Kabut pagi selalu datang lebih awal di Desa Awan Biru.
Ia turun perlahan dari perbukitan, menyelimuti atap-atap rumah warga yang masih basah oleh embun. Jalanan tanah tampak sunyi, hanya sesekali terdengar suara ayam berkokok atau langkah kaki warga yang memulai aktivitasnya. Udara dingin menggigit pelan, namun membawa ketenangan yang sulit ditemukan di tempat lain.
Di desa itulah… segala cerita bermula.
Desa Awan Biru bukan desa yang besar. Namun ia menyimpan kehidupan yang hangat, penuh kebersamaan, dan nilai-nilai yang dijaga turun-temurun. Di bawah kepemimpinan Kepala Desa Iwan Setiawan, yang baru saja memulai periode keduanya, desa itu perlahan berubah—lebih tertata, lebih hidup, dan penuh semangat baru.
Namun di balik perubahan itu… ada satu hal yang tetap sama.
Gunung di kejauhan.
Gunung Merbabu.
Ia berdiri kokoh, seolah menjadi penjaga sekaligus saksi dari setiap kehidupan yang tumbuh di bawahnya. Bagi sebagian orang, gunung itu hanyalah bentang alam. Namun bagi yang lain… gunung adalah panggilan.
Dan panggilan itu… tidak selalu bisa dijelaskan.
Di sebuah sudut desa, terdapat bangunan sederhana yang sering dipenuhi suara tawa dan diskusi panjang. Sekretariat Kelompok Pecinta Alam Awan Biru—tempat di mana mimpi-mimpi muda mulai dibentuk.
Di sanalah, para pemuda desa berkumpul.
Mereka bukan sekadar anak muda biasa. Mereka adalah mereka yang memilih untuk berjalan lebih jauh, melihat lebih luas, dan merasakan lebih dalam. Mereka menamakan diri mereka KPAAB.
Kelompok Pecinta Alam Awan Biru.
Bagi mereka, hutan bukan sekadar pepohonan.
Gunung bukan sekadar ketinggian.
Dan perjalanan… bukan sekadar langkah.
Namun tidak semua perjalanan dimulai dengan keyakinan.
Ada kalanya… perjalanan dimulai dari rasa penasaran.
Dari sebuah ide sederhana.
Dari sebuah kalimat yang terucap tanpa diduga—
“Bagaimana kalau kita mencoba jalur yang belum pernah dilalui?”
Kalimat itu terdengar ringan.
Namun bagi mereka… kalimat itu adalah awal dari segalanya.
Gunung Merbabu memiliki banyak jalur.
Jalur yang telah dikenal.
Jalur yang telah dilalui ribuan pendaki.
Namun di antara semua itu… terselip satu jalur yang hampir tidak pernah disebut.
Jalur dari Desa Suralaya.
Jalur yang tidak tercatat secara resmi.
Jalur yang hanya dikenal oleh segelintir orang.
Dan jalur… yang menyimpan cerita.
Di kalangan warga sekitar, jalur itu bukan sekadar jalur alternatif.
Ia disebut sebagai jalur ujian.
Bukan karena medannya yang sulit.
Bukan pula karena jaraknya yang panjang.
Melainkan karena… sesuatu yang tidak terlihat.
Konon, ada bagian dari jalur itu di mana arah menjadi tidak pasti.
Langkah terasa berputar.
Dan pikiran… mulai kehilangan pegangan.
Ada pula yang bercerita tentang suara yang memanggil.
Bayangan yang mengikuti.
Dan perasaan… bahwa mereka tidak pernah benar-benar sendiri.
Namun seperti semua cerita yang diwariskan secara lisan…
tidak semua orang percaya.
“Cerita seperti itu hanya untuk menakut-nakuti,” kata sebagian orang.
“Itu bagian dari alam yang belum kita pahami,” kata yang lain.
Dan di antara dua pandangan itu…
lahirlah perdebatan yang tak pernah benar-benar selesai.
Logika melawan keyakinan.
Ilmu melawan intuisi.
Dan manusia… berada di tengah-tengahnya.
Namun ada satu hal yang sering dilupakan—
bahwa alam tidak pernah berusaha menjelaskan dirinya.
Ia hanya ada.
Diam.
Namun penuh makna.
Pada suatu waktu, jauh sebelum langkah pertama mereka dimulai…
seorang tua di Desa Suralaya pernah berkata—
“Gunung tidak pernah menyesatkan manusia.
Manusialah yang sering tersesat… karena tidak memahami.”
Kalimat itu sederhana.
Namun menyimpan arti yang dalam.
Bahwa perjalanan bukan hanya tentang arah…
tetapi tentang cara memahami.
Dan kini…
tanpa mereka sadari…
sebuah perjalanan sedang menunggu.
Bukan perjalanan biasa.
Bukan sekadar pendakian.
Melainkan perjalanan yang akan menguji—
bukan hanya fisik…
tetapi juga pikiran…
dan hati.
Di Desa Awan Biru, pagi itu terasa seperti pagi-pagi sebelumnya.
Tidak ada tanda-tanda.
Tidak ada pertanda besar.
Hanya kabut, embun, dan rutinitas yang berjalan seperti biasa.
Namun di balik itu semua…
takdir telah bergerak.
Pelan.
Diam.
Namun pasti.
Satu keputusan akan dibuat.
Satu langkah akan diambil.
Dan satu perjalanan akan dimulai.
Perjalanan yang akan membawa mereka…
menembus batas yang selama ini hanya mereka dengar.
Menghadapi sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.
Dan menemukan sesuatu…
yang tidak pernah mereka cari sebelumnya.
Karena pada akhirnya…
tidak semua petualangan dimulai dengan peta.
Tidak semua jalan bisa dipahami dengan kompas.
Dan tidak semua tujuan…
bisa dilihat dengan mata.
Ada perjalanan…
yang hanya bisa dirasakan.
Dan jejaknya…
akan abadi.
“Jejak Petualang” bukan sekadar kisah tentang mendaki gunung.
Ini adalah kisah tentang manusia…
yang berani melangkah ke dalam ketidakpastian,
dan menemukan arti dari perjalanan itu sendiri.
Pagi itu, Desa Awan Biru masih diselimuti kabut tipis yang menggantung malas di antara perbukitan. Embun menempel di ujung-ujung daun, berkilau diterpa cahaya matahari yang perlahan bangkit dari balik cakrawala. Udara sejuk membawa aroma tanah basah—aroma yang selalu mengingatkan pada kehidupan, pada awal dari sebuah perjalanan.
Di sebuah bangunan sederhana yang berdiri di tepi lapangan desa, terdengar riuh suara tawa bercampur perdebatan. Sebuah papan kayu bertuliskan “Sekretariat KPAAB” tergantung sedikit miring di depan pintu. Di sanalah, semangat muda Desa Awan Biru berkumpul—Kelompok Pecinta Alam Awan Biru.
“Pokoknya ini kesempatan kita!” suara Joko Supraktikno terdengar lantang, memecah suasana. Ia berdiri di depan, kedua tangannya bertumpu di meja kayu yang sudah penuh coretan peta dan catatan.
Hermansyah bersandar di kursi, menyilangkan tangan. “Kesempatan atau nekat, Ko? Jalur yang belum pernah dilalui? Itu bukan tantangan biasa.”
“Justru itu!” sahut Joko cepat. “Kalau semua orang ambil jalur yang sama, kita ini cuma jadi pendaki biasa. Kita ini KPAAB!”
“Ya, KPAAB… bukan Kumpulan Pemuda Asal Berangkat,” celetuk Guntur sambil terkekeh.
Ruangan langsung dipenuhi tawa.
“Eh, serius sedikit bisa nggak sih?” Camelia menggeleng sambil tersenyum tipis. “Ini bukan piknik. Gunung itu punya aturan sendiri.”
“Betul,” timpal Nadia, suaranya lembut tapi tegas. “Dan kita nggak bisa cuma mengandalkan semangat tanpa perhitungan.”
Joko menarik napas panjang. Ia memandang satu per satu wajah di hadapannya—orang-orang yang bukan hanya teman, tapi sudah seperti keluarga.
“Aku tahu ini bukan hal kecil,” katanya lebih pelan, namun penuh tekanan. “Tapi justru karena itu… kita harus melakukannya dengan benar. Persiapan matang. Izin lengkap. Strategi jelas. Kita bukan nekat… kita siap.”
Hening sejenak.
Di sudut ruangan, Amat Junior mengangkat tangan pelan. “Kalau kita berhasil… kita akan jadi yang pertama, kan?”
Joko tersenyum. “Bukan soal jadi yang pertama. Tapi soal membuktikan bahwa kita mampu.”
“Dan kalau gagal?” tanya Yulia.
Pertanyaan itu menggantung di udara, seperti kabut yang tak kunjung hilang.
“Kalau gagal,” jawab Joko akhirnya, “kita belajar. Tapi kita nggak akan gagal… kalau kita tetap bersama.”
Raka yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara, “Aku ikut.”
“Serius?” Bayu menoleh.
Raka mengangguk. “Kalau kita jalan, kita jalan bareng. Nggak ada yang ditinggal.”
Satu per satu, suara persetujuan mulai bermunculan.
“Aku juga,” kata Anita.
“Herman ikut.”
“Arga siap.”
“Jojon? Ya ikut lah, masa jadi penonton,” katanya sambil tertawa.
Guntur menghela napas, lalu mengangkat tangan. “Ya sudah. Kalau kalian semua gila… aku ikut jadi warasnya.”
