Desa Dabulon
Kecamatan Lumbis, Kabupaten Nunukan
NOVEL II DI BALIK LENSA DESA AWAN BIRU

NOVEL II
DI BALIK LENSA DESA AWAN BIRU
“Cerita PDD dalam Bakti Mahasiswa KKN”
Oleh: Slamet Riyadi
DISCLAIMER
Novel Peran PDD dalam Bakti Mahasiswa KKN Berdampak merupakan karya fiksi yang terinspirasi dari dinamika umum kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN), khususnya mengenai peran mahasiswa dalam bidang Publikasi, Dokumentasi, dan Desain (PDD).
Nama tokoh, tempat, lembaga, kegiatan, program kerja, dialog, konflik, serta berbagai peristiwa yang terdapat dalam novel ini merupakan hasil imajinasi dan kreativitas penulis. Kesamaan nama, tempat, tokoh, lembaga, maupun peristiwa dengan kehidupan nyata merupakan kebetulan semata dan tidak dimaksudkan untuk menggambarkan pihak atau institusi tertentu.
Latar Desa Awan Biru merupakan latar fiktif. Novel ini tidak dimaksudkan sebagai gambaran resmi mengenai pelaksanaan KKN di universitas, desa, maupun lembaga tertentu. Berbagai program kerja, hubungan antara mahasiswa dengan pemerintah desa, masyarakat, instansi terkait, serta dinamika yang terjadi di dalam cerita merupakan bagian dari konstruksi fiksi untuk menggambarkan lika-liku kehidupan mahasiswa selama menjalankan pengabdian kepada masyarakat.
Konflik, perbedaan pendapat, kesalahpahaman, kelelahan, tekanan pekerjaan, perselisihan, maupun drama yang dialami para tokoh tidak dimaksudkan untuk menyudutkan pihak tertentu. Semua itu merupakan bagian dari alur cerita yang digunakan untuk menggambarkan bahwa sebuah pengabdian tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Novel ini ditulis sebagai karya fiksi yang mengandung nilai pendidikan, persahabatan, kerja sama, tanggung jawab, kreativitas, komunikasi, etika publikasi dan dokumentasi, serta semangat pengabdian kepada masyarakat.
Kisah ini juga ingin menunjukkan bahwa di balik sebuah kegiatan yang terlihat sederhana, terdapat banyak orang yang bekerja tanpa banyak terlihat. Mereka mengatur jadwal, mengambil gambar, menulis berita, membuat desain, mengedit video, menyimpan arsip, mengelola media sosial, dan memastikan setiap kegiatan memiliki jejak yang dapat dikenang.
Hak Cipta © 2026, Slamet Riyadi
Seluruh hak cipta dilindungi undang-undang.
PROLOG
Satu Foto yang Mengubah Cara Mereka Melihat Pengabdian
Tidak semua perjuangan dimulai dengan tepuk tangan.
Sebagian justru dimulai dalam diam, tanpa sorotan, tanpa penghargaan, dan tanpa seorang pun yang mengetahui berapa banyak tenaga yang telah dicurahkan untuk menyelesaikannya.
Tidak semua orang yang bekerja keras ingin namanya disebut.
Tidak semua orang yang menulis berita ingin namanya tercantum di halaman depan.
Tidak semua orang yang membuat desain ingin mendapatkan pujian.
Dan tidak semua orang yang membawa kamera ingin menjadi pusat perhatian.
Ada orang-orang yang justru memilih berdiri beberapa langkah di belakang panggung agar orang lain terlihat lebih terang.
Mereka datang ketika sebuah kegiatan dimulai.
Mereka pergi ketika sebagian besar orang sudah pulang.
Mereka mencari sudut terbaik ketika orang lain sedang bekerja.
Mereka menunggu momen ketika seorang anak tersenyum, ketika seorang ibu menerima bantuan, ketika seorang petani menjelaskan pekerjaannya, ketika seorang pemuda mengangkat tangan dalam sebuah kegiatan, atau ketika seorang kepala desa memberikan sambutan kepada masyarakat.
Mereka menekan tombol kamera.
Mereka mencatat.
Mereka menulis.
Mereka mendesain.
Mereka mengedit.
Kemudian, setelah semua selesai, mereka kembali duduk di depan layar komputer untuk memastikan bahwa setiap kegiatan memiliki cerita yang dapat disampaikan kepada orang lain.
Di dunia Kuliah Kerja Nyata, mereka dikenal dengan tiga huruf sederhana:
PDD.
Publikasi.
Dokumentasi.
Desain.
Bagi sebagian mahasiswa, PDD mungkin hanya dianggap sebagai bagian kecil dari struktur kepanitiaan.
Tim yang bertugas mengambil foto.
Tim yang membuat poster.
Tim yang mengunggah kegiatan ke media sosial.
Tim yang membuat video ketika ada acara.
Namun bagi Dedi, Ita, dan Rama, PDD bukan sekadar pembagian tugas.
PDD adalah tanggung jawab.
Mereka percaya bahwa sebuah program kerja yang baik tidak cukup hanya dilaksanakan.
Sebuah kegiatan mungkin selesai dalam satu atau dua jam. Masyarakat mungkin pulang ke rumah. Mahasiswa kembali ke posko. Perangkat desa kembali menjalankan pekerjaan masing-masing.
Tetapi cerita tentang kegiatan itu tidak boleh berhenti begitu saja.
Program itu harus memiliki catatan.
Harus memiliki gambar.
Harus memiliki berita.
Harus memiliki dokumentasi.
Harus memiliki jejak.
Sebab suatu hari nanti, ketika mahasiswa KKN telah meninggalkan desa, ketika papan nama posko telah dilepas, ketika jadwal kegiatan telah berakhir, dan ketika masing-masing mahasiswa kembali kepada kehidupan mereka sendiri, foto, video, berita, dan desain itulah yang akan menjadi saksi bahwa mereka pernah datang dan pernah melakukan sesuatu.
Namun Dedi, Ita, dan Rama belum mengetahui bahwa tugas tersebut ternyata jauh lebih berat daripada yang mereka bayangkan.
Mereka akan berhadapan dengan mahasiswa yang menganggap dokumentasi bukan sesuatu yang penting.
Mereka akan berhadapan dengan panitia kegiatan yang baru memberi tahu PDD beberapa menit sebelum acara dimulai.
Mereka akan menerima pesan pada tengah malam yang berbunyi, “Besok ada kegiatan, jangan lupa dokumentasi.”
Mereka akan diminta membuat poster ketika acara tinggal beberapa jam lagi.
Mereka akan diminta menulis berita meskipun data yang diberikan belum lengkap.
Mereka akan diminta mengedit video dalam waktu singkat.
Mereka akan berhadapan dengan perangkat desa yang berharap setiap kegiatan dapat segera dipublikasikan.
Mereka juga akan berhadapan dengan masyarakat yang terkadang merasa tidak nyaman ketika dirinya difoto atau direkam.
Mereka akan menghadapi program kerja yang berubah secara tiba-tiba.
Mereka akan kehilangan file.
Kamera mereka hampir rusak.
Laptop mereka tiba-tiba mati.
Baterai habis pada saat yang paling dibutuhkan.
Kartu memori bermasalah.
Dan jaringan internet menghilang tepat ketika berita harus segera dikirim.
Namun persoalan terbesar bukanlah kamera, laptop, jaringan internet, atau file yang hilang.
Persoalan terbesar justru datang dari lingkungan mereka sendiri.
Dari sesama mahasiswa.
Ada yang merasa PDD hanya tukang foto.
Ada yang menganggap PDD harus selalu siap kapan saja.
Ada yang marah ketika wajahnya tidak masuk dalam foto.
Ada yang kecewa ketika kegiatan yang menurutnya sangat penting tidak menjadi berita utama.
Ada yang meminta fotonya diedit terlalu berlebihan.
Ada pula yang menuduh PDD pilih kasih hanya karena beberapa orang lebih sering terlihat dalam dokumentasi.
Di tengah semua itu, Dedi, Ita, dan Rama harus belajar bahwa bekerja di balik layar tidak berarti mereka bebas dari konflik.
Justru sebaliknya.
Semakin banyak orang melihat hasil pekerjaan mereka, semakin banyak pula orang yang merasa berhak memberikan penilaian.
Satu foto bisa dipuji oleh seseorang, tetapi dianggap kurang baik oleh orang lain.
Satu berita bisa dianggap menarik oleh perangkat desa, tetapi dipertanyakan oleh mahasiswa.
Satu desain bisa disukai masyarakat, tetapi diminta untuk diubah berkali-kali oleh panitia.
Dan satu video yang membutuhkan waktu berjam-jam untuk dibuat bisa saja hanya ditonton beberapa detik oleh orang lain.
Begitulah dunia PDD.
Tidak selalu terlihat.
Tidak selalu dipahami.
Tetapi selalu dibutuhkan.
Dedi, Ita, dan Rama datang ke Desa Awan Biru dengan membawa kamera, laptop, ponsel, tripod, kartu memori, serta semangat yang masih tinggi.
Mereka berpikir tugas mereka sederhana.
Mendokumentasikan kegiatan.
Menulis berita.
Membuat desain.
Mengunggah informasi.
Selesai.
Namun mereka segera mengetahui bahwa kenyataan tidak sesederhana itu.
Di balik sebuah foto terdapat cerita tentang siapa yang bekerja.
Di balik sebuah berita terdapat proses mencari data dan memastikan informasi.
Di balik sebuah desain terdapat gagasan, kreativitas, revisi, dan ketelitian.
Di balik sebuah video terdapat berjam-jam proses memilih gambar, menyusun potongan adegan, menyesuaikan suara, menambahkan teks, dan memastikan pesan yang ingin disampaikan tidak hilang.
Dan di balik semuanya, ada manusia.
Ada kelelahan.
Ada tekanan.
Ada rasa kecewa.
Ada tawa.
Ada persahabatan.
Ada perbedaan pendapat.
Ada kesalahpahaman.
Ada rasa ingin menyerah.
Tetapi juga ada kebanggaan ketika melihat hasil pekerjaan mereka memberikan manfaat.
Hari demi hari, ketiganya mulai memahami bahwa PDD bukan sekadar bagian dari struktur KKN.
PDD adalah salah satu cara untuk menjaga ingatan.
Sebuah kegiatan yang hanya berlangsung satu hari dapat dikenang bertahun-tahun karena sebuah foto.
Sebuah kisah masyarakat yang sebelumnya tidak pernah diketahui orang luar dapat dikenal melalui sebuah berita.
Sebuah program kerja yang awalnya hanya berupa gagasan dapat terlihat lebih nyata melalui desain dan dokumentasi yang baik.
Karena itulah mereka mulai memandang pekerjaan mereka dengan cara yang berbeda.
Dokumentasi bukan sekadar gambar.
Dokumentasi adalah rekaman perjalanan.
Publikasi bukan sekadar berita.
Publikasi adalah cara menyampaikan cerita dan informasi kepada masyarakat.
Desain bukan sekadar poster.
Desain adalah cara menyampaikan pesan melalui bahasa visual yang mudah dipahami.
Dan PDD bukan sekadar tiga huruf yang tertulis dalam struktur kepengurusan KKN.
PDD adalah mereka yang menjaga agar sebuah pengabdian tidak hilang begitu saja setelah kegiatan selesai.
Empat puluh hari di Desa Awan Biru akan mengajarkan banyak hal kepada Dedi, Ita, dan Rama.
Mereka akan belajar bahwa tidak semua pekerjaan harus mendapatkan pujian.
Mereka akan belajar bahwa sebuah kesalahan tidak selalu berarti kegagalan.
Mereka akan belajar meminta maaf.
Mereka akan belajar menerima kritik.
Mereka akan belajar membedakan antara kritik dan penghinaan.
Mereka akan belajar bekerja dengan orang yang berbeda karakter.
Mereka akan belajar berkomunikasi dengan masyarakat.
Mereka akan belajar menghormati perangkat desa dan instansi yang terlibat dalam program kerja.
Mereka akan belajar bahwa sebuah berita harus ditulis dengan hati-hati.
Mereka akan belajar bahwa sebuah foto memiliki etika.
Dan mereka akan belajar bahwa pengabdian bukan hanya tentang seberapa banyak program yang berhasil diselesaikan, tetapi juga tentang seberapa besar manfaat yang ditinggalkan.
Pada akhirnya, mungkin tidak semua orang akan mengingat siapa yang memegang kamera.
Tidak semua orang akan mengetahui siapa yang menulis berita hingga larut malam.
Tidak semua orang akan bertanya siapa yang membuat poster.
Tidak semua orang akan mengetahui siapa yang mengedit video ketika listrik hampir padam.
Tetapi mereka akan meninggalkan sesuatu.
Jejak.
Cerita.
Kenangan.
Dan bukti bahwa pernah ada sekelompok mahasiswa yang datang ke Desa Awan Biru bukan hanya untuk menyelesaikan kewajiban akademik, melainkan untuk belajar tentang kehidupan, bekerja bersama masyarakat, dan meninggalkan sesuatu yang dapat dikenang.
Di sanalah perjalanan Dedi, Ita, dan Rama dimulai.
Perjalanan tiga mahasiswa yang berdiri di balik kamera.
Tiga mahasiswa yang menulis cerita orang lain.
Tiga mahasiswa yang mengubah kegiatan menjadi kenangan.
Dan tiga mahasiswa yang perlahan menyadari bahwa di balik setiap foto, berita, dan desain, terdapat cerita pengabdian yang tidak selalu terlihat.
Empat puluh hari akan mengubah mereka.
Bukan hanya sebagai mahasiswa.
Tetapi sebagai manusia.
Dan di Desa Awan Biru, sebuah cerita tentang PDD akan dimulai.
Cerita tentang pekerjaan yang sering tidak terlihat.
Cerita tentang persahabatan yang diuji.
Cerita tentang konflik yang hampir memisahkan.
Cerita tentang masyarakat yang mengajarkan arti ketulusan.
Cerita tentang pengabdian yang ternyata jauh lebih luas daripada sekadar menjalankan program kerja.
Sebab pada akhirnya, sebuah pengabdian bukan hanya tentang apa yang dilakukan.
Tetapi juga tentang apa yang ditinggalkan.
Dan Dedi, Ita, serta Rama akan berusaha memastikan bahwa setiap kebaikan yang mereka lihat tidak hilang begitu saja.
Mereka akan mengabadikannya.
Mereka akan menceritakannya.
Mereka akan mendesainnya.
Dan mereka akan menjadikannya sebuah jejak.
Jejak pengabdian yang tetap hidup meskipun langkah mereka suatu hari nanti telah meninggalkan Desa Awan Biru.
BAB I — TIGA ORANG DI BALIK LAYAR
Awal Kedatangan di Desa Awan Biru
Pagi itu, matahari belum terlalu tinggi ketika sebuah bus berwarna putih perlahan memasuki jalan utama Desa Awan Biru. Suara mesin kendaraan terdengar berat ketika melewati jalan yang sebagian masih bergelombang. Dari balik kaca jendela, hamparan sawah, kebun warga, rumah-rumah sederhana, dan pepohonan yang tumbuh di sepanjang jalan mulai terlihat.
Di dalam bus, sebagian mahasiswa masih bercanda dan tertawa. Sebagian lainnya sibuk melihat telepon genggam, menghubungi keluarga, atau sekadar menikmati pemandangan baru yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
Mereka adalah mahasiswa yang akan melaksanakan Kuliah Kerja Nyata atau KKN selama beberapa puluh hari di Desa Awan Biru.
Bagi sebagian dari mereka, KKN adalah pengalaman pertama tinggal jauh dari lingkungan kampus. Mereka akan hidup bersama teman-teman yang memiliki karakter berbeda, berinteraksi dengan masyarakat yang belum mereka kenal, berhadapan dengan pemerintah desa, serta menjalankan berbagai program kerja yang telah mereka susun sebelumnya.
Di antara suasana riuh itu, seorang mahasiswa duduk tenang di dekat jendela.
Namanya Dedi.
Di tangannya terdapat sebuah kamera yang sejak tadi beberapa kali ia arahkan ke luar jendela. Ia memotret jalan desa, persawahan, papan nama desa, rumah-rumah warga, bahkan beberapa anak yang sedang bermain di halaman rumah.
“Ded, sejak tadi kamu motret terus,” ujar seorang mahasiswa yang duduk di kursi belakang.
Dedi menurunkan kameranya dan tersenyum.
“Ini kesempatan pertama kita melihat desa. Kalau tidak didokumentasikan sekarang, nanti kita mungkin lupa bagaimana suasananya ketika pertama kali datang.”
Mahasiswa itu tertawa.
“Baru juga datang sudah berpikir soal dokumentasi.”
Dedi hanya mengangkat bahu.
Baginya, setiap perjalanan memiliki cerita.
Dan cerita harus disimpan sebelum berubah menjadi kenangan.
Tidak jauh dari tempat duduk Dedi, seorang perempuan sedang membaca catatan yang tersimpan di telepon genggamnya. Sesekali ia membuka dokumen yang berisi rancangan program kerja dan mencocokkannya dengan jadwal yang telah dibuat oleh kelompok.
Namanya Ita.
Ia dikenal sebagai mahasiswa yang teliti dan cukup kritis. Jika mendapatkan sebuah informasi, Ita tidak akan langsung mempercayainya sebelum memastikan kebenarannya.
Bagi Ita, sebuah kalimat dalam berita bukan sekadar susunan kata.
Setiap nama harus benar.
Setiap tempat harus tepat.
Setiap tanggal harus sesuai.
Setiap angka harus dapat dipertanggungjawabkan.
Karena itu, ketika beberapa teman mulai bercanda tentang program kerja yang akan mereka lakukan, Ita justru sibuk memeriksa kembali catatan.
“Ta.”
Ita menoleh.
“Ya?”
“Kamu tidak bosan membaca itu terus?”
“Kalau aku bosan sekarang, nanti kita yang bingung ketika sudah di desa.”
“Kenapa?”
Ita memperlihatkan layar teleponnya.
“Lihat ini. Jadwal kegiatan kita saja masih belum lengkap.”
Temannya melihat layar tersebut.
“Bukannya nanti bisa dibicarakan?”
“Bisa. Tetapi semakin cepat kita tahu, semakin mudah kita mengaturnya.”
Ita kembali membaca dokumen tersebut.
Ia belum tahu bahwa ketelitiannya kelak akan menjadi salah satu kekuatan terbesar tim PDD.
Namun ketelitian yang sama juga akan membuatnya sering berhadapan dengan teman-temannya.
Sementara itu, di kursi paling belakang, seorang mahasiswa tampak tertidur dengan laptop yang masih berada di atas pangkuannya.
Namanya Rama.
Ia adalah mahasiswa yang dikenal kreatif, spontan, dan penuh ide. Rama memiliki kemampuan dalam membuat desain grafis, mengedit video, mengolah gambar, dan mengembangkan berbagai konsep visual.
Namun ada satu kelemahan yang sudah diketahui teman-temannya.
Rama sering mengerjakan sesuatu menjelang batas waktu.
Jika diberi tugas seminggu, ia bisa mengerjakannya pada hari terakhir.
Jika diberi waktu tiga hari, ia mungkin baru membuka laptop pada malam kedua.
Anehnya, hasil pekerjaannya sering kali tetap bagus.
Karena itulah teman-temannya sering merasa kesal sekaligus kagum kepadanya.
Ketika bus mulai memasuki halaman kantor desa, Rama terbangun.
Ia melihat ke luar jendela.
“Sudah sampai?”
“Sudah dari tadi,” jawab Dedi.
Rama menguap.
“Kenapa tidak dibangunkan?”
“Kamu tidur nyenyak sekali,” jawab Ita.
Rama tertawa.
“Berarti perjalanan KKN kita dimulai dengan tidur yang berkualitas.”
Dedi menggeleng.
“Jangan sampai nanti kerja PDD juga kamu kerjakan sambil tidur.”
“Tenang saja,” jawab Rama. “Kalau sudah ada deadline, aku pasti bangun.”
Ketiganya tertawa.
Saat itu mereka belum menyadari bahwa candaan sederhana tersebut kelak akan menjadi bahan pertengkaran pertama mereka.
Kedatangan di Desa Awan Biru
Bus berhenti di halaman kantor Desa Awan Biru.
Begitu pintu bus terbuka, para mahasiswa turun satu per satu sambil membawa tas, koper, kardus perlengkapan, dan berbagai barang kebutuhan selama KKN.
Beberapa perangkat desa sudah menunggu.
Masyarakat juga mulai berdatangan untuk melihat kedatangan mahasiswa.
Kepala Desa Awan Biru bersama beberapa perangkat desa menyambut rombongan tersebut.
Suasana sederhana tetapi hangat.
Tidak ada kemewahan.
Tidak ada penyambutan yang berlebihan.
Namun bagi para mahasiswa, sambutan itu terasa cukup untuk membuat mereka merasa diterima.
“Selamat datang di Desa Awan Biru,” kata Kepala Desa.
“Semoga selama berada di sini, adik-adik mahasiswa dapat beradaptasi dengan masyarakat dan menjalankan program kerja dengan baik.”
Para mahasiswa menjawab hampir bersamaan.
“Terima kasih, Pak.”
Dedi berdiri sedikit di belakang rombongan.
Kamera sudah berada di tangannya.
Ia mulai mengambil beberapa gambar.
Foto pertama adalah saat bus memasuki halaman kantor desa.
Foto kedua ketika mahasiswa turun dari kendaraan.
Foto berikutnya adalah saat kepala desa menyambut ketua kelompok.
Kemudian ia memotret suasana halaman kantor desa.
Tidak lama kemudian, Ita menghampirinya.
“Ded.”
“Ya?”
“Jangan lupa foto sambutan resmi nanti.”
“Sudah.”
“Foto perangkat desa juga.”
“Sudah.”
“Kalau bisa nanti ambil foto bersama.”
Dedi tersenyum.
“Kenapa kamu seperti koordinator PDD?”
Ita mengangkat alis.
“Bukannya aku memang bagian PDD?”
Dedi tertawa kecil.
“Benar juga.”
Beberapa meter dari mereka, Rama sedang memperhatikan spanduk penyambutan.
Ia memotretnya menggunakan telepon genggam.
“Ded!”
Dedi menoleh.
“Kenapa?”
“Spanduknya bisa kita jadikan latar foto.”
Dedi melihat ke arah yang ditunjuk Rama.
“Bagus.”
Rama kemudian mendekat.
“Nanti kita buat album khusus hari pertama.”
Ita ikut bergabung.
“Jangan hanya album. Kita juga harus membuat berita.”
Rama menghela napas.
“Baru sampai sudah berita.”
“Justru hari pertama harus didokumentasikan,” jawab Ita.
Dedi mengangguk.
Saat itu, tanpa mereka sadari, pembagian tugas PDD mulai terbentuk secara alami.
Dedi menjadi orang yang paling banyak memegang kamera.
Ita menjadi orang yang mencatat informasi.
Rama mulai memikirkan tampilan visual yang akan digunakan.
Mereka belum memiliki struktur resmi.
Belum memiliki jadwal.
Belum memiliki sistem penyimpanan.
Tetapi mereka sudah mulai bekerja.
Rapat Perdana
Sore harinya, seluruh mahasiswa berkumpul di tempat yang akan menjadi posko KKN mereka.
Ruangan tersebut belum sepenuhnya tertata.
Kardus masih menumpuk di sudut ruangan.
Tas dan perlengkapan pribadi belum semuanya disusun.
Beberapa mahasiswa duduk di lantai.
Sebagian lainnya duduk di kursi plastik.
Di depan ruangan, ketua kelompok KKN, Raka, berdiri membawa beberapa lembar kertas.
Raka dikenal sebagai mahasiswa yang cukup tegas.
Ia membuka rapat dengan menjelaskan kembali tujuan KKN, tata tertib kelompok, pembagian divisi, serta rencana pelaksanaan program kerja.
“Teman-teman,” katanya, “kita sudah sampai di Desa Awan Biru. Mulai hari ini, kita bukan hanya membawa nama pribadi. Kita membawa nama kelompok dan juga nama kampus.”
Ruangan menjadi lebih tenang.
Raka melanjutkan.
“Kita harus menjaga sikap. Kita harus menghormati masyarakat. Kita harus menghormati pemerintah desa. Dan yang paling penting, setiap program kerja harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab.”
Setelah menjelaskan beberapa hal, Raka mulai menyebutkan pembagian divisi.
Ada divisi logistik dan perlengkapan
Ada divisi pendidikan.
Ada divisi sosial.
Ada divisi kesehatan.
Ada divisi lingkungan.
Ada divisi ekonomi dan pemberdayaan masyarakat.
Dan ada satu divisi yang sebenarnya sering dianggap sederhana, tetapi dalam pelaksanaannya justru memiliki pekerjaan yang cukup banyak.
PDD.
Raka melihat catatannya.
“Untuk Publikasi, Dokumentasi, dan Desain, kita sudah menentukan tiga orang.”
Dedi, Ita, dan Rama saling memandang.
Raka melanjutkan.
“Dedi sebagai koordinator dokumentasi dan fotografer.”
Dedi mengangguk.
“Ita menangani publikasi, penulisan berita, dan pengelolaan informasi.”
Ita mengangguk.
“Rama menangani desain grafis dan video.”
Rama mengangkat tangan.
“Termasuk kalau ada desain mendadak?”
Beberapa mahasiswa tertawa.
Raka ikut tersenyum.
“Termasuk itu.”
Rama menggeleng.
“Saya sudah bisa membayangkan penderitaan saya.”
Tawa kembali terdengar.
Namun setelah suasana kembali tenang, Raka menyampaikan sesuatu yang membuat Dedi mulai berpikir serius.
“Setiap kegiatan KKN wajib didokumentasikan.”
Dedi mengangkat kepala.
“Semua kegiatan?”
“Semua.”
“Termasuk kegiatan kecil?”
“Termasuk kegiatan kecil.”
Dedi diam sejenak.
Ia mulai menghitung dalam pikirannya.
Jika ada lima atau enam kegiatan dalam satu minggu, berarti PDD harus mengikuti hampir semuanya.
Belum lagi membuat berita.
Belum lagi desain.
Belum lagi video.
Belum lagi mengarsipkan file.
Dedi kemudian bertanya.
“Apakah sudah ada kalender kegiatan?”
Raka melihat beberapa lembar kertas di tangannya.
“Belum lengkap.”
“Berarti kita belum tahu jadwal semua kegiatan?”
“Belum.”
Dedi menatap Ita.
Ita juga menatap Dedi.
Rama yang sejak tadi santai mulai menyadari masalah yang sama.
“Kalau jadwalnya belum ada, bagaimana kita menentukan dokumentasi?” tanya Rama.
Raka menjawab,
“Nanti masing-masing divisi menyerahkan jadwal program kerja.”
Dedi mengangguk.
“Kalau bisa secepatnya, supaya PDD bisa membuat kalender dokumentasi.”
“Baik,” jawab Raka.
Rapat kemudian berlanjut ke pembahasan program kerja masing-masing divisi.
Namun bagi Dedi, pikirannya sudah mulai dipenuhi berbagai persoalan.
Ia mengambil buku catatan.
Di halaman kosong, ia menulis:
PDD KKN DESA AWAN BIRU
Di bawahnya ia membuat tiga kolom:
PUBLIKASI — DOKUMENTASI — DESAIN
Kemudian ia menambahkan beberapa poin.
Jadwal kegiatan.
Nama kegiatan.
Lokasi.
Penanggung jawab.
Waktu dokumentasi.
Bahan berita.
Foto.
Video.
Desain.
Ia berhenti menulis.
Kemudian ia berkata pelan,
“Kalau kita tidak membuat sistem dari awal, kita akan kewalahan.”
Ita mendengar perkataan itu.
“Aku setuju.”
Rama ikut melihat catatan Dedi.
“Kalau begitu, besok kita buat sistem.”
Dedi mengangguk.
“Bukan besok. Malam ini.”
Rama menatapnya.
“Malam ini?”
“Iya.”
“Ded, kita baru datang.”
“Justru karena baru datang.”
Ita tersenyum.
“Dedi benar.”
Rama menghela napas.
“Baiklah. PDD mulai bekerja sebelum KKN resmi dimulai.”
Malam Pertama PDD
Malam telah turun di Desa Awan Biru.
Sebagian mahasiswa sudah mulai beristirahat.
Namun di salah satu sudut posko, tiga orang masih duduk mengelilingi sebuah meja.
Dedi membuka laptop.
Ita membawa catatan.
Rama duduk sambil memegang telepon genggam.
Mereka mulai menyusun sistem kerja sederhana.
“Pertama,” kata Dedi, “kita harus punya kalender kegiatan.”
Ita mengangguk.
“Setiap divisi wajib memberi tahu jadwal minimal satu hari sebelumnya.”
Rama langsung menyela.
“Kalau ada kegiatan mendadak?”
“Harus tetap memberi tahu.”
“Kalau mereka memberi tahu tiga puluh menit sebelum acara?”
Dedi menatap Rama.
“Berarti kita harus tetap bekerja.”
Rama tertawa.
“Berarti itu namanya jebakan.”
Ita ikut tertawa.
Namun setelah beberapa menit bercanda, mereka kembali serius.
Ita membuat format data kegiatan.
Nama kegiatan.
Tanggal.
Waktu.
Lokasi.
Penanggung jawab.
Jumlah peserta.
Pihak yang terlibat.
Tujuan kegiatan.
Hasil kegiatan.
Semua dicatat.
Rama membuat folder digital.
Ia membaginya menjadi beberapa bagian:
01 DOKUMENTASI
02 PUBLIKASI
03 DESAIN
04 VIDEO
05 ARSIP
Dedi memeriksa struktur folder tersebut.
“Bagus.”
Rama tersenyum.
“Kalau nanti file hilang, jangan salahkan saya.”
Dedi langsung menatapnya.
“Justru karena itu kita harus punya cadangan.”
Rama mengangguk.
Mereka sepakat menggunakan dua tempat penyimpanan.
Satu penyimpanan utama.
Satu penyimpanan cadangan.
Ita kemudian berkata,
“Kita juga harus menentukan standar berita.”
Dedi bertanya,
“Maksudnya?”
“Judul harus jelas. Nama kegiatan harus benar. Nama pejabat atau perangkat desa jangan sampai salah. Tanggal harus sesuai. Kita juga harus menghindari kalimat yang berlebihan.”
Rama mengangguk.
“Berarti berita tidak boleh asal jadi.”
“Tidak boleh,” jawab Ita.
Malam semakin larut.
Namun mereka bertiga belum berhenti.
Tidak ada yang memerintahkan mereka bekerja sampai malam.
Tidak ada yang memberikan penghargaan.
Tidak ada yang melihat apa yang mereka kerjakan.
Tetapi mereka tahu bahwa jika sistem tidak dibangun sejak awal, mereka akan menghadapi masalah yang jauh lebih besar beberapa hari kemudian.
Sekitar pukul sebelas malam, Dedi menutup laptop.
“Sudah.”
Ita melihat layar.
“Besok kita minta semua divisi menyerahkan jadwal.”
Rama menguap.
“Dan setelah itu kita dokumentasikan semuanya?”
Dedi tersenyum.
“Begitulah pekerjaan kita.”
Rama berdiri.
“Kalau begitu, selamat datang di dunia PDD.”
Ita tertawa.
Dedi mematikan lampu meja.
Mereka bertiga belum tahu bahwa sistem sederhana yang mereka buat malam itu akan menjadi dasar pekerjaan mereka selama berada di Desa Awan Biru.
Mereka juga belum tahu bahwa dalam beberapa hari ke depan, sistem tersebut akan diuji oleh kegiatan yang berubah mendadak, permintaan publikasi yang datang tanpa pemberitahuan, perbedaan pendapat dengan sesama mahasiswa, serta berbagai masalah teknis yang tidak pernah mereka bayangkan.
Tetapi malam itu mereka masih memiliki semangat.
Masih memiliki keyakinan.
Dan masih percaya bahwa semua persoalan dapat diselesaikan jika mereka bekerja bersama.
Mereka belum tahu bahwa bekerja bersama ternyata tidak selalu mudah.
Sebab manusia memiliki cara berpikir yang berbeda.
Dan di situlah perjalanan mereka sebenarnya akan dimulai.
Bukan ketika kamera pertama kali digunakan.
Bukan ketika berita pertama kali dipublikasikan.
Bukan ketika desain pertama kali dibagikan.
Tetapi ketika mereka mulai memahami bahwa menjadi tim berarti belajar menerima perbedaan.
Malam pertama di Desa Awan Biru akhirnya berlalu.
Di luar posko, suara jangkrik terdengar dari balik pepohonan.
Lampu-lampu rumah warga mulai padam satu per satu.
Desa perlahan menjadi sunyi.
Namun di dalam sebuah laptop yang tersimpan di meja kecil posko KKN, sebuah folder baru telah dibuat.
Namanya sederhana:
PDD KKN DESA AWAN BIRU.
Folder itu masih kosong.
Belum banyak foto.
Belum ada berita.
Belum ada video.
Belum ada desain.
Tetapi beberapa puluh hari kemudian, folder sederhana itu akan dipenuhi ribuan foto, puluhan berita, berbagai desain, video, catatan, dan kenangan.
Dan di antara semua file itu, akan tersimpan cerita tentang tiga mahasiswa yang belajar bahwa pekerjaan di balik layar ternyata memiliki arti yang jauh lebih besar daripada yang mereka bayangkan.
BAB II — PDD DIANGGAP HANYA TUKANG FOTO
Tugas yang Tidak Dianggap Penting
Pagi berikutnya, suasana posko KKN Desa Awan Biru mulai dipenuhi kesibukan.
Beberapa mahasiswa sibuk menyiapkan perlengkapan untuk program kerja masing-masing. Ada yang membawa kardus berisi alat tulis, ada yang memeriksa perlengkapan kegiatan, sementara beberapa mahasiswa lainnya masih menyusun jadwal yang belum selesai.
Setelah sarapan, seluruh anggota kelompok kembali berkumpul untuk melanjutkan rapat program kerja.
Hari itu menjadi salah satu rapat terpenting karena masing-masing divisi harus menjelaskan kegiatan yang akan mereka laksanakan selama berada di Desa Awan Biru.
Dedi, Ita, dan Rama duduk di sisi ruangan dengan membawa laptop dan beberapa lembar catatan.
Di depan mereka terdapat daftar sementara program kerja.
Dedi sudah menyiapkan format kalender dokumentasi.
Ita membawa buku catatan untuk mencatat informasi setiap kegiatan.
Sementara Rama membuka laptop untuk melihat rancangan desain yang akan digunakan dalam berbagai kegiatan.
Ketua kelompok, Raka, membuka rapat.
“Baik, teman-teman. Hari ini kita harus menyelesaikan jadwal program kerja. Jangan sampai ada kegiatan yang berjalan tanpa koordinasi.”
Satu per satu divisi mulai mempresentasikan programnya.
Divisi logistic dan perlengkapan menjelaskan kebutuhan riel di Posko
Divisi pendidikan menjelaskan rencana pendampingan belajar bagi anak-anak.
Divisi kesehatan menyampaikan rencana kegiatan penyuluhan.
Divisi sosial memaparkan kegiatan bersama masyarakat.
Divisi lingkungan menjelaskan rencana kerja bakti.
Divisi ekonomi dan pemberdayaan masyarakat menyampaikan beberapa kegiatan yang berkaitan dengan potensi desa.
Dedi mencatat semuanya.
Nama kegiatan.
Tanggal.
Lokasi.
Penanggung jawab.
Perkiraan jumlah peserta.
Sementara Ita sesekali bertanya untuk memastikan informasi yang diberikan tidak keliru.
“Untuk kegiatan pendampingan belajar, tanggalnya hari Rabu atau Kamis?” tanya Ita.
“Rabu,” jawab salah seorang anggota divisi pendidikan.
“Mulainya pukul berapa?”
“Jam empat sore.”
“Lokasinya?”
“Di balai desa.”
Ita menulis semua informasi tersebut.
Dedi kemudian menambahkan kegiatan itu ke kalender dokumentasi.
Namun belum selesai menulis, salah seorang mahasiswa tiba-tiba berkata,
“Nanti dokumentasinya Dedi saja, kan?”
Beberapa orang langsung tertawa kecil.
Dedi mengangkat wajahnya.
Ia menatap mahasiswa tersebut, lalu tersenyum.
“Iya, kalau memang jadwalnya sudah jelas.”
Mahasiswa itu mengangguk santai.
“Berarti aman. Kita fokus saja ke kegiatan.”
Dedi tidak langsung menjawab.
Ia kembali melihat catatannya.
Namun dalam hati, ia mulai merasakan sesuatu.
Anggapan itu terdengar sederhana.
Tetapi justru menunjukkan bahwa belum semua anggota memahami pekerjaan PDD.
Bagi mereka, dokumentasi mungkin hanya berarti mengambil beberapa foto.
Datang.
Memotret.
Pulang.
Selesai.
Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.
PDD Bukan Hanya Kamera
Setelah beberapa divisi selesai menyampaikan program kerja, Raka bertanya,
“Apakah ada yang perlu disampaikan dari PDD?”
Dedi mengangkat tangan.
“Boleh saya menyampaikan sedikit?”
Raka mengangguk.
Dedi berdiri.
Ia membawa laptopnya dan menampilkan tabel yang telah dibuatnya semalam.
“Teman-teman, kami dari PDD ingin menyampaikan sedikit soal mekanisme dokumentasi dan publikasi.”
Beberapa mahasiswa mulai memperhatikan.
Dedi melanjutkan.
“Karena semua kegiatan harus terdokumentasi, kami membutuhkan jadwal yang jelas. Bukan hanya tanggal, tetapi juga waktu, lokasi, penanggung jawab, dan jenis kegiatan.”
Seorang mahasiswa menyela.
“Kenapa harus sedetail itu?”
Dedi menjawab dengan tenang.
“Karena kami tidak mungkin berada di dua atau tiga tempat sekaligus.”
Beberapa orang tertawa.
Dedi ikut tersenyum.
“Kalau dalam satu hari ada tiga kegiatan di tempat berbeda, kami harus menentukan pembagian tugas. Kalau jadwal berubah, kami juga harus mengetahuinya.”
Ita kemudian ikut berbicara.
“Selain dokumentasi, kami juga menangani publikasi. Jadi kami membutuhkan data kegiatan. Nama kegiatan, siapa yang terlibat, tujuan kegiatan, hasil kegiatan, dan informasi lain yang diperlukan untuk berita.”
Salah seorang mahasiswa mengangkat tangan.
“Bukankah nanti berita bisa dibuat setelah kegiatan?”
“Bisa,” jawab Ita. “Tetapi kami tetap membutuhkan data yang benar.”
“Kalau cuma kegiatan sederhana, apakah harus dibuat berita?”
Ita diam sejenak.
“Tidak semua kegiatan harus menjadi berita panjang. Tetapi kegiatan yang dianggap penting bagi kelompok, desa, atau masyarakat sebaiknya memiliki dokumentasi dan catatan yang baik.”
Rama kemudian membuka laptopnya.
“Dan setelah itu, kami juga membuat desain.”
Seorang mahasiswa tertawa.
“Desain apa?”
“Poster, publikasi kegiatan, ucapan, infografis, dokumentasi visual, dan beberapa kebutuhan lainnya.”
Mahasiswa tersebut mengangguk.
“Oh, berarti kalau acara selesai tinggal kasih kamera ke PDD. Beres.”
Ruangan kembali dipenuhi tawa.
Rama ikut tertawa.
Tetapi kali ini senyumnya sedikit berbeda.
Ia menutup laptopnya perlahan.
Dedi melihat ke arah Rama.
Ita juga memperhatikannya.
Mereka bertiga memahami bahwa candaan tersebut bukan sekadar candaan.
Ada cara pandang yang perlu diperbaiki.
Candaan yang Menjadi Kenyataan
Rapat selesai menjelang siang.
Sebagian mahasiswa langsung meninggalkan ruangan.
Dedi masih duduk sambil memeriksa kalender kegiatan.
Ita sedang merapikan catatannya.
Rama menutup laptop.
“Bagaimana?” tanya Rama.
Dedi menghela napas.
“Sepertinya mereka masih menganggap PDD hanya tukang foto.”
Ita mengangguk.
“Bukan hanya mereka. Mungkin memang dari awal kita belum menjelaskan dengan baik.”
Rama berdiri.
“Kalau begitu, kita buktikan saja.”
Dedi menatapnya.
“Buktikan bagaimana?”
“Dengan hasil.”
Ita tersenyum.
“Setuju.”
Rama melanjutkan,
“Kalau kita menjelaskan panjang lebar tetapi hasilnya biasa saja, mereka tetap akan menganggap kita hanya tukang foto.”
Dedi mengangguk.
“Berarti kita harus menunjukkan bahwa PDD memiliki pekerjaan yang lebih luas.”
“Benar.”
Mereka bertiga kemudian sepakat untuk tidak terlalu mempermasalahkan candaan tersebut.
Mereka memilih bekerja.
Namun keputusan itu tidak berarti masalah selesai.
Justru beberapa jam kemudian, mereka mendapatkan ujian pertama.
Acara Mendadak
Sekitar pukul dua siang, ketika sebagian mahasiswa sedang beristirahat, telepon genggam Dedi berbunyi.
Sebuah pesan masuk dari salah satu anggota divisi sosial.
“Ded, nanti sore ada kegiatan di balai desa. Tolong dokumentasi, ya.”
Dedi membaca pesan tersebut.
Ia melihat jam.
Pukul 14.17.
Ia membalas.
“Kegiatannya jam berapa?”
Tidak ada jawaban.
Beberapa menit kemudian, pesan masuk lagi.
“Jam 15.00.”
Dedi langsung menghela napas.
Ia menghubungi Ita.
“Ta.”
“Ya?”
“Ada kegiatan jam tiga.”
Ita melihat jam.
“Sekarang jam berapa?”
“Sudah lewat jam dua.”
Ita terdiam.
“Data kegiatannya sudah lengkap?”
“Belum.”
Rama yang kebetulan berada di dekat mereka ikut mendengar.
“Desainnya sudah ada?”
Dedi dan Ita menatapnya.
“Belum,” jawab mereka hampir bersamaan.
Rama menghela napas.
“Ini baru hari kedua.”
Mereka bertiga segera bersiap.
Dedi mengambil kamera.
Ita membawa buku catatan.
Rama membawa laptop dan telepon genggam.
Mereka berangkat menuju balai desa.
Sesampainya di sana, ternyata kegiatan sudah mulai dipersiapkan.
Beberapa warga telah datang.
Perangkat desa sedang menata tempat.
Mahasiswa dari divisi sosial sibuk mengatur acara.
Dedi mulai mengambil gambar.
Ita mencari informasi.
Rama mencari sudut yang tepat untuk mengambil video.
Tidak ada waktu untuk mengeluh.
Mereka bekerja.
Masalah Pertama
Ketika kegiatan selesai, Ita menghampiri penanggung jawab.
“Boleh saya minta informasi kegiatan?”
“Informasi apa?”
“Nama kegiatan, tujuan kegiatan, jumlah peserta, siapa yang hadir, dan hasil kegiatan.”
Penanggung jawab tersebut terlihat bingung.
“Bukannya tadi sudah ada kegiatannya?”
Ita tersenyum.
“Untuk berita, kami membutuhkan datanya.”
“Wah, saya tidak menyiapkan.”
Ita menarik napas.
“Tidak apa-apa. Kita bisa catat sekarang.”
Ia kemudian bertanya satu per satu.
Namun beberapa informasi tidak diketahui dengan pasti.
Nama salah satu narasumber tidak lengkap.
Jumlah peserta hanya diperkirakan.
Waktu kegiatan juga tidak dicatat.
Ita mulai memahami bahwa tugas publikasi tidak bisa dilakukan hanya dengan melihat kegiatan.
PDD membutuhkan koordinasi sejak sebelum kegiatan dimulai.
Setelah kembali ke posko, Ita duduk di depan laptop.
Ia membuka dokumen kosong.
Dedi memindahkan foto dari kamera.
Rama mulai memeriksa video.
Malam itu mereka kembali bekerja.
Dedi memilih foto terbaik.
Ita menyusun berita.
Rama membuat desain.
Sekitar pukul sepuluh malam, berita selesai.
Rama masih mengedit video.
Dedi melihat layar laptop.
“Sudah selesai?”
Ita mengangguk.
“Sudah.”
“Bagus.”
Ita kemudian berkata,
“Tapi ini baru satu kegiatan.”
Dedi tersenyum.
“Dan besok mungkin ada kegiatan lain.”
Rama yang masih bekerja di depan laptop langsung menyahut,
“Jangan bilang begitu. Saya belum selesai mengedit video.”
Mereka tertawa.
Kelelahan yang mereka rasakan sedikit berkurang.
Hasil yang Mulai Berbicara
Keesokan paginya, berita kegiatan tersebut dipublikasikan melalui media informasi KKN.
Foto-foto yang dipilih Dedi terlihat rapi.
Tulisan Ita memberikan informasi lengkap mengenai kegiatan.
Desain Rama membuat tampilan publikasi terlihat menarik.
Tidak lama kemudian, beberapa warga memberikan tanggapan positif.
Salah seorang perangkat desa mengirim pesan kepada Raka.
“Dokumentasi kegiatannya bagus. Beritanya juga jelas.”
Raka kemudian meneruskan pesan tersebut ke grup mahasiswa.
Beberapa mahasiswa mulai memberikan respons.
“Bagus juga.”
“Fotonya jelas.”
“Beritanya lengkap.”
“Desainnya keren.”
Dedi membaca pesan-pesan tersebut tanpa banyak berkomentar.
Ita tersenyum.
Rama mengangkat kedua tangannya.
“Nah, sekarang siapa yang bilang kita cuma tukang foto?”
Dedi tertawa.
“Jangan sombong.”
“Aku bukan sombong. Aku sedang menikmati kemenangan kecil.”
Ita ikut tertawa.
Namun di balik candaan tersebut, mereka menyadari sesuatu.
Mereka tidak perlu marah ketika orang lain belum memahami pekerjaan mereka.
Mereka hanya perlu menunjukkan hasil.
Karena kadang-kadang, pekerjaan yang dilakukan dengan baik mampu menjelaskan dirinya sendiri.
Tantangan yang Lebih Besar
Namun belum semua persoalan selesai.
Pada rapat berikutnya, seorang mahasiswa kembali berkata,
“Kalau ada kegiatan, nanti PDD tinggal ikut saja.”
Dedi menatapnya.
Kali ini ia tidak langsung tersenyum.
Ia menjawab dengan tenang.
“Bukan begitu.”
Ruangan menjadi lebih hening.
“Kami memang akan mengikuti kegiatan. Tetapi kami juga membutuhkan koordinasi. Kalau kegiatan berubah, beri tahu kami. Kalau tempat berubah, beri tahu kami. Kalau waktunya berubah, beri tahu kami.”
Ia berhenti sebentar.
“Kalau kami tidak tahu, dokumentasi bisa terlewat.”
Ita menambahkan,
“Dan kalau data kegiatan tidak lengkap, berita juga tidak bisa dibuat dengan baik.”
Rama ikut berkata,
“Kalau desain dibutuhkan, beri kami waktu. Jangan meminta desain lima menit sebelum acara dimulai.”
Beberapa mahasiswa tersenyum.
Raka mengangguk.
“Saya kira itu masuk akal.”
Kemudian Raka menatap seluruh anggota kelompok.
“Mulai sekarang, setiap divisi wajib berkoordinasi dengan PDD sebelum kegiatan. Bukan karena PDD lebih penting daripada divisi lain, tetapi karena dokumentasi dan publikasi merupakan bagian dari keseluruhan kegiatan.”
Dedi mengangguk.
Ita tersenyum.
Rama kembali membuka laptopnya.
Untuk pertama kalinya, mereka merasa bahwa posisi PDD mulai dipahami.
Tetapi mereka juga tahu bahwa pemahaman itu tidak akan datang dalam satu hari.
Masih akan ada kegiatan mendadak.
Masih akan ada orang yang lupa memberi informasi.
Masih akan ada foto yang dipermasalahkan.
Masih akan ada berita yang harus diperbaiki.
Masih akan ada desain yang diminta secara tiba-tiba.
Dan mungkin, akan ada konflik yang jauh lebih besar daripada sekadar anggapan bahwa PDD hanya tukang foto.
Belajar Menjadi Bagian dari Tim
Malam itu, Dedi, Ita, dan Rama kembali duduk bertiga.
Kali ini mereka tidak sedang membuat desain atau menulis berita.
Mereka hanya berbicara.
“Menurut kalian, kenapa orang menganggap PDD tidak terlalu penting?” tanya Dedi.
Ita berpikir sejenak.
“Mungkin karena pekerjaan kita lebih banyak terlihat setelah kegiatan selesai.”
Rama mengangguk.
“Benar. Ketika kegiatan berlangsung, orang melihat siapa yang menjadi panitia. Mereka tidak melihat siapa yang nanti harus mengolah dokumentasi.”
Dedi tersenyum.
“Berarti memang pekerjaan kita banyak dilakukan setelah orang lain selesai.”
Ita menambahkan,
“Dan mungkin itu yang membuat kita harus lebih sabar.”
Rama menatap keduanya.
“Jadi kita tidak perlu mempermasalahkan kalau ada yang bercanda?”
Dedi menjawab,
“Selama candaan itu tidak berubah menjadi penghinaan atau menghambat pekerjaan, kita tidak perlu memperpanjang.”
Ita mengangguk.
“Kita buktikan dengan kerja.”
Mereka bertiga saling memandang.
Tidak ada pernyataan besar.
Tidak ada janji dramatis.
Hanya kesepakatan sederhana.
Mereka akan bekerja sebaik mungkin.
Mereka akan membangun komunikasi dengan divisi lain.
Mereka akan menjaga etika.
Mereka akan memastikan dokumentasi tersimpan dengan baik.
Mereka akan menulis berita berdasarkan fakta.
Dan mereka akan membuat desain yang mampu menyampaikan pesan kegiatan dengan baik.
Malam semakin larut.
Dedi kembali memeriksa kameranya.
Ita menutup buku catatannya.
Rama menyimpan laptopnya.
Sebelum beranjak tidur, Rama berkata,
“Besok ada kegiatan apa?”
Dedi membuka kalender.
“Besok ada dua.”
Rama langsung berhenti berjalan.
“Dua?”
“Iya.”
“Jam berapa?”
“Yang pertama pagi. Yang kedua sore.”
Rama menghela napas panjang.
“Sepertinya saya mulai memahami kenapa PDD disebut pekerjaan di balik layar.”
Ita tertawa.
Dedi ikut tersenyum.
Mereka kemudian mematikan lampu.
Namun di dalam hati masing-masing, mereka mulai memahami satu hal.
Menjadi PDD bukan sekadar membawa kamera.
Bukan sekadar menulis berita.
Bukan sekadar membuat desain.
PDD adalah bagian dari kerja bersama.
Jika sebuah program kerja adalah sebuah perjalanan, maka PDD bertugas menjaga agar setiap langkah dalam perjalanan itu tidak hilang.
Jika sebuah kegiatan adalah sebuah cerita, maka PDD membantu memastikan cerita tersebut dapat dibaca, dilihat, dan dikenang.
Dan jika pengabdian adalah sebuah jejak, maka PDD bertugas membantu menjaga jejak itu tetap terlihat.
Mereka bertiga belum tahu seberapa panjang perjalanan yang menunggu.
Tetapi satu hal mulai mereka yakini.
PDD bukan bagian tambahan dari KKN.
PDD adalah bagian dari keseluruhan cerita pengabdian.
Dan cerita itu baru saja dimulai.
BAB III — RAPAT PERTAMA YANG BERANTAKAN
Ketika Semua Ingin Dipublikasikan
Hari-hari pertama di Desa Awan Biru berlalu lebih cepat daripada yang dibayangkan Dedi, Ita, dan Rama.
Program kerja mulai bergerak.
Satu per satu kegiatan yang sebelumnya hanya tertulis di atas kertas mulai dilaksanakan.
Ada kegiatan pendampingan belajar anak-anak.
Ada kerja bakti bersama masyarakat.
Ada persiapan penyuluhan kesehatan.
Ada kegiatan pemberdayaan masyarakat.
Ada kunjungan ke beberapa tempat yang dianggap memiliki potensi desa.
Semua berjalan hampir bersamaan.
Dan di tengah semua kegiatan itu, tiga orang yang berada di balik layar mulai merasakan sesuatu yang tidak mereka bayangkan sebelumnya.
Pekerjaan PDD ternyata tidak pernah benar-benar selesai.
Ketika satu kegiatan selesai didokumentasikan, kegiatan lain sudah menunggu.
Ketika satu berita selesai ditulis, pesan baru masuk.
Ketika sebuah desain selesai dibuat, permintaan desain berikutnya datang.
Bahkan ketika mereka sudah mematikan laptop dan bersiap tidur, telepon genggam masih bisa berbunyi.
“Besok tolong dibuatkan poster.”
“Foto kegiatan tadi sudah dikirim?”
“Bisa dibuatkan video pendek malam ini?”
“Beritanya kapan naik?”
“Tolong pilihkan foto yang bagus.”
Awalnya mereka masih bisa tertawa.
Lama-kelamaan, mereka mulai kewalahan.
Dan semua itu memuncak pada sebuah rapat yang kemudian dikenang sebagai rapat paling berantakan selama minggu pertama KKN.
Semua Merasa Programnya Paling Penting
Sore itu, seluruh anggota kelompok berkumpul di posko.
Raka meminta setiap divisi melaporkan perkembangan program kerja.
Dedi, Ita, dan Rama duduk di tempat yang sama seperti biasanya.
Di depan mereka terdapat laptop, buku catatan, dan daftar kegiatan yang semakin panjang.
Raka membuka rapat.
“Baik, kita mulai dari evaluasi kegiatan minggu pertama. Saya ingin setiap divisi menyampaikan apa yang sudah dilakukan dan apa yang akan dilakukan berikutnya.”
Satu per satu divisi memberikan laporan.
Awalnya rapat berjalan cukup tenang.
Namun ketika pembahasan beralih pada publikasi, suasana mulai berubah.
Salah seorang mahasiswa dari divisi pendidikan berkata,
“Program kami besok cukup penting. Kami ingin dibuatkan berita khusus.”
Ita langsung mencatat.
“Baik. Kegiatannya apa?”
“Pendampingan belajar.”
“Waktunya?”
“Besok sore.”
“Lokasinya?”
“Balai desa.”
Ita mengangguk.
“Baik. Setelah kegiatan selesai, kami butuh data dan informasi dari penanggung jawab.”
Belum sempat Ita menutup catatannya, mahasiswa dari divisi kesehatan langsung menyela.
“Kalau kegiatan kami juga harus dibuat berita.”
Mahasiswa lain ikut berbicara.
“Program lingkungan juga.”
“Program sosial juga.”
“Kalau bisa kegiatan kami dibuat video.”
“Program kami juga harus ada poster.”
“Kalau bisa dibuatkan tiga berita.”
Ruang rapat yang sebelumnya tenang mulai berubah menjadi ramai.
Semua berbicara hampir bersamaan.
Dedi menatap Ita.
Ita menatap Rama.
Rama mengangkat kedua tangannya.
“Sebentar!”
Suasana sedikit mereda.
Rama menarik napas.
“Kalau semua ingin dibuatkan video, saya cuma satu orang.”
Beberapa mahasiswa tertawa.
Namun Rama tidak ikut tertawa.
“Saya serius.”
Seorang mahasiswa menjawab,
“Kan videonya pendek.”
Rama mengangguk.
“Video pendek tetap membutuhkan waktu.”
“Bukannya tinggal edit?”
Rama menatap mahasiswa tersebut.
“Tidak sesederhana tinggal edit.”
Ia membuka laptop dan menunjukkan salah satu proyek video yang sedang dikerjakannya.
“Ini satu video berdurasi dua menit. Bahan mentahnya hampir satu jam. Saya harus memilih gambar, memotong bagian yang tidak diperlukan, menyusun urutan, menyesuaikan suara, memasukkan teks, memastikan kualitas gambar, kemudian merender.”
Ruangan mulai hening.
Rama menutup laptop.
“Kalau saya harus membuat lima video sekaligus, berarti waktunya juga harus dibagi.”
Seorang mahasiswa mengangkat tangan.
“Kalau begitu, mana yang lebih penting?”
Rama menjawab,
“Itulah yang harus kita tentukan bersama.”
Ita Mulai Kehilangan Kesabaran
Setelah pembahasan video, giliran publikasi kembali menjadi persoalan.
Salah seorang mahasiswa menyerahkan beberapa lembar catatan kepada Ita.
“Ta, ini nanti dibuatkan berita.”
Ita menerima kertas tersebut.
Ia membacanya.
Kemudian mengernyitkan dahi.
“Ini kegiatannya kapan?”
“Sudah tadi.”
“Siapa yang hadir?”
“Banyak.”
