Desa Dabulon
Kecamatan Lumbis, Kabupaten Nunukan
TETRALOGI LANGIT BIRU

TETRALOGI
ROMAN EPIK LANGIT BIRU
"Sebuah Roman tentang Persahabatan, Pendidikan, dan Mimpi yang Terus Bertumbuh"
Oleh: Slamet Riyadi
DISCLAIMER
Roman tetralogi berjudul Langit Biru ini adalah karya fiksi. Seluruh nama tokoh, tempat, latar, peristiwa, dialog, lembaga, serta rangkaian kejadian yang terdapat dalam cerita ini merupakan hasil imajinasi penulis.
Apabila terdapat kesamaan nama, tempat, pekerjaan, peristiwa, atau keadaan dengan kehidupan nyata, hal tersebut semata-mata merupakan kebetulan dan tidak dimaksudkan untuk menggambarkan pihak tertentu.
Roman ini mengangkat kisah perjuangan anak-anak desa dalam menghadapi perantauan, pendidikan, keterbatasan ekonomi, persahabatan, keluarga, cinta pertama, dan cita-cita. Cerita ini juga memuat nilai-nilai tentang pentingnya pendidikan, kerja keras, gotong royong, keberanian, serta kesetiaan untuk tetap mengingat tempat asal.
Tokoh-tokoh dalam novel ini bukanlah gambaran dari individu tertentu. Desa Wanasari, Kota Arunika, sekolah, rumah singgah, dan seluruh tempat yang disebutkan dalam cerita ini merupakan latar fiktif yang dibangun untuk kepentingan cerita.
PROLOG
Lampu Kota dari Ujung Jalan
Malam itu, Desa Wanasari terasa lebih sunyi daripada biasanya.
Angin dari arah sungai bergerak perlahan melewati kebun-kebun warga. Daun-daun pisang bergesekan pelan. Dari kejauhan, suara jangkrik terdengar bersahut-sahutan, seolah sedang mengisi ruang kosong yang tidak mampu diisi oleh kata-kata.
Di halaman sekolah dasar yang telah lama menjadi bagian dari hidup mereka, pohon beringin tua berdiri dalam diam.
Pohon itu masih sama. Batangnya besar dan kasar. Akar-akarnya menjalar ke tanah seperti tangan-tangan tua yang menjaga halaman sekolah. Daun-daunnya menaungi tempat yang dahulu sering menjadi ruang belajar, tempat bermain, tempat bertengkar, dan tempat empat sahabat membuat janji tentang masa depan.
Di bawah pohon itulah Rantaka berdiri sambil memegang tas lusuh berwarna cokelat.
Tas itu tidak besar. Di dalamnya hanya ada beberapa helai pakaian, buku-buku sekolah, sebuah buku catatan, dan surat beasiswa yang sudah berkali-kali ia baca. Surat itu menjadi alasan ia harus berangkat ke kota kecil pada pagi hari.
Ia akan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Ia akan tinggal jauh dari rumah. Jauh dari ibunya yang selalu menyiapkan sarapan sederhana sebelum ia berangkat sekolah. Jauh dari ayahnya yang sering duduk di dekat jendela sambil memandangi kebun. Jauh dari jalan tanah merah yang setiap musim hujan berubah menjadi lumpur. Dan jauh dari sahabat-sahabatnya.
Rantaka menatap jalan kecil yang membelah halaman sekolah. Jalan itu menuju arah rumahnya. Jalan yang selama ini ia lewati hampir setiap hari. Besok, jalan itu tidak lagi menjadi jalan menuju sekolah. Jalan itu akan menjadi jalan perpisahan.
"Jadi benar-benar berangkat besok pagi?"
Suara Liris membuat Rantaka menoleh. Gadis itu datang dari arah perpustakaan kecil sekolah. Ia membawa buku hijau yang selalu ia simpan di dekat dadanya. Buku itu sudah semakin tebal oleh puisi, catatan, potongan cerita, dan kalimat-kalimat yang sering ditulisnya ketika tidak mampu menyampaikan perasaan secara langsung.
Rantaka mengangguk pelan. "Bus pertama berangkat setelah matahari terbit."
Liris berdiri beberapa langkah darinya. "Tidak bisa ditunda?"
Rantaka tersenyum kecil. "Kalau ditunda, aku bisa terlambat masuk sekolah."
Liris menunduk. Ia tahu jawaban itu. Namun, kadang seseorang tetap bertanya bukan karena tidak tahu jawabannya, melainkan karena berharap jawaban itu berubah.
Tidak lama kemudian, suara sepeda terdengar dari arah jalan desa. Banyu datang dengan sepeda tuanya. Di bagian belakang sepeda, tergantung sebuah tas kain berisi beberapa alat kecil. Ia baru pulang dari bengkel Pak Hendra di kecamatan. Wajahnya tampak lelah, tetapi ia tetap berusaha tersenyum.
"Aku hampir tidak jadi datang," katanya sambil menurunkan sepeda. "Ada rantai sepeda pelanggan yang putus. Pak Hendra minta bantu memperbaiki."
"Kau tetap datang," kata Liris.
"Ya, masa aku tidak mengantar Rantaka pergi."
Banyu memandang tas cokelat di tangan Rantaka. "Bawaanmu cuma itu?"
"Cukup," jawab Rantaka.
"Kalau kurang, nanti aku kirim alat-alat."
"Untuk apa?"
"Siapa tahu di kota kau ingin memperbaiki sesuatu."
Rantaka tertawa kecil. "Di kota banyak bengkel."
"Bengkel tidak selalu punya orang yang mengerti alat dari anak desa," jawab Banyu dengan bangga.
Liris tersenyum mendengar jawaban itu. Namun, senyum mereka perlahan menghilang ketika melihat seseorang berjalan dari arah sungai.
Jagra datang paling akhir. Ia membawa sebuah bungkusan daun pisang yang diikat rapi dengan tali. Di dalamnya terdapat ikan sungai yang sudah diasinkan oleh ibunya. Bekal itu disiapkan agar Rantaka tidak terlalu banyak membeli makanan pada hari-hari pertama di kota.
"Aku membawa ini," kata Jagra sambil menyerahkan bungkusan itu.
Rantaka menerimanya. "Terima kasih."
"Jangan bilang makanan kota lebih enak," kata Jagra.
"Aku belum pernah mencoba makanan kota."
"Kalau sudah mencoba, jangan lupa ikan sungai Wanasari."
Rantaka mengangguk. "Aku tidak akan lupa."
Mereka kemudian duduk di bawah pohon beringin. Tidak ada tikar. Tidak ada buku pelajaran. Tidak ada Gerobak Buku Langit Biru yang biasa diparkir di dekat perpustakaan. Hanya ada empat sahabat yang sama-sama berusaha terlihat biasa saja. Padahal, malam itu tidak biasa. Malam itu adalah malam terakhir sebelum salah satu dari mereka pergi lebih jauh dari yang pernah mereka bayangkan.
Banyu mengambil sebuah benda dari tas kainnya. Benda itu berbentuk kecil, terbuat dari potongan kayu, kawat, dan roda bekas. Belum selesai sepenuhnya, tetapi terlihat seperti alat sederhana yang sedang ia rancang.
"Apa itu?" tanya Rantaka.
"Belum jadi," jawab Banyu.
"Untuk apa?"
"Entahlah. Mungkin alat untuk mengangkat air. Mungkin alat untuk membantu kolam ikan. Mungkin juga tidak berguna."
"Kenapa kau bawa ke sini?"
Banyu menatap alat itu. "Supaya aku ingat kalau aku juga harus terus belajar. Kau pergi sekolah ke kota. Liris menulis puisi. Jagra mengurus ikan. Aku tidak mau hanya menjadi orang yang suka membongkar barang, tetapi tidak pernah menyelesaikan apa-apa."
Jagra menepuk bahu Banyu. "Alatmu akan jadi."
"Kalau gagal?"
"Buat lagi."
Jawaban Jagra sederhana. Namun, Banyu mengangguk seperti baru menerima sesuatu yang penting.
Liris membuka buku hijaunya. Ia membalik beberapa halaman, lalu membaca puisi yang baru ia tulis.
Di ujung jalan, lampu kota menyala,
seperti bintang yang turun ke tanah.
Namun di antara cahaya yang ramai,
ada hati yang membawa rumahnya sendiri.
Tidak ada yang langsung berbicara setelah Liris selesai membaca. Rantaka memandangi tanah. Ia tahu puisi itu tentang dirinya. Tentang perjalanan yang akan dimulainya. Tentang kota yang selama ini hanya terlihat sebagai cahaya kecil dari kejauhan.
"Kau takut?" tanya Liris pelan.
Rantaka menarik napas. "Takut."
Banyu dan Jagra menoleh kepadanya.
"Takut tidak bisa mengikuti pelajaran," lanjut Rantaka. "Takut tidak punya teman. Takut uang beasiswa tidak cukup. Takut orang-orang di kota melihatku hanya sebagai anak desa."
"Kau memang anak desa," kata Jagra.
Rantaka memandangnya.
"Tapi itu bukan sesuatu yang harus membuatmu malu," lanjut Jagra. "Kau pergi karena kau belajar. Bukan karena kau ingin menjadi orang lain."
Banyu mengangguk. "Kalau ada yang mengejekmu, ingat saja. Mereka mungkin punya jalan aspal, tapi belum tentu punya pohon beringin seperti kita."
Liris tersenyum. "Kau selalu punya cara aneh untuk memberi semangat."
"Yang penting benar," jawab Banyu.
Mereka tertawa kecil. Tawa itu singkat. Namun, cukup untuk mengurangi rasa berat yang sejak tadi memenuhi malam.
Rantaka kemudian mengeluarkan surat beasiswanya dari dalam tas. Kertas itu sudah sedikit kusut karena terlalu sering dibuka dan dilipat kembali. "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di kota," katanya. "Tapi aku ingin pulang suatu hari nanti dengan membawa sesuatu yang berguna."
"Apa?" tanya Liris.
"Ilmu," jawab Rantaka. "Mungkin juga cara agar anak-anak desa tidak perlu takut berhenti sekolah hanya karena tidak punya uang."
Jagra memandang ke arah sungai. "Kalau aku tetap di desa, apakah aku juga bisa berguna?"
"Tentu," kata Rantaka cepat.
"Tapi kalian akan pergi lebih jauh."
"Jauh bukan berarti lebih tinggi," kata Liris. "Kadang orang yang tetap tinggal justru menjadi alasan orang lain bisa pulang."
Jagra terdiam. Ia tidak menjawab. Namun, kata-kata Liris tinggal cukup lama dalam pikirannya.
Malam semakin larut. Di kejauhan, lampu-lampu rumah warga mulai satu per satu padam. Hanya beberapa cahaya kecil yang masih terlihat dari arah jalan menuju kecamatan.
Rantaka berdiri. "Aku harus pulang. Ibu pasti masih menyiapkan barang-barang."
Liris ikut berdiri. Banyu mengangkat sepedanya. Jagra merapikan bungkusan bekal yang sudah dimasukkan Rantaka ke dalam tas.
Sebelum mereka berpisah, Rantaka mengulurkan tangannya ke tengah. Gerakan itu mengingatkan mereka pada janji lama yang pernah dibuat ketika masih kecil.
"Untuk Langit Biru," katanya.
Liris meletakkan tangannya di atas tangan Rantaka. Banyu menyusul. Jagra menjadi yang terakhir.
"Untuk Langit Biru," ucap mereka bersama.
Namun, kali ini janji itu memiliki arti yang berbeda. Dulu, Langit Biru adalah nama kelompok belajar anak-anak desa. Sekarang, Langit Biru adalah ikatan yang akan diuji oleh jarak. Oleh kota. Oleh kesibukan. Oleh kesalahpahaman. Oleh mimpi-mimpi yang tidak lagi sama.
Rantaka berjalan pulang dengan tas cokelat di pundaknya. Di belakangnya, pohon beringin tua tetap berdiri. Di atasnya, langit malam terbentang luas. Jauh di ujung jalan, ke arah kota kecil yang belum pernah ia kenal, cahaya lampu terlihat berkelip seperti bintang-bintang yang jatuh ke bumi.
Rantaka memandang cahaya itu untuk terakhir kalinya sebelum berbelok menuju rumah. Ia belum tahu bahwa kota akan mengajarinya banyak hal. Tentang kesepian. Tentang harga diri. Tentang perjuangan yang tidak selalu terlihat. Tentang perasaan yang tumbuh diam-diam di antara surat-surat yang terlambat sampai. Dan tentang kenyataan bahwa mimpi anak desa tidak hanya diuji oleh jalan yang jauh, tetapi juga oleh keberanian untuk tetap pulang.
Malam itu, di bawah langit Desa Wanasari, perjalanan baru mereka dimulai.
BUKU I
LANGIT BIRU ANAK DESA
Bab 1-Jalan Tanah Menuju Pagi
Suara sabit yang menggesek rumput basah terdengar pelan di antara embun pagi. Di belakang rumah-rumah kayu Desa Wanasari, hamparan tanah lapang mulai disinari cahaya matahari yang masih malu-malu muncul dari balik perbukitan.
Rantaka Wening berjalan di belakang ayahnya sambil membawa karung goni kecil. Sandal jepit lusuh yang dipakainya beberapa kali tenggelam ke dalam tanah lembek. Ujung celana pendeknya telah basah terkena rumput dan lumpur, tetapi ia tidak mengeluh. Sejak kecil, ia sudah terbiasa bangun sebelum matahari terbit.
Di tangan kanannya, ia menggenggam tali kambing. Dua ekor kambing milik keluarga mereka berjalan perlahan sambil sesekali berhenti untuk memakan rumput di pinggir jalan.
“Jangan terlalu dekat ke parit, Taka,” kata Darma Wening tanpa menoleh. “Tanahnya masih licin.”
“Iya, Yah,” jawab Rantaka.
Ia mempercepat langkah. Di depan sana, ayahnya sudah mulai memotong rumput dengan sabit tua yang gagangnya dibalut kain. Gerakan Darma tampak teratur, seolah tangan kasarnya telah hafal betul mana rumput yang layak dibawa pulang dan mana yang harus dibiarkan tumbuh.
Rantaka meletakkan karung goni di tanah. Ia lalu ikut mencabut rumput dengan kedua tangan. Embun menempel di telapak tangannya, dingin dan segar. Sesekali ia menoleh ke arah jalan desa yang masih sepi.
Jalan itu adalah jalan yang sama yang akan ia lewati menuju sekolah.
Jalan tanah berwarna cokelat, penuh batu kecil, bekas roda sepeda, dan kubangan air jika hujan turun semalam. Bagi sebagian orang, jalan itu hanya penghubung antara rumah, sawah, kebun, dan pasar kecil di ujung desa. Namun bagi Rantaka, jalan itu adalah jalur menuju sesuatu yang lebih besar.
Setiap kali berjalan ke sekolah, ia selalu membayangkan dirinya mengenakan pakaian rapi, membawa buku-buku baru, dan berdiri di depan kelas. Dalam bayangannya, ia memegang kapur putih dan menulis huruf-huruf besar di papan tulis. Anak-anak duduk di hadapannya dengan mata berbinar, menunggu cerita tentang dunia yang belum pernah mereka lihat.
“Taka.”
Panggilan ayahnya membuyarkan lamunan itu.
“Rumputnya jangan dicabut sampai akar. Nanti tidak tumbuh lagi.”
Rantaka mengangguk cepat. “Maaf, Yah. Aku lupa.”
Darma berhenti memotong rumput. Ia memandang anaknya yang sedang menunduk dengan wajah sedikit malu.
“Kau sedang memikirkan sekolah?” tanya Darma.
Rantaka terdiam beberapa saat. Ia tidak tahu mengapa ayahnya selalu dapat menebak isi kepalanya.
“Iya,” jawabnya akhirnya. “Aku tadi membayangkan kalau suatu hari aku bisa jadi guru.”
Darma menaruh sabitnya di atas rumput. Wajahnya yang lelah tampak lebih tenang ketika mendengar jawaban itu.
“Jadi guru itu pekerjaan baik,” katanya. “Guru mengajarkan orang untuk membaca, menghitung, dan memahami hidup.”
“Aku ingin mengajar di desa ini,” kata Rantaka. “Supaya anak-anak tidak perlu takut sekolah.”
Darma tersenyum kecil. “Kalau begitu, kau harus lebih rajin dari sekarang.”
Rantaka mengangguk. Namun, di dalam hati, ia tahu bahwa rajin saja kadang belum cukup. Buku pelajarannya sudah banyak yang lusuh. Sepatunya mulai sempit dan bagian depannya menganga. Seragam putihnya tidak lagi benar-benar putih meski ibunya selalu mencucinya dengan sabun seadanya.
Tetapi Rantaka tidak pernah mengucapkan keluhannya. Ia tahu ibunya telah bekerja keras sejak subuh. Ia tahu ayahnya pulang dari ladang dengan punggung membungkuk dan tangan penuh tanah. Ia tidak ingin menambah beban mereka.
Setelah karung goni hampir penuh, Darma mengikat mulutnya dengan tali. Ia mengangkat karung itu ke pundak, sementara Rantaka membawa tali kambing dan sabit kecil.
“Pulang dulu,” kata Darma. “Kau harus mandi dan bersiap ke sekolah.”
Mereka berjalan kembali melewati jalan setapak di antara sawah. Matahari kini mulai naik. Cahaya kuning keemasan memantul di genangan air, membuat pematang sawah tampak seperti garis-garis panjang yang membelah bumi.
Di kejauhan, terdengar suara ibu-ibu memanggil anak-anaknya. Ada yang menyuruh mandi, ada yang mengingatkan agar segera memakai seragam, dan ada pula yang meminta anaknya membantu mengangkat kayu bakar sebelum berangkat sekolah.
Desa Wanasari mulai hidup.
Ketika sampai di halaman rumah, Rukmini sudah berdiri di depan dapur. Tangannya memegang serbet, sementara di belakangnya tampak kukusan besar yang mengeluarkan uap putih. Aroma kue kukus dan kelapa parut menyambut Rantaka begitu ia memasuki halaman.
“Kalian sudah pulang?” tanya Rukmini.
“Sudah, Bu,” jawab Rantaka sambil menuntun kambing ke kandang kecil di samping rumah.
“Cepat mandi. Nanti terlambat.”
Rantaka mengangguk. Sebelum masuk ke rumah, ia membantu ayahnya menaruh rumput ke dalam kandang. Kambing-kambing itu segera mendekat dan mulai mengunyah dengan lahap.
Darma memandang anaknya dengan bangga. “Setelah pulang sekolah, jangan lupa bantu Ibu mengantar kue.”
“Iya, Yah.”
Rantaka masuk ke rumah dan mengambil ember kecil. Ia mandi di sumur belakang rumah dengan air yang dinginnya menggigit kulit. Setelah itu, ia mengenakan seragam putih merah yang telah disetrika ibunya semalam. Bagian kerahnya mulai tipis, tetapi masih bersih. Ia mengenakan sepatu hitam tua yang solnya mulai terbuka sedikit di bagian depan.
Di meja kayu dekat jendela, terdapat sebuah tas lusuh berwarna cokelat. Tas itu pernah menjadi milik pamannya, lalu diberikan kepada Rantaka ketika ia masuk sekolah dasar. Di dalamnya ada dua buku tulis, pensil pendek, penghapus yang tinggal separuh, dan buku kecil peninggalan kakeknya.
Rantaka memasukkan buku kecil itu ke dalam tas. Ia tidak selalu membawanya ke sekolah, tetapi pagi itu ia merasa ingin menyimpannya dekat-dekat.
Di dapur, Rukmini telah menyiapkan nasi hangat, sambal terasi, dan telur dadar tipis yang dibagi menjadi beberapa potong kecil.
“Makan dulu,” kata Rukmini.
Rantaka duduk di tikar bersama ayah dan ibunya. Mereka makan dalam keheningan yang akrab. Tidak banyak lauk di atas meja, tetapi Rantaka selalu merasa makanan di rumahnya lebih nikmat daripada apa pun yang pernah ia bayangkan.
Ketika ia hampir selesai makan, Rukmini menatap sepatunya.
“Sepatumu makin rusak, ya?” katanya pelan.
Rantaka menunduk. “Masih bisa dipakai, Bu.”
“Nanti kalau jualan Ibu ramai, kita beli lem.”
“Tidak usah, Bu. Aku bisa menjahitnya pakai benang.”
Rukmini tersenyum tipis, tetapi matanya menyimpan sesuatu yang membuat Rantaka tidak berani menatap terlalu lama. Ia tahu ibunya ingin membelikan sepatu baru, tetapi ia juga tahu uang hasil berjualan kue lebih banyak digunakan untuk membeli beras, minyak goreng, dan keperluan rumah.
Darma meneguk air putih dari gelasnya. “Sekolah yang benar, Taka. Jangan sia-siakan kesempatan.”
Rantaka mengangguk. “Aku akan belajar sungguh-sungguh, Yah.”
Setelah berpamitan, ia menyampirkan tas lusuh di punggungnya. Ia keluar dari rumah dan mulai berjalan menuju sekolah.
Jalan tanah di depan rumah masih basah. Beberapa anak kecil berlari sambil membawa sandal di tangan agar tidak kotor terkena lumpur. Seorang ibu menyapu halaman, sementara seorang kakek duduk di beranda sambil mengisap rokok linting.
Rantaka berjalan perlahan, tetapi pikirannya sudah lebih dulu sampai di sekolah.
Di ujung jalan, ia melihat bangunan tua SD Wanasari berdiri di dekat kebun singkong. Atapnya tampak miring dari kejauhan. Dindingnya kusam. Halamannya dipenuhi rumput liar yang belum sempat dibersihkan.
Namun, bagi Rantaka, bangunan itu bukan sekadar sekolah tua.
Di sanalah ia belajar mengeja kata pertama. Di sanalah ia mengenal angka, peta, cerita para pahlawan, dan dunia yang lebih luas daripada sawah serta kebun di desanya. Di sanalah ia menyimpan mimpi untuk menjadi seorang guru.
Rantaka berhenti sejenak di pinggir jalan. Ia memandang langit yang kini benar-benar biru.
Lalu ia melanjutkan langkahnya.
Jalan tanah itu mungkin berlumpur, sempit, dan penuh batu. Tetapi pagi itu, bagi Rantaka Wening, jalan tersebut terasa seperti jalan pertama menuju masa depan.
Bab 2 — Rumah yang Selalu Berasap
Rumah Rantaka Wening berdiri di ujung Desa Wanasari, sedikit menjauh dari deretan rumah warga yang lebih dekat dengan jalan utama. Bangunannya tidak besar. Dindingnya terbuat dari papan kayu yang telah berubah warna karena hujan dan panas bertahun-tahun. Di beberapa bagian, papan-papan itu tidak lagi rapat. Ketika angin malam datang dari arah sawah, udara dingin dapat masuk melalui celah-celah kecil dan membuat lampu minyak di ruang depan bergoyang pelan.
Atap rumah itu terbuat dari seng tua. Jika hujan turun biasa, air hanya menetes di satu atau dua tempat. Namun, bila hujan turun dengan angin yang kuat, Rukmini harus memindahkan tikar dan meletakkan ember di bawah titik-titik bocor. Darma pernah beberapa kali mencoba memperbaikinya dengan lembaran seng bekas, tetapi ia selalu berkata bahwa atap itu masih dapat bertahan satu musim lagi.
Di halaman depan, tumbuh dua batang pisang, satu pohon pepaya, dan beberapa tanaman cabai yang ditanam Rukmini dalam kaleng bekas minyak goreng. Di sisi rumah terdapat kandang kecil untuk dua ekor kambing. Kandang itu dibuat dari bambu dan kayu sisa pekerjaan Darma. Di belakang rumah, sebuah sumur tua berdiri di bawah pohon jambu. Sumur itulah yang menjadi sumber air untuk mandi, mencuci, memasak, dan memberi minum ternak.
Rumah itu sederhana, tetapi tidak pernah benar-benar sepi.
Sejak sebelum matahari terbit, suara kehidupan sudah bergerak dari dalamnya. Ada bunyi kayu dibelah, bunyi air ditimba dari sumur, bunyi kambing mengembik dari kandang, dan suara peralatan dapur yang saling beradu. Namun, suara yang paling akrab bagi Rantaka adalah bunyi kayu bakar yang mulai menyala di tungku.
Setiap pagi, dapur rumah mereka selalu dipenuhi asap.
Asap itu keluar dari tungku tanah liat yang diletakkan di sudut dapur. Mula-mula ia hanya tipis, seperti kabut kecil yang berputar di bawah atap. Lalu, ketika kayu mulai terbakar lebih kuat, asap itu menebal dan keluar melalui celah-celah dinding serta lubang kecil di atas dapur. Dari kejauhan, orang yang melewati jalan setapak dapat melihat kepulan kelabu itu dan mengetahui bahwa Rukmini sudah mulai bekerja.
Pagi itu, setelah Rantaka membantu ayahnya mencari rumput, ia kembali ke rumah dengan kaki basah oleh embun. Ia menaruh karung kecil di dekat kandang, lalu berjalan menuju dapur.
“Bu, aku sudah pulang,” katanya.
“Cuci tangan dulu,” jawab Rukmini dari balik asap. “Jangan masuk dapur dengan tangan penuh tanah.”
Rantaka tersenyum kecil. Ia berjalan ke tempayan di belakang rumah, membasuh tangan dan wajahnya, lalu kembali ke dapur. Di sana, ibunya sedang duduk di atas bangku rendah sambil mengaduk adonan dalam baskom besar. Rambut Rukmini disanggul sederhana. Wajahnya berkeringat karena panas tungku. Di dekatnya, beberapa daun pisang telah dipotong dan dibersihkan.
“Apa yang Ibu buat?” tanya Rantaka.
“Nagasari. Pak Sastro pesan dua puluh bungkus.”
“Banyak.”
“Kalau habis terjual, lumayan untuk belanja dapur.”
Rantaka duduk di dekat pintu dapur. Ia memandangi tangan ibunya yang bergerak cepat. Rukmini mengambil selembar daun pisang, meletakkan adonan dan pisang di tengahnya, lalu melipatnya dengan rapi. Gerakannya begitu teratur, seolah setiap lipatan telah dihafalnya sejak lama.
“Boleh aku membantu?” tanya Rantaka.
Rukmini menoleh dan tersenyum. “Boleh. Ambilkan daun pisang yang di atas meja.”
Rantaka segera melakukannya. Ia menyerahkan daun-daun pisang itu satu per satu. Sesekali ia mencoba meniru cara ibunya membungkus kue, tetapi hasilnya selalu kurang rapi. Ada yang terlalu longgar, ada yang terlipat miring, dan ada yang hampir terbuka ketika diangkat.
Rukmini tidak tertawa. Ia hanya membetulkan lipatan itu dengan sabar.
“Kalau membungkus, tanganmu jangan terburu-buru,” katanya. “Daunnya harus dilipat seperti ini. Pelan, tetapi kuat.”
Rantaka mencoba lagi. Kali ini, lipatannya lebih baik.
“Nah,” kata Rukmini, “yang itu sudah bagus.”
Pujian sederhana itu membuat Rantaka merasa seolah baru saja berhasil menyelesaikan sesuatu yang besar.
Di ruang depan, Darma Wening sedang duduk di atas bangku bambu. Ia membersihkan sabit dengan kain tua. Kakinya masih tampak kotor oleh tanah ladang. Di sampingnya terdapat tali, cangkul kecil, dan topi anyaman yang biasa dipakainya saat bekerja.
Darma bukan pemilik sawah. Ia bekerja dari satu ladang ke ladang lain, bergantung pada siapa yang membutuhkan tenaganya. Saat musim tanam, ia mencangkul tanah dan menanam padi. Saat musim panen, ia membantu memotong padi, mengikat gabah, atau mengangkut karung. Ketika tidak ada pekerjaan di sawah, ia membersihkan kebun, memperbaiki pagar, atau membantu warga membawa kayu dari pinggir hutan.
Tidak semua hari menghasilkan uang.
Kadang Darma pulang membawa upah yang cukup untuk membeli beras. Kadang ia hanya membawa singkong, sayur, atau beberapa butir telur dari pemilik kebun. Namun, Rantaka tidak pernah mendengar ayahnya mengeluh. Lelaki itu selalu berkata bahwa selama tangan masih kuat bekerja, rumah mereka akan tetap memiliki makanan.
“Yah,” panggil Rantaka dari dapur.
Darma mengangkat wajahnya. “Iya?”
“Besok Bapak kerja di mana?”
“Di kebun Pak Karta, kalau jadi. Ada singkong yang harus dibersihkan.”
“Jauh?”
“Tidak terlalu. Lewat jalan sungai.”
Rantaka mengangguk. Ia ingin bertanya apakah ayahnya akan lelah, tetapi pertanyaan itu tertahan di tenggorokannya. Ia tahu Darma pasti lelah. Namun, ayahnya tetap akan pergi, seperti hari-hari sebelumnya.
Darma melihat Rantaka yang terdiam.
“Kau tidak perlu memikirkan pekerjaan Bapak,” katanya lembut. “Kau cukup memikirkan tugasmu.”
“Tugasku belajar?” tanya Rantaka.
Darma mengangguk. “Belajar yang baik. Itu juga pekerjaan.”
Jawaban itu membuat Rantaka menatap ayahnya lebih lama.
Selama ini, ia selalu menganggap belajar sebagai sesuatu yang biasa. Ia pergi membawa tas, duduk di kelas, membuka buku, lalu pulang. Tetapi dari cara ayahnya berbicara, ia mulai memahami bahwa belajar bukan hanya kegiatan untuk mengisi waktu. Belajar adalah pekerjaan yang dipercayakan kepadanya oleh kedua orang tuanya.
Rukmini menaruh beberapa bungkus nagasari ke dalam tampah.
“Nanti kalau pulang,” katanya kepada Rantaka, “tolong bantu Ibu mengantar beberapa pesanan.”
“Aku bisa, Bu.”
“Jangan lupa istirahat juga.”
“Aku tidak apa-apa.”
Rukmini menghela napas pelan. “Ibu tahu kau ingin membantu. Tetapi jangan sampai kau meninggalkan buku-bukumu.”
Rantaka mengangguk.
Ia tidak pernah merasa keberatan membantu ibunya. Justru ketika melihat Rukmini bekerja sejak subuh, ia sering merasa bahwa dirinya belum cukup banyak melakukan sesuatu. Namun, ia juga tahu bahwa ibunya selalu ingin ia memiliki kesempatan yang tidak dimiliki banyak orang di desa.
Menjelang sore, rumah itu kembali sibuk.
Rukmini menata kue-kue ke dalam keranjang rotan. Darma memberi makan kambing dan memperbaiki bagian kandang yang mulai longgar. Rantaka menyapu halaman, mengambil air dari sumur, lalu membantu ibunya membawa daun pisang yang tersisa ke dapur.
Saat matahari mulai condong, ia duduk di teras rumah sambil memeriksa tas sekolahnya. Tali salah satu sisi tas itu mulai robek. Ia mengambil jarum dan benang dari kotak jahit kecil milik ibunya, lalu mencoba menjahitnya sendiri.
Beberapa kali jarum menusuk ujung jarinya.
“Pelan-pelan,” kata Rukmini yang keluar membawa segelas air putih. “Kalau terlalu dipaksa, malah putus.”
Rantaka mengangguk sambil meniup jarinya yang sedikit merah.
“Masih bisa dipakai,” katanya. “Tas ini belum rusak benar.”
Rukmini duduk di sampingnya. “Kau ingin tas baru?”
Rantaka menggeleng. “Tidak perlu. Yang penting masih bisa membawa buku.”
Wajah Rukmini tampak tenang, tetapi matanya menyimpan kesedihan yang tidak diucapkannya. Ia tahu anaknya tidak meminta banyak karena memahami keadaan rumah mereka.
“Kalau ada rezeki lebih,” kata Rukmini, “Ibu belikan.”
“Nanti saja, Bu.”
Dari dalam rumah, Darma memanggil istrinya. Ia sedang menghitung uang hasil kerja beberapa hari terakhir. Lembaran uang itu tidak banyak. Ia membaginya perlahan: untuk beras, minyak goreng, keperluan kambing, dan sedikit simpanan di dalam kaleng tua.
Rantaka melihat semua itu dari teras.
Ia tidak tahu berapa jumlah uang yang tersisa. Ia tidak perlu tahu. Dari cara ayahnya menghitung dengan hati-hati, dari cara ibunya menahan keinginan membeli banyak kebutuhan, dan dari cara rumah itu selalu berasap setiap pagi, ia mulai memahami bahwa hidup mereka berjalan dengan perjuangan kecil yang dilakukan berulang-ulang.
Malam datang tanpa banyak suara.
Rukmini kembali menyalakan tungku untuk menghangatkan makanan. Asap tipis naik ke atas, memenuhi dapur, lalu keluar melalui celah dinding. Darma duduk di dekat pintu, sementara Rantaka menyiapkan buku-bukunya untuk esok hari.
Ia memandangi tas yang baru saja dijahitnya.
Tas itu lusuh. Seragamnya tidak lagi seputih dulu. Sepatunya mulai sempit. Namun, semua itu masih dapat dipakai untuk berjalan menuju sekolah.
Rantaka menatap asap yang mengepul dari dapur.
Baginya, asap itu bukan sekadar tanda kayu yang terbakar. Asap itu adalah tanda bahwa ibunya masih memasak, ayahnya masih bekerja, dan rumah mereka masih bertahan.
Di dalam rumah sederhana yang selalu berasap itu, Rantaka menyimpan satu keyakinan kecil: selama ia masih dapat membawa buku dan melangkah keluar rumah setiap pagi, ia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan untuk belajar.
Bab 3 — Sekolah di Ujung Kebun Singkong
Pagi berikutnya, setelah membantu ibunya menata beberapa bungkus kue ke dalam keranjang dan memastikan kambing-kambing di samping rumah sudah diberi makan, Rantaka Wening mengenakan seragam putih merahnya. Seragam itu telah disetrika Rukmini dengan setrika arang semalam. Meski bagian kerahnya mulai menipis dan warna putihnya tidak lagi secerah milik anak-anak dari rumah yang lebih berada, Rantaka tetap merapikannya dengan hati-hati.
Ia memasukkan dua buku tulis, pensil pendek, penghapus kecil, dan penggaris plastik yang salah satu ujungnya patah ke dalam tas lusuhnya. Setelah itu, ia menyampirkan tas tersebut ke punggung.
“Berangkat, Bu,” katanya dari ambang pintu.
Rukmini yang sedang menyiapkan keranjang kue menoleh. “Jalannya hati-hati. Kalau hujan turun, jangan lewat pinggir parit.”
“Iya, Bu.”
Darma sedang mengikat tali di kandang kambing. Ia menatap anaknya dan mengangguk pelan.
“Belajar yang sungguh-sungguh,” katanya.
Rantaka menjawab dengan anggukan yang lebih mantap. Lalu ia melangkah keluar dari halaman rumah.
Jalan menuju SD Wanasari tidak panjang, tetapi cukup melelahkan ketika musim hujan datang. Jalan itu melewati pematang sawah, sebuah jembatan bambu kecil, lalu kebun singkong yang tumbuh rapat di sisi timur desa. Tanahnya merah kecokelatan dan mudah berubah menjadi lumpur. Jika matahari terlalu terik, debu akan menempel di kaki dan celana. Jika hujan turun, jalan itu menjadi licin dan membuat anak-anak harus berjalan perlahan agar tidak tergelincir.
Rantaka telah melewati jalan itu hampir setiap hari sejak pertama kali masuk sekolah.
Di tengah perjalanan, ia bertemu beberapa anak dari dusun lain. Ada yang membawa buku dalam tas baru, ada yang hanya membungkus bukunya dengan plastik agar tidak basah, dan ada pula yang berjalan sambil menggandeng adik kecilnya. Mereka saling menyapa, lalu kembali melanjutkan perjalanan dengan langkah masing-masing.
Dari kejauhan, bangunan SD Wanasari mulai terlihat.
Sekolah itu berdiri di tanah lapang yang berbatasan langsung dengan kebun singkong. Bangunannya memanjang, terdiri atas beberapa ruang kelas yang berdinding papan. Cat dindingnya sudah kusam. Di beberapa bagian, warna biru pucat yang dahulu menghiasi papan-papan kayu telah mengelupas dan menyisakan warna kayu tua.
Atap sengnya tampak miring di bagian belakang. Ketika hujan turun, air sering merembes dari celah-celahnya. Di dalam beberapa ruang kelas, ember dan kaleng bekas selalu disimpan untuk menampung tetesan air. Jendela-jendela kayunya tidak semua memiliki kaca. Sebagian hanya menyisakan bingkai kosong, sehingga angin dari kebun singkong dapat masuk dengan bebas.
Namun, setiap pagi, sekolah itu tetap dipenuhi suara anak-anak.
Ada yang berlari di halaman, ada yang menyapu lantai kelas, ada yang berdiri di dekat tiang bendera sambil berbincang, dan ada pula yang duduk di bawah pohon ketapang sambil membuka buku. Suara mereka membuat bangunan tua itu terasa lebih hidup daripada yang terlihat dari kejauhan.
Rantaka masuk melalui gerbang bambu yang salah satu sisinya sudah longgar. Di halaman, rumput tumbuh tidak rata. Sebagian tanah tampak keras dan retak karena panas, sementara di bagian lain masih ada genangan kecil sisa hujan semalam.
Ia berjalan menuju kelas enam yang berada di ujung bangunan.
Di depan pintu kelas, sebuah papan kayu tergantung miring. Tulisan di atasnya sudah pudar, tetapi masih dapat dibaca: KELAS VI.
Rantaka masuk dan meletakkan tasnya di atas meja. Meja itu penuh goresan dan tulisan lama. Salah satu kakinya lebih pendek daripada yang lain, sehingga harus disangga dengan potongan kayu kecil agar tidak bergoyang.
Ruang kelas itu tidak luas. Dindingnya dari papan, lantainya dari semen kasar, dan papan tulis di depan kelas telah kusam oleh bekas kapur yang sulit hilang. Di sudut ruangan terdapat lemari kayu tua yang pintunya sulit ditutup. Sebuah peta Indonesia tergantung di dinding, warnanya mulai pudar dan bagian ujung bawahnya sedikit sobek.
Rantaka memandangi peta itu beberapa saat.
Ia belum pernah pergi jauh dari Desa Wanasari. Namun, melalui peta itu, ia tahu bahwa ada banyak pulau, kota, laut, dan tempat-tempat yang belum pernah ia lihat. Peta itu membuat dunia terasa sangat luas, tetapi sekaligus membuatnya ingin terus belajar.
Bel masuk belum berbunyi. Beberapa murid mulai berdatangan. Ada yang membawa bekal, ada yang membawa buku dengan sampul plastik, dan ada yang datang dengan seragam yang sudah kusut. Mereka mengisi ruang kelas dengan suara obrolan dan tawa kecil.
Tidak lama kemudian, seorang perempuan datang dari arah kantor sekolah sambil membawa beberapa buku di dadanya.
Ia mengenakan kebaya sederhana berwarna cokelat muda dan rok panjang hitam. Rambutnya disanggul rapi. Wajahnya tampak tenang, tetapi ada kelelahan yang tidak dapat sepenuhnya disembunyikan dari sorot matanya.
Perempuan itu adalah Bu Laras.
Bu Laras telah mengajar di SD Wanasari selama bertahun-tahun. Ia bukan hanya guru kelas enam, tetapi sering pula membantu kelas lain ketika guru yang lain berhalangan hadir. Ia mengajar membaca, menulis, berhitung, ilmu pengetahuan, dan kadang-kadang mengajarkan anak-anak cara merawat tanaman di halaman sekolah.
Bagi sebagian murid, Bu Laras dikenal tegas. Ia tidak suka melihat anak-anak datang terlambat tanpa alasan. Ia juga tidak membiarkan murid-murid menertawakan teman yang belum bisa membaca atau berhitung. Namun, di balik ketegasannya, ia selalu berbicara dengan suara yang lembut dan tidak pernah mempermalukan siapa pun.
“Selamat pagi, Anak-anak,” ucapnya ketika memasuki kelas.
“Selamat pagi, Bu Laras,” jawab murid-murid serempak.
Bu Laras meletakkan buku-bukunya di meja. Ia memandang satu per satu wajah muridnya. Pandangannya berhenti sebentar pada jendela yang kosong tanpa kaca. Angin pagi masuk dan membuat beberapa lembar kertas di meja depan bergerak.
“Siapa yang tadi pagi menyapu kelas?” tanyanya.
Dua anak di bangku depan mengangkat tangan.
“Terima kasih. Kelas yang bersih membuat kita lebih nyaman belajar.”
Bu Laras mengambil kapur dan menulis di papan tulis. Huruf-huruf putih itu tampak jelas di atas papan yang sudah tua.
Pelajaran Hari Ini: Mengenal Negeri Kita
Rantaka membuka buku tulisnya. Ia memperhatikan tulisan Bu Laras dengan sungguh-sungguh.
“Anak-anak,” kata Bu Laras, “kita tinggal di sebuah desa yang kecil. Tetapi desa kecil bukan berarti dunia kita juga kecil.”
Suasana kelas perlahan menjadi hening.
Bu Laras berjalan ke arah peta Indonesia yang tergantung di dinding. Ia memegang salah satu ujung peta yang sobek, lalu menunjuk pulau-pulau besar dengan penggaris kayu.
“Negeri kita luas. Ada banyak tempat yang dapat kalian kenal melalui buku, pelajaran, dan cerita. Kalian mungkin belum pernah melihatnya langsung. Tetapi belajar akan membuat kalian mengerti bahwa dunia tidak berhenti di ujung jalan desa.”
Rantaka menatap peta itu tanpa berkedip.
Kata-kata Bu Laras seperti membuka jendela yang selama ini tidak ia sadari ada di dalam dirinya. Ia membayangkan laut yang sangat luas, kota-kota yang ramai, dan sekolah-sekolah besar yang memiliki banyak buku. Namun, ia tidak merasa ingin meninggalkan desa begitu saja.
Ia justru membayangkan suatu hari dapat kembali membawa pengetahuan untuk anak-anak di Wanasari.
“Siapa yang bisa menyebutkan alasan kita harus belajar?” tanya Bu Laras.
Beberapa murid saling memandang. Ada yang menunduk. Ada yang tersenyum malu-malu.
Rantaka mengangkat tangan.
“Supaya kita bisa tahu banyak hal, Bu,” jawabnya.
Bu Laras mengangguk. “Betul. Ada lagi?”
Rantaka berpikir sebentar. “Supaya kita bisa memilih jalan hidup kita sendiri.”
Kelas menjadi lebih hening.
Bu Laras memandang Rantaka dengan mata yang hangat. “Jawaban yang baik.”
Ia kembali ke depan kelas. “Belajar bukan hanya agar kalian bisa mendapat nilai. Belajar membuat kalian mampu memahami hidup, mengambil keputusan, dan membantu orang lain.”
Pelajaran berlangsung sampai matahari mulai tinggi. Sesekali angin dari kebun singkong masuk melalui jendela yang kosong. Daun-daun singkong bergoyang di luar, menimbulkan suara gesekan lembut. Dari atap, terdengar bunyi seng yang memuai terkena panas.
Di tengah pelajaran, sebuah tetesan air jatuh dari langit-langit tepat di dekat meja belakang. Bekas hujan semalam rupanya masih tertahan di celah atap. Seorang murid segera memindahkan kursinya sedikit ke samping.
Bu Laras melihatnya, lalu mengambil ember kecil dari sudut kelas dan meletakkannya di bawah titik bocor itu.
Tidak ada yang tertawa.
Semua murid sudah terbiasa.
Rantaka memandangi ember itu cukup lama. Ia merasa sedih melihat sekolah mereka harus menampung air hujan di dalam kelas. Namun, ketika melihat Bu Laras tetap melanjutkan pelajaran dengan tenang, ia kembali membuka bukunya.
Seolah-olah guru mereka ingin mengatakan bahwa bangunan yang tua tidak boleh membuat semangat belajar ikut runtuh.
Saat pelajaran berakhir, Bu Laras menutup bukunya.
“Besok,” katanya, “kalian membawa satu cerita dari rumah. Cerita tentang pekerjaan orang tua, keadaan kampung, atau sesuatu yang kalian lihat dalam perjalanan menuju sekolah. Kita akan belajar menulis dari hal-hal yang dekat dengan hidup kita.”
Murid-murid mengangguk.
Rantaka segera teringat pada dapur rumahnya, asap dari tungku, tangan ibunya yang membungkus nagasari, dan ayahnya yang membersihkan sabit sebelum berangkat bekerja. Ia belum tahu bagaimana menuliskan semua itu. Namun, untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa kehidupan sederhana di rumahnya juga dapat menjadi sebuah cerita.
Bel pulang berbunyi.
Anak-anak keluar dari kelas dengan langkah cepat. Ada yang langsung berlari menuju jalan desa, ada yang berhenti di halaman, dan ada yang membantu membereskan kursi. Rantaka masih duduk sebentar di bangkunya.
Ia memandang papan tulis, peta Indonesia, jendela tanpa kaca, serta ember kecil di bawah atap yang bocor.
SD Wanasari memang tua.
Namun, di tempat itulah Rantaka mulai mengerti bahwa sekolah bukan hanya bangunan. Sekolah adalah tempat seseorang belajar melihat dunia lebih luas daripada batas kampungnya sendiri.
Ia mengambil tasnya, lalu melangkah keluar kelas.
Di luar, kebun singkong bergoyang pelan diterpa angin.
Dan di antara bangunan tua, tanah lapang, serta jalan desa yang sederhana, sebuah keyakinan mulai tumbuh di hati Rantaka: masa depan mungkin belum terlihat, tetapi ia dapat dimulai dari ruang kelas kecil di ujung kebun
singkong.
Bab 4 — Sahabat dari Empat Arah Angin
Keesokan harinya, Rantaka datang lebih pagi ke SD Wanasari. Langit masih berwarna pucat ketika ia melewati jalan tanah di samping kebun singkong. Embun menggantung di ujung daun-daun, sementara suara burung kecil terdengar dari pepohonan di sekitar sekolah.
Halaman SD Wanasari masih sepi.
Hanya ada seorang anak perempuan yang duduk di bawah pohon ketapang dekat gerbang. Di pangkuannya terbuka sebuah buku tulis dengan sampul biru. Tangannya bergerak pelan, menulis sesuatu dengan pensil pendek. Rambutnya dikepang dua, dan ujung seragamnya tampak sedikit basah oleh embun.
Rantaka mengenalnya.
Namanya Liris.
Selama ini, Liris duduk dua bangku di depan Rantaka. Ia tidak banyak bicara di kelas, tetapi selalu menjadi orang pertama yang berani menjawab pertanyaan Bu Laras. Jika ada teman yang diejek, Liris sering kali menjadi orang yang paling cepat membela. Suaranya tidak keras, tetapi kata-katanya tegas.
Rantaka mendekat dengan langkah perlahan.
“Kau datang pagi sekali,” katanya.
Liris menutup buku tulisnya setengah. “Kau juga.”
“Aku ingin menyapu kelas sebelum teman-teman datang.”
“Aku ingin menulis sebelum halaman sekolah ramai.”
Rantaka melirik buku di pangkuannya. “Kau menulis apa?”
Liris tersenyum tipis. “Puisi.”
“Puisi?”
“Iya. Tentang embun.”
Rantaka mengangguk, meski sebenarnya ia tidak sepenuhnya mengerti bagaimana embun dapat menjadi puisi.
Liris membuka kembali bukunya. Ia membaca beberapa baris dengan suara pelan.
Embun jatuh di daun singkong,
membawa pagi ke halaman sekolah.
Kami datang dengan sepatu berlumpur,
tetapi membawa langit di dalam kepala.
Rantaka terdiam.
Ia belum pernah mendengar teman seusianya merangkai kata seperti itu. Baginya, embun hanya air kecil yang membuat sandal licin. Daun singkong hanya daun yang tumbuh di kebun dekat sekolah. Namun, melalui kata-kata Liris, semua itu terdengar berbeda.
“Bagus,” kata Rantaka.
Liris memandangnya, seolah tidak yakin. “Benarkah?”
“Benar. Aku jadi seperti melihat halaman sekolah dari tempat lain.”
Liris tersenyum. “Bu Laras bilang, kalau kita mau memperhatikan, hal kecil pun bisa menjadi cerita.”
Rantaka teringat tugas dari Bu Laras: membawa cerita dari rumah. Ia membuka tas dan mengeluarkan buku tulisnya.
“Aku menulis tentang dapur rumahku,” katanya. “Tentang asap dan kue buatan Ibu.”
“Boleh aku baca?”
Rantaka ragu sejenak. Tulisan tangannya tidak serapi milik Liris. Kalimatnya pun pendek-pendek. Namun, ia menyerahkan buku itu.
Liris membacanya perlahan. Setelah selesai, ia tidak langsung mengembalikan buku tersebut.
“Ini bagus,” katanya.
“Tidak seperti puisimu.”
“Cerita tidak harus seperti puisi. Ceritamu membuat aku bisa membayangkan dapur rumahmu.”
Rantaka menerima kembali bukunya. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa cerita tentang rumah sederhana mereka tidak perlu disembunyikan.
Tidak lama kemudian, suara roda berderit terdengar dari arah jalan. Seorang anak laki-laki mendorong sepeda tua yang rantainya terlepas. Di bagian belakang sepeda itu tergantung tas sekolah yang dibuat dari karung beras bekas. Anak itu bertubuh kurus, berambut sedikit panjang, dan wajahnya selalu tampak tenang.
Namanya Banyu.
Banyu jarang menjadi pusat perhatian. Ia lebih sering duduk di dekat jendela, memperhatikan benda-benda di sekitarnya. Jika pensil temannya patah, ia dapat membuatkan pegangan dari ranting kecil. Jika kursi kelas goyah, ia tahu cara menyelipkan potongan kayu agar tidak bergerak. Banyak anak menganggap Banyu aneh karena ia senang membawa kawat, baut, dan potongan bambu kecil di dalam tasnya.
Pagi itu, ia sedang membetulkan rantai sepedanya.
Rantaka dan Liris mendekat.
“Rusak lagi?” tanya Rantaka.
Banyu mengangguk tanpa menoleh. “Rantainya longgar.”
“Kau bisa memperbaikinya sendiri?” tanya Liris.
“Bisa. Tapi tanganku jadi hitam.”
Liris tertawa kecil. “Memang rantai sepeda bisa diperbaiki tanpa tangan hitam?”
Banyu tidak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis, lalu menarik rantai sepeda ke tempatnya. Setelah beberapa saat, ia memutar pedal perlahan. Rantai itu kembali bergerak.
“Nah,” katanya singkat.
Rantaka memperhatikan cara Banyu bekerja. “Kau belajar dari siapa?”
“Dari paman. Dulu dia punya sepeda tua. Kalau rusak, dia tidak pernah langsung membuangnya.”
“Kalau besar nanti, kau mau jadi apa?” tanya Liris.
Banyu memandang roda sepedanya. “Aku ingin membuat sesuatu yang berguna.”
“Seperti apa?”
“Entahlah. Mungkin alat untuk mengambil air. Mungkin alat untuk membantu orang di kebun. Mungkin apa saja yang tidak membuat orang bekerja terlalu berat.”
Rantaka dan Liris saling pandang. Jawaban Banyu terdengar sederhana, tetapi ada sesuatu yang kuat di dalamnya.
Sebelum mereka sempat berbicara lagi, suara langkah kaki berlari terdengar dari arah jalan. Seorang anak laki-laki datang dengan napas terengah-engah. Seragamnya tidak dimasukkan dengan rapi. Kancing bajunya tidak lengkap. Di pundaknya tergantung tas yang tampak berat, sementara di tangan kirinya ia membawa ember kecil.
Namanya Jagra.
Jagra dikenal sebagai anak yang sering terlambat. Ia juga sering membuat gaduh di kelas. Jika ada anak yang menyembunyikan kapur atau menggambar wajah guru di belakang buku, banyak orang langsung menuduh Jagra. Kadang tuduhan itu benar, tetapi kadang tidak.
Pagi itu, ia berhenti di dekat mereka sambil menaruh ember di tanah.
“Kalian sudah datang sejak kapan?” tanyanya.
“Sejak sebelum matahari naik,” jawab Liris.
Jagra menghela napas. “Aku dari sungai.”
“Untuk apa membawa ember ke sekolah?” tanya Rantaka.
Jagra menatap ember itu. Di dalamnya tidak ada ikan, hanya beberapa tetes air dan daun kecil yang menempel di dasar.
“Tadi bantu Bapak,” katanya pelan. “Jaringnya tersangkut di batu. Aku harus ikut menarik.”
Rantaka baru menyadari bahwa tangan Jagra berbau sungai dan sisik ikan. Kukunya dipenuhi lumpur. Wajahnya terlihat lelah, meski ia tetap berusaha tersenyum.
“Setiap pagi kau membantu ayahmu?” tanya Rantaka.
“Kalau tangkapan sedikit, iya. Bapak tidak bisa sendiri.”
Liris memandang Jagra dengan wajah yang lebih lembut dari biasanya. “Makanya kau sering terlambat?”
Jagra mengangkat bahu. “Mungkin.”
“Kenapa tidak bilang kepada Bu Laras?”
“Untuk apa? Nanti tetap saja aku dianggap anak yang tidak bisa bangun pagi.”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Rantaka teringat ayahnya yang bekerja dari ladang ke ladang. Liris mungkin juga memiliki cerita yang belum mereka ketahui. Banyu membawa sepeda tua dan potongan benda-benda rusak. Jagra datang dari sungai dengan tangan yang masih berbau ikan.
Mereka semua datang dari arah yang berbeda.
Rantaka dari ujung jalan tanah dekat sawah. Liris dari rumah kecil di belakang balai desa. Banyu dari dusun dekat kebun bambu. Jagra dari tepi sungai.
Namun, pagi itu, mereka berdiri di halaman sekolah yang sama.
Bel masuk berbunyi.
Mereka berjalan menuju kelas bersama-sama. Di dalam kelas, Bu Laras meminta setiap murid membacakan cerita yang telah dibawa dari rumah. Ada yang bercerita tentang membantu orang tua menanam padi. Ada yang menceritakan adik yang sakit. Ada yang hanya membaca dua kalimat dengan suara gemetar.
Ketika giliran Rantaka, ia berdiri dan membaca cerita tentang dapur rumahnya yang selalu berasap.
Ia menceritakan tungku tanah liat, daun pisang, nagasari buatan ibunya, serta ayahnya yang tetap bekerja meski tidak memiliki sawah sendiri. Suaranya pada awalnya pelan. Namun, ketika ia melihat Bu Laras mengangguk dan Liris tersenyum dari bangku depan, ia mulai membaca lebih jelas.
Setelah Rantaka selesai, Bu Laras berkata, “Cerita yang baik tidak selalu tentang tempat yang jauh. Cerita yang baik adalah cerita yang ditulis dengan jujur.”
Lalu Liris membacakan puisinya tentang embun dan halaman sekolah. Banyu bercerita tentang sepeda tua yang selalu ia perbaiki. Jagra, yang semula enggan maju, akhirnya berdiri dan menceritakan sungai tempat ayahnya mencari ikan.
Ketika Jagra selesai, kelas tidak tertawa.
Bu Laras hanya berkata, “Terima kasih karena sudah berbagi.”
Sepulang sekolah, Rantaka tidak langsung pulang. Ia duduk di bawah pohon beringin tua yang tumbuh di belakang bangunan sekolah. Pohon itu besar dan rindang. Akar-akarnya menjulur ke tanah seperti tangan-tangan tua yang memegang halaman sekolah.
Liris datang membawa buku tulisnya. Banyu membawa ranting dan sepotong kawat. Jagra datang terakhir, masih dengan ember kecil yang kini kosong.
“Kalian tidak pulang?” tanya Rantaka.
“Sebentar lagi,” jawab Liris.
Banyu duduk di dekat akar pohon. Ia mulai membentuk kawat menjadi lingkaran kecil.
Jagra menatap langit yang tampak biru di sela daun beringin. “Kalian percaya tidak,” katanya tiba-tiba, “kalau anak-anak seperti kita bisa punya cita-cita besar?”
Liris memandangnya. “Kenapa tidak?”
“Karena kita tinggal di desa kecil,” jawab Jagra. “Karena rumah kita bukan rumah besar. Karena orang-orang selalu bilang nanti kita juga akan bekerja seperti orang tua kita.”
Rantaka tidak langsung menjawab. Ia memikirkan rumahnya, dapur yang selalu berasap, tangan ayahnya yang kasar, dan tas sekolahnya yang telah dijahit berkali-kali.
“Aku ingin jadi guru,” katanya akhirnya. “Bukan karena aku tidak ingin membantu orang tua. Tapi aku ingin anak-anak di desa ini tetap bisa belajar.”
Liris tersenyum. “Aku ingin jadi penulis. Aku ingin menulis cerita tentang desa kita, supaya orang tahu bahwa di sini ada banyak hal yang penting.”
Banyu mengangkat kawat kecil yang telah dibentuknya. “Aku ingin membuat alat yang bisa membantu orang.”
Jagra menatap mereka satu per satu. Untuk pertama kalinya, wajahnya tidak tampak seperti anak yang suka membuat gaduh.
“Aku ingin punya usaha ikan,” katanya. “Supaya Bapak tidak harus pergi ke sungai setiap pagi kalau air sedang deras.”
Angin bergerak pelan di antara daun-daun beringin.
Keempat anak itu duduk dalam diam beberapa saat. Mereka belum memiliki rencana. Mereka belum tahu bagaimana cara mencapai semua cita-cita itu. Mereka hanya tahu bahwa di dalam diri masing-masing, ada keinginan yang selama ini jarang mereka ucapkan.
Namun, siang itu, di bawah pohon beringin tua, mereka tidak lagi merasa sendirian.
Rantaka memandang tiga sahabat barunya.
Mereka datang dari empat arah angin, membawa cerita, luka, dan mimpi yang berbeda.
Tetapi sejak hari itu, jalan mereka mulai bertemu.
Bab 5 — Nama yang Dipilih Langit
Siang itu, setelah bel pulang berbunyi, halaman SD Wanasari perlahan kembali sepi. Anak-anak berlarian menuju jalan tanah, sebagian membawa sandal di tangan agar tidak terkena lumpur, sebagian lagi berjalan sambil bercanda di antara kebun singkong. Suara mereka semakin lama semakin jauh, lalu hilang di balik pematang sawah dan rumah-rumah warga.
Namun, Rantaka belum pulang.
Ia masih duduk di bawah pohon beringin tua di belakang sekolah. Pohon itu berdiri tidak jauh dari pagar bambu yang mulai miring. Batangnya besar, penuh guratan, dan akar-akarnya menjulur ke tanah seperti jari-jari tua yang memeluk halaman sekolah. Di bawah naungannya, udara terasa lebih sejuk meski matahari sedang tinggi.
Tidak lama kemudian, Liris datang membawa buku tulis bersampul biru. Ia duduk di atas akar beringin yang menonjol dari tanah. Banyu menyusul dengan sepeda tuanya, lalu menaruh tas karung di samping batang pohon. Jagra datang terakhir. Ia membawa sepotong singkong rebus yang dibungkus daun pisang.
“Kalian benar-benar belum pulang,” kata Jagra sambil duduk.
“Kau juga,” jawab Liris.
Jagra mengangkat singkong rebus di tangannya. “Aku pulang sebentar tadi. Ibu menyuruhku membawa ini kalau aku mau kembali ke sekolah.”
“Untuk apa kembali?” tanya Banyu.
Jagra mengangkat bahu. “Entahlah. Kalian masih di sini.”
Rantaka tersenyum kecil. Sejak percakapan mereka siang tadi, ia merasa ada sesuatu yang berbeda. Sebelumnya, mereka hanya teman sekelas yang duduk di bangku masing-masing. Mereka saling tahu nama, saling melihat setiap hari, tetapi belum benar-benar mengenal cerita yang dibawa masing-masing dari rumah.
Kini, setelah mendengar tentang dapur Rantaka, puisi Liris, sepeda tua Banyu, dan sungai tempat Jagra membantu ayahnya mencari ikan, jarak di antara mereka terasa lebih dekat.
Angin bertiup dari arah kebun singkong. Daun-daun beringin bergerak pelan di atas kepala mereka. Dari kejauhan, terdengar suara kambing dan bunyi kapak dari rumah warga.
Liris membuka buku tulisnya.
“Aku tadi memikirkan sesuatu,” katanya.
“Apa?” tanya Rantaka.
“Kita semua punya cita-cita. Tapi kita sering hanya menyimpannya sendiri.”
Jagra menatap tanah. “Karena kalau cerita ke orang lain, kadang mereka malah tertawa.”
“Tidak semua orang,” jawab Liris.
“Tidak semua,” ulang Rantaka.
Banyu yang sejak tadi memainkan sepotong kawat di tangannya akhirnya berbicara. “Kalau cita-cita hanya disimpan sendiri, mungkin mudah hilang.”
Mereka memandang Banyu.
Ia melanjutkan, “Seperti baut kecil. Kalau diletakkan sembarangan, nanti hilang. Tapi kalau disimpan di kotak, kita bisa menemukannya lagi saat diperlukan.”
Liris tersenyum. “Itu cara Banyu menjelaskan mimpi.”
“Aku tidak pandai bicara,” jawab Banyu pelan.
“Tapi kau pandai membuat orang mengerti,” kata Rantaka.
Jagra menggigit singkong rebusnya, lalu berkata, “Jadi, maksud kalian kita harus punya kotak untuk menyimpan cita-cita?”
“Bukan kotak sungguhan,” jawab Liris. “Mungkin kelompok.”
“Kelompok?” Jagra mengernyitkan dahi. “Kelompok apa?”
Rantaka menatap tiga sahabatnya. Ia belum pernah menjadi bagian dari kelompok seperti itu. Selama ini, setelah pulang sekolah, ia membantu orang tua, mengantar kue, memberi makan kambing, atau belajar di bawah lampu minyak. Ia tidak pernah membayangkan bahwa ia dapat memiliki teman yang mau mendengar mimpinya.
“Kita bisa belajar bersama,” kata Rantaka perlahan. “Kalau ada yang tidak mengerti pelajaran, kita saling membantu. Kalau ada yang ingin menulis, Liris bisa membantu. Kalau ada barang rusak, Banyu bisa mengajarkan cara memperbaikinya. Kalau ada yang ingin tahu tentang sungai, Jagra bisa bercerita.”
Jagra tertawa kecil. “Aku tidak tahu apakah sungai bisa jadi pelajaran.”
“Bisa,” kata Rantaka. “Semua yang kita jalani bisa jadi pelajaran.”
Liris menatap langit di sela daun-daun beringin. Langit siang itu berwarna biru terang. Tidak ada awan gelap. Cahaya matahari jatuh di halaman sekolah yang sepi dan membuat daun-daun singkong di kejauhan tampak berkilau.
“Kalau kita membuat kelompok,” kata Liris, “kita harus punya nama.”
“Nama apa?” tanya Banyu.
Jagra langsung menjawab, “Kelompok Empat Anak Hebat.”
Liris menahan tawa. “Terlalu panjang.”
“Kelompok Sungai dan Sawah,” kata Rantaka.
“Kalau nanti ada anak dari dusun lain, namanya jadi tidak cocok,” jawab Banyu.
Mereka kembali diam. Nama bukan perkara mudah. Nama akan menjadi sesuatu yang mereka sebut saat berkumpul, sesuatu yang mungkin mereka tulis di buku, atau sesuatu yang kelak mengingatkan mereka pada hari pertama mereka berani berbicara tentang mimpi.
Liris masih memandangi langit.
“Bagaimana kalau Langit Biru?” katanya.
Rantaka menoleh. “Langit Biru?”
Liris mengangguk. “Langit ada di atas semua tempat. Di atas rumah kita, di atas sawah, di atas sungai, dan di atas sekolah ini. Kita mungkin datang dari tempat yang berbeda, tetapi kita melihat langit yang sama.”
Banyu menatap ke atas. “Langit juga luas.”
“Dan tidak punya pagar,” tambah Rantaka.
Jagra menyandarkan punggungnya pada batang beringin. “Kalau namanya Langit Biru, berarti cita-cita kita boleh setinggi langit?”
“Boleh,” jawab Liris. “Tidak ada yang boleh membatasi hanya karena kita tinggal di desa.”
Kalimat itu membuat Rantaka teringat pada ayahnya. Jangan hanya karena rumah kita kecil, lalu kau menganggap mimpimu juga harus kecil.
Ia memandang langit lagi.
Langit biru di atas Desa Wanasari memang tampak jauh. Tetapi tidak ada yang melarang seseorang untuk memandangnya, menyebut namanya, dan menjadikannya arah.
“Aku setuju,” kata Rantaka.
“Aku juga,” kata Banyu.
Jagra mengangguk. “Baiklah. Mulai hari ini, kita Kelompok Langit Biru.”
Liris membuka halaman baru dalam buku tulisnya. Dengan pensil pendek, ia menulis pelan-pelan:
LANGIT BIRU
Kelompok Belajar dan Mimpi Anak Desa Wanasari
Ia lalu menyerahkan buku itu kepada Rantaka.
“Tuliskan cita-citamu,” katanya.
Rantaka menerima pensil. Tangannya sempat ragu ketika menyentuh halaman putih itu. Namun, ia kemudian menulis dengan huruf yang tidak terlalu rapi:
Aku ingin menjadi guru.
Ia menyerahkan buku itu kepada Liris.
Liris menulis:
Aku ingin menjadi penulis.
Banyu menerima buku itu berikutnya. Ia menulis lebih kecil daripada yang lain:
Aku ingin membuat alat yang membantu banyak orang.
Terakhir, Jagra memegang pensil cukup lama. Wajahnya tampak serius, seolah ia sedang memilih kata yang tepat.
Lalu ia menulis:
Aku ingin membuat usaha perikanan agar keluargaku tidak selalu kesulitan.
Setelah itu, mereka memandangi tulisan-tulisan tersebut.
Empat cita-cita sederhana. Empat kalimat yang ditulis oleh anak-anak yang belum tahu seberapa panjang jalan di depan mereka. Namun, bagi mereka, halaman itu terasa seperti sebuah janji.
Rantaka mengambil sepotong ranting kecil dari tanah.
“Kita harus punya tanda,” katanya.
“Tanda apa?” tanya Jagra.
“Tanda bahwa kita benar-benar akan saling membantu.”
Banyu mengambil kawat kecil dari sakunya. Ia membentuknya menjadi empat lingkaran yang saling terhubung. Bentuknya tidak sempurna, tetapi cukup kuat.
“Seperti ini,” katanya. “Kalau satu lepas, yang lain ikut berubah. Tapi kalau saling terikat, tidak mudah tercerai.”
Liris memandang kawat itu dengan mata berbinar. “Itu bagus.”
Jagra mengulurkan tangan. “Kalau begitu, kita janji?”
Rantaka meletakkan tangannya di atas tangan Jagra. Liris menyusul. Banyu meletakkan tangannya paling atas.
“Kita janji,” kata Rantaka.
“Belajar bersama,” kata Liris.
“Tidak menertawakan mimpi teman,” kata Banyu.
“Dan tidak meninggalkan teman kalau sedang susah,” kata Jagra.
Mereka saling memandang.
Angin kembali berembus. Daun-daun beringin bergesekan, menimbulkan suara seperti bisikan panjang. Di kejauhan, matahari mulai bergerak turun. Bayangan pohon semakin memanjang di tanah.
Rantaka berdiri lebih dahulu. Ia menepuk debu di celananya.
“Aku harus pulang. Ibu menunggu bantuan mengantar kue.”
“Aku juga harus membantu Bapak di sungai,” kata Jagra.
Banyu mendorong sepedanya. “Aku harus memperbaiki pintu kandang ayam.”
Liris menutup buku tulisnya dan menyimpannya di dada. “Besok kita bertemu lagi di sini.”
“Untuk belajar?” tanya Rantaka.
“Untuk belajar,” jawab Liris. “Dan untuk menjaga Langit Biru.”
Mereka berjalan meninggalkan pohon beringin melalui arah yang berbeda.
Rantaka menuju jalan tanah ke arah sawah. Liris berjalan ke belakang balai desa. Banyu mendorong sepeda tuanya menuju kebun bambu. Jagra berlari ke arah sungai dengan ember kecil di tangannya.
Mereka benar-benar datang dari empat arah angin.
Tetapi sejak siang itu, mereka membawa satu nama yang sama.
Di atas Desa Wanasari, langit biru terbentang luas.
Dan di bawahnya, empat anak desa mulai percaya bahwa mimpi mereka tidak harus berhenti di batas kampung.
Bab 6 — Buku-Buku dari Gudang Tua
Sejak nama Langit Biru dipilih di bawah pohon beringin, ada kebiasaan baru yang tumbuh di antara Rantaka, Liris, Banyu, dan Jagra.
Mereka tidak selalu dapat berkumpul setiap hari. Rantaka harus membantu ibunya mengantar kue dan memberi makan kambing. Liris sering diminta menjaga adiknya ketika ibunya pergi ke pasar. Banyu membantu pamannya memperbaiki peralatan rumah tangga warga. Sementara Jagra harus bangun pagi untuk ikut ayahnya memeriksa jaring di sungai.
Namun, jika waktu memungkinkan, mereka selalu menyempatkan diri bertemu setelah pelajaran selesai.
Kadang mereka belajar di bawah pohon beringin. Kadang mereka duduk di teras kelas sambil berbagi buku. Pada hari-hari tertentu, mereka hanya berbicara tentang cita-cita dan hal-hal kecil yang terjadi di rumah masing-masing.
Sore itu, matahari belum terlalu rendah ketika Bu Laras memanggil Rantaka yang sedang membantu menyusun kursi di dalam kelas.
“Rantaka,” katanya, “tolong panggil Liris, Banyu, dan Jagra. Ibu perlu bantuan kalian.”
Rantaka segera keluar kelas. Ia menemukan Liris sedang menunggu di dekat pohon beringin, Banyu membetulkan roda sepedanya, dan Jagra berdiri di dekat keran air sambil membasuh tangan.
“Bu Laras memanggil kita,” kata Rantaka.
“Untuk apa?” tanya Jagra.
“Aku tidak tahu.”
Mereka berjalan bersama menuju kantor sekolah. Bangunan kantor itu lebih kecil daripada ruang kelas. Dindingnya dari papan kayu, dengan satu meja besar, dua kursi tua, dan lemari yang penuh berkas. Di belakang kantor, terdapat sebuah bangunan kecil yang hampir tertutup semak.
Bangunan itu tampak seperti rumah yang telah lama ditinggalkan.
Atapnya rendah dan berdebu. Pintu kayunya berwarna cokelat gelap, tetapi catnya sudah banyak mengelupas. Di bagian depan, terdapat gembok tua yang berkarat. Rumput liar tumbuh hingga menutupi sebagian jalan menuju pintu.
“Itu apa, Bu?” tanya Liris.
“Gudang sekolah,” jawab Bu Laras.
“Gudang?” Jagra mengernyitkan dahi. “Memangnya ada apa di dalam?”
Bu Laras memandang pintu gudang itu cukup lama sebelum menjawab.
“Dulu, sebelum sekolah ini kekurangan ruang dan banyak barang rusak, gudang itu dipakai untuk menyimpan buku, alat peraga, dan beberapa perlengkapan belajar. Tetapi sudah lama tidak dibuka.”
“Kenapa tidak dibuka?” tanya Banyu.
“Karena pintunya macet, banyak barang berserakan, dan tidak ada yang sempat membereskannya.”
Jagra menatap pintu gudang dengan rasa ingin tahu. “Kalau ada buku, kenapa tidak dipakai?”
“Itulah sebabnya Ibu memanggil kalian,” kata Bu Laras. “Ibu ingin melihat apakah masih ada buku yang dapat diselamatkan.”
Rantaka memandangi bangunan itu. Semak-semak di sekelilingnya memang tinggi. Tidak ada anak yang biasa bermain di sana. Selama ini, gudang itu hanya terlihat seperti bagian sekolah yang tidak penting.
Namun, ketika mendengar kata buku, dadanya terasa berdebar.
Bu Laras mengambil sebuah kunci besar dari saku bajunya. Kunci itu sudah kusam dan warnanya hampir sama dengan gembok di pintu gudang.
“Kalau kalian bersedia membantu,” katanya, “kita mulai dari membersihkan jalan masuknya.”
“Kami bersedia, Bu,” jawab Rantaka.
Liris mengangguk. Banyu segera mengambil sebatang kayu untuk menyingkirkan rumput. Jagra menggulung lengan seragamnya.
Mereka mulai bekerja.
Rantaka mencabut rumput liar di dekat pintu. Tanahnya lembek dan penuh akar kecil. Liris mengumpulkan daun-daun kering ke dalam karung bekas. Banyu memeriksa papan kayu yang menutupi sebagian sisi gudang. Ia menemukan beberapa paku longgar dan segera mengencangkannya dengan batu kecil. Jagra, yang paling kuat menarik semak, bekerja tanpa banyak bicara sambil sesekali mengeluh ketika tangannya terkena duri.
“Semak ini seperti sengaja menjaga gudang,” katanya.
“Bukan menjaga,” jawab Liris. “Mungkin hanya menunggu ada yang peduli.”
Jagra menatap Liris. “Kau selalu bisa membuat rumput terdengar seperti punya perasaan.”
Liris tersenyum kecil. “Itu karena kau jarang mendengarkan rumput.”
Setelah jalan masuk terbuka, Bu Laras memasukkan kunci ke dalam gembok. Ia memutarnya perlahan.
Sekali.
Dua kali.
Gembok itu tidak bergerak.
Bu Laras mencoba lagi. Tangannya sedikit gemetar karena harus menekan kunci lebih kuat. Banyu mendekat.
“Boleh saya lihat, Bu?” tanyanya.
Bu Laras menyerahkan kunci itu.
Banyu memeriksa lubang gembok, lalu mengambil sedikit minyak dari rantai sepedanya yang masih tersisa di kain kecil. Ia mengoleskannya perlahan pada bagian dalam gembok. Setelah menunggu beberapa saat, ia kembali memutar kunci.
Terdengar bunyi kecil.
Klik.
Gembok itu terbuka.
Jagra bersorak pelan. “Banyu memang cocok jadi tukang pembuka gudang.”
“Bukan tukang,” kata Banyu. “Hanya gemboknya berkarat.”
Bu Laras tersenyum. “Tetap saja, terima kasih.”
Pintu gudang didorong perlahan.
Debu langsung beterbangan dari dalam. Bau kayu tua, kertas lembap, dan tanah memenuhi udara. Rantaka menutup hidung dengan lengan bajunya. Liris mundur satu langkah, sementara Jagra mengibaskan tangan di depan wajahnya.
Cahaya dari luar masuk melalui pintu yang terbuka. Sedikit demi sedikit, isi gudang mulai terlihat.
Di dalamnya terdapat meja-meja rusak yang ditumpuk di sudut. Ada kursi patah, papan tulis kecil dengan gagang retak, beberapa kotak kayu, dan tumpukan kardus yang sudah hampir hancur. Di bagian belakang, sebuah rak besar berdiri miring. Rak itu penuh dengan buku-buku yang tertutup debu.
Rantaka melangkah masuk lebih dahulu.
Ia mendekati rak tersebut dengan hati-hati. Jarinya menyentuh punggung sebuah buku yang sudah kusam. Ketika ia menariknya, debu jatuh seperti hujan kecil.
Buku itu berjudul Cerita dari Nusantara.
Rantaka membuka halaman pertama. Kertasnya telah menguning, tetapi tulisan di dalamnya masih dapat dibaca. Ada gambar gunung, laut, rumah adat, dan anak-anak dari berbagai daerah.
“Bu Laras,” katanya pelan, “buku ini masih bisa dibaca.”
Bu Laras mendekat. Matanya tampak berbinar ketika melihat buku di tangan Rantaka.
“Masih banyak yang mungkin dapat dipakai,” katanya. “Kita harus memisahkan mana yang rusak dan mana yang masih bisa diselamatkan.”
Mereka mulai bekerja dengan lebih bersemangat.
Liris mengambil buku-buku cerita dan menyusunnya berdasarkan ukuran. Ia menemukan beberapa buku puisi anak-anak, buku dongeng rakyat, dan buku kumpulan cerita pendek. Ia membuka salah satu buku, lalu membaca kalimat pertama dengan wajah penuh perhatian.
“Buku ini seperti menyimpan banyak suara,” katanya.
Banyu memeriksa meja-meja rusak. Ia menemukan satu meja kecil yang kakinya patah. Setelah melihat beberapa saat, ia berkata bahwa meja itu mungkin masih dapat diperbaiki jika diberi penyangga dari kayu.
Jagra mengangkat kardus-kardus kosong dan menyapu lantai. Ia juga menemukan sebuah globe kecil yang permukaannya sudah pudar.
“Ini bola dunia?” tanyanya sambil mengangkat benda itu.
“Globe,” jawab Bu Laras. “Dulu dipakai untuk mengenalkan bentuk bumi.”
Jagra memutarnya pelan. “Ternyata dunia kecil kalau dibuat begini.”
“Dunia tidak kecil,” kata Rantaka sambil membuka buku lain. “Kita saja yang belum mengenalnya.”
Jagra menatap Rantaka, lalu tersenyum. “Kau mulai bicara seperti guru.”
Rantaka tidak menjawab. Namun, dalam hatinya, ia merasa senang.
Di bagian paling bawah rak, Banyu menemukan gulungan besar yang diikat dengan tali rafia. Ia membawanya ke dekat pintu, lalu membuka ikatannya perlahan.
Ternyata itu sebuah peta Indonesia.
Peta itu jauh lebih besar daripada peta yang tergantung di kelas enam. Warnanya mulai pudar dan bagian pinggirnya robek. Namun, pulau-pulau besar masih terlihat jelas. Ada garis-garis laut, nama-nama kota, dan gambar kecil yang menunjukkan hasil bumi dari berbagai daerah.
Bu Laras memandang peta itu dengan mata yang berkaca-kaca.
“Dulu,” katanya pelan, “peta ini dipakai saat sekolah masih ramai. Anak-anak berdiri berkeliling, lalu menunjuk pulau yang ingin mereka ketahui.”
Rantaka mendekat. Ia memandangi peta itu seolah sedang melihat jendela besar yang baru dibuka.
Selama ini, dunia baginya adalah jalan tanah, sawah, rumah kayu, sungai, dan kebun singkong. Namun, peta itu memperlihatkan bahwa ada pulau-pulau lain di luar sana. Ada tempat-tempat yang namanya belum pernah ia dengar. Ada laut yang lebih luas daripada sungai tempat Jagra mencari ikan. Ada gunung yang mungkin lebih tinggi daripada bukit di belakang desa.
“Bu,” tanya Rantaka, “apakah orang dari desa kecil bisa pergi melihat tempat-tempat itu?”
Bu Laras menoleh kepadanya.
“Bisa,” jawabnya. “Tetapi sebelum kaki kita pergi jauh, pikiran kita harus lebih dulu berani berjalan.”
Kalimat itu membuat Rantaka terdiam.
Ia kembali memandangi peta. Untuk pertama kalinya, ia tidak hanya ingin tahu nama-nama pulau. Ia ingin mengerti bagaimana orang hidup di sana, bagaimana sekolah mereka, apa yang mereka baca, dan bagaimana mereka memandang dunia.
Menjelang sore, gudang itu mulai berubah.
Lantai yang semula tertutup debu kini terlihat lebih bersih. Buku-buku yang masih layak dibaca telah dipisahkan dalam beberapa tumpukan. Meja yang masih dapat diperbaiki diletakkan di dekat dinding. Peta Indonesia dibentangkan di atas meja panjang agar tidak kembali terlipat.
Keringat membasahi seragam mereka. Tangan mereka kotor oleh debu. Namun, tidak seorang pun mengeluh.
Bu Laras berdiri di tengah gudang dan memandang keempat anak itu.
“Kalian sudah melakukan sesuatu yang penting hari ini,” katanya.
“Kami hanya membersihkan gudang, Bu,” jawab Jagra.
“Tidak,” kata Bu Laras. “Kalian sedang membuka pintu yang sudah lama tertutup.”
Liris memegang sebuah buku puisi di dadanya. Banyu berdiri di dekat meja rusak yang ingin ia perbaiki. Jagra masih membawa globe kecil. Rantaka menggenggam buku Cerita dari Nusantara.
Mereka saling memandang.
Di bawah cahaya sore yang masuk melalui pintu gudang, tempat tua itu tidak lagi terasa seperti ruang yang dilupakan. Gudang itu mulai terasa seperti sebuah ruang baru yang penuh kemungkinan.
Sebelum pulang, Bu Laras berkata, “Mulai besok, kalian boleh menggunakan buku-buku ini untuk belajar. Tetapi ada satu syarat.”
“Apa, Bu?” tanya Rantaka.
“Kalian harus menjaganya. Buku tidak hanya untuk dibaca sendiri. Buku harus membuat kita ingin berbagi pengetahuan dengan orang lain.”
Rantaka mengangguk dengan sungguh-sungguh.
Saat keluar dari gudang, ia menoleh sekali lagi ke arah rak-rak buku dan peta besar yang terbentang di atas meja. Ia merasa seolah baru menemukan sesuatu yang selama ini ia cari, meski belum dapat menjelaskan apa namanya.
Mungkin itu pengetahuan.
Mungkin itu keberanian.
Atau mungkin itu keyakinan bahwa jalan hidup tidak harus berhenti di ujung desa.
Di halaman sekolah, Liris berjalan di sampingnya.
“Besok kita membaca buku yang mana?” tanyanya.
Rantaka tersenyum. “Semua yang bisa kita baca.”
Di atas mereka, langit sore mulai berubah keemasan.
Dan dari gudang tua yang hampir dilupakan, Langit Biru menemukan pintu pertama menuju dunia yang lebih luas.
Bab 7 — Surat Berstempel Merah
Pagi itu, SD Wanasari tampak seperti biasanya.
Anak-anak datang melalui jalan tanah dengan seragam putih merah yang beragam keadaannya. Ada yang masih bersih dan rapi, ada yang bagian lutut celananya telah ditambal, ada pula yang membawa buku dalam kantong plastik agar tidak terkena embun atau hujan. Dari kebun singkong di belakang sekolah, angin membawa aroma tanah basah dan daun-daun muda.
Di bawah pohon beringin, Rantaka, Liris, Banyu, dan Jagra duduk mengelilingi beberapa buku dari gudang tua.
Banyu sedang membaca buku pengetahuan alam tentang air. Ia memperhatikan gambar sungai, hujan, dan awan dengan wajah serius. Liris membuka buku kumpulan cerita rakyat. Sesekali ia mencatat kata-kata yang menurutnya indah di buku tulis birunya. Jagra memegang globe kecil yang kemarin ditemukan di gudang. Ia memutarnya perlahan, lalu menunjuk beberapa bagian dengan ujung jarinya.
“Kalau bumi benar-benar bulat,” kata Jagra, “kenapa kita tidak jatuh?”
Banyu menatapnya. “Karena ada gaya tarik bumi.”
“Gaya tarik bumi itu seperti apa?”
“Seperti ketika kau menarik jaring ikan dari sungai. Ada sesuatu yang menahan.”
Jagra mengernyitkan dahi. “Tapi jaring bisa putus.”
“Bumi tidak memakai tali,” jawab Banyu.
Liris menahan tawa. “Kalian berdua bisa membahas bumi sampai bel masuk berbunyi.”
Rantaka tersenyum sambil membuka buku Cerita dari Nusantara. Sejak menemukan buku-buku dari gudang tua, ia merasa hari-hari di sekolah menjadi lebih hidup. Ada banyak hal yang ingin ia ketahui. Ada banyak cerita yang ingin ia baca. Bahkan kelas tua dengan jendela tanpa kaca dan atap yang bocor itu tidak lagi terasa sesempit sebelumnya.
Namun, pagi itu, sesuatu yang tidak biasa terjadi.
Dari arah jalan desa, seorang lelaki bersepeda datang menuju halaman sekolah. Ia mengenakan seragam cokelat muda dan membawa tas hitam di pundaknya. Di bagian depan sepedanya tergantung map besar berwarna cokelat. Wajahnya tampak serius. Ia tidak menyapa anak-anak yang sedang bermain, hanya langsung menuju ruang kantor sekolah.
Beberapa murid mulai memperhatikannya.
“Itu siapa?” tanya Jagra.
Rantaka menggeleng.
Liris berdiri sedikit untuk melihat lebih jelas. “Sepertinya pegawai kecamatan.”
Banyu menutup bukunya. “Mungkin membawa surat.”
Kalimat itu terdengar biasa, tetapi entah mengapa Rantaka merasakan sesuatu yang tidak nyaman di dadanya.
Lelaki itu turun dari sepeda dan berjalan menuju kantor sekolah. Tidak lama kemudian, Kepala Sekolah Pak Mulyono keluar dari ruangannya. Pak Mulyono adalah lelaki berusia hampir lima puluh tahun dengan rambut yang mulai memutih di bagian pelipis. Ia jarang berbicara keras, tetapi semua murid tahu bahwa ia sangat menjaga sekolah itu.
Pak Mulyono menerima map cokelat dari pegawai kecamatan.
Mereka berbicara dengan suara pelan. Anak-anak tidak dapat mendengar apa yang mereka katakan. Namun, dari cara Pak Mulyono memegang map itu, Rantaka melihat wajah kepala sekolahnya berubah.
Semula tenang.
Lalu serius.
Kemudian tampak seperti seseorang yang baru saja menerima kabar yang tidak ingin didengarnya.
Pegawai kecamatan itu menyerahkan satu lembar surat. Di bagian atas surat terdapat cap merah yang cukup besar. Setelah itu, ia berpamitan dan kembali menaiki sepeda.
Pak Mulyono masih berdiri di depan kantor.
Tangannya memegang surat itu cukup lama.
Bel masuk berbunyi.
Anak-anak segera masuk ke kelas. Namun, rasa ingin tahu telah menyebar ke seluruh halaman sekolah. Di dalam ruang kelas, beberapa murid berbisik-bisik. Ada yang menduga surat itu tentang bantuan bangunan. Ada yang berkata mungkin sekolah akan mendapat buku baru. Ada pula yang mendengar kakaknya pernah mengatakan bahwa surat dari kecamatan biasanya membawa urusan penting.
Rantaka duduk di bangkunya sambil memandangi jendela kosong.
Ia mencoba memusatkan perhatian ketika Bu Laras mulai mengajar. Namun, pikirannya terus kembali pada surat berstempel merah itu.
Bu Laras tampak berbeda pagi itu.
Biasanya, ia memasuki kelas dengan senyum tipis dan suara yang tenang. Namun, kali ini langkahnya lebih lambat. Buku-buku yang dibawanya tampak lebih banyak dari biasanya. Ia berdiri di depan kelas cukup lama sebelum menulis pelajaran di papan tulis.
“Anak-anak,” katanya akhirnya, “hari ini kita akan belajar seperti biasa.”
Kata seperti biasa terdengar aneh.
Tidak ada seorang pun yang bertanya. Tetapi semua murid dapat merasakan bahwa ada sesuatu yang disembunyikan.
Pelajaran berlangsung tanpa banyak suara. Bu Laras menjelaskan tentang pecahan dan pembagian. Rantaka menyalin angka-angka di papan tulis, tetapi ia tidak benar-benar memahami apa yang ditulisnya. Liris beberapa kali menoleh ke arah kantor sekolah. Banyu memutar pensil di antara jari-jarinya. Jagra, yang biasanya sulit diam, justru duduk tanpa membuat gaduh.
Saat jam istirahat, Rantaka melihat Bu Laras berjalan menuju kantor kepala sekolah. Ia membawa buku catatan dan beberapa lembar kertas. Pak Mulyono sudah berada di dalam ruangan bersama dua guru lain.
Pintu kantor tidak tertutup rapat.
Rantaka tidak bermaksud menguping. Namun, ketika ia berjalan melewati jendela untuk mengambil air minum, suara percakapan dari dalam terdengar jelas.
“Jumlah murid kita dianggap terlalu sedikit,” suara Pak Mulyono terdengar berat.
“Padahal banyak anak yang harus berjalan jauh kalau sekolah ini ditutup,” jawab salah seorang guru.
“Di surat itu tertulis sekolah akan dievaluasi,” kata Bu Laras. “Bangunan, jumlah murid, fasilitas, dan kegiatan belajar semuanya akan diperiksa.”
Rantaka berhenti tanpa sadar.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
“Kalau hasil evaluasinya buruk?” tanya guru lain.
Tidak ada jawaban beberapa saat.
Kemudian Pak Mulyono berkata pelan, “Anak-anak mungkin harus dipindahkan ke sekolah di kecamatan.”
Rantaka tidak bergerak.
Kata-kata itu seperti batu yang jatuh ke dalam dadanya.
Sekolah di kecamatan.
Ia pernah mendengar tentang sekolah itu. Letaknya jauh, melewati jalan besar dan beberapa kampung. Anak-anak dari Desa Wanasari harus berjalan lebih dari satu jam, bahkan lebih lama jika hujan turun. Tidak semua orang tua memiliki sepeda. Tidak semua anak dapat berangkat pagi-pagi sekali. Bagi keluarga seperti Rantaka, sekolah yang jauh bukan sekadar soal jarak. Itu berarti ongkos, waktu, tenaga, dan kemungkinan untuk tidak lagi sekolah.
Rantaka segera berjalan menjauh dari kantor. Ia tidak ingin Bu Laras melihatnya berdiri di sana.
Di bawah pohon beringin, Liris, Banyu, dan Jagra sudah menunggu.
“Kau dengar sesuatu?” tanya Liris.
Rantaka mengangguk pelan.
“Sekolah ini akan dievaluasi,” katanya.
“Evaluasi apa?” tanya Jagra.
“Karena muridnya sedikit, bangunannya rusak, dan fasilitasnya kurang.”
Banyu menatap gedung sekolah yang tua. “Kalau tidak lulus evaluasi?”
Rantaka menelan ludah.
“Mungkin sekolah ini ditutup.”
Jagra berdiri mendadak. “Ditutup?”
Liris memegang buku tulisnya lebih erat. “Tidak mungkin.”
“Itu yang mereka bicarakan di kantor,” jawab Rantaka.
Mereka semua diam.
Dari tempat mereka duduk, SD Wanasari tampak seperti biasa. Kelas-kelas tua itu masih berdiri. Papan tulis masih ada di dalam ruangan. Peta Indonesia masih tergantung di dinding. Gudang tua yang baru dibersihkan kini menyimpan buku-buku yang mulai mereka baca.
Namun, setelah mendengar kabar itu, semua yang biasa terasa seperti sedang berada di ujung sesuatu yang rapuh.
Jagra menendang tanah pelan. “Kalau sekolah ditutup, aku harus ke kecamatan?”
“Mungkin,” jawab Rantaka.
“Aku harus bantu Bapak pagi-pagi. Kalau sekolahnya jauh, aku pasti terlambat terus.”
Liris memandang kebun singkong. “Banyak anak kecil juga belum tentu bisa pergi sejauh itu.”
Banyu tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap tangannya sendiri.
Rantaka tahu apa yang mungkin sedang dipikirkan sahabatnya. Jika SD Wanasari ditutup, gudang tua itu akan kembali sepi. Buku-buku yang baru mereka temukan mungkin akan dipindahkan atau dibiarkan rusak. Kelompok Langit Biru mungkin tidak lagi memiliki tempat untuk belajar bersama.
Namun, yang paling membuat Rantaka takut adalah kemungkinan bahwa sekolah bukan lagi jalan yang dapat ia tempuh setiap pagi.
Ia teringat kata-kata ayahnya: Belajar yang baik. Itu juga pekerjaan.
Bagaimana jika pekerjaan itu tiba-tiba diambil darinya?
Bel masuk kembali berbunyi.
Mereka berjalan ke kelas tanpa banyak bicara. Sepanjang pelajaran, Rantaka memandangi papan tulis, meja-meja tua, dan jendela tanpa kaca dengan perasaan yang berbeda. Semua kekurangan yang sebelumnya hanya ia lihat sebagai bagian dari sekolah kini terasa seperti alasan-alasan yang dapat membuat sekolah itu hilang.
Menjelang pulang, Bu Laras berdiri di depan kelas.
Wajahnya tampak tenang, tetapi suaranya lebih pelan dari biasanya.
“Anak-anak,” katanya, “mungkin kalian sudah mendengar kabar tentang surat dari kecamatan.”
Kelas langsung hening.
Bu Laras menarik napas sebelum melanjutkan.
“Sekolah kita akan dinilai. Ada beberapa hal yang perlu diperbaiki. Bangunan sekolah, fasilitas belajar, jumlah murid, dan kegiatan sekolah akan diperhatikan.”
Seorang murid di bangku belakang mengangkat tangan. “Bu, apakah sekolah kita akan ditutup?”
Pertanyaan itu membuat semua kepala menoleh.
Bu Laras tidak langsung menjawab.
“Kita belum tahu,” katanya akhirnya. “Belum ada keputusan.”
“Tapi bisa ditutup?” tanya murid lain.
Bu Laras memandang seluruh kelas. “Yang bisa kita lakukan sekarang adalah tetap belajar dengan baik dan menjaga sekolah ini bersama-sama.”
Jawaban itu tidak sepenuhnya menghilangkan ketakutan.
Namun, cara Bu Laras mengucapkannya membuat Rantaka melihat sesuatu yang lain di mata gurunya: keyakinan yang tidak mau padam.
Setelah kelas bubar, Rantaka kembali berdiri di halaman sekolah. Langit siang tampak cerah, tetapi hatinya terasa berat. Ia memandangi bangunan SD Wanasari yang tua, kebun singkong di belakangnya, dan pohon beringin tempat Langit Biru lahir.
Di kantor kepala sekolah, surat berstempel merah itu mungkin masih terletak di atas meja.
Selembar kertas.
Tetapi selembar kertas itu telah membawa pertanyaan besar ke Desa Wanasari.
Apakah sekolah kecil di ujung kebun singkong itu masih akan berdiri?
Ataukah suatu hari nanti, anak-anak desa harus menatap bangunan kosong dan mengenang bahwa di tempat itulah mereka pernah belajar membaca, menulis, serta berani memiliki mimpi?
Bab 8 — Ketika Orang Dewasa Mulai Menyerah
Sejak surat berstempel merah dari kecamatan datang, suasana di SD Wanasari berubah.
Tidak ada yang benar-benar membicarakannya dengan suara keras pada hari pertama. Anak-anak tetap datang ke sekolah, tetap duduk di bangku kayu, tetap membuka buku, dan tetap mendengarkan Bu Laras mengajar. Namun, di sela-sela pelajaran, bisik-bisik mulai terdengar.
“Benarkah sekolah kita mau ditutup?”
“Kalau ditutup, kita belajar di mana?”
“Sekolah di kecamatan jauh sekali.”
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar dari satu bangku ke bangku lain. Ada yang menanyakannya dengan wajah takut. Ada yang berusaha tertawa, seolah kabar itu tidak penting. Ada pula yang hanya diam dan menunduk, seperti Rantaka.
Ia tetap datang setiap pagi melewati jalan tanah di antara sawah dan kebun singkong. Namun, sejak mendengar kabar dari kecamatan, ia selalu memandang bangunan sekolah dengan perasaan yang berbeda.
Dinding papan yang kusam.
Atap seng yang miring.
Jendela tanpa kaca.
Halaman yang dipenuhi rumput liar.
Semua yang dahulu ia anggap sebagai bagian biasa dari SD Wanasari kini terasa seperti alasan-alasan yang dapat membuat sekolah itu hilang.
Pada suatu sore, Rantaka diminta Rukmini mengantar kue ke rumah Bu Sari, seorang warga yang tinggal dekat balai desa. Keranjang rotan berisi nagasari dan kue cucur tergantung di setang sepeda tua milik pamannya yang dipinjamkan untuk beberapa hari.
Setelah mengantar pesanan, Rantaka hendak pulang. Namun, ketika melewati balai desa, ia mendengar beberapa orang dewasa sedang berbicara di dalam.
Pintu balai desa terbuka lebar.
Di dalamnya, beberapa warga duduk di bangku panjang. Ada petani yang baru pulang dari sawah, ada ibu-ibu yang membawa anak kecil, dan ada beberapa bapak yang masih mengenakan topi kebun. Di meja depan, Kepala Dusun duduk bersama dua orang perangkat desa.
Rantaka tidak berniat masuk. Ia hanya berhenti di luar, di dekat pagar bambu, karena ingin mengetahui apa yang sedang dibicarakan.
Suara Kepala Dusun terdengar cukup jelas.
“Surat dari kecamatan itu bukan main-main,” katanya. “Sekolah kita memang banyak kekurangan. Bangunannya tua, muridnya tidak banyak, dan fasilitasnya hampir tidak ada.”
“Kalau ditutup, anak-anak kita bagaimana?” tanya seorang ibu.
“Mereka bisa pindah ke sekolah di kecamatan,” jawab Kepala Dusun.
Seorang bapak yang duduk di sudut ruangan menghela napas panjang. “Sekolah di kecamatan jauh. Anak saya masih kelas dua. Jalan kaki saja bisa lebih dari satu jam.”
“Kalau naik ojek, biayanya dari mana?” sahut ibu lain.
Suasana menjadi hening beberapa saat.
Kemudian seorang lelaki tua berkata, “Kalau memang tidak mampu mempertahankan, mau bagaimana lagi? Bangunan sekolah itu sudah lama rusak. Kita ini desa kecil. Tidak mungkin melawan keputusan kecamatan.”
Rantaka menggenggam erat setang sepeda.
Kata melawan membuatnya merasa seolah sekolah mereka sedang berada dalam sebuah pertempuran, tetapi orang-orang dewasa sudah memilih untuk menyerah sebelum apa pun dilakukan.
“Anak-anak juga bisa membantu orang tua,” kata seorang bapak lain. “Kalau sekolahnya terlalu jauh, lebih baik mereka di rumah. Anak laki-laki bisa ikut ke kebun atau ke sungai. Anak perempuan bisa membantu ibunya.”
Beberapa orang mengangguk pelan.
Rantaka merasa dadanya sesak.
Ia tahu bapak itu tidak sedang berkata jahat. Banyak orang tua di Desa Wanasari memang membutuhkan bantuan anak-anak mereka. Di rumahnya sendiri, ia sering membantu ibunya menjual kue dan membantu ayahnya mencari rumput. Ia mengerti bahwa pekerjaan di rumah tidak mudah.
Tetapi mendengar sekolah disebut sebagai sesuatu yang dapat ditinggalkan begitu saja membuatnya takut.
Apakah belajar memang tidak sepenting membantu di ladang?
Apakah mimpi mereka hanya boleh ada selama sekolah itu masih berdiri?
Rantaka tidak sanggup mendengar lebih lama. Ia menaiki sepeda dan mengayuh pelan menuju rumah. Keranjang kue di depan sepeda sudah kosong, tetapi pikirannya terasa penuh.
Di jalan, ia melewati kebun singkong yang mulai gelap. Angin sore membuat daun-daun singkong bergesekan. Biasanya suara itu terasa menenangkan. Namun, sore itu, Rantaka hanya mendengar kata-kata orang dewasa yang terus berulang di kepalanya.
Tidak mungkin melawan keputusan kecamatan.
Lebih baik membantu orang tua.
Kalau sekolahnya jauh, mau bagaimana lagi?
Sesampainya di rumah, Rukmini sedang menyalakan tungku. Asap tipis mulai memenuhi dapur. Darma belum pulang dari ladang. Di halaman, kambing-kambing mengembik pelan karena menunggu diberi makan.
“Kuenya habis?” tanya Rukmini.
“Habis, Bu.”
“Bagus. Ada uangnya?”
Rantaka menyerahkan uang hasil penjualan. Rukmini menghitungnya sebentar, lalu menyimpannya ke dalam kaleng tua di dekat rak dapur.
Biasanya, Rantaka akan membantu menyiapkan makan atau memberi rumput kepada kambing. Namun, sore itu ia hanya duduk di teras rumah dengan wajah muram.
Rukmini memperhatikannya.
“Ada apa?” tanyanya.
Rantaka tidak langsung menjawab.
“Bu,” katanya akhirnya, “kalau sekolah kita ditutup, apakah aku harus berhenti sekolah?”
Tangan Rukmini yang sedang memegang sendok kayu berhenti bergerak.
“Kenapa bertanya begitu?”
“Di balai desa tadi, ada yang bilang anak-anak lebih baik membantu orang tua kalau sekolahnya jauh.”
Rukmini duduk di samping Rantaka. Asap dari dapur bergerak pelan di antara mereka.
“Banyak orang berkata seperti itu karena mereka sedang memikirkan kesulitan,” katanya. “Bukan karena mereka tidak sayang pada anak-anaknya.”
“Tapi kalau sekolah di kecamatan jauh, aku tidak bisa berjalan setiap hari.”
“Kita belum tahu keputusan akhirnya.”
“Kalau benar ditutup?”
Rukmini menatap halaman rumah. Wajahnya tampak tenang, tetapi Rantaka dapat melihat kekhawatiran yang disembunyikannya.
“Kita akan mencari jalan,” jawabnya.
“Jalan apa?”
Rukmini tidak segera menjawab.
Jawaban itu membuat Rantaka semakin mengerti bahwa ibunya juga belum tahu.
Malamnya, Darma pulang dengan langkah lambat. Bajunya basah oleh keringat dan tanah menempel di celananya. Setelah makan, ia duduk di dekat pintu sambil memijat telapak kakinya.
Rantaka yang sejak tadi diam akhirnya memberanikan diri bertanya.
“Yah, kalau SD Wanasari ditutup, apakah aku harus ikut bekerja di ladang?”
Darma menatap anaknya.
“Siapa yang bilang begitu?”
“Orang-orang di balai desa.”
Darma menghela napas panjang. Ia memandang lampu minyak yang menyala redup di ruang depan.
“Kalau sekolah ditutup, tentu akan sulit,” katanya. “Sekolah di kecamatan jauh. Bapak tidak punya kendaraan untuk mengantar setiap hari.”
Rantaka menunduk.
“Tapi,” lanjut Darma, “sulit bukan berarti kau harus berhenti.”
Rantaka mengangkat wajahnya.
“Bapak dan Ibu memang tidak punya banyak uang,” kata Darma. “Kita juga tidak punya sawah sendiri. Tetapi Bapak tidak ingin kau hanya melihat hidup dari ujung ladang. Kau harus belajar supaya kau punya pilihan.”
“Kalau orang-orang bilang aku lebih baik membantu Bapak?”
Darma tersenyum tipis, meski wajahnya tampak lelah.
“Kau boleh membantu Bapak. Kau boleh membantu Ibu. Itu baik. Tetapi jangan sampai bantuanmu membuatmu kehilangan masa depanmu sendiri.”
Kata-kata itu membuat mata Rantaka terasa panas.
Ia mengangguk pelan.
Di luar rumah, malam semakin gelap. Dari kejauhan terdengar suara katak dari parit dan suara serangga dari kebun. Rumah-rumah warga mulai memadamkan lampu satu per satu.
Namun, di dalam diri Rantaka, ketakutan belum benar-benar hilang.
Keesokan harinya, ia bertemu Liris, Banyu, dan Jagra di bawah pohon beringin.
Mereka semua tampak membawa kegelisahan yang sama.
“Ayahku bilang kalau sekolah ditutup, aku mungkin harus ikut ke sungai lebih sering,” kata Jagra. “Katanya, daripada aku berjalan jauh ke kecamatan dan terlambat terus.”
Liris memeluk buku tulisnya. “Ibuku tidak bilang aku harus berhenti. Tapi ia menangis tadi malam. Ia bilang tidak tahu bagaimana cara membiayai perjalanan ke sekolah yang jauh.”
Banyu menatap sepeda tuanya. “Pamanku bilang mungkin aku bisa naik sepeda. Tapi jalannya besar dan banyak truk. Aku belum pernah pergi sejauh itu sendirian.”
Rantaka tidak segera berbicara.
Mereka duduk di bawah beringin dengan kepala tertunduk. Untuk pertama kalinya sejak Langit Biru dibentuk, tidak ada yang membicarakan buku, cita-cita, atau rencana masa depan.
Yang ada hanya ketakutan.
Ketakutan bahwa semua yang mereka tulis di buku Liris mungkin akan berhenti sebagai kalimat-kalimat kecil.
Ketakutan bahwa sekolah tua di ujung kebun singkong itu benar-benar akan hilang.
Liris memandang bangunan SD Wanasari.
“Orang dewasa mulai menyerah,” katanya pelan.
Tidak ada yang membantah.
Rantaka memandangi kelas mereka. Ia teringat gudang tua yang baru dibersihkan, peta Indonesia yang dibentangkan kembali, serta kata-kata Bu Laras bahwa buku harus membuat mereka ingin berbagi pengetahuan.
Ia belum tahu apa yang dapat dilakukan oleh empat anak desa.
Namun, ketika melihat sahabat-sahabatnya duduk dalam diam, ia merasa bahwa mereka tidak boleh hanya menunggu.
Jika orang dewasa mulai menyerah, mungkin anak-anak harus lebih dulu menunjukkan bahwa sekolah itu masih berarti.
Di atas mereka, langit biru tetap terbentang luas.
Tetapi untuk pertama kalinya, Rantaka merasa langit itu tampak sangat jauh.
Bab 9 — Papan Tulis yang Retak
Sejak percakapan di bawah pohon beringin pada pagi itu, Rantaka tidak dapat lagi memandang SD Wanasari seperti sebelumnya.
Bangunan tua di ujung kebun singkong itu masih berdiri di tempat yang sama. Dinding papannya masih kusam. Jendela-jendelanya masih terbuka tanpa kaca. Atap sengnya masih tampak miring di beberapa bagian. Namun, kini setiap retakan, setiap papan lapuk, dan setiap kebocoran terasa seperti ancaman yang diam-diam menunggu untuk menjatuhkan sekolah mereka.
Hari-hari berikutnya berjalan dalam kecemasan.
Bu Laras tetap mengajar seperti biasa. Ia tetap datang membawa buku-buku di dadanya, tetap menulis pelajaran di papan tulis, dan tetap meminta murid-murid membaca dengan suara lantang. Tetapi Rantaka dapat melihat bahwa gurunya sering berhenti sejenak di depan jendela, memandang atap sekolah, atau berbicara pelan dengan Pak Mulyono di kantor.
Kabar dari kecamatan belum datang lagi.
Justru karena itulah, semua orang merasa lebih gelisah.
Mereka tahu suatu hari nanti tim penilai akan datang. Tidak ada yang tahu kapan. Tidak ada yang tahu apa yang akan mereka katakan setelah melihat keadaan sekolah. Namun, semua orang tahu SD Wanasari tidak berada dalam keadaan baik.
Pada akhir pekan, langit Desa Wanasari mulai berubah.
Sejak pagi, awan kelabu menggantung rendah di atas sawah. Angin bertiup lebih kencang dari biasanya. Daun-daun singkong di belakang sekolah bergerak saling beradu, menimbulkan suara yang panjang dan gelisah.
Rantaka sedang membantu ibunya mengantar kue ketika hujan pertama turun.
Mula-mula hanya gerimis tipis.
Lalu, dalam waktu singkat, langit seperti menumpahkan seluruh air yang ditahannya. Jalan tanah berubah menjadi lumpur. Parit kecil di sisi jalan mulai penuh. Atap-atap rumah berbunyi keras diterpa hujan.
Rantaka dan Rukmini berlari pulang sambil menutupi keranjang kue dengan plastik. Sesampainya di rumah, mereka mendapati halaman sudah dipenuhi genangan kecil. Darma segera memindahkan beberapa karung singkong ke tempat yang lebih kering.
Hujan turun sampai malam.
Bunyi air di atas atap seng rumah mereka begitu keras hingga percakapan harus dilakukan dengan suara lebih tinggi. Di beberapa titik, air mulai menetes dari langit-langit. Rukmini meletakkan ember di bawah kebocoran, sementara Rantaka membantu memindahkan tikar agar tidak basah.
Ketika ia sedang mengangkat satu ember yang hampir penuh, pikirannya tiba-tiba tertuju pada sekolah.
Atap SD Wanasari jauh lebih tua daripada atap rumahnya.
Kalau rumah mereka saja bocor di banyak tempat, bagaimana keadaan kelas enam sekarang?
“Bu,” kata Rantaka sambil menatap hujan di luar, “besok sekolah tetap masuk?”
“Kalau hujan reda, mungkin tetap,” jawab Rukmini.
Rantaka tidak bertanya lagi. Namun, malam itu ia sulit tidur.
Dalam pikirannya, ia membayangkan air masuk dari atap sekolah, jatuh ke meja-meja, membasahi buku-buku, dan menggenangi lantai kelas. Ia membayangkan peta Indonesia yang tergantung di dinding menjadi lembap dan robek. Ia membayangkan buku-buku dari gudang tua kembali rusak sebelum sempat dibaca oleh banyak anak.
Menjelang pagi, hujan memang sedikit reda.
Tetapi langit masih gelap ketika Rantaka berangkat ke sekolah. Jalan tanah menjadi lebih licin dari biasanya. Sandalnya beberapa kali hampir terlepas karena lumpur. Di beberapa bagian, air mengalir kecil di atas jalan seperti sungai tipis.
Ketika sampai di SD Wanasari, ia langsung tahu bahwa sesuatu telah terjadi.
Halaman sekolah penuh genangan.
Pagar bambu di sisi timur roboh sebagian. Beberapa batang bambu terlepas dari ikatannya dan tergeletak di tanah. Daun-daun singkong dari kebun belakang berserakan hingga ke halaman. Di depan ruang kelas, beberapa anak berdiri sambil memandangi bangunan sekolah dengan wajah pucat.
Rantaka mempercepat langkah.
Atap di bagian belakang kelas enam runtuh.
Tidak seluruhnya, tetapi cukup besar untuk membuat sebagian ruangan berubah kacau. Beberapa lembar seng jatuh ke lantai. Papan kayu penyangga tampak patah. Air hujan masih menetes dari celah besar di atas ruangan.
Meja-meja di bagian belakang basah.
Buku-buku beberapa murid tergeletak di lantai. Ada yang terbuka, ada yang menempel karena terkena air, dan ada yang sampulnya mulai hancur. Di dekat dinding, sebuah ember sudah penuh hingga airnya meluber.
Rantaka berdiri di ambang pintu tanpa mampu berkata-kata.
“Jangan masuk dulu!” suara Bu Laras terdengar dari dalam kelas.
Bu Laras berdiri di dekat meja guru. Rok panjangnya bagian bawah basah oleh air. Di tangannya ada beberapa buku yang sedang ia pindahkan ke tempat kering. Pak Mulyono dan dua orang guru lain sedang berusaha mengangkat meja-meja agar tidak terkena tetesan air.
“Rantaka, tolong panggil teman-teman yang lain,” kata Bu Laras. “Bawa buku-buku mereka ke ruang kelas lima. Jangan ada yang mendekati bagian belakang.”
Rantaka segera bergerak.
Ia memanggil Liris, Banyu, dan Jagra yang baru datang dari arah jalan. Mereka semua terdiam ketika melihat atap yang runtuh.
“Buku-buku!” kata Rantaka. “Bu Laras menyuruh kita memindahkan buku ke kelas lima.”
Tanpa banyak bertanya, mereka masuk ke ruang kelas dengan hati-hati.
Liris mengambil buku-buku yang masih kering dari meja depan. Ia memeluknya di dada, lalu membawanya ke kelas lima. Banyu mengangkat kursi dan meja yang masih dapat diselamatkan. Jagra membawa ember-ember penuh air keluar ruangan, lalu mengosongkannya di dekat parit.
Rantaka membantu Bu Laras memindahkan buku pelajaran dari lemari kayu. Lemari itu berada dekat dinding dan bagian bawahnya mulai basah. Ketika ia menarik salah satu buku, air menetes dari ujung halaman.
“Cepat, Nak,” kata Bu Laras, tetapi suaranya tetap tenang.
Rantaka mengangguk. Ia menahan rasa sedih ketika melihat buku-buku yang baru saja mereka temukan dari gudang tua kini harus diselamatkan dari air.
Beberapa murid lain ikut membantu. Ada yang membawa kain lap dari rumah, ada yang menyapu air keluar kelas, ada yang menjemur buku di teras. Tidak ada yang diminta terlalu banyak. Semua bergerak karena melihat keadaan sekolah mereka sendiri.
Namun, di tengah kesibukan itu, terdengar bunyi keras dari arah depan kelas.
Brak!
Semua orang terkejut.
Papan tulis yang selama ini tergantung di dinding depan jatuh ke lantai.
Bagian kayu penyangganya patah karena dinding di belakangnya lembap dan rapuh. Papan tulis itu tidak hancur seluruhnya, tetapi sebuah retakan panjang membelah bagian tengahnya. Retakan itu membentuk garis miring dari sudut atas ke bagian bawah, seperti luka yang tidak dapat disembunyikan.
Kelas mendadak hening.
Rantaka menatap papan tulis itu.
Di atasnya, masih ada sisa tulisan Bu Laras dari pelajaran kemarin:
Pendidikan Membuka Jalan
Tulisan itu kini terpotong oleh retakan panjang.
Liris menutup mulut dengan tangan. Matanya berkaca-kaca.
Jagra berdiri tanpa bergerak, ember kosong masih berada di tangannya.
Banyu mendekati papan tulis, lalu berjongkok untuk memeriksanya. Ia menyentuh bagian kayu yang patah dengan hati-hati.
“Masih bisa diperbaiki?” tanya Rantaka.
Banyu tidak langsung menjawab.
“Papan ini bisa dipasang lagi,” katanya pelan. “Tapi retakannya mungkin tidak bisa hilang.”
Bu Laras berdiri di dekat mereka.
Ia memandangi papan tulis itu cukup lama. Wajahnya tampak lelah, tetapi ia tidak membiarkan kesedihan menguasai suaranya.
“Kalau masih bisa dipakai, kita akan pakai,” katanya.
“Dengan retakan itu?” tanya seorang murid kecil dari kelas lima.
Bu Laras menoleh kepadanya. “Kadang sesuatu yang retak masih dapat dipakai untuk memberi pelajaran.”
Tidak ada yang benar-benar mengerti maksudnya saat itu.
Namun, Rantaka memandang tulisan yang terbelah di papan tulis. Ia merasa retakan itu bukan hanya ada pada kayu hitam di depan kelas. Retakan itu seperti gambaran sekolah mereka sendiri.
Sekolah yang masih berdiri.
Tetapi terluka.
Sekolah yang masih memiliki murid dan guru.
Tetapi sedang diuji oleh keadaan.
Menjelang siang, hujan kembali turun, meski tidak sederas malam sebelumnya. Anak-anak dipindahkan ke kelas lain. Ruang kelas enam tidak dapat digunakan sepenuhnya. Sebagian murid duduk berhimpitan di kelas lima. Sebagian lagi belajar di teras, dengan kursi yang disusun seadanya.
Bu Laras tetap mengajar.
Ia mengambil kapur, lalu berdiri di depan papan tulis yang telah dipasang sementara dengan bantuan Pak Mulyono dan beberapa warga. Papan itu kini sedikit miring. Retakan panjang masih terlihat jelas di tengahnya.
Bu Laras menulis pelajaran dengan hati-hati di sisi kiri papan.
Anak-anak memperhatikannya.
Angin masuk melalui jendela tanpa kaca. Dari atap, tetesan air masih jatuh ke ember. Di belakang kelas, bagian atap yang runtuh ditutup dengan terpal tua.
Namun, pelajaran tetap berjalan.
Rantaka duduk di bangku paling depan. Ia tidak lagi melihat papan tulis yang retak sebagai benda yang menyedihkan. Ia melihatnya sebagai sesuatu yang sedang berusaha bertahan.
Saat jam pulang, sebuah mobil putih berhenti di depan sekolah.
Dua orang lelaki turun dari dalamnya. Mereka mengenakan pakaian rapi dan membawa map. Salah satunya memotret bangunan sekolah, pagar yang roboh, serta bagian atap yang runtuh.
Pak Mulyono berjalan mendekati mereka.
Rantaka dan sahabat-sahabatnya berdiri di teras kelas sambil memandangi dari jauh.
“Itu orang kecamatan?” tanya Jagra.
Bu Laras yang berdiri tidak jauh dari mereka mengangguk pelan.
“Sepertinya mereka datang untuk melihat keadaan sekolah,” katanya.
Rantaka melihat salah satu lelaki itu menulis sesuatu di dalam map. Lelaki lain menunjuk ke arah atap yang runtuh, lalu menggeleng pelan.
Tidak ada yang dapat didengar dari tempat Rantaka berdiri.
Tetapi ia tidak perlu mendengar untuk mengetahui bahwa keadaan sekolah mereka kini tampak lebih buruk di mata orang-orang yang datang menilai.
Ketika mobil putih itu pergi, halaman sekolah kembali sunyi.
Rantaka berjalan mendekati papan tulis yang retak. Ia menyentuh bagian pinggirnya dengan ujung jari.
Di hadapannya, retakan panjang itu tetap ada.
Namun, papan tulis itu masih berdiri.
Dan selama papan itu masih dapat dipakai untuk menulis pelajaran, Rantaka merasa SD Wanasari belum boleh dianggap kalah.
Bab 10 — Anak-Anak yang Menolak Diam
Mobil putih dari kecamatan telah lama meninggalkan halaman SD Wanasari, tetapi bayangannya seperti masih tertinggal di antara bangunan kelas yang basah dan pagar bambu yang roboh.
Sejak pagi, anak-anak tidak banyak bermain saat jam istirahat. Biasanya, halaman sekolah dipenuhi suara kejar-kejaran, tawa, dan teriakan kecil dari anak-anak kelas bawah. Namun, hari itu, sebagian besar hanya duduk di teras atau berdiri memandangi bagian atap kelas enam yang masih ditutup terpal.
Papan tulis yang retak tetap tergantung di depan kelas.
Retakan panjang di tengahnya tampak semakin jelas ketika cahaya matahari masuk dari jendela tanpa kaca. Bu Laras masih menggunakannya untuk mengajar, tetapi setiap kali kapur menyentuh permukaannya, Rantaka merasa seolah papan itu sedang berusaha keras untuk tidak patah lebih jauh.
Setelah pelajaran selesai, Rantaka tidak langsung pulang.
Ia duduk di bawah pohon beringin bersama Liris, Banyu, dan Jagra. Tidak ada buku yang dibuka. Tidak ada cerita lucu dari Jagra. Tidak ada catatan puisi dari Liris. Mereka hanya diam, memandangi halaman sekolah yang masih penuh bekas hujan.
Di dekat pagar, beberapa batang bambu tergeletak miring. Rumput liar tumbuh di sepanjang jalan masuk. Saluran air di samping kelas tersumbat daun-daun kering dan lumpur. Terpal di atap belakang bergerak-gerak ditiup angin.
Jagra memecah kesunyian.
“Orang kecamatan tadi pasti melihat semuanya,” katanya.
“Ya,” jawab Banyu.
“Mereka pasti menganggap sekolah kita tidak layak.”
Liris memeluk lututnya. “Mereka tidak melihat apa yang ada di dalam sekolah ini.”
“Mereka melihat atap runtuh,” kata Jagra. “Pagar roboh. Papan tulis retak. Itu sudah cukup bagi mereka.”
Rantaka menunduk. Kata-kata Jagra memang benar. Orang yang datang dari kecamatan mungkin hanya melihat bangunan tua dan fasilitas yang rusak. Mereka mungkin tidak melihat Bu Laras yang tetap mengajar meski kelas bocor. Mereka tidak melihat Banyu yang memperbaiki meja. Mereka tidak melihat Liris membaca puisi di bawah beringin. Mereka tidak melihat Jagra yang tetap datang ke sekolah meski harus membantu ayahnya mencari ikan sejak pagi.
Mereka juga tidak melihat mimpi-mimpi yang disimpan dalam buku biru milik Liris.
“Apa kita hanya akan menunggu?” tanya Rantaka.
Tiga sahabatnya menoleh.
Rantaka memandang halaman sekolah. Dadanya masih dipenuhi rasa takut. Namun, rasa takut itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain. Ia teringat percakapan di balai desa. Orang-orang dewasa berkata bahwa sekolah mungkin tidak dapat dipertahankan. Mereka berbicara tentang jarak, biaya, dan kesulitan. Semua itu memang nyata.
Tetapi Rantaka tidak ingin sekolah mereka hanya dikenang sebagai bangunan tua yang ditutup karena tidak ada yang berusaha menjaganya.
“Kita tidak bisa memperbaiki seluruh atap,” lanjutnya. “Kita juga tidak bisa memutuskan apa yang akan dilakukan kecamatan. Tapi kita bisa melakukan sesuatu.”
“Seperti apa?” tanya Liris.
“Kita bersihkan sekolah ini,” jawab Rantaka. “Kita rapikan halaman. Kita perbaiki pagar yang bisa diperbaiki. Kita bersihkan saluran air. Kita tunjukkan bahwa sekolah ini masih dijaga.”
Jagra mengangkat alis. “Hanya dengan membersihkan halaman, sekolah ini tidak jadi ditutup.”
“Mungkin tidak,” kata Rantaka. “Tapi kalau kita diam, tidak ada yang akan tahu bahwa sekolah ini berarti bagi kita.”
Banyu memandangi pagar bambu yang roboh.
“Aku bisa mencoba memperbaiki bagian yang patah,” katanya pelan. “Kalau ada bambu bekas dan tali.”
Liris membuka buku tulisnya. “Aku bisa membuat tulisan untuk ditempel di kelas. Tentang menjaga sekolah. Supaya teman-teman lain ikut membantu.”
Jagra menghela napas, lalu berdiri. “Kalau begitu, aku bisa mengajak anak-anak kelas lima. Mereka kuat-kuat kalau disuruh angkat bambu.”
Rantaka tersenyum kecil.
“Berarti kita mulai besok,” katanya.
“Besok pagi?” tanya Jagra.
“Besok pagi,” jawab Rantaka.
Keesokan harinya, Rantaka datang lebih awal dari biasanya.
Kabut masih menggantung tipis di atas sawah. Jalan tanah belum ramai. Dari kejauhan, suara ayam berkokok bersahutan. Ia membawa sabit kecil milik ayahnya, sapu lidi, dan sebuah karung untuk mengumpulkan sampah.
Ketika sampai di sekolah, Liris sudah menunggu di dekat gerbang. Ia membawa beberapa lembar kertas bekas yang masih kosong di satu sisi, pensil warna pendek, dan tali rafia.
Banyu datang dengan sepeda tuanya. Di belakang sepedanya tergantung palu kecil, beberapa paku, dan sepotong kawat. Jagra muncul beberapa menit kemudian sambil membawa parang kecil yang sudah diberi sarung dari kain.
“Kita benar-benar seperti mau membangun sekolah baru,” kata Jagra.
“Belum tentu sekolah baru,” jawab Banyu. “Tapi setidaknya sekolah lama ini tidak terlihat seperti ditinggalkan.”
Mereka mulai bekerja sebelum bel masuk berbunyi.
Rantaka membersihkan rumput liar di sepanjang jalan masuk. Ia mencabut tanaman yang tumbuh di sela-sela batu, lalu memasukkannya ke dalam karung. Tangannya menjadi kotor oleh tanah, tetapi ia terus bekerja.
Liris menyapu teras kelas dan mengumpulkan daun-daun kering. Setelah itu, ia menulis beberapa kalimat di kertas bekas dengan huruf besar:
SEKOLAH KITA, TANGGUNG JAWAB KITA
Di bawahnya, ia menulis lagi:
JAGA KEBERSIHAN, JAGA BUKU, JAGA MIMPI
Ia menempelkan tulisan itu di dinding dekat pintu kelas menggunakan lem dari tepung yang dibuat ibunya.
Banyu memeriksa pagar bambu yang roboh. Ia memilih batang-batang yang masih kuat, lalu memasangnya kembali dengan kawat dan tali rafia. Pekerjaannya tidak cepat. Ia harus mengukur jarak, menahan bambu agar tidak jatuh, lalu mengikatnya satu per satu.
Jagra membantu mengangkat batang bambu. Sesekali ia mengeluh karena telapak tangannya terkena serpihan.
“Bambu ini lebih keras daripada ikan gabus,” katanya.
“Memangnya ikan gabus bisa dipaku?” tanya Banyu tanpa menoleh.
Jagra tertawa. “Tidak bisa. Tapi ikan gabus tidak membuat tanganku lecet.”
Ketika bel masuk berbunyi, pekerjaan mereka belum selesai. Mereka masuk kelas dengan tangan kotor dan seragam yang sedikit terkena lumpur. Bu Laras melihat keadaan mereka, tetapi tidak marah.
“Apa yang kalian lakukan pagi-pagi sekali?” tanyanya.
Rantaka berdiri.
“Kami membersihkan sekolah, Bu.”
Bu Laras memandang ke luar jendela. Ia melihat jalan masuk yang mulai bersih, halaman yang lebih rapi, dan pagar bambu yang sedang diperbaiki Banyu.
Wajahnya berubah lembut.
“Terima kasih,” katanya.
Hanya dua kata.
Namun, bagi Rantaka, dua kata itu terasa seperti penguat yang membuatnya ingin terus bergerak.
Saat jam istirahat, Liris mengajak beberapa teman sekelas untuk membantu. Ia membacakan tulisan yang dibuatnya. Anak-anak kelas enam mulai membawa sapu, ember, dan kain lap dari rumah masing-masing. Anak-anak kelas lima ikut mengumpulkan sampah. Bahkan beberapa murid kelas tiga yang belum mengerti sepenuhnya tentang ancaman penutupan sekolah ikut membawa daun-daun kering ke dalam karung.
Dalam beberapa hari, halaman SD Wanasari mulai berubah.
Saluran air yang sebelumnya tersumbat kini dibersihkan. Saat hujan kecil turun, air tidak lagi menggenang terlalu lama di depan kelas. Pagar bambu berdiri kembali, meski belum sempurna. Beberapa anak menanam bunga sederhana dari potongan batang singkong dan kaleng bekas di dekat teras.
Banyu membuat tempat sampah dari dua ember cat bekas. Ia mencuci ember itu, melubangi bagian bawahnya agar air tidak menggenang, lalu menuliskan kata DAUN dan PLASTIK dengan cat sisa yang ditemukan di gudang.
Liris membuat jadwal piket baru. Ia membaginya bukan hanya untuk kelas enam, tetapi juga mengajak kelas lain ikut menjaga halaman sekolah. Tulisan-tulisannya ditempel di beberapa tempat.
Jagra mengajak anak-anak yang biasa bermain di sungai untuk membantu memperbaiki parit kecil di belakang sekolah. Ia tahu cara mengalirkan air karena sering melihat ayahnya membuat saluran sederhana di tepi sungai.
“Kalau airnya lewat sini,” katanya sambil menunjuk tanah, “nanti tidak masuk ke kelas.”
“Sejak kapan kau jadi ahli parit?” tanya Liris.
“Sejak sekolah kita hampir tenggelam,” jawab Jagra.
Mereka tertawa.
Tawa itu terdengar sederhana, tetapi setelah beberapa hari penuh kecemasan, tawa tersebut terasa seperti tanda bahwa harapan belum hilang.
Suatu sore, ketika anak-anak sedang menanam bunga di depan kelas, beberapa warga mulai memperhatikan.
Bu Sari, yang rumahnya tidak jauh dari sekolah, datang membawa dua ember air. Ia membantu menyiram tanaman yang baru ditanam.
“Anak-anak ini rajin sekali,” katanya.
Seorang bapak yang sedang lewat berhenti di dekat pagar. Ia melihat Banyu memperkuat ikatan bambu, lalu ikut membantu menahan salah satu tiang.
“Kalau begini, pagar bisa lebih kuat,” katanya sambil mengambil tali.
Tidak lama kemudian, dua orang pemuda desa datang membawa bambu tambahan. Mereka mendengar Jagra meminta bantuan kepada kakaknya. Meski awalnya hanya ingin melihat, mereka akhirnya ikut memperbaiki bagian pagar yang paling rusak.
Rantaka memandangi semua itu dengan perasaan hangat.
Mereka memang belum memiliki uang untuk memperbaiki atap. Mereka belum tahu keputusan kecamatan. Mereka belum mampu menjawab semua kekhawatiran orang dewasa.
Tetapi halaman sekolah yang semula tampak suram kini mulai hidup kembali.
Pada sore hari ketiga, Pak Mulyono keluar dari kantor sekolah. Ia berdiri di teras sambil memandangi anak-anak yang masih bekerja. Bu Laras berdiri di sampingnya.
“Kalian sudah membuat sekolah ini tampak berbeda,” kata Pak Mulyono.
Rantaka menatap kepala sekolahnya. “Apakah itu cukup, Pak?”
Pak Mulyono tidak langsung menjawab.
“Belum tentu cukup untuk menyelesaikan semua masalah,” katanya jujur. “Tetapi ini cukup untuk menunjukkan bahwa sekolah ini tidak ditinggalkan.”
Kalimat itu membuat Rantaka mengangguk.
Di bawah pohon beringin, Langit Biru kembali berkumpul sebelum pulang. Tangan mereka kotor, seragam mereka tidak lagi sebersih pagi tadi, dan kaki mereka penuh tanah.
Namun, di depan mereka, halaman sekolah terlihat lebih rapi.
Bunga-bunga kecil berdiri dalam kaleng bekas. Pagar bambu kembali tegak. Saluran air mulai lancar. Tulisan Liris di dinding kelas bergerak pelan diterpa angin.
SEKOLAH KITA, TANGGUNG JAWAB KITA.
Rantaka membaca kalimat itu dalam hati.
Ia tahu perjuangan mereka baru dimulai.
Tetapi sejak hari itu, SD Wanasari tidak lagi hanya memiliki bangunan tua, papan tulis retak, dan atap bocor.
Sekolah itu memiliki anak-anak yang menolak diam.
Bab 11 — Gerobak Buku Banyu
Perubahan kecil mulai terlihat di SD Wanasari.
Pagar bambu yang sempat roboh kini berdiri kembali, meski beberapa bagian masih berbeda warna karena memakai bambu baru dan bambu lama. Saluran air di samping kelas sudah tidak lagi dipenuhi lumpur. Kaleng-kaleng bekas yang dijadikan pot bunga berjajar di depan teras, berisi batang singkong, bunga kertas, dan tanaman kecil yang dibawa anak-anak dari rumah.
Di dinding dekat pintu kelas, tulisan Liris masih menempel.
SEKOLAH KITA, TANGGUNG JAWAB KITA.
Setiap pagi, sebelum masuk kelas, Rantaka selalu membaca tulisan itu.
Ia tidak tahu apakah orang kecamatan akan peduli pada halaman yang lebih bersih atau pagar yang lebih rapi. Namun, ia tahu bahwa sekolah mereka tidak lagi tampak seperti tempat yang dibiarkan menunggu kerusakan. Ada tangan-tangan kecil yang merawatnya. Ada anak-anak yang datang lebih awal untuk menyapu, menata buku, dan menyiram tanaman.
Tetapi satu sore, ketika Langit Biru berkumpul di bawah pohon beringin, Banyu terlihat lebih diam daripada biasanya.
Ia duduk di dekat sepedanya sambil memandangi roda belakang yang sudah kusam. Di sampingnya terdapat beberapa potong kayu pendek, dua roda bekas, dan seutas tali rafia yang digulung rapi.
Rantaka memperhatikannya sejak tadi.
“Kau sedang membuat apa?” tanyanya.
Banyu tidak langsung menjawab. Ia mengambil satu potong kayu, lalu meletakkannya di atas tanah.
“Gerobak,” katanya.
“Gerobak?” Jagra mendekat. “Untuk apa?”
“Untuk membawa buku.”
Liris menatapnya dengan rasa ingin tahu. “Buku dari gudang?”
Banyu mengangguk.
Rantaka duduk lebih dekat. “Mau dibawa ke mana?”
“Ke rumah-rumah warga,” jawab Banyu pelan. “Banyak anak kecil tidak datang ke sekolah setiap hari. Ada yang masih terlalu kecil. Ada yang harus membantu orang tuanya. Ada juga yang tidak punya buku di rumah.”
Jagra memegang salah satu roda bekas. “Tapi buku-buku itu kan milik sekolah.”
“Kita bisa minta izin Bu Laras,” kata Banyu. “Buku tidak hanya untuk disimpan di rak.”
Rantaka teringat kata-kata Bu Laras ketika mereka membersihkan gudang tua: Buku tidak hanya untuk dibaca sendiri. Buku harus membuat kita ingin berbagi pengetahuan dengan orang lain.
Kalimat itu kembali terngiang dalam pikirannya.
Liris membuka buku tulis birunya. “Kalau kita membawa buku ke rumah-rumah, anak-anak kecil bisa mendengar dongeng. Ibu-ibu juga mungkin mau membaca.”
“Bapak-bapak?” tanya Jagra.
“Mungkin,” jawab Liris.
Jagra tersenyum miring. “Kalau Bapak-bapak mau membaca, aku akan percaya bahwa dunia benar-benar berubah.”
Banyu mengambil dua batang kayu yang lebih panjang.
“Gerobaknya tidak perlu besar,” katanya. “Cukup untuk beberapa buku, tikar, dan papan kecil. Kalau terlalu berat, kita tidak kuat mendorongnya.”
“Kau bisa membuatnya?” tanya Rantaka.
Banyu menatap potongan kayu di depannya. “Aku belum tahu. Tapi aku mau mencoba.”
Keesokan harinya, mereka meminta izin kepada Bu Laras.
Saat itu Bu Laras sedang menata buku-buku yang telah diselamatkan dari gudang tua. Sebagian buku dijemur di teras agar halaman yang lembap benar-benar kering. Sebagian lagi sudah kembali tersusun di rak sederhana yang dibuat dari papan bekas.
Rantaka menjelaskan rencana Banyu dengan hati-hati.
“Kami ingin membawa beberapa buku ke rumah-rumah warga, Bu,” katanya. “Bukan untuk dipinjamkan sembarangan. Kami ingin mengajak anak-anak membaca bersama.”
Bu Laras menghentikan pekerjaannya.
“Perpustakaan keliling?” tanyanya.
Banyu mengangguk. “Gerobaknya dari kayu bekas, Bu. Saya akan membuatnya sendiri.”
Bu Laras memandang keempat anak itu. Wajahnya tampak terkejut, tetapi bukan karena ragu. Ia seperti sedang melihat sesuatu yang tidak pernah ia duga akan tumbuh dari sekolah kecil itu.
“Kalau kalian serius,” katanya, “Ibu akan membantu memilihkan buku yang sesuai.”
Jagra tersenyum lebar. “Berarti boleh, Bu?”
“Boleh,” jawab Bu Laras. “Tetapi ada aturan. Buku harus dicatat. Tidak boleh terkena hujan. Tidak boleh dibawa pulang tanpa izin. Dan kalian harus memastikan setiap buku kembali.”
“Kami janji,” kata Rantaka.
Bu Laras lalu membuka lemari kecil di sudut ruangan. Dari dalamnya, ia mengambil sebuah buku tulis tebal yang sampulnya sudah pudar.
“Ini buku peminjaman lama,” katanya. “Dulu sekolah pernah punya perpustakaan kecil. Sekarang, mungkin kalian bisa menghidupkannya lagi.”
Liris menerima buku itu dengan kedua tangan.
Di halaman pertama, masih terlihat tulisan lama yang mulai memudar:
DAFTAR PEMINJAMAN BUKU SD WANASARI
Liris tersenyum.
“Ini seperti menemukan cerita yang belum selesai,” katanya.
Selama tiga hari berikutnya, Banyu bekerja keras membuat gerobak buku.
Ia menggunakan kayu bekas dari meja yang sudah tidak dapat dipakai. Roda gerobak diambil dari sepeda tua milik pamannya yang sudah rusak. Ia meminta bantuan Jagra untuk mengangkat papan, sementara Rantaka membantu memegang kayu saat Banyu memaku bagian-bagiannya.
Liris tidak pandai memaku, tetapi ia membantu dengan cara lain. Ia membuat tulisan untuk bagian depan gerobak.
Dengan cat biru sisa dari gudang sekolah, ia menulis:
GEROBAK BUKU LANGIT BIRU
Buku Datang, Mimpi Bertumbuh
Tulisan itu tidak terlalu lurus. Catnya juga sedikit menetes di beberapa bagian. Namun, ketika dipasang di bagian depan gerobak, semua orang merasa gerobak itu tampak istimewa.
Jagra berdiri sambil mengamati hasilnya.
“Kelihatannya seperti gerobak penjual sayur,” katanya.
“Kalau penjual sayur membawa makanan untuk perut,” jawab Liris, “gerobak ini membawa makanan untuk pikiran.”
Jagra tertawa. “Kalau begitu, jangan sampai buku-bukunya dimasak.”
Banyu mencoba mendorong gerobak itu di halaman sekolah. Rodanya berderit cukup keras. Salah satu roda sedikit miring, sehingga gerobak berjalan tidak lurus.
“Belok terus,” kata Jagra.
“Karena jalan di desa juga tidak lurus,” jawab Banyu.
Rantaka ikut mendorong dari belakang. “Yang penting bisa berjalan.”
Setelah beberapa kali diperbaiki, gerobak itu akhirnya dapat digunakan.
Tidak sempurna.
Tidak halus.
Tidak seindah gerobak yang mungkin dijual di kota.
Tetapi gerobak itu dibuat dari tangan anak-anak Desa Wanasari. Dari kayu bekas, roda tua, paku yang dikumpulkan satu per satu, dan keinginan untuk membawa buku ke tempat yang belum pernah disentuh buku.
Hari pertama perpustakaan keliling dimulai pada Minggu pagi.
Langit cerah. Jalan tanah masih sedikit lembap oleh hujan malam sebelumnya. Rantaka membawa tikar kecil yang digulung. Liris membawa buku catatan peminjaman dan pensil. Banyu mendorong gerobak buku. Jagra berjalan di sampingnya sambil membawa payung besar, berjaga-jaga jika hujan datang tiba-tiba.
Mereka memilih beberapa buku cerita rakyat, buku berhitung, buku bergambar tentang hewan, buku pengetahuan alam, serta beberapa majalah anak lama yang masih layak dibaca.
Tujuan pertama mereka adalah rumah-rumah di sekitar kebun singkong.
Ketika gerobak itu melewati jalan desa, beberapa warga menoleh. Anak-anak kecil yang sedang bermain kelereng berhenti dan memandangi tulisan di bagian depan gerobak.
“Itu apa?” tanya seorang anak kecil bernama Wawan.
“Gerobak buku,” jawab Liris.
“Buku untuk dijual?”
“Tidak,” kata Rantaka. “Untuk dibaca.”
Anak-anak itu saling pandang.
“Boleh lihat?” tanya Wawan.
“Boleh,” jawab Banyu.
Mereka berhenti di bawah pohon mangga dekat rumah Bu Sari. Rantaka membentangkan tikar. Liris menyusun buku-buku bergambar di atasnya. Banyu menata gerobak agar tidak mudah terguling. Jagra memanggil anak-anak yang masih malu-malu berdiri jauh.
“Kalau mau dengar cerita, duduk sini,” katanya. “Tidak dipungut ikan.”
Anak-anak tertawa dan mulai mendekat.
Liris memilih sebuah buku dongeng tentang burung kecil yang ingin terbang melewati gunung. Ia membacakan cerita itu dengan suara yang jelas dan penuh perasaan. Anak-anak duduk melingkar. Ada yang memegang lutut, ada yang bersandar pada ibunya, ada yang memandangi gambar di buku dengan mata lebar.
Rantaka membantu anak-anak yang belum bisa membaca. Ia menunjukkan huruf-huruf sederhana.
“Ini huruf B,” katanya kepada seorang anak perempuan kecil.
“B seperti apa?” tanya anak itu.
“B seperti buku,” jawab Rantaka.
“B seperti biru?” tanya Liris.
Rantaka tersenyum. “Ya. B seperti biru.”
Banyu memperlihatkan buku bergambar tentang alat-alat sederhana. Ia menjelaskan cara kerja roda, tuas, dan katrol dengan menggunakan gerobak mereka sebagai contoh. Anak-anak terlihat kagum ketika ia menunjukkan bahwa roda tua dapat membantu membawa beban berat.
Jagra awalnya hanya berdiri di belakang. Namun, ketika beberapa anak mulai bertanya tentang ikan sungai, ia mengambil buku bergambar hewan air dan mulai bercerita.
“Kalau ikan gabus, dia bisa bertahan di air yang tidak terlalu banyak,” katanya. “Tapi jangan asal menangkap ikan kecil. Kalau semua ikan kecil diambil, nanti sungainya kosong.”
Seorang ibu yang sedang menyapu halaman berhenti mendengarkan.
“Jagra sekarang pandai bicara,” katanya.
Jagra sedikit malu, tetapi ia tetap melanjutkan ceritanya.
Menjelang siang, lebih banyak anak datang. Ada yang membawa adik kecil. Ada yang meminta dibacakan dongeng lain. Ada pula yang ingin meminjam buku untuk dibawa pulang.
Liris mencatat nama mereka di buku peminjaman.
Nama-nama itu ditulis dengan huruf sederhana, sebagian masih dibantu oleh orang tua mereka. Namun, bagi Liris, setiap nama yang masuk ke dalam buku itu terasa seperti tanda bahwa gerobak kecil mereka benar-benar membawa sesuatu yang berarti.
Pada sore hari, ketika mereka hendak pulang, Bu Sari menghampiri mereka.
“Besok kalian datang lagi?” tanyanya.
“Kami akan datang lagi minggu depan, Bu,” jawab Rantaka.
Bu Sari mengangguk. “Kalau begitu, saya akan mengajak ibu-ibu lain. Anak-anak di sini senang sekali.”
Rantaka menatap sahabat-sahabatnya.
Banyu tampak lelah, tetapi matanya berbinar. Liris memeluk buku peminjaman di dadanya. Jagra mendorong gerobak dari samping sambil sesekali memastikan roda tidak masuk terlalu dalam ke lumpur.
Mereka berjalan pulang melewati jalan tanah yang mulai mengering.
Gerobak itu berderit.
Roda tuanya masih sedikit miring.
Namun, di dalamnya tersimpan buku-buku yang telah dibaca, dipinjam, disentuh, dan didengarkan oleh anak-anak desa.
Di belakang mereka, beberapa anak kecil masih melambaikan tangan.
“Gerobak Buku Langit Biru!” teriak Wawan.
Rantaka menoleh dan tersenyum.
Untuk pertama kalinya, ia merasa Langit Biru bukan lagi hanya nama kelompok mereka.
Langit Biru mulai menjadi gerakan kecil yang membawa harapan dari rumah ke rumah.
Bab 12 — Puisi yang Menggetarkan Balai Desa
Gerobak Buku Langit Biru mulai dikenal oleh warga Desa Wanasari.
Setiap Minggu pagi, Banyu mendorong gerobak kayu itu melewati jalan tanah, diikuti Rantaka, Liris, dan Jagra. Roda tua gerobak masih berderit, kadang miring ketika melewati batu atau lumpur, tetapi tidak ada yang lagi menertawakannya seperti pada hari pertama.
Anak-anak kecil justru menunggu kedatangannya.
Mereka berlari dari halaman rumah, membawa tikar kecil atau duduk di bawah pohon terdekat. Ada yang meminta dibacakan dongeng, ada yang ingin melihat gambar hewan, dan ada pula yang hanya ingin membuka buku lalu membalik halaman dengan rasa ingin tahu.
Beberapa ibu mulai ikut duduk bersama anak-anak mereka. Mereka mendengarkan Liris membacakan cerita, memperhatikan Rantaka mengajari huruf, atau tersenyum ketika Jagra menjelaskan tentang ikan sungai dengan cara yang lebih bersemangat daripada biasanya.
Namun, meski gerobak buku membawa suasana baru ke beberapa sudut desa, kabar tentang SD Wanasari tetap menjadi beban yang belum selesai.
Atap kelas enam masih ditutup terpal.
Papan tulis retak masih digunakan setiap hari.
Beberapa meja belum dapat dipakai karena kaki-kakinya rapuh.
Dan surat dari kecamatan tetap menjadi bayangan yang tidak pernah benar-benar pergi.
Suatu sore, Pak Mulyono meminta Bu Laras menghadiri pertemuan warga di balai desa. Pertemuan itu rencananya membahas beberapa persoalan desa, termasuk keadaan SD Wanasari yang akan segera dinilai kembali oleh tim kecamatan.
Bu Laras datang ke kelas enam sebelum pulang dan menyampaikan kabar itu kepada murid-murid.
“Besok malam akan ada pertemuan warga di balai desa,” katanya. “Pak Mulyono dan Ibu akan menjelaskan keadaan sekolah kita.”
Beberapa murid langsung berbisik.
“Apakah sekolah akan ditutup, Bu?” tanya seorang anak.
“Belum ada keputusan,” jawab Bu Laras. “Tetapi warga perlu mengetahui apa yang sedang terjadi.”
Liris yang duduk di dekat jendela memandang Bu Laras cukup lama. Setelah pelajaran selesai, ia mendekati gurunya.
“Bu,” katanya pelan, “bolehkah anak-anak datang ke pertemuan itu?”
Bu Laras tampak berpikir.
“Pertemuan itu untuk warga dan orang tua,” katanya. “Tetapi kalian boleh datang jika didampingi keluarga.”
Liris mengangguk, lalu menunduk pada buku tulis birunya.
Malam itu, ia tidak langsung tidur.
Di rumah kecilnya, lampu minyak menyala di atas meja kayu. Adiknya telah terlelap di tikar. Ibunya masih merapikan beberapa pakaian yang baru dicuci. Dari luar rumah, suara jangkrik terdengar bersahutan.
Liris duduk sendiri di dekat jendela.
Di depannya terbuka buku tulis biru yang selama ini menyimpan banyak kata. Ada catatan tentang Langit Biru, daftar buku yang dipinjam warga, nama-nama anak kecil yang mulai belajar membaca, serta beberapa puisi pendek yang belum pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.
Ia memegang pensil cukup lama.
Lalu ia mulai menulis.
Mula-mula hanya satu baris.
Kemudian dua baris.
Lalu semakin banyak.
Ia menulis tentang sekolah tua di ujung kebun singkong. Tentang jendela tanpa kaca. Tentang papan tulis retak. Tentang anak-anak yang datang membawa buku dalam kantong plastik. Tentang guru yang tetap mengajar ketika hujan masuk ke kelas.
Ia juga menulis tentang ketakutan.
Tentang anak-anak yang mungkin harus berjalan jauh ke kecamatan.
Tentang orang tua yang mulai berpikir bahwa sekolah terlalu mahal untuk dipertahankan.
Tentang mimpi yang dapat hilang sebelum sempat tumbuh.
Ketika ibunya mendekat, Liris masih menulis.
“Kau membuat apa?” tanya ibunya.
“Puisi, Bu.”
“Untuk tugas sekolah?”
Liris menggeleng. “Untuk pertemuan di balai desa.”
Ibunya terdiam.
“Kau mau membacakannya?”
“Aku belum tahu.”
Ibunya duduk di sampingnya. Ia membaca beberapa baris yang telah ditulis Liris. Wajahnya berubah perlahan. Setelah selesai membaca, ia tidak langsung berkata apa-apa.
“Kalau kau merasa itu perlu dibacakan,” katanya akhirnya, “bacakanlah.”
“Kalau orang-orang tidak mau mendengar?”
“Kadang orang dewasa perlu diingatkan oleh anak-anak,” jawab ibunya.
Keesokan malamnya, balai desa mulai dipenuhi warga.
Lampu-lampu neon yang tergantung di langit-langit memancarkan cahaya putih pucat. Bangku panjang disusun menghadap meja depan. Di sana duduk Kepala Dusun, beberapa perangkat desa, Pak Mulyono, dan Bu Laras. Beberapa warga datang membawa anak kecil. Ada bapak-bapak yang baru pulang dari kebun, masih mengenakan sandal berlumpur. Ada ibu-ibu yang duduk sambil menggendong bayi.
Rantaka datang bersama Darma dan Rukmini.
Ia duduk di bagian belakang bersama Liris, Banyu, dan Jagra. Mereka tidak banyak bicara. Semua menunggu pembahasan tentang sekolah dimulai.
Setelah beberapa urusan desa dibicarakan, Kepala Dusun berdiri.
“Sekarang kita membahas keadaan SD Wanasari,” katanya.
Suasana balai desa langsung lebih hening.
Pak Mulyono kemudian berdiri. Ia membawa beberapa lembar kertas dan berbicara dengan suara tenang, tetapi tegas.
Ia menjelaskan bahwa sekolah akan dievaluasi oleh kecamatan. Jumlah murid dianggap sedikit. Bangunan sekolah dinilai tidak layak di beberapa bagian. Fasilitas belajar terbatas. Atap kelas enam yang runtuh menjadi salah satu catatan penting.
“Kami telah melakukan pembersihan dan perbaikan sederhana,” kata Pak Mulyono. “Anak-anak bahkan ikut menjaga lingkungan sekolah. Namun, untuk perbaikan yang lebih besar, kita membutuhkan dukungan bersama.”
Seorang warga mengangkat tangan.
“Dukungan seperti apa, Pak?” tanyanya.
“Dukungan tenaga, gagasan, dan jika memungkinkan, bantuan bahan untuk perbaikan ringan. Yang terpenting, kita harus menunjukkan bahwa sekolah ini masih dibutuhkan oleh warga.”
Seorang bapak di bagian tengah bangku menghela napas.
“Sekolah memang penting,” katanya. “Tetapi kita juga harus realistis. Kalau bangunannya sudah terlalu rusak dan kecamatan ingin menutup, kita bisa apa?”
Beberapa orang mengangguk pelan.
“Anak-anak bisa pindah ke kecamatan,” kata warga lain. “Memang jauh, tapi mungkin itu lebih baik daripada belajar di bangunan yang tidak aman.”
Rantaka merasakan tangan ibunya menyentuh bahunya. Ia tahu ibunya juga cemas.
Pak Mulyono belum sempat menjawab ketika seorang ibu berdiri.
“Anak saya kelas satu,” katanya. “Kalau harus ke kecamatan, siapa yang mengantar? Suami saya pergi ke kebun sebelum matahari terbit. Saya harus menjaga anak yang kecil. Kami tidak punya sepeda motor.”
Balai desa kembali hening.
Kepala Dusun memandang warga satu per satu.
“Kita semua memahami kesulitan itu,” katanya. “Tetapi masalah biaya perbaikan sekolah juga bukan perkara kecil.”
Kata-kata itu membuat suasana semakin berat.
Liris menunduk. Di pangkuannya, buku tulis biru ia pegang erat-erat. Tangannya terlihat gemetar.
Rantaka yang duduk di sebelahnya melihat hal itu.
“Kau ingin membacakan puisimu?” bisiknya.
Liris tidak menjawab.
“Aku takut,” katanya akhirnya.
“Kenapa?”
“Karena mereka semua orang dewasa.”
Rantaka memandang ke depan. Wajah-wajah warga terlihat lelah. Ada yang tampak putus asa. Ada yang sedang menghitung kesulitan dalam pikirannya. Ada pula yang mungkin sudah membayangkan anak-anak mereka harus berhenti sekolah.
“Justru karena mereka orang dewasa,” kata Rantaka pelan, “mereka perlu mendengar suara anak-anak.”
Liris menatapnya.
Banyu mengangguk. “Puisi itu bisa membuat mereka melihat sekolah dari sisi yang lain.”
Jagra yang biasanya paling banyak bercanda kini berkata dengan serius, “Kalau kau tidak berani, aku yang maju. Tapi aku tidak bisa membuat puisi.”
Liris hampir tersenyum.
Kemudian ia berdiri.
Gerakannya membuat beberapa warga menoleh. Bu Laras yang duduk di depan melihat Liris dengan wajah terkejut. Liris berjalan perlahan menuju meja depan. Kakinya tampak ragu, tetapi ia terus melangkah.
“Pak,” katanya kepada Kepala Dusun, “bolehkah saya membacakan sesuatu?”
Kepala Dusun memandang Pak Mulyono dan Bu Laras. Bu Laras mengangguk.
“Silakan, Liris,” kata Kepala Dusun.
Liris berdiri di depan balai desa.
Tangannya memegang buku tulis biru. Suaranya pada awalnya kecil, hampir tenggelam oleh bunyi kipas angin tua di sudut ruangan. Namun, setelah membaca beberapa baris pertama, suaranya perlahan menjadi lebih jelas.
Ia membacakan puisi berjudul “Sekolah yang Menunggu Pagi.”
Di ujung kebun singkong
ada sekolah kecil yang tidak meminta istana
hanya atap yang tidak bocor
dan papan tulis untuk menulis nama kami.
Di sana kami belajar mengeja dunia
dari huruf-huruf yang kadang pudar
dari buku-buku tua
yang tetap membuka jalan.
Jangan tutup pintunya
sebelum kami sempat melangkah jauh.
Jangan padamkan lampunya
sebelum kami belajar menjadi cahaya.
Sebab kami bukan angka dalam daftar murid.
Kami adalah anak-anak desa
yang ingin percaya
bahwa masa depan juga mengenal alamat rumah kami.
Ketika Liris selesai, balai desa menjadi sangat sunyi.
Tidak ada tepuk tangan pada awalnya.
Hanya kesunyian.
Kesunyian yang penuh oleh kata-kata yang baru saja jatuh ke hati banyak orang.
Seorang ibu di bangku depan mengusap matanya. Ia memeluk anak kecil di pangkuannya lebih erat. Seorang bapak yang tadi berkata tentang pindah ke kecamatan menunduk cukup lama. Bahkan Kepala Dusun tampak tidak segera menemukan kata-kata.
Bu Laras berdiri dari tempat duduknya.
Ia mendekati Liris, lalu memegang bahu muridnya dengan lembut.
“Terima kasih,” katanya.
Suara Bu Laras terdengar bergetar.
Tepuk tangan mulai terdengar.
Mula-mula dari satu orang.
Kemudian dari beberapa orang.
Lalu seluruh balai desa dipenuhi tepuk tangan yang panjang.
Rantaka melihat Liris menunduk, menahan air mata. Banyu tersenyum kecil. Jagra menepuk tangan paling keras, seolah ingin memastikan semua orang tahu bahwa sahabatnya telah melakukan sesuatu yang besar.
Setelah suasana sedikit tenang, Bu Sari berdiri.
“Saya tidak punya uang banyak,” katanya. “Tetapi saya bisa membantu memasak untuk warga yang bekerja memperbaiki sekolah.”
Seorang bapak dari ujung ruangan menyahut, “Saya punya beberapa batang bambu di belakang rumah. Kalau diperlukan, boleh diambil.”
Warga lain berkata, “Saya bisa membantu memperbaiki saluran air.”
Beberapa ibu mulai berbicara tentang mengumpulkan bahan makanan. Para pemuda desa yang duduk di belakang mulai membicarakan cara memperbaiki bagian pagar dan teras sekolah.
Harapan tidak langsung berubah menjadi jawaban.
Atap kelas enam belum tiba-tiba menjadi baru.
Papan tulis retak belum kembali utuh.
Masalah biaya perbaikan sekolah juga belum selesai.
Namun, malam itu, sesuatu yang sebelumnya terasa padam mulai menyala kembali.
Kepala Dusun berdiri dan memandang seluruh warga.
“Kita belum memiliki semua jalan,” katanya. “Tetapi malam ini kita tahu bahwa anak-anak kita masih ingin berjalan. Jangan sampai kita menjadi orang dewasa yang menutup jalan itu sebelum mereka mencoba.”
Kalimat itu membuat banyak orang terdiam.
Rantaka memandang sahabat-sahabatnya.
Di tangan Liris, buku tulis biru masih terbuka pada halaman puisi. Halaman itu tidak lagi hanya menyimpan kata-kata. Ia telah menjadi suara yang membuat satu balai desa berhenti, mendengar, dan mengingat kembali arti sebuah sekolah.
Ketika pertemuan selesai, warga pulang dengan langkah yang berbeda.
Mereka masih membawa kekhawatiran.
Namun, mereka juga membawa percakapan baru.
Tentang bambu yang dapat disumbangkan.
Tentang tenaga yang dapat diberikan.
Tentang anak-anak yang harus tetap sekolah.
Di luar balai desa, langit malam terbentang gelap, tetapi bintang-bintang mulai tampak di antara awan.
Rantaka berdiri di dekat Liris.
“Puisimu membuat mereka diam,” katanya.
Liris menatap langit.
“Aku hanya menulis apa yang kami rasakan,” jawabnya.
Rantaka mengangguk.
Kadang, satu puisi tidak dapat memperbaiki atap yang runtuh.
Tetapi satu puisi dapat membuat orang-orang yang hampir menyerah kembali mengangkat kepala.
Dan malam itu, di Balai Desa Wanasari, suara seorang anak telah menggetarkan harapan yang hampir hilang.
Bab 13 — Ladang yang Menelan Langkah
Beberapa hari setelah pertemuan di balai desa, Desa Wanasari kembali dipenuhi kesibukan kecil yang membawa harapan.
Di halaman SD Wanasari, beberapa warga mulai datang pada sore hari untuk membantu pekerjaan ringan. Ada yang membawa bambu, ada yang memperbaiki bagian pagar, dan ada pula yang membersihkan saluran air di belakang kelas. Bu Sari bersama ibu-ibu lain kadang mengirimkan teh hangat dan singkong rebus untuk mereka yang bekerja.
Atap kelas enam memang belum dapat diperbaiki sepenuhnya. Terpal tua masih menutup bagian yang runtuh. Papan tulis retak masih tergantung di depan kelas. Namun, setelah puisi Liris dibacakan di balai desa, sekolah itu tidak lagi terasa seperti tempat yang ditinggalkan sendirian.
Warga mulai datang.
Anak-anak mulai lebih rajin menjaga kebersihan.
Dan Langit Biru terus menjalankan Gerobak Buku setiap Minggu.
Rantaka seharusnya merasa lega.
Namun, pada suatu pagi, sebelum matahari benar-benar naik, sebuah peristiwa mengubah suasana rumahnya.
Hari itu Darma berangkat ke ladang lebih awal dari biasanya.
Musim hujan membuat tanah di kebun menjadi lembap. Beberapa pohon kecil di bagian pinggir ladang perlu dibersihkan agar tidak mengganggu tanaman singkong. Darma membawa parang, tali, dan bekal nasi yang dibungkus daun pisang.
Sebelum berangkat, ia sempat melihat Rantaka yang sedang mengenakan seragam sekolah.
“Belajar yang sungguh-sungguh,” katanya.
“Iya, Yah,” jawab Rantaka.
Darma mengangguk, lalu berjalan menyusuri jalan tanah menuju ladang.
Rantaka tidak tahu bahwa pagi itu akan menjadi pagi terakhir ia melihat ayahnya berjalan dengan langkah tegap.
Menjelang siang, ketika pelajaran di kelas enam sedang berlangsung, suara gaduh terdengar dari halaman sekolah.
Seorang lelaki berlari masuk melalui gerbang. Bajunya basah oleh keringat dan lumpur. Wajahnya tampak panik.
Pak Mulyono yang sedang berjalan menuju kantor segera menghampirinya.
“Ada apa, Pak Jamin?” tanya kepala sekolah.
“Pak Darma kecelakaan di ladang,” jawab lelaki itu terengah-engah. “Kakinya tertimpa batang pohon.”
Rantaka yang duduk di dalam kelas langsung berdiri.
Kata-kata itu seperti menghantam kepalanya.
Bu Laras menoleh ke arah Rantaka. Wajahnya berubah pucat.
“Rantaka,” katanya pelan.
Namun, Rantaka sudah berlari keluar kelas.
Ia tidak sempat mengambil tas. Ia tidak sempat berpikir. Yang ada di kepalanya hanya ayahnya, ladang, dan batang pohon yang jatuh.
Pak Jamin berusaha menahannya.
“Jangan lari sendiri, Nak. Bapakmu sudah dibawa warga ke rumah.”
Rantaka berhenti, tetapi dadanya terasa seperti terbakar. Bu Laras keluar dari kelas dan memegang bahunya.
“Pulanglah bersama Pak Jamin,” katanya. “Ibu akan menyusul.”
Rantaka mengangguk tanpa benar-benar mendengar.
Ia menaiki sepeda Pak Jamin di bagian belakang. Sepanjang perjalanan, roda sepeda memercikkan lumpur. Jalan tanah yang biasa ia lalui setiap hari kini terasa jauh lebih panjang. Pohon-pohon, sawah, dan rumah-rumah warga lewat begitu cepat di matanya.
Ketika sampai di rumah, beberapa orang sudah berkumpul di halaman.
Rukmini berdiri di dekat pintu dengan wajah pucat. Matanya merah. Di dalam rumah, Darma berbaring di atas tikar. Celananya digulung hingga lutut. Kaki kirinya dibalut kain, tetapi darah masih terlihat merembes di beberapa bagian.
Seorang warga sedang mengompres bagian yang bengkak dengan air hangat.
“Ayah!” seru Rantaka.
Darma membuka mata perlahan.
“Rantaka,” katanya dengan suara lemah.
Rantaka duduk di sampingnya. Tangannya gemetar ketika menyentuh tangan ayahnya.
“Ayah sakit?”
Darma mencoba tersenyum, tetapi wajahnya menahan nyeri.
“Tidak apa-apa,” katanya. “Hanya kaki Bapak yang sedang keras kepala.”
Namun, Rantaka tahu itu bukan hal kecil.
Pak Jamin kemudian menceritakan apa yang terjadi. Darma sedang membantu menebang batang pohon tua di pinggir ladang. Tanah yang licin membuat salah satu warga terpeleset saat menarik tali. Batang pohon itu jatuh lebih cepat dari perkiraan dan mengenai kaki Darma sebelum ia sempat menghindar.
Warga segera mengangkat batang tersebut dan membawa Darma pulang.
“Harus dibawa ke puskesmas,” kata Bu Laras yang datang tidak lama kemudian.
Rukmini mengangguk, tetapi wajahnya tampak bingung.
“Bagaimana membawanya?” tanyanya.
Pak Jamin menawarkan sepeda motor miliknya. Dua warga lain membantu mengangkat Darma dengan hati-hati. Rantaka ikut duduk di belakang Rukmini saat mereka berangkat menuju puskesmas di kecamatan pembantu yang letaknya beberapa kampung dari Desa Wanasari.
Perjalanan terasa sangat panjang.
Setiap kali motor melewati jalan berlubang, Darma meringis kesakitan. Rantaka memegang punggung ibunya erat-erat. Ia tidak berkata apa-apa, tetapi air matanya jatuh tanpa suara.
Di puskesmas, petugas memeriksa kaki Darma.
Rantaka dan Rukmini menunggu di lorong sempit yang dindingnya berwarna putih kusam. Bau obat-obatan memenuhi udara. Di sudut ruangan, seorang anak kecil menangis dalam pelukan ibunya. Di luar, hujan gerimis mulai turun lagi.
Setelah beberapa waktu, petugas kesehatan keluar.
“Kakinya mengalami cedera cukup berat,” katanya kepada Rukmini. “Tidak patah, tetapi ada luka dan pembengkakan yang harus dirawat. Untuk beberapa waktu, Pak Darma tidak boleh bekerja berat atau banyak berjalan.”
Rukmini mengangguk pelan.
“Berapa lama?” tanyanya.
“Mungkin beberapa minggu. Bisa lebih lama, tergantung pemulihannya.”
Beberapa minggu.
Bagi keluarga lain, mungkin kalimat itu hanya berarti waktu untuk beristirahat.
Namun, bagi keluarga Rantaka, beberapa minggu tanpa Darma bekerja berarti tidak ada penghasilan dari ladang. Tidak ada upah harian. Tidak ada uang tambahan untuk membeli kebutuhan rumah, obat, atau perlengkapan sekolah.
Rantaka memandang ibunya.
Rukmini berusaha terlihat kuat. Ia mengucapkan terima kasih kepada petugas, mengurus obat, lalu kembali menemani Darma. Tetapi ketika ia mengira Rantaka tidak melihat, ia duduk di kursi lorong dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Rantaka berdiri diam.
Ia ingin berkata sesuatu.
Ia ingin mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Namun, ia tidak tahu bagaimana cara meyakinkan ibunya ketika dirinya sendiri merasa takut.
Menjelang sore, mereka pulang ke rumah.
Darma dibaringkan di tikar dekat jendela agar mendapat udara lebih banyak. Kakinya dibalut lebih rapi. Obat-obatan diletakkan di atas meja kecil. Pak Jamin dan beberapa warga membantu memperbaiki posisi tempat tidur agar Darma lebih nyaman.
Saat warga mulai pulang, rumah itu mendadak terasa sunyi.
Tidak ada suara Darma bersiap pergi ke ladang.
Tidak ada parang yang diasah di halaman.
Tidak ada langkah kaki ayahnya menuju kebun pada pagi hari.
Yang ada hanya suara hujan yang kembali turun di atap rumah.
Malam itu, Rukmini memasak nasi dengan lauk sederhana. Darma makan sedikit, lalu minum obat. Rantaka duduk di dekatnya sambil memperhatikan wajah ayahnya.
“Besok aku tidak usah sekolah dulu,” kata Rantaka tiba-tiba.
Darma menoleh.
“Kenapa?”
“Aku bisa membantu Ibu. Aku bisa ke ladang melihat tanaman. Aku bisa mencari rumput untuk kambing.”
Darma diam beberapa saat.
“Kau tetap sekolah,” katanya.
“Tapi Ayah tidak bisa bekerja.”
“Itu urusan orang dewasa.”
“Aku juga bisa bekerja.”
Darma memandang anaknya dengan mata yang lelah, tetapi tegas.
“Kau memang bisa membantu,” katanya. “Dan Bapak senang kau mau membantu. Tetapi jangan jadikan kesulitan ini alasan untuk meninggalkan sekolah.”
Rantaka menunduk.
“Tapi bagaimana kalau kita tidak punya uang?”
Darma menarik napas perlahan, menahan rasa sakit di kakinya.
“Kita akan berusaha,” katanya. “Satu hari demi satu hari.”
Rantaka tidak menjawab.
Ia tahu ayahnya sedang berusaha menenangkan dirinya. Namun, ia juga tahu bahwa di balik kata-kata itu ada kecemasan yang besar.
Setelah Darma tidur, Rantaka membantu Rukmini mencuci piring di dapur. Lampu minyak menyala redup. Di atas rak, kaleng tempat menyimpan uang hasil jualan kue masih berada di tempatnya.
Rukmini membuka kaleng itu dan menghitung uang di dalamnya.
Tidak banyak.
Rantaka melihat ibunya berhenti cukup lama ketika menghitung lembar terakhir.
“Bu,” katanya pelan, “besok aku bisa membantu menjual kue lebih banyak.”
Rukmini menatapnya.
“Kau tetap harus sekolah.”
“Aku bisa berangkat lebih pagi.”
Rukmini tidak langsung menjawab. Ia menutup kaleng itu, lalu menyimpannya kembali di rak.
“Kita lihat nanti,” katanya.
Jawaban itu terdengar sederhana.
Namun, bagi Rantaka, jawaban itu terasa seperti pintu yang mulai terbuka menuju hari-hari yang lebih berat.
Di luar rumah, hujan semakin deras.
Air mengalir dari atap ke tanah, membentuk garis-garis kecil di halaman. Jalan menuju ladang yang biasa dilalui Darma kini berubah menjadi lumpur gelap. Ladang itu tetap ada di kejauhan, tetapi bagi Rantaka, tempat itu seperti telah menelan langkah ayahnya dan mengembalikannya dalam keadaan lemah.
Malam semakin larut.
Rantaka berbaring di tikarnya, tetapi tidak dapat tidur.
Ia memikirkan ayahnya.
Ia memikirkan ibunya yang menghitung uang dalam diam.
Ia memikirkan sekolah yang sedang berjuang agar tidak ditutup.
Dan untuk pertama kalinya, ia merasa perjuangan itu tidak lagi hanya terjadi di halaman SD Wanasari.
Perjuangan itu telah masuk ke dalam rumahnya sendiri.
Bab 14 — Kue-Kue di Atas Sepeda Tua
Pagi di rumah Rantaka tidak lagi sama sejak kaki Darma terluka.
Sebelumnya, sebelum ayam jantan berkokok untuk kedua kalinya, Darma sudah bangun dan menyalakan lampu minyak di dapur. Ia akan menyiapkan parang, mengenakan topi lusuhnya, lalu berangkat ke ladang sambil membawa bekal nasi yang dibungkus daun pisang.
Kini, pada jam yang sama, Darma masih berbaring di tikar dekat jendela.
Kakinya dibalut kain putih. Di sampingnya ada botol obat, segelas air, dan tongkat kayu yang dibuat Pak Jamin agar ia dapat berjalan ke halaman jika benar-benar perlu. Namun, Darma lebih sering hanya duduk diam, memandangi jalan tanah di depan rumah dengan wajah yang sulit dibaca.
Rantaka selalu terbangun ketika mendengar ibunya bergerak di dapur.
Pagi itu, langit masih gelap ketika ia membuka mata. Dari dapur terdengar bunyi sendok mengaduk adonan dan suara minyak panas yang mendesis. Bau pisang goreng, kue cucur, dan singkong rebus perlahan memenuhi rumah kecil mereka.
Rantaka bangkit dari tikar.
“Bu,” katanya dari ambang dapur, “aku bantu.”
Rukmini menoleh. Wajahnya tampak lelah, tetapi ia tetap berusaha tersenyum.
“Kau bangun terlalu pagi.”
“Aku tidak mengantuk.”
Rukmini tidak langsung menjawab. Ia sedang mengangkat kue cucur dari wajan, lalu meletakkannya di atas tampah yang sudah dialasi daun pisang.
Sejak Darma tidak dapat bekerja, Rukmini mulai membuat lebih banyak kue untuk dijual. Biasanya, ia hanya menerima pesanan dari beberapa tetangga atau menitipkan kue di warung kecil dekat jalan utama desa. Namun, sekarang ia harus berkeliling agar lebih banyak kue terjual.
Masalahnya, Rukmini tidak bisa meninggalkan Darma terlalu lama.
Karena itulah, Rantaka ingin membantu.
“Aku bisa mengantar kue ke rumah-rumah,” katanya lagi. “Aku pakai sepeda tua.”
Rukmini menatapnya cukup lama.
“Setelah itu kau harus sekolah.”
“Iya, Bu. Aku berangkat sebelum teman-teman datang.”
Dari tikar dekat jendela, Darma membuka mata.
“Jangan sampai terlambat,” katanya.
Rantaka menoleh. “Tidak akan, Yah.”
Darma memandang anaknya dengan serius. “Membantu Ibu itu baik. Tapi sekolah tetap yang utama.”
Rantaka mengangguk.
Ia ingin berkata bahwa ia mengerti. Namun, di dalam hatinya, ia mulai merasa bahwa hidup tidak selalu memberi pilihan yang mudah. Ia harus membantu ibunya. Ia juga harus tetap sekolah. Ia harus menjaga nilai pelajaran agar tidak tertinggal. Ia harus tetap menjalankan Gerobak Buku bersama Langit Biru.
Semua itu terasa seperti beban yang terlalu banyak untuk dipikul oleh seorang anak kelas enam.
Tetapi Rantaka tidak ingin menyerah.
Pagi itu, Rukmini menyusun kue-kue ke dalam dua keranjang kecil. Ada pisang goreng, kue cucur, lemper, dan singkong rebus. Keranjang itu kemudian diikat pada bagian belakang sepeda tua milik Darma.
Sepeda itu sudah sangat tua.
Cat birunya hampir habis. Rantai sepedanya sering berbunyi keras. Sadel kulitnya sobek di beberapa bagian dan ditutup dengan kain bekas. Rem depannya tidak terlalu kuat, sehingga Rantaka harus berhati-hati ketika melewati jalan menurun.
Namun, sepeda itu masih dapat berjalan.
Dan pagi itu, sepeda tua itu menjadi jalan pertama Rantaka untuk membantu keluarganya.
“Jangan terlalu jauh,” pesan Rukmini sambil mengikatkan kain kecil pada keranjang agar kue tidak terkena debu.
“Aku ke rumah Bu Sari, Pak Jamin, lalu ke warung dekat jalan besar.”
“Kalau belum habis?”
“Aku coba ke rumah-rumah yang lain.”
Rukmini mengangguk pelan.
Rantaka lalu mendorong sepeda keluar halaman. Udara pagi masih dingin. Kabut tipis menggantung di atas sawah. Jalan tanah belum ramai, hanya terlihat beberapa warga yang berjalan menuju kebun atau membawa rumput untuk ternak.
Keranjang kue di belakang sepeda bergoyang-goyang saat ia mengayuh.
Rumah pertama yang ia datangi adalah rumah Bu Sari.
Bu Sari sedang menyapu halaman ketika melihat Rantaka datang.
“Pagi-pagi sekali sudah berjualan?” tanyanya.
“Iya, Bu. Ibu mau kue?”
Bu Sari mendekat dan melihat isi keranjang.
“Wah, ada kue cucur. Berapa?”
Rantaka menyebutkan harga dengan suara pelan. Bu Sari membeli beberapa bungkus, lalu menambahkan satu lemper lagi.
“Ini untuk Bu Rukmini,” katanya. “Bilang padanya, kalau ada pesanan untuk kegiatan warga, saya akan kabari.”
“Terima kasih, Bu.”
Dari rumah Bu Sari, Rantaka pergi ke rumah Pak Jamin. Kemudian ke rumah seorang ibu yang biasa membeli singkong rebus. Setelah itu, ia menuju warung kecil di ujung jalan desa.
Di warung itu, ia menitipkan beberapa kue kepada pemiliknya.
“Kalau laku, nanti sore saya ambil uangnya,” kata Rantaka.
Pemilik warung mengangguk. “Boleh. Tapi jangan terlalu banyak dulu.”
Rantaka mengerti. Tidak semua orang bisa membeli. Banyak warga desa juga sedang mengatur pengeluaran mereka sendiri. Namun, ia tetap bersyukur karena beberapa kue telah terjual.
Saat matahari mulai naik, Rantaka melihat waktu.
Ia segera mengayuh sepeda menuju sekolah.
Jalan tanah yang semula lengang kini mulai ramai. Beberapa anak berjalan sambil membawa tas. Ada yang melambaikan tangan ketika melihat Rantaka lewat.
“Rantaka, kau dari mana?” teriak Jagra dari kejauhan.
Rantaka hanya menjawab sambil terus mengayuh, “Nanti saja!”
Ia sampai di SD Wanasari ketika bel hampir berbunyi.
Napasnya terengah-engah. Keringat membasahi bagian belakang seragamnya. Tangannya sedikit lengket karena tadi membantu membungkus kue. Ia langsung meletakkan sepeda di bawah pohon beringin, lalu berlari menuju kelas.
Liris sudah duduk di bangkunya.
“Kau terlambat?” tanyanya.
“Belum,” jawab Rantaka sambil menarik napas. “Hampir.”
Banyu yang duduk di belakang memperhatikan wajahnya.
“Kau terlihat capai.”
“Aku membantu Ibu menjual kue.”
Jagra menoleh. “Sejak pagi?”
Rantaka mengangguk.
Liris tampak ingin bertanya lebih banyak, tetapi Bu Laras sudah masuk kelas.
Pelajaran dimulai.
Hari itu, Bu Laras menjelaskan tentang pecahan dan perbandingan. Ia menulis beberapa soal di papan tulis retak. Kapur bergerak perlahan di sisi kiri papan, menghindari garis retakan panjang yang membelah permukaannya.
Rantaka berusaha memperhatikan.
Namun, matanya terasa berat.
Kata-kata Bu Laras terdengar seperti datang dari jauh. Angka-angka di papan tulis mulai terlihat kabur. Ia mencoba menyalin soal ke buku, tetapi tangannya bergerak lambat.
Ketika Bu Laras bertanya, “Siapa yang bisa menjawab soal nomor tiga?” Rantaka biasanya akan mengangkat tangan.
Hari itu, ia hanya menunduk.
Liris meliriknya dengan cemas.
Saat jam istirahat, Rantaka duduk di teras kelas sambil meminum air dari botol kecil. Jagra datang membawa singkong rebus.
“Ambil,” katanya.
“Aku tidak lapar.”
“Kalau tidak lapar, kenapa wajahmu seperti orang yang baru mendorong gerobak sampai kecamatan?”
Rantaka tersenyum tipis. Ia menerima singkong itu.
Banyu duduk di sebelahnya.
“Kalau kau harus membantu Ibu setiap pagi, kita bisa mengubah jadwal Gerobak Buku,” katanya.
Rantaka menggeleng. “Tidak usah. Gerobak Buku tetap jalan.”
“Kau tidak harus melakukan semuanya sendiri,” kata Liris yang baru datang membawa buku catatan.
Rantaka memandang ketiga sahabatnya.
Ia tahu mereka berniat baik. Namun, ia juga merasa malu. Selama ini, ia selalu ingin menjadi orang yang mengajak dan menguatkan mereka. Kini, ketika keluarganya sedang kesulitan, ia tidak ingin terlihat seperti anak yang tidak sanggup menjalankan tanggung jawabnya.
“Aku bisa,” katanya pelan.
Jagra tidak membantah. Ia hanya duduk di samping Rantaka.
Namun, setelah beberapa hari, keadaan mulai terasa semakin berat.
Setiap pagi, Rantaka membantu Rukmini menyiapkan dan mengantar kue. Kadang ia harus mengayuh lebih jauh karena beberapa pembeli tinggal di sisi lain desa. Jika hujan turun, jalan menjadi licin dan roda sepedanya sering masuk ke lumpur. Beberapa kali, keranjang kue hampir jatuh ketika ia melewati jalan berbatu.
Suatu pagi, rantai sepeda lepas.
Rantaka sedang membawa kue ke warung ketika sepeda itu tiba-tiba berhenti di tengah jalan. Ia berjongkok, mencoba memasang rantai dengan tangan yang gemetar. Oli hitam menempel di jarinya. Waktu terus berjalan.
Ketika rantai akhirnya terpasang, seragamnya sudah terkena noda.
Ia mengayuh secepat mungkin menuju sekolah.
Hari itu, ia benar-benar terlambat.
Bu Laras sedang mengajar ketika Rantaka berdiri di pintu kelas. Beberapa murid menoleh. Rantaka menunduk, menahan malu.
“Maaf, Bu,” katanya.
Bu Laras memandangnya. Matanya sempat jatuh pada seragam Rantaka yang kotor oleh oli dan lumpur.
“Masuklah,” katanya lembut.
Rantaka duduk di bangkunya tanpa berani menatap siapa pun.
Setelah pelajaran selesai, Bu Laras memanggilnya ke meja guru.
“Rantaka, apakah ada sesuatu yang ingin kau ceritakan?”
Rantaka diam.
Bu Laras tidak memaksanya. Ia hanya menunggu.
“Ayah saya belum bisa bekerja, Bu,” kata Rantaka akhirnya. “Saya membantu Ibu jualan kue.”
Bu Laras mengangguk pelan.
“Itu tanggung jawab yang besar.”
“Saya tidak mau terlambat, Bu. Tapi kadang tidak sempat.”
Bu Laras memandang buku tulis Rantaka. Beberapa catatan pelajaran terlihat belum selesai. Ada soal yang kosong. Ada tulisan yang lebih berantakan daripada biasanya.
“Kau boleh membantu keluargamu,” kata Bu Laras. “Tetapi jangan biarkan kelelahan membuatmu kehilangan pelajaran.”
Rantaka menunduk.
“Saya akan berusaha.”
“Kalau ada pelajaran yang tertinggal, datanglah setelah sekolah. Ibu akan membantu.”
Rantaka menatap gurunya.
“Benarkah, Bu?”
Bu Laras tersenyum. “Benar.”
Sejak hari itu, Rantaka mulai tinggal beberapa waktu setelah sekolah selesai.
Saat teman-teman lain pulang, ia duduk di kelas bersama Bu Laras. Mereka mengulang pelajaran matematika, membaca kembali teks Bahasa Indonesia, dan membahas soal-soal yang belum ia pahami.
Kadang Liris ikut tinggal untuk membantu Rantaka mencatat pelajaran.
Kadang Banyu membawa alat tulis tambahan.
Jagra, meski sering berkata bahwa ia tidak suka belajar terlalu lama, tetap datang membawa singkong rebus atau pisang dari rumah.
“Kau harus makan,” katanya. “Kalau tidak, kau akan tertidur di atas buku.”
Rantaka mulai menyadari bahwa kelelahan tidak hanya membuat tubuhnya berat. Kelelahan juga membuatnya mudah merasa sendiri.
Padahal, ia tidak sendiri.
Suatu sore, setelah selesai belajar tambahan, Rantaka berjalan pulang sambil mendorong sepeda tua. Matahari mulai turun di balik kebun singkong. Langit berwarna jingga pucat. Jalan tanah masih menyimpan bekas roda gerobak dan jejak kaki warga.
Di belakang sepedanya, keranjang kue sudah kosong.
Sebagian kue terjual.
Sebagian lagi dibawa pulang untuk ayah dan ibunya.
Ketika sampai di rumah, Darma duduk di depan pintu dengan tongkat kayu di sampingnya. Kakinya masih dibalut, tetapi wajahnya tampak sedikit lebih segar.
“Bagaimana sekolah?” tanya Darma.
“Baik, Yah.”
“Tidak terlambat?”
Rantaka berhenti sejenak.
“Hari ini tidak.”
Darma tersenyum tipis.
Rantaka masuk ke rumah dan melihat ibunya sedang menghitung uang hasil jualan. Tidak banyak, tetapi cukup untuk membeli beras, minyak goreng, dan sebagian obat ayahnya.
Rukmini menatap anaknya.
“Kau capai?”
Rantaka ingin menjawab tidak.
Namun, kali ini ia memilih berkata jujur.
“Sedikit, Bu.”
Rukmini mendekat dan mengusap rambutnya.
“Terima kasih sudah membantu.”
Kalimat itu membuat dada Rantaka terasa hangat sekaligus sesak.
Ia tahu hari-hari berikutnya mungkin akan lebih berat.
Sepeda tua itu mungkin akan kembali rusak.
Kue-kue mungkin tidak selalu habis terjual.
Pelajaran di sekolah mungkin semakin sulit dikejar.
Namun, setiap pagi, Rantaka akan tetap mengayuh sepeda itu.
Membawa kue-kue untuk membantu keluarganya.
Lalu berlari menuju sekolah, membawa harapan agar mimpinya tidak tertinggal di belakang.
Bab 15 — Uang Tabungan yang Hilang
Malam itu, hujan turun pelan di Desa Wanasari.
Tidak deras seperti hujan yang pernah merobohkan bagian atap SD Wanasari, tetapi cukup untuk membuat jalan tanah kembali basah dan licin. Dari dalam rumah, suara air yang jatuh dari ujung atap terdengar teratur, seperti seseorang sedang mengetuk tanah tanpa henti.
Rantaka duduk di dekat lampu minyak sambil membuka buku pelajarannya.
Di hadapannya, ada soal-soal matematika yang diberikan Bu Laras. Beberapa angka sudah ia kerjakan. Namun, pikirannya tidak sepenuhnya berada di halaman buku. Dari dapur, ia mendengar suara ibunya membuka kaleng kecil tempat menyimpan uang.
Kaleng itu sudah sangat dikenalnya.
Kaleng bekas biskuit berwarna biru tua itu selalu disimpan Rukmini di atas rak dapur, di belakang beberapa piring dan gelas. Di dalamnya, ada uang hasil jualan kue, uang untuk membeli beras, serta sedikit tabungan yang mereka simpan untuk keperluan mendadak.
Dulu, Rantaka juga memiliki bagian kecil di dalam kaleng itu.
Bukan uang yang banyak.
Hanya hasil dari beberapa kali membantu menjual kue, uang pemberian kakeknya saat Lebaran, dan uang hadiah ketika ia pernah menjadi juara membaca di kelas. Rukmini menyimpannya terpisah dalam amplop cokelat kecil.
Uang itu rencananya akan digunakan untuk membeli buku pelajaran baru dan seragam sekolah ketika seragam lamanya sudah tidak lagi layak dipakai.
Namun, malam itu, suara lembaran uang yang dihitung terdengar lebih sedikit dari biasanya.
Rantaka menoleh ke arah dapur.
Rukmini duduk di lantai, dekat meja kecil. Lampu minyak di dapur membuat wajahnya tampak lebih pucat. Di depannya terbuka kaleng biru tua, beberapa lembar uang, serta bungkus obat Darma yang harus dibeli lagi.
Darma duduk di dekat jendela dengan kaki masih dibalut. Ia tidak berkata apa-apa. Tangannya hanya memegang tongkat kayu yang kini selalu berada di sampingnya.
“Obatnya tinggal sedikit,” kata Rukmini pelan.
Darma mengangguk.
“Besok harus dibeli lagi,” lanjut Rukmini. “Petugas puskesmas bilang lukanya jangan sampai terlambat dirawat.”
“Aku masih punya uang dari jualan kue,” kata Darma.
Rukmini menggeleng. “Itu sudah dipakai untuk beras dan minyak. Tinggal ini.”
Darma menunduk.
Rantaka tidak lagi melihat buku pelajarannya.
Ia memandangi ibunya yang membuka amplop cokelat kecil dari dalam kaleng. Amplop itu sudah kusut di bagian sudut. Rukmini memegangnya cukup lama sebelum akhirnya membuka lipatannya.
Rantaka tahu amplop itu miliknya.
Dadanya terasa seperti ditarik.
Rukmini menghitung uang di dalamnya. Ada beberapa lembar uang kecil dan beberapa lembar yang lebih besar. Jumlahnya tidak banyak bagi orang lain, tetapi bagi Rantaka, uang itu adalah hasil dari banyak hari.
Ia teringat ketika kakeknya memasukkan uang ke telapak tangannya sambil berkata, “Simpan untuk sekolah.”
Ia teringat ketika Bu Laras memberinya hadiah karena berhasil membaca cerita di depan kelas.
Ia teringat ketika ia membantu Rukmini menjual kue, lalu ibunya menyisihkan beberapa lembar uang untuknya.
Semua kenangan itu seperti ikut terlipat di dalam amplop cokelat.
Rukmini menatap Darma.
“Kalau uang ini dipakai dulu,” katanya lirih, “nanti bagaimana dengan buku dan seragam Rantaka?”
Darma tidak langsung menjawab.
Rantaka menunduk cepat-cepat agar mereka tidak melihat matanya mulai basah.
“Aku tidak mau uang Rantaka dipakai,” kata Darma akhirnya.
“Tapi obatmu harus dibeli,” jawab Rukmini.
“Kita bisa pinjam.”
“Kita sudah terlalu sering berutang beras di warung.”
Suasana dapur menjadi sunyi.
Hanya suara hujan yang terdengar.
Rantaka menutup bukunya perlahan. Ia berdiri, lalu berjalan ke dapur.
“Pakai saja, Bu,” katanya.
Rukmini terkejut. “Rantaka…”
“Pakai uang itu untuk obat Ayah.”
“Itu tabunganmu.”
“Ayah lebih penting.”
Darma menatap anaknya. Wajahnya tampak berat.
“Tidak, Nak,” katanya. “Itu untuk sekolahmu.”
Rantaka menggeleng. “Aku masih punya buku lama. Seragam ini juga masih bisa dipakai.”
Ia melihat seragamnya sendiri. Bagian siku sudah mulai tipis. Warna putihnya tidak lagi benar-benar putih. Di bagian dada, ada jahitan kecil bekas sobekan ketika ia jatuh dari sepeda beberapa bulan lalu.
Namun, ia tidak peduli.
“Aku bisa pakai ini dulu,” katanya. “Yang penting Ayah sembuh.”
Rukmini menggenggam amplop itu erat-erat.
“Maafkan Ibu,” katanya dengan suara bergetar.
Rantaka segera menggeleng.
“Jangan minta maaf, Bu.”
Namun, setelah kalimat itu keluar, hatinya terasa semakin sesak.
Bukan karena ia tidak ingin membantu ayahnya.
Ia ingin.
Sangat ingin.
Tetapi di dalam dirinya, ada rasa kehilangan yang sulit dijelaskan. Tabungan itu bukan hanya uang. Tabungan itu adalah tanda bahwa ia masih memiliki rencana untuk tetap sekolah. Bahwa suatu hari ia bisa memiliki buku baru, seragam yang lebih layak, dan mungkin sepatu yang tidak lagi robek di bagian depan.
Kini, rencana itu harus ditunda.
Malam itu, Rukmini menggunakan sebagian uang tabungan Rantaka untuk membeli obat Darma.
Keesokan harinya, Rantaka kembali membantu ibunya menjual kue. Ia mengayuh sepeda tua lebih jauh dari biasanya. Ia berharap semua kue habis agar uang yang masuk bisa sedikit menggantikan tabungan yang telah digunakan.
Namun, tidak semua orang membeli.
Di beberapa rumah, warga hanya tersenyum dan berkata akan membeli lain kali. Di warung, beberapa kue masih tersisa karena pembeli sedang sepi. Ketika Rantaka pulang, keranjangnya belum kosong.
Ia tidak mengeluh.
Ia hanya menyimpan kue yang tersisa di dapur, lalu bersiap berangkat ke sekolah.
Hari itu, Bu Laras membagikan lembar pemberitahuan kepada murid kelas enam.
Di dalamnya tertulis daftar kebutuhan untuk kegiatan belajar menjelang ujian akhir. Murid diminta membawa beberapa buku tulis tambahan, alat tulis, dan iuran kecil untuk fotokopi bahan latihan.
Rantaka memegang lembar itu cukup lama.
Jumlah iurannya tidak besar.
Tetapi bagi keluarganya sekarang, uang sekecil apa pun harus dipikirkan.
Saat pulang sekolah, Liris berjalan di sampingnya.
“Kau kenapa?” tanyanya.
“Tidak apa-apa.”
“Kau dari tadi melihat kertas itu terus.”
Rantaka melipat lembar pemberitahuan dan memasukkannya ke dalam tas.
“Cuma soal iuran.”
Liris mengangguk. “Kalau kau belum bisa bayar sekarang, mungkin Bu Laras bisa menunggu.”
Rantaka tidak menjawab.
Ia tidak ingin sahabatnya tahu bahwa uang tabungannya telah digunakan. Ia tidak ingin terlihat seperti anak yang selalu membawa masalah. Ia tidak ingin Langit Biru berubah menjadi tempat orang-orang merasa kasihan kepadanya.
Sesampainya di rumah, ia meletakkan tas di dekat tikar dan membantu ibunya menyiapkan adonan kue untuk esok pagi.
Darma masih belum dapat bekerja.
Lukanya mulai membaik sedikit, tetapi ia belum boleh berjalan jauh. Sesekali ia mencoba berdiri dengan tongkat, lalu kembali duduk karena wajahnya menahan nyeri.
Rantaka melihat ayahnya memandangi ladang dari pintu rumah.
“Ayah ingin ke ladang?” tanya Rantaka.
Darma menghela napas.
“Ladang tidak akan pergi,” katanya. “Tapi tanaman tidak bisa menunggu terlalu lama.”
Rantaka diam.
Ia tahu ada singkong yang harus diperiksa. Ada rumput yang harus dibersihkan. Ada tanah yang perlu dirawat. Jika tidak, hasil panen mereka bisa berkurang.
Malam berikutnya, Rantaka terbangun karena mendengar suara ibunya menangis.
Suara itu sangat pelan.
Seolah-olah Rukmini berusaha agar tidak ada yang mendengar.
Rantaka membuka mata. Lampu minyak di dapur masih menyala. Dari balik tirai kain, ia melihat ibunya duduk sendirian di dekat meja kecil. Kaleng biru tua berada di depannya.
Rukmini tidak sedang menghitung uang.
Ia hanya memegang amplop cokelat yang kini hampir kosong.
Rantaka tidak bergerak.
Ia merasa seperti ada batu besar di dadanya.
Ia ingin menghampiri ibunya. Ia ingin berkata bahwa ia tidak apa-apa. Ia ingin mengatakan bahwa uang itu memang seharusnya digunakan untuk ayah. Namun, ia tahu ibunya menangis bukan hanya karena uang.
Ibunya menangis karena tidak dapat memberi semua yang dibutuhkan keluarganya.
Karena harus memilih antara obat suami dan kebutuhan sekolah anak.
Karena keadaan sering kali memaksa seseorang mengambil keputusan yang tidak ingin diambilnya.
Rantaka menutup mata, tetapi air mata tetap mengalir di pipinya.
Di dalam pikirannya, muncul sebuah kalimat yang belum pernah berani ia ucapkan.
Kalau aku berhenti sekolah, mungkin Ibu tidak perlu memikirkan buku dan iuran lagi.
Kalimat itu membuatnya takut.
Ia teringat Darma yang berkata bahwa sekolah tidak boleh ditinggalkan hanya karena kesulitan. Ia teringat Bu Laras yang selalu mengatakan bahwa pendidikan adalah jalan. Ia teringat papan tulis retak di kelas yang masih digunakan untuk menulis pelajaran.
Namun, jalan menuju sekolah terasa semakin berat.
Bukan karena jaraknya.
Bukan karena hujan atau lumpur.
Melainkan karena rumahnya kini dipenuhi kebutuhan yang tidak dapat ditunda.
Keesokan paginya, Rantaka kembali mengenakan seragam lusuhnya.
Ia mengikat tali sepatunya yang mulai aus. Ia membantu ibunya menaikkan keranjang kue ke sepeda tua. Ia melihat Darma duduk di depan rumah sambil memegang tongkat.
Sebelum berangkat, Darma memanggilnya.
“Rantaka.”
“Iya, Yah?”
Darma memandangnya lama.
“Kau tetap sekolah, kan?”
Pertanyaan itu sederhana.
Namun, Rantaka tidak dapat langsung menjawab.
Ia hanya mengangguk.
“Iya, Yah.”
Lalu ia mengayuh sepeda tua itu perlahan menyusuri jalan tanah.
Di belakangnya, keranjang kue bergoyang-goyang.
Di dalam dadanya, mimpi tentang sekolah masih ada.
Tetapi kini, mimpi itu terasa seperti sesuatu yang harus ia pegang sangat erat agar tidak ikut hilang bersama uang tabungan yang telah digunakan untuk menyembuhkan ayahnya.
Bab 16 — Perpisahan di Bawah Beringin
Pagi itu, Rantaka datang ke sekolah dengan langkah yang lebih lambat dari biasanya.
Langit Desa Wanasari tampak pucat. Awan tipis menggantung di atas kebun singkong, seolah matahari sendiri belum yakin akan menampakkan wajahnya. Jalan tanah masih lembap oleh hujan malam, dan ujung celana seragam Rantaka kembali terkena cipratan lumpur.
Di belakang sepedanya, tidak ada lagi keranjang kue.
Ia sudah mengantarkan semua kue sebelum berangkat. Sebagian terjual, sebagian dititipkan di warung. Namun, hasilnya belum cukup untuk menghapus kecemasan yang terus tinggal di rumahnya.
Sepanjang perjalanan menuju sekolah, satu kalimat terus berputar di kepalanya.
Kalau aku berhenti sekolah, mungkin Ibu tidak perlu memikirkan buku dan iuran lagi.
Ia membenci kalimat itu.
Namun, semakin ia berusaha menolaknya, semakin kalimat itu kembali datang.
Di rumah, Darma masih belum dapat bekerja. Obatnya harus dibeli. Ladang perlu dirawat. Rukmini harus membuat kue sejak dini hari, lalu memikirkan beras, minyak, dan kebutuhan rumah yang tidak pernah berhenti datang.
Sementara itu, di sekolah, Rantaka mulai tertinggal pelajaran.
Ia masih berusaha mengikuti Bu Laras. Ia masih tinggal setelah jam sekolah untuk belajar tambahan. Namun, tubuhnya semakin sering lelah. Kadang ia mengantuk saat membaca. Kadang ia tidak dapat menyelesaikan pekerjaan rumah karena malamnya dipakai membantu ibunya membuat adonan.
Hari itu, ketika Bu Laras meminta murid-murid mengumpulkan latihan matematika, Rantaka menyerahkan buku dengan beberapa soal yang masih kosong.
Bu Laras tidak berkata apa-apa di depan kelas.
Ia hanya menerima buku itu, lalu menatap Rantaka sejenak.
Tatapan itu tidak marah.
Justru karena tidak marah, Rantaka merasa semakin malu.
Saat bel istirahat berbunyi, ia tidak keluar bersama teman-teman lain. Ia duduk di bangkunya, menatap halaman buku yang penuh coretan dan jawaban yang belum selesai.
Liris datang membawa dua buah pisang rebus.
“Kau belum makan,” katanya.
Rantaka menggeleng. “Tidak lapar.”
“Kau selalu bilang begitu.”
“Aku memang tidak lapar.”
Liris menaruh pisang itu di atas meja Rantaka.
“Kalau begitu, simpan saja.”
Banyu dan Jagra datang beberapa saat kemudian. Jagra membawa selembar kertas yang sudah dilipat.
“Ada kabar,” katanya.
Rantaka tidak menoleh.
“Kepala Dusun mengajak warga kerja bakti hari Minggu,” lanjut Jagra. “Katanya untuk memperbaiki bagian teras sekolah dan saluran air. Kita juga bisa membawa Gerobak Buku ke balai desa setelahnya.”
“Bagus,” jawab Rantaka datar.
Liris memandangnya. “Kau ikut, kan?”
Rantaka terdiam.
Banyu yang sejak tadi berdiri di dekat jendela menoleh perlahan.
“Rantaka?” tanya Liris lagi.
“Aku tidak tahu.”
“Kenapa tidak tahu?”
“Aku harus membantu Ibu.”
“Kita bisa menyesuaikan waktunya,” kata Banyu. “Gerobak Buku tidak harus selalu berempat.”
Rantaka mengangkat wajahnya.
“Bukan itu maksudku.”
Jagra mengerutkan dahi. “Lalu?”
Rantaka menarik napas panjang. Kata-kata yang selama beberapa hari ia simpan akhirnya terasa ingin keluar, meski ia sendiri takut mendengarnya.
“Mungkin aku tidak akan sekolah lagi.”
Ketiga sahabatnya terdiam.
Suara anak-anak lain yang bermain di halaman seolah tiba-tiba menjauh.
Liris memandang Rantaka tanpa berkedip.
“Apa?” katanya pelan.
“Mungkin setelah ini aku berhenti sekolah,” ulang Rantaka.
Jagra tertawa kecil, tetapi tawanya tidak terdengar seperti biasanya.
“Jangan bercanda.”
“Aku tidak bercanda.”
Banyu duduk di kursi sebelah Rantaka. “Karena uang tabunganmu dipakai untuk obat ayahmu?”
Rantaka menoleh cepat.
“Kau tahu?”
“Aku mendengar dari Ibu,” jawab Banyu. “Ibu membantu ibumu menjual kue beberapa hari lalu.”
Rantaka merasa wajahnya panas.
Ia tidak ingin siapa pun tahu. Ia tidak ingin menjadi bahan pembicaraan. Ia tidak ingin dikasihani.
“Kalau kau tahu, kenapa kau tidak bilang?” tanyanya.
“Karena itu urusan keluargamu,” jawab Banyu. “Aku hanya ingin tahu apakah kau baik-baik saja.”
“Aku baik-baik saja.”
“Tidak,” kata Liris. “Kau tidak baik-baik saja.”
Rantaka berdiri dari bangkunya.
“Aku harus membantu keluarga,” katanya. “Ayah tidak bisa bekerja. Ibu harus jualan kue. Kalau aku tetap sekolah, aku cuma menambah biaya.”
“Kau bukan biaya,” kata Liris cepat.
Rantaka menatapnya.
“Kau tidak tahu,” katanya. “Kau tidak tahu bagaimana rasanya melihat Ibu menghitung uang sampai menangis. Kau tidak tahu bagaimana rasanya membawa kue keliling sebelum sekolah, lalu datang terlambat dan tidak bisa mengikuti pelajaran.”
Liris terdiam.
Wajahnya berubah.
Banyu menunduk, sementara Jagra menggenggam kertas di tangannya.
“Aku tahu aku tidak mengalami persis seperti itu,” kata Liris pelan. “Tapi aku tahu sekolah ini penting buatmu.”
“Penting tidak selalu berarti bisa dijalani,” jawab Rantaka.
Kalimat itu keluar lebih keras daripada yang ia inginkan.
Beberapa murid yang berada di teras mulai menoleh ke arah mereka.
Rantaka mengambil tasnya, lalu berjalan keluar kelas.
Ia tidak ingin melihat wajah sahabat-sahabatnya.
Ia tidak ingin mendengar kata-kata penghiburan.
Ia tidak ingin ada yang mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, karena baginya, tidak ada seorang pun yang benar-benar tahu apakah itu akan terjadi.
Ia berjalan menuju pohon beringin.
Pohon itu berdiri di sisi halaman sekolah, besar dan tua. Akar-akarnya menjalar di tanah seperti tangan yang mencoba memegang bumi. Di bawah pohon itulah Langit Biru pernah dibentuk. Di bawah pohon itu pula mereka pernah menyebut mimpi masing-masing.
Rantaka duduk di salah satu akar yang menonjol.
Tidak lama kemudian, Liris, Banyu, dan Jagra datang menyusul.
Mereka berdiri beberapa langkah di depannya.
Angin bergerak pelan di antara daun-daun beringin.
“Aku tidak mau kalian mengejarku,” kata Rantaka tanpa menoleh.
“Kami bukan mengejarmu,” jawab Jagra. “Kami datang karena kami sahabatmu.”
Rantaka tertawa pahit.
“Sahabat tidak bisa membayar obat ayahku.”
Jagra terdiam.
“Kami bisa membantu,” kata Banyu. “Kita bisa mencari cara.”
“Cara apa?” Rantaka menoleh tajam. “Membuat gerobak buku lagi? Menjual bunga dari kaleng bekas? Itu tidak cukup.”
“Kita belum tahu kalau belum mencoba,” kata Banyu.
“Aku sudah mencoba!” suara Rantaka meninggi. “Aku bangun sebelum pagi. Aku jualan kue. Aku belajar sampai sore. Aku bantu Ibu malam hari. Tapi tetap saja uang tidak cukup.”
Liris melangkah mendekat.
“Kalau kau berhenti sekolah, apakah semuanya akan langsung cukup?”
Pertanyaan itu membuat Rantaka terdiam sesaat.
“Setidaknya aku bisa bekerja lebih banyak,” katanya.
“Kau masih anak-anak,” kata Liris.
“Aku sudah cukup besar untuk melihat keadaan rumahku!”
Liris menunduk. Matanya mulai berkaca-kaca.
“Kami juga punya masalah,” katanya pelan. “Banyu harus membantu ayahnya memperbaiki alat-alat di rumah. Jagra harus ikut mencari ikan. Aku harus menjaga adik ketika Ibu bekerja. Tapi kalau semua orang berhenti karena hidup sulit, siapa yang akan tetap berjalan?”
Rantaka berdiri.
“Jangan samakan masalah kalian dengan masalahku.”
Kalimat itu membuat suasana berubah.
Banyu yang selama ini diam akhirnya mengangkat wajah.
“Tidak ada yang menyamakan,” katanya. Suaranya tenang, tetapi terdengar terluka. “Kami hanya tidak ingin kehilanganmu.”
“Kalau begitu, jangan paksa aku.”
“Kami tidak memaksa,” kata Jagra. “Kami hanya ingin kau ingat apa yang pernah kau katakan.”
Rantaka memandangnya.
“Kau yang bilang pendidikan adalah jalan untuk mengubah nasib,” lanjut Jagra. “Kau yang mengajak kami membersihkan sekolah. Kau yang bilang kita tidak boleh diam ketika sekolah mau ditutup.”
Rantaka merasa dadanya semakin sesak.
“Dulu aku tidak tahu keadaan rumahku akan seperti ini.”
“Dan sekarang kami tahu,” kata Liris. “Karena itu kami ingin berdiri di sampingmu.”
“Aku tidak butuh dikasihani!”
“Aku tidak mengasihanimu!” Liris akhirnya meninggikan suara. Air mata jatuh di pipinya. “Aku marah karena kau mau menyerah sendirian!”
Rantaka terdiam.
Daun-daun beringin bergerak lebih keras ketika angin datang.
Liris mengusap air matanya dengan punggung tangan.
“Kau pikir kami tidak peduli?” katanya. “Kau pikir Langit Biru hanya nama yang kita buat untuk bermain? Kita membuatnya karena kita percaya mimpi tidak boleh dibatasi keadaan. Sekarang ketika keadaanmu sulit, kau justru ingin meninggalkan kami.”
“Aku tidak meninggalkan kalian,” kata Rantaka, tetapi suaranya melemah.
“Kau sedang melakukannya,” jawab Liris.
Banyu berdiri dan mengambil tasnya.
“Kalau kau sudah memutuskan,” katanya, “kami tidak bisa memaksamu.”
Jagra memandang Rantaka cukup lama. Biasanya, wajahnya mudah berubah menjadi senyum atau candaan. Namun, kali ini tidak ada senyum di sana.
“Aku kira kita akan berjuang sampai sekolah ini tidak jadi ditutup,” katanya.
Rantaka tidak menjawab.
Jagra mengangguk kecil, lalu berbalik.
Liris menyusul Banyu dan Jagra. Sebelum pergi, ia menoleh sekali lagi kepada Rantaka.
“Kalau suatu hari kau ingin kembali,” katanya pelan, “pohon ini masih ada.”
Lalu mereka pergi.
Rantaka tetap berdiri di bawah beringin.
Halaman sekolah di depannya tampak ramai, tetapi terasa jauh. Anak-anak kecil berlari sambil membawa bekal. Dari kelas, terdengar suara Bu Laras memanggil murid-murid agar masuk kembali. Di dekat teras, Gerobak Buku Langit Biru terparkir dengan roda yang sedikit miring.
Gerobak itu biasanya membuat Rantaka bangga.
Hari itu, ia bahkan tidak sanggup menatapnya lama-lama.
Saat bel masuk berbunyi, Rantaka tidak segera kembali ke kelas.
Ia duduk lagi di akar beringin.
Tangannya menggenggam tanah yang lembap.
Di kepalanya, ia masih mendengar suara Liris.
Kalau suatu hari kau ingin kembali, pohon ini masih ada.
Namun, saat itu, Rantaka tidak tahu apakah ia akan kembali.
Yang ia tahu hanya satu: untuk pertama kalinya sejak Langit Biru dibentuk, ia pulang dari sekolah tanpa berjalan bersama sahabat-sahabatnya.
Di jalan tanah menuju rumah, langkahnya terasa lebih berat daripada biasanya.
Bukan hanya karena lumpur.
Melainkan karena ia membawa perpisahan yang baru saja lahir di bawah pohon beringin tua.
Bab 17 — Surat Kakek yang Belum Selesai Dibaca
Sejak pertengkaran di bawah pohon beringin, Rantaka menjadi lebih pendiam.
Ia tetap datang ke sekolah, tetapi tidak lagi duduk bersama Liris, Banyu, dan Jagra saat jam istirahat. Ia memilih berada di sudut kelas, membuka buku pelajaran tanpa benar-benar membacanya. Kadang ia memandangi halaman sekolah dari jendela, melihat ketiga sahabatnya mendorong Gerobak Buku menuju rumah-rumah warga.
Gerobak itu tetap berjalan.
Banyu mendorongnya dengan kedua tangan yang kuat. Jagra berjalan di sampingnya sambil membawa beberapa buku bacaan. Liris membawa buku catatan dan pensil, siap membacakan cerita atau mengajari anak-anak kecil menulis huruf.
Rantaka melihat mereka dari kejauhan.
Ada keinginan untuk ikut berjalan bersama.
Namun, ada pula rasa malu yang membuat kakinya tetap diam.
Ia merasa telah mengatakan terlalu banyak hal yang menyakitkan.
Ia juga merasa terlalu lelah untuk meminta maaf.
Di rumah, keadaan belum banyak berubah.
Darma masih belum dapat kembali ke ladang. Kakinya memang mulai sedikit membaik, tetapi ia belum bisa berjalan jauh. Jika terlalu lama berdiri, wajahnya kembali menahan nyeri. Rukmini terus membuat kue sejak dini hari, sedangkan Rantaka membantu mengantar pesanan dengan sepeda tua.
Setiap hari, hidup mereka berjalan seperti putaran yang sama.
Bangun sebelum pagi.
Membuat kue.
Mengantar ke rumah-rumah warga.
Pergi ke sekolah.
Pulang untuk membantu lagi.
Malam hari belajar dengan mata yang berat.
Lalu kembali tidur dengan kecemasan yang belum selesai.
Pada suatu sore, hujan turun lebih lama dari biasanya.
Langit sejak siang sudah gelap. Angin membawa bau tanah basah dari kebun singkong. Rantaka pulang lebih cepat karena Bu Laras membolehkan murid-murid pulang sebelum hujan semakin deras.
Ketika sampai di rumah, ia melihat Rukmini sedang membereskan barang-barang lama di sudut ruang tengah.
Beberapa kardus bekas dikeluarkan dari bawah tempat tidur. Ada kain-kain lusuh, alat pertanian tua milik Darma, beberapa bingkai foto yang sudah berdebu, dan buku-buku lama yang disimpan dalam karung.
“Sedang mencari apa, Bu?” tanya Rantaka sambil meletakkan tasnya.
“Selimut lama,” jawab Rukmini. “Malam-malam sekarang lebih dingin. Ayahmu butuh tambahan selimut.”
Rantaka ikut membantu.
Ia mengangkat satu kardus kecil yang bagian bawahnya sudah mulai rapuh. Di dalamnya, terdapat beberapa buku tua. Sampulnya kusam, sebagian halaman sudah menguning. Ada buku cerita rakyat, buku pelajaran sekolah dasar, serta sebuah buku tulis bergaris dengan sampul cokelat.
Rantaka mengambil salah satu buku yang paling lusuh.
Di sampul depannya tertulis dengan huruf yang sudah memudar:
Milik Sastro Wening
Sastro Wening adalah nama kakeknya.
Kakek Rantaka sudah meninggal beberapa tahun lalu. Ia dikenal sebagai lelaki tua yang sering duduk di beranda rumah sambil mengisap rokok linting dan memandangi jalan desa. Kakek tidak banyak bicara, tetapi jika berbicara, suaranya selalu pelan dan dalam.
Dulu, ketika Rantaka masih kecil, kakeknya sering mengajarinya membaca.
Bukan dengan buku baru.
Melainkan dengan koran bekas, kalender dinding, dan papan iklan yang ditempel di warung.
“Huruf itu seperti jalan,” kata Kakek suatu kali. “Kalau kau bisa membacanya, kau bisa pergi ke banyak tempat meski kakimu tetap di desa.”
Saat itu, Rantaka belum benar-benar mengerti.
Kini, kalimat itu kembali muncul di kepalanya.
Ia membuka buku lusuh milik kakeknya.
Halaman pertama berisi beberapa catatan tangan. Tulisan itu tidak terlalu rapi, tetapi masih dapat dibaca. Ada catatan tentang harga pupuk, hasil panen, dan daftar kebutuhan rumah. Beberapa halaman berikutnya berisi potongan cerita, seperti seseorang yang menulis kenangan tanpa bermaksud menjadikannya buku.
Rantaka membalik halaman demi halaman.
Lalu, dari bagian tengah buku, jatuh sebuah amplop tua.
Amplop itu berwarna krem, sudah kusam dan sedikit robek di bagian sudut. Namanya tertulis di depan amplop dengan tulisan tangan yang sangat dikenalnya.
Untuk Rantaka, jika kelak ia sudah cukup besar untuk memahami.
Rantaka terdiam.
Tangannya mendadak dingin.
Ia menatap tulisan itu cukup lama sebelum akhirnya membuka amplop perlahan.
Di dalamnya terdapat beberapa lembar kertas yang sudah menguning.
Tulisan kakeknya memenuhi halaman pertama.
