Desa Dabulon
Kecamatan Lumbis, Kabupaten Nunukan
Lentera Di Ujung Desa

ROMAN EPIK
LENTERA DI UJUNG DESA
Sebuah Roman tentang Cinta, Pengabdian, dan Harapan yang Tak Pernah Padam
Oleh: Slamet Riyadi
Disclaimer
Roman Lentera di Ujung Desa adalah karya fiksi. Nama tokoh, tempat, peristiwa, lembaga, dan konflik dalam cerita ini merupakan hasil imajinasi penulis. Jika terdapat kesamaan nama, latar, atau kejadian dengan kehidupan nyata, hal tersebut semata-mata merupakan kebetulan.
Karya ini mengangkat nilai pendidikan, pengabdian, cinta, perjuangan sosial, gotong royong, serta harapan masyarakat desa. Roman ini tidak dimaksudkan untuk menyudutkan pihak tertentu, melainkan menjadi refleksi bahwa perubahan dapat dimulai dari langkah kecil, keberanian, dan kepedulian terhadap sesama.
PROLOG
Cahaya yang Tidak Padam
Pada sebuah senja yang tenang, masyarakat Desa Suka Jaya berkumpul di halaman sekolah rakyat yang berdiri di ujung desa.
Langit perlahan berubah warna. Sisa cahaya matahari menggantung tipis di antara awan, sementara angin sore bergerak lembut melewati halaman sekolah. Daun-daun pohon beringin tua bergoyang pelan, menimbulkan suara lirih yang menyatu dengan langkah warga yang datang dari berbagai arah.
Mereka datang tidak dengan pakaian mewah.
Sebagian mengenakan baju kerja dari kebun. Sebagian lagi datang bersama anak-anak mereka. Para ibu membawa makanan sederhana dari rumah. Para pemuda membantu menata kursi kayu dan menggantung lentera-lentera kecil di sepanjang halaman sekolah.
Di bawah pohon beringin tua, sebuah lentera dinyalakan.
Lentera itu diletakkan di samping foto seorang lelaki renta bernama Dedi Kusnadi.
Foto itu tidak besar. Bingkainya terbuat dari kayu sederhana. Dalam foto tersebut, Dedi tampak tersenyum dengan wajah yang telah dipenuhi garis-garis usia. Ia mengenakan kemeja putih yang sudah tidak lagi baru, sementara di belakangnya terlihat rak-rak buku dan beberapa anak yang sedang membaca.
Lelaki itu telah meninggal dunia.
Namun, namanya masih hidup dalam ingatan masyarakat Desa Suka Jaya.
Dedi bukan pejabat besar.
Ia bukan orang kaya.
Ia bukan pula tokoh terkenal dari kota yang namanya sering disebut di televisi atau ditulis dalam surat kabar.
Dedi hanyalah anak desa yang pernah berjalan tanpa alas kaki menuju sekolah. Ia pernah membawa buku dalam tas kain lusuh. Ia pernah belajar di bawah cahaya lampu minyak ketika listrik belum masuk ke desa. Ia pernah merasakan bagaimana sulitnya membeli buku, bagaimana panjangnya jalan menuju sekolah, dan bagaimana rasanya ketika mimpi dianggap terlalu tinggi bagi anak seorang petani.
Namun, Dedi tidak pernah membiarkan keterbatasan menjadi alasan untuk berhenti.
Ia tumbuh menjadi seseorang yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk pendidikan masyarakat.
Dari tanah warisan ayahnya yang sempit, ia membangun rumah belajar sederhana. Dari papan bekas, kayu sumbangan warga, dan buku-buku lama, ia mengajak anak-anak desa untuk mengenal huruf, angka, cerita, serta harapan.
Dari bawah pohon beringin, ia mengajarkan bahwa sekolah bukan hanya tempat untuk mengejar nilai. Sekolah adalah tempat untuk belajar berpikir, belajar bertanya, belajar bekerja, dan belajar menjadi manusia yang tidak mudah menyerah.
Di antara kerumunan warga, Herawati berdiri dengan mata berkaca-kaca.
Rambutnya telah memutih. Wajahnya tidak lagi seperti perempuan muda yang dahulu selalu setia berjalan di samping Dedi. Namun, sorot matanya masih menyimpan keteguhan yang sama.
Di sampingnya berdiri Susanti.
Sahabat lama yang selama puluhan tahun ikut menjaga perjuangan Dedi.
Susanti memandang lentera yang menyala di bawah pohon beringin. Api kecil itu bergerak perlahan di balik kaca yang telah retak dimakan waktu.
Lentera itu bukan benda baru.
Kacanya pernah pecah ketika rumah belajar pertama dibakar oleh orang-orang yang takut melihat warga desa menjadi berani. Besinya pernah berkarat karena terkena hujan. Sumbunya pernah hampir habis karena terlalu lama menyala.
Namun, lentera itu tidak pernah dibuang.
Herawati selalu menyimpannya.
Bagi mereka, lentera itu bukan sekadar lampu.
Ia adalah saksi.
Saksi dari masa ketika Dedi masih seorang anak kecil yang membaca di bawah cahaya lampu minyak.
Saksi dari masa ketika Dedi pulang dari kota dengan tubuh lelah, tetapi mata penuh semangat.
Saksi dari rumah belajar yang pernah dibangun dengan tangan warga.
Saksi dari fitnah, ancaman, kehilangan, dan air mata.
Saksi dari perjuangan panjang yang tidak selalu mudah, tetapi tidak pernah benar-benar berhenti.
Malam itu, lentera dinyalakan bukan hanya untuk menerangi halaman sekolah.
Lentera itu dinyalakan untuk mengenang cahaya yang pernah dinyalakan Dedi di hati banyak orang.
Di hadapan warga, Laras berdiri membawa sebuah buku catatan tua.
Buku itu adalah peninggalan ayahnya.
Halaman-halamannya telah menguning. Beberapa sudutnya mulai rapuh. Namun, tulisan tangan Dedi masih dapat dibaca dengan jelas.
Laras membuka salah satu halaman.
Suasana halaman sekolah menjadi hening.
Anak-anak berhenti berbicara.
Para orang tua menundukkan kepala.
Angin sore kembali bergerak di antara daun-daun beringin.
Dengan suara tenang, Laras membaca tulisan ayahnya.
“Jangan biarkan keterbatasan memadamkan mimpi. Sebab dari desa yang sederhana pun, masa depan dapat menyala.”
Kalimat itu sederhana.
Namun, bagi warga Desa Suka Jaya, kalimat itu bukan sekadar pesan.
Kalimat itu adalah perjalanan hidup.
Pak Karto, yang dahulu hanya seorang petani dengan kebun kecil, kini mampu mengelola hasil panennya bersama kelompok tani desa.
Bu Ningsih, yang dulu tidak dapat membaca surat dari anaknya, kini menjadi salah satu peserta paling rajin di kelas malam.
Raka, murid pertama Dedi, telah menjadi guru di sekolah rakyat.
Sari bekerja membantu pelayanan kesehatan warga.
Ardi mengembangkan kebun percontohan dan mengajarkan pertanian yang lebih baik kepada para pemuda.
Ratna, yang dahulu pernah terjebak dalam iri hati dan kesalahan, kini membantu perempuan-perempuan desa membangun usaha kecil dan tabungan pendidikan.
Mereka semua pernah disentuh oleh cahaya yang dinyalakan Dedi.
Herawati memandang wajah-wajah itu dengan dada yang penuh.
Ia teringat Dedi.
Ia teringat suaminya yang dahulu sering berkata bahwa pendidikan bukan tentang menjauh dari desa, melainkan tentang memberi kemampuan kepada masyarakat untuk membangun desanya sendiri.
Ia teringat bagaimana Dedi tetap mengajar meski tubuhnya lemah.
Ia teringat bagaimana Dedi memandang lentera kecil di kamar sederhana mereka pada malam-malam terakhir hidupnya.
“Jangan biarkan padam,” begitu kata Dedi saat itu.
Dan kini, puluhan tahun setelah perjuangan itu dimulai, Herawati melihat sendiri bahwa cahaya tersebut tidak pernah padam.
Cahaya itu telah berpindah dari tangan Dedi ke tangan banyak orang.
Dari Dedi kepada Herawati.
Dari Herawati kepada Susanti.
Dari Susanti kepada Laras.
Dari Laras kepada anak-anak Desa Suka Jaya.
Dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Ketika acara peringatan itu selesai, anak-anak mulai menyanyikan lagu sederhana tentang sekolah dan harapan. Suara mereka tidak selalu sama nadanya, tetapi terdengar jujur dan hangat.
Lentera di bawah pohon beringin tetap menyala.
Api kecilnya menari di balik kaca tua.
Herawati melangkah mendekat.
Ia menatap foto Dedi cukup lama.
Kemudian ia tersenyum.
Bukan karena ia tidak lagi merasa kehilangan.
Melainkan karena ia akhirnya memahami bahwa seseorang tidak benar-benar pergi selama kebaikan yang ia tanam masih terus tumbuh.
Cerita ini kemudian kembali ke masa puluhan tahun sebelumnya.
Ke sebuah rumah kayu sederhana di pinggir hutan.
Ke sebuah keluarga petani yang hidup dari tanah dan musim.
Ke seorang anak laki-laki yang lahir tanpa kemewahan, tetapi membawa mimpi yang kelak akan mengubah jalan hidup banyak orang.
Anak itu bernama Dedi Kusnadi.
Dan dari langkah kecilnya di jalan tanah Desa Suka Jaya, sebuah lentera mulai dinyalakan.
BAB I
Tangis di Rumah Panggung
Malam itu, hujan turun tanpa jeda.
Langit di atas Desa Suka Jaya seperti menumpahkan seluruh kesedihannya ke bumi. Angin dari arah hutan berembus dingin, menggoyangkan dinding-dinding papan rumah warga yang berdiri berjajar di sepanjang jalan tanah. Lumpur menggenang di halaman, sementara kilat sesekali menyambar, membelah langit yang hitam dan pekat.
Di ujung desa, sebuah rumah panggung kecil berdiri dalam cahaya lampu minyak yang redup. Rumah itu milik Karsa dan Marni, pasangan petani sederhana yang hidup dari kebun karet dan ladang kecil di belakang rumah.
Malam itu, rumah mereka tidak seperti biasanya.
Dari dalam kamar yang hanya dibatasi kain lusuh, terdengar suara Marni menahan sakit. Wajahnya pucat, rambutnya basah oleh keringat, dan kedua tangannya menggenggam erat ujung tikar pandan. Di sampingnya, Mak Inah, dukun beranak yang sudah membantu banyak perempuan melahirkan di desa itu, terus memberi arahan dengan suara tenang.
“Tarik napasnya, Marni. Jangan takut. Sebentar lagi anakmu lahir,” kata Mak Inah sambil mengusap kening Marni.
Marni memejamkan mata. Di antara rasa sakit yang datang seperti gelombang, ia berusaha mengingat wajah suaminya. Karsa sedang mondar-mandir di ruang depan, tidak mampu duduk tenang. Lelaki itu berkali-kali menatap pintu kamar, lalu menatap hujan yang turun di luar rumah.
Ia bukan lelaki yang pandai menunjukkan kegelisahan. Sehari-hari, Karsa dikenal pendiam. Tangannya kasar karena terlalu lama menggenggam parang, mencangkul tanah, dan menyadap karet. Namun, malam itu, wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa takut.
“Bagaimana, Mak?” tanya Karsa untuk kesekian kalinya.
Mak Inah yang keluar sebentar hanya mengangkat tangan, memberi isyarat agar Karsa bersabar.
“Jangan banyak bertanya. Doakan saja istrimu dan anakmu.”
Karsa mengangguk. Ia lalu duduk di dekat lampu minyak. Api kecil di dalam lampu itu bergerak-gerak ditiup angin yang masuk dari celah dinding papan. Karsa memandanginya lama.
Dalam hidupnya, ia tidak pernah meminta banyak. Ia hanya ingin keluarganya bisa makan setiap hari, kebunnya cukup menghasilkan, dan anak yang akan lahir malam itu tumbuh sehat. Namun, jauh di dalam hatinya, ada keinginan yang tidak pernah ia ucapkan kepada siapa pun.
Ia ingin anaknya kelak tidak hidup sesulit dirinya.
Karsa masih ingat bagaimana ia harus berhenti sekolah ketika baru duduk di kelas tiga. Ayahnya meninggal karena sakit, sementara ibunya harus menghidupi lima anak. Sejak kecil, ia telah mengenal kebun, lumpur, dan lelah. Ia tidak pernah sempat mengenal buku-buku yang sering dibawa anak-anak sekolah dari kampung sebelah.
Baginya, huruf-huruf di dalam buku adalah sesuatu yang jauh, seperti cahaya kota yang hanya ia lihat dari cerita para perantau.
Tiba-tiba, dari dalam kamar terdengar suara tangis bayi.
Tangis itu kecil, tetapi jelas. Menembus suara hujan, angin, dan gemuruh malam yang panjang.
Karsa berdiri dengan cepat. Dadanya berdebar keras. Beberapa saat kemudian, Mak Inah keluar dari kamar dengan wajah lega. Di tangannya, terbungkus kain putih sederhana, seorang bayi laki-laki bergerak lemah sambil menangis.
“Selamat, Karsa,” kata Mak Inah. “Anakmu laki-laki.”
Karsa tidak langsung menjawab. Matanya basah. Ia hanya berdiri terpaku, memandang bayi kecil itu seolah sedang melihat keajaiban yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
“Marni bagaimana?” tanyanya pelan.
“Lelah, tapi selamat. Masuklah. Istrimu ingin melihatmu.”
Karsa melangkah ke kamar dengan hati-hati. Di atas tikar pandan, Marni terbaring lemah. Namun, ketika melihat suaminya datang, bibirnya membentuk senyum kecil.
“Anak kita, Karsa,” bisiknya.
Karsa duduk di sampingnya. Ia memandang bayi yang kini berada di pelukan Marni. Wajah bayi itu merah, matanya masih terpejam, dan jemarinya bergerak-gerak seolah ingin menggenggam sesuatu yang belum ia kenal.
“Dia kuat,” kata Karsa.
Marni mengangguk perlahan. “Semoga hidupnya juga kuat.”
Di luar rumah, hujan masih turun. Tetapi bagi Karsa dan Marni, malam itu terasa seperti awal dari sebuah musim baru.
Keesokan paginya, kabar kelahiran bayi laki-laki itu menyebar ke seluruh Desa Suka Jaya. Tetangga datang membawa beras, telur, pisang rebus, dan doa-doa sederhana. Tidak ada pesta besar, tidak ada musik, tidak ada kemewahan. Namun, rumah panggung kecil itu dipenuhi kehangatan.
Di antara para tetangga yang datang, ada Pak Samin, buruh kebun yang rumahnya tidak jauh dari rumah Karsa. Ia datang bersama istrinya, Wagini, dan seorang anak perempuan kecil yang berusia sekitar lima tahun.
Anak perempuan itu bernama Herawati.
Herawati berdiri di dekat pintu, memegang ujung baju ibunya. Matanya yang bulat memandangi bayi kecil di pelukan Marni dengan rasa ingin tahu.
“Itu bayi siapa, Bu?” tanyanya pelan.
“Itu anaknya Pak Karsa dan Bu Marni,” jawab Wagini.
“Namanya siapa?”
Marni tersenyum mendengar pertanyaan itu. Ia memandang Karsa, seolah meminta persetujuan.
Karsa menghela napas pelan. Semalaman ia memikirkan nama untuk anaknya. Ia ingin nama yang sederhana, tetapi mengandung doa.
“Namanya Dedi Kusnadi,” jawab Karsa.
Herawati mengulanginya perlahan, seolah sedang menghafal kata baru.
“Dedi... Kusnadi.”
Tidak jauh dari Herawati, seorang anak perempuan lain datang bersama ibunya. Anak itu bernama Susanti. Usianya hampir sama dengan Herawati, tetapi sifatnya berbeda. Susanti lebih berani, lebih banyak bicara, dan tidak segan mendekat ke tempat bayi itu berada.
“Kalau besar, Dedi mau jadi apa?” tanya Susanti polos.
Para orang dewasa tertawa kecil. Marni menatap anaknya dengan mata yang masih menyimpan lelah, tetapi penuh harapan.
“Menjadi orang baik,” jawabnya.
“Orang baik itu seperti apa?” Susanti kembali bertanya.
Marni terdiam sejenak. Pertanyaan sederhana itu terasa lebih besar daripada yang ia kira.
“Orang baik itu orang yang tidak lupa kepada orang lain,” jawab Marni akhirnya. “Kalau dia punya ilmu, dia membantu orang lain. Kalau dia punya rezeki, dia berbagi. Kalau melihat kesusahan, dia tidak berpaling.”
Susanti mengangguk, meski mungkin belum sepenuhnya mengerti. Herawati tetap memandangi bayi itu dalam diam.
Di sudut rumah, Karsa mendengar semua perkataan istrinya. Ia tidak berkata apa-apa, tetapi di dalam hati, ia menyimpan kalimat itu seperti menyimpan benih di tanah yang baru dibajak.
Hari-hari setelah kelahiran Dedi berjalan seperti biasa. Karsa kembali ke kebun, Marni merawat bayi mereka, dan Desa Suka Jaya tetap hidup dengan kesederhanaannya. Pagi hari dipenuhi suara ayam berkokok, langkah kaki warga menuju kebun, serta suara parang yang membelah semak. Sore hari dipenuhi anak-anak bermain di halaman, perempuan menjemur pakaian, dan lelaki-lelaki duduk di warung kecil sambil berbicara tentang harga karet, hasil panen, serta kabar dari kota kecamatan.
Desa Suka Jaya bukan desa yang besar. Jalan utamanya masih berupa tanah merah. Saat musim hujan datang, jalan itu berubah menjadi lumpur yang lengket di kaki. Saat musim kemarau, debu beterbangan hingga masuk ke dalam rumah. Di ujung desa, ada hutan kecil yang membatasi wilayah warga dengan perkebunan luas milik perusahaan dari kota.
Sebagian besar warga bekerja sebagai petani dan buruh kebun. Anak-anak tumbuh dengan cepat mengenal ladang, sungai, dan kerja keras. Banyak di antara mereka yang tidak melanjutkan sekolah setelah bisa membaca dan berhitung. Bagi sebagian keluarga, pendidikan adalah sesuatu yang baik, tetapi terlalu mahal untuk diperjuangkan.
Karsa memahami kenyataan itu. Ia sendiri tidak pernah menyalahkan siapa pun. Namun, setiap kali melihat Dedi tidur di pelukan Marni, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
Suatu sore, ketika Dedi baru berusia beberapa bulan, Karsa pulang dari kebun dengan pakaian basah oleh hujan. Ia membawa sedikit hasil sadapan karet dalam wadah tua. Wajahnya tampak letih.
Marni yang sedang menggendong Dedi menyambutnya di pintu.
“Hasilnya sedikit?” tanyanya.
Karsa mengangguk. “Harga karet turun lagi.”
Marni tidak menjawab. Ia tahu suaminya sudah berusaha keras. Ia mengambil wadah dari tangan Karsa, lalu menaruhnya di dapur.
Karsa duduk di lantai dekat pintu. Matanya memandang Dedi yang sedang tertidur.
“Marni,” katanya pelan.
“Iya?”
“Kalau nanti Dedi besar, aku ingin dia sekolah.”
Marni berhenti sejenak. Ia menatap suaminya.
“Semua orang tua tentu ingin anaknya sekolah.”
“Aku tahu.” Karsa menunduk. “Tapi aku tidak ingin hanya ingin. Aku ingin berusaha. Aku tidak ingin dia berhenti seperti aku.”
Marni duduk di sampingnya. “Kita akan usahakan bersama.”
“Walaupun susah?”
“Walaupun susah.”
Karsa mengangguk. Untuk pertama kalinya sejak Dedi lahir, ia merasa memiliki tujuan yang lebih besar daripada sekadar mencari makan untuk esok hari.
Ia ingin anaknya memiliki jalan yang tidak pernah ia miliki.
Namun, di rumah besar dekat balai desa, seseorang sedang memandang ke arah kebun-kebun warga dengan pikiran yang berbeda.
Leman, lelaki yang dikenal sebagai orang paling berpengaruh di Desa Suka Jaya, duduk di teras rumahnya sambil mengisap rokok. Usianya belum terlalu tua, tetapi wajahnya telah tampak keras. Ia memiliki beberapa bidang kebun, usaha pengangkutan hasil panen, dan hubungan dekat dengan banyak orang penting di kecamatan.
Di hadapannya duduk seorang lelaki dari kota bernama Burhan.
“Kampung ini masih banyak tanah kosong,” kata Burhan sambil membuka peta kecil. “Kalau dikelola dengan baik, nilainya bisa besar.”
Leman tersenyum tipis.
“Tanah warga di sini mudah dibeli,” jawabnya. “Kalau mereka butuh uang, mereka akan menjual. Mereka tidak banyak bertanya.”
Burhan menatap peta itu lagi. “Yang penting jangan sampai ada orang yang menghasut mereka.”
Leman mengembuskan asap rokok perlahan.
“Selama saya masih di sini,” katanya, “orang-orang itu akan tetap tahu tempatnya.”
Di rumah panggung kecil di ujung desa, Dedi Kusnadi masih tertidur dalam pelukan ibunya. Ia belum mengetahui bahwa hidupnya kelak akan dipenuhi jalan berlumpur, kehilangan, cinta, pengkhianatan, dan perjuangan panjang.
Ia belum mengetahui bahwa suatu hari nanti, ia akan berdiri di hadapan banyak orang untuk mempertahankan tanah, pendidikan, dan harapan masyarakatnya.
Malam kembali datang.
Di luar rumah, angin berembus pelan. Lampu minyak menyala kecil di atas meja kayu. Marni memandangi wajah anaknya, lalu menutup tubuh mungil itu dengan kain tipis.
Karsa berdiri di ambang pintu, memandang langit yang mulai dipenuhi bintang.
Di dalam hati, ia mengucapkan doa yang tidak pernah terdengar oleh siapa pun.
“Jadilah cahaya, Nak. Walaupun kau lahir di tempat yang jauh dari keramaian, jangan pernah takut untuk menerangi jalan orang lain.”
Di rumah panggung sederhana itu, sebuah kehidupan baru mulai tumbuh.
Dan jauh di dalam kesunyian Desa Suka Jaya, lentera pertama telah dinyalakan.
BAB II
Nama yang Dipanjatkan
Pagi di Desa Suka Jaya selalu datang dengan cara yang sederhana.
Ia tidak disambut oleh deru kendaraan, suara pabrik, atau langkah-langkah manusia yang terburu-buru mengejar waktu. Pagi datang bersama kabut tipis yang turun dari arah hutan, bersama kokok ayam jantan dari belakang rumah warga, dan bersama aroma kayu bakar yang mengepul dari dapur-dapur kecil.
Di rumah panggung milik Karsa dan Marni, pagi itu datang ketika Dedi Kusnadi menangis untuk pertama kalinya sejak matahari belum muncul.
Tangisnya belum keras, hanya rengekan kecil yang membuat Marni terbangun. Perempuan itu segera duduk di atas tikar, lalu mengangkat tubuh mungil anaknya ke dalam pelukan.
“Sudah bangun, Nak?” bisiknya sambil mengusap pipi Dedi. “Pagi-pagi sudah mencari ibumu.”
Dedi kembali menangis, seolah menjawab.
Di sudut ruangan, Karsa yang sejak tadi menyiapkan parang dan bekal untuk ke kebun menoleh. Ia tersenyum tipis. Setelah Dedi lahir, rumah kecil itu terasa berbeda. Tidak lagi hanya berisi suara sendok yang beradu dengan piring, bunyi kayu terbakar di dapur, atau percakapan pendek antara suami dan istri. Kini, ada suara tangis, tawa kecil, dan napas bayi yang membuat rumah itu terasa lebih hidup.
Karsa mendekat.
“Dia mirip siapa?” tanyanya.
Marni memandang wajah anaknya lama-lama.
“Mirip kamu,” jawabnya.
Karsa mengangkat alis. “Hidungnya kecil begitu, mana mirip aku?”
“Matanya,” kata Marni. “Kalau nanti besar, matanya akan seperti kamu. Diam, tapi banyak menyimpan pikiran.”
Karsa tertawa pelan. Tawa itu singkat, tetapi cukup untuk membuat Marni merasa lega. Beberapa bulan terakhir, suaminya lebih sering pulang dengan wajah muram. Harga karet yang terus turun membuat hasil kebun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah. Mereka masih bisa makan, tetapi tidak lagi memiliki banyak pilihan.
Namun, setiap kali Karsa melihat Dedi, wajahnya selalu berubah.
Ada kelelahan yang tidak hilang, tetapi juga ada harapan yang tumbuh.
Hari itu, keluarga kecil itu akan mengadakan selamatan sederhana untuk memberi nama secara resmi kepada bayi mereka. Tidak ada undangan tertulis, tidak ada tenda, dan tidak ada hidangan mewah. Karsa hanya meminta beberapa tetangga dekat datang selepas magrib untuk berdoa bersama.
Sejak pagi, Marni sibuk menyiapkan apa yang bisa disajikan. Ia memasak nasi, sayur daun singkong, ikan asin, sambal, dan pisang rebus. Wagini, istri Pak Samin, datang membantu dari rumah sebelah. Sementara itu, Herawati kecil duduk di dekat Marni sambil memainkan ujung kain gendongan Dedi.
“Bu Marni, nanti Dedi bisa main sama aku?” tanya Herawati.
Marni tersenyum.
“Bisa, kalau Dedi sudah besar.”
“Besarnya kapan?”
“Masih lama.”
Herawati tampak berpikir. Ia lalu menatap Dedi dengan serius, seolah sedang menghitung berapa lama waktu yang dibutuhkan bayi kecil itu untuk bisa berlari di halaman.
“Aku tunggu,” katanya kemudian.
Wagini yang mendengar perkataan anaknya tertawa kecil.
“Jangan-jangan nanti kamu jadi teman paling dekatnya,” godanya.
Herawati hanya mengangguk polos. Ia belum memahami bahwa pertemuan kecil di rumah panggung itu kelak akan menjadi awal dari hubungan yang panjang, penuh kasih, kesetiaan, dan ujian.
Menjelang sore, Karsa pulang lebih cepat dari kebun. Di pundaknya tergantung tas kain tua, sementara tangannya membawa beberapa batang pisang yang baru dipotong. Wajahnya tampak letih, tetapi langkahnya lebih ringan daripada biasanya.
“Kau pulang cepat,” kata Marni saat melihat suaminya masuk.
“Untuk anakku, sekali-sekali kebun bisa menunggu,” jawab Karsa.
Marni tersenyum. Kalimat itu sederhana, tetapi terasa hangat.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Karsa duduk di dekat Dedi yang tertidur di atas tikar. Ia memandangi anaknya lama-lama. Di dalam rumah, suara sendok dan piring mulai terdengar dari dapur. Di luar, matahari perlahan turun di balik pohon-pohon karet.
“Marni,” kata Karsa tiba-tiba.
“Iya?”
“Kenapa kau setuju dengan nama Dedi Kusnadi?”
Marni menghentikan pekerjaannya. Ia menatap suaminya, lalu duduk di dekatnya.
“Karena nama itu doa,” jawabnya. “Dedi terdengar sederhana, seperti kita. Tapi Kusnadi mengingatkanku pada kebaikan dan ketulusan.”
Karsa mengangguk perlahan.
“Aku tidak tahu banyak arti nama,” katanya jujur. “Tapi aku ingin dia punya nama yang membuatnya ingat bahwa hidup bukan hanya untuk dirinya sendiri.”
Marni menyentuh tangan suaminya.
“Kalau begitu, kita ajarkan sejak kecil.”
Karsa menatap Dedi yang masih tertidur. Jemari kecil bayi itu bergerak pelan, lalu menggenggam ujung kain yang berada di dekatnya.
“Anak ini harus sekolah,” kata Karsa lagi, lebih tegas dari sebelumnya.
Marni tidak menjawab dengan cepat. Ia tahu keinginan itu bukan perkara mudah. Untuk menyekolahkan seorang anak, mereka harus memiliki uang untuk seragam, buku, sepatu, dan biaya perjalanan. Sementara penghasilan dari kebun sering kali tidak menentu.
Tetapi Marni juga tahu bahwa suaminya sedang tidak sekadar berbicara.
Ia sedang membuat janji.
“Kita akan menyekolahkannya,” jawab Marni. “Biar dia mengenal dunia yang lebih luas daripada kebun dan jalan tanah ini.”
Karsa tersenyum tipis. Untuk sesaat, keduanya membayangkan Dedi berjalan dengan seragam sekolah, membawa tas di punggung, dan pulang sambil bercerita tentang huruf-huruf baru yang ia pelajari.
Bayangan itu terasa jauh, tetapi cukup untuk membuat mereka bertahan.
Magrib datang perlahan. Satu per satu tetangga mulai berdatangan. Pak Samin datang membawa singkong rebus, Wagini membawa beberapa butir telur, dan Mak Inah membawa kain kecil untuk Dedi. Susanti datang bersama ibunya, sambil membawa bunga liar yang dipetik dari tepi jalan.
“Aku bawa untuk Dedi,” katanya bangga.
“Terima kasih, Susanti,” ujar Marni.
Susanti meletakkan bunga itu di dalam gelas bekas yang sudah diisi air. Herawati berdiri di sampingnya, lalu ikut memperhatikan bayi yang sedang digendong Marni.
Tidak lama kemudian, Pak Rahman, seorang tokoh tua yang biasa memimpin doa di kampung, datang dengan membawa kitab kecil. Wajahnya teduh, rambutnya sudah memutih, dan suaranya selalu membuat orang-orang merasa tenang.
Warga duduk melingkar di ruang depan rumah panggung. Lampu minyak dinyalakan lebih dari satu malam itu. Cahaya kuningnya memantul di dinding papan dan membuat ruangan kecil itu terasa hangat.
Pak Rahman memulai doa dengan suara pelan. Semua orang menundukkan kepala.
“Kita berkumpul malam ini untuk mendoakan seorang anak yang baru hadir di dunia,” katanya. “Semoga ia diberi kesehatan, umur panjang, akhlak baik, dan jalan hidup yang bermanfaat.”
Marni memeluk Dedi lebih erat. Matanya mulai berkaca-kaca.
Pak Rahman lalu memandang Karsa.
“Sudah dipilih namanya?”
Karsa mengangguk.
“Dedi Kusnadi,” jawabnya.
Pak Rahman mengulang nama itu perlahan.
“Dedi Kusnadi,” katanya. “Nama yang baik. Semoga ia tumbuh menjadi anak yang membawa kebaikan, bukan hanya bagi keluarganya, tetapi juga bagi kampung ini.”
Seorang tetangga yang duduk di dekat pintu tersenyum.
“Kalau nanti sudah besar, jangan-jangan jadi guru,” katanya.
Beberapa orang tertawa kecil.
Karsa tidak ikut tertawa. Ia justru memandang Dedi dengan sungguh-sungguh.
“Kalau bisa,” katanya pelan, “biarlah dia jadi apa saja. Yang penting jangan sampai dia berhenti belajar.”
Suasana seketika menjadi lebih hening.
Kalimat itu tidak terdengar seperti harapan biasa. Di desa yang sebagian besar anak-anaknya lebih cepat mengenal ladang daripada ruang kelas, keinginan agar seorang anak terus belajar adalah sesuatu yang besar.
Pak Samin menepuk bahu Karsa.
“Kalau kau sungguh-sungguh, aku yakin Dedi bisa,” katanya. “Anak-anak kita jangan selamanya hanya menjadi buruh kebun.”
Karsa menatap Pak Samin. Ia tahu sahabatnya juga memiliki harapan yang sama untuk Herawati.
Namun, di luar rumah panggung itu, tidak semua orang memandang pendidikan sebagai jalan yang penting.
Di warung kecil dekat balai desa, beberapa lelaki sedang duduk mengelilingi meja kayu. Di atas meja terdapat gelas-gelas kopi hitam dan bungkus rokok yang mulai kosong. Leman duduk di antara mereka, mendengarkan percakapan dengan wajah datar.
“Anak-anak sekarang banyak yang ingin sekolah tinggi,” kata seorang lelaki sambil mengisap rokok. “Nanti kalau sudah pintar, mana mau lagi ke kebun?”
Leman tersenyum kecil.
“Sekolah itu bagus,” katanya. “Tapi jangan sampai membuat orang lupa diri.”
“Memangnya kenapa, Man?” tanya lelaki lain.
Leman menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Orang yang terlalu banyak tahu biasanya mulai banyak bertanya. Banyak bertanya itu kadang membuat hidup jadi tidak tenang.”
Beberapa lelaki tertawa, meski tidak semuanya memahami maksud perkataannya.
Leman menatap ke arah jalan yang menuju rumah-rumah warga. Ia tahu ada bayi baru lahir di rumah Karsa malam itu. Baginya, itu bukan sesuatu yang penting. Satu bayi lahir, satu keluarga bertambah, dan hidup desa akan berjalan seperti biasa.
Ia belum tahu bahwa bayi kecil bernama Dedi Kusnadi itu kelak akan tumbuh menjadi orang yang berani bertanya.
Dan pertanyaan-pertanyaan itu akan mengusik ketenangan yang selama ini ia bangun dari ketakutan.
Kembali di rumah Karsa, doa telah selesai. Warga mulai menikmati hidangan sederhana yang disiapkan Marni. Tidak ada yang merasa kekurangan. Di antara nasi hangat, sayur daun singkong, dan ikan asin, percakapan kecil mengalir dengan akrab.
Herawati duduk di dekat Dedi. Ia memperhatikan wajah bayi itu yang mulai terlelap.
“Dedi tidak menangis lagi,” katanya.
“Dia mungkin sudah kenyang,” jawab Susanti.
“Kalau dia besar, aku mau ajari dia main di sungai,” kata Herawati.
“Aku juga,” sahut Susanti. “Tapi jangan sampai dia tenggelam.”
Herawati mengangguk serius, seolah itu adalah tanggung jawab besar yang harus mereka pikirkan sejak sekarang.
Marni memandangi kedua anak perempuan itu dengan senyum lembut. Ia tidak tahu bagaimana masa depan akan mempertemukan mereka. Ia tidak tahu bahwa kelak Herawati akan menjadi bagian penting dalam hidup Dedi, sementara Susanti akan menjadi sahabat yang menyimpan cinta dalam diam.
Malam semakin larut. Satu per satu warga berpamitan. Rumah panggung kembali tenang, hanya menyisakan aroma makanan, cahaya lampu minyak, dan suara serangga dari luar.
Karsa menutup pintu depan, lalu duduk di samping Marni. Dedi tidur di antara mereka.
“Banyak yang mendoakannya,” kata Marni.
Karsa mengangguk.
“Semoga kita kuat menjaga doa itu.”
Marni menatap suaminya.
“Kita bukan orang kaya, Karsa.”
“Aku tahu.”
“Kita mungkin tidak bisa memberi Dedi rumah besar atau harta banyak.”
“Aku juga tahu.”
“Tapi kita bisa memberi dia keyakinan bahwa hidupnya berharga.”
Karsa terdiam. Ia lalu memandang lampu minyak yang masih menyala di atas meja.
Api kecil itu tidak besar. Cahaya yang diberikannya juga tidak mampu menerangi seluruh desa. Namun, cukup untuk membuat rumah kecil mereka tidak tenggelam dalam gelap.
“Kalau suatu hari nanti dia menjadi cahaya,” kata Karsa pelan, “semoga dia tidak lupa dari mana ia belajar menyala.”
Marni mengangguk. Ia menarik selimut tipis untuk menutupi tubuh Dedi.
Di luar rumah, malam menyelimuti Desa Suka Jaya. Jalan-jalan tanah menjadi sepi. Kebun-kebun karet berdiri gelap di bawah langit yang mulai cerah setelah hujan beberapa hari terakhir.
Di dalam rumah panggung sederhana itu, seorang bayi tidur tanpa mengetahui bahwa namanya telah dipanjatkan dalam doa-doa banyak orang.
Nama itu kelak akan tumbuh bersama langkahnya.
Nama itu akan melewati lumpur, kehilangan, fitnah, cinta, dan perjuangan.
Dan suatu hari nanti, ketika Desa Suka Jaya hampir kehilangan arah, nama Dedi Kusnadi akan disebut bukan hanya sebagai anak Karsa dan Marni, melainkan sebagai lentera yang menyalakan harapan di ujung desa.
BAB III
Jalan Lumpur Masa Kecil
Tahun-tahun berlalu seperti aliran sungai kecil di belakang Desa Suka Jaya.
Tidak selalu deras, tidak selalu jernih, tetapi selalu bergerak menuju tempat yang tidak diketahui. Di desa itu, waktu dapat dikenali dari banyak hal: dari batang karet yang semakin tinggi, dari jalan tanah yang semakin dalam bekas roda gerobak, dari musim hujan yang membawa lumpur, dan dari anak-anak yang perlahan tumbuh besar.
Dedi Kusnadi kini telah berusia tujuh tahun.
Tubuhnya kurus, kulitnya kecokelatan karena sering bermain di halaman dan membantu ayahnya di kebun. Rambutnya selalu dipotong pendek oleh Marni menggunakan gunting tua. Matanya tajam, tetapi wajahnya lebih sering menyimpan diam daripada banyak bicara.
Sejak kecil, Dedi memang berbeda dari anak-anak lain.
Ia senang duduk di dekat jendela rumah sambil memperhatikan orang-orang yang lewat. Ia memperhatikan ibu-ibu yang membawa hasil kebun, bapak-bapak yang memikul cangkul, anak-anak yang menggiring kambing, dan para pekerja kebun yang berjalan dalam kelompok menuju perkebunan besar di ujung desa.
Dedi sering bertanya tentang banyak hal.
“Kenapa jalan ini selalu rusak kalau hujan, Pak?” tanyanya suatu sore kepada Karsa.
Karsa yang sedang membersihkan lumpur dari sepatu botnya hanya tersenyum tipis.
“Karena belum ada yang memperbaikinya.”
“Kenapa tidak diperbaiki?”
“Karena untuk memperbaiki jalan, perlu banyak uang dan banyak orang yang mau bekerja.”
Dedi mengangguk, meski belum sepenuhnya memahami. Namun, pertanyaan itu tidak hilang dari kepalanya.
Ia kembali bertanya pada hari lain.
“Kenapa anaknya Pak Jono tidak sekolah?”
Karsa yang sedang mengikat kayu bakar berhenti sejenak.
“Karena dia harus membantu ayahnya di kebun.”
“Kalau tidak sekolah, nanti dia bisa membaca?”
“Tidak semua orang punya kesempatan yang sama, Dedi.”
Jawaban itu membuat Dedi terdiam lebih lama daripada biasanya.
Di usianya yang masih kecil, ia belum memahami arti kesempatan. Ia belum tahu bahwa kesempatan sering kali tidak datang kepada semua orang dengan cara yang sama. Namun, ia mulai melihat sesuatu yang membuat hatinya tidak nyaman.
Setiap pagi, ketika matahari belum tinggi, beberapa anak seusianya berjalan menuju sekolah dasar di kampung sebelah. Mereka membawa tas lusuh, memakai seragam merah putih yang sudah mulai pudar, dan menenteng buku di dada agar tidak terkena lumpur.
Sementara itu, anak-anak lain berjalan ke arah kebun bersama orang tua mereka.
Mereka membawa parang kecil, bekal nasi, atau keranjang untuk memungut buah-buahan yang jatuh dari pohon.
Dedi selalu memandangi dua arah jalan itu.
Satu jalan menuju sekolah.
Satu jalan menuju kebun.
Ia belum tahu jalan mana yang akan membawanya lebih jauh, tetapi ia tahu bahwa ia ingin berjalan ke arah sekolah.
Keinginan itu semakin kuat ketika suatu pagi Marni memanggilnya dari dapur.
“Dedi, kemari.”
Dedi yang sedang membuat perahu kecil dari daun kelapa segera berlari masuk ke rumah.
“Ada apa, Bu?”
Marni mengeluarkan sebuah tas kain berwarna cokelat dari dalam lemari kayu. Tas itu tampak tua, tetapi masih cukup kuat. Di dalamnya terdapat sebuah buku tulis baru, pensil, penghapus kecil, dan sebuah penggaris plastik yang ujungnya sudah retak.
Dedi memandangi benda-benda itu dengan mata berbinar.
“Ini untuk siapa?” tanyanya.
“Untukmu.”
“Untukku?”
Marni mengangguk.
“Besok kamu mulai sekolah.”
Dedi tidak langsung menjawab. Ia seperti tidak percaya pada apa yang didengarnya. Tangannya perlahan menyentuh buku tulis itu. Halamannya masih putih dan bersih. Tidak ada coretan, tidak ada noda, tidak ada lipatan.
Ia membuka halaman pertama dan mencium aroma kertas baru.
“Benarkah, Bu?” tanyanya pelan.
“Benar.”
“Kalau aku sekolah, aku bisa belajar membaca?”
“Bisa.”
“Bisa menulis?”
“Bisa.”
“Bisa tahu banyak hal?”
Marni tersenyum melihat pertanyaan yang datang bertubi-tubi.
“Kalau kamu rajin belajar, kamu bisa tahu lebih banyak daripada yang Ibu tahu.”
Dedi memeluk tas kain itu erat-erat. Sejak saat itu, ia tidak lagi ingin bermain jauh. Ia duduk di dekat pintu rumah, membuka-tutup buku tulisnya, lalu mencoba membuat garis-garis kecil dengan pensil.
Karsa pulang menjelang sore. Wajahnya tampak lelah, tetapi ketika melihat Dedi memakai tas kain itu di punggung meski belum berangkat sekolah, ia tersenyum.
“Sudah siap jadi anak sekolah?” tanyanya.
Dedi mengangguk cepat.
“Aku mau belajar membaca, Pak. Aku juga mau belajar menulis.”
Karsa duduk di samping anaknya.
“Kalau begitu, kamu harus kuat.”
“Kenapa harus kuat?”
“Karena sekolahnya jauh. Jalannya berlumpur. Kalau hujan, kamu harus hati-hati. Kalau panas, kamu harus tetap berjalan.”
Dedi memandang jalan tanah di depan rumah mereka. Jalan itu tampak panjang, berliku, dan dipenuhi genangan air bekas hujan semalam.
“Aku kuat,” katanya.
Karsa tersenyum kecil.
“Jangan hanya kuat berjalan,” ujar Karsa. “Kamu juga harus kuat belajar.”
Keesokan paginya, Desa Suka Jaya masih diselimuti kabut ketika Dedi mengenakan seragam merah putih pertamanya. Seragam itu bukan seragam baru. Marni mendapatkannya dari anak Pak Samin yang sudah tidak memakainya lagi. Ukurannya sedikit kebesaran, terutama pada bagian lengan dan celana.
Namun, bagi Dedi, seragam itu terasa seperti pakaian paling indah yang pernah ia kenakan.
Marni merapikan kerah bajunya, lalu mengikatkan tali sepatu hitam yang sudah mulai aus. Sepatu itu juga bekas, tetapi masih cukup layak digunakan.
“Jangan bermain di jalan,” pesan Marni.
“Iya, Bu.”
“Kalau hujan, jangan berlari. Nanti jatuh.”
“Iya, Bu.”
“Kalau ada yang tidak kamu mengerti di sekolah, tanyakan kepada gurumu.”
Dedi mengangguk.
Karsa berdiri di dekat pintu sambil membawa cangkul. Ia sebenarnya harus pergi ke kebun, tetapi pagi itu ia memutuskan mengantar Dedi sampai ke jalan besar.
“Pak, nanti aku pulang sendiri?” tanya Dedi.
“Kalau sudah tahu jalan, kamu bisa pulang sendiri. Tapi hari ini, Bapak antar sampai dekat sekolah.”
Dedi berjalan di samping ayahnya. Tas kainnya bergoyang di punggung. Tangannya sesekali memegang tangan Karsa ketika jalan mulai licin.
Mereka melewati kebun singkong, rumah-rumah warga, dan jembatan kayu kecil yang melintang di atas parit. Setelah itu, mereka memasuki jalan tanah merah yang menghubungkan Desa Suka Jaya dengan kampung sebelah.
Jalan itu memang tidak mudah.
Di beberapa bagian, lumpurnya hampir menutup mata kaki. Di bagian lain, terdapat lubang-lubang besar yang dipenuhi air berwarna cokelat. Bekas roda gerobak membuat jalan menjadi tidak rata. Jika hujan turun lebih deras, jalan itu bisa berubah seperti aliran lumpur yang sulit dilalui.
Dedi beberapa kali terpeleset.
Karsa segera menarik tangannya.
“Hati-hati,” katanya.
Dedi menatap celananya yang mulai terkena lumpur.
“Kalau seragamku kotor, Bu Marni marah tidak?”
“Tidak,” jawab Karsa. “Ibumu tahu kamu pergi untuk belajar.”
Dedi lalu melanjutkan langkahnya. Ia tidak lagi memikirkan seragam yang kotor. Ia hanya memikirkan sekolah yang belum pernah ia lihat dari dekat.
Di tengah perjalanan, mereka bertemu Herawati dan Susanti.
Herawati berjalan bersama ayahnya, Pak Samin. Ia mengenakan seragam yang juga kebesaran, dengan rambut dikepang dua oleh Wagini. Di punggungnya tergantung tas kecil berwarna biru.
Susanti berjalan tidak jauh dari mereka bersama ibunya. Berbeda dengan Herawati yang tampak tenang, Susanti terlihat sangat bersemangat. Ia membawa buku tulis di dadanya dan terus berbicara tanpa henti.
“Dedi!” serunya ketika melihat Dedi. “Kamu juga sekolah?”
Dedi mengangguk.
“Aku pikir kamu hanya mau main di sungai,” lanjut Susanti.
“Aku mau belajar,” jawab Dedi singkat.
Susanti mengangkat dagu.
“Aku juga. Nanti aku mau jadi orang pintar.”
Herawati tersenyum kecil.
“Semua orang yang sekolah ingin jadi pintar, Santi.”
“Kalau begitu, aku mau jadi paling pintar,” sahut Susanti.
Pak Samin dan Karsa saling berpandangan, lalu tertawa kecil.
Mereka melanjutkan perjalanan bersama-sama. Untuk pertama kalinya, Dedi merasa jalan berlumpur itu tidak terlalu panjang. Ada Herawati yang berjalan tenang di sampingnya dan Susanti yang terus mengisi perjalanan dengan cerita-cerita kecil.
Namun, di dekat sebuah kebun karet, Dedi melihat seorang anak laki-laki seusianya sedang membantu ayahnya memikul ember.
Anak itu bernama Jaka.
Jaka tidak memakai seragam. Ia mengenakan baju lusuh dan celana pendek yang sudah robek di bagian lutut. Wajahnya tampak lelah meski pagi baru saja dimulai.
Dedi berhenti.
“Jaka,” panggilnya.
Jaka menoleh.
“Kamu tidak sekolah?” tanya Dedi.
Jaka menunduk.
“Ayahku bilang aku harus bantu di kebun.”
“Besok sekolah, ya.”
Jaka tersenyum hambar.
“Kalau aku tidak bantu, kami makan apa?”
Jawaban itu membuat Dedi diam.
Karsa yang mendengar percakapan tersebut menatap anaknya. Ia tahu Dedi belum mengerti seluruh kenyataan hidup. Namun, Karsa juga tahu bahwa sejak pagi itu, anaknya mulai melihat dunia dengan cara yang berbeda.
Mereka melanjutkan perjalanan.
Tidak lama kemudian, bangunan sekolah dasar itu terlihat di kejauhan. Bangunannya sederhana, berdinding papan, beratap seng, dan memiliki halaman tanah yang luas. Di depan kelas berdiri sebuah tiang bendera yang catnya sudah mengelupas.
Bagi Dedi, bangunan itu tampak seperti tempat yang sangat besar.
Anak-anak mulai berkumpul di halaman. Ada yang berlari-lari, ada yang menangis karena takut ditinggal orang tua, ada yang memegang tangan ibunya erat-erat.
Dedi berdiri diam di dekat Karsa.
“Masuklah,” kata ayahnya.
Dedi menatap pintu kelas.
“Bapak tidak ikut?”
“Tidak. Ini tempatmu belajar. Bapak menunggu di luar sebentar.”
Dedi menarik napas pelan. Ia lalu melangkah masuk ke dalam kelas bersama Herawati dan Susanti.
Ruangan itu memiliki beberapa meja kayu panjang, kursi yang sudah banyak coretan, dan sebuah papan tulis hitam di depan kelas. Di atas papan tulis, tergantung foto presiden dan wakil presiden yang sudah mulai pudar warnanya.
Dedi memilih duduk di bangku kedua. Herawati duduk di sebelahnya, sedangkan Susanti duduk di belakang mereka.
Beberapa saat kemudian, seorang lelaki tua masuk ke dalam kelas.
Rambutnya sudah memutih, tubuhnya tidak terlalu tinggi, dan langkahnya pelan. Ia mengenakan kemeja putih yang disetrika rapi, meski bagian lengannya mulai tampak kusam. Di tangan kirinya, ia membawa buku-buku pelajaran.
“Selamat pagi, anak-anak,” katanya.
“Selamat pagi, Pak Guru,” jawab anak-anak serempak, meski tidak semuanya kompak.
Lelaki itu tersenyum.
“Nama saya Harun. Kalian boleh memanggil saya Pak Harun.”
Dedi memperhatikan Pak Harun dengan sungguh-sungguh.
Ada sesuatu dalam suara lelaki tua itu yang membuat ruangan sederhana tersebut terasa tenang. Tidak keras, tidak mengancam, tetapi cukup untuk membuat semua anak memperhatikan.
Pak Harun menulis satu huruf besar di papan tulis.
A.
“Kalian tahu ini huruf apa?” tanyanya.
Beberapa anak menggeleng.
Dedi memandangi huruf itu. Bentuknya sederhana, tetapi baginya terasa seperti sebuah pintu yang baru dibuka.
“Itu huruf A,” kata Pak Harun. “Hari ini, kita mulai belajar mengenal huruf. Dari huruf-huruf ini, kalian nanti bisa membaca buku, menulis nama, dan memahami banyak hal.”
Dedi menatap papan tulis itu tanpa berkedip.
Pak Harun lalu melanjutkan.
“Orang yang bisa membaca tidak mudah dibohongi. Orang yang bisa menulis dapat menyampaikan pikirannya. Orang yang mau belajar akan memiliki jalan lebih banyak dalam hidupnya.”
Kalimat itu belum sepenuhnya dipahami oleh anak-anak di dalam kelas. Namun, Dedi menyimpannya di dalam hati.
Hari pertama sekolah berjalan lambat, tetapi tidak membosankan bagi Dedi. Ia belajar memegang pensil dengan benar, menulis garis lurus, membuat huruf A, B, dan C, serta menyebutkan nama-nama benda di sekitar kelas.
Ketika bel pulang berbunyi, Dedi tidak langsung berlari keluar seperti anak-anak lain. Ia masih duduk di bangkunya, memandangi huruf-huruf yang ia tulis di buku.
Pak Harun menghampirinya.
“Kamu belum pulang?” tanya sang guru.
Dedi menoleh.
“Pak, kalau saya belajar terus, saya bisa membaca semua buku?”
Pak Harun tersenyum.
“Bisa. Tapi kamu harus sabar.”
“Kalau saya bisa membaca, saya bisa tahu semua yang ada di dunia?”
Pak Harun tertawa kecil, bukan karena mengejek, melainkan karena kagum pada pertanyaan itu.
“Kamu mungkin tidak akan tahu semua hal,” jawabnya. “Tetapi kamu akan tahu lebih banyak daripada hari ini.”
Dedi mengangguk. Jawaban itu cukup baginya.
Di luar kelas, Herawati dan Susanti sudah menunggu.
“Dedi, pulang,” kata Herawati.
“Aku mau lihat hurufnya sekali lagi,” jawab Dedi.
Susanti mendekat dan melihat buku tulis Dedi.
“Hurufmu jelek,” katanya jujur.
Dedi menatap tulisan Susanti.
“Hurufmu juga.”
Susanti cemberut, sementara Herawati tertawa kecil.
Mereka bertiga akhirnya pulang bersama. Jalan yang tadi pagi penuh lumpur kini mulai mengering karena matahari siang. Namun, kaki mereka tetap kotor. Seragam mereka tidak lagi rapi. Tas kain Dedi terkena cipratan tanah.
Ketika sampai di dekat kebun karet, mereka kembali melihat Jaka.
Anak itu masih bekerja. Tangannya memegang ember kecil, sementara ayahnya sedang menyadap pohon.
Dedi berhenti.
“Jaka,” panggilnya.
Jaka menoleh.
“Aku belajar huruf A hari ini,” kata Dedi.
Jaka hanya memandanginya.
“Besok aku ajari kamu,” lanjut Dedi.
Jaka tersenyum kecil, seolah tidak yakin.
“Kalau aku punya waktu,” jawabnya.
Dedi mengangguk.
Mereka lalu berjalan pulang.
Sore itu, Dedi duduk di lantai rumah sambil membuka buku tulisnya. Ia menulis huruf A berkali-kali. Sebagian miring, sebagian terlalu besar, sebagian lagi hampir tidak terbaca.
Marni duduk di dekatnya sambil menyiapkan makan malam.
“Itu apa?” tanya Marni.
“Hari ini aku belajar huruf A.”
“Bagus.”
“Pak Harun bilang kalau bisa membaca, orang tidak mudah dibohongi.”
Marni berhenti sejenak.
“Pak Harun benar.”
“Bu, kalau semua orang bisa membaca, apakah tidak ada lagi yang dibohongi?”
Marni menatap anaknya. Ia tidak segera menjawab.
“Tidak semua masalah selesai hanya karena orang bisa membaca,” katanya perlahan. “Tapi orang yang punya ilmu akan lebih mudah memahami mana yang benar dan mana yang salah.”
Dedi mengangguk, lalu kembali menulis.
Malam hari, Karsa pulang dari kebun. Tubuhnya tampak lebih lelah daripada biasanya. Namun, ketika melihat Dedi masih duduk dengan buku terbuka, ia tersenyum.
“Sudah belajar apa hari ini?” tanyanya.
“Huruh A,” jawab Dedi.
“Huruh?”
“Huru—” Dedi berhenti, lalu memperbaiki ucapannya. “Huruf A.”
Karsa tertawa kecil.
“Bagus.”
Dedi mengangkat bukunya.
“Pak, nanti kalau aku sudah bisa membaca, aku mau baca semua surat yang datang ke desa.”
Karsa menatap anaknya.
“Kenapa?”
“Supaya orang-orang tahu isi suratnya.”
Karsa tidak menjawab. Ia hanya mengusap kepala Dedi pelan.
Di luar rumah, malam kembali menyelimuti Desa Suka Jaya. Jalan tanah yang siang tadi dilewati anak-anak sekolah kini sunyi. Lumpur di beberapa bagian masih menyisakan jejak-jejak kaki kecil.
Jejak Dedi, Herawati, dan Susanti.
Jejak anak-anak yang baru mulai mengenal huruf.
Jejak kecil yang kelak akan membawa mereka pada persahabatan, cinta, perpisahan, dan perjuangan yang jauh lebih besar daripada yang mereka bayangkan.
Di atas meja kayu, buku tulis Dedi masih terbuka.
Di halaman pertama, dengan tulisan yang belum rapi, tertulis satu huruf besar:
A
Huruf pertama dari banyak kata yang kelak akan mengubah hidupnya.
Anak.
Ayah.
Asa.
Dan suatu hari nanti, amanah.
BAB IV
Papan Tulis Pertama
Pagi itu, hujan turun sejak sebelum fajar.
Tetes-tetes air jatuh deras di atas atap seng sekolah dasar di kampung sebelah. Suaranya berisik, seperti ribuan jari kecil mengetuk-ngetuk tanpa henti. Jalan tanah yang biasa dilewati anak-anak menuju sekolah kembali berubah menjadi lumpur. Genangan air muncul di mana-mana, memantulkan langit kelabu dan ranting-ranting pohon yang bergoyang tertiup angin.
Di rumah panggung, Marni berdiri di depan pintu sambil memandang jalan yang mulai becek.
“Dedi, hari ini tidak usah sekolah dulu,” katanya.
Dedi yang sudah mengenakan seragam merah putih menoleh cepat. Tas kain cokelatnya sudah tergantung di punggung.
“Kenapa, Bu?”
“Jalannya licin. Hujannya deras.”
“Aku bisa jalan pelan-pelan.”
Marni menggeleng. “Nanti kamu jatuh.”
Dedi menatap hujan di luar rumah. Ia tahu ibunya benar. Jalan menuju sekolah tidak mudah dilalui ketika hujan turun. Namun, hari itu Pak Harun berjanji akan mengajarkan huruf-huruf baru. Dedi tidak ingin tertinggal.
“Kalau aku tidak masuk, nanti aku tidak tahu huruf baru,” katanya pelan.
Marni terdiam.
Dari dapur, Karsa yang sedang menyiapkan bekal untuk ke kebun mendengar percakapan itu. Ia keluar sambil membawa payung tua yang beberapa bagian kainnya sudah robek.
“Kalau Dedi mau sekolah, biar Bapak antar sampai jembatan,” kata Karsa.
Marni menatap suaminya.
“Jalan ke kebun juga jauh.”
“Kebun bisa menunggu sedikit.”
Dedi tersenyum lebar. Ia mengambil payung itu dari tangan ayahnya, tetapi Karsa segera menahannya.
“Bapak saja yang pegang. Kamu pegang tangan Bapak.”
Mereka berjalan keluar rumah ketika hujan masih turun deras. Dedi memakai sandal jepit yang ukurannya sedikit kebesaran. Setiap beberapa langkah, sandal itu hampir terlepas karena lumpur. Karsa menggenggam tangan anaknya erat-erat, memastikan Dedi tidak jatuh.
Di sepanjang jalan, mereka melihat beberapa anak lain memilih tetap di rumah. Ada yang berdiri di depan pintu sambil memandangi hujan, ada yang membantu orang tuanya menampung air hujan, dan ada pula yang sudah berangkat ke kebun bersama keluarganya.
Dedi memandang mereka dengan perasaan aneh.
“Pak,” katanya, “kalau mereka tidak sekolah hari ini, apakah mereka akan tertinggal?”
Karsa tidak langsung menjawab. Ia menuntun Dedi melewati sebuah genangan besar.
“Kalau hanya satu hari, mungkin tidak,” katanya kemudian. “Tapi kalau terlalu sering tidak sekolah, mereka akan tertinggal.”
“Kenapa mereka tidak sekolah?”
“Karena hidup setiap orang berbeda.”
Dedi mengangguk, tetapi wajahnya tetap menyimpan banyak pertanyaan.
Ketika sampai di jembatan kayu kecil, Karsa berhenti. Dari sana, sekolah sudah tidak terlalu jauh. Di ujung jalan, tampak beberapa anak berjalan dengan payung atau mengenakan daun pisang sebagai penutup kepala.
“Dari sini kamu bisa jalan sendiri,” kata Karsa.
Dedi memandang ayahnya.
“Bapak tidak ikut sampai sekolah?”
“Tidak. Bapak harus ke kebun.”
Dedi menatap hujan yang belum juga reda. Ia ingin meminta ayahnya mengantar lebih jauh, tetapi ia tahu Karsa juga harus bekerja.
“Baik, Pak.”
Karsa berjongkok agar wajahnya sejajar dengan Dedi.
“Kalau jalan licin, jangan terburu-buru. Kalau ada teman, jalan bersama. Dan kalau hujan makin besar, berteduh dulu di rumah warga.”
Dedi mengangguk.
“Pak.”
“Iya?”
“Terima kasih.”
Karsa tersenyum, lalu mengusap kepala anaknya.
“Belajarlah yang rajin.”
Dedi berjalan sendiri melewati jalan tanah yang licin. Tas kainnya ia peluk di dada agar tidak terkena hujan. Beberapa kali ia harus menepi karena ada gerobak yang lewat membawa hasil kebun. Roda gerobak itu membuat lumpur terciprat ke celana seragamnya.
Namun, Dedi tidak berhenti.
Saat ia hampir sampai di sekolah, Herawati berlari kecil dari arah rumahnya. Ia memakai payung kecil berwarna merah yang sudah sedikit robek di bagian pinggir.
“Dedi!” panggilnya.
Dedi menoleh.
“Kamu tetap sekolah?” tanya Herawati sambil tersenyum.
“Iya. Kamu juga?”
Herawati mengangguk. “Ibu bilang hujan tidak boleh membuat kita malas.”
Tidak lama kemudian, Susanti muncul dari arah lain. Ia tidak membawa payung. Rambutnya basah, seragamnya terkena lumpur, tetapi wajahnya tetap ceria.
“Kalian lama sekali,” katanya. “Aku sudah hampir masuk kelas.”
“Kamu tidak pakai payung?” tanya Herawati.
“Payung di rumah cuma satu. Dipakai Ibu ke pasar.”
Dedi memandang Susanti yang menggigil sedikit.
“Nanti kamu sakit,” katanya.
Susanti mengangkat bahu. “Kalau sakit, ya tidur.”
Herawati menggeleng pelan, sementara Dedi hanya diam. Ia mulai memahami bahwa tidak semua anak berangkat sekolah dengan keadaan yang sama. Ada yang diantar orang tua, ada yang berjalan sendiri, ada yang membawa payung, dan ada yang harus memilih antara sekolah atau membantu keluarga.
Ketika mereka masuk ke kelas, ruangan itu terasa lebih dingin daripada biasanya. Beberapa bagian atap bocor. Air hujan menetes ke lantai dan membuat anak-anak harus menggeser bangku.
Pak Harun sudah berada di depan kelas. Ia sedang menaruh ember kecil di bawah titik-titik air yang menetes dari atap.
“Selamat pagi, anak-anak,” katanya.
“Selamat pagi, Pak Guru,” jawab murid-murid.
Pak Harun memandang satu per satu wajah anak-anak di depannya. Ia melihat seragam yang basah, kaki yang berlumpur, dan tangan-tangan kecil yang kedinginan.
“Hujan tidak membuat kalian pulang?” tanyanya.
Tidak ada yang menjawab.
Pak Harun tersenyum.
“Bagus. Orang yang ingin belajar harus punya kemauan. Tapi kalian juga harus menjaga kesehatan. Kalau sakit, istirahat. Kalau hujan terlalu deras, jangan memaksakan diri.”
Ia lalu mengambil kapur putih dan berdiri di depan papan tulis.
Papan tulis itu sudah tua. Warnanya tidak lagi hitam pekat. Di beberapa bagian, permukaannya tergores dan sulit dibersihkan. Namun, bagi Dedi, papan tulis itu tetap terlihat istimewa.
Setiap kali Pak Harun menulis di sana, huruf-huruf seperti hidup.
Hari itu, Pak Harun menulis beberapa kata besar:
IBU
BAPAK
BUKU
DESA
“Siapa yang bisa membaca?” tanya Pak Harun.
Beberapa anak menunduk. Dedi menatap tulisan itu lama-lama. Ia mengenali beberapa huruf, tetapi belum yakin menyusunnya menjadi kata.
Pak Harun menunjuk kata pertama.
“Ini dibaca apa?”
Dedi mengangkat tangan perlahan.
“I... bu,” katanya.
“Bagus, Dedi.”
Dedi tersenyum kecil. Herawati menatapnya dengan bangga, sementara Susanti berbisik dari belakang.
“Aku juga tahu sebenarnya.”
Pak Harun lalu menunjuk kata kedua.
“Kalau ini?”
“Bapak,” jawab beberapa anak serempak.
“Bagus. Sekarang, siapa yang tahu arti kata desa?”
Kelas kembali hening.
Pak Harun memandang anak-anak dengan sabar.
“Desa adalah tempat kita tinggal,” jelasnya. “Tempat kita lahir, bermain, tumbuh, dan mengenal banyak orang. Desa bukan tempat yang kecil jika kita mau belajar dan bekerja untuk membuatnya lebih baik.”
Dedi memandangi kata DESA di papan tulis.
Ia teringat jalan berlumpur, kebun karet, rumah panggung, dan anak-anak yang tidak sekolah. Ia belum mengerti mengapa Pak Harun berkata desa bisa menjadi lebih baik, tetapi kalimat itu terasa tinggal di dalam pikirannya.
Setelah pelajaran membaca, Pak Harun membagikan lembaran kertas bekas kepada setiap murid. Di bagian belakang kertas itu masih ada tulisan lama, tetapi sisi lainnya kosong.
“Hari ini, kalian akan menggambar,” katanya.
Anak-anak langsung terlihat lebih bersemangat.
“Gambar apa, Pak?” tanya Susanti.
“Gambar tempat yang kalian sukai.”
Beberapa anak langsung menggambar rumah, pohon, atau ayam. Susanti menggambar sungai dengan ikan yang bentuknya tidak jelas. Herawati menggambar bunga dan rumah kecil dengan halaman luas.
Dedi memegang pensilnya cukup lama.
Ia tidak tahu harus menggambar apa.
Kemudian, ia mulai membuat garis-garis sederhana. Ia menggambar sebuah bangunan dengan atap seng, beberapa anak berdiri di depannya, dan sebuah papan besar di dalam ruangan.
Pak Harun berjalan berkeliling melihat hasil gambar murid-muridnya. Ketika sampai di meja Dedi, ia berhenti.
“Ini gambar apa?” tanyanya.
“Sekolah,” jawab Dedi.
Pak Harun mengangguk.
“Kenapa sekolahnya besar?”
Dedi menatap gambarnya.
“Supaya semua anak bisa masuk.”
Pak Harun tidak langsung menjawab. Ia memandangi gambar sederhana itu cukup lama.
“Semoga suatu hari nanti,” katanya pelan.
Dedi menatap gurunya.
“Kalau sekolahnya besar, Jaka bisa sekolah juga.”
Pak Harun mengetahui siapa yang dimaksud Dedi. Jaka adalah salah satu anak di Desa Suka Jaya yang jarang terlihat di sekolah karena harus membantu ayahnya bekerja.
“Jaka memang ingin sekolah?” tanya Pak Harun.
Dedi mengangguk. “Dia bilang kalau ada waktu.”
Pak Harun menarik napas perlahan.
“Banyak anak ingin sekolah, Dedi. Tetapi kadang mereka tidak punya kesempatan.”
“Kalau begitu, kita buat kesempatan,” kata Dedi spontan.
Kelas yang semula ramai mendadak lebih hening. Beberapa anak menoleh kepada Dedi, termasuk Herawati dan Susanti.
Pak Harun tersenyum. Ada kehangatan dalam tatapannya.
“Kamu benar,” katanya. “Kalau suatu hari kamu sudah besar, jangan lupa pada kalimat itu.”
Pelajaran berlanjut hingga siang. Hujan mulai reda, tetapi langit masih kelabu. Ketika bel pulang berbunyi, anak-anak segera merapikan buku mereka.
Dedi tidak langsung pulang. Ia berdiri di depan papan tulis yang kini sudah kosong. Dengan ujung jarinya, ia menyentuh permukaan papan itu.
“Kenapa kamu di situ?” tanya Herawati.
Dedi menoleh.
“Aku ingin punya papan tulis seperti ini.”
Herawati tersenyum.
“Untuk apa?”
“Untuk mengajari anak-anak.”
Susanti yang sedang memasukkan bukunya ke tas mendengar percakapan itu.
“Kamu baru belajar huruf, sudah mau jadi guru?” katanya sambil tertawa kecil.
Dedi tidak tersinggung.
“Kalau aku sudah bisa, aku mau ajari Jaka.”
Herawati memandang papan tulis itu, lalu memandang Dedi.
“Aku juga mau mengajar,” katanya.
Susanti mengangkat tangan.
“Kalau begitu, aku ajari mereka berhitung. Aku paling cepat kalau menghitung.”
“Kamu baru bisa menghitung sampai dua puluh,” kata Herawati.
“Dua puluh itu sudah banyak,” jawab Susanti dengan yakin.
Mereka bertiga tertawa.
Di luar kelas, Pak Harun berdiri di bawah atap sekolah sambil memandangi anak-anak yang satu per satu pulang. Ketika melihat Dedi, Herawati, dan Susanti berjalan bersama di jalan berlumpur, ia tersenyum kecil.
Ia tidak tahu seberapa jauh mimpi anak-anak itu akan tumbuh.
Ia tidak tahu bahwa papan tulis tua di sekolah sederhana itu kelak akan menjadi awal dari sebuah perjuangan panjang.
Sore hari, Dedi pulang dengan seragam yang semakin kotor. Marni yang melihatnya dari dapur langsung menggeleng.
“Lumpurnya sampai ke mana-mana,” katanya.
Dedi menunduk sedikit.
“Maaf, Bu.”
Marni mendekat, lalu memeriksa tas kainnya.
“Bukunya basah?”
“Tidak. Aku peluk terus waktu hujan.”
Marni tersenyum lega.
“Kalau begitu, tidak apa-apa. Seragam bisa dicuci. Buku harus dijaga.”
Dedi masuk ke rumah, lalu mengambil buku tulisnya. Ia menggambar ulang sekolah besar yang tadi dibuat di kelas. Kali ini, ia menambahkan lebih banyak anak di halaman sekolah.
Karsa pulang ketika matahari mulai tenggelam. Ia melihat gambar itu dan duduk di samping Dedi.
“Ini apa?” tanya Karsa.
“Sekolah besar.”
“Untuk siapa?”
“Untuk semua anak.”
Karsa memandangi gambar itu. Garis-garisnya masih tidak rapi, atapnya miring, dan jendelanya tidak sama besar. Namun, ia melihat sesuatu yang lebih besar daripada gambar seorang anak kecil.
Ia melihat harapan.
“Kalau begitu,” kata Karsa, “kamu harus belajar sungguh-sungguh. Supaya suatu hari kamu tahu bagaimana membuatnya.”
Dedi mengangguk.
Malam itu, setelah makan, Dedi kembali membuka bukunya. Di bawah gambar sekolah besar, ia menulis kata yang baru dipelajarinya hari itu.
Tulisan itu masih miring dan beberapa hurufnya terlalu besar.
DESA
Ia menatap kata itu lama-lama.
Desa adalah tempat ia lahir.
Desa adalah tempat ayahnya bekerja.
Desa adalah tempat ibunya menyiapkan makan dari hasil kebun.
Desa adalah tempat Herawati dan Susanti berjalan bersamanya di jalan berlumpur.
Desa juga tempat Jaka bekerja ketika anak-anak lain belajar.
Dedi belum mampu menjelaskan semua yang ia pikirkan. Namun, malam itu, di dalam hati kecilnya, mulai tumbuh sebuah keinginan yang belum memiliki nama.
Keinginan agar tidak ada lagi anak yang harus memilih antara membawa buku atau memikul ember.
Di luar rumah, hujan kembali turun pelan-pelan.
Jalan tanah di Desa Suka Jaya kembali basah.
Namun, di dalam rumah panggung sederhana itu, seorang anak kecil mulai memahami bahwa dari papan tulis tua dan huruf-huruf sederhana, seseorang dapat belajar melihat dunia dengan cara yang berbeda.
BAB V
Anak yang Membawa Buku
Sejak hari ketika Pak Harun menulis kata DESA di papan tulis, Dedi mulai memandang buku dengan cara yang berbeda.
Buku bukan lagi sekadar kumpulan kertas yang harus dibawa ke sekolah. Buku menjadi tempat ia menemukan huruf-huruf baru, cerita-cerita yang belum pernah ia dengar, dan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang selama ini hanya berputar di kepalanya.
Setiap pulang sekolah, sebelum membantu Marni mengambil air atau mengumpulkan kayu bakar, Dedi selalu membuka buku tulisnya. Ia menyalin kembali huruf-huruf yang diajarkan Pak Harun, lalu membacanya perlahan.
A, B, C.
Ibu.
Bapak.
Buku.
Desa.
Kadang ia salah menyebutkan huruf. Kadang ia menulis terlalu besar hingga satu kata memenuhi hampir seluruh halaman. Namun, ia tidak pernah bosan mengulanginya.
Marni sering melihat anaknya duduk di lantai dekat jendela dengan buku di pangkuan. Sinar matahari sore masuk dari celah dinding papan, jatuh tepat di atas halaman buku yang terbuka.
“Dedi,” panggil Marni suatu sore, “kamu tidak mau bermain dengan teman-temanmu?”
Dedi menggeleng.
“Nanti saja, Bu.”
“Kamu belajar terus. Mata kamu bisa lelah.”
“Aku mau cepat bisa membaca.”
Marni tersenyum. Ia tidak ingin memadamkan semangat anaknya, tetapi ia juga tidak ingin Dedi terlalu memaksa diri.
“Belajar itu baik,” katanya. “Tapi jangan lupa, anak-anak juga perlu bermain.”
Dedi menutup bukunya sebentar.
“Kalau aku bermain, nanti aku lupa huruf.”
“Kamu tidak akan lupa hanya karena bermain satu jam.”
Dedi tampak berpikir. Lalu ia membawa buku itu keluar rumah dan duduk di bawah pohon mangga yang tumbuh di halaman. Dari sana, ia bisa melihat beberapa anak sedang bermain bola dari kain bekas.
Herawati dan Susanti juga ada di sana.
“Dedi!” teriak Susanti. “Ayo main.”
Dedi mengangkat bukunya.
“Aku sedang belajar.”
Susanti mendekat dengan wajah heran.
“Kamu belajar lagi?”
“Iya.”
“Kamu mau jadi apa, sih?”
Dedi memandangi halaman bukunya.
“Belum tahu.”
Herawati ikut duduk di dekatnya. Ia membawa selembar daun lebar yang digunakan untuk membuat perahu-perahuan.
“Pak Harun bilang orang yang rajin belajar bisa punya banyak pilihan,” kata Herawati.
Dedi mengangguk.
“Kalau begitu, aku mau punya banyak pilihan.”
Susanti duduk di sebelah mereka.
“Aku juga,” katanya. “Tapi sekarang pilihanku mau main bola.”
Herawati tertawa kecil.
Tidak lama kemudian, beberapa anak lain mendekat. Ada Jaka, Rudi, dan Nisa. Mereka memandangi buku yang ada di tangan Dedi.
“Itu buku sekolah?” tanya Jaka.
“Iya,” jawab Dedi.
“Di dalamnya ada apa?”
“Huruf.”
Jaka duduk di tanah. Wajahnya tampak ingin tahu, tetapi ia berusaha menyembunyikannya.
“Huruf itu susah?” tanyanya.
Dedi berpikir sejenak.
“Kalau belum tahu, susah. Kalau sudah sering lihat, tidak terlalu susah.”
Jaka mengambil sebatang ranting kecil, lalu menggoreskan ujungnya ke tanah.
“Ajari aku satu,” katanya.
Dedi memandang Jaka. Ia teringat perkataannya kepada Pak Harun: kalau begitu, kita buat kesempatan.
Ia membuka bukunya, lalu menunjuk huruf pertama.
“Ini A,” katanya.
Jaka mengikuti bentuk huruf itu di tanah. Garis pertama terlalu miring. Garis kedua terlalu pendek. Garis ketiga hampir tidak terlihat.
“Bukan begitu,” kata Susanti cepat. “Harus seperti gunung kecil.”
“Aku tahu,” sahut Jaka, meski jelas ia belum tahu.
Herawati mengambil ranting lain.
“Pelan-pelan saja,” katanya. “Begini.”
Mereka bertiga mulai menggambar huruf di tanah. Anak-anak lain yang semula ingin bermain bola perlahan ikut mendekat. Ada yang tertawa melihat bentuk huruf yang aneh, ada yang mencoba membuat huruf sendiri, dan ada pula yang hanya memperhatikan.
Dedi merasa senang.
Ia belum pernah mengajar siapa pun sebelumnya. Ia juga belum benar-benar menguasai banyak huruf. Namun, ketika melihat Jaka berhasil membuat huruf A yang bentuknya hampir benar, ada rasa bangga yang muncul di dalam dirinya.
“Itu sudah bagus,” kata Dedi.
Jaka memandangi hurufnya.
“Kalau aku bisa huruf A, nanti aku bisa baca buku?”
“Kalau kamu belajar banyak huruf, bisa.”
Jaka tersenyum kecil.
Senyum itu tidak lama, tetapi cukup untuk membuat Dedi merasa bahwa buku yang ia bawa dari sekolah bukan hanya miliknya.
Sejak hari itu, kebiasaan kecil mulai tumbuh di bawah pohon mangga.
Setiap sore, setelah pulang sekolah dan sebelum matahari tenggelam, Dedi membawa buku tulisnya keluar rumah. Herawati sering datang membawa pensil atau kertas bekas dari rumahnya. Susanti membawa batu kecil untuk digunakan sebagai penanda saat mereka belajar berhitung.
Jaka datang jika ia tidak terlalu lelah membantu ayahnya. Kadang ia datang dengan tangan masih berbau getah karet. Kadang ia hanya bisa duduk sebentar sebelum dipanggil pulang.
Anak-anak lain juga mulai ikut bergabung.
Dedi mengajarkan huruf yang ia pelajari di sekolah. Herawati membantu mengeja kata-kata sederhana. Susanti mengajarkan hitungan dengan menggunakan biji karet, batu kecil, atau daun-daun kering.
“Ada lima batu,” kata Susanti sambil menyusun batu di tanah. “Kalau aku ambil dua, tinggal berapa?”
“Tiga,” jawab Nisa.
“Kalau tambah dua lagi?”
“Lima.”
“Nah, itu namanya tambah dan kurang.”
Susanti tersenyum bangga, seolah ia sudah menjadi guru sungguhan.
Namun, tidak semua orang melihat kegiatan itu sebagai sesuatu yang baik.
Suatu sore, ketika anak-anak sedang belajar di bawah pohon mangga, Pak Jono datang dari arah kebun. Wajahnya tampak lelah. Bajunya basah oleh keringat, dan di tangannya tergantung ember kecil.
Jaka yang sedang menulis huruf di tanah langsung menunduk.
“Jaka,” panggil Pak Jono.
Jaka tidak menjawab.
“Ayah panggil.”
Jaka berdiri perlahan.
“Aku sedang belajar, Yah.”
Pak Jono memandang buku Dedi, lalu menatap anaknya.
“Belajar apa?”
“Huruf.”
Pak Jono menghela napas panjang.
“Besok saja belajarnya. Sekarang bantu Ayah bawa getah.”
Jaka menatap Dedi, lalu menatap huruf-huruf yang baru saja ia buat di tanah. Wajahnya tampak kecewa.
“Sebentar saja, Yah,” katanya.
Pak Jono menggeleng.
“Tidak ada sebentar. Kalau getah tidak dibawa sekarang, nanti hujan. Kamu mau kita makan apa?”
Kalimat itu membuat semua anak diam.
Dedi menunduk. Ia ingin mengatakan bahwa Jaka hanya belajar sebentar, tetapi ia tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan Pak Jono.
Jaka mengambil ember dari tangan ayahnya. Sebelum pergi, ia menoleh kepada Dedi.
“Besok ajari aku lagi,” katanya.
Dedi mengangguk.
“Iya.”
Pak Jono dan Jaka berjalan menjauh menuju jalan kebun. Anak-anak masih duduk di bawah pohon mangga, tetapi suasana tidak lagi seramai tadi.
Herawati memandang Dedi.
“Kasihan Jaka,” katanya.
Dedi menatap tanah tempat huruf-huruf Jaka masih terlihat samar.
“Dia ingin belajar,” jawabnya.
“Tapi dia harus bekerja,” kata Susanti.
“Kalau begitu, kita belajar setelah dia bekerja,” ujar Dedi.
Susanti mengangkat alis.
“Kalau sudah malam?”
“Kita bisa pakai lampu minyak.”
Herawati tersenyum kecil. “Ibumu mau?”
Dedi tidak langsung menjawab. Ia tahu Marni mungkin khawatir rumah menjadi ramai. Namun, ia juga merasa tidak bisa membiarkan Jaka kehilangan kesempatan belajar hanya karena waktu mereka berbeda.
Malam itu, setelah makan, Dedi menyampaikan keinginannya kepada Marni dan Karsa.
“Bu, Pak, boleh tidak Jaka belajar di rumah?”
Karsa yang sedang memperbaiki gagang cangkul menoleh.
“Belajar apa?”
“Huruf. Dia tidak bisa datang sore karena harus bantu ayahnya.”
Marni duduk di dekat tungku sambil mengaduk air panas.
“Belajarnya kapan?”
“Setelah magrib.”
Marni tampak ragu.
“Rumah kita kecil, Dedi.”
“Tidak apa-apa. Kami duduk di lantai.”
“Kamu sendiri masih belajar,” kata Karsa.
Dedi menunduk.
“Aku cuma mau ajari yang aku tahu.”
Karsa memandang anaknya cukup lama. Di wajah Dedi, ia melihat kesungguhan yang tidak biasa bagi anak seusianya.
“Kalau Jaka datang untuk belajar, biarkan,” kata Karsa akhirnya. “Tapi jangan sampai kalian bermain-main dan lupa waktu.”
Wajah Dedi langsung cerah.
“Terima kasih, Pak.”
Marni tersenyum tipis.
“Kalau begitu, Ibu siapkan lampu minyak lebih terang.”
Malam berikutnya, Jaka datang ke rumah Dedi setelah membantu ayahnya membawa getah. Ia membawa selembar kertas bekas yang ditemukan di rumahnya dan sebuah pensil pendek tanpa penghapus.
Herawati datang bersama Wagini, yang kemudian pulang setelah memastikan anaknya aman. Susanti datang membawa dua buah buku tulis bekas milik kakaknya.
Mereka duduk melingkar di lantai.
Di tengah mereka, sebuah lampu minyak menyala. Cahaya kecilnya membuat bayangan mereka bergerak di dinding papan. Dedi membuka buku tulisnya, lalu mulai mengajarkan huruf yang sudah ia hafal.
“A,” katanya.
“A,” ulang Jaka.
“B.”
“B.”
“C.”
“C.”
Mereka belajar perlahan. Tidak ada meja, tidak ada papan tulis, dan tidak ada kapur. Hanya ada buku bekas, pensil pendek, lampu minyak, serta keinginan kecil untuk memahami huruf.
Marni berdiri di dapur sambil memperhatikan mereka. Hatinya terasa hangat.
Karsa yang baru selesai mencuci kaki di belakang rumah masuk dan melihat anak-anak itu.
“Ramai sekali,” katanya.
Susanti tersenyum.
“Kami sedang sekolah malam, Pak.”
Karsa tertawa kecil.
“Kalau begitu, siapa gurunya?”
Dedi menunjuk dirinya sendiri dengan malu-malu.
“Guru Dedi,” kata Susanti cepat.
Herawati ikut tersenyum. “Guru Dedi belum bisa semua huruf, tapi dia rajin.”
Dedi menunduk, wajahnya sedikit memerah.
Karsa mendekat dan duduk di dekat mereka.
“Kalau kalian ingin belajar, jangan malu bertanya,” katanya. “Orang yang malu bertanya akan lama tidak tahu.”
Jaka mengangguk.
“Pak Karsa,” katanya pelan, “kalau saya bisa membaca, saya bisa baca surat?”
“Bisa.”
“Kalau saya bisa menulis, saya bisa menulis nama saya?”
“Bisa.”
Jaka tampak tersenyum. Ia lalu menunduk dan mencoba menulis huruf-huruf yang membentuk namanya.
J.
A.
K.
A.
Tulisan itu belum rapi. Huruf J terlalu panjang, huruf K tampak seperti huruf R, dan huruf A terakhir hampir tidak terbaca. Namun, Jaka menatapnya dengan mata berbinar.
“Itu namaku?” tanyanya.
Dedi mengangguk.
“Itu namamu.”
Jaka mengulanginya pelan.
“Jaka.”
Untuk pertama kalinya, ia melihat namanya sendiri tertulis di atas kertas.
Di luar rumah, malam semakin gelap. Dari kejauhan terdengar suara serangga dan anjing menyalak. Lampu-lampu minyak di rumah warga satu per satu mulai padam.
Namun, di rumah panggung milik Karsa dan Marni, cahaya kecil masih menyala.
Cahaya itu menerangi beberapa anak yang sedang belajar mengenal huruf.
Tidak ada yang tahu bahwa pertemuan sederhana itu akan menjadi kebiasaan. Tidak ada yang tahu bahwa dari buku-buku bekas dan lampu minyak, akan tumbuh sebuah cita-cita yang jauh lebih besar.
Di tempat lain, di teras rumah besar dekat balai desa, Leman sedang duduk bersama beberapa lelaki dewasa. Mereka membicarakan harga karet, rencana pembelian tanah, dan tenaga kerja untuk perkebunan baru.
Seorang lelaki menyebutkan bahwa anak-anak di ujung desa mulai sering berkumpul di rumah Karsa.
“Anaknya Karsa itu rajin sekali,” kata lelaki itu. “Katanya mengajari anak-anak lain membaca.”
Leman mengembuskan asap rokok dari mulutnya.
“Anak kecil,” katanya datar. “Biarkan saja.”
Namun, sorot matanya berubah sedikit.
Ia tidak suka mendengar kata mengajari.
Ia tidak suka membayangkan anak-anak desa mulai belajar bertanya, membaca surat, dan memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah mereka pahami.
Bagi Leman, anak-anak seharusnya tumbuh menjadi pekerja yang patuh, bukan orang-orang yang terlalu banyak berpikir.
Sementara itu, di rumah panggung sederhana, Dedi menutup buku ketika malam semakin larut.
“Besok kita lanjut lagi,” katanya.
Jaka mengangguk.
“Besok aku mau belajar huruf yang lebih banyak.”
Herawati menatap Dedi dengan senyum lembut.
“Kamu senang mengajar, ya?”
Dedi berpikir sebentar.
“Aku senang kalau mereka bisa.”
Susanti menyandarkan tubuhnya ke dinding.
“Kalau nanti kita besar, kita buat sekolah yang besar,” katanya.
Herawati mengangguk. “Yang ada banyak buku.”
“Dan papan tulis,” tambah Dedi.
“Dan tempat bermain,” kata Susanti.
Mereka tertawa pelan.
Malam itu, sebelum tidur, Dedi menyimpan bukunya di bawah bantal. Ia tidak ingin buku itu basah atau hilang. Di halaman terakhir, ia menulis beberapa kata baru.
JAKA
HERA
SANTI
Tulisan itu masih sederhana, tetapi baginya sangat berarti.
Ia mulai mengerti bahwa setiap nama memiliki cerita.
Setiap anak memiliki harapan.
Dan setiap buku yang dibuka dapat menjadi jalan bagi seseorang untuk melihat hidup dengan lebih luas.
Di luar rumah, angin malam bergerak pelan melewati pohon-pohon karet.
Di dalam rumah, lampu minyak akhirnya dipadamkan.
Namun, di hati Dedi, sebuah cahaya kecil justru mulai tumbuh semakin terang.
BAB VI
Sahabat di Tepi Sungai
Pagi itu, langit Desa Suka Jaya tampak cerah setelah hujan turun hampir sepanjang malam.
Titik-titik air masih menggantung di ujung daun pisang. Tanah di halaman rumah warga tampak basah dan lembut. Dari kejauhan, suara ayam jantan bersahut-sahutan, seolah membangunkan seluruh kampung yang masih diselimuti udara dingin.
Dedi Kusnadi sudah terbangun sejak matahari belum tinggi.
Ia duduk di depan rumah panggung sambil memegang buku tulis yang mulai kusam. Buku itu adalah buku yang selalu dibawanya ke sekolah dan dibaca ulang ketika pulang. Beberapa halaman sudah penuh dengan tulisan huruf-huruf besar yang dibuatnya sendiri.
A.
B.
C.
Ibu.
Bapak.
Buku.
Desa.
Dedi membaca kata-kata itu perlahan. Ia tidak ingin hanya bisa mengeja. Ia ingin memahami setiap kata yang tertulis di hadapannya.
Dari dapur, Marni keluar membawa sapu lidi.
“Sejak pagi sudah pegang buku lagi,” katanya sambil tersenyum.
Dedi menoleh.
“Aku mau belajar, Bu.”
“Tidak jadi bermain?”
“Nanti saja.”
Marni menyapu halaman rumah perlahan. Ia memandangi anaknya yang duduk dengan serius. Dedi memang berbeda dari anak-anak lain seusianya. Jika sebagian besar anak memilih bermain layang-layang, mandi di sungai, atau mengejar ayam di halaman, Dedi sering memilih duduk dengan buku di tangan.
Namun, Marni tahu bahwa anaknya bukan anak yang tidak suka bermain.
Dedi hanya memiliki rasa ingin tahu yang besar.
“Kalau sudah selesai belajar, bantu Ibu ambil air di sungai,” kata Marni.
“Iya, Bu.”
Tidak lama kemudian, Dedi mengambil dua ember kecil. Satu ember ia bawa sendiri, sementara ember lainnya ia ikatkan pada sebatang kayu agar lebih mudah dipikul. Ia berjalan menuju sungai kecil yang terletak tidak terlalu jauh dari rumahnya.
Sungai itu tidak besar.
Airnya mengalir pelan di antara batu-batu kecil. Di tepinya tumbuh rumput liar, pohon bambu, dan beberapa pohon besar yang menaungi jalan setapak. Sungai itu menjadi tempat warga mengambil air, mencuci pakaian, memandikan anak-anak, bahkan sekadar duduk melepas lelah setelah bekerja di kebun.
Bagi Dedi, sungai itu juga menjadi tempat yang menenangkan.
Ia menyukai suara air yang mengalir.
Ia menyukai pantulan langit di permukaannya.
Ia menyukai angin yang bertiup pelan di antara pepohonan.
Ketika sampai di tepi sungai, Dedi melihat seorang anak perempuan sedang duduk di atas batu besar. Anak itu mengenakan baju sederhana berwarna biru muda. Rambutnya dikepang dua dan diikat dengan pita yang warnanya sudah mulai pudar.
Di sampingnya terdapat sebuah buku tulis.
Dedi berhenti sejenak.
Anak perempuan itu sedang menulis sesuatu dengan sangat serius. Sesekali ia menghapus tulisannya dengan ujung jari, lalu menulis kembali.
Dedi belum pernah melihatnya sedekat itu.
Ia tahu anak itu adalah Herawati, putri Pak Samin, buruh kebun yang rumahnya berada di ujung kampung. Herawati dikenal sebagai anak yang jarang banyak bicara, tetapi selalu mendapat nilai baik di sekolah.
Dedi pernah melihatnya beberapa kali di kelas.
Namun, mereka belum pernah benar-benar berbicara.
Dedi menurunkan embernya di dekat batu.
Herawati menoleh.
“Kamu Dedi, ya?” tanyanya.
Dedi sedikit terkejut.
“Iya.”
“Aku Herawati.”
“Aku tahu.”
Herawati tersenyum kecil.
“Kamu tahu dari mana?”
“Kita satu sekolah.”
Herawati mengangguk.
“Kamu selalu duduk di depan.”
Dedi menunduk sedikit. Ia memang lebih suka duduk di bangku depan karena ingin melihat tulisan Pak Harun dengan jelas.
“Kamu sedang apa?” tanyanya.
Herawati menutup sebagian buku tulisnya.
“Belajar.”
“Belajar di sungai?”
“Iya. Di rumah ramai. Adikku sering menangis, dan Ibu harus memasak.”
Dedi mengangguk. Ia memahami maksud Herawati. Di rumahnya sendiri, kadang suara pekerjaan rumah dan kegiatan keluarga membuatnya sulit berkonsentrasi.
“Kalau di sini lebih tenang,” kata Herawati.
Dedi memandangi sungai yang mengalir pelan.
“Iya. Di sini enak.”
Herawati melihat buku tulis yang dibawa Dedi.
“Kamu juga mau belajar?”
“Tidak. Aku mau ambil air.”
“Lalu kenapa bawa buku?”
Dedi tersenyum malu-malu.
“Aku selalu bawa.”
Herawati tertawa kecil. Tawa itu tidak keras, tetapi cukup membuat Dedi merasa aneh. Bukan karena ditertawakan, melainkan karena baru pertama kali ia berbicara cukup lama dengan Herawati.
“Kamu suka membaca?” tanya Herawati.
“Suka.”
“Apa yang paling kamu suka dari buku?”
Dedi berpikir sejenak.
“Buku membuat kita tahu hal yang tidak kita lihat.”
Herawati memandangi Dedi dengan wajah serius.
“Maksudmu?”
“Misalnya, kita tidak pernah pergi ke kota. Tapi kalau ada buku tentang kota, kita bisa tahu kota itu seperti apa.”
Herawati menunduk melihat bukunya.
“Aku juga ingin tahu kota.”
“Kamu pernah ke kota?”
Herawati menggeleng.
“Belum. Kata Ayah, kota itu jauh.”
“Pak Harun bilang di kota ada sekolah besar.”
“Dan banyak buku,” tambah Herawati.
Dedi mengangguk.
Mereka sama-sama terdiam beberapa saat. Hanya suara air sungai yang terdengar di antara mereka.
Dedi lalu mengambil air menggunakan ember kecil. Saat ia mencoba mengangkat ember yang sudah penuh, salah satu kakinya terpeleset karena batu di tepi sungai licin.
“Dedi!” seru Herawati.
Tubuh Dedi hampir jatuh ke air. Untung ia segera memegang batang bambu yang tumbuh di pinggir sungai. Ember di tangannya terlepas dan hanyut beberapa langkah.
Herawati segera berdiri. Ia mengambil sebatang ranting panjang dan mengarahkannya ke ember yang terbawa arus.
“Pegang ini!” katanya.
Dedi memegang ranting itu, lalu perlahan menarik ember ke tepi sungai.
Setelah ember berhasil diambil, Herawati menghela napas lega.
“Kamu harus hati-hati,” katanya.
Dedi tersenyum canggung.
“Batunya licin.”
“Kalau ambil air, jangan terburu-buru.”
“Iya.”
Herawati kembali duduk di batu besar. Dedi mengisi embernya lagi, kali ini dengan lebih hati-hati. Setelah selesai, ia duduk tidak jauh dari Herawati.
“Kamu sedang menulis apa?” tanyanya.
Herawati membuka buku tulisnya.
“Aku sedang menulis cita-cita.”
“Cita-cita?”
Herawati mengangguk.
“Pak Harun menyuruh kami menulis apa yang ingin kami lakukan kalau sudah besar.”
Dedi tertarik.
“Kamu mau jadi apa?”
Herawati tampak ragu untuk menjawab.
“Aku ingin jadi guru.”
Dedi tersenyum.
“Kenapa?”
“Karena guru bisa mengajari anak-anak. Kalau anak-anak bisa membaca, mereka bisa tahu banyak hal.”
Dedi terdiam.
Jawaban Herawati terdengar mirip dengan apa yang selama ini ia pikirkan. Ia belum pernah mengatakan cita-citanya kepada banyak orang, tetapi di dalam hatinya, ia juga ingin membantu anak-anak desa belajar.
“Aku juga ingin mengajar,” kata Dedi akhirnya.
Herawati menoleh cepat.
“Benarkah?”
Dedi mengangguk.
“Aku ingin semua anak bisa sekolah.”
Herawati memandangi wajah Dedi. Tatapannya berubah hangat.
“Kalau begitu, kita punya cita-cita yang sama.”
Dedi tersenyum.
“Kalau kita besar nanti, kita bisa buat tempat belajar.”
“Tempat belajar yang besar?”
“Tidak harus besar,” jawab Dedi. “Yang penting anak-anak bisa datang.”
Herawati menunduk, lalu menulis sesuatu di bukunya.
“Apa yang kamu tulis?” tanya Dedi.
Herawati menunjukkan halaman itu.
Di sana tertulis dengan huruf yang rapi:
Aku ingin menjadi guru agar anak-anak desa bisa belajar dan memiliki masa depan.
Dedi membaca tulisan itu perlahan.
“Kamu tulisannya bagus,” katanya.
Herawati tersenyum kecil.
“Pak Harun sering menyuruhku menulis.”
Dedi mengambil bukunya sendiri. Ia membuka halaman yang masih kosong, lalu mencoba menulis kalimat yang sama.
Namun, tulisannya tidak serapi Herawati.
Huruf-hurufnya terlalu besar dan beberapa kata terlihat miring.
Herawati memperhatikan tulisan Dedi.
“Bagus,” katanya.
“Tidak rapi.”
“Tidak apa-apa. Yang penting kamu tahu apa yang ingin kamu tulis.”
Dedi memandang kalimat di bukunya.
Aku ingin mengajar anak-anak desa.
Ia membaca kalimat itu dalam hati.
Untuk pertama kalinya, cita-cita yang selama ini hanya ada dalam pikirannya mulai tertulis di atas kertas.
Tidak lama kemudian, terdengar suara perempuan memanggil dari arah jalan setapak.
“Hera!”
Herawati menoleh.
“Itu Ibu,” katanya.
Seorang perempuan berjalan membawa keranjang kecil di tangan. Wajahnya tampak lelah, tetapi sorot matanya lembut. Ia adalah Wagini, ibu Herawati.
“Kamu di sini rupanya,” kata Wagini. “Ibu cari dari tadi.”
“Aku belajar, Bu.”
Wagini melihat Dedi yang duduk tidak jauh dari anaknya.
“Dedi juga di sini?”
Dedi segera berdiri dan menunduk sopan.
“Iya, Bu. Saya ambil air.”
Wagini tersenyum.
“Bagus kalau kalian mau belajar. Tapi jangan terlalu lama di sungai. Matahari sudah mulai tinggi.”
Herawati menutup bukunya.
“Iya, Bu.”
Sebelum pergi, Herawati menoleh kepada Dedi.
“Besok kamu ke sini lagi?”
Dedi tampak berpikir.
“Kalau Ibu suruh ambil air.”
Herawati tersenyum.
“Kalau tidak disuruh?”
Dedi memandangi sungai, lalu kembali menatap Herawati.
“Aku tetap bisa datang.”
Herawati mengangguk.
“Bawa buku.”
“Iya.”
Sejak hari itu, tepi sungai menjadi tempat yang memiliki arti baru bagi Dedi.
Ia tidak lagi datang hanya untuk mengambil air.
Ia datang membawa buku.
Kadang Herawati sudah lebih dulu duduk di atas batu besar. Kadang Dedi datang lebih awal dan menunggu sambil membaca. Mereka belajar bersama, saling mengeja kata, saling bertanya tentang pelajaran sekolah, dan berbagi cerita tentang kehidupan di rumah masing-masing.
Dedi bercerita tentang ayahnya yang bekerja di kebun sejak pagi.
Herawati bercerita tentang ayahnya, Pak Samin, yang sering pulang dalam keadaan lelah karena menjadi buruh kebun.
Dedi bercerita tentang Marni yang selalu mengingatkannya agar rajin belajar.
Herawati bercerita tentang Wagini yang berharap anak perempuannya kelak tidak menjalani hidup sesulit dirinya.
Di tepi sungai itu, mereka mulai memahami bahwa meskipun hidup mereka sama-sama sederhana, masing-masing memiliki beban dan harapan yang berbeda.
Suatu sore, Dedi membawa selembar kertas bekas dari sekolah. Di atasnya, Pak Harun telah menulis beberapa soal berhitung.
“Aku tidak mengerti yang ini,” kata Dedi sambil menunjukkan kertas itu.
Herawati membaca soal tersebut.
“Kalau ada tiga mangga, lalu ditambah dua mangga, jadi berapa?”
“Lima.”
“Nah, kalau begitu jawabannya lima.”
“Yang ini aku tahu,” kata Dedi.
Herawati tertawa.
“Lalu yang tidak kamu tahu yang mana?”
Dedi menunjuk soal lain.
“Kalau lima mangga dibagi dua anak, masing-masing dapat berapa?”
Herawati berpikir sebentar. Ia lalu mengambil beberapa batu kecil di tepi sungai.
“Ini lima mangga,” katanya sambil menyusun batu-batu itu. “Sekarang dibagi untuk dua anak.”
Ia memberikan dua batu kepada Dedi dan dua batu kepada dirinya sendiri. Satu batu masih tersisa di tengah.
“Berarti masing-masing dapat dua, sisanya satu,” kata Dedi.
“Betul.”
Dedi mengangguk puas.
“Kalau nanti kita jadi guru, kita bisa pakai batu untuk mengajar berhitung.”
Herawati tersenyum.
“Bisa juga pakai biji karet.”
“Dan daun.”
“Dan ranting.”
Mereka tertawa bersama.
Hari-hari berikutnya, persahabatan mereka semakin dekat. Tidak ada janji besar yang mereka ucapkan. Tidak ada kata-kata yang terlalu istimewa. Mereka hanya dua anak desa yang sama-sama membawa buku, duduk di tepi sungai, dan berani memelihara mimpi.
Namun, dari pertemuan sederhana itu, tumbuh sesuatu yang kelak akan menjadi bagian penting dalam hidup mereka.
Dedi mulai merasa bahwa Herawati bukan hanya teman belajar.
Herawati adalah seseorang yang mengerti mengapa ia ingin membaca lebih banyak buku.
Seseorang yang tidak menertawakan cita-citanya.
Seseorang yang percaya bahwa anak-anak desa juga berhak memiliki masa depan.
Sore itu, ketika matahari mulai condong ke barat, Herawati menutup bukunya.
“Dedi,” katanya.
“Iya?”
“Kalau nanti kita sudah besar, jangan lupa dengan sungai ini.”
Dedi memandangi aliran air yang memantulkan cahaya matahari.
“Kenapa?”
“Karena di sini kita mulai bercerita tentang cita-cita.”
Dedi tersenyum.
“Aku tidak akan lupa.”
Herawati mengangguk.
“Aku juga tidak.”
Mereka kemudian berjalan pulang melalui jalan setapak yang sama. Dedi membawa ember air di tangan kanan dan buku di tangan kiri. Herawati membawa buku tulisnya erat-erat di dada.
Di belakang mereka, sungai kecil tetap mengalir.
Airnya tidak pernah berhenti bergerak.
Seperti waktu.
Seperti mimpi.
Dan seperti persahabatan dua anak desa yang baru saja menemukan tempat untuk menaruh harapan mereka.
BAB VII
Susanti yang Selalu Ada
Sejak Dedi dan Herawati mulai sering belajar di tepi sungai, ada satu orang yang diam-diam selalu memperhatikan mereka.
Orang itu adalah Susanti.
Susanti bukan anak yang suka menyimpan perasaan terlalu lama. Ia dikenal ceria, mudah tertawa, dan sering berbicara lebih cepat daripada orang lain berpikir. Jika Dedi terlalu serius saat belajar, Susanti biasanya datang membawa cerita baru. Jika Herawati terlalu tenang, Susanti selalu punya cara untuk membuat suasana menjadi lebih hidup.
Namun, akhir-akhir ini, Susanti mulai merasakan sesuatu yang tidak ia mengerti.
Setiap kali melihat Dedi berjalan membawa buku menuju sungai, ia ingin ikut.
Setiap kali melihat Herawati duduk bersama Dedi sambil membaca, ia merasa seperti ada sesuatu yang kecil menekan dadanya.
Ia tidak tahu apa namanya.
Ia hanya tahu bahwa ia tidak suka ketika Dedi terlihat terlalu sibuk dengan Herawati.
Pagi itu, Pak Harun memberikan tugas kepada murid-muridnya. Mereka diminta membuat tulisan sederhana tentang sahabat.
“Tidak perlu panjang,” kata Pak Harun di depan kelas. “Kalian cukup menulis tentang teman yang kalian sukai, teman yang sering membantu kalian, atau teman yang membuat kalian senang.”
Anak-anak langsung mulai menulis.
Ada yang menulis tentang teman bermain bola. Ada yang menulis tentang teman yang sering membawa bekal. Ada pula yang hanya menulis satu kalimat karena belum lancar menyusun kata.
Dedi memegang pensilnya cukup lama.
Ia teringat Herawati yang membantunya belajar berhitung di tepi sungai. Ia teringat Susanti yang selalu membuatnya tertawa ketika suasana belajar terlalu tegang. Ia teringat Jaka yang berusaha keras mengenal huruf meski harus membantu ayahnya bekerja.
Namun, ketika Pak Harun berjalan melewati bangkunya, Dedi baru menulis beberapa kata.
Sahabat adalah orang yang mau belajar bersama.
Pak Harun berhenti dan membaca tulisan itu.
“Bagus, Dedi,” katanya. “Menurutmu, siapa sahabatmu?”
Dedi menoleh ke arah Herawati dan Susanti.
“Herawati dan Susanti,” jawabnya.
Susanti yang duduk tidak jauh dari sana menunduk cepat. Wajahnya terasa hangat, tetapi ia berusaha tetap terlihat biasa saja.
Herawati tersenyum kecil.
Pak Harun mengangguk.
“Kalau begitu, jagalah persahabatan itu. Sahabat yang baik tidak hanya ada saat kita senang, tetapi juga ketika kita sedang kesulitan.”
Kalimat itu tinggal di dalam hati Susanti.
Ia belum tahu bahwa kelak, ia akan benar-benar diuji oleh makna sahabat.
Bel pulang berbunyi ketika matahari sudah cukup tinggi. Anak-anak keluar kelas dengan ramai. Dedi merapikan bukunya, lalu berjalan bersama Herawati menuju jalan setapak.
Susanti mengikuti beberapa langkah di belakang mereka.
“Dedi!” panggilnya.
Dedi menoleh.
“Iya, Santi?”
“Kamu mau ke sungai lagi?”
Dedi mengangguk.
“Aku mau ambil air untuk Ibu.”
Herawati tersenyum.
“Aku juga mau belajar sebentar.”
Susanti terdiam sejenak, lalu berkata cepat.
“Aku ikut.”
Dedi memandangnya.
“Memangnya kamu tidak ada pekerjaan di rumah?”
“Ada,” jawab Susanti. “Tapi nanti saja.”
Herawati menatap Susanti dengan ramah.
“Bagus. Kita bisa belajar bersama.”
Mereka bertiga berjalan menuju sungai. Jalan setapak itu masih lembap karena hujan semalam. Di kiri dan kanan, rumput liar tumbuh tinggi. Sesekali terdengar suara burung dari pepohonan.
Dedi berjalan di depan sambil membawa ember kecil. Herawati membawa buku tulis. Susanti berjalan di antara mereka sambil membawa beberapa biji karet yang ia masukkan ke dalam kantong kecil.
“Aku bawa ini,” kata Susanti sambil menunjukkan biji karet.
“Untuk apa?” tanya Dedi.
“Untuk belajar berhitung.”
Herawati tersenyum.
“Kamu memang suka berhitung.”
“Karena berhitung itu mudah.”
Dedi mengangkat alis.
“Yang kemarin lima dibagi dua saja kamu bilang susah.”
“Itu bukan susah,” kata Susanti cepat. “Aku cuma tidak mau menjawab dulu.”
Dedi tertawa.
“Alasannya banyak.”
Sesampainya di tepi sungai, Herawati duduk di atas batu besar seperti biasa. Dedi meletakkan embernya di dekat rumput. Susanti duduk tidak jauh dari mereka, lalu mengeluarkan biji-biji karet dari kantongnya.
“Sekarang kita belajar,” katanya penuh semangat.
Dedi menatapnya heran.
“Kamu yang mengajar?”
“Iya.”
Susanti menyusun lima biji karet di atas batu.
“Kalau ada lima biji, lalu ditambah tiga, jadi berapa?”
“Delapan,” jawab Dedi.
“Benar. Kalau delapan dikurangi dua?”
“Enam.”
“Bagus.”
Herawati menahan senyum.
“Kamu seperti guru sungguhan.”
Susanti mengangkat dagu dengan bangga.
“Memang.”
Mereka belajar hingga matahari mulai condong. Sesekali Dedi bertanya kepada Herawati tentang tulisan yang belum ia pahami. Sesekali Susanti menyela dengan cerita lucu. Kadang mereka bertiga tertawa hingga suara mereka bercampur dengan aliran sungai.
Namun, ketika Dedi dan Herawati membicarakan cita-cita mereka menjadi guru, Susanti kembali terdiam.
“Aku ingin punya tempat belajar,” kata Dedi. “Supaya anak-anak tidak harus pergi jauh.”
“Aku ingin mengajar anak-anak perempuan juga,” kata Herawati. “Supaya mereka tidak hanya belajar pekerjaan rumah.”
Dedi mengangguk.
“Itu bagus.”
Susanti menatap biji-biji karet di tangannya.
“Kalau aku?” katanya pelan.
Dedi menoleh.
“Kamu kenapa?”
“Aku juga mau punya cita-cita.”
“Tentu boleh,” kata Herawati.
Susanti berpikir cukup lama.
“Aku mau jadi orang yang bisa membantu banyak orang.”
Dedi tersenyum.
“Itu cita-cita yang bagus.”
“Tapi bagaimana caranya?” tanya Susanti.
Herawati menjawab dengan lembut.
“Mungkin dimulai dari hal kecil. Seperti membantu teman belajar.”
Susanti memandangi Dedi. Ia ingin mengatakan bahwa ia juga ingin selalu membantu Dedi. Namun, kata-kata itu terasa terlalu berat untuk diucapkan.
Akhirnya, ia hanya tersenyum.
“Kalau begitu, aku akan membantu kalian.”
Dedi mengangguk.
“Kita bertiga saling membantu.”
Kalimat itu membuat Susanti merasa sedikit lebih lega.
Hari-hari berikutnya, Susanti mulai lebih sering ikut ketika Dedi dan Herawati belajar di sungai. Ia juga datang ke rumah Dedi pada malam hari ketika anak-anak lain belajar membaca.
Susanti selalu membawa sesuatu.
Kadang ia membawa biji karet untuk berhitung.
Kadang ia membawa daun-daun kering untuk digunakan sebagai alat belajar.
Kadang ia membawa singkong rebus dari rumahnya untuk dibagikan kepada teman-teman.
“Ini dari Ibu,” katanya suatu malam.
Jaka langsung tersenyum.
“Boleh aku ambil dua?”
“Boleh,” jawab Susanti. “Tapi setelah itu kamu harus bisa mengeja lima kata.”
Jaka mengernyitkan dahi.
“Kalau tidak bisa?”
“Berarti cuma dapat satu.”
Anak-anak tertawa.
Susanti memang selalu berhasil membuat suasana belajar menjadi lebih ringan. Ketika Dedi terlalu serius, Susanti membuatnya tersenyum. Ketika Herawati terlalu diam, Susanti mengajaknya berbicara. Ketika Jaka hampir menyerah karena sulit mengeja, Susanti memberi semangat dengan cara yang sederhana.
“Kamu sudah bisa menulis namamu,” katanya kepada Jaka. “Itu lebih hebat daripada yang kamu kira.”
Jaka tersenyum bangga.
Suatu sore, Dedi sedang duduk sendiri di bawah pohon mangga. Ia membaca buku tulis sambil menunggu Herawati datang. Susanti muncul dari arah jalan membawa keranjang kecil.
“Kamu menunggu Hera?” tanyanya.
Dedi mengangguk.
“Iya. Katanya mau datang.”
Susanti duduk di sampingnya.
“Kalau dia tidak datang?”
“Ya, aku belajar sendiri.”
Susanti menatap wajah Dedi. Ia ingin berkata bahwa Dedi tidak perlu menunggu Herawati untuk belajar. Ia ingin berkata bahwa ia juga ada di sana.
Namun, ia tidak ingin terdengar seperti sedang marah.
“Aku juga bisa belajar bersama kamu,” katanya akhirnya.
Dedi menoleh dan tersenyum.
“Iya. Kamu juga sahabatku.”
Jawaban itu sederhana.
Tetapi bagi Susanti, kalimat itu terasa seperti sesuatu yang sangat berharga.
Ia tersenyum, lalu membuka keranjang kecil yang dibawanya.
“Aku bawa pisang rebus,” katanya.
“Untuk siapa?”
“Untuk kita.”
Dedi mengambil satu. “Terima kasih.”
Mereka makan pisang rebus sambil duduk di bawah pohon mangga. Angin sore bergerak pelan. Dari kejauhan, terdengar suara anak-anak bermain.
Tidak lama kemudian, Herawati datang. Ia membawa buku dan wajah yang tampak sedikit lelah.
“Maaf terlambat,” katanya. “Ibu minta bantu menjaga adik.”
“Tidak apa-apa,” jawab Dedi.
Susanti menggeser tempat duduknya agar Herawati bisa duduk di dekat mereka.
“Ayo, kita belajar,” katanya.
Sore itu, mereka bertiga kembali belajar bersama.
Tidak ada yang menyadari bahwa perasaan kecil di hati Susanti mulai tumbuh perlahan.
Ia belum mengenal cinta.
Ia belum memahami cemburu.
Ia belum mengerti bahwa terkadang, menjadi sahabat berarti harus belajar menerima bahwa orang yang kita sayangi memiliki jalan hati yang berbeda.
Bagi Susanti, Dedi adalah teman yang selalu membuatnya ingin menjadi lebih baik.
Dedi adalah anak yang membawa buku ke mana-mana.
Dedi adalah anak yang percaya bahwa semua orang bisa belajar.
Dan Susanti ingin selalu berada di dekat cita-cita itu.
Malam hari, ketika Susanti pulang dari rumah Dedi setelah kegiatan belajar, ia berjalan bersama ibunya melewati jalan kecil yang gelap.
“Ibu,” katanya tiba-tiba.
“Iya?”
“Kalau kita punya sahabat, apakah kita harus selalu bersama dia?”
Ibunya menatap Susanti.
“Tidak selalu bersama. Tapi sahabat yang baik selalu mendoakan dan membantu, meski tidak selalu berada di samping kita.”
Susanti menunduk.
“Kalau sahabat kita lebih dekat dengan orang lain?”
Ibunya tersenyum lembut.
“Tidak apa-apa. Hati manusia bisa menyayangi banyak orang dengan cara yang berbeda.”
Susanti tidak sepenuhnya memahami jawaban itu. Namun, ia menyimpannya dalam hati.
Sesampainya di rumah, ia membuka buku tulisnya. Di halaman kosong, ia menulis beberapa kata dengan huruf yang masih sederhana.
Aku ingin menjadi sahabat yang baik.
Ia menatap kalimat itu cukup lama.
Lalu ia menambahkan satu kalimat lagi.
Aku ingin selalu ada ketika Dedi membutuhkan teman.
Susanti menutup bukunya, lalu menyimpannya di bawah bantal.
Di luar rumah, malam kembali sunyi.
Di rumah panggung Karsa, Dedi mungkin sedang membaca buku.
Di rumah Herawati, mungkin ada seorang anak perempuan yang sedang membantu ibunya.
Dan di rumah kecil milik Susanti, seorang anak perempuan mulai belajar bahwa persahabatan dapat menjadi indah, tetapi juga dapat menyimpan perasaan yang sulit dijelaskan.
Namun, untuk saat itu, Susanti belum merasa sedih.
Ia hanya merasa bahagia karena besok, ia masih bisa belajar bersama Dedi dan Herawati.
Ia masih bisa membawa biji karet.
Ia masih bisa tertawa.
Dan ia masih bisa menjadi Susanti yang selalu ada.
BAB VIII
Leman Sang Penguasa Kampung
Di Desa Suka Jaya, ada satu nama yang selalu disebut dengan suara lebih pelan daripada biasanya.
Nama itu adalah Leman.
Anak-anak mengenalnya sebagai lelaki bertubuh besar yang sering duduk di teras rumahnya sambil mengisap rokok. Para pemuda mengenalnya sebagai orang yang mudah marah jika ada yang tidak mengikuti kemauannya. Sementara orang-orang tua mengenalnya sebagai lelaki yang memiliki banyak kebun, banyak kenalan, dan banyak pengaruh.
Rumah Leman berdiri tidak jauh dari balai desa.
Rumah itu lebih besar daripada rumah-rumah warga lainnya. Dindingnya terbuat dari papan yang tebal, atapnya dari seng baru, dan halamannya cukup luas untuk menampung beberapa sepeda motor serta gerobak pengangkut hasil kebun. Di samping rumah itu terdapat gudang kecil tempat menyimpan getah karet, pupuk, dan berbagai alat kerja.
Banyak warga bekerja di kebun milik Leman.
Ada yang menyadap karet.
Ada yang membersihkan semak.
Ada yang memikul hasil kebun.
Ada pula yang menjaga gudang ketika malam.
Karena itulah, banyak orang memilih diam ketika Leman berbicara.
Bukan karena semua orang setuju dengannya.
Tetapi karena mereka takut kehilangan pekerjaan.
Pagi itu, matahari belum terlalu tinggi ketika Karsa berjalan menuju kebun. Di pundaknya tergantung sebuah tas kecil berisi bekal nasi dan ikan asin. Di tangannya, ia membawa pisau sadap yang sudah lama digunakannya.
Dedi mengikuti beberapa langkah di belakangnya.
“Pak,” kata Dedi, “hari ini aku boleh ikut ke kebun?”
Karsa menoleh.
“Kamu tidak sekolah?”
“Sekolahnya siang.”
Karsa berpikir sejenak.
“Boleh. Tapi jangan jauh-jauh dari Bapak.”
Dedi mengangguk dengan gembira.
Ia memang sering mengikuti ayahnya ke kebun. Baginya, perjalanan menuju kebun selalu menyimpan banyak hal untuk dilihat. Ada pohon-pohon karet yang berdiri lurus, jalan tanah yang dipenuhi akar, suara burung dari kejauhan, dan para pekerja yang membawa ember getah.
Namun, pagi itu, Dedi melihat sesuatu yang membuatnya penasaran.
Di ujung jalan menuju kebun, beberapa orang sedang berkumpul. Mereka berdiri di dekat sebuah pohon besar. Di tengah mereka, Leman tampak berbicara dengan suara keras.
“Mulai minggu depan, bagian kebun sebelah timur harus dibersihkan,” katanya.
Beberapa pekerja mengangguk.
“Pak Leman,” kata seorang lelaki tua bernama Pak Warto, “kalau kebun sebelah timur dibersihkan, kami harus kerja sampai sore. Upahnya bagaimana?”
Leman menatap Pak Warto dengan wajah datar.
“Upahnya seperti biasa.”
“Tapi pekerjaannya lebih berat.”
“Kalau merasa berat, tidak usah bekerja.”
Kalimat itu membuat suasana menjadi hening.
Pak Warto menunduk. Lelaki tua itu memiliki tiga anak dan seorang istri yang sedang sakit. Ia tidak mungkin berhenti bekerja. Namun, ia juga tahu bahwa pekerjaan tambahan tanpa upah yang layak akan membuat hidupnya semakin sulit.
Dedi memandangi wajah Pak Warto.
Ia tidak mengerti mengapa orang dewasa harus menunduk ketika diperlakukan seperti itu.
Karsa segera menarik tangan Dedi agar tidak terlalu dekat.
“Jangan banyak melihat,” katanya pelan.
“Kenapa, Pak?”
“Sudah. Ikut Bapak.”
Dedi berjalan di samping ayahnya, tetapi pikirannya masih tertinggal di tempat Leman berdiri.
“Pak,” katanya setelah mereka cukup jauh, “kenapa Pak Warto tidak bilang kalau itu tidak adil?”
Karsa berhenti sejenak.
Wajahnya tampak berat.
“Kadang orang tahu sesuatu tidak adil,” katanya pelan, “tetapi mereka tidak punya pilihan.”
“Kenapa tidak punya pilihan?”