“Berapa orang?”
“Kurang tahu.”
Ita menarik napas.
“Nama narasumber?”
“Kayaknya Pak itu.”
“Pak siapa?”
Mahasiswa tersebut tertawa.
“Ya, Pak yang tadi memberikan sambutan.”
Ita menatapnya.
“Kalau saya tidak tahu namanya, bagaimana saya menulis berita?”
“Kan kamu lihat sendiri tadi.”
Ita mencoba tetap tenang.
“Saya melihat banyak orang. Saya tidak mungkin tahu semua nama.”
Mahasiswa itu mulai terlihat kurang nyaman.
“Bukannya PDD memang tugasnya mencari informasi?”
Ita terdiam.
Kalimat itu membuat suasana berubah.
Ia kemudian menjawab dengan suara lebih tenang.
“PDD memang bertugas membuat publikasi. Tetapi informasi harus berasal dari penanggung jawab kegiatan. Kami tidak boleh menebak nama, jabatan, jumlah peserta, atau hasil kegiatan.”
Ia membuka catatannya.
“Kalau datanya salah, yang dipublikasikan juga salah.”
Tidak ada yang menjawab.
Ita kembali duduk.
Namun dalam hati ia mulai merasa lelah.
Ia tidak keberatan bekerja.
Yang membuatnya lelah adalah ketika orang lain menganggap pekerjaannya mudah.
Dedi Mulai Menghitung Masalah
Dedi membuka kalender dokumentasi.
Ia mulai menghitung jumlah kegiatan.
Dalam tiga hari ke depan terdapat delapan kegiatan.
Delapan.
Sementara anggota PDD hanya tiga orang.
Dedi mulai membagi kemungkinan tugas.
Jika kegiatan berlangsung bersamaan, mereka harus memilih siapa yang datang ke mana.
Kalau kegiatan pagi dilanjutkan kegiatan siang dan sore, dokumentasi harus segera dipindahkan.
Foto harus diseleksi.
Berita harus dibuat.
Desain harus disiapkan.
Video harus diedit.
Dan semua harus diarsipkan.
Dedi mengangkat tangan.
“Raka.”
Ketua kelompok menoleh.
“Ya?”
“Kita perlu membicarakan sistem kerja PDD.”
Raka mengangguk.
“Silakan.”
Dedi berdiri.
Ia membawa laptop ke depan.
“Selama beberapa hari ini, kami menerima banyak permintaan publikasi, dokumentasi, dan desain. Kami senang karena semua divisi ingin kegiatannya terdokumentasi.”
Ia berhenti sebentar.
“Tapi kalau semua permintaan masuk tanpa sistem, kami akan kesulitan menentukan prioritas.”
Salah seorang mahasiswa menyela.
“Memangnya kenapa harus ada aturan? Bukankah PDD memang untuk mendukung semua kegiatan?”
Dedi mengangguk.
“Betul. Kami mendukung semua kegiatan. Tetapi kami juga perlu sistem supaya tidak ada kegiatan yang justru terlewat.”
Ia kemudian menampilkan sebuah tabel.
“Mulai sekarang, kami mengusulkan tiga aturan sederhana.”
Ruangan kembali memperhatikan.
Dedi membaca satu per satu.
“Pertama, tidak ada publikasi tanpa data.”
“Artinya, setiap divisi yang ingin kegiatannya diberitakan harus memberikan informasi yang lengkap.”
Ia melanjutkan.
“Kedua, tidak ada dokumentasi tanpa jadwal.”
“Artinya, kegiatan harus diinformasikan kepada PDD sebelumnya agar kami bisa mengatur personel.”
Kemudian Dedi melihat Rama.
Rama tersenyum kecil.
Dedi melanjutkan.
“Ketiga, tidak ada desain tanpa brief.”
Rama langsung mengangguk.
“Ini yang paling penting.”
Beberapa mahasiswa tertawa.
Namun tidak semua orang terlihat setuju.
Aturan yang Dianggap Merepotkan
Seorang mahasiswa mengangkat tangan.
“Kalau kegiatan mendadak bagaimana?”
Dedi menjawab,
“Kalau benar-benar mendadak, tentu kami akan berusaha membantu.”
“Berarti tetap bisa?”
“Bisa. Tetapi jangan sampai kegiatan mendadak menjadi kebiasaan.”
Mahasiswa tersebut mengangguk.
Seorang mahasiswa lain kemudian berkata,
“Kalau publikasi harus menunggu data lengkap, nanti beritanya lama.”
Ita langsung menjawab.
“Lebih baik sedikit lebih lama tetapi benar daripada cepat tetapi salah.”
“Kan bisa diperbaiki nanti.”
Ita menggeleng.
“Kalau sudah dipublikasikan, informasi yang salah bisa terlanjur dibaca orang.”
Rama kemudian menjelaskan aturan desain.
“Untuk desain, kami perlu tahu minimal judul kegiatan, tanggal, tempat, waktu, pihak penyelenggara, dan informasi yang ingin ditampilkan.”
Seorang mahasiswa bertanya,
“Kalau saya cuma bilang buatkan poster kegiatan besok, tidak bisa?”
Rama tersenyum.
“Bisa. Tapi posternya bisa jadi poster yang berbeda dari yang kamu bayangkan.”
Ruangan tertawa.
Rama melanjutkan,
“Karena itu kami membutuhkan brief.”
Namun salah seorang mahasiswa berkata,
“Bukankah PDD harus kreatif?”
Rama mengangguk.
“Justru karena kami kreatif, kami membutuhkan informasi yang jelas agar kreativitas kami tidak salah arah.”
Kalimat itu membuat beberapa mahasiswa diam.
Tetapi ada juga yang terlihat tidak puas.
“Menurut saya aturan seperti ini malah membuat semuanya ribet.”
Dedi mendengar komentar tersebut.
Ia menarik napas.
“Kami tidak bermaksud membuat pekerjaan orang lain ribet.”
Ia memandang seluruh anggota kelompok.
“Kami hanya ingin semua bekerja dengan lebih teratur.”
Perdebatan Mulai Memanas
Seorang mahasiswa kemudian berkata,
“Masalahnya, kalau terlalu banyak aturan, nanti PDD malah sulit membantu.”
Ita langsung menoleh.
“Kami tidak pernah mengatakan tidak mau membantu.”
“Tapi sekarang harus pakai data, harus pakai jadwal, harus pakai brief.”
“Karena kami juga punya batas waktu,” jawab Ita.
Suasana mulai memanas.
Raka mencoba menenangkan.
“Teman-teman, jangan sampai masalah teknis seperti ini membuat kita bertengkar.”
Namun salah seorang mahasiswa masih melanjutkan.
“Menurut saya PDD harus fleksibel.”
Dedi menjawab,
“Kami fleksibel.”
“Kalau fleksibel, kenapa harus ada aturan?”
Dedi terdiam sejenak.
Kemudian ia menjawab dengan suara tenang.
“Karena fleksibel bukan berarti tidak punya sistem.”
Ruangan menjadi hening.
Dedi melanjutkan.
“Kalau kita tidak punya sistem, orang yang paling dulu kewalahan adalah PDD. Dan kalau PDD kewalahan, akhirnya dokumentasi tidak maksimal, berita terlambat, desain terlambat, dan arsip juga berantakan.”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Dedi kemudian berkata,
“Kami tidak ingin menghambat kegiatan siapa pun. Kami justru ingin memastikan semua kegiatan mendapatkan dukungan yang layak.”
Raka mengangguk.
“Saya setuju dengan Dedi.”
Ia melihat seluruh anggota kelompok.
“Setiap divisi harus belajar berkoordinasi. PDD bukan pelayan semua divisi. PDD adalah bagian dari tim.”
Kalimat itu membuat suasana sedikit lebih tenang.
Namun masalah belum benar-benar selesai.
Permintaan yang Datang Bersamaan
Malamnya, setelah rapat selesai, ketiga anggota PDD kembali ke meja kerja mereka.
Ita membuka telepon genggam.
Ada beberapa pesan baru.
“Ta, besok tolong buat berita kegiatan kami.”
Pesan berikutnya masuk.
“Tolong buat caption juga.”
Kemudian pesan lain.
“Rama, poster kegiatan besok bisa selesai malam ini?”
Pesan berikutnya.
“Jangan lupa video kegiatan tadi.”
Rama melihat telepon genggamnya.
“Ini semua masuk bersamaan.”
Dedi membuka kalender.
“Besok ada tiga kegiatan.”
Ita menatap Dedi.
“Dan semua ingin berita.”
Rama menatap layar laptop.
“Dan dua di antaranya minta video.”
Dedi terdiam.
Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.
Kemudian Rama berkata,
“Kalau begini terus, kita bertiga bisa tidak tidur.”
Ita mengangguk.
“Bukan hanya tidak tidur. Kita bisa mulai membuat kesalahan.”
Dedi menatap kedua temannya.
“Kita harus membuat prioritas.”
“Bagaimana caranya?” tanya Ita.
Dedi berpikir.
“Kita bedakan antara wajib, penting, dan tambahan.”
Rama mulai tertarik.
“Wajib apa?”
“Dokumentasi semua kegiatan.”
Ita menambahkan,
“Publikasi kegiatan utama.”
Rama berkata,
“Video untuk kegiatan yang memang membutuhkan video.”
Dedi mengangguk.
“Desain dibuat berdasarkan kebutuhan dan prioritas.”
Mereka kemudian menyusun daftar.
Prioritas PDD
Pertama: dokumentasi seluruh kegiatan.
Kedua: berita kegiatan utama dan kegiatan yang memiliki nilai informasi bagi masyarakat.
Ketiga: desain publikasi sesuai kebutuhan.
Keempat: video untuk kegiatan yang memang membutuhkan dokumentasi audiovisual.
Kelima: konten tambahan jika waktu memungkinkan.
Setelah selesai, mereka merasa sedikit lega.
Namun mereka menyadari bahwa sistem tersebut baru akan berguna jika seluruh anggota kelompok mau mengikutinya.
PDD Mulai Diuji
Keesokan harinya, ujian pertama datang.
Pukul tujuh pagi, Dedi mendapat pesan.
“Ded, kegiatan dimajukan satu jam.”
Dedi langsung bangun.
Ia melihat kalender.
Kegiatan seharusnya pukul delapan.
Sekarang dimajukan menjadi pukul tujuh.
Ia segera menghubungi Ita dan Rama.
Mereka bertiga bergegas.
Dedi membawa kamera.
Ita membawa catatan.
Rama membawa perlengkapan.
Sesampainya di lokasi, kegiatan sudah berlangsung.
Dedi langsung mengambil gambar.
Namun beberapa menit kemudian, ia mendapat pesan lain.
“Kegiatan sore pindah lokasi.”
Dedi menghela napas.
Ia membuka kalender.
Kemudian memperbaruinya.
Belum selesai, pesan berikutnya masuk.
“Besok ada tambahan kegiatan.”
Dedi menatap layar teleponnya.
“Tambahan lagi.”
Ita tertawa kecil.
“Selamat datang di dunia PDD.”
Rama yang berada di samping mereka berkata,
“Kalau begini, aturan kita akan diuji setiap hari.”
Dedi mengangguk.
“Justru itu.”
Ketika Sistem Mulai Bekerja
Beberapa hari kemudian, sesuatu mulai berubah.
Divisi-divisi lain perlahan mulai terbiasa memberikan informasi kepada PDD.
Ada yang mengirim jadwal sehari sebelumnya.
Ada yang mulai mengisi format data.
Ada yang mengirim brief desain.
Tidak semuanya patuh.
Masih ada yang lupa.
Masih ada yang mengirim pesan mendadak.
Tetapi secara perlahan, komunikasi mulai terbentuk.
PDD juga belajar untuk tidak terlalu kaku.
Jika ada kegiatan mendadak yang benar-benar penting, mereka tetap berusaha hadir.
Jika data belum lengkap, Ita membantu mencari informasi tanpa mengarang.
Jika desain diminta mendadak, Rama berusaha membuat versi sederhana terlebih dahulu.
Jika dua kegiatan berlangsung bersamaan, Dedi membagi tugas atau meminta bantuan anggota lain untuk mengambil dokumentasi awal.
Mereka mulai memahami bahwa sistem bukan untuk membatasi.
Sistem dibuat agar pekerjaan dapat berjalan lebih teratur.
Rapat yang Mengubah Cara Mereka Bekerja
Seminggu setelah rapat yang berantakan itu, Raka kembali mengadakan evaluasi.
Kali ini suasananya berbeda.
Raka bertanya,
“Bagaimana PDD sekarang?”
Dedi menjawab,
“Lebih baik.”
Ita mengangguk.
“Walaupun masih ada beberapa kendala.”
Rama tersenyum.
“Dan saya masih sering menerima permintaan desain mendadak.”
Semua tertawa.
Raka kemudian bertanya kepada divisi lain.
“Apakah sistem PDD membantu?”
Salah seorang mahasiswa mengangkat tangan.
“Awalnya saya merasa ribet.”
Ia berhenti sebentar.
“Tapi ternyata memang lebih mudah.”
Mahasiswa lain ikut berkata,
“Sekarang kami jadi tahu informasi apa yang harus diberikan.”
Yang lain menambahkan,
“Kalau ada jadwal berubah, kami juga lebih ingat untuk memberi tahu.”
Dedi tersenyum.
Bukan karena mereka berhasil membuat aturan.
Tetapi karena mereka mulai membangun kesadaran bersama.
Ita menutup bukunya.
Rama menutup laptop.
Raka kemudian berkata,
“Berarti kita sepakati. Sistem PDD tetap digunakan, tetapi tetap fleksibel dalam kondisi tertentu.”
Semua mengangguk.
Rapat berakhir dengan suasana yang jauh lebih tenang daripada sebelumnya.
Pelajaran dari Sebuah Kekacauan
Malam itu, Dedi, Ita, dan Rama kembali duduk bertiga.
Mereka mengenang rapat beberapa hari sebelumnya.
“Kalau dipikir-pikir, rapat itu benar-benar berantakan,” kata Rama.
Ita tertawa.
“Semua ingin programnya jadi berita utama.”
Dedi mengangguk.
“Dan semua merasa PDD harus bisa melakukan semuanya.”
Rama menatap kedua temannya.
“Tapi ternyata masalahnya bukan karena mereka tidak peduli.”
“Lalu karena apa?” tanya Ita.
“Karena mereka belum memahami prosesnya.”
Dedi tersenyum.
“Benar.”
Ia melihat kamera yang berada di atas meja.
“Kadang orang hanya melihat hasil.”
Ita menambahkan,
“Mereka melihat foto yang sudah jadi, tetapi tidak melihat proses memilihnya.”
Rama berkata,
“Mereka melihat poster yang sudah selesai, tetapi tidak melihat berapa kali desainnya direvisi.”
Ita melanjutkan,
“Mereka membaca berita yang sudah dipublikasikan, tetapi tidak melihat bagaimana data dikumpulkan dan diperiksa.”
Dedi mengangguk.
“Dan mereka melihat video berdurasi dua menit, tetapi tidak tahu bahwa proses membuatnya bisa berjam-jam.”
Mereka bertiga terdiam.
Kemudian Dedi berkata,
“Mungkin memang begitulah pekerjaan di balik layar.”
Rama tersenyum.
“Tidak banyak yang melihat prosesnya.”
“Tapi,” lanjut Ita, “yang penting hasilnya bermanfaat.”
Mereka saling memandang.
Tidak ada yang mengatakan bahwa pekerjaan mereka mudah.
Tidak ada pula yang mengatakan bahwa pekerjaan mereka paling penting.
Mereka mulai memahami bahwa PDD bukanlah bagian yang lebih tinggi daripada divisi lain.
PDD juga bukan bagian yang lebih rendah.
PDD adalah bagian yang saling terhubung dengan semua kegiatan.
Tanpa program kerja, PDD tidak memiliki cerita untuk dipublikasikan.
Tanpa dokumentasi, banyak momen akan hilang.
Tanpa publikasi, sebagian kegiatan mungkin tidak diketahui masyarakat luas.
Tanpa desain, pesan visual tidak akan tersampaikan dengan baik.
Semuanya saling membutuhkan.
Dan sejak rapat yang berantakan itu, Dedi, Ita, dan Rama mulai belajar satu hal penting:
Dalam sebuah tim, bukan siapa yang paling terlihat yang paling penting.
Yang penting adalah bagaimana setiap orang menjalankan perannya agar tujuan bersama dapat tercapai.
Mereka belum mengetahui bahwa ke depan, masalah yang mereka hadapi akan jauh lebih rumit.
Akan ada file yang hilang.
Akan ada foto yang dipermasalahkan.
Akan ada berita yang dikritik.
Akan ada desain yang ditolak berkali-kali.
Akan ada konflik dengan sesama mahasiswa.
Dan akan ada suatu kejadian yang membuat mereka bertiga mempertanyakan apakah mereka masih sanggup menjalankan tugas PDD sampai akhir.
Namun malam itu, mereka masih bersama.
Masih tertawa.
Masih saling membantu.
Dan masih percaya bahwa setiap masalah dapat diselesaikan jika mereka tidak berhenti berkomunikasi.
Di atas meja, kamera Dedi terletak berdampingan dengan laptop Rama dan buku catatan Ita.
Tiga benda yang berbeda.
Tiga tugas yang berbeda.
Tiga karakter yang berbeda.
Tetapi berada dalam satu meja.
Dan dari meja kecil itulah, perlahan-lahan, sebuah tim PDD mulai menemukan bentuknya.
BAB IV — KAMERA, LAPTOP, DAN TIGA KARAKTER
Mengenal Cara Kerja Masing-Masing
Setelah melewati beberapa hari pertama yang penuh dengan kesibukan, Dedi, Ita, dan Rama mulai menyadari bahwa tantangan terbesar dalam menjalankan tugas PDD bukan hanya banyaknya pekerjaan.
Tantangan yang sebenarnya adalah bekerja bersama dengan dua orang yang memiliki cara berpikir berbeda.
Mereka bertiga sama-sama ingin memberikan hasil terbaik.
Namun cara mereka mencapai hasil tersebut tidak pernah sama.
Dedi melihat pekerjaan melalui kamera.
Ita melihat pekerjaan melalui kata-kata dan data.
Rama melihat pekerjaan melalui gambar, warna, bentuk, dan kreativitas.
Tiga cara pandang itu sering kali membuat mereka saling melengkapi.
Tetapi pada waktu tertentu, perbedaan itu juga membuat mereka berselisih.
Dan hari itu, sebuah foto menjadi awal dari perdebatan kecil yang memperlihatkan betapa berbeda cara kerja mereka.
Dedi dan Foto yang Harus Sempurna
Sore itu, sebuah kegiatan mahasiswa bersama masyarakat baru saja selesai.
Dedi duduk di depan laptop sambil memindahkan ratusan foto dari kamera.
Ia membuka foto satu per satu.
Foto pertama.
Dihapus.
Foto kedua.
Disimpan.
Foto ketiga.
Dihapus.
Foto keempat.
Diperbesar.
Dedi memperhatikan ekspresi wajah, posisi tangan, latar belakang, pencahayaan, hingga komposisi gambar.
Ita yang duduk di sampingnya memperhatikan pekerjaan tersebut.
“Masih banyak?”
“Lumayan.”
“Bukannya tadi sudah hampir tiga ratus foto?”
“Dua ratus delapan puluh tujuh.”
Ita mengangkat alis.
“Dan kamu mau memeriksa semuanya?”
“Harus.”
“Kenapa?”
Dedi menunjuk layar.
“Karena tidak semuanya layak dipublikasikan.”
Ita melihat beberapa foto.
“Menurutku ini sudah bagus.”
Dedi menggeleng.
“Kurang.”
“Kurangnya di mana?”
“Cahaya.”
Ita melihat kembali.
“Menurutku tidak masalah.”
Dedi tersenyum.
“Kalau untuk dokumentasi pribadi mungkin tidak masalah. Tapi kalau untuk publikasi resmi, kita harus memilih yang terbaik.”
Ita mengangguk.
Ia mulai memahami sifat Dedi.
Dedi bukan tipe orang yang mudah mengatakan, “Sudah cukup.”
Baginya, selalu ada sesuatu yang masih bisa diperbaiki.
Ia bisa mengambil puluhan foto hanya untuk mendapatkan satu gambar yang menurutnya benar-benar tepat.
Ia memperhatikan detail yang bahkan sering tidak dilihat orang lain.
Posisi subjek.
Arah cahaya.
Ekspresi.
Latar belakang.
Kejelasan wajah.
Momen interaksi.
Semua menjadi pertimbangannya.
Itulah sebabnya beberapa mahasiswa kadang menganggap Dedi terlalu serius.
Namun Dedi tidak merasa dirinya terlalu serius.
Ia hanya ingin memastikan bahwa setiap foto memiliki cerita.
Ita dan Kalimat yang Tidak Boleh Salah
Berbeda dengan Dedi, Ita tidak terlalu peduli apakah sebuah foto terlihat sempurna.
Yang penting baginya adalah informasi yang menyertai foto tersebut benar.
Malam itu, ia sedang menyusun berita tentang kegiatan yang baru saja mereka dokumentasikan.
Ia menulis beberapa paragraf.
Kemudian berhenti.
Ia membuka catatan.
Memeriksa kembali nama narasumber.
Kemudian membuka pesan dari penanggung jawab kegiatan.
Memastikan tanggal.
Memeriksa jumlah peserta.
Ia menghapus satu kalimat.
Menulis ulang.
Kemudian menghapus lagi.
Rama yang duduk di seberang meja memperhatikannya.
“Ta.”
“Ya?”
“Kamu sudah menulis itu dari tadi.”
Ita menatap layar.
“Karena belum selesai.”
“Kenapa belum selesai?”
“Datanya belum lengkap.”
Rama tertawa.
“Kalau saya yang menulis, sudah selesai dari tadi.”
Ita tersenyum.
“Dan mungkin ada tiga nama yang salah.”
Rama tertawa lebih keras.
“Tidak mungkin.”
Ita menunjukkan catatannya.
“Ini tadi kamu bilang nama narasumbernya Pak Hadi.”
“Memang Pak Hadi.”
“Namanya Pak Hendra.”
Rama terdiam.
“Oh.”
Ita kembali mengetik.
“Itulah sebabnya saya selalu periksa.”
Bagi Ita, kesalahan kecil dalam sebuah berita dapat mengubah makna.
Salah nama bisa membuat seseorang merasa tidak dihargai.
Salah jabatan bisa membuat informasi menjadi keliru.
Salah tanggal bisa membingungkan pembaca.
Salah jumlah peserta bisa menimbulkan pertanyaan.
Karena itu, Ita tidak suka terburu-buru ketika menulis.
Ia lebih memilih memeriksa satu informasi beberapa kali daripada harus memperbaiki berita setelah dipublikasikan.
Rama dan Dunia Kreativitas
Jika Dedi terlalu teliti dengan foto dan Ita terlalu hati-hati dengan tulisan, Rama memiliki masalah yang berbeda.
Ia terlalu banyak ide.
Di layar laptopnya terdapat beberapa rancangan desain.
Satu desain berwarna sederhana.
Desain kedua lebih berani.
Desain ketiga menggunakan foto sebagai latar utama.
Desain keempat bahkan memiliki konsep yang berbeda sama sekali.
Dedi melihat layar laptop Rama.
“Yang mana yang akan dipakai?”
Rama menjawab santai.
“Belum tahu.”
Dedi mengerutkan kening.
“Kenapa?”
“Masih mencari yang paling cocok.”
“Bukannya kemarin sudah dibuat?”
“Sudah.”
“Lalu?”
“Saya ubah.”
Dedi menghela napas.
“Kenapa selalu diubah?”
Rama menatapnya.
“Karena saya menemukan ide baru.”
Dedi menggeleng.
“Kita punya waktu.”
Rama tersenyum.
“Justru karena punya waktu, saya bisa membuatnya lebih baik.”
Dedi tidak menjawab.
Ia tahu Rama memiliki kemampuan.
Namun ia juga tahu bahwa kebiasaan Rama mengubah konsep berkali-kali kadang membuat pekerjaan terlambat.
Rama bukan orang yang malas.
Ia justru sangat menikmati pekerjaannya.
Masalahnya, kreativitasnya sering membuatnya lupa waktu.
Ketika mendapatkan sebuah ide, ia bisa duduk berjam-jam di depan laptop.
Ia bisa mengganti font berkali-kali.
Mengubah posisi gambar.
Mengganti ukuran tulisan.
Mencoba latar berbeda.
Menghapus desain yang sudah selesai hanya karena merasa ada sesuatu yang kurang.
Bagi Rama, desain bukan sekadar pekerjaan.
Desain adalah ruang untuk berekspresi.
Dan itulah yang kadang membuat Dedi kehilangan kesabaran.
Konflik Kecil di Meja PDD
Suatu malam, mereka mendapat tugas membuat poster untuk kegiatan yang akan dilaksanakan keesokan harinya.
Rama sudah mulai mengerjakannya.
Dedi meminta agar foto kegiatan sebelumnya dimasukkan.
Ita meminta beberapa informasi tambahan dicantumkan.
Rama mencoba menggabungkan semuanya.
“Foto ini bagus,” kata Dedi.
“Bagus, tapi terlalu gelap,” jawab Rama.
“Bisa diperbaiki.”
“Bisa.”
Ita kemudian menunjuk tulisan.
“Judulnya terlalu kecil.”
Rama melihat layar.
“Kalau diperbesar, desainnya terlalu penuh.”
“Informasinya harus mudah dibaca.”
“Kalau semua informasi dimasukkan, desainnya tidak akan terlihat menarik.”
Dedi ikut menyela.
“Yang penting fotonya terlihat.”
Rama menatap Dedi.
“Tidak semua desain harus mengutamakan foto.”
Dedi menjawab,
“Kalau dokumentasinya bagus, kenapa tidak digunakan?”
Rama menghela napas.
“Karena desain punya aturan sendiri.”
Ita mencoba menenangkan.
“Sudah. Kita cari jalan tengah.”
Rama berdiri.
“Masalahnya, kalian berdua punya standar masing-masing.”
Dedi ikut berdiri.
“Dan kamu terlalu banyak mengubah desain.”
Rama menatapnya.
“Karena saya ingin hasilnya bagus.”
“Bagus tidak berarti harus lama.”
“Dan cepat tidak berarti bagus.”
Suasana menjadi hening.
Ita memandang keduanya.
Ia tahu jika tidak dihentikan, perdebatan itu bisa semakin besar.
“Sudah.”
Suaranya tidak keras.
Tetapi cukup membuat keduanya berhenti.
Ita menarik napas.
“Kita bertiga sama-sama ingin hasilnya bagus.”
Dedi dan Rama terdiam.
“Masalahnya hanya cara kita berbeda.”
Ita kemudian menunjuk layar.
“Dedi fokus pada kualitas foto. Saya fokus pada informasi. Rama fokus pada tampilan visual.”
Ia tersenyum.
“Kalau kita gabungkan semuanya, hasilnya justru lebih baik.”
Dedi kembali duduk.
Rama juga duduk.
Mereka melihat desain yang masih belum selesai.
Beberapa detik kemudian, Rama berkata,
“Baik. Foto ini kita pakai.”
Dedi tersenyum.
“Terima kasih.”
“Tapi saya tetap akan memperbaiki pencahayaannya.”
Dedi tertawa.
“Silakan.”
Ita ikut tertawa.
Ketegangan yang sempat muncul akhirnya mencair.
Mengenali Kekuatan Masing-Masing
Setelah beberapa konflik kecil, mereka mulai memahami karakter satu sama lain.
Dedi menyadari bahwa Rama bukan malas.
Rama hanya memiliki cara kerja yang berbeda.
Ketika Rama terlihat santai, sebenarnya pikirannya sedang bekerja.
Ia sedang membayangkan bentuk desain.
Mencari konsep.
Mencari komposisi.
Mencari cara agar informasi dapat disampaikan secara visual.
Begitu pula Rama mulai memahami Dedi.
Dedi bukan orang yang suka mempersulit pekerjaan.
Ia hanya ingin setiap dokumentasi memiliki kualitas yang baik.
Dedi tahu bahwa foto PDD tidak hanya untuk memenuhi kewajiban dokumentasi.
Foto itu bisa digunakan untuk berita, laporan, media sosial, arsip desa, bahkan menjadi kenangan setelah KKN berakhir.
Sementara Dedi dan Rama mulai memahami Ita.
Ita bukan terlalu banyak bertanya tanpa alasan.
Ia hanya tidak ingin ada kesalahan informasi.
Jika nama harus diperiksa, ia akan memeriksanya.
Jika data belum lengkap, ia akan mencarinya.
Jika informasi masih meragukan, ia tidak akan memasukkannya ke dalam berita.
Perbedaan tersebut akhirnya membuat mereka menemukan sesuatu.
Mereka ternyata saling membutuhkan.
Dedi membutuhkan Ita agar foto memiliki informasi yang benar.
Ita membutuhkan Dedi agar berita memiliki dokumentasi yang kuat.
Keduanya membutuhkan Rama agar informasi dapat disampaikan dalam bentuk visual yang menarik.
PDD ternyata bukan tiga pekerjaan yang berdiri sendiri.
Ketiganya saling berhubungan.
Pembagian Tugas yang Lebih Jelas
Pada suatu malam, Dedi mengusulkan agar pembagian tugas mereka dibuat lebih jelas.
“Kita perlu membagi pekerjaan secara rinci.”
Ita mengangguk.
“Setuju.”
Rama membuka laptop.
“Bagaimana pembagiannya?”
Dedi menjelaskan.
“Untuk dokumentasi, saya bertanggung jawab terhadap foto utama dan pengarsipan foto.”
Ita mencatat.
“Untuk publikasi, saya menangani penulisan berita, caption, dan pengumpulan data.”
Rama kemudian berkata,
“Saya menangani desain dan video.”
Dedi menambahkan,
“Tapi kita tetap saling membantu.”
Ita mengangguk.
“Jangan sampai karena tugas dibagi, kita bekerja sendiri-sendiri.”
Rama tersenyum.
“Benar. Kalau saya butuh foto, saya minta ke Dedi. Kalau butuh data, saya minta ke Ita.”
Dedi menambahkan,
“Kalau saya menemukan informasi penting saat dokumentasi, saya berikan kepada Ita.”
Ita tersenyum.
“Dan kalau ada kegiatan yang menurut saya punya nilai berita, saya beri tahu kalian.”
Mereka kemudian membuat pembagian kerja yang lebih terstruktur.
Dedi — Dokumentasi dan Arsip
Dedi bertanggung jawab terhadap:
- Pengambilan foto kegiatan.
- Pemilihan foto utama.
- Dokumentasi tokoh dan kegiatan penting.
- Pengelolaan file foto.
- Backup dokumentasi.
- Penyediaan foto untuk berita dan desain.
Ita — Publikasi dan Narasi
Ita bertanggung jawab terhadap:
- Pengumpulan data kegiatan.
- Penulisan berita.
- Penulisan caption.
- Pemeriksaan nama, tanggal, tempat, dan informasi.
- Pengelolaan materi publikasi.
- Penyusunan arsip berita.
Rama — Desain dan Video
Rama bertanggung jawab terhadap:
- Poster kegiatan.
- Infografis.
- Materi visual.
- Editing foto pendukung.
- Video dokumentasi.
- Konten visual media sosial.
Namun mereka menambahkan satu aturan.
Tidak ada pekerjaan yang sepenuhnya menjadi milik satu orang.
Jika salah satu anggota mengalami kesulitan, dua lainnya harus membantu sesuai kemampuan.
Itulah kesepakatan mereka.
Pekerjaan Pertama dengan Sistem Baru
Beberapa hari kemudian, sistem baru itu diuji.
Ada sebuah kegiatan masyarakat yang cukup besar.
Dedi datang lebih awal.
Ia mencari lokasi terbaik untuk mengambil gambar.
Ita berbicara dengan penanggung jawab kegiatan.
Ia mengumpulkan informasi.
Rama menyiapkan perlengkapan video.
Kali ini tidak ada yang saling menunggu.
Dedi mengirim beberapa foto pilihan kepada Ita.
Ita menggunakan foto tersebut untuk menentukan sudut berita.
Rama meminta dua foto kepada Dedi untuk dimasukkan ke dalam desain.
Ita memberikan data kepada Rama.
Rama membuat visual berdasarkan informasi tersebut.
Semuanya berjalan lebih cepat.
Ketika kegiatan selesai, mereka tidak langsung pulang.
Dedi memindahkan file.
Ita menyelesaikan catatan.
Rama mulai menyusun bahan video.
Malam itu, mereka berhasil menyelesaikan sebagian besar pekerjaan tanpa saling menyalahkan.
Dedi melihat hasil foto.
Ita membaca berita.
Rama menunjukkan desain.
Mereka bertiga diam beberapa saat.
Kemudian Rama berkata,
“Lumayan.”
Ita tertawa.
“Lumayan?”
“Bagus, maksud saya.”
Dedi mengangguk.
“Kerja kita mulai kelihatan.”
Tiga Karakter, Satu Tujuan
Malam semakin larut.
Ketiganya duduk di depan posko sambil menikmati udara malam Desa Awan Biru.
Dedi membawa kameranya.
Ita membawa buku catatan.
Rama membawa laptop.
Tiga benda yang mencerminkan diri mereka masing-masing.
Kamera Dedi menggambarkan ketelitian dalam melihat momen.
Buku Ita menggambarkan ketelitian dalam memahami informasi.
Laptop Rama menggambarkan kreativitas yang tidak pernah berhenti.
Mereka memang berbeda.
Dedi terkadang terlalu kaku.
Ita terkadang terlalu kritis.
Rama terkadang terlalu santai.
Tetapi perbedaan itu ternyata bukan kelemahan.
Justru dari sanalah kekuatan mereka muncul.
Dedi membantu mereka melihat momen.
Ita membantu mereka memahami cerita.
Rama membantu mereka menyampaikan cerita itu dengan cara yang menarik.
Tanpa Dedi, dokumentasi mungkin tidak akan memiliki kualitas yang mereka harapkan.
Tanpa Ita, informasi mungkin tidak tersusun dengan baik.
Tanpa Rama, hasil publikasi mungkin kurang memiliki daya tarik visual.
Mereka bertiga saling melengkapi.
Dan malam itu, Dedi mengatakan sesuatu yang kemudian mereka ingat sampai akhir KKN.
“Kalau kita semua memiliki karakter yang sama, mungkin kita tidak akan sekuat ini.”
Ita menatapnya.
“Karena perbedaan?”
Dedi mengangguk.
“Karena perbedaan.”
Rama tersenyum.
“Berarti kita memang tim.”
Ita tertawa.
“Tim yang sering bertengkar.”
“Yang penting setelah bertengkar tetap kerja,” jawab Rama.
Mereka tertawa bersama.
Tidak ada yang tahu berapa banyak perdebatan yang masih menunggu mereka.
Masih ada masalah yang lebih besar.
Masih ada tekanan.
Masih ada permintaan mendadak.
Masih ada kesalahpahaman.
Tetapi mulai malam itu, mereka tidak lagi melihat perbedaan karakter sebagai masalah.
Mereka mulai melihatnya sebagai kekuatan.
Karena sebuah tim tidak dibangun dari tiga orang yang selalu sepakat.
Sebuah tim dibangun dari orang-orang yang berbeda, tetapi mampu menemukan tujuan yang sama.
Dan bagi Dedi, Ita, serta Rama, tujuan itu sederhana:
Membuat setiap kegiatan memiliki cerita.
Membuat setiap cerita memiliki jejak.
Dan memastikan bahwa setiap jejak pengabdian mereka di Desa Awan Biru tidak hilang begitu saja.
BAB V — PROKER PERTAMA, PUBLIKASI PERTAMA
Ketika Berita KKN Menjadi Perhatian Desa
Hari yang ditunggu akhirnya tiba.
Program kerja pertama yang melibatkan mahasiswa KKN dan masyarakat Desa Awan Biru akan dilaksanakan.
Sejak pagi, suasana di sekitar balai desa sudah terlihat berbeda.
Beberapa mahasiswa datang lebih awal untuk menyiapkan perlengkapan.
Ada yang menata kursi.
Ada yang mempersiapkan peralatan kegiatan.
Ada yang menghubungi perangkat desa.
Sebagian mahasiswa sibuk memastikan masyarakat yang menjadi peserta sudah mengetahui waktu kegiatan.
Sementara itu, tiga orang yang berada di balik layar sudah berada di lokasi sejak lebih awal.
Dedi datang membawa kamera.
Ita membawa buku catatan dan telepon genggam.
Rama membawa kamera kecil, laptop, dan beberapa perlengkapan pendukung.
Mereka tidak ingin mengulangi kesalahan kegiatan sebelumnya.
Kali ini mereka sudah memiliki jadwal.
Sudah mengetahui penanggung jawab.
Sudah memiliki gambaran informasi yang dibutuhkan.
Dan yang paling penting, mereka sudah membagi tugas.
Dedi akan fokus pada dokumentasi.
Ita mengumpulkan informasi dan menyusun berita.
Rama mengambil video serta menyiapkan materi visual.
Mereka saling mengangguk sebelum kegiatan dimulai.
“Siap?” tanya Dedi.
“Siap,” jawab Ita.
Rama mengangkat kameranya.
“Kalau saya belum siap, acara sudah selesai.”
Mereka tertawa.
Kemudian kegiatan dimulai.
Momen Pertama yang Harus Diabadikan
Dedi berdiri beberapa meter dari lokasi utama.
Ia tidak ingin hanya mengambil foto orang yang sedang berdiri.
Ia ingin menangkap cerita.
Ketika seorang perangkat desa memberikan sambutan, Dedi mengambil beberapa gambar.
Ketika mahasiswa mulai berinteraksi dengan masyarakat, ia berpindah posisi.
Ketika seorang anak tersenyum setelah mendapatkan bantuan atau mengikuti kegiatan, kamera Dedi kembali bekerja.
Klik.
Klik.
Klik.
Tidak ada yang memperhatikan berapa kali tombol kamera itu ditekan.
Tetapi Dedi tahu bahwa setiap foto memiliki kemungkinan menjadi bagian dari cerita.
Sesekali ia melihat hasil jepretan.
“Bagus,” gumamnya.
Kemudian ia kembali memotret.
Di sisi lain, Ita sedang berbicara dengan salah seorang perangkat desa.
“Pak, boleh saya minta nama lengkap dan jabatan Bapak?”
Orang tersebut tersenyum.
“Untuk apa?”
“Untuk berita kegiatan.”
“Oh, boleh.”
Ita kemudian mencatat.
Ia menanyakan tujuan kegiatan.
Latar belakang.
Jumlah peserta.
Pihak yang terlibat.
Hasil kegiatan.
Harapan setelah kegiatan.
Semua dicatat.
Tidak jauh dari mereka, Rama bergerak dari satu sudut ke sudut lain.
Ia merekam video.
Sesekali ia mengambil gambar dari sudut yang berbeda.
Ia ingin mendapatkan bahan yang cukup untuk membuat video pendek.
Kegiatan berlangsung selama beberapa jam.
Dan selama itu pula, ketiganya hampir tidak berhenti bekerja.
Ratusan Foto
Setelah kegiatan selesai, mahasiswa lain mulai beristirahat.
Sebagian pulang ke posko.
Sebagian masih berbincang dengan masyarakat.
Dedi justru duduk di sudut balai desa sambil memeriksa kamera.
Ia melihat jumlah foto.
Lebih dari tiga ratus.
Rama datang menghampiri.
“Berapa?”
“Lebih dari tiga ratus.”
Rama tertawa.
“Acara tiga jam, fotonya tiga ratus.”
Dedi menjawab santai.
“Tidak semua akan dipakai.”
“Terus kenapa sebanyak itu?”
“Karena saya tidak mau kehilangan momen.”
Rama mengangguk.
Ia mulai memahami cara kerja Dedi.
Beberapa foto mungkin hampir sama.
Tetapi di antara ratusan foto tersebut, selalu ada beberapa gambar yang benar-benar memiliki nilai.
Ita datang membawa catatannya.
“Data sudah cukup.”
Dedi menoleh.
“Sudah?”
“Sudah. Tinggal foto.”
Dedi tersenyum.
“Foto sedang diproses.”
Rama menambahkan,
“Video juga sedang saya cek.”
Mereka bertiga kembali bekerja.
Tidak ada yang memerintah.
Tidak ada yang meminta.
Mereka sudah tahu apa yang harus dilakukan.
Malam Pertama yang Panjang
Malam itu, posko KKN belum juga sepi.
Sebagian mahasiswa sudah tidur.
Sebagian masih berdiskusi.
Namun di salah satu sudut ruangan, tiga orang masih bekerja.
Dedi memindahkan foto dari kamera ke laptop.
Ia membuat folder khusus.
DOKUMENTASI PROKER 01 — DESA AWAN BIRU.
Kemudian ia membuat subfolder.
FOTO RAW.
FOTO SELEKSI.
FOTO PUBLIKASI.
Ia tidak ingin file bercampur.
Sementara itu, Ita mulai menulis berita.
Ia membuka catatan.
Kemudian mulai mengetik.
Kalimat pertama.
Dihapus.
Ditulis kembali.
Dibaca.
Diperiksa.
Ia ingin berita tersebut tidak hanya menceritakan bahwa kegiatan telah dilaksanakan.
Ia ingin pembaca memahami mengapa kegiatan itu dilakukan.
Siapa yang terlibat.
Apa manfaatnya.
Dan bagaimana masyarakat merasakan kehadiran mahasiswa KKN.
Di sebelahnya, Rama mulai mengedit video.
Ia memasukkan beberapa potongan gambar.
Kemudian memilih musik latar.
Memotong bagian yang terlalu panjang.
Menambahkan judul.
Mengatur transisi.
Waktu terus berjalan.
Pukul sembilan malam.
Pukul sepuluh.
Pukul sebelas.
Kemudian hampir tengah malam.
Ita akhirnya berkata,
“Sudah selesai.”
Dedi menoleh.
“Beritanya?”
“Sudah.”
Rama mengangkat tangan.
“Video tinggal rendering.”
Dedi tersenyum.
“Kalau begitu kita hampir selesai.”
Namun ketika mereka hendak beristirahat, Ita membaca kembali berita yang baru ditulisnya.
Ia tiba-tiba berhenti.
“Tunggu.”
Dedi menoleh.
“Ada apa?”
Ita menunjuk layar.
“Jumlah peserta.”
Ia membuka catatan.
“Di sini saya tulis seratus dua puluh orang. Ternyata catatan terakhir seratus dua belas.”
Rama menghela napas.
“Untung belum dipublikasikan.”
Ita tersenyum.
“Makanya harus diperiksa.”
Dedi tertawa kecil.
“Kalau sudah begini, saya tidak akan pernah protes lagi kalau kamu lama menulis.”
Ita tersenyum.
“Bagus.”
Mereka memperbaiki data tersebut.
Kemudian berita siap dipublikasikan.
Berita Pertama
Pukul 00.17.
Ita menekan tombol publikasi.
Berita pertama PDD Desa Awan Biru resmi dipublikasikan.
Mereka bertiga memandangi layar.
Tidak ada sorak-sorai.
Tidak ada perayaan besar.
Hanya senyum kecil.
Bagi orang lain, mungkin itu hanya sebuah berita.
Tetapi bagi mereka, berita tersebut merupakan hasil dari kerja berjam-jam.
Dari kamera Dedi.
Dari catatan Ita.
Dari desain dan video Rama.
Dari koordinasi dengan divisi lain.
Dan dari usaha untuk memastikan informasi yang disampaikan benar.
Rama melihat jam.
“Sudah lewat tengah malam.”
Dedi mengangguk.
“Besok kita evaluasi.”
Ita tertawa.
“Besok?”
“Ya.”
Rama menggeleng.
“Kamu memang tidak bisa santai.”
Dedi tersenyum.
“PDD harus begitu.”
Mereka kemudian tidur.
Tidak tahu bahwa ketika mereka bangun, berita tersebut sudah mendapatkan perhatian lebih besar daripada yang mereka bayangkan.
Pagi yang Mengejutkan
Keesokan paginya, suasana posko berubah.
Ita yang pertama kali membuka telepon genggamnya.
Ia melihat notifikasi.
Satu.
Dua.
Lima.
Sepuluh.
Semakin banyak.
Ia mengernyitkan dahi.
“Dedi.”
Dedi masih mengantuk.
“Hmm?”
“Bangun.”
“Kenapa?”
“Beritanya ramai.”
Dedi langsung duduk.
“Maksudnya?”
Ita menunjukkan layar telepon.
Berita tersebut sudah dibagikan oleh beberapa akun.
Perangkat desa memberikan tanggapan.
Beberapa masyarakat menuliskan komentar positif.
Ada yang mengatakan kegiatan tersebut bermanfaat.
Ada yang mengapresiasi mahasiswa KKN.
Ada pula yang memuji dokumentasi kegiatan.
Rama yang baru bangun ikut melihat.
“Wah.”
Dedi mengambil telepon.
Ia membaca beberapa komentar.
Salah satu komentar membuat mereka bertiga terdiam.
“Senang melihat kegiatan mahasiswa KKN di desa kami terdokumentasi dengan baik. Jadi masyarakat bisa mengetahui kegiatan yang dilakukan.”
Dedi tersenyum.
Ita juga tersenyum.
Rama berkata,
“Berarti kerja kita tidak sia-sia.”
Dedi mengangguk.
“Bukan hanya kerja kita.”
Ia menunjuk layar.
“Ini kerja semua orang.”
Apresiasi dari Perangkat Desa
Siang harinya, mereka mendapat pesan dari salah seorang perangkat desa.
Pesannya singkat.
“Terima kasih. Beritanya sangat membantu kami menyampaikan kegiatan kepada masyarakat.”
Ita membaca pesan itu beberapa kali.
Kemudian berkata,
“Ini yang kita inginkan.”
Dedi mengangguk.
“Bukan sekadar berita.”
Rama menambahkan,
“Tapi supaya kegiatan punya jejak.”
Ketika mereka bertemu dengan perangkat desa, apresiasi tersebut kembali disampaikan.
“Dokumentasinya bagus,” kata salah seorang perangkat desa.
“Beritanya juga mudah dipahami.”
“Desainnya menarik.”
Rama tersenyum malu.
Dedi hanya mengangguk.
Ita kemudian menjelaskan,
“Kami juga berterima kasih karena pihak desa memberikan informasi yang cukup.”
Perangkat desa itu tersenyum.
“Kalau begitu, nanti kegiatan berikutnya dibuat seperti ini juga.”
Kalimat terakhir tersebut terdengar sederhana.
Tetapi bagi Dedi, Ita, dan Rama, kalimat itu memiliki arti yang berbeda.
Kegiatan berikutnya.
Artinya pekerjaan mereka akan terus bertambah.
Mahasiswa Mulai Menyadari Nilai PDD
Beberapa mahasiswa yang sebelumnya menganggap dokumentasi hanya pekerjaan tambahan mulai berubah.
Salah seorang mahasiswa mendatangi Dedi.
“Ded.”
“Ya?”
“Foto kegiatan kemarin bagus.”
“Terima kasih.”
“Kalau kegiatan saya nanti bisa dibuat seperti itu juga?”
Dedi tersenyum.
“Bisa. Asalkan koordinasinya jelas.”
Mahasiswa itu mengangguk.
Kemudian mahasiswa lain datang kepada Ita.
“Ta, nanti kegiatan kami bisa dibuat berita?”
Ita menjawab,
“Bisa. Siapkan datanya.”
Rama juga mulai menerima pesan.
“Ram, nanti desain kegiatan kami dibuatkan ya.”
Rama membuka daftar permintaan.
“Bisa. Kirim brief-nya.”
Permintaan yang sebelumnya hanya sesekali mulai datang lebih sering.
Awalnya mereka senang.
Pekerjaan mereka mulai dihargai.
Namun beberapa hari kemudian, mereka menyadari sisi lain dari keberhasilan itu.
Semakin bagus hasil kerja mereka, semakin banyak orang yang mengharapkan hasil yang sama.
Keberhasilan yang Membawa Beban Baru
Pagi itu, Dedi sedang mengatur foto.
Pesan masuk.
“Ded, tolong pilihkan foto kegiatan kami.”
Belum sempat dibalas, pesan lain masuk.
“Ded, foto kemarin bisa dikirim semua?”
Kemudian pesan berikutnya.
“Ded, nanti sore ada kegiatan lagi.”
Dedi melihat layar telepon.
Tiga pesan.
Dalam waktu kurang dari lima menit.
Di tempat lain, Ita juga mengalami hal yang sama.
“Ta, berita kegiatan kami kapan?”
“Ta, tolong buat caption.”
“Ta, bisa dibuatkan berita hari ini?”
Rama bahkan lebih parah.
“Ram, poster bisa selesai sekarang?”
“Ram, buat video juga ya.”
“Ram, kalau desainnya seperti yang kemarin bagus.”
Rama menatap layar laptop.
Ia menghela napas.
“Sepertinya keberhasilan kita adalah awal masalah baru.”
Dedi tertawa.
“Kenapa?”
“Karena sekarang semua orang ingin seperti berita pertama.”
Ita mengangguk.
“Dan itu berarti standar kita naik.”
Mereka bertiga terdiam.
Benar.
Keberhasilan pertama telah menciptakan harapan baru.
Kalau sebelumnya mereka hanya dituntut untuk mendokumentasikan, sekarang mereka mulai dituntut menghasilkan dokumentasi yang bagus.
Kalau sebelumnya berita hanya dianggap pelengkap, sekarang setiap divisi ingin memiliki berita sendiri.
Kalau sebelumnya desain hanya dibuat ketika diperlukan, sekarang desain mulai dianggap sebagai kebutuhan utama.
PDD perlahan berubah.
Dari bagian yang hampir tidak diperhatikan menjadi bagian yang selalu dicari.
Antara Bangga dan Lelah
Malam itu, Rama duduk sambil memijat lehernya.
“Capek.”
Dedi tertawa.
“Kamu baru sadar?”
“Bukan baru sadar. Sekarang tugasnya semakin banyak.”
Ita menutup laptop.
“Tapi bukankah ini yang kita inginkan?”
Rama memandangnya.
“Maksudnya?”
“Kita ingin PDD dianggap penting.”
Rama mengangguk.
“Benar.”
Ita tersenyum.
“Sekarang sudah dianggap penting.”
Dedi menambahkan,
“Bahkan mungkin terlalu penting.”
Mereka tertawa.
Namun setelah itu, suasana kembali hening.
Dedi tahu ada persoalan yang harus mereka pikirkan.
Jika semua permintaan diterima tanpa batas, mereka akan kelelahan.
Jika semua kegiatan harus dibuat berita, Ita tidak akan mampu mengejar.
Jika semua kegiatan harus dibuat video, Rama akan kehilangan waktu istirahat.
Jika semua kegiatan membutuhkan dokumentasi lengkap, Dedi harus membagi waktu dengan lebih cermat.
Keberhasilan pertama ternyata membawa konsekuensi.
Dan mereka harus belajar mengelola keberhasilan tersebut.
Rapat Kecil PDD
Malam itu mereka membuat rapat kecil.
Tidak ada anggota lain.
Hanya Dedi, Ita, dan Rama.
Dedi membuka catatan.
“Kita harus menentukan prioritas lagi.”
Ita mengangguk.
“Setuju.”
Rama bertanya,
“Apakah semua kegiatan harus dibuat berita?”
Ita menggeleng.
“Tidak. Kita harus melihat nilai informasinya.”
Dedi menambahkan,
“Semua kegiatan tetap harus terdokumentasi, tetapi tidak semua harus dipublikasikan dalam bentuk berita panjang.”
Rama mengangguk.
“Dan tidak semua harus dibuat video.”
“Betul,” jawab Dedi.
Ita kemudian menulis beberapa kategori.
Dokumentasi wajib.
Publikasi prioritas.
Desain sesuai kebutuhan.
Video untuk kegiatan tertentu.
Mereka kembali menggunakan sistem yang telah dibuat sebelumnya.
Bedanya, kali ini mereka sudah memiliki pengalaman.
Mereka tahu apa yang berhasil.
Mereka juga tahu apa yang membuat mereka kewalahan.
Satu Hal yang Mereka Pelajari
Sebelum tidur, Dedi melihat kembali berita pertama mereka.
Ia tersenyum.
“Kalau dipikir-pikir, berita ini sederhana.”
Ita menggeleng.
“Bukan sederhana.”
“Kenapa?”
“Karena di balik berita ini ada banyak orang.”
Rama mengangguk.
“Ada masyarakat.”
“Ada perangkat desa.”
“Ada mahasiswa.”
“Dan ada kita.”
Dedi tersenyum.
“Berarti tugas PDD bukan membuat diri kita terlihat.”
Ita melanjutkan,
“Tapi membuat kerja semua orang terlihat.”
Rama menambahkan,
“Dan membuat masyarakat tahu bahwa pengabdian itu benar-benar terjadi.”
Mereka terdiam.
Mereka mulai memahami makna pekerjaan mereka lebih dalam.
PDD bukan tentang siapa yang paling banyak muncul di foto.
Bukan tentang siapa yang namanya tercantum dalam berita.
Bukan pula tentang siapa yang paling banyak mendapatkan pujian.
PDD adalah tentang menjaga cerita sebuah pengabdian.
Ketika mahasiswa bekerja bersama masyarakat, PDD merekamnya.
Ketika sebuah program memberikan manfaat, PDD menceritakannya.
Ketika sebuah kegiatan selesai, PDD menjaga jejaknya agar tidak hilang.
Namun mereka juga mulai memahami sisi lain dari pekerjaan tersebut.
Semakin besar perhatian yang diberikan kepada hasil kerja mereka, semakin besar pula tanggung jawab yang harus mereka pikul.
Dan mulai hari itu, Dedi, Ita, serta Rama tidak lagi hanya bekerja untuk menyelesaikan tugas.
Mereka mulai bekerja dengan kesadaran bahwa setiap foto, setiap berita, setiap poster, dan setiap video dapat menjadi bagian dari sejarah kecil perjalanan KKN mereka di Desa Awan Biru.
Mereka belum tahu bahwa beberapa hari kemudian, sebuah kesalahan kecil dalam publikasi akan membuat nama PDD menjadi pembicaraan seluruh posko.
Dan untuk pertama kalinya, mereka akan merasakan bahwa berada di balik layar tidak selalu berarti aman dari sorotan.
BAB VI — DRAMA FOTO YANG TIDAK MASUK BERITA
Satu Foto, Banyak Perasaan
Keberhasilan publikasi pertama ternyata membawa perubahan besar dalam kehidupan tim PDD.
Sejak berita pertama mendapat perhatian dari perangkat desa dan masyarakat, hampir setiap kegiatan mulai dianggap layak untuk dipublikasikan.
Para mahasiswa mulai lebih sering meminta dokumentasi.
Setiap divisi ingin memiliki foto terbaik.
Setiap kegiatan ingin ditulis menjadi berita.
Dan hampir semua orang ingin terlihat dalam dokumentasi.
Bagi Dedi, Ita, dan Rama, perhatian tersebut pada awalnya merupakan sesuatu yang membanggakan.
Mereka merasa pekerjaan mereka mulai dihargai.
Namun mereka belum menyadari bahwa semakin banyak orang memperhatikan hasil kerja PDD, semakin besar pula kemungkinan munculnya rasa kecewa.
Dan pagi itu, masalah tersebut dimulai dari sesuatu yang sebenarnya sangat sederhana.
Satu foto.
Foto yang Tidak Dipilih
Kegiatan sehari sebelumnya telah selesai.
Seperti biasa, Dedi membawa kamera kembali ke posko.
Ia memindahkan seluruh foto ke laptop.
Jumlahnya cukup banyak.
Hampir empat ratus foto.
Dedi kemudian mulai melakukan seleksi.
Ia tidak mungkin mempublikasikan semuanya.
Dari ratusan foto tersebut, ia harus memilih beberapa gambar yang benar-benar mewakili kegiatan.
Ada foto pembukaan.
Foto interaksi mahasiswa dengan masyarakat.
Foto perangkat desa.
Foto peserta.
Foto kegiatan utama.
Dan beberapa foto suasana.
Dedi memilih sekitar dua puluh foto untuk arsip.
Dari dua puluh foto tersebut, ia memilih delapan foto untuk kebutuhan publikasi.
Ia mengirimkan foto-foto tersebut kepada Ita.
Ita kemudian menyusun berita.
Beberapa foto ditempatkan sebagai pendukung paragraf tertentu.
Berita selesai.
Rama membuat desain publikasi.
Setelah diperiksa bersama, berita tersebut akhirnya dipublikasikan.
Mereka mengira semuanya selesai.
Namun beberapa jam kemudian, sebuah pesan masuk ke grup.
“Kenapa foto saya tidak ada?”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Kemudian pesan kedua muncul.
“Padahal saya ikut dari awal sampai akhir.”
Dedi membaca pesan tersebut.
Ia tahu siapa yang mengirimnya.
