TRILOGI ROMAN EPIK
JEJAK WAKTU
“Kadang pulang bukan kembali, melainkan berhenti berlari”
BAGIAN PERTAMA
Jejak Waktu, Akar yang Tumbuh Diam-Diam
"Kadang rumah bukanlah tempat, melainkan seseorang. Dan kadang, pulang bukan berarti kembali, melainkan berhenti berlari."
Oleh: Slamet Riyadi
PROLOG
Tangis yang Membelah Musim Hujan
Malam itu, hujan turun seperti langit sedang menumpahkan seluruh kesedihannya ke bumi. Air jatuh dari langit dalam jumlah yang luar biasa, butir-butirnya besar dan deras, menghantam atap-atap rumbia dengan suara seperti genderang perang yang tidak pernah berhenti. Di sebuah desa kecil di tepian Sungai Kapuas Muara, rumah-rumah panggung berdiri diam diterpa angin malam. Daun-daun kelapa saling adu pelan, menciptakan bunyi yang terdengar seperti bisikan para leluhur yang berjalan di antara gelap. Air sungai yang biasanya tenang bergerak lebih cepat dari biasanya, arusnya membawa dedaunan kering dan ranting-ranting kecil menuju hilir, seolah alam sendiri sedang gelisah menanti sesuatu yang akan lahir ke dunia malam itu.
Di rumah paling ujung yang menghadap sungai, sebuah rumah panggung dengan tiang kayu ulin yang mulai lapuk dimakan usia, cahaya lampu minyak berkedip-kedip dari balik dinding kayu yang renggang. Rumah itu kecil, hanya berukuran empat kali lima meter, dengan dinding dari papan kayu yang tidak bercat dan atap dari daun rumbia yang sudah mulai bocor di beberapa tempat. Tetapi di dalam rumah kecil itulah, pada malam yang gelap dan hujan yang deras itu, seorang perempuan muda sedang berjuang melahirkan. Namanya Ratih. Usianya baru dua puluh dua tahun, tetapi wajahnya tampak lebih tua dari usianya. Bukan karena garis-garis di keningnya yang mulai tampak meskipun usianya masih muda, melainkan karena sesuatu di matanya yang sudah terlalu lama menyimpan kesedihan, sesuatu yang membuatnya terlihat seperti telah hidup dua kali lipat dari usianya.
Peluh membasahi seluruh tubuhnya. Kain sarung yang ia kenakan basah kuyup, menempel di kulitnya yang panas. Rambutnya yang panjang dan hitam kini basah dan menempel di dahi dan leher, beberapa helai tersangkut di sudut bibirnya yang kering dan pecah-pecah. Tangannya mencengkeram tikar pandan dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih, hingga urat-urat biru di punggung tangannya tampak menonjol seperti akar pohon yang mencari air di tanah kering. Napasnya berat, terputus-putus, kadang diselingi jeritan kecil yang ditahannya karena takut mengganggu tetangga, padahal di tengah hujan selebat ini, tidak ada yang akan mendengar apa pun.
"Sedikit lagi, Ratih... sedikit lagi..." bisik dukun beranak tua yang sudah membantu persalinan di desa itu selama empat puluh tahun. Namanya Mak Tonah. Usianya sudah melewati enam puluh tahun, tetapi tangannya yang keriput tetap lincah dan berpengalaman. Ia tahu persis kapan harus mendorong dan kapan harus menahan. Ia tahu persis kapan harus membisikkan kata-kata penyemangat dan kapan harus diam. Ia telah membantu ratusan bayi lahir ke dunia, tetapi malam itu, ada sesuatu yang berbeda. Ada getaran aneh di udara, sesuatu yang membuat bulu kuduknya merinding setiap kali ia mendekati Ratih.
"Kuat, Nak. Sebentar lagi kau lihat anakmu."
Ratih menggigit bibirnya hingga hampir berdarah. Matanya terpejam rapat, air mata bercampur peluh mengalir di pipinya yang pucat. Di luar, angin malam menderu kencang, menggerakkan daun-daun kelapa yang menari liar seolah sedang ditarik oleh tangan tak terlihat. Beberapa pelepah kelapa patah dan jatuh ke tanah dengan suara gemerisik yang nyaris tak terdengar di tengah derasnya hujan.
Di luar kamar sempit itu, di ruang tengah yang hanya berukuran dua kali tiga meter dengan dinding yang tidak rapat sehingga angin malam masuk dari celah-celah kayu, Sastrowiryo berdiri dengan wajah tegang. Lelaki itu dikenal keras oleh seluruh kampung. Bahunya besar dan bidang, hasil dari bertahun-tahun bekerja di kebun karet dan di dermaga, mengangkat karung-karung beras yang berat dan balok-balok kayu yang besar. Wajahnya tegas dengan rahang yang kuat dan alis tebal yang hampir selalu mengerut, membuatnya terlihat marah meskipun hatinya sedang tenang. Tatapannya tajam, bahkan orang dewasa pun sering menghindari bertemu matanya terlalu lama, karena ada sesuatu di mata itu yang membuat orang merasa sedang dinilai dan dihakimi.
Tetapi malam itu, lelaki yang tidak pernah takut pada apa pun itu, kedua tangannya gemetar.
Ia mondar-mandir di ruang tengah yang hanya diterangi lampu minyak kecil dengan sumbu yang hampir habis. Setiap kali jeritan Ratih terdengar dari dalam, langkahnya berhenti sejenak, lalu ia menggenggam tangannya sendiri lebih erat, seperti sedang menahan sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan. Dua botol kosong tergeletak di sudut ruangan, botol-botol yang biasanya ia isi dengan tuak, tetapi malam itu ia tidak menyentuh setetes pun. Ia ingin sadar. Ia ingin hadir. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia ingin menjadi ayah yang hadir.
"Sastrowiryo," suara tua bergema dari sudut ruangan.
Mbah Joyo, lelaki tua yang paling dihormati di desa, duduk bersila di dekat pintu sambil mengisap rokok linting yang ia buat sendiri dari tembakau kering dan daun kelapa. Usianya sudah melewati delapan puluh tahun, tetapi matanya masih jernih dan telinganya masih tajam. Seluruh desa tahu bahwa Mbah Joyo memiliki semacam kemampuan untuk membaca tanda-tanda yang tidak terlihat oleh orang biasa. Beberapa orang menyebutnya berkat, sebagian lain menyebutnya kutukan. Namun tidak ada yang berani meragukan kata-katanya. Ia adalah sesepuh yang disegani, bukan karena kekayaan atau kekuasaan, tetapi karena kebijaksanaan yang hanya datang dari delapan puluh tahun hidup di desa yang sama, menyaksikan lahir dan matinya tiga generasi.
Sastrowiryo menoleh. "Ya, Mbah?"
"Duduk. Kau membuat aku pusing."
Sastrowiryo ragu sejenak, lalu duduk di kursi bambu di hadapan Mbah Joyo. Kursi itu berderit pelan di bawah berat badannya. Ia menatap lelaki tua itu, mencari sesuatu di wajahnya yang penuh kerut.
Mbah Joyo menatap hujan di luar yang turun tanpa henti. Air mengalir deras dari atap rumbia, membentuk tirai tipis yang memburamkan dunia di luar rumah. Genangan air mulai terbentuk di halaman yang tidak rata, memantulkan cahaya lampu minyak dari jendela-jendela rumah lain yang masih menyala. Sesekali kilat menyambar di kejauhan, diikuti gemuruh yang terdengar seperti langit sedang menggeram, seperti raksasa yang sedang marah.
"Hujan seperti ini," kata Mbah Joyo pelan, suaranya hampir tenggelam oleh suara air yang jatuh dari atap dan angin yang menderu di antara celah-celah dinding, "biasanya datang bersama takdir besar."
Sastrowiryo menoleh cepat. Wajahnya yang tegang berubah menjadi waspada, alisnya yang tebal semakin mengerut, membentuk garis vertikal di antara kedua matanya. "Takdir macam apa, Mbah?"
Mbah Joyo tidak segera menjawab. Ia hanya memandang langit gelap di luar jendela, memperhatikan cara angin membawa hujan miring ke timur, lalu ke barat, lalu ke timur lagi, seolah sedang mencari arah, seolah sedang ragu ke mana harus pergi. Asap rokoknya mengepul tipis di udara, membentuk lingkaran-lingkaran kecil yang perlahan menghilang. Setelah beberapa lama, ia berkata, "Anak yang lahir malam ini akan membawa luka panjang. Lebih panjang dari hidupnya sendiri."
Sastrowiryo mengerutkan dahi. Dadanya terasa sesak. Tangannya mengepal di sisi tubuh, kuku-kukunya menusuk telapak tangan. "Maksud Mbah, Mbah Joyo?"
Mbah Joyo menghela napas panjang, asap rokoknya mengepul pelan ke langit-langit yang sudah hitam karena jelaga. "Anak itu akan kehilangan terlalu banyak hal sebelum dia cukup umur untuk mengerti arti kehilangan. Dia akan mencintai terlalu dalam, dan cinta itu akan menjadi lukanya yang paling parah. Dia akan mencari sesuatu sepanjang hidupnya, tanpa pernah benar-benar tahu apa yang dia cari. Dia akan berlari dari satu tempat ke tempat lain, tetapi tidak pernah benar-benar sampai."
"Bisa dicegah, Mbah?" suara Sastrowiryo terdengar hampir seperti bisikan, hampir seperti doa.
Mbah Joyo menatap lelaki itu dengan mata tua yang penuh kebijaksanaan sekaligus kesedihan. Matanya yang jernih itu berkaca-kaca, tetapi ia tidak membiarkan air mata jatuh. Ia sudah terlalu tua untuk menangis di depan orang lain. "Kadang takdir bukan untuk dicegah. Kadang takdir hanya untuk dijalani."
Sastrowiryo membuka mulutnya hendak bertanya lagi, hendak memohon agar Mbah Joyo memberikan ramalan yang lebih baik, ramalan yang lebih membawa harapan, tetapi sebelum sepatah kata pun keluar dari mulutnya, suara tangis bayi pecah dari dalam kamar.
Nyaring.
Keras.
Panjang.
Seolah sejak pertama kali menghirup udara, anak itu sudah tahu bahwa dunia bukan tempat yang lembut. Suara tangisnya bukan sekadar tangis bayi biasa. Ada sesuatu di dalamnya, sesuatu yang membuat bulu kuduk Mbah Joyo merinding, sesuatu yang membuat rokok di tangannya jatuh ke lantai tanpa ia sadari. Lelaki tua itu hanya bisa diam, menatap pintu kamar yang tertutup, dan untuk pertama kalinya dalam delapan puluh tahun hidupnya, ia merasa takut akan ramalannya sendiri.
Pintu kamar terbuka. Mak Tonah keluar dengan wajah lelah tetapi tersenyum. "Laki-laki," katanya singkat. "Sehat. Matanya sudah terbuka."
Ratih menangis saat dukun beranak menyerahkan bayi laki-laki itu ke pelukannya. Bayi itu kecil, lebih kecil dari bayi kebanyakan, dengan tangan dan kaki yang mungil dan kurus. Kulitnya kemerahan, keriput seperti orang tua, dengan beberapa bercak putih di pipi dan dahi. Rambutnya hitam dan tipis, menempel di kepala yang masih lunak. Tetapi matanya sudah terbuka lebar. Matanya gelap, sangat gelap, seperti lubang sumur tua yang tidak pernah melihat matahari, seperti samudra yang tidak pernah mencapai dasar. Dan ketika bayi itu menatap ibunya, Ratih merasa seolah sedang ditatap oleh seseorang yang sudah sangat tua, seseorang yang sudah lelah sebelum hidupnya benar-benar dimulai, seseorang yang sudah tahu bahwa dunia ini kejam bahkan sebelum ia mengalaminya sendiri.
Ia memandang wajah kecil itu dengan mata berkaca-kaca. Air matanya bercampur peluh jatuh ke pipi bayi yang masih kemerahan. Ia mengusap pipi bayi itu dengan jarinya yang gemetar, jari yang kasar karena pekerjaan mencuci dan memasak dan membersihkan rumah setiap hari. Dengan suara yang hampir tak terdengar, suara yang keluar dari dadanya yang masih sakit karena persalinan, ia berbisik, "Danang. Namamu Danang."
Bayi itu berhenti menangis sejenak, seperti mendengar namanya, seperti mengakui bahwa itulah identitas yang akan melekat padanya sepanjang hidupnya. Matanya yang gelap itu masih menatap ibunya, masih menatap dengan intensitas yang tidak lazim untuk bayi seusianya.
Di luar, hujan masih turun. Tidak reda sedikit pun. Angin bertiup lebih kencang, menerbangkan daun-daun kering dan ranting-ranting kecil. Beberapa pohon kelapa di belakang rumah bergoyang liar, batangnya yang tinggi melengkung seperti sedang sujud kepada sesuatu yang tidak terlihat. Atap rumbia beberapa rumah tetangga mulai terlepas, diterbangkan angin ke udara seperti burung-burung raksasa yang terbang di malam hari. Sesekali terdengar suara barang-barang jatuh dari dalam rumah-rumah di sekitarnya, suara panci dan wajan yang berguling-guling di lantai kayu.
Dan di kejauhan, di balik tirai hujan yang begitu lebat hingga dunia terlihat seperti lukisan cat air yang kabur, Mbah Joyo yang masih duduk di dekat pintu, yang masih berusaha mengendalikan detak jantungnya yang berdegup kencang, mendengar sesuatu yang membuat dadanya terasa sesak. Di sela-sela suara hujan dan angin, di antara gemuruh petir dan deru air sungai, ia mendengar suara lain. Suara langkah. Banyak langkah. Seperti barisan orang yang berjalan di atas air, seperti pasukan tak terlihat yang berbaris di atas permukaan sungai, menuju rumah itu, lalu berhenti tepat di depan tangga.
Ketika ia menoleh ke luar, ketika matanya yang jernih itu menatap ke arah datangnya suara, tidak ada siapa pun. Hanya hujan dan gelap. Hanya pohon-pohon yang bergoyang dan air yang mengalir.
Namun Mbah Joyo tahu. Ia tahu dengan pasti, dengan keyakinan yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Sesuatu telah datang malam itu. Sesuatu yang akan tinggal bersama anak itu sepanjang hidupnya. Sesuatu yang tidak memiliki nama, tetapi memiliki wajah. Wajah kesedihan itu sendiri.
Ia memandang bayi di pelukan Ratih, bayi yang baru saja dinamai Danang, dan untuk pertama kalinya dalam delapan puluh tahun, Mbah Joyo berdoa. Bukan doa yang diajarkan oleh agama mana pun. Bukan doa yang dibacakan dari kitab suci. Tetapi doa yang keluar dari hatinya yang paling dalam, doa seorang lelaki tua yang tidak berdaya di hadapan takdir.
"Jagalah anak ini," bisiknya. "Ia akan melewati banyak badai. Jangan biarkan ia tenggelam."
Tak ada siapa pun yang mendengar doa itu. Hanya hujan. Hanya angin. Hanya langit yang gelap dan tidak peduli.
Tak ada siapa pun malam itu yang mengerti bahwa tangis bayi itu akan menjadi awal dari kisah yang panjang. Kisah yang akan berlangsung puluhan tahun, melewati tiga era, tiga kota, tiga generasi. Kisah tentang cinta yang datang terlalu cepat dan pergi terlalu sering. Kisah tentang kehilangan yang datang bertubi-tubi tanpa pernah memberi waktu untuk bernapas. Kisah tentang waktu yang tak pernah benar-benar pergi meski telah puluhan tahun berlalu, tentang waktu yang selalu kembali dalam bentuk kenangan yang tidak bisa dihapus. Kisah tentang seorang lelaki yang belajar bahwa kadang rumah bukanlah tempat, melainkan seseorang. Dan bahwa kadang, pulang bukan berarti kembali, melainkan berhenti berlari.
Bab 1
Rumah yang Menyimpan Banyak Diam
Tujuh tahun kemudian.
Danang tumbuh dalam rumah yang penuh suara yang tak pernah diucapkan.
Rumah panggung itu berdiri di atas tiang kayu ulin tua yang mulai lapuk dimakan usia. Tiang-tiang itu telah berdiri selama lebih dari setengah abad, mungkin lebih, menyaksikan lahir dan matinya beberapa generasi, menyaksikan musim hujan dan musim kemarau yang bergantian datang silih berganti, menyaksikan anak-anak yang lahir tumbuh menjadi dewasa lalu pergi merantau lalu kembali dengan anak-anak mereka sendiri. Di beberapa tempat, kayu ulin itu sudah ditumbuhi jamur kecil berwarna putih keabu-abuan, seperti penyakit kulit yang tak kunjung sembuh, seperti tanda bahwa usia tidak pernah bisa dikalahkan oleh kekuatan apa pun.
Setiap pagi, ketika matahari baru mulai menyembulkan kepalanya di balik bukit di timur, ketika kabut tipis masih menutupi permukaan sungai seperti selimut putih yang tipis, lantai rumah itu mengeluarkan bunyi berderit ketika Ratih berjalan dari dapur ke ruang tengah sambil membawa piring enamel berisi singkong rebus dan secangkir kopi hitam tanpa gula. Derit lantai itu sudah menjadi bagian dari ritme pagi Danang, seperti suara ayam jantan yang berkokok di kejauhan atau cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah dinding kayu yang tidak rapat.
Namun berbeda dengan suara-suara lain yang konstan dan dapat diprediksi, derit lantai ibunya selalu terdengar lebih pelan di hari-hari ketika ayahnya ada di rumah. Dan selalu terdengar lebih cepat di hari-hari ketika ayahnya pergi ke kebun sebelum matahari terbit. Danang kecil tidak mengerti mengapa, tetapi ia merasakannya. Ia merasakan beban yang berbeda di setiap langkah ibunya, meskipun ibunya tidak pernah mengeluh, tidak pernah menangis di depannya, tidak pernah menunjukkan bahwa ada yang salah.
Danang kecil selalu bangun lebih pagi dari ayam jantan. Bukan karena ia tidak bisa tidur —, ia bisa tidur dengan nyenyak di tikar pandannya yang sudah tua dan gatal , tetapi karena ia tidak ingin melewatkan sepinya pagi sebelum dunia desa mulai ramai. Sepi itu adalah miliknya sendiri. Sepi yang tidak perlu dibagi dengan siapa pun. Sepi yang tidak meminta penjelasan atau pembelaan.
Ia suka duduk di jendela kayu, di sebuah jendela kecil dengan daun jendela yang hanya bisa terbuka setengah karena engselnya sudah berkarat, sambil menatap sungai. Dari jendela itu, ia bisa melihat perahu-perahu kecil yang mulai berlayar, perahu-perahu kayu dengan warna cat yang mengelupas, ditenagai oleh dayung atau kadang oleh mesin tempel tua yang suaranya seperti batuk orang tua. Ia bisa melihat nelayan yang melemparkan jala, jaring-jaring besar yang terbuka di udara seperti payung raksasa sebelum jatuh ke air dengan suara percikan yang lembut. Dan sesekali, jika ia cukup beruntung, ia bisa melihat buaya yang berjemur di tepi sungai seberang, dengan mulut terbuka lebar dan gigi-gigi tajam yang tampak mengkilap terkena sinar matahari pagi.
Kadang ia merasa sungai lebih hidup daripada rumahnya sendiri.
Sungai bicara. Ia bicara melalui riak airnya yang selalu bergerak, yang selalu membentuk pola baru setiap detik. Ia bicara melalui suara arus yang membentur dermaga kayu, suara yang berirama seperti lagu pengantar tidur yang tidak pernah berakhir. Ia bicara melalui ikan-ikan yang kadang melompat ke permukaan, tubuh keperakan mereka berkilauan sebentar di udara sebelum jatuh kembali ke air dengan suara cipratan kecil. Sungai tidak pernah diam. Ia selalu bergerak, selalu berubah, selalu pergi ke suatu tempat. Danang sering berpikir, mungkin ia ingin seperti sungai. Meninggalkan tempat ini, pergi jauh, dan tidak pernah kembali. Mungkin di suatu tempat di hilir, di suatu kota yang tidak pernah ia lihat, di suatu tempat di mana tidak ada yang tahu siapa dirinya, ia bisa menjadi seseorang yang bukan siapa-siapa. Seseorang tanpa masa lalu. Seseorang tanpa luka.
Ayahnya, Sastrowiryo, jarang bicara.
Jika pulang dari kebun atau dari dermaga, lelaki itu hanya duduk diam di kursi bambu dekat jendela sambil menatap kosong ke halaman. Tatapannya kosong, tetapi tidak hampa. Ada sesuatu di sana, sesuatu yang berat, sesuatu yang seperti beban yang terus ia pikul meski tidak ada yang memintanya. Seolah pikirannya berada di tempat lain yang tak bisa disentuh siapa pun. Seolah ia sedang berbicara dengan seseorang yang tidak terlihat oleh Danang. Seolah ia sedang bertengkar dengan bayangannya sendiri.
Kadang Sastrowiryo membawa botol kecil berisi cairan bening yang baunya menyengat, bau yang membuat hidung Danang terasa perih jika terlalu dekat. Ia akan duduk berjam-jam di kursi bambu itu, menyesap cairan itu sedikit demi sedikit, sementara matanya semakin lama semakin sayu, semakin kosong, semakin seperti orang yang sedang menghilang dari dunia ini sedikit demi sedikit. Kadang ia tertidur di kursi itu dengan botol masih di tangan, dan Danang akan membawa selimut tipis untuk menutupi tubuh ayahnya yang dingin.
Ratih tidak pernah berkata apa-apa tentang botol itu. Ia hanya mengambil botol kosong keesokan paginya dan membuangnya jauh di belakang rumah, di balik semak-semak dan pohon pisang, tanpa suara, tanpa amarah, hanya dengan napas panjang yang terdengar seperti kepasrahan. Kadang Danang melihat ibunya berdiri sebentar di tempat pembuangan botol itu, memandang botol-botol yang berserakan di antara daun-daun kering, lalu menghela napas lagi dan kembali ke rumah.
Danang sering memperhatikan ayahnya dari balik pintu, dari balik dinding kayu yang retak, dari balik tirai tipis yang terbuat dari kain perca. Ia tidak takut pada ayahnya. Ia tidak benci pada ayahnya. Ia hanya ingin tahu. Ada rasa ingin tahu yang besar di hati kecilnya. Pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah ia ucapkan karena tidak tahu harus mulai dari mana. Pertanyaan-pertanyaan yang ia pendam di dadanya seperti menyimpan rahasia yang bahkan tidak ia mengerti.
"Kenapa ayah jarang tersenyum?" tidak pernah ia tanyakan.
"Kenapa ibu sering diam padahal di depan tetangga ia selalu tersenyum?" tidak pernah ia tanyakan.
"Kenapa rumah mereka selalu terasa dingin meski matahari bersinar terik di luar?" tidak pernah ia tanyakan.
"Kenapa ayah tidak pernah mengajaknya main seperti ayah-ayah lain yang sering menggendong anaknya ke pasar?" tidak pernah ia tanyakan.
Dan yang paling sering muncul di benaknya, yang paling sulit ia pendam, "Kenapa ketika Danang jatuh dari pohon jambu dan kakinya berdarah, ayahnya hanya memandang sebentar lalu pergi ke dapur untuk mengambil obat, tanpa satu kata pun, tanpa pelukan, tanpa 'Kau tak apa, Nak?'"
Namun setiap kali mulut kecilnya ingin membuka pertanyaan, suara ibunya selalu datang lebih dulu. Lembut. Cepat. Seperti orang yang sudah hafal pertanyaan apa yang akan keluar sebelum anaknya sendiri menyadarinya.
"Jangan ganggu bapakmu, Danang."
Bukan perintah keras. Hanya permintaan pelan yang diulang setiap hari. Danang hanya mengangguk. Karena ia sudah belajar sejak kecil bahwa kepatuhan lebih aman daripada rasa ingin tahu. Bahwa pertanyaan adalah senjata yang bisa melukai orang yang mengucapkannya. Bahwa kadang, tidak tahu adalah bentuk perlindungan yang paling baik.
Suatu pagi, ketika usianya genap tujuh tahun, Danang memberanikan diri bertanya. Mungkin karena hari itu hujan dan ayahnya sedang tidur di kamar setelah seharian bekerja di kebun karet. Mungkin karena ibunya sedang duduk di dapur dengan wajah yang sedikit lebih cerah dari biasanya, dengan senyum tipis yang jarang ia tunjukkan. Mungkin karena Danang sudah terlalu lelah dengan ketidaktahuannya. Mungkin karena ia sudah tidak tahan lagi hidup di rumah yang terasa seperti kuburan bagi kata-kata.
Hari itu, hujan turun sejak subuh. Hujan gerimis yang tidak deras, tetapi juga tidak berhenti. Air jatuh dari atap rumbia dengan suara yang teratur, seperti detak jam yang tidak pernah berhenti. Kabut tipis menutupi desa, membuat semuanya terlihat seperti mimpi, seperti lukisan yang buram. Rumah-rumah di kejauhan tampak seperti bayangan, tidak jelas batasnya.
Danang duduk di dapur, di dekat tungku api yang menyala kecil. Panas dari api membuat kulitnya terasa hangat, tetapi punggungnya yang membelakangi pintu tetap terasa dingin karena angin yang masuk dari celah-celah dinding. Ibunya sedang mengaduk sayur nangka di kuali tanah liat, dengan sendok kayu yang sudah hitam karena sering terkena api. Aroma santan dan daun salam dan lengkuas memenuhi dapur kecil itu, aroma yang selalu membuat perut Danang keroncongan.
"Mak..." suara Danang kecil, hampir tenggelam oleh suara hujan dan suara kayu bakar yang merambat.
Ratih menoleh dari tungku api. Wajahnya sedikit memerah terkena panas, keningnya berkeringat, tetapi matanya lembut. Matanya selalu lembut ketika memandang Danang. "Iya, Nang?"
Danang menggenggam ujung sarungnya yang kebesaran, sarung milik ayahnya yang sudah usang dan berlubang di beberapa tempat. Jari-jari kecilnya memilin-milin kain itu dengan gelisah, seperti yang selalu ia lakukan ketika gugup atau takut atau tidak tahu harus berkata apa.
"Apakah semua rumah rasanya seperti ini?"
Ratih berhenti mengaduk sayur nangka di kuali. Sendok kayu di tangannya berhenti bergerak, terhenti di tengah-tengah kuali. Untuk beberapa detik, hanya suara kayu bakar yang merambat, suara hujan di atap rumbia, dan suara napas mereka berdua yang terdengar.
"Apa maksudmu?" suara Ratih terdengar hati-hati, seperti orang yang berjalan di tanah yang mungkin longsor kapan saja, seperti orang yang tahu bahwa satu langkah salah bisa mengubah segalanya.
Danang menunduk. Ia tidak berani menatap mata ibunya. Ia hanya terus memilin ujung sarungnya, memilinnya sampai jari-jarinya terasa sakit. "Seperti sedang menahan sesuatu."
Ratih menatap anak kecil itu lama. Sangat lama. Matanya bergerak dari ujung rambut Danang yang ikal dan tidak pernah rapi, rambut yang selalu ia sisir setiap pagi dengan minyak kelapa, ke matanya yang terlalu gelap dan terlalu dalam untuk anak seusianya, mata yang membuat orang yang menatapnya merasa sedang ditatap oleh seseorang yang lebih tua dari usianya, lalu ke tangannya yang terus memilin sarung, tangan kecil yang sudah mulai kasar karena membantu ibunya mengambil air dari sumur dan memotong kayu bakar.
Lalu perempuan itu tersenyum kecil.
Senyum yang terlihat indah. Bibirnya melengkung sempurna, membentuk lekukan yang pernah membuat banyak pemuda di desa itu jatuh hati, yang membuat banyak perempuan iri. Tetapi matanya tidak ikut tersenyum. Matanya tetap seperti air sumur yang terlalu dalam untuk diterangi cahaya apa pun. Matanya tetap seperti langit malam yang tidak berbintang.
"Kau masih terlalu kecil untuk memahami rumah, Nang."
Danang terdiam. Ia tahu nada itu. Nada yang sama setiap kali ia bertanya tentang sesuatu yang seharusnya tidak ia tanyakan. Nada yang sama setiap kali ia mendekati batas antara apa yang boleh diketahui dan apa yang harus tetap tersembunyi. Nada yang sama yang membuat ia belajar bahwa ada dunia orang dewasa yang tidak boleh dimasuki anak-anak, dan dunia itu penuh dengan rahasia yang lebih berat daripada yang bisa ia bayangkan.
Namun bahkan di usia tujuh tahun, di usia di mana anak-anak lain masih sibuk bermain kejar-kejaran dan berlari tanpa alas kaki di lumpur, Danang sudah tahu satu hal. Kadang rumah bukan tempat paling aman. Kadang rumah justru tempat pertama luka mulai tumbuh. Bukan luka di kulit yang bisa diobati dengan daun obat dan minyak kayu putih. Bukan luka yang bisa dilihat dan diukur dan diperban. Melainkan luka di tempat yang tidak bisa dilihat siapa pun, luka di dalam hati yang tidak memiliki bentuk tetapi terasa nyata, luka yang tumbuh diam-diam, seperti akar pohon beringin yang perlahan merusak fondasi rumah tanpa ada yang menyadari sampai semuanya terlalu runtuh untuk diperbaiki.
Dan di rumah itu, di antara dinding kayu yang berderit dan lantai yang dingin dan atap rumbia yang bocor di beberapa tempat, Danang belajar bahwa cinta tidak selalu berbentuk pelukan. Kadang cinta berbentuk diam. Kadang cinta berbentuk bertahan di tempat yang tidak ingin kau tinggali, hanya karena ada seseorang yang membutuhkanmu di sana. Kadang cinta berbentuk bangun setiap pagi meskipun kau tidak punya alasan untuk bangun. Kadang cinta berbentuk tersenyum meskipun hatimu sedang hancur.
Ia belajar semua itu dari ibunya, yang setiap pagi berjalan dengan langkah cepat atau lambat tergantung pada apakah ayahnya ada di rumah atau tidak, tetapi tidak pernah mengeluh. Dari ayahnya, yang setiap malam duduk di kursi bambu dengan botol di tangan dan tatapan kosong di mata, tetapi tidak pernah pergi. Dari rumahnya, yang berdiri kokoh di tepi sungai meskipun tiang-tiangnya mulai lapuk dan dindingnya mulai rapuh.
Danang belajar bahwa kadang, yang terkuat bukanlah yang paling keras berbicara. Yang terkuat adalah yang tetap bertahan meskipun semua ingin runtuh.
Suatu sore, ketika Danang sedang duduk di beranda rumah, seorang lelaki tua datang. Lelaki itu bukan tetangga biasa. Danang belum pernah melihatnya sebelumnya. Tetapi ada sesuatu di wajahnya yang membuat Danang merasa aman. Mungkin karena matanya. Matanya jernih, sangat jernih, seperti air sungai di musim kemarau. Matanya tua, tetapi tidak lelah. Matanya penuh dengan cerita, tetapi tidak ada kesedihan di sana.
"Kau Danang?" tanya lelaki itu.
Danang mengangguk, masih waspada. Tangannya menggenggam erat tiang kayu di sampingnya, bersiap untuk lari ke dalam jika lelaki itu berbuat aneh.
Lelaki itu tersenyum. "Aku Mbah Joyo. Dulu aku kenal ibumu sejak dia masih kecil. Kau tahu, ibumu itu dulu suka menangis. Sering sekali. Tapi sekarang dia jarang menangis."
Danang mengernyit. "Kenapa?"
Mbah Joyo duduk di anak tangga teratas, tanpa menunggu izin. Tubuhnya yang tua bergerak dengan perlahan, dengan hati-hati, seperti orang yang sudah hafal betapa rapuhnya tulang-tulangnya. "Karena kadang, semakin dewasa seseorang, semakin ia belajar bahwa tidak semua tangis perlu keluar. Bahwa kadang, air mata yang ditelan lebih berat daripada air mata yang jatuh."
Danang tidak mengerti sepenuhnya, tetapi ia menyimpan kata-kata itu di dalam hatinya. Ia menyimpannya seperti menyimpan koin receh di celengan bambu, sedikit demi sedikit, sampai suatu hari nanti ia akan mengerti nilainya.
Mbah Joyo menatap sungai di kejauhan. Matahari sore mulai condong ke barat, mewarnai langit dengan warna jingga keemasan. Burung-burung beterbangan di atas sungai, terbang rendah, hampir menyentuh permukaan air. "Kau tahu, Nak, rumah itu seperti pohon. Akarnya bisa dalam, tapi kadang pohon yang paling kokoh pun bisa tumbang jika terus diterjang badai."
"Rumah kami akan tumbang?" tanya Danang, matanya membesar.
Mbah Joyo menatapnya. Matanya lembut, penuh kasih. "Tidak, Nak. Rumah ini kuat. Yang perlu kau khawatirkan bukan rumahnya. Tapi apakah kau punya tempat untuk pulang ketika rumah ini tidak lagi terasa seperti rumah."
Danang terdiam. Ia tidak mengerti. Tujuh tahun terlalu muda untuk mengerti metafora dan ramalan dan nasihat bijak dari orang tua. Tetapi ia merasakan sesuatu. Ia merasakan bahwa kata-kata Mbah Joyo itu penting. Bahwa ia akan mengingat kata-kata itu sepanjang hidupnya. Bahwa suatu hari nanti, ketika ia sudah tua dan rambutnya sudah memutih, ia akan duduk di suatu tempat, di suatu beranda di suatu desa atau di suatu kota, dan kata-kata itu akan kembali kepadanya.
Mbah Joyo berdiri, dengan susah payah. Lututnya yang tua berbunyi ketika ia berdiri. Ia menepuk kepala Danang pelan. Tangannya kasar, tetapi hangat. "Jaga ibumu, Nak. Dia sudah terlalu lama menyimpan kesendirian."
Lalu ia pergi, berjalan perlahan menyusuri jalan setapak yang berlumpur, dengan tongkat di tangan, dengan tubuh yang bungkuk tetapi matanya yang tetap jernih.
Danang memandangnya sampai sosoknya hilang di balik pohon kelapa.
Sore itu, untuk pertama kalinya, Danang merasa bahwa dunianya lebih besar dari yang ia kira. Bahwa di luar rumahnya yang dingin, di luar desanya yang kecil, ada orang-orang yang melihat sesuatu yang tidak ia lihat. Ada cerita-cerita yang tidak ia dengar. Ada rahasia-rahasia yang tidak ia ketahui.
Dan untuk pertama kalinya, ia merasa takut. Bukan takut pada hantu atau gelap atau suara aneh di malam hari. Tetapi takut pada apa yang tidak ia ketahui. Takut pada apa yang disembunyikan orang dewasa darinya. Takut pada kebenaran yang suatu hari nanti akan menghantamnya seperti ombak besar yang datang dari laut yang tenang.
Ia memandang rumahnya. Rumah panggung dengan tiang kayu ulin yang mulai lapuk. Rumah yang menyimpan banyak diam. Rumah yang selama ini ia kira adalah seluruh dunianya.
Ternyata tidak.
Dunia lebih besar dari itu.
Dan dunia, pikir Danang kecil, mungkin juga lebih kejam.
Malam harinya, Danang tidak bisa tidur. Ia berbaring di tikar pandannya, memandang langit-langit yang retak, mendengar suara ayahnya yang mendengkur di kamar sebelah dan suara ibunya yang masih bergerak di dapur meskipun sudah larut. Matanya terbuka lebar di kegelapan, menatap bayangan-bayangan yang bergerak di dinding karena lampu minyak yang hampir padam.
Ia mengingat kata-kata Mbah Joyo.
"Apakah kau punya tempat untuk pulang ketika rumah ini tidak lagi terasa seperti rumah."
Ia tidak mengerti sepenuhnya. Tetapi dadanya terasa sesak. Ada sesuatu yang berat di sana, sesuatu yang tidak bisa ia beri nama, sesuatu yang seperti air yang terus menggenang dan suatu hari akan meluap.
Ia memejamkan mata.
Ia berdoa pada Tuhan yang tidak pernah ia lihat.
"Tuhan," bisiknya, "tolong jaga rumahku. Tolong jaga Ibu. Tolong jaga Bapak. Tolong jangan biarkan rumahku runtuh."
Ia tidak tahu bahwa doa anak-anak tidak selalu dijawab dengan cara yang mereka inginkan. Bahwa kadang Tuhan menjawab doa dengan cara yang berbeda, dengan cara yang menyakitkan, dengan cara yang membuat kita bertanya-tanya apakah Tuhan benar-benar mendengar.
Ia tidak tahu bahwa dalam beberapa tahun, rumahnya akan runtuh. Bukan karena tiang yang lapuk atau atap yang bocor. Tetapi karena kebenaran yang selama ini disembunyikan akan keluar seperti air bah, menghanyutkan semua yang selama ini ia kenal sebagai rumah.
Namun untuk malam itu, untuk malam di mana ia masih berusia tujuh tahun dan masih percaya bahwa rumah adalah tempat yang aman, ia tertidur dengan damai. Dengan doa di bibirnya. Dengan harapan di hatinya.
Dan di luar, sungai mengalir tenang. Airnya bergerak perlahan, membawa dedaunan kering menuju hilir. Bulan bersinar di atas, memantulkan cahaya keperakan di permukaan air. Jangkrik bernyanyi di semak-semak. Alam tenang.
Seolah tidak ada yang akan berubah.
Seolah waktu akan berhenti di sini, selamanya.
Tapi waktu tidak pernah berhenti.
Dan perubahan selalu datang, seperti hujan di musimnya.
Bab 2
Anak Lelaki yang Berteman dengan Sungai
Setiap sore, setelah sekolah usai dan matahari mulai condong ke barat, Danang berjalan tanpa alas kaki menyusuri setapak tanah yang berlumpur menuju tepian sungai. Kakinya yang masih kecil dan kurus sudah terbiasa dengan dinginnya lumpur yang menyelinap di antara jari-jari kakinya, dengan tajamnya kerikil kecil yang kadang menusuk telapak kakinya, dengan panasnya tanah yang terpanggang matahari seharian. Ia tidak pernah mengeluh. Ia tidak pernah memakai sandal meskipun ibunya sudah beberapa kali membelikannya sandal jepit murah dari pasar. Sandal-sandal itu selalu hilang entah ke mana, atau rusak, atau tertinggal di suatu tempat, dan Danang kembali berjalan tanpa alas kaki seperti biasa.
Di tepi sungai itu, di tempat di mana air mulai tenang setelah melewati tikungan tajam beberapa ratus meter di hulu, ada pohon waru tua. Pohon itu sudah ada sebelum Danang lahir. Bahkan sebelum ibunya lahir, kata Mbah Joyo suatu hari ketika Danang bertanya. Dahannya lebat dan rindang, menyebar ke segala arah seperti payung raksasa yang melindungi tanah di bawahnya dari teriknya matahari sore. Batangnya besar, sangat besar, butuh tiga orang dewasa untuk merangkulnya, dengan kulit kayu yang kasar dan beralur dalam, seperti wajah orang tua yang penuh keriput.
Dan di salah satu akarnya yang paling besar, yang menjuntai ke sungai seperti lengan raksasa yang sedang meraba air, ada cekungan alami. Cekungan itu persis seukuran tubuh Danang, seperti tempat duduk yang dibuat khusus untuknya oleh alam, seperti kursi singgasana bagi raja kecil dari kerajaan sungai. Akar itu telah terbentuk selama puluhan tahun, mungkin ratusan tahun, dibentuk oleh arus air dan angin dan waktu, dan sekarang menjadi tempat paling nyaman di dunia bagi Danang.
Danang suka duduk di akar itu. Ia akan duduk bersila atau kadang berbaring, memandang awan yang lewat di atas, awan-awan putih yang bergerak lambat seperti domba-domba yang sedang merumput di padang rumput biru. Lalu ia akan melempar batu kecil ke sungai satu per satu. Pluk. Pluk. Pluk. Setiap batu menciptakan riak air yang melebar, lingkaran-lingkaran sempurna yang semakin besar dan semakin lemah sampai akhirnya menghilang, digantikan oleh riak berikutnya. Ia bisa melakukan ini berjam-jam tanpa bosan. Puluhan batu. Ratusan batu. Setiap batu berbeda. Ada yang bulat dan licin, ada yang pipih dan tajam, ada yang berat dan tenggelam dengan cepat, ada yang ringan dan terapung sebentar sebelum akhirnya menyerah pada gravitasi.
"Kau bisa melempar batu seharian, ya, Nang?" tanya seorang lelaki tua suatu sore. Lelaki itu adalah Saman, nelayan yang sudah berusia enam puluh tahun lebih, dengan kulit hitam legam karena terik matahari dan tangan yang kasar karena menarik jala setiap hari. Ia sedang membersihkan jala di dekat Danang, menarik-narik benang yang kusut dengan sabar.
Danang tidak menoleh. Matanya tetap pada sungai. "Batu tidak pernah marah kalau dilempar."
Saman tertawa. Tawanya keras dan pecah, seperti suara ombak yang memecah di karang. "Heh, anak ini. Batu tidak punya perasaan, Nak."
"Justru itu," kata Danang pelan. "Batu tidak pernah pergi."
Saman berhenti tertawa. Ia menatap anak kecil itu lama. Matanya yang tua dan keruh itu berusaha membaca sesuatu di wajah Danang, sesuatu yang tidak biasa untuk anak seusianya. "Siapa yang pergi, Nang?"
Danang tidak menjawab. Ia hanya melempar batu lain ke sungai. Batu itu jatuh dengan suara pluk yang keras, menciptakan riak yang lebih besar dari biasanya. Mungkin karena batu itu lebih besar. Mungkin karena ia melemparnya lebih keras. Mungkin karena ia sedang marah pada sesuatu yang bahkan tidak bisa ia sebutkan namanya.
Saman tidak memaksa. Ia kembali ke jalanya, tetapi matanya sesekali masih melirik ke arah Danang. Lelaki tua itu sudah cukup lama hidup di desa ini untuk tahu bahwa kadang anak-anak membawa luka yang tidak terlihat, luka yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, luka yang hanya bisa diobati dengan kesunyian dan sungai dan batu-batu yang dilempar satu per satu.
Melihat riak air, mendengar angin yang berbisik di antara dedaunan waru, merasakan air sungai yang dingin menyentuh ujung jari kakinya yang menjuntai di atas permukaan air , semua itu membuat Danang merasa bahwa sungai mendengarnya. Sungai mendengarnya tanpa meminta penjelasan. Sungai tidak bertanya kenapa ia sering diam atau kenapa matanya kadang tiba-tiba basah tanpa sebab. Sungai tidak bertanya kenapa ayahnya lebih sering memegang botol daripada memegang tangannya. Sungai tidak bertanya kenapa ibunya tersenyum di depan tetangga tetapi menangis di dapur ketika tidak ada yang melihat.
Sungai hanya menerimanya, seperti apa adanya. Sungai tidak menghakimi. Sungai tidak membandingkannya dengan anak-anak lain yang ayahnya lebih perhatian atau ibunya lebih bahagia. Sungai tidak mengatakan bahwa ia seharusnya lebih ceria atau lebih banyak bicara atau lebih seperti anak-anak seusianya.
Sungai hanya ada. Dan itu sudah cukup.
Kadang Danang membawa buku gambar tipis dan pensil yang sudah pendek, pensil yang hanya tinggal tiga jari lagi, yang sudah ia raut berkali-kali sampai hampir tidak bisa dipegang. Buku gambarnya adalah buku tulis bekas kakak kelasnya yang sudah tidak terpakai, halamannya bolak-balik, ada yang kosong, ada yang sudah terisi tulisan dan coretan yang tidak ia mengerti. Di halaman-halaman kosong itulah ia menggambar.
Ia akan menggambar apa yang dilihatnya. Perahu-perahu yang berlayar di sungai, dengan layar putih yang mengembang seperti sayap burung camar. Burung-burung yang terbang di atas air, kadang menyambar ikan dengan paruhnya yang tajam. Ikan-ikan yang melompat ke permukaan, tubuh keperakan mereka berkilauan sebentar di udara sebelum jatuh kembali. Wajah ibunya yang sedang tersenyum, senyum yang jarang ia lihat tetapi selalu ia ingat, senyum yang ia gambar berulang-ulang karena takut lupa bentuknya.
Kadang ia menggambar ayahnya. Tetapi ia selalu kesulitan menggambar mata ayahnya. Mata yang terlalu sulit untuk ditangkap di atas kertas. Mata yang menyimpan terlalu banyak hal yang bahkan Danang sendiri tidak mengerti. Mata yang kadang kosong, kadang marah, kadang sayu, kadang tidak menunjukkan apa pun. Mata yang seperti jendela ke ruangan gelap yang tidak pernah bisa ia lihat isinya.
Setiap kali ia selesai menggambar, ia akan memandang hasil gambarnya lama-lama, lalu menghela napas, lalu merobek halaman itu dan melemparkannya ke sungai. Kertas itu akan mengapung sebentar, basah perlahan, tulisannya luntur, lalu tenggelam. Seperti kenangan yang perlahan memudar. Seperti perasaan yang tidak bisa ia ungkapkan. Seperti pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah terjawab.
Suatu sore, ketika langit mulai berwarna jingga kemerahan seperti sedang demam, seperti matahari yang demam tinggi dan akan segera jatuh sakit, suara kecil terdengar dari belakangnya. Suara yang tidak ia kenal. Ceria. Riang. Ringan. Seperti suara burung kenari yang baru belajar berkicau, seperti suara air yang mengalir di atas batu-batu kecil, seperti suara sesuatu yang belum pernah terluka oleh kehidupan.