“Karena kalau Pak Warto tidak bekerja di kebun itu, keluarganya makan dari mana?”
Dedi terdiam.
Ia kembali memikirkan kata yang sering muncul dalam hidup orang-orang dewasa di desanya.
Pilihan.
Ternyata, tidak semua orang memiliki pilihan.
Di kebun, Karsa mulai menyadap pohon karet. Dedi membantu membawa ember kecil dan mengumpulkan daun-daun kering yang jatuh di sekitar pohon. Sesekali, ia melihat para pekerja lain berjalan dengan wajah lelah.
Tidak ada yang banyak berbicara.
Tidak ada yang berani membahas perkataan Leman tadi.
Menjelang siang, Dedi dan Karsa pulang melewati jalan dekat balai desa. Di sana, Leman sedang duduk bersama dua orang lelaki. Salah satunya adalah Burhan, seorang pekerja kepercayaan Leman yang sering mengawasi kebun-kebun miliknya.
Burhan bertubuh besar dan berwajah keras. Ia jarang tersenyum. Jika Leman berbicara, Burhan biasanya hanya mengangguk, seolah semua perkataan Leman adalah perintah yang tidak boleh dibantah.
Leman melihat Karsa dan Dedi lewat.
“Karsa,” panggilnya.
Karsa berhenti.
“Iya, Man?”
“Besok kamu datang lebih pagi. Ada bagian kebun yang harus dibersihkan.”
Karsa mengangguk.
“Baik.”
Leman lalu memandang Dedi yang berdiri di samping ayahnya.
“Ini anakmu?”
“Iya.”
“Yang suka bawa buku ke mana-mana itu?”
Dedi memegang buku tulis yang memang dibawanya di dalam tas kain.
Karsa tampak sedikit gugup.
“Iya. Dia masih sekolah.”
Leman tersenyum tipis.
“Sekolah itu bagus. Tapi jangan sampai terlalu banyak membaca.”
Dedi menatap Leman.
“Kenapa, Pak?”
Karsa segera memegang bahu Dedi.
Namun, pertanyaan itu sudah terlanjur keluar.
Leman mengisap rokoknya pelan-pelan. Matanya memandang Dedi dengan sorot yang sulit dibaca.
“Karena orang yang terlalu banyak membaca kadang terlalu banyak bertanya,” katanya.
Dedi tidak mengerti sepenuhnya.
“Kalau bertanya, memang salah?”
Burhan yang duduk di samping Leman langsung menatap Dedi dengan tajam.
“Anak kecil tidak perlu ikut bicara urusan orang dewasa,” katanya.
Karsa segera menunduk.
“Maaf, Man. Anak saya memang suka bertanya.”
Leman masih memandangi Dedi.
“Tidak apa-apa,” katanya. “Anak kecil memang begitu. Tapi nanti kalau sudah besar, dia harus tahu kapan bertanya dan kapan diam.”
Dedi ingin menjawab, tetapi Karsa sudah menarik tangannya.
“Mari pulang,” kata Karsa.
Mereka berjalan meninggalkan balai desa. Dedi tidak lagi berbicara sampai mereka cukup jauh dari rumah Leman.
Setelah itu, ia menoleh kepada ayahnya.
“Pak, kenapa Pak Leman tidak suka orang bertanya?”
Karsa tidak langsung menjawab.
Angin siang bertiup pelan melewati jalan tanah. Dari kejauhan, terdengar suara orang memukul kayu di halaman rumah.
“Tidak semua orang senang jika pendapatnya dipertanyakan,” kata Karsa akhirnya.
“Tapi kalau kita tidak bertanya, bagaimana kita tahu?”
Karsa menatap anaknya.
“Kamu boleh bertanya, Dedi. Bertanya itu tidak salah. Tetapi kamu juga harus belajar memahami keadaan.”
“Keadaan apa?”
“Keadaan bahwa tidak semua orang memiliki hati yang sama.”
Dedi menunduk.
Jawaban itu tidak sepenuhnya memuaskannya. Namun, ia dapat merasakan bahwa ayahnya sedang menyimpan kekhawatiran.
Sore hari, Dedi pergi ke tepi sungai membawa buku. Herawati sudah duduk di batu besar sambil membaca. Susanti datang beberapa saat kemudian membawa beberapa biji karet di dalam kantong kain.
“Kamu kenapa diam saja?” tanya Susanti.
Dedi duduk di dekat mereka.
“Tadi aku bertemu Pak Leman.”
Herawati menoleh.
“Di mana?”
“Dekat balai desa.”
Dedi lalu menceritakan apa yang ia lihat di kebun dan percakapannya dengan Leman. Herawati mendengarkan dengan wajah serius. Susanti yang biasanya banyak bicara pun ikut diam.
“Pak Leman memang begitu,” kata Herawati pelan.
“Kamu tahu?” tanya Dedi.
Herawati mengangguk.
“Ayah pernah bekerja di kebunnya. Kata Ayah, Pak Leman tidak suka kalau pekerja meminta lebih.”
“Kenapa orang-orang tetap bekerja di sana?” tanya Dedi.
“Karena mereka butuh uang,” jawab Herawati.
Susanti memainkan biji karet di tangannya.
“Ibuku bilang, kalau ada orang marah karena kita bertanya, berarti mungkin ada sesuatu yang tidak ingin dia jelaskan.”
Dedi menatap Susanti.
“Ibumu bilang begitu?”
Susanti mengangguk.
“Tapi Ibu juga bilang aku jangan sembarangan bicara dengan orang seperti Pak Leman.”
Herawati menunduk.
“Orang-orang takut kepada dia.”
“Kalau semua orang takut, siapa yang akan bicara?” tanya Dedi.
Tidak ada yang langsung menjawab.
Air sungai tetap mengalir pelan di hadapan mereka. Daun-daun kering bergerak di atas permukaan air sebelum terbawa arus.
Herawati memandang Dedi.
“Tidak semua orang yang diam berarti setuju,” katanya.
Dedi menoleh.
“Maksudmu?”
“Mungkin mereka hanya belum berani.”
Kalimat itu tinggal di dalam hati Dedi.
Ia kembali teringat wajah Pak Warto yang menunduk di depan Leman. Ia teringat ayahnya yang meminta maaf karena dirinya bertanya. Ia teringat Burhan yang memandangnya dengan tajam.
Untuk pertama kalinya, Dedi memahami bahwa di desanya ada orang-orang yang hidup dengan ketakutan.
Malam hari, di rumah Leman, Burhan sedang duduk di teras sambil membersihkan lumpur dari sepatunya.
“Anak Karsa itu terlalu banyak bicara,” katanya.
Leman duduk di kursi kayu sambil menatap halaman yang gelap.
“Masih kecil,” jawabnya.
“Anak kecil bisa tumbuh.”
Leman mengangguk pelan.
“Benar.”
“Kalau dia terus sekolah, terus baca buku, terus bertanya, nanti dia akan memengaruhi anak-anak lain.”
Leman tidak langsung menjawab.
Di kejauhan, dari arah rumah-rumah warga, tampak cahaya lampu minyak menyala satu per satu. Cahaya kecil itu terlihat lemah dari tempatnya duduk, tetapi Leman tahu bahwa di balik beberapa rumah sederhana, anak-anak sedang belajar membaca.
Ada anak-anak yang mulai mengenal huruf.
Ada anak-anak yang mulai memahami angka.
Ada anak-anak yang mulai bertanya mengapa hidup mereka begitu sulit.
Leman mengembuskan asap rokok perlahan.
“Biarkan dulu,” katanya.
Burhan menatapnya.
“Kalau nanti mereka semakin berani?”
Leman memandang jalan gelap di depan rumahnya.
“Kalau mereka semakin berani,” katanya pelan, “maka mereka harus diingatkan bahwa desa ini tidak berubah hanya karena anak-anak membawa buku.”
Di rumah panggung sederhana, Dedi sedang duduk di dekat lampu minyak. Ia membuka buku tulisnya dan mencoba menulis satu kalimat.
Tulisan itu tidak rapi. Beberapa huruf terlalu besar. Namun, ia menulisnya dengan sungguh-sungguh.
BERTANYA TIDAK SALAH.
Ia menatap kalimat itu lama sekali.
Kemudian, di bawahnya, ia menulis lagi.
ORANG YANG TAHU HARUS MAU MENOLONG ORANG YANG BELUM TAHU.
Dedi belum mengerti bahwa kata-kata kecil itu kelak akan membawanya ke jalan yang panjang.
Jalan yang tidak selalu mudah.
Jalan yang akan membuatnya kehilangan banyak hal.
Namun juga jalan yang akan mempertemukannya dengan banyak orang, banyak harapan, dan banyak alasan untuk tetap bertahan.
Di luar rumah, malam semakin gelap.
Tetapi di dalam hati Dedi Kusnadi, pertanyaan-pertanyaan itu mulai menyala seperti pelita kecil yang tidak mudah dipadamkan.
BAB IX
Ratna dan Iri yang Bertumbuh
Ratna tinggal di rumah yang letaknya tidak jauh dari balai desa.
Rumah itu berdinding papan tebal, beratap seng yang masih mengilap, dan memiliki halaman luas dengan pagar kayu yang dicat putih. Di halaman depan tumbuh beberapa bunga kertas yang dirawat oleh ibunya setiap pagi. Berbeda dengan sebagian besar rumah warga Desa Suka Jaya, rumah Ratna memiliki beberapa kursi kayu yang tertata rapi di teras serta lampu minyak yang lebih besar dan terang.
Ayah Ratna, Pak Darmo, dikenal sebagai salah seorang warga terpandang di desa. Ia memiliki kebun yang cukup luas dan sering diminta pendapatnya dalam urusan kampung. Ia bukan orang yang selalu keras seperti Leman, tetapi ia juga tidak pernah berani menentang Leman secara terbuka.
Ratna tumbuh dengan kehidupan yang lebih baik daripada banyak anak seusianya.
Ia memiliki seragam sekolah yang masih bagus, sepatu yang tidak robek, dan buku tulis yang selalu baru ketika tahun ajaran dimulai. Ibunya sering membelikannya pita rambut, kain baru, atau makanan kecil dari pasar kecamatan.
Namun, Ratna tidak selalu merasa bahagia.
Ia terbiasa menjadi anak yang diperhatikan.
Di sekolah, banyak teman memuji tulisannya yang rapi. Beberapa anak perempuan meminta bantuannya ketika tidak mengerti pelajaran. Ratna menyukai semua itu. Ia menyukai ketika orang lain memandangnya dengan kagum. Ia menyukai ketika namanya disebut sebagai salah satu anak yang pintar di kelas.
Tetapi sejak Herawati semakin sering menunjukkan kecerdasannya, Ratna mulai merasa tidak nyaman.
Pagi itu, Pak Harun berdiri di depan kelas sambil membawa beberapa lembar kertas.
“Anak-anak,” katanya, “hari ini Bapak akan memilih beberapa murid untuk mengikuti lomba membaca dan menulis di sekolah kecamatan.”
Suasana kelas langsung ramai.
“Lomba apa, Pak?” tanya Susanti.
“Lomba membaca nyaring dan menulis cerita pendek,” jawab Pak Harun. “Tidak semua murid ikut. Bapak hanya akan memilih yang siap.”
Ratna segera duduk lebih tegak.
Ia merasa dirinya pasti akan dipilih.
Tulisan tangannya rapi. Ia juga sering diminta membaca di depan kelas. Dalam pikirannya, tidak ada alasan Pak Harun memilih orang lain.
Pak Harun kemudian memanggil beberapa nama.
“Herawati.”
Herawati yang duduk di dekat jendela tampak terkejut. Ia berdiri perlahan.
“Dedi Kusnadi.”
Dedi menoleh, lalu berdiri.
“Ratna.”
Ratna tersenyum tipis dan berdiri dengan yakin.
“Dan Susanti.”
Susanti membelalakkan mata.
“Saya juga, Pak?”
Pak Harun tersenyum.
“Iya. Kamu memiliki keberanian berbicara. Itu juga penting.”
Susanti tersenyum lebar, sementara beberapa anak lain tertawa kecil melihat wajahnya yang terlalu gembira.
Keempat anak itu diminta maju ke depan kelas.
Pak Harun memberikan sebuah bacaan pendek kepada mereka. Bacaan itu bercerita tentang seorang anak yang tetap pergi ke sekolah meski harus berjalan jauh melewati hujan dan jalan berlumpur.
“Baca bergantian,” kata Pak Harun. “Bapak ingin melihat cara kalian membaca.”
Ratna mendapat giliran pertama.
Ia membaca dengan suara jelas dan lancar. Beberapa anak mengangguk kagum. Ratna merasa puas. Ia yakin tidak ada yang akan membacanya lebih baik.
Setelah itu, Herawati maju.
Pada awalnya, suaranya pelan. Namun, semakin lama, bacaannya terdengar lebih tenang dan penuh penghayatan. Ia tidak hanya membaca kata-kata, tetapi seperti memahami isi cerita itu.
Ketika Herawati selesai, kelas menjadi hening sesaat.
Pak Harun mengangguk perlahan.
“Bagus sekali, Herawati.”
Ratna menggigit bibirnya.
Ia tidak suka mendengar pujian itu.
Dedi membaca setelah Herawati. Bacaannya tidak sehalus Herawati, tetapi ia membacanya dengan sungguh-sungguh. Ketika ada kata yang sulit, ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan tanpa menyerah.
Susanti membaca paling akhir. Ia beberapa kali salah mengucapkan kata, tetapi ia tetap berani dan tidak kehilangan semangat.
Pak Harun tersenyum melihat mereka.
“Keberanian dan ketekunan itu penting,” katanya. “Jangan takut salah. Orang yang terus belajar akan lebih jauh daripada orang yang hanya takut kalah.”
Setelah pelajaran selesai, anak-anak keluar kelas untuk beristirahat.
Ratna berdiri di dekat pohon jambu bersama dua temannya, Mila dan Rukmini. Dari tempat itu, ia melihat Dedi, Herawati, dan Susanti duduk di bawah pohon mangga kecil dekat halaman sekolah.
Dedi sedang menunjukkan sesuatu di buku Herawati.
Susanti duduk di samping mereka sambil berbicara dengan tangan yang bergerak ke sana kemari. Tidak lama kemudian, ketiganya tertawa.
Ratna memandangi mereka dengan wajah datar.
“Herawati itu memang suka mencari perhatian,” katanya.
Mila menoleh.
“Kenapa kamu bilang begitu?”
“Lihat saja. Dia selalu pura-pura diam, tapi kalau di kelas, dia ingin terlihat paling pintar.”
Rukmini ikut memandang ke arah Herawati.
“Dia memang pintar, Ratna.”
Ratna menatap Rukmini tajam.
“Pintar saja tidak cukup. Orang harus tahu diri.”
Mila tampak ragu.
“Herawati tidak pernah sombong, kok.”
Ratna tidak menjawab. Ia hanya memandang Herawati yang sedang tersenyum ketika Susanti mengatakan sesuatu.
Di dalam hati Ratna, rasa tidak suka itu mulai tumbuh.
Bukan karena Herawati pernah menyakitinya.
Bukan karena Herawati pernah mengambil sesuatu darinya.
Tetapi karena kehadiran Herawati membuat Ratna merasa tidak lagi menjadi satu-satunya anak perempuan yang dipandang istimewa.
Sore itu, Ratna pulang lebih cepat dari sekolah. Ia berjalan melewati jalan dekat sungai dan melihat Dedi serta Herawati duduk di tepi air.
Susanti belum datang.
Dedi sedang memegang buku, sementara Herawati menunjuk beberapa tulisan di halaman. Mereka tampak serius belajar, tetapi sesekali tersenyum ketika salah satu dari mereka tidak memahami pelajaran.
Ratna berhenti di balik pohon bambu.
Ia tidak berniat menguping. Namun, ketika mendengar nama Dedi disebut, langkahnya tertahan.
“Kalau nanti kamu ikut lomba,” kata Herawati, “kamu harus latihan membaca lebih keras.”
Dedi mengangguk.
“Aku masih sering salah kalau ada kata panjang.”
“Kita latihan bersama.”
Dedi tersenyum.
“Terima kasih, Hera.”
Ratna memandangi mereka dari kejauhan.
Entah mengapa, kata-kata sederhana itu membuat dadanya terasa panas.
Ratna mengenal Dedi sebagai anak yang berbeda dari kebanyakan anak laki-laki. Ia tidak suka pamer, tidak suka mengganggu teman perempuan, dan selalu terlihat serius ketika belajar. Ratna pernah berharap Dedi memperhatikannya seperti beberapa anak lain memperhatikannya.
Namun, Dedi hampir tidak pernah berbicara dengannya kecuali jika ada urusan pelajaran.
Sebaliknya, Dedi terlihat nyaman berbicara dengan Herawati.
Ratna menggenggam ujung bajunya.
“Kenapa harus Herawati?” gumamnya pelan.
Ia lalu berjalan pulang dengan langkah cepat.
Di rumah, Ratna menemukan ibunya sedang memilah sayur di dapur.
“Ibu,” katanya.
“Iya, Ratna?”
“Kalau ada orang yang selalu ingin terlihat lebih baik dari kita, bagaimana?”
Ibunya menoleh.
“Siapa?”
“Tidak ada.”
Ibunya tersenyum kecil.
“Kalau tidak ada, kenapa kamu bertanya?”
Ratna duduk di dekat pintu dapur.
“Aku hanya tidak suka kalau ada orang yang membuat orang lain lupa kepada kita.”
Ibunya berhenti memilah sayur.
“Ratna, hidup bukan perlombaan untuk menjadi satu-satunya yang dipuji.”
“Tapi kalau orang lain lebih disukai?”
“Berarti kamu harus belajar menerima bahwa setiap orang punya kelebihan.”
Ratna menunduk. Jawaban itu tidak membuatnya merasa lebih baik.
Ia tidak ingin menerima.
Ia ingin tetap menjadi yang paling diperhatikan.
Malam harinya, Pak Darmo pulang dari pertemuan warga. Ia duduk di teras sambil membuka sandal dan mengelap keringat di dahinya.
Ratna keluar membawa segelas air.
“Terima kasih,” kata Pak Darmo.
Ratna duduk di samping ayahnya.
“Ayah,” katanya, “apa benar Herawati akan ikut lomba di kecamatan?”
Pak Darmo mengangguk.
“Katanya begitu. Pak Harun memilih beberapa murid.”
“Kenapa harus Herawati?”
Pak Darmo menatap anaknya.
“Karena dia rajin dan pandai, mungkin.”
Ratna mengerutkan dahi.
“Aku juga rajin.”
“Ayah tahu.”
“Lalu kenapa Pak Harun lebih memuji dia?”
Pak Darmo tersenyum tipis.
“Pujian untuk orang lain tidak mengurangi nilai dirimu, Ratna.”
Namun, Ratna tidak menjawab.
Ia hanya memandangi halaman rumah yang gelap. Di kejauhan, lampu-lampu minyak warga tampak menyala satu per satu. Ia membayangkan Herawati sedang belajar bersama Dedi dan Susanti.
Bayangan itu kembali membuatnya tidak tenang.
Keesokan harinya, latihan lomba dimulai setelah jam sekolah selesai.
Pak Harun meminta Dedi, Herawati, Ratna, dan Susanti tinggal di kelas. Ia memberikan beberapa bacaan dan tugas menulis singkat.
“Tema tulisan kalian hari ini adalah cita-cita,” kata Pak Harun. “Tulislah dengan jujur. Jangan takut tulisan kalian sederhana.”
Mereka mulai menulis.
Dedi menulis tentang sekolah untuk anak-anak desa.
Herawati menulis tentang menjadi guru.
Susanti menulis tentang membantu orang lain.
Ratna memegang pensilnya cukup lama.
Ia ingin menulis sesuatu yang indah. Ia ingin tulisannya menjadi yang terbaik. Namun, pikirannya justru dipenuhi oleh bayangan Herawati.
Akhirnya, ia menulis tentang seorang anak perempuan yang ingin menjadi orang paling berhasil di desanya.
Ketika Pak Harun membaca tulisan mereka, ia memberikan beberapa masukan.
Tulisan Ratna rapi dan penuh semangat. Namun, Pak Harun berkata, “Cita-cita bukan hanya tentang menjadi paling tinggi atau paling dikenal. Cita-cita juga tentang apa yang bisa kita berikan kepada orang lain.”
Ratna merasa wajahnya panas.
Lalu Pak Harun membaca tulisan Herawati.
“Herawati menulis dengan sederhana, tetapi hatinya terasa,” kata Pak Harun. “Ia ingin menjadi guru agar anak-anak desa tidak takut pada huruf dan angka.”
Dedi tersenyum bangga.
Susanti ikut bertepuk tangan kecil.
Ratna menunduk.
Tepuk tangan itu terdengar seperti sesuatu yang menusuk telinganya.
Saat latihan selesai, Susanti menghampiri Ratna.
“Tulisanmu bagus, Ratna,” katanya tulus. “Aku suka bagian tentang kamu ingin membuat keluargamu bangga.”
Ratna menatap Susanti.
“Kamu tidak perlu pura-pura baik.”
Susanti terkejut.
“Aku tidak pura-pura.”
“Sudahlah.”
Ratna lalu berjalan pergi.
Susanti berdiri diam dengan wajah bingung. Ia tidak mengerti mengapa Ratna berbicara seperti itu.
Herawati yang melihat kejadian tersebut mendekat.
“Tidak apa-apa, Santi,” katanya.
Susanti menggeleng.
“Aku tidak melakukan apa-apa.”
“Aku tahu.”
Dedi memandangi Ratna yang berjalan menjauh dari halaman sekolah.
“Ratna sedang marah,” katanya.
“Marah kepada siapa?” tanya Susanti.
Herawati tidak menjawab.
Ia mulai merasakan bahwa ada sesuatu yang berubah dalam sikap Ratna. Tatapan Ratna tidak lagi seperti tatapan teman sekelas biasa. Ada ketidaksukaan yang mulai tampak, meski belum diucapkan secara terang-terangan.
Sore menjelang ketika Herawati berjalan pulang sendiri melewati jalan kecil di dekat kebun. Ratna muncul dari arah berlawanan bersama Mila dan Rukmini.
Herawati berhenti dan tersenyum sopan.
“Ratna.”
Ratna tidak langsung menjawab.
“Kamu senang sekali, ya, dipuji Pak Harun?” katanya.
Herawati tampak bingung.
“Aku hanya mengerjakan tugas.”
“Jangan pura-pura tidak tahu.”
“Aku tidak mengerti.”
Ratna melangkah lebih dekat.
“Kamu selalu terlihat diam, tapi kamu ingin semua orang melihatmu. Di kelas, di sungai, di depan Dedi.”
Wajah Herawati berubah pucat.
“Aku tidak pernah ingin seperti itu.”
“Sudahlah,” kata Ratna. “Jangan terlalu merasa hebat hanya karena bisa membaca lebih lancar.”
Herawati menunduk. Ia tidak ingin bertengkar.
“Aku tidak merasa hebat, Ratna.”
Ratna tersenyum sinis.
“Bagus kalau begitu. Ingat saja tempatmu.”
Setelah berkata demikian, Ratna berjalan pergi bersama kedua temannya.
Herawati tetap berdiri di jalan kecil itu. Angin sore bertiup pelan, membawa bau tanah dan daun-daun basah. Ia tidak menangis, tetapi dadanya terasa sesak.
Ia tidak mengerti mengapa Ratna begitu membencinya.
Ia tidak pernah ingin menjadi lebih baik daripada siapa pun.
Ia hanya ingin belajar.
Ketika sampai di tepi sungai, Dedi dan Susanti sudah menunggu.
“Kamu terlambat,” kata Susanti.
Herawati tersenyum tipis.
“Tadi ada sedikit urusan.”
Dedi memandangi wajah Herawati.
“Kamu tidak apa-apa?”
Herawati mengangguk.
“Iya.”
Namun, Dedi tahu Herawati sedang menyembunyikan sesuatu. Ia tidak memaksa. Ia hanya membuka bukunya dan duduk di samping Herawati.
Susanti mulai mengeluarkan biji karet.
“Ayo belajar,” katanya, berusaha membuat suasana lebih ringan.
Mereka bertiga belajar hingga matahari hampir tenggelam. Namun, Herawati tidak banyak bicara seperti biasanya.
Di sisi lain desa, Ratna duduk sendiri di teras rumahnya.
Ia memandangi langit yang mulai berubah jingga.
Untuk sesaat, ia teringat wajah Herawati ketika menunduk di jalan tadi. Ada sedikit rasa bersalah yang muncul. Namun, rasa itu segera tertutup oleh iri yang lebih besar.
Ratna belum menyadari bahwa iri yang dipelihara terlalu lama dapat berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap.
Sesuatu yang mampu melukai orang lain.
Sesuatu yang kelak akan membawa dirinya, Herawati, Dedi, dan Susanti ke dalam konflik yang tidak mudah diselesaikan.
Malam itu, Ratna membuka buku tulisnya.
Di halaman kosong, ia menulis nama Herawati.
Lalu ia mencoretnya dengan garis-garis kasar.
Setelah itu, ia menulis satu kalimat pendek.
Aku tidak akan kalah.
Ia menatap kalimat itu cukup lama.
Di luar rumah, malam turun perlahan di Desa Suka Jaya.
Sementara di hati Ratna, iri mulai bertumbuh seperti rumput liar yang dibiarkan memenuhi halaman.
BAB X
Burhan dari Kota Kecamatan
Pagi di Desa Suka Jaya selalu dimulai dengan suara-suara yang sederhana.
Ayam berkokok dari belakang rumah warga. Asap tipis naik dari dapur-dapur kayu. Para lelaki berjalan menuju kebun sambil membawa parang, cangkul, atau ember untuk menampung getah karet. Sementara itu, perempuan-perempuan menyiapkan sarapan, mencuci pakaian di tepi sungai, dan memanggil anak-anak yang masih enggan bangun.
Di tengah kesederhanaan itu, sebuah mobil berwarna hitam memasuki jalan tanah desa.
Mobil itu bergerak perlahan karena roda-rodanya beberapa kali terperosok ke dalam lumpur yang belum benar-benar kering. Suaranya terdengar asing di telinga warga. Anak-anak yang sedang bermain di dekat jalan segera berhenti. Beberapa orang dewasa keluar dari halaman rumah dan memandang kendaraan itu dengan rasa ingin tahu.
Tidak banyak mobil yang datang ke Desa Suka Jaya.
Jika ada kendaraan dari luar desa, biasanya itu milik petugas kecamatan, pedagang besar, atau orang yang membawa urusan penting.
Mobil hitam itu berhenti di depan rumah Leman.
Leman yang sejak pagi duduk di teras segera berdiri. Ia mengenakan kemeja lengan panjang yang rapi, berbeda dari pakaian kerjanya sehari-hari. Di sampingnya berdiri seorang lelaki yang dikenal warga sebagai tangan kanan Leman di kebun-kebunnya.
Pintu mobil terbuka.
Seorang lelaki turun dengan langkah tenang.
Usianya sekitar empat puluh tahun. Tubuhnya tidak terlalu besar, tetapi cara berdirinya membuat orang lain merasa bahwa ia terbiasa diperhatikan. Ia mengenakan celana panjang gelap, sepatu yang masih bersih, dan kemeja berwarna terang. Di tangan kirinya, ia membawa tas kulit kecil.
Lelaki itu bernama Burhan.
Ia datang dari kota kecamatan.
“Selamat datang, Han,” kata Leman sambil menjabat tangannya.
Burhan tersenyum.
“Jalannya masih seperti dulu, Man.”
Leman tertawa kecil.
“Kalau jalan sudah bagus, orang-orang kota mungkin akan lebih sering datang.”
Burhan memandang ke arah jalan desa yang membentang di depan rumah Leman. Di kiri dan kanan jalan itu, kebun karet, ladang kecil, serta rumah-rumah kayu berdiri dengan jarak yang tidak terlalu rapat.
Matanya bergerak perlahan, seolah sedang menghitung sesuatu.
“Desa ini punya tanah yang luas,” katanya.
“Masih banyak,” jawab Leman. “Warga di sini punya kebun dan ladang, tapi kebanyakan tidak tahu nilainya.”
Burhan mengangguk pelan.
“Itulah yang ingin saya bicarakan.”
Leman mempersilakan Burhan masuk ke rumah.
Di dalam ruang tamu, sebuah meja kayu telah disiapkan. Istri Leman menghidangkan kopi panas dan singkong goreng. Burhan duduk sambil membuka tas kulitnya. Dari dalam tas itu, ia mengeluarkan beberapa lembar kertas, sebuah buku catatan, dan peta sederhana yang memperlihatkan wilayah sekitar Desa Suka Jaya.
Leman memperhatikan peta itu.
“Ini tanah sebelah mana?” tanyanya.
Burhan menunjuk beberapa bagian dengan ujung jarinya.
“Daerah dekat sungai, tanah di sekitar jalan menuju kebun, dan beberapa lahan di ujung desa. Kalau digabungkan, wilayah ini cukup luas.”
“Untuk apa?”
“Perkebunan.”
Leman menatap Burhan lebih serius.
“Perkebunan apa?”
“Bisa banyak kemungkinan,” jawab Burhan. “Yang penting, tanahnya dikumpulkan dulu. Setelah itu, akan ada pihak yang mau menanam modal.”
Leman bersandar di kursinya.
“Warga di sini tidak mudah menjual tanah.”
Burhan tersenyum tipis.
“Tidak ada orang yang sulit menjual jika sedang membutuhkan uang.”
Kalimat itu membuat Leman diam sejenak.
Ia memahami maksud Burhan.
Sebagian besar warga Desa Suka Jaya memang hidup dari hasil kebun dan ladang. Namun, penghasilan mereka tidak selalu cukup. Harga karet sering turun. Hasil panen kadang gagal karena hujan terlalu panjang atau kemarau terlalu keras. Banyak keluarga memiliki kebutuhan mendesak: biaya berobat, biaya sekolah anak, kebutuhan rumah tangga, dan utang yang tidak pernah benar-benar selesai.
Burhan menyesap kopinya.
“Saya tidak datang untuk merugikan siapa pun,” katanya. “Saya ingin membawa usaha. Kalau tanah dijual, warga dapat uang. Kalau perkebunan dibuka, warga dapat pekerjaan.”
Leman memandangi wajah Burhan.
“Kedengarannya bagus.”
“Karena memang bagus,” jawab Burhan cepat. “Tapi saya butuh orang yang mengenal warga. Orang yang mereka dengarkan.”
Leman tersenyum kecil.
“Dan orang itu saya?”
Burhan menatapnya lurus.
“Di desa ini, banyak orang mendengar perkataanmu.”
Leman tidak segera menjawab.
Namun, di dalam hatinya, ia mulai melihat peluang yang lebih besar daripada sekadar kebun-kebun kecil yang selama ini ia miliki.
Sementara itu, di bagian lain desa, Dedi sedang berjalan menuju sekolah bersama Herawati dan Susanti.
Pagi itu, Dedi membawa buku tulis yang sampulnya sudah mulai kusam. Herawati membawa beberapa lembar kertas latihan membaca. Susanti berjalan di antara mereka sambil membawa bekal dalam bungkusan daun pisang.
“Kalian lihat mobil tadi?” tanya Susanti.
Dedi mengangguk.
“Iya. Berhenti di rumah Pak Leman.”
“Siapa orangnya?” tanya Herawati.
“Aku tidak tahu,” jawab Dedi. “Mungkin orang dari kecamatan.”
Susanti memandang ke arah jalan yang tadi dilalui mobil hitam itu.
“Orangnya pakai sepatu bagus,” katanya. “Sepertinya bukan orang yang datang untuk membeli ikan asin.”
Dedi tersenyum kecil.
Herawati ikut tersenyum, tetapi pikirannya tampak jauh.
“Ayah pernah bilang,” katanya pelan, “kalau ada orang dari luar datang melihat tanah, biasanya ada urusan besar.”
Dedi menoleh.
“Urusan apa?”
Herawati mengangkat bahu.
“Aku tidak tahu. Tapi Ayah selalu bilang tanah itu penting. Kalau tanah habis, orang desa mau hidup dari mana?”
Dedi memikirkan perkataan itu.
Bagi dirinya, tanah adalah tempat ayahnya bekerja setiap hari. Tanah adalah tempat ibunya menanam sayur di belakang rumah. Tanah adalah jalan yang harus ia lewati untuk menuju sekolah. Ia belum pernah membayangkan tanah dapat menjadi sesuatu yang diperebutkan.
Mereka melanjutkan perjalanan.
Di sekolah, Pak Harun sedang menulis beberapa kata di papan tulis ketika Dedi, Herawati, dan Susanti masuk. Huruf-huruf itu ditulis dengan kapur yang sudah pendek.
TANAH ADALAH TEMPAT HIDUP.
Pak Harun menoleh kepada murid-muridnya.
“Hari ini kita akan belajar menulis kalimat,” katanya. “Tapi sebelum itu, Bapak ingin bertanya. Apa arti tanah bagi kalian?”
Beberapa anak saling pandang.
Jaka mengangkat tangan.
“Tanah buat jalan, Pak.”
“Benar,” kata Pak Harun.
Anak lain menjawab, “Tanah buat menanam padi.”
“Benar juga.”
Pak Harun memandang Dedi.
“Kalau menurutmu, Dedi?”
Dedi berdiri perlahan.
“Tanah tempat Bapak bekerja,” jawabnya. “Kalau tidak ada tanah, Bapak tidak bisa menyadap karet.”
Pak Harun mengangguk.
“Bagus.”
Lalu ia menoleh kepada Herawati.
“Kalau kamu, Herawati?”
Herawati menjawab dengan suara lembut.
“Tanah tempat rumah kami berdiri, Pak. Tempat kami tinggal.”
Pak Harun tersenyum.
“Ya. Tanah bukan hanya benda. Bagi banyak orang, tanah adalah tempat mencari makan, tempat tinggal, dan tempat menyimpan kenangan.”
Kalimat itu terdengar sederhana bagi anak-anak.
Namun, bagi Dedi, kata-kata tersebut tertinggal lebih lama di pikirannya.
Saat pulang sekolah, ia melihat beberapa warga berkumpul di dekat rumah Leman. Burhan berdiri di halaman sambil berbicara dengan beberapa lelaki. Di tangannya ada kertas dan buku catatan.
Dedi tidak mendekat. Ia hanya memperhatikan dari kejauhan.
Leman tampak berbicara dengan penuh keyakinan. Sesekali, Burhan tersenyum dan mengangguk. Beberapa warga terlihat tertarik, terutama ketika Burhan menyebut soal pekerjaan dan uang.
“Kalau ada perkebunan besar,” suara Burhan terdengar cukup jelas, “anak-anak muda tidak perlu pergi jauh mencari kerja. Semua bisa bekerja di sini.”
Seorang warga bertanya, “Kalau tanah kami dijual, kami dapat apa?”
Burhan menjawab dengan cepat.
“Kalian dapat uang yang cukup. Setelah itu, kalian bisa bekerja di perkebunan dengan penghasilan tetap.”
Beberapa orang mulai berbisik.
Dedi berdiri di balik pagar kayu. Ia tidak sepenuhnya mengerti pembicaraan itu, tetapi ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.
Ia teringat kata Pak Harun pagi tadi.
Tanah adalah tempat hidup.
Jika tanah dijual, apakah hidup mereka juga akan berubah?
Herawati yang berdiri di sampingnya menarik pelan lengan bajunya.
“Jangan terlalu dekat,” katanya.
“Kenapa?”
“Kalau Pak Leman melihat, nanti dia marah.”
Dedi menatap wajah Herawati.
“Kita hanya mendengar.”
“Kadang orang tidak suka kalau ada yang mendengar pembicaraan mereka.”
Susanti yang datang beberapa langkah di belakang mereka ikut memandang ke arah rumah Leman.
“Orang itu pasti Burhan,” katanya.
“Kamu tahu namanya?” tanya Dedi.
“Tadi aku dengar ibu-ibu di warung membicarakannya. Katanya dia pengusaha dari kota kecamatan.”
“Pengusaha itu apa?” tanya Dedi.
Susanti berpikir sejenak.
“Orang yang punya banyak uang untuk usaha, mungkin.”
Herawati menunduk.
“Kalau dia benar-benar mau membeli tanah warga, banyak orang pasti bingung.”
“Kenapa bingung?” tanya Dedi.
“Karena mereka butuh uang,” jawab Herawati. “Tapi mereka juga butuh tanah.”
Dedi kembali memandang Burhan.
Lelaki itu tampak ramah. Ia tersenyum ketika berbicara. Ia bahkan beberapa kali menepuk bahu warga dengan akrab. Namun, Dedi merasa ada sesuatu yang tidak bisa ia pahami dari senyumnya.
Sore hari, Burhan dan Leman berjalan menyusuri jalan menuju ujung desa.
Mereka melewati kebun karet, ladang singkong, serta tanah kosong yang ditumbuhi semak. Burhan beberapa kali berhenti untuk memandang luas lahan di hadapannya.
“Tanah di sini bagus,” katanya.
Leman mengangguk.
“Kalau musim hujan, air dari sungai sampai ke dekat kebun.”
“Bagus untuk perkebunan.”
“Warga pemilik tanahnya sebagian besar orang susah.”
Burhan menoleh.
“Mereka punya surat tanah?”
“Sebagian ada. Sebagian hanya tahu tanah itu warisan orang tua.”
Burhan tersenyum tipis.
“Kalau begitu, urusannya bisa lebih mudah.”
Leman memandangnya.
“Mudah bagaimana?”
“Orang yang tidak punya surat lengkap akan mudah takut. Kita hanya perlu bicara dengan cara yang tepat.”
Leman tidak menjawab.
Ia memahami maksud Burhan, tetapi ia juga tahu bahwa cara-cara seperti itu dapat membawa masalah jika dilakukan terlalu terbuka.
Burhan lalu menepuk bahu Leman.
“Tenang saja. Saya tidak akan melupakan orang yang membantu saya.”
Kalimat itu membuat Leman tersenyum.
Di dalam dirinya, keinginan untuk memiliki lebih banyak pengaruh mulai tumbuh.
Malam hari, Dedi duduk di rumah bersama ayah dan ibunya. Lampu minyak menyala kecil di tengah ruangan. Karsa baru pulang dari kebun. Bajunya basah oleh keringat dan lumpur.
Marni menghidangkan nasi, sayur daun singkong, dan ikan asin.
Saat mereka makan, Dedi berkata, “Pak, tadi ada orang dari kota kecamatan datang ke rumah Pak Leman.”
Karsa berhenti mengunyah.
“Siapa?”
“Namanya Burhan. Katanya mau membuka perkebunan.”
Wajah Karsa berubah sedikit tegang.
“Kamu dengar dari mana?”
“Dia bicara di halaman rumah Pak Leman. Katanya warga bisa menjual tanah dan nanti dapat pekerjaan.”
Marni memandang suaminya.
“Jangan-jangan orang yang dulu pernah datang ke desa sebelah,” katanya pelan.
Karsa menghela napas.
“Mungkin.”
Dedi menatap ayahnya.
“Kenapa, Pak?”
Karsa meletakkan sendoknya.
“Tidak semua janji pekerjaan itu benar, Ded.”
“Kalau warga dapat uang, bukankah itu bagus?”
“Uang bisa habis,” jawab Karsa. “Tapi tanah, kalau sudah dijual, sulit kembali.”
Dedi terdiam.
“Kalau tidak punya tanah, kita bekerja di mana?”
Karsa memandang anaknya dengan mata yang tampak lelah.
“Itulah yang harus dipikirkan.”
Malam itu, setelah makan, Dedi membuka buku tulisnya. Ia ingin mengerjakan tugas dari Pak Harun, tetapi pikirannya terus kembali pada percakapan ayahnya.
Di halaman kosong, ia menulis kalimat yang dipelajari di sekolah.
TANAH ADALAH TEMPAT HIDUP.
Di bawahnya, ia menambahkan kalimat lain dengan huruf yang belum terlalu rapi.
KALAU TANAH HILANG, APA YANG TERSISA?
Dedi menatap tulisan itu cukup lama.
Di luar rumah, suara jangkrik terdengar dari arah kebun. Angin malam bergerak pelan melewati dinding papan. Desa Suka Jaya tampak tetap tenang seperti biasa.
Namun, tanpa disadari banyak orang, kedatangan Burhan dari kota kecamatan telah membawa sesuatu yang perlahan akan mengubah kehidupan desa itu.
Bukan hanya tanah yang akan dipertaruhkan.
Tetapi juga masa depan, keberanian, dan harapan orang-orang yang tinggal di atasnya.
BAB XI
Janji di Bawah Beringin
Pagi setelah kedatangan Burhan, Desa Suka Jaya kembali menjalani hari seperti biasanya.
Para lelaki berangkat ke kebun sebelum matahari benar-benar tinggi. Para perempuan menjemur pakaian, menyiapkan makanan, dan mengurus anak-anak kecil. Jalan tanah yang semalam masih lembap oleh embun mulai dipenuhi jejak kaki, roda sepeda, dan tapak sandal warga.
Namun, pembicaraan tentang orang dari kota kecamatan itu belum benar-benar hilang.
Di warung kecil dekat jalan menuju balai desa, beberapa warga duduk sambil minum kopi. Mereka membicarakan Burhan, perkebunan, tanah, dan janji pekerjaan yang disampaikan di halaman rumah Leman.
“Aku dengar tanah di ujung desa akan dibeli,” kata Pak Warto.
“Katanya harganya lumayan,” sahut seorang warga lain.
“Lumayan untuk berapa lama?” tanya Pak Warto. “Kalau uangnya habis, tanahnya sudah tidak ada.”
Seorang lelaki muda yang duduk di sudut warung mengangkat bahu.
“Kalau ada pekerjaan tetap, mungkin tidak masalah.”
Pak Warto menghela napas.
“Pekerjaan tetap itu belum tentu ada. Orang luar datang membawa janji, tapi yang tinggal menanggung akibatnya tetap warga desa.”
Pembicaraan itu terhenti ketika Leman melintas di depan warung. Tidak ada yang lagi-lagi berani melanjutkan perkataan mereka dengan suara keras.
Leman berjalan dengan langkah tenang. Wajahnya tampak seperti biasa, tetapi dalam pikirannya, ia sudah mulai menyusun rencana bersama Burhan.
Ia tahu bahwa tidak semua warga akan mudah diyakinkan.
Ada yang akan menolak.
Ada yang akan bertanya.
Ada yang mungkin mengingatkan warga lain agar tidak terburu-buru menjual tanah.
Namun, Leman juga tahu bahwa kemiskinan sering kali membuat orang mudah menerima janji yang terdengar indah.
Sementara itu, Dedi berjalan menuju sekolah bersama Herawati dan Susanti.
Dedi masih memikirkan perkataan ayahnya semalam.
Uang bisa habis, tetapi tanah yang dijual sulit kembali.
Kalimat itu terus berputar di dalam kepalanya.
“Kamu dari tadi diam saja,” kata Susanti sambil berjalan di sampingnya.
Dedi menoleh.
“Aku sedang memikirkan Pak Burhan.”
Herawati memandang jalan di depan mereka.
“Aku juga.”
“Menurut kalian, apa benar warga akan menjual tanahnya?” tanya Dedi.
Susanti mengangkat bahu.
“Kalau orang-orang sedang butuh uang, mungkin saja.”
“Tapi kalau tanahnya dijual, mereka mau menanam apa?” tanya Dedi.
Herawati menjawab pelan, “Mungkin itu sebabnya Ayah selalu bilang bahwa orang desa harus hati-hati. Kadang sesuatu yang terlihat seperti bantuan bisa berubah menjadi beban.”
Dedi memandang Herawati.
“Kamu mengerti banyak hal.”
Herawati tersenyum kecil.
“Aku hanya sering mendengar orang tua bicara.”
Susanti menatap keduanya.
“Kalian ini kalau bicara selalu seperti orang dewasa.”
Dedi tersenyum.
“Kamu juga bisa bicara seperti orang dewasa.”
Susanti mengangkat dagunya.
“Aku memang sudah dewasa.”
Herawati tertawa kecil.
Tawa itu membuat suasana pagi terasa sedikit lebih ringan.
Sesampainya di sekolah, Pak Harun meminta seluruh murid duduk dengan tenang. Di tangannya, ia membawa sebuah buku cerita lama yang sampulnya sudah pudar.
“Hari ini,” katanya, “Bapak ingin bercerita tentang seorang anak yang tetap belajar meski tidak memiliki banyak buku.”
Anak-anak memperhatikan.
Pak Harun kemudian menceritakan kisah seorang anak dari desa jauh yang belajar membaca dengan meminjam buku, menulis di atas kertas bekas, dan berjalan jauh untuk datang ke sekolah. Anak itu tumbuh menjadi orang yang membantu membuka tempat belajar bagi anak-anak lain di kampungnya.
“Kenapa anak itu mau membantu orang lain, Pak?” tanya Susanti.
Pak Harun tersenyum.
“Karena ia tahu rasanya tidak memiliki kesempatan. Ketika ia mendapat ilmu, ia tidak ingin menyimpannya sendiri.”
Dedi menunduk memandangi buku tulisnya.
Ia membayangkan anak-anak kecil di Desa Suka Jaya yang belum bisa membaca. Ia teringat beberapa anak yang hanya bermain di halaman rumah ketika orang tua mereka bekerja. Ia teringat adik Jaka yang sering ingin ikut ke sekolah, tetapi belum cukup umur.
Pak Harun melanjutkan, “Ilmu tidak hanya membuat seseorang pandai. Ilmu juga membuat seseorang mampu melihat mana yang baik, mana yang tidak baik, dan mana yang harus diperjuangkan.”
Kata-kata itu membuat Dedi kembali teringat pada Burhan dan Leman.
Ia belum memahami seluruh persoalan orang dewasa. Namun, ia mulai merasa bahwa belajar bukan hanya tentang bisa membaca atau berhitung. Belajar juga tentang memahami kehidupan.
Sepulang sekolah, Dedi tidak langsung pulang.
Ia mengajak Herawati dan Susanti berjalan ke arah pohon beringin besar yang berdiri di dekat batas desa. Pohon itu sudah ada sejak mereka kecil. Akarnya menjulur ke tanah, batangnya besar, dan daunnya lebat hingga membuat tempat di bawahnya selalu teduh.
Bagi anak-anak Desa Suka Jaya, pohon beringin itu bukan sekadar pohon.
Di bawahnya, mereka sering bermain.
Di bawahnya, para warga kadang beristirahat setelah pulang dari kebun.
Dan di bawahnya pula, anak-anak sering mendengar cerita dari orang-orang tua tentang masa lalu desa.
Dedi duduk di salah satu akar besar yang muncul di permukaan tanah.
Herawati duduk tidak jauh darinya. Susanti meletakkan bungkusan bekalnya di antara mereka.
“Ada apa, Ded?” tanya Herawati.
Dedi menatap pohon beringin di atas mereka.
“Aku ingin kita membuat janji.”
Susanti mengerutkan dahi.
“Janji apa?”
Dedi menarik napas pelan.
“Kita harus tetap sekolah.”
Herawati dan Susanti saling pandang.
“Tentu saja,” kata Susanti. “Aku juga mau sekolah sampai pintar.”
Dedi mengangguk.
“Tapi bukan hanya itu. Kalau nanti kita sudah besar, aku ingin kita membuat tempat belajar untuk anak-anak desa.”
Herawati menatapnya lebih serius.
“Tempat belajar?”
“Iya,” jawab Dedi. “Supaya anak-anak yang tidak punya buku tetap bisa belajar. Supaya mereka tidak takut membaca. Supaya mereka tidak mudah dibohongi.”
Kata-kata terakhir itu keluar begitu saja.
Dedi sendiri baru menyadari bahwa pikirannya kembali pada percakapan tentang tanah dan janji pekerjaan.
Herawati menunduk.
“Aku ingin menjadi guru,” katanya pelan. “Kalau ada tempat belajar, aku mau mengajar di sana.”
Dedi tersenyum.
“Benarkah?”
Herawati mengangguk.
“Aku ingin anak-anak desa bisa membaca lebih baik daripada aku sekarang.”
Susanti memandangi keduanya.
“Kalau aku?” tanyanya.
Dedi menatapnya.
“Kamu bisa membantu anak-anak supaya berani bicara.”
Susanti tertawa.
“Kalau begitu, aku akan mengajari mereka supaya tidak takut bertanya.”
Herawati tersenyum.
“Itu bagus.”
Susanti lalu mengeluarkan tiga biji karet dari kantong kecilnya.
“Aku punya cara supaya janji ini tidak mudah dilupakan,” katanya.
Ia meletakkan satu biji karet di telapak tangan Dedi, satu di telapak tangan Herawati, dan satu lagi di tangannya sendiri.
“Kita simpan ini,” kata Susanti. “Kalau nanti kita sudah besar, kita lihat lagi. Kalau masih ada, berarti janji kita juga masih ada.”
Dedi memandangi biji karet di telapak tangannya.
Benda itu kecil dan sederhana. Namun, di bawah pohon beringin yang tua, biji karet itu terasa seperti sesuatu yang penting.
“Aku janji,” kata Dedi.
Herawati memegang biji karetnya lebih erat.
“Aku juga janji.”
Susanti mengangkat tangannya.
“Aku paling janji.”
Dedi dan Herawati tertawa.
Namun, setelah tawa itu mereda, ketiganya kembali diam.
Angin bergerak pelan di antara daun-daun beringin. Cahaya matahari sore jatuh melalui celah ranting dan membentuk bayangan di tanah.
Dedi menatap jalan menuju desa.
“Aku tidak tahu apakah nanti kita bisa benar-benar membuat tempat belajar,” katanya.
Herawati menjawab dengan tenang, “Kalau kita tidak mulai bermimpi, kita tidak akan pernah tahu.”
Susanti mengangguk.
“Dan kalau ada yang bilang kita tidak bisa, kita buktikan bahwa kita bisa.”
Dedi memandang kedua sahabatnya.
Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa mimpi tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.
Kadang, mimpi dimulai dari tiga anak kecil yang duduk di bawah pohon beringin.
Kadang, mimpi dimulai dari buku tulis kusam, biji karet, dan keberanian untuk berkata bahwa masa depan harus dibuat lebih baik.
Di tempat lain, Burhan kembali datang ke rumah Leman menjelang sore.
Kali ini, ia membawa beberapa lembar kertas yang lebih banyak daripada sebelumnya. Leman duduk di teras bersama Burhan, sementara Burhan membuka catatan dan menunjukkan beberapa angka.
“Kalau tanah ini bisa dikumpulkan,” kata Burhan sambil menunjuk peta, “perkebunan akan segera dimulai.”
Leman memperhatikan.
“Berapa banyak tanah yang dibutuhkan?”
“Sebanyak mungkin.”
“Kalau ada yang menolak?”
Burhan menatap jalan desa yang mulai sepi.
“Orang yang menolak biasanya hanya butuh waktu untuk diyakinkan.”
Leman tersenyum kecil.
“Dan kalau mereka tetap tidak mau?”
Burhan menutup bukunya.
“Setiap orang punya kelemahan. Ada yang butuh uang. Ada yang punya utang. Ada yang takut pada jabatan. Kita hanya perlu tahu cara berbicara kepada mereka.”
Leman mengangguk pelan.
Di wajahnya, terlihat keyakinan yang semakin besar.
Ia tidak tahu bahwa jauh di ujung desa, di bawah pohon beringin tua, tiga anak kecil baru saja membuat janji yang kelak akan menjadi salah satu hal paling sulit untuk dipatahkan.
Malam itu, Dedi menyimpan biji karet pemberian Susanti di dalam kotak kecil miliknya. Kotak itu terbuat dari kayu tipis dan selama ini ia gunakan untuk menyimpan pensil pendek, penghapus, serta beberapa kertas bekas.
Ia menaruh biji karet itu di samping pensilnya.
Kemudian, ia membuka buku tulis dan menulis satu kalimat.
AKU AKAN TETAP SEKOLAH.
Di bawahnya, ia menulis lagi.
AKU AKAN MEMBUAT ANAK-ANAK DESA BISA BELAJAR.
Tulisan itu belum rapi.
Namun, Dedi menulisnya dengan hati yang sungguh-sungguh.
Di luar rumah, malam kembali menyelimuti Desa Suka Jaya.
Di rumah-rumah warga, sebagian orang membicarakan uang dan tanah. Sebagian lagi memikirkan pekerjaan untuk esok hari. Banyak yang belum tahu bahwa sebuah janji kecil telah lahir di bawah pohon beringin.
Janji yang suatu hari akan tumbuh menjadi perjuangan panjang.
Janji yang akan membawa Dedi Kusnadi, Herawati, dan Susanti melewati luka, perpisahan, pengkhianatan, serta harapan yang tidak pernah benar-benar padam.
BAB XII
Harga Sebuah Seragam
Musim hujan mulai datang lebih awal di Desa Suka Jaya.
Hampir setiap sore, langit yang sejak siang tampak cerah mendadak berubah kelabu. Angin membawa bau tanah basah dari arah kebun. Lalu hujan turun deras, memukul atap seng dan daun-daun karet hingga jalan desa kembali dipenuhi lumpur.
Bagi sebagian warga, hujan adalah berkah.
Tanaman di ladang kembali segar. Sungai yang sempat surut mulai penuh. Kebun-kebun yang kering mendapatkan air.
Namun, bagi keluarga Karsa, musim hujan juga membawa kekhawatiran.
Hasil sadapan karet tidak selalu baik ketika hujan turun terlalu sering. Getah sulit dikumpulkan, jalan menuju kebun licin, dan beberapa hari kerja harus tertunda. Sementara kebutuhan rumah tetap berjalan seperti biasa.
Beras harus dibeli.
Minyak tanah harus tersedia.
Dan sebentar lagi, Dedi harus masuk ke sekolah menengah.
Pagi itu, Dedi duduk di lantai rumah sambil membuka kembali surat pengumuman dari sekolah kecamatan. Kertas itu sudah beberapa kali ia baca. Di bagian bawahnya tertulis daftar perlengkapan yang harus dibawa oleh murid baru: seragam putih biru, sepatu, buku tulis, alat tulis, dan biaya keperluan sekolah lainnya.
Dedi menatap tulisan itu lama.
Di sebelahnya, Marni sedang menjahit sobekan kecil pada baju lama. Tangannya bergerak pelan, tetapi matanya beberapa kali melirik ke arah anaknya.
“Sudah dibaca lagi suratnya?” tanya Marni.
Dedi mengangguk.
“Iya, Bu.”
“Kapan mulai masuk?”
“Minggu depan.”
Marni berhenti menjahit.
“Masih ada waktu.”
Dedi menunduk.
“Bu, kalau aku tidak punya seragam, apakah aku masih boleh masuk sekolah?”
Pertanyaan itu membuat tangan Marni terdiam.
Ia memandang wajah anaknya. Dedi sudah tidak lagi sekecil dulu. Tubuhnya mulai meninggi, suaranya mulai berubah, dan cara berpikirnya pun semakin dewasa. Namun, di mata Marni, Dedi tetap anak yang sejak kecil selalu membawa buku ke mana-mana.
“Kamu akan tetap sekolah,” kata Marni akhirnya.
“Tapi seragamnya mahal.”
“Kita cari jalan.”
Dedi tidak menjawab.
Ia tahu ibunya selalu berkata demikian setiap kali ada kesulitan. Namun, ia juga tahu bahwa mencari jalan tidak selalu mudah.
Siang hari, Karsa pulang lebih cepat dari kebun. Bajunya basah oleh hujan, celananya penuh lumpur, dan wajahnya tampak lebih letih daripada biasanya. Ia duduk di dekat pintu sambil melepaskan sandal.
Marni segera mengambilkan air hangat.
“Tidak dapat banyak hari ini?” tanyanya pelan.
Karsa menggeleng.
“Hujan turun sebelum selesai menyadap.”
Dedi yang sedang menulis di buku tulisnya berhenti.
Karsa memandang surat sekolah yang terletak di lantai.
“Itu surat masuk sekolah menengah?” tanyanya.
“Iya, Pak,” jawab Dedi.
Karsa mengambil kertas itu. Ia membaca perlahan, meski tidak semua tulisan di sana mudah dipahaminya. Setelah beberapa saat, ia meletakkan kembali surat itu.
“Berapa biayanya?” tanyanya.
Dedi menyebutkan jumlah yang tertulis di pengumuman.
Karsa terdiam.
Marni tidak berkata apa-apa.
Di dalam rumah kecil itu, suara hujan yang menetes dari ujung atap terdengar lebih jelas daripada sebelumnya.
“Aku bisa tidak sekolah dulu, Pak,” kata Dedi tiba-tiba. “Aku bisa membantu Bapak di kebun.”
Karsa menoleh cepat.
“Jangan bicara begitu.”
“Tapi Bapak dan Ibu sedang susah.”
“Kita memang susah,” kata Karsa, suaranya rendah tetapi tegas. “Tapi bukan berarti kamu harus berhenti sekolah.”
Dedi menunduk.
“Aku tidak mau membuat Bapak dan Ibu semakin berat.”
Karsa mendekat dan duduk di samping anaknya.
“Dedi,” katanya, “Bapak bekerja di kebun bukan supaya kamu ikut hidup seperti Bapak terus-menerus. Bapak ingin kamu punya jalan yang lebih luas.”
“Tapi kalau tidak ada uang?”
“Kita akan cari.”
Karsa mengucapkannya dengan keyakinan, tetapi setelah itu ia menunduk. Dedi melihat tangan ayahnya yang kasar, kuku-kukunya yang dipenuhi sisa tanah, dan garis lelah di wajahnya.
Untuk pertama kalinya, Dedi benar-benar memahami bahwa pendidikan yang selama ini ia jalani bukan hanya miliknya sendiri.
Ada tenaga ayahnya di dalam setiap buku.
Ada kesabaran ibunya di dalam setiap pensil.
Ada pengorbanan yang tidak selalu diucapkan.
Sore hari, Herawati dan Susanti datang ke rumah Dedi. Mereka membawa buku-buku bekas dari sekolah dasar yang masih bisa dipakai untuk mencatat.
“Kami dengar kamu mau masuk sekolah menengah,” kata Susanti dengan wajah ceria.
Dedi tersenyum tipis.
“Iya, kalau jadi.”
“Kenapa kalau jadi?” tanya Herawati.
Dedi tidak langsung menjawab.
Marni yang sedang menjemur kain di dalam rumah memandang anaknya. Namun, Dedi akhirnya berkata jujur.
“Aku belum punya seragam dan buku.”
Susanti terdiam.
Herawati memegang erat buku yang dibawanya.
“Kalau buku, ini bisa kamu pakai dulu,” kata Herawati. “Masih banyak halaman kosong.”
Dedi menerima buku itu.
“Terima kasih.”
Susanti membuka tas kainnya.
“Aku juga punya pensil. Memang tidak baru, tapi masih panjang.”
Dedi tersenyum lebih lebar.
“Kalian tidak perlu repot.”
“Kami tidak repot,” jawab Susanti. “Kalau kamu tidak sekolah, nanti siapa yang akan mengajari kami kalau ada pelajaran sulit?”
Herawati menatap Dedi dengan tenang.
“Kamu harus tetap sekolah, Ded. Janji kita di bawah pohon beringin belum boleh berhenti.”
Kalimat itu membuat Dedi kembali teringat pada biji karet yang disimpannya di dalam kotak kecil.
Ia mengangguk pelan.
“Aku akan berusaha.”
Malamnya, setelah Dedi tidur, Marni membuka sebuah kotak kayu kecil yang disimpan di bawah lipatan pakaian. Kotak itu sudah lama tidak disentuhnya.
Di dalamnya, tersimpan beberapa benda sederhana: kain kecil, foto lama yang sudah pudar, dan sebuah gelang emas tipis.
Gelang itu peninggalan ibunya.
Tidak besar.
Tidak pula terlalu berharga bagi orang kaya.
Namun, bagi Marni, gelang itu adalah satu-satunya benda yang mengingatkannya pada perempuan yang telah membesarkannya. Ibunya pernah memakaikan gelang itu ketika Marni masih muda, sambil berkata bahwa suatu hari nanti gelang tersebut dapat menjadi pegangan ketika hidup terasa sulit.
Marni memegang gelang itu lama sekali.
Matanya berkaca-kaca.
Karsa yang melihat dari sudut ruangan segera memahami apa yang dipikirkan istrinya.
“Jangan,” katanya pelan.
Marni menoleh.
“Kalau bukan sekarang, kapan lagi?”
“Itu peninggalan ibumu.”
“Dedi juga peninggalan harapan kita.”
Karsa terdiam.
Marni menggenggam gelang itu.
“Aku tidak ingin anak kita berhenti hanya karena kita tidak mampu membeli seragam.”
Karsa menunduk. Ia tidak sanggup membantah.
Keesokan paginya, Marni berjalan ke pasar kecil di kecamatan. Ia membawa gelang itu dibungkus kain. Jalan yang ditempuhnya tidak dekat. Ia harus menumpang kendaraan bak terbuka bersama beberapa warga, lalu berjalan lagi melewati deretan kios sederhana.
Di salah satu toko emas kecil, Marni menyerahkan gelang tersebut kepada pemilik toko.
“Berapa harganya, Pak?” tanyanya.
Lelaki itu memeriksa gelang itu dengan teliti.
“Tidak banyak,” katanya.
Marni mengangguk.
“Tidak apa-apa.”
Saat gelang itu berpindah tangan, dada Marni terasa sesak. Ia seperti melepaskan bagian kecil dari masa lalunya. Namun, ketika uang itu berada di telapak tangannya, ia memikirkan wajah Dedi yang membaca surat sekolah dengan mata penuh harap.
Dan ia tahu, keputusan itu tidak salah.
Dengan uang hasil menjual gelang, Marni membeli kain seragam putih biru, sepasang sepatu sederhana, beberapa buku tulis, serta pensil baru.
Ia pulang menjelang sore.
Dedi yang sedang membantu Karsa memperbaiki pagar kecil di depan rumah melihat ibunya turun dari kendaraan. Di tangan Marni ada bungkusan kain dan tas kecil.
“Dari mana, Bu?” tanya Dedi.
Marni tersenyum.
“Masuklah ke rumah.”
Dedi mengikuti ibunya dengan rasa penasaran. Di dalam rumah, Marni membuka bungkusan itu perlahan.
Seragam putih biru.
Sepatu hitam.
Buku tulis baru.
Pensil.
Dedi memandang semuanya tanpa berkata-kata.
“Coba lihat, pas atau tidak,” kata Marni.
Dedi masih diam.
“Bu, ini dari mana?”
Marni tersenyum, tetapi senyumnya tampak menyimpan sesuatu.
“Dari rezeki kita.”
Dedi memegang kain seragam itu. Tangannya gemetar sedikit.
“Kita punya uang sebanyak ini?”
Karsa yang berdiri di dekat pintu menunduk.
Marni kemudian duduk di hadapan Dedi.
“Ibu menjual gelang Nenek.”
Dedi terdiam.
Ia menatap pergelangan tangan ibunya yang kini kosong.
“Gelang peninggalan Nenek?”
Marni mengangguk.
Dedi merasakan dadanya seperti dipenuhi sesuatu yang berat. Ia tahu gelang itu bukan sekadar perhiasan. Ia pernah mendengar ibunya bercerita bahwa gelang tersebut adalah satu-satunya kenangan dari neneknya.
“Kenapa Ibu menjualnya?” suara Dedi pelan.
“Karena sekolahmu lebih penting.”
“Aku tidak mau, Bu. Aku bisa bekerja saja.”
Marni memegang kedua tangan anaknya.
“Dedi, dengarkan Ibu. Barang bisa hilang, bisa dijual, bisa dicari lagi. Tetapi kesempatan belajar tidak selalu datang dua kali.”
Air mata mulai menggenang di mata Dedi.
“Aku takut tidak bisa membalasnya.”
Marni mengusap kepala anaknya.
“Kamu tidak perlu membalas kepada Ibu. Belajarlah dengan sungguh-sungguh. Jadilah manusia yang baik. Itu sudah cukup.”
Karsa mendekat.
“Ayahmu tidak bisa memberi kamu banyak,” katanya. “Tapi kami akan memberi apa yang kami mampu.”
Dedi memandang seragam itu sekali lagi.
Di dalam hatinya, ia merasa bahwa seragam putih biru itu jauh lebih berat daripada kain biasa. Di dalamnya ada pengorbanan ibunya. Ada kerja keras ayahnya. Ada harapan yang tidak boleh ia sia-siakan.
Malam itu, Dedi mencoba seragam barunya.
Ukuran bajunya sedikit longgar, tetapi Marni berkata bahwa itu baik agar bisa dipakai lebih lama. Sepatunya terasa kaku, karena masih baru. Dedi berdiri di depan cermin kecil yang tergantung di dinding.
Ia melihat dirinya sendiri.
Seorang anak desa dengan seragam sederhana.
Namun, di balik seragam itu, ia membawa mimpi yang lebih besar daripada dirinya.
Ia membuka kotak kayu kecilnya. Di dalamnya masih ada biji karet dari janji di bawah pohon beringin. Dedi mengambil biji itu dan menggenggamnya.
“Aku janji,” katanya pelan, hampir seperti berbicara kepada dirinya sendiri. “Aku tidak akan menyia-nyiakan ini.”
Keesokan pagi, Dedi berangkat ke sekolah menengah dengan seragam baru.
Herawati dan Susanti menunggunya di jalan dekat pohon beringin.
Susanti langsung bertepuk tangan kecil.
“Wah, Dedi sudah seperti anak kota!”
Dedi tersipu.
“Jangan mengejek.”
“Aku tidak mengejek,” kata Susanti. “Aku bangga.”
Herawati memandang Dedi dengan mata hangat.
“Seragammu bagus.”
“Terima kasih,” jawab Dedi.
Mereka bertiga berjalan bersama menuju jalan yang akan membawa Dedi ke sekolah menengah. Langkah Dedi terasa berbeda pagi itu.
Bukan karena sepatu barunya.
Bukan karena seragam yang masih kaku.
Tetapi karena ia tahu, setiap langkahnya dibayar oleh pengorbanan orang-orang yang mencintainya.
Di kejauhan, jalan menuju kecamatan masih panjang.
Namun, Dedi tidak lagi melihatnya sebagai jalan yang menakutkan.
Ia melihatnya sebagai jalan yang harus ditempuh.
Jalan menuju ilmu.
Jalan menuju janji.
Jalan menuju masa depan yang suatu hari ingin ia bawa kembali ke Desa Suka Jaya.
BAB XIII
Herawati Hampir Berhenti Sekolah
Beberapa minggu setelah Dedi mulai bersekolah di kecamatan, kehidupan di Desa Suka Jaya berjalan dengan langkah yang semakin berat.
Musim hujan belum benar-benar reda. Jalan tanah masih licin. Kebun-kebun karet sering sepi karena para penyadap tidak dapat bekerja setiap hari. Hasil ladang pun tidak selalu cukup untuk menutup kebutuhan rumah tangga.
Di rumah Herawati, kesulitan itu datang lebih dekat.
Pak Samin, ayah Herawati, jatuh sakit.
Awalnya, ia hanya mengeluh pusing dan demam setelah pulang dari kebun. Namun, beberapa hari kemudian, tubuhnya semakin lemah. Ia tidak lagi mampu berjalan jauh menuju kebun. Ia hanya berbaring di tikar, dengan napas yang kadang terdengar berat.
Wagini, ibu Herawati, berusaha mencari obat seadanya. Ia merebus daun-daunan yang dipercaya dapat menurunkan demam. Ia juga meminta bantuan tetangga untuk memanggil mantri dari dusun sebelah. Namun, biaya berobat tetap menjadi persoalan.
Sementara itu, kebutuhan rumah tidak berhenti.
Beras di dapur semakin sedikit.
Kayu bakar harus tetap dicari.
Dan Herawati mulai sering tidak masuk sekolah.
Pagi itu, Herawati sedang menumbuk singkong di halaman rumah ketika Susanti datang membawa buku pelajaran.
“Hera,” panggil Susanti.
Herawati menoleh. Wajahnya tampak pucat karena kurang tidur.
“Kamu tidak sekolah lagi?” tanya Susanti.
Herawati menghentikan pekerjaannya.
“Aku harus membantu Ibu.”
“Tapi sudah tiga hari kamu tidak masuk.”
“Ayah sedang sakit.”
Susanti memandangi rumah kecil itu. Dari dalam, terdengar suara batuk Pak Samin.
“Aku membawa catatan pelajaran,” kata Susanti sambil menyerahkan buku. “Pak Harun juga bertanya tentangmu.”
Herawati menerima buku itu.
“Terima kasih.”
“Kapan kamu masuk lagi?”
Herawati tidak segera menjawab.
Ia memandang singkong yang belum selesai ditumbuk. Lalu matanya bergerak ke arah dapur, tempat ibunya sedang memasak dengan wajah penuh lelah.
“Aku tidak tahu,” katanya akhirnya.
Susanti mengerutkan dahi.
“Kamu harus masuk sekolah, Hera.”
Herawati tersenyum tipis.
“Aku juga ingin.”
“Kalau begitu, kenapa tidak?”
Herawati menunduk.
“Karena di rumah tidak ada yang bisa membantu Ibu. Kalau aku sekolah, siapa yang mencari kayu? Siapa yang menjaga Ayah? Siapa yang membantu menyiapkan makanan?”
Susanti terdiam.
Ia ingin membantah, tetapi ia tahu bahwa Herawati tidak sedang mencari alasan.
Herawati sedang menghadapi kenyataan.
Siang hari, Dedi pulang dari sekolah kecamatan. Ia berjalan lebih cepat dari biasanya setelah mendengar kabar dari Susanti bahwa Herawati sudah beberapa hari tidak masuk sekolah.
Ia langsung menuju rumah Herawati.
Di depan rumah, ia melihat Herawati sedang mencuci pakaian di ember besar. Tangannya bergerak pelan. Di dekatnya, ada tumpukan kayu bakar dan beberapa wadah kosong.
“Hera,” panggil Dedi.
Herawati menoleh.
“Kamu pulang cepat?”
“Sekolah selesai lebih awal.”
Dedi berdiri beberapa langkah di depannya.
“Aku dengar kamu tidak masuk sekolah.”
Herawati kembali menunduk pada pakaian yang sedang dicucinya.
“Ayah sakit.”
“Aku tahu. Tapi kamu tetap harus sekolah.”
Herawati berhenti mencuci.
“Tidak semua orang bisa tetap sekolah, Ded.”
“Kamu bisa.”
“Bagaimana caranya?”
Nada suara Herawati tidak keras, tetapi terdengar lelah.
Dedi terdiam.
Herawati melanjutkan, “Aku tidak punya seragam baru. Buku-bukuku sudah banyak yang habis. Sekarang Ayah sakit. Ibu juga tidak mungkin bekerja sendiri. Kalau aku tetap sekolah, siapa yang akan membantu keluarga?”
Dedi memandang wajah sahabatnya.
Ia teringat seragam putih biru yang dibeli dari gelang peninggalan neneknya. Ia teringat tangan kasar ayahnya. Ia teringat janji di bawah pohon beringin.
Ia tidak ingin janji itu berhenti hanya karena Herawati sedang berada dalam kesulitan.
“Aku akan cari cara,” katanya.
Herawati menatapnya.
“Cara apa?”
Dedi menggeleng pelan.
“Aku belum tahu. Tapi aku akan cari.”
Herawati tersenyum sedih.
“Jangan membuat janji yang terlalu berat, Ded.”
Dedi menatapnya dengan sungguh-sungguh.
“Janji kita dulu juga berat. Tapi kita tetap membuatnya.”
Herawati tidak menjawab.
Namun, untuk pertama kalinya sejak ayahnya sakit, ada sedikit cahaya yang kembali muncul di matanya.
Sore itu, Dedi menemui Susanti di bawah pohon beringin.
Susanti sedang duduk sambil memegang buku catatan. Ketika melihat Dedi datang, ia langsung tahu bahwa Dedi ingin membicarakan Herawati.
“Kita harus membantu Hera,” kata Dedi tanpa banyak pembuka.
Susanti mengangguk.
“Aku juga berpikir begitu.”
“Tapi bagaimana?”
Susanti berpikir sejenak.
“Kita bisa minta bantuan warga.”
“Warga juga sedang susah.”
“Tidak harus banyak,” jawab Susanti. “Sedikit-sedikit.”
Dedi duduk di akar pohon beringin.
“Kalau kita meminta uang, mungkin orang-orang malu atau tidak punya.”
“Kita tidak hanya minta uang,” kata Susanti. “Kita bisa minta beras, singkong, kayu, atau apa saja yang bisa membantu keluarga Hera.”
Dedi memandang Susanti.
“Kamu punya ide yang bagus.”
Susanti tersenyum kecil.
“Karena aku tidak mau Herawati berhenti sekolah.”
Dedi mengangguk.
“Besok kita mulai.”
Keesokan harinya, setelah sekolah selesai, Dedi dan Susanti berjalan dari rumah ke rumah.
Mereka membawa sebuah keranjang kecil. Di dalamnya ada kertas bertuliskan dengan huruf besar:
BANTUAN UNTUK KELUARGA PAK SAMIN
Mereka tidak membawa surat resmi. Mereka tidak membawa orang dewasa. Mereka hanya dua anak desa yang merasa sahabat mereka tidak boleh kehilangan kesempatan belajar.
Rumah pertama yang mereka datangi adalah rumah Pak Warto.
Pak Warto sedang memperbaiki gagang cangkul ketika Dedi dan Susanti datang.
“Ada apa kalian sore-sore begini?” tanyanya.
Dedi menjelaskan tentang Pak Samin yang sakit dan Herawati yang hampir berhenti sekolah.
Pak Warto mendengarkan dengan wajah serius.
Ia masuk ke rumah, lalu keluar membawa sebungkus beras kecil.
“Tidak banyak,” katanya. “Tapi semoga bisa membantu.”
Dedi menerima bungkusan itu dengan kedua tangan.
“Terima kasih, Pak.”
Rumah berikutnya adalah rumah Bu Rini. Ia memberikan beberapa butir telur. Di rumah Pak Jono, mereka mendapat singkong. Seorang nenek memberikan seikat sayur dari kebunnya. Ada pula warga yang hanya mampu memberikan uang receh, tetapi menyerahkannya dengan wajah tulus.
Tidak semua orang bisa memberi.
Namun, hampir semua orang mendengarkan.
Menjelang sore, keranjang kecil itu mulai penuh.
Dedi dan Susanti membawa bantuan tersebut ke rumah Herawati. Ketika mereka tiba, Wagini sedang duduk di depan rumah dengan wajah lelah. Herawati berada di samping ayahnya yang masih terbaring.
“Ada apa, Ded?” tanya Wagini ketika melihat mereka datang.
Dedi meletakkan keranjang di hadapannya.
“Ini dari warga, Bu.”
Wagini memandang isi keranjang itu.
Beras.
Telur.
Singkong.
Sayur.
Beberapa uang receh yang dibungkus kertas.
Matanya perlahan berkaca-kaca.
“Untuk kami?”
Susanti mengangguk.
“Untuk membantu Pak Samin dan supaya Herawati tetap sekolah.”
Herawati yang berdiri di dekat pintu menatap Dedi dan Susanti dengan wajah tidak percaya.
“Kalian melakukan ini?” tanyanya.
Dedi mengangguk.
“Bukan hanya kami. Warga juga membantu.”
Herawati menutup mulutnya dengan tangan. Air mata jatuh dari matanya.
“Aku tidak tahu harus berkata apa.”
Dedi tersenyum.
“Kamu tidak perlu berkata apa-apa. Kamu hanya perlu kembali sekolah.”
Dari dalam rumah, suara Pak Samin terdengar pelan.
“Herawati.”
Herawati segera masuk ke dalam.
Pak Samin membuka mata dengan susah payah. Wajahnya masih pucat, tetapi ia melihat keranjang bantuan yang dibawa Dedi dan Susanti.
“Siapa yang datang?” tanyanya.
“Dedi dan Susanti, Yah,” jawab Herawati. “Mereka membawa bantuan dari warga.”
Pak Samin memandang Dedi.
“Kamu anak Karsa?”
“Iya, Pak.”
Pak Samin mengangguk perlahan.
“Terima kasih.”
Dedi menunduk sopan.
“Semoga Bapak cepat sembuh.”
Pak Samin menatap Herawati.
“Kamu harus tetap sekolah,” katanya dengan suara yang lemah. “Jangan karena Ayah sakit, kamu berhenti.”
Herawati menangis.
“Tapi Ibu sendirian, Yah.”
“Kita akan berusaha,” kata Pak Samin. “Ilmu yang kamu cari lebih penting daripada rasa lelah kita hari ini.”
Herawati menggenggam tangan ayahnya.
“Iya, Yah.”
Beberapa hari kemudian, Pak Harun datang ke rumah Herawati. Ia membawa beberapa buku pelajaran dan berbicara cukup lama dengan Wagini.
Pak Harun menjelaskan bahwa Herawati adalah anak yang rajin dan memiliki kemampuan baik. Ia tidak ingin Herawati berhenti hanya karena keadaan keluarga sedang sulit.
“Saya akan membantu agar ia tidak tertinggal pelajaran,” kata Pak Harun.
Wagini mengangguk dengan mata berkaca-kaca.
“Saya hanya takut tidak sanggup, Pak Guru.”
“Tidak ada orang tua yang benar-benar sanggup sendiri,” jawab Pak Harun. “Karena itu, kita saling membantu.”
Kehadiran Pak Harun membuat Wagini sedikit lebih tenang.
Ia mulai meminta bantuan tetangga untuk menjaga Pak Samin ketika Herawati sekolah. Kadang Susanti datang membantu menyiapkan air. Kadang Dedi membawa catatan pelajaran dari sekolah kecamatan. Kadang warga mengirimkan makanan sederhana.
Bantuan itu tidak besar.
Namun, cukup untuk membuat keluarga Pak Samin bertahan.
Pada pagi pertama Herawati kembali ke sekolah, ia mengenakan seragam yang sudah sedikit pudar. Rambutnya diikat sederhana. Di tangannya, ia membawa buku-buku yang sebagian besar sudah lama.
Ketika sampai di depan sekolah, Dedi dan Susanti sudah menunggunya.
Susanti tersenyum lebar.
“Akhirnya kamu kembali.”
Herawati membalas senyum itu.
“Aku kembali.”
Dedi memandang sahabatnya.
“Kita masih punya janji.”
Herawati mengangguk.
“Kita masih punya janji.”
Mereka bertiga lalu berjalan masuk ke kelas.
Di belakang mereka, matahari pagi mulai menyinari halaman sekolah yang masih basah oleh embun. Tidak ada yang tahu seberapa panjang jalan yang akan mereka lalui setelah hari itu.
Namun, satu hal telah mereka buktikan.
Bahwa ketika satu orang hampir jatuh, persahabatan dan kepedulian dapat menjadi tangan yang menahannya.
Dan bagi Herawati, bantuan kecil dari warga Desa Suka Jaya bukan hanya membuat keluarganya bertahan.
Bantuan itu juga menjaga sebuah mimpi agar tidak padam terlalu cepat.
BAB XIV
Fitnah Pertama
Sejak Herawati kembali bersekolah, kehidupan di Desa Suka Jaya perlahan terlihat lebih tenang.
Pak Samin memang belum sepenuhnya pulih. Tubuhnya masih lemah dan ia belum mampu bekerja seperti dahulu. Namun, bantuan kecil dari warga, perhatian Pak Harun, serta ketekunan Wagini membuat keluarga itu tidak lagi merasa menghadapi kesulitan sendirian.
Herawati kembali membawa buku ke sekolah.
Ia kembali duduk di bangkunya, mencatat pelajaran, dan menjawab pertanyaan Pak Harun dengan suara pelan tetapi jelas. Di luar jam sekolah, ia tetap membantu ibunya mencari kayu, memasak, mencuci pakaian, dan menjaga ayahnya.
Dedi juga semakin sering datang ke rumah Herawati.
Kadang ia membawa catatan pelajaran dari sekolah kecamatan. Kadang ia menjelaskan soal berhitung yang belum dipahami Herawati. Kadang ia hanya datang membawa buku bacaan lama dari Pak Harun agar Herawati tidak tertinggal.
Bagi Dedi, itu adalah hal yang wajar.
Ia hanya ingin sahabatnya tetap sekolah.
Namun, tidak semua orang melihatnya seperti itu.
Di halaman sekolah, Ratna memperhatikan Dedi dan Herawati yang sedang duduk di bawah pohon mangga. Dedi menjelaskan beberapa soal matematika dari buku tulisnya. Herawati mendengarkan dengan sungguh-sungguh, sesekali bertanya ketika ada bagian yang belum dipahaminya.
Susanti duduk tidak jauh dari mereka. Ia sedang menyalin catatan, tetapi sesekali ikut memperhatikan pembicaraan Dedi dan Herawati.
Ratna berdiri bersama Mila dan Rukmini di dekat pagar sekolah.
“Lihat mereka,” katanya pelan.
Mila mengikuti arah pandangan Ratna.
“Dedi sedang membantu Herawati belajar.”
Ratna tersenyum tipis.
“Setiap hari selalu begitu.”
Rukmini mengangkat bahu.
“Memangnya kenapa? Mereka berteman sejak kecil.”
Ratna menatap Rukmini dengan tajam.
“Kalian terlalu mudah percaya.”
Mila tampak ragu.
“Ratna, jangan mulai lagi.”
“Aku hanya bicara apa yang kulihat.”
Ratna lalu berjalan menuju tempat beberapa anak perempuan sedang bermain lompat tali. Ia tidak langsung menyampaikan apa yang ada di pikirannya. Ia hanya membuka percakapan dengan kalimat-kalimat kecil.
“Herawati beruntung sekali,” katanya sambil memandang ke arah Dedi.
“Beruntung kenapa?” tanya salah seorang anak.
“Dedi selalu datang ke rumahnya. Selalu membawa buku. Selalu menemaninya.”
Anak itu mengangguk tanpa berpikir panjang.
“Mungkin karena Herawati hampir berhenti sekolah.”
Ratna tersenyum.
“Mungkin.”
Ia berhenti sejenak, seolah tidak ingin berkata lebih jauh.
“Tapi anak perempuan dan anak laki-laki kalau terlalu sering bersama, orang-orang bisa bicara macam-macam.”
Kalimat itu terdengar ringan.
Namun, setelah diucapkan, kalimat itu mulai berjalan dari satu telinga ke telinga lain.
Di warung kecil dekat jalan desa, seorang ibu berkata kepada ibu lain bahwa Dedi sering datang ke rumah Herawati. Di tempat mencuci pakaian dekat sungai, beberapa perempuan mulai membicarakan kedekatan dua anak itu. Di halaman rumah, anak-anak mengulang kata-kata yang mereka dengar tanpa benar-benar memahami artinya.
“Katanya Dedi dan Herawati sudah dekat sekali.”
“Katanya Dedi sering datang saat ayah Herawati sakit.”
“Katanya mereka selalu belajar berdua.”
Cerita itu berubah sedikit demi sedikit.
Tidak ada yang tahu dari mana mulanya.
Namun, di desa kecil, kabar yang tidak jelas sering kali bergerak lebih cepat daripada kebenaran.
Suatu sore, Dedi datang ke rumah Herawati membawa buku pelajaran bahasa Indonesia. Pak Harun memintanya membantu Herawati mengejar pelajaran yang tertinggal selama ayahnya sakit.
Di teras rumah, Herawati duduk dengan buku tulis di pangkuannya. Wagini sedang memasak di dapur. Pak Samin berbaring di dalam kamar, tetapi hari itu tubuhnya tampak sedikit lebih kuat.
Dedi membuka buku.
“Ini bagian yang kemarin Pak Harun jelaskan,” katanya. “Tentang membuat kalimat.”
Herawati mengangguk.
“Aku sudah mencoba, tapi masih bingung membedakan kalimat berita dan kalimat tanya.”
Dedi tersenyum.
“Tidak apa-apa. Kita coba pelan-pelan.”
Mereka mulai belajar.
Tidak lama kemudian, seorang tetangga lewat di depan rumah. Ia melihat Dedi dan Herawati duduk di teras. Ia tidak berhenti, tetapi pandangannya cukup lama tertuju kepada mereka.
Beberapa saat setelah itu, Pak Samin keluar dari kamar.
Wajahnya masih pucat, tetapi ia berdiri dengan bantuan tongkat kayu. Ketika melihat Dedi duduk bersama Herawati, wajahnya tidak langsung berubah. Ia mengenal Dedi sebagai anak Karsa yang rajin dan sopan.
Namun, sore itu, ia telah mendengar sesuatu.
Sebelumnya, seorang warga datang menjenguknya dan tanpa sengaja membawa kabar yang beredar di desa.
“Pak Samin harus hati-hati,” kata warga itu. “Orang-orang mulai bicara soal Dedi dan Herawati. Jangan sampai nama anak perempuan jadi bahan pembicaraan.”
Kata-kata itu terus tinggal di kepala Pak Samin.
Ia memandang Dedi yang sedang menjelaskan pelajaran kepada Herawati.
“Dedi,” panggilnya.
Dedi segera berdiri.
“Iya, Pak.”
Pak Samin memandangnya dengan wajah keras.
“Kamu sering datang ke sini?”
Dedi terdiam sejenak.
“Kadang, Pak. Saya membantu Herawati belajar.”
“Kenapa harus kamu yang membantu?”
Dedi menunduk sopan.
“Karena saya punya catatan dari sekolah kecamatan. Pak Harun juga meminta saya membantu supaya Herawati tidak tertinggal.”
Pak Samin menggenggam tongkatnya lebih erat.
“Kamu tahu orang-orang mulai bicara?”
Herawati menoleh cepat kepada ayahnya.
“Yah, Dedi hanya membantu aku.”
Pak Samin mengangkat tangan, meminta Herawati diam.
“Di desa ini, nama baik seorang anak perempuan harus dijaga,” katanya. “Kamu mungkin tidak punya maksud buruk, Dedi. Tapi orang lain tidak selalu melihat seperti itu.”
Dedi merasa wajahnya panas.
Ia tidak pernah membayangkan bantuannya akan menjadi bahan pembicaraan. Ia datang karena ingin menjaga janji di bawah pohon beringin. Ia datang karena tidak ingin Herawati kehilangan sekolahnya.
Namun, ia juga memahami bahwa Pak Samin sedang berusaha melindungi anaknya.
“Saya mengerti, Pak,” kata Dedi pelan.
Pak Samin menatapnya.
“Kalau mengerti, jangan terlalu sering datang.”
Herawati berdiri.
“Ayah, ini tidak adil.”
“Herawati,” suara Pak Samin lebih tegas. “Masuk ke dalam.”
“Tapi Dedi tidak salah.”
“Masuk.”
Herawati menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca. Ia lalu memandang Dedi. Ada rasa bersalah di wajahnya, seolah ia takut Dedi merasa dipermalukan.
Dedi menggeleng kecil.
Ia ingin mengatakan bahwa ia tidak marah.
Namun, kata-kata itu tidak keluar.
Ia hanya mengambil bukunya dan menatap Pak Samin dengan sopan.
“Maaf kalau kedatangan saya membuat Bapak tidak nyaman,” katanya. “Saya tidak pernah berniat membuat Herawati menjadi bahan pembicaraan. Saya hanya ingin dia tetap sekolah.”
Pak Samin tidak menjawab.
Dedi melanjutkan, suaranya tetap tenang meski dadanya terasa sesak.
“Kalau Bapak tidak ingin saya datang lagi, saya akan menghormatinya. Tetapi kalau Herawati membutuhkan catatan atau buku, saya akan menitipkannya melalui Susanti atau Pak Harun.”
Wagini yang sejak tadi berdiri di dapur akhirnya keluar.
Ia memandang Dedi dengan mata yang lembut.
“Kamu anak baik, Ded,” katanya pelan. “Jangan terlalu dipikirkan.”
Dedi mengangguk.
“Terima kasih, Bu.”
Ia lalu berpamitan.
Ketika Dedi berjalan meninggalkan rumah itu, Herawati berdiri di ambang pintu. Ia ingin memanggilnya, tetapi tidak berani melawan ayahnya. Ia hanya melihat punggung Dedi menjauh di jalan tanah yang mulai berwarna jingga oleh cahaya sore.
Di sepanjang jalan pulang, Dedi tidak merasa marah kepada Pak Samin.
Ia justru merasa sedih.
Ia baru menyadari bahwa kebaikan tidak selalu diterima dengan mudah. Kadang, niat yang tulus dapat berubah menjadi masalah ketika dibungkus oleh cerita orang lain.
Di bawah pohon beringin, Susanti sudah menunggunya.
Ia melihat wajah Dedi yang muram dan segera tahu bahwa sesuatu telah terjadi.
“Kamu dari rumah Herawati?” tanyanya.
Dedi mengangguk.
“Pak Samin marah.”
“Kenapa?”
“Karena orang-orang membicarakan aku dan Herawati.”
Susanti terdiam.
Ia pernah mendengar bisik-bisik itu di sekolah. Namun, ia tidak menyangka kabar tersebut sampai ke telinga Pak Samin.
“Siapa yang menyebarkannya?” tanya Susanti.
Dedi menggeleng.
“Aku tidak tahu.”
Susanti menunduk.
Namun, di dalam pikirannya, nama Ratna muncul tanpa diminta.
“Aku akan bicara dengan Ratna,” katanya.
Dedi menatapnya.
“Jangan.”
“Kalau memang dia yang memulai, dia harus tahu akibatnya.”
“Jangan membuat masalah lebih besar,” kata Dedi. “Aku tidak ingin Herawati semakin sulit.”
Susanti menggenggam tangan di pangkuannya.
Ia ingin membela Dedi.
Ia ingin membela Herawati.
Namun, ia juga tahu bahwa Dedi benar. Kadang, melawan kabar buruk dengan kemarahan hanya membuat kabar itu semakin besar.
Malam itu, Herawati duduk di samping ayahnya.
Pak Samin masih terbaring di tikar. Wajahnya tampak lelah, tetapi matanya tidak lagi sekeras sore tadi.
“Ayah,” kata Herawati pelan, “Dedi tidak pernah melakukan hal yang tidak baik.”
Pak Samin menatap langit-langit rumah.
“Ayah tahu.”
“Kalau Ayah tahu, kenapa Ayah marah?”
Pak Samin menarik napas panjang.
“Karena Ayah takut.”
“Takut apa?”
“Takut orang-orang membuat hidupmu sulit. Anak perempuan sering menjadi sasaran cerita. Sekali nama seseorang dibicarakan, sulit menghentikannya.”
Herawati menunduk.
“Aku hanya ingin sekolah.”
Pak Samin memandang putrinya.
“Ayah juga ingin kamu sekolah. Tetapi Ayah ingin kamu hati-hati.”
Herawati mengangguk perlahan.
Ia memahami kekhawatiran ayahnya, meski hatinya tetap terluka.
Di rumahnya sendiri, Ratna duduk di depan jendela. Dari kejauhan, ia melihat Dedi berjalan pulang seorang diri.
Senyum kecil muncul di wajahnya.
Ia tidak tahu bahwa cerita yang ia mulai telah melukai Herawati, membuat Pak Samin marah, dan membuat Dedi pulang dengan hati yang berat.
Atau mungkin, ia tahu.
Namun, ia memilih tidak peduli.
Baginya, yang penting Dedi dan Herawati tidak lagi terlihat terlalu dekat.
Yang penting, Herawati tidak lagi selalu tersenyum ketika Dedi datang membawa buku.
Malam semakin larut.
Di rumah Dedi, buku pelajaran terbuka di atas lantai, tetapi tidak ada satu pun kata yang benar-benar masuk ke pikirannya. Ia memandangi halaman kosong cukup lama.
Lalu ia mengambil pensil dan menulis sebuah kalimat.
KADANG ORANG YANG INGIN BELAJAR HARUS MELAWAN BUKAN HANYA KESULITAN, TETAPI JUGA CERITA YANG TIDAK BENAR.
Dedi menatap kalimat itu.
Ia belum tahu bahwa fitnah pertama itu hanyalah awal.
Di masa depan, akan ada cerita yang lebih besar, tuduhan yang lebih berat, dan orang-orang yang berusaha membuatnya berhenti.
Namun, malam itu, Dedi hanya seorang anak muda yang sedang belajar memahami bahwa jalan menuju kebaikan tidak selalu lurus dan mudah.
BAB XV
Surat yang Tidak Pernah Terkirim
Sejak kejadian di rumah Herawati, Dedi tidak lagi datang seperti biasanya.
Bukan karena ia berhenti peduli.
Bukan pula karena ia melupakan janji yang pernah dibuat di bawah pohon beringin.
Dedi hanya berusaha menghormati permintaan Pak Samin. Ia tidak ingin kedatangannya kembali menjadi bahan pembicaraan. Ia tidak ingin Herawati semakin sulit menghadapi keluarga dan warga desa yang sudah mulai menaruh pandangan berbeda.
Jika ada buku atau catatan pelajaran yang perlu disampaikan, Dedi menitipkannya melalui Susanti.
Jika Herawati membutuhkan penjelasan tentang pelajaran, Dedi menuliskannya di lembar kertas kecil. Kadang, ia menyelipkan contoh soal. Kadang, ia menulis jawaban dengan huruf yang rapi agar mudah dipahami.
Namun, jarak yang tercipta itu tetap terasa aneh.
Di sekolah, Herawati lebih banyak diam.
Dedi juga tidak lagi duduk terlalu dekat dengannya. Ketika mereka bertemu di jalan, mereka hanya saling tersenyum sebentar. Tidak ada lagi percakapan panjang seperti dahulu. Tidak ada lagi waktu belajar di teras rumah Herawati.
Susanti melihat semua perubahan itu.
Ia melihat bagaimana Herawati menunggu buku catatan dari Dedi dengan mata yang penuh harap. Ia juga melihat Dedi sering menoleh ke arah Herawati, tetapi segera mengalihkan pandangan ketika sadar ada orang lain yang memperhatikan.
Susanti memahami bahwa keduanya sedang berusaha menjaga perasaan.
Namun, ia juga memahami sesuatu yang selama ini berusaha ia sembunyikan dari dirinya sendiri.
Dedi dan Herawati saling menyayangi.
Mungkin mereka belum pernah mengucapkannya.
Mungkin mereka sendiri belum benar-benar mengerti nama dari perasaan itu.
Tetapi Susanti melihatnya dalam cara Dedi selalu memikirkan Herawati. Ia melihatnya dalam cara Herawati tersenyum ketika mendengar nama Dedi disebut. Ia melihatnya dalam kesedihan yang sama-sama mereka simpan ketika fitnah mulai memisahkan mereka.
Sore itu, Susanti duduk sendirian di bawah pohon beringin.
Pohon tua itu masih menjadi tempat yang paling tenang bagi anak-anak Desa Suka Jaya. Angin bergerak pelan di antara daun-daunnya. Cahaya matahari sore jatuh di atas tanah yang mulai mengering setelah hujan beberapa hari terakhir.
Susanti membawa buku catatan kecil berwarna cokelat.
Buku itu tidak istimewa. Sampulnya sudah sedikit kusam. Beberapa halamannya bahkan mulai lepas dari jahitan. Namun, bagi Susanti, buku itu menyimpan banyak hal yang tidak pernah ia katakan kepada siapa pun.
Ia membuka halaman kosong.
Tangannya memegang pensil cukup lama.
Lalu ia mulai menulis.
Dedi,
Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai merasa takut kehilanganmu. Mungkin sejak kita sering bermain bersama di bawah pohon ini. Mungkin sejak kamu selalu membuat kami percaya bahwa sekolah adalah jalan untuk mengubah hidup.
Aku tahu kamu lebih sering memikirkan Herawati. Aku juga tahu kamu selalu ingin membantunya. Karena itu, aku tidak ingin menjadi orang yang membuatmu bingung atau membuat persahabatan kita berubah.
Tetapi aku ingin kamu tahu, aku bangga mengenalmu. Aku bangga karena kamu tidak mudah menyerah. Aku bangga karena kamu selalu memikirkan orang lain, bahkan ketika hidupmu sendiri tidak mudah.
Jika suatu hari kamu membaca surat ini, mungkin aku sudah cukup berani untuk mengatakannya. Tetapi jika tidak, biarlah surat ini menjadi rahasia antara aku dan pohon beringin yang pernah menyimpan janji kita.
Dari sahabatmu,
Susanti.
Setelah selesai menulis, Susanti membaca surat itu perlahan.
Setiap kata membuat dadanya terasa semakin sesak.
Ia ingin menulis lebih banyak. Ia ingin mengatakan bahwa selama ini ia selalu menunggu Dedi pulang dari sekolah kecamatan. Ia ingin mengatakan bahwa ia sering merasa senang ketika Dedi meminta bantuannya. Ia ingin mengatakan bahwa ia ingin menjadi orang yang paling dekat dengan Dedi.
Namun, ia tidak sanggup.
Ia menutup buku catatan itu.
“Apa yang sedang kamu tulis?”
Suara Dedi membuat Susanti terkejut.
Ia segera menutup bukunya rapat-rapat dan menaruhnya di pangkuan.
“Tidak ada,” jawabnya cepat.
Dedi duduk tidak jauh darinya.
“Kamu menulis cerita?”
Susanti tersenyum kecil.
“Mungkin.”
“Cerita tentang apa?”
“Cerita yang tidak perlu dibaca orang lain.”
Dedi mengangguk, tidak memaksa.
Ia memandang jalan desa yang mulai sepi. Wajahnya tampak lebih muram daripada biasanya.
“Kamu sedang memikirkan Herawati?” tanya Susanti.
Dedi tidak langsung menjawab.
“Aku hanya tidak ingin dia berhenti sekolah,” katanya akhirnya. “Tapi sekarang aku takut apa pun yang kulakukan malah membuatnya semakin susah.”
Susanti menatapnya.
“Kamu sudah melakukan banyak hal untuknya.”
“Tapi itu belum cukup.”
“Tidak semua masalah harus kamu tanggung sendiri, Ded.”
Dedi tersenyum tipis.
“Aku tahu. Tapi kadang aku merasa kalau aku diam, berarti aku membiarkan orang lain menyerah.”
Susanti menggenggam buku catatan di pangkuannya.
Ia ingin berkata bahwa Dedi tidak perlu memikirkan Herawati seorang diri. Ia ingin berkata bahwa ada dirinya yang juga selalu ada. Namun, kalimat itu hanya berputar di dalam hati.
“Herawati tidak akan menyerah,” kata Susanti pelan. “Dia kuat.”
Dedi menoleh.
“Kamu yakin?”
Susanti mengangguk.
“Karena dia punya alasan untuk tetap bertahan.”
Dedi memandang Susanti cukup lama.
“Terima kasih, San.”
Hanya dua kata.
Namun, bagi Susanti, dua kata itu terasa seperti sesuatu yang sangat berharga sekaligus menyakitkan.
Ia membalas dengan senyum.
“Sama-sama.”
Mereka duduk cukup lama di bawah pohon beringin tanpa banyak bicara. Dedi kemudian berpamitan pulang karena harus membantu ayahnya di kebun. Sebelum pergi, ia menepuk pelan bahu Susanti.
“Jangan terlalu lama di sini. Sebentar lagi gelap.”
Susanti mengangguk.
Setelah Dedi pergi, ia kembali membuka buku catatannya.
Ia membaca surat itu sekali lagi.
Lalu ia melipat halaman tersebut perlahan, tanpa merobeknya. Ia tidak ingin surat itu hilang. Ia hanya belum siap jika suatu hari Dedi benar-benar membacanya.
Ia menyelipkan buku itu di antara tumpukan catatan pelajaran.
Di rumah, Susanti menyimpan buku tersebut di dalam kotak kayu kecil di bawah tempat tidurnya. Kotak itu tidak memiliki kunci. Namun, ia merasa cukup aman karena tidak ada seorang pun di rumah yang biasa membukanya.
Malam hari, ketika rumah sudah sunyi, Susanti kembali mengambil buku itu.
Ia memandangi sampulnya dalam cahaya lampu minyak.
“Maaf,” bisiknya pelan, entah kepada Dedi, entah kepada dirinya sendiri.
Ia tahu bahwa menyimpan perasaan bukanlah hal mudah.
Ada saat-saat ketika ia ingin menangis karena melihat Dedi dan Herawati saling memperhatikan dari kejauhan. Ada saat ketika ia ingin marah kepada Ratna karena fitnahnya membuat semua orang terluka. Ada pula saat ketika ia ingin bertanya kepada Dedi, apakah ia pernah melihat Susanti lebih dari sekadar sahabat.
Namun, Susanti memilih diam.
Ia tidak ingin menambah beban Dedi.
Ia tidak ingin merusak persahabatan yang sudah tumbuh sejak kecil.
Ia juga tidak ingin menjadi alasan Herawati merasa tersisih.
Keesokan harinya, Susanti kembali menjalani hari seperti biasa.
Ia pergi ke sekolah.
Ia membantu Herawati mengejar pelajaran yang tertinggal.
Ia menerima catatan dari Dedi untuk disampaikan kepada Herawati.
Dan ia tersenyum ketika Dedi bertanya apakah Herawati sudah memahami pelajaran.
“Sudah,” jawab Susanti. “Dia belajar sungguh-sungguh.”
Dedi tampak lega.
Susanti memandang wajah sahabatnya itu.
Di dalam hati, ia berkata bahwa selama Dedi bahagia, ia akan berusaha tetap tersenyum.
Meskipun senyum itu kadang harus menutupi luka yang tidak diketahui siapa pun.
Di dalam kotak kayu kecil di bawah tempat tidurnya, surat itu tetap tersimpan.
Tidak terkirim.
Tidak terbaca.
Namun, surat itu menjadi saksi pertama bahwa Susanti mulai belajar mencintai dalam diam.
Dan dari situlah, perlahan-lahan, ia juga belajar bahwa tidak semua perasaan harus dimiliki untuk dapat dihargai.
BAB XVI
Kepergian Pak Harun
Pagi itu, halaman sekolah Desa Suka Jaya terasa lebih sepi daripada biasanya.
Tidak ada suara Pak Harun yang memanggil murid-murid untuk segera masuk kelas. Tidak terdengar pula bunyi penggaris kayu yang biasa diketukkannya pelan ke meja sebagai tanda pelajaran akan dimulai.
Pintu kelas masih tertutup.
Beberapa murid berdiri di halaman sambil saling bertanya. Ada yang membawa buku di dada, ada yang duduk di bawah pohon mangga, dan ada pula yang hanya memandang jalan setapak menuju sekolah dengan wajah bingung.
Dedi datang lebih awal dari sekolah kecamatan karena hari itu kegiatan belajar di sana diliburkan. Ia ingin menemui Pak Harun untuk meminjam buku sejarah yang pernah dijanjikan kepadanya.
Namun, ketika sampai di halaman sekolah, ia melihat Herawati dan Susanti sudah berdiri di dekat pagar.
“Kenapa sekolah belum dibuka?” tanya Dedi.
Herawati menggeleng.
“Aku tidak tahu. Dari tadi tidak ada Pak Harun.”
Susanti memandang ke arah rumah kecil di belakang sekolah, tempat Pak Harun tinggal seorang diri.
“Aku dengar beliau sudah beberapa hari sakit,” katanya pelan.
Dedi menoleh.
“Sakit apa?”
“Katanya demam dan batuknya semakin parah,” jawab Susanti. “Bu Rini tadi bilang Pak Harun sudah tidak keluar rumah sejak kemarin.”
Dedi langsung memandang rumah Pak Harun.
Rumah itu sederhana, berdinding papan, dengan halaman kecil yang dipenuhi beberapa pot bunga. Biasanya, Pak Harun selalu terlihat menyiram tanaman pada pagi hari sebelum mengajar. Namun, hari itu halaman rumahnya tampak sunyi.
“Aku mau melihat beliau,” kata Dedi.
Herawati mengangguk.
“Aku ikut.”
Susanti pun ikut berjalan bersama mereka.
Ketika sampai di depan rumah Pak Harun, Dedi mengetuk pintu perlahan.
“Pak Harun,” panggilnya. “Ini Dedi.”
Tidak ada jawaban.
Dedi mengetuk sekali lagi.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara pelan dari dalam.
“Masuklah.”
Pintu rumah tidak terkunci.
Dedi membuka pintu perlahan. Bau minyak kayu putih dan obat tradisional memenuhi ruangan kecil itu. Pak Harun terbaring di atas ranjang kayu. Wajahnya pucat. Tubuhnya tampak jauh lebih kurus daripada beberapa minggu sebelumnya.
Di samping ranjang, ada segelas air dan beberapa lembar kain basah.
“Pak,” kata Dedi sambil mendekat. “Bapak sakit?”
Pak Harun tersenyum lemah.
“Sedikit tua, sedikit lelah, dan sedikit sakit. Itu saja.”
Herawati menahan air mata.
“Kenapa Bapak tidak meminta bantuan warga?”
Pak Harun memandang Herawati dengan tenang.
“Tidak ingin merepotkan siapa pun.”
“Bapak tidak merepotkan,” kata Susanti. “Kami bisa membantu.”
Pak Harun memandang ketiganya bergantian.
Di wajahnya muncul senyum tipis.
“Kalian bertiga masih seperti dulu. Selalu datang bersama.”
Dedi duduk di dekat ranjang.
“Pak, saya akan memanggil mantri.”
Pak Harun menggeleng pelan.
“Sudah ada yang datang kemarin. Katanya Bapak harus banyak beristirahat.”
“Tapi Bapak harus sembuh,” kata Dedi. “Sekolah membutuhkan Bapak.”
Pak Harun memejamkan mata sesaat.
“Sekolah tidak boleh bergantung pada satu orang, Ded.”
Kalimat itu membuat Dedi diam.
Pak Harun membuka mata kembali.
“Sekolah harus hidup di hati orang-orang yang percaya bahwa ilmu itu penting.”
Dedi menunduk.
Ia tidak menyukai cara Pak Harun berbicara pagi itu. Ada sesuatu dalam suaranya yang terdengar seperti pesan perpisahan.
Sejak hari itu, Dedi, Herawati, dan Susanti bergantian datang ke rumah Pak Harun.
Herawati membantu membersihkan rumah dan menyiapkan air hangat. Susanti membawa makanan dari rumahnya. Dedi mengambilkan obat dari kecamatan dan membantu mengurus halaman kecil yang mulai dipenuhi daun kering.
Warga desa juga mulai datang.
Pak Warto membawa bubur hangat.
Bu Rini membawa sayur bening.
Wagini datang bersama Herawati untuk mengganti kain kompres.
Namun, keadaan Pak Harun tidak semakin baik.
Batuknya semakin sering. Napasnya semakin pendek. Tubuhnya semakin lemah.
Pada suatu sore, ketika langit mulai berubah jingga, Pak Harun meminta Dedi datang sendiri ke rumahnya.
Dedi segera berlari dari rumah setelah mendengar pesan itu dari Susanti.
Ketika tiba, Pak Harun sedang duduk bersandar di ranjang. Di pangkuannya ada sebuah tumpukan buku yang diikat dengan tali kain.
“Ayo duduk, Ded,” katanya.
Dedi duduk di samping ranjang.
“Bapak memanggil saya?”
Pak Harun mengangguk.
“Bapak ingin memberikan sesuatu.”
Ia mengangkat tumpukan buku itu dengan tangan yang gemetar.
Buku-buku tersebut sudah tua. Sebagian sampulnya kusam. Beberapa halaman mulai menguning. Namun, Dedi mengenali beberapa judul yang pernah dilihatnya di lemari sekolah.
Ada buku tentang sejarah.
Ada buku tentang pertanian.
Ada buku kumpulan cerita rakyat.
Ada pula buku tentang cara mengajar anak-anak membaca.
“Ini buku-buku Bapak,” kata Dedi pelan.
“Sekarang, buku-buku itu untukmu.”
Dedi terkejut.
“Untuk saya?”
Pak Harun mengangguk.
“Kamu selalu membaca lebih lama daripada murid lain. Kamu selalu bertanya tentang hal-hal yang belum kamu pahami. Kamu juga selalu memikirkan bagaimana anak-anak desa bisa belajar.”
Dedi memandang tumpukan buku itu.
“Tapi saya tidak pantas menerimanya, Pak.”
“Kamu pantas,” jawab Pak Harun. “Buku tidak seharusnya hanya disimpan di lemari. Buku harus dibaca, dipahami, dan dibagikan.”
Dedi menggenggam tali kain yang mengikat buku-buku itu.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Pak Harun menarik napas perlahan.
“Dedi, dengarkan Bapak.”
“Iya, Pak.”
“Jangan pernah meninggalkan pendidikan.”
Dedi mengangkat wajah.
“Bapak tahu hidupmu tidak mudah. Bapak tahu keluargamu tidak punya banyak uang. Bapak juga tahu nanti akan ada orang-orang yang meremehkanmu, menghalangimu, atau membuatmu lelah.”
Dedi terdiam.
“Tetapi jangan tinggalkan pendidikan,” lanjut Pak Harun. “Karena pendidikan bukan hanya untuk membuatmu punya pekerjaan. Pendidikan membuatmu mampu melihat ketidakadilan. Pendidikan membuatmu tidak mudah ditipu. Pendidikan membuatmu bisa menolong orang lain.”
Air mata Dedi jatuh tanpa dapat ditahan.
“Saya akan ingat, Pak.”
Pak Harun tersenyum.
“Bukan hanya ingat. Jalankan.”
Dedi mengangguk.
“Saya janji.”
Pak Harun menatapnya cukup lama.
“Kalau suatu hari kamu berhasil, jangan lupa kembali ke desa.”
Dedi menggenggam tangan gurunya.
“Saya akan kembali, Pak.”
Malam itu, kondisi Pak Harun semakin menurun.
Warga mulai berdatangan ke rumahnya. Herawati dan Susanti duduk di luar kamar bersama beberapa murid lain. Tidak ada yang banyak berbicara. Semua orang seperti sedang menunggu sesuatu yang tidak ingin mereka terima.
Menjelang tengah malam, Pak Harun mengembuskan napas terakhir.
Suara tangis mulai terdengar dari rumah kecil itu.
Dedi berdiri di dekat ranjang dengan wajah pucat. Ia masih memegang salah satu buku pemberian Pak Harun. Buku itu berjudul tentang pendidikan rakyat, dengan sampul yang sudah sobek di bagian sudut.
Ia tidak menangis keras.
Namun, air mata terus jatuh dari matanya.
Baginya, Pak Harun bukan hanya guru.
Pak Harun adalah orang pertama yang membuatnya percaya bahwa anak desa pun berhak memiliki mimpi besar. Pak Harun adalah orang yang mengajarinya bahwa buku dapat membuka jalan ke mana saja. Pak Harun juga orang yang melihat keinginannya untuk membantu anak-anak lain belajar.
Keesokan harinya, seluruh Desa Suka Jaya mengantar Pak Harun ke tempat peristirahatan terakhir.
Halaman sekolah dipenuhi murid-murid yang mengenakan pakaian sederhana. Banyak dari mereka membawa bunga liar dari kebun. Tidak ada pidato panjang. Tidak ada upacara besar.
Namun, ketika peti sederhana itu diangkat, suasana menjadi sangat hening.
Dedi berdiri di samping Herawati dan Susanti.
Herawati menangis tanpa suara.
Susanti memegang tangan sahabatnya.
Dedi memandangi tanah yang perlahan menutup makam Pak Harun.
Di dalam dadanya, ada rasa kehilangan yang sulit dijelaskan.
Seolah sebagian dari cahaya di sekolah itu ikut pergi bersama gurunya.
Setelah pemakaman selesai, Dedi berjalan sendiri menuju sekolah.
Ia masuk ke ruang kelas yang kini kosong. Di meja Pak Harun masih ada kapur tulis, penggaris kayu, dan buku daftar hadir. Semuanya terlihat seperti menunggu pemiliknya kembali.
Dedi duduk di kursi depan.
Ia membuka salah satu buku yang diberikan Pak Harun.
Di halaman pertama, terdapat tulisan tangan Pak Harun.
Untuk Dedi Kusnadi.
Jangan biarkan anak-anak desa kehilangan cahaya karena mereka tidak memiliki kesempatan belajar.
Dedi membaca tulisan itu berkali-kali.
Kemudian, ia menutup buku tersebut dan memeluknya di dada.
Di dalam hati, ia kembali mengucapkan janji.
Ia akan tetap sekolah.
Ia akan tetap belajar.
Ia akan kembali ke desa.
Dan suatu hari nanti, ia akan membuat tempat belajar bagi anak-anak yang tidak memiliki kesempatan.
Kepergian Pak Harun memang meninggalkan luka besar.
Namun, dari luka itu, tumbuh tekad yang lebih kuat.
Tekad seorang anak desa yang mulai memahami bahwa pendidikan bukan sekadar jalan untuk mengubah hidupnya sendiri.
Pendidikan adalah jalan untuk menyalakan cahaya bagi banyak orang.
BAB XVII
Kota yang Menjanjikan
Hari-hari setelah kepergian Pak Harun terasa berbeda bagi Dedi.
Sekolah Desa Suka Jaya masih berdiri seperti biasa. Papan tulisnya masih tergantung di dinding. Bangku-bangkunya masih tersusun rapi. Halaman sekolah masih dipenuhi jejak kaki anak-anak setiap pagi.
Namun, tanpa Pak Harun, tempat itu seperti kehilangan suara yang selama ini menghidupkannya.
Tidak ada lagi nasihat sederhana yang selalu membuat Dedi berpikir lebih jauh. Tidak ada lagi tangan tua yang membetulkan cara murid memegang pensil. Tidak ada lagi guru yang selalu berkata bahwa anak desa tidak boleh merasa kecil hanya karena lahir jauh dari kota.
Dedi menyimpan buku-buku peninggalan Pak Harun dengan sangat hati-hati.
Ia membungkusnya dengan kain agar tidak terkena debu. Setiap malam, setelah membantu ayahnya di kebun atau membantu ibunya mengambil air, ia membuka salah satu buku itu di bawah cahaya lampu minyak.
Ia membaca tentang sejarah.
Ia membaca tentang pertanian.
Ia membaca tentang masyarakat yang berubah karena pendidikan.
Dan ia membaca tentang orang-orang yang tetap bertahan meski hidup mereka tidak mudah.
Semakin banyak ia membaca, semakin kuat keinginannya untuk melanjutkan sekolah.
Namun, keinginan itu kembali bertemu dengan kenyataan.
Untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi, Dedi harus pergi ke kota kecamatan. Sekolah yang dapat menerimanya berada cukup jauh dari Desa Suka Jaya. Jalan menuju kota tidak dapat ditempuh setiap hari dengan mudah, terutama ketika musim hujan datang dan jalan tanah berubah menjadi lumpur.
Artinya, Dedi harus tinggal di kota.
Ia harus jauh dari ayah dan ibunya.
Ia harus meninggalkan Herawati dan Susanti.
Ia harus menghadapi kehidupan baru tanpa tahu apa yang menunggunya.
Suatu sore, Kepala Sekolah dari kecamatan datang ke Desa Suka Jaya. Ia membawa beberapa berkas dan berbicara dengan beberapa orang tua murid yang memiliki anak berprestasi.
Dedi dipanggil ke ruang kelas.
Di sana, Kepala Sekolah duduk bersama Pak Jaya, guru pengganti yang mulai mengajar setelah Pak Harun meninggal.
“Dedi,” kata Kepala Sekolah, “kami sudah melihat hasil belajarmu.”
Dedi berdiri dengan gugup.
“Iya, Pak.”
“Kamu memiliki nilai yang baik. Kamu juga dikenal rajin dan tidak mudah menyerah.”
Dedi menunduk.
“Terima kasih, Pak.”
“Kami ingin menawarkan kesempatan kepadamu untuk melanjutkan sekolah ke kota kecamatan.”
Dedi mengangkat wajah.
“Ke kota?”
Kepala Sekolah mengangguk.
“Ada program bantuan bagi beberapa murid dari desa. Biaya sekolahmu akan diringankan. Tetapi kamu tetap harus menyiapkan kebutuhan hidup sendiri, termasuk tempat tinggal dan makan.”
Dedi terdiam.
Kesempatan itu seperti pintu yang selama ini ia tunggu.
Namun, pintu itu juga terbuka menuju jalan yang belum pernah ia kenal.
“Bapak tidak memaksa,” lanjut Kepala Sekolah. “Bicarakan dulu dengan orang tuamu. Tetapi jangan terlalu lama. Pendaftaran akan ditutup dalam dua minggu.”
Dedi mengangguk.
“Iya, Pak. Saya akan membicarakannya dengan orang tua saya.”
Ketika pulang ke rumah, Dedi tidak langsung menyampaikan kabar itu.
Ia membantu Karsa mengangkat kayu bakar dari halaman. Ia membantu Marni menimba air dari sumur. Ia melakukan semua pekerjaan seperti biasa, tetapi pikirannya terus tertuju pada kesempatan yang baru saja datang.
Malam hari, ketika mereka makan dengan lauk sederhana, Dedi akhirnya memberanikan diri bicara.
“Pak, Bu,” katanya pelan, “tadi Kepala Sekolah datang.”
Karsa berhenti makan.
“Ada apa?”
“Ada kesempatan untuk melanjutkan sekolah ke kota kecamatan.”
Marni menatap anaknya.
“Ke kota?”
Dedi mengangguk.
“Biaya sekolahnya akan dibantu. Tapi aku harus tinggal di sana.”
Suasana di dalam rumah mendadak sunyi.
Karsa memandangi wajah Dedi cukup lama.
“Berapa lama sekolahnya?”
“Beberapa tahun, Pak.”
“Dan kamu akan pulang kapan?”
“Mungkin saat libur. Atau kalau ada keperluan.”
Marni menunduk. Tangannya memegang ujung kain di pangkuannya.
Ia bangga mendengar anaknya mendapat kesempatan. Namun, membayangkan Dedi tinggal jauh dari rumah membuat hatinya terasa berat.
“Kota itu jauh,” kata Marni.
“Iya, Bu.”
“Kamu belum pernah tinggal sendiri.”
“Aku akan belajar.”
Karsa menarik napas panjang.
“Di kota, hidup tidak mudah.”
“Aku tahu, Pak.”
“Kamu akan bertemu banyak orang. Tidak semuanya baik.”
“Aku akan hati-hati.”
Marni memandang Dedi dengan mata berkaca-kaca.
“Kalau kamu sakit, siapa yang akan menjagamu?”
Dedi menunduk.
“Aku akan menjaga diri, Bu.”
Karsa lalu memandang lampu minyak yang menyala kecil di tengah ruangan.
“Ayah ingin kamu sekolah,” katanya. “Dari dulu Ayah ingin kamu punya hidup yang lebih baik.”
Dedi mengangkat wajah.
“Tapi Ayah juga tahu,” lanjut Karsa, “pergi dari desa berarti kamu akan menghadapi banyak hal sendirian.”
Dedi mengangguk.
“Aku tidak akan melupakan rumah ini, Pak.”
Marni mengusap matanya.
“Kamu benar-benar ingin pergi?”
Dedi terdiam cukup lama.
Ia teringat pesan Pak Harun.
Jangan pernah meninggalkan pendidikan.
Ia teringat janji di bawah pohon beringin.
Ia teringat seragam yang dibeli dari gelang peninggalan neneknya.