Salah seorang mahasiswa yang cukup aktif dalam kegiatan.
Dedi kemudian menjawab.
“Foto kamu ada. Tapi yang dipilih untuk publikasi hanya beberapa.”
Balasan datang cepat.
“Kenapa foto orang lain masuk, saya tidak?”
Dedi terdiam.
Ia membuka folder foto.
Memang ada beberapa foto mahasiswa tersebut.
Namun dalam foto yang tersedia, sebagian besar memperlihatkan dirinya berdiri di belakang peserta.
Ada pula foto ketika ia sedang berbicara dengan mahasiswa lain.
Sementara foto yang dipilih Dedi lebih banyak menunjukkan inti kegiatan.
Dedi kemudian menjawab dengan hati-hati.
“Bukan berarti fotomu jelek. Kami memilih foto berdasarkan kebutuhan berita dan konteks kegiatan.”
Namun balasan berikutnya membuat suasana berubah.
“Atau memang PDD pilih-pilih orang?”
Kalimat yang Membuat Dedi Terdiam
Dedi membaca pesan tersebut berulang kali.
Ia tidak langsung membalas.
Rama yang berada di sebelahnya ikut membaca.
“Apa itu?”
Dedi menyerahkan telepon.
Rama membaca.
Wajahnya berubah.
“Serius?”
Dedi mengangguk.
Ita yang sedang menulis berita lain mendengar percakapan mereka.
“Ada apa?”
Dedi tidak menjawab.
Ita mengambil telepon.
Setelah membaca pesan tersebut, ia terdiam.
“Dia menganggap kita pilih kasih?”
Dedi menghela napas.
“Sepertinya begitu.”
Ita terlihat kecewa.
“Padahal kita tidak pernah memilih orang.”
Rama kembali duduk.
“Masalahnya, orang hanya melihat foto yang masuk.”
Dedi mengangguk.
“Mereka tidak melihat ratusan foto yang tidak dipakai.”
Ita berkata,
“Mereka juga tidak melihat alasan kenapa sebuah foto dipilih.”
Suasana menjadi hening.
Kalimat sederhana itu ternyata memiliki dampak yang lebih besar daripada yang mereka bayangkan.
Pertemuan yang Tidak Terhindarkan
Sore harinya, mahasiswa yang merasa kecewa tersebut mendatangi mereka.
Dedi sedang memeriksa kamera.
Ita sedang menyusun data.
Rama duduk di depan laptop.
Mahasiswa tersebut berdiri di depan mereka.
“Ded, saya mau bicara.”
Dedi mengangguk.
“Silakan.”
“Saya tidak masalah kalau foto saya tidak bagus.”
Dedi diam.
“Tapi saya merasa ada beberapa orang yang selalu masuk publikasi.”
Ita langsung menatapnya.
“Siapa?”
“Ya, orang-orang tertentu.”
Ita mengerutkan dahi.
“Kalau kamu punya contoh, boleh disampaikan.”
Mahasiswa tersebut menyebut beberapa nama.
Dedi mendengarkan.
Kemudian ia membuka folder foto.
“Coba kita lihat.”
Ia membuka foto kegiatan satu per satu.
“Ini foto pembukaan.”
“Ini foto peserta.”
“Ini foto kegiatan utama.”
“Ini foto perangkat desa.”
“Ini foto interaksi masyarakat.”
Ia kemudian menunjukkan beberapa foto mahasiswa tersebut.
“Foto kamu sebenarnya ada.”
Mahasiswa itu melihat layar.
“Lalu kenapa tidak dipilih?”
Dedi menjawab,
“Karena dalam konteks berita, foto ini lebih menggambarkan kegiatan.”
Mahasiswa tersebut menunjuk foto lain.
“Tapi di foto ini saya sedang bekerja.”
Dedi mengangguk.
“Benar.”
“Lalu?”
“Foto itu bisa masuk arsip dokumentasi.”
“Kenapa bukan berita?”
Dedi menarik napas.
“Karena kami tidak mungkin memasukkan semua foto.”
Mahasiswa tersebut terlihat masih tidak puas.
“Kenapa?”
Dedi menjawab,
“Karena berita bukan album foto.”
Kalimat itu membuat ruangan menjadi hening.
Ita kemudian menjelaskan,
“Dalam berita, foto dipilih untuk mendukung informasi yang sedang disampaikan. Kami harus mempertimbangkan konteks, komposisi, kualitas gambar, dan keterkaitan foto dengan isi berita.”
Mahasiswa tersebut terdiam.
Namun ia kemudian berkata,
“Jadi kalau saya tidak masuk foto berita, saya dianggap tidak penting?”
Ita segera menggeleng.
“Bukan begitu.”
“Lalu apa?”
“Tidak masuk foto publikasi bukan berarti tidak penting.”
Mahasiswa tersebut tidak menjawab.
Ia kemudian pergi.
Dedi melihat pintu yang tertutup.
Ia merasa masalah belum selesai.
Tuduhan Mulai Menyebar
Malam harinya, suasana grup mahasiswa mulai berubah.
Sebuah pesan muncul.
“PDD seharusnya adil dalam memilih dokumentasi.”
Pesan lain menyusul.
“Jangan sampai ada kesan hanya orang tertentu yang ditampilkan.”
Kemudian seseorang menulis,
“Kalau memang PDD milik semua, semua harus mendapat kesempatan.”
Dedi membaca semuanya.
Dadanya terasa berat.
Ia tidak marah.
Namun ia kecewa.
Selama ini mereka bekerja sampai larut.
Mengambil foto dalam panas.
Berjalan ke berbagai lokasi.
Memindahkan file.
Menyeleksi ratusan foto.
Menyusun arsip.
Dan sekarang mereka dituduh pilih kasih.
Ita juga membaca percakapan tersebut.
Ia merasa lebih terpukul.
Bukan hanya karena foto.
Tetapi karena tulisan yang dibuatnya juga mulai dipertanyakan.
Salah seorang mahasiswa menulis,
“Beritanya terlalu menonjolkan orang tertentu.”
Ita langsung menutup laptop.
Ia menatap layar beberapa detik.
Kemudian berkata pelan,
“Kenapa jadi begini?”
Dedi tidak menjawab.
Rama juga diam.
Ita Merasa Tulisannya Tidak Dihargai
Beberapa menit kemudian, Ita membuka kembali berita tersebut.
Ia membacanya dari awal.
Tidak ada nama yang sengaja ditonjolkan.
Tidak ada orang yang sengaja disembunyikan.
Semua informasi ditulis berdasarkan kegiatan.
Ia bahkan telah memeriksa nama dan jabatan beberapa kali.
Namun ketika orang membaca dengan sudut pandang berbeda, tulisan yang sama dapat dipahami secara berbeda.
Ita menghela napas.
“Saya sudah berusaha menulis berdasarkan data.”
Dedi menatapnya.
“Saya tahu.”
“Saya periksa nama satu-satu.”
“Saya tahu.”
“Saya cek tanggal.”
“Saya tahu.”
“Terus kenapa masih dianggap tidak adil?”
Dedi tidak memiliki jawaban.
Ita menunduk.
“Kadang saya merasa orang hanya melihat hasil akhirnya.”
Dedi mengangguk.
“Memang begitu.”
Ita kemudian berkata,
“Kalau mereka tidak suka, saya bisa menerima kritik.”
Ia berhenti sebentar.
“Tapi kalau mereka bilang saya sengaja memihak, itu berbeda.”
Dedi memahami perasaannya.
Tuduhan tentang kualitas tulisan masih bisa diperbaiki.
Tetapi tuduhan tentang niat jauh lebih menyakitkan.
Rama Memilih Diam
Berbeda dengan Dedi dan Ita, Rama tidak ikut berdebat.
Ia hanya duduk di depan laptop.
Diam.
Dedi memperhatikannya.
“Ram.”
“Ya?”
“Kamu kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
“Dari tadi diam.”
Rama mengangkat bahu.
“Saya tidak tahu harus ngomong apa.”
Ita menatapnya.
“Biasanya kamu paling banyak bicara.”
Rama tersenyum tipis.
“Sekarang saya pikir-pikir dulu.”
Dedi bertanya,
“Pikir apa?”
Rama menutup laptop.
“Kalau kita menjelaskan, orang bisa menganggap kita membela diri.”
Ia berhenti.
“Kalau kita diam, orang bisa menganggap kita memang salah.”
Tidak ada yang menjawab.
Rama kemudian berkata,
“Kadang pekerjaan kreatif memang begitu.”
“Maksudmu?” tanya Ita.
“Orang melihat hasil akhirnya. Mereka tidak melihat prosesnya.”
Ia menatap layar laptop.
“Kalau desain bagus, mereka bilang bagus.”
“Kalau tidak suka, mereka bilang jelek.”
“Jarang ada yang bertanya bagaimana proses membuatnya.”
Dedi mengangguk.
Rama kemudian berkata,
“Sekarang saya merasa apa pun yang kita lakukan akan ada yang salah.”
Kalimat itu membuat ketiganya terdiam.
Pertanyaan yang Mulai Mengganggu
Malam semakin larut.
Sebagian besar mahasiswa sudah tidur.
Namun tiga anggota PDD masih duduk bersama.
Tidak ada kamera yang sedang digunakan.
Tidak ada berita yang sedang ditulis.
Tidak ada desain yang sedang dibuat.
Mereka hanya duduk.
Dedi memandangi kameranya.
Ita memandangi buku catatannya.
Rama memandangi laptop.
Akhirnya Dedi berkata,
“Menurut kalian, apakah pekerjaan kita benar-benar dihargai?”
Ita menatapnya.
“Kenapa kamu bertanya begitu?”
“Karena ketika hasilnya bagus, semua senang.”
Dedi berhenti.
“Tapi ketika ada satu hal yang tidak sesuai keinginan seseorang, kita langsung dianggap pilih kasih.”
Ita terdiam.
Rama juga tidak menjawab.
Dedi melanjutkan,
“Apakah kita hanya dihargai kalau semua orang mendapatkan apa yang mereka inginkan?”
Tidak ada jawaban.
Pertanyaan itu terasa berat.
Karena mereka sendiri tidak tahu jawabannya.
Antara Penghargaan dan Ekspektasi
Ita akhirnya berbicara.
“Mungkin kita salah memahami arti dihargai.”
Dedi menoleh.
“Maksudnya?”
“Dihargai bukan berarti semua orang harus selalu setuju dengan pekerjaan kita.”
Ia menarik napas.
“Dihargai berarti mereka mau memahami bahwa kita bekerja berdasarkan tanggung jawab.”
Rama mengangguk pelan.
“Berarti kritik tetap boleh?”
“Harus,” jawab Ita.
“Kalau ada kesalahan, kita perbaiki.”
Dedi menambahkan,
“Kalau ada keberatan, kita dengarkan.”
Rama berkata,
“Tapi kalau tuduhannya tidak benar?”
Dedi terdiam.
Ita menjawab,
“Kita jelaskan.”
“Kalau mereka tetap tidak percaya?”
Ita mengangkat bahu.
“Kita tetap bekerja dengan benar.”
Dedi memandang keduanya.
Jawaban itu sederhana.
Tetapi mungkin memang itulah satu-satunya jalan.
Mereka Memutuskan untuk Tidak Membalas dengan Emosi
Keesokan harinya, Dedi mengusulkan agar masalah tersebut dibicarakan secara terbuka dalam rapat.
Bukan untuk mencari siapa yang salah.
Bukan untuk membela PDD.
Tetapi untuk menjelaskan mekanisme kerja mereka.
Raka menyetujui.
Sore itu seluruh anggota kelompok berkumpul.
Raka membuka pembicaraan.
“Beberapa hari terakhir ada persoalan terkait dokumentasi dan publikasi. Saya kira lebih baik kita bicarakan bersama.”
Dedi kemudian berdiri.
Ia membawa beberapa contoh foto.
“Pertama, saya ingin menjelaskan bahwa dari satu kegiatan, saya bisa mengambil ratusan foto.”
Ia menampilkan beberapa gambar.
“Tidak semuanya dapat dipublikasikan.”
Kemudian ia menunjukkan foto yang dipilih.
“Foto yang masuk berita dipilih berdasarkan konteks kegiatan, kualitas, komposisi, dan keterkaitannya dengan informasi yang ditulis.”
Ia kemudian menampilkan beberapa foto yang tidak dipakai.
“Bukan berarti foto ini buruk.”
Ia menunjuk layar.
“Dan bukan berarti orang yang ada di dalamnya tidak penting.”
Ruangan menjadi tenang.
Ita kemudian berbicara.
“Berita juga tidak dibuat untuk menampilkan semua orang. Berita dibuat untuk menyampaikan informasi tentang kegiatan.”
Ia menambahkan,
“Kalau ada data yang kurang atau salah, silakan dikoreksi. Tetapi jangan menganggap bahwa kami sengaja memilih siapa yang harus terlihat.”
Rama kemudian membuka beberapa desain.
“Untuk desain juga sama. Kami menyesuaikan kebutuhan visual dengan informasi yang ada.”
Ia tersenyum.
“Kalau ada yang ingin fotonya lebih banyak ditampilkan, silakan disampaikan. Tetapi keputusan akhir harus tetap mempertimbangkan keseluruhan desain.”
Beberapa mahasiswa mengangguk.
Satu Permintaan Maaf
Mahasiswa yang sebelumnya mempermasalahkan foto tersebut akhirnya berdiri.
“Saya mau minta maaf.”
Dedi menatapnya.
“Saya terlalu cepat menyimpulkan.”
Ia melanjutkan,
“Saya pikir karena foto saya tidak masuk, berarti saya tidak dianggap.”
Ita tersenyum.
“Tidak apa-apa.”
Mahasiswa itu menoleh kepada Rama.
“Dan saya juga minta maaf kalau ikut membuat kalian merasa pekerjaan PDD tidak dihargai.”
Rama mengangguk.
“Tidak masalah.”
Suasana mulai mencair.
Namun Dedi berkata,
“Yang penting ke depan kalau ada yang merasa kurang puas, kita bicarakan langsung.”
Raka mengangguk.
“Itu yang saya harapkan.”
Rapat akhirnya selesai tanpa pertengkaran.
Masalah yang awalnya hanya berasal dari satu foto ternyata memberi pelajaran kepada seluruh kelompok.
Satu Foto, Banyak Perasaan
Malam itu, Dedi membuka kembali foto yang menjadi sumber masalah.
Ia melihatnya cukup lama.
Dalam foto tersebut, mahasiswa yang kecewa tadi memang terlihat sedang membantu kegiatan.
Dedi tersenyum.
Ia kemudian memasukkan foto tersebut ke dalam folder khusus dokumentasi.
Bukan untuk mengganti berita.
Bukan untuk membuktikan siapa yang benar.
Tetapi untuk menjaga arsip.
Karena setiap orang yang terlibat dalam pengabdian memiliki cerita masing-masing.
Tidak semua cerita harus menjadi berita.
Tidak semua orang harus masuk foto utama.
Namun setiap kontribusi tetap memiliki nilai.
Ita duduk di sampingnya.
“Sudah selesai?”
“Sudah.”
“Masih kepikiran?”
Dedi menggeleng.
“Tidak.”
Rama datang membawa tiga gelas minuman.
“Kalau begitu, selesai juga dramanya.”
Ita tertawa.
“Semoga.”
Dedi menerima gelas tersebut.
Mereka bertiga duduk bersama.
Hari itu mereka belajar sesuatu yang tidak pernah diajarkan dalam pembagian tugas PDD.
Bahwa bekerja untuk banyak orang berarti harus siap menghadapi banyak perasaan.
Ada yang senang.
Ada yang kecewa.
Ada yang merasa diperhatikan.
Ada yang merasa diabaikan.
Ada yang menerima.
Ada yang mempertanyakan.
Dan tugas PDD bukan membuat semua orang selalu puas.
Tugas mereka adalah bekerja secara adil, profesional, dan bertanggung jawab.
Dedi melihat kameranya.
Ita melihat catatannya.
Rama melihat laptopnya.
Tiga orang itu kembali tersenyum.
Namun jauh di dalam hati mereka, sebuah pertanyaan masih tersisa.
Apakah mereka akan mampu tetap bekerja dengan tenang ketika konflik berikutnya jauh lebih besar?
Karena setelah hari itu, mereka mulai menyadari bahwa masalah PDD bukan hanya soal foto, berita, atau desain.
Masalah yang lebih besar adalah kepercayaan.
Dan kepercayaan, sekali retak, membutuhkan waktu untuk kembali utuh.
BAB VII — KETIKA PDD MULAI TERPECAH
Perbedaan Cara Pandang
Setelah persoalan foto yang tidak masuk berita selesai dibicarakan, Dedi, Ita, dan Rama mengira keadaan akan kembali seperti semula.
Mereka berharap bisa kembali bekerja tanpa beban.
Namun ternyata, persoalan tersebut meninggalkan sesuatu yang tidak terlihat.
Keraguan.
Masing-masing mulai memikirkan kembali cara mereka bekerja.
Dedi merasa kejadian itu terjadi karena sistem PDD belum cukup kuat.
Ita merasa persoalan tersebut muncul karena komunikasi dengan anggota kelompok belum berjalan dengan baik.
Sementara Rama melihat masalah dari sudut yang berbeda.
Menurutnya, PDD terlalu banyak dibebani aturan sehingga kreativitas mereka mulai kehilangan ruang.
Ketiganya sama-sama ingin memperbaiki keadaan.
Tetapi mereka memilih jalan yang berbeda.
Dan perbedaan itu perlahan-lahan berubah menjadi konflik.
Dedi Ingin Memperketat Sistem
Pagi itu, Dedi datang lebih awal ke ruang kerja PDD.
Ia membuka laptop dan mulai menyusun sebuah dokumen baru.
Judulnya:
SISTEM KERJA PDD KKN DESA AWAN BIRU.
Ia membuat beberapa aturan tambahan.
Setiap kegiatan harus didaftarkan.
Setiap penanggung jawab wajib mengirim informasi.
Setiap foto harus melalui seleksi.
Setiap berita harus diperiksa sebelum dipublikasikan.
Setiap desain harus mendapat persetujuan.
Setiap file harus diarsipkan.
Dedi merasa sistem yang lebih ketat akan mengurangi konflik.
Jika semuanya memiliki aturan yang jelas, tidak akan ada lagi orang yang merasa tidak diperlakukan dengan baik.
Ia menambahkan satu bagian lagi.
Batas waktu permintaan publikasi.
Dedi mengetik:
Permintaan berita paling lambat satu hari sebelum kegiatan.
Permintaan desain paling lambat dua hari sebelum digunakan.
Permintaan video disesuaikan dengan tingkat kesulitan.
Setelah selesai, Dedi merasa lega.
“Dengan begini, semuanya lebih teratur,” gumamnya.
Namun ketika Ita datang dan membaca dokumen tersebut, reaksinya berbeda.
“Ded.”
“Ya?”
“Ini aturan baru?”
“Iya.”
“Siapa yang menyepakati?”
Dedi terdiam.
“Belum ada.”
Ita membaca lagi.
“Kenapa langsung dibuat?”
“Karena kita butuh sistem yang lebih kuat.”
Ita mengangguk.
“Aku setuju kita butuh sistem.”
Dedi tersenyum.
“Tapi?”
“Tapi jangan semua diputuskan sendiri.”
Senyum Dedi perlahan menghilang.
“Kenapa?”
“Karena ini sistem kerja kita bertiga.”
Dedi menjawab,
“Aku membuat ini supaya pekerjaan kita lebih mudah.”
Ita menatap layar.
“Aku tahu.”
“Lalu masalahnya apa?”
“Masalahnya, kamu menentukan semuanya tanpa bertanya kepada kami.”
Dedi terdiam.
Untuk pertama kalinya, pembicaraan mereka mulai terasa berbeda.
Ita Merasa Tidak Didengar
Ita kemudian duduk.
“Ded, aku bukan menolak sistem.”
“Lalu?”
“Aku ingin semua anggota PDD dilibatkan.”
Dedi menghela napas.
“Kita tidak punya banyak waktu.”
“Justru karena waktu kita terbatas, kita harus sepakat sejak awal.”
Dedi menatapnya.
“Aku yang paling sering menangani koordinasi dokumentasi.”
“Aku tahu.”
“Aku yang paling sering menerima perubahan jadwal.”
“Aku tahu.”
“Kalau begitu, aku tahu masalahnya.”
Ita diam beberapa detik.
Kemudian berkata,
“Bukan berarti pendapatku tidak diperlukan.”
Dedi langsung menjawab,
“Aku tidak pernah mengatakan begitu.”
“Tapi caramu membuat keputusan membuatku merasa seperti itu.”
Kalimat tersebut membuat Dedi terdiam.
Ia tidak bermaksud membuat Ita merasa tidak didengar.
Namun ia mulai menyadari bahwa niat baik tidak selalu menghasilkan dampak yang baik.
Rama Datang dengan Pendapat Berbeda
Tidak lama kemudian, Rama datang.
Ia melihat suasana yang agak tegang.
“Ada apa?”
Ita menjawab,
“Dedi membuat aturan baru.”
Rama melihat laptop.
Ia membaca beberapa bagian.
Kemudian mengangkat alis.
“Dua hari sebelum desain?”
Dedi mengangguk.
“Iya.”
Rama tertawa kecil.
“Kalau ada ide baru yang muncul sehari sebelum kegiatan bagaimana?”
“Harus tetap ada pengajuan.”
Rama menatap Dedi.
“Berarti kreativitas juga harus mengisi formulir?”
Dedi mulai terlihat kesal.
“Ini bukan soal kreativitas.”
“Buat saya ini soal kreativitas.”
“Kalau semua mendadak, pekerjaan kita tidak akan teratur.”
Rama mengangguk.
“Aku setuju.”
“Lalu?”
“Tapi jangan sampai sistem membunuh spontanitas.”
Dedi menghela napas.
“Rama, kita bekerja dalam tim.”
“Aku tahu.”
“Berarti harus ada aturan.”
“Aku tidak menolak aturan.”
Rama menunjuk layar.
“Aku hanya ingin ada ruang.”
“Ruang untuk apa?”
“Ruang untuk membuat sesuatu yang berbeda.”
Dedi diam.
Rama melanjutkan,
“Kalau semua harus mengikuti format, desain kita nanti hanya akan menjadi template.”
Ita mengangguk.
“Aku mengerti maksud Rama.”
Dedi memandang keduanya.
Ia mulai merasa seolah-olah pendapatnya selalu menjadi pihak yang salah.
Tiga Cara Pandang
Pagi itu, meja PDD berubah menjadi tempat perdebatan.
Dedi ingin sistem.
Ita ingin partisipasi.
Rama ingin fleksibilitas.
Ketiganya sebenarnya memiliki tujuan yang sama.
Tetapi mereka melihat jalan menuju tujuan itu dari arah yang berbeda.
Dedi berpikir:
“Kalau tidak ada aturan, semuanya akan berantakan.”
Ita berpikir:
“Kalau tidak ada komunikasi, aturan tidak akan berjalan.”
Rama berpikir:
“Kalau tidak ada ruang kreativitas, hasilnya akan kehilangan jiwa.”
Tidak ada yang sepenuhnya salah.
Namun tidak ada pula yang mau mengalah.
Dedi Merasa Menanggung Semuanya
Siang itu, Dedi pergi sendiri untuk mengambil dokumentasi sebuah kegiatan.
Ia berjalan sambil membawa kamera.
Dalam perjalanan, pikirannya terus dipenuhi percakapan pagi tadi.
Ia merasa dirinya yang paling sering memikirkan masalah PDD.
Ia yang membuat kalender.
Ia yang mengatur dokumentasi.
Ia yang sering berkomunikasi dengan divisi lain.
Ia yang memastikan file tersimpan.
Ia yang khawatir jika ada kegiatan terlewat.
Ia kemudian berpikir,
“Kalau aku tidak memikirkan semuanya, siapa yang akan memikirkan?”
Pikiran itu membuatnya semakin yakin bahwa sistem harus diperketat.
Namun di balik keyakinannya, ada sesuatu yang sebenarnya tidak ia sadari.
Ia mulai memikul tanggung jawab sendirian.
Dan ketika seseorang merasa dirinya memikul tanggung jawab paling besar, tanpa sadar ia bisa mulai menganggap pendapat orang lain kurang penting.
Ita Mulai Menjauh
Di sisi lain, Ita kembali ke posko setelah menyelesaikan wawancara dengan salah seorang perangkat desa.
Ia duduk sendirian.
Ia membuka buku catatan.
Namun pikirannya tidak fokus.
Ia teringat percakapannya dengan Dedi.
Bukan isi pembicaraannya yang paling membuatnya sedih.
Tetapi perasaan bahwa pendapatnya tidak lagi dianggap penting.
Selama ini Ita selalu berusaha menjadi penghubung.
Ketika Dedi dan Rama berselisih, ia menjadi penengah.
Ketika divisi lain memiliki masalah dengan PDD, ia membantu menjelaskan.
Ketika berita dipertanyakan, ia yang berusaha memperbaikinya.
Namun sekarang ia merasa tidak didengarkan oleh orang yang selama ini paling sering bekerja bersamanya.
Ia menutup buku.
“Kalau pendapatku tidak diperlukan, mungkin aku tidak perlu banyak bicara.”
Kalimat itu hanya keluar dalam hati.
Tetapi sejak saat itu, sikap Ita mulai berubah.
Ia tetap bekerja.
Namun ia tidak lagi banyak berbicara.
Rama Merasa Hanya Dicari Ketika Dibutuhkan
Rama mengalami hal yang berbeda.
Ia sedang mengerjakan sebuah video ketika pesan masuk.
“Ram, tolong buat poster.”
Beberapa menit kemudian:
“Ram, sekalian buat video pendek.”
Kemudian:
“Ram, desainnya jangan lama.”
Rama membaca semuanya.
Ia meletakkan telepon.
Dalam hati ia berkata,
“Mereka ingat saya kalau ada pekerjaan.”
Ia teringat beberapa hari sebelumnya.
Ketika ada masalah dokumentasi, Dedi dan Ita berdiskusi.
Ketika ada masalah berita, mereka membicarakannya bersama.
Tetapi ketika menyangkut desain dan video, sering kali Rama bekerja sendiri.
Orang hanya datang ketika membutuhkan hasil.
Tidak banyak yang bertanya apakah ia kelelahan.
Apakah ia memiliki waktu.
Apakah ia sedang mengerjakan pekerjaan lain.
Rama mulai merasa dirinya bukan bagian dari keputusan.
Ia hanya bagian dari eksekusi.
Dan perasaan itu perlahan-lahan membuatnya kehilangan semangat.
Makan Malam Tanpa Percakapan
Malam itu, ketiganya berada di posko.
Mereka duduk di meja makan yang sama.
Tetapi tidak ada yang berbicara.
Dedi makan sambil melihat telepon.
Ita sibuk membaca catatan.
Rama menggunakan earphone.
Biasanya mereka akan bercanda.
Biasanya Rama membuat lelucon.
Biasanya Ita mengingatkan Dedi untuk tidak bekerja terlalu malam.
Biasanya Dedi menanyakan perkembangan desain kepada Rama.
Namun malam itu berbeda.
Hening.
Salah seorang mahasiswa yang lewat bahkan memperhatikan mereka.
“Kalian bertiga kenapa?”
Tidak ada jawaban.
Mahasiswa itu pergi.
Rama selesai makan lebih dulu.
Ia berdiri.
“Saya ke kamar.”
Ita mengangguk.
Dedi tidak mengatakan apa-apa.
Beberapa menit kemudian Ita juga berdiri.
“Aku juga.”
Dedi tetap duduk.
Ia melihat dua kursi kosong di depannya.
Baru saat itu ia menyadari betapa anehnya keadaan tersebut.
Tiga orang yang hampir setiap hari bersama sekarang bahkan tidak sanggup berbicara saat makan.
Hari Pertama Tanpa Koordinasi
Keesokan harinya, masalah mulai terlihat.
Sebuah kegiatan dijadwalkan berlangsung pukul sembilan pagi.
Dedi mengira Ita sudah mendapatkan data.
Ita mengira Dedi sudah menghubungi penanggung jawab.
Rama mengira desain akan disiapkan setelah informasi diberikan.
Tidak ada yang benar-benar memastikan.
Akibatnya, mereka bekerja sendiri-sendiri.
Dedi datang ke lokasi.
Ia mengambil foto.
Ita datang beberapa saat kemudian.
Ia mencari informasi.
Rama baru mengetahui kegiatan tersebut setelah seseorang mengirimkan pesan.
Ia datang terlambat.
Kegiatan hampir selesai.
“Kenapa saya tidak diberi tahu dari awal?” tanya Rama.
Tidak ada yang menjawab.
Dedi merasa Ita seharusnya memberi tahu.
Ita merasa Dedi seharusnya mengoordinasikan.
Rama merasa keduanya sengaja tidak melibatkannya.
Tidak ada yang mengatakan apa-apa.
Namun ketegangan semakin besar.
Hari Kedua yang Lebih Buruk
Hari berikutnya, sebuah berita harus dipublikasikan.
Ita sudah menulis berita.
Namun ia tidak meminta Dedi memilih foto.
Ia memilih sendiri.
Dedi melihat berita tersebut ketika hampir selesai.
“Kenapa foto ini?”
Ita menjawab singkat,
“Sudah cukup.”
“Menurutku ada yang lebih baik.”
Ita menatapnya.
“Kalau begitu pilih sendiri.”
Dedi terdiam.
Biasanya Ita akan berdiskusi.
Kali ini tidak.
Dedi kemudian memilih foto lain.
Rama melihat desain yang sudah dibuat.
Ia mengubah beberapa bagian tanpa bertanya.
Dedi melihatnya.
“Kenapa desainnya diubah?”
Rama menjawab,
“Karena saya pikir lebih baik.”
Dedi mulai kesal.
“Kita sudah punya konsep.”
Rama menjawab,
“Konsepnya terlalu kaku.”
Ita yang mendengar percakapan itu tidak ikut campur.
Ia memilih diam.
Tiga orang.
Tiga keputusan.
Tidak ada komunikasi.
Dan akibatnya, hasil kerja mereka mulai kehilangan kesatuan.
PDD Mulai Terlihat Berbeda
Mahasiswa lain mulai menyadari perubahan tersebut.
“PDD kenapa sekarang?”
“Tidak tahu.”
“Dedi sama Ita jarang bicara.”
“Rama juga sering kerja sendiri.”
Rumor kecil mulai muncul.
Ada yang mengatakan mereka sedang sibuk.
Ada yang menganggap mereka hanya kelelahan.
Ada pula yang mulai khawatir pekerjaan PDD akan terganggu.
Raka akhirnya bertanya kepada salah seorang anggota PDD.
“Ada masalah?”
Jawaban yang diterimanya sederhana.
“Tidak ada.”
Namun Raka tahu.
Jika seseorang menjawab tidak ada terlalu cepat, biasanya justru ada sesuatu.
Dua Hari Tanpa Bicara
Hari pertama berlalu.
Tidak ada pembicaraan.
Hari kedua juga berlalu.
Mereka hanya berkomunikasi seperlunya.
“Foto sudah.”
“Berita sudah.”
“Desain selesai.”
Tidak ada percakapan lain.
Tidak ada candaan.
Tidak ada diskusi.
Tidak ada saling bertanya.
PDD masih bekerja.
Tetapi tidak lagi terasa seperti sebuah tim.
Dan justru itulah yang paling menakutkan.
Mereka tidak bertengkar.
Mereka tidak berteriak.
Mereka tidak saling menyalahkan.
Mereka hanya diam.
Kadang diam lebih berbahaya daripada pertengkaran.
Karena ketika orang bertengkar, masih ada keinginan untuk didengar.
Tetapi ketika orang memilih diam, bisa jadi ia mulai kehilangan harapan untuk dipahami.
Pertanyaan yang Mengganggu Dedi
Pada malam kedua, Dedi duduk sendirian.
Ia membuka folder dokumentasi.
Ratusan foto terpampang di layar.
Ia kemudian membuka folder berita.
Kemudian melihat desain.
Semua pekerjaan sebenarnya berjalan.
Namun ada sesuatu yang hilang.
Kebersamaan.
Dedi mengingat hari pertama mereka.
Ketika mereka bertiga duduk bersama.
Ketika mereka membuat sistem.
Ketika mereka tertawa karena pekerjaan.
Ketika mereka saling membantu.
Ia kemudian bertanya kepada dirinya sendiri:
“Apa yang sebenarnya terjadi?”
Ia menyadari bahwa mungkin ia terlalu fokus pada sistem.
Terlalu fokus pada kesalahan.
Terlalu takut pekerjaan berantakan.
Sampai lupa bahwa sistem dibuat untuk manusia, bukan manusia dibuat untuk sistem.
Pikiran itu membuatnya terdiam.
Pertanyaan yang Sama untuk Ita
Di kamarnya, Ita juga belum tidur.
Ia membuka kembali catatan lama.
Di halaman pertama tertulis:
PDD — Dedi, Ita, Rama.
Tiga nama.
Satu tim.
Ia tersenyum kecil.
Kemudian mengingat bagaimana mereka bekerja selama ini.
Dedi dengan kameranya.
Rama dengan laptopnya.
Dirinya dengan catatan.
Ia menyadari bahwa selama ini ia terlalu berharap Dedi memahami perasaannya tanpa menjelaskannya.
Ia ingin didengar.
Tetapi ia sendiri mulai berhenti berbicara.
Ia ingin komunikasi berjalan.
Tetapi ia memilih diam.
Ita menutup bukunya.
“Mungkin aku juga salah.”
Rama Mulai Menyadari Sesuatu
Rama juga belum tidur.
Ia melihat video yang sedang dikerjakannya.
Video itu bagus.
Namun terasa kosong.
Biasanya ia akan meminta pendapat Dedi tentang pemilihan foto.
Biasanya ia meminta Ita memeriksa teks.
Sekarang ia mengerjakannya sendiri.
Ia berhasil.
Tetapi tidak merasa puas.
Rama akhirnya memahami sesuatu.
Ia memang tidak suka terlalu banyak aturan.
Namun bukan berarti ia ingin bekerja sendirian.
Ia membutuhkan dua orang lainnya.
Ia membutuhkan Dedi untuk memilih gambar terbaik.
Ia membutuhkan Ita untuk memastikan informasi yang digunakan benar.
Dan mungkin, Dedi dan Ita juga membutuhkan dirinya.
Rama tersenyum kecil.
“Tim tidak akan terasa seperti tim kalau semua bekerja sendiri.”
Pertemuan yang Tidak Direncanakan
Pagi berikutnya, sesuatu terjadi.
Dedi datang lebih awal ke meja PDD.
Ia melihat Ita sudah duduk di sana.
Beberapa menit kemudian Rama datang.
Ketiganya saling memandang.
Tidak ada yang berbicara.
Dedi kemudian menarik kursi.
“Duduk.”
Ita duduk.
Rama ikut duduk.
Beberapa detik berlalu.
Dedi menarik napas.
“Aku minta maaf.”
Ita menatapnya.
Rama juga.
“Aku terlalu memaksakan sistem.”
Dedi melanjutkan,
“Aku pikir kalau sistemnya diperketat, masalah akan selesai. Tapi aku lupa bertanya kepada kalian.”
Ita terdiam.
Kemudian berkata,
“Aku juga minta maaf.”
Dedi menatapnya.
“Aku merasa tidak didengar, lalu memilih diam.”
Rama tersenyum tipis.
“Aku juga.”
Ia menunduk.
“Aku merasa cuma dicari kalau ada pekerjaan. Tapi aku tidak pernah mengatakannya.”
Mereka bertiga saling memandang.
Untuk pertama kalinya dalam dua hari, tidak ada jarak di antara mereka.
Tiga Orang yang Kembali Bicara
Dedi membuka laptop.
“Jadi, bagaimana sistemnya?”
Ita tersenyum.
“Kita buat bersama.”
Rama mengangguk.
“Dan jangan terlalu kaku.”
Dedi tertawa kecil.
“Baik.”
Ita mengambil buku.
“Yang penting setiap keputusan dibicarakan.”
Rama menambahkan,
“Dan kalau ada masalah, jangan diam dua hari.”
Dedi tertawa.
“Setuju.”
Mereka bertiga akhirnya tertawa bersama.
Tawa itu sederhana.
Namun bagi mereka, tawa tersebut terasa seperti sesuatu yang telah lama hilang.
Mereka kembali menyusun sistem.
Kali ini bukan Dedi yang menentukan.
Bukan Ita.
Bukan Rama.
Mereka menyusunnya bersama.
Dedi tetap mengurus dokumentasi.
Ita tetap menangani publikasi.
Rama tetap mengembangkan desain dan video.
Tetapi keputusan besar harus dibicarakan.
Dan mereka membuat satu aturan tambahan.
Jika ada masalah di antara anggota PDD, harus dibicarakan sebelum menjadi lebih besar.
Tidak boleh menyimpan kecewa terlalu lama.
Tidak boleh membuat kesimpulan sendiri.
Tidak boleh menganggap diam sebagai solusi.
Belajar Bahwa Tim Tidak Selalu Harus Sepakat
Setelah semuanya selesai, Dedi berkata,
“Berarti kita memang tidak harus selalu sepakat.”
Ita mengangguk.
“Yang penting kita tetap bisa berdiskusi.”
Rama menambahkan,
“Dan tetap saling percaya.”
Dedi melihat kedua temannya.
“Kalau begitu, kita lanjut?”
Ita tersenyum.
“Lanjut.”
Rama membuka laptop.
“Lanjut.”
Mereka kembali bekerja.
Di layar komputer terlihat daftar kegiatan berikutnya.
Masih panjang.
Masih banyak.
Tetapi kali ini mereka tidak merasa sendirian.
Mereka telah belajar bahwa perbedaan pendapat bukan berarti perpecahan.
Yang membuat sebuah tim benar-benar terpecah bukanlah perbedaan.
Melainkan ketika orang-orang di dalamnya berhenti berbicara.
Dedi, Ita, dan Rama hampir kehilangan kekompakan itu.
Namun mereka memilih untuk kembali membuka komunikasi.
Mereka belum tahu bahwa keputusan tersebut akan sangat penting untuk menghadapi masalah yang jauh lebih besar di kemudian hari.
Karena setelah konflik internal itu, mereka akan menghadapi tantangan dari luar yang tidak kalah berat.
Sebuah kegiatan besar akan melibatkan banyak pihak.
Permintaan dokumentasi akan datang dari berbagai arah.
Waktu akan semakin sempit.
Dan untuk pertama kalinya, kemampuan mereka bekerja sebagai satu tim PDD benar-benar akan diuji.
BAB VIII — PANGGILAN DARI KEPALA DESA
Publikasi yang Menjadi Jembatan
Pagi itu suasana posko KKN Desa Awan Biru berjalan seperti biasa.
Dedi sedang memindahkan beberapa foto dari kamera ke laptop.
Ita membaca ulang berita kegiatan yang akan dipublikasikan.
Rama sedang memperbaiki desain poster untuk salah satu program kerja mahasiswa.
Mereka bertiga sudah kembali bekerja seperti sebelumnya.
Setelah melalui konflik internal, hubungan mereka justru menjadi lebih baik.
Mereka mulai memahami bahwa tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan cara yang sama.
Dedi mulai belajar mendengarkan.
Ita mulai berani menyampaikan pendapat.
Rama mulai lebih terbuka mengenai ide dan kesulitannya.
Pekerjaan PDD perlahan menjadi lebih teratur.
Namun pagi itu, sebuah pesan dari salah seorang perangkat desa mengubah kesibukan mereka.
“Dedi, Ita, Rama, nanti siang bisa datang ke kantor desa? Pak Iwan ingin bertemu.”
Dedi membaca pesan tersebut.
Ia menoleh kepada Ita dan Rama.
“Pak Iwan memanggil kita.”
Rama langsung bertanya,
“Pasti ada kegiatan lagi?”
Ita tersenyum.
“Belum tentu.”
Dedi mengangguk.
“Kita lihat nanti.”
Mereka belum mengetahui bahwa pertemuan tersebut akan membuka babak baru dalam perjalanan PDD.
Pertemuan di Kantor Desa
Siang menjelang.
Ketiganya berjalan menuju kantor Desa Awan Biru.
Kantor desa terlihat cukup ramai.
Beberapa masyarakat sedang mengurus administrasi.
Sejumlah perangkat desa sibuk dengan pekerjaannya.
Di halaman, beberapa pemuda sedang mempersiapkan perlengkapan kegiatan.
Dedi memperhatikan keadaan sekitar.
“Desa ini sebenarnya banyak cerita.”
Ita mengangguk.
“Banyak. Hanya belum semuanya terdokumentasi.”
Rama tersenyum.
“Mungkin itu alasan kita dipanggil.”
Mereka kemudian masuk ke ruangan kepala desa.
Pak Iwan, Kepala Desa Awan Biru, sudah menunggu.
Seorang kepala desa yang dikenal cukup dekat dengan masyarakat itu mempersilakan mereka duduk.
“Silakan duduk.”
“Terima kasih, Pak,” jawab Dedi.
Pak Iwan tersenyum.
“Saya sengaja memanggil kalian bertiga karena ada sesuatu yang ingin saya bicarakan.”
Ita membuka buku catatan.
“Baik, Pak.”
Pak Iwan melihat mereka satu per satu.
“Saya sudah melihat beberapa berita kegiatan KKN yang kalian buat.”
Dedi mengangguk.
“Alhamdulillah, Pak.”
“Bagus.”
Pak Iwan kemudian berhenti sejenak.
“Tapi saya melihat sesuatu yang lebih besar.”
Ketiganya saling memandang.
“Apa itu, Pak?” tanya Ita.
Pak Iwan menjawab,
“Desa ini sebenarnya memiliki banyak potensi. Tetapi belum semuanya dikenal.”
Rama mulai tertarik.
“Potensi seperti apa, Pak?”
Pak Iwan tersenyum.
“Banyak.”
Bukan Hanya Tentang KKN
Pak Iwan kemudian menjelaskan keinginannya.
“Saya tidak ingin publikasi hanya berhenti pada kegiatan KKN.”
Dedi memperhatikan dengan serius.
“Kami ingin membantu memperkenalkan desa.”
Ita mulai menulis.
Pak Iwan melanjutkan,
“Banyak orang hanya melihat desa dari jalan, kantor desa, atau kegiatan resmi.”
Ia menggeleng.
“Padahal kehidupan desa jauh lebih luas.”
Ada pertanian.
Ada kegiatan pemuda.
Ada pelaku UMKM.
Ada perpustakaan.
Ada kelompok masyarakat.
Ada tokoh-tokoh yang memiliki cerita inspiratif.
Ada program pembangunan yang sedang berjalan.
Ada masyarakat yang bekerja keras setiap hari.
“Semua itu sebenarnya adalah wajah Desa Awan Biru.”
Ita berhenti menulis.
Ia menatap Pak Iwan.
“Jadi Bapak ingin semua itu dibuat menjadi bahan publikasi?”
“Ya.”
Rama langsung bertanya,
“Termasuk video?”
Pak Iwan tersenyum.
“Kalau bisa, kenapa tidak?”
Rama tersenyum lebar.
Dedi tertawa kecil.
“Berarti pekerjaan kami bertambah lagi, Pak.”
Pak Iwan ikut tertawa.
“Bukan hanya pekerjaan. Saya berharap kalian bisa membantu desa menemukan cara untuk bercerita.”
Kalimat itu membuat mereka bertiga terdiam.
Pertanian yang Tidak Pernah Masuk Berita
Pak Iwan kemudian mengajak mereka melihat beberapa contoh.
“Di desa ini banyak petani yang bekerja dari pagi sampai sore.”
“Namun hampir tidak pernah ada yang menulis cerita tentang mereka.”
Dedi langsung teringat pada kamera yang dibawanya.
“Kalau kami ingin mendokumentasikan kegiatan petani, apakah boleh, Pak?”
“Tentu.”
“Bisa kami wawancarai juga?”
“Bisa.”
Ita langsung tertarik.
“Berarti bukan hanya foto aktivitas pertanian?”
“Bukan.”
Pak Iwan menjelaskan,
“Saya ingin masyarakat tahu siapa orangnya. Apa yang mereka kerjakan. Apa tantangannya. Apa hasilnya.”
Ita mengangguk.
“Berarti kita bisa membuat cerita tentang manusia di balik hasil pertanian.”
Pak Iwan tersenyum.
“Nah. Itu yang saya maksud.”
Dedi dan Rama saling memandang.
Mereka mulai memahami arah pembicaraan tersebut.
PDD bukan hanya akan memotret kegiatan.
Mereka akan mencari cerita.
Pemuda dan Energi Desa
Pak Iwan kemudian berbicara tentang pemuda.
“Anak-anak muda di desa juga punya kegiatan.”
“Ada olahraga.”
“Ada kegiatan sosial.”
“Ada kegiatan kepemudaan.”
“Ada yang membantu kegiatan desa.”
“Ada yang memiliki usaha.”
Namun kegiatan tersebut sering berlalu begitu saja.
Tidak ada dokumentasi yang rapi.
Tidak banyak cerita yang tersimpan.
Rama langsung berkata,
“Kalau kegiatan pemuda, saya bisa bantu membuat video pendek.”
Dedi menambahkan,
“Saya bisa dokumentasikan kegiatannya.”
Ita tersenyum.
“Saya bisa wawancara beberapa pemuda.”
Pak Iwan melihat ketiganya.
“Nah. Begitu.”
Mereka mulai bekerja sebagai satu tim lagi.
Bukan karena diperintah.
Tetapi karena mereka mulai melihat peluang.
UMKM yang Berjuang dari Rumah
Pembicaraan kemudian beralih kepada UMKM.
Pak Iwan menjelaskan bahwa beberapa masyarakat Desa Awan Biru memiliki usaha kecil.
Ada yang memproduksi makanan.
Ada yang membuat kerajinan.
Ada yang berjualan dari rumah.
Ada yang memasarkan produknya secara sederhana.
“Masalahnya,” kata Pak Iwan, “tidak semua orang tahu usaha mereka.”
Ita langsung bertanya,
“Apakah mereka sudah memiliki media promosi?”
“Sebagian belum.”
Rama langsung membuka laptop.
“Kalau begitu, kita bisa membuat materi visual sederhana.”
Dedi menambahkan,
“Foto produk juga bisa dibuat lebih baik.”
Ita mengangguk.
“Dan kita bisa menulis cerita tentang pemilik usahanya.”
Pak Iwan tersenyum.
“Bukan sekadar menjual produknya?”
Ita menjawab,
“Menurut saya, cerita pemiliknya juga penting.”
“Kenapa?”
“Karena orang biasanya lebih mudah tertarik pada produk ketika mereka tahu cerita di balik produk tersebut.”
Pak Iwan mengangguk.
“Bagus.”
Perpustakaan Desa
Pak Iwan kemudian menyebut satu tempat lain.
“Jangan lupa perpustakaan desa.”
Ita langsung tertarik.
“Perpustakaan?”
“Ya.”
“Bagaimana kegiatannya?”
Pak Iwan menjelaskan bahwa perpustakaan desa memiliki beberapa kegiatan yang melibatkan masyarakat dan anak-anak.
Namun aktivitas tersebut belum banyak dikenal.
Dedi membayangkan anak-anak membaca buku.
Rama membayangkan video pendek.
Ita mulai memikirkan sebuah tulisan.
“Ini bisa menjadi cerita menarik.”
Pak Iwan mengangguk.
“Karena perpustakaan bukan hanya ruangan penuh buku.”
Ita tersenyum.
“Betul.”
“Perpustakaan adalah tempat orang belajar.”
Rama menambahkan,
“Dan kalau anak-anak yang membaca itu didokumentasikan dengan baik, orang bisa melihat manfaatnya.”
Dedi mengangguk.
“Berarti kita harus datang bukan hanya saat ada acara.”
Pak Iwan tersenyum.
“Sekarang kalian mulai mengerti.”
Tokoh-Tokoh yang Tidak Terlihat
Pak Iwan kemudian berkata,
“Ada satu hal lagi.”
“Apa, Pak?” tanya Dedi.
“Tokoh inspiratif.”
Ita mengangkat kepalanya.
Pak Iwan menjelaskan bahwa di desa terdapat orang-orang yang memiliki kisah menarik.
Ada warga yang telah lama mengabdikan dirinya.
Ada orang yang membantu masyarakat tanpa banyak bicara.
Ada pemuda yang berusaha mengembangkan usaha.
Ada orang tua yang tetap bekerja keras meskipun menghadapi berbagai keterbatasan.
“Mereka tidak terkenal,” kata Pak Iwan.
“Tapi perjuangan mereka layak diketahui.”
Ita menutup bukunya sejenak.
Ia merasa bagian itu sangat penting.
“Kadang cerita terbaik memang berasal dari orang-orang yang tidak pernah mencari perhatian.”
Pak Iwan tersenyum.
“Karena itu saya ingin kalian membantu mengangkat cerita mereka.”
Dedi mengangguk.
“Bukan hanya memotret.”
“Ya.”
“Bukan hanya menulis.”
“Ya.”
“Bukan hanya membuat video.”
Pak Iwan tersenyum.
“Tetapi membuat masyarakat saling mengenal.”
Program Pembangunan Desa
Pembicaraan terakhir berkaitan dengan pembangunan desa.
Pak Iwan menunjukkan beberapa kegiatan pembangunan yang sedang berjalan.
Ia menjelaskan bahwa masyarakat perlu mengetahui apa yang sedang dilakukan pemerintah desa.
Bukan hanya hasil akhirnya.
Tetapi juga prosesnya.
“Kalau ada pembangunan, masyarakat harus tahu.”
“Kalau ada program, masyarakat harus memahami.”
“Kalau ada kegiatan pemberdayaan, masyarakat perlu melihat manfaatnya.”
Ita kemudian berkata,
“Berarti publikasi juga bisa menjadi sarana transparansi.”
Pak Iwan mengangguk.
“Betul.”
Dedi menambahkan,
“Jadi PDD bisa membantu menyampaikan informasi pembangunan dengan bahasa yang mudah dipahami.”
“Ya.”
Rama tersenyum.
“Berarti kita bukan hanya mendokumentasikan kegiatan mahasiswa.”
Pak Iwan menjawab,
“Sekarang kalian mulai membantu mendokumentasikan kehidupan desa.”
Tanggung Jawab yang Semakin Besar
Setelah pertemuan berlangsung hampir satu jam, Pak Iwan memberikan kesempatan kepada mereka untuk mempertimbangkan permintaannya.
Namun ketiganya tidak perlu berpikir lama.
Dedi melihat Ita.
Ita melihat Rama.
Rama melihat Dedi.
Mereka seperti sudah memiliki jawaban.
Dedi berkata,
“Kami siap membantu, Pak.”
Ita mengangguk.
“Selama kami bisa menyesuaikan dengan tugas KKN.”
Rama menambahkan,
“Dan selama kami tetap bisa menjaga kualitas publikasinya.”
Pak Iwan tersenyum.
“Itu yang saya harapkan.”
Kemudian Pak Iwan berkata,
“Tapi saya juga ingin kalian ingat satu hal.”
Ketiganya menunggu.
“Jangan membuat desa terlihat sempurna.”
Mereka terdiam.
Pak Iwan melanjutkan,
“Ceritakan desa apa adanya.”
“Kalau ada keberhasilan, sampaikan.”
“Kalau ada perjuangan, ceritakan.”
“Kalau ada potensi, kenalkan.”
“Jangan membuat cerita yang berlebihan hanya supaya terlihat bagus.”
Ita mengangguk serius.
“Jadi kejujuran tetap menjadi dasar.”
“Betul.”
Dedi menambahkan,
“Berarti dokumentasi harus bertanggung jawab.”
Pak Iwan mengangguk.
“Karena sekali informasi dipublikasikan, orang akan melihat desa melalui informasi tersebut.”
Kalimat itu membuat Dedi kembali memikirkan tanggung jawab mereka.
PDD Mendapat Nama Baru di Hati Mereka
Setelah keluar dari kantor desa, ketiganya berjalan perlahan menuju posko.
Rama menjadi orang pertama yang berbicara.
“Jadi sekarang kita punya pekerjaan baru.”
Dedi tertawa.
“Bukan pekerjaan baru.”
“Lalu?”
“Tanggung jawab baru.”
Ita mengangguk.
“Dan mungkin kesempatan baru.”
Rama menatapnya.
“Kesempatan apa?”
“Kesempatan untuk mengenal desa lebih dalam.”
Dedi menambahkan,
“Selama ini kita hanya datang ke kegiatan.”
“Sekarang kita harus datang kepada orang-orangnya.”
Mereka berjalan melewati beberapa rumah warga.
Seorang petani sedang memperbaiki alat kerja.
Beberapa anak bermain di halaman.
Seorang ibu terlihat menata dagangan.
Beberapa pemuda sedang berkumpul.
Dedi berhenti sebentar.
Ia mengangkat kameranya.
Klik.
Ita melihat ke arahnya.
“Sudah mulai?”
Dedi tersenyum.
“Belum.”
“Lalu?”
“Saya hanya melihat.”
Ita tersenyum.
“Bagus.”
Rama tertawa.
“PDD sekarang bukan cuma mengambil gambar. Harus belajar melihat dulu.”
Membuat Peta Cerita Desa
Malam itu, mereka kembali berkumpul di meja PDD.
Kali ini tidak ada konflik.
Tidak ada ketegangan.
Mereka justru terlihat bersemangat.
Ita mengambil selembar kertas.
Ia menulis:
CERITA DESA AWAN BIRU
Kemudian membuat beberapa bagian.
Pertanian.
Pemuda.
UMKM.
Perpustakaan.
Tokoh Inspiratif.
Kegiatan Masyarakat.
Pembangunan Desa.
Dedi menambahkan:
Dokumentasi foto.
Rama menambahkan:
Video dan desain visual.
Mereka kemudian membuat pembagian tugas.
Dedi akan mencari momen visual.
Ita menggali cerita dan data.
Rama menerjemahkan cerita menjadi materi visual yang menarik.
Tetapi mereka sepakat satu hal.
Tidak boleh ada yang bekerja sendirian.
Setiap cerita harus dibahas bersama.
Mereka Mulai Turun ke Masyarakat
Beberapa hari berikutnya menjadi pengalaman baru bagi mereka.
Mereka tidak lagi hanya datang ketika ada program kerja mahasiswa.
Mereka mulai mendatangi rumah warga.
Mengunjungi pelaku UMKM.
Melihat kegiatan pemuda.
Mengamati aktivitas pertanian.
Mengunjungi perpustakaan.
Berbicara dengan perangkat desa.
Bertemu tokoh masyarakat.
Dan perlahan-lahan mereka mulai mengenal Desa Awan Biru bukan sebagai tempat KKN semata.
Desa itu mulai menjadi ruang belajar.
Dedi belajar bahwa sebuah foto dapat menyimpan kehidupan seseorang.
Ita belajar bahwa sebuah berita tidak harus selalu tentang acara besar.
Rama belajar bahwa desain yang baik bukan hanya indah, tetapi mampu menyampaikan pesan.
Foto Seorang Petani
Suatu sore, Dedi menemukan seorang petani yang sedang bekerja di ladang.
Ia tidak langsung mengambil foto.
Ia berdiri beberapa saat.
Mengamati.
Kemudian meminta izin.
“Pak, boleh saya mengambil beberapa foto?”
Petani tersebut tersenyum.
“Untuk apa?”
“Untuk dokumentasi cerita tentang masyarakat desa.”
Petani itu tertawa kecil.
“Memangnya saya penting?”
Dedi tersenyum.
“Menurut saya, penting.”
Petani itu terdiam.
Kemudian mengangguk.
“Silakan.”
Dedi mengambil kamera.
Klik.
Satu foto.
Kemudian beberapa foto lainnya.
Tidak ada panggung.
Tidak ada spanduk.
Tidak ada pejabat.
Tidak ada acara besar.
Hanya seorang petani dan pekerjaannya.
Namun ketika Dedi melihat hasilnya, ia tahu foto itu memiliki sesuatu.
Kehidupan.
Ita Menemukan Cerita
Sore itu Ita berbicara dengan petani tersebut.
Ia mengetahui bahwa lelaki itu telah bertahun-tahun mengelola lahan.
Ia mengetahui perjuangannya menghadapi cuaca.
Harga hasil panen.
Biaya produksi.
Dan harapannya agar anak-anak muda tidak malu bekerja di sektor pertanian.
Ita mencatat semuanya.
Ia kemudian bertanya,
“Pak, apa yang paling Bapak harapkan?”
Petani tersebut terdiam.
Kemudian menjawab,
“Semoga anak-anak muda tahu bahwa desa juga punya masa depan.”
Ita berhenti menulis.
Kalimat itu terasa kuat.
Ia menatap Dedi.
Dedi mengangguk.
Mereka tahu mereka telah menemukan sebuah cerita.
Bukan cerita tentang kegiatan KKN.