"Kalau kau terus diam begitu, ikan-ikan bisa ikut bosan, lho."
Danang menoleh cepat, hampir kehilangan keseimbangan dan jatuh ke sungai. Tangannya refleks mencengkeram akar waru di sampingnya, kuku-kuku kecilnya menggores kulit kayu yang kasar. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena kaget, tetapi karena sesuatu yang lain, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Seorang anak perempuan berdiri beberapa langkah darinya.
Kakinya telanjang, berlumuran lumpur sampai di atas mata kaki, seperti baru saja selesai bermain di sawah. Jari-jari kakinya yang kecil berlumuran tanah liat berwarna coklat kemerahan. Rambutnya hitam dan panjang, sedikit bergelombang di ujung, diikat dengan karet gelang merah sehingga membentuk ekor kuda yang sedikit miring ke kanan, tidak simetris, tetapi entah mengapa terlihat sempurna. Di tangannya ia memegang beberapa tangkai bunga liar, warnanya campur aduk, kuning, putih, ungu kecil, merah muda pucat, seperti pelangi yang jatuh ke tanah dan dipetik oleh tangan mungilnya.
Wajahnya cerah, sangat cerah, dengan mata yang hidup dan berbinar-binar seperti baru saja menemukan sesuatu yang menarik, seperti baru saja menemukan harta karun yang tidak pernah ia duga akan ia temukan. Di pipi kirinya ada lesung pipit kecil yang muncul setiap kali ia tersenyum, lesung pipit yang membuat wajahnya terlihat seperti sedang menyembunyikan rahasia yang menyenangkan. Dan saat itu, ia tersenyum lebar. Gigi depannya yang masih lengkap dan putih bersih terlihat, dua gigi seri atas yang sedikit maju ke depan, membuatnya terlihat seperti kelinci kecil yang lucu.
Danang mengernyit. Tidak biasa ada anak seusianya yang datang ke tempat ini. Tempat ini adalah rahasianya. Tempatnya sendiri. Tempat yang tidak pernah ia bagi dengan siapa pun. Tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus menjelaskan apa pun. Dan sekarang, seorang anak perempuan asing dengan bunga di tangan dan lumpur di kaki telah melanggar batas itu.
"Kau siapa?" suara Danang terdengar lebih kasar dari yang ia maksudkan. Ada nada marah di sana, nada defensif, nada seseorang yang merasa wilayahnya diganggu.
Anak itu tidak tersinggung dengan nada ketus Danang. Ia justru tersenyum lebih lebar, menunjukkan dua baris gigi yang masih lengkap dan putih bersih. Lesung pipitnya semakin dalam, seperti dua lubang kecil di pipinya yang berisi kebahagiaan. Matanya yang berbinar semakin terang, seperti dua bintang kecil di wajahnya.
"Namaku Kirana," katanya. Suaranya jernih, tidak ragu-ragu, seperti orang yang sudah terbiasa memperkenalkan diri, seperti orang yang tidak pernah takut pada pertemuan baru. "Aku pindahan dari desa sebelah. Ayahku dapat pekerjaan baru di sini."
Danang diam. Ia tidak kenal nama itu. Tidak ada anak bernama Kirana di sekolahnya. Setidaknya di kelasnya. Mungkin dari kelas lain. Mungkin kelas dua atau kelas tiga. Atau mungkin anak baru seperti katanya.
"Kau?" tanya anak itu lagi, tidak menunggu Danang merespon pertanyaan sebelumnya. "Siapa namamu?"
Danang ragu sejenak. Ada bagian dari dirinya yang ingin berbohong, ingin memberikan nama palsu, ingin menjaga jarak, ingin tetap sendirian. Tetapi ada bagian lain, bagian yang lebih kecil tetapi lebih kuat, yang ingin mengatakan kebenaran. Mungkin karena matanya. Matanya yang cerah dan tidak memiliki kebohongan. Mungkin karena untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ada seseorang yang memandangnya tanpa rasa kasihan atau curiga.
"Danang," jawabnya akhirnya. Suaranya lebih pelan sekarang, tidak lagi kasar.
"Danang," ulang Kirana, seperti sedang mencicipi nama itu di mulutnya, seperti sedang menguji apakah nama itu enak didengar atau tidak. "Nama yang bagus. Berarti 'unggul', ya? Atas?"
Danang mengangkat bahu. Ia tidak pernah tahu arti namanya. Ia tidak pernah bertanya. Dan tidak ada yang pernah menjelaskan.
Kirana tidak menunggu izin. Ia berjalan mendekat tanpa malu sedikit pun, tanpa ragu-ragu, tanpa bertanya apakah ia boleh atau tidak. Ia melangkah melewati lumpur dan rumput liar dan batu-batu kecil seolah itu adalah karpet merah, seolah ia sedang berjalan di istana, seolah seluruh dunia adalah miliknya.
Ia duduk di akar pohon waru di samping Danang. Begitu dekat hingga Danang bisa mencium wangi bunga yang ia bawa bercampur dengan aroma lumpur sungai dan aroma rambutnya yang seperti sabun kelapa. Begitu dekat hingga bahu mereka hampir bersentuhan, hingga Danang bisa merasakan hangatnya tubuhnya di sore yang mulai dingin.
"Kau sering duduk di sini?" tanyanya lagi. Matanya menjelajahi sungai, pohon waru, langit jingga, seperti sedang menikmati pemandangan yang baru pertama kali ia lihat.
Danang mengangguk. Masih curiga. Masih menjaga jarak meskipun jarak fisik mereka sudah sangat dekat.
"Sendirian?" tanya Kirana lagi. Matanya kembali ke Danang.
"Ya."
Kirana tersenyum lagi. Kali ini senyumnya berbeda. Tidak selebar tadi. Lebih kecil. Lebih lembut. Lebih dalam. Ada sesuatu di dalamnya, sesuatu yang tidak bisa Danang jelaskan saat itu, tetapi akan ia ingat sepanjang hidupnya. Sesuatu yang seperti cahaya pertama setelah hujan panjang yang tak kunjung reda. Sesuatu yang seperti suara pertama setelah sunyi yang terlalu lama. Sesuatu yang seperti napas pertama setelah hampir tenggelam.
"Kasihan sekali," katanya.
Danang menatap tajam. Matanya yang gelap menyala. Ada amarah kecil yang muncul. Bukan karena ia benar-benar marah pada Kirana — ia bahkan belum kenal anak ini — tetapi karena kata itu menyentuh sesuatu yang selama ini ia pendam. Sesuatu yang ia kubur dalam-dalam di hatinya, sesuatu yang tidak pernah ia akui bahkan pada dirinya sendiri. Kata "kasihan" adalah kata yang paling ia benci. Itu berarti orang melihatnya sebagai korban. Dan ia tidak ingin menjadi korban. Ia tidak ingin dilihat sebagai korban.
"Aku tidak kasihan," katanya tegas. Tangannya mengepal di pangkuannya.
Kirana tidak mundur. Tidak takut. Tidak meminta maaf karena telah menyinggung perasaannya. Ia justru tertawa. Tawa kecil yang terdengar aneh di telinga Danang. Bukan karena mengganggu. Bukan karena terlalu keras. Bukan karena mengejek. Tetapi karena untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, kesunyian di sekelilingnya terasa pecah. Seperti kaca jendela yang pecah setelah sekian lama utuh, membiarkan cahaya masuk dari celah yang sebelumnya tidak ada. Seperti pintu yang terbuka setelah sekian lama terkunci, membiarkan udara segar masuk ke ruangan yang pengap.
"Kau lucu, Danang," kata Kirana sambil masih tersenyum. "Aku tidak bilang kasihan karena kau sendirian. Aku bilang kasihan karena kau melewatkan pemandangan indah ini sendirian. Padahal kalau ada teman, bisa lebih seru."
Danang terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Tidak ada yang pernah berbicara kepadanya seperti itu. Tidak ada yang pernah mengajaknya berdebat tentang kata "kasihan". Tidak ada yang pernah membuatnya merasa bahwa amarahnya tidak berdasar.
Kirana mengambil satu tangkai bunga kuning dari tangannya, bunga yang tidak Danang kenal namanya, dengan kelopak kecil dan benang sari yang panjang. Ia menyerahkannya pada Danang.
"Ini buatmu."
Danang menatap bunga itu. Tangkai kecil berwarna hijau muda, dengan beberapa daun kecil di sepanjang batang. Bunga kuning dengan lima kelopak yang simetris, seperti matahari mini. Ia tidak pernah menerima bunga dari siapa pun sebelumnya. Ibunya kadang memberi dia makanan, kadang memberinya pakaian, kadang memberinya uang receh untuk membeli jajan. Tapi tidak pernah bunga. Bunga adalah sesuatu yang aneh. Bunga tidak bisa dimakan. Bunga tidak bisa dipakai. Bunga tidak bisa dijual. Bunga hanya indah untuk dilihat, dan setelah beberapa hari ia akan layu dan mati.
"Untuk apa?" tanyanya.
Kirana mengangkat bahu. Gerakan yang begitu bebas, begitu tanpa beban, begitu seperti seseorang yang tidak pernah diajari bahwa ada hal-hal yang tidak boleh dilakukan. "Tidak untuk apa-apa. Cuma karena bunga itu cantik, dan kau kelihatan seperti orang yang butuh sesuatu yang cantik dalam hidupmu."
Danang tidak tahu harus menjawab apa. Tidak ada yang pernah mengatakan bahwa ia butuh sesuatu yang cantik. Tidak ada yang pernah berpikir bahwa ia pantas menerima sesuatu yang cantik. Ibunya terlalu sibuk bekerja untuk memikirkan hal-hal seperti itu. Ayahnya terlalu sibuk dengan botolnya. Tetangga-tetangganya terlalu sibuk dengan bisikan-bisikan mereka.
Ia mengambil bunga itu. Tangannya yang kecil dan kotor karena lumpur memegang tangkai bunga dengan hati-hati, seperti takut merusaknya. Bunga itu terasa ringan di tangannya, sangat ringan, hampir tidak terasa. Tetapi ada sesuatu yang berat di dadanya. Sesuatu yang hangat. Sesuatu yang tidak bisa ia beri nama.
"Aku mau jadi temanmu," kata Kirana. Bukan tawaran. Bukan permintaan. Bukan pertanyaan. Pernyataan. Seperti fakta yang tidak perlu diperdebatkan. Seperti hukum alam yang tidak bisa diubah.
Danang menatap sungai. Air mengalir seperti biasa. Riak-riak kecil menari-nari di permukaan, menangkap cahaya matahari sore yang mulai memudar. Di kejauhan, seorang nelayan sedang menarik jalanya, tubuhnya yang kurus membungkuk karena beban ikan yang mungkin banyak atau mungkin sedikit. Seorang ibu-ibu berjalan di seberang sungai dengan keranjang di kepalanya, langkahnya mantap meskipun tanah di bawahnya tidak rata.
"Kenapa?" tanya Danang akhirnya.
Kirana mengangkat bahu lagi. Gerakan yang sama. Bebas. Tanpa beban. "Karena kau kelihatan seperti orang yang butuh teman."
Danang tidak menjawab. Ia hanya duduk diam, memandang sungai, sementara di sampingnya seorang anak perempuan asing duduk dengan bunga liar di pangkuannya, bersenandung kecil tanpa peduli apakah Danang mendengarnya atau tidak.
Lagu yang ia senandungkan adalah lagu anak-anak yang sering dinyanyikan di sekolah. Lagu tentang pelangi. Lagu tentang kebahagiaan sederhana. "Pelangi-pelangi, alangkah indahmu, merah kuning hijau, di langit yang biru..."
Suaranya kecil, tidak keras, tetapi cukup jelas di telinga Danang. Suara yang belum mengenal kepahitan. Suara yang belum terluka oleh kehidupan. Suara yang masih percaya bahwa dunia adalah tempat yang baik.
Danang tidak ikut bernyanyi. Ia tidak tahu lagu itu. Atau mungkin ia tahu, tetapi ia tidak pernah bernyanyi di depan orang lain. Bernyanyi berarti menunjukkan perasaan. Dan menunjukkan perasaan berarti membuka diri untuk dilukai. Itu pelajaran yang sudah ia pelajari sejak kecil.
Namun sore itu, untuk pertama kalinya sejak lama, Danang pulang dengan perasaan yang berbeda. Tidak lagi sepenuhnya sendiri. Ada sesuatu yang hangat di dadanya, sesuatu yang tidak bisa ia beri nama, sesuatu yang seperti bara api yang tertutup abu, masih panas meskipun tidak terlihat.
Sesuatu yang akan tumbuh besar seiring waktu. Menjadi pohon rindang di tengah padang tandus hatinya. Menjadi tempat berteduh saat badai datang. Menjadi alasan untuk bangun di pagi hari. Dan kemudian menjadi akar yang paling sulit dicabut ketika waktunya tiba untuk pergi.
Ia memasukkan bunga kuning itu ke dalam saku bajunya. Bunga itu sedikit hancur karena tergesek, beberapa kelopaknya lepas, tetapi ia tetap menyimpannya. Sampai di rumah, ia mengambil gelas bekas selai, mengisinya dengan air, dan menaruh bunga itu di dalamnya. Ia letakkan gelas itu di jendela kamarnya, tempat di mana sinar matahari pagi akan menyentuhnya pertama kali.
Ibunya melihatnya dari pintu dapur. "Bunga dari mana, Nang?"
"Dari teman," jawab Danang.
Ratih menatap anaknya lama. Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir, ada sedikit cahaya di mata Danang. Cahaya yang sudah lama ia rindukan. Cahaya yang membuatnya ingat bahwa anaknya masih kecil, bahwa anaknya masih bisa bahagia, bahwa anaknya masih punya kesempatan untuk tidak menjadi seperti dirinya.
"Teman?" ulang Ratih, tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Selama ini Danang tidak pernah punya teman. Anak-anak lain menjauhinya. Entah karena mereka takut pada ayahnya yang terkenak keras, atau karena mereka mendengar bisikan orang dewasa tentang keluarganya.
"Namanya Kirana," kata Danang. "Dia anak baru."
Ratih tersenyum. Senyum yang tulus, yang jarang muncul, yang membuat wajahnya yang lelah itu terlihat muda kembali untuk beberapa detik. "Bagus, Nang. Kau punya teman."
Danang tidak menjawab. Ia hanya memandang bunga kuning di dalam gelas selai. Bunga itu sudah sedikit layu, kelopaknya mulai mengerut di tepi, tetapi warnanya masih kuning cerah. Seperti harapan. Seperti janji. Seperti awal dari sesuatu yang belum tahu akan berakhir seperti apa.
Malam itu, sebelum tidur, Danang membuka buku gambarnya. Ia mencari halaman yang masih kosong, halaman yang tidak terkena noda tinta atau coretan pensil. Ia menemukannya di bagian tengah buku, halaman yang masih putih bersih, belum pernah ia sentuh sebelumnya.
Ia mengambil pensil pendeknya. Pensil yang sudah tinggal dua jari lagi. Ia raut pensil itu dengan pisau kecil, hati-hati, sampai ujungnya runcing sempurna.
Lalu ia mulai menggambar.
Bukan perahu. Bukan burung. Bukan ikan. Bukan wajah ibunya. Bukan sungai.
Ia menggambar seorang anak perempuan. Dengan rambut panjang yang diikat karet gelang merah. Dengan senyum lebar yang memperlihatkan gigi seri atas yang sedikit maju. Dengan lesung pipit di pipi kiri. Dengan mata yang berbinar-binar seperti bintang.
Ia menggambar Kirana.
Ketika selesai, ia memandang gambar itu lama-lama. Tangannya yang kotor meninggalkan bekas di tepi kertas. Gambar itu tidak sempurna. Mata Kirana terlalu besar. Rambutnya terlalu panjang. Senyumnya terlalu lebar. Tetapi bagi Danang, itu adalah gambar terbaik yang pernah ia buat.
Ia melipat kertas itu kecil-kecil, lalu menyelipkannya di bawah tikarnya. Di tempat yang tidak akan dilihat siapa pun. Di tempat yang hanya ia yang tahu.
Karena beberapa hal, pikir Danang, terlalu berharga untuk dibagi. Beberapa perasaan terlalu rapuh untuk diucapkan. Beberapa kenangan terlalu indah untuk diingat sendirian, tetapi tidak ada orang lain yang bisa diajak berbagi.
Ia memejamkan mata.
Di luar, jangkrik mulai bernyanyi. Bulan bersinar terang, memantulkan cahaya keperakan di permukaan sungai yang tenang. Angin malam berhembus pelan, membawa bau tanah basah dan bunga melati dari kebun tetangga.
Danang tersenyum kecil dalam tidurnya.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia bermimpi. Bukan mimpi buruk tentang rumah yang runtuh atau ayah yang marah atau ibu yang menangis. Tetapi mimpi indah tentang seorang anak perempuan dengan bunga di tangan dan senyum di wajah.
Mimpi tentang Kirana.
Bab 3
Tawa di Bawah Pohon Trembesi
Hari-hari berikutnya berubah.
Desa yang dulunya terasa abu-abu bagi Danang, yang dulunya hanya terdiri dari warna-warna kusam seperti coklat tanah, hijau daun yang lusuh, dan biru sungai yang kehitaman, perlahan mulai berwarna. Seperti seseorang yang perlahan menambahkan cat ke kanvas yang tadinya kosong. Seperti matahari yang perlahan terbit setelah malam yang panjang. Seperti sesuatu yang mulai hidup kembali setelah sekian lama mati suri.
Kirana datang hampir setiap sore. Kadang ia datang lebih dulu, sudah duduk manis di akar pohon waru ketika Danang masih berjalan dari sekolah, tas kain lusuhnya bergoyang di bahu, kakinya berlumuran debu jalanan. Kadang Danang yang menunggu, memandang jalan setapak yang dilalui Kirana dengan sabar, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat setiap kali melihat sosok kecil dengan rambut ekor kuda itu muncul dari balik pohon pisang atau dari balik semak-semak di tikungan jalan.
Danang tidak pernah mengakui, bahkan pada dirinya sendiri, bahwa ia menunggu Kirana. Ia akan duduk di akar waru, melempar batu ke sungai seperti biasa, tetapi matanya tidak benar-benar melihat sungai. Matanya selalu tertuju ke jalan setapak, ke arah dari mana Kirana biasanya datang. Ia akan berpura-pura sibuk dengan batu atau dengan gambar di buku catatannya, tetapi telinganya selalu waspada mendengar suara langkah kaki kecil yang ringan dan suara senandung yang menjadi ciri khas Kirana.
"Kau sudah lama di sini?" tanya Kirana suatu sore, ketika ia menemukan Danang sudah duduk di akar waru.
"Baru saja," jawab Danang, meskipun sebenarnya ia sudah duduk di sana sejak satu jam yang lalu, sejak sepulang sekolah, sejak ia berlari pulang, mengganti seragamnya, dan langsung menuju sungai tanpa berhenti di rumah.
Kirana tertawa. Ia tahu Danang berbohong. Matanya yang tajam melihat bahwa rumput di sekitar akar waru sudah rata karena diduduki terlalu lama. Tetapi ia tidak mengatakan apa pun. Ia hanya duduk di samping Danang seperti biasa, membuka bungkusan yang dibawanya, dan berkata, "Ibu buat getuk. Masih hangat."
Getuk itu dibungkus daun pisang yang masih hijau, diikat dengan lidi di kedua ujungnya. Ketika daun pisang itu dibuka, uap panas masih mengepul tipis, membawa aroma singkong yang manis bercampur dengan aroma daun pisang yang khas. Getuk itu berwarna kuning keemasan, ditaburi kelapa parut putih yang masih segar.
Danang menatap getuk itu. Perutnya keroncongan, tetapi ia tidak segera mengambil. "Ibu kamu baik sekali," katanya. "Sering banget bikin makanan."
"Ibu suka masak," kata Kirana sambil mengambil sepotong getuk dan memasukkannya ke mulutnya. "Katanya, kalau masak, dia lupa kalau hidup itu berat."
Danang mengernyit. "Hidup itu berat?"
Kirana mengunyah getuknya perlahan, menikmati rasa manis yang meleleh di lidahnya. "Kata Ibu begitu. Tapi aku tidak tahu maksudnya."
Danang diam. Ia tahu maksudnya. Ia terlalu tahu. Ia melihat ibunya setiap hari, bekerja dari pagi sampai malam, memasak, mencuci, membersihkan rumah, kadang menjahit pakaian tetangga untuk uang tambahan. Ia melihat lelah di mata ibunya yang tidak pernah hilang meskipun ia sudah tidur. Ia tahu bahwa hidup itu berat. Tetapi ia tidak tahu bagaimana mengatakannya pada Kirana.
Ia mengambil sepotong getuk. Singkongnya lembut, manisnya pas, kelapanya gurih. Ini mungkin makanan terenak yang pernah ia makan, meskipun ia tidak akan pernah mengakuinya.
Kadang Kirana membawa mangga muda dari pohon belakang rumahnya. Mangga itu masih hijau, keras, belum matang, dengan getah putih yang masih menetes dari tangkainya. Kirana sudah mengupasnya dan memotongnya kecil-kecil, lalu menaburinya dengan garam dan sedikit gula merah yang dihaluskan.
Rasanya asin, manis, asam, seperti perasaan yang mulai tumbuh di dada Danang tanpa ia sadari. Asam seperti rasa canggung di awal pertemuan mereka. Asin seperti air mata yang kadang ia tahan ketika memikirkan rumahnya. Manis seperti senyum Kirana yang selalu membuat hari-harinya terasa lebih ringan.
"Coba, ini enak," kata Kirana sambil menyodorkan bungkusan daun pisang berisi potongan mangga muda. "Pohonnya di belakang rumah. Aku yang petik sendiri. Hati-hati getahnya, ya. Nanti gatal."
Danang mengambil satu potong. Mangga itu renyah, segar, dengan rasa asam yang menyengat di lidah, segera diikuti oleh rasa asin dari garam dan manis dari gula merah. "Asam banget," katanya sambil mengernyit.
Kirana tertawa. "Itu namanya segar, bukan asam."
"Tetap saja asam."
"Kau tidak punya selera."
"Kau yang tidak punya selera. Ini terlalu asam untuk disebut enak."
Tapi Danang mengambil potongan lain. Dan potongan lain lagi. Sampir setengah bungkusan habis dalam beberapa menit. Kirana hanya tersenyum, tidak mengatakan apa pun, tetapi matanya berbinar puas melihat Danang makan dengan lahap.
Kadang Kirana hanya membawa cerita.
Cerita yang tidak pernah habis. Cerita tentang ayamnya yang bertelur di bawah tempat tidur, dan ketika ia mencoba mengambil telurnya, ayam itu mematuk tangannya sampai berdarah. Cerita tentang kucing tetangga yang mencuri ikan asin dari dapur mereka, dan ibunya yang marah-marah tetapi tetap memberi kucing itu sedikit ikan karena kasihan. Cerita tentang mimpi aneh yang ia alami malam sebelumnya, tentang bisa terbang melayang-layang di atas desa, melihat atap-atap rumah dari atas, melihat sungai yang berkelok seperti ular raksasa, melihat orang-orang yang berjalan seperti semut kecil.
"Lalu aku terbang sampai ke laut," kata Kirana suatu sore, matanya berbinar-binar saat menceritakan mimpinya. "Air lautnya biru, lho, Danang. Bukan kayak sungai kita yang coklat. Biru bening. Aku bisa lihat ikan-ikan di dalamnya. Ada ikan yang warnanya pelangi. Ada ikan yang bentuknya aneh, seperti punya sayap."
"Kau belum pernah ke laut," kata Danang. "Mana mungkin kau tahu warna laut."
Kirana cemberut. "Itu mimpi. Mimpi tidak perlu logika."
"Mimpi tetap harus masuk akal."
"Kenapa?"
"Karena kalau tidak masuk akal, namanya bukan mimpi, namanya ngigau."
Kirana tertawa keras. Tawanya menggema di antara pepohonan, mengagetkan beberapa burung yang sedang bertengger di dahan pohon waru. "Kau ini aneh, Danang. Semua orang tahu mimpi itu tidak harus masuk akal. Itu yang membuat mimpi indah."
"Tapi kalau mimpi tidak masuk akal, bagaimana kau bisa percaya mimpi itu?"
Kirana menatapnya. Matanya serius sekarang, tidak lagi bercanda. "Kadang kita tidak perlu percaya mimpi untuk menikmatinya, Danang. Cukup rasakan saja."
Danang tidak menjawab. Ia memandang sungai yang coklat, yang tidak pernah biru, yang tidak pernah bening, yang hanya mengalir seperti biasa tanpa pernah berubah. Ia ingin melihat laut biru seperti dalam mimpi Kirana. Ia ingin melihat ikan warna pelangi. Ia ingin terbang di atas desa dan melihat dunianya dari ketinggian.
Tetapi ia hanya Danang, anak desa yang tidak pernah pergi ke mana pun, yang dunianya hanya sebatas sungai dan rumah dan sekolah yang atapnya bocor.
Ia hanya bisa bermimpi.
Dan dalam mimpinya, Kirana selalu ada.
Kadang mereka hanya diam.
Bukan diam yang canggung seperti di awal pertemuan mereka. Bukan diam karena tidak ada yang bisa dikatakan. Tetapi diam yang nyaman. Diam yang terasa seperti selimut hangat di malam yang dingin. Diam yang tidak perlu diisi dengan kata-kata karena kehadiran satu sama lain sudah cukup.
Mereka akan duduk berdampingan di akar waru, memandang sungai yang mengalir, mendengar suara air yang membentur dermaga kayu, mendengar suara angin yang berbisik di antara dedaunan, mendengar suara burung-burung yang pulang ke sarangnya saat matahari mulai tenggelam.
Kadang Danang menggambar. Kadang Kirana membaca buku cerita yang ia bawa dari rumah. Kadang mereka hanya berbaring di rumput, memandang awan yang lewat di atas, dan merasa bahwa waktu bergerak terlalu cepat. Bahwa sore terlalu singkat. Bahwa senja terlalu cepat berubah menjadi malam.
"Danang," panggil Kirana suatu sore, ketika awan di langit berbentuk seperti gajah dan kelinci dan kadang seperti wajah orang yang tidak mereka kenal.
"Hmm?"
"Kita akan tetap berteman, kan? Sampai kapan pun?"
Danang menoleh. Wajah Kirana serius, tidak bercanda. Lesung pipitnya tidak terlihat karena ia tidak tersenyum. Matanya yang biasanya berbinar kini tampak sedikit cemas.
"Kenapa tanya begitu?" tanya Danang.
Kirana menggigit bibirnya, kebiasaannya ketika gugup. "Karena teman-temanku dulu sering pindah. Ayahku pekerjaannya pindah-pindah. Jadi aku tidak pernah punya teman lama. Setiap kali aku mulai dekat dengan seseorang, kami harus pindah lagi."
Danang terdiam. Ia tidak pernah berpikir tentang itu. Ia tidak pernah berpikir bahwa suatu hari Kirana bisa pergi. Bahwa suatu hari sore-sore mereka di tepi sungai bisa berakhir. Bahwa suatu hari akar waru ini akan kembali sepi, hanya ditemani oleh batu-batu yang ia lempar ke sungai sendirian.
"Aku tidak akan pindah," kata Danang akhirnya. "Desa ini adalah rumahku. Meskipun rumahku tidak seperti rumah orang lain, tapi ini satu-satunya rumah yang aku punya. Aku tidak punya tempat lain untuk pergi."
Kirana tersenyum kecil. Senyum yang lega, tetapi masih ada sedikit keraguan di matanya. "Janji?"
Danang mengangkat jari kelingkingnya. Jari kecil yang kurus, dengan kuku yang pendek dan hitam karena kotoran. "Janji."
Kirana mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari Danang. Jari mungilnya yang bersih dan putih, dengan kuku yang dipotong rapi oleh ibunya. Dua jari yang sangat berbeda, tetapi tergenggam erat.
"Janji," ulang Kirana.
Mereka tidak tahu bahwa janji yang dibuat oleh anak-anak di tepi sungai, dengan jari kelingking yang digenggam erat, dengan tawa dan air mata dan harapan, adalah janji yang paling sulit ditepati. Karena anak-anak tidak tahu bahwa dunia akan berubah, bahwa waktu akan memisahkan, bahwa orang dewasa akan datang dengan rencana-rencana mereka yang tidak melibatkan anak-anak.
Mereka tidak tahu bahwa suatu hari nanti, mereka akan berpisah.
Tetapi untuk sore itu, untuk sore di mana awan berbentuk gajah dan kelinci dan matahari mulai tenggelam di ufuk barat, janji itu terasa nyata. Janji itu terasa seperti sesuatu yang bisa mereka pegang, seperti jari kelingking mereka yang saling mengait, seperti hangatnya tangan satu sama lain.
Di bawah pohon trembesi dekat sekolah, tempat yang berbeda dari pohon waru di tepi sungai, mereka sering duduk berdua setelah jam pelajaran selesai. Pohon trembesi itu besar, sangat besar, dengan dahan-dahan yang menyebar lebar seperti payung raksasa, seperti tangan raksasa yang sedang melindungi semua yang ada di bawahnya.
Daunnya kecil-kecil dan rindang, menciptakan bayangan yang teduh meski matahari sedang terik-teriknya. Batangnya sangat besar, butuh empat atau lima anak kecil untuk merangkulnya. Di beberapa tempat, akarnya muncul ke permukaan tanah, besar dan meliuk-liuk seperti ular yang sedang berjemur.
Di bawah pohon itulah Danang dan Kirana menghabiskan sebagian besar masa kecil mereka. Bercerita. Tertawa. Kadang bertengkar soal hal sepele, lalu berdamai tanpa perlu mengucap maaf. Kadang mereka hanya diam, berbaring di atas akar pohon yang besar, memandang langit di sela-sela dedaunan, dan merasa bahwa waktu tidak pernah bergerak secepat ini sebelumnya.
Suatu sore, ketika langit biru cerah tanpa awan, ketika matahari masih tinggi meskipun sudah menjelang sore, Kirana bertanya, "Kau mau jadi apa nanti, Danang?"
Danang menatap langit. Biru. Sangat biru. Biru seperti laut dalam mimpi Kirana. Beberapa burung terbang di kejauhan, terlalu jauh untuk dikenali jenisnya. "Aku mau pergi jauh," katanya.
Kirana mengernyit. Alisnya yang tipis bertaut. "Kenapa?"
Danang terdiam sejenak. Ia memikirkan rumahnya. Rumah yang dingin. Rumah yang penuh diam. Rumah yang terasa seperti kuburan bagi mimpi-mimpi. Rumah yang tidak pernah terasa seperti rumah, meskipun ia tinggal di sana sejak lahir. "Karena di sini terlalu banyak hal yang tidak bisa dimengerti."
"Seperti apa?"
Danang berpikir. Bagaimana ia bisa menjelaskan pada Kirana tentang ayahnya yang lebih sering memegang botol daripada memegang tangannya? Tentang ibunya yang tersenyum di depan orang tetapi menangis di dapur? Tentang bisikan-bisikan tetangga yang berhenti ketika ia lewat? Tentang perasaan aneh bahwa ia tidak benar-benar menjadi bagian dari desa ini, bahwa ia hanya numpang hidup, bahwa suatu hari nanti ia akan pergi dan tidak ada yang akan merindukannya?
"Banyak," katanya akhirnya. "Terlalu banyak untuk diceritakan."
Kirana tidak memaksa. Ia sudah belajar bahwa Danang adalah orang yang butuh waktu untuk membuka mulutnya, bahwa ia tidak bisa dipaksa untuk bicara jika belum siap, bahwa kadang yang terbaik adalah diam dan menunggu.
"Kalau aku," kata Kirana setelah beberapa lama, "aku ingin tinggal di sini. Di desa ini. Selamanya."
Danang menoleh. "Kenapa?"
Kirana tersenyum. Senyum yang berbeda dari senyum cerianya yang biasa. Senyum yang lebih dalam, lebih matang, seperti orang yang sudah memikirkan hal ini berkali-kali, seperti orang yang sudah mengambil keputusan dan tidak akan berubah pikiran.
"Karena di sinilah aku bertemu denganmu."
Danang terdiam. Dadanya terasa aneh. Ada sesuatu yang hangat di sana, sesuatu yang seperti air hangat mengalir di pembuluh darahnya, sesuatu yang membuatnya ingin tersenyum tetapi juga ingin menangis pada saat yang bersamaan.
"Dan karena," lanjut Kirana, "kalau semua pergi, siapa yang akan mengingat rumah?"
Danang menatap Kirana. Wajahnya yang cerah di bawah sinar matahari sore. Rambutnya yang hitam berkibar sedikit ditiup angin. Matanya yang berbinar, tidak hanya karena cahaya, tetapi karena sesuatu yang lain, sesuatu yang bersinar dari dalam.
Untuk pertama kalinya, Danang merasa ada seseorang yang melihat dunia dengan cara yang sama sepinya. Bukan kesepian yang menyedihkan. Bukan kesepian yang membuat orang ingin menangis. Bukan kesepian yang membutuhkan belas kasihan orang lain. Tapi kesepian yang sadar, yang memilih untuk tinggal, yang memilih untuk mengingat, karena tahu bahwa kenangan adalah satu-satunya hal yang tidak bisa diambil oleh siapa pun.
Ia tidak mengerti mengapa, tetapi saat itu, di bawah pohon trembesi yang rindang, di sore yang cerah dengan langit biru tanpa awan, Danang merasa bahwa ia tidak sendirian. Bahwa ada seseorang di dunia ini yang memilih untuk tinggal, meskipun ia tidak punya alasan untuk tinggal.
Dan itu, pikir Danang, mungkin adalah definisi persahabatan.
Atau mungkin, sesuatu yang lebih dari itu.
Suatu hari, ketika hujan turun tiba-tiba di tengah perjalanan pulang sekolah, Danang dan Kirana berlari bersama mencari tempat berteduh. Mereka berlari melewati genangan air yang memercik ke mana-mana, melewati lumpur yang licin, melewati rerumputan basah yang tingginya sampai lutut.
Mereka menemukan sebuah pondok kecil di pinggir sawah. Pondok yang biasanya digunakan petani untuk beristirahat atau untuk menjaga sawah dari hama burung. Pondok itu terbuat dari bambu dan kayu, dengan atap rumbia yang sudah mulai bocor di beberapa tempat. Lantainya tanah, basah dan becek karena air hujan yang merembes dari bawah. Dindingnya anyaman bambu yang tidak rapat, angin masuk dari celah-celahnya.
Mereka duduk di lantai yang basah, terengah-engah karena berlari. Pakaian mereka basah kuyup. Rambut Kirana basah menempel di dahi dan pipinya. Seragam putihnya menjadi transparan karena air, tetapi ia tidak peduli. Ia hanya tertawa, tertawa karena basah, tertawa karena hujan, tertawa karena hidup terasa menyenangkan.
"Kau lihat wajah Pak Guru tadi?" kata Kirana di sela-sela tawanya. "Ketika kau bilang PR-nya dimakan kambing?"
Danang tersenyum kecil. "Itu benar. Kambingnya lepas. Makannya memang PR-ku."
"Tapi kambing tidak makan kertas!"
"Kambingku lain. Kambingku suka makan kertas."
Kirana tertawa lebih keras. "Kambingmu kambing aneh."
"Seperti pemiliknya," kata Danang.
Mereka berdua tertawa. Tawa mereka bergema di pondok kecil itu, terdengar sampai ke sawah-sawah di sekitarnya, bercampur dengan suara hujan yang jatuh di atap rumbia.
Di tengah tawa, Kirana tiba-tiba berhenti. Ia menatap Danang dengan serius. "Danang," katanya.
Danang berhenti tertawa. "Apa?"
"Kadang aku berpikir... apakah kita akan berteman selamanya?"
Danang menatapnya. Wajah Kirana basah oleh air hujan, tetapi matanya kering. Matanya serius, serius seperti orang dewasa yang bertanya tentang hal-hal penting.
"Kenapa kau selalu bertanya begitu?" tanya Danang.
Karena aku takut, jawab Kirana. Suaranya kecil, hampir tidak terdengar di antara suara hujan.
Takut apa?
Takut kehilangan.
Danang tidak menjawab. Ia hanya memandang hujan yang turun deras di luar pondok. Air jatuh dari atap rumbia membentuk tirai yang memburamkan dunia di luar. Sawah-sawah di kejauhan mulai tergenang. Padi-padi yang baru setengah tinggi bergoyang-goyang ditiup angin.
Kadang, pikir Danang, yang paling ditakuti manusia bukanlah rasa sakit, bukan kegagalan, bukan kematian. Tetapi kehilangan. Kehilangan orang yang kita cintai. Kehilangan tempat yang kita sebut rumah. Kehilangan versi diri kita yang masih percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Kita tidak akan kehilangan," kata Danang akhirnya. "Kita akan berteman selamanya."
Kirana tersenyum. Senyum yang lega. Senyum yang mempercayai.
Dan di dalam hati Danang, ia berdoa pada Tuhan yang entah di mana, agar kata-katanya menjadi kenyataan. Agar Kirana tidak pergi. Agar mereka bisa bersama selamanya.
Tapi doa anak-anak, pikir Danang kemudian, kadang tidak didengar.
Atau didengar, tetapi tidak dijawab dengan cara yang kita inginkan.
Sore itu, di bawah pohon trembesi yang rindang, ketika matahari mulai condong ke barat dan burung-burung mulai pulang ke sarangnya, Danang dan Kirana duduk berdampingan dalam diam.
Mereka sudah menghabiskan waktu berjam-jam di sana. Bercerita tentang sekolah, tentang guru yang galak, tentang teman sekelas yang menyebalkan, tentang cita-cita yang masih samar-samar, tentang mimpi-mimpi yang masih terlalu tinggi untuk diraih.
Danang menggambar di buku catatannya. Ia menggambar pohon trembesi, dengan batang yang besar dan dahan yang menyebar lebar. Di bawah pohon itu, ia menggambar dua sosok kecil. Dua anak kecil yang duduk berdampingan.
"Siapa itu?" tanya Kirana, menunjuk gambar itu.
"Kita," jawab Danang.
Kirana melihat gambar itu lebih dekat. "Aku tidak sejelek itu."
"Memangnya aku gambar jelek?"
"Kamu gambar aku dengan hidung seperti kentang."
"Itu bukan hidung. Itu lesung pipitmu."
Kirana tertawa. "Lesung pipit di hidung?"
Danang ikut tertawa. "Sudahlah, aku bukan pelukis."
"Tapi ini gambar yang bagus," kata Kirana, tiba-tiba serius. "Simpan, ya. Agar kita ingat sore ini."
Danang memandang gambar itu. Dua sosok kecil di bawah pohon besar. Dua anak yang tidak tahu bahwa dunia akan segera berubah. Dua anak yang masih percaya bahwa persahabatan bisa bertahan selamanya.
"Iya," katanya. "Aku simpan."
Ia melipat gambar itu dengan hati-hati, lalu menyelipkannya di saku bajunya. Di tempat yang aman. Di tempat yang tidak akan ia lupakan.
Matahari semakin rendah. Warna jingga mulai muncul di ufuk barat. Burung-burung terakhir terbang di atas kepala mereka, cepat-cepat pulang sebelum gelap.
"Pulang yuk," kata Kirana. "Nanti ibu marah."
"Iya."
Mereka berdiri, membersihkan rumput dan debu dari pakaian mereka. Kirana mengambil tasnya, Danang mengambil buku gambarnya.
"Besok kita ke sungai lagi?" tanya Kirana.
"Biasa," jawab Danang.
Kirana tersenyum. "Sampai besok, Danang."
"Sampai besok, Kirana."
Mereka berjalan pulang ke arah yang berlawanan. Kirana ke utara, melewati rumah-rumah penduduk dan kebun singkong. Danang ke selatan, melewati sawah dan jembatan kayu kecil.
Di tengah jalan, Danang berhenti. Ia menoleh ke belakang.
Kirana masih berjalan. Rambutnya yang panjang bergoyang-goyang. Tasnya bergoyang di bahu. Sesekali ia melompati genangan air kecil di jalan.
Danang memandang sampai sosok Kirana hilang di balik tikungan.
Lalu ia melanjutkan perjalanan.
Di dalam hatinya, ada sesuatu yang tumbuh. Sesuatu yang belum bisa ia beri nama. Sesuatu yang terasa seperti benih yang baru saja ditanam di tanah yang subur. Sesuatu yang suatu hari nanti akan tumbuh menjadi pohon yang besar, dengan akar yang dalam dan dahan yang rindang.
Pohon yang akan menjadi tempatnya berteduh ketika badai datang.
Pohon yang akan ia rindukan ketika terpisah jarak dan waktu.
Pohon yang akan menjadi alasan mengapa ia tidak pernah benar-benar bisa melupakan.
Pohon itu bernama Kirana.
Bab 4
Suara dari Balik Dinding Kayu
Malam turun lebih cepat pada musim hujan.
Langit menggantung rendah di atas desa, seperti langit-langit kamar yang terlalu dekat dengan wajah, seperti selimut tebal yang membungkus dunia dalam kegelapan. Awan-awan hitam tebal bergelayut di atas gunung-gunung di kejauhan, kadang disambar kilat yang membuat desa terang sekejap sebelum kembali gelap, seperti lampu yang berkedip-kedip sebelum mati. Suara kodok bersahut-sahutan dari rawa di belakang rumah-rumah panggung, suara mereka bercampur dengan jangkrik dan suara aneh lainnya yang tidak pernah bisa diidentifikasi siapa pun, suara-suara yang membuat malam terasa hidup meskipun tidak ada manusia yang terlihat.
Danang kecil terbangun ketika suara piring pecah terdengar dari ruang tengah.
Ia membuka mata perlahan. Matanya masih berat, masih lengket dengan sisa tidur, tetapi jantungnya sudah berdegup lebih cepat. Ada sesuatu di udara malam itu, sesuatu yang tegang, seperti tali yang terlalu ditarik dan siap putus kapan saja, seperti busur panah yang ditarik terlalu kencang dan akan melesat kapan pun jari pemanah terlepas.
Di luar kamar, suara ibunya terdengar. Tidak keras, tetapi cukup jelas di malam yang sunyi. Suara yang bergetar, seperti orang yang sedang menahan sesuatu yang terlalu berat, seperti orang yang sedang berusaha agar tidak hancur tetapi sudah terlalu dekat dengan batasnya.
"Aku sudah capek hidup seperti ini, Mas..."
Suara Ratih tidak keras. Namun cukup untuk membuat Danang duduk di atas tikarnya. Tikar pandan yang sudah tua, beberapa helainya sudah lepas, membuat punggungnya terasa gatal jika tidur terlalu lama. Beberapa bagian tikar sudah robek, hanya menyisakan anyaman yang tipis dan hampir tembus pandang. Tetapi malam itu ia tidak merasakan gatal. Yang ia rasakan hanyalah ketakutan yang tumbuh di dadanya, seperti tanaman liar yang muncul tanpa disiram, seperti rumput yang tumbuh di sela-sela batu, tidak diundang tetapi tidak bisa diusir.
Lalu suara ayahnya menyusul. Lebih pelan. Lebih dalam. Seperti gemuruh yang masih jauh, seperti suara yang keluar dari dasar sumur yang paling dalam, seperti suara yang tidak ingin didengar siapa pun tetapi tidak bisa disembunyikan.
"Jangan mulai lagi, Ratih."
Ratih terdengar menahan tangis. Danang bisa mendengar isakan kecil yang ditelan, napas yang tertahan, lalu suara yang keluar setengah tercekik, seperti orang yang sedang tersedak oleh kata-katanya sendiri.
"Berapa lama lagi kau mau sembunyikan semuanya dari anak itu, Mas?"
Danang membeku.
Seluruh tubuhnya berubah menjadi batu. Tangannya yang tadinya memegang ujung selimut, berhenti bergerak. Napasnya yang tadinya teratur, berhenti sejenak. Matanya yang tadinya setengah terbuka, kini terbuka lebar, menatap gelap di depannya tanpa melihat apa pun.
Anak itu.
Ia tahu yang dimaksud adalah dirinya.
Bukan "Danang". Bukan "Nak". Bukan "anak kita". Tapi "anak itu". Seperti benda. Seperti orang asing. Seperti seseorang yang tidak memiliki nama, tidak memiliki wajah, tidak memiliki tempat dalam keluarga ini.
Selama ini ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan. Sesuatu yang dibisikkan orang-orang dewasa ketika mereka mengira ia tidak mendengar. Sesuatu yang membuat tetangga kadang memandangnya dengan tatapan aneh, bukan benci, bukan kasihan, tetapi sesuatu di antara keduanya, sesuatu yang membuatnya merasa seperti sedang ditelanjangi di depan umum tanpa tahu mengapa.
Sastrowiryo menjawab dengan suara rendah, tetapi tajam. Suara yang membuat bulu kuduk Danang merinding, suara yang membuat rambut di tengkuknya berdiri, suara yang seperti pisau yang digerinda, tajam dan berbahaya.
"Dia tidak perlu tahu, Ratih."
"Dia berhak tahu, Mas!"
"Tidak!"
Bentakan itu membuat Danang tersentak. Seluruh tubuhnya gemetar. Ia belum pernah mendengar ayahnya membentak seperti itu. Bukan bentakan marah biasa yang ia dengar ketika ayahnya marah pada tetangga atau pada pekerja di dermaga. Bukan bentakan karena kesal atau karena sesuatu yang tidak beres. Ada sesuatu di dalamnya, sesuatu yang lebih mirip ketakutan daripada amarah. Seperti orang yang berteriak bukan karena ingin menguasai, tetapi karena panik karena kontrolnya mulai lepas, karena dunia yang selama ini ia bangun mulai runtuh, karena ia tidak tahu harus berbuat apa selain berteriak.