Rantaka,
Jika kau membaca surat ini, mungkin Kakek sudah tidak lagi duduk di beranda rumah sambil menunggumu pulang sekolah. Kakek menulis surat ini bukan karena Kakek pandai menulis, tetapi karena ada sesuatu yang selama hidup Kakek selalu ingin disampaikan kepada cucu Kakek.
Dulu, ketika Kakek seumurmu, Kakek ingin sekali sekolah. Kakek ingin membaca buku, ingin tahu tentang kota-kota yang ada di peta, dan ingin menjadi guru. Tetapi keadaan tidak mengizinkan. Orang tua Kakek miskin. Kakek harus membantu di ladang sejak kecil. Pada suatu hari, Kakek berhenti sekolah dan tidak pernah kembali.
Rantaka membaca perlahan.
Suara hujan di luar rumah terdengar semakin jelas.
Ia melanjutkan.
Saat itu Kakek merasa berhenti sekolah adalah pilihan yang paling benar. Kakek pikir, bekerja akan membuat keluarga lebih ringan. Tetapi setelah dewasa, Kakek mengerti bahwa ada hal-hal yang tidak dapat dibeli kembali. Waktu sekolah yang hilang tidak bisa diulang. Buku-buku yang tidak sempat dibaca tidak bisa kembali ke tangan Kakek.
Kakek bekerja keras sepanjang hidup. Kakek tidak malu menjadi petani. Tetapi Kakek selalu menyesal karena tidak memiliki cukup ilmu untuk memilih jalan hidup yang lebih luas.
Rantaka menelan ludah.
Kata-kata itu seperti ditulis khusus untuk menjawab pikirannya selama ini.
Ia terus membaca.
Kalau suatu hari hidupmu sulit, jangan cepat percaya bahwa sekolah adalah beban. Ilmu memang tidak selalu memberi hasil dalam satu hari. Ilmu tidak bisa langsung membeli beras atau obat. Tetapi ilmu akan menolongmu melihat jalan ketika hidup terasa gelap.
Jangan berhenti hanya karena keadaan membuatmu lelah. Boleh beristirahat. Boleh menangis. Boleh merasa takut. Tetapi jangan menyerahkan masa depanmu begitu saja kepada kesulitan hari ini.
Rantaka menunduk.
Air matanya jatuh ke atas kertas.
Ia segera mengusapnya agar tulisan kakeknya tidak terkena terlalu banyak air.
Di bagian bawah halaman, tulisan kakek tampak semakin kecil dan sedikit bergetar.
Kakek tidak bisa memberikan tanah yang luas, uang yang banyak, atau rumah yang besar. Tetapi Kakek ingin meninggalkan satu pesan: ilmu adalah warisan yang tidak dapat dicuri oleh siapa pun.
Kalau kau tetap belajar, kau akan membawa nama keluarga ini berjalan lebih jauh daripada langkah Kakek dahulu.
Jangan biarkan jalan tanah membuatmu lupa bahwa langit di atasmu tetap luas.
Kakekmu,
Sastro Wening.
Rantaka memegang surat itu erat-erat.
Untuk beberapa saat, ia tidak sanggup berkata apa-apa.
Ia teringat wajah kakeknya yang sering memandangi jalan desa. Ia teringat tangan kasar yang dulu membantunya mengeja huruf. Ia teringat kalimat tentang huruf yang menjadi jalan.
Tiba-tiba, Rantaka merasa bahwa selama ini ia tidak hanya membawa mimpinya sendiri.
Ada mimpi kakeknya yang pernah terhenti.
Ada harapan ayahnya yang tidak ingin anaknya mengalami hidup yang sama beratnya.
Ada perjuangan ibunya yang setiap pagi menggoreng kue demi menjaga rumah tetap menyala.
Dan ada sahabat-sahabat yang masih menjalankan Gerobak Buku, meski ia telah meninggalkan mereka dalam keadaan marah.
“Rantaka?”
Suara Rukmini membuatnya tersadar.
Ibunya berdiri di dekat pintu ruang tengah sambil membawa selimut tua.
“Apa yang kau temukan?”
Rantaka mengangkat surat itu.
“Surat dari Kakek.”
Rukmini mendekat. Ketika melihat nama Sastro Wening di bagian bawah surat, wajahnya berubah pelan. Ia duduk di samping Rantaka.
“Dulu Kakekmu memang sering menulis,” katanya. “Tapi Ibu tidak tahu ia pernah menulis surat untukmu.”
Rantaka menyerahkan surat itu.
Rukmini membacanya dalam diam. Setelah selesai, ia memegang kertas itu cukup lama.
“Dia selalu ingin kau sekolah setinggi mungkin,” katanya lirih.
Rantaka menatap ibunya.
“Bu, kalau aku tetap sekolah, apakah aku hanya akan menambah beban?”
Rukmini terdiam.
Pertanyaan itu terasa berat, karena jawabannya bukan sekadar tentang uang. Jawabannya adalah tentang harapan yang selama ini mereka pertahankan meski keadaan semakin sulit.
Rukmini menggenggam tangan Rantaka.
“Kau bukan beban,” katanya. “Kau adalah alasan Ibu dan Ayah bertahan.”
Rantaka menunduk.
“Tapi uang tabunganku sudah habis.”
“Uang bisa dicari lagi,” jawab Rukmini. “Buku bisa dipinjam. Seragam bisa dijahit. Tetapi kalau kau berhenti karena merasa tidak punya jalan, Ibu takut kau akan menyesal seperti Kakekmu.”
Rantaka tidak langsung menjawab.
Di ruang depan, Darma batuk pelan. Rukmini bangkit untuk mengambilkan air minum. Rantaka tetap duduk dengan surat di tangannya.
Ia membaca kembali bagian terakhir.
Jangan biarkan jalan tanah membuatmu lupa bahwa langit di atasmu tetap luas.
Kalimat itu tinggal lama di dalam dirinya.
Sore berubah menjadi malam.
Hujan mulai reda. Dari celah jendela, udara dingin masuk membawa bau daun basah. Rantaka menaruh surat kakeknya di dalam buku pelajaran, lalu menyimpannya di dekat tempat tidurnya.
Malam itu, ia masih belum sepenuhnya tahu bagaimana cara menyelesaikan semua masalah.
Ia belum tahu dari mana uang untuk kebutuhan sekolah akan datang.
Ia belum tahu kapan ayahnya dapat kembali bekerja.
Ia belum tahu apakah Liris, Banyu, dan Jagra masih mau berbicara dengannya.
Namun, untuk pertama kalinya sejak ia memutuskan ingin berhenti sekolah, Rantaka tidak lagi merasa keputusan itu adalah satu-satunya jalan.
Surat kakeknya belum menjawab semua persoalan.
Tetapi surat itu membuka sesuatu yang hampir tertutup di dalam dirinya.
Harapan.
Dan di tengah rumah kecil yang masih dipenuhi kecemasan, Rantaka mulai memahami bahwa harapan kadang datang bukan dalam bentuk uang atau pertolongan besar.
Kadang, harapan datang dalam bentuk surat lama yang terselip di antara halaman buku lusuh.
Surat dari seseorang yang telah lama pergi, tetapi masih ingin memastikan bahwa cucunya tidak menyerah di tengah jalan.
Bab 18 — Malam Tanpa Lampu
Hujan datang sejak sore dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.
Awan hitam menutup langit Desa Wanasari. Angin bergerak dari arah kebun singkong, menggoyangkan daun-daun pisang di belakang rumah Rantaka. Sesekali, kilat menyala di kejauhan, menerangi jalan tanah yang berubah menjadi garis-garis lumpur.
Rantaka baru saja pulang dari sekolah ketika hujan mulai turun lebih deras.
Hari itu ia tidak langsung pulang setelah pelajaran selesai. Ia sempat berdiri cukup lama di bawah pohon beringin, memandangi halaman sekolah yang mulai sepi. Gerobak Buku Langit Biru sudah tidak ada di sana. Mungkin Liris, Banyu, dan Jagra telah membawanya pulang lebih awal karena cuaca.
Rantaka ingin menyusul mereka.
Ia ingin meminta maaf.
Ia ingin mengatakan bahwa kata-kata yang keluar di bawah pohon beringin bukan sepenuhnya karena ia marah kepada mereka. Ia marah kepada keadaan. Ia marah kepada dirinya sendiri karena merasa tidak sanggup menjadi anak yang dapat membantu keluarga sekaligus tetap menjaga mimpinya.
Namun, setiap kali ia membayangkan wajah Liris yang menangis, langkahnya kembali tertahan.
Akhirnya, ia pulang sendirian.
Di rumah, Rukmini sedang menutup jendela dengan kain bekas agar air hujan tidak masuk. Beberapa ember sudah diletakkan di bawah bagian atap yang bocor. Darma duduk di dekat dinding sambil memegang tongkat kayu. Kakinya masih dibalut, tetapi bengkaknya sudah mulai berkurang.
“Cepat ganti baju,” kata Rukmini ketika melihat Rantaka masuk. “Nanti masuk angin.”
Rantaka mengangguk.
Ia mengganti seragamnya dengan kaus lama dan celana pendek. Setelah itu, ia membantu ibunya memindahkan tikar agar tidak terkena air dari kebocoran kecil di sudut rumah.
Hujan semakin deras.
Air menetes dari atap dengan bunyi yang tidak teratur. Kadang satu tetes, kadang banyak sekaligus. Rantaka mengambil ember lain, lalu meletakkannya di dekat dapur.
Darma memandangi anaknya.
“Kau capai?” tanyanya.
“Tidak, Yah.”
Darma tersenyum tipis. “Kau mulai pandai menjawab seperti Ibumu.”
Rukmini yang sedang menyalakan kompor kecil menoleh.
“Jawaban apa?”
“Kalau capai, bilang tidak capai.”
Rukmini tersenyum samar, tetapi senyumnya cepat hilang ketika suara petir menggelegar.
Menjelang malam, listrik padam.
Lampu yang sejak sore menyala redup tiba-tiba mati. Rumah kecil itu langsung tenggelam dalam gelap. Dari rumah-rumah tetangga, terdengar beberapa suara anak kecil yang berseru kaget.
Rukmini segera mencari lampu minyak.
“Rantaka, ambil korek di atas rak.”
Rantaka meraba-raba dinding dan meja. Dalam gelap, rumah itu terasa berbeda. Barang-barang yang biasa ia lihat setiap hari berubah menjadi bayangan yang tidak jelas. Ia menemukan korek, lalu membantu ibunya menyalakan lampu minyak.
Nyala kecil muncul perlahan.
Cahaya kuning memenuhi ruang tengah, memantul pada dinding kayu dan wajah-wajah mereka. Namun, lampu minyak itu tidak mampu mengusir seluruh gelap. Sudut-sudut rumah tetap tampak hitam. Di luar, hujan masih jatuh seperti tirai yang menutup dunia.
Mereka makan malam dengan sederhana.
Nasi hangat, sayur daun singkong, dan ikan asin yang digoreng tipis. Darma makan perlahan. Rukmini beberapa kali melihat ke arah kakinya, seolah memastikan luka itu tidak semakin sakit.
Rantaka tidak banyak bicara.
Di samping piringnya, buku lusuh milik Kakek Sastro Wening terletak tertutup. Surat kakeknya masih tersimpan di dalamnya.
Setelah makan, Rukmini pergi ke dapur untuk mencuci piring. Rantaka membantu membawa gelas dan sendok. Darma tetap duduk di dekat jendela, memandangi hujan yang tidak dapat dilihat jelas karena gelap.
Tiba-tiba, angin besar datang.
Pintu depan bergetar. Salah satu ember di bawah atap bergeser karena air yang jatuh terlalu deras. Rantaka segera membetulkannya.
Ketika ia kembali ke ruang tengah, ia melihat Darma sedang berusaha berdiri.
“Ayah mau ke mana?” tanya Rantaka cepat.
“Ke depan sebentar.”
“Ayah duduk saja. Biar aku yang lihat.”
Darma menggeleng. “Bapak ingin berdiri.”
Rantaka membantu ayahnya memegang tongkat. Dengan langkah pelan, Darma berjalan menuju pintu. Kakinya masih belum kuat, tetapi ia memaksa dirinya berdiri tegak.
Di bawah cahaya lampu minyak yang redup, Rantaka melihat sesuatu yang jarang ia lihat pada wajah ayahnya.
Bukan hanya rasa sakit.
Melainkan rasa kalah.
Darma berdiri di ambang pintu cukup lama. Di luar, hujan menutup jalan menuju ladang. Tidak ada satu pun cahaya dari arah kebun. Hanya suara air, angin, dan petir yang sesekali membelah langit.
“Dulu,” kata Darma perlahan, “kalau hujan seperti ini, Bapak selalu memikirkan ladang.”
Rantaka berdiri di sampingnya.
“Sekarang juga memikirkan ladang, Yah?”
Darma tersenyum kecil, tetapi senyum itu tampak berat.
“Sekarang Bapak memikirkan banyak hal.”
Rantaka tidak menjawab.
Darma menatap kegelapan di luar rumah.
“Bapak memikirkan singkong yang belum dibersihkan rumputnya. Memikirkan tanah yang mungkin longsor di bagian belakang. Memikirkan hasil panen yang belum tentu cukup.” Ia berhenti sebentar. “Tapi yang paling Bapak pikirkan adalah kau.”
Rantaka menoleh.
“Aku?”
Darma mengangguk.
“Bapak tahu kau membantu Ibu setiap pagi. Bapak tahu kau sering pulang dengan wajah lelah. Bapak juga tahu kau mulai tertinggal pelajaran.”
Rantaka menunduk.
“Aku masih bisa mengejar, Yah.”
“Bapak tahu.” Darma menarik napas perlahan. “Tapi Bapak juga tahu kau pernah berpikir untuk berhenti sekolah.”
Rantaka terdiam.
Ia tidak pernah mengatakannya langsung kepada ayahnya. Mungkin Darma mendengar dari Rukmini. Mungkin ayahnya hanya melihat perubahan dalam dirinya. Namun, malam itu, di tengah rumah yang gelap, Rantaka tidak lagi mampu menyangkal.
“Aku hanya ingin membantu,” katanya pelan.
Darma memejamkan mata sebentar.
“Bapak tahu.”
“Aku tidak mau Ibu menangis karena uang. Aku tidak mau Ayah memikirkan obat. Aku tidak mau menjadi beban.”
Darma membuka mata. Cahaya lampu minyak membuat wajahnya tampak lebih tua dari biasanya.
“Kau bukan beban.”
Rantaka menggigit bibir.
“Tapi uang tabunganku habis.”
“Uang itu dipakai untuk Bapak,” kata Darma dengan suara yang mulai bergetar. “Dan setiap kali Bapak melihat kau berangkat dengan seragam lusuh, Bapak merasa seperti telah mengambil sesuatu dari masa depanmu.”
Rantaka mengangkat wajah.
Darma menatapnya.
“Maafkan Bapak.”
Kalimat itu membuat Rantaka terdiam sepenuhnya.
Selama ini, Darma jarang meminta maaf. Bukan karena ia tidak memiliki kesalahan, tetapi karena ia adalah lelaki desa yang lebih sering menunjukkan kasih sayang lewat kerja keras daripada kata-kata.
Ia mengantar Rantaka ke sekolah ketika hujan.
Ia memperbaiki sandal anaknya yang putus.
Ia menabung sedikit demi sedikit untuk membeli buku.
Namun, malam itu, Darma meminta maaf dengan suara yang sangat pelan.
“Jangan bilang begitu, Yah,” kata Rantaka cepat. “Aku yang seharusnya minta maaf. Aku malah berpikir untuk berhenti sekolah.”
Darma menggeleng.
“Tidak. Kau sedang lelah. Orang yang lelah kadang tidak melihat jalan dengan jelas.” Ia menatap jalan tanah yang tertutup hujan. “Tapi dengarkan Bapak. Bapak tidak ingin kau hidup seperti Bapak.”
Rantaka terkejut.
“Ayah kenapa bilang begitu? Ayah bekerja keras.”
“Bekerja keras itu baik,” jawab Darma. “Menjadi petani juga pekerjaan yang mulia. Tetapi Bapak ingin kau punya pilihan. Bapak ingin kau bisa membaca dunia lebih luas daripada ladang ini. Kalau suatu hari kau memilih kembali ke desa dan bertani, itu harus karena kau memilih, bukan karena kau tidak punya jalan lain.”
Rantaka merasakan air mata menghangat di pelupuk matanya.
Darma melanjutkan, “Bapak tidak ingin luka di kaki ini membuat kau menyerah. Bapak tidak ingin kesulitan kita hari ini menjadi alasan kau menutup pintu masa depanmu.”
Di dapur, Rukmini berhenti mencuci piring.
Ia berdiri diam, mendengarkan.
“Kalau Bapak tidak bisa bekerja seperti dulu,” kata Darma, “kita cari cara lain. Kita pelan-pelan. Kita hemat. Kita minta bantuan kalau memang perlu. Tetapi kau tetap sekolah.”
Rantaka menatap ayahnya.
“Bagaimana kalau aku tidak sanggup?”
Darma mengangkat tangan dan meletakkannya di bahu Rantaka.
“Kalau kau tidak sanggup, jangan memikulnya sendiri.”
Kalimat itu sederhana.
Namun, di tengah malam tanpa lampu, kalimat itu terasa seperti cahaya yang lebih terang daripada nyala lampu minyak.
Rantaka menangis.
Ia tidak lagi berusaha menyembunyikannya. Ia memeluk ayahnya dengan hati-hati agar tidak mengenai kaki yang terluka. Darma membalas pelukan itu dengan satu tangan.
Rukmini datang mendekat.
Ia tidak berkata banyak. Ia hanya memeluk mereka berdua.
Untuk beberapa saat, hujan tetap turun.
Listrik masih padam.
Rumah kecil itu masih bocor di beberapa bagian.
Obat Darma tetap harus dibeli.
Uang tabungan Rantaka tetap telah digunakan.
Tidak ada masalah yang tiba-tiba hilang.
Namun, di dalam rumah itu, sesuatu berubah.
Rantaka tidak lagi merasa harus menghadapi semuanya sendiri.
Setelah beberapa lama, Darma kembali duduk di tikarnya. Rantaka mengambil buku lusuh milik kakeknya, lalu membuka surat yang tersimpan di dalamnya.
Ia membaca kembali satu kalimat yang paling membekas.
Boleh beristirahat. Boleh menangis. Boleh merasa takut. Tetapi jangan menyerahkan masa depanmu begitu saja kepada kesulitan hari ini.
Rantaka menutup surat itu perlahan.
Di luar, hujan mulai berkurang.
Suara air yang jatuh dari atap tidak lagi sekeras tadi. Angin juga mulai reda. Dari kejauhan, terdengar suara katak bersahutan di sawah yang tergenang.
Rantaka memandang lampu minyak yang masih menyala di tengah ruang.
Nyala itu kecil.
Namun, cukup untuk membuat mereka saling melihat.
Cukup untuk membuat rumah itu tidak sepenuhnya gelap.
Dan malam itu, Rantaka mengerti bahwa harapan tidak selalu datang dalam bentuk cahaya besar yang mengusir seluruh kegelapan.
Kadang, harapan hanya berupa nyala kecil yang dijaga bersama-sama agar tidak padam.
Bab 19 — Sahabat yang Kembali Datang
Pagi setelah malam tanpa lampu itu, Desa Wanasari tampak lebih tenang.
Hujan telah berhenti sejak menjelang subuh. Jalan tanah di depan rumah Rantaka masih basah, tetapi langit perlahan membuka warna birunya di antara awan-awan putih yang bergerak pelan. Dari kebun singkong, terdengar suara burung dan serangga yang kembali memenuhi pagi.
Rantaka bangun sebelum ibunya memanggil.
Ia duduk beberapa saat di tikarnya, memandangi buku lusuh milik Kakek Sastro yang tersimpan di dekat kepala. Surat itu masih berada di dalamnya. Ia tidak membacanya lagi, tetapi kata-kata kakeknya dan percakapan dengan ayahnya semalam terus tinggal di dalam pikirannya.
Ia belum tahu bagaimana semua masalah akan selesai.
Namun, ia tahu satu hal.
Ia tidak akan berhenti sekolah.
Rantaka berdiri, lalu berjalan ke dapur.
Rukmini sudah menyiapkan adonan kue. Wajahnya masih tampak lelah, tetapi pagi itu ada ketenangan yang sedikit berbeda dalam sorot matanya. Darma duduk di dekat pintu sambil memegang tongkat kayu. Kakinya masih belum benar-benar pulih, tetapi ia sudah bisa menggerakkan jari-jari kakinya lebih leluasa.
“Aku bantu, Bu,” kata Rantaka.
Rukmini menoleh. “Kau tidak perlu terlalu pagi.”
“Aku mau membantu.”
Darma tersenyum kecil.
Rantaka mulai menata kue-kue yang sudah matang ke dalam keranjang. Ia melakukannya lebih cepat daripada biasanya. Setelah itu, ia mengikat keranjang di belakang sepeda tua. Tangannya masih terkena sedikit minyak dan tepung, tetapi ia tidak peduli.
Sebelum berangkat, ia menoleh kepada ayahnya.
“Ayah, aku tetap sekolah.”
Darma memandangnya cukup lama.
Kemudian ia mengangguk.
“Itu yang Bapak ingin dengar.”
Rantaka mengayuh sepeda menyusuri jalan tanah.
Pagi itu, keranjang kue di belakangnya terasa lebih ringan. Bukan karena isinya berkurang, melainkan karena beban yang selama ini ia simpan sendiri mulai sedikit terangkat.
Ia mengantar beberapa pesanan ke rumah warga. Bu Sari membeli kue cucur dan pisang goreng. Pak Jamin membeli singkong rebus untuk dibawa ke ladang. Di warung ujung desa, pemilik warung menerima beberapa bungkus lemper untuk dititipkan.
Ketika semua selesai, Rantaka langsung menuju sekolah.
Ia tiba sebelum bel berbunyi.
Halaman SD Wanasari masih basah. Daun-daun beringin meneteskan sisa hujan malam. Di dekat teras kelas, Gerobak Buku Langit Biru berdiri seperti biasa. Roda depannya masih sedikit miring, tetapi rak kayunya sudah dibersihkan. Di atasnya tersusun buku cerita, buku pelajaran lama, majalah anak-anak, dan beberapa buku tulis bekas yang masih bisa digunakan.
Rantaka berhenti di dekat gerobak itu.
Tangannya menyentuh sisi kayu yang dibuat Banyu.
Ia teringat hari ketika mereka pertama kali menemukan buku-buku lama di gudang sekolah. Ia teringat Liris yang menyebut tempat itu sebagai perpustakaan kecil. Ia teringat Jagra yang mengeluh karena harus mendorong gerobak melewati jalan berlumpur.
Dan ia teringat pertengkaran di bawah pohon beringin.
Dadanya kembali terasa sesak.
Rantaka ingin mencari ketiga sahabatnya. Ia ingin meminta maaf sebelum pelajaran dimulai. Namun, keberaniannya belum cukup. Ia hanya berdiri di dekat gerobak hingga suara bel masuk terdengar.
Di kelas, Liris duduk di tempatnya seperti biasa. Banyu berada di belakang. Jagra datang beberapa menit kemudian dengan rambut yang masih sedikit basah karena embun pagi.
Mereka melihat Rantaka.
Namun, tidak ada yang langsung berbicara.
Rantaka menunduk dan membuka buku.
Pelajaran berlangsung seperti hari-hari sebelumnya, tetapi bagi Rantaka, setiap menit terasa lebih panjang. Ia ingin mengatakan sesuatu. Ia ingin meminta maaf. Namun, kata-kata itu seolah tertahan di tenggorokannya.
Saat jam istirahat, Rantaka keluar kelas lebih dulu.
Ia berjalan menuju pohon beringin.
Tempat itu masih sama.
Akar-akar besar menjalar di tanah. Daunnya bergerak pelan ditiup angin. Di bawah pohon itulah mereka membentuk Langit Biru. Di bawah pohon itu pula Rantaka mengatakan kata-kata yang membuat sahabat-sahabatnya terluka.
Rantaka duduk di salah satu akar.
Ia menunggu.
Namun, sampai bel masuk kembali berbunyi, tidak ada yang datang.
Hari itu berlalu tanpa percakapan.
Begitu pula hari berikutnya.
Rantaka tetap membantu ibunya menjual kue sebelum sekolah. Ia tetap mengikuti pelajaran tambahan bersama Bu Laras setelah jam sekolah selesai. Ia juga mulai membantu Darma merawat tanaman kecil di halaman rumah, seperti cabai dan sayur-sayuran yang dapat dipanen untuk kebutuhan dapur.
Namun, setiap kali melihat Gerobak Buku berjalan tanpa dirinya, ada bagian dalam dirinya yang terasa kosong.
Pada hari ketiga, menjelang sore, Rantaka sedang memperbaiki tali keranjang sepeda di halaman rumah ketika terdengar suara roda berderit dari arah jalan.
Ia menoleh.
Di ujung jalan tanah, Banyu tampak mendorong Gerobak Buku.
Di sampingnya berjalan Liris dengan membawa beberapa buku. Jagra membawa kantong kain yang tampak cukup berat. Mereka berjalan perlahan menuju rumah Rantaka.
Rantaka berdiri.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Untuk beberapa saat, tidak ada yang berkata-kata.
Banyu menghentikan gerobak di depan pagar bambu. Liris memandang Rantaka, sementara Jagra menaruh kantong kain di atas bangku kayu dekat teras.
“Apa kalian mencari Ibu?” tanya Rantaka akhirnya.
“Bukan,” jawab Jagra.
“Kami mencari kau,” kata Liris.
Rantaka menunduk.
“Aku mau minta maaf,” katanya cepat, seolah takut keberaniannya hilang. “Aku tidak seharusnya berkata seperti itu di bawah beringin. Aku tahu kalian hanya ingin membantu. Aku marah, tapi bukan kepada kalian.”
Liris tidak langsung menjawab.
Banyu memegang sisi gerobak.
Jagra menghela napas panjang.
“Aku juga mau minta maaf,” kata Liris akhirnya. “Aku terlalu keras bicara waktu itu.”
“Kau tidak salah,” jawab Rantaka.
“Aku tetap seharusnya tidak membuatmu merasa sendirian,” kata Liris.
Rantaka mengangkat wajah.
Banyu lalu membuka salah satu bagian rak Gerobak Buku. Dari dalamnya, ia mengambil beberapa buku tulis yang masih cukup bersih, dua pensil, sebuah penghapus, dan penggaris plastik.
“Ini dari buku-buku sisa di gudang,” katanya. “Ada beberapa halaman kosong. Bisa dipakai untuk latihan.”
Rantaka menerima barang-barang itu dengan tangan gemetar.
“Terima kasih,” katanya.
Jagra kemudian membuka kantong kain yang dibawanya.
Di dalamnya ada beberapa ikan sungai yang sudah dibersihkan, singkong, serta sebungkus kecil berisi uang.
Rantaka langsung menggeleng.
“Tidak. Aku tidak bisa menerima uang.”
“Ini bukan uang dari kami saja,” kata Jagra. “Sebagian dari hasil jualan ikan Bapak. Sebagian dari warga yang ikut Gerobak Buku minggu lalu. Mereka tahu ayahmu sedang sakit.”
“Aku tidak mau dikasihani.”
Jagra menatapnya dengan wajah serius.
“Tidak ada yang mengasihanimu. Ini gotong royong.”
Kalimat itu membuat Rantaka diam.
Liris mendekat.
“Bu Sari juga menitipkan pesan,” katanya. “Katanya, kalau ibumu mau menerima pesanan kue untuk kegiatan kerja bakti sekolah hari Minggu, beliau akan membantu mencarikan pembeli.”
Rantaka memandang ketiga sahabatnya satu per satu.
Mereka datang bukan membawa kata-kata besar.
Mereka membawa buku tulis bekas.
Mereka membawa ikan dan singkong.
Mereka membawa uang hasil usaha kecil.
Mereka membawa kabar tentang pesanan kue.
Hal-hal sederhana itu mungkin tidak langsung menyelesaikan seluruh masalah keluarga Rantaka.
Namun, semua itu menunjukkan bahwa ia tidak sendiri.
Dari dalam rumah, Rukmini keluar setelah mendengar suara di halaman.
Ketika melihat Liris, Banyu, dan Jagra, ia tersenyum hangat.
“Masuklah,” katanya. “Ibu buatkan teh.”
Mereka duduk di ruang tengah.
Darma yang sedang berbaring di tikar mencoba duduk lebih tegak. Ia memandang ketiga anak itu dengan mata yang penuh terima kasih.
“Kalian sahabat yang baik,” katanya.
Liris menunduk sopan. “Kami hanya datang membantu, Pak.”
Banyu memperhatikan kaki Darma.
“Bagaimana keadaan kaki Bapak?”
“Sudah lebih baik,” jawab Darma. “Masih belum bisa ke ladang, tapi sudah tidak terlalu sakit.”
Jagra tersenyum kecil. “Kalau sudah sembuh, Bapak harus lihat Gerobak Buku kami. Sekarang sudah ada tempat khusus untuk buku pelajaran.”
Darma tertawa pelan.
Suasana rumah yang selama beberapa minggu terasa berat, sore itu perlahan menjadi lebih hangat.
Rukmini menyuguhkan teh manis dan kue yang belum sempat dijual. Mereka berbincang tentang sekolah, tentang kerja bakti hari Minggu, dan tentang rencana perpustakaan keliling berikutnya.
Kemudian, Liris mengeluarkan sebuah kertas dari buku catatannya.
“Aku menulis beberapa kalimat untuk pengumuman Gerobak Buku,” katanya. “Mungkin kita bisa membacakannya saat keliling.”
Ia membaca pelan.
Buku-buku ini tidak datang dari kota besar.
Buku-buku ini lahir dari gudang tua dan tangan-tangan yang mau merawatnya.
Siapa pun boleh membaca, siapa pun boleh belajar,
karena masa depan tidak hanya milik mereka yang memiliki banyak uang.
Rantaka mendengarkan tanpa berkata-kata.
Kalimat itu membuatnya teringat surat Kakek Sastro.
Ilmu adalah warisan yang tidak dapat dicuri oleh siapa pun.
Setelah beberapa lama, Banyu berdiri.
“Kami harus lanjut keliling,” katanya. “Masih ada anak-anak di dekat sungai yang menunggu buku cerita.”
Jagra mengambil pegangan Gerobak Buku.
Namun, sebelum mereka pergi, Rantaka melangkah mendekat.
“Aku ikut.”
Liris menoleh.
“Sekarang?”
Rantaka mengangguk.
“Aku sudah terlalu lama membiarkan kalian mendorong gerobak ini tanpa aku.”
Banyu tersenyum tipis.
Jagra menggeser posisi tangannya.
“Kalau begitu, pegang sisi kiri. Roda kanan masih suka membelok sendiri.”
Rantaka tertawa kecil.
Tawa itu terasa asing setelah beberapa hari terakhir. Namun, tawa itu juga terasa seperti sesuatu yang kembali ke tempatnya.
Mereka berjalan menyusuri jalan tanah bersama-sama.
Banyu dan Rantaka mendorong Gerobak Buku dari dua sisi. Liris berjalan di depan sambil membawa buku cerita. Jagra membawa kantong kecil berisi alat tulis dan beberapa ikan yang tersisa untuk dibawa pulang nanti.
Di sepanjang jalan, anak-anak kecil mulai keluar dari rumah.
“Gerobak Buku datang!” teriak seorang anak.
Beberapa anak berlari mendekat.
Mereka memilih buku, duduk di teras rumah, lalu mendengarkan Liris membaca cerita. Banyu membantu seorang anak memperbaiki pensil yang patah. Jagra mengajari anak-anak membuat perahu kecil dari daun kelapa.
Rantaka duduk di dekat mereka.
Seorang anak kecil menyerahkan buku bergambar kepadanya.
“Kak Rantaka, bacakan ini.”
Rantaka menerima buku itu.
Ia membuka halaman pertama.
Suara hujan beberapa malam lalu masih tersimpan dalam ingatannya. Uang tabungan yang habis, kaki ayahnya yang terluka, dan pertengkaran di bawah beringin belum sepenuhnya hilang dari hatinya.
Namun, sore itu, di antara anak-anak desa yang duduk melingkar dan sahabat-sahabat yang kembali berada di sisinya, Rantaka memahami sesuatu.
Kadang, seseorang tidak membutuhkan orang lain untuk menghapus semua kesulitannya.
Seseorang hanya membutuhkan orang lain yang datang, duduk di sampingnya, dan berkata tanpa banyak kata:
Kau tidak harus menghadapi semuanya sendiri.
Di kejauhan, langit Desa Wanasari mulai berubah jingga.
Gerobak Buku Langit Biru terus bergerak perlahan di jalan tanah.
Dan untuk pertama kalinya setelah perpisahan di bawah beringin, Rantaka kembali berjalan bersama sahabat-sahabatnya.
Bab 20 — Pentas Harapan Wanasari
Sejak Gerobak Buku Langit Biru kembali berjalan bersama empat sahabat itu, suasana SD Wanasari perlahan berubah.
Anak-anak yang dahulu hanya datang ke sekolah lalu segera pulang, kini sering tinggal lebih lama untuk membaca buku. Beberapa ibu mulai meminjam buku resep dan bacaan kesehatan dari gerobak. Para bapak yang pulang dari ladang kadang berhenti sebentar untuk melihat anak-anak mereka duduk melingkar di teras rumah sambil mendengarkan cerita.
Namun, kabar tentang evaluasi sekolah dari kecamatan belum juga hilang.
Surat berstempel merah itu masih tersimpan di meja kepala sekolah. Bangunan SD Wanasari tetap tua. Atapnya masih bocor di beberapa bagian. Pagar bambu yang sudah diperbaiki anak-anak dan warga mulai tampak lebih rapi, tetapi belum cukup untuk menghapus alasan-alasan yang mungkin digunakan untuk menutup sekolah.
Suatu sore, Bu Laras memanggil Rantaka, Liris, Banyu, dan Jagra ke ruang guru.
Ruang itu kecil. Dindingnya dipenuhi peta Indonesia yang warnanya mulai pudar, daftar nilai murid, serta beberapa foto kegiatan sekolah. Di sudut ruangan, ada lemari kayu tua yang pintunya tidak dapat ditutup rapat.
Bu Laras duduk di belakang meja sambil memegang beberapa lembar kertas.
“Ada kabar dari kecamatan,” katanya.
Keempat anak itu saling memandang.
“Tim penilai kemungkinan datang dalam beberapa minggu ke depan,” lanjut Bu Laras. “Mereka ingin melihat kondisi sekolah, jumlah murid, kegiatan belajar, dan dukungan masyarakat.”
Rantaka merasakan tengkuknya menegang.
“Apakah sekolah akan ditutup, Bu?” tanya Jagra.
Bu Laras tidak langsung menjawab.
“Belum ada keputusan,” katanya. “Tetapi kita harus menunjukkan bahwa SD Wanasari masih dibutuhkan.”
Liris menatap surat-surat di meja.
“Bagaimana caranya, Bu?”
Bu Laras tersenyum kecil.
“Itulah yang harus kita pikirkan bersama.”
Setelah keluar dari ruang guru, keempat sahabat itu berjalan menuju pohon beringin. Tempat itu kembali menjadi ruang kecil bagi mereka untuk membicarakan hal-hal penting.
Rantaka duduk di salah satu akar besar. Banyu berdiri sambil memandangi halaman sekolah. Jagra memainkan ranting kecil di tangannya. Liris membuka buku catatan yang selalu dibawanya.
“Kita sudah membersihkan sekolah,” kata Jagra. “Kita juga sudah menjalankan Gerobak Buku.”
“Warga mulai mendukung,” tambah Banyu. “Tapi mungkin kecamatan belum melihat semua itu.”
Liris menulis sesuatu di bukunya.
“Kalau begitu, kita harus membuat mereka melihat,” katanya.
Rantaka menoleh. “Maksudmu?”
“Kita buat kegiatan di desa,” jawab Liris. “Bukan hanya kerja bakti. Kita buat acara yang menunjukkan bahwa sekolah ini hidup.”
Jagra mengangkat alis. “Acara seperti apa?”
Liris memandang ketiga sahabatnya.
“Pentas seni.”
Banyu terdiam sejenak.
“Pentas seni?” ulangnya.
“Kita bisa mengadakan pertunjukan di kampung,” kata Liris semakin bersemangat. “Anak-anak bisa membaca puisi, menyanyi, menampilkan cerita tentang desa. Kita bisa mengajak warga datang. Kita juga bisa mengumpulkan dukungan untuk sekolah.”
Rantaka mulai memahami maksudnya.
“Seperti malam hiburan?”
“Bukan hanya hiburan,” jawab Liris. “Pentas Harapan Wanasari. Kita tunjukkan bahwa sekolah ini bukan bangunan kosong. Sekolah ini tempat anak-anak belajar, berkarya, dan punya mimpi.”
Jagra tersenyum.
“Nama itu bagus.”
Banyu mengangguk perlahan.
“Aku bisa membuat panggung.”
“Kau bisa?” tanya Rantaka.
Banyu menatap halaman sekolah, lalu menunjuk beberapa bambu yang tersimpan di belakang gudang.
“Masih ada bambu bekas dari pagar lama. Kita juga bisa minta bambu dari warga. Kalau panggungnya sederhana, aku bisa membuat rangkanya.”
“Kalau aku,” kata Jagra, “bisa mengajak pemuda desa. Mereka mungkin mau membantu mengangkat bambu dan memasang lampu.”
Liris tersenyum lebar.
“Aku akan menulis naskah pertunjukan. Anak-anak kecil bisa ikut bermain.”
Rantaka memandangi ketiga sahabatnya.
Mereka berbicara dengan semangat, seolah keputusan besar telah dibuat. Namun, Rantaka tahu bahwa kegiatan seperti itu tidak akan mudah. Mereka membutuhkan izin, bahan, tenaga, dan dukungan warga.
“Kalau begitu,” katanya, “aku akan bicara dengan Bu Laras dan Kepala Dusun. Kita harus menjelaskan bahwa ini untuk sekolah.”
Sore itu, Langit Biru kembali memiliki rencana.
Bukan rencana kecil seperti memperbaiki pagar atau membawa buku keliling.
Melainkan rencana yang akan mengajak seluruh Desa Wanasari berdiri bersama untuk sekolah mereka.
Keesokan harinya, Rantaka dan Liris menemui Bu Laras.
Mereka menjelaskan gagasan tentang Pentas Harapan Wanasari. Bu Laras mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Sesekali ia mengangguk, sesekali ia menatap keluar jendela seperti sedang membayangkan halaman sekolah yang dipenuhi warga.
“Ini gagasan yang baik,” katanya setelah mereka selesai berbicara. “Tetapi kalian harus ingat, acara seperti ini membutuhkan kerja sama banyak orang.”
“Kami siap, Bu,” kata Rantaka.
Bu Laras tersenyum.
“Kalau begitu, Ibu akan membantu menghubungi Kepala Dusun dan beberapa orang tua murid.”
Pertemuan warga diadakan pada malam Jumat di balai desa.
Balai desa Wanasari tidak terlalu besar. Lantainya masih semen kasar, dindingnya dari papan, dan lampunya hanya beberapa buah. Namun, malam itu balai desa cukup ramai. Ada para orang tua murid, tokoh masyarakat, pemuda desa, ibu-ibu yang aktif dalam kegiatan kampung, serta beberapa warga yang sebelumnya masih ragu terhadap perjuangan mempertahankan SD Wanasari.
Rantaka duduk di dekat Bu Laras.
Tangannya dingin.
Ia belum pernah berbicara di depan banyak orang dewasa tentang rencana sebesar itu.
Kepala Dusun membuka pertemuan dengan suara berat.
“Kita semua tahu keadaan sekolah kita,” katanya. “Bangunannya tua, muridnya tidak banyak, dan kecamatan sedang menilai. Anak-anak ini punya gagasan. Kita dengarkan dulu.”
Bu Laras berdiri.
“Pentas Harapan Wanasari bukan sekadar acara hiburan,” katanya. “Ini adalah ruang untuk menunjukkan bahwa masyarakat masih peduli pada pendidikan anak-anaknya. Jika kita ingin sekolah ini bertahan, kita harus menunjukkan bahwa sekolah ini benar-benar hidup di tengah desa.”
Kemudian Rantaka dipersilakan maju.
Ia berdiri perlahan.
Di hadapannya, ada wajah-wajah yang dikenalnya. Ada Bu Sari yang sering membeli kue dari ibunya. Ada Pak Jamin yang bekerja di ladang. Ada beberapa bapak yang pernah berkata bahwa anak-anak lebih baik membantu keluarga daripada berjalan jauh ke sekolah lain.
Rantaka menarik napas.
“Sekolah kami memang kecil,” katanya. “Atapnya bocor. Buku kami tidak banyak. Papan tulis kami retak. Tetapi di sekolah itu, kami belajar membaca, berhitung, dan mengenal dunia.”
Suasana balai desa hening.
“Kami membuat Gerobak Buku karena kami ingin anak-anak di desa juga bisa membaca. Kami ingin mereka tahu bahwa mereka boleh punya cita-cita. Pentas ini adalah cara kami mengajak semua warga untuk percaya bahwa SD Wanasari masih layak dipertahankan.”
Rantaka menunduk setelah selesai berbicara.
Beberapa saat tidak ada suara.
Lalu Bu Sari berdiri.
“Saya setuju,” katanya. “Kalau anak-anak sudah berani berjuang seperti ini, masa kita yang dewasa hanya menonton?”
Seorang pemuda desa bernama Ardi ikut mengangkat tangan.
“Saya dan teman-teman bisa membantu membuat lampu dari kabel yang ada. Tidak bagus-bagus amat, tapi cukup untuk acara.”
Warga lain mulai berbicara.
Ada yang menawarkan bambu.
Ada yang menawarkan tikar.
Ada yang bersedia membawa makanan.
Ada yang ingin membantu menyiapkan pakaian sederhana untuk anak-anak yang akan tampil.
Kepala Dusun yang sebelumnya tampak ragu akhirnya mengangguk.
“Baik,” katanya. “Kita adakan Pentas Harapan Wanasari. Tapi semuanya harus dikerjakan bersama-sama.”
Tepuk tangan terdengar di dalam balai desa.
Liris memandang Rantaka dengan mata berbinar. Banyu tersenyum kecil. Jagra bahkan menepuk punggung Rantaka cukup keras hingga ia hampir tersandung.
“Pidatomu tidak buruk,” bisik Jagra.
“Diam,” jawab Rantaka, tetapi ia tersenyum.
Persiapan dimulai sejak hari berikutnya.
Banyu menjadi orang yang paling sibuk.
Ia mengukur bambu, memotong tali, dan menggambar bentuk panggung di tanah dengan ranting. Beberapa pemuda desa membantunya mengangkat bambu dari kebun. Mereka membuat rangka panggung sederhana di halaman sekolah, tepat di dekat pohon beringin.
Panggung itu tidak besar.
Hanya cukup untuk beberapa anak berdiri dan menampilkan pertunjukan.
Namun, bagi Banyu, panggung itu harus kokoh.
“Kalau anak-anak naik, jangan sampai bambunya bergoyang,” katanya sambil mengikat tali.
Jagra mengajak pemuda desa mencari papan bekas. Ada yang berasal dari kandang lama, ada yang dari sisa bangunan warung, dan ada pula yang dipinjam dari rumah warga. Ia juga membantu memasang lampu-lampu kecil dari bohlam bekas yang disambungkan dengan kabel.
Liris menghabiskan banyak waktu di bawah pohon beringin.
Ia menulis naskah pertunjukan tentang anak-anak desa yang ingin mempertahankan sekolah mereka. Ceritanya sederhana, tetapi penuh perasaan. Ada tokoh anak petani, anak nelayan, anak penjual kue, dan seorang guru yang tidak menyerah mengajar meski sekolah hampir ditutup.
“Ini bukan cerita tentang kita semua, kan?” tanya Jagra sambil membaca bagian awal naskah.
Liris tersenyum. “Bukan. Tapi mungkin ada sedikit.”
“Sedikit sekali,” kata Banyu.
Rantaka membantu Bu Laras mengajak murid-murid lain ikut tampil. Ada yang akan menyanyi lagu daerah. Ada yang membaca puisi. Ada yang memainkan drama. Anak-anak kecil terlihat sangat bersemangat, meski beberapa dari mereka masih malu berbicara di depan banyak orang.
Setiap sore, halaman sekolah berubah menjadi tempat latihan.
Suara anak-anak membaca dialog terdengar sampai ke jalan. Kadang mereka lupa kalimat, lalu tertawa. Kadang ada yang menangis karena tidak ingin tampil. Kadang Jagra membuat suasana semakin ramai dengan menirukan suara tokoh-tokoh dalam drama.
Rantaka menjadi penggerak utama.
Ia mengatur jadwal latihan, membantu membawa kursi dari balai desa, mengantarkan undangan sederhana ke rumah-rumah warga, dan memastikan Gerobak Buku tetap berjalan di sela-sela persiapan.
Tubuhnya lelah.
Namun, lelah kali ini berbeda.
Ia tidak lagi merasa lelah karena memikul semuanya sendirian.
Ia lelah karena bergerak bersama orang-orang yang percaya pada tujuan yang sama.
Malam sebelum acara, panggung hampir selesai.
Bambu-bambu berdiri tegak. Kain putih bekas spanduk dipasang sebagai latar belakang. Di bagian tengah, Liris menuliskan dengan cat biru:
PENTAS HARAPAN WANASARI
Sekolah Kecil, Mimpi yang Besar
Warga mulai menyiapkan makanan. Ibu-ibu memasak singkong rebus, gorengan, dan teh hangat. Pemuda desa memeriksa lampu. Anak-anak berlatih untuk terakhir kalinya.
Rantaka berdiri di depan panggung bersama sahabat-sahabatnya.
“Besok pasti ramai,” kata Jagra.
“Semoga tidak hujan,” ujar Banyu sambil memandang langit.
Liris menatap tulisan di kain latar.
“Kalau semua berjalan baik, mungkin tim kecamatan akan tahu bahwa sekolah ini tidak boleh ditutup.”
Rantaka mengangguk.
Ia memandangi halaman sekolah yang kini tampak berbeda.
Tempat yang dulu penuh kebocoran dan pagar rusak, kini menjadi ruang harapan. Bukan karena bangunannya sudah berubah sepenuhnya, tetapi karena banyak tangan telah ikut bekerja.
Namun, ketika malam semakin larut, angin mulai bertiup lebih kencang.
Daun-daun beringin bergerak keras.
Langit yang sejak sore tampak cerah perlahan tertutup awan gelap.
Rantaka menatap ke atas.
Satu titik air jatuh di punggung tangannya.
Kemudian titik kedua.
Lalu, hujan turun.
Awalnya hanya gerimis.
Tetapi tidak lama kemudian, hujan berubah menjadi deras.
Warga berlari menyelamatkan makanan dan alat-alat pertunjukan. Banyu serta para pemuda berusaha menahan kain latar agar tidak robek. Jagra mengangkat beberapa kursi ke teras sekolah. Liris memeluk naskah dramanya agar tidak basah.
Rantaka berdiri di depan panggung yang baru saja mereka bangun.
Air hujan membasahi rambut dan bajunya.
Salah satu tali bambu terlepas.
Kain latar bergoyang keras.
Lalu, dengan suara patahan yang membuat semua orang terdiam, salah satu sisi panggung runtuh ke tanah.
Pentas Harapan Wanasari belum dimulai.
Namun, malam itu, hujan seolah datang untuk menguji seberapa kuat janji yang telah mereka buat.
Bab 21 — Hujan yang Menguji Janji
Suara patahan bambu itu masih menggantung di udara ketika hujan semakin deras.
Salah satu sisi panggung miring ke tanah. Kain putih bertuliskan Pentas Harapan Wanasari jatuh dan terseret air. Lampu-lampu kecil yang dipasang pemuda desa berkedip beberapa kali sebelum akhirnya padam.
Anak-anak yang tadi berlatih berlarian ke teras sekolah.
Sebagian ibu membawa nampan makanan ke dalam kelas. Para bapak mencoba mengangkat papan-papan yang sudah basah. Banyu dan Jagra berdiri di dekat panggung dengan wajah tegang. Liris memeluk naskah pertunjukan di dadanya agar tidak ikut hancur terkena hujan.
Rantaka tidak bergerak.
Ia berdiri di tengah halaman sekolah dengan pakaian basah kuyup. Air hujan mengalir dari rambutnya ke wajah, tetapi ia tidak lagi tahu mana yang berasal dari hujan dan mana yang berasal dari rasa kecewa.
Panggung itu bukan sekadar bambu dan papan.
Panggung itu adalah hasil kerja warga selama berhari-hari.
Ada bambu yang dipinjam dari kebun Pak Jamin. Ada papan bekas yang dikumpulkan Jagra dari rumah-rumah warga. Ada tali yang dibeli dari uang patungan. Ada kain latar yang ditulis Liris dengan tangan sendiri. Ada tenaga Banyu yang sejak pagi mengukur, memotong, dan mengikat rangka panggung agar berdiri kokoh.
Kini, semuanya jatuh dalam satu malam.
“Rantaka!”
Suara Bu Laras terdengar dari teras.
“Masuk ke dalam! Jangan berdiri di sana!”
Namun, Rantaka tetap diam.
Banyu mendekatinya.
“Kita harus menyelamatkan papan yang masih bisa dipakai,” katanya.
Rantaka menggeleng pelan.
“Untuk apa?”
Banyu menatapnya.
“Untuk diperbaiki.”
“Hujan masih deras.”
“Kita tunggu hujan reda.”
“Besok acaranya,” kata Rantaka. “Bagaimana mungkin kita memperbaiki semuanya dalam satu malam?”
Jagra yang baru saja mengangkat kursi dari halaman ikut mendekat.
“Kita bisa cari cara.”
Rantaka menoleh kepada sahabatnya.
“Cara lagi?” katanya dengan suara lelah. “Kita selalu bilang begitu. Kita cari cara, kita cari jalan, kita tidak boleh menyerah. Tapi lihat sekarang.”
Jagra terdiam.
Rantaka memandang panggung yang runtuh.
“Sudah berhari-hari warga bekerja. Ibu-ibu memasak. Anak-anak latihan. Banyu membuat panggung. Liris menulis naskah. Semua sudah siap.” Ia menarik napas berat. “Lalu hujan datang dan menghancurkan semuanya.”
Liris mendekat sambil masih memegang naskah.
“Bukan semuanya hancur,” katanya pelan.
Rantaka menatapnya.
“Panggungnya hancur.”
“Panggungnya bisa dibuat lagi.”
“Dengan apa?” suara Rantaka meninggi. “Bambu kita terbatas. Papan kita sudah basah. Lampu kita mati. Besok warga datang untuk melihat pertunjukan, bukan untuk melihat kita berdiri di tengah lumpur.”
Liris menggigit bibir.
Wajahnya tampak sedih, tetapi ia tidak pergi.
“Kalau kita membatalkan acara,” katanya, “yang mereka lihat justru kita menyerah sebelum mencoba.”
Kalimat itu membuat Rantaka terdiam.
Namun, kelelahan di dalam dirinya lebih besar daripada keberanian yang baru saja tumbuh beberapa hari terakhir.
Ia merasa seperti kembali menjadi anak yang berdiri di bawah pohon beringin, yakin bahwa semua perjuangan hanya akan berakhir dengan kekecewaan.
“Aku tidak sanggup,” katanya lirih.
Banyu menunduk.
Jagra mengusap wajahnya yang basah.
Liris memejamkan mata.
Di teras sekolah, beberapa warga mulai berbicara dengan suara pelan.
“Sepertinya lebih baik dibatalkan saja.”
“Hujannya belum tentu berhenti sampai besok.”
“Kalau dipaksakan, anak-anak bisa sakit.”
“Panggungnya juga sudah tidak mungkin dipakai.”
Kata-kata itu terdengar satu per satu, seperti batu kecil yang dilemparkan ke dalam dada Rantaka.
Ia ingin mengatakan bahwa mereka benar.
Ia ingin mengakhiri semua usaha itu sebelum ada yang berharap lebih jauh.
Namun, kemudian Bu Laras berjalan mendekat.
Payung tua di tangannya sudah tidak mampu menahan seluruh hujan. Ujung bajunya basah. Sandalnya penuh lumpur. Tetapi wajahnya tetap tenang.
Bu Laras berdiri di depan Rantaka.
“Kau kecewa?” tanyanya.
Rantaka mengangguk.
“Marah?”
Rantaka kembali mengangguk.
“Merasa ingin berhenti?”
Kali ini, Rantaka tidak menjawab.
Bu Laras menatap panggung yang runtuh.
“Dulu, ketika Ibu pertama kali datang mengajar di sekolah ini,” katanya, “atap ruang kelas sebelah juga pernah runtuh saat hujan. Waktu itu, Ibu pikir mungkin sekolah ini memang tidak akan bertahan.”
Rantaka mendengarkan.
“Namun, besoknya anak-anak tetap datang. Mereka membawa tikar dari rumah. Mereka belajar di teras. Ada yang duduk di bawah pohon. Ada yang menulis di atas lutut.” Bu Laras tersenyum tipis. “Saat itu Ibu mengerti, sekolah bukan hanya bangunan. Sekolah adalah orang-orang yang tidak mau berhenti belajar.”
Hujan masih turun, tetapi suara Bu Laras terdengar jelas.
“Pentas ini bukan hanya tentang panggung,” lanjutnya. “Pentas ini tentang janji kita kepada anak-anak desa. Janji bahwa mereka tetap punya tempat untuk belajar dan bermimpi.”
Rantaka memandang guru itu.
“Tapi kalau panggungnya tidak bisa diperbaiki?” tanyanya.
“Kalau halaman tidak bisa dipakai,” jawab Bu Laras, “kita cari tempat lain.”
Jagra mengangkat wajah.
“Balai desa,” katanya.
Banyu menoleh cepat.
“Balai desa cukup luas.”
Liris memandang naskah di tangannya.
“Kita bisa memindahkan pertunjukan ke sana.”
Rantaka masih ragu.
“Lampunya?”
“Ada lampu di balai desa,” jawab Jagra. “Tidak banyak, tapi cukup. Aku bisa minta Ardi dan teman-teman mengecek kabelnya.”
“Panggungnya?” tanya Banyu.
“Kita tidak perlu panggung tinggi,” kata Bu Laras. “Kita bisa memakai lantai balai desa. Anak-anak bisa tampil di depan warga tanpa harus berdiri di atas bambu.”
Liris mulai tersenyum kecil.
“Kain latar masih bisa dijemur,” katanya. “Tulisan di atasnya mungkin sedikit luntur, tetapi masih bisa dibaca.”
Banyu memandang papan-papan yang jatuh.
“Beberapa papan bisa dipakai sebagai tempat duduk,” katanya. “Yang patah bisa dijadikan penyangga untuk papan pengumuman.”
Jagra mengangguk.
“Kalau begitu, kita tidak membatalkan.”
Rantaka menatap ketiga sahabatnya.
Mereka basah, lelah, dan kecewa.
Namun, tidak satu pun dari mereka pergi.
Tidak satu pun berkata bahwa perjuangan ini sudah selesai.
Di tengah hujan yang merobohkan panggung, mereka justru mulai mencari bentuk baru untuk menjaga harapan.
Rantaka menarik napas panjang.
Ia memandangi halaman sekolah yang penuh lumpur. Lalu ia menatap Bu Laras, sahabat-sahabatnya, dan warga yang masih berdiri di bawah teras.
“Kita pindahkan ke balai desa,” katanya.
Suara itu tidak terlalu keras.
Namun, cukup untuk membuat beberapa orang menoleh.
“Kita tetap adakan Pentas Harapan Wanasari,” lanjut Rantaka. “Kalau panggungnya jatuh, kita tidak ikut jatuh bersamanya.”
Untuk beberapa saat, suasana hening.
Lalu Pak Jamin, yang sejak tadi membantu mengangkat papan, mengangkat tangannya.
“Saya punya terpal di rumah,” katanya. “Bisa dipakai untuk menutup jalan dari depan balai desa.”
Bu Sari menyusul.
“Saya dan ibu-ibu akan bawa makanan ke balai desa. Tidak apa kalau harus mulai lagi.”
Ardi, pemuda desa yang membantu memasang lampu, berdiri dari dekat gudang.
“Saya bawa teman-teman untuk cek lampu dan susun kursi.”
Kepala Dusun yang baru datang dari rumahnya dengan jas hujan sederhana menatap keadaan halaman sekolah. Ia melihat panggung yang runtuh, anak-anak yang berkumpul, serta warga yang masih bertahan.
Kemudian ia berkata, “Kalau anak-anak ini tidak menyerah, kita juga tidak boleh menyerah.”
Kalimat itu seperti membuka sesuatu.
Warga mulai bergerak.
Ada yang mengangkat makanan ke dalam kelas agar tidak basah. Ada yang mengumpulkan kain dan tali yang masih bisa dipakai. Ada yang menutup Gerobak Buku dengan terpal. Beberapa pemuda mengangkat papan-papan yang belum rusak ke bawah teras.
Hujan masih belum berhenti.
Namun, tidak ada lagi orang yang hanya berdiri memandangi panggung runtuh.
Mereka bekerja.
Mereka menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan.
Mereka menyiapkan apa yang dapat dipindahkan.
Malam semakin larut ketika hujan mulai mengecil.
Halaman sekolah berubah menjadi tanah berlumpur dan sisa-sisa bambu. Tetapi di bawah teras, orang-orang masih berbicara tentang besok. Tentang kursi yang harus dibawa. Tentang anak-anak yang harus diberi tahu. Tentang makanan yang perlu dipindahkan. Tentang lampu balai desa yang harus diperiksa.
Rantaka membantu Banyu mengikat kembali kain latar yang basah.
Tulisan biru di tengah kain memang sedikit luntur.
Namun, kalimat itu masih terlihat.
PENTAS HARAPAN WANASARI
Sekolah Kecil, Mimpi yang Besar
Rantaka memegang salah satu ujung kain.
“Masih bisa dipakai?” tanya Banyu.
Rantaka memandangi tulisan itu.
“Masih,” jawabnya.
Liris berdiri di samping mereka.
“Seperti kita,” katanya pelan.
Jagra yang sedang membawa papan kursi menoleh.
“Jangan mulai bicara seperti puisi lagi. Nanti aku ikut menangis.”
Liris tersenyum.
“Kau memang mudah menangis.”
“Aku tidak menangis. Ini hujan.”
“Hujannya sudah hampir berhenti,” kata Banyu.
Jagra segera menunduk dan melanjutkan pekerjaannya.
Rantaka tertawa kecil.
Tawa itu tidak menghapus kelelahan mereka. Tidak menghapus panggung yang runtuh. Tidak menghapus kemungkinan bahwa besok masih akan banyak masalah.
Tetapi tawa itu membuat mereka kembali merasa dekat.
Menjelang tengah malam, warga mulai pulang satu per satu.
Bu Laras meminta anak-anak segera beristirahat karena esok hari mereka harus tampil. Rukmini datang menjemput Rantaka dengan payung besar. Darma tidak bisa datang karena kakinya masih sakit, tetapi ia menitipkan pesan agar Rantaka tidak pulang terlalu malam.
Dalam perjalanan pulang, Rantaka berjalan di samping ibunya.
Jalan tanah masih basah. Di beberapa tempat, air menggenang dan memantulkan cahaya bulan yang mulai muncul dari balik awan.
“Kau kecewa?” tanya Rukmini.
“Tadi iya,” jawab Rantaka.
“Sekarang?”
Rantaka memikirkan Bu Laras, sahabat-sahabatnya, dan warga yang memilih tetap bekerja meski hujan telah merobohkan panggung.
“Sekarang aku masih kecewa,” katanya jujur. “Tapi aku tidak ingin berhenti.”
Rukmini menggenggam tangan anaknya.
“Itu sudah cukup.”
Malam itu, sebelum tidur, Rantaka membuka surat Kakek Sastro sekali lagi.
Ia membaca bagian yang sudah berkali-kali dibacanya.
Boleh beristirahat. Boleh menangis. Boleh merasa takut. Tetapi jangan menyerahkan masa depanmu begitu saja kepada kesulitan hari ini.
Rantaka menutup surat itu.
Di luar rumah, hujan benar-benar berhenti.
Langit masih gelap, tetapi tidak lagi menakutkan.
Besok, Pentas Harapan Wanasari akan tetap berlangsung.
Bukan di panggung bambu yang telah runtuh.
Melainkan di balai desa, di antara warga yang memilih untuk memperbaiki harapan bersama-sama.
Dan Rantaka tahu, janji yang diuji oleh hujan bukanlah janji yang harus dibatalkan.
Janji itu adalah janji yang harus dijaga, meski harus dibangun kembali dari tanah yang basah.
Bab 22 — Suara dari Anak-Anak Desa
Pagi di Desa Wanasari datang dengan udara yang masih basah.
Hujan semalam telah meninggalkan genangan kecil di sepanjang jalan tanah. Daun-daun pisang menunduk karena menahan sisa air. Dari atap rumah-rumah warga, tetesan hujan masih jatuh perlahan, seperti sisa-sisa malam yang belum sepenuhnya pergi.
Namun, sejak matahari belum tinggi, balai desa sudah mulai ramai.
Para pemuda membawa kursi kayu dari rumah-rumah warga. Ibu-ibu menata makanan di atas meja panjang yang ditutup kain plastik. Beberapa bapak memasang terpal di bagian depan balai agar warga tetap bisa duduk meski hujan kembali turun. Ardi dan teman-temannya memeriksa lampu-lampu yang tergantung di langit-langit.
Di tengah kesibukan itu, kain latar yang semalam basah telah dipasang kembali.
Tulisan birunya memang tidak lagi serapi sebelumnya. Sebagian huruf tampak sedikit luntur. Namun, kalimat di tengah kain itu masih dapat dibaca dengan jelas.
PENTAS HARAPAN WANASARI
Sekolah Kecil, Mimpi yang Besar
Rantaka berdiri di depan balai desa sambil memegang beberapa lembar kertas.
Kertas itu berisi susunan acara.
Tangannya sedikit gemetar.
Bukan karena dingin.
Melainkan karena ia tahu malam itu akan menjadi salah satu malam terpenting bagi SD Wanasari. Warga akan datang. Anak-anak akan tampil. Kepala Dusun akan hadir. Bahkan, Bu Laras mengatakan bahwa ada kemungkinan beberapa orang dari kecamatan mendengar kabar tentang kegiatan mereka.
“Jangan dilipat terus,” kata Liris yang datang dari belakang. “Nanti kertasnya robek.”
Rantaka menoleh.
Liris mengenakan baju sederhana berwarna putih dengan kain biru yang dipinjam dari ibunya. Rambutnya dikepang rapi. Di tangannya, ia membawa buku catatan berisi puisi dan naskah pertunjukan.
“Aku hanya memastikan urutannya,” kata Rantaka.
“Kau sudah memastikan sejak pagi.”
“Aku takut ada yang salah.”
Liris tersenyum.
“Kalau ada yang salah, kita perbaiki. Seperti panggung semalam.”
Rantaka mengangguk.
Kalimat itu sederhana, tetapi cukup untuk membuatnya sedikit lebih tenang.
Tidak lama kemudian, Banyu datang membawa sebuah alat yang dibungkus kain.
“Apa itu?” tanya Rantaka.
Banyu membuka kainnya perlahan.
Di dalamnya ada alat sederhana yang dibuat dari botol plastik bekas, pasir, kerikil, arang, kain, dan pipa kecil. Alat itu tidak besar, tetapi terlihat dibuat dengan sangat teliti.
“Penyaring air,” jawab Banyu.
“Kau benar-benar jadi membawanya?”
Banyu mengangguk.
“Aku ingin menunjukkan bahwa barang bekas juga bisa berguna. Kalau air sungai keruh setelah hujan, alat ini bisa membantu menyaringnya.”
Liris mendekat dan memperhatikan alat itu.
“Bagus sekali, Banyu.”
Banyu tersenyum kecil, lalu kembali memeriksa bagian pipa.
Jagra muncul beberapa saat kemudian dengan pakaian yang lebih rapi dari biasanya. Ia memakai kemeja yang sedikit kebesaran dan celana panjang hitam yang bagian lututnya sudah mulai pudar.
“Jangan lihat aku seperti itu,” katanya ketika melihat Liris menahan senyum.
“Aku hanya heran,” jawab Liris. “Ternyata kau punya baju yang tidak terkena lumpur.”
“Ini dipinjam dari sepupuku,” kata Jagra. “Kalau terkena lumpur, aku harus mencuci di sungai selama tiga hari.”
Banyu tertawa pelan.
Rantaka juga tersenyum.
Untuk beberapa saat, mereka kembali seperti empat sahabat yang dahulu duduk di bawah pohon beringin dan berbicara tentang cita-cita. Namun, kali ini, mereka tidak hanya membicarakan mimpi.
Mereka sedang bersiap memperjuangkannya.
Menjelang sore, warga mulai berdatangan.
Ada yang datang bersama anak-anak kecil. Ada yang membawa tikar tambahan. Ada yang membawa makanan untuk dibagikan. Para orang tua murid duduk di bagian depan, sementara anak-anak berkumpul di dekat sisi ruangan dengan wajah penuh rasa ingin tahu.
Balai desa yang biasanya sepi kini terasa hangat dan hidup.
Lampu-lampu kecil menyala di atas kepala mereka. Di luar, langit mulai berubah jingga. Awan masih tampak tebal, tetapi tidak ada tanda hujan akan turun lagi.
Bu Laras berdiri di dekat pintu masuk.
Ia mengenakan kebaya sederhana dan membawa map berisi catatan. Wajahnya tampak lelah karena semalam ikut membantu memindahkan perlengkapan, tetapi sorot matanya penuh kebanggaan.
Kepala Dusun datang bersama beberapa tokoh masyarakat. Ia duduk di barisan depan, tidak jauh dari Darma dan Rukmini.
Darma datang dengan tongkat kayu.
Kakinya belum sepenuhnya pulih, tetapi ia bersikeras ingin hadir. Rukmini duduk di sampingnya sambil sesekali memastikan ia tidak terlalu lelah.
Ketika Rantaka melihat ayah dan ibunya, dadanya terasa hangat.
Darma mengangkat tangan kecil sebagai tanda semangat.
Rantaka mengangguk.
Lalu, acara dimulai.
Bu Laras maju ke depan.
“Selamat malam, warga Desa Wanasari,” katanya.
Suara percakapan perlahan berhenti.
“Malam ini kita berkumpul bukan hanya untuk menyaksikan anak-anak tampil. Kita berkumpul untuk mendengarkan suara mereka. Suara anak-anak yang ingin belajar, ingin membaca, ingin memiliki masa depan, dan ingin mempertahankan sekolah mereka.”
Beberapa warga mengangguk.
Bu Laras melanjutkan, “Pentas Harapan Wanasari adalah bukti bahwa sekolah kecil ini masih hidup. Mungkin bangunannya belum sempurna. Mungkin fasilitasnya belum lengkap. Tetapi selama masih ada anak-anak yang datang untuk belajar dan masyarakat yang mau mendukung, sekolah ini tidak boleh dianggap selesai.”
Tepuk tangan terdengar.
Tidak terlalu keras pada awalnya.
Namun, perlahan semakin banyak tangan yang ikut bertepuk.
Setelah itu, anak-anak kecil tampil menyanyikan lagu daerah. Suara mereka kadang tidak serempak, tetapi justru itulah yang membuat banyak warga tersenyum. Ada seorang anak yang lupa lirik dan hanya menggerakkan bibir sambil melihat teman di sebelahnya. Ada pula yang terlalu gugup hingga berdiri kaku, tetapi tetap berusaha menyelesaikan lagu sampai akhir.
Warga memberi tepuk tangan panjang.
Kemudian, beberapa murid membawakan drama pendek yang ditulis Liris.
Drama itu bercerita tentang sebuah sekolah kecil di desa yang hampir ditutup karena dianggap tidak penting. Dalam cerita itu, seorang anak petani bertanya kepada ayahnya mengapa ia harus sekolah jika hidup mereka tetap sulit. Sang ayah menjawab bahwa sekolah tidak selalu membuat hidup mudah, tetapi sekolah membuat seseorang mampu memahami pilihan hidupnya.
Ketika bagian itu dimainkan, suasana balai desa menjadi hening.
Banyak orang dewasa memandangi anak-anak yang tampil di depan mereka.
Beberapa ibu mengusap mata.
Rukmini menunduk sambil menggenggam tangan Darma.
Darma tidak berkata apa-apa, tetapi matanya tidak lepas dari Rantaka yang berdiri di sisi ruangan sambil membantu mengatur jalannya acara.
Setelah drama selesai, giliran Liris naik ke depan.
Ia membawa selembar kertas.
Tangannya tampak tenang, tetapi Rantaka tahu Liris sebenarnya gugup. Ia selalu gugup sebelum membaca puisi, meski setelah mulai berbicara, suaranya akan berubah menjadi kuat.
Liris menatap warga.
Kemudian ia membacakan puisinya.
Di ujung jalan tanah yang basah,
ada anak-anak membawa buku dalam pelukan.
Mereka tidak meminta langit turun ke tangan,
mereka hanya ingin jalan menuju masa depan.
Sekolah kami mungkin kecil,
dindingnya tua, atapnya pernah bocor.
Tetapi di dalamnya, huruf-huruf tumbuh,
dan mimpi tidak pernah benar-benar tidur.
Jangan tutup pintu kami
hanya karena kami datang dari desa.
Sebab di bawah langit yang sama,
anak-anak Wanasari juga ingin menjadi cahaya.
Setelah puisi itu selesai, tidak ada yang langsung bertepuk tangan.
Balai desa hening.
Suara napas warga terasa lebih jelas daripada sebelumnya.
Kemudian, Bu Sari berdiri lebih dulu dan bertepuk tangan. Warga lain mengikuti. Tepuk tangan memenuhi ruangan. Ada yang berdiri. Ada yang mengangguk sambil menyeka mata.
Liris menunduk.
Ketika ia turun dari depan, Jagra berbisik, “Aku hampir menangis.”
“Kau memang mudah menangis,” jawab Liris.
“Diam. Ini karena lampunya terlalu terang.”
Banyu tersenyum.
Selanjutnya, Banyu maju membawa alat penyaring air buatannya.
Ia tidak banyak bicara seperti Liris atau Jagra. Ia berdiri di depan meja kecil, lalu menjelaskan cara kerja alat itu dengan kalimat sederhana.
“Air sungai setelah hujan kadang keruh,” katanya. “Kalau disaring lewat kerikil, pasir, arang, dan kain, airnya bisa menjadi lebih jernih. Alat ini tidak mahal karena bahannya dari barang yang ada di sekitar kita.”
Ia menuangkan air keruh ke dalam botol bagian atas.
Warga memperhatikan.
Air itu mengalir perlahan melalui lapisan-lapisan penyaring. Beberapa saat kemudian, air yang keluar dari pipa kecil tampak lebih bening daripada sebelumnya.
Anak-anak kecil berseru kagum.
Beberapa bapak mendekat untuk melihat lebih jelas.
Pak Jamin bahkan bertanya apakah alat itu bisa dibuat lebih besar untuk digunakan di dekat kebun.
Banyu menjawab dengan wajah malu-malu, tetapi matanya berbinar.
Untuk pertama kalinya, banyak orang melihat bahwa anak pendiam yang sering duduk di belakang kelas itu memiliki cara sendiri untuk bermimpi.
Setelah Banyu, Jagra tampil.
Ia tidak membawa puisi atau alat.
Ia membawa sebuah jaring ikan kecil.
Jagra berdiri di depan warga, lalu mulai bercerita.
“Setiap pagi, sebelum sekolah, kadang aku ikut Ayah mencari ikan di sungai,” katanya. “Ada hari ketika kami dapat banyak ikan. Ada hari ketika jaring kami kosong.”
Warga mendengarkan.
“Aku dulu sering berpikir, kalau aku sudah bisa mencari ikan, untuk apa aku sekolah? Tapi kemudian aku melihat Ayah menghitung hasil tangkapan dengan susah payah. Aku melihat banyak ikan dijual murah karena kami tidak tahu cara menyimpannya lebih lama atau menjualnya ke tempat yang lebih baik.”
Jagra mengangkat jaring kecil itu.
“Aku ingin belajar supaya suatu hari nanti aku bisa membantu nelayan sungai di desa ini. Aku ingin membuat usaha perikanan. Aku ingin ikan dari Wanasari tidak hanya dijual seadanya, tetapi bisa menjadi penghidupan yang lebih baik bagi banyak keluarga.”
Suara Jagra tidak sehalus Liris.
Tidak serapi pidato orang dewasa.
Namun, kata-katanya keluar dari pengalaman yang nyata.
Para bapak yang biasa pergi ke sungai menatapnya dengan wajah serius. Beberapa dari mereka mengangguk pelan.
Ketika Jagra selesai, tepuk tangan kembali memenuhi balai desa.
Kini, giliran Rantaka.
Bu Laras memandangnya dari sisi ruangan.
Rantaka membawa kertas pidatonya, tetapi ia tidak langsung membukanya. Ia berdiri di depan warga dan melihat wajah-wajah yang hadir malam itu.
Ia melihat ibunya.
Ia melihat ayahnya.
Ia melihat Bu Laras.
Ia melihat Liris, Banyu, dan Jagra.
Ia melihat anak-anak kecil yang duduk di lantai sambil memegang buku.
Kemudian ia berbicara.
“Nama saya Rantaka Wening.”
Suaranya terdengar sedikit bergetar pada kalimat pertama.
Namun, ia melanjutkan.
“Saya anak petani. Ayah saya bekerja di ladang. Ibu saya membuat dan menjual kue. Saya tahu hidup di desa tidak selalu mudah. Saya tahu kadang orang tua harus memilih antara membeli buku, membeli beras, atau membeli obat.”
Balai desa kembali hening.
“Saya juga pernah berpikir untuk berhenti sekolah. Saya pikir kalau saya bekerja lebih banyak, beban keluarga saya akan lebih ringan.”
Rukmini menatap anaknya dengan mata berkaca-kaca.
“Tetapi saya belajar bahwa sekolah bukan hanya tentang seragam baru atau buku yang lengkap. Sekolah adalah tempat kami belajar membaca dunia. Tempat kami belajar bahwa anak petani, anak penjual kue, dan anak nelayan juga boleh punya cita-cita.”
Rantaka menarik napas.
“Sekolah kami memang kecil. Tapi di sekolah itu, kami menemukan buku-buku lama. Kami membuat Gerobak Buku. Kami belajar bahwa kalau kami bekerja bersama, sesuatu yang kecil bisa menjadi berarti.”
Ia memandang warga satu per satu.
“Kami tidak meminta semua masalah diselesaikan malam ini. Kami hanya meminta agar sekolah ini tidak ditinggalkan. Kami ingin SD Wanasari tetap ada, supaya anak-anak yang datang setelah kami masih punya tempat untuk belajar dan percaya pada dirinya sendiri.”
Rantaka berhenti sejenak.
Lalu ia berkata dengan suara lebih mantap.
“Kalau sekolah ini bertahan, kami berjanji akan menjaganya. Kami akan belajar lebih sungguh-sungguh. Kami akan mengajak lebih banyak anak datang. Kami akan membuktikan bahwa anak-anak desa tidak pernah kekurangan mimpi.”
Tepuk tangan terdengar.
Kali ini lebih keras.
Warga berdiri.
Bu Laras menutup mulutnya dengan tangan, menahan haru. Darma menatap Rantaka dengan mata basah, lalu mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Rukmini ikut berdiri dan bertepuk tangan.
Liris, Banyu, dan Jagra berdiri di belakang Rantaka.
Mereka tidak berkata apa-apa.
Namun, kehadiran mereka di sana terasa seperti jawaban atas semua kesulitan yang pernah memisahkan mereka.
Setelah pertunjukan selesai, Kepala Dusun maju ke depan.
“Malam ini,” katanya, “kita sudah mendengar suara anak-anak kita. Saya rasa tidak ada seorang pun di ruangan ini yang bisa mengatakan bahwa SD Wanasari tidak dibutuhkan.”
Warga menjawab dengan suara setuju.
“Kita akan membuat komitmen bersama,” lanjut Kepala Dusun. “Kita akan menjaga sekolah ini. Kita akan membantu memperbaiki apa yang bisa diperbaiki. Kita akan mengajak anak-anak yang belum sekolah agar kembali belajar. Dan ketika tim dari kecamatan datang, kita akan menunjukkan bahwa Wanasari tidak menyerah pada pendidikan.”
Tepuk tangan kembali terdengar.
Malam itu, balai desa tidak lagi terasa seperti bangunan sederhana dengan dinding papan dan lampu seadanya.
Balai desa berubah menjadi tempat di mana harapan dikumpulkan.
Setelah acara berakhir, warga tidak langsung pulang.
Mereka berbincang, memberi saran, dan menyampaikan kesediaan membantu. Ada yang ingin menyumbang buku. Ada yang menawarkan tenaga untuk memperbaiki atap. Ada yang bersedia mengajak keluarga di dusun sebelah agar menyekolahkan anak-anaknya di SD Wanasari.
Gerobak Buku Langit Biru diletakkan di dekat pintu balai desa.
Anak-anak kecil masih mengelilinginya, memilih buku sebelum pulang.
Rantaka berdiri di samping sahabat-sahabatnya.
“Acara ini berhasil,” kata Jagra.
“Belum selesai,” jawab Banyu. “Tim kecamatan belum datang.”
Liris memandang kain latar yang sedikit luntur.
“Tapi sekarang mereka akan datang ke sekolah yang berbeda.”
Rantaka menatap mereka.
Sekolah itu memang belum berubah secara fisik.
Atapnya masih perlu diperbaiki.
Dindingnya masih tua.
Papan tulisnya masih retak.
Namun, malam itu, SD Wanasari memiliki sesuatu yang tidak dapat diukur hanya dengan bangunan dan fasilitas.
Sekolah itu memiliki suara.
Suara anak-anak desa yang tidak lagi memilih diam.
Di luar balai desa, langit malam tampak cerah.
Bintang-bintang muncul satu per satu di atas Desa Wanasari.
Rantaka menengadah.
Ia teringat kalimat yang pernah mereka ucapkan saat membentuk kelompok Langit Biru.
Mimpi kami tidak boleh dibatasi keadaan.
Malam itu, kalimat itu tidak lagi hanya milik empat sahabat.
Kalimat itu telah menjadi milik seluruh Desa Wanasari.
Bab 23 — Kedatangan Tim Penilai
Tiga hari setelah Pentas Harapan Wanasari, kabar yang ditunggu-tunggu akhirnya datang.
Pagi itu, Bu Laras memasuki kelas dengan membawa sebuah surat. Wajahnya tampak tenang, tetapi dari cara ia menggenggam kertas itu, Rantaka tahu ada sesuatu yang penting.
Anak-anak yang sedang menyalin pelajaran berhenti menulis.
Banyu mengangkat kepala dari bukunya.
Liris menutup catatan puisi.
Jagra, yang sejak tadi duduk sambil menguap karena membantu ayahnya mencari ikan sebelum sekolah, langsung terlihat lebih sadar.
Bu Laras berdiri di depan kelas.
“Anak-anak,” katanya, “tim penilai dari kecamatan akan datang besok.”
Ruangan mendadak sunyi.
Tidak ada suara pensil.
Tidak ada suara kursi bergeser.
Hanya terdengar angin yang masuk dari jendela tanpa kaca di sisi kelas.
Rantaka memandangi Bu Laras.
Besok.
Artinya, semua yang mereka lakukan selama ini akan segera dilihat oleh orang-orang yang memiliki keputusan atas masa depan SD Wanasari.
Gerobak Buku.
Kerja bakti.
Pentas Harapan Wanasari.
Dukungan warga.
Semua akan diuji dalam satu kunjungan.
“Apakah mereka akan langsung memutuskan, Bu?” tanya seorang murid dari bangku depan.
Bu Laras menggeleng.
“Mereka akan melihat keadaan sekolah, berbicara dengan guru, murid, dan warga. Setelah itu, mereka akan membuat laporan.”
“Kalau mereka bilang sekolah ini tidak layak?” tanya murid lain.
Bu Laras terdiam sesaat.
“Kalau itu terjadi,” katanya, “kita harus tetap menunjukkan bahwa sekolah ini dibutuhkan.”
Rantaka menunduk.
Ia tahu Bu Laras berusaha menenangkan mereka. Namun, ia juga tahu bahwa kenyataan tidak selalu berubah hanya karena seseorang memiliki harapan.
Bangunan sekolah memang masih tua.
Atap kelas sebelah masih memiliki bekas kebocoran.
Papan tulis retak belum dapat diganti.
Jumlah murid SD Wanasari juga tidak sebanyak sekolah-sekolah di kecamatan.
Mereka telah melakukan banyak hal.
Tetapi apakah itu cukup?
Setelah jam sekolah selesai, warga kembali berkumpul di halaman SD Wanasari.
Kali ini tidak ada latihan drama atau persiapan pentas. Tidak ada suara anak-anak menyanyi. Semua orang bekerja dengan kesungguhan yang berbeda.
Para bapak memperbaiki bagian pagar bambu yang mulai longgar. Pemuda desa membersihkan selokan kecil di belakang kelas. Ibu-ibu menyapu halaman, mencuci tirai sederhana, dan menata bunga dalam botol-botol bekas yang dicat warna-warni oleh anak-anak.
Banyu memeriksa Gerobak Buku.
Ia mengencangkan roda depan yang masih sering membelok. Ia juga menyusun buku-buku dengan lebih rapi. Buku cerita diletakkan di bagian depan, buku pelajaran di bagian tengah, dan buku tulis bekas di sisi kiri.
Liris membuat beberapa tulisan kecil untuk ditempel di dinding sekolah.
Salah satunya bertuliskan:
Membaca Membuka Jalan.
Yang lain bertuliskan:
Sekolah Kecil, Mimpi yang Besar.
Jagra bersama beberapa anak laki-laki membersihkan halaman belakang. Mereka mengumpulkan daun-daun kering, memotong rumput liar, dan memperbaiki tempat cuci tangan sederhana yang terbuat dari jeriken bekas.
Rantaka berjalan dari satu tempat ke tempat lain.
Ia membantu membawa ember, memindahkan meja, menyapu teras, dan memastikan anak-anak yang lebih kecil tidak bermain terlalu dekat dengan bagian atap yang masih rapuh.
Namun, semakin sibuk ia bekerja, semakin besar pula rasa cemas di dalam dirinya.
Menjelang sore, ia duduk di bawah pohon beringin.
Tangannya kotor oleh tanah.
Bajunya terkena debu.
Di kejauhan, ia melihat warga masih bekerja. Bu Laras berbicara dengan Kepala Dusun. Banyu sedang memperbaiki roda gerobak. Liris menempelkan tulisan di dinding. Jagra membawa beberapa batang bambu.
Semua orang bergerak.
Namun, Rantaka merasa seperti ada sesuatu yang tidak dapat mereka perbaiki dengan sapu, bambu, atau cat.
Ia memikirkan kalimat dalam surat kecamatan.
Bangunan tidak layak. Jumlah murid sedikit. Fasilitas terbatas.
Kalimat-kalimat itu terdengar lebih kuat daripada semua yang mereka lakukan.
Liris datang dan duduk di sampingnya.
“Kau khawatir,” katanya.
Rantaka tidak menyangkal.
“Bagaimana kalau mereka tetap ingin menutup sekolah?”
Liris memandangi halaman.
“Kalau mereka datang hanya untuk melihat dinding retak, mungkin mereka akan berpikir begitu.”
“Lalu?”
“Lalu kita pastikan mereka juga melihat hal lain.”
Rantaka menoleh.
“Mereka harus melihat anak-anak yang tetap datang belajar,” lanjut Liris. “Mereka harus melihat Gerobak Buku. Mereka harus melihat warga yang bekerja. Mereka harus tahu bahwa sekolah ini bukan hanya bangunan.”
Rantaka menarik napas.
“Aku takut semua ini tidak cukup.”
Liris menatapnya dengan wajah tenang.
“Kita tidak bisa menentukan keputusan mereka. Tapi kita bisa menentukan apakah kita akan diam atau berusaha.”
Kalimat itu mengingatkan Rantaka pada Bu Laras saat panggung runtuh.
Ia mengangguk perlahan.
“Besok, kita tunjukkan semuanya.”
Pagi berikutnya, SD Wanasari tampak lebih rapi daripada biasanya.
Halaman yang sebelumnya penuh rumput liar kini bersih. Pagar bambu berdiri lebih tegak. Bunga-bunga dalam botol bekas berjajar di depan kelas. Gerobak Buku Langit Biru diletakkan di dekat pohon beringin dengan buku-buku tersusun rapi.
Anak-anak datang lebih awal.
Mereka mengenakan seragam terbaik yang mereka miliki. Tidak semua seragam tampak baru. Ada yang warnanya mulai pudar. Ada yang lengannya sedikit kependekan. Ada yang sepatunya sudah robek di bagian depan.
Namun, pagi itu, mereka berdiri dengan wajah penuh harap.
Rantaka mengenakan seragam yang telah dicuci dan disetrika oleh ibunya. Seragam itu masih lusuh, tetapi bersih. Di saku bajunya, ia menyimpan pensil dan buku kecil.
Darma datang bersama Rukmini.
Kakinya masih menggunakan tongkat, tetapi ia bersikeras ingin hadir. Ia duduk di kursi dekat teras sekolah bersama beberapa orang tua murid.
“Ayah tidak perlu datang kalau terlalu lelah,” kata Rantaka.
Darma tersenyum.
“Hari seperti ini, Bapak tidak mau hanya mendengar cerita dari rumah.”
Tidak lama kemudian, suara kendaraan terdengar dari arah jalan utama.
Sebuah mobil berwarna abu-abu berhenti di depan sekolah.
Anak-anak yang berdiri di halaman langsung memperhatikan.
Dari mobil itu turun tiga orang.
Seorang perempuan berkerudung biru tua membawa map tebal. Seorang laki-laki berkemeja putih membawa kamera kecil dan buku catatan. Seorang lagi, pria berusia sekitar lima puluh tahun dengan wajah serius, mengenakan sepatu hitam yang tampak sangat bersih dibandingkan jalan tanah Wanasari.
Bu Laras menyambut mereka di depan gerbang.
“Selamat datang di SD Wanasari,” katanya.
Perempuan berkerudung itu tersenyum sopan.
“Kami dari tim evaluasi kecamatan,” katanya. “Saya Ibu Ratna. Ini Pak Hadi dari bagian sarana pendidikan, dan Pak Surya dari bidang pembinaan sekolah dasar.”
Kepala Dusun maju untuk memberi salam.
Warga berdiri dengan sikap hormat.
Rantaka melihat Pak Surya memandangi bangunan sekolah. Pandangannya berhenti pada atap yang masih tampak tua, jendela tanpa kaca, dan dinding yang catnya mengelupas.
Wajahnya sulit dibaca.
Tim penilai mulai berkeliling.
Mereka melihat ruang kelas satu per satu. Pak Hadi mencatat kondisi atap, lantai, jendela, dan meja kursi. Ia beberapa kali menggeleng ketika melihat bagian kayu yang mulai lapuk.
“Bagian ini perlu perbaikan segera,” katanya kepada Bu Laras.
“Iya, Pak,” jawab Bu Laras. “Kami sudah mengajukan usulan perbaikan, tetapi belum mendapat kepastian.”
Pak Surya membuka daftar murid.
“Jumlah murid aktif berapa?”
“Empat puluh dua anak, Pak,” jawab Bu Laras.
Pak Surya mengangguk pelan.
“Untuk ukuran sekolah dasar, jumlah ini cukup kecil.”
Beberapa orang tua yang mendengar kalimat itu tampak gelisah.
Bu Laras tetap tenang.
“Memang jumlahnya tidak besar, Pak. Tetapi desa kami cukup jauh dari sekolah lain. Jika SD Wanasari ditutup, banyak anak harus berjalan sangat jauh atau bahkan berhenti sekolah.”
Pak Surya tidak langsung menjawab.
Ia hanya mencatat sesuatu di mapnya.
Tim kemudian melihat kegiatan belajar di kelas enam.
Bu Laras meminta murid-murid membaca cerita pendek secara bergantian. Rantaka mendapat giliran membaca bagian tentang seorang anak yang menanam pohon di halaman rumahnya.
Suara Rantaka sempat bergetar di awal.
Namun, ia mengingat pesan ayahnya.
Ia mengingat sahabat-sahabatnya.
Ia mengingat malam Pentas Harapan Wanasari.
Lalu ia membaca dengan jelas.
Setelah itu, Ibu Ratna bertanya kepada beberapa murid.
“Siapa yang paling suka membaca?”
Banyak tangan terangkat.
“Buku apa yang kalian baca?”
“Cerita rakyat, Bu.”
“Buku pelajaran.”
“Majalah anak-anak.”
“Buku tentang hewan.”
Ibu Ratna tersenyum.
“Dari mana kalian mendapatkan buku-buku itu?”
Anak-anak menoleh ke arah Gerobak Buku di bawah pohon beringin.
“Dari Gerobak Buku Langit Biru, Bu!” jawab mereka hampir bersamaan.
Ibu Ratna tampak tertarik.
“Boleh kami melihatnya?”
Banyu maju dengan wajah sedikit gugup.
Ia membawa tim penilai menuju gerobak. Ia menjelaskan bahwa buku-buku itu berasal dari gudang sekolah, sumbangan warga, dan beberapa buku bekas dari desa tetangga.
“Kami membawa buku ke rumah-rumah warga,” katanya. “Supaya anak-anak yang belum bisa datang ke sekolah tetap bisa membaca.”
Pak Hadi memeriksa rak-rak kayu.
“Siapa yang membuat gerobak ini?”
Banyu menunduk sebentar.
“Saya, Pak. Dibantu teman-teman.”
Pak Hadi memperhatikan roda sepeda tua yang dipasang di bawah gerobak.
“Bagus,” katanya singkat.
Banyu mengangkat wajah.
Mungkin itu hanya satu kata.
Namun, bagi Banyu, kata itu seperti penghargaan yang selama ini tidak pernah ia harapkan.
Tim kemudian melihat beberapa karya murid.
Ada gambar tentang desa.
Ada tulisan sederhana tentang cita-cita.
Ada alat penyaring air buatan Banyu.
Ada catatan puisi Liris.
Ada laporan kecil tentang kehidupan nelayan sungai yang dibuat Jagra.
Ibu Ratna membaca puisi Liris yang ditempel di dinding.
“Anak-anak di sini aktif sekali,” katanya.
Bu Laras tersenyum.
“Mereka yang membuat sekolah ini tetap hidup, Bu.”
Namun, ketika pemeriksaan hampir selesai, Pak Surya kembali membuka mapnya.
Ia berdiri di depan teras sekolah, memandang bangunan tua itu.
“Kegiatan masyarakat dan kreativitas murid tentu patut dihargai,” katanya. “Tetapi kami juga harus melihat standar kelayakan sekolah. Bangunan ini masih memiliki banyak kekurangan. Jumlah murid juga terbatas. Kami perlu mempertimbangkan apakah sekolah ini dapat terus berjalan tanpa membahayakan anak-anak.”
Suasana langsung berubah.
Beberapa warga yang tadi tersenyum kini saling memandang.
Rukmini menggenggam tangan Darma.
Jagra menunduk.
Banyu memegang sisi Gerobak Buku lebih erat.
Liris memeluk buku catatannya.
Rantaka merasakan jantungnya berdetak keras.
Mereka telah menunjukkan banyak hal.
Namun, satu kalimat dari Pak Surya membuat semuanya kembali terasa rapuh.
Kepala Dusun maju.
“Pak, kami siap membantu memperbaiki sekolah ini.”
Pak Surya mengangguk.
“Itu baik. Tetapi perbaikan membutuhkan rencana yang jelas, dukungan yang berkelanjutan, dan jaminan bahwa sekolah ini tetap memiliki murid yang cukup.”
“Kami akan mengajak anak-anak lain untuk sekolah di sini,” kata seorang warga.
“Kami akan kerja bakti lagi,” kata warga lain.
Pak Surya memandang mereka.
“Kami akan mencatat semua komitmen itu,” katanya. “Namun, keputusan tidak dapat dibuat hanya berdasarkan niat baik.”
Kalimat itu membuat suasana kembali hening.
Tim penilai mulai merapikan map dan catatan mereka.
Ibu Ratna masih tampak hangat, tetapi wajah Pak Surya tetap serius. Mereka belum memberi jawaban. Mereka belum mengatakan sekolah akan ditutup. Namun, mereka juga belum memberi kepastian bahwa sekolah akan dipertahankan.
Sebelum kembali ke mobil, Pak Surya berkata, “Kami akan menyusun laporan hasil penilaian. Setelah itu, kecamatan akan menentukan langkah selanjutnya.”
Rantaka melihat mobil itu perlahan bergerak meninggalkan halaman sekolah.
Roda mobil melewati jalan tanah yang masih lembap.
Anak-anak berdiri diam.
Warga tidak langsung pulang.
Mereka semua seperti menunggu sesuatu yang tidak dapat dipercepat.
Rantaka memandangi Gerobak Buku Langit Biru.
Ia melihat karya-karya teman-temannya.
Ia melihat bunga-bunga dalam botol bekas.
Ia melihat pagar bambu yang diperbaiki warga.
Semua itu ada.
Semua itu nyata.
Namun, masa depan SD Wanasari masih belum jelas.
Bu Laras berdiri di dekatnya.
“Kita sudah melakukan yang terbaik,” katanya.
Rantaka menatap guru itu.
“Apakah itu cukup, Bu?”
Bu Laras tidak segera menjawab.
“Kadang,” katanya perlahan, “yang terbaik tidak langsung menghasilkan jawaban. Tetapi perjuangan yang sungguh-sungguh selalu meninggalkan jejak.”
Rantaka kembali memandangi jalan di depan sekolah.
Mobil tim penilai sudah tidak terlihat.
Yang tersisa hanya debu tipis, jalan tanah, dan sekolah kecil yang masih berdiri dengan segala kekurangannya.
Namun, di dalam hati Rantaka, sebuah keberanian mulai tumbuh.
Jika keputusan akhir masih belum jelas, maka mungkin masih ada satu hal yang harus dilakukan.
Bukan hanya menunjukkan kegiatan.
Bukan hanya menunjukkan bangunan.
Melainkan menyampaikan dengan jujur mengapa sekolah itu harus tetap ada.
Dan Rantaka tahu, pada pertemuan berikutnya, ia harus berani berbicara di depan semua orang.
Bab 24 — Pidato Rantaka di Depan Semua Orang
Dua hari setelah tim penilai dari kecamatan datang, Desa Wanasari kembali diliputi penantian.
Tidak ada surat baru.
Tidak ada kabar dari kecamatan.
Namun, kata-kata Pak Surya masih tinggal di dalam pikiran banyak orang.
Keputusan tidak dapat dibuat hanya berdasarkan niat baik.
Kalimat itu menyebar dari teras rumah ke warung kecil, dari kebun singkong ke tepian sungai. Sebagian warga mulai membicarakan kemungkinan buruk yang selama ini mereka coba hindari.
“Kalau sekolah ditutup, anak-anak harus ke desa sebelah.”
“Jalannya jauh. Apalagi kalau musim hujan.”
“Belum tentu semua orang tua sanggup mengantar.”
“Kalau begitu, anak-anak bisa berhenti sekolah.”
Rantaka mendengar percakapan itu ketika ia mengantar kue bersama ibunya.
Ia tidak ikut berbicara.
Namun, setiap kata terasa seperti batu yang dimasukkan ke dalam keranjang sepedanya.
Sesampainya di rumah, ia membantu Rukmini menata sisa kue. Darma duduk di teras sambil memperbaiki jaring kecil milik Jagra yang dititipkan untuk dijahit. Kakinya mulai membaik, tetapi ia masih belum dapat kembali bekerja ke ladang.
Rantaka duduk di dekat ayahnya.
“Pak Surya benar,” katanya pelan.
Darma menghentikan tangannya.
“Benar tentang apa?”
“Sekolah kita memang belum layak. Atapnya bocor. Muridnya sedikit. Kalau aku jadi mereka, mungkin aku juga akan ragu.”
Darma memandang anaknya.
“Kau ingin menyerah lagi?”
Rantaka menggeleng cepat.
“Tidak. Tapi aku tidak tahu harus melakukan apa lagi.”
Darma menaruh jaring di pangkuannya.
“Kadang orang dewasa terlalu sibuk melihat apa yang kurang,” katanya. “Mereka melihat dinding retak, kursi rusak, jumlah murid yang sedikit.”
Rantaka mendengarkan.
“Tapi mereka belum tentu tahu apa yang terjadi di dalam hati anak-anak yang belajar di sana.”
“Apa itu bisa mengubah keputusan?”
“Entahlah,” jawab Darma jujur. “Tapi kalau mereka belum mendengar suara kalian, mereka belum melihat sekolah ini sepenuhnya.”
Kalimat itu membuat Rantaka terdiam.
Ia teringat Pentas Harapan Wanasari.
Ia teringat bagaimana warga mendengarkan puisi Liris, alat penyaring air Banyu, cerita Jagra, dan pidatonya sendiri.
Namun, saat tim penilai datang, ia hanya membaca cerita di kelas. Ia belum mengatakan apa yang benar-benar ingin ia sampaikan.
Malam itu, Rantaka membuka buku tulis bekas yang diberikan Banyu.
Ia duduk di dekat lampu minyak karena listrik kembali padam. Di luar rumah, suara jangkrik terdengar panjang. Rukmini masih menyiapkan bahan kue untuk esok hari. Darma sudah berbaring, tetapi belum tidur.
Rantaka menulis.
Ia menulis tentang jalan tanah yang harus dilalui anak-anak setiap pagi.
Ia menulis tentang Gerobak Buku Langit Biru.
Ia menulis tentang atap bocor yang membuat mereka memindahkan meja saat hujan turun.
Ia menulis tentang Bu Laras yang tetap mengajar meski papan tulis retak.
Ia menulis tentang Liris yang ingin menjadi penulis, Banyu yang ingin menjadi penemu, dan Jagra yang ingin membangun usaha perikanan.
Ia menulis tentang dirinya sendiri yang pernah hampir berhenti sekolah karena merasa keluarga tidak mampu.
Namun, ia juga menulis tentang ayahnya yang berkata bahwa anaknya tidak boleh menjalani hidup dengan beban yang sama.
Ketika ia selesai, langit sudah sangat gelap.
Tulisan di buku itu tidak rapi.
Ada beberapa bagian yang dicoret.
Ada kata-kata yang diganti.
Namun, setiap kalimat terasa seperti sesuatu yang selama ini disimpan terlalu lama di dalam dada.
Keesokan paginya, Bu Laras menerima kabar dari kecamatan.
Tim penilai akan kembali datang pada sore hari untuk melakukan pertemuan bersama warga, guru, dan orang tua murid. Pertemuan itu akan menjadi bagian dari laporan akhir sebelum keputusan disampaikan.
Kabar itu segera menyebar.
Kepala Dusun meminta warga berkumpul di balai desa setelah Asar. Para orang tua murid diminta hadir. Pemuda desa membantu menata kursi. Gerobak Buku Langit Biru kembali dibawa ke depan balai desa, bukan sebagai pajangan, tetapi sebagai tanda bahwa kegiatan belajar di Wanasari tetap berjalan.
Rantaka membaca kembali tulisannya berkali-kali.
Liris datang ke rumahnya menjelang siang.
“Kau menulis sesuatu?” tanyanya.
Rantaka mengangguk.
“Pidato?”
“Mungkin.”
Liris duduk di sebelahnya.
“Kau akan bicara?”
Rantaka menatap buku tulis di tangannya.
“Aku tidak tahu. Aku takut salah.”
“Kau pernah bicara di Pentas Harapan Wanasari.”
“Itu berbeda. Waktu itu warga kita sendiri. Sekarang ada tim kecamatan.”
Liris tersenyum tipis.
“Kalau kau bicara dari hati, tidak ada yang salah.”
Rantaka memandang sahabatnya.
“Kalau suaraku gemetar?”
“Biar saja,” jawab Liris. “Suara yang gemetar tetap bisa didengar.”
Menjelang sore, warga mulai memenuhi balai desa.
Suasana kali ini berbeda dari malam Pentas Harapan Wanasari.
Tidak ada anak-anak menyanyi.
Tidak ada drama.
Tidak ada makanan yang ditata untuk hiburan.
Yang ada hanya kursi-kursi sederhana, wajah-wajah penuh harap, dan perasaan cemas yang tidak dapat disembunyikan.
Di depan ruangan, meja panjang disiapkan untuk tim kecamatan.
Ibu Ratna datang lebih dulu. Wajahnya tetap ramah, tetapi ia membawa map yang lebih tebal daripada sebelumnya. Pak Hadi datang sambil membawa beberapa lembar catatan tentang kondisi bangunan sekolah. Pak Surya datang terakhir.
Ia memandangi warga yang hadir.
Kemudian pertemuan dimulai.
Kepala Dusun membuka acara dengan suara yang terdengar lebih pelan dari biasanya.
“Kami berkumpul hari ini untuk menyampaikan dukungan masyarakat terhadap SD Wanasari,” katanya. “Kami memahami bahwa sekolah kami memiliki banyak kekurangan. Tetapi kami juga ingin menyampaikan bahwa sekolah ini sangat dibutuhkan oleh warga.”
Ibu Ratna mengangguk.
“Kami datang untuk mendengarkan,” katanya. “Kami ingin memahami kondisi pendidikan di Desa Wanasari secara lebih lengkap.”
Beberapa orang tua mulai menyampaikan pendapat.
Bu Sari berdiri dan menceritakan bahwa anak-anak dari dusun paling jauh harus berjalan lebih dari satu jam jika harus pindah ke sekolah lain. Pak Jamin menjelaskan bahwa pada musim hujan, jalan menuju desa sebelah sering berlumpur dan sulit dilalui. Seorang ibu muda berkata bahwa ia khawatir anak perempuannya tidak akan aman berjalan terlalu jauh setiap hari.
Pak Hadi mencatat semuanya.
Pak Surya mendengarkan tanpa banyak bicara.
Setelah beberapa warga menyampaikan pendapat, suasana kembali hening.
Ibu Ratna melihat ke arah anak-anak yang duduk di sisi ruangan.
“Apakah ada murid yang ingin berbicara?” tanyanya.
Rantaka merasakan jantungnya berdegup keras.
Liris menoleh kepadanya.
Banyu menatapnya dengan wajah tenang.
Jagra mengangkat dagu sedikit, seperti memberi tanda bahwa ia harus maju.
Rantaka memegang buku tulisnya.
Tangannya dingin.
Ia berdiri perlahan.
Langkahnya menuju depan ruangan terasa lebih berat daripada ketika ia berjalan melewati jalan tanah menuju sekolah. Namun, setiap langkah membawa kembali semua hal yang telah ia lalui.
Surat berstempel merah.
Papan tulis retak.
Gerobak Buku.
Pertengkaran di bawah beringin.
Kecelakaan ayahnya.
Uang tabungan yang habis.
Panggung yang runtuh karena hujan.
Pentas Harapan Wanasari.
Semua itu seolah berjalan bersamanya menuju depan balai desa.
Rantaka berdiri di hadapan tim penilai.
Ia membuka buku tulisnya.
Namun, setelah melihat wajah ayahnya, ibunya, Bu Laras, dan sahabat-sahabatnya, ia menutup kembali buku itu.
Ia ingin berbicara tanpa hanya membaca.
“Nama saya Rantaka Wening,” katanya.
Suasana balai desa menjadi hening.
“Saya murid kelas enam SD Wanasari.”
Ia menarik napas.
“Bapak dan Ibu mungkin melihat sekolah kami kecil. Memang benar. Bangunannya tua. Atapnya bocor. Jendelanya tidak lengkap. Papan tulisnya retak.”
Pak Surya memandangnya.
Rantaka melanjutkan.
“Tetapi bagi kami, sekolah itu bukan hanya bangunan.”
Ia menatap warga yang hadir.
“Di sekolah itu, saya belajar membaca. Saya belajar menulis nama saya sendiri. Saya belajar bahwa Indonesia bukan hanya desa kecil tempat saya tinggal. Saya belajar bahwa ada banyak tempat di luar sana, dan mungkin suatu hari saya bisa melihatnya.”
Suara Rantaka mulai lebih kuat.
“Di sekolah itu, Liris belajar menulis puisi. Banyu belajar membuat alat dari barang bekas. Jagra belajar menghitung hasil ikan dari sungai. Kami semua belajar bahwa kami boleh punya cita-cita.”
Liris menunduk, menahan haru.
Banyu memegang tangan di pangkuannya.
Jagra menatap lantai, tetapi senyum kecil tampak di wajahnya.
Rantaka menoleh kepada tim penilai.
“Kalau sekolah ini ditutup, mungkin kami masih bisa berjalan ke sekolah lain. Tetapi tidak semua anak bisa. Ada yang harus membantu orang tua. Ada yang tinggal jauh. Ada yang mungkin akan berhenti karena merasa sekolah terlalu sulit dijangkau.”
Ia berhenti sejenak.
“Kalau itu terjadi, bukan hanya satu bangunan yang ditutup. Jalan kami menuju masa depan juga ikut tertutup.”
Ruangan semakin hening.
Rantaka menatap Pak Surya.
“Kami tidak meminta sekolah ini menjadi sekolah paling bagus. Kami tahu itu tidak mudah. Kami hanya meminta kesempatan.”
Ia mengangkat wajah.
“Kesempatan untuk belajar di desa kami sendiri. Kesempatan untuk memperbaiki sekolah ini bersama-sama. Kesempatan untuk membuktikan bahwa anak-anak desa juga bisa tumbuh, kalau ada tempat yang memberi mereka ruang untuk belajar.”
Rantaka menarik napas panjang.
“Bapak dan Ibu boleh melihat dinding kami yang retak. Tetapi tolong juga lihat anak-anak yang tetap datang setiap pagi. Lihat guru kami yang tetap mengajar. Lihat orang tua kami yang tetap mendukung. Lihat Gerobak Buku yang kami dorong dari rumah ke rumah.”
Suaranya bergetar, tetapi ia tidak berhenti.
“Sekolah ini mengajarkan kami untuk tidak menyerah. Kalau sekolah ini ditutup, kami takut anak-anak setelah kami tidak sempat belajar pelajaran itu.”
Setelah kalimat terakhir, Rantaka terdiam.
Ia tidak tahu apakah pidatonya cukup baik.
Ia tidak tahu apakah kata-katanya dapat mengubah keputusan.
Namun, ia tahu bahwa untuk pertama kalinya, ia telah mengatakan semua yang ingin ia sampaikan.
Balai desa tetap hening.
Kemudian terdengar suara tepuk tangan dari satu sudut ruangan.
Darma bertepuk tangan lebih dulu.
Tangannya tidak terlalu kuat, tetapi bunyinya terdengar jelas.
Rukmini ikut bertepuk tangan.
Lalu Bu Laras.
Liris.
Banyu.
Jagra.
Kemudian seluruh warga berdiri.
Tepuk tangan memenuhi balai desa.
Ada yang menangis.
Ada yang mengusap mata.
Ada yang mengangguk dengan wajah penuh harap.
Rantaka berdiri di depan ruangan dengan dada bergetar.
Ia tidak merasa menjadi anak yang paling berani.
Ia hanya merasa seperti seorang anak desa yang akhirnya berani menjaga mimpinya sendiri.
Pak Surya menatap Rantaka cukup lama.
Wajahnya yang selama ini tampak keras perlahan berubah.
Ia membuka mapnya, lalu menutupnya kembali.
“Kata-katamu penting,” katanya.
Rantaka menunggu.
Pak Surya melanjutkan, “Kami memang harus mempertimbangkan standar bangunan dan jumlah murid. Itu adalah tanggung jawab kami. Tetapi kami juga harus mempertimbangkan kebutuhan nyata masyarakat.”
Ibu Ratna mengangguk.
“Pendidikan tidak hanya soal angka,” katanya. “Pendidikan juga tentang akses, keberlanjutan, dan harapan.”
Pak Hadi menambahkan, “Kami akan memasukkan dukungan masyarakat, kegiatan Gerobak Buku, serta komitmen perbaikan sekolah dalam laporan kami.”
Warga kembali bertepuk tangan, meski kali ini lebih pelan dan penuh harap.
Pak Surya berdiri.
“Kami belum dapat menyampaikan keputusan hari ini,” katanya. “Namun, kami akan membawa semua yang kami lihat dan dengar ke kecamatan.”
Rantaka mengangguk.
Ia tidak meminta jawaban lebih cepat.
Ia tidak lagi ingin memaksa keadaan.
Ia hanya ingin mereka benar-benar memahami.
Setelah pertemuan selesai, warga mulai mendekati Rantaka.
Bu Sari memeluk bahunya.
Pak Jamin menepuk punggungnya.
Anak-anak kecil mengelilinginya sambil berkata bahwa mereka juga ingin bisa berbicara seperti Rantaka suatu hari nanti.
Bu Laras berdiri di dekatnya.
“Kau sudah melakukan sesuatu yang tidak semua orang dewasa berani lakukan,” katanya.
Rantaka menunduk.
“Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, Bu.”
“Itulah keberanian,” jawab Bu Laras.
Di luar balai desa, sore mulai berubah menjadi senja.
Langit di atas Wanasari berwarna biru tua dengan garis jingga di ujungnya. Jalan tanah masih tampak basah di beberapa bagian, tetapi tidak lagi terasa seperti jalan yang menakutkan.
Rantaka berjalan pulang bersama Liris, Banyu, dan Jagra.
Mereka tidak banyak bicara.
Namun, kali ini keheningan di antara mereka bukan karena takut.
Keheningan itu dipenuhi oleh rasa lega.
Mereka telah melakukan apa yang dapat mereka lakukan.
Sekarang, mereka hanya perlu menunggu.
Dan di dalam hati Rantaka, ada keyakinan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Apa pun keputusan yang datang nanti, suara anak-anak Desa Wanasari sudah tidak mungkin diabaikan lagi.
Bab 25 — Sekolah yang Tidak Padam
Tiga hari setelah pertemuan di balai desa, Desa Wanasari kembali menjalani hari-hari seperti biasa.
Pagi tetap dimulai dengan suara ayam berkokok dari belakang rumah. Para petani berangkat ke ladang sebelum matahari tinggi. Beberapa bapak menuju sungai membawa jaring. Ibu-ibu menyiapkan sarapan, mencuci pakaian, atau membuka warung kecil di depan rumah.
Namun, bagi Rantaka dan sahabat-sahabatnya, tidak ada hari yang benar-benar biasa.
Setiap suara kendaraan dari arah jalan utama membuat anak-anak menoleh.
Setiap orang yang datang membawa surat membuat warga bertanya-tanya.
Setiap kali Bu Laras berjalan menuju ruang guru dengan wajah serius, jantung Rantaka terasa berdegup lebih cepat.
Keputusan dari kecamatan belum juga datang.
Di sekolah, pelajaran tetap berjalan.
Bu Laras tetap mengajar pecahan, membaca, dan ilmu pengetahuan alam. Anak-anak tetap menulis di buku tulis yang sebagian halamannya sudah mulai tipis. Papan tulis retak itu masih digunakan. Jika hujan turun, ember masih diletakkan di bawah titik-titik kebocoran.
Namun, ada sesuatu yang berubah.
Anak-anak kini datang lebih pagi.
Mereka tidak lagi hanya duduk menunggu bel berbunyi. Sebelum pelajaran dimulai, beberapa murid membantu menyapu kelas. Ada yang menyiram bunga dalam botol bekas. Ada yang merapikan buku di Gerobak Buku Langit Biru.
Bahkan beberapa anak dari dusun sebelah mulai datang untuk melihat perpustakaan keliling.
Mereka datang bersama kakak atau orang tua mereka, lalu bertanya apakah boleh meminjam buku.
“Boleh,” jawab Banyu dengan wajah serius. “Tapi harus dijaga. Buku tidak boleh terkena hujan.”
“Kalau terlambat mengembalikan?” tanya seorang anak kecil.
Jagra yang berdiri di samping gerobak menjawab, “Tidak apa-apa. Tapi nanti kau harus membantu menyapu halaman sekolah.”
Anak-anak tertawa.
Liris menulis daftar peminjam buku di sebuah buku catatan baru. Ia membuat kolom nama, judul buku, dan tanggal pengembalian. Tulisan tangannya rapi, seolah-olah Gerobak Buku Langit Biru adalah perpustakaan besar di kota.
Rantaka membantu Bu Laras mengajak anak-anak yang belum sekolah untuk datang ke SD Wanasari.
Mereka mendatangi rumah-rumah di pinggir desa. Mereka berbicara kepada orang tua. Mereka menjelaskan bahwa sekolah tidak meminta anak-anak menjadi orang lain, tetapi membantu mereka memahami dunia dan masa depan.
Tidak semua orang langsung setuju.
Ada yang masih ragu karena anak-anak dibutuhkan untuk membantu di ladang.
Ada yang khawatir seragam dan buku akan menjadi beban.
Ada pula yang berkata bahwa sekolah lain lebih jauh, tetapi mungkin lebih baik.
Rantaka tidak marah mendengar semua itu.
Ia mulai memahami bahwa setiap keluarga memiliki kesulitan sendiri.
Namun, ia tetap berkata, “Kalau anak-anak datang ke sekolah, kami akan membantu mereka belajar. Kami punya Gerobak Buku. Kami punya Bu Laras. Kami akan belajar bersama.”
Sedikit demi sedikit, beberapa orang tua mulai luluh.
Seorang anak bernama Karsa, yang selama ini lebih sering membantu ayahnya menjaga kambing, mulai datang ke sekolah pada pagi hari. Seorang anak perempuan bernama Suri yang tinggal di dekat sungai juga mulai ikut membaca bersama Liris.
Jumlah mereka belum banyak.
Tetapi bagi SD Wanasari, setiap anak yang datang adalah alasan baru untuk tetap berdiri.
Pada suatu pagi yang cerah, ketika Rantaka sedang membantu Banyu menyusun buku di Gerobak Buku, suara mobil kembali terdengar dari arah jalan utama.
Anak-anak yang sedang bermain di halaman langsung berhenti.
Bu Laras keluar dari ruang guru.
Kepala Dusun yang kebetulan datang untuk melihat kerja bakti berdiri di dekat pagar bambu.
Rantaka menoleh ke arah jalan.
Sebuah mobil kecamatan berhenti di depan sekolah.
Kali ini, bukan tiga orang yang turun.
Ibu Ratna turun lebih dulu. Di belakangnya, Pak Hadi membawa map. Pak Surya keluar terakhir. Wajahnya masih serius, tetapi langkahnya tidak lagi terasa seberat saat pertama datang.
Warga yang berada di sekitar sekolah mulai mendekat.
Beberapa ibu keluar dari rumah setelah mendengar kabar bahwa mobil kecamatan datang. Para bapak yang sedang bekerja di dekat kebun juga berjalan menuju halaman sekolah.
Rantaka berdiri di samping Gerobak Buku.
Tangannya dingin.
Liris berdiri di sebelahnya.
Banyu memegang pegangan gerobak.
Jagra menatap mobil itu tanpa berkata-kata.
Bu Laras menyambut tim kecamatan.
“Selamat datang kembali,” katanya.
Ibu Ratna tersenyum.
“Kami datang membawa hasil keputusan.”
Kalimat itu membuat halaman sekolah menjadi hening.
Pak Surya membuka map yang dibawanya.
Ia memandang bangunan SD Wanasari, lalu memandang anak-anak yang berdiri di halaman. Pandangannya berhenti pada bunga-bunga dalam botol bekas, Gerobak Buku Langit Biru, dan pagar bambu yang berdiri lebih rapi.
Kemudian ia berbicara.
“Setelah melakukan penilaian terhadap kondisi sekolah, mendengar pendapat masyarakat, serta mempertimbangkan kebutuhan pendidikan anak-anak di Desa Wanasari, kecamatan memutuskan bahwa SD Wanasari tidak ditutup.”
Tidak ada yang langsung bersuara.
Seolah-olah warga membutuhkan waktu untuk benar-benar memahami kalimat itu.
Lalu, Bu Sari menutup mulutnya dengan tangan.
Rukmini yang baru datang dari rumah menatap Darma dengan mata berkaca-kaca.
Kepala Dusun menghembuskan napas panjang.
Anak-anak saling memandang.
Kemudian, Jagra berteriak paling keras.
“Sekolah kita tidak ditutup!”
Suara itu seperti membuka pintu yang selama ini tertahan.
Anak-anak bersorak.
Beberapa berlari mengelilingi halaman. Ada yang melompat-lompat. Ada yang memeluk temannya. Ada yang menangis sambil tertawa.
Liris menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Banyu tersenyum lebar, senyum yang jarang sekali terlihat di wajahnya.
Rantaka berdiri diam.
Ia merasa dadanya penuh.
Terlalu penuh untuk langsung mengucapkan apa pun.
Pak Surya melanjutkan setelah suasana sedikit tenang.
“Namun, keputusan ini disertai beberapa langkah yang harus dijalankan bersama. Sekolah akan mendapatkan pendampingan dari kecamatan. Kami akan mengusulkan perbaikan bertahap untuk bagian bangunan yang paling membutuhkan. Kami juga akan membantu program peningkatan jumlah murid dan kegiatan belajar masyarakat.”
Warga kembali bertepuk tangan.
Pak Hadi membuka beberapa lembar dokumen.
“Dalam waktu dekat, bagian atap yang paling rusak akan diperbaiki terlebih dahulu. Jendela yang tidak memiliki kaca akan didata. Kami juga akan mengajukan kebutuhan meja dan kursi tambahan.”
Bu Laras menunduk dengan mata basah.
“Terima kasih, Pak. Terima kasih, Bu.”
Ibu Ratna memandang anak-anak.
“Namun, semua ini tidak akan berhasil tanpa kalian,” katanya. “Kami melihat bahwa SD Wanasari bukan hanya sekolah yang menunggu bantuan. Sekolah ini sudah bergerak. Ada guru yang bertahan, ada warga yang peduli, dan ada anak-anak yang berani menyuarakan harapan.”
Rantaka mendengar kata-kata itu seperti suara yang datang dari jauh.
Ia teringat saat pertama kali menerima kabar tentang surat berstempel merah.
Ia teringat ketakutan yang membuatnya hampir berhenti sekolah.
Ia teringat pertengkaran dengan sahabat-sahabatnya.
Ia teringat surat Kakek Sastro.
Ia teringat ayahnya di malam tanpa lampu.
Ia teringat panggung bambu yang runtuh diterpa hujan.
Semua kesulitan itu kini terasa seperti jalan panjang yang akhirnya membawa mereka sampai ke halaman sekolah pagi itu.
Darma berjalan perlahan mendekati Rantaka dengan tongkat kayunya.
Rantaka segera menghampiri ayahnya.
Darma memegang bahu anaknya.
“Kau dengar?” katanya.
Rantaka mengangguk.
“Sekolah kita tidak ditutup.”
Darma tersenyum.
“Bukan hanya sekolah kita yang bertahan. Mimpi kalian juga.”
Rantaka tidak mampu menjawab.
Ia memeluk ayahnya.
Rukmini berdiri di samping mereka. Matanya basah, tetapi wajahnya dipenuhi senyum yang selama beberapa bulan terakhir jarang terlihat.
Tidak jauh dari sana, Liris, Banyu, dan Jagra ikut mendekat.
“Kita berhasil,” kata Liris pelan.
Banyu menggeleng kecil.
“Kita belum selesai.”
Jagra menoleh kepadanya. “Apa maksudmu?”
Banyu menunjuk bangunan sekolah.
“Atapnya masih harus diperbaiki. Buku-buku masih harus dijaga. Anak-anak baru masih harus diajak belajar.”
Rantaka tersenyum.
Banyu benar.
Keputusan hari itu bukan akhir dari perjuangan.
Keputusan itu adalah awal dari tanggung jawab baru.
Namun, pagi itu, mereka boleh merasa bahagia.
Mereka boleh bersorak.
Mereka boleh menangis.
Mereka boleh percaya bahwa usaha mereka tidak sia-sia.
Menjelang siang, warga mengadakan syukuran sederhana di halaman sekolah.
Tidak ada acara besar.
Hanya singkong rebus, teh hangat, gorengan, dan beberapa kue buatan Rukmini. Namun, halaman SD Wanasari terasa lebih ramai daripada saat Pentas Harapan Wanasari.
Anak-anak duduk di bawah pohon beringin.
Para ibu berbincang sambil membagikan makanan.
Para bapak membicarakan rencana kerja bakti berikutnya.
Pemuda desa mulai menyusun jadwal untuk membantu memperbaiki bagian-bagian sekolah yang dapat dikerjakan bersama.
Bu Laras duduk di dekat Gerobak Buku Langit Biru.
Ia memandangi buku-buku yang tersusun di dalamnya.
Rantaka menghampiri gurunya.
“Bu,” katanya, “terima kasih karena tidak pernah menyerah.”
Bu Laras tersenyum.
“Bukan Ibu saja yang tidak menyerah.”
Rantaka memandang halaman sekolah.
Di sana, Liris sedang mengajari anak-anak kecil menulis kata-kata sederhana. Banyu memperlihatkan alat penyaring air kepada beberapa bapak. Jagra bercerita kepada anak-anak tentang sungai dan ikan.
“Dulu aku pikir sekolah hanya tempat belajar pelajaran,” kata Rantaka.
“Sekolah memang tempat belajar,” jawab Bu Laras. “Tetapi kadang pelajaran yang paling penting tidak tertulis di papan tulis.”
“Seperti apa, Bu?”
“Seperti belajar percaya pada diri sendiri. Belajar menolong teman. Belajar berdiri lagi setelah jatuh.”
Rantaka mengangguk.
Ia memandang pohon beringin tua di dekat halaman.
Di bawah pohon itu, mereka pernah membentuk Langit Biru.
Di bawah pohon itu pula mereka pernah bertengkar dan hampir terpecah.
Namun, pohon itu tetap berdiri.
Akar-akarnya tetap menembus tanah.
Dahannya tetap menaungi anak-anak yang belajar dan bermain di bawahnya.
Sore hari, setelah warga mulai pulang, Rantaka, Liris, Banyu, dan Jagra berdiri di depan sekolah.
Langit di atas Desa Wanasari berwarna biru cerah.
Tidak ada awan gelap.
Tidak ada hujan.
Hanya cahaya matahari yang jatuh di dinding sekolah tua, membuatnya tampak lebih hangat daripada biasanya.
Liris memandang langit.
“Langitnya benar-benar biru,” katanya.
Jagra mengangkat tangan seperti ingin meraih awan.
“Dari dulu juga biru.”
“Tidak,” kata Liris. “Hari ini rasanya berbeda.”
Banyu mengangguk.
“Mungkin karena kita tidak lagi melihatnya sendirian.”
Rantaka memandangi sahabat-sahabatnya.
Ia tahu bahwa beberapa tahun lagi mereka mungkin akan berjalan ke arah yang berbeda. Mereka mungkin akan meninggalkan Desa Wanasari untuk sekolah lebih tinggi, bekerja, atau mengejar cita-cita masing-masing.
Namun, hari itu mereka masih berdiri bersama.
Empat anak desa.
Empat sahabat.
Empat arah angin yang pernah bertemu di sebuah sekolah kecil.
Rantaka kemudian berjalan ke dinding depan sekolah.
Ia mengambil sebuah papan kayu bekas yang telah dibersihkan warga. Dengan bantuan Banyu, ia menggantung papan itu di dekat pintu masuk.
Liris telah menuliskan kalimat di atasnya dengan cat biru.
LANGIT BIRU
Mimpi Anak Desa Tidak Pernah Terlalu Tinggi
Anak-anak kecil yang masih berada di halaman membaca tulisan itu keras-keras.
Beberapa belum lancar.
Beberapa mengeja satu per satu.
Namun, semua tersenyum ketika akhirnya berhasil membacanya.
Rantaka berdiri di bawah papan kayu itu.
Ia memandang SD Wanasari yang tetap berdiri.
Sekolah itu belum menjadi bangunan megah.
Belum memiliki perpustakaan besar.
Belum memiliki banyak ruang kelas.
Namun, sekolah itu tidak padam.
Di dalamnya masih ada suara anak-anak membaca.
Masih ada langkah kaki menuju kelas.
Masih ada guru yang mengajar.
Masih ada warga yang percaya.
Dan selama semua itu ada, SD Wanasari akan tetap menjadi tempat di mana mimpi-mimpi kecil belajar tumbuh menuju langit yang luas.
BUKU II
LANGIT BIRU DI UJUNG REMAJA
BAB 1 — SERAGAM PUTIH BIRU YANG BARU
Pagi pertama menuju SMP Negeri Kecamatan Rawa Jaya datang lebih cepat daripada biasanya.
Langit Desa Wanasari masih berwarna kelabu ketika Rukmini sudah menyalakan tungku di dapur. Api kecil menyala di antara kayu-kayu kering. Asap tipis naik perlahan menuju celah atap, membawa aroma nasi hangat dan singkong rebus yang baru diangkat dari panci.
Di kamar sempitnya, Rantaka berdiri di depan cermin kecil yang tergantung miring di dinding bambu.
Ia mengenakan seragam putih biru.
Kemeja putih itu masih tampak kaku. Celana birunya dijahit oleh ibunya dengan hati-hati. Di saku dada sebelah kiri, terpasang lambang sekolah yang baru dibeli dari koperasi kecamatan.
Rantaka merapikan kerah bajunya beberapa kali.
Ia belum terbiasa melihat dirinya dengan seragam itu.
Dahulu, seragam putih merah membuatnya tampak seperti anak kecil yang berjalan tergesa-gesa menuju SD Wanasari. Kini, warna biru pada celananya membuat ia merasa seperti sedang memasuki pintu kehidupan yang belum pernah ia kenal.
“Sudah siap?” tanya Rukmini dari ambang pintu.
Rantaka menoleh.
Ibunya membawa sebuah tas kain berwarna cokelat. Tas itu bukan tas baru. Tas tersebut pernah dipakai Darma ketika masih kuat bekerja ke ladang. Bagian talinya sudah dijahit ulang. Namun, Rukmini telah mencucinya hingga bersih dan menjahitkan kain biru kecil pada bagian yang mulai robek.
“Ini untukmu,” kata Rukmini sambil menyerahkan tas itu.
Rantaka menerima tas tersebut dengan kedua tangan.
Di dalamnya sudah ada dua buku tulis, sebuah pensil, penghapus kecil, bekal nasi singkong, dan botol minum.
“Buku tulisnya hanya dua dulu,” ujar Rukmini. “Nanti kalau ada uang lebih, Ibu belikan lagi.”
Rantaka mengangguk.
“Dua juga cukup, Bu.”
Rukmini memandang anaknya cukup lama.
“Kalau ada yang mengejek tasmu, jangan kau pikirkan.”
Rantaka tersenyum kecil.
“Tidak akan ada yang mengejek, Bu.”
Namun, ia sendiri tidak benar-benar yakin.
Darma duduk di kursi kayu dekat ruang depan. Kakinya sudah jauh lebih kuat dibanding beberapa tahun lalu, tetapi ia masih berjalan dengan bantuan tongkat jika harus pergi jauh. Di pangkuannya, ia memegang topi kebun yang warnanya mulai pudar.
Ketika Rantaka keluar dari kamar, Darma memandangnya dengan mata yang penuh kebanggaan.
“Sudah seperti anak kota,” katanya.
Rantaka tersenyum malu.
“Anak desa juga bisa pakai seragam baru, Pak.”
Darma tertawa pelan.
“Betul. Anak desa juga bisa sekolah setinggi-tingginya.”
Kalimat itu membuat Rantaka terdiam sejenak.
Ia teringat papan kayu di SD Wanasari.
Mimpi Anak Desa Tidak Pernah Terlalu Tinggi.
“Ayah,” kata Rantaka, “kalau nanti aku sekolah di kecamatan, aku tidak akan sering pulang.”
Darma mengangguk.
“Kau pulang kalau bisa. Kalau tidak bisa, jangan kau jadikan itu alasan untuk berhenti.”
“Aku takut Ibu dan Ayah kesulitan.”
Darma menepuk bahu anaknya.
“Kesulitan memang ada. Tapi jangan sampai kesulitan menentukan hidupmu.”
Rukmini menunduk. Ia pura-pura merapikan ujung kain di meja agar Rantaka tidak melihat matanya yang mulai basah.
Tidak lama kemudian, suara sepeda berhenti di depan rumah.
Banyu datang dengan sepeda tuanya.
Sepeda itu tampak lebih rapi daripada sebelumnya. Rantainya sudah diberi oli. Di bagian depan, Banyu memasang keranjang kecil dari kawat bekas. Di belakang sadel, ia mengikat tas kain dengan tali rafia.
“Kalau terlambat, kita bisa tidak kebagian tempat di kendaraan,” kata Banyu.
Rantaka mengangguk.
Ia menyalami ayah dan ibunya.
Rukmini membetulkan kerah bajunya sekali lagi.
“Belajar yang rajin,” katanya.
“Iya, Bu.”
Darma mengangkat tangan.
“Jangan mudah takut.”
Rantaka mengangguk.
Kemudian ia berjalan keluar rumah bersama Banyu.
Di ujung jalan, Liris sudah menunggu sambil membawa tas punggung kecil. Buku catatan hijaunya terselip di antara buku pelajaran. Rambutnya dikepang rapi oleh ibunya. Seragam putih birunya tampak sederhana, tetapi bersih dan terawat.
Jagra datang terakhir.
Ia berlari dari arah sungai dengan napas sedikit terengah. Celana seragamnya masih tampak terlalu panjang di bagian bawah. Ibunya telah melipat ujungnya, tetapi lipatan itu mulai terbuka ketika ia berlari.
“Maaf,” katanya. “Ayah menyuruhku membantu menarik jaring dulu.”
“Pagi-pagi sudah dari sungai?” tanya Liris.
Jagra mengangkat bahu.
“Kalau tidak dibantu, Ayah terlambat menjual ikan.”
Mereka lalu berjalan bersama menuju jalan besar.
Di sana, sebuah kendaraan bak terbuka sudah menunggu. Kendaraan itu biasa membawa warga Desa Wanasari menuju pasar kecamatan. Di bagian belakang, beberapa ibu membawa keranjang sayur, seorang bapak membawa karung singkong, dan dua orang pedagang membawa ayam dalam kurungan bambu.
Rantaka memandang kendaraan itu.
Hari ini adalah hari pertama sekolahnya.
Namun, perjalanan menuju sekolah terasa seperti perjalanan menuju tempat yang sangat jauh.
Banyu menaikkan sepeda tuanya ke bagian belakang kendaraan. Jagra membantu mengangkatnya. Liris naik lebih dulu dan duduk di dekat sisi bak. Rantaka duduk di sampingnya.
Ketika kendaraan mulai bergerak, Desa Wanasari perlahan tertinggal di belakang.
Rumah-rumah kayu semakin kecil.
Kebun singkong berganti dengan jalan berbatu.
Sungai yang biasa mereka lihat setiap hari hanya tampak seperti garis berkilau di kejauhan.
Tidak ada yang banyak bicara.
Mereka memandangi jalan menuju kecamatan dengan perasaan yang berbeda-beda.
Liris membuka buku catatan hijaunya dan menulis sesuatu.
Banyu memperhatikan roda sepeda yang terikat di belakang kendaraan.
Jagra memegang erat tasnya, seolah takut tas itu jatuh atau hilang.
Rantaka memandangi telapak tangannya sendiri.
Ia teringat genggaman tangan mereka di bawah pohon beringin kemarin.
Kita tetap sahabat.
Kita tetap sekolah.
Kita tetap pulang.
Kita tetap bermimpi.
Perjalanan menuju Kecamatan Rawa Jaya memakan waktu hampir satu jam.
Saat kendaraan memasuki kawasan pasar, Rantaka melihat sesuatu yang jarang ia lihat di Desa Wanasari. Banyak toko berdiri di kiri kanan jalan. Ada bengkel motor, toko pakaian, warung makan, penjual alat tulis, dan kios yang menjual telepon genggam bekas.
Orang-orang berjalan lebih cepat.
Suara kendaraan bersahut-sahutan.
Anak-anak berseragam putih biru tampak berjalan dalam kelompok-kelompok kecil.
Sebagian membawa tas baru dengan gambar tokoh kartun. Sebagian diantar oleh orang tua menggunakan sepeda motor. Ada yang memakai sepatu mengilap dan jam tangan di pergelangan tangan.
Rantaka menunduk melihat tas kain cokelat miliknya.
Banyu tampaknya memahami apa yang dipikirkannya.
“Tasku juga bukan baru,” katanya pelan.
Rantaka menoleh.
“Tasku lebih tua dari tasmu.”
Banyu tersenyum kecil.
Liris mendengar percakapan itu.
“Yang penting isinya bukan hanya buku,” katanya. “Tapi juga mimpi.”
Jagra mengangkat alis.
“Kalau mimpinya terlalu berat, tasnya bisa putus.”
Mereka tertawa.
Tawa itu membuat rasa gugup di dada Rantaka sedikit berkurang.
SMP Negeri Kecamatan Rawa Jaya berdiri tidak jauh dari kantor kecamatan.
Bangunannya jauh lebih besar daripada SD Wanasari. Halamannya luas. Ada beberapa ruang kelas yang tersusun memanjang. Di tengah halaman berdiri tiang bendera yang tinggi. Di sisi kanan terdapat lapangan voli. Di belakang sekolah tampak bangunan ruang keterampilan dan perpustakaan.
Rantaka berhenti beberapa saat di depan gerbang.
Di atasnya tertulis:
SMP NEGERI KECAMATAN RAWA JAYA
BERILMU, BERKARAKTER, DAN BERPRESTASI
Ia membaca tulisan itu perlahan.
Kata berprestasi terasa besar di matanya.
Ia belum tahu apakah dirinya bisa menjadi anak berprestasi.
Ia hanya tahu bahwa ia tidak boleh berhenti.
Di halaman sekolah, para siswa baru sudah berkumpul. Ada yang datang bersama teman lama. Ada yang berdiri dekat orang tuanya. Ada pula yang terlihat percaya diri, berbicara keras, dan tertawa seolah sekolah itu sudah menjadi milik mereka.
Rantaka, Liris, Banyu, dan Jagra berdiri berdekatan.
Untuk sesaat, mereka merasa seperti empat orang asing di tengah keramaian.
Seorang guru perempuan dengan jilbab biru muda berdiri di depan para siswa.
“Selamat datang di SMP Negeri Kecamatan Rawa Jaya,” katanya melalui pengeras suara. “Hari ini kalian memulai perjalanan baru. Kalian akan belajar lebih banyak, bertemu lebih banyak orang, dan menghadapi tantangan yang lebih besar.”
Rantaka mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
“Kalian datang dari berbagai desa,” lanjut guru itu. “Ada yang berasal dari keluarga petani, nelayan, pedagang, pegawai, dan pekerja lainnya. Tetapi ketika kalian berada di sekolah ini, kalian semua memiliki hak yang sama untuk belajar.”
Kalimat itu membuat Rantaka mengangkat kepala.
Ia melihat Liris tersenyum tipis.
Banyu mengangguk pelan.
Jagra memandang ke arah lapangan, tetapi wajahnya tampak sedikit lebih tenang.
Setelah pengarahan, para siswa diminta masuk ke kelas masing-masing.
Rantaka dan Jagra berada di kelas VII B.
Liris masuk kelas VII A.
Banyu ditempatkan di kelas VII C.
Mereka saling memandang ketika guru membacakan pembagian kelas.
Untuk pertama kalinya sejak kecil, mereka tidak akan belajar dalam satu ruang yang sama.
“Ketemu saat istirahat,” kata Liris.
“Jangan lupa,” kata Banyu.
Jagra mengangkat tangan.
“Kalau ada yang mengganggu, panggil aku.”
Rantaka tersenyum.
Mereka lalu berjalan ke kelas masing-masing.
Di kelas VII B, Rantaka memilih duduk di bangku tengah dekat jendela. Jagra duduk di sebelahnya. Dari jendela, mereka bisa melihat lapangan sekolah dan jalan menuju pasar.
Beberapa siswa lain mulai masuk.
Seorang anak laki-laki bertubuh tinggi duduk di bangku depan. Ia membawa tas baru yang tampak mahal. Dua temannya mengikuti dari belakang. Mereka berbicara dengan suara keras dan tertawa tanpa memedulikan orang lain.
Anak laki-laki itu menoleh ke arah Rantaka dan Jagra.
“Dari mana kalian?” tanyanya.
“Wanasari,” jawab Rantaka.
“Wanasari?” ulang anak itu. “Yang dekat sungai itu?”
Jagra mengangguk.
Anak itu menyeringai.
“Jauh juga. Kalian naik perahu ke sekolah?”
Dua temannya tertawa.
Rantaka merasakan wajahnya memanas.
Jagra mengepalkan tangan di bawah meja.
Namun sebelum ia berkata apa-apa, seorang guru laki-laki masuk ke kelas.
“Selamat pagi,” katanya.
Semua siswa berdiri.
“Selamat pagi, Pak.”
“Saya Pak Arman, wali kelas kalian. Di kelas ini, tidak ada anak kota, tidak ada anak desa, tidak ada anak kaya, dan tidak ada anak miskin. Yang ada hanya siswa yang mau belajar dan siswa yang tidak mau belajar.”
Suasana kelas langsung hening.
Pak Arman memandang satu per satu wajah muridnya.
“Kalau kalian ingin dihargai, belajarlah menghargai orang lain.”
Rantaka menunduk.
Entah mengapa, kalimat itu membuat dadanya terasa lebih kuat.
Pelajaran pertama belum benar-benar dimulai. Hari itu masih diisi perkenalan, aturan sekolah, pembagian jadwal, dan pengenalan guru.
Namun, bagi Rantaka, hari pertama di SMP Rawa Jaya sudah cukup untuk mengajarkannya satu hal.
Dunia di luar Desa Wanasari memang lebih besar.
Di sana ada banyak orang.
Ada banyak suara.
Ada banyak penilaian.
Ada yang menyambut dengan ramah.
Ada pula yang memandang rendah hanya karena seseorang datang dari desa kecil.
Saat jam istirahat, Rantaka keluar kelas bersama Jagra.
Mereka bertemu Liris dan Banyu di dekat kantin.
Liris membawa dua gelas air putih. Banyu membawa roti yang dibelinya dari uang saku.
“Bagaimana kelas kalian?” tanya Liris.
“Lumayan,” jawab Rantaka.
“Banyak yang sok tahu,” kata Jagra.
Banyu mengunyah rotinya pelan.
“Di kelasku ada anak yang bilang sepeda tua itu tidak cocok dibawa ke sekolah. Katanya, lebih baik aku berjalan saja.”
“Lalu kau jawab apa?” tanya Liris.
“Aku bilang sepeda tua ini bisa jalan lebih jauh daripada mulutnya.”
Jagra tertawa keras.
Liris ikut tertawa.
Rantaka pun tersenyum.
Mereka duduk di bawah pohon ketapang dekat kantin. Di sekeliling mereka, siswa lain berbicara tentang pelajaran, kegiatan sekolah, dan teman-teman baru.
Rantaka memandang ketiga sahabatnya.
Hari pertama belum selesai.
Mereka belum tahu tantangan apa yang akan datang setelah ini.
Namun, setidaknya pada siang itu, mereka masih duduk bersama.
Masih bisa tertawa bersama.
Masih bisa saling menguatkan.
Bel sekolah kembali berbunyi.
Rantaka berdiri sambil mengangkat tas kain cokelatnya.
“Ayo,” katanya. “Kita kembali ke kelas.”
Liris mengangguk.
Banyu mengambil tasnya.
Jagra berdiri paling akhir.
Mereka berjalan ke arah ruang kelas masing-masing.
Langkah mereka masih canggung.
Seragam putih biru mereka masih baru.
Namun, di dalam hati mereka, sebuah perjalanan yang lebih panjang telah dimulai.
Perjalanan menuju remaja.
Perjalanan menuju mimpi.
Dan perjalanan untuk membuktikan bahwa anak-anak dari Desa Wanasari tidak akan berhenti hanya karena jalan menuju masa depan terasa jauh.
BAB 2 — RUMAH SINGGAH DI BELAKANG PASAR
Sore itu, setelah hari pertama sekolah berakhir, halaman SMP Negeri Kecamatan Rawa Jaya perlahan mulai sepi.
Siswa-siswa keluar dari gerbang dalam kelompok-kelompok kecil. Ada yang dijemput ayahnya dengan sepeda motor. Ada yang berjalan menuju jalan raya. Ada pula yang berlari ke arah pasar, mengejar kendaraan bak terbuka yang akan membawa mereka kembali ke desa masing-masing.
Rantaka berdiri di dekat tiang bendera sambil memegang tas kain cokelatnya.
Di kejauhan, ia melihat Liris menaiki kendaraan bak terbuka bersama beberapa ibu yang membawa belanjaan. Banyu sudah mengayuh sepeda tuanya ke arah jalan besar. Jagra berjalan cepat menuju pasar karena ia harus membantu ayahnya menjual ikan sebelum pulang ke Desa Wanasari.
Mereka sempat saling melambaikan tangan.
“Besok ketemu lagi!” seru Liris dari atas kendaraan.
“Jangan terlambat!” balas Banyu.
Jagra mengangkat tangan tanpa menoleh. Ia tampak terburu-buru.
Rantaka berdiri sendiri setelah mereka pergi.
Untuk pertama kalinya, ia merasakan betapa berbeda hidupnya mulai hari itu.
Teman-temannya pulang ke desa.
Sementara ia harus tinggal di kecamatan.
Pakde Wirya datang tidak lama kemudian. Ia mengenakan kemeja lusuh dan celana panjang yang bagian lututnya sudah memudar. Di bahunya tergantung tas kecil berisi beberapa barang dari pasar.
“Sudah selesai sekolah?” tanyanya.
“Sudah, Pakde.”
“Bagaimana sekolahnya?”
“Besar.”
Pakde Wirya tertawa kecil.
“Kalau besar, jangan sampai kau merasa kecil.”
Kalimat itu sederhana, tetapi Rantaka menyimpannya dalam hati.
Mereka berjalan melewati pasar Kecamatan Rawa Jaya. Suasana pasar sore hari jauh lebih ramai dibanding pagi tadi. Pedagang sayur mulai membereskan dagangan. Penjual ikan berteriak menawarkan hasil tangkapan. Bau rempah, ikan asin, tanah basah, dan asap gorengan bercampur menjadi satu.
Rantaka berjalan di belakang Pakde Wirya sambil membawa tas sekolahnya.
Sesekali ia harus menghindari orang yang membawa keranjang besar atau menarik gerobak. Di dekat kios pakaian, ia melihat beberapa anak seusianya membeli minuman dingin dan makanan ringan. Mereka tertawa sambil membicarakan kegiatan sekolah.
Rantaka ingin ikut tertawa seperti itu.
Namun, ia tidak mengenal siapa pun selain Liris, Banyu, dan Jagra.
“Rumah Pakde jauh?” tanyanya.
“Tidak jauh,” jawab Pakde Wirya. “Di belakang pasar.”
Mereka melewati deretan kios kayu, lalu masuk ke gang sempit yang dipenuhi rumah-rumah kecil. Jalan di gang itu tidak beraspal. Jika hujan turun, tanahnya berubah menjadi lumpur. Di kanan kiri terdapat jemuran pakaian, kandang ayam, dan pot-pot tanaman yang diletakkan di depan rumah.
Rumah Pakde Wirya berada di ujung gang.
Bangunannya kecil, berdinding papan, dan beratap seng. Di depannya terdapat warung sederhana dengan meja kayu, toples kerupuk, beberapa bungkus kopi, sabun, rokok, dan jajanan anak-anak.
Di belakang warung itulah Rantaka akan tinggal.
“Masuk,” kata Pakde Wirya.
Rantaka melangkah masuk dengan pelan.
Di dalam rumah, seorang perempuan paruh baya sedang menyusun gelas di atas rak. Wajahnya ramah, tetapi tampak lelah. Ia adalah Bude Sari, istri Pakde Wirya.
“Nah, ini Rantaka,” kata Pakde Wirya.
Bude Sari menoleh dan tersenyum.
“Sudah besar sekarang. Terakhir Bude lihat, kau masih pakai seragam putih merah.”
Rantaka menunduk sopan.
“Sudah kelas satu SMP, Bude.”
“Bagus. Kau tinggal di sini seperti rumah sendiri. Tapi kalau ada apa-apa, jangan dipendam.”
“Iya, Bude.”
Bude Sari mengajak Rantaka ke belakang rumah.
Di sana terdapat sebuah kamar kecil yang terpisah dari ruang utama oleh dinding papan tipis. Kamar itu hanya berisi satu dipan kayu, sebuah tikar, meja kecil, dan lampu gantung yang cahayanya tidak terlalu terang.
Di sudut kamar, ada ember air dan gantungan pakaian dari bambu.
“Ini kamar kau,” kata Bude Sari. “Tidak besar, tapi cukup untuk belajar dan tidur.”
Rantaka memandangi kamar itu.
Ia mencoba tersenyum.
“Sudah bagus, Bude.”
Bude Sari mengangguk.
“Kalau malam, jangan lupa tutup jendela. Di belakang ada kebun pisang. Nyamuknya banyak.”
Setelah Bude Sari pergi, Rantaka duduk di tepi dipan.
Ia meletakkan tas kain cokelat di atas meja.
Kamar itu sunyi.
Tidak ada suara ibunya dari dapur.
Tidak ada suara ayahnya batuk dari ruang depan.
Tidak ada suara ayam, sungai, atau angin yang biasa berhembus di antara kebun singkong.
Yang terdengar hanya suara orang-orang di pasar, suara motor lewat, dan suara sendok beradu dengan gelas dari warung depan.
Rantaka membuka tasnya.
Ia mengeluarkan dua buku tulis, pensil, penghapus, dan bekal yang belum sempat ia habiskan. Nasi singkong itu masih dibungkus daun pisang.
Ia teringat wajah ibunya saat menyerahkan tas tadi pagi.
Kalau ada yang mengejek tasmu, jangan kau pikirkan.
Rantaka menunduk.
Entah mengapa, ia tiba-tiba ingin pulang.
Namun, ia tahu rumahnya terlalu jauh.
Malam mulai turun.
Setelah magrib, Bude Sari memanggilnya makan. Di meja kecil dekat dapur, sudah tersedia nasi, sayur bening, tempe goreng, dan sambal.
Pakde Wirya duduk di ujung meja. Bude Sari duduk di dekat tungku. Mereka makan dengan tenang.
“Besok sekolah sampai jam berapa?” tanya Pakde Wirya.
“Katanya sampai siang, Pakde.”
“Setelah pulang sekolah, kau bantu jaga warung sebentar. Bude biasanya harus ke pasar membeli barang.”
Rantaka mengangguk.
“Iya, Pakde.”
“Kau tidak keberatan?”
“Tidak.”
Pakde Wirya menatapnya.
“Kau tinggal di sini bukan untuk jadi pembantu. Kau tetap harus sekolah. Tapi kalau bisa membantu, itu baik. Kau belajar hidup mandiri.”
Rantaka mengangguk lagi.
Ia memahami maksud Pakde.
Tinggal di rumah orang lain berarti harus tahu diri.
Harus mau membantu.
Harus pandai menahan keinginan.
Harus mengerti bahwa tidak semua hal dapat diminta.
Setelah makan, Rantaka membantu mencuci piring. Bude Sari sempat melarang, tetapi Rantaka tetap melakukannya.
“Di rumah, aku juga biasa bantu Ibu,” katanya.
Bude Sari tersenyum.
“Anak seperti kau akan kuat di mana pun.”
Kalimat itu membuat Rantaka sedikit lega.
Malam semakin larut.
Pakde Wirya sudah tidur lebih dulu. Bude Sari masih merapikan warung. Rantaka kembali ke kamar kecilnya.
Ia duduk di depan meja.
Lampu gantung di atas kepalanya berpendar kuning. Cahayanya membuat bayangan tubuhnya jatuh di dinding papan.
Rantaka membuka buku tulis baru.
Pada halaman pertama, ia menulis dengan huruf pelan:
Hari Pertama di SMP Rawa Jaya
Ia berhenti cukup lama.
Kemudian, ia mulai menulis.
Hari ini aku memakai seragam putih biru. Aku sekolah di tempat yang lebih besar dari SD Wanasari. Banyak anak yang datang dari desa lain. Ada yang punya tas baru, sepatu baru, dan kendaraan untuk pulang.
Ia berhenti lagi.
Tangannya terasa kaku.
Ia ingin menulis tentang ejekan anak laki-laki di kelas. Tentang tas kain cokelatnya. Tentang perasaan kecil yang sempat muncul ketika melihat siswa lain tampak lebih percaya diri.
Namun, ia tidak ingin mengakui bahwa ia terluka.
Akhirnya ia menulis lagi.
Aku akan tetap belajar. Aku tidak boleh membuat Ibu dan Ayah kecewa.
Rantaka menatap tulisan itu cukup lama.
Kemudian ia membuka halaman berikutnya.
Di sana, ia mulai menulis surat.
Untuk Liris,
Hari ini aku tinggal di rumah Pakde di belakang pasar. Kamarnya kecil, tapi aku punya meja untuk belajar. Pasar di sini ramai sekali. Kalau malam, suara motor tidak berhenti seperti suara jangkrik di desa.
Rantaka tersenyum tipis saat menulis.
Aku tadi ingin bilang banyak hal waktu kita di sekolah, tapi aku tidak tahu harus mulai dari mana. Rasanya aneh karena sekarang kita tidak satu kelas. Rasanya lebih aneh lagi karena aku tidak pulang bersama kalian.
Ia berhenti.
Ujung pensilnya menggantung di atas kertas.
Ia ingin menulis bahwa ia merasa takut.
Takut tidak mampu mengikuti pelajaran.
Takut tidak punya cukup uang untuk membeli buku.
Takut tinggal jauh dari rumah.
Takut kehilangan sahabat-sahabatnya karena hidup mereka mulai berbeda.
Namun, kata-kata itu tidak keluar.
Ia hanya menulis satu kalimat pendek.
Besok kalau bertemu saat istirahat, jangan lupa tersenyum seperti tadi.
Rantaka menutup buku itu.
Ia tidak memasukkan surat tersebut ke dalam amplop.
Ia tidak tahu harus mengirimkannya ke mana.
Liris tinggal di Desa Wanasari. Tidak ada kantor pos di desa itu. Tidak ada kendaraan yang setiap hari bisa membawa surat dengan pasti. Lagi pula, ia sendiri belum tentu berani menyerahkan surat itu jika bertemu Liris.
Ia menyelipkan buku tulis tersebut ke bawah bantal.
Kemudian ia berbaring di dipan kayu.
Dari jendela kecil, ia dapat melihat sedikit cahaya lampu pasar. Di kejauhan, terdengar suara orang masih berbicara. Ada anak kecil menangis. Ada motor lewat. Ada suara pintu warung ditutup.
Rantaka memejamkan mata.
Ia membayangkan rumahnya di Desa Wanasari.
Ia membayangkan ibunya sedang menyiapkan air minum untuk ayahnya.
Ia membayangkan ayahnya duduk di kursi kayu sambil memandang halaman.
Ia membayangkan Liris mungkin sedang menulis di buku hijau.
Ia membayangkan Banyu sedang memeriksa rantai sepeda.
Ia membayangkan Jagra membantu ayahnya di sungai.
Tiba-tiba, rasa sepi datang seperti angin dingin yang masuk dari celah jendela.
Rantaka menarik selimut tipis sampai ke dada.
Ia ingin menangis, tetapi ia menahan diri.
Darma pernah berkata, kesulitan memang ada, tetapi jangan sampai kesulitan menentukan hidupmu.
Rantaka membuka mata.
Di atas meja, tas kain cokelatnya tergantung diam.
Tas itu bukan tas baru.
Kamar itu bukan rumahnya.
Kecamatan itu bukan desa tempat ia tumbuh.
Namun, ia tahu satu hal.
Ia berada di tempat itu karena ingin sekolah.
Karena ingin menjadi lebih baik.
Karena ingin suatu hari nanti kembali ke Desa Wanasari bukan sebagai anak yang menyerah, tetapi sebagai seseorang yang dapat membawa perubahan.
Rantaka menarik napas pelan.
“Besok aku harus lebih kuat,” bisiknya.
Di luar, pasar perlahan mulai sepi.
Lampu-lampu warung satu per satu dimatikan.
Namun, di kamar kecil belakang pasar itu, seorang anak desa masih terjaga cukup lama.
Ia memandangi langit malam dari jendela sempit.
Langit yang sama seperti di Desa Wanasari.
Langit yang tetap biru, meski malam sedang menutupinya.
BAB 3 — GADIS DENGAN BUKU CATATAN HIJAU
Pagi di Kecamatan Rawa Jaya selalu datang bersama suara kendaraan.
Sejak sebelum matahari muncul sepenuhnya, jalan di depan pasar sudah dipenuhi sepeda motor, gerobak sayur, pedagang keliling, dan kendaraan bak terbuka yang membawa warga dari desa-desa sekitar. Suara klakson bercampur dengan panggilan para penjual sarapan. Asap dari wajan gorengan naik ke udara, menempel pada bau tanah basah dan ikan segar dari pasar.
Di kamar kecil belakang warung Pakde Wirya, Rantaka sudah bangun sejak subuh.
Ia melipat selimut tipisnya, menyiram wajah dengan air dari ember, lalu mengenakan seragam putih biru yang masih tampak baru. Setelah itu, ia membantu Bude Sari menyusun beberapa bungkus mi instan dan sabun di rak warung.
“Tidak usah terlalu cepat,” kata Bude Sari sambil menata toples kerupuk. “Kau bisa terlambat sekolah.”
“Masih ada waktu, Bude.”
“Kalau kau rajin seperti ini, nanti Bude malah takut kau terlalu lelah.”
Rantaka tersenyum kecil.
Ia tidak mengatakan bahwa membantu warung membuatnya merasa sedikit lebih berguna. Di rumah Pakde Wirya, ia tidak ingin hanya menjadi anak yang menumpang makan dan tidur. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya tahu berterima kasih.
Setelah sarapan, ia mengambil tas kain cokelatnya dan berpamitan.
“Pakde, Bude, aku berangkat.”
Pakde Wirya yang sedang duduk di depan warung mengangguk.
“Belajar yang sungguh-sungguh. Jangan terlalu banyak memikirkan omongan orang.”
Rantaka berhenti sejenak.
Pakde seolah mengetahui bahwa kemarin ada sesuatu yang tidak nyaman terjadi di kelas.
“Iya, Pakde.”
Ia lalu berjalan menuju sekolah.
Di sepanjang jalan, beberapa siswa SMP sudah tampak berjalan berkelompok. Mereka berbicara tentang jadwal pelajaran, guru baru, tugas, dan kegiatan yang akan datang. Rantaka berjalan sendiri sambil sesekali memegang tali tasnya yang mulai terasa kasar di telapak tangan.
Sesampainya di gerbang sekolah, ia melihat Liris sedang berdiri di dekat taman kecil depan perpustakaan.
Liris memegang buku catatan hijau di dadanya.
Buku itu sudah mulai kusam di bagian sudut. Sampulnya tidak lagi benar-benar hijau terang karena sering dibawa ke mana-mana. Ada bekas lipatan, goresan pensil, dan sedikit noda air di bagian bawahnya. Namun, Liris merawatnya seperti menjaga sesuatu yang sangat berharga.
“Pagi,” kata Rantaka.
Liris menoleh dan tersenyum.
“Pagi. Kau datang lebih awal.”
“Aku tinggal dekat sekolah.”
“Aku justru hampir terlambat. Kendaraan dari desa penuh sekali. Ada ibu-ibu membawa keranjang sayur sampai aku hampir duduk di atas karung bawang.”
Rantaka tertawa pelan.
“Kalau begitu, kau harus menulis puisi tentang bawang.”
Liris menatapnya seolah sedang berpikir.
“Bisa juga. Judulnya: Perjalanan Seorang Gadis dan Karung Bawang.”
Mereka tertawa bersama.
Untuk sesaat, suasana sekolah yang ramai tidak terasa terlalu asing.
“Banyu dan Jagra sudah datang?” tanya Rantaka.
“Banyu katanya sedang memeriksa rantai sepedanya. Jagra belum kelihatan.”
“Pasti dari sungai lagi.”
Liris mengangguk.
Bel masuk berbunyi.
Mereka berpisah menuju kelas masing-masing.
Liris berjalan ke kelas VII A sambil membawa buku hijau itu. Dari kejauhan, ia tampak berbeda dari sebagian besar siswa lain. Banyak anak membawa tas baru, buku-buku bersampul rapi, dan alat tulis yang lengkap. Liris hanya membawa tas kecil, beberapa buku pelajaran, serta buku catatan hijau yang selalu menempel di dadanya.
Di kelas VII A, Liris duduk di bangku dekat jendela.
Dari sana, ia dapat melihat halaman sekolah, tiang bendera, dan pohon ketapang yang daunnya bergerak pelan tertiup angin. Cahaya pagi masuk melalui jendela, jatuh di atas meja kayu yang penuh goresan.
Liris membuka buku catatan hijaunya sebelum guru datang.
Pada halaman yang kosong, ia menulis:
Jalan panjang dari desa
membawa debu di ujung sepatu
tetapi di dalam tas kecilku
ada langit yang ingin kutuju.
Ia membaca ulang bait itu.
Kemudian ia menambahkan satu kalimat kecil di bawahnya.
Anak desa tidak harus malu membawa mimpi.
“Menulis apa?”
Suara itu membuat Liris menutup bukunya dengan cepat.
Di sampingnya berdiri seorang siswi bernama Nayla. Rambutnya dikuncir rapi. Seragamnya tampak sangat bersih. Tasnya berwarna merah muda dengan gantungan boneka kecil yang bergerak setiap kali ia berjalan.
Nayla duduk di bangku depan Liris.
“Tidak apa-apa,” jawab Liris.
“Puisi?”
Liris ragu sejenak.
“Iya.”
Nayla tersenyum tipis.
“Untuk tugas Bahasa Indonesia?”
“Bukan. Hanya menulis saja.”
Nayla mengangguk, tetapi pandangannya masih tertuju pada buku hijau itu.
“Menulis puisi itu susah, ya?”
“Kadang tidak,” jawab Liris. “Kalau ada yang ingin dikatakan, kata-katanya bisa datang sendiri.”
Nayla tampak ingin berkata sesuatu lagi, tetapi guru Bahasa Indonesia masuk ke kelas.
“Selamat pagi, anak-anak.”
“Selamat pagi, Bu,” jawab semua siswa.
Guru itu bernama Bu Ratih. Wajahnya tegas, tetapi suaranya lembut. Ia membawa beberapa buku di tangan dan menaruhnya di atas meja.
“Hari ini, sebelum kita mulai pelajaran, Ibu ingin tahu siapa di antara kalian yang suka membaca atau menulis.”
Beberapa siswa mengangkat tangan.
Nayla mengangkat tangan paling tinggi.
Liris tidak langsung mengangkat tangan. Ia menunduk melihat bukunya.
Bu Ratih memperhatikan kelas.
“Tidak perlu malu. Membaca dan menulis bukan hanya untuk anak yang sudah pintar. Membaca dan menulis adalah cara agar kita belajar memahami dunia.”
Liris perlahan mengangkat tangan.
Bu Ratih tersenyum.
“Siapa namamu?”
“Liris, Bu.”
“Kau suka membaca atau menulis?”
“Dua-duanya, Bu.”
“Bagus. Kalau begitu, nanti kau bisa ikut mengisi majalah dinding sekolah.”
Liris terdiam.
Majalah dinding sekolah.
Ia pernah melihat papan besar di dekat perpustakaan yang dipenuhi tulisan, gambar, pengumuman, dan puisi. Selama ini ia hanya memandanginya dari jauh. Ia tidak pernah membayangkan namanya bisa tertulis di sana.
“Boleh, Bu?” tanyanya pelan.
“Tentu saja boleh. Semua siswa boleh mengirimkan tulisan. Cerita pendek, puisi, pengalaman, atau artikel sederhana.”
Beberapa siswa menoleh ke arah Liris.
Ada yang tersenyum ramah.
Namun, dari bangku belakang, terdengar suara pelan yang cukup jelas.
“Anak desa juga mau jadi penulis.”
Beberapa siswa tertawa kecil.
Liris membeku.
Kalimat itu tidak keras. Tidak disertai teriakan. Namun, rasanya seperti duri yang masuk perlahan ke dalam hati.
Bu Ratih menoleh ke arah bangku belakang.
“Siapa yang bicara?”
Tidak ada yang menjawab.
Suasana kelas menjadi hening.
Bu Ratih menarik napas.
“Di kelas ini, tidak ada yang boleh merendahkan orang lain. Kalian datang dari tempat yang berbeda, tetapi setiap orang punya hak yang sama untuk belajar dan berkembang.”
Liris menunduk.
Ia ingin terlihat kuat.
Namun, jemarinya menggenggam buku hijau begitu erat hingga ujung kukunya menekan sampul.
Pelajaran berlangsung seperti biasa. Bu Ratih menjelaskan tentang kalimat, paragraf, dan cara menyusun cerita sederhana. Liris mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Ia mencatat hampir semua yang disampaikan guru.
Tetapi di dalam pikirannya, kalimat tadi terus berputar.
Anak desa juga mau jadi penulis.
Saat jam istirahat, Liris tidak langsung menuju kantin.
Ia berjalan ke belakang perpustakaan, ke tempat yang lebih sepi. Di sana ada bangku panjang dari semen dan beberapa pohon kecil yang baru ditanam.
Ia duduk sambil membuka buku hijau.
Awalnya ia ingin menulis.
Namun, tidak ada satu kata pun yang keluar.
Tangan yang biasanya mudah bergerak di atas kertas kini terasa berat.
“Liris.”
Ia menoleh.
Rantaka datang dari arah halaman. Di belakangnya ada Banyu yang masih membawa sepeda tua karena belum sempat menyimpannya di tempat parkir.
“Kau tidak ke kantin?” tanya Rantaka.
“Tidak lapar.”
Banyu memandang wajah Liris.
“Kau sakit?”
“Tidak.”
Jagra datang beberapa saat kemudian. Seragamnya sedikit kusut. Rambutnya masih basah, seolah ia terburu-buru mandi setelah dari sungai.
“Kenapa kalian kumpul di sini?” tanyanya.
“Liris tidak mau makan,” jawab Banyu.
Jagra menatap Liris.
“Ada yang mengganggumu?”
Liris tidak langsung menjawab.
Rantaka duduk di sampingnya.
“Kalau ada yang terjadi, bilang saja.”
Liris menunduk.
“Tadi ada yang bilang anak desa seperti aku tidak pantas jadi penulis.”
Jagra langsung mengerutkan dahi.
“Siapa?”
“Sudahlah,” kata Liris cepat. “Tidak penting.”
“Penting,” kata Jagra. “Kalau orang suka merendahkan—”
“Tidak semua harus diselesaikan dengan marah,” potong Banyu.
Jagra menoleh tajam.
“Lalu harus bagaimana? Diam saja?”
Rantaka mengangkat tangan.
“Jangan mulai bertengkar. Liris sedang sedih.”
Liris menarik napas pelan.
“Aku hanya merasa aneh. Di desa, Bu Laras selalu bilang aku boleh menulis apa saja. Di sini, rasanya seperti aku harus membuktikan dulu bahwa aku pantas menulis.”
Banyu duduk di ujung bangku.
“Kalau kau menulis karena ingin membuktikan kepada mereka, kau akan cepat lelah.”
Liris memandangnya.
“Lalu aku harus menulis untuk apa?”
“Untuk dirimu sendiri dulu,” jawab Banyu. “Untuk apa yang kau lihat. Untuk apa yang kau rasakan. Kalau tulisanmu baik, orang akan membaca. Kalau mereka tidak membaca, tulisanmu tetap ada.”
Jagra mengangguk.
“Dan kalau ada yang mengejek lagi, beri tahu aku.”
Liris tersenyum kecil.
“Kau tidak perlu berkelahi.”
“Aku tidak bilang mau berkelahi,” jawab Jagra. “Aku hanya mau berdiri dekat mereka sambil membawa jaring ikan.”
Rantaka tertawa.
Banyu menggeleng pelan.
Liris akhirnya ikut tertawa.
Tawa itu tidak menghapus rasa sakitnya sepenuhnya. Namun, setidaknya ia tidak lagi merasa sendirian.
Setelah jam sekolah berakhir, Liris tidak langsung pulang.
Ia berjalan menuju perpustakaan. Di dekat pintu masuk, papan majalah dinding sekolah berdiri dengan beberapa tulisan yang ditempel menggunakan selotip. Ada puisi tentang ibu, cerita tentang liburan, gambar pemandangan, dan pengumuman lomba kebersihan kelas.
Di bagian bawah papan, terdapat secarik kertas kecil.
PENGUMPULAN KARYA MAJALAH DINDING
Puisi, cerpen, artikel, gambar, dan pengalaman pribadi.
Kumpulkan kepada Bu Ratih setiap hari Jumat.
Liris berdiri cukup lama di depan pengumuman itu.
Angin sore bergerak pelan di halaman sekolah.
Ia membuka buku catatan hijaunya.
Halaman yang tadi pagi berisi puisi tentang jalan dari desa masih terbuka. Liris membaca ulang bait-baitnya.
Kemudian, di bawah tulisan itu, ia menambahkan beberapa baris.
Jika kata-kataku dianggap kecil,
biarlah ia tumbuh seperti benih.
Jika langkahku dianggap jauh,
biarlah ia berjalan bersama angin.
Liris menutup buku itu.
Untuk pertama kalinya sejak diejek di kelas, ia merasa sedikit lebih berani.
Ia tidak tahu apakah puisinya akan diterima.
Ia tidak tahu apakah ada orang yang akan menyukainya.
Ia tidak tahu apakah suatu hari nanti ia benar-benar dapat menjadi penulis.
Namun, ia tahu satu hal.
Ia tidak ingin berhenti hanya karena seseorang menganggap mimpi anak desa terlalu tinggi.
Sore itu, ketika kendaraan bak terbuka mulai bergerak meninggalkan Kecamatan Rawa Jaya, Liris duduk di antara keranjang sayur dan beberapa ibu yang berbicara tentang harga bahan makanan.
Di pangkuannya, buku catatan hijau tetap ia peluk.
Jalan menuju Desa Wanasari kembali dipenuhi debu.
Matahari perlahan turun di balik pepohonan.
Liris memandang langit dari sisi kendaraan.
Warnanya mulai berubah keemasan.
Ia tersenyum kecil.
Di dalam buku hijau itu, kata-kata masih menunggu.
Dan selama kata-kata itu masih ada, ia percaya bahwa mimpinya juga belum padam.
BAB 4 — ANAK SUNGAI YANG TAKUT TENGGELAM
Pagi itu, kabut masih menggantung rendah di atas Sungai Wanasari ketika Jagra sudah berada di dalam perahu kecil bersama ayahnya.
Air sungai tampak tenang dari kejauhan, tetapi arus di bawah permukaannya tetap bergerak tanpa henti. Perahu kayu yang mereka tumpangi bergoyang pelan setiap kali jaring ditarik dari dalam air.
Ayah Jagra, Pak Sagara, berdiri di bagian depan perahu sambil memegang tali jaring. Tangannya kasar dan menghitam karena terlalu sering terkena air sungai, matahari, dan lumpur.
“Tarik pelan-pelan,” katanya.
Jagra mengangguk.
Ia menarik tali jaring dengan kedua tangan. Bahunya menegang. Air menetes dari jaring yang berat, membasahi bagian depan bajunya yang belum sempat ia ganti dengan seragam sekolah.
Di dalam jaring, hanya ada beberapa ikan kecil.
Pak Sagara menghela napas.
“Tidak banyak.”
“Semalam hujan,” kata Jagra. “Mungkin ikannya masuk ke arah hulu.”
“Mungkin.”
Mereka kembali menarik jaring yang lain. Hasilnya tidak jauh berbeda.
Beberapa ikan kecil.
Seekor udang sungai.
Daun-daun kering.
Dan sampah plastik yang tersangkut di sela jaring.
Jagra memandang ayahnya.
“Ayah, aku harus berangkat sekolah.”
Pak Sagara menoleh. Wajahnya tampak lelah, tetapi ia berusaha tersenyum.
“Pergilah. Nanti Ayah yang membawa ikan ini ke pasar.”
“Kalau Ayah sendiri, bisa?”
“Bisa. Kau jangan terlambat.”
Jagra ragu.
Ia tahu ayahnya tidak suka meminta bantuan. Namun, ia juga tahu bahwa hasil tangkapan hari itu terlalu sedikit. Jika ikan tidak cepat dijual, mereka tidak akan mendapat cukup uang untuk membeli kebutuhan rumah.
“Aku bantu sebentar lagi,” kata Jagra.
Pak Sagara menggeleng.
“Sekolahmu lebih penting.”
Jagra menunduk.
Ia tidak langsung percaya pada kalimat itu.
Baginya, sungai juga penting. Ikan juga penting. Uang untuk membeli beras, minyak goreng, buku, dan seragam juga penting.
Tetapi ia tidak ingin membuat ayahnya kecewa.
Ia mengayuh perahu ke tepian, lalu berlari pulang melewati jalan setapak yang masih basah oleh embun.
Sesampainya di rumah, ibunya sudah menunggu di depan pintu.
“Cepat mandi,” kata Bu Ranti. “Seragammu sudah Ibu setrika.”
Jagra masuk ke rumah dengan napas terengah.
Ia mandi secepat mungkin, mengenakan seragam putih biru, lalu menyambar tasnya yang tergantung di dinding. Celana seragamnya masih sedikit lembap di bagian bawah karena belum benar-benar kering sejak dicuci malam sebelumnya.
Ia berlari menuju jalan besar.
Kendaraan bak terbuka yang biasa membawa warga ke kecamatan sudah hampir berangkat.
“Jagra!” teriak seorang ibu dari atas kendaraan. “Cepat!”
Jagra melompat ke bagian belakang kendaraan tepat ketika mesin mulai bergerak.
Ia duduk di dekat karung singkong sambil mengatur napas.
Tangannya masih berbau sungai.
Kukunya masih menyimpan sedikit lumpur.
Namun, ia tidak punya waktu untuk memikirkan itu.
Ia hanya berharap tidak terlambat masuk kelas.
Ketika kendaraan tiba di Kecamatan Rawa Jaya, bel pertama sudah berbunyi.
Jagra berlari dari pasar menuju sekolah. Tasnya bergoyang di punggung. Sepatunya memercikkan debu. Keringat mulai membasahi lehernya.
Saat ia sampai di depan kelas VII B, Pak Arman sudah berdiri di depan pintu.
“Jagra,” kata Pak Arman dengan suara tenang tetapi tegas. “Ini hari ketiga sekolah. Kau sudah terlambat dua kali.”
Jagra menunduk.
“Maaf, Pak.”
“Masuklah. Tapi setelah pelajaran selesai, temui Bapak.”
“Iya, Pak.”
Jagra masuk ke kelas.
Beberapa siswa menoleh ke arahnya. Ada yang hanya melihat sebentar, lalu kembali membuka buku. Ada pula yang tersenyum kecil seolah kedatangannya merupakan sesuatu yang lucu.
Rantaka yang duduk di bangku tengah menggeser tasnya agar Jagra bisa duduk.
“Kau dari sungai lagi?” bisiknya.
Jagra mengangguk.
“Jaringnya sedikit.”
Rantaka ingin berkata sesuatu, tetapi Pak Arman sudah mulai mengajar.
Pelajaran pertama hari itu adalah matematika.
Pak Arman menulis beberapa soal di papan tulis. Angka-angka dan tanda-tanda hitung memenuhi ruang hitam yang besar. Ia menjelaskan tentang pecahan, perbandingan, dan cara menyelesaikan soal cerita.
Rantaka mencoba mengikuti dengan serius.
Jagra juga berusaha.
Namun, kepalanya terasa berat.
Sejak subuh ia belum makan banyak. Ia hanya sempat menggigit singkong rebus sebelum berangkat. Di pikirannya masih ada wajah ayahnya di perahu, jaring yang kosong, dan ikan kecil yang mungkin tidak cukup untuk dijual.
“Jagra,” panggil Pak Arman.
Jagra tersentak.
“Iya, Pak?”
“Coba kerjakan soal nomor tiga di papan tulis.”
Jagra berdiri perlahan.
Ia berjalan ke depan kelas.
Di papan tulis tertulis:
Seorang pedagang memiliki 24 kilogram ikan. Sebanyak tiga perdelapan bagian dijual pada pagi hari. Berapa kilogram ikan yang masih tersisa?
Jagra memandangi soal itu.
Kata ikan membuatnya mengerti maksud cerita tersebut. Namun, angka tiga perdelapan terasa seperti sesuatu yang sulit ditangkap.
Ia memegang kapur.
Tangannya diam cukup lama.
Dari bangku belakang, terdengar bisikan.
“Anak sungai pasti lebih pandai menghitung ikan daripada pecahan.”
Beberapa siswa tertawa pelan.
Jagra mengenali suara itu.
Dimas.
Anak laki-laki bertubuh tinggi yang kemarin mengejeknya dan Rantaka.
Wajah Jagra memanas.
Ia mencoba tetap melihat papan tulis.
Namun, angka-angka di depannya seperti bergerak semakin jauh.
Pak Arman tidak langsung memarahinya.
“Coba pelan-pelan,” katanya. “Tidak apa-apa kalau belum bisa.”
Jagra menggeleng.
“Tidak tahu, Pak.”
“Baik. Duduk dulu.”
Jagra kembali ke bangkunya.
Ia duduk dengan rahang mengeras.
Rantaka menyentuh lengannya pelan.
“Nanti aku bantu belajar,” bisiknya.
Jagra tidak menjawab.
Pelajaran berlangsung sampai siang. Namun, bagi Jagra, waktu terasa berjalan sangat lambat. Setiap kali Pak Arman menjelaskan, ia berusaha mendengarkan. Tetapi pikirannya sering kembali ke sungai.
Ia membayangkan ayahnya membawa ikan ke pasar.
Ia membayangkan ibunya menunggu uang hasil jualan untuk membeli beras.
Ia membayangkan teman-temannya di kelas yang mungkin tidak perlu bangun sebelum subuh hanya untuk membantu keluarga.
Saat jam istirahat, Rantaka mengajak Jagra ke kantin.
“Kau mau makan?” tanya Rantaka.
“Tidak.”
“Kau belum sarapan.”
“Aku bilang tidak.”
Rantaka terdiam.
Jagra berdiri dan berjalan menuju belakang gedung sekolah.
Di sana, dekat pagar bambu yang memisahkan sekolah dengan kebun kosong, ia duduk sendirian. Angin siang terasa panas. Dari kejauhan terdengar suara siswa bermain bola di lapangan.
Tidak lama kemudian, Dimas datang bersama dua temannya.
Mereka membawa minuman dingin dan roti dari kantin.
Dimas berhenti beberapa langkah dari Jagra.
“Kenapa sendirian, Anak Sungai?” tanyanya.
Jagra tidak menjawab.
Dimas tersenyum mengejek.
“Masih bingung menghitung ikan?”
Jagra menatapnya.
“Apa maumu?”
“Tidak ada. Aku hanya heran. Katanya anak sungai itu kuat. Tapi baru disuruh maju ke papan tulis saja sudah seperti mau tenggelam.”
Dua teman Dimas tertawa.
Jagra berdiri.
Tubuhnya tidak sebesar Dimas, tetapi matanya tajam.
“Jangan panggil aku begitu.”
“Kenapa? Kau malu jadi anak sungai?”
“Aku tidak malu.”
“Kalau tidak malu, kenapa marah?”
Jagra mengepalkan tangan.
“Karena kau tidak tahu apa-apa tentang hidupku.”
Dimas melangkah lebih dekat.
“Aku tidak perlu tahu. Yang aku tahu, kalau kau tidak bisa mengikuti pelajaran, lebih baik kau kembali saja ke sungai. Sekolah ini bukan tempat untuk orang yang datang hanya membawa bau ikan.”
Kalimat itu seperti api yang menyambar dada Jagra.
Ia mendorong bahu Dimas.
Dimas terkejut, lalu membalas mendorong lebih keras.
Jagra hampir jatuh ke belakang.
“Jagra!”
Suara Rantaka terdengar dari arah kantin.
Rantaka berlari bersama Banyu yang baru datang dari kelas VII C. Liris menyusul beberapa langkah di belakang.
Jagra sudah mengangkat tangan.
Dimas juga bersiap membalas.
Namun, Rantaka segera berdiri di antara mereka.
“Jangan!” katanya.
“Menjauh, Rantaka,” bentak Jagra.
“Kalau kau pukul dia, kau yang akan kena masalah.”
“Dia menghina keluargaku!”
“Aku tahu,” kata Rantaka. “Tapi jangan biarkan dia menentukan hidupmu.”
Dimas mencibir.
“Lihat, temanmu takut.”
Banyu maju satu langkah.
“Bukan takut,” katanya pelan. “Kami hanya tidak ingin sekolah ini berubah menjadi tempat orang saling memukul karena tidak bisa menjaga mulut.”
Dimas menatap Banyu.
“Apa kau juga mau ikut?”
Banyu tidak mundur.
“Aku hanya bilang, kalau kau memang merasa hebat, buktikan dengan nilai dan sikapmu. Bukan dengan menghina orang lain.”
Liris berdiri di samping Rantaka.
Wajahnya tampak tegang, tetapi ia tidak pergi.
“Jagra,” katanya pelan. “Kau tidak perlu membuktikan apa pun kepada orang seperti itu.”
Jagra masih mengepalkan tangan.
Dadanya naik turun.
Ia ingin memukul Dimas.
Ia ingin membuat anak itu merasakan bagaimana sakitnya dihina.
Namun, ia melihat wajah Rantaka.
Ia melihat Banyu yang berdiri tenang meski jelas takut.
Ia melihat Liris yang memandangnya dengan mata cemas.
Akhirnya, Jagra menurunkan tangannya.
Dimas mendengus.
“Dasar anak desa,” katanya sebelum pergi bersama dua temannya.
Jagra menatap punggung Dimas yang menjauh.
Rantaka menepuk bahunya.
“Kau tidak kalah karena tidak memukulnya.”
Jagra menepis tangan Rantaka.
“Kau tidak mengerti.”
“Aku mengerti.”
“Tidak,” kata Jagra. “Kau tinggal di kecamatan sekarang. Kau punya tempat tidur dekat sekolah. Kau tidak harus bangun dari sungai setiap pagi. Kau tidak harus memikirkan apakah ikan yang dibawa pulang cukup untuk makan.”
Rantaka terdiam.
Kalimat itu membuat suasana berubah.
Banyu menunduk.
Liris menggigit bibir.
Jagra menatap mereka satu per satu.
“Aku capek,” katanya. “Aku capek jadi anak yang selalu terlambat. Aku capek tidak bisa menjawab soal. Aku capek dianggap bodoh hanya karena aku dari sungai.”
Setelah itu, ia berjalan pergi.
Rantaka tidak mengejarnya.
Bukan karena ia tidak peduli.
Tetapi karena untuk pertama kalinya, ia benar-benar tidak tahu kata-kata apa yang dapat membuat sahabatnya merasa lebih baik.
Sore hari, setelah sekolah selesai, Jagra tidak langsung menuju pasar.
Ia berjalan sendiri ke tepi sungai kecil di belakang kecamatan. Sungai itu tidak sebesar Sungai Wanasari, tetapi airnya mengalir dengan suara yang hampir sama.
Ia duduk di atas batu.
Tasnya diletakkan di samping.
Ia mengeluarkan buku matematika dari dalam tas.
Halaman tentang pecahan terbuka di depannya.
Jagra memandangi angka tiga perdelapan.
Kemudian ia mengambil beberapa batu kecil dari tanah.
Ia menyusun delapan batu di hadapannya.
Satu.
Dua.
Tiga.
Empat.
Lima.
Enam.
Tujuh.
Delapan.
Ia memisahkan tiga batu ke sisi kiri.
Lalu memandangi lima batu yang tersisa.
“Kalau tiga dari delapan dijual,” gumamnya, “berarti tinggal lima dari delapan.”
Ia mengulanginya lagi.
Kali ini, ia menggunakan daun kering.
Kemudian ranting kecil.
Kemudian kerikil.
Perlahan, angka-angka yang tadi terasa seperti musuh mulai berubah menjadi sesuatu yang bisa ia lihat dan pegang.
Jagra tidak langsung menjadi pandai.
Ia masih sering salah.
Ia masih harus berpikir cukup lama.
Namun, untuk pertama kalinya hari itu, ia merasa tidak sepenuhnya tenggelam.
Matahari mulai turun ketika Rantaka datang menghampiri.
Ia membawa dua bungkus nasi kecil dari warung Pakde Wirya.
Jagra tidak menoleh.
“Aku tidak minta dibawakan makanan,” katanya.
“Aku tahu,” jawab Rantaka. “Tapi aku juga tidak mau makan sendiri.”
Rantaka duduk di sampingnya.
Ia melihat batu-batu yang tersusun di tanah.
“Kau sedang belajar pecahan?”
Jagra mengangguk pelan.
“Pak Arman bilang tiga perdelapan. Aku tidak mengerti kalau hanya angka. Tapi kalau pakai batu, aku bisa lihat.”
Rantaka tersenyum.
“Itu bagus.”
“Bagus apanya? Anak lain mungkin sudah bisa tanpa batu.”
“Anak lain punya cara sendiri. Kau juga punya cara sendiri.”
Jagra tidak menjawab.
Rantaka membuka salah satu bungkus nasi.
“Besok aku bawa buku latihan. Kita belajar bersama sebelum masuk kelas.”
“Kenapa kau mau repot?”
“Karena kau sahabatku.”
Jagra memandang Rantaka.
Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.
Suara air sungai mengalir di depan mereka.
Angin sore membawa aroma tanah dan rumput basah.
Jagra mengambil bungkus nasi dari tangan Rantaka.
“Kalau aku masih tidak bisa?”
“Kita coba lagi.”
“Kalau aku tetap terlambat?”
“Kita cari cara.”
“Kalau Dimas mengejek lagi?”
Rantaka menatapnya.
“Kita buktikan bahwa anak sungai tidak takut belajar.”
Jagra tersenyum tipis.
Senyum itu kecil.
Namun, cukup untuk membuat Rantaka merasa bahwa sahabatnya belum menyerah.
Di kejauhan, langit mulai berubah jingga.
Sungai memantulkan cahaya sore seperti garis panjang yang bergerak menuju tempat yang tidak terlihat.
Jagra memandang air itu.
Sejak kecil, ia selalu percaya bahwa sungai mengajarkan satu hal: air tidak pernah berhenti mengalir, meski harus melewati batu, lumpur, dan akar pohon.
Mungkin sekolah juga seperti itu.
Mungkin ia tidak harus langsung menjadi pandai.
Mungkin ia hanya perlu terus bergerak.
Terus belajar.
Terus melawan rasa takut yang membuatnya merasa tenggelam.
Jagra mengambil satu batu kecil lagi.
Lalu ia meletakkannya di antara batu-batu lain.
“Besok,” katanya pelan, “aku mau coba lagi.”
Rantaka mengangguk.
“Besok kita coba lagi.”
Di tepi sungai kecil belakang kecamatan itu, dua sahabat dari Desa Wanasari duduk bersama sampai matahari benar-benar tenggelam.
Dan untuk pertama kalinya, Jagra mulai percaya bahwa menjadi anak sungai bukanlah sesuatu yang harus ia sembunyikan.
Sungai telah mengajarkannya bertahan.
Kini, ia hanya perlu belajar agar tidak takut pada arus yang bernama masa depan.
BAB 5 — UANG SAKU DAN HARGA SEBUAH MIMPI
Hari-hari pertama di SMP Negeri Kecamatan Rawa Jaya berjalan lebih cepat daripada yang dibayangkan Rantaka.
Setiap pagi, ia bangun sebelum matahari naik. Ia membantu Bude Sari membuka warung, menyapu halaman, menyusun roti dan mi instan di rak, lalu berangkat ke sekolah dengan tas kain cokelat yang semakin akrab di pundaknya.
Siang hari, setelah pelajaran selesai, ia kembali ke rumah singgah di belakang pasar. Jika Bude Sari harus membeli barang ke pasar atau mengantar pesanan ke kios lain, Rantaka menjaga warung.
Malamnya, ia belajar di kamar kecil dengan lampu kuning yang menggantung di atas meja.
Hidupnya kini seperti terbagi menjadi beberapa bagian.
Sekolah.
Warung.
Belajar.
Rindu rumah.
Dan setiap bagian itu harus ia jalani tanpa banyak mengeluh.
Namun, pada suatu sore, sebuah pengumuman kecil membuat pikirannya menjadi lebih berat.
Pak Arman masuk ke kelas VII B sambil membawa beberapa lembar kertas.
“Anak-anak,” katanya, “minggu depan sekolah akan mulai mengumpulkan iuran untuk buku paket tambahan, kegiatan pengenalan lingkungan, dan perlengkapan kelas.”
Suasana kelas langsung berubah.
Beberapa siswa mulai bertanya kepada teman di sebelahnya. Ada yang terlihat biasa saja. Ada yang bahkan mengeluarkan uang dari saku dan menghitungnya sambil tersenyum.
Pak Arman menulis angka di papan tulis.
IURAN AWAL SEMESTER: Rp75.000
Rantaka memandangi angka itu.
Tujuh puluh lima ribu rupiah.
Bagi sebagian anak di kelas, mungkin angka itu tidak terlalu besar.
Namun, bagi Rantaka, angka itu terasa seperti jalan panjang yang harus ditempuh dengan kaki telanjang.
Ia membayangkan ibunya menjual kue keliling.
Ia membayangkan ayahnya yang masih belum dapat bekerja penuh di ladang.
Ia membayangkan uang hasil menjual singkong yang harus dibagi untuk beras, minyak goreng, obat ayah, dan kebutuhan rumah lainnya.
Tujuh puluh lima ribu rupiah bisa menjadi beras untuk beberapa hari.
Bisa menjadi obat.
Bisa menjadi uang ongkos kendaraan.
Bisa menjadi banyak hal.
“Pembayaran paling lambat hari Jumat depan,” lanjut Pak Arman. “Kalau ada yang memiliki kendala, silakan bicara kepada Bapak. Jangan diam saja.”
Rantaka menunduk.
Ia mencatat pengumuman itu di buku tulis.
Tangannya bergerak pelan.
Di sampingnya, Jagra menoleh.
“Kau punya uangnya?” bisiknya.
Rantaka tidak langsung menjawab.
“Belum tahu.”
Jagra mengangguk pelan.
“Aku juga.”
Pelajaran berlanjut, tetapi Rantaka tidak bisa sepenuhnya berkonsentrasi. Angka tujuh puluh lima ribu rupiah terus berada di kepalanya.
Saat istirahat, ia bertemu Liris dan Banyu di bawah pohon ketapang.
Liris membawa buku catatan hijau. Banyu membawa kotak kecil berisi potongan kawat dan beberapa baut yang ia temukan di bengkel dekat pasar.
“Ada apa?” tanya Liris ketika melihat wajah Rantaka.
“Sekolah minta iuran,” jawab Rantaka.
“Berapa?”
“Rp75.000.”
Liris terdiam.
Banyu memandang tanah.
“Aku juga dengar dari anak kelas lain,” katanya. “Katanya untuk buku dan kegiatan sekolah.”
“Di rumah, Ibu sudah bilang uang hasil jual sayur minggu ini belum tentu cukup,” ujar Liris pelan.
Jagra datang beberapa saat kemudian.
Wajahnya tampak tidak lebih baik daripada Rantaka.
“Ayah bilang mungkin aku harus membantu lebih banyak di sungai,” katanya. “Kalau ikan sedang banyak, aku mungkin tidak bisa masuk sekolah setiap hari.”
“Jangan begitu,” kata Rantaka cepat.
Jagra menatapnya.
“Lalu bagaimana? Uang tidak datang dari langit.”
Kalimat itu membuat mereka semua diam.
Di bawah pohon ketapang, empat sahabat dari Desa Wanasari kembali merasakan kenyataan yang sama.
Mereka punya mimpi.
Mereka punya keinginan untuk sekolah.
Namun, mimpi sering kali harus berjalan beriringan dengan harga beras, biaya kendaraan, obat orang tua, dan uang buku.
Sore hari, Rantaka kembali ke rumah Pakde Wirya dengan pikiran yang belum tenang.
Warung sedang ramai. Beberapa pembeli datang membeli kopi, rokok, sabun, dan makanan ringan. Bude Sari sibuk melayani pelanggan, sementara Pakde Wirya sedang mengantar pesanan ke kios dekat terminal.
Rantaka membantu mengambilkan barang dari rak.
“Mi instan dua, Bude.”
“Ambilkan juga gula satu bungkus,” kata Bude Sari.
“Iya.”
Ia bergerak cepat dari satu rak ke rak lain.
Setelah beberapa waktu, warung mulai sepi.
Bude Sari duduk di kursi kayu sambil menghitung uang hasil jualan hari itu. Rantaka berdiri di dekat pintu, memandangi jalan pasar yang mulai dipenuhi cahaya senja.
“Rantaka,” panggil Bude Sari.
“Iya, Bude?”
“Kau kelihatan murung sejak pulang sekolah. Ada masalah?”
Rantaka ragu.
Ia tidak ingin membuat Bude Sari merasa terbebani.
Namun, Bude Sari menatapnya dengan wajah yang sabar.
“Ada iuran sekolah,” kata Rantaka akhirnya. “Tujuh puluh lima ribu rupiah.”
Bude Sari berhenti menghitung uang.
“Kapan harus dibayar?”
“Jumat depan.”
“Sudah bilang kepada ibumu?”
“Belum.”
“Kenapa?”
Rantaka menunduk.
“Karena aku tahu keadaan di rumah.”
Bude Sari tidak langsung menjawab.
Ia memasukkan uang hasil jualan ke dalam kotak kecil, lalu menutupnya pelan.
“Sekolah memang butuh biaya,” katanya. “Tapi jangan sampai karena uang, kau memilih berhenti sebelum mencoba mencari jalan.”
Rantaka mengangguk.
“Aku tidak mau berhenti, Bude.”
“Bagus. Kalau begitu, pikirkan apa yang bisa kau lakukan.”
Rantaka memandang warung kecil itu.
Di rak depan, ada minuman sachet, makanan ringan, sabun, dan beberapa kebutuhan harian. Di dekat pintu, ada meja kayu tempat pembeli biasa membayar.
Tiba-tiba, sebuah pikiran muncul di kepalanya.
“Bude,” katanya pelan, “kalau aku membantu jaga warung setiap sore, bolehkah aku mendapat sedikit uang?”
Bude Sari menatapnya cukup lama.
“Kau ingin bekerja?”
“Aku tidak mau merepotkan Bude dan Pakde. Aku hanya ingin membantu supaya bisa mengumpulkan uang iuran.”
Bude Sari menghela napas.
“Kau masih sekolah.”
“Aku bisa jaga warung setelah pulang sekolah. Malamnya aku tetap belajar.”
Bude Sari tampak ragu.
Namun, Rantaka tidak menunduk kali ini.
Ia menatap Bude Sari dengan sungguh-sungguh.
“Aku tidak ingin meminta uang kepada Ibu kalau memang belum ada. Aku ingin berusaha.”
Tidak lama kemudian, Pakde Wirya pulang.
Bude Sari menceritakan keinginan Rantaka.
Pakde Wirya duduk diam sambil memandang anak itu.
“Kau tahu, menjaga warung tidak mudah,” katanya. “Kadang ramai, kadang ada pembeli yang meminta utang, kadang ada barang yang hilang, kadang kau harus tetap sopan meski orang lain berbicara kasar.”
“Aku mau belajar, Pakde.”
“Kau tidak boleh sampai mengabaikan sekolah.”
“Aku tidak akan mengabaikan sekolah.”
Pakde Wirya menarik napas.
“Baik. Mulai besok, setelah pulang sekolah, kau bantu jaga warung sampai magrib. Setiap hari, Pakde akan sisihkan sedikit upah untukmu. Tapi kalau nilai pelajaranmu turun karena terlalu lelah, kita berhenti.”
Mata Rantaka berbinar.
“Terima kasih, Pakde.”
“Jangan berterima kasih dulu. Buktikan bahwa kau bisa bertanggung jawab.”
Sejak hari itu, Rantaka mulai menjalani rutinitas baru.
Setelah sekolah, ia langsung kembali ke warung.
Ia belajar mengenali harga barang.
Ia belajar menghitung uang kembalian.
Ia belajar membedakan pembeli yang benar-benar lupa membawa uang dan pembeli yang hanya ingin berutang tanpa kepastian.
Ia belajar mencatat barang yang habis.
Ia belajar menyapa orang dengan ramah.
“Selamat sore, Pak.”
“Mau beli apa, Bu?”
“Terima kasih.”
Kata-kata itu menjadi bagian dari harinya.
Kadang, ia harus menahan kantuk saat malam tiba.
Kadang, ia baru bisa membuka buku setelah warung ditutup.
Kadang, ia tertidur di atas meja dengan pensil masih berada di tangannya.
Namun, setiap kali ia merasa lelah, ia teringat angka di papan tulis.
Rp75.000.
Angka itu tidak lagi hanya menjadi beban.
Angka itu menjadi tujuan.
Pada hari ketiga menjaga warung, Liris datang bersama Banyu dan Jagra.
Mereka baru turun dari kendaraan bak terbuka dan sengaja mampir sebelum pulang ke Desa Wanasari.
Liris membeli dua permen dan sebungkus biskuit.
Banyu membeli baterai kecil untuk percobaan alat sederhananya.
Jagra hanya membeli air mineral.
“Kau benar-benar jaga warung?” tanya Liris.
Rantaka mengangguk.
“Mulai minggu ini.”
“Kau tidak capek?” tanya Banyu.
“Capek.”
“Lalu kenapa tetap mau?” tanya Jagra.
Rantaka tersenyum kecil.
“Karena aku tidak mau kalah oleh uang iuran.”
Jagra memandangnya dengan wajah serius.
“Aku juga sedang mencoba cari cara.”
“Bagaimana?”
“Aku membantu Ayah menjual ikan di pasar setiap sore. Kalau ada uang lebih, mungkin bisa untuk iuran.”
Liris menunduk.
“Aku membantu Ibu membuat kue. Kalau ada yang laku, Ibu bilang akan menyisihkan sedikit.”
Banyu membuka tasnya.
“Aku sedang membuat gantungan kunci dari tutup botol dan kawat bekas. Mungkin bisa dijual.”
Rantaka memandangi sahabat-sahabatnya.
Mereka semua sedang berusaha.
Tidak ada yang menyerah.
Tidak ada yang berkata bahwa sekolah terlalu mahal untuk diperjuangkan.
Mereka hanya mencari jalan dengan kemampuan masing-masing.
“Kalau begitu,” kata Rantaka, “kita kumpulkan uangnya bersama-sama. Bukan untuk saling memberi, tapi untuk saling menyemangati.”
Liris tersenyum.
“Seperti kelompok Langit Biru dulu?”
“Seperti itu,” jawab Rantaka.
Banyu mengangguk.
“Kita bisa membuat catatan kecil. Setiap kali ada yang mendapat uang dari usaha sendiri, kita tulis.”
Jagra mengangkat botol minumnya.
“Dan kalau ada yang hampir menyerah, yang lain harus mengingatkan.”
Mereka saling memandang.
Warung kecil di belakang pasar itu tiba-tiba terasa seperti tempat yang lebih besar daripada biasanya.
Bukan hanya tempat menjual kopi, sabun, dan makanan ringan.
Melainkan tempat empat anak desa mulai belajar bahwa mimpi tidak selalu datang dengan jalan mudah.
Malam sebelum hari pembayaran, Rantaka duduk di kamar kecilnya.
Di atas meja, ada beberapa lembar uang yang telah ia kumpulkan dari menjaga warung.
Ia menghitungnya perlahan.
Sepuluh ribu.
Dua puluh ribu.
Tiga puluh ribu.
Lima puluh ribu.
Enam puluh ribu.
Masih kurang.
Rantaka menarik napas.
Ia membuka buku tulisnya dan mencatat jumlah uang itu.
Kemudian, terdengar ketukan pelan di pintu.
“Masuk,” katanya.
Pakde Wirya masuk sambil membawa sebuah amplop kecil.
“Apa itu, Pakde?” tanya Rantaka.
“Upahmu hari ini.”
Rantaka menerima amplop itu.
Di dalamnya terdapat uang lima belas ribu rupiah.
Ia memandang Pakde Wirya.
“Pakde, ini terlalu banyak.”
“Tidak. Kau bekerja dengan baik.”
Rantaka menghitung uangnya lagi.
Tujuh puluh lima ribu rupiah.
Tepat.
Dadanya terasa sesak.
Namun, bukan karena takut.
Bukan karena sedih.
Melainkan karena ada rasa bangga yang perlahan tumbuh di dalam dirinya.
Ia berhasil.
Bukan karena ia memiliki banyak uang.
Bukan karena jalannya mudah.
Tetapi karena ia tidak berhenti mencari cara.
Keesokan harinya, Rantaka datang ke sekolah dengan uang iuran tersimpan rapi di dalam amplop.
Saat Pak Arman meminta siswa maju satu per satu, Rantaka berdiri dengan langkah yang lebih teguh.
Ia menyerahkan amplop itu.
Pak Arman menerimanya, lalu memandang Rantaka.
“Terima kasih,” kata Pak Arman.
Rantaka mengangguk.
Ketika kembali ke bangkunya, ia melihat Jagra tersenyum kecil.
Di tangan Jagra, ada amplop yang sama.
Saat istirahat, Liris dan Banyu juga menunjukkan bahwa mereka telah berhasil mengumpulkan uang masing-masing.
Tidak ada yang tahu seberapa keras mereka berusaha.
Tidak ada yang tahu berapa kali mereka menahan lelah.
Tidak ada yang tahu berapa banyak keinginan kecil yang harus mereka tunda.
Namun, mereka tahu sendiri.
Dan itu sudah cukup.
Di bawah pohon ketapang, Liris membuka buku catatan hijaunya.
Ia menulis beberapa baris baru.
Ada mimpi yang dibeli dengan uang,
ada mimpi yang dibayar dengan lelah,
tetapi ada pula mimpi
yang tumbuh karena seseorang memilih
untuk tidak menyerah.
Rantaka membaca tulisan itu.
“Kau akan kirim ke majalah dinding?” tanyanya.
Liris mengangguk.
“Ya. Kali ini aku tidak mau ragu.”
Rantaka tersenyum.
Jagra menepuk bahunya.
“Kalau nanti puisimu terkenal, jangan lupa anak sungai.”
Banyu menambahkan, “Dan jangan lupa warung belakang pasar.”
Liris tertawa.
“Aku tidak akan lupa.”
Mereka kembali tertawa bersama.
Di atas mereka, daun-daun ketapang bergerak pelan tertiup angin.
Di hadapan mereka, sekolah masih menyimpan banyak tantangan.
Masih ada pelajaran yang sulit.
Masih ada ejekan.
Masih ada biaya yang harus dipikirkan.
Masih ada jarak antara desa dan kecamatan.
Namun, hari itu, mereka telah membuktikan satu hal kecil.
Bahwa uang mungkin dapat menjadi penghalang.
Tetapi selama mereka mau berusaha, uang tidak akan mudah menjadi alasan untuk menghentikan langkah.
BAB 6 — BENGKEL KECIL DI BAWAH POHON MANGGA
Sepeda tua milik Banyu kembali berbunyi nyaring ketika memasuki halaman SMP Negeri Kecamatan Rawa Jaya.
Bunyinya tidak halus seperti sepeda motor yang dikendarai sebagian siswa lain. Rantai sepedanya berderit. Pedalnya sesekali berbunyi ketika diinjak. Cat pada rangkanya sudah mengelupas di beberapa bagian. Keranjang kawat di bagian depan tampak miring karena pernah terbentur batu di jalan.
Namun, Banyu tidak pernah malu mengendarainya.
Bagi Banyu, sepeda itu bukan sekadar alat untuk pergi ke sekolah.
Sepeda itu adalah teman perjalanan.
Dengan sepeda itulah ia berangkat dari Desa Wanasari sebelum matahari naik. Dengan sepeda itulah ia melewati jalan tanah, kebun singkong, jembatan kayu, dan jalan berbatu menuju Kecamatan Rawa Jaya. Dengan sepeda itu pula ia membawa buku, bekal, potongan kawat, baut bekas, botol plastik, dan berbagai benda yang bagi orang lain mungkin sudah tidak berguna.
Pagi itu, Banyu memarkirkan sepedanya di tempat parkir belakang sekolah.
Ia memeriksa rantainya sebentar, lalu mengambil sebuah kotak kecil dari keranjang depan. Kotak itu terbuat dari bekas wadah biskuit. Di dalamnya terdapat kabel pendek, baterai bekas, lampu kecil, tutup botol, potongan pipa, dan beberapa baut.
“Bawa lagi barang rongsokan?” terdengar suara dari belakang.
Banyu menoleh.
Dimas berdiri bersama dua temannya.
Di tangannya, Dimas memegang telepon genggam baru. Ia memutar-mutar benda itu sambil tersenyum tipis.
“Ini bukan rongsokan,” jawab Banyu tenang.
“Lalu apa?”
“Bahan.”
Dimas tertawa.
“Bahan untuk apa? Membuat sepeda terbang?”
Banyu tidak menjawab.
Ia menutup kotak kecilnya, lalu berjalan menuju kelas.
Dimas masih tertawa bersama teman-temannya.
Namun, Banyu sudah terbiasa mendengar ejekan seperti itu.
Sejak kecil, ia memang senang menyimpan benda-benda bekas.
Kawat yang ditemukan di pinggir jalan.
Botol plastik dari warung.
Kayu patah dari pagar.
Roda mainan rusak.
Baut dari mesin tua.
Baginya, semua benda itu masih memiliki kemungkinan.
Ia percaya bahwa sesuatu yang dianggap tidak berguna bisa berubah menjadi berguna jika diberi waktu, kesabaran, dan sedikit keberanian untuk mencoba.
Di kelas VII C, pelajaran IPA pagi itu membahas tentang energi.
Bu Sinta, guru IPA, membawa beberapa gambar dan alat sederhana ke dalam kelas. Ia menjelaskan tentang listrik, panas, cahaya, dan perubahan energi dalam kehidupan sehari-hari.
“Energi ada di sekitar kita,” kata Bu Sinta sambil menunjuk gambar lampu. “Yang penting adalah bagaimana manusia memahami dan memanfaatkannya.”
Banyu mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
Ia mencatat hampir semua penjelasan Bu Sinta.
Ketika guru itu menjelaskan tentang rangkaian listrik sederhana, mata Banyu tampak lebih hidup. Ia membayangkan kabel-kabel di dalam kotak biskuitnya. Ia membayangkan lampu kecil yang pernah menyala sebentar di rumahnya sebelum baterainya habis.
“Untuk tugas minggu depan,” kata Bu Sinta, “kalian akan membuat karya sederhana yang berhubungan dengan energi atau pemanfaatan barang bekas. Karya tidak harus mahal. Yang penting kalian memahami cara kerjanya dan bisa menjelaskan manfaatnya.”
Beberapa siswa langsung bersorak.
“Aduh, harus beli bahan lagi,” keluh seorang anak.
“Bisa kerja kelompok, Bu?” tanya yang lain.
“Boleh,” jawab Bu Sinta. “Tetapi setiap orang harus memiliki peran.”
Banyu menunduk melihat catatannya.
Di sudut halaman buku, ia mulai membuat gambar kecil.
Sebuah botol plastik.
Sebuah kabel.
Sebuah lampu kecil.
Sebuah roda yang dapat diputar.
Ia belum tahu persis bentuknya.
Namun, ada sesuatu yang mulai tumbuh di kepalanya.
Saat jam istirahat, Banyu menemui Rantaka, Liris, dan Jagra di bawah pohon ketapang.
“Aku dapat tugas membuat alat sederhana,” katanya.
“Alat apa?” tanya Rantaka.
“Belum tahu. Tapi mungkin lampu kecil dari barang bekas.”
Jagra mengangkat alis.
“Lampu dari barang bekas? Bisa menyala?”
“Kalau berhasil.”
“Kalau tidak berhasil?”
“Berarti aku coba lagi.”
Liris tersenyum.
“Aku suka jawaban itu.”
Banyu membuka kotak biskuitnya.
Ia memperlihatkan beberapa benda yang dibawanya.
“Aku punya kabel, baterai, lampu kecil, dan dinamo dari mainan rusak. Kalau dinamonya diputar, mungkin bisa menghasilkan listrik kecil.”
Rantaka memperhatikan dengan serius.
“Dari mana kau dapat dinamo itu?”
“Dari mobil mainan yang dibuang anak tetangga.”
Jagra mengambil dinamo kecil itu.
“Benda sekecil ini bisa membuat lampu menyala?”
“Mungkin.”
“Kalau aku putar pakai tangan?”
“Bisa, tapi sebentar.”
“Kalau dipasang di sepeda?”
Banyu memandang Jagra.
“Sepeda?”
“Ya. Roda sepeda berputar terus. Kalau ada alat yang bisa mengambil tenaga dari putaran roda, mungkin lampunya bisa menyala.”
Banyu terdiam.
Matanya menatap sepeda tua yang diparkir di belakang sekolah.
Kemudian ia tersenyum tipis.
“Itu bisa dicoba.”
Sepulang sekolah, Banyu tidak langsung pulang ke Desa Wanasari.
Ia mengayuh sepedanya menuju rumah Pakde Wirya di belakang pasar. Rantaka sudah menunggu di warung. Liris dan Jagra juga belum pulang karena kendaraan bak terbuka baru akan berangkat menjelang sore.
“Kau jadi mau mencoba alatnya?” tanya Rantaka.
Banyu mengangguk.
“Aku perlu tempat yang agak sepi.”
Pakde Wirya yang mendengar percakapan itu menunjuk ke halaman belakang rumah.
“Di belakang ada pohon mangga. Tidak terlalu luas, tapi cukup kalau kalian mau membuat sesuatu.”
Mereka berjalan ke belakang rumah.
Di sana ada tanah lapang kecil yang dinaungi pohon mangga tua. Akar-akarnya muncul di permukaan tanah. Di dekat pagar, terdapat beberapa papan bekas, ember rusak, dan tumpukan kayu yang sudah tidak dipakai.
Banyu langsung merasa tempat itu cocok.
Ia meletakkan kotak biskuit di atas papan kayu.
“Ini bengkel kita,” katanya.
Jagra tertawa.
“Bengkel kecil di bawah pohon mangga.”
Liris membuka buku catatan hijaunya.
“Aku akan menulis itu.”
Rantaka membantu Banyu mencari kayu kecil dan tali. Jagra mengambilkan batu untuk menahan papan. Liris memegang botol plastik yang akan dipotong menjadi penutup alat.
Banyu bekerja dengan sangat hati-hati.
Ia membuka dinamo kecil dari mobil mainan.
Ia menyambungkan kabel.
Ia memasang lampu kecil.
Ia mengikat bagian dinamo pada rangka sepeda tua.
Tangannya bergerak cepat, tetapi tidak tergesa-gesa.
Sesekali ia berhenti untuk berpikir.
Sesekali ia membongkar kembali bagian yang tidak cocok.
“Kau yakin bisa?” tanya Jagra.
“Tidak.”
“Lalu kenapa terus?”
“Karena kalau tidak dicoba, kita tidak akan tahu.”
Jagra mengangguk pelan.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun, bagi Jagra yang masih berjuang memahami pecahan dan menghadapi ejekan di sekolah, kata-kata Banyu terasa seperti sesuatu yang perlu diingat.
Setelah hampir satu jam, alat sederhana itu selesai dipasang.
Banyu meminta Jagra memegang sepeda.
Rantaka berdiri di dekat lampu kecil yang dipasang pada bagian depan.
Liris menahan napas.
“Sekarang putar roda belakangnya,” kata Banyu.
Jagra mengangkat sepeda sedikit, lalu memutar pedal dengan tangan.
Roda belakang berputar.
Rantai berbunyi.
Dinamo kecil bergerak.
Lampu di depan sepeda berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Lalu mati.
“Sudah hampir,” kata Banyu.
Ia langsung membongkar kembali kabelnya.
Jagra menghela napas.
“Aku kira sudah berhasil.”
“Belum,” jawab Banyu. “Tapi tadi lampunya menyala.”
“Cuma sebentar.”
“Berarti jalannya ada.”
Banyu kembali bekerja.
Kali ini, ia mengganti posisi kabel. Ia menambahkan potongan kawat yang lebih kuat. Ia mengikat dinamo lebih rapat ke bagian roda.
Matahari mulai turun ketika percobaan kedua dilakukan.
“Putar lagi,” kata Banyu.
Jagra memutar pedal.
Roda bergerak.
Dinamo berputar.
Lampu kecil di depan sepeda menyala.
Tidak terlalu terang.
Namun, cukup jelas.
Keempat sahabat itu terdiam sesaat.
Lalu Jagra berteriak paling keras.
“Berhasil!”
Rantaka tersenyum lebar.
Liris menutup mulutnya dengan tangan karena terharu.
Banyu sendiri hanya memandangi lampu kecil itu dengan wajah tenang. Namun, di matanya ada cahaya yang sulit disembunyikan.
“Lampu sepeda dari barang bekas,” kata Rantaka.
“Bukan hanya lampu,” jawab Banyu. “Kalau alat ini diperbaiki, mungkin bisa membantu orang yang pulang malam dari kebun atau sungai.”
Jagra memandangi lampu itu.
“Ayah sering pulang dari sungai sebelum subuh. Kadang jalannya gelap.”
“Kalau begitu, kita bisa buat yang lebih kuat,” kata Banyu.
Liris membuka buku catatan hijaunya dan menulis cepat.
Di bawah pohon mangga,
barang-barang bekas belajar bernapas.
Kawat menjadi jalan,
roda menjadi tenaga,
dan cahaya kecil mengajarkan kami
bahwa harapan tidak harus lahir dari sesuatu yang baru.
Banyu membaca tulisan itu dari samping.
“Bagus,” katanya.
Liris tersenyum.
“Karena kalian membuat sesuatu yang bagus.”
Tidak lama kemudian, Dimas dan dua temannya lewat di gang belakang pasar. Mereka tampaknya baru pulang dari bermain di lapangan.
Dimas melihat sepeda tua Banyu dengan lampu kecil menyala.
Ia berhenti.
“Apa itu?” tanyanya.
“Lampu,” jawab Jagra.
“Aku tahu itu lampu,” kata Dimas kesal. “Maksudku, kenapa lampunya bisa menyala?”
“Karena Banyu membuatnya,” jawab Rantaka.
Dimas mendekat.
Ia melihat kabel, dinamo kecil, dan botol plastik yang digunakan sebagai pelindung.
“Dari barang bekas?” tanyanya.
Banyu mengangguk.
Dimas tampak ingin mengejek.
Namun, lampu kecil itu masih menyala.
Tidak sempurna.
Tidak mewah.
Tetapi nyata.
“Kalau hujan, rusak tidak?” tanya salah satu teman Dimas.
“Bisa rusak kalau tidak diberi pelindung yang baik,” jawab Banyu. “Makanya masih perlu diperbaiki.”
Dimas tidak berkata apa-apa lagi.
Ia hanya memandang alat itu beberapa saat, lalu berjalan pergi.
Jagra menatap punggung Dimas.
“Kok dia tidak mengejek?”
“Karena dia tidak tahu harus mengejek apa,” jawab Rantaka.
Banyu menggeleng.
“Jangan pikirkan dia. Alat ini belum selesai.”