Tetapi cerita tentang manusia.
Rama Mengubah Cerita Menjadi Visual
Malam harinya, Rama membuka foto tersebut.
Ia memilih satu gambar.
Kemudian membuat desain sederhana.
Tidak terlalu banyak tulisan.
Tidak terlalu banyak ornamen.
Hanya foto petani tersebut dengan sebuah kutipan pendek.
Ita membaca.
“Bagus.”
Dedi mengangguk.
“Foto aslinya sudah kuat.”
Rama tersenyum.
“Berarti desainnya jangan terlalu ramai.”
Mereka kemudian membuat materi publikasi.
Judulnya:
“Dari Tanah Desa, Tumbuh Harapan.”
Cerita tersebut akhirnya dipublikasikan.
Respons masyarakat ternyata sangat baik.
Beberapa warga mengenal tokoh tersebut.
Ada yang memberikan komentar.
Ada yang membagikannya.
Bahkan beberapa anak muda mengatakan bahwa mereka baru mengetahui cerita tersebut.
Dedi tersenyum.
Ita merasa senang.
Rama menatap hasil desainnya.
Mereka kembali merasakan kepuasan yang berbeda.
Kali ini bukan karena banyaknya orang yang melihat berita.
Tetapi karena mereka berhasil membuat seseorang merasa dihargai.
PDD Menjadi Jembatan
Sejak saat itu, peran mereka semakin berkembang.
Ketika pemerintah desa memiliki informasi, mereka membantu menyampaikannya.
Ketika masyarakat memiliki cerita, mereka membantu mengangkatnya.
Ketika pemuda memiliki kegiatan, mereka membantu memperkenalkannya.
Ketika pelaku UMKM memiliki produk, mereka membantu membuatnya lebih dikenal.
Ketika anak-anak melakukan kegiatan di perpustakaan, mereka membantu mengabadikannya.
Ketika pembangunan desa berlangsung, mereka membantu menjelaskan proses dan manfaatnya.
PDD tidak lagi hanya berdiri di belakang kamera.
Mereka mulai berdiri di antara banyak kepentingan.
Di satu sisi ada mahasiswa.
Di sisi lain ada pemerintah desa.
Di sisi lain ada masyarakat.
Dan PDD menjadi penghubung di antara semuanya.
Dedi, Ita, dan Rama mulai memahami arti sebenarnya dari kata publikasi.
Publikasi bukan sekadar membuat sesuatu terlihat.
Publikasi adalah membuat sesuatu dipahami.
Dokumentasi bukan sekadar menyimpan gambar.
Dokumentasi adalah menjaga ingatan.
Desain bukan sekadar membuat tampilan menarik.
Desain adalah membantu sebuah pesan berbicara.
Tanggung Jawab yang Tidak Lagi Sederhana
Namun semakin besar kepercayaan yang diberikan, semakin besar pula tanggung jawab mereka.
Kini kesalahan kecil tidak hanya berdampak pada tim PDD.
Salah menulis nama dapat membuat seseorang kecewa.
Salah menuliskan informasi dapat menimbulkan kesalahpahaman.
Salah memilih foto dapat menimbulkan persepsi berbeda.
Salah membuat desain dapat mengubah makna sebuah pesan.
Dan salah menyampaikan informasi pembangunan dapat menimbulkan persoalan yang lebih serius.
Dedi mulai memahami bahwa kamera yang dibawanya bukan sekadar alat.
Ita memahami bahwa tulisannya bukan sekadar kumpulan kata.
Rama memahami bahwa desainnya bukan sekadar gambar.
Ketiganya membawa sesuatu yang jauh lebih besar.
Kepercayaan.
Sebuah Kalimat dari Pak Iwan
Beberapa hari kemudian, Pak Iwan kembali bertemu dengan mereka.
“Bagaimana?”
Dedi menjawab,
“Mulai berjalan, Pak.”
Ita menambahkan,
“Masih banyak cerita yang belum kami gali.”
Rama tersenyum.
“Dan masih banyak desain yang harus dibuat.”
Pak Iwan tertawa.
Kemudian ia berkata,
“Saya senang melihat kalian.”
Dedi bertanya,
“Kenapa, Pak?”
“Karena kalian tidak hanya datang untuk menyelesaikan program kerja.”
Ia melihat mereka satu per satu.
“Kalian mulai mengenal masyarakat.”
Ketiganya diam.
Pak Iwan melanjutkan,
“Kalau mahasiswa hanya datang, melaksanakan kegiatan, lalu pergi, masyarakat mungkin akan lupa.”
“Tapi kalau kalian meninggalkan cerita yang baik, suatu hari nanti masyarakat bisa mengingat bahwa pernah ada mahasiswa yang datang dan peduli.”
Kalimat itu melekat di hati mereka.
Bukan Lagi Sekadar Tim PDD
Malam itu, mereka kembali ke posko.
Ita membuka buku catatannya.
Ia menulis satu kalimat besar:
“Kami bukan hanya mendokumentasikan KKN. Kami sedang mendokumentasikan sebuah kehidupan.”
Dedi membacanya.
Ia tersenyum.
Rama mengangguk.
“Kalimat itu bagus.”
Ita menutup bukunya.
“Karena itu yang sekarang kita kerjakan.”
Dedi mengangkat kameranya.
“Berarti perjalanan kita baru dimulai.”
Rama tertawa.
“Jangan bilang begitu.”
“Kenapa?”
“Kalau kamu bilang baru dimulai, biasanya pekerjaan kita tambah banyak.”
Mereka tertawa.
Namun di balik tawa itu, mereka tahu bahwa Rama benar.
Pekerjaan mereka memang akan bertambah.
Tanggung jawab mereka semakin besar.
Dan hubungan mereka dengan masyarakat semakin dekat.
PDD kini bukan lagi sekadar bagian kecil dari struktur KKN.
Mereka telah menjadi jembatan informasi antara mahasiswa dan masyarakat Desa Awan Biru.
Tetapi mereka belum menyadari bahwa posisi baru tersebut juga akan membawa mereka pada persoalan yang lebih rumit.
Sebab ketika PDD mulai dipercaya oleh pemerintah desa dan masyarakat, tidak semua mahasiswa akan merasa nyaman dengan perubahan itu.
Akan muncul pertanyaan:
“Apakah PDD masih bekerja untuk KKN, atau sekarang lebih banyak bekerja untuk desa?”
Pertanyaan itulah yang kelak akan menjadi sumber konflik baru.
Dan kali ini, persoalannya tidak hanya menyangkut satu foto atau satu berita.
Tetapi menyangkut loyalitas, batas tanggung jawab, dan arti sebenarnya dari pengabdian.
BAB IX — MASYARAKAT TIDAK SELALU SUKA DIFOTO
Belajar Menghargai Privasi
Sejak mendapat kepercayaan dari pemerintah Desa Awan Biru untuk membantu mempublikasikan berbagai potensi desa, pekerjaan PDD semakin sering bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Hampir setiap hari ada saja cerita baru.
Ada petani yang ingin memperkenalkan hasil kebunnya.
Ada pemuda yang sedang mengadakan kegiatan sosial.
Ada ibu-ibu yang menjalankan usaha rumahan.
Ada anak-anak yang mengikuti kegiatan perpustakaan.
Ada warga yang sedang bergotong royong.
Bagi Dedi, semua itu adalah momen yang berharga.
Kamera yang dibawanya hampir selalu siap digunakan.
Ia mulai memiliki kebiasaan baru.
Ketika melihat sesuatu yang menarik, tangannya secara refleks mencari kamera.
Menurutnya, sebuah momen bisa hilang dalam hitungan detik.
Jika tidak diabadikan, mungkin tidak akan pernah kembali.
Namun pada suatu sore, kebiasaan itu justru membawanya pada sebuah pelajaran yang tidak pernah ia dapatkan dari buku fotografi mana pun.
Tidak semua momen harus difoto.
Dan tidak semua orang ingin kehidupannya menjadi bagian dari sebuah publikasi.
Kegiatan Sosial di Ujung Desa
Hari itu mahasiswa KKN mengadakan kegiatan sosial di salah satu sudut Desa Awan Biru.
Kegiatannya sederhana.
Mahasiswa membagikan beberapa bantuan kepada warga sekaligus mengadakan kegiatan bersama masyarakat.
Tidak ada panggung besar.
Tidak ada acara resmi.
Hanya beberapa meja, sejumlah paket bantuan, dan masyarakat yang datang secara bergantian.
Dedi berdiri agak jauh dari kerumunan.
Ia mengamati keadaan.
Ia melihat seorang warga lanjut usia sedang duduk sendirian di depan rumah.
Wajahnya terlihat lelah.
Di sampingnya terdapat beberapa barang yang baru saja diterima.
Dedi melihat cahaya sore jatuh tepat ke wajah warga tersebut.
Menurut naluri fotografinya, itu adalah sebuah gambar yang kuat.
Ia mengangkat kamera.
Membidik.
Klik.
Satu foto berhasil diambil.
Dedi kemudian mengambil satu foto lagi.
Klik.
Warga tersebut menoleh.
Tatapan mereka bertemu.
Dedi tersenyum.
Namun warga itu justru berdiri.
“Mas.”
Dedi menurunkan kamera.
“Iya, Pak?”
“Jangan difoto.”
Dedi terdiam.
“Oh, maaf, Pak.”
Warga tersebut kemudian berkata,
“Foto saya tadi dihapus saja.”
Dedi sedikit terkejut.
“Yang tadi?”
“Iya.”
Dedi melihat kamera.
“Baik, Pak.”
Ia membuka layar kamera.
Foto tersebut masih ada.
Ia menunjukkannya.
“Yang ini, Pak?”
Warga tersebut mengangguk.
“Iya.”
Dedi kemudian menghapus foto itu.
Warga tersebut masih berdiri.
“Jangan dipakai untuk apa-apa.”
Dedi mengangguk.
“Baik, Pak.”
Warga itu kemudian masuk ke rumah.
Dedi berdiri sendirian.
Kamera masih berada di tangannya.
Untuk pertama kalinya sejak menjadi fotografer PDD, ia merasa sebuah foto yang menurutnya bagus ternyata tidak memiliki hak untuk ia simpan.
Dedi Membawa Pulang Pertanyaan
Malamnya, Dedi kembali ke posko.
Ita sedang mengetik berita.
Rama sedang mengedit video.
Dedi duduk tanpa banyak bicara.
Ita memperhatikannya.
“Kamu kenapa?”
Dedi menjawab,
“Tadi aku diminta menghapus foto.”
Ita berhenti mengetik.
“Foto apa?”
Dedi menjelaskan kejadian tersebut.
Rama kemudian menoleh.
“Terus?”
“Aku hapus.”
“Bagus.”
Dedi mengangguk.
Namun kemudian berkata,
“Padahal fotonya bagus.”
Ita menatapnya.
“Bagus menurut siapa?”
Dedi terdiam.
“Menurutku.”
Ita mengangguk.
“Kalau menurut orang yang difoto?”
Dedi tidak menjawab.
Ita kemudian berkata pelan,
“Belum tentu.”
Kalimat itu sederhana.
Tetapi membuat Dedi kembali teringat pada kejadian sore tadi.
Perdebatan Kecil di Meja PDD
Dedi kemudian berkata,
“Tapi kita kan sedang membuat dokumentasi kegiatan masyarakat.”
“Benar,” jawab Ita.
“Kalau setiap orang tidak mau difoto, bagaimana kita bisa mendokumentasikan?”
Ita menutup laptop.
“Kita tidak harus memotret semua orang.”
Dedi mengerutkan dahi.
“Lalu bagaimana?”
“Dengan izin.”
Dedi mengangguk.
“Kalau mereka mengizinkan.”
“Kalau tidak?”
“Kita hormati.”
Dedi terdiam.
Rama ikut berbicara.
“Kadang kita terlalu fokus pada gambar bagus.”
Ita mengangguk.
“Padahal orang di dalam gambar bukan objek.”
Dedi memandang mereka.
Ita kemudian berkata,
“Dedi, kita datang ke sini untuk mengabdi.”
Ia berhenti sejenak.
“Bukan berarti kita berhak mengambil semua gambar yang kita mau.”
Kalimat itu membuat Dedi terdiam cukup lama.
Ia tidak merasa Ita sedang menyalahkannya.
Justru ia merasa sedang diingatkan.
Ketika Foto Menjadi Cerita yang Berbeda
Ita kemudian membuka beberapa contoh foto dokumentasi.
“Lihat foto ini.”
Dedi melihat layar.
Foto seorang warga sedang menerima bantuan.
“Menurutmu apa yang terlihat?”
“Seorang warga menerima bantuan.”
“Benar.”
Ita kemudian bertanya,
“Kalau foto ini dipublikasikan, apa yang mungkin dipikirkan orang?”
Dedi mulai memahami maksudnya.
“Mungkin mereka menganggap warga itu sedang membutuhkan bantuan.”
“Betul.”
“Padahal belum tentu orang tersebut ingin dikenal sebagai penerima bantuan.”
Ita mengangguk.
“Di situlah masalahnya.”
Rama ikut menambahkan,
“Foto bisa mengatakan sesuatu yang bahkan tidak pernah diucapkan oleh orang yang ada di dalamnya.”
Dedi terdiam.
Ia mulai melihat fotografi dari sudut pandang berbeda.
Selama ini ia berpikir foto hanya merekam kenyataan.
Ternyata foto juga dapat membentuk persepsi tentang kenyataan.
Martabat yang Tidak Boleh Hilang
Ita kemudian mengambil sebuah buku catatan.
“Menurutku kita harus membuat aturan baru.”
Dedi bertanya,
“Aturan apa?”
“Etika dokumentasi masyarakat.”
Rama mengangguk.
Ita mulai menulis.
Pertama: meminta izin ketika akan memotret orang dalam situasi pribadi atau sensitif.
Kedua: menghormati penolakan.
Ketiga: tidak mempublikasikan foto yang dapat mempermalukan seseorang.
Keempat: tidak mengeksploitasi kesulitan masyarakat demi menarik perhatian.
Kelima: tidak membuat judul atau narasi yang berlebihan.
Keenam: meminta persetujuan tambahan jika foto akan digunakan untuk tujuan yang berbeda dari dokumentasi awal.
Dedi membaca semuanya.
Kemudian berkata,
“Ini penting.”
Rama menambahkan,
“Terutama kalau kita mulai sering membuat konten masyarakat.”
Ita mengangguk.
“Semakin dekat kita dengan masyarakat, semakin besar tanggung jawab kita.”
Kesalahan yang Tidak Terlihat
Keesokan harinya, Dedi kembali ke lokasi kegiatan.
Ia bertemu warga yang kemarin meminta fotonya dihapus.
Dedi mendekat.
“Pak.”
Warga itu menoleh.
“Iya?”
“Saya mau minta maaf tentang foto kemarin.”
Warga itu tersenyum.
“Sudah tidak apa-apa.”
Dedi menggeleng.
“Saya baru sadar bahwa saya seharusnya meminta izin sebelum mengambil foto.”
Warga tersebut diam sebentar.
Kemudian berkata,
“Bukan saya tidak suka difoto, Mas.”
Dedi mendengarkan.
“Saya hanya tidak ingin orang melihat keadaan saya seperti itu.”
Dedi mengangguk.
“Kenapa, Pak?”
Warga tersebut menarik napas.
“Karena saya tidak ingin dianggap kasihan.”
Kalimat itu membuat Dedi terdiam.
Ia kemudian memahami sesuatu yang jauh lebih dalam.
Kadang seseorang tidak menolak foto karena tidak suka wajahnya.
Kadang ia menolak karena tidak ingin kehilangan martabatnya.
Sebuah Pelajaran dari Seorang Warga
Dedi kemudian berkata,
“Terima kasih sudah mengingatkan saya, Pak.”
Warga tersebut tersenyum.
“Kalau mau memotret, silakan. Tapi tanya dulu.”
Dedi mengangguk.
“Siap.”
“Kalau orangnya tidak mau?”
“Kami hapus.”
Warga itu tertawa.
“Begitu.”
Dedi ikut tersenyum.
Kemudian ia meminta izin untuk mengambil foto kegiatan gotong royong yang sedang berlangsung.
“Pak, kalau kegiatan ini saya foto, boleh?”
Warga tersebut melihat ke arah kegiatan.
“Boleh.”
Dedi mengangkat kamera.
Namun kali ini ia tidak langsung membidik.
Ia memperhatikan.
Ia memilih sudut.
Ia menunggu momen.
Dan ketika waktunya tepat—
Klik.
Sebuah foto berhasil diambil.
Tidak ada paksaan.
Tidak ada rasa tidak nyaman.
Tidak ada keberatan.
Dedi tersenyum.
Foto itu justru terasa lebih bermakna.
Ita Mengubah Cara Menulis
Pelajaran tersebut juga mengubah cara Ita menulis.
Sebelumnya ia sering mencari sisi yang paling menarik dari sebuah kegiatan.
Sekarang ia mulai bertanya lebih jauh.
Apakah tulisan ini membuat seseorang merasa dihargai?
Apakah judulnya terlalu berlebihan?
Apakah narasinya dapat menimbulkan kesalahpahaman?
Apakah orang yang diceritakan nyaman dengan informasi tersebut?
Ia mulai memahami bahwa penulis bukan hanya penyampai informasi.
Penulis juga memiliki tanggung jawab terhadap orang-orang yang menjadi bagian dari cerita.
Sebuah kalimat yang salah dapat melukai.
Sebuah judul yang berlebihan dapat mempermalukan.
Sebuah narasi yang tidak lengkap dapat membuat seseorang dipahami secara keliru.
Karena itu, Ita mulai lebih sering meminta konfirmasi.
“Pak, boleh saya tulis nama lengkap?”
“Bu, apakah bagian ini boleh dimasukkan?”
“Apakah informasi ini benar?”
“Apakah ada bagian yang ingin diperbaiki?”
Masyarakat mulai melihat perbedaan itu.
Ita tidak lagi datang hanya membawa buku catatan.
Ia datang membawa sikap menghargai.
Rama Belajar dari Sisi Visual
Rama juga mengalami perubahan.
Sebelumnya ia selalu berpikir bagaimana membuat desain semenarik mungkin.
Warna.
Komposisi.
Tipografi.
Foto terbaik.
Namun sekarang ia mulai memikirkan satu hal lagi.
Dampak visual.
Sebuah foto yang sangat dramatis mungkin menarik perhatian.
Tetapi jika foto tersebut membuat seseorang merasa dipermalukan, apakah layak digunakan?
Sebuah gambar yang menggugah emosi mungkin mendapatkan banyak komentar.
Tetapi jika emosi itu dibangun dari penderitaan seseorang tanpa persetujuan, apakah itu masih dapat disebut publikasi yang bertanggung jawab?
Rama mulai mengubah pendekatannya.
Ia tidak lagi sekadar bertanya,
“Bagus tidak?”
Ia mulai bertanya,
“Pantas tidak?”
Pertanyaan itu menjadi standar baru dalam pekerjaannya.
PDD Membuat Kesepakatan Baru
Malam itu mereka bertiga berkumpul.
Dedi membawa kamera.
Ita membawa catatan.
Rama membawa laptop.
Mereka menyusun prinsip kerja baru.
Dedi membacakan:
“Mulai sekarang, kita tidak mengejar foto dengan mengorbankan kenyamanan orang.”
Ita menambahkan,
“Kita tidak membuat berita hanya karena sebuah cerita bisa menarik perhatian.”
Rama berkata,
“Dan kita tidak membuat desain dramatis hanya supaya orang berhenti menggulir layar.”
Dedi mengangguk.
Kemudian mereka membuat satu kalimat besar.
“Konten yang baik bukan hanya menarik perhatian, tetapi juga menjaga martabat orang yang ada di dalamnya.”
Mereka menyepakati kalimat tersebut sebagai prinsip PDD.
Bukan Semua Kesulitan Harus Menjadi Konten
Beberapa hari kemudian, mereka menghadapi situasi lain.
Dalam sebuah kegiatan masyarakat, Dedi melihat seorang anak sedang menangis karena sesuatu.
Refleksnya hampir saja mengambil kamera.
Namun tangannya berhenti.
Ia teringat kejadian beberapa hari sebelumnya.
Ia menurunkan kamera.
Ita melihatnya.
“Kamu tidak foto?”
Dedi menggeleng.
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena anak itu sedang menangis.”
Ita tersenyum.
“Bagus.”
Dedi menjawab,
“Dulu mungkin aku akan berpikir itu momen yang kuat.”
Rama yang berada tidak jauh dari mereka ikut mendengar.
“Sekarang?”
Dedi menatap anak tersebut.
“Sekarang aku berpikir, mungkin dia lebih membutuhkan bantuan daripada kamera.”
Mereka bertiga saling memandang.
Tidak ada yang perlu menjelaskan lebih jauh.
Mereka sudah memahami.
Masyarakat Mulai Percaya
Perubahan sikap PDD perlahan mulai dirasakan masyarakat.
Warga tidak lagi merasa bahwa setiap kegiatan harus selalu menjadi bahan foto.
Mereka mulai tahu bahwa mahasiswa akan meminta izin.
Jika ada warga yang tidak ingin ditampilkan, mereka tidak akan dipaksa.
Jika ada informasi pribadi, mereka tidak akan sembarangan menuliskannya.
Jika ada kegiatan yang sifatnya sensitif, mereka akan lebih berhati-hati.
Kepercayaan pun mulai tumbuh.
Seorang ibu bahkan berkata kepada Ita,
“Kalau kalian yang ambil foto, saya tidak masalah.”
Ita tersenyum.
“Terima kasih, Bu.”
“Karena kalian selalu bilang dulu.”
Kalimat sederhana itu membuat Ita merasa bahwa usaha mereka tidak sia-sia.
Dedi Menemukan Arti Baru dari Kamera
Suatu malam, Dedi membersihkan kameranya.
Ia memperhatikan lensa cukup lama.
Dulu ia menganggap kamera sebagai alat untuk menangkap momen.
Sekarang ia memandangnya berbeda.
Kamera bukan hanya alat untuk melihat.
Kamera adalah alat yang memberikan mereka kekuasaan untuk menentukan apa yang akan dilihat orang lain.
Dan kekuasaan selalu membutuhkan tanggung jawab.
Ia teringat foto yang dihapus beberapa hari sebelumnya.
Dulu ia merasa sayang karena foto itu bagus.
Sekarang ia justru bersyukur telah menghapusnya.
Karena sebuah foto yang bagus tidak selalu berarti sebuah foto yang pantas dipublikasikan.
Ia tersenyum.
Kemudian memasukkan kamera ke dalam tas.
Sebuah Kesimpulan yang Tidak Tertulis
Hari itu mereka kembali belajar.
Dedi belajar bahwa fotografer harus tahu kapan mengambil gambar dan kapan menurunkan kamera.
Ita belajar bahwa penulis harus tahu kapan menulis dan kapan menyimpan informasi untuk dirinya sendiri.
Rama belajar bahwa desainer harus tahu kapan membuat sesuatu menarik dan kapan memilih kesederhanaan demi menjaga martabat seseorang.
Mereka bertiga akhirnya memahami satu hal:
Pengabdian bukan berarti mengambil sebanyak-banyaknya dari masyarakat.
Pengabdian berarti hadir dengan niat untuk memberi manfaat.
Bahkan ketika yang harus diberikan adalah sesuatu yang sederhana:
rasa hormat.
PDD yang Mulai Dewasa
Malam semakin larut.
Mereka duduk bertiga di depan posko.
Dedi memegang kamera.
Ita membaca catatannya.
Rama menutup laptop.
Tidak ada yang berbicara cukup lama.
Kemudian Rama berkata,
“Kayaknya kita mulai berubah.”
Ita tersenyum.
“Berubah bagaimana?”
“Dulu kita sibuk memikirkan bagaimana membuat orang melihat.”
Dedi melanjutkan,
“Sekarang kita mulai memikirkan bagaimana orang merasa.”
Ita mengangguk.
“Itulah bedanya dokumentasi dengan pengabdian.”
Dedi menatap langit malam Desa Awan Biru.
Ia kemudian berkata,
“Kalau begitu, mulai sekarang kita tidak hanya bertanya, ‘Apakah ini layak dipublikasikan?’”
Rama tersenyum.
“Tapi juga?”
Dedi menjawab,
“Apakah ini layak dipublikasikan tanpa melukai orang yang ada di dalamnya?”
Tidak ada yang menjawab.
Namun ketiganya memahami bahwa perjalanan mereka sebagai PDD telah memasuki tahap baru.
Mereka bukan lagi mahasiswa yang sekadar membawa kamera, laptop, dan kemampuan desain.
Mereka mulai belajar menjadi penjaga cerita.
Dan menjaga cerita berarti menjaga manusia yang berada di balik cerita tersebut.
Namun mereka belum tahu bahwa prinsip baru itu akan segera diuji.
Sebuah program kerja besar akan berlangsung.
Banyak pihak akan terlibat.
Waktu publikasi akan sangat sempit.
Ada permintaan untuk menampilkan kondisi masyarakat secara dramatis agar publikasi mendapat perhatian.
Dan di situlah Dedi, Ita, dan Rama akan menghadapi pilihan yang jauh lebih sulit:
antara membuat konten yang viral atau tetap mempertahankan etika.
Pilihan itu akan menguji bukan hanya kemampuan mereka sebagai tim PDD, tetapi juga nilai-nilai yang selama ini mulai mereka bangun.
BAB X — HUJAN, LAPTOP, DAN FILE YANG HILANG
Malam Terburuk PDD
Malam itu hujan turun tanpa henti di Desa Awan Biru.
Sejak sore, langit sudah terlihat gelap.
Awan hitam menggantung rendah di atas desa.
Angin bertiup cukup kencang.
Daun-daun pohon di sekitar posko bergerak tanpa henti.
Sesekali terdengar suara petir dari kejauhan.
Namun tidak seorang pun dari mereka menyangka bahwa malam itu akan menjadi salah satu malam paling menegangkan selama pelaksanaan KKN.
Di ruang PDD, tiga mahasiswa masih sibuk bekerja.
Dedi baru saja kembali dari sebuah kegiatan masyarakat.
Kartu memori kameranya penuh dengan foto.
Ita sedang menyelesaikan berita yang harus segera dipublikasikan.
Sementara Rama duduk di depan laptop, memindahkan file foto dan video ke dalam folder dokumentasi.
“Ram, sudah masuk semua?” tanya Dedi.
Rama masih melihat layar.
“Sebentar.”
“Jangan lupa buat dua folder.”
“Sudah.”
“Yang satu untuk foto asli, satu untuk hasil seleksi.”
Rama mengangguk.
“Tenang saja.”
Ita yang sedang mengetik ikut berbicara.
“Kalau sudah selesai, kirim beberapa foto pilihan ke aku. Beritanya harus segera naik.”
“Siap,” jawab Rama.
Malam itu semuanya terlihat normal.
Setidaknya sampai hujan semakin deras.
Hujan yang Semakin Lebat
Suara hujan mulai memenuhi ruangan.
Atap seng posko dipukul air dengan suara keras.
Rama masih bekerja.
Dedi sesekali memeriksa kamera.
Ita membaca ulang tulisannya.
Kemudian tiba-tiba—
BLARK!
Suara petir terdengar sangat dekat.
Lampu berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Kemudian—
Padam.
Ruangan menjadi gelap.
“Waduh!” seru Rama.
Dedi segera mengambil telepon dan menyalakan senter.
“Listrik mati.”
Ita melihat ke luar jendela.
Gelap.
Hanya cahaya petir yang sesekali menerangi halaman.
Rama langsung menutup laptop.
“Semoga tidak apa-apa.”
Dedi bertanya,
“Sudah disimpan?”
Rama mengangguk.
“Sudah.”
Namun beberapa detik kemudian, Rama kembali membuka laptop menggunakan baterai.
Layar menyala.
Ia mencoba membuka folder yang baru saja dikerjakannya.
Loading.
Beberapa detik.
Kemudian muncul pesan kesalahan.
Rama mengerutkan dahi.
“Lho?”
Dedi mendekat.
“Ada apa?”
“Foldernya tidak terbuka.”
Ita berhenti mengetik.
“Maksudnya?”
Rama mencoba lagi.
Tetap gagal.
Ia kemudian membuka folder lain.
Beberapa file masih terlihat.
Tetapi sebagian tidak dapat dibuka.
Rama mulai panik.
“Jangan-jangan…”
Ia membuka folder dokumentasi utama.
Nama-nama file masih ada.
Namun beberapa ukuran file berubah menjadi sangat kecil.
Ada yang bahkan menunjukkan ukuran 0 KB.
Dedi langsung berdiri.
“File-nya rusak?”
Rama tidak menjawab.
Tangannya mulai gemetar.
Panik Pertama
Dedi mengambil kamera.
“Coba cek kartu memorinya.”
Rama mengangguk.
Dedi memasukkan kartu memori ke laptop.
Beberapa file masih terlihat.
Foto-foto terbaru masih ada.
Namun sebagian video tidak terbaca.
Ita mulai berdiri.
“Berapa banyak yang hilang?”
Rama melihat folder.
“Aku belum tahu.”
“Coba cek.”
Rama membuka satu per satu.
Foto kegiatan pagi masih ada.
Foto kegiatan siang sebagian ada.
Video wawancara warga tidak bisa dibuka.
Beberapa foto kegiatan sore juga rusak.
Ita memegang kepalanya.
“Wawancara yang tadi sore?”
Rama mengangguk pelan.
“Kayaknya ada yang rusak.”
Ita menatapnya.
“Rama…”
“Aku tahu.”
“Beritanya belum selesai.”
“Aku tahu.”
“Data wawancaranya ada di video itu.”
Rama menunduk.
“Aku tahu, Ita.”
Suasana menjadi tegang.
Dedi Mulai Marah
Dedi membuka kembali folder.
Ia mencoba memeriksa file satu per satu.
“Kenapa tadi tidak langsung dicadangkan?”
Rama menatapnya.
“Aku sedang memindahkan.”
“Seharusnya setelah selesai langsung backup.”
“Aku tahu.”
“Kalau tahu, kenapa tidak dilakukan?”
Rama terdiam.
Hujan di luar semakin deras.
Ita mencoba menenangkan.
“Sudah. Jangan saling menyalahkan dulu.”
Namun Dedi masih panik.
“Ini bukan file biasa, Ta.”
“Aku tahu.”
“Ini dokumentasi beberapa hari.”
“Aku tahu.”
“Kalau semuanya hilang, bagaimana?”
Rama akhirnya menjawab,
“Sudah kubilang, aku tahu!”
Nada suaranya meninggi.
Ruangan menjadi hening.
Dedi terdiam.
Rama menunduk.
Ia terlihat sangat terpukul.
Rasa Bersalah Rama
Rama memandangi laptop di depannya.
“Aku yang pegang semua file.”
Tidak ada yang menjawab.
“Aku yang memindahkan.”
Suaranya mulai melemah.
“Aku juga yang bertanggung jawab menyimpan.”
Ita mendekat.
“Ram…”
“Kalau file itu benar-benar hilang…”
Rama menelan ludah.
“Aku yang salah.”
Dedi duduk kembali.
Ia masih marah.
Tetapi melihat wajah Rama, kemarahannya perlahan berubah menjadi rasa bersalah.
Ia sadar bahwa beberapa menit lalu ia terlalu cepat menyalahkan.
Mereka semua sedang panik.
Dan kepanikan membuat orang mudah mencari siapa yang harus disalahkan.
Ita Hampir Menangis
Ita kembali melihat laptop.
“Berita ini harus selesai malam ini.”
Dedi menatapnya.
“Masih bisa ditunda.”
“Tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Besok pagi harus dikirim ke perangkat desa.”
Ita menunjukkan catatannya.
“Data kegiatan sudah aku tulis.”
“Yang kurang?”
“Beberapa kutipan dari wawancara.”
Ia terdiam.
“Dan foto pendukung.”
Ita mengusap wajahnya.
“Kalau videonya rusak, aku kehilangan beberapa bagian penting.”
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Aku sudah mengerjakannya dari sore.”
Dedi tidak tahu harus berkata apa.
Rama juga diam.
Untuk beberapa saat, mereka bertiga hanya mendengarkan suara hujan.
Mereka Hampir Menyerah
Rama menutup laptop.
“Kalau memang hilang, kita tidak bisa apa-apa.”
Dedi langsung menatapnya.
“Jangan bilang begitu.”
“Apa yang bisa kita lakukan?”
“Cari.”
“Sudah.”
“Belum semuanya.”
Rama menghela napas.
“Kita sudah cek laptop.”
Dedi menjawab,
“Belum cek telepon.”
Ita mengangkat kepala.
“Apa?”
Dedi menunjuk telepon mereka.
“Tadi beberapa orang juga mengambil foto.”
Rama terdiam.
Dedi kemudian berkata,
“Kita jangan berasumsi semuanya hilang sebelum kita cari semuanya.”
Kalimat itu membuat suasana sedikit berubah.
Mencari Jejak yang Tersisa
Mereka mulai memeriksa semua perangkat.
Telepon Dedi.
Telepon Ita.
Telepon Rama.
Kamera.
Kartu memori.
Flashdisk.
Folder pesan.
Penyimpanan awan yang pernah digunakan.
Mereka mencari satu per satu.
Ita membuka galeri teleponnya.
“Ada beberapa foto!”
Dedi langsung mendekat.
“Yang kegiatan sore?”
Ita mengangguk.
“Ini ada.”
Rama tersenyum sedikit.
“Berarti belum semuanya hilang.”
Dedi membuka teleponnya.
“Di sini juga ada.”
Ia menemukan beberapa foto yang dikirim melalui grup mahasiswa.
Rama kemudian memeriksa kartu memori.
“Video wawancara masih ada.”
Ita langsung menoleh.
“Serius?”
“Sebagian.”
“Bisa dibuka?”
Rama mencoba.
Video pertama terbuka.
Mereka bertiga hampir bersorak.
Namun video kedua tidak bisa dibuka.
Video ketiga juga rusak.
Tetapi sebagian masih terselamatkan.
Harapan Mulai Muncul
Mereka mulai mengumpulkan file yang masih ada.
Satu per satu.
Foto dari kamera.
Foto dari telepon.
Video dari kartu memori.
Foto yang dikirim mahasiswa.
Dokumen yang tersimpan di flashdisk.
Catatan Ita.
Semua dikumpulkan ke satu folder baru.
Rama kemudian berkata,
“Kita memang kehilangan sebagian.”
Dedi mengangguk.
“Tapi tidak semuanya.”
Ita tersenyum.
“Berarti berita masih bisa dibuat.”
Rama mengangguk.
“Bisa.”
Dedi menepuk bahu Rama.
“Maaf.”
Rama menatapnya.
“Untuk apa?”
“Tadi aku marah.”
Rama diam sebentar.
“Aku juga salah. Aku terlalu percaya satu penyimpanan.”
Ita ikut berkata,
“Kita semua salah.”
Mereka saling memandang.
Tidak ada lagi yang mencari siapa yang paling bersalah.
Mereka hanya ingin menyelamatkan apa yang masih bisa diselamatkan.
Malam Menjadi Panjang
Jam menunjukkan pukul sebelas malam.
Hujan belum berhenti.
Listrik masih padam.
Mereka bekerja dengan penerangan dari beberapa telepon dan lampu darurat.
Rama duduk di depan laptop.
Dedi mengatur file foto.
Ita menyusun kembali berita berdasarkan catatan yang masih tersedia.
Sesekali mereka berhenti.
Kemudian melanjutkan lagi.
“Ini foto siapa?”
“Tadi Pak Jaya.”
“Masukkan.”
“Yang ini?”
“Itu kegiatan pemuda.”
“Jangan salah keterangan.”
“Siap.”
Mereka bekerja dalam suasana yang jauh berbeda dari beberapa jam sebelumnya.
Tidak ada saling menyalahkan.
Tidak ada ego.
Hanya satu tujuan.
Menyelamatkan dokumentasi.
Satu File yang Sangat Berharga
Menjelang tengah malam, Rama menemukan sebuah folder kecil.
Namanya:
BACKUP SEMENTARA.
Ia membukanya.
Di dalamnya terdapat beberapa file yang sebelumnya dianggap hilang.
“Dedi!”
“Apa?”
“Lihat ini.”
Dedi mendekat.
Ita ikut berdiri.
Beberapa foto dan video yang rusak di folder utama ternyata masih tersimpan dalam folder tersebut.
Rama tersenyum.
“Aku pernah menyalin sebagian.”
Dedi tertawa lega.
“Kamu ternyata menyelamatkan kita.”
Rama menggeleng.
“Tidak sengaja.”
Ita tertawa.
“Tidak masalah. Yang penting ada.”
Mereka bertiga tertawa.
Untuk pertama kalinya malam itu, ketegangan sedikit mencair.
Berita Tetap Selesai
Pukul satu dini hari.
Ita akhirnya menyelesaikan berita.
Ia membaca dari awal sampai akhir.
Kemudian menyerahkan laptop kepada Dedi.
“Baca.”
Dedi membacanya.
“Sudah bagus.”
Rama kemudian memeriksa foto.
“Pakai yang ini.”
Ita melihat.
“Kenapa?”
“Karena ini paling sesuai dengan ceritanya.”
Dedi mengangguk.
Mereka kemudian menyusun materi publikasi.
Foto.
Berita.
Keterangan.
Desain.
Semua diperiksa ulang.
Tidak ada yang ingin mengambil risiko kedua.
Pukul satu lewat tiga puluh menit, semuanya selesai.
Ita menarik napas panjang.
“Sudah.”
Dedi melihat jam.
“Berhasil.”
Rama bersandar di kursi.
“Besok kita perbaiki sistem.”
Dedi mengangguk.
“Bukan besok.”
Ia melihat dua temannya.
“Mulai malam ini.”
Rapat Darurat PDD
Walaupun sudah sangat lelah, mereka membuat satu keputusan.
Mereka tidak boleh mengulangi kejadian tersebut.
Dedi mengambil buku.
“Kita butuh sistem backup.”
Ita mengangguk.
“Minimal lebih dari satu tempat.”
Rama menambahkan,
“File asli jangan pernah dipindahkan tanpa salinan.”
Dedi menulis.
“Setiap selesai kegiatan, langsung backup.”
Ita menambahkan,
“Dan beri nama folder berdasarkan tanggal dan kegiatan.”
Rama berkata,
“Foto asli jangan diedit.”
Dedi menulis lagi.
“File editan disimpan di folder berbeda.”
Ita menambahkan,
“Dokumen berita juga harus punya salinan.”
Rama berkata,
“Video mentah jangan hanya disimpan di laptop.”
Mereka kemudian menyusun sistem baru.
Sistem Arsip PDD Desa Awan Biru
- File asli dari kamera.
- Backup di laptop.
- Backup di media penyimpanan tambahan.
- File penting disalin ke telepon jika memungkinkan.
- Dokumen penting memiliki salinan terpisah.
- Folder diberi nama berdasarkan tanggal dan kegiatan.
- Tidak ada satu pun file penting yang hanya memiliki satu salinan.
Mereka membaca kembali aturan tersebut.
Rama tersenyum.
“Sekarang baru terasa seperti PDD profesional.”
Dedi mengangguk.
“Pengalaman mahal.”
Ita tertawa.
“Untung masih bisa diselamatkan.”
Pagi Setelah Badai
Menjelang pagi, hujan akhirnya berhenti.
Udara Desa Awan Biru terasa dingin.
Langit mulai berubah warna.
Listrik kembali menyala.
Lampu posko tiba-tiba terang.
Ketiganya terdiam.
Mereka terlalu lelah untuk bersorak.
Namun ada rasa lega yang sulit dijelaskan.
Dedi melihat kamera.
Ita melihat laptop.
Rama melihat folder dokumentasi.
Mereka telah kehilangan beberapa file.
Tetapi mereka mendapatkan sesuatu yang lebih penting.
Kesadaran.
Dokumentasi bukan hanya tentang mengambil gambar.
Bukan hanya tentang menulis.
Bukan hanya tentang membuat desain.
Dokumentasi juga tentang menjaga data agar tidak hilang.
Karena sebuah momen yang telah berlalu tidak selalu bisa diulang.
Sebuah wawancara yang telah selesai tidak selalu bisa dilakukan kembali.
Sebuah kegiatan yang telah berakhir tidak selalu bisa dipentaskan ulang hanya demi kamera.
Dan karena itulah setiap file memiliki nilai.
Pelajaran dari Malam Terburuk
Sebelum tidur, Ita menulis satu kalimat di buku PDD.
Ia menunjukkannya kepada Dedi dan Rama.
“Dalam dokumentasi, cadangan bukan pilihan. Cadangan adalah suatu keharusan.”
Rama mengangguk.
Dedi tersenyum.
Kemudian ia menambahkan satu kalimat lagi.
“Karena momen bisa terulang dalam cerita, tetapi tidak selalu bisa terulang dalam kenyataan.”
Mereka bertiga diam.
Kalimat itu terasa benar.
Malam tersebut hampir menghancurkan hasil kerja mereka.
Namun justru dari kehilangan itu mereka belajar.
Mereka belajar bahwa kesalahan teknis bisa terjadi kapan saja.
Laptop bisa rusak.
Kartu memori bisa bermasalah.
Listrik bisa padam.
Jaringan bisa menghilang.
File bisa korup.
Perangkat bisa tiba-tiba mati.
Dan tidak ada seorang pun yang bisa menjamin bahwa teknologi akan selalu bekerja sesuai harapan.
Tetapi manusia bisa memilih untuk bersiap.
PDD yang Semakin Matang
Sejak malam itu, kebiasaan mereka berubah.
Setiap selesai kegiatan, Dedi tidak lagi langsung menyimpan kamera.
Ia memastikan file telah dicadangkan.
Rama tidak lagi mengandalkan satu laptop.
Ita tidak lagi menyimpan tulisan hanya di satu tempat.
Mereka memiliki sistem.
Dan yang lebih penting—
mereka memiliki kesadaran bahwa pekerjaan PDD bukan pekerjaan yang boleh dilakukan secara sembarangan.
Mereka mulai membuat arsip berdasarkan tanggal.
Nama kegiatan.
Jenis dokumentasi.
Nama narasumber.
Lokasi.
Dan status publikasi.
Semakin hari, arsip mereka semakin rapi.
PDD yang awalnya dianggap hanya tukang foto kini perlahan berubah menjadi penjaga memori KKN dan Desa Awan Biru.
Namun mereka belum tahu bahwa sistem baru itu akan segera menghadapi ujian yang berbeda.
Bukan lagi masalah teknis.
Kali ini masalahnya datang dari manusia.
Sebuah program kerja besar akan melibatkan pemerintah desa, mahasiswa, dan masyarakat.
Banyak pihak akan meminta agar dokumentasi mereka ditampilkan.
Ada yang ingin fotonya paling banyak.
Ada yang ingin namanya disebut.
Ada yang ingin kegiatannya menjadi berita utama.
Dan sekali lagi, Dedi, Ita, dan Rama harus belajar bahwa menjadi PDD berarti bekerja di tengah banyak kepentingan.
Mereka telah belajar bagaimana menyelamatkan file.
Kini mereka harus belajar bagaimana menjaga kepercayaan.
BAB XI — BERITA YANG MEMICU KESALAHPAHAMAN
Ketika Kalimat Menjadi Masalah
Pagi itu, suasana posko KKN Desa Awan Biru kembali sibuk.
Setelah melewati malam panjang akibat file yang hampir hilang, tim PDD mulai menjalankan sistem baru mereka.
Semua file dicadangkan.
Dokumentasi dipisahkan berdasarkan kegiatan.
Foto asli tidak boleh dihapus.
Berita disimpan dalam beberapa salinan.
Mereka merasa sudah belajar dari kesalahan.
Namun mereka belum menyadari bahwa tantangan berikutnya tidak datang dari laptop, kartu memori, atau listrik.
Tantangan itu datang dari sesuatu yang jauh lebih sederhana.
Kalimat.
Sebuah kalimat yang ditulis dengan maksud baik ternyata dapat menimbulkan tafsir yang berbeda.
Dan pada hari itu, Ita akan merasakan sendiri betapa besar tanggung jawab seorang penulis berita.
Kegiatan Bersama Instansi Terkait
Hari itu salah satu program kerja mahasiswa dilaksanakan bersama sebuah instansi terkait di Desa Awan Biru.
Kegiatan tersebut cukup penting.
Mahasiswa KKN tidak bekerja sendiri.
Ada pihak desa.
Ada perwakilan instansi.
Ada masyarakat.
Ada peserta kegiatan.
Semua memiliki peran masing-masing.
Dedi datang lebih awal.
Ia mengambil foto suasana persiapan.
Rama membawa peralatan untuk merekam beberapa bagian kegiatan.
Ita membawa buku catatan.
Sebelum acara dimulai, Ita sudah mengumpulkan beberapa informasi.
Nama kegiatan.
Waktu pelaksanaan.
Tempat.
Pihak yang terlibat.
Tujuan kegiatan.
Jumlah peserta.
Dan beberapa pernyataan dari pihak penyelenggara.
Ia berusaha memastikan semua informasi akurat.
Bagi Ita, berita harus memiliki dasar.
Tidak boleh mengarang.
Tidak boleh melebih-lebihkan.
Tidak boleh menambahkan sesuatu yang tidak terjadi.
Namun dalam menulis, ia lupa satu hal.
Fakta yang benar belum tentu menghasilkan kalimat yang tidak menimbulkan tafsir berbeda.
Berita yang Ditulis Hingga Malam
Setelah kegiatan selesai, Ita kembali ke posko.
Ia membuka laptop.
Dedi sudah mengirimkan beberapa foto.
Rama juga sudah mengirimkan potongan video.
Ita mulai menulis.
Ia menyusun judul.
Kemudian paragraf pembuka.
Ia menjelaskan kegiatan.
Ia menuliskan peran mahasiswa.
Ia menyebut instansi terkait.
Ia memasukkan tujuan kegiatan.
Kemudian ia menambahkan pernyataan dari salah seorang mahasiswa.
Setelah selesai, ia membaca kembali.
Menurutnya, berita tersebut sudah cukup baik.
Ia kemudian mengirimkan naskah kepada Dedi dan Rama.
“Coba kalian baca.”
Dedi membaca.
“Sudah bagus.”
Rama membaca sambil melihat foto.
“Visualnya cocok.”
Ita tersenyum.
“Berarti bisa dipublikasikan.”
Tidak ada seorang pun yang menyangka bahwa satu kalimat di dalam berita tersebut akan menjadi sumber masalah keesokan harinya.
Pesan yang Datang Pagi Hari
Pagi berikutnya, Ita baru saja membuka telepon ketika sebuah pesan masuk.
Ia membaca.
Kemudian membacanya sekali lagi.
Wajahnya berubah.
Dedi yang sedang memeriksa kamera memperhatikan.
“Kenapa?”
Ita tidak langsung menjawab.
Rama juga menoleh.
“Ada masalah?”
Ita menyerahkan telepon kepada Dedi.
“Baca.”
Dedi membaca pesan tersebut.
Isinya meminta agar berita yang telah dipublikasikan diperbaiki karena terdapat bagian yang dianggap tidak tepat.
Dedi mengerutkan dahi.
“Bagian mana?”
Ita menunjuk salah satu paragraf.
“Ini.”
Dedi membaca.
Kemudian melihat Ita.
“Menurutmu?”
“Menurutku kalimatnya sesuai dengan kejadian.”
Rama ikut membaca.
“Kalimatnya memang bisa ditafsirkan berbeda.”
Ita terdiam.
“Padahal maksudku bukan begitu.”
Ketua Kelompok Ikut Bereaksi
Belum sempat mereka membahas lebih jauh, Ketua Kelompok KKN, Raka, datang.
Wajahnya terlihat serius.
“Ita.”
“Iya, Rak?”
“Kamu sudah lihat pesan dari pihak terkait?”
“Sudah.”
“Beritanya harus segera diperbaiki.”
Ita terkejut.
“Kenapa harus diturunkan?”
“Karena mereka merasa dirugikan.”
Ita langsung menjawab,
“Tapi aku tidak menulis sesuatu yang tidak benar.”
Raka menarik napas.
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa harus diturunkan?”
“Karena masalahnya bukan hanya benar atau salah.”
Ita terdiam.
Raka melanjutkan,
“Kalau pihak yang disebut merasa keberatan, kita harus menyelesaikannya dulu.”
Ita merasa tidak nyaman.
“Aku merasa tulisanku disalahpahami.”
Raka mengangguk.
“Mungkin memang begitu.”
“Tapi kenapa seolah-olah aku yang salah?”
“Tidak ada yang mengatakan kamu salah.”
Raka kemudian berkata,
“Kita harus hati-hati. Ini menyangkut hubungan KKN dengan pihak lain.”
Kalimat itu membuat Ita terdiam.
Ita Merasa Terpojok
Setelah Raka pergi, Ita duduk di depan laptop.
Ia membuka berita tersebut.
Matanya terpaku pada kalimat yang dipersoalkan.
Ia membacanya berkali-kali.
“Di mana salahnya?”
Dedi duduk di sampingnya.
“Mungkin bukan salah.”
“Lalu?”
“Masalahnya cara orang membacanya.”
Ita menatap Dedi.
“Aku menulis berdasarkan fakta.”
“Aku tahu.”
“Aku tidak bermaksud menyudutkan siapa pun.”
“Aku juga tahu.”
Ita mulai kesal.
“Lalu kenapa semua orang mempermasalahkannya?”
Dedi tidak langsung menjawab.
Ia kemudian berkata,
“Karena ketika tulisan sudah dipublikasikan, kita tidak lagi punya kendali penuh terhadap cara orang membacanya.”
Ita terdiam.
Kalimat itu mengingatkannya pada pembicaraan mereka sebelumnya.
Tentang foto.
Tentang persepsi.
Sekarang ia mengalaminya melalui tulisan.
Satu Kalimat yang Berbeda Makna
Rama kemudian duduk bersama mereka.
Ia membaca paragraf yang dipersoalkan.
“Kalau saya membaca sebagai orang biasa, saya bisa memahami maksud Ita.”
Ita mengangguk.
“Tapi?”
“Tapi kalau saya berada di posisi instansi yang disebut, mungkin saya juga merasa kalimat ini seperti menyatakan bahwa kegiatan tersebut sepenuhnya berasal dari mahasiswa.”
Ita kembali membaca.
Ia mulai memahami.
Kalimat tersebut memang tidak salah secara langsung.
Namun urutan informasi membuat seolah-olah pihak tertentu memiliki peran lebih besar atau lebih kecil dari kenyataan.
Ita menarik napas.
“Berarti masalahnya bukan fakta.”
Dedi menjawab,
“Bisa jadi masalahnya sudut penyampaian.”
Rama menambahkan,
“Dan konteks.”
Ita mengangguk perlahan.
Berita Bukan Hanya Kumpulan Fakta
Ita membuka catatan.
Ia menulis:
Fakta.
Kemudian di bawahnya:
Konteks.
Lalu:
Sudut pandang.
Kemudian:
Pilihan kata.
Ia memandang tulisan tersebut.
Selama ini ia berpikir bahwa selama semua fakta benar, berita sudah aman.
Sekarang ia memahami bahwa berita memiliki lapisan lain.
Fakta harus benar.
Namun fakta juga harus ditempatkan pada konteks yang tepat.
Kata-kata harus dipilih dengan hati-hati.
Pihak yang terlibat harus disebut secara proporsional.
Pernyataan harus jelas siapa yang mengucapkannya.
Dan yang paling penting—
jangan membuat pembaca menarik kesimpulan yang berbeda dari keadaan sebenarnya.
Mereka Memutuskan Klarifikasi
Dedi kemudian berkata,
“Kita jangan memperdebatkan siapa yang benar.”
Ita menatapnya.
“Lalu?”
“Kita temui pihak terkait.”
Rama mengangguk.
“Jelaskan maksud tulisan.”
“Kalau memang ada bagian yang kurang tepat, kita perbaiki.”
Ita diam.
Ia sebenarnya masih merasa tidak nyaman.
Namun akhirnya mengangguk.
“Baik.”
Mereka kemudian menghubungi pihak terkait.
Mereka meminta waktu untuk bertemu.
Bukan untuk membela diri.
Bukan untuk mencari siapa yang salah.
Tetapi untuk menjelaskan dan mendengarkan.
Pertemuan Klarifikasi
Pertemuan berlangsung di sebuah ruangan sederhana.
Ita membawa naskah asli.
Dedi membawa dokumentasi.
Rama membawa materi visual.
Perwakilan instansi terkait juga hadir.
Suasana awal cukup kaku.
Ita membuka pembicaraan.
“Pertama-tama, saya meminta maaf jika tulisan kami menimbulkan kesan yang berbeda dari maksud sebenarnya.”
Perwakilan instansi mengangguk.
“Kami tidak mempermasalahkan kegiatan atau mahasiswa.”
“Baik.”
“Yang kami khawatirkan adalah kesan bahwa peran kami tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi.”
Ita mengangguk.
“Saya memahami.”
Ia kemudian membuka naskah.
“Boleh saya tahu bagian mana yang menurut Bapak/Ibu paling bermasalah?”
Perwakilan tersebut menunjuk kalimat tertentu.
Ita membacanya.
Kemudian diam.
Setelah mendengarkan penjelasan pihak terkait, ia mulai memahami persoalannya.
Belajar Mendengarkan dari Sisi yang Berbeda
Ita kemudian berkata,
“Kalau saya membaca dari sudut penulis, saya melihat kalimat ini sebagai penjelasan kegiatan.”
Ia berhenti.
“Tapi setelah mendengar penjelasan Bapak/Ibu, saya memahami bahwa kalimat tersebut bisa ditafsirkan berbeda.”
Perwakilan instansi mengangguk.
“Itu yang kami maksud.”
Dedi kemudian berkata,
“Berarti kita tidak perlu memperdebatkan apakah berita itu benar atau salah.”
“Betul.”
“Yang perlu kita pastikan adalah apakah berita tersebut menggambarkan kejadian secara utuh.”
Perwakilan itu tersenyum.
“Ya.”
Rama kemudian membuka desain publikasi.
“Bagaimana dengan foto dan desainnya?”
Mereka memeriksa bersama.
Ternyata tidak ada masalah pada foto.
Namun mereka sepakat bahwa keterangan foto perlu diperjelas.
Berita Diperbaiki
Setelah mendapatkan penjelasan, Ita membuka laptop.
Ia mengubah beberapa bagian.
Bukan karena seluruh tulisan sebelumnya salah.
Tetapi karena ada kalimat yang dapat dibuat lebih jelas.
Ia menambahkan konteks.
Memperjelas peran masing-masing pihak.
Mengubah beberapa kata yang terlalu umum.
Memperbaiki susunan paragraf.
Kemudian ia membaca ulang.
Dedi memeriksa.
Rama memeriksa.
Pihak terkait juga melihat bagian yang menyangkut mereka.
Akhirnya mereka sepakat.
Berita tersebut diperbarui.
Keterangan visual juga diperbaiki.
Setelah semuanya selesai, pihak terkait mengatakan,
“Sekarang sudah lebih jelas.”
Ita mengangguk.
“Terima kasih sudah memberikan klarifikasi.”
Ita Tidak Lagi Merasa Kalah
Setelah keluar dari ruangan, Ita berjalan bersama Dedi dan Rama.
Ia tidak terlihat sedih lagi.
Justru terlihat lebih tenang.
Rama bertanya,
“Masih merasa tulisanmu disalahpahami?”
Ita tersenyum.
“Masih.”
Rama tertawa.
“Terus?”
“Tapi sekarang aku paham kenapa.”
Dedi menatapnya.
“Apa?”
Ita menjawab,
“Karena penulis melihat apa yang ingin dia sampaikan.”
Ia berhenti sejenak.
“Pembaca melihat apa yang tertulis.”
Dedi mengangguk.
“Dan pihak yang disebut melihat bagaimana dirinya digambarkan.”
Rama menambahkan,
“Berarti tiga orang bisa membaca satu kalimat dengan tiga pemahaman berbeda.”
Ita tersenyum.
“Nah.”
Sebuah Pelajaran Penting
Malam itu Ita kembali ke meja PDD.
Ia membuka buku catatan.
Kemudian menulis:
“Berita bukan hanya soal menulis apa yang terjadi.”
Ia berhenti.
Kemudian melanjutkan:
“Berita juga tentang memastikan bagaimana informasi itu dipahami.”
Dedi membaca.
“Bagus.”
Rama menambahkan,
“Tambahkan satu lagi.”
“Apa?”
“Kalau ragu, jangan buru-buru publikasikan.”
Ita tertawa.
“Setuju.”
Mereka kemudian membuat aturan baru untuk PDD.
Pemeriksaan Berita Sebelum Publikasi
Pertama, periksa fakta.
Kedua, periksa nama dan jabatan.
Ketiga, periksa peran setiap pihak yang terlibat.
Keempat, periksa kutipan dan sumber pernyataan.