“Terbalik, Tur,” sahut Hermansyah. “Kita ini waras semua, kamu yang mulai terpengaruh.”
Tawa kembali pecah, kali ini lebih hangat, lebih menyatu.
Namun di balik canda itu, ada sesuatu yang tak terucap—sebuah rasa penasaran, sekaligus ketakutan kecil yang bersembunyi di balik keyakinan.
Joko melangkah ke papan tulis. Ia menggambar garis kasar, sebuah sketsa gunung dengan jalur yang belum jelas.
“Gunung Merbabu,” katanya. “Kita akan masuk dari Desa Suralaya. Jalur alternatif. Belum ada yang pernah mencatat secara resmi.”
“Artinya?” tanya Nadia.
“Artinya… kita akan berjalan di jalur yang belum punya cerita,” jawab Joko.
“Justru itu yang bikin serem,” gumam Camelia.
“Serem itu relatif,” kata Guntur santai. “Yang penting jangan sampai ketemu mantan di tengah hutan. Itu lebih horor.”
“Guntur!” seru Yulia sambil melempar gulungan kertas.
Suasana kembali riuh.
Namun Hermansyah masih tampak serius. “Ko, aku mau tanya. Jalur baru itu… kita yakin aman?”
Joko menatapnya. “Nggak ada yang bisa jamin 100% aman. Tapi kita akan cari informasi sebanyak mungkin. Kita nggak akan jalan tanpa bekal.”
“Bekal fisik… atau bekal yang lain?” tanya Amat pelan.
Semua terdiam sejenak.
Pertanyaan itu sederhana, tapi mengandung makna yang lebih dalam.
Joko menghela napas. “Kita hormati alam. Kita jaga sikap. Kita jalan dengan niat baik. Itu cukup.”
“Menurutmu cukup?” Hermansyah menatap tajam.
“Menurutku… kita harus percaya,” jawab Joko.
“Percaya pada apa?”
Joko tersenyum tipis. “Pada diri kita. Dan… pada sesuatu yang lebih besar dari kita.”
Ruangan kembali sunyi.
Di luar, angin berhembus pelan, menggoyangkan daun-daun, seolah ikut mendengar percakapan mereka.
Camelia memandang keluar jendela. “Kadang… alam itu bukan cuma soal yang terlihat,” katanya lirih.
“Mulai lagi deh,” Guntur menggeleng. “Ini yang bikin aku mikir dua kali.”
“Justru kamu yang paling penakut,” balas Nadia.
“Eh, penakut itu realistis,” bantah Guntur cepat. “Berani itu bukan berarti nekat.”
“Setuju,” kata Hermansyah.
Joko menepuk meja. “Makanya kita diskusikan ini sekarang. Semua sudut pandang penting. Logika penting. Insting juga penting.”
“Dan doa,” tambah Anita pelan.
Semua mengangguk.
Suasana berubah. Lebih tenang, lebih dalam.
Joko menatap mereka dengan penuh keyakinan. “Ini bukan sekadar pendakian. Ini perjalanan kita. Tentang keberanian… tentang persahabatan… dan tentang batas yang selama ini kita pikir nggak bisa kita lewati.”
Ia berhenti sejenak.
“Dan mungkin… tentang sesuatu yang belum kita pahami.”
Di kejauhan, suara burung terdengar bersahut-sahutan. Matahari kini mulai meninggi, mengusir kabut yang sejak tadi menyelimuti desa.
Seolah memberi tanda—bahwa hari itu, sebuah keputusan besar telah lahir.
Dan tanpa mereka sadari, langkah kecil yang dimulai di ruang sederhana itu… akan membawa mereka pada perjalanan yang mengubah segalanya.
Bukan hanya tentang puncak yang akan mereka capai.
Tetapi tentang jejak yang akan mereka tinggalkan.
Dan rahasia yang menunggu… di antara kabut Gunung Merbabu.
Langit Desa Awan Biru siang itu tampak cerah, seolah memberi restu diam-diam atas rencana besar yang sedang disusun oleh para pemuda desa. Namun di balik semangat yang membuncah, langkah berikutnya tidak lagi sekadar soal keberanian—melainkan tentang tanggung jawab.
Di halaman kantor desa, bendera Merah Putih berkibar pelan. Beberapa warga berlalu-lalang, sementara di dalam ruangan utama, suasana terasa lebih khidmat. Joko Supraktikno bersama seluruh anggota KPAAB duduk rapi, meskipun beberapa di antara mereka tampak gelisah.
“Jangan sampai ada yang salah ngomong, ya,” bisik Yulia pelan.
“Tenang saja,” jawab Guntur, “yang penting jangan kamu yang ngomong duluan.”
Yulia menyikutnya pelan. “Bisa nggak sih kamu serius sedikit?”
“Serius itu mahal, Yul. Aku lagi nabung,” balas Guntur santai.
Di depan mereka, Pak Kepala Desa Iwan Setiawan duduk dengan tenang. Tatapannya tajam, namun penuh wibawa. Ia bukan hanya pemimpin, tapi juga sosok yang memahami betul karakter pemuda-pemuda di hadapannya.
“Jadi…” suara Pak Iwan memecah suasana, “kalian ingin membuka jalur baru di Gunung Merbabu?”
Joko mengangguk mantap. “Iya, Pak. Kami sudah diskusikan matang-matang.”
“Matang?” ulang Pak Iwan, sedikit mengernyit. “Gunung itu bukan ladang jagung yang bisa kalian ukur dengan langkah kaki biasa.”
Beberapa anggota saling pandang.
Hermansyah maju sedikit. “Kami sadar risikonya, Pak. Tapi kami juga sudah mempersiapkan diri.”
Pak Iwan menatap satu per satu wajah mereka. “Persiapan seperti apa?”
Joko membuka map yang dibawanya. “Kami sudah menyusun rencana perjalanan, estimasi waktu, kebutuhan logistik, serta pembagian tugas. Selain itu, kami juga akan mengurus semua perizinan resmi.”
Pak Iwan mengambil berkas itu, membacanya dengan seksama. Suasana menjadi hening. Bahkan Guntur yang biasanya paling banyak bicara, kini memilih diam.
Beberapa menit berlalu.
“Secara administratif… ini sudah cukup rapi,” ujar Pak Iwan akhirnya. “Tapi kalian harus ingat, ini bukan hanya soal kertas dan rencana.”
“Lalu apa lagi, Pak?” tanya Nadia.
Pak Iwan bersandar di kursinya. “Mental. Kekompakan. Dan… hal-hal yang tidak bisa kalian jelaskan dengan logika.”
Beberapa anggota langsung menoleh satu sama lain.
“Bapak maksud…?” tanya Amat pelan.
Pak Iwan tersenyum tipis. “Kalian ini anak gunung, pasti tahu maksud saya.”
Camelia menunduk, seolah memahami.
Namun Guntur mengangkat tangan. “Pak, kalau boleh jujur… saya lebih percaya sama peta dan kompas daripada hal-hal begitu.”
Pak Iwan menatapnya tajam, namun tidak marah. “Dan itu tidak salah. Tapi jangan pernah merasa bahwa apa yang tidak kamu percaya… tidak ada.”
Ruangan kembali hening.
Joko menarik napas. “Kami akan tetap menjaga sikap, Pak. Kami tidak akan meremehkan apapun.”
Pak Iwan mengangguk pelan. “Itu baru jawaban yang saya harapkan.”
Ia kemudian meletakkan berkas di meja.
“Saya izinkan,” katanya tegas.
Sejenak, semua seperti tidak percaya.
“Serius, Pak?” seru Jojon spontan.
Guntur langsung menepuk bahunya. “Woi, jaga wibawa dikit!”
Tawa kecil terdengar, mencairkan suasana.
“Tapi…” lanjut Pak Iwan, membuat semua kembali fokus, “izin ini bukan tanpa syarat.”
Joko mengangguk. “Kami siap, Pak.”
“Pertama, kalian wajib mengurus izin resmi ke Polsek Kecamatan Kabut Merah. Kedua, koordinasi dengan desa tujuan, yaitu Desa Suralaya. Ketiga, laporan lengkap sebelum dan sesudah pendakian.”
“Siap, Pak!” jawab mereka serempak.
“Dan yang terakhir,” suara Pak Iwan sedikit melembut, “jaga satu sama lain. Jangan ada yang pulang sendirian… atau tidak pulang sama sekali.”
Kalimat itu membuat suasana kembali sunyi.
Anita menunduk, menggenggam tangannya erat.
“Baik, Pak,” jawab Joko pelan, namun penuh keyakinan.
Pak Iwan berdiri. “Kalau begitu, saya tunggu kabar baik dari kalian.”
Pertemuan pun selesai. Namun perjalanan mereka baru saja dimulai.
Sore harinya, rombongan KPAAB terlihat di Polsek Kecamatan Kabut Merah. Bangunan sederhana itu tampak ramai oleh aktivitas masyarakat.
Seorang petugas polisi menyambut mereka. “Ada keperluan apa?”
Joko maju. “Kami ingin mengurus surat izin pendakian, Pak.”
“Pendakian biasa atau luar biasa?” tanya petugas itu sambil tersenyum tipis.
Guntur langsung menjawab, “Kalau bisa sih luar biasa, Pak. Biar ada diskonnya.”
Semua tertawa, termasuk petugas tersebut.
“Baik, baik. Silakan isi formulir dulu,” katanya.
Proses administrasi berlangsung cukup lama. Beberapa anggota mulai terlihat lelah.
“Kalau tahu begini, aku bawa bantal,” gumam Arga.
