Desa Dabulon
Kecamatan Lumbis, Kabupaten Nunukan
MUTIARA YANG HILANG

NOVEL ROMANSA
MUTIARA YANG HILANG
Sebuah Kisah tentang Cinta, Kehilangan, Penantian, dan Jalan Pulang
Novel Romansa – Drama – Keluarga – Sosial
Oleh: Slamet Riyadi
DISCLAIMER
Novel “Mutiara Yang Hilang” merupakan karya fiksi.
Nama tokoh, karakter, hubungan antartokoh, dialog, peristiwa, konflik, serta rangkaian kejadian dalam novel ini merupakan hasil imajinasi dan kreativitas pengarang.
Kuala Kapuas beserta berbagai tempat, jalan, kawasan, suasana kota, kuliner, dan destinasi yang digunakan sebagai latar dalam cerita merupakan bagian dari penggambaran suasana untuk kepentingan sastra. Penggunaannya dalam novel tidak dimaksudkan sebagai dokumentasi sejarah, laporan jurnalistik, ataupun gambaran mengenai kehidupan pribadi orang-orang tertentu.
Apabila terdapat kesamaan nama, karakter, kejadian, ataupun keadaan dengan orang atau peristiwa nyata, hal tersebut merupakan kebetulan dan tidak dimaksudkan untuk menggambarkan pihak tertentu.
Beberapa lokasi dan unsur kehidupan Kota Kuala Kapuas digunakan sebagai ruang imajinatif untuk menghidupkan perjalanan tokoh-tokoh dalam cerita.
Novel ini terutama berbicara tentang cinta, kehilangan, kesalahpahaman, pilihan hidup, penantian, pengampunan, dan keberanian untuk menemukan kembali jalan pulang.
PROLOG
EMPAT JALAN DAN SATU PENANTIAN
Malam telah turun di Kuala Kapuas.
Lampu-lampu kendaraan bergerak seperti garis-garis cahaya yang tidak pernah benar-benar berhenti. Dari kejauhan, suara mesin kendaraan terdengar bersahutan, bercampur dengan suara kehidupan kota yang perlahan memasuki suasana malam.
Di tengah Bundaran Besar, Tugu Batang Garing berdiri dengan tenang.
Ia seperti seseorang yang telah terlalu lama menyaksikan manusia datang dan pergi.
Ada kendaraan yang datang dari arah timur.
Ada yang bergerak menuju Banjarmasin.
Dari arah utara, kendaraan datang dan pergi menuju Mantangai.
Di sebelah selatan, jalan mengarah ke pusat kota melalui Jalan Pemuda.
Sementara di sebelah barat, perjalanan dapat diteruskan menuju Palangka Raya.
Empat arah.
Empat kemungkinan.
Empat jalan yang dapat dipilih manusia ketika ingin pergi.
Namun malam itu, seorang laki-laki berdiri di dekat bundaran tanpa berniat pergi ke mana pun.
Namanya Aditya.
Ia berdiri sendirian.
Kedua tangannya masuk ke dalam saku jaket.
Matanya sesekali melihat kendaraan yang melintas, tetapi pikirannya tidak benar-benar berada di sana.
Sudah beberapa menit ia berdiri.
Mungkin setengah jam.
Mungkin lebih.
Ia sendiri tidak tahu.
Sebab ketika seseorang sedang menunggu orang yang sangat berarti dalam hidupnya, waktu sering kehilangan ukuran.
Aditya mengangkat wajahnya.
Matanya tertuju pada Tugu Batang Garing.
Ada sesuatu tentang tempat itu yang selalu membuatnya diam.
Mungkin karena kenangan.
Mungkin karena seseorang.
Atau mungkin karena sebuah janji yang pernah dibuat bertahun-tahun lalu.
Ia menarik napas panjang.
Lalu tersenyum kecil.
Senyum yang tidak sepenuhnya bahagia.
Senyum seseorang yang sedang berbicara kepada masa lalu.
“Kamu masih ingat tempat ini, Mutiara?”
Tidak ada jawaban.
Hanya suara kendaraan yang melintas.
Aditya menundukkan kepala.
Sudah bertahun-tahun ia tidak menyebut nama itu dengan suara keras.
Mutiara.
Nama yang dulu begitu dekat.
Nama yang pernah menjadi bagian dari hampir setiap percakapan.
Nama yang dahulu selalu muncul di layar ponselnya.
Nama yang pernah membuat pagi terasa lebih ringan dan malam terasa lebih panjang.
Namun kemudian nama itu berubah menjadi sesuatu yang hanya berani ia simpan dalam ingatan.
Aditya pernah berpikir bahwa waktu akan menghapus semuanya.
Ternyata ia salah.
Waktu memang mengajarkan manusia untuk terbiasa.
Tetapi terbiasa bukan berarti melupakan.
Ia masih mengingat cara Mutiara tertawa.
Ia masih mengingat kebiasaannya memiringkan kepala ketika sedang berpikir.
Ia masih mengingat bagaimana perempuan itu selalu mengatakan bahwa Kuala Kapuas adalah kota yang sederhana, tetapi menyimpan terlalu banyak cerita.
Dan yang paling ia ingat adalah percakapan mereka di tempat itu.
Bertahun-tahun lalu.
Saat mereka masih muda.
Saat cinta belum mengenal kata kehilangan.
Saat mereka belum mengetahui bahwa dua orang yang saling mencintai pun bisa terpisah oleh keadaan.
Aditya menatap empat jalan di hadapannya.
Dahulu ia dan Mutiara pernah berdiri di tempat yang sama.
Mereka pernah membicarakan masa depan.
Mereka pernah bertanya-tanya ke mana kehidupan akan membawa mereka.
Mutiara pernah menunjuk salah satu jalan dan berkata bahwa setiap jalan memiliki cerita.
Saat itu Aditya hanya tertawa.
Ia tidak pernah menyangka bahwa suatu hari nanti, empat arah jalan tersebut akan menjadi bagian dari kisah mereka.
Ia tidak pernah menyangka bahwa Mutiara akan pergi.
Dan lebih dari itu, ia tidak pernah menyangka bahwa setelah bertahun-tahun, dirinya masih akan berdiri di tempat yang sama.
Menunggu.
Bukan karena ia tidak memiliki kehidupan.
Bukan pula karena ia tidak pernah mencoba melupakan.
Ia pernah mencoba.
Berkali-kali.
Tetapi ada cinta yang tidak hilang hanya karena seseorang memutuskan untuk berhenti mengingat.
Aditya melihat jam tangannya.
Sudah semakin malam.
Mungkin Mutiara tidak akan datang.
Mungkin penantian ini hanyalah kesalahan.
Mungkin seseorang telah memberitahunya bahwa Aditya menunggunya di sana.
Atau mungkin tidak.
Ia hampir berbalik.
Hampir.
Namun sebuah kendaraan berhenti tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Pintu terbuka.
Seseorang turun.
Seorang perempuan.
Aditya tidak langsung melihat wajahnya.
Ia hanya melihat siluetnya di bawah cahaya lampu.
Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat.
Perempuan itu berdiri beberapa saat.
Kemudian perlahan mengangkat wajah.
Aditya membeku.
Dunia seolah berhenti bergerak.
Suara kendaraan menghilang dari pendengarannya.
Keramaian kota menjadi jauh.
Yang tersisa hanya satu sosok di hadapannya.
Sosok yang selama bertahun-tahun hanya hidup dalam kenangan.
Mutiara.
Mereka saling memandang.
Tidak ada yang langsung berbicara.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada tangisan.
Hanya tatapan dua manusia yang pernah saling mencintai, pernah saling kehilangan, dan kini kembali berdiri di tempat yang menyimpan awal sekaligus luka dari kisah mereka.
Mutiara akhirnya tersenyum tipis.
Sangat tipis.
Seolah ia sendiri tidak yakin apakah pertemuan itu nyata.
“Aditya…”
Hanya satu kata.
Tetapi bagi Aditya, satu kata itu seperti membuka kembali pintu masa lalu yang selama bertahun-tahun berusaha ia tutup.
Ia menatap perempuan itu.
Lalu berkata pelan,
“Kamu akhirnya pulang.”
Mutiara menundukkan wajah.
Matanya berkaca-kaca.
“Aku tidak tahu apakah ini benar-benar pulang.”
Aditya terdiam.
Mutiara kemudian melihat Tugu Batang Garing.
Tempat yang sama.
Kota yang sama.
Tetapi mereka bukan lagi dua orang yang sama.
Bertahun-tahun telah berlalu.
Banyak hal telah berubah.
Ada luka yang belum sembuh.
Ada pertanyaan yang belum terjawab.
Ada kebenaran yang belum diketahui.
Dan ada satu nama yang selama ini berdiri di antara mereka:
Rangga.
Mutiara kembali menghadap Aditya.
“Ada sesuatu yang harus kamu tahu.”
Aditya menatapnya.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia menyadari bahwa mungkin selama ini ia hanya mengetahui separuh dari cerita.
Dan malam itu, di bawah bayang-bayang Tugu Batang Garing, kisah yang pernah ia kira telah berakhir ternyata baru saja dimulai kembali.
Karena terkadang, seseorang memang harus kehilangan sesuatu yang paling berharga untuk menyadari nilainya.
Dan terkadang, jalan pulang tidak pernah benar-benar hilang.
Ia hanya menunggu seseorang cukup berani untuk menemukannya.
Tiga tahun sebelumnya.
Kuala Kapuas.
Pagi itu, Aditya belum mengenal Mutiara.
Belum tahu namanya.
Belum tahu tawanya.
Belum tahu bahwa suatu hari perempuan itu akan menjadi bagian paling indah sekaligus paling menyakitkan dalam hidupnya.
Dan belum tahu bahwa di kota yang memiliki begitu banyak jalan, takdir akan mempertemukan mereka di sebuah persimpangan.
Di sanalah semuanya bermula.
BAB I
KETIKA KOTA MEMPERKENALKAN MEREKA
Tiga tahun sebelum malam itu, Kuala Kapuas masih menjadi kota yang bagi Aditya terasa sangat biasa.
Bukan karena kota itu tidak indah.
Justru sebaliknya.
Ia hanya terlalu terbiasa melihatnya.
Orang sering kali baru menyadari keindahan sesuatu setelah mereka pergi cukup jauh darinya. Begitu pula Aditya. Selama bertahun-tahun tinggal di Kuala Kapuas, ia telah melewati jalan-jalan yang sama, melihat tepian sungai yang sama, mendengar suara kendaraan yang sama, dan menikmati suasana kota yang sama.
Namun pagi itu, tanpa disadarinya, sebuah pertemuan kecil akan mengubah cara pandangnya terhadap kota tersebut.
Pagi belum terlalu tinggi ketika Aditya keluar dari rumah.
Udara masih menyimpan kesejukan sisa malam. Jalanan mulai ramai oleh aktivitas masyarakat. Beberapa kendaraan bergerak menuju pusat kota, sementara sebagian lainnya melanjutkan perjalanan ke arah luar kota.
Aditya mengenakan kemeja sederhana dengan celana panjang berwarna gelap.
Ia tidak memiliki tujuan yang istimewa.
Ia hanya hendak menyelesaikan beberapa keperluan.
Namun seperti banyak peristiwa penting dalam hidup manusia, sesuatu yang besar sering kali dimulai dari rencana yang sangat sederhana.
Aditya menghentikan langkahnya ketika melihat seorang perempuan berdiri tidak jauh dari sebuah tempat penyeberangan.
Perempuan itu membawa tas berwarna cokelat.
Di tangannya terdapat beberapa lembar kertas yang tampaknya sedang ia periksa.
Angin tiba-tiba berembus.
Beberapa lembar kertas terlepas.
Satu.
Dua.
Tiga.
Kemudian beberapa lembar lainnya beterbangan ke jalan.
Perempuan itu terkejut.
Ia berusaha mengejar.
Namun sebuah kertas justru terbawa semakin jauh.
Aditya yang melihat kejadian tersebut secara spontan berlari.
Ia menangkap satu lembar.
Kemudian dua lembar lainnya.
Satu lembar hampir masuk ke bawah kendaraan yang sedang bergerak, tetapi Aditya berhasil mengambilnya sebelum terlambat.
Perempuan itu datang menghampirinya.
Napasnya sedikit terengah.
“Terima kasih.”
Aditya menyerahkan kertas-kertas tersebut.
“Sama-sama.”
Perempuan itu memeriksa kembali lembaran yang ada di tangannya.
“Sepertinya lengkap.”
“Syukurlah.”
Ia tersenyum.
Senyuman pertama itu sebenarnya sangat sederhana.
Tidak ada musik.
Tidak ada hujan.
Tidak ada suasana dramatis seperti dalam cerita-cerita cinta.
Hanya seorang laki-laki yang membantu seorang perempuan mengambil kertas.
Tetapi kelak, ketika keduanya telah melewati begitu banyak hal, mereka akan mengingat bahwa cinta mereka pernah dimulai dari sesuatu yang sesederhana itu.
“Kalau tadi tidak dibantu, mungkin beberapa kertas sudah hilang,” kata perempuan itu.
Aditya mengangkat bahu.
“Kebetulan saya melihat.”
“Nama saya Mutiara.”
Aditya sedikit terdiam.
Bukan karena nama itu aneh.
Justru karena nama itu terdengar begitu indah.
“Mutiara?”
Perempuan itu mengangguk.
“Iya.”
“Nama yang bagus.”
Mutiara tersenyum.
“Terima kasih. Nama kamu?”
“Aditya.”
“Aditya…”
Ia mengulang nama itu pelan, seolah sedang berusaha mengingatnya.
Aditya tersenyum.
“Kenapa?”
“Tidak apa-apa. Biar tidak lupa.”
Kalimat itu terdengar biasa.
Aditya bahkan tidak memikirkannya lebih jauh.
Namun beberapa tahun kemudian, kalimat itu akan terasa seperti sesuatu yang memiliki arti berbeda.
Mereka berpisah pagi itu tanpa bertukar nomor telepon.
Tidak ada alasan bagi mereka untuk melakukannya.
Tidak ada hubungan.
Tidak ada janji.
Bahkan belum ada perasaan apa pun.
Hanya sebuah pertemuan singkat.
Mutiara berjalan ke arah yang berbeda.
Aditya melanjutkan perjalanannya.
Beberapa kali ia menoleh.
Bukan karena berharap perempuan itu kembali.
Hanya karena ada sesuatu yang membuatnya penasaran.
“Namanya Mutiara,” gumamnya.
Ia tersenyum sendiri.
Kemudian melanjutkan langkah.
Ia tidak tahu bahwa pertemuan singkat tersebut akan menjadi awal dari sebuah kisah panjang.
Beberapa hari kemudian, mereka kembali bertemu.
Kali ini di sebuah tempat makan.
Aditya sedang duduk bersama Fajar dan Rizal.
Fajar adalah sahabatnya sejak lama.
Karakter Fajar berbeda jauh dengan Aditya.
Jika Aditya lebih banyak diam, Fajar justru bisa berbicara tentang apa saja.
Rizal lebih tenang.
Ia sering menjadi penengah ketika Fajar mulai terlalu banyak bercanda.
Mereka bertiga sedang membicarakan pekerjaan dan kehidupan masing-masing ketika Fajar tiba-tiba menyenggol lengan Aditya.
“Dit.”
“Apa?”
“Itu bukannya perempuan yang waktu itu?”
Aditya menoleh.
Jantungnya berhenti sejenak.
Mutiara.
Perempuan yang beberapa hari lalu ditemuinya.
Ia sedang duduk tidak terlalu jauh bersama seorang perempuan lain.
Aditya berusaha tidak terlalu memperhatikan.
Fajar tersenyum.
“Kok diam?”
“Tidak kenapa-kenapa.”
“Namanya siapa?”
Aditya menatap Fajar.
“Kamu kenapa jadi penasaran?”
“Karena dari tadi kamu lihat.”
“Aku tidak lihat.”
Fajar tertawa.
“Kalau tidak lihat, kenapa kamu tahu saya salah?”
Rizal ikut tertawa kecil.
“Sudahlah. Jangan diganggu.”
Aditya mengambil minumannya.
Namun tanpa sengaja, Mutiara melihat ke arah mereka.
Tatapan mereka bertemu.
Mutiara tampak mengenali Aditya.
Ia tersenyum.
Aditya membalas.
Kemudian Mutiara mengatakan sesuatu kepada sahabatnya.
Beberapa menit kemudian, ia berdiri dan berjalan mendekat.
“Aditya?”
Aditya mengangguk.
“Kita bertemu lagi.”
“Iya.”
Fajar menatap Aditya dengan ekspresi yang sulit disembunyikan.
Mutiara kemudian memperkenalkan sahabatnya.
“Ini Naya.”
Naya tersenyum.
“Halo.”
“Fajar.”
“Rizal.”
Mereka saling berkenalan.
Tidak ada yang istimewa.
Tetapi sejak saat itu, lingkaran kehidupan mereka mulai saling bersentuhan.
“Jadi kamu sering makan di sini?” tanya Aditya.
Mutiara mengangguk.
“Kadang.”
“Dengan Naya?”
“Kalau dia tidak sibuk.”
Naya langsung menyela.
“Kalau Mutiara sudah punya teman baru, biasanya saya ditinggal.”
Mutiara memandangnya.
“Jangan mulai.”
Fajar tertawa.
“Baru kenal sudah ramai.”
Rizal hanya tersenyum.
Percakapan berlangsung ringan.
Mereka berbicara tentang pekerjaan, keluarga, makanan, tempat-tempat yang biasa dikunjungi, dan kehidupan kota.
Tidak ada pembicaraan mengenai cinta.
Belum.
Namun dari percakapan sederhana itu, Aditya mulai mengetahui bahwa Mutiara sangat menyukai suasana kota.
Ia menyukai tempat-tempat yang menurut orang lain mungkin biasa.
Tepian sungai.
Jalan kota.
Tempat makan sederhana.
Pemandangan sore.
Dan terutama suasana Kuala Kapuas ketika malam mulai turun.
“Kamu suka kota ini?” tanya Aditya.
Mutiara mengangguk.
“Suka.”
“Kenapa?”
Mutiara berpikir sebentar.
“Karena kota ini tidak terlalu banyak menuntut.”
Aditya mengernyit.
“Maksudnya?”
“Di sini orang bisa berjalan pelan.”
Ia tersenyum.
“Tidak semua hal harus dikejar.”
Aditya memperhatikannya.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun ia menyukai cara Mutiara memandang kehidupan.
“Kalau kamu sendiri?” tanya Mutiara.
“Aku?”
“Iya.”
Aditya melihat keluar.
“Aku sudah terlalu lama di sini.”
“Itu bukan jawaban.”
Aditya tertawa kecil.
“Baiklah. Aku suka karena di sini banyak kenangan.”
“Kenangan dengan siapa?”
Aditya terdiam.
Fajar langsung menyela.
“Wah, ini pertanyaan berbahaya.”
Semua tertawa.
Mutiara ikut tertawa.
Aditya menggeleng.
“Belum ada siapa-siapa.”
Mutiara tidak menjawab.
Tetapi untuk beberapa detik, tatapan mereka kembali bertemu.
Sore itu mereka berjalan bersama.
Bukan hanya Aditya dan Mutiara.
Fajar, Rizal dan Naya juga ikut.
Mereka menuju salah satu kawasan yang membuat Kuala Kapuas selalu memiliki suasana berbeda ketika matahari mulai turun.
Langit berubah warna.
Angin bergerak perlahan.
Percakapan mereka semakin santai.
Fajar dan Naya berjalan lebih depan.
Rizal sengaja berjalan agak jauh.
Entah karena kebetulan atau memang disengaja.
Akhirnya Aditya dan Mutiara berjalan berdampingan.
“Kamu suka senja?” tanya Mutiara.
“Lumayan.”
“Lumayan?”
“Iya.”
Mutiara tersenyum.
“Kamu aneh.”
“Kenapa?”
“Orang kalau ditanya suka senja biasanya jawab suka.”
“Kalau aku bilang suka, nanti kamu bilang ikut-ikutan.”
Mutiara tertawa.
“Aku tidak begitu.”
“Belum tentu.”
Mereka kembali tertawa.
Aditya menyadari sesuatu.
Bersama Mutiara, percakapan terasa mudah.
Tidak perlu mencari bahan.
Tidak perlu berpura-pura.
Ada kenyamanan yang tumbuh tanpa mereka sadari.
Beberapa waktu kemudian mereka sampai di sekitar Bundaran Besar.
Tugu Batang Garing berdiri sebagai ikon yang menarik perhatian siapa saja yang melintas.
Mutiara berhenti.
Ia menatap tugu itu cukup lama.
“Kenapa berhenti?” tanya Aditya.
“Tidak apa-apa.”
“Sepertinya ada yang dipikirkan.”
Mutiara menunjuk ke arah jalan.
“Lihat.”
Aditya mengikuti arah tangannya.
“Yang mana?”
“Semua.”
Aditya melihat sekeliling.
Mutiara kemudian menjelaskan.
“Dari sini ada banyak jalan.”
Ia menunjuk satu arah.
“Kalau ke sana, Banjarmasin.”
Kemudian ke arah lain.
“Ke utara, Mantangai.”
Ia mengarahkan pandangan ke selatan.
“Kalau lewat sana menuju pusat kota.”
Kemudian ke barat.
“Dan kalau ke sana, arah Palangka Raya.”
Aditya tersenyum.
“Kamu hafal?”
“Ya.”
“Untuk apa?”
“Entahlah.”
Mutiara kembali memandang bundaran.
“Kadang aku suka memikirkan hidup seperti jalan.”
Aditya diam.
“Kenapa?”
“Karena setiap orang selalu punya pilihan.”
“Dan?”
“Kadang kita memilih jalan yang kita pikir benar.”
Mutiara berhenti sejenak.
“Tapi belum tentu jalan itu membawa kita ke tempat yang kita inginkan.”
Aditya menatap wajahnya.
Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa di balik perempuan yang tampak ceria itu ada sesuatu yang jauh lebih dalam.
Sesuatu yang belum ia ketahui.
“Kamu sedang punya masalah?” tanya Aditya.
Mutiara tersenyum.
“Tidak.”
“Yakin?”
“Yakin.”
Jawaban itu terlalu cepat.
Aditya tidak melanjutkan pertanyaan.
Mereka kemudian berdiri di dekat bundaran.
Fajar mengambil ponsel.
“Foto!”
Naya langsung mendekat.
Mereka berfoto bersama.
Fajar kemudian menyerahkan ponsel kepada Aditya.
“Sekarang kalian berdua.”
Aditya tertawa.
“Kenapa harus kami?”
“Biar ada kenangannya.”
Mutiara memandang Aditya.
Aditya memandang Mutiara.
Tidak ada alasan untuk menolak.
Mereka berdiri berdampingan.
Fajar mengangkat ponsel.
“Satu…”
Mutiara tersenyum.
“Dua…”
Aditya ikut tersenyum.
“Tiga!”
Klik.
Sebuah foto tercipta.
Tidak ada yang tahu bahwa foto sederhana itu kelak akan menjadi salah satu benda paling berharga dalam kehidupan Aditya.
Foto dua orang yang belum mengetahui bahwa mereka sedang berdiri di awal sebuah kisah cinta.
Malam mulai turun.
Mereka akhirnya berpisah.
Fajar dan Rizal pulang lebih dahulu.
Naya menunggu seseorang menjemputnya.
Tinggal Aditya dan Mutiara beberapa saat.
“Aku pulang dulu,” kata Mutiara.
Aditya mengangguk.
“Besok ketemu?”
Mutiara tersenyum.
“Kalau memang bertemu.”
“Kalau tidak?”
“Berarti belum waktunya.”
Aditya tertawa kecil.
“Kamu percaya begitu?”
“Kadang.”
“Kalau menurutku, kalau mau bertemu ya tinggal cari.”
Mutiara memandangnya.
“Tidak semua orang bisa dicari.”
Aditya tidak langsung menjawab.
Mutiara kemudian berjalan pergi.
Aditya memperhatikannya sampai perempuan itu menghilang di antara kendaraan dan keramaian.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda.
Ia belum menyebutnya cinta.
Belum berani.
Tetapi malam itu, ketika Aditya kembali ke rumah, ia membuka ponselnya.
Fajar ternyata sudah mengirim foto tadi.
Foto mereka.
Aditya memperbesar gambar.
Mutiara berdiri di sampingnya.
Tersenyum.
Ia menatap foto itu beberapa saat.
Kemudian tanpa sadar tersenyum sendiri.
Di tempat lain, pada waktu yang hampir sama, Mutiara juga sedang melihat foto yang sama.
Naya duduk di sampingnya.
“Jadi?”
Mutiara pura-pura tidak mengerti.
“Jadi apa?”
“Kamu suka Aditya?”
Mutiara terdiam.
Kemudian ia tersenyum.
“Baru kenal.”
Naya mengangkat alis.
“Aku tidak tanya sudah berapa lama kenal.”
Mutiara tertawa.
Ia kembali melihat foto di ponselnya.
“Entahlah.”
Naya tersenyum.
“Kalau entahlah, biasanya ada sesuatu.”
Mutiara tidak menjawab.
Ia hanya mematikan layar ponselnya.
Namun sebelum benar-benar tidur, ia kembali mengingat satu hal.
Pagi ketika kertas-kertasnya beterbangan.
Laki-laki yang membantunya.
Namanya Aditya.
Dan anehnya, sejak hari itu, nama tersebut terasa semakin mudah diingat.
Sementara di rumahnya, Aditya juga sedang memikirkan hal yang sama.
Mereka belum tahu bahwa pertemuan-pertemuan berikutnya akan membuat jarak di antara mereka semakin dekat.
Mereka belum tahu bahwa cinta akan tumbuh perlahan.
Mereka belum tahu bahwa keluarga akan ikut menentukan jalan.
Mereka belum tahu bahwa seseorang bernama Rangga suatu hari akan datang membawa perubahan.
Dan mereka sama sekali belum tahu bahwa suatu saat nanti, foto di depan Tugu Batang Garing itu akan menjadi kenangan dari masa ketika mereka masih memiliki satu sama lain.
Malam terus berjalan.
Kuala Kapuas tertidur perlahan.
Namun sebuah kisah baru saja dimulai.
Dan tanpa mereka sadari, kota itu baru saja memperkenalkan dua manusia yang kelak akan saling mencintai, saling kehilangan, lalu berusaha menemukan jalan untuk kembali.
BAB II
SENJA DI BAWAH BATANG GARING
Sejak pertemuan pertama itu, nama Mutiara perlahan mulai memiliki tempat tersendiri dalam hari-hari Aditya.
Bukan tempat yang besar.
Belum.
Hanya sebuah ruang kecil yang kadang muncul ketika ia sedang sendiri.
Saat melihat seseorang berjalan dengan tas berwarna cokelat yang mirip dengan milik Mutiara, misalnya, ia akan teringat pada pagi ketika lembaran-lembaran kertas perempuan itu beterbangan diterpa angin.
Saat melewati tempat makan tempat mereka bertemu kembali, ia akan teringat pada percakapan ringan bersama Fajar, Rizal, dan Naya.
Dan ketika melewati Bundaran Besar, tanpa sengaja matanya akan mencari sosok yang pernah berdiri di sampingnya di depan Tugu Batang Garing.
Aditya tidak mengerti mengapa hal-hal sederhana itu mulai terasa penting.
Mungkin karena Mutiara memang berbeda.
Atau mungkin karena seseorang baru terasa istimewa ketika kehadirannya mulai ditunggu.
Pagi itu, Aditya sedang duduk bersama Fajar di sebuah kedai kopi.
Fajar mengaduk minumannya sambil memperhatikan Aditya yang sejak tadi memandang layar ponselnya.
“Kamu menunggu pesan?”
Aditya menggeleng.
“Tidak.”
Fajar tersenyum.
“Kalau tidak menunggu, kenapa dari tadi ponsel dilihat?”
“Lagi lihat jam.”
“Jam di ponsel?”
“Iya.”
“Jam tanganmu ada.”
Aditya menatap Fajar.
“Banyak bicara kamu.”
Fajar tertawa.
“Aku cuma memastikan.”
“Memastikan apa?”
“Bahwa kamu sudah mulai jatuh.”
Aditya menghela napas.
“Jatuh apa?”
“Jatuh cinta.”
Aditya hampir tersedak.
“Baru juga kenal.”
“Cinta tidak pernah bertanya berapa lama.”
Rizal yang sejak tadi diam akhirnya ikut bicara.
“Sudah, Jar. Jangan terlalu banyak mengganggu.”
Fajar menoleh.
“Aku cuma membantu teman.”
“Kalau bantuanmu seperti ini, musuh tidak diperlukan.”
Mereka tertawa.
Aditya menggeleng sambil tersenyum.
Tetapi jauh di dalam hatinya, pertanyaan Fajar tadi tetap tinggal.
Apakah ia mulai menyukai Mutiara?
Ia belum menemukan jawabannya.
Atau mungkin ia sudah menemukan jawabannya, tetapi belum berani mengakuinya kepada dirinya sendiri.
Menjelang siang, sebuah pesan masuk.
Aditya membuka ponselnya.
Mutiara.
Pesannya singkat.
“Kamu sore ini sibuk?”
Aditya membaca pesan itu dua kali.
Fajar yang duduk di sampingnya langsung memperhatikan perubahan wajahnya.
“Siapa?”
“Tidak ada.”
“Kalau tidak ada, kenapa senyum?”
“Aku tidak senyum.”
“Wajahmu sudah menjawab.”
Aditya mengabaikannya.
Ia mengetik.
“Tidak terlalu. Kenapa?”
Tidak lama kemudian balasan datang.
“Aku ingin melihat suasana kota sore ini. Kalau kamu tidak sibuk, mungkin kita bisa jalan sebentar.”
Aditya tersenyum.
Ia mengetik:
“Boleh.”
Kemudian ia menghapusnya.
Terlalu cepat.
Ia menulis lagi:
“Boleh. Jam berapa?”
Ia kembali menghapus.
Akhirnya ia mengirim:
“Boleh. Kamu mau ke mana?”
Mutiara membalas:
“Belum tahu. Yang penting jangan tempat yang terlalu ramai.”
Aditya menjawab:
“Kalau begitu aku tahu tempatnya.”
“Di mana?”
“Nanti saja.”
Beberapa detik kemudian muncul balasan:
“Baiklah.”
Aditya menyimpan ponselnya.
Fajar menatapnya.
“Jadi?”
“Jadi apa?”
“Jadi pergi?”
Aditya berdiri.
“Iya.”
Fajar tertawa.
“Selamat menikmati sore.”
Sore datang perlahan.
Langit Kuala Kapuas berubah warna.
Aditya tiba lebih dahulu di tempat yang telah mereka sepakati.
Ia tidak memilih tempat yang ramai.
Ia memilih kawasan yang memungkinkan mereka melihat kehidupan kota tanpa harus menjadi bagian dari keramaian itu sendiri.
Beberapa menit kemudian, Mutiara datang.
Ia mengenakan pakaian sederhana.
Tidak berlebihan.
Tidak ada sesuatu yang secara khusus membuatnya terlihat berbeda dari perempuan lain.
Namun bagi Aditya, sore itu ia tampak sangat berbeda.
Mutiara tersenyum.
“Sudah lama?”
“Tidak.”
“Maaf.”
“Tidak apa-apa.”
Mereka berjalan berdampingan.
Awalnya tidak banyak bicara.
Hanya suara kendaraan dan aktivitas masyarakat yang menemani.
“Kenapa kamu mengajakku keluar?” tanya Aditya.
Mutiara menoleh.
“Aku yang mengajak?”
“Iya.”
Mutiara tertawa kecil.
“Memangnya tidak boleh?”
“Boleh.”
“Kalau begitu jangan banyak bertanya.”
Aditya ikut tertawa.
Mereka kemudian membicarakan banyak hal.
Tentang pekerjaan.
Tentang keluarga.
Tentang masa kecil.
Tentang makanan yang disukai.
Tentang tempat-tempat yang pernah dikunjungi.
Dan akhirnya tentang kota mereka.
“Kamu lahir di Kuala Kapuas?” tanya Aditya.
Mutiara mengangguk.
“Iya.”
“Berarti dari kecil sudah di sini?”
“Sebagian besar hidupku.”
“Tidak pernah ingin pergi jauh?”
Mutiara terdiam sebentar.
“Pernah.”
“Ke mana?”
“Tidak tahu.”
“Jawabannya selalu tidak tahu.”
Mutiara tersenyum.
“Mungkin karena hidup memang sering membuat kita pergi tanpa memberi tahu ke mana tujuan akhirnya.”
Aditya menatapnya.
“Kamu sering bicara seperti itu?”
“Seperti apa?”
“Seperti orang yang menyimpan banyak rahasia.”
Mutiara tertawa.
“Mungkin semua orang punya rahasia.”
“Termasuk kamu?”
“Termasuk aku.”
Aditya ingin bertanya lebih jauh.
Namun ia mengurungkan niat.
Ada sesuatu dalam diri Mutiara yang membuatnya merasa bahwa perempuan itu memiliki kehidupan yang lebih kompleks daripada yang terlihat.
Mereka kemudian berhenti di sebuah tempat kuliner.
Mutiara melihat daftar menu.
“Kamu mau makan apa?”
“Yang kamu suka.”
“Kenapa ikut aku?”
“Supaya tidak salah pilih.”
Mutiara tersenyum.
“Kalau aku pilih yang pedas?”
“Aku ikut.”
“Kalau tidak suka?”
“Berarti aku belajar.”
Mutiara tertawa.
“Jawabanmu aman sekali.”
Mereka memesan makanan.
Tidak mewah.
Tidak perlu.
Bagi mereka, yang penting adalah percakapan yang terjadi di antara dua orang yang sedang belajar mengenal satu sama lain.
Mutiara bercerita tentang makanan yang mengingatkannya pada masa kecil.
Tentang ibunya.
Tentang bagaimana dahulu keluarganya sering makan bersama.
Aditya mendengarkan.
“Hubunganmu dengan keluargamu dekat?” tanya Aditya.
“Dekat.”
“Dengan ayah?”
Mutiara berhenti makan.
“Dekat juga.”
Tetapi ada perubahan kecil pada wajahnya.
Aditya melihatnya.
“Kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
“Kamu yakin?”
Mutiara mengangguk.
“Kadang ayah hanya terlalu banyak berpikir tentang masa depan.”
“Bukankah itu baik?”
“Baik.”
Mutiara menatapnya.
“Tapi kadang orang tua terlalu takut melihat anaknya memilih jalan sendiri.”
Aditya terdiam.
Ia tidak tahu bahwa kalimat itu kelak akan menjadi salah satu bagian penting dari hubungan mereka.
Setelah makan, mereka melanjutkan perjalanan.
Matahari semakin rendah.
Cahaya keemasan menyentuh permukaan air.
Kuala Kapuas mulai memasuki suasana sore.
Mutiara berhenti beberapa kali hanya untuk melihat pemandangan.
Aditya memperhatikannya.
“Kamu memang suka tempat seperti ini?”
Mutiara mengangguk.
“Di sini rasanya tenang.”
“Padahal banyak kendaraan.”
“Keramaian tidak selalu membuat hati ramai.”
Aditya tersenyum.
“Kalimatmu aneh.”
“Kenapa?”
“Bagus, tapi aneh.”
Mutiara tertawa.
“Berarti kamu suka?”
“Lumayan.”
“Sekali lagi lumayan?”
“Iya.”
“Kenapa tidak bilang suka?”
“Supaya kamu tidak besar kepala.”
Mutiara memukul lengannya pelan.
Aditya tertawa.
Untuk beberapa saat mereka hanya berjalan.
Tidak ada pembicaraan serius.
Tidak ada persoalan.
Hanya dua orang yang sedang menikmati sore.
Namun justru dalam kesederhanaan itulah kedekatan mulai tumbuh.
Matahari hampir tenggelam ketika mereka tiba di sekitar Bundaran Besar Kuala Kapuas.
Tugu Batang Garing terlihat jelas.
Mutiara kembali berhenti.
“Kita pernah ke sini,” katanya.
“Baru sekali.”
“Rasanya seperti sudah lama.”
“Mungkin karena foto itu.”
Mutiara tersenyum.
“Foto?”
Aditya membuka ponselnya.
Ia menunjukkan foto yang mereka ambil beberapa hari lalu.
Mutiara melihatnya.
“Kamu masih menyimpannya?”
“Kenapa harus dihapus?”
Mutiara diam.
Ada sesuatu yang berubah dalam tatapannya.
Aditya menyadarinya.
“Kenapa?”
“Tidak.”
“Kamu tiba-tiba diam.”
Mutiara menghela napas.
“Aditya.”
“Iya?”
“Menurutmu, kenapa orang bisa merasa dekat dengan seseorang dalam waktu yang singkat?”
Pertanyaan itu membuat Aditya berpikir.
“Mungkin karena cocok.”
“Cuma itu?”
“Mungkin karena nyaman.”
Mutiara menatapnya.
“Kalau nyaman, apakah itu berarti cinta?”
Aditya tidak langsung menjawab.
Angin sore bergerak melewati mereka.
Kendaraan terus melintas.
Tugu Batang Garing berdiri di belakang mereka.
Aditya akhirnya berkata,
“Belum tentu.”
Mutiara tersenyum tipis.
“Kenapa?”
“Karena cinta bukan cuma soal nyaman.”
“Lalu?”
“Cinta juga soal keberanian.”
Mutiara memandangnya.
“Berani apa?”
“Berani tinggal ketika keadaan menyuruh kita pergi.”
Mutiara terdiam.
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Aditya merasa perkataannya mungkin menyentuh sesuatu yang sangat pribadi bagi perempuan itu.
Mutiara mengalihkan pandangan.
“Aku tidak tahu apakah aku orang yang berani.”
“Semua orang pernah takut.”
“Kalau ketakutan itu datang dari orang yang kita sayangi?”
Aditya terdiam.
Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Mutiara kemudian tersenyum.
“Maaf. Aku terlalu banyak bicara.”
“Tidak.”
Aditya menatapnya.
“Aku justru ingin tahu.”
Mutiara menatapnya kembali.
Mata mereka bertemu cukup lama.
Tidak ada kata-kata.
Namun dalam keheningan itu, sesuatu telah berubah.
Mereka mulai menyadari bahwa hubungan ini bukan lagi sekadar kebetulan.
“Aditya.”
“Iya?”
“Kalau suatu hari kamu harus memilih antara cinta dan keluarga, kamu akan pilih mana?”
Pertanyaan itu datang tiba-tiba.
Aditya mengernyit.
“Kenapa pertanyaannya berat?”
“Jawab saja.”
Aditya melihat ke arah jalan.
Empat arah.
Empat kemungkinan.
Ia kemudian berkata:
“Aku tidak ingin memilih.”
Mutiara tersenyum.
“Tidak bisa begitu.”
“Aku akan mencari jalan supaya keduanya tetap ada.”
“Kalau tidak bisa?”
Aditya terdiam.
Lalu menjawab pelan,
“Kalau cinta memang benar, seharusnya cinta tidak meminta kita membenci keluarga.”
Mutiara menatapnya.
Untuk pertama kalinya senyumnya terlihat berbeda.
Ada rasa lega di sana.
Mungkin karena jawaban itu memberikan sesuatu yang selama ini ingin ia dengar.
Namun Aditya belum mengetahui alasan sebenarnya.
Ia belum tahu bahwa keluarga Mutiara suatu hari akan menjadi salah satu tembok terbesar di antara mereka.
Malam mulai turun.
Lampu-lampu kota menyala.
Mutiara melihat jam.
“Aku harus pulang.”
Aditya mengangguk.
“Aku antar.”
“Tidak perlu.”
“Aku antar.”
Mutiara tidak membantah.
Mereka berjalan menuju kendaraan.
Sebelum pergi, Mutiara kembali melihat Bundaran Besar.
“Aditya.”
“Iya?”
“Kalau nanti kita datang lagi ke sini…”
“Kapan?”
“Tidak tahu.”
Mutiara tersenyum.
“Kalau kita datang lagi, aku ingin kita berdiri di tempat yang sama.”
Aditya mengangguk.
“Kenapa?”
“Supaya bisa mengingat hari ini.”
Aditya tersenyum.
“Kalau begitu aku akan ingat.”
Mutiara menatapnya.
“Jangan hanya mengingat.”
“Lalu?”
“Jangan sampai lupa.”