Kelima, periksa apakah ada kalimat yang dapat ditafsirkan ganda.
Keenam, periksa foto dan keterangan foto.
Ketujuh, jika menyangkut pihak eksternal, lakukan konfirmasi bila diperlukan.
Kedelapan, jangan mempublikasikan berita dalam keadaan terburu-buru hanya karena mengejar kecepatan.
Dedi membaca daftar itu.
“Ini akan membuat kita lebih lambat.”
Ita menjawab,
“Tidak masalah.”
Rama tersenyum.
“Lebih baik lambat beberapa menit daripada memperbaiki masalah berhari-hari.”
Kecepatan Bukan Segalanya
Sejak kejadian tersebut, Ita mulai mengubah kebiasaannya.
Jika sebuah berita selesai ditulis, ia tidak langsung mempublikasikannya.
Ia membaca kembali.
Kemudian memberikan kepada Dedi.
Dedi memeriksa foto dan fakta visual.
Rama memeriksa desain dan keterangan gambar.
Jika ada pihak luar yang disebut secara khusus, mereka memastikan informasinya benar.
Kadang proses tersebut membuat publikasi sedikit lebih lambat.
Namun mereka merasa lebih aman.
Mereka mulai memahami bahwa kecepatan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan PDD.
Berita yang cepat tetapi menimbulkan masalah bukanlah keberhasilan.
Foto yang menarik tetapi salah konteks bukanlah keberhasilan.
Desain yang indah tetapi mengandung informasi keliru juga bukan keberhasilan.
Keberhasilan PDD adalah ketika informasi dapat disampaikan dengan cepat, menarik, akurat, dan bertanggung jawab.
Raka Memberikan Apresiasi
Beberapa hari kemudian, Raka kembali menemui mereka.
“Aku sudah mendapat kabar dari pihak terkait.”
Ita sedikit tegang.
“Bagaimana?”
“Mereka menerima perbaikan berita.”
Ita mengangguk lega.
Raka kemudian tersenyum.
“Justru saya mengapresiasi cara kalian menyelesaikannya.”
Dedi bertanya,
“Karena kami memperbaiki?”
“Bukan hanya itu.”
Raka menatap mereka.
“Kalian mau datang dan melakukan klarifikasi.”
Ia kemudian berkata,
“Banyak orang ketika dikritik langsung defensif.”
Ita tersenyum.
“Awalnya saya juga begitu.”
Raka tertawa.
“Tapi akhirnya kalian mau mendengarkan.”
Ia kemudian menambahkan,
“Itu yang penting.”
Ketika Kritik Menjadi Guru
Malam itu, Ita kembali membaca berita yang telah diperbaiki.
Ia menyadari sesuatu.
Kesalahan kecil ternyata bisa menjadi guru yang besar.
Ia belajar bahwa seorang penulis tidak boleh terlalu mencintai kalimat buatannya sendiri.
Karena ketika sebuah kalimat terbukti dapat menimbulkan masalah, ego harus disingkirkan.
Tujuan utama bukan membuktikan bahwa penulis paling benar.
Tujuan utama adalah memastikan informasi yang disampaikan benar-benar bermanfaat dan tidak merugikan pihak lain.
Ita kemudian menghapus satu kalimat dari catatan lamanya.
Kalimat itu berbunyi:
“Yang penting tulisanku benar.”
Ia menggantinya dengan:
“Yang penting informasi yang kusampaikan benar, jelas, adil, dan dapat dipertanggungjawabkan.”
Tiga Orang, Satu Pelajaran
Dedi menatap Ita.
“Berarti sekarang kita punya tiga aturan besar.”
Rama bertanya,
“Apa saja?”
Dedi menghitung dengan jari.
“Pertama, foto harus menghormati orang.”
Ita menambahkan,
“Kedua, berita harus menghormati fakta.”
Rama kemudian berkata,
“Ketiga, desain harus menghormati pesan.”
Mereka bertiga tersenyum.
Mereka semakin memahami bahwa pekerjaan PDD bukan sekadar keterampilan teknis.
Ada etika di dalamnya.
Ada tanggung jawab.
Ada kepercayaan.
Ada hubungan dengan manusia.
Dan semakin besar kepercayaan yang diberikan kepada mereka, semakin hati-hati mereka harus bekerja.
Sebuah Kesadaran Baru
Malam semakin larut.
Dedi menutup kamera.
Rama menyimpan laptop.
Ita menutup buku catatan.
Sebelum mereka beranjak, Ita berkata,
“Sekarang aku mengerti kenapa Pak Iwan dulu bilang publikasi adalah jembatan.”
Dedi menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena jembatan harus menghubungkan dua sisi.”
Rama mengangguk.
“Kalau jembatannya rusak?”
“Orang-orang yang melewatinya bisa jatuh.”
Dedi tersenyum.
“Berarti berita juga begitu.”
Ita mengangguk.
“Kalau informasinya tidak tepat, hubungan yang kita jembatani bisa terganggu.”
Mereka terdiam.
Di luar, suasana Desa Awan Biru mulai sepi.
Namun di dalam ruang kecil PDD, tiga mahasiswa itu baru saja memahami sesuatu yang sangat penting.
Satu kalimat dapat membangun hubungan.
Satu kalimat juga dapat merusaknya.
Karena itu, sejak hari itu mereka tidak lagi hanya bertanya:
“Apakah berita ini menarik?”
Mereka mulai bertanya:
“Apakah berita ini benar?”
“Apakah berita ini jelas?”
“Apakah berita ini adil?”
Dan yang paling penting:
“Apakah berita ini dapat dipertanggungjawabkan?”
Pertanyaan-pertanyaan itu kelak akan menjadi pedoman mereka ketika menghadapi persoalan yang jauh lebih besar.
Sebab tidak lama kemudian, PDD akan diminta membuat publikasi untuk sebuah kegiatan yang melibatkan banyak pihak sekaligus.
Masing-masing memiliki kepentingan.
Masing-masing ingin ditampilkan.
Masing-masing ingin mendapatkan porsi perhatian.
Dan kali ini, masalahnya bukan lagi satu kalimat.
Masalahnya adalah siapa yang akan mendapat tempat paling besar di dalam cerita.
BAB XII — PDD DAN PERANG DENGAN WAKTU
Semua Acara Terjadi Bersamaan
Hari itu kalender kegiatan KKN Desa Awan Biru terlihat seperti sebuah medan perang.
Sejak pagi, grup percakapan mahasiswa tidak berhenti berbunyi.
Pesan masuk satu demi satu.
Ada yang meminta dokumentasi.
Ada yang mengingatkan jadwal kegiatan.
Ada yang meminta desain poster.
Ada yang meminta video.
Ada yang meminta berita segera dipublikasikan.
Dedi membaca semua pesan itu sambil menghela napas panjang.
Di tangannya terdapat sebuah buku kecil yang kini selalu dibawanya ke mana-mana.
Di dalamnya tertulis jadwal kegiatan.
Namun hari itu, jadwal tersebut hampir tidak masuk akal.
Empat kegiatan.
Empat lokasi.
Waktu yang hampir bersamaan.
Dan anggota PDD hanya tiga orang.
Dedi menatap Ita dan Rama.
“Bagaimana kita membaginya?”
Ita membuka catatan.
“Kalau mengikuti jadwal, pukul delapan ada kegiatan di balai desa.”
Rama menambahkan,
“Pukul delapan tiga puluh ada kegiatan pemuda di lapangan.”
Dedi mengangguk.
“Pukul sembilan ada kegiatan perpustakaan.”
Ita melihat layar telepon.
“Dan pukul sepuluh ada kegiatan bersama masyarakat di dusun sebelah.”
Mereka bertiga saling memandang.
Tidak ada yang langsung berbicara.
Mereka tahu persoalannya.
Mereka tidak mungkin berada di empat tempat sekaligus.
Pagi yang Tidak Memberi Kesempatan Bernapas
Pukul tujuh pagi, Dedi sudah berada di luar posko.
Kamera tergantung di leher.
Telepon di saku.
Baterai cadangan sudah disiapkan.
Kartu memori telah diperiksa.
Ia berangkat menuju balai desa.
Sementara Ita tetap di posko untuk mempersiapkan bahan berita.
Rama menuju lapangan untuk mengambil beberapa dokumentasi awal sekaligus memastikan kebutuhan visual kegiatan pemuda.
Mereka sepakat untuk saling mengirim foto apabila mendapatkan kesempatan.
Namun baru sekitar lima belas menit kegiatan berjalan, telepon Dedi berbunyi.
Pesan dari divisi program.
“Ded, nanti bisa ke lapangan juga? Ada sesi penting.”
Dedi melihat jam.
Kemudian melihat kamera.
Ia menjawab singkat.
“Saya usahakan.”
Belum sempat memasukkan telepon ke saku, pesan lain masuk.
“Jangan lupa foto sambutan di balai desa.”
Dedi menarik napas.
“Baiklah.”
Ia kembali mengangkat kamera.
Empat Kegiatan, Tiga Orang
Di lapangan, Rama juga menghadapi persoalan.
Salah seorang panitia menghampirinya.
“Mas Rama, nanti setelah acara tolong buatkan poster hasil kegiatan.”
Rama tersenyum.
“Poster untuk kapan?”
“Kalau bisa sore.”
Rama terdiam.
“Sore ini?”
“Iya.”
Rama mengangguk.
“Baik.”
Dalam hati ia mulai menghitung.
Video kegiatan.
Foto.
Poster.
Desain untuk publikasi.
Dan malam nanti ia masih harus membantu mengedit video kegiatan lain.
Ia mengusap wajah.
“Sepertinya hari ini panjang.”
Sementara itu, di posko, Ita sedang menyelesaikan berita kegiatan sebelumnya.
Baru dua paragraf selesai, teleponnya berbunyi.
“Ta, berita kegiatan pagi nanti jangan lupa.”
Ita menjawab,
“Iya.”
Beberapa menit kemudian pesan lain masuk.
“Ta, kegiatan perpustakaan juga dibuat berita.”
Ita menatap layar.
Kemudian tertawa kecil.
“Empat kegiatan.”
Ia bergumam sendiri.
“Dan aku cuma satu orang.”
Dedi Mulai Berpindah Tempat
Sekitar pukul sembilan, kegiatan di balai desa selesai.
Dedi segera mengumpulkan peralatan.
Ia melihat hasil foto.
Cukup.
Tidak sempurna.
Tetapi cukup untuk kebutuhan berita.
Ia langsung menuju lapangan.
Motor melaju melewati jalan desa.
Sesampainya di lapangan, kegiatan hampir selesai.
Rama sedang merekam bagian penutup.
Dedi turun.
“Masih ada yang penting?”
Rama menunjuk ke tengah lapangan.
“Wawancara ketua pemuda.”
Dedi mengangguk.
Ia mengambil beberapa foto.
Klik.
Klik.
Klik.
Kemudian ia memotret suasana.
Klik.
Satu foto kelompok.
Klik.
Selesai.
“Ram, aku harus ke perpustakaan.”
Rama melihat jam.
“Sekarang?”
“Iya.”
Rama mengangguk.
“Berangkat.”
Dedi kembali naik motor.
Ia belum sempat membuka telepon.
Ita Menulis di Tengah Perjalanan
Sementara itu Ita juga harus berpindah tempat.
Ia mendapat informasi bahwa kegiatan perpustakaan akan dimulai lebih cepat.
Ia membawa laptop.
Namun karena waktu sempit, ia menulis beberapa bagian berita melalui telepon.
Di perjalanan ia membuka catatan.
Mengetik.
Berhenti.
Memeriksa data.
Mengetik lagi.
Seorang teman yang duduk di sampingnya memperhatikan.
“Kamu nulis terus?”
Ita tersenyum.
“Kalau tidak sekarang, nanti menumpuk.”
“Tidak capek?”
Ita menghela napas.
“Capek.”
“Terus kenapa tetap dikerjakan?”
Ita melihat layar telepon.
“Karena kalau semua menunggu malam, aku tidak akan selesai.”
Ia kembali mengetik.
Namun beberapa menit kemudian ia berhenti.
Ia menyadari bahwa menulis sambil terburu-buru memiliki risiko.
Ia teringat kejadian sebelumnya.
Satu kalimat saja bisa menimbulkan masalah.
Ia akhirnya menghapus beberapa kalimat yang terlalu cepat ditulis.
Kemudian menulis ulang dengan lebih hati-hati.
Rama dan Poster yang Terlambat
Di lapangan, Rama baru selesai mengambil video.
Ia membuka laptop.
Salah seorang panitia mendekat.
“Mas, posternya bisa sekarang?”
Rama menatapnya.
“Sekarang?”
“Iya, sebentar lagi mau dibagikan.”
Rama menahan napas.
“Konsepnya bagaimana?”
“Bebas.”
Rama hampir tertawa.
Kata bebas justru sering menjadi masalah bagi seorang desainer.
“Ukuran?”
“Yang biasa.”
“Warna?”
“Yang bagus.”
“Logo?”
“Pakai yang kemarin.”
Rama mengusap wajah.
“Baik.”
Ia duduk.
Mulai bekerja.
Mencari foto.
Menyesuaikan ukuran.
Memasukkan logo.
Memilih tipografi.
Memeriksa nama kegiatan.
Memeriksa tanggal.
Memeriksa lokasi.
Sementara pesan baru terus masuk.
“Ram, jangan lupa video.”
“Ram, ada desain lain.”
“Ram, kapan selesai?”
Rama akhirnya mengetik:
“Saya kerjakan satu per satu. Mohon ditunggu.”
Ia menekan tombol kirim.
Kemudian kembali bekerja.
Ketika PDD Mulai Dikeluhkan
Menjelang siang, masalah mulai muncul.
Salah satu divisi merasa dokumentasi kegiatan mereka terlalu sedikit.
“Kenapa kegiatan kami cuma dapat beberapa foto?”
Dedi menjelaskan,
“Karena dalam waktu yang sama ada kegiatan lain.”
“Tapi kegiatan kami penting.”
“Saya tahu.”
“Kalau begitu harusnya PDD datang lebih lama.”
Dedi terdiam.
Ia ingin menjelaskan bahwa ia hanya satu orang.
Namun ia tahu penjelasan itu tidak akan menyelesaikan masalah.
Ia kemudian berkata,
“Foto yang ada akan saya pilih sebaik mungkin.”
Mahasiswa tersebut pergi dengan wajah kurang puas.
Dedi berdiri sendiri.
Untuk beberapa saat ia merasa kesal.
Namun kemudian ia sadar.
Masalah sebenarnya bukan karena PDD tidak mau bekerja.
Masalahnya adalah semua orang menganggap kegiatan mereka sebagai kegiatan paling penting.
Dan mereka lupa bahwa PDD memiliki keterbatasan.
Rapat Singkat di Bawah Pohon
Menjelang sore, Dedi, Ita, dan Rama akhirnya bertemu.
Mereka duduk di bawah pohon dekat posko.
Tidak ada meja.
Tidak ada rapat resmi.
Hanya tiga orang yang sama-sama terlihat lelah.
Dedi membuka buku jadwal.
“Kita tidak bisa begini terus.”
Ita mengangguk.
“Setiap divisi menganggap kegiatannya harus mendapat dokumentasi penuh.”
Rama menambahkan,
“Dan semua desain dianggap harus selesai hari itu juga.”
Dedi melihat mereka.
“Kita harus membuat prioritas.”
Ita bertanya,
“Bagaimana?”
Dedi menulis di buku.
Prioritas pertama: kegiatan utama yang melibatkan pemerintah desa dan masyarakat.
Prioritas kedua: kegiatan yang memiliki dokumentasi resmi atau seremonial.
Prioritas ketiga: kegiatan internal mahasiswa.
Rama mengangguk.
“Masuk akal.”
Ita menambahkan,
“Dan setiap divisi harus memberi informasi minimal satu hari sebelumnya.”
Dedi menulis lagi.
“Kalau mendadak?”
Rama menjawab,
“Kalau mendadak, jangan berharap hasilnya sama seperti kegiatan yang sudah dijadwalkan.”
Mereka bertiga tertawa kecil.
PDD Membuat Sistem Baru
Malam itu mereka membuat sistem pembagian kerja.
Tidak lagi berdasarkan siapa yang paling cepat datang.
Tidak lagi berdasarkan siapa yang paling dekat dengan lokasi.
Tetapi berdasarkan kemampuan.
Pembagian Tugas PDD
Dedi — Dokumentasi Lapangan
Bertanggung jawab terhadap foto utama, momen penting, dokumentasi tokoh, kegiatan masyarakat, dan dokumentasi resmi.
Ita — Publikasi dan Narasi
Bertanggung jawab mengumpulkan data, menulis berita, membuat caption, mengelola informasi, dan melakukan pengecekan fakta.
Rama — Desain dan Video
Bertanggung jawab membuat poster, materi visual, video pendek, editing dokumentasi, dan kebutuhan grafis.
Namun mereka juga membuat satu aturan penting.
Jika salah satu anggota berhalangan, anggota lain membantu sesuai kemampuan.
Tidak boleh ada pekerjaan yang berhenti hanya karena satu orang sedang berada di tempat lain.
Mereka Mulai Belajar Mengandalkan Orang Lain
Hari berikutnya, Dedi tidak lagi memaksakan diri mendatangi semua kegiatan.
Ia mulai meminta bantuan anggota lain.
“Kalau ada kegiatan di perpustakaan, tolong ambil beberapa foto menggunakan telepon.”
“Ambil foto suasana, bukan hanya foto orang berdiri.”
“Pastikan ada foto pembukaan, kegiatan inti, dan penutup.”
Ita kemudian memberikan panduan sederhana.
“Kalau ada narasumber, catat nama lengkap dan jabatannya.”
“Kalau ada kegiatan, catat waktu dan tempat.”
“Kalau ada angka atau data, jangan kira-kira.”
Rama juga memberikan contoh.
“Kalau mengambil video, jangan terlalu banyak bergerak.”
“Ambil beberapa gambar pendek.”
“Jangan gunakan zoom berlebihan.”
Perlahan, anggota KKN lainnya mulai membantu.
PDD tidak lagi menjadi satu-satunya sumber dokumentasi.
Mereka mulai menjadi koordinator dokumentasi.
Malam yang Panjang
Namun hari itu belum selesai.
Pukul delapan malam, Rama masih di depan laptop.
Video belum selesai.
Pukul sembilan, Ita masih memperbaiki berita.
Pukul sepuluh, Dedi masih memilih foto.
Pukul sebelas, Rama masih mengedit.
Pukul dua belas malam, Ita mengirim pesan.
“Berita sudah selesai.”
Rama menjawab:
“Video tinggal render.”
Dedi menulis:
“Foto sudah masuk folder.”
Beberapa menit kemudian Rama mengirim pesan.
“Video selesai.”
Ita melihat jam.
00.47.
Ia tersenyum kecil.
“Selamat.”
Rama membalas,
“Besok jangan ada empat kegiatan lagi.”
Dedi menjawab,
“Jangan berharap.”
Mereka bertiga tertawa melalui grup percakapan.
Walaupun lelah, mereka tahu satu hal.
Hari itu mereka berhasil melewati semuanya.
Tubuh Mulai Menagih Istirahat
Namun keberhasilan itu memiliki harga.
Keesokan paginya, Rama bangun dengan mata merah.
Ita merasa kepalanya berat.
Dedi bahkan sempat lupa membawa baterai cadangan.
Mereka mulai menyadari bahwa bekerja keras tanpa mengatur waktu juga dapat menjadi masalah.
PDD membutuhkan konsentrasi.
Fotografi membutuhkan ketelitian.
Menulis membutuhkan pikiran yang jernih.
Desain membutuhkan kreativitas.
Jika tubuh terlalu lelah, kesalahan akan semakin mudah terjadi.
Dedi berkata,
“Kita harus belajar istirahat.”
Rama tertawa.
“Kalimat paling sulit selama KKN.”
Ita mengangguk.
“Tapi paling penting.”
Bukan Berarti Harus Selalu Ada
Sejak saat itu, mereka mulai memahami bahwa PDD tidak harus hadir di setiap detik setiap kegiatan.
Yang penting adalah momen utama tidak terlewatkan.
Dedi mulai membuat daftar:
Pembukaan.
Kegiatan inti.
Interaksi masyarakat.
Tokoh atau narasumber.
Hasil kegiatan.
Penutupan.
Jika semua bagian itu sudah terdokumentasi, ia dapat berpindah ke kegiatan lain.
Ita juga membuat daftar data wajib.
Nama kegiatan.
Tanggal.
Lokasi.
Penyelenggara.
Peserta.
Tujuan.
Hasil.
Pernyataan penting.
Dengan sistem tersebut, pekerjaannya menjadi lebih cepat.
Rama juga membuat template desain.
Bukan berarti semua desain dibuat sama.
Namun struktur dasar dapat digunakan kembali.
Dengan demikian, ia tidak perlu memulai dari halaman kosong setiap kali ada permintaan baru.
Mereka Mulai Mengerti Arti Efisiensi
PDD akhirnya memahami bahwa bekerja keras tidak selalu berarti bekerja lebih lama.
Kadang bekerja keras berarti mampu bekerja lebih teratur.
Mampu menentukan prioritas.
Mampu berkata tidak pada permintaan yang tidak mungkin dipenuhi.
Mampu meminta bantuan.
Mampu mempercayai anggota lain.
Dan mampu menerima bahwa tidak semua kegiatan dapat mendapatkan porsi dokumentasi yang sama.
Dedi pernah berpikir bahwa fotografer yang baik adalah fotografer yang selalu hadir.
Kini ia mengubah pikirannya.
Fotografer yang baik adalah orang yang tahu kapan harus hadir dan apa yang harus diabadikan.
Ita juga berubah.
Penulis yang baik bukan orang yang paling cepat membuat berita.
Penulis yang baik adalah orang yang mampu mengolah informasi dengan tepat meskipun waktunya terbatas.
Rama pun demikian.
Desainer yang baik bukan orang yang membuat desain sebanyak-banyaknya.
Desainer yang baik adalah orang yang mampu membuat pesan tersampaikan dengan efektif.
Kalimat yang Mereka Ingat
Suatu malam, setelah semua pekerjaan selesai, mereka duduk di teras posko.
Dedi memandang langit.
Ita meminum air.
Rama menyandarkan kepala ke dinding.
Dedi berkata,
“Kita benar-benar bekerja lebih banyak dari yang kelihatan.”
Ita tersenyum.
“Karena orang hanya melihat hasil akhirnya.”
Rama menambahkan,
“Orang melihat foto yang sudah jadi.”
“Bukan ratusan foto yang kita pilih.”
Ita melanjutkan,
“Orang membaca berita yang sudah selesai.”
“Bukan proses mencari datanya,” kata Rama.
Dedi mengangguk.
“Orang melihat video tiga menit.”
“Bukan enam jam proses edit,” kata Rama.
Mereka tertawa.
Kemudian Ita berkata,
“Sekarang aku paham.”
Dedi bertanya,
“Apa?”
Ita menjawab,
“Bekerja di balik layar bukan berarti bekerja lebih sedikit.”
Ia berhenti sejenak.
“Kadang justru bekerja lebih banyak agar orang lain bisa melihat hasilnya dengan sederhana.”
Tidak ada yang membantah.
Karena mereka semua merasakan hal yang sama.
PDD Mulai Dipercaya
Perlahan, anggota KKN lainnya mulai memahami keterbatasan dan cara kerja PDD.
Mereka mulai mengirim jadwal lebih awal.
Mereka mulai memberikan data yang lengkap.
Mereka mulai meminta desain dengan brief yang jelas.
Mereka mulai mengirim foto tambahan ketika PDD tidak dapat hadir.
Dan yang paling penting—
mereka mulai menghargai pekerjaan yang sebelumnya dianggap sederhana.
“Besok kegiatan jam delapan, ya. Sudah kami kirim rundown.”
“Ini data narasumbernya.”
“Ini foto tambahan dari panitia.”
“Kalau ada yang kurang, kabari.”
Kalimat-kalimat sederhana tersebut membuat PDD merasa bahwa perjuangan mereka mulai dipahami.
Namun Waktu Belum Selesai Menguji Mereka
Mereka mengira setelah membuat sistem, semuanya akan lebih mudah.
Ternyata tidak.
Beberapa hari kemudian, sebuah kegiatan besar direncanakan.
Kegiatan tersebut akan melibatkan mahasiswa KKN, pemerintah desa, beberapa instansi, pemuda, dan masyarakat.
Semua pihak ingin kegiatan itu berhasil.
Semua pihak juga ingin dokumentasi yang lengkap.
Bahkan ada permintaan agar seluruh kegiatan dibuat dalam bentuk:
berita, foto, poster, video, dan dokumentasi khusus.
Dedi membaca daftar tersebut.
Ita melihat jadwal.
Rama melihat kebutuhan desain.
Mereka bertiga terdiam.
Kemudian Rama berkata,
“Ini lebih besar dari yang kemarin.”
Dedi mengangguk.
Ita menarik napas.
“Berarti sistem kita akan diuji.”
Dedi tersenyum.
“Bagus.”
“Bagus bagaimana?”
“Kalau sistem ini berhasil menghadapi kegiatan sebesar itu, berarti kita benar-benar sudah berkembang.”
Ita dan Rama saling memandang.
Mereka tidak tahu apakah kalimat Dedi itu merupakan optimisme atau justru pertanda masalah baru.
Namun satu hal sudah pasti.
Perjalanan PDD belum selesai.
Dan perang mereka dengan waktu baru saja memasuki babak berikutnya.
BAB XIII — KETIKA TEMAN SENDIRI MENJADI SUMBER KONFLIK
Antara Solidaritas dan Profesionalitas
Sejak sistem kerja PDD mulai tertata, hubungan Dedi, Ita, dan Rama dengan mahasiswa KKN lainnya semakin baik.
Mereka mulai saling memahami.
Mahasiswa lain mulai mengetahui bahwa PDD bukan sekadar orang yang membawa kamera, laptop, atau membuat poster.
PDD memiliki jadwal.
PDD memiliki prioritas.
PDD memiliki aturan.
Namun semakin dekat hubungan mereka dengan anggota kelompok, semakin besar pula tantangan yang mereka hadapi.
Ada kalanya hubungan pertemanan justru membuat pekerjaan menjadi lebih sulit.
Karena ketika yang meminta adalah orang yang tidak dikenal, menolak mungkin mudah.
Tetapi ketika yang meminta adalah sahabat sendiri, persoalannya menjadi berbeda.
Dan itulah yang terjadi pada suatu sore.
Sebuah Permintaan dari Teman
Sore itu Ita sedang menyelesaikan berita kegiatan desa.
Rama berada di sampingnya sambil mengedit video.
Dedi baru saja kembali dari lapangan.
Telepon Ita berbunyi.
Sebuah pesan masuk dari salah seorang teman dekat mereka, Fajar.
“Ta, bisa bantu posting kegiatan aku besok?”
Ita membalas:
“Kegiatan apa?”
Fajar mengirim beberapa foto.
Ita melihatnya.
Itu adalah kegiatan pribadi yang dilakukan Fajar bersama beberapa temannya di luar agenda KKN.
Ita membaca pesan berikutnya.
“Sekalian dibuatkan berita dan poster ya.”
Ita terdiam.
Ia membaca pesan tersebut sekali lagi.
Kemudian menoleh kepada Dedi.
“Ded.”
“Apa?”
“Ini masuk kegiatan KKN?”
Dedi melihat telepon Ita.
“Sepertinya tidak.”
Rama ikut melihat.
“Bukan.”
Ita menghela napas.
“Berarti tidak bisa dipublikasikan melalui kanal PDD.”
Rama mengangguk.
“Kalau memang bukan kegiatan KKN atau bagian dari program kerja, seharusnya tidak.”
Ita kembali melihat pesan Fajar.
Masalahnya bukan pada permintaannya.
Masalahnya adalah orang yang meminta.
Fajar adalah teman mereka.
Mereka sering bekerja bersama.
Bahkan beberapa kali Fajar membantu PDD mengambil foto ketika mereka tidak bisa hadir.
Menolak permintaan itu terasa tidak enak.
Ita Menyampaikan Penolakan
Setelah berpikir beberapa saat, Ita akhirnya membalas.
“Jar, maaf. Kalau kegiatan pribadi, kami tidak bisa mempublikasikannya sebagai konten PDD KKN.”
Tidak lama kemudian balasan masuk.
“Kenapa?”
Ita menjelaskan.
“Karena PDD fokus pada kegiatan KKN, program kerja, kegiatan desa, dan aktivitas yang memang berkaitan dengan pengabdian.”
Fajar membaca pesan tersebut.
Beberapa menit tidak ada balasan.
Kemudian muncul satu pesan.
“Cuma bantu posting saja kok.”
Ita kembali mengetik.
“Aku paham. Tapi kalau kami mulai menerima semua kegiatan pribadi, nanti batasnya tidak jelas.”
Balasan berikutnya lebih singkat.
“Ya sudah.”
Ita menatap layar.
Dua kata itu terasa berbeda.
Bukan sekadar jawaban.
Seolah ada kekecewaan di baliknya.
Suasana Mulai Berubah
Keesokan harinya, Fajar tidak banyak berbicara dengan mereka.
Saat bertemu di posko, ia hanya mengangguk.
Biasanya ia sering bercanda dengan Rama.
Hari itu tidak.
Biasanya ia meminta bantuan Dedi untuk mengambil foto.
Hari itu tidak.
Bahkan ketika Ita menyapanya, jawabannya hanya singkat.
“Ya.”
Ita mulai merasa tidak nyaman.
Ia kemudian berkata kepada Dedi,
“Kayaknya dia marah.”
Dedi menjawab,
“Mungkin kecewa.”
“Aku salah?”
Dedi diam.
“Aku cuma menjalankan aturan.”
“Aku tahu.”
“Kalau aku turuti, nanti yang lain juga minta.”
Dedi mengangguk.
“Benar.”
“Tapi kalau aku menolak, hubungan kita jadi begini.”
Dedi tidak langsung menjawab.
Ia sendiri mulai merasakan dilema yang sama.
Dedi Berada di Tengah
Malam itu Fajar menghubungi Dedi.
“Ded.”
“Iya?”
“Kenapa Ita sekarang berubah?”
Dedi terdiam.
“Dia tidak berubah.”
“Terus kenapa kegiatan aku tidak boleh dipublikasikan?”
Dedi menarik napas.
“Karena itu bukan kegiatan KKN.”
“Kan cuma posting.”
“Masalahnya bukan sekadar posting.”
Fajar terdiam.
Dedi melanjutkan,
“Kalau satu orang boleh, nanti yang lain juga merasa boleh.”
Fajar kemudian berkata,
“Berarti teman sendiri saja tidak bisa dibantu?”
Kalimat itu membuat Dedi terdiam.
Ia tahu pertanyaan itu tidak mudah dijawab.
Karena dalam persahabatan, membantu teman adalah hal yang wajar.
Namun dalam pekerjaan, ada batas yang harus dijaga.
Dedi akhirnya berkata,
“Bukan tidak mau membantu.”
“Terus?”
“Kita bisa bantu dalam batas yang tidak mengatasnamakan PDD KKN.”
Fajar tidak menjawab.
Kemudian percakapan berakhir.
Persahabatan atau Profesionalitas?
Setelah percakapan itu, Dedi kembali ke posko.
Ia terlihat murung.
Rama bertanya,
“Ada apa?”
“Fajar menghubungi aku.”
“Masih soal tadi?”
Dedi mengangguk.
Ita yang sedang membaca berita ikut mendengarkan.
“Dia bilang apa?”
Dedi menceritakannya.
Kemudian berkata,
“Aku jadi bingung.”
“Bingung apa?” tanya Ita.
“Kalau kita terlalu kaku, nanti orang menganggap kita berubah.”
Rama menatap Dedi.
“Berubah bagaimana?”
“Dulu kita bisa bantu teman tanpa banyak aturan.”
Ita menjawab,
“Karena dulu kita belum punya tanggung jawab sebesar sekarang.”
Dedi mengangguk.
“Tapi kita juga tidak mau kehilangan teman.”
Ita terdiam.
Rama masih diam.
Pertanyaan itu sebenarnya juga ada di dalam pikiran mereka.
Seberapa jauh profesionalitas harus dipertahankan ketika berhadapan dengan teman sendiri?
Ketika Aturan Terasa Menyakitkan
Beberapa hari berikutnya, hubungan mereka dengan Fajar semakin renggang.
Tidak ada pertengkaran.
Tidak ada kata-kata kasar.
Justru itu yang membuat suasananya terasa lebih berat.
Fajar hanya menjauh.
Ia tidak lagi duduk bersama mereka.
Tidak lagi ikut bercanda.
Jika membutuhkan sesuatu, ia meminta kepada orang lain.
Ita merasa bersalah.
Suatu malam ia berkata,
“Mungkin aku terlalu keras.”
Dedi menatapnya.
“Kamu tidak salah.”
“Tapi dia teman kita.”
“Benar.”
“Kalau begini terus?”
Dedi tidak menjawab.
Rama yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.
“Kalau dia marah karena kita menjaga aturan, apakah berarti kita harus melanggar aturan supaya dia tidak marah?”
Ita menggeleng.
“Tidak.”
Dedi juga menggeleng.
Namun wajahnya tetap terlihat berat.
Rama Mulai Bicara Tegas
Rama kemudian menutup laptop.
Ia menatap Dedi dan Ita.
“Kalian terlalu memikirkan apakah dia marah.”
Dedi mengerutkan dahi.
“Memangnya salah?”
“Tidak.”
Rama berhenti.
“Tapi kita harus memikirkan sesuatu yang lebih besar.”
“Apa?”
“Kepercayaan.”
Ita memandangnya.
Rama melanjutkan,
“Kalau kita menerima kegiatan pribadi satu orang karena dia teman kita, lalu menolak orang lain yang bukan teman dekat, apa yang terjadi?”
Dedi menjawab pelan,
“PDD dianggap pilih kasih.”
“Betul.”
Rama kemudian berkata,
“Kalau PDD kehilangan prinsip karena takut kehilangan teman, lalu apa yang tersisa dari PDD?”
Ruangan mendadak sunyi.
Kalimat itu terasa sederhana.
Namun menghantam mereka bertiga.
Tidak Ada yang Langsung Menjawab
Dedi menunduk.
Ita memandang meja.
Rama kembali membuka laptop, tetapi tidak langsung bekerja.
Mereka masing-masing memikirkan kalimat tersebut.
PDD bukan milik Dedi.
Bukan milik Ita.
Bukan milik Rama.
PDD adalah bagian dari tugas KKN.
Mereka membawa nama kelompok.
Mereka berhubungan dengan pemerintah desa.
Mereka berhubungan dengan masyarakat.
Setiap keputusan mereka dapat memengaruhi kepercayaan orang lain.
Jika aturan hanya berlaku ketika nyaman, maka aturan sebenarnya tidak ada.
Ita Menyadari Kesalahannya
Ita akhirnya berkata,
“Aku tahu sekarang masalahnya.”
Dedi menatapnya.
“Apa?”
“Aku menganggap penolakan itu berarti kehilangan teman.”
Rama mengangguk.
“Padahal?”
“Padahal kita bisa menolak permintaannya tanpa menolak orangnya.”
Dedi tersenyum.
“Itu bedanya.”
Ita mengangguk.
“Kita bisa tetap berteman.”
“Tanpa harus menerima semua permintaannya.”
Rama tersenyum.
“Nah.”
Mencari Jalan Tengah
Keesokan harinya, Ita menemui Fajar.
Ia tidak membawa laptop.
Tidak membawa kamera.
Tidak membawa catatan.
Ia hanya datang sebagai seorang teman.
“Jar.”
Fajar menoleh.
“Iya?”
“Aku mau bicara.”
Fajar diam.
Ita melanjutkan,
“Kalau kemarin aku membuat kamu merasa tidak dibantu, aku minta maaf.”
Fajar mengangguk pelan.
“Aku cuma merasa kalian sekarang terlalu serius.”
Ita tersenyum.
“Mungkin memang terlihat begitu.”
“Dulu kalian mau bantu.”
“Sekarang juga mau.”
“Terus kenapa kemarin tidak?”
“Karena kami tidak bisa menggunakan kanal PDD KKN untuk kegiatan pribadi.”
Fajar diam.
Ita kemudian berkata,
“Tapi kalau kamu mau, aku bisa bantu memberi masukan tentang cara membuat beritanya.”
Fajar menatapnya.
“Tanpa dipublikasikan?”
“Kalau kamu ingin mempublikasikannya di akun pribadi, aku bisa bantu memperbaiki narasinya.”
Fajar tersenyum tipis.
“Boleh.”
Ita tersenyum.
“Berarti kita tetap teman?”
Fajar tertawa kecil.
“Memangnya pernah tidak?”
Ita ikut tertawa.
Dedi Belajar Mengambil Sikap
Setelah mengetahui masalah tersebut selesai, Dedi merasa lega.
Namun ia juga menyadari sesuatu.
Selama ini ia sering berusaha menjaga semua orang tetap senang.
Ia takut menolak.
Takut dianggap tidak membantu.
Takut dianggap berubah.
Namun menjadi koordinator PDD ternyata tidak bisa hanya mengandalkan keinginan untuk menyenangkan semua orang.
Kadang ia harus mengatakan tidak.
Bukan karena tidak peduli.
Tetapi karena ia bertanggung jawab.
Dedi kemudian membuat satu prinsip pribadi:
“Menjaga hubungan tidak selalu berarti menyetujui semua permintaan.”
Kadang menjaga hubungan justru berarti berani menjelaskan batas dengan jujur.
Rama Menjadi Penengah
Rama juga menyadari bahwa ucapannya malam itu cukup penting.
Ia bukan orang yang paling banyak bicara dalam tim.
Namun ketika berbicara, ia biasanya melihat persoalan dari sisi yang berbeda.
Ia berkata kepada Dedi,
“Kalau kita ingin orang menghargai PDD, kita harus lebih dulu menghargai pekerjaan kita sendiri.”
Dedi mengangguk.
Ita menambahkan,
“Dan kalau kita ingin aturan dihormati, kita harus konsisten.”
Rama tersenyum.
“Berarti kita sudah kembali?”
Dedi tertawa.
“Kita tidak pernah benar-benar pergi.”
Ita ikut tertawa.
“Cuma sempat tersesat.”
Membuat Batas antara Teman dan Tugas
Sejak kejadian tersebut, mereka membuat aturan baru.
Bukan hanya untuk Fajar.
Tetapi untuk semua anggota KKN.
Prinsip PDD dalam Membantu Teman
Pertama, PDD boleh membantu teman memberikan saran.
Kedua, PDD dapat membantu memperbaiki tulisan atau desain secara pribadi jika memungkinkan.
Ketiga, kanal resmi PDD hanya digunakan untuk kegiatan yang memiliki hubungan dengan KKN, program kerja, desa, atau kegiatan yang memang mendapat persetujuan.
Keempat, tidak boleh ada perlakuan khusus hanya karena hubungan pertemanan.
Kelima, penolakan terhadap sebuah permintaan tidak boleh dianggap sebagai penolakan terhadap hubungan pertemanan.
Mereka menyepakati semuanya.
Bagi mereka, aturan tersebut bukan tembok.
Justru menjadi pagar agar hubungan pertemanan dan tanggung jawab tidak saling merusak.
Ketika PDD Mulai Dipercaya
Beberapa hari kemudian, seorang mahasiswa lain meminta agar kegiatannya dipublikasikan.
Dedi bertanya,
“Ini kegiatan KKN?”
“Bukan. Kegiatan pribadi.”
Dedi menjelaskan aturan.
Mahasiswa tersebut mengangguk.
“Baik. Kalau begitu saya buat di akun pribadi.”
Tidak ada perdebatan.
Tidak ada rasa tersinggung.
Dedi merasa lega.
Ia menyadari bahwa konsistensi membuat orang perlahan memahami batas.
Mereka tidak perlu menjelaskan hal yang sama berkali-kali.
Karena semua orang tahu bahwa aturan tersebut berlaku untuk siapa pun.
Persahabatan yang Lebih Dewasa
Hubungan Dedi, Ita, Rama, dan Fajar pun kembali normal.
Namun ada sesuatu yang berubah.
Mereka menjadi lebih dewasa dalam memahami persahabatan.
Fajar tidak lagi melihat penolakan PDD sebagai penolakan terhadap dirinya.
Dedi tidak lagi merasa harus menyenangkan semua orang.
Ita tidak lagi terlalu takut mengatakan tidak.
Rama semakin yakin bahwa kreativitas tanpa prinsip dapat kehilangan arah.
Mereka mulai memahami bahwa persahabatan yang sehat tidak dibangun dari kebiasaan selalu mengatakan “iya”.
Persahabatan juga dibangun dari kemampuan untuk saling memahami ketika seseorang mengatakan:
“Maaf, untuk yang satu ini kami tidak bisa.”
Sebuah Percakapan di Malam Hari
Malam itu mereka duduk bertiga di depan posko.
Dedi berkata,
“Kalau dipikir-pikir, masalahnya sederhana.”
Ita bertanya,
“Apa?”
“Kita takut kehilangan teman.”
Rama tersenyum.
“Padahal teman yang baik seharusnya bisa memahami batas.”
Ita mengangguk.
“Dan kita juga harus bisa menjelaskan batas itu dengan baik.”
Dedi menatap Rama.
“Kalimatmu waktu itu benar-benar menampar.”
Rama tertawa.
“Yang mana?”
Dedi menirukan,
“Kalau PDD kehilangan prinsip karena takut kehilangan teman, lalu apa yang tersisa dari PDD?”
Rama tersenyum.
“Kadang orang perlu diingatkan.”
Ita menambahkan,
“Termasuk diri kita sendiri.”
PDD Bukan Sekadar Tim
Hari itu mereka semakin memahami bahwa PDD bukan hanya tiga orang yang kebetulan mendapat tugas.
PDD adalah sebuah kepercayaan.
Ketika mereka memegang kamera, mereka memegang kepercayaan untuk merekam.
Ketika Ita menulis berita, ia memegang kepercayaan untuk menyampaikan informasi.
Ketika Rama membuat desain, ia memegang kepercayaan untuk menyampaikan pesan melalui visual.
Dan ketika mereka menggunakan media resmi KKN, mereka membawa nama seluruh kelompok.
Karena itu, keputusan kecil sekalipun harus dipertimbangkan.
Tidak boleh berdasarkan siapa yang meminta.
Tidak boleh berdasarkan siapa yang paling dekat.
Tidak boleh berdasarkan siapa yang paling sering membantu.
Semua harus berdasarkan kebutuhan, aturan, dan kepentingan bersama.
Pelajaran tentang Profesionalitas
Malam semakin larut.
Dedi menutup buku catatannya.
Ita mematikan laptop.
Rama menyimpan kamera.
Sebelum mereka masuk ke posko, Dedi berkata,
“Jadi profesional itu bukan berarti tidak punya perasaan.”
Ita menjawab,
“Profesional berarti tidak membiarkan perasaan menentukan semua keputusan.”
Rama mengangguk.
“Dan solidaritas bukan berarti semua permintaan harus dipenuhi.”
Mereka bertiga tersenyum.
Untuk pertama kalinya mereka merasakan bahwa konflik yang terjadi justru membuat hubungan mereka semakin kuat.
Mereka tidak menjadi satu tim karena selalu sepakat.
Mereka menjadi satu tim karena mampu berbeda pendapat, saling mengingatkan, kemudian kembali berdiri di sisi yang sama.
Satu Prinsip yang Mereka Pegang
Sebelum tidur, Ita menulis sebuah kalimat di buku PDD.
“Kami boleh berteman dengan semua orang, tetapi kami harus bekerja dengan prinsip.”
Ia menunjukkannya kepada Dedi dan Rama.
Dedi mengangguk.
Rama tersenyum.
Kemudian mereka menambahkan satu kalimat lagi:
“Karena kepercayaan yang dibangun dengan kejujuran akan lebih kuat daripada hubungan yang dipertahankan dengan mengorbankan prinsip.”
Mereka menutup buku.
Malam itu PDD kembali menjadi satu.
Lebih kuat.
Lebih dewasa.
Lebih berani mengatakan tidak.
Namun mereka belum tahu bahwa konflik berikutnya akan datang dari arah yang sama sekali berbeda.
Bukan dari teman.
Bukan dari mahasiswa.
Bukan pula dari masyarakat.
Kali ini, mereka akan berhadapan dengan permintaan dari pihak yang memiliki kewenangan lebih besar.
Permintaan itu terdengar sederhana:
“Tolong buatkan berita ini sesuai dengan yang kami inginkan.”
Dan kalimat tersebut akan menguji satu hal yang jauh lebih sulit daripada sekadar menolak permintaan teman:
Seberapa berani PDD mempertahankan kebenaran ketika berhadapan dengan kepentingan pihak yang lebih kuat?
BAB XIV — VIDEO YANG MEMBUAT DESA MENANGIS
Cerita Masyarakat dalam Sebuah Layar
Ide itu muncul hampir tanpa sengaja.
Sore itu Rama duduk sendirian di teras posko sambil memeriksa beberapa video yang tersimpan di laptop.
Ada rekaman kegiatan mahasiswa.
Ada video rapat.
Ada dokumentasi lomba.
Ada kegiatan bersama anak-anak.
Ada suasana gotong royong.
Ada pula rekaman sederhana yang sebenarnya tidak pernah direncanakan untuk menjadi bagian dari video.
Seorang petani tua sedang berjalan pulang dari kebun.
Seorang ibu sedang menata dagangannya.
Anak-anak sedang membaca buku.
Beberapa pemuda sedang mengangkat kursi untuk kegiatan desa.
Rama memutar salah satu video.
Ia terdiam.
Video itu hanya beberapa detik.
Namun entah mengapa, ia merasa ada sesuatu di dalamnya.
Sesuatu yang selama ini mereka lewatkan.
Rama kemudian berkata pelan kepada dirinya sendiri,
“Kenapa kita selalu merekam kegiatan, tetapi jarang merekam cerita orang-orang di balik kegiatan itu?”
Pertanyaan tersebut terus berada di pikirannya.
Sebuah Ide yang Berbeda
Malamnya, Rama mengajak Dedi dan Ita berbicara.
“Aku punya ide.”
Dedi yang sedang memindahkan foto ke hard disk menoleh.
“Apa?”
“Kita bikin video dokumenter.”
Ita langsung bertanya,
“Dokumenter tentang apa?”
Rama menjawab,
“Desa.”
Dedi tersenyum.
“Desa kan sudah sering kita dokumentasikan.”
“Bukan kegiatan desanya.”
Rama berhenti sejenak.
“Orang-orangnya.”
Ita mulai tertarik.
“Cerita masyarakat?”
Rama mengangguk.
“Petani. Pedagang kecil. Anak-anak. Pemuda. Orang-orang yang selama ini kita lihat setiap hari.”
Dedi menatap Rama.
“Berarti bukan video promosi biasa?”
“Bukan.”
“Lalu?”
Rama menjawab,
“Aku ingin membuat video tentang kehidupan.”
Ita terdiam.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun justru karena sederhana, ide tersebut terasa berbeda.
Mencari Cerita di Balik Wajah
Keesokan harinya mereka mulai bergerak.
Dedi membawa kamera.
Ita membawa buku catatan.
Rama membawa kamera video dan laptop.
Mereka sepakat bahwa dokumenter itu tidak boleh dibuat seperti iklan.
Tidak boleh membuat masyarakat terlihat seperti objek.
Tidak boleh memaksakan cerita.
Tidak boleh mencari kesedihan hanya demi membuat penonton menangis.
Mereka ingin menunjukkan kehidupan masyarakat apa adanya.
Dengan segala kesederhanaan.
Dengan perjuangan.
Dengan harapan.
Dengan kebanggaan.
Orang pertama yang mereka temui adalah seorang petani tua bernama Pak Wiryo.
Usianya sudah lebih dari enam puluh tahun.
Namun setiap pagi ia masih pergi ke kebun.
Dedi mengambil beberapa gambar dari kejauhan.
Pak Wiryo sedang mencangkul.
Tangannya terlihat kasar.
Wajahnya penuh keriput.
Keringat mengalir di dahinya.
Namun ia tetap tersenyum.
Ita kemudian mendekat.
“Pak, boleh kami berbincang sebentar?”
Pak Wiryo mengangguk.
“Boleh.”
Cerita Pak Wiryo
Ita bertanya,
“Sudah berapa lama Bapak menjadi petani?”
Pak Wiryo tertawa kecil.
“Sejak masih muda.”
“Tidak pernah ingin pekerjaan lain?”
Pak Wiryo memandang kebunnya.
“Pernah.”
“Lalu?”
“Dulu saya ingin bekerja di kota.”
Ita mencatat.
“Tapi tidak jadi?”
Pak Wiryo menggeleng.
“Saya memilih tetap di sini.”
“Kenapa?”
Pak Wiryo diam beberapa detik.
Kemudian menjawab,
“Karena tanah ini yang membesarkan saya.”
Ita menghentikan tulisannya.
Pak Wiryo melanjutkan,
“Kalau semua orang pergi ke kota, siapa yang akan mengurus kebun?”
Dedi yang sedang merekam ikut terdiam.
Rama menurunkan kameranya sejenak.
Kalimat itu sederhana.
Namun terasa dalam.
Bukan Hanya Tentang Kemiskinan
Dalam membuat dokumenter, mereka sepakat untuk tidak menggambarkan masyarakat hanya dari sisi kekurangan.
Mereka tidak ingin menjadikan kesulitan hidup sebagai tontonan.
Pak Wiryo bukan sekadar petani tua.
Ia adalah seseorang yang memiliki pilihan.
Ia memilih bertahan.
Ia memiliki kebanggaan.
Ia memiliki pengalaman.
Ia memiliki pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Begitu pula masyarakat lainnya.
Mereka bukan sekadar objek dokumentasi.
Mereka adalah pemilik cerita.
Dan PDD hanya memiliki kesempatan untuk merekam sebagian kecil dari cerita tersebut.
Ibu yang Menjaga Warung Kecil
Orang kedua yang mereka temui adalah Bu Sari.
Ia menjalankan warung kecil di depan rumah.
Warung tersebut tidak besar.
Hanya ada beberapa rak.
Beberapa makanan ringan.
Minuman.
Kebutuhan sehari-hari.
Namun warung itu menjadi tempat bertemunya banyak orang.
Anak-anak membeli jajanan.
Pemuda membeli kopi.
Warga berhenti sebentar untuk berbincang.
Ita bertanya,
“Bu, sudah lama berjualan?”
Bu Sari tersenyum.
“Sudah cukup lama.”
“Kenapa memilih membuka warung?”
Bu Sari menjawab,
“Supaya bisa membantu keluarga.”
Ia kemudian tertawa.
“Dan supaya tidak menganggur.”
Dedi merekam aktivitas warung.
Rama mengambil beberapa gambar detail.
Tangan Bu Sari menghitung uang.
Anak kecil membeli makanan.
Seorang warga duduk sambil berbincang.
Tidak ada adegan yang dibuat-buat.
Tidak ada dialog yang diatur.
Semuanya berjalan sebagaimana biasanya.
Anak-Anak dan Mimpi Mereka
Bagian berikutnya membawa mereka ke perpustakaan desa.
Di sana beberapa anak sedang membaca.
Ada yang duduk di lantai.
Ada yang membaca buku cerita.
Ada yang membuka buku pengetahuan.
Seorang anak bernama Aldi terlihat sangat serius membaca.
Ita mendekat.
“Kamu suka membaca?”
Aldi mengangguk.
“Buku apa yang kamu suka?”
“Buku tentang pesawat.”
“Kenapa?”
Aldi menjawab tanpa ragu,
“Saya ingin jadi pilot.”
Rama tersenyum.
Dedi mengambil gambar ketika Aldi kembali membaca.
Ita kemudian bertanya,
“Kalau nanti jadi pilot, mau terbang ke mana?”
Aldi berpikir.
“Ke mana saja.”
Kemudian ia tertawa.
Jawaban itu membuat mereka ikut tertawa.
Namun di balik jawaban sederhana seorang anak, mereka melihat sesuatu yang lebih besar.
Harapan.
Pemuda yang Tidak Banyak Bicara
Mereka juga bertemu beberapa pemuda desa.
Mereka tidak semuanya aktif dalam organisasi.
Tidak semuanya memiliki pekerjaan tetap.
Namun ketika ada kegiatan desa, mereka sering muncul.
Mengangkat kursi.
Membersihkan halaman.
Membantu memasang tenda.
Mengatur parkir.
Menyiapkan perlengkapan.
Sering kali pekerjaan mereka tidak terlihat.
Tidak ada panggung untuk mereka.
Tidak ada penghargaan.
Tidak ada kamera yang khusus mengarah kepada mereka.
Rama kemudian berkata,
“Kita harus merekam mereka.”
Dedi mengangguk.
“Mereka juga bagian dari cerita desa.”
Ita mencatat.
Kemudian ia berkata,
“Kadang orang yang paling banyak bekerja justru paling sedikit terlihat.”
Kalimat itu kemudian menjadi salah satu narasi dalam video.
Membuat Video Tanpa Membuat-Buat
Malam hari, Rama mulai menyusun semua rekaman.
Ia tidak ingin video tersebut terlalu ramai.
Tidak ingin terlalu banyak tulisan.
Tidak ingin musik menutupi suara masyarakat.
Ia memilih beberapa suara asli.
Suara cangkul.
Suara langkah kaki.
Suara anak-anak membaca.
Suara warung.
Suara orang-orang berbincang.
Suara angin.
Suara kehidupan desa.
Kemudian ia memasukkan musik secara perlahan.
Dedi membantu memilih gambar.
Ita menyusun narasi.
Mereka bekerja bertiga.
Tidak ada yang ingin terburu-buru.
Karena mereka merasa sedang menyusun sesuatu yang berbeda.
Ita Menulis Narasi
Ita membuka dokumen kosong.
Ia mulai menulis:
“Di sebuah desa yang mungkin terlihat sederhana dari kejauhan, terdapat banyak cerita yang tidak selalu terlihat oleh mata.”
Ia berhenti.
Menghapus.
Menulis lagi.
“Setiap pagi, ada orang-orang yang bangun lebih awal daripada yang lain.”
Ia berhenti lagi.
Kemudian melanjutkan.
“Ada petani yang pergi ke kebun. Ada ibu yang membuka warung. Ada anak-anak yang membuka buku. Ada pemuda yang menyiapkan kegiatan desa.”
Ia membaca ulang.
Dedi berkata,
“Jangan terlalu puitis.”
Ita tersenyum.
“Kenapa?”
“Biar ceritanya tetap terasa nyata.”
Ita mengangguk.
Ia memperbaiki narasi.
Mereka ingin suara masyarakat tetap menjadi pusat cerita.
Bukan suara PDD.
Kesulitan Saat Editing
Pembuatan video ternyata tidak semudah yang mereka bayangkan.
File terlalu banyak.
Ada video yang buram.
Ada suara yang tertutup angin.
Ada gambar yang terlalu gelap.
Ada rekaman yang goyang.
Ada wawancara yang terlalu panjang.
Rama beberapa kali menghela napas.
“Kalau semua dimasukkan, videonya bisa satu jam.”
Dedi tertawa.
“Desa kita jadi bikin film panjang.”
Ita berkata,
“Pilih yang paling penting.”
Rama mengangguk.
“Masalahnya semua terasa penting.”
Mereka kembali melihat satu per satu rekaman.
Akhirnya mereka memahami bahwa membuat dokumenter bukan hanya tentang merekam sebanyak mungkin.
Tetapi juga tentang memilih.
Memilih momen.
Memilih suara.
Memilih cerita.
Dan memilih apa yang harus dibiarkan tetap berada di luar layar.
Ketika Rama Menemukan Satu Rekaman
Tengah malam, Rama menemukan satu video.
Rekaman itu menunjukkan Pak Wiryo sedang duduk sendirian di depan rumah setelah pulang dari kebun.
Ia sedang membersihkan tangannya.
Kemudian seorang cucu kecil datang.
Anak itu duduk di sampingnya.
Pak Wiryo tersenyum.
Tidak ada dialog.
Hanya beberapa detik.
Namun Rama merasa video itu sangat kuat.
Ia memanggil Dedi dan Ita.
“Lihat ini.”
Mereka bertiga memperhatikan layar.
Tidak ada kata-kata.
Namun justru karena tidak ada kata-kata, suasananya terasa lebih dalam.
Ita berkata,
“Masukkan.”
Dedi mengangguk.
Rama tersenyum.
“Ini mungkin bagian terbaik.”
Hari Pemutaran Video
Beberapa hari kemudian, video dokumenter tersebut selesai.
Mereka memberi judul:
“WAJAH-WAJAH AWAN BIRU”
Video itu akan diputar dalam sebuah acara desa.
Masyarakat berkumpul.
Perangkat desa hadir.
Mahasiswa KKN duduk bersama warga.
Layar dipasang di depan ruangan.
Dedi memeriksa proyektor.
