar, setelah melihat warga mulai percaya—aku sadar bahwa aku sudah menemukan tempatku."
Erlangga menatapnya dengan hati berdebar.
"Di sini," lanjut Khinanti. "Di desa ini. Di rumah baca ini. Bersama warga. Dan bersamamu."
Erlangga tidak mampu berkata-kata.
Ia hanya menggenggam tangan Khinanti.
"Kalau kau bertanya tentang masa depan," kata Khinanti, "aku tidak tahu apakah semuanya akan mudah. Tapi aku tahu, aku tidak ingin menghadapinya sendirian."
Erlangga tersenyum.
"Kau tidak akan sendirian."
Matahari sore perlahan tenggelam di balik pepohonan.
Cahaya keemasan masuk melalui jendela rumah baca dan jatuh di atas rak-rak buku.
Di luar, desa masih terus bergerak.
Namun, malam itu, Erlangga dan Khinanti tahu bahwa apa pun yang akan terjadi, mereka telah menemukan sesuatu yang tidak dapat diukur dengan uang.
Mereka telah menemukan alasan untuk bertahan bersama.
Dan di balik bayang-bayang ancaman yang mulai menghampiri desa itu, cahaya harapan tetap menyala.
BAB XX
Pesta Rakyat dan Sebuah Lamaran
Bulan Agustus datang dengan langit yang lebih cerah di Desa Suka Makmur.
Setelah musim hujan berlalu, jalan-jalan desa mulai mengering. Lumpur yang dahulu menutup sebagian besar jalan utama kini tinggal tersisa di beberapa sisi. Warga telah menimbun lubang-lubang jalan dengan batu, tanah keras, dan pecahan batu kali sambil menunggu program perbaikan jalan yang lebih besar dari pemerintah.
Saluran air yang dahulu tersumbat oleh ranting, lumpur, dan sampah kini lebih terawat. Pemuda desa secara bergantian membersihkannya setiap beberapa minggu sekali. Mereka tidak ingin banjir kembali datang dan membuat warga harus mengungsi seperti beberapa bulan sebelumnya.
Di dekat balai desa, kebun bersama mulai menghijau.
Daun kangkung tumbuh lebat. Cabai mulai berbunga. Batang tomat yang dahulu kecil kini berdiri lebih tegak dengan buah-buah kecil yang mulai muncul di sela daunnya. Di sudut kebun, beberapa ibu sedang memeriksa tanaman bayam. Anak-anak yang pulang dari rumah baca sering datang membawa botol bekas berisi air untuk menyiram tanaman.
Suasana Desa Suka Makmur terasa berbeda.
Bukan karena semua persoalan telah selesai.
Bukan karena desa itu tiba-tiba berubah menjadi tempat yang serba cukup.
Jalan masih banyak yang belum diperbaiki. Rumah baca masih membutuhkan buku. Kelompok usaha ibu-ibu masih belajar mencari pasar yang lebih luas. Kebun pangan masih membutuhkan perawatan. Pelayanan desa pun masih terus dibenahi.
Namun, warga kini memiliki alasan untuk merasa bangga.
Mereka mulai melihat hasil dari kerja kecil yang dilakukan bersama-sama.
Karena pada tahun itu, hari jadi Desa Suka Makmur akan dirayakan dengan cara yang lebih istimewa.
Pak Darmawan mengumumkan rencana perayaan melalui pengeras suara masjid, papan informasi desa, dan pesan yang disampaikan dari rumah ke rumah oleh para ketua RT.
Di papan informasi depan balai desa, tertulis dengan huruf besar:
PESTA RAKYAT HARI JADI DESA SUKA MAKMUR
Gotong Royong, Kesenian, Produk Warga, dan Doa Bersama untuk Desa
Warga menyambut pengumuman itu dengan antusias.
“Sudah lama desa kita tidak mengadakan acara sebesar ini,” kata Bu Sulastri kepada Bu Ratna ketika mereka bertemu di warung.
“Dulu kalau ada acara, paling hanya lomba anak-anak,” jawab Bu Ratna. “Sekarang katanya ada pameran produk warga juga.”
“Bagus itu. Biar orang-orang tahu ibu-ibu juga bisa menghasilkan sesuatu.”
“Bukan hanya ibu-ibu,” kata Bu Ratna sambil tersenyum. “Anak-anak rumah baca juga mau tampil.”
Kabar tentang pesta rakyat cepat menyebar. Warga dari dusun-dusun sekitar bahkan mulai bertanya apakah mereka boleh datang untuk melihat acara tersebut.
Pak Darmawan tidak keberatan.
“Semakin banyak yang datang, semakin baik,” katanya dalam rapat kecil di balai desa. “Tapi jangan sampai kita hanya sibuk membuat acara. Pesta rakyat ini harus menjadi pengingat bahwa perubahan desa lahir dari warga sendiri.”
Erlangga yang duduk di sampingnya mengangguk.
“Kita bisa menampilkan perjalanan desa,” katanya. “Bukan hanya hasilnya, tetapi juga prosesnya. Foto kerja bakti, kebun bersama, rumah baca, kelompok usaha ibu-ibu, dan kegiatan pemuda.”
Pak Wiryo yang ikut hadir dalam rapat itu mengangguk pelan.
“Bagus,” katanya. “Biar anak-anak tahu desa ini tidak berubah hanya karena satu orang. Desa berubah karena banyak orang mau bekerja.”
Kalimat itu membuat beberapa warga menoleh.
Dulu, Pak Wiryo adalah orang yang paling sering meragukan kegiatan Erlangga dan Khinanti. Ia pernah menganggap rumah baca hanya akan ramai di awal. Ia pernah menganggap kebun bersama tidak akan bertahan. Ia bahkan pernah mengatakan bahwa pemuda desa lebih pandai berbicara daripada bekerja.
Namun, kini sikapnya berubah.
Ia tidak lagi berdiri di luar kegiatan warga. Ia ikut datang saat kerja bakti. Ia membantu memberi saran tentang kebun. Ia mengajarkan pemuda cara membuat bedeng tanaman agar tidak mudah tergenang air. Ia juga sering datang ke balai desa untuk melihat perkembangan program warga.
Tidak semua orang langsung lupa pada sikapnya yang dulu.
Namun, warga melihat bahwa Pak Wiryo benar-benar ingin berubah.
Dan di Desa Suka Makmur, orang yang mau berubah selalu diberi ruang untuk ikut berjalan.
Persiapan pesta rakyat dimulai sejak dua minggu sebelum hari perayaan.
Para pemuda membersihkan lapangan desa. Rumput liar dipotong. Batu-batu kecil disingkirkan. Tiang gawang yang sudah lama miring diperbaiki. Beberapa bambu dipotong untuk membuat gapura sederhana di pintu masuk desa.
Jatmiko memimpin pemuda yang sedang memasang bambu.
“Yang bagian atas jangan terlalu rendah,” katanya. “Nanti kendaraan susah masuk.”
Ardi yang berdiri di atas bangku kayu mengangguk.
“Kalau terlalu tinggi, bambunya kurang.”
“Tambah bambu lagi,” jawab Jatmiko. “Jangan setengah-setengah.”
Tidak jauh dari sana, Erlangga sedang membantu mengecat papan kayu.
Tulisan di papan itu berbunyi:
SELAMAT HARI JADI DESA SUKA MAKMUR
BERSATU, BERKARYA, DAN BERTUMBUH BERSAMA
Danu dan Raka berdiri di dekatnya sambil memperhatikan.
“Kak Erlangga, boleh aku bantu?” tanya Danu.
“Boleh. Tapi jangan pegang catnya dulu.”
“Kenapa?”
“Nanti tulisan ini berubah jadi lukisan tanganmu.”
Danu tertawa.
“Aku bisa menggambar juga.”