Aditya tidak menyangka kalimat sederhana itu kelak akan terasa begitu menyakitkan.
Dalam perjalanan pulang, mereka tidak banyak berbicara.
Tetapi suasananya tidak canggung.
Justru terasa nyaman.
Mutiara memandang keluar jendela.
Lampu-lampu kota bergerak di luar.
Pikirannya kembali kepada percakapan mereka.
Tentang keluarga.
Tentang pilihan.
Tentang keberanian.
Tentang cinta.
Ia sendiri belum tahu apakah dirinya telah jatuh cinta.
Namun ia tahu satu hal.
Ia mulai menunggu pertemuan berikutnya.
Sementara itu, Aditya kembali ke rumah.
Ia duduk di teras.
Ponselnya berbunyi.
Pesan dari Mutiara.
“Terima kasih untuk sore ini.”
Aditya tersenyum.
Ia membalas:
“Sama-sama.”
Beberapa detik kemudian Mutiara mengirim pesan lagi.
“Besok jangan lupa kerja.”
Aditya tertawa.
“Kamu juga.”
“Selamat malam, Aditya.”
Aditya mengetik:
“Selamat malam, Mutiara.”
Ia menatap layar beberapa saat.
Kemudian meletakkan ponselnya.
Namun tidak sampai satu menit, ia mengambilnya kembali.
Membuka percakapan.
Membaca pesan terakhir.
Kemudian tersenyum.
Dari dalam rumah, suara ibunya terdengar.
“Aditya!”
“Iya, Bu?”
“Makan!”
“Sebentar!”
Ia memasukkan ponsel ke saku.
Tetapi sebelum masuk, ia sempat menatap langit malam.
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi besok.
Ia tidak tahu ke mana hubungan ini akan membawa mereka.
Ia hanya tahu bahwa sejak mengenal Mutiara, hari-harinya terasa sedikit berbeda.
Dan tanpa mereka sadari, sebuah perasaan sedang tumbuh.
Pelan.
Diam-diam.
Seperti matahari yang turun perlahan di balik langit Kuala Kapuas.
Tidak memaksa.
Tidak terburu-buru.
Tetapi pasti.
Malam itu, di rumah Mutiara, percakapan berbeda sedang berlangsung.
Pak Hendra duduk di ruang tengah.
Mutiara baru saja masuk.
“Kamu dari mana?”
“Keluar sebentar.”
“Dengan siapa?”
Mutiara terdiam sesaat.
“Teman.”
Pak Hendra menatapnya.
“Teman siapa?”
Mutiara menundukkan wajah.
“Aditya.”
Nama itu membuat ayahnya terdiam.
Tidak lama.
Tetapi cukup untuk membuat Mutiara menyadari bahwa nama Aditya ternyata bukan nama yang asing bagi keluarganya.
“Aditya siapa?”
“Temanku.”
Pak Hendra tidak menjawab.
Bu Ratna yang duduk tidak jauh dari mereka mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Sudahlah. Mutiara baru pulang.”
Pak Hendra berdiri.
“Ayah hanya ingin kamu berhati-hati.”
Mutiara menatapnya.
“Dengan siapa?”
“Dengan semua orang.”
Kemudian Pak Hendra masuk ke kamarnya.
Mutiara berdiri diam.
Ia memandang ibunya.
“Kenapa Ayah seperti itu?”
Bu Ratna tersenyum tipis.
“Kadang ayahmu terlalu khawatir.”
“Kenapa?”
“Karena dia ingin kamu mendapatkan kehidupan yang baik.”
Mutiara terdiam.
Ia tidak mengetahui bahwa jauh sebelum Aditya hadir dalam hidupnya, keluarganya telah memiliki rencana sendiri tentang masa depannya.
Dan dalam rencana itu, sudah ada satu nama.
Rangga Mahendra.
Mutiara belum mengenalnya sebagai ancaman.
Belum.
Bahkan mungkin belum menyadari bahwa suatu hari nama itu akan menjadi alasan mengapa ia harus memilih antara kehidupan yang direncanakan untuknya dan cinta yang tumbuh tanpa pernah ia rencanakan.
Di luar rumah, malam semakin dalam.
Di tempat lain, Aditya sedang tertidur dengan senyum yang masih tersisa.
Sementara Mutiara berdiri di depan jendela kamarnya, memandang langit.
Ia berbisik hampir tanpa suara:
“Semoga aku tidak salah memilih jalan.”
Dan tanpa mereka sadari, jalan yang sedang mereka pilih perlahan membawa mereka menuju satu titik yang sama.
Cinta.
Namun cinta, seperti jalan raya di sebuah persimpangan, tidak selalu membawa manusia langsung ke tempat yang diinginkan.
Kadang ia membawa seseorang berputar jauh.
Kadang membuat seseorang tersesat.
Dan kadang, setelah perjalanan yang panjang, ia baru menunjukkan bahwa orang yang paling kita cari ternyata selama ini berada di jalan yang sama.
Hanya saja…
belum waktunya untuk bertemu kembali.
BAB III
KOTA AIR DAN CINTA YANG TUMBUH
Hari-hari setelah sore di Bundaran Besar berjalan seperti biasa.
Namun bagi Aditya dan Mutiara, ada sesuatu yang tidak lagi sama.
Mereka mulai saling berkirim pesan lebih sering.
Awalnya hanya percakapan sederhana.
Tentang pekerjaan.
Tentang makanan.
Tentang cuaca.
Tentang kesibukan.
Kemudian perlahan berubah menjadi percakapan tentang hal-hal yang lebih pribadi.
Mutiara mulai bercerita tentang masa kecilnya.
Aditya mulai membuka cerita tentang keluarganya.
Mereka mulai mengetahui kebiasaan masing-masing.
Aditya tahu Mutiara tidak terlalu menyukai makanan yang terlalu manis.
Mutiara tahu Aditya selalu minum kopi ketika sedang banyak pikiran.
Aditya tahu Mutiara lebih suka berjalan daripada duduk terlalu lama.
Mutiara tahu Aditya selalu memikirkan sesuatu sebelum mengambil keputusan.
Hal-hal kecil itu perlahan menjadi kebiasaan.
Dan kebiasaan yang dilakukan bersama sering kali menjadi awal dari keterikatan yang lebih dalam.
Suatu pagi, Mutiara mengirim pesan.
Mutiara: “Sudah sarapan?”
Aditya membaca pesan itu sambil tersenyum.
Aditya: “Belum.”
Mutiara: “Kenapa?”
Aditya: “Belum lapar.”
Balasan datang cepat.
Mutiara: “Alasan.”
Aditya: “Memangnya kenapa?”
Mutiara: “Kalau belum sarapan nanti sakit.”
Aditya tersenyum.
Aditya: “Kamu khawatir?”
Pesan itu terbaca.
Tidak ada jawaban selama beberapa menit.
Aditya menunggu.
Kemudian muncul balasan.
Mutiara: “Aku cuma tidak mau punya teman yang suka menyusahkan.”
Aditya tertawa.
Ia tahu Mutiara sedang menghindar.
Namun ia tidak memaksanya.
Aditya: “Baiklah. Aku sarapan.”
Mutiara: “Bagus.”
Percakapan itu berhenti.
Tetapi bagi Aditya, pagi tersebut terasa lebih menyenangkan.
Seseorang telah mengingatkannya untuk sarapan.
Sesederhana itu.
Namun terkadang perhatian tidak membutuhkan kata-kata besar.
Ia hanya membutuhkan seseorang yang peduli.
Beberapa hari kemudian, mereka kembali bertemu.
Kali ini Mutiara mengajak Aditya menikmati suasana kota.
Mereka tidak memiliki tujuan tertentu.
Mereka hanya ingin berjalan.
Kuala Kapuas perlahan menjadi bagian dari cerita mereka.
Setiap tempat mulai memiliki kenangan.
Sebuah jalan mengingatkan Aditya pada percakapan mereka.
Sebuah kedai mengingatkan Mutiara pada tawa Aditya.
Sebuah sudut kota menjadi tempat mereka pernah berteduh dari hujan.
Tanpa disadari, mereka sedang melakukan sesuatu yang sering dilakukan orang yang sedang jatuh cinta:
menciptakan kenangan di sebanyak mungkin tempat.
Siang itu mereka berhenti di sebuah tempat kuliner.
Fajar dan Naya juga ikut.
Rizal datang beberapa menit kemudian.
Mereka duduk satu meja.
Fajar memandang Aditya dan Mutiara bergantian.
“Kalian ini sebenarnya sudah pacaran atau belum?”
Mutiara hampir tersedak.
“Fajar!”
“Apa?”
“Jangan bicara sembarangan.”
“Aku cuma bertanya.”
Aditya tertawa.
“Kamu memang tidak pernah berubah.”
Fajar mengangkat kedua tangannya.
“Baik. Aku diam.”
Namun tidak sampai satu menit kemudian ia kembali bicara.
“Kalau belum pacaran, kapan?”
Naya tertawa.
Mutiara menatap Aditya.
Aditya justru pura-pura sibuk dengan makanannya.
Rizal tersenyum.
“Biarkan mereka menentukan waktunya sendiri.”
Fajar mengangguk.
“Baiklah.”
Ia berhenti sejenak.
Kemudian berkata:
“Tapi kalau terlalu lama, jangan salahkan saya kalau nanti ada orang lain yang datang.”
Kalimat itu membuat suasana mendadak sedikit berbeda.
Mutiara tidak menjawab.
Aditya juga diam.
Fajar menyadari bahwa ucapannya mungkin terlalu jauh.
Ia segera mengalihkan pembicaraan.
“Sudahlah. Makan.”
Tetapi kalimat itu sudah terlanjur meninggalkan sesuatu di pikiran Aditya.
Bagaimana jika benar-benar ada orang lain?
Ia tidak tahu mengapa pertanyaan itu terasa mengganggunya.
Sore harinya, Aditya dan Mutiara berjalan berdua.
Mereka menuju Bundaran Besar.
Kebiasaan itu mulai terbentuk.
Jika ingin berbicara tentang sesuatu yang serius, mereka sering memilih tempat tersebut.
Mutiara berdiri di dekat Tugu Batang Garing.
“Aditya.”
“Iya?”
“Kamu pernah berpikir tentang masa depan?”
“Sering.”
“Seperti apa?”
Aditya berpikir.
“Punya pekerjaan yang cukup.”
“Cuma itu?”
“Punya rumah.”
“Lalu?”
Aditya tersenyum.
“Punya keluarga.”
Mutiara menatapnya.
“Keluarga seperti apa?”
“Yang sederhana.”
“Dan?”
Aditya terdiam.
Mutiara menunggu.
“Dan mungkin…”
Aditya tidak melanjutkan.
“Kenapa berhenti?”
“Tidak tahu.”
Mutiara tersenyum.
“Aku tahu.”
Aditya menatapnya.
“Apa?”
“Kamu takut mengatakan sesuatu.”
Aditya tertawa kecil.
“Memangnya aku takut?”
“Iya.”
“Tidak.”
“Kalau begitu lanjutkan.”
Aditya menarik napas.
“Dan mungkin ada seseorang yang bisa diajak pulang.”
Mutiara terdiam.
Angin bergerak pelan.
Aditya menatap ke arah jalan.
Ia tidak berani melihat Mutiara.
Namun Mutiara justru tersenyum.
“Siapa?”
“Belum tahu.”
“Sudah ada orangnya?”
“Mungkin.”
“Mungkin?”
Aditya akhirnya menatapnya.
“Kenapa kamu bertanya?”
Mutiara tersenyum.
“Tidak apa-apa.”
“Kalau kamu sendiri?”
Mutiara mengalihkan pandangan.
“Aku ingin hidup sederhana.”
“Dengan?”
“Dengan orang yang membuatku merasa aman.”
Aditya terdiam.
Mutiara kemudian berkata:
“Bukan orang yang sempurna.”
“Lalu?”
“Orang yang tetap tinggal ketika keadaan tidak sempurna.”
Aditya merasakan sesuatu di dalam dadanya.
Ia ingin mengatakan bahwa dirinya bisa menjadi orang itu.
Tetapi kata-kata tersebut tertahan.
Belum waktunya.
Malam datang.
Lampu-lampu kendaraan bergerak mengitari bundaran.
Mutiara melihat keempat arah jalan.
“Kalau kamu harus pergi dari Kuala Kapuas, kamu akan memilih jalan mana?”
Aditya tersenyum.
“Pertanyaanmu lagi.”
“Iya.”
“Kali ini aku harus jawab?”
“Harus.”
Aditya menunjuk salah satu arah.
“Mungkin Banjarmasin.”
“Kenapa?”
“Karena banyak kesempatan.”
Mutiara mengangguk.
“Kalau aku?”
“Kamu pilih mana?”
Mutiara melihat ke arah Palangka Raya.
“Mungkin Palangka Raya.”
“Kenapa?”
“Karena aku ingin melihat sesuatu yang lebih luas.”
Aditya tertawa.
“Berarti kita berbeda.”
“Memang.”
Mutiara tersenyum.
“Tapi bukan berarti harus berpisah.”
Kalimat itu membuat Aditya terdiam.
Mutiara melanjutkan:
“Kadang dua orang bisa memilih jalan berbeda dan tetap sampai di tempat yang sama.”
Aditya memandangnya.
Ia menyimpan kalimat itu dalam hati.
Kelak, ia akan mengingatnya berkali-kali.
Beberapa minggu berlalu.
Hubungan mereka semakin dekat.
Aditya akhirnya mengajak Mutiara bertemu keluarganya.
Mutiara gugup.
“Kenapa gugup?”
“Aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut ibumu tidak suka.”
Aditya tertawa.
“Ibu tidak begitu.”
“Kalau ayahmu?”
“Beliau juga baik.”
Mutiara menarik napas.
“Kalau begitu aku siap.”
Pertemuan itu berlangsung sederhana.
Bu Aminah menyambut Mutiara dengan hangat.
“Jadi ini Mutiara?”
Mutiara tersenyum.
“Iya, Bu.”
“Aditya sering cerita.”
Aditya langsung memotong.
“Ibu!”
Bu Aminah tertawa.
Mutiara menatap Aditya.
“Sering cerita apa?”
“Tidak ada.”
Bu Aminah tersenyum.
“Katanya Mutiara suka jalan-jalan.”
Aditya memandang ibunya dengan ekspresi pasrah.
Mutiara tertawa.
Suasana menjadi hangat.
Untuk pertama kalinya Mutiara merasakan sesuatu yang berbeda.
Ia merasa diterima.
Dan ketika pulang malam itu, ia berkata kepada Aditya:
“Orang tuamu baik.”
Aditya tersenyum.
“Syukurlah.”
“Aku suka rumahmu.”
“Kenapa?”
“Rasanya tenang.”
Aditya tidak menjawab.
Namun diam-diam ia membayangkan sesuatu.
Mutiara datang ke rumahnya bukan sebagai teman.
Melainkan sebagai bagian dari keluarganya.
Pikiran itu membuatnya tersenyum.
Namun tidak semua orang menyambut hubungan mereka dengan perasaan yang sama.
Di rumah Mutiara, pembicaraan tentang masa depan mulai semakin sering muncul.
Suatu malam, Pak Hendra duduk bersama istrinya.
“Rangga sudah menghubungi lagi?”
Bu Ratna mengangguk.
“Sudah.”
“Dia kapan pulang?”
“Katanya minggu depan.”
Pak Hendra mengangguk.
“Mutiara harus tahu.”
Bu Ratna terdiam.
“Jangan sekarang.”
“Kenapa?”
“Dia sedang bahagia.”
Pak Hendra menghela napas.
“Justru karena itu.”
Bu Ratna menatap suaminya.
“Jangan memaksanya.”
“Aku tidak memaksa.”
“Lalu?”
“Aku hanya ingin dia memikirkan masa depan.”
Bu Ratna tidak menjawab.
Ia tahu suaminya memiliki rencana.
Dan dalam rencana itu, ada seorang laki-laki bernama Rangga Mahendra.
Laki-laki yang sejak dahulu dianggap keluarga mereka sebagai seseorang yang memiliki masa depan baik.
Namun Bu Ratna juga tahu satu hal:
Mutiara mungkin tidak akan menerimanya.
Beberapa hari kemudian, Rangga kembali ke Kuala Kapuas.
Ia turun dari kendaraan dengan penampilan rapi.
Tenang.
Percaya diri.
Ia tidak terlihat seperti seseorang yang datang untuk merebut sesuatu.
Justru sebaliknya.
Ia datang dengan senyum dan sikap yang sangat sopan.
Pertemuan pertamanya dengan Mutiara berlangsung di rumah.
Mutiara tampak biasa saja.
“Sudah lama tidak bertemu,” kata Rangga.
“Iya.”
“Kamu berubah.”
Mutiara tersenyum.
“Semua orang berubah.”
Rangga tertawa kecil.
“Benar.”
Pak Hendra memperhatikan mereka dari kejauhan.
Ia terlihat puas.
Namun Mutiara tidak merasakan hal yang sama.
Ia justru ingin percakapan itu segera selesai.
Rangga kemudian bertanya:
“Sekarang kamu sibuk apa?”
“Biasa.”
“Masih suka jalan-jalan?”
Mutiara mengangguk.
“Kadang.”
“Dengan teman?”
Mutiara terdiam sebentar.
“Iya.”
Rangga tersenyum.
“Aditya?”
Mutiara menatapnya.
“Kamu tahu?”
“Nama itu cukup sering terdengar.”
Mutiara tidak menjawab.
Rangga tetap tersenyum.
“Tidak masalah.”
Nada suaranya terdengar tenang.
Namun di balik ketenangan itu, ada sesuatu yang sulit dibaca.
Sesuatu yang belum terlihat.
Malamnya, Mutiara mengirim pesan kepada Aditya.
“Rangga datang.”
Aditya membaca pesan tersebut.
Ia membalas:
“Siapa Rangga?”
Mutiara menatap layar.
Kemudian mengetik:
“Teman keluarga.”
Aditya menjawab:
“Oh.”
Hanya satu kata.
Tetapi Mutiara tahu bahwa ada sesuatu yang berubah.
“Kamu cemburu?”
Aditya lama tidak membalas.
Akhirnya:
“Tidak.”
Mutiara tersenyum.
“Bohong.”
“Aku cuma penasaran.”
“Nanti aku ceritakan.”
“Baik.”
Mutiara menatap layar.
Ia ingin mengatakan sesuatu.
Tentang masa lalu.
Tentang keluarganya.
Tentang Rangga.
Tetapi ia belum siap.
Ia berpikir masih memiliki banyak waktu.
Padahal terkadang, justru ketika manusia merasa masih memiliki banyak waktu, kehidupan sedang menyiapkan perubahan yang tidak pernah mereka duga.
Beberapa hari kemudian, Aditya dan Mutiara kembali bertemu.
Mereka duduk di sebuah tempat yang tidak terlalu ramai.
Mutiara akhirnya bercerita tentang Rangga.
“Dia dulu sering datang ke rumah.”
Aditya mendengarkan.
“Keluargamu suka dia?”
Mutiara mengangguk.
“Mereka menganggap dia orang baik.”
“Kamu?”
Mutiara terdiam.
“Aku tidak tahu.”
“Tidak tahu atau tidak suka?”
Mutiara tersenyum tipis.
“Mungkin keduanya.”
Aditya tidak memaksanya.
Namun ada rasa tidak nyaman yang mulai muncul.
Mutiara menyadarinya.
“Aditya.”
“Iya?”
“Jangan berpikir macam-macam.”
“Aku tidak.”
“Kamu berubah.”
“Tidak.”
“Kamu diam.”
“Aku memang sering diam.”
Mutiara tertawa kecil.
Kemudian tangannya bergerak mendekati tangan Aditya.
Hanya sebentar.
Namun cukup untuk membuat keduanya terdiam.
Mutiara berkata pelan:
“Aku memilih untuk bertemu denganmu.”
Aditya menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena aku nyaman.”
Aditya tersenyum.
“Cuma nyaman?”
Mutiara menggeleng.
“Bukan.”
“Lalu?”
Mutiara menatap matanya.
“Karena aku mulai menyayangimu.”
Aditya tidak menjawab.
Untuk pertama kalinya, kalimat yang selama ini mereka hindari akhirnya diucapkan.
Mereka tidak perlu mengatakan “aku cinta padamu”.
Belum.
Tetapi mereka telah melangkah melewati batas antara sekadar teman dan sesuatu yang jauh lebih dalam.
Malam itu, setelah Mutiara pulang, Aditya kembali ke Bundaran Besar sendirian.
Ia berdiri di bawah cahaya Tugu Batang Garing.
Empat jalan masih terbentang.
Namun malam itu, untuk pertama kalinya, ia tidak merasa harus memilih.
Ia sudah tahu siapa yang ingin berjalan bersamanya.
Mutiara.
Ia mengambil ponsel.
Melihat foto mereka.
Foto sederhana yang diambil beberapa waktu lalu.
Aditya tersenyum.
Kemudian sebuah pesan masuk.
Dari nomor yang tidak ia kenal.
“Jaga Mutiara baik-baik.”
Aditya mengernyit.
Ia membalas:
“Siapa?”
Tidak ada jawaban.
Beberapa menit kemudian pesan lain masuk.
“Tidak semua orang yang dekat dengannya akan diterima keluarganya.”
Aditya menatap layar.
Senyumnya hilang.
Ia kembali melihat Tugu Batang Garing.
Entah mengapa, untuk pertama kalinya tempat yang selama ini terasa indah tiba-tiba terasa menyimpan sesuatu yang tidak ia mengerti.
Ia belum mengetahui siapa pengirim pesan itu.
Belum mengetahui apa maksudnya.
Dan belum mengetahui bahwa di balik hubungan yang sedang tumbuh indah antara dirinya dan Mutiara, seseorang perlahan mulai masuk ke dalam cerita mereka.
Seseorang yang tidak datang untuk mencintai.
Melainkan untuk memiliki.
Malam itu Aditya pulang dengan satu pertanyaan yang terus berputar di kepalanya:
Siapa yang sebenarnya sedang mengawasi hubungan mereka?
Dan di sebuah tempat lain di Kuala Kapuas, Rangga duduk sendirian.
Ponselnya berada di atas meja.
Layar menampilkan satu nama:
Mutiara.
Ia tersenyum tipis.
Kemudian berkata pelan kepada dirinya sendiri:
“Kita lihat nanti, siapa yang akhirnya memilih siapa.”
Di luar sana, malam terus berjalan.
Kuala Kapuas tetap tenang.
Tetapi untuk Aditya dan Mutiara, ketenangan itu perlahan mulai berakhir.
BAB IV
EMPAT ARAH MASA DEPAN
Sejak pesan tanpa nama itu muncul di ponsel Aditya, ada sesuatu yang berubah.
Bukan pada Kuala Kapuas.
Bukan pada jalan-jalannya.
Bukan pula pada Bundaran Besar yang setiap hari tetap dipenuhi kendaraan dari berbagai arah.
Yang berubah adalah cara Aditya memandang semuanya.
Sebelumnya, ketika berdiri di dekat Tugu Batang Garing, ia hanya melihat tempat yang menyimpan kenangan bersama Mutiara.
Sekarang ia mulai melihatnya sebagai sebuah persimpangan.
Sebuah tempat di mana manusia datang dari berbagai arah, lalu menentukan ke mana harus pergi.
Aditya masih belum tahu siapa yang mengirim pesan itu.
Ia sudah mencoba menghubungi nomor tersebut beberapa kali.
Tidak pernah tersambung.
Pesan-pesannya tidak pernah dibalas.
Akhirnya ia memilih untuk tidak membicarakannya kepada Mutiara.
Bukan karena ia ingin menyembunyikan sesuatu.
Ia hanya tidak ingin membuat Mutiara khawatir.
Namun keputusan untuk menyimpan sesuatu sendiri sering kali menjadi awal dari masalah yang lebih besar.
Dan Aditya belum menyadari hal itu.
Pagi itu, Mutiara datang menemui Aditya.
Mereka duduk di sebuah tempat yang cukup tenang.
Mutiara terlihat berbeda.
Ia lebih banyak diam.
Aditya memperhatikannya.
“Kamu kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
“Dari tadi diam.”
“Aku sedang berpikir.”
“Memikirkan apa?”
Mutiara menatapnya.
“Masa depan.”
Aditya tersenyum kecil.
“Pertanyaanmu semakin berat.”
Mutiara tidak ikut tersenyum.
“Aku serius.”
Aditya akhirnya ikut serius.
“Baik. Cerita.”
Mutiara menarik napas panjang.
“Ayah mulai sering membicarakan masa depanku.”
“Dengan siapa?”
Mutiara terdiam.
Aditya sudah mengetahui jawabannya.
“Rangga?”
Mutiara mengangguk.
“Ya.”
Aditya tidak langsung menjawab.
Ada sesuatu yang terasa berat di dadanya.
“Orang tuamu menginginkan kamu bersama dia?”
“Ayah tidak mengatakannya secara langsung.”
“Tapi?”
“Tapi aku tahu.”
Mutiara menundukkan wajah.
“Aku sudah mencoba menjelaskan.”
“Lalu?”
“Belum selesai.”
Aditya menatapnya.
“Kenapa kamu tidak mengatakan kepada ayahmu tentang kita?”
Mutiara mengangkat wajah.
“Aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut semuanya menjadi lebih rumit.”
Aditya diam.
Mutiara melanjutkan:
“Aku tahu ayahku. Kalau aku mengatakan sekarang, mungkin dia akan langsung menolak.”
“Dan kamu?”
“Aku belum tahu bagaimana menghadapinya.”
Aditya menghela napas.
“Kamu tidak harus menghadapi semuanya sendiri.”
Mutiara menatapnya.
“Kalau nanti kamu yang harus memilih?”
“Aku akan memilihmu.”
Jawaban itu keluar begitu saja.
Mutiara terdiam.
Aditya sendiri baru menyadari betapa seriusnya kalimat tersebut.
Mutiara tersenyum kecil.
“Jangan terlalu mudah berjanji.”
“Aku tidak sedang bercanda.”
“Aku tahu.”
Mereka kemudian berjalan.
Entah mengapa, langkah mereka membawa mereka kembali ke Bundaran Besar.
Mutiara berhenti di tempat yang sama seperti beberapa waktu lalu.
Tugu Batang Garing berdiri di hadapan mereka.
Aditya berdiri di sampingnya.
“Lihat,” kata Mutiara.
Aditya menatap jalan.
“Empat arah.”
“Iya.”
Mutiara tersenyum.
“Dulu aku berpikir hidup seperti ini.”
“Seperti bundaran?”
“Seperti jalan yang punya banyak pilihan.”
Aditya mengangguk.
Mutiara menunjuk ke arah timur.
“Banjarmasin.”
Kemudian ke arah utara.
“Mantangai.”
Ia menoleh ke selatan.
“Pusat kota.”
Lalu ke arah barat.
“Palangka Raya.”
Aditya tersenyum.
“Kenapa kamu selalu memperhatikan jalan?”
“Karena aku sering membayangkan ke mana hidup akan membawaku.”
“Dan sekarang?”
Mutiara terdiam.
“Sekarang aku justru takut memilih.”
Aditya menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena aku takut pilihan yang salah akan membuatku kehilangan seseorang.”
Aditya ingin menggenggam tangannya.
Namun ia mengurungkan niat.
“Kalau kamu tidak memilih, hidup tetap akan memilihkan untukmu.”
Mutiara memandangnya.
“Kamu yakin?”
“Iya.”
“Bagaimana kalau pilihan hidup kita berbeda?”
Aditya tersenyum.
“Kalau memang harus berbeda, kita cari jalan untuk bertemu.”
Mutiara tersenyum.
“Semudah itu?”
“Tidak.”
“Lalu?”
“Kita perjuangkan.”
Mutiara menatap Aditya cukup lama.
Kemudian perlahan menggenggam tangannya.
Tidak erat.
Hanya cukup untuk membuat Aditya memahami bahwa perempuan itu sedang mempercayakan sesuatu kepadanya.
“Aku ingin percaya padamu.”
Aditya menggenggam tangannya.
“Percayalah.”
Namun di tempat lain, Rangga mulai bergerak.
Ia tidak terburu-buru.
Ia tahu bahwa cinta tidak selalu dapat dihancurkan dengan satu serangan.
Kadang cinta cukup dibuat ragu.
Keraguan kecil.
Kemudian keraguan yang lebih besar.
Sampai akhirnya dua orang yang saling mencintai mulai mempertanyakan satu sama lain.
Rangga mengetahui bahwa Aditya memiliki kelemahan.
Ia terlalu tenang.
Terlalu percaya.
Dan terlalu sering memilih diam.
Rangga juga mengetahui bahwa Mutiara sangat menyayangi keluarganya.
Itulah titik yang akan digunakannya.
Suatu sore, Rangga bertemu Pak Hendra.
Mereka berbicara di sebuah tempat yang tenang.
“Pak,” kata Rangga, “saya tidak ingin memaksa Mutiara.”
Pak Hendra menatapnya.
“Saya tahu.”
“Saya hanya ingin dia mendapatkan kehidupan yang baik.”
“Saya juga.”
Rangga terdiam sebentar.
“Aditya itu bagaimana menurut Bapak?”
Pak Hendra menghela napas.
“Saya belum mengenalnya.”
“Tapi Bapak tahu dia dekat dengan Mutiara.”
“Iya.”
Rangga tersenyum.
“Menurut saya, Mutiara sedang terburu-buru.”
Pak Hendra mengernyit.
“Kenapa?”
“Karena orang yang baru dikenalnya belum tentu bisa memberikan masa depan yang dia butuhkan.”
Pak Hendra diam.
Rangga tidak melanjutkan.
Ia membiarkan kata-katanya bekerja sendiri.
Sementara itu, Mutiara semakin sering bertemu dengan Aditya.
Hubungan mereka mulai diketahui beberapa sahabat.
Fajar bahkan semakin sering menggoda.
“Kalau begini terus, kapan lamaran?”
Aditya tertawa.
“Jangan bicara terlalu jauh.”
“Kenapa?”
“Belum waktunya.”
Fajar menatapnya.
“Kamu serius?”
Aditya mengangguk.
“Sangat.”
Rizal yang mendengar percakapan itu hanya tersenyum.
“Kalau serius, jangan hanya bicara kepada teman.”
Aditya menatapnya.
“Maksudmu?”
“Bicara dengan keluarganya.”
Aditya terdiam.
Kalimat Rizal benar.
Namun ia juga tahu bahwa langkah tersebut tidak sederhana.
Malam itu, Aditya dan Mutiara kembali berjalan di sekitar Bundaran Besar.
Kota mulai terang oleh lampu.
Mutiara tampak lebih tenang.
“Aku ingin bertanya sesuatu,” katanya.
“Tanya saja.”
“Kalau suatu hari aku pergi…”
Aditya langsung memotong.
“Jangan bicara begitu.”
“Aku belum selesai.”
“Maaf.”
Mutiara tersenyum.
“Kalau suatu hari aku pergi karena keadaan, apakah kamu akan mencariku?”
Aditya menatapnya.
“Aku akan mencarimu.”
“Kalau aku tidak memberi tahu ke mana?”
“Aku tetap mencari.”
“Kalau aku bilang jangan?”
Aditya terdiam.
Mutiara menunggu.
Akhirnya Aditya berkata:
“Aku akan menghargai keputusanmu.”
Mutiara menundukkan kepala.
Jawaban itu sebenarnya bukan yang ingin didengarnya.
Ia berharap Aditya mengatakan akan terus memperjuangkannya apa pun yang terjadi.
Namun Mutiara juga tahu bahwa cinta tidak boleh berubah menjadi paksaan.
Mereka berhenti di dekat Tugu Batang Garing.
Mutiara memandang ke atas.
“Tempat ini akan selalu mengingat kita, ya?”
Aditya tersenyum.
“Kenapa?”
“Karena terlalu banyak cerita.”
“Baru beberapa bulan.”
“Beberapa bulan cukup untuk membuat kenangan.”
Aditya mengangguk.
“Benar.”
Mutiara kemudian mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
Sebuah foto.
Foto mereka yang diambil pada pertemuan pertama.
Ia menyerahkannya kepada Aditya.
“Untuk apa?”
“Simpan.”
“Kenapa?”
“Kalau nanti aku lupa, kamu yang ingatkan.”
Aditya tersenyum.
“Aku tidak akan membiarkanmu lupa.”
Mutiara memandangnya.
“Jangan terlalu yakin.”
Aditya tidak mengerti.
Namun kalimat itu kelak akan menghantuinya.
Malam semakin larut.
Mutiara pulang lebih dahulu.
Aditya berdiri sendiri.
Ia melihat foto yang diberikan Mutiara.
Dua orang.
Satu tugu.
Satu kota.
Satu kenangan.
Ia memasukkan foto itu ke dompet.
Tidak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa beberapa bulan kemudian, benda itu akan menjadi satu-satunya cara untuk mengingat seperti apa wajah Mutiara ketika masih menjadi bagian dari hari-harinya.
Hari-hari berikutnya mulai memperlihatkan perubahan.
Pak Hendra semakin sering meminta Mutiara bertemu Rangga.
Mutiara menolak beberapa kali.
Rangga tetap sabar.
Tidak pernah memaksa.
Tidak pernah marah.
Ia justru semakin dekat dengan keluarga Mutiara.
Ia membantu beberapa urusan keluarga.
Datang ketika dibutuhkan.
Memberikan perhatian.
Bagi orang luar, Rangga terlihat seperti laki-laki yang sempurna.
Namun bagi Mutiara, ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.
Suatu malam Rangga bertanya:
“Apakah kamu benar-benar yakin dengan Aditya?”
Mutiara menatapnya.
“Kenapa bertanya begitu?”
“Karena saya mengenal keluarga kamu.”
“Lalu?”
“Saya hanya ingin kamu berhati-hati.”
Mutiara tersenyum tipis.
“Terima kasih.”
Rangga mengangguk.
“Aku tidak bermaksud mengganggu.”
Tetapi sebelum pergi, ia berkata:
“Kadang orang yang paling kita cintai bukan orang yang paling siap menjalani hidup bersama kita.”
Mutiara terdiam.
Kalimat itu masuk ke dalam pikirannya.
Dan Rangga tahu, ia tidak perlu mengatakan lebih banyak.
Malam berikutnya, Aditya mendapat pesan.
Nomor yang sama.
“Kamu yakin Mutiara akan memilihmu?”
Aditya menatap layar.
Ia mengetik:
“Siapa kamu?”
Tidak ada jawaban.
Beberapa menit kemudian:
“Tanyakan kepada Mutiara tentang Rangga.”
Aditya menghapus percakapan itu.
Ia tidak ingin percaya.
Namun benih keraguan sudah ditanam.
Dan benih keraguan tidak membutuhkan banyak air untuk tumbuh.
Cukup satu pertanyaan.
Satu tatapan.
Satu pesan.
Satu kebohongan.
Keesokan harinya Aditya menemui Mutiara.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Mutiara.
Aditya mengangguk.
“Aku mau bertanya.”
“Tanya saja.”
“Rangga sering datang ke rumahmu?”
Mutiara terdiam.
“Kenapa?”
“Jawab saja.”
Mutiara menatapnya.
“Kadang.”
“Seberapa sering?”
“Aditya…”
“Aku hanya ingin tahu.”
Mutiara mulai merasa tidak nyaman.
“Kenapa kamu tiba-tiba seperti ini?”
Aditya tidak menjawab.
Mutiara menghela napas.
“Kalau kamu ingin tahu sesuatu, tanyakan dengan baik.”
“Aku hanya khawatir.”
“Aku bisa menjaga diriku.”
“Aku tahu.”
“Lalu?”
Aditya terdiam.
Ia ingin mengatakan tentang pesan-pesan misterius itu.
Namun ia tidak jadi.
“Tidak apa-apa.”
Mutiara kecewa.
“Kalau tidak apa-apa, jangan membuatku merasa seperti sedang diadili.”
Ia pergi.
Aditya membiarkannya.
Beberapa langkah kemudian, Mutiara menoleh.
Ia berharap Aditya memanggilnya.
Tetapi Aditya tetap berdiri.
Mutiara akhirnya berjalan pergi.
Tidak ada yang menyadari bahwa pada saat itulah diam mulai menciptakan jarak di antara mereka.
Malamnya, Fajar menemui Aditya.
“Kamu bertengkar dengan Mutiara?”
“Tidak.”
“Jangan bohong.”
Aditya diam.
Fajar duduk di sampingnya.
“Kalau ada masalah, bicarakan.”
“Aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut kehilangan dia.”
Fajar menatapnya.
“Kalau begitu jangan buat dia merasa kehilanganmu ketika dia masih ada.”
Aditya terdiam.
Kalimat itu sederhana.
Tetapi benar.
Di rumahnya, Mutiara menangis diam-diam.
Naya menelepon.
“Kamu kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
“Aditya?”
Mutiara tidak menjawab.
Naya memahami.
“Kamu mencintainya?”
Mutiara menutup wajah.
Air matanya jatuh.
“Iya.”
“Kalau begitu bicara.”
“Aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut suatu hari dia pergi.”
Naya terdiam.
“Kalau kamu terus takut kehilangan, kamu justru bisa kehilangan karena ketakutanmu sendiri.”
Mutiara tidak menjawab.
Ia hanya memandang foto Aditya di ponselnya.
Pada malam yang sama, Rangga berdiri di depan jendela.
Ia menerima pesan dari seseorang.
Ia membaca.
Kemudian menghapusnya.
Tidak ada senyum kemenangan.
Tidak ada kegembiraan.
Hanya tatapan dingin.
Ia tahu langkah pertamanya berhasil.
Aditya mulai curiga.
Mutiara mulai terluka.
Dan hubungan mereka mulai memiliki celah.
Namun Rangga juga mengetahui satu hal:
cinta yang kuat tidak mudah dihancurkan.
Karena itu, ia membutuhkan sesuatu yang lebih besar.
Sesuatu yang dapat membuat Aditya dan Mutiara tidak hanya saling meragukan, tetapi benar-benar saling menjauh.
Beberapa hari kemudian, sebuah kesempatan datang.
Kesempatan yang akan mengubah semuanya.
Mutiara menerima kabar dari keluarganya.
Ayahnya ingin berbicara serius.
Tentang masa depan.
Tentang Rangga.
Tentang keputusan yang harus segera dibuat.
Sementara di tempat lain, Aditya mendapatkan tawaran pekerjaan di luar Kuala Kapuas.
Sebuah kesempatan yang selama ini ia tunggu.
Dua manusia.
Dua jalan.
Dua pilihan.
Dan tanpa mereka sadari, kehidupan mulai membawa mereka ke persimpangan yang sesungguhnya.
Aditya memandang surat tawaran pekerjaan itu.
Mutiara memandang keputusan keluarganya.
Mereka belum tahu harus memilih apa.
Namun satu hal mulai jelas:
cinta mereka tidak lagi hanya menghadapi persoalan perasaan.
Kini mereka harus berhadapan dengan keluarga, masa depan, jarak, dan seseorang yang diam-diam sedang menyusun langkah berikutnya.
Dan di tengah semua itu, Bundaran Besar tetap berdiri.
Empat jalan masih terbentang.
Banjarmasin.
Mantangai.
Pusat kota.
Palangka Raya.
Namun kali ini, Aditya dan Mutiara tidak lagi hanya membicarakan ke mana mereka ingin pergi.
Mereka mulai dihadapkan pada pertanyaan yang jauh lebih sulit:
Jika jalan hidup memaksa mereka memilih, apakah cinta akan menjadi alasan untuk tetap tinggal—atau justru alasan untuk melepaskan?
BAB V
JALAN YANG MULAI BERCABANG
Pagi di Kuala Kapuas datang seperti biasa.
Cahaya matahari perlahan menyentuh atap-atap rumah, suara kendaraan mulai terdengar dari jalan, dan aktivitas masyarakat bergerak sebagaimana hari-hari sebelumnya.
Namun bagi Aditya, pagi itu tidak terasa biasa.
Sejak semalam ia masih memandangi selembar surat yang terletak di atas meja.
Surat tawaran pekerjaan.
Sebuah kesempatan yang sebenarnya telah lama ia tunggu.
Pekerjaan itu berada di luar Kuala Kapuas.
Tidak terlalu jauh untuk membuatnya benar-benar terputus dari kota ini, tetapi cukup jauh untuk mengubah banyak hal.
Terutama hubungannya dengan Mutiara.
Aditya membaca kembali surat tersebut.