Rama memastikan file siap.
Ita memeriksa narasi terakhir.
Raka datang.
“Sudah siap?”
Dedi mengangguk.
“Semoga.”
Rama tersenyum.
“Bukan semoga.”
Ia melihat layar.
“Harus siap.”
Layar Mulai Menyala
Lampu ruangan diredupkan.
Suasana menjadi tenang.
Video dimulai.
Gambar pertama adalah suasana Desa Awan Biru pada pagi hari.
Kabut tipis.
Jalan desa.
Pepohonan.
Kemudian suara narasi Ita terdengar.
“Di sebuah desa yang sederhana, kehidupan berjalan seperti biasa.”
Gambar berganti.
Pak Wiryo berjalan menuju kebun.
Bu Sari membuka warung.
Anak-anak memasuki perpustakaan.
Pemuda mengangkat kursi.
Warga membersihkan lingkungan.
Tidak ada adegan dramatis.
Tidak ada musik yang berlebihan.
Hanya kehidupan.
Warga Melihat Diri Mereka Sendiri
Seorang ibu mulai tersenyum ketika melihat dirinya muncul di layar.
Seorang pemuda tertawa ketika melihat rekaman dirinya mengangkat kursi.
Anak-anak bersorak ketika melihat perpustakaan.
Pak Wiryo terlihat terkejut ketika wajahnya muncul.
Ia menatap layar tanpa berkedip.
Di sampingnya, cucunya berbisik,
“Itu Kakek.”
Pak Wiryo tersenyum.
“Iya.”
Video terus berjalan.
Saat Suasana Berubah
Kemudian muncul adegan Pak Wiryo bersama cucunya.
Tidak ada dialog.
Hanya gambar mereka duduk berdampingan.
Musik terdengar pelan.
Narasi Ita masuk:
“Ada orang-orang yang mungkin tidak pernah berdiri di atas panggung. Namun dari tangan merekalah kehidupan terus berjalan.”
Ruangan menjadi sunyi.
Beberapa warga mulai menundukkan kepala.
Seorang ibu menyeka matanya.
Rama yang duduk di belakang mulai menyadari bahwa beberapa orang menangis.
Dedi menoleh kepada Ita.
Ita juga terlihat berkaca-kaca.
Mereka tidak menyangka video sederhana itu akan menyentuh begitu banyak orang.
Pak Wiryo Menangis
Ketika video menampilkan gambar kebun dan rumah Pak Wiryo, lelaki tua itu menunduk.
Cucunya memegang tangannya.
Pak Wiryo mengusap wajah.
Air mata terlihat di pipinya.
Seorang mahasiswa yang duduk tidak jauh darinya bertanya,
“Pak, kenapa menangis?”
Pak Wiryo tersenyum.
“Tidak apa-apa.”
Ia kemudian berkata pelan,
“Saya tidak pernah menyangka hidup saya bisa dianggap penting seperti ini.”
Kalimat itu membuat mahasiswa tersebut terdiam.
Di belakangnya, Dedi mendengar.
Dadanya terasa sesak.
Ia menunduk.
Untuk pertama kalinya, ia merasa kamera yang dibawanya selama ini bukan hanya alat untuk mengambil gambar.
Kamera itu bisa membuat seseorang merasa dilihat.
Bu Sari Juga Menangis
Video kemudian menampilkan warung kecil Bu Sari.
Terlihat aktivitas sehari-hari.
Tidak ada sesuatu yang luar biasa.
Namun Bu Sari menangis ketika melihat dirinya di layar.
Seorang warga bertanya,
“Kenapa, Bu?”
Ia menjawab,
“Tidak pernah ada yang merekam saya jualan.”
Kemudian ia tersenyum sambil menyeka air mata.
“Biasanya saya cuma merasa sedang bekerja.”
Ia kembali melihat layar.
“Ternyata pekerjaan saya juga punya cerita.”
Ita yang mendengar itu langsung menunduk.
Kalimat tersebut terasa seperti jawaban atas seluruh perjalanan mereka.
Anak-Anak Bersorak
Ketika bagian perpustakaan muncul, suasana kembali berubah.
Anak-anak bersorak.
“Aku ada!”
“Aku juga!”
Mereka tertawa.
Ada yang menunjuk dirinya sendiri.
Ada yang memanggil temannya.
Ruangan yang sebelumnya haru kembali dipenuhi suara kegembiraan.
Rama tersenyum.
Ia menyadari bahwa dokumentasi tidak selalu harus membuat orang menangis.
Kadang dokumentasi cukup membuat seseorang berkata:
“Itu saya.”
Dan merasa bangga melihat dirinya menjadi bagian dari sebuah cerita.
Video Berakhir
Layar perlahan menjadi gelap.
Muncul tulisan terakhir:
“Desa bukan hanya tentang tempat. Desa adalah tentang orang-orang yang menjadikannya hidup.”
Kemudian muncul nama:
TIM PDD KKN DESA AWAN BIRU
Dedi.
Ita.
Rama.
Beberapa detik ruangan tetap sunyi.
Tidak ada yang langsung bertepuk tangan.
Kemudian terdengar tepuk tangan dari bagian belakang.
Disusul tepuk tangan lainnya.
Semakin lama semakin ramai.
Rama menunduk.
Ita mengusap matanya.
Dedi tersenyum.
Mereka bertiga tidak mengatakan apa-apa.
Tidak perlu.
Mereka tahu video itu telah sampai kepada orang-orang yang menjadi bagian dari ceritanya.
Pak Iwan Berdiri
Kepala Desa Awan Biru, Pak Iwan, kemudian berdiri.
Ia memandang para mahasiswa.
Kemudian memandang masyarakat.
“Selama ini kita hidup di sini setiap hari.”
Ia berhenti.
“Kita bekerja.”
“Kita beraktivitas.”
“Kita menjalani kehidupan seperti biasa.”
Ia menarik napas.
“Tetapi malam ini saya melihat desa kita dengan cara yang berbeda.”
Ruangan kembali sunyi.
Pak Iwan melanjutkan,
“Anak-anak kita punya harapan.”
“Pemuda kita punya kepedulian.”
“Orang tua kita punya perjuangan.”
“Dan masyarakat kita punya cerita.”
Ia kemudian menatap Dedi, Ita, dan Rama.
“Terima kasih karena sudah membantu kami melihat diri kami sendiri.”
Tepuk tangan kembali terdengar.
PDD Mendapat Pelajaran Terbesar
Setelah acara selesai, Dedi, Ita, dan Rama duduk di luar ruangan.
Malam terasa sejuk.
Mereka tidak langsung membicarakan hasil video.
Mereka hanya diam.
Akhirnya Dedi berkata,
“Sekarang aku mengerti.”
Ita menoleh.
“Mengerti apa?”
Dedi melihat kameranya.
“Selama ini aku pikir tugas kita adalah merekam kegiatan.”
Rama tersenyum.
“Terus?”
“Ternyata bukan hanya itu.”
Ita menjawab,
“Kita merekam manusia.”
Dedi mengangguk.
“Dan cerita mereka.”
Rama Menyadari Makna Desain dan Video
Rama kemudian berkata,
“Aku dulu mengira desain dan video itu soal membuat sesuatu terlihat bagus.”
Ita bertanya,
“Sekarang?”
Rama melihat ke arah ruangan tempat masyarakat masih berkumpul.
“Sekarang aku tahu.”
Ia berhenti.
“Yang paling penting bukan membuat kehidupan terlihat indah.”
“Lalu?”
“Yang paling penting adalah menunjukkan bahwa kehidupan yang sederhana pun memiliki nilai.”
Dedi mengangguk.
Ita dan Kekuatan Sebuah Cerita
Ita membuka buku catatannya.
Ia menulis satu kalimat:
“Cerita yang baik bukan cerita yang dibuat-buat agar menyentuh hati, tetapi cerita nyata yang disampaikan dengan jujur sehingga orang lain dapat merasakan maknanya.”
Ia memperlihatkan catatan itu kepada Dedi dan Rama.
Rama membaca.
“Bagus.”
Dedi tersenyum.
“Masukkan ke laporan.”
Ita tertawa.
“Bukan semuanya harus masuk laporan.”
Mereka tertawa bersama.
Masyarakat Mulai Bercerita
Setelah video tersebut diputar, beberapa warga datang menghampiri mereka.
Seorang ibu berkata,
“Kalau ada kegiatan seperti ini lagi, kabari saya.”
Seorang pemuda berkata,
“Kalau butuh bantuan dokumentasi, saya bisa bantu.”
Seorang anak berkata,
“Kak, nanti buat video lagi.”
Dedi tersenyum.
“Video tentang apa?”
Anak itu berpikir.
“Video tentang desa.”
Rama tertawa.
“Desa lagi?”
Anak itu mengangguk.
“Karena bagus.”
Jawaban sederhana itu membuat mereka tersenyum.
Dari Dokumentasi Menjadi Warisan
Malam itu PDD mulai memahami sesuatu yang lebih besar.
Foto bisa menjadi kenangan.
Berita bisa menjadi catatan sejarah.
Video bisa menjadi arsip.
Desain bisa menjadi identitas.
Semua yang mereka kerjakan hari ini mungkin suatu saat akan dilihat kembali.
Mungkin ketika mereka sudah tidak berada di Desa Awan Biru.
Mungkin ketika anak-anak yang mereka rekam sudah tumbuh dewasa.
Mungkin ketika Pak Wiryo sudah tidak lagi pergi ke kebun.
Mungkin ketika warung Bu Sari sudah berubah.
Mungkin ketika para pemuda yang mereka rekam telah memiliki keluarga dan pekerjaan masing-masing.
Pada saat itu, dokumentasi mereka akan menjadi saksi.
“Beginilah wajah desa ini pada suatu masa.”
Tiga Orang yang Berada di Balik Layar
Tidak banyak orang melihat proses mereka.
Tidak banyak yang tahu berapa lama Rama mengedit.
Tidak banyak yang tahu berapa banyak foto yang dipilih Dedi.
Tidak banyak yang tahu berapa kali Ita menulis ulang narasi.
Masyarakat hanya melihat video yang selesai.
Namun bagi mereka bertiga, video itu bukan sekadar file.
Di dalamnya ada perjalanan.
Ada keringat.
Ada percakapan.
Ada tawa.
Ada kesalahan.
Ada keraguan.
Dan ada cerita manusia.
Dedi kemudian berkata,
“Kita tetap orang di belakang layar.”
Rama menjawab,
“Tidak masalah.”
Ita tersenyum.
“Karena yang penting bukan siapa yang terlihat.”
Mereka bertiga memandang layar yang sudah gelap.
Yang penting adalah siapa yang ceritanya berhasil kita abadikan.
Makna yang Tidak Akan Mereka Lupakan
Malam semakin larut.
Warga mulai pulang.
Lampu ruangan satu per satu dimatikan.
PDD masih duduk di tempatnya.
Mereka melihat file video yang tersimpan di laptop.
Nama file itu sederhana:
WAJAH_AWAN_BIRU_FINAL.mp4
Namun bagi mereka, file tersebut memiliki arti yang jauh lebih besar.
Rama berkata,
“Jangan sampai file ini hilang.”
Dedi tertawa.
“Kali ini sudah ada tiga backup.”
Ita tersenyum.
“Belajar dari pengalaman.”
Mereka tertawa.
Namun setelah itu mereka kembali diam.
Karena masing-masing menyadari bahwa selama KKN, mereka telah menemukan sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan.
Mereka datang untuk mendokumentasikan pengabdian.
Tetapi justru masyarakatlah yang mengajarkan mereka arti pengabdian.
Mereka datang membawa kamera.
Masyarakat memberi mereka cerita.
Mereka datang membawa laptop.
Masyarakat memberi mereka pengalaman.
Mereka datang membawa kemampuan.
Masyarakat memberi mereka makna.
Dan malam itu, Dedi, Ita, dan Rama akhirnya memahami bahwa pekerjaan PDD bukan tentang membuat orang lain melihat mereka.
Pekerjaan PDD adalah membantu orang lain melihat nilai dari apa yang selama ini mereka jalani.
Karena terkadang, seseorang baru menyadari betapa berharganya hidupnya setelah melihat kehidupannya sendiri dari sudut pandang orang lain.
Dan sejak video “Wajah-Wajah Awan Biru” diputar, cara masyarakat memandang PDD pun berubah.
Mereka tidak lagi melihat Dedi sebagai mahasiswa yang selalu membawa kamera.
Tidak lagi melihat Ita sebagai mahasiswa yang sibuk mengetik berita.
Tidak lagi melihat Rama sebagai mahasiswa yang selalu duduk di depan laptop.
Mereka mulai melihat ketiganya sebagai orang yang sedang membantu desa menyimpan ingatan.
Namun tanpa mereka sadari, keberhasilan video tersebut juga membuka pintu menuju persoalan baru.
Karena setelah melihat hasilnya, sebuah pihak dari luar kelompok KKN datang kepada mereka dengan sebuah permintaan.
Permintaan itu bukan tentang dokumentasi kegiatan.
Bukan tentang berita.
Bukan pula tentang desain.
Permintaan tersebut berkaitan dengan sebuah kepentingan yang ingin ditampilkan kepada masyarakat melalui media PDD.
Dan kali ini, Dedi, Ita, dan Rama harus membuktikan apakah mereka mampu membedakan antara publikasi yang bermanfaat bagi desa dan publikasi yang hanya menguntungkan pihak tertentu.
BAB XV — PDD DI TENGAH KONFLIK ANTARMAHASISWA
Ketika Kamera Menjadi Saksi
Konflik itu sebenarnya tidak direncanakan.
Tidak ada seorang pun yang datang ke Desa Awan Biru dengan niat untuk bertengkar.
Semua mahasiswa datang membawa tujuan yang sama.
Melaksanakan program kerja.
Belajar dari masyarakat.
Membantu desa.
Dan menyelesaikan masa pengabdian dengan baik.
Namun semakin banyak kegiatan yang mereka jalankan, semakin banyak pula perbedaan pendapat yang muncul.
Ada yang berbeda cara bekerja.
Ada yang berbeda cara mengambil keputusan.
Ada yang merasa tugasnya terlalu berat.
Ada yang merasa kelompok lain mendapatkan perhatian lebih besar.
Perbedaan kecil yang sebelumnya dapat diselesaikan dengan pembicaraan perlahan berubah menjadi persoalan yang lebih serius.
Dan pada suatu sore, PDD berada tepat di tengah-tengahnya.
Bukan karena mereka ikut bertengkar.
Tetapi karena kamera mereka merekam sesuatu yang tidak seharusnya menjadi tontonan.
Awal Perselisihan
Hari itu dua kelompok mahasiswa sedang melaksanakan kegiatan yang berbeda dalam satu lokasi.
Kelompok pertama bertanggung jawab terhadap kegiatan masyarakat.
Kelompok kedua bertugas menyiapkan perlengkapan dan tempat.
Sejak awal sebenarnya sudah terdapat sedikit ketegangan.
Kelompok pertama merasa perlengkapan belum disiapkan dengan baik.
Kelompok kedua merasa mereka sudah melakukan tugas sesuai pembagian.
“Harusnya kursinya sudah disusun dari tadi.”
“Kami sudah susun. Tadi dipindahkan.”
“Kenapa tidak dikembalikan?”
“Karena tempatnya dipakai kelompok kalian.”
Percakapan mulai meninggi.
Beberapa mahasiswa mencoba menenangkan.
Namun persoalan tidak berhenti pada kursi.
Muncul persoalan lain.
Jadwal.
Pembagian tugas.
Penggunaan perlengkapan.
Bahkan masalah komunikasi dari beberapa hari sebelumnya ikut terbawa.
Dedi yang berada tidak jauh dari lokasi sebenarnya tidak terlalu memperhatikan percakapan tersebut.
Ia sedang mengambil dokumentasi kegiatan.
Kamera tetap diarahkan pada aktivitas utama.
Namun tanpa sengaja, beberapa bagian pertengkaran ikut masuk ke dalam rekaman.
Kamera yang Tidak Sengaja Menangkap Konflik
Dedi baru menyadari hal itu ketika malam tiba.
Ia sedang memindahkan file dari kartu memori ke laptop.
Satu per satu foto diperiksa.
Kemudian ia membuka video.
Awalnya hanya terlihat kegiatan biasa.
Mahasiswa bekerja.
Masyarakat datang.
Anak-anak bermain.
Kemudian suara terdengar.
Nada bicara mulai meninggi.
Dedi menghentikan video.
Ia memutar kembali.
Kali ini lebih pelan.
Ternyata kamera sempat merekam beberapa menit konflik.
Dedi terdiam.
Ia memanggil Ita dan Rama.
“Coba lihat ini.”
Ita mendekat.
Rama juga ikut melihat.
Beberapa saat mereka tidak berbicara.
Mereka baru menyadari bahwa kamera mereka telah merekam sesuatu yang jauh lebih sensitif daripada kegiatan biasa.
Bukan Sekadar Rekaman
Ita bertanya,
“Ini direkam kapan?”
“Tadi sore.”
“Semua ada?”
“Sebagian.”
Rama menggeleng.
“Ini jangan sampai dipublikasikan.”
Ita mengangguk.
“Aku juga berpikir begitu.”
Dedi menatap layar.
“Masalahnya, ini menunjukkan apa yang sebenarnya terjadi.”
Ita menjawab,
“Benar.”
“Tapi?”
“Tidak semua kejadian yang benar harus menjadi berita.”
Dedi diam.
Kalimat itu kembali mengingatkan mereka pada pelajaran yang telah mereka dapatkan selama KKN.
PDD bukan mesin publikasi.
PDD harus mempertimbangkan dampak.
Kabar Mulai Menyebar
Keesokan harinya, kabar tentang perselisihan itu mulai terdengar di antara mahasiswa.
Tidak jelas siapa yang pertama kali menceritakannya.
Namun versi cerita mulai bermunculan.
Ada yang mengatakan kelompok pertama yang memulai.
Ada yang mengatakan kelompok kedua yang tidak mau bekerja.
Ada yang mengatakan masalah tersebut sudah berlangsung sejak beberapa hari sebelumnya.
Ada pula yang mengatakan persoalannya hanya kesalahpahaman.
Setiap orang memiliki versinya sendiri.
Dedi, Ita, dan Rama tidak ikut memberikan komentar.
Mereka tahu kamera mereka memiliki rekaman.
Tetapi mereka juga tahu bahwa rekaman bukan berarti mereka berhak menyebarkannya.
Permintaan yang Datang
Sore itu salah seorang mahasiswa datang menemui Dedi.
“Ded.”
“Iya?”
“Katanya kamu punya video kejadian kemarin?”
Dedi terdiam.
“Kenapa?”
“Boleh lihat?”
Dedi menggeleng.
“Untuk apa?”
“Biar jelas siapa yang salah.”
Dedi menjawab,
“Video itu dokumentasi PDD.”
“Justru itu. Kalau ada bukti, harus ditunjukkan.”
Dedi tidak langsung menjawab.
Ia memahami keinginan orang tersebut.
Semua orang ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Namun menunjukkan video secara sembarangan bisa memperburuk keadaan.
Ia berkata,
“Kalau memang diperlukan untuk penyelesaian internal, kita bisa bicarakan dengan ketua kelompok.”
Mahasiswa tersebut terlihat tidak puas.
“Berarti kamu melindungi mereka?”
Dedi terkejut.
“Bukan begitu.”
“Terus?”
“Aku hanya tidak mau rekaman itu digunakan untuk memperbesar masalah.”
Tuduhan Mulai Muncul
Tidak lama kemudian, kabar lain terdengar.
Ada yang mengatakan PDD menyimpan rekaman untuk melindungi salah satu pihak.
Ita merasa kesal.
“Kok jadi kita yang dituduh?”
Rama menggeleng.
“Karena kita punya sesuatu yang mereka inginkan.”
Dedi berkata,
“Kalau kita kasih ke satu pihak, pihak lain pasti minta.”
Ita mengangguk.
“Dan kalau videonya dipotong-potong?”
Rama menjawab,
“Itu yang lebih berbahaya.”
Mereka terdiam.
Satu video yang utuh dapat memiliki konteks.
Namun beberapa detik video yang dipotong dapat menghasilkan cerita yang sama sekali berbeda.
Kamera Bukan Hakim
Malam itu mereka berdiskusi panjang.
Dedi berkata,
“Kalau kita lihat videonya, memang ada bagian yang jelas.”
Ita menjawab,
“Tapi kita bukan hakim.”
Rama mengangguk.
“Kamera hanya merekam apa yang berada di depannya.”
Ita menambahkan,
“Kamera tidak tahu apa yang terjadi sebelum rekaman dimulai.”
“Dan tidak tahu apa yang terjadi setelah kamera dimatikan,” kata Dedi.
Mereka saling memandang.
Mereka semakin memahami bahwa rekaman visual bukan selalu gambaran keseluruhan.
Apa yang tertangkap kamera hanyalah sebagian dari kenyataan.
Ketua Kelompok Memanggil PDD
Tidak lama kemudian, Raka meminta mereka datang.
“Kalian punya dokumentasi konflik kemarin?”
Dedi mengangguk.
“Ada.”
“Lengkap?”
“Sebagian.”
Raka menarik napas.
“Saya tidak ingin video itu tersebar.”
Ita menjawab,
“Kami juga tidak ingin.”
“Bagaimana dengan arsip?”
Dedi menjelaskan,
“Kami tetap menyimpannya.”
“Untuk apa?”
“Sebagai dokumentasi internal jika suatu saat dibutuhkan untuk klarifikasi.”
Raka mengangguk.
“Itu keputusan yang tepat.”
Kemudian ia menatap mereka bertiga.
“Tapi jangan ada yang mengirimkan ke grup.”
Dedi mengangguk.
“Siap.”
“Jangan pula dipakai untuk konten.”
Ita menjawab,
“Tidak akan.”
Konflik Semakin Panas
Namun persoalan belum selesai.
Kedua kelompok mahasiswa mulai saling menyalahkan.
Dalam sebuah pertemuan, suasana kembali tegang.
“Kalau kalian dari awal menjalankan tugas, tidak akan terjadi masalah.”
“Jangan menyalahkan kami.”
“Kalian memang tidak mau mendengarkan.”
“Justru kalian yang mengambil keputusan sendiri.”
Beberapa mahasiswa mulai meninggikan suara.
Raka mencoba menenangkan.
“Cukup.”
Namun emosi sudah terlanjur meningkat.
Dedi, Ita, dan Rama hanya duduk di bagian belakang.
Kamera mereka tidak dinyalakan.
Mereka sengaja tidak merekam.
Karena kali ini mereka berada dalam ruang penyelesaian konflik internal.
Bukan dalam kegiatan yang membutuhkan dokumentasi publik.
Dilema PDD
Setelah pertemuan, Dedi terlihat gelisah.
“Apa kita seharusnya merekam tadi?”
Ita menjawab,
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena mereka sedang menyelesaikan masalah pribadi sebagai kelompok.”
Rama menambahkan,
“Kalau semua konflik direkam, orang akan takut berbicara.”
Dedi mengangguk.
“Benar juga.”
Ita kemudian berkata,
“Dokumentasi harus tahu kapan kamera dinyalakan dan kapan kamera harus dimatikan.”
Kalimat itu menjadi penting bagi mereka.
Karena selama ini mereka selalu berpikir bahwa tugas PDD adalah merekam sebanyak mungkin.
Sekarang mereka memahami bahwa profesionalitas juga berarti mengetahui kapan tidak merekam.
Satu Pihak Meminta Rekaman
Beberapa hari kemudian, salah satu mahasiswa kembali datang.
“Kami butuh videonya.”
Dedi bertanya,
“Untuk apa?”
“Untuk membuktikan bahwa kami tidak salah.”
Dedi melihat Ita.
Kemudian melihat Rama.
Ia menjawab,
“Kalau memang diperlukan untuk penyelesaian internal, kami bisa menyerahkannya kepada ketua kelompok atau pihak yang bertanggung jawab.”
Mahasiswa itu mengerutkan dahi.
“Kenapa tidak langsung ke kami?”
“Karena kalau langsung diberikan kepada salah satu pihak, kami khawatir rekaman tersebut digunakan di luar konteks.”
Mahasiswa itu terdiam.
Dedi melanjutkan,
“Bukan berarti kami menyembunyikan.”
“Kami hanya ingin memastikan rekaman digunakan untuk menyelesaikan masalah, bukan memperbesar masalah.”
Mahasiswa tersebut akhirnya mengangguk.
Arsip yang Dijaga
PDD kemudian membuat folder khusus.
Namanya:
ARSIP INTERNAL — TIDAK UNTUK PUBLIKASI
Di dalamnya terdapat beberapa file.
Video.
Foto.
Catatan waktu.
Keterangan kegiatan.
Tidak ada yang boleh menghapus.
Tidak ada yang boleh mengedit.
Tidak ada yang boleh mengunggah.
Akses hanya diberikan kepada anggota PDD dan pihak yang memang memiliki kewenangan jika diperlukan.
Rama kemudian membuat satu salinan cadangan.
Dedi menyimpan salinan lain.
Ita mencatat konteks kejadian.
Bukan untuk mencari siapa yang salah.
Tetapi agar apabila suatu saat dibutuhkan, rekaman tersebut tetap utuh.
Ketika Konflik Akhirnya Reda
Beberapa hari kemudian, kedua kelompok kembali bertemu.
Kali ini suasananya lebih tenang.
Masing-masing diberi kesempatan menjelaskan.
Tidak ada kamera.
Tidak ada publikasi.
Tidak ada penonton.
Hanya mahasiswa yang ingin menyelesaikan masalah.
Setelah berbicara cukup panjang, mereka akhirnya menemukan bahwa sebagian besar konflik muncul karena kesalahpahaman komunikasi.
Ada informasi yang tidak diteruskan.
Ada tugas yang dianggap sudah selesai padahal belum.
Ada keputusan yang diambil tanpa semua pihak mengetahui.
Tidak ada satu pihak yang sepenuhnya benar.
Tidak ada satu pihak yang sepenuhnya salah.
Masalahnya lebih rumit daripada yang terlihat dari luar.
Dedi Menyadari Sesuatu
Setelah konflik selesai, Dedi membuka kembali rekaman.
Ia melihat beberapa menit video tersebut.
Sekarang ia melihatnya dengan sudut pandang berbeda.
Di dalam video memang ada perdebatan.
Namun tidak ada bagian yang menunjukkan seluruh cerita.
Hanya potongan.
Sebuah potongan dari kejadian yang lebih panjang.
Dedi kemudian berkata,
“Untung kita tidak mempublikasikan ini.”
Ita mengangguk.
“Kalau dipublikasikan, orang akan membuat kesimpulan berdasarkan beberapa menit.”
Rama menambahkan,
“Padahal masalahnya jauh lebih panjang.”
Pelajaran tentang Tanggung Jawab
Ita kemudian membuka buku catatannya.
Ia menulis:
“Dokumentasi memiliki dua sisi.”
Dedi membaca.
“Yang pertama?”
“Menjaga ingatan.”
“Yang kedua?”
“Menjaga tanggung jawab.”
Rama mengangguk.
Ita melanjutkan,
“Kalau semua yang direkam langsung dipublikasikan, kita bukan lagi menjaga ingatan.”
“Lalu?”
“Kita bisa saja sedang menyebarkan masalah.”
Mereka bertiga terdiam.
Tidak Semua yang Benar Harus Dipublikasikan
Sejak kejadian itu, mereka membuat prinsip baru.
PRINSIP ETIKA DOKUMENTASI PDD
Tidak semua yang terlihat harus direkam.
Tidak semua yang direkam harus disimpan untuk publik.
Tidak semua yang benar harus dipublikasikan.
Tidak semua yang menarik layak menjadi konten.
Dan tidak semua rekaman boleh diberikan kepada sembarang orang.
Dedi membacanya.
Rama mengangguk.
Ita menambahkan satu kalimat:
“Kepentingan manusia harus lebih besar daripada kepentingan konten.”
Tidak ada yang keberatan.
Kamera Harus Memiliki Etika
Mereka mulai memahami bahwa kamera sebenarnya adalah alat yang sangat kuat.
Dengan kamera, seseorang bisa membuat kenangan.
Dengan kamera, seseorang bisa membangun citra.
Dengan kamera, seseorang bisa mengungkap fakta.
Namun dengan kamera yang digunakan tanpa etika, seseorang juga dapat mempermalukan orang lain.
Dapat memperbesar konflik.
Dapat menghancurkan kepercayaan.
Bahkan dapat mengubah sebuah persoalan kecil menjadi masalah besar.
Karena itu, menjadi fotografer bukan hanya soal mengetahui cara mengambil gambar.
Menjadi videografer bukan hanya soal mengetahui cara mengedit.
Menjadi PDD berarti memahami kapan sebuah gambar memiliki manfaat dan kapan sebuah gambar justru dapat menimbulkan mudarat.
Rama dan Makna Sebuah Rekaman
Rama kemudian berkata,
“Dulu aku selalu berpikir semakin banyak footage, semakin bagus.”
Dedi tertawa kecil.
“Aku juga.”
Ita menatapnya.
“Sekarang?”
Rama menjawab,
“Sekarang aku berpikir yang penting bukan seberapa banyak yang kita punya.”
“Lalu?”
“Yang penting adalah bagaimana kita menggunakan apa yang kita punya.”
Dedi mengangguk.
“Itu lebih sulit.”
“Memang.”
Ita Menjaga Cerita
Bagi Ita, kejadian itu juga memberikan pelajaran.
Sebagai penulis, ia tidak boleh mengambil potongan informasi lalu membuat cerita berdasarkan asumsi.
Ia harus mengetahui konteks.
Harus mendengar kedua sisi.
Harus memahami latar belakang.
Dan yang paling penting, ia tidak boleh menjadikan konflik sebagai bahan tulisan hanya karena konflik tersebut menarik perhatian.
Ita berkata,
“Berita yang paling ramai belum tentu berita yang paling bermanfaat.”
Dedi mengangguk.
Rama menambahkan,
“Konten yang paling banyak ditonton juga belum tentu konten yang paling layak dibuat.”
Dedi Menyimpan Kamera
Malam itu Dedi memasukkan kamera ke dalam tas.
Sebelum menutup tas, ia memandang kamera tersebut beberapa saat.
Dulu ia melihat kamera sebagai alat utama pekerjaannya.
Sekarang pandangannya berubah.
Kamera adalah alat kepercayaan.
Ketika masyarakat bersedia direkam, mereka memberikan kepercayaan.
Ketika mahasiswa bersedia didokumentasikan, mereka juga memberikan kepercayaan.
Dan ketika seseorang berada dalam situasi pribadi atau konflik, mereka memiliki hak untuk tidak dijadikan tontonan.
Dedi menutup tas.
Ia berkata,
“Mulai sekarang kita harus lebih hati-hati.”
Ita menjawab,
“Bukan hanya hati-hati saat mengambil gambar.”
Rama menambahkan,
“Tapi juga setelah gambar itu ada.”
Arsip yang Tidak Pernah Dipublikasikan
Video konflik tersebut akhirnya tetap tersimpan.
Tidak pernah masuk berita.
Tidak pernah menjadi unggahan media sosial.
Tidak pernah menjadi bahan video.
Tidak pernah dibagikan ke grup umum.
File tersebut hanya menjadi bagian dari arsip internal.
Mungkin tidak akan pernah digunakan lagi.
Mungkin suatu hari akan dihapus setelah masa penyimpanan selesai.
Namun selama masih dibutuhkan, PDD menjaganya dengan baik.
Karena bagi mereka, menyimpan sebuah dokumentasi secara bertanggung jawab juga merupakan bagian dari pekerjaan.
Tidak semua arsip harus dilihat orang.
Ada arsip yang cukup menjadi saksi.
PDD Semakin Dewasa
Dedi, Ita, dan Rama menyadari bahwa perjalanan mereka telah mengubah cara pandang masing-masing.
Dedi belajar bahwa kamera membutuhkan pertimbangan.
Ita belajar bahwa cerita membutuhkan konteks.
Rama belajar bahwa visual membutuhkan etika.
Dan mereka bertiga belajar bahwa menjadi PDD berarti memiliki kekuasaan kecil atas bagaimana sebuah peristiwa akan dikenang.
Kekuasaan itu tidak boleh digunakan sembarangan.
Karena sekali sebuah foto dipublikasikan, sulit menariknya kembali.
Sekali sebuah video tersebar, sulit menghentikannya.
Sekali sebuah berita dibaca banyak orang, dampaknya dapat bertahan lebih lama daripada kegiatan yang diberitakan.
Satu Kalimat di Buku PDD
Sebelum tidur, Ita menulis kalimat baru di buku mereka:
“Tidak semua yang boleh didokumentasikan harus dipublikasikan.”
Kemudian ia menambahkan:
“Dan tidak semua yang dipublikasikan harus dibuat hanya karena menarik perhatian.”
Dedi membaca.
Rama mengangguk.
Mereka tahu bahwa kalimat itu akan menjadi salah satu prinsip terpenting selama sisa masa KKN.
Karena semakin lama mereka bekerja sebagai PDD, semakin mereka memahami bahwa tugas mereka bukan sekadar membuat orang melihat.
Tugas mereka adalah menentukan apa yang layak dilihat, kapan layak dilihat, dan untuk tujuan apa sesuatu itu ditampilkan.
Di Balik Kamera Ada Tanggung Jawab
Malam itu Desa Awan Biru kembali tenang.
Lampu-lampu rumah mulai padam.
Suara kendaraan semakin jarang.
Di dalam posko, tiga anggota PDD masih menyelesaikan pekerjaan.
Dedi memeriksa kamera.
Ita menutup laptop.
Rama memastikan semua arsip telah dicadangkan.
Mereka bekerja dalam keheningan.
Namun masing-masing membawa satu kesadaran baru.
Kamera bukan hanya mata.
Kamera adalah saksi.
Dan seorang saksi yang baik tidak selalu harus berbicara.
Kadang ia hanya perlu menyimpan apa yang dilihatnya dengan jujur sampai saat yang tepat.
Karena dalam pengabdian, ada kalanya tugas PDD bukan membuat sebuah peristiwa diketahui banyak orang.
Ada kalanya tugas mereka justru memastikan sebuah peristiwa tidak menjadi tontonan yang dapat melukai orang lain.
Dan dari situlah mereka semakin memahami makna sebenarnya dari tanggung jawab.
Mendokumentasikan bukan berarti mengekspos.
Menyimpan bukan berarti menyembunyikan.
Dan tidak mempublikasikan bukan berarti menutup-nutupi kebenaran.
Kadang, tidak mempublikasikan adalah bentuk penghormatan.
Namun perjalanan PDD belum selesai.
Tidak lama setelah konflik itu mereda, mereka menerima sebuah permintaan dari pihak luar yang ingin menggunakan dokumentasi kegiatan KKN untuk kepentingan tertentu.
Permintaan tersebut terlihat sederhana.
Tetapi ketika mereka membaca lebih teliti, Dedi, Ita, dan Rama menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
Untuk pertama kalinya, mereka harus menghadapi pertanyaan yang lebih sulit:
Apakah PDD harus mengikuti permintaan pihak yang lebih berkuasa, atau tetap mempertahankan prinsip yang telah mereka bangun bersama?
BAB XVI — SAAT PDD HAMPIR MENYERAH
Kelelahan yang Tidak Terlihat
Memasuki pertengahan masa KKN, Desa Awan Biru mulai terasa berbeda bagi Dedi, Ita, dan Rama.
Pada awal kedatangan, setiap kegiatan selalu terasa menarik.
Membawa kamera terasa menyenangkan.
Menulis berita terasa seperti tantangan baru.
Membuka laptop untuk membuat desain terasa mengasyikkan.
Mereka bahkan sering berebut pekerjaan.
Namun waktu berjalan.
Hari demi hari berlalu.
Kegiatan semakin banyak.
Permintaan semakin beragam.
Dan energi yang dahulu terasa tidak terbatas perlahan mulai habis.
Mereka baru menyadari bahwa semangat saja tidak cukup untuk menjalani pengabdian selama berhari-hari.
Tubuh memiliki batas.
Pikiran memiliki batas.
Kesabaran juga memiliki batas.
Dan pada suatu titik, ketiga anggota PDD mulai merasakan semuanya.
Dedi Mulai Kehilangan Semangat
Pagi itu Dedi duduk di depan posko.
Kamera berada di sampingnya.
Biasanya kamera tersebut selalu berada di tangannya.
Namun pagi itu ia bahkan tidak menyentuhnya.
Ita keluar membawa secangkir kopi.
“Kamu tidak mengambil kamera?”
Dedi menggeleng.
“Nanti saja.”
“Acara mulai satu jam lagi.”
“Aku tahu.”
Ita memperhatikan wajah Dedi.
“Kamu sakit?”
“Tidak.”
“Terus?”
Dedi menghela napas.
“Capek.”
Ita diam.
Dedi kemudian berkata,
“Setiap hari kamera.”
Ia melihat kameranya.
“Pagi kamera. Siang kamera. Sore kamera. Malam pindahkan file.”
Ia tersenyum pahit.
“Besok ulang lagi.”
Ita tidak bisa membantah.
Karena ia merasakan hal yang sama.
Ita Mulai Jenuh Menulis
Di dalam posko, Ita membuka laptop.
Ada tiga dokumen berita yang belum selesai.
Satu berita kegiatan masyarakat.
Satu berita kegiatan mahasiswa.
Satu berita tentang program kerja yang baru selesai.
Kursor berkedip di layar.
Ita sudah menatap halaman kosong hampir lima belas menit.
Biasanya ia dapat menulis dengan cepat.
Namun kali ini tidak ada satu kalimat pun yang keluar.
Ia mengetik:
“Kegiatan...”
Kemudian menghapusnya.
Mengetik lagi.
Menghapus lagi.
Ia menutup laptop.
“Sudahlah.”
Rama yang duduk di sampingnya menoleh.
“Kenapa?”
“Aku bosan.”
“Dengan menulis?”
Ita mengangguk.
“Rasanya semua berita sama.”
Rama tersenyum kecil.
“Bukannya memang setiap kegiatan harus dibuat berita?”
“Itulah masalahnya.”
Ita menatap layar laptop.
“Kadang aku merasa kita hanya mengejar jumlah berita.”
Rama dan Laptop yang Tidak Mau Dibuka
Di sisi lain, Rama juga mulai mengalami hal yang sama.
Laptopnya hampir selalu terbuka.
Namun belakangan ia lebih sering menatap layar daripada bekerja.
Folder desain semakin banyak.
Poster.
Banner.
Video pendek.
Dokumentasi.
Thumbnail.
Materi publikasi.
Semuanya menunggu.
Rama sebenarnya masih memiliki banyak ide.
Namun tubuhnya tidak lagi mengikuti pikirannya.
Suatu malam ia berkata,
“Aku tidak mau buka laptop.”
Dedi tertawa.
“Laptopnya tidak salah.”
“Justru itu.”
Rama menutup laptop.
“Kalau laptop ini bisa bicara, mungkin dia sudah bilang, ‘Tolong jangan buka saya lagi.’”
Ita tertawa kecil.
Namun tawa itu tidak berlangsung lama.
Karena mereka bertiga tahu bahwa candaan tersebut sebenarnya menggambarkan keadaan mereka.
Pekerjaan yang Tidak Pernah Selesai
Masalah terbesar PDD bukan hanya banyaknya pekerjaan.
Masalahnya adalah pekerjaan mereka hampir selalu bersambung.
Selesai mengambil gambar, harus memilih foto.
Selesai memilih foto, harus mengirimkan kepada divisi terkait.
Selesai kegiatan, harus membuat berita.
Setelah berita selesai, harus dibuat desain.
Setelah desain selesai, harus membuat materi media sosial.
Setelah itu ada permintaan revisi.
Belum selesai satu kegiatan, kegiatan berikutnya sudah menunggu.
PDD seperti berada dalam lingkaran yang tidak pernah berhenti.
Suatu malam Dedi berkata,
“Kalau semua kegiatan harus dipublikasikan secepat mungkin, kapan kita istirahat?”
Tidak ada yang menjawab.
Karena tidak seorang pun memiliki jawabannya.
Konflik Kecil Mulai Muncul
Kelelahan membuat mereka menjadi lebih mudah tersinggung.
Pagi itu Rama meminta foto kepada Dedi.
“Ded, foto kegiatan kemarin kirim sekarang ya.”
“Sebentar.”
“Dari tadi sebentar.”
Dedi menatap Rama.
“Aku juga punya pekerjaan.”
“Aku tahu.”
“Terus kenapa mendesak?”
Rama diam.
“Karena desainnya harus selesai.”
“Ya, jangan semuanya mendadak.”
Rama mulai kesal.
“Aku juga tidak bisa membuat desain kalau fotonya belum ada.”
Dedi berdiri.
“Kalau begitu jangan menunggu aku.”
“Bagaimana caranya?”
Suasana menjadi tegang.
Ita yang sejak tadi mendengar akhirnya berkata,
“Sudah.”
Mereka terdiam.
Ita menatap keduanya.
“Kita semua sedang capek.”
Tidak ada yang menjawab.
Namun kalimat itu tepat mengenai keadaan mereka.
Mereka Mulai Saling Menjauh
Hari berikutnya komunikasi mereka menjadi lebih sedikit.
Dedi bekerja sendiri.
Ita menulis sendiri.
Rama mengedit sendiri.
Mereka tetap menjalankan tugas.
Namun tidak lagi seperti sebelumnya.
Tidak ada diskusi panjang.
Tidak ada candaan.
Tidak ada saling membantu tanpa diminta.
PDD masih bekerja.
Tetapi kebersamaan mereka mulai hilang.
Dan bagi mereka, itulah hal yang paling berbahaya.
Karena pekerjaan dapat diselesaikan dengan tenaga.
Tetapi kekompakan tidak dapat dipaksakan.
Satu Malam yang Berat
Malam itu hujan turun cukup deras.
Sebagian mahasiswa sudah tidur.
Namun di dalam ruang kerja PDD, lampu masih menyala.
Dedi sedang memindahkan foto.
Ita menyelesaikan berita.
Rama mengedit video.
Jam menunjukkan pukul satu malam.
Tidak ada yang berbicara.
Tiba-tiba Rama menutup laptop.
“Aku selesai.”
Dedi menoleh.
“Sudah?”
“Tidak.”
“Lalu?”
“Aku menyerah dulu malam ini.”
Ita tersenyum tipis.
“Aku juga.”
Dedi melihat jam.
Kemudian ia mematikan layar komputernya.
“Besok saja.”
Mereka bertiga akhirnya berhenti bekerja.
Bukan karena pekerjaan selesai.
Tetapi karena tubuh mereka sudah meminta berhenti.
Pertemuan dengan DPL
Keesokan harinya, DPL mereka, Dr. Budi, datang ke posko.
Ia memperhatikan suasana yang berbeda.
Biasanya PDD selalu terlihat sibuk.
Namun kali ini mereka justru terlihat lesu.
Dr. Budi bertanya,
“Kalian baik-baik saja?”
Dedi menjawab,
“Baik, Pak.”
Dr. Budi tersenyum.
“Kalau baik, kenapa wajah kalian seperti orang baru pulang perang?”
Rama tertawa kecil.
Ita menunduk.
Dr. Budi kemudian duduk bersama mereka.
Ia tidak langsung memberikan nasihat.
Ia membiarkan mereka bercerita.
Semua Akhirnya Terungkap
Dedi bercerita tentang banyaknya kegiatan.
Ita bercerita tentang tekanan menyelesaikan berita.
Rama bercerita tentang desain yang sering diminta mendadak.
Mereka juga menceritakan konflik kecil di antara mereka.
Dr. Budi mendengarkan dengan tenang.
Setelah semuanya selesai, ia berkata,
“Kalian tahu apa masalah utama kalian?”
Mereka bertiga diam.
“Kalian terlalu ingin menyelesaikan semuanya.”
Dedi mengangguk pelan.
Dr. Budi melanjutkan,
“Padahal tidak semua pekerjaan harus selesai hari itu.”
Rama berkata,
“Tapi kalau tidak selesai, nanti menumpuk.”
“Benar.”
Dr. Budi tersenyum.
“Tetapi kalau kalian memaksakan diri sampai tidak mampu bekerja, pekerjaan juga tidak akan selesai.”
Kalimat yang Mengubah Mereka
Dr. Budi kemudian berkata,
“Pengabdian bukan lomba siapa yang paling lelah.”
Mereka bertiga terdiam.
Dr. Budi melanjutkan,
“Jangan mengukur keberhasilan KKN dari siapa yang paling sedikit tidur.”
“Jangan merasa paling berdedikasi hanya karena bekerja sampai tengah malam.”
“Dan jangan menganggap istirahat sebagai tanda malas.”
Ia memandang mereka satu per satu.
“Kalau kalian sakit, siapa yang akan menjalankan tugas PDD?”
Tidak ada jawaban.
“Kalau kalian bertengkar karena kelelahan, apa manfaatnya pekerjaan kalian?”
Tetap tidak ada jawaban.
Dr. Budi kemudian berkata,
“Pengabdian membutuhkan ketulusan, tetapi ketulusan juga membutuhkan kebijaksanaan.”
Membuat Sistem Baru
Setelah pertemuan itu, Dedi mengusulkan sesuatu.
“Kita perlu sistem baru.”
Ita mengangguk.
“Setuju.”
Rama membuka buku catatan.
“Mulai dari mana?”
Dedi menjawab,
“Jadwal.”
Mereka kemudian membuat pembagian kerja.
Dedi
Fokus pada dokumentasi lapangan dan pengelolaan arsip foto.
Ita
Fokus pada wawancara, penulisan berita, dan pengelolaan informasi.
Rama
Fokus pada desain, video, dan materi visual.
Namun mereka juga membuat aturan baru.
Jika salah satu anggota sedang memiliki pekerjaan berat, anggota lain membantu.
Tidak ada pekerjaan yang harus dikerjakan sendirian jika dapat dibagi.
Aturan Jam Kerja
Mereka kemudian menetapkan batas waktu.
Tidak semua pekerjaan harus dikerjakan sampai tengah malam.
Jika tidak ada kegiatan mendesak, pekerjaan PDD dihentikan pada waktu tertentu.
Kecuali ada kebutuhan yang benar-benar penting.
Ita menuliskan aturan itu:
“Pekerjaan penting diselesaikan. Pekerjaan tidak mendesak dijadwalkan.”
Rama menambahkan:
“Tidak semua permintaan harus dikerjakan sekarang.”
Dedi menulis:
“Istirahat juga bagian dari jadwal.”
Mereka bertiga tertawa.
Namun kali ini mereka benar-benar serius.
Membuat Kalender PDD
Mereka kemudian membuat kalender khusus.
Setiap kegiatan dimasukkan.
Tanggal.
Waktu.
Lokasi.
Penanggung jawab.
Kebutuhan dokumentasi.
Kebutuhan berita.
Kebutuhan desain.
Kebutuhan video.
Dengan kalender tersebut, mereka tidak lagi bekerja berdasarkan kejutan.
Jika ada kegiatan penting tiga hari kemudian, mereka sudah tahu apa yang harus disiapkan.
Jika ada kegiatan yang tidak membutuhkan publikasi langsung, mereka dapat menjadwalkannya.
Perubahan kecil itu membuat pekerjaan mereka jauh lebih teratur.
Belajar Mengatakan “Tidak Sekarang”
Salah satu perubahan paling sulit adalah belajar mengatakan tidak.
Suatu sore seseorang datang.
“Bisa buat poster sekarang?”
Rama melihat kalender.
“Bisa, tetapi bukan sekarang.”
Orang itu terkejut.
“Kenapa?”
“Karena malam ini kami sedang menyelesaikan video yang harus digunakan besok.”
“Kalau besok?”
“Besok sore bisa.”
Awalnya terasa tidak nyaman.
Namun mereka mulai memahami bahwa mengatakan “tidak sekarang” berbeda dengan mengatakan “tidak mau.”
Mereka tetap membantu.
Tetapi dengan waktu yang realistis.
Dedi Belajar Tidak Selalu Membawa Kamera
Perubahan juga terjadi pada Dedi.
Jika sebelumnya ia selalu membawa kamera ke mana pun, kini ia mulai memilih.
Tidak semua kegiatan membutuhkan dokumentasi penuh.
Kadang cukup beberapa foto penting.
Kadang cukup satu atau dua dokumentasi utama.
Kadang kegiatan internal tidak perlu diliput secara berlebihan.
Dedi mulai bertanya sebelum mengambil kamera.
“Apakah kegiatan ini membutuhkan dokumentasi lengkap?”
Jika jawabannya tidak, ia tidak memaksakan diri.
Ia mulai memahami bahwa fotografer yang baik bukan orang yang mengambil foto paling banyak.
Tetapi orang yang mampu memilih momen paling bermakna.
Ita Belajar Berhenti Mengejar Kesempurnaan
Ita juga berubah.
Ia masih teliti.
Masih memeriksa nama.
Masih memeriksa tanggal.
Masih memastikan informasi benar.
Namun ia tidak lagi memaksa setiap berita menjadi sempurna dalam satu malam.
Jika data belum lengkap, ia menunggu.
Jika narasumber belum memberikan keterangan, ia tidak menebak.
Jika berita tidak harus dipublikasikan malam itu, ia menjadwalkannya.
Ita mulai memahami:
Cepat itu penting, tetapi akurat jauh lebih penting.
Dan yang paling penting adalah menjaga keseimbangan.
Rama Menemukan Cara Baru
Rama juga mulai mengubah cara kerjanya.
Ia membuat template desain.
Membuat folder berdasarkan jenis kegiatan.
Menyimpan aset visual dengan rapi.
Membuat format video yang dapat digunakan kembali.
Dengan begitu, ia tidak perlu memulai dari nol setiap kali ada permintaan.
Ia juga belajar membuat daftar prioritas.
Urgent.
Penting.
Bisa dijadwalkan.
Tidak perlu dikerjakan.
Sistem sederhana tersebut membuat pekerjaan terasa lebih ringan.
PDD Kembali Menjadi Tim
Beberapa hari kemudian, perubahan mulai terasa.
Mereka kembali berdiskusi.
Kembali bercanda.
Kembali saling membantu.
Suatu malam Rama berkata,
“Kayaknya kita sudah tidak terlalu stres.”
Dedi menjawab,
“Karena sekarang kita punya jadwal.”
Ita tersenyum.
“Dan kita tidak lagi merasa harus mengerjakan semuanya sendiri.”
Rama mengangguk.
“Berarti sistem berhasil.”
Dedi tertawa.
“Jangan terlalu cepat menyimpulkan.”
Mereka tertawa bersama.
Pelajaran dari Kelelahan
Dedi kemudian berkata,
“Lucu ya.”
“Apa?”
“Dulu kita berpikir semakin banyak bekerja, semakin baik.”
Ita menjawab,
“Padahal semakin teratur bekerja, justru semakin banyak yang bisa diselesaikan.”
Rama mengangguk.
“Dan ternyata tidur juga penting.”
Mereka tertawa.
Namun kali ini tawa mereka terasa lebih ringan.
Dr. Budi Kembali Bertanya
Beberapa hari kemudian, Dr. Budi kembali datang.
“Bagaimana PDD?”
Dedi menjawab,
“Lebih baik, Pak.”
“Masih sering tidur larut?”
Rama langsung menjawab,
“Sudah dikurangi.”
Dr. Budi tersenyum.
“Bagus.”
Ita kemudian berkata,
“Kami membuat sistem kerja.”
Dr. Budi melihat kalender.
“Ini bagus.”
Ia kemudian menunjuk bagian jadwal istirahat.
“Ini yang paling penting.”
Rama tertawa.
“Pak, kami kira Bapak akan melihat jadwal kerja.”
Dr. Budi menjawab,
“Kalau kalian tidak sehat, jadwal kerja tidak ada gunanya.”
Pengabdian Bukan Pengorbanan Tanpa Batas
Nasihat itu terus teringat.
Mereka akhirnya memahami bahwa pengabdian memang membutuhkan pengorbanan.
Namun pengorbanan tidak berarti mengabaikan diri sendiri.
Pengabdian bukan berarti harus selalu tersedia.
Bukan berarti harus selalu mengatakan iya.
Bukan berarti harus selalu menjadi orang terakhir yang tidur.
Pengabdian adalah memberikan yang terbaik dengan kemampuan yang dimiliki.
Dan kemampuan manusia memiliki batas.
Mengetahui batas bukan kelemahan.
Justru mengetahui batas adalah bentuk kedewasaan.
Malam yang Lebih Tenang
Beberapa minggu sebelumnya, jam satu malam masih menjadi waktu kerja bagi mereka.
Sekarang pada jam yang sama, posko PDD sudah gelap.
Dedi sudah tidur.
Ita sudah menyelesaikan pekerjaannya.
Rama sudah menutup laptop.
Pekerjaan yang belum selesai sudah masuk daftar untuk esok hari.
Tidak ada rasa bersalah.
Tidak ada perasaan bahwa mereka sedang malas.
Mereka hanya sedang belajar menjaga diri.
Karena besok masih ada kegiatan.
Masih ada masyarakat yang harus ditemui.
Masih ada cerita yang harus ditulis.
Masih ada gambar yang harus direkam.
Dan masih ada pengabdian yang harus dijalankan.
Satu Perubahan Besar
Sejak hari itu, PDD tidak lagi bertanya:
“Berapa banyak yang bisa kita kerjakan hari ini?”
Mereka mulai bertanya:
“Apa yang paling penting untuk kita selesaikan hari ini?”
Pertanyaan sederhana tersebut mengubah cara mereka bekerja.
Mereka belajar memilih.
Belajar menolak dengan sopan.
Belajar meminta bantuan.
Belajar membagi tugas.
Belajar istirahat.
Dan yang paling penting—
mereka belajar bahwa tidak ada gunanya membuat dokumentasi tentang pengabdian jika mereka sendiri kehilangan makna dari pengabdian tersebut.
Tiga Orang, Satu Kesadaran
Malam itu mereka duduk bertiga di teras posko.
Tidak ada laptop.
Tidak ada kamera.
Tidak ada buku catatan.
Mereka hanya duduk menikmati udara malam.
Dedi berkata,
“Besok kita ada kegiatan lagi.”
Ita menjawab,
“Jam sembilan.”
Rama bertanya,
“Dokumentasi?”
Dedi tersenyum.
“Secukupnya.”
Ita tertawa.
“Berita?”
“Setelah data lengkap.”
Rama mengangguk.
“Desain?”
“Setelah berita dan foto siap.”
Mereka saling memandang.
Tidak ada lagi kepanikan.
Tidak ada lagi keinginan untuk menyelesaikan semuanya sekaligus.
Mereka sudah menemukan ritme.
Kelelahan yang Mengajarkan Kedewasaan
Dedi, Ita, dan Rama akhirnya memahami bahwa perjalanan KKN bukan hanya tentang bagaimana mereka memberikan sesuatu kepada masyarakat.
Perjalanan itu juga tentang bagaimana mereka belajar mengenal diri sendiri.
Dedi belajar bahwa ketelitian tidak harus berubah menjadi beban.
Ita belajar bahwa idealisme harus berjalan bersama kebijaksanaan.
Rama belajar bahwa kreativitas membutuhkan pengelolaan waktu.
Dan mereka bertiga belajar bahwa sebuah tim tidak akan bertahan hanya karena memiliki tujuan yang sama.
Sebuah tim bertahan karena anggotanya mampu saling memahami.
Mampu saling membantu.
Mampu saling mengingatkan.
Dan mampu mengatakan,
“Kita berhenti dulu. Besok kita lanjutkan.”
Kalimat Dr. Budi yang Mereka Simpan
Sebelum meninggalkan Desa Awan Biru pada kunjungan terakhirnya, Dr. Budi kembali mengingatkan mereka:
“Jangan sampai kalian pulang dari KKN dengan membawa banyak hasil pekerjaan, tetapi kehilangan diri kalian sendiri.”
Kalimat itu membuat mereka terdiam.
Karena mereka tahu, kalimat tersebut bukan hanya tentang PDD.
Itu tentang seluruh perjalanan pengabdian mereka.
Empat puluh hari bukanlah perlombaan.
KKN bukan tentang siapa yang paling sibuk.
Bukan tentang siapa yang paling banyak membuat kegiatan.
Bukan tentang siapa yang paling banyak menghasilkan dokumentasi.
Tetapi tentang bagaimana seluruh proses tersebut memberikan pengalaman, pembelajaran, dan manfaat.
Dan bagi Dedi, Ita, dan Rama, pelajaran itu mungkin menjadi salah satu hasil terbesar dari perjalanan mereka.
Menjadi PDD yang Lebih Dewasa
Sejak hari itu, mereka bekerja dengan cara berbeda.
Kamera tetap dibawa.
Laptop tetap digunakan.
Berita tetap ditulis.
Desain tetap dibuat.
Video tetap diedit.
Namun kini semuanya dilakukan dengan kesadaran.
Mereka tidak lagi bekerja hanya untuk mengejar hasil.