“Sekalian kasur, biar bisa langsung camping di sini,” sahut Jojon.
“Eh, jangan macam-macam. Ini kantor polisi,” bisik Yulia.
“Justru itu, biar aman,” jawab Guntur santai.
Setelah semua berkas selesai, petugas menyerahkan surat izin tersebut.
“Ini tanggung jawab besar, ya. Jangan sampai kami dapat laporan yang tidak diinginkan.”
Joko menerima surat itu dengan hormat. “Siap, Pak. Kami akan jaga nama baik desa.”
Malam mulai turun saat mereka kembali ke sekretariat.
Di bawah lampu sederhana, mereka berkumpul lagi. Kali ini, suasana berbeda. Tidak lagi sekadar penuh semangat—melainkan juga penuh kesadaran.
“Kita sudah dapat izin,” kata Joko sambil mengangkat surat. “Artinya… ini benar-benar akan terjadi.”
“Deg-degan juga ya,” ujar Nadia.
“Baru sekarang?” Guntur tertawa. “Aku dari tadi sudah deg-degan, cuma disembunyikan.”
Hermansyah menatap peta yang terbentang. “Perjalanan kita nggak akan mudah.”
“Memang nggak,” sahut Camelia. “Tapi kita nggak sendiri.”
Anita mengangguk. “Selama kita saling jaga… kita pasti bisa.”
Joko memandang mereka semua. “Mulai besok, kita fokus persiapan. Tidak ada yang main-main.”
“Siap, Komandan!” seru Jojon sambil memberi hormat berlebihan.
“Turunkan tanganmu, itu bukan militer,” kata Yulia sambil tertawa.
Tawa kembali pecah, namun kali ini terasa lebih hangat… dan lebih dalam.
Di luar, malam semakin pekat. Angin berhembus pelan, membawa suara-suara alam yang tak sepenuhnya bisa dijelaskan.
Seolah ada sesuatu yang menunggu.
Menunggu langkah mereka.
Menunggu keberanian mereka.
Dan mungkin… menguji batas yang belum pernah mereka sentuh.
Pagi di Desa Awan Biru kali ini terasa berbeda. Bukan hanya karena langit yang cerah tanpa awan, tetapi juga karena semangat yang menggantung di udara—semangat petualangan yang tak bisa lagi dibendung.
Di halaman sekretariat KPAAB, sebuah mobil minibus berwarna putih sudah terparkir. Di sampingnya, seorang pria dengan topi lusuh dan senyum lebar berdiri sambil bersandar santai.
“Itu pasti sopirnya,” bisik Yulia.
“Kalau dari gayanya sih… lebih cocok jadi dukun keliling,” sahut Guntur pelan.
“Eh, jangan sembarangan,” tegur Nadia.
Pria itu mendekat sambil melambaikan tangan. “Pagi, anak-anak petualang! Saya Anto. Sopir sekaligus… pembaca tanda-tanda alam.”
Semua saling pandang.
“Pembaca… apa, Pak?” tanya Jojon.
“Ah, nanti juga kalian tahu,” jawab Anto misterius, lalu terkekeh.
Guntur langsung berbisik, “Nah kan, aku bilang juga…”
Joko maju dan menjabat tangan Anto. “Kami siap berangkat, Pak.”
“Siap? Belum tentu,” jawab Anto santai. “Perjalanan itu bukan soal siap atau tidak… tapi soal siapa yang paling banyak doa.”
“Kalau begitu, kita aman,” kata Anita sambil tersenyum. “Doa kita banyak.”
“Bagus,” ujar Anto. “Karena jalur yang kalian tuju… bukan jalur biasa.”
Kalimat itu membuat suasana sedikit berubah.
Namun Jojon segera menyela, “Yang penting mobilnya biasa saja, Pak. Jangan sampai tiba-tiba terbang.”
Tawa pun pecah, mencairkan ketegangan.
Perjalanan pun dimulai.
Mobil minibus melaju perlahan meninggalkan Desa Awan Biru. Di dalam, suasana riuh oleh canda dan tawa.
“Eh, siapa yang bawa gitar?” tanya Bayu.
“Aku!” jawab Arga sambil mengangkat gitar dari belakang.
“Wah, siap-siap konser di tengah hutan,” kata Guntur.
“Jangan konser horor saja,” sahut Yulia.
Tak lama, suara petikan gitar mengalun. Lagu-lagu sederhana mengisi perjalanan, membuat waktu terasa lebih cepat.
Namun di sela-sela itu, Anto tiba-tiba berbicara.
“Kalian tahu tidak…?” katanya sambil tetap fokus menyetir.
“Apa, Pak?” tanya Hermansyah.
“Kadang… perjalanan yang paling menyenangkan… justru yang paling berbahaya.”
Semua terdiam sejenak.
“Wah, mulai lagi,” gumam Guntur.
“Serius ini,” lanjut Anto. “Saya sudah sering antar pendaki. Banyak yang berangkat dengan tawa… tapi pulang dengan cerita yang berbeda.”
“Cerita seperti apa?” tanya Camelia pelan.
Anto tersenyum tipis. “Cerita yang tidak semua orang mau dengar.”
“Kalau cerita horor, nanti saja, Pak. Tunggu malam,” sahut Jojon.
“Kenapa harus malam?” tanya Anto.
“Biar sekalian lengkap,” jawab Jojon santai.
Tawa kembali pecah.
Namun di balik itu, beberapa dari mereka mulai merasakan sesuatu—bukan ketakutan, tapi semacam firasat yang sulit dijelaskan.
Perjalanan terus berlanjut. Jalanan mulai menanjak, pemandangan berubah menjadi perbukitan hijau yang memanjakan mata.
“Indah banget…” ujar Nadia kagum.
“Ini baru awal,” kata Anto. “Semakin tinggi, semakin banyak yang tidak terlihat.”
“Pak…” Guntur menoleh, “kalau terus begitu, nanti kita nggak berani turun dari mobil.”
Anto tertawa. “Tenang saja. Kalian ini pemberani. Saya bisa lihat dari mata kalian.”
“Wah, bisa baca mata juga, Pak?” tanya Yulia.
“Bisa. Tapi jangan takut kalau saya tahu isi hati kalian.”
“Waduh, kalau tahu isi hati Guntur, bisa pusing, Pak,” sahut Arga.
“Eh, hati saya bersih!” protes Guntur.
“Bersih karena kosong,” balas Jojon cepat.
Tawa kembali menggema di dalam mobil.
Beberapa jam kemudian, mereka berhenti di sebuah warung kecil di pinggir jalan.
“Istirahat sebentar,” kata Anto.
Mereka turun, meregangkan tubuh, dan menikmati udara segar.
“Capek juga ya,” kata Amat sambil duduk.
“Belum apa-apa sudah capek,” ejek Herman.
“Ini latihan,” jawab Amat.
Di sudut warung, Anto berbincang dengan pemilik warung, seorang pria tua.
Sesekali, pria tua itu melirik ke arah rombongan KPAAB dengan tatapan yang sulit diartikan.
Camelia memperhatikan itu. “Kalian lihat?”
“Apa?” tanya Nadia.
“Orang itu… seperti tahu sesuatu.”
“Ah, kamu mulai lagi,” kata Guntur.
“Tapi serius,” lanjut Camelia, “tatapannya beda.”
Joko mendekat. “Sudah, jangan dipikirkan dulu. Kita fokus perjalanan.”
Namun sebelum mereka kembali ke mobil, pria tua itu mendekat.
“Kalian mau ke Merbabu?” tanyanya pelan.
“Iya, Pak,” jawab Joko sopan.
“Lewat mana?”
“Desa Suralaya.”
Pria itu terdiam sejenak, lalu mengangguk perlahan. “Hati-hati… jalur itu tidak semua orang bisa lewati.”
“Kenapa, Pak?” tanya Hermansyah.
Pria itu tersenyum tipis. “Karena… yang tersesat bukan hanya langkah… tapi juga pikiran.”
Semua terdiam.
“Terima kasih, Pak,” kata Joko akhirnya.
Mereka pun kembali ke mobil.
Perjalanan dilanjutkan.
Kali ini, suasana sedikit berbeda. Masih ada tawa, masih ada canda… tapi ada juga keheningan yang sesekali muncul.
Seolah setiap orang mulai memikirkan sesuatu.
“Eh, kalau nanti kita tersesat gimana?” tanya Yulia tiba-tiba.
“Ya cari jalan pulang,” jawab Guntur.
“Kalau nggak ketemu?”
“Ya… kita buat rumah di sana,” jawab Guntur santai.
“Serius ini!” Yulia mulai kesal.
Joko menoleh. “Kita nggak akan tersesat. Kita punya peta, kompas, dan pengalaman.”
“Dan…?” tanya Camelia.
Joko tersenyum tipis. “Dan kebersamaan.”
Anita mengangguk. “Selama kita bersama… kita pasti bisa.”
Menjelang sore, mereka akhirnya tiba di Desa Suralaya.
Desa itu tampak tenang, dengan latar Gunung Merbabu yang menjulang megah di kejauhan.
“Wow…” gumam Bayu.
“Itu dia,” kata Anto. “Tujuan kalian.”
Semua terdiam, menatap gunung itu dengan perasaan yang campur aduk—kagum, penasaran, dan sedikit gentar.
“Perjalanan baru saja dimulai,” ujar Joko pelan.
Dan di dalam hati masing-masing, mereka tahu…
Bahwa perjalanan ini bukan sekadar petualangan.
Melainkan awal dari sesuatu yang lebih besar.
Sesuatu yang akan menguji mereka.