Ia mendapatkan kesempatan untuk bekerja di sebuah perusahaan yang menawarkan posisi yang lebih baik daripada pekerjaannya sekarang.
Gajinya lebih besar.
Jenjang kariernya lebih jelas.
Dan yang paling penting, pekerjaan itu dapat menjadi langkah awal untuk membangun masa depan yang selama ini hanya berani ia bicarakan bersama Mutiara.
Namun ada satu hal yang membuatnya ragu.
Mutiara.
Aditya mengambil ponselnya.
Ia membuka percakapan mereka.
Pesan terakhir dari Mutiara masih tersimpan.
“Besok kita bicara, ya.”
Aditya mengetik.
“Aku juga ingin membicarakan sesuatu.”
Ia membaca kalimat itu beberapa kali.
Kemudian menghapusnya.
Ia mengetik lagi.
“Selamat pagi.”
Kali ini ia mengirimkannya.
Tidak lama kemudian, balasan masuk.
“Selamat pagi.”
Aditya tersenyum kecil.
“Sudah sarapan?”
“Belum. Kamu?”
“Belum juga.”
“Jangan lupa sarapan.”
Aditya menatap layar.
Kalimat sederhana itu selalu mampu membuat hatinya terasa lebih ringan.
Ia kemudian mengetik:
“Hari ini kita bertemu?”
Balasan Mutiara datang beberapa saat kemudian.
“Boleh.”
Aditya meletakkan ponselnya.
Namun sebelum berangkat, ia kembali melihat surat di atas meja.
Untuk pertama kalinya ia merasa bahwa sebuah kesempatan bisa datang pada waktu yang paling tidak tepat.
Mereka bertemu menjelang siang.
Mutiara datang dengan wajah yang terlihat lebih serius daripada biasanya.
Aditya langsung menyadarinya.
“Kamu baik-baik saja?”
Mutiara mengangguk.
“Tapi aku ingin bicara.”
“Aku juga.”
Mereka duduk berhadapan.
Beberapa saat tidak ada yang berbicara.
Akhirnya Mutiara membuka percakapan.
“Ayah ingin aku mempertimbangkan Rangga.”
Aditya menarik napas perlahan.
“Apa maksudnya?”
“Bukan lamaran.”
“Lalu?”
“Ayah ingin aku lebih sering bertemu dengannya. Mengenalnya lebih jauh.”
Aditya menundukkan kepala.
“Dan kamu?”
“Aku tidak mau.”
Jawaban itu tegas.
Aditya mengangkat wajah.
“Kenapa?”
“Karena aku sudah tahu siapa yang aku cintai.”
Aditya terdiam.
Mutiara menatapnya.
“Aku tidak ingin kamu berpikir aku ragu.”
“Aku tidak berpikir begitu.”
“Kamu tadi bertanya.”
“Karena aku takut.”
Mutiara tersenyum sedih.
“Aku juga takut.”
Aditya mengulurkan tangannya.
Mutiara menyambutnya.
“Aku tidak tahu apa yang akan terjadi,” katanya.
“Aku juga.”
“Tapi aku tidak ingin kehilanganmu.”
Aditya menggenggam tangannya.
“Aku juga tidak ingin kehilanganmu.”
Untuk beberapa saat mereka hanya diam.
Tidak ada janji besar.
Tidak ada kata-kata indah.
Namun keduanya memahami bahwa hubungan mereka sudah memasuki tahap yang berbeda.
Cinta tidak lagi hanya tentang rasa nyaman ketika bertemu.
Cinta mulai menuntut keberanian.
Aditya akhirnya menyerahkan surat itu kepada Mutiara.
“Ada sesuatu yang ingin kukatakan.”
Mutiara membaca.
Matanya bergerak mengikuti tulisan di atas kertas.
“Kamu dapat pekerjaan?”
Aditya mengangguk.
“Di luar kota?”
“Iya.”
“Kapan?”
“Kalau aku menerima, mungkin beberapa minggu lagi.”
Mutiara diam.
Aditya menunggu.
“Ini kesempatan bagus,” kata Mutiara akhirnya.
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa kamu terlihat seperti sedang kehilangan sesuatu?”
Aditya tersenyum pahit.
“Karena aku belum tahu apakah kamu akan tetap ada ketika aku kembali.”
Mutiara menatapnya.
“Kenapa kamu berpikir begitu?”
“Karena sekarang keluargamu sedang mendekatkan kamu dengan Rangga.”
“Aditya.”
“Maaf.”
Mutiara menghela napas.
“Kalau kamu pergi karena pekerjaan, bukan berarti aku akan pergi dari hidupmu.”
“Tapi jarak…”
“Jarak tidak selalu memisahkan.”
“Kadang justru membuat orang berubah.”
Mutiara terdiam.
Ia tahu kalimat itu benar.
Tetapi ia juga tahu bahwa cinta tidak dapat dibangun hanya dari rasa takut.
“Kamu ingin menerima pekerjaan itu?”
Aditya mengangguk.
“Aku ingin.”
“Kalau begitu terima.”
Aditya menatapnya.
“Kamu yakin?”
“Aku tidak mau menjadi alasan kamu menolak masa depan.”
“Tapi kamu adalah bagian dari masa depanku.”
Mutiara tersenyum.
“Kalau begitu bawa aku dalam masa depanmu.”
Aditya tersenyum.
“Bagaimana caranya?”
“Dengan tetap mengingatku.”
Sore itu mereka berjalan menuju Bundaran Besar.
Langkah mereka perlahan.
Tidak terburu-buru.
Seolah keduanya sedang menikmati waktu yang tersisa sebelum sesuatu berubah.
Mutiara berdiri di dekat Tugu Batang Garing.
“Empat jalan,” katanya.
Aditya tersenyum.
“Kamu dan empat jalanmu.”
Mutiara tertawa kecil.
“Karena sekarang aku benar-benar merasa sedang berada di persimpangan.”
“Jalan mana yang kamu pilih?”
Mutiara melihat keempat arah.
“Aku belum tahu.”
“Kalau kamu harus memilih?”
Mutiara menoleh kepadanya.
“Aku ingin jalan yang membuatku tetap menjadi diriku sendiri.”
Aditya mengangguk.
“Dan kalau jalan itu tidak mudah?”
“Berarti aku harus belajar berjalan.”
Aditya menatapnya.
“Aku ingin berjalan bersamamu.”
Mutiara tersenyum.
“Jangan hanya mengatakannya.”
“Lalu?”
“Buktikan.”
Aditya mengangguk.
“Akan kubuktikan.”
Sementara itu, di rumah Mutiara, Pak Hendra sedang berbicara dengan Bu Ratna.
“Aditya mau pergi?”
Bu Ratna menatap suaminya.
“Dari mana Bapak tahu?”
“Mutiara cerita.”
“Dia hanya mendapat tawaran pekerjaan.”
Pak Hendra diam.
“Menurut Bapak itu masalah?”
“Bukan.”
“Lalu?”
“Saya justru melihatnya sebagai alasan agar Mutiara berpikir lebih matang.”
Bu Ratna menghela napas.
“Bapak terlalu cepat menilai.”
“Saya ayahnya.”
“Saya tahu.”
“Saya hanya ingin masa depannya aman.”
“Dan kalau kebahagiaan Mutiara berbeda dari apa yang Bapak bayangkan?”
Pak Hendra terdiam.
Bu Ratna melanjutkan.
“Anak kita sudah dewasa.”
Pak Hendra menggeleng.
“Menjadi dewasa bukan berarti tidak membutuhkan orang tua.”
“Benar.”
“Karena itu saya harus memastikan dia tidak salah memilih.”
Bu Ratna memandang suaminya.
“Jangan sampai karena ingin melindunginya, kita justru membuatnya merasa tidak memiliki pilihan.”
Kalimat itu membuat Pak Hendra diam cukup lama.
Hari-hari berikutnya berjalan lebih cepat.
Aditya mulai mempersiapkan kemungkinan keberangkatannya.
Ia mengurus berbagai hal yang diperlukan.
Fajar menjadi orang pertama yang mengetahui rencana tersebut.
“Jadi kamu benar-benar pergi?”
“Belum pasti.”
“Kalau diterima?”
“Aku berangkat.”
Fajar mengangguk.
“Bagaimana dengan Mutiara?”
Aditya tersenyum.
“Itulah masalahnya.”
Rizal yang sejak tadi diam akhirnya berkata,
“Kalau kalian serius, jarak seharusnya menjadi sesuatu yang dibicarakan, bukan sesuatu yang ditakuti.”
Aditya menatapnya.
“Kadang aku berpikir aku terlalu banyak memikirkan kemungkinan buruk.”
“Karena kamu mencintainya.”
“Justru karena itu.”
Rizal tersenyum.
“Cinta tidak selalu membuat orang berani. Kadang cinta membuat orang takut kehilangan.”
Aditya mengangguk.
Mutiara juga menghadapi banyak hal.
Naya dan Sinta mengetahui bahwa keluarganya semakin serius membicarakan Rangga.
“Jadi bagaimana?” tanya Sinta.
“Aku tetap memilih Aditya.”
“Sudah kamu katakan kepada ayahmu?”
“Belum.”
“Kenapa?”
Mutiara diam.
Naya memandangnya.
“Karena kamu takut.”
Mutiara mengangguk.
“Aku tidak ingin mengecewakan ayah.”
Sinta langsung berkata,
“Menjalani hidup bukan berarti harus selalu memenuhi keinginan semua orang.”
Mutiara tersenyum.
“Aku tahu.”
“Lalu?”
“Aku hanya belum menemukan cara untuk mengatakan semuanya.”
Naya menyentuh bahunya.
“Kalau kamu terus menunggu waktu yang sempurna, mungkin waktu itu tidak pernah datang.”
Mutiara terdiam.
Kalimat tersebut terus berada di pikirannya.
Beberapa hari kemudian, Rangga datang ke rumah Mutiara.
Ia membawa beberapa dokumen untuk Pak Hendra.
Mutiara kebetulan berada di ruang tengah.
“Aditya jadi berangkat?” tanya Rangga.
Mutiara menatapnya.
“Dari mana kamu tahu?”
“Pak Hendra bercerita.”
Mutiara tidak menjawab.
Rangga duduk.
“Aku hanya ingin mengatakan sesuatu.”
“Apa?”
“Kalau kamu mencintainya, jangan menghalangi dia mengejar masa depan.”
Mutiara mengerutkan kening.
“Aku tidak pernah menghalanginya.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa kamu bicara seperti itu?”
Rangga tersenyum.
“Karena jarak bisa mengubah banyak hal.”
Mutiara menatapnya tajam.
“Kamu berharap kami berpisah?”
Rangga tidak langsung menjawab.
“Tidak.”
“Lalu?”
“Aku hanya mengatakan kemungkinan.”
Mutiara berdiri.
“Aku tidak ingin membicarakan ini.”
Rangga mengangguk.
“Baik.”
Namun sebelum Mutiara pergi, Rangga berkata:
“Kadang orang yang pergi mengatakan akan kembali. Tetapi kita tidak pernah tahu apakah orang yang kembali masih menjadi orang yang sama.”
Mutiara berhenti.
Kemudian ia berjalan pergi.
Rangga tetap duduk.
Tatapannya mengikuti langkah Mutiara.
Malam itu, Aditya dan Mutiara kembali bertemu.
Mereka duduk di tempat yang biasa mereka datangi.
“Aku bertemu Rangga,” kata Mutiara.
Aditya terdiam.
“Dia bicara tentang kita.”
“Apa katanya?”
“Dia bilang jarak bisa mengubah banyak hal.”
Aditya menghela napas.
“Dia benar.”
Mutiara menatapnya.
“Jangan mulai.”
“Aku hanya mengatakan kenyataan.”
“Jangan membuat aku takut.”
Aditya terdiam.
Mutiara menggenggam tangannya.
“Kalau kamu pergi, aku akan menunggumu.”
Aditya menatapnya.
“Benarkah?”
“Iya.”
“Berapa lama?”
“Selama aku masih percaya kamu akan kembali.”
Aditya tersenyum.
“Aku akan kembali.”
Mutiara menatap matanya.
“Jangan beri aku janji kalau kamu tidak yakin.”
“Aku yakin.”
Malam semakin larut.
Ketika Aditya pulang, ia membuka ponselnya.
Ada satu pesan masuk.
Nomor yang sama.
“Jangan terlalu yakin dengan apa yang Mutiara katakan.”
Aditya menatap layar cukup lama.
Kemudian pesan berikutnya masuk.
“Tanyakan kepadanya apa yang sebenarnya direncanakan keluarganya.”
Aditya mulai merasa marah.
Ia hampir membalas.
Namun sebelum jarinya menyentuh layar, pesan lain masuk.
“Dan tanyakan kenapa Rangga begitu dekat dengan keluarganya.”
Aditya meletakkan ponsel.
Untuk pertama kalinya, ia mulai bertanya kepada dirinya sendiri:
Apakah semua yang selama ini dikatakan Mutiara benar-benar seluruh kebenaran?
Di rumahnya, pada waktu yang hampir bersamaan, Mutiara juga sedang memandang layar ponselnya.
Sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal masuk.
“Aditya akan pergi. Jangan terlalu berharap dia kembali.”
Mutiara mengerutkan kening.
Ia tidak membalas.
Tetapi hatinya mulai gelisah.
Dua orang yang saling mencintai kini menerima pesan yang berbeda.
Keduanya tidak tahu siapa pengirimnya.
Keduanya tidak tahu bahwa pesan itu sengaja dibuat untuk menanamkan keraguan.
Dan yang paling berbahaya bukanlah kebohongan itu sendiri.
Melainkan ketika dua orang yang saling mencintai mulai mencari kebenaran dengan cara masing-masing.
Tanpa berbicara satu sama lain.
Malam semakin sunyi.
Di tengah Kuala Kapuas yang mulai terlelap, Bundaran Besar masih diterangi lampu.
Tugu Batang Garing tetap berdiri.
Empat jalan tetap terbuka.
Tidak ada yang tahu ke mana seseorang akan pergi.
Tidak ada yang tahu siapa yang akan kembali.
Namun satu hal mulai berubah.
Aditya dan Mutiara masih saling mencintai.
Tetapi cinta mereka kini mulai dikelilingi oleh pertanyaan.
Dan pertanyaan yang tidak segera dijawab dapat berubah menjadi keraguan.
Keraguan dapat berubah menjadi jarak.
Dan jarak, jika dibiarkan, dapat menjadi kehilangan.
Sementara itu, seseorang sedang menunggu di balik semua perubahan itu.
Rangga.
Ia tidak perlu merebut Mutiara dengan paksa.
Ia hanya perlu membuat Mutiara dan Aditya percaya bahwa mereka sedang kehilangan satu sama lain.
Karena terkadang, untuk memisahkan dua hati yang saling mencintai, seseorang tidak perlu menghancurkan cinta itu.
Cukup membuat keduanya meragukan cinta mereka sendiri.
BAB VI
KETIKA JARAK MULAI BERBICARA
Pagi itu Aditya bangun lebih awal dari biasanya.
Ia duduk di tepi tempat tidur sambil memandangi ponselnya.
Tidak ada pesan dari Mutiara.
Biasanya, perempuan itu akan mengirimkan sesuatu setelah bangun.
Kadang hanya sebuah kalimat sederhana.
Sudah bangun?
Atau:
Jangan lupa sarapan.
Tetapi pagi itu tidak ada apa-apa.
Aditya mencoba mengabaikannya.
Mungkin Mutiara sedang sibuk.
Mungkin sedang membantu ibunya.
Mungkin ponselnya tidak berada di dekatnya.
Ia tidak ingin berpikir macam-macam.
Namun pesan anonim yang diterimanya semalam terus berputar di kepalanya.
Jangan terlalu yakin dengan apa yang Mutiara katakan.
Aditya mengusap wajah.
Ia tahu dirinya mulai terpengaruh.
Dan ia tidak menyukai keadaan itu.
Ia mengambil ponsel lalu mengetik:
“Selamat pagi. Semoga harimu baik.”
Pesan itu terkirim.
Beberapa menit berlalu.
Tidak ada jawaban.
Setengah jam.
Masih tidak ada.
Aditya akhirnya meletakkan ponselnya.
Namun sekitar satu jam kemudian, balasan masuk.
“Maaf. Tadi membantu Ibu.”
Aditya tersenyum kecil.
“Tidak apa-apa.”
Kemudian muncul pesan berikutnya.
“Kita jadi bertemu sore ini?”
Aditya menjawab:
“Jadi.”
Dua kata.
Tidak ada yang aneh.
Namun Aditya merasakan sesuatu yang berbeda.
Ia tidak tahu apakah perubahan itu benar-benar ada atau hanya tumbuh dari pikirannya sendiri.
Sore hari, mereka bertemu.
Mutiara datang sedikit terlambat.
“Aku minta maaf.”
“Tidak apa-apa.”
Mutiara duduk.
Ia memperhatikan Aditya.
“Kamu kenapa?”
“Kenapa?”
“Sepertinya ada yang kamu pikirkan.”
Aditya tersenyum.
“Tidak ada.”
Mutiara menggeleng.
“Kamu kalau sedang menyembunyikan sesuatu selalu menjawab seperti itu.”
Aditya terdiam.
Ia ingin mengatakan tentang pesan anonim.
Tetapi sekali lagi ia menahan diri.
“Aku cuma sedang memikirkan pekerjaan.”
“Sudah ada keputusan?”
Aditya mengangguk.
“Aku menerima.”
Mutiara terdiam.
“Berarti kamu benar-benar pergi?”
“Iya.”
“Kapan?”
“Sekitar dua minggu lagi.”
Mutiara menundukkan kepala.
Ada rasa sedih yang tiba-tiba memenuhi dadanya.
Namun ia berusaha tersenyum.
“Itu bagus.”
Aditya menatapnya.
“Kamu sedih?”
Mutiara tertawa kecil.
“Menurutmu?”
“Jangan pura-pura.”
Mutiara menghela napas.
“Aku memang sedih.”
“Kenapa?”
“Karena aku akan merindukanmu.”
Aditya menggenggam tangannya.
“Aku juga.”
“Jangan terlalu sering mengatakan itu.”
“Kenapa?”
“Karena nanti aku semakin sulit melepaskanmu ketika kamu berangkat.”
Aditya terdiam.
Kemudian berkata:
“Aku bukan pergi untuk meninggalkanmu.”
“Aku tahu.”
“Aku pergi untuk masa depan.”
Mutiara mengangguk.
“Aku tahu.”
Tetapi di dalam hatinya, muncul pertanyaan yang tidak ia katakan:
Bagaimana kalau masa depan yang Aditya kejar ternyata tidak lagi menyertakan dirinya?
Hari-hari berikutnya diisi persiapan.
Aditya mulai mengurus keberangkatannya.
Pak Surya mengetahui kabar tersebut.
“Kamu yakin?”
Aditya mengangguk.
“Yakin, Pak.”
“Kerja di luar kota tidak mudah.”
“Saya tahu.”
“Jangan hanya mengejar uang.”
Aditya menatap ayahnya.
“Bukan hanya uang.”
“Lalu?”
Aditya diam sebentar.
“Masa depan.”
Pak Surya tersenyum.
“Masa depan itu bukan hanya pekerjaan.”
Aditya memahami maksud ayahnya.
“Ada Mutiara?”
Aditya tersenyum.
“Iya.”
Pak Surya mengangguk.
“Kalau begitu, jangan biarkan jarak mengajarkan kalian hal-hal yang seharusnya kalian bicarakan.”
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun Aditya mengingatnya.
Di rumah Mutiara, keadaan juga semakin rumit.
Pak Hendra semakin sering berbicara tentang Rangga.
Suatu malam, ia berkata:
“Rangga akan datang akhir pekan ini.”
Mutiara tetap diam.
“Kamu ikut makan malam bersama kita.”
“Ayah…”
“Tidak ada salahnya mengenal seseorang.”
“Aku sudah mengenalnya.”
“Belum cukup.”
Mutiara menatap ayahnya.
“Ayah tahu aku mencintai Aditya.”
Pak Hendra terdiam.
Bu Ratna yang sedang berada di dekat mereka ikut memperhatikan.
“Cinta?” ulang Pak Hendra.
Mutiara mengangguk.
“Iya.”
Pak Hendra menarik napas panjang.
“Dia akan pergi.”
“Untuk bekerja.”
“Jauh.”
“Bukan berarti meninggalkanku.”
“Kamu yakin?”
Mutiara terdiam.
Pak Hendra melihat keraguan kecil di wajah putrinya.
Ia tidak menyadari bahwa keraguan itu bukan berasal dari Aditya.
Keraguan itu sedang ditanamkan dari luar.
“Kamu lihat sendiri nanti,” kata Pak Hendra.
Mutiara tidak menjawab.
Malam berikutnya, Naya datang menemui Mutiara.
“Kamu kelihatan lelah.”
“Aku memang lelah.”
“Karena ayahmu?”
Mutiara mengangguk.
“Dan karena Aditya akan pergi.”
Naya duduk di sampingnya.
“Sudah bicara baik-baik?”
“Sudah.”
“Lalu?”
“Dia bilang akan kembali.”
“Kamu percaya?”
Mutiara tersenyum.
“Aku ingin percaya.”
Naya menatapnya.
“Jangan gunakan kata ingin.”
“Maksudmu?”
“Kalau kamu percaya, katakan percaya.”
Mutiara terdiam.
“Aku percaya.”
Naya tersenyum.
“Nah.”
Mutiara kemudian berkata pelan:
“Tapi ada sesuatu yang membuatku tidak tenang.”
“Apa?”
“Pesan.”
Naya langsung serius.
“Pesan apa?”
Mutiara menunjukkan ponselnya.
Naya membaca.
“Aditya akan pergi. Jangan terlalu berharap dia kembali.”
Naya mengerutkan kening.
“Kamu tahu siapa pengirimnya?”
“Tidak.”
“Sudah kamu ceritakan kepada Aditya?”
Mutiara terdiam.
“Belum.”
“Kenapa?”
“Aku takut dia berpikir aku menyembunyikan sesuatu.”
Naya menatapnya.
“Justru karena itulah kamu harus memberitahunya.”
Mutiara tidak menjawab.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu.
Ia dan Aditya sama-sama menerima pesan misterius.
Namun mereka sama-sama memilih diam.
Hari keberangkatan Aditya semakin dekat.
Ia dan Mutiara berusaha menikmati waktu bersama.
Mereka kembali ke tempat-tempat yang menyimpan kenangan.
Tidak banyak.
Tidak perlu banyak.
Kadang hanya duduk.
Kadang berjalan.
Kadang berbicara tentang hal-hal kecil.
Pada suatu sore, mereka kembali ke Bundaran Besar.
Mutiara berdiri di dekat Tugu Batang Garing.
“Kamu akan pergi lewat arah mana?”
Aditya tersenyum.
“Kalau menuju tempat kerja, jalurnya ke arah sana.”
Ia menunjuk salah satu arah.
Mutiara mengangguk.
“Jadi salah satu jalan akan membawamu pergi.”
“Untuk sementara.”
“Dan aku tetap di sini.”
“Untuk sementara juga.”
Mutiara tersenyum.
“Kenapa kamu bilang begitu?”
“Karena aku percaya suatu hari kita akan berdiri di sini lagi.”
Mutiara menatapnya.
“Bersama?”
“Bersama.”
Mutiara mengulurkan tangan.
Aditya menggenggamnya.
“Kalau nanti kamu merasa sendirian,” katanya, “ingat tempat ini.”
“Kenapa?”
“Karena di sini aku pernah berjanji.”
“Janji apa?”
“Aku akan kembali.”
Mutiara mengangguk.
“Aku akan mengingatnya.”
Malam sebelum keberangkatan, Aditya mendapat telepon.
Nomor yang tidak dikenal.
Ia mengangkat.
“Halo?”
Tidak ada suara.
“Halo?”
Kemudian sambungan terputus.
Beberapa detik kemudian sebuah pesan masuk.
“Kalau kamu benar-benar mencintai Mutiara, jangan pergi.”
Aditya menatap layar.
Dadanya terasa sesak.
Untuk pertama kalinya ia bertanya:
Siapa yang sebenarnya ingin menghentikannya?
Pada saat yang sama, Mutiara menerima pesan.
“Aditya akan pergi besok. Dia memilih pekerjaan daripada kamu.”
Mutiara membaca berulang kali.
Air matanya mulai menggenang.
Ia tahu itu tidak adil.
Aditya memang memilih pekerjaan.
Tetapi bukan berarti ia memilih pekerjaan daripada dirinya.
Namun kata-kata itu berhasil menyentuh ketakutan terdalamnya.
Ia mulai menangis.
Bu Ratna melihatnya.
“Mutiara?”
Mutiara buru-buru menghapus air mata.
“Ibu belum tidur?”
“Kenapa kamu menangis?”
“Tidak apa-apa.”
Bu Ratna duduk di sampingnya.
“Ceritakan.”
Mutiara akhirnya menyerahkan ponselnya.
Bu Ratna membaca pesan tersebut.
Wajahnya berubah.
“Siapa yang mengirim?”
“Tidak tahu.”
“Kenapa kamu tidak memberitahukan ini kepada ayahmu?”
Mutiara menggeleng.
“Aku tidak mau membuat semuanya semakin rumit.”
Bu Ratna memegang tangan putrinya.
“Jangan menghadapi masalah sendirian.”
Mutiara menatap ibunya.
“Ibu percaya Aditya?”
Bu Ratna terdiam.
“Aku belum mengenalnya cukup jauh.”
Mutiara menunduk.
“Tapi Ibu percaya kamu.”
Air mata Mutiara kembali jatuh.
Hari keberangkatan tiba.
Kuala Kapuas masih sama.
Langit pagi masih membentang.
Jalan-jalan masih ramai.
Namun bagi dua orang yang sedang menghadapi perpisahan, waktu terasa berjalan terlalu cepat.
Mutiara datang mengantar Aditya.
Tidak ada tangisan besar.
Tidak ada adegan dramatis.
Hanya dua orang yang berdiri berhadapan dengan mata yang menyimpan terlalu banyak hal.
“Kamu sudah siap?” tanya Mutiara.
Aditya mengangguk.
“Sudah.”
“Koper?”
“Sudah.”
“Dokumen?”
“Sudah.”
“Obat?”
Aditya tertawa.
“Kamu seperti ibuku.”
Mutiara tersenyum.
“Biar aku memastikan.”
Aditya menatapnya.
“Mutiara.”
“Hm?”
“Jangan percaya pesan-pesan itu.”
Mutiara membeku.
“Pesan apa?”
Aditya langsung terdiam.
Ia baru sadar bahwa dirinya telah mengatakan sesuatu yang seharusnya dijelaskan.
“Kamu menerima pesan juga?”
Mutiara menatapnya.
“Iya.”
Aditya menarik napas.
“Kenapa kamu tidak cerita?”
“Aku takut.”
“Aku juga.”
Mutiara menatapnya.
“Kenapa kamu tidak cerita?”
“Aku takut kamu menganggap aku tidak percaya padamu.”
Mutiara menangis.
“Justru karena kita sama-sama diam, semuanya menjadi lebih buruk.”
Aditya mengangguk.
“Iya.”
Untuk pertama kalinya mereka menyadari kesalahan mereka.
Bukan karena cinta mereka kurang.
Tetapi karena mereka membiarkan ketakutan berbicara lebih keras daripada kejujuran.
“Aku mencintaimu,” kata Mutiara.
Aditya mendekat.
“Aku juga.”
“Jangan berubah.”
“Aku akan berusaha.”
“Jangan hanya berusaha.”
Aditya tersenyum.
“Aku akan berjuang.”
Mutiara memeluknya.
Pelukan itu berlangsung cukup lama.
Ketika akhirnya mereka melepaskan diri, keduanya sama-sama tahu bahwa hari itu adalah awal dari sebuah ujian.
Aditya berangkat.
Mutiara berdiri melihatnya pergi.
Ia tidak tahu bahwa beberapa meter dari tempatnya berdiri, Rangga juga melihat semuanya.
Tidak ada kemarahan di wajahnya.
Tidak ada kebencian.
Hanya ketenangan.
Ia kemudian berjalan mendekati Mutiara.
“Kamu baik-baik saja?”
Mutiara menghapus air mata.
“Aku baik.”
“Aditya sudah berangkat?”
“Iya.”
Rangga mengangguk.
“Semoga dia sukses.”
Mutiara menatapnya.
“Terima kasih.”
Rangga tersenyum.
Namun sebelum pergi, ia berkata:
“Sekarang kamu punya banyak waktu untuk berpikir.”
Mutiara langsung menatapnya.
“Aku tidak perlu berpikir.”
Rangga mengangguk.
“Semoga begitu.”
Ia pergi.
Mutiara menatap punggungnya.
Ada sesuatu dalam cara Rangga berbicara yang membuatnya merasa tidak nyaman.
Hari-hari pertama setelah Aditya pergi terasa panjang.
Mereka masih saling menghubungi.
Pagi.
Siang.
Malam.
Namun kesibukan mulai membuat percakapan semakin pendek.
Aditya harus menyesuaikan diri dengan pekerjaan baru.
Mutiara harus menghadapi keluarganya.
Kadang mereka hanya sempat bertukar beberapa pesan.
“Sudah makan?”
“Sudah.”
“Capek?”
“Lumayan.”
“Istirahat.”
“Kamu juga.”
Percakapan yang dulu bisa berlangsung berjam-jam kini menjadi beberapa menit.
Tidak ada yang salah.
Namun jarak memiliki cara sendiri untuk membuat hal-hal kecil terasa besar.
Suatu malam, Mutiara menunggu telepon Aditya.
Tidak ada.
Ia menunggu sampai tertidur.
Pagi berikutnya, ia menemukan pesan:
“Maaf. Kemarin sangat sibuk.”
Mutiara membalas:
“Tidak apa-apa.”
Tetapi setelah mengirimnya, ia menatap layar cukup lama.
Ada sesuatu yang ingin ia katakan.
Namun ia tidak jadi.
Di tempat lain, Aditya juga mengalami hal yang sama.
Ia menunggu pesan Mutiara.
Tidak datang.
Ia membuka ponsel berkali-kali.
Kemudian sebuah pesan masuk.
Bukan dari Mutiara.
Nomor yang sama.
“Lihat? Jarak sudah mulai bekerja.”
Aditya mengepalkan tangannya.
Ia tidak membalas.
Tetapi malam itu, untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar sendirian.
Beberapa minggu berlalu.
Mutiara mulai semakin sering didatangi Rangga.
Kadang hanya untuk berbicara dengan Pak Hendra.
Kadang membawa sesuatu.
Kadang membantu urusan keluarga.
Pak Hendra semakin menyukainya.
Bu Ratna tetap berhati-hati.
Sementara Mutiara berusaha menjaga jarak.
Namun keadaan perlahan menciptakan sebuah situasi yang tidak pernah ia inginkan.
Suatu sore, Pak Hendra berkata:
“Rangga sudah banyak membantu keluarga kita.”
Mutiara menjawab pelan:
“Dia memang baik.”
“Dia juga serius.”
Mutiara terdiam.
“Bapak tidak meminta kamu menjawab sekarang.”
Mutiara menatap ayahnya.
“Tapi?”
“Tapi jangan menutup semua kemungkinan.”
Mutiara tidak menjawab.
Malam itu Mutiara menelepon Aditya.
Tidak diangkat.
Ia mencoba lagi.
Tetap tidak.
Ia menunggu.
Satu jam kemudian, Aditya menelepon balik.
“Maaf.”
“Kamu di mana?”
“Baru selesai kerja.”
“Aku ingin bicara.”
“Bicara saja.”
Mutiara terdiam.
“Ayah mulai membicarakan Rangga lagi.”
Aditya menarik napas.
“Hmm.”
“Hanya itu?”
“Aku sedang lelah.”
Mutiara terluka.
“Aku juga lelah.”
Aditya diam.
“Aku butuh kamu.”
“Aku di sini.”
“Tapi rasanya kamu jauh.”
“Aku memang jauh.”
Mutiara menutup mata.
“Bukan itu maksudku.”
Aditya terdiam.
Mereka sama-sama ingin berbicara.
Namun tidak satu pun menemukan kata yang tepat.
Akhirnya Mutiara berkata:
“Sudahlah.”
“Besok kita bicara.”
“Tidak apa-apa.”
Telepon berakhir.
Keduanya menatap layar masing-masing.
Tidak ada yang tahu bahwa percakapan singkat itu akan menjadi awal dari kesalahpahaman yang lebih besar.
Karena malam berikutnya, sebuah foto akan muncul.
Sebuah foto yang terlihat sederhana.
Namun mampu mengubah cara Aditya memandang Mutiara.
Dan di balik foto itu, ada seseorang yang sejak awal memang menunggu kesempatan.
Rangga.
Sementara jauh dari Kuala Kapuas, Aditya belum mengetahui bahwa ketika ia memilih pergi demi masa depan, seseorang sedang berusaha membuatnya percaya bahwa perempuan yang ia cintai mulai memilih orang lain.
Dan untuk pertama kalinya, jarak bukan lagi sekadar jarak.
Jarak mulai berbicara melalui kebohongan.
BAB VII
SEBUAH FOTO YANG SALAH DIMENGERTI
Malam itu hujan turun di kota tempat Aditya bekerja.
Tidak deras.
Hanya gerimis panjang yang membasahi kaca jendela kamar tempat ia tinggal sementara.
Aditya baru saja menyelesaikan pekerjaannya.
Tubuhnya lelah.
Pikirannya lebih lelah lagi.
Ia mengambil ponsel.
Tidak ada pesan dari Mutiara.
Ia membuka percakapan mereka.
Pesan terakhir masih sama.
“Besok kita bicara.”
Tetapi besok telah berlalu.
Tidak ada pembicaraan.
Aditya tahu Mutiara mungkin sedang sibuk.
Namun setelah beberapa minggu berjauhan, ia mulai merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan.
Ada jarak yang tidak hanya terbentuk oleh kilometer.
Ada jarak yang tumbuh dari percakapan yang semakin pendek.
Dari telepon yang semakin jarang.
Dari pesan yang semakin lama dibalas.
Dan dari banyak hal yang tidak lagi mereka ceritakan.
Aditya berbaring.
Ia mencoba tidur.
Namun ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk.
Nomor yang sama.
Ia membuka.
Sebuah foto.
Aditya terdiam.
Foto itu memperlihatkan Mutiara sedang duduk bersama Rangga.
Mereka berada di sebuah tempat yang tidak dikenal Aditya.
Mutiara terlihat tersenyum.
Rangga duduk di sampingnya.
Tidak ada sesuatu yang secara langsung membuktikan bahwa mereka memiliki hubungan khusus.
Namun foto itu cukup untuk membuat pikiran Aditya bergerak ke mana-mana.
Di bawah foto itu ada satu kalimat:
“Kamu pergi mencari masa depan. Di sini, orang lain sedang menemani Mutiara.”
Aditya menatap layar.
Dadanya terasa sesak.
Ia memperbesar foto.
Mutiara tersenyum.
Senyum yang selama ini hanya ingin ia lihat.
Tetapi kali ini senyum itu terasa seperti sesuatu yang menyakitkan.
Ia menutup mata.
“Tidak,” gumamnya.
“Mutiara tidak seperti itu.”
Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Namun keraguan sudah terlanjur muncul.
Keesokan paginya, Mutiara tidak tahu apa yang terjadi.
Ia bangun seperti biasa.
Membantu ibunya.
Kemudian membuka ponsel.
Ia melihat pesan dari Aditya.
“Kamu sibuk?”
Mutiara tersenyum.
“Sedikit. Kenapa?”
Tidak ada balasan.
Ia menunggu.
Beberapa menit.
Kemudian satu jam.
Tidak ada.
Mutiara kembali melakukan aktivitasnya.
Menjelang siang, ponselnya berbunyi.
Pesan dari Aditya.
“Kamu kemarin pergi dengan Rangga?”
Mutiara terdiam.
Ia membaca kalimat itu sekali lagi.
“Iya. Ada apa?”
Balasan datang.
“Tidak apa-apa.”
Mutiara mulai merasa ada yang aneh.
“Kamu kenapa?”
Tidak ada jawaban.
Ia menelepon.
Tidak diangkat.
Mutiara semakin bingung.
Ia menghubungi lagi.
Tetap tidak diangkat.
Akhirnya ia mengirim pesan:
“Kalau ada sesuatu, bicarakan denganku.”
Aditya membaca pesan itu.
Namun tidak membalas.
Ia masih memegang foto tersebut.
Sore harinya, Aditya bertemu Rizal melalui panggilan video.
“Kamu kenapa?” tanya Rizal.
“Tidak apa-apa.”
“Kamu kelihatan seperti orang yang sedang marah.”
Aditya terdiam.
“Aku menerima foto.”
“Foto apa?”
Aditya mengirimkannya.
Rizal memperhatikan.
“Ini Mutiara?”
“Iya.”
“Dengan Rangga?”
“Iya.”
Rizal diam beberapa saat.
“Kamu sudah bertanya kepadanya?”
“Sudah.”
“Jawabannya?”
“Katanya mereka bertemu.”
“Kenapa bertemu?”
“Belum aku tanyakan.”
Rizal menghela napas.
“Kalau begitu jangan menyimpulkan.”
“Aku tidak menyimpulkan.”
“Wajahmu mengatakan sebaliknya.”
Aditya terdiam.
Rizal melanjutkan:
“Kamu sedang jauh. Jangan biarkan satu foto menggantikan semua yang sudah kamu ketahui tentang Mutiara.”
Aditya menunduk.
“Tapi kenapa dia pergi dengan Rangga?”
“Mungkin ada urusan keluarga.”
“Kenapa tidak memberitahuku?”
“Itu yang harus kamu tanyakan.”
Aditya tidak menjawab.
Ia tahu Rizal benar.
Tetapi hati manusia tidak selalu mengikuti logika.
Malam itu Mutiara akhirnya menelepon.
Aditya mengangkat.
“Halo.”
“Kenapa kamu berubah?”
“Aku tidak berubah.”
“Kamu jelas berubah.”
Aditya diam.
“Kamu bertanya tentang Rangga.”
“Iya.”
“Lalu setelah aku jawab, kamu diam.”
“Aku sedang banyak pekerjaan.”
Mutiara tahu itu bukan jawaban sebenarnya.
“Aditya.”
“Hm?”
“Kamu tidak percaya padaku?”
Aditya terdiam cukup lama.
“Aku ingin percaya.”
Mutiara merasa hatinya jatuh.
“Ingin?”
“Bukan begitu.”
“Lalu bagaimana?”
Aditya tidak menjawab.
Mutiara menarik napas.
“Aku pergi dengan Rangga karena dia mengantar dokumen untuk ayah.”
“Kenapa kamu tidak bilang?”
“Aku tidak sempat.”
“Kamu bisa mengirim pesan.”
“Aku juga tidak menyangka kamu akan mempermasalahkannya.”
Aditya menutup mata.
“Aku menerima foto.”
Mutiara terdiam.
“Foto?”
“Iya.”
“Siapa yang mengirim?”
“Nomor tidak dikenal.”
Mutiara mulai memahami.
“Kirim kepadaku.”
Aditya mengirim foto tersebut.
Mutiara melihatnya.
Kemudian berkata:
“Foto ini diambil dari jauh.”
“Iya.”
“Dan kamu langsung percaya?”
“Aku tidak bilang percaya.”
“Tapi kamu mencurigaiku.”
Aditya diam.
Air mata Mutiara mulai mengalir.
“Aku pikir kamu mengenalku.”
“Aku mengenalmu.”
“Kalau begitu kenapa kamu ragu?”
Aditya tidak mampu menjawab.
Mutiara menangis dalam diam.
“Aku tidak pernah meminta kamu memilih antara aku dan pekerjaanmu.”
“Aku tahu.”
“Aku bahkan menyuruhmu pergi.”
“Aku tahu.”
“Aku percaya kamu akan kembali.”
Aditya menggenggam ponselnya.
“Tapi kamu sendiri sekarang tidak percaya padaku.”
Mutiara menutup mulutnya agar tangisnya tidak terdengar.
“Bukan begitu.”
“Lalu bagaimana?”
Aditya terdiam.
Mutiara akhirnya berkata:
“Kalau jarak membuatmu meragukanku, mungkin masalahnya bukan jarak.”
“Apa maksudmu?”
“Masalahnya adalah kepercayaan.”
Telepon berakhir.