Mereka bekerja untuk menjaga kualitas.
Mereka tidak lagi takut mengatakan bahwa mereka membutuhkan waktu.
Mereka tidak lagi merasa bersalah ketika beristirahat.
Dan mereka tidak lagi menganggap kelelahan sebagai ukuran keberhasilan.
Karena mereka telah belajar satu hal penting:
Pengabdian yang baik bukanlah pengabdian yang membuat seseorang hancur karena kelelahan.
Pengabdian yang baik adalah pengabdian yang mampu memberi manfaat tanpa kehilangan kemanusiaan.
Dan ketika masa KKN semakin mendekati akhir, Dedi, Ita, dan Rama mulai menyadari bahwa waktu mereka di Desa Awan Biru tidak akan lama lagi.
Masih ada beberapa program kerja besar.
Masih ada dokumentasi yang harus diselesaikan.
Masih ada cerita masyarakat yang belum mereka tuliskan.
Dan yang paling penting—
masih ada satu permintaan dari pihak luar yang sejak beberapa waktu lalu belum mereka jawab.
Permintaan yang berkaitan dengan penggunaan dokumentasi KKN.
Permintaan yang akan kembali menguji prinsip mereka sebagai tim PDD.
Kali ini, persoalannya bukan lagi tentang kelelahan.
Melainkan tentang kejujuran, kepentingan, dan keberanian untuk mempertahankan prinsip.
BAB XVII — SATU TIM, SATU CERITA
PDD Kembali Bersatu
Pagi di Desa Awan Biru terasa lebih cerah dari biasanya.
Matahari perlahan naik di balik pepohonan.
Suara aktivitas warga mulai terdengar dari berbagai sudut desa.
Anak-anak berjalan menuju sekolah.
Beberapa warga membuka warung.
Pemuda mulai menyiapkan perlengkapan kegiatan.
Sementara di posko KKN, tiga orang sudah kembali duduk bersama.
Dedi.
Ita.
Rama.
Tidak ada lagi jarak seperti beberapa minggu sebelumnya.
Tidak ada lagi kesunyian yang terasa canggung.
Tidak ada lagi pekerjaan yang dikerjakan sambil menyimpan kesal.
Mereka sudah melewati terlalu banyak hal untuk membiarkan perbedaan kecil memisahkan mereka.
Dedi membuka tas kameranya.
Ita membuka laptop.
Rama menyiapkan perangkat desain.
Mereka saling memandang.
Rama tersenyum.
“Mulai lagi?”
Dedi mengangguk.
“Mulai lagi.”
Ita menambahkan,
“Tapi kali ini dengan cara yang lebih baik.”
Tiga Orang dengan Tiga Keahlian
Sejak awal, sebenarnya mereka memang berbeda.
Dedi adalah orang yang melihat dunia melalui lensa.
Ia memperhatikan cahaya.
Sudut.
Ekspresi.
Gerakan.
Momen.
Baginya, sebuah foto yang baik bukan hanya foto yang tajam atau indah.
Foto harus mampu menceritakan sesuatu.
Ita melihat dunia melalui kata-kata.
Ia memperhatikan siapa yang berbicara.
Apa yang terjadi.
Kapan terjadi.
Di mana kegiatan berlangsung.
Apa tujuan kegiatan.
Dan apa manfaatnya bagi masyarakat.
Baginya, berita bukan sekadar rangkaian kalimat.
Berita harus mampu memberikan pemahaman.
Sementara Rama melihat dunia melalui visual.
Ia memperhatikan komposisi.
Tulisan.
Warna.
Gerakan.
Irama.
Ia mengubah informasi menjadi sesuatu yang mudah dilihat dan dipahami.
Dulu mereka sering melihat perbedaan itu sebagai sumber masalah.
Sekarang mereka melihatnya sebagai kekuatan.
Dedi Mengabadikan Momen
Hari itu mereka mendapat tugas mendokumentasikan kegiatan masyarakat.
Dedi datang lebih awal.
Ia tidak langsung mengambil kamera.
Ia berdiri beberapa saat memperhatikan lokasi.
Di depan balai desa, beberapa warga mulai berkumpul.
Seorang ibu mengatur perlengkapan.
Pemuda membawa kursi.
Anak-anak berlarian.
Seorang perangkat desa berbicara dengan panitia.
Dedi memperhatikan semuanya.
Kemudian kamera dikeluarkan.
Klik.
Satu foto.
Klik.
Foto berikutnya.
Namun kali ini ia tidak mengambil gambar sebanyak dahulu.
Ia memilih momen.
Satu foto ketika seorang warga membantu seorang anak.
Satu foto ketika pemuda mengangkat perlengkapan.
Satu foto ketika mahasiswa berdiskusi dengan masyarakat.
Satu foto ketika kegiatan dimulai.
Dedi tersenyum.
Ia mulai memahami bahwa fotografer tidak harus mengejar semua kejadian.
Ia hanya perlu memastikan momen penting tidak hilang.
Ita Mengumpulkan Cerita
Sementara itu, Ita bergerak dari satu orang ke orang lain.
Ia tidak langsung menulis.
Ia bertanya.
“Siapa yang terlibat?”
“Apa tujuan kegiatan ini?”
“Bagaimana prosesnya?”
“Siapa yang mendapatkan manfaat?”
“Apa harapan masyarakat?”
Ia mencatat semuanya.
Kemudian ia berbicara dengan salah satu warga.
“Menurut Bapak, kegiatan seperti ini penting?”
Warga itu menjawab,
“Penting.”
“Kenapa?”
“Karena kami merasa dilibatkan.”
Ita berhenti menulis.
Kalimat itu ia garis bawahi.
Merasa dilibatkan.
Baginya, itulah salah satu inti cerita.
Bukan sekadar kegiatan mahasiswa.
Tetapi hubungan antara mahasiswa dan masyarakat.
Rama Menghidupkan Cerita
Rama menunggu foto dan data.
Dulu ia sering merasa kesal ketika bahan datang terlambat.
Sekarang ia memiliki sistem.
Ia sudah menyiapkan template.
Folder sudah dibuat.
Format sudah tersedia.
Begitu Dedi mengirimkan foto terbaik dan Ita memberikan data, Rama mulai bekerja.
Ia memilih satu foto utama.
Kemudian menambahkan judul.
Menyusun informasi.
Memasukkan identitas kegiatan.
Ia kemudian membuat versi poster.
Versi media sosial.
Dan video pendek.
Dalam waktu yang tidak terlalu lama, sebuah kegiatan yang awalnya hanya berlangsung beberapa jam berubah menjadi materi visual yang dapat dilihat banyak orang.
Satu Kegiatan, Tiga Hasil
Malamnya mereka melihat hasil pekerjaan.
Dedi membuka folder foto.
Ita membuka berita.
Rama menampilkan desain.
Mereka menyandingkannya.
Foto memperlihatkan kegiatan.
Berita menjelaskan kegiatan.
Desain menarik perhatian orang untuk membaca dan mengetahui lebih jauh.
Dedi berkata,
“Kalau cuma foto, orang mungkin tidak tahu ceritanya.”
Ita mengangguk.
“Kalau cuma tulisan, belum tentu orang tertarik membacanya.”
Rama tersenyum.
“Kalau cuma desain, orang bisa melihatnya tanpa memahami konteks.”
Mereka terdiam.
Kemudian Ita berkata,
“Berarti kita memang saling membutuhkan.”
Dedi mengangguk.
“Dari awal memang begitu.”
Mereka Menemukan Pola Kerja Baru
Sejak saat itu, PDD mulai memiliki pola kerja yang semakin jelas.
Tahap Pertama — Dedi
Dokumentasi lapangan.
Mengambil foto dan video.
Memastikan momen penting terekam.
Tahap Kedua — Ita
Mengumpulkan data.
Melakukan wawancara.
Menyusun informasi.
Menulis berita.
Tahap Ketiga — Rama
Mengolah foto dan video.
Membuat desain.
Menyusun materi publikasi.
Ketiga tahap itu kemudian bertemu pada satu titik:
Publikasi.
Namun publikasi bukan akhir.
Setelah materi dipublikasikan, mereka memeriksa kembali.
Apakah informasinya benar?
Apakah foto sesuai?
Apakah nama orang benar?
Apakah tanggal benar?
Apakah desain tidak menyesatkan?
Apakah isi publikasi memberikan manfaat?
Mereka tidak lagi bekerja secara terpisah.
Mereka bekerja dalam satu alur.
Foto Tanpa Narasi
Suatu malam Dedi menunjukkan satu foto.
Foto tersebut sangat bagus.
Seorang anak sedang membaca buku di perpustakaan.
Cahaya masuk melalui jendela.
Ekspresinya serius.
Komposisinya menarik.
Rama berkata,
“Bagus.”
Ita melihatnya.
“Bagus.”
Kemudian Dedi bertanya,
“Kalau foto ini kita unggah tanpa keterangan?”
Ita menjawab,
“Orang hanya tahu ada anak membaca.”
“Terus?”
“Kita tidak tahu siapa anaknya.”
Rama menambahkan,
“Kita juga tidak tahu kenapa dia membaca.”
Ita mengangguk.
“Dan tidak tahu kegiatan apa yang sedang berlangsung.”
Dedi tersenyum.
“Berarti foto bagus saja belum cukup.”
Ita menjawab,
“Foto membutuhkan cerita.”
Tulisan Tanpa Visual
Keesokan harinya, Ita menunjukkan sebuah berita yang baru selesai ditulis.
Tulisan itu lengkap.
Data ada.
Nama ada.
Tanggal ada.
Tujuan kegiatan ada.
Manfaat juga ada.
Rama membacanya.
“Informasinya bagus.”
Dedi bertanya,
“Fotonya?”
Ita menunjukkan beberapa foto.
Rama menggeleng.
“Belum ada yang kuat.”
“Kenapa?”
“Beritanya bagus, tapi kalau visualnya biasa saja, orang mungkin tidak tertarik membuka.”
Ita tersenyum.
“Berarti tulisan juga membutuhkan visual.”
Rama mengangguk.
“Bukan supaya tulisan menjadi lebih bagus saja.”
“Lalu?”
“Supaya cerita lebih mudah dirasakan.”
Desain Tanpa Cerita
Rama kemudian menunjukkan sebuah desain.
Desain itu terlihat menarik.
Komposisinya bagus.
Tulisan judul terlihat jelas.
Namun Dedi bertanya,
“Ini tentang apa?”
Rama terdiam.
Ita ikut melihat.
“Informasinya terlalu sedikit.”
Rama mengangguk.
Ia menyadari bahwa desain yang bagus belum tentu bermakna.
Jika tidak ada cerita di belakangnya, desain hanya menjadi gambar yang menarik.
Rama kemudian memperbaikinya.
Ia memasukkan informasi penting.
Tujuan kegiatan.
Waktu.
Lokasi.
Pihak yang terlibat.
Kemudian desain itu terasa lebih hidup.
Mereka Tidak Lagi Saling Menyalahkan
Perubahan terbesar terjadi pada cara mereka berkomunikasi.
Jika foto kurang sesuai, Ita tidak lagi berkata,
“Dedi salah ambil foto.”
Ia berkata,
“Ded, ada foto yang memperlihatkan interaksi masyarakat lebih jelas?”
Jika berita kurang kuat, Dedi tidak lagi berkata,
“Ita tulisannya kurang bagus.”
Ia bertanya,
“Data dari masyarakat sudah cukup?”
Jika desain kurang lengkap, Ita tidak berkata,
“Rama salah.”
Ia bertanya,
“Informasi apa yang masih kurang?”
Bahasa mereka berubah.
Dari menyalahkan menjadi mencari solusi.
Dan perubahan kecil itu membuat pekerjaan mereka jauh lebih ringan.
Ketika PDD Bekerja Seperti Satu Mesin
Pada sebuah kegiatan besar, mereka kembali diuji.
Acara berlangsung ramai.
Masyarakat datang.
Mahasiswa sibuk.
Perangkat desa hadir.
Dedi bergerak di antara peserta.
Ita mengumpulkan data.
Rama mengambil beberapa video tambahan.
Tidak ada yang perlu berteriak.
Tidak ada yang harus mencari satu sama lain terus-menerus.
Mereka sudah tahu apa yang harus dilakukan.
Dedi tahu kapan harus mengirim foto.
Ita tahu kapan harus memberikan data.
Rama tahu kapan mulai mengedit.
Semua berjalan seperti sebuah mesin yang telah menemukan iramanya.
Namun mereka bukan mesin.
Mereka adalah tiga orang yang sudah belajar memahami satu sama lain.
Saling Mengisi Saat Ada Kekurangan
Suatu ketika Dedi mengalami masalah pada kamera.
Baterai utama bermasalah.
Ia mulai panik.
Rama langsung memberikan teleponnya.
“Pakai ini dulu.”
Dedi mengangguk.
“Terima kasih.”
Di kesempatan lain, Ita kesulitan mendapatkan data dari salah satu narasumber.
Dedi membantu mencari orang yang mengetahui kegiatan tersebut.
Rama ikut mencatat beberapa informasi.
Begitu pula ketika Rama harus menyelesaikan desain dalam waktu singkat.
Dedi membantu memilih foto.
Ita membantu memeriksa teks.
Pekerjaan tetap menjadi tanggung jawab masing-masing.
Tetapi tidak lagi menjadi beban masing-masing.
Mereka Mulai Saling Percaya
Kepercayaan tidak muncul dalam satu hari.
Kepercayaan dibangun dari banyak kejadian.
Dedi percaya Ita tidak akan menulis informasi yang belum terverifikasi.
Ita percaya Dedi akan memilih foto yang sesuai konteks.
Rama percaya keduanya akan memberikan bahan yang cukup untuk membuat desain dan video.
Mereka tidak lagi merasa harus mengawasi satu sama lain.
Mereka tahu bahwa masing-masing akan menjalankan tanggung jawabnya.
Dan jika terjadi kesalahan, mereka akan memperbaikinya bersama.
Satu Foto, Satu Cerita
Suatu sore Dedi mengambil foto seorang ibu yang sedang membantu anak-anak membaca.
Foto itu tidak direncanakan.
Tidak ada pose.
Tidak ada pengaturan.
Semuanya terjadi secara alami.
Dedi mengirimkan foto tersebut kepada Ita.
Ita melihatnya.
“Ini bagus.”
“Aku juga pikir begitu.”
Ita kemudian mencari informasi tentang kegiatan tersebut.
Ia mengetahui bahwa ibu tersebut adalah salah satu warga yang secara sukarela membantu anak-anak di perpustakaan.
Ita menulis cerita.
Rama membuat desain.
Ketika dipublikasikan, banyak orang memberikan tanggapan.
Bukan karena fotonya saja.
Bukan karena tulisannya saja.
Bukan karena desainnya saja.
Tetapi karena ketiganya menyatu.
Mereka Menemukan Identitas
Malam itu mereka kembali duduk bertiga.
Rama berkata,
“Sekarang aku tahu PDD itu apa.”
Dedi menoleh.
“Apa?”
“Bukan tiga bagian.”
Ita mengangguk.
“Terus?”
Rama menjawab,
“Satu cerita yang dikerjakan oleh tiga orang.”
Dedi tersenyum.
Ita menambahkan,
“Dengan tiga kemampuan.”
Mereka saling memandang.
Untuk pertama kalinya, mereka merasa benar-benar memahami identitas mereka.
PDD Bukan Sekadar Jabatan
Pada awal KKN, PDD hanyalah pembagian tugas.
Dedi fotografer.
Ita penulis.
Rama desainer.
Namun setelah melalui berbagai konflik, mereka menyadari bahwa PDD lebih besar daripada jabatan.
PDD adalah cara mereka menjaga cerita.
Cerita mahasiswa.
Cerita masyarakat.
Cerita program kerja.
Cerita desa.
Dan cerita tentang perjalanan pengabdian mereka sendiri.
Mereka bukan hanya menghasilkan foto.
Mereka menciptakan arsip.
Bukan hanya menulis berita.
Mereka menciptakan catatan.
Bukan hanya membuat desain.
Mereka membangun identitas visual.
Bukan hanya membuat video.
Mereka menghidupkan kembali sebuah momen ketika dilihat di masa depan.
Satu Tim, Satu Cerita
Dedi mengambil kamera.
Ita membuka buku catatan.
Rama menyalakan laptop.
Mereka bekerja kembali.
Tidak ada yang merasa paling penting.
Tidak ada yang merasa pekerjaannya paling berat.
Tidak ada yang merasa paling berjasa.
Mereka sudah melewati masa ketika ego membuat mereka hampir terpecah.
Sekarang mereka tahu:
Dedi tidak bisa berjalan sendiri.
Ita tidak bisa berjalan sendiri.
Rama tidak bisa berjalan sendiri.
Foto tanpa narasi bisa kehilangan konteks.
Tulisan tanpa visual bisa kehilangan daya tarik.
Desain tanpa cerita bisa kehilangan makna.
Video tanpa data bisa kehilangan arah.
Tetapi ketika semuanya digabungkan, lahirlah sebuah cerita yang utuh.
Mereka Mulai Berpikir tentang Setelah KKN
Suatu malam Ita bertanya,
“Menurut kalian, setelah KKN selesai, semua ini akan hilang begitu saja?”
Dedi terdiam.
Rama menghentikan pekerjaannya.
“Kenapa bertanya begitu?”
“Karena kita cuma punya waktu sebentar di sini.”
Dedi melihat folder dokumentasi.
“Foto-foto ini tetap ada.”
Ita mengangguk.
“Berita juga.”
Rama menambahkan,
“Video juga.”
Mereka kembali terdiam.
Tiba-tiba mereka menyadari bahwa hasil pekerjaan mereka akan bertahan lebih lama daripada keberadaan mereka di Desa Awan Biru.
Mereka mungkin pulang.
Tetapi dokumentasi akan tetap tinggal.
PDD sebagai Penjaga Ingatan
Dedi kemudian berkata,
“Berarti pekerjaan kita bukan hanya untuk hari ini.”
Ita mengangguk.
“Benar.”
Rama menambahkan,
“Orang mungkin lupa siapa yang mengambil fotonya.”
“Lupa siapa yang menulis beritanya.”
“Lupa siapa yang membuat desainnya.”
“Tapi mereka mungkin masih melihat hasilnya.”
Dedi tersenyum.
“Dan itu sudah cukup.”
Satu Prinsip yang Mereka Pegang
Sebelum tidur, mereka menulis satu kalimat besar di papan kecil ruang PDD:
“KAMI TIDAK HANYA MENDOKUMENTASIKAN KEGIATAN. KAMI MENGABADIKAN CERITA.”
Kalimat itu menjadi pengingat bagi mereka.
Setiap kali ada kegiatan, mereka mengingatnya.
Setiap kali ada konflik, mereka mengingatnya.
Setiap kali merasa lelah, mereka mengingatnya.
Dan setiap kali ada yang menganggap pekerjaan PDD tidak penting, mereka tidak lagi marah.
Mereka hanya bekerja.
Karena mereka tahu nilai pekerjaan mereka tidak selalu terlihat saat itu juga.
Malam Terakhir Mereka Bekerja Bersama
Suatu malam, setelah semua pekerjaan selesai, Dedi mematikan kamera.
Ita menutup laptop.
Rama menyimpan file terakhir.
Tidak ada pekerjaan mendesak.
Tidak ada revisi.
Tidak ada permintaan mendadak.
Mereka duduk di teras.
Dedi berkata,
“Kita sudah jauh berubah.”
Ita tersenyum.
“Dulu sedikit-sedikit bertengkar.”
Rama tertawa.
“Dulu aku hampir malas membuka laptop kalau kalian belum kirim bahan.”
Dedi membalas,
“Dulu aku juga hampir melempar kamera kalau kalian minta foto terus.”
Mereka tertawa.
Namun di balik tawa itu ada rasa haru.
Karena mereka tahu perjalanan mereka tidak mudah.
Mereka pernah berbeda pendapat.
Pernah saling kecewa.
Pernah hampir menyerah.
Namun semua itu justru membuat mereka lebih kuat.
Mereka Tidak Lagi Takut Berbeda
Kini mereka memahami bahwa menjadi satu tim bukan berarti harus selalu memiliki pendapat yang sama.
Satu tim berarti mampu berbeda tanpa saling menjatuhkan.
Mampu berdebat tanpa bermusuhan.
Mampu mengkritik tanpa merendahkan.
Mampu mengakui kesalahan tanpa kehilangan harga diri.
Dan mampu mengatakan,
“Maaf, aku salah.”
Dedi pernah mengatakannya kepada Rama.
Ita pernah mengatakannya kepada Dedi.
Rama juga pernah mengatakannya kepada Ita.
Kalimat sederhana itu menjadi salah satu alasan mengapa mereka masih bertahan.
Satu Tim, Satu Cerita
Masa KKN terus berjalan.
Hari-hari semakin sedikit.
Program kerja semakin mendekati akhir.
Namun PDD justru semakin kuat.
Dedi mengabadikan momen.
Ita menyusun cerita.
Rama menghidupkan cerita itu melalui desain dan video.
Tiga pekerjaan.
Tiga karakter.
Tiga cara melihat dunia.
Tetapi satu tujuan.
Menjaga cerita pengabdian agar tidak hilang.
Dan ketika mereka melihat kembali seluruh dokumentasi yang telah dibuat, mereka mulai menyadari bahwa yang sebenarnya mereka bangun bukan sekadar kumpulan foto, berita, desain, dan video.
Mereka sedang membangun sebuah jejak.
Jejak yang suatu hari nanti akan menjadi bukti bahwa pernah ada sekelompok mahasiswa yang datang ke Desa Awan Biru.
Mereka datang membawa program kerja.
Membawa ilmu.
Membawa semangat.
Namun akhirnya mereka pulang dengan membawa sesuatu yang jauh lebih berharga:
pengalaman tentang manusia, persahabatan, tanggung jawab, dan arti bekerja bersama.
Dedi, Ita, dan Rama akhirnya menemukan identitas mereka.
Bukan sebagai tiga orang yang bekerja di belakang layar.
Tetapi sebagai satu tim yang menjaga satu cerita.
Dan mereka belum tahu bahwa cerita terbesar PDD justru akan dimulai ketika masa KKN semakin mendekati akhir.
Sebab sebuah permintaan baru datang.
Permintaan yang akan membuat mereka harus memilih antara kecepatan dan ketelitian, kepentingan pribadi dan kepentingan bersama, serta kenyamanan dan prinsip.
Dan kali ini, mereka tidak hanya akan diuji sebagai PDD.
Mereka akan diuji sebagai manusia.
BAB XVIII — HARI TERAKHIR DAN PANGGUNG PENGABDIAN
Semua Jejak Ditampilkan
Hari yang selama ini terasa masih jauh akhirnya tiba.
Hari terakhir KKN.
Pagi itu, Desa Awan Biru tampak lebih ramai dari biasanya.
Di halaman balai desa, beberapa mahasiswa sibuk mengangkat meja dan kursi.
Sebagian lainnya memasang spanduk.
Ada yang menata panggung.
Ada yang memeriksa pengeras suara.
Ada yang menyiapkan konsumsi.
Sementara di salah satu sudut ruangan, tiga orang masih bekerja dengan kesibukan mereka sendiri.
Dedi.
Ita.
Rama.
Mereka sedang menyiapkan sesuatu yang bagi mereka jauh lebih penting daripada sekadar acara penutupan.
Pameran dokumentasi perjalanan KKN.
Pameran yang Tidak Sekadar Menampilkan Foto
Dedi berdiri di depan deretan papan yang akan digunakan sebagai tempat menempelkan foto.
Ia membawa ratusan hasil cetakan.
Foto kedatangan mahasiswa.
Foto penyambutan.
Foto rapat.
Foto kegiatan bersama masyarakat.
Foto anak-anak.
Foto para pemuda.
Foto ibu-ibu.
Foto perangkat desa.
Foto kegiatan sosial.
Foto program kerja.
Foto ketika mahasiswa bekerja.
Foto ketika mahasiswa tertawa.
Bahkan foto ketika beberapa mahasiswa terlihat kelelahan.
Rama melihat tumpukan foto itu.
“Banyak sekali.”
Dedi tersenyum.
“Empat puluh hari.”
Ita datang membawa beberapa lembar berita.
“Bukan cuma foto.”
Ia meletakkan berkas tersebut di atas meja.
“Ini semua berita yang kita buat.”
Rama membuka salah satunya.
Berita pertama.
Berita kedua.
Berita ketiga.
Sampai berita terakhir.
Kemudian ia menggeleng kagum.
“Kita benar-benar sudah membuat sebanyak ini?”
Ita tertawa.
“Dulu kita merasa satu berita saja sudah berat.”
Dedi menjawab,
“Sekarang justru rasanya kurang.”
Menyusun Empat Puluh Hari dalam Satu Ruangan
Mereka mulai bekerja.
Papan pertama diberi judul:
AWAL KEDATANGAN
Di sana ditempel foto ketika rombongan mahasiswa pertama kali tiba di Desa Awan Biru.
Papan kedua:
BERKENALAN DENGAN MASYARAKAT
Foto kegiatan bersama warga memenuhi bagian tersebut.
Papan ketiga:
PROGRAM KERJA
Berbagai kegiatan mahasiswa ditampilkan.
Papan keempat:
CERITA MASYARAKAT
Foto warga, anak-anak, pemuda, petani, pelaku UMKM, dan berbagai tokoh desa menghiasi papan.
Papan terakhir:
JEJAK PENGABDIAN
Di bagian ini, mereka menampilkan foto-foto terbaik dari seluruh perjalanan.
Rama kemudian memasang sebuah kalimat besar di tengah ruangan:
“Empat Puluh Hari Berakhir, Tetapi Ceritanya Tidak Akan Pernah Benar-Benar Selesai.”
Dedi membaca kalimat itu.
“Bagus.”
Ita tersenyum.
“Cocok untuk hari terakhir.”
Video yang Menyimpan Kenangan
Setelah foto selesai ditata, Rama memeriksa video.
Ia telah membuat sebuah video dokumenter perjalanan KKN.
Video dimulai dari kedatangan mereka.
Kemudian berpindah ke kegiatan.
Ada gambar mahasiswa bekerja.
Ada gambar masyarakat tersenyum.
Ada gambar anak-anak bermain.
Ada gambar mahasiswa mengajar.
Ada gambar rapat.
Ada gambar kegiatan sosial.
Ada gambar ketika hujan menghambat kegiatan.
Ada gambar ketika mereka tertawa.
Ada pula gambar ketika mereka terlihat kelelahan.
Semua dirangkai menjadi satu cerita.
Bukan cerita tentang kesempurnaan.
Tetapi cerita tentang perjalanan.
Rama menekan tombol play.
Mereka bertiga menonton dalam diam.
Tiba-Tiba Mereka Terdiam
Ketika muncul gambar pertama, Dedi tersenyum.
Ketika muncul kegiatan pertama, Ita tertawa.
Ketika muncul foto mereka bertiga bekerja, Rama berkata,
“Lihat kita.”
Dedi menjawab,
“Kelihatan capek.”
Ita tertawa.
“Memang capek.”
Mereka terus menonton.
Namun semakin lama video berjalan, suasana semakin sunyi.
Karena mereka mulai melihat sesuatu yang sebelumnya tidak mereka sadari.
Mereka melihat perubahan.
Bukan hanya perubahan Desa Awan Biru.
Tetapi perubahan dalam diri mereka sendiri.
Dedi Melihat Dirinya Sendiri
Dedi memperhatikan foto pertama ketika ia memegang kamera.
Wajahnya masih penuh semangat.
Ia ingat bagaimana dahulu ia berpikir bahwa tugas PDD hanya mengambil foto sebanyak mungkin.
Namun sekarang ia tahu bahwa dokumentasi bukan soal jumlah.
Dokumentasi adalah tentang memilih momen.
Tentang memahami konteks.
Tentang menghormati orang yang berada di depan kamera.
Tentang menjaga agar sebuah peristiwa tidak kehilangan makna.
Dedi tersenyum.
Ia kemudian berkata,
“Aku dulu cuma ingin mendapatkan foto bagus.”
Ita menoleh.
“Sekarang?”
Dedi melihat layar.
“Sekarang aku ingin foto yang punya cerita.”
Ita Membaca Kembali Berita Pertamanya
Ita membuka laptop.
Ia mencari dokumen paling lama.
Berita pertama yang pernah ia tulis selama KKN.
Ia membacanya perlahan.
Ada beberapa kalimat yang terasa kaku.
Ada bagian yang terlalu panjang.
Ada informasi yang sekarang menurutnya masih bisa dibuat lebih baik.
Rama menggoda,
“Jangan diedit lagi.”
Ita tertawa.
“Aku cuma baca.”
Dedi bertanya,
“Bagaimana tulisanmu waktu itu?”
Ita menghela napas.
“Masih belajar.”
“Sekarang?”
Ita tersenyum.
“Masih belajar juga.”
Mereka tertawa.
Tetapi Ita tahu bahwa dirinya sudah berubah.
Ia kini lebih teliti.
Lebih memahami masyarakat.
Lebih berhati-hati memilih kata.
Dan lebih sadar bahwa sebuah berita dapat memengaruhi cara orang melihat sebuah kegiatan.
Rama Melihat Desain Pertamanya
Rama membuka folder lama.
Ia menemukan desain pertama yang pernah dibuatnya.
Ia langsung tertawa.
“Ya ampun.”
Dedi mendekat.
“Kenapa?”
“Ini desainku?”
Ita ikut melihat.
“Kenapa memang?”
Rama menunjuk bagian tulisan.
“Font-nya terlalu banyak.”
Dedi tertawa.
“Waktu itu kamu bilang desain ini keren.”
“Jangan diingatkan.”
Mereka tertawa bersama.
Namun Rama tidak menghapus desain itu.
Ia justru mencetaknya.
Desain pertama tersebut ditempel di bagian awal pameran.
Di bawahnya ia menulis:
“Dari sini semuanya dimulai.”
Masyarakat Mulai Berdatangan
Menjelang siang, masyarakat mulai datang.
Anak-anak berlari menuju ruangan pameran.
Beberapa ibu berjalan perlahan.
Para pemuda berdiri melihat foto-foto.
Perangkat desa datang bersama beberapa tokoh masyarakat.
Mahasiswa mulai berkumpul.
Suasana menjadi ramai.
Seorang anak menunjuk sebuah foto.
“Itu aku!”
Temannya tertawa.
“Aku juga ada!”
Seorang ibu tersenyum melihat foto kegiatan bersama mahasiswa.
“Bagus sekali.”
Seorang pemuda berdiri cukup lama di depan foto kelompoknya.
Ia kemudian berkata,
“Tidak terasa sudah mau selesai.”
Kepala Desa Menghampiri Mereka
Kepala Desa Awan Biru, Pak Iwan, datang melihat pameran.
Ia berjalan perlahan dari satu papan ke papan lainnya.
Ia memperhatikan foto-foto kegiatan.
Kemudian membaca beberapa berita.
Sesekali ia berhenti cukup lama.
Dedi menghampiri.
“Bagaimana, Pak?”
Pak Iwan tersenyum.
“Ini bukan hanya dokumentasi mahasiswa.”
Dedi terdiam.
Pak Iwan melanjutkan,
“Ini dokumentasi desa.”
Kalimat itu membuat Dedi tersenyum.
Kemudian Pak Iwan memanggil Ita.
“Beritanya juga bagus.”
“Terima kasih, Pak.”
“Kalian tidak hanya memberitakan kegiatan KKN.”
Pak Iwan menunjuk foto masyarakat.
“Kalian membuat masyarakat merasa bahwa kehidupan mereka juga layak untuk diceritakan.”
Ita menundukkan kepala.
Kalimat itu terasa lebih berharga daripada pujian apa pun.
Ketika Video Diputar
Acara penutupan akhirnya dimulai.
Setelah sambutan, doa, dan beberapa rangkaian acara, tibalah giliran PDD.
Rama berdiri di dekat laptop.
Tangannya sedikit gemetar.
Dedi menepuk bahunya.
“Tenang.”
Rama mengangguk.
Layar besar menyala.
Lampu ruangan diredupkan.
Video dimulai.
Desa yang Terekam dalam Layar
Gambar pertama menampilkan Desa Awan Biru.
Kemudian muncul rombongan mahasiswa.
Disusul kegiatan pertama.
Masyarakat.
Anak-anak.
Pemuda.
Ibu-ibu.
Petani.
Perangkat desa.
Mahasiswa.
Semuanya muncul bergantian.
Musik mengalun perlahan.
Tidak ada narasi yang berlebihan.
Hanya gambar dan suara asli dari beberapa kegiatan.
Tawa anak-anak.
Suara warga.
Suara mahasiswa.
Suara kegiatan.
Semua menjadi satu.
Ruangan perlahan menjadi hening.
Tidak ada yang berbicara.
Semua mata tertuju pada layar.
Ketika Kenangan Menjadi Nyata
Sebuah foto muncul.
Foto ketika mahasiswa pertama kali tiba.
Beberapa orang tertawa.
Kemudian muncul foto kegiatan pertama.
Beberapa mahasiswa saling menunjuk.
Lalu muncul foto masyarakat.
Seorang ibu tersenyum.
Kemudian muncul anak-anak yang belajar.
Beberapa orang tua terlihat terharu.
Video terus berjalan.
Sampai akhirnya muncul foto seluruh mahasiswa bersama masyarakat.
Tulisan muncul di layar:
“Kami datang sebagai mahasiswa.”
Lalu layar berganti.
“Kami belajar menjadi bagian dari masyarakat.”
Kemudian kalimat terakhir muncul:
“Kami pulang membawa cerita yang tidak akan kami lupakan.”
Video berhenti.
Ruangan hening beberapa detik.
Kemudian tepuk tangan terdengar.
Awalnya pelan.
Lalu semakin keras.
Beberapa Warga Menangis
Dedi melihat ke arah penonton.
Seorang ibu mengusap matanya.
Seorang bapak menunduk.
Beberapa anak masih menatap layar.
Ita menahan air mata.
Rama juga terdiam.
Ia tidak menyangka video sederhana yang dibuatnya dapat memberikan perasaan sebesar itu.
Pak Iwan berdiri.
Ia memberikan tepuk tangan.
“Terima kasih.”
Hanya dua kata.
Namun bagi mereka bertiga, dua kata itu terasa sangat berarti.
PDD Dipanggil ke Depan
Ketua kelompok kemudian memanggil Dedi, Ita, dan Rama.
“Tiga orang ini mungkin jarang terlihat ketika acara berlangsung.”
Beberapa mahasiswa tertawa.
“Tetapi mereka hampir selalu ada di balik setiap kegiatan.”
Dedi tersenyum.
Ita menunduk.
Rama menggaruk kepala.
Ketua kelompok melanjutkan,
“Mereka adalah tim Publikasi, Dokumentasi, dan Desain.”
Tepuk tangan kembali terdengar.
Dedi, Ita, dan Rama berjalan ke depan.
Mereka berdiri berdampingan.
Tidak ada penghargaan besar.
Tidak ada medali.
Tidak ada panggung megah.
Namun tepuk tangan masyarakat sudah cukup.
Dedi Terdiam Melihat Foto
Setelah acara selesai, Dedi kembali ke ruang pameran.
Ia berdiri di depan sebuah foto.
Foto itu memperlihatkan mahasiswa dan masyarakat sedang bekerja bersama.
Dedi mengingat hari ketika foto tersebut diambil.
Hari itu ia hampir kehilangan kesabaran karena harus berpindah dari satu kegiatan ke kegiatan lain.
Namun sekarang, melihat foto tersebut, ia justru tersenyum.
Ia menyadari bahwa rasa lelah yang dahulu terasa berat kini berubah menjadi kenangan.
Ita Menyadari Arti Sebuah Berita
Ita juga berdiri di depan papan berita.
Ia membaca kembali tulisan-tulisannya.
Dulu ia menganggap berita sebagai tugas.
Sekarang ia melihatnya sebagai arsip.
Jika suatu hari ada orang bertanya tentang kegiatan KKN di Desa Awan Biru, berita-berita itu akan menjadi jawabannya.
Jika suatu hari masyarakat lupa kapan sebuah kegiatan berlangsung, catatan itu akan mengingatkan.
Jika suatu hari mahasiswa baru datang dan ingin mengetahui pengalaman pendahulunya, tulisan itu akan menjadi jejak.
Ita akhirnya memahami:
Sebuah berita mungkin hanya dibaca beberapa menit, tetapi nilainya dapat bertahan bertahun-tahun.
Rama dan Desain yang Menjadi Kenangan
Rama melihat berbagai desain yang telah dibuat.
Poster pertama.
Poster kegiatan.
Banner.
Infografis.
Thumbnail video.
Semua memiliki cerita masing-masing.
Ia sadar bahwa desain bukan hanya tentang membuat sesuatu terlihat bagus.
Desain membantu orang memahami sebuah informasi.
Membantu masyarakat mengenali kegiatan.
Membantu program kerja memiliki identitas.
Dan ketika semua desain itu dipajang dalam satu ruangan, Rama melihat perjalanan dirinya sendiri.
Dari seorang mahasiswa yang bekerja mendekati tenggat waktu menjadi seseorang yang mampu mengelola pekerjaan dengan lebih teratur.
Empat Puluh Hari dalam Satu Ruangan
Empat puluh hari.
Jika dihitung sebagai angka, mungkin tidak banyak.
Namun ketika seluruh perjalanan itu ditampilkan dalam bentuk foto, video, berita, dan desain, empat puluh hari terasa sangat panjang.
Ada tawa.
Ada tangis.
Ada konflik.
Ada kesalahpahaman.
Ada kelelahan.
Ada keberhasilan.
Ada kegagalan.
Ada persahabatan.
Ada perpisahan.
Semua terangkum dalam satu ruang.
Dan Dedi, Ita, serta Rama akhirnya memahami bahwa PDD bukan sekadar mencatat perjalanan orang lain.
Tanpa mereka sadari, mereka juga telah mendokumentasikan perjalanan diri mereka sendiri.
Mereka Tidak Lagi Sama
Dedi yang datang ke Desa Awan Biru sebagai fotografer kini pulang dengan pemahaman tentang manusia.
Ita yang datang sebagai penulis kini pulang dengan pemahaman tentang tanggung jawab sebuah kata.
Rama yang datang sebagai desainer kini pulang dengan pemahaman tentang bagaimana sebuah visual dapat menyampaikan perasaan.
Mereka berubah.
Bukan karena satu kejadian.
Tetapi karena empat puluh hari penuh pengalaman.
Percakapan di Penghujung Hari
Menjelang sore, suasana mulai sepi.
Pameran perlahan dibongkar.
Sebagian foto disimpan.
Sebagian materi diberikan kepada desa.
Video disalin ke beberapa perangkat.
Berita disimpan dalam arsip.
Dedi duduk di halaman balai desa.
Ita duduk di sampingnya.
Rama datang membawa tiga botol air mineral.
“Untuk kalian.”
Dedi mengambil satu.
“Terima kasih.”
Mereka bertiga terdiam.
Kemudian Ita berkata,
“Besok kita pulang.”
Rama mengangguk.
Dedi melihat ke arah Desa Awan Biru.
“Rasanya baru kemarin kita datang.”
Ita menjawab,
“Padahal sudah empat puluh hari.”
Rama tersenyum.
“Empat puluh hari yang ribut.”
Mereka tertawa.
Satu Foto Terakhir
Sebelum benar-benar meninggalkan lokasi, Dedi mengeluarkan kamera.
Ita bertanya,
“Mau foto lagi?”
Dedi mengangguk.
“Foto terakhir.”
Rama berdiri.
Mereka bertiga berdiri di depan balai desa.
Namun kali ini Dedi tidak ingin memotret sendiri.
Ia meminta seorang mahasiswa lain mengambil kamera.
“Boleh tolong fotokan kami?”
Kamera diarahkan.
Dedi berdiri di tengah.
Ita di sebelah kiri.
Rama di sebelah kanan.
Mereka tersenyum.
Klik.
Satu foto terakhir.
Foto sederhana.
Tidak ada pose khusus.
Tidak ada konsep rumit.
Namun bagi mereka, foto itu memiliki makna yang sangat besar.
Karena untuk pertama kalinya selama empat puluh hari, mereka bertiga tidak berada di belakang kamera.
Mereka menjadi bagian dari cerita yang selama ini mereka dokumentasikan.
Pulang dengan Membawa Jejak
Malam itu, mereka kembali ke posko.
Sebagian barang sudah dikemas.
Kamera dimasukkan ke dalam tas.
Laptop disimpan.
Hard disk diperiksa.
File terakhir dicadangkan.
Ita memastikan semua berita telah tersimpan.
Rama memastikan seluruh desain dan video memiliki salinan.
Dedi memastikan arsip foto tidak ada yang tertinggal.
Mereka tidak ingin meninggalkan satu pun jejak digital yang tercecer.
Namun mereka tahu, ada sesuatu yang tidak mungkin mereka simpan dalam hard disk.
Suara warga.
Tawa anak-anak.
Tatapan orang tua.
Percakapan di teras rumah.
Hujan yang pernah menghambat kegiatan.
Malam-malam panjang di posko.
Pertengkaran.
Permintaan maaf.
Dan persahabatan.
Semua itu akan mereka bawa dalam ingatan.
Empat Puluh Hari yang Mengubah Mereka
Sebelum tidur, Ita membuka kembali foto pertama mereka.
Foto ketika mereka baru tiba di Desa Awan Biru.
Wajah mereka masih penuh semangat.
Belum tahu apa yang akan terjadi.
Belum tahu berapa banyak konflik yang akan mereka hadapi.
Belum tahu berapa banyak cerita yang akan mereka temukan.
Kemudian Ita membuka foto terakhir.
Tiga orang berdiri bersama.
Wajah mereka masih sama.
Tetapi cara mereka memandang dunia sudah berbeda.
Dedi berkata,
“Kalau dipikir-pikir, kita tidak cuma meninggalkan sesuatu di desa.”
Ita menoleh.
“Maksudnya?”
“Kita juga membawa sesuatu dari sini.”
Rama mengangguk.
“Pengalaman.”
Ita tersenyum.
“Dan cerita.”
Dedi menambahkan,
“Banyak cerita.”
Panggung Pengabdian Telah Selesai
Hari terakhir akhirnya benar-benar berakhir.
Panggung dibongkar.
Kursi dikembalikan.
Spanduk dilepas.
Foto-foto disimpan.
Laptop ditutup.
Kamera dimasukkan ke dalam tas.
Namun bagi Dedi, Ita, dan Rama, pekerjaan mereka belum benar-benar berakhir.
Karena hasil pekerjaan mereka akan tetap hidup.
Di dalam arsip desa.
Di media sosial.
Di berita.
Di video.
Di foto-foto yang mungkin suatu hari dilihat kembali oleh masyarakat.
Dan mungkin bertahun-tahun kemudian, seseorang akan membuka salah satu foto tersebut dan berkata:
“Dulu pernah ada mahasiswa KKN yang datang ke desa ini.”
Itulah jejak yang mereka tinggalkan.
Bukan Tentang Mereka
PDD akhirnya memahami bahwa dokumentasi terbaik bukanlah dokumentasi yang membuat pembuatnya terkenal.
Bukan pula dokumentasi yang membuat nama mahasiswa selalu disebut.
Dokumentasi terbaik adalah ketika masyarakat merasa dirinya dihargai.
Ketika kegiatan yang sederhana dianggap berarti.
Ketika sebuah perjuangan tidak hilang begitu saja.
Dan ketika orang-orang yang hadir dalam sebuah peristiwa dapat melihat kembali dirinya sendiri dan berkata:
“Ya, itu pernah terjadi. Dan kami pernah menjadi bagian dari cerita itu.”
Empat Puluh Hari, Satu Kenangan
Malam semakin larut.
Desa Awan Biru mulai tenang.
Dedi, Ita, dan Rama berdiri di depan posko untuk terakhir kalinya.
Tidak ada lagi jadwal besok pagi.
Tidak ada lagi agenda PDD.
Tidak ada lagi pesan mendadak:
“Kak, minta dokumentasi.”
Tidak ada lagi:
“Kak, berita ini bisa selesai malam ini?”
Tidak ada lagi:
“Rama, desainnya bisa sekarang?”
Mereka tertawa ketika mengingat semua itu.
Dulu terasa melelahkan.
Sekarang terasa lucu.
Begitulah waktu bekerja.
Hal-hal yang dahulu membuat mereka ingin menyerah, akhirnya menjadi kenangan yang justru membuat mereka tersenyum.
Foto Terakhir Sebelum Pulang
Dedi kembali melihat kamera.
Ia membuka foto terakhir.
Tiga orang.
Satu desa.
Satu perjalanan.
Satu cerita.
Ita berdiri di sampingnya.
“Bagus?”
Dedi mengangguk.
“Bagus.”
Rama bertanya,
“Kenapa?”
Dedi tersenyum.
“Karena foto ini tidak perlu diedit.”
Ita tertawa.
“Tidak perlu diberi desain?”
“Tidak.”
Rama mengangguk.
“Tidak perlu dibuat video?”
Dedi menjawab,
“Tidak.”
Mereka bertiga tertawa.
Karena akhirnya mereka memahami bahwa tidak semua hal harus diproduksi menjadi konten.
Ada kenangan yang cukup disimpan di dalam hati.
Dan KKN Pun Berakhir
Empat puluh hari telah selesai.
Program kerja telah dilaksanakan.
Dokumentasi telah diarsipkan.
Berita telah dipublikasikan.
Video telah dibuat.
Desain telah diselesaikan.
Namun cerita mereka belum benar-benar selesai.
Karena Desa Awan Biru telah meninggalkan sesuatu dalam diri mereka.
Sesuatu yang tidak dapat diukur dengan jumlah foto.
Tidak dapat dihitung dari jumlah berita.
Tidak dapat dinilai dari jumlah desain.
Dan tidak dapat diukur dari jumlah penonton video.
Sesuatu itu bernama pengalaman.
Pengalaman tentang bekerja.
Tentang melayani.
Tentang berkonflik.
Tentang memaafkan.
Tentang menghargai.
Tentang bekerja dalam tim.
Dan tentang memahami bahwa di balik setiap dokumentasi, selalu ada manusia dan cerita yang harus dihormati.
Dedi menutup tas kameranya.
Ita menutup laptop.
Rama mematikan lampu.
Mereka berjalan meninggalkan posko.
Di belakang mereka, Desa Awan Biru tetap berdiri seperti biasa.
Namun bagi mereka, desa itu tidak akan pernah menjadi tempat yang biasa lagi.
Karena di sanalah mereka pernah datang sebagai mahasiswa.
Dan pulang sebagai manusia yang sedikit lebih dewasa.
Empat puluh hari telah mengubah mereka.
Dan mereka tahu, suatu hari nanti mereka akan kembali membuka foto-foto itu.
Mungkin setahun kemudian.
Mungkin sepuluh tahun kemudian.
Dan ketika saat itu tiba, mereka akan kembali mengingat satu hal:
Mereka pernah memiliki satu tim.
Satu tugas.
Satu perjuangan.
Dan satu cerita yang tidak akan pernah benar-benar selesai.
BAB XIX — PERPISAHAN YANG TIDAK SELESAI
Ketika Mahasiswa Harus Pulang
Pagi itu, Desa Awan Biru terasa berbeda.
Tidak ada kesibukan seperti biasanya.
Tidak terdengar suara mahasiswa yang berlari dari satu tempat ke tempat lain.
Tidak terdengar suara panggilan dari posko.
Tidak ada lagi suara Rama yang mengeluh karena laptopnya terlalu panas.
Tidak ada lagi suara Ita yang bertanya kepada mahasiswa tentang data kegiatan.
Tidak ada lagi suara Dedi yang berteriak dari kejauhan,
“Jangan pergi dulu! Saya belum ambil fotonya!”
Hari itu adalah hari kepulangan.
Hari terakhir mahasiswa KKN berada di Desa Awan Biru.
Pagi yang Terasa Terlalu Cepat
Sejak pagi, mahasiswa mulai mengemasi barang.
Kardus-kardus ditutup.
Tas dimasukkan ke kendaraan.
Peralatan dikumpulkan.
Barang pribadi diperiksa satu per satu.
Ada yang memastikan tidak ada pakaian tertinggal.
Ada yang mencari charger.
Ada yang menghitung dokumen.
Ada yang sibuk mengambil foto bersama.
Namun di antara semua kesibukan itu, Dedi, Ita, dan Rama justru lebih banyak diam.
Mereka bertiga berdiri di dalam ruang PDD.
Ruangan kecil yang selama empat puluh hari menjadi pusat pekerjaan mereka.
Di sana pernah ada tawa.
Pernah ada pertengkaran.
Pernah ada kepanikan.
Pernah ada laptop yang hampir rusak.
Pernah ada foto yang hilang.
Pernah ada berita yang harus diperbaiki.
Dan sekarang ruangan itu hampir kosong.
Tugas Terakhir PDD
Dedi memegang kamera.
Ia mendapat tugas terakhir.
Mendokumentasikan acara perpisahan.
Seharusnya tugas itu mudah.
Ia sudah melakukan ratusan kali selama KKN.
Mengambil foto sambutan.
Mengambil foto masyarakat.
Mengambil foto mahasiswa.
Mengambil foto kepala desa.
Mengambil foto bersama.
Namun kali ini berbeda.
Karena yang harus ia dokumentasikan adalah perpisahan mereka sendiri.
Dedi mengangkat kamera.
Ia melihat melalui jendela bidik.
Di sana ada seorang anak yang pernah menjadi bagian dari kegiatan mereka.
Anak itu tersenyum.
Dedi hendak menekan tombol.
Namun tangannya berhenti.
Ia menurunkan kamera.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Untuk Pertama Kalinya Dedi Tidak Mampu Memotret
Rama melihatnya.
“Kenapa?”
Dedi menggeleng.
“Tidak apa-apa.”
Namun Rama tahu.
Dedi sedang berusaha menahan sesuatu.
Ita datang.
“Ded, foto dulu.”
Dedi tersenyum tipis.
“Aku tahu.”
“Lalu?”
Dedi menatap kamera.
“Masalahnya, kali ini aku tahu siapa saja yang akan kehilangan momen ini.”
Ita terdiam.
Dedi melanjutkan,
“Biasanya aku mengambil foto supaya orang bisa mengingat sebuah kegiatan.”
Ia menatap halaman.
“Tapi hari ini aku justru takut foto-foto itu membuatku terlalu ingat.”
Tidak ada yang menjawab.
Karena mereka bertiga memahami perasaan itu.
Ita Tidak Mampu Menulis
Di meja lain, Ita membuka laptop.
Ia sudah menyiapkan dokumen dengan judul:
BERITA PERPISAHAN MAHASISWA KKN DI DESA AWAN BIRU
Kursor berkedip.
Namun tidak ada kalimat yang keluar.
Ia mengetik:
“Setelah melaksanakan kegiatan KKN selama empat puluh hari...”
Ia berhenti.
Menghapusnya.
Menulis lagi.
“Mahasiswa KKN secara resmi...”
Berhenti.
Hapus.
Ia mencoba sekali lagi.
Tidak berhasil.
Rama memperhatikan dari belakang.
“Kenapa tidak ditulis?”
Ita menghela napas.
“Aku tidak tahu harus mulai dari mana.”
“Biasanya kamu paling cepat kalau menulis.”
Ita tersenyum getir.
“Karena biasanya aku menulis tentang kegiatan.”
Ia menatap layar.
“Sekarang aku harus menulis tentang perpisahan.”
Kalimat yang Terlalu Berat
Ita mencoba menulis sebuah kalimat.
“Mahasiswa KKN meninggalkan Desa Awan Biru setelah menyelesaikan seluruh rangkaian program kerja.”
Ia membacanya.
Kalimat itu benar.
Namun terasa dingin.
Terlalu formal.
Terlalu sederhana.
Seolah-olah empat puluh hari dapat diringkas menjadi satu kalimat.
Ita menghapusnya.
Ia berkata,
“Tidak mungkin empat puluh hari diringkas seperti ini.”
Dedi menjawab,
“Memang tidak mungkin.”
Rama menambahkan,
“Makanya jangan dipaksa.”
Rama dan Layar yang Tidak Lagi Berisi Pekerjaan
Rama membuka folder video.
Ia melihat seluruh rekaman.
Satu demi satu.
Video kedatangan.
Video kegiatan.
Video anak-anak.
Video masyarakat.
Video rapat.
Video lomba.
Video program kerja.
Video perpisahan.
Ia memutar salah satu video.
Terdengar suara tawa mahasiswa.
Rama langsung menghentikannya.
Ia mengusap matanya.
Dedi bertanya,
“Menangis?”
“Tidak.”
Ita tersenyum.
“Matamu berkaca-kaca.”
“Laptopnya yang bikin panas.”
Dedi tertawa kecil.
“Alasanmu tetap sama.”
Rama ikut tertawa.
Namun beberapa detik kemudian, mereka kembali diam.
Masyarakat Mulai Berdatangan
Menjelang siang, halaman balai desa mulai penuh.
Warga datang.
Anak-anak datang.
Pemuda datang.
Ibu-ibu datang.
Perangkat desa berkumpul.
Mahasiswa berdiri berjejer.
Suasana yang seharusnya meriah justru terasa penuh haru.
Beberapa warga membawa makanan.
Ada yang membawa hadiah sederhana.
Ada yang membawa hasil kerajinan.
Ada pula yang hanya datang untuk berjabat tangan.
Seorang ibu mendatangi salah satu mahasiswa.
“Jangan lupa datang lagi.”
Mahasiswa itu tersenyum.
“Insyaallah, Bu.”
“Jangan hanya bilang begitu.”
Mereka tertawa.
Namun setelah itu, keduanya justru saling berpelukan.
Anak-Anak yang Tidak Ingin Berpisah
Beberapa anak berdiri di dekat kendaraan.
Mereka melihat mahasiswa memasukkan barang.
Seorang anak bertanya,
“Kak, besok masih di sini?”
Mahasiswa itu terdiam.
“Tidak.”
“Lusa?”
“Tidak juga.”
Anak itu menunduk.
“Kapan datang lagi?”
Mahasiswa tersebut mengusap kepalanya.
“Nanti kalau ada kesempatan.”
Anak itu kemudian berlari menuju temannya.
Dedi melihat kejadian tersebut melalui kamera.
Kali ini ia tidak ragu.
Klik.
Satu foto.
Kemudian satu lagi.
Dan satu lagi.
Bukan karena ia tidak sedih.
Tetapi karena ia menyadari bahwa justru inilah momen yang harus diabadikan.
Kamera Kembali Menjadi Teman
Dedi mulai bergerak.
Ia mengambil foto anak-anak.
Foto masyarakat.
Foto mahasiswa.
Foto perangkat desa.
Foto para ibu.
Foto para pemuda.
Foto ketika kepala desa memberikan sambutan.
Foto ketika DPL memberikan pesan.
Foto ketika mahasiswa menerima ucapan terima kasih.
Air matanya sesekali jatuh.
Namun ia tetap memotret.
Kini ia memahami sesuatu.
Menjadi dokumentator bukan berarti tidak boleh merasakan kehilangan.
Justru karena ia merasakan kehilangan, ia tahu betapa pentingnya setiap gambar.
Ita Akhirnya Menulis
Ita kembali ke laptop.
Kali ini ia tidak memaksa dirinya membuat berita formal.
Ia mulai menulis dari perasaan yang terjadi.
Bukan untuk menggantikan fakta.
Tetapi untuk memberikan jiwa pada fakta.
Ia menulis tentang empat puluh hari.
Tentang mahasiswa yang datang sebagai orang asing.
Tentang masyarakat yang perlahan menjadi keluarga.
Tentang program kerja.
Tentang konflik.
Tentang tawa.
Tentang kerja keras.
Tentang anak-anak yang tidak ingin mahasiswa pulang.
Tentang sebuah desa yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidup mereka.
Kali ini jarinya tidak berhenti.
Kalimat demi kalimat mengalir.
Rama Mendapat Ide
Rama membaca tulisan Ita.
Kemudian ia melihat foto-foto Dedi.
Tiba-tiba ia berkata,
“Aku tahu kita harus bikin apa.”
Dedi menoleh.
“Apa?”
Rama menjawab,
“Bukan sekadar video perpisahan.”
Ita bertanya,
“Lalu?”
Rama membuka laptop.
“Kita buat karya terakhir.”
Dedi mendekat.
“Judulnya?”
Rama tersenyum.
Ia mengetik perlahan:
EMPAT PULUH HARI, SERIBU CERITA
Mereka bertiga terdiam.
Ita membaca judul itu sekali lagi.
“Seribu cerita?”
Rama mengangguk.
“Karena selama empat puluh hari, terlalu banyak cerita yang kita temukan.”
Dedi tersenyum.
“Bagus.”
Karya Terakhir PDD
Mereka bekerja bersama.
Dedi memilih foto.
Bukan hanya foto yang indah.
Tetapi foto yang memiliki cerita.