“Aku ingin pergi, Bu,” jawabnya akhirnya. “Bukan karena aku tidak sayang desa ini. Aku ingin belajar supaya suatu hari nanti aku bisa kembali dan membantu desa.”
Karsa memandang anaknya dengan mata yang mulai basah.
“Kalau begitu, pergilah.”
Dedi menahan napas.
“Pak?”
“Pergilah belajar,” kata Karsa lebih tegas. “Jangan takut karena kita miskin. Jangan malu karena kamu anak desa. Bawa nama baik keluarga. Bawa pesan Pak Harun. Dan jangan lupa pulang.”
Dedi mengangguk cepat.
“Iya, Pak.”
Marni kemudian mendekat dan memegang kepala anaknya.
“Kalau di kota kamu merasa lelah, ingat rumah,” katanya. “Ingat bahwa ada Ibu dan Ayah yang selalu menunggumu.”
Dedi tidak sanggup menjawab.
Ia hanya menggenggam tangan ibunya.
Kabar bahwa Dedi akan pergi ke kota segera menyebar di Desa Suka Jaya.
Sebagian warga merasa bangga.
“Anak Karsa memang rajin,” kata Pak Warto. “Semoga dia berhasil.”
Sebagian lagi merasa heran.
“Anak desa mau sekolah jauh-jauh, memang nanti bisa jadi apa?” kata seseorang di warung.
Namun, bagi Herawati dan Susanti, kabar itu membawa perasaan yang sulit dijelaskan.
Sore sebelum keberangkatan, mereka bertiga kembali duduk di bawah pohon beringin.
Dedi membawa tas kain sederhana. Di dalamnya sudah tersusun beberapa pakaian, buku-buku peninggalan Pak Harun, alat tulis, serta bekal makanan dari Marni.
Herawati duduk dengan kedua tangan di pangkuan. Wajahnya tampak tenang, tetapi matanya menyimpan kesedihan.
Susanti memegang selembar kain kecil yang baru selesai dijahitnya.
“Aku membuat ini untukmu,” kata Susanti sambil menyerahkan kain tersebut.
Dedi menerimanya.
Kain itu adalah saputangan sederhana dengan jahitan huruf kecil di sudutnya.
D.K.
“Kamu yang menjahit?” tanya Dedi.
Susanti mengangguk.
“Supaya kalau kamu rindu desa, kamu punya sesuatu yang mengingatkanmu.”
Dedi tersenyum.
“Terima kasih, San. Aku akan menyimpannya.”
Herawati kemudian mengeluarkan sebuah buku tulis baru.
“Aku tidak punya banyak yang bisa kuberikan,” katanya pelan. “Tapi ini untukmu.”
Dedi menerima buku itu.
Di halaman pertama, Herawati telah menulis dengan huruf rapi:
Untuk Dedi. Jangan berhenti menulis tentang mimpimu.
Dedi memandangi tulisan itu cukup lama.
“Terima kasih, Hera.”
Herawati mengangguk.
“Kalau kamu punya waktu, kirim surat.”
“Aku akan kirim.”
“Jangan lupa.”
“Aku tidak akan lupa.”
Susanti memandang mereka berdua. Senyum kecil tetap ada di wajahnya, tetapi di dalam hatinya, surat yang tidak pernah ia kirim kembali terasa berat.
Ia tahu, kepergian Dedi akan membuat banyak hal berubah.
Namun, ia tidak ingin menjadi orang yang menahan langkah sahabatnya.
“Kamu harus berhasil,” kata Susanti.
Dedi memandang kedua sahabatnya.
“Aku akan berusaha.”
Mereka lalu berdiri di bawah pohon beringin yang menjadi saksi begitu banyak janji.
Dedi mengambil biji karet yang selama ini disimpannya di kotak kayu kecil. Ia memperlihatkannya kepada Herawati dan Susanti.
“Kalian masih menyimpan milik kalian?” tanyanya.
Herawati mengangguk.
Susanti juga mengangguk.
“Kalau begitu,” kata Dedi, “janji kita belum berubah.”
Herawati menatapnya.
“Janji untuk membuat tempat belajar?”
“Iya.”
Susanti tersenyum.
“Dan janji untuk tidak menyerah.”
Dedi mengangguk.
“Untuk tidak menyerah.”
Keesokan paginya, Dedi berangkat menuju kota kecamatan.
Karsa mengantarnya sampai ke jalan besar. Marni membawa bekal nasi dan lauk kering dalam wadah kecil. Herawati dan Susanti berdiri tidak jauh dari mereka.
Kendaraan bak terbuka yang akan membawa Dedi menuju kota sudah menunggu. Beberapa penumpang lain duduk di belakang bersama karung hasil kebun dan barang bawaan.
Sebelum naik, Dedi memeluk ibunya.
Marni menangis pelan.
“Jaga diri,” katanya.
“Iya, Bu.”
Karsa menepuk bahu anaknya.
“Belajarlah sungguh-sungguh.”
“Iya, Pak.”
Dedi kemudian menoleh kepada Herawati dan Susanti.
Herawati berusaha tersenyum.
“Jangan lupa surat.”
Dedi mengangguk.
“Tidak akan.”
Susanti mengangkat tangan kecilnya.
“Kalau pulang, jangan jadi sombong.”
Dedi tertawa pelan.
“Aku tidak akan berubah.”
Namun, setelah kendaraan mulai bergerak, tidak ada seorang pun yang benar-benar yakin bahwa semuanya akan tetap sama.
Dedi duduk di belakang kendaraan, memandangi Desa Suka Jaya yang perlahan menjauh.
Ia melihat jalan tanah.
Ia melihat pohon-pohon karet.
Ia melihat atap-atap rumah sederhana.
Dan di kejauhan, ia melihat pohon beringin yang berdiri tegak di dekat batas desa.
Angin pagi menerpa wajahnya.
Di dalam tas kainnya, ada buku-buku Pak Harun, saputangan dari Susanti, dan buku tulis dari Herawati.
Tiga benda sederhana.
Namun, ketiganya membawa kekuatan yang berbeda.
Buku-buku mengingatkannya pada ilmu.
Saputangan mengingatkannya pada persahabatan.
Buku tulis mengingatkannya pada cinta yang tumbuh dalam kesederhanaan.
Kota kecamatan mungkin menjanjikan banyak hal.
Pendidikan.
Pekerjaan.
Kehidupan yang lebih baik.
Namun, Dedi tidak pergi untuk melupakan desa.
Ia pergi agar suatu hari nanti dapat kembali dengan pengetahuan, keberanian, dan kemampuan untuk menyalakan lentera di ujung Desa Suka Jaya.
BAB XVIII
Hidup di Kamar Sempit
Kota kecamatan menyambut Dedi dengan suara yang tidak pernah ia dengar di Desa Suka Jaya.
Ada suara kendaraan yang berlalu-lalang sejak pagi. Ada pedagang yang memanggil pembeli dari pinggir jalan. Ada bunyi sepeda, pintu toko yang dibuka, dan orang-orang yang berjalan cepat seolah selalu memiliki tujuan yang harus segera dicapai.
Dedi duduk di belakang kendaraan bak terbuka sambil memegang tas kainnya erat-erat.
Ketika kendaraan berhenti di dekat pasar, ia turun bersama beberapa penumpang lain. Di hadapannya terbentang jalan yang lebih lebar daripada jalan di desanya. Di kiri dan kanan, berdiri pertokoan kecil, warung makan, kios pakaian, bengkel, serta rumah-rumah yang berdempetan.
Dedi menatap semuanya dengan kagum.
Namun, di balik rasa kagum itu, ada juga rasa takut.
Ia tidak mengenal siapa pun.
Ia tidak tahu jalan mana yang harus dilalui.
Ia tidak tahu apakah kota akan benar-benar memberinya kesempatan atau justru membuatnya tersesat.
Sebelum berangkat, Kepala Sekolah telah memberikan alamat sebuah rumah kos sederhana milik seorang perempuan tua bernama Bu Sari. Rumah itu berada di gang kecil tidak jauh dari sekolah.
Dedi berjalan sambil membawa tas kain dan sebuah bungkusan berisi bekal dari ibunya. Setelah beberapa kali bertanya kepada orang-orang di jalan, akhirnya ia menemukan gang sempit yang dimaksud.
Di ujung gang, berdiri sebuah rumah papan dengan halaman kecil. Cat dindingnya sudah mulai pudar. Di depan rumah, ada jemuran pakaian dan beberapa pot tanaman yang tersusun seadanya.
Dedi menarik napas.
Lalu ia mengetuk pintu.
Seorang perempuan tua keluar dari dalam rumah. Rambutnya sudah memutih dan disanggul sederhana. Wajahnya tampak tegas, tetapi sorot matanya tidak keras.
“Kamu Dedi?” tanyanya.
“Iya, Bu. Saya dari Desa Suka Jaya.”
“Masuklah. Kepala Sekolah sudah memberi tahu.”
Dedi mengikuti Bu Sari masuk ke dalam rumah.
Di bagian belakang rumah, terdapat beberapa kamar kecil yang disewakan kepada pelajar. Lorongnya sempit. Lantainya dari papan. Di beberapa sudut, terlihat ember air dan sandal-sandal yang tersusun tidak rapi.
Bu Sari membuka sebuah pintu.
“Ini kamarmu.”
Dedi memandang ke dalam.
Kamar itu kecil.
Hanya ada satu tikar tipis, sebuah meja kayu pendek, dan jendela kecil yang menghadap ke dinding rumah tetangga. Di sudut ruangan, ada tempat untuk menaruh pakaian. Tidak ada lemari. Tidak ada kursi. Tidak ada lampu listrik yang terang.
Namun, bagi Dedi, kamar itu adalah tempat pertama yang harus ia jadikan rumah.
“Kamu akan tinggal dengan tiga anak lain di kamar ini,” kata Bu Sari. “Mereka sekolah juga. Jangan berisik malam-malam. Air ada di belakang. Kalau mau makan, kamu bisa masak sendiri atau beli di warung.”
Dedi mengangguk.
“Iya, Bu.”
Tidak lama kemudian, tiga penghuni lain masuk ke kamar.
Yang pertama bernama Arman, pelajar dari desa sebelah yang sudah lebih lama tinggal di kota. Tubuhnya tinggi dan wajahnya selalu tampak serius. Yang kedua bernama Rudi, anak pedagang kecil dari pinggiran kota. Ia banyak bicara dan mudah tertawa. Yang terakhir bernama Joko, anak pendiam yang berasal dari daerah jauh di seberang sungai.
“Murid baru?” tanya Rudi.
Dedi mengangguk.
“Namaku Dedi.”
“Aku Rudi,” kata anak itu sambil tersenyum. “Kalau kamu belum tahu jalan ke sekolah, ikut saja besok.”
Arman hanya mengangguk singkat.
“Jangan telat bangun,” katanya. “Bu Sari tidak suka penghuni yang malas.”
Joko tersenyum kecil.
“Kalau butuh air, ambil pagi-pagi. Kalau siang, biasanya sudah habis.”
Dedi mengangguk lagi.
Malam pertama di kamar sempit itu terasa sangat panjang.
Rudi sudah tidur lebih dulu. Arman membaca buku di bawah cahaya lampu kecil. Joko menulis sesuatu di buku catatan. Dedi duduk di atas tikar sambil membuka tas kainnya.
Ia mengeluarkan buku-buku peninggalan Pak Harun.
Ia mengeluarkan saputangan dari Susanti.
Ia mengeluarkan buku tulis dari Herawati.
Kemudian, ia mengambil bungkusan nasi yang dibuat ibunya.
Nasi itu sudah mulai dingin.
Dedi memakannya perlahan sambil menahan rasa rindu yang tiba-tiba datang.
Ia teringat suara ibunya di dapur.
Ia teringat ayahnya yang selalu pulang dengan pakaian penuh lumpur.
Ia teringat Herawati yang meminta agar ia tidak lupa berkirim surat.
Ia teringat Susanti yang berkata agar ia tidak menjadi sombong.
Di kamar sempit itu, Dedi merasa sangat jauh dari rumah.
Namun, ia tidak boleh menyerah.
Keesokan harinya, Dedi mulai masuk sekolah di kota kecamatan.
Sekolah itu jauh lebih besar daripada sekolah di Desa Suka Jaya. Bangunannya berdinding tembok. Kelas-kelasnya banyak. Muridnya berasal dari berbagai desa dan daerah. Ada yang datang dengan sepeda, ada yang diantar orang tua, ada pula yang mengenakan seragam lebih rapi daripada milik Dedi.
Dedi sempat merasa kecil.
Seragamnya sudah mulai pudar karena sering dicuci. Sepatunya sederhana. Tas kainnya tampak berbeda dibanding tas beberapa murid lain.
Namun, ia mengingat kata-kata Karsa.
Jangan malu karena kamu anak desa.
Dedi berjalan masuk ke kelas dengan kepala tegak.
Pelajaran di kota terasa lebih sulit. Guru berbicara lebih cepat. Buku-buku yang digunakan lebih banyak. Tugas yang diberikan pun tidak sedikit.
Pada hari pertama saja, Dedi sudah membawa pulang beberapa pekerjaan rumah.
Ia ingin belajar dengan sungguh-sungguh, tetapi hidup di kota membutuhkan biaya lebih besar daripada yang ia bayangkan.
Bekal dari rumah tidak mungkin cukup lama.
Uang yang dibawa Karsa dan Marni hanya cukup untuk beberapa minggu.
Dedi mulai berpikir tentang pekerjaan.
Suatu sore, ketika berjalan pulang dari sekolah, ia melihat sebuah toko kelontong di dekat pasar. Toko itu menjual beras, gula, minyak goreng, sabun, dan berbagai kebutuhan rumah tangga. Pemiliknya, Pak Darman, sedang mengangkat beberapa karung kecil dari kendaraan.
Dedi berhenti sejenak.
“Pak, perlu bantuan?” tanyanya.
Pak Darman menoleh.
“Kamu siapa?”
“Saya Dedi. Saya sekolah di sini. Kalau Bapak perlu bantuan mengangkat barang, saya bisa membantu.”
Pak Darman memandangi tubuh Dedi yang tidak terlalu besar.
“Kamu kuat?”
Dedi mengangguk.
“Saya biasa membantu Ayah di kebun.”
Pak Darman tersenyum tipis.
“Baiklah. Angkat yang kecil-kecil saja.”
Dedi segera membantu.
Ia mengangkat dus sabun, menata barang di rak, dan menyapu lantai toko. Setelah selesai, Pak Darman memberinya sedikit uang.
“Tidak banyak,” kata Pak Darman. “Tapi kalau kamu mau membantu sore hari setelah sekolah, datang saja.”
Dedi menerima uang itu dengan rasa syukur.
“Terima kasih, Pak.”
Sejak hari itu, Dedi mulai bekerja sebagai penjaga toko pada malam hari.
Setelah pulang sekolah, ia makan seadanya. Kemudian ia berjalan ke toko Pak Darman. Ia menyusun barang, mencatat pesanan sederhana, membantu pembeli membawa belanjaan, dan menutup pintu toko ketika malam semakin larut.
Kadang ia baru kembali ke kamar kos setelah pukul sembilan malam.
Tubuhnya lelah.
Tangannya pegal.
Matanya berat.
Namun, pekerjaan itu memberinya uang untuk membeli makan dan kebutuhan sekolah.
Di kamar, teman-temannya sering sudah tidur ketika Dedi pulang.
Ia menyalakan lampu kecil, lalu membuka buku pelajaran.
Arman pernah memandanginya dengan heran.
“Kamu baru pulang kerja, masih mau belajar?”
Dedi mengangguk.
“Besok ada pelajaran.”
“Kamu bisa belajar besok pagi.”
“Kalau besok pagi aku harus mengambil air dan bersiap ke sekolah.”
Arman tidak menjawab.
Namun, malam-malam berikutnya, ia mulai membantu Dedi ketika ada pelajaran yang sulit. Ia meminjamkan catatan. Ia menjelaskan rumus yang belum dipahami Dedi.
Rudi juga sering membangunkan Dedi ketika ia tertidur di atas buku.
“Ded, tidur dulu,” katanya. “Kalau terus begini, kamu sakit.”
Dedi mengusap mata.
“Aku harus menyelesaikan tugas.”
Joko yang biasanya pendiam kadang menyisihkan air minum untuk Dedi. Ia tidak banyak bicara, tetapi ia memahami bahwa hidup di kamar sempit itu lebih mudah jika mereka saling membantu.
Hari demi hari, Dedi mulai terbiasa dengan kehidupan baru.
Ia bangun sebelum matahari terbit untuk mengambil air.
Ia mencuci seragam sendiri.
Ia berangkat sekolah.
Ia bekerja di toko.
Ia belajar hingga larut malam.
Tidak ada lagi ibu yang menyiapkan makanan.
Tidak ada ayah yang mengingatkan agar ia beristirahat.
Tidak ada Herawati dan Susanti yang menunggunya di bawah pohon beringin.
Namun, setiap kali rasa lelah hampir membuatnya menyerah, Dedi membuka buku peninggalan Pak Harun.
Di halaman pertama buku itu, masih ada tulisan yang selalu ia baca berulang kali.
Jangan biarkan anak-anak desa kehilangan cahaya karena mereka tidak memiliki kesempatan belajar.
Kalimat itu membuatnya kembali kuat.
Suatu malam, hujan turun deras di kota kecamatan.
Atap kamar kos bocor di beberapa tempat. Air menetes ke lantai dan membuat tikar menjadi basah. Rudi menggeser barang-barangnya. Joko menaruh ember di bawah tetesan air. Arman mengeluh karena bukunya hampir terkena air.
Dedi duduk di dekat jendela kecil sambil memegang buku tulis dari Herawati.
Ia membuka halaman pertama yang berisi pesan:
Jangan berhenti menulis tentang mimpimu.
Dedi mengambil pensil.
Ia menulis surat untuk Herawati.
Hera,
Kota ini ramai dan berbeda sekali dengan desa. Aku tinggal di kamar kecil bersama tiga pelajar lain. Aku juga bekerja di toko pada malam hari agar bisa membeli makan dan buku.
Kadang aku sangat lelah. Kadang aku rindu rumah, rindu Ayah dan Ibu, rindu pohon beringin, juga rindu kalian. Tetapi aku akan bertahan. Aku ingin membuktikan bahwa anak desa juga bisa belajar dan memiliki masa depan.
Tolong tetap sekolah. Jangan biarkan kesulitan membuatmu menyerah.
Dedi.
Setelah selesai menulis, Dedi melipat surat itu dengan hati-hati.
Ia belum tahu kapan surat itu akan sampai ke Desa Suka Jaya.
Namun, ia percaya bahwa setiap kata yang ia tulis akan membawa sedikit bagian dari dirinya pulang.
Malam semakin larut.
Di luar, hujan masih turun.
Di dalam kamar sempit itu, Dedi kembali membuka buku pelajaran.
Matanya memang lelah.
Tubuhnya memang ingin beristirahat.
Tetapi ia mulai memahami bahwa pendidikan bukan hanya soal kecerdasan.
Pendidikan juga tentang ketahanan.
Tentang tetap membaca ketika mata hampir terpejam.
Tentang tetap bekerja ketika tangan terasa berat.
Tentang tetap percaya pada mimpi ketika hidup belum memberi banyak kemudahan.
Di kamar sempit itu, Dedi Kusnadi tidak hanya belajar menjadi murid.
Ia mulai belajar menjadi pejuang bagi masa depannya sendiri.
BAB XIX
Herawati Menunggu
Surat pertama dari Dedi tiba pada suatu siang yang panas.
Hari itu Herawati sedang membantu Wagini menjemur pakaian di halaman rumah. Matahari berdiri tinggi di atas atap-atap rumah Desa Suka Jaya. Angin bergerak pelan, membawa bau tanah kering dari jalan setapak yang membelah kampung.
Pak Samin duduk di kursi kayu dekat pintu. Keadaannya sudah sedikit membaik dibanding beberapa bulan sebelumnya. Ia belum mampu bekerja berat, tetapi setidaknya ia sudah bisa berjalan perlahan ke halaman dan berbincang dengan warga yang datang menjenguk.
Tiba-tiba terdengar suara sepeda berhenti di depan rumah.
“Surat!” seru Pak Jaya, guru pengganti di sekolah desa yang juga sering membantu membawa kiriman dari kota kecamatan.
Herawati segera menoleh.
Pak Jaya turun dari sepeda sambil memegang beberapa surat dan sebuah koran lama. Ia memeriksa nama yang tertulis pada salah satu amplop, lalu memandang Herawati.
“Untuk Herawati,” katanya. “Dari kota kecamatan.”
Jantung Herawati berdegup lebih cepat.
Ia menerima amplop itu dengan kedua tangan. Tulisan di bagian depan tidak terlalu rapi, tetapi ia langsung mengenalinya.
Tulisan Dedi.
“Terima kasih, Pak,” katanya pelan.
Pak Jaya tersenyum.
“Belajarlah sungguh-sungguh. Temanmu itu tampaknya sedang berjuang keras di kota.”
Herawati mengangguk.
Setelah Pak Jaya pergi, ia tidak langsung membuka surat tersebut. Ia membawa amplop itu masuk ke kamar kecilnya. Di sana, ia duduk di dekat jendela dan membuka lipatan kertas dengan hati-hati.
Setiap kata yang ditulis Dedi ia baca perlahan.
Dedi bercerita tentang kamar kos yang sempit, tentang teman-teman barunya, tentang sekolah yang lebih besar, dan tentang pekerjaannya di toko pada malam hari. Ia juga menulis bahwa kadang ia merasa lelah dan rindu rumah.
Namun, kalimat yang paling lama dipandangi Herawati adalah bagian terakhir surat itu.
Tolong tetap sekolah. Jangan biarkan kesulitan membuatmu menyerah.
Herawati memegang surat itu di dada.
Matanya berkaca-kaca.
Ia membayangkan Dedi duduk sendirian di kamar kecil, belajar di bawah cahaya lampu yang redup setelah bekerja sepanjang malam. Ia membayangkan Dedi berjalan pulang dalam keadaan lelah, tetapi tetap membuka buku karena tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan.
“Ada surat dari Dedi?” tanya Wagini dari ambang pintu.
Herawati mengangguk.
“Iya, Bu.”
“Bagaimana kabarnya?”
“Dia baik. Tapi dia bekerja sambil sekolah.”
Wagini duduk di samping putrinya.
“Dedi anak yang kuat.”
Herawati menunduk.
“Aku ingin membalas suratnya.”
“Balaslah.”
“Tapi aku tidak tahu harus menulis apa.”
Wagini tersenyum lembut.
“Tulislah apa yang ada di hatimu. Tidak perlu kata-kata yang sulit.”
Malam itu, setelah membantu ibunya memasak dan memastikan ayahnya sudah minum obat, Herawati duduk di dekat lampu minyak. Ia membuka buku tulis yang pernah diberikan Dedi untuk mencatat pelajaran.
Di halaman kosong, ia mulai menulis.
Dedi,
Suratmu sudah kuterima. Aku senang kamu baik-baik saja, walaupun aku sedih mendengar kamu harus bekerja begitu keras. Jangan terlalu memaksakan diri. Kamu harus menjaga kesehatanmu.
Di desa, keadaan masih seperti biasa. Ayah sudah mulai bisa duduk di halaman. Ibu masih bekerja dan aku membantu sebisaku. Aku juga tetap sekolah. Aku tidak akan menyerah, seperti yang kamu minta.
Aku sering melihat pohon beringin di sore hari. Kalau melihatnya, aku ingat janji kita. Aku percaya kamu akan berhasil.
Jangan lupa pulang jika ada waktu.
Herawati.
Ia membaca surat itu berkali-kali sebelum melipatnya.
Ada banyak hal lain yang sebenarnya ingin ia tulis.
Ia ingin mengatakan bahwa desa terasa lebih sepi sejak Dedi pergi.
Ia ingin mengatakan bahwa setiap kali melewati jalan menuju rumah Dedi, ia selalu berharap melihat Dedi pulang membawa tas kainnya.
Ia ingin mengatakan bahwa fitnah Ratna masih kadang terdengar, meski tidak lagi sekeras dulu.
Namun, Herawati memilih menyimpan semuanya.
Ia tidak ingin suratnya menjadi beban bagi Dedi.
Keesokan harinya, ia menitipkan surat itu kepada Pak Jaya untuk dikirim ke kota kecamatan.
Sejak saat itu, surat-surat menjadi jembatan antara Desa Suka Jaya dan kota.
Dedi menulis ketika sempat.
Kadang suratnya datang dua minggu setelah dikirim. Kadang lebih lama. Pernah pula surat yang ditunggu Herawati tidak datang selama hampir sebulan.
Pada hari-hari seperti itu, Herawati sering duduk di bawah pohon beringin sambil membawa buku pelajaran.
Ia membuka halaman-halaman buku, tetapi pikirannya tidak selalu berada di sana.
Matanya sering memandang jalan tanah yang mengarah ke kota kecamatan.
Ia tahu Dedi tidak mungkin tiba-tiba muncul setiap hari.
Ia tahu Dedi sedang belajar dan bekerja.
Namun, menunggu tidak selalu mengikuti aturan akal.
Menunggu sering kali membuat waktu berjalan lebih lambat.
Susanti beberapa kali datang menemaninya.
Suatu sore, mereka duduk berdampingan di bawah pohon beringin. Herawati sedang memegang surat terakhir dari Dedi yang sudah mulai kusut karena terlalu sering dibaca.
“Sudah berapa hari sejak surat terakhir?” tanya Susanti.
“Dua minggu.”
“Dua minggu itu belum lama.”
“Biasanya dia menulis lebih cepat.”
Susanti tersenyum kecil.
“Mungkin dia sedang banyak tugas. Atau toko tempatnya bekerja sedang ramai.”
Herawati mengangguk, tetapi wajahnya belum benar-benar tenang.
“Aku takut dia terlalu lelah.”
“Dedi memang keras kepala,” kata Susanti. “Kalau sudah punya tujuan, dia bisa lupa pada dirinya sendiri.”
Herawati tersenyum tipis.
“Itu yang membuatku khawatir.”
Susanti menunduk.
Ia memahami kekhawatiran Herawati. Ia sendiri juga sering memikirkan Dedi. Setiap kali ada orang dari kota datang ke desa, ia ingin bertanya apakah mereka melihat Dedi. Namun, seperti Herawati, ia memilih menyimpan rasa itu dalam diam.
“Kalau Dedi pulang nanti,” kata Susanti, “kita harus menyuruhnya beristirahat.”
Herawati menoleh.
“Kita?”
Susanti tertawa pelan.
“Iya. Kalau hanya kamu yang menyuruh, mungkin dia tidak akan mendengar.”
Herawati ikut tersenyum.
Untuk beberapa saat, mereka tidak membicarakan Dedi lagi.
Mereka berbicara tentang pelajaran, tentang keadaan Pak Samin, dan tentang anak-anak kecil di desa yang mulai sering datang meminta Herawati mengajari mereka membaca. Anak-anak itu biasanya datang setelah pulang membantu orang tua di kebun.
Herawati tidak pernah menolak.
Ia mengajari mereka mengeja huruf dengan menggunakan papan kecil bekas. Ia mengajarkan cara menulis nama sendiri. Ia juga meminjamkan buku cerita sederhana yang dulu diberikan Pak Harun.
Tanpa ia sadari, apa yang dilakukan Dedi di kota mulai memberi pengaruh pada dirinya.
Ia mulai mengerti bahwa belajar tidak hanya dilakukan untuk diri sendiri.
Belajar juga dapat dibagikan.
Namun, tidak semua hari berjalan tenang.
Ratna masih sering memperhatikan Herawati dari kejauhan. Ia melihat Herawati menerima surat dari kota. Ia melihat Herawati tersenyum ketika membaca tulisan Dedi. Dan setiap kali melihat itu, ada rasa kesal yang sulit ia sembunyikan.
Suatu hari, Ratna mendekati Herawati di dekat sumur umum.
“Rajin sekali kamu menunggu surat,” katanya.
Herawati yang sedang menimba air menoleh.
“Aku tidak menunggu siapa pun.”
Ratna tersenyum miring.
“Benarkah? Semua orang tahu Dedi sering menulis kepadamu.”
Herawati mengangkat embernya.
“Dedi sahabatku.”
“Dulu mungkin begitu.”
Herawati memandang Ratna dengan tenang.
“Maksudmu?”
Ratna mendekat sedikit.
“Orang yang sudah tinggal di kota biasanya berubah. Di sana banyak perempuan yang lebih cantik, lebih pintar, dan lebih berani daripada anak desa.”
Kalimat itu seperti duri kecil yang sengaja ditanamkan.
Herawati tidak langsung menjawab.
Ratna melanjutkan, “Jangan terlalu yakin. Bisa saja Dedi sudah lupa dengan janji-janji di bawah pohon beringin itu.”
Setelah berkata demikian, Ratna pergi sambil membawa kendi airnya.
Herawati tetap berdiri di dekat sumur.
Ia berusaha mengabaikan perkataan Ratna.
Namun, ketika malam datang dan surat Dedi belum juga tiba, kalimat itu kembali teringat.
Apakah Dedi akan berubah?
Apakah kota akan membuatnya melupakan desa?
Apakah janji mereka masih berarti?
Herawati menatap langit dari jendela kamar.
Di kejauhan, suara jangkrik terdengar dari kebun. Lampu minyak di ruang depan masih menyala kecil. Pak Samin sudah tertidur. Wagini masih merapikan beberapa pakaian.
Herawati mengambil buku tulisnya.
Ia membuka halaman yang berisi tulisan Dedi.
Jangan berhenti menulis tentang mimpimu.
Ia menarik napas panjang.
Kemudian, ia mengambil pensil dan menulis sebuah kalimat di bawahnya.
Menunggu bukan berarti diam. Menunggu adalah tetap bertahan pada janji, sambil terus berjalan menuju masa depan.
Sejak malam itu, Herawati mencoba menguatkan dirinya.
Ia tetap membantu ibunya.
Ia tetap merawat ayahnya.
Ia tetap belajar.
Ia tetap mengajari anak-anak kecil yang datang ke rumah.
Dan ia tetap menunggu surat dari kota.
Beberapa hari kemudian, ketika matahari hampir tenggelam, suara sepeda kembali berhenti di depan rumah.
“Surat untuk Herawati!” panggil Pak Jaya.
Herawati keluar dengan langkah cepat.
Di tangan Pak Jaya, ada sebuah amplop sederhana.
Dari kota kecamatan.
Dari Dedi.
Herawati menerima surat itu dengan senyum yang tidak dapat ia sembunyikan.
Ia tidak langsung membukanya di depan rumah. Ia membawanya ke bawah pohon beringin, tempat banyak kenangan dan janji tersimpan.
Di sana, ia membuka surat tersebut.
Dedi menulis bahwa ia sedang sibuk menghadapi ujian dan pekerjaan di toko semakin banyak. Ia meminta maaf karena terlambat membalas surat. Ia juga menulis bahwa ia merindukan Desa Suka Jaya, merindukan keluarganya, dan merindukan sahabat-sahabatnya.
Pada bagian akhir, Dedi menulis:
Hera, jangan pernah ragu. Aku mungkin jauh, tetapi aku tidak melupakan desa, tidak melupakan janji kita, dan tidak melupakan kalian.
Herawati menutup surat itu perlahan.
Angin sore menggerakkan daun-daun beringin di atas kepalanya.
Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari penuh keraguan, hatinya kembali tenang.
Ia tahu perjalanan mereka masih panjang.
Jarak akan terus menguji.
Keadaan akan terus berubah.
Orang-orang seperti Ratna mungkin akan terus mencoba menanamkan keraguan.
Namun, selama masih ada kepercayaan, surat-surat sederhana itu akan tetap menjadi penghubung antara dua hati yang sedang belajar bertahan.
Herawati memandangi jalan menuju kota kecamatan.
Lalu, dengan suara sangat pelan, ia berkata kepada angin sore,
“Aku akan tetap menunggu, Dedi. Tapi aku juga akan tetap berjalan.”
BAB XX
Ratna Memainkan Perasaan
Libur sekolah tiba menjelang akhir musim kemarau.
Setelah berbulan-bulan tinggal di kota kecamatan, Dedi akhirnya mendapat kesempatan pulang ke Desa Suka Jaya. Ia telah menyelesaikan beberapa ujian dan mendapat izin beberapa hari dari Pak Darman untuk tidak bekerja di toko.
Sejak pagi, Dedi sudah duduk di belakang kendaraan bak terbuka yang membawanya pulang.
Tas kainnya kini tampak lebih berat daripada ketika ia pertama kali berangkat. Di dalamnya ada beberapa buku bekas yang dibelinya dengan uang hasil bekerja, beberapa lembar catatan pelajaran, dan sedikit oleh-oleh sederhana untuk keluarganya.
Ia membawa kain kerudung murah untuk ibunya.
Ia membawa sebungkus gula untuk ayahnya.
Ia juga membawa dua buku tulis baru, satu untuk Herawati dan satu lagi untuk Susanti.
Sepanjang perjalanan, Dedi tidak dapat menyembunyikan rasa rindu.
Ia rindu suara ayam berkokok di pagi hari.
Ia rindu jalan tanah yang membelah kebun.
Ia rindu rumah kecilnya yang berdinding papan.
Ia rindu pohon beringin yang selama ini menjadi saksi janji masa kecilnya.
Ketika kendaraan memasuki batas Desa Suka Jaya, Dedi melihat beberapa anak kecil sedang bermain di pinggir jalan. Mereka mengenalinya dan segera berteriak.
“Dedi pulang!”
“Dedi dari kota!”
Suara itu membuat beberapa warga keluar dari rumah.
Karsa yang sedang memperbaiki gagang cangkul di halaman langsung berdiri. Wajahnya yang biasanya tenang berubah cerah ketika melihat anaknya turun dari kendaraan.
“Dedi!” panggilnya.
Dedi berlari mendekat dan memeluk ayahnya.
“Pak.”
Karsa menepuk punggung anaknya berkali-kali.
“Kamu makin kurus.”
Dedi tersenyum.
“Di kota banyak kerjaan, Pak.”
“Kerjaan boleh banyak. Makan jangan kurang.”
Marni keluar dari rumah dengan mata berkaca-kaca. Ia memeluk Dedi lebih lama, seolah takut anaknya akan kembali pergi dalam waktu dekat.
“Kamu sehat?” tanyanya.
“Sehat, Bu.”
“Kamu benar-benar makan?”
Dedi tertawa kecil.
“Benar, Bu.”
Namun, Marni tetap memandangi wajah anaknya dengan penuh kekhawatiran. Ia tahu Dedi selalu berusaha terlihat kuat, bahkan ketika hidupnya sedang tidak mudah.
Menjelang sore, kabar kepulangan Dedi telah menyebar ke seluruh desa.
Herawati mendengarnya dari seorang anak kecil yang datang ke rumah untuk belajar membaca.
“Kak Hera, Kak Dedi pulang!” kata anak itu dengan gembira.
Tangan Herawati yang sedang memegang papan tulis kecil mendadak berhenti.
“Benarkah?”
“Iya. Tadi aku lihat dia turun dari mobil bak.”
Herawati berusaha tetap tenang.
“Baik, sekarang lanjutkan mengeja.”
Namun, sejak saat itu, pikirannya tidak lagi sepenuhnya berada pada pelajaran.
Ia ingin pergi ke rumah Dedi.
Ia ingin menanyakan kabarnya.
Ia ingin melihat apakah Dedi baik-baik saja setelah berbulan-bulan hidup di kota.
Tetapi ia teringat pesan ayahnya dan cerita-cerita yang pernah disebarkan Ratna.
Herawati memilih menunggu.
Sore itu, Dedi berjalan menuju pohon beringin.
Ia membawa dua buku tulis baru di dalam tasnya. Ia berharap dapat bertemu Herawati dan Susanti di tempat yang dulu sering mereka datangi bersama.
Ketika sampai di bawah pohon beringin, Susanti sudah ada di sana.
Ia sedang duduk sambil membaca buku. Ketika melihat Dedi datang, wajahnya langsung berubah cerah.
“Kamu pulang,” katanya.
Dedi tersenyum.
“Aku pulang.”
Susanti berdiri.
“Kamu lama sekali.”
“Di kota waktu berjalan cepat.”
“Di desa, waktu berjalan lambat kalau menunggu surat.”
Dedi menunduk sebentar.
“Maaf kalau suratku sering terlambat.”
Susanti menggeleng.
“Aku hanya bercanda.”
Dedi lalu mengeluarkan satu buku tulis dari tasnya.
“Ini untukmu.”
Susanti menerima buku itu dengan hati-hati.
“Untukku?”
“Iya. Kamu suka menulis, kan?”
Susanti memandangi sampul buku tersebut.
Buku itu sederhana, tetapi baginya terasa sangat istimewa.
“Terima kasih, Ded.”
“Semoga kamu bisa menulis banyak cerita.”
Susanti tersenyum.
“Aku akan menyimpannya.”
Dedi duduk di bawah pohon beringin.
“Herawati tidak datang?”
Susanti menatapnya sebentar.
“Mungkin dia sedang membantu ibunya.”
Dedi mengangguk.
Namun, ada sedikit kekecewaan yang tidak dapat ia sembunyikan.
Tidak lama kemudian, Ratna datang dari arah jalan desa.
Ia mengenakan baju yang lebih rapi daripada biasanya. Rambutnya disisir dan diikat dengan pita kecil. Di tangannya, ia membawa seikat bunga liar yang baru dipetik dari kebun.
Ketika melihat Dedi, ia langsung tersenyum lebar.
“Dedi,” katanya. “Jadi kamu benar-benar pulang.”
Dedi berdiri sopan.
“Iya, Ratna.”
“Aku dengar kamu sekarang sekolah di kota. Pasti kamu sudah berbeda.”
“Tidak ada yang berbeda.”
Ratna tertawa kecil.
“Mana mungkin tidak berbeda? Orang kota pasti mengajarkan banyak hal.”
Susanti memandang Ratna dengan wajah yang tidak terlalu ramah.
Ratna kemudian mendekat kepada Dedi.
“Aku membawa bunga,” katanya. “Tidak bagus, sih. Tapi aku pikir kamu mungkin rindu suasana desa.”
Dedi menerima bunga itu dengan canggung.
“Terima kasih.”
Ratna tersenyum.
“Besok kamu ada waktu? Aku ingin bertanya tentang sekolah di kota. Aku juga ingin tahu apakah aku masih bisa melanjutkan sekolah.”
Dedi tidak melihat alasan untuk menolak.
“Kalau ada waktu, kita bisa bicara di sekolah atau di balai desa.”
Ratna mengangguk.
“Baik. Aku tunggu.”
Ia lalu pergi dengan langkah ringan.
Susanti memandang Dedi.
“Kamu hati-hati dengan Ratna.”
Dedi mengerutkan dahi.
“Kenapa?”
“Dia tidak datang hanya untuk bertanya tentang sekolah.”
Dedi tersenyum kecil.
“Mungkin dia memang ingin sekolah lagi.”
Susanti tidak melanjutkan perkataannya.
Ia tahu Dedi selalu berusaha melihat niat baik pada orang lain. Namun, ia juga tahu Ratna bukan orang yang mudah menerima kenyataan ketika keinginannya tidak terpenuhi.
Keesokan harinya, Dedi membantu Karsa di kebun sejak pagi. Menjelang siang, ia pergi ke sekolah lama untuk menemui Pak Jaya dan menanyakan kabar beberapa murid.
Di halaman sekolah, Ratna sudah menunggu.
Ia duduk di bangku bawah pohon mangga. Ketika melihat Dedi datang, ia segera berdiri.
“Aku kira kamu tidak jadi datang,” katanya.
“Aku baru selesai membantu Ayah,” jawab Dedi.
Ratna mengangguk.
“Mari duduk.”
Mereka duduk di bangku kayu dekat kelas yang kosong.
Ratna mulai bertanya tentang kota.
Tentang sekolah.
Tentang biaya hidup.
Tentang pekerjaan sambilan.
Dedi menjawab semua pertanyaan itu dengan sederhana. Ia menjelaskan bahwa sekolah di kota tidak mudah. Ia menjelaskan bahwa ia harus bekerja di toko untuk membiayai makan dan kebutuhan sehari-hari.
“Kamu pasti sangat lelah,” kata Ratna.
“Kadang.”
“Kalau aku di sana, mungkin aku bisa membantumu.”
Dedi menoleh.
“Membantu bagaimana?”
Ratna tersenyum.
“Aku bisa memasak. Aku bisa mencuci. Aku juga bisa menemanimu belajar.”
Dedi terdiam sesaat.
“Ratna, hidup di kota tidak sesederhana itu.”
“Aku tahu. Tapi setidaknya kamu tidak sendirian.”
Dedi mengalihkan pandangan.
“Aku sudah punya teman-teman di kos.”
Ratna menggigit bibirnya pelan.
“Aku maksud bukan hanya teman kos.”
Dedi mulai memahami arah pembicaraan itu.
Ia berdiri.
“Ratna, aku ingin semua orang di desa bisa sekolah kalau memang punya kesempatan. Kalau kamu ingin melanjutkan pendidikan, aku bisa membantu mencarikan informasi. Tapi aku tidak bisa menjanjikan hal lain.”
Wajah Ratna berubah.
“Apa karena Herawati?”
Dedi menatapnya dengan tenang.
“Jangan bawa Herawati ke dalam pembicaraan ini.”
“Kenapa tidak? Semua orang tahu kamu selalu memikirkannya.”
“Herawati sahabatku.”
Ratna tersenyum pahit.
“Hanya sahabat?”
Dedi tidak menjawab.
Ratna memandangnya cukup lama. Dalam tatapannya, ada rasa kecewa yang mulai berubah menjadi kesal.
“Baiklah,” katanya akhirnya. “Aku mengerti.”
Ia pergi meninggalkan halaman sekolah tanpa menoleh lagi.
Dedi berdiri sendiri di dekat bangku kayu.
Ia tidak tahu bahwa Ratna tidak benar-benar mengerti.
Ia justru mulai menyusun cara lain untuk membuat Herawati ragu.
Sore itu, Ratna mendatangi beberapa perempuan muda yang sedang mencuci pakaian di sungai.
Ia tidak langsung menyebut nama Dedi dan Herawati. Seperti dahulu, ia memulai dengan cerita kecil.
“Dedi memang sudah berubah,” katanya sambil membilas kain.
“Berubah bagaimana?” tanya salah seorang perempuan.
“Dia sekarang sering bicara tentang kota. Katanya di sana banyak orang yang lebih maju.”
“Itu wajar. Dia kan sekolah di kota.”
Ratna mengangguk.
“Wajar, memang. Tapi aku dengar dia juga sudah punya banyak teman baru.”
“Teman sekolah?”
“Entahlah. Di kota, siapa tahu.”
Ratna berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara lebih pelan.
“Kasihan Herawati. Dia masih menunggu surat dari Dedi. Padahal Dedi mungkin sudah tidak memikirkan desa seperti dulu.”
Cerita itu kembali bergerak.
Di warung.
Di sungai.
Di jalan menuju kebun.
Dari satu mulut ke mulut lain, kabar itu berubah menjadi lebih tajam.
“Dedi sudah berubah sejak tinggal di kota.”
“Dedi dekat dengan perempuan lain.”
“Dedi tidak lagi peduli kepada Herawati.”
Ketika kabar itu sampai ke telinga Herawati, ia sedang menumbuk bumbu di dapur.
Seorang tetangga datang membawa sayur dan berkata seolah tidak sengaja, “Kamu sudah dengar? Dedi katanya sekarang dekat dengan Ratna.”
Tangan Herawati berhenti.
“Ratna?”
“Iya. Katanya mereka bertemu di sekolah. Ratna juga memberi bunga untuk Dedi.”
Herawati mencoba tersenyum.
“Mungkin mereka hanya bicara tentang sekolah.”
Tetangga itu mengangkat bahu.
“Entahlah. Orang-orang hanya melihat.”
Setelah tetangga itu pergi, Herawati tetap duduk di dapur.
Suara tumbukan bumbu tidak lagi terdengar.
Di dalam pikirannya, muncul bayangan Dedi menerima bunga dari Ratna. Ia membayangkan mereka duduk bersama di halaman sekolah. Ia membayangkan Ratna tersenyum kepada Dedi seperti yang sering ia lakukan.
Herawati berusaha menepis semua itu.
Dedi pernah menulis bahwa ia tidak melupakan janji mereka.
Dedi selalu mengatakan bahwa pendidikan adalah yang paling penting.
Namun, keraguan kadang tidak datang karena kita tidak percaya.
Keraguan datang karena ada orang yang sengaja menanamkannya.
Menjelang malam, Susanti datang ke rumah Herawati.
Ia menemukan Herawati sedang duduk di teras dengan wajah murung.
“Kamu sudah dengar cerita tentang Dedi dan Ratna?” tanya Herawati pelan.
Susanti menarik napas.
“Aku dengar.”
“Benarkah mereka bertemu?”
“Benar. Tapi Ratna yang menunggu Dedi di sekolah. Dia bertanya tentang pendidikan.”
“Dan memberi bunga?”
Susanti mengangguk.
“Dedi menerimanya karena tidak enak menolak. Tapi itu bukan berarti apa-apa.”
Herawati menunduk.
“Kenapa Ratna selalu melakukan ini?”
“Karena dia ingin kamu ragu.”
Herawati memandangi jalan yang mulai gelap.
“Aku tidak ingin ragu. Tapi aku juga tidak ingin menjadi orang yang hanya menunggu tanpa tahu apa yang terjadi.”
Susanti duduk di sampingnya.
“Kalau kamu ingin tahu, tanyakan langsung kepada Dedi.”
Herawati menggeleng pelan.
“Aku tidak ingin membuatnya merasa dituduh.”
“Lebih baik bertanya daripada percaya pada cerita orang.”
Herawati diam.
Nasihat Susanti benar. Namun, hati yang sedang terluka tidak selalu mampu segera mengambil jalan yang paling benar.
Di rumahnya, Ratna duduk di depan cermin kecil.
Ia menyisir rambutnya perlahan sambil mengingat wajah Herawati yang pasti akan berubah ketika mendengar kabar itu.
Ratna tidak mengetahui semua yang dibicarakan Dedi dengan Herawati.
Ia tidak tahu tentang surat-surat yang dikirim dari kota.
Ia tidak tahu tentang janji di bawah pohon beringin.
Namun, ia tahu satu hal.
Jika Herawati mulai ragu, maka hubungan Dedi dan Herawati akan melemah.
Dan jika hubungan itu melemah, Ratna merasa ia memiliki kesempatan.
Sementara itu, Dedi menghabiskan malam di rumah bersama keluarganya.
Ia membantu ibunya menyiapkan makan. Ia mendengarkan ayahnya bercerita tentang keadaan kebun. Ia tidak tahu bahwa di rumah Herawati, seseorang sedang menahan air mata karena cerita yang sengaja dibentuk oleh Ratna.
Dedi juga tidak tahu bahwa kepulangannya ke desa, yang seharusnya membawa kehangatan, justru menjadi awal dari permainan perasaan.
Permainan yang akan menguji kepercayaan.
Permainan yang akan membuat Herawati mulai mempertanyakan jarak.
Dan permainan yang akan membuktikan bahwa fitnah dapat berubah bentuk, tetapi tetap membawa luka yang sama.
BAB XXI
Burhan Membeli Tanah
Musim kemarau tahun itu terasa lebih panjang dari biasanya.
Tanah di ladang-ladang Desa Suka Jaya mulai retak. Beberapa aliran kecil yang biasanya mengalir di dekat kebun berubah menjadi dangkal. Para petani tetap pergi ke ladang setiap pagi, tetapi hasil yang mereka harapkan tidak selalu sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan.
Karsa termasuk salah satu warga yang paling sering mengeluh dalam diam.
Bukan karena ia tidak bersyukur, melainkan karena ia melihat banyak tetangganya mulai kesulitan. Harga kebutuhan rumah tangga naik, hasil kebun tidak selalu laku dengan harga baik, sementara anak-anak tetap membutuhkan biaya sekolah.
Di tengah keadaan itu, seorang lelaki bernama Burhan mulai sering datang ke Desa Suka Jaya.
Burhan bukan warga asli desa.
Ia tinggal di kota kecamatan dan dikenal sebagai orang yang memiliki banyak hubungan dengan pengusaha serta pejabat daerah. Ia datang dengan pakaian rapi, sepatu bersih, dan kendaraan yang jarang terlihat memasuki jalan tanah desa.
Setiap kali datang, Burhan selalu membawa senyum.
Ia menyapa warga dengan ramah.
Ia duduk di warung.
Ia minum kopi bersama para lelaki yang sedang beristirahat setelah dari kebun.
Ia berbicara tentang kemajuan, pekerjaan, jalan yang lebih baik, dan masa depan yang katanya akan berubah jika warga berani mengambil keputusan.
“Desa ini punya tanah yang bagus,” katanya suatu sore di warung Pak Warto. “Kalau dikelola dengan benar, tanah ini bisa membawa keuntungan besar.”
Beberapa warga mulai mendengarkan.
“Keuntungan seperti apa, Pak Burhan?” tanya Pak Darto, seorang petani yang kebunnya mulai tidak menghasilkan banyak.
Burhan tersenyum.
“Ada pihak yang ingin membuka usaha di sekitar sini. Mereka membutuhkan lahan. Kalau warga bersedia menjual tanah, harganya cukup baik.”
Pak Darto mengernyitkan dahi.
“Tanah kami hanya kebun kecil.”
“Justru itu,” jawab Burhan. “Kalau dikumpulkan, akan menjadi lahan yang luas. Kalian tidak perlu lagi bersusah payah mengurus kebun yang hasilnya tidak tentu. Kalian bisa mendapat uang tunai. Bahkan, nanti ada kesempatan kerja.”
Kata uang tunai membuat beberapa orang saling pandang.
Bagi warga yang sedang membutuhkan biaya makan, biaya berobat, atau biaya sekolah anak, uang tunai terdengar seperti jawaban atas banyak kesulitan.
Burhan mengetahui hal itu.
Ia tidak pernah memaksa secara langsung.
Ia hanya datang membawa tawaran.
Ia menyebut angka.
Ia membandingkan harga tanah dengan hasil kebun yang tidak seberapa.
Ia menceritakan tentang desa-desa lain yang katanya menjadi maju setelah tanah warga dijual kepada pihak luar.
Namun, ia tidak banyak menjelaskan tentang dokumen.
Ia tidak menjelaskan tentang batas tanah.
Ia tidak menjelaskan tentang hak warga setelah tanah berpindah tangan.
Ia juga tidak menjelaskan bahwa tanah yang dijual mungkin tidak akan pernah kembali.
Leman menjadi orang pertama di Desa Suka Jaya yang paling sering terlihat bersama Burhan.
Leman memang dikenal sebagai orang yang pandai berbicara. Ia sering hadir dalam kegiatan desa dan tidak segan memberi pendapat, meski tidak selalu diminta. Ia juga memiliki beberapa kerabat yang tanahnya cukup luas di sekitar jalan menuju kebun.
Ketika Burhan datang, Leman selalu berada di dekatnya.
“Pak Burhan ini datang membawa peluang,” kata Leman kepada warga. “Jangan selalu berpikir buruk. Desa kita butuh perubahan.”
“Perubahan memang perlu,” jawab Pak Warto. “Tapi tanah itu sumber hidup warga.”
Leman tertawa kecil.
“Kalau tanah itu benar-benar memberi hidup, kenapa banyak yang masih susah?”
Pertanyaan itu membuat beberapa orang diam.
Leman lalu melanjutkan, “Kita tidak bisa selamanya hidup dari kebun kecil. Anak-anak kita butuh pekerjaan. Jalan kita butuh diperbaiki. Desa kita butuh maju.”
Burhan mengangguk, seolah semua yang dikatakan Leman adalah kebenaran yang tidak dapat dibantah.
“Betul,” katanya. “Saya tidak datang untuk mengambil milik siapa pun. Saya datang untuk menawarkan kerja sama.”
Kata kerja sama terdengar lebih baik daripada penjualan tanah.
Dan karena itulah, banyak warga mulai luluh.
Beberapa hari kemudian, Burhan mulai mendatangi rumah-rumah warga.
Ia membawa map berisi kertas-kertas.
Ia membawa uang muka.
Ia membawa janji bahwa warga yang menjual tanah akan diprioritaskan menjadi pekerja ketika usaha baru itu dibuka.
Di rumah Pak Darto, Burhan duduk bersama Leman.
Pak Darto tampak ragu ketika melihat angka yang tertulis di kertas.
“Ini benar harga untuk tanah saya?” tanyanya.
Burhan mengangguk.
“Benar. Uang muka bisa langsung diberikan hari ini.”
Pak Darto memandangi istrinya. Mereka sedang membutuhkan uang untuk berobat anaknya yang sudah lama sakit. Kebun mereka juga tidak menghasilkan banyak karena kemarau.
“Kalau saya jual,” kata Pak Darto, “nanti saya bekerja di mana?”
Burhan tersenyum.
“Tidak perlu khawatir. Kalau usaha ini berjalan, akan banyak pekerjaan. Bapak bisa bekerja tanpa harus memikirkan panen, pupuk, atau harga hasil kebun.”
Leman menambahkan, “Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali, Darto. Jangan sampai nanti kamu menyesal.”
Akhirnya, dengan tangan gemetar, Pak Darto membubuhkan tanda tangan di atas kertas.
Uang muka berpindah tangan.
Dan sebidang tanah yang selama bertahun-tahun menjadi tempat ia bekerja, perlahan tidak lagi menjadi miliknya.
Kabar tentang penjualan tanah itu menyebar cepat.
Ada warga yang merasa keputusan Pak Darto benar.
“Apa lagi yang bisa dilakukan? Anak sakit, uang tidak ada,” kata seseorang.
Ada pula yang mulai ikut menjual tanah karena takut harga akan turun atau takut tertinggal dari warga lain.
Namun, ada juga yang mulai bertanya-tanya.
“Kenapa Burhan begitu ingin membeli tanah di sini?”
“Usaha apa yang akan dibuka?”
“Kalau tanah sudah dijual, apakah benar warga akan mendapat pekerjaan?”
Pertanyaan-pertanyaan itu belum mendapat jawaban jelas.
Di rumah Karsa, Dedi mendengar pembicaraan ayah dan ibunya tentang Burhan.
“Pak Darto menjual kebunnya,” kata Marni sambil menyiapkan makan malam.
Karsa mengangguk pelan.
“Aku dengar.”
“Kasihan. Tapi dia memang sedang butuh uang.”
“Yang membuatku khawatir bukan Pak Darto saja,” kata Karsa. “Kalau semua menjual tanah, nanti warga mau hidup dari apa?”
Dedi yang sedang membaca buku di dekat lampu minyak mengangkat wajah.
“Burhan menjanjikan pekerjaan, Pak.”
Karsa menatap anaknya.
“Janji itu mudah diucapkan.”
“Apakah Ayah mengenal Burhan?”
“Tidak dekat. Tapi orang yang terlalu cepat menawarkan uang biasanya punya kepentingan yang lebih besar.”
Dedi terdiam.
Ia teringat beberapa pelajaran yang dibacanya di kota tentang hak masyarakat dan pentingnya memahami dokumen sebelum membuat keputusan.
Ia juga teringat pesan Pak Harun bahwa pendidikan membuat seseorang tidak mudah ditipu.
“Aku ingin melihat dokumen yang mereka bawa,” kata Dedi.
Karsa menggeleng.
“Jangan ikut campur terlalu jauh, Ded. Kamu baru pulang. Urus sekolahmu saja.”
“Tapi kalau warga tidak memahami isi surat itu, mereka bisa rugi.”
Karsa memandangi anaknya dengan wajah serius.
“Kamu boleh peduli. Tapi hati-hati. Leman bukan orang yang suka jika ada yang mempertanyakan ucapannya.”
Dedi mengangguk.
Ia memahami peringatan ayahnya.
Namun, semakin banyak ia mendengar cerita tentang tanah warga yang dijual, semakin besar kegelisahan di dalam dirinya.
Sore berikutnya, Dedi berjalan ke arah kebun bersama Susanti.
Mereka melihat beberapa patok kayu baru tertancap di tepi jalan. Di beberapa tempat, ada tanda cat merah pada batang pohon dan pagar kebun warga.
“Patok apa itu?” tanya Susanti.
“Entahlah,” jawab Dedi. “Mungkin tanda tanah yang sudah dibeli.”
Susanti memandang sekeliling.
“Kalau tanah-tanah itu sudah dijual, anak-anak nanti bermain di mana? Warga berkebun di mana?”
Dedi tidak langsung menjawab.
Ia melihat seorang ibu tua sedang duduk di depan kebunnya. Wajahnya tampak murung. Di sampingnya, ada selembar kertas yang sudah dilipat berkali-kali.
Dedi mendekat.
“Bu, apakah tanah Ibu juga dijual?”
Perempuan tua itu mengangguk pelan.
“Anak saya yang memutuskan. Katanya uangnya bisa untuk memperbaiki rumah.”
“Apakah Ibu sudah membaca isi suratnya?”
Perempuan itu tersenyum pahit.
“Ibu tidak bisa membaca, Nak.”
Jawaban itu membuat dada Dedi terasa berat.
Ia mengambil kertas tersebut dengan izin perempuan itu. Ia membaca beberapa bagian secara perlahan. Bahasanya rumit dan banyak istilah yang tidak dipahami warga biasa.
Di bagian bawah, ada tanda tangan dan cap.
Dedi tidak langsung mengatakan apa pun.
Namun, ia tahu bahwa warga membutuhkan penjelasan.
Mereka tidak hanya membutuhkan uang.
Mereka membutuhkan pengetahuan agar tidak mengambil keputusan dalam keadaan terdesak.
Malam itu, Dedi membuka kembali buku peninggalan Pak Harun.
Ia membaca bagian tentang pendidikan masyarakat dan pentingnya musyawarah.
Lalu, ia menulis beberapa pertanyaan di buku catatannya.
Siapa pembeli tanah?
Untuk usaha apa tanah digunakan?
Apa hak warga setelah menjual tanah?
Apakah ada perjanjian kerja yang tertulis?
Apakah warga memahami isi dokumen yang ditandatangani?
Ia memandangi daftar itu cukup lama.
Di luar rumah, suara jangkrik terdengar dari kebun yang mulai sunyi.
Di desa, Burhan terus menawarkan uang dan janji.
Leman terus meyakinkan warga bahwa penjualan tanah adalah jalan menuju kemajuan.
Sementara itu, satu per satu keluarga mulai kehilangan sumber penghidupan yang selama ini menopang mereka.
Dedi belum melakukan apa-apa.
Namun, ia tahu bahwa diam terlalu lama dapat berarti membiarkan banyak orang jatuh ke dalam kesulitan yang lebih besar.
Dan tanpa disadarinya, dari tanah-tanah yang mulai berpindah tangan itulah, akan tumbuh konflik yang kelak mengubah hidupnya, keluarganya, Herawati, Susanti, serta seluruh Desa Suka Jaya.
BAB XXII
Suara dari Balai Desa
Kabar tentang penjualan tanah semakin ramai dibicarakan di Desa Suka Jaya.
Setiap hari, selalu ada cerita baru yang terdengar di warung, di tepi sungai, di jalan menuju kebun, atau di halaman rumah warga. Ada yang sudah menerima uang muka. Ada yang masih menimbang-nimbang. Ada pula yang menyesal setelah menandatangani surat, tetapi tidak tahu harus bertanya kepada siapa.
Di beberapa tempat, patok-patok kayu mulai bertambah.
Tanah yang sebelumnya ditanami singkong, jagung, dan karet kini diberi tanda cat merah. Sebagian warga memandang tanda-tanda itu dengan bangga karena merasa telah memperoleh uang. Namun, sebagian lain justru mulai cemas karena menyadari bahwa kebun yang selama ini menjadi tempat mencari makan perlahan tidak lagi berada dalam genggaman mereka.
Dedi tidak dapat menenangkan pikirannya.
Selama beberapa hari, ia mendatangi beberapa warga yang sudah menjual tanah. Ia tidak datang untuk menyalahkan mereka. Ia hanya ingin tahu apa yang sebenarnya mereka pahami sebelum membubuhkan tanda tangan.
Jawaban yang ia dapatkan hampir sama.
“Aku tidak terlalu mengerti isi suratnya.”
“Leman bilang ini aman.”
“Burhan bilang nanti ada pekerjaan.”
“Aku butuh uang untuk berobat.”
“Aku takut kalau tidak menjual sekarang, harganya nanti turun.”
Dedi semakin yakin bahwa masalah ini tidak boleh dibiarkan.
Ia membawa beberapa lembar catatan dari kota kecamatan. Ia menuliskan pertanyaan-pertanyaan penting tentang tanah, hak warga, dan perjanjian kerja. Ia juga membaca kembali dokumen yang sempat diperlihatkan oleh ibu tua di dekat kebun.
Bahasanya memang sulit.
Namun, ada beberapa bagian yang membuat Dedi merasa tidak tenang. Tidak ada penjelasan yang jelas tentang jenis usaha yang akan dibangun. Tidak ada jaminan tertulis bahwa warga akan mendapat pekerjaan. Bahkan, beberapa batas tanah dalam dokumen tampak tidak sesuai dengan yang selama ini dipahami warga.
Suatu sore, Dedi menemui Pak Warto di warung.
“Pak,” kata Dedi, “apakah dalam waktu dekat ada musyawarah desa?”
Pak Warto menatapnya.
“Ada. Leman bilang akan ada pertemuan di balai desa untuk membahas rencana pembangunan.”
Dedi mengangguk.
“Apakah warga boleh bertanya?”
Pak Warto tersenyum tipis.
“Secara aturan, tentu boleh. Tapi kau tahu sendiri bagaimana Leman kalau ada yang banyak bertanya.”
Dedi menunduk sebentar.
“Aku tetap ingin datang.”
Pak Warto memandangi wajah Dedi.
“Kau yakin?”
“Aku tidak ingin melawan siapa pun, Pak. Aku hanya ingin warga tahu apa yang mereka setujui.”
Pak Warto tidak langsung menjawab. Ia mengaduk kopi di hadapannya, lalu berkata pelan, “Kalau begitu, datanglah dengan kepala dingin. Jangan biarkan mereka membuatmu marah.”
Dedi mengangguk.
“Aku akan berusaha.”
Hari musyawarah akhirnya tiba.
Balai Desa Suka Jaya yang biasanya digunakan untuk rapat warga tampak lebih ramai dari biasanya. Kursi-kursi kayu disusun menghadap meja panjang di depan ruangan. Di atas meja, ada beberapa map, botol air minum, dan sebuah buku besar untuk mencatat kehadiran.
Leman duduk di bagian depan dengan pakaian rapi. Di sebelahnya duduk Burhan, mengenakan kemeja bersih dan sepatu mengilap. Wajahnya tetap ramah, seolah ia datang hanya untuk membawa kabar baik.
Beberapa perangkat desa hadir. Para tokoh masyarakat juga datang. Warga laki-laki dan perempuan memenuhi ruangan, sebagian duduk, sebagian berdiri di dekat pintu.
Herawati datang bersama Wagini.
Susanti datang bersama Pak Warto.
Dedi duduk tidak jauh dari ayahnya, Karsa.
Sebelum berangkat, Karsa sudah mengingatkan Dedi.
“Kalau bicara, jangan terburu-buru,” katanya. “Katakan yang perlu saja.”
Dedi mengangguk.
Namun, ia tahu bahwa berbicara di hadapan banyak orang tidak akan mudah.
Leman membuka musyawarah dengan suara lantang.
“Saudara-saudara sekalian,” katanya, “hari ini kita berkumpul untuk membicarakan masa depan Desa Suka Jaya. Kita semua ingin desa ini maju. Kita ingin jalan lebih baik, pekerjaan lebih banyak, dan kehidupan yang lebih layak bagi anak-anak kita.”
Beberapa warga mengangguk.
Leman lalu mempersilakan Burhan berbicara.
Burhan berdiri dengan senyum tenang.
“Saya datang bukan untuk memaksa,” katanya. “Saya datang membawa kesempatan. Ada rencana usaha yang akan membuka lapangan kerja di sekitar desa ini. Untuk itu, diperlukan lahan yang cukup. Warga yang bersedia menjual tanah akan mendapat harga yang baik. Selain itu, kami juga akan memprioritaskan warga setempat untuk bekerja.”
Kata-kata itu terdengar meyakinkan.
Burhan berbicara tentang pembangunan.
Tentang jalan yang akan diperbaiki.
Tentang peluang kerja.
Tentang desa yang katanya akan berubah menjadi lebih ramai dan lebih maju.
Namun, Dedi memperhatikan bahwa Burhan tidak menyebut secara jelas jenis usaha yang dimaksud. Ia juga tidak menjelaskan kapan pekerjaan akan tersedia, berapa upah yang akan diberikan, atau bagaimana nasib warga yang tanahnya sudah dijual tetapi tidak mendapat pekerjaan.
Setelah Burhan selesai, Leman kembali berdiri.
“Kalau ada yang ingin bertanya, silakan,” katanya.
Ruangan mendadak hening.
Beberapa warga saling pandang.
Tidak ada yang langsung mengangkat tangan.
Dedi memandang ayahnya.
Karsa tidak melarang, tetapi tatapannya mengingatkan agar Dedi tetap berhati-hati.
Dedi kemudian berdiri.
Beberapa kepala langsung menoleh kepadanya.
Leman memandang Dedi dengan senyum yang tidak sepenuhnya ramah.
“Ya, Dedi,” katanya. “Kamu mau bicara?”
Dedi menarik napas.
“Saya ingin bertanya, Pak.”
“Silakan.”
Dedi memegang buku catatannya.
“Pak Burhan mengatakan akan ada usaha dan lapangan pekerjaan. Usaha apa yang akan dibangun di tanah warga?”
Burhan tersenyum tipis.
“Itu masih dalam tahap pembahasan.”
“Kalau masih dalam pembahasan,” lanjut Dedi, “mengapa warga sudah diminta menjual tanah?”
Suasana mulai berubah.
Beberapa warga menoleh kepada Burhan.
Leman menyandarkan tubuhnya di kursi.
Burhan menjawab dengan tenang, “Karena proses pembangunan membutuhkan persiapan. Pembelian tanah adalah bagian dari persiapan itu.”
Dedi mengangguk.
“Apakah ada jaminan tertulis bahwa warga yang menjual tanah akan mendapat pekerjaan?”
Burhan diam sejenak.
“Sejauh ini, kami akan mengutamakan warga setempat.”
“Apakah itu tertulis dalam perjanjian?”
Burhan belum sempat menjawab ketika Leman menyela.
“Dedi, jangan terlalu banyak mempersulit,” katanya. “Pak Burhan datang membawa peluang. Jangan karena kamu sekolah di kota lalu merasa paling tahu.”
Beberapa orang tampak tidak nyaman mendengar ucapan itu.
Dedi tetap berdiri.
“Saya tidak merasa paling tahu, Pak Leman,” katanya dengan sopan. “Saya hanya ingin warga memahami isi dokumen sebelum menjual tanah mereka.”
Leman tersenyum sinis.
“Warga di sini sudah dewasa. Mereka tahu apa yang mereka lakukan.”
“Benar,” jawab Dedi. “Karena itu, mereka berhak mendapat penjelasan yang lengkap.”
Karsa memandang anaknya dengan cemas.
Herawati menahan napas.
Susanti menggenggam ujung bajunya.
Dedi melanjutkan, “Saya sudah melihat beberapa surat perjanjian. Banyak warga tidak bisa membaca isi dokumen dengan baik. Ada yang tidak tahu batas tanahnya. Ada yang tidak tahu apakah tanah itu dijual selamanya atau hanya dipinjamkan.”
Suara bisik-bisik mulai terdengar.
Pak Darto yang duduk di bagian belakang menunduk. Ia tampak gelisah.
Seorang ibu tua mengangkat tangan.
“Benar,” katanya pelan. “Saya juga tidak mengerti isi surat yang saya tanda tangani.”
Leman menoleh tajam kepadanya.
“Ibu sudah menerima uang, kan?”
Ibu itu mengangguk lemah.
“Sudah.”
“Kalau sudah menerima uang, berarti urusannya jelas.”
Dedi memandang Leman.
“Tidak selalu begitu, Pak. Uang bisa habis. Tapi tanah yang dijual mungkin tidak akan kembali.”
Kalimat itu membuat ruangan semakin sunyi.
Burhan berdiri.
“Saya menghargai kepedulian Dedi,” katanya. “Tapi jangan sampai pertanyaan-pertanyaan seperti ini membuat warga takut pada pembangunan.”
Dedi menatap Burhan.
“Saya tidak ingin warga takut pada pembangunan. Saya ingin pembangunan tidak membuat warga kehilangan masa depan.”
Beberapa orang mulai mengangguk.
Pak Warto berdiri dari kursinya.
“Saya setuju,” katanya. “Kalau memang ini rencana yang baik, tidak ada alasan untuk menutup-nutupi isi dokumen. Warga harus diberi waktu untuk membaca dan memahami.”
Leman memandang Pak Warto dengan wajah menegang.
“Kalian ini selalu curiga,” katanya. “Desa kita sudah terlalu lama tertinggal karena terlalu banyak orang takut berubah.”
“Bukan takut berubah,” jawab Pak Warto. “Kami hanya tidak ingin berubah menjadi lebih susah.”
Kata-kata itu membuat beberapa warga berani bersuara.
“Betul.”
“Dokumennya harus dijelaskan.”
“Kami ingin tahu usaha apa yang akan dibangun.”
“Kalau tidak ada jaminan kerja, bagaimana?”
Suasana balai desa menjadi semakin ramai.
Leman mengetuk meja dengan keras.
“Tenang!” serunya. “Jangan membuat musyawarah ini kacau.”
Namun, semakin ia mencoba menenangkan keadaan, semakin terlihat bahwa banyak warga mulai memiliki pertanyaan yang selama ini mereka pendam.
Burhan menatap Leman sebentar.
Ada ketidaksukaan di wajahnya, meski ia berusaha menyembunyikannya.
Lalu Burhan kembali berbicara.
“Baik,” katanya. “Kami akan menyiapkan penjelasan lebih lengkap pada pertemuan berikutnya. Warga yang belum menjual tanah tidak perlu terburu-buru. Silakan mempertimbangkan dengan baik.”
Ucapan itu terdengar seperti jawaban yang menenangkan.
Namun, Dedi tahu bahwa Burhan tidak benar-benar menjawab pertanyaan utama.
Musyawarah akhirnya ditutup menjelang sore.
Warga keluar dari balai desa sambil membawa berbagai pikiran. Ada yang mulai ragu menjual tanah. Ada yang merasa malu karena telah terburu-buru menandatangani surat. Ada pula yang tetap percaya pada Leman dan Burhan karena uang muka sudah berada di tangan.
Dedi berjalan keluar bersama Karsa.
“Ayah marah?” tanya Dedi pelan.
Karsa tidak langsung menjawab.
“Kamu bicara dengan sopan,” katanya akhirnya. “Tapi sekarang kamu harus lebih hati-hati.”
“Karena Leman?”
Karsa mengangguk.
“Orang yang merasa dipermalukan di depan banyak orang bisa menjadi berbahaya.”
Tidak jauh dari sana, Leman berdiri bersama Burhan.
Wajahnya merah menahan marah.
“Anak itu mulai mengganggu,” katanya.
Burhan memandang Dedi yang berjalan menjauh.
“Dia hanya anak sekolah.”
“Dia membuat warga ragu.”
“Kalau warga ragu, yakinkan mereka.”
Leman mengepalkan tangan.
“Kau tidak tahu Dedi. Kalau dibiarkan, dia akan mengajak lebih banyak orang melawan.”
Burhan tersenyum dingin.
“Kalau begitu, jangan biarkan dia mendapat terlalu banyak ruang untuk berbicara.”
Leman memandang balai desa yang mulai kosong.
Di dalam hatinya, kemarahan tumbuh seperti api kecil yang baru saja diberi angin.
Sejak hari itu, Dedi tidak lagi hanya dikenal sebagai anak desa yang sekolah di kota.
Ia mulai dianggap sebagai orang yang mengganggu rencana Leman dan Burhan.
Dan suara yang ia keluarkan di balai desa, meski hanya berupa pertanyaan-pertanyaan sederhana, telah membuka jalan menuju pertentangan yang jauh lebih besar.
BAB XXIII
Pemuda yang Dibungkam
Sejak musyawarah di balai desa, suasana Desa Suka Jaya tidak lagi sama.
Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Dedi telah menyebar dari satu rumah ke rumah lain. Warga yang sebelumnya menerima tawaran Burhan tanpa banyak berpikir mulai membuka kembali surat perjanjian mereka. Ada yang meminta bantuan anaknya untuk membaca. Ada yang datang kepada Pak Warto untuk bertanya. Ada pula yang mulai menyesal karena merasa telah terlalu cepat menyerahkan tanah.
Namun, tidak semua orang menyukai perubahan itu.
Leman semakin sering terlihat berbicara dengan Burhan di warung dekat jalan utama. Mereka tidak lagi duduk santai seperti sebelumnya. Suara mereka lebih pelan, wajah mereka lebih tegang, dan setiap kali Dedi lewat, tatapan Leman selalu mengikuti langkahnya.
Dedi memahami bahwa ia mulai dianggap sebagai pengganggu.
Tetapi ia tidak ingin berhenti.
Ia tidak berniat menjadi pemimpin desa. Ia tidak ingin mencari pujian. Ia hanya merasa bahwa warga berhak mengetahui apa yang sedang terjadi di tanah mereka sendiri.
Pada suatu sore, Dedi mengumpulkan beberapa pemuda di bawah pohon beringin.
Yang datang tidak banyak.
Ada Ardi, anak Pak Warto yang baru selesai sekolah dasar. Ada Jamil, pemuda yang sering membantu ayahnya di kebun. Ada Raka, seorang anak muda yang dikenal pendiam tetapi rajin membaca. Susanti datang membawa beberapa buku tulis. Herawati datang setelah membantu ibunya menyiapkan makan malam.
Dedi duduk di atas batang kayu yang dijadikan bangku sederhana.
“Aku tidak mengajak kalian untuk melawan siapa pun,” katanya. “Aku hanya ingin kita belajar bersama.”
“Belajar apa?” tanya Jamil.
“Belajar tentang hak kita sebagai warga. Belajar membaca surat-surat penting. Belajar memahami apa yang disebut pembangunan. Belajar supaya kita tidak mudah percaya hanya karena seseorang datang membawa janji.”
Ardi mengangguk pelan.
“Kalau kita bertanya, apakah itu berarti kita melawan?”
“Tidak,” jawab Dedi. “Bertanya adalah hak. Membaca sebelum menandatangani adalah hak. Memikirkan masa depan keluarga adalah hak.”
Susanti membuka buku tulis yang dibawanya.
“Kita juga bisa belajar membaca dan menulis untuk anak-anak,” katanya. “Banyak orang tua di desa ini tidak bisa membaca surat. Kalau anak-anak belajar sejak sekarang, mereka tidak akan mudah bingung ketika dewasa.”
Herawati menambahkan, “Kita bisa mulai dari hal sederhana. Mengajari anak-anak mengeja, membantu warga membaca surat, dan berdiskusi tanpa saling menghina.”
Dedi memandang mereka satu per satu.
“Kalau kalian setuju, kita buat kelompok belajar.”
“Namanya apa?” tanya Raka.
Dedi terdiam sejenak.
Ia memandang jalan kecil yang mengarah ke ujung desa. Di sana, matahari sore mulai turun perlahan, meninggalkan cahaya kekuningan di antara pepohonan.
“Kelompok Lentera,” jawabnya. “Karena kita ingin belajar agar tidak berjalan dalam gelap.”
Nama itu diterima dengan senyum sederhana.
Mereka tidak memiliki ruangan khusus.
Mereka tidak memiliki meja yang cukup.
Mereka tidak memiliki banyak buku.
Namun, mereka memiliki keinginan untuk memahami hidup dengan lebih baik.
Sejak sore itu, Kelompok Lentera mulai berkumpul dua kali dalam seminggu.
Mereka belajar di bawah pohon beringin, di teras rumah Pak Warto, atau di halaman sekolah ketika tidak digunakan. Dedi membawa catatan dari kota kecamatan. Susanti membantu anak-anak menulis huruf. Herawati mengajarkan cara membaca kalimat sederhana. Raka membantu membuat daftar warga yang membutuhkan bantuan membaca surat.
Pada pertemuan pertama, hanya ada beberapa anak kecil dan pemuda.
Pada pertemuan berikutnya, jumlahnya mulai bertambah.
Anak-anak datang membawa pensil pendek dan buku tulis yang sudah hampir penuh. Beberapa ibu datang sambil membawa surat atau kertas yang tidak mereka pahami. Para pemuda mulai berani bertanya tentang tanah, pekerjaan, dan masa depan desa.
“Kalau tanah sudah dijual, apakah kita masih boleh lewat jalan kebun?” tanya seorang warga.
“Kalau perjanjian kerja tidak tertulis, apakah janji itu bisa dipercaya?” tanya yang lain.
Dedi tidak selalu memiliki jawaban.
Tetapi ia selalu berusaha mencari penjelasan.
Ia mengajarkan bahwa tidak mengetahui bukan berarti bodoh. Yang berbahaya adalah tidak mau belajar karena takut dianggap merepotkan orang lain.
Kelompok Lentera perlahan menjadi tempat bagi warga untuk berbicara.
Dan justru karena itulah, Leman mulai merasa terganggu.
Suatu malam, Leman duduk di warung bersama beberapa orang yang dikenal dekat dengannya. Di atas meja, gelas kopi sudah tinggal setengah. Asap rokok menggantung di udara.
“Anak-anak itu sekarang merasa hebat,” kata Leman.
Salah seorang lelaki mengangguk.
“Mereka sering berkumpul di bawah beringin.”
“Bukan hanya berkumpul,” jawab Leman. “Mereka membicarakan tanah. Mereka membuat warga ragu.”
“Kalau dibiarkan, orang-orang akan semakin banyak mendengar Dedi.”
Leman menatap gelas kopinya.
“Dedi harus diberi peringatan.”
Keesokan sore, ketika Kelompok Lentera sedang berkumpul di teras rumah Pak Warto, beberapa lelaki datang.
Mereka bukan perangkat desa.
Mereka juga bukan orang yang biasa ikut belajar.
Mereka berdiri di depan halaman dengan wajah keras.
Dedi yang sedang menjelaskan isi sebuah surat perjanjian langsung berhenti berbicara.
“Ada apa?” tanya Pak Warto.
Salah seorang lelaki melangkah maju.
“Kami hanya ingin mengingatkan,” katanya. “Jangan terlalu banyak membuat pertemuan seperti ini.”
Dedi berdiri.
“Kami hanya belajar, Bang.”
“Belajar apa? Membuat warga curiga kepada orang lain?”
“Tidak,” jawab Dedi tenang. “Kami belajar membaca dan memahami dokumen.”
Lelaki itu menatap Dedi tajam.
“Kalau ingin sekolah, sekolah saja di kota. Jangan bawa-bawa pikiran kota ke desa.”
Herawati yang duduk bersama anak-anak tampak tegang.
Susanti memegang buku tulisnya lebih erat.
Dedi tetap berusaha menjaga suaranya.
“Desa ini juga rumahku. Aku tidak ingin membawa masalah. Aku hanya ingin warga tidak dirugikan.”
Lelaki itu mendekat.
“Kalau kamu tidak ingin masalah, berhenti mengumpulkan orang.”
Suasana menjadi sunyi.
Pak Warto berdiri di samping Dedi.
“Jangan mengancam di halaman rumah saya,” katanya tegas. “Kalau kalian punya keberatan, bicarakan baik-baik.”
Lelaki itu memandang Pak Warto, lalu memandang Dedi sekali lagi.
“Kami sudah bicara baik-baik.”
Setelah itu, mereka pergi.
Namun, kepergian mereka tidak membuat suasana kembali tenang.
Anak-anak yang tadi belajar mulai takut. Beberapa pemuda saling memandang. Ada yang ingin berhenti datang karena tidak ingin keluarganya ikut terkena masalah.
Malamnya, Dedi duduk di rumah bersama Karsa dan Marni.
Karsa sudah mendengar tentang kedatangan beberapa lelaki itu.
“Ayah sudah bilang, hati-hati,” katanya.
Dedi menunduk.
“Aku tidak mencari masalah, Pak.”
“Ayah tahu. Tapi orang yang merasa kepentingannya terganggu tidak selalu melihat niat baik.”
Marni tampak cemas.
“Kalau mereka datang lagi bagaimana?”
Dedi tidak segera menjawab.
Ia memandang buku-buku yang tersusun di dekat dinding.
“Aku tidak tahu, Bu.”
“Kalau begitu berhenti dulu,” kata Marni dengan suara pelan. “Setidaknya sampai keadaan tenang.”
Dedi memandang ibunya.
Ia memahami ketakutan Marni.
Ia juga takut.
Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk ayah dan ibunya. Untuk Herawati. Untuk Susanti. Untuk para pemuda yang mulai percaya bahwa belajar dapat mengubah hidup mereka.
Namun, ia juga melihat wajah ibu tua yang tidak bisa membaca surat tanahnya.
Ia mengingat Pak Darto yang mulai menyesal.
Ia mengingat anak-anak yang datang membawa pensil pendek dan ingin belajar menulis nama sendiri.
“Aku tidak bisa berhenti begitu saja, Bu,” kata Dedi akhirnya. “Kalau semua orang diam karena takut, siapa yang akan membantu mereka memahami?”
Karsa menarik napas panjang.
“Kamu ingin terus melanjutkan?”
Dedi mengangguk.
“Aku ingin melanjutkan. Tapi aku akan lebih hati-hati.”
Karsa memandang anaknya cukup lama.
Lalu ia berkata, “Kalau kamu memilih jalan ini, jangan berjalan sendirian.”
Keesokan harinya, Dedi menemui Herawati dan Susanti di bawah pohon beringin.
“Aku ingin meminta maaf,” kata Dedi.
Herawati mengernyitkan dahi.
“Untuk apa?”
“Karena kalian ikut berada dalam keadaan yang tidak aman.”
Susanti menggeleng.
“Kami datang karena kami mau membantu.”
“Tapi Leman bisa saja menyebarkan cerita baru.”
Herawati menatap Dedi dengan tenang.
“Kalau kita berhenti hanya karena orang lain ingin membuat kita takut, maka mereka akan selalu menang.”
Dedi terdiam.
Herawati melanjutkan, “Aku takut, Ded. Tapi aku juga tahu apa yang kamu lakukan bukan hal yang salah.”
Susanti tersenyum kecil.
“Kelompok Lentera tidak boleh mati hanya karena beberapa orang datang membawa ancaman.”
Dedi memandang kedua sahabatnya.
Untuk pertama kalinya sejak ancaman itu datang, ia merasa tidak sendirian.
Mereka kemudian sepakat untuk melanjutkan kegiatan dengan cara yang lebih teratur. Pertemuan tidak selalu dilakukan di tempat yang sama. Mereka membagi kelompok kecil. Anak-anak tetap belajar membaca. Warga yang ingin memahami surat dapat datang secara bergantian.
Mereka tidak ingin membuat keributan.
Mereka hanya ingin menjaga cahaya kecil agar tidak padam.
Namun, dari kejauhan, Leman terus memperhatikan.
Ia melihat semakin banyak anak muda berkumpul bersama Dedi.
Ia melihat warga mulai berani bertanya.
Ia melihat Herawati dan Susanti berdiri di samping Dedi.
Dan setiap kali melihat itu, ia semakin yakin bahwa peringatan sederhana tidak akan cukup.
Kelompok Lentera belum dibubarkan.
Tetapi sejak hari itu, para pemuda Desa Suka Jaya mulai merasakan bahwa suara mereka sedang berusaha dibungkam.
Mereka belum tahu bahwa ancaman berikutnya tidak akan lagi datang dalam bentuk kata-kata.
BAB XXIV
Luka di Wajah Dedi
Sejak ancaman di halaman rumah Pak Warto, kegiatan Kelompok Lentera tidak lagi berlangsung dengan suasana yang sama.
Anak-anak masih datang membawa buku tulis dan pensil pendek. Mereka masih duduk berjejer di teras rumah warga atau di bawah pohon beringin. Mereka masih belajar mengeja huruf, menulis nama, dan membaca kalimat sederhana.
Namun, kini setiap suara langkah dari jalan membuat beberapa orang menoleh.
Setiap ada orang asing yang berhenti di dekat tempat belajar, suasana menjadi lebih hening.
Dedi berusaha bersikap biasa.
Ia tidak ingin anak-anak merasa bahwa belajar adalah sesuatu yang berbahaya. Ia tidak ingin para pemuda mengira bahwa keberanian hanya milik orang-orang yang tidak pernah takut.
Padahal, dalam dirinya sendiri, rasa takut itu ada.
Ia takut kepada ancaman yang tidak terlihat jelas.
Ia takut kepada orang-orang yang memilih bersembunyi di balik kata-kata.
Ia takut jika suatu hari ayah dan ibunya menjadi sasaran karena dirinya.
Namun, ia juga tahu bahwa rasa takut tidak boleh membuatnya berhenti melakukan hal yang benar.
Suatu sore, Kelompok Lentera mengadakan pertemuan kecil di rumah Pak Warto.
Dedi membawa beberapa lembar kertas yang berisi penjelasan sederhana tentang cara membaca surat perjanjian. Ia menulis dengan bahasa yang mudah dipahami agar warga tidak bingung dengan istilah-istilah rumit.
Di hadapannya duduk beberapa pemuda, beberapa ibu, serta anak-anak yang sedang belajar menulis.
“Kalau menerima surat dari siapa pun,” kata Dedi, “jangan langsung menandatangani. Bacalah dulu. Kalau tidak bisa membaca, minta bantuan orang yang dipercaya.”
Seorang ibu mengangkat tangan.
“Kalau orang yang membawa surat itu bilang harus cepat bagaimana?”
“Justru kalau terlalu dipaksa cepat, kita harus lebih hati-hati,” jawab Dedi. “Keputusan tentang tanah, rumah, atau pekerjaan tidak boleh dibuat karena takut.”
Herawati yang duduk di samping anak-anak memandang Dedi dengan bangga.
Ia melihat Dedi bukan lagi anak laki-laki yang dulu berjalan kaki ke sekolah melewati jalan berlumpur. Ia masih memiliki wajah sederhana dan pakaian yang tidak mewah, tetapi cara bicaranya kini lebih tenang dan lebih kuat.
Susanti juga memperhatikan Dedi dari kejauhan.
Ia menyadari bahwa perjuangan sahabatnya semakin besar. Namun, semakin besar pula bahaya yang mengintai.
Menjelang senja, pertemuan selesai.
Warga pulang satu per satu. Anak-anak berlari kecil menuju rumah masing-masing sambil membawa buku. Herawati membantu membereskan beberapa alat tulis. Susanti mengumpulkan buku-buku yang dipinjamkan kepada anak-anak.
“Kamu jangan pulang sendiri,” kata Herawati kepada Dedi.
Dedi tersenyum kecil.
“Rumahku tidak jauh.”
“Bukan soal jauh,” jawab Herawati. “Aku hanya merasa tidak tenang.”
Susanti mengangguk.
“Sejak orang-orang itu datang, sebaiknya kamu lebih hati-hati.”
Dedi memandangi keduanya.
“Aku akan hati-hati.”
Herawati tampak ingin berkata lebih banyak, tetapi Dedi sudah mengambil tas kainnya.
“Aku harus pulang sebelum Ibu khawatir,” katanya.
Herawati mengangguk pelan.
“Besok datang lagi?”
“Datang.”
Dedi berjalan meninggalkan rumah Pak Warto ketika langit mulai berubah jingga.
Jalan menuju rumahnya melewati kebun karet dan sebuah jembatan kecil dari kayu. Di sisi jalan, rumput liar tumbuh tinggi. Suara serangga mulai terdengar dari semak-semak.
Dedi berjalan sambil membawa tas kain di bahunya.
Di dalam tas itu, ada buku-buku pelajaran, beberapa lembar catatan Kelompok Lentera, dan sebuah buku peninggalan Pak Harun yang selalu ia bawa.
Ia tidak menyadari bahwa sejak keluar dari rumah Pak Warto, ada beberapa pasang mata yang memperhatikannya dari kejauhan.
Ketika ia sampai di dekat jembatan kecil, terdengar suara ranting patah dari arah kebun.
Dedi berhenti.
“Siapa?” tanyanya.
Tidak ada jawaban.
Ia melangkah lagi.
Baru beberapa langkah, dua orang lelaki keluar dari balik semak. Wajah mereka ditutupi kain. Salah seorang berdiri di depan Dedi, sementara yang lain berada di belakangnya.
Dedi menegang.
“Ada apa?” tanyanya, berusaha menjaga suara tetap tenang.
Salah seorang lelaki mendekat.
“Kami sudah bilang, jangan terlalu banyak bicara.”
Dedi memegang tali tasnya lebih erat.
“Aku tidak melakukan apa-apa selain mengajar.”
“Jangan menganggap dirimu pahlawan.”
“Aku tidak menganggap diriku pahlawan.”
“Kalau begitu, berhenti membuat warga melawan.”
Dedi menggeleng.
“Aku tidak mengajak siapa pun melawan. Aku hanya ingin mereka mengerti.”
Lelaki itu tertawa pendek.
“Orang seperti kamu selalu punya alasan.”
Dedi mencoba melangkah mundur.
Namun, lelaki di belakangnya mendorong bahunya dengan keras.
Dedi hampir jatuh.
“Aku tidak ingin masalah,” kata Dedi.
“Kami juga tidak ingin masalah,” jawab lelaki itu. “Kami hanya ingin kamu diam.”
Dedi belum sempat menjawab ketika sebuah pukulan mengenai sisi wajahnya.
Tubuhnya terhuyung.
Tas kainnya jatuh ke tanah.
Buku-buku dan kertas-kertas di dalamnya berserakan di jalan.
Dedi mencoba berdiri, tetapi lelaki lain menendang tasnya hingga terlempar ke arah sungai kecil di bawah jembatan.
Beberapa buku jatuh ke air.
Halaman-halamannya terbuka dan hanyut perlahan.
“Jangan!” seru Dedi.
Ia berusaha meraih tasnya, tetapi salah seorang lelaki kembali mendorongnya. Wajah Dedi membentur kayu pagar jembatan.
Rasa sakit menjalar dari pelipis hingga pipinya.
Darah mulai mengalir tipis di dekat alisnya.
Lelaki itu menunjuk wajah Dedi.
“Ini baru peringatan,” katanya. “Kalau kamu masih mengumpulkan orang, lain kali bukan hanya buku yang dibuang.”
Setelah itu, mereka pergi cepat ke arah kebun.
Dedi terduduk di pinggir jalan.
Napasnya memburu.
Tangannya gemetar.
Untuk beberapa saat, ia hanya memandangi air sungai kecil yang membawa beberapa halaman bukunya menjauh.
Buku-buku itu bukan sekadar kertas.
Di dalamnya ada catatan pelajaran dari kota.
Ada daftar pertanyaan tentang tanah warga.
Ada tulisan-tulisan Susanti.
Ada bahan belajar untuk anak-anak.
Dan ada buku peninggalan Pak Harun.
Dedi segera turun ke tepi sungai kecil. Ia berusaha mengambil buku-buku yang masih tersangkut di antara batu dan ranting. Air sudah membuat sebagian halaman basah. Beberapa lembar robek. Sebagian lainnya hanyut terlalu jauh.
Ia menemukan buku peninggalan Pak Harun dalam keadaan basah dan kotor.
Dedi memeluknya erat.
Matanya terasa panas.
Bukan hanya karena luka di wajahnya.
Tetapi karena ia tahu, orang-orang itu tidak sekadar ingin melukainya.
Mereka ingin membuatnya merasa kecil.
Mereka ingin membuatnya berhenti.
Ketika Dedi sampai di rumah, hari sudah gelap.
Marni yang sedang menunggu di depan rumah langsung berdiri ketika melihat wajah anaknya.
“Dedi!” serunya.
Karsa keluar dari dalam rumah.
Wajahnya berubah ketika melihat darah di pelipis Dedi dan pakaian anaknya yang penuh tanah.
“Apa yang terjadi?” tanya Karsa.
Dedi tidak langsung menjawab.
Ia meletakkan tas kain yang basah di lantai.
“Aku jatuh,” katanya pelan.
Karsa memandangnya tajam.
“Kamu jatuh atau ada orang yang melakukan ini?”
Dedi diam.
Marni mendekat dan memegang wajah anaknya dengan tangan gemetar.
“Siapa yang memukulmu?”
Dedi menunduk.
“Aku tidak tahu siapa mereka. Wajahnya ditutup.”
Karsa mengepalkan tangan.
“Karena Kelompok Lentera?”
Dedi mengangguk pelan.
Marni mulai menangis.
“Ayah sudah bilang. Ibu juga sudah bilang. Kenapa kamu tidak berhenti saja?”
Dedi memejamkan mata.
Ia tidak ingin melihat ibunya menangis karena dirinya.
“Aku tidak ingin kalian ikut terkena masalah,” katanya.
“Kalau begitu, berhentilah,” jawab Marni. “Ibu tidak peduli orang lain mau berkata apa. Ibu hanya ingin kamu selamat.”
Karsa berjalan ke luar rumah. Ia berdiri di halaman cukup lama, memandangi jalan yang gelap.
Kemudian ia kembali masuk.
“Kita harus melapor,” katanya.
Dedi menggeleng.
“Jangan, Pak.”
“Kenapa?”
“Aku tidak tahu siapa mereka. Kalau kita melapor tanpa bukti, mereka bisa lebih marah. Mereka bisa datang lagi.”
“Jadi kamu mau diam saja?”
Dedi tidak menjawab.
Karsa menatap luka di wajah anaknya. Dalam dirinya, kemarahan bercampur dengan rasa tidak berdaya.
Ia ingin melindungi Dedi.
Namun, ia juga tahu bahwa mereka berhadapan dengan orang-orang yang memiliki pengaruh dan banyak cara untuk menekan warga.
Malam itu, Herawati datang bersama Susanti.
Mereka mendengar kabar dari seorang anak yang melihat Dedi berjalan pulang dalam keadaan terluka.
Ketika masuk ke rumah, Herawati langsung terdiam melihat wajah Dedi.
Luka di pelipisnya sudah dibersihkan, tetapi memar mulai terlihat di pipinya.
Herawati mendekat dengan mata berkaca-kaca.
“Siapa yang melakukan ini?” tanyanya.
Dedi menggeleng.
“Aku tidak tahu.”
“Kenapa kamu pulang sendiri?” suara Herawati bergetar. “Kenapa kamu tidak mendengarkan kami?”
Dedi menunduk.
“Aku tidak ingin membuat kalian khawatir.”
“Justru sekarang kami lebih khawatir,” jawab Herawati.
Susanti berdiri tidak jauh dari mereka. Wajahnya pucat, tetapi suaranya tetap berusaha tenang.
“Mereka membuang buku-bukumu?”
Dedi mengangguk.
“Sebagian hanyut.”
Susanti memandangi tas kain yang basah di lantai. Ia melihat beberapa halaman buku yang menempel karena air.
“Kita bisa menulis ulang,” katanya.
Dedi mengangkat wajah.
“Apa?”
“Kita bisa menulis ulang catatanmu. Kita bisa membuat bahan belajar baru. Buku yang hilang memang tidak mudah diganti, tapi apa yang sudah kamu ajarkan tidak hilang begitu saja.”
Herawati menatap Susanti, lalu memandang Dedi.
“Benar,” katanya. “Mereka bisa melukai wajahmu. Mereka bisa membuang buku-bukumu. Tapi mereka tidak bisa membuang apa yang sudah kamu tanam di pikiran anak-anak dan warga.”
Dedi terdiam.
Kalimat itu perlahan menghangatkan hatinya yang sejak tadi dipenuhi kemarahan dan kecewa.
Ia melihat Herawati yang menahan tangis.
Ia melihat Susanti yang tetap berusaha kuat.
Ia melihat ayah dan ibunya yang cemas.
Di saat itu, Dedi menyadari bahwa perjuangannya tidak lagi hanya tentang dirinya.
Apa pun yang ia lakukan akan menyentuh hidup orang-orang yang ia sayangi.
Keesokan harinya, berita tentang luka di wajah Dedi menyebar ke seluruh Desa Suka Jaya.
Ada warga yang datang menjenguk.
Ada yang marah.
Ada yang takut.
Ada yang mulai berkata bahwa Dedi sebaiknya berhenti.
Namun, ada pula beberapa pemuda yang datang membawa buku tulis baru, kertas bekas, dan pensil.
Ardi datang membawa papan kecil dari rumahnya.
Jamil membawa beberapa buku lama milik adiknya.
Raka membawa catatan yang ia salin dari pertemuan Kelompok Lentera.
“Kami tidak ingin berhenti,” kata Ardi.
Dedi memandangi mereka.
Wajahnya masih sakit.
Buku-bukunya masih basah.
Namun, di hadapannya, ada tangan-tangan muda yang mulai ingin menjaga cahaya bersama-sama.
Dedi belum memberi jawaban.
Ia masih memikirkan ancaman itu.
Ia masih memikirkan keselamatan keluarganya.
Tetapi jauh di dalam dirinya, ia tahu bahwa luka di wajahnya akan menjadi tanda.
Tanda bahwa perjuangan untuk pendidikan dan hak masyarakat tidak selalu berjalan dengan kata-kata lembut.
Kadang, perjuangan itu harus melewati ketakutan.
Kadang, perjuangan itu meninggalkan luka.
Dan luka pertama di wajah Dedi Kusnadi menjadi awal dari ujian yang lebih berat bagi cinta, persahabatan, serta masa depan Desa Suka Jaya.
BAB XXV
Cinta yang Diuji Ketakutan
Luka di wajah Dedi belum benar-benar sembuh ketika ketakutan mulai tumbuh di dalam hati Herawati.
Setiap kali melihat memar di pipi Dedi atau luka tipis di pelipisnya, Herawati teringat pada malam ketika ayahnya pernah pulang dalam keadaan lemah setelah bekerja terlalu keras. Ia teringat bagaimana penyakit perlahan mengambil kekuatan Pak Samin, membuat keluarganya hidup dalam kecemasan yang panjang.
Herawati tidak ingin kembali kehilangan seseorang yang ia sayangi.
Terlebih lagi, kali ini ancaman itu datang dari orang-orang yang tidak terlihat jelas.
Orang-orang yang berani memukul Dedi di jalan sepi.
Orang-orang yang dapat datang kapan saja.
Orang-orang yang mungkin tidak akan berhenti hanya dengan satu peringatan.
Beberapa hari setelah kejadian itu, Dedi duduk di bawah pohon beringin dengan wajah masih pucat. Ia membawa buku catatan baru yang diberikan oleh Ardi dan teman-teman Kelompok Lentera.
Di hadapannya, beberapa halaman kosong menunggu untuk diisi kembali.
Catatan tentang tanah warga.
Bahan belajar untuk anak-anak.
Daftar nama pemuda yang ingin ikut berdiskusi.
Semua yang hilang di sungai perlahan harus ditulis ulang.
Herawati datang membawa sebuah bungkusan kecil.
“Apa itu?” tanya Dedi.
“Obat untuk lukamu,” jawab Herawati.
Dedi tersenyum tipis.
“Lukanya sudah hampir kering.”
“Bukan berarti tidak perlu dirawat.”
Herawati duduk di sampingnya. Ia membuka bungkusan itu, lalu mengambil kain bersih yang telah dibasahi air hangat.
Dedi tidak menolak ketika Herawati membersihkan luka di pelipisnya dengan perlahan.
Namun, wajah Herawati tampak tidak tenang.
“Ada yang ingin kamu katakan?” tanya Dedi.
Herawati menghentikan tangannya.
“Dedi,” katanya pelan, “berhentilah.”
Dedi menatapnya.
“Berhenti apa?”
“Berhenti mengumpulkan warga. Berhenti mengadakan kelompok belajar untuk sementara. Berhenti membicarakan tanah dan Burhan.”
Dedi diam.
Herawati menunduk.
“Aku tahu niatmu baik. Aku tahu kamu tidak ingin warga ditipu. Aku tahu kamu hanya ingin membantu. Tapi lihat apa yang terjadi.”
Dedi memandangi wajah Herawati.
“Mereka memukulku karena mereka tidak ingin warga belajar.”
“Dan kalau kamu terus melanjutkan, mereka bisa melakukan lebih dari itu.”
Suara Herawati mulai bergetar.
“Aku tidak sanggup melihatmu terluka lagi.”
Dedi menarik napas panjang.
“Hera, kalau aku berhenti sekarang, mereka akan merasa berhasil.”
“Aku tidak peduli mereka berhasil atau tidak,” jawab Herawati cepat. “Aku hanya peduli kamu selamat.”
Kalimat itu membuat Dedi terdiam.
Angin sore bergerak pelan di antara daun-daun beringin. Di kejauhan, suara anak-anak terdengar bermain di halaman rumah warga. Desa Suka Jaya tampak tenang dari luar, tetapi di dalamnya ada ketegangan yang semakin sulit disembunyikan.
“Aku juga takut,” kata Dedi akhirnya.
Herawati menatapnya.
“Kamu takut?”
Dedi mengangguk.
“Aku takut pada mereka. Aku takut kalau Ayah dan Ibu ikut menjadi sasaran. Aku takut kalau kamu dan Susanti ikut terkena masalah.”
“Kalau kamu takut, kenapa tidak berhenti?”
Dedi memandang jalan menuju ujung desa.
“Karena aku melihat terlalu banyak orang yang tidak bisa membaca surat mereka sendiri. Aku melihat tanah warga dijual tanpa mereka benar-benar mengerti. Aku melihat anak-anak yang ingin belajar, tetapi tidak punya buku. Kalau aku diam, aku akan merasa seperti membiarkan semuanya terjadi.”
Herawati menggenggam kain di tangannya.
“Tidak semua perjuangan harus kamu lakukan sendiri.”
“Aku tahu.”
“Kalau begitu, biarkan orang lain yang melanjutkan.”
Dedi tersenyum pahit.
“Kalau semua orang berpikir begitu, tidak ada yang akan memulai.”
Herawati menahan air mata.
“Kenapa harus kamu?”
Pertanyaan itu keluar dari hati yang penuh ketakutan.
Dedi tidak segera menjawab.
Ia teringat Pak Harun.
Ia teringat ayahnya yang bekerja keras di kebun.
Ia teringat ibu tua yang tidak bisa membaca surat tanahnya.
Ia teringat buku-buku yang hanyut di sungai.
“Aku tidak tahu kenapa harus aku,” katanya pelan. “Tapi aku tahu aku tidak bisa pura-pura tidak melihat.”
Herawati menunduk.
Air matanya jatuh ke punggung tangannya.
Dedi ingin menghapus air mata itu, tetapi ia ragu. Ia tahu kata-katanya tidak akan langsung menghilangkan ketakutan Herawati.
“Aku tidak ingin kehilanganmu,” kata Herawati.
Dedi menatapnya.
“Kamu tidak akan kehilangan aku.”
“Jangan mengatakan sesuatu yang tidak bisa kamu jamin.”
Dedi terdiam.
Herawati berdiri.
“Aku sudah kehilangan banyak hal dalam hidupku,” katanya. “Aku melihat Ayah sakit dan tidak bisa bekerja seperti dulu. Aku melihat Ibu menangis karena tidak tahu harus mencari uang dari mana. Aku tidak ingin suatu hari datang ke rumahmu dan melihat Ibumu menangis karena kamu tidak pulang.”
Kata-kata itu menusuk hati Dedi.
Ia berdiri perlahan.
“Hera…”
Herawati menggeleng.
“Aku tidak meminta kamu menjadi pengecut. Aku hanya meminta kamu memikirkan hidupmu sendiri.”
“Aku memikirkan hidupku.”
“Tidak,” jawab Herawati. “Kamu lebih banyak memikirkan hidup orang lain.”
Dedi tidak mampu membantah.
Karena sebagian dari perkataan Herawati memang benar.
Sejak awal, ia terlalu sibuk memikirkan pendidikan warga, tanah masyarakat, dan masa depan anak-anak desa. Ia ingin menjadi berguna, seperti pesan ayahnya. Ia ingin menjaga cita-cita Pak Harun.
Namun, ia belum sepenuhnya memikirkan luka yang ditanggung orang-orang yang mencintainya.
Herawati berjalan beberapa langkah, lalu berhenti.
Tanpa menoleh, ia berkata, “Kalau kamu tetap memilih jalan ini, aku tidak tahu apakah aku cukup kuat untuk terus berdiri di sampingmu.”
Setelah itu, ia pergi meninggalkan Dedi di bawah pohon beringin.
Dedi tetap berdiri di sana.
Tangannya masih memegang buku catatan baru.
Halaman-halaman kosong di dalamnya terasa seperti pertanyaan yang belum menemukan jawaban.
Malamnya, Susanti datang ke rumah Dedi.
Ia membawa beberapa lembar kertas dan buku tulis yang ingin digunakan untuk menyalin kembali bahan Kelompok Lentera.
Namun, ketika melihat wajah Dedi yang murung, ia tahu ada sesuatu yang terjadi.
“Kamu bertengkar dengan Herawati?” tanya Susanti.
Dedi mengangguk pelan.
“Dia ingin aku berhenti.”
Susanti duduk di dekatnya.
“Karena dia takut.”
“Aku tahu.”
“Dan kamu?”
“Aku tidak bisa berhenti.”
Susanti menatap Dedi cukup lama.
“Aku juga takut, Ded.”
Dedi mengangkat wajah.
“Kamu juga?”
Susanti mengangguk.
“Aku takut suatu hari kamu tidak pulang. Aku takut orang-orang itu akan kembali. Aku takut Herawati benar.”
Dedi memandangi lantai rumahnya.
“Lalu menurutmu aku harus bagaimana?”
Susanti tidak langsung menjawab.
Ia membuka buku tulis di pangkuannya.
“Kita harus mencari cara yang lebih aman,” katanya. “Bukan berhenti, tetapi jangan juga berjalan sendiri. Jangan pulang sendirian. Jangan selalu mengadakan pertemuan di tempat terbuka. Libatkan orang-orang yang lebih tua. Libatkan warga yang berani bicara.”
Dedi terdiam.
“Herawati tidak salah karena takut,” lanjut Susanti. “Dia mencintaimu dengan caranya. Ia hanya belum tahu bagaimana menghadapi bahaya ini.”
Dedi menatap Susanti.
“Kamu tahu banyak tentang perasaan orang.”
Susanti tersenyum kecil, tetapi ada kesedihan yang disembunyikannya.
“Kadang orang yang tidak banyak bicara justru lebih sering memperhatikan.”
Dedi tidak memahami sepenuhnya maksud Susanti.
Ia hanya mengangguk.
“Terima kasih, San.”
Susanti berdiri.
“Besok aku akan bicara dengan Herawati.”
“Jangan memaksanya.”
“Aku tidak akan memaksa. Aku hanya ingin dia tahu bahwa kamu juga takut, bukan hanya keras kepala.”
Keesokan harinya, Susanti menemui Herawati di rumahnya.
Herawati sedang membantu Wagini membersihkan sayuran di dapur. Wajahnya tampak lelah karena semalaman sulit tidur.
“Kamu dari rumah Dedi?” tanya Herawati.
Susanti mengangguk.
“Iya.”
“Bagaimana dia?”
“Dia diam.”
Herawati menunduk.
“Aku tidak bermaksud menyakitinya.”
“Aku tahu.”
“Aku hanya takut.”
“Aku juga takut.”
Herawati menatap Susanti.
Susanti melanjutkan, “Tapi Dedi tidak sedang mencari bahaya. Dia hanya tidak bisa diam ketika melihat orang lain dirugikan.”
“Aku tahu itu.”
“Kalau kamu benar-benar ingin dia berhenti, mungkin kamu harus memahami bahwa bagi Dedi, perjuangan ini bukan sekadar pilihan. Ini sudah menjadi bagian dari dirinya.”
Herawati mengusap matanya.
“Lalu aku harus bagaimana?”
Susanti duduk di sampingnya.
“Kamu tidak harus setuju dengan semua keputusannya. Kamu boleh marah. Kamu boleh takut. Tapi jangan biarkan ketakutan membuat kalian saling menjauh tanpa bicara.”
Herawati terdiam cukup lama.
Di luar rumah, suara angin menggerakkan daun-daun pisang. Wagini yang sejak tadi mendengar percakapan mereka tidak ikut campur, tetapi wajahnya menunjukkan bahwa ia memahami luka yang sedang dialami putrinya.
Menjelang sore, Herawati kembali datang ke bawah pohon beringin.
Dedi masih berada di sana.
Ia sedang menulis ulang catatan yang hilang.
Ketika melihat Herawati datang, Dedi berhenti menulis.
Mereka saling diam beberapa saat.
“Aku minta maaf,” kata Herawati akhirnya.
Dedi menggeleng.
“Kamu tidak perlu minta maaf.”
“Aku bicara seolah kamu tidak peduli pada hidupmu sendiri.”
“Aku memang sering lupa memikirkan diriku sendiri.”
Herawati duduk di sampingnya.
“Aku tidak bisa memintamu berhenti sepenuhnya,” katanya. “Aku tahu kamu tidak akan bisa.”
Dedi menatapnya.
“Tapi aku ingin kamu berjanji,” lanjut Herawati, “jangan berjalan sendiri. Jangan pulang sendiri. Jangan menyembunyikan ancaman apa pun. Kalau ada masalah, katakan kepada kami.”
Dedi memandangi wajah Herawati.
“Aku janji.”
“Jangan hanya berkata.”
“Aku akan berusaha sungguh-sungguh.”
Herawati mengangguk.
“Aku masih takut, Ded.”
“Aku juga.”
“Kalau begitu, kita hadapi rasa takut itu bersama.”
Dedi tersenyum tipis.
Untuk pertama kalinya sejak pertengkaran mereka, Herawati membalas senyum itu.
Tidak ada janji bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Tidak ada kepastian bahwa Leman dan Burhan akan berhenti.
Tidak ada jaminan bahwa perjuangan Dedi tidak akan membawa luka baru.
Namun, sore itu mereka memahami satu hal.
Cinta bukan hanya tentang menunggu surat atau menyimpan kenangan di bawah pohon beringin.
Cinta juga tentang keberanian untuk mengatakan takut.
Tentang kesediaan untuk saling menjaga.
Dan tentang memilih tetap berdiri bersama, bahkan ketika jalan di depan dipenuhi ancaman.
BAB XXVI
Susanti Menjadi Penengah
Setelah percakapan di bawah pohon beringin, hubungan Dedi dan Herawati perlahan kembali tenang.
Mereka tidak lagi membiarkan ketakutan menjadi dinding yang memisahkan. Herawati tetap cemas setiap kali Dedi harus menghadiri pertemuan warga atau pulang dari rumah Pak Warto setelah malam. Namun, kini ia tidak hanya menyimpan kecemasan itu sendiri.
Ia memilih mengingatkan Dedi.
Ia memilih bertanya.
Ia memilih berdiri di sampingnya, meskipun hatinya belum sepenuhnya bebas dari rasa takut.
Dedi juga berusaha memenuhi janjinya.
Ia tidak lagi berjalan sendiri ketika malam. Jika harus pulang dari kegiatan Kelompok Lentera, Ardi, Jamil, atau Raka akan menemaninya sampai dekat rumah. Kadang Herawati dan Susanti ikut berjalan bersama, meski Dedi sering meminta mereka tidak perlu terlalu jauh.
Kelompok Lentera kembali berjalan.
Tidak sebesar sebelumnya, tetapi lebih hati-hati.
Pertemuan dilakukan secara bergantian di rumah warga. Anak-anak tetap belajar membaca dan menulis. Para ibu yang ingin memahami surat datang membawa dokumen mereka. Pemuda-pemuda desa mulai membantu menyalin isi perjanjian agar dapat dibaca lebih mudah.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Ratna mulai memperhatikan kedekatan Susanti dan Dedi.
Selama ini, Ratna memang sering mencari kesempatan untuk membuat Herawati merasa tidak nyaman. Ia tidak menyukai kenyataan bahwa Dedi dan Herawati tetap saling mendukung, meskipun berbagai fitnah dan ancaman telah datang.
Bagi Ratna, hubungan mereka seharusnya sudah retak.
Tetapi yang terjadi justru sebaliknya.
Herawati semakin memahami Dedi.
Dedi semakin menghargai Herawati.
Dan Susanti, yang selama ini selalu berada di antara mereka sebagai sahabat, menjadi sasaran baru bagi pikiran licik Ratna.
Suatu sore, Ratna melihat Dedi dan Susanti duduk di teras rumah Pak Warto.
Mereka sedang menyalin beberapa catatan tentang tanah warga. Dedi membaca isi surat yang dibawa seorang ibu, sementara Susanti menuliskan penjelasan dengan bahasa yang lebih sederhana.
“Kalau bagian ini artinya apa?” tanya Susanti.
Dedi menunjuk salah satu kalimat.
“Ini berarti tanahnya sudah berpindah hak. Tapi tidak ada penjelasan jelas tentang batas yang digunakan.”
Susanti mengangguk sambil menulis.
“Berarti warga harus tahu sebelum menandatangani.”
“Iya.”
Mereka tidak menyadari bahwa Ratna berdiri tidak jauh dari sana.
Ratna tersenyum tipis.
Ia tidak melihat kegiatan itu sebagai kerja sama untuk membantu warga.
Ia melihatnya sebagai kesempatan.
Malamnya, Ratna mendatangi rumah Herawati.
Ia datang membawa wajah seolah-olah sedang menyimpan kabar yang berat.
Herawati sedang membantu ibunya melipat pakaian ketika Ratna datang.
“Hera,” kata Ratna, “aku sebenarnya tidak ingin ikut campur.”
Herawati menatapnya datar.
“Kalau tidak ingin ikut campur, kenapa datang?”
Ratna tersenyum kecil.
“Aku hanya kasihan kepadamu.”
“Aku tidak butuh dikasihani.”
Ratna duduk di dekat pintu.
“Aku melihat Dedi dan Susanti sore tadi.”
Herawati tidak langsung menjawab.
“Mereka sedang menulis catatan Kelompok Lentera,” katanya.
Ratna mengangkat alis.
“Kamu yakin hanya itu?”
Herawati menatap Ratna tajam.
“Maksudmu apa?”
Ratna pura-pura ragu.
“Aku hanya melihat mereka sangat dekat. Mereka sering bersama. Bahkan ketika kamu tidak ada, Susanti selalu berada di samping Dedi.”
Herawati menarik napas.
“Susanti sahabatku. Dedi juga sahabatnya.”
“Memang,” kata Ratna pelan. “Tapi kadang sahabat bisa berubah menjadi lebih dari itu tanpa kita sadari.”
Herawati berdiri.
“Ratna, jangan bicara sembarangan.”
“Aku hanya mengingatkan. Kamu sudah terlalu sibuk memikirkan Dedi sampai tidak melihat apa yang ada di depan mata.”
Ratna lalu pergi, meninggalkan kalimat-kalimat yang sengaja dibuat untuk menanamkan keraguan.
Herawati berusaha tidak memikirkannya.
Ia tahu Ratna sering menyebarkan cerita yang tidak benar.
Ia tahu Ratna tidak pernah benar-benar menyukai kedekatannya dengan Dedi.
Namun, ketika malam datang dan rumah mulai sunyi, kata-kata Ratna kembali muncul dalam pikirannya.
Susanti selalu berada di samping Dedi.
Kalimat itu memang benar.
Susanti selalu ada.
Ketika Dedi terluka, Susanti datang membawa buku dan kertas baru.
Ketika Herawati bertengkar dengan Dedi, Susanti menjadi orang yang membantu mereka saling memahami.
Ketika Kelompok Lentera membutuhkan bantuan, Susanti selalu datang tanpa diminta.
Herawati tahu semua itu adalah bentuk persahabatan.
Tetapi rasa takut kadang membuat pikiran menjadi tidak tenang.
Keesokan harinya, Herawati datang ke rumah Pak Warto.
Di teras, ia melihat Dedi dan Susanti sedang berbicara. Susanti tampak menyerahkan sebuah buku catatan kepada Dedi.
“Itu surat-surat warga yang sudah aku salin,” kata Susanti.
Dedi menerima buku itu.
“Terima kasih, San. Kamu banyak membantu.”
Susanti tersenyum.
“Kita semua membantu.”
Herawati berhenti beberapa langkah dari mereka.
Dedi melihatnya lebih dulu.
“Hera,” katanya. “Kamu datang.”
Herawati mengangguk.
“Aku mau membantu mengajar anak-anak.”
Susanti berdiri.
“Aku ke belakang dulu, mengambil kapur.”
Herawati memperhatikan Susanti berjalan masuk ke rumah Pak Warto.
Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya, meski ia tidak ingin mengakuinya.
Dedi menatap Herawati.
“Kamu baik-baik saja?”
“Aku baik.”
“Kamu terlihat berbeda.”
“Tidak apa-apa.”
Dedi terdiam.
Ia mengenal Herawati cukup lama untuk tahu bahwa jawaban tidak apa-apa sering berarti ada sesuatu yang sedang dipendam.
Namun, sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, anak-anak mulai datang.
Kegiatan belajar pun dimulai.
Hari itu, Herawati mengajar anak-anak mengeja kata-kata sederhana. Dedi membantu beberapa pemuda membaca surat. Susanti menuliskan daftar buku yang dibutuhkan.
Mereka tetap bekerja bersama.
Tetapi ada jarak kecil yang mulai muncul di antara Herawati dan Susanti.
Susanti merasakan hal itu.
Ia tidak tahu apa penyebabnya, tetapi cara Herawati berbicara kepadanya mulai berubah. Tidak kasar, tetapi lebih singkat. Tidak marah, tetapi tidak lagi sehangat biasanya.
Pada sore hari, ketika anak-anak sudah pulang, Susanti menghampiri Herawati.
“Hera,” katanya pelan, “apakah aku melakukan sesuatu yang membuatmu marah?”
Herawati menggeleng.
“Tidak.”
“Kalau tidak, kenapa kamu seperti menjauh?”
Herawati diam.
Susanti menunggu.
Akhirnya Herawati berkata, “Ratna datang ke rumahku.”
Susanti langsung memahami.
“Apa yang dia katakan?”
Herawati menatap sahabatnya.
“Dia bilang kamu dan Dedi terlalu dekat.”
Wajah Susanti berubah.
Ia tidak tampak marah, tetapi ada kesedihan yang tiba-tiba muncul di matanya.
“Dan kamu percaya?”
Herawati cepat-cepat menggeleng.
“Aku tidak ingin percaya. Tapi aku…”
“Kamu ragu.”
Herawati menunduk.
Susanti menarik napas panjang.
“Aku memang dekat dengan Dedi. Karena dia sahabat kita. Karena kita sedang berjuang bersama. Karena aku tidak ingin dia berjalan sendirian.”
“Aku tahu.”
“Tapi aku tidak pernah ingin mengambil tempatmu.”
Kalimat itu keluar pelan, tetapi terasa berat.
Herawati mengangkat wajah.
Susanti melanjutkan, “Aku tahu kamu mencintai Dedi. Aku juga tahu Dedi mencintaimu. Aku tidak akan merusak itu.”
Herawati terdiam.
Di dalam hati Susanti, ada banyak kata yang tidak ia ucapkan.