Malam itu, Banyu pulang ke Desa Wanasari dengan sepeda tua yang lampunya masih menyala redup di bagian depan.
Jalan pulang memang panjang.
Ada bagian yang gelap.
Ada jalan tanah yang berlubang.
Ada jembatan kayu yang harus dilewati dengan hati-hati.
Namun, malam itu, untuk pertama kalinya, Banyu mengayuh sepeda sambil melihat cahaya kecil bergerak di depannya.
Cahaya itu tidak menerangi seluruh jalan.
Tidak cukup untuk mengusir semua gelap.
Tetapi cukup untuk menunjukkan satu langkah berikutnya.
Di rumah, ayah Banyu yang sedang memperbaiki cangkul memandang lampu itu dengan heran.
“Dari mana lampu itu?” tanyanya.
“Aku buat sendiri.”
Ayahnya berdiri.
Ia mendekat dan memeriksa kabel serta dinamo yang dipasang di sepeda.
“Dari barang bekas?”
“Iya.”
Ayah Banyu tersenyum pelan.
“Kalau kau terus belajar seperti ini, suatu hari kau bisa membuat sesuatu yang lebih besar.”
Banyu menunduk.
Ia tidak terbiasa menerima pujian.
Namun, kata-kata ayahnya membuat hatinya terasa hangat.
Malam itu, sebelum tidur, Banyu membuka buku IPA.
Ia menggambar ulang alat sederhana yang dibuatnya.
Di bawah gambar itu, ia menulis:
Lampu Sepeda Sederhana untuk Jalan Desa
Kemudian ia menambahkan satu kalimat:
Barang bekas tidak selalu berarti tidak berguna. Kadang, yang dibutuhkan hanya seseorang yang mau melihat kemungkinan di dalamnya.
Di luar rumah, angin malam bergerak di antara pepohonan.
Di kejauhan, suara sungai terdengar pelan.
Dan di Desa Wanasari, sebuah cahaya kecil dari sepeda tua melintas di jalan tanah.
Cahaya itu bukan hanya lampu.
Ia adalah tanda bahwa seorang anak desa sedang belajar percaya pada pikirannya sendiri.
BAB 7 — SURAT YANG TIDAK PERNAH TERKIRIM
Malam di rumah Pakde Wirya selalu datang lebih cepat bagi Rantaka.
Bukan karena matahari benar-benar tenggelam lebih awal di kecamatan, melainkan karena setelah warung ditutup, setelah gelas-gelas dicuci, setelah lantai disapu, dan setelah suara pembeli terakhir menghilang dari teras, tubuhnya sudah terlalu lelah untuk memikirkan banyak hal.
Namun malam itu, ia tidak langsung tidur.
Lampu kecil di kamarnya menyala redup. Cahaya kuningnya jatuh di atas meja kayu sempit yang salah satu kakinya diberi ganjalan batu. Di atas meja itu ada buku pelajaran, pensil pendek, penghapus yang sudah hampir habis, dan sebuah buku tulis bergaris dengan sampul biru pudar.
Dari luar kamar, suara Pakde Wirya masih terdengar.
“Besok jangan terlambat bangun, Rantaka. Sayur untuk warung harus diambil dari pasar pagi.”
“Iya, Pakde,” jawab Rantaka.
Setelah itu, rumah kembali sunyi.
Rantaka menunduk di depan buku tulisnya.
Sudah beberapa hari ia merasa ada sesuatu yang menekan dadanya.
Di sekolah, ia berusaha tampak biasa saja. Ia duduk di kelas, menjawab pertanyaan guru, tersenyum ketika Jagra melontarkan lelucon, dan mendengarkan Liris bercerita tentang puisi-puisi yang ingin ia tulis.
Namun, ketika malam datang, semua yang ia tahan pada siang hari seakan kembali memenuhi pikirannya.
Ia rindu rumah.
Ia rindu suara ibunya di dapur.
Ia rindu ayahnya yang biasa duduk di teras setelah pulang dari ladang.
Ia rindu jalan tanah Desa Wanasari, meski jalan itu sering becek saat hujan dan berdebu saat kemarau.
Di kecamatan, semuanya terasa lebih ramai.
Tetapi di tengah keramaian itu, Rantaka justru sering merasa sendirian.
Ia mengambil pensil.
Lalu, pada halaman kosong di buku tulisnya, ia mulai menulis.
Untuk Liris,
Aku tidak tahu kenapa aku menulis surat ini.
Mungkin karena kalau berbicara langsung, aku takut kata-kataku terdengar terlalu lemah.
Di sekolah, aku selalu berusaha terlihat baik-baik saja. Aku tidak ingin Jagra mengira aku mudah menyerah. Aku tidak ingin Banyu melihatku seperti orang yang tidak kuat. Aku juga tidak ingin kau merasa harus memikirkan masalahku.
Tapi sebenarnya aku sering merasa takut.
Aku takut tidak mampu bertahan di sekolah ini.
Aku takut nilai-nilaiku turun karena aku terlalu lelah membantu Pakde di warung.
Aku takut suatu hari Pakde merasa aku hanya menjadi beban.
Aku takut tidak bisa membalas kebaikan ibu dan ayah yang sudah berusaha mengirimku sekolah ke kecamatan.
Kadang aku ingin pulang ke Wanasari. Bukan karena aku tidak ingin sekolah, tetapi karena di sana aku merasa lebih mengenal diriku sendiri.
Di sini, aku sering merasa seperti orang asing.
Aku ingin mengatakan semua ini kepadamu karena kau selalu bisa mendengarkan tanpa membuat orang merasa kecil.
Tapi mungkin surat ini tidak akan pernah sampai kepadamu.
Karena aku belum tentu cukup berani untuk memberikannya.
Rantaka
Setelah selesai menulis, Rantaka membaca surat itu berulang kali.
Setiap kalimat terasa seperti bagian dari dirinya yang selama ini disembunyikan.
Ia ingin merobeknya.
Ia ingin membakarnya.
Namun, tangannya tidak bergerak.
Akhirnya, ia melipat kertas itu menjadi empat bagian.
Ia memasukkannya ke dalam buku pelajaran Bahasa Indonesia, tepat di antara halaman yang membahas tentang surat pribadi.
“Besok,” bisiknya.
Entah besok ia akan memberikannya kepada Liris atau tidak.
Ia sendiri belum tahu.
Pagi berikutnya, Rantaka bangun sebelum fajar.
Ia membantu Pakde Wirya mengambil sayur ke pasar, mengangkat keranjang, menata dagangan, lalu berlari menuju sekolah dengan seragam yang belum sepenuhnya kering karena dicuci malam sebelumnya.
Ketika sampai di kelas, napasnya masih terengah.
Jagra sudah duduk di bangkunya.
“Kau hampir terlambat lagi,” kata Jagra.
“Pasar ramai,” jawab Rantaka singkat.
Liris menoleh dari bangku depan.
“Kau belum sarapan?”
Rantaka menggeleng.
Liris membuka bekalnya.
“Aku membawa singkong rebus. Ambil sedikit.”
“Tidak usah.”
“Ambil saja. Aku membawa banyak.”
Rantaka ragu.
Namun, akhirnya ia mengambil satu potong singkong.
“Terima kasih.”
Liris tersenyum.
Rantaka ingin mengatakan sesuatu.
Ia ingin mengeluarkan surat dari dalam buku pelajarannya.
Ia ingin meletakkannya di atas meja Liris sebelum pelajaran dimulai.
Namun, ketika tangannya menyentuh tas, ia kembali mengurungkan niat.
Belum sekarang, pikirnya.
Pelajaran berjalan seperti biasa.
Namun, Rantaka tidak bisa berkonsentrasi.
Setiap kali membuka buku Bahasa Indonesia, ia teringat surat yang terselip di dalamnya.
Saat jam istirahat, Jagra mengajak Rantaka ke kantin.
“Banyu sedang membantu Pak Hendra di ruang keterampilan,” kata Jagra. “Kita beli es dulu.”
Rantaka mengangguk.
Ia meninggalkan tasnya di kelas.
Buku Bahasa Indonesia masih berada di dalam tas itu.
Di lorong sekolah, seorang siswa bernama Raka melihat Rantaka dan Jagra berjalan menuju kantin.
Raka bukan sahabat mereka.
Ia satu kelas dengan Rantaka, tetapi lebih sering bergaul dengan anak-anak yang berasal dari keluarga berada. Ia suka bercanda keras, suka mencari perhatian, dan sering menganggap masalah orang lain sebagai bahan hiburan.
Saat masuk ke kelas yang hampir kosong, Raka melihat tas Rantaka yang terbuka sedikit.
Awalnya ia hanya ingin mengambil pensil yang jatuh di dekat meja.
Namun, ketika tangannya menyentuh tas itu, ia melihat buku Bahasa Indonesia yang terbuka.
Di antara halamannya, ada lipatan kertas.
Raka mengambilnya.
Ia membuka lipatan itu.
Matanya bergerak cepat membaca tulisan tangan Rantaka.
Kemudian, senyum tipis muncul di wajahnya.
“Untuk Liris,” gumamnya.
Tidak lama kemudian, dua temannya masuk ke kelas.
“Ada apa, Rak?” tanya salah seorang dari mereka.
Raka mengangkat kertas itu.
“Ini menarik.”
Ia mulai membacakan beberapa bagian surat dengan suara dibuat-buat.
“Aku ingin mengatakan semua ini kepadamu karena kau selalu bisa mendengarkan tanpa membuat orang merasa kecil.”
Dua anak itu langsung tertawa.
“Wah, Rantaka punya surat cinta!”
“Anak desa ternyata romantis juga.”
Raka tertawa lebih keras.
“Jangan bilang-bilang dulu. Nanti kita lihat wajahnya saat tahu.”
Namun, ejekan seperti itu jarang berhenti pada tiga orang.
Ketika bel masuk berbunyi, surat itu sudah berpindah dari tangan ke tangan.
Ada yang membacanya diam-diam.
Ada yang menahan tawa.
Ada yang berbisik kepada temannya.
Ada pula yang sengaja melihat ke arah Rantaka ketika ia kembali masuk kelas bersama Jagra.
Rantaka langsung merasa ada sesuatu yang tidak biasa.
Beberapa siswa mendadak diam ketika ia masuk.
Beberapa yang lain menunduk sambil tersenyum aneh.
Jagra mengerutkan dahi.
“Kenapa mereka?”
Rantaka tidak menjawab.
Ia duduk di bangkunya dan membuka tas.
Buku Bahasa Indonesianya masih ada.
Namun, kertas yang terselip di dalamnya sudah tidak ada.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Ia membalik halaman demi halaman.
Tidak ada.
Ia memeriksa seluruh isi tas.
Tidak ada.
Tangannya mulai gemetar.
“Kenapa?” tanya Jagra.
“Suratku hilang.”
“Surat apa?”
Rantaka menatap Jagra.
Ia tidak sanggup menjelaskan.
Belum sempat ia menjawab, Raka berdiri dari bangkunya.
Dengan wajah penuh kemenangan, ia mengangkat selembar kertas.
“Maksudmu surat ini?”
Ruangan mendadak hening.
Rantaka berdiri.
“Berikan.”
Raka tidak langsung menyerahkannya.
“Surat untuk siapa ini? Untuk Liris?”
Beberapa siswa tertawa.
Liris yang duduk di depan menoleh dengan bingung.
“Apa maksudmu?” tanyanya.
Raka membaca dengan suara keras.
“Aku takut tidak mampu bertahan di sekolah ini.”
Tawa kembali terdengar.
“Aku takut suatu hari Pakde merasa aku hanya menjadi beban.”
Kali ini, Rantaka merasa wajahnya panas.
Bukan karena malu semata.
Melainkan karena bagian paling rapuh dari dirinya sedang dibuka di depan orang-orang yang tidak pernah ia izinkan untuk melihatnya.
“Berikan surat itu,” katanya lagi.
Suara Rantaka rendah.
Namun, ada getaran marah di dalamnya.
Raka justru melangkah mundur.
“Kenapa? Bukankah ini surat cinta? Kami hanya ingin tahu bagaimana perasaanmu.”
“Itu bukan urusanmu.”
“Kalau bukan urusan kami, jangan simpan di buku sekolah.”
Jagra berdiri.
“Raka, berikan surat itu.”
“Kenapa kau ikut campur?”
“Karena kau sudah keterlaluan.”
Suasana kelas mulai tegang.
Beberapa siswa berhenti tertawa.
Liris berdiri dari bangkunya.
Wajahnya tampak bingung, tetapi juga tidak nyaman.
Ia tidak memahami mengapa namanya disebut-sebut.
Ia tidak tahu isi surat itu.
Ia hanya tahu Rantaka sedang berdiri dengan wajah pucat, sementara Raka memegang selembar kertas yang jelas bukan miliknya.
Saat itu, Bu Ratna, guru Bahasa Indonesia, masuk ke kelas.
“Ada apa ini?” tanyanya tegas.
Tidak ada yang langsung menjawab.
Raka buru-buru menyembunyikan surat di belakang punggungnya.
Namun, Bu Ratna melihatnya.
“Raka, apa yang kau pegang?”
Raka ragu.
“Tidak ada, Bu.”
“Berikan kepada Ibu.”
Dengan enggan, Raka menyerahkan surat itu.
Bu Ratna membaca bagian awalnya sekilas.
Wajahnya berubah serius.
“Siapa pemilik surat ini?”
Rantaka menunduk.
“Itu milik saya, Bu.”
“Kenapa surat pribadi ini berada di tangan Raka?”
Raka diam.
Bu Ratna menatap seluruh kelas.
“Siapa yang membaca surat ini?”
Tidak ada yang menjawab.
Namun, beberapa wajah yang menunduk sudah cukup memberi jawaban.
Bu Ratna menarik napas.
“Surat pribadi adalah milik pribadi. Membaca, mengambil, dan menyebarkannya tanpa izin adalah tindakan yang tidak benar.”
Raka masih diam.
“Raka, kau akan menemui Ibu setelah pelajaran selesai. Dan kalian semua yang sudah membaca atau menertawakan surat ini harus belajar bahwa perasaan orang lain bukan bahan hiburan.”
Kelas menjadi sunyi.
Namun, bagi Rantaka, teguran Bu Ratna tidak cukup menghapus rasa malu yang sudah telanjur memenuhi dirinya.
Ia tidak berani melihat siapa pun.
Terutama Liris.
Ia takut Liris mengira surat itu adalah surat cinta.
Ia takut Liris merasa aneh kepadanya.
Ia takut sahabatnya itu melihat kelemahannya.
Sepanjang pelajaran, Rantaka tidak mencatat satu kata pun.
Pikirannya hanya dipenuhi oleh suara tawa yang tadi terdengar.
Setelah bel pulang berbunyi, Liris menghampirinya.
“Rantaka.”
Rantaka memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.
“Aku mau pulang.”
“Aku hanya ingin bertanya.”
“Tidak perlu.”
“Surat itu tentang apa?”
Rantaka berhenti sejenak.
Ia ingin menjelaskan.
Ia ingin mengatakan bahwa surat itu bukan tentang cinta seperti yang diejekkan Raka dan teman-temannya.
Ia ingin mengatakan bahwa ia hanya merasa kesepian.
Bahwa ia takut.
Bahwa ia tidak tahu harus berbicara kepada siapa.
Namun, rasa malu membuat semua kata itu tertahan di tenggorokannya.
“Bukan apa-apa,” katanya dingin.
Liris menatapnya.
“Kalau bukan apa-apa, kenapa kau terlihat sangat marah?”
“Karena mereka membaca barangku.”
“Aku tahu. Tapi—”
“Sudahlah, Liris.”
Nada suaranya lebih keras dari yang ia maksudkan.
Liris terdiam.
Rantaka langsung menyesal.
Namun, ia tidak sanggup meminta maaf.
Ia mengambil tasnya dan berjalan keluar kelas.
Jagra mengejarnya sampai ke halaman sekolah.
“Rantaka!”
Rantaka tidak berhenti.
“Biarkan aku sendiri.”
“Raka memang keterlaluan. Tapi kau tidak perlu menjauh dari kami.”
“Aku tidak menjauh.”
“Kau jelas sedang menjauh.”
Rantaka berhenti di dekat pagar sekolah.
Ia memandang jalan menuju rumah Pakde Wirya.
Di kejauhan, kendaraan berlalu-lalang. Suara pasar mulai terdengar. Langit sore tampak kelabu.
“Aku hanya lelah, Jagra,” katanya pelan.
Jagra berdiri di sampingnya.
“Kalau lelah, bilang.”
Rantaka menggeleng.
“Tidak semua hal mudah untuk dikatakan.”
Jagra tidak memaksa.
Mereka berdiri beberapa saat dalam diam.
Di kelas, Liris masih duduk di bangkunya.
Ia memandangi halaman kosong di buku catatan hijaunya.
Ia tidak tahu bahwa surat itu sebenarnya ditujukan kepadanya.
Ia tidak tahu bahwa di dalam surat itu, Rantaka sedang berusaha meminta tempat untuk didengarkan.
Yang ia tahu hanya satu: sejak hari itu, Rantaka mulai menutup pintu yang sebelumnya selalu terbuka bagi sahabat-sahabatnya.
Dan tanpa mereka sadari, sebuah surat yang tidak pernah terkirim telah mulai menorehkan retak pertama di dalam persahabatan Langit Biru.
BAB 8 — ANAK DESA DI BANGKU BELAKANG
Pagi itu, langit di atas Kecamatan Rawa Jaya tampak pucat.
Awan tipis menggantung sejak matahari belum tinggi. Jalan menuju sekolah masih lembap oleh hujan semalam, dan sepatu Rantaka kembali terkena cipratan lumpur ketika ia berjalan melewati tepi selokan.
Ia tiba lebih awal dari biasanya.
Bukan karena tidak ada pekerjaan di warung Pakde Wirya, melainkan karena ia tidak ingin terlalu lama berada di rumah setelah kejadian surat itu.
Di rumah Pakde, suasana terasa berbeda sejak pagi.
Pakde Wirya tidak banyak bertanya, tetapi Rantaka merasa lelaki itu mengetahui sesuatu dari wajahnya yang muram. Ketika Rantaka hendak berangkat, Pakde hanya berkata, “Sekolah yang baik. Jangan membawa masalah pulang.”
Kalimat itu sederhana.
Namun, di telinga Rantaka, kalimat itu terdengar seperti peringatan.
Ia tidak ingin membuat masalah.
Ia tidak ingin menjadi beban.
Tetapi sejak suratnya dibaca oleh banyak orang, ia merasa seperti membawa beban yang tidak terlihat ke mana-mana.
Ketika masuk ke kelas, Rantaka melihat susunan bangku telah berubah.
Bu Ratna berdiri di depan kelas sambil memegang daftar nama.
“Anak-anak,” katanya, “mulai hari ini tempat duduk kalian akan diatur kembali. Ibu ingin kalian belajar bekerja sama dengan teman yang berbeda.”
Beberapa siswa langsung berbisik.
Ada yang tampak senang karena bisa duduk dekat sahabatnya. Ada yang memasang wajah kecewa. Ada pula yang cepat-cepat melihat daftar nama di tangan Bu Ratna.
Rantaka berdiri diam di dekat pintu.
Jagra datang beberapa saat kemudian, membawa tas yang disampirkan di satu bahu.
“Ada apa?” tanyanya.
“Bangku diatur ulang,” jawab Rantaka.
Jagra memandang ke depan.
“Semoga aku tidak duduk dekat orang yang suka bicara terus.”
Rantaka tidak menanggapi.
Sejak kemarin, ia masih sulit berbicara banyak.
Bu Ratna mulai memanggil nama satu per satu.
“Liris dan Nayla, bangku depan sebelah kiri.”
Liris berjalan menuju bangku yang ditunjuk. Nayla, siswi yang dikenal selalu rapi dan sering dikelilingi teman-temannya, mengikuti dengan wajah datar.
“Dimas dan Raka, bangku tengah sebelah kanan.”
Raka berjalan sambil tersenyum kecil kepada Dimas. Ketika melewati Rantaka, ia sempat melirik dengan tatapan yang membuat dada Rantaka kembali terasa sesak.
“Banyu dan Farel, bangku tengah sebelah kiri.”
Banyu membawa bukunya dan duduk tanpa banyak bicara.
Kemudian Bu Ratna menyebut dua nama terakhir.
“Rantaka dan Jagra, bangku belakang sebelah kanan.”
Jagra menoleh kepada Rantaka.
“Belakang?” gumamnya.
Rantaka hanya mengangkat bahu.
Mereka berjalan menuju bangku yang paling dekat dengan dinding belakang kelas.
Bangku itu sedikit lebih sempit daripada yang lain. Salah satu kakinya tampak tidak rata sehingga meja bergoyang ketika disentuh. Dari tempat itu, papan tulis terlihat lebih jauh.
Jagra duduk sambil menggeser tasnya.
“Bagus,” katanya pelan. “Kalau hujan, kita mungkin bisa sekalian melihat air masuk dari jendela.”
Rantaka tidak tertawa.
Ia hanya meletakkan buku di atas meja.
Pelajaran pertama dimulai.
Bu Ratna menerangkan tentang teks pidato. Ia menulis beberapa contoh kalimat di papan tulis. Rantaka berusaha mencatat, tetapi suara bisik-bisik dari bangku tengah terus terdengar.
“Memang cocok di belakang,” kata seseorang.
Rantaka tidak langsung menoleh.
“Siapa?” bisik Jagra.
“Sudah,” jawab Rantaka.
Namun, suara itu terdengar lagi.
“Anak kampung memang biasanya duduk di belakang.”
Kali ini Jagra menoleh.
Di bangku tengah, Raka sedang berbicara kepada Dimas. Dimas tidak tertawa keras, tetapi bibirnya tampak melengkung tipis. Farel yang duduk tidak jauh dari mereka menunduk sambil menahan senyum.
Jagra mengepalkan tangan.
“Jangan dengarkan,” kata Rantaka pelan.
“Kenapa harus diam?”
“Karena kalau kau menanggapi, mereka akan semakin senang.”
Jagra menatap Rantaka.
“Kau selalu bilang diam. Kemarin suratmu dibaca, kau juga diam. Sekarang mereka menghina kita, kau masih menyuruh diam.”
Rantaka menunduk.
Kata-kata itu menusuk lebih dalam daripada yang Jagra sadari.
Bu Ratna melanjutkan pelajaran.
Namun, suasana di kelas tidak lagi tenang bagi Rantaka dan Jagra.
Ketika Bu Ratna meminta siswa membentuk kelompok kecil untuk membuat contoh teks pidato, Raka berdiri dan memindahkan kursinya sedikit.
“Aku tidak mau satu kelompok dengan anak kampung,” katanya, cukup keras untuk didengar beberapa orang.
Jagra langsung berdiri.
“Apa maksudmu?”
Raka menoleh dengan santai.
“Tidak ada maksud apa-apa.”
“Jangan bicara begitu.”
“Memangnya salah? Kalian memang dari kampung, kan?”
Beberapa siswa terdiam.
Liris menoleh dari bangku depan.
Banyu yang sedang membuka bukunya juga mengangkat wajah.
Rantaka memegang lengan Jagra.
“Duduk.”
Namun, Jagra melepaskan tangannya.
“Kalau kami dari desa, kenapa? Kami sekolah di sini sama seperti kalian.”
Raka tertawa kecil.
“Ya, tapi tidak semua orang dari desa cocok ikut kegiatan sekolah. Kalian lebih cocok membantu di kebun atau di sungai.”
Kalimat itu membuat wajah Jagra memerah.
Ayahnya memang nelayan sungai.
Keluarganya memang hidup dari ikan dan air sungai.
Namun, bagi Jagra, pekerjaan ayahnya bukan sesuatu yang pantas dijadikan ejekan.
“Itu pekerjaan ayahku,” kata Jagra.
“Lalu kenapa?” jawab Raka. “Aku hanya bilang kenyataan.”
Jagra melangkah maju.
“Kalau kau menghina ayahku sekali lagi—”
“Jagra,” kata Rantaka lebih tegas.
Namun, Raka kembali tersenyum.
“Memangnya kau mau apa?”
Suara kursi bergeser.
Dalam satu gerakan cepat, Jagra mendorong meja Raka.
Meja itu bergeser keras hingga buku-buku di atasnya jatuh ke lantai.
Raka berdiri.
“Berani kau?”
“Aku sudah bilang jangan menghina keluargaku!”
Raka mendorong bahu Jagra.
Jagra membalas.
Keduanya saling tarik.
Suara gaduh memenuhi kelas.
Beberapa siswa menjerit.
Ada yang mundur menjauh.
Ada yang mencoba memisahkan.
Rantaka berdiri dan menarik Jagra dari belakang.
“Sudah, Jagra!”
Namun, saat Raka kembali maju, Rantaka menahan tubuhnya agar tidak mendekati Jagra.
Gerakan itu membuat Raka kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh ke kursi.
Pada saat itulah Bu Ratna masuk dari lorong kelas.
“Apa yang terjadi?”
Kelas langsung sunyi.
Jagra masih berdiri dengan napas memburu.
Raka merapikan seragamnya.
Rantaka berdiri di antara mereka.
Bu Ratna memandang meja yang bergeser, buku-buku yang jatuh, dan wajah murid-muridnya yang tegang.
“Jagra. Raka. Rantaka. Ke depan.”
Mereka bertiga berjalan perlahan.
“Siapa yang memulai?” tanya Bu Ratna.
Tidak ada yang menjawab.
Raka menunduk.
Jagra memandang lurus ke depan.
Rantaka menggigit bibir.
Bu Ratna menatap seluruh kelas.
“Apakah ada yang melihat?”
Beberapa siswa saling pandang.
Liris berdiri.
“Bu, Raka yang mulai bicara.”
Raka menoleh tajam.
Liris tetap berdiri.
“Ia mengatakan Rantaka dan Jagra anak kampung. Ia juga menghina pekerjaan ayah Jagra.”
Banyu ikut berdiri.
“Benar, Bu. Kami semua mendengarnya.”
Bu Ratna memandang Raka.
“Benarkah?”
Raka tidak langsung menjawab.
“Itu hanya bercanda, Bu.”
“Kalau candaan membuat orang lain terluka dan marah, itu bukan candaan yang baik.”
Raka menunduk.
Bu Ratna lalu memandang Jagra.
“Namun, Jagra, kau tidak boleh menyelesaikan penghinaan dengan kekerasan.”
Jagra mengatupkan rahangnya.
“Iya, Bu.”
“Dan Rantaka,” lanjut Bu Ratna, “kau ikut berdiri di tengah perkelahian. Kau menahan Raka hingga hampir jatuh.”
“Saya hanya ingin memisahkan, Bu.”
“Cara yang kau lakukan tetap membuat keadaan semakin gaduh.”
Rantaka tidak membantah.
Ia tahu Bu Ratna tidak sepenuhnya salah.
Tetapi ia juga merasa tidak adil.
Ia hanya ingin melindungi Jagra.
Seperti Jagra yang kemarin berusaha membelanya ketika suratnya dibaca Raka.
Bu Ratna menarik napas.
“Kalian bertiga akan mendapat hukuman. Sepulang sekolah, kalian membersihkan perpustakaan selama dua hari. Selain itu, kalian harus membuat tulisan tentang arti menghormati teman.”
Jagra mengangkat wajah.
“Bu, Rantaka tidak memulai perkelahian.”
“Rantaka tetap terlibat dalam keributan.”
“Tapi dia hanya membela saya.”
Bu Ratna terdiam sesaat.
“Justru karena itu, kalian harus belajar bahwa membela teman tidak selalu berarti ikut melawan dengan cara yang sama.”
Jagra tidak berkata lagi.
Namun, wajahnya tetap menunjukkan ketidakpuasan.
Rantaka kembali ke bangku belakang.
Kali ini, ia tidak merasa bangku itu hanya jauh dari papan tulis.
Ia merasa bangku itu seperti tempat yang sengaja dibuat untuk orang-orang seperti dirinya dan Jagra—orang-orang yang mudah diberi label, mudah dipandang rendah, dan mudah disalahkan ketika keadaan menjadi gaduh.
Liris menoleh beberapa kali ke arah mereka.
Namun, Rantaka tidak membalas tatapannya.
Ia membuka buku.
Mencoba menulis.
Tetapi pikirannya tidak berada di pelajaran.
Ia teringat kata-kata Raka.
Tidak semua orang dari desa cocok ikut kegiatan sekolah.
Kalimat itu membuatnya marah.
Namun, yang lebih menyakitkan adalah karena sebagian kecil dalam dirinya pernah merasa takut bahwa kata-kata itu benar.
Ia memang anak desa.
Ia tinggal di rumah Pakde agar bisa sekolah di kecamatan.
Ia harus membantu di warung.
Ia sering lelah.
Ia tidak punya sepatu baru seperti beberapa siswa lain.
Ia tidak punya banyak buku.
Ia tidak punya keluarga yang bisa dengan mudah membayar les tambahan.
Tetapi apakah semua itu berarti ia tidak pantas berada di sekolah?
Ketika jam pelajaran selesai, Bu Ratna memanggil Rantaka, Jagra, dan Raka ke perpustakaan.
Perpustakaan sekolah tidak terlalu besar. Rak-raknya penuh buku lama. Beberapa sampul buku sudah menguning. Debu menempel di sudut jendela.
“Kalian mulai membersihkan dari rak bagian belakang,” kata Bu Ratna. “Besok lanjutkan lagi.”
Raka mengambil kain lap dengan wajah kesal.
Jagra mengambil sapu.
Rantaka mengangkat beberapa tumpukan buku.
Mereka bekerja tanpa bicara.
Beberapa menit kemudian, Jagra berkata pelan, “Aku tidak menyesal membela ayahku.”
Rantaka tetap menyusun buku.
“Aku tahu.”
“Tapi aku menyesal kau ikut dihukum.”
“Tidak apa-apa.”
“Tidak apa-apa bagaimana? Kau sudah punya banyak masalah.”
Rantaka berhenti.
Ia memandang Jagra.
“Kalau kemarin kau tidak membelaku, mungkin aku lebih sendirian.”
Jagra terdiam.
“Jadi hari ini,” lanjut Rantaka, “aku tidak bisa membiarkanmu sendirian juga.”
Jagra menunduk.
Raka yang sedang membersihkan rak di seberang ruangan mendengar kata-kata itu.
Tangannya berhenti sejenak.
Namun, ia tidak berkata apa-apa.
Menjelang sore, perpustakaan mulai tampak lebih rapi.
Debu di meja sudah dibersihkan.
Buku-buku yang berserakan telah disusun kembali.
Bu Ratna datang memeriksa pekerjaan mereka.
“Cukup untuk hari ini,” katanya.
Ketiganya keluar dari perpustakaan dengan langkah lambat.
Di halaman sekolah, Banyu dan Liris menunggu.
Liris membawa dua bungkus singkong rebus.
“Kalian pasti lapar,” katanya.
Jagra menerima satu bungkus.
“Terima kasih.”
Rantaka ragu, tetapi akhirnya menerima juga.
Mereka duduk di bawah pohon ketapang dekat pagar sekolah.
Tidak ada yang langsung berbicara.
Sore bergerak perlahan.
Anak-anak lain sudah banyak yang pulang.
Suara kendaraan dari jalan raya terdengar jauh.
“Aku benci ketika mereka menyebut kita anak kampung,” kata Jagra akhirnya.
Banyu menatap tanah.
“Anak kampung bukan hinaan.”
“Aku tahu,” jawab Jagra. “Tapi mereka mengatakannya seperti kita lebih rendah.”
Liris memandang Rantaka.
“Kalian tidak lebih rendah.”
Rantaka mengangkat wajah.
“Kadang, kalau orang terus mengatakannya, kita bisa mulai percaya.”
Liris terdiam.
Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Rantaka.
Ia tidak bermaksud mengatakannya.
Namun, setelah suratnya dibaca dan setelah ejekan di kelas, ia tidak lagi punya banyak tenaga untuk menyembunyikan semua perasaannya.
Banyu berkata pelan, “Kita tidak perlu menjadi seperti mereka untuk membuktikan bahwa kita bisa.”
Jagra memegang bungkus singkong di tangannya.
“Lalu bagaimana?”
“Kita belajar,” jawab Banyu. “Kita bertahan. Kita tetap ikut kegiatan sekolah. Kita jangan berhenti hanya karena mereka ingin kita merasa kecil.”
Rantaka memandang sahabat-sahabatnya.
Kata-kata Banyu sederhana.
Namun, ada keteguhan di dalamnya.
Rantaka kembali teringat SD Wanasari.
Gerobak buku.
Pohon beringin.
Bu Laras yang selalu berkata bahwa anak desa juga berhak memiliki masa depan.
Ia tidak tahu apakah dirinya mampu selalu kuat.
Ia tidak tahu apakah ia akan sanggup menghadapi semua ejekan, pekerjaan di warung, dan pelajaran yang semakin sulit.
Namun, sore itu, di bawah pohon ketapang dekat pagar sekolah, ia menyadari satu hal.
Bangku belakang mungkin membuat mereka tampak jauh dari papan tulis.
Tetapi tidak ada bangku di dunia yang dapat menentukan seberapa jauh seseorang boleh bermimpi.
Dan meski retak mulai muncul dalam persahabatan mereka, Rantaka, Jagra, Liris, dan Banyu masih duduk bersama—masih membawa nama Langit Biru di dalam hati masing-masing.
BAB 9 — NILAI YANG JATUH DAN HARGA DIRI YANG LUKA
Sejak peristiwa di kelas, hari-hari Rantaka terasa semakin berat.
Hukuman membersihkan perpustakaan memang hanya berlangsung dua hari, tetapi pekerjaan di warung Pakde Wirya tidak berhenti hanya karena ia pulang lebih sore. Setelah selesai membersihkan rak buku dan menyapu lantai perpustakaan, ia tetap harus berlari menuju warung, mengganti seragamnya, lalu membantu Pakde melayani pembeli.
Sore itu, ketika Rantaka tiba di warung, Pakde Wirya sedang mengangkat karung beras dari belakang rumah.
“Kau terlambat,” kata Pakde tanpa menoleh.
“Maaf, Pakde. Saya masih menjalani hukuman di sekolah.”
Pakde Wirya menurunkan karung itu dengan napas berat.
“Hukuman lagi?”
“Bukan karena saya memulai masalah.”
Pakde menatapnya.
“Di sekolah, orang tidak selalu melihat siapa yang memulai. Mereka melihat siapa yang terlibat.”
Rantaka menunduk.
Ia sudah terlalu lelah untuk menjelaskan.
Pakde menyerahkan sapu.
“Bersihkan bagian depan. Setelah itu bantu Ibu Pardi menata minuman di lemari pendingin.”
“Iya, Pakde.”
Warung mulai ramai ketika matahari turun.
Ada buruh bangunan yang membeli kopi sachet. Ada ibu-ibu yang membeli gula, minyak goreng, dan sabun. Ada anak-anak kecil yang datang membawa uang receh untuk membeli permen. Ada pula sopir angkutan yang berhenti sebentar untuk membeli rokok dan air mineral.
Rantaka berdiri di balik meja kecil dekat rak makanan.
Tangannya bergerak cepat mengambil barang, menghitung uang, memberi kembalian, lalu mencatat beberapa pesanan yang dibeli secara utang oleh pelanggan tetap.
Namun, pikirannya tidak sepenuhnya berada di warung.
Besok ada ulangan matematika.
Sejak dua minggu terakhir, ia belum sempat belajar dengan tenang.
Setiap malam, setelah warung tutup, tubuhnya terasa seperti tidak lagi memiliki tenaga. Ia sering membuka buku matematika, membaca beberapa halaman, lalu tertidur dengan kepala di atas meja.
Malam itu pun demikian.
Setelah warung tutup, Rantaka masuk ke kamarnya membawa buku catatan matematika.
Jam dinding sudah menunjukkan hampir pukul sebelas.
Ia membuka halaman tentang pecahan, perbandingan, dan soal cerita.
Angka-angka di depan matanya tampak seperti bergerak sendiri.
Ia mencoba mengerjakan satu soal.
Jika dua belas kilogram beras dibagi kepada delapan keluarga, berapa kilogram yang diterima setiap keluarga?
Rantaka memegang pensil.
Ia tahu seharusnya ia bisa menjawab.
Namun, kepalanya terasa berat.
Suara kendaraan dari jalan raya, suara piring dari dapur, dan suara Pakde yang masih berbicara dengan seseorang di teras membuat pikirannya semakin sulit tenang.
Ia menunduk.
Tanpa sadar, kelopak matanya tertutup.
Pagi hari, ia terbangun dengan buku matematika masih terbuka di depannya.
Pipinya menempel pada halaman penuh angka.
Pukul lima lewat.
Ia segera bangkit.
Di luar, Pakde Wirya sudah memanggil dari dapur.
“Rantaka! Air galon habis. Antar dua galon ke rumah Bu Sari sebelum berangkat sekolah!”
“Iya, Pakde!”
Hari itu, Rantaka datang ke sekolah dengan mata merah dan langkah lambat.
Jagra melihatnya ketika ia masuk kelas.
“Kau tidak tidur lagi?”
“Tidur,” jawab Rantaka singkat.
“Wajahmu seperti orang yang habis berjaga tiga malam.”
Rantaka hanya meletakkan tas.
Liris menoleh dari bangku depan.
“Kau sudah belajar matematika?”
Rantaka mengangguk, meski sebenarnya tidak yakin.
“Kalau ada yang belum paham, aku bisa membantu saat istirahat,” kata Liris.
“Tidak usah.”
“Aku hanya menawarkan.”
“Aku bilang tidak usah.”
Nada suara Rantaka membuat Liris terdiam.
Banyu yang duduk tidak jauh dari mereka memandang Rantaka, tetapi tidak berkata apa-apa.
Bel pelajaran berbunyi.
Pak Arman, guru matematika, masuk sambil membawa beberapa lembar kertas.
“Hari ini kita ulangan,” katanya. “Kerjakan sendiri. Jangan melihat pekerjaan teman.”
Kertas soal dibagikan.
Rantaka memandangi lembarannya.
Pada soal pertama, ia masih bisa menjawab.
Soal kedua juga masih dapat ia kerjakan meski harus berpikir lebih lama.
Namun, ketika sampai pada soal cerita tentang perbandingan dan kecepatan, pikirannya seperti berhenti.
Ia membaca soal itu berkali-kali.
Sebuah kendaraan menempuh jarak tertentu dalam waktu tertentu. Jika kecepatannya berubah, berapa waktu yang dibutuhkan?
Angka-angka itu berputar di kepalanya.
Ia mencoba menulis rumus.
Lalu menghapusnya.
Menulis lagi.
Menghapus lagi.
Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya.
Di sebelahnya, Jagra juga tampak serius mengerjakan soal.
Di depan, beberapa siswa sudah mulai menulis jawaban dengan cepat.
Rantaka menunduk lebih dalam.
Ia tidak ingin melihat siapa pun.
Ketika waktu hampir habis, ia mengisi jawaban seadanya.
Ia tahu beberapa jawabannya mungkin salah.
Namun, tidak ada lagi yang bisa ia lakukan.
Setelah ulangan selesai, Pak Arman mengumpulkan kertas jawaban.
“Besok hasilnya akan saya bagikan,” katanya.
Rantaka mengembuskan napas pelan.
Ia merasa seperti baru saja kalah dalam sesuatu yang belum sempat ia perjuangkan dengan sungguh-sungguh.
Keesokan harinya, Pak Arman masuk kelas dengan membawa tumpukan kertas ulangan.
Wajahnya tidak tampak marah, tetapi suaranya serius.
“Nilai ulangan kali ini cukup beragam,” katanya. “Ada yang meningkat, ada yang harus lebih banyak belajar.”
Satu per satu kertas dibagikan.
Beberapa siswa tersenyum lega.
Ada yang berbisik bangga kepada temannya.
Ada pula yang tampak kecewa.
Ketika kertas Rantaka diletakkan di atas mejanya, ia tidak langsung melihatnya.
Tangannya diam beberapa saat.
Lalu perlahan, ia membalik lembar itu.
Di pojok kanan atas, tertulis angka merah.
48
Rantaka menatap angka itu cukup lama.
Nilainya tidak hanya turun.
Nilainya jatuh jauh.
Ia pernah mendapat nilai enam puluh lima. Pernah juga mendapat nilai tujuh puluh. Nilai itu mungkin bukan yang terbaik di kelas, tetapi cukup membuatnya merasa mampu bertahan.
Namun angka empat puluh delapan terasa seperti sebuah pengumuman bahwa ia mulai tertinggal.
Pak Arman berdiri di depan kelas.
“Bagi yang nilainya di bawah enam puluh, silakan mengikuti bimbingan tambahan setelah sekolah setiap hari Selasa dan Kamis.”
Rantaka menunduk.
Ia langsung teringat warung Pakde.
Selasa dan Kamis adalah hari pasar yang paling ramai.
Jika ia pulang terlambat karena bimbingan tambahan, siapa yang akan membantu di warung?
Di belakangnya, Jagra menepuk meja pelan.
“Nilaimu berapa?”
Rantaka menutup kertasnya.
“Tidak penting.”
“Kalau tidak penting, kenapa wajahmu begitu?”
Rantaka tidak menjawab.
Saat jam istirahat, Bu Laras datang ke kelas.
Kehadiran gurunya dari SD Wanasari itu selalu membuat Rantaka merasa seperti melihat sepotong rumah di tengah kecamatan yang asing.
Bu Laras kini beberapa kali datang ke SMP untuk mengurus berkas beberapa siswa dari Desa Wanasari yang melanjutkan sekolah. Ia juga masih sering berkomunikasi dengan para guru, terutama tentang kemungkinan bantuan pendidikan bagi anak-anak yang berprestasi tetapi memiliki keterbatasan ekonomi.
Rantaka melihat Bu Laras berbicara dengan wali kelas di depan pintu.
Beberapa saat kemudian, Bu Laras menghampirinya.
“Rantaka, boleh Ibu bicara sebentar?”
Rantaka berdiri.
“Iya, Bu.”
Mereka berjalan ke teras kelas.
Angin siang membawa suara ramai dari lapangan.
Bu Laras memandang Rantaka dengan lembut.
“Ibu mendengar ada program beasiswa pendidikan untuk siswa yang memiliki semangat belajar dan kondisi ekonomi yang membutuhkan dukungan.”
Mata Rantaka sedikit berbinar.
“Benarkah, Bu?”
“Ibu sedang berusaha mengajukan namamu. Tetapi ada beberapa syarat yang harus dijaga. Kehadiran, sikap, dan nilai pelajaran.”
Rantaka diam.
Bu Laras melanjutkan, “Ibu tahu kau bekerja keras. Ibu juga tahu kau membantu Pakde di warung. Tetapi jangan sampai kelelahan membuatmu kehilangan kesempatan.”
Rantaka menggenggam tali tasnya.
“Tadi nilai matematika saya turun, Bu.”
Bu Laras mengangguk pelan.
“Nilai yang turun bukan akhir dari segalanya. Yang penting, kau mau memperbaikinya.”
“Kalau nilai saya seperti ini, apakah beasiswanya batal?”
“Belum tentu. Tetapi kau harus menunjukkan bahwa kau mampu bangkit.”
Kata-kata itu seharusnya memberi semangat.
Namun, bagi Rantaka, kata-kata itu justru membuat dadanya semakin sesak.
Ia merasa semua orang sedang menunggu dirinya berhasil.
Pakde berharap ia tidak membawa masalah.
Ibu dan ayahnya berharap ia bisa sekolah lebih tinggi.
Bu Laras berusaha mengajukan beasiswa untuknya.
Sahabat-sahabatnya berharap ia tetap kuat.
Tetapi bagaimana jika ia tidak mampu?
Bagaimana jika semua harapan itu terlalu berat?
“Terima kasih, Bu,” katanya pelan.
Bu Laras menepuk bahunya.
“Jangan menyerah hanya karena satu nilai, Rantaka.”
Setelah Bu Laras pergi, Rantaka kembali ke kelas.
Di atas mejanya, Liris sudah menunggu.
Ia membawa buku matematika dan beberapa lembar kertas.
“Aku dengar Bu Laras sedang mengusahakan beasiswa untukmu,” kata Liris.
Rantaka langsung merasa tidak nyaman.
“Dari siapa kau dengar?”
“Bu Laras tadi bicara dengan wali kelas. Aku tidak sengaja mendengar.”
Rantaka tidak menjawab.
Liris membuka bukunya.
“Kalau kau mau, kita bisa belajar bersama. Aku juga tidak terlalu hebat matematika, tetapi aku sudah mengulang soal-soal ini. Kita bisa belajar setelah sekolah, mungkin dua kali seminggu.”
Rantaka menatap buku itu.
Di dalamnya ada catatan rapi, rumus-rumus yang diberi tanda, dan contoh soal yang sudah dikerjakan.
Liris benar-benar ingin membantu.
Namun, di dalam diri Rantaka, rasa malu yang selama ini menumpuk tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang lebih tajam.
Ia merasa seperti anak kecil yang harus ditolong.
Ia merasa seperti orang yang tidak mampu mengurus hidupnya sendiri.
Ia merasa Liris melihatnya sebagai seseorang yang perlu dikasihani.
“Aku tidak butuh bantuanmu,” katanya.
Liris berhenti membuka halaman.
“Aku tidak bermaksud membuatmu merasa—”
“Aku bisa belajar sendiri.”
“Aku tahu. Aku hanya ingin menemani.”
“Tidak perlu.”
Liris menatapnya dengan wajah terluka.
“Kenapa setiap orang yang ingin membantumu selalu kau anggap sedang merendahkanmu?”
Rantaka terdiam.
Namun, kata-kata itu justru membuatnya semakin tersulut.
“Karena kalian semua mudah bicara,” katanya. “Kalian tidak tahu bagaimana rasanya pulang sekolah lalu harus bekerja sampai malam. Kalian tidak tahu bagaimana rasanya bangun sebelum subuh untuk mengantar galon, lalu datang ke kelas dengan kepala penuh angka yang tidak bisa kupahami.”
Liris memegang bukunya lebih erat.
“Aku memang tidak menjalani hidupmu. Tapi aku tidak pernah menganggapmu rendah.”
“Tidak? Kau datang membawa buku, membawa rumus, lalu berkata ingin membantu. Apa bedanya dengan mengasihani?”
Wajah Liris memucat.
“Jadi menurutmu, peduli itu sama dengan mengasihani?”
Rantaka tidak menjawab.
Ia tahu jawabannya tidak sesederhana itu.
Tetapi ia sudah telanjur marah.
“Sudahlah, Liris. Jangan ikut campur.”
Liris menutup bukunya.
Tidak ada lagi kata-kata di wajahnya.
Ia berdiri perlahan.
“Baik,” katanya pelan. “Kalau itu yang kau inginkan.”
Lalu ia pergi.
Banyu yang sejak tadi duduk tidak jauh dari mereka memandang Rantaka.
“Kau keterlaluan,” katanya.
Rantaka menoleh.
“Aku tidak minta pendapatmu.”
Banyu tidak membalas.
Ia hanya mengambil bukunya dan pindah ke bangku lain.
Jagra datang beberapa saat kemudian.
“Apa yang terjadi?”
Rantaka menggeleng.
“Tidak ada.”
Jagra melihat Liris yang duduk sendiri di dekat jendela.
Ia melihat buku matematika yang masih tertinggal di meja Rantaka.
Kemudian ia menatap sahabatnya.
“Kau membuat Liris menangis?”
Rantaka menunduk.
“Dia tidak menangis.”
“Matanya merah.”
Rantaka tidak menjawab.
Bel masuk berbunyi.
Pelajaran kembali dimulai.
Namun, Rantaka tidak mendengar banyak dari penjelasan guru.
Di depan kelas, Liris duduk diam.
Ia tidak lagi menoleh ke belakang.
Ia tidak lagi mengajak bicara.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka kembali bertemu di kecamatan, Rantaka merasa jarak antara mereka bukan lagi sekadar jarak bangku.
Jarak itu tumbuh dari kata-kata yang terlanjur keluar.
Sepulang sekolah, Rantaka tidak mengikuti bimbingan tambahan.
Ia berjalan pulang menuju warung Pakde Wirya dengan langkah pelan.
Di sepanjang jalan, angka merah 48 masih terbayang di kepalanya.
Namun, yang lebih mengganggunya bukanlah nilai itu.
Melainkan wajah Liris ketika ia berkata, jangan ikut campur.
Di warung, Pakde Wirya memanggilnya untuk membantu menata barang.
Rantaka bekerja tanpa banyak bicara.
Ia mengangkat kardus, menyusun botol minuman, dan mencatat barang yang hampir habis.
Ketika malam datang, ia kembali duduk di meja kecil kamarnya.
Buku matematika terbuka di hadapannya.
Namun, kali ini ia tidak langsung mengerjakan soal.
Ia memandangi halaman kosong di buku catatan.
Tangannya mengambil pensil.
Ia ingin menulis sesuatu.
Mungkin permintaan maaf.
Mungkin penjelasan.
Mungkin hanya beberapa kalimat untuk mengatakan bahwa ia tidak benar-benar membenci bantuan Liris.
Ia hanya takut terlihat lemah.
Namun, pensil itu kembali berhenti di atas kertas.
Rantaka menunduk.
Di luar kamar, suara warung perlahan mereda.
Di dalam dirinya, harga diri yang terluka membuatnya sulit meminta maaf.
Dan tanpa ia sadari, nilai yang jatuh di kertas ulangan telah menjadi bayangan dari sesuatu yang lebih berbahaya—kepercayaan yang mulai jatuh di antara sahabat-sahabat Langit Biru.
BAB 10 — PUISI YANG DICURI
Sejak pertengkarannya dengan Rantaka, Liris lebih sering menghabiskan waktu sendirian.
Bukan karena ia tidak memiliki teman di sekolah. Beberapa siswi masih sering mengajaknya berbicara saat istirahat. Banyu kadang datang membawa cerita tentang benda-benda yang sedang ia bongkar di ruang keterampilan. Jagra pun beberapa kali bertanya mengapa ia terlihat murung.
Namun, Liris tidak benar-benar ingin menjelaskan.
Ada luka yang tidak mudah diceritakan.
Ia tahu Rantaka sedang menghadapi banyak hal. Ia tahu sahabatnya itu lelah membantu Pakde Wirya di warung. Ia tahu Rantaka takut kehilangan kesempatan mendapatkan beasiswa. Ia juga tahu bahwa kata-katanya mungkin terdengar seperti nasihat dari seseorang yang tidak memahami hidupnya.
Tetapi tetap saja, kalimat jangan ikut campur terus tinggal di dalam kepalanya.
Pagi itu, sebelum bel masuk berbunyi, Liris duduk di bawah pohon ketapang dekat perpustakaan sekolah. Buku catatan hijaunya terbuka di atas pangkuan. Angin pagi menggerakkan ujung halaman-halamannya.
Di dalam buku itu, tersimpan banyak puisi.
Ada puisi tentang jalan tanah Desa Wanasari.
Ada puisi tentang hujan yang jatuh di atas atap seng.
Ada puisi tentang gerobak buku yang pernah mereka dorong dari rumah ke rumah.
Ada juga puisi tentang sahabat yang menjauh, tetapi masih ingin ia panggil pulang.
Liris memegang pensilnya.
Ia membaca kembali puisi yang ditulisnya beberapa malam lalu.
Judulnya: Sungai yang Tidak Berhenti Mengalir.
Puisi itu bercerita tentang sungai di Desa Wanasari yang tetap mengalir meski membawa lumpur, ranting, dan sisa hujan dari hulu. Bagi Liris, sungai itu seperti persahabatan. Kadang keruh. Kadang deras. Kadang membuat orang takut menyeberang. Tetapi selalu memiliki jalan untuk kembali tenang.
Ia menulis bait terakhir dengan hati-hati.
Bila suatu hari kita berjalan sendiri-sendiri,
jangan lupa, sungai tetap tahu
ke mana ia harus pulang.
Liris menutup buku catatannya.
Ia tidak tahu apakah puisi itu bagus.
Namun, ia merasa puisi itu jujur.
Saat ia hendak berdiri, Bu Ratna keluar dari ruang guru dan melihatnya.
“Liris, kau menulis lagi?”
Liris tersenyum kecil.
“Iya, Bu.”
“Boleh Ibu baca?”
Liris ragu sejenak.
Lalu ia menyerahkan buku hijau itu.
Bu Ratna membaca puisi tersebut dalam diam. Setelah selesai, ia mengangkat wajah.
“Ini indah.”
Liris menunduk.
“Terima kasih, Bu.”
“Majalah dinding sekolah sedang membuka ruang karya siswa. Kau sebaiknya mengirimkan puisi ini.”
Liris segera menggeleng.
“Tidak usah, Bu. Puisi saya hanya tulisan biasa.”
“Justru karya yang lahir dari perasaan biasanya lebih mudah menyentuh orang.”
Liris memandang papan majalah dinding yang berdiri di dekat lorong sekolah. Di sana tertempel pengumuman, gambar, cerita pendek, dan beberapa puisi karya siswa.
Selama ini, ia hanya berani membaca karya orang lain.
Ia belum pernah benar-benar percaya bahwa tulisannya layak dipajang.
Bu Ratna mengembalikan buku hijau itu.
“Coba saja. Tidak semua langkah harus langsung besar. Kadang, keberanian dimulai dari selembar kertas yang ditempel di papan.”
Kata-kata itu tinggal dalam pikiran Liris sepanjang hari.
Saat istirahat, ia kembali ke perpustakaan.
Di sana, ia menyalin puisinya dengan tulisan yang lebih rapi pada selembar kertas putih. Ia menuliskan judul di bagian atas, lalu membubuhkan namanya kecil-kecil di bawah bait terakhir.
Sungai yang Tidak Berhenti Mengalir
Oleh: Liris Wening
Ia membaca ulang seluruh puisi itu.
Kemudian, dengan tangan sedikit gemetar, ia menyerahkannya kepada pengurus majalah dinding sekolah.
“Ini untuk ruang karya siswa,” katanya.
Pengurus mading menerima kertas itu.
“Baik. Nanti kami tempel kalau sudah diseleksi.”
Liris mengangguk.
Setelah itu, ia berjalan kembali ke kelas.
Langkahnya terasa lebih ringan.
Bukan karena ia yakin puisinya akan dipilih.
Melainkan karena untuk pertama kalinya, ia berani membiarkan tulisannya keluar dari buku hijau yang selama ini selalu ia simpan rapat.
Dua hari kemudian, puisi Liris benar-benar terpajang di majalah dinding.
Ketika melihat namanya di bawah judul puisi, ia berdiri cukup lama di depan papan itu.
Beberapa siswa berhenti untuk membaca.
Ada yang hanya lewat.
Ada yang mengangguk kecil.
Seorang siswi kelas lain bahkan berkata, “Puisinya bagus.”
Liris hanya tersenyum.
Namun, di dalam dadanya, ada rasa hangat yang selama ini jarang ia rasakan.
Siang itu, Nayla berdiri tidak jauh dari papan majalah dinding.
Ia datang bersama dua temannya.
Seragamnya rapi. Rambutnya diikat dengan pita yang selalu tampak baru. Di sekolah, Nayla dikenal sebagai siswi yang sering mengikuti lomba, pandai berbicara di depan kelas, dan selalu mendapat perhatian dari banyak guru.
Ia membaca puisi Liris tanpa berkata apa-apa.
Matanya berhenti cukup lama pada beberapa bait.
Terutama pada kalimat:
Jangan kira air yang keruh
tidak menyimpan langit di dalamnya.
Nayla menoleh kepada salah satu temannya.
“Siapa yang menulis ini?”
“Liris,” jawab temannya. “Anak dari Wanasari.”
Nayla kembali memandangi puisi itu.
“Lumayan,” katanya singkat.
Lalu ia pergi.
Liris tidak melihat kejadian itu.
Ia sedang berada di kelas, mencoba menyelesaikan tugas Bahasa Indonesia.
Beberapa hari kemudian, sekolah mengumumkan bahwa kecamatan akan mengadakan lomba membaca puisi dan cipta puisi antar-SMP.
Pengumuman itu ditempel di depan ruang guru.
Para siswa berkerumun.
“Pesertanya dipilih oleh sekolah,” kata salah satu guru. “Yang berminat boleh mendaftar.”
Banyu yang kebetulan lewat bersama Jagra melihat Liris berdiri di depan pengumuman.
“Kau ikut?” tanya Banyu.
Liris menggeleng.
“Aku belum berani.”
“Puisimu sudah dipajang di mading,” kata Jagra. “Kenapa tidak ikut?”
Liris tersenyum tipis.
“Menulis puisi dan membacakan puisi di depan banyak orang itu berbeda.”
“Kau bisa,” kata Banyu.
Liris tidak menjawab.
Sejak pertengkarannya dengan Rantaka, ia semakin ragu terhadap banyak hal. Ia merasa tulisannya hanya tempat untuk menyimpan perasaan, bukan sesuatu yang pantas dibawa ke depan orang banyak.
Di sisi lain, Nayla langsung mendaftarkan diri.
Ia menjadi salah satu peserta yang dipilih sekolah untuk mengikuti lomba tingkat kecamatan.
Beberapa siswa memuji keberaniannya.
“Pasti Nayla menang.”
“Dia memang cocok ikut lomba.”
“Puisinya selalu bagus.”
Liris tidak terlalu memikirkan itu.
Ia kembali menulis di buku hijaunya.
Namun, seminggu sebelum lomba, Bu Ratna masuk ke kelas dengan membawa lembaran pengumuman.
“Besok, peserta lomba puisi dari sekolah kita akan tampil dalam latihan terbuka di aula,” katanya. “Kalian boleh hadir untuk memberi dukungan.”
Keesokan harinya, saat jam terakhir pelajaran selesai, beberapa siswa menuju aula.
Liris awalnya tidak ingin datang.
Tetapi Banyu mengajaknya.
“Sebentar saja,” kata Banyu. “Aku ingin melihat bagaimana orang membacakan puisi di depan banyak orang.”
Jagra ikut menyusul.
Mereka bertiga berdiri di bagian belakang aula.
Di depan, beberapa peserta bergantian membacakan karya mereka.
Ada yang suaranya lantang.
Ada yang masih gugup.
Ada yang membaca dengan cepat karena ingin segera selesai.
Ketika nama Nayla dipanggil, beberapa siswa bertepuk tangan.
Nayla naik ke panggung kecil.
Ia berdiri tegak di depan mikrofon.
Kemudian ia mulai membaca.
“Judul puisi saya, Sungai yang Menyimpan Langit.”
Liris membeku.
Judul itu tidak sama persis.
Tetapi ada sesuatu yang membuat dadanya mendadak dingin.
Nayla melanjutkan.
Jangan kira air yang keruh
tidak menyimpan langit di dalamnya.
Liris tidak bergerak.
Banyu menoleh kepadanya.
Jagra mengerutkan dahi.
Nayla membaca bait berikutnya.
Ada beberapa kalimat yang berbeda.
Namun, bagian-bagian penting dari puisi itu terasa terlalu dekat dengan tulisan Liris.
Tentang sungai yang membawa lumpur.
Tentang jalan pulang.
Tentang langit yang tetap tinggal di dalam air.
Liris menggenggam ujung bajunya.
Ia tidak mendengar lagi suara tepuk tangan ketika Nayla selesai membaca.
Yang ia dengar hanya detak jantungnya sendiri.
“Liris,” bisik Banyu, “itu puisimu, kan?”
Liris tidak langsung menjawab.
Matanya tetap tertuju pada Nayla.
“Sebagian,” katanya pelan.
“Bukan sebagian,” kata Jagra. “Itu jelas puisimu.”
Liris menggeleng.
“Judulnya berbeda. Ada bait yang diubah.”
“Tapi kalimat-kalimatnya sama,” ujar Banyu.
Liris menatap lantai aula.
Ia ingin naik ke panggung.
Ia ingin mengambil mikrofon.
Ia ingin mengatakan kepada semua orang bahwa puisi itu bukan milik Nayla.
Namun, kakinya tidak bergerak.
Setelah latihan selesai, Nayla turun dari panggung sambil menerima pujian dari beberapa guru.
“Bagus sekali, Nayla.”
“Pilihan katanya kuat.”
“Kau punya peluang besar di kecamatan.”
Liris berdiri di dekat pintu aula.
Nayla melewatinya.
“Puisimu bagus,” kata Liris akhirnya.
Nayla berhenti.
“Terima kasih.”
“Bagian tentang sungai yang menyimpan langit,” lanjut Liris, “aku pernah menulisnya.”
Nayla menatapnya.
“Apa maksudmu?”
“Itu ada di puisi yang kutempel di mading.”
Nayla tersenyum kecil.
“Banyak puisi memakai sungai dan langit, Liris.”
“Tapi kalimatnya hampir sama.”
“Hampir sama bukan berarti sama.”
Liris menggenggam tangan.
“Aku menulisnya lebih dulu.”
“Kalau begitu, mana buktinya?”
Pertanyaan itu membuat Liris terdiam.
Nayla melanjutkan dengan suara tenang.
“Puisi di mading sudah beberapa hari ditempel. Siapa saja bisa membacanya. Kalau kau merasa punya ide yang sama, itu bukan berarti aku mencuri.”
“Aku punya catatan di buku hijau.”
“Catatan bisa ditulis kapan saja.”
Nayla memandang Liris sesaat, lalu berkata, “Aku tidak mau berdebat. Besok aku harus berlatih untuk lomba.”
Ia berjalan pergi.
Liris tetap berdiri di dekat pintu aula.
Kata-kata Nayla terasa seperti menutup semua jalan.
Mana buktinya?
Ia memang memiliki buku hijau.
Ia memang menulis puisi itu lebih dulu.
Namun, apakah buku catatan cukup untuk membuat orang percaya?
Puisi di mading sudah bisa dibaca siapa saja.
Nayla sudah mengubah judul dan beberapa bait.
Dan Nayla dikenal sebagai siswi yang sering ikut lomba.
Siapa yang akan percaya pada Liris, anak desa yang lebih sering diam dan menulis sendiri di bawah pohon?
Malam itu, Liris membuka buku hijaunya di kamar.
Ia membandingkan tulisan tangan lama dengan puisi yang dibacakan Nayla.
Beberapa bagian memang sama.
Beberapa bagian diubah.
Namun, inti puisi itu tetap miliknya.
Ia menatap halaman yang penuh coretan.
Ada tanggal kecil di sudut atas halaman.
Ada beberapa kata yang dicoret dan diganti.
Ada bait-bait awal yang belum sempurna.
Semua itu menunjukkan bahwa puisi tersebut lahir perlahan dari pikirannya sendiri.
Tetapi ia tidak tahu bagaimana menjelaskannya kepada orang lain.
Ia ingin mengadu kepada Bu Ratna.
Namun, ia takut dianggap mencari masalah.
Ia ingin bercerita kepada Rantaka.
Namun, sejak pertengkaran itu, mereka bahkan hampir tidak pernah berbicara.
Ia ingin meminta bantuan Jagra.
Namun, ia tahu Jagra mungkin akan langsung mendatangi Nayla dan membuat keadaan semakin rumit.
Akhirnya, Liris hanya duduk di depan buku hijaunya.
Air matanya jatuh pelan ke halaman.
Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa dunia yang selama ini ia impikan melalui kata-kata tidak selalu ramah kepada orang yang menulis dengan jujur.
Di luar rumah, malam bergerak perlahan.
Di dalam kamar, Liris menutup buku hijaunya dan memeluknya erat.
Ia tidak hanya kehilangan sebuah puisi.
Ia merasa kehilangan kepercayaan bahwa suara kecil dari seorang anak desa bisa didengar tanpa dirampas oleh orang yang lebih berani, lebih terkenal, dan lebih mudah dipercaya.
Sementara itu, di sekolah, nama Nayla mulai disebut-sebut sebagai calon kuat peserta lomba kecamatan.
Dan Liris hanya bisa menyimpan kemarahannya dalam diam—bersama puisi yang dicuri, tetapi belum mampu ia rebut kembali.
BAB 11 — SEPEDA YANG HILANG DI PASAR MALAM
Pasar malam kecamatan selalu datang dengan suara yang berbeda.
Sejak sore, lapangan dekat kantor kecamatan mulai dipenuhi pedagang. Ada lampu-lampu kecil yang digantung di atas tenda, suara musik dari wahana permainan, aroma jagung bakar, gorengan, dan kacang rebus yang bercampur di udara. Anak-anak berlarian membawa balon, sementara orang-orang dewasa berjalan pelan dari satu lapak ke lapak lain.
Bagi sebagian besar siswa SMP, pasar malam adalah tempat hiburan.
Namun, bagi Banyu, pasar malam berarti pekerjaan.
Sejak beberapa hari sebelumnya, Pak Hendra meminta bantuannya memperbaiki beberapa peralatan sederhana milik pedagang. Ada lampu yang kabelnya putus, roda gerobak yang longgar, gagang kursi yang patah, dan beberapa papan permainan yang perlu diperkuat.
Pak Hendra adalah pemilik bengkel kecil di dekat sekolah. Ia sering membiarkan Banyu membantu di sana sepulang sekolah. Lelaki itu tahu Banyu gemar membongkar benda-benda rusak dan mencoba memperbaikinya kembali.
“Jangan hanya melihat barang rusak sebagai sampah,” kata Pak Hendra suatu kali. “Kadang, yang rusak hanya perlu dipahami bagian mana yang harus diperbaiki.”
Banyu selalu mengingat kalimat itu.
Sore itu, ia mengayuh sepeda tuanya menuju pasar malam.
Sepeda itu bukan sepeda baru.
Catnya sudah banyak mengelupas. Pegangan setangnya dibalut karet bekas. Belnya tidak lagi berbunyi nyaring. Roda belakangnya juga sering berderit jika melewati jalan berbatu.
Namun, sepeda itu sangat berarti bagi Banyu.
Dengan sepeda itulah ia pergi-pulang sekolah.
Dengan sepeda itu pula ia membawa karung kecil berisi barang bekas dari rumah-rumah warga: botol plastik, potongan kawat, papan kayu, kaleng, dan roda bekas. Semua benda itu ia kumpulkan untuk dijadikan bahan membuat alat sederhana.
Sepeda itu juga pernah membantu membawa buku-buku untuk Gerobak Buku Langit Biru.
Banyu memarkirnya di sisi lapangan, dekat tenda tempat Pak Hendra bekerja.
Ia mengunci roda belakang dengan rantai tua yang biasa ia gunakan.
“Jangan jauh-jauh dari sini,” kata Pak Hendra.
“Iya, Pak.”
Pekerjaan dimulai sebelum matahari tenggelam.
Banyu membantu menyambung kabel lampu di salah satu lapak mainan. Setelah itu, ia memperbaiki roda gerobak penjual minuman yang macet karena porosnya berkarat. Tangannya menjadi hitam oleh oli dan debu, tetapi ia tidak mengeluh.
Di sela-sela bekerja, ia sempat melihat beberapa siswa sekolahnya datang ke pasar malam.
Ada yang berjalan bersama keluarga.
Ada yang membeli jajanan.
Ada yang mencoba permainan lempar gelang.
Di antara kerumunan itu, Banyu melihat Jagra.
Jagra berjalan sendirian di dekat deretan lapak ikan hias. Ia memakai jaket tipis dan sandal jepit. Wajahnya tampak murung. Ia tidak seperti biasanya yang mudah tertawa atau cepat menyapa.
Banyu hampir memanggilnya.
Namun, Jagra berjalan ke arah belakang lapangan, melewati tempat sepeda Banyu diparkirkan.
Banyu hanya sempat melihat punggungnya.
Lalu Pak Hendra memanggil.
“Banyu! Tolong ambil obeng kecil di kotak!”
Banyu segera kembali bekerja.
Pasar malam semakin ramai ketika malam turun.
Lampu-lampu berwarna menyala. Musik dari wahana permainan terdengar semakin keras. Anak-anak kecil mulai menangis karena ingin naik komidi putar. Para pedagang memanggil pembeli dengan suara lantang.
Banyu terus membantu Pak Hendra.
Ia memperbaiki papan permainan yang retak, mengganti baut pada kursi kayu, lalu membantu menyalakan lampu di sebuah lapak pakaian.
Waktu berlalu tanpa ia sadari.
Ketika pekerjaan terakhir selesai, Pak Hendra mengusap keringat di dahinya.
“Sudah cukup untuk malam ini,” katanya. “Kau pulanglah. Besok kalau ada yang rusak lagi, datang setelah sekolah.”
Banyu mengangguk.
Ia mengambil tas kecilnya yang diletakkan di bawah meja kerja.
Kemudian ia berjalan ke sisi lapangan tempat sepedanya diparkirkan.
Langkahnya berhenti.
Sepedanya tidak ada.
Banyu memandang tempat itu beberapa kali.
Di sana hanya ada tanah yang sedikit berlumpur, beberapa bekas jejak kaki, dan rantai tua miliknya yang tergeletak terbuka.
Ia mendekat.
Rantai itu tidak putus.
Gemboknya sudah tidak ada.
Banyu berlutut dan memegang rantai itu.
Dadanya mendadak kosong.
“Pak Hendra!” panggilnya.
Pak Hendra yang sedang membereskan peralatan menoleh.
“Ada apa?”
“Sepeda saya hilang.”
Pak Hendra segera mendekat.
“Kau parkir di mana?”
“Di sini, Pak. Saya kunci.”
Pak Hendra memeriksa rantai yang tergeletak di tanah.
“Gemboknya dibuka.”
Banyu berdiri.
Matanya menyapu kerumunan pasar malam.
Orang-orang terus berjalan. Lampu-lampu tetap menyala. Musik tetap terdengar. Tidak ada yang tampak peduli bahwa sesuatu yang sangat penting baginya baru saja hilang.
“Coba tanya pedagang sekitar,” kata Pak Hendra.
Mereka mulai bertanya.
Kepada penjual jagung bakar.
Kepada pedagang mainan.
Kepada penjaga lapak pakaian.
Kepada beberapa anak yang duduk di dekat pagar lapangan.
Namun, jawaban yang mereka terima hampir sama.
“Tidak tahu.”
“Banyak orang lewat.”
“Saya tidak memperhatikan.”
Seorang pedagang minuman akhirnya berkata, “Saya melihat seorang anak laki-laki berdiri di dekat sepeda itu tadi. Tapi saya tidak tahu siapa. Ramai sekali.”
“Seperti apa orangnya?” tanya Banyu.
“Pakai jaket gelap. Badannya tidak terlalu tinggi.”
Banyu terdiam.
Di kepalanya, muncul bayangan Jagra yang berjalan sendirian dekat lapangan.
Jaket tipis.
Sandal jepit.
Wajah murung.
Melewati tempat sepeda diparkirkan.
Banyu berusaha mengusir pikiran itu.
Tidak mungkin Jagra.
Jagra memang sedang menghadapi banyak masalah. Ia sering terlihat gelisah sejak banjir kecil beberapa hari lalu merusak beberapa jaring ikan milik keluarganya. Ia juga beberapa kali berkata bahwa ayahnya membutuhkan bantuan lebih banyak di sungai.
Tetapi Jagra adalah sahabatnya.
Mereka tumbuh bersama.
Mereka pernah mendorong Gerobak Buku Langit Biru bersama-sama.
Mereka pernah duduk di bawah pohon beringin SD Wanasari dan saling menceritakan cita-cita.
Namun, pikiran itu tetap kembali.
Kalau bukan Jagra, siapa lagi yang kulihat di dekat sini?
Malam semakin larut.
Banyu pulang berjalan kaki sambil membawa tas kecilnya.
Pak Hendra sudah menawarkan untuk mengantarnya, tetapi Banyu menolak. Ia ingin berjalan sendiri. Ia ingin berpikir.
Jalan menuju rumah terasa lebih jauh dari biasanya.
Setiap kali mendengar bunyi sepeda melintas, ia menoleh.
Setiap kali melihat lampu kendaraan dari kejauhan, ia berharap itu adalah seseorang yang membawa kembali sepedanya.
Tetapi tidak ada.
Sesampainya di rumah, ibunya melihat wajahnya yang pucat.
“Kenapa, Banyu?”
“Sepeda saya hilang.”
Ibunya terdiam.
“Hilangan di mana?”
“Di pasar malam.”
“Sudah dicari?”
“Sudah.”
Ibunya duduk di sampingnya.
“Besok kita cari lagi. Mungkin ada yang melihat.”
Banyu mengangguk.
Namun, malam itu ia tidak bisa tidur.
Ia teringat setiap bagian sepeda itu.
Roda belakang yang pernah ia tambal sendiri.
Keranjang kecil dari kawat yang ia pasang di depan.
Pedal kanan yang sedikit bengkok.
Stiker bintang pudar di dekat sadel.
Bagi orang lain, sepeda itu mungkin hanya barang tua.
Tetapi bagi Banyu, sepeda itu adalah jalan menuju sekolah, bengkel, dan mimpi-mimpinya.
Keesokan paginya, Banyu datang ke sekolah dengan berjalan kaki.
Ia terlambat beberapa menit.
Saat masuk kelas, ia melihat Jagra duduk di bangku belakang bersama Rantaka.
Jagra tampak biasa saja.
Ia sedang membuka buku pelajaran.
Tidak ada tanda bahwa ia mengetahui apa pun tentang sepeda Banyu.
Namun, Banyu tidak bisa menghilangkan kecurigaan dari pikirannya.
Sepanjang pelajaran pertama, ia hampir tidak mendengar penjelasan guru.
Ketika jam istirahat tiba, ia menghampiri Jagra di lorong kelas.
“Jag.”
Jagra menoleh.
“Ada apa?”
“Kau ke pasar malam tadi malam?”
Jagra tampak sedikit heran.
“Iya. Kenapa?”
“Kau ke sana sendiri?”
“Iya.”
“Untuk apa?”
Jagra menyandarkan tubuh ke dinding.
“Memangnya kenapa kau bertanya seperti itu?”
Banyu menarik napas.
“Sepedaku hilang.”
Wajah Jagra berubah.
“Hilang?”
“Iya.”
“Kapan?”
“Tadi malam. Saat aku membantu Pak Hendra.”
Jagra tampak benar-benar terkejut.
“Aku tidak tahu, Banyu.”
Banyu menatapnya.
“Kau lewat dekat tempat sepedaku diparkir.”
Jagra mengerutkan dahi.
“Memang aku lewat. Terus?”
“Ada pedagang yang melihat anak laki-laki memakai jaket gelap di dekat sepeda itu.”
Jagra diam beberapa saat.
Lalu wajahnya mengeras.
“Jadi kau menuduhku?”
“Aku tidak menuduh. Aku hanya bertanya.”
“Caramu bertanya sudah seperti menuduh.”
“Jag, sepeda itu penting buatku.”
“Dan karena penting, kau langsung menganggap sahabatmu yang mengambilnya?”
Rantaka yang baru keluar dari kelas melihat mereka berdiri saling berhadapan.
“Ada apa?” tanyanya.
Jagra menoleh kepadanya.
“Banyu kehilangan sepeda. Dia pikir aku yang mengambil.”
Rantaka memandang Banyu.
“Benarkah?”
Banyu merasa tenggorokannya kering.
“Aku tidak bilang Jagra mengambil. Aku hanya melihat dia ada di dekat tempat sepeda itu.”
Jagra tertawa pendek, tetapi tidak ada rasa lucu di dalamnya.
“Hebat. Jadi sekarang keberadaanku saja sudah cukup untuk membuatku dicurigai.”
“Bukan begitu.”
“Lalu bagaimana?”
Banyu tidak menjawab.
Ia tahu Jagra sedang terluka.
Namun, rasa kehilangan sepedanya membuat pikirannya sulit tenang.
“Kalau aku benar-benar mengambil sepedamu,” kata Jagra dengan suara bergetar, “kenapa aku harus datang ke sekolah hari ini? Kenapa aku harus duduk di kelas dan menunggu kau menuduhku di depan orang lain?”
“Jagra, jangan keras-keras,” kata Rantaka.
“Kenapa? Bukankah aku harus diam saja seperti yang selalu kau bilang?”
Kalimat itu membuat Rantaka terdiam.
Jagra kembali menatap Banyu.
“Aku memang sedang punya masalah. Keluargaku memang tidak punya banyak uang. Tapi bukan berarti aku pencuri.”
Banyu menunduk.
Ia ingin mengatakan bahwa ia tidak benar-benar yakin.
Ia ingin mengatakan bahwa ia hanya panik.
Namun, kata-kata itu tidak keluar.
Jagra mengangkat tasnya.
“Kalau kau tidak percaya, jangan anggap aku sahabatmu.”
Lalu ia pergi.
Rantaka berdiri beberapa saat di antara Banyu dan lorong yang dilalui Jagra.
“Banyu,” katanya pelan, “kau seharusnya tidak langsung menuduh.”
“Aku tidak langsung menuduh.”
“Tapi kau membuatnya merasa seperti itu.”
“Sepedaku hilang, Rantaka.”
“Aku tahu.”
“Itu satu-satunya sepeda yang kupunya.”
Rantaka memandang wajah Banyu yang tegang.
Ia tahu sepeda itu sangat penting bagi sahabatnya.
Ia juga tahu Jagra mudah tersulut jika merasa keluarganya dipandang rendah.
Namun, tidak ada kata-kata yang cukup untuk memperbaiki keadaan saat itu.
“Coba kita cari lagi sepulang sekolah,” kata Rantaka.
Banyu mengangguk kecil.
Tetapi hatinya tetap berat.
Siang hari, Liris mengetahui kabar tentang sepeda Banyu.
Ia menemui Banyu di dekat perpustakaan.
“Aku dengar sepedamu hilang.”
Banyu mengangguk.
“Sudah kau ceritakan kepada guru?”
“Belum.”
“Kau harus bilang. Mungkin sekolah bisa membantu mencari informasi.”
Banyu memandang lantai.
“Aku sudah membuat keadaan lebih buruk.”
“Apa maksudmu?”
“Aku bertanya kepada Jagra. Dia marah.”
Liris menghela napas.
“Kau menuduhnya?”
“Aku tidak tahu. Mungkin.”
Liris duduk di sampingnya.
“Kalau kau tidak punya bukti, jangan biarkan kehilangan membuatmu menyakiti orang lain.”
Kata-kata itu mengingatkan Liris pada puisinya sendiri.
Pada Nayla.
Pada rasa marah yang ia simpan karena merasa karyanya dicuri.
Ia tahu bagaimana rasanya tidak dipercaya.
Namun, ia juga tahu bahwa kemarahan bisa membuat seseorang melihat musuh di tempat yang belum tentu benar.
Banyu mengusap wajahnya.
“Aku hanya ingin sepedaku kembali.”
“Aku tahu,” kata Liris. “Tapi Jagra juga ingin dipercaya.”
Sepulang sekolah, Rantaka dan Banyu kembali ke pasar malam.
Mereka bertanya kepada beberapa pedagang yang masih berjualan. Mereka memeriksa jalan-jalan kecil di sekitar lapangan. Mereka bahkan mendatangi tukang tambal ban di dekat terminal.
Namun, sepeda itu tidak ditemukan.
Jagra tidak ikut.
Ia pulang lebih dulu tanpa berbicara kepada siapa pun.
Ketika senja turun, Banyu berdiri di tempat sepedanya hilang.
Rantaka berdiri di sampingnya.
“Maaf,” kata Banyu tiba-tiba.
Rantaka menoleh.
“Untuk apa?”
“Aku seharusnya tidak langsung mencurigai Jagra.”
Rantaka tidak menjawab.
“Aku masih tidak tahu siapa yang mengambilnya,” lanjut Banyu. “Tapi aku tahu wajah Jagra tadi. Dia benar-benar terluka.”
Rantaka mengangguk pelan.
“Kita cari sepeda itu. Dan kalau memang Jagra tidak terlibat, kau harus meminta maaf.”
Banyu memandang tanah.
“Iya.”
Namun, di tempat lain, Jagra berjalan pulang sendirian menuju rumahnya.
Langkahnya cepat, tetapi dadanya terasa penuh.
Ia tidak hanya marah karena dituduh.
Ia marah karena tuduhan itu datang dari Banyu—sahabat yang selama ini ia percaya.
Di kepalanya, kembali terdengar kalimat yang selalu ia benci.
Anak kampung.
Anak nelayan.
Tidak pantas ikut kegiatan sekolah.
Kini, bahkan di antara sahabatnya sendiri, ia merasa kemiskinan keluarganya membuatnya mudah dicurigai.
Malam itu, tidak ada Gerobak Buku Langit Biru yang didorong bersama.
Tidak ada tawa di bawah pohon beringin.
Tidak ada cerita tentang mimpi-mimpi masa depan.
Yang ada hanya sebuah sepeda tua yang hilang, sebuah tuduhan tanpa bukti, dan persahabatan yang mulai retak lebih dalam daripada sebelumnya.
BAB 12 — GEROBAK BUKU YANG TERBENGKALAI
Gerobak Buku Langit Biru berdiri diam di sudut gudang SD Wanasari.
Roda kayunya mulai tertutup debu. Pegangan bambunya yang dulu sering digenggam oleh Rantaka, Liris, Banyu, dan Jagra kini tampak kusam. Di dalam kotak kayu gerobak itu, beberapa buku cerita anak tersusun tidak rapi. Ada halaman yang terlipat, ada sampul yang mulai pudar, dan ada buku yang masih menyimpan daun kering sebagai penanda halaman.
Dulu, setiap akhir pekan, gerobak itu selalu keluar dari gudang.
Rantaka biasanya mendorong dari depan.
Banyu memeriksa roda dan pegangan agar tidak lepas di jalan.
Liris membawa daftar buku serta buku catatan kecil untuk menuliskan nama anak-anak yang meminjam.
Jagra berjalan di samping gerobak sambil membawa tikar atau termos air minum.
Mereka menyusuri jalan tanah, melewati rumah-rumah warga, kebun singkong, tepian sungai, dan halaman balai desa.
Anak-anak kecil akan berlari ketika melihat gerobak itu datang.
“Kak Rantaka datang!”
“Ada buku baru!”
“Kak Liris, dongeng lagi!”
“Kak Banyu bawa apa hari ini?”
“Kak Jagra, ajari aku bikin perahu kertas!”
Suara-suara itu dulu menjadi bagian dari hari-hari mereka.
Namun, sejak sepeda Banyu hilang dan pertengkaran dengan Jagra terjadi, semuanya berubah.
Banyu lebih sering pulang berjalan kaki ke kecamatan. Ia harus berangkat lebih awal dan pulang lebih lambat. Tanpa sepeda, ia kesulitan membawa barang-barang bekas dari bengkel Pak Hendra. Ia juga mulai membantu ibunya mencari cara untuk membeli sepeda pengganti, meski ia tahu itu bukan hal yang mudah.
Jagra tidak lagi datang ke rumah Rantaka atau Banyu.
Ia lebih banyak menghabiskan waktu di sungai bersama ayahnya. Kadang ia pulang dengan pakaian basah dan wajah lelah. Kadang ia tidak masuk sekolah karena harus membantu memperbaiki jaring atau mencari ikan lebih pagi.
Liris masih membawa buku hijaunya ke sekolah.
Namun, ia tidak lagi sering membacakan puisi di depan sahabat-sahabatnya. Sejak puisi miliknya dibacakan Nayla dalam latihan lomba, ia merasa seperti kehilangan keberanian untuk memperlihatkan tulisannya kepada orang lain.
Sementara Rantaka semakin sibuk di warung Pakde Wirya.
Nilai matematikanya yang turun membuatnya harus mengikuti bimbingan tambahan. Tetapi pada hari-hari tertentu, ia tidak dapat hadir karena warung sedang ramai. Ia mulai hidup di antara dua tuntutan: sekolah yang meminta ia belajar lebih keras dan pekerjaan yang meminta ia membantu lebih banyak.
Mereka semua masih berada di sekolah yang sama.
Masih duduk di kelas yang sama.
Masih mendengar bel yang sama setiap pagi.
Namun, mereka tidak lagi berjalan sebagai Langit Biru.
Pada suatu Sabtu pagi, seorang anak kecil bernama Tami datang ke SD Wanasari bersama adiknya.
Tami adalah anak kelas tiga. Ia tinggal tidak jauh dari kebun singkong. Rambutnya selalu dikepang dua, dan ia sangat suka membaca buku cerita bergambar.
Ia berdiri di depan gudang sekolah.
Pintu gudang terkunci.
Ia memandang ke arah halaman.
Tidak ada gerobak buku.
Tidak ada Rantaka.
Tidak ada Liris.
Tidak ada Banyu.
Tidak ada Jagra.
“Kakak, gerobak bukunya kapan datang?” tanya adiknya.
Tami menggigit bibir.
“Aku tidak tahu.”
Mereka duduk di bawah pohon beringin tua dekat sekolah.
Tami membawa sebuah buku cerita yang sudah dibacanya berkali-kali. Sampulnya bergambar seekor burung kecil yang mencari rumah di tengah hutan.
Ia membuka halaman pertama.
Lalu halaman kedua.
Namun, hari itu ia tidak benar-benar membaca.
Ia hanya menunggu.
Menunggu roda gerobak berbunyi di jalan tanah.
Menunggu suara Liris memanggil anak-anak.
Menunggu Jagra datang membawa permainan sederhana.
Menunggu Banyu menunjukkan benda baru dari barang bekas.
Menunggu Rantaka membacakan cerita.
Tetapi sampai matahari naik tinggi, tidak ada siapa pun yang datang.
Tami akhirnya pulang dengan langkah pelan.
Di rumah, ia bertanya kepada ibunya.
“Bu, Kak Rantaka dan teman-temannya tidak datang lagi?”
Ibunya yang sedang menjemur pakaian menoleh.
“Mungkin mereka sibuk sekolah.”
“Tapi dulu mereka bilang akan datang setiap minggu.”
Ibunya diam sejenak.
“Kakak-kakak itu juga punya urusan masing-masing, Tami.”
“Tapi buku-bukunya bagaimana?”
Ibunya tidak segera menjawab.
Pertanyaan sederhana itu ternyata terasa berat.
Di sisi lain desa, Bu Laras sedang berada di ruang guru SD Wanasari.
Ia membuka buku peminjaman Gerobak Buku Langit Biru.
Pada halaman terakhir, tertulis nama-nama anak yang meminjam buku beberapa minggu lalu.
Tami — Cerita Burung Kecil
Reno — Peta Indonesia untuk Anak
Sari — Dongeng Nusantara
Fikri — Aku Belajar Berhitung
Nina — Kisah Si Kancil dan Buaya
Setelah itu, tidak ada lagi tulisan baru.
Halaman berikutnya kosong.
Bu Laras menatap halaman kosong itu cukup lama.
Ia teringat saat pertama kali Rantaka, Liris, Banyu, dan Jagra menemukan buku-buku lama di gudang sekolah. Ia masih ingat wajah mereka ketika membersihkan debu, memperbaiki rak, dan membawa buku-buku keluar satu per satu.
Ia juga ingat ketika Banyu membuat gerobak sederhana dari kayu bekas dan roda sepeda tua.
Gerobak itu memang tidak sempurna.
Rodanya sering berderit.
Pegangan bambunya kadang longgar.
Kotak kayunya tidak terlalu besar.
Namun, gerobak itu membawa sesuatu yang jauh lebih besar daripada buku.
Gerobak itu membawa harapan.
Siang itu, Bu Laras pergi ke SMP kecamatan.
Ia ingin berbicara dengan keempat anak itu.
Ketika jam istirahat, ia melihat Rantaka duduk sendiri di teras kelas sambil membuka buku matematika. Wajahnya tampak letih. Di bawah matanya ada bayangan gelap karena kurang tidur.
Tidak jauh dari sana, Liris duduk di dekat jendela sambil menulis di buku hijaunya.
Banyu berada di belakang sekolah, memeriksa sebuah kipas kecil rusak yang dibawanya dari rumah.
Sedangkan Jagra tidak terlihat.
Bu Laras menghampiri Rantaka lebih dulu.
“Rantaka.”
Rantaka segera berdiri.
“Bu Laras?”
“Ibu ingin bicara dengan kalian. Bisa panggil Liris dan Banyu?”
Rantaka mengangguk.
Beberapa menit kemudian, mereka bertiga duduk di bawah pohon besar dekat lapangan sekolah.
Bu Laras memandang mereka satu per satu.
“Kalian tahu kenapa Ibu datang?”
Tidak ada yang menjawab.
Bu Laras mengeluarkan buku peminjaman Gerobak Buku Langit Biru dari tasnya.
Ia membuka halaman terakhir.
“Sudah hampir sebulan tidak ada buku yang dipinjam.”
Liris menunduk.
Banyu mengusap tangannya yang masih terkena noda oli.
Rantaka memandangi halaman kosong itu.
“Anak-anak di Wanasari masih menunggu,” kata Bu Laras.
Kalimat itu membuat suasana menjadi lebih sunyi.
“Mereka bertanya kapan kalian datang lagi. Mereka bertanya kenapa gerobak buku tidak berjalan. Mereka bertanya apakah buku-buku itu masih ada.”
Rantaka menarik napas pelan.
“Kami sedang banyak masalah, Bu.”
“Ibu tahu.”
“Banyu kehilangan sepeda,” lanjut Rantaka. “Jagra marah karena merasa dituduh. Liris juga sedang punya masalah. Saya sendiri harus membantu di warung dan memperbaiki nilai.”
Bu Laras mengangguk.
“Ibu tidak datang untuk mengatakan bahwa masalah kalian kecil.”
Liris mengangkat wajah.
“Kalau begitu, kenapa Bu datang?”
“Karena kalian boleh tumbuh,” jawab Bu Laras. “Kalian boleh punya kesibukan baru. Kalian boleh kecewa, marah, bahkan bertengkar. Itu bagian dari hidup.”
Bu Laras berhenti sejenak.
“Tetapi jangan sampai kalian melupakan alasan kalian pernah berjuang bersama.”
Banyu menatap tanah.
Bu Laras melanjutkan, “Dulu kalian membuat Gerobak Buku Langit Biru bukan karena kalian tidak punya masalah. Kalian membuatnya karena kalian tahu anak-anak desa juga membutuhkan kesempatan untuk membaca, belajar, dan bermimpi.”
Rantaka memegang ujung bukunya.
“Sekarang kami tidak seperti dulu, Bu.”
“Tidak ada yang meminta kalian kembali menjadi anak-anak kecil,” kata Bu Laras. “Kalian sudah remaja. Kalian sedang belajar menghadapi hidup yang lebih rumit.”
Liris memejamkan mata sebentar.
“Tapi kami bahkan tidak bisa berbicara baik-baik,” katanya.
“Kalau begitu, belajarlah berbicara kembali.”
“Jagra tidak mau menemui kami,” kata Banyu pelan.
Bu Laras memandangnya.
“Apakah kau sudah meminta maaf?”
Banyu tidak menjawab.
Jawaban itu sudah cukup.
Bu Laras lalu menatap Rantaka.
“Dan kau, apakah kau sudah meminta maaf kepada Liris?”
Rantaka menunduk.
Liris tidak menoleh.
Bu Laras tidak berkata apa-apa lagi tentang itu.
Ia hanya menutup buku peminjaman, lalu memasukkannya kembali ke tas.
“Sahabat bukan orang yang selalu sepakat,” katanya pelan. “Sahabat adalah orang yang tetap berusaha menemukan jalan pulang setelah saling melukai.”
Kalimat itu tinggal di antara mereka.
Bel masuk berbunyi.
Anak-anak lain mulai kembali ke kelas.
Bu Laras berdiri.
“Ibu tidak akan memaksa kalian menarik gerobak itu lagi minggu depan. Tetapi Ibu berharap, suatu hari nanti, ketika kalian sudah siap, kalian ingat bahwa ada anak-anak yang masih menunggu.”
Sebelum pergi, Bu Laras menambahkan, “Gerobak itu masih ada di gudang. Buku-bukunya juga masih ada. Yang belum kembali hanya kalian.”
Setelah Bu Laras pergi, Rantaka, Liris, dan Banyu tetap duduk di bawah pohon.
Tidak ada yang langsung berbicara.
Rantaka ingin meminta maaf kepada Liris.
Ia sudah memikirkan itu berkali-kali.
Namun, setiap kali melihat wajah Liris yang tenang tetapi jauh, kata-kata itu terasa sulit keluar.
Banyu ingin mengatakan bahwa ia menyesal telah mencurigai Jagra.
Ia tahu Jagra mungkin sedang menghadapi masalah yang tidak ia ketahui.
Namun, rasa malu membuatnya belum berani mendatangi sahabatnya.
Liris ingin bercerita tentang puisinya.
Tentang Nayla.
Tentang rasa takut bahwa tulisannya tidak lagi aman.
Tetapi ia tidak tahu apakah Rantaka dan Banyu masih bisa mendengarkannya tanpa menganggap masalahnya sepele.
Akhirnya, mereka kembali ke kelas masing-masing.
Sore hari, Rantaka pulang ke warung Pakde Wirya.
Di jalan, ia melewati sebuah rumah kecil di pinggir kebun.
Di halaman rumah itu, Tami sedang duduk bersama adiknya.
Mereka membuka buku cerita bergambar yang sama.
Tami melihat Rantaka lewat.
“Kak Rantaka!”
Rantaka berhenti.
“Iya, Tami?”
“Kapan Gerobak Buku datang lagi?”
Pertanyaan itu membuat Rantaka tidak langsung menjawab.
Tami berdiri.
“Aku sudah selesai baca buku burung kecil. Aku mau pinjam buku yang lain.”
Rantaka memandang buku di tangan Tami.
Sampulnya sudah mulai kusut.
Ia teringat halaman kosong dalam buku peminjaman.
Ia teringat kata-kata Bu Laras.
Yang belum kembali hanya kalian.
“Kakak belum tahu,” katanya akhirnya.
Wajah Tami sedikit berubah.
“Tapi Kakak akan datang lagi, kan?”
Rantaka menatap anak itu.
Di dalam dirinya, ada rasa bersalah yang perlahan tumbuh.
“Iya,” katanya pelan. “Suatu hari nanti, Kakak akan datang lagi.”
Tami tersenyum.
“Janji?”
Rantaka mengangguk.
“Janji.”
Ia melanjutkan perjalanan menuju warung.
Namun, sepanjang jalan, kata itu terus mengikuti langkahnya.
Janji.
Di rumahnya, Banyu duduk di teras sambil memegang rantai sepeda yang tersisa.
Ia mengingat wajah Jagra saat dituduh.
Di kamar lain, Liris membuka buku hijaunya dan membaca kembali puisi tentang sungai yang tidak berhenti mengalir.
Sementara Jagra, di tepi sungai bersama ayahnya, menarik jaring dengan tangan yang kasar oleh air dan lumpur.
Mereka semua menjalani hari masing-masing.
Mereka semua membawa luka masing-masing.
Tetapi jauh di Desa Wanasari, sebuah gerobak buku berdiri diam di gudang sekolah.
Gerobak itu menunggu roda-rodanya kembali bergerak.
Dan lebih dari itu, gerobak itu menunggu empat sahabat yang pernah memberi nama pada langit—untuk menemukan jalan pulang kepada persahabatan mereka sendiri.
BAB 13 — BANJIR DARI HULU SUNGAI
Hujan mulai turun pada suatu sore yang kelabu.
Mula-mula hanya gerimis tipis yang jatuh di atas atap rumah-rumah Desa Wanasari. Warga tidak terlalu memedulikannya. Musim hujan memang sering datang membawa langit gelap, jalan becek, dan sungai yang berubah warna menjadi kecokelatan.
Namun, sore itu gerimis tidak berhenti.
Malam datang, tetapi hujan justru semakin deras.
Air menghantam atap seng seperti ribuan jari yang mengetuk tanpa henti. Angin bergerak di antara pepohonan. Daun-daun pisang menunduk diterpa hujan. Jalan tanah yang biasanya kering berubah menjadi lumpur.
Di rumah keluarga Jagra, ayahnya berdiri di depan pintu sambil memandang ke arah sungai.
Wajahnya tegang.
“Airnya naik,” katanya.
Jagra yang sedang duduk di dekat lampu minyak segera berdiri.
“Naik banyak, Yah?”
Ayahnya tidak menjawab langsung.
Ia mengambil jas hujan lusuh yang tergantung di belakang pintu.
“Ibu, saya ke sungai sebentar.”
Ibu Jagra keluar dari dapur.
“Hujannya deras sekali. Jangan pergi malam-malam.”
“Jaring kita ada di dekat tepi. Kalau arus makin kuat, bisa hanyut.”
Jagra mengambil sandal.
“Aku ikut, Yah.”
“Tidak usah.”
“Tapi aku bisa bantu.”
Ayahnya memandang Jagra beberapa saat.
Kemudian ia mengangguk.
“Pakai jaket. Jangan jauh dari Ayah.”
Mereka berjalan menembus hujan.
Jalan menuju sungai licin. Beberapa kali Jagra hampir terpeleset. Air hujan mengalir dari rambut ke wajahnya. Celana seragam lamanya yang ia pakai di rumah sudah basah sampai lutut.
Ketika mereka tiba di tepi sungai, Jagra terdiam.
Sungai Wanasari tidak lagi tampak seperti sungai yang biasa ia kenal.
Airnya berwarna cokelat pekat. Arusnya bergerak cepat, membawa ranting, daun, bahkan potongan kayu dari hulu. Permukaan air sudah hampir menyentuh tanah di dekat tempat perahu kecil mereka ditambatkan.
Jaring ikan milik ayahnya terlihat bergoyang keras.
“Pegang tali ini!” teriak ayahnya.
Jagra segera memegang tali perahu.
Ayahnya turun ke tepi sungai, mencoba menarik jaring yang mulai terseret arus.
Hujan membuat pandangan mereka kabur.
“Ayah, jangan terlalu dekat!” teriak Jagra.
“Jaringnya tersangkut!”
Ayahnya menarik lebih kuat.
Tiba-tiba, sebuah batang kayu besar hanyut dari arah hulu.
Batang itu menghantam sisi perahu kecil.
Perahu bergoyang keras.
Ayah Jagra kehilangan keseimbangan.
“Ayah!”
Jagra berusaha menarik tangan ayahnya.
Namun, tanah di tepi sungai sudah licin dan longsor kecil terjadi di bawah kaki mereka.
Ayah Jagra jatuh terduduk, lalu tubuhnya terbentur sisi perahu.
Ia mengerang kesakitan.
Jagra segera berlutut di sampingnya.
“Ayah! Ayah sakit?”
Ayahnya mencoba bangun, tetapi wajahnya meringis.
“Kakiku…”
Jagra melihat kaki ayahnya terkena sisi kayu perahu. Tidak ada luka besar yang terbuka, tetapi bagian betisnya tampak membengkak.
“Aku panggil Ibu!”
“Jangan tinggalkan Ayah sendiri.”
Jagra panik.
Hujan terus turun.
Air sungai semakin tinggi.
Di belakang mereka, jaring ikan mulai terlepas dari ikatannya.
Jagra ingin menyelamatkan jaring itu.
Ia ingin menarik perahu ke tempat aman.
Ia ingin membawa ayahnya pulang.
Namun, ia hanya memiliki dua tangan.
Akhirnya, ia memilih memegang tubuh ayahnya.
“Ayah, kita pulang.”
“Perahunya…”
“Biarkan saja.”
“Jaringnya…”
“Biarkan!”
Suara Jagra pecah oleh hujan.
Untuk pertama kalinya, ia melihat ayahnya tidak mampu melawan keadaan.
Mereka berjalan pulang perlahan.
Jagra menopang ayahnya dengan tubuhnya yang masih muda, tetapi dipaksa kuat. Setiap langkah terasa berat. Lumpur melekat di kaki mereka. Hujan membuat jalan seperti tidak memiliki ujung.
Ketika mereka tiba di rumah, ibu Jagra langsung menjerit melihat kondisi suaminya.
“Astaga! Apa yang terjadi?”
“Ayah jatuh,” kata Jagra.
Malam itu, beberapa tetangga datang membantu.
Pak Ramin, tetangga sebelah, membawa sepeda motor untuk mengantar ayah Jagra ke puskesmas pembantu. Seorang ibu membawa minyak urut. Yang lain membantu menutup jendela rumah karena angin mulai masuk dari celah-celah dinding.
Jagra duduk di sudut rumah dengan pakaian basah.
Tangannya masih gemetar.
Ia tidak tahu mana yang lebih membuatnya takut: kaki ayahnya yang terluka, perahu yang mungkin hanyut, atau jaring ikan yang tidak sempat diselamatkan.
Menjelang tengah malam, ayahnya pulang dari puskesmas pembantu.
Kakinya dibalut perban.
“Tidak patah,” kata Pak Ramin kepada ibu Jagra. “Tapi harus istirahat. Jangan dipakai bekerja dulu.”
Ibu Jagra mengangguk dengan wajah pucat.
Jagra mendengar semua itu dari balik pintu kamar.
Jangan dipakai bekerja dulu.
Kalimat itu terasa seperti kabar buruk yang lebih besar daripada hujan.
Ayahnya adalah orang yang setiap hari pergi ke sungai.
Ia mencari ikan, memeriksa jaring, memperbaiki perahu, dan menjual hasil tangkapan untuk membeli beras, minyak, serta kebutuhan sekolah Jagra.
Jika ayahnya tidak bisa bekerja, siapa yang akan mencari nafkah?
Hujan masih turun sampai pagi.
Ketika Jagra membuka pintu rumah, air sudah menggenangi halaman.
Beberapa ayam milik tetangga naik ke teras rumah. Anak-anak kecil digendong oleh orang tua mereka untuk menghindari genangan. Warga mulai berjalan dari rumah ke rumah, saling memberi kabar.
“Sungai sudah meluap!”
“Rumah Pak Leman kemasukan air!”
“Kolam ikan di belakang kebun rusak!”
Jagra segera berlari menuju kolam ikan keluarga mereka.
Kolam itu tidak terlalu besar.
Kolam sederhana di dekat sungai, dibuat dari tanah yang diperkuat dengan papan dan karung bekas. Di dalamnya, keluarga Jagra memelihara ikan untuk tambahan penghasilan.
Namun, ketika ia tiba di sana, Jagra berhenti.
Tangannya mengepal.
Tanggul kolam telah jebol.
Air dari sungai masuk membawa lumpur.
Ikan-ikan yang selama ini mereka pelihara sudah tidak terlihat. Sebagian mungkin hanyut. Sebagian mungkin mati tertimbun lumpur. Karung-karung penahan tanggul berserakan. Papan-papan kayu patah. Di dekat pohon kecil, jaring mereka tersangkut dalam keadaan robek.
Jagra berjalan ke tengah lumpur.
Kakinya tenggelam sampai mata kaki.
Ia memungut satu jaring yang masih tersisa.
Jaring itu koyak di beberapa bagian.
Ia menariknya perlahan.
Di dalamnya, hanya ada beberapa ikan kecil yang sudah mati.
Jagra memegang jaring itu erat.
Dadanya sesak.
Semua yang mereka kerjakan berbulan-bulan seakan hilang dalam satu malam.
Di kejauhan, ia mendengar suara ibunya memanggil.
“Jagra! Pulang! Jangan di situ!”
Namun, Jagra tidak segera bergerak.
Ia menatap sungai yang masih meluap.
Airnya terus mengalir seolah tidak tahu bahwa di tepinya ada keluarga yang baru kehilangan sumber penghidupan.
Menjelang siang, hujan mulai sedikit mereda.
Warga bergotong royong membantu rumah-rumah yang kemasukan air. Ada yang membawa ember. Ada yang memindahkan barang ke tempat lebih tinggi. Ada yang memasak di dapur umum sederhana.
Rantaka datang bersama beberapa pemuda dari desa.
Ia membawa karung pasir kecil dan membantu menahan aliran air di dekat rumah warga.
Ketika melihat Jagra berdiri di dekat kolam yang rusak, Rantaka berhenti.
Jagra menoleh.
Mereka saling memandang.
Tidak ada senyum.
Tidak ada sapaan hangat.
Masih ada luka dari pertengkaran tentang sepeda Banyu.
Namun, melihat keadaan kolam itu, Rantaka tidak sanggup hanya diam.
“Kolamnya jebol?” tanyanya pelan.
Jagra mengangguk.
“Semua ikan hilang.”
Rantaka memandang tanggul yang rusak.
“Ayahmu bagaimana?”
“Luka. Tidak bisa ke sungai.”
Rantaka menarik napas.
“Aku ikut bantu bersihkan nanti.”
Jagra menatapnya.
“Aku tidak minta bantuan.”
Kalimat itu terdengar keras.
Tetapi kali ini, Rantaka tidak tersinggung.
Ia tahu Jagra sedang marah kepada dunia, bukan hanya kepada dirinya.
“Aku tahu,” kata Rantaka. “Tapi aku tetap akan bantu.”
Jagra tidak menjawab.
Rantaka lalu berjalan ke arah warga lain yang sedang membawa karung pasir.
Tidak lama kemudian, Banyu datang dari jalan desa.
Ia berjalan kaki sambil membawa tas kecil di punggungnya. Wajahnya tampak canggung ketika melihat Jagra.
Banyu sudah mendengar kabar banjir dari Pak Hendra di kecamatan.
Ia ingin datang sejak pagi.
Namun, ia tidak tahu apakah Jagra akan mau melihatnya.
Ketika sampai di dekat kolam, Banyu berhenti beberapa langkah dari Jagra.
“Jag,” katanya pelan.
Jagra tidak menoleh.
Banyu memandang kolam yang rusak.
“Aku dengar banjirnya besar.”
Jagra tetap diam.
“Aku ikut bantu kalau kau mau.”
Jagra tertawa kecil, tetapi suaranya pahit.
“Semua orang tiba-tiba mau bantu setelah semuanya habis.”
Banyu menunduk.
Ia tahu ia tidak berhak membela diri.
Namun, ia juga tahu kata-kata Jagra lahir dari rasa kehilangan yang jauh lebih besar daripada pertengkaran mereka.
Liris datang kemudian bersama Bu Laras.
Mereka membawa beberapa bungkus makanan dan pakaian kering dari warga sekolah.
Bu Laras langsung menemui ibu Jagra.
Liris berdiri tidak jauh dari Jagra.
Ia ingin mengatakan sesuatu.
Namun, melihat sahabatnya memegang jaring robek dengan wajah yang penuh lumpur, ia hanya bisa berkata, “Aku turut sedih.”
Jagra mengangkat wajah.
Matanya merah.
“Sedih tidak akan membuat ikan-ikan itu kembali.”
Liris terdiam.
Ia tidak marah.
Ia tahu Jagra sedang kehilangan banyak hal sekaligus.
Ayahnya terluka.
Perahu mereka rusak.
Jaring mereka hanyut.
Kolam mereka jebol.
Dan sekarang, mungkin, Jagra merasa sekolah adalah sesuatu yang terlalu jauh untuk dipikirkan.
Sore hari, air mulai surut perlahan.
Namun, jejak banjir tertinggal di mana-mana.
Lumpur menempel di dinding rumah. Sampah dan ranting tersangkut di pagar. Jalan tanah berubah menjadi kubangan. Beberapa warga masih membersihkan halaman.
Di rumah Jagra, ayahnya berbaring dengan kaki diperban.
Jagra duduk di dekat pintu.
Ibu Jagra sedang menghitung uang yang tersisa di dalam kaleng kecil.
Tidak banyak.
Jagra melihatnya.
“Bu,” katanya pelan, “besok aku tidak usah sekolah dulu.”
Ibunya menoleh.
“Kenapa?”
“Aku bantu di rumah. Aku bisa ke sungai kalau air sudah surut. Aku bisa perbaiki jaring. Aku bisa cari ikan.”
Ibu Jagra menatap anaknya lama.
“Kau tetap sekolah.”
“Tapi Ayah tidak bisa kerja.”
“Kita pikirkan nanti.”
“Tidak ada yang bisa dipikirkan, Bu.”
Suara Jagra meninggi.
Ia segera menunduk, menyesal telah berbicara keras.
Ibu Jagra tidak marah.
Ia hanya memandang kaleng uang di tangannya.
“Sekolahmu penting,” katanya lirih.
Jagra menatap ayahnya yang terbaring.
Ayahnya membuka mata.
“Jag,” panggilnya pelan.
Jagra mendekat.
“Kau jangan berhenti sekolah hanya karena banjir,” kata ayahnya.
Jagra menggigit bibir.
“Tapi kita kehilangan semuanya.”
“Kita belum kehilangan semuanya.”
“Apa yang masih kita punya?”
Ayahnya menatapnya.
“Kita masih punya tangan. Kita masih punya rumah. Kita masih punya orang-orang yang mau membantu.”
Jagra menggeleng.
“Tidak cukup, Yah.”
Ayahnya terdiam.
Di luar rumah, suara air masih terdengar dari kejauhan.
Sungai Wanasari tetap mengalir.
Namun, bagi Jagra, sungai itu tidak lagi hanya tempat mencari ikan.
Sungai itu telah membawa sebuah ujian besar ke dalam rumahnya.
Malam itu, Jagra duduk sendirian di teras.
Ia memandangi langit yang mulai terbuka setelah hujan panjang.
Tidak ada bintang yang terlihat.
Hanya awan gelap yang bergerak perlahan.
Di dalam dirinya, sebuah keputusan mulai tumbuh.
Ia belum mengucapkannya kepada siapa pun.
Namun, ia mulai merasa bahwa sekolah mungkin bukan lagi tempat yang bisa ia pertahankan.
Sebab ketika keluarga sedang tenggelam dalam kesulitan, mimpi kadang terasa seperti sesuatu yang terlalu jauh untuk dijangkau.
BAB 14 — HARGA SERAGAM DAN HARGA SEBUAH MIMPI
Seminggu setelah banjir surut, Desa Wanasari mulai mencoba berdiri kembali.
Lumpur di halaman rumah perlahan dibersihkan. Papan-papan yang hanyut dikumpulkan. Jaring-jaring yang robek dijemur di bawah matahari. Warga yang rumahnya kemasukan air mulai menata kembali tikar, pakaian, dan perabot yang masih bisa digunakan.
Namun, bagi keluarga Jagra, keadaan belum benar-benar membaik.
Kolam ikan mereka masih rusak.
Tanggulnya jebol di beberapa bagian. Lumpur menutup dasar kolam. Sebagian papan penahan air patah. Ikan-ikan yang tersisa tidak cukup untuk dijual. Perahu kecil mereka masih terikat di tepi sungai dalam keadaan miring, dengan sisi kayu yang retak akibat hantaman batang pohon.
Ayah Jagra juga belum bisa bekerja seperti biasa.
Kakinya memang tidak patah, tetapi bengkaknya belum sepenuhnya hilang. Ia masih berjalan pincang. Setiap kali mencoba berdiri terlalu lama, wajahnya akan menahan sakit.
Pagi itu, Jagra membantu ibunya menjemur jaring di halaman.
Matahari sudah mulai terasa panas, tetapi udara masih menyimpan bau lumpur dari sisa banjir.
“Pelan-pelan,” kata ibunya. “Jaring itu jangan ditarik terlalu kuat. Masih ada bagian yang putus.”
Jagra mengangguk.
Ia memeriksa satu per satu simpul yang rusak.
Tangannya bergerak cepat, tetapi pikirannya tidak berada di sana.
Besok ia harus masuk sekolah.
Sudah tiga hari ia tidak datang.
Pada hari pertama, ia membantu membersihkan rumah dan mengangkat barang-barang yang basah.
Hari kedua, ia menemani ayahnya ke puskesmas pembantu untuk kontrol.
Hari ketiga, ia membantu ibu mencari kayu dan memperbaiki bagian dapur yang bocor.
Setiap hari, ia berkata kepada dirinya sendiri bahwa besok ia akan kembali ke sekolah.
Namun, setiap malam, ketika melihat ibu menghitung uang di dalam kaleng kecil, ia merasa langkah menuju sekolah semakin berat.
Di atas meja kayu dekat dapur, seragam sekolahnya tergantung.
Seragam itu sudah mulai sempit di bagian lengan.
Warna putihnya tidak lagi benar-benar putih. Bagian kerahnya sedikit menguning. Celana birunya memiliki jahitan di lutut karena pernah robek saat ia jatuh di jalan.
Sepatu hitamnya juga sudah lama rusak.
Sol bagian depan mulai terbuka. Jika hujan turun, air mudah masuk ke dalamnya.
Jagra memandangi seragam itu.
Dulu, ia tidak terlalu memikirkan pakaian sekolah.
Ia hanya mengenakannya, lalu berangkat bersama Rantaka, Liris, dan Banyu.
Namun, sejak masuk SMP di kecamatan, ia mulai sadar bahwa banyak hal bisa menjadi pembeda.
Ada siswa yang memiliki seragam baru setiap tahun.
Ada yang memakai sepatu bersih dengan lambang sekolah yang masih mengilap.
Ada yang membawa tas baru, buku lengkap, dan uang saku lebih banyak.
Sementara ia, sering datang dengan seragam yang sama, sepatu yang mulai rusak, dan uang saku yang hanya cukup untuk membeli air minum.
Selama ini, ia berusaha tidak peduli.
Tetapi setelah banjir, rasa malu itu menjadi semakin sulit disembunyikan.
Siang hari, Rantaka datang ke rumah Jagra.
Ia membawa beberapa buku catatan dan tugas sekolah yang dititipkan wali kelas.
Jagra sedang duduk di teras sambil menjahit jaring.
Ketika melihat Rantaka datang, ia tidak langsung tersenyum.
“Ada apa?” tanyanya.
“Aku membawa tugas dari sekolah.”
Rantaka menyerahkan buku-buku itu.
“Pak Arman bilang kau harus mengejar pelajaran yang tertinggal.”
Jagra menerima buku itu, tetapi tidak membukanya.
“Terima kasih.”
Rantaka berdiri canggung.
“Ayahmu bagaimana?”
“Masih sakit.”
“Kolamnya?”
“Masih rusak.”
Rantaka mengangguk pelan.
Beberapa saat, mereka hanya mendengar suara jaring yang ditarik dan suara ayam di halaman.
“Aku dengar sekolah akan mengadakan kegiatan akhir semester,” kata Rantaka akhirnya. “Ada iuran untuk perlengkapan dan latihan.”
Jagra menatapnya.
“Berapa?”
“Tidak banyak,” jawab Rantaka hati-hati. “Tapi tetap harus dibayar.”
Jagra tertawa pendek.
“Tidak banyak bagi siapa?”
Rantaka terdiam.
Ia sadar jawabannya salah.
“Maaf,” katanya.
Jagra menunduk kembali pada jaring.
“Aku tidak tahu kapan bisa kembali sekolah.”
“Kau harus kembali, Jag.”
“Kau tidak mengerti.”
“Aku mungkin tidak mengerti semuanya. Tapi aku tahu kau tidak boleh berhenti.”
Jagra menarik simpul jaring lebih keras.
“Kalau aku sekolah, siapa yang membantu Ibu? Siapa yang memperbaiki kolam? Siapa yang ke sungai kalau Ayah belum bisa berjalan?”
“Kita bisa cari cara.”
“Cara apa?”
Rantaka tidak segera menjawab.
Jagra menatapnya dengan mata lelah.
“Kau datang membawa tugas sekolah, seolah tugas itu lebih penting daripada rumahku yang masih bau lumpur.”
“Aku tidak bilang begitu.”
“Tapi kau tidak tahu bagaimana rasanya melihat Ibu menyimpan uang receh untuk membeli beras. Kau tidak tahu bagaimana rasanya mendengar Ayah mengerang kesakitan saat malam.”
Rantaka menunduk.
Ia memang tidak tahu.
Ia pernah mengalami kesulitan, tetapi kesulitan setiap orang memiliki bentuk yang berbeda.
“Aku hanya tidak ingin kau menyerah,” katanya pelan.
Jagra kembali menunduk.
“Kadang menyerah bukan karena tidak ingin berjuang,” katanya. “Kadang menyerah karena tidak ada pilihan lain.”
Rantaka pulang tanpa banyak kata.
Di sepanjang jalan, ia merasa semakin memahami bahwa luka Jagra tidak dapat diselesaikan hanya dengan kalimat-kalimat penyemangat.
Keesokan harinya, Jagra memutuskan tetap pergi ke sekolah.
Bukan karena ia sudah menemukan jalan keluar.
Bukan karena masalah keluarganya selesai.
Ia pergi karena ingin mengambil beberapa buku dan berbicara dengan wali kelas.
Ia mengenakan seragamnya yang sudah lama.
Ia menjahit kembali bagian lengan yang robek dengan benang putih seadanya. Sepatunya ia bersihkan, lalu bagian sol yang terbuka ia ikat dengan tali plastik tipis.
Ketika berjalan menuju sekolah, ia berusaha tidak memandang sepatu siswa lain.
Namun, saat sampai di halaman SMP, ia melihat beberapa anak sedang berbicara sambil tertawa.
Salah satu dari mereka menatap sepatunya.
“Itu sepatu atau sandal?” kata seorang siswa sambil terkekeh.
Temannya ikut melihat.
“Kalau hujan, pasti langsung jadi kolam.”
Jagra tidak membalas.
Ia hanya berjalan lebih cepat menuju kelas.
Di dalam kelas, Liris melihatnya datang.
Wajahnya tampak lega.
“Jag, kau masuk.”
Jagra mengangguk singkat.
Banyu yang duduk di dekat jendela juga menoleh.
Ia seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak jadi.
Hubungan mereka masih belum pulih sejak masalah sepeda.
Rantaka datang beberapa menit kemudian.
Ia melihat Jagra duduk di bangku belakang dengan wajah tertutup buku.
“Bagaimana rumahmu?” tanya Rantaka pelan.
“Masih sama.”
Bel masuk berbunyi.
Pelajaran berjalan seperti biasa.
Namun, Jagra tidak dapat berkonsentrasi.
Di dalam tasnya, ada surat pemberitahuan iuran kegiatan sekolah. Ia sudah membaca surat itu berkali-kali sejak semalam.
Jumlah uang yang tertulis mungkin tidak besar bagi sebagian siswa.
Tetapi bagi keluarganya, uang itu bisa digunakan membeli beras untuk beberapa hari.
Saat jam terakhir, wali kelas masuk membawa daftar nama.
“Anak-anak,” katanya, “saya ingin mengingatkan tentang iuran kegiatan akhir semester. Bagi yang belum membayar, harap segera menyelesaikan paling lambat akhir minggu ini.”
Beberapa siswa mengangguk.
Wali kelas melihat daftar di tangannya.
“Untuk yang namanya saya panggil, setelah pelajaran selesai silakan menemui saya di ruang guru.”
Jagra merasa dadanya mulai tidak tenang.
Wali kelas menyebut beberapa nama.
Lalu nama Jagra terdengar.
“Jagra.”
Beberapa kepala menoleh.
Jagra menunduk.
Wali kelas melanjutkan menyebut nama lain.
Namun, bagi Jagra, suara-suara setelah itu terdengar jauh.
Ia hanya mendengar namanya sendiri berulang di kepala.
Jagra.
Ketika bel pulang berbunyi, siswa lain mulai berkemas.
Jagra tetap duduk beberapa saat.
Rantaka mendekat.
“Kau dipanggil?”
Jagra mengangguk.
“Aku ikut?”
“Tidak usah.”
“Aku bisa menunggu di luar.”
“Aku bilang tidak usah.”
Rantaka mundur pelan.
Jagra berjalan menuju ruang guru.
Di dalam ruangan, wali kelas sedang duduk bersama bendahara sekolah.
Ada dua siswa lain yang juga dipanggil.
Wali kelas memandang Jagra dengan wajah yang tidak bermaksud menyakiti, tetapi tetap membuatnya merasa kecil.
“Jagra, kami memahami bahwa beberapa siswa mungkin mengalami kesulitan,” kata wali kelas. “Namun, kegiatan sekolah tetap membutuhkan biaya.”
Jagra menatap lantai.
“Saya belum punya uangnya, Bu.”
“Kapan kira-kira bisa dibayar?”
Jagra tidak menjawab.
Bendahara sekolah membuka catatan.
“Selain iuran kegiatan, ada juga beberapa kebutuhan seragam yang harus diperbarui. Minggu depan sekolah akan melakukan pemeriksaan kerapian.”
Jagra menatap seragamnya sendiri.
Ia tahu apa yang dimaksud.
“Seragam kamu sudah cukup lama, ya?” tanya wali kelas.
Jagra menggigit bibir.
“Iya, Bu.”
“Kalau bisa, nanti diganti atau diperbaiki lebih rapi.”
Kalimat itu terdengar biasa.
Namun, di telinga Jagra, kalimat itu seperti tamparan.
Ia merasa semua orang di ruangan itu sedang melihat jahitan di lengannya, sepatu yang diikat plastik, dan celana yang mulai pudar.
“Saya akan usahakan,” katanya.
“Baik,” jawab wali kelas. “Kami tunggu sampai akhir minggu.”
Jagra keluar dari ruang guru dengan langkah cepat.
Di lorong, ia mendengar beberapa siswa berbicara.
“Kalau tidak punya uang, kenapa ikut sekolah di sini?”
“Katanya rumahnya kena banjir.”
“Ya, kasihan juga sih.”
Kata kasihan membuat Jagra berhenti.
Ia tidak tahu apakah mereka sedang membicarakannya atau orang lain.
Tetapi ia tidak ingin menoleh.
Ia tidak ingin memastikan.
Ia berjalan menuju halaman belakang sekolah, lalu duduk di bawah pohon mangga.
Tangannya menggenggam surat iuran sampai kertas itu kusut.
Tidak lama kemudian, Liris datang.
Ia berdiri beberapa langkah di depan Jagra.
“Aku dengar kau dipanggil ke ruang guru.”
Jagra tidak menjawab.
Liris duduk di sampingnya.
“Kalau soal iuran, mungkin kita bisa bicara dengan Bu Laras. Atau kita cari bantuan dari sekolah.”
Jagra menoleh tajam.
“Bantuan lagi?”
Liris terdiam.
“Aku tidak bermaksud—”
“Aku tidak mau semua orang tahu aku tidak mampu membayar.”
“Tidak ada yang bilang kau tidak mampu.”
“Semua orang sudah tahu.”
Suara Jagra meninggi.
Liris menunduk.
Jagra segera merasa bersalah, tetapi ia tidak mampu menahan kemarahannya.
“Maaf,” katanya, lebih pelan. “Aku hanya… aku tidak ingin dikasihani.”
Liris memandangnya.
“Aku tidak mengasihanimu, Jag.”
“Lalu apa?”
“Aku peduli.”
Jagra mengalihkan wajah.
Kata itu mengingatkannya pada pertengkaran Rantaka dan Liris.
Ia tahu perbedaan antara dikasihani dan dipedulikan.
Tetapi saat harga diri sedang terluka, keduanya terasa sama menyakitkannya.
Sore hari, Jagra pulang ke rumah.
Ia berjalan lebih lambat dari biasanya.
Sesampainya di rumah, ia melihat ibunya sedang duduk di dapur dengan wajah lelah. Di hadapannya ada beberapa uang receh dan dua lembar uang kertas.
Ibu Jagra sedang menghitungnya.
“Ada apa, Bu?” tanya Jagra.
“Tidak apa-apa.”
“Uang untuk apa?”
Ibunya tersenyum tipis.
“Untuk kebutuhan rumah.”
Jagra melihat kaleng kecil di samping ibunya.
Kaleng itu hampir kosong.
Ia teringat surat iuran yang masih ada di dalam tas.
Ia teringat seragamnya.
Ia teringat kata-kata siswa di lorong.
Kalau tidak punya uang, kenapa ikut sekolah di sini?
Malam itu, ayah Jagra duduk di teras dengan kaki masih diperban.
Jagra keluar membawa segelas air.
Ia menyerahkannya kepada ayahnya.
“Ayah,” katanya pelan.
Ayahnya menerima gelas itu.
“Ada apa?”
Jagra duduk di sebelahnya.
Beberapa saat ia tidak berbicara.
Lalu akhirnya ia berkata, “Aku mau berhenti sekolah.”
Ayahnya menoleh.
“Apa?”
“Aku mau bantu Ayah dan Ibu. Aku bisa cari ikan. Aku bisa perbaiki kolam. Aku bisa ikut kerja apa saja.”
Ayahnya memandangnya lama.
“Karena iuran sekolah?”
“Bukan cuma itu.”
“Karena seragam?”
“Bukan cuma itu.”
“Karena kau malu?”
Jagra menunduk.
Ayahnya menghela napas panjang.
“Jag, sekolah bukan hanya untuk orang yang punya seragam baru.”
“Tapi sekolah juga butuh uang.”
“Kita cari jalan.”
“Jalan apa, Yah?”
Ayahnya terdiam.
Di rumah kecil itu, tidak ada jawaban yang mudah.
Tidak ada uang yang tiba-tiba muncul.
Tidak ada kolam ikan yang langsung pulih.
Tidak ada perahu yang kembali utuh.
Jagra memandang kaki ayahnya yang masih dibalut perban.
“Ayah tidak bisa ke sungai. Ibu sudah terlalu lelah. Aku tidak bisa duduk di kelas sementara kalian berjuang sendiri.”
Ayahnya memegang bahu Jagra.
“Tapi kalau kau berhenti sekolah, nanti kau akan menyesal.”
“Lebih baik aku menyesal daripada melihat kalian kesulitan.”
Ayahnya menatap langit malam.
“Dulu Ayah juga pernah berpikir begitu,” katanya pelan. “Ayah berhenti sekolah karena ingin membantu kakekmu. Waktu itu Ayah merasa keputusan itu benar. Tapi sampai sekarang, setiap kali ada surat yang harus dibaca atau urusan yang tidak Ayah pahami, Ayah selalu merasa ada bagian dari hidup yang tertinggal.”
Jagra diam.
“Ayah tidak ingin kau mengulanginya.”
“Aku tidak punya pilihan.”
“Kau selalu punya pilihan.”
“Tidak semua pilihan bisa diambil orang miskin, Yah.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Setelah mengucapkannya, Jagra langsung menunduk.
Ia tidak ingin menyakiti ayahnya.
Namun, ayahnya tidak marah.
Ia hanya terlihat sangat lelah.
“Kalau begitu,” kata ayahnya perlahan, “jangan ambil keputusan malam ini.”
Jagra menggeleng.
“Aku sudah memikirkannya.”
“Kau masih marah. Kau masih malu. Jangan biarkan kemarahan dan malu menentukan masa depanmu.”
Jagra berdiri.
Ia masuk ke kamar tanpa menjawab.
Di dalam kamar, ia membuka tas sekolahnya.
Ia mengeluarkan buku-buku.
Buku matematika.
Buku Bahasa Indonesia.
Buku catatan IPA.
Lalu surat iuran yang sudah kusut.
Ia menatap semuanya.
Di sudut meja, seragam sekolahnya tergantung.
Di bawahnya, sepatu yang diikat tali plastik tergeletak diam.
Jagra duduk di tepi tempat tidur.
Air matanya jatuh perlahan.
Ia tidak menangis karena tidak ingin sekolah.
Ia masih ingin belajar.
Ia masih ingin duduk bersama sahabat-sahabatnya.
Ia masih ingin membantu Gerobak Buku Langit Biru berjalan lagi.
Ia masih ingin menjadi orang yang bisa membangun usaha perikanan untuk keluarganya.
Tetapi malam itu, semua mimpi itu terasa memiliki harga yang terlalu mahal.
Dan di dalam hati yang penuh luka, Jagra mulai meyakini bahwa satu-satunya cara menyelamatkan keluarganya adalah meninggalkan sekolah—meski itu berarti meninggalkan sebagian dari dirinya sendiri.
BAB 15 — RAHASIA DI BALIK UANG TABUNGAN
Pagi di rumah Pakde Wirya selalu dimulai sebelum matahari benar-benar terbit.
Saat langit masih berwarna abu-abu, dapur sudah dipenuhi aroma minyak panas, kopi hitam, dan bawang yang ditumis. Di halaman belakang, ayam-ayam berkokok bersahutan. Dari warung kecil di depan rumah, terdengar suara pintu kayu dibuka dan ditutup.
Rantaka sudah terbiasa bangun lebih awal.
Ia membantu menyapu halaman, mengangkat galon air, menyusun minuman botol di dalam lemari kaca, lalu menyiapkan meja kecil untuk pembeli yang biasa datang sebelum berangkat ke ladang atau ke pasar.
Namun, pagi itu pikirannya tidak tenang.
Sejak mendengar kabar tentang banjir yang menghancurkan kolam ikan keluarga Jagra, ia terus memikirkan sahabatnya.
Ia teringat wajah Jagra saat berdiri di dekat kolam yang jebol.
Ia teringat jaring robek yang digenggam Jagra dengan tangan berlumpur.
Ia juga teringat kata-kata Jagra ketika Rantaka datang membawa tugas sekolah.
Kadang menyerah bukan karena tidak ingin berjuang. Kadang menyerah karena tidak ada pilihan lain.
Kalimat itu terus tinggal di kepala Rantaka.
Setelah membantu Pakde Wirya membuka warung, Rantaka masuk ke kamar kecil yang ia tempati di bagian belakang rumah.
Kamar itu sederhana.
Ada satu tempat tidur kayu, sebuah meja belajar, lemari kecil, dan jendela yang menghadap ke kebun pisang. Di atas meja, buku-buku pelajarannya tersusun rapi, meski beberapa di antaranya sudah mulai lusuh.
Di bawah tempat tidur, Rantaka menyimpan sebuah kaleng biskuit bekas.
Kaleng itu tidak terlalu besar.
Cat pada bagian luarnya sudah pudar. Gambar biskuit yang dulu berwarna cerah kini hampir tidak terlihat. Tutupnya sedikit penyok karena pernah terinjak saat Rantaka terburu-buru membereskan kamar.
Di dalam kaleng itulah ia menyimpan uang tabungannya.
Uang itu bukan berasal dari satu sumber.
Sebagian adalah uang saku yang tidak ia habiskan.
Sebagian lagi berasal dari upah kecil ketika ia membantu Pakde Wirya mengantar barang ke pasar atau menjaga warung pada sore hari.
Ada juga uang yang dikirim ibunya dari Desa Wanasari, meski jumlahnya tidak banyak.
Rantaka menyimpan uang itu untuk keperluan sekolah.
Ia ingin membeli buku pelajaran tambahan.
Ia ingin mengganti sepatu yang mulai sempit.
Ia juga ingin memiliki seragam baru ketika naik kelas nanti.
Namun, sejak Jagra berkata ingin berhenti sekolah, uang itu terasa memiliki arti lain.
Rantaka membuka kaleng biskuit itu.
Di dalamnya terdapat beberapa lembar uang yang dilipat rapi, sejumlah uang receh, dan secarik kertas kecil bertuliskan:
Tabungan Sekolah Rantaka
Ia menghitung uang itu pelan-pelan.
Tidak banyak.
Tetapi cukup untuk membantu membayar iuran kegiatan sekolah Jagra.
Mungkin juga cukup untuk membeli bahan seragam bekas yang masih layak.
Rantaka menatap uang itu cukup lama.
Ia tahu Jagra mungkin tidak akan mau menerimanya.
Jagra selalu keras kepala jika menyangkut harga diri.
Namun, Rantaka tidak sanggup hanya melihat sahabatnya meninggalkan sekolah.
Ia mengambil sebagian uang tabungannya dan memasukkannya ke dalam amplop cokelat.
Lalu ia menulis nama Jagra di bagian depan.
Namun, sebelum ia sempat menutup amplop itu, suara Pakde Wirya terdengar dari luar.
“Rantaka! Tolong antar gula ini ke rumah Bu Murni!”
“Iya, Pakde!”
Rantaka segera memasukkan amplop ke dalam laci meja.
Kaleng biskuit itu ia dorong kembali ke bawah tempat tidur.
Hari itu, setelah pulang sekolah, Rantaka berencana pergi ke Desa Wanasari.
Ia ingin menemui Jagra.
Ia ingin mengatakan bahwa bantuan bukan berarti mengasihani.
Ia ingin mengatakan bahwa sahabat tidak seharusnya membiarkan sahabat lain berjuang sendirian.
Namun, sebelum rencana itu terjadi, sebuah hal lain lebih dahulu membuka rahasia yang selama ini tidak diketahui Rantaka.
Menjelang siang, seorang perempuan datang ke warung Pakde Wirya.
Ia mengenakan kerudung sederhana berwarna cokelat muda. Sandalnya masih terlihat basah oleh lumpur jalan desa. Di tangannya, ia membawa tas kain yang tampak sudah lama dipakai.
Rantaka yang sedang menyusun mie instan di rak langsung menoleh.
“Ibu?”
Perempuan itu tersenyum.
“Rantaka.”
Rantaka segera menghampiri.
Ibunya, Sari Wening, datang dari Desa Wanasari.
Wajahnya tampak lelah, tetapi ia tetap berusaha tersenyum.
“Kok Ibu datang tidak bilang-bilang?”
“Ibu sekalian ada urusan ke pasar kecamatan,” jawabnya. “Jadi mampir melihatmu.”
Rantaka memeluk ibunya.
Ia mencium tangan ibunya dengan hormat.
“Bagaimana di rumah?”
“Baik.”
Jawaban itu terdengar terlalu singkat.
Rantaka memperhatikan wajah ibunya.
Ada sesuatu yang berbeda.
Tangannya tampak lebih kurus. Di pergelangan tangannya, tidak ada gelang kecil yang biasanya selalu dipakai sejak Rantaka kecil.
Gelang itu bukan barang mahal.
Hanya gelang perak sederhana peninggalan nenek Rantaka.
Namun, ibunya selalu memakainya.
“Ibu, gelang Ibu mana?” tanya Rantaka.
Ibunya refleks menutup pergelangan tangannya dengan ujung lengan baju.
“Tidak apa-apa. Ibu simpan.”
“Disimpan di mana?”
“Di rumah.”
Rantaka menatap ibunya.
“Ibu bohong.”
Sari Wening terdiam.
Pakde Wirya yang sedang duduk di dekat meja kasir memandang ke arah mereka, lalu perlahan berdiri.
“Rantaka,” katanya hati-hati, “bantu Pakde ambil kardus di belakang dulu.”
Namun, Rantaka tidak bergerak.
“Ibu menjual gelang itu?”
Ibunya menunduk.
Suasana warung tiba-tiba terasa sunyi.
Beberapa pembeli yang sedang memilih barang tidak memperhatikan percakapan mereka. Namun, bagi Rantaka, seolah seluruh dunia sedang berhenti.
“Ibu menjualnya untuk apa?” tanyanya lagi.
Sari Wening menarik napas pelan.
“Untuk kebutuhan.”
“Kebutuhan apa?”
Ibunya tidak langsung menjawab.
Rantaka mulai merasa takut.
“Untuk rumah? Untuk Ayah?”
Sari Wening menggeleng.
“Untuk sekolahmu.”
Rantaka terdiam.
“Untuk sekolahku?”
“Ibu tahu kamu butuh buku tambahan. Pakde Wirya pernah bilang sepatu kamu mulai sempit. Ibu juga dengar ada biaya kegiatan sekolah yang harus disiapkan.”
Rantaka memandang wajah ibunya.
“Jadi Ibu menjual gelang Nenek untuk itu?”
“Ibu hanya ingin kamu tetap sekolah dengan tenang.”
“Tapi itu satu-satunya barang dari Nenek.”
“Ibu tahu.”
“Kenapa tidak bilang kepadaku?”
“Karena Ibu tidak ingin kamu merasa terbebani.”
Rantaka menunduk.
Dadanya terasa sesak.
Selama ini ia mengira uang yang sesekali dikirim ibunya berasal dari hasil menjual sayur, membantu tetangga, atau pekerjaan kecil lain yang dilakukan ibunya.
Ia tidak tahu bahwa di balik uang itu ada sesuatu yang jauh lebih berharga.
Ada kenangan.
Ada pengorbanan.
Ada benda peninggalan keluarga yang dijual agar ia dapat tetap duduk di bangku sekolah.
“Ibu seharusnya tidak melakukan itu,” katanya dengan suara bergetar.
Sari Wening menyentuh bahu anaknya.
“Tidak ada yang lebih penting bagi Ibu selain masa depanmu.”
“Tapi aku tidak mau sekolah dengan uang dari gelang Nenek.”
“Rantaka.”
“Ibu sudah terlalu banyak berkorban.”
Ibunya tersenyum tipis.
“Anak yang sekolah bukan sedang membebani orang tuanya. Anak yang sekolah sedang membawa harapan keluarganya.”
Kalimat itu membuat mata Rantaka panas.
Ia berusaha menahan air mata, tetapi tidak berhasil.
Pakde Wirya yang melihat dari kejauhan memilih masuk ke dalam rumah, memberi mereka ruang.
Sari Wening mengusap kepala Rantaka.
“Kamu jangan berhenti sekolah hanya karena merasa bersalah. Kalau kamu belajar sungguh-sungguh, itu sudah menjadi balasan yang paling besar bagi Ibu.”
Rantaka mengangguk, meski hatinya masih penuh sesak.
Setelah ibunya pulang, ia kembali ke kamar.
Ia mengambil kaleng biskuit dari bawah tempat tidur.
Ia membuka tutupnya pelan.
Uang tabungan itu kini tidak lagi hanya terlihat seperti uang.
Di dalamnya, ia melihat tangan ibunya yang bekerja di dapur.
Ia melihat wajah ibunya yang menahan lelah.
Ia melihat gelang peninggalan nenek yang kini sudah tidak ada di pergelangan tangan ibunya.
Rantaka memegang amplop cokelat yang tadi ia siapkan untuk Jagra.
Ia tahu uang itu sebenarnya ia perlukan.
Namun, ia juga tahu bagaimana rasanya ketika keluarga harus mengorbankan sesuatu untuk pendidikan.
Ia tidak ingin Jagra berhenti sekolah hanya karena keluarganya sedang jatuh.
Sore itu, Rantaka meminta izin kepada Pakde Wirya untuk pulang ke Desa Wanasari.
Pakde Wirya memandangnya lama.
“Kau mau menemui Jagra?”
Rantaka mengangguk.
“Pakde sudah dengar tentang banjir itu.”
“Aku mau membantunya.”
Pakde Wirya menghela napas.
“Bantulah dengan cara yang tidak membuat dia merasa lebih kecil.”
Rantaka mengangguk.
Nasihat itu ia simpan dalam hati.
Perjalanan menuju Desa Wanasari terasa lebih panjang dari biasanya.
Jalan tanah masih becek di beberapa bagian. Bekas banjir masih terlihat di pinggir-pinggir jalan. Ada tumpukan ranting, karung pasir, dan papan kayu yang belum dipindahkan.
Ketika tiba di rumah Jagra, Rantaka melihat sahabatnya sedang memperbaiki jaring di halaman.
Jagra duduk di atas tikar tua.
Di sampingnya ada ember berisi tali, jarum besar, dan potongan jaring yang sudah tidak utuh.
Wajahnya tampak lebih keras daripada sebelumnya.
“Jag,” panggil Rantaka.
Jagra menoleh.
“Kau lagi.”
“Aku ingin bicara.”
“Kalau soal sekolah, aku sudah bilang.”
“Bukan hanya soal sekolah.”
Jagra kembali menunduk pada jaring.
Rantaka mendekat.
Ia duduk beberapa langkah dari Jagra.
Beberapa saat, tidak ada yang berbicara.
Suara sungai terdengar dari kejauhan.
Suara itu lebih pelan dibandingkan saat banjir, tetapi masih cukup kuat untuk mengingatkan mereka pada semua yang telah terjadi.
“Aku tahu kau sedang sulit,” kata Rantaka akhirnya.
Jagra tersenyum pahit.
“Kau baru tahu?”
“Aku tahu aku tidak bisa memahami semuanya.”
“Bagus. Setidaknya kau mulai mengerti.”
Rantaka menarik napas.
“Aku membawa sesuatu.”
Ia mengeluarkan amplop cokelat dari saku.
Jagra langsung melihat amplop itu.
“Apa itu?”
“Uang.”
Wajah Jagra berubah.
“Aku tidak butuh uangmu.”
“Dengar dulu.”
“Aku tidak perlu dengar.”
“Ini bukan uang untuk membuatmu merasa dikasihani.”
“Lalu untuk apa?”
“Untuk iuran sekolah. Untuk sementara. Kau bisa menggantinya kapan saja kalau sudah mampu.”
Jagra berdiri.
Jaring di tangannya jatuh ke tanah.
“Kau pikir aku mau berutang kepada sahabat sendiri?”
“Aku tidak bilang itu utang.”
“Itu lebih buruk.”
“Kenapa lebih buruk?”
“Karena kau ingin terlihat seperti penyelamat.”
Kalimat itu menghantam Rantaka.
“Aku tidak ingin menjadi penyelamat.”
“Tapi kau datang membawa amplop, seolah kau lebih baik dariku.”
“Aku datang karena aku tidak ingin kau berhenti sekolah!”
“Dan aku tidak ingin sekolah dengan uang belas kasihanmu!”
Suara mereka mulai meninggi.
Ibu Jagra yang berada di dapur sempat keluar, tetapi melihat dua anak itu, ia memilih kembali masuk dengan wajah cemas.
Rantaka berdiri.
“Ini bukan belas kasihan, Jag. Aku tahu rasanya keluarga berjuang agar anaknya tetap sekolah.”
“Kau tidak tahu apa-apa.”
“Ibuku menjual gelang peninggalan nenekku supaya aku bisa sekolah.”
Jagra terdiam.
Rantaka melanjutkan, suaranya bergetar.
“Aku baru tahu hari ini. Aku tahu uang itu bukan hal kecil. Aku tahu sekolah kadang terasa mahal. Tapi justru karena itu aku tidak mau melihatmu menyerah.”
Jagra memandang amplop di tangan Rantaka.
Sesaat, wajahnya tampak goyah.
Namun, kemudian ia menggeleng.
“Itu urusan keluargamu, Rantaka.”
“Dan ini urusan persahabatan kita.”
“Tidak. Ini urusanku.”
“Kau tidak harus menanggung semuanya sendiri.”
“Aku tidak meminta kau datang!”
“Kau memang tidak meminta. Tapi sahabat tidak selalu menunggu diminta.”
Jagra menatapnya tajam.
“Jangan bicara tentang sahabat kalau kau tidak pernah tahu bagaimana rasanya pulang ke rumah dan melihat ayahmu tidak bisa bekerja.”
Rantaka terdiam.
“Aku melihat Ibu menghitung uang receh setiap malam,” lanjut Jagra. “Aku melihat kolam kami hancur. Aku melihat Ayah berusaha tersenyum padahal kakinya sakit. Lalu kau datang membawa uang dan berkata semuanya bisa selesai.”
“Aku tidak bilang semuanya selesai.”
“Tapi kau membuatku merasa seperti orang yang tidak mampu menyelamatkan keluarganya sendiri.”
Rantaka menunduk.
Ia tidak pernah bermaksud demikian.
Namun, ia mulai memahami bahwa niat baik pun bisa melukai jika datang pada saat seseorang sedang kehilangan harga dirinya.
“Aku hanya ingin kau tetap sekolah,” katanya pelan.
Jagra mengambil amplop itu dari tangan Rantaka.
Untuk sesaat, Rantaka mengira Jagra akan menerimanya.
Namun, Jagra meletakkan amplop itu di atas tikar dengan keras.
“Ambil kembali.”
“Jag…”
“Ambil!”
Suara Jagra pecah.
Rantaka memandang sahabatnya.
Di mata Jagra, ada kemarahan.
Namun, di balik kemarahan itu, ada ketakutan yang jauh lebih besar.
Takut tidak mampu.
Takut menjadi beban.
Takut kehilangan masa depan.
Rantaka mengambil amplop itu perlahan.
Tangannya gemetar.
“Aku tidak akan memaksamu,” katanya.
“Bagus.”
“Tapi jangan bilang aku datang untuk merendahkanmu.”
Jagra tidak menjawab.
“Karena aku datang sebagai sahabatmu.”
Jagra memalingkan wajah.
“Kalau kau benar sahabatku, biarkan aku memilih jalanku sendiri.”
Kalimat itu membuat Rantaka terdiam.
Ia ingin membalas.
Ia ingin mengatakan bahwa jalan yang dipilih Jagra adalah jalan yang akan membuatnya menyesal.
Namun, ia teringat nasihat Pakde Wirya.
Bantulah dengan cara yang tidak membuat dia merasa lebih kecil.
Rantaka sadar, hari itu ia belum berhasil melakukannya.
Ia memasukkan amplop kembali ke dalam saku.
Lalu ia berjalan meninggalkan halaman rumah Jagra.
Langkahnya terasa berat.
Di belakangnya, Jagra kembali duduk di atas tikar.
Namun, ia tidak langsung melanjutkan memperbaiki jaring.
Ia hanya memandangi tanah.
Sementara itu, Rantaka berjalan melewati jalan desa dengan hati yang penuh marah dan sedih.
Ia marah karena Jagra menolak bantuannya.
Ia sedih karena sahabatnya memilih menjauh.
Tetapi lebih dari itu, ia takut.
Takut bahwa Jagra benar-benar akan berhenti sekolah.
Takut bahwa kelompok Langit Biru yang dulu mereka bangun dengan mimpi dan janji kini akan hancur karena masing-masing merasa harus berjuang sendiri.
Di rumah Pakde Wirya malam itu, Rantaka membuka kembali kaleng biskuitnya.
Ia memasukkan amplop cokelat ke dalamnya.
Lalu ia menutup kaleng itu rapat-rapat.
Namun, ia tidak mampu menutup perasaan bersalah di dalam dirinya.
Ia baru saja mengetahui bahwa ibunya menjual peninggalan nenek demi masa depannya.
Pada hari yang sama, ia mencoba menyelamatkan masa depan sahabatnya.
Tetapi yang terjadi justru sebaliknya.
Ia dan Jagra semakin jauh.
Dan di antara uang tabungan, seragam lusuh, kolam ikan yang hancur, serta mimpi-mimpi yang terasa mahal, persahabatan mereka mulai memasuki retakan yang lebih dalam.
BAB 16 — LIRIS DAN SURAT DARI KOTA
Surat itu datang pada hari Senin pagi.
Seorang petugas pos dari kecamatan berhenti di depan rumah Liris dengan sepeda motor tua. Ia membawa beberapa surat dan lembar tagihan untuk warga Desa Wanasari. Debu jalan masih menempel di celananya ketika ia memanggil dari depan pagar bambu.
“Rumah Pak Sasmita?”
Liris yang sedang menyapu halaman segera menoleh.
“Iya, Pak. Saya anaknya.”
Petugas pos mengeluarkan sebuah amplop putih dari tasnya.
Di bagian depan amplop itu tertulis nama Liris dengan huruf cetak rapi.
Untuk Liris Wening
Desa Wanasari, Kecamatan Sumberjati
Liris menerima amplop itu dengan kedua tangan.
Jantungnya berdebar.
Ia tidak sering menerima surat.
Hampir tidak pernah, bahkan.
Biasanya surat hanya datang untuk ayahnya, berkaitan dengan urusan hasil kebun, tagihan pupuk, atau pemberitahuan dari koperasi desa. Namun, surat ini jelas-jelas ditujukan kepadanya.
Di pojok kiri atas amplop tertulis nama yang membuatnya semakin penasaran.
Komunitas Rumah Kata Kabupaten Sumberjati
Liris pernah mendengar nama itu.
Beberapa bulan lalu, ketika masih bersemangat mengirim puisi ke berbagai tempat, ia pernah membaca pengumuman kecil di sebuah majalah anak yang dipinjam dari perpustakaan kecamatan. Pengumuman itu berisi ajakan mengirimkan karya puisi, cerpen, dan tulisan pendek tentang kehidupan remaja desa.
Tanpa banyak berharap, Liris pernah mengirimkan dua puisinya.
Salah satunya berjudul Sungai yang Membawa Nama-Nama.
Puisi itu ia tulis pada malam hari di buku hijau miliknya. Ia menulis tentang sungai Wanasari, tentang perahu-perahu kecil, tentang anak-anak yang belajar membaca di bawah pohon beringin, dan tentang mimpi yang tetap tumbuh meski jalan desa sering berlumpur.
Setelah mengirimkan puisi itu, Liris tidak pernah menerima kabar apa pun.
Ia bahkan mulai melupakannya.
Namun, pagi itu, surat dari kota kabupaten berada di tangannya.
Liris masuk ke dalam rumah dengan langkah cepat.
Ibunya sedang menyiapkan sarapan di dapur.
“Bu, aku dapat surat.”
Ibunya menoleh.
“Surat dari siapa?”
“Dari komunitas literasi di kota.”
Ibunya tersenyum, meski belum memahami sepenuhnya.
“Buka saja.”
Tangan Liris sedikit gemetar ketika merobek bagian atas amplop.
Di dalamnya terdapat selembar surat resmi dan sebuah brosur kecil berwarna biru muda.
Ia membaca surat itu perlahan.
Yth. Liris Wening,
Kami mengucapkan terima kasih atas karya puisi yang telah Anda kirimkan kepada Komunitas Rumah Kata Kabupaten Sumberjati. Salah satu karya Anda dinilai memiliki kepekaan bahasa dan kekuatan cerita yang baik.
Sehubungan dengan itu, kami mengundang Anda untuk mengikuti Pelatihan Menulis Remaja Desa yang akan dilaksanakan selama tiga hari di Kota Sumberjati.
Kegiatan ini meliputi kelas puisi, cerita pendek, jurnalistik sederhana, dan diskusi bersama penulis daerah.
Peserta diharapkan hadir pada hari Jumat pukul delapan pagi di Gedung Perpustakaan Kabupaten Sumberjati.
Liris membaca surat itu sekali lagi.
Lalu sekali lagi.
Ia seperti tidak percaya pada kata-kata yang tertulis di sana.
Puisi Anda dinilai memiliki kepekaan bahasa dan kekuatan cerita yang baik.
Kalimat itu membuat matanya berkaca-kaca.
Selama ini, ia menulis sendirian.
Ia menulis ketika rumah sudah sunyi.
Ia menulis ketika rindu pada masa kecilnya.
Ia menulis ketika sahabat-sahabatnya mulai menjauh.
Ia menulis ketika merasa tidak punya tempat untuk mengatakan hal-hal yang terlalu berat jika diucapkan.
Dan kini, seseorang dari kota kabupaten membaca puisinya.
Seseorang yang bahkan tidak mengenalnya percaya bahwa tulisannya layak didengar.
“Bu,” kata Liris pelan, “aku diundang ikut pelatihan menulis.”
Ibunya menghentikan pekerjaannya.
“Di mana?”
“Di kota kabupaten.”
“Berapa lama?”
“Tiga hari.”
Wajah ibunya berubah sedikit.
Bukan karena tidak bangga.
Melainkan karena ia segera memahami hal yang tidak tertulis di dalam surat itu.
Perjalanan ke kota kabupaten membutuhkan ongkos.
Liris harus naik kendaraan dari Desa Wanasari ke kecamatan, lalu melanjutkan perjalanan ke kota. Ia juga membutuhkan uang makan, mungkin tempat menginap, dan keperluan lain selama tiga hari.
Ibunya mengambil surat itu.
Ia membaca bagian bawahnya.
Di sana tertulis bahwa peserta diminta menyiapkan biaya transportasi pribadi.
“Pelatihannya gratis,” kata Liris cepat. “Tapi ongkos perjalanan harus sendiri.”
Ibunya mengangguk pelan.
“Berapa kira-kira?”
Liris tidak menjawab.
Ia sudah menghitungnya sejak membaca surat itu.
Jumlahnya tidak kecil bagi keluarga mereka.
Ayahnya hanya mengandalkan hasil kebun singkong dan beberapa pekerjaan serabutan. Belakangan, harga hasil kebun tidak selalu baik. Kadang uang yang didapat hanya cukup untuk membeli kebutuhan dapur dan membayar keperluan sekolah Liris.
Namun, Liris tidak ingin memikirkan itu dulu.
Untuk beberapa menit, ia hanya ingin menikmati rasa bahagia.
Ia membawa surat itu ke kamar.
Ia menaruhnya di atas meja, di samping buku hijau yang selama ini menjadi tempat ia menyimpan puisi-puisinya.
Kemudian ia membuka buku itu.
Di halaman pertama, ada tulisan kecil yang dibuatnya beberapa tahun lalu.
Jika suatu hari kata-kataku sampai ke tempat yang jauh, semoga aku tidak takut mengikutinya.
Liris menyentuh tulisan itu dengan ujung jari.
Ia tersenyum.
Namun, senyum itu tidak bertahan lama.
Menjelang siang, ayahnya pulang dari kebun.
Pak Sasmita datang dengan pakaian yang penuh tanah. Bahunya membawa cangkul. Wajahnya terlihat letih karena sejak pagi ia bekerja membersihkan rumput di kebun singkong.
Liris menunggu sampai ayahnya makan siang.
Ia duduk di dekat pintu dapur sambil memegang surat.
Beberapa kali ia ingin bicara, tetapi kata-kata itu terasa sulit keluar.
Ibunya memberi isyarat agar ia tenang.
Akhirnya, setelah ayahnya selesai makan, Liris mendekat.
“Ayah.”
Pak Sasmita menoleh.
“Ada apa?”
“Aku dapat surat dari kota.”
“Surat apa?”
Liris menyerahkan surat undangan itu.
Ayahnya membaca perlahan.
Wajahnya tidak berubah ketika membaca bagian tentang puisi. Namun, ketika sampai pada bagian pelatihan selama tiga hari di kota kabupaten, ia mengerutkan dahi.
“Pelatihan menulis?”
“Iya, Yah.”
“Untuk apa?”
Liris terdiam sejenak.
“Untuk belajar menulis lebih baik.”
“Menulis apa?”
“Puisi, cerita, berita sederhana.”
Ayahnya meletakkan surat itu di meja.
“Lalu setelah belajar menulis, kau dapat apa?”
Liris menatap ayahnya.
“Aku bisa punya pengalaman. Aku bisa belajar dari penulis lain. Mungkin aku bisa ikut lomba atau mengirim tulisan ke majalah.”
Pak Sasmita menghela napas.
“Liris, menulis tidak akan membuat dapur kita penuh.”
Kalimat itu membuat wajah Liris memucat.
Ibunya yang sedang mencuci piring berhenti sebentar.
“Ayah, ini kesempatan,” kata Liris.
“Kesempatan apa?”
“Kesempatan untuk belajar.”
“Kau sudah sekolah.”
“Tapi ini berbeda.”
“Berbeda bagaimana? Kau pergi tiga hari ke kota hanya untuk menulis kata-kata di kertas?”
Liris menggenggam surat itu.
“Aku ingin menjadi penulis, Yah.”
Ayahnya memandangnya lama.
“Kau ingin menjadi penulis?”
“Iya.”
Pak Sasmita tersenyum tipis, tetapi senyum itu tidak sepenuhnya hangat.
“Penulis itu pekerjaan orang kota. Orang yang punya banyak buku. Orang yang punya uang untuk sekolah tinggi.”
“Aku juga bisa belajar.”
“Dengan apa? Dengan puisi?”
Liris menunduk.
Kata-kata ayahnya terasa seperti pintu yang ditutup perlahan di hadapannya.
“Ayah tidak melarangmu sekolah,” lanjut Pak Sasmita. “Tapi jangan terlalu jauh mengejar sesuatu yang belum tentu bisa memberi makanmu.”
“Aku tidak minta Ayah membiayai semuanya,” kata Liris, berusaha menjaga suara tetap tenang. “Aku bisa cari cara.”
“Cara apa?”
Liris tidak menjawab.
Ia memang belum tahu.
Ayahnya kembali mengambil cangkul.
“Lebih baik kau bantu Ibu di rumah. Minggu depan kita juga harus menanam lagi di kebun. Jangan terlalu banyak memikirkan hal-hal yang tidak jelas.”
Setelah itu, ayahnya keluar menuju halaman belakang.
Liris tetap berdiri di dapur.
Surat undangan itu masih ada di tangannya.
Namun, sekarang kertas itu terasa lebih berat.
Ibunya mendekat.
“Jangan marah kepada Ayahmu,” katanya pelan.
“Aku tidak marah.”
“Tapi kau sedih.”
Liris tidak menjawab.
Air matanya mulai jatuh.
Ibunya memeluknya.
“Ayahmu bukan tidak ingin kamu punya mimpi. Ia hanya takut kamu kecewa.”
“Kalau aku tidak pergi, aku juga akan kecewa.”
Ibunya mengusap punggungnya.
“Kita pikirkan jalan lain.”
Namun, Liris tahu jalan lain tidak selalu mudah ditemukan.
Sore itu, ia pergi ke bawah pohon beringin dekat SD Wanasari.
Tempat itu selalu membuatnya merasa lebih tenang.
Di sana, dulu mereka membentuk kelompok Langit Biru. Di sana pula mereka pernah berjanji bahwa mimpi anak desa tidak boleh dibatasi keadaan.
Namun, sekarang, Liris merasa janji itu sedang diuji.
Ia duduk di bawah pohon sambil membuka buku hijau.
Angin sore membuat beberapa halaman bergerak pelan.
Ia membaca kembali puisi-puisi yang pernah ditulisnya.
Ada puisi tentang ibunya.
Ada puisi tentang jalan tanah.
Ada puisi tentang Gerobak Buku Langit Biru.
Ada juga puisi yang pernah dicuri Nayla.
Ketika sampai pada halaman puisi itu, Liris menutup bukunya.
Ia masih marah.
Ia masih merasa malu karena puisinya dibacakan orang lain seolah bukan miliknya.
Tetapi surat dari Komunitas Rumah Kata membuatnya sadar bahwa satu orang yang mencuri tidak dapat menghapus seluruh perjalanan yang telah ia tempuh bersama kata-kata.
Ia mengambil pena.
Lalu menulis di halaman baru.
Kota mungkin jauh,
tetapi kata-kata tidak mengenal jalan yang terlalu panjang.
Jika kakiku belum mampu sampai,
biarlah puisiku lebih dahulu mengetuk pintunya.
Liris berhenti menulis.
Ia memandangi kalimat itu.
Kemudian ia tersenyum kecil, meski matanya masih basah.
Menjelang magrib, Banyu datang ke dekat pohon beringin.
Ia membawa tas kain berisi beberapa potongan kabel dan benda-benda kecil dari bengkel Pak Hendra.
Ketika melihat Liris, ia berhenti.
“Liris.”
Liris menoleh.
“Banyu.”
Banyu duduk beberapa langkah darinya.
Mereka tidak lagi berbicara seperti dulu.
Masih ada jarak yang tumbuh di antara mereka sejak persahabatan Langit Biru mulai retak.
Namun, Banyu melihat surat di tangan Liris.
“Apa itu?”
“Undangan pelatihan menulis.”
“Dari mana?”
“Dari kota kabupaten.”
Banyu tampak terkejut.
“Serius?”
Liris mengangguk.
“Puisiku yang dulu pernah kukirim dibaca oleh komunitas literasi.”
Banyu tersenyum.
“Itu bagus sekali.”
“Seharusnya begitu.”
“Kenapa wajahmu seperti orang kalah?”
Liris memandangi surat itu.
“Aku tidak punya ongkos. Ayah juga tidak setuju.”
Banyu terdiam.
Ia memahami masalah uang lebih baik daripada banyak orang.
Sejak sepedanya hilang, ia sendiri harus berjalan lebih jauh dan membantu Pak Hendra lebih sering agar bisa menabung sedikit demi sedikit.
“Aku bisa bantu cari cara,” kata Banyu.
Liris menatapnya.
“Cara apa?”
“Aku belum tahu. Tapi mungkin kita bisa bicara dengan Bu Laras. Atau cari tumpangan. Atau… entahlah.”
Liris tersenyum tipis.
“Kau masih suka memperbaiki sesuatu yang rusak, ya?”
Banyu mengangkat bahu.
“Kadang yang rusak tidak bisa diperbaiki. Tapi kalau belum dicoba, kita tidak akan tahu.”
Kalimat itu membuat Liris terdiam.
Ia teringat persahabatan mereka yang juga sedang retak.
Mungkin, seperti mesin atau roda sepeda, persahabatan membutuhkan waktu, keberanian, dan tangan yang mau bekerja untuk memperbaikinya.
Namun, malam itu, yang paling dekat di hadapan Liris adalah surat dari kota.
Tiga hari pelatihan.
Gedung perpustakaan kabupaten.
Kelas puisi.
Penulis daerah.
Semua itu seperti dunia yang selama ini hanya ia lihat dari halaman buku.
Ia pulang membawa surat undangan itu dengan hati yang bercampur.
Ada bahagia.
Ada takut.
Ada kecewa.
Ada harapan.
Di kamar, sebelum tidur, Liris menyimpan surat itu di dalam buku hijau.
Ia meletakkannya di antara halaman-halaman puisi yang paling ia sayangi.
Kemudian ia mematikan lampu.
Namun, dalam gelap, pikirannya tetap menyala.
Ia membayangkan dirinya duduk di sebuah ruangan penuh buku.
Ia membayangkan orang-orang membaca puisinya.
Ia membayangkan namanya disebut bukan sebagai anak desa yang hanya pandai bermimpi, tetapi sebagai seseorang yang berani menulis tentang dunia yang ia kenal.
Di luar rumah, suara jangkrik terdengar dari kebun.
Di dalam kamar kecil itu, Liris memeluk buku hijaunya.
Ia belum tahu apakah ia akan mampu pergi ke kota.
Ia belum tahu apakah ayahnya akan berubah pikiran.
Ia belum tahu dari mana ongkos perjalanan akan datang.
Tetapi untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa mimpinya sedang mengetuk pintu yang nyata.
Dan ia tidak ingin membiarkan pintu itu tertutup tanpa pernah mencoba membukanya.
BAB 17 — MESIN YANG MELEDAK
Sejak banjir menghantam Desa Wanasari, Banyu semakin sering menghabiskan waktu di ruang keterampilan sekolah.
Ruang itu berada di belakang bangunan utama SMP. Dindingnya terbuat dari papan yang sudah mulai kusam, sedangkan atap sengnya berbunyi keras setiap kali hujan turun. Di dalamnya terdapat beberapa meja kayu, lemari alat yang pintunya sulit ditutup, rak berisi botol bekas, kabel, paku, potongan besi, serta barang-barang sisa yang selama ini dianggap tidak berguna.
Bagi banyak siswa, ruangan itu hanya tempat menyimpan barang rusak.
Namun, bagi Banyu, ruangan itu seperti dunia kecil yang penuh kemungkinan.
Di tempat itulah ia pernah membuat lampu sederhana dari baterai bekas.
Di tempat itulah ia belajar memperbaiki radio tua milik Pak Hendra.
Dan di tempat itu pula ia mulai merancang sebuah mesin yang menurutnya dapat membantu keluarga Jagra.
Sejak melihat kolam ikan Jagra rusak akibat banjir, Banyu tidak bisa berhenti memikirkannya.
Kolam itu bukan hanya tempat memelihara ikan.
Kolam itu adalah sumber penghasilan keluarga Jagra.
Kolam itu adalah alasan ayah Jagra bangun sebelum matahari terbit.
Kolam itu adalah tempat Jagra belajar mengenal air, jaring, perahu, dan kerja keras.
Namun, setelah banjir datang, saluran airnya rusak. Lumpur menutup beberapa bagian kolam. Air yang tersisa menjadi keruh dan tidak mengalir dengan baik. Ikan-ikan yang masih bertahan sulit dipelihara karena airnya tidak cukup bersih.
Banyu berpikir, jika ia bisa membuat alat sederhana untuk mengalirkan air dari sungai kecil menuju kolam, mungkin keluarga Jagra bisa mulai memperbaiki usaha mereka.
Ia tidak punya mesin mahal.
Ia tidak punya alat lengkap.
Tetapi ia punya barang-barang bekas.
Dan ia punya keyakinan bahwa sesuatu yang sederhana tetap bisa berguna jika dibuat dengan sungguh-sungguh.
Hari itu, setelah jam pelajaran selesai, Banyu langsung menuju ruang keterampilan.
Pak Hendra, penjaga sekaligus guru keterampilan sekolah, sedang memperbaiki kursi patah di dekat pintu.
“Kau datang lagi, Banyu?” tanyanya.
Banyu mengangguk.
“Aku mau mencoba membuat pompa air sederhana, Pak.”
Pak Hendra menghentikan pekerjaannya.
“Pompa air?”
“Untuk membantu kolam ikan keluarga Jagra.”
Pak Hendra memandang beberapa bahan yang dibawa Banyu.
Ada motor kecil bekas kipas angin.
Ada selang plastik.
Ada botol air mineral besar.
Ada kabel yang bagian luarnya sudah terkelupas.
Ada juga baling-baling kecil dari mainan rusak.
“Kau mau memakai motor kipas angin itu?”
“Iya, Pak. Kalau bisa berputar, mungkin bisa menarik air.”
Pak Hendra mengangguk pelan.
“Secara sederhana, bisa saja. Tapi kau harus hati-hati. Motor itu bukan untuk dipakai sembarangan. Kabelnya juga sudah tua.”
“Aku akan hati-hati.”
Pak Hendra menatap Banyu cukup lama.
“Kau tidak boleh bekerja sendirian.”
“Iya, Pak.”
Namun, setelah Pak Hendra dipanggil ke ruang guru untuk membantu memindahkan meja, Banyu tetap melanjutkan pekerjaannya.
Ia merasa waktunya tidak banyak.
Jagra semakin sering tidak masuk sekolah.
Ia mendengar kabar bahwa Jagra mulai ikut ayahnya mencari ikan pada malam hari.
Ia juga mendengar bahwa Jagra benar-benar ingin berhenti sekolah.
Banyu merasa harus melakukan sesuatu.
Ia ingin membuktikan bahwa ia masih bisa berguna.
Ia ingin membuktikan bahwa sahabat tidak hanya hadir dengan kata-kata.
Ia ingin membantu Jagra dengan hasil karyanya sendiri.
Di atas meja kayu, Banyu menyusun bahan-bahan itu satu per satu.
Ia memotong botol plastik untuk dijadikan wadah.
Ia memasang baling-baling kecil pada poros motor kipas angin.
Ia menyambungkan kabel ke sumber listrik sederhana yang tersedia di ruang keterampilan.
Tangannya bergerak cepat.
Terlalu cepat.
Beberapa kali ia berhenti untuk melihat catatan kecil yang dibuatnya di buku tulis.
Di sana terdapat gambar sederhana tentang aliran air, arah putaran baling-baling, dan saluran menuju selang.
Namun, gambar itu tidak cukup jelas.
Ia belum pernah membuat pompa air sebelumnya.
Ia hanya pernah melihat alat serupa di bengkel kecamatan ketika ikut Pak Hendra membeli paku.
Tetapi Banyu percaya bahwa jika ia terus mencoba, ia akan menemukan cara.
“Kau bisa,” gumamnya kepada diri sendiri.
Di luar ruangan, langit mulai mendung.
Angin masuk melalui celah dinding papan.
Banyu menyambungkan salah satu kabel.
Motor kecil itu bergerak pelan.
Baling-baling berputar.
Wajah Banyu langsung berbinar.
“Berhasil,” katanya pelan.
Ia mengambil ember berisi air.
Kemudian ia mencoba memasukkan ujung selang ke dalam ember.
Air bergerak sedikit.
Tidak banyak.
Namun, cukup membuat Banyu semakin bersemangat.
Ia mengubah posisi kabel.
Ia mengencangkan sambungan.
Ia mencoba menambah daya dengan menghubungkan kabel lain yang ditemukan di lemari alat.
Kabel itu lebih panjang, tetapi bagian pelindungnya sudah robek di beberapa tempat.
Banyu tahu itu berbahaya.
Pak Hendra sudah pernah memperingatkan bahwa kabel tua bisa menimbulkan korsleting.
Namun, Banyu merasa jika ia tidak menambah daya, mesin itu tidak akan cukup kuat mengalirkan air menuju kolam.
“Aku hanya perlu mencoba sekali lagi,” katanya.
Ia mengambil kain kering dan membungkus bagian kabel yang terbuka.
Lalu ia menyambungkan ujung kabel ke sumber listrik.
Pada awalnya, tidak terjadi apa-apa.
Motor kecil itu kembali berputar.
Baling-baling bergerak lebih cepat.
Air di dalam ember mulai tersedot ke arah selang.
Banyu tersenyum.
Ia membayangkan Jagra melihat alat itu bekerja.
Ia membayangkan kolam ikan yang keruh perlahan kembali dialiri air.
Ia membayangkan Jagra tidak jadi berhenti sekolah.
Namun, beberapa detik kemudian, suara aneh terdengar dari motor kipas angin itu.
Dengung… dengung… dengung…
Banyu menunduk.
Asap tipis mulai keluar dari bagian kabel.
Wajahnya berubah.
Ia segera mencoba mencabut sambungan listrik.
Tetapi kabel yang dibungkus kain tadi tersangkut di bawah meja.
“Tidak… tidak…”
Ia menarik kabel itu.
Terlambat.
Terdengar bunyi letupan kecil.
PRAK!
Cahaya putih menyala sesaat.
Motor kecil itu meledak kecil dan mengeluarkan percikan.
Banyu refleks menutup wajah.
Namun, salah satu percikan mengenai tangan kirinya.
“Aah!”
Ia terjatuh ke belakang.
Ember air tumpah ke lantai.
Air bercampur dengan serpihan plastik, kabel, dan potongan kayu.
Tangan Banyu terasa panas.
Sangat panas.
Ia memegangi telapak tangannya yang mulai memerah.
Beberapa bagian kulitnya terkena percikan panas.
Tidak lama kemudian, Pak Hendra berlari masuk.
“Banyu!”
Pak Hendra segera mencabut kabel dari sumber listrik.
Ia melihat meja yang berantakan, motor kipas angin yang rusak, dan tangan Banyu yang terluka.
“Astaga. Kau memakai kabel ini?”
Banyu hanya menunduk.
Pak Hendra mengambil kain bersih, lalu membungkus tangan Banyu dengan hati-hati.
“Kau harus ke UKS sekarang.”
“Maaf, Pak,” kata Banyu pelan.
“Bukan soal maaf dulu. Tanganmu harus diperiksa.”
Banyu dibawa ke ruang UKS.
Bu Rina, guru yang bertugas, membersihkan luka di tangannya. Ketika air antiseptik menyentuh kulit yang terbakar, Banyu menggigit bibir agar tidak berteriak.
Namun, rasa sakit di tangannya tidak seberapa dibandingkan rasa sakit di dalam dadanya.
Mesin itu gagal.
Ia gagal.
Ia ingin membantu Jagra, tetapi justru membuat masalah.
Setelah luka di tangannya dibalut, Pak Hendra datang ke UKS.
Wajahnya tampak serius.
“Banyu,” katanya.
Banyu menunduk.
“Saya minta maaf, Pak.”
Pak Hendra duduk di kursi dekat tempat tidur UKS.
“Aku tahu niatmu baik.”
Banyu tidak menjawab.
“Kau ingin membantu sahabatmu. Kau ingin membuat sesuatu yang berguna. Itu bukan hal yang salah.”
“Lalu kenapa semuanya gagal?”
“Karena niat baik harus berjalan bersama kehati-hatian.”
Banyu memandangi perban di tangannya.
“Aku hanya ingin alat itu jadi.”
“Kau terlalu memaksakan diri.”
Banyu menelan ludah.
Pak Hendra menarik napas.
“Untuk sementara, kamu tidak boleh menggunakan ruang keterampilan.”
Banyu langsung mengangkat wajah.
“Pak…”
“Kamu perlu belajar bahwa membuat sesuatu bukan hanya soal berani mencoba. Ada aturan keselamatan. Ada proses. Ada pengetahuan yang harus dipahami.”
“Tapi aku bisa memperbaikinya.”
“Bukan sekarang.”
“Tapi kolam Jagra—”
“Kolam Jagra tidak akan pulih jika kamu melukai dirimu sendiri.”
Kalimat itu membuat Banyu terdiam.
Pak Hendra melanjutkan dengan suara lebih lembut.
“Aku tidak melarangmu menjadi penemu. Aku hanya ingin kamu belajar menjadi penemu yang bertanggung jawab.”
Namun, bagi Banyu, keputusan itu terasa seperti hukuman yang sangat berat.
Ruang keterampilan adalah tempat ia merasa paling mengerti dirinya sendiri.
Di ruang kelas, ia sering kesulitan menjelaskan apa yang ada di pikirannya.
Ia tidak pandai bicara seperti Liris.
Ia tidak setegas Rantaka.
Ia tidak seberani Jagra menghadapi orang lain.
Tetapi ketika memegang kabel, kayu, atau benda bekas, Banyu merasa ia memiliki cara untuk berbicara.
Kini, tempat itu ditutup untuknya.
Sepulang sekolah, Banyu berjalan sendiri menuju rumah.
Tangan kirinya dibalut kain putih.
Tasnya terasa berat di pundak.
Di jalan, ia melihat beberapa anak kecil bermain di pinggir sungai.
Mereka membuat perahu-perahuan dari daun pisang.
Perahu kecil itu mengalir mengikuti arus, lalu tersangkut di batu atau ranting.
Banyu berhenti sejenak.
Ia melihat salah satu anak mengambil perahunya yang tersangkut, lalu memperbaikinya dan kembali melepaskannya ke air.
Pemandangan sederhana itu membuat Banyu semakin sedih.
Bahkan perahu daun pun diberi kesempatan kedua.
Sedangkan dirinya baru sekali gagal, lalu sudah dilarang masuk ruang keterampilan.
Ketika sampai di rumah, ia tidak langsung masuk.
Ia duduk di dekat teras.
Ibunya yang sedang menjemur pakaian melihat perban di tangannya.
“Tanganmu kenapa?”
“Terkena percikan mesin.”
“Kau membuat apa lagi?”
“Pompa air.”
Ibunya menghentikan pekerjaannya.
“Untuk apa?”
“Untuk kolam ikan Jagra.”
Ibunya menatap anaknya dengan cemas.
“Banyu, kamu harus hati-hati.”
“Aku sudah hati-hati.”
“Kau terluka.”
Banyu tidak menjawab.
Ibunya duduk di sampingnya.
“Kau kecewa?”
Banyu mengangguk.
“Aku ingin membantu Jagra. Tapi aku malah membuat mesin itu rusak.”
“Tidak semua yang gagal berarti tidak berguna.”
“Pak Hendra melarangku memakai ruang keterampilan.”
Ibunya menghela napas.
“Mungkin itu bukan akhir.”
“Rasanya seperti akhir.”
Ibunya memegang bahunya.
“Kamu masih punya pikiranmu. Kamu masih punya tanganmu, meski sekarang sedang terluka. Kamu masih punya kesempatan belajar.”
Banyu memandangi perban di tangannya.
Namun, kata-kata itu belum cukup menghilangkan rasa kecewanya.
Malamnya, ia membuka buku catatan berisi gambar-gambar mesin.
Di salah satu halaman terdapat rancangan pompa air yang tadi ia coba buat.
Ada beberapa garis yang salah.
Ada ukuran yang tidak tepat.
Ada sambungan kabel yang tidak ia pikirkan dengan matang.
Ia mengambil pensil.
Lalu ia mencoret beberapa bagian.
Ia menggambar ulang.
Namun, setelah beberapa menit, ia berhenti.
Air mata jatuh ke halaman buku.
Banyu segera mengusapnya.
Ia tidak ingin menangis.
Tetapi ia merasa sendirian.
Rantaka sedang sibuk dengan masalah Jagra.
Liris sedang menghadapi surat dari kota dan penolakan ayahnya.
Jagra sendiri semakin jauh dari mereka.
Dan sekarang, Banyu merasa sahabat-sahabatnya mungkin akan menganggapnya hanya anak yang suka bermain-main dengan barang bekas.
Ia menutup buku catatan.
Di luar rumah, hujan kembali turun.
Suara air jatuh di atap terdengar seperti ribuan langkah kecil yang berlari tanpa tujuan.
Banyu berbaring di tempat tidur sambil memegang tangan kirinya.
Ia teringat wajah Jagra.
Ia teringat kolam ikan yang keruh.
Ia teringat bagaimana mereka dulu berjanji untuk saling membantu.
Namun, kini ia tidak tahu apakah Jagra masih menganggapnya sahabat.
Keesokan harinya, ketika Banyu datang ke sekolah, ia melewati ruang keterampilan.
Pintu ruangan itu tertutup.
Gembok kecil tergantung di sana.
Banyu berhenti beberapa saat di depan pintu.
Ia melihat celah kecil di antara papan dinding.
Dari sana, ia masih bisa melihat meja kayu tempat mesin pompa airnya meledak.
Beberapa serpihan plastik masih berserakan.
Pak Hendra belum sempat membereskannya.
Banyu menatap ruangan itu dengan dada sesak.
Ia ingin masuk.
Ia ingin memperbaiki kesalahannya.
Ia ingin membuktikan bahwa dirinya tidak gagal.
Namun, ia hanya berdiri di luar.
Lalu bel sekolah berbunyi.
Banyu berjalan menuju kelas dengan langkah pelan.
Di dalam tasnya, buku catatan rancangan mesin masih tersimpan.
Meski tangannya terluka dan ruang keterampilan tertutup baginya, satu hal belum benar-benar padam.
Keinginannya untuk membantu.
Keinginannya untuk membuat sesuatu yang berguna.
Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika ia sudah lebih sabar, lebih teliti, dan lebih mengerti cara bekerja dengan aman, ia akan kembali membuka buku catatan itu.
Ia akan kembali menggambar.
Ia akan kembali mencoba.
Tetapi untuk saat ini, Banyu hanya bisa memandangi pintu ruang keterampilan yang terkunci.
Sebuah pintu yang terasa seperti menutup bukan hanya ruangan, melainkan juga keyakinannya pada diri sendiri.
BAB 18 — PERPISAHAN DI JEMBATAN SUNGAI
Malam turun lebih cepat di Desa Wanasari sejak musim hujan datang.
Langit yang biasanya masih menyisakan warna jingga kini segera berubah kelabu. Kabut tipis mulai turun dari arah sungai. Jalan tanah menjadi licin, sementara genangan air memantulkan cahaya lampu rumah yang redup.
Di rumah Jagra, suasana malam itu terasa lebih sunyi daripada biasanya.
Ayah Jagra duduk di teras sambil memperbaiki jaring ikan. Kakinya masih belum pulih sepenuhnya sejak terluka saat banjir. Ia berjalan lebih pelan, tetapi tetap memaksakan diri bekerja karena keluarga mereka tidak memiliki banyak pilihan.
Di dekatnya, Jagra menyiapkan ember, lampu senter, dan jaring kecil.
“Kita benar-benar jadi ke sungai malam ini?” tanya ibunya dari dapur.
Ayah Jagra mengangguk.
“Kalau hanya menunggu kolam pulih, kita tidak akan dapat apa-apa.”
Ibunya keluar membawa kain lap.
“Air sungai masih tinggi.”
“Kita tidak ke tengah. Hanya di pinggir.”
Jagra memasukkan beberapa tali ke dalam ember.
“Aku ikut, Bu.”
Ibunya memandang anaknya.
“Kamu besok sekolah.”
Jagra berhenti sejenak.
Kemudian ia menjawab dengan suara datar.
“Mungkin tidak lama lagi aku tidak sekolah.”
Ucapan itu membuat tangan ibunya berhenti bergerak.
Ayah Jagra menatapnya.
“Apa maksudmu?”
Jagra tidak langsung menjawab.
Ia menunduk, lalu mengangkat ember.
“Aku sudah pikirkan. Aku tidak bisa terus sekolah sementara Ayah dan Ibu menanggung semuanya sendiri.”
“Kamu jangan bicara seperti itu,” kata ibunya.
“Aku sudah besar, Bu.”
“Kamu masih anak sekolah.”
“Justru itu masalahnya. Aku masih sekolah, tapi keluarga kita butuh orang yang bekerja.”
Ayah Jagra menghela napas panjang.
“Kita bicarakan nanti.”
“Tidak perlu dibicarakan lagi, Yah. Aku sudah memutuskan.”
Jagra berjalan keluar rumah.
Ayahnya segera mengambil jaring dan mengikuti dari belakang.
Mereka berjalan menuju sungai tanpa banyak bicara.
Di sepanjang jalan, suara katak terdengar dari sawah dan parit. Beberapa rumah sudah mematikan lampu. Hanya suara langkah mereka yang memecah malam.
Sementara itu, di rumah Pakde Wirya di kecamatan, Rantaka baru saja menerima kabar dari seorang anak Desa Wanasari yang kebetulan datang membeli minyak goreng.
“Jagra ke sungai malam-malam,” kata anak itu. “Katanya mau cari ikan sama bapaknya.”
Rantaka langsung menoleh.
“Sekarang?”
“Iya. Dia bawa ember dan jaring.”
Rantaka merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Sejak pertengkaran mereka, Jagra semakin sulit ditemui. Ia sering tidak masuk sekolah. Ketika datang pun, ia hanya duduk diam dan pulang lebih cepat.
Rantaka teringat kata-kata Jagra.
Kalau kau benar sahabatku, biarkan aku memilih jalanku sendiri.
Namun, kata-kata itu justru membuat Rantaka semakin takut.
Ia mengambil jaket tipis dan keluar rumah.
“Rantaka, mau ke mana?” tanya Pakde Wirya.
“Aku mau ke Wanasari.”
“Malam-malam begini?”
“Jagra ke sungai.”
Pakde Wirya memandangnya dengan wajah khawatir.
“Hati-hati. Jangan membuat masalah baru.”
Rantaka mengangguk.
Ia bergegas menuju jalan desa.
Di dekat tikungan menuju jembatan, ia bertemu Liris.
Gadis itu membawa payung kecil dan mengenakan jaket biru tua. Wajahnya tampak cemas.
“Kau juga dengar?” tanya Rantaka.
“Banyu yang memberi tahu.”
“Banyu di mana?”
“Dia menyusul dari arah sekolah.”
Tidak lama kemudian, Banyu datang dengan langkah cepat. Tangan kirinya masih dibalut perban. Ia membawa senter kecil yang cahayanya tidak terlalu terang.
“Aku dengar Jagra mau ke sungai,” katanya.
“Kita cari dia,” jawab Rantaka.
Mereka bertiga berjalan menuju jembatan sungai.
Jembatan itu terbuat dari kayu dan besi sederhana. Sebagian papan di tengahnya sudah mulai lapuk. Saat banjir datang beberapa hari lalu, air sungai sempat hampir menyentuh bagian bawah jembatan.
Malam itu, air masih mengalir deras.
Cahaya bulan tertutup awan.
Hanya lampu senter Banyu dan lampu minyak dari beberapa rumah di kejauhan yang memberi sedikit penerangan.
Ketika mereka sampai di dekat jembatan, mereka melihat dua bayangan berdiri di pinggir sungai.
Jagra dan ayahnya sedang memasang jaring.
Ayah Jagra berdiri di atas batu besar sambil memegang tali. Jagra menuruni tepi sungai dengan hati-hati. Air menyentuh betisnya.
“Jagra!” panggil Rantaka.
Jagra menoleh.
Wajahnya langsung berubah ketika melihat Rantaka, Liris, dan Banyu.
“Kalian ngapain ke sini?”
“Kami mau bicara,” kata Liris.
“Tidak ada yang perlu dibicarakan.”
“Jag, pulang dulu,” kata Banyu. “Air sungai masih deras.”
Jagra tertawa kecil tanpa humor.
“Kau sekarang peduli pada air sungai? Mesinmu saja tidak bisa kau kendalikan.”
Banyu terdiam.
Kalimat itu mengenai luka yang belum benar-benar sembuh.
Rantaka melangkah maju.
“Jangan bicara seperti itu.”
“Kenapa? Aku salah?”
“Kita datang bukan untuk bertengkar.”
“Kalian selalu bilang begitu. Tapi setiap datang, kalian membawa masalah.”
Jagra menarik jaring lebih kuat.
Ayahnya yang mendengar percakapan itu menoleh.
“Jagra, jangan kasar kepada temanmu.”
“Mereka bukan datang membantu Ayah.”
“Lalu mereka datang untuk apa?”
“Mereka datang supaya merasa lebih baik.”
Rantaka mengepalkan tangan.
“Tidak semua orang yang datang ingin merendahkanmu.”
“Termasuk kau?” tanya Jagra tajam. “Kau datang membawa uang tabunganmu. Kau pikir aku lupa?”
Rantaka terdiam.
Liris maju selangkah.
“Rantaka hanya ingin kamu tetap sekolah.”
“Dan kau?” Jagra menatap Liris. “Kau sibuk dengan surat dari kota. Kau mau jadi penulis, kan? Kau akan pergi ke kota, bertemu orang-orang pintar, lalu menulis puisi tentang desa miskin ini.”
Liris tampak terkejut.
“Aku tidak pernah menganggap desa ini memalukan.”
“Tapi kau ingin pergi.”
“Aku ingin belajar.”
“Semua orang ingin belajar. Tapi tidak semua orang punya waktu untuk duduk membaca puisi.”
Kata-kata itu membuat Liris memucat.
Ia ingin menjawab, tetapi suaranya tertahan.
Banyu mencoba bicara.
“Jag, kami tahu keadaan keluargamu sulit.”
“Kalian tidak tahu apa-apa!”
Jagra melempar ember kecil ke tanah.
Air di dalamnya tumpah.
“Ayahku terluka. Kolam kami hancur. Ibu mulai berutang ke warung. Aku harus mencari ikan malam-malam supaya besok kami bisa makan. Lalu kalian datang membawa nasihat.”
“Kami tidak hanya membawa nasihat,” kata Rantaka.
“Lalu apa? Uang? Puisi? Mesin yang meledak?”
Banyu menunduk.
Tangannya yang dibalut perban terasa semakin berat.
Jagra melangkah menuju jembatan.
“Kalian pikir sekolah akan menyelesaikan semuanya?”
“Sekolah tidak menyelesaikan semuanya,” jawab Rantaka. “Tapi sekolah bisa memberi kita jalan.”
“Jalan untuk siapa? Untuk orang seperti kau yang tinggal di kecamatan? Untuk Liris yang punya surat undangan ke kota? Untuk Banyu yang bisa bermain mesin?”
Rantaka menatap Jagra.
“Kau juga punya jalan.”
“Tidak.”
Jagra menggeleng keras.
“Jalanku ada di sungai. Jalanku ada di jaring ini. Jalanku ada di rumahku yang hampir tidak punya apa-apa.”
“Kalau kau berhenti sekolah, kau akan menyesal,” kata Rantaka.
Jagra tersenyum pahit.
“Menyesal karena apa? Karena tidak bisa duduk di kelas dan mendengar orang memanggilku anak kampung?”
“Kau bukan hanya anak kampung.”
“Tapi itulah yang mereka lihat.”
“Kami tidak melihatmu seperti itu.”
“Karena kalian sahabatku. Tapi dunia tidak selalu seperti kalian.”
Suasana di atas jembatan menjadi semakin tegang.
Angin sungai bertiup lebih kencang.
Beberapa papan kayu di bawah kaki mereka berderit.
Ayah Jagra memandang anak-anak itu dengan wajah lelah.
“Jagra,” katanya pelan, “teman-temanmu datang karena peduli.”
Jagra menoleh kepada ayahnya.
“Peduli tidak membuat kita punya uang, Yah.”
Ayahnya terdiam.
Kalimat itu seperti menambah luka pada wajahnya.
Rantaka melihat ayah Jagra menunduk.
Ia merasa marah, tetapi bukan hanya kepada Jagra.
Ia marah kepada keadaan yang membuat seorang anak harus memilih antara sekolah dan membantu keluarganya.
Ia marah kepada banjir yang menghancurkan kolam.
Ia marah kepada dunia yang sering membuat mimpi terasa seperti barang mewah.
Namun, kemarahan itu justru membuat suaranya meninggi.
“Kalau semua orang menyerah seperti kamu, tidak ada yang akan berubah!”
Jagra menatapnya tajam.
“Aku menyerah?”
“Aku tidak bilang begitu.”
“Tapi itu maksudmu.”
“Aku hanya bilang kamu tidak boleh berhenti.”
“Kau tidak punya hak menentukan hidupku!”
Rantaka terdiam.
Namun, Jagra belum selesai.
“Kau tinggal di rumah Pakde di kecamatan. Kau punya tempat untuk belajar. Kau punya orang yang membantu. Kau punya ibu yang menjual barangnya supaya kamu tetap sekolah. Kau masih punya pilihan.”
Kata-kata itu membuat Rantaka membeku.
Jagra tahu tentang gelang ibunya.
Entah dari siapa ia mendengar, tetapi Jagra mengucapkannya dengan suara yang penuh luka.
“Aku tidak punya pilihan seperti itu,” lanjut Jagra. “Aku tidak mau melihat ibuku menjual apa pun lagi. Aku tidak mau melihat ayahku berjalan pincang demi aku. Aku lebih baik bekerja.”
Liris akhirnya bicara.
“Bekerja bukan salah, Jag. Tapi kamu tidak harus berhenti sekolah untuk membantu keluarga.”
“Lalu aku harus bagaimana? Membelah diri menjadi dua?”
“Kita bisa cari jalan bersama.”
“Bersama?”
Jagra tertawa pahit.
“Kalian bahkan tidak bisa menjaga Gerobak Buku Langit Biru tetap berjalan.”
Kalimat itu membuat mereka semua terdiam.
Gerobak Buku Langit Biru.
Nama itu dulu membuat mereka bangga.
Mereka pernah mendorong gerobak itu dari rumah ke rumah, membawa buku-buku lama untuk anak-anak desa. Mereka pernah membaca dongeng di bawah pohon. Mereka pernah percaya bahwa mereka bisa membuat perubahan kecil.
Namun, kini gerobak itu terbengkalai.
Buku-bukunya berdebu.
Dan mereka sendiri hampir tidak lagi saling berbicara.
“Kalian bicara tentang persahabatan,” kata Jagra, “tapi saat semuanya sulit, kalian sibuk dengan masalah masing-masing.”
Rantaka ingin membantah.
Namun, ia tidak bisa.
Liris memegang buku hijaunya lebih erat.
Banyu memandangi perban di tangannya.
Mereka semua tahu ada benarnya kata-kata Jagra.
Jagra berjalan ke tengah jembatan.
Air sungai mengalir deras di bawahnya.
Rantaka mengikuti beberapa langkah.
“Jag, jangan pergi seperti ini.”
Jagra berhenti.
Ia menoleh.
Wajahnya tampak basah, entah karena gerimis yang mulai turun atau karena air mata yang berusaha ia sembunyikan.
“Aku tidak pergi dari desa ini,” katanya. “Aku hanya pergi dari mimpi kalian.”
“Langit Biru bukan hanya mimpi kami,” kata Liris dengan suara pelan. “Itu mimpi kita.”
“Dulu.”
Satu kata itu jatuh lebih berat daripada suara hujan.
“Sekarang aku tidak mau lagi menjadi bagian dari Langit Biru,” lanjut Jagra. “Aku tidak mau lagi mendengar tentang sekolah, gerobak buku, atau janji-janji yang tidak bisa memberi makan keluargaku.”
Banyu mengangkat wajah.
“Jag…”
“Jangan panggil aku seperti itu.”
Banyu terdiam.
Jagra memandang ketiga sahabatnya satu per satu.
Rantaka, yang selalu berusaha kuat meski hatinya penuh beban.
Liris, yang memeluk buku hijau seperti memeluk masa depannya.
Banyu, yang berdiri dengan tangan terluka dan wajah penuh penyesalan.
Kemudian Jagra berkata dengan suara yang lebih pelan.
“Kalau kalian benar-benar sahabatku, jangan datang lagi untuk mengubah keputusanku.”
Setelah itu, ia berjalan meninggalkan jembatan.
Ayahnya sempat memanggil namanya.
“Jagra!”
Namun, Jagra tidak berhenti.
Ia berjalan menuju jalan kecil di pinggir sungai, lalu menghilang di balik gelap malam.
Ayah Jagra berdiri cukup lama.
Wajahnya tampak sedih.
Ia lalu menoleh kepada Rantaka, Liris, dan Banyu.
“Maafkan dia,” katanya pelan. “Anak itu sedang terlalu lelah.”
Tidak ada yang menjawab.
Ayah Jagra mengambil jaringnya.
Kemudian ia berjalan perlahan menyusul anaknya.
Tinggallah Rantaka, Liris, dan Banyu di atas jembatan.
Hujan mulai turun lebih deras.
Lampu senter Banyu berkedip-kedip.
Liris memeluk buku hijaunya.
Rantaka menatap jalan yang tadi dilalui Jagra.
“Aku salah,” katanya akhirnya.
Liris menoleh.
“Kita semua salah.”
Banyu tidak berkata apa-apa.
Ia hanya memandang tangan kirinya yang masih dibalut perban.
Di bawah jembatan, sungai terus mengalir.
Airnya membawa ranting-ranting kecil, daun kering, dan sisa-sisa banjir dari hulu.
Rantaka teringat bagaimana mereka dulu berdiri di bawah pohon beringin dan memberi nama kelompok mereka Langit Biru.
Saat itu, mereka percaya bahwa langit selalu luas.
Bahwa mimpi selalu punya tempat.
Bahwa persahabatan dapat membuat segala kesulitan terasa lebih ringan.
Namun, malam itu, di atas jembatan sungai, langit tidak terlihat biru.
Langit tertutup awan.
Dan persahabatan mereka seolah hanyut bersama arus yang deras.
Rantaka, Liris, dan Banyu pulang tanpa banyak bicara.
Masing-masing membawa luka yang tidak tampak.
Masing-masing menyimpan kata-kata Jagra di dalam hati.
Mereka tahu, malam itu bukan hanya tentang Jagra yang pergi dari jembatan.
Malam itu adalah saat ketika Langit Biru benar-benar pecah.
Dan tidak ada seorang pun yang tahu apakah mereka masih akan menemukan jalan untuk menyatukannya kembali.
BAB 19 — SURAT DARI BU LARAS
Tiga hari telah berlalu sejak malam di jembatan sungai.
Tiga hari yang terasa lebih panjang daripada biasanya.
Di sekolah, Rantaka duduk di bangku belakang dengan pandangan kosong. Buku pelajaran terbuka di depannya, tetapi tidak ada satu pun kalimat yang benar-benar masuk ke kepalanya. Ketika guru menjelaskan rumus matematika, ia hanya melihat angka-angka seperti garis-garis yang tidak memiliki arti.
Setiap kali mendengar suara kursi digeser, ia teringat langkah Jagra yang menjauh dari jembatan.
Setiap kali hujan turun, ia teringat wajah sahabatnya yang basah oleh gerimis dan kemarahan.
Jangan datang lagi untuk mengubah keputusanku.
Kalimat itu masih terdengar jelas di dalam pikirannya.
Pada jam istirahat, beberapa siswa berlari menuju kantin. Ada yang bercanda, ada yang bermain bola di halaman, ada pula yang mengeluh tentang tugas sekolah. Namun, Rantaka tetap duduk di kelas.
Ia tidak ingin berbicara dengan siapa pun.
Bahkan ketika Liris lewat di depan pintu kelas, Rantaka hanya menunduk.
Liris juga tidak berhenti.
Mereka sama-sama membawa kesedihan, tetapi belum tahu bagaimana cara membaginya.
Banyu pun tidak jauh berbeda.
Sejak dilarang memakai ruang keterampilan, ia lebih banyak diam. Tangan kirinya masih dibalut perban, meski lukanya mulai mengering. Ia sering memandangi ruang keterampilan dari kejauhan, lalu berjalan pergi sebelum siapa pun melihatnya.
Mereka bertiga berada di sekolah yang sama.
Mereka duduk di halaman yang sama.
Mereka masih mendengar bel yang sama.
Tetapi Langit Biru terasa seperti nama yang tinggal kenangan.
Pada siang hari, ketika pelajaran terakhir selesai, Pak Hendra masuk ke kelas Rantaka.
“Rantaka,” katanya dari pintu.
Rantaka mengangkat wajah.
“Ada apa, Pak?”
“Ada surat untukmu.”
Pak Hendra menyerahkan sebuah amplop putih.
Di bagian depan amplop itu tertulis nama Rantaka dengan tulisan tangan yang sangat dikenalnya.
Tulisan Bu Laras.
Rantaka menerima surat itu perlahan.
“Dari Bu Laras?” tanyanya.
Pak Hendra mengangguk.
“Surat yang sama juga dikirim untuk Liris dan Banyu.”
Rantaka memandangi amplop itu.
Jantungnya berdebar tanpa alasan yang jelas.
Ia segera memasukkan surat itu ke dalam tas. Namun, sepanjang perjalanan pulang, pikirannya hanya tertuju pada amplop putih tersebut.
Sesampainya di rumah Pakde Wirya, ia tidak langsung membantu di warung seperti biasa.
Ia masuk ke kamar.
Duduk di tepi tempat tidur.
Lalu membuka surat itu dengan hati-hati.
Di dalamnya terdapat dua lembar kertas.
Kertas pertama berisi tulisan Bu Laras.
Rantaka,
Bu Laras menulis surat ini bukan untuk menyalahkanmu.
Bu Laras tahu kamu, Liris, Banyu, dan Jagra sedang menghadapi banyak hal yang tidak mudah. Kalian tumbuh. Kalian mulai mengenal masalah yang lebih besar daripada tugas sekolah dan permainan masa kecil.
Tetapi Bu Laras ingin kalian mengingat satu hal: ketika dulu kalian membentuk Langit Biru, kalian tidak melakukannya karena hidup kalian sudah mudah. Kalian melakukannya karena kalian ingin saling menguatkan ketika keadaan sulit.
Gerobak Buku Langit Biru sekarang masih berada di gudang sekolah. Buku-bukunya mulai berdebu. Anak-anak kecil sering bertanya kepada Bu Laras, “Kapan Kak Rantaka, Kak Liris, Kak Banyu, dan Kak Jagra datang lagi?”
Mereka masih menunggu kalian.
Persahabatan bukan berarti tidak pernah marah, tidak pernah kecewa, dan tidak pernah saling melukai. Persahabatan adalah keberanian untuk mencari jalan pulang setelah semuanya terjadi.
Jangan biarkan luka membuat kalian lupa pada janji yang pernah kalian buat.
Salam sayang,
Bu Laras
Rantaka membaca surat itu sampai selesai.
Kemudian ia membacanya lagi.
Pada bagian tentang anak-anak kecil yang menunggu, dadanya terasa semakin sesak.
Ia teringat Danu, anak kecil yang selalu meminta dibacakan cerita tentang kapal laut.
Ia teringat Nisa, yang suka meminjam buku bergambar meski belum lancar membaca.
Ia teringat bagaimana anak-anak itu duduk di halaman rumah warga sambil menunggu gerobak buku datang.
Dulu, mereka selalu datang.
Rantaka mendorong gerobak.
Banyu memperbaiki roda.
Liris membacakan puisi dan dongeng.
Jagra mengajak anak-anak bermain sambil mengajarkan cara mengenal ikan sungai.
Mereka tertawa.
Mereka merasa berguna.
Namun, kini gerobak itu hanya tinggal benda tua di gudang.
Rantaka menaruh surat Bu Laras di atas meja.
Ia lalu membuka laci dan mengeluarkan amplop cokelat berisi uang tabungannya.
Amplop itu masih utuh.
Ia belum menggunakan uang tersebut.
Namun, sekarang ia mulai memahami bahwa membantu Jagra tidak cukup dengan datang membawa uang.
Ada hal lain yang harus diperbaiki terlebih dahulu.
Kepercayaan.
Harga diri.
Persahabatan.
Sementara itu, di rumah Liris, surat dari Bu Laras tiba pada sore yang sama.
Liris sedang duduk di teras sambil menulis di buku hijau ketika adiknya menyerahkan amplop putih itu.
“Kak, ada surat.”
Liris melihat tulisan Bu Laras.
Ia segera membuka amplop tersebut.
Setelah membaca isi surat itu, ia terdiam cukup lama.
Ibunya yang sedang mengupas singkong di dekat dapur memperhatikan wajahnya.
“Dari siapa?”
“Dari Bu Laras.”
“Beliau sehat?”
“Sehat.”
“Lalu kenapa kamu diam?”
Liris memeluk surat itu.
“Anak-anak kecil di desa masih menunggu Gerobak Buku Langit Biru.”
Ibunya berhenti mengupas singkong.
Liris menunduk.
“Aku terlalu sibuk memikirkan surat dari kota. Aku terlalu marah karena puisi itu dicuri. Aku terlalu kecewa pada Ayah karena tidak mengizinkanku pergi.”
Ibunya mendekat.
“Itu bukan berarti kamu tidak peduli pada yang lain.”
“Tapi aku menjauh.”
“Kamu sedang terluka.”
“Jagra juga terluka. Banyu juga. Rantaka juga.”
Ibunya tidak menjawab.
Liris membuka buku hijaunya.
Di salah satu halaman, ia menemukan puisi lama yang pernah ia tulis saat Gerobak Buku Langit Biru baru mulai berjalan.
Buku-buku kecil berjalan di atas roda,
menuju rumah yang jauh dari kota.
Jika anak-anak belajar mengeja cahaya,
mungkin malam tidak lagi terlalu gelap bagi mereka.
Liris menatap bait itu lama.
Ia tidak tahu apakah puisinya cukup baik.
Ia tidak tahu apakah ia akan benar-benar bisa pergi ke kota untuk mengikuti pelatihan.
Namun, ia tahu bahwa kata-kata seharusnya tidak hanya disimpan di dalam buku.
Kata-kata juga harus menjadi jalan untuk menguatkan orang lain.
Di rumah Banyu, surat dari Bu Laras diterima menjelang malam.
Saat itu, Banyu sedang duduk di dekat jendela sambil memandangi halaman. Tangan kirinya masih terasa nyeri jika terlalu banyak bergerak.
Ibunya masuk membawa surat itu.
“Ada surat dari Bu Laras.”
Banyu menerimanya.
Ia membaca isi surat itu perlahan.
Ketika sampai pada bagian tentang Gerobak Buku Langit Biru, ia menunduk.
Di dalam pikirannya, ia melihat gerobak tua itu.
Roda kirinya pernah rusak, lalu ia perbaiki dengan potongan besi dan baut bekas.
Pegangannya pernah patah, lalu ia ganti dengan kayu yang diambil dari sisa pagar.
Gerobak itu memang tidak sempurna.
Catnya mengelupas.
Rodanya kadang berbunyi.
Namun, gerobak itu adalah salah satu benda pertama yang membuat Banyu merasa bahwa keahliannya berguna bagi orang lain.
Ia ingat wajah anak-anak kecil yang bersorak ketika gerobak buku datang.
Ia ingat bagaimana Jagra membantu mendorongnya melewati jalan berlumpur.
Ia ingat Liris membacakan dongeng.
Ia ingat Rantaka menyusun buku dengan hati-hati.
Banyu menutup surat itu.
“Bu,” katanya pelan, “aku ingin ke sekolah lama besok.”
“Ke SD Wanasari?”
Banyu mengangguk.
“Aku ingin melihat gerobak buku.”
Ibunya tersenyum kecil.
“Pergilah.”
Keesokan paginya, tanpa saling berjanji, Rantaka, Liris, dan Banyu datang ke SD Wanasari.
Rantaka tiba lebih dahulu.
Ia berdiri di depan gerbang sekolah yang dulu menjadi tempat mereka belajar. Bangunannya kini tampak lebih sepi karena sebagian murid sedang berada di kelas.
Pohon beringin tua masih berdiri di halaman.
Daunnya bergerak perlahan tertiup angin.
Tidak lama kemudian, Liris datang dari arah jalan desa.
Ia membawa buku hijau di dadanya.
Mereka saling memandang.
Tidak ada sapaan hangat seperti dulu.
Tidak ada senyum panjang.
Namun, ada sesuatu yang berubah.
Mereka datang ke tempat yang sama.
Untuk alasan yang sama.
Banyu datang beberapa menit kemudian.
Ia membawa tas kain dan sebuah obeng kecil yang selalu disimpannya.
Ketika melihat Rantaka dan Liris, ia berhenti.
“Kalian juga dapat surat?” tanyanya.
Rantaka mengangguk.
Liris juga mengangguk.
Mereka bertiga berdiri di depan sekolah tanpa tahu harus memulai dari mana.
Akhirnya, Bu Laras keluar dari ruang guru.
Wajahnya tampak terkejut, lalu tersenyum.
“Kalian datang.”
Rantaka menunduk.
“Maaf, Bu.”
Bu Laras mendekat.
“Untuk apa?”
“Karena kami membiarkan Gerobak Buku berhenti.”
Bu Laras memandang mereka satu per satu.
“Kalian bukan orang dewasa yang harus selalu mampu menyelesaikan semuanya. Kalian anak-anak yang sedang belajar memahami hidup.”
“Tapi kami gagal menjaga persahabatan,” kata Liris.
Bu Laras tersenyum lembut.
“Persahabatan tidak hilang hanya karena sedang tersesat.”
Banyu memandang ke arah gudang sekolah.
“Gerobaknya masih ada?”
“Masih,” jawab Bu Laras. “Tapi roda belakangnya kempis. Beberapa buku juga harus dibersihkan.”
Banyu mengangguk pelan.
“Aku bisa memperbaiki rodanya.”
Bu Laras menatap perban di tangan Banyu.
“Kamu yakin?”
“Aku tidak akan memakai listrik,” jawab Banyu. “Cuma roda.”
Untuk pertama kalinya, Liris tersenyum tipis.
Mereka berjalan menuju gudang tua.
Pintu gudang berderit ketika Bu Laras membukanya.
Di dalamnya, udara terasa pengap dan berdebu.
Beberapa meja rusak menumpuk di sudut. Peta Indonesia yang sudah lama robek masih tergantung di dinding. Di bagian belakang ruangan, tertutup kain lusuh, berdirilah Gerobak Buku Langit Biru.
Rantaka mendekat.
Ia menarik kain penutupnya.
Debu beterbangan.
Gerobak itu tampak lebih tua daripada yang ia ingat.
Cat birunya hampir hilang.
Tulisan LANGIT BIRU di bagian samping sudah pudar.
Salah satu roda belakangnya memang kempis.
Di dalam gerobak, buku-buku tersusun tidak rapi. Sebagian sampulnya mulai kusam. Ada halaman yang terlipat, ada pula yang mulai menguning.
Liris menyentuh salah satu buku cerita.
“Anak-anak masih mau membaca ini?”
Bu Laras mengangguk.
“Mereka tidak peduli bukunya baru atau lama. Mereka hanya senang jika ada yang datang membawa cerita.”
Rantaka memandangi buku-buku itu.
Ia merasa malu.
Mereka dulu begitu yakin akan selalu menjaga gerobak itu.
Namun, ketika hidup mulai sulit, mereka justru membiarkannya berhenti.
Banyu berjongkok di dekat roda.
Ia memeriksa bagian besi dan bautnya.
“Rodanya masih bisa diperbaiki,” katanya.
“Benarkah?” tanya Liris.
Banyu mengangguk.
“Bisa. Tapi perlu ban bekas atau karet tambahan.”
Rantaka melihat pegangan gerobak yang mulai retak.
“Aku bisa cari kayu untuk memperkuat pegangan.”
Liris membuka buku hijaunya.
“Aku bisa buat jadwal baru. Kalau gerobak ini berjalan lagi, kita tidak harus selalu datang bersama-sama. Bisa bergantian.”
Bu Laras memandang mereka dengan mata yang hangat.
“Itu awal yang baik.”
Namun, setelah beberapa saat, suasana kembali hening.
Nama Jagra belum disebut.
Mereka semua tahu, Gerobak Buku Langit Biru tidak akan benar-benar lengkap tanpa dirinya.
Rantaka akhirnya berkata, “Kita harus bicara dengan Jagra.”
Liris menatapnya.
“Dia meminta kita tidak datang lagi.”
“Aku tahu.”
“Kalau kita datang, mungkin dia akan semakin marah.”
Banyu masih memegang roda gerobak.
“Kita tidak harus datang untuk memaksa dia kembali.”
“Lalu untuk apa?” tanya Liris.
Banyu mengangkat wajah.
“Untuk meminta maaf.”
Rantaka terdiam.
Ia teringat amplop cokelat yang dibawanya ke rumah Jagra.
Ia teringat wajah Jagra yang merasa direndahkan.
Mungkin selama ini mereka terlalu sibuk menyelamatkan Jagra, sampai lupa mendengarkan apa yang sebenarnya ia rasakan.
Bu Laras mendekat kepada mereka.
“Kalian tidak bisa memaksa seseorang kembali,” katanya. “Tetapi kalian bisa menunjukkan bahwa pintu persahabatan itu masih terbuka.”
Liris memandang tulisan Langit Biru yang pudar di sisi gerobak.
“Kalau Jagra tidak mau kembali?”
Bu Laras tersenyum.
“Setidaknya kalian sudah berani mencari jalan pulang.”
Mereka bertiga mulai bekerja di gudang.
Rantaka mengangkat beberapa buku untuk dijemur di halaman.
Liris membersihkan sampul-sampul buku dengan kain kering.
Banyu membuka roda yang kempis dan memeriksa bagian besinya.
Pekerjaan itu sederhana.
Tidak ada musik.
Tidak ada perayaan.
Tidak ada janji besar.
Hanya tiga sahabat yang pernah terpecah, kini mulai membersihkan sesuatu yang dulu mereka bangun bersama.
Ketika matahari mulai condong ke barat, beberapa anak kecil datang ke halaman sekolah.
Danu, Nisa, dan beberapa teman mereka berdiri di dekat pintu gudang.
“Kak Rantaka,” panggil Danu.
Rantaka menoleh.
“Kakak mau bawa gerobak buku lagi?”
Pertanyaan itu membuat Rantaka tidak langsung menjawab.
Liris memandang Banyu.
Banyu memandang roda gerobak yang sedang diperbaikinya.
Kemudian Rantaka tersenyum kecil.
“Iya. Kami sedang memperbaikinya.”
Anak-anak itu bersorak.
Suara mereka memenuhi halaman sekolah.
Dan di tengah suara kecil yang penuh harapan itu, Rantaka, Liris, dan Banyu menyadari sesuatu.
Mereka belum memperbaiki semuanya.
Jagra masih jauh.
Luka lama masih ada.
Masalah keluarga, sekolah, uang, dan mimpi belum selesai.
Namun, surat dari Bu Laras telah mengingatkan mereka bahwa persahabatan tidak selalu harus dimulai dari jawaban yang sempurna.
Kadang, persahabatan dimulai dari keberanian untuk datang kembali.
Dari keberanian untuk membersihkan debu.
Dari keberanian untuk memperbaiki roda yang rusak.
Dan dari keberanian untuk membuka pintu yang selama ini mereka biarkan tertutup.
BAB 20 — BUKU HIJAU DAN LUKA LAMA
Pagi itu, Rantaka berdiri cukup lama di depan rumah Liris.
Rumah itu tidak besar. Dindingnya terbuat dari papan yang dicat putih, meski sebagian catnya sudah mulai mengelupas. Di halaman depan tumbuh beberapa bunga kertas berwarna merah muda. Di samping rumah, terlihat jemuran pakaian yang bergerak pelan tertiup angin.
Rantaka membawa sebuah tas kain di tangannya.
Di dalam tas itu terdapat beberapa buku dari Gerobak Buku Langit Biru yang sudah dibersihkan kemarin. Ada buku cerita anak, buku pengetahuan sederhana, dan sebuah buku tulis baru yang dibelinya dari uang sisa membantu Pakde Wirya di warung.
Ia tidak tahu apakah Liris akan mau menemuinya.
Sejak pertengkaran mereka di sekolah, hubungan mereka tidak lagi sama.
Rantaka masih ingat bagaimana ia pernah berkata kasar kepada Liris saat nilai matematikanya turun. Saat itu Liris hanya ingin mengingatkannya agar tidak menyerah. Namun, Rantaka yang sedang lelah dan malu merasa dikasihani.
Ia mengatakan kata-kata yang seharusnya tidak pernah keluar.
Kau tidak tahu apa-apa tentang hidupku.
Kau hanya pandai menulis puisi dan merasa semua masalah bisa selesai dengan kata-kata.
Kata-kata itu mungkin sudah lama berlalu.