“Kalau begitu, nanti kamu bantu gambar daun dan padi di bagian pinggir papan.”
Danu tampak senang. Ia segera mengambil pensil dan duduk di bawah pohon untuk membuat gambar.
Di rumah Bu Ratna, kelompok usaha Rasa Makmur mulai sibuk menyiapkan produk untuk dipamerkan.
Ada keripik singkong, keripik pisang, kue kering, sambal kemasan, minuman jahe, serta beberapa makanan tradisional yang dibuat dari hasil kebun warga. Ibu-ibu bekerja sejak pagi. Ada yang mengiris singkong, ada yang menggoreng, ada yang menimbang makanan ke dalam plastik, dan ada yang menempelkan label.
Label sederhana itu bertuliskan:
RASA MAKMUR
Produk Warga Desa Suka Makmur
Bu Ratna memeriksa satu per satu kemasan yang sudah selesai.
“Jangan terlalu penuh,” katanya kepada seorang ibu. “Nanti plastiknya susah ditutup.”
“Kalau terlalu sedikit, pembeli bilang tidak puas,” jawab ibu itu.
“Yang penting ukurannya sama. Kalau rapi, orang juga senang melihatnya.”
Bu Sulastri datang membawa beberapa botol sambal.
“Ini sudah diberi label?”
“Belum,” jawab Bu Ratna. “Taruh di meja. Nanti anak-anak remaja bantu menempelkan.”
Khinanti dan Sari juga datang siang itu untuk membantu.
Mereka membawa kertas label tambahan dan spidol warna. Beberapa remaja putri duduk di lantai sambil menempelkan label pada kemasan makanan.
“Kalau produk ini laku semua, kita buat lagi minggu depan,” kata salah seorang remaja.
Bu Ratna tersenyum.
“Jangan hanya berharap laku. Kita juga harus siap kalau ada yang bertanya soal harga, rasa, dan cara pesan.”
“Berarti kita harus belajar bicara seperti pedagang?”
“Bukan seperti pedagang,” jawab Bu Ratna. “Kita harus belajar percaya pada hasil kerja sendiri.”
Di Rumah Baca Harapan, suasana tidak kalah sibuk.
Khinanti dan Sari mendampingi anak-anak berlatih membaca puisi, menyanyi lagu daerah, dan menampilkan drama pendek tentang gotong royong.
Danu mendapat peran sebagai anak yang mengajak warga menanam sayur.
Raka mendapat peran sebagai pemuda yang malas, tetapi akhirnya ikut kerja bakti.
Lila menjadi narator yang menjelaskan bahwa desa akan maju jika warganya saling membantu.
“Aku takut lupa dialog,” kata Raka sambil memegang kertas naskah.
“Kau tidak perlu takut,” jawab Khinanti. “Kalau lupa, lihat temanmu. Yang penting jangan berhenti.”
Danu mengangkat tangan.
“Kak, kalau aku lupa?”
“Kau bisa bilang dengan kata-katamu sendiri.”
“Berarti boleh beda?”
“Boleh, asal maksudnya tetap sama.”
Danu tampak lega.
“Kalau begitu aku mau bilang, ‘Kalau kita cuma tidur, kebun tidak akan tumbuh.’”
Anak-anak lain tertawa.
“Itu juga boleh,” kata Khinanti sambil tersenyum.
Di sudut rumah baca, Erlangga sedang membantu memperbaiki panggung kecil dari papan bekas. Panggung itu akan digunakan anak-anak saat tampil di lapangan desa.
Khinanti mendekatinya.
“Kau sudah melihat latihan mereka?” tanyanya.
“Sudah.”
“Bagaimana?”
“Raka terlalu pandai berperan jadi pemuda malas.”
Khinanti tertawa kecil.
“Jangan bilang begitu. Nanti dia dengar.”
“Kalau dia dengar, mungkin dia akan lebih rajin latihan.”
Khinanti memandang anak-anak yang sedang berlatih.
“Kadang aku masih tidak percaya rumah baca ini bisa sampai seperti sekarang.”
Erlangga berhenti memaku papan.
“Kenapa?”
“Dulu kita hanya punya beberapa buku dan ruangan yang hampir kosong. Sekarang anak-anak punya jadwal belajar, latihan pentas, kegiatan kebun, dan teman-teman yang mau membantu.”
Erlangga menatap ruangan sederhana itu.
“Karena anak-anak membuat tempat ini hidup.”
Khinanti mengangguk.
“Dan warga membuatnya bertahan.”
Erlangga tersenyum.
“Termasuk kamu.”
Khinanti tidak menjawab. Namun, senyumnya bertahan lebih lama dari biasanya.
Menjelang hari perayaan, seluruh desa tampak bergerak.
Pagi hari, warga membersihkan lingkungan.
Siang hari, ibu-ibu menyiapkan makanan.
Sore hari, anak-anak berlatih pentas.
Malam hari, pemuda memasang lampu-lampu sederhana di lapangan.
Lampu itu bukan lampu hias yang mewah. Hanya lampu kecil yang dipasang pada kabel panjang dan digantungkan di antara bambu-bambu. Namun, ketika malam tiba, cahaya lampu itu membuat lapangan desa tampak lebih hangat.
Pak Wiryo ikut membantu membuat papan informasi di kebun bersama.
Dengan tulisan tangannya yang rapi, ia menuliskan nama-nama tanaman dan cara perawatannya.
Kangkung – Disiram Pagi dan Sore
Cabai – Jangan Terlalu Banyak Air
Tomat – Perlu Penyangga Bambu
Bayam – Panen Saat Daun Muda
Ketika Erlangga datang membawa beberapa bambu, Pak Wiryo berkata, “Jangan pasang papan terlalu rendah. Nanti mudah terkena air kalau hujan.”
“Baik, Pak.”
Pak Wiryo menatap kebun yang mulai hijau.
“Dulu saya pikir kegiatan seperti ini hanya akan ramai di awal.”
Erlangga tersenyum.
“Sekarang bagaimana menurut Bapak?”
Pak Wiryo mengangguk ke arah beberapa anak yang sedang menyiram tanaman.
“Sekarang saya tahu, kalau anak-anak sudah ikut menjaga, berarti kegiatan ini punya masa depan.”
Erlangga tidak menjawab. Ia hanya tersenyum.
Namun, di dalam hati, ia merasa lega.
Perubahan Pak Wiryo bukan hanya tentang satu orang yang berhenti meragukan. Perubahan itu menjadi tanda bahwa desa mulai belajar menerima gagasan baru tanpa harus meninggalkan pengalaman orang-orang lama.
Hari yang dinantikan akhirnya tiba.
Sejak pagi, lapangan desa sudah dipenuhi warga.
Beberapa warga dari dusun sekitar datang dengan sepeda motor. Ada pula yang berjalan kaki sambil membawa anak-anak. Gapura bambu di pintu masuk dihiasi daun kelapa muda, kain merah putih, dan bunga-bunga kertas buatan anak-anak.
Di sepanjang lapangan berdiri tenda-tenda kecil.
Di salah satu tenda, ibu-ibu menjual makanan tradisional.
Di tenda lain, produk Rasa Makmur disusun rapi di atas meja.
Ada pula meja khusus untuk pameran hasil kebun bersama. Cabai, kangkung, bayam, dan tomat dipajang dalam keranjang bambu. Di sampingnya terdapat foto-foto proses penanaman dari awal hingga tanaman mulai tumbuh.
Di satu sisi lapangan, terdapat pameran sederhana tentang perjalanan Desa Suka Makmur.
Ada foto-foto kerja bakti membersihkan jalan.
Ada gambar anak-anak di Rumah Baca Harapan.
Ada catatan musyawarah desa.
Ada foto kebun bersama sebelum dan sesudah ditanami.
Ada pula produk-produk ibu-ibu yang disusun rapi di atas meja.
Warga yang melihat pameran itu tampak bangga.