Ia tidak mengatakan bahwa dirinya juga memiliki perasaan yang selama ini disimpan rapat.
Ia tidak mengatakan bahwa setiap kali Dedi tersenyum kepada Herawati, ada bagian dari hatinya yang terasa sakit.
Ia tidak mengatakan bahwa ia sering memilih menjauh agar tidak terlihat terlalu dekat.
Namun, ia juga tidak ingin persahabatan mereka hancur hanya karena perasaan yang tidak pernah ia minta hadir.
“Aku minta maaf,” kata Herawati.
Susanti tersenyum kecil.
“Kamu tidak perlu minta maaf. Ratna memang pandai membuat orang ragu.”
“Aku seharusnya tidak mendengarkan dia.”
“Bukan salahmu kalau kamu merasa takut. Setelah Dedi diserang, semua orang menjadi lebih mudah cemas.”
Herawati memegang tangan Susanti.
“Aku tidak ingin kehilangan kamu juga.”
Susanti menatap tangan sahabatnya.
“Aku tidak akan pergi.”
Saat itu, Dedi keluar dari rumah Pak Warto membawa beberapa buku.
Ia melihat Herawati dan Susanti berdiri berhadapan.
“Ada apa?” tanyanya.
Herawati dan Susanti saling memandang.
“Tidak ada,” jawab mereka hampir bersamaan.
Dedi mengernyitkan dahi.
Namun, Susanti segera mengambil salah satu buku dari tangannya.
“Dedi, besok kita perlu membagi tugas. Ada beberapa warga yang ingin dibantu membaca surat.”
Dedi mengangguk.
“Baik. Aku bisa ke rumah Pak Darto.”
“Aku ikut,” kata Herawati.
Dedi memandangnya.
“Kamu yakin?”
Herawati mengangguk.
“Aku ingin ikut membantu.”
Susanti tersenyum kecil.
“Aku juga akan datang. Kita pergi bersama.”
Sore itu, mereka berjalan pulang bertiga.
Langkah mereka belum sepenuhnya ringan, tetapi setidaknya tidak lagi dipenuhi kesalahpahaman.
Namun, dari kejauhan, Ratna melihat mereka.
Ia berharap kata-katanya dapat memecah persahabatan Herawati dan Susanti.
Ia berharap Herawati akan menjauh dari Dedi.
Ia berharap Dedi akan kehilangan orang-orang yang selalu mendukungnya.
Tetapi Ratna belum menyerah.
Ia tahu satu fitnah belum cukup untuk menghancurkan hubungan yang dibangun bertahun-tahun.
Maka ia mulai mencari cara lain.
Cara yang lebih tajam.
Cara yang dapat membuat seluruh desa percaya bahwa Dedi bukan pemuda yang ingin membantu, melainkan pemuda yang sedang mencari keuntungan.
Dan tanpa mereka sadari, kesalahpahaman kecil yang hampir berhasil diselesaikan itu menjadi pintu menuju tuduhan yang jauh lebih besar.
BAB XXVII
Tuduhan yang Memecah Desa
Beberapa hari setelah kesalahpahaman antara Herawati dan Susanti mereda, Desa Suka Jaya kembali diguncang oleh kabar yang lebih besar.
Kabar itu tidak datang dalam bentuk surat resmi.
Tidak datang melalui musyawarah desa.
Tidak pula disampaikan dengan terang-terangan di balai desa.
Kabar itu menyebar dari mulut ke mulut.
Dari warung ke warung.
Dari kebun ke halaman rumah.
Dari percakapan kecil yang semula terdengar biasa, lalu berubah menjadi tuduhan yang semakin lama semakin tajam.
“Dedi ingin menjadi kepala desa.”
“Kelompok Lentera hanya alasan untuk mencari pendukung.”
“Dedi menolak pembangunan karena ingin menguasai tanah warga.”
“Dedi ingin mengambil keuntungan dari orang-orang yang sedang bingung.”
Tidak ada yang tahu siapa pertama kali memulai cerita itu.
Namun, banyak warga mulai menduga bahwa Leman dan Ratna berada di balik penyebarannya.
Ratna berbicara kepada beberapa perempuan di dekat sumur.
“Aku tidak bilang Dedi orang jahat,” katanya dengan nada seolah berhati-hati. “Tapi coba pikirkan. Kenapa dia begitu sibuk mengumpulkan warga? Kenapa dia selalu bicara tentang tanah? Kenapa dia ingin orang-orang mengikuti kelompoknya?”
Seorang perempuan tua mengangguk ragu.
“Mungkin dia hanya ingin membantu.”
Ratna tersenyum tipis.
“Bisa jadi. Tapi orang yang ingin membantu tidak selalu harus membuat warga menentang perangkat desa.”
Kalimat itu segera menyebar.
Di tempat lain, Leman berbicara kepada para lelaki di warung.
“Dedi masih muda,” katanya. “Dia baru belajar sedikit di kota, lalu pulang merasa paling benar. Sekarang dia mengajak pemuda berkumpul, membicarakan hak warga, mempertanyakan pembangunan. Kalau dibiarkan, nanti dia akan membuat desa ini kacau.”
“Dia memang sering bicara soal tanah,” kata seseorang.
Leman mengangguk.
“Itu karena dia punya kepentingan. Dia ingin terlihat sebagai penyelamat. Setelah itu, siapa tahu apa yang dia cari.”
Burhan yang duduk tidak jauh dari sana tidak banyak bicara.
Ia hanya tersenyum tipis.
Bagi Burhan, tuduhan itu menguntungkan.
Semakin warga ragu kepada Dedi, semakin mudah rencana pembelian tanah dilanjutkan.
Semakin Kelompok Lentera dianggap sebagai kelompok pembuat masalah, semakin sedikit warga yang berani bertanya tentang isi perjanjian.
Dedi baru mengetahui kabar itu ketika Ardi datang ke rumahnya dengan wajah cemas.
“Bang Dedi,” kata Ardi, “orang-orang di warung bilang Abang ingin jadi kepala desa.”
Dedi yang sedang menulis catatan langsung berhenti.
“Apa?”
“Mereka bilang Kelompok Lentera dibuat supaya warga mendukung Abang.”
Dedi memandang Ardi cukup lama.
“Siapa yang bilang?”
“Aku tidak tahu. Tapi banyak yang sudah mendengarnya.”
Tidak lama kemudian, Jamil datang membawa kabar yang sama.
Di kebun, beberapa orang mulai mengatakan bahwa Dedi sengaja menghalangi Burhan agar dirinya dapat menguasai tanah warga.
Di jalan, ada yang menyebut Dedi sebagai pemuda yang terlalu banyak campur tangan.
Di warung, ada yang berkata bahwa Dedi hanya mencari nama.
Karsa yang mendengar kabar itu tampak murung.
“Ini sudah bukan sekadar ancaman,” katanya. “Mereka ingin membuat warga menjauh darimu.”
Marni duduk di dekat dapur dengan wajah cemas.
“Kalau orang-orang percaya, bagaimana?”
Dedi menunduk.
Ia tidak marah.
Setidaknya, belum.
Yang ia rasakan justru sedih.
Ia tidak pernah membayangkan bahwa niat untuk membantu warga membaca surat dan mengajar anak-anak dapat diputar menjadi tuduhan seperti itu.
Ia tidak pernah ingin menjadi kepala desa.
Ia bahkan tidak pernah berpikir tentang jabatan.
Baginya, Kelompok Lentera hanya tempat sederhana agar anak-anak dapat belajar dan warga tidak merasa sendirian ketika menghadapi dokumen yang tidak mereka pahami.
Namun, ia tahu bahwa kebenaran tidak selalu mudah dipercaya ketika fitnah sudah lebih dulu menyebar.
Sore itu, Dedi pergi ke rumah Pak Warto.
Di sana, beberapa pemuda Kelompok Lentera sudah berkumpul.
Wajah mereka tampak tegang.
“Apa kita harus membubarkan kelompok ini?” tanya Jamil.
“Kalau kita terus berkumpul, orang-orang akan semakin percaya pada tuduhan itu,” kata Raka.
Ardi menunduk.
“Ayahku juga mulai khawatir.”
Herawati duduk tidak jauh dari Dedi. Susanti berada di sampingnya.
Dedi memandang semua yang hadir.
“Aku tidak akan memaksa siapa pun untuk tetap ikut,” katanya. “Kalau kalian takut, aku mengerti.”
“Lalu kamu sendiri?” tanya Herawati.
Dedi menarik napas.
“Aku tidak ingin kelompok ini menjadi alasan warga saling membenci.”
“Berarti kamu mau berhenti?” tanya Susanti.
Dedi diam beberapa saat.
“Aku tidak tahu.”
Jawaban itu membuat suasana semakin hening.
Selama ini, Dedi selalu tampak yakin.
Ia selalu memiliki alasan untuk bertahan.
Ia selalu berkata bahwa belajar tidak boleh berhenti hanya karena ancaman.
Namun, kali ini tuduhan itu tidak hanya menyerang dirinya.
Tuduhan itu mulai memecah warga.
Ada keluarga yang melarang anaknya datang ke Kelompok Lentera.
Ada pemuda yang mulai menjaga jarak karena takut dianggap pengikut Dedi.
Ada ibu-ibu yang ragu membawa surat mereka untuk dibaca.
Kelompok yang semula menjadi tempat belajar perlahan dianggap sebagai sumber pertentangan.
Pak Warto datang membawa beberapa gelas teh.
Ia meletakkan gelas-gelas itu di atas meja, lalu memandang Dedi.
“Kalau mereka ingin memecah kita, jangan biarkan mereka berhasil,” katanya.
“Tapi warga mulai terbelah, Pak,” jawab Dedi.
“Desa memang sedang terbelah,” kata Pak Warto. “Bukan karena kamu. Desa terbelah karena ada orang yang memakai ketakutan dan kebutuhan warga untuk kepentingan mereka.”
Dedi menatap Pak Warto.
“Lalu apa yang harus kita lakukan?”
“Jangan membalas fitnah dengan fitnah. Jangan melawan kemarahan dengan kemarahan. Tunjukkan saja apa yang selama ini kalian lakukan.”
Susanti mengangguk.
“Kita bisa membuka kegiatan belajar untuk semua orang. Tidak hanya pemuda. Tidak hanya warga yang setuju dengan Dedi.”
Herawati menambahkan, “Kita juga bisa menjelaskan bahwa Kelompok Lentera tidak mendukung siapa pun untuk menjadi kepala desa. Kita hanya ingin anak-anak belajar dan warga memahami surat-surat penting.”
Jamil tampak masih ragu.
“Kalau mereka tetap tidak percaya?”
Dedi menjawab pelan, “Kita tidak bisa memaksa semua orang percaya. Tapi kita bisa tetap jujur.”
Keputusan itu tidak mudah.
Mereka sepakat untuk tetap melanjutkan kegiatan, tetapi tanpa membuatnya menjadi ajang perlawanan. Mereka akan mengundang siapa saja yang ingin belajar. Mereka akan membantu membaca dokumen tanpa meminta imbalan. Mereka akan mengajarkan anak-anak tanpa membedakan keluarga mana yang mendukung atau menolak mereka.
Namun, keesokan harinya, keadaan justru semakin panas.
Di balai desa, Leman mengadakan pertemuan kecil bersama beberapa warga.
Dedi tidak diundang.
Tetapi kabar pertemuan itu sampai kepadanya melalui Raka.
“Leman bilang Kelompok Lentera harus diawasi,” kata Raka. “Dia bilang kelompok itu bisa mengganggu ketertiban desa.”
Dedi memejamkan mata.
Ia merasa dadanya sesak.
Bukan karena takut pada dirinya sendiri, melainkan karena ia melihat bagaimana sebuah kebohongan dapat tumbuh begitu cepat ketika banyak orang memilih percaya tanpa bertanya.
Menjelang malam, Herawati datang ke rumah Dedi.
Ia membawa makanan dari rumahnya, tetapi wajahnya tampak gelisah.
“Di rumahku juga ada yang membicarakanmu,” katanya.
Dedi menatapnya.
“Apa kata mereka?”
“Mereka bilang kamu terlalu keras kepala. Mereka bilang kamu seharusnya fokus sekolah dan tidak ikut urusan desa.”
Dedi tersenyum pahit.
“Mungkin mereka benar.”
Herawati menggeleng.
“Tidak. Kamu memang harus tetap sekolah. Tapi itu tidak berarti kamu tidak boleh peduli pada desa.”
Dedi memandangi Herawati.
“Aku tidak ingin kamu ikut terkena masalah.”
“Aku sudah memilih berdiri di sampingmu,” jawab Herawati. “Jangan menyuruhku mundur hanya karena keadaan menjadi sulit.”
Susanti yang datang tidak lama kemudian mendengar kalimat itu.
Ia tersenyum kecil, lalu duduk bersama mereka.
“Kita harus bersiap,” kata Susanti. “Kalau tuduhan ini terus menyebar, mereka mungkin akan mencoba menghentikan Kelompok Lentera dengan cara lain.”
Dedi menatap kedua sahabatnya.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar memahami bahwa perjuangan tidak hanya membutuhkan keberanian untuk berbicara.
Perjuangan juga membutuhkan kesabaran untuk tetap jujur ketika nama sendiri dicemarkan.
Malam itu, di beberapa rumah, warga membicarakan Dedi Kusnadi dengan pendapat yang berbeda-beda.
Ada yang menganggapnya pemuda baik.
Ada yang menganggapnya terlalu berani.
Ada yang mulai percaya bahwa ia memiliki kepentingan tersembunyi.
Ada pula yang diam karena takut salah memilih pihak.
Desa Suka Jaya perlahan terbelah.
Di satu sisi, ada warga yang ingin mempertahankan tanah dan masa depan mereka.
Di sisi lain, ada warga yang percaya bahwa Burhan dan Leman membawa jalan menuju kemajuan.
Di antara dua sisi itu, berdiri Dedi dengan Kelompok Lentera yang semakin tertekan.
Dan tanpa ia sadari, fitnah yang menyebar hari itu akan menjadi awal dari kehilangan yang jauh lebih besar dalam hidupnya.
BAB XXVIII
Kematian Karsa
Fitnah yang menyebar tentang Dedi membuat kehidupan keluarga Karsa semakin berat.
Sejak beberapa warga mulai menjauh, Karsa tidak lagi merasa nyaman duduk lama di warung. Ia sering mendengar bisik-bisik ketika melintas di jalan. Ada yang menyapanya seperti biasa, tetapi ada pula yang memilih diam atau hanya memandang dengan tatapan penuh curiga.
Karsa tahu bahwa semua itu bukan sepenuhnya kesalahan Dedi.
Ia memahami anaknya hanya ingin membantu warga. Ia juga tahu Dedi tidak pernah mencari jabatan atau keuntungan. Namun, sebagai seorang ayah, Karsa tetap merasa gelisah.
Ia tidak ingin anaknya terluka lagi.
Ia tidak ingin rumah mereka menjadi sasaran kemarahan orang-orang yang merasa kepentingannya terganggu.
Di tengah kegelisahan itu, Karsa tetap pergi ke ladang setiap hari.
Kemarau belum benar-benar berakhir. Tanah masih keras. Hasil kebun tidak banyak. Namun, Karsa tidak punya pilihan selain terus bekerja. Ia harus memenuhi kebutuhan rumah, membantu biaya Dedi di kota kecamatan, dan menjaga agar dapur tetap mengepul.
Suatu pagi, Marni melihat Karsa duduk lebih lama dari biasanya di depan rumah.
Wajahnya pucat.
Tangannya memegang dada.
“Kamu sakit?” tanya Marni.
Karsa menggeleng pelan.
“Hanya lelah.”
“Kamu jangan memaksakan diri ke ladang.”
Karsa tersenyum tipis.
“Kalau tidak ke ladang, kita makan dari mana?”
Marni menunduk.
Ia tahu suaminya benar.
Namun, ia juga tahu bahwa Karsa semakin sering batuk. Tubuhnya mulai mudah lelah. Saat malam, ia beberapa kali mengeluh pusing, tetapi selalu mengatakan bahwa itu hanya karena kurang tidur.
Dedi memperhatikan perubahan itu.
“Pak, istirahat dulu beberapa hari,” katanya suatu malam.
Karsa menggeleng.
“Ayah masih kuat.”
“Tidak semua yang kuat harus terus memaksa diri.”
Karsa menatap anaknya.
“Kamu sekarang pandai bicara.”
Dedi tersenyum kecil, tetapi hatinya tidak tenang.
“Aku hanya khawatir.”
Karsa menghela napas.
“Jangan terlalu banyak memikirkan Ayah. Kamu punya jalanmu sendiri.”
“Jalan yang aku tempuh juga karena Ayah.”
Karsa terdiam.
Dedi melanjutkan, “Kalau Ayah tidak bekerja keras, aku tidak mungkin bisa sekolah sampai ke kota.”
Karsa memandang lampu minyak di tengah rumah.
Cahayanya kecil, tetapi cukup menerangi wajah anaknya.
“Sekolahmu jangan berhenti, Ded,” katanya pelan. “Apa pun yang terjadi, jangan tinggalkan pendidikan.”
Kalimat itu terdengar seperti pesan biasa.
Namun, Dedi tidak tahu bahwa malam itu akan menjadi salah satu malam terakhir ia mendengar suara ayahnya berbicara dengan tenang.
Beberapa hari kemudian, Karsa pergi ke ladang lebih pagi dari biasanya.
Langit masih kelabu. Udara terasa lembap setelah hujan tipis yang turun semalaman. Jalan menuju kebun licin dan penuh lumpur.
Karsa membawa cangkul di bahunya.
Ia ingin memperbaiki saluran air kecil di dekat kebun agar tanah tidak terlalu becek. Ia juga ingin melihat beberapa tanaman yang mulai rusak karena cuaca yang tidak menentu.
Di tengah pekerjaan, tubuhnya mulai terasa lemah.
Keringat dingin membasahi dahinya.
Napasnya menjadi berat.
Namun, ia tetap memaksakan diri berdiri.
Ia teringat kebutuhan rumah.
Ia teringat Dedi yang masih membutuhkan biaya sekolah.
Ia teringat Marni yang selalu berusaha kuat meski hidup mereka tidak mudah.
Karsa kembali mengangkat cangkul.
Namun, ketika melangkah di tepi tanah yang licin, kakinya terpeleset.
Tubuhnya jatuh keras ke tanah.
Kepalanya membentur batu kecil di dekat parit.
Untuk beberapa saat, ia tidak bergerak.
Seorang warga yang sedang menuju kebun melihat Karsa tergeletak di tanah.
“Pak Karsa!” serunya.
Warga itu berlari mendekat.
Karsa masih bernapas, tetapi sangat lemah.
Wajahnya pucat.
Ada luka di bagian kepalanya.
Dengan bantuan beberapa orang, Karsa dibawa pulang menggunakan tandu sederhana dari bambu.
Ketika Dedi melihat ayahnya dibawa dalam keadaan tidak sadarkan diri, dunia terasa seperti berhenti.
“Ayah!” serunya.
Ia berlari mendekat.
Marni menangis sambil memegang tangan suaminya.
“Pak Karsa, bangun,” katanya berulang kali. “Tolong bangun.”
Dedi membantu membaringkan ayahnya di dalam rumah.
Mereka memanggil mantri dari desa sebelah. Namun, jarak yang jauh dan jalan yang sulit membuat pertolongan datang terlambat.
Herawati dan Susanti datang ketika kabar itu menyebar.
Herawati membantu Marni menyiapkan air hangat. Susanti menenangkan beberapa tetangga yang mulai berkumpul di halaman.
Dedi duduk di samping ayahnya.
Tangannya menggenggam tangan Karsa yang mulai dingin.
“Pak,” katanya dengan suara bergetar, “Ayah dengar aku?”
Karsa membuka mata perlahan.
Tatapannya tidak lagi sekuat dulu.
Namun, ketika melihat Dedi, ada senyum tipis di wajahnya.
“Dedi,” bisiknya.
“Iya, Pak. Aku di sini.”
Karsa menarik napas dengan susah payah.
“Jangan… berhenti sekolah.”
Air mata Dedi jatuh.
“Aku tidak akan berhenti, Pak.”
“Jadilah… manusia yang berguna.”
Dedi menggenggam tangan ayahnya lebih erat.
“Aku akan berusaha, Pak.”
Karsa memandang anaknya sekali lagi.
Lalu pandangannya bergerak ke arah Marni yang menangis di dekat pintu.
Kemudian, perlahan, tangannya melemah.
Suara napasnya semakin pelan.
Dan sebelum matahari benar-benar tenggelam, Karsa mengembuskan napas terakhirnya.
Rumah kecil itu dipenuhi tangis.
Marni jatuh terduduk di dekat tubuh suaminya.
Dedi tidak langsung menangis.
Ia hanya duduk diam, masih menggenggam tangan ayahnya yang kini tidak lagi membalas genggamannya.
Di luar rumah, warga mulai berdatangan.
Ada yang membawa tikar.
Ada yang membantu menyiapkan keperluan pemakaman.
Ada yang memeluk Marni.
Ada yang hanya berdiri dalam diam, menundukkan kepala sebagai tanda duka.
Herawati berdiri di dekat Dedi.
Ia tidak tahu kata apa yang cukup untuk mengurangi luka sebesar itu.
Susanti juga tidak banyak bicara.
Ia hanya duduk di samping Marni, membantu perempuan itu ketika tubuhnya mulai lemah karena terlalu banyak menangis.
Malam itu, jenazah Karsa disemayamkan di rumah.
Lampu minyak menyala redup.
Suara doa terdengar dari warga yang datang bergantian.
Di sudut ruangan, Dedi memandangi wajah ayahnya.
Ia teringat tangan kasar Karsa yang selalu membawa cangkul.
Ia teringat punggung ayahnya yang membungkuk setelah seharian bekerja.
Ia teringat kata-kata sederhana yang selalu diulang sejak kecil: belajarlah, Ded. Jangan seperti Ayah yang hanya mengandalkan tenaga.
Kini, orang yang selama ini menjadi kekuatan utama keluarganya telah pergi.
Keesokan paginya, Karsa dimakamkan di pemakaman kecil di tepi desa.
Langit mendung.
Tanah masih basah oleh hujan semalam.
Warga mengantar jenazah dengan langkah pelan.
Dedi berjalan di belakang keranda, wajahnya kosong.
Ketika tanah mulai menutupi makam ayahnya, air mata yang sejak semalam ia tahan akhirnya jatuh.
Ia berlutut di dekat pusara.
Tangannya menyentuh tanah merah yang masih basah.
“Maafkan aku, Pak,” bisiknya.
Ia merasa bersalah karena tidak mampu membantu ayahnya lebih banyak.
Ia merasa bersalah karena selama ini terlalu sibuk dengan perjuangan warga, sementara ayahnya terus bekerja keras sendirian.
Ia merasa bersalah karena tidak menyadari bahwa tubuh Karsa sudah terlalu lelah.
Herawati berdiri di belakangnya.
Ia tidak mengganggu.
Namun, ketika Dedi mulai terisak, Herawati mendekat dan meletakkan tangannya di bahu Dedi.
“Kamu tidak sendiri,” katanya pelan.
Dedi menunduk.
“Ayah pergi ketika semuanya sedang kacau,” katanya.
Herawati menggeleng.
“Ayahmu pergi setelah melihat kamu tumbuh menjadi orang yang ia banggakan.”
Dedi tidak menjawab.
Namun, kata-kata itu perlahan masuk ke dalam hatinya.
Beberapa hari setelah pemakaman, rumah Karsa terasa sangat sunyi.
Tidak ada lagi suara langkah ayahnya di pagi hari.
Tidak ada lagi suara batuk dari dapur.
Tidak ada lagi cangkul yang diletakkan di sudut rumah setelah pulang dari ladang.
Marni lebih banyak diam.
Dedi juga sering duduk sendiri di depan rumah, memandangi jalan menuju kebun.
Di tengah kesedihan itu, ia hampir kehilangan arah.
Ia sempat berpikir untuk berhenti sekolah.
Ia sempat berpikir untuk meninggalkan Kelompok Lentera.
Ia sempat berpikir bahwa semua perjuangannya hanya membawa beban bagi keluarganya.
Namun, setiap kali pikiran itu datang, ia teringat pesan terakhir ayahnya.
Jangan berhenti sekolah.
Jadilah manusia yang berguna.
Pesan itu tidak menghilangkan kesedihan.
Tidak membuat luka di hatinya segera pulih.
Tetapi pesan itu menjadi alasan agar ia tetap berdiri.
Kematian Karsa menjadi luka terbesar dalam hidup Dedi.
Namun, dari luka itu pula, tumbuh tekad yang lebih dalam.
Ia tidak lagi hanya berjuang untuk dirinya sendiri.
Ia ingin meneruskan harapan ayahnya.
Ia ingin membuktikan bahwa pengorbanan Karsa tidak berakhir di sebuah makam kecil di tepi Desa Suka Jaya.
Dan di antara tanah merah yang masih basah itu, Dedi Kusnadi mulai memahami bahwa hidupnya telah memasuki jalan yang jauh lebih berat daripada sebelumnya.
BAB XXIX
Warisan Sebidang Tanah
Hari-hari setelah kepergian Karsa berjalan lambat bagi Dedi.
Rumah yang dahulu sederhana tetapi terasa hangat kini menjadi lebih sunyi. Di sudut dekat pintu, cangkul milik ayahnya masih bersandar seperti biasa. Sepasang sepatu kebun yang sudah kusam masih terletak di bawah dipan. Bahkan topi anyaman yang sering dipakai Karsa ketika bekerja masih tergantung di dinding.
Semua benda itu seperti menyimpan kehadiran seseorang yang tidak lagi bisa dipanggil pulang.
Marni menjalani hari-harinya dengan lebih banyak diam. Ia tetap memasak, tetap mencuci, tetap menyapu halaman, tetapi gerakannya tidak lagi secepat dulu. Kadang ia berhenti di dapur, memandangi tungku yang menyala, lalu mengusap sudut matanya tanpa ingin terlihat oleh Dedi.
Dedi juga berusaha kuat.
Ia membantu ibunya di rumah. Ia pergi ke kebun untuk melihat tanaman yang dahulu dirawat ayahnya. Ia membersihkan parit kecil, memperbaiki pagar yang rusak, dan mengumpulkan kayu-kayu kering.
Namun, setiap kali berada di kebun, ia merasa ayahnya masih ada.
Seolah-olah dari kejauhan, Karsa masih memanggilnya.
“Jangan hanya berdiri, Ded. Tanah juga harus dijaga.”
Suatu pagi, Pak Warto datang ke rumah Dedi.
Ia membawa beberapa lembar surat yang disimpan dalam map cokelat tua.
“Ini ada yang perlu kamu lihat,” katanya.
Dedi mempersilakan Pak Warto masuk.
Marni duduk tidak jauh dari mereka. Wajahnya tampak lelah, tetapi ia berusaha mendengarkan dengan tenang.
Pak Warto membuka map itu.
“Ini surat tanah milik ayahmu,” katanya.
Dedi menatap dokumen tersebut.
Ia mengenali nama Karsa yang tertulis di bagian atas. Surat itu memang sudah lama disimpan, tetapi selama ini ia tidak pernah benar-benar memperhatikannya.
“Tanah di ujung desa itu?” tanya Dedi.
Pak Warto mengangguk.
“Tanah kecil dekat jalan menuju kebun karet. Dulu ayahmu membelinya sedikit demi sedikit dari hasil bekerja.”
Dedi terdiam.
Ia tahu tanah itu tidak luas. Letaknya di bagian desa yang agak jauh dari rumah warga. Di sekitarnya hanya ada semak, beberapa pohon tua, dan jalan tanah yang akan licin ketika hujan.
Namun, tanah itu memiliki arti besar bagi Karsa.
Dulu, Karsa pernah berkata bahwa tanah tersebut adalah satu-satunya hasil dari kerja kerasnya selama bertahun-tahun.
“Tanah itu untuk masa depanmu,” kata Pak Warto. “Ayahmu pernah bercerita kepadaku. Ia ingin suatu hari kamu bisa memakai tanah itu untuk sesuatu yang berguna.”
Dedi memegang surat tersebut dengan tangan perlahan.
Ia membayangkan ayahnya menyisihkan uang sedikit demi sedikit. Membeli tanah kecil itu bukan untuk menjadi kaya, melainkan agar anaknya memiliki sesuatu yang dapat dijadikan pegangan ketika hidup semakin sulit.
Marni memandang surat itu dengan mata berkaca-kaca.
“Ayahmu selalu bilang tanah itu jangan dijual sembarangan,” katanya pelan. “Ia takut suatu hari kita terdesak dan menyerahkannya begitu saja kepada orang lain.”
Dedi mengangguk.
Namun, tidak lama setelah kabar tentang tanah itu mulai diketahui beberapa warga, Burhan datang ke rumah mereka.
Ia datang dengan pakaian rapi dan sepatu bersih. Bersamanya ada seorang lelaki yang membawa tas kecil. Dari cara mereka berjalan, tampak jelas bahwa kedatangan itu bukan sekadar silaturahmi.
Marni yang melihat Burhan datang langsung tampak tidak nyaman.
“Ada perlu apa, Pak Burhan?” tanyanya.
Burhan tersenyum ramah.
“Saya hanya ingin menyampaikan belasungkawa sekali lagi atas meninggalnya Pak Karsa.”
Marni mengangguk singkat.
“Terima kasih.”
Burhan lalu memandang Dedi.
“Saya juga mendengar tentang tanah peninggalan ayahmu.”
Dedi tidak menjawab.
Burhan melanjutkan, “Tanah itu letaknya cukup baik. Dekat jalur yang nantinya akan dilalui pembangunan. Kalau kamu mau menjualnya, saya bersedia membeli dengan harga yang pantas.”
Dedi menatap Burhan.
“Untuk apa tanah itu?”
Burhan tersenyum kecil.
“Untuk kepentingan pembangunan. Bisa jadi nanti ada gudang, tempat usaha, atau jalur pengangkutan. Desa ini harus maju, Dedi. Jangan selalu melihat perubahan sebagai ancaman.”
Dedi menggenggam surat tanah di tangannya.
“Tanah itu tidak dijual.”
Burhan masih tersenyum, tetapi sorot matanya berubah.
“Kamu belum mendengar tawaran harganya.”
“Apa pun harganya, tanah itu tidak dijual.”
Burhan menatap Dedi cukup lama.
“Kamu masih muda. Kamu butuh biaya sekolah. Ibumu juga membutuhkan banyak hal. Jangan menolak kesempatan hanya karena emosi.”
Dedi menarik napas.
“Ini bukan emosi. Ini keputusan.”
Burhan melirik Marni.
“Bu Marni, mungkin Ibu bisa mempertimbangkan. Uang dari tanah itu bisa membantu kehidupan keluarga.”
Marni tampak ragu.
Ia tahu kebutuhan mereka semakin besar sejak Karsa meninggal. Penghasilan kebun tidak cukup. Dedi masih harus melanjutkan sekolah. Rumah mereka juga mulai membutuhkan perbaikan.
Namun, sebelum Marni menjawab, Dedi berkata dengan tegas, “Tanah itu aman, Pak Burhan.”
Burhan mengangguk perlahan.
“Baik. Saya tidak memaksa. Tapi tawaran saya tetap terbuka.”
Ia berdiri, lalu berjalan menuju pintu.
Sebelum pergi, Burhan berhenti sebentar.
“Kadang orang baru memahami nilai sebuah kesempatan setelah kesempatan itu tidak datang dua kali.”
Setelah Burhan pergi, suasana rumah menjadi hening.
Marni duduk dengan wajah penuh pikiran.
“Dedi,” katanya pelan, “Ibu tidak ingin menjual tanah itu. Tapi Ibu juga tidak ingin kamu berhenti sekolah karena kita tidak punya biaya.”
Dedi duduk di dekat ibunya.
“Aku akan mencari cara, Bu.”
“Cara apa?”
“Aku bisa bekerja lebih banyak. Aku bisa membantu di kebun. Aku bisa tetap menjaga toko saat di kota. Aku tidak ingin tanah Ayah dijual.”
Marni memandang anaknya.
“Kamu yakin?”
Dedi mengangguk.
“Tanah itu bukan hanya tanah, Bu. Itu hasil hidup Ayah.”
Marni menahan air mata.
“Ayahmu pasti senang mendengarnya.”
Beberapa hari kemudian, Dedi pergi ke tanah di ujung desa.
Herawati dan Susanti ikut menemaninya.
Jalan menuju tempat itu cukup sepi. Rumput liar tumbuh tinggi di beberapa bagian. Tanahnya memang tidak luas, tetapi letaknya berada dekat jalan kecil yang menghubungkan beberapa rumah warga dengan kebun.
Di satu sisi, ada pohon besar yang menaungi sebagian tanah. Di sisi lain, terdapat tanah lapang yang cukup untuk didirikan bangunan sederhana.
Dedi berdiri cukup lama di tengah tanah itu.
“Ayah membeli tanah ini sedikit demi sedikit,” katanya.
Herawati memandang sekeliling.
“Tanah ini bisa menjadi tempat yang baik.”
“Untuk apa?” tanya Susanti.
Dedi tidak langsung menjawab.
Ia memandangi jalan kecil yang dilalui beberapa anak pulang dari kebun bersama orang tua mereka. Anak-anak itu berjalan sambil membawa kayu bakar dan keranjang kecil. Sebagian dari mereka bahkan belum bisa membaca tulisan di papan jalan yang sudah pudar.
Dedi teringat buku-buku yang hanyut di sungai.
Ia teringat anak-anak yang tetap datang meski Kelompok Lentera mendapat ancaman.
Ia teringat pesan Pak Harun.
Ia teringat pesan terakhir ayahnya.
Jangan berhenti sekolah.
Jadilah manusia yang berguna.
“Aku ingin membuat tempat belajar,” kata Dedi akhirnya.
Herawati menatapnya.
“Tempat belajar?”
Dedi mengangguk.
“Bukan sekolah besar. Mungkin hanya rumah kecil. Tempat anak-anak bisa membaca. Tempat warga bisa belajar memahami surat. Tempat pemuda bisa berdiskusi tanpa harus takut.”
Susanti memandang tanah itu dengan mata yang perlahan berbinar.
“Rumah belajar,” katanya.
Dedi tersenyum tipis.
“Rumah belajar di ujung desa.”
Herawati berjalan mendekati pohon besar.
“Kalau bangunannya di sini, anak-anak bisa duduk di bawah pohon ketika siang. Tidak terlalu panas.”
Susanti menunjuk sisi tanah yang lebih rata.
“Di sana bisa dibuat rak buku. Kita bisa mengumpulkan buku bekas dari kota.”
Dedi memandangi kedua sahabatnya.
Untuk pertama kalinya sejak ayahnya meninggal, ada sedikit cahaya yang terasa masuk ke dalam hatinya.
Namun, rencana itu tidak mudah.
Kabar bahwa Dedi ingin menggunakan tanah warisan ayahnya untuk membangun rumah belajar segera menyebar.
Sebagian warga mendukung.
Mereka melihatnya sebagai sesuatu yang baik bagi anak-anak.
Namun, sebagian lain justru kembali curiga.
“Dedi ingin membuat tempat untuk mengumpulkan pendukungnya,” kata seseorang di warung.
“Rumah belajar itu hanya nama,” kata yang lain. “Nanti pasti jadi tempat rapat melawan perangkat desa.”
Leman mendengar kabar tersebut dan merasa semakin tidak senang.
Ia menganggap rencana Dedi sebagai tantangan terbuka.
Jika rumah belajar itu berdiri, warga akan memiliki tempat untuk belajar membaca dokumen, memahami hak mereka, dan berbicara tanpa terlalu mudah dikendalikan.
Bagi Leman, itu berbahaya.
Bagi Burhan, itu dapat menghambat rencana pembelian tanah.
Suatu sore, Leman datang ke tanah itu ketika Dedi sedang membersihkan semak bersama Ardi dan Jamil.
“Apa yang kalian lakukan?” tanya Leman.
Dedi berhenti bekerja.
“Kami membersihkan tanah.”
“Untuk apa?”
“Aku ingin membuat rumah belajar.”
Leman tertawa kecil.
“Rumah belajar atau markas kelompokmu?”
Dedi menatapnya dengan tenang.
“Rumah belajar.”
“Jangan bermain kata, Dedi. Kamu pikir warga tidak tahu apa yang kamu lakukan?”
“Aku tidak menyembunyikan apa pun.”
Leman melangkah lebih dekat.
“Kamu sudah membuat desa ini ribut. Sekarang kamu ingin membuat tempat baru untuk mengumpulkan orang?”
Dedi menggenggam gagang cangkul.
Namun, ia menahan dirinya.
“Kalau Bapak ingin melihat, silakan datang ketika kami mengajar anak-anak.”
Leman menatapnya tajam.
“Kamu memang keras kepala.”
“Kalau menjaga tanah ayahku disebut keras kepala, mungkin aku memang begitu.”
Leman tidak menjawab.
Ia berbalik dan pergi, tetapi sebelum meninggalkan tempat itu, ia berkata, “Jangan menyesal kalau suatu hari tanah itu membuatmu kehilangan lebih banyak.”
Dedi berdiri memandangi punggung Leman yang menjauh.
Herawati yang baru datang dari arah jalan melihat wajah Dedi yang tegang.
“Dia mengancam lagi?” tanyanya.
Dedi mengangguk pelan.
“Bukan hanya aku yang harus bersiap,” katanya. “Rumah belajar ini juga akan menjadi sasaran.”
Herawati menatap tanah yang masih dipenuhi semak.
“Kalau begitu, kita harus membuatnya berdiri.”
Susanti yang datang membawa air minum ikut mendengar kalimat itu.
Ia tersenyum kecil.
“Bukan hanya berdiri,” katanya. “Kita harus membuatnya menjadi tempat yang benar-benar dibutuhkan warga.”
Hari-hari berikutnya, Dedi mulai mengumpulkan bahan-bahan sederhana.
Kayu bekas dari rumah warga.
Papan yang sudah tidak dipakai.
Bambu dari kebun.
Paku sumbangan dari seorang tukang.
Buku-buku lama dari kota kecamatan.
Tidak semua orang memberi dengan mudah.
Ada yang takut namanya diketahui Leman.
Ada yang memilih diam.
Namun, beberapa warga datang tanpa banyak bicara.
Mereka membawa apa yang bisa dibawa.
Seorang bapak membawa dua batang bambu.
Seorang ibu membawa tikar lama.
Seorang pemuda membawa papan bekas dari kandang ayam.
Anak-anak bahkan datang membawa batu kecil untuk membantu meratakan tanah.
Dedi melihat semua itu dengan hati yang terharu.
Ia menyadari bahwa warisan ayahnya bukan hanya sebidang tanah.
Warisan itu adalah kepercayaan.
Kepercayaan bahwa tanah kecil di ujung desa dapat menjadi tempat lahirnya harapan baru.
Di tengah senja, Dedi berdiri di tanah itu sambil memegang surat kepemilikan peninggalan Karsa.
Ia menatap langit yang perlahan berubah jingga.
“Ayah,” bisiknya, “tanah ini tidak akan dijual.”
Angin sore bergerak pelan.
Daun-daun pohon besar bergoyang di atasnya.
Dan di ujung Desa Suka Jaya, sebuah tanah kecil mulai berubah menjadi awal dari perjuangan yang lebih besar.
BAB XXX
Rumah Belajar Ujung Desa
Pagi di ujung Desa Suka Jaya dimulai dengan suara kapak memotong kayu.
Dedi berdiri di tengah tanah warisan ayahnya sambil mengukur beberapa batang bambu. Semak-semak yang sebelumnya tumbuh liar telah dibersihkan. Tanah yang tidak rata mulai diratakan dengan cangkul. Di bawah pohon besar, beberapa anak duduk sambil memperhatikan orang-orang dewasa bekerja.
Ardi dan Jamil membantu mengangkat papan bekas.
Raka memegang tali untuk mengukur jarak tiang.
Herawati membawa air minum dari rumah warga.
Susanti duduk di atas tikar tua, menyusun buku-buku sumbangan yang mulai terkumpul.
Tidak ada bahan bangunan yang benar-benar baru.
Kayu-kayu itu sebagian bekas dari kandang yang sudah tidak digunakan. Papan-papan ada yang berlubang dan harus dipotong kembali. Bambu yang dipakai untuk dinding diambil dari kebun warga. Paku pun dikumpulkan sedikit demi sedikit dari beberapa rumah.
Namun, bagi Dedi, semua itu sudah lebih dari cukup.
Ia tidak sedang membangun gedung besar.
Ia hanya ingin membangun tempat kecil yang dapat menjadi ruang bagi anak-anak untuk belajar, bagi warga untuk bertanya, dan bagi pemuda untuk memikirkan masa depan desa.
“Tiangnya jangan terlalu dekat,” kata Dedi kepada Ardi.
“Kalau terlalu dekat, ruangnya sempit.”
Ardi mengangguk.
“Kalau dibuat sedikit lebih lebar, anak-anak bisa duduk lebih banyak.”
“Benar,” jawab Dedi. “Kita buat sederhana, tapi kuat.”
Jamil yang sedang mengangkat papan tersenyum.
“Kalau sudah jadi, namanya benar-benar Rumah Belajar Ujung Desa?”
Dedi memandang tanah itu.
“Iya.”
“Kenapa tidak diberi nama Kelompok Lentera saja?” tanya Raka.
Dedi terdiam sebentar.
“Karena tempat ini bukan milik kelompok tertentu,” katanya. “Tempat ini milik semua orang yang ingin belajar.”
Susanti yang mendengar jawaban itu tersenyum.
“Rumah Belajar Ujung Desa,” ulangnya pelan. “Nama itu sederhana, tapi rasanya seperti harapan.”
Herawati mendekat membawa kendi air.
“Harapan memang tidak harus besar untuk bisa berarti,” katanya.
Dedi menerima air dari Herawati.
Ia tersenyum kecil, lalu kembali bekerja.
Menjelang siang, beberapa warga mulai datang.
Ada yang membawa bambu.
Ada yang membawa papan.
Ada yang membawa makanan untuk para pemuda yang bekerja.
Seorang ibu tua membawa dua buah tikar pandan yang sudah lama disimpan di rumahnya.
“Tidak baru,” katanya malu-malu. “Tapi masih bisa dipakai anak-anak duduk.”
Susanti menerima tikar itu dengan kedua tangan.
“Terima kasih, Bu. Ini sangat berguna.”
Ibu itu tersenyum.
“Kalau anak-anak bisa belajar, saya senang.”
Tidak semua warga datang dengan berani.
Sebagian hanya melihat dari kejauhan.
Mereka ingin membantu, tetapi masih takut jika Leman atau Burhan mengetahui.
Ada pula yang sengaja tidak mendekat karena percaya pada tuduhan bahwa rumah belajar itu hanya akan menjadi tempat Dedi mencari pengaruh.
Namun, Dedi tidak memaksa siapa pun.
Ia memahami bahwa keberanian setiap orang memiliki waktunya sendiri.
Sore hari, rangka bangunan mulai terlihat.
Empat tiang utama sudah berdiri.
Bambu-bambu dipasang sebagai dinding.
Atap seng bekas mulai dinaikkan perlahan dengan bantuan beberapa pemuda.
Ketika satu lembar seng hampir jatuh karena tali terlepas, semua orang yang berada di bawahnya langsung menahan napas.
“Pegang kuat!” seru Dedi.
Ardi dan Jamil menarik tali dari bawah.
Raka menahan bambu penyangga.
Akhirnya, seng itu berhasil dipasang.
Anak-anak yang sejak tadi menonton bertepuk tangan.
Suara tepuk tangan itu membuat semua orang tertawa.
Untuk beberapa saat, mereka lupa pada ancaman, fitnah, dan ketakutan yang selama ini membayangi.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Menjelang senja, Leman datang bersama dua orang lelaki.
Ia berhenti di depan tanah itu dan memandangi bangunan yang mulai berdiri.
Wajahnya tidak menunjukkan senyum.
“Aku dengar kalian benar-benar membangun ini,” katanya.
Dedi meletakkan palu yang dipegangnya.
“Iya, Pak.”
Leman berjalan mendekat.
“Tanah ini milikmu?”
“Milik keluarga saya.”
“Dan kamu yakin boleh membangun bangunan di sini?”
Dedi menatapnya dengan tenang.
“Surat tanahnya ada. Bangunan ini juga tidak melanggar hak siapa pun.”
Leman mendengus pelan.
“Kamu selalu punya jawaban.”
“Karena saya tidak ingin melakukan sesuatu tanpa dasar.”
Beberapa warga yang sedang membantu mulai berhenti bekerja. Mereka menatap Leman dengan cemas.
Herawati berdiri di dekat Susanti.
Keduanya tidak berkata apa-apa, tetapi mata mereka mengikuti setiap gerak Leman.
Leman memandangi dinding bambu yang belum selesai.
“Kamu pikir dengan bangunan seperti ini, kamu bisa mengubah desa?”
Dedi tidak langsung menjawab.
Ia memandang anak-anak yang masih duduk di bawah pohon.
Kemudian ia berkata, “Aku tidak tahu apakah bangunan ini bisa mengubah desa. Tapi kalau satu anak bisa belajar membaca di sini, itu sudah cukup untuk memulai.”
Leman tersenyum sinis.
“Kata-kata bagus. Tapi kata-kata tidak bisa memberi makan orang.”
“Benar,” jawab Dedi. “Tapi tanpa pengetahuan, orang bisa kehilangan tanah dan masa depannya.”
Kalimat itu membuat wajah Leman menegang.
Salah seorang lelaki di belakangnya melangkah maju, tetapi Leman mengangkat tangan, memberi isyarat agar ia berhenti.
“Kamu harus ingat,” kata Leman kepada Dedi, “tidak semua orang suka dengan apa yang kamu lakukan.”
“Aku tahu.”
“Dan tidak semua orang akan diam.”
Dedi mengangguk pelan.
“Aku juga tahu.”
Leman memandang Dedi cukup lama, lalu berbalik pergi.
Sebelum meninggalkan tanah itu, ia berkata tanpa menoleh, “Jaga baik-baik rumah belajarmu. Jangan sampai baru berdiri sudah runtuh.”
Setelah Leman pergi, suasana menjadi sunyi.
Beberapa warga saling berpandangan.
Jamil mendekati Dedi.
“Dia mengancam lagi.”
Dedi menghela napas.
“Ya.”
“Apa kita lanjut?” tanya Ardi.
Dedi memandang rangka bangunan yang belum selesai.
Ia teringat ayahnya.
Ia teringat buku-buku yang hanyut.
Ia teringat anak-anak yang bertepuk tangan ketika atap seng berhasil dipasang.
“Kita lanjut,” katanya.
Keesokan harinya, pembangunan diteruskan.
Tidak semua orang yang datang membawa bahan berani menunjukkan nama mereka. Ada yang mengirim kayu pada pagi buta. Ada yang menitipkan buku melalui anak-anak. Ada yang datang ketika sore agar tidak terlalu terlihat.
Namun, bantuan terus bertambah.
Seorang guru dari sekolah kecamatan mengirim beberapa buku pelajaran lama.
Seorang pedagang kecil menyumbangkan kapur tulis.
Seorang tukang kayu membantu membuat rak buku tanpa meminta bayaran.
Herawati mengumpulkan kain-kain bekas untuk dijadikan tirai sederhana.
Susanti menulis daftar kebutuhan dan mengatur buku berdasarkan tingkat bacaan.
Dedi bekerja dari pagi hingga sore.
Tangannya mulai lecet.
Punggungnya terasa sakit.
Tetapi setiap kali lelah, ia melihat bangunan itu sedikit demi sedikit berubah.
Dinding bambu mulai rapat.
Atap mulai menutupi ruang utama.
Rak buku sederhana berdiri di sudut ruangan.
Di bagian depan, Raka memasang papan kayu yang telah dicat putih.
Dengan huruf besar, Susanti menuliskan:
RUMAH BELAJAR UJUNG DESA
Di bawahnya, Dedi menambahkan kalimat kecil:
Tempat Bertanya, Tempat Belajar, Tempat Menjaga Harapan
Ketika tulisan itu selesai, anak-anak berkumpul di depan papan.
Salah seorang anak bernama Lila mengeja huruf-hurufnya perlahan.
“Ru… mah… Be… la… jar…”
Susanti tersenyum.
“Bagus, Lila.”
Anak itu lalu menatap Dedi.
“Bang Dedi, nanti kami boleh belajar di dalam?”
Dedi mengangguk.
“Boleh. Rumah ini dibuat untuk kalian.”
“Setiap hari?”
“Setiap hari yang kita bisa.”
Lila tersenyum lebar.
Jawaban sederhana itu membuat hati Dedi terasa hangat.
Malam sebelum rumah belajar selesai, Dedi duduk sendiri di dalam bangunan itu.
Lampu minyak kecil menyala di atas meja kayu.
Rak buku di sudut ruangan belum penuh, tetapi sudah ada beberapa buku pelajaran, cerita rakyat, buku tulis, dan kamus lama.
Dinding bambu masih mengeluarkan aroma segar.
Dari luar, suara jangkrik terdengar bersahut-sahutan.
Herawati datang membawa makanan.
“Kamu belum pulang?” tanyanya.
Dedi menggeleng.
“Aku ingin melihat tempat ini saat sepi.”
Herawati duduk di sampingnya.
“Apakah kamu bahagia?”
Dedi memandangi ruangan sederhana itu.
“Aku sedih karena Ayah tidak sempat melihatnya.”
Herawati menunduk.
“Tapi mungkin Ayahmu sudah tahu.”
Dedi tersenyum tipis.
“Mungkin.”
Tidak lama kemudian, Susanti datang membawa beberapa buku yang baru dipinjam dari seorang guru di desa sebelah.
Ia meletakkannya di atas meja.
“Besok anak-anak bisa mulai belajar membaca cerita,” katanya.
Dedi memandang Susanti dan Herawati.
“Terima kasih.”
Susanti tersenyum.
“Kamu tidak perlu terus mengucapkan terima kasih. Ini juga perjuangan kami.”
Herawati mengangguk.
“Rumah belajar ini bukan hanya milikmu.”
Dedi terdiam.
Ia menyadari bahwa benar, bangunan itu tidak berdiri karena tenaganya sendiri.
Ada tangan Ardi, Jamil, dan Raka.
Ada perhatian Herawati.
Ada ketulusan Susanti.
Ada sumbangan warga yang berani memberi meski takut.
Ada doa ibunya.
Ada kerja keras ayahnya yang diwariskan melalui tanah kecil itu.
Pagi berikutnya, Rumah Belajar Ujung Desa resmi digunakan.
Tidak ada peresmian besar.
Tidak ada spanduk mewah.
Tidak ada pejabat yang datang memberi sambutan.
Hanya anak-anak yang duduk di atas tikar.
Hanya beberapa warga yang berdiri di luar sambil melihat.
Hanya Dedi yang berdiri di depan papan tulis kecil.
“Selamat datang,” katanya.
Anak-anak memandangnya dengan wajah penuh rasa ingin tahu.
“Hari ini kita mulai belajar,” lanjut Dedi. “Bukan hanya belajar membaca dan menulis. Kita juga belajar untuk berani bertanya, berani memahami, dan berani menjaga masa depan.”
Herawati duduk di samping anak-anak yang masih kesulitan memegang pensil.
Susanti membantu menuliskan huruf-huruf pertama di papan.
Ardi dan Jamil mengatur buku-buku.
Suara anak-anak mengeja mulai memenuhi ruangan.
“A…”
“B…”
“C…”
Suara itu sederhana.
Namun, bagi Dedi, suara itu lebih kuat daripada ancaman.
Lebih kuat daripada fitnah.
Lebih kuat daripada rasa takut yang selama ini mencoba menghentikannya.
Di luar bangunan, matahari pagi menyinari jalan kecil di ujung desa.
Di dalam Rumah Belajar Ujung Desa, sebuah lentera baru mulai menyala.
Dan meskipun Dedi belum mengetahui bahwa perjuangan mereka akan kembali diuji oleh konflik yang lebih besar, hari itu ia percaya bahwa selama masih ada anak-anak yang ingin belajar, harapan tidak akan pernah benar-benar padam.
BAB XXXI
Anak-anak yang Membawa Harapan
Sejak Rumah Belajar Ujung Desa mulai digunakan, suasana di tanah warisan Karsa berubah setiap sore.
Jika sebelumnya tempat itu hanya dipenuhi semak, bambu, dan suara kapak, kini suara anak-anaklah yang paling sering terdengar. Ada yang mengeja huruf dengan suara lantang, ada yang tertawa ketika salah menulis, ada pula yang duduk serius sambil menggenggam pensil pendek yang sudah hampir habis.
Rumah belajar itu memang sederhana.
Dindingnya masih dari bambu. Atap seng bekas kadang berbunyi keras ketika angin datang. Tikar pandan di lantai tidak selalu cukup untuk semua anak. Rak bukunya pun belum penuh.
Namun, bagi anak-anak Desa Suka Jaya, tempat itu terasa seperti dunia baru.
Di sana, mereka tidak hanya belajar membaca dan menulis.
Mereka belajar bahwa buku bukan barang yang menakutkan.
Mereka belajar bahwa bertanya bukan tanda kebodohan.
Mereka belajar bahwa masa depan tidak harus selalu sama dengan kehidupan orang tua mereka.
Suatu sore, seorang anak laki-laki bernama Bima datang dengan pakaian yang masih penuh tanah.
Tangannya membawa keranjang kecil berisi singkong.
Dedi yang sedang menulis di papan tulis menoleh ketika melihatnya berdiri di pintu.
“Kamu baru dari kebun?” tanya Dedi.
Bima mengangguk.
“Iya, Bang.”
“Kenapa tidak langsung pulang?”
Bima memandangi lantai bambu rumah belajar.
“Aku mau belajar.”
Dedi tersenyum.
“Kamu sudah makan?”
“Belum.”
Herawati yang sedang membantu anak-anak lain segera mengambilkan makanan kecil yang dibawanya dari rumah.
“Makan dulu,” katanya lembut. “Setelah itu baru belajar.”
Bima menerima makanan itu dengan wajah malu-malu.
“Terima kasih, Kak Hera.”
Dedi memperhatikan anak itu.
Bima baru berusia sembilan tahun, tetapi setiap pagi sudah ikut ayahnya ke kebun. Ia membantu membawa kayu, mengambil daun, dan menjaga adiknya. Kadang ia tidak datang belajar karena harus bekerja. Namun, setiap kali memiliki waktu, ia selalu muncul di rumah belajar dengan semangat yang sama.
Anak-anak seperti Bima membuat Dedi semakin yakin bahwa perjuangannya tidak sia-sia.
Malam itu, setelah anak-anak pulang, Dedi duduk di depan rumah belajar bersama Herawati dan Susanti.
Langit tampak cerah. Bintang-bintang terlihat di antara daun pohon besar. Dari dalam bangunan, masih terdengar suara tikus kecil yang bergerak di antara rak buku.
“Hari ini Bima bisa menulis namanya sendiri,” kata Herawati dengan wajah bahagia.
Susanti tersenyum.
“Dan Lila sudah bisa membaca dua kalimat tanpa dibantu.”
Dedi memandangi papan nama Rumah Belajar Ujung Desa.
“Dulu aku hanya ingin ada tempat anak-anak bisa membaca,” katanya pelan. “Sekarang aku mulai melihat mereka punya keberanian untuk bermimpi.”
Herawati menoleh kepadanya.
“Karena mereka melihat ada orang yang percaya kepada mereka.”
Dedi menggeleng.
“Bukan hanya aku. Kalau tidak ada kalian, rumah belajar ini tidak mungkin berdiri.”
Susanti memandangi anak-anak yang tadi sore masih bermain di halaman.
“Kadang satu tempat kecil bisa menjadi awal perubahan,” katanya. “Mungkin mereka akan tumbuh menjadi guru, petani yang lebih pintar, perawat, atau pemimpin yang tidak mudah dibohongi.”
Dedi tersenyum.
“Mungkin suatu hari mereka tidak lagi harus meninggalkan sekolah karena tidak punya biaya.”
Herawati mengangguk.
“Itu harapan yang harus kita jaga.”
Namun, harapan yang tumbuh di Rumah Belajar Ujung Desa tidak hanya dilihat oleh orang-orang yang mendukung Dedi.
Leman dan Burhan juga melihatnya.
Mereka melihat anak-anak yang semakin banyak datang.
Mereka melihat warga mulai berani membawa surat untuk dibaca.
Mereka melihat pemuda-pemuda yang dahulu hanya berkumpul di warung kini mulai berdiskusi tentang tanah, pendidikan, dan hak masyarakat.
Bagi Leman, semua itu bukan kemajuan.
Itu ancaman.
Suatu malam, Leman duduk di warung bersama Burhan.
Di meja mereka ada gelas kopi yang sudah mulai dingin. Beberapa lelaki duduk tidak jauh dari sana, tetapi tidak ada yang berani terlalu dekat. Semua orang tahu bahwa percakapan Leman dan Burhan sering berkaitan dengan urusan yang tidak ingin didengar banyak orang.
“Rumah belajar itu semakin ramai,” kata Burhan.
Leman mengangguk dengan wajah muram.
“Aku lihat sendiri tadi sore. Anak-anak datang dari beberapa dusun.”
“Kalau dibiarkan, Dedi akan semakin dipercaya.”
“Dia sudah mulai membuat warga merasa tidak membutuhkan kita.”
Burhan tersenyum tipis.
“Bukan kita. Yang tidak ia butuhkan adalah orang-orang yang selama ini bisa mengatur warga dengan mudah.”
Leman menatap Burhan tajam.
“Kamu menyindirku?”
“Saya hanya bicara kenyataan,” jawab Burhan tenang. “Dedi mengajarkan warga membaca surat. Kalau warga mulai paham isi perjanjian, akan lebih sulit membeli tanah mereka.”
Leman mengepalkan tangan.
“Anak itu terlalu jauh melangkah.”
Burhan menyesap kopinya.
“Kalau hanya mengancamnya, dia tidak berhenti. Kalau memukulnya, warga justru mulai kasihan. Kita perlu cara lain.”
Leman menunduk.
“Apa maksudmu?”
Burhan memandang ke arah jalan yang gelap.
“Kita harus membuat warga kehilangan kepercayaan kepadanya.”
Leman tidak menjawab.
Namun, sorot matanya menunjukkan bahwa ia memahami maksud Burhan.
Mereka tidak lagi ingin sekadar menakut-nakuti Dedi.
Mereka ingin menghancurkan nama baiknya.
Mereka ingin membuat Rumah Belajar Ujung Desa terlihat seperti tempat yang membawa masalah.
Mereka ingin warga percaya bahwa Dedi bukan pemuda yang memperjuangkan pendidikan, melainkan seseorang yang memiliki kepentingan tersembunyi.
Beberapa hari kemudian, Rumah Belajar Ujung Desa menerima kabar yang menggembirakan.
Pak Warto datang membawa sebuah surat dari kota kecamatan. Surat itu dikirim oleh seorang guru yang pernah mengenal Dedi ketika ia masih sekolah.
“Ini dari lembaga sosial,” kata Pak Warto. “Mereka mendengar tentang rumah belajar di desa kita.”
Dedi menerima surat itu dengan hati-hati.
Di dalamnya tertulis bahwa sebuah lembaga sosial tertarik membantu kegiatan pendidikan masyarakat di Desa Suka Jaya. Mereka berencana mengirimkan buku, alat tulis, serta bantuan dana sederhana untuk memperbaiki rumah belajar.
Herawati yang membaca surat itu tampak terharu.
“Ini kabar baik, Ded.”
Susanti tersenyum.
“Kalau bantuan itu benar datang, kita bisa menambah buku dan memperbaiki dinding yang mulai renggang.”
Anak-anak yang mendengar kabar itu ikut bersorak.
“Buku baru!” seru Lila.
“Ada pensil baru juga?” tanya Bima.
Dedi tertawa kecil.
“Mudah-mudahan ada.”
Kabar bantuan itu segera menyebar.
Sebagian warga ikut senang.
Mereka melihat bahwa perjuangan Dedi mulai mendapat perhatian dari luar desa. Mereka berharap rumah belajar dapat menjadi lebih baik dan anak-anak tidak lagi harus bergantian memakai satu buku.
Namun, di tempat lain, Leman dan Burhan justru melihat kabar itu sebagai peluang.
“Bantuan dana,” kata Burhan pelan ketika mendengar berita tersebut.
Leman menatapnya.
“Kenapa?”
Burhan tersenyum tipis.
“Karena uang selalu bisa menjadi alasan untuk menjatuhkan seseorang.”
Leman mengerutkan dahi.
“Maksudmu?”
“Kalau bantuan itu tidak sampai kepada Dedi, siapa yang akan disalahkan?”
Leman mulai memahami.
“Dedi.”
“Benar,” jawab Burhan. “Warga akan bertanya ke mana uang itu pergi. Mereka akan mulai curiga. Dan ketika mereka mulai curiga, semua yang telah dibangun Dedi akan lebih mudah runtuh.”
Leman terdiam.
Ia memandangi gelap malam di luar warung.
Di kejauhan, dari arah ujung desa, tampak cahaya lampu minyak kecil dari Rumah Belajar Ujung Desa.
Cahaya itu tidak besar.
Tetapi cukup untuk membuatnya merasa terganggu.
Sementara itu, di rumah belajar, Dedi sedang mengajari anak-anak menulis cita-cita mereka.
“Apa cita-citamu?” tanya Dedi kepada Bima.
Bima menunduk malu-malu.
“Aku ingin jadi guru.”
Herawati tersenyum.
“Kenapa ingin jadi guru?”
“Supaya anak-anak lain bisa belajar seperti aku.”
Dedi menatap anak itu cukup lama.
Jawaban sederhana itu membuat dadanya terasa hangat.
Ia lalu memandang anak-anak lain.
Ada yang ingin menjadi dokter.
Ada yang ingin menjadi polisi.
Ada yang ingin menjadi petani yang memiliki kebun sendiri.
Ada pula yang hanya berkata ingin bisa membaca semua buku di rumah belajar.
Dedi menuliskan cita-cita mereka di papan tulis.
Di bawah tulisan itu, ia membuat satu kalimat:
Harapan tumbuh ketika seseorang diberi kesempatan untuk belajar.
Anak-anak membaca kalimat itu bersama-sama.
Suara mereka memenuhi ruangan sederhana di ujung desa.
Dedi tidak tahu bahwa di balik kebahagiaan kecil itu, sebuah rencana sedang disusun untuk menjatuhkannya.
Ia tidak tahu bahwa bantuan yang seharusnya menjadi jalan bagi rumah belajar untuk berkembang akan berubah menjadi awal dari tuduhan baru.
Namun, malam itu, ia tetap memandangi wajah-wajah kecil yang penuh harapan.
Dan ia kembali mengingat pesan ayahnya.
Jadilah manusia yang berguna.
Bagi Dedi, selama masih ada anak-anak yang datang membawa mimpi, ia tidak boleh berhenti menjaga lentera di ujung desa.
BAB XXXII
Ratna di Antara Dua Api
Kabar tentang bantuan pendidikan untuk Rumah Belajar Ujung Desa menjadi pembicaraan baru di Desa Suka Jaya.
Anak-anak membicarakannya dengan wajah penuh harapan. Mereka membayangkan buku-buku baru, pensil yang tidak lagi pendek, serta papan tulis yang lebih besar. Para ibu yang anak-anaknya mulai rajin datang ke rumah belajar juga ikut merasa senang.
Namun, tidak semua orang menyambut kabar itu dengan hati yang sama.
Ratna justru merasa gelisah.
Sejak awal, ia selalu memandang Herawati sebagai saingan. Ia tidak pernah benar-benar menerima kenyataan bahwa Dedi lebih dekat dengan Herawati. Bagi Ratna, Herawati bukan hanya perempuan yang dicintai Dedi, tetapi juga seseorang yang perlahan mendapatkan tempat di hati warga.
Herawati membantu mengajar anak-anak.
Ia mendatangi rumah-rumah warga untuk mengajak mereka mengirimkan anak belajar.
Ia tidak banyak bicara, tetapi kehadirannya membuat banyak orang merasa dihargai.
Hal itu membuat Ratna semakin sulit menyembunyikan rasa iri.
Suatu sore, Ratna berjalan melewati Rumah Belajar Ujung Desa.
Langit mulai berubah jingga. Dari dalam bangunan bambu itu terdengar suara anak-anak mengeja huruf. Beberapa anak duduk di atas tikar, sementara Herawati berdiri di depan papan tulis kecil.
“Ba… ca…” ucap Herawati perlahan.
“Ba… ca…” jawab anak-anak bersama-sama.
Ratna berhenti di balik pohon.
Ia tidak ingin terlihat.
Dari tempatnya berdiri, ia melihat Herawati membimbing Lila yang masih kesulitan memegang pensil. Herawati tidak marah ketika tulisan Lila miring dan tidak rapi. Ia hanya tersenyum, lalu membetulkan posisi tangan anak itu.
“Pelan-pelan saja,” kata Herawati. “Tidak apa-apa salah. Yang penting mau mencoba.”
Lila mengangguk.
Ratna memandangi pemandangan itu cukup lama.
Ada sesuatu yang bergerak dalam hatinya.
Ia teringat masa kecilnya sendiri.
Dulu, ia juga pernah ingin sekolah lebih tinggi. Namun, keluarganya tidak mampu. Setelah lulus sekolah dasar, ia lebih banyak membantu ibunya di rumah. Ketika teman-temannya melanjutkan pendidikan, Ratna hanya bisa melihat mereka pergi dengan seragam baru.
Sejak saat itu, ia merasa hidup selalu memilih orang lain lebih dulu.
Herawati bisa sekolah.
Herawati disukai Dedi.
Herawati dipercaya warga.
Herawati kini mengajar anak-anak.
Sementara Ratna merasa dirinya hanya menjadi orang yang berdiri di pinggir, melihat orang lain mendapatkan apa yang tidak pernah ia miliki.
Namun, sore itu, ketika melihat anak-anak tertawa bersama Herawati, Ratna tidak bisa sepenuhnya membenci pemandangan itu.
Ia melihat Bima menunjukkan tulisannya kepada Herawati.
“Aku bisa menulis namaku!” seru Bima.
Herawati tersenyum bangga.
“Bagus sekali. Besok kita belajar menulis nama ayah dan ibumu.”
Bima mengangguk penuh semangat.
Ratna menunduk.
Ia membayangkan jika dulu ada tempat seperti Rumah Belajar Ujung Desa, mungkin hidupnya tidak akan terasa begitu sempit. Mungkin ia tidak akan tumbuh dengan rasa iri yang terus mengendap di dalam dada.
Namun, perasaan itu tidak bertahan lama.
Ketika Ratna hendak pergi, ia melihat Dedi datang membawa beberapa buku dari kota kecamatan. Anak-anak langsung berlari menghampirinya.
“Bang Dedi datang!”
“Bawa buku apa?”
“Ada cerita baru?”
Dedi tertawa sambil mengangkat buku-buku itu.
“Ada buku cerita, ada buku berhitung, dan ada buku tentang hewan.”
Anak-anak bersorak.
Herawati berjalan mendekati Dedi.
“Kamu baru pulang dari kota?”
“Iya,” jawab Dedi. “Aku mampir ke sekolah lama. Ada guru yang meminjamkan beberapa buku.”
Herawati menerima salah satu buku dari tangan Dedi.
“Terima kasih sudah terus mencari buku untuk mereka.”
Dedi tersenyum.
“Kalau anak-anak senang belajar, capeknya hilang.”
Ratna melihat keduanya dari kejauhan.
Hatinya kembali terasa panas.
Perasaan iba yang sempat muncul beberapa saat lalu perlahan tertutup oleh iri yang lebih lama ia pelihara.
Ia berbalik dan berjalan pulang.
Di jalan, ia bertemu Leman.
Leman sedang berdiri di dekat warung, berbicara dengan dua orang lelaki. Ketika melihat Ratna, ia memanggilnya.
“Ratna.”
Ratna berhenti.
“Ada apa, Pak?”
Leman mengamati wajah Ratna.
“Kamu dari rumah belajar?”
Ratna tidak langsung menjawab.
“Lewat saja.”
Leman tersenyum tipis.
“Kamu sering memperhatikan mereka.”
Ratna menunduk.
“Tidak juga.”
Leman melangkah mendekat.
“Kamu tahu, Dedi dan Herawati sekarang merasa diri mereka paling berjasa di desa ini.”
Ratna tidak berkata apa-apa.
“Orang-orang mulai memuji mereka,” lanjut Leman. “Padahal belum tentu semua yang mereka lakukan benar.”
Ratna menatap Leman.
“Apa yang mereka lakukan memang salah?”
Leman terdiam sejenak, seolah tidak menyangka Ratna akan bertanya seperti itu.
“Yang salah bukan mengajar anak-anak,” jawabnya. “Yang salah adalah cara Dedi membuat warga tidak percaya kepada orang-orang yang selama ini mengurus desa.”
Ratna mengerutkan dahi.
“Tapi Dedi hanya ingin warga memahami surat-surat.”
Leman tersenyum tipis.
“Kamu terlalu mudah percaya. Hari ini dia mengajar anak-anak. Besok dia bisa mengumpulkan warga untuk melawan siapa saja yang tidak sejalan dengannya.”
Ratna kembali diam.
Ia tahu Leman sering berbicara dengan cara yang membuat orang lain ragu. Ia tidak selalu memberi perintah secara langsung. Ia hanya menanamkan kecurigaan, lalu membiarkan orang lain mengembangkannya sendiri.
Leman lalu berkata, “Kamu juga harus hati-hati. Jangan sampai Herawati dan Dedi membuatmu terlihat seperti orang yang tidak berguna.”
Kalimat itu menusuk hati Ratna.
Ia tahu Leman sengaja mengucapkannya.
Ia tahu lelaki itu memahami kelemahannya.
Namun, ia tetap tidak mampu mengabaikan rasa sakit yang muncul ketika mendengar kata-kata tersebut.
“Apa maksud Bapak?” tanyanya.
“Maksudku, jangan biarkan mereka selalu menjadi pusat perhatian. Kamu juga punya tempat di desa ini.”
Ratna memandang ke arah rumah belajar yang mulai jauh dari pandangannya.
“Aku tidak tahu harus bagaimana.”
Leman menepuk bahunya pelan.
“Kamu hanya perlu memperhatikan. Kalau ada sesuatu yang aneh, sampaikan kepada orang-orang. Warga berhak tahu.”
Ratna tidak menjawab.
Namun, Leman tahu benih keraguan sudah kembali tumbuh dalam hati perempuan itu.
Malamnya, Ratna duduk sendiri di depan rumah.
Ibunya sedang sakit dan sudah tertidur di dalam. Di halaman, lampu minyak menyala kecil. Suara jangkrik terdengar dari kebun di belakang rumah.
Ratna memandangi jalan desa yang gelap.
Ia memikirkan Herawati.
Ia memikirkan Dedi.
Ia memikirkan kata-kata Leman.
Lalu ia memikirkan anak-anak yang sore tadi belajar membaca.
Untuk pertama kalinya, Ratna merasa dirinya berdiri di antara dua api.
Di satu sisi, ada rasa iri yang selama ini membuatnya ingin melihat Herawati jatuh.
Di sisi lain, ada suara kecil dalam hatinya yang mengatakan bahwa anak-anak itu tidak pantas menjadi korban dari kebencian orang dewasa.
Namun, suara kecil itu belum cukup kuat.
Ketika rasa iri datang, Ratna kembali mengingat bagaimana Dedi selalu memandang Herawati dengan penuh perhatian. Ia mengingat bagaimana warga mulai memuji Herawati. Ia mengingat hidupnya sendiri yang terasa seperti selalu berada di belakang.
Beberapa hari kemudian, Ratna kembali bertemu Leman.
Kali ini, Leman mengajaknya duduk di rumah seorang warga yang jarang didatangi orang lain.
Burhan juga ada di sana.
Wajah Burhan tampak tenang, tetapi sorot matanya membuat Ratna merasa tidak nyaman.
“Kami sedang memikirkan keadaan desa,” kata Burhan.
Ratna tidak menjawab.
Leman melanjutkan, “Bantuan pendidikan untuk rumah belajar itu sebentar lagi datang.”
Ratna mengangguk.
“Aku dengar.”
Burhan menatapnya.
“Kalau nanti ada masalah dengan bantuan itu, warga harus tahu siapa yang bertanggung jawab.”
Ratna mulai memahami arah pembicaraan itu.
“Apa maksudnya?”
Leman tersenyum tipis.
“Kamu tidak perlu melakukan apa-apa. Hanya dengarkan, perhatikan, dan jangan terlalu cepat membela Dedi.”
Ratna memandang mereka bergantian.
Ada rasa takut yang mulai muncul.
Ia tahu Leman dan Burhan tidak sedang membicarakan sesuatu yang baik.
Namun, ia juga tidak berani menolak secara terbuka.
“Aku tidak ingin terlibat,” katanya pelan.
Burhan tersenyum, tetapi senyumnya tidak hangat.
“Tidak ada yang memaksa kamu terlibat.”
Leman menambahkan, “Tapi ingat, Ratna. Orang yang terlalu banyak tahu kadang harus memilih berdiri di sisi mana.”
Ratna pulang dengan langkah berat.
Di sepanjang jalan, ia merasa seolah bayangan Leman dan Burhan terus mengikutinya.
Sesampainya di rumah, ia duduk di dekat ibunya yang sedang tidur.
Ia memandangi wajah perempuan tua itu.
Ibunya pernah berkata bahwa hidup tidak selalu memberi seseorang apa yang diinginkan, tetapi manusia tetap harus memilih jalan yang tidak menyakiti orang lain.
Ratna menunduk.
Air matanya jatuh tanpa suara.
Ia belum berubah.
Ia masih menyimpan iri kepada Herawati.
Ia masih merasa sakit ketika melihat Dedi dan Herawati bersama.
Namun, untuk pertama kalinya, ia mulai memahami bahwa iri hati dapat menyeret seseorang ke jalan yang jauh lebih gelap daripada kesedihan.
Di luar rumah, malam semakin larut.
Di ujung desa, Rumah Belajar Ujung Desa masih menyimpan cahaya lampu minyak kecil.
Sementara itu, di tempat lain, Leman dan Burhan mulai menyiapkan rencana yang akan membuat nama Dedi kembali dipertanyakan oleh seluruh warga Desa Suka Jaya.
BAB XXXIII
Dana yang Hilang
Pagi itu, Rumah Belajar Ujung Desa dipenuhi suasana yang berbeda.
Dedi datang lebih awal dari biasanya. Ia menyapu lantai bambu, merapikan tikar, lalu memeriksa rak buku yang mulai penuh oleh sumbangan dari beberapa warga dan guru di kota kecamatan. Herawati menyiapkan buku tulis untuk anak-anak, sedangkan Susanti menuliskan jadwal belajar di papan kecil dekat pintu.
Mereka masih menunggu kabar tentang bantuan dari lembaga sosial yang beberapa waktu lalu mengirim surat.
Bantuan itu tidak besar.
Namun, bagi Rumah Belajar Ujung Desa, bantuan tersebut sangat berarti. Dengan dana itu, mereka berharap dapat membeli papan tulis yang lebih layak, menambah buku bacaan, memperbaiki atap seng yang bocor, dan menyediakan alat tulis bagi anak-anak yang datang dengan tangan kosong.
“Kalau bantuan itu datang, kita harus membuat catatan semuanya,” kata Susanti sambil menulis di buku kecil.
Dedi mengangguk.
“Setiap barang dan setiap uang harus dicatat. Aku tidak ingin ada yang salah paham.”
Herawati menoleh.
“Kamu masih memikirkan tuduhan orang-orang?”
Dedi tersenyum tipis.
“Bukan takut dituduh. Tapi kalau kita mengurus sesuatu untuk masyarakat, semuanya harus jelas.”
Susanti menutup buku catatannya.
“Itu sudah benar. Kita juga bisa meminta Pak Warto ikut menyaksikan saat bantuan diterima.”
Dedi setuju.
Mereka tidak tahu bahwa di tempat lain, Leman dan Burhan sedang menunggu kabar yang sama.
Beberapa hari kemudian, seorang petugas pengantar surat datang ke kantor desa.
Ia membawa amplop besar dari kota kecamatan. Di dalamnya terdapat surat pemberitahuan bahwa bantuan pendidikan untuk Rumah Belajar Ujung Desa telah dikirim melalui jalur kecamatan.
Surat itu diterima oleh salah seorang pegawai kantor desa.
Namun, sebelum kabar tersebut sampai kepada Dedi, Leman sudah lebih dahulu mengetahuinya.
Ia datang ke kantor desa dengan alasan ingin melihat surat-surat yang masuk.
“Surat dari mana itu?” tanyanya.
Pegawai desa yang sedang menyusun berkas menjawab, “Dari lembaga sosial di kota. Katanya untuk rumah belajar Dedi.”
Leman mengambil surat itu perlahan.
Ia membaca bagian atasnya.
Di sana tertulis nama Rumah Belajar Ujung Desa serta jumlah bantuan yang akan dikirimkan.
Leman menatap surat itu cukup lama.
Lalu ia berkata, “Surat ini biar saya yang sampaikan kepada Dedi. Saya kebetulan akan melewati rumahnya.”
Pegawai itu sempat ragu.
Namun, karena Leman dikenal sebagai orang yang berpengaruh di desa, ia akhirnya menyerahkan surat tersebut.
Leman membawa surat itu pergi.
Di luar kantor desa, Burhan sudah menunggu.
“Bagaimana?” tanya Burhan.
Leman menyerahkan surat itu.
“Bantuan sudah dikirim.”
Burhan membaca isinya, lalu tersenyum tipis.
“Bagus.”
“Lalu bagaimana?”
Burhan melipat surat itu kembali.
“Sekarang kita pastikan bantuan itu tidak pernah sampai kepada Dedi.”
Leman menatap Burhan.
“Kalau uangnya hilang, warga akan mencari siapa yang bertanggung jawab.”
“Dan siapa yang paling mudah dituduh?” jawab Burhan.
“Dedi.”
Burhan mengangguk.
“Dia yang mengajukan bantuan. Dia yang mengelola rumah belajar. Kalau dana itu tidak terlihat, warga akan menganggap dia menyimpannya.”
Leman tampak ragu sesaat.
“Kalau ada yang bertanya?”
“Kita tidak perlu menjawab terlalu banyak,” kata Burhan. “Cukup biarkan warga bertanya sendiri. Kecurigaan akan tumbuh lebih cepat jika tidak ada jawaban.”
Sementara itu, Dedi masih menunggu kabar dengan sabar.
Setiap kali ada orang dari kota kecamatan datang ke desa, anak-anak bertanya apakah bantuan buku sudah tiba.
“Bang Dedi, pensil baru kapan datang?” tanya Lila.
“Kalau sudah ada kabar, nanti Bang Dedi bilang,” jawab Dedi sambil tersenyum.
Bima ikut bertanya, “Apa nanti ada buku tentang hewan lagi?”
“Mudah-mudahan ada.”
Hari berganti hari.
Namun, tidak ada surat.
Tidak ada petugas yang datang membawa bantuan.
Tidak ada kabar dari kecamatan.
Dedi mulai merasa heran.
Ia menulis surat balasan kepada lembaga sosial melalui guru yang dahulu membantunya. Dalam surat itu, ia menanyakan apakah bantuan benar-benar sudah dikirim.
Beberapa hari kemudian, jawaban datang.
Surat itu membuat Dedi terdiam cukup lama.
Lembaga sosial menyatakan bahwa bantuan telah disalurkan sesuai prosedur. Dana dan beberapa perlengkapan pendidikan telah dikirim melalui jalur yang disepakati, dengan pemberitahuan resmi kepada pihak desa.
Dedi membaca surat itu berulang kali.
Herawati yang berada di sampingnya ikut membaca.
“Berarti bantuan itu sudah sampai di desa?” tanyanya.
Dedi mengangguk pelan.
“Tapi kita tidak pernah menerima apa pun.”
Susanti memandangi wajah Dedi.
“Ini tidak beres.”
Dedi langsung teringat pada surat-surat yang sering terlambat, dokumen tanah warga, dan cara Leman selalu muncul ketika ada urusan penting.
Namun, ia tidak ingin menuduh tanpa bukti.
“Aku akan bertanya ke kantor desa,” katanya.
Keesokan harinya, Dedi datang ke kantor desa bersama Susanti.
Di sana, ia bertemu pegawai yang beberapa hari lalu menerima surat dari lembaga sosial.
“Pak, apakah ada surat atau bantuan untuk Rumah Belajar Ujung Desa?” tanya Dedi.
Pegawai itu tampak bingung.
“Bukankah sudah disampaikan oleh Pak Leman?”
Dedi menatapnya.
“Disampaikan apa?”
“Surat pemberitahuan. Pak Leman bilang akan menyerahkannya langsung kepadamu.”
Dedi dan Susanti saling berpandangan.
Dedi berusaha menjaga suaranya tetap tenang.
“Kapan Pak Leman mengambil surat itu?”
“Beberapa hari lalu.”
Dedi mengangguk perlahan.
“Terima kasih, Pak.”
Ia keluar dari kantor desa dengan langkah berat.
Susanti berjalan di sampingnya.
“Jadi Leman memang tahu bantuan itu datang,” katanya.
“Ya.”
“Apakah kita harus menemui dia?”
Dedi menatap jalan desa yang sepi.
“Kita temui. Tapi jangan dengan emosi.”
Mereka mendatangi rumah Leman pada sore hari.
Leman sedang duduk di beranda bersama beberapa lelaki. Ketika melihat Dedi datang, wajahnya tampak tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.
“Ada apa, Dedi?” tanyanya.
“Aku ingin bertanya tentang surat bantuan untuk Rumah Belajar Ujung Desa,” jawab Dedi.
Leman mengerutkan dahi.
“Surat bantuan?”
“Pegawai kantor desa mengatakan Bapak mengambil surat itu untuk disampaikan kepadaku.”
Leman tertawa kecil.
“Mungkin kamu salah dengar.”
“Tidak. Mereka mengatakan Bapak sendiri yang mengambilnya.”
Leman berdiri perlahan.
“Aku memang melihat ada surat. Tapi aku tidak pernah mengambil bantuan apa pun.”
“Surat itu sekarang ada di mana?”
“Aku tidak tahu.”
Dedi memandang Leman dengan tenang, meski dadanya mulai panas.
“Surat itu penting. Di dalamnya ada pemberitahuan tentang dana dan perlengkapan untuk anak-anak.”
Leman mengangkat bahu.
“Kalau memang ada bantuan, mungkin kamu sudah menerimanya.”
Kalimat itu membuat Susanti terkejut.
“Maksud Bapak apa?” tanyanya.
Leman menatap Susanti.
“Maksudku, siapa yang tahu? Kamu dan Dedi yang mengurus rumah belajar. Kalau bantuan itu tidak terlihat, mungkin kalian yang harus menjelaskan.”
Dedi mengepalkan tangan.
Namun, ia menahan dirinya.
“Aku datang untuk mencari informasi, bukan untuk bertengkar.”
Leman tersenyum sinis.
“Kalau begitu, cari saja informasinya. Jangan datang ke rumah orang membawa tuduhan.”
Dedi dan Susanti pergi tanpa mendapatkan jawaban.
Namun, keesokan harinya, kabar mulai menyebar di desa.
“Bantuan untuk rumah belajar sudah datang.”
“Dana itu katanya cukup besar.”
“Tapi anak-anak belum menerima buku baru.”
“Ke mana uangnya?”
Tidak ada yang tahu siapa yang pertama menyebarkan kabar itu.
Namun, seperti biasa, kabar tersebut bergerak cepat.
Di warung, beberapa orang mulai bertanya-tanya.
“Kalau memang ada dana, kenapa atap rumah belajar masih bocor?”
“Kenapa anak-anak masih memakai pensil pendek?”
“Jangan-jangan Dedi menyimpannya.”
Ada yang mencoba membela.
“Dedi bukan orang seperti itu.”
Namun, ada pula yang menjawab, “Kita tidak tahu. Uang bisa mengubah siapa saja.”
Kata-kata itu mulai menyakitkan.
Anak-anak yang tidak mengerti persoalan orang dewasa ikut mendengar percakapan tersebut.
Suatu sore, Bima datang ke rumah belajar dengan wajah murung.
“Bang Dedi,” katanya pelan.
“Ada apa?”
“Bapakku bilang bantuan buku sudah datang, tapi Bang Dedi tidak membagikannya.”
Dedi terdiam.
Bima menunduk.
“Benarkah?”
Dedi merasakan sesuatu yang berat di dadanya.
Ia tidak marah kepada Bima.
Anak itu hanya mengulang apa yang didengarnya.
Dedi berjongkok di hadapannya.
“Bang Dedi tidak pernah menerima bantuan itu.”
Bima memandangnya.
“Jadi bukunya belum ada?”
“Belum ada.”
“Kenapa?”
Dedi tersenyum tipis, meski hatinya terasa perih.
“Karena kadang orang dewasa membuat masalah yang sulit dimengerti anak-anak.”
Bima mengangguk pelan.
“Aku percaya Bang Dedi.”
Kalimat sederhana itu membuat Dedi hampir tidak mampu berkata-kata.
Namun, tuduhan terus berkembang.
Beberapa warga yang dahulu membantu membangun rumah belajar mulai menjaga jarak.
Ada yang tidak lagi mengirimkan anaknya.
Ada yang berkata bahwa mereka ingin menunggu kejelasan.
Ada pula yang mulai menuntut Dedi menjelaskan ke mana dana bantuan tersebut pergi.
Herawati mencoba menenangkan warga.
“Dedi tidak pernah menerima dana itu,” katanya kepada beberapa ibu di dekat rumah belajar. “Kalau memang bantuan sudah dikirim, kita harus mencari tahu siapa yang menahannya.”
Namun, salah seorang perempuan berkata, “Kalau Dedi tidak menerima, kenapa lembaga sosial mengatakan bantuan sudah sampai?”
Herawati tidak bisa langsung menjawab.
Ia tahu kebenaran ada di pihak Dedi.
Tetapi tanpa bukti, kebenaran terasa seperti suara kecil yang tenggelam di tengah keraguan.
Susanti mulai mencatat semua informasi yang mereka miliki.
Tanggal surat.
Nama lembaga sosial.
Keterangan dari pegawai desa.
Waktu Leman mengambil surat.
Namun, semakin mereka mencari jawaban, semakin banyak warga yang mulai percaya pada kabar buruk itu.
Malam itu, Dedi duduk sendiri di dalam Rumah Belajar Ujung Desa.
Lampu minyak di atas meja menyala kecil.
Di depannya, ada buku catatan kosong yang seharusnya dipakai untuk mencatat penggunaan dana bantuan.
Dedi membuka halaman pertama.
Tangannya memegang pensil, tetapi tidak ada yang ia tulis.
Ia hanya memandangi halaman itu dengan perasaan hampa.
Herawati datang dan duduk di sampingnya.
“Kamu jangan menyerah,” katanya.
Dedi menatap papan tulis yang mulai kusam.
“Aku tidak takut kehilangan nama baikku,” katanya pelan. “Aku takut anak-anak kehilangan kepercayaan.”
Herawati menggenggam tangannya.
“Kalau kamu tetap jujur, suatu hari mereka akan tahu.”
Dedi menunduk.
“Bagaimana kalau sebelum hari itu datang, rumah belajar ini sudah hancur?”
Herawati tidak langsung menjawab.
Ia hanya menggenggam tangan Dedi lebih erat.
Di luar, malam semakin gelap.
Di beberapa rumah, warga masih membicarakan dana bantuan yang hilang.
Di tempat lain, Leman dan Burhan tersenyum karena rencana mereka mulai berjalan.
Dan di Rumah Belajar Ujung Desa, Dedi mulai menghadapi ujian yang tidak hanya mengancam perjuangannya, tetapi juga nama baiknya di hadapan orang-orang yang selama ini ingin ia bantu.
BAB XXXIV
Nama yang Dicemarkan
Pagi itu, sebelum matahari meninggi, seorang perangkat desa datang ke Rumah Belajar Ujung Desa.
Dedi sedang membantu Bima membaca buku cerita ketika lelaki itu berdiri di depan pintu dengan wajah serius. Anak-anak yang duduk di atas tikar langsung menoleh.
“Dedi Kusnadi?” tanya lelaki itu.
Dedi berdiri.
“Iya, Pak.”
“Kamu diminta datang ke balai desa siang ini.”
Dedi mengerutkan dahi.
“Ada urusan apa?”
Lelaki itu mengeluarkan secarik kertas dari saku bajunya.
“Ada laporan mengenai bantuan pendidikan yang hilang. Perangkat desa ingin meminta penjelasan.”
Suasana di dalam rumah belajar mendadak sunyi.
Anak-anak tidak sepenuhnya mengerti apa yang terjadi, tetapi mereka dapat melihat wajah Dedi yang berubah tegang. Herawati yang sedang menyusun buku di sudut ruangan berhenti bekerja. Susanti memandang surat panggilan itu dengan perasaan tidak tenang.
“Baik, Pak,” jawab Dedi akhirnya. “Saya akan datang.”
Setelah perangkat desa pergi, Bima mendekati Dedi.
“Bang Dedi mau ke mana?”
“Ke balai desa sebentar.”
“Karena buku bantuan itu?”
Dedi mengangguk pelan.
“Apakah Bang Dedi akan dimarahi?”
Pertanyaan itu membuat Dedi terdiam.
Ia tersenyum tipis, lalu mengusap kepala Bima.
“Bang Dedi hanya akan menjelaskan yang sebenarnya.”
Bima menatapnya dengan mata penuh percaya.
“Bang Dedi tidak mengambil uangnya, kan?”
Dedi mengangguk.
“Tidak.”
“Kalau begitu, mereka harus percaya.”
Kalimat sederhana itu terdengar begitu mudah.
Namun, Dedi tahu bahwa orang dewasa sering kali lebih sulit percaya daripada anak-anak.
Menjelang siang, Dedi berangkat ke balai desa bersama Herawati dan Susanti. Mereka berjalan melewati jalan utama Desa Suka Jaya dengan langkah pelan. Di beberapa rumah, warga terlihat berdiri di halaman. Ada yang hanya memandang diam-diam. Ada yang berbisik ketika Dedi lewat.
“Dia dipanggil karena dana bantuan,” terdengar suara seseorang.
“Kalau memang tidak salah, kenapa harus dipanggil?”
“Entahlah. Tapi uang itu katanya cukup banyak.”
Dedi mendengar semua itu.
Ia tidak menoleh.
Ia memilih terus berjalan.
Herawati berada di sisi kirinya. Susanti di sisi kanannya. Kehadiran mereka membuat langkah Dedi terasa sedikit lebih kuat, meski dadanya dipenuhi kegelisahan.
Balai desa sudah ramai ketika mereka tiba.
Beberapa perangkat desa duduk di bagian depan. Leman berada di salah satu kursi dengan wajah tenang. Burhan duduk tidak jauh darinya, mengenakan pakaian rapi dan membawa map hitam di pangkuannya.
Di bagian belakang, warga mulai memenuhi ruangan.
Ada yang datang karena ingin mengetahui kebenaran.
Ada yang datang karena penasaran.
Ada pula yang datang karena sudah terlanjur percaya bahwa Dedi telah melakukan kesalahan.
Dedi duduk di kursi yang disediakan di depan.
Kepala desa membuka pertemuan dengan suara pelan.
“Kita berkumpul hari ini untuk membicarakan bantuan pendidikan yang menurut surat dari lembaga sosial telah disalurkan kepada Rumah Belajar Ujung Desa. Namun, sampai saat ini, bantuan tersebut belum terlihat manfaatnya.”
Dedi mendengarkan dengan tenang.
“Kami ingin meminta penjelasan dari Saudara Dedi Kusnadi,” lanjut kepala desa.
Dedi berdiri.
“Saya tidak pernah menerima dana atau perlengkapan bantuan tersebut,” katanya. “Saya baru mengetahui bahwa bantuan telah dikirim setelah menerima surat balasan dari lembaga sosial.”
Beberapa warga mulai berbisik.
“Kalau tidak menerima, lalu ke mana bantuannya?”
“Jangan-jangan dia menyembunyikannya.”
Dedi melanjutkan, “Saya sudah menanyakan ke kantor desa. Pegawai di sana mengatakan surat pemberitahuan pernah diterima dan kemudian dibawa oleh Pak Leman.”
Ruangan mendadak hening.
Beberapa orang menoleh ke arah Leman.
Leman tetap duduk dengan tenang.
Kepala desa memandangnya.
“Pak Leman, apakah benar?”
Leman berdiri perlahan.
“Saya memang pernah melihat surat dari lembaga sosial,” katanya. “Tapi saya tidak pernah menerima uang atau barang bantuan apa pun.”
“Lalu surat itu?” tanya Dedi.
Leman mengangkat bahu.
“Saya tidak tahu. Mungkin surat itu sudah sampai kepadamu. Atau mungkin kamu lupa.”
Dedi menatapnya.
“Saya tidak pernah menerima surat itu.”
Leman tersenyum tipis.
“Kalau begitu, kita semua sama-sama tidak tahu.”
Jawaban itu membuat beberapa warga kembali berbisik.
Burhan lalu membuka map hitamnya.
“Saya hanya ingin menyampaikan sesuatu,” katanya dengan suara tenang. “Saya tidak ingin menuduh siapa pun. Tapi kalau sebuah bantuan sudah tercatat dikirim, sementara penerimanya adalah Rumah Belajar Ujung Desa, tentu pihak yang mengelola rumah belajar harus menjelaskan.”
Dedi memandang Burhan.
“Bagaimana saya menjelaskan sesuatu yang tidak pernah saya terima?”
Burhan mengangguk seolah memahami.
“Itulah yang harus dibuktikan.”
Kalimat itu terdengar tenang, tetapi terasa seperti jerat.
Dedi mulai memahami bahwa mereka tidak membutuhkan bukti untuk menuduhnya. Mereka hanya membutuhkan keraguan warga.
Salah seorang warga berdiri dari belakang ruangan.
“Dedi,” katanya, “kami dulu membantu membangun rumah belajar. Kami percaya kepada kamu. Tapi kalau memang ada bantuan, kenapa sampai sekarang tidak ada buku baru? Tidak ada perbaikan atap? Tidak ada alat tulis untuk anak-anak?”
Dedi menatap lelaki itu.
“Karena bantuan itu tidak pernah sampai kepada saya.”
“Lalu siapa yang mengambilnya?” tanya warga itu.
Dedi terdiam.
Ia tidak ingin menyebut nama Leman tanpa bukti yang cukup.
Jika ia menuduh, Leman akan kembali mengatakan bahwa Dedi hanya mencari musuh.
Jika ia diam, warga akan menganggapnya tidak mampu menjelaskan.
Di tengah keadaan itu, Herawati berdiri.
“Saya ingin bicara,” katanya.
Beberapa orang menoleh kepadanya.
Herawati berjalan ke depan ruangan.
“Saya bersama Dedi hampir setiap hari di Rumah Belajar Ujung Desa,” katanya. “Saya tahu buku apa yang ada di sana. Saya tahu uang yang digunakan untuk membeli kapur dan buku tulis. Semua berasal dari sumbangan warga dan dari hasil Dedi bekerja di kota.”
“Herawati,” kata seorang perempuan dari belakang, “kamu tentu membela Dedi karena kamu dekat dengannya.”
Herawati menoleh.
“Saya membela kebenaran.”
Perempuan itu mendengus.
“Kalau bantuan itu memang ada, jangan-jangan kamu juga ikut menikmati.”
Kalimat itu membuat suasana semakin tegang.
Herawati terdiam sesaat.
Wajahnya memucat.
Susanti langsung berdiri.
“Jangan bicara sembarangan,” katanya.
Beberapa warga menoleh kepadanya.
Susanti melangkah maju dengan membawa buku catatan.
“Sejak Rumah Belajar Ujung Desa berdiri, saya mencatat semua sumbangan yang diterima,” katanya. “Buku, papan, kapur, uang dari warga, bahkan paku dan bambu. Tidak ada bantuan dari lembaga sosial yang masuk ke catatan kami karena memang tidak pernah kami terima.”
Ia membuka beberapa halaman.
“Ini catatan kegiatan rumah belajar. Ini daftar sumbangan warga. Ini pembelian alat tulis. Semua bisa diperiksa.”
Kepala desa menerima buku itu.
Ia membolak-balik halaman dengan serius.
Leman memandang Susanti dengan sorot mata dingin.
“Kamu memang rajin mencatat,” katanya. “Tapi catatan itu dibuat olehmu sendiri. Siapa yang menjamin semuanya benar?”
Susanti menatap Leman.
“Tidak ada yang bisa menjamin kecuali kejujuran kami. Tapi saya siap menjelaskan setiap catatan di buku itu.”
“Kejujuran?” Leman tersenyum sinis. “Orang yang dekat dengan Dedi tentu akan berkata begitu.”
Dedi mengepalkan tangan.
Ia merasa bukan hanya namanya yang sedang diserang.
Herawati dan Susanti ikut dijadikan sasaran.
Mereka yang selama ini membantu anak-anak dengan tulus kini dipaksa berdiri di hadapan warga untuk membela diri.
Kepala desa mencoba menenangkan keadaan.
“Kita jangan mengambil kesimpulan sebelum ada bukti yang jelas.”
Namun, kata-kata itu tidak cukup menghentikan bisik-bisik.
Di luar balai desa, warga yang tidak kebagian tempat mulai membicarakan pertemuan tersebut.
“Dedi bilang tidak menerima.”
“Leman bilang tidak tahu.”
“Burhan bilang harus dibuktikan.”
“Kalau begitu, siapa yang benar?”
Pertanyaan itu menjadi semakin besar.
Ketika pertemuan berakhir, tidak ada keputusan yang diambil.
Kepala desa hanya meminta Dedi mencari bukti tambahan tentang jalur pengiriman bantuan. Ia juga meminta Leman dan pihak kantor desa memberikan keterangan lebih lanjut.
Namun, bagi Dedi, pertemuan itu sudah cukup menyakitkan.
Ia keluar dari balai desa dengan wajah lelah.
Di halaman, beberapa warga masih memandangnya dengan ragu.
Ada yang dulu menyambutnya dengan hangat.
Ada yang pernah menyumbangkan bambu untuk rumah belajar.
Kini, sebagian dari mereka tidak lagi berani menatapnya lama-lama.
Herawati berjalan di samping Dedi.
“Aku tidak peduli apa kata mereka,” katanya.
Dedi menatapnya.
“Aku peduli.”
Herawati terdiam.
“Aku tidak takut mereka menuduhku,” lanjut Dedi. “Tapi aku tidak ingin kamu dan Susanti ikut dipermalukan karena aku.”
Susanti yang berjalan di belakang mereka berkata, “Jangan bicara begitu. Kami datang bukan karena terpaksa.”
Dedi menunduk.
“Aku tahu. Tapi aku merasa perjuangan ini mulai menyakiti orang-orang yang aku sayangi.”
Herawati berhenti berjalan.
Ia memegang lengan Dedi.
“Perjuangan ini tidak menyakiti kami, Ded. Yang menyakiti adalah kebohongan orang-orang yang takut pada perubahan.”
Dedi memandangi Herawati.
Kata-kata itu memberi kekuatan, tetapi juga menambah rasa bersalah dalam dirinya.
Malam itu, Rumah Belajar Ujung Desa tetap membuka kegiatan seperti biasa.
Namun, jumlah anak yang datang lebih sedikit.
Beberapa orang tua memilih menahan anak mereka di rumah karena takut terlibat masalah.
Dedi melihat tikar yang biasanya penuh kini hanya ditempati beberapa anak.
Lila datang sambil membawa buku lusuh.
“Bang Dedi,” katanya, “teman-temanku tidak boleh datang.”
“Kenapa?”
“Kata orang tuanya, rumah belajar sedang ada masalah.”
Dedi menatap wajah kecil itu.
Ia ingin menjelaskan semuanya.
Namun, ia tahu Lila belum perlu memikul beban persoalan orang dewasa.
“Kamu tetap boleh belajar,” katanya pelan.
Lila mengangguk.
“Aku percaya Bang Dedi.”
Kata-kata itu kembali terdengar sederhana.
Tetapi malam itu, kata-kata tersebut menjadi satu-satunya cahaya yang membuat Dedi tidak menyerah.
Di luar rumah belajar, angin malam bergerak pelan.
Dinding bambu berderit.
Lampu minyak bergoyang kecil.
Dan di tengah tuduhan yang semakin menyebar, nama Dedi Kusnadi mulai dicemarkan di hadapan desa yang selama ini ingin ia jaga.
BAB XXXV
Surat Bukti dari Kota
Sejak pertemuan di balai desa, Dedi tidak lagi dapat berjalan dengan tenang di jalan-jalan Desa Suka Jaya.
Setiap langkahnya seolah diikuti oleh bisik-bisik.
Di warung, orang-orang berhenti berbicara ketika ia datang. Di kebun, beberapa warga hanya menyapanya dengan anggukan singkat. Bahkan di Rumah Belajar Ujung Desa, jumlah anak yang datang mulai berkurang.
Tidak semua orang tua melarang anaknya belajar.
Namun, keraguan telah masuk ke banyak rumah.
Ada yang takut anaknya ikut terseret masalah. Ada yang khawatir rumah belajar akan ditutup. Ada pula yang mulai percaya bahwa Dedi mungkin menyimpan bantuan pendidikan yang hilang.
Dedi tidak pernah menyangka bahwa fitnah dapat bekerja sedemikian rupa.
Tidak perlu bukti.
Tidak perlu saksi.
Cukup sebuah kabar yang diulang berkali-kali, lalu perlahan berubah menjadi sesuatu yang dianggap benar.
Pagi itu, Dedi duduk di depan rumah bersama Marni.
Ibunya sedang memilah sayur dari kebun. Tangannya bergerak perlahan, tetapi matanya beberapa kali memandang anaknya yang sejak tadi hanya diam.
“Kamu mau ke kota?” tanya Marni.
Dedi mengangguk.
“Aku harus mencari penjelasan langsung dari lembaga sosial yang mengirim bantuan itu.”
Marni berhenti memilah sayur.
“Pergi sendiri?”
“Tidak. Pak Warto sudah meminta seorang kenalannya di kota kecamatan membantu menunjukkan alamat lembaga itu.”
Marni tampak cemas.
“Kamu hati-hati.”
Dedi memandang ibunya.
“Aku tidak bisa diam terus, Bu. Kalau aku tidak mencari bukti, orang-orang akan terus percaya pada tuduhan itu.”
Marni menghela napas panjang.
“Pergilah. Tapi jangan pulang membawa kemarahan.”
Dedi mengangguk.
“Aku akan pulang membawa kebenaran.”
Sebelum berangkat, Dedi datang ke Rumah Belajar Ujung Desa.
Ia melihat Herawati sedang mengajari beberapa anak membaca. Susanti membantu Bima dan Lila menulis huruf di buku tulis mereka.
Ketika melihat Dedi datang membawa tas kecil, Herawati segera menghampiri.
“Kamu jadi pergi?”
“Iya.”
Susanti ikut berdiri.
“Kami sudah menyiapkan catatan tanggal surat dan nama lembaga sosial. Jangan lupa tanyakan jalur pengirimannya dengan jelas.”
Dedi menerima buku catatan dari Susanti.
“Terima kasih.”
Herawati memandangnya dengan penuh kekhawatiran.
“Kalau kamu menemukan sesuatu, jangan langsung bertindak sendiri.”
Dedi tersenyum tipis.
“Aku akan ingat.”
Sebelum pergi, Dedi memandangi anak-anak yang sedang belajar.
Bima mengangkat tangannya.
“Bang Dedi, nanti pulang bawa buku baru?”
Dedi terdiam sesaat.
Ia lalu tersenyum.
“Kalau belum bisa membawa buku baru, Bang Dedi akan membawa kabar baik.”
Bima mengangguk dengan wajah penuh percaya.
Perjalanan ke kota kecamatan memakan waktu cukup lama.
Dedi naik kendaraan bak terbuka bersama beberapa warga yang membawa hasil kebun. Jalan yang mereka lalui tidak selalu mulus. Di beberapa bagian, roda kendaraan harus melewati lumpur dan batu-batu besar.
Sepanjang perjalanan, Dedi memandangi sawah, kebun, dan rumah-rumah kecil yang perlahan tertinggal di belakang.
Ia memikirkan ayahnya.
Ia memikirkan Rumah Belajar Ujung Desa.
Ia memikirkan Herawati dan Susanti yang ikut dipermalukan di balai desa.
Dan ia memikirkan anak-anak yang tetap datang membawa pensil pendek meski orang tua mereka mulai ragu.
Sesampainya di kota kecamatan, Dedi menemui Pak Hadi, seorang guru tua yang dahulu pernah mengenalnya ketika masih sekolah.
Pak Hadi tinggal di rumah kecil dekat pasar.
Ketika Dedi menjelaskan maksud kedatangannya, Pak Hadi mendengarkan dengan wajah serius.
“Jadi bantuan itu sudah dinyatakan dikirim, tetapi tidak pernah sampai ke rumah belajar?” tanyanya.
“Iya, Pak.”
Pak Hadi mengangguk pelan.
“Kita harus mendatangi lembaga itu. Kalau ada catatan pengiriman, mungkin kita bisa menemukan jalurnya.”
Mereka berjalan menuju sebuah kantor kecil di dekat jalan utama kota. Di depan bangunan itu terdapat papan sederhana bertuliskan nama lembaga sosial yang selama ini ingin membantu kegiatan pendidikan masyarakat.
Seorang perempuan bernama Bu Maya menerima mereka.
Dedi memperkenalkan diri dan menjelaskan bahwa ia mengelola Rumah Belajar Ujung Desa di Desa Suka Jaya.
Ketika mendengar nama itu, Bu Maya tampak terkejut.
“Bukankah bantuan kami sudah diterima?” tanyanya.
Dedi menunduk.
“Itulah masalahnya, Bu. Kami tidak pernah menerima dana maupun perlengkapan yang Ibu kirimkan.”
Bu Maya segera membuka lemari arsip.
Ia mengeluarkan beberapa map dan mencari dokumen pengiriman.
Suasana di ruangan itu terasa menegangkan.
Dedi berdiri sambil menahan napas.
Pak Hadi memperhatikan setiap lembar kertas yang dibuka Bu Maya.
Akhirnya, Bu Maya menemukan sebuah berkas.
“Ini surat pengiriman bantuan,” katanya.
Dedi mendekat.
Di dalam dokumen itu tertulis bahwa lembaga sosial telah mengirim bantuan berupa dana pendidikan, buku, alat tulis, serta perlengkapan belajar. Pengiriman dilakukan melalui jalur kecamatan dengan pemberitahuan kepada pihak desa.
Namun, ada satu bagian yang membuat Dedi terpaku.
Di bagian penerima sementara, tertulis nama seseorang yang tidak pernah ia kenal.
Sudarma.
“Siapa Sudarma?” tanya Dedi.
Bu Maya membaca kembali dokumen itu.
“Menurut catatan kami, ia adalah orang yang ditunjuk untuk membantu penyaluran bantuan ke desa.”
Dedi menggeleng.
“Saya tidak pernah menunjuk siapa pun.”
Pak Hadi menatap Bu Maya.
“Siapa yang memberikan nama itu?”
Bu Maya membuka surat lain.
“Nama ini tercantum dalam surat pengantar yang kami terima dari pihak desa.”
Dedi merasakan dadanya berdebar.
“Apakah surat itu masih ada?”
Bu Maya mengangguk.
Ia mengambil sebuah map lain dan mengeluarkan surat pengantar yang telah diberi cap desa.
Surat itu menyatakan bahwa bantuan pendidikan untuk Rumah Belajar Ujung Desa dapat disalurkan melalui Sudarma sebagai orang yang dipercaya untuk mengurus pengiriman.
Di bagian bawah surat, terdapat tanda tangan yang tampak seperti tanda tangan perangkat desa.
Namun, Dedi langsung melihat sesuatu yang janggal.
Nama Dedi tercantum sebagai pengelola rumah belajar.
Tetapi tanda tangan di bawahnya bukan tanda tangannya.
“Itu bukan tanda tangan saya,” kata Dedi pelan.
Bu Maya menatap surat tersebut.
“Kamu yakin?”
“Saya yakin, Bu.”
Dedi menunjuk tanda tangan itu.
“Bentuk hurufnya berbeda. Saya tidak pernah membuat surat seperti ini.”
Pak Hadi memandang Dedi dengan serius.
“Kalau benar surat ini palsu, berarti ada orang yang sengaja mengalihkan bantuan.”
Dedi menarik napas panjang.
Untuk pertama kalinya, ia memiliki bukti bahwa bantuan tersebut tidak pernah disalurkan langsung kepadanya.
Namun, ia juga tahu bukti itu belum cukup untuk menjatuhkan Leman.
Nama Leman tidak tercantum di surat.
Nama Burhan juga tidak ada.
Yang ada hanya nama Sudarma, seorang lelaki yang belum pernah Dedi temui.
Bu Maya lalu membuka catatan lain.
“Bantuan dana tidak diberikan langsung kepada Sudarma,” katanya. “Dana ditransfer melalui rekening koperasi kecamatan yang disebut dalam surat pengantar.”
“Rekening siapa?” tanya Pak Hadi.
Bu Maya menggeleng.
“Kami hanya memiliki nomor rekening dan nama koperasi. Untuk mengetahui lebih jauh, mungkin harus diperiksa oleh pihak yang berwenang.”
Dedi memandangi surat-surat di atas meja.
Ia merasa lega karena akhirnya menemukan jejak.
Namun, kelegaan itu bercampur dengan rasa cemas.
Jika ia membawa surat itu ke desa, Leman pasti akan mencari cara untuk menyangkalnya.
Jika ia langsung menuduh Leman atau Burhan, warga mungkin kembali menganggapnya sedang mencari musuh.
Ia harus berhati-hati.
Sebelum pulang, Bu Maya membuatkan salinan surat pengiriman, surat pengantar, serta catatan penerima sementara.
“Ini bukan bukti akhir,” kata Bu Maya. “Tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa bantuan tidak pernah diserahkan langsung kepada kamu.”
Dedi menerima berkas itu dengan kedua tangan.
“Terima kasih, Bu.”
Pak Hadi menepuk bahu Dedi.
“Jangan gunakan bukti ini untuk membalas dendam. Gunakan untuk mencari kebenaran.”
Dedi mengangguk.
Di perjalanan pulang, Dedi tidak banyak bicara.
Tas kecil di pangkuannya terasa lebih berat dari biasanya. Di dalamnya ada surat-surat yang mungkin dapat membersihkan namanya. Namun, surat-surat itu juga membuka kemungkinan bahwa orang-orang yang selama ini ia hadapi telah menyusun rencana lebih besar daripada yang ia bayangkan.
Sesampainya di Desa Suka Jaya, matahari sudah mulai tenggelam.
Herawati dan Susanti menunggu di Rumah Belajar Ujung Desa.
Mereka tampak cemas ketika melihat Dedi datang.
“Bagaimana?” tanya Herawati.
Dedi mengeluarkan beberapa lembar salinan surat.
“Ada bukti bahwa bantuan itu dialihkan.”
Susanti membaca surat tersebut dengan teliti.
“Nama Sudarma,” katanya. “Siapa dia?”
“Aku juga tidak tahu,” jawab Dedi. “Tapi surat pengantar itu memakai nama rumah belajar dan tanda tangan palsu atas namaku.”
Herawati memegang surat itu.
“Berarti selama ini kamu benar.”
Dedi menatap bangunan bambu yang mulai gelap.
“Benar saja tidak cukup,” katanya. “Kita harus mencari siapa Sudarma, siapa yang membuat surat ini, dan siapa yang menerima dana itu.”
Susanti mengangguk.
“Kita bisa mencari tahu dari warga. Mungkin ada yang pernah melihat Sudarma datang ke desa.”
Dedi tidak langsung menjawab.
Ia teringat pesan Pak Hadi.
Jangan gunakan bukti untuk membalas dendam.
Gunakan untuk mencari kebenaran.
Malam itu, Dedi menyimpan surat-surat bukti di dalam kotak kayu peninggalan ayahnya.
Ia menutup kotak itu perlahan.
Di luar rumah, angin malam berembus lebih dingin dari biasanya.
Dedi tahu bahwa ia telah menemukan jalan menuju kebenaran.
Namun, jalan itu masih panjang.
Ia belum tahu bahwa orang-orang yang merasa terancam akan segera memilih cara yang lebih kejam untuk menghentikan Rumah Belajar Ujung Desa.
Dan sebelum kebenaran sempat dibuka di hadapan warga, api akan datang pada malam yang paling gelap.
BAB XXXVI
Api di Tengah Malam
Malam itu, Desa Suka Jaya terasa lebih sunyi daripada biasanya.
Angin berembus pelan dari arah kebun. Daun-daun pisang bergesekan, menimbulkan suara lirih yang terdengar seperti bisikan. Di beberapa rumah, lampu minyak sudah dipadamkan. Warga mulai terlelap setelah seharian bekerja di ladang dan kebun.
Namun, di Rumah Belajar Ujung Desa, Dedi masih terjaga.
Ia duduk di depan meja kayu kecil sambil memeriksa surat-surat bukti dari kota kecamatan. Salinan surat pengantar, catatan pengiriman bantuan, dan keterangan tentang nama Sudarma telah ia simpan rapi di dalam kotak kayu peninggalan ayahnya.
Herawati duduk tidak jauh darinya.
“Kamu sudah membaca surat itu berkali-kali,” katanya pelan.
Dedi menghela napas.
“Aku takut ada bagian yang terlewat.”
“Tidak semua masalah harus selesai malam ini.”
Dedi menatap Herawati.
“Kalau aku terlambat, mereka bisa menghilangkan jejak.”
Herawati terdiam sejenak.
“Aku tahu kamu ingin membersihkan nama baikmu. Tapi kamu juga harus menjaga dirimu.”
Dedi menunduk.
“Aku tidak ingin rumah belajar ini terus menjadi sasaran.”
Herawati memandang dinding bambu yang mulai renggang.
“Rumah belajar ini bukan hanya bangunan, Ded. Selama anak-anak masih mau belajar, rumah belajar ini tetap ada.”
Dedi tersenyum tipis.
Kata-kata Herawati membuat dadanya sedikit lebih tenang.
Tidak lama kemudian, Susanti datang membawa beberapa buku catatan. Ia baru selesai membantu seorang warga menulis surat untuk anaknya yang bekerja di kota.
“Aku sudah bertanya kepada beberapa orang,” kata Susanti. “Ada yang pernah mendengar nama Sudarma. Katanya dia pernah datang bersama orang suruhan Burhan beberapa bulan lalu.”
Dedi langsung menoleh.
“Siapa yang bilang?”
“Pak Darto. Tapi dia takut bicara di depan banyak orang.”
Herawati mengerutkan dahi.
“Kalau Pak Darto tahu sesuatu, kita harus menjaganya. Jangan sampai dia menjadi sasaran.”
Dedi mengangguk.
“Besok pagi kita temui dia. Kita dengarkan keterangannya baik-baik.”
Mereka bertiga lalu merapikan buku dan surat-surat.
Sebelum pulang, Susanti memandangi bangunan rumah belajar.
“Aku punya perasaan tidak enak,” katanya pelan.
Herawati menatapnya.
“Kenapa?”
Susanti menggeleng.
“Aku tidak tahu. Sejak tuduhan itu muncul, aku merasa Leman dan Burhan tidak akan diam.”
Dedi menutup pintu rumah belajar.
“Kita harus tetap hati-hati.”
Mereka berjalan pulang ke rumah masing-masing.
Tidak ada yang menyadari bahwa dari kejauhan, di balik gelap kebun, dua bayangan sedang memperhatikan Rumah Belajar Ujung Desa.
Mereka menunggu hingga jalan desa benar-benar sepi.
Mereka menunggu hingga lampu-lampu rumah warga padam.
Mereka menunggu hingga tidak ada lagi suara langkah di sekitar tanah warisan Karsa.
Tengah malam berlalu.
Langit tertutup awan.
Bulan yang biasanya menerangi jalan desa tidak tampak.
Dalam gelap itu, dua orang mendekati Rumah Belajar Ujung Desa.
Salah satu dari mereka membawa jeriken kecil.
Yang lain membawa kain tua.
Mereka tidak berbicara banyak.
Hanya ada suara napas yang tertahan dan langkah kaki yang berhati-hati di atas tanah basah.
“Cepat,” bisik salah seorang.
“Apa tidak ada yang melihat?” jawab yang lain.
“Tidak ada. Lakukan saja.”
Cairan dari jeriken itu disiramkan ke bagian dinding bambu dan tumpukan kayu di belakang rumah belajar. Kain tua kemudian dinyalakan.
Api kecil muncul.
Mula-mula hanya sebesar telapak tangan.
Namun, bambu kering dan kayu bekas yang digunakan untuk membangun rumah belajar segera menangkap panasnya.
Api menjalar perlahan.
Lalu semakin besar.
Dalam hitungan menit, lidah api mulai memanjat dinding bambu.
Atap seng berderak.
Asap hitam membumbung ke langit.
Buku-buku yang tersimpan di rak mulai terbakar.
Halaman-halaman yang berisi huruf, cerita, dan catatan pelajaran berubah menjadi abu.
Tidak jauh dari sana, seorang warga bernama Pak Darto terbangun karena mencium bau asap.
Ia keluar rumah dan melihat cahaya merah menyala dari arah ujung desa.
“Api!” teriaknya.
“Rumah belajar terbakar!”
Teriakannya membangunkan warga.
Pintu-pintu rumah terbuka.
Orang-orang berlari membawa ember, panci, dan wadah apa pun yang dapat digunakan untuk mengambil air.
Dedi yang sedang tidur di rumahnya terbangun ketika mendengar suara orang-orang berteriak.
“Dedi!” teriak seseorang dari luar. “Rumah belajarmu terbakar!”
Dedi langsung bangkit.
Jantungnya berdetak keras.
Ia berlari keluar rumah tanpa sempat memakai sandal dengan benar. Marni yang melihatnya panik langsung menyusul sampai halaman.
“Dedi! Hati-hati!”
Namun, Dedi sudah berlari menembus gelap malam.
Ketika sampai di tanah warisan ayahnya, ia melihat api sudah membesar.
Rumah Belajar Ujung Desa yang selama ini ia bangun bersama warga kini dilahap nyala merah.
Atapnya mulai runtuh.
Dinding bambunya menghitam.
Asap tebal membuat mata perih.
“Air!” teriak Dedi. “Ambil air!”
Warga berusaha memadamkan api dengan ember-ember kecil. Mereka berlari bolak-balik dari parit dan sumur terdekat. Namun, api terlalu cepat menjalar.
Dedi hendak masuk ke dalam bangunan untuk menyelamatkan buku-buku.
“Jangan, Ded!” teriak Pak Warto sambil menahan tubuhnya.
“Buku-bukunya ada di dalam!”
“Atapnya mau runtuh!”
Dedi berusaha melepaskan diri.
“Itu buku anak-anak!”
Namun, sebelum ia sempat masuk, sebuah bagian atap jatuh dengan suara keras.
Percikan api beterbangan.
Dedi terdiam.
Ia hanya bisa memandangi rak buku yang perlahan roboh di dalam kobaran api.