Danang turun perlahan dari tempat tidur.
Kakinya yang telanjang menyentuh lantai kayu yang dingin. Dinginnya menusuk sampai ke tulang, tetapi ia tidak merasakannya. Ia terlalu fokus pada suara-suara dari ruang tengah, pada kata-kata yang tidak ia mengerti tetapi membuat jantungnya berdegup kencang.
Ia melangkah tanpa suara, seperti kucing yang sedang memburu mangsanya, seperti pencuri yang tidak ingin ketahuan, seperti bayangan yang bergerak di malam hari. Setiap langkahnya ia lakukan dengan hati-hati, memastikan tidak ada papan lantai yang berderit di bawah kakinya.
Pintu kamarnya sedikit terbuka. Engselnya sudah longgar sejak bertahun-tahun lalu, tidak pernah diperbaiki karena tidak ada yang punya waktu atau uang untuk memperbaikinya. Celah itu cukup lebar untuk ia melihat ke ruang tengah. Cukup lebar untuk ia menyaksikan pertengkaran orang tuanya tanpa ketahuan.
Dari balik kayu yang sedikit terbuka itu, ia melihat ibunya berdiri dengan mata merah. Wajah Ratih pucat di bawah cahaya lampu minyak yang redup, pucat seperti kertas, seperti orang yang sedang sakit parah, seperti orang yang kehabisan darah. Lampu minyak di meja kayu bergoyang-goyang, ditiup angin yang masuk dari celah-celah dinding, membuat bayangan di dinding bergerak seperti hantu-hantu yang menari.
Tangannya gemetar, memegang ujung kain yang dikenakannya, kain sarung yang sudah usang dan berlubang di beberapa tempat. Buku-buku jarinya putih karena tekanan, seperti sedang memegang sesuatu yang sangat erat agar tidak jatuh, seperti sedang berpegangan pada satu-satunya hal yang tersisa.
Di lantai, pecahan piring berserakan. Piring enamel putih dengan pinggiran biru, piring yang sudah menemani mereka makan sejak Danang masih bayi. Air dan nasi bercampur dengan tanah liat di lantai, membentuk genangan kecil yang berwarna keruh, seperti air sungai setelah hujan.
Sementara ayahnya berdiri di depan meja. Meja kayu kecil yang digunakan untuk makan bersama, meja yang kakinya tidak rata dan harus dialasi potongan kayu di salah satu sisinya. Rahang Sastrowiryo mengeras, otot-otot di pipinya menegang seperti tali yang ditarik kencang. Dadanya naik turun dengan napas yang berat, napas yang seperti orang yang baru saja berlari jauh, napas yang seperti orang yang sedang berusaha mengendalikan sesuatu yang tidak bisa dikendalikan.
Tangan kanannya mengepal, mengepal sangat kuat hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangan, mungkin meninggalkan bekas yang akan ia lihat besok pagi. Sementara tangan kirinya memegang botol kecil yang setengah kosong. Botol kaca hijau dengan label yang sudah luntur, tidak terbaca lagi, berisi cairan bening yang baunya menyengat, bau yang sudah sangat akrab di hidung Danang.
Ratih menatap suaminya. Matanya basah, tetapi ada sesuatu di sana yang tidak pernah Danang lihat sebelumnya. Bukan hanya kesedihan yang biasa ia lihat setiap hari. Bukan hanya kepasrahan yang sudah menjadi ekspresi default ibunya. Ada keputusasaan di sana. Ada kelelahan yang begitu dalam sehingga seolah-olah ia sudah menyerah bahkan sebelum pertengkaran ini dimulai. Seperti seseorang yang sudah tahu bahwa ia akan kalah, tetapi tetap bertarung karena tidak punya pilihan lain.
"Berapa lama lagi kau mau lari dari dosa, Mas Sastro?"
Kata itu terasa asing bagi Danang. Dosa. Ia mendengar kata itu di gereja desa ketika diajak Kirana sesekali pada hari Minggu, ketika pendeta dengan jubah putihnya berbicara tentang surga dan neraka dan hal-hal yang harus dihindari. Tetapi tidak pernah dalam konteks seperti ini. Tidak pernah di rumahnya sendiri. Tidak pernah diucapkan oleh ibunya dengan nada seperti itu, nada yang seperti orang yang sedang melemparkan batu ke sumur, berharap mendengar suara air di bawah tetapi hanya mendengar keheningan.
Dosa. Seperti beban. Seperti bayang-bayang yang tidak bisa dilepaskan. Seperti belenggu yang mengikat kaki sehingga tidak bisa berlari meskipun ingin.
Sastrowiryo memejamkan mata sejenak. Wajahnya yang tegang tampak tua dalam sekejap. Garis-garis di keningnya tampak lebih dalam, lebih banyak dari yang Danang ingat. Garis-garis yang dulu hanya ada dua atau tiga, kini sudah puluhan, seperti peta yang mencatat setiap kesalahan yang pernah ia buat.
Saat membukanya kembali, wajahnya seperti batu. Tidak ada emosi. Tidak ada perasaan. Tidak ada amarah yang tersisa, tidak ada kesedihan, tidak ada penyesalan. Hanya dinding yang kokoh dan tidak bisa ditembus. Hanya benteng yang tidak akan pernah runtuh, meskipun di dalamnya mungkin sudah hancur berkeping-keping.
"Kalau bukan karena aku, Ratih, kau dan anak itu tidak akan hidup sampai sekarang. Ingat itu."
Ratih menahan napas. Dadanya naik turun. Tangannya yang gemetar kini menggenggam ujung bajunya sendiri, memilin-milin kain itu dengan gerakan yang sama persis dengan kebiasaan Danang ketika gugup, ketika takut, ketika tidak tahu harus berbuat apa.
"Jangan pernah bilang seolah kami berutang hidup pada Mas, Sastro."
Danang menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Telapak tangannya yang kecil dan kotor menekan bibirnya yang gemetar, berusaha menahan suara apa pun yang mungkin keluar, berusaha menahan tangis yang mulai menggenang di tenggorokannya.
Ia tidak ingin bersuara. Ia tidak ingin ketahuan. Karena ia takut jika ketahuan, ia akan dipaksa kembali ke kamar, dan ia tidak akan pernah tahu kelanjutan dari percakapan yang terasa seperti sedang membuka peti mati yang selama ini terkubur. Peti mati yang berisi rahasia yang mungkin lebih baik tidak pernah diketahui. Tapi ia sudah terlalu penasaran. Ia sudah terlalu dekat. Ia tidak bisa berhenti sekarang.
Untuk pertama kalinya, ia sadar rumahnya bukan hanya sunyi. Bukan hanya dingin. Bukan hanya penuh dengan diam yang tidak pernah dijelaskan.
Rumah itu menyimpan sesuatu.
Sesuatu yang besar.
Sesuatu yang gelap.
Sesuatu yang tidak boleh diketahui.
Dan sejak malam itu, Danang mulai mengerti bahwa orang dewasa sering kali lebih pandai menyembunyikan luka daripada anak-anak. Anak-anak menangis ketika sakit. Anak-anak berteriak ketika kesakitan. Anak-anak merengek ketika tidak nyaman. Tetapi orang dewasa tersenyum ketika hancur, tertawa ketika remuk, dan berpura-pura semuanya baik-baik saja ketika dunia di dalam mereka sedang terbakar, sedang runtuh, sedang berubah menjadi abu.
Danang mundur perlahan dari celah pintu. Setiap langkah mundurnya ia lakukan dengan hati-hati, seperti berjalan di atas telur, seperti berjalan di atas kaca yang akan pecah jika ia salah melangkah.
Ketika ia merasa cukup jauh, ia berbalik dan berjalan ke tempat tidurnya. Langkahnya masih pelan, tetapi tidak setenang tadi. Ada getaran di kakinya, getaran yang menjalar ke seluruh tubuhnya, getaran yang membuat gigi-giginya bergemeretak meskipun ia berusaha menghentikannya.
Ia berbaring di tikar pandan yang gatal. Tikar yang sama yang ia tiduri setiap malam, tikar yang sama yang menemani tidurnya sejak ia lahir, tetapi malam ini terasa berbeda. Terasa dingin. Terasa asing. Terasa seperti tikar orang lain, di rumah orang lain, di kehidupan orang lain.
Ia menarik selimut tipis sampai menutupi seluruh wajahnya. Selimut yang sudah bolong-bolong di beberapa tempat, yang sudah tidak tebal lagi, yang sudah hampir tidak bisa menghangatkan siapa pun. Di dalam gelap selimut itu, di dalam ruang kecil yang hanya berisi napasnya sendiri dan keheningan yang pekat, ia membiarkan air matanya jatuh.
Diam-diam.
Tanpa suara.
Karena ia sudah belajar sejak kecil bahwa di rumah ini, menangis keras-keras adalah kemewahan yang tidak bisa ia nikmati. Bahwa menangis berarti lemah. Bahwa menangis berarti memberi amunisi pada orang lain untuk melukaimu lebih dalam. Bahwa menangis adalah tanda bahwa kau telah kalah, dan di rumah ini, tidak ada yang mau kalah.
Air matanya jatuh ke bantal. Bantal yang terbuat dari kain perca yang diisi kapuk, bantal yang sudah pipih karena terlalu lama digunakan, bantal yang sudah tidak empuk lagi. Air mata itu meresap ke dalam kain, meninggalkan bercak-bercak basah yang akan ia jelaskan sebagai keringat jika ibunya bertanya besok pagi.
Ia tidak tahu berapa lama ia menangis. Mungkin beberapa menit. Mungkin satu jam. Mungkin sampai ia kehabisan air mata dan yang tersisa hanyalah isakan kering yang menyakitkan tenggorokan.
Yang ia tahu, ketika ia akhirnya tertidur, matanya masih basah, dadanya masih sesak, dan telinganya masih mendengar gema suara ibunya yang berkata, "Berapa lama lagi kau mau sembunyikan semuanya dari anak itu?"
Keesokan paginya, Danang bangun lebih lambat dari biasanya.
Matahari sudah cukup tinggi di langit ketika ia membuka matanya. Cahaya matahari masuk melalui celah-celah dinding kayu, menciptakan garis-garis cahaya di lantai kamarnya, seperti bilah-bilah pedang yang terbuat dari emas.
Ia duduk di tikarnya. Wajahnya terasa aneh. Matanya sembab, bengkak karena menangis semalaman. Kelopak matanya terasa berat, seperti ada pasir di dalamnya. Kepalanya pusing, seperti baru saja bangun dari mimpi buruk yang panjang, tetapi ia tidak ingat apa pun yang ia mimpikan.
Dari dapur, ia mendengar suara ibunya. Suara yang normal. Suara yang seperti tidak terjadi apa-apa semalam. Suara yang seperti tidak pernah menangis, tidak pernah berteriak, tidak pernah melontarkan kata-kata yang membuat Danang terjaga sepanjang malam.
"Danang, bangun! Nanti terlambat sekolah!"
Danang duduk diam. Ia tidak segera menjawab. Ia hanya menatap dinding kayu di depannya, dinding yang sama yang ia lihat setiap hari, dinding yang retak di beberapa tempat, dinding yang menjadi batas antara kamarnya dan dunia luar.
"Iya, Mak," jawabnya akhirnya. Suaranya serak, seperti suara orang yang baru bangun tidur, tetapi juga seperti suara orang yang kehabisan air mata.
Ia berdiri, melipat tikarnya, meletakkannya di sudut kamar. Ia mengambil air dari ember di belakang rumah, membasuh wajahnya dengan air dingin yang membuat kulitnya terasa perih. Ia mengganti baju tidurnya dengan seragam sekolah, kemeja putih yang sudah kekuningan karena terlalu sering dicuci, celana pendek coklat yang sudah tambal sulam di lutut.
Ketika ia masuk ke dapur, ibunya sedang memasak nasi goreng di wajan tua. Aroma bawang dan kecap memenuhi ruangan. Wajah Ratih tenang, seperti tidak terjadi apa-apa semalam. Tidak ada bekas air mata di pipinya. Tidak ada kemerahan di matanya. Ia bahkan tersenyum ketika melihat Danang masuk.
"Cuci tangan dulu. Nasi gorengnya hampir matang."
Danang mengangguk. Ia pergi ke belakang rumah, mengambil air dari ember, mencuci tangannya yang kotor. Ketika ia kembali, ia duduk di lantai dapur, di tempat yang biasa ia duduk setiap pagi. Ibunya menyodorkan piring berisi nasi goreng, telur ceplok di atasnya, dengan sedikit irisan timun di pinggir piring.
"Makan, Nang. Nanti habis."
Danang mengambil sendok. Ia makan perlahan, tanpa nafsu. Nasi goreng buatan ibunya selalu enak, tetapi pagi ini rasanya hambar. Atau mungkin lidahnya yang bermasalah. Atau mungkin perutnya yang terlalu penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa ia ucapkan.
"Mak," panggilnya di sela-sela suapan.
Ratih yang sedang membasuh piring di ember, menoleh. "Iya?"
Danang ragu. Ia memandang ibunya, memandang wajah yang tadi pagi tersenyum padanya, wajah yang semalam menangis dan berteriak dan melontarkan kata-kata yang tidak bisa ia lupakan.
"Tadi malam... Bapak dan Mak bertengkar?"
Ratih berhenti membasuh piring. Tangannya yang memegang spons, berhenti di tengah-tengah gerakan. Air masih mengalir dari keran, membasahi piring yang setengah bersih, tetapi ia tidak memperhatikan.
Untuk beberapa detik, hanya suara air yang terdengar. Suara air yang jatuh ke ember, menciptakan percikan-percikan kecil. Suara ayam berkokok dari halaman tetangga. Suara burung gereja yang berkicau di atap.
"Kau dengar?" tanya Ratih akhirnya. Suaranya hati-hati, seperti orang yang berjalan di tanah yang mungkin longsor kapan saja.
Danang mengangguk. "Sedikit."
Ratih menghela napas. Ia menutup keran air, mengeringkan tangannya di ujung kain yang ia selipkan di pinggang. Ia berjalan mendekati Danang, lalu duduk di hadapannya. Jarak mereka hanya satu lengan. Cukup dekat untuk Danang melihat kerutan di kening ibunya, kerutan yang tidak ada beberapa tahun lalu, kerutan yang tumbuh seiring dengan bertambahnya beban di pundaknya.
"Bapak dan Mak hanya... berbeda pendapat, Nang. Itu biasa. Semua orang tua pasti pernah bertengkar."
"Tapi Mak menangis," kata Danang. Matanya menatap lurus ke mata ibunya. Tidak ada ketakutan di matanya. Tidak ada keraguan. Hanya keingintahuan yang besar, keingintahuan yang tidak bisa dipuaskan dengan jawaban-jawaban biasa.
Ratih terdiam. Ia menatap anaknya. Anak laki-laki yang masih kecil, yang seharusnya masih sibuk bermain kejar-kejaran dengan teman-temannya, yang seharusnya tidak perlu memikirkan pertengkaran orang tuanya, yang seharusnya tidak perlu melihat air mata ibunya.
"Mak hanya... lelah, Nang."
"Lelah apa, Mak?"
Ratih tersenyum. Senyum yang pahit, senyum yang tidak sampai ke matanya. "Lelah menjadi dewasa."
Danang tidak mengerti. Ia masih terlalu kecil untuk mengerti bahwa menjadi dewasa berarti memikul beban yang tidak pernah diminta, bahwa menjadi dewasa berarti tersenyum ketika ingin menangis, bahwa menjadi dewasa berarti bertahan di tempat yang tidak ingin kau tinggali karena ada orang lain yang bergantung padamu.
"Tapi Mak tidak sendirian," kata Danang. "Ada Danang."
Ratih menatap anaknya. Matanya berkaca-kaca, tetapi ia tidak menangis. Ia sudah terlalu sering menangis. Ia sudah terlalu sering menunjukkan air matanya. Mungkin sudah waktunya untuk berhenti.
"Iya, Nang. Mak punya Danang."
Ia memeluk anaknya. Pelukan yang hangat, yang jarang ia berikan, yang terasa asing bagi Danang. Danang membalas pelukan itu dengan kaku, tidak tahu harus meletakkan tangannya di mana, tidak tahu seberapa erat harus membalas.
Tapi di dalam pelukan itu, ia merasakan sesuatu. Kehangatan. Keamanan. Dan untuk beberapa saat, ia lupa pada pertengkaran semalam, lupa pada kata-kata yang ia dengar, lupa pada rahasia yang mungkin disembunyikan orang tuanya.
Untuk beberapa saat, ia hanya Danang, anak kecil yang dipeluk ibunya di pagi hari sebelum berangkat sekolah.
Dan itu sudah cukup.
Di sekolah, Danang tidak bisa berkonsentrasi.
Guru di depan kelas sedang menjelaskan tentang perkalian, tentang angka-angka yang dikalikan dengan angka lain menghasilkan angka yang lebih besar. Papan tulis hitam dipenuhi dengan kapur putih, rumus-rumus yang tidak ia pahami, angka-angka yang berputar-putar di kepalanya.
Ia duduk di bangku paling belakang, di dekat jendela yang menghadap ke lapangan. Dari jendela itu, ia bisa melihat pohon trembesi besar di halaman sekolah. Pohon yang sama yang menjadi tempatnya dan Kirana duduk berjam-jam setelah pulang sekolah.
Tapi sore itu, ia tidak akan pergi ke pohon trembesi. Ia tidak akan pergi ke sungai. Ia akan pulang langsung ke rumah, duduk di kamarnya, dan memikirkan semua yang ia dengar semalam.
"Danang!"
Suara guru membuatnya tersentak. Seluruh kelas menoleh ke arahnya. Beberapa anak tertawa kecil. Kirana, yang duduk di bangku depan, menoleh ke belakang dengan ekspresi khawatir.
"Ya, Bu?" suara Danang kecil, hampir tidak terdengar.
"Kau dengar pertanyaan saya tadi?"
Danang terdiam. Ia tidak mendengar apa pun. Pikirannya terlalu jauh, terlalu sibuk dengan pertengkaran orang tuanya, dengan kata-kata yang tidak bisa ia lupakan.
"Saya tanya, berapa hasil dua belas kali dua belas?"
Danang menunduk. Ia tahu jawabannya. Seratus empat puluh empat. Tetapi mulutnya tidak bisa bergerak. Ada yang mengganjal di tenggorokannya, ada yang membuatnya tidak bisa berbicara.
Guru itu menghela napas. "Kau tidak belajar semalam, ya? Duduk yang baik. Perhatikan."
Danang duduk. Ia menatap papan tulis, berusaha fokus pada angka-angka di sana, tetapi matanya terus kabur. Angka-angka itu berubah menjadi bayangan, menjadi wajah ibunya yang menangis, menjadi suara ayahnya yang membentak, menjadi piring yang pecah di lantai.
Saat bel istirahat berbunyi, Kirana langsung berjalan ke bangku Danang. Ia duduk di kursi di sampingnya, kursi yang kosong karena pemiliknya sedang sakit.
"Kau kenapa, Danang? Dari tadi kelihatan melamun terus."
Danang menatap mejanya. Meja kayu yang penuh coretan, nama-nama yang ditulis dengan bolpoin, hati-hati yang ditorehkan dengan pisau, kata-kata kotor yang tidak ia mengerti.
"Tidak apa."
"Kau bohong." Kirana menatapnya tajam. Matanya yang biasanya ceria kini serius. "Aku tahu kau bohong. Wajahmu pucat. Matamu sembab. Kayak habis nangis."
Danang tidak menjawab. Ia hanya memutar bolpoin di tangannya, memutar-mutarnya di antara jari-jarinya, berusaha mencari sesuatu untuk dilakukan selain menjawab pertanyaan Kirana.
Kirana tidak menyerah. Ia menggeser kursinya lebih dekat, sehingga bahu mereka hampir bersentuhan. Suaranya diturunkan, menjadi bisikan yang hanya bisa didengar oleh Danang.
"Aku tahu rasanya, Danang. Melihat orang tua bertengkar."
Danang menoleh. Matanya sedikit melebar. "Kau juga?"
Kirana mengangguk. Matanya yang tadinya serius kini sedikit basah. "Dulu. Waktu aku masih kecil banget. Ayah dan Ibu sering bertengkar. Soal uang. Soal pekerjaan Ayah yang pindah-pindah. Soal Ibu yang ingin tinggal di satu tempat."
"Apa yang kau lakukan?"
Kirana menggigit bibirnya. "Aku masuk kamar, tutup pintu, dengar musik dari radio sekencang-kencangnya. Biar tidak dengar suara mereka."
Danang menatap Kirana. Untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Kirana tidak selalu secerah yang ia tunjukkan. Bahwa di balik senyum dan tawa dan bunga-bunga yang ia petik dari kebun, ada luka yang juga ia bawa. Luka yang berbeda, tetapi sama-sama menyakitkan.
"Aku tidak punya radio," kata Danang.
Kirana tersenyum kecil. "Besok aku pinjamkan walkman-ku. Tapi baterainya harus beli sendiri, ya."
Danang tersenyum. Senyum pertama setelah semalam yang panjang. Senyum kecil, hampir tidak terlihat, tetapi cukup untuk membuat Kirana lega.
"Terima kasih, Kirana."
Kirana mengangkat bahu. "Itu tugas teman."
Bel istirahat kedua berbunyi. Anak-anak mulai berhamburan ke luar kelas, bermain kejar-kejaran di lapangan, membeli jajanan di kantin.
Tapi Danang dan Kirana tetap duduk di dalam kelas. Berdua. Diam. Menemani satu sama lain tanpa perlu banyak bicara.
Karena kadang, yang dibutuhkan seseorang bukanlah solusi untuk masalahnya. Bukan nasihat tentang apa yang harus dilakukan. Bukan kata-kata bijak yang membuat segalanya terasa lebih baik.
Tapi hanya kehadiran.
Seseorang yang duduk di sampingnya, tidak pergi, tidak menghakimi, hanya ada.
Dan Kirana adalah orang itu bagi Danang.
Bab 5
Anak Saudagar dan Benih Kebencian
Beberapa hari kemudian, Danang dan Kirana bermain di halaman sekolah. Hujan baru saja reda, meninggalkan genangan air di mana-mana dan tanah yang becek berlumpur. Udara masih lembab, terasa berat di kulit, tetapi langit sudah mulai cerah, dengan sisa-sisa awan tipis yang berarak pelan seperti kapas yang ditiup angin.
Genangan air di halaman sekolah membentuk cermin-cermin kecil yang memantulkan langit biru di atasnya. Ketika angin berhembus, permukaan genangan itu berkerut, memecah pantulan menjadi seribu keping kecil yang berkilauan. Anak-anak lain sudah pulang, karena sekolah lebih cepat usai pada hari Jumat, hanya Danang dan Kirana yang masih tinggal, menikmati kesunyian sore di halaman yang basah.
Mereka membuat perahu kecil dari daun pisang. Daun pisang yang masih muda, lentur dan mudah dibentuk, berwarna hijau segar dengan urat-uratan yang terlihat jelas seperti peta dari dunia lain. Danang melipatnya dengan hati-hati, meniru cara yang diajarkan Mbah Joyo beberapa tahun lalu, sementara Kirana memotong daun dengan ujung lidi untuk membuat layar kecil.
"Layar perahu harus lebih tinggi, Danang," kata Kirana sambil menunjuk perahu daun milik Danang. Jarinya yang mungil menekan-ngekan layar yang terbuat dari setengah daun pisang, berusaha membuatnya lebih tegak. "Biar kelihatan gagah."
"Tidak. Kalau terlalu tinggi nanti mudah roboh. Nanti kena angin langsung jungkir balik," jawab Danang tanpa mengalihkan pandangan dari perahunya. Tangannya yang kecil dan lincah terus melipat, membuat lekukan-lekukan yang presisi di daun pisang.
"Tapi kalau pendek, tidak kelihatan bagus," protes Kirana sambil cemberut. Bibir bawahnya maju sedikit ke depan, ekspresi yang sudah Danang kenal sebagai tanda bahwa ia tidak akan menyerah dengan mudah.
"Perahu tidak harus bagus, Kirana. Perahu harus kuat," kata Danang tegas. Ia sudah menyelesaikan perahunya, sebuah perahu kecil dengan lambung yang rapat dan layar yang pendek tapi kokoh. Ia meletakkannya di telapak tangannya, memamerkan hasil karyanya pada Kirana.
"Kau selalu terlalu serius, Danang," desah Kirana, masih cemberut. Tapi matanya mengagumi perahu Danang yang lebih rapi dari perahu buatannya.
"Bukan serius. Realistis," jawab Danang.
"Realistis itu apa?"
"Realistis itu melihat sesuatu seperti apa adanya. Bukan seperti yang kita mau."
Kirana mengerutkan dahi, berusaha memahami kata-kata Danang yang terlalu dewasa untuk anak seusianya. Lalu ia menggeleng, menyerah, dan kembali ke perahunya yang masih setengah jadi.
Mereka meletakkan perahu-perahu kecil itu di selokan kecil di pinggir halaman, tempat air hujan masih mengalir pelan menuju sungai di kejauhan. Air di selokan itu keruh, berwarna coklat karena tanah yang terbawa hujan, tetapi cukup dalam untuk membuat perahu-perahu kecil mereka berlayar.
Kirana tertawa ketika perahunya tersangkut di ranting kecil yang jatuh dari pohon trembesi. Ranting itu menjuntai ke dalam air, menghalangi jalannya perahu daun Kirana yang masih miring karena layarnya tidak seimbang.
"Itu karena kau buatnya miring," kata Danang sambil menahan senyum. Ia melihat perahu Kirana yang oleng ke kanan, seperti orang yang sedang mabuk.
"Bukan! Bukan karena itu. Karena kau meniup terlalu keras, Danang!" Kirana menunjuk ke arah Danang dengan wajak merah padam, setengah marah setengah malu.
"Aku tidak meniup," kata Danang datar.
"Kau meniup napasmu ke arah perahuku!"
"Itu namanya aku sedang bernapas, Kirana."
"Berarti kau sengaja!"
"Kirana, kalau aku tidak bernapas, aku mati."
"Terserah! Aku tetap bilang kau sengaja!"
Danang menggeleng pelan, tidak bisa menahan senyum kecil yang akhirnya muncul di bibirnya. "Kau memang selalu salah, Kirana. Selalu."
Kirana menjulurkan lidahnya, ekspresi kekanakan yang membuatnya terlihat lucu di mata Danang. "Kau yang terlalu serius, Nang. Masa kecil cuma sekali, Nikmati. Jangan dihabisin buat jadi realistis terus."
"Masa kecil memang cuma sekali. Tapi kalau kau habiskan dengan membuat perahu yang gampang tenggelam, percuma juga."
"Danang!"
"Apa?"
"Kau jahat!"
"Aku jujur."
Mereka bertengkar seperti itu hampir setiap hari. Bertengkar tentang hal-hal kecil yang tidak penting. Tentang siapa yang lebih cepat lari. Tentang jawaban soal matematika yang berbeda. Tentang warna mana yang lebih indah, biru atau hijau. Tentang lagu mana yang lebih enak didengar.
Tapi pertengkaran mereka tidak pernah berlangsung lama. Tidak pernah meninggalkan luka. Tidak pernah membuat mereka berpisah. Karena setelah bertengkar, mereka akan diam sebentar, lalu salah satu dari mereka akan tertawa, dan yang lain akan ikut tertawa, dan semuanya akan kembali seperti semula.
Seperti sekarang. Setelah saling menuduh tentang perahu yang tersangkut, Kirana tiba-tiba tertawa. Tawanya keras dan riang, menggema di halaman sekolah yang sepi. Danang yang tadinya berusaha tetap serius, akhirnya ikut tertawa. Tawa kecil yang terbatas, tidak seluas tawa Kirana, tetapi tulus.
"Ayo kita buat perahu baru," kata Kirana sambil mengulurkan tangannya. "Kali ini kau yang buatkan untukku."
Danang mengambil sehelai daun pisang baru dari tumpukan di samping mereka. "Kau beruntung aku baik hati."
"Kau baik hati karena aku yang membuatmu baik hati," kata Kirana sombong.
"Heh, sombong."
"Bukan sombong. Realistis," Kirana menirukan nada Danang.
Mereka berdua tertawa lagi.
Tiba-tiba sebuah kaki menginjak perahu daun milik Danang.
Bukan sengaja menginjak.
Bukan karena tidak sengaja.
Sengaja menghancurkan.
Sepatu kanvas putih yang masih bersih, tanpa setitik lumpur pun, mendarat tepat di atas perahu daun yang baru saja Danang selesaikan dengan susah payah. Daun pisang yang tadinya rapi dan kokoh, kini hancur, tercecer di tanah basah, tidak berbentuk lagi.
Keduanya menoleh cepat.
Surya Baskara berdiri di depan mereka, tangan di pinggang, kepala sedikit mendongak ke atas dengan ekspresi yang sudah Danang kenal sejak pertama kali melihatnya di kelas satu. Ekspresi yang mengatakan bahwa ia merasa lebih tinggi dari semua orang di sekitarnya, bahwa ia merasa lebih penting, bahwa ia merasa dunia berutang padanya.
Senyum miring. Mata setengah menyipit. Bibir bawah sedikit maju ke depan, seperti orang yang sedang menahan tawa, seperti orang yang sedang menikmati kekuasaannya atas orang lain. Rambutnya disisir rapi ke samping, dengan minyak rambut yang membuatnya mengkilap seperti kulit ular.
Anak itu sebaya Danang, tetapi penampilannya sangat berbeda. Pakaiannya selalu lebih bagus daripada anak-anak lain di desa. Kemeja batik yang disetrika rapi, tanpa kerutan sedikit pun, dengan motif parang yang rumit dan berwarna-warni. Celana kain yang tidak tambal sulam, berwarna krem muda, dengan lipatan setrika yang masih terlihat jelas di bagian depan. Sepatu kanvas putih yang masih bersih, yang tidak pernah terkena lumpur, yang sepertinya baru setiap hari meskipun sudah dipakai berulang kali. Tidak ada anak lain di desa ini yang memiliki pakaian sebagus itu. Tidak ada anak lain yang ayahnya cukup kaya untuk membeli pakaian baru setiap bulan.
Ayah Surya adalah saudagar beras yang kaya, pemilik satu-satunya toko beras di desa itu. Toko yang selalu ramai pembeli, terutama menjelang hari raya, ketika orang-orang berbondong-bondong membeli beras untuk ketupat dan kue-kue tradisional. Rumahnya besar, terbuat dari batu bata merah dengan atap genteng, satu-satunya rumah di desa yang tidak terbuat dari kayu. Ia memiliki mobil, satu-satunya mobil di desa, yang diparkir di halaman rumahnya, menjadi tontonan anak-anak setiap hari.
Dan Surya tumbuh dengan keyakinan bahwa semua hal bisa dibeli. Termasuk rasa hormat. Termasuk persahabatan. Termasuk, jika perlu, kehancuran seseorang. Ia tidak pernah belajar bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dibeli dengan uang, bahwa ada hal-hal yang lebih berharga dari emas, bahwa menjadi kaya bukan berarti menjadi baik.
"Mainan anak miskin memang selalu murahan, ya," katanya sambil melihat perahu daun yang hancur di bawah sepatunya. Suaranya santai, seperti sedang berbicara tentang cuaca, seperti sedang mengomentari sesuatu yang tidak penting. Matanya tidak menatap Danang, tetapi menatap perahu yang hancur, seperti sedang menikmati kehancuran itu.
Kirana langsung berdiri. Wajahnya yang tadi ceria dan riang, kini berubah merah padam seperti cabai. Matanya menyala, seperti bara api yang baru saja ditiup. Tangannya mengepal di sisi tubuh, kuku-kukunya menusuk telapak tangannya.
"Kenapa kau rusak perahu Danang, Surya?" suara Kirana keras, tidak takut, tidak gentar. Berbeda dengan anak-anak lain yang biasanya diam atau bahkan ikut menertawakan ketika Surya berbuat semena-mena.
Surya mengangkat bahu dengan gerakan yang dibuat-buat santai. Gerakan yang sudah ia latih di depan cermin, gerakan yang ia pelajari dari ayahnya ketika ayahnya meremehkan pelanggan yang tidak mampu membeli beras dalam jumlah besar. "Karena aku bisa, Kirana. Karena aku pemilik halaman ini. Ayahku yang menyumbang untuk pembangunan sekolah ini. Jadi aku punya hak untuk melakukan apa pun di sini."
"Halaman ini milik sekolah, bukan milik ayahmu!" bentak Kirana. "Dan perahu Danang tidak ada hubungannya dengan ayahmu!"
Surya tersenyum. Senyum yang dingin, yang tidak mencapai matanya. Matanya tetap dingin, seperti mata ular yang sedang mengincar mangsa. "Kau selalu membela dia, Kirana. Pacar kamu?"
Kirana terdiam sejenak, wajahnya semakin merah, bukan hanya karena marah tetapi juga karena malu. "Dia temanku!"
"Teman? Hah!" Surya tertawa pendek, tawa yang terdengar seperti ejekan. "Kau pilih berteman dengan anak tidak punya ayah?"
Danang yang sejak tadi diam, kini berdiri.
Ia berdiri perlahan, tidak terburu-buru, tidak seperti orang yang sedang marah. Matanya yang biasanya tenang, yang biasanya sayu, kini berubah. Ada api di sana. Api yang dingin. Api yang tidak membakar tetapi membekukan. Api yang membuat orang yang menerima tatapannya merasa tidak nyaman, merasa takut, merasa bahwa ia sedang berhadapan dengan sesuatu yang lebih besar dari yang ia kira.
"Apa katamu?" suara Danang pelan. Sangat pelan. Hampir seperti bisikan. Tetapi justru karena pelannya, suara itu terdengar lebih mengancam daripada teriakan.
Surya tidak mundur. Ia sudah terbiasa dengan anak-anak yang berani melawannya. Biasanya, cukup satu kali ancaman, mereka akan mundur. Tapi Danang berbeda. Danang tidak mundur. Danang justru mendekat.
"Kau dengar sendiri," kata Surya, masih berusaha mempertahankan senyum sinisnya, meskipus dadanya mulai berdebar tidak nyaman. "Anak haram."
Kata itu.
Haram.
Danang tidak tahu persis apa artinya. Tetapi ia tahu itu bukan kata yang baik. Ia pernah mendengar kata itu diucapkan oleh tetangga ketika mereka membicarakannya di belakang. Ia pernah mendengar kata itu diucapkan dengan nada berbisik, dengan mata melirik ke arahnya, dengan kepala menggeleng-geleng. Ia tidak tahu persis apa maksudnya, tetapi ia tahu itu adalah kata yang digunakan untuk merendahkan seseorang. Kata yang digunakan untuk mengatakan bahwa seseorang tidak pantas. Kata yang digunakan untuk mengatakan bahwa seseorang adalah kesalahan.
Sebelum Kirana sempat bereaksi, sebelum kata-kata itu benar-benar meresap ke dalam kesadaran semua orang, sebelum Surya sempat mempersiapkan diri, Danang mendorong Surya.
Bukan dorongan keras. Tidak dengan sekuat tenaga. Tidak dengan niat melukai. Hanya dorongan yang cukup untuk membuat Surya kehilangan keseimbangan di tanah yang licin. Dorongan yang lahir dari refleks, dari amarah yang tidak bisa lagi ditahan, dari rasa sakit yang sudah terlalu lama dipendam.
Surya jatuh.
Pantatnya mendarat di genangan air terdekat, dengan suara percikan yang keras. Air coklat keruh itu memercik ke mana-mana, membasahi celana kainnya yang rapi, membasahi kemeja batiknya yang disetrika rapi, membasahi sepatu kanvas putihnya yang masih bersih.
Celana kainnya yang berwarna krem muda kini berlumuran lumpur coklat. Kemeja batiknya yang motif parang kini basah dan kotor, dengan noda-noda air yang tidak akan hilang hanya dengan dicuci biasa. Sepatu kanvas putihnya yang menjadi kebanggaannya, yang ia poles setiap pagi dengan kapur agar tetap putih bersih, kini terendam dalam air keruh, kotor, mungkin tidak akan pernah bisa kembali putih.
Wajah Surya yang tadinya penuh kesombongan, yang tadinya terlihat seperti pemenang, kini berubah merah padam. Merah karena malu. Merah karena marah. Merah karena tidak percaya bahwa seorang anak haram seperti Danang berani menyentuhnya, mendorongnya, membuatnya jatuh di depan Kirana, di depan anak-anak lain yang mulai berkerumun melihat keributan.
Anak-anak lain yang sedang bermain di sekitar halaman, yang tadi sibuk dengan permainan mereka sendiri, kini terdiam. Mereka berhenti berlari. Berhenti tertawa. Berhenti bernapas, sepertinya. Semua mata tertuju pada Danang dan Surya.
Ada sekitar sepuluh atau dua belas anak yang masih tersisa di halaman. Beberapa anak perempuan menutup mulut dengan tangan, tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Beberapa anak laki-laki membuka mulut lebar-lebar, mata mereka membulat seperti bola. Seorang anak kelas dua yang sedang duduk di ayunan, berhenti mengayun, tubuhnya membeku di udara. Seorang anak kelas tiga yang sedang membeli jajanan di kantin, menoleh dengan mulut penuh, lupa mengunyah.
Tidak ada yang berani menentang Surya. Tidak ada yang berani menyentuhnya. Tidak ada yang berani melawannya. Karena semua orang tahu bahwa ayah Surya kaya, bahwa ayah Surya bisa membeli apa pun, termasuk bisa membuat anak-anak dikeluarkan dari sekolah jika mereka berani melawan anaknya.
Danang baru saja melakukan sesuatu yang tidak pernah terpikirkan oleh siapa pun. Sesuatu yang tidak pernah berani dilakukan oleh siapa pun. Ia telah melintasi batas yang selama ini dijaga oleh rasa takut.
Surya bangkit dengan wajah merah padam. Lumpur menempel di celana dan bajunya, mengalir perlahan ke bawah, menetes ke tanah. Air mengalir dari ujung rambutnya yang tadinya rapi disisir, kini kusut dan basah, menutupi sebagian dahinya. Ia terlihat seperti orang yang baru saja jatuh ke got, seperti orang yang baru saja dipermalukan di depan umum.
"Kau berani, ya? Kau berani dorong aku?" suara Surya bergetar, bukan karena takut, tetapi karena marah yang tak terkendali. Tangannya gemetar, mengepal dan melepas, mengepal dan melepas, seperti sedang menahan diri untuk tidak memukul.
Danang menatap tajam. Matanya yang biasanya tenang kini menyala, seperti bara api yang tertutup abu, masih panas meski tidak terlihat. Matanya yang gelap seperti lubang sumur, kini gelap dengan amarah yang terpendam. Amarah yang sudah ia pendam sejak lama, sejak ia mendengar bisikan-bisikan tetangga, sejak ia melihat ibunya menangis di dapur, sejak ia menyadari bahwa keluarganya berbeda, bahwa ia berbeda.
"Jangan ganggu Kirana," kata Danang. Suaranya tenang. Sangat tenang. Tidak ada getaran di sana, tidak ada gemetar, tidak ada keraguan. Seperti suara orang yang sudah tidak takut pada apa pun, karena sudah terlalu sering dilukai.
Surya menatap bergantian ke Danang dan Kirana. Matanya bergerak dari wajah Danang yang dingin, ke wajah Kirana yang masih merah karena marah, lalu kembali ke Danang.
Ada sesuatu di tatapan itu.
Bukan sekadar marah karena dipermalukan di depan umum. Bukan sekadar sakit hati karena jatuh di tanah berlumpur. Bukan sekadar dendam karena harga dirinya terluka.
Ada kebencian di sana. Kebencian yang lahir saat itu juga, dalam hitungan detik, dalam satu tatapan. Kebencian yang tidak akan padam hanya karena waktu, hanya karena jarak, hanya karena doa. Kebencian yang akan tumbuh dan membesar, seperti pohon beracun yang akarnya meracuni tanah di sekitarnya, yang buahnya bisa membunuh siapa pun yang memakannya.
Tatapan itu adalah awal dari sesuatu yang panjang.
Dan kadang, permusuhan paling panjang lahir dari satu penghinaan kecil di masa kanak-kanak. Bukan karena penghinaan itu sendiri terlalu besar, bukan karena kerugian yang ditimbulkan terlalu signifikan, bukan karena luka yang ditinggalkan terlalu dalam. Tetapi karena ia menyentuh sesuatu yang rapuh dalam diri seseorang, sesuatu yang tidak pernah bisa diperbaiki, hanya bisa dibalaskan. Sesuatu yang disebut harga diri.
"Kau akan menyesal, Danang," kata Surya. Suaranya tidak lagi bergetar. Sekarang dingin. Sangat dingin. Lebih dingin dari air sungai di pagi hari. "Aku tidak akan lupa ini."
"Aku juga tidak akan lupa," jawab Danang. "Aku tidak akan lupa bahwa kau menghancurkan perahu daunku."
Surya tersenyum. Senyum yang aneh. Senyum yang tidak lagi sinis, tetapi lebih buruk dari itu. Senyum yang penuh dengan rencana. Senyum yang mengatakan bahwa ia sudah memikirkan seribu cara untuk membalas dendam, dan ia akan memilih yang paling menyakitkan.
Ia pergi tanpa berkata apa-apa lagi.
Tetapi langkahnya berat. Berat seperti sedang menanam sesuatu di setiap jejak kakinya. Benih. Benih kebencian. Benih yang akan tumbuh menjadi pohon beracun yang meracuni banyak orang. Bukan hanya Danang, tetapi juga Kirana, dan mungkin orang-orang lain yang tidak bersalah.
Kirana menarik napas panjang saat Surya menghilang di balik pohon trembesi di ujung halaman. Dadanya naik turun, jantungnya masih berdebar kencang. Tangannya yang menggenggam sisa perahu daun, kini terbuka, melepaskan potongan daun pisang yang hancur.
"Danang, kau sebaiknya hati-hati," kata Kirana, suaranya masih sedikit gemetar. "Keluarganya punya pengaruh besar di desa ini. Ayahnya punya uang. Banyak orang berutang pada keluarganya. Banyak orang takut pada mereka."
Danang tidak menjawab. Ia hanya memandang perahu daunnya yang hancur di tanah. Daun pisang yang tadi masih utuh dan rapi, kini tercecer dalam potongan-potongan kecil, tidak berbentuk, tidak bisa diperbaiki.
Beberapa helai daun pisang mengapung di genangan air, bergerak perlahan ditiup angin. Sehelai daun yang masih utuh sebagian, dengan layar yang masih berdiri meskipun lambungnya hancur, bergerak ke arah selokan kecil, seolah berusaha mencapai air yang lebih dalam, seolah berusaha berlayar meskipun sudah tidak mungkin.
"Aku bisa buat lagi," kata Danang akhirnya. Suaranya datar, tidak menunjukkan emosi. "Perahu daun hanya daun. Hancur ya hancur. Besok bisa buat baru."
Kirana menatapnya. Matanya mencari sesuatu di wajah Danang, mencari tanda bahwa Danang baik-baik saja, bahwa dorongan tadi bukan karena amarah yang tidak terkendali, bahwa Danang tidak akan melakukan hal-hal yang lebih berbahaya di masa depan.
"Aku bantu," kata Kirana sambil tersenyum kecil. Senyum yang berusaha menghibur, senyum yang mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Danang mengangguk.
Mereka mengambil daun pisang baru dari tumpukan di samping pohon. Daun yang masih segar, masih hijau terang, masih lentur. Danang melipatnya dengan gerakan yang sama, dengan ketelitian yang sama, seolah tidak terjadi apa-apa, seolah perahunya tidak pernah dihancurkan, seolah Surya tidak pernah datang.
Kirana memotong daun untuk layar, kali ini mengikuti instruksi Danang, tidak memotong terlalu besar. Ia meletakkan layar itu di atas perahu, menekannya perlahan agar menempel.
Mereka meletakkan perahu baru itu di selokan. Perahu itu lebih kecil dari sebelumnya, lebih sederhana, tidak serumit perahu pertama yang hancur diinjak Surya. Layarnya lebih pendek, lambungnya lebih rendah, tidak terlalu indah dipandang.
Tapi ketika diluncurkan di selokan, perahu itu berlayar lebih jauh dan lebih lama dari perahu pertama. Ia melewati ranting yang kemarin menjadi penghalang perahu Kirana, melewati batu-batu kecil di dasar selokan, melewati daun-daun kering yang mengapung, sampai akhirnya hilang di tikungan, menuju sungai, menuju laut, menuju tempat-tempat yang tidak pernah mereka lihat.
"Lihat," kata Kirana bangga. "Kadang yang sederhana lebih kuat, Danang."
Danang memandang perahu kecil itu sampai hilang di tikungan. Perahu yang tidak akan pernah mereka lihat lagi, yang akan hancur di tengah perjalanan atau mungkin sampai ke sungai besar, atau mungkin ke laut, atau mungkin tidak ke mana-mana karena air selokan tidak cukup dalam.
"Seperti kita," katanya pelan, hampir tidak terdengar. Kata-kata yang keluar tanpa ia sadari, tanpa ia rencanakan, seperti bisikan dari hatinya yang paling dalam.
Kirana menoleh cepat. Matanya membesar sedikit. "Apa katamu?"
Danang menggeleng. "Tidak ada."
Tapi Kirana mendengar. Kirana selalu mendengar, meskipun Danang berbicara sangat pelan, meskipun Danang mengucapkannya seperti sedang berbicara pada dirinya sendiri.