“Ini foto waktu banjir,” kata Bu Sulastri kepada seorang warga lain.
“Iya. Waktu itu semua orang turun membantu.”
“Sekarang lihat, kebun sudah jadi.”
“Rumah baca juga makin ramai.”
Seorang bapak yang berdiri di dekat foto-foto itu mengangguk.
“Dulu saya pikir kegiatan seperti ini hanya untuk anak muda. Ternyata kalau semua ikut, hasilnya bisa begini.”
Di depan panggung sederhana, anak-anak mulai tampil.
Mereka menyanyikan lagu daerah dengan suara yang belum selalu serempak, tetapi penuh semangat. Beberapa anak terlalu cepat mengikuti irama. Ada yang lupa gerakan tangan. Ada pula yang tersenyum malu ketika melihat banyak warga memperhatikan.
Namun, warga tetap memberi tepuk tangan.
Setelah itu, drama pendek tentang gotong royong dimulai.
Raka muncul dengan wajah mengantuk. Ia berjalan lambat sambil membawa cangkul yang hampir jatuh dari tangannya.
Warga tertawa.
“Kau jangan malas terus!” teriak Danu dalam perannya sebagai anak kecil.
“Aku capek,” jawab Raka sambil menguap.
“Kalau semua orang capek dan tidak mau bekerja, siapa yang akan memperbaiki desa?”
Suasana menjadi lebih hening.
Kemudian Danu berkata dengan suara yang lebih lantang, “Kalau kita hanya menunggu, desa ini tidak akan berubah.”
Kalimat itu sederhana.
Tetapi warga tahu bahwa kalimat itu menggambarkan apa yang telah mereka alami.
Tepuk tangan terdengar lebih panjang ketika drama selesai.
Khinanti berdiri di samping panggung dengan mata berkaca-kaca. Ia melihat Danu membungkuk dengan bangga. Ia melihat Raka tersenyum karena akhirnya berhasil mengingat seluruh dialognya. Ia melihat Lila memegang tangan temannya sambil menahan gugup.
Bagi Khinanti, penampilan itu bukan sekadar hiburan.
Itu adalah tanda bahwa anak-anak Desa Suka Makmur mulai berani berdiri di depan banyak orang.
Setelah pentas anak-anak selesai, kelompok ibu-ibu Rasa Makmur memperkenalkan produk mereka.
Bu Ratna berdiri di depan panggung dengan wajah sedikit gugup. Tangannya memegang satu bungkus keripik singkong.
“Kami dulu hanya membuat makanan untuk keluarga,” katanya. “Sekarang kami mencoba membuatnya menjadi usaha bersama. Kami masih belajar, tetapi kami ingin menunjukkan bahwa ibu-ibu desa juga bisa berkarya.”
Tepuk tangan terdengar panjang.
Bu Ratna melanjutkan, “Kami ingin hasil kebun warga tidak hanya dijual mentah. Kami ingin ada nilai tambah. Kami ingin anak-anak kami melihat bahwa dari desa pun kita bisa berusaha.”
Beberapa ibu yang berdiri di belakangnya tampak tersenyum bangga.
Kemudian Pak Darmawan naik ke panggung.
“Hari ini bukan hanya hari jadi desa,” katanya. “Hari ini adalah perayaan atas keberanian warga untuk berubah.”
Ia menyebutkan satu per satu hal yang telah dilakukan bersama.
Perbaikan saluran air.
Kerja bakti jalan.
Rumah baca.
Kebun pangan.
Kelompok usaha warga.
Papan informasi pelayanan desa.
“Masih banyak yang harus kita kerjakan,” lanjutnya. “Tetapi kita sudah membuktikan bahwa Desa Suka Makmur tidak hanya pandai berharap. Kita juga mau bekerja.”
Warga bertepuk tangan.
Di tengah keramaian itu, Erlangga berdiri di belakang panggung.
Ia memandangi Khinanti yang sedang membantu anak-anak membagikan minuman. Khinanti mengenakan kebaya sederhana berwarna lembut. Rambutnya disanggul rapi, tetapi wajahnya tetap terlihat seperti Khinanti yang biasa: tenang, hangat, dan selalu memperhatikan orang lain.
Sesekali Khinanti membungkuk untuk membantu anak kecil yang menjatuhkan gelas. Sesekali ia tersenyum kepada ibu-ibu yang datang bertanya tentang jadwal rumah baca. Sesekali ia menoleh ke arah panggung untuk memastikan anak-anak tidak berlarian terlalu dekat dengan kabel listrik.
Erlangga memandanginya cukup lama.
Sejak mereka saling menyatakan perasaan di Rumah Baca Harapan, hubungan mereka tidak berubah menjadi sesuatu yang berlebihan.
Mereka tetap bekerja.
Tetap berdiskusi.
Tetap berbeda pendapat dalam beberapa hal.
Tetap saling mengingatkan ketika salah satu mulai terlalu lelah.
Kadang Khinanti menegur Erlangga karena terlalu lama bekerja tanpa makan. Kadang Erlangga mengingatkan Khinanti agar tidak memaksakan diri ketika sedang kurang sehat. Mereka masih berjalan di jalan desa yang sama, masih menghadapi persoalan warga yang sama, dan masih memikirkan masa depan desa yang belum tentu mudah.
Namun, perasaan itu kini menjadi kekuatan baru.
Erlangga telah lama memikirkan satu hal.
Ia tidak ingin melamar Khinanti dengan cara yang mewah.
Ia tidak memiliki rumah besar.
Ia belum memiliki tabungan yang banyak.
Ia juga tahu bahwa kehidupan bersama nanti tidak akan selalu mudah.
Masih ada jalan desa yang belum selesai diperbaiki. Masih ada usaha warga yang harus dikembangkan. Masih ada rumah baca yang membutuhkan perhatian. Masih ada banyak harapan yang harus diperjuangkan.
Namun, Erlangga ingin menyampaikan niatnya dengan jujur.
Di tempat yang menjadi saksi perjalanan mereka.
Di desa yang telah mengajarkan mereka arti bertahan.
Di hadapan keluarga dan masyarakat yang telah melihat perjuangan mereka.
Menjelang sore, setelah lomba-lomba selesai dan warga mulai berkumpul di depan panggung untuk acara penutupan, Erlangga menghampiri Pak Darmawan.
“Pak, saya ingin menyampaikan sesuatu,” katanya.
Pak Darmawan menatapnya.
“Sesuatu yang penting?”
“Iya, Pak.”
Pak Darmawan tersenyum, seolah sudah memahami.
“Baik. Setelah doa bersama, naiklah ke panggung.”
Erlangga mengangguk.
Jantungnya mulai berdebar.
Tidak jauh dari sana, Jatmiko yang sedang membawa kursi mendekat.
“Kau jadi?” tanyanya dengan suara pelan.
Erlangga mengangguk.
Jatmiko tersenyum lebar.
“Jangan sampai suaramu hilang waktu pegang mikrofon.”
“Kalau hilang, kau yang lanjutkan.”
“Tidak mau. Ini urusanmu.”
Erlangga tertawa kecil, meski tangannya mulai terasa dingin.
Ketika matahari mulai condong ke barat, warga berkumpul dalam suasana yang lebih tenang.
Doa bersama dipimpin oleh tokoh agama desa. Semua warga menundukkan kepala. Anak-anak yang sejak tadi berlarian mulai duduk di dekat orang tua mereka. Angin sore berembus perlahan melewati lapangan.
Setelah doa selesai, Pak Darmawan kembali berdiri di depan mikrofon.
“Sebelum acara kita tutup,” katanya, “ada satu hal yang ingin disampaikan oleh salah satu pemuda desa kita.”
Ia menoleh ke arah Erlangga.
“Erlangga, silakan.”
Warga mulai berbisik-bisik.