Aditya tetap duduk.
Ia menatap layar yang kini gelap.
Untuk pertama kalinya sejak mengenal Mutiara, ia merasa telah menyakitinya.
Di Kuala Kapuas, Mutiara duduk sendirian.
Naya datang setelah menerima telepon darinya.
“Apa yang terjadi?”
Mutiara menyerahkan ponsel.
Naya melihat foto tersebut.
“Siapa yang mengirim?”
“Nomor tidak dikenal.”
Naya memperhatikan gambar itu.
“Ini sengaja.”
Mutiara menatapnya.
“Maksudmu?”
“Foto ini diambil untuk menimbulkan kesan tertentu.”
Mutiara terdiam.
“Kamu pikir Rangga?”
“Aku tidak tahu.”
“Tapi?”
Naya menghela napas.
“Orang yang mengirim foto ini jelas ingin kamu dan Aditya bertengkar.”
Mutiara menunduk.
“Aku tidak ingin kehilangan dia.”
“Kalau begitu jangan diam.”
Mutiara menatap Naya.
“Aku sudah menjelaskan.”
“Jelaskan lagi.”
“Aku lelah.”
“Cinta memang melelahkan kalau sedang diuji.”
Mutiara tersenyum pahit.
“Kenapa semua orang mudah sekali bicara tentang cinta?”
“Karena yang menjalani memang kamu.”
Naya menggenggam tangan Mutiara.
“Kalau kamu yakin pada Aditya, pertahankan kejujuranmu. Jangan biarkan orang lain membuat kalian berbicara melalui prasangka.”
Beberapa hari kemudian, Aditya mulai berubah.
Ia tetap bekerja.
Tetap menjalankan kewajibannya.
Namun komunikasi dengan Mutiara menjadi lebih formal.
Tidak ada lagi pesan panjang.
Tidak ada lagi percakapan tentang masa depan.
Tidak ada lagi candaan kecil.
Mutiara merasakan perubahan itu.
Ia beberapa kali mencoba mengembalikan keadaan seperti semula.
Namun Aditya selalu menjawab pendek.
“Aku sedang kerja.”
“Nanti aku hubungi.”
“Aku capek.”
Tidak ada kebohongan.
Tetapi juga tidak ada kehangatan.
Dan terkadang, hubungan tidak hancur karena pertengkaran.
Hubungan bisa hancur karena dua orang yang dulu selalu ingin berbicara mulai memilih diam.
Suatu malam, Aditya mendapat telepon dari ibunya.
“Bagaimana pekerjaanmu?”
“Baik, Bu.”
“Mutiara bagaimana?”
Aditya terdiam.
“Baik.”
Bu Aminah langsung mengetahui ada sesuatu.
“Kalian bertengkar?”
“Tidak.”
“Aditya.”
“Iya?”
“Kalau ada masalah, jangan disimpan sendiri.”
Aditya menarik napas.
“Ada foto Mutiara dengan Rangga.”
Bu Aminah terdiam.
“Kamu sudah bertanya kepadanya?”
“Sudah.”
“Jawabannya?”
“Dia bilang ada urusan keluarga.”
“Lalu kamu percaya?”
Aditya tidak menjawab.
Bu Aminah berkata lembut:
“Kalau kamu mencintainya, jangan hukum dia karena sesuatu yang belum kamu ketahui kebenarannya.”
Aditya terdiam.
Kalimat itu menusuk.
“Jangan sampai kamu kehilangan seseorang hanya karena takut kehilangan.”
Aditya menunduk.
Sementara itu, Pak Hendra semakin mempercayai Rangga.
Suatu malam, mereka berbicara.
“Saya ingin kamu memahami keadaan Mutiara,” kata Pak Hendra.
Rangga mengangguk.
“Saya akan berusaha.”
“Dia keras kepala.”
“Saya tahu.”
“Dan masih memikirkan Aditya.”
Rangga diam.
Pak Hendra melanjutkan:
“Menurutmu?”
Rangga tidak langsung menjawab.
“Saya tidak ingin memaksanya.”
“Lalu?”
“Biarkan waktu yang menentukan.”
Pak Hendra mengangguk.
Rangga kemudian berkata:
“Aditya sekarang jauh.”
“Iya.”
“Jarak akan memperlihatkan banyak hal.”
Pak Hendra memandangnya.
“Bisa jadi.”
Rangga tersenyum.
“Kadang seseorang baru mengetahui siapa yang benar-benar ada untuknya setelah keadaan berubah.”
Pak Hendra tidak menjawab.
Mutiara mulai merasa tertekan.
Bukan hanya karena Aditya semakin jauh.
Tetapi karena keluarganya mulai berharap sesuatu yang tidak bisa ia berikan.
Suatu sore, Pak Hendra berkata:
“Rangga ingin mengajak kamu makan.”
Mutiara langsung menolak.
“Aku tidak mau.”
“Kenapa?”
“Aku tidak nyaman.”
“Dia tidak melakukan apa-apa.”
“Aku tahu.”
“Lalu?”
“Aku mencintai Aditya.”
Pak Hendra menatapnya.
“Aditya bahkan tidak berada di sini.”
“Dia bekerja.”
“Dan kalau dia tidak kembali?”
Mutiara terdiam.
Pertanyaan itu membuatnya sakit.
Pak Hendra melanjutkan:
“Ayah tidak ingin melihat kamu menunggu seseorang tanpa kepastian.”
Mutiara menjawab pelan:
“Aditya bukan tanpa kepastian.”
“Buktinya?”
Mutiara tidak mampu menjawab.
Karena saat itu, hubungan mereka memang sedang berada dalam keadaan yang tidak pasti.
Di tempat kerjanya, Aditya akhirnya mengambil keputusan.
Ia akan pulang.
Bukan karena pekerjaannya gagal.
Bukan karena ia tidak menyukai tempat itu.
Tetapi karena ia merasa ada sesuatu yang harus diselesaikan.
Ia ingin berbicara dengan Mutiara secara langsung.
Tidak melalui telepon.
Tidak melalui pesan.
Tidak melalui foto.
Ia ingin melihat mata Mutiara ketika bertanya:
Apakah kamu masih mencintaiku?
Aditya menghubungi Rizal.
“Aku pulang.”
“Kenapa?”
“Aku harus menyelesaikan sesuatu.”
“Sudah bicara dengan Mutiara?”
“Belum.”
“Jangan datang dengan prasangka.”
“Aku tahu.”
“Datang dengan pertanyaan.”
Aditya mengangguk.
Hari kepulangan Aditya semakin dekat.
Namun sesuatu terjadi lebih dahulu.
Mutiara menerima sebuah amplop.
Tidak ada nama pengirim.
Di dalamnya terdapat beberapa lembar foto.
Bukan hanya foto dirinya dengan Rangga.
Ada foto Aditya bersama seorang perempuan di tempat kerjanya.
Perempuan itu adalah rekan kerja Aditya.
Foto tersebut diambil dari sudut yang membuat keduanya terlihat sangat dekat.
Mutiara menatap foto itu dengan tangan gemetar.
Di bagian belakang foto terdapat tulisan:
“Sekarang kamu mengerti?”
Mutiara duduk.
Napasnya terasa berat.
Ia mencoba menghubungi Aditya.
Tidak diangkat.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Tidak ada jawaban.
Mutiara menatap foto itu.
Air matanya jatuh.
“Aditya…”
Untuk pertama kalinya, ia merasakan apa yang mungkin dirasakan Aditya ketika menerima foto dirinya bersama Rangga.
Ia ingin percaya.
Tetapi hatinya terluka.
Di tempat lain, Aditya sedang dalam perjalanan pulang.
Ia belum mengetahui apa yang terjadi.
Ia hanya membawa satu keyakinan:
Ia akan menemui Mutiara.
Ia akan menjelaskan semuanya.
Ia akan meminta maaf.
Dan ia akan bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
Namun ketika ia tiba di Kuala Kapuas nanti, ia akan mendapati bahwa Mutiara juga telah memiliki pertanyaan yang sama.
Pertanyaan yang berbeda.
Luka yang berbeda.
Tetapi sumbernya sama.
Seseorang sedang memainkan kepercayaan mereka.
Dan kali ini, permainan itu sudah terlalu jauh.
Malam itu, Rangga berdiri sendirian.
Ia membuka ponselnya.
Tidak ada pesan.
Ia memandang sebuah foto.
Kemudian menghapusnya.
Tidak ada kegembiraan di wajahnya.
Hanya ketenangan seseorang yang merasa rencananya mulai berjalan.
Namun ia tidak mengetahui satu hal.
Aditya sedang pulang.
Dan kepulangan itu akan mempertemukan tiga orang yang selama ini bergerak dalam cerita yang sama.
Aditya.
Mutiara.
Rangga.
Di antara mereka akan ada kebenaran.
Akan ada kebohongan.
Dan akan ada sebuah pertemuan yang mungkin mengubah semuanya.
Karena setelah sekian lama terpisah, Aditya akhirnya kembali ke Kuala Kapuas.
Tetapi ia tidak kembali sebagai lelaki yang sama.
Dan Mutiara juga tidak lagi menjadi perempuan yang sama.
Mereka masih saling mencintai.
Namun cinta yang terluka sering kali tidak bertanya:
“Apakah kamu masih mencintaiku?”
Ia justru bertanya:
“Mengapa kamu membuatku merasa tidak lagi dicintai?”
BAB VIII
KEPULANGAN YANG TIDAK SEDERHANA
Kuala Kapuas menyambut kepulangan Aditya dengan langit yang mendung.
Tidak ada hujan.
Hanya awan kelabu yang menggantung rendah, seolah kota itu sedang menyimpan sesuatu yang belum selesai.
Aditya turun dari kendaraan dengan membawa satu tas dan sebuah koper.
Perjalanan pulang terasa jauh lebih panjang daripada ketika ia meninggalkan kota itu beberapa waktu lalu.
Padahal jalan yang ditempuh hampir sama.
Yang berbeda adalah pikirannya.
Ketika pergi, ia membawa harapan.
Ketika kembali, ia membawa pertanyaan.
Ia berdiri sejenak.
Menghirup udara kota yang sudah lama dirindukannya.
Kuala Kapuas.
Kota yang pernah terasa sederhana.
Kota tempat ia bertemu Mutiara.
Kota tempat ia mengenal cinta.
Kota yang sekarang terasa seperti menyimpan terlalu banyak jawaban yang belum ia ketahui.
Aditya mengambil ponselnya.
Ia membuka percakapan dengan Mutiara.
Pesan terakhir masih belum dibalas.
“Aku sudah sampai.”
Ia menunggu.
Tidak ada jawaban.
Aditya memasukkan kembali ponselnya ke saku.
“Aku akan menemuimu,” gumamnya.
Mutiara berada di rumah ketika menerima kabar bahwa Aditya sudah pulang.
Naya yang memberitahunya.
“Aditya sudah sampai.”
Mutiara terdiam.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
“Dari mana kamu tahu?”
“Fajar menghubungi Rizal. Katanya Aditya sudah sampai.”
Mutiara tidak menjawab.
Ia memandang foto yang masih berada di tangannya.
Foto Aditya bersama perempuan lain.
Foto yang dikirim tanpa nama.
Foto yang membuat hatinya penuh pertanyaan.
Naya memperhatikan wajahnya.
“Kamu akan menemuinya?”
Mutiara mengangguk pelan.
“Aku harus.”
“Jangan datang dengan kemarahan.”
“Aku tidak marah.”
Naya tersenyum kecil.
“Kamu sedang terluka.”
Mutiara menunduk.
“Bedanya?”
“Orang marah ingin menyalahkan. Orang terluka ingin tahu kenapa.”
Mutiara menggenggam foto itu.
“Aku hanya ingin mendengar penjelasan dari mulutnya sendiri.”
Sore menjelang ketika Aditya dan Mutiara akhirnya bertemu.
Tempat itu bukan tempat istimewa.
Bukan tempat pertama mereka bertemu.
Bukan tempat mereka biasa menghabiskan waktu.
Justru sebuah tempat yang tenang, agar mereka bisa berbicara tanpa banyak orang.
Mutiara datang lebih dahulu.
Beberapa menit kemudian Aditya muncul.
Mata mereka bertemu.
Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara.
Ada terlalu banyak kenangan di antara mereka.
Kenangan yang seharusnya membuat pertemuan itu terasa hangat.
Tetapi justru membuat keduanya semakin sulit berkata-kata.
Aditya akhirnya duduk.
“Kamu baik-baik saja?”
Mutiara tersenyum tipis.
“Seharusnya aku yang bertanya.”
Aditya menatapnya.
“Kamu terlihat berbeda.”
“Kamu juga.”
Mereka kembali diam.
Kemudian Mutiara mengeluarkan foto dari tasnya.
Ia meletakkannya di atas meja.
Aditya melihat.
Wajahnya berubah.
“Dari mana kamu mendapatkan ini?”
“Dikirim seseorang.”
“Kapan?”
“Beberapa hari lalu.”
Aditya mengambil foto itu.
Ia mengenal perempuan di dalam foto.
“Ini rekan kerjaku.”
Mutiara diam.
“Kami sedang membahas pekerjaan.”
“Aku tahu.”
Aditya menatapnya.
“Kalau kamu tahu, kenapa kamu seperti ini?”
Mutiara menahan air mata.
“Karena ketika kamu menerima fotoku bersama Rangga, kamu juga berubah.”
Aditya terdiam.
“Kamu benar.”
“Aku ingin kamu merasakan apa yang kurasakan.”
Aditya menunduk.
“Maaf.”
Mutiara tidak menyangka jawaban itu.
“Kamu tidak membela diri?”
“Aku memang salah.”
“Karena tidak percaya padaku?”
“Iya.”
Mutiara menatapnya.
“Aku juga salah.”
Aditya mengangkat wajah.
“Aku seharusnya memberitahumu semuanya.”
“Aku juga.”
Untuk pertama kalinya, ketegangan di antara mereka sedikit mereda.
Aditya kemudian berkata:
“Aku menerima banyak pesan.”
Mutiara mengangguk.
“Aku juga.”
“Pesan yang berbeda.”
“Tapi tujuannya sama.”
Aditya menatapnya.
“Membuat kita saling curiga.”
Mutiara mengangguk.
“Siapa?”
Aditya terdiam.
“Aku tidak tahu.”
Mutiara menatapnya.
“Rangga?”
“Aku tidak punya bukti.”
“Aku juga.”
“Karena itu aku tidak mau menuduh.”
Mutiara mengangguk.
“Bagus.”
Aditya kemudian berkata:
“Aku ingin bertanya sesuatu.”
“Tanya.”
“Ketika aku pergi, apakah kamu pernah benar-benar mempertimbangkan Rangga?”
Mutiara langsung menjawab:
“Tidak.”
Aditya menatap matanya.
“Tidak sama sekali?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena hatiku sudah memilih.”
Aditya menarik napas.
“Dan sekarang?”
Mutiara menatapnya.
“Masih.”
Aditya menundukkan kepala.
Ada rasa lega yang tidak bisa ia sembunyikan.
Namun luka yang telah terbentuk tidak hilang hanya karena satu jawaban.
“Aku ingin jujur kepadamu,” kata Mutiara.
Aditya mengangguk.
“Ayah semakin menyukai Rangga.”
“Aku tahu.”
“Dan aku semakin sulit menjelaskan.”
“Kenapa?”
“Karena setiap kali aku bicara tentangmu, ayah selalu bertanya apa yang bisa kamu berikan untuk masa depanku.”
Aditya terdiam.
“Lalu aku tidak tahu harus menjawab apa.”
“Karena aku belum punya banyak?”
“Bukan.”
Mutiara menggenggam tangannya.
“Aku tidak memilihmu karena apa yang kamu punya.”
Aditya menatapnya.
“Aku memilihmu karena siapa kamu.”
Kalimat itu membuat Aditya terdiam cukup lama.
“Aku juga mencintaimu karena siapa dirimu.”
Mutiara tersenyum.
Tetapi senyum itu hanya bertahan sebentar.
“Ada satu masalah.”
“Apa?”
“Ayah ingin aku mengambil keputusan.”
“Keputusan tentang Rangga?”
Mutiara mengangguk.
“Kapan?”
“Tidak tahu.”
Aditya menarik napas.
“Kalau begitu kita harus bicara dengan keluargamu.”
Mutiara langsung menggeleng.
“Belum.”
“Kenapa?”
“Aku takut semuanya menjadi lebih buruk.”
“Lebih buruk dari sekarang?”
Mutiara tidak menjawab.
Aditya memahami.
Malam itu, Aditya pulang ke rumah.
Bu Aminah langsung memeluknya.
“Kamu kurusan.”
Aditya tertawa.
“Ibu selalu bilang begitu.”
“Karena kamu memang kelihatan lelah.”
Pak Surya menepuk bahunya.
“Bagaimana?”
“Baik, Pak.”
“Pekerjaan?”
“Baik.”
“Kemudian?”
Aditya tersenyum.
“Saya sudah bertemu Mutiara.”
Bu Aminah memperhatikan wajah anaknya.
“Bagaimana?”
“Masih sama.”
“Masih mencintaimu?”
Aditya mengangguk.
“Tapi ada masalah.”
Pak Surya diam.
Aditya menceritakan semuanya.
Tentang pesan.
Tentang foto.
Tentang Rangga.
Tentang tekanan keluarga Mutiara.
Pak Surya mendengarkan sampai selesai.
Kemudian berkata:
“Kalau kamu tidak punya bukti, jangan menuduh.”
Aditya mengangguk.
“Cari kebenaran.”
“Bagaimana?”
“Dengan berbicara.”
Aditya tersenyum kecil.
“Kenapa semua orang menyuruh saya bicara?”
“Karena kamu terlalu sering diam.”
Bu Aminah tertawa kecil.
Aditya hanya bisa mengangguk.
Sementara itu, Mutiara berbicara dengan ibunya.
“Ibu.”
“Ya?”
“Kalau aku memilih Aditya, apakah Ibu akan mendukungku?”
Bu Ratna terdiam.
Kemudian menjawab:
“Ibu akan mendukung kamu untuk menjalani hidup yang kamu pilih.”
Mutiara menatap ibunya.
“Walaupun Ayah tidak setuju?”
Bu Ratna menghela napas.
“Ibu tidak ingin kamu melawan ayahmu.”
“Aku juga tidak ingin.”
“Kalau begitu jangan melawan.”
“Lalu?”
“Bicarakan.”
Mutiara mengangguk.
“Ibu takut Ayah marah.”
“Biarkan ayahmu marah sementara.”
Mutiara terdiam.
“Yang penting kamu tidak berbohong.”
Beberapa hari kemudian, Mutiara memberanikan diri berbicara kepada ayahnya.
“Ayah.”
Pak Hendra menatapnya.
“Ya?”
“Aku ingin bicara.”
“Bicaralah.”
Mutiara duduk.
“Aku mencintai Aditya.”
Pak Hendra diam.
“Aku tahu Ayah menginginkan Rangga.”
“Bukan seperti itu.”
“Tapi Ayah memperlakukannya seperti orang yang akan menjadi bagian dari keluarga kita.”
Pak Hendra menghela napas.
“Karena dia serius.”
“Aditya juga.”
“Aditya pergi.”
“Untuk bekerja.”
“Dan kamu menunggunya?”
“Iya.”
Pak Hendra menatap putrinya.
“Berapa lama?”
Mutiara terdiam.
“Aku tidak tahu.”
“Bagaimana kalau dia berubah?”
“Aku akan menghadapinya kalau itu terjadi.”
“Bagaimana kalau dia tidak kembali?”
“Aku akan menerima kalau memang itu pilihannya.”
Pak Hendra terdiam.
Mutiara melanjutkan:
“Tapi jangan minta aku meninggalkan seseorang hanya karena Ayah takut aku akan terluka.”
Kalimat itu membuat ruangan menjadi sunyi.
Bu Ratna yang mendengar dari tempat lain hanya menunduk.
Pak Hendra akhirnya berkata:
“Ayah hanya ingin kamu aman.”
“Aku tahu.”
“Ayah tidak ingin kamu menderita.”
“Aku juga tahu.”
“Rangga bisa memberikan banyak hal.”
Mutiara menatap ayahnya.
“Tapi aku tidak mencintainya.”
Pak Hendra tidak menjawab.
Malam itu, Mutiara menerima pesan.
Bukan dari nomor misterius.
Dari Rangga.
“Aku dengar Aditya sudah kembali.”
Mutiara membalas:
“Iya.”
“Semoga kamu bahagia.”
Mutiara membaca kalimat itu.
Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Kemudian pesan berikutnya masuk.
“Tapi ada sesuatu yang perlu kamu tahu tentang dia.”
Mutiara menatap layar.
“Apa?”
Rangga tidak menjawab.
Beberapa menit berlalu.
Kemudian:
“Besok kita bicara.”
Mutiara tidak membalas.
Ia meletakkan ponselnya.
Ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.
Keesokan harinya, Aditya bertemu Fajar dan Rizal.
Fajar langsung memeluknya.
“Akhirnya pulang juga!”
Aditya tertawa.
“Berlebihan.”
“Bukan berlebihan. Kota ini kehilanganmu.”
Rizal tersenyum.
“Bagaimana dengan Mutiara?”
“Sudah bertemu.”
“Baik?”
“Belum sepenuhnya.”
Fajar mengerutkan kening.
“Maksudnya?”
Aditya menjelaskan.
Rizal mendengarkan.
Kemudian berkata:
“Kalian harus menemukan sumber pesan itu.”
“Bagaimana?”
“Mulai dari siapa yang paling diuntungkan kalau kalian berpisah.”
Aditya diam.
Fajar memandang Rizal.
“Rangga.”
Rizal tidak menjawab.
Aditya menatap keduanya.
“Kita belum boleh menuduh.”
“Benar,” kata Rizal.
“Tapi kita harus berhati-hati.”
Pada sore hari, Aditya kembali ke Bundaran Besar.
Sendirian.
Tugu Batang Garing masih berdiri seperti dulu.
Ia berdiri cukup lama.
Kemudian memandang empat arah jalan.
Banjarmasin.
Mantangai.
Pusat kota.
Palangka Raya.
Empat arah.
Empat kemungkinan.
Dulu ia dan Mutiara menganggapnya sebagai simbol pilihan.
Sekarang ia mengerti sesuatu.
Tidak semua jalan harus dipilih sendirian.
Kadang seseorang harus menemukan jalan yang dapat ditempuh bersama.
Aditya mengambil ponselnya.
Ia menghubungi Mutiara.
“Aku di Bundaran.”
“Sekarang?”
“Iya.”
“Aku datang.”
Mutiara tiba beberapa menit kemudian.
Mereka berdiri berdampingan.
Tidak ada banyak kata.
Aditya berkata:
“Tempat ini masih sama.”
Mutiara tersenyum.
“Kita yang berubah.”
Aditya menatapnya.
“Mungkin.”
Mutiara memandang jalan-jalan di hadapan mereka.
“Aku pernah berpikir bahwa kita hanya perlu memilih satu arah.”
“Sekarang?”
“Sekarang aku tahu yang sulit bukan memilih arah.”
“Lalu?”
“Menentukan siapa yang tetap berjalan bersama kita.”
Aditya menggenggam tangannya.
“Aku ingin tetap bersamamu.”
Mutiara membalas genggamannya.
“Aku juga.”
Namun kemudian Mutiara teringat pesan Rangga.
Ia melepaskan tangannya perlahan.
“Ada sesuatu yang harus kukatakan.”
“Apa?”
“Rangga menghubungiku.”
Aditya langsung serius.
“Untuk apa?”
“Dia bilang ada sesuatu yang harus kuketahui tentangmu.”
Aditya terdiam.
“Apa katanya?”
“Belum.”
“Kenapa?”
“Dia ingin bertemu besok.”
Aditya menatapnya.
“Jangan pergi sendiri.”
Mutiara mengangguk.
“Aku juga berpikir begitu.”
Malam itu, Aditya tidak bisa tidur.
Ada sesuatu yang tidak masuk akal.
Jika Rangga benar-benar memiliki sesuatu tentang dirinya, apa itu?
Pekerjaan?
Masa lalu?
Keluarga?
Atau sesuatu yang bahkan Aditya sendiri tidak ketahui?
Ia membuka ponsel.
Tidak ada pesan.
Kemudian tiba-tiba ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk.
Bukan dari nomor yang tidak dikenal.
Dari Rangga.
“Kita perlu bicara.”
Aditya menatap layar.
Pesan berikutnya masuk.
“Bukan tentang Mutiara.”
Aditya mengerutkan kening.
“Tentang kamu.”
Untuk pertama kalinya, Aditya merasa bahwa permainan ini mungkin jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan.
Ia membalas:
“Kapan?”
Jawaban datang cepat.
“Besok.”
Aditya menatap layar.
Besok.
Hari yang sama ketika Rangga juga ingin bertemu Mutiara.
Ia mulai memahami bahwa sesuatu sedang dipersiapkan.
Namun ia belum tahu apa.
Di tempat lain, Rangga duduk sendirian.
Ia menatap dua nama di layar ponselnya.
Aditya.
Mutiara.
Dua orang yang masih saling mencintai.
Dua orang yang belum sepenuhnya kehilangan kepercayaan.
Dan itulah yang membuat rencananya belum selesai.
Ia tahu bahwa selama Aditya dan Mutiara masih mampu berbicara jujur, kebohongan akan mudah terbongkar.
Karena itu ia membutuhkan satu hal.
Bukan foto.
Bukan pesan.
Bukan lagi jarak.
Ia membutuhkan kebenaran yang dipelintir menjadi kebohongan.
Dan besok, ia akan mulai melakukannya.
Malam semakin larut.
Kuala Kapuas kembali sunyi.
Di Bundaran Besar, lampu-lampu masih menyala.
Tugu Batang Garing tetap berdiri.
Seolah menjadi saksi bahwa manusia dapat pergi ke mana pun, tetapi pada akhirnya akan kembali ke tempat di mana pertanyaan terbesar dalam hidupnya menunggu jawaban.
Aditya akan bertemu Rangga.
Mutiara juga akan berhadapan dengan Rangga.
Dua pertemuan.
Satu hari.
Dan tidak seorang pun tahu bahwa setelah hari itu, hubungan mereka tidak akan pernah benar-benar sama.
Karena terkadang, kehilangan tidak dimulai ketika seseorang pergi.
Kehilangan dimulai ketika seseorang masih berada di dekat kita, tetapi kita sudah tidak lagi mampu mempercayainya.
BAB IX
KEBENARAN YANG DIPUTARBALIKKAN
Pagi itu Kuala Kapuas masih diselimuti sisa udara dingin setelah hujan malam.
Jalanan perlahan kembali ramai. Kendaraan mulai melintas, warung-warung membuka pintu, dan aktivitas masyarakat bergerak seperti biasa.
Tetapi bagi tiga orang yang hari itu akan saling berhadapan, pagi tersebut bukanlah pagi biasa.
Aditya bangun dengan satu pikiran.
Rangga.
Sejak menerima pesan malam sebelumnya, ia tidak mampu mengabaikannya.
Kita perlu bicara.
Bukan tentang Mutiara.
Tentang kamu.
Apa yang sebenarnya diketahui Rangga?
Aditya duduk di tepi tempat tidur.
Ia mencoba mengingat masa lalunya.
Tidak ada sesuatu yang menurutnya perlu disembunyikan dari Mutiara.
Namun justru kalimat terakhir Rangga membuat pikirannya gelisah.
Tentang kamu.
Bukan tentang Mutiara.
Berarti ada sesuatu yang ingin digunakan untuk menyerangnya.
Aditya mengambil ponsel.
Ia melihat nama Mutiara.
Jarinya hampir menekan tombol panggil.
Namun ia mengurungkan niat.
Hari ini ia ingin menghadapi semuanya sendiri.
Setidaknya untuk sementara.
Di rumah Mutiara, suasananya tidak jauh berbeda.
Mutiara sedang duduk di ruang tamu ketika Rangga datang.
Pak Hendra menyambutnya.
“Masuk, Rangga.”
“Terima kasih, Pak.”
Mutiara tidak banyak bicara.
Ia hanya memperhatikan laki-laki itu.
Rangga duduk dengan tenang.
Tidak ada ekspresi kemenangan.
Tidak ada sikap mengancam.
Justru ketenangannya itulah yang membuat Mutiara semakin waspada.
“Apa yang ingin kamu bicarakan?” tanya Mutiara.
Rangga menatapnya.
“Aku ingin menunjukkan sesuatu.”
“Untuk apa?”
“Karena aku pikir kamu berhak tahu.”
Mutiara mengerutkan kening.
“Kalau memang tentang Aditya, bicarakan sekarang.”
Rangga mengeluarkan sebuah map tipis.
Ia meletakkannya di atas meja.
Mutiara tidak langsung menyentuhnya.
“Apa itu?”
“Dokumen.”
“Dokumen apa?”
“Pekerjaan Aditya.”
Mutiara menatapnya.
“Apa hubungannya dengan aku?”
Rangga menghela napas.
“Aku tidak ingin kamu membenciku setelah ini.”
Mutiara langsung menjawab:
“Aku tidak akan membenci siapa pun hanya karena mendengar cerita.”
Rangga tersenyum tipis.
“Itulah sebabnya aku ingin kamu melihat sendiri.”
Mutiara mengambil map tersebut.
Di dalamnya terdapat beberapa salinan dokumen.
Ia membaca perlahan.
Kemudian berhenti.
“Apa ini?”
“Surat kontrak pekerjaan.”
Mutiara mengerutkan kening.
“Lalu?”
“Lihat tanggalnya.”
Mutiara memperhatikan.
Tanggal kontrak tersebut menunjukkan bahwa Aditya sebenarnya telah menerima pekerjaan itu sebelum keberangkatannya dibicarakan secara serius dengan Mutiara.
Mutiara menatap Rangga.
“Jadi?”
“Artinya keputusan Aditya untuk pergi sudah dibuat jauh sebelum kalian membicarakan masa depan.”
Mutiara menggeleng.
“Dia mengatakan kepadaku bahwa dia mendapat tawaran.”
“Dia memang mendapat tawaran.”
“Lalu apa masalahnya?”
Rangga diam.
“Masalahnya,” katanya perlahan, “adalah apa yang tidak dia ceritakan.”
Mutiara mulai merasa tidak nyaman.
“Apa?”
Rangga membuka dokumen lain.
“Aditya tidak hanya mendapat pekerjaan.”
Mutiara menatap kertas tersebut.
“Ada fasilitas tempat tinggal.”
“Iya.”
“Dan?”
“Kontraknya cukup panjang.”
Mutiara terdiam.
Rangga kemudian berkata:
“Dia bisa saja mengatakan kepadamu sejak awal bahwa dia mungkin akan tinggal cukup lama.”
Mutiara menggeleng.
“Dia mungkin belum tahu.”
“Bisa jadi.”
“Jangan membuat kesimpulan.”
“Aku tidak menyimpulkan.”
“Lalu?”
Rangga menatapnya.
“Aku hanya menunjukkan fakta.”
Mutiara merasa kalimat itu seperti pisau.
Karena itulah cara Rangga bekerja.
Ia tidak berbohong secara terang-terangan.
Ia hanya menyusun fakta-fakta tertentu sehingga membentuk kesimpulan yang berbeda.
Sementara itu, Aditya bertemu Rangga di sebuah tempat yang tenang.
Rangga datang tepat waktu.
Ia duduk di hadapan Aditya.
“Kamu ingin bicara tentang apa?”
Rangga tidak langsung menjawab.
Ia menatap Aditya beberapa saat.
“Kamu mencintai Mutiara?”
Aditya mengernyit.
“Kenapa bertanya seperti itu?”
“Jawab saja.”
“Iya.”
“Serius?”
“Sangat.”
Rangga mengangguk.
“Kalau begitu aku ingin kamu tahu sesuatu.”
“Apa?”
“Mutiara sedang berada dalam tekanan.”
“Aku tahu.”
“Tidak. Kamu belum tahu semuanya.”
Aditya menatapnya.
“Jelaskan.”
Rangga mengeluarkan beberapa lembar dokumen.
Aditya melihatnya.
“Ini apa?”
“Catatan pengeluaran keluarga Mutiara.”
Aditya mengangkat wajah.
“Kenapa kamu punya ini?”
“Aku membantu keluarganya dalam beberapa urusan.”
Aditya mulai curiga.
“Apa maksudmu?”
“Pak Hendra sedang menghadapi beberapa persoalan.”
“Persoalan apa?”
“Keuangan.”
Aditya diam.
Rangga melanjutkan:
“Dan Mutiara tidak ingin kamu tahu.”
“Kenapa?”
“Karena dia tahu kamu mungkin akan merasa harus ikut bertanggung jawab.”
Aditya menggeleng.
“Kalau itu benar, kenapa dia menyembunyikannya?”
Rangga tersenyum.
“Karena dia ingin melindungimu.”
Aditya menatapnya.
“Jangan bicara seolah kamu mengenalnya lebih baik dariku.”
“Aku tidak mengatakan itu.”
“Lalu?”
“Aku hanya mengatakan bahwa ada banyak hal dalam hidup Mutiara yang tidak kamu ketahui.”
Aditya diam.
Rangga berdiri.
“Simpan satu hal ini.”
“Apa?”
“Cinta tidak selalu berarti seseorang menceritakan seluruh hidupnya kepada kita.”
Kemudian Rangga pergi.
Aditya tetap duduk.
Ia tidak tahu apakah yang baru saja didengarnya adalah kepedulian atau jebakan.
Mungkin keduanya.
Sore hari, Aditya menemui Mutiara.
Ia langsung bertanya:
“Kamu tahu soal kondisi keluarga?”
Mutiara terdiam.
“Kondisi apa?”
“Keuangan keluargamu.”
Wajah Mutiara berubah.
“Dari mana kamu tahu?”
“Rangga.”
Mutiara menutup mata sebentar.
“Dia bicara kepadamu?”
“Iya.”
Mutiara menarik napas.
“Aditya, aku memang tidak menceritakan semuanya.”
“Kenapa?”
“Karena itu masalah keluarga.”
“Aku orang lain?”
“Bukan.”
“Lalu kenapa?”
Mutiara menatapnya.
“Karena aku tidak ingin hubungan kita berubah menjadi hubungan yang selalu berbicara tentang masalah.”
Aditya terdiam.
Mutiara melanjutkan:
“Aku ingin ketika bersamamu, aku bisa menjadi Mutiara. Bukan anak yang harus memikirkan masalah ayahnya.”
Aditya menunduk.
“Aku bisa membantu.”
“Aku tahu.”
“Lalu?”
“Aku tidak mau kamu merasa harus menyelesaikan hidup keluargaku.”
Aditya menatapnya.
“Kenapa kamu tidak percaya aku?”
Mutiara tersenyum sedih.
“Justru karena aku percaya.”
Aditya terdiam.
“Aku tidak ingin cintamu berubah menjadi kewajiban.”
Kalimat itu membuat Aditya kehilangan kata-kata.
Mereka duduk lama tanpa bicara.
Kemudian Mutiara bertanya:
“Kamu juga menyembunyikan sesuatu dariku?”
Aditya terdiam.
“Apa maksudmu?”
“Rangga menunjukkan dokumen pekerjaanmu.”
Aditya langsung memahami.
“Dia menunjukkan itu?”
“Iya.”
“Kontrak?”
“Iya.”
Aditya menghela napas.
“Aku tidak menyembunyikannya.”
“Tapi kamu tidak pernah mengatakan bahwa kontraknya cukup panjang.”
“Aku sendiri belum tahu bagaimana semuanya akan berjalan.”
“Kenapa tidak mengatakan?”
“Karena aku tidak ingin membuatmu takut.”
Mutiara menatapnya.
“Kamu selalu mengatakan itu.”
“Apa?”
“Tidak ingin membuatku takut.”
Aditya diam.
“Padahal aku lebih takut ketika kamu tidak mengatakan apa-apa.”
Aditya menatapnya.
Ia menyadari kesalahannya.
Selama ini ia mengira diam adalah bentuk perlindungan.
Padahal bagi Mutiara, diam justru terasa seperti pengkhianatan kecil.
Mutiara akhirnya berkata:
“Aku ingin kita jujur.”
“Aku juga.”
“Tidak ada lagi rahasia.”
Aditya mengangguk.
“Setuju.”
“Kalau ada masalah, katakan.”
“Setuju.”
“Kalau ada orang yang mengirim pesan aneh, katakan.”
Aditya tersenyum kecil.
“Setuju.”
Mutiara kemudian mengulurkan tangannya.
Aditya menggenggamnya.
Namun sebelum suasana benar-benar membaik, ponsel Mutiara bergetar.
Sebuah pesan masuk.
Dari Rangga.
“Jangan percaya semua yang dikatakan Aditya.”
Mutiara membaca.
Kemudian menutup layar.
Aditya memperhatikan wajahnya.
“Siapa?”
“Tidak ada.”
Aditya terdiam.
Mutiara baru menyadari bahwa dirinya melakukan hal yang sama.
Ia menyembunyikan pesan.
Ia menatap Aditya.
“Maaf.”
“Kenapa?”
“Aku baru menerima pesan.”
“Dari siapa?”
“Rangga.”
Aditya langsung serius.
“Apa katanya?”
Mutiara menyerahkan ponselnya.
Aditya membaca.
Kemudian tersenyum pahit.
“Sekarang dia mulai bermain langsung.”
Malam itu mereka sepakat untuk mencari kebenaran.
Bukan dengan saling bertanya.
Tetapi dengan memeriksa apa yang sebenarnya terjadi.
Aditya menghubungi Rizal.
“Aku butuh bantuan.”
“Apa?”
“Cari tahu siapa yang mengirim pesan-pesan itu.”
Rizal terdiam.
“Sudah sampai sejauh itu?”
“Iya.”
“Aku akan bantu.”
Fajar yang kebetulan berada di sana ikut bertanya:
“Kalau benar Rangga, kita harus bagaimana?”
Aditya menggeleng.
“Jangan lakukan apa-apa.”
“Kenapa?”
“Kita tidak punya bukti.”
Rizal mengangguk.
“Itu yang benar.”
Aditya menatap mereka.
“Aku tidak mau memenangkan Mutiara dengan cara yang membuatku kehilangan diriku sendiri.”
Fajar tersenyum.
“Sekarang kamu mulai berpikir seperti orang dewasa.”
Aditya tertawa kecil.
“Diam.”
Sementara itu, Mutiara berbicara dengan Naya dan Sinta.
“Aku mulai yakin Rangga terlibat.”
Sinta langsung berkata:
“Kalau begitu hadapi.”
Naya menggeleng.
“Jangan buru-buru.”
“Kenapa?”
“Karena kalau kita menuduh tanpa bukti, Rangga justru bisa membalikkan keadaan.”
Mutiara mengangguk.
“Aku ingin tahu kebenaran.”
Naya berkata:
“Kalau begitu jangan beri dia kesempatan membuatmu kehilangan kendali.”
Mutiara tersenyum.
“Kalian benar.”
Sinta menatapnya.
“Dan satu lagi.”
“Apa?”
“Jangan jadikan Aditya satu-satunya orang yang harus membuktikan cintanya.”
Mutiara terdiam.
“Kalau kamu mencintainya, kamu juga harus berani memperjuangkan hubungan itu.”
Mutiara mengangguk.
“Aku akan.”
Keesokan harinya, sesuatu yang tidak diduga terjadi.
Pak Hendra memanggil Mutiara.
“Ayah ingin bicara.”
Mutiara duduk.
“Ada apa?”
“Ayah sudah memikirkan semuanya.”
Mutiara menunggu.
“Aditya baru kembali.”
“Iya.”
“Dan kamu masih memilih dia.”
“Iya.”
Pak Hendra menghela napas.
“Kalau begitu, Ayah ingin bertemu dengannya.”
Mutiara terkejut.
“Serius?”
“Iya.”
“Kapan?”
“Secepatnya.”
Mutiara tersenyum.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa ada jalan keluar.
Namun Pak Hendra belum selesai.
“Ayah ingin mendengar langsung apa rencananya.”
Mutiara mengangguk.
“Itu adil.”
“Ayah tidak menjanjikan persetujuan.”
“Aku tahu.”
“Dan kalau dia tidak bisa meyakinkan Ayah?”
Mutiara terdiam.
“Aku tetap akan menghormati keputusan Ayah.”
Pak Hendra memandangnya.
“Benarkah?”
Mutiara menatap ayahnya.