Bukan hanya sebagai pendaki…
Tetapi sebagai manusia.
Langit sore di Desa Suralaya berwarna jingga keemasan ketika mobil minibus yang ditumpangi rombongan KPAAB perlahan memasuki gerbang desa. Jalan tanah yang membelah perkampungan tampak lengang, hanya sesekali terlihat warga yang menghentikan aktivitasnya untuk memperhatikan kedatangan mereka.
Gunung Merbabu berdiri gagah di kejauhan, seolah mengawasi setiap langkah yang memasuki wilayahnya.
“Ini desa yang akan jadi titik awal kita…” gumam Joko pelan.
“Sekaligus mungkin titik balik,” sahut Hermansyah.
“Jangan mulai lagi, Man,” kata Guntur sambil turun dari mobil. “Baru sampai, sudah bicara balik.”
Namun entah mengapa, suasana di desa itu terasa berbeda. Tenang… tapi bukan sekadar tenang. Ada kesan hening yang terlalu dalam, seperti menyimpan sesuatu yang tidak terucap.
Seorang pria paruh baya dengan pakaian sederhana berjalan mendekat. Wajahnya ramah, namun sorot matanya tajam.
“Selamat datang di Desa Suralaya,” ucapnya.
Joko segera maju. “Terima kasih, Pak. Kami dari Desa Awan Biru.”
Pria itu tersenyum. “Saya Raditya. Kepala Desa di sini.”
Semua anggota KPAAB langsung memberi salam hormat.
“Kami sudah mendapat kabar dari Pak Iwan,” lanjut Raditya. “Kalian akan mendaki melalui jalur alternatif.”
“Iya, Pak,” jawab Joko mantap.
Raditya mengangguk pelan, lalu menatap Gunung Merbabu sejenak. “Jalur itu… belum banyak yang berani coba.”
“Belum banyak atau belum ada, Pak?” tanya Guntur.
Raditya tersenyum tipis. “Ada yang mencoba. Tapi tidak semua… kembali dengan cerita yang jelas.”
Suasana seketika berubah hening.
“Wah, kalau begitu kita harus jadi yang pertama bawa cerita lengkap,” sahut Jojon mencoba mencairkan suasana.
Raditya tertawa kecil. “Semoga begitu.”
Mereka kemudian diajak menuju sebuah rumah singgah yang telah disiapkan. Bangunan kayu itu sederhana, namun cukup nyaman untuk beristirahat.
“Silakan gunakan tempat ini untuk bermalam,” kata Raditya. “Besok pagi kita akan lakukan pembekalan jalur.”
“Terima kasih banyak, Pak,” ujar Anita tulus.
Setelah beristirahat sejenak, mereka berkumpul kembali di balai desa. Malam mulai turun, dan lampu-lampu mulai dinyalakan. Suasana menjadi lebih serius.
Di depan mereka, Raditya membentangkan peta sederhana.
“Jalur ini memiliki sepuluh basecamp,” jelasnya. “Setiap titik punya karakteristik berbeda.”
“Sepuluh?” ulang Amat.
“Iya,” jawab Raditya. “Dan semakin ke atas, semakin sulit… bukan hanya secara fisik.”
Hermansyah mengangguk. “Kami siap, Pak.”
Raditya menatap mereka satu per satu. “Basecamp pertama hingga ketiga relatif aman. Tapi setelah itu… kalian harus lebih berhati-hati.”
“Kenapa?” tanya Nadia.
Raditya menarik napas pelan. “Di Basecamp Empat… sering terjadi gangguan.”
“Gangguan seperti apa?” tanya Camelia, suaranya lebih pelan.
Raditya terdiam sejenak, seolah memilih kata-kata. “Gangguan yang tidak bisa dijelaskan dengan logika.”
Guntur mengangkat alis. “Maksudnya…?”
“Suara tanpa sumber. Bayangan tanpa bentuk. Dan… perasaan seperti diawasi,” jawab Raditya tenang.
Beberapa anggota saling pandang.
“Pak, kalau begitu kenapa jalur itu tetap dibuka?” tanya Joko.
“Karena alam tidak pernah menutup diri,” jawab Raditya. “Manusia yang harus belajar memahami.”
“Dan Basecamp sepuluh?” tanya Hermansyah.
Wajah Raditya berubah sedikit lebih serius.
“Itu yang paling berbahaya.”
Semua langsung fokus.
“Di sana… kalian bisa tersesat. Bukan karena jalurnya hilang… tapi karena arah seolah berputar.”
“Berputar?” ulang Yulia.
“Kalian akan merasa berjalan maju… tapi kembali ke titik yang sama,” jelas Raditya.
“Seperti… lingkaran?” tanya Bayu.
“Ya. Dan banyak yang tidak sadar… sampai terlambat.”
Suasana menjadi semakin tegang.
“Lalu solusinya, Pak?” tanya Joko.
Raditya menggeleng pelan. “Saya belum punya jawaban pasti.”
“Serius?” Guntur tampak kaget.
“Namun…” lanjut Raditya, “ada satu petunjuk dari sesepuh desa.”
Semua menatapnya penuh harap.
“Katanya… kunci untuk keluar dari jalur itu bukan hanya peta… tapi pemahaman.”
“Pemahaman tentang apa?” tanya Camelia.
Raditya menatap mereka dalam-dalam. “Tentang alam. Tentang tanda-tanda. Dan… tentang diri kalian sendiri.”
Hening.
Angin malam berhembus pelan, membuat daun-daun di luar bergesekan, menimbulkan suara yang samar namun terasa dekat.
Setelah pembekalan selesai, mereka kembali ke rumah singgah.
Namun suasana tidak lagi sama seperti sebelumnya.
“Menurut kalian… itu serius atau cuma cerita?” tanya Guntur sambil merebahkan diri.
“Menurutku serius,” jawab Nadia.
“Ah, aku tetap percaya sama logika,” kata Guntur. “Kalau tersesat, berarti salah navigasi. Selesai.”
“Tidak semua hal bisa dijelaskan seperti itu,” sahut Camelia.
“Contohnya?” tantang Guntur.
Camelia terdiam sejenak. “Perasaan.”
“Perasaan itu subjektif,” balas Guntur cepat.
“Dan kadang… justru itu yang paling nyata,” kata Camelia pelan.
Perdebatan mulai terasa.
“Sudah,” potong Joko. “Kita tidak perlu sepakat soal itu sekarang. Yang penting kita saling jaga.”
Hermansyah mengangguk. “Yang jelas… kita harus ekstra hati-hati.”
“Dan jangan sampai panik,” tambah Anita.
“Kalau panik, ingat saja wajah Guntur,” kata Jojon. “Pasti langsung lupa takut.”
“Eh!” Guntur bangkit. “Wajahku ini menenangkan!”
“Menakutkan, maksudnya,” sahut Arga.
Tawa kembali pecah, meskipun tidak sekeras sebelumnya.
Malam semakin larut.
Satu per satu mulai terlelap, namun tidak semua bisa tidur nyenyak.
Di luar, angin berhembus lebih dingin.
Di kejauhan, Gunung Merbabu berdiri dalam gelap, seolah menyimpan rahasia yang belum terungkap.
Dan di dalam keheningan itu…
seolah ada sesuatu yang mengamati.
Menunggu.
Menanti langkah mereka esok hari.
Langkah yang akan membawa mereka…
lebih dekat pada misteri.
Fajar di Desa Suralaya datang dengan perlahan, menyibak kabut yang menggantung di lereng-lereng gunung. Udara terasa lebih dingin dibandingkan pagi di Desa Awan Biru, seolah memberi isyarat bahwa perjalanan hari ini bukanlah perjalanan biasa.
Di halaman rumah singgah, anggota KPAAB sudah bersiap. Ransel besar tergeletak rapi, tali sepatu dikencangkan, dan wajah-wajah yang semalam diliputi kegelisahan kini berubah menjadi tekad.
“Semua sudah siap?” tanya Joko sambil memeriksa daftar perlengkapan.
“Siap!” jawab mereka serempak, meski beberapa suara terdengar masih mengantuk.
“Yang belum siap, silakan pulang,” celetuk Guntur.
“Yang belum siap itu kamu,” balas Yulia cepat.
Tawa kecil terdengar, menghangatkan suasana pagi yang dingin.
Tak lama, Kepala Desa Suralaya, Raditya, datang menghampiri mereka. Ia membawa sebuah tongkat kayu dan tas kecil di pundaknya.
“Saya akan mengantar sampai titik awal jalur,” katanya.
“Terima kasih, Pak,” ujar Joko.
Raditya mengangguk, lalu memandang mereka dengan serius. “Ingat, jalur ini bukan hanya soal arah. Kalian harus peka.”
“Peka terhadap apa, Pak?” tanya Amat.
Raditya tersenyum tipis. “Terhadap perubahan… sekecil apa pun.”
Guntur berbisik pelan ke Hermansyah, “Kalau perubahan cuaca sih masih masuk akal…”
Hermansyah hanya menggeleng kecil. “Dengar saja dulu.”
Perjalanan pun dimulai.
Langkah pertama mereka menapaki jalur tanah yang masih lembap oleh embun. Pepohonan tinggi menjulang di kiri dan kanan, membentuk lorong alami yang seolah menyambut… sekaligus menguji.
“Indah banget,” ujar Nadia sambil mengamati sekitar.
“Ini baru pemanasan,” kata Raditya.
Basecamp pertama mereka capai tanpa kesulitan berarti. Suasana masih ringan, bahkan canda tawa masih terdengar.