Erlangga melangkah menuju panggung.
Tangannya terasa dingin.
Di bawah panggung, ia melihat ibunya, Bu Marni, duduk bersama beberapa ibu. Wajah Bu Marni tampak haru, meski ia berusaha tersenyum tenang.
Ia melihat Jatmiko yang tersenyum lebar.
Ia melihat Bu Ratna yang menutup mulutnya seperti sudah menebak apa yang akan terjadi.
Ia melihat Pak Wiryo yang berdiri tidak jauh dari tenda kebun bersama, memandangi Erlangga dengan wajah serius tetapi hangat.
Lalu ia melihat Khinanti.
Khinanti berdiri di antara anak-anak Rumah Baca Harapan. Wajahnya tampak bingung ketika Erlangga memandangnya.
Erlangga mengambil mikrofon.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab warga.
Erlangga menarik napas.
“Hari ini, kita merayakan hari jadi Desa Suka Makmur. Kita merayakan kerja warga, kebersamaan, dan harapan yang mulai tumbuh.”
Ia memandang warga.
“Saya bukan orang yang paling hebat di desa ini. Saya juga tidak mungkin melakukan semua hal sendirian. Apa yang kita lihat hari ini ada karena banyak orang yang mau bergerak.”
Ia menoleh ke arah Khinanti.
“Dan di antara orang-orang yang telah menguatkan langkah saya, ada seseorang yang sejak awal percaya bahwa desa ini layak diperjuangkan.”
Khinanti terdiam.
Warga mulai memahami arah kata-kata itu.
Erlangga melanjutkan.
“Dia mengajarkan saya bahwa membangun desa bukan hanya tentang program dan rencana. Membangun desa adalah tentang mendengarkan, bertahan, dan bekerja bersama.”
Ia turun dari panggung perlahan.
Warga memberi jalan.
Erlangga berjalan menuju Khinanti.
Di hadapan keluarga, anak-anak, pemuda, ibu-ibu, dan seluruh warga yang hadir, ia berdiri di depan Khinanti.
“Khinanti,” katanya.
Suara Erlangga terdengar lebih pelan, tetapi tetap jelas.
“Aku tidak bisa menjanjikan hidup yang selalu mudah. Aku tidak bisa menjanjikan semua impian akan segera terwujud. Tetapi aku ingin menjalani perjalanan itu bersamamu.”
Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku bajunya.
“Dengan restu keluarga dan masyarakat, maukah kamu menjadi pendamping hidupku?”
Lapangan desa menjadi hening.
Khinanti menatap Erlangga.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Ia melihat ibunya yang berdiri tidak jauh dari sana.
Ia melihat Bu Marni yang tersenyum haru.
Ia melihat anak-anak Rumah Baca Harapan yang menunggu dengan wajah penasaran.
Ia melihat warga yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan mereka.
Kemudian Khinanti tersenyum.
“Iya,” jawabnya pelan.
Namun, warga tetap mendengar jawaban itu.
Tepuk tangan langsung pecah.
Anak-anak bersorak.
Jatmiko berteriak paling keras.
Bu Ratna memeluk ibu Khinanti.
Sari menutup wajahnya sambil tertawa dan menangis.
Pak Wiryo yang berdiri di belakang warga hanya tersenyum sambil mengangguk pelan.
Erlangga memasangkan cincin sederhana di jari Khinanti.
Tidak ada panggung mewah.
Tidak ada lampu besar.
Tidak ada musik yang berlebihan.
Namun, sore itu terasa sangat istimewa.
Karena lamaran tersebut bukan hanya tentang dua orang yang memilih untuk hidup bersama.
Lamaran itu menjadi simbol bahwa cinta mereka tumbuh dari pengabdian.
Dari jalan desa yang berlumpur.
Dari rumah baca yang sederhana.
Dari kebun pangan yang dirawat bersama.
Dari musyawarah warga.
Dari banjir yang pernah menguji mereka.
Dari keberanian untuk menolak jalan yang mudah.
Pak Darmawan mendekat dan menepuk bahu Erlangga.
“Jaga niat baik ini,” katanya pelan.
Erlangga mengangguk.
Pak Wiryo kemudian menghampiri mereka.
Ia memandang Erlangga dan Khinanti beberapa saat sebelum berkata, “Membangun rumah tangga tidak jauh berbeda dengan membangun desa.”
Erlangga dan Khinanti mendengarkan.
“Harus ada kesabaran. Harus ada kerja sama. Harus ada orang yang mau mengalah ketika keadaan sulit.”
Khinanti tersenyum.
“Kami akan belajar, Pak.”
Pak Wiryo mengangguk.
“Belajarlah bersama. Jangan merasa harus kuat sendiri.”
Di tengah pesta rakyat Desa Suka Makmur, Erlangga dan Khinanti berdiri berdampingan.
Warga melihat mereka bukan hanya sebagai sepasang kekasih.
Mereka melihat keduanya sebagai bagian dari harapan desa.
Matahari sore perlahan tenggelam di balik pepohonan.
Lampu-lampu sederhana mulai menyala di lapangan.
Musik daerah kembali dimainkan.
Anak-anak berlari di antara warga yang tertawa.
Ibu-ibu melayani pembeli di tenda makanan.
Pemuda membantu membereskan perlengkapan lomba.
Di sudut lapangan, produk Rasa Makmur mulai habis dibeli pengunjung.
Di dekat kebun bersama, beberapa warga dari dusun lain bertanya tentang cara membuat bedeng tanaman.
Di depan Rumah Baca Harapan, anak-anak masih bercerita tentang penampilan mereka di panggung.
Dan di tengah semua itu, Desa Suka Makmur merayakan sesuatu yang lebih besar daripada sebuah pesta.
Desa itu merayakan kebersamaan.
Merayakan harapan.
Merayakan keberanian untuk berubah.
Merayakan cinta yang tidak hanya tumbuh untuk dua hati, tetapi juga tumbuh untuk banyak orang.
Karena di desa kecil itu, cinta telah menemukan bentuknya.
Bukan sekadar kata.
Melainkan kesediaan untuk tinggal, bekerja, saling menguatkan, dan membangun masa depan bersama.
BAB XXI
Pulang untuk Membangun Desa
Pagi itu, jalan utama Desa Suka Makmur dipenuhi suara yang sudah lama dinantikan warga.
Bunyi mesin pemadat tanah terdengar sejak matahari belum sepenuhnya naik. Truk-truk kecil datang perlahan membawa batu, pasir, dan beberapa karung semen. Di sepanjang jalan, warga telah berkumpul dengan pakaian kerja sederhana. Ada yang membawa cangkul, sekop, parang, ember, dan gerobak dorong. Ada pula yang datang hanya membawa tenaga serta semangat untuk membantu.
Suara batu diturunkan dari bak truk bercampur dengan suara warga yang saling memanggil dari satu sisi jalan ke sisi lainnya.
“Batu yang besar taruh di bagian depan!”
“Pasirnya jangan terlalu dekat parit!”
“Jangan lupa bersihkan saluran air sebelah sana!”
“Yang dari Dusun Timur, bantu di tikungan dekat pohon besar!”
Jalan yang selama bertahun-tahun menjadi keluhan warga itu akhirnya mulai diperbaiki.
Setelah melalui musyawarah, pengajuan program, kerja bakti, dan berbagai upaya yang dilakukan bersama, bantuan material dari pemerintah kecamatan akhirnya tiba. Pemerintah desa mengatur pelaksanaan pekerjaan. Para pemuda membantu mengangkat batu dan meratakan tanah. Ibu-ibu menyiapkan makanan dan minuman. Para petani yang biasanya pergi ke kebun sejak pagi bahkan memilih meluangkan waktu untuk ikut bekerja.
Tidak semua warga mampu membantu dengan tenaga.
Ada yang sudah tua.
Ada yang sedang sakit.