Tetapi luka yang ditinggalkannya belum tentu hilang.
Rantaka menarik napas.
Kemudian ia mengetuk pintu.
Tok. Tok. Tok.
Tidak lama kemudian, ibu Liris membuka pintu.
“Oh, Rantaka,” katanya.
“Pagi, Bu.”
“Cari Liris?”
Rantaka mengangguk.
“Dia di belakang rumah. Sedang menulis.”
Ibu Liris memandang tas kain di tangan Rantaka.
“Kamu masuk saja.”
Rantaka berjalan melewati ruang tengah, lalu menuju halaman belakang.
Di sana, Liris duduk di bawah pohon jambu.
Buku hijau berada di pangkuannya.
Tangannya memegang pena.
Namun, ia tidak sedang menulis.
Ia hanya memandangi halaman kosong dengan wajah yang tenang, tetapi jauh.
Ketika mendengar langkah kaki, Liris menoleh.
Wajahnya berubah sedikit saat melihat Rantaka.
“Kau datang,” katanya.
“Iya.”
“Ada apa?”
Rantaka berdiri beberapa langkah darinya.
Untuk sesaat, ia tidak tahu harus memulai dari mana.
Ia pernah berbicara di depan warga desa tentang sekolah.
Ia pernah mengajak anak-anak memperbaiki halaman SD Wanasari.
Ia pernah menyampaikan pidato di depan tim kecamatan.
Namun, meminta maaf kepada sahabat sendiri ternyata jauh lebih sulit daripada berbicara di depan banyak orang.
“Aku mau bicara,” katanya akhirnya.
Liris menutup buku hijaunya.
“Bicara saja.”
Rantaka meletakkan tas kain di atas kursi kayu dekat pohon.
“Aku datang bukan untuk membahas Jagra.”
Liris menatapnya.
“Lalu?”
“Aku datang untuk minta maaf.”
Angin pagi bergerak pelan.
Daun-daun jambu bergoyang di atas mereka.
Liris tidak langsung menjawab.
Rantaka menunduk.
“Aku tahu aku pernah bicara kasar kepadamu. Waktu nilai matematikaku turun, kau hanya ingin menolong. Tapi aku marah karena merasa gagal. Aku merasa semua orang melihatku sebagai anak yang tidak mampu.”
Liris masih diam.
“Aku bilang kau tidak tahu apa-apa tentang hidupku. Aku bilang puisimu tidak bisa menyelesaikan masalah. Padahal aku tahu kata-kata itu tidak benar.”
Rantaka mengangkat wajah.
“Kau selalu ada ketika kami butuh semangat. Kau yang membuat kami berani memberi nama Langit Biru. Kau yang mengingatkan kami bahwa desa ini juga punya mimpi.”
Liris memandang buku hijaunya.
“Waktu itu aku juga marah,” katanya pelan.
“Aku tahu.”
“Aku merasa kau menganggap apa yang aku lakukan tidak penting.”
“Aku salah.”
Liris menarik napas.
“Aku juga tidak sepenuhnya mengerti keadaanmu, Rantaka. Aku terlalu cepat memberi nasihat. Aku tidak bertanya apakah kau sedang baik-baik saja.”
Rantaka menggeleng.
“Kau tidak salah karena peduli.”
“Kadang peduli juga bisa terasa seperti menekan.”
Mereka terdiam.
Namun, keheningan kali itu tidak lagi terasa seperti dinding.
Keheningan itu seperti ruang kecil yang memberi kesempatan bagi mereka untuk memahami satu sama lain.
Rantaka membuka tas kain.
“Aku bawa beberapa buku dari gerobak.”
Liris melihat buku-buku itu.
“Gerobaknya sudah mulai diperbaiki?”
“Banyu sedang memperbaiki roda. Aku membantu membersihkan buku. Bu Laras bilang anak-anak kecil masih menunggu.”
Liris tersenyum tipis.
“Danu pasti masih mencari buku tentang kapal.”
“Dan Nisa pasti masih ingin buku bergambar.”
Mereka sama-sama tersenyum kecil.
Senyum itu belum sepenuhnya menghapus semua luka.
Tetapi setidaknya, senyum itu mengingatkan mereka pada masa ketika persahabatan masih terasa ringan.
Rantaka lalu mengeluarkan buku tulis baru dari dalam tas.
“Aku juga bawa ini untukmu.”
Liris menerima buku itu.
“Untuk apa?”
“Untuk menulis.”
Liris menatap sampul buku tulis itu.
“Aku masih punya buku hijau.”
“Aku tahu. Tapi mungkin kau butuh buku baru untuk hal-hal baru.”
Liris mengusap sampul buku tulis itu perlahan.
“Aku tidak tahu apakah aku masih mau menulis.”
Rantaka terkejut.
“Kenapa?”
Liris membuka buku hijaunya.
Di dalamnya terdapat beberapa lembar puisi, coretan, dan halaman-halaman yang penuh tulisan kecil.
“Aku menulis puisi itu lama sekali,” katanya. “Puisi yang dikirim ke majalah dinding sekolah. Aku menulisnya waktu Gerobak Buku Langit Biru masih berjalan.”
Rantaka mengangguk.
“Puisi tentang sungai?”
“Bukan. Yang tentang anak-anak desa dan cahaya di jendela.”
Rantaka mencoba mengingat.
“Yang ada kalimat tentang lampu minyak?”
Liris mengangguk.
“Ya. Puisi itu.”
Wajah Liris kembali murung.
“Nayla menyalin sebagian besar puisiku.”
Rantaka duduk di kursi kayu.
“Ceritakan semuanya.”
Liris menatapnya beberapa saat.
Lalu ia mulai bercerita.
Beberapa bulan lalu, ketika sekolah mengadakan pengumpulan karya untuk majalah dinding, Liris mengirim puisi berjudul “Cahaya di Jendela Kecil.”
Puisi itu bercerita tentang anak-anak desa yang belajar di bawah lampu minyak, tentang ibu yang menunggu anaknya pulang sekolah, dan tentang cahaya kecil yang tetap menyala meski malam terasa panjang.
Liris menyerahkan puisi itu kepada guru pembina majalah dinding.
Namun, beberapa minggu kemudian, Nayla mengirim sebuah puisi ke lomba sastra tingkat kecamatan.
Puisi Nayla memiliki judul berbeda.
Tetapi beberapa baitnya hampir sama.
Bahkan ada kalimat yang persis seperti tulisan Liris.
Nayla memenangkan juara kedua.
Namanya dipanggil di depan sekolah.
Semua orang bertepuk tangan.
Sementara Liris hanya berdiri di belakang, merasa seperti sebagian dari dirinya telah diambil.
“Aku ingin bicara,” kata Liris. “Tapi aku tidak punya bukti.”
“Bukumu ini bukti,” kata Rantaka.
Liris menggeleng.
“Buku ini bisa saja dianggap baru kutulis setelah melihat puisi Nayla.”
“Kalau ada tanggalnya?”
“Ada beberapa halaman yang bertanggal. Tapi tidak semua.”
Rantaka membuka buku hijau itu dengan hati-hati.
Tulisan Liris rapi dan kecil.
Di beberapa halaman, terdapat coretan awal, kata-kata yang dicoret, lalu diganti dengan kata lain.
Di bagian atas salah satu halaman, tertulis tanggal beberapa bulan sebelum lomba kecamatan diadakan.
Rantaka membaca beberapa baris.
Ia tidak membaca keras-keras.
Namun, ia melihat kalimat yang pernah didengarnya dalam puisi Nayla.
Kalimat itu memang milik Liris.
“Ini penting,” kata Rantaka.
Liris menatapnya ragu.
“Kalau Nayla menyangkal?”
“Kita cari bukti lain.”
“Bukti apa?”
Rantaka berpikir.
“Kau menyerahkan puisi itu ke siapa?”
“Bu Maya, guru pembina majalah dinding.”
“Apakah Bu Maya masih menyimpan karya-karya yang masuk?”
“Aku tidak tahu.”
“Kita tanya.”
Liris tampak bimbang.
“Aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut orang-orang bilang aku iri karena Nayla menang lomba.”
“Kau tidak iri. Kau hanya mempertahankan karyamu.”
“Tidak semua orang akan percaya.”
Rantaka mengangguk.
“Itu mungkin benar. Tapi kalau kau diam, Nayla akan terus memakai kata-katamu seolah itu miliknya.”
Liris memeluk buku hijau di dadanya.
“Aku tidak suka bertengkar.”
“Kita tidak datang untuk bertengkar.”
“Lalu untuk apa?”
“Untuk mengatakan yang sebenarnya.”
Kalimat itu membuat Liris terdiam.
Ia memandangi halaman buku hijaunya.
Di sana terdapat banyak puisi yang belum selesai.
Ada puisi tentang hujan.
Ada puisi tentang sungai.
Ada puisi tentang pohon beringin.
Ada juga puisi tentang persahabatan yang retak.
Mungkin selama ini ia takut bukan hanya karena Nayla.
Ia takut karena merasa kata-katanya tidak cukup kuat untuk melawan orang yang lebih populer, lebih percaya diri, dan lebih disukai banyak siswa.
Namun, ketika Rantaka duduk di depannya, ia merasa tidak sendirian.
“Baik,” kata Liris akhirnya.
Rantaka menatapnya.
“Kita cari bukti.”
Siang itu, mereka pergi ke sekolah.
Mereka menemui Bu Maya di ruang guru.
Bu Maya sedang menyusun beberapa lembar kertas ketika Rantaka dan Liris datang.
“Bu, kami ingin bertanya tentang puisi yang pernah dikumpulkan untuk majalah dinding,” kata Liris.
Bu Maya mengangkat wajah.
“Puisi yang mana?”
“Puisi saya. Judulnya ‘Cahaya di Jendela Kecil.’”
Bu Maya tampak berpikir.
“Oh, saya ingat. Puisi tentang lampu minyak dan anak-anak yang belajar malam hari.”
Liris menatap Rantaka.
Itu berarti Bu Maya benar-benar pernah membacanya.
“Apakah Ibu masih menyimpan naskahnya?” tanya Rantaka.
Bu Maya membuka lemari kecil di belakang meja.
Di dalamnya terdapat beberapa map berwarna cokelat.
“Saya biasanya menyimpan karya siswa, meski tidak semuanya dipajang.”
Ia mencari beberapa saat.
Lalu mengeluarkan satu map.
“Ini kumpulan karya yang masuk semester lalu.”
Liris menahan napas.
Bu Maya membuka map itu.
Beberapa lembar kertas tersusun di dalamnya.
Ada cerita pendek, puisi, gambar, dan artikel sederhana.
Kemudian Bu Maya menemukan satu lembar kertas yang dilipat rapi.
Di bagian atasnya tertulis:
Cahaya di Jendela Kecil
Karya: Liris Wanasari
Tangan Liris gemetar ketika menerima kertas itu.
Di bagian bawah, terdapat tanda tangan Bu Maya dan tanggal penerimaan karya.
Tanggal itu lebih awal daripada tanggal Nayla mengirim puisinya ke lomba kecamatan.
Rantaka tersenyum kecil.
“Kita punya bukti.”
Namun, Bu Maya belum sepenuhnya mengerti.
“Memangnya ada apa?”
Liris menunduk.
Rantaka lalu menjelaskan tentang puisi Nayla yang memiliki beberapa bait sama.
Bu Maya mendengarkan dengan wajah serius.
Setelah Rantaka selesai berbicara, Bu Maya mengambil sebuah majalah lomba kecamatan dari lemari.
Di dalamnya terdapat kumpulan puisi peserta.
Ia membuka halaman yang memuat puisi Nayla.
Liris dan Rantaka melihatnya bersama-sama.
Judulnya memang berbeda.
Namun, pada bait kedua dan bait keempat, terdapat kalimat yang hampir sama persis dengan puisi Liris.
Bu Maya membandingkan kedua naskah itu.
Wajahnya berubah.
“Ini sangat mirip,” katanya.
“Bukan hanya mirip, Bu,” kata Liris dengan suara bergetar. “Itu tulisan saya.”
Bu Maya mengangguk.
“Kalian benar datang kepada saya.”
Liris menatapnya.
“Apa yang akan terjadi?”
“Kita tidak boleh menuduh tanpa memberi kesempatan Nayla menjelaskan. Tetapi bukti ini cukup kuat untuk dibicarakan secara resmi.”
Liris tampak kembali cemas.
Rantaka memandangnya.
“Kau tidak sendirian.”
Bu Maya menyimpan kedua naskah itu di atas meja.
“Kita akan memanggil Nayla besok. Saya juga akan menghubungi guru pembina lomba.”
Setelah keluar dari ruang guru, Liris berjalan pelan di koridor sekolah.
Tangannya masih memegang buku hijau.
“Aku takut,” katanya.
Rantaka berjalan di sampingnya.
“Aku juga takut.”
Liris menoleh.
“Kau takut apa?”
“Takut kalau kita tidak bisa membantu Jagra. Takut kalau Langit Biru tidak bisa kembali seperti dulu. Takut kalau aku selalu terlambat memahami orang lain.”
Liris terdiam.
“Kita memang tidak bisa mengubah semuanya sekaligus,” katanya.
Rantaka mengangguk.
“Tapi hari ini, kita mencoba satu hal.”
Liris memandang buku hijau di tangannya.
“Aku tidak tahu apakah puisiku akan kembali membuatku bahagia.”
“Mungkin tidak langsung.”
“Lalu?”
“Mungkin kau hanya perlu menulis lagi.”
Liris tersenyum kecil.
Sore itu, sebelum pulang, mereka kembali ke gudang SD Wanasari.
Banyu sudah berada di sana.
Ia sedang mencoba memasang karet tambahan pada roda gerobak buku.
Ketika melihat Rantaka dan Liris datang, ia berhenti bekerja.
“Bagaimana?” tanyanya.
Liris mengangkat buku hijau.
“Kami menemukan bukti.”
Banyu tersenyum.
“Bagus.”
Rantaka membantu Banyu memegang roda.
Liris duduk di dekat gerobak, lalu membuka buku tulis baru yang diberikan Rantaka.
Untuk beberapa saat, ia memandangi halaman pertama.
Kemudian ia mulai menulis.
Bukan puisi tentang kemenangan.
Bukan puisi tentang Nayla.
Bukan pula puisi tentang kemarahan.
Ia menulis tentang buku hijau yang pernah membuatnya takut.
Tentang kata-kata yang sempat ingin ia sembunyikan.
Tentang sahabat yang datang membawa permintaan maaf.
Dan tentang gerobak tua yang perlahan kembali bergerak.
Di sisi gerobak, tulisan LANGIT BIRU masih tampak pudar.
Namun, sore itu, Rantaka mengambil kuas kecil dan cat biru sisa dari gudang.
Ia mengecat kembali beberapa huruf yang hampir hilang.
Banyu memperbaiki roda.
Liris menulis.
Mereka belum tahu apa yang akan terjadi ketika Nayla dipanggil besok.
Mereka belum tahu apakah Jagra akan mau menerima permintaan maaf mereka.
Mereka belum tahu apakah semua luka dapat sembuh.
Namun, untuk pertama kalinya sejak malam di jembatan sungai, mereka tidak hanya menunggu keadaan berubah.
Mereka mulai bergerak.
Dan di antara buku hijau, roda tua, serta tulisan Langit Biru yang kembali tampak jelas, mereka menemukan sedikit keberanian untuk menghadapi luka lama.
BAB 21 — SEPEDA YANG KEMBALI
Pagi itu, Banyu datang ke sekolah lebih awal daripada biasanya.
Kabut masih menggantung rendah di atas jalan tanah. Rumput di pinggir jalan basah oleh embun. Dari kejauhan, suara ayam berkokok bersahut-sahutan, sementara beberapa warga mulai berjalan menuju ladang.
Banyu mendorong sepeda tua miliknya pelan-pelan.
Sepeda itu memang sudah tidak seperti sepeda baru.
Cat hitamnya mengelupas di beberapa bagian. Rantai sering berbunyi jika terlalu lama dipakai. Lampu depannya sudah lama tidak menyala. Di bagian belakang, terdapat keranjang kecil dari kawat bekas yang pernah ia pasang sendiri untuk membawa buku, botol plastik, dan alat-alat sederhana.
Namun, sepeda itu sangat berarti baginya.
Sepeda itu dulu dibelikan ayahnya dari seorang warga yang pindah ke kecamatan. Harganya tidak mahal, tetapi Banyu tahu ayahnya menabung cukup lama untuk membelinya.
Dengan sepeda itu, Banyu pergi ke sekolah.
Dengan sepeda itu, ia mengumpulkan barang bekas.
Dengan sepeda itu, ia membantu Pak Hendra membeli baut, paku, dan kabel ke pasar kecamatan.
Dan dengan sepeda itu pula, ia pernah membantu mendorong Gerobak Buku Langit Biru melewati jalan berlumpur.
Namun, beberapa minggu sebelumnya, sepeda itu hilang di pasar malam kecamatan.
Saat itu Banyu sedang membantu Pak Hendra memperbaiki beberapa lampu hias dan meja lipat untuk kegiatan pasar malam. Ia memarkir sepedanya di dekat gudang kecil di belakang lapangan.
Ketika pekerjaan selesai, sepedanya sudah tidak ada.
Tidak ada yang melihat siapa yang mengambilnya.
Tidak ada yang tahu ke mana sepeda itu dibawa.
Pada saat itulah Banyu melihat Jagra berada tidak jauh dari lokasi.
Jagra memang sedang lewat bersama beberapa pemuda desa. Wajahnya tampak murung, dan ia tidak banyak bicara. Namun, karena Banyu sedang panik dan kecewa, pikirannya langsung dipenuhi kecurigaan.
Ia pernah mendengar beberapa siswa membicarakan keadaan keluarga Jagra yang sedang sulit.
Ia tahu Jagra membutuhkan uang.
Ia tahu Jagra sedang marah kepada banyak orang.
Dan tanpa benar-benar mencari tahu, Banyu menuduh sahabatnya sendiri.
Tuduhan itu menjadi salah satu retakan yang membuat Langit Biru semakin jauh dari utuh.
Hari ini, Banyu kembali memikirkan sepeda itu.
Bukan karena ia berharap sepeda itu tiba-tiba ditemukan.
Melainkan karena setiap kali melihat Rantaka dan Liris mulai berusaha memperbaiki persahabatan mereka, ia semakin sadar bahwa ada satu kesalahan yang belum ia bereskan.
Kesalahan terhadap Jagra.
Saat tiba di sekolah, Banyu melihat Pak Hendra sedang berdiri di dekat ruang keterampilan.
Pintu ruang itu masih terkunci.
Banyu berhenti beberapa langkah dari sana.
Pak Hendra menoleh.
“Pagi, Banyu.”
“Pagi, Pak.”
Pak Hendra memperhatikan tangan kiri Banyu yang kini sudah tidak lagi dibalut perban tebal. Luka bakarnya masih tampak kemerahan, tetapi sudah mulai mengering.
“Bagaimana tanganmu?”
“Sudah lebih baik.”
“Masih sakit?”
“Kalau dipakai terlalu lama, sedikit.”
Pak Hendra mengangguk.
“Jangan dipaksakan.”
Banyu memandangi pintu ruang keterampilan.
“Pak, kapan saya boleh masuk lagi ke ruang itu?”
Pak Hendra tidak langsung menjawab.
“Kamu masih ingin membuat mesin?”
Banyu menunduk.
“Tidak sekarang.”
“Lalu?”
“Aku hanya ingin memperbaiki beberapa barang. Aku ingin membantu Gerobak Buku Langit Biru.”
Pak Hendra menatapnya cukup lama.
“Aku dengar kamu sudah mulai memperbaiki roda gerobak.”
“Sedikit.”
“Bagus.”
Banyu mengangkat wajah.
“Jadi saya boleh masuk?”
Pak Hendra tersenyum tipis.
“Belum untuk bekerja sendiri. Tapi kalau ada saya, kamu boleh membantu.”
Wajah Banyu sedikit lebih cerah.
“Terima kasih, Pak.”
Pak Hendra mengangguk.
“Kamu harus belajar dari yang kemarin. Kemampuan tanpa kehati-hatian bisa melukai diri sendiri. Tapi rasa ingin tahu yang dijaga dengan baik bisa menjadi kekuatan.”
Banyu menyimpan kalimat itu di dalam pikirannya.
Saat jam istirahat, Rantaka datang menghampirinya.
“Kau jadi ke pasar sore ini?” tanyanya.
Banyu mengangguk.
“Aku mau mencari ban bekas untuk roda gerobak.”
“Aku ikut.”
“Kau tidak harus ikut.”
“Aku mau bantu.”
Banyu tidak menolak.
Mereka berdua berangkat ke pasar kecamatan setelah sekolah selesai.
Pasar itu mulai ramai menjelang sore. Pedagang sayur menata dagangan di atas tikar. Penjual ikan membersihkan sisik di dekat ember besar. Bau gorengan, ikan asin, tanah basah, dan asap kendaraan bercampur menjadi satu.
Banyu berjalan perlahan di antara kios-kios.
Ia membawa uang seadanya di saku celana.
Rantaka berjalan di sampingnya.
Mereka mencari penjual ban bekas, tetapi beberapa kali harus berhenti karena harga yang ditawarkan terlalu mahal.
“Kalau tidak ada ban, kita bisa pakai karet lain,” kata Banyu.
“Yang penting gerobaknya bisa jalan,” jawab Rantaka.
Mereka melewati deretan kios barang bekas di bagian belakang pasar.
Di sana terdapat tumpukan kursi patah, panci penyok, kipas angin rusak, rangka sepeda, botol kaca, besi tua, dan berbagai barang yang menunggu dibeli atau dibongkar.
Banyu berjalan sambil melihat-lihat.
Tiba-tiba langkahnya berhenti.
Matanya tertuju pada sebuah rangka sepeda yang disandarkan di dekat tumpukan besi.
Rangka itu berwarna hitam kusam.
Catnya mengelupas.
Di bagian belakangnya terdapat keranjang kawat yang sudah sedikit bengkok.
Banyu tidak bergerak.
Rantaka menoleh.
“Kenapa?”
Banyu menunjuk dengan tangan gemetar.
“Itu…”
“Apa?”
“Itu sepedaku.”
Rantaka memandang rangka sepeda tersebut.
Banyu berjalan mendekat.
Ia menyentuh bagian setang yang sudah berkarat.
Di sisi kanan setang, terdapat goresan panjang yang ia buat sendiri ketika sepeda itu jatuh di jalan berbatu.
Di dekat sadel, ada lilitan tali biru yang dipasang ayahnya agar sadel tidak mudah lepas.
Dan di keranjang belakang, masih tergantung kawat kecil yang pernah dipakai Banyu untuk mengikat botol bekas.
Tidak mungkin salah.
“Itu benar sepedaku,” katanya pelan.
Rantaka melihat wajah Banyu.
“Kita tanya pemilik kios.”
Pemilik kios itu seorang laki-laki tua bernama Pak Giman. Rambutnya sudah memutih. Tangannya hitam karena sering memegang besi dan oli.
“Pak,” kata Banyu dengan suara bergetar, “sepeda ini dari mana?”
Pak Giman melihat sepeda itu.
“Yang itu?”
“Iya.”
“Dibeli dari seorang pemuda beberapa hari lalu.”
“Siapa?”
Pak Giman mengangkat bahu.
“Saya tidak tahu namanya. Dia bilang butuh uang. Sepedanya masih bisa dipakai, tapi saya beli untuk diambil besinya.”
Banyu menahan napas.
“Dia dari mana?”
“Sepertinya orang sekitar sini. Pakai jaket cokelat. Badannya kurus. Bawa tas hitam.”
Rantaka menatap Banyu.
Ciri-ciri itu tidak langsung mengarah pada Jagra.
Namun, Banyu tetap merasa dadanya sesak.
“Pak, apakah sepeda ini bisa saya ambil kembali?” tanya Banyu.
Pak Giman menghela napas.
“Kalau memang itu milikmu, saya tidak ingin menahan. Tapi saya sudah membelinya.”
Banyu membuka saku celananya.
Uangnya tidak cukup banyak.
Ia menghitung beberapa lembar uang kecil yang dibawanya.
“Ini yang saya punya, Pak.”
Pak Giman melihat uang itu.
“Tidak cukup.”
Banyu menunduk.
Rantaka lalu mengeluarkan uang dari sakunya.
“Aku tambah.”
Banyu langsung menoleh.
“Tidak perlu.”
“Kita butuh sepeda itu.”
“Aku tidak mau merepotkanmu.”
“Ini bukan merepotkan. Ini membantu.”
Banyu terdiam.
Pak Giman memandangi mereka berdua.
Mungkin ia melihat sesuatu pada wajah Banyu. Mungkin ia tahu bahwa sepeda tua itu bukan sekadar rangka besi.
Akhirnya ia berkata, “Sudahlah. Ambil saja. Uang kalian cukup untuk mengganti sebagian.”
Banyu mengangkat wajah.
“Benarkah, Pak?”
Pak Giman mengangguk.
“Tapi lain kali, jangan tinggalkan sepeda sembarangan.”
“Terima kasih, Pak.”
Banyu memegang setang sepedanya.
Rasanya seperti menemukan kembali bagian kecil dari hidupnya yang sempat hilang.
Namun, ketika mereka hendak pergi, seorang pemuda yang sedang membawa karung rongsok melewati kios itu.
Pak Giman memanggilnya.
“Eh, Darto!”
Pemuda itu menoleh.
Ia mengenakan jaket cokelat lusuh dan membawa tas hitam di pundaknya.
Banyu menatapnya.
Wajah pemuda itu tidak asing.
Ia pernah melihatnya di pasar malam.
Pemuda itu adalah salah satu pekerja lepas yang sering membantu mengangkat barang dan membersihkan lapangan setelah acara.
Pak Giman menunjuk sepeda Banyu.
“Kamu kenal sepeda ini?”
Pemuda itu tampak terkejut.
“Apa?”
“Kamu yang jual ke saya, kan?”
Darto langsung mengalihkan pandangan.
“Saya beli dari orang lain.”
“Dari siapa?” tanya Rantaka.
Darto tidak menjawab.
Banyu melangkah maju.
“Kau mengambil sepeda ini dari pasar malam?”
Pemuda itu memandang Banyu.
“Bukan urusan anak sekolah.”
“Ini sepedaku.”
Darto terdiam.
Rantaka berdiri di samping Banyu.
“Kalau memang bukan kau yang mengambil, bilang dari siapa kau dapat.”
Darto menghela napas kasar.
“Aku menemukan sepeda itu di belakang gudang.”
“Menemukan?” ulang Banyu.
“Tidak ada orang. Aku pikir sudah tidak dipakai.”
“Itu diparkir,” kata Banyu.
Darto menatapnya dengan kesal.
“Ya, aku butuh uang.”
Kalimat itu membuat suasana hening.
Banyu merasa darahnya seperti berhenti mengalir.
Jadi benar.
Sepedanya dicuri.
Bukan oleh Jagra.
Bukan oleh sahabatnya.
Tetapi oleh pemuda yang bahkan tidak ia kenal.
Darto lalu berjalan pergi tanpa meminta maaf.
Rantaka ingin mengejarnya, tetapi Banyu menahan lengannya.
“Sudah,” kata Banyu pelan.
“Dia harus bertanggung jawab.”
“Kalau kita ribut, sepedaku juga tidak akan berubah.”
Rantaka menatapnya.
Banyu memandangi sepeda tua di depannya.
Rasa senang karena menemukan sepeda itu perlahan bercampur dengan rasa bersalah yang jauh lebih besar.
Ia teringat wajah Jagra ketika dituduh.
Ia teringat mata sahabatnya yang penuh marah dan kecewa.
Jadi kau juga tidak percaya kepadaku?
Saat itu, Jagra tidak berkata demikian.
Namun, Banyu tahu itulah yang mungkin dirasakan sahabatnya.
Ia menuduh Jagra hanya karena Jagra berada di dekat lokasi.
Ia menuduh Jagra karena keadaan keluarganya sedang sulit.
Ia menuduh Jagra karena lebih mudah mempercayai prasangka daripada mencari kebenaran.
Banyu menunduk.
“Aku salah, Rantaka.”
Rantaka tidak langsung menjawab.
“Aku salah menuduh Jagra.”
Rantaka menarik napas.
“Kita semua pernah salah kepadanya.”
“Tapi aku menuduhnya mencuri.”
“Aku tahu.”
“Aku membuat dia merasa tidak dipercaya oleh sahabatnya sendiri.”
Rantaka memandang wajah Banyu yang mulai basah oleh air mata.
“Kau bisa minta maaf.”
“Kalau dia tidak mau memaafkanku?”
“Kita tidak bisa menentukan jawaban Jagra.”
Banyu mengangguk pelan.
“Tapi kita tetap harus mengatakan yang sebenarnya.”
Mereka membawa sepeda itu ke sekolah keesokan harinya.
Pak Hendra membantu memeriksa bagian yang rusak.
Rantai sepedanya sudah longgar. Salah satu pedalnya patah. Ban belakangnya kempis dan perlu diganti. Namun, rangka utama masih kuat.
“Sepeda ini masih bisa dipakai,” kata Pak Hendra.
Banyu tampak lega.
Pak Hendra mengambil beberapa alat dari ruang keterampilan.
Kali ini, pintu ruangan itu dibuka olehnya sendiri.
Banyu berdiri di luar sebentar.
Ia memandangi meja kayu tempat mesin pompa airnya pernah meledak.
Serpihan-serpihan sudah dibersihkan.
Motor kipas angin rusak itu sudah tidak ada.
Namun, ingatan tentang kegagalan masih tinggal.
Pak Hendra menoleh.
“Masuklah.”
Banyu ragu.
“Saya boleh?”
“Kamu tidak sendiri sekarang.”
Banyu melangkah masuk.
Rantaka ikut membantu memegang rangka sepeda.
Pak Hendra menunjukkan cara mengencangkan rantai dengan benar. Ia mengajarkan Banyu memeriksa rem, roda, dan baut satu per satu.
“Jangan terburu-buru,” kata Pak Hendra.
Banyu mengangguk.
Ia bekerja lebih pelan.
Lebih teliti.
Setiap kali ingin cepat-cepat menyelesaikan sesuatu, ia mengingat suara letupan kecil dari mesin pompa air.
Setelah beberapa jam, sepeda itu kembali berdiri dengan lebih kuat.
Ban belakangnya diganti dengan ban bekas yang masih layak.
Pedalnya dipasang ulang.
Rantai dibersihkan dan diberi oli.
Keranjang kawat di belakang diperbaiki dengan beberapa ikatan baru.
Banyu memutar roda depan.
Roda itu bergerak lancar.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tersenyum lebar.
“Terima kasih, Pak,” katanya kepada Pak Hendra.
Pak Hendra mengangguk.
“Sepedamu kembali. Tapi yang lebih penting, kamu juga belajar kembali.”
Banyu memandang sepeda itu.
Ia tahu Pak Hendra tidak hanya berbicara tentang sepeda.
Sore hari, Banyu membawa sepeda itu menuju rumah Jagra.
Rantaka berjalan di sampingnya.
Mereka tidak membawa uang.
Tidak membawa proposal.
Tidak membawa nasihat.
Banyu hanya membawa sepeda tua yang telah kembali.
Dan keberanian untuk mengakui kesalahannya.
Di depan rumah Jagra, mereka berhenti.
Kolam ikan di samping rumah masih tampak keruh. Beberapa bagian tanggulnya belum diperbaiki. Jaring-jaring basah dijemur di dekat pagar.
Dari dalam rumah, terdengar suara ayah Jagra batuk.
Banyu menelan ludah.
“Aku takut,” katanya.
Rantaka memandangnya.
“Aku juga.”
“Kalau Jagra marah?”
“Dia berhak marah.”
Banyu mengangguk.
Ia lalu mengetuk pintu rumah itu.
Tok. Tok. Tok.
Tidak lama kemudian, ibu Jagra membuka pintu.
Wajahnya tampak lelah, tetapi ia tetap tersenyum ketika melihat mereka.
“Banyu. Rantaka.”
“Apakah Jagra ada, Bu?” tanya Banyu.
Ibu Jagra menoleh ke dalam rumah.
“Jagra, ada temanmu.”
Beberapa saat kemudian, Jagra keluar.
Wajahnya masih dingin ketika melihat mereka.
Namun, ketika melihat sepeda tua Banyu, ekspresinya berubah sedikit.
“Itu sepedamu?” tanyanya.
Banyu mengangguk.
“Aku menemukannya.”
Jagra tidak menjawab.
Banyu menarik napas.
“Sepedaku tidak diambil olehmu.”
Jagra menatapnya.
“Aku tahu.”
“Aku tahu sekarang. Yang mengambilnya pemuda pasar.”
Jagra tetap diam.
“Aku salah sudah menuduhmu.”
Banyu menunduk.
“Aku tidak mencari bukti. Aku hanya melihatmu di dekat pasar malam, lalu aku langsung berpikir yang buruk tentangmu.”
Jagra memandang tanah.
“Aku memang ada di sana.”
“Aku tahu.”
“Aku sedang mencari pekerjaan.”
Banyu mengangkat wajah.
Jagra melanjutkan dengan suara pelan.
“Aku melihat sepedamu. Tapi aku tidak mengambilnya. Aku bahkan ingin memberitahumu kalau ada orang yang membawa sepedamu ke belakang gudang. Tapi waktu itu kau sudah marah kepadaku.”
Banyu merasa dadanya semakin berat.
“Maafkan aku, Jag.”
Jagra tidak langsung menjawab.
Dari dalam rumah, terdengar suara ayahnya memanggil pelan.
Namun, tidak ada yang bergerak.
Jagra memandangi sepeda tua itu.
“Sepeda itu penting buatmu, ya?”
“Iya.”
“Seperti kolam ikan itu penting buatku.”
Banyu mengangguk.
“Aku seharusnya mengerti.”
Jagra menatap Banyu cukup lama.
Kemudian ia berkata, “Aku belum bisa lupa semuanya.”
Banyu menunduk lagi.
“Tapi aku dengar kalian memperbaiki Gerobak Buku,” lanjut Jagra.
Rantaka mengangguk.
“Kami mulai membersihkan buku-bukunya.”
“Anak-anak masih menunggu?”
“Masih.”
Jagra memandang kolam ikan di samping rumah.
Wajahnya masih menyimpan banyak beban.
Namun, kemarahannya tidak lagi sekeras malam di jembatan.
“Aku belum tahu apakah aku mau kembali,” katanya.
“Kami tidak akan memaksamu,” jawab Banyu.
“Aku cuma ingin kamu tahu, aku percaya kepadamu sekarang.”
Jagra menatapnya.
Banyu melanjutkan, “Dan aku menyesal karena terlambat percaya.”
Untuk beberapa saat, tidak ada suara selain angin yang bergerak di atas kolam.
Kemudian Jagra mengangguk pelan.
Bukan tanda bahwa semuanya telah selesai.
Bukan tanda bahwa luka sudah hilang.
Tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa pintu yang sempat tertutup rapat kini tidak lagi terkunci.
Banyu mendorong sepedanya pelan saat ia dan Rantaka pulang.
Di keranjang belakang, ia sudah membayangkan buku-buku Gerobak Langit Biru bisa dibawa lebih banyak.
Ia ingin memperkuat keranjang itu.
Ia ingin memasang tempat untuk membawa alat-alat perbaikan.
Ia ingin menjadikan sepeda itu lebih berguna daripada sebelumnya.
Namun, yang paling ia inginkan bukan hanya memperbaiki sepeda.
Ia ingin memperbaiki kepercayaan.
Sebab Banyu akhirnya mengerti bahwa benda yang hilang kadang dapat ditemukan kembali.
Tetapi kepercayaan yang hilang membutuhkan keberanian, kejujuran, dan waktu untuk pulih.
Dan sore itu, ketika roda sepedanya kembali berputar di jalan tanah Desa Wanasari, Banyu merasa bahwa ia telah memulai perjalanan pulang menuju persahabatan yang pernah hampir ia rusak sendiri.
BAB 22 — RUMAH IKAN DI TEPI SUNGAI
Sejak Banyu menemukan kembali sepedanya, ada sesuatu yang berubah di antara mereka.
Perubahan itu belum besar.
Belum cukup untuk menghapus pertengkaran, tuduhan, dan kata-kata yang pernah menyakiti.
Namun, setidaknya Jagra sudah tidak lagi menutup pintu sepenuhnya.
Ia masih jarang datang ke sekolah.
Ia masih lebih sering terlihat di tepi sungai bersama ayahnya daripada duduk di bangku kelas.
Tetapi ketika Banyu meminta maaf, Jagra tidak mengusirnya.
Ia hanya berkata bahwa ia belum tahu apakah dirinya sanggup kembali seperti dulu.
Kalimat itu terus teringat dalam pikiran Rantaka.
Suatu sore, Rantaka duduk di depan gudang sekolah bersama Liris dan Banyu. Gerobak Buku Langit Biru berada di dekat mereka. Roda gerobak itu kini sudah lebih kuat. Banyu memasang karet tambahan pada bagian bawahnya agar tidak mudah rusak ketika melewati jalan berbatu.
Di atas gerobak, beberapa buku telah disusun rapi.
Ada buku cerita rakyat.
Ada buku pelajaran lama.
Ada buku bergambar untuk anak-anak kecil.
Ada pula beberapa buku tulis kosong yang dikumpulkan dari sumbangan siswa dan guru.
Namun, sore itu tidak ada seorang pun yang membicarakan jadwal perpustakaan keliling.
Mereka memikirkan Jagra.
“Aku bertemu dia kemarin,” kata Banyu sambil mengencangkan baut pada roda gerobak.
Rantaka menoleh.
“Bagaimana?”
“Dia tidak marah seperti dulu.”
“Itu sudah bagus,” kata Liris.
Banyu mengangguk, tetapi wajahnya tetap murung.
“Dia bilang kolam ikan keluarganya makin rusak. Airnya tidak bisa ditahan. Kalau hujan turun lagi, tanggulnya bisa jebol.”
Rantaka memandang ke arah sungai yang terlihat dari kejauhan.
Sejak banjir besar beberapa waktu lalu, banyak bagian desa belum benar-benar pulih.
Beberapa rumah masih memiliki dinding yang lembap.
Beberapa kebun warga rusak karena lumpur.
Dan bagi keluarga Jagra, banjir bukan hanya membawa air.
Banjir membawa hilangnya jaring, rusaknya perahu, ikan yang hanyut, serta penghasilan yang selama ini menjadi tumpuan hidup mereka.
“Kalau kolam itu tidak diperbaiki,” lanjut Banyu, “keluarga Jagra akan semakin sulit.”
Liris memegang buku catatan hijaunya.
“Kita bisa menggalang uang.”
Banyu menggeleng.
“Jagra tidak mau dikasihani.”
Rantaka mengangguk.
“Kita juga tidak boleh datang seolah-olah kita lebih mampu dari dia.”
“Lalu apa yang bisa kita lakukan?” tanya Liris.
Banyu berhenti bekerja.
Ia memandangi tanah di bawah gerobak.
“Aku punya ide.”
Rantaka dan Liris menatapnya.
“Apa?”
“Kolam Jagra rusak karena air dari sungai masuk terlalu deras. Kalau kita bisa membuat jalur pengaliran air sederhana, air hujan bisa dialihkan sebelum menghantam tanggul.”
“Seperti parit?” tanya Rantaka.
“Bukan hanya parit. Bisa pakai bambu, pipa bekas, dan saringan dari kawat. Air yang terlalu deras dialirkan ke sisi kebun kosong. Jadi kolam tidak langsung penuh.”
Liris mengerutkan dahi.
“Apakah itu bisa berhasil?”
“Aku belum tahu,” jawab Banyu jujur. “Tapi kalau dibuat dengan benar, setidaknya bisa mengurangi tekanan air.”
Rantaka memandang sahabatnya itu.
Sejak mesin pompa air meledak di ruang keterampilan, Banyu memang lebih berhati-hati. Ia tidak lagi berbicara tentang alat besar yang bisa menyelesaikan semua masalah.
Kini ia berbicara tentang sesuatu yang sederhana.
Sesuatu yang bisa dibuat dari bahan yang ada.
Sesuatu yang mungkin tidak sempurna, tetapi bisa membantu.
“Kau sudah membuat rancangannya?” tanya Rantaka.
Banyu mengeluarkan beberapa lembar kertas dari tasnya.
Di atas kertas itu terdapat gambar sederhana.
Ada kolam berbentuk persegi.
Ada aliran air dari arah sungai.
Ada parit kecil.
Ada bambu yang disusun sebagai penahan.
Ada kawat yang berfungsi menyaring daun dan sampah agar tidak menyumbat saluran.
“Aku membuatnya semalam,” kata Banyu.
Liris memperhatikan gambar itu.
“Kalau kita butuh bahan, dari mana?”
“Pak Hendra mungkin punya beberapa pipa bekas. Aku juga bisa mencari bambu di kebun belakang rumah.”
Rantaka mengangguk.
“Kita bisa ajak pemuda desa.”
Liris menatapnya.
“Apakah mereka mau?”
“Kita harus bicara dulu.”
Liris membuka buku hijaunya.
“Aku bisa menulis proposal bantuan.”
Rantaka tersenyum kecil.
“Proposal?”
“Jangan tertawa.”
“Aku tidak tertawa.”
“Aku serius.”
“Aku juga serius.”
Liris menatap kedua sahabatnya.
“Kalau kita ingin mengajak pemuda desa, RT, atau pihak sekolah, kita harus menjelaskan apa yang akan dilakukan. Tidak cukup hanya datang dan berkata, ‘Mari membantu Jagra.’”
Banyu mengangguk.
“Benar.”
“Kita harus menulis tujuan, kebutuhan bahan, siapa yang terlibat, dan manfaatnya untuk keluarga Jagra serta warga sekitar.”
Rantaka menatap Liris dengan kagum.
“Bagus.”
Liris tersenyum tipis.
“Aku belajar dari Bu Laras. Kata beliau, kata-kata bukan hanya untuk puisi. Kata-kata juga bisa menjadi jalan untuk mengajak orang bergerak.”
Sore itu, di dekat gudang sekolah yang pernah penuh buku berdebu, tiga sahabat itu mulai menyusun rencana.
Banyu menjelaskan rancangan jalur air.
Liris menulis proposal dengan tulisan rapi.
Rantaka membuat daftar orang yang mungkin dapat diajak membantu.
Pak Hendra.
Bu Laras.
Beberapa pemuda desa.
Ketua RT.
Anak-anak SMP yang masih ingin ikut gotong royong.
Mereka tidak menulis tentang belas kasihan.
Mereka tidak menulis bahwa keluarga Jagra adalah keluarga miskin yang harus ditolong.
Mereka menulis tentang pemulihan kolam ikan sebagai bagian dari usaha warga menjaga sumber penghasilan dan ketahanan pangan desa.
Mereka menulis tentang gotong royong.
Mereka menulis tentang remaja yang ingin belajar memecahkan masalah bersama.
Mereka menulis tentang sungai yang harus dijaga agar tidak menjadi ancaman bagi warga.
Ketika matahari mulai turun, Liris menutup buku catatannya.
“Sudah,” katanya.
Rantaka membaca proposal itu perlahan.
Judulnya tertulis di bagian atas:
Rencana Gotong Royong Pemulihan Kolam Ikan Keluarga Jagra di Tepi Sungai Wanasari
Banyu mengangguk.
“Besok kita temui Jagra.”
Keesokan harinya, mereka bertiga berjalan menuju rumah Jagra.
Banyu membawa gulungan kertas rancangan.
Liris membawa proposal yang sudah disalin bersih.
Rantaka membawa tas berisi buku tulis, pensil, dan beberapa alat kecil untuk mencatat kebutuhan bahan.
Mereka tidak membawa uang.
Mereka tidak membawa sembako.
Mereka tidak membawa hadiah.
Mereka datang membawa rencana.
Di sepanjang jalan, Rantaka merasa jantungnya berdebar.
Ia tahu Jagra mungkin masih menolak.
Ia tahu sahabatnya itu mungkin menganggap kedatangan mereka sebagai bentuk rasa kasihan.
Namun, mereka harus mencoba.
Rumah Jagra berada tidak jauh dari tepi sungai.
Dari kejauhan, suara air terdengar lebih keras daripada biasanya. Sungai Wanasari memang belum kembali tenang sepenuhnya sejak banjir. Arusnya masih membawa ranting, daun, dan lumpur dari hulu.
Di samping rumah, kolam ikan milik keluarga Jagra tampak memprihatinkan.
Tanggul tanah di bagian timur retak.
Sebagian pinggir kolam longsor.
Airnya keruh dan dipenuhi daun-daun kering.
Beberapa bambu penahan sudah patah.
Di dekat kolam, ayah Jagra sedang duduk di kursi kayu sambil memperbaiki jaring.
Kakinya masih belum pulih sepenuhnya dari luka saat banjir.
Jagra berdiri tidak jauh darinya.
Ia sedang mengangkat ember berisi air.
Ketika melihat Rantaka, Liris, dan Banyu datang, ia berhenti.
Wajahnya tidak menunjukkan marah.
Tetapi juga tidak menunjukkan sambutan.
“Kalian datang lagi,” katanya.
“Iya,” jawab Rantaka.
“Untuk apa?”
Banyu maju selangkah.
“Kami mau bicara.”
Jagra memandang gulungan kertas di tangan Banyu.
“Itu apa?”
“Rancangan.”
“Rancangan apa?”
“Untuk kolam ini.”
Jagra mengerutkan dahi.
“Kalian mau memperbaiki kolamku?”
“Kami mau mengajakmu memperbaikinya,” jawab Banyu.
Jagra menatap mereka satu per satu.
“Aku tidak punya uang untuk membeli bahan.”
“Kami tidak datang membawa uang,” kata Liris.
“Lalu?”
“Kami datang membawa rencana.”
Jagra tampak bingung.
Banyu membuka gulungan kertasnya.
Ia menunjukkan gambar jalur air yang telah dibuat.
“Kalau kita membuat saluran kecil di sisi ini, air dari sungai dan hujan bisa dialihkan ke arah kebun kosong. Kita pasang bambu sebagai penahan. Lalu di ujung saluran, kita buat saringan dari kawat agar sampah tidak masuk.”
Jagra memperhatikan gambar itu.
“Apakah itu bisa menahan banjir?”
“Tidak sepenuhnya,” jawab Banyu. “Tapi bisa membantu supaya air tidak langsung menghantam tanggul.”
“Aku pernah mencoba membuat parit,” kata Jagra. “Tapi tertutup lumpur.”
“Kalau ada saringan dan jalur yang lebih dalam, mungkin tidak cepat tertutup,” jawab Banyu. “Kita juga bisa membuat jadwal membersihkan saluran.”
Jagra memandangi kolamnya.
Liris lalu menyerahkan proposal.
“Kami juga sudah membuat rencana gotong royong.”
Jagra menerima kertas itu.
Ia membaca beberapa bagian.
Di sana tertulis nama-nama mereka.
Ada rencana meminta bantuan bahan bekas dari Pak Hendra.
Ada rencana mengajak pemuda desa membantu membersihkan lumpur.
Ada rencana meminta arahan Ketua RT untuk mengatur kegiatan.
Ada rencana mengajak anak-anak sekolah membantu menanam rumput di bagian tanggul agar tanah tidak mudah longsor.
Jagra membaca sampai selesai.
“Kenapa kalian melakukan ini?” tanyanya.
Tidak ada yang langsung menjawab.
Pertanyaan itu terasa lebih berat daripada yang mereka duga.
Rantaka akhirnya berkata, “Karena kami sahabatmu.”
Jagra tertawa kecil, tetapi bukan tawa bahagia.
“Sahabat?”
Rantaka menunduk.
“Aku tahu kami sudah membuatmu kecewa.”
Jagra memandang Banyu.
Banyu menarik napas.
“Aku salah menuduhmu tentang sepeda.”
Lalu Jagra memandang Liris.
Liris berkata pelan, “Aku juga terlalu sibuk dengan masalahku sendiri. Aku tahu keadaan keluargamu sulit, tapi aku tidak pernah benar-benar datang untuk mendengarkan.”
Jagra kembali menatap Rantaka.
Rantaka berkata, “Aku juga pernah menganggap semua orang harus kuat seperti yang aku mau. Padahal aku tidak tahu seberapa berat yang kau tanggung.”
Suasana menjadi hening.
Ayah Jagra yang sejak tadi duduk di kursi kayu berhenti memperbaiki jaring.
Ia memandangi anak-anak itu dengan mata yang lelah, tetapi hangat.
Jagra menggenggam proposal di tangannya.
“Kalian tidak perlu melakukan ini.”
“Kami tahu,” kata Rantaka.
“Kalau gagal?”
“Kita perbaiki lagi,” jawab Banyu.
“Kalau hujan besar datang lagi?”
“Kita cari cara lain,” kata Liris.
Jagra menatap kolam yang keruh.
“Kalian tidak mengerti. Kolam ini bukan hanya tempat ikan. Ini satu-satunya yang kami punya sekarang.”
“Kami tahu itu penting,” kata Banyu.
“Tidak, kalian tidak tahu.”
Jagra mengangkat suara.
“Ayahku terluka. Perahu kami rusak. Jaring kami hanyut. Aku harus membantu setiap hari. Kalau kolam ini gagal, kami tidak punya apa-apa.”
Rantaka ingin menjawab.
Namun, ia menahan diri.
Ia ingat bagaimana dulu ia sering memberi nasihat sebelum benar-benar mendengarkan.
Kali ini, ia hanya berdiri diam.
Liris juga tidak berkata apa-apa.
Banyu menunduk.
Jagra menarik napas panjang.
“Aku takut berharap,” katanya lebih pelan.
Kalimat itu membuat mereka semua terdiam.
Bukan karena Jagra marah.
Melainkan karena untuk pertama kalinya, Jagra mengatakan apa yang sebenarnya ia rasakan.
Ia bukan hanya marah kepada keadaan.
Ia bukan hanya kecewa kepada sahabat-sahabatnya.
Ia takut.
Takut jika semua usaha akan gagal.
Takut jika keluarganya semakin tenggelam dalam kesulitan.
Takut jika ia kembali percaya kepada sesuatu, lalu harus kehilangan lagi.
Banyu melangkah mendekat.
“Aku juga takut,” katanya.
Jagra menoleh.
“Aku takut membuat alat lagi karena mesin yang kubuat pernah meledak. Aku takut orang menganggap aku hanya anak yang suka mencoba, tapi selalu gagal.”
Liris memegang buku hijaunya.
“Aku takut menulis karena puisiku pernah dicuri. Aku takut kata-kataku tidak berarti.”
Rantaka memandang sungai.
“Aku takut tidak bisa membantu keluargaku. Aku takut sekolah tidak cukup untuk mengubah apa pun.”
Jagra menatap mereka.
Rantaka melanjutkan, “Tapi kami tetap mencoba. Bukan karena kami tidak takut. Kami mencoba karena kalau kami diam, tidak ada yang berubah.”
Angin dari arah sungai bertiup pelan.
Beberapa daun kering jatuh ke permukaan kolam.
Ayah Jagra akhirnya berdiri perlahan dari kursi kayu.
Ia berjalan mendekat dengan langkah yang masih sedikit pincang.
“Kalau kalian memang mau membantu,” katanya, “jangan datang hanya sehari.”
Mereka semua menoleh kepadanya.
“Kolam ini tidak akan pulih dalam sehari. Saluran air harus dibersihkan berkali-kali. Tanggul harus diperkuat sedikit demi sedikit. Ikan harus dirawat. Dan kalau hujan datang lagi, semuanya bisa berubah.”
Rantaka mengangguk.
“Kami siap, Pak.”
Ayah Jagra menatap anaknya.
“Bagaimana, Gra?”
Jagra memandangi rancangan Banyu.
Kemudian ia memandang proposal Liris.
Lalu ia melihat Rantaka yang berdiri dengan wajah sungguh-sungguh.
Untuk beberapa saat, ia tidak berkata apa-apa.
Akhirnya ia mengangguk pelan.
“Baik,” katanya.
Banyu mengangkat wajah.
“Baik?”
“Kalau kalian benar-benar mau membantu, kita mulai besok.”
Rantaka tersenyum.
Liris menahan napas lega.
Banyu menggenggam gulungan kertasnya lebih erat.
Namun, Jagra mengangkat satu jari.
“Tapi jangan kira aku langsung memaafkan semuanya.”
Banyu mengangguk.
“Aku mengerti.”
“Aku akan melihat apakah kalian benar-benar datang.”
“Kami akan datang,” kata Rantaka.
Keesokan paginya, mereka mulai menjalankan rencana.
Rantaka menemui Ketua RT bersama Liris. Mereka menjelaskan proposal gotong royong dan meminta izin menggunakan sebagian bambu bekas dari kebun warga yang sudah dipanen.
Ketua RT membaca proposal itu dengan serius.
“Kalian yang membuat ini?” tanyanya.
Liris mengangguk.
“Dengan bantuan teman-teman.”
Ketua RT tersenyum.
“Bagus. Anak-anak muda harus mulai belajar mengurus masalah di sekitarnya.”
Ia bersedia membantu menyampaikan informasi kepada warga dan pemuda desa.
Sementara itu, Banyu menemui Pak Hendra di sekolah.
Ia membawa rancangan jalur air dan menjelaskan bahan-bahan yang dibutuhkan.
Pak Hendra memeriksa gambar itu.
“Kamu sudah memperhitungkan kemiringan tanahnya?” tanyanya.
Banyu menggeleng.
“Belum tepat, Pak.”
“Kalau salurannya terlalu datar, air akan mengendap. Kalau terlalu curam, tanahnya bisa terkikis.”
Banyu memperhatikan penjelasan itu dengan sungguh-sungguh.
Pak Hendra mengambil pensil.
Ia membantu memberi tanda pada bagian rancangan yang perlu diperbaiki.
“Buat jalurnya tidak terlalu lurus. Beri belokan kecil supaya air tidak menghantam terlalu kuat.”
Banyu mengangguk.
“Terima kasih, Pak.”
“Dan ingat,” lanjut Pak Hendra, “jangan membuat sesuatu hanya karena ingin cepat selesai. Buatlah supaya aman dan bisa dirawat.”
Kalimat itu kembali mengingatkan Banyu pada kesalahannya dulu.
Kali ini, ia tidak ingin terburu-buru.
Ia ingin membuat sesuatu yang benar-benar berguna.
Dua hari kemudian, gotong royong dimulai.
Beberapa pemuda desa datang membawa cangkul dan parang.
Pak Hendra membawa beberapa pipa bekas yang masih bisa digunakan.
Ketua RT membantu mengatur pembagian pekerjaan.
Bu Laras datang bersama beberapa siswa yang ingin membantu membersihkan halaman sekitar kolam.
Anak-anak kecil Desa Wanasari juga ikut datang, meski mereka hanya diberi tugas mengumpulkan daun kering dan membawa botol minum.
Rantaka berdiri di dekat kolam sambil melihat orang-orang mulai bekerja.
Ia tidak menyangka begitu banyak warga bersedia datang.
Mungkin karena proposal Liris.
Mungkin karena Ketua RT yang mengajak.
Mungkin karena keluarga Jagra dikenal baik oleh warga.
Atau mungkin karena di desa, ketika seseorang berani memulai, orang lain perlahan ikut bergerak.
Banyu mengarahkan beberapa pemuda untuk menggali jalur air.
Ia tidak lagi bekerja sendirian.
Ia meminta pendapat Pak Hendra.
Ia memeriksa setiap bagian sebelum melanjutkan.
Liris mencatat bahan yang digunakan dan kebutuhan yang masih kurang.
Ia juga berbicara dengan beberapa ibu yang datang membawa makanan untuk warga yang bekerja.
Rantaka membantu mengangkat bambu bersama Jagra.
Awalnya mereka bekerja tanpa banyak bicara.
Namun, setelah beberapa saat, Jagra berkata, “Kau benar-benar datang.”
Rantaka menoleh.
“Aku bilang kami akan datang.”
Jagra mengangguk.
“Dulu aku pikir kalian hanya bicara.”
“Aku juga pernah banyak bicara tanpa benar-benar bertindak.”
Jagra tersenyum tipis.
“Itu masih lebih baik daripada tidak peduli sama sekali.”
Rantaka tersenyum.
Mereka kembali mengangkat bambu.
Di sisi lain, Banyu sedang memasang kawat saringan pada saluran air.
Tangannya masih belum sepenuhnya pulih, tetapi ia bekerja dengan hati-hati.
Jagra menghampirinya.
“Kau yakin tanganmu kuat?”
Banyu mengangguk.
“Kalau terlalu sakit, aku berhenti.”
Jagra memandang alat yang dibuat Banyu.
“Ini tidak akan meledak, kan?”
Banyu terdiam sebentar.
Lalu ia tertawa kecil.
“Tidak. Ini cuma bambu, kawat, dan pipa.”
Jagra ikut tersenyum.
Itu adalah senyum pertama yang muncul di wajahnya sejak lama.
Menjelang sore, jalur air sederhana mulai terlihat.
Parit kecil membentang dari sisi kolam menuju kebun kosong.
Bambu-bambu dipasang sebagai penahan tanah.
Kawat saringan terpasang di beberapa bagian agar daun dan sampah tidak menutup saluran.
Tanggul kolam diperkuat dengan tanah baru.
Di beberapa sisi, anak-anak menanam rumput untuk membantu menahan tanah ketika hujan turun.
Kolam itu belum sepenuhnya pulih.
Airnya masih keruh.
Tanggulnya masih perlu diperkuat.
Ikan-ikan belum banyak.
Namun, tempat itu tidak lagi terlihat seperti ruang yang ditinggalkan.
Tempat itu mulai terlihat seperti sesuatu yang sedang dibangun kembali.
Saat matahari hampir tenggelam, semua orang berhenti bekerja.
Warga duduk di tepi kolam sambil minum teh dan makan singkong rebus.
Jagra berdiri di dekat ayahnya.
Ia memandangi saluran air yang baru dibuat.
“Kalian pikir ini akan berhasil?” tanyanya.
Banyu menjawab jujur, “Aku tidak tahu apakah semuanya akan berhasil.”
Jagra menoleh.
“Tapi aku tahu kalau kita merawatnya bersama, kemungkinan berhasilnya lebih besar.”
Liris tersenyum.
“Dan kalau ada yang rusak, kita tidak harus menunggu banjir berikutnya untuk memperbaikinya.”
Rantaka memandangi sungai yang mulai tenang oleh warna senja.
Ia teringat masa kecil mereka di bawah pohon beringin.
Saat itu mereka hanya anak-anak yang memberi nama kelompok belajar mereka Langit Biru.
Mereka tidak tahu bahwa suatu hari, nama itu akan membawa mereka ke kolam ikan yang rusak, ke surat yang tidak terkirim, ke puisi yang dicuri, ke sepeda yang hilang, dan ke persahabatan yang hampir hancur.
Namun, mungkin persahabatan memang bukan tentang selalu berjalan di jalan yang mudah.
Mungkin persahabatan adalah tentang tetap datang ketika jalan berubah menjadi lumpur.
Tetap membawa tangan untuk bekerja ketika kata-kata tidak lagi cukup.
Dan tetap berdiri di sisi seseorang, bukan untuk membuatnya merasa lemah, melainkan agar ia tahu bahwa ia tidak harus menanggung semuanya sendirian.
Di tepi Sungai Wanasari, rumah ikan itu belum sepenuhnya kembali hidup.
Tetapi sore itu, di antara bambu, parit kecil, tanah basah, dan wajah-wajah yang mulai tersenyum, sebuah harapan perlahan tumbuh.
Harapan bahwa kolam itu dapat pulih.
Harapan bahwa Jagra dapat kembali percaya.
Dan harapan bahwa Langit Biru, yang pernah hampir pecah oleh luka dan salah paham, masih memiliki tempat untuk kembali menyala.
BAB 23 — PENTAS LANGIT BIRU KEDUA
Seminggu setelah gotong royong di kolam ikan keluarga Jagra, Desa Wanasari mulai memiliki kesibukan baru.
Bukan kesibukan karena banjir.
Bukan pula kesibukan karena warga harus memperbaiki rumah atau membersihkan lumpur.
Kali ini, kesibukan itu lahir dari sebuah gagasan sederhana.
Gagasan untuk mengadakan Pentas Langit Biru Kedua.
Rencana itu muncul ketika Rantaka, Liris, Banyu, dan Jagra duduk di tepi kolam pada sore hari. Saluran air yang mereka buat sudah mulai berfungsi. Ketika hujan turun sebentar, air dari sisi kebun tidak lagi langsung mengalir ke tanggul kolam.
Memang belum sempurna.
Masih ada lumpur yang harus dibersihkan.
Masih ada bambu yang perlu diperkuat.
Masih ada bagian tanggul yang harus ditimbun kembali.
Tetapi setidaknya, keluarga Jagra tidak lagi merasa sendirian menghadapi semuanya.
Ayah Jagra mulai bisa berjalan lebih jauh meski masih menggunakan tongkat kayu. Ia sudah kembali membantu memeriksa jaring-jaring yang dijemur di samping rumah. Beberapa warga juga mulai menawarkan benih ikan untuk kolam mereka.
Namun, keadaan keluarga Jagra tetap belum mudah.
Perahu kecil mereka belum diperbaiki.
Jaring yang hanyut belum tergantikan.
Dan untuk sementara, hasil ikan dari kolam belum cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Kita tidak bisa hanya memperbaiki kolam,” kata Liris saat itu.
Jagra menoleh.
“Maksudmu?”
“Kita juga harus membantu agar Gerobak Buku Langit Biru berjalan lagi.”
Banyu mengangguk.
“Roda gerobaknya sudah kuat. Sepedaku juga sudah bisa dipakai untuk membawa buku.”
Rantaka memandangi sahabat-sahabatnya.
“Kalau begitu, kita buat kegiatan.”
“Kegiatan apa?” tanya Jagra.
Liris membuka buku hijau yang selalu dibawanya.
“Pentas.”
Jagra mengerutkan dahi.
“Pentas lagi?”
“Pentas Langit Biru Kedua,” jawab Liris.
Rantaka terdiam sejenak.
Ia teringat Pentas Harapan Wanasari saat mereka masih di SD. Saat itu hujan hampir menghancurkan panggung bambu yang telah dibuat. Mereka sempat putus asa, tetapi warga membantu memindahkan acara ke balai desa.
Pentas itu telah menyelamatkan SD Wanasari dari penutupan.
Kini, mereka bukan lagi anak-anak SD.
Mereka sudah menjadi remaja dengan masalah yang lebih rumit.
Namun, mungkin mereka masih bisa menggunakan cara yang sama.
Mengumpulkan warga.
Menggerakkan hati.
Mengajak orang-orang untuk percaya bahwa pendidikan dan kebersamaan tetap layak diperjuangkan.
“Kita bisa membuat pentas di balai desa,” kata Rantaka. “Tidak perlu besar. Yang penting semua orang bisa datang.”
“Untuk apa uangnya nanti?” tanya Jagra.
“Sebagian untuk membantu kebutuhan keluarga Jagra,” jawab Liris. “Sebagian lagi untuk Gerobak Buku Langit Biru.”
Jagra langsung menggeleng.
“Aku tidak mau acara itu dibuat hanya karena keluargaku.”
“Bukan hanya untuk keluargamu,” kata Rantaka.
“Lalu untuk apa?”
“Untuk desa,” jawab Banyu. “Untuk anak-anak yang masih menunggu buku. Untuk pemuda yang ingin belajar membuat sesuatu. Untuk warga yang ingin melihat bahwa kita bisa bangkit setelah banjir.”
Jagra memandang mereka satu per satu.
“Aku tidak pandai bicara di depan orang banyak.”
“Kau tidak harus menjadi pembawa acara,” kata Liris.
“Aku juga tidak bisa membaca puisi.”
“Tidak perlu.”
“Aku tidak punya karya seperti Banyu.”
Banyu tersenyum kecil.
“Kau punya cerita.”
Jagra terdiam.
“Cerita apa?”
“Cerita tentang ayahmu,” jawab Banyu. “Tentang sungai. Tentang nelayan. Tentang bagaimana keluargamu bertahan setelah banjir.”
Jagra menunduk.
Ia tidak yakin cerita hidupnya pantas didengar orang lain.
Baginya, semua itu hanyalah kesulitan yang harus dijalani.
Namun, Liris berkata pelan, “Kadang orang lain perlu mendengar cerita yang jujur agar mereka mengerti bahwa perjuangan bukan hanya ada di buku pelajaran.”
Beberapa hari kemudian, rencana pentas mulai disusun.
Mereka menemui Bu Laras di sekolah.
Bu Laras mendengarkan dengan wajah hangat ketika Liris menjelaskan rencana kegiatan.
“Pentas Langit Biru Kedua,” ulang Bu Laras.
“Iya, Bu,” kata Rantaka. “Kami ingin menghidupkan lagi Gerobak Buku. Kami juga ingin membantu keluarga Jagra supaya kolam ikannya bisa pulih.”
Bu Laras memandang Jagra.
Jagra menunduk.
“Apakah kamu setuju?” tanya Bu Laras.
Jagra tidak langsung menjawab.
Lalu ia berkata, “Saya belum yakin, Bu.”
“Tidak apa-apa,” jawab Bu Laras. “Keraguan tidak selalu berarti kamu harus berhenti. Kadang keraguan hanya meminta waktu untuk diyakinkan.”
Liris menyerahkan rancangan acara yang telah mereka tulis.
Di sana tercantum beberapa kegiatan.
Pembacaan puisi.
Pameran karya sederhana.
Cerita kehidupan nelayan sungai.
Pidato remaja desa tentang pendidikan.
Penampilan musik akustik dari pemuda Wanasari.
Bazar kecil makanan warga.
Kotak donasi untuk pemulihan kolam ikan dan Gerobak Buku Langit Biru.
Bu Laras membaca semua itu.
“Kalian sudah memikirkan banyak hal,” katanya.
“Kami belajar dari kegiatan dulu,” jawab Rantaka.
Bu Laras tersenyum.
“Baik. Saya akan membantu menghubungi pihak sekolah dan beberapa orang tua murid.”
Mereka juga menemui Pak Hendra.
Banyu membawa sebuah benda yang dibungkus kain.
Ketika kain itu dibuka, tampak sebuah alat sederhana yang terbuat dari pipa, botol bekas, kawat, dan ember kecil.
“Ini alat penyaring air,” kata Banyu.
Pak Hendra memeriksa alat itu.
“Untuk apa?”
“Untuk menyaring air kolam yang keruh.”
“Sudah dicoba?”
“Sudah sedikit. Airnya belum langsung jernih, tapi lumpur kasar dan daun bisa tertahan.”
Pak Hendra mengangguk.
“Ini lebih aman daripada mesinmu yang dulu.”
Banyu tersenyum malu.
“Saya belajar pelan-pelan, Pak.”
“Bagus. Alat sederhana yang berguna lebih berharga daripada alat rumit yang belum siap dipakai.”
Banyu tampak lega mendengar itu.
Pak Hendra bersedia membantu menyiapkan meja pameran dan beberapa papan untuk menampilkan karya-karya siswa.
Sementara itu, Liris mulai menulis puisi untuk pentas.
Ia tidak ingin lagi menulis tentang kemarahan kepada Nayla.
Ia tidak ingin puisinya hanya menjadi tempat untuk menyimpan luka.
Ia ingin menulis tentang sungai.
Tentang rumah-rumah kecil di tepi air.
Tentang tangan warga yang menggali parit.
Tentang anak-anak yang membawa buku.
Tentang sahabat yang pernah retak, tetapi berusaha pulang.
Malam hari, di bawah cahaya lampu minyak, Liris menulis di buku hijau.
Ia menulis dengan lebih tenang daripada sebelumnya.
Kata-kata yang dulu terasa berat kini mulai mengalir.
Di halaman pertama, ia menulis judul:
Sungai yang Tidak Menyerah
Sementara itu, Rantaka menyiapkan pidato.
Ia duduk di meja kecil rumah singgah kecamatan. Di sampingnya terdapat buku pelajaran dan beberapa lembar kertas kosong.
Ia ingin berbicara tentang pendidikan.
Namun, ia tidak ingin pidatonya terdengar seperti nasihat dari orang dewasa.
Ia ingin berbicara sebagai anak desa.
Sebagai remaja yang pernah merasa malu karena seragam lusuh.
Sebagai anak yang pernah hampir berhenti sekolah.
Sebagai sahabat yang pernah salah memahami temannya.
Ia menulis beberapa kalimat.
Lalu mencoretnya.
Menulis lagi.
Mencoretnya lagi.
Akhirnya, ia berhenti pada satu kalimat:
Sekolah bukan hanya tempat untuk mendapat nilai. Sekolah adalah tempat anak desa belajar percaya bahwa hidupnya tidak harus berhenti di tempat ia dilahirkan.
Rantaka membaca kalimat itu berulang kali.
Ia tahu kalimat itu sederhana.
Tetapi ia percaya itulah yang ingin ia sampaikan.
Jagra sendiri masih belum menentukan apa yang akan ia lakukan.
Ia beberapa kali datang ke balai desa saat teman-temannya mempersiapkan acara. Ia membantu memindahkan kursi. Ia membantu menggantung kain sebagai latar panggung. Ia membantu membersihkan halaman.
Namun, setiap kali Liris menyinggung tentang cerita nelayan sungai, Jagra selalu menghindar.
“Aku tidak pandai bicara,” katanya.
“Kau tidak harus bicara panjang,” jawab Liris.
“Aku takut salah.”
“Kalau cerita itu milikmu, tidak ada yang bisa mengatakan kau salah.”
Jagra tidak menjawab.
Malam sebelum acara, ayahnya memanggilnya.
Mereka duduk di teras rumah. Sungai terdengar mengalir pelan di kejauhan. Di samping rumah, kolam ikan tampak lebih tenang setelah saluran air diperbaiki.
“Ayah dengar kamu diminta bercerita di balai desa,” kata ayahnya.
Jagra menunduk.
“Aku tidak mau.”
“Kenapa?”
“Aku tidak tahu harus bilang apa.”
Ayahnya tersenyum kecil.
“Ceritakan saja apa yang kamu lihat.”
“Apa yang kulihat?”
“Kamu melihat ayah bekerja di sungai sejak kecil. Kamu melihat jaring robek. Kamu melihat perahu hanyut. Kamu melihat warga datang membantu kolam kita.”
Jagra terdiam.
“Ayah tidak pernah sekolah tinggi,” lanjut ayahnya. “Ayah tidak pandai bicara di depan orang. Tapi kalau kamu bisa menceritakan hidup kita dengan jujur, itu sudah cukup.”
Jagra memandang ayahnya.
“Ayah tidak malu?”
“Malu karena apa?”
“Karena orang-orang tahu kita sedang susah.”
Ayahnya menggeleng.
“Kesusahan bukan aib. Yang memalukan adalah kalau kita menutup hati ketika orang datang membantu.”
Kata-kata itu tinggal lama di pikiran Jagra.
Keesokan harinya, balai desa mulai ramai sejak sore.
Beberapa ibu datang membawa kue tradisional, singkong rebus, dan gorengan untuk bazar kecil. Pemuda desa memasang lampu-lampu sederhana di sekitar halaman. Anak-anak SD berlarian sambil membawa kertas gambar.
Di dekat pintu masuk, Gerobak Buku Langit Biru diparkir dengan rapi.
Gerobak itu kini tampak lebih kuat.
Banyu memperbaiki roda dan pegangan kayunya.
Di samping gerobak, sepeda tua Banyu berdiri dengan keranjang belakang yang sudah diperlebar.
Di dalam keranjang itu terdapat beberapa buku anak-anak.
Pada bagian depan gerobak, Liris menempelkan tulisan baru dari karton tebal:
GEROBAK BUKU LANGIT BIRU
Membawa Buku, Menjaga Mimpi
Rantaka membaca tulisan itu dengan bangga.
“Bagus,” katanya.
Liris tersenyum.
“Anak-anak yang memilih kalimatnya.”
Di dalam balai desa, Pak Hendra menata meja pameran.
Di atas meja itu terdapat alat penyaring air buatan Banyu. Ada juga beberapa karya dari barang bekas: tempat pensil dari kaleng, lampu kecil dari botol plastik, dan miniatur perahu dari kayu sisa.
Bu Laras membantu beberapa siswa memasang gambar dan tulisan tentang kegiatan Gerobak Buku.
Di salah satu papan, tertempel foto-foto lama.
Foto anak-anak membaca di bawah pohon beringin.
Foto gerobak buku pertama yang masih penuh karat.
Foto gotong royong memperbaiki halaman SD Wanasari.
Foto saluran air di kolam keluarga Jagra.
Rantaka berdiri cukup lama di depan foto-foto itu.
Ia melihat dirinya yang lebih kecil, memakai seragam SD yang mulai lusuh.
Ia melihat Liris dengan buku hijau di tangan.
Ia melihat Banyu membawa kardus berisi buku.
Ia melihat Jagra tersenyum sambil mendorong gerobak.
Begitu banyak hal telah berubah.
Namun, beberapa hal tetap sama.
Mereka masih berusaha menjaga mimpi.
Ketika matahari mulai tenggelam, warga memenuhi balai desa.
Kepala dusun datang bersama beberapa tokoh masyarakat. Ketua RT duduk di barisan depan. Para orang tua murid membawa anak-anak mereka. Beberapa siswa SMP dari desa sebelah juga ikut datang.
Acara dimulai dengan doa singkat.
Kemudian Bu Laras naik ke depan.
“Pentas Langit Biru Kedua ini bukan hanya acara hiburan,” katanya. “Ini adalah ruang bagi anak-anak dan remaja Desa Wanasari untuk menunjukkan bahwa mereka mampu belajar, berkarya, dan saling menguatkan.”
Warga bertepuk tangan.
Setelah itu, beberapa anak kecil menyanyikan lagu sederhana tentang desa dan sekolah.
Suara mereka tidak selalu tepat.
Ada yang terlalu cepat.
Ada yang lupa lirik.
Namun, semua orang tersenyum melihat keberanian mereka.
Kemudian tibalah giliran Liris.
Ia berdiri di depan mikrofon sederhana yang suaranya kadang berdesis.
Buku hijau berada di tangannya.
Untuk sesaat, ia memandang warga yang memenuhi ruangan.
Di barisan depan, Rantaka, Banyu, dan Jagra duduk berdampingan.
Liris menarik napas.
Lalu ia mulai membaca.
“Sungai yang Tidak Menyerah,” katanya.
Suara Liris mula-mula pelan.
Namun, semakin lama, suaranya semakin kuat.
Ia membaca tentang sungai yang membawa lumpur, tetapi juga membawa kehidupan.
Ia membaca tentang rumah-rumah yang tetap berdiri meski pernah diterpa banjir.
Ia membaca tentang tangan-tangan yang menggali tanah, menanam bambu, dan memperbaiki tanggul.
Ia membaca tentang anak-anak yang membawa buku di atas gerobak tua.
Ia membaca tentang persahabatan yang tidak selalu mulus, tetapi tetap berusaha kembali.
Beberapa ibu tampak menyeka mata.
Bu Laras tersenyum dari tempat duduknya.
Ketika Liris selesai, balai desa dipenuhi tepuk tangan panjang.
Liris menunduk.
Di wajahnya tampak haru.
Untuk pertama kalinya sejak puisinya dicuri, ia kembali berdiri di depan orang banyak tanpa takut kata-katanya akan diambil.
Setelah itu, Banyu maju ke depan meja pameran.
Ia menjelaskan alat penyaring air sederhana yang dibuatnya.
Tangannya masih sedikit kaku, tetapi suaranya cukup jelas.
“Alat ini dibuat dari bahan yang mudah ditemukan,” katanya. “Ada pipa bekas, botol plastik, kain saring, kerikil, dan kawat. Air dari kolam masuk melalui bagian atas. Daun dan sampah besar tertahan di kawat. Lumpur kasar bisa berkurang sebelum air masuk ke kolam penampungan.”
Seorang warga bertanya, “Apakah airnya bisa langsung diminum?”
Banyu cepat-cepat menggeleng.
“Tidak, Pak. Ini bukan untuk air minum. Ini hanya untuk membantu menyaring air kolam dan saluran.”
Warga tertawa kecil, tetapi bukan mengejek.
Mereka tampak senang karena Banyu menjawab dengan jujur.
Pak Hendra mengangguk dari belakang.
“Yang penting, alat ini bisa terus dikembangkan,” kata Banyu. “Kalau ada yang punya saran, saya mau belajar.”
Beberapa pemuda desa mendekat setelah penjelasan itu. Mereka bertanya tentang bahan dan cara membuatnya.
Banyu menjawab satu per satu.
Di wajahnya, tampak semangat yang dulu sempat hilang.
Kemudian giliran Rantaka.
Ia berdiri di depan mikrofon.
Kertas pidatonya ada di tangan, tetapi ia tidak langsung membacanya.
Ia memandang warga.
Ia memandang anak-anak kecil yang duduk di lantai.
Ia memandang Gerobak Buku Langit Biru yang berdiri di dekat pintu.
Lalu ia mulai berbicara.
“Saya tidak datang ke sini sebagai orang yang paling pandai,” katanya. “Saya juga bukan anak yang hidupnya selalu mudah.”
Balai desa menjadi hening.
“Saya pernah merasa malu karena tidak punya banyak hal seperti teman-teman lain. Saya pernah merasa sekolah terlalu berat. Saya pernah berpikir mungkin anak desa seperti kami memang tidak bisa punya mimpi yang besar.”
Rantaka berhenti sebentar.
“Tapi saya belajar bahwa sekolah bukan hanya tempat untuk mendapat nilai. Sekolah adalah tempat anak desa belajar percaya bahwa hidupnya tidak harus berhenti di tempat ia dilahirkan.”
Beberapa warga mengangguk.
“Kalau kita punya buku, kita bisa mengenal dunia. Kalau kita punya guru, kita bisa belajar. Kalau kita punya sahabat, kita bisa saling menguatkan. Dan kalau kita punya warga yang mau bergotong royong, kesulitan tidak harus ditanggung sendiri.”
Suara Rantaka semakin mantap.
“Pendidikan tidak selalu dimulai dari gedung besar. Kadang pendidikan dimulai dari seorang ibu yang mengajak anaknya membaca. Dari seorang ayah yang tetap menyuruh anaknya sekolah meski hidup sedang sulit. Dari seorang guru yang tidak menyerah. Dari gerobak tua yang membawa buku ke rumah-rumah warga.”
Tepuk tangan kembali terdengar.
Rantaka menutup pidatonya dengan kalimat sederhana.
“Langit Biru bukan hanya nama kelompok kami. Langit Biru adalah janji bahwa anak-anak Desa Wanasari akan terus belajar, terus mencoba, dan tidak menyerah.”
Ketika Rantaka turun dari panggung, Jagra menatapnya.
Tidak ada kata-kata.
Namun, kali ini tatapan Jagra tidak lagi penuh jarak.
Setelah beberapa penampilan musik dari pemuda desa, Bu Laras naik ke depan.
“Sekarang,” katanya, “ada satu cerita lagi yang ingin kita dengarkan.”
Jagra langsung menoleh.
Ia tahu apa yang dimaksud.
Bu Laras memandangnya.
“Jagra, apakah kamu bersedia?”
Jagra membeku di tempat duduknya.
Semua mata tertuju kepadanya.
Dadanya berdebar keras.
Ia ingin berkata tidak.
Ia ingin tetap duduk dan membiarkan acara berjalan tanpa dirinya.
Namun, ia teringat ayahnya di rumah.
Ia teringat kata-kata ayahnya bahwa kesusahan bukan aib.
Ia teringat Rantaka, Liris, dan Banyu yang datang ke rumahnya tanpa membawa uang, tetapi membawa rencana.
Ia teringat warga yang menggali parit dan memperbaiki tanggul.
Perlahan, Jagra berdiri.
Ia berjalan menuju depan ruangan.
Langkahnya terasa berat.
Tangannya dingin.
Ketika sampai di depan mikrofon, ia tidak langsung berbicara.
Warga menunggu.
Lalu Jagra berkata pelan, “Nama saya Jagra.”
Suaranya sedikit bergetar.
“Ayah saya nelayan sungai.”
Balai desa menjadi sangat hening.
“Sejak kecil, saya sering ikut ayah mencari ikan. Saya tahu sungai bisa memberi makan. Tapi saya juga tahu sungai bisa mengambil banyak hal.”
Ia berhenti sejenak.
“Waktu banjir datang, perahu kami rusak. Jaring kami hanyut. Kolam ikan kami hampir hancur. Saya marah kepada banyak orang. Saya marah kepada keadaan. Saya marah kepada sahabat saya. Saya bahkan ingin berhenti sekolah.”
Liris menunduk.
Banyu memegang tangan di pangkuannya.
Rantaka menatap Jagra dengan mata berkaca-kaca.
“Tapi kemudian saya melihat orang-orang datang ke rumah kami. Mereka tidak datang untuk mengasihani kami. Mereka datang membawa tenaga. Membawa rencana. Membawa keberanian.”
Suara Jagra mulai lebih kuat.
“Saya belajar bahwa meminta bantuan bukan berarti lemah. Dan menerima bantuan bukan berarti kehilangan harga diri.”
Beberapa warga mengangguk.
Jagra menoleh ke arah ayahnya yang duduk di bagian belakang balai desa.
“Ayah saya selalu bilang bahwa sungai harus dihormati. Karena sungai bisa memberi kehidupan, tapi juga bisa menguji manusia.”
Ia kembali memandang warga.
“Saya ingin tetap sekolah. Saya ingin belajar tentang perikanan. Saya ingin suatu hari nanti membuat usaha ikan yang bisa membantu keluarga saya dan warga desa.”
Tepuk tangan terdengar.
Bukan tepuk tangan yang riuh berlebihan.
Melainkan tepuk tangan yang hangat.
Tepuk tangan yang terasa seperti pelukan dari seluruh desa.
Jagra menunduk.
Ketika ia kembali ke tempat duduknya, Rantaka menepuk bahunya.
“Kau hebat,” kata Rantaka.
Jagra menggeleng kecil.
“Aku cuma bicara.”
“Kadang bicara jujur lebih sulit daripada berkelahi,” kata Banyu.
Liris tersenyum.
“Dan ceritamu penting.”
Setelah acara utama selesai, warga mulai mendatangi meja donasi.
Ada yang memasukkan uang.
Ada yang menyumbang benih ikan.
Ada yang menawarkan bambu untuk memperkuat tanggul.
Ada pula yang menyumbang buku untuk Gerobak Buku Langit Biru.
Seorang pedagang pasar memberikan beberapa buku tulis baru.
Seorang ibu membawa dua kardus buku cerita bekas milik anaknya.
Ketua RT menawarkan bantuan untuk membuat jadwal rutin kegiatan baca di setiap dusun.
Pak Hendra berbicara dengan beberapa pemuda tentang membuat alat penyaring air yang lebih baik.
Malam itu, balai desa tidak hanya menjadi tempat pertunjukan.
Balai desa berubah menjadi tempat warga menyusun harapan bersama.
Ketika acara hampir selesai, Liris berdiri di dekat Gerobak Buku Langit Biru.
Ia melihat anak-anak kecil memilih buku.
Danu menemukan buku tentang kapal.
Nisa memeluk buku bergambar yang sudah lama ia cari.
Banyu membantu memasukkan buku-buku baru ke dalam gerobak.
Rantaka mencatat nama warga yang ingin menjadi relawan membaca.
Jagra berdiri di samping mereka.
Ia memandangi gerobak itu cukup lama.
“Aku mau ikut jadwal gerobak,” katanya.
Rantaka menoleh.
“Benarkah?”
Jagra mengangguk.
“Aku bisa mengantar buku ke rumah-rumah dekat sungai. Sekalian melihat kolam dan jaring.”
Banyu tersenyum.
“Sepedaku kuat membawa buku.”
Liris berkata, “Kalau begitu, kita buat jadwal baru.”
Jagra memandang ketiga sahabatnya.
“Aku belum sepenuhnya tahu bagaimana masa depanku.”
Rantaka mengangguk.
“Kami juga tidak.”
“Tapi mungkin,” lanjut Jagra, “aku tidak harus tahu semuanya sekarang.”
Liris tersenyum.
“Yang penting, kau tidak berhenti berjalan.”
Di luar balai desa, malam semakin gelap.
Namun, lampu-lampu sederhana yang dipasang pemuda desa masih menyala.
Cahayanya tidak besar.
Tidak cukup untuk menerangi seluruh desa.
Tetapi cukup untuk membuat halaman balai desa terasa hangat.
Di bawah cahaya itu, Gerobak Buku Langit Biru kembali dipenuhi buku.
Kotak donasi mulai terisi.
Kolam ikan keluarga Jagra memiliki harapan baru.
Dan empat sahabat yang pernah hampir tercerai-berai kini kembali berdiri bersama.
Mereka belum sepenuhnya bebas dari masalah.
Masih ada sekolah.
Masih ada biaya.
Masih ada keluarga.
Masih ada luka yang harus dipulihkan.
Namun, malam itu mereka kembali mengingat satu hal.
Bahwa ketika satu orang berani bermimpi, mimpi itu bisa terasa kecil.
Tetapi ketika mimpi dibawa bersama-sama, mimpi itu dapat menjadi cahaya bagi banyak orang.
Dan di Desa Wanasari, di antara sungai, gerobak buku, serta balai desa yang penuh suara warga, Langit Biru kembali menyala untuk kedua kalinya.
BAB 24 — KEPUTUSAN DI DEPAN KELAS
Pagi setelah Pentas Langit Biru Kedua, Desa Wanasari terasa lebih tenang.
Balai desa sudah kembali sepi.
Kursi-kursi plastik telah ditumpuk di sudut ruangan.
Lampu-lampu kecil yang semalam menggantung di halaman sudah dilepas oleh para pemuda.
Namun, bekas dari kegiatan itu masih terasa di mana-mana.
Di rumah Jagra, beberapa karung berisi benih ikan tersusun di dekat kolam. Ada pula tumpukan bambu sumbangan warga untuk memperkuat tanggul. Di atas meja ruang tamu, ayah Jagra menyimpan catatan nama warga yang menawarkan bantuan.
Di rumah Banyu, beberapa buku baru untuk Gerobak Buku Langit Biru sudah mulai dipilah. Buku cerita anak, buku pelajaran bekas, buku tulis, serta majalah lama disusun dalam beberapa kardus.
Di rumah Liris, buku hijau yang berisi puisi-puisinya kini memiliki halaman baru. Ia menulis tentang malam ketika warga desa berkumpul di balai desa dan mendengarkan cerita seorang anak nelayan sungai.
Sementara itu, Rantaka kembali ke sekolah dengan langkah yang lebih ringan.
Ia membawa buku pelajaran, bekal sederhana dari rumah singgah, dan satu lembar kertas yang berisi jadwal baru Gerobak Buku Langit Biru.
Namun, di antara semua hal yang membaik, masih ada satu persoalan yang belum selesai.
Jagra belum kembali sekolah.
Selama beberapa hari setelah pentas, ia memang membantu memperbaiki kolam bersama ayahnya. Ia ikut mengatur jadwal membersihkan saluran air. Ia juga mulai membantu Gerobak Buku mengantar bacaan ke rumah-rumah di sekitar sungai.
Tetapi setiap pagi ketika anak-anak berangkat ke sekolah, Jagra tetap berada di rumah.
Ia berdiri di tepi kolam.
Ia memperbaiki jaring.
Ia membantu ayahnya menyiapkan pakan ikan.
Ia seolah-olah sudah memilih jalan lain.
Rantaka tidak bisa menerima itu begitu saja.
Suatu sore, ia datang ke rumah Jagra bersama Liris dan Banyu.
Jagra sedang duduk di dekat kolam sambil mengikat tali pada jaring kecil. Matahari hampir tenggelam. Air kolam memantulkan warna jingga yang tipis.
“Kau masih belum mau masuk sekolah?” tanya Rantaka.
Jagra tidak langsung menjawab.
Tangannya tetap sibuk mengikat tali.
“Aku sedang bekerja.”
“Kami tahu,” kata Liris. “Tapi sekolah juga penting.”
Jagra berhenti.
Ia memandang ketiga sahabatnya.
“Kalian pikir aku tidak tahu itu?”
“Bukan begitu,” jawab Banyu cepat.
“Lalu apa?”
Rantaka duduk di atas batu dekat kolam.
“Kami datang karena Bu Laras meminta kami menyampaikan sesuatu.”
Jagra mengerutkan dahi.
“Apa?”
“Besok ada rapat kecil di sekolah,” kata Rantaka. “Bu Laras, wali kelas, Kepala Sekolah, dan beberapa guru akan membicarakan keadaanmu.”
Jagra tampak tidak nyaman.
“Aku tidak mau datang.”
“Kau harus datang,” kata Liris pelan.
“Kenapa?”
“Karena yang dibicarakan adalah masa depanmu.”
Jagra menunduk.
“Masa depanku sudah jelas. Aku bantu ayah. Aku urus kolam. Aku cari ikan kalau perlu.”
“Dan sekolah?” tanya Rantaka.
Jagra menarik napas.
“Aku tidak bisa membagi waktu.”
“Kau belum mencoba mencari jalan,” kata Banyu.
Jagra menatapnya tajam.
“Aku sudah mencoba. Aku pernah tetap sekolah sambil membantu keluarga. Tapi aku sering terlambat. Aku sering tidak punya uang untuk kegiatan. Aku sering merasa semua orang melihatku seperti anak yang tidak mampu.”
Banyu menunduk.
Liris menggenggam buku hijaunya.
Rantaka memahami rasa itu.
Ia pernah merasa seragam lusuh membuatnya berbeda.
Ia pernah merasa uang menjadi dinding yang memisahkan dirinya dari teman-teman lain.
Namun, ia juga tahu bahwa jika Jagra menyerah sekarang, sahabatnya itu mungkin akan menyesal sepanjang hidup.
“Datanglah besok,” kata Rantaka. “Tidak perlu langsung menjawab apa pun. Dengarkan dulu.”
Jagra memandang kolam.
Beberapa ikan kecil bergerak di bawah permukaan air.
Akhirnya ia berkata, “Aku akan datang. Tapi aku tidak janji akan kembali sekolah.”
Keesokan harinya, Jagra datang ke sekolah.
Ia mengenakan seragam yang sudah mulai sempit di bagian lengan. Warnanya tidak lagi secerah seragam teman-teman lain. Sepatunya juga terlihat kusam.
Ketika ia memasuki halaman sekolah, beberapa siswa menoleh.
Ada yang tersenyum.
Ada yang berbisik.
Ada pula yang hanya memandang tanpa berkata apa-apa.
Jagra menunduk.
Ia merasa seperti kembali menjadi anak yang duduk di bangku belakang.
Anak yang dianggap tidak mampu.
Anak yang sering terlambat.
Anak yang hampir berhenti sekolah.
Namun, kali ini Rantaka, Liris, dan Banyu berjalan di sampingnya.
Mereka tidak berkata banyak.
Mereka hanya memastikan Jagra tidak masuk ke sekolah sendirian.
Rapat diadakan di ruang guru.
Bu Laras sudah duduk di sana bersama Kepala Sekolah, wali kelas, Pak Hendra, dan Ketua Komite Sekolah.
Jagra duduk di kursi paling ujung.
Tangannya saling menggenggam di atas lutut.
Rantaka, Liris, dan Banyu duduk di luar ruangan, menunggu dengan perasaan tegang.
Di dalam ruangan, Bu Laras memulai pembicaraan.
“Jagra,” katanya lembut, “kami tahu keadaan keluargamu sedang sulit.”
Jagra menunduk.
“Kami juga tahu kamu harus membantu ayahmu di rumah,” lanjut Kepala Sekolah. “Tetapi kami tidak ingin kamu meninggalkan sekolah hanya karena keadaan sementara.”
Jagra mengangkat wajah.
“Keadaan ini mungkin tidak sementara, Pak.”
Kepala Sekolah terdiam sejenak.
“Kamu benar. Tidak ada yang bisa menjanjikan semuanya akan cepat membaik. Tetapi sekolah bisa membantu kamu memiliki lebih banyak pilihan di masa depan.”
Jagra tidak menjawab.
Pak Hendra kemudian membuka beberapa lembar kertas.
“Kami sudah membicarakan beberapa kemungkinan,” katanya.
Jagra menatap kertas itu.
“Kemungkinan apa?”
“Pertama,” kata Pak Hendra, “kamu bisa mengikuti program belajar tambahan.”
“Belajar tambahan?”
“Iya. Kalau kamu harus membantu keluarga pada pagi atau sore hari, kamu tetap bisa mengejar pelajaran yang tertinggal melalui kelas pendampingan.”
“Kapan?”
“Dua kali seminggu setelah jam sekolah. Bisa juga disesuaikan dengan jadwalmu.”
Jagra terlihat ragu.
“Kalau aku tidak bisa datang?”
“Kamu bisa meminjam modul belajar dan mengerjakannya di rumah,” jawab Bu Laras. “Nanti guru akan membantu memeriksa.”
Jagra masih diam.
Kepala Sekolah melanjutkan, “Kedua, untuk biaya kegiatan sekolah yang menunggak, kami akan memberikan keringanan.”
Jagra langsung mengangkat kepala.
“Keringanan?”
“Sebagian biaya dapat dicicil. Sebagian lagi akan dibantu melalui dana sosial sekolah dan dukungan komite.”
“Aku tidak mau dikasihani,” kata Jagra cepat.
Bu Laras tersenyum tipis.
“Ini bukan belas kasihan. Ini tanggung jawab sekolah agar muridnya tetap bisa belajar.”
Jagra menatap Bu Laras.
“Setiap anak memiliki keadaan yang berbeda,” lanjut Bu Laras. “Ada yang memiliki buku lengkap. Ada yang harus berbagi buku. Ada yang pulang ke rumah yang tenang. Ada yang harus membantu orang tua bekerja. Sekolah harus berusaha memahami itu.”
Kata-kata itu membuat dada Jagra terasa sesak.
Selama ini ia selalu mengira bantuan berarti orang lain menganggap dirinya lemah.
Namun, di hadapannya, Bu Laras tidak berbicara tentang kelemahan.
Bu Laras berbicara tentang haknya untuk belajar.
Ketua Komite Sekolah kemudian berkata, “Kami juga sudah mendengar tentang Pentas Langit Biru Kedua. Warga melihat kamu berani bicara di depan balai desa. Itu bukan hal kecil.”
Jagra menunduk lagi.
“Aku hanya menceritakan keadaan keluarga.”
“Justru itu,” kata Ketua Komite. “Kamu sudah menunjukkan bahwa kamu punya tanggung jawab. Anak yang bertanggung jawab tidak seharusnya berhenti sekolah karena merasa sendirian.”
Rapat berlangsung cukup lama.
Mereka membicarakan jadwal belajar tambahan.
Mereka membicarakan cara Jagra tetap bisa membantu ayahnya di kolam.
Mereka membicarakan kemungkinan beberapa siswa membantu mencatat pelajaran ketika Jagra harus izin.
Mereka membicarakan jadwal ujian susulan jika diperlukan.
Untuk pertama kalinya, Jagra melihat bahwa sekolah tidak hanya menuntutnya datang dan duduk di kelas.
Sekolah juga bersedia mencari jalan agar ia bisa bertahan.
Ketika rapat selesai, Bu Laras bertanya sekali lagi.
“Bagaimana keputusanmu?”
Jagra tidak langsung menjawab.
Ia memandang ke arah jendela.
Dari sana, ia bisa melihat halaman sekolah.
Ada beberapa anak kecil berlari membawa buku.
Ada suara bel kelas dari kejauhan.
Ada pohon besar yang daunnya bergerak tertiup angin.
Ia teringat masa kecilnya bersama Rantaka, Liris, dan Banyu.
Ia teringat Gerobak Buku.
Ia teringat kolam ikan yang hampir hancur.
Ia teringat ayahnya yang berkata bahwa kesusahan bukan aib.
Akhirnya, Jagra berkata, “Aku mau kembali sekolah.”
Bu Laras tersenyum.
Kepala Sekolah mengangguk.
Pak Hendra menepuk meja kecil di depannya.
“Bagus.”
Namun, Jagra melanjutkan, “Tapi aku juga harus tetap membantu ayah.”
“Kita akan mengatur jadwalnya,” kata Bu Laras.
Jagra mengangguk.
“Kalau begitu, aku akan mencoba.”
Ketika ia keluar dari ruang guru, Rantaka, Liris, dan Banyu langsung berdiri.
“Bagaimana?” tanya Liris.
Jagra memandang mereka.
“Aku kembali sekolah.”
Banyu tersenyum lebar.
Rantaka menghela napas lega.
Liris menutup mulutnya dengan tangan, menahan haru.
Namun, Jagra mengangkat tangan.
“Aku belum selesai.”
Mereka semua menatapnya.
“Aku ingin bicara di depan kelas.”
Rantaka mengerutkan dahi.
“Untuk apa?”
“Aku harus mengatakan sesuatu.”
Mereka tidak bertanya lagi.
Mereka hanya mengangguk.
Siang itu, sebelum pelajaran terakhir dimulai, wali kelas meminta semua siswa tetap berada di dalam ruangan.
Jagra berdiri di depan kelas.
Tangannya dingin.
Jantungnya berdebar lebih keras daripada saat ia berbicara di balai desa.
Berbicara di depan warga desa terasa sulit.
Tetapi berbicara di depan teman-teman sendiri ternyata lebih sulit.
Di ruangan itu ada Raka.
Ada Nayla.
Ada beberapa siswa yang dulu pernah mengejeknya.
Ada pula teman-teman yang tidak pernah benar-benar memahami keadaannya.
Rantaka, Liris, dan Banyu duduk di barisan tengah.
Mereka memandang Jagra tanpa mendesaknya.
Jagra menarik napas.
“Aku mau bicara,” katanya.
Kelas menjadi hening.
“Aku hampir berhenti sekolah.”
Beberapa siswa menatapnya dengan wajah terkejut.
“Aku pikir sekolah hanya untuk anak-anak yang punya uang, punya seragam bagus, dan tidak perlu membantu orang tua.”
Jagra berhenti sejenak.
“Tapi ternyata aku salah.”
Ia memandang teman-temannya.
“Aku memang punya masalah di rumah. Aku harus membantu ayahku. Aku sering terlambat. Aku kadang tidak bisa ikut kegiatan. Tapi itu bukan alasan untuk membuatku merasa tidak pantas sekolah.”
Beberapa siswa menunduk.
Jagra melanjutkan.
“Aku juga ingin minta maaf.”
Ia menoleh ke arah Rantaka.
“Rantaka, aku pernah menyalahkanmu karena kau tinggal di kecamatan dan punya kesempatan belajar lebih banyak. Padahal kau juga punya masalahmu sendiri.”
Rantaka mengangguk pelan.
Jagra menoleh kepada Liris.
“Liris, aku pernah bilang puisimu tidak penting. Aku bilang kau hanya sibuk dengan kata-kata. Padahal kata-katamu membuat banyak orang mengerti tentang kami.”
Mata Liris berkaca-kaca.
Jagra lalu menatap Banyu.
“Banyu, aku pernah marah karena kau terlalu sibuk dengan alat-alatmu. Aku tidak percaya bahwa kau benar-benar ingin membantu. Padahal kau datang ke rumahku membawa rancangan, bukan sekadar janji.”
Banyu menunduk, lalu tersenyum kecil.
Jagra kembali menatap seluruh kelas.
“Aku juga minta maaf kalau selama ini aku mudah marah. Aku sering merasa semua orang ingin merendahkan aku. Mungkin ada yang memang pernah mengejek. Tapi mungkin ada juga yang sebenarnya ingin membantu, hanya aku terlalu cepat menutup diri.”
Kelas tetap hening.
Kemudian seorang siswa di barisan belakang berdiri.
Namanya Dimas.
Ia bukan sahabat dekat Jagra, tetapi beberapa kali ia pernah ikut tertawa ketika Jagra terlambat masuk kelas.
“Aku juga minta maaf,” katanya. “Aku pernah ikut mengejekmu.”
Jagra menatapnya.
Dimas menunduk.
“Aku tidak tahu keadaanmu di rumah.”
Setelah itu, seorang siswi lain berkata, “Aku juga pernah bilang seragammu jelek. Maaf.”
Satu per satu, beberapa siswa mulai menyampaikan kata-kata sederhana.
Tidak semua orang berbicara.
Tidak semua masalah langsung selesai.
Namun, ruang kelas yang dulu terasa dingin perlahan berubah.
Wali kelas berdiri di depan papan tulis.
“Kalian semua harus belajar sesuatu dari hari ini,” katanya.
Ia menulis satu kalimat di papan tulis:
Setiap anak membawa perjuangan yang tidak selalu terlihat.
“Kita tidak boleh menilai teman hanya dari seragam, nilai, rumah, atau pekerjaan orang tuanya,” lanjutnya. “Sekolah seharusnya menjadi tempat untuk belajar, bukan tempat untuk membuat orang lain merasa kecil.”
Jagra kembali ke bangkunya.
Namun, kali ini ia tidak duduk di bangku belakang.
Wali kelas meminta salah satu siswa bergeser agar Jagra dapat duduk di barisan tengah, dekat Rantaka, Liris, dan Banyu.
Jagra sempat ragu.
Tetapi ketika ia duduk, Rantaka menyodorkan buku catatan.
“Aku sudah menyalin pelajaran yang kau lewatkan.”
Liris menambahkan beberapa lembar catatan bahasa Indonesia.
“Aku buat ringkasannya.”
Banyu mengeluarkan penggaris dan pensil.
“Kalau ada tugas yang butuh gambar, aku bantu.”
Jagra memandang mereka.
“Terima kasih.”
Rantaka tersenyum.
“Kita bukan hanya sahabat ketika semuanya mudah.”
Di luar kelas, bel pulang berbunyi.
Anak-anak mulai berkemas.
Namun, Jagra belum langsung berdiri.
Ia memandangi buku catatan di hadapannya.
Di halaman pertama, Rantaka menulis sebuah kalimat kecil:
Langit Biru tidak pernah meminta kita berjalan sendiri.
Jagra menyentuh tulisan itu dengan ujung jarinya.
Untuk pertama kalinya setelah banjir, setelah pertengkaran, setelah rasa malu dan keinginan untuk menyerah, ia merasa bahwa sekolah bukan lagi tempat yang membuatnya terasing.
Sekolah adalah tempat ia masih memiliki kesempatan.
Tempat ia masih bisa belajar.
Tempat ia masih bisa membangun masa depan.
Ketika mereka berjalan keluar kelas, langit di atas Desa Wanasari tampak cerah.
Banyu menunjuk ke arah awan putih yang bergerak perlahan.
“Langitnya biru,” katanya.
Liris tersenyum.
“Seperti nama kita.”
Jagra menatap ketiga sahabatnya.
“Tidak,” katanya pelan. “Lebih dari itu.”
Rantaka mengerutkan dahi.
“Maksudmu?”
Jagra tersenyum kecil.
“Langit Biru adalah alasan aku kembali.”
Mereka berjalan bersama menuju halaman sekolah.
Di kejauhan, Gerobak Buku Langit Biru sudah menunggu jadwal berikutnya.
Kolam ikan keluarga Jagra masih membutuhkan perawatan.
Pelajaran sekolah masih banyak yang harus dikejar.
Masalah hidup mereka belum sepenuhnya selesai.
Namun, hari itu Jagra telah membuat keputusan.
Ia tidak akan berhenti.
Ia akan tetap sekolah.
Ia akan tetap membantu keluarganya.
Ia akan tetap belajar.
Dan bersama sahabat-sahabatnya, ia akan melangkah menuju masa depan yang belum sepenuhnya terlihat, tetapi kini mulai berani ia percaya.
BAB 25 — LANGIT BIRU DI UJUNG REMAJA
Hari-hari setelah Jagra kembali ke sekolah berjalan dengan cara yang berbeda.
Tidak semua masalah langsung selesai.
Jagra masih harus bangun lebih pagi untuk membantu ayahnya memberi makan ikan. Pada beberapa hari, ia tetap datang ke sekolah dengan tangan yang masih berbau lumpur kolam atau jaring sungai. Kadang ia terlihat lelah saat pelajaran berlangsung.
Namun, kini ia tidak lagi menanggung semuanya sendiri.
Rantaka selalu membagikan catatan pelajaran ketika Jagra harus izin membantu ayahnya. Liris membuat ringkasan materi bahasa Indonesia dan sejarah agar Jagra tidak tertinggal. Banyu membantu menjelaskan pelajaran matematika dengan gambar-gambar sederhana di buku tulis.
Mereka tidak selalu belajar dengan mudah.
Kadang Jagra mengeluh karena angka-angka di papan tulis terasa lebih rumit daripada menghitung ikan di kolam.
Kadang Rantaka sendiri kesulitan memahami rumus.
Kadang Liris terlalu lama memperbaiki kalimat dalam tugas menulis.
Kadang Banyu lebih tertarik membongkar pulpen rusak daripada menyelesaikan pekerjaan rumah.
Tetapi mereka kembali belajar bersama.
Mereka kembali tertawa.
Mereka kembali saling mengingatkan.
Dan sedikit demi sedikit, Langit Biru kembali menjadi tempat pulang bagi mereka.
Gerobak Buku Langit Biru pun mulai berjalan lagi.
Setiap hari Sabtu sore, Banyu mengikat gerobak itu pada sepeda tuanya. Rantaka membantu menyusun buku-buku berdasarkan usia pembaca. Liris membawa buku catatan untuk menulis nama anak-anak yang meminjam. Jagra mengatur rute menuju rumah-rumah warga di sekitar sungai.
Anak-anak kecil Desa Wanasari mulai menunggu kedatangan mereka.
Ada yang duduk di bawah pohon mangga.
Ada yang menunggu di teras rumah.
Ada yang berlari dari ujung jalan tanah sambil berteriak, “Kakak-kakak Langit Biru datang!”
Gerobak itu tidak lagi hanya membawa buku.
Gerobak itu membawa cerita.
Membawa pelajaran.
Membawa kesempatan bagi anak-anak yang belum memiliki banyak bacaan di rumah.
Di salah satu rumah dekat sungai, seorang anak bernama Seno meminjam buku tentang ikan air tawar. Ia berkata ingin belajar membuat kolam seperti milik keluarga Jagra.
Di rumah lain, seorang anak perempuan bernama Mita meminjam buku cerita rakyat. Ia kemudian meminta Liris mengajarinya menulis puisi.
Banyu bahkan mulai mengadakan kegiatan kecil setiap dua minggu sekali. Ia mengajak anak-anak membuat tempat pensil dari botol bekas dan mainan sederhana dari kardus.
Rantaka melihat semua itu dengan hati hangat.
Dulu, ketika mereka masih kecil, Gerobak Buku hanya dibuat agar anak-anak desa mau membaca.
Sekarang, gerobak itu telah tumbuh menjadi sesuatu yang lebih besar.
Gerobak itu menjadi tempat anak-anak belajar bertanya.
Belajar membuat sesuatu.
Belajar bercerita.
Belajar percaya bahwa mereka juga memiliki masa depan.
Suatu sore, Bu Laras datang ke sekolah membawa sebuah amplop cokelat.
Ia mencari Rantaka di perpustakaan kecil yang berada di dekat ruang guru.
Saat itu Rantaka sedang membantu Banyu memperbaiki roda gerobak buku.
“Rantaka,” panggil Bu Laras.
Rantaka berdiri.
“Iya, Bu?”
Bu Laras menyerahkan amplop itu.
“Ada surat untukmu.”
Rantaka menerima amplop tersebut dengan bingung.
Di bagian depan tertulis namanya.
Tulisan itu berasal dari kantor kecamatan.
“Apa ini, Bu?” tanya Rantaka.
“Buka saja.”
Tangan Rantaka sedikit gemetar ketika membuka amplop itu.
Di dalamnya terdapat selembar surat resmi.
Ia membaca perlahan.
Matanya bergerak dari satu baris ke baris berikutnya.
Lalu ia berhenti.
“Bagaimana?” tanya Bu Laras.
Rantaka tidak langsung menjawab.
Wajahnya tampak seperti tidak percaya.
Banyu mendekat.
“Ada apa?”
Rantaka menyerahkan surat itu.
Banyu membaca dengan suara pelan.
“Program Beasiswa Pendidikan Pelajar Berprestasi dan Berjuang…”
Liris yang baru datang dari kelas ikut mendekat.
“Rantaka diterima?” tanyanya.
Banyu mengangguk.
“Dia mendapat beasiswa.”
Liris menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Rantaka masih berdiri diam.
Beasiswa itu bukan hanya bantuan biaya sekolah.
Beasiswa itu juga memberi kesempatan bagi Rantaka untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya dengan dukungan yang lebih baik.
Selama ini, ia selalu takut biaya menjadi alasan untuk berhenti.
Ia selalu khawatir keluarganya tidak mampu menanggung kebutuhan sekolahnya.
Namun, surat itu seperti membuka pintu yang selama ini hanya berani ia lihat dari kejauhan.
“Selamat, Rantaka,” kata Bu Laras.
Rantaka menatap surat itu sekali lagi.
“Apakah ini benar-benar untuk saya, Bu?”
Bu Laras tersenyum.
“Untukmu. Karena kamu tidak menyerah, karena kamu tetap belajar, dan karena kamu mampu menjadi contoh bagi teman-temanmu.”
Rantaka menunduk.
Matanya berkaca-kaca.
Ia teringat ayahnya.
Ia teringat ibunya.
Ia teringat masa ketika uang tabungan keluarga habis untuk biaya pengobatan.
Ia teringat saat dirinya hampir berhenti sekolah.
Ia teringat jalan tanah yang dulu terasa panjang menuju SD Wanasari.
“Aku harus memberi tahu ibu,” katanya pelan.
“Beritahu juga ayahmu,” kata Bu Laras.
Rantaka mengangguk.
Sore itu, ia pulang ke Desa Wanasari dengan membawa surat beasiswa di dalam tasnya.
Ketika sampai di rumah, ibunya sedang menyiapkan makanan sederhana di dapur. Ayahnya duduk di kursi kayu dekat jendela.
Rantaka berdiri di ambang pintu cukup lama.
“Ibu,” katanya.
Ibunya menoleh.
“Ada apa, Nak?”
Rantaka mengeluarkan surat dari tasnya.
“Aku mendapat beasiswa.”
Ibunya berhenti bergerak.
Ayahnya mengangkat wajah.
“Beasiswa?”
Rantaka menyerahkan surat itu.
Ibunya membaca perlahan.
Ia tidak langsung berkata apa-apa.
Namun, air mata mulai mengalir di pipinya.
Ayah Rantaka memegang surat itu dengan tangan yang masih belum sekuat dulu.
“Kau lihat?” katanya dengan suara berat. “Sekolahmu tidak sia-sia.”
Rantaka duduk di dekat ayahnya.
“Aku akan terus sekolah, Yah.”
Ayahnya mengangguk.
“Teruslah belajar. Jangan hanya untuk dirimu sendiri. Kalau suatu hari kau berhasil, ingatlah desa ini.”
Kata-kata itu tersimpan kuat dalam hati Rantaka.
Beberapa hari kemudian, Liris juga menerima kabar baik.
Surat dari komunitas literasi di kota kabupaten akhirnya datang kembali.
Kali ini, bukan hanya undangan.
Komunitas tersebut menawarkan bantuan transportasi dan tempat tinggal sederhana selama pelatihan menulis berlangsung.
Liris membaca surat itu berulang kali.
Ia tidak percaya bahwa puisi-puisinya benar-benar membawanya menuju kesempatan baru.
Namun, ketika ia menyampaikan kabar itu kepada ayahnya, wajah ayahnya tidak langsung berubah.
“Kota itu jauh,” kata ayahnya.
“Tidak terlalu jauh, Yah. Hanya beberapa hari pelatihan.”
“Menulis tidak membuat sawah kita terisi.”
Liris menunduk.
Ia sudah menduga jawaban itu.
Namun, kali ini ia tidak ingin menyerah seperti dulu.
Ia mengeluarkan beberapa lembar tulisan yang pernah dibuatnya.
Ada puisi tentang sungai.
Ada tulisan tentang Gerobak Buku Langit Biru.
Ada salinan proposal kegiatan gotong royong kolam ikan Jagra.
“Ayah,” katanya pelan, “menulis memang tidak langsung membuat kita kaya. Tapi menulis membuat orang lain tahu apa yang terjadi di desa kita.”
Ayahnya memandang lembaran itu.
“Untuk apa orang kota tahu?”
“Supaya mereka tahu anak-anak desa juga punya mimpi. Supaya mereka tahu desa kita punya masalah, tapi juga punya orang-orang yang mau berjuang.”
Ayahnya tetap diam.
Liris melanjutkan, “Aku tidak ingin pergi untuk meninggalkan desa. Aku ingin belajar supaya suatu hari aku bisa kembali dan mengajarkan anak-anak menulis.”
Kalimat itu membuat ayahnya menatap Liris lebih lama.
Akhirnya, ia berkata, “Kalau itu yang kau inginkan, pergilah. Tapi jangan lupa pulang.”
Liris tersenyum.
“Aku akan pulang, Yah.”
Sementara itu, Banyu mendapat kabar dari Pak Hendra.
Sebuah sekolah di kecamatan mengadakan lomba inovasi pelajar tingkat kabupaten. Pesertanya diminta membuat alat sederhana yang bermanfaat bagi lingkungan atau kehidupan masyarakat.
Pak Hendra membawa formulir pendaftaran untuk Banyu.
“Kamu mau ikut?” tanyanya.
Banyu memandangi formulir itu.
“Aku?”
“Kamu.”
“Aku belum punya alat yang hebat.”
“Tidak perlu hebat,” jawab Pak Hendra. “Yang penting berguna dan kamu memahami cara kerjanya.”
Banyu teringat alat penyaring air sederhana yang dipamerkan pada Pentas Langit Biru Kedua.
Ia teringat saluran air di kolam Jagra.
Ia teringat bagaimana ia pernah gagal karena terlalu ingin membuat sesuatu yang besar.
Kini, ia ingin membuat alat yang lebih sederhana, lebih aman, dan bisa dipakai warga.
“Aku mau ikut,” katanya.
Pak Hendra tersenyum.
“Bagus. Mulailah dari masalah yang kamu kenal.”
Banyu pulang dengan membawa formulir itu.
Ia langsung mendatangi rumah Jagra.
“Aku mau membuat alat untuk lomba,” katanya.
Jagra yang sedang membersihkan jaring menoleh.
“Alat apa?”
“Alat penyaring dan pengatur aliran air untuk kolam.”
Jagra mengangkat alis.
“Untuk kolamku?”
“Untuk kolam warga. Tapi aku ingin mencoba di sini dulu.”
Jagra tersenyum kecil.
“Kalau berhasil, namaku harus ikut ditulis.”
Banyu tertawa.
“Baik. Kau jadi penguji lapangan.”
“Penguji lapangan?”
“Iya. Kau tahu mana yang berguna dan mana yang hanya bagus di atas kertas.”
Jagra tampak bangga mendengar itu.
Ia tidak lagi merasa hanya sebagai anak yang punya masalah.
Ia mulai melihat bahwa pengalaman hidupnya juga bisa menjadi pengetahuan.
Di sisi lain, Jagra sendiri mulai membangun kelompok kecil bersama beberapa remaja desa yang tinggal dekat sungai.
Mereka berkumpul di rumahnya setiap Minggu pagi.
Ada yang anak nelayan.
Ada yang anak petani.
Ada pula yang sering membantu orang tua mencari ikan di sungai.
Jagra mengajak mereka membersihkan saluran air, memperbaiki jaring, dan belajar membuat pakan ikan sederhana.
Ia tidak menyebut kelompok itu sebagai organisasi besar.
Ia hanya berkata bahwa mereka adalah remaja yang ingin belajar menjaga sungai dan mencari penghasilan dengan cara yang lebih baik.
Namun, warga mulai menyebut mereka sebagai Kelompok Perikanan Remaja Wanasari.
Ketika mendengar nama itu, Jagra tertawa malu.
“Aku belum pantas memimpin siapa pun,” katanya kepada Rantaka.
Rantaka menjawab, “Kau tidak harus merasa pantas dulu untuk mulai melakukan hal baik.”
Kalimat itu membuat Jagra terdiam cukup lama.
Menjelang kenaikan kelas, sekolah mengadakan kegiatan sederhana di halaman.
Tidak ada panggung besar.
Tidak ada musik keras.
Hanya beberapa kursi, meja, dan papan pengumuman.
Namun, bagi Rantaka, Liris, Banyu, dan Jagra, hari itu terasa penting.
Mereka berkumpul di bawah pohon beringin tua yang berada di halaman belakang SD Wanasari.
Pohon itu masih berdiri seperti dulu.
Batangnya semakin besar.
Akar-akarnya menjalar ke tanah.
Daunnya menaungi tempat mereka pernah membuat janji ketika masih kecil.
Di bawah pohon itu, mereka dulu memberi nama kelompok mereka Langit Biru.
Di bawah pohon itu pula mereka pernah bertengkar, menangis, dan hampir berpisah.
Kini mereka duduk bersama lagi.
Rantaka membawa surat beasiswanya.
Liris membawa surat undangan pelatihan menulis.
Banyu membawa formulir lomba inovasi.
Jagra membawa buku catatan kecil berisi daftar anggota Kelompok Perikanan Remaja Wanasari.
Mereka meletakkan semua itu di atas tikar.
Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.
Mereka hanya memandangi benda-benda itu.
Benda-benda sederhana.
Namun, masing-masing menyimpan jalan masa depan.
“Aneh,” kata Banyu akhirnya. “Dulu kita cuma anak-anak yang menemukan buku di gudang tua.”
Liris tersenyum.
“Dan sekarang kita punya terlalu banyak surat.”
Jagra mengangkat buku catatannya.
“Aku punya daftar nama anak-anak yang suka membolos karena ikut orang tua ke sungai.”
Rantaka menatapnya.
“Kau mau melakukan apa?”
“Aku mau ajak mereka tetap sekolah.”
Liris tersenyum hangat.
“Bagus.”
Jagra mengangkat bahu.
“Aku tidak mau mereka mengalami hal yang sama seperti aku.”
Rantaka memandang langit di sela-sela daun beringin.
Warna birunya terlihat luas.
Sama seperti ketika mereka masih kecil.
Namun, kini ia tahu bahwa langit itu tidak selalu berarti jalan yang mudah.
Langit biru juga pernah tertutup hujan.
Pernah tertutup banjir.
Pernah tertutup kesedihan dan pertengkaran.
Tetapi setelah semuanya, langit tetap ada.
“Jalan kita akan berbeda,” kata Rantaka.
Liris mengangguk.
“Aku mungkin pergi ke kota untuk pelatihan.”
“Aku mungkin sibuk dengan lomba,” kata Banyu.
“Aku harus tetap membantu ayah di kolam,” kata Jagra.
Rantaka menggenggam surat beasiswanya.
“Dan aku mungkin harus lebih sering tinggal di kecamatan.”
Mereka kembali terdiam.
Ada rasa sedih yang pelan-pelan muncul.
Bukan karena mereka ingin berpisah.
Tetapi karena mereka sadar masa remaja membawa mereka ke jalan yang berbeda.
Mereka tidak lagi bisa selalu bertemu setiap sore.
Tidak lagi bisa selalu belajar bersama di bawah pohon beringin.
Tidak lagi bisa selalu mendorong Gerobak Buku berempat.
Namun, Liris membuka buku hijaunya.
Ia menulis sesuatu di halaman kosong.
Kemudian ia membacakan kalimat itu.
“Langit Biru bukan nama kelompok belajar masa kecil.”
Rantaka menatapnya.
Liris melanjutkan.
“Langit Biru adalah janji untuk tetap saling mengingatkan agar tidak menyerah, meski jalan hidup membawa kita ke arah yang berbeda.”
Banyu tersenyum.
“Itu bagus.”
Jagra mengangguk.
“Itu harus ditulis di gerobak buku.”
Rantaka tertawa kecil.
“Gerobaknya sudah penuh tulisan.”
“Kalau begitu, tulis di papan baru,” kata Jagra.
Mereka tertawa bersama.
Tawa itu tidak lagi seperti tawa anak-anak kecil.
Tawa itu lebih tenang.
Lebih dewasa.
Namun, tetap menyimpan kehangatan yang sama.
Sebelum pulang, mereka berdiri di bawah pohon beringin.
Rantaka mengulurkan tangannya ke tengah.
“Untuk Langit Biru,” katanya.
Liris meletakkan tangannya di atas tangan Rantaka.
Banyu menyusul.
Jagra menjadi yang terakhir.
“Untuk Langit Biru,” ulang mereka bersama.
Di kejauhan, Gerobak Buku Langit Biru terlihat diparkir di dekat perpustakaan sekolah.
Gerobak itu sudah tidak lagi tampak seperti benda tua yang hampir rusak.
Roda-roda barunya kuat.
Kayunya telah dicat ulang.
Buku-bukunya lebih banyak.
Jadwal kegiatannya tertempel di sisi gerobak.
Di bagian depan, terdapat papan kayu baru dengan tulisan:
LANGIT BIRU
Mimpi Anak Desa Tidak Pernah Terlalu Tinggi
Rantaka membaca tulisan itu dalam hati.
Ia tahu perjalanan mereka belum selesai.
Beasiswa bukan akhir perjuangan.
Pelatihan menulis bukan akhir mimpi Liris.
Lomba inovasi bukan akhir langkah Banyu.
Kelompok perikanan bukan akhir perjalanan Jagra.
Semua itu baru awal.
Namun, awal yang kini mereka jalani dengan lebih berani.
Mereka pernah retak.
Mereka pernah hampir saling meninggalkan.
Mereka pernah merasa tidak cukup kuat.
Tetapi mereka kembali.
Mereka belajar meminta maaf.
Mereka belajar menerima bantuan.
Mereka belajar bahwa mimpi tidak selalu tumbuh dari keadaan yang mudah.
Kadang mimpi tumbuh dari jalan tanah.
Dari rumah sederhana.
Dari buku lusuh.
Dari sungai yang meluap.
Dari kolam yang rusak.
Dari gerobak tua yang membawa buku.
Dan dari empat sahabat yang memilih untuk tidak menyerah.
Ketika sore turun di Desa Wanasari, mereka berjalan meninggalkan halaman sekolah.
Langkah mereka tidak lagi sama seperti ketika mereka pertama kali bertemu.
Kini mereka membawa cita-cita masing-masing.
Membawa tanggung jawab masing-masing.
Membawa jalan hidup yang mungkin akan membawa mereka jauh.
Namun, di atas mereka, langit tetap biru.
Dan selama mereka masih mengingat janji yang pernah dibuat di bawah pohon beringin tua, Langit Biru akan selalu menjadi rumah yang menuntun mereka kembali.
BUKU III
LANGIT BIRU DI BALIK KOTA
BAB 1- BUS PAGI DARI WANASARI
Pagi di Desa Wanasari belum benar-benar terang ketika Rantaka terbangun.
Suara ayam jantan terdengar dari kandang belakang rumah. Dari dapur, terdengar bunyi kayu dibelah dan api tungku yang mulai menyala. Udara pagi terasa dingin, membawa aroma tanah basah dari kebun yang semalam diguyur hujan ringan.
Rantaka membuka mata perlahan.
Untuk beberapa saat, ia hanya menatap atap rumah yang terbuat dari papan. Ia masih ingin percaya bahwa hari itu sama seperti hari-hari sebelumnya. Ia ingin bangun, mencuci muka di sumur, lalu berjalan menuju sekolah seperti biasa.
Namun, tas cokelat yang diletakkan di sudut kamar membuatnya kembali mengingat semuanya.
Hari itu ia akan pergi.
Ia akan meninggalkan Desa Wanasari untuk melanjutkan sekolah di kota kecil.
Ia akan naik bus pagi dari jalan utama kecamatan.
Ia akan tinggal di rumah singgah pelajar.
Ia akan memasuki sekolah baru.
Dan untuk pertama kalinya, ia akan menjalani hari-hari tanpa dapat pulang ke rumah setiap sore.
Rantaka duduk di tepi tempat tidur.
Di samping tasnya, terdapat beberapa buku pelajaran yang sudah dibungkus plastik agar tidak basah jika hujan turun. Ada dua pasang seragam sekolah, sebuah handuk, pakaian ganti, sandal jepit, buku catatan, dan surat beasiswa yang dimasukkan ke dalam map bening.
Ia mengambil map itu.
Surat beasiswa tersebut sudah berkali-kali dibaca.
Namun, pagi itu ia kembali membukanya.
Di bagian atas surat, terdapat lambang sekolah dan nama program bantuan pendidikan. Di bawahnya tertulis bahwa Rantaka diterima sebagai salah satu siswa penerima beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di SMA kota kecil.
Surat itu seharusnya membuatnya bahagia.
Dan memang, ia bahagia.
Namun, di balik rasa bahagia itu, ada ketakutan yang sulit ia jelaskan.
Bagaimana jika ia tidak mampu mengikuti pelajaran?
Bagaimana jika uang beasiswa tidak cukup?
Bagaimana jika ia tidak memiliki teman?
Bagaimana jika orang-orang di kota menertawakan cara bicaranya?
Bagaimana jika ia tidak bisa menjadi anak yang dibanggakan oleh ayah dan ibunya?
Rantaka menutup surat itu kembali.
Ia memasukkannya ke dalam tas dengan hati-hati.
“Rantaka,” terdengar suara ibunya dari dapur. “Sudah bangun?”
“Sudah, Bu.”
“Cuci muka dulu. Sarapan sudah hampir siap.”
Rantaka berdiri.
Ia berjalan keluar kamar menuju sumur di belakang rumah. Embun masih menempel di rumput. Pohon singkong di dekat pagar bergerak perlahan terkena angin pagi.
Ia mengambil air dengan gayung, lalu membasuh wajahnya.
Air sumur terasa dingin.
Dingin itu membuatnya benar-benar sadar bahwa hari itu bukan mimpi.
Setelah mencuci muka, ia kembali ke dalam rumah.
Ibunya sedang duduk di dekat tungku. Di atas meja kayu, sudah tersedia nasi hangat, ikan asin, sambal sederhana, dan sayur daun singkong.
Makanan itu bukan makanan istimewa.
Namun, pagi itu Rantaka memandanginya lebih lama dari biasanya.
Ia tahu, mungkin beberapa hari ke depan ia akan makan makanan yang berbeda. Mungkin makanan dari warung. Mungkin nasi bungkus. Mungkin mie instan ketika uangnya menipis.
Ia duduk di dekat ibunya.
“Makannya yang banyak,” kata ibunya.
Rantaka mengangguk.
Namun, baru beberapa suap, tenggorokannya terasa berat.
Ibunya memperhatikan wajahnya.
“Kau tidak enak badan?”
“Tidak, Bu.”
“Lalu kenapa?”
Rantaka menggeleng.
Ia tidak ingin membuat ibunya khawatir.
Namun, ibunya tetap dapat melihat sesuatu yang ia sembunyikan.
“Kau takut pergi?” tanya ibunya pelan.
Rantaka menunduk.
Beberapa saat ia tidak menjawab.
Lalu ia berkata, “Sedikit.”
Ibunya tersenyum tipis.
“Takut itu wajar. Tapi jangan sampai takut membuatmu berhenti melangkah.”
Rantaka menatap ibunya.
“Di kota, kau akan bertemu banyak orang. Ada yang baik. Ada yang mungkin tidak memahami keadaanmu. Ada yang mungkin meremehkanmu karena kau berasal dari desa.”
Rantaka diam.
“Kau tidak perlu malu,” lanjut ibunya. “Kau pergi bukan karena kita lebih hebat dari orang lain. Kau pergi karena kau diberi kesempatan belajar. Gunakan kesempatan itu sebaik mungkin.”
Mata Rantaka mulai terasa hangat.
Ia cepat-cepat mengambil nasi lagi agar ibunya tidak melihat.
Tidak lama kemudian, ayahnya keluar dari kamar.
Langkah ayahnya masih belum sepenuhnya kuat. Namun, pagi itu ia mengenakan baju terbaiknya, kemeja putih yang hanya dipakai pada saat-saat tertentu.
Ayah Rantaka duduk di kursi dekat jendela.
Ia memandangi anaknya cukup lama.
“Kau sudah siap?” tanyanya.
“Sudah, Yah.”
Ayahnya mengangguk.
“Kalau di kota nanti ada orang bertanya dari mana asalmu, jawab dengan jelas.”
“Dari Desa Wanasari,” jawab Rantaka.
“Jangan menunduk saat mengatakannya.”
Rantaka memandang ayahnya.
“Kenapa, Yah?”
“Karena desa kita mungkin kecil. Jalannya mungkin belum bagus. Orang-orangnya mungkin hidup sederhana. Tapi kita tidak hidup dengan mengambil hak orang lain. Kita bekerja dengan tangan sendiri.”
Ayahnya berhenti sebentar.
“Kau boleh belajar di kota. Kau boleh punya cita-cita tinggi. Tapi jangan pernah merasa harus menjadi orang lain agar diterima.”
Kata-kata itu masuk ke dalam hati Rantaka.
Ia mengangguk perlahan.
“Aku ingat, Yah.”
Setelah sarapan, ibunya memasukkan bekal ke dalam tas kain kecil. Ada nasi, ikan asin, dan sambal yang dibungkus daun pisang. Ada juga bungkusan ikan asin dari Jagra yang diberikan malam sebelumnya.
“Ini untuk perjalanan,” kata ibunya.
“Banyak sekali, Bu.”
“Lebih baik banyak daripada kau kelaparan.”
Rantaka tersenyum.
Ia tahu ibunya sengaja membuat lebih banyak makanan karena tidak tahu kapan lagi dapat menyiapkan bekal untuknya.
Ketika matahari mulai muncul dari balik pepohonan, Rantaka mengenakan seragam sekolah barunya.
Seragam itu masih terasa kaku.
Kemejanya putih bersih. Celananya biru abu-abu. Sepatunya hitam, hasil membeli dari toko di kecamatan menggunakan sebagian uang beasiswa.
Ia berdiri di depan cermin kecil yang tergantung di dinding.
Untuk pertama kalinya, ia melihat dirinya sebagai siswa SMA.
Bukan lagi anak SD yang membawa buku lusuh.
Bukan lagi anak SMP yang duduk di bawah pohon beringin bersama sahabat-sahabatnya.
Kini ia akan memasuki dunia yang lebih besar.
Namun, jauh di dalam dirinya, ia masih merasa seperti anak Desa Wanasari yang selalu takut salah ketika berbicara di depan orang banyak.
Di depan rumah, Liris sudah datang.
Ia membawa buku hijau dan sebuah amplop kecil.
Banyu datang tidak lama kemudian dengan sepeda tuanya. Di bagian belakang sepeda, terdapat tas kain berisi beberapa barang kecil.
Jagra menyusul sambil membawa topi lusuhnya.
Mereka berdiri di halaman rumah Rantaka.
Tidak ada yang langsung berkata-kata.
Mereka hanya memandangi Rantaka yang sudah mengenakan seragam baru.
“Cocok,” kata Banyu akhirnya.
“Seperti anak kota,” tambahnya.
“Jangan bilang begitu,” kata Rantaka.
“Kenapa?”
“Aku tetap anak desa.”
Banyu tersenyum.
“Ya, anak desa yang pakai seragam baru.”
Liris mendekat.
Ia menyerahkan amplop kecil kepada Rantaka.
“Apa ini?” tanya Rantaka.
“Buka nanti saja.”
“Kenapa tidak sekarang?”
“Karena kalau kau buka sekarang, mungkin kau tidak jadi berangkat.”
Rantaka memandang Liris.
Gadis itu berusaha tersenyum, tetapi matanya tampak menyimpan sesuatu yang tidak ingin ia katakan.
Rantaka memasukkan amplop itu ke dalam saku seragamnya.
“Terima kasih.”
Jagra lalu mengeluarkan sebuah benda kecil dari sakunya.
Itu adalah gelang sederhana dari tali nilon berwarna biru.
“Aku buat dari tali jaring,” katanya.
Rantaka menerimanya.
“Untuk apa?”
“Supaya kau ingat sungai.”
Rantaka mengikat gelang itu di pergelangan tangannya.
“Terima kasih, Jagra.”
Banyu kemudian memberikan sebuah pensil mekanik yang sudah sedikit lecet.
“Aku dapat dari Pak Hendra,” katanya. “Masih bisa dipakai.”
Rantaka tertawa kecil.
“Ini pensilmu?”
“Sekarang pensilmu. Jangan hilang. Kalau hilang, aku tidak punya uang untuk membeli lagi.”
“Aku akan jaga.”
Mereka berjalan bersama menuju jalan utama.
Ayah Rantaka membawa tas besar. Ibunya membawa bekal dan sebotol air minum. Rantaka berjalan di tengah, sementara Liris, Banyu, dan Jagra mengikutinya.
Jalan tanah pagi itu masih lembap.
Beberapa bagian terasa licin karena hujan semalam. Di sisi kanan dan kiri, kebun warga terlihat hijau. Ada suara burung dari arah pepohonan. Ada warga yang menyapa ketika melihat mereka berjalan.
“Mau berangkat sekolah ke kota, Rantaka?” tanya seorang ibu yang sedang menyapu halaman.
“Iya, Bu,” jawab Rantaka.
“Belajar yang rajin.”
Rantaka mengangguk.
Semakin dekat ke jalan utama, semakin banyak warga yang mengetahui keberangkatannya.
Ada yang mengucapkan selamat.
Ada yang memberi nasihat.
Ada yang hanya tersenyum dan mengangkat tangan.
Rantaka merasa malu karena terlalu banyak orang memperhatikannya.
Namun, ia juga merasa ada sesuatu yang menguatkan.
Ternyata, kepergiannya bukan hanya tentang dirinya.
Ada banyak orang di desa yang berharap ia berhasil.
Mereka berharap anak dari Desa Wanasari juga dapat melanjutkan sekolah.
Mereka berharap beasiswa itu tidak sia-sia.
Mereka berharap Rantaka dapat menjadi jalan bagi anak-anak lain untuk percaya bahwa pendidikan bukan hanya milik orang yang tinggal di kota.
Ketika mereka sampai di jalan utama, bus belum datang.
Di sana hanya ada sebuah warung kecil, halte sederhana dari kayu, dan beberapa warga yang menunggu kendaraan menuju kecamatan.
Rantaka meletakkan tasnya di dekat bangku halte.
Ibunya duduk di sampingnya.
Ayahnya berdiri sambil memandangi jalan.
Liris berdiri sedikit menjauh.
Banyu sibuk memeriksa rantai sepedanya meski rantai itu sebenarnya tidak bermasalah.
Jagra memandang ke arah kebun tanpa banyak bicara.
Mereka semua menunggu bus.
Namun, sebenarnya mereka sedang menunggu keberanian untuk mengucapkan perpisahan.
Tidak lama kemudian, terdengar suara mesin dari kejauhan.
Bus berwarna putih dan biru muncul dari tikungan jalan.
Debu tipis terangkat ketika bus mendekat.
Rantaka berdiri.
Dadanya mulai berdebar.
Bus itu berhenti di depan halte dengan suara rem yang panjang.
Pintu terbuka.
Seorang sopir menoleh keluar.
“Ke kota?” tanyanya.
Rantaka mengangguk.
“Iya, Pak.”
Ayahnya mengangkat tas besar dan menyerahkannya kepada Rantaka.
Ibunya memegang tangan Rantaka cukup lama.
“Jaga diri baik-baik,” katanya.
“Iya, Bu.”
“Jangan lupa makan.”
“Iya.”
“Kalau ada masalah, jangan dipendam sendiri.”
Rantaka mengangguk.
Namun, ia tidak yakin dapat selalu melakukan itu.
Ayahnya mendekat.
Ia tidak banyak bicara.
Ia hanya menepuk bahu Rantaka.
“Belajarlah,” katanya. “Dan pulanglah jika sudah waktunya pulang.”
Rantaka menatap ayahnya.
“Iya, Yah.”
Liris kemudian maju.
Ia tidak mengucapkan banyak kata.
“Jangan lupa menulis surat,” katanya.
“Aku akan menulis.”
“Jangan hanya sekali.”
“Tidak hanya sekali.”
Banyu mengangkat tangan.
“Kalau ada sepeda rusak di kota, jangan langsung bawa ke bengkel. Kirim kabar dulu.”
Rantaka tersenyum.
“Baik.”
Jagra memandangnya dengan wajah serius.
“Kalau ada yang bilang anak desa tidak bisa apa-apa, jangan percaya.”
Rantaka mengangguk.
“Aku tidak akan percaya.”
Akhirnya, Rantaka naik ke dalam bus.
Ia memilih duduk di dekat jendela.
Tas cokelat diletakkan di pangkuannya. Tangannya menggenggam erat tali tas. Dari balik kaca, ia melihat ibu, ayah, Liris, Banyu, dan Jagra berdiri di pinggir jalan.
Bus mulai bergerak perlahan.
Ibunya mengangkat tangan.
Ayahnya berdiri tegak.
Liris menahan air mata sambil tersenyum.
Banyu melambaikan tangan tinggi-tinggi.
Jagra hanya mengangguk, tetapi Rantaka tahu sahabatnya itu sedang menahan perasaan yang sama.
Bus semakin jauh.
Halte kayu mulai mengecil.
Rumah-rumah warga berubah menjadi titik-titik kecil.
Kebun, jalan tanah, dan pohon-pohon yang dikenalnya sejak kecil perlahan tertinggal di belakang.
Ketika bus melewati tikungan terakhir, Rantaka masih dapat melihat pohon beringin tua di halaman sekolah.
Pohon itu tampak kecil dari kejauhan.
Namun, bagi Rantaka, pohon itu tetap terasa besar.
Di bawah pohon itu, ia pernah belajar membaca.
Ia pernah membuat janji bersama sahabat-sahabatnya.
Ia pernah merasa takut.
Ia pernah merasa kuat.
Ia pernah jatuh dan bangkit kembali.
Rantaka menyentuh gelang biru di pergelangan tangannya.
Ia kemudian mengeluarkan amplop dari Liris.
Di bagian depan amplop itu hanya tertulis satu kalimat:
Untuk dibuka saat kau mulai merasa sendiri.
Rantaka tidak membukanya.
Belum.
Ia memasukkan kembali amplop itu ke dalam saku seragam.
Di luar jendela, jalan menuju kota terbentang panjang.
Ada bukit kecil.
Ada jembatan.
Ada kebun-kebun yang perlahan berubah menjadi rumah-rumah lebih rapat.
Di kejauhan, Rantaka mulai melihat bangunan-bangunan yang lebih besar daripada rumah-rumah di Desa Wanasari.
Itulah arah kota.
Arah sekolah baru.
Arah kehidupan baru.
Arah perjuangan yang belum ia mengerti.
Rantaka menatap ke depan.
Ia masih takut.
Ia masih rindu, bahkan sebelum benar-benar jauh.
Namun, di dalam tasnya ada surat beasiswa.
Di pergelangan tangannya ada gelang dari Jagra.
Di sakunya ada surat dari Liris.
Dan di dalam hatinya, ada suara ayahnya yang terus mengingatkan:
Jangan pernah menunduk saat mengatakan dari mana asalmu.
Bus pagi dari Wanasari terus melaju.
Membawa Rantaka menuju kota.
Membawa seorang anak desa menuju jalan panjang yang akan menguji persahabatan, keberanian, cinta pertama, dan cita-citanya.
BAB 2 - KOTA YANG TIDAK PERNAH DIAM
Bus yang membawa Rantaka dari Desa Wanasari tiba di kota kecil menjelang siang.
Perjalanan yang semula terasa panjang akhirnya berakhir di sebuah terminal sederhana yang jauh lebih ramai daripada jalan utama di kecamatan. Begitu bus berhenti, suara mesin kendaraan, teriakan kernet, dan panggilan para pedagang langsung memenuhi telinganya.
“Turun, turun! Terminal kota!”
Rantaka berdiri perlahan dari kursinya.
Ia meraih tas cokelat di pangkuannya, lalu mengambil tas besar yang diletakkan di bawah kursi. Kakinya terasa sedikit kaku setelah duduk selama berjam-jam. Namun, yang membuatnya lebih sulit bergerak bukanlah rasa lelah.
Ia hanya belum siap menghadapi tempat baru.
Ketika turun dari bus, Rantaka berdiri beberapa saat di dekat pintu terminal.
Di hadapannya, kendaraan datang dan pergi tanpa berhenti. Ada angkot berwarna kuning yang menunggu penumpang. Ada becak motor yang melintas sambil membunyikan klakson. Ada sepeda motor yang bergerak cepat di antara kendaraan lain. Di sisi jalan, pedagang menjual air minum, gorengan, koran, buah, dan makanan dalam bungkus plastik.
Orang-orang berjalan cepat.
Sebagian membawa tas.
Sebagian membawa barang dagangan.
Sebagian berbicara melalui telepon genggam.
Tidak ada yang tampak punya waktu untuk berhenti dan memandangi kota seperti yang dilakukan Rantaka.
Ia memegang tali tasnya lebih erat.
Di Desa Wanasari, ia mengenal hampir semua orang yang ditemuinya. Ia tahu rumah siapa yang berada di dekat kebun singkong. Ia tahu suara motor siapa yang biasanya melintas di jalan tanah. Ia tahu di mana anak-anak bermain ketika sore hari.
Namun, di kota ini, semua wajah terasa asing.
Tidak ada yang mengenalnya.
Tidak ada yang tahu bahwa ia baru saja meninggalkan desa.
Tidak ada yang tahu bahwa ia membawa surat beasiswa di dalam tas.
Tidak ada yang tahu bahwa ia sedang berusaha keras agar tidak terlihat takut.
Rantaka mengeluarkan secarik kertas dari saku.
Di sana tertulis alamat rumah singgah pelajar yang diberikan oleh pihak sekolah.
Rumah Singgah Pelajar Harapan, Jalan Melati Nomor 17.
Ia membaca tulisan itu sekali lagi.
Lalu ia mendekati seorang tukang becak motor yang sedang duduk di bawah pohon dekat terminal.
“Pak,” kata Rantaka pelan. “Apakah Bapak tahu Jalan Melati?”
Tukang becak itu menoleh.
“Jalan Melati yang dekat pasar lama?”
Rantaka memandangi kertas di tangannya.
“Ada rumah singgah pelajar di sana.”
“Oh, tahu. Naik saja. Tidak terlalu jauh.”
“Berapa, Pak?”
Tukang becak menyebutkan harga.
Rantaka terdiam sebentar.
Jumlah itu terasa cukup besar baginya.
Di Desa Wanasari, uang sebanyak itu dapat digunakan untuk membeli beberapa kebutuhan rumah. Namun, ia tidak tahu jalan menuju rumah singgah. Ia juga tidak ingin tersesat pada hari pertama.
Akhirnya, ia mengangguk.
“Baik, Pak.”
Tas besarnya diletakkan di bagian belakang becak. Rantaka duduk dengan hati-hati. Mesin dinyalakan. Kendaraan itu mulai bergerak meninggalkan terminal.
Dari tempat duduknya, Rantaka melihat kota kecil itu lebih jelas.
Bangunan-bangunan berdiri rapat di sisi jalan. Ada toko pakaian, toko alat tulis, bengkel sepeda motor, warung makan, kios pulsa, dan rumah-rumah dengan pagar besi. Di beberapa tempat, terdapat papan reklame besar yang menampilkan gambar produk dan tulisan berwarna-warni.
Rantaka membaca beberapa tulisan di papan itu.
Ada yang menawarkan kursus komputer.
Ada yang menawarkan bimbingan belajar.
Ada yang menawarkan pekerjaan.
Ada pula iklan sekolah-sekolah yang menjanjikan masa depan cerah bagi siswanya.
Ia memandangi semuanya dengan perasaan campur aduk.
Di kota, kesempatan tampak lebih banyak.
Namun, kota juga terasa seperti tempat yang menuntut orang untuk selalu bergerak.
Tidak ada jalan tanah yang lengang.
Tidak ada suara sungai.
Tidak ada pohon-pohon besar yang menaungi halaman sekolah.
Yang ada hanya jalan beraspal, kendaraan, toko, dan orang-orang yang berjalan cepat seolah takut tertinggal.
Becak motor berbelok ke sebuah jalan yang lebih sempit.
Di ujung jalan, Rantaka melihat sebuah bangunan berpagar kayu. Cat dindingnya berwarna hijau muda, meski beberapa bagian sudah mulai pudar. Di depan bangunan itu terdapat papan kecil bertuliskan:
RUMAH SINGGAH PELAJAR HARAPAN
“Ini tempatnya,” kata tukang becak.
Rantaka turun.
Ia membayar ongkos perjalanan, lalu mengangkat tasnya.
Tukang becak itu menatap Rantaka sebentar.
“Sekolah di kota?”
“Iya, Pak.”
“Belajar yang rajin. Jangan mudah ikut-ikutan orang.”
Rantaka mengangguk.
“Terima kasih, Pak.”
Setelah becak motor itu pergi, Rantaka berdiri di depan pagar rumah singgah.
Bangunannya tidak besar.
Halaman depannya dipenuhi tanah keras yang sebagian ditumbuhi rumput. Di dekat pagar, ada pohon jambu yang tumbuh miring. Beberapa sandal dan sepatu tersusun di teras. Dari dalam rumah, terdengar suara orang berbicara dan suara sendok beradu dengan piring.
Rantaka menarik napas.
Lalu ia membuka pagar perlahan.
Seorang perempuan paruh baya keluar dari dalam rumah sambil membawa ember kecil.
“Cari siapa, Nak?” tanyanya.
Rantaka segera berdiri lebih tegak.
“Saya Rantaka, Bu. Saya siswa baru penerima beasiswa. Saya diminta tinggal di rumah singgah ini.”
Perempuan itu memandangi Rantaka dari ujung kepala hingga kaki.
Kemudian wajahnya melunak.
“Oh, kamu Rantaka?”
“Iya, Bu.”
“Saya sudah diberi tahu oleh pihak sekolah. Masuklah. Saya Bu Ratmi.”
Rantaka mengangguk.
“Terima kasih, Bu Ratmi.”
Bu Ratmi membantu membuka pintu.
“Taruh tasmu di dalam. Kamar untukmu ada di belakang. Kamu akan tinggal bersama satu anak lagi.”
Rantaka mengikuti Bu Ratmi masuk ke dalam rumah.
Di ruang tengah, terdapat beberapa meja kayu, rak buku sederhana, dan papan pengumuman yang ditempel di dinding. Di atas papan itu tertulis jadwal piket, aturan rumah singgah, jadwal belajar malam, serta jam keluar dan masuk penghuni.
Rantaka membaca aturan itu pelan-pelan.
Bangun pukul lima pagi.
Piket kebersihan dilakukan bergantian.
Belajar malam dimulai setelah magrib.
Lampu kamar dimatikan pukul sepuluh malam.
Tidak boleh pulang terlambat tanpa izin.
Tidak boleh membawa masalah dari luar ke dalam rumah singgah.
Aturan itu membuat Rantaka merasa seperti memasuki dunia baru.
Di rumah, ia terbiasa membantu ibunya tanpa jadwal tertulis. Ia terbiasa tidur ketika pekerjaan selesai. Ia terbiasa berjalan ke sungai atau ke rumah sahabatnya tanpa harus meminta izin kepada banyak orang.
Di sini, semuanya memiliki waktu.
Semuanya memiliki aturan.
Semuanya harus dilakukan dengan tertib.
Bu Ratmi membawa Rantaka ke kamar di bagian belakang rumah.
Kamar itu tidak luas.
Di dalamnya terdapat dua tempat tidur kayu, dua lemari kecil, sebuah meja belajar, dan jendela yang menghadap ke halaman belakang. Di sudut ruangan, ada rak sederhana untuk menyimpan buku.
Salah satu tempat tidur sudah terisi.
Di atasnya terdapat selimut yang dilipat rapi, beberapa buku pelajaran, dan sebuah tas sekolah berwarna hitam.
“Teman sekamarmu sedang keluar membeli kebutuhan,” kata Bu Ratmi. “Namanya Damar. Dia juga sekolah di SMA yang sama denganmu.”
“Dia dari kota ini, Bu?”
“Bukan. Dia dari desa lain. Sudah tinggal di sini sejak tahun lalu.”
Rantaka meletakkan tasnya di tempat tidur yang kosong.
“Kalau butuh apa-apa, bilang kepada saya,” lanjut Bu Ratmi. “Makan siang nanti di dapur. Jangan sungkan, ya.”
“Iya, Bu.”
Setelah Bu Ratmi pergi, Rantaka duduk di tepi tempat tidur.
Ia memandangi kamar itu.
Tidak ada dinding papan rumahnya.
Tidak ada suara ibunya dari dapur.
Tidak ada ayahnya yang duduk dekat jendela.
Tidak ada sahabat-sahabatnya yang datang tanpa perlu mengetuk pintu.
Hanya ada tempat tidur kayu, lemari kecil, dan jendela yang menghadap ke halaman belakang.
Rantaka membuka tas cokelatnya.
Ia mengeluarkan buku-buku sekolah dan menyusunnya di rak.
Kemudian ia mengeluarkan bungkusan ikan asin dari Jagra, bekal dari ibunya, gelang biru di pergelangan tangan, dan amplop kecil dari Liris.
Amplop itu masih belum dibuka.
Tulisan di depannya masih sama.
Untuk dibuka saat kau mulai merasa sendiri.
Rantaka memegang amplop itu cukup lama.
Ia memang mulai merasa sendiri.
Namun, ia belum ingin membuka surat itu.
Belum.
Ia menyimpannya di dalam buku catatan, lalu berdiri dan berjalan ke arah jendela.
Dari sana, ia dapat melihat halaman belakang rumah singgah. Ada jemuran pakaian, sumur kecil, dan pagar bambu yang memisahkan rumah singgah dengan rumah warga di sebelahnya.
Di balik pagar, terdengar suara anak-anak bermain.
Mereka tertawa.
Mereka berlari.
Mereka memanggil satu sama lain.
Suara itu mengingatkan Rantaka pada anak-anak Desa Wanasari yang sering menunggu Gerobak Buku Langit Biru.
Ia membayangkan Liris sedang membuka buku hijaunya.
Ia membayangkan Banyu berada di bengkel Pak Hendra.
Ia membayangkan Jagra sedang membantu ayahnya di kolam ikan.
Rantaka baru menyadari bahwa pergi bukan hanya tentang meninggalkan tempat.
Pergi juga berarti meninggalkan kebiasaan-kebiasaan kecil yang selama ini membuat hidup terasa akrab.
Menjelang sore, terdengar suara pintu kamar dibuka.
Rantaka menoleh.
Seorang anak laki-laki masuk sambil membawa kantong plastik berisi sabun, buku tulis, dan beberapa makanan ringan. Usianya tidak jauh berbeda dengan Rantaka. Tubuhnya kurus, rambutnya sedikit panjang di bagian depan, dan wajahnya tampak lelah seperti seseorang yang sudah terbiasa menjalani banyak hal sendiri.
Anak itu berhenti ketika melihat Rantaka.
“Kamu anak baru?” tanyanya.
Rantaka berdiri.
“Iya. Namaku Rantaka.”
Anak itu mengangguk.
“Aku Damar.”
Mereka saling berjabat tangan.
“Katanya kamu dari Desa Wanasari,” ujar Damar.
“Iya.”
“Aku pernah dengar. Desa yang dekat sungai itu, ya?”
Rantaka sedikit terkejut.
“Kau tahu?”
“Di rumah singgah ini banyak anak dari desa. Kadang kami saling cerita.”
Damar meletakkan kantong plastik di atas tempat tidurnya.
“Kamu masuk SMA Harapan Bangsa?”
“Iya.”
“Besok mulai daftar ulang?”
“Iya.”
Damar mengangguk.
“Sekolah itu bagus. Tapi jangan kaget.”
“Kaget kenapa?”
Damar menatap Rantaka sebentar.
“Di sana banyak anak yang sudah terbiasa hidup di kota. Ada yang keluarganya punya toko. Ada yang orang tuanya pegawai. Ada yang sudah punya telepon genggam sendiri. Mereka tidak selalu jahat, tapi tidak semua mengerti hidup anak desa.”
Rantaka duduk kembali di tepi tempat tidur.
Damar melanjutkan.
“Dulu aku juga seperti kamu. Baru datang, takut salah bicara, takut salah memakai seragam, takut ditertawakan. Aku pikir kalau aku diam, semua akan baik-baik saja.”
“Lalu?”
“Diam kadang membuat orang mengira kita mudah diinjak.”
Rantaka menunduk.
Kata-kata itu membuatnya teringat pesan ayahnya.
Jangan pernah menunduk saat mengatakan dari mana asalmu.
“Apa kau pernah diejek?” tanya Rantaka.
Damar tersenyum tipis.
“Pernah. Karena logatku. Karena sepatuku dulu sudah sobek. Karena aku tidak punya uang untuk ikut makan di kantin setiap hari.”
“Lalu apa yang kau lakukan?”
“Aku belajar,” jawab Damar. “Bukan untuk membalas mereka. Tapi supaya aku tidak punya alasan untuk menyerah.”
Jawaban itu membuat Rantaka memandang Damar dengan lebih hormat.
Damar membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah buku.
“Kalau kamu bingung soal pelajaran atau aturan sekolah, tanya saja. Aku tidak tahu semuanya, tapi aku sudah satu tahun di sana.”
“Terima kasih.”
“Tidak perlu terlalu banyak berterima kasih. Kita sama-sama anak rantau.”
Kalimat itu sederhana.
Namun, bagi Rantaka, kalimat itu terasa seperti pintu kecil yang mulai terbuka.
Malam hari di rumah singgah berbeda dengan malam di Desa Wanasari.
Tidak ada suara sungai.
Tidak ada jangkrik yang terdengar jelas.
Suara kendaraan dari jalan depan masih terdengar meski malam sudah semakin larut. Kadang ada motor melintas cepat. Kadang ada orang berbicara di warung dekat ujung jalan. Kadang terdengar suara televisi dari rumah tetangga.
Kota seperti tidak benar-benar tidur.
Setelah makan malam, penghuni rumah singgah berkumpul di ruang tengah untuk belajar. Ada beberapa anak yang membaca buku. Ada yang mengerjakan tugas. Ada yang menyalin catatan. Bu Ratmi duduk di dekat meja sambil memperhatikan mereka.
Rantaka duduk di samping Damar.
Ia membuka buku pelajaran SMA yang baru dibelinya.
Halaman-halaman pertama saja sudah membuatnya merasa asing.
Materinya lebih banyak.
Kalimat-kalimatnya lebih rumit.
Ada rumus yang belum pernah ia lihat.
Ada istilah-istilah yang belum ia pahami.
Damar menoleh.
“Sulit?”
“Sedikit.”
“Wajar. Aku dulu juga begitu.”
Rantaka mengangguk.
Ia mencoba membaca lagi.
Namun, pikirannya masih melayang ke Desa Wanasari.
Ia membayangkan ibunya sedang mencuci piring di dapur.
Ia membayangkan ayahnya sudah tidur lebih awal.
Ia membayangkan Liris mungkin sedang menulis.
Ia membayangkan Banyu mungkin sedang memikirkan alat yang belum selesai dibuat.
Ia membayangkan Jagra sedang duduk di dekat kolam sambil mendengar suara air.
Ketika waktu belajar selesai, Rantaka kembali ke kamar.
Damar sudah lebih dulu berbaring di tempat tidurnya.
“Kamu belum tidur?” tanya Damar.
“Belum mengantuk.”
“Rindu rumah?”
Rantaka terdiam.
Damar tidak memaksanya menjawab.
Namun, setelah beberapa saat, Rantaka berkata, “Iya.”
Damar memandangi langit-langit kamar.
“Aku juga dulu begitu. Bahkan sekarang kadang masih.”
“Bagaimana caranya supaya tidak terlalu rindu?”
Damar tersenyum kecil.
“Tidak ada caranya. Rindu tidak harus dihilangkan. Kadang cukup dibawa saja sambil tetap berjalan.”
Rantaka mengingat kalimat itu.
Ia kemudian membuka buku catatannya.
Di antara halaman buku, ia menemukan amplop dari Liris.
Kali ini, ia memutuskan untuk membukanya.
Di dalam amplop itu terdapat selembar kertas kecil.
Tulisan Liris rapi dan halus.
Rantaka,
Jika suatu hari kau merasa sendiri, ingatlah bahwa langit yang kau lihat dari kota adalah langit yang juga kami lihat dari Desa Wanasari.
Mungkin kita tidak lagi duduk di bawah pohon beringin yang sama. Mungkin kita tidak lagi mendorong Gerobak Buku bersama-sama. Tetapi kita masih berada di bawah langit yang sama.
Jangan takut menjadi anak desa di kota.
Jangan takut berjalan pelan.
Yang penting, jangan berhenti.
— Liris
Rantaka membaca surat itu dua kali.
Lalu tiga kali.
Setelah itu, ia melipat kertas tersebut dengan hati-hati dan menyimpannya kembali.
Di luar jendela, lampu-lampu kota masih menyala.
Cahaya itu tampak banyak.
Sebagian terang.
Sebagian redup.
Sebagian bergerak mengikuti kendaraan yang melintas di jalan.
Rantaka berdiri di dekat jendela.
Ia memandangi kota kecil yang tidak pernah benar-benar diam.
Kota itu terasa asing.
Kota itu terasa besar.
Kota itu membuatnya takut.
Namun, malam itu ia mulai memahami bahwa kota bukan hanya tempat untuk ditakuti.
Kota adalah tempat yang harus ia pelajari.
Tempat yang akan menguji keberaniannya.
Tempat yang mungkin akan membuatnya jatuh.
Tetapi juga tempat yang dapat memberinya kesempatan untuk tumbuh.
Rantaka menyentuh gelang biru di pergelangan tangannya.
Ia mengingat suara ayahnya.
Ia mengingat surat Liris.
Ia mengingat pesan Damar.
Kemudian ia kembali ke tempat tidur.
Sebelum memejamkan mata, ia berkata pelan kepada dirinya sendiri.
“Aku tidak akan berhenti.”
Di luar rumah singgah, kota terus bergerak.
Kendaraan masih melintas.
Lampu-lampu masih menyala.
Orang-orang masih berjalan menuju tujuan mereka masing-masing.
Dan di salah satu kamar kecil di Rumah Singgah Pelajar Harapan, seorang anak dari Desa Wanasari mulai belajar bahwa perantauan bukan hanya tentang pergi jauh.
Perantauan adalah tentang menemukan kekuatan untuk tetap menjadi diri sendiri di tempat yang tidak mengenal namamu.
BAB 3 - SERAGAM BARU, TATAPAN LAMA
Pagi pertama Rantaka sebagai siswa SMA dimulai sebelum matahari benar-benar muncul.
Suara ketukan pintu kamar membangunkannya.
“Bangun,” suara Bu Ratmi terdengar dari luar. “Jangan sampai terlambat hari pertama.”
Rantaka membuka mata.
Untuk beberapa detik, ia lupa bahwa dirinya berada di rumah singgah. Langit-langit kamar yang asing, suara kendaraan dari jalan depan, dan tempat tidur kayu yang bukan miliknya membuat ia kembali mengingat kenyataan.
Ia sudah berada di kota.
Ia sudah jauh dari Desa Wanasari.
Di tempat tidur sebelah, Damar sudah duduk sambil mengenakan seragam.
“Kau tidur nyenyak?” tanya Damar.
Rantaka menggeleng pelan.
“Tidak terlalu.”
“Wajar. Hari pertama selalu membuat orang sulit tidur.”
Rantaka bangkit dari tempat tidur.
Ia mengambil seragam putih abu-abu yang sudah digantung rapi sejak malam. Seragam itu masih baru. Lipatannya masih terlihat jelas. Kainnya belum lembut seperti seragam lama yang biasa ia pakai ketika masih sekolah di desa.
Setelah mandi dan bersiap, ia berdiri di depan cermin kecil yang tergantung di dinding kamar.
Kemeja putihnya sudah rapi.
Celana abu-abunya pas di tubuhnya.
Sepatu hitamnya masih mengilap.
Namun, ketika melihat bayangannya sendiri, Rantaka tidak merasa seperti anak kota.
Ia tetap merasa seperti anak Desa Wanasari yang membawa terlalu banyak harapan di dalam tas.
Di saku seragamnya, ia menyimpan surat kecil dari Liris.
Di pergelangan tangannya, gelang biru dari Jagra masih terikat.
Di dalam tas, ada pensil mekanik pemberian Banyu.
Benda-benda kecil itu membuatnya merasa bahwa ia tidak benar-benar pergi sendiri.
Di ruang makan rumah singgah, beberapa penghuni lain sudah duduk sambil menyantap sarapan. Ada nasi hangat, telur dadar, tempe goreng, dan teh manis.
Bu Ratmi berjalan dari dapur membawa piring.
“Makan dulu,” katanya. “Sekolah tidak jauh, tetapi hari pertama biasanya ramai.”
Rantaka duduk bersama Damar.
Di seberang mereka, seorang anak laki-laki berkacamata menatap Rantaka dengan ramah.
“Kamu siswa baru?” tanyanya.
“Iya,” jawab Rantaka.
“Namaku Iqbal. Aku kelas sebelas. Kalau nanti bingung mencari ruang tata usaha atau perpustakaan, tanya saja.”
“Terima kasih, Kak.”
Iqbal tersenyum.
“Jangan panggil kakak terus. Di rumah singgah ini kita sama-sama belajar hidup jauh dari rumah.”
Kalimat itu membuat Rantaka sedikit lebih tenang.
Setelah sarapan, Damar mengajak Rantaka berjalan menuju sekolah.
Jalan menuju SMA Harapan Bangsa tidak terlalu jauh dari rumah singgah. Mereka melewati beberapa toko, sebuah warung fotokopi, pasar kecil, dan lapangan yang digunakan warga untuk berolahraga pada pagi hari.
Semakin dekat ke sekolah, semakin banyak siswa berseragam putih abu-abu berjalan di jalan yang sama.
Sebagian datang dengan sepeda motor.
Sebagian diantar mobil.
Sebagian berjalan sambil membawa telepon genggam dan berbicara dengan teman-temannya.
Rantaka memperhatikan semuanya diam-diam.
Di Desa Wanasari, siswa biasanya berjalan kaki atau bersepeda. Tidak banyak yang memiliki kendaraan sendiri. Tidak ada yang datang ke sekolah sambil membawa tas mahal atau berbicara tentang tempat makan di kota.
Di sini, semuanya terasa berbeda.
Damar menoleh kepadanya.
“Jangan terlalu memperhatikan mereka,” katanya.
“Aku tidak apa-apa.”
“Kau sedang membandingkan.”
Rantaka tidak menjawab.
Damar benar.
Ia memang sedang membandingkan.
Membandingkan sepatu.
Tas.
Cara berbicara.
Kendaraan.
Bahkan cara mereka tertawa.
SMA Harapan Bangsa berdiri di tepi jalan besar. Gerbangnya tinggi dengan cat putih dan biru. Di bagian depan terdapat halaman luas yang sudah dipenuhi siswa. Di tengah halaman berdiri tiang bendera. Gedung sekolahnya bertingkat dua, dengan jendela-jendela besar dan lorong panjang.
Rantaka berhenti sebentar di depan gerbang.
Ia pernah melihat sekolah itu ketika datang untuk mengurus beasiswa beberapa waktu lalu. Namun, melihatnya sebagai calon siswa dan melihatnya sebagai siswa sungguhan adalah dua hal yang berbeda.
Hari itu, ia bukan lagi tamu.
Hari itu, ia harus masuk.
Hari itu, ia harus membuktikan bahwa ia pantas berada di sana.
Damar menepuk bahunya.
“Ayo.”
Mereka masuk ke halaman sekolah.
Di dekat papan pengumuman, banyak siswa baru berkerumun. Kertas besar ditempel di papan, berisi daftar nama dan pembagian kelas.
Rantaka ikut mendekat.
Ia mencari namanya perlahan.
Matanya bergerak dari atas ke bawah.
Kelas X-A.
Kelas X-B.
Kelas X-C.
Kemudian ia menemukan namanya.
Rantaka Pradana — X-B
Di bawah namanya, ia melihat nama Damar.
Damar Prasetyo — X-B
Rantaka menoleh.
“Kita satu kelas.”
Damar mengangguk.
“Bagus. Setidaknya kau tidak sendirian.”
Mereka berjalan menuju ruang kelas X-B yang berada di lantai dua.
Lorong sekolah sudah ramai. Ada siswa yang berlari kecil karena takut terlambat. Ada yang bercanda. Ada yang sibuk memotret teman-temannya. Ada pula yang duduk di dekat jendela sambil memandangi halaman sekolah.
Rantaka mengikuti Damar.
Ketika sampai di depan kelas, ia berhenti.
Ruangan itu lebih besar daripada kelas-kelas yang pernah ia tempati sebelumnya. Meja dan kursinya tersusun rapi. Di bagian depan ada papan tulis putih. Di sisi kiri terdapat jendela besar yang menghadap ke lapangan sekolah.
Beberapa siswa sudah duduk di tempat masing-masing.
Saat Rantaka dan Damar masuk, beberapa kepala menoleh.
Tatapan itu tidak lama.
Namun, cukup untuk membuat Rantaka merasa seperti sedang diperiksa.
Ada yang melihat seragamnya.
Ada yang melihat tas cokelatnya.
Ada yang melihat gelang biru di pergelangan tangannya.
Ada yang berbisik pelan kepada temannya.
Rantaka tidak dapat mendengar seluruh kalimatnya.
Namun, ia menangkap beberapa kata.
“Anak baru.”
“Dari desa.”
“Penerima beasiswa, katanya.”
Damar berjalan menuju bangku kosong di bagian tengah belakang.
“Duduk di sini saja,” katanya.
Rantaka mengikuti.
Ia meletakkan tas di bawah meja.
Saat ia duduk, seorang siswa laki-laki di bangku depan menoleh ke belakang.
Rambutnya rapi. Tasnya tampak baru. Di pergelangan tangannya terdapat jam tangan yang terlihat mahal.
“Kamu Rantaka?” tanyanya.
“Iya.”
“Dari Wanasari?”
“Iya.”
Siswa itu mengangguk kecil.
“Aku Arvin.”
Rantaka mengulurkan tangan.
“Rantaka.”
Arvin menjabat tangannya sebentar.
“Jauh juga, ya, dari Wanasari.”
“Lumayan.”
“Kau tinggal di rumah singgah?”
“Iya.”
Arvin menoleh kepada temannya yang duduk di sebelahnya.
“Katanya rumah singgah itu banyak anak dari desa.”
Temannya, seorang anak laki-laki bernama Reno, tersenyum kecil.
“Pantas.”
Rantaka memandangi mereka.
“Pantas apa?” tanyanya.
Reno mengangkat bahu.
“Tidak apa-apa.”
Damar yang duduk di sebelah Rantaka menatap Reno dengan tajam.
“Kalau ada yang mau dikatakan, katakan saja,” ujar Damar.
Reno tersenyum tipis.
“Aku cuma bilang, tidak apa-apa.”
Suasana menjadi sedikit tegang.
Rantaka tidak ingin masalah pada hari pertama. Ia menarik napas dan memilih diam.
Tidak lama kemudian, seorang guru perempuan masuk ke kelas.
Ia mengenakan seragam guru berwarna cokelat muda. Rambutnya disanggul sederhana. Wajahnya tampak tegas, tetapi tidak dingin.
“Selamat pagi,” katanya.
“Selamat pagi, Bu,” jawab seluruh siswa.
“Saya Bu Maya. Saya wali kelas kalian.”
Bu Maya berdiri di depan kelas sambil memegang daftar nama.
“Hari ini kita belum mulai pelajaran penuh. Kita akan saling mengenal, membicarakan aturan kelas, dan memahami bahwa kalian sudah memasuki masa sekolah yang berbeda.”
Beberapa siswa mulai duduk lebih tenang.
Bu Maya memandang seluruh kelas.
“Di sini, kalian datang dari latar belakang yang berbeda. Ada yang berasal dari kota. Ada yang dari kecamatan. Ada yang dari desa. Ada yang tinggal bersama orang tua. Ada yang tinggal di rumah singgah.”
Rantaka mendengar kalimat itu dengan lebih saksama.
“Namun, ketika kalian sudah duduk di kelas ini, kalian memiliki hak yang sama untuk belajar,” lanjut Bu Maya. “Tidak ada yang lebih tinggi hanya karena rumahnya besar. Tidak ada yang lebih rendah hanya karena rumahnya jauh.”
Kelas menjadi lebih hening.
Rantaka menunduk sedikit.
Ia tidak tahu apakah Bu Maya sengaja mengatakan itu karena mengetahui ada beberapa siswa penerima beasiswa. Namun, kata-kata itu terasa seperti perlindungan kecil di tengah ruang yang masih asing.
Setelah menjelaskan beberapa aturan sekolah, Bu Maya meminta siswa memperkenalkan diri satu per satu.
Siswa pertama berdiri.
“Nama saya Arvin Mahendra. Saya dari kota. Hobi saya futsal. Cita-cita saya ingin menjadi pengusaha.”
Beberapa siswa bertepuk tangan.
Berikutnya, Reno berdiri.
“Nama saya Reno Saputra. Saya suka bermain musik dan ingin masuk sekolah kedinasan.”
Lalu beberapa siswa lain memperkenalkan diri.
Ada yang ingin menjadi dokter.
Ada yang ingin menjadi polisi.
Ada yang ingin menjadi atlet.
Ada yang ingin bekerja di perusahaan besar.
Ketika giliran Rantaka tiba, jantungnya mulai berdebar.
Ia berdiri perlahan.
Semua mata kembali mengarah kepadanya.
“Nama saya Rantaka Pradana,” katanya.
Suaranya terdengar sedikit lebih pelan daripada yang ia inginkan.
“Saya dari Desa Wanasari.”
Beberapa siswa saling pandang.
Rantaka mengingat kata ayahnya.
Jangan pernah menunduk saat mengatakan dari mana asalmu.
Ia mengangkat wajahnya.
“Saya tinggal di Rumah Singgah Pelajar Harapan. Saya suka membaca dan ingin menjadi guru.”
Kelas hening sejenak.
Lalu Bu Maya tersenyum.
“Bagus. Mengapa ingin menjadi guru?”
Rantaka sempat terdiam.
Ia tidak menyangka akan ditanya lebih jauh.
Namun, kemudian ia menjawab, “Karena di desa saya masih banyak anak yang sulit melanjutkan sekolah. Saya ingin suatu hari nanti bisa membantu mereka belajar.”
Kali ini, tidak ada yang tertawa.
Beberapa siswa hanya memandangnya dengan wajah berbeda.
Ada yang tampak biasa saja.
Ada yang tampak berpikir.
Ada pula yang masih tersenyum kecil seolah menganggap jawaban itu terlalu sederhana.
Bu Maya mengangguk.
“Cita-cita yang baik.”
Rantaka duduk kembali.
Damar menepuk meja pelan sebagai tanda dukungan.
Setelah semua siswa memperkenalkan diri, Bu Maya membagikan jadwal pelajaran dan buku panduan sekolah. Kemudian ia meminta setiap siswa memilih tempat duduk yang akan digunakan selama satu semester.
Beberapa siswa langsung membentuk kelompok dengan teman-teman yang sudah mereka kenal.
Arvin dan Reno duduk di bagian depan bersama dua siswa lain.
Beberapa siswi memilih duduk dekat jendela.
Rantaka dan Damar tetap berada di bangku tengah belakang.
Rantaka tidak keberatan.
Ia justru merasa lebih aman duduk di dekat Damar.
Saat jam istirahat tiba, siswa-siswa keluar kelas menuju kantin.
Rantaka membawa bekal dari rumah singgah. Ia tidak ingin menghabiskan uang untuk membeli makanan pada hari pertama.
Damar juga membawa bekal.
Mereka duduk di bawah pohon kecil dekat lapangan.
“Kenapa tidak ke kantin?” tanya Rantaka.
“Kadang ke kantin. Kadang tidak,” jawab Damar. “Kalau uang sedang cukup, baru beli.”
Rantaka membuka kotak bekalnya.
Isinya nasi dan tempe goreng.
Damar membuka bekalnya.
Isinya nasi dan telur rebus.
Mereka makan sambil memandangi siswa lain yang ramai di kantin.
Dari kejauhan, terdengar suara tawa.
Rantaka menoleh.
Arvin, Reno, dan beberapa siswa lain sedang duduk di meja kantin. Mereka membeli minuman dingin dan makanan ringan.
Reno melihat Rantaka.
Kemudian ia berkata cukup keras agar beberapa orang di sekitarnya mendengar.
“Anak rumah singgah memang rajin bawa bekal, ya. Hemat sekali.”
Beberapa temannya tertawa.
Rantaka berhenti mengunyah.
Damar menatap ke arah mereka.
Namun, Rantaka menggeleng pelan.
“Sudah,” katanya.
“Kalau kau diam terus, mereka akan semakin berani.”
“Aku tidak mau bertengkar.”
Damar menarik napas.
“Bukan berarti kau harus bertengkar. Tapi jangan sampai kau percaya bahwa membawa bekal adalah sesuatu yang memalukan.”
Rantaka menatap kotak makan di tangannya.
Ia teringat ibunya yang bangun sebelum matahari terbit untuk menyiapkan makanan.
Ia teringat bagaimana ibunya berkata bahwa lebih baik membawa banyak bekal daripada kelaparan.
Tiba-tiba, ejekan Reno tidak lagi terasa sebesar tadi.
Rantaka menutup kotak makannya setelah selesai.
“Kau benar,” katanya pelan.
Damar tersenyum kecil.
“Di kota ini, banyak orang menilai dari apa yang terlihat. Tas, sepatu, kendaraan, tempat tinggal. Tapi itu bukan seluruh hidup seseorang.”
Rantaka mengangguk.
Pelajaran hari pertama berjalan perlahan.
Guru-guru datang memperkenalkan mata pelajaran masing-masing. Ada yang memberi gambaran tentang tugas dan ujian. Ada yang menjelaskan aturan disiplin. Ada yang langsung memberikan latihan sederhana.
Rantaka berusaha mencatat semuanya.
Tangannya tidak berhenti menulis.
Ia tidak ingin tertinggal.
Ia tidak ingin membuat beasiswanya terlihat sebagai kesalahan.
Namun, semakin banyak pelajaran yang dijelaskan, semakin ia menyadari bahwa SMA akan jauh lebih berat daripada yang ia bayangkan.
Ada materi yang belum pernah ia dengar.
Ada buku yang harus dibeli.
Ada tugas kelompok.
Ada kegiatan ekstrakurikuler.
Ada biaya-biaya kecil yang disebutkan satu per satu.
Rantaka mencatat semuanya di buku kecilnya.
Di bagian belakang buku, ia menulis daftar pengeluaran yang harus dipikirkan.
Buku.
Fotokopi.
Seragam olahraga.
Iuran kelas.
Alat tulis.
Transportasi jika ada kegiatan di luar sekolah.
Daftar itu membuat dadanya terasa sesak.
Beasiswa memang membantu.
Namun, beasiswa tidak menjawab semua kebutuhan.
Ketika bel pulang berbunyi, siswa-siswa keluar kelas dengan wajah lebih santai.
Ada yang dijemput orang tua.
Ada yang pulang naik motor.
Ada yang berjalan bersama teman-temannya.
Rantaka dan Damar berjalan kembali ke rumah singgah.
Di gerbang sekolah, Rantaka sempat menoleh ke arah gedung kelas.
Seragamnya masih baru.
Sepatunya masih bersih.
Tasnya masih sama.
Namun, hari itu ia sudah memahami satu hal.
Masuk ke sekolah baru bukan berarti semua orang melihatmu sebagai orang baru yang harus dibantu.
Sebagian orang akan melihat asal-usulmu.
Sebagian orang akan melihat kekuranganmu.
Sebagian orang akan mengingatkanmu bahwa kau datang dari tempat yang mereka anggap lebih rendah.
Tatapan mereka mungkin tidak selalu tajam.
Kata-kata mereka mungkin tidak selalu keras.
Namun, bagi Rantaka, semuanya terasa seperti tatapan lama yang pernah ia lihat dalam bentuk lain.
Tatapan yang mempertanyakan apakah anak desa benar-benar pantas punya mimpi besar.
Di perjalanan pulang, Damar berjalan di sampingnya.
“Kau menyesal datang?” tanya Damar.
Rantaka memandangi jalan di depan.
Tidak.
Ia tidak menyesal.
Ia takut.
Ia lelah.
Ia merasa kecil.
Namun, ia tidak menyesal.
“Tidak,” jawabnya akhirnya. “Aku hanya harus belajar lebih kuat.”
Damar mengangguk.
“Itu jawaban yang benar.”
Rantaka menyentuh gelang biru di pergelangan tangannya.
Ia membayangkan sungai Desa Wanasari.
Ia membayangkan pohon beringin.
Ia membayangkan sahabat-sahabatnya.
Kemudian ia melangkah lebih mantap.
Hari pertama di sekolah belum memberinya teman baru yang banyak.
Hari pertama itu juga belum membuat kota terasa ramah.
Namun, hari pertama itu telah memberinya alasan baru untuk bertahan.
Bukan untuk membuktikan bahwa ia lebih hebat daripada siapa pun.
Melainkan untuk membuktikan bahwa anak desa tidak harus menunduk ketika mengenakan seragam baru di tengah kota.
BAB 4 - SURAT PERTAMA UNTUK LIRIS
Malam di Kota Arunika selalu terasa lebih panjang bagi Rantaka.
Di Desa Wanasari, malam datang perlahan. Sesudah matahari tenggelam di balik pepohonan dan suara burung mulai menghilang dari tepian sungai, kampungnya akan tenggelam dalam kesunyian yang akrab. Dari rumah-rumah warga, terdengar suara piring dicuci, suara orang tua memanggil anak-anaknya, atau suara radio kecil yang memutar lagu lama.
Setelah itu, desa menjadi tenang.
Tenang yang tidak membuat takut.
Tenang yang membuat seseorang tahu bahwa di sekelilingnya ada orang-orang yang dikenalnya.
Di kota, malam tidak pernah benar-benar sunyi.
Dari kamar kecil di rumah singgah, Rantaka masih bisa mendengar suara kendaraan yang melintas di jalan raya. Kadang ada motor yang melaju terlalu cepat. Kadang terdengar suara klakson dari persimpangan. Kadang pula suara orang berbicara dari warung makan di ujung jalan, meski waktu sudah semakin larut.
Lampu-lampu kota menyala di mana-mana.
Lampu toko.
Lampu jalan.
Lampu kendaraan.
Lampu rumah-rumah bertingkat yang berdiri rapat.
Dari jauh, semuanya tampak indah.
Namun, bagi Rantaka, cahaya itu justru membuatnya semakin sadar bahwa ia berada di tempat yang asing.
Ia duduk di meja belajar yang sederhana.
Di depannya terbuka buku pelajaran matematika. Namun, sejak tadi ia tidak benar-benar membaca. Matanya bergerak mengikuti angka-angka di halaman buku, tetapi pikirannya melayang ke Desa Wanasari.
Ia membayangkan pohon beringin di halaman SD.
Ia membayangkan gerobak buku yang dulu mereka dorong bersama.
Ia membayangkan Banyu yang selalu sibuk membongkar benda-benda bekas.
Ia membayangkan Jagra yang sering bicara keras, tetapi paling cepat datang jika ada warga membutuhkan bantuan.
Dan ia membayangkan Liris.
Liris yang selalu membawa buku catatan hijau.
Liris yang sering diam lebih lama daripada orang lain, tetapi ketika berbicara, kata-katanya membuat siapa pun ingin mendengarkan.
Rantaka menarik buku tulis kosong dari dalam tasnya.
Di halaman pertama, ia menulis tanggal.
Lalu ia menulis nama yang sudah beberapa kali muncul dalam pikirannya sejak ia tiba di kota.
Untuk Liris,
Tangannya berhenti beberapa saat.
Ia tidak terbiasa menulis surat panjang.
Selama di desa, jika ingin berbicara dengan Liris, ia cukup berjalan ke rumahnya atau menunggu sore di bawah pohon beringin. Jika ada sesuatu yang ingin ia ceritakan, mereka bisa duduk di dekat Gerobak Buku Langit Biru sambil melihat anak-anak memilih bacaan.
Namun, sekarang jarak membuat semua hal sederhana terasa sulit.
Ia tidak bisa datang ke rumah Liris.
Ia tidak bisa melihat apakah Liris sedang tersenyum atau sedang menyimpan sesuatu dalam pikirannya.
Ia hanya memiliki selembar kertas.
Dan beberapa kata yang harus menempuh perjalanan jauh sebelum sampai.
Rantaka mulai menulis.
Liris,
Aku sudah beberapa hari di Kota Arunika. Aku masih sering merasa seperti orang yang salah turun di tempat yang terlalu ramai. Jalan-jalannya lebar, kendaraan banyak, dan orang-orang berjalan cepat seperti selalu dikejar waktu.
Sekolahku besar. Kelasnya lebih banyak daripada yang pernah kubayangkan. Ada perpustakaan yang cukup luas, laboratorium, lapangan, dan banyak siswa yang datang dari berbagai tempat. Aku seharusnya senang melihat semua itu. Aku memang senang. Tetapi kadang aku juga takut.
Di kelas, aku masih belum banyak bicara. Aku belum tahu bagaimana harus memulai percakapan dengan teman-teman baru. Mereka tampak sudah terbiasa dengan kota. Mereka tahu tempat-tempat yang belum pernah kudengar. Mereka bicara tentang banyak hal yang membuatku hanya bisa mendengarkan.
Aku tinggal di rumah singgah bersama beberapa siswa lain. Tempatnya tidak buruk. Bu Ratmi yang mengurus rumah singgah cukup baik. Ada seorang teman sekamar bernama Damar. Dia berasal dari desa juga, tetapi lebih lama tinggal di kota daripada aku. Dia sering bilang bahwa aku akan terbiasa.
Aku ingin percaya kepadanya.
Tetapi malam hari adalah waktu yang paling sulit. Saat lampu kota menyala dan suara kendaraan masih terdengar, aku sering teringat Desa Wanasari. Aku rindu suara sungai. Aku rindu jalan tanah. Aku rindu pohon beringin. Aku rindu Gerobak Buku Langit Biru.
Aku juga rindu kalian.
Bagaimana keadaanmu? Bagaimana Banyu dan Jagra? Apakah Gerobak Buku masih berjalan? Apakah anak-anak masih datang untuk membaca?
Aku ingin tahu semua kabar dari desa, bahkan kabar kecil sekalipun. Ceritakan kepadaku tentang sore di Wanasari, tentang langitnya, tentang jalan menuju balai desa, atau tentang buku apa yang sedang dibaca anak-anak.
Aku tidak tahu kapan surat ini sampai. Tetapi jika kamu membacanya, anggap saja aku sedang duduk di bawah pohon beringin bersama kalian.
Sahabatmu,
Rantaka.
Setelah selesai, Rantaka membaca ulang surat itu.
Ia merasa beberapa kalimat terdengar terlalu jujur.
Terlalu terbuka.
Namun, ia tidak menghapusnya.
Untuk pertama kalinya sejak berangkat dari Desa Wanasari, ia mengakui kepada seseorang bahwa ia merasa sepi.
Bukan karena ia tidak bersyukur mendapat kesempatan sekolah di kota.
Bukan karena ia ingin menyerah.
Tetapi karena ternyata mengejar mimpi juga dapat membuat seseorang merasa kehilangan rumahnya sendiri.
Ia melipat surat itu dengan hati-hati.
Besok, setelah pulang sekolah, ia akan pergi ke kantor pos kecil dekat pasar untuk mengirimkannya.
Malam itu, sebelum tidur, Rantaka memandangi amplop surat tersebut cukup lama.
Nama Liris tertulis di bagian depan.
Di bawahnya, alamat sederhana yang ia hafal sejak kecil.
Desa Wanasari, Kecamatan Sungai Jernih.
Alamat itu tampak begitu jauh dari kota.
Namun, bagi Rantaka, alamat itu adalah jalan pulang.
Dua hari kemudian, Rantaka mengirim surat itu.
Ia berdiri di depan loket kantor pos dengan perasaan aneh. Petugas menerima amplopnya, menimbangnya, lalu menempelkan perangko di sudut kanan atas.
Begitu surat itu masuk ke dalam kotak pengiriman, Rantaka merasa seperti baru saja menyerahkan sebagian dari dirinya kepada perjalanan yang tidak bisa ia lihat.
Ia tidak tahu kapan surat itu sampai.
Ia tidak tahu apakah Liris sedang sibuk membantu ibunya.
Ia tidak tahu apakah Liris akan langsung membacanya atau menyimpannya lebih dulu.
Ia juga tidak tahu apakah Liris akan membalas.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa.
Rantaka berangkat sekolah pagi-pagi.
Ia belajar mengenali jalan dari rumah singgah menuju sekolah.
Ia mulai tahu warung mana yang menjual nasi murah.
Ia mulai hafal jam kendaraan ramai di depan gerbang sekolah.
Ia mulai mengenal beberapa teman sekelas, meski belum benar-benar dekat.
Damar beberapa kali mengajaknya belajar bersama di rumah singgah.
“Kau harus mulai membiasakan diri,” kata Damar suatu malam.
“Aku sedang mencoba,” jawab Rantaka.
“Tidak perlu sekaligus. Kota ini tidak akan langsung terasa seperti rumah. Tetapi kau akan menemukan caramu sendiri.”
Rantaka mengangguk.
Ia ingin percaya.
Namun, setiap sore saat pulang sekolah, ia selalu memeriksa meja kecil di ruang tamu rumah singgah. Di sana biasanya surat-surat penghuni rumah singgah diletakkan oleh Bu Ratmi.
Hari pertama, tidak ada surat.
Hari kedua, tidak ada surat.
Hari ketiga, masih tidak ada surat.
Rantaka mulai merasa bodoh karena menunggu.
Mungkin Liris sibuk.
Mungkin suratnya belum sampai.
Mungkin Liris tidak tahu harus membalas apa.
Atau mungkin, pikirnya, surat itu memang terlalu panjang.
Terlalu penuh dengan kerinduan.
Pada hari kelima, ketika ia pulang dari sekolah dengan langkah lelah, Bu Ratmi memanggilnya.
“Rantaka.”
“Iya, Bu?”
“Ada surat.”
Rantaka berhenti.
Bu Ratmi mengangkat sebuah amplop putih dari meja.
Di bagian depan tertulis namanya.
Tulisan tangan itu kecil, rapi, dan miring sedikit ke kanan.
Rantaka langsung mengenalinya.
Tulisan Liris.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Ia menerima surat itu dengan kedua tangan.
“Terima kasih, Bu.”
“Dari desa?” tanya Bu Ratmi.
Rantaka mengangguk.
“Dari sahabat.”
Bu Ratmi tersenyum tipis.
“Bacalah. Surat dari rumah sering kali lebih menguatkan daripada yang kita kira.”
Rantaka masuk ke kamar.
Ia menutup pintu pelan-pelan.
Lalu duduk di meja belajar yang sama, tempat ia menulis surat pertamanya beberapa hari lalu.
Tangannya gemetar saat membuka amplop.
Di dalamnya ada dua lembar kertas.
Lembar pertama berisi surat.
Lembar kedua adalah sebuah puisi.
Rantaka membaca surat itu lebih dahulu.
Rantaka,
Suratmu sudah sampai. Aku membacanya sore tadi di bawah pohon beringin. Angin cukup kencang, jadi aku harus menahan kertasnya agar tidak terbang.
Aku senang kamu mau bercerita. Jangan merasa aneh karena merasa sepi. Mungkin kota memang besar, tetapi orang yang baru datang bisa merasa kecil di dalamnya.
Di desa, kami semua baik. Banyu masih sibuk dengan benda-benda bekasnya. Kemarin ia membawa roda tua dan berkata ingin membuat sesuatu yang bisa membantu kebun warga. Jagra masih sering membantu ayahnya di kolam ikan. Ia juga masih suka mengeluh, tetapi sebenarnya ia tetap datang saat Gerobak Buku berjalan.
Gerobak Buku Langit Biru masih ada. Kami tetap membukanya setiap sore tertentu. Anak-anak masih datang, meski mereka sering bertanya kapan kamu pulang. Ada yang bilang kamu pasti sedang belajar di gedung sekolah yang sangat besar. Ada juga yang bilang kamu akan pulang membawa banyak buku.
Aku tidak tahu apakah itu benar. Tetapi aku percaya kamu sedang berjuang.
Aku mengirimkan sebuah puisi. Jangan tertawa jika menurutmu puisinya terlalu sederhana. Aku hanya ingin kamu ingat bahwa cahaya tidak selalu berarti hangat. Kadang, orang yang berada di bawah banyak lampu justru membutuhkan seseorang untuk mengingatkan bahwa ia tidak sendirian.
Tetaplah belajar, Rantaka. Tetapi jangan lupa pulang dalam cerita-cerita kecilmu.
Sahabatmu,
Liris.
Rantaka membaca surat itu sekali lagi.
Lalu ia mengambil lembar kedua.
Di bagian atasnya, tertulis judul puisi dengan tinta biru.
Lampu-Lampu Kota
Dari jauh, kota tampak seperti langit
yang menurunkan bintang-bintang ke jalan.
Lampunya banyak,
berbaris di jendela,
berkilau di kaca kendaraan,
dan menyala di sudut yang tidak dikenal.
Tetapi di bawah cahaya yang ramai itu,
ada hati yang berjalan sendiri,
membawa rindu dalam tas sekolah,
membawa rumah di dalam ingatan.
Jika malam terasa terlalu panjang,
ingatlah sungai yang pernah mengajar kita
bahwa air selalu menemukan jalan pulang.
Jika kota membuatmu merasa kecil,
ingatlah langit di desa
tetap luas di atas kepalamu.
Sebab seseorang yang membawa mimpi
tidak pernah benar-benar sendirian,
selama masih ada sahabat
yang menyebut namanya dalam doa.
Rantaka menatap puisi itu lama sekali.
Lampu-lampu kota.
Bintang-bintang yang turun ke jalan.
Hati yang berjalan sendiri.
Rindu dalam tas sekolah.
Setiap baris terasa seperti Liris benar-benar melihat keadaan yang sedang ia alami, meski mereka terpisah begitu jauh.
Ia tidak tahu bagaimana Liris dapat memahami kesepiannya hanya dari surat yang ia kirim.
Mungkin karena Liris selalu memperhatikan hal-hal kecil.
Mungkin karena mereka sudah berteman cukup lama untuk memahami apa yang tidak ditulis.
Atau mungkin karena sahabat tidak selalu harus berada di dekat seseorang untuk mengetahui bahwa hatinya sedang lelah.
Rantaka menyandarkan punggung ke kursi.
Untuk beberapa saat, suara kendaraan dari jalan depan rumah singgah tidak lagi terasa terlalu mengganggu.
Lampu-lampu kota yang terlihat dari jendela juga tidak lagi tampak dingin.
Ia membayangkan Liris menulis puisi itu di bawah pohon beringin.
Ia membayangkan angin sore di Desa Wanasari menggerakkan halaman buku catatan hijaunya.
Ia membayangkan Gerobak Buku Langit Biru tetap berdiri di dekat balai desa, meski tanpa dirinya.
Ada rasa sedih karena ia tidak berada di sana.
Namun, ada pula rasa hangat karena ia tahu mereka masih mengingatnya.
Rantaka mengambil buku catatan kecil dari tasnya.
Di halaman kosong, ia menyalin beberapa baris puisi Liris.
Bukan seluruhnya.
Hanya bagian yang paling melekat di hatinya.
Jika kota membuatmu merasa kecil,
ingatlah langit di desa
tetap luas di atas kepalamu.
Setelah menulisnya, ia menutup buku catatan.
Malam itu, ia kembali membuka buku pelajaran.
Ia masih belum memahami semua materi di kelas.
Ia masih belum terbiasa dengan ritme kota.
Ia masih merasa rindu pada desa.
Namun, kini ia tidak lagi merasa sepenuhnya sendirian.
Surat Liris tidak mengubah kota menjadi lebih sepi.
Tidak pula membuat jalan-jalan kota menjadi lebih mudah dipahami.
Tetapi surat itu memberi Rantaka sesuatu yang selama beberapa hari terakhir ia cari.
Keyakinan.
Bahwa di Desa Wanasari, ada orang-orang yang menunggu kabarnya.
Ada sahabat-sahabat yang tetap menjaga Gerobak Buku Langit Biru.
Ada seorang gadis dengan buku catatan hijau yang mengirimkan puisi agar ia tidak menyerah.
Rantaka menaruh surat dan puisi itu di dalam laci meja.
Ia menyimpannya di tempat yang mudah dijangkau.
Ia tahu, mungkin ada malam-malam lain ketika kota kembali terasa terlalu ramai dan terlalu asing.
Pada malam seperti itu, ia akan membuka surat Liris.
Ia akan membaca puisinya.
Dan ia akan mengingat bahwa sejauh apa pun ia pergi, langit Desa Wanasari tetap ada di atas kepalanya.
Di bawah cahaya lampu kota, Rantaka kembali belajar.
Bukan hanya belajar matematika, bahasa, atau pelajaran sekolah lainnya.
Ia sedang belajar bahwa rindu tidak selalu melemahkan.
Kadang, rindu justru menjadi alasan seseorang untuk tetap bertahan.
BAB 5 - GEROBAK BUKU TANPA RANTAKA
Sore di Desa Wanasari datang dengan langit yang sedikit kelabu.
Sejak siang, awan menggantung rendah di atas pepohonan. Angin bergerak pelan melewati halaman balai desa, membawa bau tanah dan daun-daun kering dari jalan setapak. Di dekat pohon beringin yang sudah lama berdiri di halaman SD Wanasari, sebuah gerobak kayu tampak terparkir.
Cat biru di sisi gerobak itu mulai memudar.
Di bagian depannya masih tertulis dengan huruf putih yang dibuat tangan:
GEROBAK BUKU LANGIT BIRU
Liris berdiri di samping gerobak sambil merapikan buku-buku yang tersusun di dalamnya.
Ia mengelap sampul sebuah buku cerita anak dengan kain kecil. Kemudian ia menyusun kembali beberapa buku pelajaran yang tercampur dengan majalah lama. Di bawah tumpukan buku, ada beberapa lembar kertas gambar dan pensil warna yang sudah tidak lengkap.
Dulu, pekerjaan itu terasa ringan.
Rantaka biasanya datang paling awal membawa kunci gudang kecil tempat gerobak disimpan. Banyu akan memeriksa roda gerobak dan memastikan pegangan kayunya tidak longgar. Jagra akan membantu mendorongnya dari halaman sekolah menuju balai desa. Sedangkan Liris menata buku-buku sambil menyambut anak-anak yang datang.
Mereka membagi tugas tanpa banyak bicara.
Seolah-olah semuanya sudah mengerti apa yang harus dilakukan.
Namun, sejak Rantaka berangkat ke Kota Arunika, gerobak itu terasa lebih berat.
Bukan hanya karena salah satu orang yang biasa mendorongnya sudah tidak ada.
Tetapi karena ada ruang kosong yang tidak mudah diisi.
“Buku cerita yang bergambar itu taruh di depan,” kata sebuah suara dari arah jalan.
Liris menoleh.
Banyu datang sambil membawa tas kain yang tampak penuh. Seragam sekolahnya masih melekat di tubuhnya, tetapi bagian lengannya terlihat sedikit terkena noda hitam. Rambutnya juga tampak berantakan seperti baru saja terkena angin atau debu.
“Kau baru pulang dari mana?” tanya Liris.
“Dari bengkel.”
“Bukankah hari ini kau sekolah?”
“Sekolah, lalu ke bengkel sebentar.”
“Untuk apa?”
Banyu meletakkan tas kainnya di bawah pohon beringin.
“Membantu Pak Darto membersihkan alat. Katanya ada beberapa pekerjaan kecil yang bisa kukerjakan setelah pulang sekolah.”
Liris memandang noda hitam di lengan seragam Banyu.
“Kau bekerja lagi?”
“Belum benar-benar bekerja. Baru membantu. Kalau cocok, mungkin aku bisa datang beberapa kali dalam seminggu.”
“Banyu, kau juga harus belajar.”
“Aku tahu.”
“Kalau kau terlalu lelah, bagaimana?”
Banyu tersenyum kecil.
“Kalau aku tidak mulai mencari pengalaman dari sekarang, kapan lagi? Aku ingin punya uang untuk membeli beberapa alat.”
Liris sudah tahu maksudnya.
Banyu masih menyimpan keinginan membuat alat pertanian sederhana. Ia sering berbicara tentang pompa air, alat pengolah tanah, atau roda kecil yang bisa membantu warga membawa hasil kebun. Di dalam tasnya, selalu ada buku catatan berisi gambar-gambar rancangan yang belum selesai.
Namun, Liris juga tahu bahwa keinginan itu membutuhkan banyak hal.
Waktu.
Tenaga.
Uang.
Dan Banyu belum memiliki semuanya.
“Kalau begitu, kau masih sempat membantu Gerobak Buku?” tanya Liris.
Banyu memandang gerobak itu.
“Aku sempat. Hanya mungkin tidak selama dulu.”
Jawaban itu sederhana.
Tetapi Liris merasakan sesuatu yang berat di baliknya.
Tidak selama dulu.
Kalimat itu seolah menjadi kenyataan baru bagi mereka semua.
Tidak ada lagi waktu sepanjang sore untuk duduk bersama.
Tidak ada lagi kesempatan mudah untuk membicarakan buku, mimpi, atau rencana-rencana kecil mereka.
Sekarang, setiap orang memiliki urusannya sendiri.
Setiap orang harus membagi waktu antara sekolah, rumah, pekerjaan, dan tanggung jawab keluarga.
Liris mengangguk.
“Baik. Kau periksa rodanya saja. Sepertinya sebelah kiri agak berat.”
Banyu segera jongkok di samping gerobak.
Ia memutar roda perlahan, lalu menekan bagian kayu di dekat porosnya.
“Ini perlu dikencangkan,” katanya. “Tapi belum parah.”
“Bisa diperbaiki?”
“Bisa. Nanti aku cari baut yang cocok.”
Liris tersenyum tipis.
“Kalau Rantaka di sini, dia pasti sudah membawa tali atau kayu cadangan.”
Banyu berhenti sejenak.
“Rantaka memang selalu punya cara membuat semuanya terasa mudah.”
“Padahal sebenarnya dia juga sering bingung.”
“Iya,” kata Banyu. “Tapi dia tetap datang.”
Mereka terdiam.
Nama Rantaka selalu membawa perasaan yang sama.
Rindu.
Bangga.
Dan sedikit kesepian.
Tidak lama kemudian, Jagra datang dari arah sungai.
Ia membawa ember kecil di tangan kanan dan jaring yang digulung di bahunya. Celana bagian bawahnya sedikit basah dan penuh lumpur. Wajahnya tampak lelah.
“Kalian sudah mulai?” tanyanya.
“Belum,” jawab Liris. “Kami menunggu kau.”
Jagra meletakkan ember di dekat pohon.
“Maaf terlambat. Ayah minta aku membantu memberi makan ikan.”
“Kolamnya bagaimana?” tanya Banyu.
“Masih baik. Tapi airnya mulai agak keruh karena hujan dua hari lalu.”
“Apakah ikan-ikannya banyak?”
“Lumayan. Tapi kalau tidak dijaga, bisa sakit.”
Jagra mengusap keningnya.
“Ayah juga bilang aku harus lebih sering membantu. Katanya, sekarang aku sudah cukup besar untuk mengerti usaha keluarga.”
Liris memandangnya.
“Kau keberatan?”
Jagra tidak langsung menjawab.
“Aku tidak keberatan membantu ayah,” katanya akhirnya. “Tapi kadang aku juga ingin punya waktu seperti dulu.”
“Untuk Gerobak Buku?” tanya Liris.
“Untuk semuanya.”
Jagra menatap gerobak yang terparkir di bawah pohon beringin.
“Dulu, setelah sekolah, kita bisa langsung berkumpul. Sekarang aku harus ke kolam. Banyu ke bengkel. Kau membantu ibumu. Rantaka di kota.”
Banyu berdiri setelah selesai memeriksa roda.
“Memang sudah berubah.”
“Bukan hanya berubah,” kata Jagra. “Kadang rasanya seperti kita mulai berjalan sendiri-sendiri.”
Liris menggenggam kain lap di tangannya.
Ia ingin menyangkal.
Ia ingin berkata bahwa mereka masih sama seperti dulu.
Namun, ia tidak bisa.
Karena yang dikatakan Jagra memang benar.
Mereka masih sahabat.
Mereka masih peduli satu sama lain.
Tetapi kehidupan mulai meminta lebih banyak dari mereka.
Dan setiap permintaan itu perlahan mengambil waktu yang dulu mereka miliki bersama.
“Gerobak Buku tetap harus jalan,” kata Liris akhirnya.
Jagra memandangnya.
“Kenapa?”
“Karena anak-anak menunggu.”
“Kalau yang datang sedikit?”
“Sedikit pun tetap anak-anak yang ingin membaca.”
“Kalau kita semua lelah?”
Liris menatap tulisan di sisi gerobak.
Gerobak Buku Langit Biru.
Nama itu bukan sekadar tulisan.
Nama itu adalah janji yang pernah mereka buat bersama.
“Kalau kita lelah,” kata Liris pelan, “kita tetap datang sebisanya.”
Banyu mengangguk.
“Setuju.”
Jagra menghela napas.
Lalu ia mengambil pegangan gerobak.
“Baik. Kita dorong.”
Mereka bertiga mulai mendorong Gerobak Buku Langit Biru menuju halaman balai desa.
Banyu berada di sisi kiri untuk menjaga roda yang sedikit longgar. Jagra mendorong dari belakang. Liris berjalan di depan sambil memegang pegangan gerobak.
Gerobak itu bergerak perlahan di atas jalan tanah.
Roda kayunya berbunyi pelan.
Krek.
Krek.
Krek.
Dulu, suara roda itu selalu terdengar ramai karena disertai tawa mereka berempat.
Rantaka sering mengajak anak-anak yang berpapasan untuk datang membaca. Banyu kadang berjalan sambil membawa buku-buku baru. Jagra sering mengeluh karena jalan menanjak, tetapi ia tetap mendorong paling kuat. Liris akan tersenyum sambil mengingatkan mereka agar buku-buku tidak jatuh.
Kini, jalan yang sama terasa lebih panjang.
Saat mereka tiba di balai desa, hanya beberapa anak yang sudah menunggu.
Ada Sari, anak kelas tiga SD yang suka membaca cerita rakyat.
Ada Miko, anak kecil yang selalu memilih buku bergambar kendaraan.
Ada dua anak lain yang duduk di anak tangga balai desa sambil memegang buku tulis.
“Ka Liris!” seru Sari. “Kak Rantaka belum pulang?”
Liris tersenyum lembut.
“Belum, Sari. Kak Rantaka masih sekolah di kota.”
“Kenapa lama sekali sekolahnya?”
“Karena sekolah di kota juga banyak pelajarannya.”
Miko mendekat sambil memandang ke dalam gerobak.
“Kalau Kak Rantaka pulang, apakah dia bawa buku baru?”
Banyu menoleh kepada Liris.
Liris mengangguk kecil.
“Mungkin nanti Kak Rantaka akan membawa banyak cerita untuk kalian.”
Anak-anak tampak senang mendengarnya.
Namun, Liris tahu bahwa mereka semua juga merindukan Rantaka.
Gerobak Buku Langit Biru masih ada.
Buku-bukunya masih tersusun.
Pohon beringin masih menaungi halaman.
Tetapi ada sesuatu yang berbeda.
Anak-anak dapat merasakannya.
Mereka juga dapat merasakannya.
Liris membuka beberapa buku cerita dan meletakkannya di atas tikar.
“Siapa yang mau membaca cerita tentang hutan?” tanyanya.
Beberapa tangan terangkat.
“Siapa yang mau belajar menulis cerita pendek?”
Sari mengangkat tangan paling tinggi.
“Kalau aku mau gambar mobil,” kata Miko.
“Boleh,” jawab Banyu. “Tapi setelah itu, kau harus cerita tentang mobilmu.”
Miko mengangguk serius.
Jagra duduk di dekat anak-anak yang membawa buku tulis.
Ia membantu mereka membaca beberapa kalimat pendek. Sesekali ia terlihat melamun ke arah sungai, tetapi ketika salah satu anak bertanya tentang arti kata, ia kembali memperhatikan.
Banyu mengeluarkan pensil dan beberapa kertas gambar dari tasnya.
Ia mengajak Miko dan dua anak lain menggambar alat-alat yang mereka lihat di rumah atau kebun.
“Kalau kalian ingin membuat sesuatu untuk membantu orang tua, kalian akan membuat apa?” tanya Banyu.
“Aku mau buat mesin yang bisa mengangkat air,” jawab seorang anak.
“Aku mau buat mobil yang bisa masuk ke sawah,” kata Miko.
Banyu tersenyum.
“Itu ide yang bagus.”
Liris duduk di tengah anak-anak perempuan yang membaca buku cerita.
Ia meminta mereka menceritakan kembali isi buku dengan kata-kata sendiri. Sari membaca dengan suara pelan, lalu berhenti di beberapa bagian untuk bertanya.
“Ka Liris, apakah orang yang tinggal jauh dari rumah bisa tetap bahagia?”
Liris terdiam sejenak.
Pertanyaan itu muncul dari cerita tentang seorang anak yang pergi merantau.
Ia teringat Rantaka.
Ia teringat suratnya.
“Bisa,” jawab Liris akhirnya. “Tapi mungkin dia akan tetap rindu rumah.”
“Kalau rindu, kenapa tidak pulang saja?”
“Karena kadang seseorang pergi supaya suatu hari bisa pulang membawa sesuatu yang baik.”
Sari tampak berpikir.
“Seperti Kak Rantaka?”
Liris tersenyum.
“Seperti Kak Rantaka.”
Menjelang sore, anak-anak mulai pulang satu per satu.
Jumlah mereka tidak sebanyak dulu.
Beberapa anak tidak datang karena membantu orang tua di kebun. Ada pula yang harus menjaga adik di rumah. Sebagian lainnya mungkin memilih bermain di lapangan karena cuaca cukup cerah setelah beberapa hari hujan.
Ketika tikar sudah hampir kosong, Liris mulai mengumpulkan buku-buku.
Banyu membantu memasukkan pensil warna ke dalam kotak.
Jagra menutup tutup gerobak dengan perlahan.
“Hanya tujuh anak hari ini,” katanya.
“Dulu bisa belasan,” jawab Banyu.
“Kadang lebih dari dua puluh,” tambah Liris.
Jagra mengangguk.
“Nah, itu maksudku. Tidak seramai dulu.”
Liris tidak menjawab.
Ia tahu Jagra tidak bermaksud menyalahkan siapa pun.
Ia hanya menyebutkan kenyataan.
Gerobak Buku Langit Biru memang masih berjalan.
Tetapi langkahnya tidak lagi sama.
Bukan karena mereka tidak peduli.
Bukan karena mereka ingin berhenti.
Namun, karena hidup mulai membagi mereka ke dalam banyak arah.
Banyu harus memikirkan bengkel dan peralatan yang ingin dibelinya.
Jagra harus membantu ayahnya menjaga kolam ikan.
Liris harus membantu ibunya di rumah, memasak, mencuci, dan mengurus beberapa pekerjaan kecil yang tidak bisa ditinggalkan.
Sementara Rantaka berada di kota, berusaha bertahan di sekolah baru yang jauh dari desa.
Mereka semua tumbuh.
Dan pertumbuhan itu ternyata tidak selalu mudah.
“Besok kau ke bengkel lagi?” tanya Liris kepada Banyu.
“Mungkin.”
“Kau ke kolam?” tanya Liris kepada Jagra.
“Pasti.”
Liris mengangguk.
“Aku harus membantu ibu menyiapkan pesanan kue.”
Jagra menatap mereka berdua.
“Lalu kapan kita membuka Gerobak Buku lagi?”
Banyu memandang langit yang mulai berubah jingga.
“Sabtu sore?”
“Aku bisa,” kata Liris.
Jagra berpikir sebentar.
“Aku akan coba selesai dari kolam lebih awal.”
“Kalau tidak bisa?” tanya Banyu.
Jagra menarik napas.
“Kalau tidak bisa, kalian buka dulu. Aku menyusul.”
Liris memandang kedua sahabatnya.
Tidak ada janji besar.
Tidak ada kata-kata yang terdengar hebat.
Hanya kesediaan untuk tetap datang, meski waktu mereka semakin sedikit.
“Baik,” kata Liris. “Sabtu sore.”
Mereka kembali mendorong gerobak menuju gudang kecil di samping sekolah.
Jalan pulang terasa lebih sepi.
Matahari hampir tenggelam.
Bayangan pohon beringin memanjang di atas tanah.
Ketika mereka sampai di gudang, Banyu kembali memeriksa roda gerobak. Jagra membantu mengangkat beberapa buku yang hampir jatuh. Liris mengunci pintu gudang setelah semuanya tersimpan rapi.
Sebelum pergi, mereka berdiri sejenak di depan pintu gudang.
Tidak ada yang langsung berjalan pulang.
Mungkin karena mereka semua memahami bahwa sore itu bukan hanya tentang Gerobak Buku.
Sore itu tentang perubahan.
Tentang sahabat yang mulai memiliki jalan masing-masing.
Tentang tanggung jawab yang datang lebih cepat daripada yang mereka harapkan.
Tentang rindu kepada seorang sahabat yang sedang mengejar mimpi di kota.
Liris memandang tulisan kecil di papan kayu dekat pintu gudang.
Tulisan itu dibuat Rantaka beberapa waktu lalu.
Buku adalah jendela. Persahabatan adalah jalan pulang.
Liris membaca kalimat itu dalam hati.
Banyu dan Jagra ikut memandanginya.
“Rantaka pasti menulis itu sebelum berangkat,” kata Banyu.
“Iya,” jawab Liris.
“Dia memang suka membuat kalimat seperti itu,” kata Jagra, meski suaranya terdengar lebih pelan dari biasanya.
Liris tersenyum.
“Dan kita harus menjaga apa yang sudah ia mulai bersama kita.”
Jagra mengangguk.
Banyu juga mengangguk.
Kemudian mereka berjalan pulang ke arah yang berbeda.
Banyu menuju jalan ke bengkel kecil.
Jagra menuju arah sungai dan kolam ikan.
Liris menuju rumahnya, tempat ibunya mungkin sudah menunggu bantuan.
Di belakang mereka, Gerobak Buku Langit Biru tersimpan di dalam gudang.
Tidak lagi seramai dulu.
Tidak lagi didorong oleh empat sahabat.
Namun, belum berhenti.
Masih ada.
Masih menunggu sore berikutnya.
Masih menyimpan buku-buku, cerita-cerita, dan harapan kecil anak-anak Desa Wanasari.
Dan selama masih ada seseorang yang mau membuka pintu gudang, mengeluarkan gerobak itu, lalu mengajak anak-anak membaca, Langit Biru belum benar-benar kehilangan cahayanya.
BAB 6 - UANG SAKU YANG TIDAK CUKUP
Pagi itu, Rantaka membuka dompetnya lebih lama daripada biasanya.
Dompet kain berwarna cokelat itu sudah agak kusam di bagian sudut. Di dalamnya, tersimpan beberapa lembar uang kertas, kartu pelajar, dan secarik kertas kecil yang berisi catatan pengeluaran. Sejak tinggal di Kota Arunika, Rantaka mulai terbiasa mencatat hampir semua uang yang keluar.
Harga buku tulis.
Harga sabun.
Harga makan siang.
Harga fotokopi tugas.
Harga ongkos jika suatu hari ia harus naik kendaraan karena hujan turun terlalu deras.
Ia tidak pernah melakukan hal seperti itu ketika masih tinggal di Desa Wanasari.