“Kalau begini sih, kita bisa sampai puncak sambil nyanyi,” kata Jojon.
“Jangan sombong dulu,” sahut Anita.
Perjalanan berlanjut ke basecamp kedua dan ketiga. Jalur mulai menanjak, napas mulai terasa berat, namun semangat masih terjaga.
“Minum dulu,” kata Joko.
Mereka berhenti sejenak. Suara hutan terdengar jelas—burung, angin, dan gesekan daun.
Namun di sela-sela itu, Camelia tiba-tiba diam.
“Kalian dengar?” tanyanya pelan.
“Dengar apa?” tanya Yulia.
“Seperti… ada suara langkah.”
Semua terdiam.
Guntur mendengarkan sejenak, lalu menghela napas. “Itu suara kita sendiri, Mel.”
Camelia menggeleng. “Bukan.”
Raditya yang sejak tadi diam, akhirnya berbicara. “Kita lanjut saja.”
Nada suaranya tenang, tapi tegas.
Memasuki jalur menuju basecamp empat, suasana mulai berubah.
Cahaya matahari terasa lebih redup, meskipun waktu masih siang. Pepohonan semakin rapat, dan udara terasa lebih dingin.
“Kenapa tiba-tiba jadi begini?” gumam Arga.
“Karena kita mulai masuk wilayah yang berbeda,” jawab Raditya singkat.
“Berbeda bagaimana, Pak?” tanya Hermansyah.
Raditya tidak langsung menjawab. Ia hanya melangkah lebih pelan, seolah memberi kesempatan mereka untuk merasakan sendiri.
Dan memang… sesuatu terasa berbeda.
Angin yang tadinya sepoi-sepoi kini terasa lebih berat. Suara hutan menjadi lebih samar, seperti tertelan oleh keheningan.
“Ko…” bisik Anita, “aku jadi nggak enak.”
Joko menoleh. “Tetap di dekatku.”
Guntur mencoba tersenyum. “Santai saja. Ini cuma sugesti.”
“Kalau sugesti, kenapa aku juga merasakan?” tanya Nadia.
Guntur terdiam sejenak. “Ya… berarti sugestinya menular.”
“Ini bukan lucu, Tur,” kata Hermansyah tegas.
Mereka akhirnya tiba di sebuah area yang agak terbuka.
Raditya berhenti.
“Inilah… basecamp empat.”
Semua langsung memperhatikan sekitar.
Tidak ada yang tampak aneh secara kasat mata. Hanya tanah datar, beberapa batu besar, dan pepohonan yang mengelilingi.
Namun suasananya…
terlalu sunyi.
“Ini tempatnya?” tanya Jojon.
Raditya mengangguk. “Ya.”
“Kelihatannya biasa saja,” kata Guntur.
“Tunggu sebentar,” jawab Raditya pelan.
Mereka pun beristirahat sejenak.
Beberapa duduk, sebagian membuka botol minum.
Namun tiba-tiba—
KRESEK…
Suara itu terdengar jelas.
Semua langsung menoleh ke arah yang sama.
“Siapa itu?” tanya Yulia.
Tidak ada jawaban.
“Paling binatang,” kata Guntur, meski suaranya sedikit berubah.
“Binatang apa yang langkahnya seperti itu?” tanya Camelia.
KRESEK… KRESEK…
Suara itu terdengar lagi. Kali ini… seperti lebih dekat.
Anita meraih tangan Nadia. “Aku takut…”
Joko berdiri. “Semua tetap tenang.”
Hermansyah mengamati sekitar. “Arah suara berubah.”
“Berubah bagaimana?” tanya Arga.
“Tadi di kiri… sekarang di kanan,” jawabnya.
Guntur menelan ludah. “Oke… ini mulai tidak lucu.”
Raditya tetap berdiri tenang. Ia memejamkan mata sejenak, lalu berkata pelan, “Jangan panik. Jangan terpancing.”
“Terpancing apa, Pak?” tanya Jojon.
“Perasaan kalian sendiri,” jawab Raditya.
Suasana semakin tegang.
Tiba-tiba, angin berhembus lebih kencang.
Daun-daun berguguran.
Dan di antara pepohonan…
seolah ada bayangan yang bergerak cepat.
“Lihat itu!” teriak Bayu.
Semua menoleh—namun tidak ada apa-apa.
“Di sana tadi!” Bayu menunjuk.
“Tidak ada,” kata Guntur cepat.
“Aku lihat!” balas Bayu.
Perdebatan mulai muncul.
“Ini cuma halusinasi,” kata Guntur.
“Tidak!” sahut Camelia. “Ini nyata!”
“Kalau nyata, mana buktinya?”
“Tidak semua harus ada bukti untuk dipercaya!”
“Dan tidak semua yang dirasakan itu benar!”
Suara mereka mulai meninggi.
“CUKUP!”
Joko berteriak.
Semua terdiam.
“Kita tidak akan bertengkar di sini,” lanjutnya tegas. “Kita satu tim.”
Hening.
Raditya membuka mata. “Kalian sudah merasakan… bukan?”
Tidak ada yang menjawab.
“Tapi ingat,” lanjutnya, “ini baru awal.”
Kalimat itu terasa seperti beban yang jatuh di hati masing-masing.
Setelah beberapa saat, suasana mulai kembali tenang.
“Pak… kita lanjut?” tanya Joko.
Raditya mengangguk. “Kita lanjut.”
Namun sebelum melangkah, ia berkata pelan, hampir seperti berbisik—
“Jangan pernah merasa sendirian di tempat seperti ini…”
Semua saling pandang.
Dan tanpa mereka sadari…
langkah yang mereka ambil setelah itu…
bukan lagi sekadar langkah menuju puncak.
Melainkan langkah menuju sesuatu yang tidak bisa mereka hindari.
Sesuatu yang telah menunggu…
sejak mereka memutuskan untuk datang.
Langkah mereka meninggalkan area Basecamp Empat terasa lebih berat dari sebelumnya. Bukan karena jalur yang semakin menanjak, melainkan karena sesuatu yang tak kasatmata kini ikut berjalan bersama mereka.
Hutan berubah.
Tidak lagi sekadar rimbun—tetapi terasa menutup. Seolah pepohonan tinggi itu bukan hanya tumbuh, melainkan mengawasi.
“Ko…” bisik Anita, suaranya gemetar, “aku merasa kita diikuti.”
Joko menoleh sekilas. “Tetap fokus ke depan. Jangan lihat ke belakang.”
“Kenapa?” tanya Anita.
“Karena kadang… yang kita lihat di belakang… bukan yang sebenarnya,” jawab Joko pelan.
Guntur yang berjalan di sisi lain mencoba bersikap santai, meski keringat dingin mulai terasa di tengkuknya.
“Ini semua efek cerita tadi malam,” katanya. “Otak kita diprogram buat takut.”
“Kalau cuma otak…” sahut Hermansyah, “kenapa arah angin berubah terus?”
Semua langsung terdiam.
Memang benar. Angin yang tadi berhembus dari depan, kini terasa datang dari samping… lalu tiba-tiba dari belakang.
“Ini tidak normal,” gumam Nadia.
Raditya yang berjalan di depan berhenti.
“Formasi,” katanya singkat.
Mereka segera merapat. Joko di depan, Hermansyah di belakang, yang lain di tengah.
“Mulai sekarang… jangan ada yang jalan sendiri,” lanjut Raditya.
“Pak…” tanya Amat pelan, “apa yang sebenarnya terjadi di sini?”
Raditya menatap lurus ke depan. “Kalian sedang diuji.”
“Diuji oleh siapa?” tanya Guntur cepat.
Raditya tidak langsung menjawab. “Oleh tempat ini.”
Langkah kembali dilanjutkan.
Namun kini… setiap suara terasa berbeda.
KRETAK…
ranting patah di bawah kaki.
SREEEK…
gesekan dedaunan.
Dan di sela-sela itu…
terdengar suara lain.
Samar.
Seperti… bisikan.
“Ko… kamu dengar?” tanya Yulia.
Joko mengangguk pelan. “Jangan ditanggapi.”
“Ditanggapi bagaimana?” tanya Yulia, mulai panik.
“Jangan dijawab. Jangan diikuti,” jawab Joko tegas.
Tiba-tiba—
“Joko…”
Suara itu jelas.
Semua berhenti.
“Itu… siapa?” tanya Bayu.
Joko membeku. Ia mengenali suara itu.
“Itu suara…” gumamnya.
“Siapa?” desak Hermansyah.
Joko menggeleng keras. “Bukan. Itu bukan.”
Namun suara itu terdengar lagi.
“Joko… ke sini…”
Arah suara tidak jelas. Seperti datang dari segala arah.
Anita langsung menutup telinganya. “Aku nggak kuat…”
Camelia memejamkan mata. “Ini bukan suara biasa…”
“Sudah! Jangan didengar!” teriak Hermansyah.
Guntur terlihat pucat. “Oke… ini di luar logika…”
Raditya mengangkat tangannya. “Diam.”
Semua langsung membeku.
Ia kemudian berkata pelan, namun tegas,
“Ini ujian pertama. Jangan terpancing.”
Mereka melanjutkan langkah.
Namun kini, suasana semakin mencekam.
Kabut tipis mulai turun, meskipun waktu masih siang.
“Kenapa kabut turun cepat sekali?” tanya Arga.
“Karena kalian sudah masuk lebih dalam,” jawab Raditya.
“Lebih dalam dari apa?” tanya Guntur.
Raditya menoleh perlahan. “Lebih dalam dari yang kalian pikirkan.”