Ita memilih kalimat.
Bukan hanya kalimat yang puitis.
Tetapi kalimat yang mewakili perjalanan.
Rama menyusun semuanya.
Foto pertama menampilkan kedatangan.
Kemudian kegiatan.
Kemudian masyarakat.
Kemudian program kerja.
Kemudian konflik.
Kemudian kebersamaan.
Kemudian perpisahan.
Video tersebut tidak dibuat untuk menunjukkan betapa hebatnya mahasiswa.
Video itu dibuat untuk menunjukkan bagaimana sebuah hubungan terbentuk selama empat puluh hari.
Cerita di Balik Setiap Foto
Satu foto memperlihatkan seorang petani.
Ita menuliskan kisahnya.
Satu foto memperlihatkan anak-anak membaca.
Ita menuliskan cerita mereka.
Satu foto memperlihatkan pemuda membantu kegiatan desa.
Ita menuliskan perannya.
Satu foto memperlihatkan mahasiswa bekerja hingga malam.
Ita menuliskan perjuangan mereka.
Satu foto memperlihatkan Dedi, Ita, dan Rama.
Rama melihatnya cukup lama.
“Yang ini jangan diberi terlalu banyak tulisan.”
Ita bertanya,
“Kenapa?”
Rama menjawab,
“Biarkan fotonya berbicara.”
Mereka Menulis Diri Mereka Sendiri
Namun ketika sampai pada bagian terakhir, mereka kesulitan.
Apa yang harus ditulis tentang mereka sendiri?
Dedi berkata,
“Tidak perlu.”
Ita bertanya,
“Kenapa?”
“Karena kita bukan tokoh utama.”
Rama menggeleng.
“Kita memang bukan tokoh utama.”
Ia menunjuk foto masyarakat.
“Cerita ini tentang semua orang.”
Ita kemudian menambahkan,
“Termasuk kita.”
Dedi terdiam.
Ia akhirnya mengangguk.
Pesan yang Mereka Tinggalkan
Di bagian akhir video, mereka menampilkan tulisan:
“Kami datang sebagai mahasiswa.”
Kemudian:
“Kami bekerja bersama masyarakat.”
Kemudian:
“Kami belajar dari kehidupan yang sederhana.”
Lalu:
“Kami pernah lelah.”
“Kami pernah berbeda.”
“Kami pernah salah.”
“Kami pernah hampir menyerah.”
Kemudian layar menampilkan foto mereka bersama masyarakat.
Tulisan terakhir muncul:
“Tetapi kami juga pernah menjadi bagian dari sebuah keluarga.”
Layar perlahan menjadi gelap.
Kemudian muncul satu kalimat terakhir:
“EMPAT PULUH HARI, SERIBU CERITA.”
Pemutaran Karya Terakhir
Sore itu, karya terakhir PDD diputar.
Semua mahasiswa duduk bersama masyarakat.
Tidak ada suara.
Video dimulai.
Foto-foto bergerak.
Kenangan muncul satu demi satu.
Ada tawa.
Ada senyum.
Ada tepuk tangan.
Namun ketika foto-foto terakhir muncul, suasana berubah.
Beberapa warga mulai menangis.
Beberapa mahasiswa menundukkan kepala.
Dedi memegang kameranya erat.
Ita menggenggam tangannya sendiri.
Rama menatap layar tanpa berkedip.
Mereka bertiga tahu.
Itu bukan sekadar video.
Itu adalah perjalanan mereka yang dikembalikan kepada orang-orang yang pernah menjadi bagian di dalamnya.
Ketika Video Berakhir
Layar menjadi gelap.
Tidak ada musik.
Tidak ada suara.
Beberapa detik semua orang diam.
Kemudian tepuk tangan terdengar.
Perlahan.
Lalu semakin keras.
Pak Iwan berdiri.
Ia melihat seluruh mahasiswa.
“Empat puluh hari mungkin waktu yang singkat.”
Ia berhenti.
“Tetapi apa yang kalian tinggalkan di sini tidak singkat.”
Mahasiswa mulai menunduk.
Pak Iwan melanjutkan,
“Terima kasih karena tidak hanya datang membawa program.”
Ia menunjuk ke arah layar.
“Kalian juga membawa cerita desa ini.”
Dedi menundukkan kepala.
Ita mengusap air mata.
Rama tersenyum.
PDD Mendapat Apresiasi
Setelah acara, beberapa warga menghampiri mereka.
Seorang ibu berkata kepada Ita,
“Terima kasih sudah menulis tentang kami.”
Ita menjawab,
“Terima kasih sudah mau bercerita kepada saya.”
Seorang pemuda berkata kepada Rama,
“Videonya bagus.”
Rama tersenyum.
“Karena ceritanya memang bagus.”
Kemudian seorang anak menghampiri Dedi.
“Kak, fotoku ada?”
Dedi tertawa.
“Ada.”
“Kirim ya.”
“Pasti.”
Anak itu tersenyum lebar.
Kemudian berlari pergi.
Dedi melihatnya.
Sederhana.
Namun justru hal-hal kecil seperti itu yang akan ia rindukan.
Perpisahan yang Tidak Selesai
Menjelang keberangkatan, kendaraan mulai dinyalakan.
Barang-barang telah selesai dimasukkan.
Mahasiswa berdiri di depan posko.
Warga berjajar.
Beberapa orang berpelukan.
Beberapa berjabat tangan.
Ada yang menangis terang-terangan.
Ada yang mencoba tersenyum.
Dedi, Ita, dan Rama berdiri bersama.
Mereka tidak tahu harus berkata apa.
Karena setiap kata terasa terlalu sedikit.
Akhirnya Dedi berkata,
“Kita pulang.”
Ita menjawab,
“Iya.”
Rama menambahkan,
“Tapi ceritanya tidak selesai.”
Mereka saling memandang.
Dan mereka tahu bahwa Rama benar.
Satu Foto Sebelum Kendaraan Berangkat
Dedi mengangkat kamera.
Kali ini ia tidak kesulitan.
Ia mengarahkan kamera kepada seluruh mahasiswa dan masyarakat.
Semua berdiri bersama.
Ada yang tersenyum.
Ada yang menangis.
Ada yang melambaikan tangan.
Klik.
Satu foto.
Dedi melihat hasilnya.
Tidak sempurna.
Beberapa orang tidak melihat kamera.
Ada yang menutup mata.
Ada yang sedang menangis.
Namun Dedi tidak menghapusnya.
Karena baginya, foto itu justru sempurna.
Sebab perpisahan memang tidak pernah sempurna.
Kendaraan Mulai Bergerak
Kendaraan perlahan meninggalkan halaman.
Mahasiswa melambaikan tangan dari dalam.
Masyarakat membalas.
Anak-anak berlari beberapa meter mengikuti kendaraan.
Beberapa mahasiswa menangis.
Ita menatap keluar jendela.
Rama memeluk laptopnya.
Dedi memegang kamera.
Di layar kameranya masih terlihat foto terakhir.
Desa Awan Biru perlahan semakin jauh.
Namun Dedi tahu, foto itu akan selalu membawa mereka kembali.
Tidak Semua Perpisahan Berarti Selesai
Ketika kendaraan mulai meninggalkan desa, Ita membuka laptop.
Ia melihat dokumen terakhir.
Judulnya:
EMPAT PULUH HARI, SERIBU CERITA
Ia tersenyum.
Kemudian berkata pelan,
“Ini bukan akhir.”
Dedi menoleh.
“Kenapa?”
“Karena kita masih bisa kembali.”
Rama menambahkan,
“Dan kalau tidak kembali pun, ceritanya tetap ada.”
Mereka terdiam.
Benar.
KKN telah berakhir.
Tetapi hubungan manusia tidak selalu berakhir ketika sebuah program selesai.
PDD dan Makna Perpisahan
Dalam perjalanan pulang, mereka bertiga tidak banyak berbicara.
Masing-masing sibuk dengan pikirannya.
Dedi memikirkan foto-foto.
Ita memikirkan tulisan.
Rama memikirkan video.
Namun pada akhirnya mereka memikirkan hal yang sama.
Tentang Desa Awan Biru.
Tentang masyarakat.
Tentang teman-teman mereka.
Tentang empat puluh hari yang terasa begitu panjang ketika dijalani, tetapi begitu singkat ketika berakhir.
Mereka datang dengan tugas.
Mereka pulang dengan kenangan.
Mereka datang sebagai tiga anggota PDD.
Mereka pulang sebagai tiga sahabat.
Satu Karya Terakhir
Beberapa hari setelah kepulangan, karya “Empat Puluh Hari, Seribu Cerita” kembali mereka lihat.
Dedi melihat foto.
Ita membaca tulisan.
Rama melihat video.
Tidak ada yang mereka ubah.
Tidak ada yang mereka revisi.
Tidak ada yang mereka sempurnakan lagi.
Karena mereka tahu, karya itu lahir dari sebuah masa yang tidak akan pernah terulang dengan cara yang sama.
Dan mungkin itulah nilai sebenarnya dari dokumentasi.
Bukan membuat sesuatu menjadi sempurna.
Tetapi menjaga agar sesuatu yang pernah terjadi tidak hilang.
Empat Puluh Hari, Seribu Cerita
Empat puluh hari.
Seribu cerita.
Tentang manusia.
Tentang desa.
Tentang mahasiswa.
Tentang pengabdian.
Tentang persahabatan.
Tentang konflik.
Tentang perjuangan.
Tentang kehilangan.
Tentang kenangan.
Dan tentang tiga orang yang awalnya hanya dianggap sebagai “tukang foto”, tetapi akhirnya menemukan bahwa pekerjaan mereka jauh lebih besar daripada yang pernah mereka bayangkan.
Dedi dengan kameranya.
Ita dengan tulisannya.
Rama dengan desain dan videonya.
Mereka telah menjadi saksi.
Mereka telah menjadi pencatat.
Mereka telah menjadi penjaga kenangan.
Dan ketika kendaraan semakin jauh meninggalkan Desa Awan Biru, satu hal menjadi jelas:
KKN mereka telah selesai.
Tetapi pengabdian mereka tidak berhenti pada hari kepulangan.
Karena cerita yang mereka tinggalkan akan terus hidup.
Di dalam foto.
Di dalam berita.
Di dalam video.
Di dalam arsip desa.
Dan terutama—
di dalam ingatan orang-orang yang pernah mereka temui.
Perpisahan itu akhirnya terjadi.
Namun perpisahan tidak selalu berarti selesai.
Kadang-kadang, perpisahan hanyalah cara kehidupan mengatakan:
“Sampai jumpa pada cerita berikutnya.”
BAB XX — JEJAK YANG TETAP HIDUP
PDD Setelah KKN
Kampus kembali seperti semula.
Koridor-koridor kembali dipenuhi mahasiswa.
Ruang kelas kembali ramai.
Dosen kembali memberikan tugas.
Jadwal kuliah kembali padat.
Kehidupan seolah berjalan seperti sebelum mereka berangkat KKN.
Namun bagi Dedi, Ita, dan Rama, ada sesuatu yang telah berubah.
Mereka memang telah meninggalkan Desa Awan Biru.
Tetapi Desa Awan Biru belum benar-benar meninggalkan mereka.
Kembali Menjadi Mahasiswa
Hari pertama kembali ke kampus terasa aneh.
Dedi duduk di ruang kuliah sambil membuka laptop.
Dosen menjelaskan materi di depan kelas.
Namun sesekali pikirannya melayang.
Ia teringat jalan desa.
Teras rumah warga.
Balai desa.
Anak-anak yang selalu menyapa.
Dan kamera yang hampir tidak pernah lepas dari tangannya selama empat puluh hari.
Ketika dosen meminta mahasiswa membuka materi kuliah, Dedi tersenyum sendiri.
Temannya bertanya,
“Kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
“Masih ingat KKN?”
Dedi mengangguk.
“Sepertinya belum bisa lupa.”
Ita dan Berita yang Belum Selesai
Ita mengalami hal yang hampir sama.
Ia kembali menjalani kegiatan perkuliahan.
Namun ketika membuka laptop, folder KKN masih berada di tempat yang sama.
Ia melihat folder:
DOKUMENTASI DESA AWAN BIRU.
Di dalamnya terdapat puluhan berita.
Foto.
Catatan wawancara.
Transkrip percakapan.
Data kegiatan.
Ia membuka salah satu berita.
Kemudian membaca kembali.
Ia tersenyum.
Ada sesuatu yang berbeda.
Kini ia tidak lagi menulis sebagai mahasiswa yang sedang menjalankan tugas.
Ia menulis karena merasa masih memiliki hubungan dengan orang-orang yang pernah ia temui.
Rama Tidak Berhenti Mendesain
Rama juga tidak benar-benar berhenti.
Setelah kembali ke kampus, ia menerima pesan dari salah satu perangkat desa.
Pesannya sederhana.
“Mas Rama, kalau ada waktu, kami ingin minta bantuan desain untuk perpustakaan desa.”
Rama membaca pesan itu.
Ia tersenyum.
Dedi bertanya,
“Kenapa?”
“Desa minta bantuan lagi.”
Ita ikut melihat.
“Desain apa?”
“Perpustakaan.”
Rama mengangguk.
“Katanya mau dibuat lebih menarik.”
Dedi tersenyum.
“Berarti PDD masih dibutuhkan.”
Rama menjawab,
“Bukan cuma PDD.”
Ia menatap layar.
“Desanya juga masih menjadi bagian dari cerita kita.”
Hubungan yang Tidak Putus
Sejak saat itu, hubungan mereka dengan Desa Awan Biru tetap berjalan.
Tidak setiap hari.
Tidak selalu melalui pertemuan langsung.
Kadang melalui pesan singkat.
Kadang melalui panggilan telepon.
Kadang melalui pengiriman foto.
Kadang melalui berita.
Kadang hanya dengan bertanya,
“Bagaimana kabar di desa?”
Pertanyaan sederhana.
Namun memiliki makna yang besar.
Karena selama empat puluh hari mereka telah belajar bahwa hubungan manusia tidak seharusnya berhenti hanya karena sebuah program telah selesai.
Berita Perkembangan Desa
Suatu pagi, seorang perangkat desa mengirim beberapa foto kepada Ita.
Ada kegiatan masyarakat.
Ada anak-anak belajar.
Ada kegiatan pemuda.
Ada aktivitas UMKM.
Ada perkembangan perpustakaan.
Ita melihat foto-foto tersebut.
Ia kemudian bertanya,
“Boleh saya tulis beritanya?”
Perangkat desa menjawab,
“Boleh.”
Ita mulai bekerja.
Ia tidak lagi berada di Desa Awan Biru.
Tetapi ia tetap bisa menulis.
Ia meminta data.
Melakukan konfirmasi.
Menyusun narasi.
Kemudian mengirimkan hasilnya untuk diperiksa.
Setelah disepakati, berita itu dipublikasikan.
Satu Berita Setelah KKN
Judul berita tersebut sederhana:
“Perpustakaan Desa Awan Biru Terus Berkembang Setelah Program KKN”
Berita itu tidak lagi berbicara tentang mahasiswa.
Tidak ada foto mahasiswa.
Tidak ada nama Dedi.
Tidak ada nama Ita.
Tidak ada nama Rama.
Yang menjadi pusat cerita adalah masyarakat.
Anak-anak.
Perpustakaan.
Dan perubahan yang terus berlangsung.
Ita membaca berita tersebut setelah dipublikasikan.
Ia tersenyum.
Kini ia memahami sesuatu.
PDD tidak harus selalu hadir secara fisik untuk tetap memberikan manfaat.
Dedi Mengirim Foto
Dedi juga masih menyimpan ribuan foto Desa Awan Biru.
Suatu hari, seorang perangkat desa menghubunginya.
“Ded, ada beberapa foto kegiatan lama yang ingin kami gunakan untuk arsip desa.”
Dedi membuka hard disk.
Ia mencari berdasarkan tanggal.
Kemudian berdasarkan kegiatan.
Ia menemukan foto yang dimaksud.
Foto anak-anak.
Foto masyarakat.
Foto kegiatan desa.
Foto pembangunan.
Semua masih tersimpan dengan rapi.
Dedi mengirimkannya.
“Silakan digunakan untuk arsip desa.”
Beberapa menit kemudian, balasan masuk.
“Terima kasih. Foto-foto ini sangat membantu.”
Dedi membaca pesan itu.
Kemudian ia menatap layar beberapa saat.
Ia baru menyadari bahwa pekerjaannya selama KKN ternyata memiliki kehidupan setelah mereka pergi.
Arsip yang Dahulu Dianggap Sepele
Dulu Dedi sering merasa lelah ketika harus menyimpan dan mengelompokkan foto.
Ia pernah berpikir,
“Untuk apa menyimpan semuanya?”
Sekarang ia mendapatkan jawabannya.
Foto yang dulu dianggap hanya file ternyata menjadi arsip.
Foto yang dulu hanya terlihat beberapa detik ternyata dapat digunakan bertahun-tahun kemudian.
Foto seorang anak yang sedang membaca.
Foto seorang petani.
Foto seorang ibu.
Foto kegiatan masyarakat.
Semuanya menjadi bagian dari sejarah kecil Desa Awan Biru.
Dedi akhirnya memahami:
Dokumentasi bukan pekerjaan untuk hari ini saja.
Dokumentasi adalah investasi ingatan untuk masa depan.
Rama dan Perpustakaan Desa
Beberapa minggu kemudian, Rama menyelesaikan desain perpustakaan.
Ia membuat beberapa materi.
Poster ajakan membaca.
Papan informasi.
Desain kegiatan literasi.
Sampul dokumentasi.
Dan beberapa materi digital.
Ia mengirim semuanya kepada desa.
Perangkat desa memberikan tanggapan.
“Bagus sekali.”
Rama tersenyum.
Kemudian sebuah foto dikirim.
Desain buatannya telah dipasang di perpustakaan.
Rama memperbesar foto tersebut.
Ia melihat hasil desainnya berada di dinding sebuah ruangan yang pernah ia kunjungi selama KKN.
Ia terdiam.
Tidak ada rasa bangga yang berlebihan.
Yang ada justru rasa haru.
Karena desain itu telah menemukan tempatnya.
PDD Tidak Lagi Menunggu Perintah
Selama KKN, mereka sering menunggu tugas.
Ada kegiatan.
Mereka dokumentasi.
Ada berita.
Mereka menulis.
Ada desain.
Rama mengerjakan.
Namun setelah KKN, pola itu berubah.
Mereka mulai bertanya:
Apa yang masih bisa kami lakukan?
Pertanyaan itu membuat mereka tidak lagi melihat pengabdian sebagai tugas yang memiliki tanggal mulai dan tanggal selesai.
Mereka mulai melihat pengabdian sebagai sesuatu yang dapat dilanjutkan melalui kemampuan yang mereka miliki.
Dedi dengan fotografi.
Ita dengan tulisan.
Rama dengan desain dan video.
Mereka Membuat Satu Kesepakatan
Suatu sore mereka bertiga bertemu di kampus.
Tidak ada rapat resmi.
Tidak ada dosen.
Tidak ada program kerja.
Mereka hanya duduk di sebuah tempat yang biasa mereka gunakan untuk mengerjakan tugas.
Ita berkata,
“Bagaimana kalau kita tetap bantu desa kalau mereka membutuhkan?”
Dedi menjawab,
“Selama kita mampu.”
Rama menambahkan,
“Dan selama memang untuk kepentingan masyarakat.”
Mereka saling memandang.
Tidak ada dokumen yang harus ditandatangani.
Tidak ada janji yang dibuat secara formal.
Namun mereka bertiga sepakat.
PDD boleh berakhir sebagai tugas KKN, tetapi kepedulian tidak harus berakhir bersama KKN.
Mereka Belajar Arti Pengabdian yang Berbeda
Dulu mereka mengira pengabdian berarti datang ke desa.
Tinggal di sana.
Melaksanakan program.
Kemudian pulang.
Sekarang pandangan mereka berubah.
Pengabdian ternyata juga bisa berupa:
membantu menyebarkan informasi yang benar;
membantu masyarakat mengenalkan potensinya;
menjaga arsip desa;
membantu membuat materi edukasi;
membantu memperkenalkan kegiatan masyarakat;
dan memastikan cerita-cerita sederhana tidak hilang.
Tidak semuanya membutuhkan kehadiran fisik.
Kadang sebuah kemampuan yang digunakan dengan tulus sudah menjadi bentuk pengabdian.
Dedi Menemukan Makna Kamera
Suatu hari Dedi membuka kamera yang digunakannya selama KKN.
Ia membersihkan lensa.
Memeriksa baterai.
Memeriksa kartu memori.
Kemudian ia membuka foto-foto lama.
Ia berhenti pada satu foto.
Foto seorang anak yang tersenyum di perpustakaan.
Dedi mengingat percakapan mereka.
Anak itu pernah bertanya,
“Kak, nanti kalau KKN selesai, Kakak masih ingat kami?”
Dedi tersenyum.
Kini ia tahu jawabannya.
Ya.
Foto itu menjadi salah satu alasannya.
Ita Menemukan Makna Kata-Kata
Ita juga menemukan perubahan dalam dirinya.
Dulu ia menulis untuk menyelesaikan tugas.
Sekarang ia menulis untuk menjaga informasi.
Dulu ia mengejar berita agar segera terbit.
Sekarang ia lebih memikirkan apakah berita itu benar dan bermanfaat.
Dulu ia berpikir tulisan selesai ketika dipublikasikan.
Sekarang ia memahami bahwa tulisan dapat terus hidup setelah penulisnya berhenti membacanya.
Ia berkata kepada Dedi suatu hari,
“Kalimat bisa lebih panjang umurnya daripada penulisnya.”
Dedi menjawab,
“Makanya harus hati-hati.”
Ita mengangguk.
Rama Menemukan Makna Desain
Bagi Rama, perubahan itu juga terasa.
Dulu ia mengejar desain yang menarik.
Sekarang ia lebih memikirkan desain yang berguna.
Ia tidak lagi bertanya:
“Apakah desain ini keren?”
Tetapi:
“Apakah orang memahami informasi yang ingin kita sampaikan?”
Pertanyaan itu mengubah cara kerjanya.
Ia mulai belajar bahwa desain bukan sekadar estetika.
Desain adalah bahasa visual.
Dan bahasa harus dapat dipahami oleh orang yang melihatnya.
Sebuah Pesan yang Mengubah Perasaan Mereka
Beberapa bulan setelah KKN, sebuah pesan masuk ke grup PDD.
Pesan itu berasal dari seorang warga Desa Awan Biru.
Isinya singkat:
“Terima kasih sudah membantu mengenalkan desa kami. Sekarang kalau ada kegiatan, kami jadi lebih percaya diri untuk mendokumentasikan dan menceritakannya.”
Dedi membaca.
Ita membaca.
Rama membaca.
Tidak ada yang langsung membalas.
Mereka bertiga seperti sedang mencerna sesuatu.
Kemudian Rama menulis:
“Berarti kita berhasil.”
Ita membalas:
“Bukan hanya kita.”
Dedi menambahkan:
“Mereka sudah bisa melanjutkan sendiri.”
Dan itulah salah satu keberhasilan terbesar yang pernah mereka rasakan.
Pengabdian yang Berhasil Adalah yang Bisa Dilanjutkan
Mereka akhirnya memahami bahwa keberhasilan KKN tidak selalu terlihat dari banyaknya program yang selesai.
Bukan hanya jumlah kegiatan.
Bukan hanya jumlah peserta.
Bukan hanya jumlah dokumentasi.
Bukan hanya jumlah berita.
Keberhasilan yang lebih penting adalah ketika masyarakat dapat melanjutkan sesuatu setelah mahasiswa pergi.
Jika perpustakaan tetap digunakan.
Jika kegiatan tetap berjalan.
Jika masyarakat semakin percaya diri.
Jika informasi desa semakin tertata.
Jika dokumentasi tetap dibuat.
Jika masyarakat mampu bercerita tentang dirinya sendiri.
Maka di situlah pengabdian mulai memiliki dampak.
Desa Awan Biru Mulai Bercerita Sendiri
Beberapa bulan kemudian, Ita melihat unggahan dari Desa Awan Biru.
Sebuah kegiatan masyarakat telah dipublikasikan.
Ada foto.
Ada keterangan.
Ada informasi kegiatan.
Ada nama peserta.
Ada tujuan kegiatan.
Ita tersenyum.
Dedi melihat unggahan tersebut.
“Siapa yang buat?”
Ita menjawab,
“Desa sendiri.”
Rama ikut melihat.
Mereka bertiga tertawa kecil.
Tidak ada rasa kecewa.
Justru sebaliknya.
Mereka merasa bangga.
Karena tujuan mereka bukan membuat desa bergantung kepada PDD.
Tujuan mereka adalah membantu desa menemukan cara untuk bercerita.
Jejak yang Tidak Lagi Membutuhkan Mereka
Pada suatu titik, mereka menyadari sesuatu yang sangat penting.
Jika Desa Awan Biru terus membutuhkan mereka untuk setiap foto, setiap berita, dan setiap desain, berarti pekerjaan mereka belum sepenuhnya berhasil.
Namun ketika masyarakat mulai mampu melakukan sendiri, berarti mereka telah meninggalkan sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar produk.
Mereka meninggalkan kemampuan.
Mereka meninggalkan kebiasaan.
Mereka meninggalkan kepercayaan diri.
Mereka meninggalkan sistem.
Dan yang paling penting—
mereka meninggalkan semangat untuk terus bercerita.
Empat Puluh Hari yang Tidak Benar-Benar Berakhir
Dedi, Ita, dan Rama mulai menyadari bahwa empat puluh hari KKN bukanlah sebuah garis lurus.
Bukan dimulai pada hari kedatangan dan berakhir pada hari kepulangan.
Empat puluh hari itu hanyalah awal.
Dampaknya berjalan setelah mereka pergi.
Foto tetap digunakan.
Berita tetap dibaca.
Video tetap diputar.
Desain tetap dipasang.
Perpustakaan tetap digunakan.
Kegiatan masyarakat tetap berlangsung.
Dan hubungan mereka dengan desa tetap hidup.
Itulah sebabnya mereka tidak lagi mengatakan:
“KKN kami sudah selesai.”
Mereka lebih suka mengatakan:
“Kegiatan KKN kami sudah selesai. Dampaknya semoga terus berjalan.”
Satu Tahun yang Akan Datang
Waktu terus berjalan.
Semester berganti.
Tugas kuliah bertambah.
Kegiatan kampus kembali padat.
Masing-masing mulai memiliki kesibukan sendiri.
Namun setiap kali ada kesempatan, mereka masih membuka grup PDD.
Masih bertanya tentang desa.
Masih melihat perkembangan.
Masih menyimpan foto.
Masih menulis jika ada cerita yang layak dibagikan.
Sampai suatu hari, sebuah pesan masuk.
Pak Iwan mengirim foto terbaru.
Di foto itu terlihat perpustakaan desa yang lebih ramai.
Anak-anak duduk membaca.
Beberapa pemuda membantu.
Di dinding terlihat salah satu desain yang pernah dibuat Rama.
Dedi memperbesar foto tersebut.
Ita melihat.
Rama terdiam.
Tidak Ada Nama Mereka di Sana
Tidak ada nama Dedi.
Tidak ada nama Ita.
Tidak ada nama Rama.
Tidak ada tulisan bahwa desain itu pernah dibuat oleh mahasiswa KKN.
Tidak ada tanda bahwa mereka pernah berada di sana.
Namun justru itulah yang membuat mereka tersenyum.
Karena sesuatu yang mereka bantu telah menjadi bagian dari kehidupan desa.
Bukan monumen untuk mereka.
Bukan penghargaan untuk mereka.
Tetapi sesuatu yang benar-benar digunakan masyarakat.
Rama berkata,
“Tidak perlu ada nama kita.”
Ita menjawab,
“Memang bukan itu tujuannya.”
Dedi tersenyum.
“Yang penting tetap hidup.”
PDD Setelah PDD
Mereka akhirnya memahami bahwa PDD bukan hanya jabatan.
Bukan hanya divisi.
Bukan hanya tugas selama KKN.
PDD telah menjadi cara mereka memandang dunia.
Melihat sesuatu.
Mencatatnya.
Memahaminya.
Menghargainya.
Kemudian membagikannya kepada orang lain dengan cara yang bertanggung jawab.
Dedi tetap memotret.
Ita tetap menulis.
Rama tetap mendesain.
Tetapi kini mereka melakukannya bukan hanya karena ada tugas.
Mereka melakukannya karena telah menemukan makna.
Jejak yang Tetap Hidup
Setahun mungkin akan berlalu.
Dua tahun.
Lima tahun.
Sepuluh tahun.
Mungkin suatu hari mereka lupa nama beberapa kegiatan.
Mungkin mereka lupa tanggal sebuah acara.
Mungkin mereka tidak lagi ingat berapa banyak foto yang mereka ambil.
Namun Desa Awan Biru akan tetap menjadi bagian dari perjalanan hidup mereka.
Karena di desa itulah mereka belajar bahwa pekerjaan yang dilakukan dengan tulus tidak selalu menghasilkan sesuatu yang langsung terlihat.
Kadang hasilnya baru terasa jauh setelah pekerjaan selesai.
Kadang orang yang menikmati hasilnya bahkan tidak tahu siapa yang memulainya.
Dan itu tidak menjadi masalah.
Karena pengabdian bukan tentang siapa yang mendapatkan pujian.
Pengabdian adalah tentang apa yang tetap bermanfaat setelah kita pergi.
PDD dan Makna Sebenarnya dari Dampak
Dedi, Ita, dan Rama akhirnya memahami arti kata yang selama ini sering mereka dengar:
Berdampak.
Berdampak bukan berarti harus melakukan sesuatu yang besar.
Berdampak bisa dimulai dari sebuah foto yang membuat masyarakat percaya diri.
Dari sebuah berita yang membuat potensi desa dikenal.
Dari sebuah desain yang membantu informasi lebih mudah dipahami.
Dari sebuah video yang membuat masyarakat melihat nilai dalam kehidupannya sendiri.
Dan dari sebuah arsip yang suatu hari menjadi bukti perjalanan sebuah desa.
Hal-hal kecil itu mungkin tidak mengubah dunia.
Namun bisa mengubah cara seseorang melihat dirinya sendiri.
Dan mungkin, itu sudah cukup.
Mereka Tidak Lagi Bertanya Apa yang Mereka Dapatkan
Pada awal KKN, mereka sering bertanya:
“Apa yang akan kita dapatkan dari KKN?”
Setelah semuanya berakhir, pertanyaan itu berubah menjadi:
“Apa yang bisa kita tinggalkan?”
Jawabannya ternyata bukan gedung.
Bukan uang.
Bukan penghargaan.
Bukan nama yang terpampang.
Yang mereka tinggalkan adalah cerita.
Kemampuan.
Arsip.
Semangat.
Dan hubungan manusia.
PDD Menjadi Bagian dari Perjalanan Hidup
Suatu sore, Dedi, Ita, dan Rama kembali duduk bersama.
Tidak ada kamera yang harus digunakan.
Tidak ada berita yang harus ditulis.
Tidak ada desain yang harus diselesaikan.
Mereka hanya berbicara.
Dedi berkata,
“Kalau waktu bisa diputar kembali, aku mau mengulang KKN.”
Ita tersenyum.
“Aku juga.”
Rama mengangguk.
“Tapi jangan suruh aku bikin desain mendadak lagi.”
Mereka tertawa.
Kemudian suasana menjadi tenang.
Ita berkata,
“Kalau dipikir-pikir, kita sebenarnya tidak pernah benar-benar meninggalkan Awan Biru.”
Dedi mengangguk.
“Karena sebagian cerita kita masih di sana.”
Rama menambahkan,
“Dan sebagian cerita mereka juga sudah menjadi bagian dari kita.”
KKN yang Tidak Pernah Benar-Benar Selesai
KKN secara administratif mungkin telah berakhir.
Program kerja telah selesai.
Laporan telah dikumpulkan.
Mahasiswa telah kembali ke kampus.
Namun pengabdian tidak memiliki batas yang selalu dapat ditentukan oleh tanggal.
Selama masih ada hubungan.
Selama masih ada manfaat.
Selama masih ada pengetahuan yang diteruskan.
Selama masih ada cerita yang hidup.
Maka sebagian dari pengabdian itu masih berjalan.
Dan itulah yang terjadi kepada Dedi, Ita, dan Rama.
Mereka tidak lagi tinggal di Desa Awan Biru.
Namun mereka masih menjadi bagian kecil dari cerita desa tersebut.
JEJAK YANG TETAP HIDUP
Pada akhirnya, Dedi memahami bahwa kamera yang ia bawa selama empat puluh hari bukan sekadar alat untuk mengambil gambar.
Ita memahami bahwa laptopnya bukan sekadar tempat menulis berita.
Rama memahami bahwa desain bukan sekadar gambar yang dibuat agar terlihat menarik.
Semua itu adalah alat untuk meninggalkan jejak.
Jejak tentang manusia.
Jejak tentang desa.
Jejak tentang pengabdian.
Jejak tentang persahabatan.
Dan jejak tentang tiga mahasiswa yang pernah berdiri di belakang layar, bekerja tanpa banyak terlihat, tetapi berusaha memastikan setiap cerita memiliki tempat untuk dikenang.
Mereka pernah dianggap hanya tukang foto.
Pernah dianggap hanya pembuat berita.
Pernah dianggap hanya pembuat desain.
Namun empat puluh hari telah mengajarkan mereka bahwa pekerjaan di balik layar dapat memiliki dampak yang jauh lebih panjang daripada yang terlihat.
Karena sebuah foto dapat bertahan bertahun-tahun.
Sebuah tulisan dapat dibaca oleh generasi berikutnya.
Sebuah desain dapat terus digunakan.
Sebuah video dapat memanggil kembali kenangan.
Dan sebuah cerita dapat membuat orang mengingat bahwa mereka pernah menjadi bagian dari sesuatu yang berarti.
Dedi menutup kamera.
Ita menutup laptop.
Rama menyimpan file terakhir.
Mereka bertiga tersenyum.
Tidak ada lagi yang harus mereka kejar.
Tidak ada lagi tugas PDD.
Tidak ada lagi jadwal dokumentasi.
Namun di dalam hati mereka, ada satu keyakinan yang tetap tinggal:
KKN boleh berakhir.
Program kerja boleh selesai.
Mahasiswa boleh pulang.
Tetapi pengabdian yang benar-benar berdampak akan meninggalkan sesuatu yang tetap hidup.
Dan di Desa Awan Biru, jejak itu masih ada.
Bukan sebagai nama mereka.
Bukan sebagai tanda bahwa mereka pernah datang.
Tetapi sebagai sesuatu yang terus digunakan, diteruskan, dan dikembangkan oleh masyarakat.
Itulah arti sebenarnya dari meninggalkan jejak.
Bukan agar kita selalu dikenang.
Tetapi agar sesuatu yang baik dapat terus berjalan meskipun kita sudah tidak berada di sana.
Dan bagi Dedi, Ita, dan Rama, itulah makna terbesar dari perjalanan mereka sebagai tim Publikasi, Dokumentasi, dan Desain.
Mereka datang membawa tugas.
Mereka pulang membawa pengalaman.
Namun yang mereka tinggalkan adalah dampak.
EPILOG
Setahun Kemudian — Foto yang Tidak Pernah Terhapus
Setahun telah berlalu sejak kendaraan terakhir yang membawa mahasiswa KKN meninggalkan Desa Awan Biru.
Waktu berjalan begitu cepat.
Empat puluh hari yang dahulu terasa panjang kini hanya tinggal kenangan.
Namun bagi Dedi, empat puluh hari itu tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu.
Sesekali ia masih membuka folder dokumentasi KKN.
Ia masih melihat foto-foto lama.
Masih membaca berita yang pernah ditulis Ita.
Masih menonton video yang dibuat Rama.
Dan setiap kali melihatnya, ia selalu merasa seolah-olah kembali berada di desa itu.
Kembali mendengar suara anak-anak.
Kembali melihat senyum masyarakat.
Kembali mendengar suara teman-temannya memanggil.
Kembali merasakan lelah setelah seharian berpindah dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya.
Kembali menjadi bagian dari Desa Awan Biru.
Kembali Setelah Satu Tahun
Pada suatu akhir pekan, Dedi mengambil keputusan yang sebenarnya sudah lama ada di dalam pikirannya.
Ia ingin kembali.
Bukan karena ada tugas.
Bukan karena ada program KKN.
Bukan karena ada permintaan dokumentasi.
Ia hanya ingin melihat bagaimana keadaan Desa Awan Biru setelah satu tahun berlalu.
Pagi itu, Dedi memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas.
Ia juga membawa kamera yang sama.
Kamera yang dahulu selalu berada di tangannya selama KKN.
Kamera yang pernah kehujanan.
Kamera yang pernah digunakan sampai malam.
Kamera yang menyimpan ribuan foto.
Kamera yang menjadi saksi perjalanan PDD.
Sebelum berangkat, Dedi memeriksa kameranya.
Baterai penuh.
Kartu memori tersedia.
Lensa bersih.
Ia tersenyum.
“Masih hidup ternyata.”
Kemudian ia berangkat.
Sendirian.
Desa yang Masih Diingatnya
Ketika kendaraan mulai mendekati Desa Awan Biru, perasaan Dedi berubah.
Jalan yang dahulu terasa asing kini seperti sesuatu yang dikenalnya.
Ia mengenali beberapa persimpangan.
Mengenali balai desa.
Mengenali jalan menuju perpustakaan.
Mengenali rumah tempat mereka pernah mengadakan kegiatan.
Mengenali lapangan tempat mahasiswa dan masyarakat pernah berkumpul.
Semuanya tampak sedikit berbeda.
Ada bangunan yang berubah.
Ada halaman yang lebih tertata.
Ada beberapa fasilitas baru.
Namun suasananya tetap sama.
Desa itu masih memiliki kehidupan yang dahulu membuatnya merasa seperti berada di rumah sendiri.
Pertemuan dengan Pak Iwan
Dedi langsung menuju balai desa.
Di sana ia bertemu Pak Iwan.
Kepala Desa Awan Biru itu awalnya tidak langsung mengenalinya.
Namun beberapa detik kemudian wajahnya berubah.
“Dedi?”
Dedi tersenyum.
“Iya, Pak.”
Pak Iwan berdiri dan menghampirinya.
“Wah, kamu datang sendiri?”
“Iya, Pak. Kebetulan ada waktu.”
Mereka berjabat tangan.
Kemudian tertawa.
Pak Iwan menepuk bahunya.
“Sudah satu tahun.”
Dedi mengangguk.
“Rasanya baru kemarin, Pak.”
Pak Iwan tersenyum.
“Itulah waktu.”
Mereka kemudian berbicara cukup lama.
Tentang mahasiswa.
Tentang program KKN.
Tentang perkembangan desa.
Tentang anak-anak.
Tentang perpustakaan.
Tentang beberapa kegiatan yang terus berjalan setelah mahasiswa pergi.
KKN yang Masih Diingat
Pak Iwan kemudian berkata,
“Kalau ada kegiatan tertentu, masyarakat masih sering membicarakan kalian.”
Dedi sedikit terkejut.
“Masih?”
“Masih.”
Pak Iwan tersenyum.
“Terutama anak-anak.”
Dedi tertawa.
“Anak-anak masih ingat?”
“Sebagian besar masih.”
Dedi terdiam.
Ia tidak pernah berpikir bahwa kehadiran mereka selama empat puluh hari akan meninggalkan ingatan sedalam itu.
Bagi mahasiswa, KKN adalah satu tahap perjalanan pendidikan.
Namun bagi sebagian masyarakat, kedatangan mahasiswa mungkin menjadi pengalaman yang berbeda.
Sebuah pertemuan singkat.
Tetapi memiliki kenangan panjang.
Menuju Perpustakaan
Setelah berbincang dengan Pak Iwan, Dedi berjalan menuju perpustakaan desa.
Ia masih mengingat tempat itu.
Dahulu tempat tersebut menjadi salah satu lokasi yang sering mereka dokumentasikan.
Kini suasananya terlihat lebih hidup.
Beberapa anak duduk membaca.
Ada yang membaca buku cerita.
Ada yang membuka buku pelajaran.
Ada yang berdiskusi.
Seorang anak membantu merapikan buku.
Dedi berhenti di depan pintu.
Ia tidak langsung masuk.
Ia hanya berdiri dan memperhatikan.
Kemudian ia tersenyum.
Sesuatu yang Membuatnya Terdiam
Di dinding perpustakaan, Dedi melihat beberapa foto.
Ia mendekat.
Satu foto menampilkan kegiatan membaca.
Foto lain menampilkan masyarakat.
Ada foto anak-anak.
Ada foto kegiatan pemuda.
Ada foto program desa.
Kemudian matanya berhenti pada satu foto.
Foto itu membuat langkahnya terhenti.
Di dalam foto tersebut terdapat tiga orang.
Dedi.
Ita.
Rama.
Mereka berdiri di belakang kamera dan laptop.
Tidak sedang berada di tengah kegiatan.
Tidak sedang menjadi pusat perhatian.
Mereka hanya sedang bekerja.
Namun di bawah foto tersebut terdapat sebuah tulisan:
“Mereka tidak hanya memotret pengabdian. Mereka ikut menjadi bagian dari cerita.”
Dedi membaca kalimat itu perlahan.
Sekali.
Kemudian sekali lagi.
Ia tersenyum.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Foto yang Dahulu Tidak Mereka Anggap Penting
Dedi teringat bagaimana foto itu diambil.
Saat itu mereka sedang sibuk.
Dedi sedang mengatur kamera.
Ita sedang memeriksa tulisan.
Rama sedang mengedit sesuatu di laptop.
Salah seorang mahasiswa mengambil foto mereka tanpa mereka sadari.
Saat itu tidak ada yang menganggapnya penting.
Bahkan mungkin mereka tidak pernah melihat hasilnya.
Namun satu tahun kemudian, foto itu justru terpajang di perpustakaan.
Bukan sebagai penghargaan.
Bukan sebagai penghormatan berlebihan.
Melainkan sebagai pengingat.
Bahwa pernah ada tiga mahasiswa yang bekerja di balik layar.
Tiga orang yang mungkin tidak banyak terlihat.
Tetapi pernah memberikan sesuatu yang berarti.
Dedi Mengambil Foto
Dedi mengeluarkan kameranya.
Ia memotret foto tersebut.
Klik.
Kemudian ia tersenyum.
Ia tidak tahu untuk apa foto itu nantinya.
Namun kali ini ia tidak terlalu memikirkannya.
Ia hanya ingin menyimpannya.
Sebagai bagian dari cerita.
Pesan dari Ita
Tidak lama kemudian, ponsel Dedi berbunyi.
Sebuah pesan masuk.
Dari Ita.
“Ded, sudah sampai?”
Dedi tersenyum.
Ia mengetik:
“Sudah.”
Tidak lama kemudian, pesan kedua masuk.
“Bagaimana Awan Biru?”
Dedi melihat sekeliling.
Anak-anak masih membaca.
Perpustakaan masih ramai.
Foto mereka masih terpajang.
Ia kemudian menjawab:
“Masih seperti dulu. Tapi sudah banyak berubah.”
Ita membalas:
“Kamu ketemu Pak Iwan?”
“Sudah.”
“Perpustakaan?”
Dedi tersenyum.
“Aku sedang di sini.”
Beberapa detik kemudian, Ita mengirim pesan:
“Masih ada foto kita?”
Dedi memandang foto di dinding.
Kemudian mengetik:
“Ada.”
Pesan dari Rama
Belum sempat Dedi menyimpan ponselnya, pesan lain masuk.
Dari Rama.
“Jangan lupa foto-foto lagi.”
Dedi tertawa.
Ia membalas:
“Masih menyuruh aku kerja?”
Rama menjawab:
“Kamu kan PDD seumur hidup.”
Dedi tertawa lebih keras.
Kemudian Ita ikut mengirim pesan:
“Jangan percaya Rama.”
Rama membalas:
“Terlambat.”
Untuk beberapa saat, percakapan mereka kembali seperti masa KKN.
Tidak ada jarak satu tahun.
Tidak ada kesibukan kampus.
Tidak ada perubahan kehidupan.
Mereka kembali menjadi tiga orang yang pernah bekerja bersama hampir setiap hari.
PDD yang Tidak Pernah Benar-Benar Berakhir
Dedi menyimpan ponselnya.
Ia kemudian memandang kamera.
Selama KKN, kamera itu pernah menjadi sumber kelelahan.
Ia pernah membawa kamera dalam hujan.
Berlari mengejar kegiatan.
Berdiri berjam-jam.
Mengambil ratusan foto dalam satu hari.
Memeriksa hasil dokumentasi sampai larut malam.
Namun sekarang ia memandang kamera itu dengan perasaan berbeda.
Kamera tersebut bukan lagi sekadar alat.
Kamera itu telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Seorang Anak Datang
Seorang anak kecil mendekati Dedi.
“Kak.”
Dedi menoleh.
“Iya?”
“Kakak dulu ikut KKN di sini, ya?”
Dedi terkejut.
“Iya.”
Anak itu tersenyum.
“Aku ingat.”
Dedi ikut tersenyum.
“Namamu siapa?”
Anak itu menyebutkan namanya.
Dedi mencoba mengingat.
Wajah itu terasa familiar.
Mungkin ia pernah memotretnya.
Mungkin pernah melihatnya di perpustakaan.
Mungkin pernah mengambil gambar saat anak itu mengikuti kegiatan mereka.
Dedi kemudian berkata,
“Kamu masih suka membaca?”
Anak itu mengangguk.
“Suka.”
“Bagus.”
Anak itu melihat kamera Dedi.
“Sekarang masih suka foto?”
Dedi tertawa.
“Masih.”
“Foto aku dong.”
Dedi mengangkat kamera.
“Siap.”
Anak itu berdiri di depan rak buku.
Tersenyum.
Dedi mengatur fokus.
Kemudian—
Klik.
Satu Foto Baru
Dedi melihat hasilnya.
Foto itu sederhana.
Seorang anak.
Sebuah buku.
Rak perpustakaan.
Cahaya pagi.
Tidak ada sesuatu yang luar biasa.
Namun bagi Dedi, foto itu memiliki makna yang dalam.
Setahun lalu, ia datang ke desa sebagai mahasiswa KKN.
Hari ini ia kembali sebagai seseorang yang pernah meninggalkan bagian kecil dari dirinya di tempat itu.
Dan kini ia menemukan sesuatu yang baru.
Bukan sekadar kenangan.
Tetapi keberlanjutan.
Bukan Lagi Tentang Mereka
Dedi menyadari bahwa selama KKN, ia sering berpikir tentang hasil pekerjaan mereka.
Berapa banyak foto.
Berapa banyak berita.
Berapa banyak desain.
Berapa banyak video.
Namun sekarang semua itu terasa berbeda.
Yang lebih penting bukan lagi jumlahnya.
Yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelahnya.
Apakah foto masih digunakan?
Apakah berita masih dibaca?
Apakah desain masih bermanfaat?
Apakah masyarakat masih mendokumentasikan kegiatan mereka?
Apakah anak-anak masih membaca?
Apakah program yang pernah mereka bantu masih berjalan?
Jawabannya ada di depan mata.
Ya.
Dedi Kembali ke Balai Desa
Sebelum pulang, Dedi kembali ke balai desa.
Pak Iwan masih berada di sana.
Dedi menunjukkan foto anak yang baru saja ia ambil.
“Bagus,” kata Pak Iwan.
Dedi tersenyum.
“Sekarang saya tidak lagi mengambil foto untuk laporan, Pak.”
Pak Iwan bertanya,
“Untuk apa?”
Dedi melihat layar kameranya.
“Untuk cerita.”
Pak Iwan mengangguk.
“Berarti kamu masih PDD.”
Dedi tertawa.
“Mungkin begitu, Pak.”
Sebuah Pesan dari Pak Iwan
Sebelum Dedi meninggalkan balai desa, Pak Iwan berkata,
“Ded.”
Dedi berhenti.
“Iya, Pak?”
“Kalau suatu hari nanti kamu sudah punya pekerjaan sendiri, sudah sibuk, sudah punya keluarga, jangan lupa desa ini.”
Dedi terdiam.
Pak Iwan melanjutkan,
“Karena mungkin bagi kalian, KKN hanya empat puluh hari.”
Ia menunjuk ke arah desa.
“Tapi bagi kami, kalian pernah menjadi bagian dari perjalanan desa ini.”
Dedi mengangguk.
Matanya kembali berkaca-kaca.
“Saya tidak akan lupa, Pak.”
Perjalanan Pulang
Sore hari, Dedi bersiap pulang.
Ia kembali melewati jalan yang sama.
Namun kali ini perasaannya berbeda.
Ia tidak merasa sedang meninggalkan desa.
Ia merasa sedang membawa sesuatu dari desa itu bersamanya.
Di dalam kameranya terdapat foto baru.
Di dalam ponselnya terdapat percakapan dengan Ita dan Rama.
Di dalam ingatannya terdapat wajah-wajah masyarakat.
Dan di dalam hatinya terdapat satu kesadaran:
Cerita yang baik tidak pernah benar-benar selesai.
Ia hanya berpindah dari satu orang kepada orang lain.
Foto yang Tidak Pernah Terhapus
Malam harinya, setelah sampai di rumah, Dedi membuka laptop.
Ia memindahkan foto-foto dari kamera.
Satu per satu.
Foto perpustakaan.
Foto anak-anak.
Foto balai desa.
Foto Pak Iwan.
Foto jalan desa.
Foto tempat-tempat yang pernah menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Kemudian ia menemukan foto terakhir.
Foto dirinya sendiri bersama Ita dan Rama.
Foto yang terpajang di perpustakaan.
Ia membukanya dalam ukuran penuh.
Kemudian menatapnya cukup lama.
Setahun telah berlalu.
Namun tiga orang dalam foto itu masih terlihat seperti dulu.
Masih bekerja.
Masih berdiri di belakang layar.
Masih menjadi bagian dari sebuah cerita.
Dedi tersenyum.
Ia memberi nama file tersebut:
PDD_AWAN_BIRU_SETAHUN_KEMUDIAN.jpg
Kemudian ia menyimpannya.
Pesan Terakhir Malam Itu
Dedi membuka grup percakapan mereka.
Ia mengirim foto anak yang sedang membaca.
Ita langsung membalas:
“Bagus sekali.”
Rama kemudian membalas:
“Masih punya bakat ternyata.”
Dedi tertawa.
Ia kemudian menulis:
“Ternyata desa masih menyimpan banyak cerita.”
Ita menjawab:
“Karena cerita memang tidak pernah habis.”
Rama menambahkan:
“Tinggal siapa yang mau mengabadikannya.”
Dedi membaca pesan itu.
Kemudian tersenyum.
Ia tahu.
Mereka bertiga mungkin tidak akan selalu bekerja bersama.
Suatu hari mereka akan lulus.
Memiliki pekerjaan masing-masing.
Menjalani kehidupan masing-masing.
Mungkin jarang bertemu.
Namun pengalaman yang mereka jalani bersama akan selalu menjadi bagian dari perjalanan mereka.
Makna Sebenarnya dari PDD
Dedi kemudian menutup laptop.
Sebelum tidur, ia kembali memikirkan satu hal.
Selama ini orang mungkin melihat PDD hanya sebagai bagian yang berada di belakang kegiatan.
Orang melihat kamera.
Melihat laptop.
Melihat desain.
Melihat berita.
Namun tidak selalu melihat proses di baliknya.
Padahal di balik satu foto ada seseorang yang memilih sudut pandang.
Di balik satu berita ada seseorang yang memeriksa fakta.
Di balik satu desain ada seseorang yang menyusun pesan.
Di balik satu video ada seseorang yang memilih cerita mana yang harus disampaikan.
PDD bukan hanya tentang menghasilkan konten.
PDD adalah tentang menentukan bagaimana sebuah pengabdian akan diingat.
Mereka Tidak Harus Selalu Terlihat
Dedi akhirnya memahami sesuatu yang dahulu sulit ia terima.
Pekerjaan terbaik PDD bukan ketika nama mereka paling banyak disebut.
Bukan ketika foto mereka dipuji.
Bukan ketika desain mereka mendapat banyak komentar.
Bukan ketika berita mereka menjadi populer.
Pekerjaan terbaik PDD adalah ketika masyarakat merasa bahwa cerita mereka layak untuk dihargai.
Ketika sebuah desa mampu melihat potensinya sendiri.
Ketika seorang anak merasa bangga melihat dirinya dalam dokumentasi.
Ketika sebuah kegiatan tidak hilang begitu saja.
Dan ketika kenangan tetap hidup meskipun orang-orang yang mendokumentasikannya sudah pergi.
KLIK
Beberapa hari kemudian, Dedi kembali melihat foto anak yang sedang membaca.
Ia tersenyum.
Kemudian teringat foto pertama yang ia ambil ketika datang ke Desa Awan Biru satu tahun sebelumnya.
Ia membandingkannya dengan foto terbaru.
Foto pertama memperlihatkan mahasiswa yang baru datang.
Foto terbaru memperlihatkan masyarakat yang terus melanjutkan kehidupan.
Di antara kedua foto itu terdapat waktu.
Terdapat perubahan.
Terdapat cerita.
Dan terdapat sebuah perjalanan.
Dedi akhirnya memahami bahwa mungkin itulah tugas terbesar seorang PDD.
Bukan sekadar mengambil gambar.
Bukan sekadar menulis berita.
Bukan sekadar membuat desain.
Tetapi memastikan bahwa setiap kebaikan yang pernah dilakukan memiliki jejak untuk dikenang.
Cerita yang Belum Berakhir
Setahun setelah KKN, Desa Awan Biru terus berjalan.
Anak-anak terus belajar.
Masyarakat terus bekerja.
Pemuda terus berkegiatan.
Perpustakaan terus digunakan.
Pembangunan terus berjalan.
Desa terus berkembang.
Dan cerita-cerita baru terus lahir setiap hari.
Dedi, Ita, dan Rama tidak lagi berada di sana.
Namun sebagian kecil dari mereka masih tinggal dalam bentuk yang berbeda.
Dalam sebuah foto.
Dalam sebuah berita.
Dalam sebuah desain.
Dalam sebuah video.
Dalam sebuah arsip.
Dan dalam ingatan masyarakat.
Mereka mungkin tidak akan pernah tahu berapa lama jejak itu bertahan.
Namun mereka tidak lagi mempersoalkannya.
Karena mereka telah belajar bahwa sebuah pengabdian tidak harus dikenang selamanya oleh semua orang.
Cukup jika pernah memberikan manfaat.
Cukup jika pernah membuat seseorang tersenyum.
Cukup jika pernah membantu sebuah cerita agar tidak hilang.
EPILOG — SELESAI, TETAPI TIDAK BERAKHIR
Dedi menutup laptop.
Kamera diletakkan di atas meja.
Foto terakhir masih terpampang di layar.
Seorang anak sedang membaca buku di perpustakaan Desa Awan Biru.
Dedi tersenyum.
Ia kemudian menekan tombol kamera sekali lagi.
Klik.
Satu foto baru tersimpan.
Bukan untuk laporan.
Bukan untuk penilaian.
Bukan untuk tugas.
Bukan untuk mendapatkan pujian.
Tetapi karena Dedi tahu bahwa suatu hari nanti, foto itu mungkin akan menjadi bagian dari cerita seseorang.
Ia memandang kamera.
Kemudian berkata pelan,
“Selama masih ada cerita, PDD tidak pernah benar-benar selesai.”
Di tempat lain, Ita mungkin sedang menulis.
Rama mungkin sedang mendesain.
Dan di Desa Awan Biru, anak-anak masih membaca.
Kehidupan terus berjalan.
Cerita terus bertambah.
Kenangan terus tumbuh.
Dan jejak yang pernah mereka tinggalkan tetap hidup.
Bukan hanya di dalam foto.
Bukan hanya di dalam berita.
Bukan hanya di dalam desain.
Tetapi di dalam perubahan kecil yang terus berlangsung.
Di dalam masyarakat yang semakin percaya diri menceritakan dirinya sendiri.
Di dalam anak-anak yang terus membaca.
Di dalam desa yang terus berkembang.
Dan di dalam tiga mahasiswa yang pernah belajar bahwa pengabdian bukan tentang seberapa lama kita tinggal.
Melainkan tentang seberapa berarti sesuatu yang kita tinggalkan setelah kita pergi.
Dedi menatap layar untuk terakhir kalinya.
Kemudian mematikannya.
Malam menjadi sunyi.
Namun di suatu tempat, sebuah cerita baru sedang dimulai.
Karena setiap foto menyimpan kenangan.
Setiap tulisan menyimpan suara.
Setiap desain menyimpan pesan.
Dan setiap pengabdian menyimpan jejak.
Jejak yang mungkin tidak selalu terlihat.
Tetapi tetap hidup.
Selamanya.



Danzo
18 Juni 2026 09:53:32
...