Di desa, banyak kebutuhan dapat disiasati. Jika tidak ada uang untuk membeli sayur, ibunya bisa mengambil daun singkong dari kebun. Jika sandal putus, kadang bisa dijahit atau dipakai lagi setelah diperbaiki. Jika buku tulis hampir habis, ia masih bisa menggunakan halaman kosong dari buku lama.
Namun, kota tidak memberi banyak ruang untuk menyiasati kebutuhan.
Di kota, hampir semua hal membutuhkan uang.
Rantaka menghitung lembar uang yang ada di tangannya.
Lalu ia membuka kembali catatan kecilnya.
Di bagian atas, ia menulis:
Uang beasiswa bulan ini.
Di bawahnya, ia menulis beberapa pengeluaran.
Iuran rumah singgah.
Buku latihan matematika.
Fotokopi bahan pelajaran.
Biaya kegiatan sekolah.
Makan siang beberapa hari.
Sabun dan kebutuhan pribadi.
Ia menarik napas pelan.
Jumlah uang yang tersisa semakin sedikit.
Padahal bulan belum berakhir.
“Sedang menghitung kekayaan?” tanya Damar dari tempat tidurnya.
Rantaka menoleh.
Damar baru saja bangun. Rambutnya masih berantakan. Ia menguap, lalu duduk sambil mengusap wajah.
“Bukan kekayaan,” jawab Rantaka. “Justru sebaliknya.”
Damar tertawa kecil.
“Uangmu menipis?”
Rantaka tidak langsung menjawab.
Namun, Damar sudah melihat catatan di atas meja.
“Biaya hidup di kota memang begitu,” katanya. “Awalnya semua orang merasa uangnya cukup. Lalu tiba-tiba tinggal sedikit.”
“Aku kira uang beasiswa bisa untuk semua kebutuhan.”
“Bisa, kalau kebutuhanmu sedikit.”
“Aku sudah berusaha hemat.”
“Aku tahu. Kau bahkan sering membawa air minum dari rumah singgah.”
Rantaka tersenyum tipis.
“Itu bukan masalah besar.”
“Yang besar itu biaya sekolah,” kata Damar. “Buku, fotokopi, kegiatan kelas, tugas kelompok. Kadang hal-hal kecil itu yang membuat uang habis.”
Rantaka menutup dompetnya.
Ia tidak ingin mengeluh.
Beasiswa yang ia terima sudah menjadi kesempatan besar. Tidak semua anak dari desa mendapat peluang untuk melanjutkan sekolah di kota. Ia tahu keluarganya bangga. Ia tahu ibunya pasti berharap ia dapat belajar dengan baik dan kelak memiliki kehidupan yang lebih baik.
Karena itu, ia tidak ingin mengirim kabar bahwa uangnya mulai tidak cukup.
Ia tidak ingin ibunya memikirkan biaya tambahan.
Ia tidak ingin keluarga di Desa Wanasari merasa terbebani oleh kepergiannya.
“Aku akan mencari cara,” katanya.
Damar memandangnya.
“Cara apa?”
“Aku belum tahu.”
Di sekolah, persoalan uang itu terus mengikuti pikiran Rantaka.
Saat guru matematika meminta siswa membeli buku latihan tambahan, ia langsung memikirkan harga buku tersebut.
Saat ketua kelas mengumumkan biaya untuk kegiatan kebersihan kelas, ia kembali menghitung uang yang tersisa.
Saat seorang teman mengajak membeli makanan di kantin, ia menolak dengan alasan sudah membawa bekal.
Padahal, bekal yang dibawanya hanya nasi dan telur dadar dari dapur rumah singgah.
Ia tidak malu dengan bekal itu.
Namun, ia mulai merasa bahwa setiap hari ada saja kebutuhan baru yang datang.
Pada jam istirahat, Rantaka duduk di bawah pohon dekat lapangan sekolah sambil membuka buku pelajaran. Beberapa siswa berjalan menuju kantin. Ada yang tertawa, ada yang membawa minuman dingin, ada pula yang membicarakan rencana akhir pekan.
Rantaka mencoba membaca materi fisika.
Namun, angka-angka di halaman buku terasa seperti deretan biaya yang belum selesai ia pikirkan.
Damar datang membawa dua gelas teh hangat dalam plastik.
“Satu untukmu,” katanya.
“Aku tidak minta.”
“Aku tahu. Tapi aku beli dua.”
Rantaka menerima minuman itu.
“Terima kasih.”
Damar duduk di sampingnya.
“Kau masih memikirkan uang?”
“Tidak.”
“Kau berbohong dengan wajah yang terlalu jelas.”
Rantaka tersenyum tipis.
“Memangnya wajahku seperti apa?”
“Seperti orang yang sedang menghitung berapa hari lagi sampai akhir bulan.”
Rantaka terdiam.
Damar meminum tehnya perlahan.
“Aku dulu juga begitu,” katanya. “Waktu pertama tinggal di kota, aku kira yang sulit hanya pelajaran. Ternyata yang sulit juga cara bertahan.”
“Kau bagaimana dulu?”
“Aku bekerja sedikit-sedikit.”
Rantaka menoleh.
“Bekerja?”
“Tidak setiap hari. Hanya membantu di warung makan dekat pasar. Mencuci gelas, membersihkan meja, mengantar pesanan, kadang membantu menutup warung.”
“Bukankah itu mengganggu sekolah?”
“Kalau terlalu banyak, iya. Tapi kalau diatur, bisa membantu.”
Rantaka memandang Damar dengan ragu.
“Aku tidak pernah bekerja di warung.”
“Tidak perlu langsung bisa. Yang penting mau belajar.”
“Aku tidak tahu apakah aku sanggup.”
“Tidak ada yang tahu sebelum mencoba.”
Damar menatap lapangan sekolah yang mulai ramai.
“Pemilik warung itu baik. Namanya Bu Sari. Ia tidak suka mempekerjakan anak-anak yang malas sekolah. Kalau kau mau bekerja, ia akan bertanya dulu apakah nilaimu tetap bagus.”
Rantaka menunduk.
Nilainya memang belum turun.
Namun, ia tahu jika harus bekerja malam, waktunya untuk belajar akan berkurang.
Ia teringat surat Liris.
Ia teringat kalimat dalam puisi itu.
Jika kota membuatmu merasa kecil, ingatlah langit di desa tetap luas di atas kepalamu.
Rantaka tidak ingin menyerah hanya karena uang sakunya tidak cukup.
Tetapi ia juga takut mengambil keputusan yang salah.
“Aku pikirkan dulu,” katanya.
Damar mengangguk.
“Pikirkan. Aku tidak memaksa.”
Sore hari, setelah pulang sekolah, Rantaka berjalan bersama Damar menuju pasar kecil di dekat jalan utama.
Pasar itu selalu ramai menjelang malam. Pedagang sayur mulai membereskan dagangan. Penjual gorengan menyalakan lampu di gerobaknya. Bau makanan bercampur dengan bau hujan yang masih tersisa di jalanan.
Di salah satu sisi pasar, berdiri warung makan sederhana dengan papan nama yang mulai pudar.
WARUNG MAKAN BU SARI
Di depan warung, beberapa meja plastik tersusun rapi. Ada orang-orang yang sedang makan. Ada sopir angkutan yang duduk sambil berbicara. Ada pekerja toko yang datang setelah selesai bekerja.
Damar berhenti di depan warung.
“Ini tempatnya.”
Rantaka memandang ke dalam.
Seorang perempuan paruh baya sedang mengaduk masakan di dapur kecil. Wajahnya terlihat tegas, tetapi gerakannya cepat dan teratur. Di dekatnya, seorang anak laki-laki sedang menyusun piring.
“Itu Bu Sari,” kata Damar.
“Apa kita langsung masuk?”
“Masuk saja.”
Rantaka mengikuti Damar.
Begitu melihat Damar, perempuan itu menoleh.
“Damar, kau datang,” katanya. “Besok kau bisa masuk lebih awal? Orang yang biasa membantu mencuci piring sedang pulang kampung.”
“Bisa, Bu,” jawab Damar. “Tapi saya membawa teman.”
Bu Sari memandang Rantaka.
“Teman sekolah?”
“Iya, Bu. Namanya Rantaka.”
Rantaka segera menundukkan kepala dengan sopan.
“Sore, Bu.”
“Sore,” jawab Bu Sari. “Kau tinggal di rumah singgah?”
“Iya, Bu.”
“Sekolah di mana?”
Rantaka menyebutkan nama sekolahnya.
Bu Sari mengangguk.
“Damar bilang kau anak beasiswa.”
Rantaka sedikit terkejut.
“Iya, Bu.”
“Kalau begitu, kau harus hati-hati. Anak beasiswa tidak boleh sampai sekolahnya terganggu karena kerja.”
Rantaka mengangguk.
“Saya mengerti, Bu.”
Bu Sari meletakkan sendok sayur di atas meja.
“Apa kau ingin bekerja?”
Pertanyaan itu terdengar sederhana.
Namun, bagi Rantaka, pertanyaan itu seperti pintu yang membuka jalan baru.
Jika ia menjawab iya, hidupnya akan berubah.
Ia harus membagi waktu antara sekolah, tugas, rumah singgah, dan pekerjaan malam.
Ia mungkin akan lebih lelah.
Ia mungkin akan lebih sulit belajar.
Namun, jika ia menjawab tidak, ia belum tahu bagaimana akan memenuhi kebutuhan sampai akhir bulan.
“Aku…” Rantaka berhenti sejenak.
Damar tidak berkata apa-apa.
Ia membiarkan Rantaka memutuskan sendiri.
Rantaka memandang meja-meja warung yang masih dipenuhi pelanggan. Ia melihat piring-piring kotor. Ia melihat orang-orang yang bekerja tanpa banyak bicara. Ia melihat Bu Sari yang tetap memasak meski tangannya bergerak cepat dan wajahnya tampak lelah.
Kemudian ia teringat ibunya di Desa Wanasari.
Ia teringat bagaimana ibunya selalu berusaha agar ia dapat sekolah.
Ia teringat bahwa keluarganya tidak pernah mengeluh meski hidup mereka sederhana.
Ia tidak ingin menambah beban mereka.
Akhirnya, Rantaka mengangkat wajah.
“Kalau Ibu mengizinkan, saya mau mencoba.”
Bu Sari menatapnya beberapa saat.
“Kau yakin?”
“Saya akan tetap mengutamakan sekolah.”
“Itu harus.”
“Saya janji, Bu.”
Bu Sari mengangguk.
“Baik. Kau bisa mulai besok malam. Datang setelah magrib. Tugasmu belum banyak. Awalnya membantu membersihkan meja, mencuci gelas, dan menyusun piring. Kalau sudah terbiasa, baru kita lihat lagi.”
Rantaka mengangguk.
“Terima kasih, Bu.”
“Jangan berterima kasih dulu,” kata Bu Sari. “Bekerja itu bukan hanya menerima uang. Bekerja berarti belajar bertanggung jawab.”
“Iya, Bu.”
“Dan kalau nilaimu turun, kau harus bilang. Aku tidak mau menjadi alasan seorang anak berhenti mengejar sekolah.”
Kata-kata itu membuat Rantaka terdiam sejenak.
Bu Sari tidak mengenalnya.
Namun, perempuan itu berbicara seolah mengerti bahwa sekolah adalah hal paling penting bagi dirinya.
“Saya akan ingat, Bu,” kata Rantaka.
Malam itu, Rantaka kembali ke rumah singgah dengan langkah yang lebih lambat.
Di kamar, ia membuka dompetnya lagi.
Uang di dalamnya belum bertambah.
Kebutuhan yang harus dibayar juga belum berkurang.
Namun, kini ia memiliki jalan untuk berusaha.
Ia menulis catatan baru di bawah daftar pengeluaran.
Mulai bekerja di warung makan.
Ia menatap tulisan itu cukup lama.
Ada rasa takut.
Ada rasa ragu.
Ada pula rasa lega.
Damar yang sedang membaca buku di tempat tidurnya menoleh.
“Jadi?”
“Aku mulai besok.”
Damar mengangguk.
“Bagus. Tapi jangan lupa, kau harus tetap belajar.”
“Aku tahu.”
“Kalau kau terlalu lelah, bilang.”
“Aku akan berusaha mengatur waktu.”
Damar tersenyum kecil.
“Selamat datang di kehidupan kota.”
Rantaka tertawa pelan.
“Apakah semua anak kota harus bekerja?”
“Tidak. Tapi banyak yang harus belajar bertahan.”
Rantaka memandang jendela kamar.
Di luar, lampu-lampu kota masih menyala.
Suara kendaraan masih terdengar.
Kota itu tetap ramai, tetap asing, dan tetap penuh kebutuhan yang tidak pernah selesai.
Namun, malam itu Rantaka tidak lagi hanya memandang kota sebagai tempat yang membuatnya takut.
Ia mulai melihatnya sebagai tempat yang menuntutnya untuk tumbuh.
Besok malam, ia akan bekerja di Warung Makan Bu Sari.
Ia belum tahu apakah tubuhnya akan sanggup.
Ia belum tahu apakah ia dapat membagi waktu dengan baik.
Ia belum tahu apakah keputusan itu akan membuat hidupnya lebih mudah atau justru lebih berat.
Tetapi ia tahu satu hal.
Ia tidak ingin menyerah.
Ia ingin tetap sekolah.
Ia ingin menjaga beasiswanya.
Ia ingin suatu hari pulang ke Desa Wanasari bukan sebagai anak yang gagal bertahan, melainkan sebagai seseorang yang membawa harapan.
Rantaka menutup buku catatannya.
Lalu ia mengambil surat Liris dari dalam laci.
Ia membaca kembali satu kalimat yang paling ia ingat.
Jika malam terasa terlalu panjang, ingatlah sungai yang pernah mengajar kita bahwa air selalu menemukan jalan pulang.
Rantaka melipat surat itu kembali.
Ia menyimpannya dengan hati-hati.
Besok, malamnya mungkin akan lebih panjang daripada sebelumnya.
Tetapi ia akan menjalaninya.
Karena bagi Rantaka, uang saku yang tidak cukup bukan alasan untuk berhenti.
Itu adalah ujian pertama yang harus ia lewati di kota.
BAB 7 - TELEPON UMUM DI SUDUT PASAR
Hari Sabtu sore, Kota Arunika tampak lebih ramai daripada biasanya.
Sejak siang, jalan menuju pasar dipenuhi orang-orang yang membawa tas belanja, keranjang sayur, dan kantong-kantong plastik. Pedagang buah meneriakkan harga dagangannya dari balik meja kayu. Penjual gorengan sibuk membalik tempe dan bakwan di dalam minyak panas. Di dekat pintu masuk pasar, suara kendaraan bercampur dengan suara orang-orang yang saling memanggil.
Rantaka berjalan perlahan di antara keramaian itu.
Di dalam saku celananya, ia menyimpan beberapa keping uang logam.
Ia sudah menghitungnya sejak berangkat dari rumah singgah.
Jumlahnya tidak banyak.
Namun, ia berharap cukup untuk melakukan satu hal yang sejak beberapa hari terakhir terus ia pikirkan.
Menelepon Desa Wanasari.
Sejak menerima surat dari Liris, Rantaka merasa rindu itu tidak lagi bisa hanya disimpan dalam hati. Surat memang dapat membawa kabar. Puisi dapat membuat seseorang merasa lebih kuat. Tetapi ada saat ketika tulisan di atas kertas tidak cukup.
Ia ingin mendengar suara.
Ia ingin mendengar suara Liris.
Ia ingin mendengar apakah di desa sedang hujan, apakah Gerobak Buku masih berjalan, apakah Banyu masih sibuk di bengkel, dan apakah Jagra masih sering mengeluh ketika harus membantu ayahnya di kolam ikan.
Damar pernah memberitahunya bahwa di sudut pasar ada sebuah telepon umum yang bisa digunakan untuk menelepon ke kecamatan dekat Desa Wanasari. Dari sana, seseorang biasanya dapat menyambungkan panggilan ke rumah-rumah yang memiliki telepon atau ke warung yang menjadi tempat warga menerima kabar dari luar desa.
Rantaka tidak yakin sambungan itu akan berhasil.
Namun, ia tetap datang.
Di sudut pasar, dekat kios penjual jam tangan dan toko kecil yang menjual baterai, berdiri sebuah bilik telepon umum.
Catnya sudah mengelupas di beberapa bagian. Kaca pintunya sedikit buram. Di sisi dalam, gagang telepon hitam tergantung pada tempatnya. Di bawahnya terdapat lubang untuk memasukkan uang logam.
Di samping bilik, ada tulisan kecil yang sudah mulai pudar.
GUNAKAN UANG LOGAM. WAKTU TERBATAS.
Rantaka berdiri beberapa saat di depan bilik itu.
Ia menggenggam uang logam di dalam saku.
Tiba-tiba, semua keberaniannya terasa berkurang.
Bagaimana jika Liris tidak ada?
Bagaimana jika sambungannya salah?
Bagaimana jika ia tidak tahu harus mengatakan apa setelah mendengar suara Liris?
Ia menarik napas.
Lalu masuk ke dalam bilik telepon.
Pintu kaca ditutup perlahan.
Suara pasar yang ramai masih terdengar dari luar, tetapi kini lebih samar.
Rantaka mengangkat gagang telepon.
Ia memasukkan uang logam pertama.
Kemudian ia menekan nomor warung kecil di dekat kantor kecamatan Sungai Jernih, nomor yang pernah ditulis Liris dalam suratnya. Menurut Liris, warung itu milik Pak Hadi, dan warga Desa Wanasari kadang menerima telepon di sana jika ada kabar penting dari keluarga yang berada jauh.
Nada sambung terdengar.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Rantaka menggenggam gagang telepon lebih erat.
“Halo?” terdengar suara laki-laki dari seberang.
Rantaka hampir tidak langsung menjawab.
“Halo, Pak. Saya Rantaka. Saya ingin bicara dengan Liris dari Desa Wanasari.”
“Liris?” suara itu terdengar sedikit jauh. “Tunggu sebentar. Kau telepon dari mana?”
“Dari Kota Arunika, Pak.”
“Oh, dari kota. Sebentar, ya. Kebetulan tadi Liris ke sini mengantar pesanan ibunya. Saya panggilkan.”
Rantaka menutup matanya sejenak.
Dadanya terasa berdebar.
Ia mendengar suara Pak Hadi memanggil dari kejauhan.
“Liris! Ada telepon dari kota!”
Beberapa detik kemudian, terdengar suara langkah.
Lalu suara yang sudah sangat ia rindukan.
“Halo?”
Rantaka terdiam.
Suara itu terdengar lebih dekat daripada yang ia bayangkan.
Lebih lembut.
Lebih nyata.
“Liris?” akhirnya ia berkata.
“Rantaka?”
“Iya. Ini aku.”
Di seberang, Liris terdiam sesaat.
Kemudian ia tertawa kecil.
“Benarkah? Kau menelepon?”
“Iya. Aku di telepon umum dekat pasar.”
“Bagaimana kabarmu?”
Pertanyaan sederhana itu membuat Rantaka ingin mengatakan banyak hal.
Ia ingin menceritakan tentang sekolahnya.
Tentang rumah singgah.
Tentang pekerjaan malam di warung makan.
Tentang uang yang semakin sedikit.
Tentang kota yang selalu ramai.
Tentang betapa ia rindu pada Desa Wanasari.
Namun, ia tahu uang logam di dalam telepon tidak akan memberi banyak waktu.
“Aku baik,” jawabnya. “Sekolahku juga baik. Aku mulai bekerja sedikit di warung makan setelah magrib.”
“Kau bekerja?” suara Liris berubah khawatir. “Apakah itu tidak membuatmu lelah?”
“Tidak apa-apa. Aku hanya membantu beberapa jam.”
“Rantaka, kau harus tetap belajar.”
“Aku tahu.”
“Kau jangan memaksakan diri.”
Rantaka tersenyum, meski Liris tidak bisa melihatnya.
“Kau terdengar seperti Bu Laras.”
“Kalau Bu Laras yang bicara, kau pasti lebih patuh.”
“Aku juga patuh padamu.”
Liris kembali tertawa kecil.
Suara tawanya membuat pasar yang ramai di luar bilik terasa jauh.
“Gerobak Buku bagaimana?” tanya Rantaka.
“Masih berjalan.”
“Anak-anak masih datang?”
“Masih. Tapi tidak sebanyak dulu.”
Rantaka terdiam.
“Kenapa?”
“Bukan karena mereka tidak mau membaca. Hanya saja sekarang kami semua lebih sibuk. Banyu mulai membantu di bengkel. Jagra lebih sering ke kolam ikan. Aku juga harus membantu ibu.”
Rantaka membayangkan mereka bertiga mendorong gerobak tanpa dirinya.
Ia membayangkan Liris merapikan buku-buku seorang diri.
Ia membayangkan Banyu datang dengan seragam bernoda oli.
Ia membayangkan Jagra pulang dari kolam dengan celana penuh lumpur.
Ada rasa bersalah yang muncul di dalam dirinya.
“Aku seharusnya ada di sana,” katanya pelan.
“Tidak,” jawab Liris cepat. “Kau harus berada di sana.”
“Tapi Gerobak Buku…”
“Gerobak Buku bukan hanya tentang siapa yang mendorongnya, Rantaka. Gerobak Buku juga tentang alasan kita memulainya.”
Rantaka menunduk.
Kata-kata Liris selalu membuatnya melihat sesuatu dari arah yang berbeda.
“Kau benar,” katanya.
“Aku tahu,” jawab Liris, lalu tertawa pelan lagi.
Rantaka ikut tersenyum.
Untuk beberapa saat, ia lupa bahwa ia berada di bilik telepon umum yang sempit.
Ia lupa pada suara pasar.
Ia lupa pada pekerjaan malam yang akan dijalaninya.
Ia lupa pada uang yang selalu harus dihitung.
Ia hanya mendengar suara Liris.
Suara dari Desa Wanasari.
Suara yang membawa pulang sebagian hatinya.
“Liris,” katanya kemudian.
“Iya?”
“Aku rindu desa.”
Di seberang, tidak ada jawaban beberapa detik.
Lalu suara Liris terdengar lebih pelan.
“Kami juga rindu kau.”
Kalimat itu sederhana.
Namun, Rantaka merasakan sesuatu menghangat di dadanya.
Ia ingin mengatakan bahwa ia juga rindu Liris.
Bukan hanya rindu pada desa.
Bukan hanya rindu pada Gerobak Buku.
Tetapi rindu pada Liris yang menulis puisi tentang lampu kota.
Rindu pada suara Liris yang kini terdengar melalui telepon.
Namun, sebelum ia sempat mengatakan apa pun, suara dari telepon berubah berderak.
“Halo?” kata Liris. “Rantaka, suaramu—”
Suara itu terputus-putus.
Rantaka menekan gagang telepon lebih erat.
“Liris? Aku dengar. Halo?”
Yang terdengar hanya bunyi berdesis.
Kemudian suara Liris muncul kembali, sangat samar.
“Rantaka, uangmu mungkin—”
Tiba-tiba terdengar bunyi pendek dari telepon.
Sambungan terputus.
Rantaka menatap gagang telepon di tangannya.
Ia segera memasukkan uang logam lain.
Tangannya bergerak cepat menekan nomor yang sama.
Nada sambung terdengar.
Namun, kali ini tidak ada yang menjawab.
Ia mencoba sekali lagi.
Masih tidak ada jawaban.
Mungkin Pak Hadi sedang melayani pembeli.
Mungkin Liris sudah pulang.
Mungkin sambungan ke kecamatan memang sedang terganggu.
Rantaka memasukkan uang logam terakhir.
Ia mencoba menelepon sekali lagi.
Nada sambung berbunyi.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Lalu suara perempuan tua menjawab dari seberang.
“Halo?”
Rantaka terdiam sejenak.
“Maaf, Bu. Apakah ini warung Pak Hadi?”
“Bukan. Salah sambung.”
Klik.
Sambungan berakhir.
Rantaka menurunkan gagang telepon perlahan.
Uang logam di sakunya sudah habis.
Waktu bicara yang ia dapatkan hanya beberapa menit.
Namun, beberapa menit itu cukup untuk membuat rindu yang selama ini ia tahan menjadi semakin besar.
Ia keluar dari bilik telepon.
Suara pasar langsung menyambutnya kembali.
Pedagang masih berteriak menawarkan dagangan.
Orang-orang masih berjalan tergesa-gesa.
Kendaraan masih membunyikan klakson di jalan depan pasar.
Tidak ada yang tahu bahwa di dalam bilik kecil itu, seorang anak desa baru saja mendengar suara sahabatnya dari tempat yang jauh.
Rantaka berjalan perlahan melewati kios-kios pasar.
Ia tidak langsung pulang.
Ia berhenti di dekat penjual gorengan dan membeli satu potong tempe dengan uang kecil yang tersisa di saku bajunya. Ia memakannya sambil berdiri di bawah lampu jalan.
Langit Kota Arunika mulai gelap.
Lampu-lampu toko menyala satu per satu.
Dari kejauhan, kota itu kembali tampak seperti lautan cahaya.
Rantaka teringat puisi Liris.
Dari jauh, kota tampak seperti langit yang menurunkan bintang-bintang ke jalan.
Ia menatap lampu-lampu itu.
Indah.
Ramai.
Tetapi tetap tidak sama dengan langit Desa Wanasari.
Ia ingin segera menelepon lagi.
Ia ingin mendengar kelanjutan kata-kata Liris.
Ia ingin tahu apa yang hendak dikatakannya sebelum sambungan terputus.
Namun, ia tahu ia harus menunggu.
Mungkin sampai minggu depan.
Mungkin sampai ia memiliki uang logam lagi.
Mungkin sampai Liris kembali datang ke warung Pak Hadi pada waktu yang tepat.
Rantaka berjalan pulang menuju rumah singgah.
Langkahnya terasa lebih lambat daripada ketika ia berangkat.
Bukan karena lelah.
Tetapi karena setelah mendengar suara Liris, ia merasa jarak antara kota dan desa menjadi lebih nyata.
Ia tahu Desa Wanasari masih ada.
Gerobak Buku masih berjalan.
Liris, Banyu, dan Jagra masih menjalani hari-hari mereka.
Namun, ia tidak bisa lagi hadir setiap sore.
Ia tidak bisa ikut mendorong gerobak.
Ia tidak bisa duduk di bawah pohon beringin.
Ia tidak bisa langsung datang ketika sahabat-sahabatnya membutuhkan bantuan.
Jarak telah membuat semua hal sederhana menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan.
Sesampainya di rumah singgah, Damar sedang duduk di ruang tamu sambil membaca koran lama.
“Berhasil menelepon?” tanyanya.
Rantaka mengangguk.
“Berhasil. Tapi sebentar sekali.”
“Memang begitu telepon umum.”
“Aku baru bicara beberapa menit. Lalu sambungannya putus.”
Damar menatapnya.
“Kau kecewa?”
Rantaka berpikir sejenak.
“Tidak. Aku senang bisa mendengar suaranya.”
“Lalu?”
“Setelah mendengar suaranya, aku justru semakin rindu.”
Damar tersenyum kecil.
“Itu berarti orang-orang di desa masih penting bagimu.”
“Mereka selalu penting.”
Rantaka masuk ke kamar.
Ia mengambil buku catatan kecil dari dalam tas.
Di halaman kosong, ia menulis:
Hari ini aku mendengar suara Liris. Hanya beberapa menit, tetapi rasanya seperti pulang sebentar ke Desa Wanasari.
Ia menutup buku itu.
Kemudian ia berbaring di tempat tidur.
Di luar jendela, lampu-lampu kota masih menyala.
Namun, malam itu, Rantaka tidak hanya memikirkan kota.
Ia memikirkan suara Liris.
Ia memikirkan Gerobak Buku.
Ia memikirkan sahabat-sahabatnya yang tetap bertahan di Desa Wanasari.
Dan ia memikirkan satu kenyataan yang mulai ia pahami.
Jarak bukan hanya tentang berapa jauh seseorang berada.
Jarak adalah tentang betapa sulitnya menyampaikan rindu ketika waktu, uang, dan keadaan selalu membatasi.
Tetapi selama masih ada surat, suara, dan kenangan yang dijaga, Rantaka percaya bahwa persahabatan mereka belum benar-benar terputus.
Seperti sambungan telepon yang sempat hilang, suatu hari mereka akan menemukan cara untuk saling terhubung kembali.
BAB 8 - NAMA LIRIS DI MAJALAH KOTA
Pagi di Desa Wanasari dimulai dengan suara ayam berkokok dari belakang rumah-rumah warga.
Kabut tipis masih menggantung di atas kebun ketika Liris membantu ibunya menjemur kain di halaman. Tangan ibunya bergerak cepat, memasang satu per satu kain pada tali jemuran yang dibentangkan di antara dua batang kayu.
“Yang itu jangan terlalu rapat,” kata ibunya. “Nanti lama keringnya.”
“Iya, Bu,” jawab Liris.
Ia memindahkan satu kain ke bagian yang lebih terkena matahari.
Pekerjaan rumah selalu datang lebih dulu sebelum hal-hal lain.
Menyapu halaman.
Mencuci piring.
Membantu menyiapkan makanan.
Mengantar pesanan kecil jika ibunya membuat kue.
Kadang Liris merasa hari-harinya seperti halaman buku yang penuh tulisan, tetapi tidak semuanya dapat ia pilih sendiri.
Namun, di sela-sela pekerjaan itu, ia selalu menyimpan waktu untuk menulis.
Buku catatan hijau miliknya tidak pernah jauh dari tas sekolah.
Di dalamnya ada puisi-puisi tentang sungai, jalan tanah, anak-anak yang membaca di bawah pohon beringin, serta cerita-cerita kecil tentang desa yang sering dianggap jauh dari mana-mana.
Liris tidak pernah merasa bahwa menulis adalah pekerjaan yang sia-sia.
Baginya, menulis adalah cara untuk menjaga hal-hal kecil agar tidak hilang.
Suara hujan di atap rumah.
Tangan ibunya yang selalu sibuk.
Gerobak Buku Langit Biru yang berjalan perlahan di jalan tanah.
Rantaka yang kini tinggal di kota.
Banyu yang pulang dengan noda oli di seragam.
Jagra yang semakin sering pergi ke kolam ikan.
Semua itu ingin ia simpan dalam kata-kata.
Setelah membantu ibunya, Liris masuk ke rumah untuk mengambil buku pelajaran. Saat itulah ia melihat seorang anak kecil berdiri di depan pagar.
Anak itu bernama Sari.
Di tangannya, ia membawa sebuah majalah tipis dengan sampul berwarna cerah.
“Ka Liris!” panggil Sari.
Liris keluar ke halaman.
“Ada apa, Sari?”
Sari mengangkat majalah itu tinggi-tinggi.
“Namamu ada di sini!”
Liris mengernyit.
“Namaku?”
“Iya. Aku tadi ikut kakakku ke kecamatan. Di toko buku kecil dekat pasar ada majalah ini. Kakakku bilang ada tulisan dari Desa Wanasari.”
Liris menerima majalah itu.
Di bagian atas sampul tertulis:
MAJALAH LITERASI KABUPATEN
SUARA MUDA
Jantung Liris berdetak lebih cepat.
Ia membuka halaman demi halaman dengan tangan yang mulai gemetar.
Ada cerpen.
Ada berita kegiatan sekolah.
Ada gambar hasil lomba pelajar.
Kemudian, di salah satu halaman tengah, ia melihat judul yang sangat dikenalnya.
Sungai yang Menyimpan Langit
Di bawah judul itu, tertulis nama:
Liris Wanasari
Liris menahan napas.
Puisi itu adalah puisi yang ia kirim beberapa bulan lalu melalui guru Bahasa Indonesia. Saat itu, ia tidak terlalu berharap. Ia hanya ingin mencoba. Ia hanya ingin tahu apakah kata-katanya dapat sampai ke tempat yang lebih jauh daripada Desa Wanasari.
Kini, puisinya benar-benar tercetak.
Bukan di buku catatan hijau.
Bukan di kertas yang disimpan di dalam laci.
Tetapi di majalah yang bisa dibaca banyak orang.
“Benar namamu, kan?” tanya Sari.
Liris masih memandangi halaman itu.
“Iya,” jawabnya pelan. “Itu puisiku.”
Sari melompat kecil.
“Berarti Kak Liris penulis?”
Liris tersenyum.
Ia belum tahu apakah dirinya pantas disebut penulis.
Namun, untuk pertama kalinya, kata itu tidak lagi terasa terlalu jauh.
“Mungkin,” jawabnya.
Sari menunjuk bagian bawah puisi.
“Di sini ada tulisan Desa Wanasari.”
Liris melihatnya.
Di bawah namanya memang tercantum:
Siswa SMP, Desa Wanasari
Dua kata terakhir itu membuat dadanya terasa hangat.
Desa Wanasari.
Desa yang sering disebut jauh.
Desa yang jalannya belum semuanya baik.
Desa yang tidak memiliki toko buku besar.
Desa yang anak-anaknya masih bergantian membaca buku dari Gerobak Buku Langit Biru.
Kini, nama desa itu ikut tercetak di majalah kabupaten.
“Boleh aku pinjam majalahnya?” tanya Liris kepada Sari.
“Boleh. Tapi nanti dikembalikan. Kakakku juga mau baca.”
“Tentu.”
Liris membawa majalah itu masuk ke rumah.
Ia membaca puisinya perlahan.
Setiap baris terasa berbeda ketika tercetak dengan huruf rapi di halaman majalah. Kata-kata yang dulu ia tulis di malam hari, saat rumah sudah sepi, kini menjadi sesuatu yang bisa dibaca orang lain.
Ia teringat Rantaka.
Ia ingin sekali mengirim kabar kepadanya.
Ia ingin menulis surat dan berkata bahwa puisinya dimuat di majalah kota.
Ia ingin tahu apakah Rantaka akan tersenyum saat membacanya.
Namun, sebelum ia sempat mengambil buku catatan, suara ibunya terdengar dari dapur.
“Liris, bantu Ibu sebentar.”
“Iya, Bu.”
Liris menutup majalah itu dengan hati-hati.
Ia menyimpannya di atas meja.
Lalu pergi membantu ibunya.
Menjelang siang, ayah Liris pulang dari kebun.
Bajunya basah oleh keringat. Di pundaknya tergantung cangkul. Wajahnya tampak letih. Beberapa hari terakhir, hasil kebun mereka tidak sebanyak yang diharapkan. Hujan yang datang tidak menentu membuat beberapa tanaman tumbuh kurang baik.
Liris sedang menyusun piring di meja makan ketika ayahnya masuk.
“Sudah makan, Yah?” tanya Liris.
“Belum.”
“Ibu sedang menyiapkan.”
Ayahnya duduk di kursi kayu dekat jendela.
Matanya menangkap majalah yang terletak di atas meja.
“Itu majalah dari mana?” tanyanya.
“Dari kecamatan,” jawab Liris.
“Untuk apa?”
“Ada puisiku yang dimuat.”
Ayahnya memandang Liris.
“Puisimu?”
“Iya, Yah.”
Liris mengambil majalah itu dan membuka halaman puisinya.
“Ini. Judulnya Sungai yang Menyimpan Langit.”
Ayahnya menerima majalah tersebut.
Ia membaca beberapa baris dengan wajah datar.
Liris berdiri di sampingnya.
Ia berharap ayahnya akan tersenyum.
Atau setidaknya berkata bahwa puisinya bagus.
Namun, setelah beberapa saat, ayahnya menutup majalah itu.
“Jadi, ini yang sering kau tulis di buku-buku itu?”
“Iya, Yah.”
“Menulis puisi.”
“Iya.”
Ayahnya menghela napas.
“Liris, rumah ini tidak bisa hidup dari puisi.”
Kalimat itu terdengar pelan.
Tetapi terasa berat.
Liris menunduk.
“Aku tahu, Yah.”
“Kalau kau punya waktu setelah sekolah, lebih baik bantu Ibu. Pesanan kue makin banyak. Kebun juga butuh diperhatikan. Jangan terlalu banyak membuang waktu dengan menulis.”
“Aku tidak membuang waktu.”
Ayahnya menatapnya.
“Kalau begitu, apa yang kau dapat dari puisi itu?”
Liris tidak langsung menjawab.
Ia ingin berkata bahwa ia mendapat keberanian.
Ia ingin berkata bahwa puisi membuatnya bisa melihat desa mereka dengan cara yang lebih indah.
Ia ingin berkata bahwa suatu hari, menulis mungkin dapat membawanya ke tempat yang belum pernah mereka bayangkan.
Namun, ia melihat wajah ayahnya.
Wajah yang lelah karena bekerja sejak pagi.
Wajah yang menyimpan kekhawatiran tentang hasil kebun.
Wajah yang mungkin tidak punya cukup ruang untuk memikirkan mimpi yang belum menghasilkan uang.
“Belum ada apa-apa,” jawab Liris pelan.
“Nah,” kata ayahnya. “Itulah maksud Ayah.”
Ibu Liris keluar dari dapur membawa piring.
Ia mendengar percakapan itu.
“Jangan terlalu keras pada anak,” kata ibunya.
“Aku tidak keras,” jawab ayahnya. “Aku hanya ingin dia mengerti keadaan.”
Liris menggenggam ujung bajunya.
Ia mengerti keadaan.
Ia tahu ibunya bekerja menerima pesanan kue agar ada tambahan uang.
Ia tahu ayahnya pergi ke kebun sejak pagi dan pulang dengan tubuh lelah.
Ia tahu Banyu harus bekerja di bengkel.
Ia tahu Jagra harus membantu usaha ikan keluarganya.
Ia tahu Rantaka bahkan harus bekerja malam di kota agar uang beasiswanya cukup.
Mimpi memang tidak datang ke rumah mereka dengan jalan yang mudah.
Namun, apakah itu berarti mimpi harus ditinggalkan?
“Aku akan tetap membantu Ibu,” kata Liris. “Aku tidak akan melupakan pekerjaan rumah.”
Ayahnya tidak menjawab.
Ia mengambil air minum dan meminumnya perlahan.
Liris membawa majalah itu kembali ke kamarnya.
Ia menutup pintu pelan-pelan.
Lalu duduk di tepi tempat tidur.
Majalah itu masih terbuka pada halaman puisinya.
Nama Liris Wanasari masih tercetak di sana.
Tetapi kini, nama itu terasa seperti sesuatu yang harus dipertahankan.
Bukan hanya dibanggakan.
Sore harinya, Liris pergi ke halaman sekolah membawa majalah tersebut.
Gerobak Buku Langit Biru tidak dibuka hari itu. Banyu sedang membantu di bengkel. Jagra berada di kolam ikan bersama ayahnya. Liris hanya ingin duduk sebentar di bawah pohon beringin.
Angin sore bergerak pelan.
Daun-daun berguguran di tanah.
Liris membuka majalah itu sekali lagi.
Ia membaca puisinya dalam hati.
Sungai menyimpan langit
bukan untuk dimiliki,
melainkan agar anak-anak desa
tahu bahwa biru
juga dapat tinggal di air yang keruh.
Ia berhenti membaca.
Ia teringat kata-kata ayahnya.
Rumah ini tidak bisa hidup dari puisi.
Mungkin ayahnya benar.
Puisi tidak bisa langsung membeli beras.
Tidak bisa langsung memperbaiki atap rumah.
Tidak bisa langsung membayar kebutuhan sekolah.
Namun, puisi juga bukan sesuatu yang kosong.
Puisi membuatnya berani mengirim tulisan ke majalah.
Puisi membuat nama Desa Wanasari dikenal oleh orang-orang yang mungkin belum pernah datang ke sana.
Puisi membuatnya percaya bahwa anak desa juga dapat memiliki suara.
Liris mengambil buku catatan hijau dari tasnya.
Ia membuka halaman kosong.
Tangannya sempat berhenti.
Untuk beberapa saat, ia merasa takut menulis.
Takut karena ayahnya mungkin benar.
Takut karena menulis hanya akan membuatnya kecewa.
Takut karena mimpi yang terlalu tinggi dapat membuat seseorang lupa pada keadaan rumah.
Namun, kemudian ia menulis satu kalimat.
Aku ingin menulis bukan untuk lari dari rumah, tetapi agar rumahku tidak hilang dari cerita.
Setelah menulis kalimat itu, Liris merasa dadanya sedikit lebih lega.
Ia tidak tahu apakah suatu hari ia benar-benar dapat menjadi penulis.
Ia tidak tahu apakah puisinya akan dimuat lagi.
Ia tidak tahu apakah ayahnya akan pernah memahami mengapa menulis begitu penting baginya.
Tetapi ia tahu, ia tidak ingin berhenti hanya karena jalan di depannya belum jelas.
Beberapa hari kemudian, kabar tentang puisi Liris mulai menyebar di Desa Wanasari.
Guru Bahasa Indonesia di sekolah memanggilnya setelah jam pelajaran.
“Liris, saya membaca puisimu di Suara Muda,” kata gurunya.
Liris tersenyum malu.
“Terima kasih, Bu.”
“Kau menulis dengan baik. Teruskan.”
Liris menunduk.
“Saya akan mencoba, Bu.”
“Bukan hanya mencoba,” kata gurunya. “Kau harus belajar lebih banyak. Membaca lebih banyak. Menulis lebih tekun. Bakat perlu dirawat.”
Kata-kata itu membuat Liris kembali bersemangat.
Namun, saat pulang ke rumah, ia melihat ibunya sedang duduk di dapur dengan wajah lelah. Di depannya ada beberapa wadah kue yang belum selesai dibungkus.
“Banyak pesanan, Bu?” tanya Liris.
“Lumayan. Besok harus diantar ke kecamatan.”
“Aku bantu.”
Liris segera menggulung lengan baju.
Ia membantu membungkus kue, menyusun kotak, dan membersihkan meja dapur. Pekerjaan itu berlangsung sampai malam.
Saat semua selesai, Liris masuk ke kamar dengan tubuh lelah.
Buku catatan hijau terletak di atas meja.
Majalah Suara Muda berada di sampingnya.
Liris duduk dan memandang keduanya.
Di satu sisi, ada mimpi yang ingin ia kejar.
Di sisi lain, ada rumah yang membutuhkan bantuannya.
Ia tidak ingin memilih salah satu dan meninggalkan yang lain.
Ia ingin tetap menjadi anak yang membantu orang tua.
Ia ingin tetap menjadi sahabat bagi Banyu, Jagra, dan Rantaka.
Ia ingin tetap menjalankan Gerobak Buku Langit Biru.
Dan ia ingin tetap menulis.
Namun, semakin lama ia memikirkannya, semakin ia sadar bahwa semua itu membutuhkan tenaga yang tidak sedikit.
Malam semakin larut.
Dari luar kamar, terdengar suara ayahnya berbicara pelan dengan ibunya tentang kebutuhan rumah.
Liris tidak mendengar semua kalimatnya.
Tetapi ia mendengar kata-kata tentang uang, hasil kebun, dan biaya sekolah.
Ia menutup buku catatan hijau.
Bukan karena ingin berhenti menulis.
Tetapi karena malam itu, ia merasa mimpinya sedang berhadapan dengan kenyataan yang tidak dapat diabaikan.
Di halaman majalah, namanya memang sudah tercetak.
Orang-orang mungkin mulai mengenalnya sebagai penulis muda dari desa.
Namun, di rumahnya sendiri, Liris masih harus membuktikan bahwa mimpinya tidak membuatnya melupakan keluarga.
Ia mematikan lampu meja.
Lalu berbaring sambil memeluk buku catatan hijau di dadanya.
Di dalam hati, ia berjanji akan mencari jalan.
Jalan agar ia tetap dapat menulis.
Jalan agar ia tetap dapat membantu rumah.
Jalan agar nama Liris Wanasari di majalah kota bukan menjadi akhir dari sebuah mimpi, melainkan awal dari perjuangan yang lebih panjang.
BAB 9 - BENGKEL DAN TANGAN YANG TERLUKA
Sore di Desa Wanasari selalu datang dengan cara yang hampir sama.
Matahari perlahan turun di balik deretan pohon karet. Jalan tanah di depan sekolah mulai lengang. Anak-anak kecil pulang sambil membawa tas yang tampak terlalu besar di punggung mereka. Dari kejauhan, suara burung terdengar bersahutan sebelum akhirnya digantikan oleh bunyi jangkrik.
Namun, bagi Banyu, sore tidak lagi berarti waktu untuk duduk di bawah pohon beringin atau membantu menjalankan Gerobak Buku Langit Biru.
Sejak beberapa minggu terakhir, sore adalah waktu untuk bekerja.
Begitu bel sekolah berbunyi, Banyu tidak langsung pulang. Ia berjalan cepat menuju sebuah bengkel sepeda motor kecil di pinggir jalan kecamatan. Bengkel itu tidak besar. Atapnya terbuat dari seng yang mulai kusam. Di bagian depan, terdapat papan nama sederhana yang bertuliskan:
BENGKEL MAJU JAYA
SERVIS MOTOR DAN SEPEDA
Di dalamnya, selalu ada bau oli, bensin, besi panas, dan karet ban.
Banyu sudah mulai mengenal bau itu.
Awalnya, ia hanya datang untuk melihat-lihat. Ia suka memperhatikan cara Pak Roni, pemilik bengkel, membongkar mesin sepeda motor. Ia senang melihat baut-baut kecil disusun dalam wadah. Ia tertarik pada suara mesin yang berubah setelah diperbaiki.
Baginya, mesin bukan hanya benda yang berisik.
Mesin adalah sesuatu yang dapat dipahami.
Jika ada yang rusak, pasti ada penyebabnya.
Jika ada yang macet, pasti ada bagian yang perlu dibersihkan.
Jika ada yang tidak berfungsi, mungkin ada cara sederhana untuk membuatnya kembali berjalan.
Itulah sebabnya Banyu ingin membuat alat pertanian sederhana.
Ia sering membayangkan alat pemotong rumput yang lebih ringan untuk warga desa. Ia juga membayangkan pompa air kecil yang dapat membantu kebun ketika musim kemarau datang. Ia ingin membuat sesuatu yang tidak mahal, mudah diperbaiki, dan bisa digunakan oleh petani di Desa Wanasari.
Namun, untuk membuat alat-alat itu, ia membutuhkan peralatan.
Tang.
Kunci pas.
Obeng.
Bor kecil.
Bahan-bahan bekas.
Dan semua itu membutuhkan uang.
Karena itulah ia bekerja di bengkel.
“Banyu, ambilkan kunci ukuran dua belas,” kata Pak Roni dari dekat motor yang sedang dibongkar.
“Iya, Pak.”
Banyu segera mengambil kunci yang diminta.
Tangannya sudah mulai terbiasa memegang alat-alat bengkel. Ia tahu tempat menyimpan obeng, kunci ring, kabel, baut, dan ban bekas. Ia juga sudah belajar membedakan suara mesin yang hanya perlu disetel dengan mesin yang harus dibongkar lebih jauh.
Pak Roni bukan orang yang banyak bicara. Namun, ia cukup sabar mengajari Banyu.
“Jangan buru-buru,” katanya suatu kali. “Mesin itu tidak suka tangan yang tergesa-gesa.”
Banyu selalu mengingat kalimat itu.
Ia bekerja setelah pulang sekolah sampai menjelang magrib. Upahnya tidak besar. Kadang hanya cukup untuk membeli makan atau menyimpan sedikit uang di dalam kaleng bekas biskuit di rumah.
Tetapi bagi Banyu, setiap lembar uang yang ia simpan terasa seperti bagian dari mimpi.
Mimpi untuk membeli peralatan.
Mimpi untuk membuat alat pertanian.
Mimpi untuk membuktikan bahwa anak desa tidak hanya bisa memakai barang buatan orang lain, tetapi juga bisa menciptakan sesuatu.
Suatu sore, bengkel lebih ramai daripada biasanya.
Seorang warga membawa sepeda motor yang rantainya lepas. Tidak lama kemudian, datang pula seorang petani dengan mesin pemotong rumput yang tidak bisa menyala. Di sudut bengkel, sebuah sepeda tua sedang menunggu diperbaiki.
Pak Roni tampak sibuk.
“Banyu, kau bantu bersihkan bagian mesin itu,” katanya sambil menunjuk mesin pemotong rumput.
“Yang ini, Pak?”
“Iya. Hati-hati. Jangan dekatkan tangan ke bagian pemutar sebelum mesinnya benar-benar mati.”
“Iya, Pak.”
Banyu mengangguk.
Ia mengambil kain lap dan mulai membersihkan bagian luar mesin. Mesin itu sudah tua. Banyak lumpur kering menempel di bawahnya. Beberapa bagian terlihat berkarat.
Banyu memeriksa kabel dan baut-baut kecil.
Ia membayangkan bagaimana mesin itu bekerja.
Ia membayangkan jika suatu hari ia dapat membuat mesin yang lebih ringan dan lebih aman untuk petani.
“Pak, kalau mesin ini dipasang roda kecil, apakah bisa lebih mudah didorong?” tanyanya.
Pak Roni menoleh sebentar.
“Bisa saja. Tapi harus dihitung dulu kekuatannya.”
“Kalau pakai rangka bekas sepeda?”
“Bisa. Tapi jangan asal pasang. Mesin itu punya getaran. Kalau rangkanya lemah, bisa lepas.”
Banyu mengangguk serius.
Ia menyimpan jawaban itu di dalam pikirannya.
Saat itulah salah satu pelanggan datang tergesa-gesa.
“Pak Roni, motor saya bisa selesai hari ini? Saya harus ke kecamatan sebelum malam.”
Pak Roni menghela napas.
“Sebentar lagi, Pak.”
Kemudian ia menoleh kepada Banyu.
“Banyu, tolong hidupkan mesin pemotong rumput itu sebentar. Saya mau dengar suaranya setelah dibersihkan.”
Banyu berdiri.
“Iya, Pak.”
Ia memeriksa bagian mesin seperti yang diajarkan Pak Roni. Ia menarik tali starter sekali.
Mesin belum menyala.
Ia menarik lagi.
Mesin batuk-batuk kecil.
Banyu mencoba untuk ketiga kalinya.
Kali ini mesin menyala dengan suara keras.
Banyu tersenyum.
Namun, suara mesin itu terdengar tidak stabil.
Seperti ada bagian yang bergetar terlalu kuat.
Banyu menunduk untuk melihat bagian bawah.
Ia ingin memastikan tidak ada baut yang longgar.
Pak Roni sedang sibuk melayani pelanggan lain.
“Banyu, jangan terlalu dekat!” teriaknya dari kejauhan.
Tetapi suara mesin terlalu keras.
Banyu tidak mendengar jelas.
Ia mencoba menahan rangka mesin dengan tangan kiri sambil memeriksa bagian pemutar.
Dalam sekejap, mesin bergetar lebih kuat.
Salah satu bagian logam bergerak cepat.
Tangan Banyu terkena sisi tajam yang berputar.
“Ah!”
Banyu menarik tangannya.
Mesin hampir jatuh ke samping.
Pak Roni segera berlari dan mematikan mesin.
“Astaga, Banyu!” katanya.
Banyu memegang tangan kirinya.
Darah mulai keluar dari bagian dekat telapak tangan.
Lukanya tidak terlalu dalam, tetapi cukup membuatnya merasa perih dan terkejut.
Pak Roni membawa Banyu ke dalam bengkel.
“Duduk!”
“Aku tidak apa-apa, Pak.”
“Jangan bilang tidak apa-apa kalau tanganmu berdarah.”
Pak Roni mengambil kotak obat dari lemari kecil. Ia membersihkan luka Banyu dengan cairan antiseptik.
Banyu menggigit bibir.
Rasa perih menjalar sampai ke lengan.
“Kau tidak dengar aku bilang jangan terlalu dekat?” tanya Pak Roni.
Banyu menunduk.
“Maaf, Pak. Aku ingin melihat bagian bawahnya.”
“Keinginan tahu itu bagus. Tapi kalau tidak hati-hati, bisa mencelakakan.”
“Iya, Pak.”
Pak Roni membalut tangan Banyu dengan kain kasa.
“Besok jangan kerja dulu.”
“Aku masih bisa, Pak.”
“Tidak.”
“Tapi—”
“Tidak ada tapi. Tanganmu harus istirahat.”
Banyu menatap balutan di tangannya.
Ia merasa malu.
Bukan hanya karena terluka.
Tetapi karena ia merasa ceroboh.
Ia ingin belajar mesin.
Ia ingin menjadi orang yang bisa membuat alat.
Namun, baru membantu di bengkel saja, ia sudah melukai dirinya sendiri.
Mungkin ia belum cukup mampu.
Mungkin ia terlalu banyak bermimpi.
Pak Roni seolah membaca pikirannya.
“Jangan merasa gagal,” katanya lebih pelan. “Orang belajar memang bisa salah. Yang penting, kau ingat kesalahanmu dan tidak mengulanginya.”
Banyu mengangguk.
Namun, kata-kata itu belum sepenuhnya menghapus rasa kecewa di dalam dirinya.
Menjelang magrib, Banyu pulang ke rumah.
Ia menutupi tangan kirinya dengan lengan baju seragam yang belum sempat diganti. Jalan menuju rumah terasa lebih panjang dari biasanya.
Di depan rumah, ibunya sedang menyiram tanaman.
“Kau pulang terlambat,” kata ibunya.
“Di bengkel ramai, Bu.”
“Kau sudah makan?”
“Belum.”
“Cuci tangan dulu. Ibu sudah masak.”
Banyu terdiam sesaat.
Ia tidak ingin ibunya melihat luka itu.
Jika ibunya tahu, mungkin ia akan melarangnya bekerja di bengkel.
Padahal, ia membutuhkan pekerjaan itu.
Ia membutuhkan uang untuk membeli peralatan.
“Aku mau mandi dulu,” katanya.
Ia segera masuk ke rumah dan menuju kamar.
Setelah pintu tertutup, ia membuka balutan dari Pak Roni sedikit.
Luka itu masih terasa perih.
Darahnya sudah berhenti, tetapi bagian kulit di dekat telapak tangan terlihat memerah.
Banyu mengambil kain bersih dan membalutnya kembali dengan lebih rapi.
Kemudian ia memakai baju lengan panjang.
Saat makan malam, ia menggunakan tangan kanan untuk mengambil nasi.
Ibunya memperhatikannya.
“Tangan kirimu kenapa tidak dipakai?”
“Tidak apa-apa, Bu. Tadi kena oli.”
Ibunya mengangguk, meski wajahnya tampak belum sepenuhnya percaya.
Banyu menunduk dan melanjutkan makan.
Ia tidak ingin membuat ibunya khawatir.
Ia juga tidak ingin mendengar nasihat untuk berhenti bekerja.
Ia tahu keluarganya tidak punya banyak uang.
Ia tahu jika ingin membeli peralatan, ia harus berusaha sendiri.
Keesokan harinya, Liris datang ke rumah Banyu.
Ia membawa beberapa buku dari Gerobak Buku Langit Biru yang harus dirapikan. Jagra menyusul beberapa saat kemudian, masih mengenakan sandal jepit dan celana yang bagian bawahnya terkena lumpur dari kolam ikan.
“Kau tidak ke bengkel?” tanya Jagra.
“Tidak hari ini,” jawab Banyu.
“Kenapa?” tanya Liris.
“Pak Roni sedang tidak terlalu ramai.”
Banyu menjawab cepat.
Terlalu cepat.
Liris memandangnya.
“Kau sakit?”
“Tidak.”
“Wajahmu pucat.”
“Aku hanya kurang tidur.”
Jagra duduk di teras.
“Kurang tidur karena memikirkan mesin lagi?”
Banyu tersenyum tipis.
“Mungkin.”
Liris memperhatikan tangan kiri Banyu yang terus ia sembunyikan di balik tubuhnya.
“Banyu,” katanya pelan. “Tanganmu kenapa?”
Banyu langsung menarik tangannya lebih dekat.
“Tidak kenapa-kenapa.”
“Kalau tidak kenapa-kenapa, kenapa kau sembunyikan?”
Banyu tidak menjawab.
Jagra ikut menoleh.
“Ada apa dengan tanganmu?”
Banyu berdiri.
“Aku mau ambil minum.”
Ia masuk ke dalam rumah.
Liris dan Jagra saling pandang.
Tidak lama kemudian, Banyu kembali membawa tiga gelas air.
Saat meletakkan gelas di meja, lengan bajunya tersingkap sedikit.
Balutan kain kasa terlihat di dekat telapak tangannya.
Liris langsung berdiri.
“Kau terluka!”
Banyu segera menarik lengan bajunya.
“Tidak parah.”
“Bagaimana bisa?”
“Di bengkel.”
Jagra menatapnya dengan wajah serius.
“Kenapa kau tidak bilang?”
“Untuk apa?”
“Karena kami sahabatmu,” kata Liris.
Banyu mengalihkan pandangan.
Ia tidak ingin mereka melihatnya sebagai anak yang tidak mampu menjaga diri.
Ia tidak ingin mereka merasa kasihan.
Ia tidak ingin Jagra berkata bahwa bekerja di bengkel terlalu berbahaya.
Ia tidak ingin Liris menatapnya dengan kekhawatiran.
“Aku hanya ceroboh,” katanya. “Tidak perlu dibesar-besarkan.”
Liris mendekat.
“Kami tidak membesar-besarkan. Kami hanya peduli.”
Banyu terdiam.
Jagra menghela napas.
“Kau selalu ingin terlihat kuat.”
“Aku tidak ingin terlihat lemah.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Setelah mengatakannya, Banyu langsung menunduk.
Liris tidak langsung menjawab.
Angin sore bergerak pelan di halaman.
Dari kejauhan, terdengar suara anak-anak kecil bermain.
“Apa menurutmu terluka itu berarti lemah?” tanya Liris akhirnya.
Banyu masih menunduk.
“Aku ingin membuat alat untuk petani. Aku ingin bisa membantu orang. Tapi baru bekerja di bengkel saja aku sudah melukai tangan sendiri.”
“Orang yang belajar memang bisa terluka,” kata Jagra. “Aku juga pernah kena duri ikan waktu membantu Ayah. Bukan berarti aku berhenti ke kolam.”
“Beda.”
“Tidak beda jauh,” jawab Jagra. “Kau sedang belajar.”
Liris duduk kembali di kursinya.
“Dan kalau kau punya mimpi, kau tidak harus menjalankannya sendirian.”
Banyu memandang mereka.
Liris melanjutkan, “Kau boleh bekerja. Kau boleh belajar mesin. Kau boleh punya rencana membuat alat pertanian. Tapi jangan menyembunyikan semuanya dari kami hanya karena takut dianggap lemah.”
Banyu menggenggam tangan kanannya.
Ia ingin membantah.
Namun, ia tahu Liris benar.
Sejak Rantaka pergi ke kota, banyak hal terasa berubah.
Gerobak Buku tidak lagi berjalan seperti dulu.
Mereka bertiga lebih sibuk dengan urusan masing-masing.
Kadang Banyu merasa jika ia tidak berusaha lebih keras, ia akan tertinggal.
Ia ingin punya sesuatu yang bisa dibanggakan.
Ia ingin membuktikan bahwa dirinya bukan hanya anak desa yang bekerja di bengkel.
“Aku hanya tidak ingin menjadi beban,” katanya pelan.
“Kau bukan beban,” kata Liris.
Jagra mengangguk.
“Kalau tanganmu belum sembuh, aku bisa bantu mengantar buku ke rumah-rumah anak kecil.”
“Aku juga,” kata Liris. “Kita bisa atur Gerobak Buku beberapa hari lagi.”
Banyu menatap balutan di tangannya.
Untuk pertama kalinya sejak terluka, rasa perih di tangan itu tidak terasa sendirian.
Namun, ia belum benar-benar siap menceritakan semuanya.
Ia belum ingin mereka tahu betapa takutnya ia saat mesin itu berputar.
Ia belum ingin mereka tahu bahwa ia sempat berpikir mimpinya mungkin terlalu besar.
“Terima kasih,” katanya.
Liris tersenyum.
“Besok jangan ke bengkel dulu.”
Banyu mengangguk.
“Pak Roni juga bilang begitu.”
Jagra tertawa kecil.
“Berarti untuk sekali ini, kau harus mendengarkan dua orang sekaligus.”
Banyu ikut tersenyum.
Sore itu, mereka tidak membuka Gerobak Buku.
Mereka hanya duduk di teras rumah Banyu, membicarakan buku-buku yang perlu diperbaiki, anak-anak yang mulai bertanya kapan gerobak akan berjalan lagi, dan kabar dari Rantaka di kota.
Namun, di dalam hati Banyu, ada sesuatu yang mulai berubah.
Ia masih ingin bekerja di bengkel.
Ia masih ingin mengumpulkan uang.
Ia masih ingin membuat alat pertanian sederhana.
Ia masih ingin membuktikan bahwa anak desa juga bisa menciptakan sesuatu.
Tetapi ia mulai mengerti bahwa menjadi kuat bukan berarti selalu menyembunyikan luka.
Menjadi kuat juga berarti berani mengakui bahwa dirinya membutuhkan orang lain.
Malamnya, Banyu membuka kaleng bekas biskuit yang ia simpan di bawah tempat tidur.
Di dalamnya, ada beberapa lembar uang hasil bekerja di bengkel.
Jumlahnya belum banyak.
Masih jauh dari cukup untuk membeli peralatan yang ia inginkan.
Namun, Banyu tidak menutup kaleng itu dengan kecewa.
Ia memasukkan satu lembar kertas kecil ke dalamnya.
Di kertas itu, ia menulis:
Alat pertanian sederhana untuk Desa Wanasari.
Belajar pelan-pelan. Jangan terburu-buru. Jangan menyerah.
Ia menutup kaleng itu kembali.
Tangan kirinya masih terasa perih.
Tetapi di dalam dadanya, mimpi itu belum padam.
Mimpi itu justru mulai tumbuh dengan cara yang lebih hati-hati.
BAB 10 - JAGRA YANG TETAP TINGGAL
Pagi di Desa Wanasari belum benar-benar terang ketika Jagra sudah berdiri di tepi kolam ikan.
Kabut masih menggantung rendah di atas permukaan air. Rumput-rumput di pinggir kolam basah oleh embun. Dari kejauhan, suara ayam dan burung kecil bersahutan, sementara air kolam bergerak pelan ketika ikan-ikan mendekati tempat pakan.
Jagra membawa ember berisi pelet.
Di belakangnya, ayahnya sedang memeriksa jaring yang dipasang di salah satu sisi kolam.
“Jangan terlalu banyak,” kata ayahnya tanpa menoleh. “Kalau kebanyakan, air cepat kotor.”
“Iya, Yah.”
Jagra menaburkan pakan sedikit demi sedikit.
Ikan-ikan bergerak mendekat. Riak kecil muncul di permukaan air. Pemandangan itu sudah sangat biasa baginya. Sejak kecil, ia sering ikut ayahnya ke kolam. Kadang hanya untuk melihat. Kadang untuk membawa ember. Kadang untuk membantu membersihkan pinggiran kolam.
Dulu, Jagra merasa kolam ikan adalah tempat yang menyenangkan.
Ia suka melihat ikan-ikan kecil tumbuh besar.
Ia suka mendengar ayahnya menjelaskan cara menjaga air agar tidak terlalu keruh.
Ia suka ketika panen tiba dan warga datang membantu mengangkat jaring.
Namun, sejak Rantaka pergi ke kota, perasaan Jagra terhadap kolam itu perlahan berubah.
Kolam yang dulu terasa seperti bagian dari rumah, kini kadang terasa seperti alasan mengapa ia tidak bisa pergi ke mana-mana.
“Jagra,” panggil ayahnya.
“Iya?”
“Setelah sekolah nanti, kau bantu Ayah memperbaiki saluran air di belakang.”
“Baik, Yah.”
“Ada pipa yang bocor. Kalau dibiarkan, airnya terus berkurang.”
Jagra mengangguk.
Ia ingin berkata bahwa sore ini ia mungkin ingin bertemu Liris dan Banyu. Ia ingin ikut mengurus Gerobak Buku. Ia ingin duduk di bawah pohon beringin seperti dulu.
Tetapi kata-kata itu tidak keluar.
Ia tahu ayahnya membutuhkan bantuan.
Usaha perikanan keluarga mereka bukan usaha besar. Kolam-kolam itu menjadi sumber penghasilan utama. Jika air berkurang, ikan bisa sakit. Jika ikan sakit, panen gagal. Jika panen gagal, rumah mereka akan kesulitan.
Jagra memahami semua itu.
Namun, memahami tidak selalu membuat hati terasa ringan.
Di sekolah, Jagra duduk di bangkunya sambil menatap halaman buku pelajaran.
Guru sedang menjelaskan materi tentang cita-cita dan pekerjaan di masa depan. Beberapa teman diminta menyebutkan pekerjaan yang ingin mereka lakukan setelah lulus sekolah.
“Ada yang ingin menjadi guru?” tanya guru.
Beberapa tangan terangkat.
“Ada yang ingin menjadi perawat?”
Tangan lain terangkat.
“Polisi?”
“Dokter?”
“Pengusaha?”
Suara siswa memenuhi kelas.
Ketika giliran Jagra, guru menatapnya.
“Kalau kamu, Jagra? Kamu ingin menjadi apa?”
Jagra terdiam.
Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Dulu, ia mungkin akan berkata ingin menjadi nelayan sungai seperti pamannya, atau ingin membantu ayahnya mengembangkan kolam ikan. Namun, setelah melihat Rantaka berangkat ke kota dengan beasiswa, setelah mendengar nama Liris dimuat di majalah kabupaten, dan setelah mengetahui Banyu bekerja sambil mengumpulkan uang untuk membuat alat pertanian, jawaban itu terasa kecil.
Ia merasa cita-citanya tidak cukup besar.
“Aku…” Jagra berhenti.
Beberapa siswa menoleh.
“Aku ingin punya usaha ikan yang besar,” katanya akhirnya. “Supaya bisa membantu banyak orang di desa.”
Guru tersenyum.
“Itu cita-cita yang baik.”
Namun, Jagra tidak merasa bangga.
Ia justru merasa seperti sedang menjawab sesuatu yang sudah ditentukan oleh keadaan.
Seolah-olah karena ia tinggal di desa, maka ia hanya boleh bermimpi tentang desa.
Seolah-olah anak yang membantu kolam ikan tidak boleh memiliki mimpi lain.
Saat jam istirahat, Jagra duduk sendirian di bawah pohon dekat lapangan sekolah.
Ia mengeluarkan surat dari Rantaka yang sudah beberapa kali ia baca.
Di dalam surat itu, Rantaka menceritakan tentang Kota Arunika, sekolah yang besar, rumah singgah, serta pekerjaan malamnya di warung makan. Rantaka memang tidak menulis bahwa hidupnya mudah. Justru sebaliknya, ia menulis bahwa kota membuatnya sering lelah dan rindu desa.
Tetapi bagi Jagra, kota tetap tampak seperti tempat yang membuka banyak kemungkinan.
Di kota, Rantaka bisa belajar di sekolah yang lebih lengkap.
Di kota, ada perpustakaan.
Ada tempat kursus.
Ada banyak orang yang mungkin dapat membantu seseorang mengejar cita-cita.
Sementara di Desa Wanasari, Jagra merasa hari-harinya selalu berputar di tempat yang sama.
Sekolah.
Kolam ikan.
Rumah.
Sekolah.
Kolam ikan.
Rumah.
Ia melipat surat itu kembali.
Lalu menatap lapangan sekolah yang mulai ramai oleh anak-anak bermain.
“Kenapa kau sendirian?” suara Liris terdengar dari sampingnya.
Jagra menoleh.
Liris membawa buku catatan hijau di dada. Wajahnya tampak sedikit lelah, tetapi matanya tetap tenang seperti biasa.
“Tidak apa-apa,” jawab Jagra.
Liris duduk tidak jauh darinya.
“Kau sedang membaca surat Rantaka?”
“Iya.”
“Ada kabar baru?”
“Tidak banyak. Dia bilang pekerjaan malamnya melelahkan.”
“Dia selalu bilang baik-baik saja, padahal mungkin tidak.”
Jagra tersenyum tipis.
“Itu memang Rantaka.”
Liris memandang ke arah lapangan.
“Banyu juga tidak masuk hari ini. Tangannya masih sakit.”
“Katanya cuma luka kecil.”
“Tapi dia tetap harus istirahat.”
Jagra mengangguk.
Untuk beberapa saat, mereka diam.
Kemudian Liris berkata, “Kau kelihatan seperti sedang memikirkan sesuatu.”
Jagra menarik napas.
“Lis, menurutmu, kalau kita tetap tinggal di desa, apakah kita bisa punya masa depan besar?”
Liris menoleh.
“Kenapa kau bertanya begitu?”
“Rantaka pergi ke kota. Kau puisimu masuk majalah. Banyu sudah punya pekerjaan dan punya rencana membuat alat pertanian. Sementara aku…”
“Kau membantu kolam ikan keluargamu.”
“Ya. Itu saja.”
Liris tidak langsung menjawab.
Jagra melanjutkan, “Kadang aku merasa semua orang bergerak maju. Aku saja yang tetap di sini.”
“Jagra,” kata Liris pelan, “tinggal di desa bukan berarti tidak bergerak.”
“Tapi aku merasa begitu.”
“Karena kau melihat langkah orang lain dari jauh.”
Jagra menatap tanah.
“Aku tidak tahu apa yang bisa kubanggakan.”
Liris membuka buku catatan hijaunya.
“Aku menulis puisi, tetapi aku juga harus membantu Ibu membungkus kue sampai malam. Rantaka tinggal di kota, tetapi ia harus bekerja di warung makan. Banyu bekerja di bengkel, tetapi tangannya terluka. Tidak ada yang benar-benar berjalan tanpa kesulitan.”
“Itu berbeda.”
“Berbeda, tetapi bukan berarti lebih tinggi atau lebih rendah.”
Jagra menghela napas.
Liris menutup bukunya.
“Kau tahu banyak hal tentang ikan, air, kolam, dan cara hidup di desa. Itu bukan hal kecil. Banyak orang di kota mungkin tidak tahu bagaimana menjaga ikan agar tidak mati ketika air berubah. Banyak orang tidak tahu bagaimana panen bisa gagal hanya karena saluran air bocor.”
Jagra diam.
“Kalau suatu hari kau bisa membuat usaha perikanan yang lebih baik,” lanjut Liris, “kau tidak hanya membantu keluargamu. Kau bisa membantu warga lain juga.”
“Kedengarannya mudah saat kau yang mengatakan.”
“Tidak mudah,” jawab Liris. “Tetapi bukan berarti tidak mungkin.”
Bel sekolah berbunyi.
Liris berdiri.
“Kita masuk, yuk.”
Jagra mengangguk, tetapi pikirannya belum benar-benar tenang.
Sepulang sekolah, Jagra tidak langsung menuju rumah.
Ia berjalan ke arah pohon beringin di dekat lapangan SD Wanasari.
Gerobak Buku Langit Biru terparkir di bawah pohon. Cat birunya mulai pudar di beberapa bagian. Roda sebelah kiri tampak sedikit miring. Di atasnya, beberapa buku tersusun tidak serapi dulu.
Dulu, hampir setiap sore mereka berkumpul di sana.
Rantaka mengatur buku.
Liris membacakan puisi.
Banyu memperbaiki roda gerobak atau membuat rak kecil dari kayu bekas.
Jagra mengajak anak-anak bermain sambil belajar.
Sekarang, semuanya berubah.
Rantaka berada di kota.
Liris semakin sibuk membantu ibunya.
Banyu bekerja di bengkel.
Dan Jagra harus membantu ayahnya di kolam.
Ia berdiri di depan gerobak itu cukup lama.
Kemudian seorang anak kecil bernama Dito datang membawa buku tulis.
“Kak Jagra, Gerobak Buku kapan buka lagi?”
Jagra menatapnya.
“Sebentar lagi, Dit.”
“Kenapa sekarang jarang?”
Jagra tidak tahu harus menjawab apa.
Ia ingin berkata bahwa mereka semua sibuk.
Ia ingin berkata bahwa hidup menjadi lebih sulit ketika mulai beranjak remaja.
Ia ingin berkata bahwa kadang seseorang ingin membantu banyak hal, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana.
Namun, Dito hanya anak kecil.
Ia hanya ingin membaca buku.
“Kakak-kakak lagi banyak urusan,” jawab Jagra akhirnya.
Dito mengangguk, meski wajahnya tampak kecewa.
“Kalau sudah buka, panggil aku, ya.”
“Iya.”
Dito pergi.
Jagra memandangi punggung anak itu sampai menghilang di ujung jalan.
Kemudian ia melihat roda gerobak yang miring.
Ia berjongkok dan mencoba menggerakkannya.
Roda itu berbunyi pelan.
Mungkin perlu diperbaiki.
Mungkin Banyu bisa membantu jika tangannya sudah sembuh.
Namun, Jagra tiba-tiba berpikir bahwa ia juga bisa belajar memperbaikinya.
Ia tidak harus selalu menunggu orang lain.
Ia mengambil sebuah batu kecil dan menahan roda agar tidak bergerak. Lalu ia memeriksa baut yang longgar.
Tangannya kotor oleh debu dan tanah.
Tetapi ia terus mencoba.
Tidak lama kemudian, Banyu datang dari arah jalan desa.
Tangan kirinya masih dibalut kain kasa.
“Kau sedang apa?” tanyanya.
“Memeriksa roda gerobak.”
“Rusak?”
“Longgar.”
Banyu mendekat dan berjongkok.
“Kau punya kunci?”
“Tidak.”
Banyu mengeluarkan kunci kecil dari saku celananya.
“Aku bawa ini.”
“Kau masih kerja?”
“Tidak. Pak Roni menyuruhku istirahat. Tapi aku tidak bisa diam saja di rumah.”
Jagra tersenyum tipis.
Banyu membantu memeriksa roda gerobak menggunakan tangan kanannya.
“Bautnya tidak hilang,” katanya. “Hanya perlu dikencangkan.”
Jagra memperhatikan cara Banyu bekerja.
“Banyu,” katanya tiba-tiba, “menurutmu aku tertinggal?”
Banyu berhenti sejenak.
“Maksudmu?”
“Rantaka di kota. Liris mulai dikenal. Kau kerja di bengkel. Aku tetap di sini, mengurus kolam.”
Banyu menatapnya.
“Kau pikir aku tidak pernah merasa tertinggal?”
Jagra terdiam.
Banyu melanjutkan, “Aku bekerja di bengkel karena aku belum punya peralatan. Aku ingin membuat alat pertanian, tapi sekarang bahkan tanganku terluka. Kadang aku juga merasa orang lain lebih jauh dariku.”
“Lalu kenapa kau tetap bekerja?”
“Karena kalau aku berhenti, aku tidak akan pernah tahu apakah aku bisa.”
Jagra menatap roda gerobak.
Banyu mengencangkan baut terakhir.
“Kau juga begitu,” kata Banyu. “Kalau kau ingin usaha ikan keluargamu lebih baik, kau harus belajar. Bukan hanya membantu memberi pakan.”
“Belajar dari mana?”
“Dari ayahmu dulu. Dari warga. Dari buku. Dari orang yang pernah gagal. Dari mana saja.”
Jagra tidak menjawab.
Banyu berdiri perlahan.
“Dan jangan menganggap tinggal di desa itu berarti kalah. Desa juga butuh orang yang mau membangunnya.”
Kata-kata itu tinggal di kepala Jagra.
Sore menjelang malam, Jagra akhirnya pergi ke kolam ikan.
Ayahnya sudah berada di sana, sedang memeriksa saluran air yang bocor.
“Kau terlambat,” kata ayahnya.
“Maaf, Yah.”
“Ambilkan pipa itu.”
Jagra mengambil pipa yang diminta.
Mereka bekerja dalam diam.
Ayahnya menggali tanah di sekitar saluran. Jagra membantu mengangkat tanah yang basah. Setelah itu, mereka mengganti bagian pipa yang retak.
Tangan Jagra penuh lumpur.
Kakinya masuk ke tanah yang lembek.
Namun, kali ini ia tidak langsung merasa kesal.
Ia memperhatikan cara ayahnya menyambung pipa.
Cara ayahnya mengatur aliran air.
Cara ayahnya memeriksa warna air kolam.
“Ayah,” kata Jagra.
“Hm?”
“Kalau kolam ini ingin dibuat lebih besar, apa yang paling sulit?”
Ayahnya berhenti bekerja.
“Kenapa bertanya begitu?”
“Aku hanya ingin tahu.”
Ayahnya menatap permukaan kolam.
“Yang sulit bukan hanya membuat kolam lebih besar. Yang sulit adalah menjaga air, pakan, modal, dan pasar. Kalau ikan banyak tetapi tidak ada yang membeli, kita rugi. Kalau air rusak, ikan mati. Kalau pakan mahal, hasil panen tidak cukup.”
Jagra mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
“Berarti banyak yang harus dipelajari.”
“Banyak,” jawab ayahnya. “Kenapa? Kau mau belajar?”
Jagra menatap ayahnya.
Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa pertanyaan itu sebagai beban.
Ia justru merasa seperti sedang diberi pintu.
“Iya, Yah,” katanya. “Aku mau belajar.”
Ayahnya tidak tersenyum lebar.
Namun, wajahnya tampak sedikit lebih ringan.
“Kalau begitu, jangan hanya datang saat disuruh. Mulai besok, kau ikut Ayah menghitung pakan dan melihat catatan panen.”
Jagra mengangguk.
“Baik.”
Matahari sudah hampir tenggelam.
Langit di atas kolam berubah jingga.
Permukaan air memantulkan warna sore yang perlahan memudar.
Jagra berdiri di tepi kolam dengan kaki berlumpur dan tangan kotor.
Ia masih belum memiliki jawaban pasti tentang masa depannya.
Ia masih kadang merasa tertinggal ketika membayangkan Rantaka di kota, Liris dengan puisinya, dan Banyu dengan alat-alat bengkel.
Namun, sore itu ia mulai memahami sesuatu.
Masa depan tidak selalu dimulai dari tempat yang jauh.
Kadang, masa depan dimulai dari kolam kecil di belakang rumah.
Dari pipa yang bocor.
Dari catatan pakan.
Dari keberanian untuk belajar hal yang selama ini dianggap biasa.
Jagra menatap air kolam yang bergerak pelan.
Ia belum pergi ke kota.
Ia belum dikenal banyak orang.
Ia belum memiliki pekerjaan sendiri.
Tetapi ia tidak ingin lagi menganggap dirinya hanya sebagai anak yang tertinggal.
Ia adalah Jagra dari Desa Wanasari.
Dan mungkin, tinggal bukan berarti diam.
Mungkin, tinggal adalah cara lain untuk memulai perjalanan.
BAB 11 - PESAN YANG SALAH DIBACA
Malam di Kota Arunika selalu terasa lebih panjang bagi Rantaka.
Setelah pulang sekolah, ia tidak langsung kembali ke rumah singgah untuk beristirahat. Ia mengganti seragamnya dengan kaus sederhana, lalu berjalan menuju warung makan tempat ia bekerja. Warung itu berada di dekat jalan raya, tidak jauh dari terminal kecil yang selalu ramai oleh angkutan kota, truk pengangkut barang, dan orang-orang yang datang atau pergi tanpa sempat saling mengenal.
Lampu warung menyala terang.
Di depan, beberapa meja plastik sudah dipenuhi pelanggan. Ada sopir yang baru berhenti untuk makan malam. Ada pekerja bangunan yang datang bersama teman-temannya. Ada mahasiswa yang duduk lama sambil berbicara tentang tugas kuliah. Dari dapur, suara wajan, piring, dan sendok terus terdengar.
“Rantaka, meja nomor tiga belum dibersihkan,” panggil Bu Sari, pemilik warung.
“Iya, Bu.”
Rantaka segera mengambil lap.
Tangannya bergerak cepat membersihkan sisa makanan, mengangkat gelas, lalu menyusun kursi yang bergeser. Setelah itu ia membawa pesanan ke meja lain, mengisi air minum, dan membantu mencuci piring ketika dapur mulai terlalu penuh.
Malam itu pelanggan lebih banyak daripada biasanya.
Hujan turun sejak petang. Banyak orang memilih berhenti dan makan sebelum melanjutkan perjalanan. Warung menjadi semakin ramai. Lantai dekat pintu masuk basah oleh jejak sandal dan sepatu. Uap dari dapur membuat udara terasa hangat dan sesak.
Rantaka bekerja tanpa banyak bicara.
Tubuhnya sudah lelah sejak siang.
Pelajaran matematika di sekolah terasa sulit karena ia beberapa kali mengantuk. Saat guru menjelaskan rumus di papan tulis, kepalanya sempat terasa berat. Ia berusaha mencatat semua yang ditulis, tetapi beberapa angka seperti bergerak sendiri di hadapannya.
Namun, ia tidak punya banyak pilihan.
Ia membutuhkan pekerjaan itu.
Uang beasiswanya tidak cukup untuk semua kebutuhan. Ada buku pelajaran, kebutuhan rumah singgah, ongkos kecil untuk keperluan sekolah, dan biaya lain yang sering datang tanpa diduga.
Maka malam demi malam, ia tetap bekerja.
Meski lelah.
Meski rindu desa.
Meski kadang ia hanya ingin duduk diam di bawah pohon beringin bersama Liris, Banyu, dan Jagra.
Sekitar pukul sembilan malam, saat warung mulai sedikit lengang, Bu Sari memanggilnya dari dekat meja kasir.
“Rantaka, tadi ada surat untukmu.”
Rantaka menoleh.
“Surat?”
“Iya. Ada petugas pengantar yang menitipkannya siang tadi. Ibu simpan supaya tidak basah.”
Bu Sari mengambil sebuah amplop dari laci meja kasir.
Amplop itu berwarna putih kusam. Sudutnya sedikit terlipat. Di bagian depan tertulis namanya dengan tulisan tangan yang langsung ia kenali.
Untuk Rantaka
Rumah Singgah Pelajar Harapan
Kota Arunika
Di sudut kiri atas, tertulis nama pengirim.
Liris
Desa Wanasari
Rantaka menerima surat itu dengan tangan yang tiba-tiba terasa lebih ringan.
Untuk sesaat, suara warung seperti menjauh.
Ia memandangi tulisan Liris di amplop tersebut.
Sudah berapa lama ia menunggu surat darinya?
Setelah telepon umum di sudut pasar, Rantaka berharap Liris akan menulis lagi. Ia sendiri sudah mengirim surat beberapa hari sebelumnya. Dalam surat itu, ia menceritakan bahwa ia mulai bekerja malam di warung makan, bahwa sekolah di kota semakin sulit, dan bahwa ia masih memikirkan Gerobak Buku Langit Biru.
Namun, balasan dari Liris tidak kunjung datang.
Hari berganti hari.
Setiap sore, ketika pulang sekolah, ia sering bertanya kepada penjaga rumah singgah apakah ada surat untuknya.
Jawabannya selalu sama.
“Belum ada.”
Lama-kelamaan, Rantaka mulai berpikir macam-macam.
Mungkin Liris terlalu sibuk.
Mungkin Liris tidak sempat menulis.
Mungkin Liris sudah tidak ingin bercerita seperti dulu.
Mungkin jarak memang membuat seseorang perlahan-lahan menjadi asing.
Kini surat itu ada di tangannya.
Tetapi Rantaka belum bisa langsung membacanya.
“Baca saja,” kata Bu Sari. “Warung sudah tidak terlalu ramai.”
Rantaka mengangguk.
Ia membawa surat itu ke bagian belakang warung, dekat pintu kecil yang mengarah ke tempat mencuci piring. Di sana ada bangku kayu pendek. Ia duduk sambil mengusap tangannya pada celana.
Tangannya masih berbau sabun dan minyak goreng.
Ia membuka amplop itu perlahan.
Di dalamnya ada dua lembar kertas.
Tulisan Liris memenuhi halaman pertama dengan rapi.
Rantaka menarik napas sebelum mulai membaca.
Rantaka,
Maaf surat ini baru kukirim. Beberapa hari terakhir Ibu banyak menerima pesanan kue, jadi aku lebih sering membantu di rumah. Aku juga harus mengurus beberapa buku Gerobak Buku yang mulai rusak dan membantu Jagra menata buku-buku yang berdebu.
Aku sering memikirkanmu di kota. Bukan hanya karena kau jauh, tetapi karena aku membayangkan kau harus menjalani banyak hal sendiri. Aku ingat kau pernah berkata bahwa kota tampak besar dan ramai, tetapi kadang membuatmu merasa sendirian.
Aku berharap kau tetap kuat. Jangan terlalu memaksakan diri. Kalau kau lelah, ingatlah bahwa di Desa Wanasari masih ada orang-orang yang mengingatmu.
Aku ingin sekali membalas suratmu lebih cepat. Tetapi kadang aku tidak tahu harus menulis apa. Hidup di desa tetap berjalan seperti biasa, tetapi banyak hal berubah sejak kau pergi. Gerobak Buku masih ada, tetapi tidak seramai dulu. Banyu sibuk di bengkel. Jagra semakin sering membantu ayahnya di kolam. Aku juga mulai membantu Ibu lebih banyak.
Kadang aku merasa kita semua sedang berjalan ke arah yang berbeda. Aku tidak tahu apakah suatu hari nanti kita masih bisa berkumpul seperti dulu.
Jaga dirimu.
Liris
Rantaka membaca surat itu sekali.
Lalu dua kali.
Kemudian ia membacanya lagi, lebih pelan.
Pada awalnya, dadanya terasa hangat ketika membaca kalimat, Aku sering memikirkanmu di kota.
Namun, semakin lama ia membaca, semakin banyak kata yang terasa berbeda di kepalanya.
Kadang aku tidak tahu harus menulis apa.
Banyak hal berubah sejak kau pergi.
Kita semua sedang berjalan ke arah yang berbeda.
Aku tidak tahu apakah suatu hari nanti kita masih bisa berkumpul seperti dulu.
Rantaka menunduk.
Kertas surat itu masih berada di tangannya.
Ia tahu Liris tidak menulis bahwa ia ingin menjauh.
Ia tahu Liris mungkin hanya sedang jujur tentang keadaan di desa.
Namun, malam itu tubuh Rantaka terlalu lelah untuk memahami semuanya dengan tenang.
Seharian ia menahan kantuk di kelas.
Malamnya ia bekerja tanpa henti.
Di dalam kepalanya, ada kekhawatiran tentang nilai sekolah, uang yang semakin sedikit, dan pekerjaan yang harus dijalani lagi besok malam.
Maka kalimat-kalimat Liris yang seharusnya menjadi penguat justru berubah menjadi sesuatu yang membuatnya takut.
Kadang aku tidak tahu harus menulis apa.
Apakah itu berarti Liris tidak lagi ingin bercerita dengannya?
Banyak hal berubah sejak kau pergi.
Apakah itu berarti keberadaannya sudah tidak penting lagi bagi mereka?
Kita semua sedang berjalan ke arah yang berbeda.
Apakah itu berarti Liris sudah mulai menerima bahwa mereka tidak akan sedekat dulu?
Rantaka melipat surat itu perlahan.
Ia merasa ada sesuatu yang sesak di dalam dada.
Bukan marah.
Bukan juga kecewa sepenuhnya.
Lebih seperti rasa takut kehilangan tempat pulang.
Bu Sari datang membawa beberapa piring kotor.
“Kau sudah baca suratnya?” tanyanya.
Rantaka mengangguk.
“Dari rumah?”
“Dari sahabat di desa.”
“Bagus, kan? Pasti mereka rindu.”
Rantaka berusaha tersenyum.
“Mungkin.”
Bu Sari menatapnya sebentar.
“Kau kelihatan tidak senang.”
“Tidak apa-apa, Bu.”
“Kau capek?”
“Iya.”
Bu Sari tidak bertanya lagi.
Ia kembali ke dapur.
Rantaka memasukkan surat itu ke saku baju.
Lalu kembali bekerja.
Namun, sejak saat itu, pikirannya tidak lagi berada di warung.
Saat mengantar makanan, ia teringat kalimat Liris.
Saat mencuci piring, ia teringat kalimat Liris.
Saat menyapu lantai, ia kembali memikirkan apakah Liris sebenarnya sudah mulai menjauh.
Ia ingin langsung membalas surat itu.
Ia ingin menulis bahwa ia juga sering memikirkan Liris.
Ia ingin bertanya mengapa suratnya terlambat.
Ia ingin bertanya apakah Liris masih menganggapnya sahabat seperti dulu.
Tetapi ia juga takut jawaban yang akan diterimanya.
Akhirnya, malam itu ia tidak menulis apa-apa.
Ketika Rantaka pulang ke rumah singgah, jam sudah hampir menunjukkan pukul sebelas malam.
Rumah itu sudah sepi.
Lampu ruang tamu dimatikan. Hanya lampu kecil di lorong yang masih menyala. Dari beberapa kamar, terdengar suara napas orang-orang yang sudah tertidur.
Rantaka masuk ke kamarnya.
Damar sudah tidur di ranjang sebelah.
Tas sekolah Rantaka tergeletak di bawah meja. Buku-buku pelajaran masih terbuka, menunggu dibaca. Namun, ia tidak memiliki tenaga untuk belajar.
Ia duduk di tepi tempat tidur.
Lalu mengeluarkan surat Liris dari saku.
Kertas itu sudah sedikit kusut karena tersimpan selama ia bekerja.
Rantaka membukanya kembali.
Kali ini, ia mencoba membaca dengan lebih tenang.
Ia berhenti pada kalimat:
Aku sering memikirkanmu di kota.
Kalimat itu seharusnya cukup membuatnya merasa bahagia.
Tetapi kemudian matanya kembali jatuh pada bagian lain.
Kadang aku tidak tahu harus menulis apa.
Rantaka memejamkan mata.
Mungkin Liris memang sibuk.
Mungkin ia membantu ibunya.
Mungkin Gerobak Buku benar-benar membutuhkan perhatian.
Mungkin surat itu terlambat karena perjalanan dari desa ke kota memang tidak mudah.
Namun, hati Rantaka tidak sepenuhnya mau menerima penjelasan itu.
Ia merasa seperti seseorang yang berdiri di tepi sungai saat air mulai naik.
Ia tahu belum tentu ada bahaya.
Tetapi ia tidak bisa berhenti membayangkan bahwa air itu akan menenggelamkannya.
“Belum tidur?” suara Damar terdengar pelan dari ranjang sebelah.
Rantaka menoleh.
“Kau belum tidur juga?”
“Baru bangun sebentar. Kau pulang lama.”
“Warung ramai.”
Damar duduk dan mengusap wajahnya.
“Kau dapat surat?”
Rantaka mengangguk.
“Dari Liris.”
“Bagus. Kau senang?”
Rantaka terdiam cukup lama.
“Aku tidak tahu.”
Damar memandangnya.
“Kenapa?”
“Dia bilang banyak hal berubah di desa. Dia bilang kami semua berjalan ke arah yang berbeda.”
Damar tidak langsung menjawab.
Rantaka melanjutkan, “Mungkin dia sudah tidak ingin dekat seperti dulu.”
“Dia menulis begitu?”
“Tidak persis.”
“Lalu?”
“Entahlah.”
Damar menghela napas pelan.
“Kau sedang lelah, Rantaka.”
“Aku tahu.”
“Kalau sedang lelah, kadang kita membaca kata-kata biasa seperti sesuatu yang menyakitkan.”
Rantaka menatap surat itu.
“Bagaimana kalau aku salah?”
“Bisa saja.”
“Bagaimana kalau aku benar?”
“Kalau kau tidak bertanya, kau tidak akan tahu.”
Rantaka tidak menjawab.
Damar berbaring kembali.
“Jangan membalas surat saat kau sedang marah atau sedih,” katanya sebelum memejamkan mata. “Tidur dulu. Besok baca lagi.”
Rantaka memandang punggung Damar.
Nasihat itu sederhana.
Namun, malam itu ia belum mampu melakukannya.
Ia menyimpan surat Liris di dalam buku catatan.
Lalu mematikan lampu.
Di dalam gelap, suara kendaraan dari jalan raya masih terdengar samar.
Kota Arunika belum tidur.
Namun, Rantaka justru merasa semakin sendiri.
Ia teringat telepon umum di sudut pasar.
Ia teringat suara Liris yang sempat terputus.
Ia teringat bagaimana sambungan mereka berhenti sebelum ia sempat mengatakan banyak hal.
Mungkin surat ini juga seperti telepon itu.
Ada kata-kata yang sampai.
Ada kata-kata yang hilang di tengah jalan.
Ada perasaan yang ingin disampaikan, tetapi tidak sepenuhnya terbaca oleh orang yang menerimanya.
Pagi berikutnya, sebelum berangkat sekolah, Rantaka membuka surat itu sekali lagi.
Ia membaca bagian terakhir.
Jaga dirimu.
Liris
Ia menggenggam kertas itu cukup lama.
Kemudian ia memasukkannya kembali ke dalam buku catatan.
Ia belum menulis balasan.
Ia belum bertanya langsung kepada Liris.
Ia belum mampu mengatakan bahwa surat itu membuatnya rindu sekaligus takut.
Namun, sejak pagi itu, ada sesuatu yang mulai tumbuh di dalam dirinya.
Sebuah kesalahpahaman kecil.
Belum cukup besar untuk disebut pertengkaran.
Belum cukup jelas untuk diucapkan.
Tetapi cukup kuat untuk membuat Rantaka mulai menjaga jarak dalam pikirannya sendiri.
Ia berjalan menuju sekolah dengan tas di punggung dan surat Liris tersimpan di antara buku-bukunya.
Di luar, Kota Arunika kembali ramai seperti biasa.
Namun, di dalam dirinya, sebuah pesan yang sebenarnya penuh perhatian telah berubah menjadi pertanyaan yang tidak berhenti mengganggu.
Apakah Liris masih menunggunya?
Ataukah jarak telah mulai membawa mereka ke jalan yang berbeda?
BAB 12 - NILAI YANG MULAI TURUN
Pagi di Kota Arunika datang terlalu cepat bagi Rantaka.
Langit di luar jendela rumah singgah masih berwarna kelabu ketika suara alarm dari ponsel Damar berbunyi. Bunyi itu pendek, tetapi cukup untuk memecah sisa tidur yang belum benar-benar nyenyak.
Rantaka membuka mata perlahan.
Tubuhnya terasa berat.
Kedua kakinya masih pegal karena semalam ia berdiri cukup lama di warung makan. Tangannya masih seperti menyimpan bau sabun cuci piring dan minyak goreng, meskipun sebelum tidur ia sudah membasuhnya berkali-kali.
Ia menoleh ke arah jam dinding.
Pukul lima lewat sepuluh menit.
“Bangun,” kata Damar sambil duduk di ranjang sebelah. “Kalau terlambat lagi, Pak Juna pasti mencatat namamu.”
Rantaka mengangguk pelan.
“Iya.”
Namun, ia belum langsung bangun.
Matanya terasa panas.
Kepalanya seperti penuh oleh suara-suara yang belum selesai: bunyi piring di warung, suara kendaraan di jalan raya, kalimat-kalimat dalam surat Liris, dan bayangan angka-angka matematika yang kemarin tidak mampu ia pahami.
Ia menarik selimut sebentar lagi.
Hanya sebentar.
Tetapi Damar sudah berdiri dan menarik tirai jendela.
Cahaya pagi masuk ke kamar.
“Kalau kau tidur lagi, kau benar-benar terlambat,” kata Damar.
Rantaka akhirnya duduk.
Ia mengusap wajah.
“Semalam warung ramai?”
“Seperti biasa,” jawab Rantaka.
Damar menatapnya.
“Kalau seperti ini terus, kau bisa jatuh sakit.”
“Aku baik-baik saja.”
“Kau selalu bilang begitu.”
Rantaka tidak menjawab.
Ia mengambil seragam yang tergantung di belakang pintu. Seragam itu sudah disetrika seadanya. Di bagian lengan, ada sedikit lipatan yang tidak hilang. Ia mengenakannya sambil menahan kantuk yang terus datang.
Di meja kecil dekat tempat tidur, buku matematika dan fisika masih terbuka.
Semalam ia berniat belajar setelah pulang dari warung.
Namun, saat sampai di rumah singgah, ia hanya sempat membuka beberapa halaman sebelum akhirnya tertidur dengan kepala di atas buku.
Pensilnya masih tergeletak di antara rumus-rumus yang belum selesai ia kerjakan.
Rantaka memandang buku itu cukup lama.
Lalu ia memasukkannya ke dalam tas.
“Aku belajar nanti di sekolah,” gumamnya.
Namun, di dalam hati, ia tahu kalimat itu sudah terlalu sering ia ucapkan.
Jam pertama adalah matematika.
Pak Arman, guru matematika, berdiri di depan kelas sambil menulis beberapa soal di papan tulis. Angka-angka dan tanda-tanda rumus memenuhi bagian tengah papan.
Hari itu mereka membahas persamaan kuadrat.
“Siapa yang bisa menyelesaikan soal nomor tiga?” tanya Pak Arman.
Beberapa siswa menunduk.
Sebagian yang lain melihat buku catatan.
Pak Arman memandang ke seluruh kelas.
“Rantaka.”
Rantaka tersentak.
Ia baru saja menundukkan kepala beberapa detik. Kelopak matanya terasa sangat berat. Suara Pak Arman membuatnya langsung duduk tegak.
“Iya, Pak?”
“Coba ke depan. Kerjakan soal nomor tiga.”
Rantaka berdiri.
Kakinya terasa lemah ketika berjalan menuju papan tulis.
Ia mengambil kapur.
Soal itu sebenarnya tidak terlalu sulit. Jika ia cukup fokus, mungkin ia bisa mengerjakannya. Namun, di hadapan papan tulis, angka-angka itu terasa seperti saling bertukar tempat.
Ia menulis langkah pertama.
Kemudian berhenti.
Pak Arman menunggu.
Kelas menjadi sunyi.
Rantaka mencoba mengingat rumus yang pernah ia pelajari. Ia tahu ada cara untuk mencari nilai x. Ia tahu ada langkah-langkah yang harus diikuti.
Tetapi pikirannya kosong.
Ia memandang tulisan di papan.
Lalu memandang kapur di tangannya.
“Ayo, Rantaka,” kata Pak Arman. “Lanjutkan.”
Rantaka menarik napas.
Ia mencoba menulis lagi.
Namun, angka yang ia tulis salah.
Beberapa siswa di belakang mulai berbisik.
Pak Arman berjalan mendekat.
“Coba perhatikan lagi tanda negatifnya.”
Rantaka menghapus bagian yang salah.
Tangannya sedikit gemetar.
Ia mencoba sekali lagi, tetapi tetap tidak yakin.
Akhirnya Pak Arman mengambil kapur dari tangannya.
“Duduk dulu,” katanya.
Rantaka kembali ke bangku.
Wajahnya terasa panas.
Ia tidak tahu apakah teman-temannya benar-benar menertawakannya atau tidak. Namun, suara bisik-bisik di kelas sudah cukup membuatnya ingin menghilang.
Damar, yang duduk tidak jauh darinya, menoleh.
“Kau tidak apa-apa?” bisiknya.
Rantaka mengangguk.
Tetapi setelah itu, ia tidak lagi benar-benar mendengar penjelasan Pak Arman.
Ia hanya menatap buku catatan.
Di sana ada rumus-rumus yang terlihat seperti bahasa asing.
Pelajaran fisika berlangsung setelah jam istirahat.
Hari itu Bu Ratih menjelaskan tentang gaya, usaha, dan energi. Ia membawa sebuah benda kecil untuk memperagakan arah gerak dan tekanan.
Biasanya Rantaka cukup menyukai fisika.
Ia senang ketika pelajaran itu berhubungan dengan benda-benda yang dapat dilihat langsung. Ia suka membayangkan bagaimana alat sederhana bekerja. Ia pernah berdiskusi cukup lama dengan Banyu tentang pompa air, roda gerobak, dan mesin kecil.
Namun, siang itu, ia tidak mampu mengikuti penjelasan Bu Ratih.
Setiap kali Bu Ratih menulis rumus, Rantaka berusaha menyalinnya.
Tetapi ia tidak mengerti hubungan antara satu angka dan angka lainnya.
Kepalanya kembali terasa berat.
Matanya beberapa kali tertutup tanpa ia sadari.
“Rantaka.”
Suara Bu Ratih terdengar.
Rantaka tersentak lagi.
“Iya, Bu.”
“Kamu mengantuk?”
“Tidak, Bu.”
Bu Ratih memandangnya cukup lama.
“Kamu terlihat sangat lelah.”
“Maaf, Bu.”
“Kalau ada masalah, kamu bisa bicara setelah pelajaran.”
Rantaka mengangguk.
Namun, ia tidak berniat bercerita.
Ia tidak ingin guru-gurunya tahu bahwa ia bekerja malam.
Ia takut mereka menganggapnya tidak sanggup menjaga beasiswa.
Ia takut mereka menyuruhnya berhenti bekerja tanpa memberi jawaban tentang bagaimana ia harus memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Ia hanya ingin bertahan.
Tetapi semakin ia mencoba bertahan sendiri, semakin sulit semuanya terasa.
Seminggu kemudian, hasil ulangan matematika dibagikan.
Pak Arman berjalan dari meja ke meja sambil membawa setumpuk kertas.
Beberapa siswa tampak lega ketika melihat nilai mereka.
Beberapa yang lain langsung menunduk.
Ketika kertas ulangan Rantaka diletakkan di mejanya, ia tidak langsung membukanya.
Ia sudah bisa menebak.
Namun, tetap saja, ketika melihat angka merah di bagian atas kertas, dadanya terasa jatuh.
48
Nilainya jauh di bawah batas ketuntasan.
Ia membalik kertas itu.
Banyak jawaban yang salah.
Ada soal yang bahkan tidak sempat ia kerjakan sampai selesai.
Rantaka menatap angka itu cukup lama.
Ia teringat beasiswa.
Ia teringat surat penerimaan yang dulu membuat ibunya menangis haru.
Ia teringat perjalanan pagi dari Desa Wanasari menuju kota.
Ia teringat ayahnya yang berkata agar ia belajar sungguh-sungguh karena kesempatan seperti itu tidak datang dua kali.
Nilai 48 itu terasa seperti bukti bahwa ia sedang mengecewakan semua orang.
Dua hari kemudian, hasil ulangan fisika dibagikan.
Nilainya tidak jauh berbeda.
52
Rantaka menggenggam kertas itu sampai bagian ujungnya berkerut.
Saat jam pelajaran berakhir, Damar mendekatinya.
“Kau harus mulai belajar lagi,” katanya.
“Aku tahu.”
“Kalau kau mau, kita bisa belajar bersama malam ini.”
Rantaka tertawa kecil tanpa rasa lucu.
“Malam ini aku kerja.”
“Besok?”
“Besok juga.”
“Lalu kapan?”
Rantaka tidak menjawab.
Damar duduk di sampingnya.
“Rantaka, pekerjaanmu memang penting. Tapi beasiswamu juga penting.”
“Aku tahu.”
“Kau bisa bicara dengan Bu Ratih atau Pak Arman.”
“Untuk apa?”
“Mungkin mereka bisa membantu.”
Rantaka menggeleng.
“Aku tidak mau dikasihani.”
“Tidak semua bantuan berarti kasihan.”
Rantaka menatap Damar.
Kalimat itu mengingatkannya pada Banyu.
Ia teringat bagaimana Banyu menyembunyikan luka di tangannya karena tidak ingin dianggap lemah.
Mungkin mereka tidak jauh berbeda.
Sama-sama ingin terlihat mampu.
Sama-sama takut menjadi beban.
Namun, Rantaka belum siap mengakuinya.
“Aku akan memperbaiki sendiri,” katanya.
Damar menghela napas.
“Baik. Tapi jangan terlambat.”
Pada hari Jumat, setelah jam pelajaran terakhir, seorang petugas sekolah datang ke kelas.
“Rantaka, kamu diminta ke ruang Bu Mira,” katanya.
Rantaka mengangkat wajah.
Bu Mira adalah guru pembimbing beasiswa.
Beliau mengurus siswa-siswa yang menerima bantuan pendidikan, memantau perkembangan belajar, serta menjadi penghubung antara sekolah dan pihak pemberi beasiswa.
Jantung Rantaka berdetak lebih cepat.
Ia memasukkan buku ke dalam tas dengan tangan yang terasa dingin.
Damar menatapnya.
“Semoga tidak apa-apa,” katanya.
Rantaka hanya mengangguk.
Koridor sekolah terasa panjang saat ia berjalan menuju ruang Bu Mira.
Di luar ruangan, ada beberapa pot tanaman yang tertata rapi. Pintu kayunya terbuka sedikit.
“Masuk, Rantaka,” suara Bu Mira terdengar dari dalam.
Rantaka masuk.
Bu Mira duduk di balik meja. Di depannya ada beberapa map berwarna biru. Salah satu map terbuka, dan Rantaka melihat namanya tertulis pada label kecil di bagian depan.
“Duduk,” kata Bu Mira.
Rantaka duduk di kursi yang tersedia.
Tangannya diletakkan di atas lutut.
Bu Mira tidak langsung berbicara.
Ia membuka beberapa lembar kertas.
Kemudian ia menatap Rantaka dengan wajah tenang.
“Bagaimana keadaanmu di sekolah?”
“Baik, Bu.”
“Benarkah?”
Rantaka terdiam.
Bu Mira menggeser dua lembar hasil ulangan ke arahnya.
Nilai matematika dan fisika.
Angka merah yang sama.
“Aku mendapat laporan dari guru mata pelajaran,” kata Bu Mira. “Nilaimu mulai menurun.”
Rantaka menunduk.
“Maaf, Bu.”
“Aku tidak memanggilmu hanya untuk mendengar kata maaf.”
Rantaka mengangkat wajah perlahan.
Bu Mira melanjutkan, “Kamu mendapat beasiswa karena sekolah melihat kemampuan dan kesungguhanmu. Kami tahu kamu berasal dari keluarga yang harus berjuang keras. Kami juga tahu kamu datang dari desa dengan membawa harapan besar.”
Kata-kata itu membuat Rantaka semakin sulit bernapas.
“Namun, beasiswa memiliki aturan,” lanjut Bu Mira. “Nilai akademik harus dijaga. Jika penurunan ini terus terjadi, beasiswamu dapat dievaluasi.”
Kata dievaluasi terdengar lebih menakutkan daripada kata dicabut.
Karena kata itu tidak memberi kepastian.
Ia seperti pintu yang perlahan mulai tertutup.
“Apakah ada masalah?” tanya Bu Mira.
Rantaka ingin menjawab tidak ada.
Ia ingin tetap terlihat kuat.
Namun, wajah Bu Mira tidak tampak seperti orang yang ingin menghakimi.
Ia tampak seperti seseorang yang benar-benar menunggu jawaban.
Rantaka membuka mulut.
Tetapi kata-kata itu sulit keluar.
“Aku… akhir-akhir ini sulit belajar, Bu.”
“Kenapa?”
Rantaka menunduk lagi.
“Karena aku bekerja malam.”
Ruangan menjadi sunyi.
Bu Mira tidak langsung bereaksi.
“Bekerja malam?” tanyanya pelan.
“Iya, Bu. Di warung makan.”
“Setiap malam?”
“Tidak selalu. Tapi cukup sering.”
“Kenapa kamu bekerja?”
Rantaka menggenggam kedua tangannya.
“Uang beasiswa tidak cukup untuk semua kebutuhan. Aku tidak ingin meminta terlalu banyak dari keluarga di desa.”
Bu Mira menarik napas panjang.
“Kenapa kamu tidak bicara dari awal?”
Rantaka tidak menjawab.
Ia sendiri tidak tahu.
Mungkin karena malu.
Mungkin karena takut dianggap tidak mampu.
Mungkin karena ia ingin membuktikan bahwa dirinya bisa menyelesaikan semuanya sendiri.
Bu Mira menatapnya dengan lembut, tetapi serius.
“Rantaka, bekerja untuk bertahan hidup bukan kesalahan. Tetapi jika pekerjaan itu membuat sekolahmu runtuh, kamu harus mencari jalan lain.”
“Aku tidak tahu jalan lain, Bu.”
“Kita bisa mencari.”
Rantaka memandangnya.
“Kamu bisa ikut bimbingan tambahan untuk matematika dan fisika,” kata Bu Mira. “Aku akan bicara dengan Pak Arman dan Bu Ratih. Kamu juga perlu mengatur jadwal kerja. Jangan sampai kamu bekerja setiap malam.”
“Kalau aku mengurangi jam kerja, uangku tidak cukup.”
“Kita akan lihat kemungkinan bantuan kebutuhan rumah singgah. Tidak semua bisa selesai dalam sehari, tetapi kamu tidak boleh membiarkan masalah ini terus berjalan.”
Rantaka menunduk.
Ia merasa malu karena harus dibantu.
Namun, di sisi lain, ia merasa lega karena akhirnya ada seseorang yang mengetahui keadaannya.
Bu Mira membuka map lagi.
“Aku ingin kamu menganggap ini sebagai peringatan, bukan hukuman. Kamu masih punya kesempatan memperbaiki nilai. Tetapi kamu harus serius.”
Rantaka mengangguk.
“Iya, Bu.”
“Dua minggu lagi ada evaluasi belajar. Aku ingin melihat perubahan. Kalau tidak ada perbaikan, pihak sekolah akan meninjau kembali status beasiswamu.”
Rantaka merasakan tenggorokannya mengering.
“Iya, Bu.”
“Kamu boleh kembali ke kelas.”
Rantaka berdiri.
Sebelum ia keluar, Bu Mira memanggilnya lagi.
“Rantaka.”
“Iya, Bu?”
“Kamu tidak datang sejauh ini untuk menyerah hanya karena kamu sedang lelah.”
Rantaka mengangguk pelan.
Namun, saat berjalan keluar dari ruang itu, kata-kata Bu Mira justru membuat matanya terasa panas.
Ia tidak ingin menyerah.
Tetapi ia juga tidak tahu bagaimana harus terus berjalan.
Sore itu, Rantaka tidak langsung pulang ke rumah singgah.
Ia berjalan tanpa tujuan melewati jalan kecil di belakang sekolah. Langit Kota Arunika mulai berubah warna. Kendaraan masih ramai. Orang-orang berjalan cepat membawa urusan masing-masing.
Rantaka berhenti di dekat jembatan kecil yang melintasi saluran air.
Ia duduk di bangku semen.
Tasnya diletakkan di samping.
Di dalam tas itu, ada buku matematika, buku fisika, dan surat Liris.
Tiga hal yang kini terasa sama-sama berat.
Ia mengeluarkan surat Liris.
Kali ini, ia membaca bagian yang dulu membuatnya gelisah.
Aku sering memikirkanmu di kota.
Kemudian ia membaca lagi:
Aku berharap kau tetap kuat. Jangan terlalu memaksakan diri. Kalau kau lelah, ingatlah bahwa di Desa Wanasari masih ada orang-orang yang mengingatmu.
Rantaka memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya, ia mulai melihat surat itu dengan cara yang sedikit berbeda.
Mungkin Liris tidak sedang menjauh.
Mungkin Liris justru sedang berusaha menguatkannya.
Tetapi rasa takut yang sudah tumbuh di dalam dirinya belum benar-benar hilang.
Ia memasukkan surat itu kembali ke dalam tas.
Lalu mengeluarkan buku matematika.
Ia membuka halaman rumus persamaan kuadrat.
Angka-angka itu masih terlihat sulit.
Namun, ia mencoba membaca satu baris.
Lalu satu baris lagi.
Beberapa menit kemudian, ia menutup buku itu.
Bukan karena mengerti.
Tetapi karena kepalanya kembali terasa berat.
Matahari semakin tenggelam.
Tidak lama lagi ia harus berangkat ke warung.
Rantaka menatap jalan di depannya.
Ia merasa hidupnya seperti jalan itu.
Ramai.
Panjang.
Penuh arah yang tidak ia pahami.
Di satu sisi, ada sekolah dan beasiswa yang harus ia pertahankan.
Di sisi lain, ada pekerjaan malam yang membuatnya bisa bertahan hidup.
Di kejauhan, ada Desa Wanasari, Liris, Banyu, Jagra, dan Gerobak Buku Langit Biru yang semakin jarang berjalan.
Rantaka merasa seperti sedang berdiri di tengah persimpangan.
Ia tidak tahu jalan mana yang harus dipilih lebih dulu.
Ia tidak tahu bagaimana cara menjaga semuanya agar tidak runtuh.
Namun, ia tahu satu hal.
Jika beasiswanya hilang, maka mimpi untuk melanjutkan sekolah bisa ikut hilang.
Dan jika itu terjadi, ia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan semuanya kepada keluarganya di desa.
Rantaka berdiri perlahan.
Ia mengangkat tasnya.
Langit Kota Arunika sudah mulai gelap.
Ia kembali berjalan menuju warung makan.
Langkahnya terasa berat.
Bukan hanya karena lelah.
Tetapi karena untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasa bahwa hidupnya mulai kehilangan arah.
BAB 13 - ANAK DESA YANG DIPERMALUKAN
Pagi itu, Rantaka datang ke sekolah dengan langkah yang lebih lambat dari biasanya.
Semalam ia pulang dari warung makan hampir pukul sebelas. Setelah membersihkan meja terakhir dan membantu Bu Sari menutup warung, ia masih harus berjalan kembali ke rumah singgah dengan tubuh yang terasa seperti tidak lagi memiliki tenaga.
Sesampainya di kamar, ia berniat membuka buku matematika.
Bu Mira telah memberinya waktu untuk memperbaiki nilai. Pak Arman juga sudah menawarkan bimbingan tambahan sepulang sekolah. Namun, ketika buku itu terbuka di atas meja, mata Rantaka tidak mampu lagi membaca barisan angka.
Ia tertidur dengan kepala bersandar pada lengan.
Pagi ini, ia bangun dengan rasa takut yang belum hilang.
Takut pada nilai yang turun.
Takut pada beasiswa yang dapat dievaluasi.
Takut pada surat Liris yang belum ia balas.
Dan takut pada dirinya sendiri yang semakin sulit ia kenali.
Di halaman sekolah, siswa-siswa berjalan menuju kelas dengan wajah cerah. Sebagian berbicara tentang tugas. Sebagian lagi tertawa sambil membawa bekal. Beberapa siswa tampak sibuk membicarakan kegiatan sekolah yang akan datang.
Rantaka berjalan melewati mereka tanpa banyak bicara.
Ia hanya ingin duduk di bangkunya.
Ia hanya ingin hari itu segera selesai.
Namun, keinginan itu tidak terjadi.
Saat Rantaka baru saja masuk kelas, Arga sudah duduk di meja dekat jendela bersama dua orang temannya, Fikri dan Yuda. Mereka dikenal sebagai siswa yang cukup populer. Nilai mereka baik. Seragam mereka selalu rapi. Mereka juga sering berbicara tentang rencana melanjutkan sekolah ke kota besar setelah lulus.
Arga menatap Rantaka yang sedang meletakkan tas.
“Wah, anak beasiswa datang juga,” katanya cukup keras.
Beberapa siswa menoleh.
Rantaka tidak menjawab.
Ia menarik kursi dan duduk.
Namun, Arga belum berhenti.
“Kemarin katanya dipanggil Bu Mira, ya?” lanjutnya. “Ada masalah dengan nilai?”
Fikri tertawa kecil.
“Mungkin beasiswanya mau diperiksa.”
Yuda menimpali, “Kalau nilainya jelek, bagaimana? Masa sekolah ini terus memberi belas kasihan?”
Kata belas kasihan terdengar tajam di telinga Rantaka.
Tangannya yang sedang membuka buku berhenti.
Ia mencoba mengabaikan mereka.
Namun, Arga berdiri dan berjalan mendekati mejanya.
“Jangan salah paham, Rantaka,” katanya. “Kami hanya heran saja. Ada orang yang masuk sekolah ini karena beasiswa, tetapi malah nilainya turun.”
“Sudah, Ga,” kata seorang siswa lain pelan. “Jangan begitu.”
Arga menoleh sebentar, lalu kembali memandang Rantaka.
“Aku cuma bicara kenyataan. Banyak orang ingin sekolah di sini. Tapi ada yang dapat tempat karena dikasihani.”
Rantaka mengangkat wajah.
“Aku tidak masuk karena dikasihani.”
Suasana kelas mendadak lebih sunyi.
Arga tersenyum tipis.
“Oh, begitu? Lalu karena apa?”
“Karena aku ikut seleksi.”
“Seleksi?” Arga tertawa kecil. “Kalau bukan karena cerita anak desa yang berjuang, mungkin kau tidak akan dipilih.”
Beberapa siswa tampak tidak nyaman.
Namun, tidak ada yang benar-benar menghentikan Arga.
Rantaka merasakan darahnya naik ke wajah.
Ia ingin berdiri.
Ia ingin berkata bahwa ia belajar dengan lampu minyak di Desa Wanasari ketika listrik sering padam. Ia ingin berkata bahwa ibunya menjual hasil kebun sedikit demi sedikit agar ia bisa membeli buku. Ia ingin berkata bahwa ayahnya pernah berjalan jauh hanya untuk mengantar berkas pendaftaran.
Ia ingin berkata bahwa beasiswa bukan hadiah.
Beasiswa adalah hasil dari perjuangan.
Tetapi semua kata itu seperti tersangkut di tenggorokannya.
Arga mendekat sedikit.
“Kau tahu, Rantaka,” katanya, “kalau beasiswamu dicabut, mungkin kau bisa kembali saja ke desa. Bantu orang tuamu di kebun atau apa saja. Tidak semua orang harus memaksakan diri jadi anak kota.”
Kalimat itu membuat tangan Rantaka mengepal.
Kursinya bergeser sedikit.
Damar, yang duduk beberapa bangku di belakang, langsung berdiri.
“Arga, cukup,” katanya tegas.
Arga menoleh.
“Aku hanya bicara.”
“Bicara bukan berarti menghina.”
“Aku tidak menghina. Aku cuma bilang dia harus tahu diri.”
Rantaka berdiri.
Kelas benar-benar sunyi.
Ia menatap Arga.
Wajahnya tegang. Dadanya naik turun. Di dalam dirinya, ada kemarahan yang sudah lama tertahan.
Kemarahannya pada nilai yang turun.
Pada pekerjaan malam yang melelahkan.
Pada beasiswa yang hampir hilang.
Pada surat Liris yang belum ia balas.
Dan kini, pada kata-kata Arga yang membuatnya seolah tidak pantas berada di sekolah itu.
Untuk sesaat, ia ingin mendorong Arga.
Ia ingin membalas semua penghinaan itu dengan sesuatu yang lebih keras.
Namun, ia teringat wajah Bu Mira.
Ia teringat peringatan tentang beasiswa.
Ia teringat bahwa satu kesalahan kecil dapat membuat semuanya semakin buruk.
Rantaka menarik napas panjang.
Lalu ia berkata dengan suara pelan, tetapi jelas.
“Aku memang dari desa. Aku memang mendapat beasiswa. Tapi aku tidak pernah meminta dikasihani.”
Arga tidak menjawab.
Rantaka melanjutkan.
“Aku datang ke sini untuk belajar. Bukan untuk meminta izin darimu agar boleh punya cita-cita.”
Setelah mengatakan itu, Rantaka mengambil tasnya.
Ia keluar dari kelas sebelum guru masuk.
Damar memanggilnya.
“Rantaka!”
Namun, Rantaka tidak berhenti.
Ia berjalan cepat melewati koridor sekolah. Suara bel masuk berbunyi di belakangnya. Beberapa guru mulai berjalan menuju kelas.
Tetapi Rantaka terus melangkah.
Ia keluar dari gerbang sekolah.
Lalu berjalan tanpa tahu ke mana.
Hari itu, Rantaka tidak kembali ke kelas.
Ia duduk cukup lama di taman kecil dekat terminal. Tasnya diletakkan di samping. Buku-buku pelajaran tetap berada di dalamnya, tidak disentuh sama sekali.
Orang-orang datang dan pergi.
Angkutan kota berhenti, menurunkan penumpang, lalu kembali berjalan.
Pedagang minuman menawarkan dagangannya.
Anak kecil berlari mengejar temannya.
Semua orang tampak memiliki tujuan.
Hanya Rantaka yang merasa tidak tahu harus pergi ke mana.
Kata-kata Arga terus berputar di kepalanya.
Anak beasiswa.
Dikasihani.
Kembali saja ke desa.
Ia tahu Arga salah.
Ia tahu beasiswa bukan belas kasihan.
Namun, kata-kata itu tetap menyakitkan karena menyentuh ketakutan yang selama ini ia simpan sendiri.
Bagaimana jika memang benar ia tidak cukup pantas berada di sekolah itu?
Bagaimana jika nilainya terus turun?
Bagaimana jika beasiswanya dicabut?
Bagaimana jika ia benar-benar harus pulang tanpa membawa apa-apa selain kegagalan?
Rantaka menutup wajah dengan kedua tangan.
Untuk pertama kalinya sejak tiba di kota, ia merasa sangat ingin pulang.
Bukan pulang karena berhasil.
Bukan pulang karena rindu.
Tetapi pulang karena ingin bersembunyi.
Namun, ia tahu ia tidak bisa begitu saja kembali ke Desa Wanasari.
Di sana, keluarganya menunggu kabar baik.
Di sana, Liris, Banyu, dan Jagra mungkin masih percaya bahwa ia sedang berjuang dengan baik.
Ia tidak ingin mereka tahu bahwa di kota, ia justru merasa semakin kecil.
Menjelang sore, Rantaka berjalan menuju warung makan.
Ia datang lebih awal dari jadwal kerja.
Bu Sari yang sedang menyiapkan bahan makanan tampak terkejut melihatnya.
“Kau tidak sekolah?” tanyanya.
“Sudah selesai, Bu.”
Bu Sari menatap jam dinding.
“Sekolahmu selesai jam segini?”
Rantaka menunduk.
“Aku ingin kerja lebih awal saja.”
Bu Sari tidak langsung menjawab.
Ia memandang wajah Rantaka yang tampak pucat.
“Kau ada masalah?”
“Tidak, Bu.”
“Kau lagi-lagi bilang tidak apa-apa.”
Rantaka diam.
Bu Sari menghela napas.
“Kalau mau membantu, silakan. Tapi jangan memaksa diri.”
Rantaka mengangguk.
Hari itu ia bekerja lebih lama.
Ia menyapu lantai.
Mengangkat kursi.
Mencuci piring.
Mengantar pesanan.
Mengisi air minum.
Ia melakukan semua pekerjaan tanpa berhenti, seolah-olah jika tangannya terus bergerak, pikirannya tidak akan sempat mengingat penghinaan Arga.
Namun, semakin lama ia bekerja, semakin lelah tubuhnya.
Dan semakin lelah tubuhnya, semakin sulit ia menahan perasaan.
Malam itu, saat warung mulai sepi, Bu Sari menemukan Rantaka duduk di belakang dapur sambil memandangi ember kosong.
“Kau pulanglah,” katanya.
“Aku masih bisa bantu.”
“Tidak. Kau pulang.”
“Aku tidak apa-apa.”
Bu Sari menatapnya tajam.
“Kalau kau terus memaksa diri, suatu hari tubuhmu yang akan berhenti.”
Rantaka tidak membalas.
Ia hanya mengangguk.
Tetapi setelah itu, ia tetap membantu sampai warung benar-benar tutup.
Keesokan harinya, Rantaka tidak masuk sekolah.
Ia bangun pagi, mengenakan seragam, lalu duduk cukup lama di tepi tempat tidur.
Damar sudah bersiap pergi.
“Kau tidak berangkat?” tanyanya.
Rantaka menggeleng.
“Aku tidak enak badan.”
“Kau sakit?”
“Sedikit.”
Damar menatapnya dengan khawatir.
“Karena kemarin?”
Rantaka tidak menjawab.
Damar mendekat.
“Jangan biarkan Arga membuatmu berhenti sekolah.”
“Aku tidak berhenti.”
“Tapi kau tidak masuk.”
“Aku cuma butuh waktu.”
Damar ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya hanya mengangguk.
“Kalau begitu, istirahatlah. Jangan malah pergi ke warung.”
Rantaka tidak menjawab.
Setelah Damar pergi, ia duduk sendirian di kamar.
Di atas meja, buku matematika dan fisika masih terbuka.
Ia mencoba membaca.
Namun, kalimat-kalimat Arga kembali datang.
Ia menutup buku.
Menjelang siang, Rantaka pergi ke warung makan.
Bu Sari kembali terkejut melihatnya.
“Kau tidak sekolah lagi?”
“Aku sedang libur,” jawab Rantaka singkat.
Bu Sari tidak percaya.
Tetapi ia tidak memaksa Rantaka bercerita.
Hari kedua itu, Rantaka bekerja lebih lama daripada biasanya.
Ia membantu sejak siang hingga malam.
Tubuhnya semakin lelah.
Namun, ia merasa lebih mudah berada di warung daripada berada di sekolah.
Di warung, orang-orang tidak tahu ia penerima beasiswa.
Mereka tidak tahu nilainya turun.
Mereka tidak tahu ia berasal dari Desa Wanasari.
Di warung, ia hanya Rantaka yang membawa piring, membersihkan meja, dan membantu pelanggan.
Tidak ada yang bertanya apakah ia pantas berada di sana.
Tidak ada yang menyebutnya anak desa dengan nada merendahkan.
Tetapi ketika malam semakin larut, rasa lelah itu berubah menjadi kesunyian.
Rantaka berdiri di depan warung yang hampir tutup.
Lampu jalan memantulkan cahaya pucat di aspal basah. Hujan kecil baru saja berhenti. Kendaraan melintas satu per satu.
Ia mengeluarkan surat Liris dari saku tas.
Surat itu sudah mulai kusut karena sering ia bawa ke mana-mana.
Ia membaca satu kalimat yang paling sering ia ulang.
Kalau kau lelah, ingatlah bahwa di Desa Wanasari masih ada orang-orang yang mengingatmu.
Rantaka memejamkan mata.
Ia ingin percaya pada kalimat itu.
Namun, ia merasa terlalu malu untuk membalas.
Bagaimana ia bisa menulis kepada Liris bahwa ia dipermalukan di depan kelas?
Bagaimana ia bisa mengaku bahwa ia tidak masuk sekolah selama dua hari?
Bagaimana ia bisa menjelaskan bahwa ia lebih memilih mencuci piring daripada menghadapi teman-teman sekelas?
Ia melipat surat itu kembali.
Kemudian memasukkannya ke dalam tas.
Di kejauhan, suara azan malam terdengar dari sebuah musala kecil.
Rantaka menatap langit kota yang gelap.
Ia teringat langit di Desa Wanasari.
Langit yang lebih luas.
Lebih tenang.
Lebih dekat dengan rumah.
Namun, malam itu, Kota Arunika terasa seperti tempat yang terlalu besar bagi seorang anak desa yang sedang berusaha mempertahankan mimpinya.
Rantaka berdiri cukup lama di depan warung.
Ia tahu besok ia harus kembali ke sekolah.
Ia tahu ia tidak bisa terus bersembunyi.
Tetapi untuk saat itu, ia belum memiliki keberanian.
Yang ia miliki hanya rasa lelah, rasa malu, dan ketakutan bahwa mimpi yang dibawanya dari Desa Wanasari mungkin benar-benar akan padam sebelum sempat menjadi kenyataan.
BAB 14 - SURAT YANG TIDAK DIBALAS
Pagi di Desa Wanasari datang dengan kabut tipis yang menggantung di atas kebun-kebun warga.
Dari dapur rumahnya, Liris mendengar suara ibunya menumbuk bumbu. Di halaman, ayam-ayam mengais tanah yang masih basah oleh embun. Sementara dari kejauhan, suara sungai terdengar pelan, mengalir di antara pepohonan dan rumah-rumah kayu.
Liris duduk di dekat jendela.
Di pangkuannya ada selembar kertas putih yang sudah ia tulisi sejak malam sebelumnya.
Ia membaca ulang surat itu untuk kesekian kalinya.
Tulisan tangannya rapi, tetapi beberapa bagian tampak dicoret lalu ditulis kembali. Ada kalimat-kalimat yang terlalu panjang, ada pula kata-kata yang ia hapus karena takut terdengar berlebihan.
Di bagian awal surat, ia menulis tentang keadaan Desa Wanasari.
Tentang Gerobak Buku Langit Biru yang masih mereka jalankan meskipun tidak seramai dulu.
Tentang Banyu yang semakin sering pulang dengan tangan kotor oleh oli dari bengkel.
Tentang Jagra yang sibuk membantu ayahnya di kolam ikan.
Tentang anak-anak kecil yang kadang masih bertanya kapan Rantaka akan pulang.
Namun, bagian paling sulit adalah ketika ia ingin menulis tentang dirinya sendiri.
Liris memegang ujung kertas itu lebih erat.
Akhirnya, ia menambahkan satu kalimat.
Aku sering memikirkanmu di kota, Rantaka. Bukan karena aku meragukanmu, tetapi karena aku tahu tempat baru kadang membuat seseorang merasa sendirian.
Setelah itu, ia berhenti menulis.
Kalimat tersebut terasa terlalu jujur.
Ia hampir mencoretnya.
Namun, ia teringat suara Rantaka ketika terakhir kali mereka berbicara lewat telepon umum. Suaranya terdengar terburu-buru, lelah, dan seperti menyimpan sesuatu yang tidak ingin diceritakan.
Liris melipat surat itu perlahan.
Ia memasukkannya ke dalam amplop cokelat.
Pada bagian depan, ia menulis alamat rumah singgah tempat Rantaka tinggal di Kota Arunika.
Tulisan itu ia salin dari surat Rantaka yang pertama.
Setelah sarapan, Liris berjalan menuju kantor pos kecil di kecamatan bersama Banyu. Banyu membawa beberapa barang dari bengkel yang harus diantar kepada pelanggan. Ia mengendarai sepeda tua yang rantainya kadang berbunyi jika jalan terlalu menanjak.
“Surat lagi?” tanya Banyu ketika melihat amplop di tangan Liris.
Liris mengangguk.
“Rantaka belum membalas surat yang kemarin.”
“Mungkin suratnya belum sampai.”
“Sudah hampir dua minggu.”
Banyu tidak langsung menjawab.
Ia mengayuh sepeda lebih pelan.
“Mungkin dia sibuk sekolah,” katanya kemudian.
“Bisa jadi.”
“Tapi kau kelihatan tidak yakin.”
Liris memandang jalan tanah di depan mereka.
“Aku hanya merasa dia berbeda sejak tinggal di kota.”
Banyu menoleh sebentar.
“Berbeda bagaimana?”
“Entahlah. Dulu, kalau ada masalah, ia selalu menulis. Sekarang, suratnya semakin jarang. Saat menelepon pun, ia seperti ingin cepat-cepat menutup pembicaraan.”
Banyu menghela napas.
“Kota memang bisa membuat orang sibuk.”
“Atau membuat orang lupa.”
“Kau pikir Rantaka lupa pada kita?”
Liris tidak menjawab.
Ia tidak ingin mengatakan bahwa ketakutan itu mulai tumbuh dalam hatinya.
Bukan karena ia tidak percaya kepada Rantaka.
Justru karena ia terlalu percaya.
Ia tahu Rantaka membawa mimpi besar ketika pergi ke Kota Arunika. Ia tahu beasiswa itu bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk keluarganya, untuk Desa Wanasari, bahkan untuk anak-anak yang sering mendengar cerita tentang sekolah kota dari mulutnya.
Namun, semakin lama tidak ada kabar, semakin sulit bagi Liris untuk menenangkan pikirannya.
Di kantor pos kecil kecamatan, Liris menyerahkan surat itu kepada petugas.
“Untuk Kota Arunika,” katanya.
Petugas memeriksa alamat di amplop.
“Biasanya sekitar lima sampai tujuh hari,” katanya.
Liris mengangguk.
Ia menatap amplop itu ketika dimasukkan ke dalam kotak surat.
Selembar kertas kecil.
Namun, di dalamnya ada banyak hal yang tidak mampu ia katakan secara langsung.
Hari-hari berikutnya berjalan lambat.
Setiap sore, Liris selalu bertanya kepada ibunya apakah ada surat datang.
Setiap kali terdengar suara sepeda petugas pos melewati jalan depan rumah, ia segera keluar.
Namun, tidak ada surat untuknya.
Yang datang hanya tagihan listrik untuk tetangga, surat undangan rapat untuk ketua RT, dan kiriman kecil untuk toko kelontong di ujung jalan.
Liris mencoba tidak memperlihatkan kekecewaannya.
Ia tetap membantu ibunya mencuci pakaian.
Ia tetap mengajar anak-anak yang datang ke Gerobak Buku Langit Biru.
Ia tetap menulis puisi di buku catatan hijaunya.
Tetapi pikirannya tidak pernah benar-benar tenang.
Suatu sore, saat anak-anak sudah pulang, Liris duduk di bawah pohon beringin dekat tempat Gerobak Buku biasa berhenti.
Gerobak itu tampak lebih sepi daripada dulu.
Beberapa buku tersusun rapi di dalam kotak kayu. Sebagian sudah mulai kusam di bagian sampul karena sering dibaca bergantian. Di salah satu sisi, ada gambar matahari dan awan yang dibuat anak-anak dengan pensil warna.
Banyu sedang memperbaiki roda gerobak yang sedikit longgar.
Jagra datang membawa ember kecil berisi ikan hasil tangkapan dari sungai.
“Anak-anak sudah pulang?” tanyanya.
“Sudah,” jawab Liris.
Jagra melihat wajah Liris.
“Kau masih menunggu surat?”
Liris tersenyum kecil.
“Kelihatan sekali, ya?”
“Tidak juga,” jawab Jagra. “Tapi setiap hari kau melihat jalan depan rumah seperti sedang menunggu seseorang.”
Banyu menghentikan pekerjaannya.
“Belum ada balasan?”
Liris menggeleng.
Jagra duduk di dekat gerobak.
“Mungkin Rantaka benar-benar sibuk.”
“Semua orang bilang begitu,” kata Liris pelan. “Tapi kalau sibuk, apa sulit menulis beberapa baris?”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Angin sore menggerakkan daun-daun beringin.
Banyu kembali memutar baut roda gerobak.
Jagra memandangi ember ikan di sampingnya.
Liris menunduk.
Ia merasa bersalah karena mulai marah kepada Rantaka.
Namun, ia juga merasa lelah menunggu.
“Aku tidak meminta surat panjang,” katanya. “Aku hanya ingin tahu dia baik-baik saja.”
Banyu mengangguk.
“Itu wajar.”
Jagra menatap jalan menuju desa.
“Mungkin suatu hari nanti kita harus ke kota,” katanya. “Bukan untuk mencari Rantaka. Tapi untuk melihat sendiri bagaimana hidupnya di sana.”
Liris tidak menanggapi.
Kota Arunika terasa terlalu jauh.
Dan jarak itu terasa semakin panjang karena tidak ada jawaban.
Sementara itu, di Kota Arunika, Rantaka duduk di meja kecil rumah singgah dengan selembar kertas di hadapannya.
Malam sudah larut.
Damar telah tertidur di ranjang sebelah. Dari luar jendela, suara kendaraan masih terdengar, meskipun tidak seramai siang hari.
Lampu meja menyala redup.
Rantaka memegang pensil.
Di atas kertas, ia telah menulis:
Untuk Liris,
Setelah itu, ia berhenti.
Sudah beberapa kali ia mencoba menulis surat.
Namun, setiap kali mulai menuliskan keadaan sebenarnya, tangannya tidak mampu melanjutkan.
Ia ingin menceritakan tentang Arga.
Tentang penghinaan di kelas.
Tentang dua hari ia tidak masuk sekolah.
Tentang pekerjaannya di warung makan.
Tentang nilai matematika dan fisika yang membuat Bu Mira memperingatkannya.
Tetapi semua itu terasa seperti pengakuan bahwa ia gagal.
Ia tidak ingin Liris membayangkan dirinya sebagai anak desa yang datang ke kota lalu tidak sanggup bertahan.
Ia tidak ingin Liris merasa kasihan.
Ia tidak ingin Banyu dan Jagra tahu bahwa di kota, ia lebih sering mencuci piring daripada belajar.
Rantaka menulis beberapa kalimat.
Aku baik-baik saja di sini. Sekolah berjalan seperti biasa. Kota Arunika memang ramai, tetapi aku mulai terbiasa.
Ia membaca kalimat itu.
Lalu menghapusnya.
Itu bukan kebenaran.
Ia menulis lagi.
Liris, akhir-akhir ini aku bekerja malam di warung makan karena uang beasiswa tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Aku takut beasiswaku dicabut karena nilainya turun.
Tangannya berhenti.
Ia memandang kalimat itu cukup lama.
Kemudian ia meremas kertas tersebut.
Bola kertas itu dilemparkannya ke sudut meja.
Di sana sudah ada beberapa kertas lain yang sama-sama kusut.
Rantaka menyandarkan punggung ke kursi.
Ia menutup mata.
Dalam kepalanya, ia membayangkan Liris membaca surat itu.
Ia membayangkan Liris merasa sedih.
Ia membayangkan Liris mungkin akan berkata bahwa ia seharusnya bercerita sejak awal.
Ia membayangkan Liris akan merasa kecewa karena selama ini ia tidak jujur.
Rantaka tidak sanggup menghadapi semua itu.
Lebih mudah diam.
Lebih mudah menunda.
Lebih mudah membiarkan surat-surat itu tidak pernah terkirim.
Namun, diam ternyata tidak membuat hatinya lebih ringan.
Setiap malam, ia semakin merasa jauh dari Desa Wanasari.
Dua minggu kemudian, surat dari Liris tiba di rumah singgah.
Petugas pos menyerahkannya kepada penjaga rumah singgah pada siang hari. Ketika Rantaka pulang dari sekolah, amplop cokelat itu sudah berada di atas meja dekat pintu masuk.
Ia langsung mengenali tulisan tangan Liris.
Rantaka berdiri cukup lama di depan meja.
Ia tidak langsung mengambil surat itu.
Ada rasa rindu yang tiba-tiba datang begitu kuat hingga membuat dadanya sesak.
Akhirnya, ia mengambil amplop tersebut.
Ia membawanya ke kamar.
Damar sedang belajar di meja kecil.
“Surat dari desa?” tanya Damar.
Rantaka mengangguk.
“Kau tidak buka?”
“Nanti.”
Damar menatapnya, tetapi tidak berkata apa-apa lagi.
Rantaka duduk di ranjang.
Ia membuka amplop dengan hati-hati.
Kertas di dalamnya berbau samar seperti lemari kayu dan daun kering. Mungkin hanya perasaannya saja, tetapi aroma itu membuatnya teringat rumah-rumah di Desa Wanasari.
Ia membaca surat Liris perlahan.
Liris bercerita tentang Gerobak Buku.
Tentang Banyu yang sibuk di bengkel.
Tentang Jagra yang semakin banyak membantu di kolam ikan.
Tentang anak-anak yang masih bertanya kapan Rantaka pulang.
Lalu ia sampai pada bagian yang membuatnya berhenti.
Aku sering memikirkanmu di kota, Rantaka. Bukan karena aku meragukanmu, tetapi karena aku tahu tempat baru kadang membuat seseorang merasa sendirian.
Rantaka menunduk.
Matanya terasa panas.
Ia membaca kalimat itu berulang kali.
Liris tidak menuduhnya.
Liris tidak meminta penjelasan dengan marah.
Liris hanya ingin tahu apakah ia baik-baik saja.
Dan justru karena itulah, Rantaka semakin malu.
Ia mengambil kertas baru.
Kali ini, ia berusaha menulis lebih jujur.
Liris, maaf karena aku belum membalas suratmu. Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Kota ini tidak seindah yang kubayangkan. Aku bekerja malam di warung makan. Nilai matematikaku dan fisikaku turun. Bu Mira berkata beasiswaku bisa dievaluasi kalau aku tidak memperbaikinya.
Rantaka berhenti.
Ia membaca tulisan itu.
Kata-kata tersebut terasa berat, tetapi juga terasa lebih dekat pada kebenaran.
Ia melanjutkan.
Aku juga dipermalukan di kelas karena berasal dari desa dan menerima beasiswa. Aku ingin melawan, tetapi aku takut melakukan kesalahan. Aku takut kehilangan semuanya.
Tangannya mulai gemetar.
Ia membayangkan surat itu sampai ke Desa Wanasari.
Ia membayangkan Liris membacanya di dekat jendela rumah.
Ia membayangkan Liris merasa kasihan.
Rantaka tidak ingin dikasihani.
Ia melipat surat itu.
Namun, bukan untuk dimasukkan ke dalam amplop.
Ia memasukkannya ke dalam buku matematika.
Kemudian ia menutup buku itu rapat-rapat.
Surat itu kembali tidak terkirim.
Beberapa hari setelahnya, Liris kembali menunggu.
Ia tidak tahu bahwa suratnya sudah dibaca.
Ia tidak tahu bahwa Rantaka sudah menulis balasan.
Ia hanya tahu bahwa tidak ada kabar.
Di rumah, ibunya mulai memperhatikan perubahan sikapnya.
“Kau sedang memikirkan sesuatu?” tanya ibunya suatu malam.
Liris sedang mengiris sayur di dapur.
“Tidak, Bu.”
“Kau akhir-akhir ini sering melamun.”
Liris tersenyum kecil.
“Mungkin karena banyak yang ingin kutulis.”
Ibunya mengangguk.
Namun, Liris tahu ibunya tidak sepenuhnya percaya.
Setelah makan malam, Liris masuk ke kamar.
Ia membuka buku catatan hijaunya.
Di halaman kosong, ia menulis beberapa baris puisi.
Suratku berjalan jauh
melewati jalan tanah dan kota yang ramai
tetapi pulangnya selalu terlambat
seperti jawaban yang tak pernah tiba.
Ia berhenti.
Kemudian menambahkan:
Mungkin seseorang di ujung sana
sedang belajar menjadi asing
pada rumah yang pernah ia rindukan.
Liris menutup buku catatan itu.
Ia tidak ingin percaya bahwa Rantaka melupakan mereka.
Namun, dalam hatinya, keraguan mulai tumbuh.
Mungkin kota benar-benar mengubah seseorang.
Mungkin Rantaka sudah memiliki kehidupan baru.
Mungkin surat-surat dari desa hanya menjadi bagian kecil dari masa lalu yang ingin ia tinggalkan.
Di sisi lain Kota Arunika, Rantaka duduk di meja kecil rumah singgah.
Buku matematika terbuka di hadapannya.
Di dalamnya, surat untuk Liris tersimpan di antara halaman rumus yang belum ia pahami.
Ia ingin mengirimkannya.
Ia ingin mengatakan bahwa ia masih mengingat Desa Wanasari.
Ia masih mengingat Gerobak Buku Langit Biru.
Ia masih mengingat suara Liris saat membacakan puisi di bawah pohon beringin.
Namun, rasa malu membuatnya tetap diam.
Malam semakin larut.
Damar sudah tidur.
Lampu kamar mulai berkedip karena listrik di rumah singgah tidak stabil.
Rantaka menutup buku matematika.
Ia menyimpan surat itu kembali.
Dan sekali lagi, surat yang seharusnya menjadi jembatan antara dua hati hanya menjadi kertas yang tersimpan dalam kesunyian.
Di Desa Wanasari, Liris menunggu jawaban.
Di Kota Arunika, Rantaka menunggu keberanian.
Sementara jarak di antara mereka perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih besar daripada sekadar jalan panjang antara desa dan kota.
BAB 15 - HUJAN YANG MEROBOHKAN HARAPAN
Sejak tiga hari terakhir, hujan turun tanpa benar-benar memberi kesempatan kepada Desa Wanasari untuk mengering.
Pada pagi hari, hujan datang sebagai gerimis halus yang membuat daun-daun pisang berkilau. Menjelang siang, langit berubah semakin gelap. Awan tebal menggantung rendah di atas desa. Lalu ketika sore tiba, hujan turun lebih deras, seperti seseorang menumpahkan air dari langit tanpa henti.
Sungai Wanasari yang biasanya mengalir tenang mulai berubah warna.
Airnya keruh.
Arusnya semakin cepat.
Di beberapa bagian, ranting-ranting besar dan daun-daun kering terbawa dari hulu. Warga yang tinggal dekat sungai mulai memperhatikan permukaan air dengan cemas.
Jagra berdiri di tepi kolam ikan milik keluarganya.
Hujan membasahi rambut dan bajunya. Lumpur melekat di kaki celananya. Di sampingnya, ayahnya sedang memperkuat tanggul kolam dengan karung-karung tanah.
“Air sungai naik terus, Yah,” kata Jagra.
Ayahnya tidak menjawab langsung.
Ia menancapkan sekop ke tanah yang mulai lembek.
“Kita harus menahan air sebelum masuk ke kolam,” katanya.
Jagra mengangguk.
Ia mengambil karung kosong dan mulai mengisinya dengan tanah. Tangannya kotor. Bajunya basah. Namun, ia terus bekerja.
Kolam ikan itu bukan hanya tempat memelihara ikan.
Kolam itu adalah sumber penghasilan keluarga mereka.
Dari kolam itulah ayahnya membeli beras, membayar kebutuhan rumah, membeli pakan ikan, dan sesekali menyisihkan uang untuk biaya sekolah Jagra.
Jika kolam itu rusak, keluarga mereka akan kehilangan lebih dari sekadar ikan.
Mereka akan kehilangan harapan.
Menjelang malam, hujan semakin deras.
Suara air menghantam atap rumah seperti ribuan kerikil dijatuhkan dari langit. Angin bertiup kencang. Beberapa pohon kecil di halaman rumah warga mulai membungkuk diterpa angin.
Di rumahnya, Liris duduk bersama ibunya di ruang tengah.
Lampu listrik berkedip-kedip.
Di atas meja, ada ember yang menampung air dari atap yang bocor.
“Semoga sungai tidak meluap,” kata ibunya.
Liris memandang ke arah jendela.
Di luar, halaman rumah sudah mulai tergenang.
“Rumah Jagra dekat sungai,” kata Liris pelan.
Ibunya mengangguk.
“Semoga mereka baik-baik saja.”
Liris ingin pergi melihat keadaan sahabatnya. Namun, hujan terlalu deras dan jalan menuju rumah Jagra sudah mulai sulit dilalui.
Ia hanya bisa menunggu.
Di dalam hatinya, ia mengingat Rantaka.
Andai Rantaka ada di desa, mungkin ia juga akan berdiri di tepi kolam bersama Jagra. Mungkin mereka akan membawa karung tanah, membantu warga, atau mencari cara agar air tidak masuk ke pemukiman.
Namun, Rantaka berada jauh di Kota Arunika.
Dan surat-suratnya masih belum mendapat jawaban.
Tengah malam, suara teriakan terdengar dari arah sungai.
“Air naik!”
“Banjir!”
“Semua keluar!”
Warga berlarian dari rumah masing-masing.
Lampu-lampu senter menyala di tengah gelap. Ada yang membawa anak kecil. Ada yang mengangkat barang-barang penting. Ada yang mencoba menyelamatkan beras, pakaian, dan dokumen dari rumah yang mulai dimasuki air.
Jagra terbangun ketika ayahnya membuka pintu kamar.
“Bangun, Gra!” kata ayahnya dengan suara tegang. “Tanggul kolam jebol!”
Jagra langsung berdiri.
Ia mengenakan jaket seadanya dan berlari keluar.
Hujan masih turun deras.
Di luar rumah, air sudah setinggi mata kaki. Dari arah kolam, terdengar suara gemuruh air yang bercampur dengan suara orang-orang berteriak.
Jagra berlari bersama ayahnya.
Ketika sampai di kolam, dadanya seperti berhenti bernapas.
Tanggul yang mereka perkuat sejak sore telah runtuh.
Air sungai menerobos masuk dengan deras. Kolam ikan yang selama ini dirawat keluarganya berubah menjadi genangan besar yang menyatu dengan aliran banjir.
Ikan-ikan yang siap dipanen hanyut terbawa air.
Jaring-jaring yang dipasang di pinggir kolam tersangkut di batang pohon dan sebagian robek.
Beberapa papan penahan air terbawa arus.
Jagra berdiri tanpa bergerak.
“Ayah…” suaranya hampir tidak terdengar.
Ayahnya mencoba mendekat ke sisi kolam.
Namun, arus terlalu kuat.
“Jangan ke sana!” teriak seorang warga.
Ayah Jagra tetap berusaha mengambil salah satu jaring yang tersangkut di dekat tanggul. Jagra ingin menyusul, tetapi dua warga menahannya.
“Jangan, Gra! Bahaya!”
“Ayahku di sana!”
“Ayahmu tahu apa yang dia lakukan!”
Namun, beberapa saat kemudian, ayah Jagra terpeleset.
Tubuhnya jatuh ke lumpur di dekat tanggul yang runtuh.
Jagra berteriak.
Beberapa warga segera berlari membantu. Mereka menarik ayah Jagra menjauh dari arus. Untungnya, ia tidak hanyut, tetapi kakinya terbentur batu dan terluka cukup parah.
Jagra berlutut di samping ayahnya.
“Yah, sakit?” tanyanya dengan suara gemetar.
Ayahnya mencoba tersenyum.
“Tidak apa-apa,” katanya, meski wajahnya tampak menahan nyeri.
Namun, Jagra tahu keadaan mereka tidak baik-baik saja.
Kolam rusak.
Ikan hanyut.
Peralatan hilang.
Dan ayahnya terluka.
Hujan masih terus turun.
Seolah-olah langit belum selesai mengambil apa yang mereka miliki.
Pagi harinya, Desa Wanasari tampak seperti desa yang baru saja dilanda mimpi buruk.
Air mulai surut di beberapa tempat, tetapi lumpur tertinggal di halaman rumah, jalan desa, dan ruang-ruang kecil yang biasanya dipenuhi kehidupan.
Banyak warga keluar rumah dengan wajah letih.
Ada yang membersihkan lantai.
Ada yang menjemur pakaian basah.
Ada yang memeriksa kebun.
Ada yang berdiri di depan rumah sambil memandangi barang-barang yang rusak.
Di kebun dekat rumah Liris, beberapa tanaman sayur roboh. Batang-batangnya patah. Daunnya tertutup lumpur. Sebagian bibit yang baru ditanam hanyut terbawa air.
Ayah Liris berdiri di tengah kebun dengan wajah muram.
Liris mendekat sambil membawa sapu.
“Banyak yang rusak, Yah?” tanyanya.
Ayahnya mengangguk.
“Sebagian besar.”
“Masih bisa diselamatkan?”
Ayahnya memandang tanaman yang tersisa.
“Entahlah. Kita lihat beberapa hari lagi.”
Nada suaranya membuat Liris memahami bahwa keadaan mereka akan sulit.
Kebun bukan hanya tempat menanam sayur.
Kebun adalah sumber uang untuk membeli kebutuhan sehari-hari.
Jika panen gagal, maka dapur rumah mereka juga akan semakin sepi.
Di rumah Banyu, keadaan tidak jauh berbeda.
Atap bengkel kecil tempat ia membantu bekerja bocor. Beberapa peralatan terkena air. Jalan menuju bengkel tergenang lumpur, membuat pelanggan sulit datang.
Banyu membantu pemilik bengkel memindahkan perkakas ke tempat yang lebih kering.
Tangannya masih belum sepenuhnya pulih dari luka beberapa waktu lalu, tetapi ia tetap bekerja.
“Kalau begini terus, bengkel bisa tutup beberapa hari,” kata pemilik bengkel.
Banyu mengangguk.
Ia tidak berkata apa-apa.
Namun, dalam pikirannya, ia menghitung berapa upah yang mungkin tidak akan ia dapatkan jika bengkel tidak buka.
Uang itu penting baginya.
Ia sedang menabung untuk membeli beberapa alat dan bahan agar dapat membuat rancangan alat pertanian sederhana.
Tetapi sekarang, ia bahkan tidak tahu apakah pekerjaan di bengkel akan tetap ada.
Sore hari, Liris dan Banyu pergi ke rumah Jagra.
Jalan menuju rumah sahabat mereka penuh lumpur. Beberapa bagian harus mereka lewati dengan hati-hati karena tanahnya masih licin.
Ketika sampai, mereka melihat beberapa warga sedang membantu membersihkan halaman.
Kolam ikan di belakang rumah tampak rusak parah.
Tanggulnya runtuh.
Airnya keruh.
Jaring-jaring yang tersisa tergantung di pagar bambu dalam keadaan robek.
Jagra duduk di teras rumah.
Wajahnya pucat. Matanya merah seperti tidak tidur semalaman. Di dekatnya, ayahnya berbaring dengan kaki dibalut kain.
Liris mendekat perlahan.
“Bagaimana keadaan Pak?” tanyanya.
Jagra menoleh.
“Lukanya tidak terlalu parah. Tapi harus istirahat.”
Banyu memandang kolam di belakang rumah.
“Banyak ikan yang hilang?”
Jagra tertawa kecil, tetapi tidak ada rasa lucu di dalamnya.
“Bukan banyak lagi. Hampir semuanya.”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Liris duduk di samping Jagra.
“Aku ikut sedih, Gra.”
Jagra menunduk.
“Sedih tidak akan membuat kolam itu kembali.”
Kalimat itu terdengar keras.
Liris terdiam.
Jagra segera menyadari nada suaranya.
“Maaf,” katanya pelan. “Aku bukan marah pada kalian.”
“Kami tahu,” jawab Banyu.
Jagra menatap kolam yang rusak.
“Ayah sudah merawat ikan itu berbulan-bulan. Tinggal menunggu waktu panen. Kami sudah menghitung uangnya untuk membeli pakan berikutnya, memperbaiki rumah, dan membayar beberapa kebutuhan sekolah.”
Ia berhenti sebentar.
“Kini semuanya hilang.”
Liris memegang ujung bajunya.
“Apa yang bisa kami bantu?”
Jagra menggeleng.
“Aku tidak tahu.”
Itulah jawaban yang paling membuat mereka diam.
Bukan karena Jagra menolak bantuan.
Tetapi karena ia benar-benar tidak tahu harus mulai dari mana.
Hari-hari setelah banjir menjadi lebih berat bagi banyak keluarga di Desa Wanasari.
Kebun-kebun yang rusak membuat sebagian warga kehilangan hasil panen. Kolam ikan yang terdampak banjir membuat beberapa keluarga kehilangan sumber pendapatan. Jalan-jalan desa yang berlumpur menyulitkan warga membawa hasil kebun atau membeli kebutuhan ke kecamatan.
Di sekolah, beberapa bangku mulai kosong.
Bu Laras memperhatikan hal itu.
Pada hari Senin, ia berdiri di depan kelas dan memanggil nama beberapa murid yang tidak hadir.
“Roni?”
Tidak ada jawaban.
“Siti?”
Tidak ada jawaban.
“Fahri?”
Tidak ada jawaban.
Seorang murid mengangkat tangan.
“Roni membantu ayahnya membersihkan kebun, Bu.”
“Kalau Siti?”
“Ibunya sakit setelah kebanjiran. Siti menjaga adiknya.”
“Fahri?”
“Katanya ikut pamannya mencari ikan yang hanyut.”
Bu Laras menunduk sejenak.
Ia memahami keadaan mereka.
Namun, ia juga tahu bahwa semakin lama anak-anak tidak masuk sekolah, semakin besar kemungkinan mereka tertinggal dan akhirnya berhenti.
Sepulang sekolah, Bu Laras berjalan menuju tempat Gerobak Buku Langit Biru biasa berhenti.
Gerobak itu masih ada, tetapi tampak tidak terurus.
Roda-roda kayunya tertutup lumpur.
Beberapa buku di dalam kotak terkena lembap.
Tidak ada suara anak-anak membaca.
Tidak ada tawa seperti biasanya.
Bu Laras berdiri cukup lama di sana.
Ia teringat Rantaka, Liris, Banyu, dan Jagra ketika pertama kali membawa gerobak itu berkeliling desa.
Mereka tidak punya banyak hal.
Namun, mereka punya semangat.
Kini, semangat itu sedang diuji oleh sesuatu yang lebih besar daripada tugas sekolah atau kesalahpahaman antarsahabat.
Banjir telah datang.
Dan banjir tidak hanya membawa air serta lumpur.
Banjir juga membawa kekhawatiran.
Membawa kehilangan.
Membawa pilihan-pilihan sulit bagi keluarga yang sudah sejak awal hidup dalam keterbatasan.
Malam itu, Jagra duduk sendiri di tepi kolam yang rusak.
Hujan sudah berhenti, tetapi langit masih dipenuhi awan kelabu.
Di tangannya, ia memegang senter kecil.
Cahayanya menyapu permukaan air yang keruh.
Ia teringat saat ayahnya pertama kali mengajarinya memberi makan ikan.
Ia masih kecil waktu itu.
Ayahnya berkata bahwa merawat ikan membutuhkan kesabaran.
“Kita tidak bisa meminta ikan tumbuh besar dalam satu malam,” kata ayahnya dulu. “Kita harus memberi makan, menjaga air, dan menunggu.”
Jagra dulu menganggap kalimat itu hanya tentang ikan.
Kini ia mulai mengerti bahwa kalimat itu juga tentang hidup.
Namun, malam itu, kesabaran terasa seperti sesuatu yang sangat sulit dilakukan.
Ia tidak tahu bagaimana keluarganya akan memulai lagi.
Ia tidak tahu apakah ayahnya bisa kembali bekerja seperti biasa setelah kakinya pulih.
Ia tidak tahu apakah ia harus lebih banyak membantu di rumah dan mengurangi waktu sekolah.
Ia tidak tahu apakah Gerobak Buku Langit Biru masih bisa berjalan ketika semua orang sedang sibuk menyelamatkan kehidupan masing-masing.
Jagra menunduk.
Di dalam hatinya, ada rasa marah yang tidak tahu harus ditujukan kepada siapa.
Marah kepada hujan.
Marah kepada sungai.
Marah kepada keadaan.
Marah kepada dirinya sendiri karena tidak mampu menyelamatkan kolam itu.
Di kejauhan, suara katak mulai terdengar.
Desa Wanasari kembali sunyi.
Namun, kesunyian malam itu tidak sama seperti biasanya.
Kesunyian itu dipenuhi oleh rumah-rumah yang sedang menghitung kerugian.
Oleh orang tua yang memikirkan besok pagi.
Oleh anak-anak yang mungkin harus memilih antara sekolah dan membantu keluarga.
Oleh kebun-kebun yang roboh.
Oleh kolam-kolam yang kosong.
Dan oleh harapan yang, untuk sementara waktu, terasa seperti ikut hanyut bersama arus banjir.
Jagra mematikan senter.
Dalam gelap, ia hanya bisa mendengar air mengalir pelan di sisa kolam yang rusak.
Ia tahu hujan telah berhenti.
Tetapi bagi keluarganya, badai baru saja dimulai.
BAB 16 - LIRIS DAN PILIHAN YANG BERAT
Sejak banjir surut, halaman rumah Liris tidak pernah benar-benar kembali seperti semula.
Lumpur masih menempel di sela-sela papan teras. Beberapa pot bunga milik ibunya pecah terbawa air. Di belakang rumah, kebun kecil yang biasanya dipenuhi cabai, kangkung, dan sayuran lain kini tampak seperti tanah yang baru saja diinjak banyak orang.
Daun-daun tanaman menguning.
Batang-batangnya rebah.
Sebagian besar bibit yang baru ditanam ayahnya hanyut bersama air banjir.
Pagi itu, Liris berdiri di dekat kebun sambil membawa ember. Ia mencoba menyiram tanaman yang masih tersisa, meskipun ia tahu air tidak akan serta-merta membuat semuanya kembali hidup.
Ayahnya sedang mencangkul tanah yang mengeras oleh lumpur.
Gerakannya lambat.
Tidak seperti biasanya.
Dulu, ayah Liris selalu bekerja sambil bersenandung kecil. Ia sering bercerita tentang musim tanam, tentang harga sayur di pasar kecamatan, atau tentang rencana membeli bibit baru jika panen berikutnya berhasil.
Namun, sejak banjir datang, ayahnya lebih banyak diam.
“Kau tidak perlu menyiram yang itu,” katanya tanpa menoleh.
Liris berhenti.
“Masih ada yang bisa diselamatkan, Yah.”
Ayahnya menancapkan cangkul ke tanah.
“Kalau akarnya sudah busuk, disiram sebanyak apa pun tidak akan tumbuh.”
Liris menunduk.
Ia tahu ayahnya tidak hanya berbicara tentang tanaman.
Beberapa hari terakhir, ia sering melihat ayahnya duduk sendirian di teras rumah setelah magrib. Di hadapannya ada buku catatan kecil berisi perhitungan hasil kebun, harga pupuk, dan kebutuhan rumah tangga.
Setiap kali Liris mendekat, ayahnya segera menutup buku itu.
Namun, Liris sudah bisa menebak isinya.
Penghasilan yang menurun.
Utang pupuk yang belum lunas.
Biaya sekolah.
Beras yang harus dibeli.
Dan kebutuhan rumah yang tidak mungkin ditunda.
Siang itu, Liris pulang dari sekolah dengan membawa sebuah amplop putih.
Amplop tersebut berasal dari Komunitas Kata Nusantara, sebuah kelompok literasi di kota kabupaten yang beberapa bulan sebelumnya pernah memuat salah satu puisinya dalam majalah kecil mereka.
Ia mendapat surat itu melalui Bu Laras.
“Buka saja di rumah,” kata Bu Laras ketika menyerahkannya. “Baca baik-baik.”
Sejak menerima amplop itu, Liris tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ia berjalan lebih cepat dari biasanya.
Sesampainya di rumah, ia masuk ke kamar dan menutup pintu. Dengan hati-hati, ia membuka amplop tersebut.
Di dalamnya terdapat selembar surat resmi.
Komunitas Kata Nusantara mengundangnya mengikuti pelatihan menulis selama lima hari di kota kabupaten.
Pelatihan itu akan diisi oleh beberapa penulis, guru, dan pegiat literasi. Peserta akan belajar menulis puisi, cerpen, artikel, serta cara mengirimkan karya ke media.
Liris membaca surat itu berkali-kali.
Dadanya berdebar.
Selama ini, menulis hanya menjadi tempatnya menyimpan perasaan. Ia menulis ketika rindu, ketika marah, ketika takut, atau ketika ingin berbicara tanpa harus menjelaskan semuanya kepada orang lain.
Namun, undangan itu membuat menulis terasa lebih besar.
Seolah-olah kata-kata yang selama ini ia simpan dalam buku hijau ternyata bisa membawanya ke tempat yang tidak pernah ia bayangkan.
Liris memeluk surat itu.
Ia ingin segera menunjukkan kepada ayah dan ibunya.
Namun, ketika keluar kamar, ia melihat ayahnya sedang duduk di ruang tengah dengan wajah lelah.
Di atas meja ada beberapa lembar uang yang jumlahnya tidak banyak.
Ibunya sedang menghitung beras di dalam wadah plastik.
Liris berhenti di ambang pintu.
Kegembiraannya mendadak terasa tidak pantas.
“Ada apa?” tanya ibunya.
Liris memegang amplop itu lebih erat.
“Aku dapat surat dari komunitas literasi di kota kabupaten.”
Ayahnya mengangkat wajah.
“Komunitas apa?”
“Komunitas Kata Nusantara. Mereka mengundang aku ikut pelatihan menulis.”
Ayahnya terdiam.
Liris melanjutkan dengan hati-hati.
“Lima hari saja, Yah. Aku bisa belajar menulis puisi dan cerita. Kata Bu Laras, kesempatan seperti ini tidak datang dua kali.”
Ibunya tersenyum kecil.
“Itu bagus, Lis.”
Namun, ayahnya tidak ikut tersenyum.
“Pelatihannya di kota kabupaten?”
“Iya.”
“Naik apa?”
“Bisa naik bus dari kecamatan.”
“Biayanya?”
Liris terdiam.
Di surat itu tertulis bahwa pelatihan tidak dipungut biaya. Namun, peserta harus menanggung sendiri ongkos perjalanan, makan, dan tempat tinggal selama kegiatan berlangsung.
“Aku belum tahu,” jawab Liris pelan. “Tapi mungkin bisa dicari jalan.”
Ayahnya menghela napas.
“Jalan dari mana?”
Liris tidak menjawab.
Ayahnya memandang kebun yang terlihat dari jendela.
“Banjir baru saja merusak kebun kita. Uang untuk kebutuhan rumah saja belum cukup. Sekarang kau bicara pergi ke kota untuk menulis.”
“Menulis bukan hanya main-main, Yah.”
“Ayah tidak bilang itu main-main.”
“Lalu?”
Ayahnya menatap Liris dengan wajah yang lebih keras dari biasanya.
“Ayah bilang kita sedang susah.”
Kalimat itu membuat ruangan menjadi sunyi.
Ibunya berhenti menghitung beras.
Liris menunduk.
Ayahnya melanjutkan, kali ini dengan suara lebih pelan.
“Kau sudah besar, Lis. Kau harus mulai melihat keadaan rumah. Menulis itu bagus. Puisi itu indah. Tapi puisi tidak bisa membeli beras.”
Liris menggigit bibir.
Ia ingin membantah.
Ia ingin mengatakan bahwa mimpi juga penting. Bahwa hidup tidak hanya tentang bertahan dari satu hari ke hari berikutnya. Bahwa menulis mungkin bisa membuka jalan yang selama ini tidak terlihat.
Namun, ia melihat wajah ayahnya.
Wajah seorang lelaki yang sejak pagi mencangkul kebun rusak, lalu pulang dengan tangan kosong.
Ia melihat ibunya yang sedang menghitung beras dengan hati-hati agar cukup sampai beberapa hari ke depan.
Dan tiba-tiba, kata-kata yang ingin ia ucapkan terasa terlalu berat.
“Ayah ingin aku tidak ikut?” tanya Liris.
Ayahnya tidak langsung menjawab.
“Ayah ingin kau membantu keluarga dulu.”
“Bagaimana caranya?”
Ayahnya memandang ke arah meja.
“Pak Darto, pemilik toko sembako di kota kabupaten, sedang mencari pegawai. Anak sepupunya bilang mereka butuh anak perempuan untuk membantu menjaga toko dan mencatat barang.”
Liris mengangkat wajah.
“Bekerja di toko?”
“Ya.”
“Di kota kabupaten?”
“Ya.”
“Setiap hari?”
“Kalau diterima, mungkin kau tinggal di tempat saudaramu yang dekat pasar. Atau pulang seminggu sekali.”
Liris merasa dadanya sesak.
Ia baru saja menerima undangan pelatihan menulis.
Dan kini, ia mendapat tawaran bekerja di kota yang sama.
Namun, dua kesempatan itu tidak membawa arah yang sama.
Pelatihan menulis menawarkan mimpi.
Pekerjaan di toko menawarkan uang.
Pelatihan menulis hanya berlangsung lima hari.
Pekerjaan di toko bisa membantu keluarganya lebih lama.
Liris menatap surat undangan di tangannya.
Kertas itu terasa ringan.
Tetapi keputusan yang dibawanya terasa sangat berat.
Sore hari, Liris pergi ke rumah Bu Laras.
Ia membawa surat undangan itu di dalam tas. Langkahnya pelan. Jalan menuju rumah guru tersebut masih berlumpur di beberapa bagian, tetapi Liris hampir tidak memperhatikannya.
Bu Laras sedang menyusun buku-buku yang berhasil diselamatkan dari Gerobak Buku Langit Biru.
Beberapa buku dijemur di atas tikar.
“Masuklah, Liris,” kata Bu Laras. “Kau sudah membaca suratnya?”
Liris mengangguk.
“Sudah, Bu.”
“Bagaimana? Kau senang?”
Liris duduk di kursi kayu dekat teras.
“Aku senang. Tapi aku juga bingung.”
Bu Laras memperhatikan wajahnya.
“Ada masalah?”
Liris menyerahkan surat itu.
“Pelatihannya tidak dipungut biaya, Bu. Tapi aku harus menanggung ongkos, makan, dan tempat tinggal. Ayah bilang keadaan rumah sedang sulit.”
Bu Laras membaca surat itu kembali.
“Memang tidak mudah.”
“Ayah juga mendapat kabar ada pekerjaan di toko sembako di kota kabupaten. Kalau aku bekerja, aku bisa membantu keluarga.”
“Dan kalau kau ikut pelatihan?”
“Aku tidak tahu. Mungkin aku hanya pulang membawa pengalaman. Mungkin tidak ada yang berubah.”
Bu Laras meletakkan surat itu di meja.
“Liris, setiap pilihan memang membawa risiko.”
Liris menunduk.
“Aku takut dianggap egois kalau memilih menulis.”
“Menulis bukan egois.”
“Tapi kalau rumah sedang kekurangan beras, apakah aku masih pantas memikirkan puisi?”
Bu Laras tidak segera menjawab.
Ia memandang buku-buku yang sedang dijemur.
“Kau tahu kenapa Gerobak Buku Langit Biru dulu dibuat?”
“Karena kami ingin anak-anak desa suka membaca.”
“Bukan hanya itu. Kalian membuatnya karena kalian percaya anak-anak desa berhak memiliki harapan. Berhak melihat dunia yang lebih luas.”
Liris diam.
“Menulis adalah bagian dari harapanmu,” lanjut Bu Laras. “Tetapi membantu keluarga juga bagian dari tanggung jawabmu. Yang perlu kau cari bukan sekadar pilihan mana yang paling mudah. Kau perlu mencari jalan agar keduanya tidak saling mematikan.”
“Memangnya ada jalan seperti itu?”
“Ada kalanya jalan belum terlihat. Tapi itu tidak berarti jalan itu tidak ada.”
Liris memandangi surat undangan itu.
Kata-kata Bu Laras tidak langsung menyelesaikan masalahnya.
Namun, kata-kata itu membuatnya tidak ingin menyerah begitu saja.
Malamnya, Liris membuka buku catatan hijau.
Di luar rumah, suara jangkrik terdengar dari kebun. Lampu minyak kecil menyala di sudut meja karena listrik kembali padam setelah hujan beberapa hari sebelumnya.
Ia menulis tanpa banyak berpikir.
Ada jalan yang bercabang
di antara rumah yang kekurangan beras
dan langit yang memanggil namaku.
Ia berhenti.
Lalu menulis lagi.
Satu jalan mengajariku bertahan
satu jalan mengajariku bermimpi
dan aku berdiri di antara keduanya
dengan tangan yang belum tahu
mana yang harus dilepas.
Liris membaca puisi itu.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Ia tidak ingin meninggalkan keluarga dalam keadaan sulit.
Tetapi ia juga tidak ingin meninggalkan mimpinya hanya karena keadaan sedang gelap.
Di luar, suara ayahnya terdengar sedang berbicara dengan ibunya.
Liris tidak mendengar seluruh percakapan mereka.
Namun, ia menangkap beberapa kata.
“Biaya…”
“Banjir…”
“Sekolah…”
“Kerja…”
Liris menutup buku catatan.
Ia berbaring, tetapi tidak bisa tidur.
Di kepalanya, ia membayangkan toko sembako di kota kabupaten. Rak-rak penuh barang. Buku catatan pesanan. Pelanggan yang datang dan pergi. Hari-hari panjang menjaga toko.
Kemudian ia membayangkan ruang pelatihan menulis. Meja-meja sederhana. Kertas-kertas penuh tulisan. Orang-orang yang berbicara tentang puisi dan cerita. Kesempatan untuk belajar dari dunia yang selama ini hanya ia kenal lewat buku.
Dua bayangan itu bergantian hadir.
Keduanya sama-sama penting.
Keduanya sama-sama menuntut sesuatu darinya.
Menjelang tengah malam, Liris duduk kembali di depan meja.
Ia mengambil surat undangan pelatihan menulis.
Lalu ia mengambil selembar kertas kosong.
Ia mulai menulis daftar kecil.
Pelatihan Menulis
- Kesempatan belajar.
- Bertemu penulis dan pegiat literasi.
- Membawa pengalaman untuk Desa Wanasari.
- Tidak ada kepastian uang untuk keluarga.
Bekerja di Toko
- Membantu kebutuhan rumah.
- Mendapat penghasilan.
- Tinggal atau sering pergi ke kota.
- Waktu menulis mungkin semakin sedikit.
Liris memandangi daftar itu cukup lama.
Tidak ada jawaban yang terasa mudah.
Namun, satu hal mulai ia pahami.
Ia tidak boleh memilih hanya karena takut.
Ia tidak boleh menyerah hanya karena keadaan sedang sulit.
Ia harus berbicara lagi kepada ayahnya.
Bukan untuk melawan.
Bukan untuk memaksa.
Tetapi untuk menjelaskan bahwa menulis bukan sekadar kesenangan yang ingin ia pertahankan.
Menulis adalah bagian dari dirinya.
Menulis adalah cara ia memahami dunia.
Dan mungkin, suatu hari nanti, menulis juga dapat menjadi jalan untuk membantu keluarga serta desanya.
Liris melipat surat undangan itu dengan rapi.
Ia menyimpannya kembali di dalam amplop.
Kemudian ia memeluk buku catatan hijaunya.
Malam itu, Liris belum mengambil keputusan.
Namun, untuk pertama kalinya, ia tidak lagi melihat pilihan itu sebagai pertarungan antara mimpi dan keluarga.
Ia mulai percaya bahwa mungkin ada cara untuk tetap mencintai keduanya.
Meski jalan menuju ke sana belum terlihat jelas.
Di luar rumah, angin malam bergerak pelan melewati kebun yang rusak.
Di dalam kamar kecilnya, Liris menutup mata.
Besok, ia akan mencoba mencari jawaban.
Bukan jawaban yang paling mudah.
Melainkan jawaban yang tidak membuatnya kehilangan dirinya sendiri.
BAB 17 - MALAM TERAKHIR DI WARUNG MAKAN
Malam di Kota Arunika tidak pernah benar-benar sunyi.
Ketika lampu-lampu rumah mulai padam, jalanan di sekitar pasar justru masih dipenuhi suara kendaraan. Sepeda motor melintas dengan cepat. Pedagang kaki lima membereskan gerobak. Orang-orang pulang dari tempat kerja dengan wajah lelah. Dari kejauhan, suara klakson bersahutan seperti tidak pernah kehabisan tenaga.
Di antara deretan toko yang mulai menutup pintu, Warung Makan Sederhana milik Pak Rahman masih menyala.
Lampu putih di depan warung membuat papan nama yang sudah kusam tampak lebih jelas. Dari dapur, asap tipis keluar bersama aroma nasi goreng, tumisan sayur, dan kuah soto yang masih mengepul.
Rantaka berdiri di dekat tempat cuci piring.
Tangannya bergerak pelan membersihkan piring-piring kotor yang menumpuk. Air sabun mengalir di sela jemarinya. Punggungnya terasa nyeri. Kepalanya berat. Sejak sore, tubuhnya sudah tidak enak.
Namun, ia tetap bekerja.
Ia tidak berani berhenti.
Sejak nilai matematikanya dan fisikanya menurun, bayangan tentang beasiswa yang mungkin dicabut terus mengikuti pikirannya. Ia tahu uang dari warung makan itu tidak besar. Tetapi tanpa uang itu, ia tidak tahu bagaimana harus membeli buku, membayar kebutuhan rumah singgah, dan memenuhi biaya sekolah yang tidak seluruhnya ditanggung beasiswa.
Malam itu, ia datang ke warung setelah pulang sekolah.
Ia tidak sempat tidur.
Ia tidak sempat belajar dengan tenang.
Ia hanya sempat makan sepotong roti yang dibelinya di dekat gerbang sekolah.
Kini, perutnya terasa kosong.
“Rantaka,” panggil Pak Rahman dari arah dapur.
Rantaka menoleh.
“Iya, Pak?”
“Kau sudah makan?”
“Sudah, Pak.”
Jawaban itu keluar terlalu cepat.
Pak Rahman memandangnya beberapa saat.
“Kau yakin?”
Rantaka mengangguk.
“Yakin, Pak.”
Padahal sejak siang, yang masuk ke perutnya hanya roti kecil dan segelas teh hangat.
Pak Rahman tidak langsung membantah. Ia hanya mengambil satu piring nasi, sedikit sayur, dan sepotong tempe goreng. Kemudian ia meletakkannya di meja dekat dapur.
“Makan dulu,” katanya.
“Tidak usah, Pak. Saya masih bisa kerja.”
“Makan dulu.”
Rantaka memandang piring itu.
Ada rasa malu yang muncul dalam dirinya. Ia tidak ingin terlihat seperti anak yang selalu membutuhkan belas kasihan. Ia tidak ingin orang lain tahu bahwa ia bekerja bukan hanya untuk mencari pengalaman, tetapi karena benar-benar membutuhkan uang.
Namun, tubuhnya tidak mampu terus melawan.
Ia duduk perlahan.
Tangannya gemetar saat mengambil sendok.
Pak Rahman kembali ke dapur tanpa banyak bicara.
Rantaka makan pelan-pelan.
Nasi hangat itu seharusnya membuat tubuhnya lebih kuat. Tetapi setelah beberapa suap, kepalanya justru terasa semakin berat. Pandangannya mulai berkunang-kunang.
Ia berhenti makan.
“Kau sakit?” tanya Pak Rahman yang kembali keluar dari dapur.
“Tidak, Pak. Hanya sedikit pusing.”
“Pulanglah kalau begitu.”
Rantaka segera menggeleng.
“Jangan, Pak. Saya masih bisa membantu.”
“Kau sudah beberapa malam terlihat tidak sehat.”
“Saya tidak apa-apa.”
Pak Rahman menghela napas.
“Kerja itu penting. Tapi badanmu juga penting.”
Rantaka menunduk.
Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan bahwa ia tidak punya banyak pilihan.
Jika ia tidak bekerja malam itu, mungkin ia kehilangan upah.
Jika ia kehilangan upah, ia harus mengurangi uang makan.
Jika uang makan berkurang, ia akan semakin sulit belajar.
Jika nilainya semakin turun, beasiswanya benar-benar bisa hilang.
Semua ketakutan itu berputar di kepalanya seperti roda yang tidak mau berhenti.
“Saya akan selesai sampai warung tutup, Pak,” katanya pelan. “Setelah itu saya pulang.”
Pak Rahman menatapnya cukup lama.
Akhirnya, ia mengangguk kecil.
“Baik. Tapi kalau kau semakin pusing, berhenti. Jangan memaksa.”
Rantaka mengangguk.
Ia kembali berdiri.
Namun, langkahnya sudah tidak lagi sekuat sebelumnya.
Menjelang pukul sepuluh malam, pelanggan mulai berkurang.
Beberapa meja kosong.
Kursi-kursi plastik mulai disusun.
Sisa makanan dimasukkan ke dalam wadah.
Pak Rahman menghitung uang di dekat kasir, sementara seorang pegawai lain menyapu lantai depan warung.
Rantaka membawa ember berisi air kotor ke belakang.
Gang sempit di belakang warung gelap dan lembap. Di sana ada tempat sampah, beberapa kardus bekas, dan keran air yang digunakan untuk mencuci peralatan besar.
Udara malam terasa dingin.
Rantaka meletakkan ember.
Saat ia membungkuk untuk mengambil baskom, kepalanya mendadak berputar.
Dinding di depannya seperti bergerak.
Suara dari dalam warung terdengar semakin jauh.
Ia mencoba memegang tembok.
Namun, tangannya tidak kuat.
“Tidak apa-apa,” bisiknya kepada dirinya sendiri.
Ia menarik napas.
“Sedikit lagi.”
Tetapi tubuhnya tidak mendengarkan.
Pandangan Rantaka semakin gelap.
Kakinya lemas.
Ember di dekatnya jatuh dan menimbulkan suara keras.
Air kotor mengalir di lantai semen.
Rantaka mencoba berdiri kembali.
Namun, sebelum sempat melangkah, tubuhnya roboh di samping tumpukan kardus.
Damar datang ke warung sekitar setengah jam kemudian.
Ia sebenarnya tidak berniat mampir malam itu. Tetapi ketika pulang dari perpustakaan sekolah, ia melewati jalan pasar dan melihat lampu Warung Makan Sederhana masih menyala.
Damar teringat Rantaka.
Beberapa hari terakhir, sahabatnya itu terlihat semakin pendiam. Di kelas, Rantaka sering menguap dan menatap buku dengan mata kosong. Saat jam istirahat, ia jarang makan bersama teman-teman. Begitu bel pulang berbunyi, ia selalu segera pergi tanpa banyak bicara.
Damar pernah bertanya apakah semuanya baik-baik saja.
Rantaka hanya menjawab singkat.
“Aku hanya sedang banyak tugas.”
Namun, Damar tidak sepenuhnya percaya.
Ia masuk ke warung.
Pak Rahman sedang menutup kasir.
“Permisi, Pak,” kata Damar. “Apa Rantaka masih di sini?”
Pak Rahman menoleh.
“Tadi ada. Dia ke belakang membawa ember.”
Damar melihat ke arah dapur.
“Sudah lama, Pak?”
Pak Rahman tampak berpikir.
“Mungkin dua puluh menit. Kenapa?”
Damar merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Ia berjalan cepat menuju belakang warung.
Begitu melewati pintu dapur, ia melihat ember terjatuh di lantai. Air mengalir di dekat keran. Di samping tumpukan kardus, Rantaka terbaring diam.
“Rantaka!” seru Damar.
Ia berlari mendekat.
Wajah Rantaka pucat. Bibirnya kering. Napasnya pelan, tetapi masih teratur.
“Pak Rahman!” teriak Damar. “Tolong!”
Pak Rahman dan pegawai lain segera berlari keluar.
Mereka mengangkat Rantaka ke dalam warung. Pak Rahman mengambil minyak angin dan air hangat. Setelah beberapa menit, Rantaka mulai membuka mata.
“Rantaka,” kata Damar. “Kau dengar aku?”
Rantaka mengangguk lemah.
“Kau pingsan.”
“Aku… hanya pusing.”
“Pusing sampai jatuh di belakang warung?”
Rantaka memejamkan mata.
Pak Rahman berdiri di dekatnya.
“Kau harus pulang dan istirahat,” katanya tegas. “Malam ini cukup.”
“Maaf, Pak,” kata Rantaka.
“Tidak usah minta maaf. Tapi kau tidak boleh bekerja malam ini lagi.”
Rantaka membuka mata.
“Apa?”
“Kau butuh istirahat. Kalau kau terus begini, kau bisa sakit lebih parah.”
“Tapi, Pak, saya—”
Pak Rahman mengangkat tangan.
“Besok jangan datang dulu. Istirahat beberapa hari.”
Wajah Rantaka berubah.
Ia langsung duduk, meskipun tubuhnya masih lemah.
“Jangan, Pak. Saya masih bisa kerja.”
“Kau baru saja pingsan.”
“Saya butuh pekerjaan ini.”
Pak Rahman menatapnya dengan serius.
“Pekerjaan ini tidak akan lari. Tapi kalau kau terus memaksa diri, badanmu yang bisa habis.”
Rantaka menunduk.
Ia ingin mengatakan bahwa ia tidak bisa berhenti.
Ia ingin menjelaskan bahwa ia membutuhkan upah.
Namun, kata-kata itu tidak keluar.
Damar memegang bahunya.
“Aku akan antar kau pulang,” katanya.
Rantaka menggeleng pelan.
“Aku bisa pulang sendiri.”
“Kau bahkan tidak bisa berdiri dengan benar.”
“Aku tidak mau merepotkanmu.”
“Sudah,” kata Damar. “Jangan keras kepala.”
Pak Rahman memberikan uang upah Rantaka untuk malam itu.
“Ini untuk kerja yang sudah kau lakukan,” katanya. “Dan ambil makanan ini.”
Ia menyerahkan sebungkus nasi dan lauk.
Rantaka menerima bungkusan itu dengan tangan gemetar.
“Terima kasih, Pak.”
Pak Rahman mengangguk.
“Besok kau tidak perlu datang. Kalau sudah sehat, baru bicara lagi.”
Rantaka tidak menjawab.
Ia hanya menunduk.
Dalam hatinya, ketakutan baru tumbuh.
Bagaimana jika Pak Rahman benar-benar tidak mempekerjakannya lagi?
Bagaimana jika ia kehilangan satu-satunya pekerjaan yang bisa membantunya bertahan di kota?
Damar membawa Rantaka pulang ke rumah singgah dengan berjalan pelan.
Jalanan Kota Arunika masih ramai, tetapi bagi Rantaka, semua suara terdengar seperti datang dari tempat yang jauh.
Lampu-lampu toko memantul di genangan air di pinggir jalan.
Damar berjalan di sampingnya sambil memegang lengan Rantaka agar tidak jatuh.
“Kau sejak kapan bekerja di warung itu?” tanya Damar.
Rantaka tidak menjawab.
“Sejak kapan?” ulang Damar.
“Beberapa minggu.”
“Kenapa kau tidak bilang?”
Rantaka menatap jalan.
“Aku tidak ingin semua orang tahu.”
“Kenapa?”
“Karena aku tidak mau dianggap lemah.”
Damar berhenti berjalan.
Rantaka ikut berhenti.
“Lemah?” kata Damar. “Kau bekerja malam setelah sekolah, lalu tetap mencoba belajar. Itu bukan lemah. Tapi menyimpan semuanya sendirian sampai kau pingsan, itu bukan kuat juga.”
Rantaka menunduk.
Damar melanjutkan dengan suara lebih pelan.
“Ada masalah apa sebenarnya?”
Rantaka diam cukup lama.
Mereka berdiri di bawah lampu jalan yang cahayanya redup.
Di kejauhan, suara kendaraan terus bergerak.
Akhirnya, Rantaka berkata, “Nilai matematikaku dan fisikaku turun.”
Damar tidak menyela.
“Bu Mira memanggilku. Katanya beasiswaku bisa dievaluasi kalau nilainya tidak membaik.”
Wajah Damar berubah.
“Kenapa kau tidak cerita?”
“Aku malu.”
“Malu kepada siapa?”
“Kepada semua orang.”
Rantaka menarik napas panjang.
“Aku datang ke kota dengan beasiswa. Orang-orang di desa berharap aku berhasil. Ibuku menjual perhiasan peninggalan nenek untuk membantu biaya awal. Bu Laras percaya kepadaku. Liris, Banyu, Jagra… mereka semua mengira aku sedang mengejar mimpi.”
“Kau memang sedang mengejar mimpi.”
“Tapi aku merasa malah semakin jauh.”
Damar menatap sahabatnya.
“Bekerja malam membuatmu tidak bisa belajar. Tidak belajar membuat nilaimu turun. Nilaimu turun membuat kau semakin takut. Lalu kau bekerja lebih keras. Itu lingkaran yang tidak akan selesai kalau kau terus diam.”
Rantaka menutup mata sebentar.
Ia tahu Damar benar.
Namun, mengetahui sesuatu tidak selalu membuatnya mudah dilakukan.
“Aku tidak tahu harus bagaimana,” katanya.
Damar menepuk bahunya.
“Besok kita cari cara.”
“Cara apa?”
“Kita bicara dengan Bu Mira. Kita cari tahu apakah ada bantuan lain, atau jadwal belajar tambahan. Aku bisa bantu kau belajar matematika dan fisika.”
Rantaka menatapnya.
“Kau mau membantu?”
“Tentu.”
“Tapi aku tidak ingin merepotkanmu.”
Damar tersenyum kecil.
“Kau sahabatku. Kalau sahabat sedang jatuh, ya dibantu berdiri.”
Kalimat itu sederhana.
Namun, bagi Rantaka, kalimat itu terasa seperti sesuatu yang sudah lama tidak ia dengar.
Ia teringat Liris.
Ia teringat surat-surat yang belum dibalas.
Ia teringat Banyu dan Jagra.
Ia teringat Desa Wanasari.
Untuk sesaat, rasa rindu dan rasa bersalah datang bersamaan.
Sesampainya di rumah singgah, Damar membantu Rantaka masuk ke kamar.
Ia menyuruh Rantaka berbaring.
“Kau makan dulu,” katanya sambil membuka bungkus nasi dari Pak Rahman.
“Aku tidak lapar.”
“Kau harus makan sedikit.”
Rantaka menurut.
Ia makan beberapa suap, lalu minum air hangat.
Setelah itu, tubuhnya terasa semakin lelah.
Damar duduk di kursi dekat ranjang.
“Kau punya obat?”
“Ada di tas.”
Damar mengambil obat penurun panas dan menyuruhnya minum.
Sebelum tidur, Rantaka membuka tasnya.
Ia mencari buku matematika.
Damar memperhatikannya.
“Kau mau belajar sekarang?”
Rantaka menggeleng.
Ia membuka buku itu pada halaman tengah.
Di antara halaman rumus dan catatan pelajaran, terselip surat yang ia tulis untuk Liris.
Damar melihat kertas itu.
“Surat untuk siapa?”
“Untuk Liris.”
“Sudah kau kirim?”
Rantaka menggeleng.
“Kenapa?”
“Aku tidak tahu harus berkata apa.”
Damar memandangnya.
“Katakan yang sebenarnya.”
“Aku takut dia kecewa.”
“Kalau kau terus diam, mungkin dia justru lebih kecewa.”
Rantaka menatap surat itu.
Kata-kata Damar terasa seperti membuka sesuatu yang selama ini ia tutup rapat.
Ia membayangkan Liris menunggu surat di Desa Wanasari.
Ia membayangkan Liris mengira dirinya berubah.
Ia membayangkan sahabat-sahabatnya yang mungkin tidak tahu bahwa ia sedang berjuang sendirian.
Rantaka melipat surat itu kembali.
Namun, kali ini ia tidak memasukkannya ke dalam buku matematika.
Ia meletakkannya di atas meja kecil, di samping amplop kosong.
Damar melihat tindakan itu, lalu tersenyum tipis.
“Besok pagi,” katanya, “kalau kau sudah sedikit lebih baik, kita kirim.”
Rantaka tidak menjawab.
Tetapi untuk pertama kalinya setelah beberapa minggu, ia tidak menolak gagasan itu.
Malam semakin larut.
Damar mematikan lampu utama dan menyisakan lampu kecil di dekat meja.
Rantaka berbaring dengan tubuh masih lemah.
Di luar, Kota Arunika tetap ramai.
Namun, di dalam kamar rumah singgah yang sempit itu, ia mulai memahami satu hal.
Ia tidak harus menghadapi semuanya sendirian.
Ia masih takut kehilangan pekerjaan.
Ia masih takut beasiswanya dicabut.
Ia masih takut mengecewakan orang-orang yang percaya kepadanya.
Tetapi malam ketika tubuhnya jatuh di belakang warung makan itu telah membuatnya melihat batas yang selama ini ia abaikan.
Ia tidak bisa terus memaksa diri sampai hancur.
Ia tidak bisa terus menyimpan semua luka di dalam diam.
Di atas meja, surat untuk Liris menunggu.
Seperti sebuah jalan kecil yang belum ia tempuh.
Seperti keberanian yang belum sepenuhnya ia miliki.
Dan malam itu, sebelum tertidur, Rantaka berjanji dalam hati bahwa ia akan mencoba membuka jalan itu.
Bukan karena semua masalahnya telah selesai.
Melainkan karena ia mulai mengerti bahwa mimpi tidak akan bertahan jika ia terus berjalan sendirian.
BAB 18 - JAGRA MENUTUP GEROBAK BUKU
Pagi di Desa Wanasari datang dengan langit yang pucat.
Matahari memang sudah muncul dari balik pepohonan di ujung kampung, tetapi sinarnya belum cukup kuat untuk mengeringkan tanah yang masih basah oleh hujan beberapa hari terakhir. Di beberapa bagian jalan, lumpur menempel pada sandal warga. Bekas banjir masih terlihat di dinding rumah-rumah yang berada dekat sungai.
Di halaman rumah Jagra, beberapa jaring ikan dijemur di atas bambu.
Jaring-jaring itu robek di banyak bagian.
Ada yang kusut oleh ranting, ada yang putus karena terbawa arus, dan ada pula yang masih berbau lumpur sungai. Di dekatnya, ayah Jagra sedang memperbaiki papan pembatas kolam yang rusak.
Tangan ayahnya bergerak perlahan.
Sesekali ia berhenti untuk mengusap keringat.
Jagra berdiri di pinggir kolam dengan celana yang sudah terkena lumpur sampai lutut. Ia membawa ember kecil berisi pakan ikan, tetapi jumlah ikan di kolam itu kini jauh lebih sedikit dari sebelumnya.
Banjir telah membawa banyak hal pergi.
Sebagian ikan hanyut.
Beberapa alat kerja rusak.
Papan pembatas kolam roboh.
Dan yang paling membuat Jagra sulit bernapas adalah wajah ayahnya yang semakin hari semakin muram.
“Jagra,” panggil ayahnya.
“Iya, Yah.”
“Setelah ini, kau ikut ke sungai.”
“Ada apa?”
“Kita cari bambu untuk memperbaiki bagian belakang kolam. Kalau tidak segera diperbaiki, air dari parit bisa masuk lagi kalau hujan turun.”
Jagra mengangguk.
Hari-harinya kini hampir selalu seperti itu.
Pagi membantu kolam.
Siang mengangkat kayu.
Sore memperbaiki jaring.
Malam menghitung ikan yang tersisa dan memikirkan bagaimana keluarga mereka bisa bertahan sampai musim berikutnya.
Sekolah masih ia datangi, tetapi pikirannya tidak pernah benar-benar berada di dalam kelas.
Saat guru menjelaskan pelajaran, Jagra sering membayangkan kolam di rumah.
Saat teman-temannya membicarakan tugas, ia memikirkan harga pakan ikan.
Saat bel pulang berbunyi, ia langsung berlari pulang karena ayahnya pasti sudah menunggu bantuan.
Di tengah semua itu, Gerobak Buku Langit Biru menjadi sesuatu yang semakin sulit ia jalankan.
Dulu, setiap sore tertentu, Jagra akan membantu mendorong gerobak tua itu bersama Liris dan Banyu. Mereka membawa buku-buku ke bawah pohon beringin, ke teras balai desa, atau ke halaman rumah warga yang cukup luas.
Anak-anak kecil akan datang berlarian.
Ada yang membawa tikar.
Ada yang membawa pensil pendek.
Ada yang hanya datang untuk mendengar cerita.
Namun, sejak banjir datang, gerobak itu lebih sering diam di gudang kecil belakang balai desa.
Roda kirinya mulai berkarat.
Kain penutupnya masih menyimpan bau lembap.
Beberapa buku belum sempat dijemur kembali.
Dan anak-anak yang dulu selalu menunggu, mulai bertanya-tanya mengapa kakak-kakak Langit Biru tidak datang lagi.
Menjelang siang, ketika Jagra baru selesai membantu ayahnya memperbaiki papan kolam, Liris datang ke rumahnya.
Ia membawa tas kain berisi beberapa buku yang sudah dikeringkan.
Bajunya sederhana. Sandalnya masih terkena lumpur. Wajahnya tampak lelah, tetapi ia berusaha tersenyum.
“Jagra,” panggilnya dari dekat pagar bambu.
Jagra menoleh.
“Kau dari mana?”
“Dari balai desa. Aku mengecek buku-buku Gerobak Buku.”
Jagra tidak langsung menjawab.
Liris melangkah mendekat.
“Besok sore anak-anak sudah bertanya lagi. Mereka ingin kegiatan membaca dimulai.”
Jagra mengambil kain lap dan membersihkan tangannya.
“Mulai saja kalau kau mau.”
Liris terdiam.
“Maksudmu?”
“Aku tidak bisa ikut.”
“Kenapa?”
Jagra memandang kolam yang rusak.
“Kau lihat sendiri.”
“Aku tahu keadaanmu sedang sulit.”
“Kalau tahu, jangan tanya lagi.”
Nada suara Jagra membuat Liris tersentak.
Ia menarik napas pelan.
“Aku tidak bermaksud menambah bebanmu.”
“Gerobak Buku itu butuh waktu. Butuh tenaga. Aku tidak punya keduanya sekarang.”
“Kita bisa membagi tugas.”
“Dengan siapa?” Jagra menatap Liris. “Rantaka di kota. Banyu bekerja di bengkel. Kau juga harus membantu keluargamu. Yang tinggal di sini hanya kita, tetapi semua orang punya masalah sendiri.”
Liris memegang tas kainnya lebih erat.
“Anak-anak masih menunggu, Jag.”
Jagra tertawa kecil, tetapi tidak ada kegembiraan dalam suaranya.
“Anak-anak menunggu buku. Di rumahku, ayah menunggu kolam ini selesai. Kalau aku memilih pergi mendorong gerobak buku, siapa yang membantu keluarga?”
Liris tidak bisa segera menjawab.
Jagra melanjutkan.
“Aku bukan tidak peduli pada Gerobak Buku. Aku juga tidak lupa kenapa kita membuatnya. Tapi sekarang aku harus memilih apa yang paling dekat dengan rumahku.”
“Jadi, kau mau menghentikannya?”
Jagra menunduk.
Ia melihat lumpur yang menempel di telapak tangannya.
“Aku mau menutupnya sementara.”
Kata-kata itu terdengar pelan.
Namun, bagi Liris, kata-kata itu seperti sesuatu yang jatuh keras di antara mereka.
“Menutup?” ulangnya.
“Untuk sementara.”
“Berapa lama?”
“Aku tidak tahu.”
Liris memandang Jagra.
“Kalau kita berhenti sekarang, anak-anak bisa tidak kembali lagi.”
“Kalau aku tidak membantu ayah sekarang, kami bisa kehilangan kolam ini sepenuhnya.”
Suara Jagra meninggi.
Ayahnya yang sedang bekerja di dekat kolam menoleh sebentar, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
Liris menunduk.
Ia tahu Jagra benar.
Tetapi ia juga tahu Gerobak Buku bukan sekadar kegiatan sore.
Gerobak itu adalah satu-satunya tempat bagi beberapa anak desa untuk membaca buku cerita, mengerjakan tugas, atau sekadar duduk bersama tanpa merasa tertinggal.
“Baik,” kata Liris akhirnya. “Aku akan bicara dengan Banyu.”
Jagra mengangguk tanpa menatapnya.
Liris berjalan pergi.
Di sepanjang jalan, ia merasa langkahnya lebih berat daripada ketika datang.
Sore itu, Banyu datang ke balai desa dengan membawa tas kecil dari bengkel.
Tangannya masih dibalut kain tipis karena luka yang belum sepenuhnya sembuh. Ia tampak lebih kurus dari biasanya. Wajahnya penuh bekas minyak dan debu, seolah ia langsung datang setelah bekerja.
Liris sudah menunggu di dekat gudang tempat Gerobak Buku Langit Biru disimpan.
Gerobak itu berdiri diam.
Cat birunya mulai pudar.
Tulisan LANGIT BIRU di bagian samping hampir tertutup lumpur yang mengering.
“Kenapa kau menyuruhku datang?” tanya Banyu.
Liris memandang gerobak itu.
“Jagra ingin menghentikan sementara kegiatan ini.”
Banyu mengerutkan dahi.
“Menghentikan?”
“Dia bilang harus membantu keluarganya. Kolam ikan mereka rusak. Ayahnya juga sedang kesulitan.”
Banyu mendekat ke gerobak.
Ia menyentuh roda yang berkarat.
“Lalu kita bagaimana?”
“Aku tidak tahu.”
Banyu menatap Liris.
“Kalau Jagra tidak bisa, kita tetap jalan.”
“Dengan siapa?”
“Dengan kita.”
“Rantaka di kota.”
“Aku masih ada.”
“Kau juga bekerja di bengkel. Tanganmu masih terluka.”
Banyu menghela napas.
“Bukan berarti kita harus menyerah.”
Liris tidak menjawab.
Banyu membuka pintu kecil gerobak. Beberapa buku tampak tersusun tidak rapi. Ada buku yang sampulnya mengelupas karena terkena air. Ada buku cerita yang halamannya mengerut.
“Lihat ini,” katanya. “Kita dulu mengumpulkan buku-buku ini satu per satu. Ada yang dari Bu Laras, ada yang dari sekolah, ada yang dari warga. Kita pernah janji tidak akan membiarkannya berhenti hanya karena keadaan sulit.”
“Jagra tidak bilang ingin berhenti selamanya.”
“Tapi kalau dibiarkan, sementara bisa berubah menjadi selamanya.”
Liris menunduk.
Ia teringat surat dari komunitas literasi di kota kabupaten. Ia teringat tawaran bekerja di toko. Ia teringat ayahnya yang mengatakan bahwa puisi tidak bisa membeli beras.
Setiap orang sedang berhadapan dengan masalahnya sendiri.
Rantaka di kota sedang berjuang dengan sekolah dan pekerjaan.
Jagra menghadapi kolam ikan yang rusak.
Banyu bekerja di bengkel sambil menahan luka.
Dan dirinya sendiri sedang berdiri di antara mimpi menulis dan kebutuhan keluarga.
Namun, justru karena semua orang sedang kesulitan, Gerobak Buku terasa semakin penting.
“Besok aku akan bicara lagi dengan Jagra,” kata Banyu.
“Jangan marah,” kata Liris cepat. “Dia sedang tertekan.”
“Aku tidak akan marah.”
Tetapi dari cara Banyu mengucapkannya, Liris tahu bahwa ia sedang marah.
Keesokan harinya, Banyu mendatangi rumah Jagra.
Matahari baru naik ketika ia tiba di halaman rumah itu. Jagra sedang mengangkat papan kayu bersama ayahnya.
“Jag!” panggil Banyu.
Jagra menoleh.
“Kau datang pagi-pagi?”
“Aku mau bicara.”
“Kalau soal Gerobak Buku, aku sudah bicara dengan Liris.”
“Aku tahu.”
Jagra menurunkan papan kayu.
“Aku tidak bisa ikut.”
“Kau tidak harus ikut setiap hari.”
“Aku juga tidak bisa janji kapan bisa ikut lagi.”
Banyu menatapnya.
“Kau mau membiarkan semuanya berhenti begitu saja?”
Jagra mengeraskan rahangnya.
“Tidak ada yang berhenti begitu saja.”
“Gerobak itu sudah berhari-hari tidak jalan.”
“Karena banjir, Banyu!”
“Bukan hanya karena banjir. Karena kau memilih menutupnya.”
Jagra melangkah mendekat.
“Dan kau pikir aku senang mengambil keputusan itu?”
“Aku pikir kau terlalu cepat menyerah.”
Kalimat itu membuat wajah Jagra berubah.
“Apa?”
“Kita semua punya masalah. Aku juga bekerja di bengkel. Tanganku terluka. Liris juga sedang punya masalah di rumah. Rantaka di kota bahkan harus bekerja malam. Tapi kita tidak langsung menutup Langit Biru.”
Jagra menatap Banyu dengan mata yang mulai memerah.
“Kau tidak tahu apa yang terjadi di rumahku.”
“Aku tahu kolammu rusak.”
“Kau tahu dari cerita. Aku hidup di dalamnya.”
Banyu terdiam.
Jagra melanjutkan dengan suara bergetar.
“Kau datang ke sini lalu bicara tentang janji, tentang anak-anak, tentang Gerobak Buku. Kau pikir aku tidak memikirkan mereka? Kau pikir aku tidak rindu melihat mereka duduk di bawah pohon beringin?”
Banyu menunduk sedikit, tetapi tidak mundur.
“Kalau begitu, jangan tutup.”
“Lalu siapa yang memperbaiki kolam? Siapa yang ikut ayah ke sungai? Siapa yang mencari bambu? Siapa yang membantu memperbaiki jaring? Kau?”
Banyu tidak menjawab.
Jagra menunjuk kolam di belakang rumah.
“Kalau kolam itu tidak diperbaiki, kami tidak punya penghasilan. Kalau tidak ada penghasilan, kami makan apa? Buku?”
Kata terakhir itu terdengar tajam.
Banyu menarik napas.
“Aku tidak bermaksud begitu.”
“Tapi itu yang kau katakan.”
“Aku hanya tidak mau Langit Biru mati.”
Jagra memandangnya cukup lama.
“Langit Biru tidak mati hanya karena aku tidak bisa mendorong gerobak selama beberapa waktu.”
“Kalau semua orang berpikir begitu, ya mati.”
Jagra mengalihkan wajah.
“Kalau kau mau menjalankannya, jalankan sendiri.”
Banyu terdiam.
Jagra kembali mengangkat papan kayu.
Percakapan itu berakhir tanpa kata damai.
Banyu berdiri beberapa saat di halaman rumah Jagra. Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak tahu kata apa yang tidak akan terdengar seperti tuduhan.
Akhirnya, ia berbalik dan pergi.
Sore harinya, beberapa anak kecil datang ke bawah pohon beringin.
Mereka datang membawa buku tulis dan pensil.
Ada Nisa yang duduk sambil memeluk buku cerita lusuh.
Ada Rendi yang membawa dua pensil pendek.
Ada pula Sari, anak kelas dua SD, yang bertanya kepada Liris ketika melihatnya lewat.
“Kak Liris, Gerobak Buku jadi datang, kan?”
Liris berhenti.
Anak-anak itu memandangnya dengan harapan sederhana.
Harapan yang justru membuat jawabannya terasa sangat sulit.
“Belum hari ini,” kata Liris pelan.
“Besok?”
Liris tidak langsung menjawab.
“Kenapa, Kak?”
“Gerobaknya sedang diperbaiki.”
Itu bukan sepenuhnya bohong.
Namun, Liris tahu yang rusak bukan hanya roda gerobak.
Ada sesuatu yang mulai retak di antara mereka.
Anak-anak itu saling memandang.
Nisa membuka buku cerita yang dibawanya sendiri.
“Tapi aku sudah mau dengar cerita,” katanya.
Liris duduk di bawah pohon beringin.
Ia mengambil buku dari tangan Nisa.
“Baik,” katanya. “Hari ini kita membaca satu cerita saja.”
Anak-anak kecil itu segera duduk mengelilinginya.
Liris mulai membaca.
Suaranya pelan pada awalnya.
Namun, ketika melihat mata anak-anak yang mendengarkan dengan sungguh-sungguh, ia mulai membaca lebih jelas.
Cerita itu tentang seekor burung kecil yang kehilangan sarangnya setelah hujan besar. Burung itu terbang dari satu pohon ke pohon lain, mencari tempat berteduh. Banyak pohon yang patah. Banyak ranting yang hanyut. Tetapi akhirnya, burung itu menemukan dahan baru dan mulai menyusun sarangnya kembali.
Saat cerita selesai, Rendi mengangkat tangan.
“Burungnya tidak takut?”
“Takut,” jawab Liris.
“Terus kenapa dia tetap membuat sarang?”
Liris memandang langit sore.
“Karena ia tahu, kalau tidak mulai lagi, ia tidak akan punya tempat untuk pulang.”
Anak-anak itu terdiam.
Liris menutup buku.
Di dalam hatinya, ia berharap Jagra mendengar jawaban itu.
Namun, ia juga tahu bahwa setiap orang punya waktu sendiri untuk memahami luka dan tanggung jawabnya.
Malam hari, Jagra duduk di depan rumahnya.
Ayahnya sudah tidur lebih awal karena lelah bekerja seharian. Ibunya sedang menyiapkan makan untuk esok pagi.
Di halaman, suara katak terdengar dari arah parit.
Jagra memandang ke arah jalan desa.
Ia teringat Banyu yang datang pagi tadi.
Ia teringat wajah Liris ketika mendengar keputusan tentang Gerobak Buku.
Ia teringat anak-anak kecil yang selalu berebut memilih buku cerita.
Dulu, ia mengira Gerobak Buku hanya sebuah kegiatan tambahan.
Tetapi setelah semua berhenti, ia mulai menyadari bahwa gerobak itu juga menjadi tempat mereka merasa berguna.
Tempat mereka merasa tidak hanya menjadi anak desa yang menunggu keadaan berubah.
Mereka pernah mendorong gerobak itu dengan tangan sendiri.
Mereka pernah membawa buku ke anak-anak yang tidak punya banyak pilihan.
Mereka pernah percaya bahwa sesuatu yang kecil bisa memberi cahaya.
Jagra mengusap wajahnya.
Ia tidak ingin menghentikan Gerobak Buku.
Ia hanya merasa tidak sanggup menjalankannya sekarang.
Namun, tidak ada seorang pun yang benar-benar memahami bagaimana rasanya melihat ayah sendiri bekerja sampai punggungnya membungkuk, sementara rumah kehilangan sumber penghasilan.
Tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana rasanya harus memilih antara membantu keluarga atau menjaga janji kepada anak-anak desa.
Ia ingin marah kepada Banyu.
Ia ingin berkata bahwa sahabatnya itu terlalu mudah menilai.
Tetapi jauh di dalam hati, ia juga tahu Banyu tidak sepenuhnya salah.
Gerobak Buku memang tidak boleh mati.
Hanya saja, Jagra belum tahu bagaimana menjaganya tetap hidup ketika hidupnya sendiri sedang terasa runtuh.
Dari kejauhan, angin membawa suara anak-anak yang masih bermain di dekat pohon beringin.
Jagra memejamkan mata.
Di dalam bayangannya, ia melihat gerobak biru itu kembali bergerak di jalan desa.
Rantaka mendorong dari depan.
Banyu memperbaiki roda.
Liris membawa buku-buku.
Dan dirinya berjalan di samping mereka.
Namun, bayangan itu perlahan memudar.
Karena saat ini, mereka tidak lagi berjalan bersama.
Rantaka berada jauh di kota.
Liris menyimpan kesedihannya sendiri.
Banyu pergi dengan kemarahan yang belum reda.
Dan Jagra duduk sendirian di depan rumah, di antara kolam yang rusak dan janji yang terasa semakin berat.
Malam itu, Gerobak Buku Langit Biru benar-benar ditutup sementara.
Pintu gudangnya dikunci.
Roda tuanya berhenti bergerak.
Tetapi di bawah langit Desa Wanasari yang gelap, harapan itu belum sepenuhnya padam.
Ia hanya sedang menunggu seseorang untuk kembali menyalakan cahaya.
BAB 19 - SURAT DARI BU LARAS
Pagi itu, langit Desa Wanasari masih diselimuti awan tipis.
Hujan tidak turun sejak malam sebelumnya, tetapi tanah di halaman rumah-rumah warga masih basah. Daun-daun pisang menunduk karena menyimpan air. Dari arah sungai, angin membawa bau lumpur yang belum sepenuhnya hilang sejak banjir datang.
Liris sedang membantu ibunya menjemur pakaian ketika suara sepeda berhenti di depan rumah.
“Surat!” terdengar suara Pak Darto, petugas pengantar surat dari kantor desa.
Liris menoleh.
Pak Darto berdiri di dekat pagar bambu sambil membawa beberapa amplop.
“Ada surat untukmu, Ris,” katanya.
“Untuk saya?”
Pak Darto mengangguk.
“Dari kecamatan.”
Liris segera menghampiri.
Amplop itu berwarna putih gading. Di bagian depan tertulis namanya dengan tulisan tangan yang rapi.
Untuk Liris, Desa Wanasari.
Di sudut kiri atas amplop, tertulis nama pengirim.
Bu Laras.
Liris terdiam beberapa saat.
Sudah cukup lama ia tidak menerima surat dari Bu Laras. Guru yang dulu membantu mereka membangun Gerobak Buku Langit Biru itu kini lebih sering berada di kecamatan untuk mengikuti pelatihan pendidikan dan kegiatan pendampingan sekolah.
Namun, meskipun jarang datang, Bu Laras selalu mengetahui kabar tentang Desa Wanasari.
Entah dari guru-guru SD, dari warga, atau dari anak-anak yang masih sering menyebut nama Gerobak Buku Langit Biru.
Liris membawa surat itu ke dalam rumah.
Ia duduk di dekat jendela.
Tangannya perlahan membuka lipatan amplop.
Kertas surat di dalamnya bersih dan berbau samar seperti buku baru.
Tulisan Bu Laras memenuhi dua halaman.
Liris yang Ibu banggakan,
Ibu mendengar bahwa Gerobak Buku Langit Biru sedang berhenti berjalan. Ibu juga mendengar bahwa keadaan di Desa Wanasari tidak mudah setelah banjir. Kolam ikan rusak, kebun warga gagal panen, dan banyak keluarga sedang berusaha bertahan.