“Aku akan menghormati Ayah. Tapi hidupku tetap harus aku jalani.”
Pak Hendra tidak menjawab.
Namun untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa putrinya bukan lagi anak kecil yang bisa diarahkan begitu saja.
Kabar itu disampaikan Mutiara kepada Aditya.
“Ayah ingin bertemu denganmu.”
Aditya menarik napas.
“Kapan?”
“Besok.”
“Baik.”
“Kamu takut?”
“Sedikit.”
Mutiara tersenyum.
“Kenapa?”
“Karena aku ingin memberikan kesan yang baik.”
“Jangan.”
“Jangan?”
“Jangan berusaha menjadi orang lain.”
Aditya menatapnya.
“Jadilah dirimu sendiri.”
Mutiara menggenggam tangannya.
“Kalau Ayah bertanya tentang masa depan, katakan apa yang kamu inginkan.”
“Aku ingin kamu.”
Mutiara tersenyum.
“Jangan hanya mengatakan aku.”
“Lalu?”
“Bicarakan kehidupan.”
Aditya mengangguk.
“Aku mengerti.”
Namun malam sebelum pertemuan itu, Rangga kembali datang menemui Pak Hendra.
“Besok Aditya akan datang?”
Pak Hendra mengangguk.
“Iya.”
Rangga terdiam.
“Pak.”
“Ya?”
“Kalau Bapak ingin tahu siapa Aditya sebenarnya, saya punya sesuatu.”
Pak Hendra menatapnya.
“Apa?”
Rangga mengeluarkan sebuah amplop.
“Jangan dibuka sekarang.”
Pak Hendra menerima.
“Kenapa?”
“Karena saya tidak ingin Bapak menilai saya.”
Pak Hendra mengerutkan kening.
“Apa maksudmu?”
Rangga menatapnya.
“Buka setelah Bapak berbicara dengan Aditya.”
“Kenapa?”
“Supaya Bapak bisa membandingkan apa yang dia katakan dengan apa yang sebenarnya terjadi.”
Pak Hendra tidak menjawab.
Rangga berdiri.
“Keputusan tetap di tangan Bapak.”
Kemudian ia pergi.
Pak Hendra memandangi amplop itu.
Tidak membukanya.
Tetapi rasa ingin tahu sudah tumbuh.
Keesokan harinya, Aditya datang ke rumah Mutiara.
Ia mengenakan pakaian sederhana.
Tidak berlebihan.
Tidak mencoba terlihat hebat.
Ia datang sebagai dirinya sendiri.
Mutiara menyambutnya di depan pintu.
“Kamu siap?”
Aditya menarik napas.
“Tidak.”
Mutiara tertawa kecil.
“Jujur sekali.”
“Aku hanya manusia.”
Mutiara tersenyum.
“Masuk.”
Aditya melangkah.
Pak Hendra sudah menunggu.
Bu Ratna berada di sampingnya.
Suasana terasa kaku.
Aditya duduk.
Pak Hendra menatapnya cukup lama.
“Aditya.”
“Iya, Pak.”
“Apa yang kamu inginkan dari Mutiara?”
Pertanyaan pertama langsung terasa berat.
Aditya menatap Mutiara sebentar.
Kemudian kembali kepada Pak Hendra.
“Saya ingin menikahinya suatu hari nanti.”
Mutiara menundukkan wajah.
Pak Hendra diam.
“Suatu hari?”
“Saya tidak ingin memberikan janji yang belum bisa saya tepati.”
“Pekerjaanmu?”
“Saya sedang membangunnya.”
“Masa depan?”
“Saya sedang mempersiapkannya.”
“Dan kalau keadaan keluarga Mutiara sulit?”
Aditya menjawab tanpa ragu:
“Saya tidak datang untuk mengambil keuntungan dari keadaan keluarganya.”
Pak Hendra menatapnya.
“Kalau Mutiara harus memilih antara keluarganya dan kamu?”
Aditya diam sejenak.
Kemudian menjawab:
“Saya tidak ingin dia memilih.”
Pak Hendra mengerutkan kening.
“Kenapa?”
“Karena saya ingin menjadi bagian dari keluarganya, bukan alasan dia kehilangan keluarganya.”
Ruangan menjadi sunyi.
Bu Ratna memandang Aditya dengan mata berkaca-kaca.
Mutiara menahan napas.
Pak Hendra tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatap pemuda di hadapannya.
Untuk pertama kalinya, mungkin ia melihat Aditya bukan sebagai lelaki yang datang mengambil anaknya.
Tetapi sebagai seseorang yang ingin membangun hidup bersama anaknya.
Pertemuan itu belum selesai.
Namun sebelum Pak Hendra berbicara lagi, ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk.
Pak Hendra membacanya.
Wajahnya berubah.
Aditya memperhatikan.
“Ada apa, Pak?”
Pak Hendra tidak menjawab.
Ia membuka amplop yang diberikan Rangga malam sebelumnya.
Di dalamnya terdapat sebuah dokumen.
Pak Hendra membaca.
Kemudian menatap Aditya.
“Apa ini benar?”
Aditya bingung.
“Apa, Pak?”
Pak Hendra menyerahkan dokumen itu.
Aditya membacanya.
Wajahnya berubah.
Itu adalah sebuah dokumen lama tentang dirinya.
Sesuatu yang bahkan Mutiara tidak pernah tahu.
Aditya mengangkat wajah.
“Dari mana Bapak mendapatkan ini?”
Pak Hendra menjawab:
“Rangga.”
Mutiara berdiri.
“Ayah!”
Aditya masih memegang dokumen tersebut.
Ia tahu sekarang.
Rangga tidak lagi bermain dengan foto.
Tidak lagi bermain dengan pesan.
Ia telah masuk jauh ke masa lalu.
Dan masa lalu Aditya mungkin menjadi kunci yang dapat menghancurkan kepercayaan Mutiara untuk selamanya.
Aditya menatap Mutiara.
Mutiara menatap balik.
Tidak ada kemarahan di mata perempuan itu.
Hanya pertanyaan.
“Apa yang sebenarnya belum pernah kamu ceritakan kepadaku?”
Aditya tidak mampu menjawab.
Karena untuk pertama kalinya, rahasia yang selama ini ia simpan bukan lagi miliknya seorang.
Rahasia itu telah sampai di hadapan orang yang paling ia cintai.
Dan Rangga tahu persis bagaimana menggunakannya.
Pertemuan itu belum berakhir.
Tetapi cinta mereka baru saja memasuki ujian yang paling berat.
BAB X
MASA LALU YANG KEMBALI MENGETUK
Ruangan itu mendadak terasa sempit.
Aditya masih memegang dokumen yang diberikan Pak Hendra.
Mutiara berdiri beberapa langkah di belakangnya.
Bu Ratna memperhatikan keduanya.
Sementara Pak Hendra menunggu jawaban.
Tidak ada seorang pun yang berbicara.
Hanya suara jam dinding yang terdengar pelan.
Tik.
Tik.
Tik.
Aditya membaca kembali dokumen tersebut.
Tangannya mulai dingin.
Dokumen itu berkaitan dengan sebuah peristiwa beberapa tahun lalu.
Peristiwa yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.
Bukan karena ia malu.
Bukan pula karena ia ingin berbohong.
Ia hanya menganggap masa lalu itu sudah selesai.
Namun ternyata tidak.
Masa lalu kadang tidak benar-benar pergi.
Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali.
“Apa ini benar?” tanya Pak Hendra.
Aditya mengangkat wajah.
“Iya.”
Mutiara menarik napas.
“Apa itu?”
Aditya menatapnya.
Untuk beberapa detik ia tidak mampu menjawab.
Kemudian berkata pelan:
“Ini tentang keluargaku.”
Mutiara mendekat.
“Masalah apa?”
Aditya menunduk.
“Beberapa tahun lalu, ayahku pernah mengalami masalah usaha.”
Pak Hendra diam.
Mutiara menatapnya.
“Lalu?”
“Usaha itu gagal.”
“Kenapa?”
“Karena keputusan yang salah.”
Aditya tersenyum pahit.
“Dan sebagian tanggung jawabnya jatuh kepadaku.”
Mutiara mengerutkan kening.
“Maksudmu?”
“Aku pernah memiliki utang.”
Ruangan kembali sunyi.
Mutiara menatapnya.
“Utang?”
Aditya mengangguk.
“Bukan utang pribadi yang aku buat untuk kepentinganku sendiri. Aku membantu ayah menyelesaikan kewajibannya.”
Pak Hendra menyela.
“Berapa?”
Aditya menyebutkan jumlahnya.
Mutiara terdiam.
Jumlah itu tidak kecil.
“Dan sudah selesai?”
“Sudah.”
“Kapan?”
“Beberapa waktu lalu.”
Mutiara menatapnya.
“Kenapa kamu tidak pernah cerita?”
Aditya menelan ludah.
“Karena aku tidak ingin kamu melihatku sebagai seseorang yang harus diselamatkan.”
Mutiara terdiam.
Pak Hendra masih memegang beberapa lembar dokumen.
“Kalau memang sudah selesai, kenapa ini penting?”
Aditya menjawab:
“Karena orang yang memiliki dokumen itu bisa membuatnya terlihat seolah-olah masalah tersebut masih ada.”
Pak Hendra mengangkat wajah.
“Rangga mengatakan bahwa kamu masih memiliki kewajiban.”
Aditya menggeleng.
“Itu tidak benar.”
“Buktinya?”
Aditya mengambil ponselnya.
“Aku punya bukti pelunasannya.”
Ia membuka beberapa dokumen digital.
Kemudian menyerahkannya kepada Pak Hendra.
Pak Hendra membaca.
Bu Ratna ikut melihat.
Mutiara berdiri diam.
Beberapa saat kemudian Pak Hendra mengembalikan ponsel.
“Kalau begitu, kenapa Rangga membawa dokumen lama ini?”
Aditya menatapnya.
“Itulah yang saya tidak tahu.”
Mutiara akhirnya berbicara.
“Dia ingin Ayah berpikir Aditya masih punya masalah.”
Pak Hendra tidak menjawab.
Mutiara melanjutkan:
“Padahal dia tahu dokumen itu sudah tidak berlaku.”
Aditya menatap Mutiara.
“Kamu percaya padaku?”
Mutiara mengangguk.
“Aku percaya.”
Dua kata itu terasa seperti sesuatu yang sangat berarti bagi Aditya.
Namun Pak Hendra belum sepenuhnya tenang.
“Aditya.”
“Iya, Pak.”
“Saya menghargai kamu sudah jujur.”
Aditya mengangguk.
“Tapi saya harus memastikan semuanya.”
“Saya mengerti.”
“Bukan karena saya membenci kamu.”
“Saya tahu.”
“Karena saya ayah Mutiara.”
Aditya tersenyum tipis.
“Kalau saya berada di posisi Bapak, mungkin saya akan melakukan hal yang sama.”
Pak Hendra memandangnya.
Untuk pertama kalinya percakapan mereka tidak terasa seperti antara dua orang yang saling berhadapan.
Tetapi antara dua laki-laki yang sama-sama ingin melindungi Mutiara.
Setelah Aditya pulang, Mutiara masih duduk bersama orang tuanya.
“Ayah,” katanya.
Pak Hendra menatapnya.
“Ya?”
“Sekarang Ayah tahu semuanya.”
“Belum semuanya.”
Mutiara terdiam.
“Ayah masih ingin aku bersama Rangga?”
Pak Hendra tidak langsung menjawab.
Bu Ratna memperhatikan suaminya.
Akhirnya Pak Hendra berkata:
“Ayah ingin kamu bersama orang yang bisa bertanggung jawab.”
“Aditya sudah menunjukkan itu.”
“Belum semuanya.”
“Tidak ada manusia yang bisa menunjukkan semuanya sekaligus.”
Pak Hendra diam.
Mutiara melanjutkan:
“Ayah melihat masa lalunya sebagai kelemahan.”
“Bukan begitu.”
“Lalu?”
“Ayah melihatnya sebagai sesuatu yang harus dipahami.”
Mutiara mengangguk.
“Kalau begitu pahami dia, bukan hanya masa lalunya.”
Pak Hendra tidak menjawab.
Malam itu Mutiara menelepon Aditya.
“Kamu sudah sampai?”
“Sudah.”
“Kamu marah?”
“Tidak.”
“Ke Ayah?”
“Tidak.”
“Ke Rangga?”
Aditya terdiam.
“Sedikit.”
Mutiara tersenyum.
“Aku juga.”
“Jangan marah.”
“Kenapa?”
“Karena kita belum tahu semuanya.”
Mutiara diam.
“Aku takut.”
Aditya langsung serius.
“Takut apa?”
“Takut ada lagi sesuatu yang dia gunakan untuk memisahkan kita.”
Aditya menarik napas.
“Aku juga takut.”
“Lalu?”
“Kita hadapi satu per satu.”
Mutiara tersenyum.
“Kamu terdengar lebih tenang.”
“Karena aku tidak mau kehilanganmu lagi hanya karena sesuatu yang belum terbukti.”
Mutiara terdiam.
“Aku mencintaimu.”
“Aku juga.”
Di tempat lain, Rangga menerima telepon.
“Bagaimana?” tanya seseorang.
Rangga diam beberapa detik.
“Belum berhasil.”
“Dokumen itu seharusnya cukup.”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Aditya memiliki bukti pelunasan.”
“Lalu?”
Rangga berdiri.
“Berarti kita harus mencari sesuatu yang lebih kuat.”
“Seberapa jauh?”
Rangga menatap keluar jendela.
“Sedalam masa lalu.”
Keesokan harinya, Aditya bertemu Rizal.
“Aku tahu sekarang siapa yang memberikan dokumen itu.”
“Rangga?”
“Iya.”
Rizal mengangguk.
“Berarti kita sudah punya arah.”
“Belum.”
“Kenapa?”
“Karena kita belum punya bukti bahwa dia yang mengirim pesan.”
Rizal berpikir.
“Kalau begitu kita harus membuat dia menunjukkan sendiri.”
Aditya menatapnya.
“Maksudmu?”
“Jangan mengejarnya.”
“Lalu?”
“Biarkan dia berpikir bahwa kita tidak tahu.”
Aditya tersenyum.
“Kamu ingin memancingnya.”
“Bukan memancing.”
“Lalu?”
“Memberinya ruang untuk melakukan kesalahan.”
Aditya mengangguk.
Fajar datang beberapa saat kemudian.
“Jadi kita sekarang main detektif?”
Rizal tertawa.
“Kurang lebih.”
Fajar menatap Aditya.
“Kalau aku punya satu saran.”
“Apa?”
“Jangan sampai kamu terlalu fokus mengalahkan Rangga sampai lupa menjaga Mutiara.”
Aditya mengangguk.
“Aku tahu.”
“Serius?”
“Serius.”
Fajar tersenyum.
“Bagus.”
Sementara itu, Mutiara mendapat kunjungan dari Rangga.
Ia datang dengan sikap yang sama seperti biasanya.
Tenang.
Sopan.
Tidak menunjukkan kemarahan.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Rangga.
“Baik.”
“Aditya sudah bicara dengan keluargamu?”
“Sudah.”
Rangga mengangguk.
“Dan?”
“Tidak ada yang perlu kamu ketahui.”
Rangga tersenyum tipis.
“Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja.”
“Aku baik.”
“Benarkah?”
“Iya.”
Rangga menatapnya.
“Kalau suatu saat kamu menemukan sesuatu yang membuatmu kecewa, jangan salahkan aku.”
Mutiara mengerutkan kening.
“Kenapa kamu bicara seperti itu?”
“Tidak ada.”
“Rangga.”
“Iya?”
“Aku ingin bertanya.”
“Tanya.”
“Kenapa kamu melakukan semua ini?”
Rangga terdiam.
“Apa maksudmu?”
“Foto.”
Rangga tidak menjawab.
“Pesan.”
Masih diam.
“Dokumen.”
Rangga menarik napas.
“Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan.”
Mutiara menatapnya.
“Kamu selalu punya jawaban.”
“Aku hanya ingin membantu.”
“Tidak.”
Mutiara menggeleng.
“Kalau ingin membantu, kamu tidak akan membuatku meragukan orang yang aku cintai.”
Rangga menatapnya cukup lama.
Untuk pertama kalinya, ekspresinya berubah.
Bukan marah.
Tetapi kecewa.
“Jadi sekarang kamu memilih dia sepenuhnya?”
Mutiara menjawab tegas:
“Aku memilih hidupku sendiri.”
Rangga terdiam.
Kemudian tersenyum.
“Baik.”
Ia berdiri.
“Aku menghargai keputusanmu.”
Mutiara memperhatikannya pergi.
Namun ia tahu satu hal.
Percakapan itu bukan akhir.
Justru mungkin awal dari sesuatu yang lebih berbahaya.
Malam hari, Rangga menerima sebuah panggilan.
“Dia sudah mulai curiga.”
Rangga mengangguk.
“Biarkan.”
“Bukankah itu berbahaya?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena rasa curiga membuat manusia mencari jawaban.”
“Lalu?”
“Dan ketika mereka mencari jawaban, mereka akan membuka hal-hal yang selama ini mereka sembunyikan.”
Ia tersenyum tipis.
“Termasuk Aditya.”
Beberapa hari kemudian, Aditya mulai menyelidiki dokumen lama tersebut.
Ia mendatangi orang yang pernah membantu keluarganya menyelesaikan masalah usaha.
Ia meminta salinan dokumen.
Ia memastikan semua catatan benar.
Tidak ada utang tersisa.
Tidak ada kewajiban yang belum diselesaikan.
Tetapi ada satu hal yang membuatnya berhenti.
Nama orang yang pernah menjadi pihak dalam penyelesaian masalah tersebut.
Rangga Mahendra.
Aditya membaca nama itu berulang kali.
Ia tidak pernah mengetahui bahwa Rangga pernah terlibat.
Ia langsung menghubungi Rizal.
“Rizal.”
“Iya?”
“Aku menemukan sesuatu.”
“Apa?”
“Rangga ternyata pernah terlibat dalam penyelesaian masalah keluargaku.”
Rizal terdiam.
“Bagaimana bisa?”
“Aku tidak tahu.”
“Kenapa dia tidak pernah mengatakan?”
Aditya menghela napas.
“Itulah yang harus kita cari tahu.”
Aditya pulang malam itu dengan pikiran penuh.
Ketika ia membuka pintu rumah, Pak Surya masih belum tidur.
“Kamu dari mana?”
“Mencari sesuatu.”
“Sudah menemukan?”
Aditya duduk di samping ayahnya.
“Pak.”
“Ya?”
“Bapak pernah mengenal Rangga?”
Pak Surya terdiam.
Aditya langsung memperhatikan perubahan wajah ayahnya.
“Kenapa?”
Pak Surya tidak menjawab.
“Ayah?”
Pak Surya menghela napas.
“Dari mana kamu tahu nama itu?”
“Dia sedang dekat dengan Mutiara.”
Pak Surya menatap anaknya.
“Rangga pernah membantu kita.”
“Membantu bagaimana?”
“Waktu usaha kita bermasalah.”
Aditya membeku.
“Jadi benar?”
“Iya.”
“Kenapa Bapak tidak pernah cerita?”
“Karena urusan itu sudah selesai.”
Aditya terdiam.
“Dia memberi pinjaman?”
“Tidak persis.”
“Lalu?”
“Dia menjadi perantara.”
“Untuk apa?”
Pak Surya menggeleng.
“Waktu itu saya tidak banyak bertanya.”
Aditya berdiri.
“Pak, saya harus tahu.”
Pak Surya menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena dia sekarang mencoba masuk ke kehidupan Mutiara.”
Pak Surya terdiam.
Kemudian berkata pelan:
“Kalau begitu, cari tahu kenapa dia muncul kembali.”
Malam semakin larut.
Aditya duduk di kamarnya.
Ia membuka kembali semua dokumen.
Tanggal.
Nama.
Tanda tangan.
Catatan.
Semuanya mulai membentuk sebuah pola.
Rangga bukan orang asing bagi keluarganya.
Ia pernah muncul di masa lalu.
Kemudian menghilang.
Dan sekarang muncul kembali dalam kehidupan Mutiara.
Pertanyaannya hanya satu:
Mengapa?
Keesokan harinya, Aditya menemui Mutiara.
“Aku menemukan sesuatu.”
Mutiara menatapnya.
“Apa?”
“Rangga pernah membantu keluargaku.”
Mutiara terkejut.
“Apa?”
“Beberapa tahun lalu.”
“Kenapa?”
“Belum tahu.”
Mutiara terdiam.
“Kamu yakin?”
“Iya.”
Mutiara mengusap wajah.
“Kenapa semua ini seperti saling terhubung?”
“Aku juga tidak tahu.”
Mereka saling menatap.
Kemudian Mutiara berkata:
“Aditya.”
“Hm?”
“Bagaimana kalau sejak awal Rangga memang sudah mengenal keluargamu?”
Aditya terdiam.
“Dan bagaimana kalau kedekatannya dengan keluargaku sekarang bukan kebetulan?”
Tidak ada jawaban.
Untuk pertama kalinya, mereka mulai melihat persoalan itu dari sudut yang berbeda.
Bukan lagi:
Rangga ingin mendapatkan Mutiara.
Tetapi mungkin:
Rangga sudah memiliki hubungan dengan masa lalu mereka jauh sebelum Mutiara dan Aditya saling mengenal.
Sore itu, mereka kembali ke Bundaran Besar.
Mutiara berdiri di samping Aditya.
Empat arah jalan terbentang di hadapan mereka.
“Aku mulai mengerti,” kata Mutiara.
“Apa?”
“Kenapa tempat ini selalu membuatku berpikir.”
Aditya tersenyum.
“Karena banyak jalan.”
“Bukan.”
Mutiara menatap Tugu Batang Garing.
“Karena setiap pilihan ternyata membawa masa lalu bersamanya.”
Aditya mengangguk.
Mutiara menggenggam tangan Aditya.
“Kalau nanti kita menemukan sesuatu yang menyakitkan…”
Aditya menatapnya.
“Kita tetap bicara.”
“Kalau kebenarannya buruk?”
“Kita hadapi.”
“Kalau membuat kita terluka?”
“Kita tetap hadapi.”
Mutiara tersenyum.
“Jangan pergi.”
Aditya menggenggam tangannya.
“Aku di sini.”
Namun dari kejauhan, sebuah kendaraan berhenti.
Rangga berada di dalamnya.
Ia melihat Aditya dan Mutiara berdiri bersama.
Wajahnya tetap tenang.
Tetapi kali ini matanya tidak lagi menunjukkan kesabaran.
Ia mengambil ponsel.
Menghubungi seseorang.
“Sudah waktunya.”
“Yakin?”
“Ya.”
“Kalau rahasia itu terbuka?”
Rangga terdiam.
“Justru itu yang aku inginkan.”
“Kenapa?”
“Karena mereka selama ini hanya tahu satu bagian dari cerita.”
Rangga memandang Bundaran Besar.
“Sekarang mereka akan mengetahui bagian yang lain.”
Malam itu, sebuah pesan masuk ke ponsel Aditya.
Bukan dari nomor misterius.
Bukan dari Rangga.
Sebuah alamat.
Kemudian satu kalimat:
“Kalau kamu ingin tahu kenapa Rangga masuk ke kehidupanmu dan Mutiara, datang sendiri. Jangan bawa siapa pun.”
Aditya membaca pesan itu.
Ia tidak langsung membalas.
Ia tahu ini mungkin jebakan.
Namun ia juga tahu bahwa jawaban yang selama ini mereka cari mungkin berada di sana.
Beberapa menit kemudian, Mutiara menelepon.
“Aditya.”
“Iya?”
“Aku baru menerima sesuatu.”
“Apa?”
“Alamat.”
Aditya terdiam.
“Alamat yang sama?”
Mutiara menyebutkannya.
Aditya merasakan sesuatu yang dingin menjalar di tubuhnya.
“Jangan pergi.”
“Kamu juga mendapatkannya?”
“Iya.”
Mutiara terdiam.
“Berarti seseorang ingin kita datang.”
Aditya mengangguk meskipun Mutiara tidak dapat melihatnya.
“Dan mungkin ingin kita mengetahui sesuatu.”
“Bagaimana kalau itu jebakan?”
“Bisa jadi.”
“Lalu?”
Aditya menarik napas.
“Kita tidak pergi sendiri.”
Mutiara tersenyum kecil.
“Sekarang kamu sudah belajar.”
“Belajar apa?”
“Tidak menghadapi semuanya sendirian.”
Aditya ikut tersenyum.
“Iya.”
Namun jauh di dalam dirinya, Aditya tahu satu hal.
Masa lalu sudah mulai terbuka.
Dan ketika masa lalu terbuka, tidak semua kebenaran akan membawa ketenangan.
Sebagian kebenaran justru datang untuk menguji apakah dua orang masih mampu berdiri bersama setelah mengetahui seluruh cerita.
Di luar sana, malam Kuala Kapuas semakin sunyi.
Lampu-lampu kota tetap menyala.
Tugu Batang Garing tetap berdiri.
Empat jalan tetap terbentang.
Tetapi kali ini, tidak ada satu pun dari mereka yang tahu jalan mana yang akan membawa mereka menuju jawaban.
Karena di balik masa lalu Aditya, ada nama Rangga.
Di balik kehidupan keluarga Mutiara, ada rahasia.
Dan di antara keduanya, ada sebuah hubungan yang belum mereka pahami.
Sebuah hubungan yang mungkin menjadi alasan mengapa Rangga tidak pernah benar-benar pergi.
Dan ketika pintu masa lalu mulai terbuka, Aditya dan Mutiara akan segera mengetahui bahwa kehilangan yang mereka takutkan selama ini mungkin bukanlah kehilangan satu sama lain.
Melainkan kehilangan kepercayaan kepada orang-orang yang selama ini mereka anggap keluarga.
BAB XI
RAHASIA DI BALIK EMPAT JALAN
Malam telah turun sepenuhnya di Kuala Kapuas.
Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya kekuningan di permukaan aspal yang masih menyimpan sisa panas siang hari. Kendaraan sesekali melintas, lalu menghilang di antara ruas jalan yang mulai lengang.
Di sebuah rumah yang tidak terlalu jauh dari pusat kota, Aditya duduk seorang diri.
Ponselnya masih berada di atas meja.
Pesan itu belum dihapus.
Sebuah alamat.
Satu kalimat.
Satu ajakan yang terasa lebih seperti tantangan.
Kalau kamu ingin tahu kenapa Rangga masuk ke kehidupanmu dan Mutiara, datang sendiri. Jangan bawa siapa pun.
Aditya membaca pesan tersebut untuk kesekian kalinya.
Ia kemudian mematikan layar ponselnya.
Beberapa detik kemudian menyalakannya kembali.
Pesan itu masih ada.
Ia menghela napas.
“Siapa sebenarnya kamu?” gumamnya.
Bukan kepada seseorang yang berada di ruangan itu.
Melainkan kepada masa lalu yang perlahan-lahan muncul kembali.
Pintu kamar diketuk.
“Masuk,” jawab Aditya.
Pak Surya muncul di ambang pintu.
“Kamu belum tidur?”
“Belum, Pak.”
Pak Surya melihat wajah anaknya.
“Banyak pikiran?”
Aditya mengangguk.
“Sedikit.”
Pak Surya tidak langsung duduk.
Ia memperhatikan Aditya beberapa saat sebelum akhirnya menarik kursi.
“Ayah tahu wajah itu.”
Aditya tersenyum tipis.
“Wajah apa?”
“Wajah orang yang sedang berusaha menyelesaikan sesuatu yang sebenarnya lebih besar daripada dirinya.”
Aditya menunduk.
“Bapak pernah merasa seperti itu?”
“Sering.”
“Lalu bagaimana?”
Pak Surya tersenyum.
“Tidak semua masalah selesai karena kita memaksanya selesai.”
Aditya mengangkat wajah.
“Kadang kita harus membiarkan masalah itu menunjukkan sendiri di mana letak ujungnya.”
Aditya diam.
Kemudian ia berkata:
“Pak, kalau seseorang dari masa lalu tiba-tiba datang kembali dan membawa masalah, apakah kita harus melawannya?”
Pak Surya menggeleng.
“Pertama-tama, cari tahu mengapa dia datang.”
“Kalau ternyata niatnya tidak baik?”
“Baru kamu menentukan bagaimana harus bersikap.”
Aditya mengangguk.
“Jangan menyerang sesuatu yang belum kamu pahami,” lanjut Pak Surya. “Tetapi jangan pula membiarkan sesuatu yang sudah jelas merusak hidupmu.”
Kalimat itu membuat Aditya terdiam lebih lama.
“Bapak kenal Rangga?”
Pak Surya menatapnya.
“Ayah pernah melihatnya.”
“Dulu?”
“Iya.”
“Seberapa dekat?”
Pak Surya menghela napas.
“Tidak dekat. Tapi cukup untuk mengingat wajahnya.”
Aditya menatap ayahnya.
“Kenapa saya tidak pernah tahu?”
“Karena waktu itu tidak ada alasan untuk menceritakannya.”
“Sekarang ada.”
Pak Surya mengangguk.
“Mungkin.”
Keesokan paginya, Aditya menemui Rizal dan Fajar.
Mereka duduk di sebuah tempat makan sederhana yang cukup tenang.
Fajar masih sempat bercanda meskipun wajah Aditya terlihat serius.
“Kalau lihat muka kamu begini, aku yakin kopinya tidak akan cukup.”
Rizal menatap Fajar.
“Bisa serius sedikit?”
“Aku serius.”
“Serius?”
“Iya. Aku serius menghabiskan kopi.”
Rizal menggeleng.
Aditya tersenyum kecil.
Untuk beberapa detik suasana mencair.
Namun kemudian Aditya meletakkan ponselnya di atas meja.
“Aku mendapat pesan.”
Fajar langsung berhenti bercanda.
“Dari siapa?”
“Tidak tahu.”
Rizal mengambil ponsel itu.
Ia membaca pesan tersebut.
“Alamat ini?”
Aditya mengangguk.
“Disuruh datang sendiri?”
“Iya.”
Fajar bersandar.
“Jelas jebakan.”
“Belum tentu,” kata Aditya.
Rizal mengembalikan ponsel.
“Justru karena belum tentu, kamu tidak boleh datang sendirian.”
Aditya diam.
“Aku sudah bilang kepada Mutiara.”
“Apa katanya?”
“Dia juga menerima pesan yang sama.”
Fajar menatap Aditya.
“Berarti bukan cuma kamu yang diincar.”
Rizal mengangguk.
“Ini sudah terencana.”
Aditya memandang mereka.
“Pertanyaannya, siapa yang merencanakan?”
“Rangga,” jawab Fajar spontan.
Rizal menggeleng.
“Belum tentu.”
Fajar menatapnya.
“Lho?”
“Kalau Rangga ingin bertemu Aditya, dia bisa menghubunginya langsung. Tidak perlu menggunakan nomor anonim.”
Aditya berpikir.
“Berarti?”
“Bisa jadi ada orang lain.”
Fajar mengangkat alis.
“Orang lain yang tahu hubungan Rangga dengan keluargamu?”
“Bisa.”
“Semakin banyak nama, semakin rumit.”
Rizal menatap Aditya.
“Justru itu yang harus kita hindari.”
“Maksudmu?”
“Jangan mencari sepuluh kemungkinan sekaligus.”
Rizal menunjuk ponsel.
“Kita mulai dari satu hal yang paling jelas.”
“Apa?”
“Siapa pemilik alamat itu.”
Sementara itu, di rumah Mutiara, suasana juga tidak kalah berat.
Mutiara duduk bersama Naya.
Pesan yang sama sudah diperlihatkan kepadanya.
Naya membaca perlahan.
“Ini aneh.”
“Ya.”
“Dia tahu kamu akan membaca.”
“Jelas.”
“Dia tahu kamu akan membicarakannya dengan Aditya.”
Mutiara mengangguk.
“Dan dia mungkin tahu kita akan mencoba mencari tahu siapa pengirimnya.”
Naya memandang sahabatnya.
“Berarti orang itu ingin kalian bergerak.”
Mutiara menatap jendela.
“Kenapa?”
“Karena ada sesuatu yang ingin dia tunjukkan.”
Mutiara menghela napas.
“Aku takut.”
Naya menggenggam tangannya.
“Takut kehilangan Aditya?”
Mutiara menggeleng perlahan.
“Bukan.”
“Lalu?”
“Aku takut ternyata selama ini aku tidak benar-benar mengenal orang-orang di sekitarku.”
Naya terdiam.
Mutiara melanjutkan:
“Aditya pernah menyembunyikan masalah keluarganya.”
“Karena dia ingin melindungimu.”
“Aku tahu.”
“Lalu?”
“Rangga pernah membantu keluarganya.”
Naya mengerutkan kening.
“Dan keluargaku juga mengenal Rangga.”
“Semakin kamu bicara, semakin rumit.”
Mutiara tersenyum pahit.
“Karena memang rumit.”
Naya menatapnya lama.
“Kalau kamu bertanya kepadaku sebagai sahabat, aku akan bilang satu hal.”
“Apa?”
“Jangan mengambil keputusan ketika kamu sedang takut.”
Mutiara mengangguk.
“Dan jangan membangun kesimpulan dari potongan cerita.”
Mutiara memandang sahabatnya.
“Seperti yang terjadi selama ini.”
“Ya.”
Siang menjelang.
Aditya memutuskan untuk menemui Pak Hendra.
Ia tahu pertemuan itu tidak mudah.
Tetapi setelah apa yang terjadi, ia tidak ingin ada lagi percakapan yang dilakukan melalui dugaan.
Pak Hendra sedang berada di teras rumah.
Ketika Aditya datang, ia langsung mempersilakannya duduk.
“Kamu datang sendiri?”
“Iya, Pak.”
“Kenapa?”
“Saya ingin bicara.”
Pak Hendra mengangguk.
“Silakan.”
Aditya duduk.
Beberapa detik mereka hanya diam.
Kemudian Aditya berkata:
“Pak, saya ingin bertanya tentang Rangga.”
Pak Hendra tidak terkejut.
“Saya sudah menduga.”
“Bapak mengenalnya sejak kapan?”
“Sudah beberapa tahun.”
“Dalam hubungan apa?”
Pak Hendra menarik napas.
“Dia pernah membantu beberapa urusan keluarga.”
“Urusan apa?”
“Pekerjaan.”
Aditya mengangguk.
“Apakah Bapak tahu bahwa Rangga pernah membantu keluarga saya?”
Pak Hendra menatapnya.
“Tidak.”
Aditya terdiam.
“Jadi Bapak juga tidak tahu?”
“Tidak.”
Aditya menyandarkan tubuh.
“Berarti ada bagian masa lalu yang tidak kita ketahui.”
Pak Hendra mengangguk.
“Sepertinya begitu.”
“Pak.”
“Ya?”
“Apakah Bapak pernah meminta Rangga untuk mencari informasi tentang saya?”
Pak Hendra langsung menatapnya.
“Tidak.”
“Benar?”
“Benar.”
“Apakah Rangga pernah memberikan informasi tentang saya kepada Bapak?”
Pak Hendra diam.
“Pernah.”
Aditya mengangkat wajah.
“Kapan?”
“Sebelum saya mengenalmu lebih dekat.”
“Apa yang dia katakan?”
“Bahwa kamu punya masalah keuangan.”
Aditya mengangguk pelan.
“Dan Bapak percaya?”
“Waktu itu saya belum punya alasan untuk tidak percaya.”
Aditya tersenyum tipis.
“Sekarang?”
Pak Hendra tidak langsung menjawab.
“Sekarang saya ingin mendengar langsung dari kamu.”
“Saya sudah menjelaskan.”
“Saya tahu.”
Aditya menatapnya.
“Kalau begitu saya ingin mengatakan satu hal.”
“Apa?”
“Saya tidak meminta Bapak menyukai saya.”
Pak Hendra terdiam.
“Saya hanya meminta kesempatan untuk membuktikan bahwa saya serius kepada Mutiara.”
Pak Hendra menghela napas.
“Aditya, menjadi pasangan Mutiara bukan hanya soal mencintainya.”
“Saya tahu.”
“Kamu harus siap dengan keluarganya.”
“Saya siap.”
“Kamu harus siap dengan masa lalunya.”
“Saya juga siap.”
“Kamu harus siap ketika keadaan tidak sesuai harapan.”
Aditya mengangguk.
“Saya justru sedang belajar tentang itu.”
Pak Hendra memandangnya cukup lama.
“Dan kalau suatu hari Mutiara harus memilih antara kamu dan keluarganya?”
Aditya menjawab tanpa ragu:
“Saya tidak akan meminta dia memilih.”
Pak Hendra sedikit terkejut.
“Kenapa?”
“Karena kalau saya mencintai Mutiara, saya tidak boleh menjadikan cinta saya sebagai alasan dia kehilangan keluarganya.”
Pak Hendra menunduk.
Kalimat itu tidak langsung mengubah sikapnya.
Tetapi ada sesuatu yang bergerak di dalam pikirannya.
Di tempat lain, Rangga duduk di sebuah ruangan yang tenang.
Di hadapannya terdapat sebuah map tua.
Ia membukanya.
Ada beberapa lembar dokumen.
Foto lama.
Catatan.
Dan sebuah nama.
Ia menyentuh lembar pertama.
Kemudian menghela napas.
Telepon berdering.
Rangga mengangkatnya.
“Ya?”
“Aditya sudah tahu sebagian.”
“Bagian mana?”
“Hubunganmu dengan keluarganya.”
Rangga tersenyum tipis.
“Bagus.”
“Bagus?”
“Ya.”
“Kenapa?”
“Karena sekarang dia akan mencari tahu.”
“Dan kalau dia menemukan semuanya?”
Rangga diam.
“Dia tidak akan menemukan semuanya.”
“Kenapa?”
“Karena sebagian cerita hanya diketahui oleh orang-orang tertentu.”
“Termasuk kamu?”
Rangga memandang dokumen di tangannya.
“Termasuk aku.”
Sore hari, Mutiara bertemu Aditya.
Mereka memilih tempat yang tidak terlalu ramai.
Tidak ada teman.
Tidak ada keluarga.
Hanya mereka berdua.
Mutiara duduk di hadapan Aditya.
“Aku sudah bicara dengan Naya.”
“Dia bilang apa?”
“Katanya kita jangan mengambil keputusan saat takut.”
Aditya tersenyum.
“Dia benar.”
“Aku juga sudah berpikir.”
“Pikirkan apa?”
“Kalau ternyata semua ini memang sudah direncanakan sejak awal?”
Aditya menatapnya.
“Awal yang mana?”
“Awal sebelum kita bertemu.”
Aditya diam.
“Kalau Rangga memang sudah mengenal keluargamu,” lanjut Mutiara, “dan sudah mengenal keluargaku, mungkin kedekatannya dengan kita bukan sesuatu yang baru.”
“Bisa jadi.”
“Lalu kenapa dia menunggu?”
Aditya tidak menjawab.
Mutiara menatapnya.
“Karena aku?”
“Atau karena sesuatu yang lebih besar.”
Mutiara menghela napas.
“Kadang aku berharap hidup kita sesederhana dulu.”
Aditya tersenyum.
“Dulu juga tidak sederhana.”
Mutiara ikut tersenyum.
“Benar.”
“Kita hanya belum tahu.”
Mutiara terdiam.
“Apa?”
“Kita belum tahu kalau ternyata cinta juga membutuhkan keberanian untuk menghadapi masa lalu.”
Aditya mengangguk.
“Dan bukan hanya keberanian.”
“Apa?”
“Kejujuran.”
Mutiara memandangnya.
“Kalau suatu hari aku menemukan sesuatu tentang kamu yang belum pernah kamu ceritakan…”
“Aku akan menjelaskan.”
“Walaupun menyakitkan?”
“Walaupun menyakitkan.”
“Jangan sembunyikan lagi.”
Aditya menggenggam tangan Mutiara.
“Aku janji.”
Mutiara menatap tangan mereka.
“Aku juga.”
Malam itu, mereka memutuskan untuk mendatangi alamat yang dikirimkan.
Namun tidak sendiri.
Rizal mengikuti dari jarak tertentu.
Fajar berada di lokasi lain.
Naya mengetahui keberadaan mereka.
Tidak ada yang tahu apa yang akan mereka temukan.
Alamat itu membawa mereka ke sebuah bangunan lama yang sudah jarang digunakan.
Aditya turun dari kendaraan.