Ada pula yang harus menjaga anak-anak di rumah.
Namun, mereka tetap ingin mengambil bagian. Sebagian membawa air minum. Sebagian mengirimkan makanan. Sebagian lagi datang untuk memberi semangat kepada warga yang bekerja.
Tidak ada yang merasa bahwa perbaikan jalan itu hanya urusan pemerintah desa.
Jalan itu adalah milik mereka semua.
Jalan yang dahulu berlumpur ketika hujan turun.
Jalan yang membuat anak-anak sering terlambat ke sekolah.
Jalan yang menyulitkan ibu hamil ketika harus dibawa ke puskesmas.
Jalan yang membuat petani kesulitan membawa hasil kebun ke pasar kecamatan.
Jalan yang pernah menjadi saksi banjir, kerja bakti, perdebatan warga, serta perubahan yang perlahan tumbuh di Desa Suka Makmur.
Kini, jalan itu mulai diperbaiki.
Bukan hanya dengan batu dan tanah.
Tetapi juga dengan kesadaran bahwa desa harus dibangun oleh warganya sendiri.
Erlangga berdiri di tepi jalan bersama Khinanti. Keduanya mengenakan pakaian sederhana. Erlangga memakai kemeja lengan panjang yang digulung hingga siku. Celananya sudah terkena debu dan tanah sejak pagi. Khinanti mengenakan kerudung dan baju longgar berwarna lembut. Di tangannya, ia membawa botol-botol air minum yang akan dibagikan kepada warga.
“Kak Khinanti, airnya tinggal sedikit!” panggil Danu dari bawah pohon.
Khinanti menoleh.
“Yang di ember besar masih ada. Tolong ambilkan gelasnya, ya.”
Danu mengangguk cepat. Bersama Raka dan Lila, ia berlari menuju tenda kecil yang didirikan ibu-ibu di pinggir jalan.
Anak-anak dari Rumah Baca Harapan ikut datang pagi itu.
Mereka tidak bekerja dengan alat berat. Mereka tidak mengangkat batu besar. Namun, mereka membantu dengan cara yang mereka bisa. Ada yang membagikan air minum. Ada yang mengumpulkan sampah plastik. Ada yang membawa sapu untuk membersihkan tanah yang tercecer di dekat rumah warga.
Beberapa anak juga membawa kertas warna-warni yang mereka tulis sendiri.
Salah satu kertas ditempelkan di papan dekat balai desa.
Tulisan Danu berbunyi:
Jalan Baru untuk Desa Kita.
Tulisan Raka berbunyi:
Kalau Jalannya Bagus, Aku Tidak Telat Sekolah.
Tulisan Lila berbunyi:
Kalau Jalan Bagus, Ibu Lebih Mudah ke Pasar.
Khinanti membaca tulisan-tulisan itu sambil tersenyum.
“Anak-anak selalu tahu cara mengatakan hal penting dengan sederhana,” katanya.
Erlangga mengangguk.
“Kadang kita yang dewasa terlalu sering membuat semuanya rumit.”
Khinanti memandang jalan yang mulai diratakan.
“Padahal bagi mereka, jalan yang baik berarti bisa pergi ke sekolah tanpa takut jatuh.”
“Bagi petani, berarti hasil kebun bisa lebih mudah dibawa keluar.”
“Bagi ibu-ibu, berarti lebih mudah menjual produk usaha.”
“Bagi warga yang sakit, berarti lebih cepat mendapatkan pertolongan.”
Erlangga menatap Khinanti.
“Dan bagi desa, berarti kita mulai membuka jalan untuk masa depan.”
Khinanti tersenyum kecil.
Tidak jauh dari mereka, Jatmiko sedang mengatur para pemuda yang membantu memindahkan batu.
“Ardi, bagian sana jangan terlalu tinggi!”
“Beni, bantu Pak Hasan di saluran air!”
“Rendi, ambilkan bambu untuk penyangga parit!”
Para pemuda bekerja dengan wajah berkeringat. Tidak semua dari mereka terbiasa melakukan pekerjaan berat seperti itu. Namun, tidak ada yang mengeluh. Mereka saling membantu ketika ada yang kelelahan. Mereka bergantian membawa batu. Mereka bahkan sempat bercanda ketika salah satu dari mereka hampir terpeleset di tanah basah.
“Kalau jalannya sudah bagus, jangan ada yang balapan motor,” kata Jatmiko sambil tertawa.
“Kalau jalannya bagus, kamu dulu yang paling cepat,” sahut Ardi.
“Bukan balapan. Itu namanya menguji kualitas jalan,” jawab Jatmiko.
Warga yang mendengar candaan itu tertawa.
Suasana kerja bakti terasa melelahkan, tetapi juga hangat.
Di bawah tenda sederhana, Bu Ratna bersama beberapa ibu menyiapkan makanan. Ada nasi hangat, sayur bening, ikan asin, sambal, gorengan, dan teh manis. Tidak ada hidangan mewah. Namun, aroma masakan yang mengepul dari dapur darurat itu membuat warga yang bekerja semakin bersemangat.
“Bu Ratna, ini cukup untuk semua?” tanya Khinanti.
“Cukup,” jawab Bu Ratna sambil tersenyum. “Kalau kurang, nanti ada yang kirim lagi dari rumah.”
Beberapa ibu lain datang membawa tambahan makanan.
Ada yang membawa singkong rebus.
Ada yang membawa pisang goreng.
Ada yang membawa sambal terasi.
Ada pula yang membawa keripik singkong dari kelompok usaha Rasa Makmur.
“Kita jual sedikit di tenda, siapa tahu ada warga dari luar yang lewat,” kata Bu Sulastri.
Bu Ratna mengangguk.
“Boleh. Sekalian menunjukkan kalau usaha kita masih berjalan.”
Di meja kecil dekat tenda, beberapa bungkus produk Rasa Makmur disusun rapi. Label sederhana bergambar daun singkong dan padi masih melekat pada kemasannya.
Tidak ada kemasan mewah.
Tidak ada papan promosi besar.
Namun, ibu-ibu itu tampak bangga.
Produk tersebut adalah hasil dari tangan mereka sendiri.
Hasil dari keberanian untuk mencoba.
Hasil dari kelompok usaha yang dahulu hanya menjadi rencana dalam musyawarah desa.
Di dekat saluran air, Pak Wiryo berdiri sambil memperhatikan arah parit. Di tangannya terdapat tongkat kayu yang digunakan untuk menunjuk bagian-bagian tertentu.
“Bagian ini jangan terlalu dangkal,” katanya kepada para pemuda. “Kalau hujan besar datang, airnya bisa meluap lagi.”
Pak Hasan yang berada di dekatnya mengangguk.
“Kalau dibuat sedikit lebih dalam, airnya bisa langsung mengalir ke sungai kecil.”
Pak Wiryo menatap aliran air di bawah parit.
“Betul. Tapi jangan hanya dipikirkan sekarang. Setelah jalan selesai, saluran ini harus rutin dibersihkan.”
Erlangga mendekat.
“Bapak sudah memikirkan jadwalnya?” tanyanya.
Pak Wiryo menoleh.
“Sudah. Kalau warga setuju, setiap dua bulan sekali kita buat kerja bakti khusus membersihkan saluran.”
Erlangga tersenyum.
“Itu usul yang baik, Pak.”
Pak Wiryo mengangguk pelan.
“Dulu saya terlalu sering hanya melihat kekurangan. Saya pikir semua masalah harus diselesaikan oleh orang lain.”
Ia memandang jalan yang sedang dikerjakan.
“Sekarang saya mengerti. Kalau warga hanya menunggu, jalan ini mungkin tetap akan rusak bertahun-tahun.”
Erlangga tidak langsung menjawab.