Ibu tidak menulis surat ini untuk menyalahkan siapa pun. Ibu tahu kalian semua sedang menghadapi beban masing-masing. Rantaka berjuang di kota. Jagra membantu keluarganya. Banyu bekerja sambil mengejar mimpinya. Dan kamu sendiri sedang berusaha menjaga cita-citamu di tengah kebutuhan rumah.
Tetapi pagi tadi, seorang anak dari Wanasari bertanya kepada Ibu, “Kapan Kak Liris dan teman-temannya membawa buku lagi?”
Pertanyaan itu membuat Ibu teringat pada hari pertama kalian mendorong gerobak biru itu melewati jalan tanah. Kalian tidak membawa banyak buku. Kalian tidak punya uang banyak. Kalian juga belum tahu apakah anak-anak akan datang. Tetapi kalian tetap berjalan karena percaya bahwa satu buku bisa membuka satu jendela kecil bagi masa depan.
Jangan biarkan jarak, kesalahpahaman, dan kesulitan membuat kalian lupa alasan awal kalian membangun Langit Biru. Persahabatan bukan berarti selalu kuat setiap hari. Persahabatan adalah keberanian untuk kembali saling mencari ketika jalan hidup membuat kalian berjauhan.
Jika gerobak itu belum bisa berjalan seperti dulu, mulailah dari hal kecil. Satu buku. Satu anak. Satu sore. Satu percakapan yang jujur.
Ibu percaya Langit Biru belum padam. Ia hanya tertutup awan.
Salam hangat,
Bu Laras
Liris membaca surat itu dua kali.
Setelah selesai, ia tidak langsung bergerak.
Kata-kata Bu Laras terasa seperti mengetuk sesuatu yang selama ini ia simpan rapat di dalam hati.
Ia teringat anak-anak kecil di bawah pohon beringin.
Ia teringat Nisa yang membawa buku cerita lusuh.
Ia teringat Rendi yang bertanya apakah burung kecil dalam cerita itu takut kehilangan sarang.
Ia juga teringat Jagra yang berdiri di depan kolam rusak dengan wajah penuh lelah.
Dan Banyu yang marah karena merasa Gerobak Buku tidak boleh berhenti.
Semua orang benar dengan luka masing-masing.
Namun, mungkin mereka juga sama-sama salah karena terlalu sibuk menjaga luka itu sendirian.
Liris melipat surat tersebut.
Kemudian ia mengambil buku catatan hijaunya.
Di halaman kosong, ia menulis beberapa kalimat.
Langit tidak selalu biru.
Kadang ia tertutup awan.
Tetapi awan tidak pernah benar-benar memiliki langit.
Ia berhenti menulis.
Matanya kembali jatuh pada surat Bu Laras.
Di dalam hati, ia membuat keputusan.
Ia harus menemui Banyu dan Jagra.
Bukan untuk memaksa mereka.
Bukan untuk mengatakan siapa yang benar.
Tetapi untuk mengingatkan bahwa mereka pernah berjalan bersama.
Di Kota Arunika, surat lain tiba di rumah singgah tempat Rantaka tinggal.
Surat itu datang melalui Pak Wardi, penjaga rumah singgah yang biasa menerima kiriman dari kantor pos kecil di dekat pasar.
“Rantaka,” panggil Pak Wardi dari depan kamar. “Ada surat.”
Rantaka yang sedang duduk di meja belajar segera menoleh.
Sudah beberapa hari tubuhnya mulai membaik setelah pingsan di belakang warung makan. Ia belum kembali bekerja. Pak Rahman menyuruhnya beristirahat, dan Damar terus mengingatkan agar ia tidak memaksakan diri.
Namun, meskipun tubuhnya sedikit lebih kuat, pikirannya masih dipenuhi banyak hal.
Nilai yang menurun.
Beasiswa yang terancam.
Surat-surat Liris yang belum ia balas.
Dan rasa malu yang membuatnya sulit menceritakan keadaan sebenarnya kepada siapa pun.
Ia menerima amplop dari Pak Wardi.
Nama Bu Laras tertulis di bagian pengirim.
Rantaka membuka surat itu dengan hati berdebar.
Isi suratnya hampir sama dengan surat yang diterima Liris. Bu Laras menceritakan bahwa Gerobak Buku Langit Biru sedang berhenti. Ia menulis tentang anak-anak yang masih menunggu. Ia juga menulis tentang persahabatan yang tidak boleh hilang hanya karena mereka berada di tempat yang berbeda.
Namun, ada satu bagian yang membuat Rantaka berhenti membaca cukup lama.
Rantaka,
Kota mungkin mengajarkanmu banyak hal. Kota bisa membuatmu merasa kecil, asing, dan sendirian. Tetapi jangan sampai semua itu membuatmu lupa bahwa di desa ada orang-orang yang pernah percaya kepadamu sebelum siapa pun mengenal namamu.
Kamu tidak harus menjadi kuat setiap saat. Tetapi kamu harus berani jujur ketika sedang lemah.
Rantaka menatap kalimat itu.
Ia teringat malam ketika Damar menemukannya pingsan di belakang warung makan.
Ia teringat wajah Pak Rahman yang menyuruhnya berhenti bekerja sementara.
Ia teringat surat untuk Liris yang masih tersimpan di meja.
Selama ini, ia mengira diam adalah cara untuk melindungi sahabat-sahabatnya dari masalahnya.
Tetapi mungkin diam justru membuat mereka semakin jauh.
Rantaka mengambil kertas dan pena.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia mulai menulis surat baru.
Bukan surat tentang sekolah yang baik-baik saja.
Bukan surat tentang kota yang tampak indah.
Bukan surat yang hanya berisi kabar aman agar orang lain tidak khawatir.
Ia menulis tentang pekerjaan malam di warung makan.
Ia menulis tentang nilai yang turun.
Ia menulis tentang beasiswa yang hampir dievaluasi.
Ia menulis tentang rasa takut yang selama ini membuatnya tidak berani membalas surat Liris.
Namun, sebelum surat itu selesai, ia berhenti.
Tangannya masih ragu.
Ia belum tahu apakah dirinya benar-benar siap mengirimkannya.
Tetapi kali ini, ia tidak lagi menyembunyikan kertas itu di antara buku pelajaran.
Ia meletakkannya di atas meja.
Di samping amplop kosong.
Di Desa Wanasari, Banyu menerima surat dari Bu Laras melalui adik sepupunya yang pulang dari sekolah.
Saat itu, Banyu sedang duduk di depan bengkel kecil tempat ia bekerja.
Tangannya masih dibalut kain, meskipun luka di telapak tangannya sudah mulai mengering. Di depannya terdapat beberapa potongan pipa bekas, baut, dan besi kecil yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit.
Ia sedang mencoba menggambar rancangan alat pengatur air sederhana.
Namun, pikirannya tidak benar-benar tenang.
Sejak bertengkar dengan Jagra, ia merasa kesal.
Ia merasa Jagra terlalu cepat menyerah.
Ia merasa Gerobak Buku Langit Biru ditinggalkan begitu saja.
Tetapi di sisi lain, ia juga tidak bisa mengabaikan wajah Jagra ketika berkata bahwa keluarganya membutuhkan bantuan.
Banyu membuka surat Bu Laras.
Ia membacanya dalam diam.
Ketika sampai pada bagian tentang persahabatan, ia mengembuskan napas panjang.
Banyu,
Keinginanmu untuk menjaga Gerobak Buku adalah sesuatu yang baik. Tetapi jangan sampai semangat itu berubah menjadi kemarahan yang melukai sahabatmu sendiri.
Kadang-kadang orang yang terlihat menyerah bukan karena tidak peduli, melainkan karena sedang memikul beban yang terlalu berat untuk dijelaskan.
Banyu menatap surat itu lama.
Kalimat itu membuatnya teringat pada halaman rumah Jagra.
Kolam yang rusak.
Papan kayu yang harus diangkat.
Wajah ayah Jagra yang tampak letih.
Dan suara Jagra yang berkata, “Kau tahu dari cerita. Aku hidup di dalamnya.”
Banyu menunduk.
Ia merasa bersalah.
Ia memang datang untuk mempertahankan Gerobak Buku.
Tetapi ia tidak benar-benar datang untuk memahami sahabatnya.
Ia terlalu sibuk membela sesuatu yang mereka bangun bersama, sampai lupa bahwa orang-orang yang membangunnya juga sedang terluka.
Banyu melipat surat itu.
Kemudian ia memandang potongan-potongan pipa di depannya.
Tiba-tiba ia memikirkan sesuatu.
Mungkin ia tidak bisa memperbaiki semua masalah Jagra.
Namun, mungkin ia bisa membantu memperbaiki aliran air ke kolam.
Mungkin alat yang selama ini ia gambar bisa dicoba untuk membantu keluarga Jagra.
Ia belum tahu apakah rancangan itu akan berhasil.
Tetapi untuk pertama kalinya, ia tidak memikirkan alat itu hanya sebagai impian pribadi.
Ia mulai memikirkannya sebagai jalan untuk kembali mendekati sahabatnya.
Surat terakhir sampai ke tangan Jagra menjelang sore.
Pak Darto menyerahkannya ketika Jagra baru pulang dari sungai bersama ayahnya.
Bajunya basah oleh keringat dan air sungai. Di pundaknya masih tergantung gulungan tali. Tangannya penuh lumpur.
“Dari Bu Laras,” kata Pak Darto.
Jagra menerima surat itu tanpa banyak bicara.
Ia membukanya setelah selesai membersihkan diri.
Di dalam kamar kecilnya, ia duduk di tepi tempat tidur.
Surat itu dibaca perlahan.
Bu Laras tidak menulis tentang kewajiban.
Ia tidak menulis bahwa Jagra harus segera membuka Gerobak Buku.
Ia tidak menulis bahwa Jagra salah karena memilih membantu keluarga.
Namun, justru karena itu, surat tersebut terasa lebih berat.
Jagra,
Ibu tahu kamu sedang berjuang untuk keluargamu. Tidak ada yang salah dengan membantu ayahmu. Tidak ada yang salah dengan merasa lelah.
Tetapi jangan biarkan rasa lelah membuatmu percaya bahwa kamu harus memikul semuanya sendiri. Sahabat bukan orang yang datang hanya ketika keadaan mudah. Sahabat adalah orang yang tetap bisa diajak bicara ketika keadaan sedang sulit.
Jika kamu belum sanggup membuka Gerobak Buku seperti dulu, katakanlah dengan jujur. Jangan menutup pintu untuk orang-orang yang mungkin ingin membantumu.
Langit Biru tidak dibangun oleh satu orang. Ia dibangun oleh kalian bersama-sama.
Jagra membaca bagian terakhir itu berulang kali.
Langit Biru tidak dibangun oleh satu orang.
Ia menatap dinding kamar.
Di luar, suara ibunya terdengar sedang memanggil ayahnya untuk makan.
Jagra memegang surat itu erat.
Selama ini, ia merasa semua orang menuntutnya untuk tetap menjalankan Gerobak Buku, padahal ia sedang kesulitan membantu keluarga.
Ia merasa Banyu tidak memahami.
Ia merasa Liris hanya melihat anak-anak yang menunggu.
Ia merasa Rantaka terlalu jauh di kota untuk tahu apa yang terjadi di desa.
Namun, surat Bu Laras membuatnya memikirkan kemungkinan lain.
Mungkin mereka memang tidak memahami seluruh bebannya.
Tetapi mungkin ia juga tidak pernah benar-benar memberi kesempatan kepada mereka untuk memahami.
Ia tidak pernah berkata bahwa ia takut kolam keluarganya tidak bisa pulih.
Ia tidak pernah berkata bahwa ia takut ayahnya jatuh sakit karena bekerja terlalu keras.
Ia tidak pernah berkata bahwa ia merasa malu karena tidak mampu menjaga Gerobak Buku ketika anak-anak masih menunggu.
Jagra menutup surat itu.
Matanya terasa panas.
Ia tidak menangis.
Namun, untuk pertama kalinya sejak banjir datang, ia mengizinkan dirinya mengakui bahwa ia lelah.
Sangat lelah.
Dan ia tidak ingin terus merasa sendirian.
Malam itu, empat surat dari Bu Laras berada di tempat yang berbeda.
Satu di meja Liris, di samping buku catatan hijau.
Satu di meja Rantaka, di rumah singgah Kota Arunika.
Satu di dalam tas Banyu, dekat rancangan alat pengatur air.
Dan satu lagi di tangan Jagra, di kamar kecil rumahnya.
Surat-surat itu tidak langsung menyelesaikan masalah.
Kolam ikan masih rusak.
Gerobak Buku masih terkunci di gudang.
Nilai Rantaka belum membaik.
Liris masih harus menghadapi tekanan dari keluarganya.
Banyu masih harus bekerja dan menyembuhkan lukanya.
Jagra masih harus membantu ayahnya setiap hari.
Namun, ada sesuatu yang mulai berubah.
Liris mulai berani menulis pesan untuk Banyu dan Jagra.
Rantaka mulai menyelesaikan surat yang selama ini tertunda.
Banyu mulai memikirkan cara membantu kolam ikan Jagra.
Dan Jagra mulai mempertimbangkan untuk membuka pintu rumahnya bagi sahabat-sahabatnya.
Di bawah langit malam yang sama, meskipun dipisahkan kota, sungai, jalan tanah, dan kesalahpahaman, mereka kembali mengingat satu hal.
Langit Biru bukan hanya gerobak tua yang membawa buku.
Langit Biru adalah janji.
Janji bahwa mereka tidak akan membiarkan satu sama lain berjalan sendirian.
Janji bahwa ketika salah satu dari mereka hampir menyerah, yang lain akan mencoba memanggilnya pulang.
Dan malam itu, surat dari Bu Laras menjadi panggilan pertama yang kembali menyatukan langkah mereka.
BAB 20 - PENGAKUAN DI BAWAH LAMPU KOTA
Malam di Kota Arunika tidak pernah benar-benar sunyi.
Bahkan ketika sebagian besar toko mulai menutup pintunya, suara kendaraan masih melintas di jalan utama. Lampu-lampu warung makan menyala kuning. Pedagang kaki lima masih menawarkan gorengan, mi rebus, dan kopi panas kepada orang-orang yang baru pulang bekerja.
Di ujung pasar, dekat deretan kios yang sudah tertutup, berdiri sebuah telepon umum tua.
Kotaknya berwarna biru pudar.
Kaca kecil di sisinya retak.
Tombol-tombol angka pada telepon itu sudah tidak semuanya jelas. Ada angka yang tulisannya hampir hilang. Ada pula tombol yang harus ditekan lebih keras agar berfungsi.
Namun, bagi Rantaka, telepon umum itu terasa seperti satu-satunya jalan pulang.
Ia berdiri beberapa langkah dari sana sambil menggenggam beberapa keping uang logam.
Tangannya dingin.
Bukan karena udara malam.
Melainkan karena sejak menerima surat dari Bu Laras, ia terus memikirkan satu nama.
Liris.
Di saku bajunya, ada surat yang sudah ia tulis berkali-kali.
Surat itu belum dikirim.
Ia sudah mencoba menuliskan semua yang ingin ia katakan: tentang pekerjaan malam di warung makan, tentang tubuhnya yang sempat jatuh sakit, tentang nilai matematika dan fisika yang terus menurun, serta tentang beasiswa yang hampir dievaluasi oleh sekolah.
Namun, setiap kali ingin memasukkan surat itu ke dalam amplop, ia selalu berhenti.
Ada terlalu banyak kata yang terasa berat.
Ada terlalu banyak rasa malu yang sulit ia tulis.
Malam ini, ia tidak ingin lagi bersembunyi di balik kertas.
Rantaka melangkah mendekati telepon umum.
Ia memasukkan satu keping uang logam.
Kemudian ia menekan nomor rumah Liris yang selama ini ia hafal di luar kepala.
Nada sambung terdengar.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Rantaka hampir menutup telepon ketika akhirnya terdengar suara dari seberang.
“Halo?”
Suara itu pelan.
Tetapi Rantaka langsung mengenalinya.
“Liris?”
Di seberang, ada jeda cukup lama.
“Rantaka?”
Suara Liris berubah.
Seperti seseorang yang tidak yakin apakah ia benar-benar mendengar suara yang selama ini ditunggu.
“Iya,” jawab Rantaka. “Aku.”
Beberapa detik berlalu.
Di sekitar telepon umum, suara kendaraan terus bergerak. Seorang pedagang menutup terpal dagangannya. Dari warung di seberang jalan, terdengar suara sendok beradu dengan gelas.
Namun, bagi Rantaka, semua suara itu seolah menjauh.
Yang tersisa hanya suara Liris.
“Kau baik-baik saja?” tanya Liris.
Pertanyaan itu sederhana.
Tetapi Rantaka tidak langsung mampu menjawab.
Selama berbulan-bulan, ia selalu menjawab pertanyaan itu dengan kalimat yang sama.
Aku baik-baik saja.
Padahal, ia tidak baik-baik saja.
Ia lelah.
Ia takut.
Ia malu.
Dan ia merasa semakin jauh dari semua orang yang pernah membuatnya percaya bahwa hidupnya bisa berubah.
“Aku tidak tahu,” katanya akhirnya.
Di seberang, Liris terdiam.
Rantaka menutup mata sebentar.
“Aku tidak baik-baik saja, Ris.”
Kalimat itu keluar perlahan.
Namun, setelah mengucapkannya, dada Rantaka justru terasa sedikit lebih lega.
“Apa yang terjadi?” tanya Liris, kini dengan suara cemas.
Rantaka menatap lampu jalan yang memantulkan cahaya pada genangan air di dekat pasar.
“Aku bekerja malam di warung makan.”
Liris tidak langsung menjawab.
“Kau bekerja malam?”
“Iya.”
“Sejak kapan?”
“Sudah cukup lama.”
“Kenapa kau tidak pernah cerita?”
Rantaka menggenggam gagang telepon lebih erat.
“Uang beasiswa tidak cukup. Ada buku, kebutuhan rumah singgah, biaya sekolah, dan banyak hal lain. Aku tidak ingin minta uang dari rumah. Aku juga tidak ingin membuat kalian khawatir.”
“Rantaka…”
“Aku pikir aku bisa menjalani semuanya. Sekolah siang, kerja malam, belajar setelah pulang. Tapi ternyata aku tidak kuat.”
Liris masih diam.
Rantaka melanjutkan, seolah jika ia berhenti, keberaniannya akan kembali hilang.
“Nilai matematikaku turun. Fisikaku juga. Guru pembimbing beasiswa memanggilku. Katanya beasiswaku bisa dievaluasi kalau nilainya tidak membaik.”
“Kenapa kau tidak bilang dari awal?”
“Aku malu.”
Jawaban itu keluar begitu saja.
“Aku malu karena aku datang ke kota dengan beasiswa. Semua orang mengira aku beruntung. Semua orang mengira aku punya kesempatan besar. Tapi ternyata aku malah hampir gagal.”
Suara Rantaka mulai bergetar.
“Aku bahkan sempat pingsan di belakang warung makan.”
“Pingsan?” suara Liris meninggi. “Kau sakit?”
“Sekarang sudah lebih baik. Damar yang menemukan aku. Pak Rahman juga menyuruhku istirahat.”
“Kau tidak boleh bekerja sampai seperti itu.”
“Aku tahu.”
“Kalau kau tahu, kenapa tetap memaksa diri?”
Rantaka tidak menjawab.
Ia tahu pertanyaan itu bukan kemarahan.
Itu adalah kekhawatiran.
Namun, justru karena ada kekhawatiran dalam suara Liris, ia merasa semakin bersalah.
“Aku takut,” katanya akhirnya.
“Takut apa?”
“Takut pulang sebagai orang yang gagal.”
Di seberang, Liris menarik napas pelan.
Rantaka melanjutkan.
“Dulu aku pergi dari Wanasari dengan banyak orang percaya padaku. Bu Laras percaya. Keluargaku percaya. Kalian percaya. Aku takut kalau aku tidak bisa mempertahankan beasiswa, semua orang akan berpikir aku tidak pantas mendapatkannya.”
“Tidak ada yang berpikir begitu,” kata Liris.
“Aku sendiri berpikir begitu.”
Kalimat itu membuat percakapan kembali hening.
Lampu kota terus menyala di atas kepala Rantaka.
Cahayanya tidak terang seperti matahari.
Tetapi cukup untuk membuat jalan yang gelap terlihat.
Rantaka memandang cahaya itu.
Tiba-tiba ia teringat puisi Liris tentang lampu kota yang terlihat indah dari jauh, tetapi menyimpan kesepian bagi orang yang hidup di bawahnya.
Kini ia mengerti maksud puisi itu.
Kota memang tampak seperti tempat penuh kesempatan.
Namun, bagi seseorang yang datang dari desa dengan uang pas-pasan dan harapan yang terlalu besar, kota juga bisa menjadi tempat yang membuat seseorang merasa sangat kecil.
“Rantaka,” suara Liris terdengar lagi. “Kau bukan gagal hanya karena sedang kesulitan.”
Rantaka menunduk.
“Kau tidak tahu rasanya.”
“Aku mungkin tidak tahu seluruhnya,” kata Liris. “Tapi aku juga sedang kesulitan.”
Rantaka terdiam.
“Ayah ingin aku berhenti menulis,” lanjut Liris.
“Apa?”
“Keadaan di rumah makin sulit setelah banjir. Ayah bilang menulis tidak membantu membeli kebutuhan rumah. Aku mendapat tawaran kerja di toko di kota kabupaten.”
“Kau mau menerimanya?”
“Aku belum tahu.”
Suara Liris terdengar semakin pelan.
“Aku ingin ikut pelatihan menulis. Aku ingin tetap mengirim puisi. Aku ingin suatu hari punya buku sendiri. Tapi setiap kali melihat ibu menghitung uang belanja, aku merasa mimpiku terlalu egois.”
“Menulis bukan egois.”
“Bagi ayah, itu hanya kesenangan.”
“Bukan.”
“Kau bilang begitu karena kau selalu percaya padaku.”
Rantaka tersenyum tipis, meskipun Liris tidak bisa melihatnya.
“Karena aku tahu kau sungguh-sungguh.”
“Kadang-kadang aku sendiri tidak yakin.”
“Kau yang dulu membuatku berani menulis surat.”
“Itu surat yang lama sekali tidak kau balas.”
Rantaka terdiam.
Nada suara Liris tidak marah.
Namun, ada luka yang tersimpan di dalamnya.
“Aku minta maaf,” kata Rantaka. “Aku menulis beberapa surat. Tapi aku tidak pernah mengirimnya.”
“Kenapa?”
“Aku takut kau tahu aku sedang hancur.”
Liris tidak langsung menjawab.
“Aku juga takut,” katanya kemudian.
“Takut apa?”
“Takut kau benar-benar berubah setelah tinggal di kota. Takut kau tidak lagi membutuhkan kami. Takut aku hanya menjadi bagian dari desa yang ingin kau tinggalkan.”
Rantaka memejamkan mata.
“Tidak pernah begitu.”
“Lalu kenapa kau diam?”
“Karena aku bodoh.”
Liris tertawa kecil.
Tawa itu singkat, tetapi cukup membuat suasana sedikit lebih ringan.
“Kau memang kadang-kadang bodoh,” katanya.
“Terima kasih.”
“Tapi aku juga salah. Aku terlalu cepat berpikir yang buruk.”
“Kita sama-sama salah.”
“Iya.”
Setelah itu, keduanya diam lagi.
Namun, diam kali ini tidak terasa seperti jarak.
Diam itu terasa seperti ruang bagi dua orang yang akhirnya berhenti menyembunyikan luka.
Di rumah Liris, lampu minyak menyala di atas meja.
Ia duduk di dekat telepon rumah sederhana milik tetangganya, karena rumahnya sendiri tidak memiliki sambungan telepon. Ia meminta izin kepada Bu Ratna, tetangga yang baik hati, untuk menerima telepon malam itu setelah sebelumnya mendapat pesan dari kantor desa bahwa Rantaka mungkin akan menghubungi.
Di luar rumah, suara jangkrik terdengar.
Angin malam membawa bau tanah basah.
Liris memegang ujung jilbabnya dengan tangan yang gemetar kecil.
Ada banyak hal yang ingin ia katakan.
Tentang surat-surat yang ia tunggu.
Tentang rasa rindu yang tumbuh diam-diam.
Tentang kekhawatiran setiap kali mendengar kabar kota.
Namun, kata-kata itu terasa terlalu besar untuk diucapkan.
“Rantaka,” katanya akhirnya.
“Iya?”
“Aku senang kau menelepon.”
Rantaka tersenyum.
“Aku juga senang mendengar suaramu.”
“Kau harus janji satu hal.”
“Apa?”
“Kalau ada masalah, jangan menghilang lagi.”
Rantaka menatap telepon di tangannya.
“Aku janji akan mencoba.”
“Bukan mencoba.”
“Baik. Aku janji.”
Liris menghela napas.
“Dan kau harus belajar lebih serius.”
“Aku tahu.”
“Kurangi kerja malam.”
“Aku sedang memikirkan caranya.”
“Jangan sampai pingsan lagi.”
“Iya, Bu Guru.”
“Jangan bercanda.”
“Maaf.”
Liris tersenyum kecil.
Kemudian suasana kembali tenang.
Di bawah lampu kota yang kekuningan, Rantaka memandang jalan di depannya.
Di bawah lampu minyak di rumah tetangga, Liris memandang halaman gelap Desa Wanasari.
Mereka berada jauh.
Dipisahkan oleh jalan panjang, pasar, sungai, sekolah, dan kehidupan yang tidak mudah.
Namun, malam itu, jarak terasa sedikit berkurang.
“Liris,” panggil Rantaka.
“Iya?”
“Aku mau mengatakan sesuatu.”
Liris menahan napas.
Rantaka sendiri merasa jantungnya berdetak lebih cepat.
Ia sudah berkali-kali ingin mengatakan kalimat itu dalam surat.
Namun, malam ini, di bawah lampu kota, ia merasa tidak ingin lagi menyimpannya sendiri.
“Aku…” Rantaka berhenti.
“Aku apa?”
“Aku sering memikirkanmu.”
Di seberang, Liris tidak menjawab.
Rantaka melanjutkan.
“Bukan hanya sebagai sahabat. Aku tidak tahu sejak kapan. Mungkin sejak dulu. Mungkin sejak kita masih duduk di bawah pohon beringin. Tapi aku baru benar-benar mengerti ketika aku jauh dari desa.”
Suara kendaraan lewat di dekat telepon umum.
Rantaka menunggu.
Tangannya mulai berkeringat.
Kemudian suara Liris terdengar sangat pelan.
“Aku juga.”
Rantaka terdiam.
“Aku juga sering memikirkanmu,” lanjut Liris. “Dan aku juga takut mengakuinya.”
“Kenapa?”
“Karena hidup kita sedang terlalu rumit.”
Rantaka mengangguk, meskipun Liris tidak melihatnya.
“Iya.”
“Kalau kita membuat janji sekarang, aku takut janji itu justru menjadi beban.”
“Aku tidak mau menjadi bebanmu.”
“Aku juga tidak mau menjadi bebanmu.”
Rantaka tersenyum tipis.
“Apa kita tetap bisa seperti sekarang?”
“Maksudmu?”
“Bukan berpura-pura tidak ada apa-apa. Tapi juga tidak memaksa semuanya harus segera punya jawaban.”
Liris terdiam sejenak.
“Kita bisa saling menjaga,” katanya. “Kita bisa saling jujur. Tapi kita harus menyelesaikan perjuangan kita masing-masing dulu.”
“Sekolahmu. Menulismu.”
“Beasiswamu. Cita-citamu menjadi guru.”
“Dan Langit Biru.”
“Dan Langit Biru.”
Mereka mengulang nama itu hampir bersamaan.
Nama yang sejak kecil menjadi bagian dari hidup mereka.
Nama yang kini terasa seperti pengingat bahwa mereka tidak boleh menyerah hanya karena berada di tempat yang berbeda.
“Aku akan pulang saat libur,” kata Rantaka.
“Benarkah?”
“Iya. Aku ingin melihat Wanasari. Aku ingin bertemu kalian.”
“Jagra juga sedang sulit.”
“Aku tahu. Bu Laras menulis tentang itu.”
“Banyu juga sedang membuat sesuatu untuk membantu kolam.”
“Kalau begitu, mungkin kita bisa mulai memperbaiki semuanya.”
“Pelan-pelan,” kata Liris.
“Pelan-pelan.”
Tiba-tiba, terdengar bunyi pendek dari telepon umum.
Rantaka melihat sisa uang logamnya.
Waktunya hampir habis.
“Liris,” katanya cepat.
“Iya?”
“Terima kasih.”
“Untuk apa?”
“Karena masih mau mendengarkan.”
“Terima kasih juga karena akhirnya jujur.”
Rantaka tersenyum.
“Selamat malam, Liris.”
“Selamat malam, Rantaka.”
Sambungan terputus.
Telepon umum kembali sunyi.
Rantaka masih berdiri di sana beberapa saat.
Lampu kota memantulkan bayangannya di jalan yang basah.
Ia tidak tiba-tiba menjadi kuat.
Nilainya belum membaik.
Beasiswanya masih terancam.
Uang di sakunya masih sedikit.
Dan masa depannya masih penuh pertanyaan.
Namun, malam itu, ia tidak lagi merasa harus menghadapi semuanya sendirian.
Di Desa Wanasari, Liris keluar dari rumah Bu Ratna.
Ia berjalan pulang dengan langkah pelan.
Langit malam di atas desa tampak luas.
Bintang-bintang muncul di antara awan yang mulai menipis.
Ia memegang buku catatan hijaunya erat-erat.
Di dalam hatinya, masih ada rasa takut.
Masih ada tekanan dari rumah.
Masih ada pilihan berat yang harus diambil.
Tetapi malam itu, ia juga membawa sesuatu yang baru.
Keberanian untuk tetap menulis.
Keberanian untuk tetap menunggu.
Dan keberanian untuk percaya bahwa perasaan tidak selalu harus menjadi janji besar agar bisa tetap berarti.
Di kota, Rantaka mulai berjalan kembali menuju rumah singgah.
Ia melewati warung makan tempat ia pernah bekerja sampai jatuh sakit.
Lampu warung itu masih menyala.
Pak Rahman terlihat sedang membereskan meja.
Rantaka berhenti sebentar.
Kemudian ia melanjutkan langkah.
Besok, ia harus kembali belajar.
Ia harus memperbaiki nilainya.
Ia harus mencari cara agar beasiswanya tidak hilang.
Ia harus membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa kesulitan tidak selalu berarti akhir.
Di bawah lampu kota yang masih menyala, Rantaka menyimpan satu keputusan di dalam hati.
Ia tidak akan lagi membiarkan rasa takut membuatnya diam.
Karena ada seseorang di Desa Wanasari yang menunggu kabarnya.
Dan ada sebuah janji bernama Langit Biru yang masih harus mereka jaga bersama.
BAB 21 - MESIN UNTUK SAWAH YANG KERING
Pagi di Desa Wanasari datang tanpa suara hujan.
Langit tampak cerah, tetapi tanah di beberapa kebun warga masih menyimpan bekas banjir yang belum lama surut. Lumpur mengering di pinggir jalan. Rumput-rumput liar tumbuh di sela parit. Di beberapa tempat, batang padi yang sempat terendam berdiri lemah dengan warna kuning pucat.
Banjir memang telah pergi.
Namun, kesulitannya belum.
Air sungai yang beberapa minggu lalu meluap hingga merusak kolam ikan dan kebun warga kini kembali surut. Anehnya, setelah air surut, sebagian lahan justru menjadi sulit dialiri. Parit-parit kecil tertutup lumpur. Saluran air yang biasa digunakan warga tersumbat ranting, batu, dan tanah yang terbawa arus.
Kebun sayur di bagian atas desa mulai mengering.
Sawah kecil milik beberapa warga tidak lagi mendapatkan aliran air yang cukup.
Bagi warga yang hidup dari kebun dan ladang, keadaan itu bukan persoalan kecil.
Tanah yang tidak dialiri air berarti tanaman tidak tumbuh.
Tanaman yang tidak tumbuh berarti tidak ada hasil panen.
Dan tanpa hasil panen, dapur rumah-rumah warga akan semakin sulit mengepul.
Banyu berdiri di pinggir parit dekat kebun Pak Karta.
Di tangannya, ia membawa buku tulis bekas yang sudah penuh coretan.
Di halaman pertama, ada gambar-gambar pipa, roda kecil, ember, dan saluran air.
Beberapa gambar dicoret.
Beberapa angka ditulis lalu dihapus.
Ada pula halaman yang sobek karena terlalu sering dilipat.
Pak Karta berdiri di sampingnya sambil memegang cangkul.
“Airnya tidak bisa naik ke kebun atas,” kata Pak Karta sambil menunjuk parit di bawah. “Kalau hanya mengandalkan ember, sehari penuh pun belum tentu cukup.”
Banyu mengangguk.
Ia memandang arah kebun yang letaknya lebih tinggi dari parit.
Jaraknya tidak terlalu jauh.
Tetapi permukaan tanahnya menanjak.
Air dari parit tidak mungkin mengalir sendiri ke sana.
“Kalau ada alat yang bisa menarik air dari bawah,” kata Banyu pelan, “lalu mengalirkannya lewat selang ke kebun atas, mungkin tanaman tidak akan terlalu kering.”
Pak Karta tersenyum kecil.
“Kau mau membuat mesin lagi?”
Banyu tidak langsung menjawab.
Ia teringat ledakan kecil di bengkel sekolah beberapa waktu lalu. Ia teringat tangannya yang terluka. Ia teringat bagaimana beberapa orang menganggap ia terlalu banyak bermimpi dengan barang-barang bekas.
Namun, kali ini ia tidak ingin membuat sesuatu hanya untuk membuktikan bahwa dirinya mampu.
Ia ingin membuat sesuatu karena melihat warga benar-benar membutuhkan bantuan.
“Aku ingin mencoba,” jawabnya.
Pak Karta menepuk bahu Banyu.
“Kalau kau butuh bahan bekas, lihat saja di gudang belakang rumahku. Ada pipa, kaleng, dan beberapa roda tua.”
Banyu mengangguk.
“Terima kasih, Pak.”
Ia berjalan pulang dengan langkah cepat.
Di kepalanya, gambar-gambar dalam buku tulis mulai bergerak.
Ia membayangkan pipa kecil yang dapat menghisap air.
Ia membayangkan roda yang diputar dengan tenaga sederhana.
Ia membayangkan air yang mengalir melalui selang menuju kebun-kebun yang kering.
Namun, ia juga tahu bahwa membayangkan sesuatu jauh lebih mudah daripada membuatnya benar-benar bekerja.
Di belakang rumah Banyu, terdapat sebuah bangunan kecil beratap seng.
Bangunan itu dulunya digunakan ayahnya untuk menyimpan peralatan kebun. Kini, sebagian ruangnya dipenuhi barang-barang yang dikumpulkan Banyu: baut, mur, potongan besi, roda sepeda bekas, selang yang sudah tidak terpakai, kaleng cat kosong, kabel, dan beberapa pipa plastik.
Orang-orang menyebut tempat itu gudang rongsok.
Banyu menyebutnya bengkel kecil.
Di sudut ruangan, terdapat meja kayu yang permukaannya penuh bekas goresan.
Di atas meja itu, Banyu meletakkan buku catatannya.
Ia membuka halaman baru.
Dengan pensil pendek, ia menggambar rancangan sederhana.
Sebuah roda sepeda bekas akan dipasang pada rangka kayu.
Roda itu akan dihubungkan dengan pompa kecil dari bekas mesin semprot yang sudah rusak.
Selang plastik akan dimasukkan ke parit.
Ketika roda diputar, pompa diharapkan dapat menarik air dan mendorongnya ke selang lain yang menuju kebun atas.
Rancangannya tidak sempurna.
Bahkan Banyu sendiri belum yakin apakah alat itu bisa bekerja.
Tetapi ia percaya bahwa setiap alat besar selalu dimulai dari gambar kecil.
Sore itu, ia mulai bekerja.
Ia memotong kayu.
Ia membersihkan roda sepeda tua.
Ia memasang baut yang ukurannya tidak sama.
Ia mengikat pipa dengan kawat.
Tangannya masih belum sepenuhnya pulih, tetapi ia berusaha berhati-hati.
Saat matahari mulai turun, Liris datang membawa botol air minum.
“Aku dengar kau sedang membuat sesuatu,” katanya.
Banyu tidak menoleh.
“Aku hanya mencoba.”
“Untuk kebun Pak Karta?”
“Iya.”
Liris duduk di bangku kayu dekat pintu.
Ia memperhatikan Banyu yang sedang memasang selang.
“Apakah alat itu akan berhasil?”
Banyu tersenyum kecil.
“Aku tidak tahu.”
“Kalau gagal?”
“Aku coba lagi.”
Liris terdiam sejenak.
“Kau masih marah kepada Jagra?”
Tangan Banyu berhenti.
Ia memandang roda sepeda di depannya.
“Tidak semarah dulu.”
“Kau sudah bicara dengannya?”
“Belum.”
“Kenapa?”
“Aku tidak tahu harus mulai dari mana.”
Liris menunduk.
“Aku juga belum bicara banyak dengannya.”
Banyu menghela napas.
“Bu Laras benar. Kita semua terlalu sibuk dengan masalah sendiri.”
Liris mengangguk.
“Jagra juga sedang berat.”
“Aku tahu.”
Banyu menatap selang yang tergeletak di lantai.
“Kalau alat ini berhasil, mungkin bisa membantu kolam keluarganya juga. Airnya bisa dialirkan ke tempat yang sulit dijangkau.”
Liris menatap Banyu.
“Itu alasanmu membuat alat ini?”
Banyu mengangkat bahu.
“Awalnya untuk kebun warga. Tapi mungkin juga untuk Jagra.”
Liris tersenyum tipis.
“Kalau begitu, kau harus benar-benar membuatnya berhasil.”
Banyu ikut tersenyum.
“Jangan memberi tekanan.”
“Aku hanya mengingatkan.”
Dua hari kemudian, alat pertama Banyu siap diuji.
Warga yang mendengar kabar tentang mesin buatan Banyu mulai datang ke parit dekat kebun Pak Karta.
Tidak banyak.
Hanya Pak Karta, Pak Hendra, Liris, beberapa anak kecil, dan dua orang pemuda desa yang penasaran.
Banyu membawa alat itu dengan bantuan Pak Hendra.
Rangkanya terbuat dari kayu bekas.
Roda sepeda tua dipasang di bagian samping.
Selang plastik menjulur dari pompa kecil menuju parit.
Di bagian lain, selang yang lebih panjang diarahkan ke kebun atas.
Bentuknya sederhana.
Bahkan terlihat agak aneh.
Salah satu anak kecil tertawa kecil.
“Seperti sepeda yang tidak bisa jalan,” katanya.
Banyu tidak marah.
Ia hanya tersenyum.
“Memang bukan untuk jalan.”
Pak Karta membantu menahan rangka kayu agar tidak bergeser.
Banyu memasukkan ujung selang ke dalam parit.
Kemudian ia mulai memutar roda.
Awalnya, tidak terjadi apa-apa.
Roda berputar.
Pompa bergerak.
Namun, air belum keluar dari selang bagian atas.
Banyu memutar lebih cepat.
Keringat mulai muncul di dahinya.
Masih tidak ada air.
Pak Hendra mendekat.
“Mungkin ada udara di dalam pipa.”
Banyu berhenti.
Ia memeriksa sambungan selang.
Benar.
Ada bagian yang tidak rapat.
Air dari parit justru masuk sedikit demi sedikit ke dalam rangka pompa.
Banyu membongkar kembali ikatan kawat.
Ia mengencangkannya.
Kemudian ia mencoba lagi.
Roda diputar.
Pompa bergerak.
Beberapa orang menunggu dengan diam.
Tiba-tiba, terdengar suara kecil.
Gluk... gluk... gluk...
Air mulai naik ke dalam selang.
Anak-anak mendekat.
Namun, sebelum air mencapai kebun atas, selang bagian tengah terlepas.
Air menyembur ke samping.
Mengenai celana Banyu.
Anak-anak tertawa.
Pak Karta menahan senyum.
Banyu berdiri diam beberapa saat.
Kemudian ia ikut tertawa.
“Berarti airnya mau naik,” katanya. “Hanya belum mau lewat jalan yang benar.”
Pak Hendra mengangguk.
“Itu sudah kemajuan.”
Tetapi bagi Banyu, kegagalan itu tetap terasa seperti beban.
Malamnya, ia duduk sendiri di bengkel kecil.
Roda sepeda dan selang tergeletak di lantai.
Buku catatan terbuka di depannya.
Ia mencoret beberapa bagian rancangan.
Menghapus.
Menggambar ulang.
Menghitung panjang selang.
Memikirkan cara agar tekanan air tidak membuat sambungan terlepas.
Ia bekerja sampai lampu minyak hampir habis.
Ibunya beberapa kali memanggil dari rumah.
“Banyu, istirahatlah.”
“Nanti, Bu.”
“Kau sudah sejak sore di sana.”
“Sebentar lagi.”
Namun, “sebentar lagi” berubah menjadi hampir tengah malam.
Banyu baru berhenti ketika tangannya kembali terasa nyeri.
Ia menatap telapak tangannya.
Bekas luka dari mesin bengkel masih tampak.
Ia menutup buku catatan.
Untuk sesaat, ia merasa ingin menyerah.
Mungkin orang-orang benar.
Mungkin ia hanya anak desa yang terlalu banyak membayangkan sesuatu.
Mungkin barang-barang bekas tidak bisa menjadi alat yang berguna.
Mungkin semua usahanya hanya akan berakhir seperti alat-alat lain yang gagal dibuatnya.
Namun, saat ia hendak mematikan lampu, ia melihat surat Bu Laras yang terselip di bawah buku catatan.
Ia mengambilnya.
Kalimat dalam surat itu kembali teringat.
Kadang-kadang orang yang terlihat menyerah bukan karena tidak peduli, melainkan karena sedang memikul beban yang terlalu berat untuk dijelaskan.
Banyu memejamkan mata.
Ia teringat Jagra.
Ia teringat kolam ikan yang rusak.
Ia teringat anak-anak yang tidak lagi belajar karena Gerobak Buku berhenti berjalan.
Ia teringat Liris yang tetap berusaha menulis meskipun keluarganya tidak selalu mendukung.
Ia teringat Rantaka yang bekerja malam di kota tanpa banyak bercerita.
Mereka semua sedang berjuang.
Kalau mereka belum menyerah, ia juga tidak ingin menyerah.
Banyu menyalakan lampu kembali.
Ia membuka buku catatan.
Dan malam itu, ia menggambar rancangan baru.
Percobaan kedua dilakukan tiga hari kemudian.
Kali ini, Banyu tidak hanya memperkuat sambungan selang.
Ia juga menambahkan katup sederhana dari karet bekas sandal agar air tidak kembali turun ke parit ketika roda berhenti diputar.
Ia memasang pipa lebih pendek di bagian awal agar tekanan air lebih kuat.
Ia juga mengubah posisi roda agar lebih mudah diputar oleh dua orang.
Pak Hendra datang membawa beberapa baut.
“Ini dari mesin pompa tua,” katanya. “Mungkin bisa dipakai.”
Banyu menerima baut itu dengan wajah cerah.
“Terima kasih, Pak.”
Pak Hendra memandang alat tersebut.
“Kau tidak takut gagal lagi?”
Banyu tersenyum.
“Takut, Pak.”
“Lalu kenapa tetap mencoba?”
“Karena kalau tidak mencoba, alat ini pasti tidak akan pernah berhasil.”
Pak Hendra mengangguk pelan.
“Jawaban yang baik.”
Saat alat kembali dipasang di pinggir parit, lebih banyak warga datang melihat.
Ada ibu-ibu yang membawa anak kecil.
Ada beberapa petani yang baru pulang dari kebun.
Ada pula Jagra.
Ia berdiri agak jauh di bawah pohon kecil, tidak banyak bicara.
Banyu melihatnya.
Namun, ia tidak menghampiri.
Ia belum tahu apakah Jagra datang untuk melihat alatnya atau hanya kebetulan lewat.
Liris yang berdiri di dekat Pak Karta juga melihat Jagra.
Ia tersenyum kecil, tetapi tidak berkata apa-apa.
Banyu memasukkan selang ke dalam parit.
Pak Hendra membantu memegang rangka.
Kemudian Banyu mulai memutar roda.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Pompa bergerak.
Air mulai masuk ke selang.
Kali ini, suara air terdengar lebih kuat.
Selang bergetar.
Semua orang menunggu.
Banyu memutar roda lebih cepat.
Tiba-tiba, air keluar dari ujung selang yang mengarah ke kebun atas.
Awalnya hanya sedikit.
Seperti aliran kecil yang ragu-ragu.
Kemudian air mengalir semakin lancar.
Membasahi tanah kering di antara tanaman cabai dan sayur.
Beberapa warga bersorak kecil.
Pak Karta tertawa lega.
“Berhasil!”
Anak-anak bertepuk tangan.
Liris tersenyum lebar.
Banyu berhenti memutar roda.
Dadanya naik turun karena lelah.
Namun, untuk beberapa saat, ia hanya memandang air yang mengalir.
Air itu tidak deras.
Alat itu tidak besar.
Rangkanya masih tampak kasar.
Roda sepedanya masih berkarat.
Tetapi air benar-benar naik dari parit ke kebun yang lebih tinggi.
Dan bagi Banyu, itu cukup untuk membuatnya merasa bahwa semua kegagalan sebelumnya tidak sia-sia.
Pak Karta menghampiri.
“Kau harus menunjukkan alat ini kepada warga lain,” katanya. “Kalau bisa dipakai di kebun-kebun lain, kita tidak perlu mengangkut air dengan ember setiap hari.”
Banyu mengangguk.
“Alat ini masih harus diperbaiki, Pak.”
“Memang harus diperbaiki,” jawab Pak Karta. “Tapi sekarang kita sudah tahu bahwa ia bisa bekerja.”
Di kejauhan, Jagra mulai berjalan mendekat.
Banyu menatapnya.
Untuk beberapa detik, keduanya hanya saling diam.
Kemudian Jagra memandang alat itu.
“Airnya bisa dialirkan lebih jauh?” tanyanya.
Banyu mengangguk.
“Mungkin bisa. Kalau selangnya ditambah dan pompa diperkuat.”
“Kalau untuk kolam ikan?”
Banyu menatap wajah Jagra.
“Bisa dicoba.”
Jagra tidak langsung menjawab.
Ia melihat air yang mengalir ke kebun.
Wajahnya masih menyimpan kelelahan.
Namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda di matanya.
Bukan kemarahan.
Bukan penolakan.
Melainkan harapan kecil.
“Ayahku sedang mencari cara untuk mengisi kolam yang bagian pinggirnya kering,” kata Jagra pelan. “Kalau alat ini bisa membantu, mungkin…”
Kalimatnya terhenti.
Banyu mengerti maksudnya.
“Kita bisa lihat bersama,” kata Banyu.
Jagra mengangguk.
“Terima kasih.”
Banyu ingin mengatakan bahwa ia juga harus meminta maaf.
Bahwa ia salah karena terlalu cepat marah.
Bahwa ia tidak benar-benar memahami beban Jagra.
Namun, kata-kata itu belum keluar.
Ia hanya mengangguk.
“Besok sore aku bisa datang ke kolammu.”
Jagra menatapnya sebentar.
Kemudian ia berkata, “Baik.”
Itu bukan percakapan panjang.
Bukan pula penyelesaian dari semua kesalahpahaman.
Tetapi bagi mereka, percakapan itu seperti aliran air pertama yang berhasil naik dari parit.
Kecil.
Pelan.
Namun, membawa kemungkinan baru.
Menjelang sore, warga mulai pulang.
Kebun Pak Karta telah basah oleh aliran air dari mesin sederhana buatan Banyu.
Matahari turun perlahan di balik pepohonan.
Cahayanya memantul di genangan kecil dekat parit.
Liris duduk di batu sambil memperhatikan Banyu membereskan alatnya.
“Kau berhasil,” katanya.
Banyu menggeleng.
“Belum sepenuhnya.”
“Airnya sudah naik ke kebun.”
“Masih banyak yang harus diperbaiki.”
“Itu memang cara kerjamu,” kata Liris. “Kau tidak pernah merasa cukup.”
Banyu tersenyum kecil.
“Kalau sudah cukup, mungkin aku berhenti belajar.”
Liris menatap kebun yang mulai basah.
“Menurutmu, alat ini bisa membantu banyak orang?”
“Aku tidak tahu,” jawab Banyu. “Tapi kalau satu kebun bisa terbantu, mungkin kebun lain juga bisa.”
“Dan kalau satu orang mulai percaya, mungkin orang lain juga akan percaya.”
Banyu memandang Liris.
“Kau sedang bicara tentang alat ini atau tentang kita?”
Liris tersenyum.
“Mungkin dua-duanya.”
Banyu tertawa kecil.
Di kejauhan, Jagra berjalan pulang menuju rumahnya.
Ia tidak lagi menundukkan kepala seperti beberapa hari sebelumnya.
Langkahnya masih berat.
Masalah keluarganya belum selesai.
Kolam ikan belum pulih.
Gerobak Buku masih belum berjalan.
Namun, sore itu, ia membawa satu bayangan baru dalam pikirannya.
Bayangan tentang air yang bisa naik ke tempat yang lebih tinggi.
Bayangan tentang sahabat yang mungkin masih ingin membantunya.
Dan bayangan tentang Langit Biru yang mungkin belum benar-benar padam.
Di bengkel kecilnya malam itu, Banyu kembali membuka buku catatan.
Ia menggambar rancangan baru.
Kali ini, ia menambahkan jalur selang yang lebih panjang.
Ia menulis beberapa kata di bawah gambar tersebut.
Untuk kebun. Untuk sawah. Untuk kolam. Untuk Wanasari.
Kemudian ia menutup buku itu.
Di luar, langit malam membentang luas di atas desa.
Tidak selalu cerah.
Tidak selalu tenang.
Tetapi tetap ada.
Seperti mimpi yang tidak berhenti hanya karena beberapa kali gagal.
Seperti air yang terus mencari jalan.
Dan seperti Langit Biru yang perlahan mulai menemukan alirannya kembali.
BAB 22 - KEMBALI KE WANASARI
Bus dari Kota Arunika berhenti di terminal kecil kecamatan menjelang siang.
Rantaka turun dengan sebuah tas lusuh di pundaknya dan kardus bekas di tangan kanan. Kardus itu tidak besar, tetapi cukup berat. Di dalamnya terdapat beberapa buku pelajaran bekas, majalah anak-anak, dua kamus kecil, serta beberapa alat tulis yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit dari teman sekolah dan warung makan tempat ia pernah bekerja.
Ia berdiri sebentar di pinggir terminal.
Udara di kecamatan terasa berbeda dari udara kota.
Tidak ada deretan bangunan tinggi.
Tidak ada kendaraan yang bergerak tanpa henti.
Tidak ada lampu-lampu toko yang menyala sepanjang malam.
Di hadapannya hanya ada jalan raya kecil, warung sederhana, pohon-pohon besar, dan beberapa ojek yang menunggu penumpang.
Namun, setelah berbulan-bulan tinggal di Kota Arunika, pemandangan itu terasa seperti sesuatu yang sangat ia rindukan.
“Ke Wanasari, Nak?” tanya seorang tukang ojek.
Rantaka mengangguk.
“Berapa, Pak?”
Setelah menyebutkan harga, tukang ojek itu membantu mengikat kardus di bagian depan motor.
Rantaka duduk di belakang.
Motor mulai berjalan meninggalkan terminal.
Jalan menuju Desa Wanasari tidak seluruhnya mulus.
Di beberapa bagian, aspalnya retak.
Di bagian lain, jalan berubah menjadi tanah padat yang masih menyimpan lumpur sisa banjir.
Motor beberapa kali berguncang ketika melewati lubang-lubang kecil.
Rantaka memegang tasnya erat-erat.
Semakin dekat ke desa, semakin banyak tanda yang mengingatkannya pada banjir yang diceritakan dalam surat-surat Liris dan Bu Laras.
Beberapa pagar bambu miring.
Tumpukan kayu hanyut masih tersangkut di pinggir sungai.
Ada kebun warga yang tanahnya tertutup lumpur.
Di beberapa halaman rumah, tampak jemuran pakaian, tikar, dan peralatan dapur yang dijemur di bawah matahari.
Rantaka memandang semua itu dengan dada terasa berat.
Selama ini, ia mengetahui keadaan desa dari surat.
Ia membaca tentang kolam ikan yang rusak.
Tentang kebun yang gagal panen.
Tentang anak-anak yang mulai jarang datang belajar.
Namun, membaca kabar dan melihat kenyataan adalah dua hal yang berbeda.
Ketika motor memasuki jalan utama Desa Wanasari, Rantaka merasa seperti sedang melihat rumahnya sendiri dengan mata yang baru.
Desa itu masih sama.
Pohon beringin di dekat SD masih berdiri.
Balai desa masih memiliki cat putih yang mulai pudar.
Warung Bu Murni masih membuka pintu lebar-lebar.
Tetapi ada kelelahan yang terasa di wajah warga.
Ada kesunyian yang tidak biasa di halaman sekolah.
Dan ada jalan-jalan yang tampak lebih lengang dari sebelumnya.
“Sudah sampai,” kata tukang ojek.
Rantaka turun di dekat rumahnya.
Ibunya yang sedang menyapu halaman langsung menoleh.
Sapu lidi di tangannya berhenti bergerak.
“Rantaka?”
Rantaka tersenyum.
“Bu.”
Ibunya berjalan cepat mendekat.
Tanpa banyak bicara, ia memeluk anaknya.
Pelukan itu tidak lama.
Namun, cukup membuat Rantaka menundukkan kepala agar ibunya tidak melihat matanya yang mulai basah.
“Kau pulang tanpa memberi kabar,” kata ibunya setelah melepaskan pelukan.
“Aku ingin memberi kejutan.”
“Kejutanmu membuat Ibu hampir tidak percaya.”
Rantaka tertawa kecil.
Ibunya memandang wajahnya lebih dekat.
“Kau kurusan.”
“Tidak, Bu.”
“Jangan bohong. Wajahmu lebih tirus.”
Rantaka tidak menjawab.
Ia tahu ibunya akan segera memahami jika ia menceritakan semuanya.
Tentang pekerjaan malam.
Tentang pingsan di belakang warung makan.
Tentang nilai yang menurun.
Tentang beasiswa yang hampir dievaluasi.
Namun, hari itu ia tidak ingin langsung membawa kecemasan kota ke rumahnya.
Ia ingin menikmati kepulangan lebih dulu.
“Aku bawa buku,” katanya sambil menunjuk kardus.
Ibunya menatap kardus itu.
“Untuk sekolah?”
“Untuk Gerobak Buku.”
Ibunya terdiam sebentar.
Kemudian ia tersenyum.
“Berarti kau masih mengingat Langit Biru.”
Rantaka memandang halaman rumahnya.
“Aku baru sadar, Bu. Selama di kota, aku terlalu sibuk takut pada hidupku sendiri.”
Ibunya mengusap bahu Rantaka.
“Setiap orang bisa lelah. Yang penting, kau tidak lupa jalan pulang.”
Kalimat itu membuat Rantaka teringat surat Bu Laras.
Ia mengangguk pelan.
Setelah makan siang dan beristirahat sebentar, Rantaka berjalan menuju pohon beringin di dekat SD Wanasari.
Dulu, tempat itu selalu ramai setiap sore.
Anak-anak datang membawa buku tulis.
Ada yang membaca cerita bergambar.
Ada yang belajar mengeja.
Ada yang hanya ingin mendengarkan Liris membacakan puisi atau Banyu menjelaskan cara kerja alat-alat sederhana.
Gerobak Buku Langit Biru biasanya diparkir di bawah pohon itu.
Gerobak tua berwarna biru dengan roda yang sering berbunyi ketika didorong.
Namun, sore itu, tempat tersebut kosong.
Tidak ada gerobak.
Tidak ada buku.
Tidak ada suara anak-anak.
Hanya daun-daun beringin yang bergerak pelan diterpa angin.
Rantaka berdiri cukup lama.
Ia merasa bersalah.
Bukan karena Gerobak Buku berhenti hanya karena dirinya pergi.
Ia tahu Liris, Banyu, dan Jagra memiliki beban masing-masing.
Namun, ia tetap merasa bersalah karena selama ini terlalu sibuk menghadapi masalah di kota sampai tidak benar-benar hadir ketika sahabat-sahabatnya membutuhkan.
“Rantaka?”
Suara itu datang dari arah jalan kecil.
Rantaka menoleh.
Liris berdiri beberapa langkah darinya.
Ia membawa buku catatan hijau di dada.
Wajahnya tampak sedikit terkejut, lalu perlahan berubah menjadi senyum.
“Kau benar-benar pulang,” katanya.
Rantaka mengangguk.
“Aku bilang akan pulang saat libur.”
“Aku kira kau masih sibuk memperbaiki nilai.”
“Aku memang harus belajar. Tapi aku juga harus pulang.”
Liris mendekat.
Mereka berdiri di bawah pohon beringin yang sama, tetapi kini terasa berbeda dari masa-masa ketika mereka masih lebih muda dan tidak banyak memikirkan masa depan.
“Aku membawa buku,” kata Rantaka.
“Untuk Gerobak Buku?”
“Iya.”
Liris menatap tempat kosong di bawah pohon.
“Anak-anak masih sering bertanya.”
“Apa yang mereka tanyakan?”
“Kapan Gerobak Buku berjalan lagi.”
Rantaka menunduk.
“Jagra masih marah?”
“Tidak seperti dulu,” jawab Liris. “Tapi dia masih berat. Kolam keluarganya belum pulih sepenuhnya.”
“Banyu?”
“Sedang sibuk dengan alat pengatur air. Kemarin alatnya berhasil mengalirkan air ke kebun Pak Karta.”
Rantaka tersenyum.
“Banyu memang tidak pernah berhenti mencoba.”
“Tidak,” kata Liris. “Dia hanya kadang terlalu keras pada dirinya sendiri.”
Rantaka mengangguk.
“Kita semua begitu, sepertinya.”
Liris memandangnya.
“Kau sudah bicara dengan Damar tentang pekerjaan malam itu?”
“Sudah. Dia bilang aku harus berhenti bekerja terlalu keras.”
“Dan kau akan mendengarnya?”
“Aku sedang berusaha.”
Liris tersenyum kecil.
“Bagus.”
Mereka terdiam beberapa saat.
Rantaka ingin mengatakan bahwa ia rindu.
Ia ingin mengatakan bahwa suara Liris di telepon umum malam itu terus teringat dalam kepalanya.
Namun, mereka sudah sepakat untuk tidak membuat janji besar sebelum menyelesaikan perjuangan masing-masing.
Maka, ia memilih mengatakan sesuatu yang lebih sederhana.
“Aku ingin memperbaiki Gerobak Buku.”
Liris memandangnya.
“Bukan hanya gerobaknya,” lanjut Rantaka. “Aku ingin kita memperbaiki semuanya.”
Menjelang sore, Liris mengajak Rantaka menuju rumah Banyu.
Bengkel kecil di belakang rumah Banyu tampak lebih ramai daripada biasanya.
Di depan bangunan beratap seng itu, beberapa pipa plastik, roda sepeda bekas, dan potongan kayu tersusun rapi.
Banyu sedang membungkuk di dekat alat pengatur airnya.
Tangannya masih memiliki bekas luka, tetapi kini ia tampak lebih berhati-hati saat bekerja.
Ketika mendengar langkah kaki, ia menoleh.
Wajahnya langsung berubah.
“Rantaka?”
Rantaka tersenyum.
“Halo, Banyu.”
Banyu berdiri.
Untuk beberapa saat, keduanya hanya saling memandang.
Kemudian Banyu berjalan mendekat dan menepuk bahu Rantaka cukup keras.
“Kau pulang juga.”
“Iya.”
“Kota tidak membuatmu lupa jalan ke desa?”
“Nyaris,” jawab Rantaka sambil tersenyum. “Tapi aku ingat lagi.”
Banyu tertawa kecil.
Liris berdiri di samping mereka.
“Aku sudah cerita tentang alatmu,” katanya kepada Rantaka.
“Alat itu berhasil?” tanya Rantaka.
“Belum sempurna,” jawab Banyu cepat. “Tapi air bisa naik ke kebun Pak Karta.”
“Itu sudah luar biasa.”
Banyu mengangkat bahu, tetapi wajahnya tampak senang.
“Masih harus banyak diperbaiki.”
Rantaka melihat rancangan di atas meja.
Ada gambar pipa, pompa sederhana, dan jalur air menuju kebun yang lebih tinggi.
“Kau mau mencoba untuk kolam Jagra?” tanya Rantaka.
Banyu mengangguk.
“Jagra datang waktu alatnya diuji. Dia bilang mungkin alat ini bisa membantu kolam keluarganya.”
“Berarti kalian sudah bicara?”
“Belum banyak.”
“Tidak apa-apa,” kata Rantaka. “Kadang satu kalimat sudah cukup untuk memulai.”
Banyu menatap Rantaka.
“Kau bicara seperti orang kota sekarang.”
“Jangan mulai.”
Mereka tertawa.
Tawa itu sederhana.
Namun, setelah sekian lama, tawa tersebut terasa seperti sesuatu yang kembali pulang.
Liris kemudian mengeluarkan surat Bu Laras dari buku catatan hijaunya.
“Aku membawa ini,” katanya.
Rantaka mengangguk.
“Aku juga menerima surat yang sama.”
Banyu memandang surat itu.
“Surat itu membuatku sadar bahwa aku terlalu cepat marah kepada Jagra.”
“Aku juga,” kata Liris. “Aku terlalu banyak diam.”
Rantaka menatap keduanya.
“Aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri.”
Banyu menghela napas.
“Berarti kita semua punya bagian.”
“Kalau begitu,” kata Liris, “mungkin kita juga semua bisa memperbaikinya.”
Rantaka menatap kardus buku yang ia bawa dari rumah.
“Kita mulai dari Gerobak Buku.”
Banyu memandang jalan ke arah gudang kecil di belakang balai desa, tempat gerobak itu biasanya disimpan.
“Gerobaknya masih ada,” katanya. “Tapi rodanya macet. Catnya juga mengelupas.”
“Aku bisa memperbaiki roda,” kata Banyu.
“Aku bisa memilah buku dan membuat jadwal belajar,” kata Liris.
Rantaka mengangguk.
“Aku bisa mengajak anak-anak kembali datang. Aku juga bisa membantu mereka belajar.”
“Dan Jagra?” tanya Liris.
Rantaka menatap langit sore yang mulai berubah warna.
“Kita harus menemuinya.”
Rumah Jagra berada tidak jauh dari sungai.
Ketika Rantaka, Liris, dan Banyu tiba, Jagra sedang membantu ayahnya mengangkat jaring yang sudah kering.
Di halaman rumah, beberapa ember dan peralatan kolam masih tersusun. Sebagian tampak rusak. Ada papan kayu yang retak. Ada jaring yang tambalannya lebih banyak daripada bagian utuhnya.
Jagra melihat mereka datang.
Wajahnya berubah kaku.
Rantaka melangkah lebih dulu.
“Halo, Jagra.”
Jagra menatapnya.
“Kau pulang.”
“Iya.”
“Kapan?”
“Siang tadi.”
Jagra mengangguk.
Tidak ada sambutan panjang.
Tidak ada pelukan.
Namun, Rantaka tidak merasa tersinggung.
Ia tahu sahabatnya sedang membawa terlalu banyak hal di dalam hati.
Banyu berdiri sedikit di belakang.
Tangannya menggenggam topi yang ia pakai.
“Aku membawa rancangan alat,” katanya akhirnya. “Untuk mengalirkan air. Mungkin bisa membantu kolam.”
Jagra menatap Banyu.
“Aku tahu. Aku lihat alatmu di kebun Pak Karta.”
“Kalau kau mau, besok kita bisa mencoba.”
Jagra tidak langsung menjawab.
Ayah Jagra yang sejak tadi diam kemudian berkata, “Kalau memang bisa membantu, tidak ada salahnya dicoba.”
Jagra memandang ayahnya.
Lalu ia kembali memandang Banyu.
“Baik,” katanya pelan.
Liris mengeluarkan surat Bu Laras.
“Kami juga ingin bicara tentang Gerobak Buku.”
Jagra menarik napas.
“Aku belum bisa ikut seperti dulu.”
“Kami tidak datang untuk memaksamu,” kata Liris.
Rantaka mengangguk.
“Kami datang karena kami ingin mulai lagi. Pelan-pelan.”
“Anak-anak masih menunggu,” tambah Liris.
Jagra menunduk.
“Aku tahu.”
“Kalau kau belum bisa hadir setiap sore, tidak apa-apa,” kata Rantaka. “Tapi jangan menutup pintu untuk Langit Biru.”
Jagra memandang tanah di bawah kakinya.
Angin dari sungai berembus pelan.
Suara air terdengar dari kejauhan.
“Aku marah,” katanya akhirnya. “Aku marah karena semua orang bicara tentang Gerobak Buku, sementara aku harus memikirkan kolam, ayah, dan rumah.”
“Kami tahu,” kata Banyu.
“Tidak,” jawab Jagra cepat. “Kalian tidak tahu sepenuhnya.”
Banyu mengangguk.
“Kami memang tidak tahu sepenuhnya. Tapi kami ingin tahu. Kalau kau mau cerita.”
Jagra terdiam.
Rantaka memandang sahabatnya.
“Kami juga salah karena terlalu cepat menilai,” katanya. “Aku pergi ke kota dan sibuk dengan masalahku. Liris sibuk dengan keluarganya. Banyu sibuk dengan alatnya. Tapi itu bukan alasan untuk membiarkanmu sendirian.”
Jagra menatap mereka satu per satu.
Wajahnya masih lelah.
Namun, kali ini ia tidak berpaling.
“Aku tidak tahu apakah Gerobak Buku bisa berjalan lagi,” katanya.
“Bisa,” jawab Liris. “Mungkin tidak langsung seperti dulu.”
“Tidak harus ramai,” tambah Rantaka. “Tidak harus sempurna.”
“Cukup mulai dari satu sore,” kata Banyu.
Jagra memandang sungai.
Kemudian ia mengangguk pelan.
“Satu sore.”
Kalimat itu sederhana.
Tetapi bagi mereka, kalimat tersebut terasa seperti pintu yang akhirnya terbuka.
Keesokan paginya, mereka berkumpul di gudang kecil belakang balai desa.
Pintu gudang berderit ketika dibuka.
Di dalamnya, Gerobak Buku Langit Biru berdiri dalam keadaan diam.
Cat birunya mengelupas di beberapa bagian.
Salah satu roda depan macet.
Rak bukunya berdebu.
Ada daun-daun kering terselip di antara buku-buku lama.
Liris mengusap debu di permukaan gerobak.
“Kasihan sekali,” katanya pelan.
Rantaka menaruh kardus buku di samping gerobak.
“Tidak apa-apa,” jawabnya. “Kita bersihkan.”
Banyu langsung memeriksa roda.
“Bukan rusak parah,” katanya. “Hanya berkarat dan bautnya longgar.”
Jagra berdiri di dekat pintu gudang.
Awalnya ia hanya memperhatikan.
Namun, ketika melihat Rantaka mengangkat tumpukan buku yang berat, ia ikut mendekat.
“Taruh yang itu di sini,” katanya.
Rantaka menoleh.
Jagra menunjuk rak bagian bawah.
“Buku cerita anak-anak sebaiknya dipisahkan. Yang kecil-kecil biasanya mencari itu dulu.”
Liris tersenyum.
“Kau masih ingat.”
Jagra tidak menjawab, tetapi tangannya mulai membantu menyusun buku.
Mereka bekerja hampir sepanjang pagi.
Rantaka membersihkan rak dan memilah buku.
Liris mencatat judul-judul yang masih layak dipakai serta membuat daftar sederhana untuk jadwal belajar.
Banyu membongkar roda gerobak, membersihkan bagian berkarat, lalu memasang kembali baut yang lebih kuat.
Jagra menyusun buku cerita, buku pelajaran, dan majalah anak-anak.
Sesekali, mereka berbicara.
Sesekali, mereka diam.
Namun, diam itu tidak lagi penuh kemarahan.
Diam itu adalah diam orang-orang yang sedang mencoba memperbaiki sesuatu dengan tangan mereka sendiri.
Menjelang siang, gerobak itu tampak berbeda.
Belum seperti baru.
Catnya masih pudar.
Kayunya masih memiliki bekas goresan.
Tetapi rodanya sudah bisa bergerak.
Rak bukunya telah bersih.
Buku-buku baru dari Rantaka tersusun rapi.
Di bagian depan, Liris menempelkan selembar kertas bertuliskan:
GEROBAK BUKU LANGIT BIRU
KEMBALI BERJALAN
Banyu mendorong gerobak sedikit.
Rodanya berbunyi pelan.
Namun, roda itu bergerak.
Jagra memandang gerobak tersebut cukup lama.
“Kapan kita mulai?” tanyanya.
Rantaka tersenyum.
“Sore ini.”
Menjelang sore, mereka mendorong Gerobak Buku Langit Biru menuju pohon beringin di dekat SD Wanasari.
Awalnya, jalan terasa sepi.
Hanya beberapa anak yang melihat dari halaman rumah.
Seorang anak kecil bernama Nisa berlari mendekat lebih dulu.
“Kak Liris!” serunya.
Liris tersenyum.
“Halo, Nisa.”
Nisa memandang gerobak itu dengan mata berbinar.
“Gerobak Buku kembali?”
“Iya,” jawab Liris.
Tidak lama kemudian, anak-anak lain mulai datang.
Ada yang membawa buku tulis.
Ada yang datang tanpa membawa apa-apa.
Ada yang hanya berdiri di kejauhan karena masih ragu.
Namun, ketika melihat buku-buku tersusun di gerobak, mereka perlahan mendekat.
Rantaka duduk di tikar yang digelar di bawah pohon.
“Siapa yang mau belajar membaca?” tanyanya.
Beberapa tangan kecil terangkat.
Liris mengajak anak-anak lain memilih buku cerita.
Banyu menunjukkan kepada beberapa anak cara kerja roda gerobak dan menjelaskan mengapa roda harus diberi minyak agar tidak macet.
Jagra duduk di dekat anak-anak yang lebih kecil.
Ia mengambil sebuah buku bergambar tentang ikan sungai.
“Siapa yang tahu ikan apa ini?” tanyanya.
Anak-anak menjawab ramai-ramai.
Suara mereka memenuhi halaman sekolah.
Suara tawa.
Suara membaca.
Suara bertanya.
Suara halaman buku yang dibuka.
Rantaka memandang semua itu dengan dada hangat.
Ia teringat hari ketika ia pertama kali pergi ke kota.
Saat itu, ia merasa masa depan hanya ada di tempat yang jauh.
Di sekolah besar.
Di jalan-jalan ramai.
Di bangunan-bangunan kota.
Namun, sore itu ia mengerti bahwa masa depan juga bisa tumbuh di bawah pohon beringin.
Di atas tikar sederhana.
Di antara buku-buku bekas.
Di tangan anak-anak yang baru belajar mengeja.
Liris duduk di dekatnya.
“Terima kasih sudah pulang,” katanya pelan.
Rantaka menoleh.
“Terima kasih karena kalian tidak membiarkan Langit Biru hilang.”
Liris tersenyum.
“Langit Biru tidak hilang.”
“Tidak?”
“Tidak,” jawab Liris. “Ia hanya menunggu kita kembali melihatnya.”
Rantaka memandang langit sore.
Warna biru mulai berubah keemasan.
Di dekat gerobak, Banyu sedang membantu seorang anak membuka buku sains bergambar.
Jagra sedang bercerita tentang ikan sungai kepada anak-anak kecil.
Liris memegang buku catatan hijaunya, mungkin sedang menulis sesuatu yang kelak menjadi puisi.
Dan Rantaka duduk di bawah pohon beringin, dikelilingi anak-anak yang membaca dengan mata penuh rasa ingin tahu.
Masalah mereka belum selesai.
Nilai Rantaka masih harus diperbaiki.
Beasiswanya masih belum aman.
Liris masih harus menentukan pilihan antara bekerja atau mengikuti pelatihan menulis.
Banyu masih harus menyempurnakan alat pengatur airnya.
Jagra masih harus membantu memulihkan kolam keluarganya.
Namun, sore itu mereka tidak lagi berdiri sendiri-sendiri.
Gerobak Buku Langit Biru kembali berjalan.
Pelan.
Dengan roda yang pernah macet.
Dengan cat yang pernah mengelupas.
Dengan buku-buku yang pernah berdebu.
Tetapi tetap berjalan.
Seperti persahabatan mereka.
Tidak sempurna.
Pernah retak.
Pernah berhenti.
Namun, selama masih ada keberanian untuk kembali, selalu ada jalan untuk memulainya lagi.
BAB 23 - PENTAS DARI DUA DUNIA
Gerobak Buku Langit Biru kembali berjalan selama hampir dua minggu.
Setiap sore, anak-anak Desa Wanasari mulai datang lagi ke bawah pohon beringin dekat SD. Mereka membawa buku tulis, pensil pendek, atau sekadar rasa ingin tahu yang besar. Ada yang belajar membaca. Ada yang belajar berhitung. Ada yang memilih buku cerita bergambar. Ada pula yang duduk diam mendengarkan Liris membacakan puisi.
Namun, Rantaka tahu bahwa Gerobak Buku saja belum cukup.
Banjir telah meninggalkan luka yang terlalu besar bagi Desa Wanasari.
Kolam ikan keluarga Jagra belum sepenuhnya pulih. Kebun-kebun warga masih membutuhkan aliran air yang lebih baik. Banyak keluarga masih berusaha memperbaiki rumah dan mencari penghasilan setelah panen mereka gagal. Anak-anak memang kembali belajar, tetapi buku dan alat tulis mereka semakin sedikit.
Suatu sore, setelah kegiatan Gerobak Buku selesai, Rantaka duduk bersama Liris, Banyu, dan Jagra di bawah pohon beringin.
Anak-anak sudah pulang.
Gerobak Buku diparkir di dekat pagar sekolah.
Langit sore berwarna jingga. Angin membawa bau tanah basah dari arah sungai.
“Aku berpikir,” kata Rantaka.
Banyu menoleh.
“Biasanya kalau kau bilang begitu, ada pekerjaan tambahan.”
Rantaka tersenyum tipis.
“Mungkin.”
Liris menutup buku catatan hijaunya.
“Apa yang kau pikirkan?”
“Kita perlu membuat kegiatan yang lebih besar.”
Jagra memandang Rantaka.
“Kegiatan apa?”
“Pentas Langit Biru.”
Nama itu membuat mereka terdiam.
Mereka pernah mengadakan kegiatan serupa sebelumnya. Saat itu, mereka masih lebih muda. Mereka membuat acara kecil di balai desa, mengajak anak-anak membaca puisi, bercerita, dan bermain sambil belajar.
Namun, kali ini keadaan berbeda.
Desa sedang kesulitan.
Mereka sendiri sedang menghadapi banyak masalah.
“Apa kita mampu?” tanya Jagra.
Rantaka tidak langsung menjawab.
“Kita mungkin tidak mampu menyelesaikan semua masalah,” katanya. “Tapi kita bisa mengajak lebih banyak orang melihat keadaan desa kita.”
Liris mengangguk pelan.
“Kalau warga datang, kita bisa mengajak mereka kembali memikirkan pendidikan anak-anak.”
“Dan perikanan,” kata Jagra.
“Dan kebun,” tambah Banyu.
Rantaka tersenyum.
“Itulah maksudku. Pentas ini bukan hanya untuk hiburan. Kita bisa menunjukkan bahwa desa masih punya harapan.”
Banyu menatap alat pengatur air yang tersimpan di samping rumahnya dalam bayangan pikirannya.
“Aku bisa membawa alat itu,” katanya. “Bukan untuk pamer, tapi untuk menjelaskan bahwa alat sederhana bisa membantu kebun warga.”
Jagra memandang sungai di kejauhan.
“Aku bisa bicara tentang kolam ikan. Tentang apa yang rusak setelah banjir. Tentang rencana membentuk kelompok perikanan remaja.”
Liris memegang buku catatan hijaunya lebih erat.
“Aku bisa membacakan puisi.”
“Puisi tentang apa?” tanya Banyu.
Liris tersenyum kecil.
“Perantauan. Tentang kota dan desa. Tentang orang-orang yang pergi, lalu sadar bahwa mereka tetap membawa rumahnya di dalam hati.”
Rantaka menunduk.
Ia tahu puisi itu mungkin juga tentang dirinya.
Tentang Kota Arunika.
Tentang rumah singgah.
Tentang telepon umum di sudut pasar.
Tentang rasa sepi yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun selain Liris.
“Aku akan menghubungi teman-temanku di kota,” kata Rantaka.
“Untuk apa?” tanya Jagra.
“Aku ingin meminta bantuan buku dan alat tulis. Tidak harus banyak. Buku bekas yang masih layak. Pensil, penghapus, buku tulis. Apa saja yang bisa digunakan anak-anak di sini.”
Banyu menatapnya.
“Mereka mau membantu?”
“Aku belum tahu,” jawab Rantaka. “Tapi aku harus mencoba.”
Malam itu, Rantaka menulis surat kepada Damar.
Ia menulis di meja kecil rumahnya dengan lampu minyak yang menyala redup. Ibunya sudah tidur. Dari luar rumah, terdengar suara jangkrik dan aliran sungai yang jauh.
Surat itu berbeda dari surat-surat yang dulu sering ia tulis lalu tidak pernah kirim.
Kali ini, Rantaka tidak menulis untuk menyembunyikan kesedihan.
Ia menulis untuk meminta bantuan.
Ia menceritakan tentang banjir di Desa Wanasari.
Tentang kolam ikan yang rusak.
Tentang kebun yang mengering setelah air surut.
Tentang Gerobak Buku Langit Biru yang sempat berhenti berjalan.
Ia juga menceritakan bahwa bersama Liris, Banyu, dan Jagra, ia ingin mengadakan kegiatan di balai desa.
Di bagian akhir surat, ia menulis:
Kalau teman-teman di kota memiliki buku atau alat tulis yang sudah tidak dipakai, kami akan sangat terbantu. Tidak perlu baru. Tidak perlu banyak. Anak-anak di desa akan senang jika memiliki sesuatu untuk dibaca dan ditulis.
Setelah selesai, Rantaka membaca ulang surat itu.
Ia sempat merasa ragu.
Apakah teman-temannya di kota akan mengerti?
Apakah mereka akan menganggapnya terlalu berharap?
Namun, ia teringat sesuatu yang dikatakan Bu Laras dalam suratnya.
Jangan malu meminta bantuan ketika bantuan itu bukan hanya untuk dirimu sendiri.
Keesokan paginya, Rantaka pergi ke kantor pos kecamatan.
Ia memasukkan surat itu ke dalam amplop.
Kemudian ia menyerahkannya kepada petugas.
Saat surat itu menghilang di balik meja petugas, Rantaka merasa seperti sedang mengirim sebagian harapan Desa Wanasari ke kota.
Persiapan Pentas Langit Biru dimulai.
Balai desa yang selama ini digunakan untuk rapat warga dibersihkan bersama-sama. Lantai disapu. Jendela dibuka agar udara masuk. Kursi-kursi kayu yang tersimpan di gudang dikeluarkan. Panggung kecil dari papan disusun di bagian depan ruangan.
Liris membuat tulisan besar di karton bekas.
PENTAS LANGIT BIRU
DARI DUA DUNIA
UNTUK DESA WANASARI
Tulisan itu ditempel di depan balai desa.
Banyu membantu membuat tiang sederhana untuk memasang kain latar panggung. Ia menggunakan bambu dan tali rafia. Di bagian samping panggung, ia menyiapkan alat pengatur air buatannya.
Alat itu kini terlihat lebih rapi.
Rangkanya masih dari kayu bekas.
Rodanya masih roda sepeda tua.
Namun, pipa dan selangnya sudah dipasang lebih kuat. Banyu juga menambahkan penyangga agar alat itu tidak mudah bergeser saat digunakan.
Jagra sibuk mendatangi beberapa pemuda desa.
Awalnya, ia merasa canggung.
Selama beberapa bulan terakhir, ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dan di kolam. Ia merasa tidak punya hak untuk mengajak orang lain ketika dirinya sendiri hampir menyerah.
Namun, ia teringat air yang berhasil mengalir ke kebun Pak Karta.
Ia teringat kata-kata Rantaka bahwa sesuatu tidak harus sempurna untuk bisa dimulai.
Maka, ia mendatangi rumah demi rumah.
Ia berbicara kepada pemuda yang biasa membantu orang tua di kebun.
Ia berbicara kepada anak-anak remaja yang sering memancing di sungai.
Ia berbicara kepada beberapa teman sekolah yang dulu pernah membantu Gerobak Buku.
“Kita tidak bisa menunggu semuanya pulih sendiri,” katanya. “Kalau kolam rusak, kita perbaiki bersama. Kalau alat kurang, kita cari cara. Kalau hasil ikan belum banyak, kita mulai dari yang ada.”
Beberapa pemuda mengangguk.
Sebagian masih ragu.
Namun, ada yang mulai tertarik.
Terutama ketika Jagra mengatakan bahwa kelompok itu tidak hanya akan mengurus ikan, tetapi juga belajar cara merawat kolam, membuat pakan sederhana, dan membantu keluarga yang kolamnya rusak akibat banjir.
Perlahan, nama-nama mulai dicatat.
Kelompok Perikanan Remaja Wanasari.
Nama itu belum resmi.
Belum memiliki seragam.
Belum memiliki uang kas.
Namun, sudah memiliki sesuatu yang penting.
Keinginan untuk bergerak.
Tiga hari sebelum pentas, sebuah kendaraan bak terbuka berhenti di depan balai desa.
Di atas bak kendaraan itu terdapat beberapa kardus.
Anak-anak yang sedang bermain di halaman langsung berlari mendekat.
Rantaka yang sedang membantu memasang kursi menoleh.
Seorang pemuda turun dari kendaraan.
Ia membawa tas ransel dan tersenyum lebar.
“Rantaka!”
Rantaka terkejut.
“Damar?”
Damar berjalan cepat menghampirinya.
Mereka saling berjabat tangan, lalu berpelukan singkat.
“Kau datang?”
“Aku membawa titipan.”
Damar menunjuk kardus-kardus di atas kendaraan.
“Teman-teman di sekolah mengumpulkan buku. Ada buku pelajaran, cerita anak, majalah ilmu pengetahuan, dan beberapa buku tulis. Tidak banyak, tapi kami berharap berguna.”
Rantaka memandang kardus-kardus itu.
Dadanya terasa hangat.
“Terima kasih.”
“Jangan terima kasih dulu,” kata Damar. “Angkat dulu kardusnya.”
Banyu dan Jagra segera datang membantu.
Liris keluar dari balai desa sambil membawa karton.
Ketika melihat tumpukan kardus, wajahnya berubah cerah.
“Buku?”
“Dari kota,” jawab Rantaka.
Anak-anak mulai berkerumun.
Mereka melihat kardus-kardus itu seperti melihat peti harta karun.
Damar membuka salah satu kardus.
Di dalamnya terdapat buku cerita bergambar, buku pengetahuan umum, buku pelajaran, pensil, penghapus, dan beberapa kotak krayon.
Seorang anak kecil mengambil buku bergambar tentang tata surya.
“Ini untuk kami?” tanyanya.
Rantaka tersenyum.
“Iya. Tapi nanti dibaca bersama-sama.”
Anak itu memeluk buku tersebut.
Pemandangan itu membuat Damar terdiam.
Mungkin baru saat itu ia benar-benar memahami maksud surat Rantaka.
Di kota, buku sering menjadi barang biasa.
Di Desa Wanasari, sebuah buku baru bisa membuat mata anak-anak berbinar seperti melihat sesuatu yang sangat berharga.
“Teman-temanmu baik,” kata Liris kepada Rantaka.
Rantaka mengangguk.
“Mereka juga anak-anak yang sedang berjuang.”
Damar menatap Liris.
“Kau Liris?”
Liris tampak sedikit terkejut.
“Iya.”
“Rantaka sering menyebut namamu.”
Rantaka langsung menoleh tajam.
“Damar.”
Damar tertawa.
“Aku hanya bilang yang benar.”
Liris menunduk, menahan senyum.
Banyu dan Jagra saling pandang.
Namun, tidak ada yang menambah godaan.
Mereka tahu bahwa beberapa hal tidak perlu dijelaskan terlalu banyak.
Hari Pentas Langit Biru akhirnya tiba.
Sejak pagi, balai desa sudah ramai.
Ibu-ibu membawa makanan sederhana untuk dijual atau dibagikan. Beberapa bapak membantu memasang tikar di halaman. Anak-anak datang dengan pakaian terbaik mereka. Ada yang memakai baju seragam sekolah. Ada yang memakai kemeja lama yang sudah disetrika rapi.
Di depan balai desa, Gerobak Buku Langit Biru diparkir dengan buku-buku baru tersusun di dalamnya.
Di sampingnya, Banyu menata alat pengatur air.
Di dekat pintu masuk, Jagra menempelkan kertas besar bertuliskan:
DAFTAR PEMUDA YANG BERSEDIA BERGABUNG
KELOMPOK PERIKANAN REMAJA WANASARI
Rantaka berdiri di dekat panggung.
Ia mengenakan kemeja putih sederhana yang sudah disetrika oleh ibunya.
Tangannya masih sedikit gemetar.
Ia tidak terbiasa berdiri di depan banyak orang.
Di Kota Arunika, ia sering merasa kecil di hadapan siswa-siswa lain.
Namun, hari itu, ia tidak berdiri untuk dirinya sendiri.
Ia berdiri untuk desa.
Liris datang mengenakan baju sederhana berwarna biru muda.
Di tangannya, ia membawa buku catatan hijau.
“Kau gugup?” tanyanya.
“Sedikit.”
“Bagus.”
“Bagus?”
“Kalau gugup, berarti kau menganggap ini penting.”
Rantaka tersenyum.
“Kau sendiri?”
“Aku lebih gugup.”
“Karena akan membaca puisi?”
“Karena ayahku datang.”
Rantaka menoleh ke arah kursi warga.
Di barisan belakang, ayah Liris duduk dengan wajah tenang. Ia tidak banyak bicara. Namun, kehadirannya saja sudah membuat Liris merasa tegang.
“Ayahmu mau datang?” tanya Rantaka.
“Ibu yang mengajaknya. Aku tidak tahu apakah ia datang untuk mendukung atau hanya ingin melihat.”
“Setidaknya ia datang.”
Liris mengangguk.
Di dekat panggung, Banyu sedang memeriksa sambungan pipa untuk terakhir kali.
Jagra berdiri bersama beberapa pemuda yang sudah menuliskan nama mereka di daftar kelompok perikanan.
Wajahnya masih serius.
Namun, tidak lagi tertutup seperti sebelumnya.
Ketika semua warga mulai duduk, Pak Lurah Desa Wanasari naik ke panggung kecil.
Ia membuka acara dengan sambutan singkat.
Ia berbicara tentang banjir yang telah menguji warga.
Tentang anak-anak yang membutuhkan dukungan agar tidak berhenti belajar.
Tentang pentingnya pemuda desa untuk tidak hanya menunggu bantuan datang.
Setelah itu, ia mempersilakan Rantaka maju.
Rantaka berjalan ke depan panggung.
Ia memegang selembar kertas.
Namun, ketika melihat wajah anak-anak di barisan depan, ia menurunkan kertas itu.
Ia ingin berbicara dari hati.
“Bapak, Ibu, dan teman-teman semua,” katanya.
Suara Rantaka sempat bergetar.
Namun, perlahan ia menemukan keberaniannya.
“Kami memberi nama kegiatan ini Pentas Langit Biru dari Dua Dunia. Bukan karena kota lebih baik dari desa. Bukan juga karena desa lebih kecil daripada kota.”
Warga mendengarkan.
“Kota memberi kami pengalaman. Kota memberi kami buku, teman, dan kesempatan belajar. Tetapi desa memberi kami rumah. Desa memberi kami keluarga, tanah, sungai, dan alasan untuk pulang.”
Ia menatap Gerobak Buku yang berdiri di samping balai desa.
“Anak-anak Desa Wanasari tidak boleh kehilangan kesempatan belajar hanya karena keadaan sedang sulit. Mereka tidak boleh merasa bahwa mimpi hanya milik orang-orang yang tinggal jauh dari sini.”
Beberapa warga mengangguk.
Rantaka melanjutkan.
“Kami mungkin belum bisa memperbaiki semua yang rusak. Kami belum bisa mengembalikan panen yang gagal. Kami belum bisa mengisi kembali semua kolam ikan. Tetapi kami bisa mulai dari hal kecil. Dari buku. Dari alat tulis. Dari kebun yang dialiri air. Dari pemuda yang mau bekerja bersama.”
Tepuk tangan terdengar dari beberapa arah.
Rantaka menunduk.
Ketika ia kembali ke tempat duduk, Liris memandangnya dengan mata berkaca-kaca.
“Kau bicara bagus,” katanya pelan.
“Aku hampir lupa setengahnya.”
“Tapi kau tidak lupa yang penting.”
Acara berikutnya adalah pembacaan puisi oleh Liris.
Liris naik ke panggung dengan buku catatan hijau di tangan.
Ia berdiri beberapa saat di depan mikrofon sederhana.
Angin sore masuk dari jendela balai desa.
Kertas di tangannya bergerak pelan.
Kemudian ia mulai membaca.
Puisi itu berjudul “Dari Dua Dunia.”
Ia bercerita tentang seorang anak desa yang naik bus pagi menuju kota.
Tentang lampu-lampu kota yang terlihat seperti bintang, tetapi tidak selalu menghangatkan.
Tentang jalan tanah di desa yang penuh lumpur, tetapi selalu mengenal langkah kaki orang yang pulang.
Ia menulis tentang surat yang terlambat.
Tentang telepon umum yang suaranya putus-putus.
Tentang ibu yang menunggu di halaman rumah.
Tentang sahabat-sahabat yang tetap menjaga gerobak buku meskipun hidup mereka tidak mudah.
Suara Liris tidak keras.
Namun, setiap kata terdengar jelas.
Balai desa menjadi sunyi.
Bahkan anak-anak yang biasanya sulit diam ikut mendengarkan.
Ketika Liris sampai pada bagian akhir, ia mengangkat wajahnya.
“Bukan kota yang membuat kita jauh,” bacanya. “Bukan pula desa yang membuat kita kecil. Yang membuat kita hilang adalah ketika kita lupa bahwa ada jalan pulang di dalam hati.”
Liris menutup buku catatannya.
Tepuk tangan terdengar.
Awalnya pelan.
Kemudian semakin ramai.
Rantaka melihat ayah Liris di barisan belakang.
Lelaki itu tidak bertepuk tangan terlalu keras.
Namun, ia menatap Liris cukup lama.
Di wajahnya, ada sesuatu yang tidak bisa dibaca dengan mudah.
Bukan sepenuhnya setuju.
Bukan pula sepenuhnya menolak.
Tetapi mungkin, untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa tulisan anaknya bukan hanya permainan.
Tulisan itu bisa membuat orang-orang diam dan berpikir.
Liris turun dari panggung.
Tangannya sedikit gemetar.
Rantaka berdiri di dekat tangga panggung.
“Itu puisi terbaikmu,” katanya.
Liris menggeleng.
“Belum tentu.”
“Bagiku, iya.”
Liris tersenyum kecil.
“Terima kasih.”
Setelah pembacaan puisi, Banyu membawa alat pengatur air ke depan balai desa.
Beberapa warga mendekat.
Ada yang penasaran.
Ada yang masih ragu.
Banyu berdiri di samping alatnya.
Ia tidak membawa naskah.
Ia hanya membawa selembar gambar rancangan.
“Alat ini dibuat dari barang-barang sederhana,” katanya. “Ada roda sepeda bekas, pipa plastik, selang, dan pompa kecil yang diperbaiki.”
Ia menunjukkan bagian-bagian alat tersebut.
“Alat ini tidak menggunakan listrik. Roda diputar dengan tenaga manusia. Air dari parit bisa dinaikkan melalui selang ke kebun yang lebih tinggi.”
Pak Karta yang hadir di antara warga berdiri.
“Alat ini sudah dicoba di kebun saya,” katanya. “Airnya memang tidak besar, tetapi cukup membantu menyiram tanaman.”
Beberapa warga mulai berbicara pelan.
Banyu melanjutkan.
“Alat ini masih sederhana. Masih banyak kekurangannya. Tapi kalau kita membuatnya bersama-sama, mungkin kita bisa membantu kebun yang sulit mendapat air setelah banjir.”
Seorang petani bertanya, “Apakah alat itu mahal dibuat?”
“Tidak terlalu,” jawab Banyu. “Banyak bahannya bisa memakai barang bekas. Yang penting adalah kemauan untuk mencoba dan memperbaiki.”
Pak Hendra yang berdiri di samping Banyu menepuk bahunya.
“Anak ini sudah beberapa kali gagal,” katanya. “Tapi dia tidak berhenti.”
Banyu menunduk malu.
Namun, beberapa warga mulai bertepuk tangan.
Bagi Banyu, tepuk tangan itu bukan karena alatnya sudah sempurna.
Melainkan karena orang-orang mulai percaya bahwa usaha kecil pun bisa berguna.
Menjelang akhir acara, Jagra maju ke depan panggung.
Ia tidak membawa kertas.
Ia hanya membawa daftar nama pemuda yang sudah bersedia bergabung.
Wajahnya tampak tegang.
Namun, ketika ia melihat ayahnya duduk di dekat pintu balai desa, ia menarik napas dan mulai berbicara.
“Banjir merusak banyak kolam ikan di desa kita,” katanya. “Keluarga saya juga mengalami itu.”
Suasana menjadi hening.
“Dulu saya berpikir bahwa masalah ini hanya beban keluarga saya. Saya marah kepada banyak orang. Saya merasa tidak ada yang mengerti.”
Ia berhenti sejenak.
“Namun, saya mulai sadar bahwa banyak keluarga lain juga mengalami hal yang sama. Kalau kami menghadapi semuanya sendiri-sendiri, kami akan lebih mudah menyerah.”
Jagra mengangkat daftar nama.
“Karena itu, saya mengajak pemuda Desa Wanasari membentuk Kelompok Perikanan Remaja Wanasari. Kami ingin belajar bersama tentang merawat kolam, membuat pakan sederhana, memperbaiki saluran air, dan membantu keluarga yang kolamnya rusak.”
Beberapa pemuda berdiri di belakangnya.
Mereka maju satu per satu.
Ada yang masih memakai pakaian kerja.
Ada yang datang dengan sandal penuh lumpur.
Namun, mereka berdiri dengan wajah serius.
“Kami tidak menjanjikan hasil besar dalam waktu cepat,” lanjut Jagra. “Tapi kami berjanji tidak akan membiarkan usaha perikanan desa ini mati.”
Tepuk tangan terdengar lagi.
Kali ini lebih kuat.
Ayah Jagra berdiri dari kursinya.
Ia tidak berkata apa-apa.
Namun, ia mengangkat tangan dan menepuk bahu anaknya ketika Jagra turun dari panggung.
Jagra menunduk.
Matanya tampak basah.
Rantaka, Liris, dan Banyu menghampirinya.
“Kau hebat,” kata Banyu.
Jagra menggeleng.
“Aku hanya bicara.”
“Kadang-kadang bicara itu yang paling sulit,” jawab Liris.
Rantaka menatap sahabatnya.
“Langit Biru mulai hidup lagi.”
Jagra memandang Gerobak Buku.
Kemudian ia melihat kelompok pemuda yang berdiri di dekat panggung.
“Bukan hanya Langit Biru,” katanya. “Mungkin Wanasari juga.”
Menjelang magrib, acara hampir selesai.
Warga mulai membawa pulang makanan yang tersisa. Anak-anak masih memilih buku dari Gerobak Buku. Beberapa ibu menanyakan apakah buku tulis dan pensil bisa dibagikan untuk anak-anak mereka.
Damar membantu Rantaka mencatat buku-buku yang akan dipinjamkan.
“Kau benar,” kata Damar. “Di kota, kami sering tidak sadar bahwa buku yang kami anggap biasa bisa sangat berarti di tempat lain.”
Rantaka mengangguk.
“Di desa, kami juga sering berpikir bahwa kota punya semua jawaban.”
“Padahal tidak?”
“Tidak semua.”
Damar tersenyum.
“Berarti dua dunia itu memang harus saling belajar.”
“Ya,” jawab Rantaka. “Bukan saling merendahkan.”
Di dekat pintu balai desa, seorang lelaki berpakaian rapi berbicara dengan Pak Lurah.
Ia adalah Pak Surya, staf dari kantor kecamatan yang datang mewakili camat. Bersamanya hadir pula Bu Laras, yang datang dari sekolah membawa beberapa guru.
Bu Laras menghampiri keempat sahabat.
Wajahnya tampak bangga.
“Kalian sudah membuat sesuatu yang penting,” katanya.
“Kami hanya mengadakan pentas kecil, Bu,” kata Liris.
“Tidak,” jawab Bu Laras. “Kalian sedang menunjukkan bahwa anak-anak muda desa bisa melihat masalah, lalu memilih bergerak.”
Pak Surya mengangguk.
“Kecamatan akan mencoba membantu menghubungkan kegiatan ini dengan program kepemudaan dan pendidikan. Kami juga akan menyampaikan kebutuhan buku serta perbaikan sarana belajar kepada pihak yang terkait.”
Jagra memandangnya.
“Bagaimana dengan kelompok perikanan, Pak?”
“Kalian buat dulu daftar kebutuhan dan rencana kegiatan,” jawab Pak Surya. “Kalau kelompoknya serius, akan lebih mudah untuk mencari pendampingan.”
Banyu bertanya, “Kalau alat pengatur air?”
Pak Surya tersenyum.
“Kalian bisa tunjukkan lagi pada pertemuan kecamatan. Mungkin ada pihak yang bisa membantu pengembangan alat itu.”
Rantaka memandang Liris, Banyu, dan Jagra.
Mereka tidak berkata apa-apa.
Namun, masing-masing memahami bahwa pentas hari itu telah membuka sebuah pintu.
Pintu itu belum tentu langsung membawa mereka ke jalan yang mudah.
Tetapi setidaknya, pintu itu tidak lagi tertutup.
Malam turun di Desa Wanasari.
Balai desa mulai sepi.
Kursi-kursi sudah disusun kembali.
Panggung kecil dibongkar perlahan.
Gerobak Buku Langit Biru didorong menuju gudang.
Namun, sebelum pulang, Rantaka, Liris, Banyu, dan Jagra berdiri di halaman balai desa.
Lampu kecil di depan kantor desa menyala kekuningan.
Di atas mereka, langit malam tampak luas.
“Pentas dari Dua Dunia,” kata Banyu. “Namanya terdengar besar.”
“Karena masalah kita memang besar,” jawab Jagra.
“Dan karena harapan juga harus dibuat besar,” tambah Liris.
Rantaka memandang sahabat-sahabatnya.
“Kita belum selesai.”
“Belum,” jawab Jagra.
“Masih ada kolam,” kata Banyu.
“Masih ada pelatihan menulis,” kata Liris.
“Masih ada beasiswa,” kata Rantaka.
Mereka saling memandang.
Kemudian Liris berkata, “Masih ada Langit Biru.”
Rantaka tersenyum.
“Selalu ada Langit Biru.”
Di kejauhan, suara sungai terdengar pelan.
Sungai itu pernah membawa banjir.
Pernah membawa lumpur.
Pernah merusak banyak hal.
Namun, sungai itu juga tetap mengalir.
Seperti kehidupan mereka.
Seperti mimpi yang pernah hampir padam.
Dan seperti persahabatan yang kini kembali menemukan alasan untuk bertahan.
BAB 24 - BEASISWA YANG HAMPIR HILANG
Bus yang membawa Rantaka kembali ke Kota Arunika berangkat ketika matahari belum tinggi.
Desa Wanasari perlahan tertinggal di balik kaca jendela. Jalan tanah berubah menjadi jalan beraspal. Pohon-pohon karet dan kebun warga berganti dengan deretan warung, bengkel, dan rumah-rumah yang semakin rapat.
Di pangkuannya, Rantaka membawa sebuah tas kain.
Di dalamnya ada beberapa buku catatan, selembar foto kegiatan Pentas Langit Biru dari Dua Dunia, serta surat kecil dari Liris.
Surat itu tidak panjang.
Liris hanya menulis:
Jangan pulang membawa rasa takut. Pulanglah nanti membawa kabar bahwa kau masih bertahan.
Rantaka membaca kalimat itu berkali-kali.
Ia tahu bahwa setelah kembali ke kota, masalahnya belum selesai.
Nilai matematikanya masih rendah.
Nilai fisikanya juga belum membaik seperti yang diharapkan.
Pekerjaan malam di warung makan telah membuatnya kehilangan banyak waktu belajar. Meski ia sudah berhenti bekerja setelah jatuh sakit, ketertinggalan pelajaran tidak bisa hilang dalam beberapa hari.
Yang paling membuatnya takut adalah beasiswa.
Beasiswa itu bukan sekadar bantuan biaya sekolah.
Beasiswa itu adalah jalan yang membawanya keluar dari kesulitan.
Beasiswa itu membuat ibunya tidak perlu menjual lebih banyak barang di rumah.
Beasiswa itu membuatnya bisa tinggal di rumah singgah dan tetap belajar di sekolah yang selama ini hanya berani ia lihat dari jauh.
Jika beasiswa itu dicabut, Rantaka tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
Pada hari pertama masuk sekolah, Rantaka datang lebih pagi.
Halaman sekolah sudah ramai oleh siswa yang kembali dari libur. Ada yang bercerita tentang perjalanan mereka. Ada yang membahas tugas sekolah. Ada pula yang mengeluh karena libur terasa terlalu singkat.
Rantaka berjalan melewati mereka dengan langkah pelan.
Ia merasa seperti membawa beban yang tidak terlihat.
Di depan kelas, Damar sudah menunggu.
“Kau sudah kembali,” katanya.
Rantaka mengangguk.
“Baru tiba kemarin sore.”
“Bagaimana desamu?”
Rantaka terdiam sejenak.
“Masih banyak yang harus diperbaiki. Tapi kami mengadakan kegiatan di balai desa.”
“Pentas itu?”
“Iya.”
Damar tersenyum.
“Teman-teman yang mengirim buku senang melihat fotonya. Mereka bilang ingin mengumpulkan buku lagi nanti.”
Rantaka menatap Damar.
“Terima kasih karena sudah membantu.”
“Bukan aku saja,” jawab Damar. “Kau yang membuat kami tahu bahwa ada orang-orang yang membutuhkan.”
Bel masuk berbunyi.
Mereka masuk ke kelas.
Rantaka duduk di bangkunya seperti biasa. Namun, baru beberapa menit pelajaran dimulai, seorang petugas tata usaha datang ke depan kelas.
“Rantaka,” katanya.
Rantaka berdiri.
“Iya, Pak.”
“Kamu diminta ke ruang wakil kepala sekolah setelah jam pelajaran kedua.”
Dada Rantaka langsung terasa sesak.
Ia tahu alasan panggilan itu.
Damar yang duduk di sebelahnya menoleh.
“Masalah beasiswa?”
Rantaka tidak menjawab.
Ia hanya menatap papan tulis, tetapi tidak benar-benar melihat apa yang ditulis guru.
Waktu berjalan lebih lambat dari biasanya.
Setiap menit terasa seperti menambah berat di dadanya.
Setelah jam pelajaran kedua selesai, Rantaka berjalan menuju ruang wakil kepala sekolah.
Lorong sekolah tampak panjang.
Suara siswa dari kelas-kelas lain terdengar samar.
Di depan pintu ruang wakil kepala sekolah, ia berhenti.
Tangannya dingin.
Ia menarik napas, lalu mengetuk pintu.
“Masuk,” terdengar suara dari dalam.
Di ruangan itu sudah ada Pak Hadi, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan. Di sampingnya duduk Bu Ratna, guru pembimbing beasiswa. Di atas meja terdapat beberapa berkas.
Rantaka langsung mengenali map berwarna biru yang memuat data nilainya.
“Silakan duduk, Rantaka,” kata Bu Ratna.
Rantaka duduk dengan punggung tegak.
Namun, kedua tangannya saling menggenggam di bawah meja.
Pak Hadi membuka map.
“Kami memanggilmu karena ingin membicarakan perkembangan belajarmu.”
Rantaka menunduk.
“Saya tahu, Pak.”
“Nilaimu pada beberapa mata pelajaran menurun cukup jauh,” lanjut Pak Hadi. “Terutama matematika dan fisika.”
Bu Ratna menunjukkan lembar hasil belajar.
“Pada awal semester, nilaimu cukup baik. Bahkan kamu termasuk siswa yang rajin. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, kamu sering terlambat mengumpulkan tugas dan terlihat mengantuk di kelas.”
Rantaka tidak bisa membantah.
Semua itu benar.
“Kami juga menerima laporan bahwa kamu beberapa kali tidak mengikuti kelas tambahan,” kata Bu Ratna.
Rantaka menelan ludah.
Saat kelas tambahan berlangsung, ia sering harus pergi ke warung makan.
Ia tidak pernah menceritakan alasan itu kepada sekolah.
Ia takut dianggap tidak mampu mengatur waktu.
Ia takut dianggap tidak layak menerima beasiswa.
“Beasiswa yang kamu terima memiliki syarat,” kata Pak Hadi dengan suara tenang. “Salah satunya adalah menjaga prestasi belajar dan kedisiplinan.”
Rantaka mengangguk pelan.
“Saya mengerti, Pak.”
“Dalam rapat evaluasi, ada usulan agar beasiswamu dihentikan pada semester berikutnya.”
Kalimat itu terdengar seperti palu yang jatuh di dalam kepala Rantaka.
Ia menatap meja.
Dadanya terasa kosong.
Untuk beberapa saat, ia tidak mampu berkata-kata.
Ia membayangkan rumah singgah.
Ia membayangkan ibunya di Desa Wanasari.
Ia membayangkan dirinya harus pulang sebelum menyelesaikan sekolah.
Ia membayangkan semua mimpi yang selama ini ia jaga akan berhenti di tengah jalan.
“Pak,” katanya akhirnya, suaranya pelan. “Apakah saya sudah tidak bisa melanjutkan sekolah?”
Bu Ratna menatapnya.
“Tidak ada yang mengatakan begitu.”
Rantaka mengangkat wajah.
Pak Hadi menutup map di depannya.
“Kami belum mengambil keputusan akhir.”
Harapan kecil muncul dalam diri Rantaka.
Namun, ia masih takut berharap terlalu jauh.
“Lalu apa yang harus saya lakukan, Pak?” tanyanya.
Bu Ratna diam sejenak sebelum menjawab.
“Kami ingin mendengar penjelasanmu terlebih dahulu. Kami tidak ingin hanya melihat angka-angka di kertas.”
Rantaka menatap kedua gurunya.
Selama ini, ia selalu menyimpan semuanya sendiri.
Ia menyembunyikan pekerjaan malamnya.
Ia menyembunyikan rasa lelahnya.
Ia menyembunyikan ketakutannya kehilangan beasiswa.
Ia bahkan tidak memberi tahu Liris sampai akhirnya mereka berbicara melalui telepon umum.
Namun, kali ini ia merasa tidak bisa lagi bersembunyi.
“Saya bekerja malam di warung makan, Bu,” katanya.
Bu Ratna tampak terkejut.
“Sejak kapan?”
“Beberapa bulan lalu.”
“Kenapa kamu tidak bicara kepada sekolah?”
Rantaka menunduk.
“Saya takut.”
“Takut apa?”
“Saya takut dianggap tidak mampu. Saya takut beasiswa saya dicabut. Saya takut ibu saya semakin terbebani kalau saya tidak bisa bertahan di sini.”
Pak Hadi menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Apakah pekerjaan itu membuatmu tidak bisa belajar?”
“Iya, Pak.”
“Apakah sekarang kamu masih bekerja?”
“Tidak. Saya berhenti setelah saya sakit.”
Bu Ratna memandang Rantaka dengan wajah serius, tetapi tidak keras.
“Rantaka, beasiswa bukan hadiah untuk orang yang tidak pernah mengalami kesulitan. Beasiswa diberikan agar siswa yang memiliki kemampuan dan kemauan tetap bisa belajar meskipun hidupnya tidak mudah.”
Rantaka terdiam.
Kalimat itu terasa berbeda dari semua ketakutan yang selama ini ia simpan.
“Kamu memang salah karena tidak terbuka,” lanjut Bu Ratna. “Kamu juga harus bertanggung jawab atas nilai yang turun. Tetapi kami perlu melihat apakah kamu masih memiliki keinginan untuk memperbaiki keadaan.”
Rantaka mengangguk cepat.
“Saya mau, Bu.”
“Kenapa kamu ingin tetap sekolah?” tanya Pak Hadi.
Pertanyaan itu membuat Rantaka terdiam lebih lama.
Ia bisa menjawab bahwa ia ingin keluar dari kemiskinan.
Ia bisa menjawab bahwa ia ingin membantu ibunya.
Ia bisa menjawab bahwa ia ingin membuktikan bahwa anak desa mampu belajar di kota.
Semua itu benar.
Namun, setelah pulang ke Wanasari dan melihat anak-anak kembali menunggu Gerobak Buku, ada jawaban lain yang terasa lebih kuat.
“Saya ingin menjadi guru, Pak.”
Pak Hadi dan Bu Ratna saling pandang.
Rantaka melanjutkan.
“Di desa saya, masih banyak anak yang hampir berhenti sekolah karena keluarganya kesulitan. Ada yang tidak punya buku. Ada yang harus membantu orang tua. Ada yang merasa sekolah bukan jalan untuk mereka.”
Ia menarik napas.
“Saya ingin menjadi guru supaya anak-anak seperti mereka tidak merasa bahwa mimpi hanya milik orang yang punya uang atau tinggal di kota.”
Bu Ratna memandang Rantaka cukup lama.
“Apakah itu yang kamu lakukan saat pulang ke desa?”
Rantaka mengangguk.
“Saya dan sahabat-sahabat saya menjalankan kembali Gerobak Buku Langit Biru. Kami mengadakan kegiatan di balai desa. Kami mengajak anak-anak belajar lagi.”
Pak Hadi mengambil foto dari dalam tas kain Rantaka yang tadi ia letakkan di samping kursi.
Rantaka sempat lupa bahwa foto itu ada di sana.
Foto tersebut memperlihatkan anak-anak Desa Wanasari yang duduk di depan Gerobak Buku. Ada Liris yang membacakan puisi. Ada Banyu di samping alat pengatur air. Ada Jagra bersama pemuda desa.
Pak Hadi memandang foto itu.
“Kamu membawa ini?”
“Saya ingin mengingat alasan saya harus bertahan, Pak.”
Ruangan itu kembali hening.
Namun, kali ini keheningan itu tidak terasa menakutkan.
Setelah beberapa saat berdiskusi, Pak Hadi membuka kembali map biru di atas meja.
“Kami akan memberikanmu kesempatan terakhir,” katanya.
Rantaka menatapnya.
“Kamu tidak akan langsung kehilangan beasiswa. Tetapi status beasiswamu akan masuk masa evaluasi.”
Rantaka mengangguk.
Ia tidak sepenuhnya mengerti, tetapi ia tahu itu berarti masih ada harapan.
Bu Ratna menjelaskan lebih lanjut.
“Selama tiga bulan ke depan, kamu harus memperbaiki nilai matematika dan fisika. Kamu juga wajib mengikuti kelas tambahan. Tidak boleh ada tugas yang terlambat tanpa alasan yang jelas.”
“Saya siap, Bu.”
“Kamu juga harus melapor kepada saya setiap minggu,” kata Bu Ratna. “Bukan hanya tentang nilai, tetapi juga tentang keadaanmu. Jika kamu memiliki masalah biaya atau kesulitan belajar, kamu harus bicara.”
Rantaka menunduk.
“Saya akan bicara, Bu.”
Pak Hadi melanjutkan.
“Selain itu, sekolah sedang memilih beberapa siswa untuk mengikuti seleksi program pendidikan lanjutan. Program itu memberi pembinaan bagi siswa yang ingin melanjutkan kuliah, terutama pada bidang pendidikan dan pengabdian masyarakat.”
Rantaka menatapnya dengan terkejut.
“Apakah saya bisa ikut, Pak?”
“Kamu belum otomatis masuk,” jawab Pak Hadi. “Kamu harus membuktikan bahwa nilaimu membaik. Namun, kami melihat bahwa kamu memiliki tujuan yang jelas.”
Bu Ratna tersenyum tipis.
“Dan kami melihat bahwa kamu tidak hanya ingin berhasil untuk dirimu sendiri.”
Rantaka merasa tenggorokannya tercekat.
Selama ini, ia mengira sekolah hanya akan melihat nilai yang jatuh.
Ia tidak menyangka bahwa ada orang yang mau melihat alasan di balik perjuangannya.
“Terima kasih, Pak. Terima kasih, Bu,” katanya.
“Jangan berterima kasih dulu,” kata Pak Hadi. “Buktikan dengan kerja keras.”
“Saya akan berusaha.”
“Bukan hanya berusaha,” kata Bu Ratna lembut. “Kamu harus membuat rencana.”
Sepulang sekolah, Rantaka tidak langsung kembali ke rumah singgah.
Ia pergi ke perpustakaan sekolah.
Di sana, ia memilih buku matematika dasar dan buku fisika yang selama ini jarang ia buka. Ia juga meminjam beberapa soal latihan.
Damar datang ketika Rantaka sedang menyalin rumus di buku catatan.
“Kau tidak pulang?” tanyanya.
“Nanti.”
“Kau dipanggil karena beasiswa?”
Rantaka mengangguk.
Damar duduk di kursi sebelahnya.
“Bagaimana?”
“Beasiswaku hampir dicabut.”
Damar terdiam.
“Tapi aku diberi kesempatan tiga bulan.”
“Itu kabar baik.”
“Kalau aku gagal memperbaiki nilai, kesempatan itu hilang.”
Damar menatap buku di meja.
“Kau tidak harus belajar sendirian.”
Rantaka mengangkat wajah.
“Aku tidak ingin merepotkan.”
“Kau selalu bilang begitu,” kata Damar. “Padahal saat kami mengirim buku ke desamu, kau tidak menganggap kami direpotkan.”
Rantaka tersenyum kecil.
“Itu berbeda.”
“Tidak berbeda. Kau membantu anak-anak di desamu. Sekarang biarkan temanmu membantu.”
Damar mengambil buku matematika Rantaka.
“Kita mulai dari yang paling membuatmu bingung.”
Rantaka menatapnya.
“Kau mau mengajariku?”
“Aku tidak menjamin kau langsung pintar. Tapi setidaknya kita bisa sama-sama tidak mengerti dulu.”
Rantaka tertawa kecil.
Itu adalah tawa pertama yang keluar dari dirinya sejak dipanggil ke ruang wakil kepala sekolah.
Mereka mulai belajar.
Damar menjelaskan beberapa soal yang sulit. Rantaka mencoba mengerjakan ulang. Ketika salah, Damar tidak mengejek. Ia hanya menunjukkan bagian mana yang harus diperbaiki.
Matahari mulai tenggelam di balik gedung sekolah.
Namun, Rantaka masih duduk di perpustakaan.
Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, ia merasa tidak sedang berlari sendirian.
Malam itu, di rumah singgah, Rantaka menulis surat untuk Liris.
Ia tidak menunggu sampai rasa takutnya hilang.
Ia tidak menyembunyikan kenyataan.
Ia menulis bahwa beasiswanya hampir dicabut.
Ia menulis bahwa sekolah memberinya kesempatan tiga bulan.
Ia menulis bahwa ia harus memperbaiki nilai matematika dan fisika.
Ia juga menulis tentang keinginannya mengikuti seleksi program pendidikan lanjutan.
Di bagian akhir surat, ia menulis:
Hari ini aku hampir percaya bahwa semua perjuanganku akan berhenti. Tetapi aku teringat Gerobak Buku, anak-anak yang memegang buku baru, dan kata-katamu agar aku tidak pulang membawa rasa takut. Aku belum berhasil, Liris. Tetapi aku belum menyerah.
Setelah menulis surat itu, Rantaka tidak memasukkannya ke laci.
Ia langsung memasukkannya ke dalam amplop.
Keesokan paginya, sebelum berangkat sekolah, ia pergi ke kantor pos.
Ia menyerahkan surat itu kepada petugas.
Ketika amplop itu berpindah dari tangannya, ia merasa seperti sedang mengirim sebuah janji.
Janji untuk tidak lagi menyimpan semua luka sendirian.
Janji untuk tidak lari dari kesulitan.
Dan janji untuk membuktikan bahwa beasiswa yang hampir hilang itu masih layak diperjuangkan.
Hari-hari berikutnya menjadi lebih berat.
Rantaka bangun lebih pagi.
Sebelum sekolah, ia membaca kembali materi matematika.
Saat jam istirahat, ia mengerjakan soal latihan.
Sepulang sekolah, ia mengikuti kelas tambahan.
Malam hari, ia belajar bersama Damar atau membaca buku di rumah singgah.
Kadang-kadang kepalanya terasa penuh.
Kadang-kadang ia ingin menyerah ketika rumus-rumus fisika tidak juga masuk ke pikirannya.
Kadang-kadang ia masih merasa malu karena harus bertanya pada teman-teman yang lebih cepat memahami pelajaran.
Namun, setiap kali rasa malu itu datang, ia mengingat anak-anak Desa Wanasari.
Ia mengingat seorang anak kecil yang memeluk buku tentang tata surya.
Ia mengingat Jagra yang berdiri di depan warga dan mengajak pemuda membangun kelompok perikanan.
Ia mengingat Banyu yang terus memperbaiki alatnya meskipun pernah gagal berkali-kali.
Ia mengingat Liris yang tetap menulis meskipun ayahnya belum sepenuhnya percaya pada mimpinya.
Mereka semua sedang berjuang.
Tidak ada alasan baginya untuk berhenti.
Suatu sore, Bu Ratna datang ke kelas tambahan.
Ia melihat Rantaka sedang mengerjakan soal di papan tulis.
Jawabannya belum sepenuhnya benar.
Namun, langkah-langkahnya sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya.
Bu Ratna tidak langsung membetulkan jawabannya.
Ia menunggu sampai Rantaka selesai.
“Kamu sudah mulai memahami caranya,” katanya.
Rantaka menoleh.
“Masih banyak yang salah, Bu.”
“Kesalahan bisa diperbaiki. Yang penting kamu tidak lagi menghindari pelajaran ini.”
Rantaka tersenyum.
Kalimat itu sederhana.
Namun, baginya, itu seperti cahaya kecil di jalan yang panjang.
Pada akhir minggu, Rantaka menerima surat balasan dari Liris.
Tulisan tangan Liris memenuhi dua lembar kertas.
Ia menulis bahwa Pentas Langit Biru masih dibicarakan warga.
Beberapa anak kini datang lebih awal untuk meminjam buku.
Kelompok perikanan remaja mulai membersihkan salah satu kolam bersama-sama.
Banyu sedang mencoba memperbaiki alat pengatur air agar lebih mudah digunakan.
Liris juga menulis bahwa ayahnya belum banyak bicara tentang puisinya, tetapi suatu malam ayahnya bertanya apakah ia masih memiliki salinan puisi yang dibacakan di balai desa.
Di bagian akhir surat, Liris menulis:
Tidak apa-apa jika langkahmu lambat. Yang penting kau tetap berjalan. Aku percaya kau akan menjadi guru yang baik, karena kau sudah belajar memahami kesulitan orang lain sebelum berdiri di depan kelas.
Rantaka membaca surat itu di bawah lampu rumah singgah.
Matanya terasa hangat.
Ia menyimpan surat itu di dalam buku catatan.
Lalu ia membuka kembali buku matematika.
Malam itu, ia belajar lebih lama.
Bukan karena ia tidak lagi takut.
Ia masih takut.
Tetapi kini ia tahu bahwa rasa takut tidak harus membuatnya berhenti.
Kadang-kadang, rasa takut hanya perlu dijadikan alasan untuk belajar lebih keras.
Di luar rumah singgah, lampu-lampu Kota Arunika menyala seperti bintang yang tidak pernah tidur.
Rantaka memandangnya dari jendela.
Dulu, lampu-lampu itu membuatnya merasa sendirian.
Kini, ia melihatnya sebagai pengingat.
Bahwa di balik kota yang ramai, ada jalan panjang yang harus ia tempuh.
Dan di ujung jalan itu, ada sebuah desa yang selalu menunggunya pulang.
BAB 25 - LANGIT BIRU DI BALIK KOTA
Tiga bulan berlalu sejak Rantaka dipanggil ke ruang wakil kepala sekolah.
Tiga bulan itu tidak berjalan mudah.
Setiap pagi, sebelum matahari muncul di balik atap-atap rumah Kota Arunika, Rantaka sudah bangun. Ia mencuci muka dengan air dingin, merapikan buku-buku, lalu duduk di meja kecil rumah singgah.
Matematika menjadi pelajaran pertama yang ia buka.
Setelah itu, fisika.
Dulu, angka-angka dan rumus-rumus itu seperti dinding tinggi yang membuatnya takut. Ia sering membaca satu halaman berulang kali tanpa memahami maksudnya. Namun, perlahan ia mulai mengerti bahwa pelajaran tidak bisa ditaklukkan hanya dengan rasa takut.
Pelajaran harus dihadapi.
Soal yang sulit harus dikerjakan.
Kesalahan harus diperiksa.
Dan jika tidak mengerti, ia harus berani bertanya.
Damar tetap menjadi teman belajarnya.
Mereka sering duduk di perpustakaan sekolah sampai sore. Kadang-kadang Damar menjelaskan rumus. Kadang-kadang Rantaka yang menjelaskan kembali dengan caranya sendiri. Jika salah satu dari mereka mulai lelah, mereka berhenti sebentar, membeli teh hangat di kantin, lalu kembali membuka buku.
“Kau sudah jauh lebih cepat mengerjakan soal,” kata Damar suatu sore.
Rantaka menggeleng.
“Masih sering salah.”
“Dulu kau bahkan tidak mau mencoba.”
Rantaka tersenyum kecil.
“Sekarang aku takut kalau tidak mencoba.”
Damar tertawa.
“Itu perkembangan yang bagus.”
Namun, Rantaka tahu bahwa ia tidak belajar hanya karena takut kehilangan beasiswa.
Ia belajar karena ia mulai melihat masa depan dengan lebih jelas.
Ia ingin menjadi guru.
Ia ingin kembali ke Desa Wanasari suatu hari nanti, bukan hanya sebagai anak desa yang pulang membawa cerita dari kota, melainkan sebagai seseorang yang membawa ilmu untuk dibagikan.
Ia ingin berdiri di depan kelas.
Ia ingin mengajar anak-anak yang datang dengan sandal berlumpur, buku lusuh, dan mata penuh rasa ingin tahu.
Ia ingin mengatakan kepada mereka bahwa mereka boleh lahir di desa kecil, tetapi mimpi mereka tidak harus kecil.
Hari pengumuman hasil evaluasi beasiswa tiba pada pagi yang cerah.
Rantaka datang ke sekolah lebih awal.
Halaman sekolah masih sepi. Beberapa siswa baru berdatangan. Petugas kebersihan sedang menyapu daun-daun kering di dekat lapangan.
Rantaka berdiri di depan papan pengumuman.
Tangannya terasa dingin.
Di sampingnya, Damar datang membawa dua gelas teh hangat.
“Minum dulu,” katanya.
Rantaka menerima gelas itu.
“Aku tidak bisa minum.”
“Kau bisa. Kau hanya terlalu tegang.”
“Aku takut melihat hasilnya.”
Damar menatapnya.
“Kalau hasilnya belum sesuai harapan, kita cari jalan lain. Tapi kalau kau tidak melihatnya, hasilnya tidak akan berubah.”
Rantaka menarik napas.
Beberapa menit kemudian, Bu Ratna datang membawa map berwarna biru.
Beberapa siswa penerima beasiswa mulai berkumpul.
Bu Ratna menempelkan selembar kertas di papan pengumuman.
Suasana mendadak hening.
Rantaka melangkah mendekat.
Matanya mencari namanya.
Satu per satu nama ia baca.
Kemudian ia melihatnya.
Rantaka Pradana — Beasiswa Dipertahankan dengan Catatan Pembinaan Berkelanjutan.
Rantaka tidak langsung bergerak.
Ia membaca kalimat itu sekali lagi.
Lalu sekali lagi.
Dadanya terasa sesak, tetapi bukan karena takut.
Ia menutup mulut dengan tangan.
Damar menepuk bahunya.
“Selamat.”
Rantaka menoleh.
Matanya berkaca-kaca.
“Aku masih bisa sekolah.”
“Iya,” jawab Damar. “Kau masih bisa sekolah.”
Bu Ratna menghampiri Rantaka.
“Kamu berhasil memperbaiki nilai matematika dan fisika,” katanya. “Belum sempurna, tetapi kemajuannya jelas. Kamu juga mengikuti kelas tambahan dengan baik.”
“Terima kasih, Bu.”
“Jangan berhenti di sini,” kata Bu Ratna. “Beasiswa dipertahankan bukan berarti perjuangan selesai.”
“Saya mengerti, Bu.”
Bu Ratna kemudian menyerahkan sebuah formulir kepada Rantaka.
“Ini formulir seleksi program pendidikan lanjutan.”
Rantaka memandang formulir itu.
“Apakah saya boleh ikut, Bu?”
“Kamu boleh mendaftar. Kami merekomendasikanmu.”
Rantaka memegang formulir tersebut dengan hati-hati.
Di bagian atas tertulis nama program pembinaan calon mahasiswa bidang pendidikan.
Ia belum diterima.
Ia belum tentu lolos.
Namun, untuk pertama kalinya, jalan menuju kuliah keguruan tidak lagi terasa seperti mimpi yang terlalu jauh.
Jalan itu masih panjang.
Tetapi kini ia bisa melihat arahnya.
Sore hari, Rantaka pergi ke kantor pos.
Ia membawa dua surat.
Surat pertama untuk ibunya.
Surat kedua untuk Liris.
Kepada ibunya, ia menulis bahwa beasiswanya tidak jadi dicabut. Ia menulis bahwa nilainya mulai membaik dan ia mendapat kesempatan mengikuti seleksi program pendidikan lanjutan.
Ia tidak menulis terlalu banyak.
Namun, pada bagian akhir, ia menulis:
Ibu, aku belum berhasil menjadi apa-apa. Tapi aku masih diberi kesempatan untuk terus belajar. Aku akan menjaga kesempatan ini sebaik mungkin.
Kepada Liris, ia menulis lebih panjang.
Ia menceritakan tentang papan pengumuman.
Tentang Damar yang datang membawa teh hangat.
Tentang Bu Ratna yang memberikan formulir seleksi.
Ia juga menulis bahwa setiap kali hampir menyerah, ia mengingat surat Liris dan Gerobak Buku Langit Biru.
Di bagian akhir, Rantaka menulis:
Dulu aku melihat kota sebagai tempat yang jauh dari desa. Sekarang aku mengerti bahwa kota tidak harus membuatku lupa dari mana aku berasal. Kota hanya mengajariku agar suatu hari aku bisa pulang membawa sesuatu yang lebih berarti.
Surat itu ia masukkan ke dalam amplop.
Lalu ia menyerahkannya kepada petugas pos.
Ketika keluar dari kantor pos, Rantaka memandang langit Kota Arunika.
Di antara gedung-gedung dan kabel listrik, langit itu tampak lebih sempit daripada langit Desa Wanasari.
Namun, warnanya tetap biru.
Ia tersenyum.
Langit yang sama.
Hanya dilihat dari tempat yang berbeda.
Di Desa Wanasari, surat Rantaka tiba ketika Liris sedang membantu ibunya menjemur pakaian di halaman rumah.
Seorang anak kecil dari rumah sebelah berlari membawa surat.
“Kak Liris, ada surat dari kota!”
Liris segera mengambilnya.
Ia mengenali tulisan tangan Rantaka di bagian depan amplop.
Jantungnya berdebar.
Ia masuk ke kamar dan membaca surat itu perlahan.
Ketika sampai pada kalimat bahwa beasiswa Rantaka dipertahankan, Liris menutup mulutnya dengan tangan.
Matanya basah.
Ia duduk di tepi tempat tidur.
Selama ini, ia selalu mencoba terlihat kuat dalam surat-suratnya kepada Rantaka. Ia selalu menulis agar Rantaka tidak menyerah. Ia selalu mengatakan bahwa langkah kecil tetap berarti.
Namun, jauh di dalam hatinya, ia juga takut.
Ia takut Rantaka harus pulang sebelum menyelesaikan sekolah.
Ia takut sahabatnya kehilangan jalan menuju cita-cita.
Kini, ketakutan itu belum hilang sepenuhnya.
Tetapi ada ruang baru bagi harapan.
Liris membuka buku catatan hijaunya.
Di halaman kosong, ia menulis:
Ada anak desa yang belajar membaca langit dari kota.
Ia tidak lupa jalan pulang,
sebab di dalam dadanya
masih ada suara sungai,
jalan tanah,
dan sahabat-sahabat yang menunggu.
Ia berhenti menulis ketika mendengar suara ayahnya dari ruang depan.
“Liris.”
“Iya, Yah.”
“Ada surat?”
Liris keluar membawa surat itu.
“Ada dari Rantaka.”
Ayahnya menatap surat tersebut.
“Bagaimana sekolahnya?”
Liris tersenyum.
“Beasiswanya dipertahankan.”
Ayah Liris diam beberapa saat.
Kemudian ia mengangguk.
“Bagus.”
Hanya satu kata.
Namun, bagi Liris, kata itu terasa cukup besar.
Ayahnya lalu duduk di kursi kayu dan berkata, “Kau jadi ikut pelatihan menulis itu?”
Liris terdiam.
Selama beberapa minggu terakhir, ia masih menunggu kabar dari komunitas literasi kabupaten. Ia sudah mengirim beberapa puisi dan tulisan pendek. Namun, ia belum berani berharap terlalu tinggi.
“Belum ada kabar, Yah.”
Ayahnya menatap halaman rumah.
“Kalau ada kabar baik, bilang.”
Liris memandang ayahnya.
Ia tidak tahu apakah itu berarti ayahnya sudah benar-benar mendukung.
Tetapi setidaknya, ayahnya tidak lagi mengatakan bahwa menulis hanya membuang waktu.
Dua minggu kemudian, sebuah surat datang dari kota kabupaten.
Amplopnya berwarna putih dengan lambang komunitas literasi di bagian depan.
Liris memegang surat itu cukup lama sebelum membukanya.
Tangannya gemetar.
Ibunya berdiri di dekatnya.
“Buka saja,” kata ibunya.
Liris menarik napas.
Ia membuka amplop itu perlahan.
Di dalamnya terdapat surat pemberitahuan.
Liris membaca satu baris pertama.
Kemudian ia berhenti.
Matanya membesar.
“Apa isinya?” tanya ibunya.
Liris membaca lagi, kali ini dengan suara pelan.
“Liris Wulandari dinyatakan menerima beasiswa pelatihan menulis muda tingkat kabupaten.”
Ibunya langsung memeluknya.
Liris tidak segera menangis.
Ia hanya berdiri diam beberapa saat, seperti belum percaya bahwa kalimat itu benar-benar tertulis di hadapannya.
Beasiswa pelatihan itu tidak hanya memberi kesempatan mengikuti kelas menulis.
Ia juga mendapat pendampingan, buku-buku, serta kesempatan mengirim karya ke majalah literasi daerah.
Liris memandang buku catatan hijaunya.
Buku itu sudah penuh dengan puisi, cerita pendek, dan catatan tentang desa.
Dulu, ia menulis karena ingin menyimpan perasaan.
Kini, ia mulai percaya bahwa tulisannya bisa menjadi jalan.
Jalan untuk mengenalkan desa.
Jalan untuk menyuarakan anak-anak yang sering tidak didengar.
Jalan untuk membuat orang lain memahami bahwa di balik jalan tanah dan rumah-rumah sederhana, ada banyak mimpi yang sedang tumbuh.
Sore itu, Liris menunjukkan surat tersebut kepada ayahnya.
Ayahnya membaca perlahan.
Lama sekali.
Liris berdiri di depannya dengan jantung berdebar.
Kemudian ayahnya menyerahkan surat itu kembali.
“Kalau kau sudah diberi kesempatan,” katanya, “jangan setengah-setengah.”
Liris menahan napas.
Ayahnya melanjutkan, “Belajarlah sungguh-sungguh. Tapi jangan lupa membantu ibumu.”
Liris mengangguk cepat.
“Iya, Yah.”
Ayahnya berdiri dan berjalan ke halaman.
Namun, sebelum pergi, ia berkata tanpa menoleh, “Puisimu di balai desa waktu itu… bagus.”
Liris memejamkan mata.
Kali ini, air matanya benar-benar jatuh.
Di rumah Banyu, suara alat-alat bengkel terdengar sejak pagi.
Banyu sedang memperbaiki rancangan alat pengatur airnya.
Setelah Pentas Langit Biru, beberapa warga mulai tertarik mencoba alat itu. Namun, ketika digunakan di kebun yang lebih luas, alat tersebut masih memiliki kelemahan.
Putaran roda terlalu berat.
Selang kadang-kadang tersumbat lumpur.
Pipa yang digunakan belum cukup kuat.
Banyu tidak kecewa.
Ia justru mencatat semua kekurangan itu.
Ia meminjam beberapa peralatan dari bengkel tempat ia dulu bekerja. Ia juga meminta saran kepada Pak Hendra dan beberapa petani muda.
“Kalau rodanya terlalu berat, bagaimana kalau memakai ukuran yang lebih besar?” tanya Pak Hendra.
“Kalau lebih besar, tenaga untuk memutarnya juga bertambah,” jawab Banyu.
“Lalu cari cara agar putarannya lebih ringan.”
Banyu berpikir.
Ia membongkar alatnya.
Ia mengganti beberapa bagian.
Ia menggunakan rantai sepeda yang lebih kuat. Ia menambahkan penyangga dari besi bekas. Ia membuat saringan sederhana di ujung selang agar lumpur tidak mudah masuk.
Beberapa kali alat itu kembali gagal.
Sekali, rantainya lepas saat diputar.
Sekali lagi, air hanya naik sedikit lalu berhenti.
Namun, Banyu tidak berhenti.
Ia teringat luka di tangannya saat bekerja di bengkel.
Ia teringat rasa malu ketika alat pertamanya dianggap seperti mainan.
Ia teringat kata-kata Rantaka bahwa pengetahuan dari bengkel bisa berguna bagi desa.
Pada percobaan berikutnya, beberapa petani berkumpul di dekat parit.
Banyu berdiri di samping alatnya.
Jagra membantu memegang selang.
Pak Karta berdiri di dekat kebun yang lebih tinggi.
“Putar pelan-pelan,” kata Banyu.
Jagra mulai memutar roda.
Rantai bergerak.
Pompa sederhana mulai bekerja.
Air dari parit masuk ke selang.
Beberapa detik pertama, tidak ada yang berbicara.
Kemudian air keluar dari ujung selang.
Awalnya kecil.
Lalu semakin stabil.
Air mengalir ke tanah kebun yang kering.
Pak Karta berjongkok dan menyentuh air itu.
Wajahnya berubah cerah.
“Berhasil,” katanya.
Banyu masih menatap alatnya, seolah takut aliran air itu berhenti kapan saja.
Namun, air tetap mengalir.
Tidak deras seperti sungai.
Tidak cukup untuk mengairi seluruh sawah.
Tetapi cukup untuk membantu kebun-kebun kecil yang selama ini sulit mendapat air.
Beberapa petani bertepuk tangan.
Jagra memukul bahu Banyu.
“Anak bengkel ternyata bisa jadi penolong kebun.”
Banyu tertawa.
“Belum penolong. Baru pembuat alat yang tidak langsung rusak.”
“Sudah cukup,” jawab Jagra.
Banyu memandang air yang mengalir ke kebun.
Di dalam hatinya, ia tahu bahwa alat itu masih perlu diperbaiki.
Namun, kini ia memiliki bukti bahwa idenya bukan sekadar angan-angan.
Alat sederhana itu bisa membantu petani.
Dan jika terus dikembangkan, mungkin suatu hari bisa digunakan oleh lebih banyak warga.
Sementara itu, Jagra mulai sibuk dengan Kelompok Perikanan Remaja Wanasari.
Setelah Pentas Langit Biru, semakin banyak pemuda yang datang untuk bergabung.
Mereka belum memiliki banyak modal.
Mereka belum memiliki kolam baru.
Namun, mereka memiliki tenaga, waktu, dan keinginan untuk bekerja.
Setiap akhir pekan, mereka berkumpul di kolam yang rusak akibat banjir.
Mereka membersihkan lumpur.
Mereka memperbaiki tanggul yang jebol.
Mereka mengangkat kayu-kayu yang terbawa arus.
Mereka membuat saluran kecil agar air tidak langsung meluap ketika hujan datang.
Jagra membawa buku catatan.
Di dalamnya, ia menulis pembagian tugas.
Ada yang bertugas membersihkan kolam.
Ada yang mencari bahan untuk memperbaiki tanggul.
Ada yang belajar membuat pakan ikan sederhana dari bahan yang tersedia di desa.
Ada yang mendata warga yang ingin bergabung.
Awalnya, beberapa orang tua masih ragu.
Mereka menganggap anak-anak muda itu hanya akan bersemangat beberapa hari, lalu berhenti ketika pekerjaan menjadi berat.
Namun, minggu demi minggu, kelompok itu tetap datang.
Mereka tetap bekerja meskipun tangan mereka kotor oleh lumpur.
Mereka tetap berkumpul meskipun tidak ada upah.
Mereka mulai membuktikan bahwa mereka tidak sedang bermain-main.
Suatu sore, ayah Jagra datang membawa beberapa karung pakan ikan.
Ia meletakkannya di dekat kolam.
“Ini untuk kolam percobaan,” katanya.
Jagra menatap ayahnya.
“Dari mana, Yah?”
“Ayah masih punya sedikit simpanan.”
“Tapi itu untuk kebutuhan rumah.”
“Ayah tahu,” jawabnya. “Tapi kalau kalian benar-benar mau membangun lagi, usaha ini juga perlu diberi kesempatan.”
Jagra terdiam.
Ayahnya memandang kolam yang sedang diperbaiki.
“Dulu ayah berpikir kau hanya membantu karena tidak punya pilihan. Sekarang ayah tahu kau memilih bertahan.”
Jagra menunduk.
Ia tidak ingin ayahnya melihat matanya yang mulai basah.
“Terima kasih, Yah.”
Ayahnya mengangguk.
“Jangan buat ayah menyesal.”
Jagra tersenyum.
“Saya tidak akan berhenti.”
Beberapa minggu kemudian, surat-surat kembali bertemu di antara kota dan desa.
Rantaka mengirim kabar tentang formulir seleksi program pendidikan lanjutan yang sudah ia isi.
Liris mengirim kabar tentang beasiswa pelatihan menulis yang diterimanya.
Banyu mengirim gambar alat pengatur air yang kini sudah berhasil digunakan di kebun Pak Karta.
Jagra mengirim daftar anggota Kelompok Perikanan Remaja Wanasari yang semakin bertambah.
Mereka tidak lagi menulis surat hanya untuk mengabarkan kerinduan.
Mereka menulis untuk berbagi kemajuan.
Untuk menceritakan kegagalan.
Untuk meminta pendapat.
Untuk saling mengingatkan bahwa masing-masing sedang berjalan di jalannya sendiri.
Suatu malam, Rantaka menerima surat dari Liris.
Di dalam surat itu, Liris menulis:
Dulu kita takut jarak akan membuat kita berubah. Ternyata kita memang berubah. Kau belajar bertahan di kota. Aku belajar percaya pada tulisan. Banyu belajar bahwa kegagalan bisa diperbaiki. Jagra belajar bahwa tinggal di desa bukan berarti tertinggal. Tetapi mungkin perubahan itu tidak selalu buruk, selama kita masih tahu ke mana harus pulang.
Rantaka membaca surat itu di dekat jendela rumah singgah.
Di luar, Kota Arunika masih ramai.
Kendaraan berlalu-lalang.
Lampu toko masih menyala.
Suara orang-orang dari jalan terdengar sampai ke dalam kamar.
Namun, malam itu, Rantaka tidak lagi merasa bahwa kota sedang menelannya.
Ia merasa bahwa kota sedang mengajarinya.
Mengajarinya tentang disiplin.
Tentang ketahanan.
Tentang orang-orang yang datang dari latar belakang berbeda.
Tentang kesempatan yang harus diperjuangkan.
Tetapi ia juga tahu bahwa kota tidak bisa menggantikan desa.
Desa Wanasari adalah tempat pertama yang mengajarinya membaca.
Tempat ia belajar bermain di sungai.
Tempat ia mengenal Liris, Banyu, dan Jagra.
Tempat ia memahami bahwa persahabatan bisa menjadi kekuatan ketika hidup terasa berat.
Kota memberinya pengalaman.
Kota memberinya ilmu.
Kota memberinya kesempatan.
Namun, desa memberinya akar.
Desa memberinya alasan.
Desa memberinya tempat untuk pulang.
Pada hari terakhir sebelum libur sekolah berikutnya, Rantaka berdiri di halaman sekolah Kota Arunika.
Di tangannya, ia membawa map berisi berkas seleksi beasiswa kuliah keguruan.
Bu Ratna menghampirinya.
“Kamu sudah siap mengumpulkan berkas?”
Rantaka mengangguk.
“Saya masih gugup, Bu.”
“Gugup itu wajar.”
“Kalau saya tidak lolos?”
“Kalau tidak lolos, kamu belajar lagi dan mencoba jalan lain. Tetapi jangan gagal sebelum mencoba.”
Rantaka tersenyum.
Kalimat itu mengingatkannya pada banyak hal.
Pada alat Banyu yang pernah gagal.
Pada Gerobak Buku yang sempat berhenti.
Pada kolam Jagra yang rusak karena banjir.
Pada puisi Liris yang pernah dianggap tidak penting.
Pada dirinya sendiri yang pernah hampir kehilangan beasiswa.
Ia menyerahkan map itu kepada Bu Ratna.
Berkas tersebut menjadi langkah kecil menuju masa depan.
Belum ada kepastian.
Belum ada jawaban.
Namun, Rantaka tidak lagi berdiri di tempat yang sama seperti beberapa bulan lalu.
Ia sudah bergerak.
Ia sudah belajar.
Ia sudah bertahan.
Sore itu, sebelum pulang ke rumah singgah, Rantaka berjalan ke halte bus.
Ia memandang langit di antara bangunan-bangunan kota.
Langit itu biru.
Tidak seluas langit Desa Wanasari.
Tidak sebersih langit di atas pohon beringin.
Namun, tetap biru.
Rantaka teringat pada sahabat-sahabatnya.
Liris dengan buku catatan hijaunya.
Banyu dengan tangan yang pernah terluka tetapi tidak berhenti membuat alat.
Jagra dengan lumpur kolam di kakinya dan daftar anggota kelompok perikanan di tangannya.
Mereka berada di tempat yang berbeda.
Mereka menempuh jalan yang tidak sama.
Namun, mereka masih membawa satu nama dalam hati.
Langit Biru.
Nama itu bukan lagi sekadar nama gerobak buku.
Bukan pula hanya nama persahabatan mereka.
Langit Biru adalah pengingat bahwa mimpi bisa tumbuh di mana saja.
Di desa yang jauh.
Di kota yang ramai.
Di kebun yang kering.
Di kolam yang rusak.
Di halaman sekolah.
Di dalam surat yang terlambat.
Dan di hati anak-anak muda yang memilih untuk tidak menyerah.
Rantaka tersenyum.
Bus datang dari kejauhan.
Ia melangkah naik.
Di balik jendela bus, Kota Arunika terus bergerak.
Namun, di dalam diri Rantaka, Desa Wanasari tetap hidup.
Karena langit biru tidak pernah benar-benar hilang.
Ia hanya menunggu untuk dilihat dari tempat yang berbeda.
BUKU IV
LANGIT BIRU PULANG KE DESA
BAB 1 - GURU YANG PULANG MEMBAWA BUKU
Pagi pertama Rantaka mengajar di SD Wanasari dimulai sebelum matahari benar-benar muncul.
Langit masih berwarna kelabu muda ketika ia membuka jendela rumah ibunya. Udara pagi membawa aroma tanah basah dari kebun belakang. Dari kejauhan, suara ayam jantan bersahutan, disusul bunyi lesung dari rumah tetangga yang mulai menumbuk padi.
Rantaka berdiri cukup lama di depan jendela.
Di atas kursi kayu dekat tempat tidurnya, tergantung kemeja putih yang sudah ia setrika sejak malam. Di sampingnya, celana hitam tergantung rapi. Di atas meja kecil, sebuah tas berwarna cokelat terbuka.
Tas itu berisi buku-buku.
Ada buku cerita rakyat.
Ada buku pengetahuan sederhana tentang tumbuhan dan hewan.
Ada buku latihan membaca.
Ada beberapa buku tulis, pensil, penghapus, dan penggaris.
Sebagian buku ia beli dari uang tabungannya selama bekerja dan belajar di kota. Sebagian lagi adalah pemberian dari teman-teman kuliahnya yang mengetahui bahwa ia ingin kembali mengajar di desa.
Buku-buku itu tidak banyak.
Namun, bagi Rantaka, buku-buku itu seperti membawa pulang sebagian dari perjalanan panjangnya.
Ia mengangkat salah satu buku cerita bergambar.
Sampulnya bergambar anak-anak yang membaca di bawah pohon besar.
Rantaka tersenyum kecil.
Pohon beringin.
Gerobak Buku Langit Biru.
Liris.
Banyu.
Jagra.
Nama-nama itu kembali hadir dalam pikirannya.
Mereka semua pernah berjanji untuk pulang membawa cahaya ke desa.
Kini, ia benar-benar pulang.
Namun, semakin dekat ia pada kenyataan Desa Wanasari, semakin ia memahami bahwa pulang bukan berarti perjuangan telah selesai.
Pulang justru berarti memulai perjuangan yang lebih besar.
“Rantaka.”
Suara ibunya terdengar dari dapur.
“Sudah siap?”
“Sudah, Bu.”
Rantaka memasukkan buku terakhir ke dalam tas. Ia lalu mengenakan kemeja putih dan merapikan kerahnya di depan cermin kecil.
Wajahnya tampak lebih dewasa daripada beberapa tahun lalu.
Ada garis-garis lelah yang tidak ia miliki ketika masih remaja. Ada pengalaman yang tidak selalu bisa ia ceritakan kepada siapa pun. Ada kegagalan, ketakutan, dan kesepian yang pernah ia bawa dari kota.
Namun, di balik semuanya, ada keyakinan yang kini lebih kuat.
Ia ingin menjadi guru.
Ia ingin mengajar anak-anak desa.
Ia ingin membuat mereka percaya bahwa sekolah bukan sekadar bangunan dengan papan tulis dan meja kayu.
Sekolah adalah pintu.
Dan setiap anak berhak mendapat kesempatan untuk membuka pintu itu.
Di dapur, ibunya sudah menyiapkan nasi hangat, telur dadar, dan sambal terasi.
“Kau makan dulu,” kata ibunya.
“Nanti terlambat, Bu.”
“Guru yang baik tidak boleh berangkat dengan perut kosong.”
Rantaka duduk.
Ibunya memperhatikannya dengan mata yang hangat.
“Dulu kau berangkat sekolah membawa buku lusuh,” katanya. “Sekarang kau pergi mengajar membawa buku untuk anak-anak lain.”
Rantaka tersenyum.
“Buku-bukunya belum banyak.”
“Tidak apa-apa. Yang penting niatmu banyak.”
Kalimat itu membuat Rantaka terdiam sejenak.
Ia menunduk dan melanjutkan makan.
Setelah selesai, ia mencium tangan ibunya.
“Doakan saya, Bu.”
Ibunya mengusap kepala Rantaka.
“Ibu selalu mendoakanmu. Jangan hanya mengajar anak-anak membaca buku. Ajari mereka percaya pada diri sendiri.”
Rantaka mengangguk.
Ia mengambil tasnya.
Kemudian ia melangkah keluar rumah.
Jalan menuju SD Wanasari masih sama seperti yang ia ingat.
Sebagian masih berupa tanah yang mengeras ketika kemarau dan berubah licin ketika hujan. Di beberapa titik, batu-batu kecil menonjol dari permukaan jalan. Rumah-rumah kayu berdiri di kanan kiri, sebagian sudah dicat baru, sebagian lain masih tampak tua dan sederhana.
Namun, ada hal-hal yang berbeda.
Di dekat kebun Pak Darma, beberapa patok kayu baru berdiri berjajar.
Pada patok itu terdapat tanda cat merah.
Rantaka berhenti sejenak.
Ia memandang patok-patok tersebut.
Beberapa hari terakhir, warga memang mulai membicarakan orang-orang dari perusahaan luar yang datang ke desa. Mereka mengukur tanah, memotret kebun, dan bertemu dengan sejumlah pemilik lahan.
Tidak semua warga tahu tujuan mereka.
Sebagian berkata perusahaan itu akan membuka perkebunan.
Sebagian lain berkata akan dibangun tempat pengolahan hasil bumi.
Ada juga yang mengatakan bahwa perusahaan ingin membeli tanah untuk proyek besar yang belum jelas bentuknya.
Namun, satu hal yang pasti.
Mereka menawarkan uang.
Dan bagi warga yang selama ini hidup dengan hasil kebun yang tidak menentu, uang sering kali terdengar seperti jawaban paling cepat.
Rantaka melanjutkan perjalanan.
Ketika mendekati sekolah, ia mendengar suara anak-anak.
Beberapa murid berlari di halaman sambil membawa tas. Sebagian duduk di teras kelas. Ada yang masih mengenakan sandal jepit karena sepatu mereka rusak. Ada pula yang datang dengan seragam yang warnanya mulai pudar.
Rantaka menatap mereka satu per satu.
Ia melihat dirinya sendiri di wajah-wajah itu.
Anak-anak yang datang ke sekolah dengan harapan sederhana.
Anak-anak yang belum tahu bahwa hidup bisa menjadi sangat sulit.
Anak-anak yang masih percaya bahwa guru memiliki jawaban untuk semua pertanyaan.
Di depan ruang guru, Bu Laras sudah menunggu.
Rambutnya kini lebih banyak berwarna putih. Wajahnya tampak sedikit lelah, tetapi senyumnya tetap sama seperti yang Rantaka ingat.
“Selamat datang, Pak Guru Rantaka,” katanya.
Rantaka segera menyalami tangan Bu Laras.
“Jangan panggil saya begitu, Bu. Saya masih belajar.”
“Semua guru memang selalu belajar,” jawab Bu Laras. “Tetapi hari ini kamu sudah datang bukan sebagai murid.”
Rantaka tersenyum.
Bu Laras memandang tas besar di pundaknya.
“Bawa apa?”
“Buku-buku untuk anak-anak.”
“Buku lagi,” kata Bu Laras sambil tersenyum. “Dari dulu kamu memang tidak jauh dari buku.”
Mereka masuk ke ruang guru.
Ruangan itu tidak banyak berubah. Meja-meja kayu masih berdiri di tempat yang sama. Lemari tua di sudut ruangan masih menyimpan tumpukan arsip. Kipas angin kecil di atas meja hanya berputar pelan, seolah bekerja dengan tenaga yang tersisa.
Namun, beberapa kursi tampak kosong.
Bu Laras mengikuti arah pandang Rantaka.
“Pak Joko pindah ke kecamatan bulan lalu,” katanya. “Bu Murni sedang cuti karena sakit. Pak Hasan sudah pensiun.”
“Jadi tinggal berapa guru?”
“Termasuk kamu, lima orang.”
Rantaka terdiam.
Untuk sebuah sekolah dengan enam kelas, lima guru jelas tidak cukup.
“Bagaimana pembagian kelasnya, Bu?”
“Untuk sementara, kamu pegang kelas lima. Tetapi nanti kamu mungkin perlu membantu kelas enam juga.”
“Baik, Bu.”
“Anak-anak kelas lima cukup beragam,” kata Bu Laras. “Ada yang rajin. Ada yang cepat menangkap pelajaran. Ada juga yang sering tidak masuk karena membantu orang tua di kebun.”
Rantaka mengangguk.
Bu Laras melanjutkan, “Ada beberapa anak yang hampir berhenti sekolah. Orang tua mereka ingin membawa mereka ikut merantau. Ada juga yang mulai diminta membantu di kebun karena hasil panen sedang tidak bagus.”
Rantaka merasakan dadanya mengencang.
Ia baru datang.
Namun, persoalan sudah berdiri di hadapannya.
Bukan hanya kekurangan buku.
Bukan hanya kekurangan guru.
Tetapi kekurangan keyakinan bahwa pendidikan masih penting ketika kehidupan sehari-hari terasa semakin berat.
Bel sekolah berbunyi.
Anak-anak mulai masuk kelas.
Bu Laras menepuk bahu Rantaka.
“Sudah waktunya, Pak Guru.”
Rantaka mengangguk.
Ia mengangkat tasnya.
Lalu berjalan menuju kelas lima.
Kelas lima SD Wanasari berada di ujung bangunan sekolah.
Dindingnya terbuat dari papan yang mulai kusam. Beberapa bagian lantai kayu berbunyi ketika diinjak. Jendela di sisi kiri kelas tidak bisa tertutup rapat, sehingga angin pagi masuk bersama debu dari halaman.
Ketika Rantaka masuk, anak-anak langsung berdiri.
“Selamat pagi, Pak Guru!”
Suara mereka tidak serempak, tetapi cukup keras.
“Selamat pagi,” jawab Rantaka.
Ia berdiri di depan kelas.
Dua puluh tiga pasang mata memandangnya.
Ada mata yang penuh rasa ingin tahu.
Ada mata yang tampak malu-malu.
Ada mata yang masih mengantuk.
Ada pula mata yang terlihat seperti sedang menyimpan masalah.
Rantaka menulis namanya di papan tulis.
RANTAKA PRADANA
Kemudian ia berbalik.
“Nama saya Pak Rantaka. Mulai hari ini, saya akan belajar bersama kalian.”
Seorang anak laki-laki di bangku depan mengangkat tangan.
“Pak, Bapak guru baru?”
“Iya.”
“Bapak dari kota?”
Rantaka tersenyum.
“Saya pernah belajar di kota. Tapi saya lahir di Desa Wanasari.”
Beberapa anak mulai berbisik.
“Pak Guru dulu sekolah di sini?” tanya seorang anak perempuan.
“Iya.”
“Dulu Bapak duduk di kelas ini juga?”
“Dulu kelasnya belum seperti ini,” jawab Rantaka. “Tapi saya juga pernah duduk di bangku kayu seperti kalian.”
Anak-anak tampak semakin tertarik.
Rantaka meletakkan tasnya di atas meja.
Kemudian ia mengeluarkan beberapa buku cerita.
“Siapa yang suka membaca?”
Beberapa tangan terangkat.
Tidak banyak.
Rantaka tidak kecewa.
“Siapa yang ingin bisa membaca lebih lancar?”
Kali ini, hampir semua tangan terangkat.
“Siapa yang punya cita-cita?”
Anak-anak saling memandang.
Seorang anak perempuan di pojok kelas mengangkat tangan pelan.
“Saya mau jadi perawat, Pak.”
“Bagus. Siapa lagi?”
“Saya mau jadi polisi.”
“Saya mau jadi guru.”
“Saya mau jadi pemain bola.”
“Saya mau jadi petani yang punya kebun besar.”
Jawaban terakhir datang dari seorang anak laki-laki yang duduk di bangku paling belakang.
Namanya Raka.
Rantaka mengenalnya sebagai anak yang bertanya tentang Langit Biru di bawah pohon beringin beberapa hari sebelumnya.
“Petani yang punya kebun besar?” tanya Rantaka.
Raka mengangguk.
“Biar ibu tidak capek lagi, Pak.”
Kelas mendadak hening.
Rantaka memandang Raka.
Ia melihat kesungguhan dalam mata anak itu.
“Cita-cita itu baik,” kata Rantaka. “Tidak ada cita-cita yang kecil selama kalian mau belajar dan berusaha.”
Ia mengangkat sebuah buku cerita.
“Mulai hari ini, setiap minggu kita akan membaca satu cerita. Setelah itu, kita akan menulis apa yang kita pelajari dari cerita tersebut.”
“Menulis?” tanya seorang murid.
“Iya.”
“Kalau tulisan saya jelek bagaimana, Pak?”
“Tidak apa-apa. Tulisan bisa diperbaiki. Yang penting kalian berani mulai.”
Pelajaran pertama pagi itu tidak langsung membahas rumus atau hafalan.
Rantaka membacakan sebuah cerita tentang anak desa yang menemukan cara membantu orang tuanya melalui ilmu yang ia pelajari di sekolah.
Anak-anak mendengarkan.
Beberapa duduk lebih tegak.
Beberapa tersenyum ketika mendengar bagian lucu.
Ketika cerita selesai, Rantaka bertanya, “Menurut kalian, apa yang membuat anak itu bisa membantu keluarganya?”
“Karena dia pintar,” jawab seorang murid.
“Karena dia sekolah,” jawab yang lain.
“Karena dia tidak menyerah,” kata Raka.
Rantaka tersenyum.
“Benar. Karena dia belajar dan tidak menyerah.”
Di luar kelas, angin bertiup pelan.
Daun-daun beringin bergerak di halaman sekolah.
Untuk beberapa saat, Rantaka merasa bahwa ruang kelas sederhana itu menjadi tempat yang sangat besar.
Di dalamnya, ada dua puluh tiga anak.
Ada dua puluh tiga kemungkinan.
Ada dua puluh tiga masa depan yang tidak boleh dibiarkan padam.
Saat jam istirahat, Rantaka membawa beberapa buku ke perpustakaan sekolah.
Ruangan itu berada di belakang kelas enam.
Pintunya terbuka, tetapi bagian dalamnya tampak gelap dan berdebu.
Rak-rak buku berdiri miring. Sebagian buku sudah kusam. Ada halaman yang menguning. Ada sampul yang robek. Di sudut ruangan, beberapa kardus berisi buku lama dibiarkan menumpuk.
Rantaka meletakkan tasnya di atas meja.
Ia membuka salah satu kardus.
Di dalamnya, ia menemukan beberapa buku cerita anak, buku pelajaran lama, dan majalah yang sudah bertahun-tahun tidak dibaca.
Di bawah tumpukan itu, ia menemukan sebuah papan kecil.
Cat birunya sudah memudar.
Namun, ia masih bisa membaca tulisan di atasnya.
GEROBAK BUKU LANGIT BIRU
Rantaka memegang papan itu cukup lama.
Dadanya terasa hangat sekaligus sedih.
Gerobak Buku Langit Biru pernah menjadi pusat kegiatan anak-anak desa. Di sana mereka membaca, menulis, belajar, dan bercerita.
Kini, papan namanya tersimpan di dalam kardus.
Seolah harapan itu pernah disimpan bersama debu.
“Masih ada?”
Suara dari pintu membuat Rantaka menoleh.
Liris berdiri di sana.
Ia mengenakan kemeja panjang sederhana dan membawa tas kain di bahunya. Rambutnya diikat rapi. Di tangannya, ia membawa beberapa buku dan sebuah map.
Rantaka tersenyum.
“Masih ada.”
Liris masuk perlahan.
Ia memandang papan kayu itu.
“Dulu kita mengecatnya sampai tangan kita biru semua.”
“Kau masih ingat?”
“Aku ingat semuanya.”
Rantaka menatapnya.
Ada banyak hal yang ingin ia katakan.
Tentang surat-surat mereka.
Tentang masa remaja yang penuh salah paham.
Tentang kota yang pernah membuat mereka berjauhan.
Tentang perasaan yang tumbuh pelan, lalu mereka simpan karena masing-masing sedang berjuang.
Namun, di antara mereka, kata-kata selalu membutuhkan waktu untuk lahir.
“Aku dengar kau mulai mengajar hari ini,” kata Liris.
“Iya. Kelas lima.”
“Bagaimana anak-anaknya?”
“Mereka punya banyak cita-cita. Tapi beberapa di antaranya hampir berhenti sekolah.”
Liris menghela napas.
“Aku juga mendengar itu. Banyak orang tua merasa sekolah terlalu lama hasilnya.”
“Padahal kalau anak-anak berhenti sekolah, pilihan mereka akan semakin sedikit.”
Liris mengangguk.
Ia meletakkan buku-buku yang dibawanya di atas meja.
“Aku membawa beberapa buku dari komunitas literasi. Tidak banyak. Tapi mungkin bisa membantu.”
Rantaka memandang buku-buku itu.
“Aku juga membawa buku.”
“Berarti kita mulai lagi dari yang sedikit.”
Rantaka tersenyum.
“Seperti dulu.”
Liris memandang papan Gerobak Buku Langit Biru.
“Tidak persis seperti dulu.”
“Kenapa?”
“Dulu kita hanya ingin anak-anak punya buku. Sekarang kita harus membuat mereka tetap punya alasan untuk sekolah.”
Kalimat itu membuat Rantaka terdiam.
Liris benar.
Perjuangan kali ini lebih besar.
Buku saja tidak cukup.
Mereka harus menghadapi kemiskinan, kekurangan guru, anak-anak yang terancam putus sekolah, dan warga yang mulai kehilangan kepercayaan pada masa depan desa.
“Gerobak Buku harus hidup lagi,” kata Rantaka.
Liris mengangguk.
“Dan perpustakaan ini juga.”
“Kau mau membantu?”
Liris menatapnya.
“Langit Biru bukan hanya milikmu, Rantaka.”
Rantaka tersenyum.
“Bukan. Langit Biru milik kita.”
Sore hari, setelah anak-anak pulang, Rantaka berjalan ke arah sungai.
Ia ingin melihat tempat yang dahulu menjadi bagian dari masa kecil mereka.
Namun, ketika sampai di tepian sungai, ia berhenti.
Air Sungai Wanasari tampak keruh.
Di beberapa bagian, terdapat sampah plastik yang tersangkut di akar-akar pohon. Bau lumpur bercampur sesuatu yang asing tercium dari arah hilir.
Seorang warga sedang mencuci jaring ikan di dekat tepian.
Rantaka mengenalnya sebagai Pak Jaya.
“Pak Jaya,” sapa Rantaka.
Pak Jaya menoleh.
“Oh, Pak Guru baru.”
“Air sungainya kenapa keruh sekali?”
Pak Jaya menghela napas.
“Sudah beberapa bulan begini. Kadang-kadang lebih parah kalau hujan turun.”
“Dari mana asalnya?”
“Entahlah. Ada yang bilang dari arah kebun atas. Ada yang bilang dari saluran dekat jalan baru.”
Rantaka memandang aliran sungai.
“Masih banyak ikan?”
Pak Jaya menggeleng.
“Tidak seperti dulu. Anak-anak sekarang jarang bisa menangkap ikan kecil di pinggir sungai.”
Rantaka teringat masa kecilnya.
Sungai itu dahulu menjadi tempat mereka bermain, mencuci kaki setelah pulang dari kebun, dan mencari ikan kecil dengan jaring sederhana.
Kini, sungai itu seperti sedang sakit.
Dan desa yang kehilangan sungainya akan kehilangan lebih dari sekadar air.
Desa akan kehilangan sumber kehidupan.
“Pak Rantaka.”
Suara seseorang dari belakang membuatnya menoleh.
Banyu berdiri beberapa langkah di belakangnya.
Ia mengenakan baju kerja yang bagian lengannya sedikit terkena noda oli. Di tangannya, ia membawa sebuah kotak perkakas kecil.
“Kau sudah pulang,” kata Rantaka.
“Sudah beberapa hari,” jawab Banyu. “Tapi kau baru datang ke bengkelku sekarang.”
“Aku baru mulai mengajar.”
Banyu memandang sungai.
“Kau lihat sendiri, kan?”
Rantaka mengangguk.
“Airnya semakin buruk.”
“Kalau dibiarkan, kolam ikan warga juga akan kena dampaknya.”
“Apakah sudah ada yang membicarakan ini?”
“Sudah. Tapi orang-orang lebih sibuk membicarakan perusahaan yang mau masuk.”
Rantaka menoleh.
“Kau tahu soal itu?”
Banyu mengangguk.
“Mereka ingin lahan dekat sungai dan kebun-kebun warga. Katanya mau membuka usaha besar. Katanya juga mau membuat jalan baru.”
“Kalau dekat sungai, dampaknya bisa besar.”
“Itu yang aku pikirkan,” kata Banyu. “Tapi tidak semua orang mau mendengar. Banyak yang sedang butuh uang.”
Rantaka memandang aliran air yang keruh.
Di belakangnya, langit sore mulai berubah warna.
Ia merasa seperti sedang berdiri di depan sebuah persoalan yang jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan.
Sekolah kekurangan guru.
Anak-anak terancam putus sekolah.
Perpustakaan hampir mati.
Sungai tercemar.
Dan kini, lahan desa mungkin akan berpindah tangan.
Namun, Rantaka tidak merasa sendiri.
Liris telah datang membawa buku.
Banyu telah datang membawa kepedulian.
Jagra pasti juga akan kembali dengan perjuangannya di kolam ikan.
Langit Biru mungkin sempat redup.
Tetapi belum padam.
Rantaka menggenggam papan kecil bertuliskan Gerobak Buku Langit Biru yang masih ia bawa dari perpustakaan.
Ia memandang Banyu.
“Kita harus mengumpulkan Liris dan Jagra.”
Banyu mengangguk.
“Untuk apa?”
Rantaka menatap Sungai Wanasari.
“Untuk menyalakan Langit Biru lagi.”
Di atas mereka, langit sore terbentang luas.
Biru yang perlahan berubah jingga.
Biru yang sama seperti langit masa kecil mereka.
Biru yang kini memanggil mereka untuk kembali berjuang.
BAB 2 - GEROBAK BUKU YANG BERDEBU
Keesokan paginya, sebelum bel sekolah berbunyi, Rantaka sudah berada di ruang perpustakaan SD Wanasari.
Pintu kayu ruangan itu terbuka lebar. Cahaya matahari masuk melalui jendela yang kacanya sebagian retak. Debu terlihat menari-nari di udara setiap kali angin pagi menyusup dari celah dinding papan.
Di atas meja tua, papan kecil bertuliskan Gerobak Buku Langit Biru masih terletak di tempat Rantaka meninggalkannya kemarin.
Ia memandang papan itu cukup lama.
Cat birunya telah pudar.
Di bagian sudut, kayunya mulai mengelupas.
Namun, tulisan itu masih bisa dibaca.
Masih ada.
Seperti harapan yang pernah tertimbun waktu, tetapi belum benar-benar hilang.
Rantaka mengambil kain lap dari dalam tasnya. Ia menuangkan sedikit air ke dalam ember kecil, lalu mulai membersihkan meja, rak, dan tumpukan buku yang selama ini dibiarkan berdebu.
Satu demi satu buku ia angkat.
Ada buku cerita yang sampulnya robek.
Ada buku pelajaran lama yang halamannya sudah menguning.
Ada majalah anak-anak yang terbit bertahun-tahun lalu.
Ada pula buku-buku yang masih cukup baik, tetapi belum pernah disentuh oleh siapa pun dalam waktu lama.
Rantaka menyusun buku-buku itu di atas lantai.
Ia membuat tiga tumpukan.
Buku yang masih bisa digunakan.
Buku yang harus diperbaiki.
Dan buku yang sudah terlalu rusak.
Saat ia sedang merapikan sebuah buku cerita bergambar, suara langkah kaki terdengar dari pintu.
“Kalau kau membersihkan semuanya sendirian, mungkin perpustakaan ini baru selesai tahun depan.”
Rantaka menoleh.
Liris berdiri di ambang pintu sambil membawa dua tas kain besar. Rambutnya diikat sederhana. Di tangannya, ada sapu lidi dan beberapa lembar kain lap.
Rantaka tersenyum.
“Kau datang pagi sekali.”
“Aku takut kau sudah memindahkan semua buku sebelum aku tiba.”
“Aku baru mulai.”
“Bagus. Berarti aku belum terlambat.”
Liris masuk ke ruangan itu dan meletakkan tas kainnya di atas meja.
Dari dalam tas, ia mengeluarkan beberapa buku bacaan anak, buku cerita rakyat, buku puisi sederhana, dan beberapa buku tulis.
“Ini dari komunitas literasi,” katanya. “Tidak banyak, tetapi cukup untuk menambah isi rak.”
Rantaka memandang buku-buku itu.
“Terima kasih.”
“Jangan berterima kasih dulu. Kita belum tahu apakah anak-anak akan mau datang.”
“Mereka akan datang.”
“Kau yakin?”
Rantaka mengangguk.
“Anak-anak selalu ingin tahu. Kadang mereka hanya tidak punya tempat untuk bertanya.”
Liris memandangnya sejenak.
“Kau sudah benar-benar berubah menjadi guru.”
Rantaka tertawa kecil.
“Aku baru dua hari mengajar.”
“Tidak. Maksudku, cara kau melihat anak-anak sudah berubah.”
Rantaka terdiam.
Ia menunduk sambil mengambil sebuah buku yang sampulnya hampir lepas.
“Mungkin karena dulu aku juga anak yang butuh tempat untuk bertanya.”
Liris tidak menjawab.
Ia mengambil sapu lidi dan mulai membersihkan lantai.
Mereka bekerja tanpa banyak bicara.
Namun, kesunyian di antara mereka tidak terasa canggung.
Seperti dulu, ketika mereka duduk di bawah pohon beringin sambil membaca buku masing-masing.
Seperti dulu, ketika Liris menulis puisi di buku catatan hijaunya dan Rantaka mencoba memahami soal matematika.
Waktu telah membawa mereka ke banyak tempat.
Namun, di ruangan perpustakaan kecil itu, mereka kembali menemukan sesuatu yang pernah hampir hilang.
Tujuan yang sama.
Menjelang siang, Bu Laras datang membawa sebuah kunci besar.
“Kalian benar-benar serius?” tanyanya sambil melihat keadaan perpustakaan yang mulai berubah.
Rak-rak buku sudah dibersihkan. Lantai mulai terlihat. Beberapa buku baru tersusun rapi di bagian depan.
“Serius, Bu,” jawab Rantaka.
“Gerobak Buku Langit Biru akan kami hidupkan lagi,” tambah Liris.
Bu Laras memandang papan kecil yang sudah dibersihkan.
Matanya tampak berkaca-kaca.
“Dulu kalian masih anak-anak ketika membuat gerobak itu,” katanya. “Kalian hanya punya beberapa buku dan banyak semangat.”
“Sekarang buku kami masih belum banyak,” kata Rantaka. “Tapi semangatnya masih ada.”
Bu Laras tersenyum.
Ia menyerahkan kunci besar itu kepada Rantaka.
“Ini kunci gudang balai desa. Gerobaknya disimpan di sana.”
Rantaka menerima kunci tersebut.
“Masih ada, Bu?”
“Masih. Tetapi jangan terlalu berharap. Sudah lama tidak dipakai.”
Liris memandang Rantaka.
“Kalau masih ada, berarti bisa diperbaiki.”
Bu Laras mengangguk.
“Setelah pulang sekolah, kalian lihat saja. Kalau perlu bantuan, bilang kepada saya.”
Sore hari, Rantaka dan Liris berjalan menuju balai desa.
Matahari mulai condong ke arah barat. Jalan tanah di depan sekolah tampak lebih ramai daripada biasanya. Beberapa warga duduk di warung kopi sambil berbicara dengan suara pelan.
Ketika Rantaka dan Liris melewati warung itu, percakapan mereka terdengar semakin jelas.
“Katanya harga tanahnya tinggi.”
“Kalau benar, saya mau jual sebagian. Anak saya mau masuk sekolah ke kota.”
“Kalau semua dijual, nanti kita berkebun di mana?”
“Memangnya kebun sekarang hasilnya cukup?”
Rantaka melambatkan langkah.
Di dalam warung, Pak Darma duduk bersama beberapa warga. Di atas meja, terdapat gelas-gelas kopi dan selembar brosur berwarna putih.
Brosur itu memuat gambar bangunan besar, jalan lebar, dan tulisan tentang peluang kerja bagi masyarakat desa.
Pak Darma melihat Rantaka dan Liris.
“Pak Guru,” panggilnya.
Rantaka mendekat.
“Ya, Pak.”
“Sudah dengar soal perusahaan yang mau masuk?”
“Sedikit.”
Pak Darma mengambil brosur itu dan menyerahkannya kepada Rantaka.
“Katanya mereka mau membangun pusat pengolahan hasil pertanian. Akan ada pekerjaan. Akan ada jalan baru. Anak-anak muda tidak perlu jauh-jauh merantau.”
Rantaka membaca brosur itu.
Bahasanya terdengar meyakinkan.
Ada janji lapangan kerja.
Ada janji peningkatan ekonomi.
Ada janji pembangunan.
Namun, tidak ada penjelasan yang benar-benar jelas tentang lahan mana yang akan digunakan, bagaimana dampaknya terhadap sungai, atau apa yang akan terjadi pada kebun warga setelah tanah dijual.
“Apakah sudah ada pertemuan resmi?” tanya Rantaka.
“Belum. Tapi orang perusahaan itu bilang akan ada sosialisasi,” jawab Pak Darma. “Mereka mau bicara dengan warga.”
Seorang warga lain menyahut, “Kalau tanah saya dihargai tinggi, saya jual saja. Sudah terlalu lama hidup susah.”
“Betul,” kata yang lain. “Kalau ada uang, bisa memperbaiki rumah. Bisa beli motor. Bisa menyekolahkan anak.”
Liris yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.
“Kalau tanahnya dijual, setelah uangnya habis bagaimana?”
Suasana warung mendadak hening.
Seorang lelaki tua menatap Liris.
“Kau bicara mudah, Liris. Kau punya tulisan, punya kegiatan literasi. Tapi kami ini hidup dari kebun.”
Liris tidak tersinggung.
“Saya tahu, Pak. Justru karena hidup dari kebun, tanah harus dipikirkan baik-baik. Uang bisa habis. Tanah yang dijual belum tentu kembali.”
Pak Darma menghela napas.
“Tidak semua orang punya pilihan, Liris. Ada yang butuh biaya berobat. Ada yang punya anak mau sekolah. Ada yang kebunnya sudah tidak menghasilkan.”
Rantaka memandang wajah-wajah warga di warung itu.
Ia memahami alasan mereka.
Tidak semua orang menjual tanah karena serakah.
Sebagian menjual karena terdesak.
Sebagian menjual karena tidak melihat jalan lain.
Namun, ia juga tahu bahwa keputusan besar tidak boleh dibuat hanya karena janji yang belum jelas.
“Kita tunggu pertemuan resmi,” kata Rantaka akhirnya. “Warga berhak tahu semua rencana, bukan hanya harga tanah dan janji pekerjaan.”
Pak Darma memandangnya.
“Kau memang sudah jadi guru, Rantaka. Selalu bicara soal berpikir panjang.”
“Karena keputusan hari ini akan menentukan hidup anak-anak kita nanti, Pak.”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Rantaka mengembalikan brosur itu.
Kemudian ia dan Liris melanjutkan perjalanan menuju balai desa.
Di sepanjang jalan, Liris berjalan diam.
“Pak Darma tidak sepenuhnya salah,” katanya akhirnya.
“Aku tahu.”
“Orang-orang sedang kesulitan. Mereka melihat uang sebagai jalan keluar.”
“Aku juga tahu.”
“Lalu bagaimana?”
Rantaka memandang jalan di depan mereka.
“Kita harus membantu warga melihat semua kemungkinan. Bukan hanya yang terlihat paling cepat.”
Liris mengangguk perlahan.
Namun, wajahnya masih menyimpan kegelisahan.
Gudang balai desa berada di belakang bangunan utama.
Pintunya terbuat dari seng tua. Ketika Rantaka memasukkan kunci besar ke lubang gembok, pintu itu mengeluarkan bunyi berderit panjang.
Bau lembap langsung menyambut mereka.
Di dalam gudang, terdapat kursi-kursi plastik rusak, spanduk kegiatan lama, karung kosong, beberapa peralatan gotong royong, dan tumpukan kardus.
Di sudut paling belakang, tertutup kain terpal abu-abu, berdiri sebuah gerobak.
Rantaka dan Liris saling memandang.
Mereka berjalan mendekat.
Rantaka menarik terpal itu perlahan.
Debu beterbangan.
Di bawahnya, tampak Gerobak Buku Langit Biru.
Gerobak itu masih berbentuk seperti yang mereka ingat.
Rangkanya terbuat dari kayu.
Di sisi kanan, masih ada rak kecil untuk menaruh buku.
Di bagian depan, masih terlihat sisa cat biru.
Namun, roda gerobak tampak kempis dan salah satu sisinya retak. Pegangan kayunya mulai rapuh. Atap kecil dari seng tipis sudah berkarat di beberapa bagian.
Liris menyentuh sisi gerobak.
“Dulu warnanya lebih cerah.”
“Dulu kita juga lebih kecil,” jawab Rantaka.
Liris tersenyum tipis.
“Kau masih suka membuat kalimat seperti itu.”
Rantaka memperhatikan roda gerobak.
“Kalau Banyu melihat ini, dia pasti langsung tahu apa yang harus diperbaiki.”
“Kalau Jagra melihatnya, dia mungkin akan bilang kita perlu tenaga lebih banyak untuk mengeluarkannya.”
“Kalau kita berempat lengkap, mungkin gerobak ini bisa berjalan lagi.”
Liris menatapnya.
“Kita belum lengkap.”
Rantaka mengangguk.
“Banyu sudah pulang. Aku bertemu dengannya di sungai kemarin.”
“Jagra?”
“Belum. Tapi aku dengar dia sedang sibuk di kolam.”
Liris memandang gerobak itu lagi.
“Dulu kita membuat Langit Biru untuk anak-anak.”
“Sekarang juga.”
“Tidak hanya untuk anak-anak, Rantaka.”
Rantaka menoleh.
Liris melanjutkan, “Kalau warga mulai menjual tanah, kalau sungai makin rusak, kalau anak muda terus pergi, anak-anak nanti akan tumbuh di desa yang kehilangan banyak hal.”
Rantaka terdiam.
Kalimat Liris terasa seperti membuka pintu yang lebih besar.
Gerobak Buku memang hanya sebuah gerobak.
Namun, di baliknya ada gagasan.
Bahwa desa harus memiliki tempat belajar.
Bahwa warga harus bisa membaca, memahami, dan memutuskan masa depannya sendiri.
Bahwa pendidikan bukan hanya untuk anak-anak di ruang kelas.
Pendidikan juga untuk orang dewasa yang sedang menghadapi pilihan sulit.
“Kita harus membuat Langit Biru menjadi lebih besar,” kata Rantaka.
“Lebih besar bagaimana?”
“Bukan hanya gerobak buku. Kita buat kelas belajar. Diskusi warga. Pelatihan untuk anak muda. Apa pun yang bisa membuat orang-orang punya pilihan selain menjual tanah.”
Liris memandangnya dengan mata yang mulai menyala.
“Kau sudah memikirkannya?”
“Belum semuanya.”
“Bagus.”
“Bagus?”
“Artinya kita masih bisa memikirkannya bersama.”
Rantaka tersenyum.
Di dalam gudang yang gelap dan berdebu itu, mereka berdiri di depan gerobak tua.
Tidak ada musik.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada orang yang tahu bahwa sebuah keputusan besar sedang tumbuh.
Namun, Rantaka merasakan sesuatu yang lama kembali hidup.
Semangat yang dulu membawa mereka membaca di bawah pohon beringin.
Semangat yang membuat mereka percaya bahwa anak-anak desa berhak memiliki mimpi.
Semangat itu kini kembali.
Lebih dewasa.
Lebih berat.
Dan lebih berbahaya, karena kali ini mereka akan berhadapan dengan kepentingan yang lebih besar daripada sekadar kekurangan buku.
Ketika mereka keluar dari gudang, langit sudah mulai gelap.
Di halaman balai desa, beberapa orang berdiri di dekat mobil hitam yang Rantaka lihat kemarin.
Dua laki-laki berpakaian rapi sedang berbicara dengan perangkat desa.
Salah satu dari mereka membawa map tebal.
Yang lain tersenyum sambil membagikan brosur kepada warga.
Di sisi mobil, terdapat tulisan kecil:
- BUMI RAYA MAKMUR
Rantaka berhenti.
Liris berdiri di sampingnya.
Seorang laki-laki dari perusahaan itu menoleh dan melihat mereka.
Ia tersenyum ramah.
“Selamat sore. Apakah Bapak dan Ibu warga Desa Wanasari?”
Rantaka mengangguk.
“Saya Rantaka. Guru di SD Wanasari.”
“Wah, bagus sekali. Kami senang bertemu dengan tenaga pendidik desa.”
Lelaki itu mengulurkan tangan.
“Nama saya Surya. Saya dari PT. Bumi Raya Makmur.”
Rantaka menyalaminya.
“Perusahaan Bapak akan membuka usaha di sini?”
“Kami masih dalam tahap penjajakan,” jawab Surya. “Kami ingin membawa kemajuan bagi Wanasari. Lapangan kerja, jalan yang lebih baik, dan peluang ekonomi baru.”
Liris memandang brosur di tangan Surya.
“Lahannya di mana?”
Surya tersenyum tipis.
“Masih dibicarakan. Kami tentu akan mengikuti prosedur dan berkoordinasi dengan warga.”
“Apakah dekat sungai?” tanya Rantaka.
Surya menatapnya sejenak.
“Kami akan menjelaskan semuanya dalam sosialisasi nanti.”
Jawaban itu terdengar tenang.
Namun, tidak benar-benar menjawab.
Rantaka mengangguk.
“Warga berhak mendapat penjelasan yang lengkap.”
“Tentu,” jawab Surya. “Kami sangat terbuka terhadap masukan.”
Surya kemudian menyerahkan satu brosur kepada Rantaka.
“Semoga Bapak dapat melihat niat baik kami.”
Rantaka menerima brosur itu.
Ia memandang gambar jalan lebar dan bangunan besar di sampulnya.
Kemajuan.
Peluang.
Lapangan kerja.
Kata-kata itu terdengar indah.
Namun, Rantaka tahu bahwa tidak semua hal yang tampak indah dari luar akan membawa kebaikan bagi desa.
Ia menoleh ke arah gudang.
Di balik pintu seng tua itu, Gerobak Buku Langit Biru masih berdiri dalam debu.
Di hadapannya, perusahaan luar datang membawa janji perubahan.
Di antara keduanya, Desa Wanasari sedang menunggu keputusan.
Malam mulai turun.
Rantaka dan Liris berjalan pulang tanpa banyak bicara.
Namun, sebelum berpisah di pertigaan jalan, Liris berkata pelan, “Besok kita bersihkan gerobaknya.”
Rantaka mengangguk.
“Besok kita mulai.”
“Dengan siapa?”
Rantaka memandang langit yang mulai dipenuhi bintang.
“Dengan siapa pun yang masih percaya bahwa desa ini layak diperjuangkan.”
Di kejauhan, suara sungai terdengar samar.
Airnya tetap mengalir.
Namun, warnanya telah berubah.
Dan di dalam dada Rantaka, sebuah tekad mulai tumbuh.
Gerobak Buku Langit Biru tidak boleh lagi menjadi benda tua yang tersimpan di gudang.
Gerobak itu harus kembali berjalan.
Karena desa yang ingin menjaga masa depannya harus lebih dulu berani membuka buku, membuka pikiran, dan membuka jalan bagi harapan.
BAB 3 - SUNGAI YANG TIDAK LAGI JERNIH
Pagi itu, Rantaka tidak langsung menuju sekolah.
Ia telah meminta izin kepada Bu Laras untuk datang sedikit lebih siang karena ingin melihat keadaan Sungai Wanasari bersama Banyu. Sejak melihat air sungai yang keruh beberapa hari sebelumnya, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang.
Sungai itu bukan sekadar aliran air bagi Desa Wanasari.
Sungai adalah tempat anak-anak dulu bermain sepulang sekolah.
Sungai adalah sumber air bagi kebun-kebun warga.
Sungai adalah tempat para nelayan kecil memasang jaring.
Sungai juga mengalir ke arah kolam-kolam ikan yang menjadi tumpuan hidup beberapa keluarga.
Dulu, airnya jernih.
Di dasar sungai, batu-batu kecil terlihat jelas. Ikan-ikan kecil berenang di sela akar pohon. Anak-anak sering duduk di tepiannya sambil mencoba menangkap ikan dengan botol bekas atau jaring kecil.
Namun kini, air itu berubah.
Rantaka berjalan menyusuri jalan setapak di belakang rumah warga. Rumput liar tumbuh tinggi di sisi jalan. Beberapa bagian tanah masih basah karena hujan semalam.
Di kejauhan, ia melihat Banyu sedang berdiri di dekat sebuah parit kecil.
Banyu mengenakan sepatu bot karet dan membawa kotak perkakas di tangan kirinya. Di tangan kanan, ia memegang botol plastik bening yang sudah diisi air sungai.
“Kau datang juga,” kata Banyu tanpa menoleh.
“Aku tidak bisa mengajar dengan tenang kalau belum tahu apa yang terjadi di sini,” jawab Rantaka.
Banyu mengangkat botol plastik itu.
“Lihat.”
Rantaka menerima botol tersebut.
Air di dalamnya berwarna kecokelatan. Ada endapan hitam tipis di bagian bawah. Bau yang keluar dari botol itu tidak terlalu tajam, tetapi cukup asing.
“Ini dari sungai?” tanya Rantaka.
“Dari saluran kecil di dekat kebun atas. Airnya masuk ke sungai dari sana.”
“Dari mana asal saluran ini?”
Banyu menunjuk ke arah jalan baru yang sedang dibuka di sisi bukit.
Di atas sana, beberapa pohon telah ditebang. Tanah merah terlihat terbuka. Bekas roda kendaraan besar membentuk jalur panjang yang turun ke arah kebun warga.
“Sejak orang-orang perusahaan datang, jalan itu mulai sering dilalui mobil,” kata Banyu. “Mereka bilang hanya survei. Tapi tanah di atas sudah mulai dibuka.”
Rantaka memandang ke arah bukit.
Dari tempat mereka berdiri, ia bisa melihat beberapa orang memakai helm proyek. Ada alat berat kecil yang sedang bergerak perlahan. Suaranya terdengar sampai ke bawah.
“Apakah mereka sudah mendapat izin?” tanya Rantaka.
Banyu menggeleng.
“Aku tidak tahu. Warga juga tidak semua tahu.”
“Kalau tanah terbuka seperti itu, hujan bisa membawa lumpur ke sungai.”
“Bukan hanya lumpur,” kata Banyu. “Aku melihat beberapa drum di dekat jalan. Aku tidak tahu isinya apa.”
Rantaka menatap botol air di tangannya.
Ia bukan ahli lingkungan.
Namun, ia tahu bahwa sesuatu tidak beres.
Air sungai tidak berubah keruh tanpa sebab.
Dan jika warga tidak memahami apa yang terjadi, mereka mungkin baru sadar ketika semuanya sudah terlambat.
“Kita harus bicara dengan Jagra,” kata Rantaka.
Banyu mengangguk.
“Dia sudah menunggu di kolam.”
Kolam ikan keluarga Jagra berada tidak jauh dari sungai.
Dulu, kolam itu menjadi salah satu usaha perikanan yang paling aktif di Desa Wanasari. Setelah banjir besar beberapa tahun lalu, Jagra dan keluarganya membangun kembali kolam-kolam tersebut sedikit demi sedikit.
Kini, beberapa kolam telah kembali terisi ikan nila dan ikan patin.
Namun, pagi itu suasana di sekitar kolam tidak seperti biasanya.
Jagra berdiri di tepi salah satu kolam sambil memegang serok kecil. Wajahnya tegang. Di dalam serok itu, terdapat dua ikan nila yang mengapung lemah.
“Sejak kapan?” tanya Banyu.
“Dua hari,” jawab Jagra singkat.
Rantaka mendekat.
Air kolam tampak lebih keruh dari biasanya. Di permukaannya, beberapa ikan terlihat bergerak lambat. Ada yang muncul ke atas seolah mencari udara.
“Sudah banyak yang mati?” tanya Rantaka.
“Belum banyak. Tapi kalau begini terus, bisa habis.”
Jagra meletakkan serok itu di ember.
“Aku sudah mengganti sebagian air. Tapi air dari sungai juga tidak bagus. Kalau terus memakai air sungai, kolam ini malah makin parah.”
Rantaka memandang wajah sahabatnya.
Dulu, Jagra pernah merasa bahwa tinggal di desa berarti tidak memiliki masa depan. Setelah bertahun-tahun berjuang, ia mulai membangun usaha perikanan bersama warga dan pemuda desa.
Kini, ancaman baru datang.
Bukan dari banjir.
Bukan dari kegagalan panen.
Tetapi dari air yang tidak lagi bisa dipercaya.
“Apakah warga lain mengalami hal yang sama?” tanya Rantaka.
“Pak Jaya bilang ikannya makin sedikit,” jawab Jagra. “Pak Roni juga mengeluh air untuk kebunnya mulai membuat daun tanaman menguning.”
Banyu menaruh botol air sungai di atas batu.
“Aku menemukan saluran dari arah bukit. Tanahnya sudah dibuka. Ada kendaraan perusahaan keluar masuk.”
Jagra menoleh cepat.
“PT. Bumi Raya Makmur?”
“Mungkin,” jawab Banyu. “Aku tidak bisa memastikan. Tapi orang-orang di atas memakai rompi dengan tulisan perusahaan itu.”
Jagra mengepalkan tangan.
“Mereka belum resmi masuk desa, tapi dampaknya sudah sampai ke kolam.”
“Jangan langsung menyimpulkan,” kata Rantaka. “Kita perlu bukti.”
Jagra memandangnya dengan mata yang menyimpan kemarahan.
“Bukti apa lagi yang kau butuhkan, Rantaka? Ikan-ikan ini sudah cukup menjadi bukti.”
Rantaka tidak langsung menjawab.
Ia memahami kemarahan Jagra.
Kolam itu bukan sekadar tempat memelihara ikan. Kolam itu adalah hasil kerja keras keluarga Jagra. Ada uang tabungan, tenaga, harapan, dan kepercayaan warga di dalamnya.
Namun, Rantaka juga tahu bahwa jika mereka ingin melawan sesuatu yang besar, mereka tidak boleh hanya membawa kemarahan.
Mereka harus membawa data.
Mereka harus membawa cerita warga.
Mereka harus membawa alasan yang tidak mudah dipatahkan.
“Aku tidak bilang kita diam,” kata Rantaka akhirnya. “Aku hanya bilang kita harus tahu apa yang terjadi sebelum orang lain memutarbalikkan keadaan.”
Jagra menarik napas panjang.
Ia menatap kolamnya.
“Kalau ikan ini mati, siapa yang akan mengganti?”
Tidak ada yang menjawab.
Angin pagi berembus pelan.
Di atas permukaan air, lingkaran-lingkaran kecil muncul ketika beberapa ikan bergerak lemah.
Menjelang siang, mereka bertiga berjalan menyusuri sungai menuju kebun Pak Roni.
Pak Roni sedang berdiri di antara tanaman cabai yang daunnya tampak layu. Di beberapa bagian, tanah terlihat mengeras dan retak.
“Pak Roni,” sapa Rantaka.
Lelaki itu menoleh.
“Oh, Pak Guru. Kalian mau lihat kebun ini juga?”
Rantaka mengangguk.
“Banyu bilang ada masalah dengan air.”
Pak Roni memetik satu daun cabai yang mulai menguning.
“Sudah seminggu ini saya pakai air dari parit untuk menyiram. Awalnya tidak apa-apa. Tapi sekarang daunnya begini.”
Banyu mengambil daun itu dan memperhatikannya.
“Apakah airnya berbau?”
“Kadang. Tidak setiap hari. Tapi kalau habis hujan, baunya lebih kuat.”
Jagra memandang ke arah sungai.
“Kalau begini, bukan hanya kolam yang kena.”
Pak Roni menghela napas.
“Kebun ini satu-satunya yang saya punya. Anak saya masih sekolah dua orang. Kalau panen gagal, saya harus cari pinjaman lagi.”
Rantaka merasakan sesuatu yang berat di dadanya.
Setiap persoalan di desa selalu memiliki wajah.
Bukan hanya angka.
Bukan hanya laporan.
Di balik tanaman cabai yang layu, ada biaya sekolah anak-anak Pak Roni.
Di balik ikan yang mengapung di kolam, ada harapan keluarga Jagra.
Di balik air sungai yang keruh, ada masa depan warga yang menggantung pada tanah dan alam mereka sendiri.
“Pak Roni,” kata Rantaka, “kalau nanti ada pertemuan warga tentang sungai dan rencana perusahaan, apakah Bapak mau datang?”
Pak Roni menatapnya ragu.
“Untuk apa? Orang kecil seperti saya mau bicara apa?”
“Bapak bisa menceritakan apa yang Bapak lihat. Itu penting.”
Pak Roni menggeleng pelan.
“Perusahaan itu katanya mau membuka pekerjaan. Kalau saya terlalu banyak bicara, nanti malah dianggap menolak rezeki.”
Jagra terlihat ingin menyela, tetapi Rantaka mengangkat tangan pelan.
“Kami tidak meminta Bapak menolak apa pun,” kata Rantaka. “Kami hanya ingin semua warga tahu apa yang sedang terjadi. Keputusan harus dibuat setelah semua orang mendapat penjelasan yang jelas.”
Pak Roni tidak menjawab.
Ia kembali memandang tanaman cabainya.
“Kalau benar air ini rusak karena mereka,” katanya pelan, “saya tidak tahu harus bagaimana.”
Rantaka menatap kebun itu.
Ia juga belum tahu.
Namun, ia tahu bahwa ketidaktahuan warga adalah hal yang paling mudah dimanfaatkan oleh siapa pun yang datang membawa janji.
Siang hari, Rantaka kembali ke sekolah.
Kelas lima sudah menunggunya.
Ketika ia masuk, Raka langsung mengangkat tangan.
“Pak Guru, tadi Bapak ke sungai?”
“Iya.”
“Airnya masih cokelat?”
“Masih.”
“Kalau air sungai kotor, ikan-ikannya mati ya, Pak?”
Rantaka memandang wajah anak-anak di hadapannya.
Mereka mendengar pembicaraan orang dewasa.
Mereka melihat sungai berubah.
Mereka mungkin belum memahami konflik tanah dan perusahaan.
Namun, mereka akan merasakan akibatnya lebih lama daripada siapa pun.
“Kalau air sungai kotor, ikan bisa sakit atau mati,” jawab Rantaka. “Tanaman juga bisa terganggu. Karena itu, sungai harus dijaga.”
“Siapa yang harus menjaganya?” tanya seorang murid perempuan.
“Semua orang,” kata Rantaka.
“Anak-anak juga?”
“Anak-anak juga.”
Raka berpikir sejenak.
“Kalau begitu, kita jangan buang sampah ke sungai.”
“Betul.”
“Kalau ada orang buang sampah, kita bilang jangan.”
“Betul.”
“Kalau ada orang besar yang membuat sungai kotor?”
Kelas mendadak hening.
Pertanyaan itu sederhana.
Namun, jawabannya tidak mudah.
Rantaka berdiri di depan papan tulis. Ia memandang anak-anak itu satu per satu.
“Kalau ada orang yang membuat sungai kotor,” katanya perlahan, “kita harus berani bertanya. Kita harus berani mencari tahu. Dan kita harus berani menjaga tempat tinggal kita.”
“Walaupun orangnya kaya?” tanya Raka.
Rantaka mengangguk.
“Walaupun orangnya kaya.”
Anak-anak tampak diam.
Namun, di wajah mereka, Rantaka melihat sesuatu yang membuatnya percaya bahwa pendidikan bukan hanya tentang membaca dan menghitung.
Pendidikan adalah keberanian untuk memahami.
Pendidikan adalah keberanian untuk bertanya.
Pendidikan adalah keberanian untuk tidak menerima sesuatu begitu saja.
Sore hari, Rantaka kembali ke rumah dengan langkah pelan.
Di depan rumahnya, ia melihat Liris sedang duduk di bangku bambu bersama ibunya. Di pangkuannya, ada beberapa lembar kertas dan sebuah buku catatan.
“Kau baru pulang?” tanya Liris.
“Iya.”
“Bagaimana sungainya?”
“Lebih buruk daripada yang kita kira.”
Ibu Rantaka mempersilakan Liris masuk. Mereka duduk di ruang depan. Rantaka menceritakan apa yang ia lihat bersama Banyu dan Jagra.
Tentang saluran air dari bukit.
Tentang tanah yang dibuka.
Tentang ikan yang mulai mati.
Tentang tanaman cabai Pak Roni yang menguning.
Liris mendengarkan dengan wajah serius.
“Kalau warga tidak tahu apa yang terjadi, mereka akan mudah percaya bahwa semua ini hanya karena hujan atau musim,” katanya.
“Itu sebabnya kita perlu mencari informasi,” jawab Rantaka.
Liris membuka buku catatannya.
“Aku bisa membantu mencatat cerita warga. Bukan untuk menyebarkan kabar yang belum pasti, tetapi untuk mengumpulkan apa yang mereka alami.”
“Cerita warga bisa menjadi bukti awal,” kata Rantaka.
“Dan bisa menjadi bahan diskusi di Gerobak Buku.”
Rantaka memandangnya.
“Kau ingin membahas sungai di kegiatan anak-anak?”
“Bukan hanya anak-anak. Kita bisa membuat sore membaca untuk warga. Membaca berita, membaca informasi tentang sungai, tentang tanah, tentang hak warga untuk bertanya.”
Rantaka terdiam.
Ia membayangkan Gerobak Buku Langit Biru bukan hanya membawa cerita anak-anak.
Gerobak itu bisa membawa pengetahuan.
Bisa menjadi tempat warga belajar memahami surat, brosur, dan janji-janji yang datang dari luar.
“Banyu bisa membantu menjelaskan soal air dan alat sederhana,” kata Rantaka.
“Jagra bisa bicara tentang dampaknya pada kolam ikan,” sambung Liris.
“Dan aku bisa mengajak anak-anak membuat gambar tentang sungai yang mereka inginkan.”
Liris tersenyum.
“Itu awal yang baik.”
Di luar rumah, langit sore berubah menjadi kelabu.
Awan tebal mulai berkumpul dari arah bukit.
Rantaka memandang ke luar jendela.
Ia teringat tanah merah yang terbuka di atas sana.
Jika hujan turun lagi, lumpur akan mengalir lebih banyak ke sungai.
Dan mungkin, air Sungai Wanasari akan semakin keruh.
Malam itu, hujan benar-benar turun.
Tidak terlalu deras pada awalnya.
Namun, menjelang tengah malam, suara hujan semakin kuat menghantam atap rumah.
Rantaka terbangun beberapa kali.
Setiap kali membuka mata, ia mendengar air mengalir deras di parit depan rumah.
Ia membayangkan sungai.
Ia membayangkan kolam Jagra.
Ia membayangkan kebun Pak Roni.
Ia membayangkan anak-anak yang bertanya siapa yang harus menjaga sungai.
Pagi berikutnya, sebelum matahari terbit, seseorang mengetuk pintu rumahnya dengan keras.
“Rantaka!”
Suara Banyu terdengar dari luar.
Rantaka segera bangun dan membuka pintu.
Banyu berdiri di depan rumah dengan wajah pucat. Bajunya basah oleh hujan. Napasnya terdengar berat.
“Ada apa?” tanya Rantaka.
“Kolam Jagra jebol.”
Rantaka membeku.
“Bagaimana bisa?”
“Air dari parit atas turun deras. Lumpur masuk ke kolam. Tanggulnya tidak kuat.”
“Jagra bagaimana?”
“Dia di sana. Ayo cepat.”
Tanpa sempat sarapan, Rantaka mengambil jaket dan berlari mengikuti Banyu.
Hujan masih turun tipis.
Jalan tanah berubah menjadi lumpur.
Ketika mereka sampai di kolam, suara warga terdengar dari segala arah.
Beberapa orang membawa cangkul.
Beberapa membawa karung pasir.
Sebagian berusaha menahan aliran air yang masuk ke kolam.
Namun, salah satu sisi tanggul sudah jebol.
Air keruh mengalir deras.
Ikan-ikan terlihat terbawa keluar bersama lumpur.
Jagra berdiri di tengah hujan, memegang sekop dengan tangan gemetar.
Wajahnya penuh lumpur.
Matanya merah.
“Semua habis,” katanya ketika melihat Rantaka.
Rantaka mendekat.
“Belum tentu. Kita selamatkan yang masih bisa.”
“Tidak, Rantaka.” Suara Jagra pecah. “Aku baru mulai membangun lagi. Baru mulai membuat warga percaya. Sekarang semuanya habis.”
Rantaka memegang bahu sahabatnya.
“Jagra, lihat aku.”
Jagra menatapnya.
“Kita belum selesai.”
“Bagaimana bisa kau bilang begitu?” tanya Jagra dengan suara keras. “Sungai rusak. Kolam jebol. Orang-orang di atas sana membuka tanah. Tapi kita hanya bicara, bicara, dan bicara!”
Rantaka tidak marah.
Ia tahu kemarahan Jagra bukan hanya untuk dirinya.
Itu adalah kemarahan seorang anak desa yang berkali-kali harus membangun kembali sesuatu yang dihancurkan keadaan.
“Kau benar,” kata Rantaka. “Kita tidak boleh hanya bicara.”
Jagra terdiam.
Rantaka menoleh kepada Banyu dan warga yang sedang bekerja.
“Kita bantu selamatkan kolam ini hari ini,” katanya. “Setelah itu, kita cari tahu apa yang terjadi di atas. Kita kumpulkan warga. Kita hidupkan Langit Biru. Dan kita pastikan tidak ada yang mengambil masa depan desa ini tanpa penjelasan.”
Hujan masih turun.
Lumpur masih mengalir.
Namun, satu per satu warga mulai mendekat.
Mereka membawa karung.
Mereka membawa cangkul.
Mereka membawa tangan yang siap bekerja.
Di tengah hujan pagi itu, Rantaka berdiri bersama Banyu dan Jagra.
Di hadapan mereka, Sungai Wanasari mengalir keruh.
Tidak lagi jernih seperti masa kecil mereka.
Tetapi di dalam hati mereka, sebuah tekad mulai mengalir lebih kuat.
Sungai itu harus diselamatkan.
Kolam itu harus dibangun kembali.
Dan Desa Wanasari harus belajar menjaga dirinya sendiri.
Karena jika mereka diam, tidak hanya air yang akan berubah.
Masa depan anak-anak desa juga akan ikut hanyut.
BAB 4 - KOLAM YANG HAMPIR MATI
Pagi itu, hujan belum benar-benar berhenti.
Langit Desa Wanasari masih dipenuhi awan kelabu. Tanah di sekitar kolam keluarga Jagra berubah menjadi lumpur pekat. Air dari parit atas terus mengalir membawa tanah merah, ranting-ranting kecil, dan sampah daun ke arah kolam yang tanggulnya telah jebol.
Di beberapa bagian, air kolam sudah menyatu dengan aliran sungai.
Ikan-ikan nila yang semula dipelihara dengan susah payah kini terlihat berenang lemah di tepian. Sebagian terjebak di antara rumput dan lumpur. Sebagian lagi hanyut bersama arus yang keluar dari lubang tanggul.
Jagra berdiri di sisi kolam sambil menggenggam sekop.
Bajunya basah.
Celananya penuh lumpur.
Namun, yang paling berat bukanlah hujan atau dinginnya pagi itu.
Yang paling berat adalah melihat usaha yang dibangunnya bertahun-tahun kembali berada di ambang kehancuran.
“Karungnya kurang!” teriak seorang warga dari sisi tanggul.
“Ambil dari rumah Pak Jaya!” sahut warga lain.
Banyu segera berlari ke arah jalan kecil sambil membawa dua karung kosong. Rantaka membantu beberapa pemuda mengisi karung dengan tanah dan batu kecil. Mereka lalu menyusunnya di bagian tanggul yang paling parah.
Air masih terus mendesak.
Setiap kali satu karung diletakkan, air seolah menemukan jalan lain untuk keluar.
Namun, tidak ada yang berhenti bekerja.
Pak Jaya datang membawa cangkul.
Pak Roni membawa beberapa batang bambu.
Ibu-ibu datang membawa termos teh hangat dan nasi bungkus.
Anak-anak yang seharusnya bermain di rumah berdiri di kejauhan sambil memperhatikan orang dewasa bekerja.
Di antara mereka, Raka terlihat memegang payung kecil yang terlalu besar untuk tubuhnya.
“Pak Guru!” panggilnya kepada Rantaka.
Rantaka menoleh.
“Kenapa, Raka?”
“Apakah ikan-ikannya akan selamat?”
Rantaka memandang kolam yang keruh.
Ia ingin menjawab dengan pasti.
Ia ingin mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.
Namun, ia tidak ingin mengajarkan anak-anak untuk percaya pada janji yang belum tentu dapat dipenuhi.
“Kita sedang berusaha menyelamatkan sebanyak mungkin,” jawabnya.
Raka mengangguk pelan.
Lalu ia memandang ke arah beberapa ikan kecil yang terjebak di genangan lumpur dekat jalan.
“Kalau saya ambil pakai ember, boleh?”
Rantaka mengikuti arah pandangnya.
Di sana, beberapa ikan nila kecil memang terjebak di cekungan tanah yang tidak lagi terhubung ke kolam.
“Boleh,” kata Rantaka. “Tapi hati-hati. Jangan sendirian.”
Raka segera memanggil dua temannya.
Mereka mengambil ember plastik dari rumah Jagra, lalu dengan hati-hati memindahkan ikan-ikan kecil itu ke bagian kolam yang masih cukup dalam.
Jagra yang melihat pemandangan itu menundukkan kepala.
Untuk beberapa saat, wajahnya yang tegang berubah.
Ia melihat anak-anak kecil berusaha menyelamatkan ikan yang mungkin tidak seberapa nilainya.
Namun, bagi mereka, ikan-ikan itu adalah bagian dari desa.
Bagian dari sesuatu yang harus dijaga.
Jagra menghela napas panjang.
Kemudian ia kembali mengangkat sekop.
“Tambahkan bambu di sebelah kiri!” teriaknya. “Jangan biarkan air masuk dari situ!”
Suara Jagra terdengar lebih kuat.
Seolah ia baru saja mengingat alasan mengapa ia tidak boleh menyerah.
Menjelang pukul sembilan pagi, hujan mulai mereda.
Warga berhasil menutup sebagian besar lubang tanggul dengan karung tanah, bambu, dan batu. Air masih keruh, tetapi alirannya tidak lagi sekuat sebelumnya.
Banyu duduk di atas batang kayu sambil mengusap wajahnya yang penuh lumpur.
Tangannya lecet karena terlalu lama mengangkat karung.
Rantaka menghampirinya dan menyerahkan sebotol air minum.
“Terima kasih,” kata Banyu.
“Kau baik-baik saja?”
“Baik.”
Namun, dari cara Banyu menatap kolam, Rantaka tahu bahwa sahabatnya sedang memikirkan sesuatu.
“Menurutmu, apa penyebabnya?” tanya Rantaka.
Banyu tidak langsung menjawab.
Ia mengambil segenggam tanah merah dari dekat parit, lalu meremasnya di telapak tangan.
“Tanah dari atas lebih banyak turun dari biasanya,” katanya. “Tanggul memang sudah lama. Hujan juga deras. Tapi aliran air dari parit itu terlalu kuat.”
“Karena pembukaan lahan?”
“Mungkin.”
“Kau yakin?”
Banyu menatap Rantaka.
“Aku tidak mau asal bicara. Tapi sejak jalan di bukit dibuka, arah air berubah. Tanah yang dulu tertahan akar pohon sekarang langsung turun ketika hujan.”
Rantaka mengangguk pelan.
Ia teringat perkataan Surya dari PT. Bumi Raya Makmur.
Kami masih dalam tahap penjajakan.
Namun, jika tahap penjajakan sudah membuat tanah dibuka dan air berubah arah, apa yang akan terjadi ketika perusahaan benar-benar mulai bekerja?
“Kalau kita mau bicara di depan warga,” lanjut Banyu, “kita harus punya catatan. Kita harus tahu dari mana air datang, kapan mulai keruh, dan siapa saja yang terdampak.”
Rantaka tersenyum tipis.
“Kau mulai berpikir seperti peneliti.”
“Aku hanya tidak mau Jagra dibilang mengada-ada.”
Rantaka memandang ke arah sahabat mereka.
Jagra sedang membantu Pak Jaya memasang bambu di sisi tanggul. Wajahnya masih keras. Namun, gerakannya tidak lagi seperti orang yang menyerah.
“Kita catat semuanya,” kata Rantaka. “Kita mulai hari ini.”
Di bawah pohon ketapang dekat kolam, warga mulai berkumpul.
Mereka duduk di atas tikar, batang kayu, atau batu-batu besar. Sebagian masih mengenakan pakaian basah. Sebagian memegang gelas teh hangat yang dibagikan oleh ibu-ibu.
Suasana tidak tenang.
Semua orang lelah.
Semua orang cemas.
Dan setiap orang memiliki pendapat sendiri tentang apa yang sedang terjadi.
Pak Roni membuka pembicaraan.
“Kalau ini hanya karena hujan, kenapa airnya berubah seperti ini?” katanya sambil menunjuk kolam. “Kebun saya juga mulai rusak. Daun cabai menguning.”
Pak Jaya mengangguk.
“Di parit belakang rumah saya, airnya berbau.”
“Bisa jadi karena tanah dari bukit,” kata seorang warga.
“Tanah dari bukit memang selalu turun kalau hujan,” sahut warga lain. “Dari dulu juga begitu.”
“Dulu tidak separah ini,” kata Jagra.
Suasana mulai meninggi.
Pak Darma yang sejak tadi duduk diam akhirnya berbicara.
“Kita jangan cepat menuduh perusahaan. Mereka belum bekerja di sini. Mereka baru survei.”
Jagra menoleh tajam.
“Survei sampai membuka tanah?”
Pak Darma menghela napas.
“Mereka bilang itu hanya perbaikan jalan akses. Jalan itu juga bisa dipakai warga.”
“Jalan untuk siapa?” tanya Jagra. “Untuk warga atau untuk truk mereka nanti?”
“Jangan bicara seolah semua orang yang mau perusahaan masuk adalah musuh desa,” kata Pak Darma dengan suara lebih keras. “Ada warga yang butuh pekerjaan. Ada yang ingin menjual tanah karena sudah tidak sanggup bertahan.”
Kalimat itu membuat beberapa warga mengangguk.
Seorang ibu bernama Bu Marni ikut bersuara.
“Anak saya sudah dua tahun merantau. Kalau ada pekerjaan di desa, saya ingin dia pulang. Saya tidak mau dia terus hidup susah di kota.”
“Tidak ada yang menolak pekerjaan,” kata Rantaka, yang sejak tadi mendengarkan. “Tapi pekerjaan tidak boleh dibayar dengan rusaknya sungai.”
Pak Darma memandang Rantaka.
“Kau mudah bicara, Rantaka. Kau punya pekerjaan sebagai guru. Kau dapat gaji setiap bulan. Kami yang hidup dari kebun ini tidak selalu punya kepastian.”
Rantaka menerima kalimat itu tanpa membalas dengan emosi.
Ia tahu Pak Darma tidak sepenuhnya salah.
Di desa, setiap orang membawa beban yang berbeda.
Ada yang memiliki lahan luas.
Ada yang hanya memiliki kebun kecil.
Ada yang punya anak sekolah.
Ada yang terlilit utang.
Ada yang ingin bertahan.
Ada pula yang tidak punya pilihan selain berharap pada uang cepat.