Dan di dalam hatinya yang masih kecil, yang masih polos, yang belum mengenal apa itu cinta dengan segala kompleksitasnya, Kirana menyimpan kata-kata itu. Seperti menyimpan bunga kering di antara halaman buku, agar tidak layu meskipun waktu berlalu. Seperti menyimpan rahasia di tempat paling aman, agar tidak ada yang bisa mengambilnya.
Ia tidak tahu apa artinya. Ia tidak tahu bahwa kata-kata itu akan menjadi salah satu kenangan yang paling ia rindukan di masa depan, ketika ia sudah tua dan Danang sudah tiada. Ia tidak tahu bahwa kata-kata itu akan menjadi doa yang ia panjatkan setiap malam, berharap bahwa Danang baik-baik saja di tempat yang jauh, bahwa Danang bahagia meskipun tidak bersama dengannya.
Ia hanya tahu bahwa sore itu, di halaman sekolah yang basah, dengan perahu daun yang berlayar menuju hilir, dengan langit yang mulai cerah setelah hujan, ia merasa bahwa ia memiliki sesuatu yang berharga. Sesuatu yang tidak bisa dibeli oleh ayah Surya dengan uangnya. Sesuatu yang tidak bisa dihancurkan oleh sepatu kanvas putih Surya.
Persahabatan.
Atau mungkin, sesuatu yang lebih dari itu.
Malam itu, Danang tidak bisa tidur.
Ia berbaring di tikar pandannya, memandang langit-langit yang retak, mendengar suara ayahnya yang mendengkur di kamar sebelah dan suara ibunya yang masih bergerak di dapur meskipun sudah larut. Di luar, jangkrik bernyanyi, kodok bersahutan, dan sesekali terdengar suara aneh dari rawa yang tidak bisa diidentifikasi siapa pun.
Pikirannya melayang pada Surya. Pada tatapan Surya ketika ia pergi. Tatapan yang mengatakan bahwa ini belum selesai. Tatapan yang mengatakan bahwa suatu hari nanti, Surya akan kembali, dan ketika itu terjadi, Danang harus siap.
Ia tidak takut pada Surya. Ia tidak takut pada ayah Surya yang kaya. Ia tidak takut pada kekuasaan dan uang yang bisa membeli apa pun.
Tapi ia takut pada apa yang tidak ia ketahui. Ia takut pada apa yang mungkin dilakukan Surya di masa depan. Ia takut bahwa permusuhan ini akan merembet ke keluarganya, ke ibunya yang sudah terlalu banyak menanggung beban, ke ayahnya yang sudah terlalu rapuh meskipun dari luar terlihat kuat.
Ia teringat kata-kata Mbah Joyo. "Kadang takdir bukan untuk dicegah. Kadang takdir hanya untuk dijalani."
Mungkin permusuhan dengan Surya adalah takdirnya. Mungkin ia memang ditakdirkan untuk bermusuhan dengan anak saudagar kaya itu. Mungkin ia memang ditakdirkan untuk selalu berbeda, untuk selalu menjadi sasaran, untuk selalu berjuang lebih keras dari orang lain.
Atau mungkin, pikir Danang, tidak ada takdir. Mungkin semuanya adalah pilihan. Pilihan Surya untuk menjadi sombong. Pilihan Surya untuk menghancurkan perahu daunnya. Pilihan Surya untuk memanggilnya anak haram. Dan pilihannya sendiri untuk mendorong Surya, meskipun ia tahu konsekuensinya.
Ia memejamkan mata.
Di luar, bulan bersinar terang, memantulkan cahaya keperakan di permukaan sungai yang tenang. Angin malam berhembus pelan, membawa bau tanah basah dan bunga melati dari kebun tetangga.
Danang berdoa. Bukan pada Tuhan yang ia tidak kenal. Tetapi pada sungai. Pada pohon waru. Pada desa yang menjadi rumahnya.
"Jagalah Kirana," bisiknya. "Jangan biarkan Surya menyakitinya."
Ia tidak berdoa untuk dirinya sendiri.
Ia hanya berdoa untuk Kirana.
Karena Kirana adalah satu-satunya hal baik yang terjadi dalam hidupnya. Satu-satunya cahaya di tengah kegelapan yang semakin pekat. Satu-satunya alasan mengapa ia masih bisa tersenyum di pagi hari.
Dan ia tidak akan membiarkan siapa pun memadamkan cahaya itu.
Tidak Surya. Tidak siapa pun.
Bab 6
Rahasia di Ujung Dermaga
Sore itu Danang melihat ayahnya berjalan ke dermaga tua di ujung desa.
Bukan karena ia sengaja mengikuti. Bukan karena ia curiga. Tetapi karena kebetulan, ia sedang duduk di pohon jambu biji di halaman belakang rumahnya, memetik buah jambu yang masih muda dan keras, ketika matanya menangkap sosok ayahnya melewati jalan setapak di belakang rumah-rumah tetangga.
Ada sesuatu dalam cara langkah lelaki itu yang membuat Danang curiga.
Biasanya Sastrowiryo berjalan dengan tegap, kepala tegak, langkah lebar dan percaya diri. Bahkan ketika ia sedang lelah sepulang kerja, bahkan ketika ia sedang mabuk dan jalannya sempoyongan, masih ada sisa-sisa kegagahan di setiap langkahnya, sisa-sisa dari lelaki yang dulu dikenal sebagai pekerja keras yang tidak takut pada siapa pun.
Tetapi sore itu ia berjalan membungkuk sedikit. Bukan karena lelah. Bukan karena sakit. Tetapi seperti sedang berusaha tidak terlihat. Seperti sedang menyembunyikan sesuatu di balik langkahnya yang terlalu cepat. Seperti sedang berusaha menghilang di antara bayang-bayang sore yang mulai memanjang.
Danang yang sedang duduk di dahan pohon jambu, dengan buah jambu di tangan dan getah di jari-jarinya, melihat ayahnya melewati semak-semak, melewati pohon pisang yang daunnya sudah menguning, melewati pagar bambu rumah tetangga yang sudah reot.
Tanpa berpikir panjang, ia turun dari pohon. Tangannya yang lengket dengan getah jambu ia usapkan ke celananya, tidak peduli akan meninggalkan noda yang nanti dimarahi ibunya. Kakinya yang telanjang mendarat di tanah yang hangat, masih panas karena terik matahari seharian.
Ia mengikuti ayahnya dari kejauhan.
Bukan karena ia ingin tahu rahasia. Bukan karena ia ingin menginterogasi ayahnya. Tetapi karena ada firasat di dadanya, firasat yang tidak bisa ia jelaskan, firasat yang mengatakan bahwa sore ini ia akan menemukan sesuatu, bahwa sore ini sesuatu akan berubah, bahwa sore ini ia akan melihat sisi lain dari ayahnya yang selama ini tersembunyi.
Ia bersembunyi di balik tumpukan kayu ulin yang menumpuk di pinggir jalan, kayu-kayu besar yang akan digunakan untuk membangun rumah baru Pak Lurah, tetapi sudah berbulan-bulan tidak tersentuh, hanya ditumbuhi jamur dan dijadikan tempat bermain anak-anak.
Dari balik kayu-kayu itu, ia melihat ayahnya bertemu dengan seseorang di ujung dermaga yang sudah tidak terpakai.
Dermaga itu dulunya digunakan untuk bongkar muat barang dari kapal-kapal kecil yang melewati Sungai Kapuas Muara. Kapal-kapal kayu dengan layar segitiga yang datang dari hulu membawa kopra, karet, dan rotan, lalu kembali ke hilir membawa beras, gula, dan garam. Tetapi sudah ditinggalkan sejak sepuluh tahun lalu, setelah sebuah kapal besar menabrak dermaga itu di malam yang gelap dan berkabut, merusak separuh bangunannya.
Sekarang dermaga itu hanya kerangkanya yang masih berdiri. Tiang-tiang kayu ulin yang kokoh tetapi mulai lapuk di bagian bawah. Lantai papan yang sebagian sudah hilang, hanya menyisakan lubang-lubang besar yang bisa dilihat sampai ke air di bawahnya. Beberapa papan masih bertahan, tetapi sudah tidak aman untuk diinjak, bisa patah kapan saja. Tali-tali tambang yang dulu digunakan untuk mengikat kapal, kini sudah putus dan menjuntai ke air, ditumbuhi lumut hijau.
Dermaga itu terlihat seperti kerangka manusia yang sudah lama mati, yang dagingnya sudah habis dimakan waktu, hanya menyisakan tulang-belulang yang rapuh. Angin sore berhembus melalui sela-sela papan yang rapuh, menciptakan suara siulan yang melengking, seperti tangisan hantu yang tidak bisa meninggalkan tempat kematiannya.
Mandor Jalil sudah menunggu di sana.
Lelaki tinggi kurus dengan wajah keras yang selama ini selalu membuat anak-anak takut. Wajahnya penuh dengan bekas jerawat dan luka, seperti peta medan perang yang tidak pernah benar-benar sembuh. Bekas luka di pipi kirinya, mungkin karena pisau, mungkin karena benda tajam lainnya. Bekas luka di dahinya, panjang dan melengkung, seperti ular yang sedang tidur. Bekas jerawat yang meninggalkan lubang-lubang kecil di pipi dan dagunya, seperti kawah di permukaan bulan.
Matanya sipit tetapi tajam, seperti mata elang yang sedang mengincar mangsa dari ketinggian, seperti mata ular yang siap menerkam kapan saja. Matanya bisa melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain, bisa membaca ketakutan di wajah orang, bisa menemukan kelemahan yang paling tersembunyi.
Ia selalu memakai baju hitam lengan panjang meski cuaca panas, baju yang sudah lusuh dan kusam, tetapi tetap ia kenakan setiap hari. Beberapa orang bilang ia memakai baju hitam untuk menyembunyikan tato di lengannya, tato naga yang konon memiliki kekuatan gaib. Yang lain bilang ia memakai baju hitam agar tidak mudah terlihat di malam hari, karena sebagian besar urusannya dilakukan setelah matahari terbenam.
Dan di pinggangnya, selalu terselip sebilah pisau lipat besar. Pisau dengan gagang kayu yang sudah halus karena sering dipegang, dengan mata pisau yang selalu tajam meskipun tidak pernah terlihat ia mengasahnya. Pisau yang konon sudah digunakan untuk memotong lebih dari sekadar tali tambang.
Mandor itu dikenal sebagai tangan kanan pemilik tanah terbesar di daerah itu. Lelaki kaya yang tidak pernah muncul di depan umum, yang tidak pernah terlihat di pasar atau di acara-acara desa, yang namanya disebut dengan suara berbisik oleh orang-orang desa. Pemilik tanah yang membentang dari ujung utara sampai selatan. Sawah. Kebun. Bahkan beberapa rumah penduduk konon berdiri di atas tanah yang sebenarnya miliknya.
Tidak ada yang pernah melihat wajah pemilik tanah itu. Tidak ada yang tahu nama aslinya. Yang orang tahu, jika ada masalah dengan tanah, jika ada sengketa batas, jika ada orang yang tidak bisa membayar utang, yang datang adalah Mandor Jalil. Dan kedatangan Mandor Jalil selalu berarti masalah.
Danang menyembunyikan tubuhnya di balik tumpukan kayu. Napasnya ia tahan, tidak berani mengeluarkan suara sedikit pun. Dadanya terasa sesak, jantungnya berdebar kencang, seperti akan melompat keluar dari dadanya.
"Aku sudah bilang, waktumu habis, Sastro," kata Mandor Jalil. Suaranya parau, seperti suara orang yang terlalu banyak merokok dan minum tuak, seperti suara yang keluar dari tenggorokan yang sudah terbakar oleh minuman keras. Suara yang membuat bulu kuduk merinding, suara yang membuat anak-anak lari ketakutan.
Sastrowiryo menjawab dingin. Tidak ada rasa takut di suaranya, meskipun Danang bisa melihat dari belakang bahwa tangan ayahnya gemetar sedikit. "Aku sudah bayar sebagian. Bulan lalu aku bayar dua ratus ribu. Kau hitung sendiri, Jalil."
"Sebagian tidak cukup, Sastro." Mandor Jalil meludah ke sungai. Ludahnya jatuh dengan bunyi pluk kecil di permukaan air yang keruh, menciptakan riak-riak kecil yang segera hilang ditelan arus. "Utangmu sudah menumpuk sejak lima tahun lalu. Bunganya saja sudah berapa. Kalau kau terus bayar sebagian-sebagian seperti ini, sampai kakek buyutmu bangkit dari kubur pun belum lunas."
"Aku butuh waktu, Jalil."
Mandor Jalil tertawa pendek. Tawa yang tidak lucu. Tawa yang dingin dan menghitung. Tawa yang seperti suara logam digesekkan ke logam lain, tidak merdu, tidak enak didengar, tetapi membuat orang yang mendengarnya merasa tidak nyaman. "Waktu? Kau pikir masa lalu bisa dibayar dengan waktu? Kau pikir kesalahan bisa dihapus dengan waktu?"
Danang mengernyit. Ia tidak mengerti. Masa lalu? Masa lalu siapa? Apa hubungannya dengan ayahnya? Mengapa Mandor Jalil berbicara tentang masa lalu seolah itu adalah sesuatu yang bisa diukur dengan uang? Seolah masa lalu adalah utang yang harus dilunasi?
Ia melihat ayahnya mengepalkan tangan. Buku-buku jari Sastrowiryo memutih, tidak ada lagi warna merah di sana. Otot-otot di rahangnya menegang, terlihat dari belakang, bergerak-gerak seperti ada yang menggeliat di bawah kulit. Seluruh tubuhnya tegang, seperti busur panah yang siap dilepaskan, seperti tali yang ditarik sampai batas maksimal dan akan putus kapan saja.
Mandor Jalil mendekat. Selangkah. Dua langkah. Kini ia berdiri hanya satu lengan dari Sastrowiryo. Jarak yang terlalu dekat untuk dua lelaki yang tidak saling percaya. Jarak yang membuat Danang semakin tegang, karena ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika jarak itu semakin dekat.
Suara Mandor Jalil diturunkan, tetapi masih cukup jelas terdengar di sore yang sunyi, di dermaga yang hanya berdua mereka, di tengah suara air sungai yang mengalir dan suara angin yang berbisik.
"Anak itu sudah besar sekarang, Sastro."
Sastrowiryo langsung menatap tajam. Matanya menyala seperti api, seperti bara yang tiba-tiba ditiup angin, menyala dengan dahsyat. "Jangan sentuh keluargaku, Jalil. Aku peringatkan kau. Aku tidak punya apa-apa lagi di dunia ini selain mereka. Jika kau berani menyentuh mereka, aku tidak akan segan-segan melakukan apa pun."
"Kalau kau tak lunasi, bukan aku yang akan datang berikutnya." Mandor Jalil tersenyum. Senyum yang membuat Danang merinding dari ujung rambut sampai ujung kaki. Senyum yang tidak menunjukkan kegembiraan, tidak menunjukkan persahabatan, tidak menunjukkan kebaikan. Senyum yang hanya menunjukkan bahwa ia tahu sesuatu yang tidak diketahui orang lain, bahwa ia memegang kendali, bahwa ia bisa menghancurkan kapan saja ia mau. "Kau tahu siapa yang akan datang, Sastro. Dan kau tahu apa yang akan terjadi jika orang itu yang datang, bukan aku."
Sastrowiryo diam.
Dadanya naik turun. Napasnya berat, seperti orang yang baru saja berlari jauh, seperti orang yang sedang berusaha mengendalikan amarah yang membara di dadanya. Tangannya yang mengepal mulai gemetar, bukan karena takut, tetapi karena marah yang ditahan, marah yang tidak bisa ia salurkan, marah yang hanya bisa ia pendam karena ia tahu tidak ada gunanya melawan.
Mandor Jalil menepuk bahu Sastrowiryo pelan. Gerakan yang terlihat akrab, seperti tepukan seorang teman lama, seperti tepukan seorang kakak pada adiknya. Tetapi bagi Danang yang melihat dari kejauhan, tepukan itu terasa seperti ancaman. Seperti belati yang ditusukkan ke bahu, meskipun tidak ada luka yang terlihat.
"Selesaikan sebelum terlambat, Sastro. Untuk keluargamu. Untuk anakmu."
Lalu ia pergi.
Langkahnya tidak tergesa-gesa, tetapi tidak juga santai. Langkah orang yang tahu bahwa ia memegang kendali, bahwa ia bisa memutuskan kapan tali akan dipotong, bahwa ia bisa memilih kapan akan memberikan pukulan terakhir. Langkah yang tenang, percaya diri, tanpa beban. Seolah apa yang baru saja terjadi hanyalah rutinitas biasa, bukan ancaman yang bisa menghancurkan sebuah keluarga.
Danang menahan napas.
Ia tidak mengerti apa-apa dari pembicaraan itu. Kata-kata seperti "lunas", "masa lalu", "anak itu", semuanya seperti potongan-potongan puzzle yang tidak bisa ia sambungkan, seperti potongan-potongan kaca dari jendela yang pecah, yang tidak mungkin lagi disusun kembali menjadi bentuk semula.
Mengapa ayahnya berutang? Utang apa? Kepada siapa? Mengapa Mandor Jalil menyebut "anak itu"? Apakah "anak itu" adalah dirinya? Atau anak orang lain? Mengapa masa lalu disebut-sebut seolah itu adalah sesuatu yang bisa dibayar dengan uang? Apa hubungan masa lalu dengan utang? Apa hubungan dirinya dengan semua ini?
Tetapi satu hal terasa jelas.
Ayahnya sedang takut.
Bukan takut pada Mandor Jalil. Sastrowiryo bukan tipe lelaki yang takut pada preman seperti Mandor Jalil. Ia sudah terlalu sering berkelahi, terlalu sering menghadapi bahaya di dermaga, terlalu sering bertarung dengan mabuk dan kekerasan.
Tapi ada ketakutan di mata ayahnya. Ketakutan yang lebih dalam. Ketakutan pada sesuatu yang tidak bisa ia lihat, tidak bisa ia sentuh, tidak bisa ia lawan dengan tinju atau dengan pisau. Ketakutan pada masa lalu. Ketakutan pada rahasia yang selama ini ia sembunyikan. Ketakutan pada kebenaran yang suatu hari akan terungkap.
Dan bagi Danang, melihat lelaki sebesar ayahnya takut, lelaki yang selama ini ia anggap sebagai benteng yang tidak bisa runtuh, lebih menyeramkan daripada cerita hantu mana pun di desa.
Karena cerita hantu bisa diatasi dengan doa dan mantra. Hantu bisa diusir dengan bacaan-bacaan suci, dengan air yang sudah didoakan, dengan sesaji yang diletakkan di pojok-pojok rumah. Hantu tidak nyata. Hantu hanya cerita untuk menakuti anak-anak agar tidak keluar malam-malam.
Tapi ketakutan di mata ayahnya nyata.
Ketakatan itu dekat.
Ketakutan itu sedang menghampiri mereka seperti badai yang tidak bisa dihindari, seperti banjir yang datang setiap tahun meskipun sudah diprediksi, seperti penyakit yang tidak bisa disembuhkan meskipun sudah diobati.
Danang kembali ke rumah dengan langkah pelan.
Setiap langkah terasa berat, seperti kakinya terbenam di lumpur yang dalam, seperti ada beban yang menggantung di setiap langkahnya. Ia tidak berlari, meskipun ia ingin lari sejauh-jauhnya, meninggalkan desa ini, meninggalkan semua rahasia ini, meninggalkan semua ketakutan ini.
Ia masuk melalui pintu belakang, melewati dapur yang masih berbau masakan siang tadi, melewati ruang tengah yang kosong, menuju kamarnya. Ia berbaring di tikar pandan yang gatal. Tikar yang sama yang ia tiduri setiap malam, tetapi sore ini terasa berbeda. Terasa seperti tikar orang lain, di rumah orang lain, di kehidupan orang lain.
Ia memejamkan mata, tetapi tidak bisa tidur.
Pikirannya terus berputar, mencoba memahami sesuatu yang terlalu besar untuk otak anak seusianya, terlalu rumit untuk akal sehatnya, terlalu gelap untuk diterangi oleh pengetahuan yang terbatas.
Mengapa ayahnya berutang?
Mengapa Mandor Jalil tahu tentang "anak itu"?
Apa yang dimaksud dengan "masa lalu"?
Mengapa semua ini terasa seperti sesuatu yang berbahaya, seperti sesuatu yang akan meledak kapan saja, seperti sesuatu yang akan menghancurkan rumahnya?
Untuk pertama kalinya, Danang merasa bahwa rumahnya tidak hanya menyimpan rahasia.
Rumahnya sedang dikepung oleh sesuatu.
Dan ia, sekecil apa pun, sekecil apa pun usianya, sekecil apa pun tubuhnya, adalah bagian dari kepungan itu.
Entah sebagai korban.
Entah sebagai taruhan.
Entah sebagai sesuatu yang sedang diperebutkan tanpa sepengetahuannya.
Malam itu, ketika ibunya membawakan makan malam, Danang tidak bisa makan. Ia hanya duduk di depan piring berisi nasi dan sayur lodeh, memandang makanan itu tanpa nafsu, tanpa keinginan, tanpa perut yang lapar.
"Kenapa tidak makan, Nang?" tanya Ratih. Wajahnya terlihat lelah, lebih lelah dari biasanya, dengan lingkaran hitam di bawah mata yang semakin gelap. "Sakit?"
Danang menggeleng. "Tidak, Mak."
"Kenapa?"
Danang menatap ibunya. Ia ingin bertanya. Ia ingin bertanya tentang Mandor Jalil, tentang utang, tentang masa lalu, tentang "anak itu". Tapi mulutnya tidak bisa bergerak. Ada yang mengganjal di tenggorokannya, ada yang membuat kata-katanya tidak bisa keluar.
"Mungkin Danang tidak lapar, Mak."
Ratih menatap anaknya lama. Matanya yang lelah itu berusaha membaca sesuatu di wajah Danang, berusaha mencari tahu apakah anaknya sakit, apakah anaknya bermasalah di sekolah, apakah anaknya sedang menyembunyikan sesuatu.
"Kalau tidak lapar, simpan dulu. Nanti malam kalau lapar, makan lagi."
"Baik, Mak."
Ratih menghela napas. Ia mengambil piring Danang, menutupnya dengan tudung saji, membawanya ke dapur. Danang mendengar suara ibunya menaruh piring di meja dapur, suara langkah kaki yang berat, suara napas yang panjang.
Ia berbaring lagi.
Di luar, jangkrik mulai bernyanyi. Bulan bersinar terang, tetapi cahayanya tidak masuk ke kamarnya karena jendela kamarnya menghadap ke barat, ke arah kebun rambutan yang gelap.
Ia memandang gelap di depannya.
Dan untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa gelap tidak hanya ada di luar rumah.
Gelap juga ada di dalam rumahnya.
Gelap juga ada di dalam hati ayahnya.
Gelap juga ada di dalam rahasia yang disembunyikan keluarganya.
Dan gelap itu, perlahan tapi pasti, mulai merambat ke dalam hatinya juga.
Keesokan paginya, Danang bangun lebih pagi dari biasanya.
Matahari belum terbit. Langit masih gelap, dengan sisa-sisa bintang yang masih berkedip-kedip di timur. Kabut tipis masih menutupi desa, membuat semuanya terlihat seperti mimpi, seperti dunia yang belum sepenuhnya terbangun.
Ia pergi ke sungai.
Bukan karena ia ingin bermain. Bukan karena ia ingin bertemu Kirana. Kirana pasti masih tidur, karena ia tidak pernah bangun sepagi ini.
Ia pergi ke sungai karena ia butuh ketenangan. Karena sungai adalah satu-satunya tempat di dunia ini yang membuatnya merasa aman. Karena suara air yang mengalir adalah satu-satunya suara yang tidak pernah berbohong.
Ia duduk di akar pohon waru.
Akar yang sama. Tempat yang sama. Pemandangan yang sama.
Tetapi ia merasa berbeda.
Ia merasa lebih tua. Lebih dewasa. Lebih lelah.
Seperti pagi ini, ia tidak lagi menjadi Danang kecil yang kemarin.
Ia telah berubah.
Dan ia tidak tahu apakah perubahan itu baik atau buruk.
Ia hanya tahu bahwa ia tidak bisa kembali menjadi Danang yang tidak tahu apa-apa.
Bahwa ia sudah melihat sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat.
Bahwa ia sudah mendengar sesuatu yang tidak seharusnya ia dengar.
Dan bahwa mulai hari ini, ia akan memandang ayahnya dengan cara yang berbeda.
Ia akan memandang rumahnya dengan cara yang berbeda.
Ia akan memandang dunianya dengan cara yang berbeda.
Dan ia tidak tahu apakah ia siap untuk semua perbedaan itu.
Bab 7
Hujan dan Pengakuan Kecil
Sore berikutnya hujan turun deras.
Bukan hujan biasa. Bukan hujan gerimis yang sering turun di desa itu pada sore hari, yang hanya cukup untuk membasahi tanah dan membuat udara terasa segar. Ini hujan yang mengguyur dengan keras, seperti langit sedang marah dan melampiaskan amarahnya ke bumi, seperti Tuhan sedang menumpahkan seluruh kesedihan-Nya sekaligus, tanpa peduli apakah bumi siap menerimanya atau tidak.
Air jatuh dari langit dalam jumlah yang luar biasa, butir-butirnya besar dan deras, menghantam atap-atap rumbia dengan suara seperti ribuan genderang yang ditabuh bersamaan. Air mengguyur tanah yang kering, menciptakan genangan-genangan besar dalam hitungan menit, mengubah jalan setapak yang berdebu menjadi sungai kecil yang mengalir deras.
Kabut tipis terbentuk di atas tanah, karena air yang jatuh menguap sebelum sempat meresap, menciptakan lapisan putih yang membuat segalanya terlihat buram dan seperti mimpi. Rumah-rumah di kejauhan hanya terlihat sebagai bayangan-bayangan abu-abu, tidak jelas batasnya, seperti lukisan cat air yang basah dan luntur.
Danang dan Kirana berteduh di bawah pondok kecil dekat sawah. Pondok itu biasanya digunakan petani untuk beristirahat di siang hari yang terik, atau untuk menjaga sawah dari hama burung ketika padi mulai menguning. Pondok itu terbuat dari bambu dan kayu, dengan dinding anyaman bambu yang tidak rapat, dengan atap rumbia yang sudah mulai bocor di beberapa tempat.
Dinding anyaman bambunya sudah tua, warna hijau mudanya telah berubah menjadi coklat keabu-abuan, dengan lubang-lubang kecil di sana-sini karena anyaman yang mulai longgar. Atap rumbianya sudah tipis, beberapa helai sudah lepas, hanya menyisakan lubang-lubang yang menjadi jalan masuk bagi air hujan. Lantainya tanah, basah dan becek, dengan genangan-genangan kecil di tempat-tempat yang lebih rendah.
Mereka berlari sekencang-kencangnya ketika hujan mulai turun. Kirana tertawa terbahak-bahak ketika kakinya terpeleset di lumpur, hampir jatuh, tetapi Danang cepat-cepat memegang tangannya. Tangan mereka basah oleh hujan, licin, tetapi genggaman Danang kuat, tidak melepaskan Kirana sampai mereka sampai di pondok.
Sekarang mereka duduk di lantai tanah yang basah, berhadapan, dengan jarak hanya satu lengan. Pakaian mereka basah kuyup. Baju seragam putih Kirana menjadi transparan karena air, menempel di kulitnya yang coklat langsat karena sering bermain di bawah matahari. Rambut Kirana yang panjang dan hitam, yang biasanya diikat rapi dengan karet gelang merah, kini terurai, basah, menempel di dahi, di pipi, di leher.
Danang tidak berani menatap terlalu lama. Ia menunduk, memandang tanah di depannya, menggambar garis-garis dengan jarinya di tanah yang basah. Garis lurus. Garis melengkung. Garis berkelok. Seperti sungai. Seperti jalan yang tidak tahu ke mana arahnya.
Suara hujan memukul atap rumbia begitu keras hingga dunia seperti hanya berisi mereka berdua. Suara air jatuh dari atap, membentuk genangan di sekitar pondok. Suara angin yang menderu, menggerakkan dedaunan di pohon-pohon di sekitar sawah. Suara sesekali kilat yang menyambar di kejauhan, diikuti gemuruh yang mengguncang tanah.
Semua suara itu bercampur menjadi satu simfoni yang menderu, simfoni yang membuat mereka merasa kecil, merasa tidak berarti, merasa bahwa alam semesta jauh lebih besar dari masalah-masalah kecil mereka.
Kirana memandangi Danang. Matanya yang biasanya ceria, yang biasanya berbinar-binar seperti bintang, kini serius. Ada kerutan kecil di keningnya, kerutan yang biasanya tidak ada, kerutan yang muncul ketika ia sedang memikirkan sesuatu dengan sungguh-sungguh, ketika ia sedang berusaha memahami sesuatu yang tidak mudah dipahami.
"Kau kenapa, Danang?" tanyanya. Suaranya pelan, hampir tenggelam oleh suara hujan, tetapi cukup jelas di telinga Danang. "Sejak kemarin kau diam terus. Tidak seperti biasanya."
Danang menatap tanah. Lumpur di lantai pondok mulai basah karena air yang merembes dari bawah, merembes dari dinding yang tidak rapat, merembes dari atap yang bocor. Tanah itu berwarna coklat tua, hampir hitam, licin dan lengket. Jari-jarinya terus menggambar garis, tidak berhenti, seperti sedang berusaha menciptakan sesuatu yang tidak bisa ia ciptakan dengan kata-kata.
"Tak apa, Kirana. Aku hanya... banyak pikiran."
"Kau bohong, Danang." Suara Kirana tegas, tidak menerima jawaban yang mengelak. Matanya menatap lurus ke arah Danang, tidak berkedip, seperti sedang mengatakan bahwa ia tidak akan pergi sebelum mendapat jawaban yang jujur. "Wajahmu sejak kemarin pucat. Matamu sayu. Kayak orang habis nangis."
Danang diam.
Kirana menggeser duduk lebih dekat. Kini bahu mereka hampir bersentuhan. Hanya beberapa sentimeter yang memisahkan mereka. Kirana bisa merasakan dinginnya tubuh Danang yang basah kuyup oleh hujan. Danang bisa mencium wangi rambut Kirana yang basah, wangi sabun kelapa yang murah tetapi harum, bercampur dengan aroma tanah basah dan air hujan.
"Danang," panggil Kirana lagi. Kali ini suaranya lebih lembut, lebih halus, seperti sedang membelai. "Kita ini teman, kan? Teman itu harus saling cerita. Kalau kau punya masalah, cerita ke aku. Aku tidak akan bilang ke siapa pun. Aku janji."
Danang menoleh. Matanya bertemu dengan mata Kirana. Mata yang coklat kehijauan, yang jarang ia lihat sedekat ini, yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat meskipun ia tidak tahu mengapa.
"Ayahku punya masalah, Kirana."
"Masalah apa?"
"Aku tidak tahu."
Kirana mengernyit. "Kok kau tidak tahu?"
Danang menghela napas. Napas panjang yang terasa berat, seperti mengeluarkan seluruh isi dadanya sekaligus. "Aku hanya tahu itu masalah besar. Masalah yang sudah lama sekali. Masalah yang membuat ayahku takut."
Kirana menatap wajah sahabat kecilnya. Untuk pertama kalinya, ia melihat ketakutan di mata Danang. Danang yang selalu tenang, yang jarang menunjukkan perasaan, yang selalu terlihat seperti tidak peduli apa pun yang terjadi di sekitarnya. Danang yang ia kenal sebagai anak laki-laki paling berani di desa ini, yang tidak takut pada Surya, yang tidak takut pada hantu, yang tidak takut pada apa pun.
Kini matanya basah, bukan karena hujan, tetapi karena sesuatu yang tidak bisa ia tahan lebih lama. Sesuatu yang menggenang di pelupuk matanya, hampir tumpah, tetapi masih ia tahan karena ia tidak mau menangis di depan Kirana.
"Danang," kata Kirana pelan, suaranya hampir tenggelam oleh suara hujan yang semakin deras, "kalau kau takut, kau boleh cerita ke aku. Aku tidak akan tertawa. Aku tidak akan bilang ke siapa pun. Aku hanya akan diam dan mendengarkan."
"Kenapa kau mau melakukan itu?" tanya Danang. Suaranya kecil, seperti bisikan, seperti suara anak kecil yang sedang membutuhkan kepastian.
Kirana tersenyum. Senyum yang lembut, yang hangat, yang membuat Danang merasa bahwa ia tidak sendirian. "Karena aku temanmu, Danang. Itu tugas teman."
Kalimat itu sederhana. Sangat sederhana. Hanya lima kata. "Karena aku temanmu, Danang." Tidak ada kata-kata besar. Tidak ada janji-janji muluk. Tidak ada sumpah atau ikrar.
Tetapi di telinga Danang, yang jarang mendengar kata-kata seperti itu, yang jarang merasa bahwa ada seseorang yang benar-benar peduli padanya, kalimat itu terdengar seperti janji. Janji yang tidak diminta, tetapi sangat ia butuhkan. Janji yang akan ia ingat sepanjang hidupnya. Janji yang akan menjadi salah satu alasan mengapa ia masih percaya pada kebaikan manusia, meskipun dunia sering kali menunjukkan sebaliknya.
Danang terdiam lama.
Ia memandang hujan yang terus turun tanpa henti. Air mengalir dari atap rumbia membentuk tirai yang memburamkan dunia di luar. Sawah-sawah di kejauhan mulai tergenang, air setinggi mata kaki, menggenangi padi-padi yang baru setengah tinggi. Padi-padi itu bergoyang-goyang ditiup angin, seperti sedang menari, seperti sedang menikmati hujan meskipun hujan terlalu deras untuk dinikmati.
Ia memandang tangannya. Tangannya yang kecil, dengan jari-jari yang kurus, dengan kuku yang hitam karena kotoran. Tangannya yang gemetar, karena dingin, karena takut, karena sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.
Lalu dengan suara sangat kecil, suara yang nyaris tidak terdengar, suara yang seperti bisikan dari hatinya yang paling dalam, ia berkata, "Aku takut suatu hari semuanya hilang, Kirana."
Kirana tidak langsung menjawab.
Ia hanya menggenggam tangan Danang.
Tangannya kecil dan hangat, sangat kontras dengan tangan Danang yang dingin karena kedinginan dan ketakutan. Genggaman itu tidak erat, tidak memaksa, tidak membuat Danang merasa terkurung. Genggaman itu lembut, seperti sayap kupu-kupu yang hinggap di tangan, seperti daun yang jatuh perlahan ke tanah.
Tetapi cukup untuk membuat Danang merasa bahwa ia tidak sendirian.
Cukup untuk membuatnya merasa bahwa ada seseorang di dunia ini yang peduli padanya.
Cukup untuk membuatnya merasa bahwa meskipun semuanya hilang, mungkin masih ada satu orang yang akan tetap tinggal.
"Kalau semua pergi, Danang," bisik Kirana, suaranya nyaris tidak terdengar di antara suara hujan yang deras, tetapi setiap kata terdengar jelas di telinga Danang, "aku tetap di sini."
Danang menatap tangan kecil yang menggenggam tangannya.
Genggaman itu.
Janji itu.
Ia tidak tahu apakah janji seperti ini bisa ditepati oleh anak seusia mereka. Ia tidak tahu apakah Kirana benar-benar akan tetap di sini jika semua pergi. Ia tidak tahu apakah Kirana mengerti apa arti kata-kata yang ia ucapkan.
Tapi di tengah hujan yang deras, di tengah ketakutan yang mulai membesar di dadanya, di tengah kegelapan yang mulai menyelimuti hidupnya, genggaman itu adalah satu-satunya hal yang membuatnya tetap bisa bernapas.
Satu-satunya hal yang membuatnya merasa bahwa hidup masih layak dijalani.
Satu-satunya hal yang membuatnya tersenyum meskipun air mata hampir jatuh.
Dan di tengah suara hujan, di tengah gemuruh petir, di tengah deru angin, ia merasakan sesuatu yang belum bisa ia namai.
Bukan sekadar nyaman.
Bukan sekadar tenang.
Bukan sekadar senang.
Tetapi sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang lebih kuat, sesuatu yang lebih abadi.
Sesuatu yang kelak akan tumbuh menjadi luka paling indah dalam hidupnya.
Luka yang akan ia bawa ke mana pun ia pergi, ke kota mana pun ia merantau, ke tempat mana pun ia berlari.
Luka yang akan ia kenang ketika rambutnya mulai memutih dan langkahnya mulai lambat dan matanya mulai kabur.
Luka yang akan membuatnya tersenyum di saat-saat terakhir hidupnya, ketika ia berbaring di ranjang kematian, dikelilingi oleh orang-orang yang mungkin tidak benar-benar mengenalnya, tetapi di dalam hatinya ia tahu bahwa ada satu orang yang pernah membuatnya merasa bahwa ia berharga.
Cinta.
Cinta pertama yang tidak ia sadari sedang tumbuh, seperti benih yang tertanam di tanah yang paling subur, di antara akar-akar pohon waru tua, di tepi sungai yang mengalir tanpa henti.
Cinta yang tidak akan pernah ia ucapkan dengan kata-kata, karena ia tidak tahu kata-kata apa yang tepat untuk menggambarkannya.
Cinta yang hanya akan ia tunjukkan melalui tindakan-tindakan kecil, melalui keberanian untuk bertahan, melalui kesetiaan untuk tidak pergi meskipun semua orang pergi.
Mereka duduk dalam diam untuk waktu yang lama.
Hujan masih turun deras. Tidak reda-reda. Seperti langit sedang menumpahkan semua yang ia miliki, seperti langit sedang berusaha membersihkan diri dari sesuatu, seperti langit sedang menangis untuk mereka berdua.
Kadang Kirana bersenandung kecil. Lagu yang sama. Lagu tentang pelangi. Lagu tentang kebahagiaan sederhana. Lagu yang ia nyanyikan ketika pertama kali mereka bertemu di tepi sungai.
"Pelangi-pelangi, alangkah indahmu, merah kuning hijau, di langit yang biru..."
Suaranya kecil, tidak keras, tetapi cukup jelas di telinga Danang. Suara yang belum mengenal kepahitan. Suara yang belum terluka oleh kehidupan. Suara yang masih percaya bahwa dunia adalah tempat yang baik, bahwa manusia pada dasarnya baik, bahwa cinta bisa mengatasi segalanya.
Danang tidak ikut bernyanyi. Ia tidak tahu lagu itu. Atau mungkin ia tahu, tetapi ia tidak pernah bernyanyi di depan orang lain. Bernyanyi berarti menunjukkan perasaan. Dan menunjukkan perasaan berarti membuka diri untuk dilukai. Itu pelajaran yang sudah ia pelajari sejak kecil.
Tapi di dalam hatinya, ia ikut bernyanyi.
Ia menyanyikan lagu yang sama, tetapi dengan lirik yang berbeda.
Lagu tentang seorang anak perempuan yang datang dengan bunga di tangan dan mengubah segalanya.
Lagu tentang seorang anak perempuan yang menggenggam tangannya dan berjanji tidak akan pergi.
Lagu tentang seorang anak perempuan yang tanpa sadar telah menjadi alasan mengapa ia masih bisa tersenyum di pagi hari.
Ketika hujan mulai reda, ketika rintik-rintik terakhir jatuh dari langit dan awan mulai cerah, mereka berjalan pulang.
Tanah masih becek. Genangan air masih ada di mana-mana. Langit masih kelabu, tetapi sudah ada sedikit cahaya di ufuk barat, cahaya yang menandakan bahwa matahari akan segera terbit lagi besok pagi.
Mereka berjalan bersebelahan, bahu hampir bersentuhan. Tidak berbicara. Tidak perlu berbicara.
Sampai di perempatan jalan, di mana mereka harus berpisah karena rumah mereka berbeda arah, Kirana berhenti.
"Danang," katanya.
Danang berhenti. Menoleh.
"Besok kita ke sungai lagi, ya. Kalau tidak hujan."
Danang tersenyum kecil. Senyum yang tulus, yang jarang muncul, yang hanya muncul ketika ia bersama Kirana. "Iya."
Kirana tersenyum balik. Senyum yang lebar, yang memperlihatkan gigi seri atasnya yang sedikit maju ke depan, yang memperlihatkan lesung pipit di pipi kirinya. "Sampai besok, Danang."
"Sampai besok, Kirana."
Mereka berjalan ke arah yang berlawanan.
Kirana ke utara, melewati rumah-rumah penduduk yang atapnya masih meneteskan air, melewati kebun singkong yang daunnya basah dan segar.
Danang ke selatan, melewati sawah yang tergenang, melewati jembatan kayu kecil yang licin.
Di tengah jalan, Danang berhenti.
Ia menoleh ke belakang.
Kirana masih berjalan. Rambutnya yang basah bergoyang-goyang. Tasnya bergoyang di bahu. Sesekali ia melompati genangan air, seperti sedang menari.
Danang memandang sampai sosok Kirana hilang di balik tikungan.
Lalu ia melanjutkan perjalanan.
Di dalam hatinya, ada sesuatu yang tumbuh.
Sesuatu yang belum bisa ia beri nama.
Sesuatu yang terasa seperti benih yang baru saja ditanam di tanah yang subur.
Benih yang akan tumbuh menjadi pohon yang besar, dengan akar yang dalam dan dahan yang rindang.
Pohon yang akan menjadi tempatnya berteduh ketika badai datang.
Pohon yang akan ia rindukan ketika terpisah jarak dan waktu.
Pohon yang akan menjadi alasan mengapa ia tidak pernah benar-benar bisa melupakan.
Pohon bernama Kirana.
Malam itu, sebelum tidur, Danang membuka buku gambarnya.
Ia mencari halaman yang masih kosong, halaman yang tidak terkena noda tinta atau coretan pensil. Ia menemukannya di bagian paling belakang buku, halaman yang masih putih bersih, belum pernah ia sentuh sebelumnya.
Ia mengambil pensil pendeknya. Pensil yang sudah tinggal dua jari lagi. Ia raut pensil itu dengan pisau kecil, hati-hati, sampai ujungnya runcing sempurna.
Lalu ia mulai menggambar.
Ia menggambar hujan. Ia menggambar pondok kecil di tengah sawah. Ia menggambar dua anak kecil yang duduk berdampingan di lantai tanah yang basah.
Satu anak laki-laki. Satu anak perempuan.
Tangan mereka tergenggam.
Di luar pondok, hujan turun deras.
Dan di langit, di sela-sela awan kelabu, ada secercah pelangi.
Pelangi yang tidak terlihat oleh mata, tetapi terlihat oleh hati.
Ketika selesai, ia memandang gambar itu lama-lama.
Tangannya yang kotor meninggalkan bekas di tepi kertas. Gambar itu tidak sempurna. Hujan terlalu lurus. Pondok terlalu miring. Pelangi terlalu pucat.
Tapi bagi Danang, itu adalah gambar terbaik yang pernah ia buat.
Ia melipat kertas itu kecil-kecil, lalu menyelipkannya di bawah tikarnya.
Di tempat yang sama dengan gambar Kirana yang pertama.
Di tempat yang tidak akan dilihat siapa pun.
Di tempat yang hanya ia yang tahu.
Karena beberapa hal, pikir Danang, terlalu berharga untuk dibagi.
Beberapa perasaan terlalu rapuh untuk diucapkan.
Beberapa kenangan terlalu indah untuk diingat sendirian, tetapi tidak ada orang lain yang bisa diajak berbagi.
Ia memejamkan mata.
Di luar, jangkrik mulai bernyanyi. Bulan bersinar terang, memantulkan cahaya keperakan di permukaan sungai yang tenang. Angin malam berhembus pelan, membawa bau tanah basah dan bunga melati dari kebun tetangga.
Danang tersenyum kecil dalam tidurnya.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, setelah pertengkaran orang tuanya, setelah pertemuannya dengan Mandor Jalil, setelah semua ketakutan yang mulai membesar di dadanya, ia bermimpi.
Bukan mimpi buruk.
Mimpi indah.
Mimpi tentang seorang anak perempuan dengan bunga di tangan dan senyum di wajah.
Mimpi tentang Kirana.
Bab 8
Malam Ketika Api Menyala
Malam itu desa gempar.
Gudang beras milik keluarga Surya, ayah Surya Baskara, terbakar. Api menjilat langit dengan warna jingga kemerahan, menerangi seluruh desa seperti matahari yang terbit di tengah malam, seperti kiamat kecil yang turun hanya untuk satu keluarga, seperti peringatan dari Tuhan bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini, tidak kekayaan, tidak kekuasaan, tidak harga diri.
Asap hitam tebal mengepul ke atas, membawa bau beras hangus yang tercium sampai ke ujung desa, sampai ke rumah-rumah yang berjarak hampir satu kilometer dari lokasi kebakaran. Asap itu membubung tinggi ke langit malam, menghitamkan bintang-bintang yang tadinya bersinar terang, seperti tirai raksasa yang menutupi panggung setelah pertunjukan usai.
Orang-orang berteriak. Anak-anak menangis. Suara ember berisi air berpindah dari tangan ke tangan, dari orang ke orang, dari sumur ke gudang, dari gudang ke sumur. Antrean manusia dari sumur ke gudang, dari gudang ke sumur, seperti semut yang panik karena sarangnya diinjak, seperti barisan pasukan yang berperang melawan musuh yang tidak bisa dilihat.
"Cepat! Ambil air! Jangan berhenti!"
"Panggil yang lain! Kita butuh lebih banyak orang!"
"Embernya di mana? Embernya!"
"Api sudah sampai ke atap! Cepat! Cepat!"
"Jangan mendekat! Atapnya bisa runtuh!"
"Sudah hubungi pemadam kebakaran dari kecamatan?"