Di antara kepanikan itu, Herawati datang berlari.
Ia baru saja mendengar kabar dari seorang tetangga. Tanpa memikirkan bahaya, ia langsung mendekati bangunan.
“Dedi!” teriaknya.
Dedi menoleh.
“Jangan dekat-dekat!”
Namun, Herawati melihat beberapa buku yang terlempar keluar dari bangunan. Sebagian masih belum terbakar sepenuhnya. Ia berlari ke arah tumpukan itu dan mencoba mengambilnya.
“Herawati, mundur!” teriak Dedi.
Herawati tidak mendengar.
Ia meraih beberapa buku yang masih bisa diselamatkan.
Tiba-tiba, sebuah bambu yang terbakar jatuh dari bagian dinding.
Herawati terlambat menghindar.
Bambu itu mengenai lengannya.
Ia terjatuh ke tanah.
“Herawati!” Dedi berlari menghampirinya.
Warga segera membantu menarik Herawati menjauh dari api.
Lengan Herawati terluka. Tidak parah, tetapi cukup membuat kulitnya memerah dan perih. Dedi memegang bahunya dengan wajah pucat.
“Kamu kenapa masuk ke sana?” tanyanya dengan suara bergetar.
Herawati menahan sakit.
“Buku anak-anak…”
Dedi menunduk.
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Buku bisa dicari lagi. Tapi kamu tidak boleh membahayakan dirimu.”
Herawati memandang api yang masih menyala.
“Aku hanya tidak ingin semua yang kita bangun hilang.”
Dedi tidak menjawab.
Ia tidak mampu menjawab.
Di hadapannya, semua yang mereka bangun dengan tenaga, harapan, dan pengorbanan sedang berubah menjadi abu.
Papan tulis yang biasa dipakai anak-anak menulis cita-cita telah terbakar.
Tikar pandan yang sering dipenuhi tawa kini menjadi arang.
Rak buku yang dibuat dari kayu bekas telah runtuh.
Surat-surat bukti yang Dedi simpan di rumahnya memang selamat.
Namun, catatan kegiatan rumah belajar, daftar sumbangan warga, dan beberapa dokumen penting yang disimpan di bangunan itu ikut hangus.
Menjelang subuh, api akhirnya mulai padam.
Yang tersisa hanya rangka bambu yang menghitam, seng yang bengkok, dan abu yang masih mengepul.
Warga berdiri dalam diam.
Tidak ada yang tahu harus berkata apa.
Beberapa ibu menangis melihat buku-buku anak mereka yang terbakar. Anak-anak yang ikut datang bersama orang tua memandangi sisa bangunan itu dengan wajah bingung.
Bima berdiri di dekat Dedi.
Di tangannya, ia memegang sebuah buku yang setengah hangus.
“Bang Dedi,” katanya pelan, “besok kita belajar di mana?”
Dedi memandang anak itu.
Pertanyaan itu terasa lebih menyakitkan daripada api.
Ia menatap sisa Rumah Belajar Ujung Desa.
Lalu ia menatap wajah-wajah kecil yang berdiri di sekelilingnya.
Dedi ingin berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Namun, malam itu ia belum memiliki jawaban.
Ia hanya berjongkok di hadapan Bima dan menggenggam tangan kecilnya.
“Kita akan tetap belajar,” katanya dengan suara pelan.
“Di mana?” tanya Bima lagi.
Dedi menatap langit yang mulai berubah kelabu.
“Aku belum tahu. Tapi kita tidak akan berhenti.”
Di kejauhan, Leman berdiri di balik kerumunan warga.
Wajahnya tampak muram, seolah ia juga prihatin melihat rumah belajar terbakar.
Namun, di dalam hatinya, ia merasa rencana mereka berhasil.
Burhan tidak terlihat di sana.
Ia memilih menyaksikan kabar kebakaran dari tempat lain, sambil menunggu apakah Dedi akhirnya akan menyerah.
Tetapi Leman belum memahami satu hal.
Api memang dapat membakar bambu, buku, dan papan tulis.
Namun, api tidak selalu mampu membakar harapan.
Dan dari abu Rumah Belajar Ujung Desa, sebuah kekuatan baru perlahan akan tumbuh.
BAB XXXVII
Abu dan Air Mata
Pagi datang dengan langit kelabu.
Asap tipis masih naik dari sisa-sisa Rumah Belajar Ujung Desa. Bau bambu terbakar bercampur dengan tanah basah dan embun pagi. Di tempat yang beberapa hari lalu dipenuhi suara anak-anak membaca, kini hanya ada rangka kayu yang menghitam, seng yang melengkung, serta tumpukan abu yang tertiup angin.
Dedi berdiri sejak subuh di depan puing-puing itu.
Ia tidak banyak bicara.
Tangannya memegang sepotong papan tulis yang setengah terbakar. Di permukaannya masih terlihat sisa tulisan yang dibuat anak-anak beberapa hari sebelumnya.
Aku ingin jadi guru.
Aku ingin jadi dokter.
Aku ingin bisa membaca.
Tulisan itu tidak lagi utuh.
Sebagian huruf hilang tertutup jelaga. Sebagian lainnya retak karena panas api.
Namun, Dedi masih bisa membacanya.
Ia mengusap papan itu perlahan.
Air matanya jatuh tanpa suara.
Herawati datang dengan lengan yang masih dibalut kain. Wajahnya pucat karena semalam ia hampir tidak tidur. Ia membawa termos air hangat dan sedikit makanan dari rumah.
“Dedi,” katanya pelan.
Dedi tidak menoleh.
Herawati mendekat.
“Kamu belum makan.”
“Aku tidak lapar.”
“Kamu harus makan.”
Dedi tetap diam.
Herawati menaruh termos itu di atas batu, lalu berdiri di sampingnya. Ia tidak memaksa. Ia hanya menemani Dedi memandangi sisa bangunan yang telah menjadi bagian dari perjuangan mereka.
Beberapa saat kemudian, Dedi berkata dengan suara serak.
“Aku gagal.”
Herawati menoleh cepat.
“Jangan bilang begitu.”
“Aku tidak bisa menjaga rumah belajar ini.” Dedi memandangi abu di hadapannya. “Aku tidak bisa menjaga buku-buku anak-anak. Aku tidak bisa melindungi kalian dari fitnah. Aku tidak bisa menghentikan mereka.”
Herawati menggenggam tangan Dedi.
“Kamu tidak gagal.”
“Lihat semua ini, Hera.”
“Yang terbakar hanya bangunannya.”
Dedi menatapnya.
Herawati menarik napas panjang.
“Memang sakit. Aku juga sedih. Aku juga marah. Tapi anak-anak masih ada. Buku bisa dicari lagi. Bangunan bisa dibangun lagi. Selama kamu masih mau berdiri, rumah belajar itu belum hilang.”
Dedi menunduk.
Kata-kata itu seharusnya memberi kekuatan.
Namun, hatinya masih terlalu berat.
Ia teringat ayahnya.
Ia teringat Pak Harun yang pernah memberikan buku-buku terakhirnya.
Ia teringat ibunya yang selalu berdoa agar ia tidak menyerah.
Ia teringat Herawati dan Susanti yang ikut menanggung tuduhan karena berdiri di sisinya.
Semua pengorbanan itu terasa seperti dipatahkan dalam satu malam.
Menjelang siang, beberapa warga datang membantu membersihkan puing-puing.
Pak Warto membawa cangkul.
Pak Darto membawa karung untuk mengumpulkan sisa seng dan kayu yang masih dapat dipakai.
Beberapa ibu datang membawa makanan untuk Dedi, Herawati, dan warga yang bekerja.
Namun, tidak semua orang datang dengan wajah penuh simpati.
Ada beberapa warga yang berdiri jauh di pinggir jalan. Mereka memandangi puing-puing rumah belajar sambil berbisik.
“Entah siapa yang membakarnya.”
“Mungkin karena masalah dana itu.”
“Jangan-jangan memang ada orang yang marah kepada Dedi.”
Dedi mendengar bisik-bisik itu.
Dadanya kembali terasa sesak.
Bahkan setelah rumah belajar terbakar, masih ada orang yang menghubungkan semuanya dengan tuduhan dana bantuan.
Fitnah itu seperti api kedua.
Tidak terlihat, tetapi terus membakar nama baiknya.
Saat matahari mulai tinggi, Bima datang bersama adiknya.
Ia membawa sebuah kantong plastik kecil.
Dedi yang sedang mengangkat kayu hangus berhenti ketika melihat anak itu.
“Kamu datang?” tanyanya.
Bima mengangguk.
“Aku bawa sesuatu.”
Ia menyerahkan kantong plastik itu kepada Dedi.
Di dalamnya terdapat sebuah buku tulis yang sudah kusam, dua pensil pendek, dan penghapus kecil yang hampir habis.
“Ini punyaku,” kata Bima. “Boleh dipakai buat belajar lagi.”
Dedi memandangi benda-benda itu cukup lama.
“Ini buku kamu.”
“Tidak apa-apa,” jawab Bima. “Aku masih bisa pakai buku kakakku.”
Tidak lama kemudian, Lila datang membawa tiga buku cerita miliknya.
“Aku juga bawa,” katanya.
Seorang anak lain membawa kapur.
Ada yang membawa papan kecil dari rumah.
Ada yang membawa pensil warna.
Ada yang membawa tikar tua.
Mereka datang satu per satu.
Tidak ada yang membawa barang mewah.
Tidak ada yang membawa bantuan besar.
Namun, setiap benda yang mereka bawa terasa lebih berharga daripada apa pun.
Dedi berdiri di tengah anak-anak itu dengan mata berkaca-kaca.
“Kenapa kalian membawa semua ini?” tanyanya.
Bima menjawab dengan polos.
“Supaya kita tetap bisa belajar.”
Dedi tidak mampu langsung berbicara.
Ia memegang buku tulis dari tangan Bima, lalu memandang anak-anak yang berdiri di depannya.
Mereka tidak memahami permainan Leman dan Burhan.
Mereka tidak mengerti soal surat palsu, dana bantuan, atau fitnah yang menyebar di desa.
Mereka hanya tahu bahwa mereka ingin belajar.
Dan keinginan sederhana itu membuat Dedi merasa malu pada dirinya sendiri.
Ia hampir menyerah.
Padahal anak-anak yang kehilangan tempat belajar justru datang membawa apa yang mereka miliki.
Herawati berdiri tidak jauh dari sana.
Air matanya jatuh ketika melihat Dedi berjongkok di hadapan anak-anak.
Susanti datang beberapa saat kemudian. Ia baru pulang dari rumah seorang warga yang memberinya kabar tentang beberapa anak yang ingin tetap belajar meski orang tua mereka ragu.
Ketika melihat anak-anak membawa buku dan alat tulis, Susanti tersenyum sedih.
“Mereka lebih berani daripada kita,” katanya pelan.
Dedi berdiri.
Wajahnya masih lelah, tetapi sorot matanya mulai berubah.
Ia memandang puing-puing Rumah Belajar Ujung Desa.
Kemudian ia memandangi pohon beringin besar yang berdiri tidak jauh dari sana.
Pohon itu sudah ada sejak Dedi kecil.
Akarnya kuat.
Batangnya besar.
Daunnya lebat, cukup untuk menaungi banyak orang.
Dedi berjalan ke bawah pohon itu.
Ia menatap tanah di sekitarnya.
“Besok,” katanya.
Herawati dan Susanti menoleh.
“Besok apa?” tanya Susanti.
“Kita belajar di sini.”
Dedi menunjuk bawah pohon beringin.
“Kalau bangunan belum bisa dibangun lagi, kita pakai tempat ini.”
Herawati memandang pohon itu.
“Kelas di bawah pohon?”
Dedi mengangguk.
“Selama ada anak-anak, selama ada buku, selama masih ada orang yang mau mengajar, kita tidak perlu menunggu dinding untuk belajar.”
Bima tersenyum lebar.
“Berarti besok tetap belajar?”
Dedi menatapnya.
“Ya. Besok tetap belajar.”
Anak-anak bersorak kecil.
Suara mereka terdengar sederhana, tetapi cukup untuk mengusir kesunyian yang sejak pagi menyelimuti tempat itu.
Sore harinya, Dedi pulang ke rumah.
Marni sudah menunggu di depan pintu.
Ketika melihat anaknya datang dengan wajah lelah dan pakaian penuh abu, ia langsung memeluknya.
Dedi tidak menahan diri lagi.
Ia menangis di pelukan ibunya.
Bukan tangis seorang anak kecil.
Melainkan tangis seorang lelaki yang terlalu lama berusaha kuat di hadapan semua orang.
Marni mengusap punggungnya.
“Menangislah,” katanya pelan. “Air mata tidak membuatmu kalah.”
Dedi menggeleng sambil menahan isak.
“Aku takut, Bu.”
Marni memandang wajah anaknya.
“Kamu takut apa?”
“Aku takut mereka akan menang. Aku takut anak-anak berhenti percaya. Aku takut perjuangan ini hanya membuat orang-orang yang aku sayangi terluka.”
Marni menarik napas panjang.
“Kamu ingat ayahmu?”
Dedi mengangguk.
“Ayahmu selalu berkata bahwa ladang tidak akan menghasilkan hanya karena sekali ditanam. Kadang hujan datang terlalu deras. Kadang hama merusak tanaman. Kadang tanahnya kering. Tapi petani yang baik tidak meninggalkan ladangnya hanya karena satu musim gagal.”
Dedi memandangi ibunya.
“Rumah belajar itu ladangmu, Ded,” lanjut Marni. “Anak-anak itu benihnya. Kalau kamu berhenti sekarang, siapa yang akan menjaga mereka tumbuh?”
Kata-kata itu masuk ke dalam hati Dedi.
Malam itu, ia tidak lagi duduk memandangi surat-surat bukti dengan rasa putus asa.
Ia mulai menyusun rencana.
Ia menuliskan daftar kebutuhan untuk kelas di bawah pohon.
Tikar.
Papan tulis kecil.
Kapur.
Buku tulis.
Tempat menyimpan buku agar tidak kehujanan.
Ia juga menulis nama-nama warga yang masih mau membantu.
Pak Warto.
Pak Darto.
Herawati.
Susanti.
Beberapa ibu yang bersedia memasak makanan kecil untuk anak-anak.
Di bagian bawah catatan itu, Dedi menulis satu kalimat:
Mereka bisa membakar rumah belajar, tetapi mereka tidak bisa membakar keinginan untuk belajar.
Keesokan paginya, sebelum matahari meninggi, anak-anak sudah datang ke bawah pohon beringin.
Mereka membawa buku, pensil, papan kecil, dan tikar dari rumah masing-masing.
Herawati datang dengan lengan yang masih dibalut, tetapi wajahnya lebih kuat daripada sebelumnya.
Susanti membawa buku berhitung.
Dedi membawa papan tulis kecil yang masih tersisa dari puing kebakaran.
Ia menaruh papan itu di batang pohon.
Lalu ia berdiri di hadapan anak-anak.
“Selamat pagi,” katanya.
“Selamat pagi, Bang Dedi!” jawab mereka bersama-sama.
Suara itu terdengar lebih keras daripada biasanya.
Dedi tersenyum.
Di bawah pohon beringin, di tengah abu dan air mata, sebuah harapan kembali berdiri.
Dan Desa Suka Jaya belum mengetahui bahwa kelas sederhana itu akan segera menjadi lambang perlawanan terhadap ketidakadilan yang selama ini menekan mereka.
BAB XXXVIII
Kelas di Bawah Pohon
Pagi itu, cahaya matahari jatuh lembut di halaman tanah warisan Karsa.
Pohon beringin tua berdiri kokoh di tengah halaman. Akar-akarnya menjulur ke tanah seperti tangan-tangan besar yang memeluk bumi. Daunnya yang lebat menaungi tempat yang kini menjadi ruang belajar baru bagi anak-anak Desa Suka Jaya.
Tidak ada dinding bambu.
Tidak ada atap seng.
Tidak ada rak buku yang rapi.
Yang ada hanya tikar-tikar tua, papan kecil yang disandarkan pada batang pohon, beberapa buku sumbangan, dan wajah-wajah anak yang datang dengan semangat.
Dedi berdiri di depan mereka sambil membawa kapur.
Di sampingnya, Herawati menata buku-buku yang berhasil diselamatkan dari kebakaran. Sebagian buku masih memiliki bekas hitam di pinggir halaman. Ada yang sampulnya sudah rusak. Ada yang lembarannya menguning karena terkena asap.
Namun, buku-buku itu tetap digunakan.
Bagi anak-anak, buku yang setengah hangus tetap lebih berharga daripada tidak memiliki buku sama sekali.
“Anak-anak,” kata Dedi sambil menulis di papan kecil, “hari ini kita belajar tentang satu kata.”
Ia menuliskan kata itu dengan huruf besar.
HARAPAN
“Siapa yang tahu artinya?” tanya Dedi.
Anak-anak saling memandang.
Bima mengangkat tangan.
“Harapan itu seperti keinginan?”
Dedi tersenyum.
“Benar. Tapi harapan bukan hanya keinginan. Harapan adalah sesuatu yang membuat kita tetap berjalan, walaupun jalan di depan kita sulit.”
Lila menatap papan tulis.
“Seperti kita tetap belajar walaupun rumah belajar terbakar?”
Dedi terdiam sejenak.
Kemudian ia mengangguk.
“Ya. Seperti itu.”
Herawati memandang anak-anak dengan mata berkaca-kaca.
Ia melihat bahwa kebakaran tidak membuat mereka menjauh. Justru banyak anak yang datang lebih awal. Ada yang membawa adik kecilnya. Ada yang membawa buku bekas dari rumah. Ada pula yang datang tanpa membawa apa-apa, tetapi duduk dengan wajah penuh keinginan untuk belajar.
Setelah pelajaran membaca, Herawati mengajak anak-anak menulis satu kalimat tentang cita-cita mereka.
“Tidak perlu takut salah,” katanya. “Tuliskan apa yang ingin kalian lakukan ketika besar nanti.”
Bima menulis dengan huruf yang masih miring.
Aku ingin jadi guru.
Lila menulis lebih pelan.
Aku ingin jadi dokter untuk ibu.
Seorang anak bernama Rudi menulis:
Aku ingin punya sekolah yang tidak terbakar.
Herawati membaca tulisan itu dan terdiam.
Ia tidak ingin anak-anak tumbuh dengan ketakutan.
Namun, ia juga tahu bahwa dari pengalaman pahit itu, mereka sedang belajar sesuatu yang tidak tertulis di dalam buku: bahwa hidup tidak selalu mudah, tetapi manusia harus tetap berani bangkit.
Di bawah pohon beringin, kelas berlangsung hingga siang.
Ketika angin bertiup, daun-daun berguguran di atas tikar. Ketika matahari bergerak, anak-anak harus bergeser agar tidak terkena panas. Jika hujan turun, mereka harus berlari mencari perlindungan ke rumah warga terdekat.
Semua serba terbatas.
Tetapi tidak ada yang mengeluh.
Bahkan beberapa warga yang sebelumnya ragu mulai memperhatikan dari kejauhan.
Mereka melihat anak-anak duduk dengan tertib.
Mereka melihat Herawati tetap mengajar meski lengannya masih terluka.
Mereka melihat Susanti datang membawa papan berhitung yang dibuat dari kardus bekas.
Dan mereka melihat Dedi berdiri di depan anak-anak tanpa meminta apa pun selain kesediaan mereka untuk belajar.
Pak Warto datang membawa selembar terpal tua.
“Ini mungkin bisa dipakai kalau hujan,” katanya.
Dedi menerima terpal itu dengan wajah terharu.
“Terima kasih, Pak.”
Pak Warto menatap anak-anak yang sedang belajar.
“Rumah belajar itu memang terbakar,” katanya. “Tapi saya lihat semangatnya malah semakin besar.”
Dedi tersenyum tipis.
“Kami hanya mencoba bertahan.”
Pak Warto mengangguk.
“Kadang bertahan itu sudah cukup untuk membuat orang lain berani ikut berdiri.”
Kabar tentang kelas di bawah pohon beringin mulai menyebar ke seluruh desa.
Ada warga yang merasa kagum.
Ada yang mulai malu karena dahulu ikut meragukan Dedi.
Namun, ada pula yang merasa tidak nyaman.
Leman mendengar kabar itu dari seorang lelaki yang datang ke warung.
“Anak-anak sekarang belajar di bawah pohon,” kata lelaki itu. “Malah lebih banyak yang datang.”
Leman menatap tajam.
“Lebih banyak?”
“Iya. Katanya anak-anak dari dusun sebelah juga mulai datang.”
Leman tidak langsung menjawab.
Tangannya menggenggam gelas kopi lebih erat.
Ia mengira kebakaran akan membuat Dedi berhenti. Ia mengira tanpa bangunan, tanpa buku, dan tanpa dukungan warga, rumah belajar akan perlahan mati.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya.
Dedi menjadi semakin dikenal.
Warga mulai melihat bahwa pemuda itu tidak menyerah meski rumah belajarnya dibakar.
Sebagian orang mulai bertanya-tanya siapa yang tega melakukan hal itu.
Pertanyaan tersebut mulai membuat Leman gelisah.
Sore itu, ia bertemu Burhan di rumah belakang milik salah seorang kenalannya.
“Rencana kita tidak berjalan seperti yang kamu katakan,” ujar Leman dengan nada marah.
Burhan duduk tenang sambil memainkan korek api di tangannya.
“Rumah belajar sudah terbakar.”
“Tapi Dedi tidak berhenti.”
“Kalau dia mengajar di bawah pohon, biarkan saja.”
Leman menatapnya tajam.
“Warga mulai simpati kepadanya.”
Burhan tersenyum kecil.
“Rasa simpati tidak selalu bertahan lama.”
“Maksudmu?”
“Kita buat mereka kembali takut.”
Leman mengerutkan dahi.
“Bagaimana?”
Burhan menutup korek api di tangannya.
“Dedi sudah memiliki surat dari kota. Dia pasti sedang mencari orang bernama Sudarma. Kalau ada seseorang yang tahu terlalu banyak, kita harus memastikan dia tidak berani bicara.”
Leman menatap Burhan cukup lama.
“Kamu bicara tentang Pak Darto?”
Burhan tidak menjawab langsung.
Namun, senyumnya cukup untuk membuat Leman memahami maksudnya.
Di tempat lain, Pak Darto sedang duduk di depan rumahnya.
Sejak malam kebakaran, ia tidak bisa tidur dengan tenang.
Ia memang tidak melihat wajah orang-orang yang membakar rumah belajar. Tetapi ia melihat dua bayangan berjalan dari arah kebun. Ia juga mendengar salah satu dari mereka menyebut nama seseorang.
Nama itu terus terngiang di kepalanya.
Sudarma.
Pak Darto tahu bahwa jika ia berbicara, ia mungkin dapat membantu Dedi menemukan kebenaran.
Namun, ia juga tahu bahwa orang-orang yang bermain di balik semua itu bukan orang sembarangan.
Mereka memiliki pengaruh.
Mereka memiliki orang-orang yang siap menakut-nakuti siapa pun.
Malam itu, ketika Pak Darto sedang menutup pintu rumah, ia menemukan selembar kertas terselip di bawah tikar depan.
Tangannya gemetar ketika membuka kertas itu.
Di sana hanya tertulis satu kalimat.
Orang yang terlalu banyak melihat, bisa kehilangan tempat untuk pulang.
Pak Darto menatap tulisan itu dengan wajah pucat.
Ia segera menoleh ke arah jalan.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya gelap malam dan suara angin dari kebun.
Keesokan harinya, Dedi datang bersama Susanti ke rumah Pak Darto.
Namun, lelaki tua itu tampak berbeda.
Wajahnya pucat.
Matanya gelisah.
Tangannya terus menggenggam ujung sarung yang dikenakannya.
“Pak Darto,” kata Dedi pelan, “kami ingin bertanya tentang Sudarma.”
Pak Darto menunduk.
“Saya tidak tahu apa-apa.”
Susanti memandangnya.
“Bapak pernah mengatakan ada orang yang datang bersama suruhan Burhan.”
Pak Darto menggeleng cepat.
“Saya tidak pernah bilang begitu.”
Dedi terdiam.
Ia tahu Pak Darto sedang takut.
Namun, ia tidak ingin memaksanya.
“Kalau Bapak tahu sesuatu, Bapak tidak harus bicara sekarang,” kata Dedi. “Tapi kalau suatu hari Bapak siap, saya akan mendengarkan.”
Pak Darto tetap tidak mengangkat wajahnya.
Dedi dan Susanti pun pergi.
Di jalan pulang, Susanti berkata, “Pak Darto pasti diancam.”
Dedi mengangguk.
“Aku juga merasa begitu.”
“Kita harus bagaimana?”
Dedi memandangi pohon beringin di kejauhan.
Di bawah pohon itu, anak-anak sudah mulai berkumpul untuk belajar sore.
“Kita tetap mengajar,” katanya. “Dan kita tetap mencari kebenaran. Tapi kita tidak boleh membuat orang lain menjadi korban karena membantu kita.”
Susanti mengangguk pelan.
Sore itu, kelas di bawah pohon kembali dimulai.
Anak-anak duduk melingkar.
Herawati membacakan cerita tentang seorang anak yang tetap bersekolah meski harus berjalan jauh melewati hutan. Anak-anak mendengarkan dengan penuh perhatian.
Dedi berdiri di depan papan kecil.
Ia menulis sebuah kalimat:
Orang yang belajar tidak mudah ditakut-takuti.
Anak-anak membaca kalimat itu bersama-sama.
Suara mereka mengalun di bawah pohon beringin.
Beberapa warga berhenti untuk mendengarkan.
Mereka tidak tahu bahwa kalimat itu bukan hanya pelajaran membaca.
Kalimat itu adalah pesan.
Pesan bagi anak-anak agar berani bermimpi.
Pesan bagi warga agar tidak mudah dibohongi.
Dan pesan bagi Leman serta Burhan bahwa meski rumah belajar telah dibakar, cahaya di ujung desa belum padam.
BAB XXXIX
Pengakuan Seorang Anak Buah
Malam setelah kelas di bawah pohon beringin selesai, Dedi masih duduk di halaman rumah belajar yang telah menjadi puing.
Di hadapannya, sisa-sisa bambu hitam terlihat samar diterangi lampu minyak. Angin malam membawa bau tanah basah dan daun-daun kering. Tidak jauh dari sana, pohon beringin berdiri diam, seolah menjadi saksi bagi semua luka dan harapan yang tumbuh di ujung desa.
Dedi membuka kembali surat-surat dari kota kecamatan.
Nama Sudarma masih tertulis jelas di dalam surat pengantar bantuan.
Nama itu menjadi satu-satunya jejak yang dapat membawanya kepada kebenaran.
Namun, sejak Pak Darto menolak berbicara, Dedi merasa jalan itu kembali tertutup.
Herawati duduk di sampingnya.
“Kamu masih memikirkan Pak Darto?” tanyanya.
Dedi mengangguk.
“Dia tahu sesuatu. Tapi dia takut.”
“Orang yang diancam memang sulit bicara.”
“Aku tidak ingin memaksanya,” kata Dedi. “Kalau aku memaksa, aku tidak berbeda dengan orang-orang yang selama ini menekan warga.”
Herawati memandang surat-surat di tangan Dedi.
“Berarti kita harus menunggu.”
Dedi menghela napas.
“Menunggu kadang lebih berat daripada melawan.”
Malam semakin larut.
Herawati akhirnya pulang setelah memastikan Dedi mau beristirahat. Susanti juga sudah kembali ke rumahnya. Dedi tinggal sendiri di halaman, ditemani lampu minyak yang nyalanya semakin kecil.
Ketika ia hendak masuk ke rumah, terdengar suara langkah kaki dari arah jalan.
Dedi menoleh.
Seorang lelaki berdiri beberapa langkah dari pagar bambu.
Wajahnya tertutup bayangan malam. Pakaiannya kusut. Bahunya tampak tegang seperti seseorang yang telah berjalan jauh sambil menahan ketakutan.
“Siapa?” tanya Dedi.
Lelaki itu tidak langsung menjawab.
Ia menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada orang lain yang memperhatikan.
Kemudian ia melangkah lebih dekat.
“Saya… saya ingin bicara dengan kamu,” katanya lirih.
Dedi memperhatikan wajahnya.
Ia mengenal lelaki itu.
Namanya Jaka.
Jaka adalah salah satu orang yang sering terlihat bersama Leman. Ia biasa membantu mengurus kebun, membawa pesan, dan menemani Leman dalam berbagai urusan desa. Warga mengenalnya sebagai lelaki pendiam yang jarang berbicara banyak.
Namun, malam itu wajah Jaka tampak pucat.
“Kamu datang untuk apa?” tanya Dedi.
Jaka menelan ludah.
“Saya tidak bisa bicara di sini.”
Dedi menatapnya tajam.
“Kalau kamu datang untuk membuat masalah, lebih baik pulang.”
“Bukan,” jawab Jaka cepat. “Saya datang karena saya sudah tidak sanggup.”
Dedi terdiam.
Jaka kembali menoleh ke arah jalan.
“Mereka bisa melihat,” katanya.
“Siapa?”
Jaka tidak menjawab.
Ia hanya berkata, “Boleh kita bicara di belakang rumah?”
Dedi ragu.
Namun, sesuatu pada wajah Jaka membuatnya percaya bahwa lelaki itu benar-benar ketakutan.
Dedi mengambil lampu minyak, lalu mengajak Jaka ke belakang rumah. Tempat itu lebih tertutup oleh pohon pisang dan semak-semak. Suara jangkrik terdengar lebih jelas daripada suara manusia.
“Sekarang bicara,” kata Dedi.
Jaka menunduk.
Tangannya gemetar.
“Saya tahu siapa yang membakar rumah belajar.”
Dedi membeku.
Lampu minyak di tangannya bergoyang kecil.
“Kamu tahu?”
Jaka mengangguk.
“Saya tidak ikut membakar. Tapi saya tahu rencananya.”
“Siapa?”
Jaka menarik napas panjang.
“Dua orang suruhan Leman.”
Dedi mengepalkan tangan.
“Siapa nama mereka?”
Jaka menatap Dedi dengan mata penuh ketakutan.
“Jangan sebut nama saya kalau kamu melapor.”
“Kalau kamu bicara jujur, aku akan melindungi kamu sebisa mungkin.”
Jaka menggeleng.
“Kamu tidak tahu mereka seperti apa.”
Dedi menahan emosinya.
“Kalau kamu tahu sesuatu, jangan hanya datang untuk membuatku semakin curiga.”
Jaka menunduk lebih dalam.
“Saya tahu, Ded. Tapi saya takut.”
Untuk beberapa saat, tidak ada suara selain angin malam.
Dedi memandangi Jaka.
Ia melihat bukan seorang penjahat di hadapannya, melainkan seorang lelaki yang selama ini hidup di bawah bayang-bayang ketakutan.
“Kamu bisa pulang,” kata Dedi pelan. “Aku tidak akan memaksa.”
Jaka mengangkat wajahnya.
Dedi melanjutkan, “Tapi kalau kamu terus diam, orang lain akan terus menjadi korban. Anak-anak kehilangan tempat belajar. Herawati terluka. Warga dipecah oleh fitnah. Kamu mungkin tidak menyalakan api itu, tetapi kamu tahu siapa yang melakukannya.”
Jaka menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Leman yang menyuruh,” katanya akhirnya.
Dedi menahan napas.
“Burhan juga ada di sana,” lanjut Jaka. “Mereka bertemu di rumah kosong dekat kebun belakang. Burhan bilang rumah belajar harus dibuat berhenti. Leman bilang Dedi terlalu banyak bicara.”
Dedi menatap Jaka tanpa berkedip.
“Siapa yang membakar?”
“Roni dan Ardi,” jawab Jaka. “Mereka orang suruhan Leman. Saya melihat mereka membawa jeriken malam itu.”
Dedi memejamkan mata.
Amarah naik ke dadanya.
Ia ingin langsung pergi ke rumah Leman.
Ia ingin membawa warga.
Ia ingin meneriakkan semua yang baru saja ia dengar.
Namun, ia teringat pesan Pak Hadi.
Jangan gunakan bukti untuk membalas dendam.
Gunakan untuk mencari kebenaran.
Dedi membuka mata kembali.
“Kamu mau menjadi saksi?” tanyanya.
Jaka mundur selangkah.
“Saya belum berani.”
“Kalau kamu tidak mau menjadi saksi, pengakuanmu sulit digunakan.”
“Saya tahu.”
“Lalu kenapa kamu datang?”
Jaka menatap Dedi dengan mata berkaca-kaca.
“Karena saya tidak bisa tidur sejak malam itu. Saya punya anak perempuan. Umurnya hampir sama dengan Lila. Ketika saya melihat anak-anak belajar di bawah pohon, saya merasa malu.”
Dedi terdiam.
Jaka melanjutkan, “Anak saya ingin belajar juga. Tapi saya tidak berani mengantarnya karena saya takut Leman tahu.”
“Anakmu boleh datang,” kata Dedi.
Jaka menatapnya.
“Benarkah?”
“Rumah belajar ini tidak menutup pintu untuk siapa pun.”
Jaka menunduk.
Air mata jatuh dari sudut matanya.
“Saya juga tahu soal dana bantuan,” katanya kemudian.
Dedi kembali menatapnya.
“Sudarma?”
Jaka mengangguk.
“Sudarma itu bukan orang desa kita. Dia kenalan Burhan dari kecamatan. Dia datang beberapa kali membawa surat. Leman yang membantu mengurus cap desa.”
Dedi merasakan dadanya semakin sesak.
“Dana itu ke mana?”
“Saya tidak tahu pasti. Tapi saya pernah melihat Burhan menerima map dari Sudarma di rumah belakang. Di dalam map itu ada buku rekening dan beberapa lembar uang.”
“Kenapa kamu tidak bicara dari dulu?”
Jaka tertawa kecil, pahit.
“Karena saya pengecut.”
Dedi tidak menjawab.
Jaka melanjutkan, “Saya bekerja untuk Leman karena saya butuh uang. Istri saya sakit. Anak saya butuh makan. Awalnya saya hanya disuruh mengantar barang dan menjaga kebun. Lama-lama saya tahu banyak hal. Tapi setiap kali ingin pergi, mereka mengingatkan bahwa mereka tahu keluarga saya tinggal di mana.”
Dedi menatap Jaka dengan lebih tenang.
Ia memahami bahwa kemiskinan sering membuat seseorang terpaksa berdiri di tempat yang tidak ia inginkan.
Namun, ia juga tahu bahwa ketakutan tidak dapat menjadi alasan untuk terus membiarkan kejahatan berjalan.
“Kamu harus berhenti bekerja untuk mereka,” kata Dedi.
Jaka mengangguk pelan.
“Aku ingin. Tapi aku belum tahu bagaimana.”
“Mulailah dengan tidak ikut melakukan kesalahan lagi.”
Jaka memandangi Dedi.
“Kalau saya bicara di depan warga, mereka akan membunuh saya.”
“Kita tidak akan langsung membawa kamu ke depan warga,” kata Dedi. “Kita cari cara yang aman. Kita kumpulkan bukti lain. Kita cari arsip. Kita cari orang yang pernah melihat Sudarma.”
Jaka tampak sedikit lega.
Namun, ketakutannya belum hilang.
“Saya harus pergi sekarang,” katanya.
Dedi mengangguk.
“Satu hal lagi.”
Jaka berhenti.
“Jangan datang ke rumahku terlalu sering. Kalau mereka tahu kamu bicara denganku, kamu bisa dalam bahaya.”
Jaka mengangguk.
Ia lalu berjalan pergi menembus gelap malam.
Dedi berdiri cukup lama di belakang rumah.
Pengakuan Jaka membuat banyak hal mulai terhubung.
Surat pengantar palsu.
Nama Sudarma.
Dana bantuan yang hilang.
Kebakaran Rumah Belajar Ujung Desa.
Ancaman kepada Pak Darto.
Semua bukan peristiwa yang berdiri sendiri.
Ada rencana yang disusun untuk menghentikan Dedi dan membuat warga kembali takut.
Keesokan paginya, Dedi menceritakan kedatangan Jaka kepada Herawati dan Susanti.
Mereka bertiga duduk di bawah pohon beringin sebelum kelas dimulai.
“Jaka tahu semuanya,” kata Dedi.
Herawati memandangnya serius.
“Apakah dia mau menjadi saksi?”
“Belum. Dia masih takut.”
Susanti menggenggam buku catatannya.
“Kalau begitu, kita tidak boleh membiarkan dia sendirian. Orang seperti Jaka bisa berubah pikiran kalau tekanan dari Leman semakin besar.”
Dedi mengangguk.
“Aku tidak akan memaksanya. Tapi kita harus segera mencari bukti yang tidak bisa dibantah.”
Herawati memandang tanah di sekitar mereka.
“Kita juga harus menjaga rumah belajar. Mereka sudah membakar bangunan. Bisa saja mereka melakukan hal lain.”
Dedi memandangi anak-anak yang mulai berdatangan.
Di antara mereka, seorang anak perempuan berdiri sambil memegang tangan ayahnya.
Dedi mengenal ayah itu.
Jaka.
Lelaki itu tidak mendekat. Ia hanya berdiri di kejauhan, lalu mendorong anaknya pelan ke arah pohon beringin.
Anak perempuan itu berjalan mendekat dengan malu-malu.
“Namaku Nisa,” katanya.
Dedi tersenyum.
“Selamat datang, Nisa.”
Jaka menatap dari jauh.
Untuk pertama kalinya, wajahnya tidak hanya dipenuhi ketakutan.
Ada sedikit harapan di sana.
Namun, di sisi lain desa, Leman mulai menyadari bahwa salah satu anak buahnya tidak lagi mudah dikendalikan.
Dan ketika orang yang menyimpan rahasia mulai goyah, Leman serta Burhan tahu bahwa mereka harus bergerak lebih cepat.
Sasaran berikutnya bukan hanya Rumah Belajar Ujung Desa.
Mereka mulai mengincar tanah warisan Karsa.
BAB XL
Burhan Mengincar Tanah Warisan
Sejak kedatangan Jaka pada malam itu, Dedi semakin berhati-hati.
Ia tidak lagi menyimpan semua surat dan catatan di satu tempat. Salinan surat pengiriman bantuan dari kota kecamatan ia titipkan kepada Pak Hadi. Catatan rumah belajar yang masih tersisa disimpan oleh Susanti. Sementara surat-surat penting lainnya ia simpan di dalam kotak kayu peninggalan ayahnya.
Dedi tahu bahwa Leman dan Burhan tidak akan tinggal diam.
Mereka sudah membakar Rumah Belajar Ujung Desa.
Mereka telah menyebarkan fitnah tentang dana bantuan.
Mereka juga menakut-nakuti warga yang mungkin mengetahui kebenaran.
Kini, setelah Jaka mulai goyah, Dedi merasa ada sesuatu yang lebih besar sedang disiapkan.
Pagi itu, Dedi sedang membantu anak-anak membuat papan nama dari kardus bekas di bawah pohon beringin. Mereka menulis nama masing-masing dengan huruf besar agar mudah dibaca.
Bima menulis namanya dengan bangga.
Lila membantu Nisa mengeja huruf demi huruf.
Herawati duduk di dekat mereka sambil mengajari beberapa anak membuat kalimat sederhana.
“Kalau sudah selesai,” kata Herawati, “tempelkan papan nama kalian di depan tikar.”
Anak-anak terlihat gembira.
Bagi mereka, belajar di bawah pohon bukan lagi sesuatu yang memalukan. Mereka mulai menganggap tempat itu sebagai ruang milik bersama, tempat mereka dapat membaca, menulis, bertanya, dan bermimpi.
Namun, ketika kegiatan hampir selesai, suara kendaraan terdengar dari arah jalan desa.
Sebuah mobil hitam berhenti di dekat tanah warisan Karsa.
Beberapa anak langsung menoleh.
Dari dalam mobil turun Burhan.
Ia mengenakan kemeja putih bersih dan sepatu mengilap. Di tangannya terdapat sebuah map cokelat. Dua lelaki asing berdiri di belakangnya, membawa tas dan beberapa lembar kertas.
Dedi berdiri.
Anak-anak yang semula ramai mendadak diam.
Burhan berjalan mendekat dengan senyum yang tampak ramah.
“Selamat pagi, Dedi,” katanya.
“Pagi,” jawab Dedi singkat.
Burhan memandangi anak-anak yang duduk di bawah pohon.
“Masih mengajar rupanya.”
“Selama anak-anak masih ingin belajar, kami akan tetap mengajar.”
Burhan tersenyum tipis.
“Itu niat yang baik.”
Dedi tidak menjawab.
Ia tahu Burhan tidak datang untuk memuji.
Burhan membuka map cokelat di tangannya.
“Aku datang membawa urusan tanah.”
Herawati yang sejak tadi duduk bersama anak-anak langsung berdiri.
“Tanah apa?” tanyanya.
Burhan menunjuk tanah di sekitar pohon beringin.
“Tanah ini.”
Dedi menatapnya tajam.
“Ini tanah warisan ayahku.”
Burhan mengangguk pelan.
“Itulah yang selama ini kamu kira.”
Dedi merasakan dadanya menegang.
“Maksudmu?”
Burhan mengeluarkan beberapa lembar dokumen.
“Menurut surat yang saya pegang, tanah ini dahulu merupakan bagian dari lahan milik keluarga saya. Ada proses jual beli yang terjadi bertahun-tahun lalu, sebelum ayahmu meninggal.”
Dedi menatap dokumen itu.
“Tidak mungkin.”
“Semua tercatat,” kata Burhan tenang. “Ada tanda tangan, ada saksi, dan ada cap.”
Dedi mengambil salah satu lembar yang disodorkan.
Tulisan di atasnya tampak rapi. Ada nama Karsa di bagian bawah. Ada cap yang terlihat resmi. Ada pula tanda tangan beberapa orang yang mengaku sebagai saksi.
Namun, semakin lama Dedi memandanginya, semakin kuat perasaannya bahwa ada sesuatu yang tidak benar.
Ia mengenal tulisan ayahnya.
Karsa tidak pernah menulis huruf seperti itu.
Tanda tangan yang tertera memang menyerupai tanda tangan ayahnya, tetapi garisnya terlalu rapi, terlalu dibuat-buat.
“Ini palsu,” kata Dedi.
Burhan mengangkat alis.
“Kamu menuduh saya memalsukan surat tanah?”
“Ayahku tidak pernah menjual tanah ini.”
“Kamu punya bukti?”
Dedi terdiam.
Pertanyaan itu kembali menjadi senjata.
Burhan selalu datang dengan kertas, cap, dan kata-kata yang tampak resmi. Ia tahu banyak warga akan lebih percaya pada dokumen yang terlihat meyakinkan daripada pada ingatan seorang anak petani.
Dua lelaki yang datang bersama Burhan mulai memasang patok kecil di beberapa sisi tanah.
Dedi segera melangkah maju.
“Jangan pasang apa pun di sini.”
Salah satu lelaki itu menatap Burhan.
Burhan mengangguk kecil.
“Silakan lanjutkan.”
Dedi berdiri di depan mereka.
“Aku bilang jangan.”
Anak-anak mulai gelisah.
Bima mendekati Herawati.
“Kak, mereka mau ambil tempat belajar kita?”
Herawati menggenggam tangan Bima.
“Tenang. Jangan takut.”
Namun, wajah Herawati sendiri tampak tegang.
Burhan memandang Dedi dengan senyum tipis.
“Aku tidak ingin membuat keributan di depan anak-anak. Karena itu, aku menawarkan jalan baik-baik.”
Ia mengeluarkan sebuah amplop tebal dari dalam map.
“Jual tanah ini kepadaku. Aku akan membayar dengan harga yang cukup besar. Kamu bisa membangun rumah yang lebih baik untuk ibumu. Kamu bisa melanjutkan sekolah. Kamu bahkan bisa membuka tempat belajar di tempat lain.”
Dedi memandangi amplop itu.
Uang tersebut mungkin cukup untuk membantu ibunya.
Mungkin cukup untuk membayar utang keluarga.
Mungkin cukup untuk membuat hidup mereka lebih mudah untuk sementara waktu.
Namun, Dedi teringat ayahnya.
Ia teringat Karsa yang bekerja keras di tanah itu sejak muda. Ia teringat kata-kata ayahnya bahwa tanah bukan sekadar tempat menanam, tetapi tempat keluarga menaruh harapan.
Dedi menatap Burhan.
“Tanah ini tidak dijual.”
Burhan tersenyum, tetapi sorot matanya berubah dingin.
“Pikirkan lagi.”
“Aku sudah memikirkannya.”
“Kamu menolak uang sebanyak ini hanya untuk mengajar di bawah pohon?”
Dedi menatap anak-anak di belakangnya.
“Bukan hanya untuk mengajar.”
“Lalu untuk apa?”
“Untuk menjaga agar anak-anak desa ini punya tempat untuk bermimpi.”
Burhan tertawa kecil.
“Mimpi tidak bisa membayar makan.”
“Memang,” jawab Dedi. “Tapi tanpa mimpi, orang akan mudah menjual hidupnya hanya karena takut dan lapar.”
Kalimat itu membuat wajah Burhan mengeras.
Leman yang ternyata datang menyusul dari arah jalan mulai mendekat. Ia berdiri beberapa langkah dari Burhan sambil memperhatikan keadaan.
“Kamu terlalu keras kepala, Dedi,” katanya.
Dedi menoleh.
“Kalau mempertahankan tanah warisan ayahku disebut keras kepala, aku terima.”
Leman menggeleng pelan.
“Kamu selalu merasa paling benar. Kamu menghasut warga, membuat rumah belajar tanpa izin, lalu sekarang menolak dokumen yang sah.”
“Aku tidak menghasut siapa pun.”
“Warga mulai bertanya-tanya karena kamu,” kata Leman. “Desa ini butuh ketenangan.”
Dedi menatapnya.
“Desa ini tidak tenang karena terlalu lama dipaksa diam.”
Suasana mendadak hening.
Beberapa warga mulai berdatangan setelah melihat mobil Burhan. Mereka berdiri di pinggir jalan, memperhatikan perdebatan itu.
Leman melihat kerumunan warga dan segera mengubah nada bicaranya.
“Kami tidak ingin merugikan Dedi,” katanya keras-keras. “Kami hanya ingin menyelesaikan masalah tanah sesuai aturan.”
Burhan mengangguk.
“Kalau Dedi merasa dokumen ini tidak benar, silakan bawa ke pihak berwenang. Tetapi selama proses itu berjalan, tanah ini sebaiknya tidak digunakan.”
Dedi menatapnya.
“Tidak digunakan?”
“Untuk menghindari konflik.”
“Jadi anak-anak harus berhenti belajar?”
Burhan mengangkat bahu.
“Itu bukan urusan saya.”
Herawati maju satu langkah.
“Bagaimana bisa bukan urusan Anda? Anda datang ke tempat anak-anak belajar dan ingin mengambilnya.”
Burhan menatap Herawati.
“Saya hanya menjalankan hak saya.”
“Dengan surat yang kami yakin palsu?” kata Herawati.
Burhan tersenyum tipis.
“Keyakinan tidak cukup, Nona Herawati.”
Dedi menahan amarahnya.
Ia tahu Burhan sengaja ingin membuatnya bertindak kasar di depan warga. Jika ia terpancing, Leman akan memiliki alasan untuk menyebutnya pembuat keributan.
Karena itu, Dedi menarik napas panjang.
“Aku akan memeriksa surat ini ke kabupaten,” katanya. “Aku akan mencari arsip tanah yang sebenarnya.”
Burhan menatapnya dengan tatapan dingin.
“Silakan. Tapi jangan terlalu berharap.”
Setelah itu, Burhan memberi isyarat kepada dua lelaki yang membawanya. Mereka berhenti memasang patok, lalu kembali ke mobil.
Sebelum masuk, Burhan menoleh sekali lagi kepada Dedi.
“Kamu sudah menolak uangku. Jangan sampai nanti kamu menyesal karena tidak menerima jalan damai.”
Mobil hitam itu perlahan pergi meninggalkan tanah warisan Karsa.
Namun, kepergian Burhan tidak membuat suasana kembali tenang.
Warga mulai membicarakan dokumen tanah yang dibawanya.
Ada yang percaya bahwa surat itu mungkin benar.
Ada yang mulai ragu kepada Dedi.
Ada pula yang bertanya-tanya mengapa tanah kecil di ujung desa itu begitu penting bagi Burhan.
Pak Warto mendekati Dedi setelah warga mulai bubar.
“Ded,” katanya pelan, “kalau Burhan sampai membawa surat seperti itu, berarti dia memang serius.”
Dedi mengangguk.
“Aku tahu.”
“Kamu harus cepat mencari arsip tanah.”
“Aku akan pergi ke kabupaten.”
Herawati memandang Dedi.
“Aku ikut.”
Dedi menoleh.
“Kamu tidak perlu ikut. Kamu masih harus mengajar anak-anak.”
Herawati menggeleng.
“Ini bukan hanya perjuanganmu. Tanah itu tempat rumah belajar berdiri. Kalau tanah itu hilang, anak-anak kehilangan tempat lagi.”
Susanti yang baru datang membawa beberapa buku dari rumah warga ikut mendengar percakapan itu.
“Aku bisa mengajar sementara,” katanya. “Kalian pergi mencari arsip. Aku akan menjaga kelas di bawah pohon.”
Dedi memandangi Herawati dan Susanti.
Ia menyadari bahwa perjuangan ini tidak lagi hanya bertumpu pada dirinya.
Ada orang-orang yang bersedia berdiri bersamanya.
Ada anak-anak yang terus datang meski takut.
Ada warga yang mulai membuka mata.
Dan ada tanah kecil di ujung desa yang kini menjadi simbol harapan bagi banyak orang.
Malam harinya, Dedi kembali membuka kotak kayu peninggalan ayahnya.
Ia mencari semua surat lama yang pernah disimpan Karsa.
Di antara beberapa lembar kertas kusam, ia menemukan bukti pembayaran pajak tanah, catatan hasil panen, dan sebuah surat lama yang ditulis ayahnya kepada Marni.
Dedi membaca surat itu perlahan.
Di bagian akhir, Karsa menulis:
“Tanah kecil ini mungkin tidak membuat kita kaya, tetapi semoga kelak bisa menjadi tempat anak-anak kita berdiri tanpa takut kepada siapa pun.”
Dedi menutup surat itu.
Matanya berkaca-kaca.
Ia menggenggam kertas tersebut erat-erat.
Keesokan hari, ia akan pergi ke kabupaten untuk mencari arsip kepemilikan tanah.
Ia belum tahu bahwa perjalanan itu bukan hanya akan membawanya pada bukti tentang tanah warisan ayahnya.
Perjalanan itu juga akan mempertemukannya kembali dengan Herawati dalam sebuah ujian yang akan menentukan arah cinta mereka.
BAB XLI
Herawati Pergi ke Kota
Pagi itu, Desa Suka Jaya masih diselimuti kabut ketika Dedi bersiap berangkat ke kabupaten.
Di dalam tas kecilnya, ia membawa surat pajak tanah peninggalan ayahnya, catatan lama Karsa, salinan dokumen dari lembaga sosial, serta beberapa lembar surat yang selama ini ia simpan dengan hati-hati. Semua kertas itu menjadi harapan terakhir untuk membuktikan bahwa tanah di ujung desa bukan milik Burhan.
Marni membantu menyiapkan bekal nasi dan ikan asin.
“Kamu jangan lupa makan,” katanya sambil memasukkan bungkusan makanan ke dalam tas.
Dedi mengangguk.
“Iya, Bu.”
Marni memandang anaknya cukup lama.
“Kalau urusan tanah itu sulit, jangan pulang membawa putus asa.”
Dedi tersenyum kecil.
“Aku akan pulang membawa jawaban.”
Namun, sebelum Dedi melangkah pergi, Herawati datang ke rumahnya.
Ia membawa sebuah amplop putih di tangan.
Wajahnya tampak ragu.
Dedi memperhatikan perempuan itu.
“Kamu sudah siap?” tanya Herawati.
“Sudah. Kita harus segera berangkat supaya sampai di kabupaten sebelum kantor tutup.”
Herawati tidak langsung menjawab.
Ia menyerahkan amplop putih itu kepada Dedi.
“Ada surat untukku.”
Dedi menerima amplop tersebut.
Di bagian depan tertulis nama Herawati dengan tulisan rapi. Surat itu berasal dari sebuah lembaga pelatihan guru di kota.
Dedi membuka surat itu perlahan.
Ia membaca isi surat tersebut dengan sungguh-sungguh.
Herawati diterima mengikuti pelatihan guru selama beberapa bulan. Pelatihan itu memberikan kesempatan bagi pemuda desa untuk mempelajari cara mengajar, menyusun kegiatan belajar, dan mengelola pendidikan masyarakat.
Dedi mengangkat wajah.
“Ini kabar baik.”
Herawati tersenyum tipis, tetapi matanya tidak sepenuhnya bahagia.
“Aku belum menjawab.”
“Kenapa?”
Herawati menatap ke arah jalan desa.
“Aku tidak ingin pergi ketika rumah belajar sedang dalam keadaan seperti ini.”
Dedi terdiam.
Herawati melanjutkan, “Rumah belajar sudah terbakar. Warga masih ragu. Burhan ingin mengambil tanah ini. Kamu akan pergi ke kabupaten mencari bukti. Bagaimana aku bisa meninggalkan semuanya?”
Dedi memandangi surat itu lagi.
Ia tahu kesempatan seperti ini tidak datang dua kali.
Herawati selama ini mengajar anak-anak dengan kesabaran yang luar biasa. Ia belajar dari buku-buku seadanya, dari pengalaman, dan dari apa yang pernah diajarkan Pak Harun. Namun, pelatihan itu dapat memberinya ilmu yang lebih luas.
Dedi menyerahkan surat itu kembali.
“Kamu harus pergi.”
Herawati menatapnya.
“Kamu serius?”
“Iya.”
“Dedi, aku tidak ingin kamu menganggap aku meninggalkanmu.”
Dedi menggeleng.
“Kamu tidak meninggalkan aku. Kamu sedang menjemput ilmu.”
Herawati menggigit bibirnya.
“Tapi kalau aku pergi, kamu akan menghadapi semuanya sendiri.”
“Tidak sendiri. Ada Susanti. Ada Pak Warto. Ada warga yang mulai percaya. Ada anak-anak.”
Herawati menunduk.
Dedi melangkah sedikit lebih dekat.
“Hera, selama ini kita berjuang supaya anak-anak desa punya kesempatan belajar. Kalau kamu mendapat kesempatan belajar menjadi guru yang lebih baik, lalu kamu menolaknya karena takut meninggalkan perjuangan ini, bukankah itu berarti kita berhenti pada ketakutan?”
Herawati memandangi Dedi.
Kata-kata itu membuat hatinya bergetar.
Ia tahu Dedi benar.
Namun, ada bagian dalam dirinya yang takut.
Takut jarak membuat mereka berubah.
Takut fitnah kembali datang.
Takut ketika ia pulang nanti, semua yang mereka perjuangkan sudah tidak sama lagi.
“Aku takut,” katanya pelan.
Dedi tersenyum lembut.
“Aku juga takut.”
“Takut apa?”
“Takut kehilangan tanah ini. Takut rumah belajar tidak bisa berdiri lagi. Takut orang-orang yang kita sayangi terluka.”
Dedi berhenti sejenak.
“Tapi kalau kita hanya hidup mengikuti rasa takut, Leman dan Burhan sudah menang bahkan sebelum mereka mengambil apa pun.”
Herawati menahan air mata.
Ia mengangguk perlahan.
“Aku akan pergi.”
Dedi tersenyum.
“Pergilah. Belajarlah sebanyak mungkin. Pulanglah membawa ilmu untuk anak-anak.”
Herawati memandangnya.
“Dan kamu?”
“Aku akan mencari arsip tanah itu.”
Pagi itu, mereka berangkat bersama menuju kota kecamatan sebelum melanjutkan perjalanan ke kabupaten.
Di dalam kendaraan, Herawati duduk di samping Dedi. Jalan yang mereka lalui penuh lubang dan lumpur. Beberapa kali kendaraan berguncang keras hingga penumpang harus berpegangan pada sisi bak.
Namun, tidak ada yang mereka keluhkan.
Mereka sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing.
Dedi memikirkan surat tanah.
Herawati memikirkan pelatihan guru.
Di antara mereka, ada banyak kata yang ingin disampaikan, tetapi belum menemukan jalan keluar.
Setelah sampai di kota kecamatan, mereka harus berpisah.
Herawati melanjutkan perjalanan ke kota tempat pelatihan dilaksanakan. Dedi meneruskan perjalanan menuju kabupaten untuk mencari arsip kepemilikan tanah.
Di terminal kecil, mereka berdiri berhadapan.
Suara kendaraan dan pedagang di sekitar mereka terdengar ramai. Namun, bagi Dedi dan Herawati, suasana itu terasa sepi.
Herawati menggenggam tali tasnya.
“Jaga diri,” katanya.
“Kamu juga.”
“Jangan terlalu memikirkan semua masalah sendiri.”
Dedi tersenyum kecil.
“Aku akan berusaha.”
Herawati memandangnya cukup lama.
“Aku akan menulis surat.”
“Aku akan membalas.”
“Jangan lupa.”
“Tidak akan.”
Herawati lalu naik ke kendaraan yang akan membawanya ke kota.
Dedi berdiri di pinggir jalan, memandangi kendaraan itu hingga hilang di tikungan.
Untuk pertama kalinya sejak mereka dekat, Dedi merasa ada ruang kosong yang begitu besar di dalam dirinya.
Herawati bukan hanya orang yang ia cintai.
Ia adalah teman perjuangan.
Ia adalah orang yang selalu mengingatkannya untuk tidak berubah menjadi keras ketika menghadapi ketidakadilan.
Kini, Herawati pergi membawa harapan baru.
Sementara Dedi harus melanjutkan perjalanan membawa beban lama.
Di kota pelatihan, Herawati tinggal di asrama sederhana bersama peserta dari berbagai desa.
Pada hari pertama, ia diperkenalkan dengan banyak hal baru.
Cara membuat rencana belajar.
Cara mengajar anak-anak dengan metode yang menyenangkan.
Cara membangun perpustakaan kecil.
Cara melibatkan orang tua dalam pendidikan.
Herawati mendengarkan semua materi itu dengan sungguh-sungguh.
Setiap kali instruktur menjelaskan tentang pentingnya pendidikan di desa, Herawati teringat anak-anak di bawah pohon beringin.
Ia teringat Bima yang ingin menjadi guru.
Ia teringat Lila yang ingin menjadi dokter.
Ia teringat Nisa yang datang dengan malu-malu sambil menggenggam tangan ayahnya.
Herawati menulis semua yang ia pelajari di dalam buku catatan.
Di halaman pertama, ia menuliskan:
Untuk Rumah Belajar Ujung Desa.
Sementara itu, Dedi tiba di kantor pertanahan kabupaten menjelang siang.
Bangunan itu lebih besar daripada kantor desa dan kantor kecamatan yang pernah ia datangi. Di dalamnya, banyak orang membawa map, berkas, dan surat-surat tanah.
Dedi harus menunggu cukup lama sebelum akhirnya bertemu seorang petugas arsip.
“Saya ingin mencari arsip tanah milik ayah saya,” katanya.
Petugas itu menerima surat pajak lama dan beberapa catatan yang dibawa Dedi.
“Nama pemilik?”
“Karsa.”
“Lokasi tanah?”
“Desa Suka Jaya, di ujung desa dekat pohon beringin.”
Petugas itu mulai membuka daftar arsip.
Dedi menunggu dengan jantung berdebar.
Setiap menit terasa panjang.
Ia tahu bahwa jika arsip tanah itu tidak ditemukan, Burhan akan semakin mudah menguasai tanah warisan ayahnya.
Setelah beberapa saat, petugas itu mengangkat wajah.
“Ada catatan lama atas nama Karsa.”
Dedi menahan napas.
“Benarkah?”
Petugas itu mengangguk.
“Namun, arsipnya belum lengkap. Ada berkas yang dipindahkan ke ruang penyimpanan lama. Kamu harus menunggu sampai besok karena ruang itu sedang diperiksa.”
Dedi mengangguk meski rasa kecewa sempat muncul.
“Baik, Pak. Saya akan kembali besok.”
Ketika keluar dari kantor pertanahan, Dedi duduk di bawah pohon besar di halaman.
Ia mengeluarkan surat kecil dari tasnya.
Surat itu ditulis Herawati sebelum berangkat ke pelatihan.
Di dalamnya, Herawati menulis:
“Jangan biarkan jarak membuat kita lupa bahwa kita sedang berjalan menuju tujuan yang sama. Aku belajar di kota agar kelak bisa mengajar lebih baik di desa. Kamu mencari kebenaran agar anak-anak tetap memiliki tempat untuk belajar. Kita mungkin tidak berada di jalan yang sama hari ini, tetapi kita masih menuju cahaya yang sama.”
Dedi membaca surat itu berulang kali.
Wajahnya perlahan menjadi lebih tenang.
Malam itu, di kamar penginapan sederhana, Dedi menulis balasan.
Ia menulis tentang arsip tanah yang mulai ditemukan.
Ia menulis tentang rasa rindunya.
Ia menulis tentang pohon beringin yang tetap menaungi anak-anak.
Dan ia menulis satu kalimat yang tidak pernah ia ucapkan langsung kepada Herawati:
“Kalau suatu hari rumah belajar itu kembali berdiri, aku ingin kamu menjadi orang pertama yang mengajar di dalamnya.”
Surat itu ia lipat perlahan.
Di luar jendela, lampu-lampu kota menyala satu per satu.
Di desa, Herawati juga menatap langit dari jendela asrama.
Jarak mulai memisahkan mereka.
Namun, cinta mereka belum padam.
Ia hanya sedang diuji oleh waktu, perjuangan, dan bayang-bayang fitnah yang belum selesai.
BAB XLII
Jarak yang Menjadi Ujian
Hari-hari pertama setelah Herawati pergi ke kota terasa berbeda bagi Dedi.
Pohon beringin tetap berdiri di ujung tanah warisan Karsa. Anak-anak tetap datang membawa buku, pensil, dan papan kecil. Susanti tetap mengajar berhitung dengan sabar. Pak Warto masih sering datang membawa kayu atau terpal untuk melindungi anak-anak dari panas dan hujan.
Namun, bagi Dedi, ada sesuatu yang hilang dari tempat itu.
Biasanya, Herawati duduk di sisi kiri pohon beringin sambil membacakan cerita. Suaranya lembut, tetapi tegas ketika mengajari anak-anak mengeja. Ia selalu tahu kapan Bima mulai bosan, kapan Lila membutuhkan bantuan, dan kapan anak-anak perlu diberi semangat.
Kini, tempat itu kosong.
Dedi beberapa kali tanpa sadar menoleh ke arah tikar tempat Herawati biasa duduk.
Lalu ia mengingat bahwa Herawati sedang berada jauh di kota, mengikuti pelatihan untuk menjadi guru yang lebih baik.
Pada sore hari, Dedi menerima surat pertama dari Herawati.
Surat itu dibawa oleh seorang sopir angkutan yang kebetulan pulang ke desa. Tulisan Herawati rapi dan penuh semangat.
Ia bercerita tentang pelatihan yang diikutinya, tentang teman-teman baru dari desa lain, serta tentang cara-cara mengajar yang membuat anak-anak lebih berani berbicara.
Di bagian akhir, Herawati menulis:
“Aku belajar bahwa seorang guru bukan hanya mengajarkan huruf dan angka. Guru juga membantu anak-anak percaya bahwa hidup mereka bisa berubah. Aku ingin pulang dan menerapkan semua yang kupelajari untuk anak-anak di bawah pohon beringin.”
Dedi membaca surat itu sambil tersenyum.
Ia membalas surat Herawati malam itu juga.
Ia menulis tentang Bima yang mulai lancar membaca. Ia menulis tentang Lila yang membantu Nisa mengeja huruf. Ia juga menulis bahwa arsip tanah atas nama Karsa mulai ditemukan di kantor pertanahan kabupaten, meski masih harus menunggu pemeriksaan lebih lanjut.
Namun, Dedi tidak menuliskan semua yang terjadi di desa.
Ia tidak ingin Herawati kehilangan fokus selama mengikuti pelatihan.
Ia tidak ingin Herawati merasa bersalah karena pergi ketika rumah belajar masih menghadapi banyak masalah.
Karena itu, Dedi menyimpan sebagian kegelisahannya sendiri.
Sementara itu, Susanti semakin sering berada di Rumah Belajar Ujung Desa.
Ia datang pagi hari untuk membantu menyiapkan kelas. Ia membawa buku-buku dari rumah warga. Ia mendata anak-anak yang mulai kembali datang. Ia juga membantu Dedi menyusun catatan tentang kebutuhan rumah belajar.
Tidak ada yang aneh bagi Dedi.
Susanti adalah sahabat mereka sejak kecil.
Ia membantu karena peduli pada anak-anak dan perjuangan yang mereka bangun bersama.
Namun, bagi Ratna, kedekatan itu menjadi kesempatan.
Ratna melihat Dedi dan Susanti beberapa kali berjalan bersama menuju rumah Pak Darto. Mereka datang untuk menanyakan kabar lelaki tua itu, sekaligus memastikan ia tidak mendapat ancaman lagi.
Ratna juga melihat Susanti membantu Dedi membawa beberapa buku dari rumah warga ke bawah pohon beringin.
Dari hal-hal kecil itu, Ratna mulai menyusun cerita.
Di warung dekat jalan desa, Ratna berbicara kepada beberapa perempuan yang sedang membeli kebutuhan rumah.
“Kasihan Herawati,” katanya sambil mengaduk minuman.
Seorang perempuan menoleh.
“Kenapa?”
“Dia jauh-jauh ikut pelatihan di kota. Sementara di sini, Dedi dan Susanti hampir setiap hari bersama.”
Perempuan itu mengerutkan dahi.
“Mereka mengurus rumah belajar, kan?”
Ratna tersenyum tipis.
“Memang. Tapi orang bisa saja berubah ketika pasangannya jauh.”
Kalimat itu terdengar seperti perhatian.
Namun, di dalamnya tersimpan racun.
Beberapa perempuan mulai saling berpandangan.
“Jangan-jangan benar.”
“Susanti memang dekat dengan Dedi sejak dulu.”
“Herawati harus tahu.”
Ratna tidak perlu menambahkan banyak hal.
Ia tahu bahwa di desa kecil, kabar tidak membutuhkan waktu lama untuk berpindah dari satu rumah ke rumah lain.
Menjelang sore, cerita itu sudah sampai ke telinga beberapa pemuda.
Malamnya, cerita itu berubah menjadi gosip.
Keesokan harinya, cerita itu menjadi tuduhan.
“Dedi dan Susanti semakin dekat sejak Herawati pergi.”
“Susanti sering datang ke rumah Dedi.”
“Jangan-jangan rumah belajar hanya alasan.”
Dedi baru mengetahui kabar itu ketika Pak Warto datang ke bawah pohon beringin.
Wajah lelaki tua itu tampak tidak nyaman.
“Ded,” katanya pelan, “aku tidak ingin ikut campur urusan pribadi. Tapi kamu harus hati-hati.”
Dedi menatapnya.
“Ada apa, Pak?”
“Orang-orang mulai membicarakan kamu dan Susanti.”
Dedi terdiam.
“Membicarakan apa?”
Pak Warto menghela napas.
“Mereka bilang kalian terlalu dekat sejak Herawati pergi.”
Dedi merasakan dadanya mengeras.
“Siapa yang menyebarkan?”
“Tidak ada yang tahu pasti. Tapi aku mendengar Ratna sering membicarakannya.”
Dedi menoleh ke arah Susanti yang sedang mengajari Nisa menulis.
Perempuan itu tampak tidak mengetahui apa pun.
Dedi merasa marah.
Bukan karena dirinya dituduh.
Melainkan karena Susanti kembali dijadikan sasaran hanya karena membantu perjuangan yang sama.
Sore itu, setelah anak-anak pulang, Dedi mengajak Susanti berbicara.
Mereka duduk di bawah pohon beringin.
“Sus,” kata Dedi pelan, “aku dengar ada orang-orang yang membicarakan kita.”
Susanti mengangkat wajah.
“Membicarakan apa?”
“Katanya kita terlalu dekat sejak Herawati pergi.”
Wajah Susanti berubah pucat.
Ia terdiam cukup lama.
“Aku sudah menduga,” katanya akhirnya.
“Kamu sudah tahu?”
“Dua hari lalu, seorang ibu di warung bertanya kenapa aku sering membantu kamu. Cara dia bertanya membuatku tahu ada sesuatu yang sedang disebarkan.”
Dedi mengepalkan tangan.
“Ratna.”
Susanti menunduk.
“Jangan langsung menyalahkan siapa pun tanpa bukti.”
“Tidak perlu bukti untuk tahu siapa yang senang membuat masalah seperti ini.”
Susanti memandang Dedi.
“Kalau kamu marah dan mendatangi Ratna, orang-orang justru akan semakin percaya bahwa ada sesuatu yang disembunyikan.”
Dedi terdiam.
Sekali lagi, fitnah memaksanya untuk menahan diri.
“Lalu kita harus bagaimana?” tanyanya.
Susanti menarik napas.
“Kita jaga jarak.”
Dedi menatapnya.
“Jaga jarak?”
“Untuk sementara. Bukan karena kita bersalah. Tapi karena aku tidak ingin Herawati semakin terluka ketika mendengar kabar ini.”
Dedi memandang wajah Susanti.
Ada kesedihan yang ia sembunyikan di sana.
Susanti selalu terlihat kuat. Ia selalu menjadi orang yang menenangkan ketika Dedi dan Herawati sedang bertengkar. Ia selalu datang membawa buku, catatan, atau semangat baru untuk anak-anak.
Namun, malam itu Dedi melihat bahwa fitnah tersebut juga melukai dirinya.
“Aku minta maaf,” kata Dedi.
Susanti tersenyum kecil, pahit.
“Kamu tidak perlu minta maaf. Yang harus malu adalah orang yang menyebarkan cerita tanpa memikirkan hati orang lain.”
Mulai hari itu, Dedi dan Susanti tidak lagi berjalan bersama ke rumah warga.
Jika ada urusan rumah belajar, mereka membicarakannya di hadapan Herawati melalui surat atau di hadapan warga lain.
Susanti lebih sering mengajar di sisi lain pohon beringin.
Dedi mengurus kebutuhan kelas bersama Pak Warto.
Mereka tetap bekerja untuk rumah belajar, tetapi ada jarak yang sengaja diciptakan di antara mereka.
Jarak itu tidak terasa adil.
Namun, mereka memilihnya agar fitnah tidak semakin besar.
Di kota, Herawati menerima surat dari seorang kenalan desa.
Surat itu tidak panjang.
Hanya berisi beberapa kalimat yang ditulis dengan nada seolah-olah penuh perhatian.
“Hera, kami hanya ingin kamu berhati-hati. Dedi dan Susanti sekarang sangat dekat. Mereka sering bersama mengurus rumah belajar. Banyak orang di desa membicarakannya.”
Herawati membaca surat itu berulang kali.
Tangannya gemetar.
Ia ingin langsung percaya bahwa itu hanya fitnah.
Ia mengenal Dedi.
Ia mengenal Susanti.
Mereka adalah orang-orang yang paling dekat dengannya sejak lama.
Namun, jarak membuat pikiran mudah dipenuhi keraguan.
Herawati teringat beberapa surat Dedi yang belakangan terasa lebih singkat. Ia teringat bahwa Dedi tidak banyak bercerita tentang keadaan rumah belajar. Ia mulai bertanya-tanya apakah ada hal yang sengaja disembunyikan.
Malam itu, Herawati tidak dapat tidur.
Ia duduk di dekat jendela asrama sambil memegang surat dari desa.
Di luar, lampu kota menyala terang.
Namun, di dalam hatinya, sebuah bayangan mulai tumbuh.
Bayangan tentang Dedi dan Susanti.
Bayangan tentang rumah belajar yang terus berjalan tanpa dirinya.
Bayangan tentang kemungkinan bahwa perjuangan yang selama ini menyatukan mereka justru perlahan memisahkan mereka.
Di Desa Suka Jaya, Ratna mendengar bahwa surat itu telah sampai ke kota.
Ia tersenyum puas.
Namun, senyumnya tidak sepenuhnya tenang.
Di bawah pohon beringin, anak-anak tetap belajar membaca.
Di antara suara mereka, Dedi menulis satu kalimat di papan kecil:
Kepercayaan harus dijaga lebih kuat daripada kabar yang belum tentu benar.
Ia tidak tahu bahwa kalimat itu sedang diuji dalam hidupnya sendiri.
Dan ketika Herawati pulang dari kota, ia tidak akan pulang dengan senyum yang sama seperti saat ia pergi.
BAB XLIII
Kepulangan yang Dingin
Tiga bulan berlalu sejak Herawati berangkat mengikuti pelatihan guru di kota.
Selama waktu itu, banyak hal berubah di Desa Suka Jaya.
Kelas di bawah pohon beringin tetap berjalan. Anak-anak semakin rajin datang. Susanti tetap membantu mengajar, meski kini ia lebih banyak bekerja bersama warga perempuan agar tidak lagi menjadi bahan gunjingan. Dedi terus berusaha mencari arsip tanah warisan ayahnya, sambil menghadapi tekanan dari Burhan yang tidak pernah benar-benar berhenti.
Namun, perubahan yang paling terasa bukan hanya pada rumah belajar.
Perubahan itu tumbuh perlahan di dalam hati Herawati.
Pagi itu, sebuah angkutan desa berhenti di dekat jalan utama. Dari dalam kendaraan, Herawati turun dengan membawa tas besar dan beberapa kardus berisi buku pelatihan.
Ia mengenakan pakaian sederhana. Wajahnya tampak lebih dewasa. Ada ketegasan baru dalam cara ia memandang sekitar, seolah kota telah mengajarkannya bahwa perjuangan pendidikan membutuhkan keberanian yang lebih besar daripada sekadar kesabaran.
Namun, ketika kakinya menginjak tanah Desa Suka Jaya, hatinya tidak sepenuhnya tenang.
Ia berharap Dedi datang menjemputnya.
Ia berharap melihat senyum yang selama ini ia rindukan.
Ia berharap mendengar kabar bahwa rumah belajar baik-baik saja.
Tetapi tidak ada siapa-siapa di sana.
Hanya beberapa orang yang lalu-lalang membawa hasil kebun.
Herawati menunggu beberapa saat.
Kemudian ia berjalan sendiri menuju rumahnya.
Di sepanjang jalan, ia mendengar bisikan-bisikan yang membuat langkahnya terasa semakin berat.
“Itu Herawati sudah pulang.”
“Kasihan juga, ya.”
“Dia belum tahu?”
“Entahlah. Tapi Dedi dan Susanti sekarang memang sering mengurus rumah belajar.”
Herawati tidak menoleh.
Ia berusaha menganggap semua itu hanya suara yang tidak perlu didengarkan.
Namun, kata-kata itu sudah lebih dulu masuk ke dalam pikirannya.
Sesampainya di rumah, ibunya memeluknya dengan erat.
“Kamu sudah pulang, Nak,” kata ibunya.
Herawati tersenyum kecil.
“Iya, Bu.”
Ibunya membantu membawa tas ke dalam rumah. Setelah itu, Herawati mengeluarkan buku-buku pelatihan dari kardus.
“Ini banyak sekali,” kata ibunya.
“Ada buku tentang cara mengajar anak-anak, cara membuat perpustakaan kecil, juga cara mengajak orang tua terlibat dalam pendidikan.”
Ibunya tersenyum bangga.
“Kamu pasti sudah belajar banyak.”
Herawati mengangguk.
“Semoga bisa berguna untuk rumah belajar.”
Ketika menyebut rumah belajar, wajah ibunya sedikit berubah.
Herawati memperhatikan hal itu.
“Ada apa, Bu?”
Ibunya tidak langsung menjawab.
“Tidak ada apa-apa.”
“Bu.”
Perempuan tua itu menghela napas.
“Kamu sudah bertemu Dedi?”
“Belum. Aku baru sampai.”
Ibunya duduk di dekat Herawati.
“Kalau kamu bertemu Dedi, jangan langsung percaya pada semua omongan orang.”
Herawati terdiam.
“Jadi memang ada sesuatu?” tanyanya.
Ibunya memegang tangan Herawati.
“Di desa ini, orang mudah sekali membuat cerita. Apalagi kalau melihat dua orang bekerja bersama.”
“Dedi dan Susanti?”
Ibunya menunduk.
“Banyak yang membicarakan mereka. Tapi Ibu tidak tahu mana yang benar.”
Kalimat itu membuat dada Herawati terasa sesak.
Ia ingin berkata bahwa Dedi tidak mungkin seperti itu.
Ia ingin berkata bahwa Susanti adalah sahabatnya.
Namun, surat yang diterimanya di kota kembali teringat.
Surat itu datang dari seseorang yang mengaku peduli.
Surat itu membuat keraguan tumbuh sedikit demi sedikit.
Siang itu, tanpa banyak bicara kepada ibunya, Herawati pergi menuju Rumah Belajar Ujung Desa.
Ia membawa beberapa buku pelatihan di dalam tas.
Jalan menuju tanah warisan Karsa terasa lebih panjang daripada biasanya.
Ketika sampai di sana, Herawati berhenti di bawah pohon beringin.
Anak-anak sedang belajar.
Mereka duduk melingkar di atas tikar.
Susanti berada di depan mereka, mengajari beberapa anak membaca kalimat pendek. Dedi duduk tidak jauh dari sana, memperbaiki papan tulis kecil yang mulai retak.
Anak-anak melihat Herawati lebih dulu.
“Kak Hera!” seru Lila.
Semua anak menoleh.
Herawati tersenyum tipis.
“Selamat siang.”
Anak-anak segera berlari menghampirinya.
Bima memeluk tas yang dibawa Herawati.
“Kak Hera pulang!”
“Iya,” jawab Herawati sambil mengusap kepala Bima.
Nisa yang biasanya pemalu juga mendekat.
“Kak Hera bawa buku?”
Herawati mengangguk.
“Bawa. Nanti kita baca bersama.”
Di tengah keramaian anak-anak, Dedi berdiri.
Wajahnya tampak lega ketika melihat Herawati.
“Hera,” katanya.
Herawati menatapnya.
“Dedi.”
Dedi berjalan mendekat.
“Aku tidak tahu kamu pulang hari ini. Suratmu belum sampai.”
Herawati mengangguk.
“Aku juga tidak sempat mengirim kabar. Pelatihan selesai lebih cepat.”
Dedi tersenyum.
“Aku senang kamu pulang.”
Namun, Herawati tidak membalas senyum itu sepenuhnya.
Ia menoleh ke arah Susanti.
Susanti berdiri dengan wajah canggung.
“Selamat pulang, Hera,” katanya.
“Terima kasih,” jawab Herawati singkat.
Suasana mendadak berubah.
Anak-anak yang semula ramai mulai diam.
Dedi menyadari ada sesuatu yang tidak biasa.
“Kamu sudah makan?” tanyanya, berusaha mencairkan suasana. “Kalau belum, nanti kita bisa ke rumahku. Ibu pasti senang kamu pulang.”
Herawati menggeleng.
“Aku hanya ingin melihat rumah belajar.”
Dedi memandangnya.
“Baik.”
Herawati berjalan perlahan mengelilingi halaman.
Ia melihat tikar-tikar yang mulai lusuh. Ia melihat terpal tua yang dipasang sebagai peneduh. Ia melihat papan tulis kecil yang sudah retak. Ia juga melihat beberapa catatan kegiatan yang ditulis Susanti.
Semua tampak sederhana.
Namun, rumah belajar itu tetap hidup.
Anak-anak masih belajar.
Warga masih datang membawa bantuan kecil.
Pohon beringin masih menjadi atap bagi mimpi-mimpi mereka.
Herawati seharusnya merasa bahagia.
Tetapi ketika melihat Dedi dan Susanti berdiri tidak jauh satu sama lain, hatinya kembali dipenuhi pertanyaan.
“Susanti sering membantu di sini?” tanya Herawati.
Dedi mengangguk.
“Iya. Dia banyak membantu sejak kamu pergi.”
“Setiap hari?”
Dedi terdiam sejenak.
“Tidak setiap hari. Tapi cukup sering. Karena kelas tetap harus berjalan.”
Herawati menatap Susanti.
“Dan kamu tidak punya kegiatan lain?”
Susanti tampak terkejut.
“Aku membantu karena anak-anak membutuhkan pengajar.”
“Anak-anak atau Dedi?” tanya Herawati.
Dedi segera menoleh kepada Herawati.
“Hera.”
Namun, Herawati tidak mengalihkan pandangan.
Susanti menunduk.
“Aku tidak pernah berniat membuatmu merasa tidak nyaman.”
“Orang-orang di desa membicarakan kalian.”
“Orang-orang di desa juga membicarakan apa saja,” jawab Susanti pelan. “Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Herawati tertawa kecil, tetapi terdengar getir.
“Jadi memang ada sesuatu yang harus dijelaskan?”
Dedi menarik napas.
“Hera, tidak ada apa-apa antara aku dan Susanti.”
“Lalu kenapa kamu tidak menulis tentang semua ini?”
Pertanyaan itu membuat Dedi terdiam.
“Aku tidak ingin kamu terganggu selama pelatihan.”
“Atau kamu tidak ingin aku tahu?”
Dedi menatapnya dengan wajah terluka.
“Aku tidak pernah berniat menyembunyikan apa pun.”
“Kalau begitu, kenapa suratmu semakin pendek? Kenapa kamu hanya menulis tentang tanah dan anak-anak? Kenapa kamu tidak mengatakan bahwa Susanti selalu ada di sini bersamamu?”
Dedi menghela napas.
“Aku tidak menyangka hal seperti itu akan menjadi masalah.”
Herawati mengangguk pelan.
“Karena kamu tidak berada di posisiku.”
Dedi terdiam.
Herawati melanjutkan, “Aku pergi ke kota dengan perasaan berat. Aku percaya kamu. Aku percaya Susanti. Tapi ketika aku menerima surat-surat dari desa dan mendengar orang-orang bicara, aku mulai merasa seperti orang asing dalam perjuangan yang dulu kita mulai bersama.”
Kata-kata itu membuat wajah Dedi berubah.
Ia ingin menjelaskan bahwa ia justru menunggu kepulangan Herawati setiap hari.
Ia ingin mengatakan bahwa rumah belajar terasa tidak lengkap tanpa dirinya.
Namun, ia juga tahu bahwa kepercayaan yang terluka tidak dapat dipulihkan hanya dengan satu kalimat.
Susanti mengambil langkah mundur.
“Aku sebaiknya pulang,” katanya.
Dedi menoleh.
“Sus.”
Susanti menggeleng.
“Tidak apa-apa. Kalian perlu bicara.”
Herawati tidak menahan Susanti.
Perempuan itu lalu berjalan pergi dengan langkah pelan. Anak-anak memandangnya dengan bingung.
Nisa berlari kecil mendekati Susanti.
“Kak Susanti besok datang lagi?”
Susanti berhenti.
Ia menatap anak itu dan tersenyum lemah.
“Entahlah, Nisa.”
Jawaban itu membuat hati Dedi terasa berat.
Setelah Susanti pergi, suasana di bawah pohon beringin menjadi semakin sunyi.
Dedi memandangi Herawati.
“Aku tahu kamu kecewa.”
“Bukan hanya kecewa,” kata Herawati. “Aku terluka.”
“Aku juga terluka, Hera.”
Herawati menatapnya.
“Karena aku tidak langsung percaya?”
“Karena kamu lebih percaya pada kabar dari orang-orang daripada pada aku.”
Herawati terdiam.
Kalimat itu terasa seperti tamparan.
Namun, ia tidak dapat menyangkalnya.
Jarak telah membuatnya mudah meragukan.
Fitnah telah membuatnya melihat sahabatnya sendiri sebagai ancaman.
Dan rasa takut telah membuatnya pulang dengan hati yang tertutup.
“Aku butuh waktu,” kata Herawati akhirnya.
Dedi mengangguk pelan.
“Baik.”
“Aku tidak bisa langsung berpura-pura semuanya baik-baik saja.”
“Aku tidak meminta kamu berpura-pura.”
Herawati menggenggam tasnya.
“Aku akan pulang.”
Dedi tidak menahan.
Ia hanya berdiri diam ketika Herawati berjalan meninggalkan pohon beringin.
Anak-anak kembali duduk di tikar, tetapi tidak ada yang langsung melanjutkan pelajaran.
Bima memandang Dedi.
“Kak Dedi, Kak Hera marah?”
Dedi tersenyum tipis, meski hatinya terasa sesak.
“Kadang orang yang saling sayang juga bisa salah paham.”
“Terus nanti baikan?”
Dedi menatap jalan tempat Herawati pergi.
“Aku harap begitu.”
Sore itu, angin bertiup lebih kencang dari biasanya.
Daun-daun beringin jatuh satu per satu di atas tikar.
Dedi memungut sebuah buku pelatihan yang tertinggal di bawah pohon.
Di halaman pertama, Herawati menulis:
Pendidikan adalah jalan untuk membuat manusia tidak mudah menyerah.
Dedi membaca kalimat itu lama.
Ia sadar bahwa perjuangan mereka bukan hanya tentang tanah, rumah belajar, atau melawan Leman dan Burhan.
Perjuangan itu juga tentang menjaga kepercayaan.
Dan ketika kepercayaan mulai retak, bahkan cinta yang paling tulus pun dapat terasa dingin.
BAB XLIV
Rahasia Surat Susanti
Malam setelah Herawati pulang dari Rumah Belajar Ujung Desa, hujan turun perlahan di Desa Suka Jaya.
Bunyi air hujan memukul atap rumah seperti langkah-langkah kecil yang tidak berhenti. Di dalam kamar, Herawati duduk di tepi tempat tidur sambil memandangi buku pelatihan yang dibawanya dari kota.
Buku itu seharusnya membuatnya bersemangat.
Di dalamnya terdapat banyak catatan tentang pendidikan anak, metode belajar yang menyenangkan, serta cara membangun kelas sederhana di desa. Semua ilmu itu ingin segera ia terapkan di bawah pohon beringin.
Namun, malam itu, Herawati tidak mampu membuka satu halaman pun.
Pikirannya masih tertinggal di rumah belajar.
Di wajah Dedi yang tampak terluka.
Di sikap Susanti yang memilih pergi tanpa membela diri.
Dan pada pertanyaan yang terus berputar di dalam kepalanya.
Apakah benar tidak ada apa-apa antara Dedi dan Susanti?
Herawati tahu bahwa dirinya tidak seharusnya mudah percaya pada gosip. Ia tahu Ratna sering menebar cerita untuk memecah orang lain. Namun, luka yang tumbuh karena jarak tidak selalu dapat dihapus hanya dengan akal sehat.
Ia membuka tasnya.
Di antara buku-buku pelatihan, ada sebuah buku catatan lama yang tanpa sengaja terbawa dari rumah belajar. Sampulnya sudah kusam. Di bagian depan tertulis nama Susanti dengan tinta biru yang mulai pudar.
Herawati mengingat buku itu.
Susanti sering membawanya ke rumah belajar untuk mencatat daftar anak-anak, kebutuhan buku, dan rencana kegiatan. Mungkin buku itu tertinggal di bawah pohon beringin ketika Susanti pergi sore tadi.
Herawati berniat mengembalikannya besok.
Namun, ketika ia hendak menutup kembali tas, sebuah lipatan kertas jatuh dari sela halaman buku catatan itu.
Kertas itu sudah lama.
Warnanya kekuningan.
Lipatan-lipatannya tampak rapuh.
Herawati memungutnya perlahan.
Di bagian luar tidak tertulis nama siapa pun.
Namun, ketika ia membuka kertas itu, jantungnya berdegup lebih cepat.
Tulisan tangan Susanti memenuhi halaman tersebut.
“Dedi,
Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai menyimpan perasaan ini. Mungkin sejak kita masih kecil dan kamu selalu membelaku ketika anak-anak lain mengejekku. Mungkin sejak kamu berkata bahwa aku juga berhak sekolah, meski aku perempuan dan keluargaku tidak punya banyak uang.
Aku tahu Herawati lebih dekat denganmu. Aku tahu dia lebih berani, lebih baik, dan lebih pantas berada di sisimu. Karena itu, surat ini mungkin tidak akan pernah sampai kepadamu. Aku hanya ingin menyimpan apa yang tidak mampu kuucapkan.”
Herawati berhenti membaca.
Tangannya gemetar.
Dada yang sejak tadi terasa sesak kini seperti dihantam sesuatu yang lebih berat.
Ia melanjutkan membaca.
“Kalau suatu hari kamu bahagia dengan Herawati, aku akan belajar menerima. Aku tidak ingin menjadi alasan kalian terluka. Aku hanya ingin tetap berada di dekat kalian sebagai sahabat, meski mungkin hatiku tidak selalu kuat.”
Surat itu tidak panjang.
Namun, setiap kalimatnya terasa seperti membuka pintu menuju ketakutan yang selama ini berusaha Herawati tutup rapat.
Jadi, Susanti memang pernah mencintai Dedi.
Herawati memejamkan mata.
Ia tidak tahu kapan surat itu ditulis. Mungkin bertahun-tahun lalu. Mungkin sebelum ia dan Dedi benar-benar saling menyatakan perasaan. Mungkin juga ketika mereka masih sama-sama remaja yang belum mengerti arah hidup masing-masing.
Tetapi bagi Herawati, waktu tidak langsung menghapus arti surat itu.
Ia kembali teringat pada Susanti yang selalu ada di rumah belajar.
Susanti yang membantu Dedi ketika ia pergi.
Susanti yang menenangkan Dedi ketika rumah belajar terbakar.
Susanti yang memilih menjaga jarak setelah fitnah mulai menyebar.
Herawati ingin percaya bahwa semua itu hanya bentuk persahabatan.
Namun, surat di tangannya membuat kepercayaannya kembali goyah.
Keesokan paginya, Herawati pergi ke rumah Susanti.
Matahari baru naik ketika ia tiba. Susanti sedang menyapu halaman rumah. Rambutnya diikat sederhana. Wajahnya tampak lelah, seolah malam sebelumnya ia juga tidak tidur dengan tenang.
Ketika melihat Herawati datang, Susanti menghentikan sapunya.
“Hera,” katanya pelan.
Herawati tidak langsung menjawab.
Ia mengeluarkan buku catatan dan surat dari dalam tas.
Wajah Susanti seketika berubah pucat.
“Kamu menemukan itu?” tanyanya.
Herawati mengangguk.
“Kenapa kamu tidak pernah mengatakan bahwa kamu mencintai Dedi?”
Susanti menunduk.
Beberapa saat, hanya terdengar suara ayam dari belakang rumah.
“Aku tidak pernah berniat mengatakan itu,” jawab Susanti akhirnya.
“Kenapa?”
“Karena itu bukan sesuatu yang harus aku perjuangkan.”
Herawati menatapnya.
“Maksudmu?”
Susanti menarik napas panjang.
“Surat itu kutulis ketika kita masih muda. Saat itu aku belum memahami banyak hal. Aku hanya tahu bahwa Dedi selalu baik kepadaku. Ia selalu membelaku. Ia selalu menganggap aku mampu ketika orang lain menganggap perempuan tidak perlu sekolah tinggi.”
Herawati masih diam.
Susanti melanjutkan, “Tapi aku juga tahu bahwa Dedi mencintaimu. Aku melihatnya sejak lama. Cara dia memandangmu berbeda. Cara dia menunggu kabarmu berbeda. Dan ketika kalian mulai bersama, aku memilih menyimpan perasaanku sendiri.”
“Kenapa tetap membantu Dedi ketika aku pergi?”
Pertanyaan itu keluar lebih tajam daripada yang Herawati inginkan.
Susanti tampak terluka.
“Aku membantu rumah belajar, Hera. Bukan membantu Dedi sebagai laki-laki yang aku cintai.”
Herawati menggenggam surat itu.
“Orang-orang melihat kalian bersama.”
“Karena rumah belajar sedang dalam masalah. Karena kamu pergi mengikuti pelatihan. Karena anak-anak tidak boleh berhenti belajar hanya karena kita sedang menghadapi fitnah.”
Herawati menunduk.
Susanti berjalan mendekat, tetapi tetap menjaga jarak.
“Aku tidak pernah mengirim surat itu,” katanya. “Aku tidak pernah menyerahkannya kepada Dedi. Aku tidak pernah meminta dia memilihku. Aku tidak pernah ingin mengambil tempatmu.”
Herawati memandangi wajah sahabatnya.
Di mata Susanti, ada air mata yang selama ini mungkin disembunyikan terlalu lama.
“Aku memang pernah mencintainya,” kata Susanti pelan. “Tapi mencintai seseorang tidak selalu berarti harus memilikinya.”
Kalimat itu membuat Herawati terdiam.
Ia mulai melihat sesuatu yang selama ini tidak ia pahami.
Susanti tidak pernah memusuhi dirinya.
Tidak pernah mencoba merebut Dedi.
Tidak pernah menggunakan perasaannya untuk menghancurkan hubungan mereka.
Justru Susanti selama ini sering menjadi penengah ketika Dedi dan Herawati bertengkar. Ia tetap datang membantu rumah belajar, meski tahu dirinya bisa menjadi bahan gunjingan. Ia bahkan memilih menjaga jarak agar Herawati tidak semakin terluka.
Namun, rasa cemburu membuat Herawati sulit segera menghapus semua keraguan.
“Aku butuh waktu untuk memahami semuanya,” katanya akhirnya.
Susanti mengangguk.
“Aku mengerti.”
Herawati menyerahkan surat itu.
“Ini milikmu.”
Susanti menerima surat tersebut dengan tangan gemetar.
Ia tidak langsung menyimpannya.
Ia menatap kertas itu cukup lama, seolah sedang melihat masa lalu yang ingin ia lepaskan.
“Aku seharusnya membakarnya sejak dulu,” katanya.
“Tidak,” jawab Herawati pelan. “Itu bagian dari hatimu.”
Susanti tersenyum tipis.
“Kadang bagian dari hati justru harus disimpan jauh agar tidak melukai orang lain.”
Herawati tidak menjawab.
Ia lalu berpamitan dan berjalan pulang.
Di tengah jalan, ia melihat Ratna berdiri di dekat warung. Perempuan itu sedang berbicara dengan beberapa warga. Ketika melihat Herawati, Ratna tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.
“Hera,” sapa Ratna. “Kamu sudah pulang dari kota? Bagaimana pelatihannya?”
“Baik,” jawab Herawati singkat.
Ratna memandang tas yang dibawa Herawati.
“Kamu pasti senang melihat rumah belajar tetap berjalan. Dedi dan Susanti memang sangat rajin mengurusnya.”
Nada suaranya terdengar biasa.
Namun, Herawati kini mulai mengenali maksud di balik kata-kata itu.
“Kamu sepertinya sangat tahu apa yang dilakukan orang lain,” kata Herawati.
Ratna tersenyum kecil.
“Aku hanya mendengar cerita warga.”
“Kadang cerita warga menjadi besar karena ada orang yang sengaja meniupkannya.”
Senyum Ratna sedikit memudar.
Namun, ia segera mengalihkan pembicaraan.
“Aku hanya tidak ingin kamu kecewa.”
Herawati menatapnya dengan tenang.
“Kalau kamu benar-benar tidak ingin aku kecewa, jangan lagi menambah luka dengan cerita yang belum tentu benar.”
Ratna terdiam.
Herawati lalu melanjutkan langkahnya.
Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi merasa sepenuhnya yakin bahwa semua yang ia dengar tentang Dedi dan Susanti adalah kenyataan.
Namun, hubungan mereka belum pulih.
Luka tidak hilang hanya karena sebuah penjelasan.
Di rumah belajar, Dedi masih mengajar dengan wajah yang lebih diam dari biasanya.
Ia tidak tahu bahwa Herawati telah menemukan surat lama Susanti.
Ia juga tidak tahu bahwa sahabat mereka sedang menghadapi pilihan yang lebih berat daripada sekadar menahan perasaan.
Sore hari, Susanti duduk sendiri di kamar.
Surat lama itu berada di tangannya.
Ia membaca kembali kalimat-kalimat yang pernah ditulisnya dengan hati muda yang penuh harap.
Kemudian, ia melipat surat itu perlahan.
Ia memasukkannya ke dalam sebuah amplop kosong.
Di bagian depan amplop, ia menulis satu kalimat:
Untuk perasaan yang harus belajar pulang.
Malam itu, Susanti membuat keputusan.
Ia tidak ingin lagi menjadi alasan bagi retaknya hubungan Dedi dan Herawati.
Ia juga tidak ingin rumah belajar menjadi tempat yang dipenuhi kecurigaan.
Karena itu, ia memutuskan untuk pergi.
Bukan karena ia kalah.
Bukan karena ia tidak lagi peduli.
Tetapi karena ia ingin memberi ruang bagi dua sahabatnya untuk menemukan kembali kepercayaan yang hampir hilang.
BAB XLV
Pilihan yang Menyakitkan
Pagi itu, langit Desa Suka Jaya tampak kelabu.
Awan menggantung rendah di atas kebun-kebun warga. Angin membawa aroma tanah basah, meski hujan belum turun. Di bawah pohon beringin, anak-anak mulai berdatangan seperti biasa.
Bima membawa buku tulis yang sampulnya sudah hampir lepas.
Lila membawa pensil pendek yang ia simpan di dalam kain kecil.
Nisa datang sambil menggenggam tangan ayahnya, Jaka. Sejak beberapa hari terakhir, Jaka mulai berani mengantar anaknya ke rumah belajar, meski ia masih selalu menoleh ke kanan dan kiri dengan wajah waspada.
Namun, pagi itu ada satu hal yang berbeda.
Susanti belum datang.
Biasanya, ia sudah berada di bawah pohon sebelum anak-anak berkumpul. Ia menata tikar, menyiapkan papan berhitung, lalu menyapa setiap anak dengan senyum hangat.
Dedi menunggu cukup lama.
Ketika matahari mulai naik, ia akhirnya membuka kelas sendiri.
“Baik, anak-anak,” katanya sambil berdiri di depan papan kecil. “Hari ini kita belajar berhitung.”
Bima mengangkat tangan.
“Kak Susanti tidak datang?”
Dedi tersenyum tipis.
“Mungkin ada urusan di rumah.”
Namun, di dalam hati, Dedi merasa ada sesuatu yang tidak biasa.
Susanti bukan orang yang mudah meninggalkan rumah belajar tanpa memberi kabar. Bahkan ketika sakit, ia selalu mengirim pesan melalui anak-anak atau warga yang lewat.
Setelah kelas selesai, Dedi pergi ke rumah Susanti.
Ia berjalan melewati jalan kecil yang diapit kebun singkong. Di beberapa tempat, lumpur masih menempel di tanah akibat hujan malam sebelumnya.
Ketika tiba di rumah Susanti, Dedi melihat halaman yang biasanya bersih kini tampak sepi.
Pintu rumah terbuka.
Susanti duduk di beranda sambil memegang sebuah tas kain.
Di sampingnya terdapat beberapa buku, pakaian sederhana, dan sebuah kotak kecil yang sudah diikat dengan tali.
Dedi berhenti di depan pagar bambu.
“Kamu mau pergi?” tanyanya.
Susanti mengangkat wajah.
Matanya tampak sembap, tetapi ia berusaha tersenyum.
“Aku mendapat tawaran mengajar di Desa Harapan Jaya.”
Dedi terdiam.
“Desa Harapan Jaya?”
Susanti mengangguk.
“Desanya cukup jauh dari sini. Aku akan membantu kelas baca tulis di sana. Mereka kekurangan pengajar.”
“Kapan kamu mendapat tawaran itu?”
“Beberapa hari lalu.”
“Kenapa kamu tidak bilang?”
Susanti menunduk.
“Aku baru memutuskan pagi ini.”
Dedi melangkah mendekat.
“Karena Herawati?”
Susanti tidak langsung menjawab.
Ia memandangi tas kain di sampingnya.
“Bukan hanya karena Hera.”
“Lalu karena apa?”
Susanti menarik napas panjang.
“Karena aku merasa kehadiranku di sini mulai membuat banyak hal semakin rumit.”
Dedi menggeleng.
“Kamu tidak membuat semuanya rumit. Kamu membantu rumah belajar ketika kami semua hampir menyerah.”
“Aku tahu,” kata Susanti pelan. “Tapi orang-orang tidak melihatnya seperti itu.”
“Orang-orang bisa bicara apa saja.”
“Dan kata-kata mereka sudah melukai Hera.”
Dedi terdiam.
Susanti melanjutkan, “Aku tidak ingin rumah belajar menjadi tempat yang membuat kalian saling curiga. Aku tidak ingin anak-anak melihat orang dewasa yang seharusnya memberi contoh justru saling terluka karena fitnah.”
“Kamu tidak harus pergi hanya karena fitnah.”
Susanti tersenyum kecil.
“Bukan hanya karena fitnah, Ded.”
Dedi menatapnya.
Susanti membuka kotak kecil di sampingnya. Dari dalamnya, ia mengeluarkan amplop tua yang telah ia simpan bertahun-tahun.
Amplop itu bertuliskan:
Untuk perasaan yang harus belajar pulang.
Dedi mengenali tulisan tangan Susanti.
“Apa itu?” tanyanya.
“Surat lama,” jawab Susanti.
Dedi tidak mengambilnya.
Susanti menatap amplop tersebut cukup lama sebelum berkata, “Aku pernah menulis surat untukmu. Tapi tidak pernah kukirim.”
Dedi terdiam.
“Aku menulisnya ketika kita masih muda,” lanjut Susanti. “Saat aku belum memahami bahwa perasaan tidak selalu harus diikuti.”
Dedi perlahan duduk di kursi kayu di dekat beranda.
Susanti menunduk.
“Aku pernah menyimpan rasa kepadamu. Tapi itu sudah lama. Aku tidak pernah ingin merusak hubunganmu dengan Herawati.”
Dedi memandang sahabatnya dengan wajah penuh penyesalan.
“Kenapa kamu menyimpannya sendiri selama ini?”
“Karena itu pilihanku.”
“Sus…”
“Dedi,” potong Susanti pelan, “jangan merasa bersalah. Kamu tidak pernah memberiku harapan yang salah. Kamu selalu memperlakukanku sebagai sahabat. Aku yang harus belajar menerima bahwa tidak semua rasa harus menjadi milik.”
Dedi tidak menemukan kata-kata untuk menjawab.
Ia teringat banyak hal.
Susanti yang selalu hadir ketika ia kesulitan.
Susanti yang membantu Herawati mengajar anak-anak.
Susanti yang menjadi penengah ketika hubungan mereka retak.
Susanti yang tetap datang meski menjadi bahan gunjingan.
Dedi baru menyadari bahwa selama ini Susanti memikul beban yang tidak pernah ia ceritakan.
“Kamu akan benar-benar pergi?” tanya Dedi.
Susanti mengangguk.
“Aku ingin mencoba hidup dengan tujuan yang baru.”
“Rumah belajar membutuhkanmu.”
“Rumah belajar tidak boleh bergantung pada satu orang.”
Kalimat itu membuat Dedi terdiam.
Susanti melanjutkan, “Kamu pernah berkata bahwa rumah belajar harus menjadi milik semua warga. Kalau aku pergi dan rumah belajar berhenti, berarti kita belum benar-benar membangunnya sebagai milik bersama.”
Dedi menunduk.
“Kamu benar.”
“Dan mungkin,” kata Susanti dengan suara lirih, “aku juga perlu belajar bahwa aku bisa berguna di tempat lain tanpa harus selalu berada di dekatmu.”
Hening kembali menyelimuti beranda rumah itu.
Angin bergerak pelan, menggoyangkan daun-daun pisang di belakang rumah.
Dedi memandang tas Susanti.
Ia ingin meminta sahabatnya membatalkan keputusan itu.
Ia ingin berkata bahwa semuanya akan membaik.
Namun, ia tahu Susanti tidak pergi karena ingin lari.
Ia pergi karena ingin menyelamatkan dirinya, menyelamatkan persahabatan mereka, dan memberi ruang agar Herawati serta Dedi dapat memperbaiki kepercayaan yang retak.
“Kalau itu keputusanmu,” kata Dedi akhirnya, “aku tidak akan menahanmu.”
Susanti mengangkat wajah.
“Tapi aku akan merindukanmu sebagai sahabat,” lanjut Dedi. “Dan rumah belajar akan selalu terbuka untukmu.”
Susanti tersenyum.
“Terima kasih.”
Tidak lama kemudian, Herawati datang.
Ia berjalan perlahan menuju rumah Susanti setelah mendengar kabar dari Lila bahwa Susanti tidak datang mengajar. Ketika melihat tas dan kotak di beranda, Herawati langsung memahami bahwa Susanti benar-benar akan pergi.
“Hera,” kata Susanti.
Herawati berdiri beberapa langkah dari beranda.
Wajahnya tampak penuh penyesalan.
“Aku dengar kamu akan mengajar di desa lain.”
Susanti mengangguk.
“Iya.”
“Karena aku?”
Susanti terdiam.
Herawati melanjutkan, “Kalau karena aku, aku minta maaf.”
Susanti menatap sahabatnya.
“Kamu tidak perlu meminta maaf atas perasaanmu. Kamu hanya sedang terluka.”
“Tapi aku membuatmu merasa tidak diterima.”
“Tidak,” jawab Susanti. “Kamu membuatku sadar bahwa aku harus jujur pada diriku sendiri.”
Herawati mendekat.
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Aku menemukan suratmu.”
“Aku tahu.”
“Aku marah. Aku cemburu. Aku takut kehilangan Dedi. Tapi setelah aku memikirkannya, aku juga malu. Kamu selama ini membantu kami, sementara aku justru melihatmu sebagai ancaman.”
Susanti tersenyum lemah.
“Kita semua pernah salah melihat keadaan.”
Herawati menggenggam tangan Susanti.
“Jangan pergi karena merasa kamu tidak punya tempat di sini.”
Susanti memandang tangan sahabatnya.
“Aku tidak pergi karena tidak punya tempat. Aku pergi karena aku ingin menemukan tempatku sendiri.”
Kalimat itu membuat Herawati menangis.
Susanti memeluknya.
Mereka berdiri cukup lama dalam pelukan itu.
Dedi memandangi keduanya dengan hati yang berat.
Ia tahu bahwa perpisahan ini bukan akhir dari persahabatan.
Namun, ia juga tahu bahwa tidak semua orang dapat terus berjalan di jalan yang sama, meski tujuan mereka tetap baik.
Menjelang siang, sebuah kendaraan angkutan berhenti di jalan depan rumah Susanti.
Beberapa warga datang untuk mengantar.
Pak Warto membawa bungkusan makanan.
Jaka datang bersama Nisa. Anak kecil itu memeluk Susanti erat-erat.
“Kak Susanti jangan lama-lama,” kata Nisa.
Susanti mengusap kepala Nisa.
“Aku akan pulang kalau ada kesempatan.”
Bima dan Lila juga datang membawa gambar yang mereka buat.
Di gambar itu, terlihat pohon beringin, anak-anak belajar, dan tiga orang berdiri di depan papan tulis.
Dedi, Herawati, dan Susanti.
Di bagian bawah gambar, Bima menulis dengan huruf besar:
JANGAN LUPA KAMI.
Susanti menahan air mata ketika membaca tulisan itu.
“Aku tidak akan lupa,” katanya.
Sebelum naik ke kendaraan, Susanti menyerahkan sebuah buku catatan kepada Dedi.
“Ini daftar anak-anak, kebutuhan rumah belajar, dan beberapa rencana kegiatan yang sudah kususun.”
Dedi menerimanya.
“Kamu sudah memikirkan semuanya.”
Susanti tersenyum.
“Rumah belajar harus tetap hidup.”
Kemudian ia menyerahkan sebuah buku pelatihan kepada Herawati.
“Aku menyalin beberapa bagian yang mungkin berguna untuk kelas perempuan dan ibu-ibu.”
Herawati menerimanya dengan tangan gemetar.
“Terima kasih.”
Susanti naik ke kendaraan.
Ketika angkutan itu mulai bergerak, anak-anak melambaikan tangan.
Herawati berdiri di samping Dedi.
Tidak ada kata-kata yang mereka ucapkan.
Mereka hanya memandangi kendaraan itu hingga hilang di tikungan jalan.
Setelah Susanti pergi, suasana Desa Suka Jaya terasa lebih sunyi.
Di bawah pohon beringin, ada satu tikar yang kosong.
Ada satu papan berhitung yang tidak lagi digunakan.
Ada satu suara lembut yang tidak lagi terdengar memanggil nama anak-anak satu per satu.
Namun, kepergian Susanti meninggalkan sesuatu yang lebih besar daripada kesedihan.
Ia meninggalkan pelajaran bahwa cinta tidak selalu berarti menggenggam.
Kadang, cinta justru berarti memberi ruang agar orang lain dapat hidup dengan tenang.
Dan di sisi lain desa, Ratna yang mendengar kepergian Susanti mulai merasa bahwa permainan yang ia jalankan telah membawa luka terlalu jauh.
Ia belum berani mengakuinya.
Namun, untuk pertama kalinya, ia mulai bertanya pada dirinya sendiri:
Apakah semua fitnah itu benar-benar sepadan dengan kepuasan yang selama ini ia cari?
BAB XLVI
Ratna Mulai Menyesal
Sejak Susanti pergi ke Desa Harapan Jaya, suasana di Desa Suka Jaya terasa berubah.
Di bawah pohon beringin, kelas tetap berlangsung. Dedi dan Herawati berusaha menjalankan kegiatan rumah belajar seperti biasa. Anak-anak masih datang membawa buku, pensil, dan harapan kecil mereka.
Namun, ada kekosongan yang tidak mudah diisi.
Tikar tempat Susanti biasa duduk kini selalu kosong.
Papan berhitung yang dahulu sering digunakannya masih bersandar di batang pohon. Di beberapa bagian, angka-angka yang ditulis dengan kapur mulai memudar terkena angin dan hujan.
Nisa beberapa kali bertanya kapan Kak Susanti akan kembali.
Bima sering menoleh ke arah jalan, seolah berharap melihat Susanti datang membawa buku-buku baru.
Herawati berusaha mengajar dengan lebih sungguh-sungguh. Ia menerapkan ilmu yang didapat dari pelatihan guru di kota. Ia mengajak anak-anak bernyanyi sebelum belajar, membuat permainan kata, dan meminta mereka bercerita tentang cita-cita.
Dedi membantu menyiapkan papan tulis kecil serta mencatat kebutuhan rumah belajar.
Mereka mulai kembali bekerja bersama.
Namun, hubungan mereka belum sepenuhnya pulih.
Ada saat-saat ketika Herawati masih terdiam terlalu lama. Ada saat-saat ketika Dedi ingin berbicara, tetapi tidak tahu harus memulai dari mana. Luka akibat fitnah memang perlahan mereda, tetapi belum benar-benar hilang.
Sore itu, hujan turun deras ketika kelas hampir selesai.
Anak-anak berlari ke bawah terpal yang dipasang di antara pohon beringin dan tiang bambu. Herawati membantu mereka mengumpulkan buku agar tidak basah. Dedi berusaha menahan terpal yang hampir roboh diterpa angin.
Di pinggir jalan, Ratna berdiri di bawah payung kecil.
Ia sebenarnya sedang dalam perjalanan pulang dari rumah bibinya. Namun, hujan membuatnya berhenti di dekat tanah warisan Karsa.
Dari tempatnya berdiri, Ratna melihat anak-anak yang tetap bertahan di bawah terpal.
Ia melihat Bima memeluk bukunya agar tidak terkena air.
Ia melihat Lila membantu Nisa menutupi kepala dengan tas sekolah.
Ia melihat Herawati yang bajunya mulai basah, tetapi tetap tersenyum ketika mengajak anak-anak menyanyikan lagu agar mereka tidak takut pada suara petir.
Dan ia melihat Dedi yang berusaha mengikat terpal sambil terkena hujan.
Tidak ada kemewahan di tempat itu.
Tidak ada keuntungan.
Tidak ada pujian.
Hanya orang-orang yang berusaha menjaga anak-anak agar tetap dapat belajar.
Ratna menatap semua itu cukup lama.
Di dalam dadanya, sesuatu yang selama ini ia tekan mulai bergerak.
Ia teringat pada kata-kata yang pernah ia sebarkan di warung.
Ia teringat bagaimana ia sengaja membuat Herawati ragu kepada Dedi.
Ia teringat wajah Susanti ketika memilih pergi dari desa.
Saat itu, Ratna merasa puas.
Ia merasa berhasil membuat orang-orang yang selama ini dianggap lebih baik darinya menjadi terluka.
Namun, kini ia melihat akibatnya.
Susanti pergi.
Herawati menangis.
Dedi menjadi lebih diam.
Anak-anak kehilangan salah satu guru yang paling mereka sayangi.
Ratna menunduk.
Hujan terus turun.
Tiba-tiba, sebuah suara kecil terdengar dari dekatnya.
“Kak Ratna?”
Ratna menoleh.
Nisa berdiri beberapa langkah dari sana. Anak kecil itu keluar dari bawah terpal sambil membawa buku yang sudah dibungkus plastik.
“Kamu kehujanan,” kata Nisa.
Ratna tersenyum tipis.
“Iya.”
“Masuk saja ke sini,” kata Nisa polos. “Kak Hera bilang siapa pun boleh berteduh.”
Ratna terdiam.
Siapa pun boleh berteduh.
Kalimat sederhana itu terasa seperti menekan hatinya.
Padahal, ia datang membawa begitu banyak keburukan bagi orang-orang di tempat itu.
Ia telah menebar fitnah.
Ia telah membuat persahabatan retak.
Ia telah menjadi bagian dari permainan Leman yang menakut-nakuti warga.
Namun, seorang anak kecil masih menawarkan tempat berteduh kepadanya.
Ratna berjalan perlahan menuju bawah terpal.
Herawati melihatnya datang.
Wajah Herawati sempat berubah tegang, tetapi ia tidak berkata apa-apa.
Dedi hanya menoleh sebentar, lalu kembali mengikat tali terpal.
Ratna berdiri di antara anak-anak dengan canggung.
Bima memandangnya.
“Kak Ratna mau belajar juga?”
Beberapa anak tertawa kecil.
Ratna menunduk.
“Tidak. Kakak cuma berteduh.”
“Kalau mau belajar, boleh,” kata Bima. “Kak Dedi bilang belajar tidak ada batas umur.”
Kalimat itu membuat Ratna tersenyum kecil.
Namun, senyum itu segera berubah menjadi rasa sesak di dada.
Ia tidak pernah benar-benar memahami arti rumah belajar itu.
Selama ini, ia melihatnya hanya sebagai tempat Dedi mendapatkan perhatian warga. Ia melihat Herawati sebagai perempuan yang selalu dipuji karena kepeduliannya. Ia melihat Susanti sebagai seseorang yang terlalu baik hingga membuat dirinya merasa kecil.
Kini, Ratna mulai melihat rumah belajar dengan cara yang berbeda.
Tempat itu bukan tentang siapa yang paling dipuji.
Bukan tentang siapa yang paling berpengaruh.
Tempat itu adalah ruang kecil yang memberi anak-anak kesempatan untuk memiliki masa depan yang lebih baik.
Setelah hujan mulai reda, Ratna pulang dengan langkah pelan.
Di rumahnya, ia duduk di depan cermin.
Wajahnya tampak lelah.
Ia teringat masa kecilnya sendiri.
Dahulu, ia juga ingin sekolah lebih tinggi. Ia pernah ingin menjadi guru. Namun, ayahnya memilih menikahkannya muda dengan seorang lelaki dari desa lain. Pernikahan itu tidak bertahan lama. Setelah kembali ke Desa Suka Jaya, Ratna hidup dengan perasaan malu dan marah.
Ia sering merasa semua orang memandangnya rendah.
Ketika melihat Herawati dan Susanti memiliki kesempatan belajar, Ratna merasa iri.
Ketika melihat Dedi dihormati warga, Ratna merasa tersisih.
Rasa iri itu perlahan berubah menjadi kebencian.
Dan kebencian membuatnya mudah diperalat oleh Leman.
Malam itu, Leman datang ke rumah Ratna.
Ia duduk di ruang depan tanpa banyak basa-basi.
“Kamu sudah dengar Susanti pergi?” tanyanya.
Ratna mengangguk.
“Sudah.”
“Bagus. Berarti urusan itu selesai.”
Ratna menatap Leman.
“Tidak ada yang selesai.”
Leman mengerutkan dahi.
“Maksudmu?”
“Susanti pergi karena fitnah yang kita buat.”
Leman tersenyum dingin.
“Jangan mulai merasa bersalah. Dia pergi karena pilihannya sendiri.”
“Pilihan yang dibuat karena kita menekan keadaan.”
Leman menatap Ratna lebih tajam.
“Kamu mulai berubah?”
Ratna tidak menjawab.
Leman melanjutkan, “Kamu harus ingat, Ratna. Kalau Dedi semakin kuat, dia akan membuat orang-orang seperti kita tidak punya tempat. Dia akan membuka semua urusan tanah, dana bantuan, dan kebijakan desa.”
“Kalau memang urusan itu benar, kenapa harus takut dibuka?” tanya Ratna.
Pertanyaan itu membuat Leman terdiam sesaat.
Wajahnya kemudian mengeras.
“Kamu terlalu banyak mendengar omongan Dedi.”
Ratna menatapnya.
“Tidak. Aku hanya mulai melihat akibat dari apa yang kita lakukan.”
Leman berdiri.
“Kamu tidak perlu melihat terlalu jauh. Tugasmu hanya diam dan lakukan apa yang diminta.”
Ratna mengepalkan tangan.
Untuk pertama kalinya, ia tidak langsung menunduk ketika Leman berbicara.
“Aku tidak ingin lagi menyebarkan fitnah.”
Leman mendekat.
“Kalau kamu berhenti, kamu pikir Burhan akan diam? Kamu sudah tahu terlalu banyak.”
Ratna menelan ludah.
Ancaman itu membuat wajahnya pucat.
Leman tersenyum tipis.
“Kamu sudah masuk terlalu jauh, Ratna. Jangan berpikir kamu bisa keluar begitu saja.”
Setelah Leman pergi, Ratna duduk sendiri di ruang depan.
Rumah itu terasa semakin sempit.
Ia mulai memahami bahwa selama ini dirinya bukan sekutu bagi Leman dan Burhan.
Ia hanya alat.
Alat untuk menyebarkan kabar.
Alat untuk memecah hubungan.
Alat untuk membuat warga saling curiga.
Dan ketika alat itu tidak lagi berguna, ia bisa saja dibuang.
Malam semakin larut.
Ratna membuka sebuah kotak kecil di dalam lemari. Di dalamnya tersimpan beberapa surat lama, foto masa mudanya, dan sebuah buku tulis yang dulu digunakan ketika ia masih sekolah.
Ia membuka salah satu halaman.
Di sana tertulis dengan huruf kecil:
Aku ingin menjadi guru.
Ratna memandangi tulisan itu lama.
Air mata perlahan jatuh ke atas halaman.
Ia tidak tahu apakah hidupnya masih dapat berubah.