Beberapa meter kemudian, kejadian aneh kembali terjadi.
Bayu yang berjalan di tengah tiba-tiba berhenti.
“Eh… kalian lihat tidak?”
“Apa?” tanya Jojon.
“Itu… orang di sana,” kata Bayu menunjuk ke arah pepohonan.
Semua menoleh.
Tidak ada siapa-siapa.
“Bayu, jangan mulai,” kata Guntur.
“Aku serius! Ada orang berdiri di sana!”
“Tidak ada,” jawab Hermansyah tegas.
Bayu mulai panik. “Aku lihat jelas! Pakai baju putih!”
Suasana menjadi kacau.
“Tenang!” teriak Joko. “Bayu, lihat aku!”
Bayu menoleh, napasnya cepat.
“Itu tidak nyata,” lanjut Joko. “Fokus ke sini.”
“Bukan halusinasi!” balas Bayu.
“Kalau nyata, kenapa kita tidak lihat?” tanya Guntur.
“Karena mungkin… hanya dia yang ditunjukkan,” kata Camelia pelan.
Semua terdiam.
Tiba-tiba—
DUUUUUK!
Suara keras terdengar dari belakang.
Semua menoleh.
Sebuah tas jatuh dari ransel Herman.
“Aku tidak menyentuhnya…” kata Herman pelan.
“Siapa yang di belakang?” tanya Joko.
Hermansyah menjawab, “Tidak ada. Aku yang paling belakang.”
Sunyi.
Angin berhenti.
Seolah hutan menahan napas.
Raditya akhirnya berbicara.
“Kita berhenti sebentar.”
Mereka berkumpul dalam lingkaran kecil.
“Dengar baik-baik,” kata Raditya. “Mulai dari sini… kalian akan melihat, mendengar, dan merasakan hal-hal yang tidak biasa.”
“Kenapa?” tanya Nadia.
“Karena kalian sedang melewati batas,” jawab Raditya.
“Batas apa?” tanya Guntur.
Raditya menatapnya dalam-dalam.
“Batas antara yang terlihat… dan yang tidak.”
Tak ada yang berani menyahut.
“Kalau kalian ingin selamat,” lanjutnya, “pegang satu hal.”
“Apa itu, Pak?” tanya Anita.
Raditya menjawab pelan,
“Jangan percaya sepenuhnya pada apa yang kalian lihat.”
“Lalu harus percaya apa?” tanya Hermansyah.
Raditya menatap mereka satu per satu.
“Percaya pada satu sama lain.”
Perjalanan dilanjutkan.
Langkah mereka kini lebih rapat, lebih hati-hati.
Tidak ada lagi canda.
Tidak ada lagi tawa.
Yang ada hanya napas yang terdengar berat… dan jantung yang berdegup lebih cepat.
Namun di balik semua itu…
sesuatu masih mengikuti.
Tidak terlihat.
Tidak terdengar jelas.
Tapi… terasa.
Dan semakin mereka naik…
semakin dekat mereka pada sesuatu yang lebih besar.
Lebih misterius.
Dan lebih berbahaya.
Di kejauhan, kabut semakin tebal.
Dan di balik kabut itu…
seolah ada mata yang mengawasi.
Menunggu.
Menanti.
Dan perlahan…
mulai mendekat.
Hari mulai berganti tanpa mereka sadari.
Langit yang semula terang kini tertutup kabut kelabu. Waktu terasa berjalan lambat… atau justru terlalu cepat. Tidak ada yang benar-benar yakin.
Setelah melewati berbagai tekanan di Basecamp Empat, perjalanan terus berlanjut. Namun sejak saat itu, tidak ada lagi yang terasa sama.
Langkah terasa lebih berat. Pikiran mulai dipenuhi keraguan.
Dan yang paling mengganggu… arah.
“Ko… kita sudah lewat sini tadi, kan?”
Suara Arga memecah keheningan.
Joko berhenti. Ia menatap sekeliling.
Sebuah pohon besar dengan akar menjulur ke tanah. Batu datar di sampingnya. Dan bekas jejak sepatu yang samar.
Ia mengernyit.
“Sepertinya… iya.”
Guntur langsung bereaksi, “Lho, kok bisa?”
“Kita sudah jalan lurus dari tadi,” sahut Hermansyah.
“Kompas?” tanya Nadia.
Hermansyah membuka kompasnya. Jarumnya berputar… tidak stabil.
“Ini tidak normal,” katanya.
“Ah, paling rusak,” ujar Guntur, meski suaranya tidak seyakinnya dulu.
“Tidak. Ini seperti… ada gangguan,” jawab Hermansyah.
Mereka mencoba melanjutkan.
Langkah dihitung. Arah ditentukan ulang. Tanda-tanda mulai dibuat—ranting dipatahkan, kain diikat di pohon.
Namun beberapa waktu kemudian—
“Ko…” suara Yulia kembali terdengar, lebih pelan, “kita… kembali lagi.”
Semua berhenti.
Di depan mereka… kain yang tadi diikat.
Masih tergantung.
Belum berubah.
Hening.
“Tidak mungkin…” gumam Bayu.
“Ini pasti salah jalur,” kata Guntur cepat.
“Kita tidak belok,” bantah Joko.
“Berarti…?” tanya Anita.
Tidak ada yang menjawab.
Waktu terus berjalan.
Atau mungkin… berhenti.
Mereka mencoba lagi.
Kali ini lebih hati-hati.
Namun hasilnya sama.
Mereka kembali ke titik yang sama.
Pohon yang sama.
Tanda yang sama.
Dan rasa… yang semakin menekan.
“Aku bilang juga apa…” suara Guntur mulai meninggi, “ini bukan normal!”
“Sekarang kamu percaya?” tanya Camelia.
“Ini bukan soal percaya atau tidak!” balas Guntur. “Ini nyata!”
“Lalu apa yang harus kita lakukan?” tanya Yulia, hampir menangis.
Hermansyah mencoba berpikir. “Kita harus tenang. Pasti ada penjelasan.”
“Penjelasan apa?” tanya Arga. “Kita berjalan, tapi tidak berpindah!”
“Berarti kita yang salah,” jawab Hermansyah.
“Tidak!” sahut Camelia. “Ini bukan soal salah. Ini… ujian.”
“Ujian apa lagi?” tanya Guntur kesal.
“Ujian untuk memahami,” jawab Camelia.
“Memahami apa? Kita ini tersesat!”
Perdebatan semakin memanas.
Suara mulai meninggi.
Emosi mulai lepas kendali.
“CUKUP!”
Joko kembali berteriak.
Semua terdiam.
“Kita tidak akan keluar dari sini kalau kita saling menyalahkan,” katanya tegas.
Ia menarik napas dalam.
“Dengar… kita masih punya logika. Kita masih punya pengalaman. Dan kita masih bersama.”
“Kalau semua itu tidak cukup?” tanya Guntur pelan.
Joko menatapnya. “Maka kita cari cara lain.”
Mereka duduk melingkar.
Wajah-wajah lelah. Keringat bercampur dingin.
Anita memejamkan mata, berdoa dalam diam.
Nadia menggenggam tangannya.
Sementara itu, Camelia memandang sekeliling dengan lebih tenang.
“Ini bukan sekadar tersesat,” katanya pelan.
“Lalu?” tanya Hermansyah.
“Ini seperti… kita diputar,” jawabnya.
“Diputar oleh apa?” tanya Arga.
Camelia menatap sebuah pohon besar di dekat mereka.
Pohon beringin.
Akar-akarnya menjulur panjang, seperti jari-jari yang mencengkeram tanah.
“Pohon itu…” katanya.
Semua menoleh.
“Kenapa dengan pohon itu?” tanya Jojon.
Camelia berdiri. “Sesepuh desa bilang… ada tanda di alam.”
“Dan kamu pikir itu pohonnya?” tanya Guntur.
“Aku tidak tahu,” jawab Camelia. “Tapi kita tidak punya pilihan lain.”
Mereka mendekati pohon tersebut.
Hermansyah mengamati. “Akar di sisi ini lebih besar…”
“Dan lumutnya lebih tebal di bagian ini,” tambah Nadia.
“Biasanya lumut tumbuh di arah tertentu,” kata Joko.
“Utara,” jawab Hermansyah.
Mereka mulai menghubungkan.
Akar. Lumut. Arah angin.
“Kalau ini utara…” gumam Joko, “berarti kita harus ke sana.”
Ia menunjuk ke arah yang berlawanan dengan jalur sebelumnya.
“Yakin?” tanya Guntur.
“Tidak,” jawab Joko jujur. “Tapi ini masuk akal.”
“Dan kalau salah?” tanya Yulia.
Camelia tersenyum tipis. “Kita sudah mencoba yang logis. Sekarang… kita coba memahami.”
Mereka melanjutkan perjalanan.
Langkah lebih pelan.
Lebih hati-hati.
Namun kali ini… berbeda.
Tidak ada rasa berputar.
Tidak ada tanda yang sama.
“Ko…” bisik Anita, “ini… jalan baru.”
Joko mengangguk. “Kita keluar.”
Rasa lega mulai muncul.
Namun belum sepenuhnya.
Beberapa saat kemudian…
kabut mulai menipis.
Cahaya matahari perlahan menembus.
Dan di kejauhan…
terlihat jalur terbuka menuju puncak.
Semua terdiam.
“Berhasil…” gumam Bayu.
Nadia meneteskan air mata. “Kita berhasil…”
Guntur duduk lemas. “Aku… tidak akan meremehkan lagi…”
Hermansyah tersenyum tipis. “Kadang… logika butuh bantuan.”