"Sudah! Tapi jalanan licin karena hujan tadi sore! Mereka butuh waktu!"
"Waktu? Kita tidak punya waktu! Lihat apinya! Semakin besar!"
Danang terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara jeritan dari luar. Suara yang keras, suara yang panik, suara yang membuat bulu kuduknya merinding. Ia duduk di tikarnya, mengucek matanya yang masih berat, berusaha memahami apa yang terjadi.
Cahaya jingga kemerahan masuk melalui celah-celah dinding kayu kamarnya, menciptakan bayangan-bayangan menari di dinding, seperti hantu-hantu yang sedang berpesta. Udara terasa panas meskipun malam, panas yang aneh, panas yang tidak biasa, panas yang tidak berasal dari matahari atau dari api unggun biasa.
Ia turun dari tempat tidur. Kakinya yang telanjang menyentuh lantai kayu yang dingin, tetapi dingin itu segera digantikan oleh kehangatan yang aneh dari luar. Ia berjalan ke jendela, membuka daun jendela yang sudah reot, dan melihat ke luar.
Dunia di luar rumahnya terlihat seperti neraka.
Langit berwarna jingga kemerahan, bukan hitam seperti biasanya. Asap hitam tebal mengepul dari arah timur, dari arah rumah keluarga Surya, dari arah gudang beras milik saudagar kaya itu. Api menjulang tinggi, menjilat-jilat langit seperti lidah raksasa yang sedang mencicipi bintang-bintang.
"Danang! Cepat bangun! Ada kebakaran!"
Suara ibunya dari ruang tengah membuatnya tersentak. Ratih berlari ke kamarnya, mengambil tangannya, menariknya keluar. Wajah Ratih pucat, matanya panik, tangannya gemetar. Ia tidak sempat menyisir rambutnya yang kusut, tidak sempat mengganti sarung tidurnya yang sudah lusuh.
"Ayo, Nang! Keluar! Jauh dari rumah! Takut api merambat!"
"Makan, Mak? Api dari mana?" tanya Danang sambil berlari kecil mengikuti ibunya keluar rumah. Kakinya yang telanjang menapak tanah yang basah dan dingin, tanah yang masih lembab karena hujan sore tadi.
"Gudangnya Surya, Nak! Gudang beras! Besar sekali apinya!"
Di luar rumah, sudah banyak tetangga yang berkumpul. Mereka berdiri di halaman masing-masing, menatap ke arah api dengan wajah panik dan cemas. Beberapa ibu-ibu menangis, memeluk anak-anak mereka erat-erat. Beberapa bapak-bapak berlari ke arah kebakaran, membawa ember dan timba, siap membantu memadamkan api.
"Astaga, apinya besar sekali!"
"Semua beras habis! Stok untuk tiga bulan!"
"Kasihan keluarga Surya. Rugi puluhan juta!"
"Jangan-jangan ini ulah orang!"
"Siapa yang tega melakukan ini?"
Danang berlari bersama warga menuju lokasi kebakaran. Kakinya yang telanjang menapak tanah yang basah oleh air dan lumpur, berlari melewati genangan-genangan air, melewati rumput-rumput basah yang tingginya sampai mata kaki, melewati bebatuan kecil yang tajam menusuk telapak kakinya.
Wajahnya merah karena panas api yang terasa dari kejauhan, panas yang seperti berada di dekat tungku api yang menyala besar, panas yang membuat kulitnya terasa perih meskipun jaraknya masih puluhan meter. Matanya perih karena asap yang mulai menyebar ke mana-mana, asap hitam yang membuatnya sulit bernapas, yang membuat tenggorokannya terasa gatal.
Ketika ia sampai di lokasi, pemandangan yang ia lihat membuatnya terdiam.
Gudang beras itu besar. Sangat besar. Dindingnya dari batu bata merah, atapnya dari seng gelombang, lantainya dari semen. Gudang itu bisa menampung berton-ton beras, stok untuk dijual selama berbulan-bulan. Keluarga Surya menyimpan hampir semua kekayaannya di sana, dalam bentuk beras yang akan dijual ke pasar-pasar di seluruh kecamatan.
Sekarang gudang itu terbakar.
Api sudah menghanguskan hampir seluruh bangunan. Dinding batu bata yang tadinya kokoh, kini retak-retak, beberapa bagian sudah runtuh. Atap seng yang tadinya mengkilap, kini melengkung karena panas, beberapa lembar sudah jatuh ke tanah dengan suara dentuman keras. Tiang-tiang kayu penyangga atap, yang tadinya kokoh, kini menjadi arang hitam yang rapuh, siap hancur jika disentuh.
Api masih menjilat sisa-sisa bangunan yang belum habis. Warna apinya jingga kemerahan, dengan lidah-lidah api biru di bagian bawah yang menunjukkan suhu yang sangat panas. Asap hitam tebal terus mengepul, membawa bau beras hangus yang menyengat, bau yang membuat perut Danang mual.
Surya berdiri di depan rumahnya, di halaman yang luas dengan rumput yang terawat, sambil menangis marah. Wajahnya merah padam, bukan karena panas api, tetapi karena amarah dan frustrasi yang tidak bisa ia salurkan. Tangannya mengepal-ngepal, kakinya menghentak-hentak tanah, mulutnya berteriak-teriak tanpa henti.
"Ayah! Semua habis! Semua beras habis! Lihat itu, Ayah! Api! Gudang kita terbakar! Semua beras habis!"
Suryaputra, ayah Surya, berdiri di samping anaknya dengan wajah pucat pasi. Lelaki itu biasanya selalu tenang, selalu tersenyum, selalu menyapa siapa pun dengan ramah. Di pasar, ia dikenal sebagai saudagar yang baik hati, yang tidak pernah menipu, yang sering memberi tambahan beras kepada pelanggan yang kurang mampu. Di desa, ia dikenal sebagai dermawan yang sering menyumbang untuk pembangunan masjid dan perbaikan jalan.
Tetapi malam itu wajahnya berubah menjadi sesuatu yang menakutkan. Matanya liar, mencari-cari sesuatu, atau seseorang, di antara kerumunan. Matanya bergerak cepat dari satu wajah ke wajah lain, seperti elang yang mencari mangsa, seperti detektif yang mencari tersangka. Tangannya gemetar, bukan karena takut, tetapi karena marah yang tertahan, marah yang mencari sasaran, marah yang butuh pelampiasan.
"Lihat! Lihat itu! Semua uangku habis! Semua! Beras untuk tiga bulan! Untuk lebaran! Semua habis!" teriak Suryaputra, suaranya pecah di tengah-tengah, antara marah dan tangis.
Penduduk desa yang datang membantu mulai berbisik-bisik. Bisikan yang pelan tetapi terdengar jelas di malam yang sunyi, bisikan yang seperti tawon, menyengat dari segala arah.
"Siapa ya yang melakukan ini?"
"Pasti orang yang dendam pada keluarga Surya."
"Atau mungkin perampok yang gagal."
"Atau mungkin ini kecelakaan. Korsleting listrik."
"Tidak mungkin. Gudangnya tidak pakai listrik. Cuma pakai lampu minyak."
"Lalu siapa?"
Tiba-tiba jari Suryaputra menunjuk ke arah kerumunan. Wajahnya yang tadinya pucat, kini merah oleh amarah dan asap yang masih mengepul dari gudang yang terbakar. Matanya yang tadinya liar, kini terfokus pada satu titik, pada satu orang, pada satu sasaran.
"Itu! Itu anak Sastrowiryo! Aku lihat dia tadi sore mondar-mandir di dekat gudang! Aku lihat sendiri!"
Semua mata langsung beralih pada Danang.
Ratusan mata. Mata tetangga yang setiap pagi menyapanya dengan ramah. Mata teman sekolah yang setiap hari bermain dengannya di halaman sekolah. Mata orang dewasa yang biasanya tersenyum padanya setiap kali ia lewat di depan rumah mereka. Mata orang-orang yang selama ini ia kenal sebagai tetangga yang baik, yang tidak pernah menyakitinya, yang selalu membantu ketika keluarganya membutuhkan.
Kini semuanya menatapnya dengan ekspresi yang tidak bisa ia baca.
Campuran antara curiga, takut, dan sesuatu yang lebih buruk.
Kecurigaan.
"Aku tidak melakukan apa-apa, Pak!" seru Danang. Suaranya terdengar kecil di tengah keributan malam, di tengah suara api yang masih berderak, di tengah suara orang-orang yang berteriak dan berlari. Suara anak kecil yang tenggelam oleh suara orang dewasa yang panik, suara yang seperti bisikan di tengah badai.
Tapi Surya berteriak lebih keras, suaranya parau karena menangis dan marah, suaranya seperti suara orang yang sedang kesurupan, tidak terkendali, tidak rasional.
"Aku lihat dia, Ayah! Aku lihat dia tadi sore! Aku lihat dia mondar-mandir di dekat gudang! Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri! Dia yang membakar gudang kita! Dia!"
"Itu bohong!" teriak Kirana yang baru saja tiba, berlari dari arah rumahnya dengan wajah pucat karena ketakutan dan kelelahan. Rambutnya yang panjang dan hitam, yang biasanya diikat rapi, kini terurai, kusut, berkibar-kibar ditiup angin malam yang panas. Bajunya basah oleh keringat karena ia berlari sepanjang jalan dari rumahnya yang jaraknya hampir setengah kilometer.
"Dia bersamaku sepanjang sore, Pak Surya! Kami di pondok dekat sawah! Kami berteduh karena hujan! Sampai hujan reda! Sampai hampir magrib! Tidak mungkin Danang ada di dekat gudang! Tidak mungkin!"
Warga mulai berbisik lebih keras. Suara-suara kecil yang seperti tawon, menyengat dari segala arah, menyengat tanpa pandang bulu, menyengat siapa pun yang berada di dekatnya.
"Memang keluarga itu aneh dari dulu."
"Iya, Sastrowiryo itu sering mabuk. Suka berutang ke mana-mana."
"Ayahnya punya masalah dengan Mandor Jalil. Saya dengar dia berutang banyak."
"Anak itu juga aneh, ya. Matanya terlalu dalam untuk anak seusianya. Suka diam-diam. Suka menyendiri."
"Jangan-jangan benar kata Suryaputra. Mungkin dendam lama. Keluarga itu kan pendatang. Siapa tahu mereka punya masa lalu gelap."
"Tapi tidak ada bukti."
"Bukti? Lihat saja kelakuan ayahnya. Suka mabuk. Suka berkelahi. Anaknya ya ikut-ikutan."
Danang berdiri di tengah kerumunan. Di tengah api yang masih membakar gudang di belakangnya. Di tengah asap yang masih mengepul di sekitarnya. Di tengah orang-orang yang mulai memandangnya dengan curiga.
Ia mendengar semuanya.
Kata-kata yang dulu diucapkan dengan nada ramah ketika mereka berpapasan di jalan, ketika mereka membeli sayur di pasar, ketika mereka duduk bersama di acara-acara desa, kini berubah menjadi senjata. Senjata yang tidak terlihat, tetapi tajam. Senjata yang tidak meninggalkan luka di kulit, tetapi melukai di dalam.
Ia mendengar orang-orang yang dulu ia kenal sebagai tetangga yang baik, yang tidak pernah menyakitinya, yang selalu tersenyum padanya setiap pagi, mulai memandangnya seperti orang asing. Seperti musuh. Seperti sesuatu yang harus dijauhi, yang harus dihindari, yang harus disingkirkan.
Matanya mulai basah.
Bukan karena asap.
Bukan karena api.
Bukan karena panas.
Tetapi karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.
Rasa tidak percaya.
Bahwa orang-orang yang selama ini ia anggap baik, yang selama ini ia anggap sebagai bagian dari desanya, yang selama ini ia anggap sebagai tetangga yang akan membantunya jika ia membutuhkan, ternyata bisa berubah begitu cepat. Hanya dengan satu tuduhan. Hanya dengan satu jari yang menunjuk. Hanya dengan satu kata dari orang kaya.
Ratih datang berlari dari antara kerumunan, menerobos orang-orang yang menghalangi jalannya, dengan wajah pucat dan mata merah. Ia langsung memeluk Danang erat-erat, melindunginya dari tatapan-tatapan curiga, dari bisikan-bisikan tajam, dari tuduhan-tuduhan yang belum terbukti.
Tubuh ibunya gemetar. Bukan karena kedinginan. Bukan karena ketakutan pada api. Tetapi karena ketakutan pada sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang lebih mengerikan, sesuatu yang bisa menghancurkan keluarganya tanpa ampun.
"Anak saya tidak mungkin, Pak Surya," kata Ratih, suaranya bergetar tetapi berusaha tegas. "Saya kenal anak saya. Saya kenal Danang. Dia anak baik. Dia tidak akan melakukan hal seperti itu. Tidak mungkin. Saya jamin."
Namun suara-suara itu terus terdengar. Semakin keras. Semakin yakin. Seolah kebakaran itu bukan hanya menghanguskan gudang beras, tetapi juga menghanguskan reputasi keluarga Danang. Menghanguskan kepercayaan yang selama ini dibangun tetangga, meskipun mungkin tidak pernah benar-benar kuat. Menghanguskan masa kecil Danang yang sudah rapuh, yang sudah retak, yang sudah hampir hancur berkeping-keping.
"Buktinya mana?" teriak seorang ibu-ibu dari kerumunan.
"Anak itu kan suka diam-diam. Siapa tahu dia pendendam."
"Lihat matanya. Matanya seperti orang yang menyimpan amarah."
"Keluarganya memang bermasalah dari dulu. Ibunya hamil di luar nikah. Ayahnya pemabuk."
"Jangan-jangan anak itu juga ikut-ikutan."
"Kasihan keluarga Surya. Rugi besar."
"Harusnya polisi dipanggil. Anak itu harus diinterogasi."
Danang mendengar semuanya.
Setiap kata.
Setiap bisikan.
Setiap desahan.
Setiap tatapan curiga.
Ia menggigit bibirnya hingga hampir berdarah, berusaha menahan tangis yang mulai menggenang di dadanya, berusaha menahan air mata yang mulai mendesak keluar dari matanya, berusaha tetap terlihat kuat meskipun hatinya hancur berkeping-keping.
Ia ingin berteriak.
Ia ingin berteriak bahwa ia tidak bersalah.
Ia ingin berteriak bahwa ia tidak pernah mendekati gudang itu.
Ia ingin berteriak bahwa ia hanya seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa tentang api dan dendam dan kebencian.
Tapi suaranya tidak keluar.
Hanya diam.
Diam yang berat.
Diam yang menyakitkan.
Diam yang seperti beban di dadanya, membuatnya sulit bernapas.
Dan di tengah api yang membakar gudang, di tengah asap yang mengepul, di tengah kerumunan yang semakin ramai, Danang berdiri diam, memeluk ibunya yang gemetar, dan berusaha memahami mengapa dunia orang dewasa begitu kejam pada anak-anak.
Sastrowiryo datang terlambat.
Ia baru saja pulang dari warung tempat ia biasa minum tuak ketika mendengar kabar kebakaran. Ia berlari sepanjang jalan, tanpa mempedulikan bahwa ia masih setengah mabuk, tanpa mempedulikan bahwa sepatunya terlepas di tengah jalan, tanpa mempedulikan bahwa bajunya basah oleh keringat dan air hujan yang masih tersisa di daun-daun.
Ketika ia sampai di lokasi, kerumunan sudah semakin besar. Api masih membakar gudang, meskipun tidak sebesar tadi. Beberapa petugas pemadam kebakaran dari kecamatan sudah datang, berusaha memadamkan api dengan selang-selang panjang yang terhubung ke mobil pemadam kebakaran yang tergores di jalanan desa yang sempit.
Ia melihat Ratih dan Danang di tengah kerumunan, berpelukan, dikelilingi oleh tatapan-tatapan curiga. Ia melihat Suryaputra yang masih berteriak-teriak. Ia melihat Surya yang masih menangis. Ia melihat warga yang berbisik-bisik.
Dan tanpa bertanya, tanpa perlu penjelasan, ia sudah tahu.
Ia sudah tahu bahwa anaknya dituduh.
Ia sudah tahu bahwa keluarganya kembali menjadi sasaran.
Ia sudah tahu bahwa masa lalunya, masa lalu Ratih, masa lalu keluarganya, telah datang menghantui mereka lagi.
Ia berjalan mendekat, menerobos kerumunan, berdiri di samping Ratih dan Danang. Wajahnya keras, rahangnya mengeras, matanya menyala. Ia menatap Suryaputra dengan tatapan yang tidak kalah menantang.
"Kau tuduh anakku, Putra?"
Suryaputra menatapnya dengan mata merah, antara marah dan sedih. "Anakmu mondar-mandir di dekat gudangku tadi sore, Sastro. Banyak yang melihat."
"Banyak? Siapa? Sebutkan!"
Suryaputra terdiam. Ia tidak bisa menyebutkan nama. Karena sebenarnya ia tidak melihat Danang. Ia hanya mendengar dari seseorang, entah dari siapa, atau mungkin ia hanya mencari kambing hitam, seseorang yang bisa ia salahkan atas musibah yang menimpanya.
"Tidak ada bukti, Putra," kata Sastrowiryo dingin. "Jadi jangan sembarangan menuduh anak orang."
"Keluarga kau memang bermasalah, Sastro! Dari dulu! Istri kau hamil di luar nikah! Kau pemabuk! Anak kau ya ikut-ikutan!"
Sastrowiryo melangkah maju. Tangannya mengepal. Otot-otot di rahangnya menegang. Matanya menyala seperti api, seperti api yang membakar gudang di belakang mereka.
"Kau hati-hati, Putra. Mulut kau bisa celakakan kau."
"Kau ancam aku? Di depan banyak orang?" Suryaputra tertawa sinis. "Lihat semua! Sastrowiryo mengancamku! Padahal anaknya yang membakar gudangku!"
"Aku tidak mengancam. Aku memperingatkan."
Beberapa warga mulai mencoba melerai. Mereka berdiri di antara Sastrowiryo dan Suryaputra, berusaha mencegah pertengkaran yang bisa berujung pada perkelahian.
"Sudah, sudah. Jangan ribut. Api masih besar. Lebih baik kita fokus memadamkan api."
"Ya, ya. Urusannya nanti. Sekarang padamkan api dulu."
"Jangan saling tuduh. Kita cari tahu dulu penyebabnya."
Sastrowiryo menarik napas panjang. Ia menatap Suryaputra sekali lagi, lalu berbalik. Ia menggandeng tangan Ratih dan Danang, membawa mereka keluar dari kerumunan.
"Ayo pulang. Tidak ada gunanya di sini."
Ratih mengangguk, masih gemetar. Danang berjalan di samping ibunya, menggenggam erat tangan ibunya yang dingin dan gemetar.
Saat mereka berjalan melewati kerumunan, bisikan-bisikan masih terdengar.
"Itu dia."
"Anaknya."
"Kasihan."
"Tapi jangan-jangan benar anak itu."
"Siapa tahu."
"Keluarganya aneh."
"Lebih baik jauhi mereka."
Danang menunduk. Ia tidak berani menatap siapa pun. Ia hanya berjalan, mengikuti langkah ibunya, berusaha menahan air mata yang terus mendesak keluar.
Di dalam hatinya, ada sesuatu yang pecah.
Sesuatu yang selama ini ia jaga dengan hati-hati.
Sesuatu yang membuatnya masih percaya bahwa dunia ini baik.
Sesuatu yang membuatnya masih mau tersenyum di pagi hari.
Kepercayaan.
Kepercayaan bahwa kebenaran akan selalu menang.
Kepercayaan bahwa jika ia tidak bersalah, ia tidak akan dihukum.
Kepercayaan bahwa dunia ini adil.
Malam itu, untuk pertama kalinya, ia belajar bahwa satu tuduhan bisa mengubah cara seluruh dunia memandang seseorang. Bahkan tanpa bukti. Bahkan tanpa saksi. Bahkan tanpa kebenaran.
Hanya dengan satu jari yang menunjuk, satu kata yang diucapkan, satu kebohongan yang diulang-ulang.
Dan ia belajar bahwa menjadi miskin, menjadi berbeda, menjadi orang yang tidak memiliki kekuasaan, adalah dosa yang tidak bisa diampuni di mata dunia.
Dari kejauhan, di bawah bayangan pohon beringin besar di ujung desa, Mandor Jalil berdiri.
Ia tidak ikut memadamkan api.
Ia tidak ikut berteriak.
Ia tidak ikut sibuk seperti warga lainnya.
Ia hanya berdiri, memperhatikan, dengan senyum tipis di bibirnya yang kering, bibir yang pecah-pecah karena terlalu banyak merokok dan minum tuak.
Tangannya memegang sesuatu.
Kain kecil.
Kain yang basah oleh minyak tanah.
Kain yang masih meneteskan cairan bening dengan bau menyengat.
Ia memperhatikan kerumunan. Memperhatikan Danang yang berdiri dengan wajah pucat di samping ibunya. Memperhatikan Suryaputra yang berteriak-teriak. Memperhatikan Sastrowiryo yang baru saja datang, berdiri di pinggir kerumunan dengan wajah yang semakin keras, semakin gelap, semakin penuh dengan sesuatu yang tidak bisa ia sembunyikan lagi.
Ia memperhatikan semua itu dengan senyum tipis di bibirnya.
Senyum yang mengatakan bahwa ia tahu sesuatu yang tidak diketahui orang lain.
Senyum yang mengatakan bahwa ia yang berada di balik semua ini.
Senyum yang mengatakan bahwa kebakaran ini hanyalah permulaan.
Tanpa satu kata pun.
Tanpa satu gerakan pun.
Ia berbalik, berjalan perlahan meninggalkan kerumunan, menghilang di balik kegelapan malam.
Seolah kebakaran malam itu hanyalah permulaan dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Sesuatu yang akan membakar lebih dari sekadar kayu dan beras.
Sesuatu yang akan membakar kehidupan.
Hubungan.
Masa depan.
Dan mungkin, cinta.
Malam itu, ketika Danang akhirnya berbaring di tikarnya setelah berjam-jam tidak bisa tidur, setelah mendengar ibunya menangis di dapur dan ayahnya diam membatu di ruang tengah, ia memandang langit-langit yang retak.
Lampu minyak di sampingnya hampir padam. Nyala apinya kecil, berkedip-kedip, seperti akan mati kapan saja.
Ia memegang sesuatu di sakunya.
Bunga kering.
Bunga kuning yang diberikan Kirana saat pertama kali mereka bertemu.
Bunga yang sudah layu, kering, rapuh, warnanya sudah pudar menjadi coklat kekuningan.
Tetapi ia masih menyimpannya.
Ia masih menyimpannya sebagai pengingat bahwa pernah ada seseorang yang memberinya sesuatu tanpa alasan.
Seseorang yang tidak meminta imbalan.
Seseorang yang hanya ingin membuatnya tersenyum.
Ia mencium bunga kering itu.
Baunya sudah tidak ada. Hanya bau kertas tua, bau waktu yang berlalu.
Tapi di dalam hatinya, bunga itu masih harum.
Kirana masih harum.
Dan meskipun seluruh desa menuduhnya, meskipun semua orang memandangnya dengan curiga, meskipun dunia terasa seperti sedang melawannya, ia masih punya Kirana.
Satu orang yang percaya padanya.
Satu orang yang tidak menarik diri ketika semua orang menjauh.
Satu orang yang tetap berdiri di sisinya.
Dan kadang, satu orang saja sudah cukup untuk membuat seseorang bertahan.
Satu orang yang bilang "aku percaya padamu" ketika seratus orang lain bilang "kau bersalah".
Satu orang yang tetap berdiri di sampingmu ketika semua kursi lain kosong.
Satu orang yang membuatmu ingat bahwa kau tidak sendirian, meski dunia terasa seperti sedang melawanmu.
Bagi Danang, Kirana adalah satu orang itu.
Dan ia tidak tahu, pada saat itu, bahwa satu orang itu kelak akan menjadi alasan mengapa ia terus hidup, dan juga alasan mengapa ia merasa mati berkali-kali.
Bab 9
Anak yang Mulai Dijauhi
Pagi setelah kebakaran, desa terasa berbeda.
Udara masih bau asap. Bau itu menyengat di hidung, membuat tenggorokan terasa perih setiap kali bernapas, membuat mata perih meskipun tidak menangis. Abu beterbangan di mana-mana, menempel di daun-daun pohon yang tadinya hijau segar, sekarang berwarna abu-abu kotor. Abu menempel di atap-atap rumah rumbia yang tadinya berwarna coklat keemasan, sekarang kehitaman. Abu menempel di pakaian yang dijemur di halaman, membuat ibu-ibu harus mencuci ulang pakaian mereka yang baru saja selesai dicuci kemarin.
Di tempat gudang beras milik keluarga Surya dulu berdiri, kini hanya tersisa tiang-tiang hangus dan puing-puing hitam yang masih mengeluarkan asap tipis. Dinding batu bata yang tadinya kokoh dan tebal, kini rubuh, berserakan di tanah seperti mainan balok yang dirobohkan anak kecil. Atap seng yang tadinya mengkilap, kini melengkung, menghitam, beberapa lembar masih menempel di kerangka yang tersisa, yang lain sudah jatuh ke tanah.
Beberapa warga masih berkumpul di sekitar lokasi, melihat-lihat sisa-sisa kebakaran, mengambil barang-barang yang masih bisa diselamatkan. Tapi tidak banyak yang bisa diselamatkan. Hampir semuanya hangus. Beras yang tadinya berton-ton, kini menjadi tumpukan hitam yang tidak berguna. Karung-karung goni yang tadinya berisi beras, kini menjadi abu yang terbawa angin.
"Rugi besar, ya," kata seorang bapak-bapak sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Berapa ya kerugiannya?"
"Katanya puluhan juta," jawab yang lain. "Stok untuk tiga bulan. Untuk lebaran. Sekarang habis semua."
"Kasihan keluarga Surya."
"Iya. Mudah-mudahan ada yang membantu."
"Tapi siapa ya yang melakukan?"
"Belum tahu. Polisi masih menyelidiki."
"Katanya semalam Suryaputra menuduh anak Sastrowiryo."
"Hush! Jangan bicara sembarangan. Belum tentu."
"Tapi banyak yang melihat anak itu mondar-mandir di dekat gudang."
"Banyak? Siapa? Saya tidak lihat."
"Itu kata Suryaputra."
"Hush, jangan ikut-ikutan menuduh. Kasihan anak itu."
Danang berjalan menuju sekolah dengan tas kain lusuh di bahu.
Tas itu pemberian ibunya saat ia naik kelas dua, terbuat dari kain perca yang dijahit tangan dengan susah payah. Warna-warnanya campur aduk, merah, kuning, biru, hijau, seperti pelangi yang jatuh ke tanah dan dijahit menjadi tas. Tali tasnya dari anyaman bambu yang sudah mulai rapuh, beberapa helai sudah putus, diikat ulang dengan tali rafia warna merah.
Biasanya, di pagi hari seperti ini, Danang akan berjalan bersama anak-anak lain yang tinggal di sekitar rumahnya. Mereka akan berangkat bersama, berjalan kaki melewati jalan setapak yang berdebu, melewati sawah yang hijau, melewati jembatan kayu yang berderit. Mereka akan berbagi cerita, tertawa, kadang bertengkar soal siapa yang lebih cepat lari atau siapa yang punya jajan paling enak.
Namun pagi itu, mereka justru menepi.
Bukan semua. Beberapa anak masih tersenyum padanya, tetapi senyum mereka canggung, seperti tidak yakin apakah boleh bersikap ramah, seperti sedang menunggu izin dari orang tua mereka, seperti sedang menghitung risiko jika mereka tetap berteman dengan Danang.
Beberapa anak lain menunduk ketika Danang lewat, seolah tidak melihatnya, padahal matanya menatap ke arah lain dengan sengaja. Mereka memandang ke arah sawah, ke arah langit, ke arah pohon-pohon, ke mana pun asal tidak bertemu dengan mata Danang.
Sebagian menatapnya dengan rasa takut yang tidak dimengerti Danang. Takut pada apa? Pada anak seusia mereka yang bahkan tidak pernah memukul siapa pun? Pada anak yang badannya kurus dan kecil dan tidak mungkin melukai siapa pun? Atau takut pada apa yang dikatakan orang dewasa tentang keluarganya, tentang tuduhan yang belum terbukti, tentang api yang tidak pernah ia nyalakan?
"Danang, kamu... kamu baik-baik saja?" tanya seorang anak laki-laki bernama Bondan, yang duduk sebangku dengan Danang. Suaranya ragu-ragu, matanya tidak berani menatap lurus.
"Baik," jawab Danang singkat. Ia tidak ingin bicara banyak. Ia tidak ingin menjelaskan. Ia tidak ingin membela diri. Ia lelah.
"Kamu... kamu nggak bakar gudang, kan?" Bondan menunduk setelah mengucapkan kata-kata itu, seperti takut dengan pertanyaannya sendiri.
Danang berhenti berjalan.
Ia menatap Bondan.
Bondan adalah anak yang baik. Bondan tidak pernah mengejeknya. Bondan tidak pernah menjauhinya. Bondan sering meminjamkan pensil ketika pensil Danang habis. Bondan sering berbagi jajan ketika Danang tidak punya uang saku.
Tapi pagi itu, Bondan bertanya dengan nada yang sama seperti orang dewasa. Nada yang mengatakan bahwa ia sudah mendengar sesuatu, bahwa ia sudah terpengaruh oleh bisikan-bisikan, bahwa ia mulai meragukan Danang.
"Tidak," jawab Danang. Suaranya tegas. Matanya menatap lurus ke mata Bondan. "Aku tidak membakar apa pun."
Bondan mengangguk cepat-cepat. "Baik, baik. Aku percaya. Aku hanya... hanya tanya."
Tapi Danang bisa melihat di mata Bondan bahwa ia tidak sepenuhnya percaya.
Bahwa ada keraguan di sana.
Keraguan kecil yang akan tumbuh menjadi jarak.
Jarak yang tidak bisa didekati lagi.
Di depan sumur umum, dua ibu-ibu berhenti menimba saat melihat Danang lewat.
Mereka tadinya sedang berbicara dengan suara normal, suara yang biasa mereka gunakan ketika bertukar kabar tentang anak-anak atau tentang harga cabai yang naik. Tapi ketika Danang mendekat, suara mereka berubah menjadi bisikan. Bukan bisikan biasa, tetapi bisikan yang sengaja dibuat pelan agar tidak terdengar, tetapi justru karena pelannya, kata-kata itu terdengar lebih jelas di telinga Danang.
"Itu anaknya, Bu."
"Iya, saya lihat."
"Kasihan ya ibunya."
"Iya. Ratih itu orangnya baik. Tapi anaknya..."
"Jangan-jangan benar anak itu yang membakar."
"Belum tentu. Tapi keluarganya memang bermasalah dari dulu."
"Ibunya hamil di luar nikah. Ayahnya pemabuk."
"Anaknya ikut-ikutan."
"Hush, jangan keras-keras. Nanti dia dengar."
"Biarlah. Itu fakta."
Danang mendengar semuanya.
Meski mereka berbisik, kata-kata orang dewasa selalu terdengar lebih tajam daripada yang mereka kira. Mungkin karena orang dewasa lupa bahwa anak-anak memiliki pendengaran yang lebih baik daripada yang mereka duga. Atau mungkin karena mereka tidak peduli. Atau mungkin karena mereka sengaja ingin didengar, sebagai bentuk hukuman sosial, sebagai bentuk penghakiman tanpa pengadilan.
Ia menunduk dan terus berjalan.
Langkahnya terasa berat, seperti kakinya terbenam di lumpur yang dalam, seperti ada beban yang menggantung di setiap langkahnya. Tas kainnya yang lusuh terasa lebih berat dari biasanya, meski hanya berisi dua buku tulis dan satu kotak pensil kayu yang sudah pendek-pendek.
Ia ingin berteriak.
Ia ingin berteriak pada mereka bahwa ia tidak bersalah.
Ia ingin berteriak bahwa ia hanya seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa tentang api dan dendam.
Ia ingin berteriak bahwa ia lelah menjadi sasaran tuduhan hanya karena keluarganya miskin, karena ayahnya pemabuk, karena ibunya hamil di luar nikah.
Tapi suaranya tidak keluar.
Hanya diam.
Diam yang berat.
Diam yang menyakitkan.
Diam yang seperti batu di dadanya.
Di halaman sekolah, suasana berbeda.
Biasanya, sebelum bel masuk berbunyi, halaman sekolah dipenuhi oleh anak-anak yang bermain kejar-kejaran, yang bermain kelereng, yang bermain lompat tali, yang membeli jajanan di kantin. Suara tawa dan teriakan memenuhi udara, menciptakan suasana riang yang menjadi ciri khas masa kanak-kanak.
Tapi pagi itu, ketika Danang masuk ke halaman sekolah, suasana berubah.
Anak-anak yang tadinya tertawa-tawa, tiba-tiba diam.
Mereka menatap Danang.
Bukan tatapan biasa. Tatapan yang penuh dengan rasa ingin tahu, dengan kecurigaan, dengan ketakutan yang tidak beralasan.
Beberapa anak berbisik-bisik, menutup mulut dengan tangan, menunjuk ke arah Danang dengan gerakan yang tidak terlalu sembunyi.
"Itu dia."
"Yang dituduh membakar gudang?"
"Iya. Itu Danang."
"Tapi katanya tidak bersalah."
"Kata siapa? Ayah Surya bilang dia lihat Danang di dekat gudang."
"Itu belum tentu benar."
"Tapi Surya juga bilang dia lihat."
"Surya kan musuhnya Danang. Mungkin dia bohong."
"Tapi kenapa Surya bohong?"
"Karena Surya tidak suka Danang."
"Tapi gudang ayah Surya terbakar. Surya pasti sedih."
"Jadi Danang benar yang bakar?"
"Aku tidak tahu. Tapi lebih baik jauhi dia dulu."
Danang berjalan melewati mereka.
Ia tidak menoleh.
Ia tidak berhenti.
Ia hanya berjalan ke arah kelasnya, dengan kepala tertunduk, dengan tas di bahu, dengan langkah yang terasa berat.
Bima, satu-satunya teman laki-laki Danang selain Kirana, berlari kecil mendekat. Badannya tambun, tidak seperti Danang yang kurus. Rambutnya keriting dan tidak pernah rapi, seperti sarang burung. Wajahnya bulat, pipinya tembem, matanya sipit. Tawanya selalu keras meski tidak ada yang lucu, dan ia selalu menjadi penghibur di kelas dengan kelakuannya yang konyol.
"Danang! Danang, tunggu!"
Danang berhenti. Ia menoleh. Matanya lelah. Lingkaran hitam di bawah matanya terlihat jelas, karena semalam ia tidak tidur, hanya berbaring di tikar, memandang langit-langit, mendengar ibunya menangis di dapur.
"Apa, Bima?"
Bima berdiri di hadapannya, terengah-engah karena berlari. Napasnya tersengal-sengal, dadanya naik turun. "Aku... aku dengar... apa yang terjadi tadi malam."
Danang tidak menjawab. Ia hanya menatap Bima, menunggu.
Bima menggigit bibir bawahnya, kebiasaannya ketika gugup atau tidak enak hati. Matanya bergerak ke sana ke mari, tidak berani menatap lurus ke Danang. Tangannya memegang ujung bajunya, memilin-milin kain itu dengan gelisah.
"Aku... aku tahu bukan kau, Danang. Aku tahu kau tidak mungkin melakukan itu. Aku kenal kau."
"Terima kasih, Bima."
"Tapi... tapi Surya bilang ayahnya lihat kau di dekat gudang sebelum api menyala. Surya bilang ayahnya lihat dengan mata kepala sendiri."
Danang menatap lurus ke depan. Di kejauhan, di seberang halaman, di dekat pohon trembesi, Surya sedang berdiri di depan kelasnya. Ia dikelilingi oleh beberapa anak yang mendengarkan dengan saksama, mulut mereka terbuka, mata mereka membulat. Surya berbicara dengan penuh semangat, tangannya bergerak-gerak, matanya berbinar-binar. Ia sedang bercerita. Tentang apa? Tentang kebakaran? Tentang tuduhan? Tentang Danang?
"Aku memang lewat sana, Bima. Pulang sekolah kemarin, aku lewat jalan belakang. Lewat depan gudang. Aku lewat, tidak berhenti, tidak masuk, tidak melakukan apa-apa."
Bima terdiam.
Ia ingin percaya pada Danang. Ia benar-benar ingin. Danang adalah temannya. Danang tidak pernah berbohong padanya. Danang selalu membantunya ketika ia kesusahan dengan pelajaran matematika. Danang tidak pernah menyakitinya.
Tapi kata-kata orang dewasa terasa lebih berat daripada kata-kata anak-anak.
Orang dewasa tidak mungkin salah, pikir Bima. Orang dewasa pasti punya alasan. Orang dewasa tidak akan menuduh tanpa bukti. Mungkin Danang memang lewat. Mungkin Danang memang tidak sengaja. Atau mungkin... mungkin Danang berbohong?
Danang membaca keraguan di mata Bima.
Ia tidak marah.
Ia hanya lelah.
Lelah karena harus membela diri di depan temannya sendiri.
Lelah karena harus meyakinkan orang bahwa ia tidak bersalah.
Lelah karena tuduhan yang tidak berdasar bisa merusak segalanya.
"Kau percaya padaku, Bima?" tanya Danang. Suaranya pelan, hampir seperti bisikan.
Bima mengangguk cepat-cepat. Terlalu cepat. "Ya, ya. Aku percaya."
Tapi Danang tahu.
Bima tidak sepenuhnya percaya.
Dan mulai hari itu, jarak antara mereka mulai terbentuk.
Jarak yang tidak terlihat, tetapi terasa.
Jarak yang tidak bisa didekati dengan kata-kata.
Jarak yang hanya bisa diisi oleh waktu, atau mungkin tidak pernah.
Saat jam istirahat, Danang duduk sendiri di bawah pohon trembesi.
Pohon yang sama. Tempat yang sama. Tempat di mana ia dan Kirana sering duduk berjam-jam, bercerita, tertawa, bertengkar, berdamai.
Tapi sore itu, tempat itu terasa sepi.
Sepi tanpa Kirana. Kirana sedang membantu guru membereskan buku di perpustakaan. Kirana memang sering disuruh guru karena ia rajin dan pintar.
Sepi tanpa teman-teman lain yang biasanya duduk di dekatnya.
Semua orang menjauh.
Bahkan Bondan, yang tadinya masih mau bertanya kabar, sekarang duduk jauh di seberang halaman, bersama anak-anak lain.
Bahkan Bima, yang tadinya berlari menemuinya, sekarang duduk di dalam kelas, memandang ke luar jendela, sesekali melirik ke arah Danang tetapi segera memalingkan muka ketika Danang menoleh.
Danang duduk bersandar di batang pohon trembesi yang besar, merasakan kasar kulit kayu di punggungnya. Angin sore berhembus pelan, menerbangkan daun-daun kecil pohon trembesi yang berjatuhan seperti hujan hijau. Daun-daun itu jatuh di rambutnya, di bahunya, di pangkuannya.
Ia tidak menggambar.
Ia tidak melakukan apa-apa.
Ia hanya duduk.
Memandang kosong ke depan.
Merasakan kesepian yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Ia pernah merasa sendiri di rumahnya, di antara dinding-dinding kayu yang dingin dan keheningan yang pekat.
Ia pernah merasa sendiri di desanya, di antara bisikan-bisikan tetangga yang tidak pernah berhenti.
Tapi tidak pernah seperti ini.
Tidak pernah sendirian di tengah keramaian.
Tidak pernah dikucilkan oleh teman-teman sebaya.
Tidak pernah dijauhi oleh orang-orang yang kemarin masih tersenyum padanya.
Ini adalah jenis kesepian yang baru.
Kesepian yang lebih buruk dari kesepian di rumah.
Kesepian yang membuat ia bertanya-tanya, apa salahnya?
Kesepian yang membuat ia ingin berteriak, "Aku tidak melakukan apa-apa!"
Tapi tidak ada yang mendengar.
Atau mereka mendengar, tetapi tidak peduli.
Kirana datang ketika bel masuk hampir berbunyi.
Ia berlari dari perpustakaan ke halaman sekolah, melewati lapangan yang panas, melewati kantin yang mulai sepi, melewati anak-anak yang mulai berbaris masuk kelas.
Ia duduk di samping Danang, tanpa bertanya, tanpa izin. Napasnya masih tersengal-sengal karena berlari. Wajahnya merah karena kepanasan. Keringat mengalir di pelipisnya, menetes di pipinya.
"Maaf, Danang. Aku disuruh Bu Guru merapikan buku. Banyak banget bukunya. Aku nggak bisa kabur."
Danang tersenyum kecil. Senyum yang tidak sampai ke matanya. "Tidak apa, Kirana."
Kirana menatapnya. Matanya yang ceria, yang biasanya berbinar-binar, kini serius. Ia bisa melihat bahwa Danang tidak baik-baik saja. Bahwa ada beban di pundak Danang yang tidak terlihat tetapi terasa. Bahwa ada kesedihan di mata Danang yang tidak bisa ia sembunyikan.
"Danang," panggilnya pelan.
"Hmm?"
"Jangan dengarkan mereka. Mereka hanya ikut-ikutan. Mereka tidak tahu apa-apa."
"Aku tahu."
"Mereka hanya takut. Orang-orang suka takut pada hal yang tidak mereka mengerti."
"Aku tahu."
"Tapi aku di sini, Danang. Aku tidak akan pergi."
Danang menatap Kirana. Matanya berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya hari itu, setelah berjam-jam menahan tangis, setelah berjam-jam berusaha terlihat kuat, setelah berjam-jam berpura-pura bahwa kata-kata dan tatapan curiga tidak menyakitinya, air matanya hampir jatuh.
"Makasih, Kirana."
Kirana tersenyum. Senyum yang hangat, yang membuat Danang merasa bahwa ia tidak sendirian. Senyum yang menjadi rumah baginya di tengah badai yang sedang menghantam hidupnya.
"Tugas teman, Danang. Itu tugas teman."
Bel masuk berbunyi. Suara lonceng tua yang menggantung di depan kantor guru, dipukul dengan pentungan kayu oleh penjaga sekolah yang sudah tua. Suaranya nyaring, menggema di seluruh area sekolah, memanggil anak-anak untuk masuk kelas.
"Ayo, Danang. Kita masuk. Jangan biarkan mereka melihat kau lemah."
Danang mengangguk. Ia berdiri, merapikan seragamnya yang kusut, mengambil tasnya yang tergeletak di tanah.
Mereka berjalan bersama menuju kelas. Bersebelahan. Bahu hampir bersentuhan.
Danang tidak menoleh ke kiri atau ke kanan. Ia tidak melihat anak-anak lain yang masih menatapnya dengan curiga. Ia tidak mendengar bisikan-bisikan yang masih terdengar pelan. Ia hanya fokus pada langkahnya, pada Kirana di sampingnya, pada satu-satunya orang yang masih percaya padanya.
Di dalam kelas, Surya sudah duduk di bangkunya. Di baris depan, di dekat jendela, di tempat yang paling strategis. Ketika Danang masuk, Surya menatapnya dengan senyum sinis. Senyum yang mengatakan bahwa ia menang, bahwa ia berhasil, bahwa Danang akan menderita.
Danang tidak membalas tatapan itu.
Ia hanya berjalan ke bangkunya di baris paling belakang, duduk, membuka buku, dan berusaha fokus pada pelajaran yang akan dimulai.
Tapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang berubah.
Sesuatu yang mengeras.
Sesuatu yang menjadi dingin.
Sesuatu yang membuat ia tidak lagi percaya pada kebaikan manusia.
Ia belajar bahwa kebenaran tidak selalu cukup kuat melawan ketakutan banyak orang.
Kebenaran bisa sekokoh apa pun, tetapi jika seratus orang mengatakan sebaliknya, kebenaran itu akan terlihat seperti kebohongan.
Jika seribu orang menuduh, yang bersalah pun akan terlihat seperti tidak bersalah.
Dan di usia yang masih sangat muda, di usia di mana anak-anak seharusnya belajar tentang matematika dan membaca dan menulis, Danang belajar pelajaran yang paling pahit tentang dunia.
Dunia tidak peduli pada kebenaran.
Dunia peduli pada apa yang paling mudah dipercaya.
Dunia peduli pada siapa yang paling keras berteriak.
Dunia peduli pada siapa yang paling kaya, paling berkuasa, paling berpengaruh.
Dan ia, Danang, anak miskin dari keluarga bermasalah, tidak punya semua itu.
Yang ia punya hanyalah kebenaran.
Dan ternyata, kebenaran tidak cukup.
Sepulang sekolah, Danang tidak langsung pulang.
Ia pergi ke sungai.
Ke pohon waru.
Ke tempat di mana ia merasa aman.
Ke tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus menjelaskan apa pun.
Kirana ikut dengannya. Mereka berjalan bersebelahan, tidak bicara, hanya berjalan. Melewati sawah yang hijau, melewati jembatan kayu yang berderit, melewati kebun singkong yang daunnya lebat.
Sesampainya di sungai, Danang duduk di akar pohon waru. Akar yang sama. Tempat yang sama. Pemandangan yang sama.
Tapi semuanya terasa berbeda.
Sungai masih mengalir seperti biasa.
Air masih tenang seperti biasa.
Pohon waru masih rindang seperti biasa.
Tapi Danang merasa berbeda.
Ia merasa lebih tua.
Lebih dewasa.
Lebih lelah.
Ia memandang sungai yang mengalir perlahan di depannya. Air yang keruh, coklat kehitaman, dengan daun-daun kering yang mengapung di permukaan. Ikan-ikan kecil kadang melompat, menciptakan riak-riak kecil yang segera hilang.