Ia tidak tahu apakah Herawati, Dedi, dan Susanti akan memaafkannya.
Namun, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Ratna merasa ingin berhenti menjadi orang yang selalu melukai.
Di luar rumah, angin malam bertiup kencang.
Sementara di kejauhan, cahaya lampu minyak masih terlihat dari arah pohon beringin.
Kelas di bawah pohon mungkin sederhana.
Namun, cahaya kecil itu telah mulai menerangi hati seseorang yang selama ini tersesat dalam iri, takut, dan kebencian.
Ratna belum berani mengungkapkan semua yang ia ketahui.
Tetapi penyesalan telah mulai tumbuh di dalam dirinya.
Dan penyesalan itu kelak akan membawanya pada pilihan yang jauh lebih berbahaya: memilih tetap diam dalam ketakutan, atau berkata jujur demi menyelamatkan masa depan Desa Suka Jaya.
BAB XLVII
Surat Tanah Palsu
Pagi di Desa Suka Jaya belum sepenuhnya terang ketika Dedi sudah berada di bawah pohon beringin.
Embun masih menempel di rumput. Udara terasa dingin, dan dari kejauhan terdengar suara ayam bersahutan. Di hadapannya, berdiri bangunan sederhana yang mulai dibangun kembali oleh warga setelah rumah belajar mereka terbakar beberapa waktu lalu.
Bangunannya belum sempurna.
Tiang-tiang kayu baru berdiri setengah. Atap seng bekas belum seluruhnya terpasang. Sebagian dinding masih berupa anyaman bambu yang dipinjamkan warga. Namun, bagi Dedi, bangunan itu bukan sekadar tempat.
Itu adalah bukti bahwa harapan tidak ikut terbakar bersama rumah belajar yang lama.
Herawati datang membawa termos berisi teh hangat dan beberapa bungkus singkong rebus.
“Kamu dari tadi pagi di sini?” tanyanya.
Dedi mengangguk.
“Aku ingin memastikan kayu-kayu ini tidak terkena hujan. Semalam anginnya cukup kencang.”
Herawati meletakkan termos di atas meja kecil.
“Kamu tidak harus mengerjakan semuanya sendiri.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa kamu selalu terlihat seperti sedang memikul seluruh desa di pundakmu?”
Dedi tersenyum tipis.
“Aku hanya tidak ingin anak-anak kehilangan tempat belajar lagi.”
Herawati memandang bangunan itu.
“Anak-anak tidak akan kehilangan tempat belajar selama masih ada orang yang mau mengajar. Kita sudah membuktikannya di bawah pohon beringin.”
Dedi menatap Herawati.
Hubungan mereka memang belum sepenuhnya kembali seperti dulu. Namun, sejak Herawati pulang dari kota, keduanya mulai belajar berbicara lebih jujur. Tidak semua luka langsung hilang, tetapi mereka tidak lagi memilih diam ketika ada kegelisahan.
Dedi mengangguk pelan.
“Kamu benar.”
Tidak lama kemudian, beberapa anak mulai datang.
Bima membawa palu kecil milik ayahnya.
“Aku mau bantu, Kak Dedi,” katanya dengan penuh semangat.
Dedi tertawa kecil.
“Kamu masih kecil. Tugasmu belajar.”
“Tapi aku juga mau rumah belajar cepat jadi.”
Herawati mengusap kepala Bima.
“Kalau begitu, kamu bantu mengumpulkan daun-daun kering. Jangan dekat-dekat dengan paku.”
Bima mengangguk dengan bangga.
Anak-anak lain mulai ikut membantu. Ada yang membawa sapu lidi, ada yang mengumpulkan batu kecil, ada pula yang membantu mengangkat papan tipis.
Di tengah suasana itu, sebuah mobil hitam berhenti di dekat jalan depan tanah warisan Karsa.
Warga yang sedang bekerja langsung menoleh.
Dari dalam mobil turun Burhan.
Ia mengenakan kemeja rapi, celana panjang gelap, dan sepatu yang tampak mahal. Di tangannya, ia membawa map cokelat tebal.
Di belakangnya, Leman turun dengan wajah dingin.
Kedatangan mereka membuat suasana berubah.
Pak Warto yang sedang memotong bambu berhenti bekerja.
Jaka menatap keduanya dengan gelisah.
Herawati berdiri di samping Dedi.
Burhan berjalan mendekat sambil tersenyum tipis.
“Pagi, Dedi,” katanya.
Dedi tidak membalas senyum itu.
“Ada apa?”
Burhan mengangkat map di tangannya.
“Aku datang untuk menyelesaikan urusan tanah.”
“Tanah apa?”
“Tanah ini.”
Dedi menatap tanah tempat rumah belajar sedang dibangun.
“Ini tanah warisan ayahku.”
Burhan membuka map perlahan.
“Aku rasa kamu perlu melihat dokumen ini.”
Ia mengeluarkan beberapa lembar surat yang tampak resmi. Ada cap, tanda tangan, serta nomor registrasi yang tercetak rapi.
Burhan menyerahkan surat itu kepada Dedi.
Dedi membacanya dengan wajah tegang.
Di bagian atas tertulis bahwa tanah tersebut merupakan milik Burhan berdasarkan transaksi jual beli yang dilakukan bertahun-tahun lalu.
Nama Karsa tercantum di dalam dokumen.
Dedi membaca ulang.
Tangannya mulai gemetar.
“Ini tidak mungkin,” katanya.
Burhan mengangkat bahu.
“Dokumen tidak pernah berbohong.”
“Bapakku tidak pernah menjual tanah ini.”
“Kalau begitu, mungkin kamu tidak tahu semua urusan ayahmu.”
Kalimat itu terasa seperti pukulan.
Dedi menatap Burhan dengan mata tajam.
“Jangan bicara sembarangan tentang ayahku.”
Leman melangkah maju.
“Dedi, jangan emosi. Kami hanya ingin menyelesaikan masalah secara baik-baik. Kalau tanah ini memang milik Burhan, kamu tidak bisa membangun apa pun di sini tanpa izin.”
Herawati mengambil surat itu dari tangan Dedi.
Ia membaca bagian demi bagian.
“Surat ini dibuat kapan?” tanyanya.
Burhan menjawab, “Dua belas tahun lalu.”
Herawati menatapnya.
“Dua belas tahun lalu, Dedi masih sekolah dasar. Karsa masih bekerja di ladang setiap hari. Kalau benar tanah ini dijual, kenapa tidak ada satu pun warga yang tahu?”
Burhan tersenyum tipis.
“Tidak semua urusan harus diketahui warga.”
Pak Warto mendekat.
“Aku mengenal Karsa sejak muda,” katanya. “Dia tidak pernah menjual tanah itu. Tanah itu satu-satunya yang selalu dia jaga untuk Dedi.”
Burhan memandang Pak Warto.
“Pak Warto, ingatan orang bisa keliru.”
“Ingatan saya mungkin tua,” jawab Pak Warto tegas, “tetapi saya tahu Karsa bukan orang yang menjual tanahnya diam-diam.”
Beberapa warga mulai berkumpul.
Jaka berdiri di belakang Pak Warto.
“Ayah Dedi pernah bilang tanah itu untuk anaknya,” katanya. “Saya mendengarnya sendiri.”
Burhan menghela napas, seolah tidak ingin memperpanjang perdebatan.
“Silakan kalian bicara apa saja. Tapi saya membawa dokumen resmi.”
Dedi kembali membaca surat itu.
Ada tanda tangan yang menyerupai tulisan tangan ayahnya.
Namun, ada sesuatu yang terasa janggal.
Karsa tidak pernah terbiasa menandatangani dokumen dengan gaya seperti itu. Ayahnya lebih sering membubuhkan tanda tangan sederhana, kadang bahkan hanya menulis nama dengan huruf yang tidak rapi.
Di surat itu, tanda tangannya tampak terlalu rapi.
Terlalu dibuat-buat.
Dedi menatap Burhan.
“Ini surat palsu.”
Wajah Burhan sedikit berubah, tetapi ia segera tersenyum kembali.
“Kamu menuduh tanpa bukti?”
“Aku mengenal tulisan tangan ayahku.”
“Perasaan tidak cukup untuk melawan dokumen.”
Dedi mengepalkan tangan.
Herawati segera menyentuh lengannya.
“Jangan terpancing,” bisiknya.
Dedi menarik napas panjang.
Ia menatap kembali surat itu.
Di bagian bawah, terdapat nama seorang saksi yang tidak pernah ia dengar sebelumnya. Ada pula nama pejabat desa lama yang sudah meninggal bertahun-tahun lalu.
Burhan menyimpan surat-surat itu kembali ke dalam map.
“Aku beri waktu tiga hari,” katanya. “Setelah itu, aku akan mengurus tanah ini secara resmi. Kalau perlu, aku akan meminta bantuan pihak kecamatan.”
“Tanah ini tidak akan kami serahkan,” kata Dedi.
Burhan tersenyum dingin.
“Kita lihat saja.”
Ia berbalik menuju mobil.
Leman berhenti sejenak di hadapan Dedi.
“Kamu seharusnya belajar menerima kenyataan,” katanya pelan. “Tidak semua perjuangan akan berakhir sesuai keinginanmu.”
Dedi menatap Leman tanpa menjawab.
Setelah mobil itu pergi, suasana di tanah warisan Karsa menjadi sunyi.
Anak-anak yang tadi bermain kini berdiri diam.
Bima memegang ujung baju Herawati.
“Kak Hera,” tanyanya, “rumah belajar kita mau diambil?”
Herawati menatap anak itu.
Ia ingin segera menjawab bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Namun, ia tidak ingin memberi janji kosong.
Ia berjongkok di hadapan Bima.
“Kita akan berusaha menjaga tempat ini.”
“Kalau Burhan ambil, kita belajar di mana?”
Herawati memandang pohon beringin.
“Kita bisa belajar di mana saja. Tapi kita tidak akan menyerah begitu saja.”
Dedi mendengar kata-kata itu.
Ia menatap bangunan sederhana yang belum selesai.
Bayangan ayahnya kembali muncul di dalam ingatannya.
Karsa yang bekerja keras di ladang.
Karsa yang pernah berkata bahwa tanah kecil itu mungkin tidak luas, tetapi bisa menjadi awal kehidupan yang lebih baik bagi anaknya.
Dedi menggenggam tanah di dekat kakinya.
Tanah itu bukan sekadar warisan.
Di sana ada kerja keras ayahnya.
Ada air mata ibunya.
Ada rumah belajar yang dibangun dari sumbangan warga.
Ada mimpi anak-anak Desa Suka Jaya.
“Aku tidak akan membiarkan mereka mengambilnya,” kata Dedi.
Pak Warto mendekat.
“Kita harus mencari bukti yang benar.”
Herawati mengangguk.
“Aku pernah melihat Dedi menyimpan surat-surat lama milik Karsa di rumah. Mungkin ada bukti pajak tanah, surat keterangan, atau catatan lain.”
Dedi mengingat sesuatu.
Ayahnya memang pernah menyimpan beberapa berkas di dalam peti kayu tua. Peti itu berada di rumah, di bawah tempat tidur ibunya.
“Ada peti kayu,” kata Dedi. “Bapakku menyimpan surat-surat di sana.”
“Kalau begitu, kita periksa,” kata Herawati.
Mereka segera menuju rumah Dedi.
Di sana, Ibu Marni sedang menjemur pakaian di halaman. Ketika melihat wajah Dedi yang tegang, ia langsung bertanya.
“Ada apa, Nak?”
Dedi menunjukkan surat yang dibawa Burhan.
Wajah Ibu Marni berubah pucat.
“Tidak mungkin,” katanya.
“Apakah Bapak pernah menjual tanah itu?” tanya Dedi.
Ibu Marni menggeleng keras.
“Tidak pernah. Tanah itu satu-satunya yang ingin dia wariskan kepadamu. Bahkan ketika kami kekurangan uang, ayahmu tidak pernah mau menjualnya.”
“Apakah Ibu pernah melihat surat seperti ini?”
“Tidak pernah.”
Ibu Marni lalu masuk ke kamar dan menarik peti kayu tua dari bawah tempat tidur.
Peti itu sudah kusam. Sudut-sudutnya mulai retak. Namun, kuncinya masih tersimpan di dalam kain kecil yang dibungkus rapi.
Ketika peti dibuka, terlihat beberapa dokumen lama.
Ada surat pajak tanah.
Ada catatan hasil panen.
Ada surat keterangan dari kepala desa terdahulu.
Ada pula selembar surat yang ditulis Karsa dengan tangan sederhana.
Dedi mengambil surat itu.
Tulisan ayahnya tampak jelas.
Tidak rapi, tetapi jujur.
Ia membandingkan tulisan itu dengan tanda tangan dalam dokumen Burhan.
Perbedaannya nyata.
Tanda tangan di surat Burhan tampak dibuat oleh tangan yang berusaha meniru, tetapi tidak benar-benar mengenal kebiasaan Karsa.
Herawati memperhatikan keduanya.
“Ini bisa menjadi petunjuk,” katanya.
Pak Warto mengangguk.
“Tapi kita tetap perlu bukti dari arsip resmi.”
Dedi menatap surat pajak tanah yang masih tersimpan.
Di sana tercantum nama Karsa sebagai pemilik tanah, lengkap dengan nomor bidang yang sama seperti tanah rumah belajar.
Harapan mulai muncul di wajahnya.
Namun, harapan itu belum cukup.
Burhan memiliki dokumen yang tampak resmi.
Leman memiliki pengaruh di desa.
Dan warga masih mudah dibingungkan oleh cap serta tanda tangan.
Malam itu, Dedi duduk di depan rumah bersama Herawati.
Peti kayu tua berada di antara mereka.
“Besok aku akan pergi ke kabupaten,” kata Dedi.
Herawati menatapnya.
“Aku ikut.”
“Kamu tidak perlu.”
“Aku ingin ikut. Ini bukan hanya perjuanganmu.”
Dedi memandang Herawati cukup lama.
Dalam tatapan itu, ada banyak hal yang belum selesai mereka bicarakan.
Tentang fitnah.
Tentang Susanti.
Tentang luka yang masih tersisa.
Namun, di tengah ancaman baru ini, Herawati memilih berdiri di sampingnya.
Dedi mengangguk.
“Baik. Kita pergi bersama.”
Di kejauhan, suara kendaraan terdengar melewati jalan desa.
Malam semakin gelap.
Namun, di dalam peti kayu tua itu, Dedi menemukan sesuatu yang mungkin dapat menyelamatkan tanah warisan ayahnya.
Sebuah jejak kecil dari masa lalu.
Jejak yang harus mereka bawa ke kabupaten untuk membuktikan bahwa kebenaran masih memiliki tempat di tengah desa yang mulai dikuasai kebohongan.
BAB XLVIII
Perjalanan ke Kabupaten
Pagi itu, sebelum matahari sepenuhnya muncul dari balik perbukitan, Dedi dan Herawati sudah bersiap berangkat ke kabupaten.
Ibu Marni menyiapkan bekal nasi bungkus, telur rebus, dan sambal sederhana. Di atas meja, peti kayu tua peninggalan Karsa masih terbuka. Surat pajak tanah, surat keterangan dari kepala desa terdahulu, serta catatan lama milik Karsa telah disusun rapi di dalam map plastik.
Ibu Marni memegang tangan Dedi.
“Jaga surat-surat itu baik-baik,” katanya. “Itu satu-satunya bukti yang ayahmu tinggalkan.”
Dedi mengangguk.
“Aku akan menjaganya, Bu.”
Herawati berdiri di dekat pintu sambil membawa tas berisi buku catatan, pulpen, dan beberapa lembar dokumen yang sudah ia salin. Ia mengenakan pakaian sederhana, tetapi wajahnya tampak tegas.
“Aku sudah membuat daftar dokumen yang perlu kita tanyakan di kantor pertanahan,” katanya kepada Dedi. “Kita juga harus mencari arsip pajak lama dan surat riwayat tanah.”
Dedi menatap Herawati.
“Kamu benar-benar mempersiapkan semuanya.”
Herawati tersenyum tipis.
“Aku belajar di kota bahwa menghadapi masalah tidak cukup hanya dengan marah. Kita harus tahu apa yang harus dicari dan bagaimana membuktikannya.”
Dedi mengangguk pelan.
Kata-kata itu membuatnya teringat pada banyak hal.
Dahulu, ketika mereka masih remaja, Herawati selalu menjadi orang yang paling berani menyemangatinya. Namun, kini ia bukan hanya membawa semangat. Ia membawa pengetahuan, ketegasan, dan cara berpikir yang lebih matang.
Mereka berangkat menggunakan angkutan desa yang menuju kecamatan. Dari kecamatan, mereka harus melanjutkan perjalanan dengan bus kecil menuju kabupaten.
Jalan yang mereka lalui masih berlumpur di beberapa bagian. Di sisi kiri dan kanan, kebun-kebun warga membentang luas. Pohon karet, singkong, dan semak-semak tumbuh di antara tanah merah yang basah.
Di dalam angkutan, Dedi duduk di dekat jendela.
Map berisi dokumen berada di pangkuannya.
Herawati duduk di sampingnya.
Beberapa saat, mereka hanya diam.
Suara mesin kendaraan dan guncangan jalan menjadi satu-satunya bunyi di antara mereka.
Akhirnya, Herawati membuka percakapan.
“Dedi.”
“Hm?”
“Aku ingin meminta maaf.”
Dedi menoleh.
“Untuk apa?”
“Untuk semua yang terjadi setelah aku pulang dari kota.”
Dedi kembali memandang ke arah jalan.
“Kamu tidak perlu meminta maaf.”
“Aku perlu,” kata Herawati pelan. “Aku terlalu cepat percaya pada kabar orang. Aku membiarkan rasa takut membuatku meragukanmu.”
Dedi terdiam.
Herawati melanjutkan, “Aku tahu kamu juga salah karena tidak menceritakan semuanya. Tapi aku seharusnya bertanya lebih dulu, bukan langsung menuduh.”
Dedi menggenggam map di pangkuannya.
“Aku juga minta maaf,” katanya. “Aku pikir aku sedang melindungimu dengan tidak menceritakan semua masalah di desa. Ternyata diam justru membuatmu merasa ditinggalkan.”
Herawati menatapnya.
“Kalau kita ingin bersama, kita tidak boleh lagi menyimpan masalah sendiri-sendiri.”
Dedi mengangguk.
“Tidak boleh.”
Herawati tersenyum kecil.
Senyum itu belum sepenuhnya menghapus luka yang ada. Namun, bagi Dedi, senyum tersebut terasa seperti cahaya pertama setelah malam panjang.
Di terminal kecamatan, mereka turun dan menunggu bus menuju kabupaten.
Tempat itu ramai oleh pedagang sayur, penjual gorengan, dan orang-orang yang membawa karung hasil kebun. Di sudut terminal, seorang lelaki tua menjual koran bekas dan majalah lama.
Herawati membeli dua botol air minum.
Dedi menerima satu botol.
“Kamu tidak harus membelikan,” katanya.
Herawati mengangkat alis.
“Kalau begitu, anggap saja ini bagian dari kerja sama.”
Dedi tertawa kecil.
Untuk pertama kalinya sejak Herawati pulang, tawa mereka terdengar tanpa beban yang terlalu besar.
Bus menuju kabupaten datang menjelang siang.
Bus itu tua dan penuh sesak. Beberapa penumpang berdiri karena kursi telah terisi. Dedi dan Herawati duduk berdampingan di bagian tengah.
Perjalanan memakan waktu cukup lama.
Jalan menuju kabupaten lebih baik daripada jalan desa, tetapi tetap berkelok dan melewati beberapa tanjakan. Di luar jendela, pemandangan perlahan berubah. Kebun-kebun berganti dengan toko kecil, bengkel, sekolah, dan rumah-rumah yang lebih rapat.
Herawati memandangi gedung-gedung di pinggir jalan.
“Kota selalu membuatku berpikir,” katanya.
“Berpikir apa?”
“Bahwa banyak orang punya kesempatan yang tidak dimiliki anak-anak di desa kita.”
Dedi menatapnya.
“Karena itu kita membangun rumah belajar.”
Herawati mengangguk.
“Ya. Tapi rumah belajar saja tidak cukup. Anak-anak juga harus tahu bahwa mereka punya hak untuk sekolah, punya hak untuk bertanya, dan punya hak untuk bermimpi.”
Dedi tersenyum.
“Kamu benar-benar berubah setelah dari kota.”
Herawati menatapnya.
“Berubah ke arah yang lebih baik?”
“Lebih berani.”
Herawati menghela napas.
“Aku dulu mengira keberanian hanya berarti berani melawan orang seperti Leman dan Burhan. Tapi sekarang aku tahu, keberanian juga berarti berani mengakui kesalahan.”
Dedi tidak langsung menjawab.
Ia merasa kata-kata Herawati bukan hanya tentang dirinya.
Itu juga tentang mereka.
Tentang cinta yang hampir rusak karena fitnah.
Tentang kepercayaan yang harus dibangun kembali.
Ketika sampai di kabupaten, mereka langsung menuju kantor pertanahan.
Gedung itu berdiri di pinggir jalan besar, dengan halaman luas dan beberapa pohon peneduh. Banyak orang datang membawa map, berkas, dan surat-surat tanah.
Dedi merasa gugup.
Ia belum pernah berurusan dengan kantor seperti itu sebelumnya.
Namun, Herawati berjalan di sampingnya dengan tenang.
Mereka mengambil nomor antrean dan menunggu cukup lama.
Saat nomor mereka dipanggil, Dedi menyerahkan dokumen milik Karsa kepada petugas.
“Kami ingin mencari arsip kepemilikan tanah,” kata Dedi. “Tanah warisan ayah saya sedang diklaim oleh orang lain.”
Petugas memeriksa surat pajak dan surat keterangan yang dibawa Dedi.
“Nomor bidangnya ada,” kata petugas. “Tapi untuk arsip lama, kami harus memeriksa berkas manual.”
“Apakah bisa diperiksa hari ini?” tanya Herawati.
Petugas mengangguk.
“Bisa, tetapi mungkin memerlukan waktu.”
Dedi dan Herawati duduk kembali di ruang tunggu.
Waktu berjalan lambat.
Dedi berkali-kali melihat jam dinding.
Herawati membuka buku catatannya dan menulis beberapa hal yang harus mereka lakukan jika arsip ditemukan.
“Kalau nanti ada bukti bahwa tanah ini atas nama Karsa, kita bisa mengajukan keberatan atas klaim Burhan,” katanya.
Dedi mengangguk.
“Dan kalau tidak ada?”
Herawati berhenti menulis.
“Kita tetap mencari jalan lain.”
Jawaban itu sederhana.
Namun, Dedi tahu Herawati sedang berusaha menenangkan dirinya.
Menjelang sore, petugas memanggil nama Dedi.
Mereka kembali ke meja pelayanan.
Petugas membawa sebuah map tua yang warnanya sudah pudar.
“Ini arsip yang kami temukan,” katanya.
Dedi membuka map itu dengan tangan gemetar.
Di dalamnya terdapat salinan buku tanah lama.
Nama pemilik yang tercatat adalah Karsa.
Nomor bidangnya sama.
Luas tanahnya sama.
Batas-batas tanahnya juga sesuai dengan lokasi rumah belajar.
Dedi menahan napas.
“Jadi tanah itu benar milik ayah saya?” tanyanya.
Petugas mengangguk.
“Berdasarkan arsip ini, tanah tersebut tercatat atas nama Karsa. Tidak ada catatan peralihan hak atau jual beli kepada Burhan.”
Herawati menutup mulutnya dengan tangan.
Wajahnya tampak lega.
Dedi memejamkan mata sesaat.
Seolah beban besar yang sejak kemarin menekan dadanya perlahan mulai terangkat.
Namun, petugas belum selesai berbicara.
“Ada satu hal lagi,” katanya.
Dedi dan Herawati kembali menatapnya.
“Dokumen yang kalian bawa dari pihak Burhan, kalau memang benar dibuat dua belas tahun lalu, seharusnya tercatat juga dalam riwayat peralihan tanah. Tetapi di sini tidak ada catatan apa pun.”
Herawati menatap Dedi.
“Itu berarti surat Burhan tidak sah?”
Petugas mengangguk pelan.
“Kami tidak bisa langsung menyatakan palsu tanpa pemeriksaan lebih lanjut. Tetapi dokumen itu sangat patut dipertanyakan.”
Dedi menggenggam salinan arsip tanah tersebut.
“Kami bisa meminta salinan resmi?”
“Bisa,” jawab petugas. “Kalian juga dapat mengajukan surat keterangan riwayat tanah.”
Dedi dan Herawati segera mengurus semua berkas yang diperlukan.
Mereka mengisi formulir, menandatangani beberapa lembar surat, dan membayar biaya administrasi sederhana. Menjelang matahari tenggelam, mereka akhirnya menerima salinan resmi serta surat keterangan dari kantor pertanahan.
Di halaman kantor, Herawati memegang map itu erat-erat.
“Kita punya bukti,” katanya.
Dedi mengangguk.
“Kita punya bukti.”
Namun, wajah Dedi masih tampak tegang.
Herawati memperhatikannya.
“Kenapa kamu masih terlihat khawatir?”
Dedi memandang jalan raya yang ramai.
“Karena Burhan tidak akan diam. Kalau dia berani membuat surat seperti itu, berarti dia juga berani melakukan hal lain.”
Herawati berdiri lebih dekat.
“Kita tidak bisa mengendalikan apa yang akan dia lakukan. Tapi sekarang kita tidak lagi hanya mengandalkan kata-kata.”
Dedi menatap Herawati.
“Terima kasih sudah ikut.”
Herawati tersenyum.
“Aku sudah bilang. Ini bukan hanya perjuanganmu.”
Mereka berjalan menuju terminal untuk pulang.
Di perjalanan kembali, matahari telah tenggelam. Lampu-lampu kota mulai menyala. Bus yang mereka tumpangi tidak terlalu penuh.
Dedi dan Herawati duduk berdampingan seperti saat berangkat.
Namun, kali ini suasana di antara mereka berbeda.
Ada kelegaan.
Ada keberanian.
Ada kepercayaan yang mulai tumbuh kembali.
Dedi membuka map dan melihat surat keterangan tanah sekali lagi.
Kemudian ia berkata pelan, “Hera.”
Herawati menoleh.
“Kalau tanah ini berhasil kita pertahankan, aku ingin membangun rumah belajar yang lebih kuat.”
Herawati tersenyum.
“Bukan hanya rumah belajar.”
“Apa lagi?”
“Perpustakaan kecil. Kelas untuk ibu-ibu. Tempat diskusi pemuda. Tempat anak-anak belajar bahwa desa mereka juga bisa punya masa depan.”
Dedi memandangnya cukup lama.
“Aku ingin semua itu kita bangun bersama.”
Herawati tidak menjawab segera.
Ia hanya mengangguk pelan.
Namun, anggukan itu cukup bagi Dedi.
Di luar jendela, jalan menuju Desa Suka Jaya terbentang gelap.
Di depan mereka masih ada Leman, Burhan, dan berbagai ancaman yang belum selesai.
Tetapi malam itu, dalam perjalanan pulang dari kabupaten, Dedi dan Herawati tidak lagi berjalan sebagai dua orang yang dipisahkan oleh kecurigaan.
Mereka kembali berjalan sebagai dua hati yang mulai belajar percaya.
Dan di dalam map yang mereka bawa, tersimpan bukti bahwa tanah warisan Karsa masih memiliki pemilik yang sah.
Bukti itu akan menjadi awal dari pertarungan yang lebih besar.
Pertarungan untuk mempertahankan tanah, rumah belajar, dan masa depan anak-anak Desa Suka Jaya.
BAB XLIX
Cinta yang Kembali Menyala
Malam ketika Dedi dan Herawati tiba kembali di Desa Suka Jaya, jalan-jalan kampung sudah mulai sepi.
Angkutan yang mereka tumpangi berhenti di dekat warung kecil di ujung desa. Lampu minyak menggantung di depan warung, memancarkan cahaya kekuningan yang redup. Beberapa warga yang masih duduk di bangku bambu menoleh ketika melihat Dedi dan Herawati turun membawa map berisi dokumen.
Dedi menggenggam map itu erat.
Di dalamnya tersimpan salinan arsip tanah atas nama Karsa, surat keterangan riwayat tanah, dan bukti bahwa tidak pernah ada catatan jual beli kepada Burhan.
Herawati berjalan di sampingnya.
Langkah mereka lelah, tetapi hati mereka tidak lagi seberat ketika berangkat pagi tadi.
“Kita pulang dulu,” kata Herawati. “Besok baru kita bicara dengan Pak Warto dan warga.”
Dedi mengangguk.
Namun, ketika mereka melewati jalan menuju tanah rumah belajar, Dedi berhenti.
Bangunan sederhana itu tampak gelap dari kejauhan. Tiang-tiang kayu berdiri diam. Atap seng bekas belum seluruhnya terpasang. Pohon beringin di sampingnya bergerak pelan diterpa angin malam.
Dedi memandang tempat itu cukup lama.
Herawati ikut berhenti.
“Kamu ingin ke sana?” tanyanya.
Dedi mengangguk.
“Aku hanya ingin melihatnya sebentar.”
Mereka berjalan menuju tanah warisan Karsa.
Di bawah pohon beringin, suasana terasa tenang. Tidak ada suara anak-anak membaca. Tidak ada suara kapur di papan tulis. Tidak ada tawa Bima, Lila, atau Nisa.
Hanya ada angin malam dan suara jangkrik dari kebun sekitar.
Dedi berdiri di depan bangunan yang belum selesai.
“Ayahku pasti tidak pernah membayangkan tanah kecil ini akan menjadi tempat seperti ini,” katanya.
Herawati menatapnya.
“Mungkin beliau tidak membayangkan bentuknya. Tapi beliau pasti tahu kamu akan melakukan sesuatu yang baik dengan tanah ini.”
Dedi tersenyum kecil.
“Aku dulu hanya ingin punya tempat untuk mengajar anak-anak. Sekarang rasanya semua menjadi lebih besar.”
“Karena memang sudah lebih besar,” jawab Herawati. “Rumah belajar ini bukan hanya tentang membaca dan menulis. Ini tentang warga yang mulai berani bertanya. Tentang anak-anak yang mulai berani bermimpi. Tentang orang-orang yang tidak lagi mudah percaya pada janji kosong.”
Dedi memandang Herawati.
“Kamu masih ingin ada di dalam semua ini?”
Pertanyaan itu keluar perlahan.
Namun, di dalamnya tersimpan ketakutan yang selama ini tidak pernah benar-benar Dedi ucapkan.
Herawati menunduk sejenak.
“Aku sempat merasa ingin menjauh,” katanya. “Aku sempat merasa perjuangan ini terlalu berat. Aku juga sempat takut bahwa aku tidak lagi punya tempat di sisimu.”
Dedi tidak menyela.
Herawati melanjutkan, “Tapi perjalanan ke kabupaten hari ini membuatku sadar. Aku tidak ingin hidup hanya dengan menunggu kabar atau percaya pada kata-kata orang. Aku ingin ikut berdiri di dalam perjuangan ini.”
Dedi menarik napas.
“Aku juga salah, Hera. Aku terlalu sering merasa harus menyelesaikan semuanya sendiri. Aku tidak ingin kamu terbebani, tetapi aku justru membuatmu merasa jauh.”
Herawati mengangkat wajah.
“Kalau kita ingin bersama, kita harus belajar memikul beban bersama-sama.”
Dedi mengangguk.
“Bersama-sama.”
Mereka terdiam.
Cahaya bulan menembus sela daun beringin. Di tanah yang masih basah, bayangan mereka tampak berdampingan.
Dedi kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya.
Sebuah cincin sederhana.
Cincin itu tidak terbuat dari emas mahal. Hanya cincin perak kecil yang dibelinya beberapa bulan lalu di kota kecamatan, ketika ia masih menyimpan harapan bahwa suatu hari ia dapat menyampaikan niatnya kepada Herawati.
Namun, berbagai masalah datang silih berganti.
Rumah belajar dibakar.
Susanti pergi.
Burhan mengklaim tanah warisan Karsa.
Fitnah memisahkan mereka.
Dan niat itu terus tertunda.
Kini, di bawah pohon beringin, Dedi menggenggam cincin itu dengan tangan sedikit gemetar.
“Hera,” katanya.
Herawati menatapnya.
“Aku tidak punya rumah besar. Aku tidak punya pekerjaan yang menjanjikan. Aku juga tidak tahu seberapa panjang perjuangan yang masih harus kita hadapi.”
Herawati terdiam.
Dedi melanjutkan, “Tapi aku tahu satu hal. Aku tidak ingin menjalani semua ini tanpa kamu.”
Air mata mulai menggenang di mata Herawati.
Dedi menarik napas panjang.
“Herawati, maukah kamu menjadi pendamping hidupku? Maukah kamu berjalan bersamaku, bukan hanya saat keadaan mudah, tetapi juga saat jalan kita dipenuhi lumpur, fitnah, dan ketakutan?”
Herawati menutup mulutnya dengan tangan.
Ia memandang Dedi cukup lama.
Dalam pikirannya, muncul kembali banyak kenangan.
Dedi kecil yang berjalan di jalan berlumpur membawa buku.
Dedi remaja yang berani melawan ejekan karena ingin sekolah.
Dedi yang membangun rumah belajar dari tanah warisan ayahnya.
Dedi yang terluka karena memperjuangkan warga.
Dedi yang tetap memilih mengajar meski rumah belajarnya dibakar.
Dedi yang tidak sempurna, tetapi selalu berusaha bertahan.
Herawati tersenyum di antara air mata.
“Mau,” katanya pelan.
Dedi seperti tidak langsung percaya.
“Mau?”
Herawati mengangguk.
“Mau, Ded.”
Dedi memasangkan cincin itu di jari Herawati.
Cincin itu sederhana.
Namun, bagi mereka, cincin itu lebih berharga daripada segala kemewahan.
Ia menjadi tanda bahwa cinta mereka tidak lahir dari kenyamanan.
Cinta itu tumbuh dari perjuangan.
Dari surat-surat yang terlambat sampai.
Dari fitnah yang hampir memisahkan.
Dari kesedihan karena Susanti pergi.
Dari tanah warisan yang hampir direbut.
Dan dari keyakinan bahwa mereka tidak ingin menyerah.
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kecil dari arah jalan.
“Kak Dedi!”
Dedi dan Herawati menoleh.
Bima, Lila, dan Nisa berdiri tidak jauh dari sana. Mereka rupanya sedang pulang dari rumah Pak Warto setelah membantu membawa beberapa papan untuk bangunan rumah belajar.
Di belakang mereka, Pak Warto dan Jaka berjalan sambil tersenyum.
“Kami lihat ada lampu di sini,” kata Pak Warto. “Ternyata kalian belum pulang.”
Bima memandang tangan Herawati.
“Kak Hera pakai cincin?”
Herawati tersipu.
Dedi tersenyum.
“Iya.”
“Berarti Kak Dedi dan Kak Hera mau menikah?” tanya Nisa polos.
Anak-anak lain mulai bersorak.
“Mau menikah!”
“Mau menikah!”
Herawati menunduk malu, sementara Dedi tertawa kecil.
Pak Warto mengangkat tangan.
“Sudah, jangan terlalu ramai. Tapi kalau memang begitu, ini kabar baik.”
Jaka tersenyum.
“Rumah belajar akan punya dua guru yang lebih kuat.”
Dedi menatap warga yang berdiri di hadapannya.
Untuk pertama kalinya setelah banyak masalah yang datang, ia merasa tidak sendirian.
Ada Herawati.
Ada anak-anak.
Ada warga yang mulai percaya.
Ada tanah warisan ayahnya yang masih dapat dipertahankan.
Namun, di kejauhan, dari balik jalan gelap menuju balai desa, seseorang berdiri mengawasi.
Leman.
Wajahnya tampak keras ketika melihat Dedi dan Herawati dikelilingi warga.
Ia tidak mendengar semua percakapan mereka.
Namun, ia tahu bahwa Dedi semakin kuat.
Bukan hanya karena dokumen tanah.
Bukan hanya karena rumah belajar.
Tetapi karena Dedi kini kembali memiliki Herawati di sisinya.
Leman mengepalkan tangan.
Di rumahnya, Burhan sedang menunggu kabar.
“Bagaimana?” tanya Burhan ketika Leman masuk.
Leman menatapnya dengan wajah dingin.
“Dedi dan Herawati pulang dari kabupaten.”
“Lalu?”
“Mereka membawa sesuatu.”
Burhan mengerutkan dahi.
“Bukti?”
Leman tidak menjawab langsung.
Ia hanya memandang keluar jendela.
“Kalau mereka membawa bukti, kita harus bergerak lebih cepat.”
Burhan menatap map-map dokumen di atas meja.
Wajahnya perlahan mengeras.
“Kalau tanah itu tidak bisa kita ambil dengan surat, kita cari cara lain.”
Di bawah pohon beringin, Dedi dan Herawati tidak mengetahui percakapan itu.
Mereka masih berdiri bersama di depan bangunan rumah belajar yang belum selesai.
Herawati menggenggam tangan Dedi.
“Besok kita hadapi mereka,” katanya.
Dedi mengangguk.
“Besok.”
Malam itu, di ujung Desa Suka Jaya, cinta mereka kembali menyala.
Bukan sebagai api yang membakar.
Melainkan sebagai lentera kecil yang memberi cahaya ketika jalan di depan masih gelap.
Dan cahaya itu akan segera diuji oleh badai yang lebih besar.
BAB L
Pernikahan di Ujung Desa
Pagi itu, Desa Suka Jaya tampak berbeda.
Sejak matahari belum tinggi, warga sudah mulai berdatangan ke tanah warisan Karsa, tempat rumah belajar sederhana berdiri di bawah naungan pohon beringin. Tidak ada tenda besar, tidak ada hiasan mewah, dan tidak ada suara musik yang menggelegar.
Namun, halaman rumah belajar dipenuhi kesibukan yang hangat.
Ibu-ibu membawa nampan berisi nasi kuning, sayur daun singkong, ikan goreng, sambal, dan kue-kue sederhana. Para bapak memasang bambu sebagai penyangga terpal. Pemuda desa membantu menyusun kursi kayu pinjaman dari rumah warga. Anak-anak mengumpulkan bunga liar dari kebun untuk menghias meja kecil di depan rumah belajar.
Di salah satu sudut halaman, Bima dan Lila sibuk merangkai daun kelapa.
“Ini untuk Kak Dedi dan Kak Hera,” kata Bima dengan wajah bangga.
Lila mengangguk.
“Harus bagus. Mereka kan mau menikah.”
Nisa yang duduk di dekat mereka memegang beberapa bunga kecil.
“Aku mau taruh bunga ini di depan Kak Hera,” katanya.
Tidak jauh dari sana, Pak Warto mengawasi para pemuda yang sedang memasang terpal.
“Jangan terlalu rendah,” katanya. “Nanti kalau hujan, orang-orang susah berdiri.”
Jaka datang membawa beberapa batang bambu tambahan.
“Saya punya di belakang rumah,” katanya. “Tidak banyak, tapi mudah-mudahan cukup.”
Pak Warto menepuk bahunya.
“Yang penting bukan banyaknya. Yang penting kita ikut menjaga kebahagiaan mereka.”
Jaka tersenyum.
Dulu, ia adalah salah satu warga yang sering memilih diam karena takut pada Leman dan Burhan. Namun, sejak rumah belajar hadir, ia mulai berubah. Ia melihat anaknya, Nisa, mampu membaca sendiri. Ia melihat istrinya berani bertanya tentang hak-hak warga. Ia melihat bahwa pendidikan bukan sekadar urusan sekolah, melainkan jalan untuk membuat masyarakat lebih berani menentukan masa depannya.
Hari itu, ia ingin ikut memberi sesuatu.
Meski hanya bambu dan tenaga.
Di rumah Dedi, Ibu Marni membantu menyiapkan pakaian putranya.
Dedi mengenakan baju putih sederhana dan kain sarung terbaik yang dimilikinya. Tidak ada jas mahal. Tidak ada sepatu baru yang mengilap. Namun, wajahnya tampak bersih dan tenang.
Ibu Marni memandang Dedi cukup lama.
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Kalau ayahmu masih ada,” katanya pelan, “dia pasti sangat bahagia melihatmu hari ini.”
Dedi menunduk.
“Aku juga berharap begitu, Bu.”
Ibu Marni merapikan kerah baju Dedi.
“Ayahmu dulu selalu bilang, anak laki-laki harus tumbuh menjadi orang yang bertanggung jawab. Bukan hanya kepada dirinya sendiri, tetapi juga kepada keluarganya dan orang lain.”
Dedi menggenggam tangan ibunya.
“Aku akan berusaha, Bu.”
Ibu Marni tersenyum.
“Jangan hanya berusaha menjadi suami yang baik untuk Herawati. Jadilah teman hidupnya. Dengarkan dia. Jangan biarkan dia memikul semua kesedihan sendirian.”
Dedi mengangguk.
Nasihat itu terasa sederhana, tetapi ia tahu betapa pentingnya.
Ia telah belajar dari masa lalu bahwa diam dapat melahirkan jarak. Ia tidak ingin lagi membiarkan Herawati merasa berjalan sendiri.
Di rumah Herawati, suasana tidak kalah ramai.
Beberapa ibu membantu menyiapkan pakaian pengantin sederhana berwarna putih gading. Tidak banyak perhiasan yang dikenakan Herawati. Hanya sepasang anting kecil peninggalan ibunya dan cincin perak yang dipasangkan Dedi di bawah pohon beringin.
Ketika Herawati duduk di depan cermin kecil, ia memandangi wajahnya sendiri.
Ada rasa haru.
Ada rasa takut.
Ada pula keyakinan yang tumbuh perlahan.
Ia teringat perjalanan panjang yang telah membawanya sampai pada hari itu.
Masa kecil bersama Dedi di jalan berlumpur.
Surat-surat yang dikirim dari kota.
Fitnah yang membuat hatinya retak.
Rumah belajar yang dibakar.
Tanah warisan yang hampir direbut.
Dan kini, di tengah semua ancaman yang belum sepenuhnya selesai, ia memilih untuk menikah.
Bukan karena hidup mereka telah aman.
Melainkan karena ia tidak ingin lagi membiarkan ketakutan menentukan jalan hidupnya.
Pak Samin, ayah Herawati, berdiri di dekat pintu kamar.
Wajahnya tampak lebih tua daripada beberapa tahun lalu. Rambutnya mulai memutih. Namun, tatapannya kepada putrinya penuh kasih.
“Kamu sudah yakin?” tanyanya.
Herawati menoleh.
“Sudah, Pak.”
Pak Samin mengangguk pelan.
“Dedi bukan orang kaya.”
“Aku tahu.”
“Jalannya juga tidak mudah.”
“Aku tahu.”
Pak Samin terdiam sesaat.
“Kamu akan menjalani hidup dengan seorang lelaki yang sering lebih memikirkan orang lain daripada dirinya sendiri.”
Herawati tersenyum.
“Karena itu aku ingin berada di sisinya, Pak. Supaya ia tidak lupa bahwa ia juga punya keluarga yang harus dijaga.”
Pak Samin menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca.
“Kalau begitu, ayah merestui.”
Menjelang siang, warga mulai berkumpul di halaman rumah belajar.
Terpal sederhana telah terpasang. Kursi-kursi kayu tersusun rapi. Di depan, sebuah meja kecil dihiasi bunga liar, daun kelapa muda, dan kain putih yang dipinjam dari rumah Pak Warto.
Tidak ada kemewahan.
Namun, ada kehangatan yang tidak dapat dibeli oleh uang.
Ketika Dedi datang bersama Ibu Marni dan beberapa warga, anak-anak langsung bersorak.
“Kak Dedi datang!”
Bima berlari menghampiri.
“Kak Dedi, rumah belajarnya sudah dihias!”
Dedi tersenyum.
“Bagus sekali.”
“Bima yang buat daun kelapanya,” kata Lila.
Dedi menunduk dan mengusap kepala mereka.
“Terima kasih. Kalian sudah membantu banyak.”
Tidak lama kemudian, Herawati datang bersama Pak Samin.
Suasana menjadi hening.
Herawati berjalan perlahan menuju tempat akad. Wajahnya tampak sederhana, tetapi anggun. Tidak ada gaun mewah. Tidak ada hiasan berlebihan. Namun, senyumnya membuat banyak orang yang hadir menahan haru.
Dedi memandangnya tanpa berkedip.
Di hadapannya berdiri perempuan yang telah mengenalnya sejak kecil.
Perempuan yang pernah meragukannya, tetapi kemudian memilih kembali percaya.
Perempuan yang tidak hanya mencintainya, tetapi juga percaya pada perjuangan pendidikan yang mereka bangun bersama.
Akad nikah dilaksanakan dengan sederhana.
Seorang tokoh agama dari desa memimpin jalannya prosesi. Pak Samin duduk di hadapan Dedi dengan wajah penuh haru. Warga menyimak dalam diam.
Ketika tiba saatnya mengucapkan ijab kabul, Dedi menarik napas panjang.
Suaranya terdengar tegas, meski tangannya sedikit gemetar.
Dengan satu tarikan napas, ia mengucapkan kabul.
Sah.
Kata itu terdengar dari beberapa saksi.
Anak-anak yang sejak tadi duduk di belakang langsung bertepuk tangan. Ibu-ibu tersenyum sambil mengusap mata. Para bapak saling menepuk bahu.
Herawati menunduk dengan mata berkaca-kaca.
Dedi memandangnya.
Untuk beberapa saat, semua masalah yang membayangi mereka terasa menjauh.
Tidak hilang.
Tetapi menjauh.
Karena hari itu, mereka tidak berdiri sebagai dua orang yang melawan dunia sendirian.
Mereka berdiri di tengah masyarakat yang mulai percaya bahwa perjuangan mereka adalah perjuangan bersama.
Setelah akad selesai, warga mulai menyajikan makanan.
Tidak ada hidangan mahal. Namun, setiap makanan yang tersaji memiliki cerita.
Nasi kuning dari Ibu Warti.
Ikan goreng dari hasil tangkapan Jaka.
Sayur dari kebun Pak Warto.
Kue cucur dari para ibu yang memasaknya sejak subuh.
Bahkan Bima membawa dua buah pisang dari kebun belakang rumahnya.
“Ini hadiah buat Kak Dedi dan Kak Hera,” katanya.
Herawati menerima pisang itu sambil tersenyum.
“Terima kasih, Bima.”
“Kalau nanti punya anak, anaknya juga harus belajar di rumah belajar,” kata Bima polos.
Warga yang mendengar langsung tertawa.
Dedi menatap Herawati.
Herawati tersipu.
Di tengah suasana bahagia itu, Pak Warto berdiri dan meminta perhatian warga.
“Saya ingin mengatakan sesuatu,” katanya.
Warga mulai diam.
Pak Warto memandang Dedi dan Herawati.
“Pernikahan ini bukan hanya pernikahan dua anak muda. Ini adalah tanda bahwa kita tidak lagi mudah dipecah oleh fitnah. Dedi dan Herawati telah melalui banyak hal. Mereka pernah disakiti, dituduh, bahkan hampir kehilangan tempat untuk mengajar anak-anak kita.”
Ia berhenti sejenak.
“Tetapi mereka tidak pergi. Mereka tetap tinggal. Mereka tetap memilih desa ini.”
Beberapa warga mengangguk.
Pak Warto melanjutkan, “Karena itu, hari ini kita bukan hanya merayakan pernikahan mereka. Kita juga merayakan keberanian untuk tetap bertahan.”
Dedi menunduk.
Herawati menggenggam tangan suaminya.
Warga kemudian bertepuk tangan.
Namun, di balik keramaian itu, Ratna berdiri di dekat jalan desa.
Ia tidak masuk ke halaman rumah belajar.
Ia hanya memandangi dari kejauhan.
Di tangannya, ia membawa sebuah bungkusan kecil berisi kain bayi hasil jahitannya sendiri. Ia sebenarnya ingin memberikan hadiah itu kepada Herawati. Namun, rasa malu dan bersalah membuat langkahnya berhenti.
Ia teringat semua fitnah yang pernah ia sebarkan.
Ia teringat bagaimana Herawati pernah menangis.
Ia teringat Susanti yang pergi.
Dan ia teringat ancaman Leman yang membuatnya tidak berani berbicara.
Ratna menunduk.
Ketika ia hendak pergi, Herawati melihatnya.
“Hentikan dulu,” kata Herawati kepada Dedi.
Herawati berjalan mendekati Ratna.
Ratna tampak gugup.
“Aku hanya lewat,” katanya pelan.
Herawati memandang bungkusan di tangan Ratna.
“Itu apa?”
Ratna menunduk.
“Tidak penting.”
Herawati tidak memaksa.
Namun, ia berkata dengan suara lembut, “Kalau kamu datang untuk memberi doa baik, kamu tidak perlu berdiri jauh-jauh.”
Ratna menatap Herawati.
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Aku tidak pantas ada di sini,” katanya.
Herawati terdiam.
Ia tahu Ratna belum pernah meminta maaf atas semua yang terjadi. Ia tahu masih ada banyak luka yang belum terjawab.
Namun, hari itu Herawati tidak ingin menambah kebencian.
“Kita semua sedang belajar menjadi lebih baik,” katanya.
Ratna menggenggam bungkusan itu lebih erat.
Ia belum sanggup melangkah masuk.
Tetapi kata-kata Herawati membuat hatinya semakin berat.
Karena kebaikan kadang lebih menyakitkan bagi orang yang sadar bahwa dirinya telah banyak berbuat salah.
Menjelang sore, acara pernikahan mulai selesai.
Warga pulang satu per satu. Mereka membawa pulang piring kosong, sisa makanan, dan kebahagiaan sederhana.
Di halaman rumah belajar, Dedi dan Herawati berdiri bersama.
Terpal mulai diturunkan.
Anak-anak masih bermain di bawah pohon beringin.
Dedi menatap bangunan rumah belajar yang belum sepenuhnya selesai.
“Kita menikah di tempat perjuangan kita,” katanya.
Herawati tersenyum.
“Karena perjuangan ini juga bagian dari rumah kita.”
Dedi menggenggam tangan Herawati.
“Aku tidak bisa menjanjikan hidup yang mudah.”
Herawati menatapnya.
“Aku tidak meminta hidup yang mudah.”
“Lalu apa yang kamu minta?”
Herawati tersenyum.
“Aku hanya ingin kita tidak berhenti saling percaya.”
Dedi mengangguk.
“Tidak akan.”
Di kejauhan, matahari perlahan tenggelam di balik kebun-kebun desa.
Cahaya sore menyentuh atap seng rumah belajar, pohon beringin, dan tanah warisan Karsa yang masih mereka pertahankan.
Hari itu, pernikahan Dedi dan Herawati menjadi tanda bahwa cinta tidak selalu membutuhkan kemewahan untuk menjadi kuat.
Cinta mereka tumbuh dari kesederhanaan.
Dari kesetiaan.
Dari luka yang pernah hampir memisahkan.
Dan dari keberanian untuk tetap berjalan bersama, meski jalan di depan masih penuh ancaman.
Sebab di Desa Suka Jaya, pernikahan itu bukan akhir dari perjuangan.
Justru dari sanalah, perjuangan mereka sebagai keluarga dan sebagai penggerak harapan masyarakat akan memasuki babak yang lebih besar.
BAB LI
Susanti Kembali
Tiga hari setelah pernikahan Dedi dan Herawati, suasana Desa Suka Jaya kembali dipenuhi kesibukan.
Bangunan rumah belajar yang sempat tertunda karena persoalan tanah mulai dikerjakan lagi. Para warga membawa bambu, papan, dan genteng bekas. Sebagian ibu-ibu menyiapkan makanan untuk para pekerja. Anak-anak membantu membersihkan halaman sambil sesekali bermain kejar-kejaran di bawah pohon beringin.
Dedi berdiri di atas bangku kayu, memasang papan pada bagian dinding yang masih terbuka.
Herawati berada di bawah, mencatat kebutuhan bahan bangunan di dalam buku kecil.
“Paku tinggal sedikit,” katanya.
Dedi menoleh.
“Nanti aku cari ke warung kecamatan.”
“Jangan sendiri,” jawab Herawati. “Kamu baru saja menikah, bukan berarti semua pekerjaan harus kamu lakukan sendiri.”
Dedi tersenyum.
“Baik, Bu Guru.”
Herawati mengangkat alis.
“Jangan mengejek.”
“Aku tidak mengejek. Aku hanya mulai terbiasa punya teman yang berani mengaturku.”
Herawati tersenyum tipis.
“Kalau tidak diatur, kamu bisa lupa makan.”
Dedi tertawa kecil.
Di tengah kesibukan itu, sebuah angkutan desa berhenti di dekat jalan masuk menuju rumah belajar.
Beberapa anak yang sedang bermain langsung menoleh.
Dari dalam angkutan turun seorang perempuan membawa tas kain besar dan sebuah kardus berisi buku-buku.
Ia mengenakan baju sederhana berwarna biru muda. Wajahnya tampak sedikit lebih lelah daripada terakhir kali mereka melihatnya, tetapi sorot matanya tetap sama.
Tenang.
Hangat.
Dan penuh keteguhan.
“Kak Susanti!” teriak Nisa.
Anak-anak langsung berlari ke arah jalan.
Bima menjadi yang paling cepat. Ia hampir tersandung batu karena terlalu terburu-buru.
“Kak Susanti pulang!” serunya.
Susanti meletakkan kardus di tanah dan memeluk anak-anak yang datang mengerubunginya.
“Aku pulang,” katanya sambil tersenyum.
“Kenapa lama sekali?” tanya Lila.
“Aku mengajar di desa lain.”
“Sekarang Kak Susanti mengajar di sini lagi?”
Susanti memandang rumah belajar yang sedang dibangun.
Ia belum sempat menjawab ketika Dedi dan Herawati berjalan mendekat.
Dedi berhenti beberapa langkah di depan Susanti.
Untuk sesaat, tidak ada kata-kata.
Ada begitu banyak hal yang ingin diucapkan.
Tentang perpisahan.
Tentang fitnah.
Tentang surat lama.
Tentang rumah belajar yang dibakar.
Tentang perjuangan yang terus berjalan meski salah satu dari mereka pergi.
Akhirnya, Dedi berkata pelan, “Kamu pulang.”
Susanti mengangguk.
“Aku dengar rumah belajar kembali terancam.”
Herawati menatapnya.
“Dari siapa kamu dengar?”
“Seorang warga dari desa sini datang ke Desa Harapan Jaya. Ia membawa kabar bahwa Burhan mengklaim tanah rumah belajar dan Leman masih menekan warga.”
Dedi menunduk.
“Keadaan memang belum selesai.”
Susanti memandang bangunan sederhana itu.
“Aku tahu.”
Herawati melangkah mendekat.
“Kamu datang untuk apa, Sus?”
Susanti menarik napas panjang.
“Aku datang untuk membantu.”
Herawati terdiam.
Susanti melanjutkan, “Bukan untuk mengganggu rumah tangga kalian. Bukan untuk mengulang hal-hal yang sudah melukai kita. Aku datang karena rumah belajar ini juga bagian dari hidupku.”
Dedi menatap sahabatnya.
Susanti membuka kardus yang dibawanya.
Di dalamnya terdapat buku pelajaran, buku cerita anak, kapur tulis, beberapa poster huruf, dan alat berhitung sederhana.
“Di Desa Harapan Jaya, aku bertemu seorang guru yang punya banyak buku bekas,” katanya. “Ketika aku bercerita tentang rumah belajar di sini, beliau membantu mengumpulkan buku-buku ini.”
Bima mengambil satu buku cerita bergambar.
“Ini buat kita?”
Susanti tersenyum.
“Iya. Tapi harus dijaga baik-baik.”
Anak-anak bersorak gembira.
Herawati memandangi Susanti cukup lama.
Di dalam hatinya, masih ada sisa rasa bersalah.
Ia teringat bagaimana dahulu ia membaca surat lama Susanti dan membiarkan rasa cemburu menguasai pikirannya. Ia teringat bagaimana Susanti memilih pergi demi menjaga hubungan mereka.
Kini, Susanti kembali.
Bukan untuk meminta apa pun.
Bukan untuk mencari tempat di hati Dedi.
Melainkan untuk membawa buku bagi anak-anak.
Herawati mendekat dan memegang tangan Susanti.
“Terima kasih sudah kembali,” katanya.
Susanti menatapnya.
“Kalau kamu tidak keberatan.”
Herawati menggeleng.
“Aku justru ingin kamu kembali.”
Mata Susanti mulai berkaca-kaca.
“Benarkah?”
Herawati mengangguk.
“Rumah belajar ini tidak akan sama tanpa kamu. Dan aku tidak ingin lagi membiarkan kesalahpahaman membuat kita saling menjauh.”
Susanti memeluk Herawati.
Pelukan itu tidak langsung menghapus semua luka masa lalu.
Namun, pelukan itu menjadi awal dari sesuatu yang lebih kuat: persahabatan yang dibangun kembali dengan kejujuran.
Dedi memandangi keduanya dengan perasaan lega.
Ia tahu bahwa perjalanan mereka masih panjang. Tetapi melihat Herawati dan Susanti berdiri bersama membuatnya percaya bahwa tidak semua yang retak harus berakhir hancur.
Beberapa hal dapat diperbaiki.
Asalkan ada keberanian untuk saling memahami.
Siang itu, Susanti langsung membantu anak-anak belajar.
Ia menggelar tikar di bawah pohon beringin. Ia mengajarkan huruf melalui kartu-kartu sederhana. Anak-anak yang sudah lama merindukan cara mengajarnya tampak sangat gembira.
“Kak Susanti, aku sudah bisa membaca dua halaman,” kata Nisa dengan bangga.
Susanti tersenyum.
“Bagus. Nanti kita baca bersama-sama.”
Dedi dan Herawati melanjutkan pekerjaan membangun rumah belajar. Sesekali mereka menoleh ke arah Susanti yang sedang mengajar.
Suara anak-anak mengeja huruf kembali terdengar.
A… B… C…
Suara itu mengisi halaman rumah belajar.
Seolah-olah rumah belajar yang pernah terbakar kini perlahan menemukan napasnya kembali.
Menjelang sore, Pak Warto datang membawa kabar.
Ia berjalan cepat dengan wajah tegang.
“Dedi,” katanya. “Ada sesuatu yang harus kamu tahu.”
Dedi turun dari bangku kayu.
“Ada apa, Pak?”
Pak Warto menoleh ke kanan dan kiri sebelum berbicara.
“Tadi siang, Leman mendatangi beberapa warga. Ia meminta mereka menandatangani surat pernyataan bahwa tanah rumah belajar bukan milik Karsa.”
Herawati mengerutkan dahi.
“Padahal kita sudah punya arsip dari kabupaten.”
Pak Warto mengangguk.
“Leman bilang dokumen dari kabupaten bisa dipermasalahkan. Ia juga mengancam warga yang tidak mau mendukung Burhan.”
Susanti yang mendengar percakapan itu menghentikan kegiatan belajar.
Wajahnya berubah serius.
“Leman masih menggunakan ketakutan,” katanya.
Dedi mengepalkan tangan.
“Kalau warga terus takut, bukti saja mungkin tidak cukup.”
Susanti memandang Dedi.
“Karena itu kita harus membuat warga merasa bahwa mereka tidak sendiri.”
Herawati mengangguk.
“Kita perlu mengumpulkan mereka. Bukan hanya untuk membahas tanah rumah belajar, tetapi juga untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.”
Pak Warto menghela napas.
“Tidak semua orang berani datang.”
“Kalau satu orang berani,” kata Susanti, “orang lain akan mulai percaya bahwa mereka juga bisa.”
Dedi memandangi rumah belajar yang belum selesai.
Di sana, anak-anak masih duduk dengan buku-buku baru di tangan mereka.
Mereka tidak tahu bahwa orang dewasa di sekitar mereka sedang menghadapi permainan kotor dan ancaman.
Mereka hanya tahu bahwa mereka ingin belajar.
Dan keinginan sederhana itu membuat Dedi kembali merasa kuat.
“Baik,” katanya. “Kita kumpulkan warga.”
Herawati menatapnya.
“Kapan?”
“Besok malam. Di bawah pohon beringin.”
Susanti mengangguk.
“Aku akan membantu mengajak ibu-ibu dan para pemuda.”
Pak Warto memandang mereka bertiga.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia melihat kembali kekuatan yang pernah membuat rumah belajar itu tumbuh.
Dedi dengan keteguhannya.
Herawati dengan keberaniannya.
Susanti dengan kesabarannya.
Tiga orang yang pernah hampir dipisahkan oleh fitnah kini kembali berdiri dalam satu tujuan.
Namun, di rumah Leman, kabar kepulangan Susanti telah sampai.
Leman duduk di kursi kayu dengan wajah muram.
Burhan berdiri di dekat jendela.
“Susanti kembali?” tanya Burhan.
Leman mengangguk.
“Dia membawa buku dan mulai mengajar lagi.”
Burhan mengepalkan tangan.
“Dedi semakin banyak pendukung.”
“Bukan hanya Dedi,” jawab Leman. “Sekarang Herawati dan Susanti juga kembali berdiri di sisinya.”
Burhan menatap ke arah jalan yang menuju rumah belajar.
“Kalau begitu, kita harus menghentikan mereka sebelum warga benar-benar berani melawan.”
Leman tidak menjawab.
Namun, wajahnya menunjukkan bahwa ia telah memikirkan sesuatu.
Sesuatu yang lebih gelap daripada fitnah.
Sesuatu yang akan membuat Desa Suka Jaya kembali berada dalam ketakutan.
Di bawah pohon beringin, senja perlahan turun.
Susanti menutup buku terakhir yang dibacakan kepada anak-anak.
Dedi dan Herawati berdiri di dekatnya.
Mereka bertiga memandang bangunan rumah belajar yang sedang dibangun kembali.
Tidak ada yang tahu ancaman apa yang akan datang.
Namun, mereka tahu satu hal.
Mereka tidak akan lagi menghadapi semuanya sendiri-sendiri.
Karena rumah belajar itu bukan hanya bangunan.
Ia adalah tempat harapan dipelihara.
Dan selama masih ada orang-orang yang bersedia menjaga harapan, lentera di ujung desa tidak akan mudah padam.
BAB LII
Kesaksian Ratna
Malam setelah Susanti kembali, angin bertiup lebih kencang dari biasanya.
Daun-daun pohon beringin bergesekan, menimbulkan suara lirih di sekitar rumah belajar. Di dalam bangunan yang belum selesai itu, Dedi, Herawati, Susanti, Pak Warto, dan beberapa pemuda desa sedang duduk melingkar.
Sebuah lampu minyak diletakkan di atas meja kayu.
Cahayanya kecil, tetapi cukup menerangi wajah-wajah yang tampak tegang.
“Kita tidak bisa terus menunggu,” kata Dedi. “Leman sudah mulai meminta warga menandatangani surat yang tidak benar. Kalau mereka terus takut, Burhan akan semakin mudah mengambil tanah ini.”
Pak Warto mengangguk.
“Masalahnya, banyak warga takut kehilangan pekerjaan. Ada yang masih berutang kepada orang-orang Burhan. Ada juga yang pernah mendapat bantuan, lalu merasa tidak enak kalau menolak.”
Susanti menatap satu per satu orang yang hadir.
“Ketakutan itu harus dilawan dengan kebenaran. Tapi kebenaran harus punya bukti dan orang yang berani bersaksi.”
Herawati menghela napas.
“Kita sudah punya surat dari kabupaten. Namun, warga juga perlu tahu bahwa masalah ini bukan hanya tentang tanah rumah belajar.”
Dedi memandang lampu minyak di tengah meja.
“Dana bantuan yang hilang, fitnah terhadap rumah belajar, kebakaran, dan surat tanah palsu. Semuanya seperti satu rangkaian.”
Hening menyelimuti ruangan.
Tidak ada seorang pun yang berani langsung menjawab.
Semua orang tahu siapa yang berada di balik rangkaian itu.
Namun, menyebut nama Leman dan Burhan secara terbuka bukan perkara mudah.
Mereka masih memiliki orang-orang yang setia. Mereka masih punya pengaruh. Mereka masih dapat menekan warga dengan ancaman, utang, dan janji-janji.
Di rumah Ratna, malam itu juga tidak terasa tenang.
Ratna duduk sendiri di ruang depan. Lampu minyak di rumahnya hampir habis. Di atas meja, terletak buku tulis lamanya yang pernah ia buka beberapa hari lalu.
Di halaman pertama, masih terlihat tulisan masa kecilnya:
Aku ingin menjadi guru.
Ratna menatap tulisan itu dengan mata berkaca-kaca.
Ia teringat saat pertama kali Leman mendatanginya.
Waktu itu, Leman berkata bahwa Dedi terlalu banyak bicara. Ia mengatakan bahwa Dedi akan membawa masalah bagi desa. Ia meminta Ratna menyebarkan cerita bahwa Dedi hanya mencari perhatian dan ingin menjadi kepala desa.
Ratna melakukannya.
Awalnya hanya satu cerita kecil.
Kemudian satu cerita menjadi banyak.
Ia mulai membicarakan kedekatan Dedi dan Herawati.
Ia memelintir hubungan Dedi dan Susanti.
Ia menyebarkan kabar bahwa dana bantuan rumah belajar digunakan untuk kepentingan pribadi.
Setiap kali melihat Herawati terluka, Ratna merasa ada kepuasan yang aneh.
Setiap kali melihat Dedi dipandang curiga oleh warga, Ratna merasa dirinya tidak lagi kecil.
Namun, kepuasan itu tidak bertahan lama.
Kini, yang tersisa hanya rasa bersalah.
Dan rasa takut.
Tiba-tiba terdengar suara langkah di halaman.
Ratna langsung menutup buku tulisnya.
“Siapa?” tanyanya.
Tidak ada jawaban.
Pintu rumahnya diketuk pelan.
Ratna berjalan mendekat dengan hati berdebar.
Ketika pintu dibuka, ia melihat Leman berdiri di depan rumah.
Wajahnya gelap.
“Aku perlu bicara,” katanya.
Ratna tidak ingin mempersilakannya masuk.
Namun, Leman sudah melangkah ke ruang depan.
Ia duduk di kursi kayu tanpa diminta.
“Kamu mendengar kabar tentang Susanti?” tanyanya.
Ratna mengangguk.
“Sudah.”
“Dia kembali untuk membantu Dedi.”
Ratna tidak menjawab.
Leman menatapnya tajam.
“Aku dengar kamu juga mulai sering berada di dekat rumah belajar.”
“Aku hanya lewat.”
“Jangan berbohong.”
Ratna mengepalkan tangan.
Leman melanjutkan, “Aku tahu kamu mulai merasa bersalah. Aku tahu kamu mulai berpikir untuk bicara kepada Dedi atau Herawati.”
Ratna menatapnya.
“Aku tidak tahu apa yang kamu maksud.”
Leman tersenyum dingin.
“Kamu tahu terlalu banyak, Ratna.”
Kalimat itu membuat tubuh Ratna menegang.
Leman mendekatkan wajahnya.
“Kamu tahu siapa yang mengambil dana bantuan. Kamu tahu siapa yang membakar rumah belajar. Kamu juga tahu siapa yang membawa surat tanah itu kepada Burhan.”
Ratna menelan ludah.
“Kenapa kamu bicara begitu?”
“Karena aku ingin kamu ingat,” jawab Leman. “Kalau kamu membuka mulut, kamu bukan hanya menghancurkan aku. Kamu juga menghancurkan dirimu sendiri.”
Ratna memandangnya dengan mata gemetar.
“Aku tidak ikut membakar rumah belajar.”
“Tapi kamu tahu rencananya.”
“Aku tidak tahu mereka benar-benar akan membakar.”
“Tidak penting,” kata Leman dingin. “Orang-orang akan tetap melihatmu sebagai bagian dari kami.”
Ratna terdiam.
Leman berdiri.
“Besok malam ada pertemuan warga di bawah pohon beringin. Jangan datang. Jangan bicara. Jangan membuat masalah.”
Ia melangkah menuju pintu, lalu berhenti.
“Kalau kamu masih ingin hidup tenang di desa ini, tetaplah diam.”
Setelah Leman pergi, Ratna berdiri cukup lama di ruang depan.
Tangannya gemetar.
Ia ingin menangis, tetapi air mata seolah tidak mau keluar.
Ancaman itu membuatnya semakin takut.
Namun, justru karena itulah ia mulai menyadari bahwa diam tidak akan menyelamatkannya.
Diam hanya akan membuat Leman semakin berkuasa.
Diam hanya akan membuat Dedi, Herawati, Susanti, dan anak-anak rumah belajar terus menjadi korban.
Menjelang tengah malam, Ratna mengambil selendang dan keluar rumah.
Ia berjalan pelan menuju rumah Herawati.
Jalan desa gelap. Hanya cahaya bulan yang membantu langkahnya. Setiap suara anjing menggonggong membuatnya menoleh cemas.
Ketika sampai di rumah Herawati, Ratna berdiri cukup lama di depan pagar.
Ia hampir ingin pulang.
Namun, akhirnya ia memberanikan diri mengetuk pintu.
Herawati yang membuka pintu tampak terkejut.
“Ratna?”
Ratna menunduk.
“Aku perlu bicara.”
Herawati memandangnya beberapa saat.
Kemudian ia mempersilakan Ratna masuk.
Di ruang depan, Dedi dan Susanti masih duduk bersama beberapa berkas tanah. Mereka langsung terdiam ketika melihat Ratna datang.
Susanti menatap Ratna dengan hati-hati.
Dedi tidak berkata apa-apa.
Ratna berdiri di tengah ruangan. Wajahnya pucat. Tangannya terus meremas ujung selendang.
“Aku tahu kalian tidak percaya padaku,” katanya pelan.
Tidak ada yang membantah.
Ratna menarik napas panjang.
“Aku tidak datang untuk meminta kalian langsung memaafkanku. Aku datang karena aku sudah tidak bisa terus diam.”
Dedi menatapnya.
“Apa yang ingin kamu katakan?”
Ratna memejamkan mata sesaat.
Kemudian ia mulai berbicara.
“Dana bantuan rumah belajar tidak pernah sampai kepada kalian karena Leman meminta orang kepercayaannya mengambilnya di kecamatan. Uang itu dibawa ke rumah Burhan.”
Herawati menatap Ratna dengan wajah tegang.
Ratna melanjutkan, “Leman juga yang menyuruh orang-orang menyebarkan kabar bahwa Dedi menggelapkan bantuan. Dia bilang kalau nama Dedi rusak, warga tidak akan lagi percaya pada rumah belajar.”
Susanti menggenggam tangan Herawati.
Dedi tetap diam.
“Rumah belajar dibakar oleh dua orang suruhan Leman,” lanjut Ratna. “Aku mendengar mereka membicarakannya di belakang rumah Burhan. Aku tidak tahu mereka benar-benar akan melakukannya. Tapi aku tahu Leman marah karena anak-anak dan warga mulai berkumpul di sana.”
Dedi menunduk.
Bayangan malam ketika rumah belajar terbakar kembali muncul dalam ingatannya.
Buku-buku yang hangus.
Papan tulis yang runtuh.
Herawati yang terluka saat berusaha menyelamatkan buku.
Ratna melanjutkan dengan suara bergetar, “Surat tanah itu juga palsu. Burhan meminta seseorang membuatnya. Leman membantu mencari orang yang bisa meniru tanda tangan Karsa.”
Herawati menatap Ratna.
“Apakah kamu punya bukti?”
Ratna terdiam.
“Aku tidak punya surat atau rekaman,” katanya. “Tapi aku tahu orang-orangnya. Aku tahu siapa yang mengambil dana. Aku tahu siapa yang membakar rumah belajar. Aku tahu di mana Leman menyimpan beberapa berkas.”
Dedi akhirnya berbicara.
“Kenapa kamu mau mengatakan semua ini sekarang?”
Ratna menatapnya.
Air mata mulai jatuh dari matanya.
“Karena aku sudah terlalu lama menjadi orang yang salah. Aku iri kepada kalian. Aku marah karena hidupku tidak berjalan seperti yang aku inginkan. Lalu aku membiarkan Leman menggunakan kemarahanku untuk melukai orang lain.”
Herawati menunduk.
Ratna melanjutkan, “Aku melihat anak-anak belajar di bawah hujan. Aku melihat Susanti pergi karena fitnah. Aku melihat kalian menikah di tengah semua ancaman. Dan aku sadar, aku tidak sedang menghancurkan kalian saja. Aku sedang menghancurkan harapan anak-anak desa ini.”
Ruangan menjadi sunyi.
Susanti memandang Ratna dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Dedi menarik napas panjang.
“Apa kamu siap mengatakan ini di depan warga?” tanyanya.
Ratna langsung menatapnya.
Wajahnya kembali pucat.
“Di depan warga?”
“Kalau hanya kepada kami, Leman akan tetap menyangkal semuanya.”
Ratna menggigit bibir.
Ia teringat ancaman Leman.
Ia teringat keluarganya.
Ia teringat semua orang yang mungkin akan membencinya setelah pengakuan itu.
Namun, ia juga teringat tulisan kecil di buku masa kecilnya.
Aku ingin menjadi guru.
Mungkin ia tidak pernah menjadi guru seperti yang diimpikannya.
Tetapi mungkin masih ada kesempatan untuk mengajarkan sesuatu melalui keberaniannya.
Ratna mengusap air matanya.
“Aku takut,” katanya jujur.
Herawati mendekat.
“Kami juga takut.”
Susanti mengangguk.
“Tapi kalau kita terus membiarkan rasa takut mengatur hidup kita, Leman akan selalu menang.”
Ratna memandang mereka bertiga.
Dedi berkata pelan, “Kami tidak bisa menjanjikan semuanya akan mudah. Tapi kami tidak akan membiarkan kamu menghadapi ini sendirian.”
Ratna menarik napas panjang.
Lalu ia mengangguk.
“Aku akan bicara.”
Keesokan malamnya, warga mulai berkumpul di bawah pohon beringin.
Lampu minyak dinyalakan di beberapa sudut. Para pemuda berjaga di dekat jalan. Ibu-ibu duduk bersama anak-anak. Para bapak berdiri dalam kelompok-kelompok kecil sambil berbisik.
Leman datang dengan wajah keras.
Burhan datang beberapa saat kemudian, membawa map cokelat yang selalu ia bawa.
Mereka mengira pertemuan itu hanya akan menjadi musyawarah biasa.
Mereka tidak tahu bahwa malam itu, seseorang yang selama ini mereka gunakan sebagai alat akan memilih untuk berbicara.
Ratna berdiri di belakang Herawati.
Tangannya gemetar.
Namun, ketika ia melihat anak-anak rumah belajar duduk dengan buku di pangkuan mereka, ia merasa ada kekuatan kecil yang tumbuh dalam dirinya.
Kekuatan untuk tidak lagi menjadi bagian dari kebohongan.
Dan ketika Pak Warto mempersilakan warga menyampaikan pendapat, Ratna melangkah maju.
Suara langkahnya terdengar jelas di atas tanah yang lembap.
Semua mata memandangnya.
Leman menatap Ratna dengan wajah berubah.
Burhan mengerutkan dahi.
Ratna berdiri di tengah lingkaran warga.
Ia menarik napas panjang.
Kemudian, dengan suara yang semula bergetar tetapi perlahan menjadi tegas, ia berkata,
“Aku tahu siapa yang selama ini menghancurkan rumah belajar dan menipu warga Desa Suka Jaya.”
Di bawah pohon beringin, suasana mendadak hening.
Dan malam itu, keberanian Ratna menjadi awal dari runtuhnya ketakutan yang selama ini menguasai desa.
BAB LIII
Ancaman Terakhir Leman
Kata-kata Ratna menggantung di udara.
“Aku tahu siapa yang selama ini menghancurkan rumah belajar dan menipu warga Desa Suka Jaya.”
Di bawah pohon beringin, tidak ada seorang pun yang langsung berbicara.
Lampu-lampu minyak yang digantung di batang bambu bergoyang pelan diterpa angin malam. Cahaya kekuningan memantul di wajah warga yang tampak terkejut. Beberapa ibu menutup mulut. Para pemuda saling berpandangan. Anak-anak yang semula duduk di dekat Herawati mulai merapat kepada orang tua mereka.
Dedi berdiri beberapa langkah dari Ratna.
Herawati berada di sisi Susanti.
Pak Warto memegang tongkat kayunya dengan erat, seolah bersiap menghadapi sesuatu yang tidak diinginkan.
Di seberang kerumunan, Leman menatap Ratna dengan wajah yang berubah keras.
Burhan berdiri di sampingnya, memegang map cokelat di bawah lengannya.
“Jangan asal bicara,” kata Leman.
Suaranya berat.
Namun, untuk pertama kalinya, warga tidak langsung menunduk ketika ia berbicara.
Ratna menatap Leman.
Tangannya masih gemetar, tetapi ia tidak lagi mundur.
“Aku tidak asal bicara,” katanya.
Leman melangkah maju.
“Kalau kamu punya masalah pribadi denganku, jangan bawa-bawa warga.”
Ratna menggeleng.
“Ini bukan masalah pribadi.”
“Lalu apa?”
“Ini tentang dana bantuan yang hilang. Ini tentang rumah belajar yang dibakar. Ini tentang surat tanah palsu. Ini tentang warga yang dipaksa menjual tanah karena takut dan karena terdesak.”
Suasana semakin tegang.
Burhan tertawa kecil, tetapi tawa itu terdengar kering.
“Kamu punya bukti?” tanyanya.
Ratna menoleh kepada Burhan.
“Aku tahu siapa yang mengambil dana bantuan di kecamatan. Aku tahu siapa yang membawa uang itu ke rumahmu. Aku juga tahu dua orang yang diperintah untuk membakar rumah belajar.”
Warga mulai berbisik.
Seorang bapak yang berdiri di dekat jalan mengangkat suara.
“Siapa orangnya?”
Ratna menarik napas.
“Salah satunya bernama Ujang. Yang satu lagi Rudi.”
Nama itu membuat beberapa warga saling pandang.
Ujang dan Rudi adalah dua pemuda desa yang selama ini sering terlihat berada di sekitar rumah Leman. Mereka dikenal sering mengerjakan pekerjaan apa saja untuk mendapatkan uang.
Leman memandang Ratna dengan mata menyala.
“Kamu hati-hati kalau bicara.”
Ratna menatapnya tanpa berkedip.
“Aku sudah terlalu lama berhati-hati sampai aku ikut menjadi bagian dari kebohonganmu.”
Kalimat itu membuat warga kembali hening.
Dedi memandang Ratna dengan perasaan campur aduk. Ia tahu tidak mudah bagi Ratna untuk berdiri di hadapan orang-orang yang selama ini ia pengaruhi dengan fitnah. Ia tahu pengakuan itu tidak akan menghapus luka yang pernah terjadi.
Namun, malam itu Ratna memilih sesuatu yang lebih sulit daripada menyebarkan kebohongan.
Ia memilih mengatakan kebenaran.
Burhan melangkah maju.
“Kalian semua jangan mudah percaya,” katanya kepada warga. “Ratna hanya ingin mencari perhatian. Dia tidak punya bukti. Dia hanya membuat cerita supaya dekat dengan Dedi.”
Beberapa warga tampak ragu.
Leman segera memanfaatkan keraguan itu.
“Benar,” katanya. “Kalian tahu sendiri seperti apa Ratna. Dia pernah membuat masalah. Sekarang tiba-tiba ingin menjadi orang baik.”
Ratna menunduk sesaat.
Ucapan itu menusuk.
Karena sebagian dari kata-kata Leman benar.
Ia memang pernah membuat masalah.
Ia memang pernah menyebarkan fitnah.
Ia memang pernah membiarkan iri hatinya menjadi jalan bagi orang lain untuk berbuat jahat.
Namun, Ratna mengangkat wajah kembali.
“Aku memang pernah salah,” katanya. “Aku tidak akan menyangkalnya.”
Warga terdiam.
“Aku pernah menyebarkan cerita tentang Dedi dan Herawati. Aku pernah membuat Susanti menjadi bahan gunjingan. Aku pernah membantu Leman membuat orang-orang percaya bahwa Dedi mengambil dana bantuan.”
Herawati menatap Ratna dengan mata berkaca-kaca.
Ratna melanjutkan, “Aku melakukan itu karena iri. Karena aku ingin melihat mereka jatuh. Tetapi sekarang aku tahu, kesalahanku tidak membuat hidupku lebih baik. Kesalahanku hanya membuat banyak orang terluka.”
Seorang ibu di belakang kerumunan mengusap matanya.
Ratna berkata lagi, “Aku tidak meminta kalian percaya begitu saja. Aku hanya meminta kalian berani melihat apa yang selama ini terjadi di depan mata kita. Berapa banyak tanah warga yang sudah berpindah tangan? Berapa banyak orang yang dipaksa menandatangani surat? Berapa banyak anak yang hampir kehilangan tempat belajar?”
Kata-kata itu mulai menggugah warga.
Pak Jaka, yang selama ini lebih sering diam, tiba-tiba maju.
Ia menatap Burhan.
“Tanah saya juga pernah ditawar,” katanya. “Waktu itu anak saya sakit. Saya butuh uang. Burhan bilang tanah saya tidak akan hilang, hanya dijadikan jaminan. Tapi setelah saya tanda tangan, saya tidak pernah lagi melihat suratnya.”
Burhan menatap Jaka dengan wajah dingin.
“Itu urusan utang piutang.”
“Bukan,” jawab Jaka. “Itu penipuan.”
Suara Jaka membuat beberapa warga lain mulai berani berbicara.
“Tanah saya juga,” kata seorang lelaki tua dari belakang.
“Punya saya ditawar murah,” sambung seorang ibu.
“Saya pernah diminta tanda tangan tanpa dijelaskan isi suratnya,” kata warga lain.
Suasana di bawah pohon beringin berubah.
Warga yang sebelumnya hanya berbisik kini mulai menyampaikan pengalaman mereka. Tidak semua berani berdiri ke depan, tetapi suara-suara itu semakin banyak.
Leman memandang kerumunan dengan wajah tegang.
Ia tidak menyangka ketakutan yang selama ini ia pelihara mulai retak.
Ia menoleh kepada Burhan.
“Kita pulang,” katanya pelan.
Namun, Burhan tidak bergerak.
Ia masih berusaha mempertahankan wajah tenang.
“Tidak ada yang bisa membuktikan apa pun,” katanya.
Dedi akhirnya melangkah maju.
Di tangannya, ia membawa map berisi dokumen dari kabupaten.
“Ini bukan hanya soal pengakuan,” katanya. “Kami memiliki arsip tanah atas nama Karsa. Kami juga memiliki surat keterangan bahwa tidak pernah ada jual beli tanah rumah belajar kepada Burhan.”
Ia mengangkat map itu.
“Dan mulai besok, kami akan membawa persoalan ini kepada pihak yang berwenang. Bukan untuk membalas dendam, tetapi untuk memastikan tidak ada lagi warga yang kehilangan haknya karena kebohongan.”
Leman menatap Dedi dengan tajam.
“Kamu pikir kamu menang karena beberapa orang mulai bicara?”
Dedi tidak menjawab dengan marah.
“Aku tidak ingin menang atas siapa pun, Man. Aku hanya ingin warga tidak lagi hidup dalam ketakutan.”
Leman tertawa sinis.
“Kamu selalu bicara seolah-olah kamu penyelamat desa.”
Dedi menggeleng.
“Aku bukan penyelamat. Aku hanya salah satu warga yang tidak ingin diam.”
Leman mengepalkan tangan.
Wajahnya merah.
Ia ingin membalas, tetapi suara warga semakin banyak.
Mereka tidak lagi menatapnya dengan ketundukan seperti dahulu.
Beberapa orang bahkan berdiri lebih dekat kepada Dedi, Herawati, dan Ratna.
Malam itu, Leman merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Kehilangan kuasa.
Bukan karena ia sudah jatuh.
Tetapi karena orang-orang yang selama ini ia kuasai mulai berani menatapnya tanpa takut.
Ia berbalik dan berjalan pergi.
Burhan mengikuti dari belakang dengan langkah cepat.
Namun, sebelum meninggalkan halaman rumah belajar, Leman menoleh sekali lagi kepada Ratna.
Tatapannya tajam.
Penuh amarah.
Penuh ancaman.
Ratna merasakan tubuhnya dingin.
Ia tahu Leman tidak akan tinggal diam.
Dan firasat itu terbukti pada malam berikutnya.
Rumah Ratna berada di bagian desa yang agak jauh dari keramaian. Di belakang rumahnya terbentang kebun singkong dan jalan kecil menuju sungai.
Malam itu, Ratna sedang duduk bersama ibunya di ruang depan.
Ibunya menjahit kain, sementara Ratna membantu menyiapkan air minum.
Sejak pengakuannya di bawah pohon beringin, rumah mereka terasa lebih sunyi. Beberapa tetangga datang memberi dukungan, tetapi ada juga yang hanya lewat sambil memandang dengan tatapan aneh.
Ratna tahu bahwa keberaniannya membawa akibat.
Namun, ia tidak lagi ingin kembali bersembunyi.
Tiba-tiba terdengar suara batu mengenai dinding rumah.
Brak!
Ibu Ratna terkejut.
“Apa itu?”
Ratna berdiri.
Kemudian terdengar suara lain dari luar.
“Jangan merasa hebat karena sudah bicara!”
Ratna membeku.
Suara itu tidak jelas siapa pemiliknya, tetapi ia mengenali cara bicara orang-orang suruhan Leman.
Batu kedua dilemparkan ke arah jendela.
Kaca kecil di bagian samping pecah.
Ibu Ratna menjerit pelan.
Ratna segera memeluk ibunya.
“Jangan keluar, Bu.”
Dari luar, suara itu kembali terdengar.
“Kalau masih mau tinggal di desa ini, tutup mulutmu!”
Ratna menahan napas.
Ia ingin takut.
Dan memang ia takut.
Tetapi di dalam dirinya, ada sesuatu yang telah berubah.
Dulu, ancaman seperti itu mungkin akan membuatnya kembali diam.
Mungkin ia akan meminta maaf kepada Leman.
Mungkin ia akan menarik semua ucapannya.
Namun, kini ia teringat wajah anak-anak rumah belajar.
Ia teringat Herawati yang tetap menyambutnya meski pernah ia sakiti.
Ia teringat Susanti yang tidak membalas keburukan dengan keburukan.
Dan ia teringat Dedi yang berkata bahwa mereka tidak akan membiarkannya menghadapi semuanya sendiri.
Ratna mengambil lampu minyak dan berjalan ke dekat pintu.
Ibu Ratna menarik lengannya.
“Jangan, Nak.”
Ratna menatap ibunya.
“Aku tidak akan keluar, Bu. Tapi aku tidak mau lagi bersembunyi.”
Ia membuka sedikit jendela yang masih utuh.
Di luar, hanya tampak bayangan beberapa orang yang bergerak menjauh di jalan gelap.
Ratna berkata dengan suara keras,
“Kalau kalian ingin mengancamku, lakukanlah. Tapi aku tidak akan menarik kata-kataku!”
Tidak ada jawaban.
Hanya suara langkah yang semakin menjauh.
Keesokan paginya, kabar tentang ancaman terhadap Ratna menyebar ke seluruh desa.
Dedi, Herawati, dan Susanti segera datang ke rumah Ratna.
Mereka melihat pecahan kaca di lantai dan batu-batu yang masih berserakan di halaman.
Herawati memegang tangan Ratna.
“Kamu tidak apa-apa?”
Ratna mengangguk, meski wajahnya pucat.
“Aku dan ibu tidak terluka.”
Dedi memandangi halaman rumah itu dengan rahang mengeras.
“Ini sudah keterlaluan.”
Susanti menatap Dedi.
“Kita harus tetap tenang. Mereka ingin membuat kita takut dan bertindak gegabah.”
Dedi menarik napas panjang.
“Aku tahu.”
Pak Warto datang bersama beberapa warga.
“Kami sudah bicara,” katanya. “Mulai malam ini, ada warga yang akan bergantian menjaga rumah Ratna.”
Ratna menatap warga yang datang.
Ada Jaka.
Ada beberapa pemuda.
Ada ibu-ibu yang membawa makanan.
Ada orang-orang yang dahulu hanya diam, tetapi kini mulai berdiri bersama.
Ratna tidak mampu menahan air mata.
“Aku tidak pantas mendapatkan semua ini,” katanya.
Pak Warto menggeleng.
“Tidak ada manusia yang tidak pernah salah. Yang penting, kamu berani memperbaiki kesalahan.”
Dedi memandang Ratna.
“Kita akan teruskan semua bukti ini. Tetapi kita juga harus memastikan warga tidak lagi mudah dipecah.”
Herawati mengangguk.
“Kita adakan musyawarah terbuka. Semua warga harus diberi kesempatan bicara.”
Susanti menambahkan, “Dan kali ini, tidak boleh ada yang berbicara sendirian.”
Di luar rumah Ratna, matahari mulai naik.
Cahaya pagi menyentuh pecahan kaca yang berserakan di tanah.
Benda-benda kecil itu tampak seperti luka.
Namun, di sekitar luka itu, warga mulai berkumpul.
Mereka membawa keberanian.
Mereka membawa dukungan.
Mereka membawa kesadaran bahwa ancaman tidak boleh lagi menentukan masa depan desa.
Leman masih memiliki amarah.
Burhan masih memiliki rencana.
Tetapi Desa Suka Jaya tidak lagi sama.
Ketakutan yang selama ini menjadi senjata mereka mulai kehilangan kekuatannya.
Dan dari keberanian Ratna, lahirlah keberanian-keberanian lain yang akan membawa warga menuju perlawanan yang lebih besar.
BAB LIV
Warga yang Bangkit
Pecahan kaca di rumah Ratna belum sepenuhnya dibersihkan ketika kabar tentang ancaman itu menyebar ke seluruh Desa Suka Jaya.
Pagi itu, orang-orang datang bergantian. Ada yang membawa sapu, ada yang membawa papan untuk menutup jendela yang pecah, ada pula yang hanya datang untuk duduk dan menemani Ratna serta ibunya.
Tidak semua warga datang karena sudah berani.
Sebagian datang karena penasaran.
Sebagian lagi datang karena takut jika ancaman yang sama suatu hari menimpa mereka.
Namun, kehadiran mereka menjadi tanda bahwa sesuatu mulai berubah.
Dulu, ketika seseorang diancam oleh Leman, warga memilih menutup pintu rumah. Mereka pura-pura tidak melihat. Mereka takut jika ikut campur, mereka akan kehilangan pekerjaan, kehilangan tanah, atau menjadi sasaran berikutnya.
Kini, meski masih ada rasa takut, mereka mulai menyadari bahwa diam tidak pernah benar-benar membuat mereka aman.
Di halaman rumah Ratna, Pak Warto berbicara kepada beberapa warga yang berkumpul.
“Kita tidak bisa membiarkan satu keluarga menghadapi ancaman seperti ini sendirian,” katanya. “Kalau hari ini Ratna, besok bisa jadi kita.”
Jaka mengangguk.
“Dulu saya diam karena takut tanah saya diambil,” katanya. “Tapi ternyata diam juga tidak membuat tanah saya kembali.”
Seorang ibu bernama Bu Ningsih yang berdiri di dekat pagar ikut bicara.
“Suami saya dulu menandatangani surat dari Burhan. Katanya hanya untuk jaminan pinjaman. Tapi setelah itu, kebun kami tidak bisa lagi digarap.”
Warga mulai saling memandang.
Cerita-cerita yang selama ini hanya dibicarakan di dalam rumah kini mulai keluar ke halaman.
Dedi yang berdiri di dekat pintu rumah Ratna mendengarkan dengan wajah serius. Ia tidak ingin memaksa siapa pun. Ia tahu setiap orang memiliki luka dan ketakutannya sendiri.
Namun, ia juga tahu bahwa desa tidak akan berubah jika semua orang terus menyimpan pengalaman mereka sendiri-sendiri.
Herawati mendekat kepadanya.
“Kita harus mengadakan musyawarah terbuka,” katanya.
Dedi mengangguk.
“Bukan hanya untuk membahas tanah rumah belajar.”
“Ya,” jawab Herawati. “Kita harus membahas semua yang selama ini membuat warga takut. Tanah, utang, surat-surat, dana bantuan, dan ancaman.”
Susanti yang sedang membantu ibu Ratna membereskan pecahan kaca ikut mendengar.
“Kalau musyawarah dilakukan di balai desa, Leman mungkin akan mencoba menguasai suasana,” katanya.
Pak Warto mengangguk pelan.
“Benar. Selama ini balai desa selalu menjadi tempat orang-orang kuat berbicara, sementara warga hanya mendengar.”
“Kalau begitu,” kata Dedi, “kita lakukan di halaman rumah belajar.”
Herawati memandang pohon beringin di kejauhan.
“Di bawah pohon itu?”
Dedi mengangguk.
“Di tempat anak-anak belajar. Di tempat semua orang bisa duduk sama rata.”
Keputusan itu segera menyebar.
Para pemuda berjalan dari rumah ke rumah, mengundang warga untuk datang. Ibu-ibu menyampaikan kabar ketika mengambil air atau berbelanja di warung. Anak-anak bahkan ikut membawa pesan sederhana kepada orang tua mereka.
“Besok malam ada kumpul warga di rumah belajar,” kata Bima kepada ayahnya.
“Ada apa?” tanya Jaka.
“Kak Dedi bilang semua orang boleh bicara.”
Jaka terdiam cukup lama.
Kemudian ia mengusap kepala anaknya.
“Baik. Ayah akan datang.”
Menjelang malam, halaman rumah belajar mulai dipersiapkan.
Beberapa warga memasang lampu minyak di batang bambu. Tikar digelar di bawah pohon beringin. Kursi kayu diletakkan untuk orang-orang tua. Tidak ada panggung tinggi. Tidak ada meja khusus untuk orang yang merasa lebih penting.
Hanya lingkaran besar agar semua orang dapat saling melihat.
Susanti membantu anak-anak membuat tulisan di papan kecil.
MUSYAWARAH WARGA DESA SUKA JAYA
BERANI BERSUARA, BERANI MENJAGA MASA DEPAN
Herawati memandang tulisan itu cukup lama.
“Bagus,” katanya.
Nisa tersenyum bangga.
“Aku yang menulis kata masa depan.”
“Bagus sekali,” jawab Herawati.
Saat matahari tenggelam, warga mulai datang.
Mereka datang perlahan.
Ada yang membawa lampu minyak sendiri. Ada yang membawa anak-anak. Ada yang duduk di bagian belakang karena masih ragu untuk terlihat terlalu dekat dengan Dedi.
Namun, semakin malam, halaman rumah belajar semakin penuh.
Pak Warto duduk di samping Jaka.
Bu Ningsih datang bersama suaminya.
Ibu Ratna duduk dekat anaknya.
Ratna sendiri tampak lebih tenang, meski wajahnya masih menyimpan kelelahan akibat ancaman malam sebelumnya.
Dedi berdiri di tengah lingkaran.
Ia tidak membawa pidato panjang.
Ia hanya membawa beberapa lembar kertas dan map berisi dokumen tanah.
“Terima kasih karena sudah datang,” katanya.
Suasana perlahan hening.
“Saya tidak mengundang Bapak dan Ibu untuk membuat keributan. Saya juga tidak mengundang Bapak dan Ibu untuk membenci siapa pun.”
Ia berhenti sejenak.
“Saya mengundang kita semua karena terlalu lama banyak orang di desa ini menyimpan ketakutan sendirian.”
Beberapa warga menunduk.
Dedi melanjutkan, “Rumah belajar ini hampir hilang karena fitnah. Tanah warga banyak yang berpindah tangan karena surat yang tidak dipahami. Ada yang kehilangan kebun, ada yang terlilit utang, ada yang diancam agar diam.”
Ia menatap warga satu per satu.
“Kalau kita terus diam, hal seperti ini akan terus terjadi. Tetapi kalau kita berani berbicara bersama-sama, kita bisa mencari jalan keluar bersama.”
Pak Warto kemudian berdiri.
“Musyawarah ini terbuka,” katanya. “Tidak ada yang dipaksa bicara. Tetapi siapa pun yang ingin menyampaikan pengalaman, silakan.”
Pada awalnya, tidak ada yang bergerak.
Hanya suara jangkrik dari kebun dan bunyi lampu minyak yang sesekali berdesis.
Kemudian, seorang lelaki tua bernama Pak Darman mengangkat tangan.
Warga mengenalnya sebagai petani yang jarang bicara.
Pak Darman berdiri perlahan.
“Saya dulu punya kebun di dekat sungai,” katanya. “Tidak luas, tapi cukup untuk anak-anak saya. Burhan datang menawarkan uang. Saya menolak. Lalu beberapa minggu kemudian, ada orang yang mengatakan tanah itu masuk rencana pembangunan.”
Ia menarik napas.
“Saya takut. Saya tanda tangan surat yang tidak saya mengerti. Sekarang kebun itu bukan milik saya lagi.”
Warga mendengarkan dengan serius.
Pak Darman menunduk.
“Saya malu bicara selama ini. Saya merasa bodoh.”
Dedi menggeleng.
“Bapak tidak bodoh. Bapak hanya tidak diberi kesempatan memahami isi surat itu.”
Kalimat itu membuat Pak Darman mengangkat wajah.
Setelah itu, Bu Ningsih berdiri.
Ia bercerita tentang suaminya yang pernah meminjam uang untuk biaya berobat. Burhan datang membawa surat. Ia berkata bahwa itu hanya jaminan sementara. Namun, ketika utang dibayar, surat tanah mereka tidak dikembalikan.
Kemudian seorang pemuda bernama Ardi berbicara tentang ancaman yang diterimanya ketika menolak bekerja membantu orang-orang Leman.
Satu demi satu, warga mulai bersuara.
Ada yang bercerita tentang tanah.
Ada yang bercerita tentang utang.
Ada yang bercerita tentang fitnah.
Ada yang bercerita tentang ancaman.
Tidak semua cerita memiliki bukti lengkap.
Namun, cerita-cerita itu membentuk gambaran yang jelas: banyak warga telah menjadi korban, hanya saja mereka selama ini dipisahkan oleh rasa takut.
Herawati duduk di dekat Susanti.
Matanya berkaca-kaca ketika mendengar seorang ibu berkata bahwa anaknya hampir berhenti sekolah karena kebun keluarga mereka diambil.
Susanti menggenggam tangan Herawati.
“Ini sebabnya rumah belajar harus tetap ada,” bisiknya.
Herawati mengangguk.
“Bukan hanya untuk anak-anak. Tetapi untuk semua orang.”
Di tengah musyawarah, Leman datang.
Ia tidak datang sendiri.
Dua orang laki-laki berdiri beberapa langkah di belakangnya. Wajah mereka kaku. Mereka adalah orang-orang yang biasa bekerja untuknya.
Warga langsung menoleh.
Suasana kembali menegang.
Leman berjalan menuju lingkaran.
“Apa ini?” tanyanya. “Kalian mengadakan pertemuan tanpa izin?”
Pak Warto berdiri.
“Ini musyawarah warga.”
“Musyawarah warga?” Leman tertawa kecil. “Atau pertemuan untuk menjatuhkan saya?”
Dedi melangkah maju.
“Tidak ada yang ingin menjatuhkan siapa pun. Warga hanya sedang menyampaikan apa yang mereka alami.”
Leman menatap Dedi tajam.
“Kamu selalu merasa paling benar.”
Dedi tidak membalas dengan emosi.
“Aku hanya ingin semua orang didengar.”
Leman memandang warga.
“Jangan mudah percaya kepada orang yang ingin membuat desa ini kacau. Mereka tidak punya bukti. Mereka hanya ingin menghalangi pembangunan.”
Kata pembangunan terdengar seperti alasan yang sudah sering digunakan.
Namun, malam itu warga tidak lagi langsung percaya.
Pak Darman berdiri.
“Saya tidak menolak pembangunan,” katanya. “Tapi saya menolak tanah saya diambil tanpa penjelasan.”
Bu Ningsih ikut berdiri.
“Saya tidak menolak bantuan. Tapi saya menolak ditipu dengan surat yang tidak saya pahami.”
Jaka berdiri berikutnya.
“Saya tidak ingin anak saya tumbuh di desa yang membuat orang takut bicara.”
Satu per satu warga mulai berdiri.
Mereka tidak berteriak.
Mereka tidak mengancam.
Mereka hanya menyampaikan kebenaran yang selama ini mereka simpan.
Dan justru karena itu, suara mereka terasa lebih kuat.
Leman menatap sekeliling.
Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat warga sebagai kumpulan orang yang mudah ditekan.
Ia melihat orang-orang yang mulai saling menguatkan.
Ia melihat Dedi, Herawati, dan Susanti yang berdiri bersama.
Ia melihat Ratna yang tidak lagi menunduk.
Ia melihat anak-anak rumah belajar yang duduk sambil mendengarkan orang tua mereka berbicara tentang masa depan.
Leman mengepalkan tangan.
“Kalian akan menyesal,” katanya.
Namun, kali ini tidak ada yang menunduk.
Pak Warto menjawab dengan tenang.
“Kami sudah terlalu lama menyesal karena diam.”
Leman memandang Pak Warto dengan wajah merah.
Kemudian ia berbalik dan pergi.
Dua orang yang datang bersamanya mengikuti dari belakang.
Setelah Leman pergi, suasana masih tegang.
Namun, perlahan warga kembali duduk.
Dedi memandang mereka semua.
“Malam ini kita belum menyelesaikan semua masalah,” katanya. “Tetapi kita sudah memulai sesuatu yang penting.”
“Apa itu?” tanya seorang warga.
Dedi tersenyum tipis.
“Kita mulai percaya bahwa suara kita juga berarti.”
Warga terdiam.
Lalu, dari bagian belakang, terdengar tepuk tangan pelan.
Awalnya hanya satu orang.
Kemudian beberapa orang.
Lalu semakin banyak.
Tepuk tangan itu tidak terlalu keras, tetapi cukup untuk memenuhi halaman rumah belajar.
Anak-anak ikut bertepuk tangan.
Bima berdiri dan berkata dengan suara lantang, “Rumah belajar tidak boleh dibakar lagi!”
Warga tertawa kecil, tetapi mata mereka berkaca-kaca.
Herawati memeluk Bima.
“Tidak akan,” katanya.
Malam semakin larut.
Satu per satu warga pulang dengan langkah yang berbeda dari ketika mereka datang.
Mereka masih memiliki masalah.
Mereka masih menghadapi ancaman.
Namun, mereka tidak lagi merasa sendirian.
Di bawah pohon beringin, lampu minyak masih menyala.
Cahayanya kecil.
Tetapi malam itu, cahaya itu tidak lagi hanya menerangi buku-buku anak-anak.
Ia menerangi wajah warga yang mulai bangkit.
Dan dari musyawarah sederhana itu, Desa Suka Jaya mulai menemukan kekuatan terbesarnya:
keberanian untuk bersuara bersama.
BAB LV
Kebenaran di Balai Desa
Pagi setelah musyawarah warga di bawah pohon beringin, Desa Suka Jaya tidak lagi terasa sama.
Di warung kopi, di kebun, di jalan menuju sungai, dan di halaman rumah warga, orang-orang membicarakan satu hal yang selama ini mereka hindari: keberanian untuk berkata jujur.
Nama Leman dan Burhan tidak lagi disebut dengan suara berbisik.
Memang masih ada warga yang takut. Masih ada yang memilih menutup pintu ketika melihat orang-orang suruhan Leman lewat. Masih ada pula yang khawatir tanah, pekerjaan, atau keluarganya akan menjadi sasaran.
Namun, ketakutan itu kini tidak lagi berdiri sendirian.
Di rumah Dedi, Herawati sedang menata berkas-berkas di atas tikar. Surat tanah atas nama Karsa, salinan arsip dari kabupaten, catatan dana bantuan, serta beberapa pernyataan warga dikumpulkan dalam map-map terpisah.
Susanti duduk di sampingnya sambil menulis nama-nama warga yang bersedia menjadi saksi.
“Pak Darman sudah siap bicara,” kata Susanti. “Bu Ningsih juga. Jaka bilang ia akan membawa surat jaminan yang dulu ditandatanganinya.”
Herawati mengangguk.
“Ratna?”
“Dia siap,” jawab Susanti. “Walaupun ibunya masih khawatir.”
Dedi masuk dari luar membawa beberapa lembar kertas.
“Pak Warto sudah berbicara dengan perangkat desa,” katanya. “Besok siang akan diadakan musyawarah besar di balai desa.”
Herawati berhenti menata berkas.
“Di balai desa?”
Dedi mengangguk.
“Pak Warto bilang, kalau masalah ini terus dibicarakan di luar balai desa, Leman akan mengatakan bahwa warga hanya membuat keributan. Karena itu, semuanya harus dibuka di tempat resmi.”
Susanti menatap Dedi.
“Leman pasti datang.”
“Burhan juga,” jawab Dedi.
Herawati menggenggam map di hadapannya.
“Kalau mereka datang, mereka akan berusaha menyangkal semuanya.”
Dedi duduk di dekat istrinya.
“Kita tidak datang untuk mencari keributan. Kita datang membawa kebenaran.”
Herawati memandang Dedi.
Di wajah suaminya, ia melihat keteguhan yang sama seperti ketika Dedi membangun rumah belajar dari kayu bekas. Namun, kini Dedi tidak lagi berdiri sendirian.
Ada warga.
Ada Herawati.
Ada Susanti.
Ada Ratna.
Ada anak-anak yang membuat rumah belajar itu menjadi alasan bagi banyak orang untuk tidak menyerah.
Keesokan harinya, balai desa dipenuhi warga sejak sebelum siang.
Bangunan itu sederhana, berdinding papan dan beratap seng. Di bagian depan tergantung bendera merah putih yang mulai pudar warnanya. Kursi-kursi kayu disusun dalam beberapa baris. Namun, karena jumlah warga lebih banyak dari perkiraan, banyak orang memilih berdiri di dekat jendela dan pintu.
Di meja depan, perangkat desa duduk bersama Pak Warto.
Dedi, Herawati, Susanti, Ratna, dan beberapa warga duduk di sisi kiri ruangan.
Sementara itu, Leman dan Burhan duduk di sisi kanan.
Burhan membawa map cokelat yang sama seperti biasanya. Ia mengenakan baju rapi dan berusaha menampilkan wajah tenang. Namun, dari cara jarinya mengetuk meja, terlihat bahwa ia sedang gelisah.
Leman duduk dengan tubuh tegak.
Tatapannya menyapu seluruh ruangan.
Ia masih berharap banyak warga akan mundur ketika berada di balai desa. Ia masih berharap suara-suara yang berani di bawah pohon beringin akan kembali kecil ketika berhadapan dengan meja resmi.
Namun, yang dilihatnya membuat hatinya tidak nyaman.
Pak Darman datang.
Bu Ningsih datang bersama suaminya.
Jaka datang membawa map lusuh.
Ibu Ratna duduk di samping anaknya.
Para pemuda desa berdiri di dekat pintu.
Dan beberapa murid rumah belajar duduk di bagian belakang bersama orang tua mereka.
Mereka tidak datang untuk membuat keributan.
Mereka datang untuk mendengar.
Musyawarah dibuka oleh Pak Warto.
“Pertemuan ini dilaksanakan untuk membahas persoalan tanah warga, dugaan pemalsuan dokumen, dana bantuan pendidikan, serta peristiwa kebakaran rumah belajar,” katanya.
Suasana hening.
Pak Warto melanjutkan, “Saya meminta semua pihak menyampaikan pendapat dengan tertib. Tidak ada ancaman. Tidak ada penghinaan. Yang kita cari hari ini adalah kebenaran.”
Leman tersenyum tipis.
“Kebenaran?” katanya. “Saya juga ingin kebenaran. Karena selama ini saya dituduh tanpa dasar.”
Pak Warto menatapnya.
“Karena itu, silakan kita dengarkan semua pihak.”
Dedi berdiri.
Ia membawa map berisi arsip tanah.
“Tanah rumah belajar berada di atas tanah warisan almarhum Karsa,” katanya. “Ini salinan arsip dari kabupaten, surat riwayat tanah, dan keterangan dari beberapa saksi batas tanah.”
Ia menyerahkan berkas kepada perangkat desa.
Salah seorang perangkat memeriksa dokumen itu.
“Di dalam arsip ini tidak ada catatan jual beli kepada Burhan,” katanya.
Warga mulai berbisik.
Burhan segera berdiri.
“Saya memiliki surat yang membuktikan tanah itu sudah menjadi milik saya.”
Ia membuka map cokelat dan mengeluarkan selembar surat.
Surat itu tampak resmi.
Ada tanda tangan.
Ada cap.
Ada tulisan yang menyatakan bahwa Karsa telah menyerahkan tanah tersebut kepada Burhan beberapa tahun lalu.
Leman memandang warga seolah ingin menunjukkan bahwa ia masih memiliki kendali.
“Nah,” katanya. “Ini bukti. Jangan hanya percaya pada cerita.”
Dedi memandang surat itu dengan tenang.
“Surat itu sudah kami periksa,” katanya. “Nama Karsa memang tertulis di sana. Tetapi tanda tangannya tidak sama dengan tanda tangan pada surat-surat lain yang pernah dibuatnya.”
Herawati berdiri dan membawa beberapa lembar dokumen lama.
“Ini surat pajak tanah, surat pengantar dari desa, dan surat pernyataan lama milik Karsa,” katanya. “Tanda tangan di semua surat ini berbeda dengan tanda tangan di surat yang dibawa Burhan.”
Seorang perangkat desa membandingkan dokumen-dokumen itu.
Wajahnya berubah serius.
“Bentuk hurufnya memang berbeda,” katanya.
Burhan langsung membalas, “Orang bisa saja berubah tanda tangan.”
“Bisa,” jawab Herawati. “Tetapi tanggal pada surat itu dibuat ketika Karsa sudah lama sakit dan tidak mampu berjalan sendiri ke kantor desa.”
Warga mulai semakin ramai berbisik.
Pak Darman berdiri.
“Saya pernah melihat Karsa pada masa itu,” katanya. “Beliau sakit. Bahkan untuk pergi ke kebun saja sulit.”
Burhan menatap Pak Darman dengan tajam.
“Jangan ikut campur urusan yang tidak kamu pahami.”
Pak Darman tidak mundur.
“Saya paham tanah. Karena tanah saya juga hilang setelah saya menandatangani surat dari orang-orangmu.”
Ruangan mendadak hening.
Pak Warto mengangguk kepada Pak Darman.
“Silakan sampaikan.”
Pak Darman menceritakan bagaimana ia diminta menandatangani surat yang tidak dijelaskan isinya. Ia mengira surat itu hanya untuk pengajuan bantuan pupuk. Namun, beberapa bulan kemudian, ia diberi tahu bahwa tanah kebunnya telah berpindah tangan.
Setelah Pak Darman, Bu Ningsih berdiri.
Ia menceritakan tentang utang berobat suaminya dan surat jaminan yang berubah menjadi surat pengalihan tanah.
Jaka kemudian maju membawa map lusuh.
Tangannya bergetar ketika membuka surat lama.
“Ini surat yang saya tanda tangani,” katanya. “Saya tidak bisa membaca dengan baik waktu itu. Burhan bilang ini hanya jaminan. Tetapi setelah saya melunasi utang, tanah saya tetap tidak kembali.”
Perangkat desa memeriksa surat itu.
Di bagian bawah, terdapat beberapa kalimat yang tidak pernah dijelaskan kepada Jaka.
Kalimat-kalimat itu menyatakan bahwa tanah dapat berpindah kepemilikan apabila ada keterlambatan pembayaran.
Jaka menatap Burhan.
“Saya terlambat dua minggu karena anak saya sakit. Dua minggu. Tapi tanah saya hilang.”
Warga mulai bersuara.
“Benar, saya juga pernah begitu!”
“Surat saya juga tidak dijelaskan!”
“Banyak yang dipaksa tanda tangan!”
Leman berdiri dengan wajah merah.
“Ini semua hanya permainan Dedi!” bentaknya. “Dia menghasut warga supaya membenci kami!”
Dedi menatapnya.
“Aku tidak menghasut siapa pun. Mereka hanya akhirnya berani menceritakan apa yang mereka alami.”
Leman menunjuk Dedi.
“Kamu pikir rumah belajar itu membuatmu hebat? Kamu pikir karena anak-anak membaca, kamu bisa mengatur desa ini?”
Dedi tidak meninggikan suara.
“Aku tidak ingin mengatur desa. Aku hanya ingin warga mengerti surat yang mereka tanda tangani dan hak yang mereka miliki.”
Kata-kata itu membuat beberapa warga mengangguk.
Kemudian, Ratna berdiri.
Semua mata beralih kepadanya.
Ia mengenakan baju sederhana berwarna cokelat muda. Wajahnya masih tampak tegang, tetapi langkahnya lebih mantap daripada ketika pertama kali berbicara di bawah pohon beringin.
“Aku ingin menyampaikan tentang dana bantuan rumah belajar,” katanya.
Leman langsung menoleh.
“Jangan dengarkan dia,” katanya. “Dia hanya ingin membersihkan namanya.”
Ratna menatap Leman.
“Benar. Aku ingin membersihkan namaku. Tetapi bukan dengan berbohong lagi.”
Ruangan menjadi hening.
Ratna melanjutkan, “Dana bantuan itu tidak pernah diterima Dedi. Aku tahu karena aku mendengar Leman menyuruh orang kepercayaannya mengambil dana itu di kecamatan. Uang tersebut kemudian dibawa ke rumah Burhan.”
Burhan bangkit dari kursinya.
“Itu fitnah!”
Ratna menatapnya.
“Kalau itu fitnah, kenapa kamu marah?”
Burhan mengepalkan tangan.
Pak Warto mengangkat tangan.
“Duduk, Burhan. Semua akan diberi kesempatan bicara.”
Ratna menarik napas.
“Aku juga tahu tentang kebakaran rumah belajar. Dua orang suruhan Leman, Ujang dan Rudi, pernah membicarakan rencana itu di belakang rumah Burhan. Mereka bilang rumah belajar harus dibuat hancur agar Dedi kehilangan dukungan.”
Warga menoleh ke arah pintu.
Di sana, Ujang berdiri bersama Rudi.
Mereka datang terlambat dan sejak tadi hanya berdiri di luar ruangan.
Ketika nama mereka disebut, wajah keduanya berubah pucat.
Pak Warto memandang mereka.
“Ujang. Rudi. Apakah kalian mau masuk?”
Keduanya tidak bergerak.
Leman menoleh dengan tajam.
Namun, beberapa pemuda desa berdiri di dekat pintu, bukan untuk mengancam, melainkan untuk memastikan tidak ada yang pergi begitu saja.
Ujang akhirnya melangkah masuk.
Rudi mengikutinya dengan wajah tertunduk.
“Kami tidak ingin bicara,” kata Ujang.
Pak Warto menjawab tenang, “Tidak ada yang memaksa. Tetapi kalau kalian tahu sesuatu, hari ini adalah kesempatan untuk berkata benar.”
Ujang menatap Leman.
Leman memberi tatapan yang dingin.
Tatapan yang selama ini selalu membuatnya takut.
Namun, kali ini Ujang melihat warga memenuhi balai desa. Ia melihat Ratna yang berani berbicara meski rumahnya dilempari batu. Ia melihat Dedi yang tidak membalas dengan kemarahan. Ia melihat anak-anak rumah belajar yang duduk diam di belakang.
Ujang menunduk.
“Kami memang membakar rumah belajar,” katanya pelan.
Suasana balai desa seketika gempar.
Ibu-ibu menutup mulut.
Anak-anak merapat kepada orang tua mereka.
Herawati menahan napas.
Dedi memejamkan mata sesaat.
Ujang melanjutkan, “Kami disuruh Leman. Kami diberi uang. Kami diberi tahu kalau hanya untuk menakut-nakuti Dedi.”
Leman berdiri dengan marah.
“Bohong! Mereka berbohong!”
Rudi akhirnya angkat bicara.
“Tidak bohong,” katanya. “Kami juga disuruh membuang beberapa buku ke sungai waktu Dedi dipukul di jalan.”
Leman menatap Rudi dengan wajah yang sulit digambarkan.
Marah.
Terkejut.
Dan takut.
Untuk pertama kalinya, orang-orang yang selama ini ia gunakan sebagai alat mulai meninggalkannya.
Burhan mundur satu langkah.
Map cokelat di tangannya terjatuh ke lantai.
Beberapa lembar kertas keluar dari dalamnya.
Salah satu kertas terjatuh dekat kaki Herawati.
Ia memungutnya.
Wajahnya berubah.
“Ini catatan nama warga,” katanya.
Di dalam catatan itu tertulis daftar tanah warga, jumlah utang, dan rencana pengalihan kepemilikan.
Ada pula catatan singkat tentang dana bantuan yang masuk.
Pak Warto mengambil kertas itu.
Ia membacanya dengan wajah serius.
“Ini harus diserahkan kepada pihak yang berwenang,” katanya.
Burhan berusaha mengambil kembali map tersebut, tetapi beberapa warga berdiri menghalangi.
Tidak ada yang menyentuhnya.
Tidak ada yang memukulnya.
Namun, tidak ada lagi jalan bagi Burhan untuk menutupi semuanya.
Leman memandang sekeliling.
Dulu, balai desa adalah tempat ia merasa paling kuat.
Tempat ia dapat mengendalikan percakapan.
Tempat warga hanya berani mendengar.
Namun, hari itu balai desa berubah menjadi tempat kebenaran berdiri.
Bukan karena Dedi paling kuat.
Bukan karena Herawati paling berani.
Bukan karena Susanti paling sabar.
Melainkan karena warga akhirnya memilih untuk tidak lagi diam.
Pak Warto berdiri.
“Dengan adanya dokumen, kesaksian warga, dan pengakuan yang disampaikan hari ini, persoalan ini akan diteruskan sesuai aturan yang berlaku,” katanya. “Tanah rumah belajar tidak boleh diganggu. Semua dugaan pemalsuan surat, penipuan tanah, penggelapan dana bantuan, dan pembakaran rumah belajar akan dilaporkan.”
Warga mengangguk.
Dedi memandang Herawati.
Herawati menggenggam tangannya.
Susanti berdiri di sisi mereka.
Ratna menunduk, menahan air mata.
Di luar balai desa, matahari siang menyinari halaman yang penuh jejak kaki warga.
Hari itu, tidak semua masalah selesai.
Proses hukum masih harus berjalan.
Leman dan Burhan masih belum benar-benar menerima kekalahan.
Namun, sesuatu yang jauh lebih penting telah terjadi.
Kebenaran tidak lagi hanya menjadi bisikan.
Ia telah berdiri di balai desa.
Didengar oleh warga.
Dicatat dalam dokumen.
Dan dijaga oleh keberanian bersama.
Di halaman balai desa, Bima menghampiri Dedi.
“Kak Dedi,” katanya, “berarti rumah belajar kita aman?”
Dedi menatap bangunan balai desa, lalu memandang anak kecil itu.
Ia tersenyum.
“Rumah belajar kita akan tetap berdiri.”
Bima tersenyum lebar.
“Kalau begitu, besok aku mau belajar membaca lebih cepat.”
Dedi mengusap kepala Bima.
“Besok kita belajar.”
Dan bagi Dedi, jawaban sederhana itu adalah kemenangan yang paling berarti.