Perubahan Pak Wiryo selalu membuatnya merasa hangat. Lelaki tua itu dahulu dikenal sebagai orang yang keras, mudah curiga, dan sering meragukan rencana-rencana baru. Namun, banjir telah mengubah banyak hal. Ia melihat sendiri bagaimana warga saling membantu ketika musibah datang. Ia melihat bagaimana anak-anak belajar menanam. Ia melihat ibu-ibu mulai berani berusaha. Ia melihat pemuda yang dahulu hanya duduk di warung kini mau bekerja untuk desa.
Perubahan itu tidak datang dalam satu malam.
Namun, perlahan-lahan, perubahan itu tumbuh.
Seperti bibit yang dirawat dengan sabar.
Menjelang siang, matahari mulai terasa panas. Warga beristirahat di bawah tenda. Mereka duduk di atas tikar, batu, dan kursi plastik yang dibawa dari rumah. Ada yang membuka bekal. Ada yang minum teh. Ada pula yang masih membicarakan bagian jalan mana yang harus dikerjakan berikutnya.
Pak Darmawan berdiri di depan warga.
Wajahnya tampak lelah, tetapi penuh rasa syukur.
“Hari ini kita melihat hasil dari kerja bersama,” katanya.
Warga mulai tenang dan mendengarkan.
“Jalan ini belum selesai seluruhnya. Masih ada bagian yang harus diperkeras. Masih ada jembatan kecil yang perlu diperbaiki. Masih ada saluran air yang harus diperkuat.”
Ia berhenti sejenak.
“Namun, hari ini kita sudah membuktikan bahwa musyawarah tidak berhenti di atas kertas. Usul warga tidak hanya menjadi catatan. Kalau kita bekerja bersama, sedikit demi sedikit rencana itu bisa menjadi kenyataan.”
Tepuk tangan terdengar dari warga.
Pak Darmawan melanjutkan.
“Setelah jalan, kita masih harus menjaga kebun pangan. Kita harus mengembangkan usaha warga. Kita harus memperkuat Rumah Baca Harapan. Kita harus membenahi pelayanan desa. Kita harus memastikan anak-anak kita memiliki masa depan yang lebih baik.”
Ia menoleh kepada Erlangga dan Khinanti.
“Dan kita harus terus melahirkan pegiat-pegiat desa yang mau bekerja untuk masyarakat.”
Tepuk tangan kembali terdengar.
Erlangga menunduk dengan perasaan haru.
Ia tidak pernah ingin dianggap sebagai orang paling penting di desa. Ia tahu bahwa semua yang terjadi tidak mungkin berjalan tanpa Pak Darmawan, Khinanti, Jatmiko, Bu Ratna, Pak Wiryo, para pemuda, ibu-ibu, dan seluruh warga.
Ia hanya salah satu bagian kecil dari perjalanan panjang Desa Suka Makmur.
Namun, ia juga memahami bahwa setiap bagian kecil tetap memiliki arti.
Satu orang yang mau bergerak dapat mengajak orang lain.
Satu gagasan sederhana dapat tumbuh menjadi kegiatan bersama.
Satu keberanian untuk bertahan dapat membuat banyak orang percaya bahwa perubahan mungkin terjadi.
Setelah makan siang, pekerjaan kembali dilanjutkan.
Matahari mulai condong ke barat ketika bagian pertama jalan berhasil diratakan. Batu-batu telah disusun. Tanah telah dipadatkan. Saluran air di sisi jalan mulai terlihat lebih rapi. Warga berdiri di pinggir jalan sambil melihat hasil kerja mereka.
Tidak sempurna.
Belum sepenuhnya selesai.
Namun, nyata.
Anak-anak bertepuk tangan.
Ibu-ibu tersenyum.
Pemuda saling menepuk bahu.
Pak Wiryo memandang jalan itu cukup lama.
“Kita harus jaga baik-baik,” katanya.
“Pasti, Pak,” jawab Jatmiko.
“Jangan sampai setelah bagus, kita lupa merawat.”
“Kita tidak akan lupa,” sahut Bu Ratna dari dekat tenda. “Jalan ini terlalu lama kita tunggu.”
Sore itu, Erlangga dan Khinanti berjalan kembali ke arah Rumah Baca Harapan. Mereka melewati kebun bersama yang kini mulai menghasilkan sayur. Beberapa ibu sedang memanen kangkung untuk dibawa pulang. Cabai-cabai kecil mulai tampak merah di antara daun. Anak-anak membantu membawa keranjang hasil panen sambil tertawa.
Di halaman balai desa, papan informasi terlihat bersih dan penuh pengumuman kegiatan. Ada jadwal pelayanan desa. Ada informasi kerja bakti. Ada pengumuman kegiatan rumah baca. Ada pula jadwal kelompok usaha ibu-ibu.
Di lapangan, beberapa pemuda sedang berlatih sepak bola bersama anak-anak.
Desa Suka Makmur masih memiliki banyak keterbatasan.
Masih ada warga yang hidup sederhana.
Masih ada anak-anak yang harus berjalan jauh untuk melanjutkan sekolah.
Masih ada kebun yang hasilnya belum selalu baik.
Masih ada jalan-jalan kecil yang belum diperbaiki.
Masih ada persoalan yang akan datang bersama waktu.
Namun, kini desa itu tidak lagi menghadapi semuanya dengan diam.
Warga mulai bertanya.
Mulai bermusyawarah.
Mulai bekerja.
Mulai percaya bahwa perubahan dapat dimulai dari tangan mereka sendiri.
Di depan Rumah Baca Harapan, Erlangga dan Khinanti berhenti.
Pintu rumah baca terbuka. Dari dalam, terdengar suara anak-anak yang sedang membaca bersama Sari.
“Baca pelan-pelan,” suara Sari terdengar. “Jangan takut salah.”
Khinanti memandang ke dalam.
“Dulu tempat ini hanya ruangan kosong,” katanya.
“Sekarang juga masih sederhana,” jawab Erlangga.
“Ya,” kata Khinanti. “Tapi tidak lagi kosong.”
Erlangga mengangguk.
Rumah baca itu memang tidak besar. Rak bukunya masih sederhana. Meja-mejanya sebagian dibuat dari papan bekas. Dindingnya belum dicat sempurna. Atapnya masih perlu diperbaiki di beberapa bagian.
Namun, tempat itu telah menjadi ruang bagi anak-anak untuk belajar.
Ruang bagi warga untuk berkumpul.
Ruang bagi harapan untuk tumbuh.
Mereka duduk di bangku kayu di depan rumah baca. Angin sore membawa aroma tanah yang baru dikerjakan. Di kejauhan, suara warga masih terdengar dari jalan yang sedang diperbaiki.
Khinanti memandang Erlangga.
“Setelah semua ini, apa yang ingin kamu lakukan?”
Erlangga tersenyum.
“Besok?”
“Bukan besok,” jawab Khinanti sambil tersenyum. “Maksudku setelah jalan ini selesai. Setelah kebun semakin berkembang. Setelah rumah baca semakin ramai.”
Erlangga terdiam sejenak.
Ia memandang jalan desa yang membentang di hadapan mereka.
“Kalau begitu, aku ingin terus belajar,” katanya. “Aku ingin desa ini punya lebih banyak anak muda yang berani pulang, atau setidaknya berani peduli.”
Khinanti mengangguk.
“Aku ingin Rumah Baca Harapan berkembang. Aku ingin anak-anak punya banyak pilihan ketika dewasa nanti. Bukan karena mereka terpaksa pergi, tetapi karena mereka punya kesempatan.”
Erlangga menggenggam tangan Khinanti.
“Berarti kita masih punya banyak pekerjaan.”
“Banyak sekali.”
“Dan apakah kamu siap?”
Khinanti tersenyum.
“Aku siap. Selama kita tidak lupa bahwa desa ini dibangun bersama warga.”
Erlangga mengangguk.