"Kirana," panggilnya.
"Ya?"
"Apa kau tidak takut?"
"Takut apa?"
"Takut berteman denganku. Semua orang menjauh. Semua orang menganggapku pembakar. Kalau kau tetap berteman denganku, mereka mungkin akan menjauhi kau juga."
Kirana tidak menjawab segera.
Ia duduk di samping Danang. Bahu mereka bersentuhan. Angin sore berhembus, menerbangkan rambut Kirana yang panjang, beberapa helai mengenai pipi Danang.
"Aku tidak takut, Danang," kata Kirana akhirnya. Suaranya tegas, tidak ada keraguan. "Karena aku tahu kau tidak bersalah. Dan aku tidak butuh orang-orang yang tidak mau mendengar kebenaran."
"Tapi kau bisa ketinggalan pelajaran. Kau bisa kehilangan teman-teman lain."
Kirana tersenyum. "Teman-teman yang mau pergi hanya karena desas-desus, mereka bukan teman sejati, Danang. Aku lebih baik punya satu teman sejati daripada seratus teman palsu."
Danang menatap Kirana.
Matanya berkaca-kaca.
Ia tidak bisa berkata apa-apa.
Karena tidak ada kata-kata yang cukup untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan saat itu.
Rasa syukur.
Rasa haru.
Rasa tidak percaya bahwa masih ada orang yang mau bertahan padanya.
Kirana meraih tangan Danang. Tangannya kecil dan hangat. Genggamannya lembut tetapi kuat. "Kita akan melewati ini bersama, Danang. Aku janji."
Danang mengangguk.
Ia menggenggam balik tangan Kirana.
Tidak erat.
Tidak longgar.
Cukup.
Cukup untuk membuat ia merasa bahwa ia tidak sendirian.
Cukup untuk membuat ia merasa bahwa masih ada harapan.
Cukup untuk membuat ia tersenyum di tengah badai yang sedang menghantam hidupnya.
Malam itu, Danang berbaring di tikarnya, memandang langit-langit yang retak, mendengar suara ayahnya yang mendengkur di kamar sebelah dan suara ibunya yang masih bergerak di dapur.
Ia memegang sesuatu di sakunya.
Bunga kering.
Bunga kuning pemberian Kirana.
Bunga yang sudah hampir hancur, yang kelopaknya sudah rontok tinggal dua, yang batangnya sudah patah.
Tapi ia masih menyimpannya.
Ia masih menyimpannya sebagai pengingat.
Pengingat bahwa ada seseorang yang percaya padanya.
Pengingat bahwa ia tidak sendirian.
Pengingat bahwa di tengah dunia yang kejam, masih ada kebaikan.
Ia mencium bunga itu.
Baunya sudah tidak ada.
Tapi di dalam hatinya, bunga itu masih harum.
Kirana masih harum.
"Ibu," panggilnya pelan.
Ratih yang sedang membereskan dapur, mendengar panggilan itu. Ia berjalan ke kamar Danang, duduk di tepi tikar. Wajahnya lelah, matanya sayu, rambutnya kusut. Tapi ia tersenyum melihat Danang.
"Apa, Nang?"
"Mak, besok aku mau ke sungai lagi sama Kirana."
Ratih mengangguk. "Baik, Nang. Tapi hati-hati. Jangan ke sungai kalau hujan. Airnya bisa naik."
"Iya, Mak."
Ratih menatap anaknya. Ia bisa melihat bahwa Danang sedang memikirkan sesuatu. Bahwa ada beban di pundak anaknya yang terlalu berat untuk anak seusianya.
"Nang," panggilnya.
"Ya, Mak?"
"Mak tahu kau tidak bersalah. Mak tahu kau tidak mungkin melakukan itu. Jangan dengarkan kata-kata orang. Mereka hanya ikut-ikutan. Mereka tidak tahu apa-apa."
Danang mengangguk. Matanya basah. "Aku tahu, Mak."
"Mak bangga punya anak sebaik kau, Nang."
Danang tersenyum. Senyum yang tulus, yang jarang muncul, yang hanya muncul ketika ia merasa aman.
"Mak, aku sayang Mak."
Ratih menangis.
Ia memeluk Danang.
Pelukan yang hangat.
Pelukan yang membuat Danang merasa bahwa rumahnya mungkin dingin, mungkin penuh rahasia, mungkin tidak sempurna, tetapi masih ada cinta di sana.
Cinta dari ibunya.
Cinta yang tidak akan pernah pergi.
Cinta yang akan selalu ada, tidak peduli apa yang terjadi.
"Mak juga sayang Danang," bisik Ratih di sela-sela isaknya. "Mak sayang Danang lebih dari apa pun di dunia ini."
Malam itu, Danang tidur dengan damai.
Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, ia tidak bermimpi buruk.
Ia bermimpi tentang sungai.
Tentang pohon waru.
Tentang seorang anak perempuan dengan bunga di tangan.
Tentang Kirana.
Bab 10
Kirana Berdiri di Tengah Kerumunan
Saat jam istirahat tiba, Surya dengan sengaja berdiri di tengah halaman sekolah.
Ia berdiri di atas sebuah bangku kayu yang biasa digunakan guru untuk memonitor anak-anak saat istirahat, bangku yang terbuat dari papan kayu jati tebal dengan kaki-kaki besi yang kokoh. Dari ketinggian itu, ia bisa melihat seluruh halaman sekolah, dari kantin di ujung timur sampai pohon trembesi di ujung barat, dari lapangan voli yang berdebu sampai taman kecil yang ditumbuhi rumput liar.
Dari ketinggian itu, suaranya terdengar lebih keras, lebih berwibawa, lebih berkuasa. Seperti seorang jenderal yang sedang berpidato di depan pasukannya. Seperti seorang raja yang sedang menghakimi rakyatnya. Seperti seorang hakim yang sedang menjatuhkan vonis tanpa pengadilan.
Ia menatap Danang yang duduk sendiri di bawah pohon trembesi. Danang tidak makan. Ia hanya duduk, memegang buku gambar, tetapi tidak menggambar apa-apa. Matanya kosong, menatap ke arah lapangan tetapi tidak melihat apa pun. Pikirannya jauh, mungkin di rumah, mungkin di sungai, mungkin bersama Kirana yang sedang membeli jajanan di kantin.
"Anak-anak!" teriak Surya, suaranya lantang, menggema di halaman sekolah yang sunyi. Semua anak yang sedang bermain, yang sedang makan, yang sedang berbicara, berhenti melakukan apa pun. Mereka menoleh ke arah Surya, penasaran, ingin tahu apa yang akan dikatakan anak saudagar kaya itu. "Dengar! Aku punya pengumuman penting!"
Anak-anak mulai berkerumun di sekitar bangku tempat Surya berdiri. Ada yang penasaran, ada yang takut, ada yang hanya ikut-ikutan karena tidak mau ketinggalan informasi. Beberapa anak perempuan berbisik-bisik, menebak-nebak apa yang akan Surya katakan. Beberapa anak laki-laki mendorong-dorong untuk mendapatkan posisi terdepan.
Surya menghela napas, menarik udara sebanyak-banyaknya, seperti seorang aktor yang akan memulai monolog penting di atas panggung. Dadanya mengembang, bahunya tegak, dagunya terangkat.
"Jangan dekat-dekat Danang!" katanya keras. Suaranya menggema di halaman sekolah yang sunyi, memantul dari dinding-dinding kelas, terdengar sampai ke kantor guru di lantai dua. "Dia anak pembakar gudang! Ayahku bilang dia yang membakar gudang beras kami! Jangan dekat-dekat dia, nanti rumah kalian ikut terbakar!"
Beberapa anak tertawa gugup. Tawa yang tidak tulus, tawa karena tidak tahu harus bereaksi apa, tawa yang seperti permen pahit di mulut. Beberapa anak lain hanya diam, menunduk, berpura-pura tidak mendengar, berusaha menghilang di antara kerumunan. Beberapa anak lain menatap Danang dengan campuran rasa ingin tahu dan ketakutan, seperti sedang melihat binatang buas yang baru saja lepas dari kurungan.
"Lihat mukanya!" lanjut Surya, menunjuk ke arah Danang dengan jari telunjuknya yang gemuk. "Dia tidak pernah bicara! Dia suka diam-diam! Siapa tahu dia sedang merencanakan sesuatu! Siapa tahu dia sedang menyusun rencana jahat! Ayahku bilang, orang yang suka diam itu berbahaya! Karena kita tidak pernah tahu apa yang ada di dalam pikirannya!"
"Tapi Surya, tidak ada bukti," kata seorang anak laki-laki dari kerumunan, suaranya ragu-ragu, hampir seperti bisikan. Itu adalah Bondan, anak yang duduk sebangku dengan Danang, yang tadi pagi masih bertanya kabar. Wajahnya pucat, matanya tidak berani menatap Surya.
Surya menatap Bondan dengan tajam. Matanya menyipit, bibirnya mengerucut. "Bukti? Ayahku melihatnya! Itu bukti! Kau pikir ayahku berbohong?"
Bondan langsung menunduk, tidak berani menjawab. Ia mundur selangkah, dua langkah, menghilang di balik kerumunan.
"Kalian semua harus hati-hati!" Surya terus berteriak, semakin bersemangat, semakin percaya diri. Ia melihat bahwa kata-katanya didengar, bahwa anak-anak mulai takut, bahwa ia berhasil menciptakan atmosfer yang ia inginkan. "Keluarga Danang itu keluarga bermasalah! Ibunya hamil di luar nikah! Ayahnya pemabuk! Danang anak haram! Tidak punya ayah kandung! Siapa tahu dia ikut-ikutan kelakuan orang tuanya!"
Kata "anak haram" terdengar jelas di telinga semua orang.
Kata itu berat.
Kata itu menyakitkan.
Kata itu seperti batu yang dilempar ke kaca jendela, memecahkan sesuatu yang rapuh.
Danang menunduk.
Bukan karena takut pada Surya.
Bukan karena takut pada ancamannya.
Bukan karena takut pada kata-kata kasar yang keluar dari mulut anak saudagar kaya itu.
Tetapi karena lelah.
Lelah menjadi pusat perhatian.
Lelah menjadi topik pembicaraan.
Lelah menjadi bahan tertawaan.
Lelah menjadi tersangka tanpa melakukan kejahatan apa pun.
Lelah hidup di dunia di mana kebenaran tidak cukup untuk membela diri.
Ia tidak ingin menangis. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan menangis di depan orang-orang ini. Ia tidak akan memberi mereka kepuasan melihat air matanya. Ia tidak akan membiarkan mereka melihat bahwa kata-kata mereka menyakitinya.
Tapi matanya terasa panas.
Tenggorokannya terasa sesak.
Dadanya terasa seperti ditekan batu besar.
Ia menggigit bibirnya, menggigitnya keras-keras sampai ia merasakan rasa logam di lidahnya, rasa darah. Ia menggigitnya agar rasa sakit di bibir mengalihkan perhatiannya dari rasa sakit di hati.
Tangan kecilnya yang kurus mengepal di pangkuannya, kuku-kukunya menusuk telapak tangannya, meninggalkan bekas setengah bulan yang akan ia lihat nanti malam ketika ia sendirian di kamar.
"Lihat! Dia diam! Tidak bisa membela diri!" Surya tertawa. Tawanya keras, sinis, penuh kemenangan. "Itu artinya dia mengaku! Dia tahu dia bersalah! Itu artinya benar semua yang kukatakan!"
Anak-anak mulai berbisik lebih keras.
"Jadi benar?"
"Kasihan ya."
"Tapi tidak ada bukti."
"Katanya ayah Surya melihat."
"Ayah Surya kan orang kaya. Masa berbohong?"
"Tapi Danang teman kita."
"Dulu. Sekarang? Siapa mau berteman dengan anak haram?"
"Hush, jangan keras-keras. Nanti dia dengar."
"Biarlah. Itu fakta."
Danang mendengar semuanya.
Setiap kata.
Setiap bisikan.
Setiap desahan.
Setiap tatapan curiga.
Ia ingin lari. Lari sejauh-jauhnya. Lari ke sungai. Lari ke pohon waru. Lari ke tempat di mana tidak ada yang mengenalnya. Lari ke tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus menjelaskan apa pun.
Tapi kakinya terasa berat. Terpaku di tanah. Tidak bisa bergerak. Seolah ada akar yang tumbuh dari telapak kakinya, mencengkeram tanah, menahannya di tempat yang paling menyakitkan.
Tiba-tiba, suara lain terdengar.
Suara yang tidak asing bagi telinga Danang.
Suara yang selalu membuatnya merasa aman.
Suara yang selalu menjadi rumah baginya di tengah badai.
"Yang terbakar itu gudang, Surya! Bukan hati kalian!"
Semua menoleh.
Kirana berdiri di belakang Surya, tepat di belakang bangku kayu tempat Surya berdiri. Wajahnya merah padam, bukan karena malu, tetapi karena marah. Marah yang membara, marah yang tidak bisa lagi ia pendam, marah yang keluar seperti api dari gunung berapi yang meletus.
Pipinya yang biasanya putih bersih, kini merah seperti cabai. Matanya yang biasanya ceria dan berbinar-binar, kini menyala seperti bara api. Bibir bawahnya yang biasanya tersenyum ramah, kini gemetar karena menahan amarah yang sangat besar. Tangannya mengepal di sisi tubuh, memegang erat buku tulis yang dibawanya, buku yang hampir robek karena genggamannya yang terlalu kuat.
"Kau tidak punya hak, Surya!" lanjut Kirana, suaranya keras, tegas, tidak gentar. Ia berjalan mendekati Surya, berdiri tepat di depannya, meskipun Surya masih di atas bangku dan ia di bawah. Dari posisinya yang lebih rendah, ia tetap terlihat lebih tinggi, lebih besar, lebih berani. "Kau tidak punya hak untuk menghakimi Danang! Kau tidak punya hak untuk menyebarkan kebohongan! Kau tidak punya hak untuk menyebutnya anak haram!"
Surya mendengus. Ia tidak terbiasa dilawan, apalagi oleh seorang perempuan. Wajahnya yang tadinya penuh kemenangan, kini berubah sedikit, ada keraguan di matanya, tetapi ia berusaha menutupinya dengan senyum sinis yang sudah menjadi senjata utamanya.
"Kenapa, Kirana? Kau mau bela dia terus?" suara Surya masih terdengar percaya diri, tetapi tidak sekuat tadi. Ada sedikit getaran di ujung kata-katanya, getaran yang menunjukkan bahwa ia mulai tidak nyaman.
"Karena aku tahu dia tidak seperti yang kau bilang, Surya!" Kirana menatap tajam. Tatapan yang tidak lazim untuk anak perempuan seusianya. Tatapan yang membuat Surya, yang biasanya percaya diri, yang biasanya tidak pernah takut pada siapa pun, merasa sedikit tidak nyaman. Tatapan yang mengatakan bahwa ia tidak akan mundur, bahwa ia tidak akan menyerah, bahwa ia akan membela Danang sampai titik darah penghabisan.
Surya tersenyum sinis. Senyum yang ia pelajari dari ayahnya, senyum yang digunakan untuk merendahkan orang lain tanpa harus mengucapkan kata-kata kasar. Senyum yang mengatakan "kau tidak berharga" tanpa harus mengucapkannya. Senyum yang membuat orang yang menerimanya merasa kecil, merasa tidak berarti, merasa bahwa mereka tidak pantas.
"Karena kau suka dia, ya, Kirana?"
Halaman mendadak sunyi.
Seketika.
Seperti seseorang menekan tombol pause di dunia.
Seperti waktu berhenti berdetak.
Seperti alam semesta berhenti bernapas.
Tidak ada suara. Tidak ada bisikan. Tidak ada tawa. Bahkan angin seolah berhenti berhembus. Daun-daun pohon trembesi yang tadinya bergerak-gerak, kini diam. Burung-burung yang tadinya berkicau, kini terdiam. Jangkrik-jangkrik yang tadinya bersahutan, kini sunyi.
Semua mata tertuju pada Kirana.
Ratusan mata.
Mata anak-anak yang penasaran.
Mata anak-anak yang ingin tahu apakah Kirana akan mengaku atau membantah.
Mata anak-anak yang sudah mulai bisa menebak-nebak, sudah mulai bisa membaca situasi, sudah mulai bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar pertengkaran biasa.
Kirana membeku sesaat.
Wajahnya yang tadinya merah karena marah, kini semakin memerah, tetapi dengan warna yang berbeda. Bukan merah karena marah. Merah karena malu. Merah karena rahasia yang terbongkar. Merah karena perasaan yang selama ini ia pendam, yang bahkan mungkin ia sendiri tidak menyadarinya, tiba-tiba diucapkan oleh orang lain di depan umum.
Mulutnya terbuka, hendak menjawab, tetapi tidak ada suara yang keluar. Lidahnya terasa kaku, seperti membatu. Pikirannya kosong, tidak bisa merangkai kata-kata. Jantungnya berdebar kencang, begitu kencang hingga ia bisa mendengar detaknya di telinganya.
Tetapi matanya tetap berani.
Matanya tidak menunduk.
Matanya tetap menatap Surya dengan tegas.
Matanya tidak mengalihkan pandangan meskipun hatinya berdebar kencang dan pipinya memerah dan tangannya gemetar.
"Aku lebih suka berteman dengan orang jujur, Surya!" kata Kirana akhirnya, suaranya masih tegas meskipun sedikit bergetar. "Aku lebih suka berteman dengan Danang yang jujur daripada dengan orang kaya yang pengecut seperti kau!"
Anak-anak terdiam.
Kata-kata itu terlalu dewasa untuk diucapkan anak seusia mereka.
"Pengecut."
Kata yang berat.
Kata yang tajam.
Kata yang tidak pernah terpikirkan oleh anak-anak seusia mereka untuk diucapkan kepada Surya, anak saudagar kaya yang selama ini ditakuti semua orang.
Tetapi Kirana mengucapkannya dengan begitu alami, begitu yakin, begitu tanpa rasa takut. Seperti ia sudah memikirkannya sejak lama. Seperti ia sudah menyiapkan kata-kata itu di dalam hatinya, menunggu saat yang tepat untuk mengucapkannya. Seperti ia sudah lelah melihat Surya berbuat semena-mena tanpa pernah ada yang berani melawannya.
Surya melangkah maju.
Ia turun dari bangku kayu dengan gerakan cepat, hampir jatuh karena kakinya tersandung, tetapi ia segera menyeimbangkan diri. Wajahnya merah padam, merah seperti tomat, merah seperti cabai, merah seperti api yang membakar gudang ayahnya semalam.
Harga dirinya terluka.
Harga diri yang selama ini ia bangun dengan uang ayahnya, dengan kekayaan keluarganya, dengan rasa takut orang-orang di sekitarnya, runtuh dalam satu kalimat. Runtuh dalam satu kata: pengecut.
"Apa katamu, Kirana? Kau bilang aku pengecut?" suara Surya meninggi, hampir seperti jeritan. Tangannya mengepal, kuku-kukunya menusuk telapak tangan. Matanya menyala, tidak lagi sinis, tetapi marah. Marah yang tidak bisa lagi ia kendalikan.
Kirana tidak mundur.
Ia tetap berdiri di tempatnya, meskipun Surya sudah sangat dekat, hanya satu lengan jaraknya. Ia bisa merasakan napas Surya yang panas di wajahnya, bau bawang dari makan siangnya. Ia bisa melihat urat-urat di leher Surya yang menegang, denyut nadi yang berdetak kencang.
"Ya, pengecut!" ulang Kirana, lebih keras, lebih tegas. "Kau hanya berani menghina Danang ketika ia sendirian! Kau hanya berani menuduhnya ketika ia tidak bisa membela diri! Kau hanya berani karena kau tahu ayahmu kaya dan tidak ada yang berani melawanmu!"
"Kau—!"
Belum sempat Surya menyelesaikan kata-katanya, belum sempat ia melayangkan tangan yang sudah mengepal, Danang sudah berdiri di samping Kirana.
Dari bawah pohon trembesi, dari jarak puluhan meter, ia berlari. Ia berlari sekencang-kencangnya, melewati anak-anak yang terkejut, melewati genangan air yang memercik ke mana-mana, melewati rumput-rumput yang terinjak-injak.
Dalam hitungan detik, ia sudah berada di samping Kirana. Dadanya naik turun, napasnya tersengal-sengal, matanya menyala. Ia berdiri di antara Surya dan Kirana, melindungi Kirana dari Surya, meskipun tubuhnya lebih kecil, lebih kurus, lebih lemah.
"Jangan sentuh dia, Surya," kata Danang. Suaranya dingin. Sangat dingin. Lebih dingin dari air sungai di pagi hari. Lebih dingin dari angin malam di musim hujan.
Surya menghentikan langkahnya.
Ia menatap Danang.
Mereka berhadapan. Hanya beberapa sentimeter jaraknya. Surya lebih gemuk, lebih tinggi, lebih berisi. Danang kurus, kecil, rapuh. Tetapi matanya berbeda. Matanya dingin. Matanya gelap. Matanya membuat Surya, yang tadinya penuh amarah, merasa ada yang mengganjal di dadanya.
"Kau selalu melindunginya, Danang," kata Surya, suaranya masih marah tetapi mulai menurun. "Tapi kau tidak bisa melindunginya selamanya."
"Tidak perlu selamanya," jawab Danang. "Hari ini cukup."
Mereka saling menatap.
Anak-anak di sekitarnya diam. Tidak ada yang berani bersuara. Tidak ada yang berani bergerak. Mereka hanya menonton, seperti menonton pertandingan tinju yang tidak pernah mereka duga akan terjadi.
"Awas kau, Danang," kata Surya akhirnya. Suaranya tidak lagi marah, tetapi dingin. Dingin yang berbeda dengan dinginnya Danang. Dingin yang penuh dengan rencana. Dingin yang mengatakan bahwa ini belum selesai. "Ini belum selesai."
"Aku tahu," jawab Danang.
Surya pergi sambil menendang batu kecil di tanah. Batu itu melambung dan jatuh di dekat kaki Danang. Sebuah pesan kecil. Sebuah peringatan. Sebuah janji bahwa suatu hari nanti, ia akan kembali, dan ketika itu terjadi, Danang harus siap.
Anak-anak mulai bubar. Perlahan, satu per satu, mereka kembali ke aktivitas mereka masing-masing. Tawa dan suara mulai terdengar lagi, tetapi tidak seperti biasa. Ada kekakuan di udara, ada kecanggungan, ada sisa-sisa ketegangan yang masih menggantung.
Kirana menoleh ke Danang. Matanya yang tadi berani, yang tadi menyala, kini mulai basah. Lesung pipitnya tidak terlihat. Senyumnya hilang. Yang tersisa hanyalah seorang anak perempuan yang baru saja melakukan sesuatu yang sangat berani, dan sekarang mulai merasakan getirnya.
"Kau tak apa, Danang?" tanyanya, suaranya sedikit bergetar.
Danang menatapnya.
Matanya lembut. Sangat berbeda dengan tatapannya pada Surya tadi. Tatapan yang hanya ia simpan untuk Kirana. Tatapan yang mengatakan bahwa ia bersyukur, bahwa ia berterima kasih, bahwa ia tidak akan pernah bisa membalas kebaikan Kirana.
"Aku baik-baik saja, Kirana," jawabnya. "Kau yang... kau tidak perlu melakukan itu."
Kirana menggeleng. "Aku harus, Danang. Aku tidak bisa diam melihat Surya berbuat semena-mena."
"Tapi kau bisa kena masalah. Keluarga Surya punya pengaruh."
"Aku tidak takut, Danang."
"Kenapa?"
Kirana tersenyum. Senyum yang lelah, tetapi tulus. Senyum yang membuat Danang lupa pada semua masalah yang sedang menghantamnya. "Karena aku tidak suka ketidakadilan, Danang. Dan karena kau temanku."
Untuk pertama kalinya hari itu, Danang tersenyum.
Bukan senyum pahit.
Bukan senyum getir.
Bukan senyum yang dipaksakan.
Tapi senyum tulus.
Senyum yang keluar dari tempat paling dalam di hatinya.
Senyum yang mengatakan bahwa ia tidak sendirian.
"Terima kasih, Kirana."
"Tugas teman, Danang."
Bel masuk berbunyi. Anak-anak mulai berbaris masuk ke kelas masing-masing. Suara lonceng tua yang dipukul dengan pentungan kayu itu terdengar sayup-sayup, seperti panggilan dari dunia yang berbeda.
Danang dan Kirana berjalan bersama menuju kelas. Bersebelahan. Bahu hampir bersentuhan.
Di dalam hati Danang, ada sesuatu yang tumbuh.
Sesuatu yang lebih besar dari rasa syukur.
Sesuatu yang lebih besar dari rasa terima kasih.
Sesuatu yang lebih besar dari persahabatan.
Ia tidak tahu apa namanya.
Ia terlalu muda untuk tahu.
Tapi ia merasakannya.
Ia merasakannya setiap kali Kirana di dekatnya.
Setiap kali Kirana tersenyum padanya.
Setiap kali Kirana menggenggam tangannya.
Setiap kali Kirana mengatakan "aku di sini".
Dan meskipun seluruh dunia menjauh, meskipun semua orang menuduhnya, meskipun ayahnya bermasalah, meskipun ibunya menangis di dapur, meskipun rumahnya dingin dan sunyi, Danang merasa bahwa ia memiliki sesuatu yang berharga.
Sesuatu yang tidak bisa dibeli oleh uang Surya.
Sesuatu yang tidak bisa dihancurkan oleh api.
Sesuatu yang akan bertahan selamanya.
Kirana.
Bab 11
Malam yang Membuka Luka Lama
Malam itu hujan turun lagi.
Bukan hujan deras seperti malam kebakaran. Bukan hujan gerimis seperti sore di pondok sawah. Hujan yang turun malam itu adalah hujan yang pelan, yang sayu, yang seperti sedang menangis tanpa suara. Air jatuh dari langit dengan lembut, seperti tetesan air mata yang tidak ingin mengganggu siapa pun dengan kesedihannya.
Butir-butir hujan itu kecil dan jarang, tidak seperti hujan biasanya yang deras dan mengguyur. Mereka jatuh satu per satu, dengan interval yang teratur, seperti detak jantung yang lambat, seperti irama lagu sedih yang dimainkan dengan tempo yang sangat pelan. Di atap rumbia, suara hujan terdengar seperti bisikan, seperti desahan, seperti suara orang yang sedang mengeluh dalam tidurnya.
Angin malam berhembus pelan, tidak kencang, tidak menderu, hanya berhembus cukup untuk membuat dedaunan bergerak sedikit dan membawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Daun-daun kelapa di belakang rumah bergoyang-goyang pelan, seperti sedang mengangguk-angguk, seperti sedang setuju dengan sesuatu yang tidak terdengar oleh telinga manusia.
Danang duduk di depan kamarnya, di ambang pintu yang memisahkan kamar tidurnya yang sempit dengan ruang tengah yang lebih sempit. Lampu minyak di ruang tengah hampir padam, sumbunya sudah pendek, minyaknya hampir habis, nyala apinya kecil dan berkedip-kedip seperti akan mati kapan saja. Bayangan-bayangan di dinding kayu bergerak-gerak pelan, mengikuti gerakan api yang tidak menentu.
Ia tidak bisa tidur. Matanya terbuka lebar di kegelapan, menatap langit-langit yang retak, mendengar suara hujan di atap, mendengar suara jangkrik dari kejauhan, mendengar suara detak jantungnya sendiri yang berdebar tidak karuan.
Pikirannya melayang ke mana-mana. Ke kebakaran. Ke tuduhan. Ke Surya. Ke tatapan curiga tetangga. Ke bisikan-bisikan yang tidak pernah berhenti. Ke Kirana yang berdiri di tengah kerumunan, membelanya, meskipun semua orang menjauh.
Tiba-tiba, dari dapur, ia mendengar suara isakan.
Isakan yang ditahan-tahan.
Isakan yang seperti orang yang berusaha tidak mengganggu siapa pun dengan kesedihannya.
Isakan yang seperti air yang menetes dari keran yang tidak pernah benar-benar bisa ditutup rapat.
Danang mengangkat kepala. Telinganya menajam. Ia mengenali suara itu. Suara yang sudah ia dengar berkali-kali, tetapi tidak pernah sedekat ini, tidak pernah sejelas ini, tidak pernah semenyayat hati ini.
Ibunya menangis.
Bukan tangis keras seperti malam pertengkaran dengan ayahnya. Bukan tangis histeris seperti ketika piring pecah di lantai. Bukan tangis marah seperti ketika ia membela Danang di depan kerumunan.
Tangis yang pelan.
Tangis yang lelah.
Tangis yang seperti orang yang sudah tidak punya energi lagi untuk menangis keras-keras, tetapi air matanya tetap mengalir karena kesedihan terlalu besar untuk ditahan.
Danang berdiri perlahan. Kakinya yang telanjang menyentuh lantai kayu yang dingin. Lantai yang terasa lebih dingin dari biasanya, mungkin karena hujan, mungkin karena suhu tubuhnya yang naik karena jantungnya berdebar kencang.
Ia berjalan pelan mendekati dapur. Setiap langkahnya ia lakukan dengan hati-hati, tidak ingin menimbulkan suara, tidak ingin mengganggu, tidak ingin ketahuan. Kakinya yang kecil dan kurus melangkah di antara papan-papan lantai yang berderit, berusaha menghindari bagian-bagian yang paling berisik.
Pintu dapur terbuka sedikit. Dari celah itu, ia bisa melihat ibunya.
Ratih duduk sendirian di depan tungku yang sudah padam. Tungku tanah liat yang hitam karena jelaga, yang sudah menemani ibunya memasak sejak Danang masih bayi, yang kakinya sudah retak dan diikat dengan kawat. Di atas tungku, kuali tanah liat masih tergeletak, sisa-sisa sayur nangka yang tadi malam masih menempel di dindingnya.
Wajah Ratih tertutup kedua tangan. Tangannya yang kasar karena pekerjaan rumah tangga, yang kapalan karena mencuci dan memasak dan membersihkan, yang kulitnya mengelupas di beberapa tempat karena terlalu sering terkena air dan sabun, kini menutupi wajahnya seolah-olah ia sedang berusaha menyembunyikan diri dari dunia.
Bahunya naik turun. Naik turun. Naik turun. Setiap kali ia menarik napas, bahunya terangkat sedikit. Setiap kali ia menghela napas, bahunya turun. Irama yang teratur, seperti ombak di pantai, seperti gelombang di sungai, tetapi tidak menenangkan, justru menyayat hati.
Sesekali terdengar suara napas yang ditarik dalam-dalam, seperti orang yang sedang belajar bernapas lagi setelah hampir tenggelam. Seperti orang yang baru saja sadar bahwa ia masih hidup, meskipun hidup terasa seperti beban yang terlalu berat untuk dipikul.
Danang berdiri di balik pintu, tidak bergerak, tidak bersuara. Ia hanya memandang ibunya, memandang perempuan yang setiap pagi bangun lebih pagi dari siapa pun untuk memasak nasi dan menyiapkan kopi, yang setiap siang berjalan ke pasar dengan keranjang di kepala untuk membeli sayur dan lauk, yang setiap malam tidur paling akhir setelah membereskan semua pekerjaan rumah.
Perempuan yang jarang mengeluh.
Perempuan yang jarang menangis di depan orang lain.
Perempuan yang selalu tersenyum ketika Danang melihatnya, meskipun matanya sayu dan wajahnya pucat.
Perempuan yang malam ini, sendirian di dapur dengan tungku yang padam dan lampu minyak yang hampir mati, menangis.
"Ibu," panggil Danang pelan.
Ratih terkejut. Ia mengangkat kepalanya, tangannya cepat-cepat menghapus air mata dari wajahnya, dari pipinya yang basah, dari matanya yang merah. Tetapi air mata baru terus mengalir menggantikan yang lama, seperti air dari mata air yang tidak pernah kering, seperti sungai yang tidak pernah berhenti mengalir.
"Nang? Kenapa belum tidur?" suara Ratih serak, basah, seperti orang yang baru saja bangun dari tidur panjang, tetapi Danang tahu itu bukan karena bangun tidur, itu karena menangis.
Danang tidak menjawab. Ia berjalan mendekat, melangkah masuk ke dapur, mendekati ibunya. Kakinya yang telanjang menyentuh lantai dapur yang dingin dan sedikit basah karena air yang merembes dari ember di sudut ruangan.
Ia duduk di samping ibunya, di lantai tanah liat yang dingin, di samping tungku yang sudah padam. Lantai itu dingin, sangat dingin, dingin yang menusuk hingga ke tulang, tetapi Danang tidak peduli. Ia sudah terbiasa dengan dingin. Rumahnya dingin. Hidupnya dingin. Dingin adalah teman lamanya.
"Ibu kenapa, Mak?" tanya Danang. Suaranya kecil, lembut, seperti bisikan, seperti suara angin malam yang berhembus di antara dedaunan.
Ratih diam. Matanya memandang tungku yang sudah tidak menyala, seperti sedang mencari jawaban di antara abu-abu bekas kayu bakar, di antara sisa-sisa api yang telah padam, di antara kenangan-kenangan yang tidak bisa ia bakar.
"Ibu kenapa, Mak?" ulang Danang. Suaranya lebih kecil kali ini, hampir seperti bisikan, hampir tidak terdengar, tetapi lebih kuat. Lebih dalam. Lebih menyayat. "Apakah Ibu sedih karena orang-orang menuduh Danang?"
Ratih menatap anaknya. Matanya yang merah dan basah itu memandang wajah Danang yang masih polos, yang belum terkontaminasi oleh kebencian dan kecurigaan yang mulai mengelilinginya, yang masih bersih seperti kertas putih yang belum ditulisi. Matanya yang masih percaya bahwa dunia ini baik, bahwa orang-orang pada dasarnya baik, bahwa kebenaran akan selalu menang.
"Bukan, Nang," bisik Ratih, suararnya serak oleh tangis dan kelelahan, oleh terlalu banyak menangis dalam diam, oleh terlalu banyak memendam perasaan yang tidak bisa ia ungkapkan. "Bukan karena itu."
"Lalu kenapa, Mak?"
Ratih menutup mata. Tangannya yang gemetar memegang ujung kain sarungnya, memilin-milin kain itu dengan gerakan yang sama persis dengan kebiasaan Danang ketika gugup, ketika takut, ketika tidak tahu harus berbuat apa. Gerakan yang diturunkan dari ibu ke anak, tanpa ada yang mengajarkan, tanpa ada yang menyadari.
"Apakah orang-orang benar, Mak?" tanya Danang tiba-tiba. Matanya menatap lurus ke mata ibunya, tidak berkedip, tidak bergerak. "Apakah benar keluarga kita berbeda?"
Kalimat itu membuat Ratih membeku.
Seluruh tubuhnya berubah menjadi batu. Tangannya yang tadinya memilin ujung kain, berhenti bergerak. Napasnya yang tadinya teratur, berhenti sejenak. Matanya yang tadinya menatap Danang, kini kosong, menembus dinding dapur, menembus hujan, menembus waktu, menembus kenangan-kenangan yang selama ini ia kubur dalam-dalam.
"Apakah benar Danang anak haram, Mak?"
Kata itu.
Haram.
Kata yang sama yang diucapkan Surya di halaman sekolah.
Kata yang sama yang dibisikkan tetangga di belakang punggungnya.
Kata yang sama yang membuat ia merasa bahwa ia berbeda, bahwa ia tidak pantas, bahwa ia adalah kesalahan.
Kata yang tidak pernah ia pahami artinya, tetapi ia rasakan beratnya.
Hening memenuhi dapur kecil itu.
Hanya suara hujan di atap rumbia yang terdengar. Hujan yang masih turun pelan, tidak reda, tidak berhenti, terus jatuh dengan irama yang sama, seperti air mata yang tidak pernah kering.
Suara air yang jatuh dari talang, membentuk genangan di tanah di bawah rumah. Suara tetesan air dari atap yang bocor, jatuh ke ember-ember yang diletakkan di beberapa sudut rumah. Suara jangkrik yang mulai bernyanyi meskipun hujan, seolah tidak peduli pada cuaca, seolah tidak peduli pada kesedihan manusia.
Akhirnya Ratih berkata pelan, suaranya serak oleh tangis dan kelelahan, oleh terlalu banyak rahasia yang ia pendam, oleh terlalu banyak kebohongan yang ia ciptakan untuk melindungi anaknya.
"Semua keluarga punya luka masing-masing, Nang."
"Tapi kenapa Ayah takut, Mak? Kenapa Ayah sering minum? Kenapa Ayah jarang bicara? Kenapa Ayah tidak seperti ayah-ayah lain?"
Ratih menutup mata.
Ia tidak bisa menjawab.
Bukan karena tidak tahu jawabannya.
Tetapi karena jawabannya terlalu berat untuk diucapkan.
Terlalu berat untuk didengar oleh anak seusia Danang.
Terlalu berat untuk ditanggung oleh bahu kecil yang masih rapuh.
Tangannya yang memegang ujung kain mulai gemetar. Gemetar yang semakin lama semakin keras, semakin tidak terkendali, seperti orang yang sedang demam, seperti orang yang sedang kedinginan, seperti orang yang sedang ketakutan.
Danang melihat sesuatu di wajah ibunya, sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Kelelahan.
Bukan kelelahan fisik karena bekerja seharian.
Bukan kelelahan karena kurang tidur atau karena sakit.
Kelelahan yang lebih dalam.
Kelelahan jiwa.
Kelelahan seseorang yang sudah terlalu lama menyimpan rahasia.
Kelelahan seseorang yang sudah terlalu lama berpura-pura kuat.
Kelelahan seseorang yang sudah terlalu lama tersenyum padahal hancur di dalam.
Kelelahan seseorang yang sudah terlalu lama memendam air mata, dan sekarang air mata itu keluar tanpa bisa ia hentikan.
"Karena kadang, Nang," bisik Ratih, suaranya hampir tenggelam oleh suara hujan, oleh suara tetesan air dari atap yang bocor, oleh suara napasnya yang tersengal-sengal, "masa lalu bisa mengejar lebih lama daripada manusia hidup. Masa lalu tidak pernah benar-benar mati. Masa lalu selalu ada, menunggu, mengintai, siap menerkam kapan saja."
Danang tidak benar-benar paham. Kata-kata itu terlalu berat untuk anak seusianya. Terlalu abstrak. Terlalu filosofis. Terlalu dewasa. Otaknya yang masih kecil tidak bisa memproses makna di balik kata-kata itu.
Tetapi ia mendengar nada di suara ibunya.
Nada ketakutan yang sama yang ia lihat di mata ayahnya di dermaga tua, ketika Mandor Jalil mengancam.
Nada yang sama yang membuat bulu kuduknya berdiri.
Nada yang sama yang membuat jantungnya berdebar kencang.
Nada yang mengatakan bahwa ada sesuatu yang mengancam keluarganya.
Sesuatu yang besar.
Sesuatu yang gelap.
Sesuatu yang tidak bisa ia lihat, tetapi ia rasakan kehadirannya.
Seperti bayangan di kegelapan.
Seperti suara langkah di belakang pintu.
Seperti napas di dekat telinga ketika sedang sendirian.
"Ibu," kata Danang, suaranya kecil, tetapi tegas, "Danang takut."
Ratih membuka matanya. Ia menatap anaknya. Anak laki-laki satu-satunya yang ia miliki. Anak yang selama ini menjadi alasan mengapa ia masih bangun setiap pagi. Anak yang membuatnya tersenyum meskipun hatinya hancur. Anak yang tidak tahu bahwa ia telah menyimpan rahasia selama bertahun-tahun, rahasia yang akan menghancurkan anak itu jika terungkap.
"Takut apa, Nang?" tanya Ratih, suaranya lembut, seperti sedang menenangkan bayi yang menangis.
"Takut kehilangan Ibu. Takut kehilangan Bapak. Takut kehilangan rumah. Takut semuanya hilang."
Ratih menangis lagi.
Ia memeluk Danang.
Pelukan yang erat.
Pelukan yang seperti ingin melindungi Danang dari seluruh dunia.
Pelukan yang seperti ingin menyembunyikan Danang dari semua rahasia dan kebohongan dan ketakutan.
Pelukan yang seperti ingin mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, meskipun ia sendiri tidak yakin.
"Tidak, Nang," bisik Ratih di telinga Danang, suaranya terputus-putus oleh isakan, oleh air mata yang terus mengalir, oleh dada yang sesak. "Ibu tidak akan pergi. Ibu akan selalu di sini. Ibu akan menjaga Danang. Ibu akan melindungi Danang. Ibu tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti Danang."
Danang memeluk ibunya.
Tangannya yang kecil melingkar di pinggang Ratih yang kurus, pinggang yang semakin kurus karena stres, karena kurang makan, karena terlalu banyak memikirkan beban hidup.
Ia tidak bisa menghentikan air mata ibunya.
Ia tidak bisa mengusir ketakutan ayahnya.
Ia tidak bisa mengubah apa pun yang terjadi.
Ia tidak bisa membuat orang-orang berhenti menuduhnya.
Ia tidak bisa membuat Surya berhenti membencinya.
Ia tidak bisa membuat tetangga berhenti berbisik.
Tapi setidaknya, ia bisa berada di sana.
Setidaknya, ia bisa memeluk ibunya.
Setidaknya, ia bisa menjadi alasan bagi ibunya untuk tetap tersenyum, meskipun senyum itu pahit.
Dan kadang, berada di sana adalah satu-satunya hal yang bisa dilakukan seseorang ketika dunia di sekitarnya mulai runtuh.
Ketika tembok-tembok yang selama ini melindunginya mulai retak.
Ketika tanah di bawah kakinya mulai berguncang.
Ketika langit di atas kepalanya mulai gelap.
Ketika semua yang ia kenal sebagai rumah mulai berubah menjadi debu.
Berada di sana.
Bertahan.
Tidak lari.
Tidak menyerah.
Tidak menutup mata.
Itu sudah cukup.
Itu sudah lebih dari cukup.
Malam itu, Danang tidak kembali ke kamarnya.
Ia tidur di pangkuan ibunya, di lantai dapur yang dingin, di samping tungku yang sudah padam, di bawah cahaya lampu minyak yang hampir mati.
Ratih tidak membangunkannya.
Ia hanya duduk diam, memeluk anaknya, membiarkan air matanya jatuh.
Air mata yang tidak pernah berhenti.
Air mata yang seperti hujan di musim penghujan.
Air mata yang seperti sungai yang tidak pernah kering.
Air mata yang seperti kesedihan yang tidak memiliki akhir.
Di luar, hujan masih turun.
Pelan.
Sayu.
Seperti alam ikut menangis.
Seperti langit ikut bersedih.
Seperti dunia ikut merasakan bahwa malam itu, di sebuah dapur kecil di tepi Sungai Kapuas Muara, seorang ibu dan anaknya sedang berpelukan di tengah kegelapan, berusaha bertahan dari badai yang tidak terlihat tetapi terasa.
Dan di kejauhan, di balik tirai hujan, di balik kegelapan malam, di balik pohon-pohon kelapa yang bergoyang pelan, seseorang berdiri.
Mandor Jalil.
Ia berdiri di bawah pohon beringin besar di ujung desa, pohon yang sama tempat ia berdiri malam kebakaran. Tubuhnya yang kurus dan tinggi seperti bayangan, menyatu dengan kegelapan, tidak terlihat oleh siapa pun. Hanya puntung rokoknya yang menyala merah di kegelapan, seperti mata setan yang sedang mengawasi.
Ia memperhatikan rumah itu.
Rumah panggung dengan tiang kayu ulin yang mulai lapuk.
Rumah yang menyimpan banyak diam.
Rumah yang menyimpan banyak rahasia.
Rumah yang menjadi pusat dari semua yang terjadi.
Ia tersenyum.
Senyum tipis di bibirnya yang kering.
Senyum yang tidak terlihat oleh siapa pun.
Senyum yang mengatakan bahwa ia tahu sesuatu yang tidak diketahui orang lain.
Senyum yang mengatakan bahwa ia sabar.
Senyum yang mengatakan bahwa ia bisa menunggu.
Karena waktu, pikir Mandor Jalil, adalah sekutunya.
Dan waktu tidak pernah berpihak pada orang miskin.
Bab 12
Bisikan dari Orang Tua
Beberapa hari setelah malam di dapur, setelah pelukan dengan ibunya yang masih terasa hangat di dadanya, setelah air mata yang tak kunjung kering, Danang sedang duduk di bawah rumah.
Bukan di dalam rumah. Di bawah rumah. Di ruang kosong di antara tiang-tiang kayu ulin yang menyangga rumah panggungnya. Tempat itu gelap, lembab, dan dingin. Tanah di bawah rumah lembek dan becek, karena air hujan yang merembes dari atas. Bau tanah basah bercampur dengan bau kayu lapuk dan bau sesuatu yang sudah lama membusuk di sudut-sudut gelap.
Tempat itu biasanya tidak pernah dikunjungi siapa pun. Terlalu gelap. Terlalu lembab. Terlalu banyak laba-laba dan lipan dan makhluk-makhluk kecil lainnya yang merayap di kegelapan. Ibu Danang selalu melarangnya bermain di bawah rumah. "Nanti digigit lipan, Nang," kata Ratih setiap kali melihat Danang mendekati lubang di lantai yang menjadi pintu menuju kolong rumah.
Tapi sore itu, Danang membutuhkan tempat untuk bersembunyi. Bukan bersembunyi dari kejaran teman-teman yang bermain kejar-kejaran. Bukan bersembunyi dari hujan yang tiba-tiba turun. Bukan bersembunyi dari sesuatu yang terlihat.
Bersembunyi dari dunia.