Camelia menatap pohon di belakang mereka.
“Dan kadang… alam hanya ingin kita belajar.”
Joko berdiri di depan.
Ia memandang jalur menuju puncak.
Hanya tinggal satu kilometer lagi.
Namun perjalanan yang mereka lalui…
terasa seperti seumur hidup.
“Kita lanjut,” katanya pelan.
Dan kali ini…
tidak ada yang ragu.
Di belakang mereka, kabut kembali turun.
Menutup jalur yang baru saja mereka lewati.
Seolah…
tidak pernah ada jalan di sana.
Langit di atas mereka mulai berubah warna.
Kabut yang tadi menipis kini berganti dengan langit pucat yang terasa asing. Matahari tampak samar, seperti tertutup tirai tipis. Waktu seolah kehilangan maknanya—tidak ada yang benar-benar tahu apakah ini masih siang… atau sudah menjelang sore.
Namun satu hal yang pasti—mereka telah melewati sesuatu yang tidak biasa.
Dan kini… mereka berada di ambang batas terakhir.
Langkah mereka semakin pelan.
Bukan karena ragu, tetapi karena tubuh mulai mencapai batasnya.
“Air kita tinggal berapa?” tanya Joko sambil menoleh ke belakang.
“Masih cukup,” jawab Anita, “tapi harus hemat.”
“Logistik?” tanya Hermansyah.
“Masih aman untuk satu hari lagi,” sahut Nadia.
Guntur menghela napas panjang. “Kalau begini, kita benar-benar harus sampai hari ini.”
“Bukan harus…” kata Joko pelan, “tapi kita akan.”
Namun perjalanan belum sepenuhnya selesai.
Beberapa ratus meter ke depan, jalur kembali menyempit. Pepohonan mulai jarang, namun batuan besar dan tanah licin menggantikan.
Dan anehnya…
perasaan yang tadi sempat hilang… kini kembali.
“Ko…” bisik Yulia, “aku merasa… seperti diawasi lagi.”
Joko tidak langsung menjawab.
Ia merasakan hal yang sama.
Namun kali ini… berbeda.
Tidak menakutkan.
Lebih seperti… menguji.
Tiba-tiba, langkah mereka terhenti.
Di depan, jalur bercabang.
Dua arah.
Keduanya tampak sama.
Tidak ada tanda.
Tidak ada jejak.
“Ini…” gumam Hermansyah, “tidak ada di peta.”
“Jelas tidak ada,” sahut Guntur. “Peta kita saja sudah tidak bisa dipercaya tadi.”
“Jangan mulai lagi,” kata Nadia.
“Lalu bagaimana?” tanya Arga. “Kita pilih yang mana?”
Semua terdiam.
Keputusan sederhana… namun terasa sangat berat.
Camelia melangkah pelan ke depan.
Ia menatap kedua jalur itu dengan tenang.
Kemudian… ia menutup mata.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Guntur.
“Mendengar,” jawab Camelia singkat.
“Mendengar apa? Tidak ada suara.”
“Justru itu,” katanya pelan.
Semua menunggu.
Beberapa detik terasa seperti menit.
Angin berhembus pelan.
Daun-daun bergerak.
Dan entah kenapa… suasana menjadi lebih hening.
Camelia membuka mata.
“Kita ambil yang kiri.”
“Kenapa?” tanya Hermansyah.
Camelia menunjuk ke tanah. “Akar di jalur kiri lebih tua. Jalur ini jarang dilalui… tapi lebih alami.”
“Dan itu berarti?” tanya Guntur.
“Berarti… ini jalur yang benar.”
“Logikanya apa?” tanya Guntur lagi.
Camelia tersenyum tipis. “Tidak semua harus pakai logika.”
Joko melangkah ke depan.
Ia menatap kedua jalur itu.
Kemudian… ia memilih.
“Kita ke kiri.”
Tidak ada yang membantah.
Perjalanan kembali dilanjutkan.
Langkah demi langkah.
Pelan… namun pasti.
Dan kali ini…
tidak ada yang berputar.
Tidak ada suara aneh.
Tidak ada bayangan.
Seolah…
mereka telah lulus dari ujian sebelumnya.
Beberapa saat kemudian…
pepohonan benar-benar terbuka.
Langit terlihat jelas.
Angin bertiup lebih kencang.
Dan di depan mereka—
terhampar jalur menuju puncak.
“Ko…” suara Anita bergetar, “itu… puncaknya?”
Joko mengangguk pelan.
Semua terdiam.
Beberapa menitikkan air mata.
Guntur bahkan duduk tanpa berkata apa-apa.
“Akhirnya…” gumamnya.
Namun sebelum melangkah lebih jauh, Joko berhenti.
Ia menoleh ke belakang.
“Teman-teman…” katanya pelan, “kita hampir sampai.”
Semua memperhatikannya.
“Tapi perjalanan ini… bukan hanya tentang puncak.”
Ia menarik napas.
“Kita sudah melewati rasa takut. Kita sudah melewati keraguan. Dan… kita masih bersama.”
Hermansyah mengangguk. “Itu yang paling penting.”
Camelia tersenyum. “Kita tidak hanya berjalan… kita belajar.”
Nadia menggenggam tangan Anita. “Dan kita tidak sendiri.”
Mereka melangkah bersama.
Langkah terakhir menuju puncak.
Tidak ada lagi rasa ragu.
Tidak ada lagi perdebatan.
Yang ada hanya satu hal—
keyakinan.
Dan ketika mereka akhirnya menginjakkan kaki di puncak…
semua rasa bercampur menjadi satu.
Lelah.
Bahagia.
Haru.
Dan rasa syukur yang tak terucap.
Bayu langsung mengibarkan bendera Merah Putih.
Arga memasang bendera KPAAB.
Angin berkibar kencang, membawa bendera itu menari di langit.
“Ini… untuk Desa Awan Biru!” teriak Jojon.
“Untuk kita semua!” sahut yang lain.
Tawa dan tangis pecah bersamaan.
Di tengah kebahagiaan itu…
Joko memejamkan mata sejenak.
Dalam diam, ia berbisik—
“Terima kasih… untuk semua petunjuk.”
Dan entah kenapa…
angin berhembus lebih hangat.
Seolah…
ada yang menjawab.
Namun jauh di bawah sana…
tim lain sedang bergerak.
Mengikuti jejak mereka.
Dengan satu tujuan—
memastikan mereka semua… selamat.
Pagi keenam di Desa Suralaya datang tanpa kabar.
Langit terlihat pucat, seolah ikut menahan sesuatu yang belum tersampaikan. Di halaman balai desa, beberapa warga mulai berkumpul. Wajah-wajah cemas tak lagi bisa disembunyikan.
“Mereka belum kembali?” tanya seorang warga.
“Belum,” jawab yang lain pelan.
Di depan Kantor Desa, Sekretaris Desa Suralaya Pratikno berdiri dengan wajah tegang. Matanya menatap ke arah Gunung Merbabu yang berdiri diam—terlalu diam.
“Sudah waktunya,” katanya akhirnya.
Seorang perangkat desa mendekat. “Maksud Bapak…?”
Pratikno menarik napas dalam. “Kita bentuk tim pencarian.”
Tak lama kemudian, suasana desa berubah.
Beberapa pemuda bersiap dengan peralatan seadanya. Tali, senter, logistik, dan alat komunikasi sederhana dikumpulkan.
“Ini bukan sekadar pencarian,” ujar Pratikno kepada mereka. “Ini penyelamatan.”
“Siap, Pak!” jawab mereka serempak.
Namun Pratikno tahu… ini tidak akan mudah.
Di saat yang sama, di Desa Awan Biru…
kabar itu telah sampai.
Pak Iwan Setiawan berdiri di ruang kerjanya, memegang telepon dengan wajah serius.
“Enam hari?” ulangnya.
“Iya, Pak,” suara di seberang terdengar tegang. “Mereka belum turun.”
Pak Iwan menutup mata sejenak.
“Baik. Saya berangkat sekarang.”
Beberapa jam kemudian, rombongan dari Desa Awan Biru tiba di Desa Suralaya.
Pertemuan kepala desa dan Sekretaris Desa itu berlangsung tanpa banyak kata.
“Mereka belum kembali,” kata Pratikno.
“Saya tahu,” jawab Pak Iwan.
“Tim sudah disiapkan.”
“Saya ikut,” tegas Pak Iwan.
Pratikno menatapnya sejenak, lalu mengangguk. “Baik. Kita berangkat bersama.”
Tim gabungan pun terbentuk.
Tim Desa Suralaya, tim dari Desa Awan Biru, dan beberapa relawan.
Mereka memulai perjalanan dengan satu tujuan—
menemukan.
“Perhatikan tanda-tanda,” kata Herman—yang kini menjadi bagian dari tim penyelamat—kepada anggota lain.
“Mereka pasti meninggalkan jejak.”
“Jejak seperti apa?” tanya seorang relawan.
“Ranting patah, kain, atau tanda di tanah,” jawab Herman.
Perjalanan dimulai.
Langkah mereka cepat, namun tetap hati-hati.
Sementara itu…
di puncak Gunung Merbabu…
suasana yang sangat berbeda terjadi.
Tawa masih terdengar.
Kelelahan mulai berubah menjadi cerita.
“Kita benar-benar sampai…” kata Yulia sambil tersenyum lebar.
“Dan kita tidak tersesat lagi,” tambah Guntur.
“Jangan sombong dulu,” sahut Nadia. “Kita masih harus turun.”