“Aku tidak mengatakan warga tidak boleh menerima peluang,” kata Rantaka perlahan. “Aku hanya mengatakan warga harus tahu semua akibatnya sebelum membuat keputusan.”
“Akibat apa?” tanya seorang pemuda.
“Akibat terhadap tanah, sungai, kebun, kolam, dan pekerjaan kita sendiri,” jawab Rantaka. “Kalau tanah dijual, apakah warga akan benar-benar mendapat pekerjaan tetap? Kalau sungai rusak, siapa yang akan memperbaiki? Kalau perusahaan pergi suatu hari nanti, apa yang tersisa untuk desa?”
Beberapa warga terdiam.
Namun, dari arah belakang, terdengar suara lain.
“Kalau kita terlalu banyak bertanya, perusahaan bisa batal masuk.”
Semua menoleh.
Yang berbicara adalah Seno, seorang pemuda desa yang selama ini bekerja serabutan di kota kecamatan. Ia baru pulang beberapa hari lalu.
“Aku sudah dengar dari orang perusahaan,” lanjutnya. “Mereka butuh pekerja. Mereka bilang pemuda desa bisa diutamakan.”
Banyu memandang Seno.
“Apakah ada suratnya?”
Seno terlihat ragu.
“Belum. Tapi mereka bilang begitu.”
“Janji lisan bisa berubah,” kata Banyu.
“Setidaknya mereka membawa harapan,” balas Seno. “Selama ini apa yang kita punya? Kebun yang hasilnya tidak tentu? Kolam yang bisa jebol kapan saja? Anak muda yang pergi semua?”
Jagra berdiri.
“Kolam ini jebol karena air dari atas membawa lumpur!”
“Belum tentu karena perusahaan!” balas Seno.
“Kalau bukan karena perusahaan, kenapa tanah di bukit dibuka?”
“Karena jalan sedang diperbaiki!”
Suara mereka mulai meninggi.
Beberapa warga ikut berdiri.
Rantaka segera melangkah ke tengah.
“Cukup,” katanya.
Suasana perlahan mereda, meski wajah-wajah masih dipenuhi kemarahan.
“Kita tidak akan menemukan jalan keluar dengan saling menyalahkan,” lanjut Rantaka. “Jagra berhak marah karena kolamnya rusak. Seno berhak berharap ada pekerjaan. Pak Darma berhak memikirkan keluarganya. Semua warga punya alasan.”
Ia berhenti sejenak.
“Tapi desa ini tidak boleh membuat keputusan karena takut, karena marah, atau karena janji yang belum jelas. Kita harus tahu keadaan sebenarnya.”
Bu Marni memandang Rantaka.
“Bagaimana caranya?”
Rantaka menoleh kepada Banyu.
Banyu mengangkat botol air sungai yang dibawanya sejak pagi.
“Kita mulai dengan mencatat,” kata Banyu. “Air dari mana yang masuk ke sungai. Kapan warnanya berubah. Kebun siapa yang terdampak. Kolam siapa yang rusak. Kita foto, kita tulis, dan kita kumpulkan.”
“Untuk apa?” tanya Seno.
“Untuk dibawa saat sosialisasi perusahaan,” jawab Banyu. “Agar warga tidak hanya datang untuk mendengar. Warga juga datang untuk bertanya.”
Liris yang baru tiba bersama beberapa ibu membawa buku catatan dan kamera kecil.
“Aku bisa membantu menulis kesaksian warga,” katanya. “Tidak untuk menuduh siapa pun sebelum ada bukti. Tetapi supaya pengalaman warga tidak hilang begitu saja.”
Jagra memandang Liris.
“Kalau mereka tetap tidak peduli?”
Liris menjawab tenang, “Setidaknya desa ini sudah berani bersuara.”
Setelah pertemuan kecil itu, warga mulai bergerak dengan cara yang berbeda.
Pak Roni menunjukkan bagian kebunnya yang paling terdampak.
Pak Jaya mengajak Banyu melihat parit di belakang rumahnya.
Bu Marni menceritakan bahwa cucunya sempat sakit perut setelah bermain di sungai, meski belum ada yang bisa memastikan penyebabnya.
Liris menulis semua cerita itu dalam buku catatannya.
Ia tidak menulis dengan kata-kata besar.
Ia hanya mencatat nama, waktu, tempat, dan apa yang dilihat warga.
Rantaka membantu anak-anak membuat gambar tentang sungai.
Ada yang menggambar sungai berwarna biru dengan ikan-ikan besar.
Ada yang menggambar sungai cokelat dengan sampah dan pohon tumbang.
Ada yang menggambar dirinya sendiri berdiri di tepi sungai sambil membawa papan bertuliskan:
JANGAN RUSAK AIR KAMI
Raka menunjukkan gambarnya kepada Rantaka.
Di dalam gambar itu, ada sebuah sungai, sekolah, pohon beringin, dan gerobak buku berwarna biru.
“Ini sungai yang bersih,” kata Raka.
“Bagus sekali.”
“Kalau sungainya bersih, ikan Jagra banyak lagi.”
Rantaka tersenyum.
“Semoga begitu.”
Raka menatap gambar itu lagi.
“Pak Guru, kalau orang dewasa tidak mau menjaga sungai, anak-anak bisa mengingatkan?”
“Bisa,” jawab Rantaka.
“Kalau orang dewasa marah?”
“Kau tetap bicara dengan baik.”
“Kalau tetap tidak didengar?”
Rantaka menatap mata Raka.
“Kau jangan berhenti belajar. Orang yang belajar akan tahu cara mencari jalan.”
Raka mengangguk, walau mungkin belum sepenuhnya mengerti.
Namun, Rantaka percaya bahwa suatu hari anak itu akan memahami.
Menjelang sore, tanggul sementara akhirnya berdiri.
Tidak kuat.
Tidak rapi.
Tidak menjamin kolam akan aman jika hujan besar kembali turun.
Namun, cukup untuk menahan air sementara waktu.
Jagra duduk di tepi kolam sambil memandangi air yang masih keruh.
Banyu duduk di sebelahnya.
Rantaka datang membawa dua gelas teh hangat.
Satu diberikan kepada Jagra.
Satu lagi kepada Banyu.
“Kau masih marah?” tanya Rantaka.
Jagra menerima teh itu.
“Aku masih marah.”
“Bagus.”
Banyu menoleh.
“Bagus?”
“Marah karena ingin menjaga sesuatu lebih baik daripada diam karena merasa tidak punya harapan,” kata Rantaka.
Jagra tersenyum tipis.
“Kau benar-benar sudah jadi guru.”
“Katanya Liris juga begitu.”
Mereka bertiga tertawa kecil.
Tawa itu tidak menghapus masalah.
Tidak membuat ikan yang hanyut kembali.
Tidak memperbaiki tanggul yang rusak.
Namun, tawa itu membuat mereka ingat bahwa mereka tidak menghadapi semuanya sendiri.
Banyu menatap kolam.
“Aku akan coba membuat penyaring sederhana untuk saluran air. Setidaknya kalau hujan turun, lumpur tidak langsung masuk semua.”
Jagra mengangguk.
“Aku bantu cari bahan.”
“Aku bantu cari warga yang mau bergotong royong,” kata Rantaka.
Jagra memandang dua sahabatnya.
“Kalian yakin kita masih bisa membangun ini lagi?”
Rantaka melihat air kolam yang keruh.
Lalu ia melihat pohon-pohon di sekitar desa, rumah-rumah warga, dan anak-anak yang masih bermain di kejauhan.
“Kita tidak hanya membangun kolam, Jagra,” katanya. “Kita sedang membangun alasan agar orang-orang tidak mudah menyerah pada desa ini.”
Jagra terdiam.
Kalimat itu tinggal cukup lama di antara mereka.
Malamnya, di rumah Rantaka, Liris datang membawa buku catatan yang sudah hampir penuh.
“Aku sudah menulis cerita dari tujuh warga,” katanya.
Rantaka menerima buku itu.
Di halaman pertama, Liris menulis judul sederhana:
CATATAN SUNGAI WANASARI
Di bawahnya, terdapat daftar nama warga, keadaan kebun, keadaan kolam, warna air, dan waktu kejadian.
“Ini baru awal,” kata Liris. “Besok aku akan menemui lebih banyak warga.”
Rantaka membuka halaman berikutnya.
Ada catatan tentang air yang berbau.
Ada catatan tentang ikan yang mati.
Ada catatan tentang tanah merah yang turun dari bukit.
Ada pula catatan tentang warga yang berharap perusahaan membuka pekerjaan.
“Kau juga menulis pendapat warga yang mendukung perusahaan?” tanya Rantaka.
Liris mengangguk.
“Tentu. Kalau kita hanya menulis yang sejalan dengan kita, kita tidak sedang mencari kebenaran. Kita hanya sedang mencari pembenaran.”
Rantaka memandang Liris dengan kagum.
“Kadang aku lupa kau bukan hanya penulis.”
“Aku juga warga desa ini,” jawabnya.
Mereka duduk dalam diam.
Di luar rumah, suara katak terdengar dari arah sawah.
Hujan telah berhenti.
Namun, udara masih menyimpan bau tanah basah.
Rantaka menutup buku catatan itu perlahan.
“Besok kita keluarkan Gerobak Buku dari gudang,” katanya.
Liris tersenyum.
“Untuk anak-anak?”
“Untuk anak-anak, pemuda, dan warga.”
“Lalu kita mulai dari mana?”
Rantaka memandang papan kecil Gerobak Buku Langit Biru yang kini sudah ia letakkan di dinding rumah.
“Dari membaca.”
“Buku apa?”
“Buku apa saja yang membuat warga berani bertanya.”
Liris mengangguk.
Di wajahnya, Rantaka melihat semangat yang pernah mereka miliki ketika masih remaja.
Namun kini, semangat itu tidak lagi hanya tentang mimpi pribadi.
Mereka sedang belajar menjaga mimpi banyak orang.
Di luar, Sungai Wanasari masih mengalir dalam warna keruh.
Kolam Jagra masih berada di ambang mati.
Warga masih terpecah oleh harapan dan ketakutan.
Namun, dari lumpur, hujan, dan air yang berubah warna, sebuah gerakan kecil mulai tumbuh.
Gerakan untuk memahami.
Gerakan untuk bertanya.
Gerakan untuk menjaga desa sebelum semuanya terlambat.
BAB 5 - SURAT PENAWARAN DARI KOTA
Pagi di Desa Wanasari dimulai dengan suara sepeda motor yang berhenti di depan kantor desa.
Kantor itu tidak besar. Bangunannya berdinding papan yang telah beberapa kali dicat ulang. Di bagian depan, sebuah papan nama bertuliskan KANTOR DESA WANASARI berdiri sedikit miring. Di sampingnya tumbuh pohon mangga tua yang daunnya menjuntai hingga hampir menyentuh atap.
Namun, pagi itu kantor desa tampak lebih ramai dari biasanya.
Beberapa warga sudah duduk di bangku panjang di teras. Ada yang datang untuk mengurus surat keterangan. Ada yang ingin menanyakan bantuan pupuk. Ada pula yang hanya ingin mendengar kabar terbaru tentang sungai dan kolam Jagra yang hampir jebol.
Di dalam ruangan, Pak Kades Harun sedang memeriksa beberapa berkas ketika seorang petugas pos dari kota kecamatan masuk membawa amplop putih berukuran besar.
“Surat untuk kantor desa,” katanya.
Pak Kades menerima amplop itu.
Di bagian depan tertulis dengan huruf cetak yang rapi:
- BUMI RAYA MAKMUR
KANTOR CABANG KABUPATEN
Di bawahnya tercantum alamat dari kota kabupaten.
Pak Kades Harun memandangi amplop itu cukup lama.
Sekretaris desa yang duduk di dekat meja segera mendekat.
“Dari perusahaan, Pak?”
Pak Kades mengangguk.
Ia membuka amplop perlahan.
Di dalamnya terdapat beberapa lembar surat resmi dengan kop perusahaan. Ada pula sebuah map berwarna biru tua berisi brosur bergambar jalan mulus, bangunan baru, pekerja memakai helm, dan hamparan lahan yang tampak hijau dari kejauhan.
Pak Kades membaca surat itu dalam diam.
Wajahnya tidak menunjukkan banyak perubahan.
Namun, jemarinya yang memegang kertas tampak menegang.
“Isinya apa, Pak?” tanya sekretaris desa.
Pak Kades menyerahkan surat itu.
Sekretaris desa membacanya pelan.
“Permohonan sosialisasi rencana kerja sama pengembangan kawasan usaha dan pengelolaan lahan,” katanya.
“Pengelolaan lahan,” ulang Pak Kades.
“Katanya, untuk meningkatkan ekonomi masyarakat, membuka lapangan kerja, membangun akses jalan, dan mendukung program pemberdayaan desa.”
Pak Kades menarik napas panjang.
Kalimat-kalimat dalam surat itu terdengar baik.
Terlalu baik.
Ada janji tentang pekerjaan.
Ada janji tentang jalan.
Ada janji tentang bantuan untuk pendidikan.
Ada janji tentang pelatihan keterampilan bagi pemuda desa.
Namun, tidak ada satu pun kalimat yang menjelaskan dengan rinci lahan mana yang akan dikelola, berapa luasnya, berapa lama kerja sama itu berlangsung, dan apa yang akan terjadi jika tanah, sungai, atau kebun warga mengalami kerusakan.
“Surat seperti ini tidak bisa kita simpan sendiri,” kata Pak Kades.
Sekretaris desa mengangguk.
“Apakah akan langsung dibuatkan jadwal sosialisasi?”
Pak Kades memandang keluar jendela.
Di teras kantor, beberapa warga sudah mulai memperhatikan mereka.
“Tidak langsung,” jawabnya. “Kita harus bicara dengan BPD, tokoh masyarakat, dan warga dulu.”
Kabar tentang surat perusahaan menyebar lebih cepat daripada suara pengeras masjid.
Menjelang siang, orang-orang mulai berdatangan ke kantor desa. Sebagian datang karena penasaran. Sebagian datang karena mendengar bahwa perusahaan akan membuka pekerjaan. Sebagian lagi datang karena takut tanah mereka termasuk dalam rencana pengelolaan lahan.
Seno datang paling awal.
Ia berdiri di depan papan pengumuman sambil membaca salinan surat yang ditempel oleh sekretaris desa.
“Pelatihan kerja,” katanya pelan. “Ini yang kita butuhkan.”
Pak Darma yang berdiri di dekatnya mengangguk.
“Kalau benar ada pekerjaan, anak-anak muda tidak perlu jauh-jauh merantau.”
“Katanya juga ada perbaikan jalan,” tambah Seno. “Jalan ke kebun bisa lebih mudah. Hasil panen tidak perlu dipikul jauh.”
Beberapa pemuda lain mulai ikut membaca.
Mereka menunjuk gambar dalam brosur.
Ada foto jalan beraspal.
Ada foto bangunan pelatihan.
Ada foto pekerja yang tersenyum di depan alat berat.
“Kalau benar seperti ini, desa kita bisa maju,” kata seorang pemuda.
Namun, di sudut lain teras kantor, Jagra berdiri dengan wajah dingin.
Ia datang bersama Banyu.
Di tangan Banyu, ada botol berisi air keruh dari parit dekat kolam.
“Desa bisa maju kalau sungainya mati?” tanya Jagra.
Beberapa orang menoleh.
Seno menghela napas.
“Jangan mulai lagi, Jagra.”
“Aku tidak mulai apa-apa,” jawab Jagra. “Kolamku yang jebol. Ikan warga yang mati. Kebun Pak Roni yang rusak. Tapi sekarang semua orang sibuk melihat gambar jalan mulus.”
“Belum tentu semua itu karena perusahaan,” kata Seno.
“Belum tentu bukan karena perusahaan juga,” balas Banyu.
Suasana mulai memanas.
Pak Darma melangkah maju.
“Kita tidak boleh menolak sesuatu hanya karena takut. Selama ini kita juga sudah hidup susah. Kalau ada peluang, kenapa tidak didengar dulu?”
“Didengar, iya,” kata Banyu. “Tapi jangan sampai kita hanya mendengar apa yang ingin mereka katakan.”
Seno memandang Banyu.
“Maksudmu?”
“Maksudku, warga harus bertanya. Berapa luas lahan yang mereka butuhkan? Tanah siapa saja yang masuk? Apakah ada kajian tentang sungai? Apakah ada jaminan kalau kebun atau kolam rusak? Berapa lama pekerjaan itu tersedia? Apakah warga hanya jadi pekerja kasar, atau benar-benar mendapat keterampilan?”
Beberapa warga terdiam.
Pertanyaan itu sederhana.
Namun, tidak semua orang pernah memikirkannya.
Di desa, janji tentang pekerjaan sering kali terdengar lebih kuat daripada pertanyaan tentang masa depan.
Jagra mengangkat botol air keruh itu.
“Ini air dari saluran dekat bukit,” katanya. “Kalau perusahaan benar-benar ingin bekerja sama dengan desa, mereka harus berani menjelaskan kenapa air seperti ini mulai masuk ke sungai.”
Seno menatap botol itu.
Untuk sesaat, wajahnya terlihat ragu.
Namun, ia segera berkata, “Kalau kita menuduh tanpa bukti, nanti perusahaan malah tidak mau datang.”
“Bukan menuduh,” kata Banyu. “Meminta penjelasan.”
Siang itu, Rantaka datang ke kantor desa setelah selesai mengajar.
Ia melihat kerumunan warga dari kejauhan. Suara percakapan terdengar keras. Beberapa orang berdiri sambil menunjuk surat pengumuman. Beberapa yang lain duduk dengan wajah cemas.
Liris datang tidak lama kemudian.
Ia membawa buku catatan kecil yang selalu diselipkan di dalam tas kainnya.
“Ada apa?” tanya Rantaka.
“Surat dari perusahaan,” jawab Liris.
Rantaka membaca salinan surat yang ditempel di papan pengumuman.
Kalimat-kalimatnya rapi.
Penuh kata-kata seperti kemajuan, pemberdayaan, kemitraan, dan kesejahteraan.
Namun, semakin lama ia membacanya, semakin ia merasa ada sesuatu yang kosong.
Surat itu berbicara tentang desa.
Tetapi tidak benar-benar berbicara kepada warga desa.
Surat itu berbicara tentang lahan.
Tetapi tidak menyebut siapa yang selama ini hidup dari lahan tersebut.
Surat itu berbicara tentang masa depan.
Tetapi tidak menjelaskan masa depan seperti apa yang akan ditinggalkan setelah perusahaan selesai mengambil apa yang mereka butuhkan.
“Bahasanya bagus,” kata Liris pelan.
“Ya,” jawab Rantaka. “Terlalu bagus untuk surat yang tidak menjelaskan banyak hal.”
Pak Kades Harun keluar dari ruangannya.
Warga segera mendekat.
“Bapak-bapak, Ibu-ibu,” katanya dengan suara tegas. “Surat ini baru permohonan untuk melakukan sosialisasi. Belum ada keputusan apa pun dari pemerintah desa. Belum ada penandatanganan. Belum ada penjualan tanah. Belum ada kerja sama yang disetujui.”
Seorang warga mengangkat tangan.
“Jadi perusahaan belum masuk, Pak?”
“Belum ada keputusan,” jawab Pak Kades. “Kalau nanti ada sosialisasi, semua warga akan diberi kesempatan hadir.”
“Apakah tanah kami akan diambil?” tanya seorang perempuan dari belakang.
Pak Kades menatapnya.
“Saya belum bisa menjawab sebelum perusahaan menjelaskan rencana mereka secara terbuka.”
“Kalau mereka menawarkan harga tinggi, apakah desa akan setuju?” tanya warga lain.
Pak Kades terdiam sejenak.
“Desa tidak bisa memutuskan sesuatu yang menyangkut tanah dan kehidupan warga hanya karena harga,” katanya. “Kita harus melihat manfaat dan risikonya.”
Jagra mengangguk kecil.
Namun, Seno tampak tidak puas.
“Pak Kades,” katanya, “kalau terlalu lama, perusahaan bisa memilih desa lain. Kita butuh pekerjaan sekarang.”
Pak Kades memandang pemuda itu.
“Saya paham, Seno. Tapi pekerjaan yang baik tidak boleh datang dengan cara membuat warga tidak mengerti apa yang mereka setujui.”
Kalimat itu membuat suasana sedikit tenang.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.
Dari sisi teras, Pak Darma berkata, “Kalau semua harus ditunggu sampai lengkap, kapan desa ini maju? Jalan kita rusak. Anak-anak muda pergi. Hasil kebun murah. Kita butuh perubahan.”
Rantaka melangkah maju.
“Perubahan memang perlu,” katanya. “Tapi perubahan tidak harus membuat desa kehilangan hak untuk menentukan masa depannya.”
Pak Darma memandang Rantaka.
“Kau bicara seperti orang yang tidak pernah kekurangan.”
Rantaka tidak tersinggung.
Ia mengingat masa ketika ia harus bekerja malam di kota agar tetap bisa sekolah. Ia mengingat rasa takut ketika beasiswanya hampir dicabut. Ia mengingat bagaimana keluarganya pernah kesulitan membeli buku.
“Aku pernah hidup dengan uang yang tidak cukup,” katanya pelan. “Aku tahu pekerjaan itu penting. Karena itu, aku tidak ingin warga hanya diberi pekerjaan sementara, lalu kehilangan kebun, sungai, dan sumber hidupnya untuk waktu yang lebih lama.”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Liris memandang Rantaka dengan mata yang penuh pengertian.
Ia tahu bahwa kata-kata itu tidak keluar dari teori.
Kata-kata itu keluar dari luka yang pernah dialami Rantaka sendiri.
Sore harinya, Rantaka, Liris, Banyu, dan Jagra berkumpul di gudang kecil di belakang perpustakaan desa.
Gerobak Buku Langit Biru sudah dikeluarkan dari tempat penyimpanan. Cat birunya mulai pudar. Salah satu roda kayunya masih sedikit miring. Namun, gerobak itu tetap berdiri seperti sahabat lama yang tidak pernah benar-benar pergi.
Di atas meja, Liris meletakkan surat perusahaan, brosur, catatan warga tentang sungai, serta beberapa buku lama.
“Apa yang akan kita lakukan?” tanya Jagra.
“Aku ingin datang ke sosialisasi,” kata Banyu.
“Semua orang juga akan datang,” sahut Jagra.
“Bukan hanya datang,” kata Banyu. “Kita harus datang dengan pertanyaan.”
Liris membuka buku catatannya.
“Aku sudah mulai menulis daftar pertanyaan dari warga.”
Ia membacakan beberapa di antaranya.
“Lahan mana yang akan digunakan?”
“Apakah ada batas wilayah yang jelas?”
“Apakah perusahaan sudah memiliki izin?”
“Bagaimana perlindungan terhadap sungai dan sumber air?”
“Apakah ada kajian lingkungan?”
“Jika kolam ikan atau kebun warga terdampak, siapa yang bertanggung jawab?”
“Apakah pemuda desa mendapat pekerjaan tetap atau hanya pekerjaan sementara?”
“Apakah warga bisa menolak jika tanahnya tidak ingin dijual?”
Jagra mendengarkan dengan wajah serius.
“Pertanyaan seperti itu akan membuat mereka tidak nyaman.”
“Kalau pertanyaannya wajar, mereka seharusnya bisa menjawab,” kata Liris.
Rantaka memandang gerobak buku.
“Kita juga harus menyiapkan warga agar tidak datang hanya untuk mendengar janji.”
“Bagaimana?” tanya Banyu.
“Kita buat malam baca bersama,” jawab Rantaka. “Bukan rapat besar. Bukan untuk mengajak warga menolak perusahaan. Kita hanya membaca dan berdiskusi tentang hak warga, tanah, sungai, dan kerja sama desa.”
Jagra mengerutkan dahi.
“Apakah warga mau datang?”
“Kalau kita mengundang mereka dengan cara menggurui, mungkin tidak,” kata Liris. “Tapi kalau kita mulai dari cerita mereka sendiri, mereka akan datang.”
“Cerita siapa?” tanya Banyu.
“Pak Roni tentang kebunnya. Jagra tentang kolamnya. Bu Marni tentang anaknya yang ingin pulang dari kota. Seno tentang pemuda yang butuh pekerjaan.”
Jagra menoleh kepada Liris.
“Kau mau memasukkan cerita Seno juga?”
“Ya,” jawab Liris. “Kalau kita ingin desa tetap bersama, kita tidak boleh menganggap semua orang yang berharap pada perusahaan sebagai lawan.”
Rantaka tersenyum.
“Itu yang kita butuhkan. Desa ini tidak sedang memilih antara orang baik dan orang jahat. Desa ini sedang mencari jalan agar tidak kehilangan dirinya sendiri.”
Malam itu, kabar tentang surat penawaran dari kota kembali menyebar.
Di warung kopi, para lelaki membicarakan harga tanah.
Di dapur-dapur rumah warga, ibu-ibu membicarakan kemungkinan pekerjaan bagi anak-anak mereka.
Di teras rumah, para pemuda membayangkan jalan baru, gaji tetap, dan kehidupan yang tidak lagi bergantung pada musim.
Namun, di rumah-rumah lain, orang-orang mulai memikirkan hal yang berbeda.
Jika tanah dijual, ke mana mereka akan berkebun?
Jika sungai semakin keruh, dari mana mereka mengambil air?
Jika perusahaan datang membawa pekerjaan, apakah pekerjaan itu akan cukup lama untuk menggantikan tanah yang hilang?
Dan jika perusahaan pergi, apakah warga masih memiliki sesuatu untuk diwariskan kepada anak-anak mereka?
Di rumahnya, Jagra duduk bersama ayahnya.
Ayahnya baru pulang dari kolam. Wajahnya terlihat letih.
“Ayah dengar ada surat dari perusahaan,” katanya.
“Iya.”
“Katanya mereka mau membuka kerja.”
“Iya.”
Ayah Jagra menatap anaknya.
“Kau menolak?”
Jagra terdiam.
“Aku tidak tahu.”
Ayahnya mengangguk pelan.
“Dulu, saat banjir menghancurkan kolam kita, aku juga pernah berpikir menjual tanah. Rasanya lebih mudah. Tidak perlu memikirkan pakan ikan, tanggul, atau utang.”
“Lalu kenapa Ayah tidak jadi menjual?”
Ayah Jagra memandang ke arah kolam yang tidak terlihat dari dalam rumah.
“Karena tanah ini memang tidak membuat kita kaya. Tapi tanah ini membuat kita tetap punya tempat untuk berdiri.”
Jagra menundukkan kepala.
Kalimat itu tinggal lama dalam pikirannya.
Di rumah Rantaka, Liris masih duduk di ruang depan.
Ia menulis sesuatu di buku catatannya.
Rantaka datang membawa dua cangkir teh.
“Kau belum pulang?” tanyanya.
“Aku ingin menyelesaikan satu tulisan.”
“Tulisan tentang perusahaan?”
“Bukan.” Liris tersenyum tipis. “Tentang sungai.”
Rantaka duduk di sampingnya.
Liris membacakan beberapa kalimat yang baru ditulisnya.
Sungai tidak pernah meminta manusia memilih antara lapar dan hidup.
Sungai hanya mengalir, memberi air kepada kebun, kolam, dan anak-anak yang bermain di tepinya.
Tetapi ketika manusia mulai menghitung tanah hanya dengan harga, sungai sering menjadi yang pertama kali kehilangan suara.
Rantaka terdiam.
“Itu akan kau bacakan di malam diskusi?” tanyanya.
“Mungkin.”
“Orang-orang akan bilang itu terlalu puitis.”
“Tidak apa-apa,” jawab Liris. “Kadang orang perlu mendengar sesuatu dengan cara yang berbeda agar mau berpikir.”
Rantaka menatap Liris.
Di tengah persoalan desa yang semakin rumit, kehadiran Liris membuatnya merasa tidak sendirian.
Ia ingin mengatakan bahwa ia bangga padanya.
Ia ingin mengatakan bahwa sejak dulu, Liris selalu tahu cara melihat hal-hal yang tidak dilihat orang lain.
Namun, kata-kata itu tertahan.
Masih ada terlalu banyak hal yang harus mereka perjuangkan.
Masih ada terlalu banyak ketidakpastian.
Akhirnya, Rantaka hanya berkata, “Tulisanmu bagus.”
Liris tersenyum.
“Terima kasih, Pak Guru.”
“Jangan panggil aku begitu kalau sedang tidak di sekolah.”
“Lalu harus panggil apa?”
Rantaka terdiam sejenak.
Liris menatapnya sambil tersenyum kecil.
“Rantaka,” jawabnya akhirnya.
“Baik, Rantaka.”
Nama itu terdengar sederhana.
Namun, malam itu, di tengah kecemasan tentang sungai, tanah, dan masa depan desa, nama itu terasa seperti sesuatu yang hangat.
Sesuatu yang mengingatkan mereka bahwa perjuangan besar selalu dimulai dari orang-orang yang masih mau saling percaya.
Keesokan paginya, sebuah pengumuman ditempel di papan depan kantor desa.
PEMERINTAH DESA WANASARI MENGUNDANG SELURUH WARGA UNTUK MENGHADIRI SOSIALISASI RENCANA KERJA SAMA PT. BUMI RAYA MAKMUR.
Di bawahnya tercantum waktu dan tempat:
Balai Desa Wanasari
Hari Sabtu, Pukul 09.00
Di bagian paling bawah, tertulis satu kalimat:
Warga diharapkan hadir untuk mendengar penjelasan, menyampaikan pertanyaan, dan bersama-sama menentukan arah masa depan Desa Wanasari.
Rantaka membaca pengumuman itu bersama Liris, Banyu, dan Jagra.
Tidak ada satu pun dari mereka yang tahu apa yang akan terjadi pada hari Sabtu.
Mungkin perusahaan akan membawa jawaban.
Mungkin perusahaan hanya membawa janji.
Mungkin warga akan semakin terpecah.
Mungkin pula, untuk pertama kalinya, warga Desa Wanasari akan belajar berdiri bersama untuk bertanya.
Angin pagi berembus pelan dari arah sungai.
Airnya masih keruh.
Namun, di desa kecil itu, suara-suara yang selama ini diam mulai perlahan bangkit.
Dan kadang-kadang, perubahan tidak dimulai dari keputusan besar.
Perubahan dimulai dari sebuah surat.
Dari sebuah pertanyaan.
Dari keberanian untuk tidak menyerahkan masa depan begitu saja kepada orang-orang yang datang dari kota.
BAB 6 - MALAM MEMBACA UNTUK MASA DEPAN
Sejak surat penawaran dari kota ditempel di papan pengumuman kantor desa, Desa Wanasari seperti tidak pernah benar-benar sepi.
Di warung kopi, orang-orang membicarakan perusahaan.
Di kebun, para petani membicarakan harga tanah.
Di tepi sungai, ibu-ibu membicarakan air yang semakin keruh.
Di rumah-rumah warga, anak-anak mendengar orang tua mereka berbicara dengan suara pelan, seolah masa depan desa sedang duduk di antara piring makan dan lampu minyak.
Namun, tidak semua orang memiliki keberanian untuk berbicara di depan banyak orang.
Sebagian warga hanya mendengar.
Sebagian lain memilih diam karena merasa tidak cukup mengerti.
Mereka takut pertanyaan mereka terdengar bodoh.
Mereka takut dianggap menolak kemajuan.
Mereka juga takut dianggap menjual kepentingan desa jika terlalu mudah percaya pada janji perusahaan.
Rantaka memahami kegelisahan itu.
Karena itu, sore hari sebelum sosialisasi perusahaan dilaksanakan, ia berdiri di depan gudang perpustakaan desa bersama Liris, Banyu, dan Jagra.
Gerobak Buku Langit Biru berada di hadapan mereka.
Cat birunya mulai kusam.
Roda kayunya masih mengeluarkan bunyi kecil ketika didorong.
Di bagian samping, tulisan yang dulu dibuat dengan tangan masih terlihat, meski beberapa huruf mulai pudar.
LANGIT BIRU
BUKU UNTUK MIMPI YANG TIDAK BOLEH PADAM
Rantaka mengusap tulisan itu perlahan.
“Sudah lama kita tidak mengeluarkannya,” kata Liris.
“Bukan gerobaknya yang lama tidak berjalan,” jawab Rantaka. “Kita yang terlalu sibuk sampai lupa mengajaknya berjalan.”
Jagra menunduk.
Ia teringat saat ia memutuskan menutup sementara Gerobak Buku ketika banjir merusak kolam keluarga mereka. Saat itu, ia merasa tidak punya tenaga untuk memikirkan anak-anak desa, buku-buku, atau kegiatan belajar.
Baginya, menyelamatkan kolam adalah satu-satunya hal yang penting.
Namun, setelah melihat Raka dan teman-temannya memindahkan ikan kecil dengan ember, Jagra mulai menyadari bahwa anak-anak itu masih menunggu sesuatu dari mereka.
Bukan hanya buku.
Melainkan contoh bahwa orang dewasa tidak boleh menyerah ketika keadaan menjadi sulit.
“Ayo,” kata Banyu sambil mengangkat salah satu kotak buku. “Kalau terlalu lama berdiri di sini, gerobaknya malah berkarat.”
Mereka tertawa kecil.
Kemudian, bersama-sama, mereka mendorong Gerobak Buku Langit Biru menuju halaman balai desa.
Menjelang magrib, halaman balai desa mulai berubah.
Beberapa pemuda memasang lampu bohlam yang digantung pada tali dari pohon ke pohon. Anak-anak membawa tikar dari rumah. Ibu-ibu datang dengan piring berisi singkong rebus, pisang goreng, dan kacang tanah.
Pak Jaya membawa termos besar berisi teh hangat.
Bu Marni membawa beberapa kursi plastik.
Bahkan Pak Darma, yang selama ini lebih banyak berbicara tentang peluang kerja dari perusahaan, datang membawa papan tulis kecil dari rumahnya.
“Untuk apa papan ini?” tanya Rantaka.
Pak Darma mengangkat bahu.
“Kalau mau diskusi, tulis saja yang penting. Biar tidak semua orang bicara berdasarkan ingatan.”
Rantaka tersenyum.
“Terima kasih, Pak.”
Pak Darma tidak menjawab.
Namun, wajahnya tampak sedikit lebih lunak daripada sebelumnya.
Tidak lama kemudian, Seno datang bersama beberapa pemuda lain.
Mereka duduk agak jauh dari gerobak buku.
Wajah mereka masih menunjukkan keraguan.
Bagi mereka, kegiatan seperti itu terdengar seperti rapat orang-orang yang ingin menghambat perusahaan.
Namun, Seno tetap datang.
Ia ingin mendengar sendiri apa yang akan dibicarakan.
Liris memperhatikan kedatangan mereka.
Ia tidak menghampiri dengan wajah curiga.
Ia hanya tersenyum dan berkata, “Silakan duduk. Malam ini tidak ada yang dipaksa setuju dengan siapa pun.”
Seno mengangguk kecil.
Kalimat itu membuatnya sedikit lebih tenang.
Ketika azan isya selesai berkumandang dari musala kecil di ujung desa, warga sudah mulai memenuhi halaman balai desa.
Anak-anak duduk paling depan.
Mereka memilih buku-buku cerita bergambar dari gerobak.
Ada yang membaca kisah tentang petani kecil yang membuat kebun sekolah.
Ada yang membaca cerita tentang anak desa yang belajar membuat radio sederhana.
Ada pula yang membuka buku ensiklopedia lama tentang sungai, ikan, tanah, dan hutan.
Di belakang mereka, para orang tua duduk dalam kelompok-kelompok kecil.
Sebagian masih berbicara tentang surat perusahaan.
Sebagian lain memandangi buku-buku yang tersusun di atas tikar.
Rantaka berdiri di dekat papan tulis.
Di atasnya, ia menulis dengan kapur putih:
MALAM MEMBACA UNTUK MASA DEPAN DESA WANASARI
Di bawah tulisan itu, ia menambahkan tiga pertanyaan:
- Apa yang kita harapkan untuk Desa Wanasari?
- Apa yang tidak ingin kita hilangkan dari Desa Wanasari?
- Apa yang perlu kita tanyakan sebelum membuat keputusan?
Rantaka memandang warga.
“Malam ini bukan rapat resmi,” katanya. “Bukan juga pertemuan untuk memutuskan menerima atau menolak perusahaan. Kita hanya ingin belajar mendengar satu sama lain.”
Beberapa warga mengangguk.
“Besok atau lusa, kita mungkin akan duduk di balai desa dan mendengar penjelasan dari orang-orang yang datang dari kota. Mereka akan membawa peta, brosur, dan janji. Tetapi sebelum itu, kita sendiri harus tahu apa yang ingin kita jaga.”
Ia berhenti sejenak.
“Kalau kita tidak tahu apa yang penting bagi desa ini, orang lain akan menentukan semuanya untuk kita.”
Suasana menjadi hening.
Angin malam bergerak pelan.
Lampu-lampu bohlam bergoyang kecil di atas kepala mereka.
Liris kemudian maju membawa buku catatan.
“Aku ingin membacakan beberapa catatan dari warga,” katanya.
Ia tidak menyebut nama orang-orang yang meminta agar ceritanya disimpan.
Ia hanya membaca dengan suara tenang.
Tentang kebun cabai yang mulai menguning.
Tentang kolam ikan yang rusak karena lumpur.
Tentang seorang ibu yang berharap anaknya bisa mendapat pekerjaan di desa agar tidak perlu merantau.
Tentang seorang petani yang takut tanah warisan keluarganya berubah menjadi tempat yang tidak lagi bisa ia kenali.
Tentang seorang pemuda yang merasa malu karena belum memiliki pekerjaan tetap.
Setelah Liris selesai membaca, tidak ada yang langsung bertepuk tangan.
Namun, beberapa warga terlihat menundukkan kepala.
Karena cerita-cerita itu bukan sekadar tulisan.
Cerita itu adalah kehidupan mereka sendiri.
Pak Darma menjadi orang pertama yang berdiri.
Ia berjalan ke arah papan tulis.
“Aku mau menjawab pertanyaan pertama,” katanya.
Rantaka menyerahkan kapur kepadanya.
Pak Darma menulis perlahan.
PEKERJAAN UNTUK ANAK MUDA
Setelah itu, ia menoleh kepada warga.
“Aku tidak malu mengatakannya. Aku ingin anak-anak muda punya pekerjaan di desa. Aku punya dua anak laki-laki. Yang satu di kota, bekerja serabutan. Yang satu lagi ingin merantau setelah lulus sekolah. Kalau ada pekerjaan yang baik di sini, tentu aku ingin mereka pulang.”
Seno mengangguk.
Beberapa pemuda ikut mengangguk.
Pak Darma melanjutkan, “Aku tahu ada risiko. Aku juga tahu sungai harus dijaga. Tapi kita tidak bisa hanya bicara tentang menjaga kalau perut warga masih sulit diisi.”
Tidak ada yang membantah.
Karena kata-kata itu juga benar.
Kemudian Jagra berdiri.
Ia tidak langsung mengambil kapur.
Ia menatap warga lebih dulu.
“Aku juga ingin pekerjaan,” katanya. “Aku ingin kolam ikan bisa memberi penghasilan. Aku ingin pemuda desa tidak perlu pergi jauh. Tapi kalau sungai rusak, kolam kami mati. Kalau tanah di bukit dibuka tanpa aturan, banjir makin besar. Kalau kebun hilang, pekerjaan apa yang tersisa?”
Ia mengambil kapur dari tangan Pak Darma.
Lalu menulis di bawah kalimat sebelumnya:
SUNGAI BERSIH DAN TANAH YANG TETAP BISA DIOLAH
“Ini bukan soal menolak kerja,” lanjut Jagra. “Ini soal jangan sampai kita menjual sumber kerja yang sudah kita punya.”
Kali ini, beberapa ibu-ibu mengangguk.
Pak Roni yang duduk di dekat belakang berkata, “Benar. Kalau kebun rusak, kami tidak punya apa-apa.”
Seno memandang tulisan di papan.
Wajahnya tampak mulai berpikir.
Banyu maju setelah itu.
Ia membawa sebuah botol plastik berisi air dari parit dekat kolam.
Air itu masih keruh, meski endapan tanah mulai turun ke dasar botol.
“Aku bukan ahli lingkungan,” katanya. “Aku juga bukan orang yang paling pintar di desa ini. Tapi aku tahu satu hal: kalau ada perubahan di alam, kita harus mencatatnya.”
Ia meletakkan botol itu di atas meja kecil.
“Kalau nanti perusahaan datang, kita jangan hanya bertanya soal harga tanah dan pekerjaan. Kita juga harus bertanya tentang air.”
Banyu menulis di papan:
JAMINAN PERLINDUNGAN SUNGAI, KOLAM, DAN KEBUN
“Kalau mereka benar-benar ingin bekerja sama, mereka harus mau menjelaskan bagaimana mereka menjaga aliran air. Mereka harus mau menjelaskan apa yang dilakukan jika ada kerusakan. Mereka harus berani menulisnya, bukan hanya mengatakannya.”
Seno akhirnya berdiri.
Beberapa orang menoleh kepadanya.
Ia berjalan perlahan ke depan.
“Aku setuju soal itu,” katanya.
Jagra memandangnya.
Seno menarik napas.
“Aku memang ingin ada pekerjaan. Aku masih ingin perusahaan datang dan membuka kesempatan. Tapi aku tidak ingin kita semua hanya diberi janji.”
Ia mengambil kapur.
Di bawah tulisan Banyu, ia menulis:
PEKERJAAN YANG JELAS, AMAN, DAN TIDAK SEMENTARA
“Kalau mereka bilang pemuda desa akan bekerja, kita harus tahu bekerja sebagai apa. Berapa lama. Dengan upah berapa. Apakah ada pelatihan. Apakah setelah proyek selesai, kami ditinggalkan begitu saja.”
Kali ini, Rantaka tersenyum.
Bukan karena Seno berubah menjadi orang yang sepenuhnya setuju dengannya.
Tetapi karena Seno mulai berani bertanya.
Dan keberanian bertanya adalah awal dari warga yang tidak mudah dipermainkan.
Setelah itu, papan tulis mulai dipenuhi tulisan.
SEKOLAH YANG LEBIH BAIK
JALAN KE KEBUN YANG AMAN
TANAH WARISAN TIDAK BOLEH DIPAKSA DIJUAL
AIR BERSIH UNTUK ANAK-ANAK
PELATIHAN UNTUK PEMUDA DAN IBU-IBU
KOMPENSASI JIKA ADA KERUSAKAN
KEPUTUSAN HARUS DIBICARAKAN BERSAMA
Anak-anak yang duduk di depan ikut memperhatikan.
Raka mengangkat tangan.
Rantaka mendekatinya.
“Ada apa?”
“Pak Guru, saya juga boleh menulis?”
“Tentu.”
Raka berjalan ke depan sambil membawa kapur kecil.
Ia berdiri cukup lama di depan papan.
Hurufnya masih belum rapi.
Namun, akhirnya ia berhasil menulis:
IKAN JANGAN MATI
Beberapa warga tersenyum.
Ada yang tertawa pelan.
Namun, tidak ada yang menertawakan Raka.
Karena kalimat sederhana itu justru membuat semua orang terdiam sesaat.
Ikan jangan mati.
Sungai jangan mati.
Kolam jangan mati.
Harapan jangan mati.
Kadang-kadang, anak kecil mampu menyederhanakan persoalan yang terlalu lama dibuat rumit oleh orang dewasa.
Liris mendekat dan memegang bahu Raka.
“Itu tulisan paling penting malam ini,” katanya.
Raka tersenyum malu-malu.
Setelah diskusi, Liris membacakan sebuah puisi.
Ia berdiri di dekat Gerobak Buku Langit Biru.
Suara malam semakin sunyi.
Hanya terdengar bunyi jangkrik dari arah kebun dan aliran sungai yang masih membawa air keruh.
Liris membuka kertasnya.
Sungai yang Menunggu
Kami tidak meminta jalan tanpa debu,
jika jalan itu harus menutup mata air kami.
Kami tidak menolak kerja,
jika kerja itu tidak membuat tangan kami
kehilangan tanah untuk ditanami.
Kami hanya ingin desa ini tetap punya nama,
tetap punya sungai,
tetap punya anak-anak
yang bisa pulang dari sekolah
tanpa takut kehilangan masa depan.
Sebab kemajuan bukan hanya gedung dan mesin.
Kemajuan adalah ketika seorang anak
masih bisa menulis mimpinya
di atas tanah yang tidak dijual oleh ketakutan.
Tidak ada tepuk tangan panjang setelah puisi itu selesai.
Namun, beberapa orang mengusap mata.
Bu Marni menunduk sambil memegang tangan anak perempuannya.
Pak Darma memandang papan tulis.
Seno menatap gerobak buku.
Jagra memandang ke arah sungai yang tidak terlihat dari halaman balai desa.
Malam itu, untuk pertama kalinya, warga tidak hanya membicarakan perusahaan sebagai sesuatu yang datang dari luar.
Mereka mulai membicarakan desa sebagai sesuatu yang harus mereka pahami bersama.
Setelah sebagian warga pulang, Rantaka, Liris, Banyu, dan Jagra masih tinggal di halaman balai desa.
Lampu-lampu bohlam belum dimatikan.
Papan tulis masih penuh tulisan.
Gerobak Buku Langit Biru berdiri di samping mereka.
“Aku tidak menyangka Seno mau bicara seperti itu,” kata Jagra.
“Dia bukan musuh kita,” jawab Liris. “Dia hanya sedang mencari jalan untuk hidup.”
“Aku tahu,” kata Jagra. “Tapi kadang sulit mengingat itu ketika kolam sendiri hampir hancur.”
Banyu duduk di atas bangku kayu.
“Desa ini memang sedang sulit. Kalau semua orang hanya menarik ke arah masing-masing, kita akan patah.”
Rantaka memandang tulisan-tulisan di papan.
“Besok kita salin semua ini,” katanya. “Kita buat daftar pertanyaan warga. Kita bawa ke sosialisasi.”
“Kalau mereka tidak mau menjawab?” tanya Jagra.
“Kalau mereka tidak mau menjawab pertanyaan sederhana tentang tanah dan sungai,” kata Rantaka, “warga harus tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres.”
Liris memandang Rantaka.
“Kau yakin kita siap menghadapi semua ini?”
Rantaka tidak langsung menjawab.
Ia memandang halaman desa yang mulai sepi.
Di kejauhan, terlihat beberapa anak masih membawa buku pulang ke rumah.
Ia teringat ketika dahulu mereka hanya berempat mendorong gerobak buku, berharap anak-anak mau membaca.
Kini, mereka sedang berdiri di tengah persoalan yang jauh lebih besar.
Ada tanah.
Ada sungai.
Ada pekerjaan.
Ada masa depan banyak keluarga.
Namun, di dalam dirinya, Rantaka merasa ada keyakinan yang perlahan tumbuh.
“Kita mungkin belum siap,” katanya. “Tapi desa ini tidak bisa menunggu sampai kita merasa siap.”
Liris tersenyum kecil.
Banyu mengangguk.
Jagra menatap Gerobak Buku Langit Biru.
“Kalau begitu,” katanya, “besok kita mulai lagi.”
Rantaka mengangkat alis.
“Mulai apa?”
“Mulai menjaga desa ini,” jawab Jagra.
Angin malam berembus perlahan.
Lampu-lampu bohlam bergoyang di atas mereka.
Di papan tulis, tulisan Raka masih terlihat paling bawah.
IKAN JANGAN MATI
Kalimat itu sederhana.
Namun, malam itu, kalimat tersebut menjadi pengingat bagi mereka semua.
Bahwa masa depan Desa Wanasari tidak boleh dibangun dengan mengorbankan kehidupan yang selama ini membuat desa itu tetap bertahan.
Dan di bawah langit malam yang gelap, Gerobak Buku Langit Biru kembali berdiri sebagai tanda bahwa pengetahuan, keberanian, dan kebersamaan masih memiliki tempat di Desa Wanasari.
BAB 7 - SOSIALISASI YANG MEMBELAH BALAI DESA
Hari Sabtu datang dengan langit yang cerah.
Sejak pagi, halaman balai Desa Wanasari sudah dipenuhi sepeda motor, sepeda tua, dan beberapa mobil bak terbuka milik warga dari dusun-dusun sekitar. Jalan tanah di depan balai desa yang biasanya lengang kini ramai oleh orang-orang yang datang dengan wajah penuh rasa ingin tahu.
Sebagian mengenakan pakaian terbaik mereka.
Sebagian datang dengan sandal berlumpur karena baru pulang dari kebun.
Sebagian membawa buku catatan.
Sebagian lagi datang hanya dengan harapan sederhana: semoga hari itu ada kabar tentang pekerjaan.
Di depan balai desa, sebuah spanduk putih telah dipasang.
SOSIALISASI RENCANA KERJA SAMA PENGEMBANGAN KAWASAN USAHA
PT. BUMI RAYA MAKMUR
DAN PEMERINTAH DESA WANASARI
Tulisan itu terlihat besar.
Namun, bagi sebagian warga, arti dari kata-kata di dalamnya masih terasa jauh.
Pengembangan kawasan usaha.
Kerja sama.
Pemberdayaan.
Kemitraan.
Kata-kata itu terdengar seperti bahasa kota.
Bahasa yang rapi di atas kertas, tetapi belum tentu mudah dipahami oleh orang-orang yang setiap hari mengukur hidup dengan musim, hasil kebun, air sungai, dan harga ikan di pasar.
Rantaka datang bersama Liris, Banyu, dan Jagra.
Mereka berdiri di bawah pohon beringin dekat halaman balai desa.
Di tangan Liris, terdapat map berisi catatan warga dan daftar pertanyaan yang disusun setelah Malam Membaca untuk Masa Depan.
Banyu membawa beberapa foto kondisi parit, sungai, dan kolam Jagra.
Jagra tidak membawa apa-apa.
Namun, wajahnya sudah cukup menunjukkan bahwa ia tidak datang untuk mendengar janji tanpa jawaban.
“Jangan langsung terpancing,” kata Rantaka kepada Jagra.
Jagra mengangguk.
“Aku tahu.”
“Kalau mereka bicara berputar-putar, kita tanya dengan tenang,” lanjut Liris.
“Aku juga tahu,” jawab Jagra.
Banyu tersenyum tipis.
“Kalau kau menjawab seperti itu, berarti kau belum tentu tahu.”
Jagra menatap Banyu tajam.
Namun, beberapa detik kemudian ia justru tersenyum kecil.
“Aku akan berusaha.”
Mereka masuk ke balai desa bersama warga lain.
Di dalam ruangan, kursi-kursi plastik telah disusun dalam beberapa baris.
Di bagian depan terdapat meja panjang yang ditutup kain hijau. Di atasnya tersedia air mineral, mikrofon, map, dan sebuah layar putih yang digantung di dinding.
Pak Kades Harun duduk di tengah.
Di sebelahnya duduk Ketua BPD, Pak Mulyadi.
Di sisi lain, tampak dua orang laki-laki dan seorang perempuan yang datang dari kota.
Laki-laki pertama mengenakan kemeja putih lengan panjang dan celana hitam. Rambutnya disisir rapi. Di dadanya terpasang kartu nama.
SURYA PRATAMA
MANAGER COMMUNITY RELATIONS
PT. BUMI RAYA MAKMUR
Laki-laki kedua membawa laptop dan beberapa gulungan peta.
Perempuan di sampingnya mengenakan jilbab abu-abu dan membawa map tebal.
Warga mulai memenuhi ruangan.
Pak Darma duduk di barisan depan bersama Seno dan beberapa pemuda.
Bu Marni duduk di tengah bersama ibu-ibu lain.
Pak Roni duduk dekat pintu, masih mengenakan topi kebun.
Anak-anak tidak diizinkan masuk ke ruang utama, tetapi beberapa di antaranya mengintip dari jendela.
Raka terlihat berdiri di luar bersama teman-temannya.
Ia ingin tahu mengapa begitu banyak orang dewasa berkumpul.
Tepat pukul sembilan, Pak Kades Harun berdiri.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
“Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab warga.
Pak Kades memandang seluruh ruangan.
“Bapak-bapak dan Ibu-ibu, hari ini kita berkumpul untuk mendengar penjelasan dari PT. Bumi Raya Makmur. Saya ingin menegaskan sejak awal bahwa pertemuan ini adalah sosialisasi. Tidak ada keputusan yang akan ditandatangani hari ini.”
Beberapa warga mengangguk.
Namun, ada pula yang saling berbisik.
Pak Kades melanjutkan, “Warga berhak mendengar, bertanya, memberi pendapat, dan menyampaikan keberatan. Saya meminta semua pihak menjaga suasana agar kita dapat berbicara dengan baik.”
Setelah itu, ia mempersilakan Surya Pratama berdiri.
Surya tersenyum.
“Terima kasih kepada Pemerintah Desa Wanasari dan seluruh masyarakat yang telah menerima kami,” katanya.
Suaranya tenang.
Terlalu tenang.
“Kami dari PT. Bumi Raya Makmur hadir dengan niat membangun kemitraan. Kami percaya bahwa kemajuan ekonomi tidak boleh hanya dinikmati oleh kota. Desa juga harus mendapatkan kesempatan untuk berkembang.”
Di layar putih, muncul gambar jalan aspal, bangunan pelatihan, alat berat, dan pekerja memakai helm.
“Rencana kami adalah mengembangkan kawasan usaha terpadu yang dapat membuka akses jalan, menciptakan lapangan kerja, memberikan pelatihan keterampilan, serta mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat.”
Beberapa pemuda terlihat mulai memperhatikan.
Seno duduk lebih tegak.
Surya melanjutkan presentasinya.
Ia berbicara tentang kesempatan kerja bagi pemuda.
Tentang pelatihan operator alat berat.
Tentang bantuan perbaikan jalan.
Tentang kemungkinan program beasiswa.
Tentang pembangunan sarana air bersih.
Setiap kali sebuah gambar baru muncul di layar, beberapa warga saling memandang.
Bagi mereka yang selama ini hidup dengan jalan rusak dan hasil kebun yang sulit dibawa ke pasar, gambar-gambar itu terasa seperti pintu menuju kehidupan yang lebih baik.
Namun, ketika presentasi memasuki bagian peta, suasana mulai berubah.
Laki-laki yang membawa laptop berdiri dan membuka gulungan peta besar.
Peta itu ditempel di dinding.
Ada garis-garis merah.
Ada area berwarna kuning.
Ada tanda-tanda jalan.
Ada simbol sungai.
Ada beberapa bagian yang diberi tulisan kecil yang sulit dibaca dari tempat duduk warga.
“Ini adalah gambaran awal wilayah yang akan kami kaji,” kata Surya. “Belum ada penetapan final. Kami masih melakukan pemetaan potensi.”
Jagra berdiri dari kursinya.
“Bagian kuning itu apa?”
Surya menoleh.
“Itu wilayah studi awal, Pak.”
“Wilayah studi awal untuk apa?”
“Untuk melihat potensi pengembangan kawasan usaha.”
“Potensi apa?”
Surya tersenyum tipis.
“Potensi ekonomi, Pak. Termasuk akses, kondisi lahan, dan kemungkinan pengembangan kegiatan produktif.”
Jagra tidak duduk.
“Apakah itu termasuk tanah warga?”
Ruangan mulai hening.
Surya menatap peta.
“Sebagian wilayah memang berada di sekitar area yang saat ini dimanfaatkan masyarakat. Tetapi kami belum melakukan pembicaraan dengan pemilik lahan secara rinci.”
“Jadi tanah warga masuk peta itu?” tanya Jagra lagi.
“Yang kami tampilkan adalah wilayah kajian, bukan pengambilan tanah.”
“Kalau nanti kajiannya selesai, apakah tanah itu akan dibeli?”
Surya tidak langsung menjawab.
“Kami akan mengutamakan musyawarah dan kesepakatan dengan masyarakat.”
Jagra menatapnya.
“Itu bukan jawaban.”
Beberapa warga mulai berbisik.
Pak Kades Harun mengangkat tangan.
“Silakan semua pertanyaan dicatat. Setelah presentasi selesai, kita buka sesi tanya jawab.”
Jagra akhirnya duduk.
Namun, rahangnya masih mengeras.
Setelah hampir satu jam presentasi, sesi tanya jawab dibuka.
Pak Kades berdiri.
“Baik. Sekarang warga dapat menyampaikan pertanyaan.”
Seno menjadi orang pertama yang mengangkat tangan.
Ia berdiri dengan sedikit gugup.
“Nama saya Seno. Saya mewakili beberapa pemuda desa. Tadi Bapak mengatakan ada kesempatan kerja. Kami ingin tahu, pekerjaan apa yang tersedia untuk pemuda desa? Berapa orang yang akan diterima? Dan apakah pekerjaannya tetap?”
Surya tersenyum lebih lebar.
“Pertanyaan yang sangat baik. Kami berkomitmen memprioritaskan tenaga kerja lokal. Nantinya akan ada kebutuhan tenaga kerja pada berbagai bidang, seperti administrasi lapangan, pengamanan, operator, logistik, dan kegiatan pendukung lainnya.”
“Berapa orang?” tanya Seno.
“Jumlahnya akan disesuaikan dengan kebutuhan proyek.”
“Berapa lama?”
“Bergantung pada tahapan kegiatan.”
“Apakah ada kontrak kerja?”
Surya mengangguk pelan.
“Tentu, semua akan mengikuti ketentuan perusahaan dan peraturan yang berlaku.”
Seno berdiri beberapa saat.
Jawaban itu terdengar seperti jawaban.
Namun, tidak ada angka.
Tidak ada kepastian.
Tidak ada penjelasan tentang berapa lama pemuda desa dapat bekerja setelah proyek selesai.
Akhirnya Seno berkata, “Kami ingin itu ditulis jelas kalau nanti ada kerja sama.”
Surya tersenyum.
“Tentu, aspirasi masyarakat akan kami catat.”
Banyu menunduk.
Ia menulis sesuatu di buku kecilnya.
Tidak ada angka. Tidak ada jangka waktu. Tidak ada jaminan tertulis.
Setelah itu, Bu Marni berdiri.
Suaranya tidak keras, tetapi seluruh ruangan mendengarnya.
“Saya punya anak laki-laki yang merantau. Saya ingin dia bisa pulang kalau ada kerja di desa. Tapi saya juga ingin tahu, kalau tanah kami dijual atau dipakai, kami masih bisa berkebun di mana?”
Surya memandang Bu Marni dengan wajah simpatik.
“Perusahaan tidak akan memaksa masyarakat menjual tanah. Semua akan berdasarkan kesepakatan.”
“Kalau saya tidak mau menjual?” tanya Bu Marni.
“Tidak ada paksaan, Bu.”
“Kalau tanah saya berada di tengah wilayah yang Bapak mau gunakan?”
Surya terdiam sejenak.
“Kami akan mencari solusi terbaik melalui musyawarah.”
“Solusi terbaik menurut siapa?” tanya Bu Marni.
Ruangan mulai ramai.
Beberapa ibu-ibu mengangguk.
Surya mencoba tersenyum, tetapi kali ini senyumnya tampak lebih berat.
“Kami tentu ingin solusi yang terbaik bagi semua pihak.”
Bu Marni duduk kembali.
Namun, pertanyaannya tinggal di ruangan itu.
Solusi terbaik bagi siapa?
Liris kemudian berdiri.
Ia membawa map biru berisi catatan warga.
“Nama saya Liris,” katanya. “Saya ingin menyampaikan pertanyaan dari beberapa warga.”
Surya mengangguk.
“Silakan.”
Liris membuka mapnya.
“Dalam beberapa minggu terakhir, warga melihat perubahan pada aliran air. Kolam ikan rusak, parit membawa lumpur lebih banyak, dan beberapa kebun terdampak. Kami ingin tahu, apakah perusahaan sudah melakukan kajian tentang dampak terhadap sungai dan sumber air?”
Perempuan berjilbab abu-abu di samping Surya mengambil mikrofon.
“Perkenalkan, saya Ratih, dari tim lingkungan perusahaan. Saat ini kami masih dalam tahap pengumpulan data awal. Kajian lingkungan yang lebih lengkap akan dilakukan sesuai prosedur.”
“Apakah pembukaan jalan di bukit sudah menjadi bagian dari pengumpulan data awal itu?” tanya Liris.
Ratih terlihat berhati-hati.
“Ada kegiatan peninjauan akses yang dilakukan bersama pihak terkait.”
“Apakah kegiatan itu sudah memiliki izin?”
Pak Kades Harun menoleh ke arah Ratih.
Beberapa warga ikut menatap.
Ratih menjawab, “Kami akan memastikan seluruh kegiatan berjalan sesuai ketentuan.”
“Itu berarti sudah ada izin atau belum?” tanya Liris.
Suasana berubah tegang.
Pak Darma menggeser duduknya.
Seno menatap ke arah depan.
Surya mengambil mikrofon.
“Bapak dan Ibu, kami memahami kekhawatiran masyarakat. Namun, kami berharap diskusi ini tidak berubah menjadi tuduhan. Kami datang untuk membangun komunikasi.”
Liris tidak meninggikan suara.
“Saya tidak menuduh. Saya hanya bertanya agar warga mengerti.”
“Dan kami akan menjawab sesuai proses yang berjalan,” kata Surya.
“Berarti belum ada jawaban sekarang?”
Surya terdiam.
Jagra berdiri lagi.
“Kalau belum ada jawaban, kenapa jalan di bukit sudah dibuka?”
“Pak Jagra,” kata Pak Kades dengan suara menahan, “mohon tetap tenang.”
“Aku tenang, Pak Kades,” jawab Jagra. “Tapi kolam kami tidak tenang. Airnya masuk membawa lumpur. Ikan kami mati. Kalau mereka belum punya jawaban, siapa yang bertanggung jawab?”
Pak Darma berdiri dari kursinya.
“Jangan semua masalah desa dilempar ke perusahaan!”
Jagra menoleh.
“Aku tidak melempar. Aku bertanya!”
“Bertanya boleh, tapi jangan membuat orang takut pada kesempatan,” balas Pak Darma.
“Kesempatan apa kalau sungai rusak?”
“Kesempatan kerja!”
“Kalau pekerjaan hanya beberapa tahun, lalu tanah dan air hilang, apa yang kita punya?”
Suara mereka mulai meninggi.
Beberapa warga ikut berdiri.
Ada yang membela Jagra.
Ada yang membela Pak Darma.
Ada yang meminta keduanya berhenti.
Balai desa yang semula tertib mulai dipenuhi suara.
“Kita butuh pekerjaan!”
“Kita butuh sungai!”
“Jangan menolak sebelum tahu!”
“Jangan setuju sebelum jelas!”
“Kita sudah terlalu lama miskin!”
“Jangan karena miskin lalu semua dijual!”
Pak Kades Harun memukul meja dengan telapak tangan.
“Cukup!”
Suara itu membuat ruangan perlahan hening.
Pak Kades berdiri.
Wajahnya tegang.
“Kita semua punya hak untuk bicara. Tetapi kita tidak boleh saling menghina hanya karena memiliki kekhawatiran yang berbeda.”
Ia memandang Pak Darma.
“Kau benar, Pak Darma. Warga butuh pekerjaan.”
Kemudian ia memandang Jagra.
“Kau juga benar, Jagra. Sungai dan tanah harus dijaga.”
Lalu ia memandang seluruh warga.
“Yang salah adalah jika kita dipaksa memilih antara makan hari ini atau hidup untuk masa depan. Desa tidak boleh dihadapkan pada pilihan seperti itu.”
Kalimat itu membuat ruangan kembali sunyi.
Pak Kades melanjutkan, “Saya meminta pihak perusahaan mencatat seluruh pertanyaan warga. Saya juga meminta agar sebelum ada pembicaraan lanjutan, perusahaan memberikan penjelasan tertulis tentang batas wilayah, jenis kegiatan, kebutuhan lahan, peluang kerja, perlindungan lingkungan, dan mekanisme ganti rugi jika terjadi kerusakan.”
Surya mengangguk.
“Kami akan mempertimbangkan permintaan tersebut.”
“Bukan mempertimbangkan,” kata Pak Kades tegas. “Warga membutuhkan itu sebelum melangkah lebih jauh.”
Untuk pertama kalinya, Surya tidak langsung tersenyum.
Ia hanya menjawab, “Baik, Pak Kades. Kami akan menyampaikan kepada manajemen.”
Pertemuan berakhir menjelang siang.
Tidak ada keputusan.
Tidak ada penandatanganan.
Tidak ada kepastian.
Namun, balai desa telah berubah.
Warga keluar dalam kelompok-kelompok kecil.
Sebagian tampak kecewa karena perusahaan belum memberi jawaban yang jelas.
Sebagian masih berharap perusahaan benar-benar membawa pekerjaan.
Sebagian lain semakin cemas melihat peta yang dipasang di depan.
Di halaman balai desa, Seno berdiri sendiri.
Rantaka menghampirinya.
“Kau baik-baik saja?” tanya Rantaka.
Seno mengangguk pelan.
“Aku hanya tidak suka jawaban mereka.”
“Jawaban tentang pekerjaan?”
“Semua jawaban mereka,” kata Seno. “Mereka bicara banyak, tapi tidak ada yang benar-benar bisa dipegang.”
Rantaka mengangguk.
“Karena itu warga harus terus bertanya.”
Seno memandang Rantaka.
“Kalau perusahaan akhirnya tidak jadi masuk, apakah kau punya pekerjaan untuk kami?”
Pertanyaan itu membuat Rantaka diam.
Ia tidak ingin memberi jawaban mudah.
Tidak ada guru, penulis, atau penggerak desa yang bisa menciptakan pekerjaan hanya dengan kata-kata.
“Aku tidak punya pekerjaan untukmu,” jawab Rantaka jujur. “Tapi aku ingin kita mencari jalan agar desa tidak hanya bergantung pada satu perusahaan.”
Seno tertawa kecil tanpa kegembiraan.
“Itu terdengar sulit.”
“Memang sulit.”
“Dan lama.”
“Mungkin.”
Seno memandang ke arah jalan desa.
“Orang lapar tidak selalu bisa menunggu lama.”
Rantaka tidak membantah.
Karena ia tahu, di situlah luka paling besar dari persoalan desa mereka.
Harapan sering datang dalam bentuk uang cepat.
Sedangkan perjuangan membangun kemampuan warga membutuhkan waktu, kesabaran, dan keberanian yang tidak semua orang sanggup miliki.
Di bawah pohon beringin, Liris membuka mapnya.
Ia menambahkan catatan baru.
Perusahaan belum menjelaskan batas lahan secara rinci.
Tidak ada kepastian jumlah tenaga kerja.
Tidak ada penjelasan tertulis tentang jangka waktu kerja.
Kajian lingkungan belum dipaparkan.
Kegiatan pembukaan akses belum dijelaskan izinnya.
Warga meminta jawaban tertulis sebelum keputusan apa pun.
Banyu berdiri di sampingnya.
“Kita harus menyimpan semua ini,” katanya.
“Untuk apa?” tanya Jagra.
“Untuk mengingat,” jawab Banyu. “Supaya nanti tidak ada yang bilang warga tidak pernah bertanya.”
Jagra memandang balai desa.
Pak Darma keluar bersama beberapa warga yang masih membicarakan peluang kerja.
Seno berjalan pulang dengan kepala tertunduk.
Bu Marni menggandeng tangan anak perempuannya.
Pak Roni membawa kembali topi kebunnya.
Semua orang pulang membawa pikiran masing-masing.
Desa Wanasari tidak lagi hanya dibelah oleh sungai dan jalan tanah.
Hari itu, desa mereka dibelah oleh ketakutan dan harapan.
Oleh kebutuhan yang mendesak dan masa depan yang belum jelas.
Oleh orang-orang yang ingin bertahan dengan tanah mereka, dan orang-orang yang ingin mencari hidup yang lebih baik melalui kesempatan baru.
Rantaka menatap pohon beringin tua di halaman balai desa.
Pohon itu telah berdiri jauh sebelum perusahaan datang.
Jauh sebelum warga mengenal kata-kata seperti investasi, kawasan usaha, atau kemitraan.
Akarnya menembus tanah dalam-dalam.
Mungkin, pikir Rantaka, Desa Wanasari juga harus belajar seperti pohon itu.
Boleh tumbuh ke arah mana pun.
Boleh menghadapi angin dari luar.
Namun, jangan sampai kehilangan akar yang membuatnya tetap berdiri.
Di kejauhan, awan kembali mulai berkumpul.
Dan dari arah bukit, angin membawa bau tanah basah.
Seolah hujan berikutnya sedang menunggu waktu untuk turun.
BAB 8 - PETA YANG TIDAK PERNAH DIBUKA
Dua hari setelah sosialisasi di balai desa, Desa Wanasari masih dipenuhi percakapan yang sama.
Tentang perusahaan.
Tentang tanah.
Tentang pekerjaan.
Tentang sungai yang semakin keruh.
Di warung kopi, orang-orang membicarakan peta besar yang ditempel di depan balai desa. Ada yang mengatakan peta itu hanya gambar awal. Ada yang yakin wilayah berwarna kuning di dalamnya tidak akan menyentuh tanah warga. Ada pula yang mulai bertanya-tanya mengapa garis merah pada peta itu melewati kebun, parit, dan jalan kecil yang selama ini digunakan masyarakat.
Namun, setelah sosialisasi selesai, peta itu tidak pernah lagi terlihat.
Pihak perusahaan membawanya pulang.
Yang tersisa di balai desa hanya spanduk putih, kursi-kursi plastik, dan pertanyaan warga yang belum mendapatkan jawaban.
Pagi itu, Banyu datang ke perpustakaan desa membawa sebuah buku tulis besar.
Di dalamnya terdapat salinan kasar peta yang ia gambar dari ingatannya.
Garis-garisnya tidak rapi.
Ada tanda sungai.
Ada jalan tanah.
Ada bukit.
Ada beberapa kebun warga.
Namun, Banyu tidak yakin apakah semua yang ia gambar sudah tepat.
Liris sedang menyusun buku-buku di rak ketika Banyu masuk.
“Kau sudah dari tadi?” tanya Banyu.
“Sejak setelah subuh,” jawab Liris. “Ada anak-anak yang meminjam buku cerita.”
Banyu meletakkan buku tulisnya di meja.
“Aku mencoba menggambar peta yang dipasang waktu sosialisasi.”
Liris mendekat.
Ia membuka halaman buku itu.
“Kau ingat sebanyak ini?”
“Tidak semuanya. Tapi aku ingat garis merahnya.”
“Kenapa garis merah itu?”
Banyu menunjuk bagian tengah gambar.
“Karena garis itu melewati arah bukit. Lalu turun ke dekat sungai. Setelah itu, seperti masuk ke arah kebun Pak Roni dan tanah kosong dekat kolam Jagra.”
Liris menatap gambar itu lebih lama.
“Kalau benar begitu, wilayahnya luas.”
“Itu yang membuatku tidak tenang.”
“Bukankah Surya bilang itu hanya wilayah studi awal?”
Banyu mengangguk.
“Ya. Tapi kalau hanya studi awal, kenapa mereka sudah menggambar jalan, titik bangunan, dan jalur akses?”
Liris tidak menjawab.
Ia teringat bagaimana laki-laki dari perusahaan itu selalu menggunakan kata-kata yang terdengar aman.
Masih tahap awal.
Masih akan dikaji.
Masih menunggu kesepakatan.
Namun, di balik kata-kata itu, ada peta yang sudah menunjukkan arah.
Ada garis yang sudah melewati tanah warga.
Ada rencana yang tampaknya sudah lebih jauh daripada yang mereka akui.
“Apa yang ingin kau lakukan?” tanya Liris.
“Aku ingin melihat peta itu lagi.”
“Peta itu sudah dibawa perusahaan.”
“Bukan hanya peta perusahaan.”
Banyu membuka halaman lain dalam buku tulisnya.
Di sana terdapat catatan nama-nama warga.
Pak Roni.
Bu Marni.
Pak Karta.
Keluarga Jagra.
Lahan kas desa.
Kebun kecil di dekat sungai.
“Aku ingin membuat peta kita sendiri,” katanya.
Liris mengangkat wajah.
“Peta warga?”
“Ya. Peta yang menunjukkan tanah siapa, kebun siapa, jalan mana yang dipakai warga, parit mana yang mengalir ke sungai, dan kolam mana yang bisa terdampak kalau bukit dibuka.”
Liris memandangi Banyu.
“Itu pekerjaan besar.”
“Memang.”
“Dan bisa membuat banyak orang tidak senang.”
“Kalau kita tidak tahu apa yang kita punya, kita akan mudah kehilangan semuanya.”
Kalimat itu membuat Liris terdiam.
Di luar perpustakaan, suara anak-anak terdengar bermain di halaman sekolah. Mereka berlari sambil membawa kertas gambar. Beberapa di antara mereka masih mengenakan seragam yang sudah sedikit kusam.
Liris memandang mereka dari jendela.
“Baik,” katanya akhirnya. “Kita mulai dari cerita warga.”
Menjelang siang, Liris dan Banyu berjalan menuju kebun Pak Roni.
Matahari mulai tinggi. Jalan tanah masih lembap akibat hujan beberapa hari sebelumnya. Di beberapa bagian, roda sepeda motor meninggalkan jejak panjang yang dipenuhi air cokelat.
Pak Roni sedang membersihkan rumput di dekat tanaman singkong ketika mereka datang.
“Pak Roni,” panggil Liris.
Lelaki tua itu menoleh.
“Oh, Liris. Banyu. Ada apa?”
“Kami ingin bertanya sedikit tentang batas kebun Bapak,” kata Banyu.
Pak Roni mengerutkan dahi.
“Batas kebun?”
“Iya, Pak. Kami sedang membuat catatan tanah dan kebun warga yang berada dekat bukit serta aliran sungai.”
Pak Roni menancapkan parang kecilnya ke tanah.
“Untuk apa?”
“Supaya warga punya gambaran sendiri sebelum perusahaan datang lagi,” jawab Liris.
Pak Roni memandang ke arah bukit.
Di kejauhan, terlihat jalur tanah yang baru dibuka. Jalur itu tidak terlalu lebar, tetapi cukup jelas untuk dilalui kendaraan.
“Itu kebunku,” katanya sambil menunjuk deretan pohon karet di sisi kiri. “Dari pohon nangka itu sampai parit kecil di bawah.”
“Parit yang mengalir ke sungai?” tanya Banyu.
Pak Roni mengangguk.
“Dulu airnya jernih. Sekarang kalau hujan, lumpurnya turun cepat.”
“Apakah ada orang perusahaan yang datang ke sini?” tanya Liris.
Pak Roni tidak langsung menjawab.
Ia mengambil topinya dan mengusap keringat di dahinya.
“Ada dua orang datang tiga minggu lalu. Mereka bilang hanya melihat kondisi tanah. Mereka bertanya siapa pemilik kebun di sekitar sini.”
“Apakah Bapak menandatangani sesuatu?” tanya Banyu.
“Tidak. Mereka hanya mencatat.”
“Apakah mereka mengatakan bahwa kebun Bapak masuk dalam wilayah rencana?”
Pak Roni menatap Banyu.
“Mereka tidak bilang begitu.”
“Kalau kebun ini masuk peta perusahaan, Bapak mau menjualnya?” tanya Liris.
Pak Roni tersenyum pahit.
“Kalau harga tinggi, mungkin orang akan bilang aku bodoh kalau tidak menjual. Tapi tanah ini bukan hanya kebun. Ini peninggalan bapakku. Dari sini aku membiayai anak-anak sekolah. Dari sini aku hidup.”
Ia memandang tanaman singkong yang tumbuh tidak terlalu subur.
“Kalau aku menjual, uangnya mungkin habis dalam beberapa tahun. Tapi setelah itu, apa yang tersisa?”
Banyu menulis catatan.
Kebun Pak Roni: berbatasan dengan jalur baru dari bukit, dekat parit menuju sungai. Pernah didatangi dua orang yang mengaku melihat kondisi tanah. Tidak ada penjelasan tertulis.
Dari kebun Pak Roni, mereka berjalan ke rumah Bu Marni.
Bu Marni sedang menjemur pakaian di halaman ketika Liris dan Banyu datang.
“Ada apa lagi?” tanyanya sambil tersenyum tipis.
“Kami ingin menanyakan tanah di belakang rumah Ibu,” jawab Liris.
Bu Marni berhenti menjemur pakaian.
“Tanah itu kenapa?”
“Kami belum tahu, Bu. Kami hanya ingin mencatat batasnya.”
Bu Marni mengajak mereka duduk di bangku kayu.
“Tanah di belakang itu kecil. Tidak sampai satu hektare. Tapi di situ ada kebun pisang dan beberapa pohon durian.”
“Apakah Ibu pernah didatangi orang perusahaan?” tanya Banyu.
Bu Marni mengangguk.
“Seorang perempuan datang dengan dua laki-laki. Mereka bilang tanahku berada dekat rencana jalan.”
“Rencana jalan?” tanya Liris.
“Iya. Katanya, kalau jalan dibuat, tanahku bisa lebih bernilai.”
“Apakah mereka menunjukkan peta?”
“Tidak. Mereka hanya menunjukkan gambar di telepon.”
“Apakah mereka meminta Ibu menjual tanah?”
“Mereka belum meminta. Mereka hanya bilang kalau ada tawaran nanti, jangan terburu-buru menolak.”
Liris dan Banyu saling pandang.
“Lalu apa jawaban Ibu?” tanya Liris.
Bu Marni tersenyum kecil, tetapi matanya tampak lelah.
“Aku bilang, aku tidak bisa menjawab sendiri. Tanah itu bukan hanya milikku. Anak-anakku juga punya hak untuk tahu.”
Banyu menunduk.
Ia teringat Seno yang mengatakan bahwa orang lapar tidak selalu bisa menunggu lama.
Ia juga teringat bahwa Bu Marni memiliki anak yang bekerja serabutan di kota.
Mungkin, jika perusahaan benar-benar menawarkan uang besar, keputusan Bu Marni tidak akan mudah.
Tidak ada orang yang bisa menghakimi warga karena ingin hidup lebih baik.
Namun, tidak ada pula yang boleh memanfaatkan kesulitan mereka.
Sore hari, Liris dan Banyu bertemu Jagra di dekat kolam.
Air kolam masih berwarna kecokelatan. Beberapa ikan kecil terlihat bergerak lemah di dekat permukaan. Jagra sedang memperbaiki bagian tanggul dengan karung pasir.
“Kalian dari mana?” tanya Jagra.
“Dari kebun Pak Roni dan rumah Bu Marni,” jawab Banyu.
“Menanyakan peta?”
Banyu mengangguk.
Jagra berhenti bekerja.
“Aku juga menemukan sesuatu.”
Ia mengambil sebuah kertas yang tersimpan di dalam saku bajunya.
Kertas itu tampak kusut dan sedikit basah.
“Apa ini?” tanya Liris.
“Fotokopi surat.”
“Dari mana kau dapat?”
“Dari Pak Karta. Katanya ada orang datang ke rumahnya beberapa hari sebelum sosialisasi. Mereka meninggalkan kertas ini.”
Liris membuka kertas tersebut.
Di bagian atas tertulis nama perusahaan.
Namun, tidak ada tanda tangan resmi.
Isinya hanya berupa pemberitahuan singkat tentang kegiatan survei dan pendataan lahan di sekitar Desa Wanasari.
Di bagian bawah terdapat daftar nomor bidang tanah.
“Pak Karta tahu nomor tanahnya?” tanya Banyu.
“Tidak,” jawab Jagra. “Tapi ia bilang salah satu nomor di situ mungkin tanahnya.”
“Kenapa mungkin?”
“Karena tidak ada nama pemilik. Tidak ada gambar batas. Tidak ada penjelasan.”
Banyu membaca kertas itu dengan wajah tegang.
“Ini seperti mereka sudah mendata, tetapi warga tidak tahu apa yang didata.”
Jagra menunjuk bagian paling bawah.
“Lihat ini.”
Di sana terdapat kalimat kecil:
Data yang dikumpulkan akan digunakan sebagai bahan pertimbangan pengembangan kawasan dan penyusunan rencana teknis.
Liris mengulang kalimat itu pelan.
“Penyusunan rencana teknis.”
Banyu menghela napas.
“Berarti rencana mereka sudah berjalan lebih jauh daripada yang mereka katakan di balai desa.”
Jagra menatap air kolam.
“Aku sudah bilang. Mereka datang bukan hanya untuk mendengar.”
Malamnya, Rantaka datang ke perpustakaan desa setelah selesai memeriksa tugas murid-muridnya.
Di dalam ruangan, Liris, Banyu, dan Jagra sudah menunggu.
Di atas meja, terdapat buku tulis Banyu, salinan surat dari Pak Karta, catatan tentang kebun Pak Roni, serta gambar kasar peta warga yang mulai dibuat.
Rantaka membaca semuanya dengan hati-hati.
“Ini belum cukup untuk menuduh mereka melakukan pelanggaran,” katanya.
“Aku tidak ingin menuduh,” jawab Banyu. “Aku ingin warga tahu bahwa mereka sudah didata.”
“Dan warga harus tahu untuk apa data itu digunakan,” tambah Liris.
Rantaka mengangguk.
“Betul.”
Jagra duduk di sudut ruangan.
“Lalu kita harus bagaimana? Menunggu mereka datang lagi dengan peta yang lebih besar?”
“Kita tidak menunggu,” kata Liris.
Ia menarik sebuah kertas kosong.
“Kita buat surat.”
“Surat untuk perusahaan?” tanya Jagra.
“Untuk perusahaan dan pemerintah desa.”
Liris mulai menulis.
Permohonan Keterbukaan Informasi Rencana Pengembangan Kawasan Usaha di Desa Wanasari.
Di bawah judul itu, mereka menyusun beberapa permintaan:
- Penjelasan tertulis mengenai wilayah yang masuk dalam rencana kajian.
- Penjelasan mengenai kegiatan survei dan pendataan yang telah dilakukan.
- Daftar bidang tanah yang telah dicatat, tanpa mengabaikan hak privasi warga.
- Penjelasan mengenai rencana pembukaan akses jalan dan kegiatan di sekitar bukit.
- Penjelasan mengenai perlindungan sungai, parit, kebun, dan kolam warga.
- Jaminan bahwa tidak ada transaksi atau kesepakatan lahan tanpa musyawarah terbuka.
“Kita tidak bisa mengirim surat atas nama kita berempat,” kata Rantaka.
“Lalu atas nama siapa?” tanya Banyu.
“Warga.”
“Warga mana yang mau tanda tangan?” tanya Jagra.
Rantaka memandangnya.
“Yang mau tahu.”
Jawaban itu sederhana.
Namun, mereka semua tahu bahwa mengumpulkan warga tidak akan mudah.
Sebagian takut dianggap menentang perusahaan.
Sebagian khawatir kehilangan peluang kerja.
Sebagian lagi mungkin sudah mulai berharap pada uang yang belum pernah mereka lihat.
Liris menutup buku catatannya.
“Kalau kita tidak mengajak warga bicara sekarang, nanti mereka akan dipanggil satu per satu. Saat itu, mereka mungkin merasa harus mengambil keputusan sendiri.”
Rantaka mengangguk.
“Dan keputusan yang diambil sendiri dalam keadaan terdesak sering kali tidak benar-benar bebas.”
Keesokan harinya, Banyu mengajak Rantaka melihat jalur tanah di bukit.
Mereka berjalan melewati kebun-kebun warga hingga sampai pada bagian tanah yang mulai terbuka.
Di sana terlihat bekas roda kendaraan berat.
Tanah merah menumpuk di sisi jalan.
Beberapa pohon kecil telah tumbang.
Tidak jauh dari tempat itu, sebuah patok kayu berdiri dengan cat merah di bagian atas.
Rantaka mendekat.
Di patok tersebut terdapat tulisan angka yang mulai memudar.
BRM-07
“Apa artinya?” tanya Rantaka.
Banyu menggeleng.
“Tidak tahu. Tapi aku melihat patok seperti ini di dua tempat lain.”
Mereka berjalan lebih jauh.
Di bawah bukit, terlihat parit kecil yang mengarah ke sungai.
Airnya membawa lumpur tipis.
Rantaka jongkok dan menyentuh air itu.
“Kalau hujan besar, lumpur dari sini akan turun ke kolam Jagra,” katanya.
Banyu mengangguk.
“Itu yang terjadi waktu banjir kemarin.”
Rantaka berdiri.
Ia memandang bukit, jalur tanah, patok kayu, dan aliran air yang bergerak perlahan menuju desa.
Semua itu seperti bagian dari peta yang tidak pernah dibuka kepada warga.
Peta yang tidak dipasang di balai desa.
Peta yang tidak dijelaskan dalam sosialisasi.
Peta yang mungkin hanya diketahui oleh orang-orang yang datang dari kota dengan kendaraan, map, dan janji.
Namun, kini Banyu mulai menggambar peta lain.
Peta dari cerita warga.
Peta dari tanah yang diinjak setiap hari.
Peta dari parit yang mengalir ke kolam.
Peta dari kebun yang membiayai sekolah anak-anak.
Peta dari tempat-tempat yang tidak terlihat penting bagi orang luar, tetapi menjadi seluruh kehidupan bagi orang-orang Desa Wanasari.
Sore itu, ketika Rantaka dan Banyu kembali ke desa, mereka melihat beberapa warga berkumpul di depan rumah Pak Darma.
Di antara mereka ada Seno.
Mereka sedang membicarakan kabar bahwa perusahaan akan membuka pendaftaran awal untuk pelatihan kerja bagi pemuda.
“Pendaftaran awal?” tanya Banyu setelah mendengar kabar itu.
Seno mengangguk.
“Katanya minggu depan.”
“Di mana?”
“Di kantor kecamatan.”
“Apakah itu sudah resmi?” tanya Rantaka.
Seno mengangkat bahu.
“Ada orang perusahaan yang bilang begitu.”
Jagra yang baru datang dari arah kolam mendengar percakapan itu.
“Jadi mereka belum menjawab pertanyaan warga, tapi sudah mulai mengumpulkan pemuda?”
Seno menatap Jagra.
“Kalau ada pelatihan, aku mau ikut.”
“Tidak ada yang melarang,” jawab Jagra. “Tapi kau harus tahu apa yang kau ikuti.”
“Aku tahu aku butuh kerja.”
Kalimat itu membuat Jagra terdiam.
Rantaka memandang Seno.
“Kau boleh ikut pelatihan,” katanya. “Tapi jangan menandatangani apa pun sebelum kau membaca dan memahami isinya.”
Seno tersenyum tipis.
“Kalau aku tidak paham?”
“Bawa ke sini,” jawab Liris yang baru datang. “Kita baca bersama.”
Seno menatap mereka satu per satu.
Untuk sesaat, ia tampak ingin berkata sesuatu.
Namun, akhirnya ia hanya mengangguk.
Malam itu, Liris kembali menulis di buku catatannya.
Ia menulis tentang peta.
Bukan peta yang digambar dengan garis merah dan warna kuning.
Melainkan peta yang hidup di dalam ingatan warga.
Peta tentang pohon durian milik Bu Marni.
Peta tentang kebun Pak Roni.
Peta tentang kolam Jagra.
Peta tentang parit yang membawa air ke sungai.
Peta tentang jalan kecil yang setiap pagi dilalui anak-anak menuju sekolah.
Ia menulis:
Ada peta yang dibuat di atas meja.
Ada pula peta yang tumbuh di dalam kehidupan manusia.
Peta pertama bisa digulung, dibawa pulang, dan disimpan di dalam mobil.
Peta kedua tidak bisa dipindahkan begitu saja, karena di dalamnya ada nama, kenangan, kerja keras, dan masa depan.
Jika seseorang ingin menggambar ulang sebuah desa, ia harus terlebih dahulu belajar membaca peta yang hidup di hati warganya.
Di luar rumah, angin malam bergerak pelan.
Dari arah bukit, terdengar suara kendaraan yang jauh.
Entah kendaraan siapa.
Entah menuju ke mana.
Namun, suara itu cukup untuk membuat warga Desa Wanasari kembali bertanya:
Seberapa jauh rencana itu telah berjalan?
Dan apakah mereka masih memiliki waktu untuk menjaga tanah yang selama ini menjadi tempat mereka berpijak?
BAB 9 - PELATIHAN YANG MENYIMPAN SYARAT
Pagi itu, sebuah mobil putih berhenti di depan kantor Desa Wanasari.
Mobil itu bukan mobil yang biasa terlihat di jalan desa.
Bodinya bersih, kacanya gelap, dan di pintunya terdapat lambang kecil PT. Bumi Raya Makmur. Dua orang turun dari dalam mobil. Seorang laki-laki membawa map biru, sementara seorang perempuan membawa kardus berisi lembaran kertas.
Mereka tidak tinggal lama.
Mereka hanya menyerahkan beberapa berkas kepada perangkat desa, berbicara singkat dengan Pak Kades Harun, lalu kembali masuk ke mobil.
Tidak sampai setengah jam kemudian, sebuah pengumuman ditempel di papan depan kantor desa.
PENDAFTARAN PELATIHAN KETERAMPILAN KERJA BAGI PEMUDA DESA WANASARI
Di bawah judul itu tertulis beberapa bidang pelatihan:
- Dasar-dasar keselamatan kerja lapangan
- Pengoperasian alat sederhana
- Administrasi dan logistik
- Perawatan peralatan
- Kedisiplinan kerja dan komunikasi lapangan
Di bagian bawah, tertulis kalimat yang segera menarik perhatian banyak pemuda:
Peserta pelatihan berkesempatan memperoleh prioritas dalam kebutuhan tenaga kerja proyek.
Kabar itu menyebar cepat.
Sebelum matahari naik tinggi, beberapa pemuda sudah datang ke kantor desa. Ada yang mengenakan sandal jepit, ada yang baru pulang dari kebun, dan ada yang membawa fotokopi ijazah sekolah.
Seno datang paling awal.
Ia berdiri di depan papan pengumuman cukup lama.
Matanya membaca setiap kalimat dengan teliti.
Ketika sampai pada bagian prioritas tenaga kerja proyek, wajahnya berubah.
Ada harapan yang muncul di sana.
Harapan yang selama ini sulit ia temukan di Desa Wanasari.
“Jadi kau benar-benar mau daftar?” tanya Deni, salah satu pemuda desa yang berdiri di sampingnya.
Seno mengangguk.
“Kalau ini benar-benar membuka jalan kerja, kenapa tidak?”
“Tapi Jagra bilang perusahaan belum menjawab soal tanah.”
Seno menoleh.
“Masalah tanah dan masalah kerja tidak selalu sama.”
“Kalau perusahaan jadi masuk, mungkin tanah warga memang akan dipakai.”
“Kalau tidak ada perusahaan, apakah kau punya pekerjaan untukku?” jawab Seno.
Deni terdiam.
Seno kembali membaca pengumuman.
“Aku tidak mau selamanya membantu ayah di kebun dengan hasil yang tidak pasti. Aku ingin punya keahlian. Aku ingin punya penghasilan tetap.”
Kata-kata itu terdengar tegas.
Namun, di dalam hati Seno, ada kegelisahan yang tidak ia tunjukkan.
Ia tahu perusahaan belum menjawab banyak pertanyaan.
Ia tahu warga sedang terbelah.
Ia tahu Jagra dan Rantaka tidak sepenuhnya percaya.
Tetapi kesempatan seperti itu tidak datang setiap hari.
Dan bagi seorang pemuda yang melihat teman-temannya pergi ke kota satu per satu, kata pelatihan bisa terdengar seperti pintu yang tidak boleh dilewatkan.
Siang hari, Rantaka datang ke kantor desa setelah mengajar.
Di depan pintu, ia melihat beberapa pemuda mengisi formulir.
Seno duduk di meja kayu bersama Deni dan tiga pemuda lain. Mereka menunduk, menulis nama, alamat, nomor telepon, pendidikan terakhir, serta pengalaman kerja.
Di atas meja, tersedia tumpukan formulir dengan logo PT. Bumi Raya Makmur.
Rantaka menghampiri mereka.
“Banyak yang daftar?” tanyanya.
Seno mengangkat wajah.
“Lumayan. Katanya kuotanya terbatas.”
“Pelatihannya kapan?”
“Minggu depan. Di aula kecamatan.”
“Berapa hari?”
“Tiga hari.”
“Setelah itu langsung bekerja?”
Seno mengangkat bahu.
“Tidak tahu. Di pengumuman hanya bilang ada prioritas.”
Rantaka mengambil satu formulir kosong.
“Boleh aku lihat?”
Seno tidak keberatan.
“Silakan.”
Rantaka membaca formulir itu perlahan.
Bagian pertama berisi data diri biasa.
Nama lengkap.
Tempat dan tanggal lahir.
Alamat.
Pendidikan terakhir.
Nomor keluarga.
Kontak darurat.
Namun, ketika ia membalik halaman kedua, wajahnya berubah.
Di bagian bawah terdapat beberapa pernyataan yang dicetak dengan huruf kecil.
Peserta bersedia mengikuti seluruh ketentuan program pelatihan dan kegiatan lanjutan yang ditetapkan oleh penyelenggara.
Peserta bersedia ditempatkan sesuai kebutuhan kegiatan perusahaan setelah dinyatakan memenuhi persyaratan.
Peserta menyatakan tidak akan mengajukan tuntutan atas perubahan jadwal, lokasi, maupun bentuk kegiatan yang dilakukan penyelenggara.
Peserta bersedia menjaga kerahasiaan informasi internal perusahaan selama mengikuti program.
Rantaka membaca ulang kalimat-kalimat itu.
Lalu ia melihat bagian paling bawah.
Dengan menandatangani formulir ini, peserta menyatakan telah memahami dan menyetujui seluruh ketentuan.
“Apakah kalian sudah membaca halaman kedua?” tanya Rantaka.
Deni mengangguk ragu.
“Sedikit.”
Seno menatap formulir di tangan Rantaka.
“Memangnya kenapa?”
“Ini bukan hanya formulir pendaftaran pelatihan,” jawab Rantaka.
“Lalu?”
“Di sini ada persetujuan untuk ditempatkan sesuai kebutuhan perusahaan.”
Seno mengerutkan dahi.
“Itu kan wajar. Kalau ikut pelatihan, mungkin nanti bekerja di tempat yang mereka butuhkan.”
“Benar,” kata Rantaka. “Tapi tempatnya di mana? Pekerjaannya apa? Berapa lama? Upahnya bagaimana? Apakah ada perlindungan kerja? Apakah peserta bisa menolak jika penempatannya tidak sesuai?”
Seno diam.
Rantaka menunjuk kalimat berikutnya.
“Di sini juga tertulis kalian tidak akan mengajukan tuntutan atas perubahan lokasi dan bentuk kegiatan.”
“Artinya apa?” tanya Deni.
“Artinya bisa saja pelatihan yang dijanjikan berubah. Bisa pindah tempat. Bisa berubah bentuk. Tetapi kalian sudah diminta setuju dari awal.”
“Bukankah itu hanya bahasa biasa dalam formulir?” kata salah satu pemuda.
“Mungkin,” jawab Rantaka. “Tapi bahasa biasa bisa menjadi masalah kalau orang yang menandatangani tidak memahami akibatnya.”
Seno mengambil formulir dari tangan Rantaka.
Ia membaca bagian kecil itu dengan lebih pelan.
Untuk pertama kalinya, harapan di wajahnya bercampur dengan keraguan.
Tidak lama kemudian, Liris datang membawa beberapa buku dari perpustakaan.
Ia melihat Rantaka berdiri bersama para pemuda.
“Ada apa?” tanyanya.
Rantaka menyerahkan formulir itu.
Liris membaca dengan teliti.
Ia tidak langsung berkata apa-apa.
Kemudian ia mengambil pensil dari tasnya dan menggarisbawahi beberapa bagian.
“Ini perlu dijelaskan,” katanya.
Seno menatapnya.
“Apakah kalian mau melarang kami ikut pelatihan?”
“Tidak,” jawab Liris cepat. “Tidak ada yang melarang kalian mencari kesempatan.”
“Lalu kenapa kalian selalu curiga?”
Liris memandang Seno dengan tenang.
“Karena kesempatan yang baik tidak seharusnya takut dijelaskan.”
Kalimat itu membuat Seno terdiam.
Liris melanjutkan, “Kalau perusahaan benar-benar ingin membantu pemuda desa, mereka seharusnya menjelaskan isi formulir dengan bahasa yang mudah dimengerti. Mereka juga seharusnya memberi waktu agar kalian membaca, bertanya, dan berdiskusi sebelum menandatangani.”
Deni mengangguk pelan.
“Aku memang tidak paham bagian ini.”
“Tidak apa-apa kalau tidak paham,” kata Rantaka. “Yang berbahaya adalah menandatangani sesuatu hanya karena takut kehilangan kesempatan.”
Seno menatap kertas itu lagi.
“Aku tidak punya banyak pilihan, Rantaka.”
Rantaka menarik napas.
“Aku mengerti.”
“Tidak, kau tidak mengerti,” kata Seno, suaranya mulai meninggi. “Kau sudah jadi guru. Kau punya pekerjaan tetap. Kau bisa bicara tentang hati-hati dan masa depan. Tapi aku? Aku sudah beberapa kali mencoba mencari kerja di kota. Pulang tanpa uang. Ayahku makin tua. Kebun kami tidak cukup.”
Rantaka tidak membalas dengan marah.
Ia tahu kata-kata Seno lahir dari luka yang nyata.
“Aku memang tidak bisa merasakan semua yang kau rasakan,” jawabnya. “Tapi justru karena itu aku tidak ingin kau dimanfaatkan oleh orang yang tahu kau sedang membutuhkan kerja.”
Seno memandangnya beberapa saat.
Lalu ia mengambil formulirnya.
“Aku tetap akan ikut pelatihan.”
“Silakan,” kata Rantaka.
Seno tampak sedikit terkejut.
“Tapi,” lanjut Rantaka, “jangan tanda tangan hari ini. Bawa formulir itu pulang. Baca. Tanyakan kepada keluargamu. Kalau ada yang tidak jelas, kita bisa membahasnya malam ini di perpustakaan.”
Seno tidak menjawab.
Ia memasukkan formulir ke dalam map plastik.
Kemudian ia berjalan keluar kantor desa.
Deni dan pemuda lain saling pandang.
Satu per satu, mereka juga mengambil formulir mereka.
Tidak ada yang langsung menandatangani.
Sore harinya, kabar tentang formulir itu mulai menyebar.
Ada warga yang mengatakan Rantaka dan teman-temannya sengaja ingin menggagalkan pelatihan.
Ada pula yang merasa para pemuda memang perlu diberi kesempatan membaca isi persetujuan dengan benar.
Pak Darma datang ke rumah Rantaka menjelang magrib.
Wajahnya terlihat tegang.
“Aku dengar kau menyuruh anak-anak tidak ikut pelatihan,” katanya tanpa basa-basi.
Rantaka yang sedang duduk di teras segera berdiri.
“Aku tidak menyuruh mereka tidak ikut, Pak.”
“Lalu kenapa mereka pulang membawa formulir tanpa tanda tangan?”
“Karena mereka belum memahami isinya.”
Pak Darma menghela napas keras.
“Rantaka, kau harus mengerti. Tidak semua orang punya waktu untuk memikirkan setiap kata kecil di atas kertas. Kalau terlalu banyak ragu, kesempatan akan lewat.”
“Kalau kesempatan itu benar, perusahaan tidak akan keberatan memberi waktu untuk memahami formulir.”
“Perusahaan punya aturan.”
“Warga juga punya hak.”
Pak Darma memandangnya tajam.
“Kau selalu bicara soal hak. Tapi bagaimana dengan kewajiban kita untuk mencari hidup yang lebih baik?”
Rantaka tidak segera menjawab.
Ia tahu Pak Darma tidak sedang berbicara tentang dirinya sendiri.
Pak Darma berbicara tentang anak-anaknya yang merantau.
Tentang penghasilan kebun yang tidak menentu.
Tentang rasa malu seorang ayah ketika tidak mampu memberi pekerjaan kepada anaknya.
“Aku tidak menolak hidup yang lebih baik, Pak,” kata Rantaka akhirnya. “Aku hanya tidak ingin warga harus menukar masa depan dengan tanda tangan yang tidak mereka pahami.”
Pak Darma menatapnya lama.
Kemudian ia berkata pelan, “Kadang-kadang, orang miskin tidak punya kemewahan untuk terlalu banyak bertanya.”
Setelah itu, ia pergi.
Kalimatnya tinggal di teras rumah Rantaka seperti beban.
Malam itu, perpustakaan desa kembali dibuka.
Tidak ada pengumuman besar.
Tidak ada spanduk.
Hanya lampu-lampu kecil yang menyala, beberapa kursi plastik, dan sebuah meja panjang.
Di atas meja, Rantaka menaruh salinan formulir pelatihan.
Liris menyiapkan kertas besar bertuliskan:
SEBELUM MENANDATANGANI, APA YANG PERLU KITA TAHU?
Banyu datang membawa buku catatan.
Jagra datang dengan wajah yang masih keras, tetapi ia memilih duduk di belakang agar tidak membuat para pemuda merasa dihakimi.
Satu per satu, para pemuda mulai datang.
Deni datang lebih dulu.
Lalu dua pemuda dari dusun sebelah.
Kemudian Seno datang terakhir.
Ia tidak banyak bicara.
Ia hanya duduk di kursi paling ujung sambil memegang map plastik.
Rantaka memulai pertemuan dengan suara tenang.
“Kita tidak berkumpul untuk memutuskan siapa yang boleh ikut pelatihan dan siapa yang tidak. Kita hanya ingin memahami apa yang tertulis.”
Ia mengangkat formulir.
“Kalau setelah memahami semuanya kalian tetap ingin ikut, itu hak kalian.”
Banyu maju ke depan.
Ia menunjuk bagian tentang penempatan kerja.
“Kalau kalian setuju ditempatkan sesuai kebutuhan perusahaan, kalian harus bertanya: kebutuhan di mana? Berapa lama? Apa tugasnya? Apakah ada upah? Apakah ada perlindungan jika terjadi kecelakaan?”
Liris melanjutkan.
“Kalau ada kalimat tentang kerahasiaan informasi, kalian perlu tahu informasi apa yang dimaksud. Jangan sampai kalian dilarang menyampaikan hal yang sebenarnya perlu diketahui keluarga atau warga.”
Deni mengangkat tangan.
“Kalau kami bertanya terlalu banyak, nanti mereka tidak mau menerima kami.”
“Itu mungkin saja,” jawab Rantaka jujur. “Tetapi kalau sebuah pelatihan hanya menerima orang yang tidak boleh bertanya, kalian perlu berhati-hati.”
Ruangan menjadi hening.
Seno membuka mapnya.
“Aku ingin ikut,” katanya.
Semua orang menoleh kepadanya.
“Aku masih ingin ikut. Aku tidak mau pulang lagi dari kota tanpa hasil. Aku tidak mau terus merasa tertinggal.”
Rantaka mengangguk.
“Itu keinginan yang wajar.”
“Tapi aku ingin tahu satu hal,” lanjut Seno. “Kalau aku ikut pelatihan, apakah aku berarti mengkhianati desa?”
Jagra yang sejak tadi diam akhirnya berdiri.
Wajahnya tidak lagi setegang sebelumnya.
“Tidak,” katanya.
Seno menatapnya.
“Kau tidak mengkhianati desa karena ingin bekerja. Yang penting, jangan sampai kau dipaksa memilih antara pekerjaan dan kebenaran.”
Jagra berjalan mendekat.
“Kalau pelatihannya memang baik, ikutlah. Belajar sebanyak mungkin. Tapi jangan menjual namamu, tanah keluargamu, atau masa depan desa hanya karena kau takut kehilangan kesempatan.”
Seno menunduk.
“Aku tidak tahu caranya membedakan.”
“Kita belajar bersama,” kata Liris.
Kalimat itu membuat suasana sedikit menghangat.
Keesokan harinya, pihak perusahaan kembali datang ke kantor desa untuk mengambil formulir pendaftaran.
Surya Pratama datang bersama Ratih dan seorang staf laki-laki yang membawa tas hitam.
Di meja kantor desa, hanya ada beberapa formulir yang sudah ditandatangani.
Sebagian besar masih kosong.
Surya memandang tumpukan itu.
“Apakah ada kendala?” tanyanya kepada Pak Kades Harun.
Pak Kades mengangguk.
“Warga meminta penjelasan tambahan mengenai beberapa ketentuan.”
Surya tersenyum tipis.
“Ketentuan itu standar, Pak.”
“Mungkin standar bagi perusahaan,” jawab Pak Kades. “Tetapi belum tentu jelas bagi warga.”
Ratih mengambil salah satu formulir.
“Bagian mana yang dipermasalahkan?”
Saat itu, Rantaka, Liris, Banyu, dan beberapa pemuda masuk ke kantor desa.
Seno berada di antara mereka.
Ia membawa formulirnya sendiri.
Rantaka menyerahkan selembar kertas berisi daftar pertanyaan.
Surya membacanya.
Pertanyaan tentang lokasi pelatihan.
Jenis pekerjaan.
Jangka waktu kerja.
Upah.
Perlindungan keselamatan.
Status peserta setelah pelatihan.
Hak peserta untuk menolak penempatan.
Makna kerahasiaan informasi.
Dan jaminan bahwa peserta tidak dipaksa menandatangani dokumen lain di luar pelatihan.
Surya membaca daftar itu cukup lama.
“Ini cukup banyak,” katanya.
“Karena yang akan menandatangani juga banyak,” jawab Liris.
Ratih memandang Seno.
“Kamu salah satu calon peserta?”
Seno mengangguk.
“Kamu ingin ikut pelatihan?”
“Iya.”
“Kalau begitu, kenapa tidak langsung menandatangani?”
Seno menatap formulir di tangannya.
Lalu ia menjawab dengan suara yang tidak terlalu keras, tetapi jelas.
“Karena saya ingin ikut dengan mengerti.”
Untuk sesaat, tidak ada yang berbicara.
Surya menatap Seno.
Kemudian ia menghela napas.
“Baik. Kami akan menjadwalkan penjelasan tambahan sebelum pelatihan dimulai.”
“Penjelasan tertulis juga,” kata Rantaka.
Surya memandangnya.
“Ya. Kami akan menyiapkan penjelasan tertulis.”
Pak Kades Harun mengangguk.
“Setelah itu, warga akan memutuskan sendiri.”
Surya tersenyum lagi.
Namun, senyumnya kali ini tidak lagi setenang ketika ia pertama kali datang.
Ia menyadari bahwa warga Desa Wanasari tidak lagi hanya mendengar.
Mereka mulai membaca.
Mereka mulai mencatat.
Mereka mulai bertanya.
Dan pertanyaan-pertanyaan itu tidak mudah dijawab dengan brosur, gambar jalan, atau janji pekerjaan.
Setelah pihak perusahaan pergi, Seno berdiri di depan kantor desa.
Ia masih memegang formulirnya.
Deni menghampirinya.
“Jadi kau tetap ikut?”
Seno mengangguk.
“Kalau penjelasannya jelas, aku ikut.”
“Kalau tidak jelas?”
Seno memandang jalan tanah yang menuju ke arah bukit.
“Aku belum tahu.”
Rantaka berdiri tidak jauh dari mereka.
Ia tidak ingin memaksa Seno membuat keputusan.
Karena perjuangan seorang pemuda tidak selalu sesederhana memilih benar atau salah.
Kadang-kadang, seseorang harus memilih di antara dua jalan yang sama-sama penuh risiko.
Namun, Rantaka melihat sesuatu yang berbeda pada diri Seno hari itu.
Bukan keberanian besar.
Bukan keyakinan penuh.
Melainkan keberanian kecil untuk tidak langsung menandatangani sesuatu yang belum ia pahami.
Dan di desa yang selama ini terlalu sering diminta percaya tanpa penjelasan, keberanian kecil itu dapat menjadi awal perubahan yang besar.
Di atas papan pengumuman kantor desa, kertas pendaftaran pelatihan masih bergoyang tertiup angin.
Kata-kata di sana masih sama.
Kesempatan kerja. Pelatihan keterampilan. Prioritas tenaga kerja proyek.
Namun, bagi pemuda Desa Wanasari, kata-kata itu kini tidak lagi hanya berarti harapan.
Kata-kata itu juga berarti pertanyaan.
Dan mereka mulai belajar bahwa masa depan tidak boleh dibangun dengan tanda tangan yang lahir dari ketidaktahuan.
BAB 10 - SURAT DARI KOTA UNTUK LIRIS
Pagi itu, Liris sedang membuka jendela perpustakaan desa ketika seorang petugas pos datang membawa sebuah amplop cokelat.
Amplop itu tidak besar.
Namun, warnanya berbeda dari surat-surat biasa yang sering datang ke Desa Wanasari.
Di sudut kiri atas, tertulis nama sebuah lembaga yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Rumah Kata Nusantara
Kota Arunika
Di bawahnya tercetak lambang kecil berbentuk buku terbuka.
Petugas pos menyerahkan amplop itu kepada Liris.
“Surat untuk Liris Wulandari?” tanyanya.
Liris mengangguk.
“Iya, Pak.”
“Dari kota. Tanda tangani di sini.”
Tangannya sedikit gemetar saat memegang pulpen.
Bukan karena ia takut.
Melainkan karena ada sesuatu dalam dirinya yang merasa bahwa amplop itu membawa kabar yang tidak biasa.
Setelah petugas pos pergi, Liris duduk di meja perpustakaan.
Ia memandangi namanya yang tertulis rapi di depan amplop.
Kepada Yth. Saudari Liris Wulandari
Desa Wanasari
Nama itu terlihat sederhana.
Namun, di dalam hati Liris, namanya tiba-tiba terasa seperti sedang dipanggil oleh dunia yang lebih jauh.
Ia membuka amplop itu perlahan.
Di dalamnya terdapat dua lembar surat dan sebuah brosur berwarna biru muda.
Surat pertama berisi pemberitahuan bahwa salah satu puisinya yang berjudul Sungai yang Menyimpan Nama-Nama telah dibaca oleh tim Rumah Kata Nusantara melalui majalah literasi daerah.
Surat kedua berisi tawaran yang membuat Liris tidak segera mampu bernapas lega.
Ia dinyatakan terpilih untuk mengikuti Program Kepenulisan Muda Nusantara selama tiga bulan di Kota Arunika.
Program itu menyediakan pelatihan menulis, pendampingan dari penulis dan editor, tempat tinggal sederhana, serta uang saku terbatas.
Namun, peserta harus tinggal di kota selama program berlangsung.
Liris membaca surat itu berulang kali.
Tiga bulan.
Tinggal di kota.
Belajar bersama penulis lain.
Mendapat kesempatan menerbitkan kumpulan tulisan terbaik peserta.
Semua itu adalah sesuatu yang selama ini hanya ia tulis dalam buku catatan.
Sesuatu yang terasa terlalu jauh untuk diraih oleh seorang gadis dari Desa Wanasari.
Ia menutup surat itu.
Kemudian membukanya lagi.
Seolah-olah ia takut isi surat tersebut berubah jika terlalu lama tidak dibaca.
Namun, di antara rasa bahagia yang mulai tumbuh, muncul pula rasa berat yang perlahan menekan dadanya.
Tiga bulan berarti meninggalkan perpustakaan.
Meninggalkan Gerobak Buku Langit Biru.
Meninggalkan anak-anak yang setiap sore datang untuk membaca.
Meninggalkan ibunya yang akhir-akhir ini sering kelelahan.
Dan meninggalkan Rantaka.
Menjelang siang, Rantaka datang ke perpustakaan membawa beberapa buku pelajaran bekas dari sekolah.
Ia melihat Liris duduk diam di meja.
Biasanya, Liris akan menyambutnya dengan senyum atau langsung bercerita tentang buku baru yang dipinjam anak-anak.
Namun hari itu, wajahnya tampak seperti seseorang yang baru saja menerima kabar besar, tetapi belum tahu harus merasa bahagia atau takut.
“Ada apa?” tanya Rantaka.
Liris mengangkat surat itu.
“Aku mendapat surat dari kota.”
Rantaka mengambilnya.
Ia membaca perlahan.
Ketika sampai pada bagian tentang Program Kepenulisan Muda Nusantara, ia tersenyum.
“Liris, ini luar biasa.”
“Benarkah?”
“Tentu. Puisimu dibaca orang. Mereka mengundangmu belajar menulis.”
Liris menunduk.
“Tapi aku harus pergi tiga bulan.”
Rantaka duduk di kursi di depannya.
“Kalau itu kesempatanmu, kau harus mempertimbangkannya dengan sungguh-sungguh.”
“Mempertimbangkan bukan berarti mudah.”
“Aku tahu.”
Liris menatapnya.
“Kau tahu?”
Rantaka terdiam sesaat.
Ia teringat ketika dulu ia meninggalkan Desa Wanasari untuk sekolah di kota. Ia ingat betapa sulitnya mengucapkan selamat tinggal kepada teman-temannya. Ia ingat surat-surat yang terlambat, telepon umum yang terputus, dan kesepian yang membuatnya hampir menyerah.
“Aku tahu rasanya pergi,” katanya akhirnya. “Kadang kita ingin mengejar mimpi, tetapi takut orang-orang yang kita sayangi merasa kita meninggalkan mereka.”
Liris menggenggam surat itu.
“Aku takut perpustakaan ini kembali sepi.”
“Kita bisa mengaturnya bersama.”
“Aku takut ibu sendirian.”
“Kita bisa mencari cara.”
“Aku takut...” Liris berhenti.
Rantaka menunggu.
Liris menatapnya.
“Aku takut jarak membuat semuanya berubah.”
Kalimat itu membuat Rantaka tidak segera mampu menjawab.
Di luar perpustakaan, angin menggerakkan daun-daun pohon beringin tua. Cahaya matahari masuk melalui jendela dan jatuh di atas buku-buku yang tersusun rapi.
Rantaka ingin mengatakan bahwa tidak ada yang akan berubah.
Ia ingin berjanji bahwa ia akan selalu menunggu.
Namun, ia tahu janji seperti itu mudah diucapkan ketika seseorang belum benar-benar diuji oleh waktu dan keadaan.
“Aku tidak bisa menjanjikan bahwa semuanya akan selalu sama,” katanya pelan. “Tapi aku bisa berjanji bahwa aku tidak akan meminta kau berhenti mengejar mimpimu hanya karena aku takut kehilanganmu.”
Liris menatapnya cukup lama.
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Kenapa kau selalu membuat keputusan sulit terdengar sederhana?”
“Karena aku juga sedang belajar.”
Liris tersenyum kecil.
Untuk beberapa saat, mereka hanya duduk diam.
Di antara mereka, surat dari kota itu tergeletak seperti sebuah jalan yang baru terbuka.
Jalan yang indah.
Jalan yang menakutkan.
Jalan yang mungkin akan membawa Liris jauh dari desa, tetapi juga lebih dekat kepada dirinya sendiri.
Sore hari, Liris membawa surat itu pulang.
Ibunya sedang menyiangi sayur di dapur.
Rumah mereka sederhana, berdinding papan, dengan halaman kecil yang ditumbuhi beberapa pohon pisang. Di sudut rumah, terdapat jemuran pakaian yang bergerak pelan tertiup angin.
“Ibu,” panggil Liris.
Ibunya menoleh.
“Kau pulang cepat?”
“Aku mendapat surat.”
Liris menyerahkan amplop itu.
Ibunya membaca perlahan.
Ia tidak terbiasa membaca surat panjang, tetapi ia berusaha memahami setiap kalimat.
Ketika sampai pada bagian bahwa Liris harus tinggal di Kota Arunika selama tiga bulan, tangan ibunya berhenti.
“Kota Arunika?” tanyanya.
“Iya.”
“Jauh?”
“Tidak terlalu jauh kalau naik bus. Tapi tetap harus menginap di sana.”
Ibunya meletakkan surat itu di meja.
Wajahnya tampak campur aduk.
“Apa semua biaya ditanggung?”
“Tempat tinggal dan pelatihan ditanggung. Ada uang saku, tapi tidak besar.”
“Kalau kau sakit di sana?”
“Ada pendamping program, Bu.”
“Kalau uang sakumu tidak cukup?”
“Aku bisa hemat.”
Ibunya menghela napas.
Liris tahu ibunya bukan tidak bangga.
Ia bisa melihat kebanggaan itu dari cara ibunya kembali membaca nama Liris di surat tersebut.
Namun, kebanggaan seorang ibu sering berjalan bersama rasa takut.
Terutama ketika anak perempuan satu-satunya harus pergi ke kota.
“Ayahmu dulu selalu bilang,” kata ibunya pelan, “kalau kau punya kesempatan belajar, jangan lepaskan.”
Liris menunduk.
“Aku ingin ikut, Bu.”
Ibunya memegang tangan Liris.
“Tapi kau juga harus tahu, pergi itu tidak mudah.”
“Aku tahu.”
“Dan pulang nanti mungkin tidak akan sama.”
Liris menatap wajah ibunya.
“Maksud Ibu?”
“Orang yang pergi belajar akan membawa cara pandang baru. Kadang orang di kampung tidak mudah menerima perubahan.”
Liris terdiam.
Ia teringat percakapan warga tentang perusahaan. Ia teringat perpustakaan yang mulai ramai oleh diskusi. Ia teringat bagaimana beberapa orang sudah menganggap dirinya dan Rantaka terlalu banyak bertanya.
“Kalau aku pergi, siapa yang membantu perpustakaan?” tanyanya.
Ibunya tersenyum tipis.
“Kalau perpustakaan hanya hidup karena satu orang, berarti yang harus dibangun bukan hanya perpustakaannya, tetapi orang-orang yang menjaganya.”
Kalimat itu tinggal di hati Liris.
Malam hari, Liris bertemu Banyu dan Jagra di perpustakaan.
Rantaka juga datang setelah selesai mengajar les untuk beberapa anak.
Liris meletakkan surat dari Rumah Kata Nusantara di atas meja.
“Aku ingin kalian membaca ini,” katanya.
Banyu membaca lebih dulu.
Wajahnya langsung berubah cerah.
“Liris, ini kesempatan besar.”
Jagra mengambil surat itu setelahnya.
Ia membaca dengan lebih lambat.
“Tiga bulan di kota?”
Liris mengangguk.
“Kalau aku ikut, aku harus berangkat akhir bulan.”
Jagra duduk diam.
Banyu menatapnya.
“Kenapa?”
“Tidak apa-apa,” jawab Jagra.
Namun, semua orang tahu ada sesuatu yang ia pikirkan.
Akhirnya, Jagra berkata, “Kalau Liris pergi, perpustakaan bagaimana? Gerobak Buku bagaimana? Sekarang saja kita sedang menghadapi masalah perusahaan. Anak-anak masih butuh tempat belajar. Warga juga mulai sering datang untuk bertanya tentang surat dan formulir.”
“Aku bisa tetap menulis dari kota,” kata Liris.
“Menulis dari kota tidak sama dengan ada di sini,” jawab Jagra.
Nada suaranya tidak keras, tetapi cukup untuk membuat ruangan hening.
Liris menunduk.
“Aku tahu.”
Banyu mencoba menenangkan suasana.
“Kita bisa membagi tugas.”
“Dengan siapa?” tanya Jagra. “Rantaka sibuk mengajar. Banyu sibuk dengan alat pengatur air. Aku sibuk di kolam. Sekarang Liris pergi juga.”
“Aku belum memutuskan pergi,” kata Liris pelan.
Jagra menatapnya.
“Kalau kau tidak pergi, nanti kau akan menyesal.”
“Kalau aku pergi, aku takut kalian merasa aku meninggalkan semuanya.”
Rantaka berdiri.
“Kita jangan membuat Liris merasa harus memilih antara mimpi dan desa.”
Jagra menoleh kepadanya.
“Aku tidak membuatnya memilih. Aku hanya bicara kenyataan.”
“Kenataan juga bukan alasan untuk mematikan mimpi seseorang.”
“Aku tidak mematikan mimpinya.”
“Tapi kau membuatnya merasa bersalah karena mendapat kesempatan.”
Jagra mengepalkan tangan.
“Aku hanya tidak ingin Langit Biru kembali berjalan pincang.”
Kalimat itu membuat semua orang terdiam.
Mereka tahu Jagra tidak sedang marah kepada Liris.
Ia marah kepada keadaan.
Ia marah karena satu per satu sahabatnya pernah pergi.
Rantaka pernah pergi ke kota.
Liris mungkin akan pergi.
Banyu sering tenggelam dalam pekerjaannya.
Sementara Jagra tetap tinggal di desa, menjaga kolam, menjaga gerobak buku, dan menjaga banyak hal yang tidak selalu terlihat oleh orang lain.
Liris mendekati Jagra.
“Aku tidak ingin meninggalkan Langit Biru,” katanya.
Jagra menatapnya.
“Lalu?”
“Aku ingin pergi untuk belajar agar ketika pulang, aku bisa membawa lebih banyak cahaya.”
Wajah Jagra perlahan melunak.
Ia mengalihkan pandangan ke rak buku.
“Aku hanya takut kita kembali jauh.”
Liris tersenyum tipis.
“Kita pernah jauh. Tapi kita masih di sini.”
Beberapa hari berikutnya, kabar tentang surat dari kota itu menyebar ke seluruh Desa Wanasari.
Ada warga yang bangga.
Ada yang berkata Liris pantas mendapat kesempatan itu karena sejak kecil ia rajin membaca dan menulis.
Namun, ada pula yang berbicara dengan nada lain.
“Untuk apa perempuan pergi jauh-jauh hanya untuk menulis?”
“Menulis tidak membuat dapur mengepul.”
“Lebih baik membantu orang tua daripada mengejar mimpi yang belum tentu.”
Ucapan-ucapan itu sampai ke telinga Liris.
Ia berusaha tidak memikirkannya.
Tetapi setiap kali mendengar kalimat seperti itu, ia merasa langkahnya menuju kota menjadi lebih berat.
Suatu sore, ketika ia sedang menyusun buku di perpustakaan, Bu Marni datang membawa beberapa pisang rebus.
“Aku dengar kau dapat undangan dari kota,” katanya.
Liris tersenyum kecil.
“Iya, Bu.”
“Kau mau pergi?”
“Aku masih memikirkan.”
Bu Marni duduk di dekatnya.
“Dulu aku juga pernah punya keinginan sekolah lebih jauh,” katanya tiba-tiba.
Liris menoleh.
“Tapi kakekmu tidak mengizinkan?”
Bu Marni mengangguk.
“Bukan karena beliau jahat. Beliau takut. Takut anak perempuan pergi jauh. Takut tidak punya uang. Takut orang kampung bicara macam-macam.”
“Lalu Ibu menyesal?”
Bu Marni tersenyum, tetapi ada kesedihan di wajahnya.
“Kadang-kadang.”
Liris terdiam.
Bu Marni menggenggam tangan Liris.
“Kalau kau pergi, jangan pergi karena ingin menjadi orang lain. Pergilah supaya kau bisa menjadi dirimu sendiri.”
Liris merasakan tenggorokannya menghangat.
“Terima kasih, Bu.”
Pada malam terakhir sebelum batas waktu jawaban, Liris duduk sendirian di bawah pohon beringin.
Langit Desa Wanasari tampak bersih setelah hujan sore.
Bintang-bintang muncul satu per satu.
Dari kejauhan, terdengar suara katak dari arah kolam.
Rantaka datang membawa dua gelas teh hangat.
Ia duduk di samping Liris tanpa banyak bicara.
“Besok batas terakhir,” kata Liris.
Rantaka mengangguk.
“Apa kau sudah memutuskan?”
Liris memandangi surat yang ada di pangkuannya.
“Aku ingin pergi.”
Rantaka tersenyum.
“Aku senang mendengarnya.”
“Tapi aku takut.”
“Itu wajar.”
“Aku takut ibu sendirian. Aku takut perpustakaan terbengkalai. Aku takut Jagra benar, bahwa Langit Biru akan kehilangan arah. Aku takut orang-orang menganggap aku hanya mengejar mimpi sendiri.”
Rantaka menatapnya.
“Liris, desa ini tidak akan menjadi kuat kalau semua anak mudanya harus mengubur mimpi agar tetap tinggal.”
Liris mengangkat wajah.
“Lalu bagaimana kalau aku pulang dan semuanya sudah berubah?”
“Semua memang akan berubah,” jawab Rantaka. “Tapi perubahan tidak selalu berarti kehilangan.”
Ia menunjuk langit.
“Lihat langit itu. Dari desa ini, langit terlihat dekat. Dari kota, mungkin akan terlihat berbeda. Tapi tetap langit yang sama.”
Liris tersenyum pelan.
“Kau selalu punya cara untuk membuatku berani.”
“Bukan aku yang membuatmu berani,” kata Rantaka. “Kau sudah berani sejak awal. Aku hanya mengingatkan.”
Liris menatapnya lama.
Di antara mereka, ada banyak kata yang tidak diucapkan.
Tentang rindu.
Tentang takut kehilangan.
Tentang masa depan yang belum mereka pahami.
Akhirnya, Liris berkata, “Kalau aku pergi, kau jangan terlalu sibuk sampai lupa menulis surat.”
Rantaka tertawa kecil.
“Aku akan menulis.”
“Jangan hanya satu paragraf.”
“Aku akan menulis panjang.”
“Dan jangan bilang semuanya baik-baik saja kalau sebenarnya tidak.”
Rantaka mengangguk.
“Kau juga.”
Liris menggenggam surat dari kota itu.
Lalu, untuk pertama kalinya sejak surat itu datang, ia merasa keputusannya tidak lagi hanya menakutkan.
Keputusan itu masih berat.
Masih penuh risiko.
Masih akan membawa jarak.
Namun, di dalamnya ada cahaya.
Cahaya yang mungkin akan membawanya pergi dari Desa Wanasari untuk sementara waktu.
Agar suatu hari nanti, ia dapat pulang dengan kata-kata yang lebih kuat, cerita yang lebih luas, dan keberanian yang dapat dibagikan kepada anak-anak desa.
Di bawah pohon beringin tua, Rantaka dan Liris duduk sampai malam semakin larut.
Tidak ada janji besar.
Tidak ada kata-kata yang terlalu indah.
Hanya dua anak desa yang sedang belajar bahwa mencintai seseorang kadang berarti memberi mereka ruang untuk tumbuh.
Dan bahwa jarak, meski menyakitkan, tidak selalu harus menjadi akhir dari sebuah perjalanan.
BAB 11 - TANDA TANGAN DI ATAS KERTAS PUTIH
Pagi itu, kabut masih menggantung rendah di atas Desa Wanasari.
Dari halaman sekolah, Rantaka dapat melihat pohon beringin tua berdiri di kejauhan. Pohon itu masih sama seperti bertahun-tahun lalu, ketika ia, Liris, Banyu, dan Jagra sering duduk di bawahnya sambil membicarakan mimpi-mimpi kecil mereka.
Dulu, mereka hanya ingin memiliki lebih banyak buku.
Mereka ingin anak-anak desa tidak perlu berjalan jauh untuk meminjam bacaan.
Mereka ingin Gerobak Buku Langit Biru tidak berhenti di tengah jalan.
Kini, setelah mereka tumbuh dewasa, persoalan yang mereka hadapi jauh lebih besar daripada kekurangan buku.
Ada perusahaan.
Ada rencana pembukaan lahan.
Ada sungai yang mulai keruh.
Ada pemuda yang membutuhkan pekerjaan.
Ada warga yang ingin bertahan, tetapi juga takut tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup.
Dan di antara semua persoalan itu, ada kertas-kertas putih yang mulai beredar dari rumah ke rumah.
Kertas yang tampak sederhana.
Kertas yang hanya memerlukan nama dan tanda tangan.
Namun, Rantaka tahu bahwa sebuah tanda tangan dapat mengubah masa depan seseorang.
Bahkan masa depan sebuah desa.
Saat jam istirahat, Bu Laras datang ke ruang guru sambil membawa sebuah map cokelat.
Wajahnya tampak cemas.
“Rantaka,” katanya pelan, “aku perlu bicara.”
Rantaka segera mempersilakan Bu Laras duduk.
“Ada apa, Bu?”
Bu Laras membuka map itu.
Di dalamnya terdapat selembar kertas putih dengan kop sederhana PT. Bumi Raya Makmur.
Tidak ada gambar besar.
Tidak ada penjelasan panjang.
Hanya beberapa paragraf singkat.
Di bagian atas tertulis:
SURAT PERNYATAAN KESEDIAAN MENDUKUNG PENGEMBANGAN KAWASAN USAHA DESA WANASARI
Rantaka membaca isi surat itu perlahan.
Surat tersebut menyatakan bahwa warga yang menandatangani mendukung kegiatan perusahaan dalam melakukan pengembangan kawasan usaha, pembangunan akses jalan, pendataan lahan, serta kegiatan lain yang dianggap perlu untuk mendukung program investasi.
Di bagian bawah terdapat kalimat yang membuat dada Rantaka terasa berat.
Penandatangan menyatakan bersedia mendukung dan tidak mengajukan keberatan terhadap kegiatan yang dilakukan sepanjang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
“Dari mana Ibu mendapat ini?” tanya Rantaka.
“Pagi tadi, seorang warga datang ke sekolah,” jawab Bu Laras. “Ia bilang ada orang yang meminta tanda tangan dari rumah ke rumah. Katanya hanya untuk membuktikan bahwa warga mendukung adanya lapangan kerja.”
“Siapa warga itu?”
“Bu Rukayah.”
“Apakah beliau sudah menandatangani?”
Bu Laras menggeleng.
“Beliau membawa kertas ini karena tidak paham. Ia takut kalau tidak tanda tangan, anaknya tidak bisa ikut pelatihan kerja.”
Rantaka menatap surat itu lagi.
Tidak ada kalimat yang secara terang-terangan menyebut penjualan tanah.
Tidak ada pernyataan tentang pengalihan hak.
Namun, surat itu bisa digunakan sebagai bukti bahwa warga mendukung rencana perusahaan.
Dan jika nanti terjadi masalah, warga yang menandatangani mungkin akan dianggap telah setuju sejak awal.
“Apakah ada nama warga lain?” tanya Rantaka.
Bu Laras menyerahkan halaman kedua.
Di sana sudah ada beberapa tanda tangan.
Sebagian nama ditulis jelas.
Sebagian hanya berupa coretan.
Ada tanda tangan orang-orang yang Rantaka kenal.
Pak Roni.
Bu Marni.
Deni.
Dua orang pemuda dari dusun seberang.
Dan satu nama yang membuat Rantaka terdiam lebih lama.
Seno.
Sepulang sekolah, Rantaka langsung menuju rumah Jagra.
Ia menemukan sahabatnya sedang memberi makan ikan di kolam.
Air kolam tampak sedikit lebih baik dibanding beberapa minggu sebelumnya, tetapi warnanya masih belum benar-benar jernih.
Jagra menoleh ketika Rantaka datang.
“Kenapa wajahmu seperti orang kehilangan buku rapor?” tanyanya.
Rantaka menyerahkan salinan surat.
Jagra membaca dengan cepat.
Wajahnya langsung mengeras.
“Siapa yang membawa ini?”
“Belum jelas. Tapi beberapa warga sudah tanda tangan.”
Jagra membalik halaman kedua.
Ketika melihat nama Seno, tangannya berhenti.
“Dia juga?”
“Ya.”
Jagra menghembuskan napas panjang.
“Dia tahu tidak isi surat ini?”
“Itu yang harus kita tanyakan.”
Jagra meremas kertas itu.
“Kalau warga sudah menandatangani dukungan, nanti perusahaan akan bilang desa ini sudah setuju.”
“Karena itu kita tidak boleh langsung menuduh,” kata Rantaka. “Kita harus tahu bagaimana surat ini dibagikan, siapa yang menjelaskan, dan apa yang dijanjikan.”
Jagra menatap kolam.
“Aku sudah bisa menebak jawabannya. Mereka menjanjikan kerja.”
“Dan bagi banyak orang, janji kerja bukan hal kecil.”
“Aku tahu,” jawab Jagra, kali ini lebih pelan. “Aku juga tahu rasanya melihat ayah menghitung hasil kolam yang tidak cukup untuk membeli pakan bulan depan.”
Rantaka tidak berkata apa-apa.
Mereka sama-sama memahami bahwa konflik di Desa Wanasari tidak sesederhana warga baik melawan perusahaan jahat.
Ada kebutuhan yang nyata.
Ada keluarga yang harus makan.
Ada pemuda yang ingin bekerja.
Ada orang tua yang ingin anak-anaknya memiliki masa depan.
Namun, kebutuhan itu tidak seharusnya membuat warga kehilangan hak untuk memahami apa yang mereka setujui.
Sore hari, Rantaka, Jagra, Banyu, dan Liris bertemu di perpustakaan desa.
Di dinding, masih tergantung papan kayu bertuliskan:
LANGIT BIRU: MIMPI ANAK DESA TIDAK PERNAH TERLALU TINGGI.
Tulisan itu dibuat ketika mereka masih remaja.
Catnya mulai memudar.
Namun, kalimat itu tetap terasa hidup.
Liris datang membawa beberapa lembar kertas yang baru ia cetak.
“Aku sudah membuat ringkasan sederhana,” katanya.
Di atas kertas tertulis:
SEBELUM MENANDATANGANI SURAT APA PUN, TANYAKAN:
- Surat ini untuk tujuan apa?
- Apakah surat ini berkaitan dengan tanah, jalan, sungai, atau pekerjaan?
- Apakah ada janji kerja, uang, atau bantuan di balik tanda tangan?
- Apakah warga boleh menolak tanpa kehilangan haknya?
- Apakah warga boleh membawa surat pulang untuk dibaca bersama keluarga?
- Apakah ada penjelasan tertulis dari pemerintah desa dan pihak perusahaan?
Banyu membaca lembar itu.
“Bagus. Bahasanya mudah dipahami.”
“Kita tempel di perpustakaan, sekolah, warung, dan dekat kantor desa,” kata Liris.
Jagra mengangguk.
“Lalu kita cari tahu siapa yang menyebarkan surat putih itu.”
Rantaka memandang ketiga sahabatnya.
Di ruangan itu, ia seperti melihat kembali masa lalu.
Dulu, mereka berkumpul untuk membicarakan cara memperbaiki roda gerobak buku.
Mereka pernah berdebat tentang buku mana yang harus dipinjamkan lebih dulu.
Mereka pernah berselisih karena kelelahan, karena rasa iri, karena ketakutan ditinggalkan.
Mereka juga pernah hampir berpisah ketika Rantaka pergi ke kota, ketika Liris mendapat kesempatan menulis, ketika Banyu sibuk bekerja, dan ketika Jagra merasa harus menanggung semua beban desa sendirian.
Namun, setiap kali keadaan menjadi sulit, mereka selalu kembali ke satu tempat.
Ke meja sederhana.
Ke buku-buku lama.
Ke keyakinan bahwa anak-anak desa pantas memiliki masa depan.
“Kita jangan hanya mencari siapa yang salah,” kata Rantaka. “Kita juga harus membantu warga memahami.”
Liris mengangguk.
“Kalau kita datang dengan marah, mereka akan merasa kita menganggap mereka bodoh.”
“Padahal mereka hanya takut,” kata Banyu.
“Takut kehilangan pekerjaan,” tambah Jagra.
“Takut tidak punya uang,” kata Liris.
“Takut masa depan anak-anak mereka lebih buruk,” ujar Rantaka.
Mereka terdiam.
Di luar perpustakaan, beberapa anak kecil mulai berdatangan untuk membaca.
Salah seorang anak bernama Dita membawa buku cerita yang sampulnya sudah lepas.
“Kak Liris,” katanya, “hari ini jadi membaca cerita?”
Liris tersenyum.
“Jadi.”
Anak-anak duduk di lantai.
Liris mengambil sebuah buku tentang seorang anak yang berusaha menyelamatkan kebun keluarganya dari kekeringan. Ia membacakan cerita itu dengan suara lembut.
Rantaka memperhatikan wajah anak-anak yang mendengarkan.
Mereka belum memahami apa itu investasi.
Mereka belum tahu arti surat dukungan.
Mereka belum mengerti bagaimana tanda tangan orang dewasa bisa memengaruhi tanah, sungai, dan sekolah mereka.
Namun, mereka adalah alasan mengapa semua perjuangan itu harus dilakukan.
Menjelang malam, Banyu dan Jagra pergi mencari Seno.
Mereka menemukannya di warung kecil dekat jalan menuju bukit.
Seno duduk sendirian sambil memegang gelas kopi.
Ketika melihat mereka datang, wajahnya langsung berubah.
“Ada apa?” tanyanya.
Banyu duduk di kursi sebelahnya.
“Kami ingin bertanya tentang surat yang kau tanda tangani.”
Seno mengalihkan pandangan.
“Surat dukungan itu?”
“Kau sudah membacanya?” tanya Jagra.
Seno mengangguk pelan.
“Sedikit.”
“Apakah mereka menjelaskan semua isinya?”
“Mereka bilang itu hanya tanda dukungan agar pelatihan kerja bisa berjalan.”
“Siapa yang bilang?”
“Pak Hendra.”
“Orang perusahaan?”
“Katanya dia perwakilan lapangan.”
Jagra menahan emosi.
“Dan kau langsung tanda tangan?”
Seno menatapnya.
“Dia bilang kalau warga tidak mendukung, program pelatihan bisa dialihkan ke desa lain.”
“Jadi kau takut kehilangan kesempatan,” kata Banyu.
Seno tertawa pahit.
“Ya. Aku takut.”
Jagra hendak membalas, tetapi Banyu mengangkat tangan kecil, meminta sahabatnya menahan diri.
Seno melanjutkan, “Kalian selalu bilang warga harus berhati-hati. Tapi orang seperti aku tidak punya banyak waktu untuk berhati-hati. Kalau kesempatan datang, aku harus cepat mengambilnya.”
“Kesempatan tidak seharusnya datang sambil mengancam,” kata Banyu.
Seno menatapnya.
“Kalau aku tidak tanda tangan, apakah kau bisa menjamin aku dapat pekerjaan?”
Banyu tidak menjawab.
Ia tidak bisa.
Tidak ada seorang pun di antara mereka yang bisa menjamin pekerjaan bagi seluruh pemuda desa.
Itulah kekuatan terbesar dari janji perusahaan.
Mereka datang ketika warga sedang membutuhkan.
Mereka menawarkan jalan keluar ketika banyak orang sudah lelah menunggu.
Dan mereka meminta tanda tangan sebelum warga sempat memahami arah jalan itu.
Jagra akhirnya berkata pelan, “Kami tidak menyalahkanmu, Seno.”
Seno tampak terkejut.
“Aku sudah tanda tangan.”
“Kau bisa meminta salinan,” kata Banyu. “Kau bisa bertanya apa akibatnya. Kau juga bisa bilang bahwa kau ingin memahami lebih dulu.”
“Kalau mereka marah?”
“Kalau mereka marah karena kau bertanya,” jawab Jagra, “berarti sejak awal mereka tidak datang untuk menghargai kita.”
Seno menunduk.
Tangannya menggenggam gelas kopi lebih erat.
“Aku hanya ingin hidupku berubah,” katanya.
Banyu menatapnya dengan tenang.
“Kami juga.”
Keesokan harinya, Liris dan Rantaka mendatangi rumah Bu Marni.
Bu Marni sedang menumbuk bumbu di dapur.
Ketika melihat mereka, ia tersenyum.
“Kalian datang membawa buku lagi?”
“Kali ini kami datang membawa pertanyaan, Bu,” jawab Liris.
Liris menunjukkan salinan surat putih itu.
Bu Marni langsung mengenalinya.
“Oh, surat itu.”
“Ibu sudah tanda tangan?” tanya Rantaka.
Bu Marni mengangguk.
“Mereka bilang itu hanya dukungan supaya anak-anak muda dapat pelatihan kerja.”
“Apakah mereka menjelaskan bahwa surat itu juga berkaitan dengan pengembangan kawasan usaha dan pembangunan akses jalan?” tanya Liris.
Bu Marni tampak bingung.
“Tidak. Mereka hanya bilang tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
“Apakah Ibu diberi salinan?”
“Tidak.”
Rantaka menatap Liris.
Keduanya memahami bahwa banyak warga mungkin mengalami hal yang sama.
Mereka diminta tanda tangan, tetapi tidak diberi waktu untuk membaca.
Mereka tidak menerima salinan.
Mereka tidak tahu bahwa nama mereka akan masuk dalam daftar dukungan terhadap rencana yang lebih besar.
Bu Marni memandang surat itu lagi.
“Apakah aku salah sudah tanda tangan?” tanyanya.
Pertanyaan itu membuat Liris terdiam.
Ia tidak ingin Bu Marni merasa dipermalukan.
“Ibu tidak salah karena ingin anak-anak muda punya pekerjaan,” kata Liris akhirnya. “Tapi Ibu berhak tahu apa yang Ibu tanda tangani.”
Bu Marni menarik napas panjang.
“Kalau begitu, aku ingin meminta salinan suratku.”
“Kami akan membantu,” kata Rantaka.
Siang hari, sebuah kabar baru membuat suasana desa semakin tegang.
Pak Hendra, perwakilan lapangan perusahaan, datang ke rumah Pak Darma bersama dua orang lain.
Mereka membawa map, beberapa lembar formulir, dan sebuah daftar nama warga.
Kabar itu cepat sampai ke perpustakaan.
Jagra ingin langsung mendatangi rumah Pak Darma.
Namun, Rantaka menahannya.
“Kita jangan datang untuk membuat keributan.”
“Kalau kita diam, mereka akan mengumpulkan tanda tangan lagi.”
“Kita datang. Tapi kita datang untuk bertanya.”
Akhirnya, mereka berjalan bersama menuju rumah Pak Darma.
Di halaman rumah itu, sudah ada beberapa warga.
Pak Hendra berdiri sambil menjelaskan sesuatu.
“Kami hanya ingin memastikan bahwa masyarakat mendukung program pembangunan,” katanya. “Tidak ada paksaan. Semua sukarela.”
“Kalau sukarela, kenapa warga tidak diberi salinan surat?” tanya Liris.
Semua orang menoleh.
Pak Hendra tersenyum tipis.
“Salinan bisa diberikan jika diperlukan.”
“Banyak warga tidak tahu bahwa mereka boleh meminta,” kata Liris.
Pak Hendra memandangnya.
“Saudari Liris, kami sudah menjelaskan secara umum.”
“Secara umum tidak cukup kalau warga diminta menandatangani dokumen,” jawab Liris.
Rantaka maju satu langkah.
“Kami juga ingin tahu apakah surat dukungan ini berkaitan dengan rencana pembukaan akses jalan, pendataan lahan, dan pengembangan kawasan di sekitar bukit.”
Pak Hendra mengangguk.
“Surat itu mendukung proses pembangunan secara umum.”
“Artinya berkaitan?” tanya Rantaka.
Pak Hendra tidak segera menjawab.
“Pembangunan tentu memiliki banyak tahapan.”
“Dan warga berhak tahu tahapan apa yang mereka dukung,” kata Rantaka.
Suasana halaman rumah Pak Darma mulai berubah.
Beberapa warga yang sebelumnya hanya mendengar kini mulai saling berbisik.
Bu Marni berdiri di belakang kerumunan.
Ia mengangkat tangan.
“Saya sudah tanda tangan,” katanya. “Tapi saya tidak dapat salinan. Saya ingin melihat lagi surat yang saya tanda tangani.”
Pak Hendra menatap Bu Marni.
“Tentu bisa, Bu.”
“Sekarang,” kata Bu Marni.
Suasana menjadi hening.
Pak Hendra membuka mapnya.
Ia mencari beberapa lembar kertas.
Namun, setelah beberapa saat, ia berkata, “Dokumen yang sudah dikumpulkan ada di kantor lapangan.”
“Kalau begitu, kapan bisa kami lihat?” tanya Bu Marni.
“Dalam waktu dekat.”
“Besok?” tanya Jagra.
Pak Hendra tampak tidak nyaman.
“Kami akan atur jadwalnya.”
Rantaka memandang warga.
“Bapak dan Ibu, tidak ada yang salah dengan meminta penjelasan. Tidak ada yang salah dengan meminta salinan. Tidak ada yang salah dengan membawa surat pulang untuk dibaca bersama keluarga.”
Pak Darma yang sejak tadi diam akhirnya berkata, “Tapi jangan sampai karena terlalu banyak bertanya, perusahaan menganggap kita tidak mendukung pembangunan.”
Rantaka menoleh kepadanya.
“Pembangunan yang baik tidak takut pada pertanyaan, Pak.”
Kalimat itu membuat beberapa warga mengangguk.
Namun, tidak semua.
Di sudut halaman, seorang lelaki berkata, “Kalian ini enak. Bisa bicara soal hak. Kami butuh kerja.”
Jagra memandang lelaki itu.
“Kami juga butuh kerja.”
“Lalu kenapa kalian menghambat?”
“Kami tidak menghambat,” jawab Jagra. “Kami hanya tidak ingin pekerjaan datang dengan cara yang membuat kita kehilangan tanah, sungai, dan hak untuk menentukan masa depan sendiri.”
“Kalau tanah tidak dijual, dari mana uang datang?”
Banyu maju.
“Tanah bisa menghasilkan kalau dikelola dengan baik. Kolam bisa hidup kalau sungai dijaga. Anak-anak bisa punya pekerjaan lebih baik kalau sekolah dan keterampilan mereka diperkuat. Kita tidak boleh hanya melihat uang yang datang hari ini.”
Lelaki itu tertawa kecil.
“Bicara mudah.”
Banyu mengangguk.
“Memang tidak mudah. Karena itu kita harus bekerja bersama.”
Setelah pertemuan itu, Pak Hendra dan dua orang rekannya meninggalkan rumah Pak Darma.
Mereka tidak berhasil mengumpulkan banyak tanda tangan baru hari itu.
Namun, mereka juga tidak kehilangan pengaruh.
Beberapa warga masih percaya bahwa perusahaan adalah satu-satunya jalan untuk keluar dari kesulitan.
Malamnya, Desa Wanasari terasa lebih sunyi dari biasanya.
Di bawah pohon beringin, Rantaka, Liris, Banyu, dan Jagra kembali duduk.
Tempat itu membawa mereka pada banyak kenangan.
Dulu, mereka duduk di sana dengan kaki masih penuh lumpur, tangan memegang buku lusuh, dan kepala dipenuhi mimpi yang belum punya bentuk.
Sekarang, mereka duduk sebagai orang dewasa yang mulai memahami bahwa menjaga mimpi tidak selalu berarti mengejar sesuatu yang jauh.
Kadang-kadang, menjaga mimpi berarti mempertahankan tempat agar anak-anak lain masih punya ruang untuk tumbuh.
“Aku takut warga menganggap kita melawan mereka,” kata Liris.
“Kita tidak melawan warga,” jawab Rantaka.
“Tapi mereka bisa merasa begitu.”
Jagra memandang tanah di bawah kakinya.
“Kalau kita terus berhati-hati agar tidak ada yang tersinggung, kapan kita bisa bertindak?”
Banyu menatap sahabatnya.
“Kita tetap bertindak. Tapi kita jangan lupa, orang yang berbeda pendapat dengan kita belum tentu musuh.”
Jagra tidak menjawab.
Rantaka mengeluarkan sebuah buku kecil dari tasnya.
Buku itu sudah tua.
Sampulnya kusam.
Di halaman pertama tertulis dengan tulisan tangan anak-anak:
Catatan Gerobak Buku Langit Biru.
Rantaka membukanya.
Di dalamnya terdapat daftar buku pertama yang pernah mereka kumpulkan.
Ada cerita rakyat.
Ada buku pelajaran bekas.
Ada buku puisi.
Ada majalah anak-anak.
Di salah satu halaman, terdapat tulisan Liris ketika masih remaja:
Suatu hari, Gerobak Buku Langit Biru harus membawa lebih dari buku. Ia harus membawa keberanian.
Liris menatap tulisan itu.
Ia tidak ingat kapan menulisnya.
Namun, kalimat itu terasa seperti pesan dari dirinya yang dulu.
Pesan dari seorang anak desa yang belum tahu bahwa keberanian akan datang dalam bentuk surat, peta, tanda tangan, perbedaan pendapat, dan ketakutan kehilangan.
“Aku ingin menulis tentang ini,” kata Liris.
“Untuk majalah?” tanya Banyu.
“Bukan hanya untuk majalah. Untuk warga. Untuk anak-anak. Untuk siapa pun yang nanti ingin tahu kenapa Desa Wanasari pernah hampir menyerahkan masa depannya di atas kertas putih.”
Rantaka mengangguk.
“Tulislah.”
“Aku akan menulis,” kata Liris. “Tapi kita juga harus melakukan sesuatu yang nyata.”
“Apa?” tanya Jagra.
Liris memandang ketiga sahabatnya.
“Kita adakan Malam Membaca Warga.”
Banyu mengerutkan dahi.
“Malam membaca?”
“Kita undang warga ke balai desa. Bukan untuk pidato. Bukan untuk menyalahkan perusahaan. Kita baca bersama surat-surat yang beredar. Kita jelaskan arti kata-kata sulit. Kita dengarkan warga yang sudah tanda tangan. Kita dengarkan pemuda yang ingin ikut pelatihan. Kita dengarkan petani, nelayan kolam, ibu-ibu, dan anak-anak.”
Jagra memandang Liris.
“Apakah warga mau datang?”
“Kalau kita mengundang dengan cara yang benar, mungkin mereka mau.”
Rantaka tersenyum tipis.
“Dulu kita memulai Gerobak Buku dengan mengajak anak-anak membaca di bawah pohon ini.”
“Sekarang,” kata Banyu, “kita mengajak orang dewasa membaca masa depan mereka sendiri.”
Mereka saling memandang.
Di antara mereka, tidak ada kepastian bahwa rencana itu akan berhasil.
Tidak ada jaminan warga akan bersatu.
Tidak ada jaminan perusahaan akan berhenti.
Tidak ada jaminan bahwa persahabatan mereka tidak akan kembali diuji.
Namun, malam itu mereka kembali menemukan alasan mengapa Langit Biru tidak boleh padam.
Bukan karena mereka ingin menjadi pahlawan.
Bukan karena mereka merasa paling benar.
Melainkan karena mereka percaya bahwa desa yang kuat bukan desa yang tidak pernah menghadapi masalah.
Desa yang kuat adalah desa yang warganya berani memahami, bertanya, belajar, dan menentukan jalan hidupnya bersama-sama.
Di bawah pohon beringin tua, angin malam bergerak pelan.
Daun-daun berdesir seperti halaman buku yang dibuka.
Dan di dalam keheningan Desa Wanasari, sebuah perjuangan baru mulai ditulis.
Bukan dengan tinta yang indah.
Melainkan dengan keberanian untuk tidak membiarkan masa depan ditentukan oleh tanda tangan di atas kertas putih.
BAB 12 - MALAM MEMBACA WARGA
Sejak pagi, balai Desa Wanasari terlihat lebih ramai dari biasanya.
Bukan karena ada pembagian bantuan.
Bukan pula karena ada rapat resmi yang dihadiri pejabat dari kecamatan.
Hari itu, beberapa anak muda memasang lampu-lampu kecil di teras balai desa. Banyu membawa papan tulis bekas dari sekolah. Jagra memindahkan bangku-bangku panjang dari gudang. Rantaka menyusun beberapa buku, lembar salinan surat, dan kertas-kertas penjelasan di atas meja.
Sementara itu, Liris duduk di sudut ruangan dengan sebuah mesin ketik tua yang dipinjam dari perpustakaan kecamatan.
Ia mengetik satu kalimat besar di atas selembar karton putih:
MEMBACA BERSAMA, MEMUTUSKAN BERSAMA.
Kalimat itu kemudian ditempelkan di dinding depan balai desa.
Di bawahnya, Rantaka menambahkan tulisan lain dengan spidol hitam:
Tidak ada warga yang harus menandatangani sesuatu yang belum dipahami.
Jagra membaca tulisan itu sambil mengangkat kursi.
“Kalau Pak Hendra datang, dia pasti tidak suka melihat ini.”
“Tidak apa-apa,” kata Liris tanpa menghentikan ketikannya. “Malam ini bukan untuk membuat siapa pun suka. Malam ini untuk membuat warga mengerti.”
Banyu menaruh papan tulis di samping meja.
“Aku masih khawatir warga tidak datang.”
“Mereka akan datang,” jawab Rantaka.
“Kau yakin?”
“Tidak,” kata Rantaka jujur. “Tapi kita tetap harus menyiapkan tempat.”
Jawaban itu membuat Banyu tersenyum kecil.
Rantaka memang tidak pernah menjanjikan sesuatu yang belum tentu terjadi. Ia telah belajar dari masa mudanya bahwa harapan harus berjalan bersama kerja keras.
Ketika dulu mereka memulai Gerobak Buku Langit Biru, tidak ada yang yakin anak-anak akan mau membaca buku-buku lusuh dari kardus bekas. Tidak ada yang yakin gerobak kayu dengan roda tua itu bisa bertahan melewati jalan tanah Desa Wanasari.
Namun, mereka tetap memulai.
Mereka tetap berjalan.
Dan perlahan, anak-anak datang.
Kini, yang mereka ajak bukan hanya anak-anak.
Mereka mengajak seluruh desa untuk membaca sesuatu yang jauh lebih sulit daripada buku cerita.
Mereka mengajak warga membaca masa depan mereka sendiri.
Menjelang magrib, satu per satu warga mulai datang.
Bu Marni datang bersama beberapa ibu lainnya. Ia membawa termos berisi teh hangat dan beberapa piring singkong rebus.
Pak Roni datang dengan wajah serius. Di belakangnya, tampak Seno dan beberapa pemuda yang selama ini tertarik mengikuti pelatihan kerja dari perusahaan.
Pak Darma datang lebih lambat. Ia duduk di bangku bagian belakang, dekat pintu. Wajahnya datar, tetapi matanya terus memperhatikan segala sesuatu.
Bu Laras hadir membawa beberapa murid sekolah yang sudah cukup besar untuk memahami pembicaraan orang dewasa. Rantaka sempat meminta agar anak-anak kecil tidak perlu ikut, tetapi Bu Laras berkata bahwa mereka juga berhak mendengar bagaimana orang dewasa membicarakan masa depan desa.
Ketika jam menunjukkan pukul tujuh malam, balai desa sudah hampir penuh.
Namun, tidak semua orang datang dengan perasaan yang sama.
Ada yang datang karena ingin tahu isi surat yang telah mereka tanda tangani.
Ada yang datang karena penasaran pada kegiatan Langit Biru.
Ada yang datang karena takut perusahaan akan membatalkan janji pelatihan kerja.
Ada pula yang datang hanya untuk memastikan bahwa Rantaka dan kawan-kawannya tidak sedang menghasut warga.
Liris berdiri di depan ruangan.
Ia mengenakan baju sederhana berwarna biru tua. Rambutnya diikat rapi. Di tangannya, ia memegang beberapa lembar kertas.
Untuk sesaat, ia memandang wajah-wajah di hadapannya.
Wajah-wajah yang ia kenal sejak kecil.
Wajah-wajah yang pernah melihatnya membawa buku ke rumah-rumah warga.
Wajah-wajah yang pernah memberi mereka kardus bekas untuk Gerobak Buku Langit Biru.
Wajah-wajah yang kini mulai terbelah oleh janji pekerjaan, kebutuhan hidup, dan ketakutan akan masa depan.
“Terima kasih sudah datang,” kata Liris.
Suara di dalam balai desa perlahan mereda.
“Malam ini kami tidak mengundang Bapak dan Ibu untuk menyuruh siapa pun setuju atau tidak setuju terhadap perusahaan. Kami tidak datang untuk mengatakan bahwa orang yang sudah menandatangani surat adalah orang yang salah.”
Beberapa warga saling menatap.
“Kami juga tidak datang untuk menghalangi siapa pun yang ingin bekerja atau ingin mendapatkan kehidupan yang lebih baik,” lanjut Liris. “Kami semua ingin hidup lebih baik. Kami semua ingin anak-anak kita sekolah lebih tinggi. Kami semua ingin pemuda desa punya pekerjaan.”
Seno menunduk.
“Kami hanya ingin mengajak kita semua membaca bersama,” kata Liris. “Karena sebelum kita membuat keputusan besar, kita harus tahu apa yang sedang kita putuskan.”
Liris kemudian mempersilakan Rantaka maju.
Rantaka membawa salinan surat dukungan yang sudah diperbesar.
Ia menempelkannya di papan tulis.
“Ini adalah surat yang beberapa hari terakhir dibawa dari rumah ke rumah,” katanya. “Sebagian warga sudah menandatangani. Sebagian belum. Malam ini kita akan membacanya pelan-pelan.”
Rantaka menunjuk bagian atas surat.
“Di sini tertulis bahwa warga mendukung pengembangan kawasan usaha Desa Wanasari. Kalimat ini terdengar sederhana. Tetapi kita perlu bertanya: kawasan mana? Usaha apa? Berapa luas wilayahnya? Apa dampaknya bagi kebun, sungai, kolam, dan jalan desa?”
Pak Roni mengangkat tangan.
“Bukankah itu sudah dijelaskan waktu sosialisasi?”
Rantaka menoleh kepadanya.
“Apakah Bapak menerima peta lokasi?”
Pak Roni terdiam.
“Apakah Bapak menerima salinan rencana kegiatan?”
“Tidak.”
“Apakah Bapak tahu apakah dukungan ini berkaitan dengan tanah milik warga?”
Pak Roni menarik napas.
“Mereka bilang belum sampai ke soal tanah.”
“Kalau begitu,” kata Rantaka, “kita berhak meminta penjelasan sebelum memberi dukungan lebih jauh.”
Beberapa warga mulai mengangguk.
Rantaka melanjutkan membaca bagian berikutnya.
“Di sini tertulis bahwa penandatangan bersedia mendukung dan tidak mengajukan keberatan terhadap kegiatan yang dilakukan sepanjang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.”
Ia berhenti.
“Kalimat ini penting. Karena kalau suatu hari nanti ada jalan yang melewati kebun warga, atau ada kegiatan yang membuat air sungai berubah, apakah warga yang sudah tanda tangan masih boleh mengajukan keberatan?”
Ruangan menjadi hening.
Bu Marni mengangkat tangan.
“Saya ingin bertanya,” katanya. “Kalau kami sudah tanda tangan karena tidak tahu, apakah kami masih bisa menarik tanda tangan itu?”
Rantaka belum sempat menjawab.
Pak Darma berdiri dari bangku belakang.
“Jangan membuat warga panik,” katanya.
Nada suaranya tidak keras, tetapi cukup membuat suasana berubah.
“Kita semua tahu perusahaan belum melakukan apa-apa. Mereka baru menawarkan peluang. Kalau setiap surat dibaca seperti ancaman, nanti tidak ada investor yang mau datang ke desa ini.”
Jagra yang duduk di samping Banyu mulai menegakkan tubuh.
Namun, Rantaka memberi isyarat agar ia tetap tenang.
“Kami tidak ingin membuat panik, Pak,” kata Rantaka. “Kami ingin warga paham.”
“Warga sudah paham kebutuhan mereka,” balas Pak Darma. “Mereka butuh pekerjaan. Mereka butuh jalan yang lebih baik. Mereka butuh uang untuk menyekolahkan anak-anak.”
“Betul,” jawab Rantaka. “Dan karena kebutuhan itu besar, warga tidak boleh diberi surat tanpa penjelasan yang lengkap.”
Pak Darma menatap Rantaka tajam.
“Kau pulang dari kota, menjadi guru, lalu merasa paling tahu tentang desa ini?”
Kalimat itu membuat beberapa orang terkejut.
Rantaka terdiam sesaat.
Ucapan itu mengingatkannya pada masa ketika ia masih sekolah di kota. Saat itu, ia pernah dipandang rendah karena berasal dari desa. Kini, setelah pulang, ia justru dianggap terlalu banyak bicara karena membawa cara pandang dari luar.
Ia tidak ingin membalas dengan emosi.
“Saya tidak merasa paling tahu, Pak,” katanya. “Justru karena saya anak desa ini, saya tahu banyak warga sering merasa tidak enak bertanya. Saya tahu orang tua kita sering menandatangani surat karena percaya kepada orang yang membawa. Saya tahu pemuda desa ingin bekerja. Saya juga tahu anak-anak di sekolah saya butuh masa depan yang jelas.”
Pak Darma tidak menjawab.
Rantaka melanjutkan.
“Kalau perusahaan memang datang dengan niat baik, mereka tentu tidak keberatan menjelaskan semuanya secara terbuka.”
Setelah itu, Liris membagikan lembar pertanyaan sederhana kepada warga.
Di atasnya tertulis:
PERTANYAAN UNTUK MASA DEPAN DESA WANASARI
- Apakah warga menerima salinan surat yang ditandatangani?
- Apakah warga diberi waktu untuk membaca dan berdiskusi dengan keluarga?
- Apakah perusahaan menjelaskan lokasi kegiatan secara tertulis?
- Apakah ada peta lahan, jalur jalan, atau rencana penggunaan air?
- Apakah ada jaminan tertulis bagi warga yang terdampak?
- Apakah warga dapat menolak tanpa kehilangan kesempatan pelatihan atau pekerjaan?
- Apakah anak-anak dan masa depan pendidikan desa telah dipertimbangkan?
Beberapa warga membaca kertas itu dengan perlahan.
Sebagian meminta anak atau cucu mereka membacakan.
Di sudut ruangan, seorang ibu bernama Bu Karmi mulai menangis.
“Aku tanda tangan karena anakku sudah dua tahun tidak dapat kerja,” katanya. “Orang itu bilang kalau aku mendukung, anakku bisa masuk daftar pelatihan. Aku tidak tahu surat itu bisa berkaitan dengan tanah.”
Seno menoleh kepada ibunya.
Ternyata Bu Karmi adalah ibunya.
Wajah Seno berubah.
Ia memegang tangan ibunya.
“Ibu tidak salah,” katanya pelan.
Bu Karmi menggeleng.
“Aku hanya ingin kau punya kerja.”
Seno menatap kertas di depannya.
Selama ini ia merasa Rantaka dan kawan-kawannya tidak memahami keadaan pemuda desa. Namun malam itu, ia melihat ibunya sendiri menandatangani sesuatu karena rasa takut.
Bukan karena serakah.
Bukan karena tidak peduli pada tanah.
Tetapi karena terlalu lama hidup dalam keadaan yang membuat setiap janji terasa seperti satu-satunya jalan.
Seno berdiri.
“Aku juga sudah tanda tangan,” katanya.
Semua mata tertuju kepadanya.
“Aku tanda tangan karena aku ingin ikut pelatihan kerja. Aku tidak ingin terus meminta uang kepada ibu. Aku tidak ingin melihat rumah kami bocor setiap musim hujan.”
Suaranya mulai bergetar.
“Tapi kalau pelatihan itu harus dibayar dengan membuat ibu tanda tangan sesuatu yang tidak ia pahami, aku ingin tahu dulu semuanya.”
Beberapa pemuda di belakangnya mulai saling berbisik.
Pak Darma menatap Seno dengan wajah keras.
“Kau terlalu cepat terpengaruh.”
Seno menoleh.
“Bukan terpengaruh, Pak. Saya hanya ingin membaca sebelum tanda tangan.”
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun, di balai desa malam itu, kalimat tersebut seperti membuka pintu yang selama ini tertutup.
Satu per satu warga mulai berbicara.
Pak Roni mengaku ia juga tidak menerima salinan surat.
Seorang petani bernama Pak Warto berkata bahwa ia mendengar jalan perusahaan mungkin akan melewati kebun singkong di dekat bukit.
Seorang ibu bertanya apakah sungai yang mulai keruh akan dipakai untuk kegiatan perusahaan.
Seorang pemuda bertanya apakah pelatihan kerja benar-benar terbuka bagi warga atau hanya janji untuk mengumpulkan dukungan.
Pertanyaan-pertanyaan itu mulai memenuhi balai desa.
Tidak semua pertanyaan memiliki jawaban.
Namun, untuk pertama kalinya, warga Desa Wanasari mulai menyadari bahwa mereka berhak bertanya.
Ketika suasana semakin ramai, suara sepeda motor terdengar berhenti di depan balai desa.
Beberapa orang menoleh.
Pak Hendra masuk bersama dua rekannya.
Ia mengenakan kemeja rapi dan membawa map hitam.
“Selamat malam,” katanya sambil tersenyum. “Saya mendengar ada pertemuan warga.”
Tidak ada yang menyambut dengan tepuk tangan.
Liris berdiri.
“Selamat malam, Pak. Kami sedang membaca surat dukungan yang dibawa oleh tim Bapak.”
Pak Hendra mengangguk.
“Bagus. Saya senang masyarakat aktif.”
“Kalau begitu, Bapak bisa membantu menjelaskan,” kata Rantaka.
Pak Hendra berjalan ke depan.
Ia melihat surat yang ditempel di papan tulis.
“Surat ini adalah bentuk dukungan awal masyarakat terhadap program pembangunan,” katanya. “Tidak ada pengalihan tanah dalam surat ini. Tidak ada paksaan. Tidak ada ancaman.”
“Kalau tidak ada paksaan,” tanya Bu Karmi, “kenapa anak saya dikatakan bisa kehilangan kesempatan pelatihan kalau kami tidak mendukung?”
Pak Hendra tampak terdiam sebentar.
“Mungkin ada kesalahpahaman dalam penyampaian di lapangan.”
“Kesalahpahaman dari siapa?” tanya Jagra.
“Kami akan evaluasi.”
“Apakah warga yang sudah tanda tangan boleh meminta salinan dan menarik dukungannya?” tanya Liris.
Pak Hendra tersenyum tipis.
“Tentu saja warga dapat meminta penjelasan.”
“Itu bukan jawaban,” kata Liris.
Suasana kembali menegang.
Pak Hendra memandang Liris.
“Saudari, saya menghargai semangat literasi yang Anda bangun. Tetapi pembangunan tidak bisa berhenti hanya karena setiap orang ingin membahas semua hal terlalu panjang.”
Liris menggenggam kertas di tangannya.
“Pembangunan yang menyangkut tanah, sungai, dan masa depan anak-anak tidak boleh diputuskan terburu-buru.”
Beberapa warga bertepuk tangan kecil.
Pak Hendra menghela napas.
“Kami datang membawa peluang. Lapangan kerja, pelatihan, akses jalan, dan bantuan sosial. Kalau masyarakat terus dipenuhi keraguan, daerah lain bisa lebih siap menerima investasi.”
Pak Darma berdiri.
“Pak Hendra benar,” katanya. “Kita jangan menolak peluang hanya karena takut pada sesuatu yang belum terjadi.”
Jagra tidak bisa lagi menahan diri.
“Dan kita jangan menerima peluang hanya karena takut miskin selamanya,” katanya.
Pak Darma menatapnya.
“Kau bicara seolah-olah kau tidak butuh uang.”
“Aku butuh,” jawab Jagra. “Keluargaku butuh. Kolam kami hampir mati karena air sungai berubah. Tapi justru karena aku butuh, aku tidak mau asal menyerahkan tanah dan air kepada orang yang belum menjelaskan apa pun.”
“Perusahaan belum mengambil apa-apa!”
“Belum,” kata Jagra. “Tapi tanda tangan itu sudah mulai diambil.”
Suara warga semakin ramai.
Ada yang membela Pak Darma.
Ada yang mendukung Jagra.
Ada yang meminta agar semua orang tenang.
Di tengah keributan itu, seorang anak kecil bernama Dita berdiri dari tempat duduknya.
Ia memegang buku cerita yang dibawa dari perpustakaan.
“Kak Rantaka,” katanya dengan suara kecil, tetapi cukup terdengar, “kalau sungai kita rusak, nanti ikan-ikan di kolam Kak Jagra mati semua?”
Ruangan mendadak sunyi.
Jagra menatap Dita.
Ia tidak langsung menjawab.
Anak kecil itu melanjutkan, “Kalau ikan mati, nanti Kak Jagra masih bisa beli buku untuk Gerobak Buku?”
Pertanyaan itu membuat dada Jagra terasa sesak.
Dulu, ketika mereka masih kecil, anak-anak seperti Dita hanya bertanya kapan Gerobak Buku datang.
Sekarang, mereka mulai bertanya tentang sungai, ikan, dan masa depan.
Rantaka mendekati Dita.
Ia berjongkok di depannya.
“Kita semua sedang berusaha supaya sungai tetap baik,” katanya.
“Supaya ikan tetap hidup?”
“Iya.”
“Supaya buku juga tetap ada?”
Rantaka tersenyum tipis.
“Iya. Supaya buku juga tetap ada.”
Dita mengangguk.
Lalu ia kembali duduk.
Namun, pertanyaan sederhana itu tinggal di dalam hati semua orang.
Malam semakin larut.
Pak Hendra akhirnya mengatakan bahwa perusahaan akan mengadakan sosialisasi lanjutan dan membawa penjelasan yang lebih lengkap.
Ia juga berjanji akan mempertimbangkan permintaan warga untuk memperoleh salinan surat yang telah ditandatangani.
Namun, sebelum pergi, ia menatap Rantaka dan kawan-kawannya.
“Semoga semangat kalian untuk mengajak warga berpikir tidak berubah menjadi sikap menolak pembangunan,” katanya.
Rantaka menatapnya balik.
“Semoga niat perusahaan untuk membangun tidak berubah menjadi cara mengambil keputusan tanpa warga.”
Pak Hendra tidak menjawab.
Ia lalu pergi bersama dua rekannya.
Setelah itu, warga tidak langsung bubar.
Mereka masih berdiskusi dalam kelompok-kelompok kecil.
Ada yang merasa lebih tenang karena akhirnya memahami isi surat.
Ada yang justru semakin takut.
Ada yang masih yakin perusahaan membawa harapan.
Ada yang mulai ragu.
Namun, satu hal telah berubah.
Malam itu, Desa Wanasari tidak lagi diam.
Ketika balai desa mulai sepi, Liris duduk di tangga depan bersama Rantaka.
Di halaman, Banyu dan Jagra masih membereskan kursi.
Lampu-lampu kecil yang dipasang sore tadi mulai redup.
“Aku tidak tahu apakah malam ini membuat keadaan lebih baik atau lebih rumit,” kata Liris.
“Kadang-kadang keduanya terjadi bersamaan,” jawab Rantaka.
Liris memandangi jalan desa yang gelap.
“Aku takut warga semakin terpecah.”
“Aku juga.”
“Aku takut Pak Darma benar. Takut kita dianggap menghalangi kesempatan.”
Rantaka menoleh kepadanya.
“Kesempatan yang baik tidak akan hilang hanya karena warga meminta penjelasan.”
Liris tersenyum kecil.
“Kau yakin?”
“Tidak,” jawab Rantaka. “Tapi aku yakin warga berhak tahu.”
Di dekat mereka, Jagra datang membawa tumpukan kursi.
“Besok kita harus mulai mencari peta,” katanya.
“Peta apa?” tanya Banyu.
“Peta rencana kawasan. Peta aliran sungai. Peta lahan warga. Semua yang selama ini tidak pernah dibuka.”
Liris memandang sahabat-sahabatnya.
“Kalau kita mendapat peta itu, kita bisa mengadakan kelas membaca peta.”
Banyu tersenyum.
“Gerobak Buku Langit Biru naik tingkat.”
“Dulu kita mengajari anak-anak membaca cerita,” kata Jagra.
“Sekarang kita belajar membaca tanah,” ujar Rantaka.
Mereka berdiri di depan balai desa yang mulai sunyi.
Di dinding, karton putih bertuliskan MEMBACA BERSAMA, MEMUTUSKAN BERSAMA masih tergantung.
Tulisan itu bergoyang pelan tertiup angin malam.
Tidak ada yang tahu apakah pertemuan itu akan membuat perusahaan mundur, warga bersatu, atau justru memperbesar konflik.
Namun, malam itu telah meninggalkan sesuatu yang lebih kuat daripada rasa takut.
Kesadaran.
Bahwa pendidikan bukan hanya soal membaca buku di sekolah.
Pendidikan adalah keberanian untuk bertanya.
Pendidikan adalah kemampuan memahami kata-kata sebelum membubuhkan nama.
Pendidikan adalah kesediaan untuk mendengar orang lain, bahkan ketika pendapat mereka berbeda.
Dan bagi Desa Wanasari, Malam Membaca Warga menjadi awal dari perjuangan yang lebih besar.
Perjuangan untuk menjaga tanah, sungai, sekolah, dan mimpi anak-anak desa.
Perjuangan agar masa depan tidak dijual murah di atas kertas putih.
Perjuangan agar Langit Biru tetap menyala, meski malam mulai semakin gelap.
BAB 13 - PETA YANG DISEMBUNYIKAN
Pagi setelah Malam Membaca Warga, Desa Wanasari tidak benar-benar kembali tenang.
Di warung kopi dekat jalan utama, orang-orang membicarakan surat dukungan perusahaan.
Di kebun, para petani bertanya-tanya apakah jalan baru benar-benar akan melewati lahan mereka.
Di tepi sungai, beberapa ibu yang sedang mencuci pakaian membicarakan air yang semakin keruh.
Sementara di sekolah, anak-anak mulai bertanya kepada Rantaka tentang kata-kata yang mereka dengar dari orang tua mereka.
“Pak Guru,” tanya Dita saat jam istirahat, “kalau perusahaan datang, apakah sekolah kita akan pindah?”
Rantaka yang sedang memeriksa buku tugas menatap murid kecil itu.
“Kenapa kamu bertanya begitu?”
“Kata Bapak, nanti jalan besar bisa dibuat sampai dekat bukit. Kalau jalan besar dibuat, mungkin sekolah jadi ramai.”
Rantaka tersenyum tipis.
“Jalan yang baik bisa membantu banyak orang. Tapi semua rencana harus dipikirkan bersama, supaya tidak merugikan warga.”
Dita mengangguk, meski belum sepenuhnya mengerti.
“Kalau sungai rusak, ikan Kak Jagra mati, ya?”
“Karena itu kita harus menjaga sungai.”
“Kalau tanah dijual, nanti Gerobak Buku lewat mana?”
Pertanyaan itu membuat Rantaka terdiam.
Bagi anak-anak, desa bukan sekadar wilayah di peta.
Desa adalah jalan yang mereka lewati menuju sekolah.
Sungai tempat mereka bermain saat sore.
Kebun tempat orang tua mereka bekerja.
Kolam ikan milik keluarga Jagra.
Pohon beringin tua tempat Gerobak Buku Langit Biru dulu berhenti setiap akhir pekan.
Anak-anak belum memahami istilah investasi, pengembangan kawasan, atau perizinan.
Namun, mereka memahami satu hal yang paling sederhana.
Mereka tidak ingin kehilangan tempat yang mereka kenal sebagai rumah.
Sore harinya, Rantaka mengajak Liris, Banyu, dan Jagra berkumpul di perpustakaan desa.
Di atas meja, terdapat beberapa lembar catatan dari Malam Membaca Warga.
Liris menuliskan pertanyaan-pertanyaan warga dengan rapi.
Siapa yang membawa surat dukungan?
Di mana lokasi kawasan usaha?
Apakah jalur jalan akan melewati kebun warga?
Apakah sungai akan digunakan untuk kegiatan perusahaan?
Apakah warga yang sudah menandatangani surat dapat meminta salinan?
Apakah pelatihan kerja benar-benar terbuka untuk semua pemuda desa?
Jagra berdiri di dekat jendela sambil memandang ke arah sungai.
“Semua pertanyaan itu akan tetap menjadi pertanyaan kalau kita tidak punya peta,” katanya.
Banyu mengangguk.
“Pak Hendra selalu bicara tentang pembangunan, tapi tidak pernah menunjukkan batas wilayahnya.”
“Dia bilang akan ada sosialisasi lanjutan,” ujar Liris.
“Kalau sosialisasi itu hanya berisi kata-kata, kita tetap tidak tahu apa-apa,” jawab Jagra.
Rantaka membuka buku catatan kecilnya.
“Peta bisa menjelaskan banyak hal. Kita bisa melihat apakah lokasi rencana itu dekat sungai. Kita bisa tahu apakah jalur jalan melewati kebun warga. Kita juga bisa membandingkan dengan lokasi kolam dan sekolah.”
Liris memandang Rantaka.
“Tapi kita mendapatkan peta dari mana?”
Rantaka berpikir sejenak.
“Pemerintah desa seharusnya punya peta wilayah. Kecamatan mungkin punya data batas desa. Kalau perusahaan sudah melakukan pendataan, mereka pasti juga punya peta rencana.”
“Dan mereka mungkin tidak mau memberikannya,” kata Banyu.
“Kalau begitu, kita minta dengan cara baik,” jawab Rantaka.
Jagra tertawa pendek.
“Cara baik sudah kita lakukan. Mereka tetap datang membawa surat tanpa peta.”
“Kita tidak boleh berhenti hanya karena mereka belum terbuka,” kata Rantaka.
“Kalau mereka tetap menolak?”
Rantaka menatap sahabatnya.
“Kalau mereka menolak, warga akan melihat sendiri siapa yang tidak ingin menjelaskan.”
Keesokan harinya, Rantaka dan Liris mendatangi kantor desa.
Kantor itu tidak besar. Cat dindingnya mulai pudar. Di halaman depan, bendera merah putih berkibar lemah tertiup angin.
Pak Sekretaris Desa sedang menyusun berkas ketika mereka datang.
“Pak, kami ingin meminta bantuan,” kata Rantaka.
“Bantuan apa?”
“Kami ingin melihat peta wilayah Desa Wanasari.”
Pak Sekretaris Desa menatap mereka dengan hati-hati.
“Untuk apa?”
“Kami ingin membantu warga memahami rencana pembangunan yang sedang dibicarakan,” jawab Liris. “Kami tidak ingin membuat masalah. Kami hanya ingin mengetahui lokasi sungai, kebun, sekolah, kolam, dan batas-batas dusun.”
Pak Sekretaris Desa menarik napas.
“Peta desa ada. Tapi tidak semua data bisa diperlihatkan sembarangan.”
“Apakah peta wilayah desa termasuk rahasia?” tanya Rantaka.
“Bukan begitu maksud saya.”
“Kalau begitu, kami hanya ingin melihatnya,” kata Liris. “Kami tidak meminta membawa pulang.”
Pak Sekretaris Desa tampak ragu.
Ia membuka laci meja, lalu mengeluarkan sebuah map biru.
Di dalamnya terdapat peta Desa Wanasari yang sudah cukup lama.
Garis-garis batas dusun terlihat tipis.
Sungai utama digambar seperti garis biru panjang yang membelah desa.
Ada tanda sekolah, balai desa, jalan utama, kebun warga, dan beberapa area kolam.
Namun, peta itu tidak menunjukkan rencana perusahaan.
“Ini peta desa yang kami punya,” kata Pak Sekretaris Desa. “Kalau soal rencana perusahaan, saya tidak memegangnya.”
“Apakah perusahaan pernah menyerahkan peta rencana kepada desa?” tanya Rantaka.
Pak Sekretaris Desa tidak segera menjawab.
“Pernah ada dokumen yang dibawa saat pertemuan awal,” katanya akhirnya. “Tapi dokumen itu dibawa kembali.”
“Tidak ada salinan?” tanya Liris.
“Tidak ada.”
Jagra yang sejak tadi menunggu di luar akhirnya masuk.
“Jadi perusahaan datang membicarakan kawasan usaha, tapi desa tidak memegang peta rencananya?”
Pak Sekretaris Desa tampak tidak nyaman.
“Saya tidak mengatakan begitu.”
“Tapi Bapak juga tidak bisa menunjukkan peta itu,” kata Jagra.
Rantaka menahan bahu Jagra.
“Kami mengerti, Pak. Terima kasih sudah memperlihatkan peta desa.”
Sebelum pergi, Liris memotret peta itu dengan telepon genggamnya.
Pak Sekretaris Desa tidak melarang.
Namun, ketika mereka keluar dari kantor desa, Rantaka melihat sebuah mobil hitam berhenti di halaman.
Pak Hendra turun dari mobil bersama seorang pria bersepatu kulit.
Pria itu membawa tabung panjang berisi gulungan kertas.
Rantaka memandang tabung itu.
Ia tidak tahu isinya.
Tetapi ia tahu, orang yang membawa peta biasanya tidak datang hanya untuk melihat pemandangan.
Di perpustakaan, Banyu mulai menggambar ulang peta desa di atas kertas karton besar.
Ia menggunakan foto dari telepon Liris sebagai acuan.
Jagra membantu menandai lokasi kolam ikan keluarganya dan kolam-kolam warga lain.
Rantaka menandai sekolah, balai desa, perpustakaan, serta jalur Gerobak Buku Langit Biru.
Liris menandai rumah-rumah warga yang telah mengaku menerima surat dukungan.
“Kalau jalur perusahaan masuk dari bukit sebelah timur,” kata Banyu sambil menunjuk peta, “mereka kemungkinan akan melewati kebun singkong Pak Warto.”
“Lalu turun ke dekat sungai,” kata Jagra.
“Kalau dekat sungai, mereka mungkin akan membutuhkan jalan akses,” ujar Rantaka.
Liris memandang garis sungai.
“Dan jalan akses itu bisa melewati dekat sekolah.”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Mereka semua tahu bahwa kemungkinan belum tentu berarti kepastian.
Namun, setiap kemungkinan perlu diperiksa sebelum menjadi kenyataan.
Banyu mengambil penggaris.
“Kalau kita tahu titik awal dan titik akhir, kita bisa memperkirakan jalurnya.”
“Kita tidak tahu titik awalnya,” kata Liris.
“Tapi mungkin ada yang tahu,” jawab Jagra.
“Siapa?”
Jagra menatap peta.
“Orang-orang yang pernah ikut survei ke bukit.”
Nama pertama yang muncul adalah Pak Warto.
Ia seorang petani singkong yang kebunnya berada di dekat jalan tanah menuju bukit sebelah timur.
Rantaka, Banyu, dan Jagra mendatanginya sore itu.
Pak Warto sedang memperbaiki pagar kebun ketika mereka tiba.
“Pak, kami ingin bertanya,” kata Rantaka.
Pak Warto mengangguk.
“Kalian mau soal perusahaan?”
“Bapak pernah melihat mereka melakukan survei?”
Pak Warto menancapkan parang kecilnya ke tanah.
“Pernah. Dua minggu lalu. Ada beberapa orang membawa alat seperti tongkat panjang. Mereka mengukur-ukur dari jalan menuju bukit.”
“Apakah mereka masuk ke kebun Bapak?” tanya Banyu.
“Belum masuk. Tapi mereka berdiri lama di dekat batas kebun.”
“Apakah mereka menunjukkan peta?” tanya Jagra.
Pak Warto menggeleng.
“Mereka hanya bilang sedang melihat kemungkinan jalur akses.”
“Jalur akses ke mana?” tanya Rantaka.
“Mereka tidak bilang.”
Pak Warto lalu masuk ke gubuk kecil di pinggir kebun.
Ia keluar membawa selembar kertas kusut.
“Ini jatuh dari motor mereka waktu itu,” katanya.
Kertas itu bukan peta lengkap.
Hanya potongan cetakan dengan beberapa garis, angka, dan tanda panah.
Namun, di bagian atas terdapat tulisan kecil:
Rencana Koridor Akses Timur — Tahap Awal
Banyu mengambil kertas itu dengan hati-hati.
Ada garis merah yang bergerak dari jalan utama menuju arah bukit.
Garis itu kemudian berbelok ke arah sungai.
Di dekatnya, terdapat tanda kecil yang menyerupai area penampungan.
Jagra memandang kertas itu dengan wajah tegang.
“Ini bukan sekadar jalan,” katanya.
Rantaka mengangguk.
“Ini bagian dari rencana yang lebih besar.”
Pak Warto memandang mereka.
“Apakah kebunku akan kena?”
Rantaka tidak ingin memberi jawaban yang belum pasti.
“Kami belum tahu, Pak. Tapi kami akan mencari penjelasan.”
Pak Warto menatap tanah kebunnya.
“Tanah ini bukan luas. Tapi dari sini saya membiayai sekolah anak saya. Kalau tanah ini hilang, saya harus mulai dari mana?”
Jagra memandang Pak Warto.
Pertanyaan itu sama dengan pertanyaan yang selama ini menghantui seluruh Desa Wanasari.
Bagaimana warga bisa menolak sesuatu jika mereka tidak tahu apa yang akan hilang?
Malam itu, mereka kembali mengamati potongan kertas di perpustakaan.
Banyu menempelkan kertas tersebut di atas peta desa.
Ia mencoba mencocokkan garis jalan, belokan sungai, dan posisi bukit.
Setelah beberapa kali menggeser, wajahnya berubah.
“Lihat ini.”
Ia menunjuk sebuah titik.
“Kalau garis ini benar, jalurnya turun melewati sisi timur sungai.”
“Dekat kolam warga?” tanya Liris.
“Dekat sekali,” jawab Banyu.
Jagra mendekat.
“Kolam keluarga Pak Samin ada di sini. Kolam Pak Bardi di sini. Dan kolam kami di sini.”
Rantaka menatap peta.
“Kalau mereka membuat jalan besar dan area penampungan dekat sungai, aliran air bisa berubah.”
“Kalau aliran air berubah, kolam bisa kekurangan air,” kata Jagra.
“Bukan hanya kolam,” ujar Liris. “Kebun warga di bawah bukit juga memakai aliran dari parit kecil yang bersumber dari sungai.”
Banyu mengangguk.
“Dan sekolah kita ada tidak jauh dari jalur itu.”
Liris menatap peta dengan wajah pucat.
Selama ini, ia mengira perusahaan hanya akan membuka kawasan di bukit.
Namun, peta kecil itu menunjukkan kemungkinan bahwa dampaknya bisa menjalar ke seluruh desa.
Sungai.
Kolam.
Kebun.
Sekolah.
Jalan anak-anak menuju perpustakaan.
Gerobak Buku Langit Biru.
Semua terhubung.
Seperti halaman-halaman dalam satu buku yang tidak bisa dipisahkan tanpa merusak cerita.
Keesokan paginya, kabar tentang potongan peta itu mulai menyebar.
Tidak ada yang tahu siapa yang pertama kali menceritakannya.
Namun, sebelum siang, beberapa warga sudah datang ke perpustakaan.
Pak Warto datang bersama dua petani lain.
Bu Marni datang membawa anaknya.
Seno datang bersama beberapa pemuda.
Mereka ingin melihat sendiri.
Liris menempelkan peta desa dan potongan koridor akses di dinding.
Namun, ia menulis sebuah catatan besar di bawahnya:
INI BUKAN PETA LENGKAP. INI HANYA PETUNJUK AWAL. WARGA BERHAK MEMINTA PENJELASAN RESMI.
Rantaka berdiri di depan warga.
“Kami tidak ingin membuat kesimpulan sebelum ada dokumen resmi,” katanya. “Tetapi potongan ini menunjukkan bahwa kita perlu meminta peta lengkap dan penjelasan terbuka.”
“Kalau perusahaan tidak mau menunjukkan?” tanya seorang warga.
“Berarti kita harus meminta pemerintah desa dan kecamatan membantu,” jawab Rantaka.
Pak Roni berdiri dari kursinya.
“Kalau kita terus menekan, perusahaan bisa batal masuk.”
“Kalau perusahaan batal hanya karena warga meminta peta, apakah itu perusahaan yang bisa dipercaya?” tanya Liris.
Pak Roni tidak menjawab.
Seno memandang peta itu cukup lama.
Kemudian ia berkata, “Aku masih ingin ikut pelatihan kerja. Tapi aku tidak ingin pelatihan itu membuat kebun Pak Warto hilang tanpa penjelasan.”
Beberapa pemuda mengangguk.
“Kalau memang ada pekerjaan,” lanjut Seno, “kita harus tahu pekerjaan apa, berapa lama, dan apa yang terjadi setelah tanah dan sungai berubah.”
Jagra memandang Seno.
Untuk pertama kalinya sejak konflik itu dimulai, ia melihat pemuda itu bukan sebagai orang yang mudah tergoda janji perusahaan.
Seno hanya seorang anak desa yang ingin hidupnya berubah.
Dan mungkin, jika diberi kesempatan memahami, ia juga ingin perubahan itu tidak menghancurkan rumahnya sendiri.
Menjelang sore, Pak Darma datang ke perpustakaan.
Wajahnya terlihat lebih keras dari biasanya.
Ia membawa sebuah map hitam.
“Dari mana kalian mendapatkan ini?” tanyanya sambil menunjuk potongan peta.
“Dari kebun Pak Warto,” jawab Rantaka.
Pak Darma menghela napas.
“Kalian tidak seharusnya menyebarkan dokumen yang tidak lengkap.”
“Kami tidak menyebarkan sebagai kepastian,” kata Liris. “Kami menuliskan bahwa ini hanya petunjuk awal.”
“Tetap saja, warga jadi takut.”
“Warga berhak tahu ada kemungkinan jalur akses melewati dekat kebun dan sungai,” kata Jagra.
Pak Darma menatap Jagra.
“Kalian ingin desa ini tetap miskin?”
Jagra berdiri.
“Kami ingin desa ini tidak dijual murah.”
“Kalian bicara tentang menjual, padahal belum ada tanah yang dijual!”
“Lalu kenapa peta disembunyikan?” tanya Banyu.
Pak Darma membuka mapnya.
Di dalamnya terdapat beberapa lembar kertas.
Ia mengambil satu lembar, tetapi tidak menyerahkannya.
“Peta itu masih dalam tahap pembahasan,” katanya. “Belum tentu jadi.”
“Kalau belum tentu jadi, kenapa survei sudah dilakukan?” tanya Rantaka.
Pak Darma tidak menjawab.
Rantaka melanjutkan, “Kami tidak menolak pembahasan. Kami justru meminta agar pembahasan dilakukan terbuka.”
Pak Darma memandang ke arah peta di dinding.
“Kalian terlalu muda untuk memahami bagaimana pembangunan bekerja.”
Liris menatapnya.
“Dulu kami juga dianggap terlalu muda ketika membawa Gerobak Buku keliling desa. Tapi anak-anak yang membaca dari gerobak itu sekarang sudah mulai berani bertanya.”
Pak Darma terdiam.
Liris melanjutkan dengan suara yang lebih tenang.
“Pendidikan tidak membuat warga menolak pembangunan, Pak. Pendidikan membuat warga tidak mudah dibohongi.”
Kalimat itu membuat suasana perpustakaan menjadi hening.
Pak Darma menutup mapnya.
Sebelum pergi, ia berkata, “Kalian akan menyesal kalau perusahaan memilih pergi.”
Setelah itu, ia berjalan keluar.
Jagra mengepalkan tangan.
“Dia selalu bicara seolah-olah hanya perusahaan yang bisa menyelamatkan desa.”
“Karena bagi sebagian orang, perusahaan memang terlihat seperti satu-satunya jalan,” kata Rantaka.
“Lalu kita harus bagaimana?” tanya Jagra.
Rantaka memandang peta di dinding.
“Kita tunjukkan bahwa desa juga bisa membangun jalannya sendiri.”
Malam itu, Langit Biru kembali berkumpul di bawah pohon beringin tua.
Peta desa dibawa oleh Banyu dalam gulungan karton.
Liris membawa catatan hasil percakapan dengan warga.
Jagra membawa daftar nama pemilik kolam dan kebun yang berada dekat jalur kemungkinan.
Rantaka membawa buku catatan dari sekolah.
Di bawah cahaya bulan, mereka membuka peta itu di atas tikar.
“Besok kita mulai mendata,” kata Rantaka.
“Mendata apa?” tanya Liris.
“Semua yang mungkin terdampak. Kolam, kebun, parit, rumah, jalan anak-anak ke sekolah, lokasi Gerobak Buku, dan sumber air warga.”
“Untuk apa?” tanya Banyu.
“Supaya kalau mereka datang membawa peta mereka, kita juga punya peta kita sendiri.”
Jagra menatap sahabatnya.
“Peta warga.”
“Peta kehidupan,” kata Liris.
Banyu tersenyum kecil.
“Kita bisa mengajak anak-anak sekolah belajar menggambar peta desa.”
Rantaka mengangguk.
“Mereka bisa menggambar jalan yang mereka lewati, sungai tempat mereka bermain, kebun orang tua mereka, dan tempat-tempat yang mereka sayangi.”
“Lalu orang dewasa bisa menambahkan sumber air, lahan, dan kolam,” kata Liris.
Jagra memandang pohon beringin di atas mereka.
“Gerobak Buku Langit Biru benar-benar berubah.”
“Tidak,” jawab Rantaka. “Ia tetap sama.”
“Bagaimana bisa sama?” tanya Jagra.
“Dulu kita membawa buku agar anak-anak belajar membaca. Sekarang kita membawa peta agar warga belajar menjaga apa yang mereka miliki.”
Angin malam bertiup perlahan.
Daun-daun beringin bergerak di atas kepala mereka.
Di kejauhan, suara sungai terdengar lebih pelan dari biasanya.
Namun, bagi Rantaka, suara itu terasa seperti panggilan.
Panggilan agar mereka tidak hanya menunggu penjelasan dari orang lain.
Panggilan agar mereka mulai memahami desa mereka sendiri.
Karena tanah yang tidak dipetakan oleh warganya sendiri akan mudah dipetakan oleh orang lain.
Karena sungai yang tidak dijaga oleh anak-anaknya sendiri akan mudah dianggap sekadar garis biru di atas kertas.
Dan karena masa depan Desa Wanasari tidak boleh disembunyikan di dalam gulungan peta yang hanya dibuka oleh orang-orang dari luar.
Malam itu, di bawah pohon beringin tua, mereka membuat keputusan.
Mereka akan membuat Peta Warga Wanasari.
Peta yang tidak hanya menunjukkan batas tanah.
Tetapi juga menunjukkan sekolah, sungai, kolam, kebun, jalan, rumah, dan mimpi-mimpi yang tumbuh di atasnya.
Sebab bagi Langit Biru, desa bukan sekadar tempat untuk ditinggalkan atau diperebutkan.
Desa adalah rumah yang harus dipahami, dijaga, dan diperjuangkan bersama.
BAB 14 - PETA WARGA DAN SUARA ANAK-ANAK
Pagi itu, halaman SD Wanasari dipenuhi kertas-kertas besar.
Beberapa murid duduk berkelompok di bawah pohon mangga. Ada yang membawa pensil warna, ada yang memegang penggaris, dan ada pula yang sibuk mencari tempat untuk menggambar.
Di depan kelas, Rantaka menempelkan sebuah kertas karton besar bertuliskan:
GAMBAR DESAMU, CERITAKAN RUMAHMU.
Anak-anak membaca tulisan itu dengan suara keras.
“Pak Guru, kita mau menggambar rumah?” tanya Dita.
“Boleh,” jawab Rantaka.
“Gambar sungai juga?”
“Boleh.”
“Kolam ikan Kak Jagra?”
“Boleh.”
“Gerobak Buku Langit Biru?”
“Harus,” jawab Rantaka sambil tersenyum.
Anak-anak tertawa.
Di sisi lain halaman, Liris membantu membagikan kertas. Ia membawa beberapa buku gambar bekas yang masih memiliki halaman kosong. Banyu menyiapkan papan alas dari tripleks agar anak-anak bisa menggambar dengan nyaman. Jagra datang membawa beberapa botol air minum dan makanan ringan.
Kegiatan itu bukan sekadar pelajaran menggambar.
Rantaka ingin anak-anak melihat desa mereka sebagai tempat yang penting.
Ia ingin mereka mengenali jalan yang setiap hari mereka lalui.
Ia ingin mereka memahami bahwa sungai bukan hanya tempat bermain, tetapi sumber kehidupan warga.
Ia ingin mereka tahu bahwa kebun, kolam, sekolah, perpustakaan, dan pohon beringin tua bukan sekadar bagian dari pemandangan.
Semua itu adalah bagian dari rumah mereka.
“Anak-anak,” kata Rantaka ketika semua sudah duduk, “hari ini kalian tidak perlu menggambar dengan bagus. Tidak perlu sama seperti gambar di buku.”
“Kalau jelek bagaimana, Pak?” tanya seorang anak laki-laki bernama Danu.
“Tidak ada gambar jelek kalau itu tentang tempat yang kamu kenal.”
Danu tampak lega.
“Kalian gambar tempat yang paling kalian ingat di Desa Wanasari,” lanjut Rantaka. “Boleh jalan menuju sekolah, rumah nenek, sungai, kebun orang tua, kolam ikan, atau tempat kalian biasa bermain.”
Dita mengangkat tangan.
“Kalau saya gambar pohon beringin?”
“Kenapa pohon beringin?” tanya Rantaka.
“Karena di sana Gerobak Buku berhenti. Kalau ada Gerobak Buku, semua teman datang.”
Liris yang mendengar jawaban itu tersenyum.
Ia teringat masa ketika mereka masih seusia Dita. Saat itu, Gerobak Buku Langit Biru hanya sebuah gerobak kayu tua dengan roda yang sering macet. Namun, dari gerobak sederhana itu, mereka belajar bahwa buku bisa membuat anak-anak berkumpul tanpa harus dipaksa.
Kini, anak-anak yang dulu hanya meminjam buku cerita mulai tumbuh menjadi anak-anak yang berani berbicara tentang desa mereka.
Tidak lama kemudian, halaman sekolah berubah menjadi dunia kecil Desa Wanasari.
Danu menggambar jalan tanah dari rumahnya menuju sekolah. Di sisi jalan, ia menggambar pohon-pohon besar dan sebuah jembatan kayu kecil.
Seorang anak bernama Wati menggambar kebun sayur milik ibunya. Ia memberi warna hijau pada tanaman dan warna cokelat pada tanah.
Rafi menggambar sungai dengan ikan-ikan kecil di dalamnya.
Namun, ia memberi warna abu-abu pada sebagian air sungai.
“Kenapa airnya tidak biru?” tanya Banyu yang duduk di sampingnya.
“Karena sekarang kadang-kadang airnya seperti teh,” jawab Rafi.
Banyu terdiam.
“Dulu saya mandi di sini,” lanjut Rafi. “Sekarang Ibu bilang jangan terlalu jauh ke tengah.”
Banyu mengangguk pelan.
“Bagus kamu menggambar apa yang kamu lihat.”
Di dekat pohon mangga, Dita menggambar pohon beringin besar. Di bawahnya, ia menggambar sebuah gerobak kecil berwarna biru.
Di samping gerobak itu, ia menggambar banyak anak-anak memegang buku.
Namun, di bagian ujung kertas, ia juga menggambar sebuah garis hitam panjang.
Rantaka mendekat.
“Ini apa, Dita?”
“Jalan besar.”
“Kenapa ada jalan besar di dekat pohon beringin?”
Dita mengangkat bahu.
“Kata Kakak saya, nanti mungkin ada jalan besar dari bukit.”
“Kalau ada jalan besar, apa yang terjadi?”
Dita menatap gambarnya.
“Kalau jalan besar dekat pohon beringin, Gerobak Buku tidak bisa berhenti lama. Banyak mobil lewat.”
Rantaka memandang garis hitam itu cukup lama.
Di mata orang dewasa, jalan baru mungkin berarti kemajuan.
Namun, di mata Dita, jalan itu bisa berarti hilangnya ruang kecil tempat anak-anak berkumpul membaca.
Rantaka tidak ingin membuat anak-anak takut.
Tetapi ia juga tidak ingin menutup telinga terhadap apa yang mereka rasakan.
“Kalau kamu boleh memilih,” tanya Rantaka, “kamu ingin jalan itu bagaimana?”
Dita berpikir.
“Jalannya boleh ada. Tapi jangan sampai pohon beringinnya ditebang.”
Rantaka tersenyum.
“Itu pendapat yang baik.”
Menjelang siang, Liris mengajak beberapa anak untuk menceritakan gambar mereka satu per satu.
Ia menuliskan cerita-cerita kecil itu di buku catatan.
Wati berkata bahwa kebun ibunya adalah tempat keluarganya mendapatkan uang untuk membeli beras dan buku sekolah.
Danu berkata jembatan kayu dekat rumahnya sering licin saat hujan, tetapi ia tetap melewatinya karena itu jalan paling dekat menuju sekolah.
Rafi berkata sungai adalah tempat ayahnya mencari ikan saat kolam sedang tidak menghasilkan.
Dita berkata pohon beringin adalah tempat semua anak merasa memiliki teman.
Liris mendengarkan dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Selama ini, banyak orang dewasa berbicara tentang desa dalam angka-angka.
Luas lahan.
Jumlah penduduk.
Nilai investasi.
Panjang jalan.
Namun, anak-anak berbicara tentang desa dengan cara yang berbeda.
Mereka berbicara tentang tempat pulang.
Tentang jalan menuju sekolah.
Tentang sungai yang memberi ikan.
Tentang kebun yang memberi makan.
Tentang pohon beringin yang memberi ruang untuk belajar dan berteman.
Liris lalu menuliskan sebuah kalimat di papan tulis:
DESA BUKAN HANYA TANAH. DESA ADALAH TEMPAT HIDUP.
Anak-anak menyalin kalimat itu ke buku masing-masing.
Sore hari, gambar-gambar anak mulai ditempel di dinding perpustakaan desa.
Banyu menyusun peta desa besar di tengah dinding.
Di sekelilingnya, Liris menempelkan gambar anak-anak.
Jagra memasang kertas kecil di bawah setiap gambar, berisi nama anak dan cerita singkat mereka.
Dita berdiri di depan gambarnya sendiri.
“Gambar saya dipajang,” katanya bangga.
“Karena gambar kamu penting,” jawab Liris.
“Memangnya orang dewasa mau lihat?”
“Mereka harus lihat.”
Tidak lama kemudian, warga mulai datang.
Awalnya hanya beberapa ibu yang ingin melihat gambar anak-anak mereka.
Lalu datang para petani.
Datang pula beberapa pemuda.
Seno berdiri cukup lama di depan gambar Rafi tentang sungai berwarna abu-abu.
Ia membaca tulisan di bawahnya:
Sungai tempat ayah saya mencari ikan. Sekarang airnya kadang keruh.
Seno menunduk.
Ia teringat ketika masih kecil, ia dan Rantaka sering melompat dari batu besar di tepi sungai. Saat itu, airnya bening dan dingin. Mereka bisa melihat ikan kecil bergerak di antara batu-batu.
Kini, sungai itu tidak lagi sama.
Namun, ia baru benar-benar merasakan perubahan itu setelah melihatnya melalui gambar seorang anak.
Pak Warto juga datang.
Ia berdiri di depan gambar Wati tentang kebun sayur.
“Kebun seperti ini memang kecil,” katanya kepada Rantaka. “Tapi dari kebun kecil seperti ini, orang bisa hidup.”
Rantaka mengangguk.
“Itulah yang ingin kami tunjukkan, Pak. Kalau ada pembangunan, semua yang ada di desa harus dihitung. Bukan hanya tanahnya, tetapi kehidupan yang bergantung di atasnya.”
Pak Warto memandang peta besar di dinding.
“Kalau nanti mereka membawa peta perusahaan, kita tunjukkan peta ini.”
“Ya,” jawab Rantaka. “Kita tunjukkan bahwa di balik garis-garis itu, ada warga dan anak-anak.”
Namun, tidak semua orang menyambut kegiatan itu dengan baik.
Menjelang petang, Pak Darma datang bersama dua orang warga yang selama ini mendukung rencana perusahaan.
Ia berdiri di pintu perpustakaan.
Matanya menyapu gambar-gambar yang menempel di dinding.
“Kalian memakai anak-anak untuk melawan pembangunan,” katanya.
Suasana di dalam perpustakaan langsung hening.
Liris berdiri dari kursinya.
“Kami tidak memakai anak-anak untuk melawan siapa pun.”
“Lalu apa ini?” Pak Darma menunjuk gambar sungai dan jalan besar. “Kalian membuat anak-anak takut pada jalan dan perusahaan.”
“Anak-anak menggambar apa yang mereka lihat dan apa yang mereka dengar,” jawab Liris. “Kami tidak menyuruh mereka menggambar jalan sebagai ancaman.”
Pak Darma menatap Rantaka.
“Sebagai guru, kau seharusnya mengajar pelajaran sekolah. Bukan mengajak murid memikirkan urusan orang dewasa.”
Rantaka menahan napas.
Ia tahu, jika ia menjawab dengan emosi, kegiatan itu akan mudah dipelintir.
“Sebagai guru,” katanya tenang, “saya mengajarkan anak-anak mengenal lingkungan tempat mereka hidup. Mereka belajar menggambar, menulis, bercerita, dan memahami desa mereka.”
“Ini bukan pelajaran. Ini propaganda.”
“Kalau anak-anak mengatakan sungai keruh, apakah itu propaganda?” tanya Rantaka.
Pak Darma tidak menjawab.
“Kalau anak-anak menggambar kebun orang tuanya, apakah itu propaganda?” lanjut Rantaka.
“Kalau mereka ingin pohon beringin tidak ditebang, apakah itu propaganda?”
Pak Darma mengatupkan rahang.
“Kalian sedang membentuk opini warga.”
Liris menatapnya.
“Warga sudah punya pikiran sendiri, Pak. Anak-anak juga punya mata sendiri.”
Kalimat itu membuat beberapa warga yang hadir mulai berbisik.
Pak Darma menatap dinding perpustakaan sekali lagi.
Kemudian ia berkata, “Kalau kegiatan ini membuat perusahaan merasa tidak diterima, jangan salahkan siapa pun jika kesempatan kerja hilang dari desa.”
Setelah itu, ia pergi.
Seno yang sejak tadi berdiri di belakang warga lain melangkah maju.
“Aku tidak setuju kalau anak-anak disalahkan,” katanya.
Semua orang menoleh kepadanya.
“Aku masih ingin tahu soal pelatihan kerja. Aku masih ingin ada pekerjaan untuk pemuda desa. Tapi melihat gambar-gambar ini tidak berarti kita menolak kerja. Ini hanya membuat kita ingat bahwa pekerjaan tidak boleh menghilangkan rumah kita sendiri.”
Rantaka memandang Seno.
Ucapan itu sederhana, tetapi sangat berarti.
Karena konflik di Desa Wanasari bukan tentang siapa yang mendukung atau menolak pembangunan.
Konflik itu tentang bagaimana desa dapat berkembang tanpa meninggalkan warganya sendiri.
Malamnya, Langit Biru kembali berkumpul di perpustakaan.
Di depan mereka, peta warga mulai bertambah lengkap.
Banyu menambahkan tanda sumber air dan saluran parit.
Jagra menambahkan lokasi kolam-kolam warga.
Liris menempelkan cerita anak-anak dalam potongan kertas kecil.
Rantaka menandai sekolah, perpustakaan, pohon beringin, dan jalan yang biasa digunakan anak-anak menuju kelas.
“Kita sudah punya banyak data,” kata Banyu.
“Belum cukup,” jawab Jagra. “Kita masih harus mendata kebun dan rumah warga yang dekat jalur kemungkinan.”
“Kita tidak punya banyak waktu,” kata Liris.
Rantaka mengangguk.
Ia tahu konflik ini mulai bergerak lebih cepat.
Pak Hendra mungkin akan datang lagi dengan sosialisasi resmi.
Pak Darma mungkin akan mengumpulkan dukungan baru.
Warga bisa semakin terbelah.
Dan jika mereka terlambat, keputusan besar bisa diambil sebelum warga memahami apa yang sedang terjadi.
“Kita tidak perlu menyelesaikan semuanya sekaligus,” kata Rantaka. “Yang penting, kita tahu arah perjuangan kita.”
“Arah yang mana?” tanya Banyu.
Rantaka menunjuk peta besar di dinding.
“Kita ingin perusahaan membuka semua rencananya. Kita ingin warga mendapat kesempatan memahami dan berdiskusi. Kita ingin sungai, kebun, sekolah, dan kolam dilindungi. Dan kita ingin pemuda desa mendapat pelatihan yang benar-benar berguna.”
Jagra mengangguk.
“Berarti kita tidak hanya menolak.”
“Kita menawarkan jalan lain,” kata Liris.
“Jalan pembangunan yang tidak mengorbankan desa,” tambah Banyu.
Di luar perpustakaan, angin malam membawa suara sungai dari kejauhan.
Suara itu tidak lagi sejernih masa kecil mereka.
Namun, masih cukup kuat untuk mengingatkan bahwa sungai itu belum menyerah.
Seperti Desa Wanasari.
Seperti Gerobak Buku Langit Biru.
Seperti anak-anak yang menggambar rumah mereka dengan pensil warna sederhana, tetapi menyimpan harapan besar di dalam setiap garisnya.
Malam itu, Rantaka menatap gambar Dita tentang pohon beringin dan jalan besar.
Ia teringat ucapan anak kecil itu:
Jalannya boleh ada. Tapi jangan sampai pohon beringinnya ditebang.
Bagi Rantaka, kalimat itu menjadi arah yang sederhana, tetapi kuat.
Desa boleh maju.
Jalan boleh dibangun.
Anak-anak boleh bermimpi lebih jauh.
Namun, akar mereka tidak boleh dicabut.
Dan sebelum semua keputusan besar diambil, suara anak-anak Desa Wanasari harus didengar.
Karena masa depan desa bukan hanya milik orang yang menandatangani kertas hari ini.
Masa depan desa adalah milik mereka yang akan tinggal dan tumbuh di dalamnya esok hari.
BAB 15 - ULTIMATUM DI BALAI DESA
Tiga hari setelah gambar-gambar anak-anak dipajang di perpustakaan, sebuah pengumuman ditempel di papan depan balai Desa Wanasari.
Kertas itu berwarna putih, tetapi huruf-hurufnya dicetak tebal.
UNDANGAN RAPAT WARGA
PEMBAHASAN LANJUTAN RENCANA PENGEMBANGAN KAWASAN USAHA
KEHADIRAN WARGA SANGAT DIHARAPKAN
Di bagian bawah pengumuman, terdapat kalimat yang membuat banyak orang berhenti lebih lama saat membacanya.
Pendataan calon peserta pelatihan kerja dan program kemitraan akan dilakukan setelah rapat.
Sejak pagi, kalimat itu menjadi bahan pembicaraan di warung, kebun, sekolah, dan tepi sungai.
Bagi sebagian warga, pengumuman itu terdengar seperti kabar baik.
Bagi sebagian lainnya, kalimat tersebut terdengar seperti tekanan yang dibungkus janji.
Seno membaca pengumuman itu dua kali.
Ia berdiri di depan balai desa bersama beberapa pemuda lain.
“Kalau namaku tidak masuk daftar, aku tidak punya kesempatan lagi,” kata seorang pemuda bernama Arman.
“Belum tentu,” jawab Seno.
“Kenapa belum tentu? Mereka sudah jelas menulis pendataan dilakukan setelah rapat.”
Seno tidak menjawab.
Ia tahu apa yang dimaksud Arman.
Bagi pemuda yang belum memiliki pekerjaan tetap, pelatihan kerja bukan sekadar kegiatan beberapa hari. Pelatihan itu bisa menjadi pintu keluar dari hidup yang selama ini terasa sempit.
Namun, Seno juga teringat wajah ibunya saat mengaku menandatangani surat tanpa benar-benar memahami isinya.
Ia teringat gambar Rafi tentang sungai yang berubah warna.
Ia teringat gambar Dita tentang pohon beringin yang takut ditebang.
Peluang kerja memang penting.
Tetapi kesempatan yang datang bersama ketakutan bukanlah kesempatan yang mudah dipercaya.
Sore itu, Rantaka mengumpulkan Liris, Banyu, dan Jagra di perpustakaan.
Peta Warga Wanasari kini hampir memenuhi satu dinding.
Ada tanda sumber air, kebun warga, kolam ikan, jalan menuju sekolah, jembatan kecil, pohon beringin, dan jalur Gerobak Buku Langit Biru.
Di samping peta, gambar-gambar anak-anak masih tergantung.
Liris sedang membaca ulang pengumuman rapat.
“Mereka sengaja menaruh pelatihan kerja di bagian bawah,” katanya. “Supaya warga datang dengan harapan.”
“Bukan hanya datang,” ujar Jagra. “Supaya mereka merasa harus mendukung.”