Mutiara berada di sampingnya.
“Siap?” tanya Aditya.
Mutiara menarik napas.
“Tidak.”
Aditya tersenyum kecil.
“Aku juga.”
Mutiara menatapnya.
“Tapi kita masuk.”
“Iya.”
Mereka berjalan menuju pintu.
Pintu itu tidak terkunci.
Aditya mendorongnya perlahan.
Kreeeek...
Suara engsel terdengar panjang.
Di dalam ruangan hanya ada sebuah meja.
Di atas meja terdapat sebuah kotak kayu.
Mutiara menatap Aditya.
“Ini?”
Aditya mendekat.
Di atas kotak terdapat tulisan tangan:
UNTUK ADITYA DAN MUTIARA.
Aditya tidak langsung menyentuhnya.
“Jangan.”
Mutiara menahan tangannya.
“Kita tidak tahu isinya.”
Aditya mengangguk.
Mereka saling memandang.
Kemudian Aditya membuka kotak itu.
Di dalamnya terdapat beberapa foto.
Satu amplop.
Dan sebuah buku catatan tua.
Mutiara mengambil foto pertama.
Wajahnya langsung berubah.
“Aditya…”
“Apa?”
Mutiara menyerahkan foto itu.
Aditya melihat.
Foto tersebut memperlihatkan dua keluarga yang sedang berdiri dalam sebuah acara beberapa tahun lalu.
Salah satu orang di dalam foto adalah Pak Surya.
Di sisi lain ada Pak Hendra.
Dan di belakang mereka…
Rangga.
Aditya membeku.
“Bapakmu dan ayahku…”
Mutiara mengangguk.
“Mereka pernah bersama.”
Aditya mengambil foto lain.
Foto kedua memperlihatkan Rangga sedang berbicara dengan seseorang yang tidak mereka kenal.
Foto ketiga menunjukkan sebuah dokumen yang ditandatangani beberapa orang.
Mutiara mengambil buku catatan.
Ia membukanya.
Halaman pertama kosong.
Halaman kedua juga.
Sampai akhirnya ia menemukan sebuah tulisan.
Tulisan tangan yang sudah agak pudar.
“Kesepakatan ini tidak boleh diketahui oleh anak-anak mereka.”
Mutiara membaca kalimat itu perlahan.
Kemudian menatap Aditya.
“Kesepakatan apa?”
Aditya tidak menjawab.
Mereka membuka halaman berikutnya.
Ada tanggal.
Ada nama.
Ada angka.
Dan sebuah kalimat pendek.
“Jika waktunya tiba, Rangga akan menyelesaikan bagian yang belum selesai.”
Mutiara merasakan tubuhnya merinding.
“Bagian yang belum selesai?”
Aditya membaca ulang.
“Ini bukan tentang utangku.”
Mutiara mengangguk.
“Bukan.”
Mereka saling memandang.
Untuk pertama kalinya, mereka memahami bahwa persoalan ini jauh lebih tua daripada hubungan mereka.
Tiba-tiba terdengar suara langkah dari luar.
Aditya langsung menutup buku.
Mutiara berdiri.
“Siapa?”
Tidak ada jawaban.
Langkah itu semakin dekat.
Aditya bergerak mendekati pintu.
Kemudian suara seorang laki-laki terdengar.
“Kalau kalian sudah membaca itu, berarti kalian akhirnya menemukan jalan yang selama ini disembunyikan.”
Aditya membeku.
Ia mengenal suara itu.
Mutiara juga.
Rangga.
Aditya membuka pintu.
Rangga berdiri beberapa meter di depan mereka.
Tidak marah.
Tidak tergesa-gesa.
Bahkan terlihat sangat tenang.
“Kamu?” tanya Aditya.
Rangga tersenyum tipis.
“Aku.”
Mutiara maju.
“Semua ini ulahmu?”
Rangga menatapnya.
“Pertanyaanmu terlalu sederhana.”
“Jawab.”
Rangga diam.
Kemudian berkata:
“Tidak semua yang kalian temukan dibuat olehku.”
Aditya mengangkat buku catatan.
“Lalu apa ini?”
“Bagian dari masa lalu.”
“Masa lalu siapa?”
Rangga menatap Aditya.
“Orang tua kalian.”
Aditya terdiam.
Mutiara berkata:
“Kenapa kami tidak pernah tahu?”
Rangga menarik napas.
“Karena mereka ingin kalian hidup tanpa membawa beban yang mereka buat.”
“Beban apa?”
Rangga memandang keduanya.
“Janji.”
Aditya mengerutkan kening.
“Janji apa?”
Rangga tidak menjawab.
Ia hanya berkata:
“Kalau kalian ingin mengetahui seluruhnya, tanyakan kepada ayah kalian masing-masing.”
“Dan kalau mereka tidak mau menjawab?”
Rangga tersenyum.
“Berarti kalian belum siap mengetahui jawabannya.”
Aditya maju selangkah.
“Jangan bermain-main dengan kami.”
Rangga tetap tenang.
“Aku tidak sedang bermain.”
“Lalu apa yang kamu lakukan?”
Rangga memandang Mutiara.
“Aku hanya mengingatkan bahwa cinta kalian berdiri di atas sebuah cerita yang belum selesai.”
Mutiara menatapnya tajam.
“Kalau begitu selesaikan.”
Rangga tersenyum.
“Bukan aku yang harus menyelesaikannya.”
“Siapa?”
Rangga berbalik.
“Orang yang memulainya.”
Kemudian ia pergi.
Aditya dan Mutiara hanya mampu berdiri di tempat.
Tidak mengejarnya.
Tidak memanggilnya kembali.
Karena untuk pertama kalinya mereka sadar bahwa pertanyaan yang mereka kejar selama ini ternyata bukan:
Apa yang Rangga inginkan?
Tetapi:
Apa yang pernah disepakati oleh dua keluarga sebelum Aditya dan Mutiara mengenal arti cinta?
Di luar bangunan, malam semakin pekat.
Mutiara berdiri di samping Aditya.
“Ayah harus tahu.”
Aditya mengangguk.
“Bapak juga.”
“Kita pulang.”
“Iya.”
Mereka berjalan menuju kendaraan.
Namun sebelum masuk, Mutiara berhenti.
“Aditya.”
“Ya?”
“Kalau ternyata orang tua kita pernah membuat keputusan yang memengaruhi hidup kita…”
Aditya menatapnya.
“Kita tetap punya hak untuk menentukan hidup kita sendiri.”
Mutiara mengangguk.
“Tapi kita harus tahu seluruh kebenarannya.”
“Ya.”
Aditya menggenggam tangannya.
“Kali ini tidak boleh ada lagi bagian yang disembunyikan.”
Mutiara menatapnya.
“Tidak boleh.”
Mereka kemudian pergi meninggalkan bangunan itu.
Di kejauhan, Rangga berdiri di bawah cahaya lampu jalan.
Ia tidak mengejar.
Tidak memanggil.
Ia hanya memperhatikan kendaraan Aditya dan Mutiara yang semakin jauh.
Kemudian ia mengeluarkan ponsel.
Menghubungi seseorang.
“Sudah mereka temukan.”
Suara di seberang bertanya:
“Lalu?”
Rangga menjawab pelan:
“Sekarang tinggal menunggu apakah Pak Surya dan Pak Hendra masih sanggup menyimpan rahasia itu.”
Ia mematikan telepon.
Malam kembali sunyi.
Tetapi sejak malam itu, sesuatu telah berubah.
Aditya dan Mutiara tidak lagi hanya berjuang mempertahankan cinta mereka dari orang ketiga.
Mereka mulai berhadapan dengan masa lalu dua keluarga.
Sebuah masa lalu yang telah lama terkubur.
Sebuah janji yang dibuat sebelum mereka lahir.
Dan sebuah kesepakatan yang mungkin menjadi alasan mengapa jalan hidup mereka bertemu.
Di bawah langit Kuala Kapuas, empat jalan tetap terbentang.
Namun kali ini, keempat jalan itu seakan membawa mereka menuju satu titik yang sama:
kebenaran.
Dan mereka belum tahu bahwa ketika kebenaran itu akhirnya terbuka, bukan hanya hubungan mereka dengan Rangga yang akan berubah.
Hubungan mereka dengan keluarga masing-masing pun mungkin tidak akan pernah sama lagi.
BAB XII
JANJI YANG MENGIKAT MASA LALU
Pagi belum sepenuhnya terang ketika Aditya tiba di rumah.
Langit Kuala Kapuas masih berwarna kelabu kebiruan. Udara pagi terasa lembap. Jalanan belum ramai, hanya beberapa kendaraan yang melintas dengan suara mesin yang terdengar jelas di antara rumah-rumah.
Aditya tidak langsung masuk.
Ia berdiri beberapa saat di halaman.
Pikirannya masih tertinggal di bangunan tua semalam.
Foto.
Dokumen.
Buku catatan.
Dan satu kalimat yang terus berputar di kepalanya.
Kesepakatan ini tidak boleh diketahui oleh anak-anak mereka.
Ia mengepalkan tangan.
Selama ini ia mengira masalahnya hanya tentang dirinya dan Mutiara.
Tentang jarak.
Tentang Rangga.
Tentang foto-foto yang sengaja dibuat untuk menimbulkan kecurigaan.
Ternyata semuanya mungkin jauh lebih tua.
Bahkan sebelum ia mengenal Mutiara.
Aditya membuka pintu.
Pak Surya sudah berada di ruang tengah.
Ayahnya menatapnya.
Tidak bertanya.
Seolah sudah mengetahui bahwa sesuatu telah terjadi.
“Kamu dari mana?”
Aditya meletakkan kunci kendaraan di atas meja.
“Dari suatu tempat.”
Pak Surya menatap wajah anaknya.
“Dengan Mutiara?”
“Iya.”
Pak Surya mengangguk.
“Rangga ada di sana?”
Aditya langsung berhenti bergerak.
Ia menatap ayahnya.
“Bapak tahu?”
Pak Surya terdiam.
Aditya mendekat.
“Bapak tahu saya bertemu Rangga?”
“Tidak.”
“Tapi Bapak tidak terlihat terkejut.”
Pak Surya menarik napas.
“Karena Ayah sudah menduga suatu saat hal itu akan terjadi.”
Aditya menatapnya tajam.
“Suatu saat?”
Pak Surya tidak menjawab.
“Ayah…”
“Duduklah.”
“Saya tidak mau duduk.”
Nada suara Aditya mulai meninggi.
“Saya ingin jawaban.”
Pak Surya tetap tenang.
“Kalau kamu ingin jawaban, turunkan suaramu.”
Aditya terdiam.
Beberapa detik kemudian ia duduk.
Pak Surya ikut duduk.
“Ceritakan.”
Aditya mengeluarkan foto dari tasnya.
Ia meletakkannya di atas meja.
Pak Surya melihat.
Wajahnya berubah.
Tidak banyak.
Namun cukup bagi Aditya untuk menyadarinya.
“Bapak mengenal foto ini.”
Pak Surya tidak menjawab.
“Bapak mengenal orang-orang di dalamnya.”
Masih diam.
“Dan Bapak tahu tentang kesepakatan itu.”
Pak Surya mengangkat wajah.
“Siapa yang memberimu buku?”
“Rangga.”
Pak Surya menghela napas panjang.
“Jadi akhirnya dia membawanya kepadamu.”
“Bukan menjawab, Pak.”
Aditya menunjuk foto.
“Ini apa?”
Pak Surya menatap foto tersebut.
“Foto lama.”
“Saya tahu.”
“Dan tulisan itu?”
“Kesepakatan.”
Pak Surya diam.
Aditya mencondongkan tubuh.
“Kesepakatan antara Bapak dan Pak Hendra?”
Pak Surya mengangguk perlahan.
“Iya.”
Dada Aditya terasa sesak.
“Untuk apa?”
Pak Surya menatap anaknya.
“Untuk menyelesaikan masalah yang terjadi bertahun-tahun lalu.”
“Masalah apa?”
“Masalah keluarga.”
“Masalah keluarga siapa?”
“Keluarga kita.”
“Dan keluarga Mutiara?”
Pak Surya mengangguk.
“Iya.”
Aditya menutup wajah dengan kedua tangannya.
Beberapa detik kemudian ia kembali menatap ayahnya.
“Kenapa Mutiara tidak pernah tahu?”
“Karena tidak seharusnya.”
“Tidak seharusnya?”
“Waktu itu kami berpikir anak-anak tidak perlu menanggung kesalahan orang tua.”
Aditya berdiri.
“Tapi sekarang kesalahan itu masuk ke kehidupan saya!”
Pak Surya ikut berdiri.
“Karena keadaan berubah.”
“Keadaan berubah karena Rangga!”
“Bukan hanya Rangga.”
Aditya terdiam.
Pak Surya berkata lebih pelan:
“Jangan menyalahkan satu orang untuk sesuatu yang sudah berlangsung jauh sebelum dia kembali.”
Kalimat itu membuat Aditya semakin bingung.
“Jadi apa sebenarnya yang terjadi?”
Pak Surya tidak langsung menjawab.
Ia berjalan menuju lemari tua.
Membukanya.
Mengambil sebuah map.
Kemudian kembali ke meja.
Map itu diletakkan di depan Aditya.
“Ini bagian yang belum pernah Ayah ceritakan.”
Aditya menatap map tersebut.
“Buka.”
Tangannya bergerak perlahan.
Di dalamnya terdapat beberapa lembar dokumen.
Salah satunya adalah surat perjanjian.
Aditya membaca.
Wajahnya berubah.
“Apa ini?”
Pak Surya duduk.
“Kesepakatan kami.”
Aditya membaca lebih lanjut.
Kemudian berhenti pada satu bagian.
Ia membacanya sekali lagi.
Lalu menatap ayahnya.
“Ini bukan tentang utang.”
Pak Surya mengangguk.
“Bukan.”
“Lalu tentang apa?”
Pak Surya menarik napas.
“Tanah.”
Aditya terdiam.
“Tanah?”
“Sebidang tanah yang dahulu menjadi bagian dari masalah keluarga kita.”
“Dan keluarga Mutiara?”
“Tanah itu berkaitan dengan mereka.”
Aditya kembali membaca.
“Kenapa nama Rangga ada di sini?”
Pak Surya tidak menjawab.
Aditya membalik halaman.
Nama Rangga memang tercantum.
Sebagai saksi.
Namun ada sesuatu yang lebih aneh.
Tanggal dokumen itu menunjukkan bahwa Rangga sudah terlibat sejak jauh sebelum hubungan Aditya dan Mutiara dimulai.
“Kenapa dia menjadi saksi?”
Pak Surya menunduk.
“Karena saat itu dia membantu proses penyelesaian.”
Aditya menatap ayahnya.
“Jadi sejak awal dia sudah tahu?”
“Iya.”
“Dia tahu tentang keluargaku.”
“Iya.”
“Dia tahu tentang keluarga Mutiara.”
“Iya.”
“Dan dia tahu tentang kesepakatan ini.”
Pak Surya mengangguk.
Aditya berdiri.
“Berarti selama ini dia memiliki sesuatu yang tidak saya ketahui.”
“Bukan hanya dia.”
Aditya berhenti.
Pak Surya menatapnya.
“Ayah dan Pak Hendra juga.”
Di rumah Mutiara, suasananya tidak berbeda.
Mutiara berdiri di hadapan ayahnya.
Pak Hendra sedang membaca koran.
Namun jelas bahwa ia tidak benar-benar membaca.
“Ayah.”
Pak Hendra menurunkan koran.
“Ya?”
“Aku ingin bertanya.”
“Tentang apa?”
“Aditya.”
Pak Hendra diam.
Mutiara melanjutkan:
“Bukan tentang pekerjaannya.”
“Lalu?”
“Tentang masa lalu keluarga kita.”
Pak Hendra langsung menatapnya.
Mutiara tahu ia telah mengenai sesuatu.
“Ayah tahu sesuatu tentang keluarga Aditya.”
Pak Hendra meletakkan koran.
“Dari siapa kamu tahu?”
“Tidak penting.”
“Penting.”
“Kenapa?”
“Karena kalau kamu mendengar sesuatu dari orang yang tidak bertanggung jawab, kamu bisa salah memahami.”
Mutiara menarik napas.
“Kalau begitu Ayah yang menjelaskan.”
Pak Hendra terdiam.
“Kenapa Ayah tidak pernah mengatakan bahwa Ayah mengenal keluarga Aditya?”
Pak Hendra tidak menjawab.
“Kenapa nama Rangga ada dalam dokumen lama?”
Bu Ratna yang sejak tadi berada di ruangan lain akhirnya datang.
Ia melihat keduanya.
“Sudah waktunya,” katanya pelan.
Pak Hendra menoleh.
“Ratna…”
“Tidak mungkin kita menyembunyikannya terus.”
Mutiara menatap ibunya.
“Ibu tahu?”
Bu Ratna duduk.
“Ibu tahu sebagian.”
“Kenapa?”
“Karena saat itu keadaan sangat sulit.”
“Keadaan apa?”
Bu Ratna memandang suaminya.
Pak Hendra menghela napas.
“Kamu belum siap.”
Mutiara langsung menjawab:
“Aku sudah cukup siap untuk mengetahui sesuatu yang selama ini menentukan hidupku.”
Pak Hendra terdiam.
Mutiara menahan air mata.
“Yang paling menyakitkan bukan rahasianya.”
Pak Hendra menatapnya.
“Tapi kenyataan bahwa semua orang merasa berhak menentukan apa yang boleh aku ketahui tentang hidupku.”
Bu Ratna menunduk.
Mutiara melanjutkan:
“Aku bukan anak kecil lagi.”
“Kami tahu.”
“Kalau tahu, kenapa?”
Pak Hendra tidak dapat langsung menjawab.
Mutiara berdiri.
“Aku mencintai Aditya.”
Pak Hendra menatapnya.
“Dan aku tidak akan meninggalkan dia hanya karena masa lalu yang bahkan tidak kami buat sendiri.”
Pak Hendra menghela napas.
“Ini bukan sesederhana itu.”
“Kalau tidak sederhana, jelaskan.”
“Karena keputusan yang dulu kami buat bisa memengaruhi kalian.”
“Bagaimana?”
Pak Hendra diam.
Mutiara menatap ayahnya.
“Apa hubungan tanah itu dengan aku?”
Pak Hendra tidak menjawab.
“Apa hubungannya dengan Aditya?”
Masih diam.
“Dan apa hubungannya dengan Rangga?”
Pak Hendra menatap putrinya.
Akhirnya ia berkata:
“Rangga bukan hanya saksi.”
Mutiara membeku.
“Maksud Ayah?”
“Dia pernah menjadi bagian dari penyelesaian masalah itu.”
“Bagian seperti apa?”
Pak Hendra menunduk.
“Dia memiliki kepentingan.”
Mutiara merasa dadanya semakin berat.
“Kepentingan apa?”
“Waktu itu kami tidak tahu.”
“Sekarang?”
Pak Hendra memandangnya.
“Sekarang kami mulai tahu.”
Pada sore hari, Aditya dan Mutiara bertemu kembali.
Tidak ada tempat makan.
Tidak ada suasana romantis.
Tidak ada percakapan ringan.
Mereka duduk berhadapan.
Keduanya sama-sama membawa dokumen.
Mutiara meletakkan map di meja.
“Ini dari Ayah.”
Aditya meletakkan map miliknya.
“Ini dari Bapak.”
Mereka saling memandang.
“Jadi benar,” kata Mutiara.
“Apa?”
“Orang tua kita menyimpan rahasia yang sama.”
Aditya mengangguk.
Mutiara membuka dokumen.
“Tanah.”
“Ya.”
“Kenapa tanah ini begitu penting?”
Aditya menjawab:
“Karena dulu terjadi sengketa.”
“Antara siapa?”
“Keluargaku dan keluarga kamu.”
Mutiara menatapnya.
“Jadi keluarga kita pernah berselisih?”
“Bukan hanya berselisih.”
“Apa?”
“Menurut dokumen ini, hampir terjadi perkara hukum.”
Mutiara terdiam.
“Kenapa?”
Aditya membaca kembali.
“Batas tanah.”
“Dan Rangga?”
“Dia membantu menyelesaikan masalah itu.”
Mutiara menggeleng.
“Kenapa?”
“Belum jelas.”
Mutiara mengambil dokumen lain.
“Tunggu.”
Ia menunjuk sebuah nama.
“Lihat ini.”
Aditya mendekat.
Nama tersebut tertulis dalam sebuah catatan lama.
Rangga Mahendra.
Di bawahnya terdapat tulisan tangan:
Pihak yang menjamin penyelesaian kesepakatan.
Aditya mengerutkan kening.
“Menjamin?”
Mutiara mengangguk.
“Artinya apa?”
“Mungkin dia memiliki kepentingan terhadap tanah itu.”
“Kalau begitu…”
Mutiara terdiam.
“Apa?”
“Bisa jadi alasan dia mendekati keluargaku bukan hanya karena aku.”
Aditya menatapnya.
Kalimat itu terasa seperti pukulan.
Mutiara menunduk.
“Aku tidak tahu harus merasa bagaimana.”
Aditya menggenggam tangannya.
“Kita tidak akan menyimpulkan sebelum tahu.”
Mutiara menatapnya.
“Tapi kalau benar?”
“Kita hadapi.”
“Kalau Rangga selama ini mendekatiku karena kepentingan tertentu?”
Aditya diam.
“Kalau keluargaku…”
Ia berhenti.
Air matanya mulai menggenang.
“Kalau keluargaku ternyata pernah membuat keputusan yang memengaruhi keluargamu?”
Aditya menggenggam tangannya lebih kuat.
“Itu bukan kesalahanmu.”
“Tapi aku anak mereka.”
“Dan aku anak mereka.”
Mutiara menatapnya.
“Kita tidak memilih dilahirkan dalam keluarga mana.”
Aditya tersenyum kecil.
“Tapi kita memilih bagaimana menjalani hidup kita.”
Mutiara mengusap air matanya.
“Aku takut.”
“Aku juga.”
“Kenapa kamu selalu bilang begitu?”
“Karena aku tidak mau berpura-pura kuat di depanmu.”
Mutiara tersenyum di tengah air mata.
“Terima kasih.”
Namun di saat yang sama, Rangga sedang melakukan sesuatu yang lain.
Ia menemui Pak Hendra.
Mereka duduk berhadapan.
Tidak ada basa-basi.
Pak Hendra langsung bertanya:
“Kenapa kamu membuka masa lalu itu?”
Rangga menjawab tenang.
“Karena sudah waktunya.”
“Kamu tidak berhak menentukan waktunya.”
“Bapak juga dulu menentukan kapan Aditya dan Mutiara boleh tahu.”
Pak Hendra menatap tajam.
“Jangan membawa masa lalu untuk membenarkan apa yang kamu lakukan sekarang.”
Rangga tersenyum.
“Saya tidak membenarkan apa pun.”
“Lalu?”
“Saya hanya menunjukkan kenyataan.”
“Kenyataan yang kamu pilih sendiri.”
Rangga terdiam.
Pak Hendra melanjutkan:
“Dulu saya percaya kamu.”
“Saya tahu.”
“Saya pikir kamu membantu kami menyelesaikan masalah.”
“Saya memang membantu.”
“Tapi sekarang saya sadar kamu memiliki kepentingan.”
Rangga menatapnya.
“Semua orang memiliki kepentingan, Pak.”
“Termasuk kamu.”
“Termasuk Bapak.”
Pak Hendra mengepalkan tangan.
“Jangan samakan.”
“Kenapa?”
“Karena saya ingin melindungi anak saya.”
Rangga tersenyum tipis.
“Saya juga.”
“Dengan cara menghancurkan hubungannya?”
Rangga tidak menjawab.
Pak Hendra berdiri.
“Kamu salah satu dari sedikit orang yang pernah saya percaya.”
Rangga ikut berdiri.
“Dan saya tidak pernah melupakan kepercayaan itu.”
“Lalu kenapa sekarang?”
Rangga menatapnya.
“Karena Bapak pernah membuat janji.”
Pak Hendra membeku.
“Janji itu sudah selesai.”
“Menurut Bapak.”
Rangga mengambil map dari tasnya.
“Menurut dokumen, belum.”
Pak Hendra menatap map tersebut.
“Apa yang kamu inginkan?”
Rangga menjawab:
“Saya ingin apa yang dulu dijanjikan.”
Pak Hendra menggeleng.
“Itu tidak mungkin.”
“Kenapa?”
“Karena keadaan sudah berubah.”
“Bukan perjanjiannya.”
“Rangga…”
“Saya hanya meminta apa yang menjadi hak saya.”
Pak Hendra menatapnya tajam.
“Kamu sedang mengancam saya?”
Rangga menggeleng.
“Tidak.”
“Lalu?”
“Saya sedang mengingatkan.”
Ia meletakkan map di atas meja.
“Kalau perjanjian itu dibuka sepenuhnya, bukan hanya Aditya dan Mutiara yang akan tahu.”
Pak Hendra menatap map tersebut.
“Mereka akan tahu bahwa hubungan keluarga kita selama ini dibangun di atas keputusan yang tidak pernah mereka pilih.”
Rangga tersenyum tipis.
“Dan mungkin itu yang paling mereka perlukan.”
Malam itu, Aditya kembali ke rumah.
Ia menemukan ibunya sedang duduk di ruang tengah.
Bu Aminah melihat wajah anaknya.
“Kamu sudah tahu?”
Aditya berhenti.
“Tahu apa?”
Bu Aminah menghela napas.
“Bapakmu mungkin belum menceritakan semuanya.”
Aditya duduk.
“Ibu tahu?”
“Sebagian.”
“Kenapa semuanya tahu kecuali saya?”
Bu Aminah tersenyum sedih.
“Karena dulu kami ingin melindungimu.”
“Dengan berbohong?”
“Dengan diam.”
Aditya menatap ibunya.
“Kadang diam juga bisa menjadi kebohongan.”
Bu Aminah terdiam.
“Maaf.”
Aditya menghela napas.
“Ibu tidak perlu minta maaf.”
“Kamu marah?”
“Bukan marah.”
“Lalu?”
“Kecewa.”
Bu Aminah mengangguk.
“Itu lebih berat.”
Aditya menunduk.
“Ibu tahu apa tentang Rangga?”
Bu Aminah terdiam cukup lama.
“Dia pernah datang ke rumah ini.”
“Kapan?”
“Bertahun-tahun lalu.”
“Sendiri?”
“Tidak.”
“Dengan siapa?”
Bu Aminah menatap anaknya.
“Dengan ayahmu.”
Aditya langsung mengangkat wajah.
“Apa?”
“Malam itu mereka bicara lama.”
“Bicara tentang apa?”
“Tidak tahu.”
“Ibu tidak mendengar?”
“Sedikit.”
“Apa?”
Bu Aminah menatap anaknya.
“Nama Mutiara.”
Aditya membeku.
“Mutiara?”
“Iya.”
“Padahal waktu itu saya belum mengenalnya.”
Bu Aminah mengangguk.
“Justru itu yang membuat Ibu takut.”
Aditya berdiri.
“Jadi sebelum saya bertemu Mutiara…”
“Iya.”
“Nama dia sudah pernah dibicarakan di rumah ini?”
Bu Aminah mengangguk.
Aditya merasa seluruh tubuhnya kehilangan tenaga.
Selama ini ia mengira pertemuannya dengan Mutiara adalah awal.
Ternyata mungkin bukan.
Ada sesuatu yang telah bergerak sebelum mereka bertemu.
Sesuatu yang tidak mereka ketahui.
Keesokan paginya, Aditya dan Mutiara kembali bertemu di Bundaran Besar.
Tidak ada senja.
Tidak ada suasana romantis.
Pagi itu tempat tersebut justru terasa sangat berbeda.
Orang-orang berlalu-lalang.
Kendaraan bergerak dari empat arah.
Namun mereka berdiri diam.
Mutiara memandang Tugu Batang Garing.
“Dulu aku pernah bilang tempat ini seperti pilihan.”
Aditya mengangguk.
“Empat jalan.”
“Sekarang aku merasa semua jalan membawa kita ke masa lalu.”
Aditya tersenyum pahit.
“Dan tidak ada jalan yang bisa menghindarinya.”
Mutiara menatapnya.
“Aku ingin bertanya sesuatu.”
“Tanya.”
“Kalau ternyata keluarga kita pernah membuat janji yang mengharuskan kita berpisah…”
Aditya menatapnya.
“Apakah kamu akan tetap memilihku?”
Mutiara tidak langsung menjawab.
Ia menatap jalan di depan mereka.
Kemudian berkata:
“Aku tidak tahu apa yang akan terjadi.”
Aditya terdiam.
“Tapi aku tahu satu hal.”
“Apa?”
“Aku tidak akan menyerahkan keputusan hidupku kepada orang lain.”
Aditya mengangguk.
“Begitu juga aku.”
Mutiara menggenggam tangan Aditya.
“Kalau kita harus berpisah, biarlah karena kita sendiri yang memutuskan.”
“Bukan karena mereka.”
“Bukan karena Rangga.”
“Bukan karena masa lalu.”
Mutiara menatapnya.
“Dan bukan karena ketakutan.”
Aditya mengangguk.
“Ya.”
Namun percakapan mereka belum selesai ketika sebuah mobil berhenti tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
Rangga turun.
Ia berjalan mendekat.
Mutiara langsung menegang.
Aditya berdiri di sampingnya.
Rangga berhenti beberapa langkah di depan mereka.
“Kalian sudah tahu?”
Aditya menjawab:
“Sebagian.”
Rangga mengangguk.
“Berarti Pak Surya dan Pak Hendra sudah mulai bicara.”
“Kalau kamu tahu, kenapa kamu masih datang?”
Rangga menatap Aditya.
“Karena ada satu hal yang belum kalian ketahui.”
Mutiara bertanya:
“Apa?”
Rangga memandangnya.
“Kesepakatan itu bukan hanya tentang tanah.”
Aditya terdiam.
“Lalu?”
Rangga menarik napas.
“Pada saat itu, ada sesuatu yang dijanjikan.”
“Jelaskan.”
Rangga menatap Aditya.
“Bukan kepadamu.”
Kemudian menatap Mutiara.
“Bukan juga kepadanya.”
“Lalu kepada siapa?”
Rangga menjawab:
“Kepada keluarga.”
Aditya mengerutkan kening.
“Apa maksudmu?”
Rangga tersenyum tipis.
“Suatu hari nanti kalian akan tahu.”
“Kenapa tidak sekarang?”
“Karena saya bukan orang yang harus menjelaskannya.”
“Siapa?”
Rangga menatap mereka bergantian.
“Pak Surya.”
Aditya terdiam.
Rangga kemudian berbalik.
Sebelum pergi, ia berkata:
“Dan kalau saya menjadi kalian, saya akan bertanya satu hal kepada ayahmu.”
Aditya menatapnya.
“Apa?”
Rangga berhenti.
“Kenapa nama Mutiara sudah ada dalam pembicaraan keluarga kalian sebelum kalian berdua bertemu?”
Aditya membeku.
Mutiara menatapnya.
Rangga masuk ke dalam mobil.
Kendaraan itu kemudian pergi.
Tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara selama beberapa saat.
Mutiara akhirnya berkata:
“Aditya…”
“Iya.”
“Nama aku?”
Aditya mengangguk.
“Aku juga mendengarnya.”
“Berarti…”
“Kita harus pulang.”
“Ke rumahmu?”
“Iya.”
“Kita bicara dengan Pak Surya.”
Aditya menggenggam tangan Mutiara.
“Bersama.”
Mutiara mengangguk.
Mereka berjalan meninggalkan Bundaran Besar.
Empat jalan masih terbentang.
Tetapi kali ini, pertanyaan mereka bukan lagi tentang ke mana harus pergi.
Pertanyaan mereka adalah:
Mengapa sejak awal jalan hidup mereka seolah telah diarahkan oleh keputusan orang lain?
Dan di balik pertanyaan itu, ada satu rahasia yang jauh lebih besar.
Sebuah rahasia yang bahkan belum pernah mereka bayangkan.
Karena jika nama Mutiara memang telah disebut dalam pembicaraan dua keluarga sebelum ia mengenal Aditya, maka pertemuan mereka mungkin bukan sekadar kebetulan.
Namun apakah pertemuan itu pernah direncanakan?
Ataukah justru menjadi sesuatu yang tidak pernah mampu dikendalikan oleh siapa pun?
Malam nanti, Aditya akan meminta jawaban kepada ayahnya.
Dan untuk pertama kalinya, Pak Surya tidak lagi memiliki banyak ruang untuk menghindar.
Sebab masa lalu telah menemukan jalannya sendiri untuk pulang.
Dan kali ini, ia datang membawa nama:
Mutiara.
BAB XIII
NAMA YANG TERTULIS SEBELUM CINTA
Malam turun perlahan di Kuala Kapuas.
Lampu-lampu rumah mulai menyala satu per satu. Dari kejauhan terdengar suara kendaraan yang sesekali melewati jalan depan rumah.
Namun bagi Aditya, malam itu terasa jauh lebih panjang daripada biasanya.
Ia duduk di ruang tengah.
Mutiara berada di sampingnya.
Pak Surya duduk berhadapan dengan mereka.
Bu Aminah memilih duduk sedikit ke belakang.
Tidak ada televisi yang menyala.
Tidak ada suara musik.
Tidak ada percakapan ringan.
Hanya empat orang yang duduk dalam satu ruangan dengan sebuah pertanyaan yang sejak tadi belum mendapatkan jawaban.
Mengapa nama Mutiara sudah pernah disebut dalam keluarga Aditya sebelum Aditya mengenalnya?
Aditya menatap ayahnya.
“Pak.”
Pak Surya mengangkat wajah.
“Iya.”
“Rangga mengatakan sesuatu.”
“Apa?”
“Katanya nama Mutiara sudah pernah dibicarakan dalam keluarga kita sebelum saya bertemu dengannya.”
Pak Surya diam.
Aditya menunggu.
Mutiara menatap Pak Surya.
Bu Aminah menunduk.
Keheningan itu justru menjadi jawaban pertama.
Aditya menarik napas.
“Benar?”
Pak Surya akhirnya mengangguk.
“Benar.”
Mutiara menahan napas.
Aditya menatap ayahnya.
“Sejak kapan?”
Pak Surya mengusap wajahnya.
“Bertahun-tahun lalu.”
“Berapa tahun?”
“Sekitar enam atau tujuh tahun.”
Aditya membeku.
“Enam atau tujuh tahun?”
“Iya.”
“Waktu itu saya bahkan belum mengenal Mutiara.”
Pak Surya mengangguk.
“Belum.”
“Lalu bagaimana nama dia bisa dibicarakan?”
Pak Surya menatap Mutiara.
Kemudian kembali melihat Aditya.
“Karena waktu itu keluarga kami dan keluarga Mutiara sedang berada dalam satu persoalan.”
“Persoalan tanah?”
“Sebagian.”
“Sebagian?”
Pak Surya menarik napas.
“Tanah itu hanya bagian yang terlihat.”
Aditya mengerutkan kening.
“Lalu apa bagian yang tidak terlihat?”
Pak Surya diam cukup lama.
“Hubungan keluarga.”
Mutiara akhirnya berbicara.
“Hubungan keluarga?”
Pak Surya mengangguk.
“Dulu keluarga kami cukup dekat.”
“Dekat?” tanya Aditya.
“Iya.”
“Kenapa saya tidak pernah tahu?”
“Karena hubungan itu kemudian rusak.”
“Kenapa?”
Pak Surya menunduk.
“Karena kesalahpahaman.”
Aditya hampir tersenyum pahit.
“Lucu.”
Pak Surya menatapnya.
“Apa?”
“Semua masalah kita sekarang juga dimulai dari kesalahpahaman.”
Pak Surya tidak menjawab.
Mutiara memandang Pak Surya.
“Pak, saya ingin bertanya.”
“Silakan.”
“Apakah ayah saya pernah membuat janji kepada keluarga Bapak?”
Pak Surya mengangguk.
“Ada.”
“Janji apa?”
“Janji untuk menyelesaikan sebuah persoalan yang melibatkan dua keluarga.”
“Dan Rangga?”
Pak Surya terdiam.
“Dia membantu?”
“Iya.”
“Sebagai apa?”
“Sebagai orang yang dipercaya untuk menjadi perantara.”
Mutiara menatap Aditya.
“Berarti Rangga memang sudah mengenal keluargaku sejak lama.”
Pak Surya mengangguk.
“Ya.”
Mutiara menarik napas.
“Kenapa dia begitu berkepentingan terhadapku?”
Pak Surya tidak menjawab.
Aditya langsung menyela.
“Pak, jangan berhenti di sini.”
Pak Surya menatap anaknya.
“Ayah tahu jawabannya.”
“Lalu katakan.”
Pak Surya menunduk.
“Rangga dulu pernah mengajukan satu permintaan.”
“Apa?”
“Dia ingin menjadi bagian dari keluarga kami.”
Aditya mengerutkan kening.
“Bagian dari keluarga?”
“Ya.”
“Dengan cara apa?”
Pak Surya diam.
Bu Aminah akhirnya berbicara.
“Rangga pernah mengutarakan keinginan untuk menikahi Mutiara.”
Ruangan itu seketika sunyi.
Mutiara menatap Bu Aminah.
“Apa?”
Pak Surya mengangguk perlahan.
“Waktu itu Mutiara masih jauh lebih muda.”
Mutiara merasa tubuhnya kaku.
“Dan Ayah tahu?”
Pak Surya menjawab:
“Tahu.”
“Lalu Ayah menyetujuinya?”
“Tidak.”
Mutiara menatap ayah Aditya.
“Lalu kenapa namaku dibicarakan?”
Pak Surya menjawab pelan:
“Karena Rangga mengaitkannya dengan penyelesaian masalah keluarga.”
Aditya langsung berdiri.
“Jadi ini yang sebenarnya?”
Pak Surya menatap anaknya.
“Sebagian.”
“Sebagian lagi apa?”
“Rangga menawarkan bantuan untuk menyelesaikan persoalan tanah dengan syarat…”
Pak Surya berhenti.
Aditya menunggu.
“Dengan syarat apa?”
Pak Surya menarik napas.
“Bahwa suatu hari hubungan keluarga kita tidak akan ditutup.”
Aditya mengerutkan kening.
“Maksudnya?”
“Dia ingin tetap memiliki hubungan dekat dengan keluarga Mutiara.”
Mutiara langsung berdiri.
“Jadi aku dijadikan bagian dari sebuah kesepakatan?”
Pak Surya cepat menjawab:
“Tidak.”
“Tapi nama saya ada.”
“Iya.”
“Rangga meminta saya?”
“Dia meminta kemungkinan.”
Mutiara menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Bagi saya, itu tetap sama.”
Pak Surya terdiam.
Aditya memandang ayahnya dengan wajah kecewa.
“Kenapa Bapak tidak pernah cerita?”
“Karena tidak pernah terjadi apa-apa.”
“Tapi sekarang terjadi.”
“Karena keadaan berubah.”
“Bapak sadar tidak?”
Aditya menahan emosinya.
“Selama ini saya pikir saya bertemu Mutiara karena kebetulan.”
Mutiara menatapnya.
“Sekarang saya tidak tahu.”
Pak Surya menggeleng.
“Pertemuan kalian bukan rencana kami.”
“Benarkah?”
“Benar.”
“Bapak tidak pernah menyuruh saya mendekati Mutiara?”
“Tidak.”
“Bapak tidak pernah meminta siapa pun mempertemukan kami?”
“Tidak.”
Aditya menatap ayahnya.
“Lalu kenapa nama Mutiara ada dalam pembicaraan keluarga kita?”
Pak Surya menjawab:
“Karena sebelum kalian bertemu, kami sudah memiliki sejarah.”
Aditya terdiam.
Pak Surya melanjutkan:
“Sejarah itu tidak menentukan kalian.”
Mutiara berkata:
“Tapi sejarah itu memengaruhi kalian.”
Pak Surya mengangguk.
“Itu benar.”
Bu Aminah mendekati Mutiara.
“Maafkan kami.”
Mutiara menggeleng.
“Saya tidak marah kepada Ibu.”
“Lalu?”
“Saya hanya ingin mengerti.”
Bu Aminah mengangguk.
“Waktu itu kami semua takut.”
“Takut apa?”
“Takut masalah keluarga menjadi lebih besar.”
“Dan Rangga?”
“Dia menawarkan jalan keluar.”
Mutiara menatapnya.