Bersembunyi dari tatapan curiga.
Bersembunyi dari bisikan-bisikan yang tidak pernah berhenti.
Bersembunyi dari kenyataan bahwa ia adalah anak haram, anak pembakar, anak yang harus dijauhi.
Ia duduk di atas sepotong kayu lapuk yang tergeletak di antara tiang-tiang penyangga. Kayu itu basah, licin, ditumbuhi jamur putih di beberapa tempat. Tetapi Danang tidak peduli. Pantatnya sudah terbiasa dengan dingin dan basah. Hidupnya sudah terbiasa dengan ketidaknyamanan.
Matanya menatap celah-celah di lantai kayu di atas kepalanya. Melalui celah-celah itu, ia bisa melihat kaki ibunya yang mondar-mandir di dapur, kaki ayahnya yang duduk diam di kursi bambu di ruang tengah. Dari bawah, suara-suara di atas terdengar sayup-sayup, seperti suara dari dunia lain, seperti suara orang-orang yang hidup di langit sementara ia tinggal di neraka.
Ia tidak tahu berapa lama ia sudah duduk di sana. Mungkin setengah jam. Mungkin satu jam. Mungkin lebih. Waktu terasa aneh di bawah rumah. Waktu berjalan lambat, seperti molase yang mengalir di musim dingin, seperti sungai yang tersumbat oleh sampah dan lumpur.
Tiba-tiba, dari kejauhan, ia mendengar suara langkah kaki di jalan papan yang menghubungkan rumah-rumah panggung di desa itu. Langkah kaki yang berat, pelan, diselingi oleh suara tongkat yang mengetuk-ngetuk kayu. Langkah kaki orang tua. Langkah kaki yang sudah tidak stabil lagi, yang membutuhkan bantuan untuk tetap tegak.
Dua perempuan tua lewat di jalan papan di depannya. Mereka berjalan bersamaan, bertongkat, tubuh mereka bungkuk seperti pohon yang akan tumbang. Wajah mereka penuh kerutan, kerutan yang seperti peta yang mencatat setiap tahun yang telah mereka lalui, setiap kesedihan yang pernah mereka rasakan, setiap rahasia yang mereka simpan.
Danang tidak melihat mereka. Posisinya tersembunyi di balik tumpukan kayu bakar yang menumpuk di bawah rumah, kayu-kayu kering yang dikumpulkan ibunya dari kebun, yang akan digunakan untuk memasak jika musim hujan tiba dan kayu bakar basah susah didapat. Dari balik tumpukan kayu itu, ia bisa melihat kaki-kaki perempuan tua itu, tetapi mereka tidak bisa melihatnya.
"Sudah dengar kabar tentang keluarga Sastrowiryo, Bu?" suara perempuan pertama. Suaranya parau, seperti suara orang yang terlalu banyak merokok daun, seperti suara orang yang tenggorokannya sudah terbakar oleh minuman keras, seperti suara yang keluar dari lubang yang dalam dan gelap.
"Sudah, Bu. Seluruh desa sudah dengar," jawab perempuan kedua. Suaranya lebih halus, lebih lembut, tetapi tetap tua, tetap serak, tetap seperti suara dari dunia lain.
"Kasihan anak itu," kata perempuan pertama lagi. Suaranya parau, seperti suara orang yang terlalu banyak merokok daun tembakau kering yang dibungkus dengan daun kelapa. Rokok lintingan sendiri yang baunya menyengat dan membuat mata perih. "Dia bahkan tak tahu siapa dirinya sebenarnya."
Danang mengangkat kepala.
Jantungnya berdegup lebih cepat.
Dadanya terasa sesak.
Telinganya menajam, seperti telinga kucing yang mendengar suara tikus di kegelapan.
Ia tahu mereka sedang membicarakannya. Ia bisa merasakannya. Ia bisa merasakan bahwa namanya disebut, bahwa kata-kata mereka adalah tentang dirinya, bahwa rahasia-rahasia yang selama ini disembunyikan orang dewasa darinya akan mulai terungkap.
"Apa maksudmu, Bu?" tanya perempuan kedua lagi. Suaranya penasaran, seperti suara orang yang sedang mendengar gosip baru, seperti suara orang yang haus akan informasi, seperti suara orang yang tidak ingin ketinggalan kabar terbaru.
Perempuan pertama menurunkan suaranya. Tidak terlalu pelan, tetapi cukup pelan untuk terdengar seperti bisikan. Bisikan yang sengaja dibuat pelan agar tidak terdengar oleh orang yang lewat, tetapi tidak cukup pelan untuk tidak terdengar oleh Danang yang duduk hanya beberapa meter di bawah mereka.
"Sastrowiryo bukan ayah kandung anak itu, Bu."
Danang membeku.
Dunia seakan berhenti.
Udara terasa berat, seperti ada tangan raksasa yang menekan dadanya, membuatnya sulit bernapas. Suara-suara lain di sekitarnya tiba-tiba menghilang. Suara jangkrik yang tadinya bersahutan, tiba-tiba diam. Suara angin yang tadinya berhembus, tiba-tiba berhenti. Suara air sungai yang tadinya mengalir, tiba-tiba terdengar seperti dari kejauhan, seperti dari dunia yang berbeda.
Yang tersisa hanya kata-kata itu, berputar-putar di kepalanya seperti rekaman rusak yang diulang terus, seperti kaset yang kusut dan tidak bisa berhenti diputar.
Sastrowiryo bukan ayah kandung anak itu.
Ia menahan napas.
Menunggu.
Berharap ia salah dengar.
Mungkin perempuan itu bicara tentang orang lain.
Mungkin ada anak lain di desa ini yang bernasib malang seperti itu.
Mungkin ada keluarga lain yang menyimpan rahasia seperti itu.
Mungkin.
"Lho, jadi siapa ayah aslinya, Bu?" suara perempuan kedua makin penasaran. Nada suaranya meninggi sedikit, seperti orang yang tidak sabar ingin tahu kelanjutan cerita.
Perempuan pertama mendekatkan mulutnya ke telinga perempuan kedua. Danang bisa melihat bayangan mereka dari balik tumpukan kayu, dua kepala yang hampir bersentuhan, berbisik-bisik seperti sedang membicarakan rahasia negara.
"Ratih hamil sebelum menikah, Bu. Waktu itu desa gempar. Ramai sekali. Orang-orang bilang dia hamil di luar nikah. Malu-maluin keluarga. Malu-maluin seluruh desa. Ibunya Ratih, almarhumah, sampai sakit-sakitan karena malu. Tidak bisa keluar rumah berminggu-minggu."
"Astaga," desis perempuan kedua. "Saya baru dengar ini, Bu. Selama ini saya kira Ratih menikah dulu baru hamil."
"Tidak, Bu. Tidak. Perutnya sudah besar empat bulan ketika Sastrowiryo menikahinya. Itu sebabnya pernikahannya sederhana sekali. Tidak ada resepsi. Tidak ada selamatan. Hanya pergi ke KUA berdua, pulang-pulang sudah jadi suami istri. Waktu itu banyak yang bilang Sastrowiryo terpaksa menikahi Ratih. Karena kasihan. Karena tidak ada lelaki lain yang mau."
"Siapa ayah aslinya, Bu? Siapa yang menghamili Ratih?"
Perempuan pertama melihat ke kiri dan ke kanan, seperti sedang memastikan tidak ada orang lain yang mendengar. Matanya yang keriput dan sayu bergerak cepat, memindai lingkungan sekitar, mencari tanda-tanda bahaya.
"Katanya orang pendatang dari seberang sungai, Bu," bisiknya, suaranya hampir tidak terdengar, tetapi bagi Danang yang menyembunyikan diri di bawah rumah, setiap kata terdengar sejelas bel sekolah di pagi hari. "Lelaki tampan. Rambut panjang. Kata orang, dia penari di rombongan ketoprak yang mampir di desa waktu itu. Waktu Ratih masih muda. Masih cantik. Masih polos. Masih percaya pada kata-kata manis lelaki."
"Penari ketoprak?" suara perempuan kedua terdengar kaget, tidak percaya. "Ratih berani dekat-dekat dengan penari ketoprak? Orang tuanya tidak melarang?"
"Dilarang, Bu. Tentu saja dilarang. Tapi anak muda. Lagi jatuh cinta. Tidak peduli dengan larangan orang tua. Ratih sering kabur dari rumah malam-malam untuk menonton pertunjukan ketoprak. Katanya dia suka sekali melihat lelaki itu menari. Matanya tidak bisa lepas dari lelaki itu. Jatuh cinta pada pandangan pertama, kata orang."
"Lalu?"
"Lalu rombongan ketoprak itu pergi, Bu. Pergi begitu saja setelah bermalam-malam di desa. Lelaki itu ikut pergi. Tidak pamit. Tidak meninggalkan pesan. Tidak memberi kabar. Ratih hanya ditinggalkan. Dengan perut yang mulai berisi. Dengan aib yang tidak bisa disembunyikan. Dengan masa depan yang hancur."
"Astaga, kasihan sekali Ratih."
"Ya, kasihan. Tapi itu sudah takdirnya, Bu. Sekarang lihat. Anaknya tumbuh menjadi anak yang aneh. Matanya terlalu dalam untuk anak seusianya. Suka diam-diam. Suka menyendiri. Siapa tahu dia ikut-ikutan kelakuan orang tuanya."
"Jadi Danang benar-benar anak haram, Bu?"
"Anak haram atau anak di luar nikah, sama saja, Bu. Tidak punya ayah kandung. Tidak punya silsilah yang jelas. Tidak tahu darah apa yang mengalir di tubuhnya. Kasihan, ya. Tapi ya itu sudah takdirnya."
Suara mereka makin menjauh. Langkah kaki mereka berderit di jalan papan, perlahan menghilang ditelan suara desa yang lain, ditelan suara ayam berkokok, ditelan suara anak-anak yang bermain di kejauhan.
Namun bagi Danang, kata-kata itu tertinggal.
Menancap.
Tidak hilang.
Seperti duri di daging.
Seperti belati di hati.
Seperti racun di darah.
Sastrowiryo bukan ayah kandung anak itu.
Ratih hamil sebelum menikah.
Penari ketoprak dari seberang sungai.
Anak haram.
Tidak punya ayah kandung.
Tidak tahu darah apa yang mengalir di tubuhnya.
Ia duduk di bawah rumah untuk waktu yang lama.
Tidak tahu berapa lama.
Mungkin beberapa menit.
Mungkin satu jam.
Mungkin setengah hari.
Waktu terasa berhenti.
Seperti jam dinding yang mati.
Seperti sungai yang berhenti mengalir.
Seperti dunia yang berhenti berputar.
Sastrowiryo bukan ayah kandungnya.
Laki-laki yang selama ini ia panggil "Bapak", yang tinggal serumah dengannya, yang makan di meja yang sama setiap hari, yang tidur di rumah yang sama setiap malam, yang jarang bicara tetapi selalu ada di sana, yang sesekali membelikannya jajan ketika pulang dari pasar, yang memarahinya ketika ia berbuat salah, yang mengajarinya memancing di sungai ketika ia masih kecil, bukanlah ayah kandungnya.
Bukan darah dagingnya.
Bukan lelaki yang membuat ibunya hamil.
Bukan lelaki yang setengah tanggung jawab atas keberadaannya di dunia ini.
Lalu siapa?
Siapa lelaki itu?
Penari ketoprak dari seberang sungai?
Lelaki tampan dengan rambut panjang?
Lelaki yang menghamili ibunya lalu pergi tanpa pamit?
Lelaki yang tidak pernah ia lihat, tidak pernah ia kenal, tidak pernah ia dengar namanya?
Lelaki yang bahkan mungkin tidak tahu bahwa ia memiliki anak di desa terpencil di tepi Sungai Kapuas Muara?
Lelaki yang mungkin sudah mati, atau sudah punya keluarga lain, atau sudah lupa bahwa ia pernah singgah di desa ini?
Dan Sastrowiryo?
Mengapa Sastrowiryo mau menikahi Ratih yang sedang hamil?
Karena kasihan?
Karena terpaksa?
Karena tidak ada lelaki lain yang mau?
Karena Ratih membutuhkan seorang suami agar anaknya tidak lahir tanpa ayah?
Karena Sastrowiryo sendiri mungkin juga memiliki masa lalu yang kelam sehingga tidak bisa memilih?
Danang tidak tahu.
Ia terlalu muda untuk mengerti kompleksitas hubungan orang dewasa.
Ia terlalu muda untuk memahami mengapa orang mau menikahi orang lain bukan karena cinta, tetapi karena kewajiban, karena kasihan, karena takut akan aib.
Ia terlalu muda untuk mengerti bahwa dunia orang dewasa penuh dengan kompromi dan kepalsuan dan rahasia.
Yang ia tahu, malam itu, duduk di bawah rumah yang gelap dan lembab, di antara tiang-tiang kayu ulin yang mulai lapuk, di atas tanah becek yang dingin, ia merasa seperti kehilangan sesuatu.
Sesuatu yang selama ini ia anggap sebagai miliknya.
Sesuatu yang selama ini menjadi fondasi identitasnya.
Sesuatu yang selama ini membuatnya merasa bahwa ia adalah bagian dari sesuatu.
Rasa memiliki.
Rasa bahwa ia adalah anak Sastrowiryo.
Rasa bahwa ia memiliki ayah, meskipun ayah itu jarang bicara, jarang tersenyum, lebih sering memegang botol daripada memegang tangannya.
Rasa bahwa ia memiliki rumah, meskipun rumah itu dingin dan sunyi dan penuh rahasia.
Rasa bahwa ia adalah Danang, anak Sastrowiryo dan Ratih, dari desa di tepi Sungai Kapuas Muara, dengan masa lalu yang sederhana dan masa depan yang masih bisa ia tentukan.
Semua itu runtuh dalam beberapa menit.
Runtuh oleh bisikan dua perempuan tua yang tidak pernah ia kenal.
Runtuh oleh kata-kata yang tidak sengaja ia dengar.
Runtuh oleh rahasia yang selama ini disembunyikan orang dewasa darinya.
Runtuh seperti rumah kartu yang ditiup angin.
Runtuh seperti menara pasir yang dihantam ombak.
Runtuh seperti mimpi yang pecah ketika kita terbangun.
Malam itu Danang tidak makan.
Ia hanya duduk di kamarnya, di tikar pandan yang gatal, memandang dinding kayu yang retak, mendengar suara ibunya memanggil dari dapur, tetapi tidak menjawab.
"Danang! Makan malam!" suara Ratih dari dapur, seperti biasa, lembut, tidak pernah keras, tidak pernah marah, bahkan ketika Danang tidak segera menjawab.
Diam.
"Nang! Makan dulu! Nanti habis!"
Diam.
"Danang? Kau dengar Ibu?"
Diam.
Ratih berjalan ke kamar Danang. Wajahnya cemas. Matanya mencari-cari. Ia melihat Danang duduk di tikar, memandang kosong ke dinding. Piring berisi nasi dan lauk di tangannya masih utuh, belum tersentuh.
"Nang, kenapa tidak makan?" tanya Ratih, suaranya lembut, penuh perhatian, tetapi juga cemas. "Sakit?"
Danang tidak menjawab. Ia hanya menatap ibunya. Matanya kosong. Tidak marah. Tidak sedih. Tidak kecewa. Hanya kosong. Kosong yang lebih menakutkan daripada amarah apa pun. Kosong yang seperti sumur tua yang tidak pernah mencapai dasar. Kosong yang seperti lubang hitam di angkasa, yang menyedot semua cahaya di sekitarnya.
"Nang?" Ratih duduk di samping Danang, meletakkan piring di lantai. Tangannya meraih dahi Danang, merasakan suhu tubuhnya. "Kau demam? Dingin sekali."
Danang menarik tangannya. Bukan karena marah. Bukan karena benci. Hanya karena ia tidak ingin disentuh. Ia tidak ingin dihibur. Ia tidak ingin dibujuk. Ia ingin sendiri. Ia ingin memproses semua yang baru saja ia dengar. Ia ingin memahami apa artinya semua ini bagi dirinya.
"Siapa ayahku, Mak?" tanyanya tiba-tiba. Suaranya datar, tanpa emosi, seperti bertanya tentang cuaca, seperti bertanya tentang harga beras di pasar.
Ratih terkejut. Wajahnya yang tadinya cemas, kini berubah pucat. Lebih pucat dari biasanya. Lebih pucat dari ketika ia melihat api membakar gudang. Lebih pucat dari ketika Suryaputra menuduh Danang. Pucat seperti kertas, seperti kapur, seperti orang yang baru melihat hantu.
"Apa maksudmu, Nang?" suara Ratih bergetar. Tangannya gemetar. Dadanya naik turun dengan cepat. "Kau punya Bapak. Bapakmu Sastrowiryo. Di ruang tengah. Tidur di kursi bambu."
"Aku dengar orang-orang bicara, Mak," kata Danang. Matanya masih kosong, masih menatap ibunya tanpa berkedip. "Mereka bilang Bapak bukan ayah kandungku. Mereka bilang Mak hamil sebelum menikah. Mereka bilang ayah kandungku penari ketoprak dari seberang sungai. Mereka bilang aku anak haram."
Ratih menutup mulutnya dengan kedua tangan. Tangannya yang gemetar menekan bibirnya yang juga gemetar. Matanya yang tadinya masih berusaha tegar, kini basah. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, mulai jatuh satu per satu, perlahan, seperti tetesan air dari atap yang bocor.
"Siapa yang bilang, Nang?" bisiknya. Suaranya pecah. Tangisnya keluar, tidak bisa lagi ditahan. "Siapa yang berani bicara seperti itu di depan anakku?"
"Aku dengar sendiri, Mak. Aku di bawah rumah. Dua orang tua lewat. Mereka bicara. Mereka tidak tahu aku di sana. Mereka pikir tidak ada yang mendengar."
Ratih menangis.
Ia tidak bisa lagi berpura-pura.
Tidak bisa lagi menyembunyikan.
Tidak bisa lagi melindungi.
Dinding yang selama ini ia bangun untuk melindungi anaknya, dan mungkin juga untuk melindungi dirinya sendiri, runtuh dalam satu malam.
Runtuh oleh kejujuran seorang anak.
Runtuh oleh kata-kata yang tidak sengaja didengar.
Runtuh oleh rahasia yang tidak bisa lagi ia sembunyikan.
"Nang... Ibu... Ibu minta maaf..." Ratih terisak, suaranya terputus-putus, seperti radio tua yang rusak. "Ibu tidak bermaksud menyembunyikan... Ibu hanya ingin melindungimu... Ibu hanya tidak ingin kau terluka... Ibu hanya tidak ingin kau tahu bahwa ayah kandungmu... bahwa ayah kandungmu..."
"Bahwa ayah kandungku tidak menginginkan aku," sambung Danang. Masih datar. Masih kosong. Masih tanpa emosi. Seolah ia sedang membicarakan orang lain. Seolah luka itu bukan lukanya. Seolah rahasia itu bukan tentang dirinya.
Ratih menangis lebih keras.
Ia tidak bisa membantah.
Karena itu benar.
Ayah kandung Danang tidak menginginkannya.
Lelaki itu pergi begitu saja setelah mengetahui Ratih hamil.
Tidak ada pesan.
Tidak ada kabar.
Tidak ada tanggung jawab.
Tidak ada.
Danang menatap ibunya yang menangis.
Ia ingin marah.
Ia ingin membentak.
Ia ingin bertanya mengapa ibunya membiarkan hal itu terjadi.
Mengapa ibunya begitu bodoh hingga hamil oleh lelaki yang tidak bertanggung jawab.
Mengapa ibunya tidak berpikir tentang masa depannya, tentang masa depan anak yang akan lahir.
Mengapa ibunya begitu lemah sehingga harus dinikahi oleh Sastrowiryo karena kasihan.
Tapi ia tidak bisa.
Ia tidak bisa marah pada ibunya.
Ia tidak bisa membenci ibunya.
Ia tidak bisa menyalahkan ibunya.
Karena ia melihat ibunya.
Perempuan yang setiap pagi bangun lebih pagi dari siapa pun untuk memasak nasi dan menyiapkan kopi.
Perempuan yang setiap siang berjalan ke pasar dengan keranjang di kepala untuk membeli sayur dan lauk.
Perempuan yang setiap malam tidur paling akhir setelah membereskan semua pekerjaan rumah.
Perempuan yang jarang mengeluh, jarang menangis di depan orang lain, selalu tersenyum ketika Danang melihatnya.
Perempuan yang malam ini, di kamar sempit dengan dinding kayu yang retak, menangis di hadapannya.
"Ibu tidak akan meninggalkan Danang," bisik Ratih di antara isaknya. "Ibu akan selalu di sini. Ibu akan selalu menjaga Danang. Ibu akan selalu melindungi Danang. Danang adalah segalanya bagi Ibu."
Danang menatap ibunya.
Matanya yang kosong tadi, mulai basah.
Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Ia tidak ingin menangis.
Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan menangis.
Tidak di depan ibunya.
Tidak di depan siapa pun.
Tapi air mata itu tetap keluar.
Mengalir di pipinya yang kurus.
Jatuh ke pangkuannya.
Membasahi kain sarung yang dikenakannya.
Ia tidak bisa menahannya.
Ia sudah terlalu lelah untuk menahan apa pun.
"Ibu, aku takut," bisik Danang. Suaranya kecil, seperti suara anak kecil yang tersesat di hutan, seperti suara anak kecil yang kehilangan orang tuanya di pasar yang ramai.
Ratih memeluknya. Pelukan yang erat. Pelukan yang hangat. Pelukan yang seperti ingin melindunginya dari seluruh dunia. Pelukan yang seperti ingin mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, meskipun ia sendiri tidak yakin.
"Jangan takut, Nang. Ibu di sini. Ibu tidak akan pergi. Ibu akan selalu di sini."
Malam itu, Danang belajar bahwa kebenaran tidak selalu membebaskan.
Kadang kebenaran justru mengikat.
Mengikat dengan rantai yang berat.
Rantai yang terbuat dari kata-kata.
Kata-kata seperti "anak haram", "hamil di luar nikah", "tidak punya ayah kandung".
Kata-kata yang akan terus melekat padanya sepanjang hidupnya.
Kata-kata yang akan selalu diingat, tidak peduli seberapa jauh ia berlari, tidak peduli seberapa banyak ia berubah, tidak peduli seberapa sukses ia nanti.
Dan ia belajar bahwa kadang, rahasia disembunyikan bukan karena orang tua ingin berbohong.
Tetapi karena mereka ingin melindungi.
Melindungi anak-anak mereka dari rasa sakit yang tidak perlu.
Melindungi anak-anak mereka dari dunia yang kejam.
Melindungi anak-anak mereka dari kebenaran yang terlalu berat untuk dipikul.
Tapi kebenaran, seberat apa pun, pada akhirnya akan terungkap juga.
Dan ketika itu terjadi, luka yang ditimbulkan akan jauh lebih dalam.
Keesokan paginya, Danang tidak pergi ke sekolah.
Ia berbaring di tikarnya, memandang langit-langit yang retak, mendengar suara ayam berkokok di kejauhan, suara ibunya yang mondar-mandir di dapur, suara ayahnya yang masih mendengkur di kamar sebelah.
Ia memandang ayahnya dari jauh ketika lelaki itu keluar kamar, berjalan ke dapur, mengambil segelas air putih, lalu duduk di kursi bambu dekat jendela.
Mencoba mencari jawaban di wajah lelaki yang selama ini dipanggilnya "Bapak".
Mencari kemiripan.
Mencari tanda.
Apakah matanya mirip dengan mata Sastrowiryo?
Apakah bentuk rahangnya?
Apakah cara tertawanya?
Apakah cara berjalannya?
Apakah ada satu pun sifat fisik yang diwariskan dari lelaki ini?
Tetapi semakin lama ia memandang, semakin besar rasa asing yang tumbuh di dalam dadanya.
Bukan karena Sastrowiryo berubah.
Sastrowiryo tetap sama seperti biasanya.
Diam.
Keras.
Jauh.
Tidak pernah menunjukkan kasih sayang.
Tidak pernah memeluknya.
Tidak pernah mengatakan "Aku sayang kamu, Nak."
Yang berubah adalah cara Danang melihatnya.
Dulu, ia melihat Sastrowiryo sebagai ayah.
Ayah yang dingin, ayah yang keras, ayah yang jarang bicara, tetapi ayah.
Sekarang, ia melihat Sastrowiryo sebagai orang asing.
Orang asing yang tinggal di rumah yang sama dengannya.
Orang asing yang makan di meja yang sama dengannya.
Orang asing yang tidur di rumah yang sama dengannya.
Orang asing yang membayar biaya sekolahnya, yang membelikannya pakaian, yang memberinya makan.
Tetapi orang asing.
Bukan ayah.
Bukan darah dagingnya.
Dan kadang, luka paling dalam bukan datang dari kebencian.
Bukan dari pengkhianatan.
Bukan dari kekerasan.
Tetapi dari kenyataan bahwa hidup yang kita kenal mungkin bukan milik kita sepenuhnya.
Identitas yang kita bangun mungkin hanyalah ilusi.
Rumah yang kita panggil rumah mungkin hanyalah tempat persinggahan sementara.
Keluarga yang kita cintai mungkin tidak seperti yang kita bayangkan.
Dan ketika ilusi itu runtuh, ketika kebohongan itu terungkap, ketika kenyataan itu menghantam, yang tersisa hanyalah pertanyaan.
Siapa aku?
Dari mana aku berasal?
Kemana aku akan pergi?
Pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh siapa pun.
Pertanyaan-pertanyaan yang akan menemaninya sepanjang hidupnya.
Pertanyaan-pertanyaan yang mungkin tidak akan pernah terjawab.
Bab 13
Pertanyaan yang Tak Berani Dijawab
Malam semakin larut ketika Danang akhirnya berdiri di depan ibunya.
Bukan malam yang sama dengan malam ketika ia mendengar bisikan dari bawah rumah. Bukan malam yang sama dengan malam ketika ia mengetahui bahwa Sastrowiryo bukan ayah kandungnya. Sudah tiga malam berlalu sejak itu. Tiga malam ia berbaring di tikarnya, memandang langit-langit yang retak, mendengar suara ibunya yang masih bergerak di dapur, mendengar suara ayahnya yang mendengkur di kamar sebelah, memikirkan semua yang telah ia dengar.
Tiga malam tanpa tidur.
Tiga malam tanpa makan.
Tiga malam hanya berbaring, memandang kosong ke depan, berusaha memahami sesuatu yang terlalu besar untuk dipahami.
Tiga malam ia menghindari ayahnya. Ketika Sastrowiryo pulang dari kebun atau dari dermaga, Danang masuk ke kamarnya, menutup pintu, berpura-pura tidur. Ia tidak bisa menatap mata lelaki itu. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Apakah ia masih harus memanggilnya "Bapak"? Apakah ia masih berhak memanggilnya "Bapak"? Apakah Sastrowiryo masih menganggapnya sebagai anak, meskipun bukan darah dagingnya?
Tiga malam ia juga menghindari Kirana. Ketika Kirana datang ke rumahnya setelah sekolah, mencari tahu mengapa ia tidak masuk sekolah, Danang menyuruh ibunya untuk mengatakan bahwa ia sakit. Ia tidak bisa bertemu Kirana. Ia tidak bisa menatap mata Kirana yang selalu ceria, yang selalu penuh harapan, yang selalu membuatnya merasa bahwa dunia ini baik. Karena saat ini, dunia tidak terasa baik. Dunia terasa gelap. Dunia terasa seperti lubang hitam yang menyerap semua cahaya.
Tapi malam ini, ia tidak bisa lagi menghindar.
Ia harus tahu.
Ia harus mendengar dari mulut ibunya sendiri.
Bukan dari bisikan dua perempuan tua di bawah rumah.
Bukan dari kata-kata Surya di halaman sekolah.
Bukan dari tatapan curiga tetangga.
Tetapi dari ibunya.
Dari satu-satunya orang yang mungkin tidak akan berbohong padanya.
Dari satu-satunya orang yang mungkin akan mengatakan kebenaran, meskipun kebenaran itu menyakitkan.
Ratih sedang melipat pakaian di ruang tengah. Lampu minyak di sampingnya berkedip-kedip, hampir padam. Minyaknya hampir habis, sumbunya sudah pendek, nyala apinya kecil dan tidak stabil, seperti akan mati kapan saja. Di atas meja kayu di depannya, tumpukan pakaian yang sudah disetrika masih hangat, menunggu untuk dilipat dan disimpan di lemari.
Tangannya bergerak otomatis, melipat kain sarung dan kebaya dengan gerakan yang sudah ia lakukan ribuan kali, sejak ia masih gadis, sejak ia masih tinggal di rumah orang tuanya, sejak sebelum ia menikah, sejak sebelum Danang lahir. Melipat. Merapikan. Menekan. Menumpuk. Gerakan yang teratur, seperti doa yang diucapkan berulang-ulang, seperti mantra yang tidak pernah berubah.
Wajahnya lelah. Lingkaran hitam di bawah matanya semakin gelap, semakin dalam, seperti dua lubang yang digali di bawah matanya. Kulitnya pucat, tidak ada lagi warna merah di pipinya yang dulu membuatnya terlihat cantik di mata pemuda-pemuda desa. Rambutnya kusut, tidak disisir sejak pagi, beberapa helai uban mulai terlihat di pelipisnya, meskipun usianya baru tiga puluh tahun.
Danang berdiri di ambang pintu yang memisahkan ruang tengah dari lorong menuju kamar. Tubuhnya kecil, kurus, rapuh. Baju tidurnya yang longgar bergantung di bahunya yang sempit. Kakinya telanjang, dingin, karena lantai kayu yang dingin. Matanya sayu, lesu, tidak bercahaya seperti biasanya.
"Ibu."
Ratih menoleh. Wajahnya lelah, tetapi masih tersenyum kecil melihat anaknya. Senyum yang otomatis, yang keluar tanpa ia sadari, seperti refleks, seperti kebiasaan, seperti cara tubuhnya mengatakan "Aku baik-baik saja" meskipun tidak.
"Iya, Nang? Kenapa belum tidur? Besok sekolah."
Danang tidak menjawab. Ia hanya berdiri di ambang pintu, memandang ibunya, memandang perempuan yang melahirkannya, yang membesarkannya, yang bekerja keras setiap hari untuk memberinya makan dan pakaian dan tempat tinggal.
Perempuan yang menyimpan rahasia selama bertahun-tahun.
Perempuan yang membiarkannya tumbuh dengan kebohongan.
Perempuan yang membiarkannya memanggil lelaki lain "Bapak" tanpa tahu bahwa lelaki itu bukan ayah kandungnya.
Perempuan yang, meskipun demikian, ia cintai lebih dari apa pun di dunia ini.
"Ibu," panggilnya lagi, suaranya lebih pelan, lebih lembut, tetapi lebih dalam, seperti suara yang keluar dari dasar sumur yang paling dalam.
"Iya, Nang?" Ratih mulai cemas. Ia meletakkan pakaian yang sedang ia lipat di atas meja. Tangannya berhenti bergerak. Matanya menatap Danang dengan penuh perhatian, mencari tanda-tanda bahwa anaknya sakit, bahwa anaknya demam, bahwa anaknya tidak baik-baik saja.
Danang menggenggam ujung bajunya. Tangannya gemetar. Buku-buku jarinya yang kecil dan kurus memutih karena tekanan. Kuku-kukunya yang hitam karena kotoran menusuk telapak tangannya, tetapi ia tidak merasakan sakit.
"Bapak... benar ayahku, Mak?"
Tangan Ratih terhenti.
Sehelai kain sarung jatuh dari pangkuannya. Kain sarung kotak-kotak merah hitam yang biasa dipakai Sastrowiryo setiap hari, yang sudah usang dan berlubang di beberapa tempat, yang sudah dicuci berkali-kali hingga warnanya memudar. Kain itu jatuh ke lantai kayu dengan suara yang terdengar sangat keras di ruangan yang sunyi, seperti suara sesuatu yang pecah, seperti suara kaca yang jatuh dari meja.
Ruangan mendadak sunyi.
Bahkan jangkrik di luar seolah berhenti bernyanyi.
Bahkan angin seolah berhenti berhembus.
Bahkan lampu minyak di samping Ratih seolah berhenti berkedip.
Hanya suara napas Ratih yang mulai memburu, napas yang pendek-pendek, seperti orang yang baru saja berlari jauh, seperti orang yang sedang panik, seperti orang yang tahu bahwa saat yang ditakuti akhirnya tiba.
Dan suara napas Danang yang dalam, teratur, seperti orang yang sudah mempersiapkan diri untuk pertanyaan ini sejak lama, seperti orang yang sudah tahu jawabannya tetapi tetap ingin mendengar dari mulut ibunya.
Ratih memandang anak laki-lakinya lama sekali.
Matanya bergerak dari ujung rambut Danang yang ikal dan tidak pernah rapi, rambut yang sama persis dengan rambut lelaki itu, lelaki dengan rambut panjang yang menari di atas panggung ketoprak bertahun-tahun lalu. Ke matanya yang terlalu gelap dan terlalu dalam untuk anak seusianya, mata yang sama persis dengan mata lelaki itu, mata yang membuat Ratih jatuh cinta pada pandangan pertama. Ke bibirnya yang gemetar, bibir yang sama persis dengan bibir lelaki itu, bibir yang mengucapkan kata-kata manis yang membuat Ratih percaya bahwa ia dicintai. Ke tangannya yang terus memilin ujung baju, gerakan yang diwarisi dari ibunya, tetapi entah mengapa juga mengingatkannya pada lelaki itu.
Seolah pertanyaan itu sudah ia tunggu bertahun-tahun, dan tetap tidak siap menjawabnya.
Seolah ia sudah tahu bahwa suatu hari nanti Danang akan bertanya, dan ia sudah mempersiapkan jawabannya ribuan kali di dalam kepalanya, tetapi ketika saatnya tiba, semua persiapan itu lenyap, yang tersisa hanyalah ketakutan dan air mata.
"Siapa bilang begitu, Nang?" suara Ratih terdengar aneh. Bukan marah. Bukan sedih. Lebih mirip ketakutan. Ketakutan yang sama yang ia lihat di mata ayahnya di dermaga tua. Ketakutan yang sama yang ia dengar dalam suara ibunya ketika berbicara tentang Mandor Jalil. Ketakutan yang sama yang selama ini ia rasakan tetapi tidak pernah ia akui.
Danang menunduk. Matanya menatap lantai kayu yang berderit. Di sela-sela papan lantai, ia bisa melihat tanah di bawah rumah, gelap, lembab, dingin. "Orang-orang, Mak. Aku dengar sendiri. Dua orang tua yang lewat di bawah rumah."
Ratih menghela napas panjang. Napas yang terasa seperti mengeluarkan seluruh isi dadanya sekaligus, seperti menghela beban yang selama bertahun-tahun ia pikul sendirian. Bahunya yang tadinya tegang, kini sedikit melorot, seperti orang yang akhirnya menyerah setelah berjuang terlalu lama.
"Danang..." panggilnya, suaranya lembut, tetapi ada getaran di sana, getaran yang mengatakan bahwa ia sedang menangis, bahwa ia sedang berusaha menahan tangis, bahwa ia sedang berusaha tetap kuat untuk anaknya.
"Jawab saja, Mak," potong Danang. Suaranya kecil. Bergetar. Namun ada sesuatu yang baru dalam nada itu. Bukan lagi rasa ingin tahu seorang anak yang polos, yang hanya ingin tahu karena penasaran. Bukan lagi pertanyaan untuk mengisi keingintahuan tentang dunia. Ada sesuatu yang lebih dewasa di sana, sesuatu yang lahir dari luka yang baru saja terbuka, dari kebenaran yang baru saja terungkap, dari kenyataan bahwa masa kecilnya mungkin telah berakhir malam itu juga.
Bukan karena ia tumbuh dewasa secara alami, melalui proses yang lambat dan bertahap.
Tetapi karena takdir memaksanya untuk dewasa lebih cepat dari yang seharusnya.
Memaksanya untuk menghadapi kenyataan yang bahkan orang dewasa pun tidak siap menghadapinya.
Memaksanya untuk bertanya tentang identitasnya, tentang asal-usulnya, tentang darah yang mengalir di tubuhnya.
Ketakutan.
Ratih mendekat, lalu memegang wajah anaknya. Tangannya yang kasar karena kerja keras, karena mencuci dan memasak dan membersihkan, karena sabun dan air dan keringat, terasa lembut di pipi Danang. Tangannya yang hangat, yang selama ini menjadi tempat Danang berlindung ketika dunia terasa terlalu kejam, kini terasa dingin, gemetar, tidak stabil.
Matanya basah. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, membentuk lapisan tipis yang membuat matanya terlihat berkilauan di bawah cahaya lampu minyak yang redup. Tetapi ia berusaha tersenyum. Tersenyum untuk Danang. Tersenyum meskipun hatinya hancur. Tersenyum meskipun air mata hampir jatuh.
"Dengarkan Ibu, Nang," bisiknya, suaranya lembut, seperti sedang menenangkan bayi yang menangis, seperti sedang membisikkan lagu tidur di malam yang sunyi. "Dengarkan Ibu baik-baik."
"Benar atau tidak, Mak?" Danang tidak mau mendengarkan. Ia tidak mau dihibur. Ia tidak mau dibujuk. Ia tidak mau diberikan kata-kata manis yang hanya akan membuatnya semakin bingung. Ia mau jawaban. Ya atau tidak. Benar atau salah. Hitam atau putih. Tidak ada abu-abu. Tidak ada "tapi". Tidak ada "mungkin". Tidak ada "dengarkan Ibu dulu".
Ratih terdiam.
Air matanya jatuh.
Pertama setetes.
Lalu dua tetes.
Lalu tiga tetes.
Lalu tidak bisa dihitung lagi.
Air mata yang selama ini ia tahan, yang selama ini ia pendam, yang selama ini ia sembunyikan di balik senyum dan kerja keras dan kelelahan, akhirnya keluar.
Tangis yang pecah.
Tangis yang tidak bisa lagi ditahan.
Tangis yang seperti air bah yang menghancurkan bendungan.
Tangis yang seperti hujan yang tidak pernah berhenti.
Danang belum pernah melihat ibunya menangis seperti itu.
Bukan tangisan sedih karena kelelahan, seperti malam di dapur setelah pertengkaran dengan ayahnya.
Bukan tangisan haru karena bahagia, seperti ketika Danang mendapat nilai bagus di sekolah.
Bukan tangisan karena sakit, seperti ketika ia jatuh dari sepeda dan lututnya berdarah.
Ini tangisan yang berbeda.
Tangisan seseorang yang terlalu lama memikul rahasia.
Tangisan seseorang yang terlalu lama berbohong.
Tangisan seseorang yang terlalu lama berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Tangisan seseorang yang akhirnya tidak bisa lagi berpura-pura.
"Ada hal-hal, Nang," bisik Ratih di antara isaknya, suaranya terputus-putus, seperti radio tua yang rusak, seperti pita kaset yang kusut, "yang kalau dibuka sekarang hanya akan melukaimu. Ada hal-hal yang lebih baik tidak kau ketahui. Ada hal-hal yang Ibu simpan bukan karena Ibu ingin berbohong, tetapi karena Ibu ingin melindungimu."
Danang menatap ibunya.
Matanya tidak berkedip.
Matanya yang gelap, yang dalam, yang seperti lubang sumur tua, menatap mata ibunya yang basah, yang merah, yang penuh dengan kesedihan dan ketakutan.
"Mungkin aku memang sudah terluka, Mak," katanya. Suaranya pelan, datar, tanpa emosi, seperti orang yang sudah kehabisan air mata, seperti orang yang sudah terlalu sering dilukai hingga tidak bisa lagi merasakan sakit. "Mungkin aku sudah terluka sejak lama. Sejak Surya memanggilku anak haram. Sejak tetangga berbisik di belakangku. Sejak aku sadar bahwa keluarganya berbeda dengan keluarga lain. Sejak aku sadar bahwa ayahnya tidak seperti ayah-ayah lain."
Ratih menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangan.
Tangisnya pecah lebih keras.
Ia tidak bisa lagi berpura-pura.
Tidak bisa lagi menyembunyikan.
Tidak bisa lagi melindungi.
Dinding yang selama ini ia bangun untuk melindungi anaknya, dinding yang ia buat dari kebohongan dan rahasia dan senyum palsu, dinding yang ia yakini akan kokoh selamanya, runtuh dalam satu malam.
Runtuh oleh pertanyaan seorang anak.
Runtuh oleh kejujuran yang tidak bisa ia berikan.
Runtuh oleh kenyataan bahwa ia tidak bisa lagi melindungi Danang dari dunia.
Danang mundur satu langkah.
Satu langkah kecil.
Hanya beberapa sentimeter.
Tetapi terasa seperti jarak bermil-mil.
Seperti jarak antara masa kecil yang ia tinggalkan dan masa dewasa yang menunggunya.
Seperti jarak antara Danang yang tidak tahu apa-apa dan Danang yang tahu terlalu banyak.
Seperti jarak antara kebohongan yang nyaman dan kebenaran yang menyakitkan.
"Ibu, aku hanya ingin tahu," kata Danang, suaranya masih pelan, masih datar, tetapi ada sesuatu yang baru di sana. Sesuatu yang seperti tekad. Sesuatu yang seperti keberanian. Sesuatu yang seperti keinginan untuk tidak lagi hidup dalam kegelapan. "Aku hanya ingin tahu siapa aku. Dari mana aku berasal. Darah siapa yang mengalir di tubuhku. Itu saja, Mak. Itu saja."
Ratih tidak bisa menjawab.
Ia hanya bisa menangis.
Menangis di hadapan anaknya.
Menangis karena ia tahu bahwa ia tidak bisa lagi melindungi.
Menangis karena ia tahu bahwa Danang tumbuh dewasa, dan menjadi dewasa berarti menerima luka, menerima kenyataan pahit, menerima bahwa dunia tidak selalu ramah.
Danang menatap ibunya yang menangis.
Ia ingin memeluk ibunya.
Ia ingin mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.
Ia ingin mengatakan bahwa ia tidak marah.
Ia ingin mengatakan bahwa ia mengerti.
Tapi ia tidak bisa.
Karena ia juga terluka.
Ia juga butuh dipeluk.
Ia juga butuh mendengar bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Tapi tidak ada yang memeluknya.
Tidak ada yang mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Ayahnya terlalu sibuk dengan botolnya.
Ibunya terlalu sibuk menangis.
Kirana tidak ada di sini.
Ia hanya sendirian.
Sendirian dengan pertanyaan yang tidak berani dijawab.
Sendirian dengan kebenaran yang tidak ingin ia dengar.
Sendirian dengan luka yang baru saja terbuka dan akan terus berdarah untuk waktu yang lama.
Malam itu, Danang tidak kembali ke kamarnya.
Ia duduk di beranda rumah, di kursi bambu yang biasanya diduduki ayahnya, memandang sungai yang gelap di kejauhan.
Hujan sudah reda. Langit mulai cerah. Bintang-bintang muncul satu per satu, seperti titik-titik cahaya kecil di lautan kegelapan. Bulan hampir penuh, hanya sedikit yang kurang, memancarkan cahaya keperakan yang lembut, yang membuat dunia terlihat seperti mimpi.
Sungai mengalir tenang. Airnya gelap, tidak terlihat, hanya suaranya yang terdengar, suara yang menenangkan, suara yang seperti lagu pengantar tidur dari alam.
Angin malam berhembus pelan, membawa bau tanah basah dan bunga melati dari kebun tetangga. Dingin, tetapi tidak terlalu dingin, cukup untuk membuat kulitnya merinding sedikit.
Ia memandang sungai.
Ia memandang langit.
Ia memandang bintang-bintang.
Ia memandang bulan.
Ia mencari jawaban di sana.
Tapi tidak ada jawaban.
Hanya keheningan.
Hanya kegelapan.
Hanya bintang-bintang yang berkedip tanpa peduli.
"Tuhan," bisiknya, suaranya sangat kecil, hampir tidak terdengar, bahkan oleh dirinya sendiri. "Kalau kau ada di mana pun, tolong jawab. Siapa aku? Kenapa aku dilahirkan seperti ini? Kenapa ayahku pergi? Kenapa Bapak yang membesarkanku bukan ayah kandungku? Kenapa?"
Tidak ada jawaban.
Hanya angin malam yang berhembus.
Hanya jangkrik yang bernyanyi.
Hanya suara sungai yang mengalir.
Hanya keheningan yang abadi.
Danang menunduk.
Air matanya jatuh ke pangkuannya.
Ia tidak menangis keras-keras.
Ia hanya membiarkan air matanya jatuh.
Satu per satu.
Perlahan.
Seperti tetesan air dari atap yang bocor.
Seperti hujan gerimis di musim kemarau.
Seperti kesedihan yang tidak ingin mengganggu siapa pun.
Di usia yang masih sangat kecil, di usia di mana anak-anak seharusnya bermain kejar-kejaran dan berlari tanpa alas kaki di lumpur, Danang mulai merasakan sesuatu yang tak pernah diajarkan siapa pun di sekolah.
Tidak ada guru yang menjelaskan.
Tidak ada buku yang menuliskan.
Tidak ada orang dewasa yang mempersiapkannya.
Pelajaran tentang bagaimana rasanya ketika identitasmu hancur dalam satu kalimat.
Tentang bagaimana rasanya ketika rumah yang selama ini kau kenal, ternyata berdiri di atas fondasi yang palsu.
Tentang bagaimana rasanya ketika orang yang kau panggil ayah selama ini, ternyata bukan ayah kandungmu.
Tentang bagaimana rasanya ketika kau menyadari bahwa kau adalah anak haram, anak di luar nikah, anak yang tidak diinginkan oleh ayah kandungmu sendiri.