BAB LVI
Kejatuhan Burhan
Sejak musyawarah besar di balai desa, nama Burhan tidak lagi disebut dengan nada kagum seperti dahulu.
Dulu, sebagian warga memandangnya sebagai orang yang berhasil. Ia datang dengan pakaian rapi, membawa map-map tebal, berbicara tentang investasi, pembangunan, dan pekerjaan. Ia selalu tahu cara membuat orang percaya bahwa uang yang dibawanya adalah jalan keluar dari kesulitan.
Kini, setiap kali ia melewati jalan desa, orang-orang tidak lagi menyapanya dengan ramah.
Beberapa warga memilih diam.
Beberapa lainnya menatapnya dengan kecewa.
Dan sebagian yang pernah kehilangan tanah mulai berani berdiri tegak ketika melihatnya.
Burhan masih berusaha mempertahankan sikap tenang. Ia masih datang ke warung kopi. Ia masih duduk di kursi yang biasa ia tempati. Ia masih mencoba berbicara seolah tidak ada yang berubah.
Namun, tidak ada lagi orang yang mau mendengarkan ceritanya tentang keuntungan besar.
Tidak ada lagi warga yang datang membawa surat tanah untuk ditandatangani.
Tidak ada lagi pemuda yang mau menjadi suruhannya hanya karena diberi uang.
Map cokelat yang dahulu selalu dibawanya kini menjadi benda yang membuat orang-orang mengingat semua kebohongan yang terbuka di balai desa.
Beberapa hari setelah musyawarah, Dedi, Herawati, Pak Warto, Ratna, dan beberapa warga pergi ke kantor kecamatan untuk menyerahkan dokumen serta keterangan saksi.
Mereka membawa salinan surat tanah, catatan utang, bukti arsip kepemilikan, dan pernyataan warga yang merasa dirugikan.
Ujang dan Rudi juga ikut memberikan keterangan.
Keduanya tampak gelisah sepanjang perjalanan. Mereka tahu bahwa pengakuan mereka akan membawa akibat. Namun, mereka juga tahu bahwa menyimpan kebohongan lebih lama hanya akan membuat hidup mereka semakin berat.
Di kantor kecamatan, seorang petugas menerima berkas-berkas itu dengan wajah serius.
“Bukti ini akan kami pelajari,” katanya. “Kalau ditemukan unsur pemalsuan dokumen, penipuan, dan penggelapan dana, perkara ini akan diteruskan sesuai prosedur.”
Pak Warto mengangguk.
“Kami hanya ingin warga mendapatkan kejelasan,” katanya. “Dan kami ingin tidak ada lagi orang yang kehilangan tanah karena tidak memahami surat yang ditandatangani.”
Petugas itu memandang warga yang datang bersama-sama.
“Keberanian kalian untuk membawa persoalan ini secara terbuka sudah tepat,” katanya. “Jangan mengambil tindakan sendiri. Biarkan proses berjalan.”
Dedi mengangguk.
Ia tidak pernah ingin membalas Burhan dengan kekerasan.
Ia hanya ingin keadilan tidak lagi menjadi sesuatu yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang punya uang dan pengaruh.
Sementara itu, di Desa Suka Jaya, Burhan mulai menerima kabar buruk dari berbagai arah.
Seorang mitranya dari kota membatalkan rencana kerja sama setelah mendengar adanya persoalan tanah.
Orang yang biasanya membantunya mengurus surat-surat mulai menjaga jarak.
Bahkan beberapa orang yang dahulu sering makan dan minum di rumahnya kini tidak lagi datang.
Burhan duduk sendirian di ruang depan rumahnya.
Di atas meja, terdapat beberapa map, surat, dan catatan yang berantakan.
Ia membuka salah satu dokumen tanah.
Nama-nama warga tertulis di sana.
Pak Darman.
Jaka.
Bu Ningsih.
Karsa.
Nama-nama yang dahulu hanya ia lihat sebagai angka dan peluang.
Kini, nama-nama itu seperti menatapnya kembali.
Burhan menutup map dengan keras.
Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua itu hanya kesialan sementara.
Bahwa ia masih bisa mencari cara.
Bahwa Leman masih bisa membantunya.
Namun, ketika ia mendatangi rumah Leman, keadaan yang ia temukan tidak seperti yang ia harapkan.
Leman duduk di beranda rumah dengan wajah muram.
Tidak ada lagi banyak orang yang datang kepadanya. Tidak ada lagi pemuda yang menunggu perintah. Bahkan orang-orang yang dahulu sering memujinya kini lebih memilih melewati jalan lain.
“Apa yang akan kita lakukan?” tanya Burhan.
Leman tidak segera menjawab.
“Apa lagi yang bisa dilakukan?” katanya akhirnya.
“Kita harus melawan. Kita harus cari cara supaya warga kembali percaya.”
Leman menatap Burhan dengan mata lelah.
“Warga sudah melihat semuanya.”
Burhan mendengus.
“Karena Ratna. Karena Dedi. Karena orang-orang itu.”
“Bukan,” jawab Leman pelan. “Karena kita terlalu lama menganggap mereka tidak akan pernah berani.”
Burhan terdiam.
Ia tidak suka mendengar kata kita.
Ia tidak ingin merasa bahwa semua kesalahan itu menjadi miliknya.
Namun, jauh di dalam dirinya, ia tahu Leman benar.
Mereka terlalu yakin bahwa uang, ancaman, dan surat-surat dapat membuat warga tunduk selamanya.
Burhan berdiri dengan marah.
“Aku tidak akan menyerah begitu saja.”
Leman tidak menahannya.
Burhan keluar dari rumah itu dengan langkah cepat.
Tetapi semakin jauh ia berjalan, semakin ia merasakan bahwa tidak ada lagi tempat untuk kembali.
Beberapa minggu kemudian, surat panggilan resmi datang.
Burhan diminta memberikan keterangan terkait dugaan pemalsuan dokumen tanah, penipuan terhadap warga, serta keterlibatannya dalam pengalihan dana bantuan pendidikan.
Ketika surat itu dibaca di rumahnya, tangannya gemetar.
Ia mencoba menghubungi beberapa orang yang dahulu dekat dengannya.
Tidak ada yang datang.
Ia mencoba mengirim pesan kepada mitra-mitra dari kota.
Tidak ada yang menjawab.
Ia bahkan mendatangi beberapa warga yang dahulu pernah menerima uang darinya.
Namun, mereka hanya berkata, “Kami tidak mau lagi terlibat.”
Hari pemeriksaan tiba.
Burhan datang dengan pakaian terbaik yang ia miliki. Ia membawa beberapa dokumen dan mencoba terlihat tenang. Namun, ketika memasuki ruangan pemeriksaan, ia melihat Dedi, Herawati, Pak Warto, dan beberapa warga sudah berada di sana.
Pak Darman duduk sambil memegang tongkat.
Jaka membawa salinan surat tanahnya.
Bu Ningsih datang bersama suaminya.
Ratna duduk dengan wajah tegas.
Ujang dan Rudi juga hadir untuk memberikan keterangan.
Burhan memandang mereka satu per satu.
Ia merasa seperti melihat orang-orang yang dahulu ia anggap mudah ditipu kini berdiri sebagai saksi atas kejatuhannya.
Pemeriksaan berlangsung lama.
Pertanyaan demi pertanyaan diajukan.
Tentang surat tanah.
Tentang tanda tangan Karsa.
Tentang catatan utang warga.
Tentang dana bantuan rumah belajar.
Tentang hubungan Burhan dengan Leman.
Burhan beberapa kali mencoba mengelak.
Ia berkata bahwa semua surat dibuat atas persetujuan warga.
Ia berkata bahwa dana bantuan tidak pernah sampai kepadanya.
Ia berkata bahwa kebakaran rumah belajar bukan urusannya.
Namun, setiap kali ia mencoba menghindar, muncul keterangan lain yang membantahnya.
Ada dokumen.
Ada saksi.
Ada pengakuan.
Ada catatan yang jatuh dari mapnya sendiri di balai desa.
Pada sore hari, setelah pemeriksaan selesai, Burhan keluar dari ruangan dengan wajah pucat.
Di luar gedung, ia melihat Dedi berdiri bersama Herawati.
Burhan berhenti.
Ia ingin mengatakan sesuatu.
Ia ingin menyalahkan Dedi.
Ia ingin melontarkan ancaman.
Namun, tidak ada lagi kata yang terasa cukup kuat.
Dedi memandangnya dengan tenang.
“Aku tidak pernah ingin hidupmu hancur, Burhan,” katanya.
Burhan menatapnya dengan mata merah.
“Jangan pura-pura baik.”
“Aku tidak pura-pura,” jawab Dedi. “Kalau sejak awal kamu memilih membantu warga, mungkin hari ini kamu dihormati. Tapi kamu memilih mengambil yang bukan milikmu.”
Burhan mengatupkan rahang.
“Kamu tidak tahu apa-apa tentang hidup.”
Dedi mengangguk pelan.
“Mungkin aku tidak tahu semua hal. Tapi aku tahu satu hal: uang yang didapat dari kesulitan orang lain tidak akan membawa ketenangan.”
Burhan tidak menjawab.
Ia berjalan pergi.
Langkahnya berat.
Tidak ada orang yang mengiringinya.
Tidak ada warga yang menunduk memberi jalan dengan takut.
Tidak ada lagi kekuasaan yang membuatnya merasa besar.
Hari-hari berikutnya menjadi semakin sulit bagi Burhan.
Rencana besar untuk menguasai tanah Desa Suka Jaya gagal total. Dokumen-dokumen yang ia gunakan mulai diperiksa. Beberapa tanah warga yang sebelumnya bermasalah mulai ditelusuri kembali. Pihak yang dahulu bekerja sama dengannya memilih menarik diri agar tidak ikut terseret.
Rumahnya yang dahulu ramai kini semakin sepi.
Pada suatu sore, Burhan duduk di beranda rumahnya.
Dari kejauhan, ia mendengar suara anak-anak membaca dari bawah pohon beringin.
Rumah belajar belum sepenuhnya dibangun kembali. Namun, kelas-kelas di bawah pohon tetap berjalan. Suara anak-anak mengeja huruf terdengar sampai ke jalan kecil di dekat rumahnya.
“A… B… C…”
Suara itu sederhana.
Namun, bagi Burhan, suara itu terasa seperti sesuatu yang tidak dapat ia kalahkan.
Ia pernah memiliki uang.
Ia pernah memiliki pengaruh.
Ia pernah memiliki orang-orang yang mau menjalankan perintahnya.
Tetapi Dedi memiliki sesuatu yang tidak pernah bisa dibeli Burhan.
Kepercayaan.
Burhan menatap langit yang mulai memerah.
Untuk pertama kalinya, ia tidak memikirkan tanah yang gagal ia kuasai.
Ia tidak memikirkan uang yang hilang.
Ia memikirkan kehormatan yang telah ia buang sendiri.
Namun, penyesalan belum cukup untuk menghapus semua yang telah terjadi.
Proses hukum tetap berjalan.
Warga tetap menuntut kejelasan.
Dan Desa Suka Jaya mulai belajar bahwa keadilan mungkin datang perlahan, tetapi keberanian untuk memperjuangkannya tidak boleh berhenti.
Di bawah pohon beringin, Dedi menutup pelajaran sore itu.
“Anak-anak,” katanya, “hari ini kita belajar satu kata baru.”
Bima mengangkat tangan.
“Kata apa, Kak?”
Dedi menulis di papan kecil.
JUJUR
“Jujur,” ucap Dedi.
Anak-anak mengikuti.
“Ju-jur.”
Dedi tersenyum.
“Jujur kadang tidak mudah. Tapi orang yang jujur tidak perlu takut pada kebenaran.”
Di kejauhan, Burhan masih duduk sendiri.
Suara anak-anak itu terus terdengar.
Dan perlahan, tanpa ia kehendaki, suara itu menjadi pengingat paling keras tentang semua yang telah ia hilangkan.
BAB LVII
Leman Sendiri
Kejatuhan Burhan menjadi kabar yang cepat menyebar ke seluruh Desa Suka Jaya.
Warga membicarakannya di warung, di kebun, di jalan menuju pasar, dan di halaman rumah ketika sore mulai turun. Tidak sedikit yang merasa lega. Mereka melihatnya sebagai awal dari keadilan yang selama ini terasa jauh.
Namun, bagi Leman, kabar itu bukan sekadar berita tentang Burhan.
Itu adalah tanda bahwa kekuasaannya sendiri mulai runtuh.
Sejak musyawarah di balai desa, orang-orang yang dahulu selalu datang ke rumahnya mulai berkurang. Pemuda-pemuda yang dulu menunggu perintahnya kini memilih sibuk di kebun atau membantu kegiatan warga. Beberapa orang yang dahulu selalu mengangguk ketika ia berbicara kini mulai berani menghindari tatapannya.
Leman masih berusaha berjalan tegak.
Ia masih mengenakan baju terbaiknya ketika keluar rumah. Ia masih duduk di warung kopi seolah tidak ada yang berubah. Ia masih mencoba memberi perintah kepada orang-orang yang lewat di depannya.
Namun, tidak ada lagi yang segera menjawab.
Tidak ada lagi yang berlari memenuhi panggilannya.
Tidak ada lagi yang rela menjadi alatnya hanya demi uang dan rasa aman semu.
Suatu pagi, Leman duduk sendirian di beranda rumahnya.
Di hadapannya terbentang halaman yang dulu sering ramai oleh orang-orang yang datang meminta bantuan, menyampaikan kabar, atau sekadar mencari perlindungan. Dulu, ia menikmati keadaan itu. Ia merasa dirinya penting. Ia merasa desa tidak akan berjalan tanpa dirinya.
Kini, halaman itu sepi.
Hanya daun-daun kering yang bergerak tertiup angin.
Dari kejauhan, terdengar suara anak-anak menuju rumah belajar. Mereka membawa buku dan papan tulis kecil. Ada yang berlari, ada yang tertawa, ada pula yang berjalan sambil mengulang huruf-huruf yang baru mereka pelajari.
Leman memandang mereka dengan wajah muram.
“Anak-anak itu terlalu ribut,” gumamnya.
Namun, tidak ada siapa pun yang mendengar.
Di dalam rumah, istrinya, Marni, sedang menyiapkan air minum.
Marni bukan perempuan yang banyak bicara. Selama ini ia lebih sering memilih diam ketika Leman membuat keputusan-keputusan yang tidak ia setujui. Ia tahu suaminya mudah marah. Ia tahu setiap nasihat sering dianggap sebagai perlawanan.
Tetapi pagi itu, Marni meletakkan gelas di meja dengan sedikit lebih keras.
Leman menoleh.
“Ada apa?”
Marni duduk di kursi kayu di hadapannya.
“Kamu masih ingin terus menyalahkan orang lain?” tanyanya.
Leman mengerutkan kening.
“Apa maksudmu?”
“Burhan jatuh. Orang-orang meninggalkanmu. Warga tidak lagi takut. Tapi kamu masih duduk di sini seolah semua itu kesalahan Dedi.”
Leman menatap istrinya tajam.
“Jangan ikut campur.”
Marni tidak mundur.
“Aku sudah terlalu lama diam.”
Leman terdiam.
Marni melanjutkan, “Dulu aku pernah bilang, jangan terlalu dekat dengan Burhan. Jangan terlalu sering memaksa warga. Jangan gunakan ketakutan untuk membuat orang tunduk. Tapi kamu tidak pernah mau mendengar.”
Leman memalingkan wajah.
“Aku melakukan semua itu untuk keluarga.”
Marni tersenyum pahit.
“Untuk keluarga? Apa yang kita dapat sekarang? Rumah ini semakin sepi. Orang-orang memandang kita dengan curiga. Anak kita sendiri malu keluar rumah karena teman-temannya bertanya tentang ayahnya.”
Kata-kata itu mengenai Leman lebih dalam daripada yang ia tunjukkan.
Ia tidak menjawab.
Marni menunduk.
“Aku tidak ingin hidup dalam kemewahan yang dibangun dari air mata orang lain,” katanya pelan. “Aku hanya ingin hidup tenang.”
Setelah itu, Marni masuk ke dalam rumah.
Leman tetap duduk di beranda.
Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa rumah yang selama ini ia anggap sebagai tanda keberhasilannya justru menjadi tempat yang paling sunyi.
Hari-hari berikutnya, Leman mencoba mendatangi beberapa warga yang dahulu dekat dengannya.
Ia mendatangi Ujang, tetapi pemuda itu sedang membantu memperbaiki pagar rumah belajar.
“Aku butuh bicara,” kata Leman.
Ujang menoleh.
“Ada apa?”
“Kamu sekarang berpihak kepada Dedi?”
Ujang menunduk sejenak.
“Aku tidak berpihak kepada siapa pun, Man. Aku hanya tidak mau lagi melakukan hal yang salah.”
Leman menatapnya dengan marah.
“Kamu lupa siapa yang dulu memberimu uang?”
Ujang mengangguk.
“Aku tidak lupa. Justru karena itu aku menyesal.”
Jawaban itu membuat Leman pergi tanpa berkata apa-apa.
Ia kemudian mendatangi Rudi.
Rudi sedang membantu Pak Darman di kebun.
“Rudi,” panggil Leman.
Rudi berhenti bekerja.
Leman mendekat.
“Kamu juga mau meninggalkan aku?”
Rudi menatapnya.
“Dulu saya mengikuti Bapak karena saya takut. Sekarang saya tidak mau takut lagi.”
Leman mengepalkan tangan.
Namun, ia tidak jadi memarahi Rudi.
Ia tahu kata-kata kasar tidak lagi memiliki kekuatan seperti dulu.
Sore hari, Leman berjalan melewati jalan kecil menuju rumah belajar.
Dari kejauhan, ia melihat warga sedang bergotong royong. Ada yang membawa kayu, ada yang memperbaiki bangku, ada yang mengecat papan sederhana untuk tempat anak-anak belajar.
Dedi berdiri bersama Herawati.
Susanti membantu anak-anak menyusun buku.
Ratna datang membawa beberapa gelas air minum untuk warga yang bekerja.
Leman berhenti di balik pohon.
Ia tidak ingin terlihat.
Ia memandang semua itu dengan perasaan yang sulit ia jelaskan.
Dulu, ia menganggap rumah belajar sebagai ancaman.
Ia takut anak-anak yang belajar akan tumbuh menjadi orang-orang yang berani bertanya. Ia takut warga yang mulai membaca akan memahami surat-surat yang selama ini mudah diputarbalikkan. Ia takut Dedi menjadi sosok yang lebih didengar daripada dirinya.
Namun, saat melihat anak-anak tertawa sambil membawa buku, Leman tidak lagi melihat ancaman.
Ia melihat sesuatu yang tidak pernah ia miliki.
Ketulusan.
Dedi tidak memiliki banyak uang.
Herawati tidak memiliki kekuasaan.
Susanti tidak memiliki jabatan.
Namun, mereka dikelilingi oleh orang-orang yang datang karena percaya, bukan karena takut.
Leman berjalan pulang dengan langkah lambat.
Di tengah jalan, ia berpapasan dengan Pak Warto.
Pak Warto membawa cangkul di pundaknya.
Keduanya berhenti.
“Pak Warto,” kata Leman.
Pak Warto menatapnya.
“Ada apa, Man?”
Leman tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi kata-kata itu tertahan.
Selama bertahun-tahun, ia terbiasa memerintah. Ia terbiasa menyalahkan. Ia terbiasa menuntut.
Tetapi meminta maaf adalah sesuatu yang tidak pernah ia pelajari.
“Aku hanya…” Leman berhenti.
Pak Warto menunggu.
“Aku tidak menyangka semuanya akan seperti ini,” kata Leman akhirnya.
Pak Warto mengangguk pelan.
“Tidak ada orang yang menyangka keburukan akan kembali kepada dirinya sendiri. Tapi setiap perbuatan selalu punya akibat.”
Leman menunduk.
“Apakah warga akan terus membenciku?”
Pak Warto tidak menjawab dengan cepat.
“Warga terluka,” katanya. “Ada yang kehilangan tanah. Ada yang kehilangan kepercayaan. Ada yang hidup dalam ketakutan karena ulahmu.”
Leman mengatupkan rahang.
“Tapi manusia bisa berubah, bukan?”
Pak Warto memandangnya lurus.
“Bisa. Tetapi perubahan tidak cukup hanya diucapkan. Harus dibuktikan.”
Leman mengangguk pelan.
Pak Warto kemudian melanjutkan perjalanan.
Leman berdiri sendiri di jalan.
Kata-kata itu terus berputar di kepalanya.
Perubahan tidak cukup hanya diucapkan. Harus dibuktikan.
Malam itu, hujan turun cukup deras.
Atap rumah Leman bocor di beberapa bagian. Air menetes ke lantai. Marni menaruh ember di bawah titik-titik kebocoran.
Leman duduk di ruang tengah tanpa bicara.
Di dinding, tergantung foto lama ketika ia masih menjadi orang yang disegani di desa. Dalam foto itu, ia berdiri di antara beberapa warga, tersenyum lebar, dan mengenakan pakaian rapi.
Leman memandangi foto itu.
Ia tidak tahu kapan tepatnya ia berubah.
Mungkin ketika ia mulai menikmati pujian.
Mungkin ketika ia mulai percaya bahwa warga harus tunduk kepadanya.
Mungkin ketika ia melihat kesulitan orang lain sebagai kesempatan untuk mendapatkan keuntungan.
Atau mungkin, ia sudah lama berubah tanpa menyadarinya.
Marni datang membawa kain untuk mengeringkan lantai.
“Kamu belum makan,” katanya.
Leman menggeleng.
Marni duduk tidak jauh darinya.
“Kamu sakit?” tanyanya.
Leman tidak menjawab.
Beberapa saat kemudian, ia berkata pelan, “Aku kehilangan semuanya.”
Marni memandangnya.
“Kamu belum kehilangan semuanya.”
Leman menoleh.
“Apa yang tersisa?”
Marni menarik napas.
“Kesempatan untuk berhenti menjadi orang yang sama.”
Leman terdiam.
Hujan masih turun di luar rumah.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Leman tidak memiliki orang-orang yang bisa diperintah. Ia tidak memiliki Burhan untuk dijadikan teman bersekongkol. Ia tidak memiliki warga yang bisa ditakut-takuti.
Ia hanya memiliki dirinya sendiri.
Dan kesunyian itu lebih berat daripada segala ancaman yang pernah ia buat kepada orang lain.
Keesokan harinya, Leman kembali melewati rumah belajar.
Kali ini ia tidak bersembunyi di balik pohon.
Ia berdiri cukup jauh dari halaman.
Anak-anak sedang belajar mengeja.
Dedi menulis di papan.
BERANI
“Siapa yang bisa membaca?” tanya Dedi.
Bima mengangkat tangan.
“Be-ra-ni,” jawabnya.
“Bagus,” kata Dedi. “Berani itu bukan berarti tidak takut. Berani adalah tetap melakukan yang benar meskipun kita takut.”
Leman mendengar kalimat itu.
Ia tidak tahu apakah Dedi melihatnya atau tidak.
Namun, kata-kata itu terasa seperti ditujukan kepadanya.
Leman menunduk.
Kemudian ia berjalan pergi.
Untuk pertama kalinya, langkahnya tidak lagi membawa kesombongan.
Hanya membawa beban.
Dan di dalam beban itu, perlahan tumbuh sesuatu yang belum pernah ia kenal:
penyesalan.
BAB LVIII
Sekolah Rakyat Didirikan
Musim hujan mulai berakhir ketika kabar tentang kejelasan status tanah rumah belajar akhirnya sampai ke Desa Suka Jaya.
Tanah warisan Karsa yang selama ini diperebutkan Burhan dinyatakan tetap menjadi hak keluarga Dedi. Surat palsu yang pernah dibawa Burhan tidak memiliki kekuatan setelah dibandingkan dengan arsip lama dan keterangan para saksi. Proses hukum terhadap berbagai persoalan yang melibatkan Burhan masih berjalan, tetapi setidaknya satu hal telah kembali kepada tempatnya.
Tanah di ujung desa itu aman.
Pagi itu, Dedi berdiri di tengah tanah warisan ayahnya.
Di hadapannya, masih ada sisa-sisa bangunan rumah belajar yang pernah dibakar. Beberapa kayu telah menghitam. Atap seng yang rusak masih tersandar di dekat pohon beringin. Papan tulis lama yang sempat diselamatkan Herawati kini berdiri miring, penuh goresan dan noda hujan.
Namun, di sekeliling tempat itu, anak-anak tetap datang membawa buku.
Mereka duduk di bawah pohon.
Mereka belajar membaca.
Mereka belajar berhitung.
Mereka belajar bahwa tempat belajar tidak harus selalu berdinding kokoh untuk membuat mimpi tumbuh.
Herawati datang membawa termos air dan beberapa gelas.
“Apa yang kamu pikirkan?” tanyanya.
Dedi memandang tanah itu cukup lama.
“Aku memikirkan Ayah,” jawabnya.
Herawati berdiri di sampingnya.
“Karsa pasti bangga.”
Dedi menggeleng pelan.
“Ayah tidak pernah sempat melihat rumah belajar ini ramai. Ia tidak pernah melihat anak-anak datang membawa buku. Ia tidak pernah melihat warga mulai berani bicara.”
Herawati memegang tangan Dedi.
“Tapi semua itu tumbuh dari tanah yang ia tinggalkan.”
Dedi menatap Herawati.
Di wajah istrinya, ia melihat keteguhan yang selama ini selalu menjadi tempatnya kembali. Herawati pernah takut kehilangan dirinya. Pernah meminta Dedi berhenti melawan ketidakadilan. Pernah terluka karena fitnah dan keadaan.
Namun, ia tetap bertahan.
Ia tetap memilih berada di sisi Dedi.
“Aku ingin membangun kembali rumah belajar ini,” kata Dedi.
Herawati tersenyum.
“Bukan hanya membangun kembali.”
Dedi mengangguk.
“Aku ingin membangunnya lebih kuat. Bukan hanya untuk anak-anak. Tetapi untuk semua warga.”
Tidak lama kemudian, Susanti datang bersama Ratna.
Susanti membawa beberapa buku yang dikumpulkan dari desa sebelah. Ratna membawa selembar kertas berisi daftar kebutuhan bangunan.
“Aku sudah bicara dengan beberapa ibu,” kata Ratna. “Mereka mau membantu menyiapkan makanan untuk warga yang bergotong royong.”
Susanti menambahkan, “Pak Warto juga sudah menghubungi beberapa orang di kecamatan. Ada kemungkinan kita mendapat bantuan bahan bangunan, meski tidak banyak.”
Dedi memandang mereka.
Dulu, hubungan Ratna dan Susanti penuh luka.
Ratna pernah menyebarkan fitnah.
Susanti pernah menyimpan perasaan yang tidak pernah berani ia ungkapkan.
Herawati pernah merasa ragu.
Namun, waktu dan peristiwa telah mengajarkan mereka bahwa tidak ada perjuangan yang dapat tumbuh jika manusia terus hidup dalam masa lalu.
Kini, mereka berdiri di tanah yang sama.
Membawa tujuan yang sama.
“Kita mulai dari apa yang kita punya,” kata Dedi.
Kabar tentang rencana pembangunan sekolah rakyat menyebar cepat.
Tidak ada undangan resmi yang dicetak dengan huruf besar. Tidak ada peresmian mewah. Tidak ada janji bantuan yang berlebihan.
Hanya kabar sederhana dari mulut ke mulut.
Hari Minggu, warga akan bergotong royong membangun kembali tempat belajar di ujung desa.
Pada pagi yang ditentukan, matahari belum tinggi ketika warga mulai berdatangan.
Pak Darman membawa cangkul.
Jaka membawa beberapa batang bambu.
Bu Ningsih dan ibu-ibu lain datang membawa nasi, sayur, kopi, dan kue sederhana.
Para pemuda membawa kayu dan alat pertukangan.
Ujang serta Rudi datang paling awal.
Keduanya berdiri agak jauh dari kerumunan, tampak canggung.
Dedi melihat mereka.
Beberapa warga juga melihat kedatangan mereka.
Suasana sempat hening.
Ujang menunduk.
“Kami datang untuk membantu,” katanya pelan. “Kalau masih boleh.”
Dedi memandang sisa bangunan yang menghitam.
Lalu ia memandang dua pemuda itu.
“Kalau kalian benar-benar ingin memperbaiki kesalahan,” katanya, “mulailah dengan bekerja bersama warga.”
Ujang mengangguk.
Rudi menatap Dedi dengan mata berkaca-kaca.
“Terima kasih.”
Mereka pun mengambil kayu dan mulai bekerja.
Tidak ada yang langsung melupakan apa yang telah mereka lakukan. Luka tidak hilang hanya karena satu hari gotong royong. Namun, warga memberi mereka kesempatan untuk membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari tindakan kecil.
Hari itu, tanah warisan Karsa berubah menjadi tempat kerja bersama.
Bambu dipotong.
Kayu dipaku.
Tanah diratakan.
Anak-anak membantu membawa batu kecil dan mengambilkan air.
Bima berlari ke sana kemari sambil membawa ember yang hampir lebih besar dari tubuhnya.
“Kak Dedi, aku bisa bantu apa lagi?” tanyanya.
Dedi tersenyum.
“Kamu bantu menjaga buku-buku supaya tidak kena debu.”
Bima mengangguk serius.
Ia lalu duduk di dekat tumpukan buku bersama beberapa anak lain, seolah sedang menjaga harta paling berharga di desa.
Menjelang siang, rangka bangunan mulai berdiri.
Tidak besar.
Tidak mewah.
Namun, lebih kokoh daripada bangunan sebelumnya.
Ada ruang utama untuk belajar. Ada sudut kecil untuk menyimpan buku. Ada teras yang cukup luas untuk pertemuan warga. Di sampingnya, warga merencanakan kebun kecil agar anak-anak dapat belajar menanam.
Herawati berdiri di dekat pintu yang belum dipasang.
Matanya berkaca-kaca.
“Dulu aku pikir api itu mengakhiri semuanya,” katanya kepada Susanti.
Susanti tersenyum.
“Api memang membakar bangunan. Tapi tidak bisa membakar alasan orang-orang untuk belajar.”
Ratna yang sedang membawa minuman ikut mendengar.
“Aku dulu ikut membuat keadaan menjadi lebih buruk,” katanya pelan. “Sekarang aku ingin memastikan tidak ada anak yang tumbuh dengan kebencian seperti yang pernah aku simpan.”
Herawati menatap Ratna.
“Kita semua pernah salah,” katanya. “Yang penting adalah apa yang kita pilih setelah menyadari kesalahan itu.”
Ratna mengangguk.
Sore hari, ketika rangka atap mulai dipasang, Pak Warto datang membawa sebuah lentera tua.
Lentera itu terbuat dari besi sederhana. Kacanya sedikit buram, tetapi masih utuh. Pegangannya sudah berkarat di beberapa bagian.
Dedi mengenali lentera itu.
“Itu lentera Pak Harun,” katanya.
Pak Warto mengangguk.
“Setelah Pak Harun meninggal, keluarganya menyimpan lentera ini. Mereka ingin menyerahkannya kepadamu.”
Dedi menerima lentera itu dengan kedua tangan.
Ia teringat Pak Harun.
Guru tua yang pernah memberinya buku-buku.
Guru yang percaya bahwa Dedi tidak boleh meninggalkan pendidikan.
Guru yang pernah berkata bahwa ilmu harus menjadi cahaya, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain.
Dedi memandangi lentera itu cukup lama.
Kemudian ia menoleh kepada warga yang masih bekerja.
“Kalau sekolah ini selesai,” katanya, “aku ingin memberi nama tempat ini.”
Warga menghentikan pekerjaan sejenak.
“Apa namanya?” tanya Bima.
Dedi mengangkat lentera tua itu.
“Lentera Ujung Desa.”
Anak-anak mengulanginya bersama-sama.
“Lentera Ujung Desa.”
Dedi melanjutkan, “Nama ini bukan hanya untuk mengenang Pak Harun. Nama ini juga untuk mengenang ayahku, Karsa, yang meninggalkan tanah ini. Untuk mengenang ibu-ibu yang membawa makanan ketika kita kekurangan. Untuk mengenang warga yang berani bicara. Untuk semua orang yang percaya bahwa pendidikan dapat membuat desa menjadi lebih kuat.”
Warga terdiam.
Beberapa orang mengangguk.
Pak Darman mengusap matanya.
Jaka tersenyum.
Herawati memandang Dedi dengan bangga.
Sore itu, sebelum warga pulang, mereka mengadakan peresmian sederhana.
Tidak ada pita.
Tidak ada pejabat.
Tidak ada pengeras suara.
Hanya warga yang berdiri di depan bangunan yang belum sepenuhnya selesai.
Dedi meletakkan lentera tua milik Pak Harun di atas meja kecil dekat pintu masuk.
Herawati menyalakan api di dalamnya.
Cahaya kecil muncul di balik kaca buram.
Anak-anak mendekat.
Mereka memandang lentera itu dengan mata berbinar.
Dedi berdiri di depan mereka.
“Mulai hari ini,” katanya, “tempat ini bukan hanya rumah belajar. Ini adalah sekolah rakyat.”
Anak-anak bertepuk tangan.
Warga ikut bertepuk tangan.
Suara tepuk tangan itu memenuhi tanah ujung desa yang dahulu hampir hilang karena keserakahan.
Dedi melanjutkan, “Di sini, anak-anak akan belajar membaca dan menulis. Di sini, orang tua boleh belajar memahami surat dan hak mereka. Di sini, petani boleh berbagi pengetahuan. Di sini, siapa pun boleh datang untuk bertanya tanpa takut dianggap bodoh.”
Susanti menatap papan baru yang telah dibuat oleh para pemuda.
Di atasnya tertulis:
SEKOLAH RAKYAT LENTERA UJUNG DESA
BELAJAR, BERANI, DAN BERBAGI
Ratna berdiri di samping ibu-ibu desa.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa tidak sedang berdiri sebagai orang yang ingin dilihat lebih tinggi daripada orang lain.
Ia berdiri sebagai bagian dari masyarakat.
Ujang dan Rudi berdiri di belakang, masih canggung, tetapi mereka tidak lagi ingin lari dari masa lalu.
Pak Warto memandang seluruh warga.
“Bangunan ini mungkin sederhana,” katanya. “Tetapi yang membangunnya adalah tangan-tangan yang sudah belajar bersatu. Itu jauh lebih kuat daripada dinding mana pun.”
Matahari perlahan tenggelam.
Cahaya senja menyentuh atap baru sekolah rakyat.
Lentera tua di dekat pintu masih menyala.
Dedi berdiri bersama Herawati di halaman.
Ia melihat anak-anak berlarian sambil menyebut nama sekolah baru mereka.
“Lentera Ujung Desa!”
“Lentera Ujung Desa!”
Dedi tersenyum.
Ia tahu perjalanan mereka belum selesai.
Masih ada luka yang harus disembuhkan.
Masih ada proses hukum yang harus dijalani.
Masih ada warga yang harus dibantu agar mendapatkan kembali haknya.
Namun, hari itu, sebuah awal baru telah berdiri.
Bukan dari uang besar.
Bukan dari kekuasaan.
Bukan dari janji-janji kosong.
Melainkan dari tanah warisan, buku-buku sederhana, tangan-tangan yang bekerja, dan keberanian warga untuk menjaga harapan.
Di ujung Desa Suka Jaya, sebuah lentera kembali menyala.
Dan kali ini, cahayanya tidak lagi hanya milik satu orang.
Ia menjadi cahaya bagi seluruh desa.
BAB LIX
Anak-anak Mulai Bermimpi
Sejak Sekolah Rakyat Lentera Ujung Desa didirikan, suasana di Desa Suka Jaya perlahan berubah.
Setiap sore, sebelum matahari tenggelam di balik kebun karet dan ladang-ladang warga, anak-anak mulai berdatangan ke tanah warisan Karsa. Ada yang membawa buku tulis baru, ada yang membawa pensil pendek yang sudah hampir habis, dan ada pula yang hanya membawa papan kecil bekas kemasan kayu.
Namun, tidak ada seorang pun yang datang tanpa semangat.
Mereka datang dengan mata berbinar.
Mereka datang dengan rasa ingin tahu.
Mereka datang membawa mimpi-mimpi yang sebelumnya tidak pernah berani mereka ucapkan.
Di depan sekolah rakyat, lentera tua milik Pak Harun masih tergantung di dekat pintu. Pada sore hari, ketika cahaya matahari mulai redup, Herawati akan menyalakannya. Cahaya kecil dari lentera itu selalu menjadi tanda bahwa kegiatan belajar akan segera dimulai.
“Sudah waktunya masuk!” seru Susanti.
Anak-anak berlari menuju ruang belajar.
Bangunan itu masih sederhana. Dindingnya terbuat dari papan, lantainya belum seluruhnya rata, dan beberapa bangku masih berasal dari sumbangan warga. Namun, di dalamnya terdapat sesuatu yang jauh lebih berharga daripada bangunan mewah.
Harapan.
Dedi berdiri di depan kelas dengan kapur di tangan.
Di papan tulis, ia menulis sebuah kalimat.
CITA-CITA ADALAH ARAH BAGI MASA DEPAN.
Anak-anak memandangi tulisan itu.
Bima mengangkat tangan.
“Kak Dedi, cita-cita itu apa?”
Dedi tersenyum.
“Cita-cita adalah keinginan baik yang ingin kita perjuangkan dalam hidup.”
“Kalau ingin punya sepeda, itu cita-cita juga?” tanya Bima polos.
Anak-anak tertawa.
Dedi ikut tersenyum.
“Bisa jadi keinginan. Tapi cita-cita biasanya lebih dari sekadar memiliki sesuatu. Cita-cita adalah tentang ingin menjadi apa dan ingin memberi manfaat apa kepada orang lain.”
Bima mengangguk pelan, meski wajahnya masih tampak berpikir keras.
Dedi melanjutkan, “Misalnya, ada yang ingin menjadi guru agar bisa mengajar anak-anak. Ada yang ingin menjadi perawat agar bisa membantu orang sakit. Ada yang ingin menjadi petani yang lebih pintar agar hasil kebun warga semakin baik.”
Seorang anak perempuan bernama Sari mengangkat tangan.
“Aku ingin jadi guru, Kak.”
“Kenapa?” tanya Dedi.
Sari tersenyum malu-malu.
“Karena aku ingin anak-anak kecil nanti bisa membaca seperti aku.”
Dedi mengangguk bangga.
“Itu cita-cita yang baik.”
Tidak lama kemudian, Jono yang duduk di belakang ikut mengangkat tangan.
“Aku ingin jadi perawat.”
“Kenapa ingin jadi perawat?”
“Karena waktu Ibu sakit, kami harus pergi jauh ke puskesmas. Aku ingin bisa membantu orang kampung kalau mereka sakit.”
Herawati yang sedang duduk di sudut kelas menatap Jono dengan mata berkaca-kaca.
Ia teringat banyak warga desa yang harus menempuh perjalanan jauh hanya untuk mendapatkan pertolongan kesehatan. Ia teringat pula bagaimana orang-orang sering menunda berobat karena tidak memiliki cukup uang atau tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa.
“Itu juga cita-cita yang mulia,” kata Herawati.
Kemudian, seorang anak laki-laki bernama Ardi berdiri.
“Aku ingin jadi petani modern,” katanya.
Anak-anak lain menoleh.
“Petani modern itu apa?” tanya Bima.
Ardi menjawab dengan percaya diri, “Petani yang tahu cara menanam lebih baik. Yang tahu pupuk, tahu cuaca, dan bisa menjual hasil kebun dengan harga bagus.”
Dedi tersenyum.
“Bagus sekali. Menjadi petani bukan pekerjaan rendah. Petani memberi makan banyak orang. Kalau petani memiliki ilmu, desa kita akan semakin kuat.”
Kata-kata itu membuat beberapa anak mengangguk.
Di Desa Suka Jaya, banyak anak tumbuh dengan melihat orang tua mereka bekerja di ladang. Sebagian dari mereka dulu menganggap bertani sebagai pekerjaan yang harus ditinggalkan jika ingin hidup lebih baik.
Namun, Dedi ingin mereka memahami bahwa pendidikan bukan berarti meninggalkan desa.
Pendidikan adalah cara agar mereka dapat kembali ke desa dengan pengetahuan yang lebih baik.
Pada hari-hari berikutnya, sekolah rakyat semakin ramai.
Anak-anak yang sebelumnya lebih banyak membantu orang tua di kebun mulai meminta izin untuk datang belajar pada sore hari. Beberapa orang tua bahkan mulai mengantar anak-anak mereka sendiri.
Bu Ningsih sering datang membawa singkong rebus untuk dibagikan setelah kelas selesai.
Pak Darman membantu memperbaiki bangku yang mulai goyah.
Jaka menyumbangkan beberapa papan kayu untuk membuat rak buku.
Warga mulai merasa bahwa sekolah rakyat bukan hanya milik Dedi dan Herawati.
Sekolah itu milik mereka semua.
Suatu sore, Dedi mengajak anak-anak belajar di kebun kecil di samping sekolah.
Di sana, beberapa bibit cabai, tomat, dan sayur telah ditanam oleh warga.
“Belajar tidak hanya dari buku,” kata Dedi. “Kita juga bisa belajar dari tanah.”
Anak-anak berdiri mengelilingi kebun.
Susanti menunjukkan cara menanam bibit dengan benar. Herawati menjelaskan mengapa tanaman harus disiram secara teratur. Ratna membantu anak-anak membawa air dari sumur.
Bima memegang bibit cabai dengan hati-hati.
“Kalau tanaman ini besar, boleh aku bawa pulang satu?” tanyanya.
“Boleh,” jawab Susanti. “Tapi kamu harus berjanji merawatnya.”
Bima mengangguk dengan sungguh-sungguh.
“Aku akan merawatnya seperti menjaga buku.”
Anak-anak tertawa.
Dedi memandang mereka dengan hati hangat.
Dulu, ketika ia masih kecil, ia berjalan di jalan berlumpur untuk pergi ke sekolah. Ia membawa buku yang terbatas dan sering belajar dengan cahaya lampu minyak. Ia pernah merasa bahwa pendidikan adalah sesuatu yang sangat jauh.
Kini, ia berdiri di hadapan anak-anak yang memiliki kesempatan lebih baik.
Kesempatan itu belum sempurna.
Sekolah rakyat masih kekurangan buku.
Masih kekurangan meja.
Masih kekurangan tenaga pengajar.
Namun, anak-anak itu sudah memiliki sesuatu yang lebih penting.
Mereka mulai percaya bahwa hidup mereka dapat berubah.
Pada suatu malam, setelah kegiatan belajar selesai, Dedi duduk di teras sekolah bersama Herawati.
Lentera tua masih menyala di dekat pintu.
Dari dalam kelas, terdengar suara Susanti yang sedang merapikan buku. Ratna membantu menyapu lantai, sementara beberapa anak masih bermain di halaman sebelum pulang.
Herawati memandang anak-anak itu.
“Dulu mereka datang hanya untuk belajar membaca,” katanya.
Dedi mengangguk.
“Sekarang mereka mulai berbicara tentang masa depan.”
Herawati tersenyum.
“Itu berarti perjuanganmu tidak sia-sia.”
Dedi menatap lentera di dekat pintu.
“Bukan perjuanganku sendiri,” katanya. “Kalau tidak ada kamu, Susanti, warga, Pak Harun, Ayah, dan semua orang yang mau membantu, tempat ini tidak akan berdiri.”
Herawati menatap suaminya.
“Kadang kamu terlalu mudah melihat kebaikan orang lain, Dedi.”
“Karena memang banyak orang baik di desa ini,” jawab Dedi. “Mereka hanya dulu terlalu lama hidup dalam ketakutan.”
Malam semakin turun.
Anak-anak mulai pulang satu per satu.
Sari berjalan bersama ibunya sambil memeluk buku tulisnya.
Jono membawa papan kecil yang bertuliskan beberapa nama bagian tubuh manusia.
Ardi membawa bibit cabai yang ditanamnya sendiri.
Bima berjalan paling akhir.
Sebelum pulang, ia menghampiri Dedi.
“Kak Dedi,” katanya.
“Ya?”
“Kalau aku sudah besar, aku ingin jadi guru juga.”
Dedi tersenyum.
“Kamu ingin mengajar apa?”
Bima berpikir sejenak.
“Aku ingin mengajar anak-anak supaya berani punya cita-cita.”
Dedi terdiam.
Jawaban itu sederhana.
Namun, di dalamnya terdapat harapan yang besar.
Dedi mengusap kepala Bima.
“Kalau begitu, kamu harus rajin belajar.”
Bima mengangguk.
“Aku akan rajin.”
Ia lalu berlari pulang menyusuri jalan desa.
Dedi memandang punggung kecil itu sampai menghilang di tikungan.
Di bawah cahaya lentera, ia merasa bahwa sekolah rakyat telah mulai melahirkan sesuatu yang tidak dapat dihitung dengan uang.
Bukan hanya anak-anak yang bisa membaca.
Bukan hanya anak-anak yang bisa berhitung.
Tetapi anak-anak yang mulai percaya bahwa mereka berhak bermimpi.
Dan ketika anak-anak desa mulai berani bermimpi, masa depan tidak lagi terasa sejauh langit.
Masa depan mulai tumbuh di halaman sekolah sederhana, di antara buku-buku bekas, tanah kebun, suara tawa, dan cahaya lentera yang terus menyala di ujung desa.
BAB LX
Tahun-Tahun Pengabdian
Waktu berjalan seperti air sungai yang tidak pernah berhenti mencari jalan pulang.
Tahun demi tahun berlalu sejak Sekolah Rakyat Lentera Ujung Desa berdiri. Bangunan sederhana yang dahulu hanya memiliki beberapa papan, satu ruang belajar, dan lentera tua di dekat pintu, perlahan tumbuh menjadi tempat yang semakin ramai.
Pagi hari, sekolah itu dipenuhi suara anak-anak membaca.
Sore hari, para petani datang untuk mengikuti diskusi tentang cara merawat tanaman, memilih bibit, dan mengelola hasil kebun.
Malam hari, beberapa warga dewasa belajar membaca surat, menghitung pengeluaran rumah tangga, dan memahami dokumen yang selama ini mereka anggap terlalu sulit.
Lentera Ujung Desa tidak lagi hanya menjadi tempat anak-anak belajar.
Ia menjadi rumah bagi harapan masyarakat.
Dedi dan Herawati menjalani hari-hari mereka dengan kesederhanaan yang sama seperti ketika mereka pertama kali membangun rumah belajar. Setiap pagi, sebelum matahari tinggi, Herawati sudah berada di dapur menyiapkan sarapan. Setelah itu, ia membantu menata buku, memeriksa catatan pelajaran, dan mengajar anak-anak yang masih kesulitan membaca.
Dedi biasanya berangkat lebih awal.
Ia memeriksa ruang kelas, melihat kebun sekolah, berbicara dengan warga yang datang membawa persoalan, lalu menyiapkan bahan pelajaran untuk sore hari.
Kadang ia harus pergi ke kecamatan untuk mencari buku bekas.
Kadang ia mengunjungi rumah anak-anak yang sudah lama tidak datang belajar.
Kadang ia duduk bersama para petani hingga malam untuk membahas cara menjual hasil kebun tanpa harus bergantung kepada tengkulak.
Tidak semua hari berjalan mudah.
Ada saat ketika hujan deras membuat jalan menuju sekolah berlumpur. Ada saat ketika buku-buku rusak karena atap bocor. Ada saat ketika anak-anak harus absen karena membantu orang tua di kebun. Ada pula saat ketika dana untuk membeli kapur dan alat tulis hampir habis.
Namun, Dedi tidak pernah membiarkan kekurangan menjadi alasan untuk berhenti.
“Kalau kita menunggu semuanya sempurna,” katanya kepada Herawati suatu malam, “mungkin sekolah ini tidak akan pernah berjalan.”
Herawati tersenyum sambil menjahit sampul buku yang robek.
“Dan kalau kamu terus bekerja tanpa berhenti, mungkin kamu sendiri yang akan robek seperti buku itu.”
Dedi tertawa pelan.
“Aku masih kuat.”
Herawati menatapnya.
“Kuat bukan berarti tidak perlu istirahat.”
Dedi tidak menjawab.
Ia tahu Herawati benar. Namun, setiap kali melihat anak-anak datang membawa buku, ia selalu merasa memiliki tenaga baru.
Susanti menjadi salah satu penggerak utama sekolah rakyat.
Setelah kembali dari desa tempat ia pernah mengajar, ia memilih menetap di Desa Suka Jaya. Ia tidak lagi hanya membantu ketika ada waktu luang. Ia menjadi guru tetap yang dikenal anak-anak karena kesabarannya.
Susanti mengajar berhitung dengan cara yang sederhana.
Ia menggunakan biji jagung, batu kecil, dan potongan bambu untuk menjelaskan penjumlahan. Ia mengajak anak-anak menghitung hasil kebun, menghitung jumlah ayam, bahkan menghitung langkah dari rumah ke sekolah.
“Belajar angka tidak harus selalu membuat kepala pusing,” katanya sambil tersenyum.
Anak-anak menyukai cara Susanti mengajar.
Mereka sering berkata bahwa berhitung bersama Bu Susanti terasa seperti bermain.
Herawati mengajar membaca dan menulis.
Ia tidak hanya mengajarkan huruf, tetapi juga mengajarkan anak-anak untuk menulis cerita tentang hidup mereka. Ia meminta mereka menulis tentang keluarga, kebun, sungai, hujan, dan mimpi mereka.
Dari tulisan-tulisan sederhana itu, Herawati melihat banyak hal.
Ada anak yang menulis tentang ayahnya yang bekerja keras di ladang.
Ada yang menulis tentang ibunya yang menjual sayur di pasar.
Ada yang menulis tentang keinginan memiliki rumah yang tidak bocor saat hujan.
Ada pula yang menulis tentang harapan agar tidak ada lagi warga yang kehilangan tanah karena tidak bisa membaca surat.
Tulisan-tulisan itu membuat Herawati semakin yakin bahwa pendidikan bukan hanya tentang nilai.
Pendidikan adalah cara agar manusia dapat memahami hidupnya sendiri.
Sementara itu, Ratna mulai mengambil peran yang berbeda di desa.
Ia tidak lagi datang ke sekolah dengan sikap ingin dipuji. Ia lebih banyak membantu di belakang. Ia mengajak para ibu untuk membuat kelompok kecil yang mengumpulkan bahan makanan bagi anak-anak yang datang belajar tanpa membawa bekal.
Ia juga membantu beberapa perempuan desa membuat kerajinan sederhana untuk dijual di pasar kecamatan.
Awalnya, tidak semua orang percaya kepada Ratna.
Masih ada yang mengingat fitnah-fitnah lama.
Masih ada yang memilih menjaga jarak.
Namun, Ratna tidak lagi memaksa orang untuk menerimanya.
Ia memilih bekerja.
Ia memilih membantu.
Ia memilih membuktikan bahwa seseorang dapat berubah jika benar-benar mau memperbaiki diri.
Pada suatu sore, Ratna datang ke sekolah membawa beberapa kain bekas.
“Aku ingin membuat tas buku sederhana untuk anak-anak,” katanya kepada Herawati.
Herawati memandang kain-kain itu.
“Bagus sekali. Banyak anak membawa buku hanya dengan tangan.”
Ratna mengangguk.
“Aku tahu. Aku dulu sering membeli barang yang tidak penting. Sekarang aku ingin membuat sesuatu yang berguna.”
Herawati tersenyum.
“Kalau begitu, kita ajak ibu-ibu lain.”
Tidak lama kemudian, beberapa ibu desa berkumpul di teras sekolah rakyat. Mereka menjahit tas dari kain bekas, memperbaiki seragam anak-anak, dan berbagi cerita tentang keluarga mereka.
Sekolah rakyat perlahan menjadi tempat perempuan desa menemukan kekuatan baru.
Mereka tidak lagi hanya datang untuk mengantar anak.
Mereka mulai belajar, berdiskusi, dan membangun usaha kecil bersama.
Desa Suka Jaya pun mulai berubah.
Jalan menuju sekolah yang dahulu hanya tanah becek perlahan diperbaiki melalui gotong royong. Warga mengumpulkan batu, memperbaiki parit, dan menanam pohon di sepanjang jalan.
Kegiatan musyawarah desa juga tidak lagi seperti dulu.
Warga mulai berani bertanya.
Mereka mulai meminta penjelasan sebelum menandatangani dokumen.
Mereka mulai memahami bahwa keputusan desa tidak boleh hanya ditentukan oleh beberapa orang.
Pak Warto sering tersenyum ketika melihat perubahan itu.
“Dulu orang datang ke balai desa hanya untuk mendengar,” katanya. “Sekarang mereka datang untuk bertanya. Itu tanda desa mulai hidup.”
Dedi mendengar kalimat itu saat sedang membantu menyusun kursi untuk rapat warga.
“Bertanya memang penting,” jawabnya. “Karena dari pertanyaan, orang belajar mencari jawaban.”
Pak Warto mengangguk.
“Dan dari jawaban yang benar, orang belajar menjaga haknya.”
Beberapa murid pertama Sekolah Rakyat Lentera Ujung Desa mulai tumbuh remaja.
Sari kini membantu Herawati mengajar anak-anak kecil membaca.
Jono sering ikut kegiatan kesehatan di kecamatan dan membawa pulang pengetahuan tentang kebersihan serta pertolongan pertama.
Ardi membantu ayahnya mencoba cara baru menanam sayur dan mencatat hasil panen.
Bima, yang dahulu hanya bisa berlari sambil membawa ember, kini sudah mampu membaca cerita panjang dengan lancar. Ia juga sering membantu anak-anak lain mengeja huruf.
Suatu sore, Bima duduk di dekat Dedi setelah kelas selesai.
“Kak Dedi,” katanya, “kalau aku sudah besar, sekolah ini masih ada?”
Dedi menatap bangunan sekolah.
Atapnya kini lebih baik daripada dulu. Rak bukunya bertambah. Kebun kecil di sampingnya mulai menghasilkan sayur yang bisa digunakan untuk kegiatan bersama.
Namun, Dedi tahu bahwa bangunan bisa rusak.
Buku bisa habis.
Lentera bisa padam.
“Sekolah ini akan tetap ada kalau kalian mau menjaganya,” jawab Dedi.
Bima mengangguk.
“Aku mau menjaganya.”
Dedi tersenyum.
“Bukan hanya bangunannya. Jagalah juga semangatnya.”
“Semangat apa?”
“Semangat untuk belajar, berani, dan berbagi.”
Bima mengulanginya perlahan.
“Belajar, berani, dan berbagi.”
Dedi mengangguk.
“Itu yang membuat sekolah ini hidup.”
Malam itu, setelah semua kegiatan selesai, Dedi duduk bersama Herawati dan Susanti di teras sekolah.
Lentera tua masih menyala di dekat pintu.
Di kejauhan, suara jangkrik terdengar dari kebun. Udara malam membawa aroma tanah dan daun basah.
Herawati menatap halaman sekolah yang kini lebih luas dan rapi.
“Kita sudah berjalan jauh,” katanya.
Susanti tersenyum.
“Kadang aku masih tidak percaya tempat ini dulu hanya rumah belajar kecil.”
Dedi memandang lentera.
“Tempat ini tumbuh karena banyak orang mau percaya.”
Herawati menatap suaminya.
“Dan karena kamu tidak berhenti ketika semua orang meminta kamu menyerah.”
Dedi menggeleng.
“Aku hampir menyerah beberapa kali.”
Susanti menatapnya.
“Tapi kamu tidak jadi menyerah.”
Dedi terdiam sejenak.
Ia teringat masa-masa ketika rumah belajar dibakar. Ia teringat luka di wajahnya. Ia teringat ayahnya yang meninggal. Ia teringat saat Herawati memintanya berhenti karena takut kehilangan dirinya.
Semua luka itu masih ada dalam ingatan.
Namun, kini luka-luka itu tidak lagi hanya membawa kesedihan.
Mereka menjadi bagian dari jalan yang membuat Desa Suka Jaya belajar berdiri.
Dedi memandang dua perempuan yang selama ini berada di sisinya.
Herawati, yang menjadi rumah bagi ketenangannya.
Susanti, yang menjadi sahabat dan penggerak sekolah rakyat.
Ia kemudian berkata pelan, “Kita belum selesai.”
Herawati tersenyum.
“Memang tidak ada perjuangan yang benar-benar selesai.”
Susanti mengangguk.
“Selama masih ada anak yang belum bisa membaca, masih ada warga yang takut bertanya, dan masih ada orang yang merasa tidak punya masa depan, sekolah ini masih dibutuhkan.”
Dedi memandang cahaya lentera yang bergetar pelan tertiup angin.
Di bawah cahaya sederhana itu, ia memahami bahwa pengabdian bukanlah perjalanan singkat.
Ia bukan pekerjaan satu hari.
Ia bukan pula sesuatu yang dilakukan untuk mendapat pujian.
Pengabdian adalah kesediaan untuk terus hadir, bahkan ketika tidak ada yang melihat.
Dan selama tahun-tahun itu berjalan, Dedi, Herawati, Susanti, Ratna, serta warga Desa Suka Jaya terus menjaga lentera di ujung desa.
Bukan agar nama mereka dikenang.
Melainkan agar anak-anak yang datang setelah mereka tetap memiliki cahaya untuk melihat masa depan.
BAB LXI
Anak Pertama Sang Lentera
Beberapa tahun setelah Sekolah Rakyat Lentera Ujung Desa berdiri dan mulai menjadi bagian penting dalam kehidupan warga, sebuah kabar bahagia datang ke rumah Dedi dan Herawati.
Herawati mengandung anak pertama mereka.
Kabar itu menyebar dengan cepat, bukan karena Dedi dan Herawati ingin mengumumkannya kepada seluruh desa, melainkan karena warga Desa Suka Jaya telah menganggap kebahagiaan mereka sebagai kebahagiaan bersama.
Bu Ningsih datang membawa bubur kacang hijau.
Pak Darman membawa beberapa buah dari kebunnya.
Ratna datang membawa kain kecil yang dijahitnya sendiri.
Susanti datang paling akhir, membawa sebuah buku kosong dengan sampul sederhana.
“Apa ini?” tanya Herawati sambil menerima buku itu.
“Buku untuk mencatat cerita,” jawab Susanti. “Nanti, ketika anakmu sudah besar, ia bisa tahu bagaimana desa ini tumbuh bersama orang tuanya.”
Herawati tersenyum.
Ia memegang buku itu dengan hati-hati.
“Terima kasih, Santi.”
Dedi yang duduk di dekat pintu memandangi istrinya dengan wajah penuh haru.
Selama ini, hidup mereka lebih banyak diisi oleh perjuangan. Mereka terbiasa memikirkan anak-anak desa, warga yang membutuhkan bantuan, buku-buku yang harus dicari, dan kegiatan sekolah yang harus dijalankan.
Namun, kehadiran calon anak mereka membawa perasaan baru.
Ada kegembiraan.
Ada kecemasan.
Ada harapan yang lebih dalam daripada sebelumnya.
Pada suatu malam, Dedi dan Herawati duduk di beranda rumah.
Lentera kecil tergantung di dekat pintu. Cahayanya lembut, menerangi halaman yang mulai basah oleh embun.
Dari kejauhan, suara anak-anak masih terdengar samar. Beberapa murid yang tinggal dekat sekolah rakyat sedang bermain sebelum pulang ke rumah masing-masing.
Herawati memegang perutnya perlahan.
“Kamu ingin anak kita menjadi apa?” tanyanya.
Dedi tersenyum.
“Aku belum tahu.”
Herawati menoleh.
“Bukankah kamu selalu punya jawaban untuk anak-anak di sekolah?”
Dedi tertawa kecil.
“Kalau untuk anak-anak lain, aku bisa bilang mereka boleh bermimpi menjadi apa saja. Tapi kalau untuk anak kita sendiri, aku hanya ingin ia tumbuh menjadi manusia yang baik.”
Herawati terdiam.
Dedi melanjutkan, “Aku tidak ingin ia merasa harus menjadi guru seperti kita. Aku tidak ingin ia memikul semua yang pernah kita perjuangkan. Ia harus punya jalannya sendiri.”
Herawati mengangguk pelan.
“Tapi semoga ia tetap mengenal desa ini.”
“Ya,” jawab Dedi. “Semoga ia mengenal tanah tempat ia lahir, orang-orang yang pernah membantu kita, dan alasan mengapa lentera itu selalu dinyalakan.”
Herawati memandang cahaya lentera.
“Kadang aku takut,” katanya pelan.
Dedi menatapnya.
“Takut apa?”
“Aku takut kita terlalu sibuk dengan sekolah. Aku takut anak kita nanti merasa bahwa ia harus berbagi ayah dan ibunya dengan seluruh desa.”
Dedi terdiam.
Kata-kata itu membuatnya berpikir.
Selama bertahun-tahun, ia terbiasa menganggap pengabdian sebagai jalan yang harus terus ditempuh. Ia selalu merasa bahwa setiap anak yang datang belajar membutuhkan perhatian. Setiap warga yang datang membawa masalah harus dibantu.
Namun, kini ia juga akan menjadi seorang ayah.
Ada seorang anak yang akan membutuhkan waktunya secara lebih dekat.
Dedi menggenggam tangan Herawati.
“Aku akan belajar membagi waktu,” katanya.
Herawati menatapnya dengan ragu.
“Kamu sungguh-sungguh?”
Dedi mengangguk.
“Aku sungguh-sungguh. Sekolah rakyat penting. Tapi keluarga kita juga penting.”
Herawati tersenyum tipis.
“Aku akan mengingatkanmu kalau kamu lupa.”
Dedi tertawa.
“Itu tugasmu sejak dulu.”
Beberapa bulan kemudian, pada suatu pagi yang tenang, suara tangis bayi terdengar dari rumah Dedi dan Herawati.
Seorang anak perempuan lahir dengan sehat.
Warga yang mendengar kabar itu segera berdatangan. Tidak ada pesta besar. Tidak ada hiasan berlebihan. Namun, rumah kecil itu dipenuhi doa, senyum, dan rasa syukur.
Dedi duduk di dekat Herawati yang masih beristirahat.
Di dalam pelukannya, bayi kecil itu tidur dengan wajah damai.
“Apa namanya?” tanya Susanti yang berdiri di dekat pintu.
Dedi dan Herawati saling berpandangan.
Herawati tersenyum.
“Laras.”
Susanti mengulang nama itu perlahan.
“Laras.”
Dedi mengangguk.
“Kami ingin ia tumbuh dengan hati yang selaras. Selaras dengan keluarga, dengan sesama, dan dengan tempat ia berasal.”
Ratna yang membawa beberapa kain bayi tersenyum.
“Nama yang indah.”
Hari-hari pertama bersama Laras mengubah banyak hal di rumah Dedi dan Herawati.
Dedi yang dahulu selalu berangkat paling pagi ke sekolah kini sering terbangun lebih awal karena tangis bayi. Ia belajar menggendong Laras dengan hati-hati. Ia belajar menenangkan anak kecil itu ketika Herawati sedang menyiapkan makanan. Ia belajar bahwa menjadi ayah bukan hanya tentang memberi nasihat ketika anak sudah besar.
Menjadi ayah dimulai dari hal-hal kecil.
Mengganti kain.
Menyiapkan air hangat.
Menjaga Laras agar Herawati dapat beristirahat.
Suatu sore, Dedi membawa Laras ke halaman Sekolah Rakyat Lentera Ujung Desa.
Laras masih sangat kecil. Ia tidur dalam gendongan kain di dada ayahnya.
Anak-anak yang sedang bermain segera mendekat.
“Itu anak Kak Dedi?” tanya Bima yang kini sudah lebih besar.
Dedi mengangguk.
“Namanya Laras.”
Sari mendekat dengan hati-hati.
“Boleh aku lihat?”
“Boleh,” jawab Dedi.
Anak-anak berdiri melingkar, memandang Laras dengan rasa ingin tahu.
Bima tersenyum lebar.
“Nanti kalau Laras besar, dia sekolah di sini juga?”
Dedi memandang bangunan sekolah rakyat.
“Kalau Laras ingin belajar di sini, tentu saja.”
“Kalau begitu, aku mau mengajarinya membaca,” kata Bima.
Anak-anak lain ikut tertawa.
Dedi tersenyum.
Di hadapannya, ia melihat masa depan dalam bentuk yang sederhana.
Laras bukan hanya anaknya.
Ia adalah bagian dari generasi baru yang akan tumbuh di desa yang mulai berubah.
Ia akan tumbuh mendengar suara anak-anak membaca.
Ia akan melihat orang-orang bergotong royong.
Ia akan mengenal lentera tua yang selalu dinyalakan ketika kelas dimulai.
Namun, Dedi tidak ingin Laras hanya menjadi anak yang dibesarkan dalam cerita perjuangan.
Ia ingin Laras memiliki ruang untuk menjadi dirinya sendiri.
Malam itu, ketika Laras tertidur di antara mereka, Herawati membuka buku kosong pemberian Susanti.
Di halaman pertama, ia menulis:
Hari ini, Laras lahir di Desa Suka Jaya. Ia lahir di rumah sederhana, di antara doa keluarga dan harapan warga. Semoga ia tumbuh menjadi anak yang mengenal cinta, kejujuran, dan kepedulian.
Dedi membaca tulisan itu.
Kemudian ia mengambil pensil dan menambahkan satu kalimat:
Semoga Laras selalu memiliki keberanian untuk memilih jalan baik, meskipun jalannya tidak selalu mudah.
Herawati menatap suaminya.
“Kamu sudah mulai menulis surat untuknya?”
Dedi tersenyum.
“Mungkin.”
“Surat apa?”
“Surat dari ayah yang masih belajar menjadi ayah.”
Herawati tertawa pelan.
Di luar rumah, malam semakin sunyi.
Lentera kecil di beranda masih menyala.
Cahayanya memantul pada dinding rumah, pada buku kosong di pangkuan Herawati, dan pada wajah Laras yang tertidur tenang.
Dedi memandangi anaknya cukup lama.
Ia teringat ayahnya, Karsa.
Ia teringat Pak Harun.
Ia teringat jalan berlumpur masa kecilnya.
Ia teringat rumah belajar yang pernah terbakar.
Ia teringat semua orang yang pernah membuatnya tetap bertahan.
Kini, di hadapannya, ada kehidupan baru.
Seorang anak perempuan kecil yang belum mengetahui apa pun tentang dunia, tetapi telah membawa alasan baru bagi Dedi untuk terus menjaga harapan.
Laras menjadi lentera kecil dalam keluarga mereka.
Bukan lentera yang harus memikul semua cahaya.
Melainkan lentera yang akan tumbuh di antara cahaya-cahaya lain, di Desa Suka Jaya yang perlahan belajar menjadi rumah bagi mimpi, pendidikan, dan masa depan.
BAB LXII
Ujian dalam Keluarga
Laras tumbuh di tengah suara buku dibuka, kapur yang bergesekan dengan papan tulis, dan langkah-langkah anak-anak yang setiap sore datang ke Sekolah Rakyat Lentera Ujung Desa.
Sejak kecil, ia mengenal sekolah itu bukan sebagai tempat yang jauh dari rumah, melainkan sebagai bagian dari hidup keluarganya. Ia sering duduk di pangkuan Herawati ketika ibunya mengajar membaca. Ia sering tertidur di kursi kayu saat Dedi berdiskusi dengan warga hingga malam. Ia mengenal Susanti sebagai sosok yang selalu membawa cerita dan perhitungan sederhana, sementara Ratna sering datang membawa tas buku hasil jahitan kelompok ibu-ibu.
Namun, semakin Laras bertambah besar, semakin ia mulai memahami bahwa ayahnya bukan hanya miliknya.
Dedi adalah milik banyak orang.
Jika ada warga yang membutuhkan bantuan membaca surat, mereka datang mencari Dedi.
Jika ada anak yang kesulitan belajar, mereka datang mencari Dedi.
Jika ada rapat desa, diskusi kelompok tani, atau persoalan warga yang harus dibicarakan, Dedi hampir selalu diminta hadir.
Pada awalnya, Laras tidak mempermasalahkan hal itu.
Ia bahkan bangga ketika teman-temannya berkata, “Ayahmu guru di sekolah rakyat.”
Namun, kebanggaan itu perlahan berubah menjadi pertanyaan-pertanyaan kecil yang tidak selalu mudah dijawab.
Suatu sore, Laras duduk di teras rumah sambil menggambar di buku tulisnya.
Ia sudah mulai bersekolah di kelas rendah. Rambutnya dikuncir dua oleh Herawati, dan di pangkuannya terdapat gambar rumah dengan halaman luas. Di sebelah rumah itu, ia menggambar seorang perempuan, seorang anak kecil, dan seorang laki-laki.
Herawati yang sedang menjemur pakaian memperhatikan gambar itu.
“Ini gambar siapa?” tanyanya.
Laras menunjuk satu per satu.
“Ini Ibu. Ini Laras. Ini Ayah.”
Herawati tersenyum.
“Bagus sekali.”
Namun, Herawati kemudian memperhatikan sesuatu.
Gambar laki-laki itu berdiri jauh dari rumah. Di tangannya ada buku. Di sampingnya terdapat gambar bangunan sekolah.
“Kenapa Ayahnya di sana?” tanya Herawati lembut.
Laras menunduk.
“Karena Ayah selalu di sekolah.”
Jawaban itu membuat Herawati terdiam.
Tidak lama kemudian, Dedi pulang dari sekolah rakyat. Bajunya sedikit basah oleh keringat. Di tangannya terdapat beberapa buku catatan dan sebuah map berisi surat warga.
“Ayah!” seru Laras.
Dedi tersenyum dan segera mendekat.
“Laras sedang menggambar apa?”
Laras menunjukkan gambarnya.
Dedi memandangi gambar itu dengan bangga.
“Wah, bagus sekali. Ini rumah kita?”
Laras mengangguk.
“Ini Ayah.”
Dedi tersenyum.
“Kenapa Ayah pegang buku?”
“Karena Ayah selalu bawa buku.”
Dedi tertawa kecil.
Namun, ketika ia melihat gambar dirinya berdiri jauh dari rumah, senyumnya perlahan menghilang.
“Ayah jauh dari rumah, ya?” tanyanya.
Laras mengangguk tanpa menatapnya.
“Karena Ayah lebih suka di sekolah.”
Dedi terdiam.
Herawati menatap suaminya.
Tidak ada kemarahan dalam tatapannya. Hanya ada kesedihan yang selama ini ia simpan sendiri.
Dedi duduk di samping Laras.
“Ayah bukan lebih suka di sekolah daripada di rumah,” katanya pelan. “Ayah hanya banyak pekerjaan.”
“Tapi Ayah janji mau ajak Laras ke sungai hari Minggu,” jawab Laras.
Dedi teringat.
Memang beberapa hari sebelumnya ia pernah berjanji akan mengajak Laras ke sungai untuk mencari batu-batu kecil yang bagus untuk menggambar. Namun, hari Minggu itu ia harus menghadiri rapat kelompok tani dan membantu warga menyusun surat permohonan bantuan.
Dedi lupa.
Laras melanjutkan, “Laras tunggu dari pagi. Tapi Ayah pergi.”
Kata-kata itu sederhana.
Namun, bagi Dedi, kata-kata itu terasa lebih berat daripada tuduhan di balai desa bertahun-tahun lalu.
Ia terbiasa menghadapi orang yang memusuhinya.
Ia terbiasa menghadapi masalah warga.
Ia terbiasa menghadapi kekurangan.
Tetapi ia tidak siap melihat anaknya merasa ditinggalkan oleh dirinya sendiri.
Dedi memegang tangan Laras.
“Ayah minta maaf.”
Laras tidak menjawab.
Ia kembali menggambar di bukunya.
Sore itu, Dedi tidak pergi ke sekolah rakyat. Ia duduk di rumah bersama Laras. Mereka membuat gambar baru. Dedi membantu Laras menggambar pohon, sungai, dan lentera kecil di depan sekolah.
Namun, meski Laras mulai tersenyum lagi, Dedi tahu satu sore tidak cukup untuk memperbaiki kebiasaan yang sudah lama terbentuk.
Malamnya, setelah Laras tidur, Herawati duduk di ruang tengah sambil merapikan pakaian.
Dedi datang membawa dua gelas teh hangat.
Ia meletakkan satu gelas di depan Herawati.
“Kamu marah?” tanyanya.
Herawati menggeleng.
“Aku tidak marah.”
“Tapi kamu kecewa.”
Herawati berhenti melipat pakaian.
“Aku hanya lelah, Dedi.”
Dedi duduk di hadapannya.
“Lelah karena apa?”
“Lelah selalu memahami,” jawab Herawati pelan. “Aku memahami ketika kamu pulang malam karena ada warga yang membutuhkan bantuan. Aku memahami ketika kamu lupa makan karena mengurus sekolah. Aku memahami ketika kamu harus pergi ke kecamatan. Aku memahami ketika kamu memilih menyelesaikan persoalan orang lain sebelum pulang ke rumah.”
Dedi menunduk.
Herawati melanjutkan, “Aku bangga denganmu. Aku tahu sekolah rakyat penting. Aku tahu warga membutuhkanmu. Tapi Laras juga membutuhkanmu.”
Dedi mengangguk perlahan.
“Aku tahu.”
“Tidak,” kata Herawati, kali ini dengan suara sedikit bergetar. “Kamu baru mulai benar-benar tahu hari ini.”
Dedi tidak membantah.
Herawati menatapnya.
“Aku tidak ingin Laras tumbuh dengan merasa bahwa ia harus bersaing dengan sekolah. Aku tidak ingin ia berpikir bahwa ayahnya selalu punya waktu untuk semua orang, kecuali untuk dirinya.”
Dedi menarik napas panjang.
Di luar rumah, suara jangkrik terdengar dari kebun. Lentera kecil di beranda masih menyala, cahayanya masuk melalui celah pintu.
“Aku takut kalau aku mengurangi kegiatan di sekolah, semua yang kita bangun akan melemah,” kata Dedi.
Herawati memandangnya.
“Sekolah itu tidak dibangun olehmu sendiri.”
Dedi terdiam.
“Ada Susanti,” lanjut Herawati. “Ada Ratna. Ada warga. Ada murid-murid lama yang sekarang sudah bisa membantu. Kamu sendiri yang selalu mengajarkan bahwa perjuangan tidak boleh bergantung pada satu orang.”
Kata-kata itu membuat Dedi teringat percakapannya dengan Bima beberapa tahun lalu.
Jagalah semangatnya.
Bukan hanya bangunannya.
Bukan hanya satu orangnya.
Dedi memejamkan mata sesaat.
Selama ini, ia terlalu takut meninggalkan sekolah karena merasa semua akan berhenti tanpa dirinya. Padahal, sekolah rakyat justru harus tumbuh menjadi milik bersama.
“Aku akan bicara dengan Susanti,” katanya.
Herawati mengangguk.
“Bukan hanya bicara. Kamu harus benar-benar belajar membagi waktu.”
“Aku akan mencoba.”
Herawati tersenyum tipis.
“Jangan hanya mencoba, Dedi.”
Dedi menatap istrinya.
“Aku akan melakukannya.”
Keesokan harinya, Dedi pergi ke sekolah rakyat lebih awal.
Ia mengumpulkan Susanti, Ratna, Sari, Jono, Ardi, dan beberapa murid lama yang kini sudah cukup dewasa untuk membantu kegiatan sekolah.
Mereka duduk di teras sekolah.
“Aku ingin membicarakan pembagian tugas,” kata Dedi.
Susanti menatapnya.
“Ada masalah?”
Dedi mengangguk.
“Ada. Aku terlalu sering merasa semua harus aku kerjakan sendiri.”
Ratna tersenyum kecil.
“Akhirnya kamu mengaku juga.”
Dedi tertawa pelan.
“Ya. Dan aku baru sadar, kalau aku terus seperti ini, aku bukan sedang menjaga sekolah. Aku justru membuat sekolah bergantung kepadaku.”
Sari yang kini mulai membantu mengajar membaca berkata, “Kami bisa membantu lebih banyak, Kak Dedi.”
Jono mengangguk.
“Aku bisa mengurus kegiatan kesehatan dan kebersihan.”
Ardi menambahkan, “Aku bisa mengajak pemuda mengurus kebun sekolah.”
Susanti memandang Dedi dengan hangat.
“Kamu tidak harus selalu menjadi orang pertama yang datang dan orang terakhir yang pulang.”
Dedi mengangguk.
“Mulai sekarang, kita akan membuat jadwal bersama. Aku tetap mengajar, tetap membantu warga, tetapi aku juga harus punya waktu untuk keluarga.”
Ratna berkata, “Itu keputusan yang baik.”
Sore itu, Dedi pulang lebih awal.
Laras sedang duduk di halaman rumah bersama Herawati. Ia membuat rumah-rumahan dari tanah dan daun kering.
Ketika melihat ayahnya datang sebelum matahari tenggelam, Laras berdiri dengan wajah heran.
“Ayah pulang?”
Dedi tersenyum.
“Ayah pulang.”
“Tidak ada sekolah?”
“Ada. Tapi hari ini Ayah sudah selesai lebih cepat.”
Laras memandangnya seolah belum percaya.
Dedi duduk di dekatnya.
“Besok pagi, Ayah mau menepati janji.”
“Janji ke sungai?”
Dedi mengangguk.
“Ke sungai.”
Wajah Laras perlahan berbinar.
“Benarkah?”
“Benar.”
Keesokan paginya, Dedi, Herawati, dan Laras berjalan menuju sungai kecil di belakang desa.
Mereka membawa bekal sederhana. Laras berlari di depan sambil membawa keranjang kecil. Ia mengumpulkan batu-batu yang menurutnya indah, daun berbentuk unik, dan bunga liar di tepi jalan.
Dedi berjalan di sampingnya.
Ia tidak membawa map.
Tidak membawa buku catatan warga.
Tidak membawa urusan sekolah.
Hari itu, ia hanya menjadi ayah.
Laras menunjukkan sebuah batu kecil berwarna putih.
“Ayah, ini bagus?”
Dedi menerimanya.
“Bagus sekali.”
“Lebih bagus dari batu yang lain?”
Dedi tersenyum.
“Setiap batu punya bentuknya sendiri. Yang penting, kita tahu cara melihat keindahannya.”
Laras tampak puas dengan jawaban itu.
Herawati yang berjalan di belakang memandang mereka dengan senyum tenang.
Ia tahu kehidupan mereka tidak akan pernah sepenuhnya mudah. Dedi tetap seorang pengajar. Sekolah rakyat tetap membutuhkan perhatian. Desa tetap memiliki persoalan yang harus dihadapi.
Namun, pagi itu, Herawati melihat sesuatu yang membuat hatinya lebih lega.
Dedi mulai belajar bahwa pengabdian tidak hanya dilakukan di ruang kelas dan balai desa.
Pengabdian juga dilakukan di rumah.
Dalam mendengarkan anak.
Dalam menepati janji.
Dalam memberi waktu kepada keluarga.
Ketika matahari mulai naik, Laras duduk di tepi sungai sambil memegang batu-batu kecil hasil pilihannya.
“Ayah,” katanya.
“Ya?”
“Kalau Laras besar, Laras juga mau bantu sekolah.”
Dedi tersenyum.
“Kamu boleh membantu sekolah. Tapi kamu juga boleh memilih jalanmu sendiri.”
Laras mengerutkan dahi.
“Jalan sendiri?”
“Maksud Ayah, kamu boleh punya cita-cita apa saja. Yang penting kamu menjadi orang baik.”
Laras berpikir sejenak.
“Kalau Laras jadi pelukis?”
“Bagus.”
“Kalau Laras jadi guru?”
“Bagus.”
“Kalau Laras jadi orang yang suka menggambar batu?”
Dedi tertawa.
“Itu juga bagus.”
Laras ikut tertawa.
Di tepi sungai kecil itu, Dedi menyadari bahwa keluarga bukan penghalang bagi perjuangan.
Keluarga adalah tempat perjuangan mendapatkan makna.
Dan sejak hari itu, ia mulai berusaha menjaga dua lentera dalam hidupnya:
lentera yang menyala di ujung desa,
dan lentera kecil yang tumbuh di dalam rumahnya sendiri.
BAB LXIII
Penyakit yang Diam-Diam Datang
Sejak Dedi mulai membagi waktunya antara sekolah rakyat dan keluarga, kehidupan di rumah terasa lebih hangat.
Ia tidak lagi pulang terlalu larut setiap malam. Ia mulai menyisihkan waktu untuk menemani Laras belajar, membantu Herawati menyiapkan keperluan rumah, dan duduk bersama keluarga tanpa selalu membawa map, buku catatan, atau surat-surat warga.
Namun, di balik perubahan itu, tubuh Dedi perlahan mulai memberi tanda-tanda yang tidak ia ceritakan kepada banyak orang.
Awalnya hanya rasa lelah yang datang lebih cepat.
Setelah mengajar beberapa jam, kepalanya sering terasa berat. Setelah membantu warga di kebun sekolah, napasnya menjadi pendek. Kadang, saat malam tiba, tubuhnya menggigil meski udara tidak terlalu dingin.
Dedi selalu mengatakan bahwa ia hanya kurang tidur.
“Aku hanya kecapekan,” katanya ketika Herawati bertanya.
Herawati tidak langsung percaya.
Ia mengenal suaminya terlalu lama untuk tidak memahami kebiasaan Dedi. Sejak muda, Dedi selalu menganggap lelah sebagai sesuatu yang bisa dikalahkan dengan kemauan. Ia terbiasa memaksa dirinya tetap berjalan, bahkan ketika keadaan sudah meminta ia berhenti.
Suatu sore, Dedi sedang mengajar anak-anak di kelas.
Hari itu, ia membacakan cerita tentang seorang anak desa yang ingin melihat dunia di luar kampungnya, tetapi akhirnya kembali untuk membangun tempat kelahirannya. Anak-anak duduk mendengarkan dengan tenang.
Laras duduk di barisan depan.
Ia kini sudah cukup besar untuk mengikuti kegiatan belajar di sekolah rakyat. Ia selalu senang jika ayahnya yang membacakan cerita, karena suara Dedi terdengar hangat dan penuh keyakinan.
Namun, di tengah cerita, Dedi tiba-tiba berhenti.
Tangannya yang memegang buku tampak sedikit gemetar.
Anak-anak menunggu.
“Lanjutkan, Ayah,” kata Laras.
Dedi tersenyum tipis.
“Ya, Ayah lanjutkan.”
Ia mencoba membaca kembali.
Namun, pandangannya mulai kabur. Suara anak-anak terdengar seperti datang dari kejauhan. Keringat dingin muncul di dahinya.
Susanti yang sedang menata buku di belakang kelas segera memperhatikan keadaan itu.
“Dedi,” katanya pelan.
Dedi mengangkat tangan, seolah ingin mengatakan bahwa ia baik-baik saja.
Namun, sebelum sempat berdiri, tubuhnya limbung.
Buku cerita itu jatuh ke lantai.
Herawati yang sedang berada di halaman sekolah mendengar suara kursi bergeser. Ia segera masuk ke dalam kelas.
“Dedi!”
Dedi masih sadar, tetapi wajahnya pucat. Susanti dan beberapa pemuda membantu membawanya ke ruang kecil di belakang kelas.
Anak-anak mulai gelisah.
Laras berdiri di dekat pintu dengan mata penuh ketakutan.
“Ayah kenapa?” tanyanya.
Herawati berusaha tersenyum, meski hatinya bergetar.
“Ayah hanya perlu istirahat.”
Namun, Laras tidak bergeser dari tempatnya.
Ia memandangi ayahnya yang terbaring dengan mata tertutup. Untuk pertama kalinya, ia melihat Dedi tidak mampu berdiri di depan kelas.
Hari itu, kegiatan belajar dihentikan lebih awal.
Susanti mengajak anak-anak pulang dengan tenang. Ratna membantu menyiapkan air hangat. Jono, yang kini mulai banyak belajar tentang kesehatan, pergi memanggil petugas kesehatan dari desa sebelah.
Menjelang malam, seorang petugas kesehatan datang memeriksa Dedi.
Ia menyarankan agar Dedi beristirahat cukup dan memeriksakan diri lebih lanjut ke puskesmas kecamatan.
“Tubuhnya terlalu lelah,” katanya. “Jangan dibiarkan terus bekerja seperti ini.”
Dedi yang mendengar perkataan itu hanya tersenyum kecil.
“Masih banyak yang harus dikerjakan,” katanya.
Herawati menatapnya tajam.
“Tidak ada yang lebih penting daripada kamu sehat.”
Dedi tidak menjawab.
Setelah petugas kesehatan pulang, rumah mereka menjadi sunyi.
Laras duduk di dekat tempat tidur ayahnya sambil memegang tangan Dedi.
“Ayah sakit?” tanyanya.
Dedi membuka mata.
“Sedikit.”
“Besok Ayah mengajar lagi?”
Dedi hendak menjawab, tetapi Herawati lebih dahulu berkata, “Ayah akan istirahat dulu.”
Laras menatap ibunya.
“Tapi anak-anak menunggu Ayah.”
Herawati mengusap rambut Laras.
“Anak-anak juga ingin Ayah sehat.”
Laras mengangguk pelan.
Malam itu, setelah Laras tertidur, Herawati duduk di samping Dedi.
Di atas meja kecil, ada secangkir air hangat yang belum disentuh. Lentera di sudut kamar menyala redup, membuat bayangan mereka tampak panjang di dinding.
Herawati tidak langsung berbicara.
Ia hanya memandangi wajah Dedi yang tampak lebih tua daripada biasanya.
“Aku sudah bilang kamu harus mengurangi aktivitas,” katanya akhirnya.
Dedi menatap langit-langit kamar.
“Aku tahu.”
“Tapi kamu tidak mendengarkan.”
Dedi menarik napas panjang.
“Aku tidak ingin sekolah berhenti.”
“Sekolah tidak akan berhenti,” jawab Herawati. “Susanti ada. Ratna ada. Murid-murid lama juga sudah bisa membantu. Warga sudah mulai merasa sekolah itu milik mereka.”
Dedi memejamkan mata.
“Kalau aku tidak hadir, aku merasa seperti meninggalkan mereka.”
Herawati menggenggam tangannya.
“Kamu tidak meninggalkan mereka jika kamu beristirahat. Kamu justru memberi mereka kesempatan untuk belajar berdiri sendiri.”
Dedi terdiam.
Kata-kata itu mengingatkannya pada pelajaran yang sama ketika Laras mulai merasa kurang diperhatikan. Ia telah berjanji untuk tidak menjadikan dirinya pusat dari semua hal.
Namun, kebiasaan lama ternyata tidak mudah diubah.
“Aku takut,” kata Dedi pelan.
Herawati menatapnya.
“Takut apa?”
“Takut kalau aku berhenti sebentar, semua semangat itu akan hilang.”
Herawati menggeleng.
“Semangat tidak hilang hanya karena kamu beristirahat. Semangat akan hilang kalau kamu memaksakan diri sampai tidak bisa kembali lagi.”
Dedi menatap istrinya.
Kali ini, ia tidak menemukan jawaban untuk membantah.
Beberapa hari berikutnya, Dedi mencoba tinggal di rumah.
Namun, ia tetap sulit benar-benar tenang.
Dari jendela, ia sering melihat anak-anak berjalan menuju sekolah. Ia mendengar suara mereka membaca dari kejauhan. Ia mendengar Susanti memimpin pelajaran, lalu suara Ratna yang mengatur pembagian makanan ringan.
Setiap kali mendengar suara itu, Dedi ingin bangkit.
Ia ingin kembali ke kelas.
Ia ingin kembali memegang kapur.
Namun, tubuhnya belum siap.
Suatu siang, Susanti datang membawa beberapa buku catatan.
“Aku hanya ingin melaporkan kegiatan sekolah,” katanya sambil duduk di teras.
Dedi segera tampak lebih bersemangat.
“Bagaimana anak-anak?”
“Baik,” jawab Susanti. “Sari mengajar membaca untuk kelas kecil. Jono membantu kegiatan kebersihan. Ardi mengurus kebun. Ratna mengajak ibu-ibu membuat makanan tambahan.”
Dedi tersenyum.
“Bagus.”
Susanti membuka salah satu buku catatan.
“Bima juga mengajar anak-anak kecil mengeja. Ia sangat serius.”
Dedi tertawa kecil.
“Bima memang sejak dulu ingin mengajar.”
Susanti menatap Dedi.
“Lihat? Sekolah tetap berjalan.”
Dedi mengangguk.
Namun, Susanti belum selesai.
“Dedi, kamu harus pergi ke puskesmas.”
Dedi menoleh.
“Aku sudah lebih baik.”
“Kamu belum tentu baik,” jawab Susanti tegas. “Kamu hanya terbiasa menyembunyikan sakit.”
Dedi tersenyum tipis.
“Sekarang semua orang mulai berani menasihatiku.”
“Karena semua orang peduli,” kata Susanti.
Menjelang sore, Herawati datang membawa pakaian dan beberapa keperluan sederhana.
“Kita pergi ke puskesmas besok pagi,” katanya.
Dedi menatapnya.
“Tidak perlu terburu-buru.”
Herawati menggeleng.
“Tidak ada yang ditunda lagi.”
Dedi melihat wajah Herawati yang penuh keteguhan.
Ia tahu, selama ini Herawati selalu mendukung perjuangannya. Ia selalu menjadi orang yang pertama memahami ketika Dedi harus pergi membantu warga atau mengurus sekolah.
Namun, kali ini Herawati tidak sedang meminta.
Ia sedang menjaga.
Keesokan paginya, Dedi pergi ke puskesmas kecamatan bersama Herawati.
Laras dititipkan kepada Susanti, tetapi sebelum berangkat, ia memeluk ayahnya erat-erat.
“Ayah jangan sakit lama-lama,” katanya.
Dedi membelai rambut anaknya.
“Ayah akan berusaha.”
“Janji?”
Dedi menatap mata Laras.
Ia teringat janji yang pernah ia lupakan tentang pergi ke sungai. Ia tidak ingin kembali memberikan janji yang kosong.
“Ayah akan menjaga diri,” katanya. “Itu janji Ayah.”
Laras mengangguk.
Perjalanan menuju kecamatan terasa panjang.
Dedi duduk di samping Herawati di dalam kendaraan sederhana yang mereka tumpangi. Jalan yang mereka lewati masih tidak sepenuhnya mulus. Di beberapa bagian, kendaraan harus berjalan perlahan karena lubang dan tanah yang belum rata.
Dedi memandang desa-desa yang mereka lewati.
Ia melihat ladang.
Ia melihat rumah-rumah sederhana.
Ia melihat anak-anak yang berjalan di pinggir jalan membawa tas sekolah.
Pemandangan itu membuat hatinya terasa penuh.
Selama ini, ia selalu menganggap hidupnya harus digunakan untuk membantu sebanyak mungkin orang.
Namun, di perjalanan itu, ia mulai memahami sesuatu yang lebih dalam.
Membantu orang lain tidak berarti mengabaikan diri sendiri.
Menjaga harapan tidak berarti membiarkan tubuh menjadi korban.
Sebab lentera yang terus dipaksa menyala tanpa pernah dirawat, pada akhirnya dapat kehabisan minyak.
Dan Dedi mulai menyadari bahwa sebelum ia kembali mengajar anak-anak tentang masa depan, ia harus lebih dahulu belajar menjaga hidupnya sendiri.
BAB LXIV
Susanti Menjaga Api
Perjalanan Dedi dan Herawati ke puskesmas kecamatan meninggalkan suasana yang berbeda di Desa Suka Jaya.
Biasanya, setiap sore Dedi sudah terlihat di halaman Sekolah Rakyat Lentera Ujung Desa. Ia memeriksa kebun kecil di samping bangunan, menyapa anak-anak yang datang lebih awal, lalu berdiri di depan kelas dengan kapur di tangan.
Namun, selama beberapa hari itu, kursi kayu di dekat papan tulis tampak kosong.
Anak-anak mulai menyadari bahwa Dedi benar-benar harus beristirahat.
“Pak Dedi belum pulang?” tanya Bima kepada Susanti pada suatu sore.
Susanti sedang menuliskan beberapa soal berhitung di papan tulis. Ia berhenti sejenak, lalu menoleh kepada anak-anak.
“Pak Dedi sedang memeriksakan kesehatannya,” jawabnya. “Kita semua harus mendoakan agar beliau segera membaik.”
“Kalau Pak Dedi tidak ada, siapa yang mengajar cerita?” tanya Sari.
Susanti tersenyum.
“Hari ini, kita akan belajar cerita bersama-sama.”
Anak-anak memandangnya dengan penasaran.
Susanti mengambil sebuah buku tua dari rak. Buku itu pernah diberikan Pak Harun kepada Dedi bertahun-tahun lalu. Sampulnya sudah kusam, beberapa halamannya mulai menguning, tetapi isinya masih tersimpan dengan baik.
“Dulu,” kata Susanti, “Pak Dedi belajar dari buku-buku seperti ini. Sekarang, tugas kita bukan hanya membaca buku. Kita juga harus menjaga agar semangat belajar tetap hidup.”
Ia kemudian membuka halaman pertama dan mulai membacakan cerita.
Anak-anak duduk tenang.
Suara Susanti tidak sekeras suara Dedi, tetapi terdengar lembut dan jelas. Ia membacakan cerita tentang seorang anak yang berjalan jauh untuk mencari ilmu, lalu kembali ke kampungnya untuk mengajar anak-anak lain.
Ketika cerita selesai, Bima mengangkat tangan.
“Cerita itu seperti Pak Dedi, ya?”
Susanti tersenyum.
“Mungkin. Tapi cerita itu juga bisa menjadi cerita kalian nanti.”
Anak-anak saling memandang.
Untuk pertama kalinya, mereka mulai membayangkan bahwa sekolah rakyat dapat tetap berjalan meskipun Dedi tidak selalu berdiri di depan kelas.
Hari-hari berikutnya, Susanti mengambil lebih banyak tanggung jawab.
Pagi hari, ia membantu menyiapkan jadwal pelajaran.
Siang hari, ia mengunjungi beberapa rumah murid yang sudah lama tidak datang belajar.
Sore hari, ia mengajar berhitung, membaca, dan menulis.
Malam hari, ia duduk bersama Ratna, Sari, Jono, Ardi, serta beberapa pemuda desa untuk membicarakan kebutuhan sekolah.
“Buku tulis kita mulai berkurang,” kata Ratna suatu malam.
“Kapur juga tinggal sedikit,” tambah Sari.
Ardi menatap daftar kebutuhan yang ditulis di atas kertas.
“Kebun sekolah mulai menghasilkan sayur. Mungkin sebagian bisa dijual ke pasar kecil di kecamatan. Uangnya bisa digunakan untuk membeli alat tulis.”
Jono mengangguk.
“Aku bisa membantu membawa sayur dengan sepeda motor Pak Darman.”
Susanti memandang mereka satu per satu.
“Kalau begitu, kita lakukan bersama. Sekolah ini tidak boleh berhenti hanya karena Pak Dedi sedang sakit.”
Ratna menatap Susanti.
“Kamu tidak lelah?”
Susanti tersenyum tipis.
“Lelah. Tapi dulu Dedi juga lelah ketika membangun tempat ini.”
Ratna terdiam.
Susanti melanjutkan, “Bedanya, dulu ia sering merasa harus melakukan semuanya sendiri. Sekarang, kita harus membuktikan bahwa ia tidak sendirian.”
Keesokan harinya, warga mulai melihat perubahan.
Anak-anak tetap datang belajar.
Kebun sekolah tetap dirawat.
Kelas membaca untuk ibu-ibu tetap berjalan.
Kelompok pemuda tetap mengadakan diskusi kecil di teras sekolah.
Bahkan, beberapa murid lama mulai mengambil peran lebih besar.
Sari mengajar anak-anak kecil mengenal huruf.
Jono membantu mengajarkan kebersihan dan cara mencuci tangan dengan benar.
Ardi mengajak anak-anak merawat tanaman cabai, tomat, dan sayur di kebun sekolah.
Bima yang kini sudah semakin besar membantu membagikan buku kepada anak-anak yang baru datang.
Ia berdiri dengan wajah serius di depan rak buku.
“Jangan dilipat halamannya,” katanya kepada seorang anak kecil. “Buku harus dijaga.”
Anak-anak lain tertawa.
Namun, Bima tetap terlihat bangga.
Ia merasa memiliki tugas.
Suatu sore, Laras datang ke sekolah bersama Herawati.
Dedi masih berada di rumah setelah pulang dari puskesmas. Petugas kesehatan meminta agar ia banyak beristirahat dan tidak memaksakan diri melakukan kegiatan berat.
Laras memandangi ruang kelas yang ramai.
“Ayah tidak ada, tapi sekolah tetap ramai,” katanya.
Herawati tersenyum.
“Karena sekolah ini bukan hanya milik Ayah.”
Laras melihat Susanti yang sedang mengajar di depan kelas.
“Bu Susanti hebat.”
“Iya,” jawab Herawati. “Bu Susanti sudah lama membantu sekolah ini.”
Laras berjalan mendekati Susanti.
“Bu Susanti,” katanya.
Susanti menoleh.
“Ya, Laras?”
“Kalau Ayah belum bisa mengajar, Laras boleh bantu?”
Susanti tersenyum hangat.
“Kamu ingin membantu apa?”
Laras berpikir sejenak.
“Aku bisa membantu anak-anak kecil menggambar.”
Susanti mengangguk.
“Itu bantuan yang baik.”
Hari itu, Laras duduk bersama beberapa anak kecil di bawah pohon beringin. Ia membagikan kertas-kertas bekas yang masih bisa digunakan dan mengajak mereka menggambar rumah, pohon, kebun, serta lentera.
“Ini lentera,” kata Laras sambil menggambar cahaya kecil di atas kertas. “Kalau malam, lentera membuat kita tidak takut gelap.”
Seorang anak kecil menatap gambar Laras.
“Kalau lentera mati?”
Laras terdiam sebentar.
Kemudian ia menjawab, “Kalau lentera mati, kita nyalakan lagi.”
Susanti yang mendengar jawaban itu memandang Laras dengan mata berkaca-kaca.
Kalimat sederhana itu terasa seperti jawaban atas semua yang sedang mereka hadapi.
Dedi sedang sakit.
Ia tidak bisa mengajar seperti biasanya.
Namun, semangat yang ia tanam selama bertahun-tahun tidak ikut jatuh sakit.
Semangat itu hidup dalam diri anak-anak.
Hidup dalam tangan-tangan warga.
Hidup dalam keberanian Susanti untuk mengambil tanggung jawab lebih besar.
Malam hari, setelah kegiatan sekolah selesai, Susanti datang ke rumah Dedi dan Herawati.
Ia membawa beberapa catatan kegiatan.
Dedi duduk di kursi kayu di teras rumah. Wajahnya masih tampak lelah, tetapi ia terlihat lebih tenang daripada beberapa hari sebelumnya.
“Bagaimana sekolah?” tanyanya begitu Susanti datang.
Susanti menyerahkan catatan itu.
“Berjalan baik.”
Dedi membuka halaman demi halaman.
Ada catatan jumlah anak yang hadir.
Ada daftar buku yang dipinjam.
Ada laporan hasil kebun sekolah.
Ada rencana kegiatan membaca untuk orang dewasa.
Dedi membaca semuanya dengan sungguh-sungguh.
“Ini semua kamu yang urus?” tanyanya.
“Bukan aku sendiri,” jawab Susanti. “Kami mengurusnya bersama.”
Dedi menatap Susanti.
Untuk beberapa saat, ia tidak berkata apa-apa.
Kemudian ia tersenyum.
“Aku bangga.”
Susanti duduk di kursi sebelahnya.
“Kamu tidak perlu khawatir, Dedi.”
“Aku masih khawatir,” jawab Dedi jujur.
Susanti tertawa kecil.
“Itu memang sifatmu.”
Dedi ikut tersenyum.
Namun, Susanti kemudian berkata dengan nada lebih serius, “Kamu harus benar-benar beristirahat. Jangan datang ke sekolah hanya karena merasa bersalah.”
Dedi menatap lentera yang tergantung di depan rumah.
“Aku merasa seperti tidak berguna kalau hanya duduk di rumah.”
Susanti menggeleng.
“Kamu salah. Kamu sudah mengajarkan kami semua cara menjaga sekolah ini. Sekarang, biarkan kami menjalankan apa yang sudah kamu ajarkan.”
Dedi memandangnya.
Susanti melanjutkan, “Perjuangan yang baik bukan perjuangan yang hanya bergantung pada satu orang. Perjuangan yang baik adalah perjuangan yang mampu melahirkan banyak orang yang mau meneruskannya.”
Kata-kata itu membuat Dedi terdiam.
Ia teringat pesan ayahnya.
Ia teringat Pak Harun.
Ia teringat anak-anak yang dahulu datang dengan buku lusuh dan mata penuh harapan.
Ia teringat rumah belajar yang pernah terbakar, lalu bangkit kembali karena warga membawa buku, pensil, dan papan kecil dari rumah mereka.
Semua itu membuktikan bahwa sekolah rakyat telah lama menjadi milik banyak orang.
Dedi hanya salah satu orang yang menyalakan api pertama.
Namun, api itu kini dijaga oleh banyak tangan.
Beberapa minggu kemudian, kondisi Dedi mulai sedikit membaik.
Ia belum kembali mengajar penuh. Ia hanya sesekali datang ke sekolah untuk melihat keadaan, duduk di bawah pohon beringin, dan berbicara dengan anak-anak.
Setiap kali ia datang, anak-anak berlari menyambutnya.
“Pak Dedi sudah sehat?”
“Pak Dedi kapan mengajar lagi?”
Dedi selalu tersenyum.
“Pak Dedi sedang belajar menjadi murid.”
“Murid apa?” tanya Bima.
“Murid yang belajar beristirahat,” jawab Dedi.
Anak-anak tertawa.
Namun, di dalam hati, Dedi benar-benar sedang belajar.
Ia belajar bahwa menerima bantuan bukan tanda kelemahan.
Ia belajar bahwa memberi kepercayaan kepada orang lain bukan berarti kehilangan peran.
Ia belajar bahwa sekolah rakyat akan jauh lebih kuat jika tidak hanya berdiri di atas bahunya sendiri.
Pada suatu sore, Susanti berdiri di depan kelas sambil memandangi anak-anak yang sedang membaca.
Cahaya matahari masuk melalui jendela kayu. Di luar, daun-daun beringin bergerak pelan tertiup angin.
Di dekat pintu, lentera tua milik Pak Harun masih tergantung.
Susanti menatap lentera itu cukup lama.
Ia tahu, lentera tidak akan selalu menyala karena satu orang.
Kadang, cahaya harus dijaga oleh tangan yang berbeda.
Kadang, api harus diteruskan kepada mereka yang sebelumnya hanya duduk sebagai penonton.
Dan selama masih ada orang yang bersedia membawa minyak, menyalakan sumbu, serta menjaga cahaya agar tidak padam, Lentera Ujung Desa akan tetap hidup.
Bukan hanya sebagai sekolah.
Melainkan sebagai janji bahwa harapan selalu dapat diteruskan.
BAB LXV
Leman Meminta Maaf
Musim hujan kembali datang ke Desa Suka Jaya.
Langit sering dipenuhi awan kelabu sejak pagi. Jalan-jalan tanah menjadi licin, kebun-kebun tampak basah, dan suara air hujan jatuh di atas atap seng terdengar hampir setiap hari.
Di tengah musim itu, Dedi mulai kembali datang ke Sekolah Rakyat Lentera Ujung Desa, meski belum seperti dahulu.
Ia tidak lagi memaksakan diri mengajar dari pagi hingga malam. Ia lebih sering duduk di bawah pohon beringin, memperhatikan Susanti mengajar, mendengarkan anak-anak membaca, atau berbicara dengan warga yang datang membawa persoalan.
Tubuhnya belum sepenuhnya pulih.
Wajahnya masih terlihat lebih kurus.
Namun, ada ketenangan baru dalam dirinya.
Dedi mulai menerima bahwa sekolah rakyat tidak harus selalu berjalan melalui tangannya sendiri. Ia melihat Susanti memimpin kelas dengan sabar. Ia melihat Ratna mengurus kegiatan ibu-ibu. Ia melihat Sari, Jono, Ardi, dan Bima mulai mengambil peran dalam berbagai kegiatan.
Lentera Ujung Desa tetap menyala.
Bukan karena Dedi terus memegang sumbunya.
Melainkan karena banyak tangan telah belajar menjaganya.
Suatu sore, ketika hujan baru saja reda, Dedi duduk di teras rumah bersama Laras.
Laras sedang menggambar pemandangan sekolah rakyat. Di kertasnya terdapat bangunan sederhana, pohon beringin, anak-anak yang sedang bermain, dan sebuah lentera besar di dekat pintu.
Dedi memandangi gambar itu dengan senyum tipis.
“Lenteranya besar sekali,” katanya.
Laras mengangguk.
“Karena lenteranya penting.”
“Kenapa penting?”
“Karena kalau gelap, semua orang bisa melihat jalan.”
Dedi mengusap kepala anaknya.
“Jawabanmu selalu membuat Ayah berpikir.”
Laras tersenyum bangga.
Tidak lama kemudian, dari kejauhan terlihat seorang laki-laki tua berjalan perlahan menuju rumah mereka.
Langkahnya tidak lagi tegap seperti dulu.
Punggungnya sedikit membungkuk.
Pakainya tampak sederhana dan kusam.
Dedi memandang orang itu cukup lama sebelum akhirnya menyadari siapa yang datang.
Leman.
Laras menoleh kepada ayahnya.
“Itu siapa?”
Dedi tidak langsung menjawab.
“Orang lama dari desa ini,” katanya pelan.
Leman berhenti beberapa langkah dari teras. Wajahnya tampak pucat. Ia membawa tongkat kayu untuk menopang tubuhnya. Di bawah matanya terlihat garis-garis lelah yang dalam.
Dulu, Leman datang dengan suara keras dan tatapan yang membuat banyak orang menunduk.
Dulu, ia terbiasa memerintah.
Dulu, ia merasa mampu menentukan siapa yang boleh berbicara dan siapa yang harus diam.
Kini, ia berdiri dengan kepala tertunduk.
“Dedi,” katanya lirih.
Dedi berdiri dari kursinya.
“Silakan masuk, Pak Leman.”
Leman tidak segera melangkah.
“Aku tidak tahu apakah aku pantas masuk ke rumahmu.”
Dedi memandangnya tanpa kemarahan.
“Kalau Bapak datang dengan niat baik, pintu ini tidak tertutup.”
Leman akhirnya naik ke teras. Herawati yang mendengar suara mereka keluar dari dalam rumah. Ketika melihat Leman, wajahnya sempat berubah tegang.
Ia masih mengingat banyak hal.
Fitnah yang pernah menyebar.
Ancaman yang pernah membuat warga takut.
Tekanan terhadap Dedi.
Rumah belajar yang pernah dibakar.
Tanah warga yang hampir dirampas.
Namun, Herawati tidak berkata kasar.
Ia hanya berdiri di dekat pintu, memperhatikan.
Leman duduk perlahan di kursi kayu.
Tangannya tampak gemetar.
Laras memandangi laki-laki tua itu dengan rasa ingin tahu, tetapi Dedi memberi isyarat agar ia masuk ke dalam rumah bersama Herawati.
Setelah Laras pergi, suasana menjadi sunyi.
Hanya suara air yang masih menetes dari daun-daun di halaman.
Leman memandang lantai teras cukup lama.
“Aku sakit,” katanya akhirnya.
Dedi mengangguk pelan.
“Aku dengar Bapak sudah lama tidak keluar rumah.”
Leman tersenyum pahit.
“Tidak banyak orang yang ingin datang ke rumahku sekarang.”
Dedi tidak menjawab.
Leman melanjutkan, “Dulu, banyak orang datang karena takut. Mereka datang karena aku punya pengaruh. Mereka datang karena aku bisa membuat orang kehilangan pekerjaan, kehilangan tanah, atau kehilangan ketenangan.”
Ia menarik napas panjang.
“Tapi ketika aku tidak lagi punya kuasa, mereka pergi satu per satu.”
Dedi memandangnya.
“Orang yang datang karena takut memang tidak akan tinggal lama.”
Leman mengangguk.
“Itu yang baru aku mengerti sekarang.”
Beberapa saat, tidak ada yang berbicara.
Leman lalu mengangkat wajahnya. Matanya tampak basah.
“Aku datang bukan untuk meminta bantuan,” katanya. “Aku datang untuk meminta maaf.”
Dedi tetap diam.
Leman melanjutkan dengan suara yang semakin pelan.
“Aku pernah menganggapmu ancaman. Aku tidak suka melihat warga mendengarkanmu. Aku tidak suka melihat anak-anak mulai berani bicara. Aku tidak suka melihat orang-orang mulai bertanya tentang tanah, tentang bantuan, dan tentang keputusan desa.”
Ia menunduk.
“Aku takut kehilangan pengaruh.”
Dedi memandang wajah Leman yang kini dipenuhi penyesalan.
“Aku tahu,” katanya.
Leman menatapnya.
“Aku juga tahu aku sudah melakukan banyak hal yang tidak bisa diperbaiki hanya dengan kata-kata. Aku ikut membiarkan fitnah menyebar. Aku membiarkan orang-orang menekanmu. Aku memilih diam ketika rumah belajar dibakar. Aku membantu Burhan membuat warga percaya pada janji-janji yang ternyata hanya merugikan mereka.”
Dedi menggenggam kedua tangannya.
Ingatan tentang masa lalu kembali datang.
Ia teringat wajah Herawati ketika melihat luka di wajahnya.
Ia teringat anak-anak yang menangis ketika rumah belajar berubah menjadi abu.
Ia teringat ayahnya yang meninggal sebelum sempat melihat sekolah rakyat berdiri kokoh.
Ia teringat ketakutan warga yang dahulu tidak berani bersuara.
Leman menunduk semakin dalam.
“Aku tidak meminta kamu melupakan semuanya,” katanya. “Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku menyesal.”
Dedi memandang hujan yang mulai turun lagi di halaman.
Butir-butir air jatuh perlahan, membasahi tanah yang selama ini menjadi saksi begitu banyak pertengkaran, ketakutan, dan perjuangan.
“Bapak,” kata Dedi akhirnya, “memaafkan bukan berarti menganggap semua yang terjadi tidak pernah ada.”
Leman mengangkat wajahnya.
Dedi melanjutkan, “Luka masyarakat tidak hilang hanya karena seseorang berkata menyesal. Banyak warga kehilangan tanah. Banyak orang kehilangan kepercayaan. Banyak anak kehilangan kesempatan belajar karena ketakutan yang pernah Bapak pelihara.”
Leman mengangguk dengan mata berkaca-kaca.
“Aku tahu.”
“Kalau Bapak benar-benar ingin memperbaiki diri,” kata Dedi, “Bapak tidak cukup hanya meminta maaf kepadaku.”
Leman terdiam.
“Apa yang harus aku lakukan?”
Dedi menatapnya dengan tenang.
“Datanglah kepada warga yang pernah Bapak sakiti. Akui kesalahan Bapak. Jika ada yang masih bisa diperbaiki, bantulah memperbaikinya. Kalau ada orang yang kehilangan hak karena keputusan Bapak, bantu mereka mencari jalan. Kalau ada anak-anak yang dulu tidak bisa sekolah karena keadaan, dukung mereka belajar.”
Leman menarik napas panjang.
“Tidak semua orang akan memaafkanku.”
“Memang tidak,” jawab Dedi. “Dan Bapak harus menerima itu.”
Leman menunduk.
Dedi melanjutkan, “Tapi tindakan baik yang dilakukan terus-menerus mungkin bisa membantu menyembuhkan sebagian luka. Bukan untuk mengembalikan nama Bapak. Bukan untuk membuat orang kembali takut atau hormat. Tetapi untuk menunjukkan bahwa Bapak benar-benar berubah.”
Hujan semakin deras.
Leman memandangi halaman rumah Dedi yang mulai dipenuhi genangan kecil.
“Selama ini,” katanya, “aku selalu berpikir kekuasaan adalah cara agar orang menghormatiku.”
Dedi mengangguk.
“Padahal kekuasaan yang dibangun dari ketakutan hanya membuat orang menunggu waktu untuk pergi.”
Leman tersenyum pahit.
“Sekarang aku benar-benar sendiri.”
Dedi tidak ingin memberi jawaban yang hanya membuat Leman merasa lebih baik. Ia tahu kesepian yang dirasakan Leman adalah bagian dari akibat perbuatannya sendiri.
Namun, ia juga tidak ingin membiarkan kebencian menjadi warisan bagi anak-anak desa.
“Bapak tidak harus tetap sendiri,” kata Dedi. “Tapi untuk kembali diterima, Bapak harus lebih dahulu belajar hadir bagi orang lain.”
Leman memandang Dedi cukup lama.
“Kenapa kamu masih bisa berbicara tenang kepadaku?” tanyanya.
Dedi tersenyum tipis.
“Karena aku tidak ingin Laras tumbuh di desa yang terus menyimpan dendam.”
Leman menoleh ke arah pintu rumah, tempat Laras tadi masuk bersama Herawati.
Dedi melanjutkan, “Anak-anak desa sudah cukup lama melihat orang dewasa saling menyakiti. Mereka harus melihat bahwa manusia bisa berubah, meski perubahan itu tidak mudah.”
Leman mengusap wajahnya.
Untuk pertama kalinya, Dedi melihat laki-laki yang dahulu begitu ditakuti itu menangis.
Tangisnya tidak keras.
Tidak dramatis.
Hanya air mata seorang lelaki tua yang akhirnya menyadari bahwa hidupnya telah banyak dihabiskan untuk mengejar sesuatu yang salah.
“Aku akan mencoba,” katanya.
Dedi mengangguk.
“Jangan hanya mencoba, Pak. Lakukan.”
Leman berdiri perlahan.
Tubuhnya tampak lemah, tetapi ada sesuatu yang berbeda dalam sorot matanya. Bukan lagi keangkuhan. Bukan pula kemarahan.
Hanya kesadaran bahwa jalan untuk memperbaiki diri masih panjang.
Sebelum pergi, Leman berhenti di halaman.
Ia menoleh kepada Dedi.
“Terima kasih karena masih mau mendengarkan.”
Dedi menjawab, “Semoga Bapak benar-benar menggunakan kesempatan ini.”
Leman mengangguk.
Ia kemudian berjalan perlahan meninggalkan rumah itu, menembus gerimis yang masih turun di jalan desa.
Herawati keluar dari dalam rumah bersama Laras.
“Ayah memaafkan Pak Leman?” tanya Laras.
Dedi memandang anaknya.
“Ayah memaafkan. Tapi Pak Leman juga harus belajar memperbaiki kesalahannya.”
Laras berpikir sejenak.
“Kalau seseorang berbuat salah, apakah dia masih bisa jadi baik?”
Dedi tersenyum.
“Bisa. Tapi ia harus benar-benar mau berubah.”
Laras memandang jalan tempat Leman menghilang.
“Berubah itu sulit, ya?”
“Sulit,” jawab Dedi. “Tapi bukan tidak mungkin.”
Malam itu, Dedi duduk di teras rumah bersama Herawati.
Lentera kecil kembali dinyalakan.
Cahayanya tidak besar, tetapi cukup untuk menerangi wajah mereka.
Herawati memandang Dedi.
“Kamu sudah melakukan hal yang benar,” katanya.
Dedi menatap cahaya lentera.
“Aku tidak tahu apakah Leman akan benar-benar berubah.”
Herawati mengangguk.
“Itu bukan sepenuhnya tanggung jawabmu.”
Dedi tersenyum tipis.
“Ya. Setiap orang harus memilih jalannya sendiri.”
Di kejauhan, suara anak-anak terdengar dari arah sekolah rakyat. Mereka sedang berlatih membaca puisi untuk kegiatan desa minggu depan.
Suara mereka terbawa angin malam.
Dedi mendengarkannya dengan hati yang tenang.
Ia tahu masa lalu tidak dapat dihapus.
Namun, selama masih ada keberanian untuk mengakui kesalahan, kesediaan untuk memperbaiki diri, dan masyarakat yang terus menjaga kebenaran, masa depan tetap dapat dibangun.
Di bawah cahaya lentera yang sederhana, Desa Suka Jaya kembali belajar satu hal penting:
bahwa maaf bukan akhir dari perjuangan,
melainkan awal dari tanggung jawab untuk menjadi lebih baik.
BAB LXVI
Penebusan Ratna
Setelah pertemuannya dengan Leman, Dedi semakin sering memikirkan satu hal.
Manusia dapat berubah.
Namun, perubahan tidak datang hanya karena seseorang merasa bersalah. Perubahan harus dibuktikan melalui keberanian untuk memperbaiki apa yang pernah dirusak.
Di Desa Suka Jaya, tidak ada orang yang lebih memahami hal itu selain Ratna.
Selama bertahun-tahun, Ratna hidup dengan bayang-bayang masa lalunya. Ia pernah membiarkan rasa iri menguasai hati. Ia pernah menyebarkan kabar yang melukai Herawati. Ia pernah ikut membuat Susanti menjadi sasaran gunjingan warga. Ia pernah memilih percaya kepada Leman dan Burhan karena mengira kedekatan dengan mereka akan memberinya tempat yang lebih tinggi di desa.
Namun, semua itu justru membuatnya kehilangan banyak hal.
Ia kehilangan kepercayaan warga.
Ia kehilangan ketenangan.
Ia kehilangan dirinya sendiri.
Kini, Ratna tidak lagi ingin hidup sebagai orang yang hanya menyesali masa lalu.
Ia ingin melakukan sesuatu.
Ia ingin menebus kesalahan.
Pada suatu pagi, Ratna datang ke rumah Herawati membawa sebuah keranjang berisi kain, benang, dan beberapa buku kecil.
Herawati sedang duduk di teras bersama Laras. Di hadapan mereka, terdapat beberapa lembar kertas gambar. Laras sedang menggambar anak-anak yang bermain di halaman sekolah rakyat.
Ratna berhenti di depan pagar.
“Assalamu’alaikum,” katanya pelan.
“Wa’alaikumussalam,” jawab Herawati.
Ratna melangkah masuk dengan wajah ragu.
“Aku ingin bicara,” katanya.
Herawati mempersilakannya duduk.
Laras menatap Ratna dengan rasa ingin tahu. Ia mengenal Ratna sebagai salah satu orang yang sering membantu di sekolah, tetapi ia belum memahami semua cerita lama yang pernah terjadi di antara orang-orang dewasa itu.
Ratna meletakkan keranjang di samping kursi.
“Aku ingin membuat kegiatan untuk perempuan dan anak-anak desa,” katanya.
Herawati menatapnya.
“Kegiatan apa?”
“Aku ingin mengajak ibu-ibu belajar menjahit, membuat tas buku, dan mengolah hasil kebun menjadi makanan sederhana. Aku juga ingin membuat kelas kecil untuk anak-anak perempuan yang sering tidak bisa datang ke sekolah karena harus membantu pekerjaan rumah.”
Herawati mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
Ratna melanjutkan, “Aku tahu aku tidak bisa menghapus apa yang sudah pernah kulakukan. Tapi aku ingin mulai berguna.”
Herawati tidak segera menjawab.