“Dengan syarat?”
Bu Aminah terdiam.
Aditya menjawab:
“Hubungan dengan keluarga kita.”
Mutiara mengangguk perlahan.
“Jadi dia merasa memiliki hak?”
Bu Aminah tidak menjawab.
Aditya berkata:
“Bukan hak.”
Mutiara menatapnya.
“Lalu?”
“Kesempatan yang dia pikir pernah dijanjikan kepadanya.”
Malam itu, setelah dari rumah Aditya, Mutiara pulang bersama pikirannya yang penuh.
Pak Hendra sedang menunggunya.
Ketika Mutiara masuk, ayahnya langsung tahu bahwa ia sudah mengetahui sebagian besar cerita.
“Sudah bicara dengan Pak Surya?”
“Sudah.”
Pak Hendra mengangguk.
“Apa yang dia katakan?”
“Bahwa Rangga pernah ingin menikahiku.”
Pak Hendra menutup mata sesaat.
Mutiara menatapnya.
“Benar?”
“Benar.”
“Kenapa Ayah tidak pernah mengatakan?”
“Karena Ayah menolaknya.”
“Tapi Ayah pernah mempertimbangkannya?”
Pak Hendra terdiam.
“Jawab, Yah.”
“Iya.”
Mutiara menahan air mata.
“Kenapa?”
“Karena waktu itu keadaan keluarga kita sulit.”
“Jadi Ayah mempertimbangkan aku sebagai bagian dari penyelesaian masalah?”
“Tidak.”
“Tapi namaku disebut.”
“Iya.”
“Berarti aku tetap menjadi bagian dari pembicaraan.”
Pak Hendra berdiri.
“Tidak pernah ada keputusan tentang hidupmu.”
“Kalau begitu kenapa Rangga merasa memiliki kesempatan?”
Pak Hendra terdiam.
“Karena kesalahan kita.”
Mutiara terkejut.
“Ayah mengaku?”
“Ya.”
Pak Hendra menghela napas.
“Dulu kami terlalu sering berbicara tentang masa depanmu tanpa bertanya apa yang kamu inginkan.”
Mutiara menunduk.
“Dan sekarang?”
“Sekarang Ayah sadar.”
“Sudah terlambat?”
Pak Hendra memandang putrinya.
“Tidak.”
Mutiara menatapnya.
“Karena pilihan tetap milikmu.”
Air mata Mutiara jatuh.
Untuk pertama kalinya, ia mendengar kalimat itu dari ayahnya.
Namun di luar rumah itu, seseorang sedang berdiri di dalam kendaraan.
Rangga.
Ia tidak turun.
Ia hanya menatap rumah Mutiara dari kejauhan.
Ponselnya berdering.
“Sudah terbuka?”
Rangga menjawab:
“Sebagian.”
“Dan?”
“Mereka mulai mengerti.”
“Apakah itu sesuai rencana?”
Rangga diam.
“Tidak sepenuhnya.”
“Kenapa?”
“Karena Aditya dan Mutiara ternyata lebih kuat daripada yang saya kira.”
“Lalu?”
Rangga tersenyum tipis.
“Kalau begitu, kita tidak perlu menghancurkan hubungan mereka.”
“Lalu?”
“Kita hanya perlu membuat mereka meragukan asal hubungan itu.”
Keesokan harinya, sebuah kabar mengejutkan datang kepada Aditya.
Rizal menelepon.
“Dit.”
“Iya?”
“Aku menemukan sesuatu.”
“Apa?”
“Nama Rangga ada di perusahaan yang dulu menangani urusan tanah keluargamu.”
Aditya terdiam.
“Sebagai apa?”
“Bukan sebagai pegawai.”
“Lalu?”
“Sebagai pemegang kepentingan.”
Aditya berdiri.
“Apa maksudnya?”
“Aku belum yakin.”
“Cek lagi.”
“Sudah.”
“Dan?”
“Namanya muncul beberapa kali.”
Aditya menghela napas.
“Berarti dia bukan hanya saksi.”
“Betul.”
“Dia terlibat.”
“Iya.”
Aditya menutup telepon.
Ia langsung menemui Mutiara.
“Ada sesuatu lagi.”
Mutiara menatapnya.
“Apa?”
“Rangga ternyata memiliki hubungan bisnis dengan pihak yang menangani masalah tanah keluargaku.”
Mutiara terdiam.
“Sejak kapan?”
“Bertahun-tahun.”
“Jadi dia memang punya kepentingan.”
“Sepertinya.”
Mutiara memandang jalan di depannya.
“Aditya…”
“Ya?”
“Bagaimana kalau sejak awal dia tidak mengejarku karena cinta?”
Aditya terdiam.
“Bagaimana kalau dia mengejar sesuatu yang jauh lebih besar?”
Mutiara menatapnya.
“Tanah?”
“Mungkin.”
“Kesepakatan?”
“Mungkin.”
“Kelompok usaha?”
“Mungkin.”
“Lalu aku?”
Aditya menggeleng.
“Kamu mungkin hanya bagian dari jalan menuju sesuatu yang dia inginkan.”
Kalimat itu membuat Mutiara menunduk.
“Aku tidak ingin menjadi alat.”
“Kamu bukan alat.”
“Tapi mereka membicarakanku.”
“Dulu.”
“Dan sekarang?”
Aditya menggenggam tangannya.
“Sekarang kamu menentukan sendiri.”
Sore menjelang malam.
Aditya menerima pesan.
Kali ini bukan pesan anonim.
Nomor yang muncul jelas.
Rangga.
Pesannya singkat.
“Kamu sudah mengetahui sebagian. Kalau ingin mengetahui semuanya, datang ke tempat pertama kali keluarga kita membuat kesepakatan.”
Aditya menatap layar.
Mutiara berada di sampingnya.
“Apa katanya?”
Aditya memperlihatkan pesan itu.
Mutiara membaca.
“Tempat pertama kali?”
Aditya mengangguk.
“Di mana?”
“Aku tidak tahu.”
Beberapa detik kemudian, pesan kedua masuk.
“Jangan bawa siapa pun. Kali ini bukan tentang Mutiara. Ini tentang ayahmu.”
Aditya membeku.
Mutiara menatapnya.
“Jangan pergi.”
Aditya mengangguk.
“Aku tidak akan pergi sendiri.”
“Tapi dia bilang jangan bawa siapa pun.”
“Aku tahu.”
“Kalau itu jebakan?”
“Mungkin.”
“Lalu?”
Aditya menatap Mutiara.
“Aku ingin tahu apa yang sebenarnya disembunyikan ayahku.”
Malam itu Aditya kembali ke rumah.
Ia menemukan Pak Surya duduk sendirian.
“Pak.”
“Iya?”
“Rangga menghubungi saya.”
Pak Surya langsung mengangkat wajah.
“Dia mengatakan apa?”
“Katanya saya harus datang ke tempat pertama kali keluarga kita membuat kesepakatan.”
Pak Surya terdiam.
Aditya menatapnya.
“Bapak tahu tempatnya.”
Pak Surya tidak menjawab.
“Pak.”
“Ayah tahu.”
“Di mana?”
Pak Surya berdiri.
“Tidak perlu kamu datang.”
“Kenapa?”
“Karena tempat itu menyimpan sesuatu yang tidak ingin Ayah lihat lagi.”
“Justru karena itu saya harus tahu.”
“Tidak.”
“Bapak tidak bisa terus melindungi saya dengan cara menyembunyikan kebenaran.”
Pak Surya menatap anaknya.
“Ayah hanya ingin kamu bahagia.”
“Saya tidak bisa bahagia kalau hidup saya dibangun dari rahasia.”
Kalimat itu membuat Pak Surya terdiam.
Aditya melanjutkan:
“Bapak ingin saya menikahi Mutiara?”
Pak Surya mengangguk perlahan.
“Kalau memang itu pilihanmu.”
“Bapak ingin saya meninggalkannya?”
“Tidak.”
“Lalu apa yang Bapak takutkan?”
Pak Surya menatap anaknya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Bukan Mutiara yang Ayah takutkan.”
“Lalu?”
“Janji yang pernah Ayah buat.”
Aditya terdiam.
“Janji apa?”
Pak Surya menjawab pelan:
“Bahwa suatu hari, kalau keadaan memaksa, keluarga kita tidak boleh saling menghancurkan lagi.”
Aditya mengerutkan kening.
“Kenapa?”
Pak Surya menunduk.
“Karena dulu ada seseorang yang hampir kehilangan segalanya akibat keputusan kami.”
“Siapa?”
Pak Surya tidak menjawab.
“Siapa, Pak?”
Pak Surya akhirnya menatap anaknya.
“Rangga.”
Aditya membeku.
“Apa?”
“Rangga bukan hanya orang yang datang setelah masalah.”
Pak Surya menarik napas panjang.
“Dia adalah bagian dari alasan mengapa masalah itu terjadi.”
Aditya tidak mampu berkata apa-apa.
“Dan selama ini,” lanjut Pak Surya, “Ayah berusaha menutup semuanya karena Ayah tahu kalau kebenaran itu terbuka…”
Ia berhenti.
“...kamu mungkin akan membenci Ayah.”
Aditya menatap ayahnya.
“Bapak salah.”
Pak Surya menunduk.
“Bukan karena masa lalu.”
Aditya menahan air mata.
“Tapi karena Bapak tidak pernah memberi saya kesempatan untuk memahami.”
Pak Surya diam.
Aditya berjalan mendekat.
“Sekarang beri saya kesempatan itu.”
Pak Surya menatap anaknya.
“Besok.”
“Besok?”
“Kita pergi ke tempat itu.”
“Bersama?”
Pak Surya mengangguk.
“Bersama.”
Malam semakin larut.
Aditya keluar dari rumah.
Ia menelepon Mutiara.
“Aku sudah bicara dengan Bapak.”
“Bagaimana?”
“Besok beliau akan membawaku ke tempat itu.”
Mutiara terdiam.
“Tempat kesepakatan?”
“Iya.”
“Dan?”
“Bapak bilang Rangga bukan hanya orang yang datang setelah masalah.”
Mutiara menahan napas.
“Lalu?”
“Dia bagian dari alasan masalah itu terjadi.”
Mutiara terdiam cukup lama.
“Aditya…”
“Iya?”
“Aku rasa kita sudah terlalu jauh untuk kembali.”
Aditya tersenyum kecil.
“Memang.”
“Aku tidak tahu apa yang akan kita temukan besok.”
“Aku juga.”
“Kalau kebenarannya menyakitkan?”
“Kita hadapi.”
“Kalau membuat keluargamu hancur?”
“Kita tidak menghancurkan mereka.”
“Kalau membuat keluargaku membencimu?”
“Kita tidak bisa mengendalikan perasaan mereka.”
Mutiara menarik napas.
“Tapi kamu tetap akan tinggal?”
Aditya menjawab:
“Selama kamu masih ingin aku tinggal.”
Mutiara terdiam.
Kemudian berkata:
“Aku ingin.”
Aditya tersenyum.
“Kalau begitu aku tinggal.”
Di tempat lain, Rangga berdiri di depan sebuah jendela.
Ia menerima pesan dari seseorang.
“Besok Pak Surya akan membawa Aditya ke tempat itu.”
Rangga membaca pesan tersebut.
Kemudian membalas:
“Biarkan.”
Beberapa detik kemudian muncul balasan:
“Kamu yakin?”
Rangga menatap malam.
“Sudah waktunya mereka tahu.”
Ia mematikan ponsel.
Untuk pertama kalinya, wajahnya tidak terlihat tenang.
Ada sesuatu yang lebih dalam di matanya.
Bukan kemenangan.
Bukan kemarahan.
Melainkan sesuatu yang menyerupai ketakutan.
Seolah ia sendiri tahu bahwa apabila rahasia itu terbuka sepenuhnya, bukan hanya Aditya dan Mutiara yang akan berubah.
Dirinya juga akan kehilangan sesuatu.
Keesokan paginya, Aditya berdiri di depan rumah bersama Pak Surya.
Sebuah kendaraan sudah siap.
Sebelum masuk, Aditya bertanya:
“Pak.”
“Ya?”
“Setelah hari ini, apakah semuanya akan selesai?”
Pak Surya menatapnya.
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena beberapa kebenaran tidak menyelesaikan masalah.”
Aditya menunggu.
“Kebenaran hanya menunjukkan kepada kita masalah yang sebenarnya.”
Aditya mengangguk.
Mereka masuk ke kendaraan.
Mesin menyala.
Kuala Kapuas perlahan bergerak di balik kaca.
Aditya menatap jalan.
Di dalam dirinya ada ketakutan.
Tetapi juga keyakinan.
Apa pun yang akan mereka temukan hari itu, ia tidak ingin lagi hidup dalam cerita yang ditulis orang lain.
Karena cinta bukan sekadar menemukan seseorang.
Kadang cinta adalah keberanian untuk tetap menggenggam tangan seseorang setelah mengetahui bahwa jalan menuju kebersamaan ternyata jauh lebih panjang daripada yang pernah dibayangkan.
Dan di ujung perjalanan itu, sebuah rahasia sedang menunggu.
Rahasia yang selama bertahun-tahun dikunci oleh dua keluarga.
Rahasia yang membuat Rangga kembali.
Rahasia yang membuat nama Mutiara disebut jauh sebelum Aditya mengenalnya.
Dan rahasia yang sebentar lagi akan mengubah seluruh cara mereka memandang masa lalu.
Sebab ternyata, sebelum Aditya mencintai Mutiara, ada sebuah janji yang lebih dahulu mengikat nama mereka.
BAB XIV
KETIKA SEMUA RAHASIA TERBUKA
Kendaraan yang membawa Aditya dan Pak Surya meninggalkan pusat Kuala Kapuas perlahan.
Pagi itu langit tampak mendung.
Tidak hujan, tetapi awan tebal menggantung rendah seolah menyimpan sesuatu yang belum selesai.
Aditya duduk di kursi depan.
Pak Surya menyetir.
Sejak meninggalkan rumah, hampir tidak ada percakapan.
Beberapa kali Aditya ingin bertanya.
Namun setiap kali ia membuka mulut, kata-kata itu kembali tertahan.
Ia tahu perjalanan ini bukan sekadar menuju sebuah tempat.
Ia sedang menuju bagian masa lalu yang selama bertahun-tahun sengaja ditutup oleh ayahnya.
Akhirnya Aditya berkata:
“Masih jauh, Pak?”
“Tidak.”
Beberapa menit kemudian, kendaraan berbelok meninggalkan jalan utama.
Aditya memperhatikan sekeliling.
Tempat itu semakin sepi.
Pepohonan tumbuh di sepanjang sisi jalan.
Tidak banyak rumah.
Pak Surya kemudian memperlambat kendaraan.
“Dulu tempat ini ramai,” katanya.
“Sekarang?”
“Sudah berubah.”
Aditya melihat ke depan.
Sebuah bangunan lama mulai terlihat.
Bangunan itu sederhana.
Catnya telah memudar.
Beberapa bagian dinding terlihat kusam.
Namun ada sesuatu yang membuat Aditya merasa pernah melihat tempat itu.
“Di sini?”
Pak Surya mengangguk.
“Iya.”
Aditya turun dari kendaraan.
Pak Surya ikut turun.
Mereka berdiri beberapa saat di depan bangunan.
Aditya memandang pintunya.
“Di sinilah?”
“Di sinilah semuanya dimulai.”
Mereka masuk.
Di dalam terdapat ruangan yang cukup luas.
Ada meja kayu tua.
Beberapa kursi.
Rak dokumen yang sudah berdebu.
Pak Surya berjalan menuju sebuah lemari.
Ia membuka pintunya.
Mengambil sebuah kotak.
Kotak yang sama sekali berbeda dari dokumen yang pernah diberikan sebelumnya.
Aditya memperhatikannya.
“Bapak menyimpan ini selama bertahun-tahun?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena saya tidak pernah punya keberanian untuk membukanya lagi.”
Aditya terdiam.
Pak Surya meletakkan kotak di atas meja.
Kemudian membukanya.
Di dalam terdapat beberapa surat lama.
Satu foto.
Dan sebuah amplop yang terlihat jauh lebih tua.
Pak Surya mengambil foto.
Ia menyerahkannya kepada Aditya.
Aditya melihat.
Foto itu memperlihatkan empat orang.
Pak Surya.
Pak Hendra.
Seorang pria yang tidak dikenal Aditya.
Dan Rangga.
Tetapi Rangga terlihat jauh lebih muda.
Aditya menunjuk pria yang tidak dikenalnya.
“Siapa?”
Pak Surya menarik napas.
“Namanya Arman.”
“Siapa dia?”
“Pemilik usaha yang waktu itu menjadi pihak utama dalam persoalan tanah.”
Aditya melihat foto itu lagi.
“Kenapa dia penting?”
“Karena tanah yang menjadi persoalan dahulu bukan milik keluarga kita sepenuhnya.”
“Lalu?”
“Arman memiliki hak atas bagian tanah itu.”
Aditya mengerutkan kening.
“Dan Rangga?”
“Rangga bekerja sama dengannya.”
Aditya terdiam.
“Dalam urusan apa?”
“Pengembangan lahan.”
“Jadi sejak awal…”
Pak Surya mengangguk.
“Rangga memiliki kepentingan ekonomi.”
Aditya merasa beberapa potongan cerita mulai tersambung.
“Lalu keluarga Mutiara?”
“Pada saat itu, sebagian tanah tersebut digunakan dan dikelola oleh keluarga Mutiara.”
“Tanpa izin?”
Pak Surya menggeleng.
“Masalahnya justru di sana.”
“Bagaimana?”
“Dokumen kepemilikannya tumpang tindih.”
Aditya menghela napas.
“Dan keluarga kita ikut terseret?”
“Ya.”
“Lalu kenapa nama Mutiara muncul?”
Pak Surya menatap anaknya.
“Karena Pak Hendra mempunyai satu-satunya cara yang menurutnya bisa menyelesaikan konflik.”
“Apa?”
“Menjaga hubungan kedua keluarga.”
Aditya terdiam.
“Dengan cara?”
Pak Surya tidak langsung menjawab.
Kemudian berkata:
“Menjodohkan anak-anak.”
Aditya membeku.
“Bapak…”
“Bukan keputusan resmi.”
“Tapi pernah dibicarakan.”
“Iya.”
“Dan anak-anak yang dimaksud…”
Pak Surya menatap Aditya.
“Kamu dan Mutiara.”
Ruangan itu terasa semakin sunyi.
Aditya berjalan beberapa langkah.
Ia seperti membutuhkan ruang untuk bernapas.
“Jadi sebelum kami bertemu…”
“Iya.”
“Orang tua kami sudah pernah membicarakan kemungkinan itu?”
“Iya.”
Aditya menatap ayahnya.
“Apakah Mutiara tahu?”
“Tidak.”
“Apakah saya tahu?”
“Tidak.”
“Apakah Rangga tahu?”
Pak Surya diam.
Aditya langsung memahami.
“Dia tahu.”
“Iya.”
Aditya menunduk.
Ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan.
Selama ini ia percaya perasaannya kepada Mutiara tumbuh secara alami.
Tanpa campur tangan siapa pun.
Namun sekarang ia mengetahui bahwa nama mereka pernah berada dalam satu pembicaraan keluarga sebelum mereka saling mengenal.
“Pak.”
“Iya.”
“Apakah perasaan saya kepada Mutiara juga bagian dari rencana?”
Pak Surya menatap anaknya.
“Tidak.”
“Bapak yakin?”
“Tidak seorang pun bisa merencanakan perasaan.”
Aditya terdiam.
Pak Surya melanjutkan:
“Pertemuan kalian mungkin diketahui lebih dulu oleh keluarga. Tetapi cinta kalian bukan milik kami.”
Aditya menatap ayahnya.
Kalimat itu sedikit menenangkan.
Namun belum cukup.
“Lalu Rangga?”
Pak Surya menghela napas.
“Rangga merasa punya hak karena sejak awal dia terlibat dalam persoalan itu.”
“Padahal Mutiara tidak pernah memilihnya.”
“Benar.”
“Kenapa Bapak membiarkannya?”
“Saya tidak membiarkannya.”
“Lalu?”
“Saya pernah meminta dia berhenti.”
“Dan?”
“Dia mengatakan bahwa semua yang terjadi memiliki kesepakatan.”
Aditya menatap ayahnya.
“Kesepakatan apa?”
Pak Surya mengambil sebuah surat.
“Ini.”
Aditya menerimanya.
Ia membaca.
Surat itu merupakan pernyataan lama tentang penyelesaian sengketa.
Namun di bagian akhir terdapat satu klausul yang membuat Aditya terdiam.
Hubungan antarkeluarga harus tetap dipelihara dan tidak boleh diputuskan secara sepihak selama kepentingan bersama belum diselesaikan.
Aditya membaca lagi.
“Ini yang membuat Rangga merasa memiliki hak?”
Pak Surya mengangguk.
“Dia menafsirkan kalimat itu sesuai kepentingannya.”
“Padahal ini tidak menyebut Mutiara.”
“Benar.”
“Lalu kenapa dia menggunakan nama Mutiara?”
“Karena dulu kami pernah membicarakan kemungkinan hubungan keluarga.”
Aditya menutup mata.
“Jadi dia menggabungkan kesepakatan dengan pembicaraan keluarga.”
“Iya.”
“Lalu menjadikannya seolah-olah janji.”
Pak Surya mengangguk.
“Begitulah.”
Sementara itu, Mutiara berada di rumah bersama ayah dan ibunya.
Ia sudah mengetahui bahwa Aditya pergi bersama Pak Surya.
Ia tidak tahu apa yang akan mereka temukan.
Pak Hendra duduk diam.
Mutiara memecah keheningan.
“Ayah.”
“Ya?”
“Apakah Ayah pernah benar-benar ingin aku menikah dengan Rangga?”
Pak Hendra menatap putrinya.
“Pernah mempertimbangkan.”
“Kenapa?”
“Karena waktu itu saya pikir dia mampu membantu keluarga.”
“Jadi bukan karena aku?”
Pak Hendra menggeleng.
“Bukan.”
Mutiara menatap ayahnya.
“Lalu kenapa sekarang Ayah masih sulit menerima Aditya?”
Pak Hendra terdiam.
Bu Ratna memandang suaminya.
Pak Hendra akhirnya berkata:
“Karena saya takut kamu mengalami kehidupan yang sulit.”
“Dengan Aditya?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena saya tahu keluarganya memiliki masalah.”
Mutiara mengangguk.
“Dan Rangga?”
“Dia terlihat lebih siap.”
“Terlihat?”
Pak Hendra diam.
Mutiara melanjutkan:
“Jadi selama ini Ayah memilih berdasarkan apa yang terlihat.”
Pak Hendra menunduk.
“Kadang orang tua memang begitu.”
Mutiara tersenyum sedih.
“Padahal yang menjalani hidup itu anaknya.”
Pak Hendra menatapnya.
“Sekarang Ayah tahu.”
Di tempat lain, Rangga menerima telepon.
“Aditya sudah sampai.”
Rangga terdiam.
“Dia menemukan dokumen?”
“Ya.”
“Dan?”
“Pak Surya menjelaskan.”
Rangga menutup mata.
Ia tahu waktunya semakin dekat.
Namun ia tidak mundur.
Ia mengambil sebuah map terakhir.
Di dalamnya terdapat dokumen yang selama ini ia simpan.
Dokumen yang bahkan tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.
Ia membuka halaman pertama.
Ada sebuah tanda tangan.
Tanda tangan Pak Hendra.
Dan satu lagi.
Pak Surya.
Rangga menyentuh kertas itu.
“Sekarang kalian harus menepati janji.”
Kembali di bangunan tua itu, Aditya bertanya:
“Pak, kenapa Bapak masih menyimpan semua ini?”
Pak Surya menjawab:
“Karena ada satu bagian yang belum Ayah selesaikan.”
“Apa?”
Pak Surya mengambil amplop terakhir.
“Ini.”
Aditya membuka.
Di dalamnya terdapat surat.
Namun surat itu bukan dari Pak Surya.
Bukan pula dari Pak Hendra.
Nama pengirimnya membuat Aditya terdiam.
Rangga Mahendra.
Tanggalnya bertahun-tahun lalu.
Aditya membaca.
Isi surat tersebut membuat wajahnya berubah.
“Pak…”
“Iya.”
“Kenapa surat ini tidak pernah dikirim?”
Pak Surya menggeleng.
“Karena Ayah memilih menyimpannya.”
“Apa isinya?”
“Baca.”
Aditya membaca lebih lanjut.
Surat itu berisi permintaan Rangga agar kedua keluarga menjalankan kesepakatan lama.
Namun ada satu kalimat yang paling menarik perhatian Aditya.
Jika keluarga tidak bersedia memenuhi kesepakatan, saya akan membuka seluruh dokumen kepada pihak yang berkepentingan.
Aditya mengangkat wajah.
“Ini ancaman.”
Pak Surya mengangguk.
“Ya.”
“Kenapa Bapak diam?”
“Karena saat itu Ayah menganggapnya hanya kemarahan.”
“Dan sekarang?”
“Sekarang dia menepatinya.”
Tiba-tiba terdengar suara kendaraan berhenti di luar.
Aditya menoleh.
Pak Surya juga.
Pintu terbuka.
Pak Hendra berdiri di sana.
Di belakangnya ada Bu Ratna dan Mutiara.
Aditya terkejut.
“Kalian?”
Mutiara tersenyum tipis.
“Aku tidak mau menunggu di rumah.”
Pak Hendra masuk.
Ia menatap Pak Surya.
Keduanya saling memandang.
Tidak ada salam.
Tidak ada basa-basi.
Hanya dua orang yang telah menyimpan rahasia bertahun-tahun.
Akhirnya Pak Hendra berkata:
“Sudah waktunya.”
Pak Surya mengangguk.
“Iya.”
Aditya menatap keduanya.
“Jadi kalian akan menjelaskan semuanya?”
Pak Hendra menjawab:
“Ya.”
Mutiara berdiri di samping Aditya.
Pak Surya membuka dokumen.
“Dulu kami membuat kesepakatan.”
Pak Hendra melanjutkan:
“Kesepakatan itu dibuat untuk mengakhiri konflik keluarga.”
“Dan Rangga?” tanya Aditya.
Pak Hendra menjawab:
“Rangga menjadi perantara.”
“Bukan pemilik kesepakatan?”
“Bukan.”
“Lalu kenapa dia merasa berhak?”
Pak Hendra menarik napas.
“Karena dia memberikan sesuatu.”
“Apa?”
“Bantuan.”
“Bantuan apa?”
“Dana.”
Aditya terdiam.
“Untuk menyelesaikan masalah tanah?”
Pak Hendra mengangguk.
“Berapa?”
Pak Hendra menyebutkan jumlahnya.
Aditya terkejut.
“Sebesar itu?”
“Iya.”
“Dan sebagai gantinya?”
Pak Hendra menatap Mutiara.
“Dia meminta jaminan.”
Mutiara menegang.
“Jaminan apa?”
Pak Hendra menunduk.
“Bahwa jika suatu hari keluarga kita kembali mengalami masalah, dia akan diberi hak untuk membantu menyelesaikannya.”
Aditya mengerutkan kening.
“Itu saja?”
Pak Hendra diam.
“Pak?”
Akhirnya Pak Hendra berkata:
“Dan ada pembicaraan tentang hubungan keluarga.”
Mutiara memejamkan mata.
“Jadi benar.”
Bu Ratna mendekatinya.
“Tidak pernah ada pernikahan yang diputuskan.”
“Tapi dibicarakan.”
“Iya.”
Mutiara menatap ayahnya.
“Aku merasa seperti barang yang dipindahkan dari satu kesepakatan ke kesepakatan lain.”
Pak Hendra tampak terpukul.
“Tidak pernah begitu.”
“Tapi begitulah rasanya.”
Aditya berdiri.
“Kalau begitu saya ingin bertanya kepada Rangga sendiri.”
Pak Surya menatapnya.
“Jangan.”
“Kenapa?”
“Karena sekarang kamu tahu dia punya bukti.”
“Dan?”
“Dia bisa menggunakan bukti itu.”
Aditya menatap ayahnya.
“Saya tidak takut.”
Pak Surya menggeleng.
“Ini bukan soal takut.”
“Lalu?”
“Ini soal jangan memberikan kepadanya kesempatan untuk mengendalikan arah cerita.”
Mutiara mengangguk.
“Ayah benar.”
Aditya menatapnya.
Mutiara berkata:
“Kita tidak boleh bermain di aturan yang dia buat.”
Pak Hendra mengangguk.
“Untuk pertama kalinya, saya setuju.”
Namun sebelum mereka meninggalkan bangunan itu, suara langkah terdengar.
Semua orang menoleh.
Rangga muncul di pintu.
Tidak ada yang terkejut.
Seolah kedatangannya sudah diperkirakan.
“Jadi akhirnya kita semua berkumpul.”
Pak Hendra menatapnya.
“Kamu mengikuti kami?”
Rangga tersenyum.
“Tidak perlu mengikuti.”
“Lalu?”
“Tempat ini juga bagian dari hidup saya.”
Aditya maju.
“Kenapa kamu melakukan semua ini?”
Rangga menatapnya.
“Karena saya menunggu.”
“Menunggu apa?”
“Menunggu janji yang pernah dibuat.”
“Janji itu tidak pernah menjadikan Mutiara milikmu.”
Rangga menatap Mutiara.
“Saya tahu.”
“Lalu?”
“Saya tidak pernah mengatakan dia milik saya.”
Mutiara langsung menyela.
“Tapi kamu bertindak seolah-olah aku harus memilihmu.”
Rangga terdiam.
“Kamu mengirim foto.”
“Ya.”
“Pesan.”
“Ya.”
“Dokumen.”
“Ya.”
“Kenapa?”
Rangga menatapnya.
“Karena saya ingin kamu melihat bahwa Aditya tidak sesempurna yang kamu pikirkan.”
Mutiara menjawab:
“Dan ternyata kamu juga tidak.”
Rangga tersenyum tipis.
“Tidak ada manusia yang sempurna.”
Aditya berkata:
“Tapi ada manusia yang memilih jujur.”
Rangga menatapnya.
“Dan ada manusia yang menyembunyikan sesuatu demi cinta.”
Aditya terdiam.
Mutiara menggenggam tangannya.
Rangga melihat itu.
Kemudian berkata:
“Lihatlah.”
Ia menunjuk tangan mereka.
“Bahkan setelah mengetahui semuanya, kalian masih memilih berdiri bersama.”
Mutiara menjawab:
“Karena cinta kami bukan bagian dari kesepakatanmu.”
Rangga tidak langsung menjawab.
Untuk pertama kalinya, wajahnya terlihat kehilangan ketenangan.
Pak Surya maju.
“Rangga.”
“Ya.”
“Kesepakatan itu selesai.”
“Belum.”
“Sudah.”
“Belum menurut dokumen.”
Pak Surya menatapnya.
“Dokumen tidak pernah memberi kamu hak atas Mutiara.”
Rangga terdiam.
Pak Hendra berkata:
“Dan saya tidak pernah menjanjikan putri saya kepadamu.”
Rangga menatapnya.
“Saya tahu.”
“Lalu apa yang kamu cari?”
Rangga tidak menjawab.
Aditya bertanya:
“Tanah?”
Rangga diam.
“Uang?”
Masih diam.
“Perusahaan?”
Rangga menatap Aditya.
“Bukan.”
“Lalu?”
Rangga akhirnya berkata:
“Saya ingin pengakuan.”
Semua orang terdiam.
“Pengakuan bahwa saya pernah membantu kalian.”
Pak Hendra menjawab:
“Kamu sudah mendapatkannya.”
“Tidak.”
Rangga menggeleng.
“Saya kehilangan banyak hal karena membantu keluarga kalian.”
Mutiara menatapnya.
“Apa yang hilang?”
Rangga terdiam.
Beberapa detik kemudian ia menjawab:
“Kepercayaan.”
Mutiara mengerutkan kening.
“Dari siapa?”
Rangga menatap Pak Hendra.
“Dari keluarga yang dulu mengatakan saya bagian dari mereka.”
Pak Hendra diam.
Rangga melanjutkan:
“Lalu ketika keadaan berubah, saya dianggap orang luar.”
Aditya menatapnya.
Untuk sesaat, ia melihat sisi Rangga yang selama ini tidak pernah ditunjukkan.
Bukan hanya ambisi.
Ada luka.
Namun luka itu tidak menghapus pilihan-pilihan yang telah ia buat.
Mutiara berkata pelan:
“Kalau kamu merasa dikhianati, kamu bisa mengatakan itu.”
Rangga menatapnya.
“Dan apakah kalian akan mendengarkan?”
Mutiara menjawab:
“Kalau kamu datang tanpa merusak hidup orang lain.”
Rangga terdiam.
Hening.
Untuk pertama kalinya, tidak ada yang menyerang.
Tidak ada yang membela diri.
Hanya ada manusia-manusia yang berdiri di hadapan masa lalu mereka.
Pak Hendra akhirnya berkata:
“Rangga, saya berutang kepadamu.”
Rangga menatapnya.
“Ya.”
“Tapi saya tidak berutang masa depan anak saya.”
Rangga terdiam.
“Kalau bantuanmu dulu membuat kami selamat, saya berterima kasih.”
Pak Hendra menarik napas.
“Tapi itu tidak berarti kamu berhak menentukan siapa yang dicintai Mutiara.”
Rangga menunduk.
Aditya memandang Mutiara.
Mutiara menggenggam tangannya.
Rangga akhirnya berkata:
“Kalau begitu, kita selesaikan semuanya secara terbuka.”
Pak Surya mengerutkan kening.
“Maksudmu?”
“Dokumen.”
“Untuk apa?”
“Saya akan serahkan semua dokumen yang saya punya.”
“Lalu?”
“Kita selesaikan secara resmi.”
Pak Hendra menatapnya.
“Tanpa membawa nama anak-anak?”
Rangga mengangguk.
“Tanpa membawa Mutiara.”
Aditya menatapnya.
“Dan tanpa membawa hubungan kami?”
Rangga mengangguk.
“Ya.”
Mutiara terkejut.
“Kenapa?”
Rangga memandangnya.
“Karena mungkin saya baru menyadari satu hal.”
“Apa?”
“Tidak semua yang kita perjuangkan harus menjadi milik kita.”
Mutiara terdiam.
Rangga berbalik.
Sebelum pergi, ia berhenti.
“Aditya.”
“Ya?”
“Jaga dia.”
Aditya mengangguk.
“Saya akan.”
Rangga menatap Mutiara.
“Dan kamu…”
Mutiara menunggu.
“Jangan pernah membiarkan siapa pun memilihkan hidupmu.”
Kemudian Rangga pergi.
Ruangan itu kembali sunyi.
Aditya menatap Mutiara.
Mutiara menatapnya.
Pak Hendra duduk.
Pak Surya menghela napas panjang.
Tidak semua masalah selesai hari itu.
Masih ada dokumen yang harus diselesaikan.
Masih ada persoalan lama yang harus dibereskan.
Masih ada luka yang tidak mungkin sembuh hanya dengan satu percakapan.
Tetapi satu hal telah berubah.
Tidak ada lagi rahasia yang berdiri di antara Aditya dan Mutiara.
Untuk pertama kalinya, mereka mengetahui bahwa hubungan mereka memang pernah berada di dalam pembicaraan orang lain.
Namun cinta mereka sendiri tidak pernah dibuat oleh siapa pun.
Mereka yang menjalani.
Mereka yang memilih.
Dan mereka pula yang akan menentukan ke mana hubungan itu dibawa.
Ketika mereka meninggalkan bangunan tua itu, matahari mulai muncul di balik awan.
Mutiara berjalan di samping Aditya.
“Aditya.”
“Ya?”
“Apakah semuanya sudah selesai?”
Aditya tersenyum.
“Belum.”
Mutiara menatapnya.
“Kenapa tersenyum?”
“Karena sekarang kita tahu apa yang harus diselesaikan.”
Mutiara mengangguk.
Ia kemudian menggenggam tangan Aditya.
Mereka berjalan menuju kendaraan.
Di belakang mereka, bangunan tua itu tetap berdiri.
Menyimpan jejak masa lalu.
Namun tidak lagi menyimpan rahasia.
Dan jauh di depan sana, Kuala Kapuas kembali bergerak seperti biasa.
Jalan-jalan terbuka.
Kendaraan melintas.
Orang-orang menjalani kehidupan.
Sementara dua manusia yang pernah kehilangan satu sama lain kini mulai memahami sesuatu yang lebih besar:
Cinta tidak selalu diuji oleh jarak.
Kadang cinta diuji oleh kebenaran.
Dan setelah semua kebenaran terbuka, mereka masih memiliki satu perjalanan terakhir.
Bukan untuk mencari siapa yang salah.
Bukan untuk memenangkan pertarungan.
Melainkan untuk memastikan bahwa ketika mereka memilih jalan pulang, tidak ada lagi rahasia yang tertinggal di belakang.
BAB XV
JALAN PULANG YANG TERTUNDA
Sore itu, Kuala Kapuas tampak seperti sedang menahan napas.
Langit perlahan berubah warna. Cahaya matahari yang sejak siang menggantung tinggi mulai merendah di balik garis pepohonan. Jalan-jalan kota masih dilalui kendaraan, suara mesin sesekali terdengar dari kejauhan, dan orang-orang menjalani aktivitas seperti biasa.
Namun bagi Aditya, sore itu bukan sore biasa.
Ia berdiri di dekat Bundaran Besar, tempat yang sejak awal menjadi saksi perjalanan mereka.
Di hadapannya, Tugu Batang Garing berdiri tegak.
Tidak berubah.
Tidak pernah bertanya kepada siapa pun mengapa mereka datang, mengapa mereka pergi, atau mengapa mereka kembali.
Empat jalan yang mengelilinginya tetap membawa kendaraan menuju arah yang berbeda.
Ke timur.
Ke utara.
Ke selatan.
Ke barat.
Dulu, ketika pertama kali datang bersama Mutiara, mereka pernah berbicara tentang empat jalan itu.
Mutiara mengatakan bahwa setiap manusia selalu berhadapan dengan pilihan.
Aditya masih mengingat kalimat itu.
“Kadang kita bukan bingung mau pergi ke mana,” kata Mutiara waktu itu, “tetapi bingung siapa yang akan tetap berjalan bersama kita.”
Aditya tersenyum kecil mengingatnya.
Betapa sederhana percakapan itu dahulu.
Betapa tidak sederhananya kehidupan setelahnya.
“Masih suka melamun di tempat ini?”
Suara Fajar membuat Aditya menoleh.
Fajar datang bersama Rizal. Keduanya berdiri beberapa langkah di belakangnya.
Aditya menggeleng.
“Tidak melamun.”
“Terus?”
“Berpikir.”
Fajar tertawa kecil.
“Kalau orang lain bilang berpikir, mungkin memang berpikir. Kalau kamu, biasanya sedang memikirkan Mutiara.”
Rizal menepuk bahu Fajar.
“Jangan mulai.”
“Aku cuma mengatakan fakta.”
Aditya tersenyum tipis.
“Biarkan saja.”
Fajar memandang sahabatnya beberapa saat.
“Kamu benar-benar jadi berangkat?”
Aditya mengangguk.
“Besok pagi.”
“Berapa lama?”
“Belum pasti.”
“Dua tahun?”
“Mungkin.”
“Bisa lebih?”
Aditya diam sejenak.
“Mungkin.”
Fajar menarik napas.
“Berarti ini bukan sekadar pergi bekerja.”
“Memang bukan.”
Rizal yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.
“Sudah kamu bicarakan semuanya dengan Mutiara?”
“Sudah.”
“Dan?”
“Dia bilang dia akan menunggu.”
Fajar mengangkat alis.
“Kalau begitu, masalah selesai.”
Aditya menatapnya.
“Tidak sesederhana itu.”
Rizal mengangguk.
“Kamu benar.”
Ia kemudian memandang Tugu Batang Garing.
“Setelah semua yang kalian lalui, yang paling sulit bukan lagi menghadapi Rangga, keluarga, atau masalah lama.”
“Apa?”
“Menjaga kepercayaan.”
Aditya terdiam.
Kalimat itu tepat mengenai sesuatu yang selama ini ada di dalam pikirannya.
Mereka sudah melewati terlalu banyak hal.
Rahasia keluarga.
Dokumen lama.
Kesalahpahaman.
Jarak.
Foto-foto yang dipotong dari konteks.