Matahari sore perlahan tenggelam di balik pepohonan. Cahaya keemasan jatuh di atas jalan desa yang mulai diperbaiki. Jalan itu membentang ke arah Dusun Timur, melewati kebun, rumah-rumah warga, balai desa, dan Rumah Baca Harapan.
Erlangga dan Khinanti berdiri di sana.
Bukan sebagai dua orang yang telah menyelesaikan semua persoalan.
Bukan sebagai tokoh yang datang membawa keajaiban.
Melainkan sebagai dua orang yang memilih untuk tetap tinggal, bekerja, dan berjalan bersama masyarakat.
Mereka memahami bahwa membangun desa bukan pekerjaan sehari.
Bukan pula pekerjaan setahun.
Membangun desa adalah perjalanan panjang.
Perjalanan yang membutuhkan pengetahuan.
Membutuhkan keberanian.
Membutuhkan gotong royong.
Membutuhkan kesabaran.
Dan, di atas semua itu, membutuhkan cinta.
Cinta kepada tanah kelahiran.
Cinta kepada masyarakat.
Cinta kepada masa depan.
Cinta yang tidak hanya diucapkan dalam kata-kata, tetapi diwujudkan dalam kerja dan pengabdian.
Di jalan desa yang mulai diperbaiki itu, Erlangga dan Khinanti saling memandang.
Mereka tahu perjalanan masih panjang.
Namun, mereka tidak lagi takut pada panjangnya jalan.
Sebab, mereka telah menemukan alasan untuk terus melangkah.
Mereka telah menemukan arti pulang.
Pulang bukan sekadar kembali ke tempat asal.
Pulang adalah memilih untuk hadir.
Memilih untuk peduli.
Memilih untuk membangun.
Dan bagi Erlangga dan Khinanti, pulang berarti satu hal:
Pulang untuk membangun desa.
EPILOG
Jejak yang Tetap Menyala
Dua tahun telah berlalu sejak jalan utama Desa Suka Makmur mulai diperbaiki.
Pagi itu, desa kembali dipenuhi aktivitas seperti biasanya. Matahari belum terlalu tinggi ketika suara sepeda anak-anak mulai terdengar di sepanjang jalan. Sebagian berangkat ke sekolah dengan tas di punggung, sebagian lagi berjalan bersama teman-temannya sambil membawa bekal dari rumah.
Jalan yang dahulu berlumpur, berlubang, dan sulit dilalui ketika hujan turun kini telah berubah. Meski belum seluruhnya beraspal, jalan itu sudah lebih padat, lebih rata, dan lebih mudah dilewati. Di beberapa titik, warga masih memasang batu tambahan dan membersihkan parit agar air hujan tidak kembali menggenangi jalan.
Bagi orang luar, mungkin perubahan itu tampak sederhana.
Namun, bagi warga Desa Suka Makmur, jalan tersebut adalah bukti bahwa harapan yang dirawat bersama dapat menjadi kenyataan.
Anak-anak tidak lagi harus melepas sandal ketika jalan berubah menjadi lumpur. Para petani dapat membawa hasil kebun dengan sepeda motor atau gerobak menuju pasar kecamatan. Ibu-ibu lebih mudah mengantar produk usaha mereka. Warga yang hendak mengurus keperluan administrasi ke balai desa pun tidak lagi harus menunggu jalan mengering setelah hujan.
Tetapi perubahan terbesar Desa Suka Makmur bukan hanya terlihat pada jalan yang mulai baik.
Perubahan itu terlihat pada wajah-wajah warganya.
Warga yang dahulu lebih sering mengeluh kini mulai terbiasa berdiskusi. Mereka yang dahulu menunggu bantuan mulai berani mengusulkan gagasan. Pemuda yang dahulu lebih banyak menghabiskan waktu di warung kini memiliki kegiatan yang lebih terarah. Ibu-ibu yang dahulu hanya membuat makanan untuk kebutuhan rumah tangga kini mulai percaya diri menjual hasil olahan mereka.
Desa Suka Makmur belum menjadi desa yang serba cukup.
Namun, desa itu tidak lagi merasa kecil di hadapan persoalan.
Rumah Baca Harapan kini berdiri lebih rapi di tepi jalan desa. Bangunannya masih sederhana, tetapi suasananya jauh lebih hidup daripada dua tahun sebelumnya. Rak-rak buku yang dahulu hanya terisi beberapa bacaan kini semakin penuh. Sebagian buku berasal dari sumbangan warga, sebagian dari bantuan para perantau, dan sebagian lagi dibeli dari hasil kegiatan penggalangan dana desa.
Di dalam rumah baca, anak-anak tidak hanya belajar membaca dan berhitung.
Mereka belajar menulis cerita.
Mereka belajar menggambar.
Mereka belajar menanam sayur di halaman rumah.
Mereka belajar berbicara di depan teman-temannya.
Mereka belajar bahwa cita-cita bukan sesuatu yang hanya dimiliki oleh anak-anak di kota.
Suatu sore, Khinanti sedang duduk di teras Rumah Baca Harapan sambil memeriksa beberapa buku catatan anak-anak. Di depannya, beberapa anak sedang membaca dengan suara pelan. Ada yang masih terbata-bata, ada yang sudah lancar, dan ada pula yang sibuk menggambar rumah, sawah, serta kebun sayur.
Danu datang membawa sebuah buku tulis yang sampulnya sudah mulai kusam.
“Kak Khinanti,” katanya.
Khinanti menoleh dan tersenyum.
“Iya, Danu. Ada apa?”
Danu membuka buku tulisnya. Di halaman pertama, ia menulis beberapa kalimat dengan huruf yang cukup rapi.
“Aku membuat cerita,” katanya.
“Cerita tentang apa?”
“Cerita tentang anak desa yang ingin jadi guru.”
Khinanti membaca tulisan itu perlahan. Cerita tersebut belum panjang. Ada beberapa kata yang masih salah eja. Ada kalimat yang belum tersusun sempurna. Namun, di dalam cerita itu, ada sesuatu yang membuat Khinanti tersenyum bangga.
Tokoh dalam cerita itu adalah seorang anak yang ingin mengajar anak-anak lain agar tidak takut membaca.
“Kau ingin jadi guru?” tanya Khinanti.
Danu mengangguk.
“Iya. Aku ingin jadi guru. Biar nanti anak-anak di desa tidak takut belajar.”
Khinanti menatap Danu beberapa saat.
“Kalau begitu, jadilah guru yang membuat anak-anak suka belajar,” katanya.
Danu tersenyum lebar.
“Seperti Kak Khinanti?”
Khinanti menggeleng pelan.
“Lebih baik dari Kak Khinanti.”
Danu terlihat berpikir sejenak, lalu mengangguk dengan sungguh-sungguh.
“Baik, Kak.”
Tidak jauh dari Rumah Baca Harapan, kebun bersama desa juga semakin berkembang. Tanaman cabai, kangkung, tomat, bayam, terong, dan beberapa jenis sayuran lain tumbuh lebih teratur. Warga telah membuat jadwal perawatan agar kebun tidak hanya ramai ketika awal ditanam.
Setiap pagi, ada warga yang menyiram tanaman.
Setiap sore, ada anak-anak yang membantu mencabut rumput liar.
Setiap minggu, kelompok pemuda memeriksa pagar kebun dan saluran air.
Pak Wiryo masih menjadi orang yang paling rajin memberi arahan. Meski usianya tidak lagi muda, ia tetap datang membawa topi lusuh dan cangkul kecil. Ia memeriksa tanah, memperhatikan daun tanaman, dan sesekali menegur anak-anak yang terlalu banyak bermain di dekat bedeng sayur.
“Jangan diinjak,” katanya kepada beberapa anak yang sedang berlari.
“Kami tidak injak, Pak,” jawab Raka sambil tersenyum.
Pak Wiryo mengangguk.