Ia memandang wajah Ratna yang kini tidak lagi dipenuhi kesombongan seperti dahulu. Ratna tampak lebih tenang, tetapi juga lebih rapuh. Seolah setiap kata yang keluar dari mulutnya harus melewati pertarungan panjang di dalam hati.
“Apa yang membuatmu ingin melakukan ini?” tanya Herawati.
Ratna menunduk.
“Karena aku pernah menjadi perempuan yang hanya sibuk memikirkan diri sendiri. Aku pernah menganggap perempuan lain sebagai saingan. Aku pernah membuat orang lain terluka hanya karena aku tidak mampu menerima kenyataan.”
Ia menarik napas panjang.
“Sekarang aku melihat banyak perempuan di desa ini yang sebenarnya kuat, tetapi tidak punya ruang untuk belajar dan berkembang. Aku ingin membantu mereka.”
Herawati memandang Laras yang sedang menggambar.
Kemudian ia kembali menatap Ratna.
“Kalau kamu sungguh-sungguh, aku akan membantu.”
Ratna mengangkat wajahnya.
“Benarkah?”
Herawati mengangguk.
“Ya. Tapi kita harus melakukannya dengan niat yang benar. Bukan untuk membuat orang memuji kita. Bukan untuk membuktikan siapa yang paling baik. Kita lakukan agar perempuan dan anak-anak di desa ini punya kesempatan lebih besar.”
Mata Ratna berkaca-kaca.
“Terima kasih, Herawati.”
Herawati tersenyum tipis.
“Jangan berterima kasih dulu. Kita baru akan mulai bekerja.”
Tidak lama kemudian, Ratna mulai mengunjungi rumah-rumah warga.
Ia mendatangi para ibu yang selama ini jarang keluar rumah. Ia berbicara dengan perempuan muda yang putus sekolah. Ia mengajak mereka datang ke Sekolah Rakyat Lentera Ujung Desa pada sore hari.
Awalnya, banyak yang ragu.
Sebagian warga masih mengingat masa lalu Ratna.
“Apa Ratna benar-benar berubah?” tanya Bu Sariyah kepada Herawati.
Herawati menjawab dengan tenang, “Kita tidak perlu langsung percaya pada kata-kata. Kita lihat saja tindakannya.”
Kalimat itu sampai kepada Ratna.
Anehnya, Ratna tidak tersinggung.
Ia justru merasa bahwa itulah yang pantas diterimanya.
Ia tidak bisa meminta kepercayaan secara cepat.
Ia harus membangunnya perlahan.
Hari pertama kegiatan dimulai dengan sederhana.
Di teras sekolah rakyat, Ratna menggelar beberapa kain bekas. Ada kain dari baju lama, kain sisa jahitan, dan beberapa potong bahan yang disumbangkan warga.
Herawati membantu menyiapkan meja.
Susanti membawa beberapa buku untuk anak-anak.
Laras dan beberapa murid kecil membantu mengumpulkan potongan kain berdasarkan warna.
Ratna berdiri di depan kelompok ibu-ibu yang datang.
Tangannya sedikit gemetar.
“Terima kasih sudah datang,” katanya.
Tidak semua wajah tampak ramah.
Beberapa ibu hanya duduk diam.
Beberapa masih berbisik pelan.
Namun, Ratna tidak berhenti.
“Hari ini kita akan belajar membuat tas buku sederhana. Bahannya dari kain bekas. Kalau hasilnya bagus, kita bisa menjualnya di pasar kecamatan atau memberikannya kepada anak-anak yang belum punya tas.”
Bu Ningsih mengangkat salah satu kain.
“Kalau tasnya jelek bagaimana?”
Ratna tersenyum.
“Kalau jelek, kita buat lagi sampai tidak jelek.”
Beberapa ibu tertawa.
Suasana perlahan mencair.
Ratna mulai menunjukkan cara mengukur kain, menjahit bagian pinggir, dan membuat tali tas. Herawati membantu ibu-ibu yang belum terbiasa memegang jarum. Susanti mengajak anak-anak duduk di bawah pohon untuk belajar membaca sambil menunggu ibu mereka selesai.
Hari itu, hanya beberapa tas yang berhasil dibuat.
Jahitannya belum rapi.
Bentuknya belum seragam.
Namun, ketika seorang anak kecil menerima tas kain pertamanya, wajahnya tampak begitu bahagia.
“Aku punya tas baru,” katanya sambil memeluk tas itu.
Ratna memandangi anak itu cukup lama.
Hatinya terasa hangat.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa bahwa tangannya tidak lagi digunakan untuk menyebarkan luka.
Tangannya mulai digunakan untuk membuat sesuatu yang berguna.
Kegiatan itu kemudian berkembang.
Setiap minggu, ibu-ibu berkumpul di sekolah rakyat. Mereka belajar menjahit, membuat makanan dari singkong, mengolah pisang, dan menyusun catatan sederhana tentang hasil penjualan.
Ratna mengajarkan cara menghitung modal dan keuntungan.
Herawati membantu mereka membaca label dan menulis nama produk.
Susanti mengajarkan cara membuat catatan keuangan sederhana.
Beberapa perempuan muda yang sebelumnya malu berbicara mulai berani menyampaikan pendapat.
Mereka mengusulkan agar hasil kerajinan diberi nama kelompok.
Setelah berdiskusi, mereka sepakat menamainya Kelompok Perempuan Lentera.
Nama itu dipilih karena mereka ingin perempuan desa tidak lagi hanya menjadi penonton dalam perubahan.
Mereka ingin ikut membawa cahaya.
Suatu sore, setelah kegiatan selesai, Ratna duduk sendiri di teras sekolah rakyat.
Langit mulai berwarna jingga. Anak-anak berlarian di halaman. Dari dalam kelas, terdengar suara Laras membaca cerita bersama Susanti.
Herawati datang membawa dua gelas teh.
Ia menyerahkan satu gelas kepada Ratna.
“Capek?” tanyanya.
Ratna mengangguk.
“Capek, tapi rasanya berbeda.”
“Berbeda bagaimana?”
Ratna memandangi tangannya.
“Dulu aku capek karena sibuk memikirkan bagaimana agar orang lain kalah. Sekarang aku capek karena ingin membantu orang lain berdiri.”
Herawati tersenyum.
“Itu capek yang baik.”
Ratna menatap Herawati.
“Aku masih sering merasa tidak pantas berada di sini.”
Herawati terdiam sejenak.
“Kamu tidak harus terus menghukum dirimu sendiri,” katanya. “Kesalahanmu memang ada. Tapi kalau kamu terus hidup hanya untuk menyesal, kamu tidak akan punya tenaga untuk memperbaiki apa pun.”
Ratna mengangguk pelan.
Herawati melanjutkan, “Penebusan bukan berarti masa lalu hilang. Penebusan berarti kamu memilih agar masa lalu tidak lagi menentukan siapa dirimu hari ini.”
Mata Ratna kembali berkaca-kaca.
Ia tidak menjawab.
Namun, dalam hatinya, ia menyimpan kalimat itu.
Beberapa minggu kemudian, kegiatan Kelompok Perempuan Lentera mulai dikenal hingga desa tetangga.
Ada yang datang untuk membeli tas kain.
Ada yang memesan makanan olahan.
Ada pula yang ingin belajar membuat kerajinan sederhana.
Warga Desa Suka Jaya mulai melihat Ratna dengan cara yang berbeda.
Bukan lagi sebagai perempuan yang pernah membawa fitnah.
Melainkan sebagai seseorang yang sedang berusaha memperbaiki hidupnya.
Tentu, tidak semua orang langsung melupakan masa lalu.
Masih ada yang memilih menjaga jarak.
Masih ada yang berbicara dengan nada dingin.
Namun, Ratna tidak lagi mencari pembelaan.
Ia hanya terus bekerja.
Ia datang lebih awal ke sekolah.
Ia membantu ibu-ibu yang kesulitan.
Ia mengantar tas buku kepada anak-anak.
Ia mengunjungi perempuan yang sedang sakit.
Ia mengajak anak-anak perempuan yang malu datang ke kelas agar berani belajar.
Pada suatu hari, seorang gadis bernama Wulan datang ke sekolah rakyat bersama ibunya.
Wulan sudah berusia tiga belas tahun, tetapi belum lancar membaca. Selama ini ia lebih sering membantu ibunya di rumah dan di kebun.
Ratna duduk di sampingnya.
“Kamu mau belajar?” tanyanya.
Wulan menunduk.
“Aku malu. Aku sudah besar, tapi belum bisa membaca.”
Ratna memegang tangan Wulan dengan lembut.
“Aku juga dulu sering melakukan hal yang salah karena tidak mau belajar memahami hati orang lain.”
Wulan menatapnya.
Ratna tersenyum.
“Tidak ada kata terlambat untuk belajar.”
Kalimat itu membuat Wulan mengangguk.
Hari demi hari, Wulan mulai datang ke kelas membaca. Ia belajar mengeja huruf bersama anak-anak yang lebih kecil. Awalnya ia malu, tetapi Susanti dan Herawati selalu menyemangatinya.
Beberapa bulan kemudian, Wulan mampu membaca sebuah cerita pendek di depan kelas.
Ketika selesai, ibu Wulan menangis haru.
Ratna yang berdiri di belakang kelas juga menunduk, menyembunyikan air mata.
Ia menyadari bahwa perubahan kecil dalam hidup seseorang dapat menjadi cahaya besar bagi keluarganya.
Malam itu, Ratna pulang melewati jalan desa yang sunyi.
Di kejauhan, lentera Sekolah Rakyat Lentera Ujung Desa masih menyala.
Cahayanya tampak kecil dari jauh, tetapi cukup untuk terlihat di antara gelapnya malam.
Ratna berhenti sejenak dan memandang cahaya itu.
Dulu, ia pernah berusaha memadamkan cahaya orang lain.
Kini, ia memilih menjadi salah satu tangan yang menjaganya.
Ia tahu perjalanan penebusannya masih panjang.
Ia tahu tidak semua luka akan sembuh dengan cepat.
Namun, selama ia masih diberi kesempatan untuk berbuat baik, Ratna tidak ingin lagi kembali menjadi orang yang sama.
Di bawah cahaya lentera dari ujung desa, Ratna melangkah pulang dengan hati yang lebih ringan.
Bukan karena masa lalunya telah hilang.
Melainkan karena untuk pertama kalinya, ia merasa sedang berjalan menuju masa depan yang lebih baik.
BAB LXVII
Burhan dan Penyesalan
Beberapa bulan setelah kegiatan Kelompok Perempuan Lentera berjalan, Desa Suka Jaya mulai memperlihatkan wajah yang berbeda.
Di halaman Sekolah Rakyat Lentera Ujung Desa, anak-anak belajar membaca dan berhitung. Di teras samping, beberapa ibu sedang menjahit tas kain. Di kebun kecil belakang sekolah, para pemuda merawat sayuran yang hasilnya digunakan untuk membantu kebutuhan kegiatan belajar.
Warga tidak lagi mudah diam ketika ada persoalan.
Mereka mulai bertanya.
Mereka mulai berdiskusi.
Mereka mulai memahami bahwa keputusan desa bukan hanya urusan orang-orang tertentu, melainkan urusan bersama.
Perubahan itu tidak datang dengan cepat.
Tidak semua jalan menjadi mudah.
Namun, perlahan Desa Suka Jaya belajar berdiri dengan lebih tegak.
Di tengah perubahan itu, kabar tentang Burhan kembali terdengar.
Burhan telah menyelesaikan proses hukum yang membuatnya kehilangan banyak hal. Usahanya di kota tidak lagi berjalan seperti dulu. Beberapa orang yang pernah menjadi mitranya memilih menjauh. Nama yang dahulu sering disebut dengan rasa takut kini disebut dengan nada kecewa.
Ia tidak lagi datang ke desa dengan kendaraan besar.
Ia tidak lagi memakai pakaian mahal.
Ia tidak lagi membawa janji-janji tentang pekerjaan dan kemajuan.
Suatu pagi, ketika kegiatan belajar baru dimulai, seorang anak berlari dari arah jalan desa menuju sekolah rakyat.
“Pak Dedi!” katanya sambil terengah-engah.
Dedi yang sedang duduk di bawah pohon beringin menoleh.
“Ada apa, Bima?”
“Pak Burhan datang.”
Suasana di halaman sekolah tiba-tiba berubah.
Beberapa warga yang sedang berada di sana saling memandang.
Ratna yang sedang membantu ibu-ibu menata hasil kerajinan berhenti bekerja. Susanti menatap jalan desa dengan wajah tenang, tetapi sorot matanya menunjukkan kewaspadaan.
Herawati keluar dari ruang kelas.
Tidak lama kemudian, Burhan terlihat berjalan menuju halaman sekolah.
Ia datang sendirian.
Langkahnya pelan.
Bajunya sederhana.
Tidak ada lagi orang-orang yang dahulu selalu mengiringinya.
Tidak ada lagi senyum percaya diri yang pernah membuat banyak warga ragu terhadap keputusan mereka sendiri.
Burhan berhenti di depan pagar sekolah rakyat.
Ia memandang bangunan itu cukup lama.
Dulu, tempat itu hanya berupa rumah belajar kecil yang dibangun dari papan bekas dan kayu sumbangan warga. Kemudian tempat itu pernah dibakar. Pernah menjadi abu. Pernah hampir hilang karena fitnah dan ancaman.
Kini, bangunan sekolah rakyat berdiri lebih kuat.
Dindingnya sudah lebih rapi.
Atapnya sudah diperbaiki.
Di depan pintu tergantung papan bertuliskan:
SEKOLAH RAKYAT LENTERA UJUNG DESA
Burhan membaca tulisan itu perlahan.
Kemudian ia memandang anak-anak yang sedang belajar di dalam kelas.
Beberapa anak menatapnya dari balik jendela.
Mereka mungkin tidak memahami seluruh masa lalu Burhan. Namun, orang-orang dewasa di sekitar mereka mengingat semuanya.
Dedi berdiri.
“Silakan masuk,” katanya.
Burhan menatap Dedi.
“Aku tidak yakin aku pantas masuk ke tempat ini.”
Dedi menjawab dengan tenang, “Sekolah adalah tempat belajar. Selama seseorang datang untuk belajar, pintunya tidak tertutup.”
Burhan tampak terdiam mendengar jawaban itu.
Ia kemudian melangkah masuk ke halaman.
Tidak ada warga yang menyambutnya.
Tidak ada yang tersenyum.
Namun, tidak ada pula yang mengusirnya.
Mereka hanya berdiri dengan sikap hati-hati.
Burhan duduk di bangku kayu dekat pohon beringin. Dedi duduk di hadapannya. Herawati, Susanti, Ratna, dan beberapa warga tetap berada tidak jauh dari mereka.
Burhan memandang tanah di bawah kakinya.
“Tanah ini dulu ingin kubeli,” katanya.
Dedi mengangguk.
“Aku ingat.”
“Aku menawarkan uang besar.”
“Aku juga ingat.”
Burhan menarik napas panjang.
“Waktu itu aku pikir semua orang bisa dibeli.”
Dedi tidak menjawab.
Burhan melanjutkan, “Aku pikir tanah hanya tanah. Aku pikir warga akan senang kalau diberi uang. Aku pikir kalau aku punya surat, punya orang dalam, dan punya modal, semua bisa berjalan sesuai keinginanku.”
Ia mengangkat wajahnya.
“Ternyata aku salah.”
Dedi memandangnya dengan tenang.
“Kesalahan itu sudah membuat banyak warga kehilangan ketenangan.”
Burhan mengangguk.
“Aku tahu.”
Suasana kembali sunyi.
Dari dalam kelas terdengar suara anak-anak membaca bersama-sama. Suara mereka tidak terlalu keras, tetapi cukup jelas.
Mereka sedang mengulang kalimat yang ditulis Susanti di papan tulis:
Ilmu membuat manusia mampu memilih jalan yang benar.
Burhan menoleh ke arah kelas.
Wajahnya berubah.
Mungkin untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa sekolah sederhana itu berdiri di atas sesuatu yang tidak bisa ia beli dengan uang.
Kepercayaan.
Ketulusan.
Dan keberanian warga untuk tidak lagi menyerahkan masa depan mereka kepada orang lain.
“Aku kehilangan banyak hal,” kata Burhan akhirnya.
Dedi mengangguk pelan.
“Kadang manusia baru memahami nilai sesuatu setelah kehilangannya.”
Burhan tersenyum pahit.
“Aku kehilangan usaha. Aku kehilangan teman. Aku kehilangan nama baik. Bahkan keluargaku sendiri tidak lagi percaya kepadaku.”
Ia memandang tangan-tangannya.
“Dulu aku mengira uang adalah kekuatan. Tapi ketika semua orang pergi, uang tidak bisa membuat seseorang merasa dihormati.”
Herawati yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.
“Kehormatan tidak datang dari banyaknya uang atau luasnya tanah yang dimiliki.”
Burhan menoleh kepadanya.
Herawati melanjutkan, “Kehormatan datang dari cara seseorang memperlakukan orang lain.”
Burhan menunduk.
Kata-kata itu terasa berat, tetapi ia tidak membantah.
Ratna berdiri beberapa langkah dari mereka.
Ia pernah berada di pihak yang salah. Ia pernah merasakan bagaimana sulitnya menghadapi masa lalu. Namun, ia juga tahu bahwa penyesalan hanya berarti jika seseorang mau melakukan sesuatu setelahnya.
“Kalau kamu benar-benar menyesal,” kata Ratna, “jangan datang hanya untuk menceritakan bahwa hidupmu sekarang susah.”
Burhan mengangkat wajahnya.
Ratna melanjutkan, “Datanglah untuk memperbaiki apa yang pernah kamu rusak.”
Burhan memandang Ratna cukup lama.
Ia tampak terkejut mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Ratna.
Namun, Ratna tidak bergeser.
“Aku juga pernah salah,” katanya. “Aku tahu meminta maaf tidak cukup. Orang harus bekerja agar kesalahannya tidak terulang.”
Burhan menarik napas panjang.
“Apa yang bisa kulakukan?”
Dedi menatapnya.
“Mulailah dengan berkata jujur kepada warga yang pernah kamu rugikan.”
Burhan mengangguk pelan.
“Dan setelah itu?”
“Bantu proses pengembalian hak mereka,” jawab Dedi. “Kalau ada dokumen yang kamu tahu palsu, jelaskan. Kalau ada tanah yang kamu dapat dengan cara tidak benar, bantu selesaikan. Kalau ada orang yang masih menjadi korban dari permainanmu, jangan biarkan mereka berjuang sendiri.”
Burhan tampak gelisah.
“Itu tidak mudah.”
“Memang tidak,” kata Dedi. “Tapi kamu juga tidak memilih jalan yang mudah ketika dulu mengambil hak orang lain.”
Kalimat itu membuat Burhan terdiam.
Dari arah kebun sekolah, beberapa anak kecil berlari membawa hasil panen kangkung. Mereka tertawa sambil memanggil Susanti.
“Bu Susanti, lihat! Kangkungnya banyak!”
Susanti tersenyum dan mendekati mereka.
Burhan memperhatikan pemandangan itu.
Anak-anak kecil itu tidak memiliki banyak harta.
Namun, wajah mereka tampak bahagia.
Mereka membawa hasil kebun dengan bangga, seolah-olah sedang membawa sesuatu yang sangat berharga.
Burhan memejamkan mata sejenak.
Ia teringat masa ketika ia masih muda. Ia pernah tumbuh di desa yang tidak jauh berbeda. Ia pernah membantu orang tuanya di kebun. Ia pernah bermain di sungai bersama teman-temannya. Ia pernah memiliki cita-cita sederhana.
Namun, dalam perjalanan hidup, ia mulai percaya bahwa keberhasilan berarti memiliki lebih banyak daripada orang lain.
Ia mulai percaya bahwa menang berarti membuat orang lain kalah.
Dan tanpa sadar, ia berubah menjadi orang yang tidak lagi mengenal dirinya sendiri.
“Aku ingin memperbaiki semuanya,” katanya pelan.
Dedi menggeleng.
“Kamu mungkin tidak bisa memperbaiki semuanya.”
Burhan menatapnya.
“Tapi kamu masih bisa memperbaiki sebagian,” lanjut Dedi. “Yang penting, jangan berhenti pada rasa menyesal.”
Burhan mengangguk.
Untuk pertama kalinya, tidak ada pembelaan dalam wajahnya.
Tidak ada alasan.
Tidak ada usaha untuk menyalahkan keadaan.
Hanya seorang lelaki yang mulai memahami bahwa masa lalu tidak dapat dihapus, tetapi masa depan masih dapat dipilih.
Sebelum pulang, Burhan berdiri di depan papan nama sekolah rakyat.
Ia kembali membaca tulisan itu.
Lentera Ujung Desa.
“Kenapa kamu memilih nama itu?” tanyanya kepada Dedi.
Dedi memandang lentera yang tergantung di dekat pintu.
“Karena dulu, ketika semuanya terasa gelap, selalu ada orang yang percaya bahwa pendidikan bisa memberi jalan.”
Burhan mengangguk.
“Dan sekarang?”
“Sekarang,” jawab Dedi, “lentera itu dijaga oleh banyak orang.”
Burhan menatap anak-anak yang sedang belajar.
Ia tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya hanya mengangguk.
Kemudian ia berjalan perlahan meninggalkan halaman sekolah.
Tidak ada yang menahannya.
Tidak ada yang mengantarnya.
Namun, langkahnya kali ini tidak lagi seperti langkah seseorang yang datang membawa kuasa.
Ia berjalan sebagai seseorang yang sedang membawa beban penyesalan.
Di belakangnya, suara anak-anak terus terdengar dari dalam kelas.
Suara itu mengisi halaman sekolah.
Suara itu mengingatkan semua orang bahwa masa depan tidak dibangun oleh mereka yang ingin menguasai.
Masa depan dibangun oleh mereka yang bersedia belajar, berubah, dan menjaga harapan bersama.
Dedi berdiri di bawah pohon beringin.
Ia memandangi jalan tempat Burhan menghilang.
Herawati datang berdiri di sampingnya.
“Apakah kamu percaya dia akan berubah?” tanya Herawati.
Dedi tersenyum tipis.
“Aku tidak tahu.”
Herawati menatapnya.
“Tapi aku percaya,” lanjut Dedi, “setiap orang harus diberi kesempatan untuk memilih jalan yang benar.”
Di kejauhan, cahaya matahari pagi mulai menembus awan.
Halaman Sekolah Rakyat Lentera Ujung Desa kembali terang.
Dan di antara suara anak-anak, suara mesin jahit, serta langkah warga yang mulai bekerja bersama, Desa Suka Jaya terus bergerak menuju hari-hari yang lebih baik.
BAB LXVIII
Generasi yang Kembali Pulang
Waktu berjalan tanpa terasa.
Tahun demi tahun berlalu sejak Sekolah Rakyat Lentera Ujung Desa berdiri dengan dinding papan, meja sederhana, dan buku-buku sumbangan warga. Bangunan itu telah mengalami banyak perubahan, tetapi semangat yang hidup di dalamnya tetap sama.
Setiap pagi, anak-anak datang membawa tas, buku, dan harapan.
Setiap sore, para pemuda berkumpul untuk berdiskusi.
Setiap malam tertentu, ibu-ibu datang belajar membaca, menghitung, atau mengelola hasil usaha kecil mereka.
Sekolah rakyat tidak lagi hanya menjadi tempat anak-anak mengeja huruf.
Tempat itu telah menjadi ruang bagi masyarakat untuk belajar memahami kehidupan.
Dedi kini lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dan di sekolah dalam porsi yang lebih teratur. Ia masih datang hampir setiap hari, tetapi tidak lagi memaksakan diri memimpin semua kegiatan. Ia duduk di bawah pohon beringin, memperhatikan para guru muda mengajar, lalu berbincang dengan warga yang datang membawa gagasan.
Susanti menjadi guru tetap yang paling disayangi anak-anak.
Herawati mengelola kegiatan pendidikan perempuan dan keluarga.
Ratna terus mengembangkan Kelompok Perempuan Lentera.
Sari, Jono, Ardi, dan Bima telah tumbuh menjadi pemuda-pemudi yang ikut menjaga sekolah rakyat.
Namun, pada suatu pagi yang cerah, Desa Suka Jaya mendapat kabar yang membuat banyak warga merasa bangga.
Salah satu murid pertama Dedi akan pulang.
Namanya Raka.
Dulu, Raka adalah anak kurus yang sering datang ke rumah belajar dengan kaki berlumpur dan baju yang sedikit kebesaran. Ia tinggal bersama ibunya di rumah kecil dekat kebun singkong. Ayahnya telah lama pergi merantau dan tidak pernah kembali.
Ketika masih kecil, Raka sering malu karena tidak memiliki buku baru seperti anak-anak lain.
Ia membawa buku bekas yang halamannya sudah hampir lepas. Pensilnya pendek dan sering ia sambung dengan batang kayu kecil agar tetap bisa digunakan.
Namun, Raka selalu datang.
Ia selalu duduk di barisan depan.
Ia selalu bertanya.
“Pak Dedi, kalau saya sekolah tinggi, apa saya bisa jadi orang yang berguna?”
Dedi selalu menjawab dengan kalimat yang sama.
“Bukan sekolah tinggi yang membuat seseorang berguna. Hati dan tindakanmu yang akan menentukan.”
Raka menyimpan kalimat itu bertahun-tahun.
Dengan bantuan sekolah rakyat, dukungan warga, dan kerja kerasnya sendiri, Raka berhasil melanjutkan pendidikan ke kota kabupaten. Ia sempat bekerja sambilan di warung makan, menjadi penjaga perpustakaan, dan membantu anak-anak belajar pada malam hari.
Kini, Raka pulang sebagai seorang guru.
Kabar itu cepat menyebar.
Pagi itu, halaman Sekolah Rakyat Lentera Ujung Desa dipenuhi warga. Anak-anak berdiri di dekat pagar. Ibu-ibu membawa makanan sederhana. Para pemuda memasang kain putih di depan bangunan sekolah dengan tulisan:
SELAMAT DATANG GURU MUDA DESA SUKA JAYA
Laras, yang kini sudah mulai beranjak remaja, ikut membantu menata kursi.
“Ayah, apakah Kak Raka dulu belajar di sini?” tanyanya.
Dedi mengangguk.
“Dulu ia sering duduk di bawah pohon itu,” katanya sambil menunjuk pohon beringin.
“Dia pintar?”
“Dia tekun,” jawab Dedi. “Tekun sering kali lebih kuat daripada sekadar pintar.”
Tidak lama kemudian, sebuah kendaraan sederhana berhenti di depan halaman sekolah.
Seorang pemuda turun sambil membawa tas besar dan beberapa kardus buku.
Wajahnya tampak lebih dewasa.
Tubuhnya lebih tegap.
Namun, ketika ia melihat bangunan sekolah dan pohon beringin di halaman, matanya langsung berkaca-kaca.
“Pak Dedi,” katanya.
Dedi berdiri perlahan.
“Raka.”
Raka berjalan cepat mendekat, lalu menunduk dan menyalami tangan Dedi.
“Terima kasih, Pak.”
Dedi menggenggam tangan Raka.
“Terima kasih karena kamu pulang.”
Raka menatap sekeliling.
Ia melihat Susanti yang tersenyum di dekat pintu kelas.
Ia melihat Herawati yang berdiri bersama Laras.
Ia melihat Ratna yang membawa beberapa ibu dari Kelompok Perempuan Lentera.
Ia melihat teman-teman lamanya yang dahulu sama-sama belajar di bawah pohon.
“Aku tidak pernah menyangka sekolah ini bisa sebesar ini,” katanya.
Dedi tersenyum.
“Sekolah ini besar bukan karena bangunannya. Sekolah ini besar karena orang-orang yang menjaganya.”
Raka mengangguk.
Ia kemudian membuka salah satu kardus yang dibawanya.
Di dalamnya terdapat buku-buku pelajaran, buku cerita anak, dan beberapa alat tulis.
“Aku membawa sedikit buku dari kota,” katanya. “Tidak banyak, tapi semoga bisa berguna.”
Anak-anak langsung mendekat.
Mereka memandangi buku-buku itu dengan mata berbinar.
Seorang anak kecil mengambil buku bergambar tentang tata surya.
“Ini tentang apa?” tanyanya.
Raka tersenyum.
“Ini tentang langit, bintang, dan planet.”
“Apakah desa kita bisa melihat planet?”
“Bisa,” jawab Raka. “Kalau malam cerah, kita bisa melihat bintang. Dari bintang, kita bisa belajar bahwa dunia ini jauh lebih luas daripada yang kita bayangkan.”
Anak-anak terdiam kagum.
Dedi memandangi Raka dengan hati yang penuh rasa syukur.
Dulu, Raka adalah anak yang takut bermimpi.
Kini, ia berdiri di hadapan anak-anak lain dan mengajarkan mereka untuk melihat dunia lebih luas.
Hari itu, Raka mengajar untuk pertama kalinya di Sekolah Rakyat Lentera Ujung Desa.
Ia berdiri di depan kelas dengan tangan sedikit gemetar.
Di hadapannya, anak-anak duduk rapi.
Di belakang kelas, Dedi, Herawati, Susanti, dan beberapa warga memperhatikan.
Raka menulis di papan tulis:
CITA-CITA BUKAN UNTUK DITUNGGU, TETAPI UNTUK DIUSAHAKAN.
Kemudian ia menoleh kepada anak-anak.
“Siapa yang punya cita-cita?” tanyanya.
Banyak tangan terangkat.
“Aku ingin jadi guru!” kata seorang anak.
“Aku ingin jadi perawat!” kata yang lain.
“Aku ingin jadi petani yang punya kebun besar!” teriak seorang anak laki-laki.
“Aku ingin jadi kepala desa!” kata seorang anak perempuan.
Kelas langsung dipenuhi tawa.
Raka tersenyum.
“Semua cita-cita itu baik. Tapi ingat, apa pun cita-cita kalian, jangan lupa kepada desa ini.”
Seorang anak bertanya, “Kenapa harus ingat desa?”
Raka memandang ke arah jendela.
Dari sana terlihat kebun, rumah-rumah warga, dan jalan desa yang mulai lebih ramai daripada dahulu.
“Karena desa ini adalah tempat kalian belajar berjalan,” katanya. “Kalau suatu hari kalian pergi jauh, jangan lupa kembali membawa ilmu dan kebaikan.”
Kata-kata itu membuat Dedi menunduk.
Ia teringat dirinya sendiri ketika masih muda.
Ia pernah pergi ke kota kecamatan untuk sekolah.
Ia pernah tinggal di kamar sempit.
Ia pernah bekerja malam demi membiayai pendidikan.
Dan pada akhirnya, ia memilih pulang.
Kini, Raka melakukan hal yang sama.
Tidak lama setelah kepulangan Raka, kabar baik lain datang.
Sari, yang dahulu membantu Susanti mengajar anak-anak kecil, telah menyelesaikan pendidikan keperawatan. Ia pulang untuk bekerja di puskesmas pembantu di desa kecamatan.
Jono, yang sejak muda tertarik pada kebersihan dan kesehatan, kembali setelah mengikuti pelatihan kesehatan masyarakat. Ia membantu mengadakan penyuluhan tentang gizi, kebersihan lingkungan, dan perawatan ibu serta anak.
Ardi, yang dahulu rajin mengurus kebun sekolah, pulang membawa pengetahuan tentang pertanian modern. Ia mengajak warga mencoba cara tanam yang lebih baik, membuat pupuk kompos, dan mengelola hasil kebun agar tidak hanya dijual mentah.
Bima, yang dulu selalu serius menjaga buku, kini menjadi penggerak perpustakaan kecil di sekolah rakyat. Ia mengumpulkan buku dari berbagai tempat dan mengajak anak-anak membaca setiap minggu.
Satu per satu, generasi pertama sekolah rakyat mulai kembali.
Mereka tidak semua pulang dengan pakaian mewah.
Mereka tidak semua membawa jabatan besar.
Namun, mereka membawa sesuatu yang jauh lebih penting.
Ilmu.
Pengalaman.
Dan keinginan untuk membangun desa.
Suatu malam, Dedi duduk di halaman sekolah bersama Herawati.
Di depan mereka, beberapa pemuda sedang berdiskusi tentang rencana membuka kelas komputer sederhana. Di sudut lain, ibu-ibu Kelompok Perempuan Lentera sedang menghitung hasil penjualan kerajinan. Anak-anak kecil duduk melingkar mendengarkan Raka membacakan cerita.
Herawati memandang semua itu dengan mata hangat.
“Dulu kamu hanya punya beberapa buku dan rumah belajar kecil,” katanya.
Dedi tersenyum.
“Dulu aku juga hanya punya keyakinan.”
“Sekarang keyakinan itu sudah menjadi banyak orang.”
Dedi mengangguk.
Ia melihat Raka mengajar.
Ia melihat Sari berbicara dengan ibu-ibu tentang kesehatan.
Ia melihat Ardi membawa bibit tanaman.
Ia melihat Jono membantu anak-anak mencuci tangan.
Ia melihat Bima menata buku.
Ia melihat Laras berdiri di dekat mereka, mendengarkan semua pembicaraan dengan wajah penuh perhatian.
Dedi menyadari bahwa inilah jawaban dari semua perjuangan panjangnya.
Bukan bangunan.
Bukan pujian.
Bukan nama yang dikenang.
Melainkan generasi yang berani pulang.
Generasi yang tidak merasa malu berasal dari desa.
Generasi yang tidak hanya mengejar keberhasilan untuk diri sendiri.
Generasi yang membawa ilmu kembali kepada tanah tempat mereka tumbuh.
Dedi menatap lentera yang tergantung di depan sekolah.
Cahayanya berpendar lembut di malam hari.
Dulu, lentera itu hanya satu.
Kini, ia melihat cahaya itu menyala dalam banyak wajah.
Dalam Raka.
Dalam Sari.
Dalam Jono.
Dalam Ardi.
Dalam Bima.
Dalam Laras.
Dan dalam anak-anak lain yang masih duduk di kelas sambil menyimpan mimpi mereka sendiri.
Di Desa Suka Jaya, lentera tidak lagi hanya berada di ujung desa.
Lentera itu telah tumbuh menjadi cahaya yang dibawa oleh generasi baru, ke mana pun mereka pergi dan ke mana pun mereka pulang.
BAB LXIX
Lentera untuk Semua
Sejak para murid pertama kembali ke Desa Suka Jaya, Sekolah Rakyat Lentera Ujung Desa semakin ramai oleh berbagai kegiatan.
Pada pagi hari, tempat itu dipenuhi anak-anak yang belajar membaca, menulis, berhitung, dan mengenal dunia melalui buku-buku yang semakin bertambah. Pada sore hari, para pemuda datang untuk berdiskusi tentang pertanian, usaha kecil, kesehatan, dan masa depan desa. Ketika malam tiba, giliran para ibu dan bapak yang berkumpul untuk belajar membaca surat, menghitung hasil kebun, atau memahami berbagai persoalan yang berkaitan dengan kehidupan mereka.
Sekolah rakyat tidak lagi hanya menjadi tempat belajar bagi anak-anak.
Tempat itu telah menjadi rumah bagi seluruh masyarakat.
Suatu pagi, Dedi datang lebih awal ke sekolah. Udara masih sejuk. Embun tampak menggantung di ujung daun, sementara beberapa anak kecil sudah bermain di halaman.
Di dekat pintu sekolah, Laras sedang membantu Bima menyusun buku-buku baru di rak perpustakaan.
“Buku ini ditaruh di mana, Kak Bima?” tanya Laras sambil mengangkat sebuah buku bergambar.
“Yang cerita anak-anak di rak sebelah kiri,” jawab Bima. “Kalau buku tentang pertanian, di rak tengah. Kalau buku untuk orang dewasa, di bagian belakang.”
Laras mengangguk.
Ia menaruh buku itu dengan hati-hati.
Dedi memperhatikan mereka dari kejauhan. Hatinya terasa hangat melihat Laras mulai memahami bahwa buku bukan sekadar benda yang disimpan di lemari.
Buku adalah jendela.
Buku adalah jalan.
Buku adalah teman bagi mereka yang ingin melihat dunia lebih luas.
Tidak lama kemudian, Ardi datang membawa beberapa kantong kecil berisi benih sayur.
“Pak Dedi,” katanya, “hari ini kami mau mulai kebun percontohan di belakang sekolah.”
Dedi tersenyum.
“Bagus. Apa yang akan ditanam?”
“Cabai, tomat, kangkung, dan beberapa jenis sayur cepat panen. Aku juga ingin mengajarkan warga cara membuat pupuk kompos dari sisa dapur.”
Dedi mengangguk.
“Kalau warga bisa mengelola kebun dengan baik, mereka tidak hanya punya makanan. Mereka juga bisa punya tambahan penghasilan.”
Ardi tersenyum.
“Itu yang ingin kami coba.”
Di halaman lain, Sari datang bersama beberapa ibu membawa timbangan sederhana dan buku catatan kesehatan.
Ia sedang menyiapkan kegiatan pemeriksaan berat badan anak-anak serta penyuluhan tentang makanan bergizi.
Jono membantu menata kursi.
“Banyak ibu yang ingin tahu cara membuat makanan sehat dari bahan yang ada di desa,” kata Sari.
Herawati yang baru datang membawa beberapa bahan makanan mengangguk.
“Kita bisa mulai dari yang sederhana. Singkong, sayur kebun, ikan sungai, telur, dan buah-buahan.”
Ratna ikut mendekat.
“Kelompok Perempuan Lentera bisa membantu menyiapkan contoh makanan,” katanya. “Sekalian kita ajarkan cara mengemasnya supaya bisa dijual.”
Sari tersenyum.
“Bagus. Kesehatan dan usaha bisa berjalan bersama.”
Dedi memandangi semua orang yang sibuk di halaman sekolah.
Ada yang membawa buku.
Ada yang membawa benih.
Ada yang membawa makanan.
Ada yang membawa catatan.
Semua datang dengan tujuan yang berbeda, tetapi semuanya menuju satu arah.
Membuat Desa Suka Jaya menjadi lebih kuat.
Menjelang siang, beberapa warga datang membawa persoalan.
Pak Karto, seorang petani tua, ingin bertanya tentang cara menjual hasil kebun tanpa harus bergantung kepada tengkulak. Bu Ningsih ingin belajar membaca surat dari anaknya yang bekerja di kota. Seorang pemuda bernama Danu ingin mengetahui cara membuat usaha kecil menjual pupuk kompos.
Dulu, banyak warga merasa persoalan seperti itu harus mereka hadapi sendiri.
Mereka malu bertanya.
Mereka takut dianggap tidak mampu.
Namun, sejak sekolah rakyat berkembang, warga mulai terbiasa datang dan berdiskusi.
Tidak semua persoalan langsung selesai.
Tidak semua jawaban mudah ditemukan.
Tetapi mereka tidak lagi merasa sendirian.
Raka mengajak Pak Karto duduk di teras sekolah.
“Kita bisa mulai dengan mencatat biaya kebun Bapak,” katanya. “Berapa bibit yang dibeli, berapa pupuk yang digunakan, berapa hasil panen yang didapat. Kalau ada catatan, Bapak bisa tahu apakah harga yang ditawarkan tengkulak benar-benar menguntungkan atau tidak.”
Pak Karto mengangguk.
“Aku tidak terbiasa mencatat,” katanya.
“Tidak apa-apa,” jawab Raka. “Kita belajar pelan-pelan.”
Di sudut lain, Susanti duduk bersama Bu Ningsih.
Ia membacakan surat dari anak Bu Ningsih dengan perlahan. Setelah itu, ia mengajari perempuan tua itu mengenal beberapa huruf dasar.
Bu Ningsih tersenyum malu.
“Umurku sudah tua, Bu Susanti.”
Susanti menggeleng.
“Belajar tidak melihat umur.”
Bu Ningsih memegang pensil dengan tangan gemetar.
“Aku ingin suatu hari bisa membaca surat anakku sendiri.”
Susanti tersenyum.
“Kita mulai hari ini.”
Kalimat itu sederhana, tetapi bagi Bu Ningsih, kalimat itu seperti membuka pintu baru.
Sore harinya, kegiatan di sekolah semakin ramai.
Ardi mengajak para pemuda dan beberapa bapak ke kebun percontohan. Ia menunjukkan cara membuat bedengan, mencampur kompos, serta memilih benih yang baik.
“Tanah kita tidak buruk,” kata Ardi. “Yang perlu kita ubah adalah cara kita mengelolanya.”
Para petani mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
Beberapa dari mereka mulai bertanya tentang pupuk, pengairan, dan cara menjual hasil panen.
Dedi berdiri tidak jauh dari sana.
Ia tidak ikut menjelaskan terlalu banyak. Ia hanya memandangi Ardi yang berbicara dengan penuh keyakinan.
Dulu, Ardi adalah anak yang paling sering pulang sekolah dengan tangan kotor karena bermain di kebun.
Kini, ia berdiri di depan para petani dan membantu mereka melihat kemungkinan baru.
Dedi merasa bangga.
Menjelang malam, halaman sekolah rakyat kembali berubah.
Beberapa lampu sederhana dinyalakan. Lentera tua di depan pintu juga ikut menyala. Anak-anak kecil pulang bersama orang tua mereka, sementara orang dewasa mulai datang membawa buku tulis.
Malam itu, Raka memimpin kelas membaca untuk warga.
Di dalam ruangan, duduk beberapa bapak, ibu, dan pemuda yang belum lancar membaca. Ada yang membawa kacamata tua. Ada yang membawa buku catatan baru. Ada pula yang hanya membawa keberanian untuk mencoba.
Raka menulis satu kalimat di papan tulis:
KITA BERHAK MEMAHAMI KEHIDUPAN KITA SENDIRI.
Kemudian ia meminta semua orang membacanya bersama-sama.
Awalnya, suara mereka pelan dan tidak serempak.
Namun, setelah diulang beberapa kali, kalimat itu terdengar lebih jelas.
Dedi yang duduk di dekat pintu merasakan dadanya bergetar.
Kalimat itu bukan hanya pelajaran membaca.
Kalimat itu adalah pengingat bagi seluruh warga Desa Suka Jaya.
Mereka berhak memahami surat yang mereka tanda tangani.
Mereka berhak memahami harga tanah yang mereka jual.
Mereka berhak memahami bantuan yang datang ke desa.
Mereka berhak memahami keputusan yang dibuat atas nama mereka.
Pendidikan bukan hanya tentang lulus sekolah.
Pendidikan adalah tentang kemampuan untuk tidak mudah ditipu.
Tentang keberanian untuk bertanya.
Tentang kekuatan untuk menentukan masa depan sendiri.
Setelah kelas selesai, warga belum langsung pulang.
Mereka duduk di halaman sekolah sambil berbincang. Ada yang membahas kebun. Ada yang membicarakan usaha makanan. Ada yang merencanakan kegiatan kerja bakti untuk memperbaiki jalan menuju sekolah.
Laras duduk di samping ayahnya.
“Ayah,” katanya, “kenapa sekarang banyak sekali orang datang ke sekolah?”
Dedi memandang halaman yang dipenuhi warga.
“Karena mereka tahu sekolah ini bukan hanya tempat belajar membaca.”
“Lalu sekolah ini tempat apa?”
Dedi tersenyum.
“Tempat untuk belajar hidup bersama.”
Laras berpikir sejenak.
“Kalau begitu, semua orang boleh belajar di sini?”
“Semua orang,” jawab Dedi. “Anak-anak, ibu-ibu, bapak-bapak, pemuda, bahkan orang yang sudah tua.”
Laras memandangi Bu Ningsih yang masih duduk bersama Susanti, mencoba mengeja huruf di buku catatannya.
“Kalau Pak Burhan boleh belajar juga?”
Dedi terdiam sejenak.
Kemudian ia menjawab, “Kalau seseorang datang untuk benar-benar belajar menjadi lebih baik, ia juga boleh.”
Laras mengangguk.
Di depan mereka, lentera tua menyala di dekat pintu sekolah.
Cahayanya tidak terlalu terang.
Namun, cahaya itu cukup untuk menerangi halaman.
Dedi memandang lentera itu dengan hati yang penuh syukur.
Dulu, ia hanya ingin anak-anak desa memiliki tempat untuk membaca dan belajar.
Kini, tempat itu telah menjadi pusat kehidupan masyarakat.
Di sana, warga belajar mengolah tanah.
Belajar menjaga kesehatan.
Belajar mengelola usaha.
Belajar membaca surat.
Belajar memahami hak.
Belajar menyampaikan pendapat.
Belajar mempercayai diri sendiri.
Lentera Ujung Desa tidak lagi hanya menerangi satu ruang kelas.
Cahayanya telah menyentuh kebun, rumah-rumah warga, jalan-jalan desa, dan hati banyak orang.
Dan selama masyarakat terus datang untuk belajar, berbagi, serta menjaga satu sama lain, lentera itu akan tetap menyala.
Bukan untuk satu orang.
Bukan untuk satu keluarga.
Melainkan untuk semua.
BAB LXX
Senja Bersama Herawati
Sore itu, langit Desa Suka Jaya berwarna jingga.
Matahari perlahan turun di balik pepohonan dan kebun-kebun warga. Cahaya keemasannya jatuh di halaman Sekolah Rakyat Lentera Ujung Desa, membuat dinding bangunan sederhana itu tampak hangat dan tenang.
Anak-anak baru saja pulang.
Beberapa masih berlari-lari kecil di jalan tanah sambil membawa buku di dada. Ada yang tertawa karena berhasil menjawab pertanyaan di kelas. Ada yang saling memanggil dari kejauhan. Ada pula yang berjalan pelan bersama orang tuanya, sambil menceritakan pelajaran hari itu.
Di halaman sekolah, hanya tersisa beberapa kursi kayu dan suara daun yang bergerak ditiup angin.
Dedi duduk di bawah pohon beringin.
Di sampingnya, Herawati membawa dua gelas teh hangat.
Ia menyerahkan satu gelas kepada Dedi, lalu duduk perlahan di bangku yang sama.
“Masih panas,” katanya.
Dedi menerima gelas itu dan tersenyum.
“Seperti dulu.”
Herawati menoleh.
“Dulu yang mana?”
“Dulu, waktu rumah belajar ini masih dari papan bekas. Kamu sering membawa teh sore-sore. Kadang teh manis, kadang hanya air hangat.”
Herawati tersenyum kecil.
“Waktu itu kita belum punya banyak uang.”
“Sekarang juga belum kaya,” jawab Dedi sambil tertawa pelan.
Herawati ikut tertawa.
“Benar. Tapi sekarang kita punya lebih banyak orang yang percaya.”
Dedi memandangi halaman sekolah.
Di depan pintu kelas, lentera tua tergantung dengan tenang. Lentera itu belum dinyalakan, tetapi cahaya sore membuat kacanya berkilau.
“Kadang aku masih tidak percaya,” kata Dedi. “Dulu aku hanya ingin anak-anak desa punya tempat untuk belajar. Sekarang tempat ini menjadi bagian dari hidup banyak orang.”
Herawati mengangguk.
“Karena kamu tidak pernah berhenti ketika keadaan sulit.”
Dedi menunduk.
“Bukan hanya aku.”
Herawati menatapnya.
“Kalau bukan karena kamu, mungkin sekolah ini tidak pernah ada.”
“Kalau bukan karena kamu,” jawab Dedi, “mungkin aku sudah menyerah sejak lama.”
Herawati terdiam.
Ia menatap tangan Dedi yang kini mulai terlihat lebih kurus daripada dulu. Usia dan sakit yang perlahan datang membuat tubuh lelaki itu tidak lagi sekuat masa mudanya. Namun, di wajahnya masih ada ketenangan yang sama.
Ketika Dedi tersenyum, Herawati masih dapat melihat pemuda desa yang dahulu berjalan membawa buku-buku tua ke rumah Pak Harun.
Pemuda yang tidak punya banyak harta, tetapi memiliki keberanian untuk bermimpi.
“Dedi,” kata Herawati pelan, “apa kamu pernah menyesal memilih jalan ini?”
Dedi memandang langit.
Pertanyaan itu tidak langsung ia jawab.
Ia teringat banyak hal.
Ia teringat malam-malam ketika belajar di kamar kos sempit di kota kecamatan.
Ia teringat wajah ayahnya, Karsa, yang bekerja keras di ladang.
Ia teringat Pak Harun yang menyerahkan buku-buku sebelum meninggal.
Ia teringat rumah belajar yang pernah terbakar.
Ia teringat fitnah, ancaman, luka, dan rasa takut yang pernah datang silih berganti.
Ia juga teringat Herawati yang pernah menangis karena takut kehilangan dirinya.
Ia teringat Susanti yang tetap membantu meski harus menahan perasaannya sendiri.
Ia teringat Ratna yang berusaha memperbaiki kesalahan.
Ia teringat anak-anak yang datang membawa pensil dan buku ketika rumah belajar berubah menjadi abu.
Semua kenangan itu seperti jalan panjang yang akhirnya membawanya duduk di bawah pohon beringin pada sore hari.
“Tidak,” jawab Dedi akhirnya. “Aku tidak menyesal.”
Herawati memandangnya.
“Tidak pernah?”
Dedi tersenyum tipis.
“Ada saat-saat aku lelah. Ada saat-saat aku takut. Ada saat-saat aku merasa ingin berhenti. Tapi kalau aku melihat anak-anak itu pulang sambil membawa buku, aku tahu semua perjuangan ini tidak sia-sia.”
Herawati menggenggam gelas tehnya.
“Kadang aku merasa bersalah,” katanya.
“Kenapa?”
“Karena dulu aku pernah meminta kamu berhenti. Aku pernah takut perjuanganmu akan mengambilmu dariku.”
Dedi menoleh kepada Herawati.
“Kamu tidak salah.”
Herawati menggeleng.
“Aku terlalu sering takut.”
“Takut kehilangan orang yang kita cintai itu wajar,” kata Dedi. “Kalau kamu tidak takut, mungkin kamu tidak peduli.”
Herawati tersenyum samar.
“Namun, aku belajar satu hal.”
“Apa?”
“Aku belajar bahwa mencintai seseorang bukan berarti menahannya agar selalu dekat. Kadang, mencintai berarti mendukungnya melakukan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.”
Dedi memandangi Herawati cukup lama.
Matanya tampak berkaca-kaca.
“Kalau bukan karena kesabaranmu,” katanya, “aku mungkin hanya menjadi lelaki yang pandai bermimpi, tetapi tidak mampu bertahan.”
Herawati menunduk.
Angin sore bergerak pelan. Dari kejauhan terdengar suara kambing pulang ke kandang dan suara ibu-ibu memanggil anak-anak untuk mandi.
Desa Suka Jaya tampak damai.
Namun, kedamaian itu tidak datang begitu saja.
Kedamaian itu dibangun dari banyak air mata, banyak kesabaran, dan banyak orang yang akhirnya berani berdiri bersama.
Tidak lama kemudian, Laras datang dari arah perpustakaan kecil. Ia membawa beberapa buku yang baru selesai disusunnya.
“Ayah, Ibu,” katanya, “Bu Susanti mencari Ayah.”
“Untuk apa?” tanya Dedi.
“Katanya ada beberapa pemuda yang ingin membicarakan rencana kelas komputer.”
Dedi tertawa kecil.
“Lihatlah. Sekarang mereka punya rencana sendiri.”
Herawati tersenyum.
“Itu yang selama ini kamu inginkan, bukan?”
Dedi mengangguk.
“Ya. Aku ingin sekolah ini tidak bergantung pada satu orang.”
Laras duduk di antara mereka.
Ia memandangi halaman sekolah yang mulai sepi.
“Ayah,” katanya, “apakah sekolah ini akan selalu ada?”
Dedi memandang putrinya.
“Kalau orang-orang di desa ini terus menjaganya, sekolah ini akan ada.”
“Kalau Ayah sudah tua?”
Herawati menatap Dedi dengan lembut.
Dedi tersenyum kepada Laras.
“Kalau Ayah sudah tua, ada Ibu, Bu Susanti, Kak Raka, Kak Sari, Kak Ardi, dan banyak orang lain.”
“Kalau semuanya sudah tua?”
Dedi tertawa pelan.
“Kalau semuanya sudah tua, akan ada anak-anak seperti kamu.”
Laras terdiam sejenak.
Ia tampak memikirkan jawaban itu dengan sungguh-sungguh.
Kemudian ia mengangguk.
“Aku akan menjaga sekolah ini.”
Dedi menepuk pelan bahu Laras.
“Jaga bukan hanya bangunannya.”
“Lalu apa?”
“Jaga semangatnya. Jaga agar siapa pun yang datang ke sini merasa punya kesempatan untuk belajar.”
Laras mengangguk lebih kuat.
Matahari semakin rendah.
Cahaya senja mulai berubah menjadi redup. Herawati berdiri dan menyalakan lentera di depan pintu sekolah. Api kecil itu menyala perlahan, lalu memantulkan cahaya hangat ke halaman.
Dedi memandangi lentera itu.
“Dulu aku mengira perjuangan adalah tentang melawan orang-orang yang ingin merusak desa,” katanya.
Herawati duduk kembali di sampingnya.
“Sekarang kamu mengerti apa?”
Dedi menatap cahaya lentera.
“Perjuangan yang paling panjang adalah menjaga agar harapan tidak padam.”
Herawati tersenyum.
“Dan kamu sudah menjaganya.”
Dedi menggeleng pelan.
“Kita yang menjaganya.”
Mereka duduk bersama dalam senja yang semakin tenang.
Tidak ada kata-kata besar.
Tidak ada pujian.
Tidak ada keramaian.
Hanya dua orang yang telah berjalan bersama melewati banyak ujian, kini memandangi hasil dari perjuangan yang pernah terasa mustahil.
Di halaman Sekolah Rakyat Lentera Ujung Desa, cahaya lentera mulai terlihat lebih jelas.
Dan di bawah langit senja Desa Suka Jaya, Dedi dan Herawati memahami bahwa cinta mereka bukan hanya tentang saling memiliki.
Cinta mereka telah menjadi kekuatan untuk menjaga harapan banyak orang.
BAB LXXI
Pesan untuk Laras
Malam turun perlahan di Desa Suka Jaya.
Setelah senja bersama Herawati di halaman sekolah rakyat, Dedi pulang dengan langkah pelan. Tubuhnya akhir-akhir ini memang tidak lagi sekuat dahulu. Ia lebih mudah lelah, dan napasnya kadang terasa berat setelah terlalu lama berdiri atau berbicara dengan banyak orang.
Namun, malam itu ada sesuatu yang membuat pikirannya sulit beristirahat.
Di ruang tengah rumahnya, Laras sedang duduk di lantai sambil membaca buku. Lampu minyak di sudut ruangan memancarkan cahaya lembut. Herawati berada di dapur, menyiapkan air hangat.
Dedi memperhatikan putrinya dari ambang pintu.
Laras kini tidak lagi seperti anak kecil yang selalu bertanya tentang segala hal. Ia mulai tumbuh menjadi remaja yang memiliki pendapat sendiri. Ia mulai berani berbicara dalam kegiatan sekolah. Ia mulai membantu Susanti mengajar anak-anak yang lebih kecil.
Namun, bagi Dedi, Laras tetaplah anak perempuan kecil yang dahulu berlari-lari di halaman sekolah sambil membawa pensil warna.
“Ayah,” panggil Laras tanpa mengangkat wajah dari bukunya, “kenapa dari tadi melihat Laras?”
Dedi tersenyum.
“Tidak apa-apa. Ayah hanya sedang berpikir.”
“Memikirkan sekolah?”
“Sedikit.”
“Memikirkan anak-anak?”
“Juga sedikit.”
Laras menutup bukunya.
“Lalu yang banyak apa?”
Dedi duduk di kursi kayu dekat jendela.
“Memikirkan kamu.”
Laras memandang ayahnya dengan heran.
“Aku kenapa?”
“Kamu tidak kenapa-kenapa,” jawab Dedi. “Ayah hanya ingin tahu, kamu ingin menjadi apa nanti?”
Laras tampak berpikir.
“Aku ingin jadi guru,” katanya. “Tapi aku juga ingin belajar banyak hal. Aku ingin bisa menulis, bisa mengajar, bisa membantu ibu-ibu di desa, dan mungkin suatu hari bisa pergi melihat kota.”
Dedi mengangguk dengan wajah hangat.
“Itu cita-cita yang baik.”
“Kalau aku pergi ke kota, Ayah sedih?”
Dedi terdiam sejenak.
Ia teringat dirinya sendiri ketika harus meninggalkan desa untuk melanjutkan sekolah. Ia teringat perpisahan dengan ibunya, ayahnya, Herawati, dan Susanti. Ia tahu pergi bukan berarti melupakan.
Pergi kadang diperlukan agar seseorang dapat pulang membawa sesuatu yang lebih baik.
“Ayah tidak akan sedih kalau kamu pergi untuk belajar,” katanya. “Ayah hanya berharap, ke mana pun kamu pergi, kamu tetap ingat siapa dirimu.”
Laras mengangguk.
“Aku anak Ayah dan Ibu.”
Dedi tersenyum.
“Bukan hanya itu. Kamu juga anak Desa Suka Jaya.”
Laras memandang ayahnya lebih serius.
“Kalau begitu, aku harus selalu tinggal di desa?”
“Tidak,” jawab Dedi. “Kamu boleh pergi sejauh yang kamu mau. Kamu boleh belajar di tempat yang lebih tinggi. Kamu boleh mengenal dunia yang lebih luas. Tapi jangan pernah merasa malu berasal dari desa.”
Laras menunduk sebentar.
“Kadang teman-teman dari kota bilang desa itu tertinggal.”
Dedi memandang putrinya dengan tenang.
“Desa mungkin tidak punya gedung tinggi. Tidak punya jalan besar. Tidak punya banyak hal yang terlihat mewah. Tapi desa punya tanah yang memberi makan, punya orang-orang yang saling mengenal, dan punya kehidupan yang harus dijaga.”
Ia berhenti sejenak.
“Yang membuat desa tertinggal bukan karena desanya. Yang membuat desa tertinggal adalah ketika orang-orang yang punya kesempatan memilih tidak peduli.”
Laras menyimpan kata-kata itu dalam diam.
Tidak lama kemudian, Herawati datang membawa air hangat.
“Kalian bicara apa?” tanyanya.
“Ayah sedang menasihati Laras,” jawab Laras.
Herawati tersenyum.
“Nasihat Ayahmu biasanya panjang.”
Dedi tertawa kecil.
“Belum panjang. Baru sedikit.”
Herawati duduk di samping Laras.
“Apa yang Ayah katakan?”
Laras menjawab, “Ayah bilang aku boleh pergi jauh, tapi jangan malu jadi anak desa.”
Herawati memandang Dedi.
“Kata-kata itu bagus.”
Dedi mengangguk.
“Aku hanya tidak ingin Laras merasa harus menjadi seperti aku.”
Laras menoleh.
“Maksud Ayah?”
Dedi memandang lampu minyak di sudut ruangan.
“Ayah tidak ingin kamu hidup hanya untuk memenuhi harapan Ayah. Kamu tidak harus menjadi guru kalau ternyata kamu ingin menjadi sesuatu yang lain. Kamu tidak harus tinggal di desa kalau kamu ingin belajar di tempat lain.”
“Lalu Ayah ingin aku jadi apa?”
Dedi tersenyum.
“Ayah ingin kamu menjadi manusia yang berguna.”
Ruangan itu menjadi hening.
Laras memandang wajah ayahnya. Ada ketenangan dalam suara Dedi, tetapi juga ada sesuatu yang membuat hatinya terasa berat.
“Manusia yang berguna itu seperti apa?” tanya Laras.
Dedi menarik napas perlahan.
“Manusia yang berguna adalah orang yang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Orang yang mampu melihat kesulitan orang lain. Orang yang tidak mudah menutup mata ketika ada ketidakadilan. Orang yang berani berkata benar, tetapi tetap menjaga hati.”
Laras mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
“Apakah Ayah selalu bisa begitu?”
Dedi tersenyum kecil.
“Tidak selalu. Ayah juga pernah marah. Pernah takut. Pernah hampir menyerah. Ayah bukan manusia yang sempurna.”
“Lalu kenapa orang-orang di desa menghormati Ayah?”
Dedi menunduk.
“Karena mereka baik. Dan karena mereka juga ikut berjuang. Tidak ada sekolah rakyat ini kalau hanya Ayah yang bekerja.”
Herawati mengangguk.
“Banyak orang menjaga lentera itu bersama-sama.”
Dedi menatap Laras.
“Kalau suatu hari kamu melihat orang memuji Ayah, jangan pernah berpikir bahwa Ayah melakukan semuanya sendiri. Ingatlah Pak Harun yang memberi buku. Ingatlah Kakek Karsa yang bekerja di ladang. Ingatlah Ibu yang tidak pernah berhenti membantu. Ingatlah Bu Susanti, Kak Raka, Tante Ratna, dan semua warga yang ikut menjaga sekolah.”
Laras mengangguk pelan.
Malam semakin larut.
Suara jangkrik terdengar dari halaman. Angin masuk melalui jendela yang sedikit terbuka. Dedi tampak lelah, tetapi ia belum ingin beranjak tidur.
Ia berdiri, lalu berjalan menuju meja kecil di sudut ruangan.
Di atas meja itu terdapat beberapa lembar kertas, sebuah buku catatan lama, dan pena yang sudah mulai pudar warnanya.
Dedi mengambil pena.
“Ayah mau menulis,” katanya.
“Menulis apa?” tanya Laras.
“Surat.”
“Untuk siapa?”
Dedi menatap Laras.
“Untuk kamu.”
Laras tersenyum malu.
“Kenapa harus surat? Ayah bisa bicara langsung.”
Dedi tersenyum.
“Kadang ada hal-hal yang lebih mudah ditulis daripada diucapkan.”
Herawati memandangi Dedi cukup lama.
Ia memahami bahwa suaminya sedang menyiapkan sesuatu yang penting. Bukan karena ia menyerah pada keadaan, tetapi karena ia ingin meninggalkan pegangan bagi Laras jika suatu hari nanti ia tidak selalu bisa berada di sisinya.
Dedi duduk di meja.
Ia membuka buku catatan lama.
Di halaman pertama, ia menulis perlahan:
Untuk Laras, anakku.
Tangannya sedikit gemetar, tetapi ia terus menulis.
Ia menulis tentang desa.
Tentang tanah yang harus dijaga.
Tentang pendidikan yang harus diteruskan.
Tentang keberanian untuk memilih jalan yang benar.
Tentang pentingnya tidak membalas keburukan dengan keburukan.
Tentang cinta kepada keluarga, tetapi juga kepedulian kepada masyarakat.
Ia menulis bahwa hidup tidak selalu mudah.
Akan ada hari ketika Laras merasa lelah.
Akan ada orang yang meragukannya.
Akan ada keadaan yang membuatnya ingin berhenti.
Namun, Dedi ingin Laras mengingat satu hal:
Selama seseorang masih memiliki hati yang baik dan kemauan untuk belajar, selalu ada jalan untuk menyalakan harapan.
Laras duduk diam di dekat ibunya.
Ia melihat ayahnya menulis cukup lama.
Sesekali Dedi berhenti, memandang ke luar jendela, lalu kembali menulis.
Herawati memegang tangan Laras.
“Biarkan Ayah menulis,” katanya pelan.
Laras mengangguk.
Beberapa saat kemudian, Dedi menutup buku catatan itu.
Ia belum selesai menulis seluruh suratnya, tetapi malam itu ia sudah menuliskan bagian yang paling penting.
Ia memandang Laras.
“Kalau suatu hari nanti kamu membaca surat Ayah, jangan membaca dengan sedih.”
Laras menatapnya.
“Kenapa harus sedih?”
Dedi tersenyum.
“Karena surat itu bukan tentang perpisahan. Surat itu tentang perjalanan.”
Laras mendekat dan memeluk ayahnya.
Dedi membalas pelukan itu dengan lembut.
Di dalam rumah sederhana itu, di bawah cahaya lampu minyak yang redup, seorang ayah menyiapkan warisan yang tidak dapat diukur dengan uang.
Bukan tanah.
Bukan rumah.
Bukan harta.
Melainkan pesan agar anaknya tumbuh menjadi manusia yang berguna.
Di luar rumah, malam semakin gelap.
Namun, dari arah Sekolah Rakyat Lentera Ujung Desa, cahaya lentera masih tampak samar di kejauhan.
Cahaya itu kecil.
Tetapi cukup untuk mengingatkan bahwa harapan selalu dapat diteruskan.
Dari seorang ayah kepada anaknya.
Dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
BAB LXXII
Hari Terakhir Mengajar
Pagi itu, langit Desa Suka Jaya tampak cerah.
Embun masih menggantung di daun-daun rumput ketika Dedi membuka jendela rumah. Udara pagi masuk perlahan, membawa aroma tanah basah dan daun singkong dari kebun di belakang rumah.
Herawati sedang menyiapkan air hangat di dapur.
Laras masih merapikan buku-buku sekolahnya di ruang tengah.
Dedi berdiri cukup lama di dekat jendela. Wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya. Beberapa hari terakhir, tubuhnya semakin mudah lelah. Ia sering batuk pada malam hari dan harus beristirahat lebih lama setelah berjalan tidak terlalu jauh.
Namun, pagi itu ada tekad yang tidak dapat ia sembunyikan.
“Aku ingin ke sekolah,” katanya.
Herawati yang sedang menuang air menoleh.
“Dedi, kemarin kamu sudah berjanji untuk beristirahat.”
“Aku hanya ingin datang sebentar.”
“Tubuhmu belum kuat.”
Dedi tersenyum pelan.
“Aku tidak akan lama. Aku hanya ingin mengajar sekali lagi.”
Kalimat itu membuat Herawati terdiam.
Ia memandang suaminya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Herawati memahami bahwa Dedi tidak sekadar ingin datang ke sekolah. Ada sesuatu yang ingin ia titipkan kepada anak-anak sebelum waktunya benar-benar membatasi langkahnya.
Laras menghentikan pekerjaannya.
“Ayah mau mengajar hari ini?” tanyanya.
Dedi mengangguk.
“Ya.”
“Aku ikut,” kata Laras cepat.
Dedi tersenyum.
“Baik. Tapi kamu jangan meninggalkan pelajaranmu sendiri.”
“Aku bisa belajar sambil membantu Ayah.”
Herawati menarik napas panjang.
Akhirnya ia mengambilkan baju yang paling nyaman untuk Dedi. Ia juga menyiapkan bekal air hangat dan obat yang harus diminumnya.
“Kalau kamu merasa lelah, kita pulang,” katanya tegas.
Dedi mengangguk.
“Kalau aku merasa lelah, kita pulang.”
Pagi itu, Dedi berjalan menuju Sekolah Rakyat Lentera Ujung Desa bersama Herawati dan Laras.
Langkahnya pelan.
Di beberapa bagian jalan, ia harus berhenti sebentar untuk menarik napas. Herawati berjalan di sampingnya, siap menopang jika diperlukan. Laras membawa tas kecil berisi buku, air minum, dan obat ayahnya.
Ketika mereka sampai di halaman sekolah, anak-anak sudah mulai berdatangan.
Mereka terkejut melihat Dedi datang.
“Pak Dedi datang!” seru seorang anak.
Beberapa anak berlari menghampiri.
“Pak Dedi, apakah hari ini Bapak akan mengajar?”
Dedi tersenyum.
“Kalau kalian siap belajar, Bapak siap mengajar.”
Anak-anak bersorak kecil.
Suara mereka membuat halaman sekolah terasa hidup.
Susanti keluar dari ruang kelas dengan wajah terkejut.
“Dedi, kamu seharusnya beristirahat,” katanya.
Dedi mengangguk.
“Aku tahu. Tapi hari ini aku ingin bersama anak-anak.”
Susanti memandang Herawati.
Herawati hanya mengangguk pelan. Tidak ada yang perlu dijelaskan. Mereka semua memahami bahwa ada keinginan yang tidak ingin ditolak.
Raka segera menyiapkan kursi yang lebih nyaman di depan kelas.
Namun, Dedi menggeleng.
“Hari ini kita belajar di bawah pohon beringin,” katanya.
Anak-anak tampak senang.
Mereka membawa tikar kecil, buku, dan pensil ke halaman. Di bawah pohon beringin yang dahulu menjadi tempat pertama Dedi mengajar setelah rumah belajar terbakar, mereka duduk melingkar.
Pohon itu kini tumbuh semakin besar.
Dahannya menaungi halaman sekolah.
Akarnya kuat menembus tanah.
Bagi Dedi, pohon beringin itu bukan sekadar pohon.
Ia adalah saksi.
Saksi dari masa ketika mereka tidak memiliki bangunan.
Saksi dari masa ketika anak-anak datang membawa buku dan pensil untuk membangkitkan semangatnya.
Saksi dari masa ketika pendidikan harus bertahan meski diterpa ketakutan.
Dedi duduk di kursi kayu sederhana.
Di pangkuannya, terdapat sebuah buku cerita lama dengan sampul yang sudah pudar. Buku itu adalah salah satu buku peninggalan Pak Harun yang masih ia simpan hingga sekarang.
Anak-anak duduk di hadapannya.
Laras berada di sisi kanan ayahnya.
Herawati dan Susanti berdiri tidak jauh dari sana.
Raka, Sari, Ardi, Jono, Ratna, serta beberapa warga yang mendengar Dedi akan mengajar juga datang dan berdiri di bagian belakang.
Dedi membuka buku itu perlahan.
“Hari ini,” katanya, “Bapak ingin membacakan cerita.”
Anak-anak langsung duduk lebih tenang.
“Cerita tentang apa, Pak?” tanya seorang anak kecil.
“Cerita tentang seorang anak desa yang berani bermimpi.”
Anak-anak saling memandang.
Dedi mulai membaca.
Cerita itu tentang seorang anak yang tinggal di desa kecil di ujung jalan tanah. Anak itu tidak memiliki banyak buku. Ia tidak punya sepatu baru. Ia tidak punya kamar belajar yang nyaman.
Namun, setiap malam ia memandang langit dan bertanya kepada dirinya sendiri, apakah hidupnya akan selalu seperti itu.
Suatu hari, anak itu bertemu seorang guru tua yang berkata kepadanya bahwa mimpi tidak membutuhkan izin dari siapa pun.
Anak itu mulai belajar.
Ia belajar membaca dari buku bekas.
Ia belajar berhitung dari hasil panen orang tuanya.
Ia belajar memahami kehidupan dari orang-orang di sekitarnya.
Dalam cerita itu, anak desa tersebut tumbuh dan pergi untuk belajar lebih jauh. Ia menghadapi kesulitan, rasa takut, dan banyak orang yang meragukan kemampuannya.
Namun, ia tidak menyerah.
Ia pulang ke desanya.
Ia membawa buku.
Ia mengajar anak-anak.
Ia mengajak warga belajar.
Dan perlahan, desa kecil itu berubah.
Ketika Dedi selesai membaca, suasana di bawah pohon beringin menjadi hening.
Anak-anak tampak memikirkan cerita itu.
Seorang anak bernama Ilham mengangkat tangan.
“Pak Dedi, apakah anak dalam cerita itu Bapak?”
Dedi tersenyum.
“Menurut kamu?”
Ilham mengangguk cepat.
“Sepertinya iya.”
Anak-anak lain ikut tertawa kecil.
Dedi memandang mereka satu per satu.
“Mungkin cerita itu tentang Bapak,” katanya. “Tapi mungkin juga tentang kalian.”
Anak-anak kembali diam.
“Kalian mungkin tinggal di desa. Kalian mungkin belum punya semua yang kalian inginkan. Tapi jangan pernah berpikir bahwa kalian tidak bisa bermimpi.”
Dedi berhenti sejenak.
Napasnya mulai terdengar lebih berat.
Herawati melangkah mendekat, tetapi Dedi mengangkat tangan pelan, memberi isyarat bahwa ia masih ingin berbicara.
“Kalian boleh menjadi guru,” lanjutnya. “Kalian boleh menjadi petani yang hebat. Kalian boleh menjadi perawat, dokter, penulis, pemimpin desa, atau apa pun yang kalian cita-citakan.”
Ia menatap anak-anak dengan mata hangat.
“Tapi ingat satu hal. Jangan gunakan ilmu untuk merasa lebih tinggi dari orang lain. Gunakan ilmu untuk membantu orang lain berdiri.”
Kata-kata itu terdengar pelan, tetapi masuk ke dalam hati banyak orang.
Raka menunduk.
Susanti menggenggam tangan Herawati.
Laras menatap ayahnya dengan mata yang mulai basah.
Dedi melanjutkan.
“Kalau suatu hari kalian pergi jauh, jangan lupa pulang. Kalau kalian berhasil, jangan lupa melihat orang-orang yang masih membutuhkan bantuan. Kalau kalian punya kekuatan, jangan gunakan untuk menindas. Gunakan untuk menjaga.”
Seorang anak perempuan bertanya, “Menjaga apa, Pak?”
Dedi memandang lentera yang tergantung di depan sekolah.
“Menjaga harapan.”
Angin bergerak pelan.
Daun-daun beringin bergoyang di atas mereka.
Dedi menutup buku cerita itu.
Tangannya tampak gemetar.
Herawati segera mendekat dan memegang bahunya.
“Sudah cukup,” katanya pelan.
Dedi mengangguk.
Ia memandang anak-anak sekali lagi.
“Bapak bangga kepada kalian.”
Kalimat itu sederhana.
Namun, bagi anak-anak yang duduk di bawah pohon beringin, kalimat itu terasa seperti hadiah yang besar.
Mereka berdiri satu per satu.
Beberapa anak mendekat dan menyalami tangan Dedi.
Ada yang memeluknya.
Ada yang memberikan gambar.
Ada yang menyerahkan bunga kecil dari halaman sekolah.
Seorang anak membawa selembar kertas dengan tulisan yang belum terlalu rapi:
TERIMA KASIH PAK DEDI SUDAH MENGAJAR KAMI.
Dedi menerima kertas itu dengan tangan bergetar.
Ia tersenyum.
“Terima kasih karena kalian mau belajar.”
Tidak lama kemudian, Herawati dan Laras membantu Dedi berdiri.
Dedi menatap pohon beringin, bangunan sekolah, dan anak-anak yang masih berkumpul di halaman.
Ia tidak mengatakan bahwa itu adalah hari terakhirnya mengajar.
Ia tidak ingin membuat mereka takut.
Ia hanya ingin meninggalkan kenangan yang hangat.
Ketika ia berjalan meninggalkan halaman sekolah, anak-anak berdiri di depan kelas.
Mereka melambaikan tangan.
“Selamat jalan, Pak Dedi!”
Dedi menoleh.
Ia mengangkat tangannya perlahan.
Senyumnya tampak tenang.
Di bawah pohon beringin, di antara buku-buku dan suara anak-anak, seorang guru desa mengakhiri pelajaran terakhirnya.
Tidak dengan pidato panjang.
Tidak dengan perpisahan yang megah.
Melainkan dengan sebuah cerita tentang keberanian untuk bermimpi.
Dan tanpa mereka sadari, hari itu adalah hari terakhir Dedi Kusnadi berdiri di depan kelas.
BAB LXXIII
Lentera di Kamar Sederhana
Sejak hari terakhir mengajar di bawah pohon beringin, kondisi Dedi semakin melemah.
Ia tidak lagi mampu berjalan jauh seperti dahulu. Tubuhnya sering terasa dingin pada malam hari, sementara batuk yang semula datang sesekali kini semakin sering terdengar dari dalam rumah sederhana itu.
Herawati berusaha menyembunyikan kecemasannya.
Setiap pagi, ia menyiapkan air hangat, makanan lembut, dan obat-obatan untuk Dedi. Ia memastikan suaminya beristirahat cukup. Ia juga meminta Laras tidak terlalu ramai di dalam rumah agar ayahnya dapat tidur dengan tenang.
Namun, Dedi tetap seorang lelaki yang sulit benar-benar diam.
Dari tempat tidurnya, ia masih bertanya tentang sekolah.
“Apakah anak-anak datang tepat waktu?”
“Apakah Raka sudah mulai kelas membaca malam?”
“Bagaimana kebun percontohan Ardi?”
“Apakah Bu Ningsih sudah bisa membaca surat sendiri?”
Herawati selalu menjawab dengan sabar.
“Anak-anak datang tepat waktu.”
“Raka mengajar dengan baik.”
“Kebun Ardi mulai panen.”
“Bu Ningsih sudah bisa membaca beberapa kalimat sendiri.”
Setiap mendengar kabar itu, wajah Dedi tampak lebih tenang.
Seolah-olah sekolah rakyat adalah bagian dari napasnya sendiri.
Pada suatu sore, hujan turun cukup deras di Desa Suka Jaya.
Atap rumah sederhana Dedi berbunyi pelan ketika air hujan jatuh di atasnya. Halaman rumah menjadi basah. Tanah di sekitar rumah berubah menjadi lumpur.
Di dalam kamar, Dedi berbaring dengan selimut tipis.
Di samping tempat tidurnya terdapat meja kecil. Di atas meja itu, ada segelas air hangat, beberapa buku lama, surat untuk Laras yang belum selesai disusun, dan sebuah lentera kecil.
Lentera itu sudah lama disimpan Dedi.
Dulu, lentera itu pernah digunakan di rumah belajar pertama sebelum bangunan sekolah rakyat berdiri. Ketika rumah belajar dibakar, lentera itu berhasil diselamatkan oleh Herawati. Kacanya sempat retak, tetapi Herawati tidak pernah membuangnya.
Baginya, lentera itu adalah saksi dari perjuangan panjang mereka.
Malam itu, Herawati menyalakan lentera tersebut.
Api kecil mulai menyala.
Cahayanya memantul di dinding kamar yang sederhana.
Dedi memandang lentera itu cukup lama.
“Masih ada,” katanya pelan.
Herawati duduk di sampingnya.
“Masih ada.”
“Retaknya juga masih ada.”
Herawati tersenyum tipis.
“Seperti kita.”
Dedi menoleh.
Herawati melanjutkan, “Kita pernah retak oleh banyak hal. Oleh fitnah. Oleh ketakutan. Oleh kesedihan. Tapi kita tidak pernah benar-benar padam.”
Dedi tersenyum kecil.
“Karena kamu selalu menjaga apinya.”
Herawati menunduk.
“Aku hanya melakukan apa yang bisa kulakukan.”
“Kadang yang bisa kita lakukan itulah yang paling berarti,” kata Dedi.
Tidak lama kemudian, Susanti datang.
Ia membawa sebuah termos kecil berisi wedang hangat dan beberapa lembar kertas dari sekolah. Wajahnya tampak lelah, tetapi ia berusaha tersenyum ketika masuk ke kamar.
“Bagaimana keadaanmu?” tanyanya.
Dedi mengangkat tangan sedikit.
“Masih cukup kuat untuk bertanya tentang sekolah.”
Susanti tersenyum.
“Kalau begitu, aku sudah menyiapkan jawabannya.”
Ia duduk di dekat Herawati, lalu mulai bercerita.
Hari itu, anak-anak berhasil menyelesaikan buku bacaan baru. Raka mengadakan kelas tambahan untuk beberapa murid yang akan mengikuti ujian. Ardi membawa hasil panen sayur ke pasar kecamatan. Kelompok Perempuan Lentera mendapat pesanan tas kain dari desa sebelah.
Dedi mendengarkan dengan wajah penuh perhatian.
“Bagus,” katanya pelan. “Jangan biarkan kegiatan berhenti hanya karena aku tidak datang.”
Susanti memandangnya.
“Tidak akan berhenti.”
Dedi mengangguk.
“Aku tahu.”
Beberapa saat kemudian, Laras masuk membawa buku catatan ayahnya.
“Ayah,” katanya, “surat untuk Laras sudah Ayah selesaikan?”
Dedi memandang buku itu.
“Belum seluruhnya.”
“Laras ingin membacanya nanti.”
Dedi tersenyum.
“Nanti kamu boleh membacanya.”
Laras duduk di dekat kaki ayahnya.
Ia berusaha tampak kuat, tetapi matanya sudah berkaca-kaca.
“Ayah akan sembuh, kan?” tanyanya.
Ruangan itu mendadak sunyi.
Herawati menunduk.
Susanti memegang tangan Laras.
Dedi memandang putrinya dengan lembut.
“Setiap manusia punya waktunya, Laras.”
“Aku tidak mau Ayah pergi.”
Dedi mengangkat tangan perlahan dan menyentuh rambut Laras.
“Ayah juga tidak ingin meninggalkan kamu.”
Laras menahan tangis.
“Tapi kalau suatu hari Ayah tidak bisa lagi berjalan ke sekolah, Ayah ingin kamu tetap datang ke sana.”
Laras menggeleng pelan.
“Aku ingin Ayah yang mengajar.”
Dedi tersenyum.
“Sekarang banyak orang yang bisa mengajar. Ada Bu Susanti, Kak Raka, Kak Sari, Kak Ardi, dan kamu nanti.”
Laras menatap lentera di meja kecil.
“Kalau lentera itu mati bagaimana?”
Dedi mengikuti arah pandangan Laras.
“Kalau lentera itu mati, nyalakan lagi.”
“Kalau minyaknya habis?”
“Isi lagi.”
“Kalau kacanya pecah?”
Dedi tersenyum lebih lebar.
“Cari cara untuk memperbaikinya.”
Laras akhirnya menangis.
Herawati segera memeluk putrinya.
Dedi memandangi keduanya dengan mata yang basah.
Di luar rumah, hujan masih turun.
Namun, di dalam kamar itu, cahaya lentera tetap menyala.
Malam semakin larut ketika beberapa murid lama datang menjenguk.
Raka datang bersama Sari, Ardi, Jono, Bima, dan Ratna. Mereka membawa buah, buku, serta beberapa bunga dari halaman sekolah.
Mereka tidak datang dengan banyak suara.
Mereka datang dengan wajah penuh hormat.
Raka duduk di dekat tempat tidur Dedi.
“Pak,” katanya, “kami ingin Bapak tahu bahwa sekolah tetap berjalan.”
Dedi mengangguk.
“Aku tahu.”
“Kami juga sudah mulai menyusun jadwal kegiatan tanpa menunggu Bapak memberi arahan.”
Dedi tersenyum.
“Itu kabar terbaik yang bisa kalian bawa.”
Ardi mendekat.
“Kebun sekolah mulai menghasilkan. Kami ingin sebagian hasilnya digunakan untuk membantu anak-anak yang kesulitan membeli buku.”
Dedi menatapnya dengan bangga.
“Itu bagus.”
Sari berkata, “Kami juga akan membuat kegiatan kesehatan untuk ibu dan anak. Supaya sekolah ini bukan hanya tempat belajar, tetapi juga tempat menjaga kehidupan.”
Dedi mengangguk perlahan.
“Teruskan.”
Ratna yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.
“Pak Dedi, aku dulu banyak melakukan kesalahan.”
Dedi memandangnya.
“Tapi sekarang aku ingin terus membantu perempuan dan anak-anak di desa ini. Aku tidak akan berhenti.”
Dedi tersenyum.
“Jangan berhenti, Ratna.”
Ratna menunduk sambil menahan tangis.
Suasana kamar menjadi hening.
Tidak ada kata-kata yang berlebihan.
Tidak ada janji besar.
Namun, semua orang yang hadir memahami bahwa mereka sedang menerima amanah.
Amanah untuk menjaga sekolah.
Amanah untuk menjaga desa.
Amanah untuk menjaga cahaya yang pernah dinyalakan oleh seorang guru desa.
Setelah beberapa saat, para murid lama pamit.
Mereka menyalami tangan Dedi satu per satu.
Raka menjadi orang terakhir yang berdiri.
“Pak,” katanya, “dulu Bapak pernah bilang bahwa ilmu harus membuat manusia pulang membawa kebaikan.”
Dedi mengangguk.
“Dan kami pulang, Pak.”
Dedi memandang Raka cukup lama.
“Ya,” katanya dengan suara pelan. “Kalian pulang.”
Setelah semua orang pergi, kamar kembali sunyi.
Hanya ada Herawati, Susanti, Laras, dan Dedi.
Herawati duduk di samping tempat tidur.
Susanti duduk di dekat jendela.
Laras masih memegang buku catatan ayahnya.
Dedi memandang lentera kecil di meja.
Cahayanya bergerak lembut.
Tidak besar.
Tidak menyilaukan.
Namun, cukup untuk menerangi wajah orang-orang yang ia cintai.
“Herawati,” katanya pelan.
“Iya.”
“Terima kasih.”
Herawati menggenggam tangannya.
“Untuk apa?”
“Untuk semua hal.”
Herawati tidak menjawab.
Air matanya jatuh perlahan.
Dedi kemudian menoleh kepada Susanti.
“Terima kasih sudah menjaga sekolah.”
Susanti mengangguk sambil menahan tangis.
“Sekolah itu akan tetap hidup.”
Dedi menoleh kepada Laras.
“Terima kasih sudah menjadi anak yang kuat.”
Laras menggenggam tangan ayahnya lebih erat.
“Ayah juga harus kuat.”
Dedi tersenyum.
“Ayah sedang berusaha.”
Di luar rumah, hujan mulai reda.
Malam terasa semakin tenang.
Dari kejauhan, suara katak terdengar dari arah sawah. Angin malam masuk perlahan melalui celah jendela.
Lentera di kamar sederhana itu terus menyala.
Dan di bawah cahaya kecilnya, Dedi Kusnadi berbaring dikelilingi oleh orang-orang yang mencintainya.
Ia tidak lagi memikirkan ketakutan.
Ia tidak lagi memikirkan fitnah atau ancaman yang pernah datang.
Ia hanya memikirkan satu hal.
Bahwa lentera yang dulu ia nyalakan di ujung desa kini telah dijaga oleh banyak tangan.
BAB LXXIV
Kepergian Sang Guru Desa
Pagi di Desa Suka Jaya datang dengan langit yang pucat.
Tidak ada matahari yang langsung muncul dari balik pepohonan. Awan tipis menggantung rendah, membuat suasana desa terasa lebih sunyi dari biasanya. Di rumah sederhana Dedi Kusnadi, lentera kecil di kamar masih menyala sejak malam.
Herawati belum tidur.
Ia duduk di samping tempat tidur Dedi sambil memegang tangan suaminya. Tangan itu terasa semakin dingin, tetapi Herawati tetap menggenggamnya seolah tidak ingin melepaskan sedikit pun.
Di sudut kamar, Susanti tertidur dalam posisi duduk. Kepalanya bersandar pada dinding, sementara sebuah buku catatan masih berada di pangkuannya.
Laras duduk di dekat kaki ayahnya.
Semalaman ia tidak banyak bicara. Ia hanya memandangi wajah Dedi, berharap ayahnya membuka mata dan kembali bertanya tentang sekolah, tentang anak-anak, atau tentang kebun percontohan.
Namun, pagi itu napas Dedi terdengar semakin pelan.
Herawati menunduk mendekat.
“Dedi,” bisiknya, “hari sudah pagi.”
Kelopak mata Dedi bergerak perlahan.
Ia membuka mata dengan susah payah.
Cahaya lentera memantul di wajahnya yang pucat. Untuk beberapa saat, ia hanya memandang langit-langit kamar. Kemudian pandangannya beralih kepada Herawati.
“Herawati,” katanya sangat pelan.
“Iya. Aku di sini.”
Dedi mencoba tersenyum.
“Jangan menangis.”
Air mata Herawati jatuh tanpa dapat ia tahan.
“Aku tidak menangis,” katanya, meski suaranya bergetar.
Dedi mengangkat tangan perlahan. Tenaganya sudah hampir habis, tetapi ia masih berusaha menyentuh pipi Herawati.
“Kamu sudah terlalu banyak menangis karena aku.”
Herawati menggenggam tangan itu dan menempelkannya di pipinya.
“Aku tidak pernah menyesal berjalan bersamamu,” katanya.
Dedi menatap Herawati cukup lama.
Di dalam pandangan itu, seolah ada seluruh perjalanan hidup mereka.
Masa kecil di desa.
Perjuangan melanjutkan sekolah.
Fitnah yang pernah memisahkan.
Rumah belajar yang pernah terbakar.
Pernikahan sederhana di ujung desa.
Kelahiran Laras.
Dan sekolah rakyat yang kini menjadi rumah harapan bagi banyak orang.
“Terima kasih,” bisik Dedi.
Herawati menunduk dan mencium tangannya.
“Terima kasih juga,” jawabnya.
Laras yang sejak tadi diam akhirnya mendekat.
“Ayah,” katanya dengan suara pecah, “Laras di sini.”
Dedi memandang putrinya.
Wajahnya tampak tenang ketika melihat Laras.
“Ayah tahu.”
Laras memegang tangan ayahnya.
“Ayah jangan pergi.”
Dedi menatap lentera kecil di meja.
Api di dalamnya masih menyala, meski kecil dan tenang.
“Laras,” katanya, “ingat apa yang Ayah katakan tentang lentera?”
Laras mengangguk sambil menangis.
“Kalau mati, dinyalakan lagi.”
“Kalau minyaknya habis?”
“Diisi lagi.”
“Kalau kacanya pecah?”
“Diperbaiki.”
Dedi tersenyum.
“Itulah hidup.”
Laras menggeleng.
“Aku tidak mau bicara tentang hidup. Aku mau Ayah sembuh.”
Dedi menarik napas panjang.
“Setiap orang punya waktunya, Nak.”
“Aku belum siap.”
Dedi memejamkan mata sebentar, lalu membukanya kembali.
“Tidak ada yang benar-benar siap kehilangan. Tapi kamu harus tetap berjalan.”
Laras menunduk di sisi tempat tidur.
Herawati memeluk putrinya dari belakang.
Susanti yang terbangun sejak mendengar suara Laras kini mendekat. Matanya sembap, tetapi ia berusaha tersenyum kepada Dedi.
“Dedi,” katanya pelan, “anak-anak sudah menunggu di sekolah.”
Dedi menoleh.
“Sudah waktunya belajar?”
Susanti mengangguk.
“Sudah.”
Dedi tersenyum.
“Bagus. Jangan biarkan mereka menunggu terlalu lama.”
Susanti menahan tangis.
“Tidak akan.”
Dedi menghela napas perlahan.
“Susanti.”
“Iya.”
“Terima kasih karena tidak pernah pergi dari sekolah.”
Susanti menggenggam tangan Dedi.
“Sekolah itu akan tetap hidup.”
Dedi mengangguk.
“Aku percaya.”
Beberapa saat kemudian, suara orang-orang mulai terdengar di halaman rumah.
Kabar tentang kondisi Dedi telah menyebar sejak subuh. Warga datang perlahan. Mereka tidak ingin membuat rumah menjadi ramai, tetapi mereka ingin berada dekat dengan lelaki yang selama ini telah mengubah banyak hal dalam hidup mereka.
Raka datang bersama Ardi, Sari, Jono, Bima, dan beberapa murid lama lainnya.
Mereka berdiri di depan rumah dengan wajah tertunduk.
Pak Karto membawa setangkai bunga dari kebunnya.
Bu Ningsih datang sambil membawa buku bacaan yang kini sudah dapat ia baca sendiri.
Ratna datang bersama beberapa ibu dari Kelompok Perempuan Lentera.
Tidak ada yang membawa kemewahan.
Mereka datang membawa hati.
Raka masuk ke kamar setelah Herawati mengizinkan.
Ia berdiri di dekat pintu.
“Pak,” katanya dengan suara bergetar, “kami semua datang.”
Dedi membuka mata sedikit.
“Raka.”
“Iya, Pak.”
“Jaga mereka.”
Raka mengangguk cepat.
“Kami akan menjaga sekolah, Pak.”
“Bukan hanya sekolah.”
Raka terdiam.
“Jaga agar tidak ada lagi orang desa yang takut belajar. Jaga agar tidak ada lagi orang yang mudah menyerahkan masa depannya kepada janji kosong.”
Air mata Raka jatuh.
“Kami akan menjaga, Pak.”
Dedi memandang murid-murid lamanya.
Mereka kini bukan lagi anak-anak yang duduk di bawah pohon beringin. Mereka telah menjadi guru, petani, tenaga kesehatan, penggerak perempuan, dan pemuda yang berani berbicara.
Dedi merasa tenang.
Ia melihat masa depan Desa Suka Jaya berdiri di hadapannya.
Menjelang siang, napas Dedi semakin pelan.
Herawati kembali duduk di sampingnya.
Laras memegang tangan kanannya.
Susanti memegang tangan kirinya.
Di dekat meja kecil, lentera masih menyala.
Dedi memandang cahaya itu sekali lagi.
“Lentera,” bisiknya.
Herawati mendekat.
“Apa?”
“Jangan biarkan padam.”
Herawati menggenggam tangannya lebih erat.
“Tidak akan padam.”
Dedi tersenyum.
Senyum itu kecil, tetapi tenang.
Kemudian, pada suatu senja yang datang lebih cepat dari biasanya, Dedi Kusnadi mengembuskan napas terakhir.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada keramaian.
Hanya tangis yang perlahan memenuhi rumah sederhana itu.
Herawati menundukkan kepala di sisi suaminya.
Laras memeluk tubuh ayahnya sambil menangis.
Susanti berdiri dengan tangan gemetar, lalu menutup mata Dedi perlahan.
Di luar rumah, warga yang menunggu mulai mengetahui kabar itu.
Kesunyian menyelimuti Desa Suka Jaya.
Seolah angin pun berhenti bergerak.
Kabar kepergian Dedi menyebar dari rumah ke rumah.
Anak-anak yang sedang belajar di sekolah rakyat berhenti membaca ketika Susanti datang membawa kabar. Mereka tidak langsung memahami arti kehilangan. Namun, ketika melihat wajah Susanti yang basah oleh air mata, mereka mulai menangis.
“Pak Dedi tidak akan mengajar lagi?” tanya Ilham.
Susanti berusaha menjawab.
“Pak Dedi tidak akan mengajar seperti dulu.”
“Lalu siapa yang akan bercerita kepada kami?”
Susanti memeluk anak itu.
“Pak Dedi sudah mengajarkan banyak hal kepada kita. Sekarang kita yang harus meneruskannya.”
Menjelang sore, warga mulai berdatangan ke rumah Dedi.
Mereka membawa bunga dari kebun.
Mereka membawa buku.
Mereka membawa lentera kecil.
Ada yang membawa hasil panen.
Ada yang membawa tikar untuk para pelayat.
Ada yang membantu menyiapkan pemakaman.
Tidak ada kemewahan dalam perpisahan itu.
Tidak ada karangan bunga besar.
Tidak ada pidato panjang dari orang-orang penting.
Namun, ada penghormatan yang tulus dari banyak hati.
Di halaman rumah, anak-anak duduk bersama sambil memegang buku.
Beberapa dari mereka membawa gambar yang pernah dibuat untuk Dedi.
Salah satu gambar memperlihatkan seorang guru berdiri di bawah pohon beringin, dikelilingi anak-anak yang memegang buku.
Di atas gambar itu tertulis:
PAK DEDI MENYALAKAN MIMPI KAMI.
Ketika matahari mulai turun, jenazah Dedi dibawa menuju pemakaman desa.
Warga berjalan mengiringi dengan langkah pelan.
Herawati berada di dekat Laras.
Susanti berjalan di belakang mereka bersama para murid lama.
Raka membawa sebuah lentera kecil.
Lentera itu tidak dinyalakan selama perjalanan, tetapi ia memegangnya erat seperti membawa amanah.
Di pemakaman, tanah telah disiapkan.
Suara doa mengalun pelan.
Banyak warga menangis.
Pak Karto berdiri dengan wajah tertunduk.
Bu Ningsih memegang buku bacaan di dadanya.
Ratna tidak mampu berkata apa-apa.
Bima memeluk pundak Jono.
Ardi memandang tanah makam dengan mata merah.
Ketika Dedi dimakamkan, Laras berdiri diam di samping Herawati.
Ia teringat pesan ayahnya.
Tentang lentera.
Tentang minyak yang harus diisi.
Tentang kaca yang harus diperbaiki.
Tentang harapan yang tidak boleh dibiarkan padam.
Setelah pemakaman selesai, warga tidak langsung pulang.
Mereka berdiri cukup lama di sekitar makam.
Seolah belum siap meninggalkan lelaki yang selama ini menjadi tempat mereka bertanya, belajar, dan menemukan keberanian.
Namun, pada akhirnya, mereka mulai berjalan kembali ke desa.
Malam datang perlahan.
Di halaman Sekolah Rakyat Lentera Ujung Desa, Susanti menyalakan lentera tua yang tergantung di depan pintu.
Satu per satu warga menyalakan lentera kecil yang mereka bawa.
Cahaya-cahaya kecil itu memenuhi halaman sekolah.
Anak-anak berdiri di antara orang dewasa.
Herawati dan Laras berdiri di depan pintu sekolah.
Tidak ada yang berbicara selama beberapa saat.
Kemudian Raka berkata dengan suara pelan, tetapi jelas.
“Pak Dedi telah pergi. Tetapi apa yang beliau ajarkan tidak boleh ikut pergi.”
Warga mengangguk.
“Sekolah ini akan tetap hidup,” lanjut Raka. “Desa ini akan tetap belajar.”
Laras memandang lentera-lentera yang menyala di hadapannya.
Di tengah kesedihan yang begitu besar, ia mulai memahami satu hal.
Ayahnya memang telah pergi.
Namun, cahaya yang ditinggalkannya tidak hanya berada di satu lentera.
Cahaya itu telah hidup di dalam banyak hati.
Dan malam itu, di Desa Suka Jaya, kepergian seorang guru desa tidak memadamkan harapan.
Justru dari air mata dan kesedihan, lahir janji baru untuk meneruskan cahaya yang telah ia nyalakan.
BAB LXXV
Cahaya yang Diteruskan
Hari-hari setelah kepergian Dedi Kusnadi menjadi masa yang berat bagi Desa Suka Jaya.
Rumah sederhana yang dahulu selalu dipenuhi suara Dedi kini terasa lebih sunyi. Di halaman rumah, kursi kayu tempat ia biasa duduk pada sore hari masih berada di bawah pohon mangga. Tidak ada yang memindahkannya.
Herawati sering duduk di sana ketika senja datang.
Ia memandangi jalan kecil menuju Sekolah Rakyat Lentera Ujung Desa. Dari kejauhan, ia masih dapat mendengar suara anak-anak membaca, suara guru mengajar, dan tawa kecil yang kadang terdengar sampai ke rumah.
Setiap suara itu mengingatkannya pada Dedi.
Namun, Herawati tidak lagi hanya menangis.
Sedikit demi sedikit, ia mulai memahami bahwa kesedihan tidak boleh membuat perjuangan berhenti.
Suatu pagi, beberapa hari setelah pemakaman, Susanti datang ke rumah Herawati.
Ia membawa sebuah map cokelat berisi catatan sekolah, daftar kegiatan, dan beberapa surat dari warga.
Herawati sedang menyapu halaman ketika Susanti datang.
“Masuklah,” kata Herawati pelan.
Susanti duduk di ruang tengah. Matanya masih tampak sembap, tetapi wajahnya lebih tenang daripada hari-hari sebelumnya.
“Aku membawa catatan sekolah,” katanya.
Herawati mengangguk.
“Bagaimana kegiatan di sana?”
“Anak-anak tetap datang,” jawab Susanti. “Mereka bertanya tentang Pak Dedi, tetapi mereka juga tetap belajar.”
Herawati menunduk.
“Itu yang Dedi inginkan.”
Susanti membuka map cokelat itu.
“Raka ingin melanjutkan kelas malam untuk warga. Ardi ingin memperluas kebun percontohan. Sari ingin meneruskan kegiatan kesehatan ibu dan anak. Ratna mengajak kelompok perempuan membuat tabungan bersama untuk membantu anak-anak yang kesulitan membeli perlengkapan sekolah.”
Herawati mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
“Dan Laras?” tanyanya.
“Laras datang ke sekolah kemarin. Ia membantu anak-anak membaca.”
Herawati tersenyum tipis.
“Dia anak Dedi.”
Susanti mengangguk.
“Dia juga anakmu.”
Kalimat itu membuat Herawati terdiam cukup lama.
Ia memandang map di atas meja.
Dulu, banyak keputusan sekolah selalu dibicarakan bersama Dedi. Kini, nama Dedi tidak lagi hadir dalam rapat, tidak lagi terdengar memanggil anak-anak, dan tidak lagi terlihat berdiri di bawah pohon beringin.
Namun, ajarannya tetap ada.
Dalam setiap buku yang dibuka.
Dalam setiap anak yang berani bertanya.
Dalam setiap warga yang tidak lagi takut menyampaikan pendapat.
Herawati menarik napas perlahan.
“Kita harus mengadakan pertemuan,” katanya.
Susanti memandangnya.
“Pertemuan?”
“Ya. Kita harus mengumpulkan semua orang yang selama ini menjaga sekolah. Kita tidak boleh hanya menunggu keadaan berjalan sendiri.”
Susanti tersenyum.
“Itu juga yang kupikirkan.”
Malam itu, warga Desa Suka Jaya berkumpul di halaman Sekolah Rakyat Lentera Ujung Desa.
Tidak ada undangan resmi yang dicetak dengan mewah. Raka hanya meminta anak-anak menyampaikan kabar kepada orang tua mereka. Ardi memberi tahu para petani. Ratna mengajak kelompok perempuan. Sari menghubungi para kader kesehatan dan pemuda desa.
Ketika malam tiba, halaman sekolah sudah dipenuhi warga.
Lentera-lentera kecil dinyalakan di sekitar bangunan. Cahaya hangatnya membuat halaman sekolah tampak seperti lautan api kecil yang tenang.
Herawati berdiri di depan pintu sekolah.
Di sampingnya ada Susanti, Laras, Raka, Sari, Ardi, Jono, Bima, Ratna, dan beberapa murid lama lainnya.
Untuk beberapa saat, Herawati hanya memandangi warga yang hadir.
Ia melihat Pak Karto di barisan depan.
Ia melihat Bu Ningsih yang membawa buku bacaannya.
Ia melihat anak-anak yang duduk bersama orang tua mereka.
Ia melihat wajah-wajah yang pernah menangis ketika Dedi dimakamkan.
Namun, malam itu mereka datang bukan hanya untuk berduka.
Mereka datang untuk menentukan langkah berikutnya.
Herawati membuka pembicaraan dengan suara pelan.
“Dedi sudah tidak ada di antara kita.”
Halaman sekolah menjadi hening.
“Tapi Dedi tidak pernah membangun sekolah ini untuk dirinya sendiri.”
Ia menatap lentera tua yang tergantung di depan pintu.
“Sekolah ini dibangun agar anak-anak desa punya kesempatan belajar. Agar orang tua tidak takut membaca. Agar warga tidak mudah ditipu. Agar siapa pun yang datang ke sini merasa bahwa mereka masih memiliki harapan.”
Beberapa warga mengangguk.
Herawati melanjutkan.
“Kalau sekolah ini berhenti karena Dedi tidak ada, berarti kita belum benar-benar memahami apa yang selama ini ia perjuangkan.”
Suara Herawati mulai bergetar, tetapi ia tetap berdiri tegak.
“Karena itu, malam ini kita harus sepakat. Lentera Ujung Desa harus tetap menyala.”
Raka melangkah maju.
“Kami para murid lama siap melanjutkan kegiatan sekolah,” katanya. “Kami tidak akan bisa menggantikan Pak Dedi. Tetapi kami bisa meneruskan apa yang beliau ajarkan.”
Ardi mengangkat tangan.
“Kebun sekolah akan tetap berjalan. Hasilnya akan digunakan untuk membantu kegiatan belajar dan kebutuhan anak-anak.”
Sari berkata, “Kegiatan kesehatan akan tetap ada. Anak-anak dan ibu-ibu harus tetap mendapat pengetahuan tentang hidup sehat.”
Ratna berdiri setelah itu.
“Saya dan kelompok perempuan akan membantu mengelola tabungan pendidikan. Tidak boleh ada anak yang berhenti belajar hanya karena tidak punya buku atau seragam.”
Bu Ningsih yang duduk di depan kemudian berdiri perlahan.
Tangannya masih memegang buku bacaan.
“Aku dulu tidak bisa membaca,” katanya. “Pak Dedi dan Bu Susanti mengajariku tanpa membuatku malu. Sekarang aku bisa membaca surat anakku sendiri.”
Ia menatap Herawati.
“Kalau sekolah ini berhenti, banyak orang seperti aku akan kehilangan tempat untuk belajar.”
Pak Karto ikut berdiri.
“Dulu aku menjual hasil kebun tanpa tahu apakah harganya adil atau tidak. Sekarang aku bisa menghitung biaya dan hasil panen. Aku tidak mau anak-anak kita tumbuh tanpa pengetahuan seperti kami dulu.”
Satu per satu warga mulai berbicara.
Ada yang mengusulkan perbaikan perpustakaan.
Ada yang ingin membuat kelas keterampilan untuk pemuda.
Ada yang ingin mengadakan pelatihan usaha kecil.
Ada yang bersedia menyumbangkan bambu untuk memperluas bangunan sekolah.
Ada pula yang hanya berkata, “Saya tidak punya uang, tapi saya bisa membantu tenaga.”
Semua suara itu menyatu menjadi kekuatan baru.
Laras yang sejak tadi berdiri di samping ibunya akhirnya maju.
Ia membawa buku catatan milik Dedi.
Buku itu berisi surat yang ditulis ayahnya untuknya.
Tangannya sedikit gemetar ketika membuka halaman yang sudah diberi tanda.
“Ayah menulis sesuatu untuk Laras,” katanya.
Warga menjadi hening.
Laras membaca dengan suara pelan, tetapi jelas.
“Jangan biarkan keterbatasan memadamkan mimpi. Sebab dari desa yang sederhana pun, masa depan dapat menyala.”
Setelah Laras selesai membaca, tidak ada yang langsung berbicara.
Kalimat itu seperti tinggal di udara.
Masuk ke dalam hati setiap orang yang mendengarnya.
Herawati memandang putrinya dengan mata berkaca-kaca.
Susanti menunduk sambil tersenyum.
Raka menggenggam tangan Ardi.
Ratna mengusap air mata di pipinya.
Kemudian seorang anak kecil yang duduk di barisan depan bertanya, “Kalau Pak Dedi sudah tidak ada, siapa yang akan menyalakan lentera?”
Laras memandang lentera tua di depan pintu sekolah.
Lalu ia menjawab, “Kita semua.”
Jawaban itu membuat beberapa warga tersenyum di tengah air mata.
Malam itu, mereka membuat kesepakatan.
Sekolah rakyat akan tetap berjalan.
Kegiatan belajar anak-anak akan diteruskan.
Kelas malam untuk warga akan tetap dibuka.
Kebun percontohan akan diperluas.
Kelompok perempuan akan membantu pendidikan dan usaha keluarga.
Para murid lama akan bergantian mengajar.
Herawati akan menjadi pembina sekolah rakyat.
Susanti akan menjadi pengajar utama dan koordinator kegiatan belajar.
Laras akan membantu perpustakaan serta kelas anak-anak.
Selain itu, warga sepakat membangun perpustakaan kecil di samping sekolah.
Perpustakaan itu akan berisi buku-buku peninggalan Dedi, buku-buku sumbangan warga, serta karya-karya anak-anak Desa Suka Jaya.
Mereka juga sepakat memberi nama aula utama sekolah:
Aula Dedi Kusnadi.
Bukan untuk menjadikan Dedi sebagai manusia yang harus dipuja.
Melainkan agar setiap orang yang masuk ke dalam ruangan itu mengingat bahwa perubahan besar dapat dimulai dari seseorang yang memilih tidak menyerah.
Beberapa minggu kemudian, pembangunan perpustakaan kecil dimulai.
Warga datang membawa bambu, kayu, pasir, batu, dan tenaga.
Para pemuda bekerja memperbaiki dinding.
Ibu-ibu menyiapkan makanan.
Anak-anak membantu membersihkan halaman.
Ardi membawa kayu dari kebun sekolah.
Raka mengatur buku-buku yang akan dipindahkan.
Susanti menulis daftar buku baru.
Laras menggambar tulisan untuk papan perpustakaan.
Di bagian atas papan itu, ia menulis:
PERPUSTAKAAN LENTERA DEDI
Ketika perpustakaan selesai, Herawati berdiri di depan pintunya.
Di dalam ruangan kecil itu, rak-rak buku tersusun rapi. Ada buku cerita anak, buku pelajaran, buku pertanian, buku kesehatan, buku keterampilan, dan beberapa buku lama peninggalan Pak Harun.
Di salah satu dinding, dipasang sebuah papan kayu.
Di papan itu tertulis kalimat warisan Dedi:
“Jangan biarkan keterbatasan memadamkan mimpi. Sebab dari desa yang sederhana pun, masa depan dapat menyala.”
Herawati menyentuh tulisan itu perlahan.
Ia teringat Dedi.
Ia teringat suara suaminya ketika berbicara kepada anak-anak.
Ia teringat senyumnya ketika melihat warga belajar.
Ia teringat tangan Dedi yang dahulu menggenggam tangannya di bawah pohon beringin.
Kesedihan itu masih ada.
Kehilangan itu tidak pernah benar-benar hilang.
Namun, kini Herawati tidak lagi melihat kepergian Dedi sebagai akhir.
Ia melihatnya sebagai amanah.
Pada sore peresmian perpustakaan, anak-anak datang membawa buku dan pensil.
Mereka duduk di halaman sekolah sambil membaca bersama.
Susanti mengajar di dalam kelas.
Raka memimpin diskusi pemuda.
Ardi bekerja di kebun percontohan.
Sari memeriksa kesehatan beberapa anak.
Ratna berbicara dengan kelompok perempuan tentang tabungan pendidikan.
Laras berdiri di dekat lentera tua.
Ia menyalakannya perlahan.
Api kecil itu menyala.
Cahayanya memantul di kaca lentera yang masih memiliki retakan lama.
Namun, retakan itu tidak membuat cahaya menjadi hilang.
Justru retakan itu mengingatkan semua orang bahwa sesuatu yang pernah terluka masih dapat memberi terang.
Laras memandangi cahaya itu.
Kemudian ia tersenyum.
Di Desa Suka Jaya, lentera tidak lagi dijaga oleh satu orang.
Ia dijaga oleh Herawati.
Oleh Susanti.
Oleh Laras.
Oleh para murid lama.
Oleh anak-anak yang belajar.
Oleh warga yang mulai berani bermimpi.
Dan selama ada tangan-tangan yang bersedia mengisi minyak, memperbaiki kaca, serta menyalakan kembali api ketika angin datang, cahaya itu akan terus diteruskan.
EPILOG
Jejak yang Tetap Menyala
Bertahun-tahun telah berlalu sejak Dedi Kusnadi meninggalkan Desa Suka Jaya.
Desa yang dahulu sering diliputi ketakutan, kebodohan, dan janji-janji kosong itu kini berubah perlahan. Jalan-jalan desa mulai diperbaiki. Kebun-kebun warga lebih terawat. Kelompok usaha kecil tumbuh di berbagai sudut kampung. Anak-anak tidak lagi harus berjalan jauh hanya untuk meminjam buku atau mencari tempat belajar.
Di ujung desa, Sekolah Rakyat Lentera Ujung Desa masih berdiri.
Bangunannya memang tidak megah. Dindingnya tetap sederhana. Halamannya masih berupa tanah yang akan berdebu ketika musim kemarau dan berlumpur ketika hujan turun.
Namun, sekolah itu tidak pernah sepi.
Setiap pagi, anak-anak datang dengan seragam sederhana dan tas yang penuh buku. Mereka belajar membaca, menulis, berhitung, serta mengenal dunia yang lebih luas dari halaman rumah mereka.
Pada sore hari, perpustakaan kecil di samping sekolah dipenuhi anak-anak yang membaca cerita. Di sudut lain, para pemuda berdiskusi tentang pertanian, usaha, teknologi, dan masa depan desa.
Ketika malam tiba, warga dewasa datang untuk mengikuti kelas membaca, pelatihan usaha, atau musyawarah kampung.
Sekolah rakyat itu telah menjadi jantung Desa Suka Jaya.
Bukan hanya tempat belajar.
Melainkan tempat warga bertumbuh bersama.
Herawati kini telah berusia lanjut.
Rambutnya mulai memutih, tetapi langkahnya masih teguh ketika berjalan menuju sekolah. Setiap pagi, ia selalu menyempatkan diri melihat halaman sekolah sebelum kegiatan dimulai.
Ia sering duduk di bawah pohon beringin yang dahulu menjadi tempat Dedi mengajar setelah rumah belajar terbakar.
Pohon itu kini semakin besar.
Dahannya menaungi halaman.
Akarnya mencengkeram tanah dengan kuat.
Herawati selalu merasa pohon itu menyimpan banyak kenangan.
Di bawah pohon itulah Dedi pernah membacakan cerita kepada anak-anak.
Di bawah pohon itu pula Dedi mengajarkan bahwa mimpi tidak membutuhkan izin dari siapa pun.
Dan di bawah pohon itu, generasi baru Desa Suka Jaya terus belajar untuk tidak takut bermimpi.
Susanti masih mengajar di sekolah rakyat.
Wajahnya kini dipenuhi garis-garis usia, tetapi suaranya tetap lembut ketika membimbing anak-anak membaca. Ia dikenal sebagai guru yang sabar. Banyak murid menyayanginya seperti seorang ibu.
Tidak ada lagi kesedihan lama yang tinggal di hatinya.
Cinta yang pernah ia simpan dalam diam telah berubah menjadi pengabdian yang tulus.
Ia tidak lagi memandang masa lalu sebagai luka.
Ia memandangnya sebagai jalan yang membawanya untuk memahami arti setia pada kebaikan.
Ratna juga telah berubah.
Ia menjadi salah satu penggerak kelompok perempuan desa. Bersama para ibu, ia membantu mengembangkan usaha kecil, mengelola tabungan pendidikan, serta mendampingi perempuan-perempuan muda agar berani belajar dan memiliki masa depan sendiri.
Tidak semua orang melupakan kesalahannya.
Namun, Ratna tidak lagi berusaha lari dari masa lalu.
Ia memilih memperbaiki hidupnya melalui tindakan.
Setiap kali melihat anak-anak perempuan membaca di perpustakaan, ia selalu merasa bahwa hidup masih memberi kesempatan kepada siapa pun yang ingin berubah.
Laras kini telah tumbuh dewasa.
Ia pernah pergi ke kota untuk melanjutkan pendidikan, seperti yang dahulu diizinkan ayahnya. Ia belajar tentang pendidikan masyarakat, pengelolaan perpustakaan, dan pengembangan desa.
Namun, seperti pesan yang selalu diingatnya, Laras tidak melupakan tempat ia berasal.
Ia pulang.
Bukan karena ia tidak mampu hidup di kota.
Melainkan karena ia memahami bahwa Desa Suka Jaya masih membutuhkan banyak tangan yang mau bekerja.
Kini Laras menjadi salah satu pengajar dan pengelola Sekolah Rakyat Lentera Ujung Desa.
Ia mengembangkan perpustakaan kecil menjadi ruang belajar yang lebih lengkap. Ia mengajak anak-anak menulis cerita tentang desa mereka. Ia juga mengadakan kegiatan membaca keliling bagi anak-anak yang tinggal jauh dari sekolah.
Suatu malam, Desa Suka Jaya mengadakan peringatan hari berdirinya Sekolah Rakyat Lentera Ujung Desa.
Warga datang dari berbagai dusun.
Anak-anak memakai pakaian terbaik mereka. Para pemuda membantu menata kursi. Ibu-ibu membawa makanan dari rumah. Para murid lama yang kini bekerja di berbagai tempat juga datang untuk berkumpul.
Di halaman sekolah, lentera-lentera kecil digantung di sepanjang jalan.
Cahayanya bergerak pelan ditiup angin malam.
Herawati berdiri di depan pintu aula.
Di atas pintu itu, tertulis nama yang telah lama menjadi bagian dari sejarah desa:
AULA DEDI KUSNADI
Di dalam aula, para murid duduk rapi.
Susanti berdiri di samping Herawati.
Laras membawa buku catatan tua milik ayahnya.
Buku itu masih tersimpan dengan baik, meski halaman-halamannya mulai menguning oleh waktu.
Herawati menyalakan lentera tua yang dahulu berada di kamar sederhana Dedi.
Kaca lentera itu masih memiliki retakan kecil.
Namun, api di dalamnya tetap menyala.
Semua orang memandangi cahaya itu dalam diam.
Kemudian Laras membuka buku catatan ayahnya.
Dengan suara tenang, ia membacakan salah satu bagian dari surat Dedi:
“Jangan biarkan keterbatasan memadamkan mimpi. Sebab dari desa yang sederhana pun, masa depan dapat menyala.”
Anak-anak mendengarkan.
Para orang tua menundukkan kepala.
Beberapa murid lama tersenyum sambil menahan air mata.
Di antara cahaya lentera dan suara anak-anak yang mulai membaca bersama, nama Dedi Kusnadi kembali disebut.
Bukan sebagai pahlawan yang sempurna.
Bukan sebagai orang kaya.
Bukan pula sebagai seseorang yang tidak pernah takut.
Dedi dikenang sebagai manusia biasa yang memilih bertahan ketika keadaan meminta dirinya menyerah.
Ia dikenang sebagai anak desa yang percaya bahwa buku dapat mengubah hidup.
Ia dikenang sebagai guru yang tidak hanya mengajarkan huruf dan angka, tetapi juga keberanian untuk bertanya, keberanian untuk bersuara, serta keberanian untuk menjaga sesama.
Setelah acara selesai, Herawati duduk di bawah pohon beringin.
Susanti duduk di sampingnya.
Laras berdiri tidak jauh dari mereka, memandangi anak-anak yang masih bermain sambil membawa buku.
“Lihatlah,” kata Herawati pelan.
Susanti mengikuti arah pandangannya.
Anak-anak berlari di halaman sekolah.
Mereka tertawa.
Mereka membaca.
Mereka saling memanggil.
Di tangan mereka, ada buku-buku.
Di mata mereka, ada mimpi.
“Dedi pasti senang,” kata Susanti.
Herawati tersenyum.
“Dia pasti tidak ingin kita hanya mengenangnya.”
Susanti menoleh.
“Lalu apa yang ia inginkan?”
Herawati memandang lentera yang masih menyala di depan aula.
“Dia ingin kita terus berjalan.”
Laras mendekat dan duduk di antara mereka.
Ia memegang lentera kecil yang baru saja dinyalakan.
“Lentera ini akan tetap menyala,” katanya.
Herawati menggenggam tangan putrinya.
“Selama ada yang menjaganya.”
Malam semakin larut.
Satu per satu warga mulai pulang ke rumah masing-masing. Namun, cahaya lentera di halaman sekolah masih tetap terlihat dari jalan desa.
Lentera di ujung desa tetap menyala.
Bukan karena minyak di dalamnya tidak pernah habis.
Bukan karena angin tidak pernah datang.
Bukan pula karena kacanya tidak pernah retak.
Lentera itu tetap menyala karena selalu ada tangan-tangan baru yang bersedia mengisi minyaknya, melindungi apinya, memperbaiki retaknya, dan menyalakannya kembali ketika cahaya mulai redup.
Dan selama harapan terus diwariskan dari satu hati kepada hati yang lain, dari satu generasi kepada generasi berikutnya, Desa Suka Jaya akan selalu memiliki cahaya untuk menuntun jalannya.
TAMAT



Danzo
18 Juni 2026 09:53:32
...