Banyu menunjuk peta besar di dinding.
“Kita belum mendapatkan peta resmi mereka. Kalau rapat ini hanya sosialisasi lagi, warga tetap tidak akan tahu jalur rencana kawasan usaha.”
Rantaka mengangguk.
“Kita harus meminta forum terbuka.”
“Pak Darma pasti menolak,” kata Jagra.
“Pak Hendra juga mungkin tidak akan mau menjawab semua pertanyaan,” tambah Liris.
“Kalau begitu, kita bawa pertanyaan warga,” jawab Rantaka.
Ia mengambil selembar kertas dan menuliskan beberapa poin.
- Peta resmi rencana kawasan usaha dan jalur akses.
- Luas wilayah yang direncanakan.
- Dampak terhadap sungai, parit, kebun, kolam, dan sekolah.
- Bentuk pelatihan kerja serta jaminan keterlibatan pemuda desa.
- Jaminan bahwa warga dapat menyampaikan keberatan tanpa kehilangan kesempatan mengikuti pelatihan.
- Salinan surat dukungan yang telah ditandatangani warga.
- Waktu yang cukup bagi warga untuk berdiskusi sebelum keputusan dibuat.
“Kita tidak perlu berteriak,” kata Rantaka. “Kita hanya perlu meminta jawaban yang jelas.”
Jagra memandang daftar itu.
“Dan kalau mereka tidak menjawab?”
“Warga akan melihat,” jawab Rantaka.
Liris menatap sahabatnya.
“Rantaka, bagaimana kalau warga justru marah kepada kita? Mereka bisa merasa kita menghalangi pelatihan.”
Rantaka terdiam sejenak.
“Aku tidak ingin ada satu pun pemuda kehilangan kesempatan,” katanya. “Karena itu kita tidak menolak pelatihan. Kita meminta pelatihan dipisahkan dari surat dukungan dan rencana lahan.”
Banyu mengangguk.
“Pelatihan harus menjadi hak warga, bukan hadiah untuk yang setuju.”
Kalimat itu membuat mereka semua terdiam.
Di luar perpustakaan, beberapa anak sedang membaca buku di bawah pohon beringin.
Mereka tertawa ketika salah seorang dari mereka salah membaca kalimat dalam buku cerita.
Suara tawa itu terdengar ringan.
Namun, bagi Rantaka, suara itu menjadi alasan mengapa mereka tidak boleh menyerah.
Malam rapat tiba.
Balai Desa Wanasari kembali penuh.
Namun, suasananya berbeda dari Malam Membaca Warga.
Kali ini, kursi disusun menghadap ke depan seperti rapat resmi.
Di meja utama, duduk Kepala Desa, Pak Sekretaris Desa, Pak Darma, Pak Hendra, serta dua orang dari perusahaan yang sebelumnya tidak pernah dilihat warga.
Salah satunya adalah pria berusia sekitar lima puluh tahun dengan jas abu-abu dan wajah yang terlalu tenang.
Di depan meja, sebuah spanduk dipasang:
BERSAMA MEMBANGUN WANASARI MENUJU MASA DEPAN SEJAHTERA
Di sisi kanan balai, sebuah meja kecil telah disiapkan.
Di atasnya terdapat formulir pendaftaran pelatihan kerja.
Di samping formulir, terdapat daftar hadir warga.
Beberapa pemuda sudah berdiri mengantre sebelum rapat dimulai.
Arman tampak di antara mereka.
Seno berdiri tidak jauh dari antrean, tetapi belum mengambil formulir.
Rantaka melihat pemandangan itu dari pintu masuk.
Ia tidak menyalahkan mereka.
Ia memahami bahwa orang yang lama hidup dalam kesulitan akan mudah berlari menuju pintu yang tampak terbuka.
Masalahnya, tidak semua pintu membawa orang ke tempat yang lebih baik.
Rapat dibuka oleh Kepala Desa.
Ia menyampaikan bahwa Desa Wanasari membutuhkan pembangunan, lapangan kerja, dan peluang ekonomi bagi warga.
Setelah itu, Pak Hendra berdiri.
“Bapak dan Ibu sekalian,” katanya dengan suara tenang, “perusahaan kami datang bukan untuk mengambil hak warga. Kami datang untuk bekerja sama. Kami ingin membangun akses, membuka peluang usaha, dan memberikan pelatihan bagi pemuda desa.”
Beberapa warga bertepuk tangan.
Pak Hendra melanjutkan.
“Kami memahami ada beberapa pertanyaan dari masyarakat. Namun, perlu dipahami bahwa rencana ini masih dalam tahap awal. Karena itu, kami membutuhkan dukungan agar proses pembahasan dapat berjalan.”
Ia memberi isyarat kepada pria berjas abu-abu.
Pria itu kemudian berdiri.
“Nama saya Surya Pratama,” katanya. “Saya mewakili tim perencanaan. Kami telah melakukan peninjauan awal terhadap potensi kawasan di sekitar Desa Wanasari.”
Ia membuka sebuah map.
“Kawasan ini memiliki peluang besar untuk berkembang. Jika semua berjalan baik, akan ada perbaikan akses jalan, program pelatihan, serta kesempatan kerja bagi warga.”
“Peta mana?” suara Jagra terdengar dari bagian tengah ruangan.
Beberapa kepala menoleh.
Pak Hendra tersenyum tipis.
“Peta teknis masih dalam proses penyusunan.”
“Kalau peta masih disusun,” kata Jagra, “kenapa surat dukungan sudah dibawa ke rumah-rumah warga?”
Suasana mulai berubah.
Pak Darma berdiri.
“Jagra, beri kesempatan narasumber menjelaskan.”
“Saya sedang meminta penjelasan,” jawab Jagra.
Rantaka menepuk bahu sahabatnya, lalu berdiri.
“Pak Kepala Desa, kami membawa daftar pertanyaan dari warga. Kami mohon agar pertanyaan ini dijawab dalam forum terbuka.”
Kepala Desa tampak ragu.
Pak Darma lebih dulu berkata, “Tidak semua hal harus dibahas malam ini. Jangan membuat rapat menjadi tidak terkendali.”
“Justru karena ini menyangkut seluruh desa, rapat harus terkendali melalui jawaban yang jelas,” kata Liris.
Ia berdiri di samping Rantaka.
Di tangannya, terdapat daftar pertanyaan yang telah mereka susun.
Pak Hendra memandang mereka satu per satu.
“Silakan,” katanya.
Liris membaca pertanyaan pertama.
“Apakah perusahaan bersedia menunjukkan peta resmi rencana kawasan usaha dan jalur akses kepada warga?”
Pria berjas abu-abu menjawab, “Peta belum dapat dibuka karena masih merupakan dokumen kerja.”
“Apakah pemerintah desa sudah menerima salinannya?” tanya Rantaka.
Pak Sekretaris Desa menunduk.
Kepala Desa tampak menatap meja.
Pak Hendra menjawab, “Dokumen lengkap akan disampaikan sesuai tahapan.”
“Jadi warga diminta mendukung sesuatu yang belum boleh mereka lihat?” tanya Liris.
Beberapa warga mulai berbisik.
Pak Hendra tidak langsung menjawab.
Liris melanjutkan ke pertanyaan kedua.
“Apakah warga yang tidak menandatangani surat dukungan tetap boleh mengikuti pelatihan kerja?”
Pria berjas abu-abu menjawab cepat, “Pelatihan terbuka untuk warga.”
“Terbuka tanpa syarat dukungan?” tanya Banyu.
“Secara prinsip, ya.”
“Bisa Bapak tuliskan di papan?” tanya Banyu.
Pria itu terdiam.
Pak Darma berdiri.
“Tidak perlu semua hal dibuat seperti sidang pengadilan.”
“Kalau tidak ada yang disembunyikan, menulis jawaban seharusnya tidak sulit,” kata Banyu.
Beberapa warga mulai mengangguk.
Seno menatap meja pendaftaran pelatihan kerja.
Ia melihat Arman menggenggam formulir dengan wajah gelisah.
Seno lalu berdiri.
“Saya ingin ikut pelatihan,” katanya.
Suara di balai desa mereda.
“Tapi saya ingin bertanya. Kalau saya tidak mau menandatangani surat dukungan, apakah nama saya tetap dicatat?”
Pak Hendra tersenyum.
“Tentu, Nak. Kami tidak memaksa siapa pun.”
“Kalau begitu,” kata Seno, “tolong katakan dengan jelas di depan semua warga.”
Pak Hendra tampak sedikit berubah.
Ia menoleh kepada pria berjas abu-abu.
Kemudian ia berkata, “Baik. Pelatihan tidak akan dikaitkan dengan kewajiban menandatangani surat dukungan.”
“Ditulis,” kata seorang ibu dari belakang.
“Ditulis!” seru warga lain.
Suasana menjadi ramai.
Pak Darma mengangkat tangan.
“Tenang! Jangan semua orang bicara sekaligus!”
Namun, kali ini warga tidak lagi hanya duduk diam.
Bu Karmi berdiri.
“Kalau pelatihan tidak ada hubungannya dengan surat, saya ingin meminta salinan surat yang dulu saya tanda tangani.”
Pak Warto ikut berdiri.
“Saya juga ingin tahu apakah kebun saya masuk jalur rencana.”
Seorang warga lain bertanya tentang sungai.
Warga lain bertanya tentang kolam.
Seorang ibu bertanya apakah jalan besar akan melewati jalur anak-anak menuju sekolah.
Pertanyaan datang dari berbagai arah.
Pak Hendra mencoba menjawab dengan kalimat-kalimat umum.
“Kami akan mempertimbangkan.”
“Kami akan melakukan kajian.”
“Kami akan berkoordinasi.”
“Kami akan menyampaikan pada tahap berikutnya.”
Namun, warga mulai merasa bahwa jawaban-jawaban itu tidak cukup.
Rantaka berdiri lagi.
“Pak Hendra, warga tidak meminta jawaban sempurna malam ini. Warga meminta kepastian bahwa tidak ada keputusan lanjutan sebelum peta dibuka dan dampak dijelaskan.”
Pria berjas abu-abu menatap Rantaka.
“Proses investasi memiliki jadwal. Kami tidak bisa menunggu terlalu lama.”
“Desa ini juga tidak bisa mengambil keputusan terlalu cepat,” jawab Rantaka.
Pak Darma memukul meja dengan telapak tangannya.
“Kalau perusahaan menunggu terlalu lama, mereka akan memilih desa lain!”
Kalimat itu membuat balai desa mendadak sunyi.
Pak Darma berdiri dengan wajah merah.
“Kalian semua harus mengerti. Desa ini sudah terlalu lama tertinggal. Anak-anak muda pergi karena tidak ada pekerjaan. Kebun tidak cukup. Kolam gagal. Jalan rusak. Sekarang ada orang datang menawarkan peluang, tetapi kalian malah sibuk mencari alasan untuk menunda.”
Jagra berdiri.
“Kami tidak menunda karena takut maju, Pak.”
“Lalu karena apa?”
“Karena kami tidak mau maju dengan mata tertutup.”
Pak Darma menatapnya tajam.
“Kau pikir kau lebih peduli pada desa daripada saya?”
Jagra menarik napas.
“Aku tidak pernah bilang begitu. Tapi aku tahu rasanya kehilangan kolam karena air berubah. Aku tahu rasanya melihat keluarga harus meminjam uang setelah panen gagal. Karena itu aku tidak mau menerima janji tanpa tahu akibatnya.”
Pak Darma terdiam.
Jagra melanjutkan.
“Kalau perusahaan benar-benar baik, tunjukkan peta. Jelaskan rencana. Pastikan pelatihan tidak menjadi alat menekan warga. Setelah itu, warga bisa memutuskan dengan kepala tegak.”
Untuk beberapa detik, tidak ada yang bicara.
Kemudian suara tepuk tangan terdengar dari belakang.
Awalnya hanya satu orang.
Lalu beberapa orang.
Lalu semakin banyak.
Bukan semua warga bertepuk tangan.
Namun, cukup banyak untuk menunjukkan bahwa Langit Biru tidak lagi berdiri sendirian.
Pak Hendra berbicara dengan pria berjas abu-abu beberapa saat.
Lalu ia kembali berdiri.
“Baik,” katanya. “Kami menghargai aspirasi masyarakat. Kami akan mengadakan satu pertemuan lanjutan dalam waktu dekat dengan membawa penjelasan yang lebih lengkap.”
“Peta resmi?” tanya Liris.
Pak Hendra terdiam sejenak.
“Kami akan membawa materi yang diperlukan untuk menjelaskan rencana awal.”
“Peta resmi?” ulang Liris.
Pak Hendra akhirnya mengangguk tipis.
“Peta rencana awal akan kami tampilkan.”
“Dan tidak ada penandatanganan lanjutan sebelum itu?” tanya Rantaka.
Pak Hendra menatap Pak Darma.
Pak Darma tampak tidak senang.
Namun, di depan warga yang mulai bersuara, ia tidak bisa berkata banyak.
“Tidak ada penandatanganan lanjutan malam ini,” kata Pak Hendra.
“Dan pelatihan tidak dikaitkan dengan surat dukungan?” tanya Seno.
“Tidak dikaitkan,” jawab Pak Hendra.
Banyu segera menulis dua kalimat itu di papan tulis.
Ia menuliskannya besar-besar.
TIDAK ADA PENANDATANGANAN LANJUTAN SEBELUM PETA RENCANA AWAL DIBUKA.
PELATIHAN KERJA TIDAK DIKAITKAN DENGAN SURAT DUKUNGAN.
Warga memandang tulisan itu.
Tidak semua masalah selesai.
Tidak ada jaminan bahwa perusahaan akan benar-benar terbuka.
Tidak ada kepastian bahwa jalur rencana tidak akan melewati kebun atau sungai.
Namun, malam itu, warga berhasil mendapatkan sesuatu yang sebelumnya tidak mereka miliki.
Waktu.
Waktu untuk memahami.
Waktu untuk bertanya.
Waktu untuk memilih.
Setelah rapat berakhir, balai desa perlahan kosong.
Sebagian pemuda tetap mendaftarkan diri untuk pelatihan.
Termasuk Arman.
Namun, kali ini ia tidak menandatangani surat dukungan apa pun.
Seno berdiri di sampingnya.
“Aku juga daftar,” katanya.
Arman menoleh.
“Kau jadi ikut?”
“Aku butuh kerja. Tapi aku juga ingin tahu apa yang terjadi pada desa ini.”
Arman tersenyum tipis.
“Mungkin kita bisa ikut pelatihan tanpa harus menjual tanah.”
Seno mengangguk.
Di luar balai desa, Rantaka, Liris, Banyu, dan Jagra berdiri di bawah langit malam.
Mereka lelah.
Namun, ada sesuatu yang berubah dalam cara mereka memandang warga.
Malam itu, mereka tidak lagi hanya melihat warga sebagai orang-orang yang harus diyakinkan.
Mereka melihat warga sebagai orang-orang yang sedang berjuang dengan kebutuhan, ketakutan, dan harapan masing-masing.
“Pak Darma akan semakin marah,” kata Jagra.
“Pak Hendra juga tidak akan mudah menyerah,” ujar Liris.
“Dan kita belum tahu apa yang ada di peta mereka,” tambah Banyu.
Rantaka memandang balai desa.
“Karena itu kita harus menyiapkan peta kita.”
Ia teringat gambar Dita.
Pohon beringin.
Gerobak Buku.
Jalan besar.
Kalimat sederhana seorang anak kecil yang ingin desa maju tanpa kehilangan tempat belajar.
“Kita sudah mendapat waktu,” kata Rantaka. “Sekarang kita gunakan waktu itu untuk melengkapi Peta Warga.”
Angin malam bertiup melewati halaman balai desa.
Di kejauhan, suara sungai terdengar seperti bisikan panjang.
Bagi sebagian orang, sungai itu mungkin hanya garis biru di peta.
Namun, bagi Desa Wanasari, sungai adalah sumber air, sumber ikan, sumber kebun, sumber cerita, dan sumber hidup.
Jika sungai itu hilang, banyak hal akan ikut hilang.
Dan jika warga tidak berani membaca peta masa depan mereka sendiri, mungkin suatu hari mereka akan kehilangan desa tanpa pernah benar-benar tahu kapan semuanya dimulai.
Malam itu, Langit Biru pulang dengan langkah lelah, tetapi hati yang lebih teguh.
Mereka belum memenangkan perjuangan.
Namun, mereka berhasil menghentikan keputusan yang terlalu cepat.
Dan dalam perjuangan untuk menjaga desa, kadang-kadang satu malam tambahan untuk berpikir adalah awal dari keberanian yang jauh lebih besar.
BAB 16 - PETA RESMI DAN LUKA LAMA
Dua minggu setelah rapat di balai desa, sebuah mobil putih kembali memasuki Desa Wanasari.
Mobil itu berhenti di halaman kantor desa tepat setelah matahari naik setinggi pohon kelapa. Dari dalam mobil turun Pak Hendra, Surya Pratama, dan dua orang lain yang membawa tabung besar berisi gulungan kertas.
Warga yang melihat kedatangan mereka mulai berdatangan.
Sebagian datang dari kebun dengan sepatu masih berlumur tanah.
Sebagian datang dari kolam ikan.
Beberapa ibu membawa anak kecil.
Para pemuda berdiri di dekat pagar kantor desa, termasuk Seno dan Arman.
Kabar bahwa perusahaan akan membawa peta rencana awal telah menyebar sejak sehari sebelumnya.
Tidak ada yang tahu pasti apa yang akan terlihat di dalam peta itu.
Namun, semua orang tahu bahwa garis-garis di atas kertas bisa menentukan arah hidup mereka bertahun-tahun ke depan.
Balai desa kembali penuh.
Kali ini, meja di bagian depan tidak hanya berisi mikrofon dan map rapat. Di sampingnya berdiri papan besar yang ditutup kain putih.
Surya Pratama berdiri di depan warga.
“Terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada kami,” katanya. “Sebagaimana janji kami pada pertemuan sebelumnya, hari ini kami membawa peta rencana awal pengembangan kawasan usaha di sekitar Desa Wanasari.”
Ia memberi isyarat kepada salah satu rekannya.
Kain putih ditarik perlahan.
Peta besar terbuka.
Di atas kertas itu terlihat garis-garis merah, kuning, dan biru. Ada tanda jalan akses, batas kawasan, titik bangunan pendukung, serta jalur yang membelah bagian timur Desa Wanasari.
Suasana balai desa mendadak hening.
Banyu berdiri lebih dekat.
Matanya mengikuti garis merah yang bergerak dari arah jalan kecamatan, melewati semak di pinggir bukit, lalu turun mendekati sungai.
Jagra juga maju.
Wajahnya berubah ketika melihat jalur kuning yang berada tidak jauh dari beberapa kolam ikan warga.
“Ini dekat kolam kami,” katanya.
Surya mengangguk singkat.
“Jalur tersebut adalah akses pendukung. Kami masih melakukan kajian teknis.”
“Dekat itu seberapa dekat?” tanya Jagra.
Surya membuka map.
“Kurang lebih dua ratus meter dari kawasan kolam.”
“Dua ratus meter dari kolam yang airnya berasal dari parit yang sama?” tanya Jagra.
Surya tidak segera menjawab.
Rantaka melangkah ke depan.
Ia membawa salinan Peta Warga Wanasari yang telah disusun bersama Banyu, Liris, Jagra, serta warga.
“Boleh kami membandingkan peta ini dengan peta warga?” tanyanya.
Pak Hendra mengangguk, meskipun wajahnya terlihat tidak terlalu nyaman.
Banyu dan beberapa pemuda lalu membawa Peta Warga ke depan.
Peta itu tidak sebersih peta perusahaan.
Tidak dicetak dengan tinta tajam.
Tidak memiliki simbol-simbol teknis yang rumit.
Namun, di dalamnya terdapat tanda-tanda yang tidak ada dalam peta perusahaan.
Sumber air.
Parit kebun.
Kolam ikan.
Jalan setapak anak-anak menuju sekolah.
Pohon beringin.
Lokasi Gerobak Buku Langit Biru.
Kebun sayur warga.
Tempat warga mengambil bambu.
Titik rawan banjir.
Liris menempelkan beberapa gambar anak-anak di sisi peta.
Gambar sungai keruh.
Gambar kebun.
Gambar jalan menuju sekolah.
Gambar pohon beringin.
“Di peta kami,” kata Rantaka, “jalur akses ini melewati daerah resapan air. Kalau tanah di sana dibuka dan kendaraan berat masuk, air hujan akan turun lebih cepat ke parit dan sungai.”
Banyu menunjuk bagian bawah peta.
“Dan di sini ada saluran kecil yang mengalir ke kolam warga. Saluran itu mungkin tidak terlihat di peta teknis karena ukurannya kecil. Tetapi bagi kami, itu sumber air.”
Surya memperhatikan peta warga dengan wajah datar.
“Kami akan mencatat masukan tersebut.”
“Bukan hanya dicatat,” kata Jagra. “Harus dilindungi.”
Beberapa warga mengangguk.
Pak Warto berdiri dari kursinya.
“Kebun saya ada di sini,” katanya sambil menunjuk peta warga. “Di peta perusahaan, kebun saya hanya seperti tanah kosong.”
Surya melihat ke arah yang ditunjuk.
“Dalam peta rencana awal, area tersebut masuk zona penyangga.”
“Zona penyangga itu artinya apa?” tanya Pak Warto.
“Area yang kemungkinan akan terdampak kegiatan pendukung.”
“Kalau terdampak, apakah saya masih bisa menanam?”
“Kami belum bisa menjawab secara rinci sebelum kajian selesai.”
Pak Warto memandang peta itu dengan mata yang mulai merah.
“Jadi kebun saya bisa hilang, tetapi Bapak belum bisa menjawab?”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Di bagian belakang balai desa, Pak Darma duduk dengan kedua tangan saling menggenggam.
Sejak peta dibuka, ia tidak banyak bicara.
Namun, wajahnya tampak lebih tegang daripada biasanya.
Seno memperhatikan ayahnya dari jauh.
Ia tahu Pak Darma selalu menjadi orang yang paling keras berbicara tentang pembangunan.
Ia selalu mengatakan bahwa Desa Wanasari membutuhkan jalan, pekerjaan, dan perubahan.
Namun, pagi itu, ketika jalur merah di peta mendekati sungai dan kebun warga, Pak Darma tidak terlihat seperti orang yang sedang menyambut masa depan.
Ia terlihat seperti seseorang yang sedang berusaha menahan sesuatu dari masa lalu.
Ketika rapat mulai semakin ramai, Pak Darma berdiri.
“Semua pembangunan pasti memiliki dampak,” katanya.
Warga kembali hening.
“Kita tidak bisa terus hidup dengan ketakutan. Kalau semua hal harus sempurna, Desa Wanasari tidak akan pernah maju.”
Jagra menatapnya.
“Kami tidak meminta semuanya sempurna, Pak. Kami meminta agar hidup warga tidak dikorbankan.”
Pak Darma menghela napas.
“Kalian masih muda. Kalian belum tahu bagaimana rasanya hidup ketika tidak ada jalan, tidak ada pekerjaan, tidak ada pilihan.”
“Aku tahu rasanya,” kata Jagra.
Suaranya tidak keras, tetapi cukup membuat semua orang mendengar.
“Aku tahu rasanya melihat kolam ikan rusak. Aku tahu rasanya menghitung uang untuk membeli pakan. Aku tahu rasanya melihat ayah pulang dengan wajah kecewa karena hasil panen tidak cukup.”
Pak Darma menatapnya tajam.
“Aku juga tahu,” lanjut Jagra, “bahwa orang yang susah justru paling mudah dipaksa menerima sesuatu tanpa penjelasan.”
Kata-kata itu membuat Pak Darma terdiam.
Seno berdiri perlahan.
“Ayah,” katanya.
Pak Darma menoleh.
Seno berjalan beberapa langkah ke depan.
“Ayah selalu bilang kita harus mengambil kesempatan supaya anak muda tidak pergi semua dari desa.”
Pak Darma tidak menjawab.
“Aku setuju,” lanjut Seno. “Aku ingin kerja. Aku ingin punya masa depan di sini. Tapi kalau jalannya merusak sungai dan kebun, nanti kami bekerja untuk siapa? Kalau tanah habis, kami pulang ke mana?”
Suara Seno bergetar pada kalimat terakhir.
Pak Darma memejamkan mata.
Untuk sesaat, balai desa terasa sangat sunyi.
Kemudian Pak Darma duduk kembali tanpa berkata apa-apa.
Rapat dilanjutkan, tetapi suasana sudah berubah.
Warga mulai bertanya lebih berani.
Seorang ibu bertanya tentang kebun singkong.
Seorang petani bertanya tentang debu kendaraan berat.
Seorang pemuda bertanya apakah pelatihan kerja benar-benar menjamin pekerjaan.
Seorang nelayan sungai bertanya tentang limbah.
Setiap pertanyaan dijawab dengan kalimat yang hampir sama.
“Kami akan kaji.”
“Kami akan koordinasikan.”
“Kami akan tindak lanjuti.”
Liris mencatat semua jawaban itu dalam buku kecilnya.
Ia menulis bukan hanya pertanyaan warga, tetapi juga bagian-bagian yang belum dijawab.
Ia tahu, kata-kata yang tidak dijelaskan sering kali lebih berbahaya daripada janji yang terlalu jelas.
Ketika rapat hampir selesai, Rantaka berdiri.
“Pak Hendra,” katanya, “warga sudah melihat bahwa peta rencana awal ini menyentuh sumber air, saluran kolam, kebun, dan jalur anak-anak menuju sekolah.”
Pak Hendra menatapnya.
“Kami belum mengambil keputusan final.”
“Karena itu, kami meminta satu hal.”
“Apa itu?”
“Tidak ada kegiatan lapangan, pembukaan jalan, pengukuran lanjutan, atau penandatanganan apa pun sebelum ada kajian lingkungan yang dapat dibaca warga dan musyawarah desa yang benar-benar terbuka.”
Pak Darma langsung berdiri.
“Kalian ingin menghentikan semua proses?”
“Tidak,” jawab Rantaka. “Kami ingin memastikan proses berjalan dengan benar.”
“Kalau perusahaan pergi karena terlalu banyak tuntutan, siapa yang bertanggung jawab?”
Rantaka memandang Pak Darma.
“Kalau sungai rusak karena kita terlalu cepat setuju, siapa yang bertanggung jawab?”
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Pak Darma menatap peta perusahaan.
Tatapannya berhenti pada garis merah yang melintas dekat sungai.
Kemudian ia duduk kembali.
Kali ini, ia tidak membantah.
Setelah rapat selesai, warga pulang dengan wajah yang tidak lagi sama.
Sebagian tampak cemas.
Sebagian tampak marah.
Sebagian masih berharap perusahaan dapat membawa pekerjaan.
Namun, hampir semua orang membawa satu kesadaran baru.
Rencana itu bukan lagi sekadar kabar dari kota.
Rencana itu sudah memiliki garis.
Dan garis itu mendekati rumah, kebun, kolam, dan sungai mereka.
Di luar balai desa, Liris melihat Pak Darma berjalan sendirian menuju jalan kecil di belakang kantor desa.
Langkahnya pelan.
Tidak seperti biasanya.
Liris ragu sejenak, lalu menyusulnya.
“Pak Darma,” panggilnya.
Pak Darma berhenti, tetapi tidak langsung menoleh.
“Apa lagi yang ingin kalian katakan?” tanyanya pelan.
“Kami tidak ingin memusuhi Bapak.”
Pak Darma tertawa kecil, tanpa kegembiraan.
“Sejak kapan kalian tidak memusuhi saya?”
“Sejak kami tahu Bapak juga ingin desa ini berubah.”
Pak Darma akhirnya menoleh.
Matanya tampak lelah.
“Desa ini terlalu lama menunggu perubahan, Liris.”
“Kami tahu.”
“Dulu, ketika aku masih muda, aku pernah mendapat kesempatan bekerja di kota. Aku menolaknya karena ayahku sakit dan kebun keluarga tidak ada yang mengurus.”
Liris diam mendengarkan.
“Setelah ayahku meninggal, aku mencoba bertahan di sini. Aku membuka usaha kecil. Aku memelihara ikan. Aku menanam. Tapi beberapa kali gagal. Banjir datang. Harga turun. Jalan rusak. Tidak ada yang peduli.”
Pak Darma menatap ke arah sungai.
“Aku melihat banyak anak muda pergi. Aku melihat mereka pulang hanya saat lebaran. Aku tidak ingin Seno tumbuh dengan pilihan yang sama sempitnya seperti aku.”
Liris mengangguk pelan.
“Bapak takut Seno harus pergi dari desa.”
Pak Darma tidak menjawab, tetapi wajahnya menunjukkan bahwa kalimat itu benar.
“Namun,” kata Liris, “kalau desa kehilangan air, tanah, dan kebunnya, Seno mungkin tetap harus pergi. Bedanya, kali ini ia pergi karena tidak punya tempat untuk bertahan.”
Pak Darma memandang Liris cukup lama.
“Kalian terlalu yakin bisa mengubah semuanya.”
“Tidak,” jawab Liris. “Kami hanya tidak ingin menyerah sebelum mencoba.”
Pak Darma kembali menatap sungai.
Untuk pertama kalinya, Liris melihat keraguan di wajah lelaki itu.
Bukan keraguan karena ia kalah dalam rapat.
Melainkan keraguan karena ia mulai menyadari bahwa masa depan yang ia kejar mungkin memiliki harga yang terlalu mahal.
Malamnya, Langit Biru kembali berkumpul di perpustakaan.
Peta warga kini dipenuhi catatan baru.
Banyu menandai jalur merah perusahaan dengan pensil.
Jagra menambahkan titik-titik kolam yang berada dekat saluran air.
Liris menempelkan daftar pertanyaan yang belum dijawab.
Rantaka menuliskan satu kalimat besar di bagian bawah peta:
PEMBANGUNAN HARUS MENINGKATKAN HIDUP WARGA, BUKAN MENGHILANGKAN SUMBER HIDUPNYA.
Seno datang membawa sebuah map cokelat.
“Apa itu?” tanya Banyu.
Seno menyerahkannya kepada Rantaka.
“Ini salinan surat yang pernah ditandatangani Ibu. Aku menemukannya di lemari rumah.”
Rantaka membuka map itu.
Di bagian bawah surat terdapat kalimat yang sebelumnya tidak pernah dibaca banyak warga.
Warga menyatakan mendukung rencana pengembangan kawasan usaha dan bersedia mengikuti proses penataan wilayah sesuai ketentuan yang berlaku.
Jagra mengerutkan dahi.
“Penataan wilayah?”
“Itu bisa berarti apa saja,” kata Liris.
Seno mengangguk.
“Ayah tidak tahu aku mengambil salinannya.”
“Kenapa kamu memberikannya kepada kami?” tanya Rantaka.
Seno menatap peta besar di dinding.
“Karena aku ingin tahu apa yang sebenarnya akan terjadi pada desa ini.”
Rantaka menutup map itu perlahan.
Ia tahu, salinan surat tersebut bukan jawaban akhir.
Namun, surat itu adalah tanda bahwa perjuangan mereka memasuki tahap yang lebih serius.
Peta perusahaan telah dibuka.
Luka lama Pak Darma mulai terlihat.
Dan kini, ada kalimat-kalimat di atas kertas yang dapat digunakan untuk menekan warga tanpa mereka sadari.
Di luar perpustakaan, malam turun perlahan di atas Desa Wanasari.
Sungai mengalir dalam gelap.
Pohon beringin berdiri diam.
Gerobak Buku Langit Biru terparkir di bawah teras, dengan roda yang masih menyimpan lumpur dari jalan desa.
Rantaka memandang semua itu.
Ia tahu mereka belum sampai pada puncak perjuangan.
Namun, mulai malam itu, mereka tidak lagi hanya menghadapi janji perusahaan.
Mereka menghadapi pilihan besar:
apakah Desa Wanasari akan menyerahkan masa depannya kepada peta yang dibuat orang lain,
atau akan berdiri dengan peta, suara, dan keberaniannya sendiri.
Dan untuk memilih jalan kedua, mereka harus siap menghadapi luka yang selama ini disimpan rapat oleh banyak orang.
BAB 17 - SURAT YANG MEMBELAH KELUARGA
Pagi di Desa Wanasari dimulai dengan suara motor yang berhenti dari rumah ke rumah.
Seorang petugas dari kecamatan datang membawa map biru. Bersamanya ada Pak Sekretaris Desa dan dua orang perangkat desa. Mereka tidak membawa pengeras suara, tidak pula mengundang warga ke balai desa.
Mereka hanya mengetuk pintu.
Lalu menyerahkan selembar surat.
Di bagian atas surat itu tertulis:
PEMBERITAHUAN TENTANG TAHAP PENATAAN WILAYAH DAN PENDATAAN WARGA TERDAMPAK
Di bawah judul itu, ada beberapa kalimat yang membuat banyak warga membaca berulang-ulang.
Surat tersebut menyatakan bahwa perusahaan akan melakukan pendataan lanjutan terhadap lahan, kebun, kolam, dan bangunan yang berada di sekitar jalur rencana kawasan usaha. Warga diminta menyiapkan bukti kepemilikan, data keluarga, serta bersedia menerima kunjungan petugas lapangan.
Bagi sebagian warga, surat itu terlihat seperti urusan administrasi biasa.
Namun, bagi sebagian lain, surat itu terasa seperti pintu yang mulai terbuka menuju sesuatu yang belum mereka pahami sepenuhnya.
Di rumah Pak Warto, surat itu diletakkan di atas meja kayu.
Pak Warto duduk diam di sampingnya.
Istrinya, Bu Ningsih, memegang surat itu dengan tangan gemetar.
“Kalau kebun kita masuk pendataan, berarti kebun kita benar-benar akan terkena?” tanyanya.
Pak Warto menghela napas.
“Belum tentu.”
“Lalu kenapa mereka minta surat tanah?”
“Entahlah.”
Anak mereka, Rudi, yang baru pulang dari kota kabupaten, berdiri di dekat pintu.
“Kalau memang terkena, ya kita pikirkan ganti rugi,” katanya. “Kebun itu juga tidak selalu menghasilkan.”
Bu Ningsih menoleh cepat.
“Kamu bicara seperti tanah itu bukan milik keluargamu.”
“Bukan begitu, Bu. Tapi kita juga harus realistis. Kalau ada uang, kita bisa memperbaiki rumah. Bisa bayar kuliah adik.”
Pak Warto menatap anaknya.
“Kebun itu yang membiayai kamu sekolah.”
Rudi terdiam.
“Waktu kamu kecil, dari kebun itu kita beli seragam. Dari kebun itu kita bayar obat ketika kamu sakit. Memang hasilnya tidak selalu banyak. Tapi tanah itu tidak pernah meninggalkan kita.”
Rudi menunduk.
“Kalau perusahaan memberi ganti rugi yang layak, kita bisa punya modal baru, Pak.”
“Modal untuk apa?”
“Untuk usaha. Untuk pindah ke tempat yang lebih baik.”
Pak Warto tersenyum pahit.
“Orang yang tidak punya tanah selalu mudah disuruh membuka usaha.”
Tidak ada yang menjawab setelah itu.
Surat di atas meja seolah menjadi benda kecil yang mampu membuka perbedaan besar di dalam satu keluarga.
Di rumah Seno, suasana tidak lebih tenang.
Pak Darma membaca surat itu berkali-kali.
Di sebelahnya, Seno duduk dengan wajah tegang.
Ibunya, Bu Ratih, sedang menyiapkan kopi, tetapi tangannya tidak berhenti gemetar.
“Pendataan ini wajar,” kata Pak Darma akhirnya. “Kalau ada rencana pembangunan, tentu mereka harus tahu lahan mana yang terkena.”
“Yang membuatku khawatir bukan pendataannya,” jawab Seno. “Yang membuatku khawatir adalah kalimat ini.”
Ia menunjuk bagian bawah surat.
Warga diharapkan mendukung kelancaran proses penataan wilayah demi kepentingan pembangunan dan kesejahteraan bersama.
“Ini sama seperti surat dukungan yang dulu,” kata Seno. “Bahasanya dibuat halus, tapi bisa dipakai untuk apa saja.”
Pak Darma menatap anaknya.
“Kau terlalu banyak mendengar Rantaka dan teman-temannya.”
“Aku mendengar warga, Yah.”
“Warga juga butuh pekerjaan.”
“Aku tidak menolak pekerjaan.”
“Lalu apa yang kau mau? Semua berhenti? Semua menunggu sampai desa ini semakin tertinggal?”
Seno berdiri.
“Aku mau kita tahu apa yang kita setujui.”
Pak Darma ikut berdiri.
“Kadang-kadang hidup tidak memberi waktu untuk tahu semuanya. Kadang-kadang kita harus mengambil kesempatan sebelum kesempatan itu hilang.”
“Kalau kesempatan itu membuat sungai rusak, bagaimana?”
Pak Darma tidak menjawab.
“Kalau kolam Jagra rusak, kebun Pak Warto hilang, dan anak-anak harus melewati jalan besar untuk sekolah, apakah itu masih kesempatan?”
“Jangan bicara seolah aku tidak peduli pada desa ini!” suara Pak Darma meninggi.
Bu Ratih menghentikan gerakannya.
Seno menatap ayahnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Aku tidak bilang Ayah tidak peduli. Aku tahu Ayah ingin aku punya masa depan.”
Pak Darma terdiam.
“Tapi aku tidak ingin masa depanku dibangun dari ketakutan warga,” lanjut Seno. “Aku ingin bekerja di desa ini tanpa harus merasa ikut menjual tempat kita hidup.”
Kata-kata itu membuat wajah Pak Darma berubah.
Ia ingin menjawab, tetapi suaranya tertahan.
Akhirnya ia mengambil jaketnya dan keluar rumah tanpa berkata apa-apa.
Bu Ratih memandang Seno.
“Ayahmu tidak selalu benar,” katanya pelan. “Tapi dia terlalu lama merasa gagal menjaga keluarga. Kadang-kadang orang yang takut kehilangan justru memegang sesuatu terlalu keras.”
Seno duduk kembali.
Ia menatap surat di meja.
Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa perjuangan desa tidak hanya terjadi di balai desa atau di atas peta.
Perjuangan itu juga terjadi di ruang makan, di depan orang tua, di antara saudara, dan di dalam hati setiap orang yang takut masa depan keluarganya semakin sulit.
Di rumah Liris, surat itu datang menjelang siang.
Namun, bukan surat pendataan yang membuat suasana rumah berubah.
Hari itu, seorang tukang pos membawa amplop putih dengan cap sebuah lembaga literasi dari kota provinsi.
Liris menerimanya dengan heran.
Tangannya bergetar ketika membaca nama pengirim di sudut amplop.
Yayasan Cakrawala Kata
Ia membuka surat itu perlahan.
Di dalamnya terdapat pemberitahuan bahwa tulisannya terpilih dalam program residensi penulis muda selama enam bulan di kota provinsi. Peserta akan mendapat pendampingan, akses penerbitan, uang saku, dan kesempatan mengikuti pelatihan menulis bersama penulis-penulis nasional.
Liris membaca surat itu sampai tiga kali.
Enam bulan di kota.
Kesempatan belajar.
Kesempatan menerbitkan buku.
Kesempatan yang selama ini hanya berani ia tulis dalam buku catatan.
Ibunya, Bu Sari, memeluknya dengan mata berbinar.
“Ini kabar baik, Liris.”
Namun, ayahnya yang baru pulang dari kebun tidak langsung tersenyum.
“Enam bulan?” tanyanya.
Liris mengangguk.
“Di kota provinsi?”
“Iya, Yah.”
“Siapa yang membantu Ibu di rumah?”
Liris menunduk.
“Aku bisa pulang kalau ada keperluan.”
“Naik apa? Dengan uang dari mana?”
“Programnya memberi uang saku.”
Ayahnya duduk di kursi kayu.
Wajahnya tampak lelah.
“Menulis itu bagus,” katanya pelan. “Tapi rumah ini juga butuh orang yang membantu.”
Liris menggenggam surat itu erat-erat.
Ia ingin menjawab bahwa menulis bukan sekadar hobi.
Ia ingin mengatakan bahwa kata-kata dapat membuka jalan bagi anak-anak desa untuk dikenal dunia.
Ia ingin berkata bahwa selama ini ia menulis bukan untuk meninggalkan Wanasari, tetapi untuk membawa suara Wanasari lebih jauh.
Namun, ia melihat tangan ayahnya yang kasar karena kebun.
Ia melihat ibunya yang mulai sering batuk ketika terlalu lama bekerja.
Ia melihat keadaan rumah mereka yang masih sederhana.
Dan ia tahu, mimpinya selalu datang bersama pertanyaan yang sama:
siapa yang akan menanggung beban ketika ia pergi?
Sore itu, Liris datang ke perpustakaan membawa dua surat.
Satu surat dari Yayasan Cakrawala Kata.
Satu surat pendataan wilayah yang diterima keluarganya.
Rantaka sedang duduk di lantai bersama beberapa anak, membantu mereka membaca buku pelajaran.
Ketika melihat wajah Liris, ia segera berdiri.
“Ada apa?” tanyanya.
Liris menyerahkan surat pertama.
Rantaka membacanya.
Matanya langsung berbinar.
“Liris, ini luar biasa.”
Liris tersenyum kecil, tetapi tidak sepenuhnya bahagia.
“Enam bulan di kota.”
“Itu kesempatan besar.”
“Ayah tidak yakin aku bisa pergi.”
Rantaka menatapnya.
“Karena rumah?”
Liris mengangguk.
“Dan karena desa ini sedang seperti sekarang.”
Rantaka memandang surat kedua yang masih berada di tangan Liris.
“Tidak semua perjuangan harus dilakukan dari tempat yang sama,” katanya.
Liris mengangkat wajah.
“Kalau aku pergi sekarang, orang-orang akan bilang aku bicara tentang desa, tetapi meninggalkan desa saat desa sedang sulit.”
“Orang bisa berkata apa saja.”
“Termasuk kamu?”
Rantaka terdiam.
Pertanyaan itu tidak terdengar keras.
Namun, justru karena pelan, pertanyaan itu terasa lebih dalam.
Liris menatapnya.
“Aku tahu kamu ingin aku mengambil kesempatan ini. Tapi aku juga tahu kamu sedang berjuang menjaga sekolah, perpustakaan, sungai, dan warga. Kalau aku pergi, siapa yang membantu menulis semua cerita dan suara warga?”
Rantaka menarik napas.
Ia ingin mengatakan bahwa ia membutuhkan Liris di Wanasari.
Ia ingin berkata bahwa perpustakaan terasa lebih hidup karena Liris.
Ia ingin berkata bahwa dalam perjuangan yang semakin berat ini, kehadiran Liris membuatnya tidak merasa sendirian.
Namun, ia juga tahu bahwa cinta tidak boleh menjadi alasan untuk menahan seseorang dari mimpinya.
“Kalau kamu pergi,” kata Rantaka akhirnya, “aku akan merindukanmu.”
Liris menatapnya tanpa berkedip.
“Tapi?”
“Tapi aku tidak akan meminta kamu tinggal hanya karena aku takut kehilanganmu.”
Mata Liris mulai berkaca-kaca.
“Kadang-kadang aku berharap kamu lebih egois.”
Rantaka tersenyum pahit.
“Kadang-kadang aku juga berharap begitu.”
Mereka terdiam.
Di luar perpustakaan, anak-anak masih berlari di bawah pohon beringin.
Suara mereka terdengar seperti masa lalu yang belum jauh.
Namun, bagi Rantaka dan Liris, masa depan kini berdiri di depan mereka dengan pilihan yang tidak sederhana.
Malam itu, surat pendataan wilayah kembali menjadi bahan pembicaraan di banyak rumah.
Di rumah Jagra, ayahnya menaruh surat itu di dekat lampu minyak.
“Kita harus siapkan surat kolam,” katanya.
Jagra menatap ayahnya.
“Ayah mau menyerahkan kolam?”
“Ayah belum tahu.”
“Kalau jalur itu benar-benar dekat parit, kolam kita bisa rusak.”
“Ayah tahu.”
“Lalu kenapa Ayah tidak menolak dari sekarang?”
Ayah Jagra menatap anaknya dengan wajah letih.
“Karena Ayah juga tidak tahu harus memberi makan keluarga dari mana kalau kolam ini terus gagal.”
Jagra terdiam.
Selama ini ia merasa ayahnya terlalu diam.
Namun, malam itu ia menyadari bahwa diam bukan berarti tidak peduli.
Kadang-kadang diam adalah bentuk lain dari kelelahan.
Banyu juga menghadapi hal yang sama.
Kakaknya yang bekerja di luar desa menelepon dan mengatakan bahwa keluarga mereka sebaiknya menerima jika ada tawaran ganti rugi.
“Uang itu bisa dipakai membeli alat yang lebih bagus untukmu,” kata kakaknya melalui telepon.
Banyu menatap alat pengatur air sederhana yang sedang ia perbaiki di sudut rumah.
“Kalau airnya hilang, alat ini mau dipakai di mana?” jawab Banyu.
Di ujung telepon, kakaknya terdiam.
Keesokan harinya, Liris mengajak warga berkumpul di perpustakaan.
Tidak ada rapat resmi.
Tidak ada meja panjang.
Tidak ada pengeras suara.
Hanya tikar, teh hangat, dan surat-surat yang dibawa dari rumah masing-masing.
Pak Warto membawa surat pendataan.
Bu Karmi membawa salinan surat dukungan lama.
Seno membawa map cokelat dari rumahnya.
Jagra membawa data kolam warga.
Banyu membawa catatan saluran air.
Rantaka membawa buku tulis besar.
Liris berdiri di depan mereka.
“Kita semua sedang menghadapi pilihan yang berat,” katanya. “Ada yang ingin pekerjaan. Ada yang takut kebun hilang. Ada yang ingin anaknya punya masa depan. Ada yang takut anaknya harus pergi dari desa.”
Warga mendengarkan.
“Tidak ada yang salah karena ingin hidup lebih baik,” lanjut Liris. “Tapi kita harus memastikan bahwa tidak ada keluarga yang dipaksa memilih dalam keadaan tidak tahu.”
Ia membuka buku catatannya.
“Kita akan membuat daftar. Bukan daftar dukungan. Bukan daftar penolakan. Tetapi daftar pertanyaan dan kebutuhan warga.”
Rantaka menulis di papan:
APA YANG HARUS DILINDUNGI?
APA YANG DIBUTUHKAN WARGA?
APA YANG HARUS DIJELASKAN SEBELUM KEPUTUSAN DIAMBIL?
Satu per satu warga mulai berbicara.
“Kebun,” kata Pak Warto.
“Sungai,” kata seorang ibu.
“Kolam,” ujar Jagra.
“Jalan aman untuk anak sekolah,” kata Bu Sari.
“Pelatihan kerja yang benar-benar terbuka,” kata Seno.
“Ganti rugi yang jelas kalau ada lahan terkena,” kata Rudi.
“Perpustakaan dan sekolah,” tambah seorang ibu.
“Jangan ada limbah,” kata Rafi, anak kecil yang datang bersama ayahnya.
Semua orang menoleh kepadanya.
Rafi memegang gambar sungai berwarna abu-abu yang pernah ia buat.
“Aku mau sungainya biru lagi,” katanya.
Tidak ada yang tertawa.
Bu Karmi mengusap mata.
Rantaka menuliskan kalimat Rafi di bagian paling bawah papan:
SUNGAI HARUS TETAP BIRU.
Menjelang malam, warga mulai pulang.
Namun, sebelum meninggalkan perpustakaan, Pak Darma datang.
Ia berdiri di ambang pintu.
Semua orang terdiam.
Di tangannya, terdapat surat pendataan wilayah yang sama seperti milik warga lain.
Pak Darma memandang daftar di papan.
Kebun.
Sungai.
Kolam.
Sekolah.
Pelatihan kerja.
Ganti rugi yang jelas.
Sungai harus tetap biru.
Ia membaca semuanya tanpa bicara.
Lalu ia menoleh kepada Seno.
“Aku tidak setuju dengan semua cara kalian,” katanya.
Seno menatap ayahnya.
“Tapi aku juga tidak ingin warga dipaksa menandatangani sesuatu yang tidak mereka mengerti.”
Suasana di perpustakaan berubah.
Pak Darma melangkah masuk.
Ia meletakkan suratnya di atas meja.
“Kalau ada pendataan, harus ada pendampingan dari desa. Warga harus diberi salinan semua dokumen.”
Rantaka menatapnya.
“Bapak bersedia menyampaikan itu di balai desa?”
Pak Darma menghela napas.
“Aku akan menyampaikan apa yang menurutku benar.”
Itu bukan dukungan penuh.
Belum.
Namun, bagi Seno, kalimat itu terasa seperti pintu yang mulai terbuka.
Setelah semua orang pulang, Liris duduk sendirian di depan perpustakaan.
Di pangkuannya, surat dari Yayasan Cakrawala Kata masih terlipat rapi.
Rantaka datang membawa dua gelas teh.
Ia menyerahkan satu gelas kepada Liris.
“Sudah memutuskan?” tanyanya.
Liris menggeleng.
“Aku takut pergi.”
“Aku tahu.”
“Aku juga takut tinggal.”
Rantaka duduk di sampingnya.
Untuk beberapa saat, mereka hanya memandangi Gerobak Buku Langit Biru yang terparkir di bawah pohon beringin.
“Kalau aku pergi,” kata Liris pelan, “aku ingin pergi bukan untuk meninggalkan desa. Aku ingin pergi untuk belajar membawa suara desa lebih jauh.”
Rantaka mengangguk.
“Dan kalau kamu tinggal?”
“Aku ingin tinggal bukan karena takut bermimpi. Aku ingin tinggal karena ada hal yang harus diperjuangkan.”
Rantaka menatapnya.
“Berarti apa pun pilihanmu, kamu tetap Liris yang sama.”
Liris tersenyum kecil.
“Dan kamu tetap Rantaka yang selalu membuat semua pilihan terdengar mudah.”
“Padahal tidak mudah.”
“Tidak.”
Mereka tertawa pelan.
Namun, di balik tawa itu, keduanya tahu bahwa hari-hari berikutnya akan membawa keputusan yang lebih berat.
Surat pendataan telah masuk ke rumah-rumah warga.
Surat dukungan lama mulai dibaca ulang.
Surat kesempatan dari kota telah tiba untuk Liris.
Dan di tengah semua surat itu, Desa Wanasari seperti sedang menunggu jawaban:
apakah warganya akan membiarkan masa depan mereka ditulis oleh orang lain,
atau akan berani menuliskan jalan mereka sendiri.
Di atas pohon beringin, angin malam menggerakkan daun-daun perlahan.
Gerobak Buku Langit Biru tetap diam di bawahnya.
Namun, di dalam perpustakaan, papan tulis masih menyimpan kalimat Rafi:
SUNGAI HARUS TETAP BIRU.
Kalimat sederhana itu menjadi pengingat bahwa perjuangan mereka bukan hanya tentang tanah.
Melainkan tentang kehidupan yang harus tetap bisa diwariskan kepada anak-anak Desa Wanasari.
BAB 18 - RUMAH INOVASI YANG TERANCAM PADAM
Pagi itu, Banyu sudah berada di belakang rumahnya sebelum matahari benar-benar muncul.
Di bawah atap seng sederhana, ia menata beberapa pipa bekas, potongan besi, roda kecil, dan sebuah mesin pompa yang sudah beberapa kali diperbaiki. Tempat itu tidak besar. Dindingnya hanya terbuat dari papan kayu yang mulai kusam. Lantainya masih tanah. Jika hujan turun terlalu deras, air sering masuk dari sisi belakang.
Namun, bagi Banyu, tempat itu bukan sekadar gudang.
Itulah rumah inovasinya.
Di salah satu dinding, ia menempelkan kertas-kertas rancangan. Ada gambar alat pengatur aliran air, rancangan pompa sederhana untuk kebun, serta catatan tentang saluran kecil yang menghubungkan parit dengan kolam warga.
Di sudut ruangan, terdapat sebuah papan bertuliskan:
RUMAH INOVASI WANASARI
DARI DESA, UNTUK DESA
Tulisan itu dibuat Liris beberapa bulan sebelumnya.
Saat itu, mereka semua tertawa karena nama tersebut terdengar terlalu besar untuk sebuah bangunan kecil beratap seng.
Namun, Banyu tidak pernah menganggapnya berlebihan.
Ia percaya bahwa gagasan besar tidak selalu lahir dari bangunan besar.
Kadang-kadang, gagasan besar tumbuh dari tangan yang kotor oleh oli, dari pipa bekas, dari mesin tua, dan dari keinginan sederhana untuk membuat hidup warga sedikit lebih mudah.
Pagi itu, Banyu sedang memperbaiki katup pada alat pengatur air yang akan diuji di kebun Pak Warto.
Alat itu belum sempurna.
Kadang-kadang aliran air terlalu deras.
Kadang-kadang pipa tersumbat lumpur.
Kadang-kadang mesin pompa berbunyi terlalu keras hingga membuat ayam-ayam di belakang rumah berlarian.
Namun, setelah beberapa kali percobaan, alat itu mulai menunjukkan hasil.
Air dari parit dapat dialirkan ke kebun yang lebih tinggi.
Tidak banyak.
Tetapi cukup untuk menyiram beberapa petak tanaman sayur ketika musim kering datang.
“Kalau ini berhasil, kebun saya tidak perlu menunggu hujan terlalu lama,” kata Pak Warto ketika datang melihat percobaan.
Banyu mengangguk.
“Masih harus diperbaiki, Pak.”
“Yang penting sudah ada jalan.”
Banyu tersenyum.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun, bagi Banyu, itulah alasan ia terus mencoba.
Ia tidak ingin warga selalu menunggu bantuan dari luar.
Ia ingin anak-anak muda Desa Wanasari percaya bahwa mereka juga bisa membuat sesuatu dengan tangan sendiri.
Menjelang siang, Rantaka datang membawa beberapa murid SD.
Mereka baru selesai belajar tentang air, tanah, dan tumbuhan.
“Pak Guru bilang kami boleh melihat alat Kak Banyu,” kata Dita dengan mata berbinar.
“Boleh,” jawab Banyu.
Anak-anak segera masuk ke Rumah Inovasi dengan rasa ingin tahu.
Mereka memegang pipa, melihat roda kecil, dan memperhatikan mesin pompa yang berada di tengah ruangan.
“Ini seperti robot?” tanya Danu.
“Belum robot,” jawab Banyu sambil tertawa. “Ini alat untuk membantu air naik ke kebun.”
“Air bisa naik sendiri?”
“Tidak sendiri. Dibantu pompa dan saluran.”
Rafi mendekati peta kecil yang tergantung di dinding.
“Ini sungai?”
“Iya.”
“Kalau sungainya keruh, alat ini masih bisa dipakai?”
Pertanyaan itu membuat Banyu terdiam.
Anak-anak menatapnya menunggu jawaban.
“Bisa,” kata Banyu akhirnya. “Tapi air yang baik akan membuat alat ini bekerja lebih baik. Karena itu, sungai harus dijaga.”
Rafi mengangguk.
Ia tampak puas dengan jawaban itu.
Namun, Banyu justru merasa semakin gelisah.
Alat yang ia buat bergantung pada air.
Kebun bergantung pada air.
Kolam Jagra bergantung pada air.
Dan seluruh Desa Wanasari, tanpa banyak disadari, bergantung pada aliran-aliran kecil yang tidak terlihat di peta perusahaan.
Siang itu, ketika anak-anak sudah pulang, seorang petugas lapangan datang ke rumah Banyu.
Ia mengenakan rompi dengan logo perusahaan di dada.
Di tangannya terdapat alat ukur dan map hitam.
“Rumah Banyu?” tanyanya.
“Iya. Ada apa?”
“Kami sedang melakukan pendataan awal.”
Banyu menatap rompi itu.
“Pendataan apa?”
“Pendataan bangunan dan fasilitas yang berada dekat jalur rencana akses.”
Banyu menegang.
“Jalur akses yang mana?”
Petugas itu membuka map dan menunjukkan sebuah peta kecil.
Garis merah melintas tidak jauh dari belakang rumah Banyu.
Banyu memperhatikan peta itu.
Jalur tersebut tidak tepat mengenai rumahnya.
Namun, garis itu melewati tanah kosong di belakang Rumah Inovasi, dekat parit kecil yang menjadi sumber air untuk percobaan alatnya.
“Ini hanya pendataan,” kata petugas itu. “Belum ada keputusan.”
“Kalau jalur ini dibuka, parit ini bagaimana?”
“Kami belum mendapat informasi teknis.”
“Kalau kendaraan berat lewat di belakang sini?”
“Belum ada informasi teknis.”
“Kalau Rumah Inovasi ini terdampak?”
Petugas itu menghela napas.
“Bapak bisa menyampaikan keberatan melalui pemerintah desa.”
Banyu memandang petugas itu cukup lama.
Ia tahu petugas tersebut hanya menjalankan tugas.
Namun, jawaban yang sama kembali terdengar.
Belum ada informasi teknis.
Belum ada keputusan.
Silakan sampaikan keberatan.
Kalimat-kalimat itu seperti pintu yang selalu ditutup tepat ketika warga ingin masuk.
“Nama Bapak siapa?” tanya Banyu.
“Riko.”
“Pak Riko, tolong catat juga bahwa di sini ada Rumah Inovasi.”
Petugas itu menatap bangunan sederhana beratap seng.
“Rumah inovasi?”
“Ya. Tempat anak-anak belajar. Tempat kami membuat alat untuk kebun dan kolam. Tempat warga mencoba memperbaiki masalah air.”
Riko memandang papan kayu di dinding.
Kemudian ia menulis sesuatu di mapnya.
Banyu tidak tahu apakah catatan itu akan benar-benar berarti.
Tetapi ia tidak ingin tempat itu dianggap sebagai tanah kosong.
Sore hari, Banyu membawa kabar tersebut ke perpustakaan.
Rantaka, Liris, Jagra, dan Seno sudah menunggu.
Di meja, Peta Warga Wanasari terbuka lebar.
Banyu langsung menunjuk bagian belakang rumahnya.
“Jalur mereka melewati sini.”
Jagra mendekat.
“Itu dekat parit kecil.”
“Dekat sekali,” jawab Banyu. “Kalau parit tertutup atau tercemar, alat pengatur air tidak bisa dipakai.”
Liris memandang Rumah Inovasi yang ditandai kecil di peta.
“Tempat itu juga penting untuk anak-anak.”
“Bukan hanya anak-anak,” kata Banyu. “Pak Warto sudah memakai alat itu di kebunnya. Dua warga lain juga ingin mencoba. Kalau alat ini dikembangkan, kita bisa membantu kebun-kebun yang kekurangan air.”
Rantaka menatap sahabatnya.
“Berarti Rumah Inovasi harus masuk daftar yang dilindungi.”
Banyu tertawa kecil, tetapi tanpa kegembiraan.
“Rumah itu hanya gudang kecil, Rantaka.”
“Bukan,” jawab Rantaka. “Rumah itu tempat belajar. Tempat kerja. Tempat warga membuktikan bahwa desa bisa membuat jalan keluar sendiri.”
Seno mengangguk.
“Kalau perusahaan bicara soal pelatihan kerja, Rumah Inovasi ini justru contoh pelatihan yang sudah hidup.”
Kalimat itu membuat Banyu terdiam.
Selama ini, ia selalu menganggap dirinya hanya seorang anak desa yang suka membongkar mesin.
Ia tidak pernah berpikir bahwa tempat kecil itu dapat menjadi bagian dari perjuangan yang lebih besar.
Liris mengambil kertas kosong.
“Kita harus mendata semua yang sudah dilakukan di Rumah Inovasi.”
“Untuk apa?” tanya Banyu.
“Untuk menunjukkan bahwa tempat ini bukan bangunan kosong. Kita tulis alat yang sudah dibuat, warga yang terbantu, anak-anak yang belajar, dan rencana pengembangannya.”
Rantaka menambahkan, “Kita juga bisa mengadakan kegiatan terbuka di sana. Undang warga, perangkat desa, dan pemuda. Biar semua melihat langsung.”
Jagra tersenyum tipis.
“Kalau begitu, Rumah Inovasi tidak hanya dipertahankan dengan kata-kata.”
“Melainkan dengan manfaat,” kata Banyu.
Keesokan harinya, Banyu mulai bekerja lebih keras.
Ia memperbaiki alat pengatur air sampai malam.
Ia mengganti pipa yang bocor.
Ia membersihkan saringan lumpur.
Ia mencoba menggunakan roda kecil bekas sepeda untuk membantu mengatur tekanan aliran.
Tangannya kembali penuh oli.
Kukunya hitam.
Bajunya basah oleh air parit.
Namun, ia tidak berhenti.
Ia ingin alat itu benar-benar berhasil sebelum kegiatan terbuka diadakan.
Ia ingin warga melihat bahwa teknologi tidak selalu berarti mesin mahal dari kota.
Teknologi bisa berarti pipa bekas yang disusun dengan tepat.
Bisa berarti roda tua yang dipakai kembali.
Bisa berarti pengetahuan sederhana yang digunakan untuk menjawab masalah nyata.
Menjelang petang, Jagra datang membawa dua ember air dari kolam.
“Aku mau coba alat ini untuk saluran kolam,” katanya.
“Air kolammu tidak terlalu keruh?”
“Masih bisa dipakai.”
Mereka bekerja bersama.
Jagra memegang pipa.
Banyu memperbaiki sambungan.
Beberapa kali air menyembur ke wajah mereka.
Beberapa kali mesin mati mendadak.
Namun, mereka tidak menyerah.
Saat alat itu akhirnya bekerja, air mengalir perlahan ke saluran kecil di sisi kebun.
Tidak deras.
Tidak sempurna.
Tetapi stabil.
Jagra memandang aliran itu cukup lama.
“Kalau ini bisa dipakai untuk kolam, aku tidak perlu terlalu bergantung pada satu saluran.”
Banyu mengangguk.
“Kalau kita tambah penampung air, mungkin bisa.”
“Berarti kita harus cari bahan lagi.”
“Kita cari.”
Di bawah langit sore, dua sahabat itu berdiri di dekat aliran air kecil.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada orang kota yang memberi penghargaan.
Namun, bagi mereka, air yang mengalir itu terasa seperti jawaban kecil dari kerja keras yang selama ini sering dianggap tidak penting.
Malam sebelum kegiatan terbuka, Banyu duduk sendirian di Rumah Inovasi.
Lampu kecil menggantung di atas kepalanya.
Di depannya, alat pengatur air berdiri dengan pipa-pipa yang masih belum rapi.
Di dinding, gambar rancangan-rancangan lama bergoyang terkena angin.
Banyu memandangi papan bertuliskan Rumah Inovasi Wanasari.
Ia teringat masa ketika ia pertama kali bekerja di bengkel kecil saat masih sekolah.
Tangannya pernah terluka.
Ia pernah diejek karena terlalu sering membongkar barang bekas.
Ia pernah dianggap membuang waktu karena lebih suka memikirkan mesin daripada mencari pekerjaan di kota.
Namun, ia tidak pernah benar-benar berhenti.
Karena sejak kecil, ia selalu melihat petani dan pembudidaya ikan di desa bekerja keras dengan alat yang terbatas.
Ia melihat ayah-ayah mengangkat air dengan ember.
Ia melihat ibu-ibu berjalan jauh membawa hasil kebun.
Ia melihat kolam rusak ketika air tidak cukup.
Dan ia selalu berpikir:
kalau ada alat sederhana yang bisa membantu, mengapa tidak dibuat?
Pintu Rumah Inovasi terbuka.
Liris masuk membawa termos air hangat.
“Kamu belum pulang?” tanyanya.
“Sebentar lagi.”
Liris meletakkan termos di meja.
“Kamu takut?”
Banyu tersenyum kecil.
“Takut alat ini gagal di depan warga.”
“Alat itu sudah membantu Pak Warto.”
“Kalau besok mesin mati?”
“Kalau mati, kamu perbaiki.”
Banyu tertawa pelan.
“Jawabanmu sederhana sekali.”
“Karena kamu memang selalu memperbaiki sesuatu yang rusak.”
Banyu terdiam.
Liris memandang peta kecil di dinding.
“Banyu, Rumah Inovasi ini penting. Bukan karena bangunannya besar. Tapi karena tempat ini membuat orang percaya bahwa anak desa bisa menciptakan sesuatu.”
Banyu menatap Liris.
“Kalau perusahaan benar-benar mengambil jalur di belakang sini, bagaimana?”
Liris tidak langsung menjawab.
“Kita belum tahu hasilnya,” katanya. “Tapi kita tidak akan membiarkan tempat ini hilang tanpa ada yang tahu nilainya.”
Kegiatan terbuka di Rumah Inovasi berlangsung pada hari Minggu.
Warga datang sejak pagi.
Anak-anak berlari-lari di halaman.
Para pemuda membawa kursi dari balai desa.
Pak Warto membawa beberapa hasil sayur dari kebunnya sebagai bukti bahwa alat pengatur air telah membantu.
Jagra membawa ember berisi benih ikan untuk menunjukkan bagaimana saluran air dapat dipakai bagi kolam warga.
Rantaka mengajak murid-muridnya melihat proses kerja alat.
Liris menempelkan poster sederhana:
INOVASI DESA UNTUK AIR, KEBUN, DAN KOLAM
Banyu berdiri di depan alatnya dengan wajah tegang.
Ia bukan orang yang terbiasa berbicara di depan banyak orang.
Tangannya lebih nyaman memegang tang, pipa, atau baut daripada mikrofon.
Namun, pagi itu ia berdiri dengan suara pelan tetapi jelas.
“Alat ini belum sempurna,” katanya. “Saya membuatnya dari bahan yang ada di desa. Tujuannya bukan untuk menggantikan semua cara lama. Tujuannya untuk membantu warga ketika air sulit naik ke kebun atau kolam.”
Ia menjelaskan cara kerja pompa, saringan lumpur, dan saluran pipa.
Anak-anak mendengarkan dengan mata berbinar.
Para petani mengajukan pertanyaan.
Beberapa pemuda mulai tertarik.
“Kalau mau belajar membuatnya, bisa?” tanya Arman.
“Bisa,” jawab Banyu.
“Kalau kami tidak punya pengalaman bengkel?”
“Kita belajar bersama.”
Seno berdiri di samping Arman.
“Ini bisa jadi pelatihan kerja juga,” katanya.
Banyu mengangguk.
“Bisa. Kita bisa belajar memperbaiki pompa, membuat saluran, mengolah bahan bekas, dan merawat alat.”
Kalimat itu membuat beberapa pemuda mulai berbicara satu sama lain.
Untuk pertama kalinya, mereka melihat bahwa kesempatan kerja tidak selalu harus datang dari orang luar.
Kesempatan juga bisa tumbuh dari masalah yang mereka hadapi sendiri.
Namun, ketika Banyu menyalakan mesin pompa untuk demonstrasi, suara motor lain terdengar dari jalan depan.
Sebuah mobil perusahaan berhenti di dekat Rumah Inovasi.
Pak Hendra turun bersama Surya Pratama dan Pak Darma.
Suasana halaman mendadak berubah.
Pak Hendra melihat warga yang berkumpul.
Ia melihat poster.
Ia melihat alat pengatur air.
Ia melihat peta kecil yang dipasang Liris di dinding.
“Acara apa ini?” tanyanya.
“Kegiatan warga,” jawab Rantaka. “Memperkenalkan Rumah Inovasi Wanasari.”
Pak Hendra tersenyum tipis.
“Bagus. Kami juga mendukung inovasi masyarakat.”
“Kalau begitu,” kata Banyu, “tolong lihat parit di belakang rumah ini.”
Pak Hendra menoleh.
Banyu mengajak mereka berjalan ke sisi belakang Rumah Inovasi.
Di sana, air mengalir melalui saluran kecil menuju kebun Pak Warto.
“Kalau jalur akses perusahaan dibuka di sini,” kata Banyu, “parit ini bisa tertutup atau terkena limpasan tanah. Alat ini tidak akan bisa bekerja. Kebun warga juga akan kesulitan air.”
Surya melihat saluran itu.
“Seperti yang sudah kami sampaikan, semua masih dalam kajian.”
“Rumah Inovasi ini sudah berjalan,” kata Banyu. “Warga sudah memakai alatnya. Anak-anak sudah belajar di sini. Apakah ini juga hanya akan dicatat dalam kajian?”
Pak Hendra memandang Banyu.
Untuk beberapa saat, tidak ada jawaban.
Pak Darma yang sejak tadi diam melangkah maju.
Ia memperhatikan alat pengatur air yang masih bekerja.
Air mengalir perlahan ke kebun.
Kemudian ia menoleh kepada Pak Hendra.
“Kalau jalur itu bisa digeser, geser,” katanya.
Semua orang terdiam.
Pak Hendra menatap Pak Darma.
“Pak Darma, itu keputusan teknis.”
“Kalau pembangunan tidak bisa menghindari parit kecil yang memberi air untuk kebun warga, lalu pembangunan itu untuk siapa?”
Suara Pak Darma tidak keras.
Namun, kalimatnya terdengar jelas.
Seno menatap ayahnya dengan wajah terkejut.
Rantaka, Liris, Jagra, dan Banyu saling memandang.
Pak Darma belum sepenuhnya berada di pihak mereka.
Tetapi hari itu, ia tidak lagi berdiri hanya di belakang perusahaan.
Ia mulai berdiri di depan sesuatu yang lebih dekat dengan dirinya:
warga.
Pak Hendra menarik napas.
“Kami akan meninjau kembali jalur tersebut.”
“Bukan hanya meninjau,” kata Rantaka. “Kami ingin hasilnya disampaikan terbuka kepada warga.”
Pak Hendra mengangguk singkat.
“Kami akan menyampaikan perkembangan.”
Setelah itu, mereka kembali ke mobil.
Namun, sebelum masuk, Surya menoleh sekali lagi ke arah Rumah Inovasi.
Tatapannya berhenti pada papan kayu di dinding.
DARI DESA, UNTUK DESA.
Tidak ada yang tahu apa yang ia pikirkan.
Mobil perusahaan kemudian bergerak meninggalkan halaman.
Debu tipis naik dari jalan tanah.
Anak-anak menutup hidung sambil tertawa.
Namun, Banyu berdiri diam.
Ia memandang parit kecil di belakang Rumah Inovasi.
Ia tahu ancaman belum benar-benar pergi.
Jalur perusahaan masih ada di peta.
Pendataan masih berjalan.
Surat-surat masih beredar.
Dan keputusan besar belum diambil.
Tetapi pagi itu, Rumah Inovasi tidak padam.
Justru dari tempat kecil beratap seng itu, warga mulai melihat kemungkinan baru.
Kemungkinan bahwa desa tidak hanya menunggu bantuan.
Kemungkinan bahwa pemuda tidak hanya menunggu pekerjaan.
Kemungkinan bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas.
Pendidikan juga tumbuh di kebun, di kolam, di bengkel kecil, di perpustakaan, dan di tempat-tempat sederhana yang membuat orang berani mencoba.
Ketika warga mulai pulang, Rantaka mendekati Banyu.
“Kamu tahu,” katanya, “hari ini bukan hanya alatmu yang bekerja.”
Banyu menatapnya.
“Lalu apa?”
“Keyakinan warga.”
Banyu memandang anak-anak yang masih berdiri di dekat pipa-pipa.
Dita sedang menjelaskan kepada Rafi bahwa air bisa naik karena pompa.
Rafi mengangguk seolah ia baru menemukan rahasia besar.
Banyu tersenyum.
Di bawah langit biru Desa Wanasari, Rumah Inovasi berdiri kecil dan sederhana.
Namun, di dalamnya mulai menyala cahaya yang sulit dipadamkan:
cahaya bahwa masa depan desa dapat dibangun oleh tangan-tangan warganya sendiri.
BAB 19 - KEPUTUSAN YANG MENYAKITKAN
Sejak kegiatan di Rumah Inovasi Wanasari, nama Banyu semakin sering dibicarakan warga.
Para petani mulai datang membawa pertanyaan tentang saluran air. Beberapa pemuda meminta diajari memperbaiki pompa. Anak-anak sekolah bahkan mulai menyebut tempat beratap seng di belakang rumah Banyu itu sebagai “rumah mesin”.
Namun, di tengah kabar baik itu, Desa Wanasari belum benar-benar tenang.
Peta jalur perusahaan masih belum berubah.
Pendataan lahan masih berjalan.
Surat-surat terus datang ke rumah warga.
Dan setiap malam, di banyak ruang makan, keluarga-keluarga kembali membicarakan hal yang sama: tanah, uang, masa depan, dan ketakutan kehilangan tempat hidup.
Di rumah Liris, percakapan itu bertambah dengan satu persoalan lain.
Surat dari Yayasan Cakrawala Kata masih tersimpan di dalam laci meja kecilnya.
Surat itu menawarkan kesempatan yang sudah lama ia impikan: residensi penulis muda selama enam bulan di kota provinsi. Di sana, ia akan belajar menulis bersama para mentor, mengikuti pelatihan penerbitan, bertemu pegiat literasi dari berbagai daerah, dan menyelesaikan naskah kumpulan tulisan tentang kehidupan desa.
Namun, setiap kali Liris membuka surat itu, perasaannya tidak pernah sepenuhnya bahagia.
Enam bulan terasa terlalu lama.
Enam bulan berarti meninggalkan perpustakaan.
Enam bulan berarti tidak lagi ikut rapat warga.
Enam bulan berarti tidak bisa setiap sore membantu anak-anak membaca.
Dan yang paling sulit untuk ia akui, enam bulan berarti jauh dari Rantaka.
Pagi itu, Liris duduk di teras rumah sambil menatap halaman yang masih basah oleh embun.
Ibunya sedang menjemur pakaian.
Ayahnya bersiap pergi ke kebun.
Tidak ada yang berbicara tentang surat itu.
Namun, justru karena tidak dibicarakan, surat tersebut terasa semakin berat.
“Ayah,” panggil Liris akhirnya.
Ayahnya berhenti memasang caping.
“Ada apa?”
“Surat dari kota itu… batas jawabannya tinggal tiga hari.”
Ayahnya menatapnya.
“Lalu kamu mau bagaimana?”
Liris menggigit bibir.
“Aku belum tahu.”
Ayahnya duduk kembali di kursi kayu.
Wajahnya tampak lebih lelah daripada biasanya.
“Kalau kamu pergi, Ibu akan kehilangan teman membantu di rumah.”
Liris menunduk.
“Aku bisa mengatur waktu sebelum berangkat. Aku juga bisa pulang kalau ada keperluan penting.”
“Pulang dari kota provinsi tidak seperti pulang dari kecamatan.”
“Aku tahu.”
Ayahnya terdiam beberapa saat.
“Kamu ingin pergi?”
Pertanyaan itu sederhana.
Namun, Liris merasa seperti sedang ditanya apakah ia ingin meninggalkan rumah.
Ia ingin menjawab bahwa ia tidak ingin pergi dari Desa Wanasari.
Ia ingin berkata bahwa seluruh tulisan yang ingin ia buat justru lahir dari desa itu: dari sungai yang mulai keruh, dari kebun warga yang terancam, dari anak-anak yang membaca buku di bawah pohon beringin, dari Gerobak Buku Langit Biru yang pernah berdebu lalu hidup kembali.
Namun, ia juga tahu bahwa mimpi tidak akan tumbuh jika selalu disimpan dalam laci.
“Aku ingin belajar, Yah,” jawabnya pelan. “Aku ingin menulis lebih baik. Aku ingin tulisan tentang desa kita dibaca orang-orang yang selama ini tidak pernah tahu keadaan kita.”
Ayahnya menatap tanah di halaman.
“Menulis bisa membuat sungai kita bersih?”
“Tidak langsung.”
“Menulis bisa menghentikan perusahaan?”
“Tidak selalu.”
“Lalu untuk apa?”
Liris menarik napas.
“Supaya orang tahu bahwa desa ini ada. Supaya kalau suatu hari ada yang mengambil keputusan tentang Wanasari, mereka tidak hanya melihat garis di peta. Mereka tahu ada keluarga, ada kebun, ada sekolah, ada kolam, ada anak-anak, dan ada sungai yang harus dijaga.”
Ayahnya tidak menjawab.
Namun, sebelum berangkat ke kebun, ia berkata pelan, “Kalau kamu pergi, jangan sampai lupa jalan pulang.”
Kalimat itu bukan izin.
Belum.
Tetapi bagi Liris, kalimat itu juga bukan penolakan.
Siang hari, Liris pergi ke perpustakaan.
Rantaka sedang menyusun buku-buku baru yang dikirim oleh salah satu komunitas literasi dari kota. Beberapa murid SD duduk di tikar, membaca buku cerita bergambar.
Liris berdiri cukup lama di depan pintu.
Rantaka menoleh.
“Kamu datang dari rumah?”
Liris mengangguk.
“Aku mau bicara.”
Rantaka melihat wajahnya, lalu mengajak Liris berjalan ke belakang perpustakaan.
Di sana, pohon beringin tua berdiri seperti biasa. Daun-daunnya bergerak pelan tertiup angin. Gerobak Buku Langit Biru terparkir di bawahnya.
Liris mengeluarkan surat dari tasnya.
“Aku harus memberi jawaban.”
Rantaka membaca surat itu lagi.
Ia sudah pernah membacanya.
Namun, kali ini ia membaca lebih lama.
“Enam bulan,” katanya.
“Iya.”
“Kamu ingin pergi?”
Liris menatapnya.
“Aku ingin kamu tidak menjawab pertanyaan itu dengan pertanyaan lain.”
Rantaka tersenyum tipis.
“Aku takut jawabanku memengaruhimu.”
“Jawabanmu memang akan memengaruhiku.”
Kalimat itu membuat Rantaka terdiam.
Liris duduk di akar pohon beringin yang besar.
“Aku lelah selalu harus memilih antara mimpi dan orang-orang yang aku sayangi,” katanya. “Kalau aku pergi, aku takut ayah merasa aku meninggalkan keluarga. Aku takut warga menganggap aku pergi ketika desa sedang menghadapi masalah. Aku takut anak-anak perpustakaan merasa ditinggalkan.”
“Dan aku?” tanya Rantaka pelan.
Liris mengangkat wajah.
“Kamu juga.”
Rantaka duduk di sampingnya.
Untuk beberapa saat, mereka hanya mendengar suara anak-anak dari dalam perpustakaan.
“Aku ingin kamu pergi,” kata Rantaka akhirnya.
Liris memejamkan mata.
Jawaban itu adalah jawaban yang paling ia harapkan.
Sekaligus yang paling menyakitkan.
“Kamu mudah sekali mengatakan itu,” katanya.
“Tidak mudah.”
“Kalau tidak mudah, kenapa kamu tidak meminta aku tinggal?”
Rantaka menatapnya.
“Karena aku mencintaimu.”
Liris terdiam.
Kata itu keluar begitu saja.
Tidak keras.
Tidak dibuat-buat.
Namun, setelah bertahun-tahun menyimpan perasaan di antara surat, perpisahan, perjuangan, dan kepulangan, kata itu terasa seperti sesuatu yang selama ini menunggu untuk diucapkan.
Rantaka melanjutkan dengan suara lebih pelan.
“Aku mencintaimu bukan karena kamu selalu ada di dekatku. Aku mencintaimu karena kamu berani memegang mimpi, bahkan ketika hidup membuatmu takut. Kalau aku meminta kamu tinggal hanya agar aku tidak merasa sepi, berarti aku tidak sedang mencintaimu dengan benar.”
Mata Liris mulai berkaca-kaca.
“Aku juga mencintaimu,” katanya.
Rantaka menggenggam tangannya.
“Kalau begitu, jangan jadikan cinta kita sebagai alasan untuk berhenti.”
Liris menunduk.
“Aku takut jarak.”
“Kita pernah melewati jarak,” jawab Rantaka. “Dulu kita hanya punya surat dan telepon umum. Sekarang kita punya lebih banyak cara untuk saling menjaga.”
“Dulu kita juga pernah salah paham.”
“Kali ini kita belajar tidak menyimpan semuanya sendiri.”
Liris tersenyum kecil.
Namun, senyum itu masih membawa kesedihan.
Karena mereka tahu bahwa cinta tidak selalu meminta seseorang untuk tinggal.
Kadang-kadang cinta justru meminta keberanian untuk merelakan seseorang pergi, agar ia dapat pulang dengan cahaya yang lebih besar.
Sore itu, Liris mendatangi Rumah Inovasi Wanasari.
Banyu sedang mengajari tiga pemuda memperbaiki saringan air. Jagra membantu memasang pipa kecil menuju kolam percobaan.
Ketika melihat Liris, Banyu langsung tahu ada sesuatu yang sedang dipikirkan sahabatnya.
“Surat kota?” tanyanya.
Liris mengangguk.
“Aku akan mengambilnya.”
Banyu berhenti bekerja.
Jagra menoleh.
“Kapan?” tanya Jagra.
“Bulan depan.”
Jagra meletakkan pipa di tangannya.
Wajahnya tampak sedih.
“Berarti perpustakaan bagaimana?”
“Kita tetap jalankan,” jawab Liris. “Aku akan membuat jadwal. Aku bisa mengirim bahan bacaan, tulisan, dan kegiatan dari kota. Kalian juga bisa mengirim cerita warga kepadaku.”
Banyu tersenyum.
“Kalau begitu, Rumah Inovasi juga harus punya catatan. Biar kamu bisa menulis perkembangan alat-alat ini.”
“Bukan hanya alat,” kata Liris. “Aku ingin menulis semua yang sedang terjadi. Tentang sungai. Tentang kebun. Tentang keluarga yang berbeda pendapat. Tentang anak-anak yang ingin tetap belajar.”
Jagra memandang Liris.
“Kamu akan menulis tentang perusahaan?”
“Aku akan menulis tentang desa,” jawab Liris. “Kalau perusahaan menjadi bagian dari masalah desa, tentu itu juga akan masuk dalam cerita.”
Banyu mengangguk perlahan.
“Kamu jangan takut menulis yang benar.”
Liris tersenyum.
“Aku akan berusaha.”
Malamnya, keluarga Liris berkumpul di ruang tengah.
Ibunya menyuguhkan teh hangat.
Ayahnya duduk diam cukup lama.
Liris membawa surat dari Yayasan Cakrawala Kata dan meletakkannya di atas meja.
“Aku sudah memutuskan,” katanya.
Ibunya menatapnya.
“Apa keputusanmu?”
“Aku akan ikut program residensi.”
Ruangan itu mendadak sunyi.
Liris menunggu jawaban ayahnya.
Ia siap mendengar kemarahan.
Ia siap mendengar larangan.
Ia bahkan sudah menyiapkan banyak kalimat untuk meyakinkan keluarganya.
Namun, ayahnya hanya memandang surat itu.
“Kamu sudah yakin?”
Liris mengangguk.
“Aku yakin. Tapi aku juga takut.”
Ayahnya menghela napas.
“Takut itu wajar.”
“Ayah marah?”
“Tidak.”
Liris terkejut.
“Ayah tidak keberatan?”
Ayahnya menatap putrinya.
“Ayah keberatan karena rumah ini akan lebih sepi. Ayah keberatan karena Ibu akan lebih lelah. Ayah keberatan karena Ayah tidak tahu apakah kota akan baik kepadamu.”
Ia berhenti sebentar.
“Tapi Ayah lebih takut kalau kamu tinggal hanya karena merasa bersalah.”
Mata Liris mulai basah.
Ayahnya melanjutkan, “Dulu Ayah tidak punya banyak pilihan. Karena itu Ayah sering menganggap hidup harus dijalani dengan cara yang paling aman. Tapi mungkin anak-anak tidak selalu harus hidup dengan ketakutan orang tuanya.”
Liris menangis.
Ibunya memeluknya.
“Aku akan membantu Ibu sebelum berangkat,” kata Liris di sela tangisnya. “Aku akan pulang kalau ada waktu. Aku tidak akan lupa rumah.”
Ayahnya mengangguk.
“Pergilah belajar. Tapi ingat, tulisanmu harus tetap punya hati.”
Liris memegang tangan ayahnya.
“Aku akan menulis tentang kita, Yah.”
Kabar keberangkatan Liris cepat menyebar di Desa Wanasari.
Ada yang ikut bangga.
Ada yang menyemangati.
Namun, ada pula yang menyindir.
“Kalau sudah terkenal, jangan lupa desa,” kata seorang warga di warung.
“Jangan-jangan nanti tinggal di kota,” ujar yang lain.
Liris mendengar beberapa kalimat itu.
Ia tidak membalas.
Ia tahu, tidak semua orang memahami bahwa pergi tidak selalu berarti meninggalkan.
Di perpustakaan, ia mulai menyiapkan banyak hal.
Ia menyusun jadwal kegiatan membaca.
Ia membuat daftar buku yang harus dipinjamkan ke rumah-rumah warga.
Ia menulis panduan sederhana untuk relawan muda.
Ia meminta Rantaka mengatur kegiatan belajar anak-anak.
Ia meminta Banyu membuat sesi sains sederhana di Rumah Inovasi.
Ia meminta Jagra mengajak pemuda kolam mengisi kelas keterampilan setiap akhir pekan.
“Kamu seperti sedang membagi-bagi dirimu sendiri,” kata Rantaka ketika melihat Liris menulis terlalu banyak catatan.
“Aku hanya tidak ingin semuanya berhenti saat aku pergi.”
“Tidak akan berhenti.”
“Janji?”
Rantaka menatapnya.
“Janji.”
Liris tersenyum.
“Jangan janji besar-besar.”
“Baik. Aku akan berusaha setiap hari.”
Jawaban itu membuat Liris lebih tenang.
Karena ia tahu, perubahan tidak dibangun oleh janji yang terdengar indah.
Perubahan dibangun oleh orang-orang yang tetap datang, tetap bekerja, dan tetap saling mengingatkan ketika keadaan menjadi sulit.
Seminggu sebelum keberangkatan, Liris mengadakan malam baca puisi di perpustakaan.
Warga datang membawa tikar.
Anak-anak duduk di depan.
Lampu-lampu kecil dipasang di bawah pohon beringin.
Gerobak Buku Langit Biru kembali dibuka.
Liris membacakan sebuah tulisan baru.
Tulisan itu tidak menyebut nama perusahaan.
Tidak menyebut nama orang.
Namun, semua warga memahami maksudnya.
Ia bercerita tentang sebuah desa yang sungainya mulai kehilangan warna, tentang keluarga-keluarga yang duduk di meja makan dengan surat di tangan, tentang anak-anak yang masih ingin membaca di bawah pohon tua, dan tentang orang-orang yang belajar bahwa masa depan tidak boleh ditentukan tanpa suara mereka.
Ketika Liris selesai membaca, suasana hening.
Kemudian terdengar tepuk tangan.
Bu Karmi berdiri.
“Kamu pergi belajar,” katanya. “Tapi jangan hanya menulis tentang kami dari jauh.”
Liris menatapnya.
“Aku tidak akan menulis dari jauh, Bu. Saya akan menulis bersama warga. Kalian kirim cerita, kabar, dan apa pun yang terjadi di desa. Tulisan ini milik kita bersama.”
Pak Warto mengangguk.
“Kalau begitu, kami juga harus belajar bercerita.”
Malam itu, untuk pertama kalinya, beberapa warga mulai menyadari bahwa kata-kata dapat menjadi bagian dari perjuangan.
Peta menunjukkan tempat.
Data menunjukkan angka.
Namun, cerita menunjukkan kehidupan.
Dan kehidupan tidak boleh hilang dari setiap keputusan tentang desa.
Hari keberangkatan akhirnya tiba.
Pagi masih gelap ketika Liris berdiri di depan rumah dengan sebuah tas besar dan map berisi surat-surat.
Ibunya memeluknya lama.
Ayahnya membawa tas itu ke motor ojek yang akan mengantarnya ke terminal kecamatan.
Rantaka, Banyu, Jagra, dan beberapa anak perpustakaan datang untuk mengantar.
Dita membawa buku catatan kecil.
“Kak Liris, nanti tulis surat untuk kami,” katanya.
Liris tersenyum sambil mengusap kepala Dita.
“Iya. Tapi kalian juga harus menulis surat untuk Kak Liris.”
Rafi membawa gambar sungai berwarna biru.
“Biar Kak Liris ingat sungainya,” katanya.
Liris menerima gambar itu dengan mata berkaca-kaca.
“Aku tidak akan lupa.”
Sebelum naik ke motor, Liris memandang Desa Wanasari.
Ia melihat jalan tanah.
Ia melihat kebun.
Ia melihat pohon beringin.
Ia melihat perpustakaan kecil.
Ia melihat Rumah Inovasi di kejauhan.
Dan ia melihat orang-orang yang selama ini menjadi alasan ia menulis.
Rantaka berdiri paling dekat.
Liris mendekatinya.
“Aku pergi bukan untuk menjauh,” katanya pelan.
Rantaka mengangguk.
“Aku tahu.”
“Aku akan pulang.”
“Aku akan menunggu. Tapi bukan hanya menunggu. Aku juga akan menjaga apa yang kita mulai.”
Liris menggenggam tangannya untuk terakhir kali sebelum naik ke motor.
“Jaga Langit Biru.”
“Jaga mimpimu.”
Motor mulai bergerak perlahan.
Anak-anak melambaikan tangan.
Banyu dan Jagra berdiri di samping Rantaka.
Liris menoleh sekali lagi.
Di bawah pohon beringin, Gerobak Buku Langit Biru tampak kecil dari kejauhan.
Namun, Liris tahu, gerobak itu membawa sesuatu yang jauh lebih besar daripada buku.
Gerobak itu membawa ingatan.
Harapan.
Dan alasan untuk pulang.
Ketika motor menghilang di tikungan jalan, Rantaka masih berdiri di tempatnya.
Ada kesedihan yang tidak bisa ia sembunyikan.
Namun, di dalam kesedihan itu, ada keyakinan baru.
Liris tidak pergi untuk meninggalkan Desa Wanasari.
Ia pergi untuk membawa suara desa itu melampaui batas-batas yang selama ini membuatnya tidak terdengar.
Dan dari kota, melalui tulisan-tulisannya, perjuangan Wanasari akan menemukan jalan baru.
Bukan jalan yang mudah.
Bukan jalan tanpa luka.
Tetapi jalan yang mungkin dapat membuat lebih banyak orang memahami bahwa pendidikan, tanah, sungai, dan masa depan anak-anak desa tidak boleh dipisahkan satu sama lain.
BAB 20 - SUARA WANASARI DARI KOTA
Kota provinsi menyambut Liris dengan suara kendaraan yang tidak pernah benar-benar berhenti.
Dari jendela kamar asrama residensi, ia dapat melihat deretan lampu jalan, atap-atap rumah yang rapat, serta gedung-gedung yang menjulang di kejauhan. Pada malam pertama, ia berdiri cukup lama di dekat jendela sambil memegang gambar sungai berwarna biru yang diberikan Rafi.
Gambar itu sederhana.
Ada sungai, pohon-pohon hijau, beberapa ikan, dan matahari besar di atas langit.
Di bagian bawahnya, Rafi menulis dengan huruf yang belum rapi:
Sungai Wanasari Harus Biru Lagi.
Liris menempelkan gambar itu di dinding dekat meja belajarnya.
Di bawahnya, ia meletakkan foto kecil Gerobak Buku Langit Biru, surat dari ayahnya, serta catatan berisi jadwal kegiatan perpustakaan yang telah ia susun sebelum berangkat.
Kamar itu sempit, tetapi Liris berusaha membuatnya tidak terasa asing.
Ia membawa Desa Wanasari ke dalam ruangan itu.
Bukan dalam bentuk tanah, sungai, atau pohon beringin.
Melainkan dalam bentuk gambar anak-anak, surat-surat warga, buku-buku lama, dan ingatan tentang orang-orang yang menunggunya pulang.
Program residensi Yayasan Cakrawala Kata dimulai dua hari kemudian.
Pesertanya berasal dari berbagai daerah.
Ada yang datang dari kota besar, ada yang menulis tentang perempuan pekerja, ada yang membuat cerita pendek tentang kehidupan nelayan, dan ada pula yang ingin menulis buku anak.
Liris menjadi salah satu peserta yang paling pendiam.
Ia lebih banyak mendengar daripada berbicara.
Saat peserta lain memperkenalkan diri, mereka menyebut pengalaman menulis, lomba yang pernah diikuti, media yang pernah memuat karya mereka, dan buku-buku yang menjadi rujukan.
Ketika gilirannya tiba, Liris berdiri perlahan.
“Nama saya Liris,” katanya. “Saya dari Desa Wanasari. Saya menulis puisi dan cerita tentang desa, pendidikan, sungai, dan anak-anak yang ingin tetap belajar.”
Seorang peserta bernama Nadine bertanya, “Desa Wanasari itu di mana?”
Liris tersenyum kecil.
“Di tempat yang mungkin tidak ada di peta kalian.”
Beberapa orang tertawa pelan.
Namun, Liris tidak tersinggung.
Ia justru semakin yakin bahwa ia berada di tempat yang tepat.
Jika orang-orang tidak mengenal Wanasari, maka ia harus menulis agar mereka mengenalnya.
Bukan hanya mengenal namanya.
Tetapi mengenal hidup yang ada di dalamnya.
Pada sesi pertama, para peserta diminta menulis tentang tempat yang paling mereka rindukan.
Peserta lain menulis tentang rumah masa kecil, pasar kota, laut, atau jalan-jalan yang pernah mereka tinggalkan.
Liris menulis tentang pohon beringin tua.
Ia menulis tentang akar-akar yang mencengkeram tanah di dekat perpustakaan desa.
Ia menulis tentang anak-anak yang membaca buku di bawahnya.
Ia menulis tentang Gerobak Buku Langit Biru yang pernah berjalan dari rumah ke rumah ketika perpustakaan belum aktif.
Ia menulis tentang Rantaka yang pulang sebagai guru dengan membawa buku.
Ia menulis tentang Banyu yang mengubah pipa bekas menjadi alat pengatur air.
Ia menulis tentang Jagra yang bertahan menjaga kolam ketika banyak anak muda memilih pergi.
Namun, di bagian akhir tulisannya, Liris menulis tentang sungai.
Tentang air yang dahulu jernih.
Tentang ikan-ikan kecil yang dulu mudah terlihat dari tepian.
Tentang anak-anak yang pernah bermain di sana.
Dan tentang warna air yang perlahan berubah setelah kendaraan-kendaraan besar mulai datang membawa janji pembangunan.
Tulisan itu berjudul:
Sungai yang Tidak Mau Dilupakan
Saat sesi pembacaan karya, Liris sempat ragu.
Tangannya gemetar ketika memegang kertas.
Namun, ia teringat kata ayahnya sebelum berangkat.
Tulisanmu harus tetap punya hati.
Ia mulai membaca.
Suasana ruangan perlahan menjadi sunyi.
Tidak ada yang memotong.
Tidak ada yang tertawa.
Ketika Liris selesai, mentor residensi bernama Bu Mayang menatapnya cukup lama.
“Kamu tidak hanya menulis tentang sungai,” katanya. “Kamu menulis tentang sebuah tempat yang sedang berusaha mempertahankan dirinya.”
Liris menunduk.
“Saya hanya menulis apa yang saya lihat.”
“Teruslah melihat,” kata Bu Mayang. “Tapi jangan berhenti mencari suara-suara lain. Tulisan yang kuat bukan hanya membawa kesedihan penulisnya. Tulisan yang kuat membawa kehidupan banyak orang.”
Kalimat itu tinggal lama dalam pikiran Liris.
Malamnya, ia menulis pesan kepada Rantaka.
Aku ingin menulis tentang Wanasari, tetapi bukan hanya dari ingatanku. Aku ingin mendengar suara warga. Kalau ada rapat, kabar sungai, kebun, kolam, atau anak-anak sekolah, kirimkan kepadaku. Aku ingin menulis bersama kalian.
Tidak lama kemudian, balasan Rantaka datang.
Kami akan kirim semuanya. Tapi kamu juga harus menjaga dirimu. Jangan terlalu sering begadang.
Liris tersenyum.
Ia membalas:
Pak Guru masih suka mengatur.
Balasan Rantaka datang beberapa menit kemudian.
Karena penulis desa ini keras kepala.
Liris memandangi layar ponselnya sambil tersenyum kecil.
Jarak masih terasa.
Namun, kali ini jarak tidak sepenuhnya sunyi.
Di Desa Wanasari, Rantaka mulai mengumpulkan cerita warga.
Setelah jam sekolah selesai, ia duduk di perpustakaan bersama beberapa murid yang membantu menulis catatan sederhana.
Dita mencatat cerita neneknya tentang sungai yang dahulu menjadi tempat mencuci dan menangkap ikan.
Rafi menulis tentang kebun ayahnya yang mulai sulit mendapat air saat musim kemarau.
Sari menggambar peta jalan dari rumahnya menuju sungai.
Rantaka mengirim foto-foto itu kepada Liris.
Ia juga mengirim rekaman suara Bu Karmi yang bercerita tentang kekhawatirannya jika lahan warga dijual.
“Kalau tanah habis,” suara Bu Karmi terdengar dari rekaman itu, “anak cucu kami nanti mau menanam di mana?”
Liris mendengarkan rekaman itu berulang kali.
Ia tidak ingin mengubah suara warga menjadi kata-kata yang terlalu indah.
Ia ingin tetap menjaga kejujuran mereka.
Karena hidup warga tidak boleh hanya menjadi bahan tulisan.
Hidup warga harus menjadi bagian dari perjuangan.
Di residensi, Liris mulai menulis lebih serius.
Ia membuat catatan tentang perubahan sungai.
Ia mengumpulkan cerita dari Rantaka, Banyu, Jagra, dan warga.
Ia membaca dokumen-dokumen tentang hak masyarakat desa, pendidikan, lingkungan, dan pengelolaan sumber daya alam.
Ia belajar membedakan antara tulisan yang hanya mengeluh dan tulisan yang dapat mengajak orang berpikir.
Bu Mayang beberapa kali membimbingnya.
“Jangan hanya menulis bahwa warga takut,” kata Bu Mayang. “Tunjukkan apa yang mereka perjuangkan.”
“Apa bedanya?” tanya Liris.
“Takut adalah bagian dari manusia,” jawab Bu Mayang. “Tetapi perjuangan menunjukkan bahwa manusia tidak menyerah pada rasa takut.”
Liris mengangguk.
Sejak itu, tulisannya berubah.
Ia tidak hanya menulis tentang sungai yang tercemar.
Ia menulis tentang Banyu yang mencoba membuat alat air dari bahan bekas.
Ia tidak hanya menulis tentang kolam yang rusak.
Ia menulis tentang Jagra yang mengajak pemuda membangun kelompok perikanan.
Ia tidak hanya menulis tentang sekolah yang kekurangan guru.
Ia menulis tentang Rantaka yang membuka kelas malam agar anak-anak tidak kehilangan kesempatan belajar.
Ia tidak hanya menulis tentang perpustakaan yang hampir mati.
Ia menulis tentang anak-anak yang tetap datang membawa buku lusuh dan rasa ingin tahu.
Tulisan-tulisan itu mulai membentuk satu naskah panjang.
Judul sementaranya:
Langit Biru yang Menolak Padam
Suatu sore, Bu Mayang membawa Liris ke sebuah diskusi publik di perpustakaan kota.
Tema diskusi itu adalah “Cerita Daerah dan Masa Depan Lingkungan.”
Di sana, Liris bertemu dengan wartawan, pegiat literasi, mahasiswa, dan beberapa orang dari komunitas lingkungan.
Ia awalnya hanya duduk di barisan belakang.
Namun, ketika moderator membuka sesi tanya jawab, Bu Mayang menoleh kepadanya.
“Ceritakan tentang Wanasari,” bisiknya.
Liris menatap panggung.
Jantungnya berdebar.
Ia bukan pembicara yang terbiasa berdiri di depan banyak orang.
Namun, ia teringat wajah Rafi ketika menyerahkan gambar sungai.
Ia teringat Bu Karmi yang berkata bahwa tanah adalah tempat anak cucu menanam.
Ia teringat Rantaka yang menjaga perpustakaan.
Ia teringat Banyu yang terus memperbaiki pipa.
Ia teringat Jagra yang tidak pernah benar-benar menyerah pada kolam-kolam yang rusak.
Liris mengangkat tangan.
Ketika mikrofon diberikan kepadanya, ia berdiri.
“Saya berasal dari Desa Wanasari,” katanya. “Di desa kami, orang-orang sedang belajar bahwa pendidikan tidak hanya ada di sekolah. Pendidikan ada ketika anak-anak membaca di perpustakaan, ketika pemuda belajar memperbaiki pompa, ketika warga berani memahami peta, dan ketika keluarga mulai bertanya apa yang akan terjadi pada tanah serta sungai mereka.”
Ruangan menjadi hening.
Liris melanjutkan.
“Desa kami sedang menghadapi rencana pembangunan dari perusahaan luar. Ada warga yang berharap pada pekerjaan. Ada yang takut kehilangan lahan. Ada yang khawatir sungai semakin rusak. Kami tidak ingin menolak masa depan. Kami hanya ingin masa depan itu tidak datang dengan menghapus suara warga.”
Seorang wartawan muda mendekatinya setelah acara selesai.
Namanya Aruna.
“Saya tertarik dengan cerita desa Anda,” katanya. “Apakah saya boleh membaca tulisanmu?”
Liris ragu sejenak.
Tulisan itu belum selesai.
Masih banyak bagian yang perlu diperbaiki.
Namun, Bu Mayang mengangguk kecil dari kejauhan.
Liris menyerahkan salinan tulisannya.
“Ini belum sempurna,” katanya.
“Tidak apa-apa,” jawab Aruna. “Cerita yang jujur tidak harus menunggu sempurna untuk mulai didengar.”
Dua hari kemudian, Liris menerima pesan dari Rantaka.
Pesan itu lebih singkat daripada biasanya.
Liris, perusahaan meminta rapat lagi di balai desa. Mereka membawa dokumen baru. Pak Darma bilang ada jadwal penandatanganan kesepakatan awal.
Liris membaca pesan itu berkali-kali.
Dadanya terasa sesak.
Ia segera menelepon Rantaka.
Sambungan baru tersambung setelah beberapa kali percobaan.
“Rantaka, kapan rapatnya?”
“Tiga hari lagi.”
“Apa isi dokumennya?”
“Belum jelas. Mereka bilang ini hanya kesepakatan awal untuk pendataan dan pembukaan akses.”
“Kesepakatan awal bisa menjadi jalan untuk keputusan yang lebih besar.”
“Aku tahu.”
“Warga sudah membaca semuanya?”
“Belum. Banyak yang hanya dengar bahwa akan ada uang ganti rugi dan pelatihan kerja.”
Liris menutup mata.
Ia membayangkan balai desa.
Ia membayangkan warga duduk dengan dokumen yang sulit dipahami.
Ia membayangkan garis-garis pada peta yang mungkin akan menentukan kebun, parit, kolam, dan rumah inovasi.
“Aku akan pulang,” katanya.
“Liris, programmu baru berjalan.”
“Aku tidak bisa diam di sini.”
“Jangan mengambil keputusan terburu-buru. Kamu bisa membantu dari kota.”
“Bagaimana?”
Rantaka terdiam sejenak.
“Kirim tulisanmu.”
“Apa maksudmu?”
“Kalau tulisanmu bisa membuat orang lain tahu tentang Wanasari, mungkin kita tidak harus berjuang sendirian. Kirim ke orang-orang yang kamu temui. Ke komunitas. Ke wartawan. Ke siapa pun yang bisa membantu warga memahami apa yang sedang terjadi.”
Liris memegang ponselnya lebih erat.
Ia tahu Rantaka benar.
Pulang saat itu mungkin akan membuatnya hanya menjadi satu suara tambahan di balai desa.
Namun, dari kota, ia mungkin dapat membuka jalan agar suara Wanasari terdengar lebih jauh.
“Aku akan kirim tulisan itu malam ini,” katanya.
“Dan aku akan mengumpulkan warga untuk membaca dokumen sebelum rapat.”
“Jangan biarkan siapa pun menandatangani sesuatu yang tidak mereka pahami.”
“Aku janji.”
Setelah telepon ditutup, Liris duduk di depan meja belajarnya.
Gambar sungai dari Rafi masih menempel di dinding.
Di luar jendela, lampu-lampu kota menyala.
Kota itu besar.
Bising.
Penuh orang yang tidak tahu bahwa ada sebuah desa kecil sedang berjuang mempertahankan tanah, sungai, dan masa depan anak-anaknya.
Liris membuka laptop.
Ia membaca ulang tulisannya.
Kemudian ia menambahkan satu kalimat di bagian akhir:
Desa tidak meminta untuk dikasihani. Desa hanya meminta agar masa depannya tidak ditentukan tanpa pengetahuan, tanpa persetujuan, dan tanpa suara warganya.
Ia mengirim tulisan itu kepada Bu Mayang.
Ia mengirimkannya kepada Aruna.
Ia mengirimkannya kepada komunitas literasi yang ia kenal.
Ia juga mengirimkannya kepada beberapa teman residensi yang menawarkan bantuan menyebarkan tulisan tersebut.
Setelah semua terkirim, Liris tidak langsung merasa lega.
Ia tahu satu tulisan tidak akan menghentikan perusahaan.
Satu tulisan tidak akan membuat sungai kembali jernih.
Satu tulisan tidak akan menyelesaikan perbedaan di antara warga.
Namun, tulisan dapat membuka pintu.
Tulisan dapat membuat orang bertanya.
Tulisan dapat membuat warga lain merasa bahwa mereka tidak sendiri.
Dan kadang-kadang, perubahan besar dimulai dari satu pertanyaan sederhana:
Apakah kita benar-benar sudah mendengar suara desa?
Malam itu, Liris menatap langit kota dari jendela kamar.
Langitnya tidak sama seperti langit Desa Wanasari.
Di antara gedung dan lampu jalan, bintang-bintang hampir tidak terlihat.
Namun, Liris tahu bahwa di balik cahaya kota, ada langit yang sama.
Langit yang menaungi Rantaka, Banyu, Jagra, anak-anak perpustakaan, serta seluruh warga Wanasari.
Langit Biru itu masih ada.
Dan dari kota, Liris mulai mengirimkan suaranya pulang.
BAB 21 - RAPAT YANG MENENTUKAN ARAH
Pagi sebelum rapat di balai desa, langit Desa Wanasari tampak kelabu.
Bukan karena hujan.
Awan memang menggantung tipis di atas kebun dan rumah-rumah warga, tetapi yang membuat suasana terasa berat adalah kabar tentang dokumen baru dari perusahaan.
Sejak dua hari sebelumnya, orang-orang mulai membicarakan rapat itu di warung, di kebun, di pinggir kolam, bahkan di halaman sekolah.
Ada yang berkata perusahaan hanya ingin mempercepat pendataan.
Ada yang berkata akan ada uang kompensasi bagi warga yang tanahnya dilalui jalur akses.
Ada pula yang mengatakan bahwa perusahaan akan membuka lapangan pekerjaan bagi pemuda desa.
Namun, tidak ada yang benar-benar tahu isi dokumen itu secara utuh.
Tidak ada yang bisa menjelaskan apakah tanda tangan warga hanya untuk pendataan, atau justru menjadi persetujuan awal yang akan mengikat masa depan mereka.
Rantaka berdiri di depan perpustakaan sejak pagi.
Di atas meja kayu, ia meletakkan beberapa lembar salinan dokumen yang berhasil diperoleh dari kantor desa. Di sampingnya, ada Peta Warga Wanasari yang telah dibuat bersama anak-anak, pemuda, dan para orang tua.
Banyu datang membawa map berisi catatan Rumah Inovasi.
Jagra membawa daftar kolam warga, saluran air, serta nama-nama keluarga yang menggantungkan hidup pada perikanan.
Seno datang terakhir.
Wajahnya tampak tegang.
“Ayah sudah berangkat ke balai desa,” katanya.
“Pak Darma bagaimana?” tanya Banyu.
“Dia bilang rapat harus berjalan. Tapi semalam dia juga bilang warga berhak membaca dokumen sebelum menandatangani.”
Rantaka mengangguk.
“Setidaknya itu berarti masih ada ruang.”
“Ruang untuk apa?” tanya Jagra. “Kalau sebagian warga sudah tergoda uang muka, mereka mungkin tidak mau mendengar apa pun.”
Tidak ada yang segera menjawab.
Mereka semua tahu Jagra tidak salah.
Banyak keluarga di Desa Wanasari sedang menghadapi kesulitan. Hasil kebun tidak selalu baik. Kolam-kolam pernah rusak akibat banjir. Biaya sekolah semakin tinggi. Anak-anak muda membutuhkan pekerjaan.
Bagi sebagian warga, uang kompensasi bukan sekadar janji.
Uang itu bisa berarti biaya berobat.
Bisa berarti biaya sekolah anak.
Bisa berarti modal untuk memperbaiki rumah.
Karena itu, perjuangan mereka tidak pernah sesederhana menolak atau menerima perusahaan.
Mereka harus mencari jalan agar kebutuhan hari ini tidak menghancurkan masa depan esok hari.
Rantaka membuka ponselnya.
Pesan dari Liris masuk sejak subuh.
Aku sudah bicara dengan Bu Mayang dan Aruna. Tulisan tentang Wanasari akan dimuat di media komunitas hari ini. Mereka juga menghubungi jaringan pegiat lingkungan dan pendidikan.
Jangan datang ke rapat hanya dengan rasa takut. Datang dengan data, peta, dan suara warga.
Kalau ada bagian dokumen yang tidak dipahami, jangan biarkan siapa pun menandatangani.
Aku bersama kalian dari sini.
Rantaka membaca pesan itu keras-keras.
Banyu menatap layar ponsel tersebut.
“Liris pasti tidak bisa tidur semalam,” katanya.
“Dia sedang berjuang dari kota,” jawab Rantaka.
“Dan kita harus berjuang dari sini,” kata Jagra.
Rantaka menggulung Peta Warga Wanasari.
“Kita berangkat.”
Balai Desa Wanasari sudah penuh ketika mereka tiba.
Kursi-kursi plastik tersusun rapat.
Di bagian depan ruangan, sebuah meja panjang telah disiapkan untuk perangkat desa, perwakilan perusahaan, BPD, dan beberapa tokoh masyarakat.
Pak Hendra duduk di tengah dengan map hitam di depannya.
Surya Pratama duduk di sebelahnya sambil membuka beberapa lembar dokumen.
Pak Darma berada di sisi lain meja, wajahnya tampak lebih muram dari biasanya.
Di sudut ruangan, beberapa warga berbisik-bisik.
Ada yang datang dengan harapan.
Ada yang datang dengan kemarahan.
Ada pula yang datang karena takut mengambil keputusan tanpa tahu apa yang sedang terjadi.
Ketika Rantaka, Banyu, Jagra, dan Seno masuk, beberapa warga langsung menoleh.
Pak Warto mendekati mereka.
“Kalian bawa peta itu?” tanyanya.
Rantaka mengangguk.
“Bawa, Pak.”
“Bagus. Jangan sampai mereka bicara seolah di sini hanya ada tanah kosong.”
Kalimat itu membuat Rantaka memegang gulungan peta lebih erat.
Rapat dibuka oleh kepala desa.
Ia menjelaskan bahwa pertemuan tersebut merupakan forum sosialisasi lanjutan mengenai rencana pembangunan perusahaan di sekitar Desa Wanasari.
Pak Hendra kemudian berdiri.
“Kami datang dengan niat membangun kerja sama yang baik,” katanya. “Perusahaan kami ingin membuka akses, menciptakan peluang kerja, serta menjalankan program pelatihan bagi masyarakat.”
Beberapa warga mengangguk.
Kata-kata itu terdengar baik.
Teratur.
Meyakinkan.
Pak Hendra melanjutkan, “Dokumen yang kami bawa hari ini bukan penjualan tanah. Ini adalah kesepakatan awal untuk pendataan dan pembukaan komunikasi antara perusahaan dengan warga yang lahannya berada di sekitar jalur rencana akses.”
“Kalau hanya pendataan, kenapa harus tanda tangan?” suara seorang warga terdengar dari belakang.
Pak Hendra tersenyum tipis.
“Tanda tangan diperlukan sebagai bukti bahwa warga telah menerima informasi awal.”
“Informasi awal yang mana?” tanya warga lain. “Kami belum tahu jalur pastinya.”
Suasana mulai berubah.
Surya Pratama berdiri.
“Peta teknis belum dapat dibagikan seluruhnya karena masih dalam proses kajian.”
“Kalau peta belum dibagikan, kami harus menyetujui apa?” tanya Jagra.
Suara Jagra terdengar tegas.
Beberapa warga langsung menoleh kepadanya.
Surya memandang Jagra.
“Kesepakatan ini bukan persetujuan akhir.”
“Kalau begitu, tulis jelas bahwa warga tidak menyetujui pembukaan jalur sebelum peta, dampak lingkungan, dan dampak terhadap kebun, kolam, serta sungai dijelaskan terbuka,” kata Jagra.
Pak Hendra menghela napas.
“Kami memahami kekhawatiran masyarakat.”
“Tidak,” kata Banyu dari sisi ruangan. “Bapak belum memahami. Kalau jalur itu melewati parit belakang Rumah Inovasi, kebun warga bisa kehilangan air. Kalau saluran air berubah, kolam warga bisa mati. Itu bukan sekadar kekhawatiran.”
Pak Hendra memandang Banyu.
“Masalah teknis akan ditangani oleh tim ahli.”
“Warga juga punya pengetahuan tentang tempat tinggal mereka,” jawab Banyu. “Kami tahu parit mana yang mengalir saat kemarau. Kami tahu kolam mana yang mudah rusak. Kami tahu kebun mana yang tidak bisa hidup tanpa air itu.”
Suasana balai desa semakin sunyi.
Rantaka kemudian maju membawa gulungan peta.
Ia membentangkannya di meja depan.
Peta Warga Wanasari terbuka lebar.
Di atasnya terdapat tanda-tanda berwarna yang menunjukkan sungai, parit, kebun, kolam, sekolah, perpustakaan, Rumah Inovasi, dan jalan yang biasa digunakan warga.
“Ini bukan peta resmi,” kata Rantaka. “Tetapi ini peta kehidupan warga.”
Ia menunjuk sungai.
“Di sini anak-anak pernah belajar tentang air dan lingkungan.”
Ia menunjuk parit kecil.
“Di sini air dialirkan ke kebun warga saat musim kering.”
Ia menunjuk kolam-kolam.
“Di sini keluarga Jagra dan banyak warga lain mencari penghasilan.”
Ia menunjuk Rumah Inovasi.
“Di sini pemuda belajar membuat alat sederhana untuk membantu kebun dan perikanan.”
Lalu ia menunjuk perpustakaan dan sekolah.
“Dan di sini anak-anak belajar agar suatu hari mereka tidak hanya menjadi penonton ketika keputusan besar dibuat tentang desanya.”
Tidak ada yang berbicara.
Bahkan Pak Hendra tampak menatap peta itu lebih lama daripada sebelumnya.
Seorang warga bernama Pak Narto berdiri.
Ia dikenal sebagai salah satu warga yang tertarik menerima kompensasi dari perusahaan.
“Semua yang kalian katakan memang benar,” katanya. “Tapi kalian juga harus melihat keadaan kami. Anak saya mau masuk sekolah ke kota. Saya tidak punya biaya. Kalau ada uang ganti rugi, saya bisa pakai untuk masa depan anak saya.”
Rantaka menatap Pak Narto dengan hormat.
“Tidak ada yang menyalahkan Bapak karena membutuhkan uang.”
“Lalu kenapa kalian seperti ingin menghalangi?” tanya Pak Narto.
“Kami tidak ingin menghalangi siapa pun,” jawab Rantaka. “Kami hanya ingin semua warga tahu apa yang akan ditandatangani. Kalau setelah memahami semuanya Bapak tetap memilih menerima, itu hak Bapak. Tetapi jangan sampai keputusan dibuat karena kita hanya diberi sebagian informasi.”
Pak Narto terdiam.
Bu Karmi kemudian berdiri.
“Kalau tanah dijual, uang memang bisa dipakai sekarang,” katanya. “Tapi kalau uang habis, tanah tidak kembali.”
Seorang warga lain menyahut, “Kalau tidak dijual, kita makan apa?”
Balai desa kembali ramai.
Suara-suara saling bertumpuk.
Ada yang membela kebutuhan ekonomi.
Ada yang berbicara tentang sungai.
Ada yang menyebut pekerjaan untuk pemuda.
Ada yang mengingatkan tentang kebun dan warisan keluarga.
Kepala desa berusaha menenangkan warga.
Namun, perbedaan itu tidak bisa diselesaikan hanya dengan meminta semua orang diam.
Karena di balik setiap suara, ada kesulitan yang nyata.
Di tengah keributan itu, Seno berdiri.
Tangannya tampak gemetar.
Ia menatap ayahnya, Pak Darma, sebelum akhirnya berbicara.
“Saya ingin bicara sebagai pemuda desa.”
Suasana perlahan tenang.
“Saya tahu banyak teman saya butuh pekerjaan. Saya juga pernah berpikir perusahaan adalah satu-satunya jalan supaya kami tidak perlu merantau. Tapi setelah melihat Rumah Inovasi, setelah ikut mendata kebun dan sungai, saya sadar bahwa pekerjaan bukan hanya soal menerima gaji.”
Ia menarik napas.
“Pekerjaan juga soal apakah kita masih punya tempat untuk hidup setelah pekerjaan itu selesai.”
Pak Darma menatap anaknya.
Seno melanjutkan.
“Kalau perusahaan benar-benar ingin membantu, jangan hanya tawarkan pekerjaan sementara. Bantu pelatihan yang nyata. Bantu sekolah. Bantu alat pertanian dan perikanan. Jaga sungai. Jangan minta warga menandatangani sesuatu sebelum mereka benar-benar mengerti.”
Beberapa pemuda mengangguk.
Pak Hendra tampak mulai kehilangan senyum formalnya.
Ia menatap dokumen di depannya.
Kemudian, tiba-tiba, pintu balai desa terbuka.
Seorang perempuan muda masuk dengan membawa ponsel.
Ia adalah Nia, guru honorer dari desa sebelah yang sering membantu kegiatan literasi.
“Maaf,” katanya terengah-engah. “Saya baru dapat kabar dari kota.”
Ia berjalan mendekati Rantaka.
“Artikel Liris sudah dimuat.”
Rantaka menerima ponsel itu.
Di layar, terlihat judul tulisan Liris:
Langit Biru yang Menolak Padam: Catatan dari Desa Wanasari
Di bawah judul tersebut, terdapat foto Gerobak Buku Langit Biru, sungai yang mulai keruh, serta anak-anak yang sedang membaca di bawah pohon beringin.
Tulisan itu tidak menyerang siapa pun.
Namun, tulisan itu menggambarkan dengan jelas kehidupan warga Wanasari, ancaman terhadap sungai dan lahan, serta pentingnya keterbukaan sebelum keputusan dibuat.
Di bagian bawah artikel, sudah muncul banyak tanggapan.
Ada yang menawarkan bantuan untuk membaca dokumen.
Ada komunitas mahasiswa yang ingin datang melakukan pendampingan pemetaan.
Ada pegiat pendidikan yang menawarkan buku dan pelatihan untuk perpustakaan desa.
Ada pula orang-orang yang hanya menulis satu kalimat:
Warga Wanasari berhak didengar.
Rantaka menyerahkan ponsel itu kepada Banyu dan Jagra.
Mereka membaca dalam diam.
Untuk beberapa saat, rasa lelah mereka seperti mendapat tenaga baru.
Liris benar.
Desa Wanasari tidak lagi berjuang sendirian.
Pak Hendra melihat layar ponsel itu.
Wajahnya berubah.
“Artikel seperti ini bisa menimbulkan kesalahpahaman,” katanya.
“Kesalahpahaman muncul ketika informasi tidak dibuka,” jawab Rantaka.
Surya Pratama berdiri dan berbicara dengan nada lebih keras.
“Kami tidak bisa bekerja jika setiap langkah perusahaan dianggap ancaman.”
“Dan kami tidak bisa hidup tenang jika setiap langkah perusahaan dilakukan tanpa kejelasan,” kata Bu Karmi.
Pak Darma yang sejak tadi diam akhirnya berdiri.
Ia mengambil dokumen kesepakatan awal dari meja.
“Saya usulkan,” katanya, “penandatanganan hari ini ditunda.”
Balai desa mendadak hening.
Pak Hendra menatapnya tajam.
“Pak Darma, ini sudah dijadwalkan.”
“Saya tahu.”
“Penundaan akan menghambat proses.”
“Lebih baik proses terhambat daripada warga menandatangani sesuatu yang belum dipahami.”
Surya menatap Pak Darma.
“Bapak sudah menyetujui pembahasan awal ini.”
“Saya menyetujui pembahasan,” jawab Pak Darma. “Bukan memaksa warga mengambil keputusan.”
Kalimat itu seperti membuka pintu yang selama ini tertutup.
Beberapa warga bertepuk tangan.
Tidak semua.
Sebagian masih terlihat ragu.
Namun, untuk pertama kalinya, warga yang ingin membaca dokumen lebih dahulu tidak lagi merasa sendirian.
Kepala desa kemudian berdiri.
“Baik,” katanya. “Rapat hari ini tidak akan dilanjutkan ke penandatanganan. Dokumen akan disalin dan dibagikan kepada warga yang terdampak. Dalam waktu dua minggu, akan diadakan forum terbuka dengan peta jalur yang lebih jelas, penjelasan dampak terhadap sungai, kebun, kolam, dan fasilitas warga.”
Pak Hendra tidak langsung menjawab.
Wajahnya tetap tenang, tetapi matanya menunjukkan bahwa ia tidak menyukai keputusan itu.
Akhirnya ia berkata, “Kami akan mempertimbangkan permintaan tersebut.”
“Bukan mempertimbangkan,” kata Jagra. “Itu keputusan rapat warga.”
Pak Hendra menatap Jagra.
Kemudian ia menutup mapnya.
“Kami akan menyampaikan kepada kantor pusat.”
Setelah perwakilan perusahaan meninggalkan balai desa, warga tidak langsung pulang.
Mereka berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil.
Sebagian membicarakan dokumen.
Sebagian membicarakan artikel Liris.
Sebagian masih mempertanyakan apakah penundaan akan benar-benar membawa hasil.
Pak Narto mendekati Rantaka.
“Kalau nanti saya tetap ingin menerima kompensasi, kalian tidak akan menganggap saya musuh?”
Rantaka menatapnya.
“Tidak, Pak. Kita bukan sedang mencari musuh.”
“Lalu apa yang kalian cari?”
“Kejelasan. Dan jalan supaya warga tidak harus memilih antara makan hari ini atau kehilangan masa depan anak-anaknya.”
Pak Narto mengangguk perlahan.
“Aku ingin dokumennya dibaca anakku juga. Dia kuliah di kota.”
“Bagus, Pak,” jawab Rantaka. “Semakin banyak yang memahami, semakin baik.”
Di halaman balai desa, Banyu berdiri bersama Jagra dan Seno.
“Kita belum menang,” kata Jagra.
“Belum,” jawab Banyu.
“Perusahaan pasti akan datang lagi,” kata Seno.
Rantaka mendekati mereka.
“Karena itu kita tidak boleh berhenti setelah rapat ini.”
“Apa langkah berikutnya?” tanya Banyu.
Rantaka membuka ponselnya.
Ada pesan baru dari Liris.
Aku membaca kabar rapat dari Nia. Aku bangga kalian menunda penandatanganan.
Tapi penundaan hanya memberi waktu. Gunakan waktu itu untuk memperkuat warga.
Buat kelas membaca dokumen. Kumpulkan data sungai dan kebun. Dengarkan keluarga yang membutuhkan uang. Jangan biarkan perjuangan ini hanya menjadi milik beberapa orang.
Aku akan terus menulis dari sini.
Rantaka membacakan pesan itu.
Jagra mengangguk.
“Berarti kita harus mengadakan pertemuan warga lagi.”
“Bukan hanya pertemuan,” kata Banyu. “Kita harus mengajak anak muda belajar membaca peta dan dokumen.”
Seno menambahkan, “Dan kita harus membuat rencana ekonomi desa. Kalau warga punya pilihan lain, mereka tidak akan mudah dipaksa menerima tawaran yang merugikan.”
Rantaka memandang sahabat-sahabatnya.
Di depan mereka, jalan desa masih sama.
Tanahnya masih berdebu.
Sungainya belum kembali jernih.
Peta perusahaan belum benar-benar berubah.
Namun, hari itu Desa Wanasari telah mengambil satu langkah penting.
Bukan langkah untuk menolak masa depan.
Melainkan langkah untuk memastikan bahwa masa depan tidak datang tanpa persetujuan, tanpa pengetahuan, dan tanpa suara warga.
Di kejauhan, angin menggerakkan daun-daun pohon beringin.
Di bawah langit yang mulai cerah, Rantaka membayangkan Liris di kota, duduk di depan meja kecilnya, menulis tentang desa yang sedang belajar berdiri.
Suara Wanasari telah sampai ke kota.
Kini, warga Wanasari harus memastikan suara itu tidak berhenti hanya sebagai tulisan.
Suara itu harus menjadi keberanian.
Menjadi pengetahuan.
Menjadi jalan pulang bagi masa depan desa.
BAB 22 - KELAS UNTUK MEMBACA MASA DEPAN
Dua hari setelah rapat di balai desa, perpustakaan Desa Wanasari kembali dipenuhi orang.
Namun, sore itu bukan hanya anak-anak yang datang membawa buku tulis.
Para petani datang dengan topi lusuh yang masih menyisakan tanah kebun di ujung celana. Para ibu membawa catatan kecil. Pemuda-pemuda duduk di dekat jendela sambil memegang salinan dokumen perusahaan. Bahkan beberapa orang tua yang biasanya enggan datang ke perpustakaan ikut duduk di tikar.
Di dinding depan, Rantaka menempelkan sebuah kertas besar bertuliskan:
KELAS MEMBACA MASA DEPAN
MEMAHAMI DOKUMEN, MENJAGA HAK, MENENTUKAN PILIHAN
Tulisan itu dibuat oleh anak-anak sekolah bersama Liris sebelum ia berangkat ke kota.
Saat itu, mereka belum tahu bahwa kalimat tersebut suatu hari akan menjadi begitu penting.
Rantaka berdiri di depan ruangan.
Di sampingnya ada Banyu, Jagra, Seno, Bu Karmi, Pak Warto, dan Nia. Di atas meja, tersusun salinan dokumen yang dibawa perusahaan saat rapat. Ada pula Peta Warga Wanasari, catatan tentang sungai dan kolam, serta daftar pertanyaan yang sudah dikumpulkan dari warga.
“Kita berkumpul bukan untuk memutuskan siapa yang benar dan siapa yang salah,” kata Rantaka membuka pertemuan. “Kita berkumpul agar tidak ada warga yang menandatangani sesuatu yang belum dipahami.”
Beberapa warga mengangguk.
Pak Narto duduk di barisan depan. Wajahnya tampak serius. Di pangkuannya, ia memegang salinan dokumen yang telah dilipat berkali-kali.
“Kalau kami tidak paham bahasa di dalamnya, bagaimana kami bisa tahu apakah kami dirugikan?” tanyanya.
“Itulah alasan kelas ini dibuat,” jawab Rantaka. “Kita baca bersama. Kita tanya bersama. Kalau ada yang tidak jelas, kita catat. Kalau ada yang tidak masuk akal, kita minta penjelasan.”
Seno mengangkat satu lembar dokumen.
“Banyak kata dalam surat ini terdengar biasa,” katanya. “Tapi bisa punya akibat besar. Misalnya, kata persetujuan awal, akses sementara, pendataan lokasi, dan komitmen kerja sama.”
“Bedanya apa?” tanya seorang ibu dari belakang.
Seno menarik napas.
“Kadang-kadang, sebuah tanda tangan dianggap hanya untuk menerima informasi. Tetapi jika kalimatnya tidak jelas, tanda tangan itu bisa dipakai sebagai bukti bahwa warga sudah setuju terhadap proses berikutnya.”
Ruangan menjadi hening.
Bu Karmi mengangguk pelan.
“Berarti tanda tangan itu seperti pintu,” katanya. “Kalau kita tidak tahu pintunya menuju ke mana, jangan dibuka sembarangan.”
Kalimat itu membuat beberapa warga tersenyum tipis.
Rantaka menuliskannya di papan tulis.
JANGAN MENANDATANGANI PINTU YANG BELUM KITA KETAHUI ARAHNYA.
Kelas pertama dimulai dengan membaca dokumen secara perlahan.
Nia membacakan satu paragraf.
Kemudian Rantaka menjelaskan dengan bahasa yang lebih sederhana.
Banyu mencatat bagian-bagian yang berkaitan dengan jalur akses, parit, sungai, dan Rumah Inovasi.
Jagra menandai kalimat yang berhubungan dengan kolam, lahan produktif, serta kemungkinan perubahan aliran air.
Seno membantu warga memahami bagian tentang pelatihan kerja dan kesempatan bagi pemuda.
“Di sini tertulis perusahaan akan menyediakan pelatihan,” kata seorang pemuda bernama Arman. “Kalau begitu, bukankah itu bagus?”
“Bisa bagus,” jawab Seno. “Tapi kita harus bertanya: pelatihannya apa, berapa lama, untuk siapa, dan apakah setelah pelatihan ada pekerjaan yang jelas?”
“Kalau hanya pelatihan tiga hari lalu selesai, itu bukan masa depan,” tambah Banyu. “Itu hanya kegiatan.”
Pak Warto mengangkat tangan.
“Kalau mereka menjanjikan perbaikan jalan, apakah itu harus kita tolak?”
“Tidak,” kata Rantaka. “Kita tidak menolak perbaikan jalan, pelatihan, atau pekerjaan. Kita hanya ingin semua itu tidak dibayar dengan kerusakan yang lebih besar.”
“Jalan bagus memang penting,” kata Bu Karmi. “Tapi kalau jalan bagus membuat air kebun hilang, kita tetap susah.”
Anak-anak yang duduk di sudut ruangan mendengarkan percakapan itu.
Dita mengangkat tangan kecilnya.
“Kalau sungai rusak, kami nanti belajar tentang ikan dari mana?”
Beberapa orang dewasa menoleh kepadanya.
Rantaka tersenyum.
“Pertanyaan Dita juga harus masuk dalam catatan kita.”
Ia menulis di papan:
APA DAMPAKNYA BAGI ANAK-ANAK?
Kalimat itu membuat suasana berubah.
Selama ini, banyak orang membicarakan uang, tanah, dan pekerjaan.
Namun, sedikit yang bertanya tentang apa yang akan diwariskan kepada anak-anak.
Pada pertemuan kedua, Banyu membawa alat sederhana ke halaman perpustakaan.
Ia memasang pipa kecil, ember air, dan saringan dari kawat.
Beberapa warga mengira ia akan memperbaiki pompa.
Ternyata, ia ingin menunjukkan bagaimana aliran air dapat berubah jika saluran tertutup tanah atau limbah.
“Bayangkan ini parit di belakang Rumah Inovasi,” katanya.
Ia mengalirkan air dari ember ke pipa.
Air bergerak lancar.
Kemudian ia menaruh tanah di bagian tengah pipa.
Aliran air melambat.
Setelah itu, ia memasukkan daun kering dan lumpur.
Air berhenti mengalir.
“Kalau pembukaan jalur membuat parit tertutup atau tanah masuk ke saluran, ini yang bisa terjadi,” jelas Banyu. “Kebun tidak dapat air. Kolam kekurangan pasokan. Mesin pompa bekerja lebih berat. Warga harus mengeluarkan biaya lebih banyak.”
Jagra lalu membawa sebuah ember kecil berisi air dari kolam.
“Kalau air berubah terlalu keruh atau tercampur sesuatu yang tidak kita tahu, ikan bisa mati,” katanya. “Sekali kolam rusak, pemulihannya tidak mudah. Benih harus dibeli lagi. Pakan harus dibeli lagi. Waktu juga hilang.”
Pak Narto berdiri di dekat ember.
Ia memandangi air itu cukup lama.
“Kalau perusahaan memberi uang ganti rugi, apakah cukup untuk semua itu?” tanyanya.
Jagra tidak menjawab langsung.
“Bapak sendiri yang harus menghitungnya,” katanya. “Berapa nilai tanah, kolam, air, dan pekerjaan yang bisa dilakukan anak-anak kita nanti?”
Pertanyaan itu tidak menyalahkan.
Namun, pertanyaan itu membuat Pak Narto berpikir.
Sore hari, Rantaka menerima panggilan video dari Liris.
Sinyalnya tidak selalu baik, tetapi wajah Liris akhirnya muncul di layar ponsel.
Di belakangnya terlihat rak buku dan dinding kamar residensi yang dipenuhi kertas-kertas catatan.
Beberapa warga yang belum pernah menggunakan panggilan video mendekat dengan rasa penasaran.
“Liris!” seru Dita.
Liris tertawa.
“Halo, Dita. Kamu masih rajin membaca?”
“Masih. Kami sekarang belajar membaca surat perusahaan.”
Liris mengangguk bangga.
“Bagus. Tapi ingat, membaca bukan hanya mengeja kata. Membaca juga berarti bertanya: siapa yang diuntungkan, siapa yang menanggung risiko, dan apa yang terjadi setelahnya.”
Bu Karmi mendekat ke layar.
“Liris, tulisanmu sudah dibaca banyak orang?”
“Sudah mulai, Bu. Ada beberapa komunitas yang ingin membantu. Mereka tidak akan datang untuk mengambil alih perjuangan warga. Mereka ingin membantu warga memahami dokumen, memetakan dampak, dan menyusun pertanyaan.”
“Orang kota itu bisa dipercaya?” tanya Bu Karmi jujur.
Liris tersenyum tipis.
“Kita tidak harus percaya begitu saja pada siapa pun, Bu. Tapi kita bisa menerima bantuan tanpa menyerahkan keputusan. Keputusan tetap milik warga Wanasari.”
Kalimat itu disambut anggukan.
Rantaka kemudian menyampaikan bahwa perusahaan memberi waktu dua minggu sebelum forum terbuka berikutnya.
“Kita harus memakai waktu ini,” kata Liris dari layar. “Buat daftar semua yang harus dilindungi. Sungai, parit, kebun, kolam, sekolah, perpustakaan, Rumah Inovasi, dan tempat-tempat yang penting bagi warga.”
“Pohon beringin juga,” kata Rafi.
Liris tersenyum.
“Ya. Pohon beringin juga.”
Malam itu, warga mulai membentuk kelompok-kelompok kecil.
Kelompok pertama mendata sungai, parit, dan sumber air.
Banyu memimpin kelompok tersebut bersama beberapa pemuda.
Mereka berjalan menyusuri aliran air dari belakang Rumah Inovasi hingga ke kebun-kebun warga. Mereka mencatat titik yang mudah longsor, bagian yang sering tersumbat, serta tempat warga mengambil air saat kemarau.
Kelompok kedua mendata kebun dan tanaman produktif.
Pak Warto membantu mencatat jenis tanaman, luas lahan, serta keluarga yang bergantung pada hasil kebun.
Kelompok ketiga mendata kolam dan usaha perikanan.
Jagra mengajak pemuda mendata jumlah kolam, jenis ikan, jalur air, serta keluarga yang memperoleh penghasilan dari perikanan.
Kelompok keempat mendata pendidikan dan ruang belajar desa.
Rantaka mengajak anak-anak dan guru honorer mencatat sekolah, perpustakaan, Gerobak Buku Langit Biru, Rumah Inovasi, serta rumah-rumah warga yang sering dipakai sebagai tempat belajar tambahan.
“Kita sedang membuat peta baru?” tanya Dita.
“Kita sedang memperbaiki peta yang sudah ada,” jawab Rantaka.
“Memperbaiki bagaimana?”
“Dengan menambahkan hal-hal yang sering tidak terlihat oleh orang luar.”
Dita memandang kertas besar di depannya.
Lalu ia menggambar pohon beringin, gerobak buku, dan beberapa anak yang sedang duduk membaca.
“Kalau begitu, ini juga harus masuk,” katanya.
Rantaka mengangguk.
“Harus.”
Tidak semua warga setuju dengan kegiatan itu.
Beberapa orang menganggap Kelas Membaca Masa Depan hanya akan memperlambat peluang masuknya perusahaan.
Di warung, seorang warga berkata bahwa Rantaka dan teman-temannya terlalu banyak bicara tentang masa depan, tetapi tidak tahu bagaimana sulitnya mencari uang hari ini.
Ucapan itu sampai kepada Rantaka.
Malamnya, ia duduk bersama Banyu dan Jagra di perpustakaan.
“Aku khawatir warga mulai menganggap kita menghalangi rezeki mereka,” kata Rantaka.
Jagra menyandarkan tubuh ke dinding.
“Kalau kita hanya bicara soal sungai dan tanah, mereka akan merasa kita tidak memahami kesulitan mereka.”
“Karena itu kita harus bicara juga tentang pilihan ekonomi,” kata Banyu. “Rumah Inovasi bisa membuka pelatihan alat pertanian dan perikanan. Kolam warga bisa dikelola bersama. Kebun bisa punya saluran air yang lebih baik.”
“Itu semua butuh waktu,” kata Rantaka.
“Memang,” jawab Banyu. “Tapi kita tidak bisa meminta warga menunggu tanpa memberi harapan yang nyata.”
Seno masuk membawa beberapa lembar kertas.
“Aku baru bicara dengan beberapa pemuda,” katanya. “Mereka ingin pelatihan kerja. Tapi mereka juga ingin tahu apakah pelatihan itu bisa dibuat di desa.”
Banyu menatapnya.
“Bisa. Kita mulai dari yang ada.”
“Apa?”
“Perbaikan pompa, pembuatan saluran air, perawatan kolam, pengolahan hasil ikan, dan peralatan sederhana untuk kebun.”
Jagra menambahkan, “Kalau pemuda punya keterampilan, mereka tidak hanya menunggu lowongan dari perusahaan.”
Rantaka memandang kedua sahabatnya.
Ia mulai melihat arah yang lebih jelas.
Perjuangan mereka tidak boleh berhenti pada penolakan.
Mereka harus membuktikan bahwa desa memiliki jalan untuk tumbuh dengan kekuatannya sendiri.
Pada akhir minggu, Kelas Membaca Masa Depan berubah menjadi kegiatan yang lebih besar.
Warga mulai datang membawa dokumen dari rumah.
Ada yang membawa surat penawaran.
Ada yang membawa fotokopi sertifikat tanah.
Ada yang membawa catatan utang.
Ada pula yang membawa pertanyaan tentang biaya sekolah anak-anak mereka.
Rantaka menyadari bahwa masalah perusahaan hanya membuka luka yang selama ini telah ada.
Kemiskinan.
Kurangnya pekerjaan.
Biaya pendidikan.
Akses pasar.
Keterbatasan alat pertanian.
Ketergantungan pada tengkulak.
Semua itu membuat sebagian warga mudah menerima tawaran yang datang dari luar.
Karena itu, pada papan tulis, ia menulis kalimat baru:
DESA YANG KUAT BUKAN DESA YANG MENOLAK SEMUA HAL BARU.
DESA YANG KUAT ADALAH DESA YANG MAMPU MEMILIH DENGAN PENGETAHUAN.
Pak Narto membaca tulisan itu lama.
Kemudian ia mendekati Rantaka.
“Anakku sudah membaca dokumen ini lewat foto yang kukirim,” katanya. “Dia bilang ada beberapa kalimat yang harus ditanyakan lagi.”
Rantaka tersenyum.
“Apa saja, Pak?”
Pak Narto menyerahkan secarik kertas.
Di sana tertulis beberapa pertanyaan:
- Apakah akses sementara dapat berubah menjadi jalan permanen?
- Apakah warga dapat membatalkan persetujuan jika dampak lingkungan tidak sesuai janji?
- Siapa yang bertanggung jawab jika kebun, kolam, atau sumber air rusak?
- Apakah pelatihan kerja menjamin pekerjaan bagi warga?
- Apakah warga dapat memilih tidak menjual atau tidak melepas lahannya?
Rantaka membaca pertanyaan itu dengan hati-hati.
“Pertanyaan ini sangat penting, Pak.”
Pak Narto mengangguk.
“Saya masih butuh uang untuk sekolah anak saya. Tapi saya tidak mau menjual sesuatu yang tidak saya pahami.”
Rantaka menepuk bahunya.
“Itu sebabnya kita belajar bersama.”
Menjelang malam, Liris kembali menghubungi mereka.
Kali ini ia membawa kabar baru.
“Aruna dan beberapa teman dari komunitas pendidikan akan datang sebelum forum terbuka,” katanya. “Mereka ingin membantu membuat bahan bacaan sederhana tentang dokumen, peta, dan hak warga.”
“Apakah mereka akan bicara di rapat?” tanya Seno.
“Kalau warga mengizinkan, mereka bisa membantu menjelaskan. Tapi keputusan tetap harus diambil oleh warga.”
Banyu menatap peta yang semakin penuh tanda.
“Liris,” katanya, “sekarang peta kita sudah punya sungai, kebun, kolam, sekolah, Rumah Inovasi, dan pohon beringin.”
Liris tersenyum dari layar.
“Jangan lupa tambahkan satu hal lagi.”
“Apa?”
“Orang-orang yang menjaganya.”
Banyu memandang warga yang masih duduk di perpustakaan.
Ada Pak Narto yang membaca ulang dokumen.
Ada Bu Karmi yang berbicara dengan ibu-ibu lain.
Ada anak-anak yang menggambar sungai.
Ada pemuda yang mencatat jalur air.
Ada Rantaka yang menulis pertanyaan di papan.
Ada Jagra yang membahas kolam bersama warga.
Ada Seno yang mengajak teman-temannya merancang pelatihan.
Banyu mengangguk.
“Baik,” katanya. “Kita tambahkan.”
Di sudut Peta Warga Wanasari, Dita menulis dengan huruf besar:
DESA INI DIJAGA OLEH WARGANYA.
Tidak ada yang menyuruhnya menulis kalimat itu.
Namun, semua orang yang melihatnya terdiam sejenak.
Karena mereka tahu, itulah inti dari Kelas Membaca Masa Depan.
Bukan sekadar memahami surat.
Bukan sekadar membaca peta.
Bukan sekadar menunda tanda tangan.
Mereka sedang belajar membaca hidup mereka sendiri.
Membaca luka lama.
Membaca kemungkinan baru.
Membaca masa depan yang tidak boleh lagi ditentukan oleh orang lain tanpa kehadiran, pengetahuan, dan keberanian warga Desa Wanasari.
Di luar perpustakaan, malam turun perlahan.
Lampu-lampu rumah mulai menyala.
Di kejauhan, suara sungai terdengar kecil, mengalir melewati desa yang sedang belajar berdiri lebih tegak.
Dan di bawah langit yang gelap tetapi tetap luas, Wanasari mulai memahami bahwa pendidikan bukan hanya jalan untuk keluar dari desa.
Pendidikan juga jalan untuk menjaga desa agar tetap memiliki masa depan.
BAB 23 - FORUM TERBUKA DI BAWAH LANGIT BIRU
Hari forum terbuka tiba dengan langit yang sangat cerah.
Sejak pagi, halaman balai Desa Wanasari telah dipenuhi warga. Kursi-kursi plastik tidak cukup menampung semua orang, sehingga banyak yang membawa tikar dari rumah. Sebagian duduk di bawah pohon beringin tua. Sebagian lagi berdiri di dekat pagar balai desa. Anak-anak sekolah datang bersama Rantaka dan duduk berkelompok di sisi kiri halaman.
Tidak seperti rapat sebelumnya, kali ini warga tidak datang hanya untuk mendengar.
Mereka datang membawa catatan.
Mereka membawa salinan dokumen.
Mereka membawa peta.
Mereka membawa pertanyaan.
Dan yang paling penting, mereka datang membawa keberanian untuk bicara.
Di depan balai desa, sebuah kain putih dibentangkan. Di atasnya tertulis dengan huruf besar:
FORUM TERBUKA DESA WANASARI
TANAH, SUNGAI, PENDIDIKAN, DAN MASA DEPAN WARGA
Rantaka berdiri di dekat pintu perpustakaan kecil yang berada tidak jauh dari balai desa. Ia memandang warga satu per satu.
Ada Bu Karmi yang duduk bersama kelompok ibu-ibu.
Ada Pak Warto yang membawa map berisi data kebun.
Ada Pak Narto yang menggenggam dokumen perusahaan.
Ada para pemuda yang dipimpin Seno.
Ada Jagra bersama warga pemilik kolam.
Ada Banyu dengan beberapa catatan tentang aliran air dan Rumah Inovasi.
Dan ada anak-anak yang membawa gambar sungai, pohon, kebun, serta Gerobak Buku Langit Biru.
Rantaka merasa gugup.
Bukan karena takut berbicara.
Tetapi karena ia tahu, hari itu tidak ada jawaban yang akan memuaskan semua orang.
Sebagian warga membutuhkan uang segera.
Sebagian takut kehilangan tanah.
Sebagian berharap perusahaan membawa pekerjaan.
Sebagian lagi khawatir sungai dan kebun akan rusak.
Tidak ada yang sepenuhnya salah.
Tidak ada yang sepenuhnya benar.
Yang mereka butuhkan bukan kemenangan satu kelompok atas kelompok lain.
Mereka membutuhkan keputusan yang adil bagi hidup bersama.
Menjelang pukul sepuluh, kendaraan perusahaan masuk ke halaman desa.
Pak Hendra turun lebih dulu.
Di belakangnya, Surya Pratama membawa tabung peta besar. Dua orang staf lain membawa map dan sebuah layar proyektor portabel.
Warga langsung memperhatikan mereka.
Beberapa orang berdiri lebih tegak.
Beberapa ibu merapatkan duduknya.
Anak-anak berhenti berbicara.
Tidak lama kemudian, sebuah mobil lain datang dari arah kecamatan.
Dari dalamnya turun Aruna, wartawan muda yang pernah bertemu Liris di kota. Bersamanya ada Bu Mayang, mentor residensi Liris, serta dua orang dari komunitas pendidikan dan lingkungan yang sebelumnya berjanji membantu warga memahami dokumen.
Liris tidak ikut datang.
Ia masih berada di kota, menyelesaikan program residensi dan mengumpulkan bahan tulisan.
Namun, sebelum forum dimulai, ia mengirim pesan kepada Rantaka.
Aku ingin sekali berada di sana. Tapi hari ini bukan tentang aku.
Hari ini tentang warga Wanasari yang berani menyampaikan apa yang mereka ketahui, apa yang mereka butuhkan, dan apa yang ingin mereka jaga.
Jangan biarkan siapa pun membuat kalian merasa kecil hanya karena kalian tinggal di desa.
Aku percaya pada kalian.
Rantaka membaca pesan itu sekali lagi sebelum memasukkan ponselnya ke saku.
Ia lalu berjalan ke arah panggung sederhana yang dibuat dari papan kayu.
Forum dibuka oleh kepala desa.
Kali ini, ia berbicara lebih hati-hati.
“Pertemuan hari ini bukan untuk memaksa warga mengambil keputusan,” katanya. “Pertemuan ini dibuat agar semua pihak dapat menyampaikan penjelasan, pertanyaan, dan pandangan secara terbuka.”
Pak Hendra kemudian berdiri.
Ia membuka map dan memulai pemaparan.
“Perusahaan kami membawa peta jalur rencana akses yang telah diperbarui,” katanya. “Kami juga membawa rancangan program sosial, pelatihan kerja, perbaikan jalan, serta bantuan bagi kegiatan pendidikan desa.”
Surya Pratama memasang peta besar di papan.
Di dalam peta itu terlihat garis merah yang memanjang dari jalan kecamatan menuju area perbukitan di belakang Desa Wanasari.
Garis itu tampak rapi.
Tipis.
Seolah hanya sebuah coretan.
Namun, bagi warga, garis itu bukan sekadar garis.
Garis itu melewati kebun.
Mendekati parit.
Memotong jalur menuju beberapa kolam.
Dan berada tidak jauh dari sungai kecil yang selama ini menjadi sumber air warga.
Pak Hendra menunjuk beberapa titik.
“Jalur ini telah disesuaikan agar dampaknya seminimal mungkin,” katanya. “Kami juga akan membangun drainase dan melakukan penghijauan.”
Banyu mengangkat tangan.
“Boleh saya bertanya?”
Pak Hendra mengangguk.
Banyu maju ke depan.
Ia membawa Peta Warga Wanasari yang telah diperbaiki selama dua minggu terakhir.
Dengan bantuan Seno dan beberapa pemuda, peta itu dipasang di samping peta perusahaan.
Dua peta berdiri berdampingan.
Satu peta dibuat oleh tim teknis perusahaan.
Satu peta dibuat oleh warga.
Perbedaan keduanya langsung terlihat.
Di peta perusahaan, hanya ada garis jalan, batas lahan, dan beberapa tanda bangunan.
Di Peta Warga Wanasari, terdapat sungai, parit kecil, kebun, kolam, jalan setapak, Rumah Inovasi, sekolah, perpustakaan, pohon beringin, serta rumah-rumah warga yang terdampak.
“Di peta perusahaan,” kata Banyu, “parit ini tidak terlihat.”
Ia menunjuk sebuah garis biru kecil di peta warga.
“Padahal, parit ini mengalirkan air ke kebun Pak Warto, kebun Bu Karmi, dan beberapa kolam warga. Saat musim kemarau, air dari parit ini sangat penting.”
Surya Pratama menatap peta.
“Itu saluran kecil. Kami bisa membuat pengganti.”
“Pengganti seperti apa?” tanya Banyu.
“Drainase beton.”
“Drainase beton belum tentu mengalirkan air ke kebun,” jawab Banyu. “Air tidak hanya mengikuti gambar di atas kertas. Air mengikuti tanah, kemiringan, akar, dan jalan lama yang sudah dipahami warga.”
Beberapa petani mengangguk.
Pak Warto berdiri.
“Kalau air itu hilang, kebun kami tidak bisa hidup,” katanya. “Bapak boleh bilang akan membuat saluran baru. Tapi kalau saluran itu tidak bekerja, siapa yang menanggung kerugian kami?”
Pak Hendra menjawab dengan suara tenang, “Perusahaan akan melakukan kajian teknis.”
“Apakah kajian itu melibatkan warga?” tanya Bu Karmi.
Pak Hendra terdiam sesaat.
“Kami akan mempertimbangkan masukan masyarakat.”
“Bukan mempertimbangkan,” kata Bu Karmi. “Kami harus dilibatkan.”
Suara tepuk tangan muncul dari beberapa sisi halaman.
Setelah itu, Jagra maju membawa daftar kolam warga.
Ia tidak berbicara dengan suara tinggi.
Namun, kata-katanya terdengar tegas.
“Di desa ini ada keluarga yang hidup dari kolam. Ada yang menjual ikan untuk biaya sekolah anak. Ada yang membeli pakan dari hasil kebun. Semua saling berkaitan.”
Ia menunjuk peta.
“Jalur ini tidak hanya dekat kolam saya. Jalur ini juga dekat saluran yang dipakai enam kolam warga. Kalau tanah dari pembukaan jalan masuk ke air, ikan bisa mati. Kalau air berubah, kami kehilangan penghasilan.”
Surya Pratama mencoba menjelaskan bahwa perusahaan akan membuat kolam pengendapan dan sistem pengelolaan air.
Namun, Jagra tidak langsung duduk.
“Apakah perusahaan bersedia menulis jaminan bahwa warga mendapat ganti rugi jika kolam rusak?”
Pak Hendra menatap stafnya.
“Kami perlu membahas itu lebih lanjut.”
“Berarti jangan minta kami menandatangani apa pun sebelum itu jelas,” kata Jagra.
Kali ini, tepuk tangan terdengar lebih banyak.
Di sisi lain halaman, Pak Narto terlihat gelisah.
Ia berdiri perlahan.
“Saya ingin bicara,” katanya.
Suasana kembali tenang.
“Saya termasuk warga yang membutuhkan uang,” katanya. “Saya tidak malu mengakuinya. Anak saya kuliah. Biayanya besar. Saya pernah berpikir kalau ada kompensasi, saya akan langsung setuju.”
Ia menatap peta perusahaan.
“Tapi setelah ikut Kelas Membaca Masa Depan, saya sadar satu hal. Kalau saya menandatangani sesuatu tanpa tahu akibatnya, saya bukan sedang menolong anak saya. Saya mungkin sedang menghilangkan pilihan anak saya di masa depan.”
Pak Narto menoleh ke arah Pak Hendra.
“Saya tidak menolak perusahaan. Tapi saya ingin jawaban yang jelas. Kalau jalan dibuka, apa yang terjadi pada air? Kalau tanah saya terdampak, apa hak saya? Kalau pekerjaan hanya sementara, apa yang terjadi setelah itu?”
Pak Hendra terlihat lebih serius.
“Kami memahami pertanyaan Bapak.”
“Jangan hanya pahami,” jawab Pak Narto. “Jawab.”
Suasana kembali riuh.
Kepala desa meminta warga tenang.
Namun, kali ini ketenangan tidak berarti diam.
Ketenangan berarti memberi ruang agar pertanyaan tidak lagi diabaikan.
Bu Mayang kemudian diminta berbicara sebagai pendamping literasi.
Ia tidak datang untuk mengambil alih forum.
Ia berdiri hanya beberapa menit.
“Saya bukan warga Wanasari,” katanya. “Karena itu saya tidak berhak menentukan apa yang harus dilakukan desa ini.”
Ia memandang warga.
“Tetapi saya melihat satu hal yang penting. Warga di sini telah melakukan sesuatu yang sangat kuat: mereka belajar membaca dokumen, membuat peta sendiri, mendata sumber air, kebun, kolam, dan ruang belajar anak-anak.”
Ia menoleh kepada perwakilan perusahaan.
“Dalam setiap rencana pembangunan, data teknis memang penting. Tetapi data hidup warga juga penting. Pembangunan yang baik bukan hanya membangun jalan. Pembangunan yang baik memastikan jalan itu tidak memutus sumber kehidupan masyarakat.”
Beberapa warga mengangguk.
Aruna lalu mengambil beberapa foto peta warga dan catatan kelas.
Ia tidak banyak berbicara.
Namun, kehadirannya membuat warga sadar bahwa apa yang terjadi di Wanasari kini tidak lagi tersembunyi di balik batas desa.
Ketika forum memasuki sesi pendidikan, Rantaka mengajak beberapa anak maju ke depan.
Dita membawa gambar sungai biru.
Rafi membawa gambar perpustakaan dan pohon beringin.
Sari membawa gambar kebun dengan saluran air.
Mereka berdiri di depan peta.
Rantaka memegang mikrofon.
“Anak-anak ini mungkin belum memahami seluruh isi dokumen perusahaan,” katanya. “Tetapi mereka tahu apa yang mereka butuhkan.”
Ia mempersilakan Dita berbicara.
Dita menatap banyak orang di depannya.
Awalnya ia gugup.
Namun, kemudian ia berkata, “Kalau sungai rusak, kami tidak bisa bermain di sana. Kalau kebun rusak, orang tua kami susah. Kalau orang tua kami susah, kami juga susah sekolah.”
Tidak ada yang tertawa.
Tidak ada yang menganggap kata-kata itu terlalu sederhana.
Karena justru dalam kesederhanaannya, kata-kata itu membuat semua orang memahami inti persoalan.
Rafi kemudian mengangkat gambarnya.
“Kalau jalan dibangun, jangan sampai perpustakaan hilang,” katanya.
“Perpustakaan tidak masuk jalur,” kata Surya Pratama cepat.
Rafi menatap peta perusahaan.
“Tapi kalau orang tua kami pindah atau susah, siapa yang datang ke perpustakaan?”
Pertanyaan itu membuat Surya Pratama tidak langsung menjawab.
Rantaka menatap anak-anak dengan bangga.
Pendidikan telah memberi mereka keberanian untuk bertanya.
Dan keberanian itu adalah sesuatu yang tidak dapat dibeli dengan kompensasi.
Menjelang siang, suasana forum semakin panas.
Beberapa warga yang sejak awal mendukung perusahaan mulai merasa bahwa diskusi terlalu banyak berputar pada kekhawatiran.
Seorang pria bernama Rudi berdiri.
“Kalau semua harus sempurna, tidak akan ada pembangunan,” katanya. “Kita ini desa. Kita butuh jalan, butuh pekerjaan, butuh kemajuan. Jangan karena takut, kita menutup semua peluang.”
“Tidak ada yang meminta semuanya sempurna,” jawab Seno. “Kami hanya meminta semuanya jelas.”
“Kalian anak muda bicara mudah,” kata Rudi. “Kalian belum punya keluarga yang harus diberi makan.”
Seno menahan napas.
“Ayah saya juga punya keluarga,” katanya. “Banyak dari kami juga membantu orang tua. Kami tahu hidup sulit. Tapi karena hidup sulit, jangan sampai kita menjual keputusan dengan harga murah.”
Rudi memandang Seno tajam.
“Jadi kamu bilang kami yang ingin menerima perusahaan ini menjual diri?”
“Tidak,” jawab Seno. “Saya bilang kita semua sedang berada dalam keadaan yang membuat kita mudah dipaksa memilih. Itu sebabnya kita harus punya pilihan lain.”
Kalimat itu membuat beberapa warga terdiam.
Banyu kemudian maju.
“Rumah Inovasi akan membuka pelatihan perbaikan pompa, pengolahan hasil ikan, pembuatan saluran air sederhana, dan perawatan alat pertanian. Kami tidak bilang itu langsung menyelesaikan semua masalah. Tapi itu langkah awal agar pemuda tidak hanya menunggu pekerjaan dari luar.”
Jagra menambahkan, “Kelompok perikanan juga akan mulai membuat usaha bersama. Kalau kita kuat bersama, warga tidak mudah dipisahkan oleh tawaran.”
Pak Hendra mengangkat alis.
“Apakah itu berarti warga menolak seluruh rencana perusahaan?”
Rantaka berdiri.
“Warga tidak menolak masa depan,” katanya. “Warga meminta masa depan yang adil.”
Ia menunjuk dua peta di depan.
“Kami meminta peta jalur dibuka secara rinci. Kami meminta kajian dampak air, kebun, dan kolam dilakukan bersama warga. Kami meminta tidak ada tanda tangan sebelum seluruh isi dokumen dipahami. Kami meminta jaminan tertulis atas kerusakan yang mungkin terjadi. Kami meminta program pendidikan dan pelatihan yang nyata, bukan sekadar janji.”
Ia berhenti sebentar.
“Dan kami meminta hak warga untuk mengatakan tidak jika rencana itu membahayakan kehidupan desa.”
Kalimat terakhir itu membuat halaman balai desa sunyi.
Angin bergerak pelan di antara daun-daun pohon beringin.
Pak Hendra menatap warga.
Untuk pertama kalinya, ia tidak segera menjawab.
Mungkin ia baru menyadari bahwa Wanasari bukan desa yang dapat diarahkan hanya dengan presentasi, peta teknis, dan janji kompensasi.
Desa itu telah belajar bertanya.
Telah belajar membaca.
Telah belajar menyatukan suara.
Setelah berdiskusi cukup lama dengan stafnya, Pak Hendra kembali berdiri.
“Kami akan membawa seluruh masukan warga kepada kantor pusat,” katanya. “Kami bersedia menunda proses penandatanganan sampai peta jalur dan kajian dampak dapat dijelaskan lebih rinci.”
Warga tidak langsung bersorak.
Mereka sudah belajar bahwa janji lisan belum tentu cukup.
Pak Narto mengangkat tangan.
“Apakah penundaan itu bisa ditulis?”
Pak Hendra menatapnya.
Kemudian ia mengangguk.
“Bisa.”
Kepala desa segera meminta sekretaris desa menyiapkan berita acara.
Di dalamnya dicatat bahwa tidak ada penandatanganan persetujuan warga pada hari itu. Perusahaan diminta membuka peta jalur secara rinci, menjelaskan dampak terhadap air, kebun, kolam, dan ruang pendidikan, serta menyusun mekanisme perlindungan dan ganti rugi yang dapat dipahami warga.
Berita acara itu dibacakan keras-keras.
Warga mendengarkan.
Kali ini, setiap kalimat diperiksa.
Setiap kata dipertanyakan.
Setiap bagian yang tidak jelas diminta diperbaiki.
Tidak ada yang terburu-buru.
Karena mereka tahu, masa depan tidak boleh ditandatangani dalam keadaan tergesa-gesa.
Menjelang sore, forum selesai.
Matahari mulai condong ke barat.
Warga perlahan pulang membawa salinan berita acara, catatan pertanyaan, dan peta kecil yang dibuat anak-anak.
Di bawah pohon beringin, Rantaka duduk bersama Banyu, Jagra, dan Seno.
Mereka semua tampak lelah.
Namun, lelah itu berbeda dari sebelumnya.
Hari itu, mereka tidak sekadar bertahan.
Mereka telah membuktikan bahwa pendidikan dapat menjadi kekuatan warga.
Bukan hanya pendidikan di sekolah.
Tetapi pendidikan yang membuat seseorang berani membaca surat, memahami peta, menghitung risiko, menyampaikan pendapat, dan menjaga masa depan bersama.
Ponsel Rantaka berbunyi.
Pesan dari Liris masuk.
Aruna mengirim foto forum. Aku melihat Dita, Rafi, peta warga, dan kalian semua.
Hari ini Wanasari tidak hanya bersuara. Wanasari sedang belajar menjadi penulis bagi masa depannya sendiri.
Rantaka membaca pesan itu kepada sahabat-sahabatnya.
Jagra tersenyum kecil.
“Liris selalu punya cara membuat kalimat yang berat jadi indah.”
“Karena dia penulis,” kata Banyu.
“Dan karena dia tahu desa ini,” tambah Seno.
Rantaka memandang pohon beringin yang menaungi mereka.
Dulu, di bawah pohon itu, mereka hanya anak-anak yang membaca buku dan bermimpi tentang dunia yang lebih luas.
Kini, mereka telah tumbuh.
Mereka masih takut.
Mereka masih bisa gagal.
Mereka masih belum tahu apakah perusahaan benar-benar akan memenuhi tuntutan warga.
Namun, mereka tidak lagi berdiri sebagai anak-anak yang menunggu keputusan orang lain.
Mereka berdiri sebagai warga Desa Wanasari.
Warga yang memahami bahwa langit biru tidak selalu berarti hari tanpa awan.
Kadang-kadang, langit biru adalah keberanian untuk tetap memandang ke atas, bahkan ketika masa depan masih dipenuhi tanda tanya.
Dan di bawah langit itu, Wanasari telah memilih untuk tidak diam.
BAB 24 - HARGA SEBUAH PILIHAN
Tiga hari setelah forum terbuka di bawah pohon beringin, Desa Wanasari tampak kembali seperti biasa.
Anak-anak berjalan menuju sekolah dengan tas yang sebagian sudah pudar warnanya. Para petani berangkat ke kebun sebelum matahari terlalu tinggi. Di kolam-kolam belakang rumah, warga memberi makan ikan sambil berbicara tentang harga pakan yang semakin mahal. Di perpustakaan, Rantaka kembali mengajar beberapa anak membaca setelah jam sekolah selesai.
Namun, ketenangan itu hanya tampak di permukaan.
Di bawahnya, Desa Wanasari sedang menghadapi ujian yang lebih sulit.
Perusahaan memang menunda penandatanganan.
Mereka memang bersedia membuat berita acara.
Mereka memang berjanji membawa peta yang lebih rinci.
Tetapi setelah forum terbuka, cara mereka berubah.
Mereka tidak lagi hanya datang melalui rapat besar.
Mereka mulai datang melalui pintu-pintu rumah warga.
Pagi itu, Pak Narto sedang membersihkan rumput di kebunnya ketika sebuah mobil hitam berhenti di dekat jalan tanah.
Dari dalam mobil turun Surya Pratama bersama seorang staf perusahaan.
Pak Narto menegakkan badan.
Tangannya masih memegang sabit.
“Selamat pagi, Pak Narto,” sapa Surya.
“Pagi.”
“Kami hanya ingin berbicara sebentar.”
Pak Narto tidak langsung menjawab.
Ia memandang kebunnya yang tidak terlalu luas. Di sana tumbuh cabai, singkong, beberapa batang pisang, dan tanaman sayur yang sebagian daunnya mulai dimakan ulat.
Kebun itu tidak membuatnya kaya.
Namun, kebun itu telah membiayai anaknya sekolah hingga kuliah.
“Apa yang mau dibicarakan?” tanyanya akhirnya.
Surya tersenyum.
“Kami mendengar anak Bapak sedang kuliah di kota.”
Pak Narto menatapnya tajam.
“Dari siapa Bapak tahu?”
“Kami hanya ingin membantu. Perusahaan punya program beasiswa bagi anak warga yang lahannya berada di sekitar jalur pembangunan.”
Pak Narto terdiam.
Surya melanjutkan, “Kalau Bapak bersedia mendukung proses pendataan, kami bisa mempertimbangkan anak Bapak sebagai penerima bantuan pendidikan. Selain itu, tentu ada kompensasi sesuai nilai lahan.”
Kata-kata itu terdengar halus.
Tidak ada ancaman.
Tidak ada paksaan.
Namun, Pak Narto tahu maksudnya.
“Dukung proses pendataan itu maksudnya apa?” tanyanya.
“Bapak hanya perlu menandatangani formulir penerimaan informasi dan kesediaan mengikuti program kemitraan.”
Pak Narto mengingat kalimat yang ditulis Rantaka di papan perpustakaan.
Jangan menandatangani pintu yang belum kita ketahui arahnya.
Ia mengusap keringat di dahinya.
“Saya akan baca dulu,” katanya.
“Tentu,” jawab Surya. “Kami bisa menjelaskan.”
“Tidak. Saya akan baca bersama warga.”
Senyum Surya sedikit berubah.
“Pak Narto, kesempatan seperti ini tidak selalu datang dua kali.”
Pak Narto menatap mobil hitam itu.
“Tanah saya juga tidak datang dua kali.”
Surya tidak langsung menjawab.
Akhirnya ia mengangguk singkat.
“Baik. Kami menunggu kabar Bapak.”
Setelah mobil itu pergi, Pak Narto duduk di bawah pohon pisang.
Tangannya gemetar.
Bukan karena ia takut kepada Surya.
Melainkan karena tawaran itu menyentuh bagian paling lemah dalam dirinya.
Anaknya.
Biaya kuliah.
Masa depan yang selama ini ia perjuangkan dengan susah payah.
Ia tahu, menolak tawaran itu bukan perkara mudah.
Di rumah Jagra, ujian datang dalam bentuk lain.
Siang itu, seorang staf perusahaan menemui pamannya yang memiliki beberapa kolam ikan di dekat jalur rencana akses.
Pamannya, Pak Maman, adalah orang yang selama ini membantu keluarga Jagra setelah banjir merusak sebagian usaha perikanan mereka.
Staf itu menawarkan perbaikan jalan menuju kolam, bantuan pakan ikan, dan pembelian hasil panen dengan harga lebih baik.
Sebagai gantinya, Pak Maman diminta mendukung pembukaan akses perusahaan.
Ketika Jagra mendengar kabar itu, ia langsung mendatangi rumah pamannya.
Pak Maman sedang duduk di teras.
Wajahnya tampak lelah.
“Paman benar-benar mau menerima tawaran itu?” tanya Jagra tanpa berputar-putar.
Pak Maman menatap ke arah halaman.
“Paman belum menjawab.”
“Tapi Paman mempertimbangkannya.”
“Karena Paman punya keluarga.”
“Aku juga punya keluarga, Man.”
“Kalau begitu kamu harus mengerti.”
Jagra duduk di kursi bambu.
“Aku mengerti kalau kolam butuh pakan. Aku mengerti kalau jalan ke kolam rusak. Aku mengerti kalau hasil panen sering tidak laku dengan harga baik.”
“Kalau kamu mengerti, jangan menyalahkan Paman.”
“Aku tidak menyalahkan.”
“Lalu kenapa wajahmu seperti itu?”
Jagra menunduk.
“Aku takut.”
Pak Maman terdiam.
“Aku takut kita menerima bantuan hari ini, lalu kehilangan air besok. Aku takut kolam kita dibantu pakan, tapi setelah jalan dibuka airnya rusak dan ikan kita mati. Aku takut kita menjual hak kita sedikit demi sedikit karena kita sedang susah.”
Pak Maman menghela napas panjang.
“Kamu masih muda, Jagra. Kamu punya semangat. Tapi semangat tidak bisa membeli beras.”
Kalimat itu menghantam dada Jagra.
Ia ingin membalas.
Namun, ia tahu pamannya tidak salah.
Kebutuhan hidup tidak dapat dikalahkan hanya dengan kata-kata besar.
Jagra pulang dengan langkah berat.
Di sepanjang jalan, ia melihat kolam-kolam warga yang airnya mulai turun karena musim kemarau belum sepenuhnya berakhir.
Ia teringat kata Rantaka: perjuangan tidak boleh hanya menjadi milik orang-orang yang masih punya pilihan.
Kalau warga diminta bertahan, maka mereka juga harus dibantu menemukan jalan untuk bertahan.
Sore itu, Rumah Inovasi dipenuhi suasana tegang.
Banyu sedang memperbaiki salah satu pompa kecil ketika Seno datang membawa kabar bahwa beberapa pemuda mendapat tawaran kerja sementara dari perusahaan.
“Mereka diminta membantu survei jalur,” kata Seno.
“Siapa saja?” tanya Banyu.
“Arman, Rudi, dan beberapa anak lain.”
“Apakah mereka sudah menerima?”
“Sebagian sudah.”
Banyu meletakkan kunci pas di atas meja.
“Mereka butuh uang.”
“Aku tahu.”
“Kalau kita marah kepada mereka, mereka akan semakin jauh.”
Seno duduk di kursi kayu.
“Lalu kita harus bagaimana? Perusahaan tidak perlu memenangkan forum kalau mereka bisa memenangkan orang satu per satu.”
Banyu menatap alat-alat sederhana di sekelilingnya.
Ada pipa bekas.
Ada roda kecil.
Ada mesin pompa tua.
Ada beberapa rancangan alat pengatur air yang masih belum sempurna.
“Rumah Inovasi harus bergerak lebih cepat,” katanya.
“Untuk apa?”
“Untuk membuktikan bahwa keterampilan juga bisa menjadi pekerjaan.”
Seno memandangnya dengan ragu.
“Kita belum punya modal.”
“Kita punya alat. Kita punya orang. Kita punya kebutuhan warga.”
“Tidak cukup.”
“Kalau kita menunggu semuanya cukup, kita akan selalu terlambat.”
Banyu lalu mengambil buku catatan.
Ia menulis beberapa rencana:
- Pelatihan perbaikan pompa dan mesin air.
- Pembuatan saluran air sederhana untuk kebun.
- Perawatan kolam dan pengolahan pakan alternatif.
- Pengolahan hasil ikan agar nilai jual meningkat.
- Pelatihan alat pertanian sederhana untuk pemuda.
“Kita mulai dari yang paling dibutuhkan,” katanya.
Seno membaca daftar itu.
“Kalau berhasil, ini bisa jadi usaha warga.”
“Bukan hanya usaha,” jawab Banyu. “Ini bisa jadi pilihan.”
Di perpustakaan, Rantaka menghadapi persoalan yang tidak kalah berat.
Beberapa orang tua mulai melarang anak-anak mereka ikut kegiatan Kelas Membaca Masa Depan.
Mereka takut kegiatan itu membuat keluarga mereka dianggap menentang perusahaan dan kehilangan peluang bantuan.
Salah satu ibu, Bu Sari, datang menemui Rantaka.
“Pak Guru,” katanya pelan, “maafkan saya. Untuk sementara, Dita tidak usah ikut kelas sore.”
Rantaka menatap Dita yang berdiri di belakang ibunya.
Anak itu memegang buku gambar erat-erat.
“Kenapa, Bu?” tanya Rantaka lembut.
“Suami saya bilang kita jangan ikut campur. Katanya nanti kalau perusahaan memberi bantuan, keluarga kita tidak dapat.”
“Dita tidak harus bicara tentang perusahaan di kelas,” kata Rantaka. “Ia bisa tetap membaca, menulis, dan belajar.”
Bu Sari menggeleng.
“Suami saya takut.”
Rantaka mengangguk perlahan.
Ia tidak ingin membuat Bu Sari merasa bersalah.
Ketakutan itu nyata.
“Baik, Bu,” katanya. “Saya mengerti.”
Dita menatap Rantaka dengan mata berkaca-kaca.
“Pak Guru, saya masih boleh pinjam buku?” tanyanya.
Rantaka tersenyum.
“Boleh. Perpustakaan ini tetap untuk kamu.”
Dita mengambil sebuah buku cerita tentang anak yang menanam pohon.
Sebelum pergi, ia berbisik, “Saya tetap mau sungainya biru lagi.”
Rantaka tidak langsung menjawab.
Ia hanya mengangguk.
Setelah Dita pergi, ia duduk sendiri di depan perpustakaan.
Untuk pertama kalinya sejak Kelas Membaca Masa Depan dimulai, ia merasa lelah bukan karena banyak pekerjaan.
Ia lelah karena melihat ketakutan mulai masuk ke rumah-rumah warga.
Malam itu, Rantaka menghubungi Liris.
Sinyal di desa tidak stabil.
Beberapa kali suara mereka putus.
Akhirnya, setelah menunggu cukup lama, wajah Liris muncul di layar.
“Aku dengar dari Aruna,” kata Liris. “Perusahaan mulai mendatangi warga satu per satu.”
Rantaka mengangguk.
“Pak Narto ditawari beasiswa untuk anaknya. Paman Jagra ditawari bantuan pakan dan jalan. Pemuda ditawari kerja survei. Orang tua mulai takut anak-anak mereka tidak mendapat bantuan.”
Liris menutup mata sejenak.
“Itu cara lama,” katanya pelan. “Memecah orang dengan kebutuhan yang paling mereka rasakan.”
“Aku tidak bisa menyalahkan mereka.”
“Jangan.”
“Aku juga tidak tahu harus melakukan apa.”
“Kamu sudah tahu.”
Rantaka menatap layar.
“Apa?”
“Kalian harus menunjukkan bahwa perjuangan warga tidak hanya berisi larangan. Warga perlu melihat bahwa ada jalan lain.”
“Banyu sedang menyiapkan pelatihan di Rumah Inovasi.”
“Itu baik.”
“Jagra ingin membangun kelompok perikanan bersama, tapi pamannya mulai ragu.”
“Dengarkan paman Jagra. Jangan hanya minta ia bertahan. Cari cara agar kelompok itu bisa membantu kebutuhan nyata.”
“Dan perpustakaan mulai sepi.”
“Kalau anak-anak tidak bisa datang, buku yang datang kepada mereka.”
Rantaka terdiam.
“Gerobak Buku,” katanya.
“Ya,” jawab Liris. “Gerobak Buku Langit Biru dulu lahir ketika perpustakaan belum mampu menjangkau semua anak. Sekarang mungkin ia harus berjalan lagi, bukan hanya membawa buku, tetapi juga membawa keberanian.”
Rantaka memandangi wajah Liris.
Di kota, Liris tetap memikirkan desa.
Di desa, mereka tetap membutuhkan suara Liris.
“Aku rindu kamu,” kata Rantaka tiba-tiba.
Liris terdiam.
Senyumnya muncul perlahan.
“Aku juga rindu.”
“Kalau kamu ada di sini, mungkin semuanya terasa lebih mudah.”
“Tidak,” jawab Liris lembut. “Kalau aku ada di sana, mungkin kita tetap akan takut. Tapi kita bisa takut bersama.”
Kalimat itu membuat Rantaka tersenyum untuk pertama kalinya malam itu.
“Programmu kapan selesai?”
“Dua hari lagi. Setelah itu aku pulang.”
Rantaka menatap layar lebih lama.
“Pulanglah dengan hati-hati.”
“Aku pulang bukan untuk menyelamatkan Wanasari,” kata Liris. “Aku pulang untuk berdiri bersama Wanasari.”
Keesokan harinya, Gerobak Buku Langit Biru kembali berjalan.
Gerobak itu telah lama tersimpan di gudang perpustakaan. Rodanya berdebu. Cat birunya mengelupas. Pegangannya sedikit longgar.
Namun, ketika Banyu memperbaiki roda dan Seno mengecat kembali tulisan di sisinya, gerobak itu seperti hidup lagi.
Di samping tulisan lama GEROBAK BUKU LANGIT BIRU, Rantaka menambahkan kalimat baru:
MEMBAWA BUKU, PETA, DAN HARAPAN
Anak-anak yang semula tidak diizinkan datang ke perpustakaan mulai menunggu di depan rumah.
Rantaka dan beberapa murid yang masih aktif membawa buku cerita, buku pelajaran, serta lembar sederhana berisi penjelasan tentang hak warga dan pertanyaan yang perlu diajukan sebelum menandatangani dokumen.
Mereka tidak memaksa siapa pun.
Mereka hanya datang.
Mereka membaca cerita.
Mereka menjelaskan dengan bahasa sederhana.
Mereka mendengarkan keluhan warga.
Di rumah Pak Narto, anak-anak membaca bersama cucunya yang sedang libur kuliah.
Di rumah Pak Maman, Jagra membawa catatan tentang kelompok perikanan dan kemungkinan pakan alternatif.
Di halaman rumah Bu Sari, Dita membaca cerita tentang anak yang menanam pohon, sementara Rantaka berbicara dengan beberapa ibu tentang sekolah dan masa depan anak-anak.
Gerobak Buku itu tidak mengubah semuanya dalam sehari.
Namun, kehadirannya mengingatkan warga bahwa mereka tidak harus menghadapi ketakutan sendirian.
Sore menjelang ketika Liris akhirnya tiba di Desa Wanasari.
Bus yang ditumpanginya berhenti di jalan besar, lalu ia melanjutkan perjalanan dengan ojek menuju desa.
Ketika ia sampai di dekat pohon beringin, ia melihat Gerobak Buku Langit Biru sedang berhenti di halaman perpustakaan.
Anak-anak berkerumun di sekitarnya.
Rantaka sedang membacakan buku.
Banyu duduk di dekat roda gerobak sambil memperbaiki baut.
Jagra berbicara dengan beberapa warga tentang kolam.
Seno membagikan lembar pertanyaan kepada pemuda.
Liris berdiri cukup lama tanpa memanggil siapa pun.
Dadanya terasa penuh.
Ia melihat bahwa desa itu sedang diuji.
Tetapi ia juga melihat bahwa desa itu belum menyerah.
Rantaka akhirnya menoleh.
Mata mereka bertemu.
Untuk sesaat, semua suara di sekitar mereka seperti menjauh.
Rantaka berjalan mendekat.
“Kamu pulang,” katanya.
Liris mengangguk.
“Aku pulang.”
Tidak ada pelukan yang berlebihan.
Tidak ada kata-kata besar.
Hanya tangan Rantaka yang menggenggam tangan Liris sebentar.
Namun, dalam genggaman itu, mereka memahami banyak hal.
Mereka memahami bahwa perjuangan belum selesai.
Bahwa perusahaan masih akan datang dengan peta dan tawaran baru.
Bahwa warga masih dapat terpecah.
Bahwa kebutuhan hidup masih dapat membuat orang mengambil keputusan yang menyakitkan.
Tetapi mereka juga memahami bahwa Langit Biru belum padam.
Karena selama masih ada orang yang mau belajar, bertanya, bekerja, menulis, mengajar, menjaga air, merawat kolam, dan membawa buku dari rumah ke rumah, desa itu masih memiliki kekuatan untuk menentukan jalannya sendiri.
Di bawah pohon beringin, Liris memandang tulisan pada sisi gerobak:
MEMBAWA BUKU, PETA, DAN HARAPAN
Ia tersenyum.
“Kalimatnya bagus,” katanya.
“Bukan aku yang membuat,” jawab Rantaka. “Anak-anak yang memilihnya.”
Liris memandang anak-anak yang sedang tertawa di dekat gerobak.
Kemudian ia berkata pelan, “Kalau begitu, kita harus memastikan mereka tidak tumbuh di desa yang kehilangan harapan.”
Rantaka mengangguk.
Di kejauhan, matahari turun perlahan di balik kebun dan perbukitan.
Cahaya sore menyentuh sungai kecil yang masih berusaha mengalir jernih.
Wanasari belum menang.
Namun, hari itu, warga mulai memahami bahwa harga sebuah pilihan bukan hanya uang yang diterima hari ini.
Harga sebuah pilihan adalah masa depan yang mungkin hilang jika mereka menyerah sebelum benar-benar memahami apa yang sedang dipertaruhkan.
BAB 25 - LANGIT BIRU PULANG KE DESA
Pagi itu, Desa Wanasari tidak menunggu kedatangan siapa pun dengan diam.
Sejak matahari belum tinggi, halaman balai desa telah dipenuhi warga. Namun, suasananya berbeda dari forum terbuka sebelumnya. Tidak ada kegelisahan yang membuat orang berbicara dengan suara tertahan. Tidak ada pula harapan yang digantungkan begitu saja pada janji dari luar.
Warga datang membawa hasil kerja mereka sendiri.
Para petani membawa catatan tentang kebun, saluran air, dan hasil panen. Kelompok perikanan membawa daftar kolam, kebutuhan pakan, serta rencana pengelolaan bersama. Para pemuda membawa rancangan pelatihan dari Rumah Inovasi. Ibu-ibu membawa usulan pengolahan hasil kebun dan ikan. Anak-anak membawa gambar sungai, sekolah, perpustakaan, serta pohon beringin yang mereka anggap sebagai bagian dari rumah mereka.
Di depan balai desa, dua peta dipasang berdampingan.
Peta perusahaan masih terlihat rapi dengan garis-garis jalur akses yang dicetak tegas.
Di sampingnya, Peta Warga Wanasari tampak lebih ramai.
Ada garis sungai.
Ada parit kecil.
Ada kebun.
Ada kolam.
Ada sekolah.
Ada perpustakaan.
Ada Rumah Inovasi.
Ada Gerobak Buku Langit Biru.
Ada jalan setapak yang selama ini hanya dikenal oleh warga.
Dan di sudut bawah peta, tertulis kalimat yang dibuat oleh Dita:
DESA INI DIJAGA OLEH WARGANYA.
Rantaka berdiri di dekat peta itu bersama Liris, Banyu, Jagra, dan Seno.
Mereka tidak lagi berdiri sebagai anak-anak yang dulu hanya membaca buku di bawah pohon beringin.
Mereka telah tumbuh dengan luka, kegagalan, perpisahan, kesalahpahaman, dan ketakutan masing-masing.
Namun, pagi itu, mereka berdiri bersama.
Bukan untuk menjadi pahlawan desa.
Melainkan untuk memastikan bahwa warga tidak kehilangan hak menentukan masa depan mereka sendiri.
Tidak lama kemudian, kendaraan perusahaan masuk ke halaman balai desa.
Pak Hendra turun lebih dulu.
Wajahnya tampak lebih serius daripada sebelumnya.
Di belakangnya, Surya Pratama membawa map besar berisi dokumen dan peta baru. Beberapa staf perusahaan mengikuti dari belakang.
Kali ini, mereka tidak membawa layar proyektor.
Mereka membawa banyak berkas.
Seolah-olah mereka telah memahami bahwa di Desa Wanasari, tidak ada lagi ruang untuk penjelasan yang hanya berupa kata-kata.
Kepala desa membuka pertemuan.
“Hari ini, warga Desa Wanasari akan menyampaikan keputusan bersama berdasarkan hasil pendataan, Kelas Membaca Masa Depan, forum terbuka, dan musyawarah warga,” katanya.
Pak Hendra mengangguk.
“Kami siap mendengarkan.”
Rantaka memandang warga.
Ia melihat Pak Narto duduk di barisan depan.
Di sampingnya ada Bu Sari dan Dita.
Tidak jauh dari mereka, Pak Maman duduk bersama Jagra.
Arman, Rudi, dan beberapa pemuda yang sempat menerima tawaran kerja survei juga hadir.
Mereka semua membawa wajah yang berbeda-beda.
Ada yang masih ragu.
Ada yang masih membutuhkan uang.
Ada yang masih berharap perusahaan dapat membawa peluang.
Namun, mereka datang.
Dan itu sudah menjadi awal yang penting.
Banyu maju pertama kali.
Ia membawa sebuah alat sederhana yang dibuat di Rumah Inovasi.
Alat itu terdiri dari pipa, katup, roda kecil, dan pengatur aliran air yang dirakit dari bahan bekas serta beberapa komponen baru.
“Ini belum sempurna,” kata Banyu. “Tetapi alat ini sudah membantu mengalirkan air dari parit ke kebun yang lebih tinggi.”
Ia memberi isyarat kepada dua pemuda untuk membuka katup.
Air dari tangki kecil mengalir melalui pipa menuju bak penampung.
Warga memperhatikan.
Beberapa petani mendekat.
“Alat ini dibuat bersama pemuda desa,” lanjut Banyu. “Kami sedang mengembangkan pelatihan perbaikan pompa, saluran air, dan alat pertanian sederhana. Kalau perusahaan benar-benar ingin membantu, kami meminta dukungan untuk memperkuat keterampilan warga, bukan menggantikan warga.”
Pak Hendra memandang alat itu cukup lama.
“Ini menarik,” katanya.
“Ini bukan sekadar menarik,” jawab Banyu. “Ini kebutuhan. Kalau air kebun terganggu, warga punya cara untuk memperbaiki. Kalau pompa rusak, pemuda desa bisa membantu. Kalau alat pertanian mahal, kami belajar membuat yang sederhana.”
Banyu kemudian menyerahkan proposal singkat kepada kepala desa.
Di dalamnya terdapat rencana Rumah Inovasi Wanasari: pelatihan keterampilan, bengkel alat pertanian sederhana, pengolahan hasil ikan, perbaikan pompa, serta kelas teknologi dasar bagi pemuda.
“Ini jalan yang kami pilih,” katanya. “Bukan jalan mudah. Tapi jalan yang membuat warga memiliki kemampuan.”
Tepuk tangan terdengar dari sisi pemuda.
Arman, yang sebelumnya menerima tawaran kerja survei, berdiri.
“Aku ingin ikut pelatihan itu,” katanya.
Beberapa orang menoleh.
Arman menarik napas.
“Aku sempat menerima kerja survei karena aku butuh uang. Aku tidak malu mengakuinya. Tapi aku tidak ingin selamanya hanya menjadi pekerja sementara di tanah sendiri. Kalau Rumah Inovasi ini berjalan, aku mau belajar.”
Rudi yang duduk di sebelahnya mengangguk.
“Aku juga.”
Seno tersenyum.
Tidak lebar.
Namun, cukup untuk menunjukkan bahwa perbedaan tidak selalu harus berakhir dengan permusuhan.
Kadang-kadang, perbedaan dapat menjadi jalan untuk memahami kebutuhan satu sama lain.
Setelah Banyu, Jagra maju bersama Pak Maman dan beberapa warga pemilik kolam.
Mereka membawa sebuah papan berisi rencana Koperasi Perikanan Wanasari.
Di dalamnya tercantum program pembelian pakan bersama, pembibitan ikan, pengolahan hasil panen, tabungan kelompok, serta pelatihan pengelolaan kolam.
Pak Maman memegang mikrofon.
Tangannya terlihat sedikit gemetar.
“Saya pernah hampir menerima tawaran perusahaan,” katanya. “Saya tidak menyalahkan siapa pun yang ingin menerima. Karena hidup memang sulit.”
Ia menoleh kepada Jagra.
“Tapi keponakan saya mengingatkan bahwa bantuan hari ini tidak boleh membuat kita kehilangan air besok.”
Jagra menunduk sebentar.
Pak Maman melanjutkan, “Kami tidak menolak kerja sama. Tapi kami tidak mau kolam kami hanya dihitung sebagai angka dalam peta. Kolam ini adalah biaya sekolah anak-anak kami. Kolam ini adalah makan keluarga kami.”
Ia menunjuk daftar tuntutan.
“Kami meminta perlindungan sumber air. Kami meminta kajian terbuka sebelum jalur dibuka. Kami meminta jaminan tertulis jika kolam warga terdampak. Dan kami meminta perusahaan tidak masuk ke wilayah sumber air serta jalur kolam sebelum semua itu jelas.”
Pak Hendra menerima daftar tersebut.
Wajahnya tidak lagi setenang saat pertama datang.
Ia mulai memahami bahwa warga tidak hanya membawa penolakan.
Mereka membawa data.
Mereka membawa rencana.
Mereka membawa pilihan pembangunan dari dalam desa sendiri.
Kemudian Liris maju.
Sejak pagi, ia belum banyak berbicara.
Ia membawa beberapa lembar kertas dan sebuah buku kecil yang sampulnya berwarna biru.
Di dalam buku itu terdapat tulisan-tulisan warga, puisi anak-anak, catatan tentang sungai, cerita para petani, dan gambar Gerobak Buku Langit Biru.
“Aku pulang dari kota membawa satu pelajaran,” katanya.
Suara Liris lembut, tetapi jelas.
“Banyak orang bicara tentang desa tanpa pernah benar-benar mendengar desa. Mereka melihat tanah sebagai luas hektare. Mereka melihat sungai sebagai garis biru di peta. Mereka melihat anak-anak sebagai angka dalam data pendidikan.”
Ia membuka salah satu halaman buku.
“Tapi bagi warga Wanasari, tanah adalah tempat orang tua menanam makanan. Sungai adalah tempat anak-anak belajar mengenal kehidupan. Sekolah adalah tempat mimpi diberi nama. Perpustakaan adalah tempat anak-anak percaya bahwa mereka boleh memiliki masa depan.”
Ia memandang Pak Hendra dan Surya Pratama.
“Kami tidak meminta desa ini berhenti berkembang. Kami justru ingin desa ini berkembang dengan cara yang membuat anak-anak tetap bisa sekolah, pemuda tetap bisa bekerja, petani tetap bisa menanam, nelayan kolam tetap bisa memelihara ikan, dan warga tetap bisa minum dari air yang bersih.”
Liris lalu menyerahkan buku kecil itu kepada kepala desa.
Judulnya tertulis di sampul depan:
SUARA WANASARI: PETA, CERITA, DAN HARAPAN WARGA
“Ini bukan laporan resmi,” kata Liris. “Ini adalah suara warga.”
Bu Karmi berdiri dari tempat duduknya.
“Dan suara itu harus didengar,” katanya.
Tepuk tangan menggema.
Saat tiba giliran Rantaka, ia tidak langsung berbicara.
Ia berjalan ke arah anak-anak yang duduk di sisi halaman.
Dita membawa gambar sungai.
Rafi membawa buku pelajaran.
Sari membawa gambar Rumah Inovasi.
Rantaka mengajak mereka berdiri di dekatnya.
“Dulu, ketika kami masih kecil,” kata Rantaka, “kami hanya punya Gerobak Buku Langit Biru. Kami membaca di bawah pohon beringin. Kami percaya buku bisa membawa kami melihat dunia yang lebih luas.”
Ia menatap warga.
“Kami kemudian pergi ke kota. Kami belajar. Kami gagal. Kami hampir menyerah. Kami kembali dengan luka dan pengalaman masing-masing.”
Ia memandang Liris, Banyu, Jagra, dan Seno.
“Tetapi kami kembali bukan untuk mengatakan bahwa kami lebih tahu daripada warga. Kami kembali karena kami belajar satu hal: pendidikan tidak hanya membuat seseorang pergi dari desa. Pendidikan harus membuat seseorang mampu kembali dan membangun desa.”
Rantaka mengambil sebuah lembar keputusan warga.
“Kami telah menyusun sikap bersama Desa Wanasari.”
Ia membaca perlahan.
“Pertama, warga Desa Wanasari tidak menyetujui pembukaan jalur perusahaan pada wilayah yang mengancam sumber air, parit, kebun produktif, kolam perikanan, sekolah, perpustakaan, Rumah Inovasi, dan ruang belajar warga.”
“Setuju!” seru beberapa warga.
“Kedua, setiap rencana pembangunan wajib dibuka secara transparan melalui peta rinci, kajian dampak yang dapat dipahami warga, serta musyawarah yang melibatkan seluruh kelompok masyarakat.”
“Setuju!”
“Ketiga, tidak ada warga yang boleh ditekan, dibujuk secara pribadi, atau dipaksa menandatangani dokumen tanpa pendampingan dan pemahaman yang cukup.”
Suasana menjadi hening.
Pak Narto menatap Pak Hendra.
“Kami sudah belajar membaca,” kata Rantaka. “Kami tidak akan kembali menandatangani sesuatu dalam keadaan tidak tahu.”
“Keempat, warga membuka peluang kerja sama yang mendukung pendidikan, keterampilan pemuda, perikanan, pertanian, pengolahan hasil desa, dan perlindungan lingkungan.”
“Kelima, warga akan mengembangkan Rumah Inovasi, Koperasi Perikanan, Gerobak Buku Langit Biru, dan Kelas Membaca Masa Depan sebagai program bersama untuk memperkuat sumber daya manusia Desa Wanasari.”
Setelah Rantaka selesai membaca, kepala desa meminta warga menyampaikan persetujuan.
Tidak ada suara yang langsung seragam.
Beberapa orang masih berbicara pelan.
Beberapa masih tampak ragu.
Namun, satu demi satu tangan terangkat.
Pak Narto mengangkat tangan.
Pak Maman mengangkat tangan.
Bu Karmi mengangkat tangan.
Arman dan Rudi mengangkat tangan.
Bu Sari mengangkat tangan sambil menggenggam tangan Dita.
Kemudian, hampir seluruh halaman balai desa dipenuhi tangan yang terangkat.
Bukan karena semua masalah telah selesai.
Bukan karena semua orang tiba-tiba terbebas dari kebutuhan hidup.
Tetapi karena untuk pertama kalinya, mereka memiliki keputusan yang lahir dari pemahaman bersama.
Pak Hendra berdiri.
Wajahnya menunjukkan bahwa ia sedang mempertimbangkan banyak hal.
“Kami menghargai sikap warga,” katanya. “Kami akan membawa keputusan ini kepada perusahaan.”
“Bukan hanya dibawa,” kata Pak Warto. “Harus dijawab tertulis.”
Pak Hendra mengangguk.
“Kami akan memberikan jawaban tertulis.”
“Dan sebelum ada jawaban itu,” tambah Bu Karmi, “tidak ada kegiatan di lapangan.”
Pak Hendra kembali mengangguk.
Surya Pratama tampak ingin mengatakan sesuatu.
Namun, akhirnya ia hanya menutup mapnya.
Mungkin untuk pertama kalinya, ia memahami bahwa peta yang dibuat tanpa warga tidak akan cukup untuk menentukan jalan di Desa Wanasari.
Perusahaan kemudian meninggalkan balai desa.
Mobil mereka bergerak perlahan keluar dari halaman.
Tidak ada warga yang bersorak berlebihan.
Tidak ada yang merasa perjuangan selesai.
Karena mereka tahu, keputusan perusahaan mungkin belum tentu sesuai harapan.
Namun, mereka telah melakukan hal yang paling penting.
Mereka telah menyatakan bahwa desa bukan tanah kosong.
Desa adalah kehidupan.
Menjelang sore, warga masih berkumpul di bawah pohon beringin.
Banyu berbicara dengan para pemuda tentang jadwal pelatihan pertama di Rumah Inovasi.
Jagra menyusun daftar anggota Koperasi Perikanan Wanasari.
Seno membantu mencatat pemuda yang ingin mengikuti pelatihan perbaikan pompa dan alat pertanian.
Liris mengajak anak-anak menulis cerita tentang desa mereka.
Rantaka membuka kelas membaca di halaman perpustakaan.
Gerobak Buku Langit Biru berdiri di dekat mereka.
Cat birunya mulai mengering setelah diperbaiki.
Tulisan di sisinya tampak jelas:
MEMBAWA BUKU, PETA, DAN HARAPAN
Dita mendekati Rantaka.
“Pak Guru,” katanya, “apakah perusahaan jadi tidak masuk?”
Rantaka tersenyum.
“Kita belum tahu.”
“Kalau begitu, kenapa semua orang senang?”
“Karena hari ini kita sudah berani menentukan apa yang penting bagi desa.”
Dita berpikir sejenak.
“Berarti kita menang?”
Rantaka menatap sungai kecil yang terlihat dari kejauhan.
Airnya masih mengalir.
Kebun masih berdiri.
Anak-anak masih membawa buku.
Namun, ia tahu perjuangan selalu membutuhkan waktu.
“Kita belum menang sepenuhnya,” jawabnya. “Tapi kita sudah tidak diam.”
Dita mengangguk.
Kemudian ia berlari kembali kepada teman-temannya.
Malamnya, setelah warga pulang, Rantaka dan Liris duduk di bawah pohon beringin.
Lampu-lampu rumah terlihat kecil di kejauhan.
Suara jangkrik memenuhi udara.
Untuk beberapa saat, mereka tidak berbicara.
Mereka hanya duduk berdekatan.
Rantaka memandang tangan Liris.
“Ternyata pulang tidak selalu mudah,” katanya.
Liris tersenyum kecil.
“Tidak. Tapi pulang membuat kita tahu apa yang ingin kita perjuangkan.”
Rantaka mengangguk.
“Aku dulu ingin menjadi guru supaya anak desa punya kesempatan belajar.”
“Kamu sudah melakukannya.”
“Belum cukup.”
“Memang tidak akan pernah cukup,” jawab Liris. “Karena pendidikan bukan pekerjaan yang selesai dalam satu hari.”
Rantaka menatap wajah Liris.
“Aku tidak ingin menjalani semua ini sendirian.”
Liris terdiam.
Angin malam menggerakkan rambutnya.
“Aku juga tidak ingin lagi berjalan sendiri,” katanya.
Rantaka menggenggam tangan Liris.
“Aku tidak punya janji besar,” katanya. “Aku tidak punya rumah mewah. Aku tidak punya banyak uang.”
Liris tersenyum.
“Aku juga tidak butuh semua itu.”
“Aku hanya punya satu janji,” lanjut Rantaka. “Kalau kamu bersedia, aku ingin pulang dan membangun Wanasari bersamamu. Bukan hanya saat desa ini tenang. Tapi juga saat desa ini sulit.”
Mata Liris berkaca-kaca.
Ia memandang pohon beringin yang sejak kecil menjadi saksi perjalanan mereka.
“Dulu kita membuat janji di bawah pohon ini,” katanya. “Janji untuk membawa cahaya pulang ke desa.”
Rantaka mengangguk.
“Sekarang aku ingin membuat janji baru.”
Liris menggenggam tangan Rantaka lebih erat.
“Aku bersedia.”
Tidak ada pesta.
Tidak ada musik.
Tidak ada banyak orang yang menyaksikan.
Hanya langit malam, pohon beringin tua, dan desa yang perlahan belajar menulis masa depannya sendiri.
Namun, bagi Rantaka dan Liris, malam itu cukup.
Karena cinta mereka tidak lahir dari kemewahan.
Cinta itu tumbuh dari surat yang terlambat, jarak yang menyakitkan, perjuangan yang hampir memisahkan, dan keberanian untuk tetap pulang.
Beberapa bulan kemudian, jawaban tertulis dari perusahaan akhirnya tiba.
Setelah tekanan dari warga, pendamping komunitas, pemberitaan Aruna, serta kajian ulang yang dilakukan pemerintah kecamatan, rencana jalur akses di sekitar sumber air dan kawasan kebun produktif Desa Wanasari tidak diteruskan.
Perusahaan diminta menyusun rencana baru di luar wilayah sensitif dan tidak boleh melakukan kegiatan sebelum memenuhi ketentuan perlindungan lingkungan serta persetujuan warga yang terbuka.
Keputusan itu tidak membuat semua persoalan desa langsung hilang.
Namun, keputusan itu memberi waktu.
Waktu untuk membangun.
Waktu untuk belajar.
Waktu untuk memperkuat usaha warga.
Rumah Inovasi mulai ramai oleh pemuda yang belajar memperbaiki pompa, membuat alat sederhana, dan mengembangkan saluran air.
Koperasi Perikanan Wanasari mulai membeli pakan bersama dan menjual hasil panen dengan harga yang lebih baik.
Gerobak Buku Langit Biru kembali berjalan dari rumah ke rumah.
Perpustakaan desa tidak lagi sepi.
Dan di sekolah, Rantaka mengajarkan anak-anak bahwa membaca bukan hanya mengenal huruf.
Membaca adalah memahami dunia.
Memahami hak.
Memahami tanggung jawab.
Memahami bahwa masa depan tidak boleh diserahkan begitu saja kepada orang lain.
Pada suatu sore, ketika matahari menyentuh ujung kebun, Liris berdiri di depan Rumah Inovasi.
Ia melihat Banyu mengajar beberapa pemuda.
Ia melihat Jagra membagikan catatan koperasi kepada warga.
Ia melihat Seno membantu anak-anak membuat poster tentang sungai.
Ia melihat Rantaka mengarahkan Gerobak Buku Langit Biru menuju rumah-rumah warga.
Liris membuka buku catatannya.
Lalu ia menulis:
Desa tidak tumbuh karena seseorang datang membawa jawaban.
Desa tumbuh ketika warganya berani belajar, bertanya, bekerja, dan menjaga satu sama lain.
Ia menutup buku itu.
Di atas Desa Wanasari, langit sore tampak biru.
Biru yang tidak lagi hanya menjadi warna dalam kenangan masa kecil.
Biru itu kini menjadi tanda bahwa mimpi anak desa tidak pernah terlalu tinggi.
Karena selama ada buku yang dibaca, air yang dijaga, tangan yang bekerja, dan hati yang tidak menyerah, cahaya akan selalu menemukan jalan untuk pulang ke desa.
EPILOG
SURAT DARI UJUNG KECAMATAN
Rumah singgah itu berdiri di ujung jalan kecil dekat pasar kecamatan.
Bangunannya tidak besar. Dindingnya terbuat dari papan yang sudah mulai kusam. Atap sengnya berbunyi keras ketika hujan turun. Di halaman depan, ada pohon jambu yang tumbuh miring ke arah pagar bambu. Di belakang rumah, terdapat sumur tua yang digunakan bersama oleh beberapa penghuni.
Di tempat itulah Rantaka tinggal sejak mulai melanjutkan sekolah di kecamatan.
Awalnya, ia merasa asing. Suara kendaraan lebih ramai daripada suara jangkrik di Desa Wanasari. Orang-orang berjalan lebih cepat. Pagi hari, pasar sudah penuh oleh pedagang, pembeli, dan kendaraan yang datang dari berbagai desa.
Rantaka harus bangun sebelum matahari terbit. Ia membantu ibu pemilik rumah singgah menyapu halaman, mengambil air dari sumur, lalu menyiapkan diri untuk berangkat sekolah. Setelah itu, ia berjalan kaki bersama beberapa anak lain menuju sekolah.
Jalan menuju sekolah tidak lagi berupa tanah merah seperti di Wanasari. Jalan itu sudah beraspal. Ada toko-toko kecil di sepanjang jalan. Ada warung makan. Ada bengkel sepeda. Ada papan nama besar yang menunjukkan arah menuju kantor kecamatan dan kota kabupaten.
Namun, meski jalan di kecamatan lebih ramai dan lebih mudah dilalui, Rantaka tetap sering merindukan jalan tanah di desanya. Ia merindukan suara sungai. Ia merindukan pohon beringin tua di halaman SD Wanasari. Ia merindukan suara roda Gerobak Buku Langit Biru yang berderit saat melewati jalan berbatu. Ia merindukan Liris, Banyu, dan Jagra.
Pada suatu malam, setelah menyelesaikan pekerjaan rumah, Rantaka duduk di meja kecil dekat jendela kamarnya. Lampu minyak menyala di atas meja. Listrik di rumah singgah memang ada, tetapi sering padam ketika hujan turun. Malam itu angin bertiup cukup kencang. Langit di luar jendela tertutup awan.
Rantaka membuka buku tulisnya. Ia mengambil pena. Lalu, ia mulai menulis surat. Surat itu ditujukan kepada Liris.
Untuk Liris,
Apa kabarmu di Desa Wanasari?
Aku harap kau baik-baik saja. Aku juga berharap ayahmu sehat dan tidak terlalu khawatir ketika kau mulai mengikuti pelatihan menulis di kota kabupaten nanti.
Sudah beberapa minggu aku tinggal di rumah singgah ini. Awalnya aku merasa seperti orang yang tersesat di tempat ramai. Semua orang di kecamatan berjalan cepat. Mereka seperti sudah tahu ke mana harus pergi. Sedangkan aku masih sering berhenti di pinggir jalan hanya untuk melihat papan nama toko atau kendaraan yang lewat.
Sekolah di sini lebih besar daripada sekolah kita dulu. Kelasnya banyak. Muridnya juga lebih banyak. Kadang aku merasa kecil ketika melihat teman-teman yang sudah terbiasa berbicara dengan percaya diri. Ada yang pandai matematika. Ada yang pandai berpidato. Ada yang sudah terbiasa menggunakan komputer di sekolah.
Aku sempat takut tidak bisa mengikuti mereka. Namun, aku teringat kata Bu Laras. Beliau pernah berkata bahwa setiap anak membawa perjuangan yang tidak selalu terlihat.
Aku membawa perjuangan dari Desa Wanasari. Aku membawa jalan tanah, buku-buku lama, dan Gerobak Buku Langit Biru. Aku membawa semua itu ke sini.
Aku mulai mencoba berteman dengan beberapa anak di rumah singgah. Ada anak dari desa lain yang juga tinggal jauh dari keluarganya. Namanya Rendi. Ia ingin menjadi perawat karena ibunya sering sakit. Ada juga seorang anak perempuan bernama Mila. Ia ingin menjadi guru seperti Bu Laras. Kami kadang belajar bersama setelah magrib. Aku membantu Rendi memahami pelajaran bahasa Indonesia. Mila membantu aku mengerjakan matematika. Ternyata, di tempat baru pun, aku masih bisa menemukan orang-orang yang sama-sama sedang berjuang.
Tetapi aku tetap rindu rumah.
Aku rindu ibu memasak di dapur. Aku rindu ayah duduk di dekat jendela sambil memperbaiki alat kebun. Aku rindu melihat anak-anak kecil berlari ketika Gerobak Buku datang. Aku rindu mendengar Banyu berbicara tentang alat-alatnya. Aku rindu melihat Jagra membawa jaring dari sungai. Dan aku rindu mendengar kau membaca puisi di bawah pohon beringin.
Liris, aku ingin kau tetap menulis. Jangan berhenti hanya karena ada orang yang menganggap puisi tidak penting. Puisi-puisimu pernah membuat warga desa mengerti bahwa sekolah, sungai, dan anak-anak kecil juga memiliki cerita yang layak didengar. Aku yakin suatu hari nanti, tulisanmu akan membawa nama Desa Wanasari ke tempat yang lebih jauh.
Aku juga ingin kau menyampaikan salamku kepada Banyu dan Jagra. Katakan kepada Banyu agar ia tidak terlalu sering membongkar barang sampai lupa makan. Katakan kepadanya bahwa aku masih ingin melihat alat pengatur air untuk kolam yang ia buat. Untuk Jagra, katakan bahwa aku bangga karena ia mulai mengajak remaja lain belajar tentang perikanan. Aku yakin ia bisa membuat kelompok itu menjadi sesuatu yang besar bagi desa.
Dan untukmu, Liris, aku ingin mengatakan satu hal.
Terima kasih karena kau tetap percaya padaku, bahkan ketika aku pernah marah dan menjauh.
Aku masih menyimpan kalimat yang kau tulis di bawah pohon beringin. Bahwa Langit Biru adalah janji untuk saling mengingatkan agar tidak menyerah, meski jalan hidup membawa kita ke arah yang berbeda.
Aku mulai mengerti arti kalimat itu sekarang. Di kecamatan ini, langit terlihat lebih luas karena tidak banyak pohon besar seperti di desa. Tetapi ketika aku melihat langit pada sore hari, aku selalu teringat Wanasari. Aku teringat bahwa langit yang sama juga menaungi kalian.
Mungkin kita tidak lagi berjalan di jalan yang sama setiap hari. Mungkin kita tidak lagi duduk bersama di bawah pohon beringin setiap sore. Tetapi selama kita masih mengingat Langit Biru, kita tidak benar-benar jauh.
Aku akan belajar dengan sungguh-sungguh di sini. Aku ingin suatu hari nanti kembali ke desa dengan membawa ilmu yang bisa berguna. Aku belum tahu akan menjadi apa. Tetapi aku ingin menjadi seseorang yang tidak melupakan jalan tanah tempat ia tumbuh.
Salam untuk semua orang di Desa Wanasari.
Salam untuk Gerobak Buku Langit Biru.
Salam untuk pohon beringin tua.
Dan salam untuk sahabatku yang selalu percaya bahwa mimpi anak desa tidak pernah terlalu tinggi.
Sahabatmu,
Rantaka
Setelah selesai menulis, Rantaka membaca surat itu sekali lagi. Ada beberapa bagian yang ingin ia perbaiki. Namun, ia memutuskan untuk membiarkannya tetap seperti itu. Surat itu tidak harus sempurna. Yang penting, surat itu jujur.
Rantaka melipat kertas tersebut dengan hati-hati. Ia memasukkannya ke dalam amplop cokelat. Di bagian depan amplop, ia menulis nama Liris dan alamat rumahnya di Desa Wanasari.
Keesokan paginya, sebelum berangkat sekolah, Rantaka berjalan ke kantor pos kecil di dekat pasar kecamatan. Kantor pos itu sederhana. Di depan bangunannya ada papan nama yang catnya mulai pudar. Di dalamnya, seorang petugas duduk di balik meja kayu sambil memilah beberapa surat dan paket.
Rantaka menyerahkan amplop itu. "Untuk Desa Wanasari," katanya.
Petugas menerima surat tersebut. "Baik. Nanti ikut kiriman ke arah desa."
Rantaka mengangguk.
Ketika keluar dari kantor pos, ia berdiri sebentar di tepi jalan. Pagi itu matahari mulai naik. Langit yang semalam tertutup awan kini tampak cerah. Rantaka memandang ke arah jalan yang membentang menuju Desa Wanasari.
Ia tidak bisa melihat desanya dari sana. Jarak antara kecamatan dan desa masih cukup jauh. Ada jalan beraspal. Ada jalan berbatu. Ada jembatan kecil. Ada sungai yang harus dilalui.
Namun, dalam pikirannya, Rantaka dapat melihat semuanya dengan jelas. Ia melihat rumah sederhana keluarganya. Ia melihat sekolah kecil yang pernah hampir ditutup. Ia melihat Gerobak Buku Langit Biru. Ia melihat Banyu sedang memperbaiki roda. Ia melihat Jagra membawa jaring dari kolam. Ia melihat Liris duduk di bawah pohon beringin dengan buku hijau di pangkuannya.
Rantaka tersenyum.
Ia kemudian melanjutkan langkah menuju sekolah. Di dalam tasnya, ada buku-buku pelajaran. Ada jadwal belajar. Ada surat beasiswa yang masih ia simpan dengan rapi. Dan di dalam hatinya, ada satu keyakinan yang semakin kuat.
Perjalanan memang telah membawa mereka ke arah yang berbeda. Namun, Langit Biru tidak pernah benar-benar hilang. Langit Biru hidup dalam surat-surat yang dikirim dari kejauhan. Langit Biru hidup dalam buku-buku yang dibaca anak-anak desa. Langit Biru hidup dalam kolam ikan, puisi, alat sederhana, dan mimpi-mimpi yang tumbuh dari tempat yang sering dianggap kecil.
Di ujung kecamatan, Rantaka mulai melangkah menuju masa depannya. Dan jauh di Desa Wanasari, di bawah pohon beringin tua, sahabat-sahabatnya akan terus menjaga cahaya yang pernah mereka nyalakan bersama.
TAMAT



Danzo
18 Juni 2026 09:53:32
...