“Kalau mau makan sayur, harus belajar menjaga sayur.”
Anak-anak tertawa, tetapi mereka kemudian berjalan lebih hati-hati.
Di halaman rumah warga, tanaman sayur kini bukan lagi pemandangan yang asing. Banyak keluarga mulai menanam cabai, kangkung, daun bawang, atau tomat dalam pot bekas dan wadah sederhana. Tidak semua tanaman tumbuh sempurna. Ada yang layu karena lupa disiram. Ada yang rusak karena dimakan ulat. Ada pula yang tidak berhasil karena tanahnya kurang baik.
Namun, warga tidak lagi mudah menyerah.
Mereka belajar mencoba lagi.
Kelompok usaha Rasa Makmur pun mengalami perkembangan. Bu Ratna dan ibu-ibu lainnya kini tidak hanya menjual produk di warung desa atau pasar kecamatan. Sesekali mereka menerima pesanan untuk kegiatan sekolah, rapat kecamatan, atau acara warga di desa sekitar.
Keripik singkong, keripik pisang, sambal kemasan, kue kering, dan minuman jahe menjadi produk yang semakin dikenal. Kemasan mereka memang belum semewah produk dari kota. Namun, setiap bungkus membawa nama Desa Suka Makmur dan cerita tentang warga yang berani belajar mandiri.
Suatu pagi, Bu Ratna datang ke balai desa sambil membawa beberapa kardus produk.
“Ini pesanan untuk acara di kecamatan,” katanya kepada Sari.
“Banyak juga, Bu,” jawab Sari.
Bu Ratna tersenyum bangga.
“Dulu saya tidak berani bicara soal jualan. Sekarang kalau ada pesanan, ibu-ibu malah semangat sekali.”
“Karena sudah tahu hasilnya,” kata Sari.
“Bukan hanya hasil uangnya,” jawab Bu Ratna. “Kami jadi tahu bahwa kami juga bisa.”
Kalimat itu sederhana.
Namun, bagi Sari, kalimat itu menggambarkan perubahan besar yang terjadi di Desa Suka Makmur.
Di lapangan desa, para pemuda juga semakin aktif. Jatmiko kini mengatur kegiatan olahraga setiap akhir pekan. Ada latihan sepak bola untuk anak-anak, bola voli untuk remaja, dan kerja bakti lingkungan setiap dua minggu sekali.
Tidak semua pemuda selalu hadir.
Masih ada yang kadang terlambat.
Masih ada yang lebih memilih duduk di warung.
Masih ada pula yang harus pergi ke kota untuk bekerja.
Namun, kini sudah ada kebiasaan baru: ketika desa membutuhkan tenaga, pemuda-pemuda itu mulai tahu bahwa mereka harus hadir.
Mereka tidak lagi hanya melihat desa sebagai tempat untuk pulang ketika lelah.
Mereka mulai melihat desa sebagai tempat yang juga membutuhkan peran mereka.
Desa Suka Makmur memang belum sempurna.
Masih ada jalan-jalan kecil yang perlu diperbaiki.
Masih ada rumah warga yang membutuhkan bantuan.
Masih ada keluarga yang hidup dalam keterbatasan.
Masih ada anak-anak yang harus berjuang keras untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Masih ada persoalan yang datang bersama perubahan zaman.
Namun, kini warga tidak lagi menghadapi semuanya dengan rasa putus asa.
Mereka telah belajar untuk duduk bersama.
Mereka telah belajar untuk menyampaikan pendapat.
Mereka telah belajar bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.
Kadang, perubahan dimulai dari sebuah buku.
Dari bibit sayur.
Dari jalan yang dibersihkan bersama.
Dari ibu-ibu yang berani mencoba usaha.
Dari pemuda yang memilih membantu.
Dari seorang anak yang mulai percaya bahwa ia boleh memiliki cita-cita.
Pada suatu sore, Erlangga dan Khinanti berdiri di depan Rumah Baca Harapan. Angin bergerak perlahan di antara pepohonan. Cahaya matahari mulai condong ke arah barat dan jatuh lembut di jalan desa yang membentang menuju Dusun Timur.
Tidak jauh dari mereka, beberapa anak duduk di teras rumah baca. Ada yang membaca, ada yang menggambar, dan ada yang saling bercerita tentang sekolah.
Erlangga memandang jalan desa itu cukup lama.
“Dulu aku pulang karena ingin mencari ketenangan,” katanya.
Khinanti menoleh kepadanya.
“Dan sekarang?”
Erlangga tersenyum.
“Sekarang aku tahu, pulang bukan hanya tentang mencari ketenangan.”
“Lalu tentang apa?”
“Pulang adalah tentang menemukan alasan untuk memberi manfaat.”
Khinanti mengangguk pelan.
Ia memahami bahwa kalimat itu bukan hanya tentang Erlangga. Kalimat itu juga tentang banyak orang yang telah memilih bertahan, bekerja, dan saling menguatkan di Desa Suka Makmur.
Mereka kemudian melihat beberapa pemuda membawa bibit tanaman menuju kebun bersama. Di belakang mereka, Bu Ratna berjalan sambil membawa produk Rasa Makmur yang akan dikirim ke pasar. Pak Wiryo duduk di bawah pohon sambil mengawasi anak-anak yang bermain, sesekali memberi nasihat tentang cara merawat tanaman.
Di kejauhan, suara sepeda motor terdengar melintas di jalan yang dahulu sulit dilalui.
Desa itu terus bergerak.
Tidak cepat.
Tidak selalu mudah.
Tidak tanpa hambatan.
Tetapi terus bergerak.
Erlangga dan Khinanti memahami bahwa pengabdian tidak pernah selesai hanya karena satu program berhasil atau satu jalan telah diperbaiki. Pengabdian adalah kesediaan untuk tetap hadir ketika desa membutuhkan tenaga, pikiran, dan kepedulian.
Mereka juga memahami bahwa cinta tidak hanya hidup dalam kata-kata manis.
Cinta hidup dalam kesediaan untuk saling menguatkan.
Dalam keberanian untuk bertahan.
Dalam keputusan untuk berjalan bersama, meski jalan yang dilalui tidak selalu rata.
Di bawah langit sore Desa Suka Makmur, cahaya matahari perlahan menyentuh jalan yang dahulu penuh lumpur.
Kini, jalan itu menjadi saksi.
Saksi tentang warga yang pernah ragu.
Saksi tentang banjir yang pernah menguji.
Saksi tentang musyawarah yang melahirkan harapan.
Saksi tentang kebun yang tumbuh dari kerja bersama.
Saksi tentang anak-anak yang mulai berani bermimpi.
Saksi tentang cinta yang tumbuh bersama pengabdian.
Dan saksi tentang dua orang yang memilih pulang bukan untuk berdiam diri, melainkan untuk membangun.
Erlangga menggenggam tangan Khinanti.
Khinanti membalas genggaman itu.
Mereka tidak memandang diri mereka sebagai orang yang telah menyelesaikan semua persoalan desa. Mereka hanya bagian kecil dari perjalanan panjang yang akan terus dilanjutkan oleh banyak orang.
Suatu hari, mungkin anak-anak yang kini belajar di Rumah Baca Harapan akan tumbuh menjadi guru, petani, perawat, pengusaha, perangkat desa, atau pemimpin masyarakat.
Suatu hari, mungkin mereka akan pergi jauh untuk belajar dan bekerja.
Namun, Erlangga dan Khinanti berharap, ke mana pun mereka pergi, mereka tetap membawa satu keyakinan:
Bahwa desa bukan hanya tempat untuk kembali.
Desa adalah tempat untuk menanam harapan.
Merawat kebersamaan.
Membangun masa depan.
Dan meninggalkan jejak yang tetap menyala.
TAMAT



Danzo
18 Juni 2026 09:53:32
...