Pesan-pesan yang sengaja membuat mereka ragu.
Dan akhirnya mereka mengetahui bahwa sebagian besar luka itu tumbuh bukan karena mereka tidak saling mencintai.
Mereka mencintai.
Hanya saja, pada saat-saat tertentu, mereka tidak cukup berani untuk bertanya.
Mereka membiarkan diam menjawab pertanyaan yang seharusnya mereka ajukan satu sama lain.
Aditya menghela napas.
“Aku tidak ingin mengulanginya.”
“Jangan,” kata Rizal. “Kalau ada masalah, bicara.”
“Kalau takut?”
“Bicara.”
“Kalau marah?”
“Bicara.”
Fajar tertawa.
“Kalau sedang tidak punya uang?”
Rizal menatapnya.
“Itu bukan bagian dari nasihatku.”
Mereka bertiga tertawa.
Untuk beberapa saat, suasana terasa ringan.
Namun ketika Fajar dan Rizal akhirnya berpamitan, Aditya kembali sendiri di bawah cahaya senja.
Ia menatap layar ponselnya.
Ada satu pesan dari Mutiara.
Aku di rumah. Kalau kamu sudah selesai, datanglah.
Aditya membalas singkat.
Aku datang.
Rumah Mutiara terasa lebih tenang daripada biasanya.
Bu Ratna menyambut Aditya dengan senyum yang berbeda.
Bukan lagi senyum seorang ibu yang masih menimbang-nimbang hubungan anaknya.
Melainkan senyum seseorang yang telah melihat terlalu banyak hal dan akhirnya memahami bahwa kehidupan anaknya bukan sesuatu yang dapat diatur sepenuhnya.
“Masuk, Dit.”
“Terima kasih, Bu.”
Mutiara muncul dari ruang tengah.
Ia mengenakan pakaian sederhana. Rambutnya dibiarkan terurai. Tidak ada sesuatu yang istimewa pada penampilannya, tetapi bagi Aditya, sore itu Mutiara terlihat seperti seseorang yang sedang berusaha menyembunyikan perasaan.
“Kamu sudah datang.”
“Iya.”
Bu Ratna tersenyum.
“Ibu ke dapur dulu.”
Mutiara menatap ibunya.
“Ibu tidak perlu—”
“Biarkan saja,” kata Bu Ratna. “Kalian mungkin punya banyak yang harus dibicarakan.”
Mutiara tidak menjawab.
Setelah Bu Ratna pergi, keduanya duduk berhadapan.
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
Aditya akhirnya berkata,
“Besok aku berangkat.”
“Aku tahu.”
“Pagi.”
“Aku juga tahu.”
Aditya tersenyum kecil.
“Kenapa jawabannya selalu tahu?”
“Karena kalau aku bilang aku tidak tahu, kamu pasti semakin gugup.”
Aditya tertawa pelan.
Mutiara ikut tersenyum.
Tetapi senyum itu tidak bertahan lama.
“Aku takut,” katanya kemudian.
Aditya menatapnya.
“Takut apa?”
“Takut kita kembali seperti dulu.”
Aditya diam.
Mutiara menundukkan wajah.
“Dulu kita dekat. Kemudian ada jarak. Setelah itu datang pesan, foto, dugaan, keluarga, dan berbagai hal yang membuat kita tidak lagi tahu mana yang benar.”
Ia mengangkat wajah.
“Aku tidak ingin mengalaminya lagi.”
“Aku juga.”
“Kalau nanti kamu sibuk?”
“Aku akan memberitahumu.”
“Kalau aku sibuk?”
“Kamu juga harus memberitahuku.”
“Kalau kita bertengkar?”
“Kita jangan menghilang.”
“Kalau aku marah?”
“Bilang.”
“Kalau kamu kecewa?”
“Bilang.”
Mutiara tersenyum tipis.
“Kalau aku menangis?”
Aditya menatapnya lama.
“Telepon aku.”
“Kalau kamu tidak bisa mengangkat?”
“Aku akan menelepon balik.”
“Kalau kamu lupa?”
“Aku akan minta maaf.”
Mutiara menahan senyum.
“Jawabanmu sekarang berbeda.”
“Dulu aku pikir mencintai seseorang berarti cukup dengan tidak meninggalkannya.”
“Sekarang?”
“Sekarang aku tahu, mencintai seseorang juga berarti tidak membiarkan dia menebak-nebak isi hati kita.”
Mutiara terdiam.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Aditya meraih tangannya.
“Aku tidak bisa menjanjikan bahwa selama aku pergi semuanya akan mudah.”
Mutiara mengangguk.
“Aku juga tidak.”
“Aku tidak bisa menjanjikan kita tidak akan berubah.”
Mutiara memandangnya.
“Tapi aku bisa berjanji satu hal.”
“Apa?”
“Kalau ada sesuatu yang membuatku ragu kepadamu, aku akan bertanya kepadamu. Bukan kepada orang lain.”
Mutiara menggenggam tangan Aditya lebih erat.
“Dan aku akan melakukan hal yang sama.”
Malam semakin turun.
Dari luar rumah terdengar suara kendaraan melewati jalan.
Kehidupan berjalan seperti biasa.
Tetapi bagi mereka, malam itu adalah batas antara sesuatu yang telah mereka jalani dan sesuatu yang belum mereka ketahui.
Malam terakhir sebelum keberangkatan Aditya tidak diisi dengan janji-janji besar.
Mereka hanya berjalan sebentar.
Kembali ke tempat yang paling sering mereka datangi.
Bundaran Besar.
Lampu-lampu kota mulai menyala. Tugu Batang Garing tampak kokoh di tengah lingkaran jalan.
Mutiara berdiri di samping Aditya.
“Kita pernah berdiri di sini ketika semuanya masih sederhana,” katanya.
“Tidak ada yang sederhana.”
“Waktu itu terasa sederhana.”
Aditya tersenyum.
“Kamu benar.”
Mereka memandang jalan yang terbentang di depan.
“Aneh,” kata Mutiara.
“Apa?”
“Dulu empat jalan ini terasa seperti pilihan.”
“Sekarang?”
“Sekarang aku merasa semua jalan tetap bisa membawa seseorang pergi.”
Aditya menoleh.
“Dan pulang?”
Mutiara memandangnya.
“Tidak semua jalan membawa orang pulang.”
“Kalau begitu kita harus membuat jalan pulang sendiri.”
Mutiara tersenyum.
“Kamu semakin pandai berkata-kata.”
“Belajar dari pengalaman.”
Mutiara tertawa kecil.
Kemudian suasana kembali hening.
Aditya tidak ingin malam itu berakhir.
Tetapi waktu tidak pernah bertanya kepada manusia apakah mereka siap ditinggalkan.
Mutiara memasukkan tangan ke dalam tas.
“Aku punya sesuatu.”
“Apa?”
“Baca setelah kamu berangkat.”
Ia menyerahkan sebuah amplop.
Aditya menerimanya.
“Surat?”
“Jangan dibaca sekarang.”
“Kenapa?”
“Karena kalau kamu membacanya sekarang, aku takut aku tidak sanggup membiarkan kamu pergi.”
Aditya menggenggam amplop itu.
“Aku akan menjaganya.”
“Bukan suratnya.”
“Lalu?”
“Isinya.”
Aditya mengangguk.
Pagi datang terlalu cepat.
Terminal keberangkatan tidak terlalu ramai.
Aditya berdiri dengan tas di sampingnya.
Pak Surya dan Bu Aminah datang mengantar.
Fajar dan Rizal juga hadir.
Mutiara datang bersama Bu Ratna.
Pak Hendra tidak banyak bicara. Ia hanya berdiri beberapa meter dari mereka, lalu menghampiri Aditya.
“Jaga diri.”
“Terima kasih, Pak.”
Pak Hendra menatapnya.
“Dan satu lagi.”
“Apa, Pak?”
“Jangan jadikan jarak alasan untuk berhenti bicara dengan Mutiara.”
Aditya terdiam.
Pak Hendra melanjutkan,
“Saya pernah membuat kesalahan karena terlalu banyak menyimpan sesuatu. Jangan ulangi kesalahan saya.”
Aditya mengangguk.
“Saya tidak akan.”
Pak Hendra kemudian menepuk bahunya.
Untuk pertama kalinya, tidak ada jarak di antara mereka.
Mutiara mendekat.
Aditya menatapnya.
Tidak ada kata-kata yang cukup untuk menggambarkan saat itu.
Akhirnya Mutiara berkata,
“Pergilah.”
Aditya tersenyum.
“Kamu menyuruhku pergi?”
“Kalau aku bilang jangan pergi, kamu akan tetap pergi.”
“Mungkin.”
“Karena itu aku memilih mengatakan sesuatu yang lebih sulit.”
“Apa?”
“Pergilah. Lalu pulanglah.”
Aditya menatapnya.
“Aku akan pulang.”
Bus mulai bersiap.
Aditya memeluk ibunya.
Berjabat tangan dengan ayahnya.
Menyalami Fajar dan Rizal.
Kemudian ia kembali kepada Mutiara.
Mereka tidak langsung berpelukan.
Mereka hanya saling memandang.
Seolah masing-masing sedang menyimpan wajah yang lain dalam ingatan.
“Aku pergi.”
Mutiara mengangguk.
“Aku tahu.”
“Jangan menangis.”
“Aku tidak menangis.”
“Kamu bohong.”
“Kamu juga.”
Aditya tersenyum.
Kemudian ia naik.
Dari balik jendela, ia melihat Mutiara berdiri.
Bus bergerak perlahan.
Kuala Kapuas mulai menjauh.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Aditya pergi bukan karena kehilangan.
Ia pergi karena harus menjalani perjalanan.
Dengan keyakinan bahwa suatu hari nanti ia akan kembali.
Di dalam perjalanan, Aditya membuka amplop yang diberikan Mutiara.
Ia membaca perlahan.
Aditya,
Kalau kamu membaca surat ini, berarti kamu sudah benar-benar pergi.
Aku tidak tahu berapa lama perjalananmu. Aku juga tidak tahu seperti apa kehidupan kita nanti.
Tetapi aku ingin kamu tahu satu hal.
Aku tidak meminta kamu berjanji bahwa kita tidak akan berubah.
Aku hanya meminta agar ketika kita berubah, kita tetap berani berbicara.
Jangan biarkan diam menjadi tempat tumbuhnya prasangka.
Jangan biarkan orang lain menjadi penerjemah hubungan kita.
Kalau kamu marah, katakan.
Kalau kamu takut, katakan.
Kalau kamu rindu, katakan.
Dan kalau suatu hari kamu merasa perjalananmu terlalu panjang, ingatlah bahwa di Kuala Kapuas pernah ada seseorang yang percaya bahwa kamu akan pulang.
Aku tidak tahu apakah aku akan tetap sama ketika kamu kembali.
Mungkin aku juga berubah.
Tetapi kalau masih ada ruang untuk kita, aku ingin ruang itu dibangun dengan kejujuran.
Pulanglah ketika kamu sudah menyelesaikan perjalananmu.
Bukan karena aku memintamu.
Tetapi karena kamu sendiri ingin pulang.
Mutiara.
Aditya melipat surat itu kembali.
Ia menatap keluar jendela.
Jalan panjang terbentang di hadapannya.
Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa pergi bukan berarti kehilangan.
Hari-hari pertama berjalan seperti yang mereka harapkan.
Mereka saling menghubungi.
Pagi.
Siang.
Malam.
Tidak selalu lama.
Kadang hanya beberapa kalimat.
Sudah makan?
Sudah. Kamu?
Aku baru selesai bekerja.
Istirahatlah.
Kadang mereka berbicara lebih lama.
Tentang pekerjaan.
Tentang keluarga.
Tentang Kuala Kapuas.
Tentang hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting tetapi menjadi penting karena mereka membicarakannya bersama.
Mutiara sering mengirim foto suasana sore.
Aditya kadang mengirim foto jalan yang dilaluinya.
Mereka berusaha menjaga apa yang telah dijanjikan.
Bulan pertama berlalu.
Kemudian bulan kedua.
Pekerjaan Aditya semakin padat.
Mutiara juga mulai memiliki kesibukan sendiri.
Pesan yang dahulu panjang menjadi lebih pendek.
Telepon yang dahulu hampir setiap malam mulai berjarak beberapa hari.
Bukan karena cinta mereka berkurang.
Tetapi karena kehidupan ternyata tidak selalu memberikan ruang yang cukup untuk dua orang yang saling mencintai.
Suatu malam, Mutiara menatap layar ponselnya.
Tidak ada pesan dari Aditya.
Ia menunggu.
Satu jam.
Dua jam.
Kemudian ia berkata kepada dirinya sendiri,
“Mungkin dia sibuk.”
Di tempat lain, Aditya juga menatap ponselnya.
Ia melihat pesan Mutiara.
Kamu belum tidur?
Aditya mengetik:
Belum.
Ia berhenti.
Kemudian menghapusnya.
Mengetik lagi.
Aku baru selesai.
Ia mengirim.
Beberapa menit kemudian Mutiara menjawab.
Aku kira kamu sudah tidur.
Aditya tersenyum.
Belum.
Mutiara membalas:
Aku rindu.
Aditya menatap dua kata itu lama.
Kemudian ia mengetik:
Aku juga.
Hanya dua kata.
Tetapi cukup untuk membuat malam mereka sedikit lebih ringan.
Waktu berjalan.
Enam bulan.
Satu tahun.
Kemudian dua tahun.
Jarak yang awalnya hanya angka di kalender perlahan menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Aditya menyelesaikan pekerjaan demi pekerjaan.
Ia menjadi lebih dewasa.
Lebih tenang.
Lebih terbiasa mengambil keputusan sendiri.
Mutiara juga berubah.
Ia tidak lagi hanya menjadi perempuan yang menunggu.
Ia mulai mengurus banyak hal sendiri.
Ia belajar mengatakan tidak.
Ia belajar mengambil keputusan.
Ia belajar bahwa mencintai seseorang tidak berarti menghentikan kehidupan sendiri.
Namun di antara semua perubahan itu, satu hal tetap sama.
Mereka masih menyimpan satu sama lain di dalam hati.
Hanya saja, hubungan mereka tidak lagi berjalan seperti dahulu.
Suatu sore, Mutiara menerima sebuah foto dari seseorang yang tidak terlalu dikenalnya.
Foto itu memperlihatkan Aditya sedang berbicara dengan seorang perempuan di tempat kerja.
Tidak ada sesuatu yang istimewa dalam foto tersebut.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada sesuatu yang dapat disebut sebagai bukti perselingkuhan.
Hanya dua orang yang sedang berbicara.
Pesan yang menyertainya pendek.
Mungkin kamu perlu tahu bahwa hidupnya sekarang sudah berbeda.
Mutiara menatap foto itu.
Dadanya terasa sesak.
Tetapi kali ini ia tidak langsung percaya.
Ia menutup pesan itu.
Kemudian membuka percakapan dengan Aditya.
Jarinya berhenti di atas layar.
Ia hampir menulis:
Siapa perempuan itu?
Tetapi ia teringat janji mereka.
Kalau ada sesuatu yang membuat ragu, bertanya langsung.
Mutiara akhirnya mengetik.
Aku melihat sesuatu hari ini. Aku ingin bertanya langsung kepadamu.
Aditya membalas beberapa menit kemudian.
Tanya saja.
Mutiara mengirim foto tersebut.
Siapa dia?
Aditya melihat foto itu.
Ia kemudian tersenyum kecil.
Teman satu tim. Dia baru dipindahkan ke bagian kami. Kenapa?
Mutiara menatap jawaban itu.
Ada rasa malu karena sempat curiga.
Tetapi juga ada kelegaan.
Ia mengetik:
Tidak apa-apa. Aku hanya ingin bertanya langsung.
Aditya menjawab:
Terima kasih sudah bertanya.
Mutiara tersenyum.
Untuk pertama kalinya, mereka berhasil melewati sebuah keraguan tanpa membiarkannya tumbuh menjadi konflik.
Tetapi hidup belum selesai menguji mereka.
Beberapa bulan kemudian, Aditya menerima foto Mutiara bersama seorang laki-laki.
Ia tidak langsung bertanya.
Jantungnya sempat berdegup lebih cepat.
Namun ia mengingat pengalaman mereka.
Ia memperbesar foto itu.
Kemudian melihat latar belakangnya.
Aditya mengenali tempat tersebut.
Ia tahu itu salah satu acara keluarga.
Ia tetap bertanya.
Siapa laki-laki di foto ini?
Mutiara menjawab:
Sepupuku. Kenapa?
Aditya mengirim foto tersebut.
Mutiara tertawa setelah melihatnya.
Kamu masih cemburu?
Aditya membalas:
Sedikit.
Mutiara menjawab:
Bagus. Berarti masih sayang.
Aditya tersenyum.
Banyak.
Mutiara tidak menjawab beberapa menit.
Kemudian sebuah pesan masuk.
Aku juga.
Kali ini mereka berhasil.
Bukan karena tidak ada lagi keraguan.
Tetapi karena mereka belajar menghadapi keraguan dengan bicara.
Namun setelah percakapan itu, Mutiara menyadari sesuatu.
Foto tersebut ternyata telah dikirim oleh orang lain kepada Aditya.
Begitu pula foto yang pernah diterimanya.
Tidak ada bukti bahwa pengirimnya bermaksud menghancurkan hubungan mereka.
Bisa saja orang tersebut hanya menyampaikan sesuatu tanpa memahami konteks.
Bisa saja sebuah foto biasa berubah menjadi sesuatu yang berbeda ketika sampai kepada orang yang sedang merindukan seseorang.
Mutiara tidak mengejarnya.
Aditya juga tidak.
Mereka memilih untuk tidak menghidupkan kembali masa lalu.
Karena mereka sudah belajar bahwa tidak semua hal harus dicari sampai menjadi luka baru.
Yang penting adalah bagaimana mereka menanggapi sesuatu ketika keraguan datang.
Tahun ketiga berlalu.
Kemudian tahun keempat.
Empat tahun sejak Aditya meninggalkan Kuala Kapuas.
Selama waktu itu, banyak hal berubah.
Pak Hendra semakin lunak.
Bu Ratna semakin sering membicarakan Aditya.
Pak Surya dan Bu Aminah tidak pernah berhenti bertanya kapan anak mereka pulang.
Rangga juga benar-benar menjauh dari kehidupan mereka.
Urusan lama keluarga perlahan diselesaikan melalui jalur yang seharusnya.
Dokumen-dokumen diperiksa.
Kesepakatan lama dibereskan.
Tidak ada lagi alasan untuk menjadikan Mutiara sebagai bagian dari penyelesaian persoalan yang bukan miliknya.
Rangga tidak lagi datang membawa tuntutan.
Ia menyelesaikan bagian yang menjadi tanggung jawabnya dan memilih pergi dari kehidupan Mutiara.
Tidak ada permusuhan besar.
Tidak ada kemenangan siapa pun.
Hanya ada orang-orang yang akhirnya belajar bahwa masa lalu tidak boleh terus menerus digunakan untuk menentukan masa depan.
Aditya mengetahui semuanya dari ayahnya.
Dan untuk pertama kalinya ia merasa benar-benar bebas dari sesuatu yang bahkan sebelum mengenal Mutiara telah mengikat hidup mereka.
Namun ada satu hal yang belum selesai.
Dirinya sendiri.
Suatu malam, Aditya membuka kembali surat Mutiara.
Kertasnya sudah mulai berubah warna.
Ia membaca kembali kalimat terakhir.
Pulanglah ketika kamu sudah menyelesaikan perjalananmu.
Aditya menatap surat itu lama.
Kemudian mengambil ponselnya.
Ia mengetik pesan.
Aku ingin pulang.
Mutiara membalas beberapa saat kemudian.
Kapan?
Aditya mengetik:
Minggu depan.
Tidak ada balasan selama beberapa menit.
Kemudian:
Aku akan menunggumu.
Seminggu kemudian, Aditya kembali ke Kuala Kapuas.
Kota itu terasa sama.
Namun juga berbeda.
Jalan-jalan yang dahulu ia lewati bersama Mutiara masih ada.
Tempat-tempat yang menyimpan kenangan masih berdiri.
Tetapi dirinya sendiri sudah berubah.
Ia bukan lagi laki-laki yang pergi dengan keyakinan bahwa cinta cukup dijaga dengan kesetiaan.
Ia pulang sebagai seseorang yang mengerti bahwa cinta juga membutuhkan keberanian untuk berbicara.
Sore menjelang malam ketika ia meminta kendaraan berhenti tidak jauh dari Bundaran Besar.
Ia berjalan sendirian.
Tugu Batang Garing kembali berada di hadapannya.
Empat jalan kembali terbentang.
Aditya berdiri beberapa saat.
Kemudian melihat seseorang berjalan dari arah yang berlawanan.
Seorang perempuan.
Langkahnya perlahan.
Ia berhenti beberapa meter di depan Aditya.
Mutiara.
Tidak ada yang langsung berbicara.
Mereka hanya saling memandang.
Empat tahun.
Empat tahun yang terasa seperti perjalanan panjang.
Empat tahun yang penuh dengan pertanyaan.
Empat tahun yang akhirnya membawa mereka kembali ke tempat pertama kali mereka memahami bahwa hidup selalu memiliki pilihan.
Mutiara tersenyum.
Matanya berkaca-kaca.
“Kamu akhirnya pulang.”
Aditya ingin menjawab.
Namun kata-kata tertahan di tenggorokannya.
Ia hanya mengangguk.
Mutiara memandang Tugu Batang Garing.
Kemudian kembali menatap Aditya.
“Aku tidak tahu apakah ini benar-benar pulang.”
Aditya melangkah mendekat.
“Kenapa?”
Mutiara menunduk.
Karena ada sesuatu yang selama empat tahun disimpannya.
Sesuatu yang belum pernah ia ceritakan.
Ia mengangkat wajah.
Matanya bertemu dengan mata Aditya.
“Ada sesuatu yang harus kamu tahu.”
Aditya terdiam.
Di belakang mereka, kendaraan terus bergerak.
Lampu-lampu kota mulai menyala.
Empat jalan tetap terbuka ke empat arah.
Tetapi untuk pertama kalinya, Aditya tidak lagi takut pada arah mana yang akan mereka pilih.
Karena setelah perjalanan sejauh itu, mereka akhirnya berdiri di tempat yang sama.
Bukan sebagai dua orang yang dipaksa oleh keluarga.
Bukan sebagai dua nama yang pernah disebut dalam kesepakatan lama.
Bukan sebagai dua manusia yang ditentukan oleh masa lalu.
Melainkan sebagai Aditya dan Mutiara.
Dua orang yang telah kehilangan.
Dua orang yang telah belajar.
Dan dua orang yang kini harus memutuskan sendiri apakah jalan pulang itu masih menjadi milik mereka.
Aditya menatap Mutiara.
“Apa yang harus kamu katakan?”
Mutiara menarik napas panjang.
“Banyak.”
Aditya tersenyum kecil.
“Kalau begitu, kita punya waktu.”
Mutiara ikut tersenyum.
Mereka kemudian berjalan perlahan meninggalkan tepi bundaran.
Tugu Batang Garing tetap berdiri di belakang mereka.
Empat jalan tetap terbentang.
Dan malam Kuala Kapuas perlahan turun.
Perjalanan mereka belum selesai.
Tetapi untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, mereka tidak lagi berjalan ke arah yang berbeda.
Mereka berjalan menuju satu percakapan yang selama ini tertunda.
Dan mungkin, dari percakapan itulah, jalan pulang yang sebenarnya akan dimulai.
EPILOG
KETIKA MUTIARA DITEMUKAN KEMBALI
“Ada sesuatu yang harus kamu tahu.”
Kalimat itu membuat Aditya berhenti melangkah.
Mutiara berdiri di hadapannya.
Empat tahun telah berlalu sejak terakhir kali mereka benar-benar berdiri sedekat itu.
Namun ada sesuatu dari tatapan perempuan itu yang membuat Aditya merasa seolah-olah waktu tidak pernah benar-benar memisahkan mereka.
Ia menunggu.
“Bicaralah,” katanya lembut.
Mutiara menarik napas panjang.
“Selama ini kamu mungkin mengira aku hanya menunggumu.”
Aditya mengerutkan kening.
“Bukankah memang begitu?”
Mutiara tersenyum tipis.
“Tidak sesederhana itu.”
Mereka kemudian duduk di sebuah tempat yang tidak jauh dari bundaran. Lampu-lampu kota memantulkan cahaya di jalan. Suara kendaraan datang dan pergi, sementara malam perlahan memenuhi Kuala Kapuas.
Mutiara meletakkan kedua tangannya di atas meja.
“Aku ingin kamu tahu sesuatu yang tidak pernah sempat aku katakan.”
Aditya menunggu.
“Ketika kamu pergi empat tahun lalu, aku memang mengatakan akan menunggumu.”
“Aku ingat.”
“Tapi sebenarnya aku juga pergi.”
Aditya terdiam.
“Pergi ke mana?”
“Bukan pergi meninggalkan Kuala Kapuas,” jawab Mutiara. “Aku pergi dari diriku yang lama.”
Aditya memandangnya.
Mutiara melanjutkan.
“Aku dulu terlalu takut kehilanganmu. Karena itu aku selalu ingin memastikan semuanya baik-baik saja. Aku takut kalau ada sedikit saja jarak, kamu akan berubah. Kalau ada sedikit saja masalah, kita akan kembali seperti dulu.”
Ia tersenyum pahit.
“Dan ternyata ketakutan itu sendiri yang membuatku sering melihat sesuatu secara berbeda dari kenyataan.”
Aditya menundukkan kepala.
“Aku juga begitu.”
“Karena itu selama kamu pergi, aku belajar.”
“Apa yang kamu pelajari?”
“Bahwa mencintai seseorang tidak berarti harus terus memegang tangannya setiap saat.”
Mutiara memandang Aditya.
“Kadang kita harus membiarkan orang yang kita cintai berjalan sendiri supaya kita tahu apakah dia akan memilih kembali.”
Aditya terdiam cukup lama.
“Dan kamu menungguku?”
Mutiara mengangguk.
“Bukan dengan duduk di tempat yang sama setiap hari.”
Ia tersenyum.
“Aku menjalani hidupku.”
“Aku senang mendengarnya.”
“Aku bekerja. Aku membantu Ibu. Aku belajar mengambil keputusan sendiri. Aku bertemu banyak orang. Aku menjalani hari-hari yang tidak ada hubungannya dengan kamu.”
“Lalu?”
“Lalu setiap kali ada sesuatu yang ingin kuceritakan kepada seseorang, aku masih mencari namamu di ponselku.”
Aditya tertawa kecil.
Mutiara ikut tertawa.
“Berarti aku masih ada.”
“Selalu.”
Hening kembali mengisi percakapan mereka.
Kemudian Mutiara mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
Sebuah amplop yang sudah lama.
Aditya mengenalinya.
“Itu…”
“Surat yang kuberikan kepadamu sebelum kamu pergi.”
Aditya mengangguk.
“Aku masih menyimpannya.”
Mutiara tersenyum.
“Aku juga.”
“Kamu menyimpan salinannya?”
“Bukan salinannya.”
Mutiara mengeluarkan selembar kertas yang telah dilipat rapi.
“Ini surat yang tidak pernah kuberikan kepadamu.”
Aditya menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena waktu itu aku tidak tahu apakah aku harus mengirimkannya.”
“Apa isinya?”
Mutiara menyerahkan surat itu.
Aditya membukanya.
Tulisan tangan Mutiara memenuhi beberapa halaman.
Ia membaca perlahan.
Aditya,
Ada banyak hal yang ingin kukatakan, tetapi mungkin tidak semuanya harus dikatakan ketika hati masih penuh ketakutan.
Aku pernah berpikir bahwa kalau aku terus menunggumu, itu berarti aku sedang membuktikan cintaku.
Tetapi kemudian aku sadar, cinta bukan hanya tentang menunggu.
Cinta juga tentang memberi seseorang kesempatan untuk menjalani hidupnya tanpa merasa bersalah karena tidak selalu berada di sisi kita.
Kalau suatu hari kamu pulang dan aku masih ada, jangan anggap itu karena aku tidak pernah berubah.
Aku berubah.
Aku hanya tetap menyimpan tempat untukmu.
Dan kalau suatu hari kamu pulang lalu ternyata hatimu sudah berbeda, aku akan belajar menerima itu.
Karena aku tidak ingin lagi mencintaimu dengan cara yang membuatmu merasa harus kembali hanya karena kasihan.
Aku ingin kalau kamu pulang, kamu pulang karena memang ingin pulang.
Mutiara.
Aditya berhenti membaca.
Ia mengangkat wajah.
“Kenapa surat ini tidak pernah kamu kirim?”
“Karena aku ingin mengatakannya langsung.”
“Dan sekarang?”
“Sekarang kamu sudah pulang.”
Aditya melipat surat itu perlahan.
“Aku pulang bukan karena kasihan.”
“Aku tahu.”
“Aku pulang karena selama empat tahun aku menjalani banyak jalan, tapi tidak pernah menemukan tempat yang membuatku merasa benar-benar sampai.”
Mutiara menatapnya.
“Dan tempat itu?”
Aditya tersenyum.
“Bukan tempat.”
“Lalu?”
“Seseorang.”
Mata Mutiara berkaca-kaca.
Namun kali ini ia tidak menangis.
Ia hanya tersenyum.
Malam itu mereka berbicara jauh lebih lama.
Tentang hal-hal yang dahulu tidak sempat dibicarakan.
Tentang foto-foto yang pernah membuat mereka saling curiga.
Tentang pesan-pesan yang pernah membuat mereka takut.
Tentang Rangga.
Tentang keluarga.
Tentang masa lalu yang selama bertahun-tahun terasa seperti bayangan.
Mutiara akhirnya berkata,
“Aku juga ingin mengatakan sesuatu tentang Rangga.”
Aditya mengangguk.
“Apa?”
“Aku pernah membencinya.”
Aditya diam.
“Bukan karena semua yang dia lakukan,” lanjut Mutiara. “Tetapi karena aku merasa hidupku pernah diperlakukan seperti sesuatu yang bisa dinegosiasikan.”
Aditya memahami.
“Sekarang?”
“Aku tidak membencinya lagi.”
“Kenapa?”
“Karena akhirnya aku mengerti satu hal.”
“Apa?”
“Orang yang terluka tidak selalu tahu bagaimana cara meminta sesuatu dengan benar.”
Aditya menatap Mutiara.
“Tapi itu bukan berarti apa yang dia lakukan benar.”
“Aku tahu.”
Mutiara menarik napas.
“Yang salah tetap salah. Tetapi aku tidak ingin hidupku selamanya ditentukan oleh kesalahan orang lain.”
Aditya mengangguk.
“Itu sudah selesai.”
“Ya.”
“Dokumen lama?”
“Sudah diselesaikan.”
“Hubungan keluarga?”
“Tidak seperti dulu.”
“Rangga?”
Mutiara tersenyum tipis.
“Sudah menjadi bagian dari masa lalu.”
Aditya tidak bertanya lagi.
Tidak semua masa lalu harus terus dibawa ke masa depan.
Beberapa cukup diselesaikan.
Kemudian ditinggalkan.
Beberapa hari setelah kepulangan Aditya, kedua keluarga bertemu.
Tidak ada lagi pembicaraan tentang kesepakatan lama.
Tidak ada lagi pembicaraan tentang siapa yang lebih berjasa.
Tidak ada lagi nama Rangga yang ditempatkan di antara Aditya dan Mutiara.
Pak Hendra duduk berhadapan dengan Pak Surya.
Keduanya sudah jauh lebih tua daripada ketika persoalan lama itu bermula.
Pak Hendra menghela napas.
“Seandainya dulu kita lebih banyak bicara, mungkin semuanya tidak akan serumit ini.”
Pak Surya tersenyum.
“Kadang orang tua terlalu takut membuat anaknya susah.”
“Dan justru membuat anaknya menghadapi kesusahan yang lebih besar.”
Keduanya tertawa kecil.
Bu Ratna memandang Mutiara.
“Sekarang kamu yang menentukan.”
Mutiara menatap ibunya.
“Iya, Bu.”
Pak Hendra kemudian melihat Aditya.
“Dan kamu?”
Aditya mengangguk.
“Saya ingin menikahi Mutiara.”
Ruangan menjadi hening.
Mutiara menatap Aditya.
Pak Hendra tersenyum.
“Kalau begitu, jangan menikah karena semua masalah sudah selesai.”
Aditya sedikit terkejut.
“Lalu karena apa, Pak?”
“Karena kalian sudah tahu bahwa setelah menikah pun masalah tetap akan ada.”
Bu Ratna tersenyum.
“Yang penting kalian sudah belajar cara menghadapinya.”
Aditya menatap Mutiara.
Mutiara mengangguk.
Keduanya tahu, itulah jawaban yang selama ini mereka cari.
Cinta tidak pernah menjanjikan hidup tanpa masalah.
Cinta hanya memberi alasan kepada dua orang untuk tidak mudah meninggalkan satu sama lain ketika masalah datang.
Beberapa bulan kemudian, Aditya dan Mutiara menikah.
Tidak ada pesta yang berlebihan.
Tidak ada kemewahan yang sengaja dipamerkan.
Yang ada hanyalah keluarga, sahabat, orang-orang terdekat, dan dua manusia yang akhirnya sampai pada keputusan yang benar-benar mereka buat sendiri.
Fajar menjadi orang yang paling banyak bercanda.
“Empat tahun menunggu, akhirnya jadi juga.”
Rizal menimpali,
“Yang penting jangan sampai empat tahun lagi bertengkar.”
Fajar tertawa.
Aditya hanya menggeleng.
Mutiara tersenyum.
Naya dan Sinta berdiri tidak jauh dari mereka.
Sinta berbisik,
“Akhirnya.”
Naya menjawab,
“Memang sejak awal jalannya ke sini.”
“Jalannya muter.”
“Yang penting sampai.”
Di antara tawa orang-orang, Aditya memandang Mutiara.
Tidak ada lagi rahasia di antara mereka.
Tidak ada lagi keluarga yang menentukan arah.
Tidak ada lagi orang ketiga yang berdiri di tengah.
Yang ada hanya dua orang yang memilih satu sama lain.
Tahun-tahun kemudian berlalu.
Suatu sore, Aditya dan Mutiara kembali ke Bundaran Besar.
Kali ini mereka tidak datang berdua.
Seorang anak kecil berjalan di antara mereka.
Tangan kecil itu menggenggam tangan Aditya.
Sesekali beralih menggenggam tangan Mutiara.
“Kenapa kita ke sini?” tanya anak itu.
Aditya tersenyum.
“Karena Ayah dan Ibu pernah sering datang ke sini.”
“Dulu?”
“Dulu sekali.”
Mutiara memandang Tugu Batang Garing.
“Tempat ini menyimpan banyak cerita.”
Anak itu melihat ke empat arah.
“Kenapa jalannya banyak?”
Aditya berjongkok di hadapannya.
“Karena setiap orang punya pilihan jalan.”
“Kalau salah jalan?”
Mutiara tersenyum.
“Bisa kembali.”
Anak itu berpikir sejenak.
“Kalau tersesat?”
Aditya memandang Mutiara.
“Cari jalan pulang.”
Anak itu tersenyum.
Kemudian berlari kecil di dekat mereka.
Aditya dan Mutiara berjalan perlahan.
Untuk sesaat, mereka berhenti.
Tempat itu masih sama.
Tugu Batang Garing masih berdiri.
Empat jalan masih terbentang.
Kendaraan masih bergerak menuju arah masing-masing.
Namun mereka kini memahami sesuatu yang dahulu tidak mereka mengerti.
Empat jalan itu bukan tentang siapa yang pergi.
Bukan pula tentang siapa yang kembali.
Empat jalan itu adalah pengingat bahwa hidup selalu memberi manusia pilihan.
Mereka pernah memilih jalan yang berbeda.
Pernah berjalan terlalu jauh.
Pernah kehilangan arah.
Pernah membiarkan jarak membuat hati mereka asing.
Tetapi akhirnya mereka kembali menemukan jalan yang sama.
Mutiara menyandarkan kepalanya sebentar di bahu Aditya.
“Kalau waktu bisa diulang,” katanya, “kamu akan memilih jalan yang sama?”
Aditya tersenyum.
“Tidak.”
Mutiara menoleh.
“Kenapa?”
“Karena kalau waktu diulang, aku mungkin tidak akan menjadi orang yang sama.”
Mutiara terdiam.
Aditya melanjutkan,
“Aku tidak ingin mengulang semuanya.”
“Lalu?”
“Aku ingin tetap membawa semua yang pernah kita lalui.”
Mutiara tersenyum.
“Termasuk kesalahan?”
“Terutama kesalahan.”
“Kenapa?”
“Karena tanpa semua itu, mungkin kita tidak akan pernah belajar bagaimana caranya pulang.”
Mutiara menggenggam tangannya.
Mereka kemudian berjalan menyusul anak mereka.
Di belakang mereka, Tugu Batang Garing tetap berdiri di tengah persimpangan.
Seperti dahulu.
Menjadi saksi bagi orang-orang yang datang dan pergi.
Bagi mereka yang memilih jalan ke timur.
Ke utara.
Ke selatan.
Atau ke barat.
Namun bagi Aditya dan Mutiara, tempat itu menyimpan arti yang berbeda.
Dulu mereka datang ke sana sebagai dua orang yang belum tahu ke mana kehidupan akan membawa mereka.
Kemudian mereka datang sebagai dua orang yang sedang jatuh cinta.
Setelah itu mereka pernah datang dengan pertanyaan, keraguan, dan luka.
Dan kini mereka kembali sebagai keluarga.
Aditya menatap Mutiara.
“Dulu aku takut kehilanganmu.”
Mutiara tersenyum.
“Sekarang?”
“Sekarang aku tahu.”
“Tahu apa?”
“Bahwa kehilangan bukan selalu berarti akhir.”
Mutiara menunggu.
Aditya menggenggam tangannya lebih erat.
“Kadang seseorang harus kehilangan jalan terlebih dahulu agar tahu jalan mana yang benar-benar ingin dia tempuh.”
Mutiara tersenyum.
“Dan aku?”
Aditya memandangnya.
“Kamu bukan lagi Mutiara yang hilang.”
Mutiara tertawa kecil.
“Lalu aku siapa?”
“Orang yang akhirnya kutemukan kembali.”
Mereka berjalan bersama.
Perlahan.
Tanpa tergesa.
Tidak ada lagi yang harus mereka kejar.
Tidak ada lagi yang harus mereka buktikan.
Tidak ada lagi masa lalu yang harus mereka lawan.
Yang tersisa hanyalah kehidupan yang harus mereka jalani.
Bersama.
Karena pada akhirnya, mereka memahami bahwa cinta bukan tentang memastikan seseorang tidak pernah pergi.
Cinta adalah tentang memberi kebebasan untuk memilih, lalu tetap berharap bahwa setelah menempuh perjalanan sejauh apa pun, dua hati yang memang saling menemukan akan memiliki keberanian untuk kembali.
Mutiara pernah hilang dari kehidupan Aditya.
Aditya juga pernah hilang dari kehidupan Mutiara.
Tetapi yang sesungguhnya hilang selama bertahun-tahun bukanlah mereka.
Yang hilang adalah kepercayaan.
Yang hilang adalah keberanian untuk berbicara.
Yang hilang adalah jalan yang menghubungkan dua hati yang sebenarnya tidak pernah benar-benar berhenti saling mencintai.
Dan ketika semua itu ditemukan kembali, mereka akhirnya mengerti arti perjalanan mereka.
Bukan tentang siapa yang menang.
Bukan tentang siapa yang kalah.
Bukan tentang siapa yang pergi lebih jauh.
Melainkan tentang dua manusia yang pernah tersesat, kemudian memilih untuk saling menemukan.
Di bawah langit Kuala Kapuas yang perlahan berubah warna, Aditya dan Mutiara berjalan pulang bersama.
Kali ini tidak ada lagi empat jalan yang harus mereka pilih.
Karena mereka telah menemukan jalan mereka sendiri.
Jalan pulang.
Dan di sanalah Mutiara yang pernah hilang akhirnya ditemukan kembali.
TAMAT



IGNASIUS IMPUN, SH
23 September 2026 04:26:01
MEMBANGUN DESA BERSAMA RAKYAT Democracy Is Govermant Of The Peaple By The Peaple For The Peaple (...