“Ah, turun itu lebih mudah,” kata Jojon santai.
Camelia menatap langit. “Tidak selalu.”
Joko berdiri di tepi puncak.
Ia memandang ke bawah.
“Teman-teman… kita harus segera turun,” katanya.
“Sekarang?” tanya Arga.
“Iya. Kita sudah melewati batas waktu.”
Semua terdiam.
“Artinya…?” tanya Anita pelan.
“Artinya… mereka pasti mencari kita,” jawab Joko.
Di jalur pendakian…
tim penyelamat mulai menemukan tanda.
“Ini!” teriak salah satu anggota.
Sebuah kain kecil terikat di ranting.
“Ini tanda mereka,” kata Herman.
Pak Iwan mengangguk. “Mereka masih mengikuti prosedur.”
“Artinya… mereka masih hidup,” ujar seorang relawan.
“Harus,” kata Pak Iwan tegas.
Perjalanan terus berlanjut.
Semakin ke atas, tanda-tanda semakin jelas.
Ranting patah.
Bekas pijakan.
Dan sesekali… bekas api unggun kecil.
“Mereka bertahan dengan baik,” kata Pratikno.
“Anak-anak itu kuat,” sahut Pak Iwan.
Namun di dalam hati…
kekhawatiran masih ada.
Kembali ke puncak…
persiapan turun mulai dilakukan.
“Tali sudah siap,” kata Herman.
“Logistik dibagi ulang,” tambah Nadia.
“Jangan ada yang terpisah,” tegas Joko.
Guntur mengangkat tangan. “Kalau ada yang terpisah, berarti dia sengaja cari masalah.”
“Dan kamu kandidat utama,” sahut Jojon.
Tawa kembali pecah.
Namun kali ini… lebih ringan.
Lebih lega.
Perjalanan turun dimulai.
Langkah lebih cepat… namun tetap hati-hati.
Dan tanpa mereka sadari…
tim lain sedang mendekat.
Di sebuah titik jalur…
tim penyelamat berhenti.
“Dengar…” kata Raditya.
Semua diam.
Dari kejauhan…
terdengar suara.
Samar.
Namun jelas—
tawa.
Pak Iwan langsung menoleh. “Itu mereka!”
Semangat kembali menyala.
“Cepat!” teriak seseorang.
Beberapa menit kemudian…
dua rombongan itu akhirnya bertemu.
Sunyi sejenak.
Seolah waktu berhenti.
Kemudian—
“Pak!!”
Suara itu pecah.
Joko berlari ke arah Pak Iwan.
Yang lain mengikuti.
Tangis, tawa, dan pelukan bercampur menjadi satu.
“Kalian… selamat…” kata Pak Iwan, suaranya bergetar.
“Maaf, Pak…” jawab Joko.
“Tidak ada maaf,” kata Pak Iwan. “Yang penting kalian kembali.”
Raditya tersenyum lega. “Kalian berhasil.”
“Kami… hampir tidak berhasil, Pak,” kata Hermansyah jujur.
“Yang penting… kalian sampai,” jawab Pratikno.
Semua berkumpul.
Tidak ada lagi jarak.
Tidak ada lagi perbedaan.
Hanya rasa syukur.
“Baik,” kata Raditya akhirnya, “kita turun bersama.”
“Siap!” jawab mereka serempak.
Langkah turun dimulai.
Namun kali ini…
tidak ada rasa takut.
Tidak ada kebingungan.
Karena mereka tahu—
mereka tidak sendiri.
Dan di balik semua itu…
Gunung Merbabu kembali diam.
Seolah…
semua yang terjadi…
hanya akan menjadi cerita.
Cerita yang tidak semua orang bisa pahami.
Perjalanan turun dari puncak Gunung Merbabu terasa berbeda.
Langkah yang sebelumnya penuh ketegangan kini berubah menjadi lebih ringan. Bukan karena jalurnya lebih mudah, melainkan karena hati mereka telah menemukan sesuatu—keyakinan, kebersamaan, dan makna dari perjalanan yang baru saja mereka lalui.
Rombongan besar itu bergerak bersama.
Di depan, Joko berjalan berdampingan dengan Pak Iwan. Di sisi lain, Raditya memimpin jalur dengan tenang. Sementara anggota KPAAB berjalan berkelompok, tak lagi terpencar.
“Kalian membuat kami khawatir,” kata Pak Iwan tanpa menoleh.
Joko tersenyum tipis. “Kami juga, Pak.”
Pak Iwan meliriknya. “Tapi kalian tidak menyerah.”
Joko menggeleng. “Kami hampir… tapi tidak jadi.”
Di belakang, suasana lebih cair.
“Tur… masih percaya logika?” tanya Jojon sambil menyenggol Guntur.
Guntur tertawa kecil. “Masih… tapi sekarang aku juga percaya… ada yang di luar logika.”
“Alhamdulillah, tobat juga kamu,” sahut Yulia.
“Eh, bukan tobat… upgrade,” balas Guntur cepat.
Tawa kembali pecah.
Saat mereka melewati kembali area Basecamp Empat…
semua langkah melambat.
Suasana yang sebelumnya terasa mencekam… kini berubah.
Tenang.
Hening.
Namun tidak lagi menakutkan.
“Ini tempatnya…” bisik Anita.
Nadia menggenggam tangannya. “Iya.”
Camelia menatap sekeliling. “Rasanya berbeda.”
“Karena kita sudah berbeda,” jawab Hermansyah.
Tidak ada suara aneh.
Tidak ada bayangan.
Hanya angin yang berhembus pelan… seolah mengantar mereka pulang.
Perjalanan terus berlanjut.
Basecamp demi basecamp mereka lewati.
Dan setiap langkah… terasa seperti melepas beban yang sebelumnya mereka bawa.
Hingga akhirnya…
mereka tiba di batas desa.
Desa Suralaya menyambut mereka dengan kehangatan.
Warga berkumpul.
Sorak sorai terdengar.
Beberapa bahkan menitikkan air mata.
“Alhamdulillah…” terdengar dari berbagai sudut.
Raditya berdiri di depan, tersenyum bangga.
“Kalian bukan hanya pendaki,” katanya. “Kalian adalah pembelajar.”
Joko menunduk hormat. “Terima kasih, Pak… atas semua petunjuk.”
Raditya menggeleng pelan. “Bukan saya. Kalian sendiri yang menemukan jalan.”
Malam itu, suasana desa berubah menjadi penuh kebahagiaan.
Api unggun dinyalakan.
Cerita mulai dibagikan.
Tawa dan keharuan menyatu dalam satu lingkaran.
“Jadi kamu benar-benar lihat orang itu?” tanya Arga kepada Bayu.
“Iya! Dan sekarang aku bersyukur tidak aku kejar,” jawab Bayu.
“Kalau kamu kejar, mungkin sekarang kamu yang hilang,” sahut Guntur.
“Eh, jangan serem lagi!” protes Yulia.
Tawa kembali pecah.
Di sudut lain, Pak Iwan dan Raditya duduk bersama.
“Mereka kuat,” kata Raditya.
Pak Iwan mengangguk. “Karena mereka belajar… bukan hanya berjalan.”
“Dan mereka saling menjaga,” tambah Raditya.
“Itu yang paling penting,” jawab Pak Iwan.
Keesokan harinya, rombongan bersiap kembali ke Desa Awan Biru.
Sebelum berangkat, Joko dan seluruh anggota KPAAB berpamitan.
“Terima kasih atas segalanya, Pak,” kata Joko kepada Raditya.
Raditya tersenyum. “Jaga perjalanan kalian berikutnya.”
“Kami akan kembali,” kata Jojon.
Raditya tertawa kecil. “Kalau kembali… bawa cerita yang lebih baik.”
Perjalanan pulang terasa lebih singkat.
Namun maknanya jauh lebih dalam.
Saat mereka tiba di Desa Awan Biru…
suasana haru menyambut.
Keluarga, sahabat, dan warga desa berkumpul.
Pelukan, tangis, dan tawa kembali menyatu.
“Anakku…” seorang ibu memeluk anaknya erat.
“Maaf, Bu…” jawabnya lirih.
Namun sang ibu hanya tersenyum sambil menangis.
Di tengah keramaian itu, Joko berdiri sejenak.
Ia memandang langit Desa Awan Biru.
Langit yang sama… namun terasa berbeda.
Perjalanan itu telah mengubah mereka.
Bukan hanya sebagai pendaki.
Tetapi sebagai manusia.
“Ko…” panggil Hermansyah.
Joko menoleh. “Ya?”
“Kita berhasil.”
Joko tersenyum. “Kita belajar.”
Dan di kejauhan…
Gunung Merbabu berdiri diam.
Menyimpan rahasia.
Menjadi saksi.
Bahwa perjalanan itu bukan hanya tentang mencapai puncak…
melainkan tentang menemukan diri.
Waktu berlalu.
Namun cerita itu tetap hidup.
Di setiap tawa, di setiap pertemuan, dan di setiap langkah yang mereka ambil setelahnya.
Kelompok Pecinta Alam Awan Biru kini bukan hanya sekadar nama.
Mereka adalah kisah.
Tentang keberanian.
Tentang kebersamaan.
Dan tentang keyakinan bahwa…
tidak semua jalan harus dipahami untuk bisa dilalui.
Beberapa cukup dijalani…
dengan hati.
Dan jejak yang mereka tinggalkan…
tidak akan pernah hilang.
***Selesai***
Slamet Riyadi
29 Juli 2025 03:27:50
Semoga kita bisa kerjasama bu. ...