Pelajaran yang pahit.
Pelajaran yang menyakitkan.
Pelajaran yang akan ia ingat sepanjang hidupnya.
Dan malam itu, masa kecil Danang mulai perlahan berakhir.
Bukan karena ia tumbuh dewasa secara alami, melalui proses yang lambat dan bertahap, melalui pengalaman-pengalaman yang membentuk karakternya.
Tetapi karena takdir memaksanya untuk dewasa lebih cepat dari yang seharusnya.
Memaksanya untuk menghadapi kenyataan yang bahkan orang dewasa pun tidak siap menghadapinya.
Memaksanya untuk tumbuh sebelum waktunya, seperti pohon yang dipaksa berbuah sebelum akarnya cukup kuat, yang buahnya mungkin tetap tumbuh, tetapi pohonnya akan selamanya lemah.
Memaksanya untuk kehilangan masa kecil yang seharusnya ia nikmati, yang seharusnya ia isi dengan tawa dan permainan dan mimpi-mimpi indah.
Dan ketika Danang akhirnya berdiri dan berjalan kembali ke kamarnya, ketika ia berbaring di tikar pandan yang gatal, ketika ia memejamkan mata dan berusaha tidur, ia tahu bahwa ia tidak akan pernah kembali menjadi Danang yang dulu.
Danang yang dulu sudah mati.
Mat di bawah rumah.
Mat di ruang tengah.
Mat di beranda.
Dan yang tersisa hanyalah Danang yang baru.
Danang yang tahu.
Danang yang terluka.
Danang yang akan membawa luka ini sepanjang hidupnya.
Bab 14
Rahasia yang Menjadi Senjata
Desa kecil tidak pernah benar-benar menyimpan rahasia.
Di kota, orang bisa menghilang. Bisa berganti identitas. Bisa memulai hidup baru tanpa ada yang tahu masa lalunya. Di kota, orang-orang terlalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing, terlalu sibuk mengejar uang dan karir, terlalu sibuk dengan kemacetan dan polusi, sehingga tidak punya waktu untuk memperhatikan tetangga di seberang jalan, apalagi menggali masa lalu mereka.
Tetapi di desa, setiap orang tahu nama orang tuamu, nama kakek nenekmu, bahkan nama kakek buyutmu. Setiap orang tahu dosa-dosamu, kesalahanmu, aibmu. Setiap orang tahu siapa yang hamil di luar nikah, siapa yang suami istrinya bertengkar di tengah malam, siapa yang berutang ke lintah darat, siapa yang anaknya kabur ke kota tanpa pamit.
Di desa, tidak ada yang bisa disembunyikan selamanya. Dinding rumah panggung terlalu tipis untuk menahan suara. Pagar bambu terlalu renggang untuk menghalangi pandangan. Jalan setapak terlalu sempit untuk menghindari bertemu tetangga.
Dan di desa, yang disebut bisikan, lambat laun akan berubah menjadi senjata.
Bukan senjata yang terbuat dari besi atau kayu, yang bisa dilihat dan dihindari. Bukan senjata yang melukai tubuh, yang meninggalkan bekas luka yang bisa diobati dengan daun obat. Tetapi senjata yang terbuat dari kata-kata. Senjata yang melukai hati. Senjata yang meninggalkan luka yang tidak pernah benar-benar sembuh.
Dan Surya Baskara adalah orang pertama yang belajar memanfaatkannya.
Bukan karena ia jenius. Bukan karena ia pandai. Bukan karena ia memiliki keahlian khusus dalam hal ini.
Tetapi karena ia belajar dari ayahnya, Suryaputra, saudagar kaya yang selalu mendapatkan apa yang ia inginkan, yang selalu menang dalam setiap persaingan, yang selalu berhasil menghancurkan saingan-saingannya bukan dengan kekuatan fisik, tetapi dengan uang dan koneksi dan kata-kata.
Surya masih anak-anak, usianya baru delapan tahun, sebaya dengan Danang. Tetapi ia sudah belajar bahwa uang bisa membeli apa pun. Uang bisa membeli kesetiaan. Uang bisa membeli rasa hormat. Uang bisa membeli ketakutan. Dan uang, jika digunakan dengan cara yang tepat, bisa membeli kehancuran seseorang.
Siang itu di halaman sekolah, Danang duduk sendiri di bawah pohon trembesi.
Daun-daun trembesi yang kecil-kecil berjatuhan perlahan, seperti hujan hijau yang tidak pernah berhenti. Beberapa daun jatuh di rambutnya, di bahunya, di pangkuannya, tetapi ia tidak menyadarinya. Matanya kosong, menatap ke arah lapangan, tetapi tidak melihat apa pun.
Buku gambar di pangkuannya terbuka di halaman kosong. Pensil pendek di tangannya sudah siap, tetapi ia tidak menggambar apa-apa. Hanya garis. Garis lurus. Garis melengkung. Garis yang berpotongan. Seperti peta yang tidak mengarah ke mana pun. Seperti jalan yang buntu. Seperti hidup yang tidak tahu harus ke mana.
Ia tidak pergi ke sungai sore itu. Kirana sedang membantu guru membereskan buku di perpustakaan. Biasanya ia akan menunggu, atau pergi ke sungai sendirian, atau pulang lebih awal. Tapi sore ini, ia memilih untuk duduk di bawah pohon trembesi, sendirian, menikmati kesunyian yang tidak perlu dijelaskan kepada siapa pun.
Tiba-tiba, suara langkah kaki kecil terdengar dari belakangnya.
Bukan langkah kaki Kirana. Langkah kaki Kirana ringan, cepat, seperti burung yang melompat-lompat di dahan. Langkah kaki ini berat, lambat, sengaja, seperti langkah kaki seseorang yang ingin didengar, yang ingin diketahui kehadirannya, yang ingin menimbulkan ketakutan sebelum ia bahkan berbicara.
Danang tidak menoleh.
Ia sudah tahu siapa itu.
Hanya satu orang di sekolah ini yang berjalan seperti itu.
Surya.
"Sendirian lagi, Danang?" suara Surya terdengar dari belakangnya, dekat, terlalu dekat, hanya beberapa langkah di belakangnya. Suara yang manis tetapi beracun, seperti buah yang indah tetapi mematikan. "Kasihan sekali. Tidak punya teman, ya?"
Danang tidak menjawab. Tangannya terus menggambar garis di atas kertas. Garis lurus. Garis melengkung. Garis berkelok. Tidak membentuk apa pun. Tidak berarti apa pun. Seperti hidupnya.
Surya berjalan ke sampingnya, lalu berdiri di depan Danang, menghalangi pandangannya ke lapangan. Kini ia bisa melihat wajah Surya. Wajah yang selalu rapi, dengan rambut disisir menggunakan minyak rambut yang membuatnya mengkilap dan wangi. Kemeja batik yang disetrika tanpa kerutan, dengan motif parang yang rumit. Celana kain yang tidak tambal sulam, dengan lipatan setrika yang masih terlihat jelas. Sepatu kanvas putih yang masih bersih, tanpa setitik lumpur pun.
"Kau tahu, Danang?" Surya tersenyum. Senyum yang manis, senyum yang ramah, senyum yang seolah-olah ia adalah teman baik Danang yang datang untuk menghibur. "Ayahku bilang, kadang orang memang tidak tahu siapa bapaknya sendiri. Kasihan, ya."
Danang mengangkat kepala.
Matanya yang kosong tadi, kini berubah. Ada api di sana. Api yang dingin. Api yang tidak membakar, tetapi membekukan. Api yang membuat Surya, yang tadinya percaya diri, merasa sedikit tidak nyaman.
"Apa maksudmu?" tanya Danang. Suaranya tenang. Sangat tenang. Tidak ada getaran. Tidak ada gemetar. Tidak ada ketakutan. Hanya ketenangan yang aneh, ketenangan yang seperti air danau yang tidak bergerak, yang permukaannya datar tetapi di dalamnya mungkin ada sesuatu yang berbahaya.
Surya menunduk sedikit, mendekatkan wajahnya ke Danang, seperti sedang membisikkan rahasia, tetapi suaranya sengaja cukup keras untuk didengar oleh anak-anak lain yang duduk tidak jauh dari sana. Beberapa anak yang sedang bermain di dekat pohon trembesi mulai memperhatikan, telinga mereka menajam, mata mereka membulat, mulut mereka sedikit terbuka.
"Kau tahu bahwa Bapakmu bukan ayah kandungmu, kan?" bisik Surya, tetapi bisikannya sengaja cukup keras, cukup jelas, cukup untuk didengar oleh setidaknya lima atau enam anak di sekitar mereka. "Kau anak haram, Danang. Anak di luar nikah. Anak yang tidak diinginkan. Ayah kandungmu adalah penari ketoprak yang kabur setelah menghamili ibumu."
Kata-kata itu.
Haram.
Anak di luar nikah.
Tidak diinginkan.
Penari ketoprak.
Kabur.
Setiap kata seperti paku yang dipukulkan ke kayu. Setiap kata seperti pisau yang menusuk daging. Setiap kata seperti api yang membakar hati.
Danang tidak bergerak.
Wajahnya tidak berubah.
Matanya tetap tenang.
Tetapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang hancur.
Bukan hancur seperti kaca yang jatuh ke lantai, yang pecah berkeping-keping dan bisa disapu dan dibuang.
Hancur seperti sesuatu yang lebih dalam.
Hancur seperti fondasi rumah yang retak, yang tidak terlihat dari luar, tetapi di dalamnya sudah tidak kuat lagi menahan beban.
Hancur seperti kepercayaan bahwa ia adalah anak yang sah, anak yang diinginkan, anak yang memiliki tempat di dunia ini.
"Kau dengar dari mana?" tanya Danang. Suaranya masih tenang, tetapi ada sedikit getaran di ujung kata-katanya, getaran yang tidak bisa ia sembunyikan, getaran yang menunjukkan bahwa kata-kata Surya telah mencapai sasarannya.
Surya tersenyum lebih lebar. Senyum kemenangan. Senyum yang mengatakan bahwa ia menang, bahwa ia berhasil, bahwa ia telah menemukan kelemahan Danang dan menusuknya tepat di tempat yang paling sakit.
"Seluruh desa tahu, Danang," kata Surya, suaranya kembali normal, tidak lagi berbisik, cukup keras untuk didengar oleh semua anak yang ada di halaman sekolah. "Kamu saja yang tidak tahu. Karena keluarga kamu terlalu malu untuk mengakuinya. Ibumu hamil di luar nikah. Bapakmu yang sekarang hanya lelaki yang kasihan, yang mau menikahi perempuan hamil. Ayah kandungmu? Penari kampungan yang kabur. Tidak bertanggung jawab. Tidak jelas asal-usulnya. Tidak jelas darahnya."
Danang berdiri.
Perlahan.
Tidak terburu-buru.
Tidak seperti orang yang sedang marah.
Seperti orang yang sedang mengumpulkan kekuatan.
Seperti orang yang sedang mempersiapkan diri untuk sesuatu.
"Kau jaga mulutmu, Surya," kata Danang. Suaranya dingin. Sangat dingin. Lebih dingin dari air sungai di pagi hari. Lebih dingin dari angin malam di musim hujan.
Surya tidak mundur. Ia sudah terbiasa dengan ancaman. Ayahnya sering diancam oleh pesaing-pesaing bisnisnya, tetapi tidak pernah ada yang berani menyentuhnya. Karena ayahnya kaya. Karena ayahnya punya pengaruh. Karena ayahnya bisa menghancurkan siapa pun yang berani melawannya.
Surya tumbuh dengan keyakinan bahwa ia juga memiliki kekuatan yang sama. Bahwa tidak ada yang berani menyentuhnya. Bahwa ia bisa melakukan apa pun, mengatakan apa pun, tanpa takut konsekuensi.
"Aku hanya bilang fakta, Danang," kata Surya santai. Tangannya di pinggang, kepalanya mendongak, sikap yang menunjukkan bahwa ia tidak takut, bahwa ia lebih tinggi, bahwa ia lebih kuat, bahwa ia lebih berkuasa. "Kamu anak haram. Ayah kandungmu tidak mau sama kamu. Ibumu hamil di luar nikah. Bapakmu sekarang hanya lelaki miskin yang mau dinikahi karena tidak punya pilihan lain."
"Ulangi," kata Danang. Suaranya masih dingin, tetapi ada sesuatu yang baru di sana. Sesuatu yang seperti peringatan. Sesuatu yang seperti ancaman. Sesuatu yang mengatakan bahwa jika Surya mengulangi kata-katanya, sesuatu akan terjadi.
Surya mendekat. Kini jarak mereka hanya beberapa sentimeter. Surya bisa merasakan napas Danang di wajahnya. Danang bisa melihat urat-urat di leher Surya yang menegang.
"Kamu anak haram, Danang," ulang Surya, perlahan, dengan penuh penekanan, seperti sedang membacakan vonis mati. "Anak haram. Anak haram. Anak haram."
Sebelum pikirannya sempat menahan, sebelum ia sempat mempertimbangkan konsekuensi, sebelum ia sempat berpikir apakah ini benar-benar yang ia inginkan, tangan Danang melayang.
Tamparan keras mendarat di wajah Surya.
Suaranya memecah kesunyian halaman sekolah.
Plak!
Suara yang keras, jelas, tidak bisa disalahartikan sebagai sesuatu yang lain.
Semua anak yang ada di sekitar berhenti melakukan apa pun.
Mereka berhenti bermain.
Berhenti berbicara.
Berhenti bernapas, sepertinya.
Mata mereka tertuju pada Surya yang terpaku dengan tangan di pipinya, dan Danang yang berdiri dengan tangan masih terangkat, telapak tangannya masih terasa panas, jari-jarinya masih gemetar.
Wajah Surya berubah.
Dari putih menjadi merah.
Dari merah menjadi merah padam.
Bukan karena bekas tamparan. Tamparan anak kurus seperti Danang, yang badannya kecil dan kekurangan gizi, tidak akan meninggalkan bekas yang berarti di wajah Surya yang gemuk dan terawat.
Tetapi karena malu.
Karena harga dirinya terluka.
Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, seseorang berani menyentuhnya.
Bukan hanya menyentuh.
Menampar.
Di depan umum.
Di depan semua anak.
Di depan teman-teman yang selama ini takut padanya.
Di depan guru-guru yang mungkin melihat dari jendela kelas.
Surya terpaku.
Mulutnya terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Matanya membulat, tidak percaya.
Tangannya masih di pipi, meskipun tamparan itu tidak sakit.
Ia tidak percaya.
Tidak percaya ada yang berani menyentuhnya.
Tidak percaya Danang, anak tidak punya ayah itu, anak haram itu, anak miskin yang bajunya tambal sulam dan sepatunya bolong, berani menampar wajahnya di depan umum.
"Kau... kau berani?" suara Surya akhirnya keluar, tetapi tidak seperti biasanya. Tidak percaya diri. Tidak sombong. Tidak sinis. Hanya kaget. Hanya tidak percaya. Hanya seperti orang yang baru saja tersadar dari mimpi buruk.
"Aku sudah bilang, jaga mulutmu," kata Danang. Suaranya masih dingin. Masih tenang. Tidak ada penyesalan di sana. Tidak ada rasa takut. Hanya kepastian. Hanya keyakinan. Hanya keberanian yang tidak dimiliki anak seusianya.
Surya menatap Danang.
Matanya yang tadinya tidak percaya, kini berubah.
Ada kebencian di sana.
Kebencian yang murni.
Kebencian yang tidak bercampur dengan apa pun.
Kebencian yang akan tumbuh dan membesar seiring waktu.
Kebencian yang akan membuatnya melakukan hal-hal yang tidak terpikirkan oleh anak seusianya.
"Kau akan menyesal, Danang," kata Surya. Suaranya tidak lagi kaget. Tidak lagi tidak percaya. Kini dingin. Sangat dingin. Lebih dingin dari Danang. "Aku tidak akan melupakan ini. Keluargaku tidak akan melupakan ini."
"Aku juga tidak akan melupakan," jawab Danang. "Aku tidak akan melupakan bahwa kau menghina ibuku. Aku tidak akan melupakan bahwa kau menyebutku anak haram. Aku tidak akan melupakan bahwa kau mencoba menghancurkanku di depan semua orang."
"Kau yang menghancurkan dirimu sendiri, Danang."
Surya pergi.
Ia berbalik dan berjalan meninggalkan Danang, meninggalkan kerumunan, meninggalkan halaman sekolah. Langkahnya cepat, seperti orang yang sedang berusaha menahan tangis, tetapi Danang tahu Surya tidak akan menangis. Surya bukan tipe orang yang menangis. Surya adalah tipe orang yang membalas dendam.
Anak-anak mulai bubar.
Perlahan.
Satu per satu.
Mereka kembali ke aktivitas mereka masing-masing, tetapi suasana berbeda. Ada ketegangan di udara. Ada kecemasan. Ada perasaan bahwa sesuatu yang besar telah terjadi, dan sesuatu yang lebih besar akan menyusul.
Danang duduk kembali di bawah pohon trembesi.
Ia memandang telapak tangannya yang masih merah, yang masih terasa panas, yang masih gemetar.
Ia tidak menyesal.
Ia tidak menyesal telah menampar Surya.
Surya pantas mendapatkannya.
Surya sudah terlalu lama berbuat semena-mena.
Surya sudah terlalu lama menghina dan merendahkan dan menyakiti orang lain tanpa pernah ada yang berani melawannya.
Tapi Danang tahu bahwa ini baru awal.
Bahwa Surya tidak akan melupakan ini.
Bahwa anak saudagar kaya itu akan membalas dendam dengan cara yang lebih kejam daripada tamparan.
Bahwa pertempuran sesungguhnya baru akan dimulai.
Tapi untuk saat itu, untuk beberapa detik yang singkat, untuk beberapa menit yang berharga, Danang merasa lega.
Karena setidaknya, untuk sekali saja, ia tidak diam.
Untuk sekali saja, ia tidak menunduk.
Untuk sekali saja, ia tidak menerima penghinaan tanpa melawan.
Untuk sekali saja, ia membela dirinya sendiri.
Untuk sekali saja, ia membela ibunya.
Untuk sekali saja, ia membela harga dirinya.
Malam itu, ketika Danang pulang ke rumah, ibunya sedang memasak di dapur. Aroma sayur asem memenuhi seluruh rumah, bau yang biasa membuat perutnya keroncongan, tetapi malam ini ia tidak merasa lapar.
Ia duduk di ruang tengah, di kursi bambu yang biasa diduduki ayahnya, memandang kosong ke dinding.
"Danang, kenapa pulang terlambat?" suara Ratih dari dapur. "Tadi Kirana mencari kamu. Katanya kamu tidak ke sungai."
"Iya, Mak. Aku di sekolah," jawab Danang singkat.
Ratih keluar dari dapur, mengeringkan tangannya di ujung kain yang ia selipkan di pinggang. Wajahnya lelah, seperti biasa, tetapi matanya masih tajam, masih bisa membaca sesuatu di wajah Danang.
"Kamu kenapa, Nang? Ada masalah?"
"Tidak, Mak."
"Kamu berbohong."
Danang diam.
Ratih duduk di samping Danang. Tangannya meraih tangan Danang, membalikkan telapak tangannya, melihat bekas merah di sana. Bekas tamparan. Bekas yang masih terlihat jelas, meskipun sudah beberapa jam berlalu.
"Kamu bertengkar dengan siapa, Nang?"
"Surya, Mak."
Ratih menghela napas. Napas panjang, napas lelah, napas orang yang sudah terlalu sering mendengar nama itu. "Kenapa? Apa yang dia lakukan?"
Danang menatap ibunya. Matanya yang kosong tadi, kini berkaca-kaca. "Dia memanggilku anak haram, Mak. Dia bilang Bapak bukan ayah kandungku. Dia bilang ayah kandungku penari ketoprak yang kabur. Dia bilang Mak hamil di luar nikah. Dia bilang seluruh desa tahu."
Ratih terdiam.
Tangannya yang memegang tangan Danang, mulai gemetar.
Matanya yang tadinya tajam, kini basah.
Bibirnya yang tadinya tersenyum, kini bergetar.
"Maafkan Ibu, Nang," bisiknya. "Maafkan Ibu."
Danang menatap ibunya. Ia ingin mengatakan bahwa ia tidak marah. Ia ingin mengatakan bahwa ia mengerti. Ia ingin mengatakan bahwa ia tidak menyalahkan ibunya. Tapi kata-kata itu tidak keluar. Hanya air mata. Air mata yang jatuh diam-diam, tanpa suara, tanpa isakan.
Malam itu, Danang belajar bahwa rahasia tidak pernah aman. Bahwa rahasia, sebaik apa pun niatnya, suatu hari akan terungkap. Dan ketika itu terjadi, rahasia itu tidak lagi menjadi pelindung. Ia menjadi senjata. Senjata yang digunakan oleh orang-orang yang ingin menyakitimu. Senjata yang menusuk tepat di tempat yang paling sakit. Senjata yang tidak bisa kamu hindari karena ia terbuat dari kebenaran.
Dan ia belajar bahwa kadang, orang yang paling menyakitkan bukanlah musuh yang terang-terangan membencimu. Tetapi teman yang pura-pura baik, yang pura-pura peduli, yang pura-pura ingin membantu, tetapi diam-diam menyebarkan rahasiamu kepada siapa pun yang mau mendengar.
Tapi Surya bukan teman. Surya tidak pernah pura-pura. Surya sejak awal sudah menunjukkan siapa dirinya. Dan itu, pikir Danang, mungkin lebih baik daripada berpura-pura.
Bab 15
Mandor yang Datang Saat Senja
Sore itu langit berwarna merah tua.
Bukan merah biasa. Bukan merah jingga seperti senja biasanya, yang indah dan menenangkan, yang membuat orang betah duduk di beranda sambil menikmati angin sore. Bukan merah muda seperti warna langit saat matahari baru saja tenggelam, yang romantis dan membuat orang ingin berfoto.
Merah yang pekat.
Merah yang gelap.
Merah seperti darah.
Merah seperti peringatan.
Merah seperti sesuatu yang buruk akan terjadi.
Petani-petani di sawah mulai bergegas pulang. Mereka yang biasanya masih betah di sawah sampai matahari benar-benar tenggelam, yang biasanya masih sibuk membersihkan rumput atau memperbaiki pematang, sore itu berjalan cepat meninggalkan sawah mereka. Cangkul dan arit mereka bawa terburu-buru, tanpa sempat membersihkan tanah yang menempel di mata pisau. Keranjang-keranjang berisi rumput untuk makanan ternak ditinggalkan begitu saja di pematang.
Karena warna langit seperti itu biasanya menandakan badai akan datang. Badai besar. Badai yang bisa merobohkan pohon-pohon kelapa yang sudah tua, yang bisa menerbangkan atap-atap rumbia yang sudah rapuh, yang bisa membuat sungai meluap dan merendam rumah-rumah yang terlalu dekat dengan tepian.
Burung-burung terbang rendah, hampir menyentuh tanah, seperti sedang mencari tempat berlindung, seperti sedang panik karena tahu sesuatu yang tidak diketahui manusia. Mereka terbang berputar-putar di atas desa, kadang menukik tajam, kadang terbang lambat seperti kelelahan. Suara mereka nyaring, tidak seperti biasanya, seperti sedang berteriak memperingatkan sesuatu.
Angin bertiup kencang. Tidak seperti angin sore biasanya yang sepoi-sepoi dan membawa kesejukan. Angin ini keras, kering, panas. Angin yang membuat daun-daun bergesekan dengan suara gemerisik yang keras, seperti ribuan orang berbisik sekaligus. Angin yang membuat debu beterbangan, masuk ke mata, masuk ke hidung, membuat orang bersin-bersin.
Dan di tengah langit merah yang mengancam itu, Mandor Jalil datang lagi.
Ratih yang sedang menjemur pakaian di halaman belakang rumah, membeku saat melihat lelaki kurus itu berdiri di depan tangga rumah.
Seperti bayangan yang muncul tiba-tiba.
Seperti mimpi buruk yang menjadi nyata.
Seperti hantu yang keluar dari cerita-cerita horor yang diceritakan ibu-ibu kepada anak-anak mereka sebelum tidur.
Lelaki itu berdiri di kaki tangga, tepat di bawah anak tangga pertama, tidak naik, tidak juga pergi. Tangannya di saku celana, sikap yang santai, tetapi matanya tidak santai. Matanya bergerak cepat, memindai seluruh rumah, mencari sesuatu, mencari seseorang, mencari kelemahan.
Bajunya hitam, lengan panjang, kusam, tidak menarik perhatian. Celananya hitam juga, longgar, nyaman untuk bergerak. Sepatunya hitam, kusam, tidak mengkilap, sepatu yang tidak pernah disemir, sepatu yang sudah melihat banyak hal, yang sudah menginjak banyak pintu, yang sudah membuat banyak orang ketakutan.
Di pinggangnya, seperti biasa, terselip sebilah pisau lipat besar. Gagang kayunya yang hitam sudah halus karena sering dipegang, karena sering dibuka dan ditutup, karena sering digunakan untuk hal-hal yang tidak ingin diketahui siapa pun. Pisau yang konon sudah digunakan untuk memotong lebih dari sekadar tali tambang, untuk memotong lebih dari sekadar daging hewan kurban.
Danang yang sedang duduk di jendela kamarnya, yang sedang memandang langit merah yang mengancam, yang sedang menghitung berapa lama lagi badai akan datang, melihat lelaki itu dari celah tirai tipis.
Tirai dari kain perca yang sudah usang, yang sudah bolong-bolong di beberapa tempat, yang tidak bisa menutupi apa pun dengan sempurna. Dari celah-celah itulah Danang melihat semuanya. Cara Mandor Jalil berdiri dengan kaki sedikit terbuka, tanda kekuasaan, tanda bahwa ia tidak takut pada siapa pun, bahwa ia adalah penguasa di sini. Cara Ratih mengecil di hadapannya, seperti daun yang layu, seperti bunga yang tidak disiram, seperti sesuatu yang kehilangan semangat hidup.
"Ibu Sastrowiryo, ya?" suara Mandor Jalil terdengar sampai ke kamar Danang, meskipun pintu kamar tertutup dan tirai menutupi jendela. Suara yang parau, yang serak, yang seperti suara yang keluar dari tenggorokan yang terbakar minuman keras. Suara yang membuat bulu kuduk merinding, suara yang membuat anak-anak lari ketakutan.
Ratih menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering, seperti ada yang mengganjal di sana, seperti ada duri yang tidak bisa ditelan, tidak bisa dimuntahkan. Tangannya yang memegang keranjang jemuran mulai gemetar, keranjang bambu yang berisi pakaian basah yang baru saja ia jemur, mulai bergoyang, beberapa helai pakaian jatuh ke tanah, tetapi ia tidak menyadarinya.
"Dia... dia belum pulang, Mandor," jawab Ratih. Suaranya kecil, hampir tidak terdengar, seperti suara tikus yang ketakutan, seperti suara orang yang sedang berdoa di dalam hati.
Mandor Jalil tersenyum. Senyum yang dingin. Senyum yang tidak pernah mencapai matanya. Matanya tetap dingin, tetap tajam, tetap seperti mata elang yang sedang mengincar mangsa. "Siapa? Sastrowiryo? Aku tahu. Aku tidak datang untuk bertemu suamimu."
Ratih membeku.
Seluruh tubuhnya berubah menjadi batu.
Tangannya yang gemetar, berhenti bergerak.
Napasnya yang tadinya teratur, berhenti sejenak.
Matanya yang tadinya menatap Mandor Jalil dengan ketakutan, kini kosong, menembus lelaki itu, menembus waktu, menembus kenangan-kenangan yang selama ini ia kubur dalam-dalam.
"Kalau begitu... untuk apa Mandor datang ke sini?" tanya Ratih. Suaranya masih kecil, tetapi ada sesuatu yang baru di sana. Sesuatu yang seperti keberanian. Sesuatu yang seperti tekad. Sesuatu yang seperti perempuan yang sedang melindungi anaknya.
Mandor Jalil melangkah naik satu anak tangga.
Kaki kirinya yang memakai sepatu hitam, menginjak papan kayu yang berderit pelan. Suara derit itu terdengar seperti rintihan, seperti keluhan, seperti kayu itu sendiri sedang ketakutan.
"Aku mau bicara dengan anakmu, Bu," kata Mandor Jalil. Suaranya tenang. Sangat tenang. Tenang yang menakutkan. Tenang yang seperti air danau yang gelap, yang permukaannya datar tetapi di dalamnya mungkin ada buaya yang siap menerkam. "Danang, namanya, kan?"
Ratih mundur satu langkah. Keranjang jemuran di tangannya jatuh ke tanah dengan suara berdebuk. Pakaian-pakaian berserakan di tanah, kaus, sarung, kebaya, semuanya jatuh ke lumpur, menjadi kotor, harus dicuci ulang. Tapi Ratih tidak memungutnya. Ia hanya berdiri, memandang Mandor Jalil, dengan mata yang penuh ketakutan.
"Jangan... jangan dekat-dekat anak saya, Mandor," bisik Ratih, suaranya hampir pecah, hampir menangis, tetapi ia berusaha menahan. "Anak saya tidak tahu apa-apa. Dia masih kecil. Dia tidak tahu apa-apa tentang utang. Dia tidak tahu apa-apa tentang... tentang..."
Mandor Jalil tertawa pendek.
Tawa yang tidak lucu.
Tawa yang dingin.
Tawa yang seperti cemeti.
Tawa yang membuat Ratih semakin ketakutan.
"Justru itu masalahnya, Bu," kata Mandor Jalil, suaranya masih tenang, masih santai, seperti sedang berbicara tentang cuaca, seperti sedang membicarakan harga beras di pasar. "Semakin lama rahasia disimpan, semakin besar luka saat terbuka. Lebih baik anak itu tahu sejak dini. Agar dia siap. Agar dia tidak kaget. Agar dia tidak hancur ketika kebenaran datang."
Ratih menatap tajam.
Untuk sesaat, untuk beberapa detik yang singkat, ada kilatan keberanian di matanya. Bukan keberanian untuk melawan, karena ia tahu ia tidak bisa melawan Mandor Jalil. Tetapi keberanian untuk melindungi. Keberanian seorang ibu yang tidak akan membiarkan anaknya disakiti, tidak peduli seberapa besar musuhnya, tidak peduli seberapa kecil dirinya.
"Anak saya tidak perlu tahu apa-apa, Mandor," kata Ratih, suaranya tegas, tidak lagi gemetar, tidak lagi kecil. "Anak saya tidak perlu tahu tentang masa lalu. Anak saya tidak perlu tahu tentang utang. Anak saya tidak perlu tahu tentang... tentang lelaki itu. Biarkan dia tumbuh seperti anak-anak lain. Biarkan dia bahagia. Biarkan dia tidak terbebani oleh dosa yang bukan dosanya."
Mandor Jalil tersenyum lagi.
Senyum yang sama.
Dingin.
Menghitung.
Berbahaya.
"Sayangnya, Bu, masa lalu tidak pernah meminta izin, bukan?" kata Mandor Jalil. "Masa lalu datang kapan saja. Tanpa diundang. Tanpa permisi. Tanpa memberi tahu terlebih dahulu. Dan ketika masa lalu datang, ia tidak peduli apakah anakmu masih kecil atau sudah dewasa. Ia datang. Dan ia menghancurkan."
Ratih tidak bisa menjawab.
Ia hanya berdiri di halaman rumahnya, dengan pakaian-pakaian yang berserakan di tanah, dengan keranjang jemuran yang terbalik, dengan langit merah di atas kepalanya, dengan angin kencang yang menerbangkan rambutnya yang kusut.
Dan Mandor Jalil berdiri di tangga rumahnya, dengan senyum di bibirnya, dengan pisau di pinggangnya, dengan ancaman di matanya.
Dari dalam kamar, dari balik tirai tipis yang bolong-bolong, Danang melihat semuanya.
Ia mendengar semuanya.
Setiap kata.
Setiap desahan.
Setiap ancaman.
Setiap ketakutan.
Ia melihat ibunya yang berdiri di halaman, kecil, rapuh, sendirian, berhadapan dengan lelaki yang membuat seluruh desa takut.
Ia melihat Mandor Jalil yang berdiri di tangga, tinggi, kurus, angkuh, seperti kematian yang datang menjemput.
Dan ia melihat sesuatu yang lain.
Di mata Mandor Jalil.
Sesaat, ketika lelaki itu menatap ke arah jendela kamarnya, ketika mata mereka bertemu untuk sepersekian detik.
Bukan ketakutan.
Bukan amarah.
Bukan kebencian.
Tetapi sesuatu yang lebih buruk.
Sesuatu yang seperti kepuasan.
Sesuatu yang seperti kemenangan.
Sesuatu yang seperti "Aku tahu kau mendengar, dan aku senang kau mendengar."
Danang merasa seolah lelaki itu bisa melihat langsung ke dalam jiwanya, bisa membaca semua ketakutannya, semua keraguannya, semua lukanya yang baru saja terbuka. Seolah lelaki itu tahu persis apa yang baru saja ia dengar dari bisikan dua perempuan tua di bawah rumah, apa yang baru saja ia ketahui tentang ayah kandungnya, apa yang baru saja ia alami dengan Surya di halaman sekolah.
Seolah lelaki itu adalah iblis yang tahu segalanya, yang melihat segalanya, yang merencanakan segalanya.
Mandor Jalil pergi.
Ia turun dari tangga perlahan, dengan langkah yang tidak tergesa-gesa, dengan sikap yang santai, seperti orang yang baru saja menyelesaikan urusan kecil, seperti orang yang tidak sedang mengancam kehidupan orang lain.
Ia berjalan perlahan menuju jalan setapak di antara semak-semak, di antara pohon-pohon pisang yang daunnya sudah menguning, di antara rumput-rumput liar yang tingginya hampir selutut.
Di tengah jalan, ia berhenti.
Ia menoleh ke belakang.
Menatap rumah itu.
Menatap Ratih yang masih berdiri di halaman dengan wajah pucat.
Menatap jendela kamar Danang yang tirainya bergerak sedikit, karena Danang menarik napas terlalu keras.
Lalu ia tersenyum.
Senyum yang sama.
Senyum yang dingin.
Senyum yang menghitung.
Senyum yang mengatakan bahwa ia akan kembali.
Senyum yang mengatakan bahwa ini belum selesai.
Senyum yang mengatakan bahwa ia akan menang.
Lalu ia menghilang di balik pohon kelapa.
Seperti bayangan yang ditelan kegelapan.
Seperti mimpi buruk yang berakhir, tetapi tidak benar-benar berakhir, hanya berhenti sejenak, dan akan kembali di lain waktu.
Ratih berdiri diam di halaman.
Wajahnya pucat, seperti kehilangan semua darahnya sekaligus, seperti orang yang baru saja melihat kematian.
Keranjang jemuran jatuh di kakinya, pakaian-pakaian berserakan di tanah, kotor, basah, berlumpur.
Ia tidak memungutnya.
Ia hanya berdiri, memandang ke arah Mandor Jalil pergi, dengan mata yang kosong, dengan pikiran yang tidak bisa berpikir, dengan hati yang takut.
Danang turun dari jendela.
Ia berjalan keluar rumah, menuruni tangga kayu yang berderit, berjalan ke halaman, mendekati ibunya.
Kakinya yang telanjang menginjak tanah yang becek, yang basah, yang berlumpur. Lumpur dingin menyelinap di antara jari-jari kakinya, tetapi ia tidak merasakannya.
"Siapa dia, Mak?" tanya Danang. Suaranya pelan, tetapi tegas.
Ratih menoleh cepat. Terlalu cepat. Seperti orang yang baru sadar dari lamunan panjang, seperti orang yang baru terbangun dari tidur yang berat.
"Jangan tanya, Nang," bisiknya. Suaranya serak, seperti suara orang yang kehabisan air, seperti suara orang yang sudah menangis terlalu lama.
"Tapi dia bicara tentang aku, Mak. Dia bilang dia mau bicara denganku. Dia bilang aku harus tahu kebenaran. Dia bilang rahasia tidak boleh disimpan terlalu lama."
Ratih memegang bahu anaknya.
Tangannya menggenggam terlalu keras, seperti takut Danang akan pergi jika ia melepaskan, seperti takut Danang akan diambil oleh lelaki itu jika ia tidak cukup kuat memegangnya.
"Kau dengar Ibu, Nang," kata Ratih, matanya menatap lurus ke mata Danang, matanya yang basah, yang merah, yang penuh ketakutan. "Jangan pernah mendekati orang itu. Jangan pernah bicara dengannya. Jangan pernah percaya apa pun yang dia katakan. Dia jahat. Dia iblis. Dia tidak akan membawa kebaikan bagi keluarga kita."
"Kenapa, Mak?"
Ratih memejamkan mata.
Ketika membukanya kembali, matanya basah.
Air mata mulai mengalir di pipinya yang pucat.
"Karena tidak semua masa lalu boleh dibuka, Nang," bisiknya. "Ada masa lalu yang lebih baik dikubur. Ada masa lalu yang lebih baik dilupakan. Ada masa lalu yang jika dibuka, hanya akan membawa kesengsaraan."
Danang memandang ibunya lama.
Ia melihat kerutan di kening ibunya yang tidak ada beberapa tahun lalu, kerutan yang tumbuh seiring dengan bertambahnya beban di pundaknya.
Ia melihat uban di rambut ibunya yang mulai bermunculan, uban yang tidak seharusnya ada di usia yang masih tiga puluh tahun.
Ia melihat kelelahan di mata ibunya yang tidak bisa disembunyikan oleh senyuman apa pun.
Dan ia tahu.
Ia tahu bahwa ibunya menyembunyikan sesuatu.
Bukan hanya tentang ayah kandungnya.
Tapi tentang Mandor Jalil.
Tapi tentang utang.
Tapi tentang masa lalu.
Tapi tentang sesuatu yang lebih besar, lebih gelap, lebih berbahaya.
Dan semakin sering ibunya menutup rapat mulutnya, semakin besar keinginan Danang untuk mengetahui semuanya.
Bukan karena ia ingin menyakiti ibunya.
Bukan karena ia tidak menghargai pengorbanan ibunya.
Bukan karena ia ingin membuat masalah.
Tetapi karena ia lelah hidup dalam kegelapan.
Lelah menjadi satu-satunya orang yang tidak tahu tentang dirinya sendiri.
Lelah menjadi boneka yang tidak tahu tali siapa yang menariknya.
Lelah menjadi anak kecil yang selalu mendengar "nanti kau tahu kalau sudah dewasa", padahal ia sudah tidak sabar menunggu, dan ia tidak yakin apakah ia akan selamat sampai dewasa.
Dia ingin tahu siapa dirinya.
Dari mana ia berasal.
Darah siapa yang mengalir di tubuhnya.
Dan ia akan mencari tahu.
Dengan atau tanpa izin ibunya.
Dengan atau tanpa bantuan siapa pun.
Malam itu, Danang tidak bisa tidur.
Ia berbaring di tikarnya, memandang langit-langit yang retak, mendengar suara ayahnya yang mendengkur di kamar sebelah, mendengar suara ibunya yang masih bergerak di dapur meskipun sudah larut.
Pikirannya melayang pada Mandor Jalil.
Pada tatapan lelaki itu ketika mata mereka bertemu.
Pada senyumnya yang dingin.
Pada kata-katanya yang penuh ancaman.
"Semakin lama rahasia disimpan, semakin besar luka saat terbuka."
Apa maksudnya?
Rahasia apa?
Luka apa?
Dan apa hubungannya dengan dirinya?
Ia juga memikirkan ibunya.
Pada ketakutan di mata ibunya ketika Mandor Jalil datang.
Pada genggaman tangannya yang terlalu keras di bahunya.
Pada kata-katanya yang penuh keputusasaan.
"Jangan pernah mendekati orang itu."
Kenapa?
Apa yang dilakukan Mandor Jalil sehingga ibunya begitu takut?
Apa yang diketahui Mandor Jalil tentang keluarganya?
Apa yang disembunyikan ibunya?
Dan apakah ia berhak tahu?
Di luar, angin malam berhembus kencang.
Langit yang tadinya merah, kini hitam pekat.
Tidak ada bintang.
Tidak ada bulan.
Hanya kegelapan.
Kegelapan yang seperti masa depannya.
Kegelapan yang tidak bisa ia lihat ujungnya.
Kegelapan yang membuatnya takut, tetapi juga membuatnya penasaran.
Ia memejamkan mata.
"Masa lalu," bisiknya. "Apa yang kau sembunyikan?"
Tidak ada jawaban.
Hanya angin malam.
Hanya jangkrik.
Hanya kegelapan.
Hanya pertanyaan-pertanyaan yang tidak akan terjawab malam ini.
Atau mungkin tidak akan pernah terjawab.
Bab 16
Luka yang Mulai Menyentuh Ibu
Beberapa minggu setelah kedatangan Mandor Jalil, setelah pertengkaran di malam hari, setelah bisikan-bisikan yang tidak pernah berhenti, setelah tamparan di halaman sekolah yang mengubah segalanya, Ratih jatuh sakit.
Awalnya hanya batuk kecil. Batuk yang diabaikan, yang dianggapnya sebagai batuk biasa karena kelelahan atau karena udara dingin dari sungai yang masuk ke paru-paru setiap pagi ketika ia membuka jendela. Batuk yang hanya terdengar sekali dua kali sehari, di pagi hari ketika ia baru bangun, atau di malam hari ketika ia sedang membereskan dapur setelah makan malam.
"Mak, batuk terus," kata Danang suatu pagi ketika Ratih batuk di dapur sambil memasak nasi. Suara batuknya terdengar kering, seperti kayu yang digesekkan ke kayu lain, tidak basah, tidak berdahak, tetapi mengganggu.
Ratih tersenyum. "Biasa, Nang. Musim hujan begini banyak debu. Ibu hanya batuk biasa."
Tapi Danang tidak yakin. Matanya yang tajam, yang sudah terbiasa membaca ekspresi orang tua sejak kecil, melihat sesuatu di wajah ibunya. Sesuatu yang tidak biasa. Sesuatu yang mengkhawatirkan.
Ia melihat bahwa ibunya lebih pucat dari biasanya. Bahwa lingkaran hitam di bawah matanya semakin gelap. Bahwa napasnya lebih pendek, lebih cepat, seperti orang yang sedang berjalan di tanjakan meskipun hanya duduk diam.
Tapi ia tidak mengatakan apa pun. Ia hanya mengangguk, mengambil piring berisi nasi goreng dari tangan ibunya, dan makan perlahan, berusaha menikmati setiap suapan meskipun lidahnya terasa pahit.
Lalu tubuhnya sering demam. Demam yang datang dan pergi, seperti tamu tak diundang yang tidak tahu kapan harus pergi, seperti musim hujan yang datang lebih awal dan tidak mau beranjak.
Kadang ia merasa panas. Panas yang luar biasa, seperti ada api yang membakar di dalam tubuhnya, seperti ia sedang berdiri di dekat tungku yang menyala besar, seperti ia sedang demam malaria yang dulu pernah ia alami ketika masih gadis. Keringat membasahi seluruh tubuhnya, baju tidurnya basah, rambutnya basah, seprai di ranjangnya basah.
Kadang ia menggigil kedinginan meski selimut sudah menutupi seluruh tubuhnya, meskipun Danang sudah menambahkan dua selimut lagi di atas tubuhnya, meskipun ia sudah memakai jaket tebal dan kaus kaki wol. Giginya bergemeretak, tubuhnya gemetar, tangannya yang memegang selimut gemetar hebat.
Danang bergantian mengompres kening ibunya dengan air dingin ketika demamnya naik, dan menyelimuti ibunya dengan selimut tebal ketika demamnya turun dan digantikan oleh kedinginan.
Ia tidak mengeluh.
Ia tidak minta bantuan siapa pun.
Ia hanya melakukan apa yang harus ia lakukan.
Seperti yang diajarkan ibunya sejak kecil.
"Kadang, menjadi dewasa berarti melakukan hal-hal yang tidak kau sukai, karena orang lain membutuhkanmu."
Wajahnya semakin pucat.
Bibirnya yang dulu merah muda, yang dulu membuatnya terlihat cantik di mata pemuda-pemuda desa, kini pucat seperti kertas, seperti kapur, seperti orang yang kehabisan darah.
Matanya cekung, seperti dua lubang di wajahnya, seperti dua sumur yang kering, seperti dua bintang yang padam.
Lingkaran hitam di bawah matanya semakin gelap setiap hari, seperti dua bayangan yang tidak pernah pergi, seperti dua luka yang tidak pernah sembuh.
Dan yang paling mengkhawatirkan, napasnya makin pendek.
Setiap kali ia berbicara, napasnya tersengal-sengal.
Setiap kali ia berjalan dari kamar ke dapur, ia harus berhenti dua atau tiga kali di tengah jalan, bersandar di dinding, menutup mata, menarik napas panjang-panjang.
Setiap kali ia batuk, batuknya begitu keras hingga tubuhnya yang kurus berguncang hebat, hingga ia harus memegang dada, hingga Danang khawatir bahwa suatu hari nanti, dada ibunya akan pecah dan tidak bisa lagi menahan apa pun.
Kadang setelah batuk, ia menutup mulutnya dengan sapu tangan. Danang melihat bercak merah di kain putih itu. Bercak kecil, hanya beberapa titik, tetapi merah. Merah segar. Merah seperti darah.
Tapi Ratih selalu cepat-cepat menyembunyikan sapu tangan itu sebelum Danang sempat melihat dengan jelas. Ia memasukkan sapu tangan itu ke dalam saku bajunya, atau ke dalam ember berisi air, atau di bawah bantal, di mana pun asal tidak terlihat oleh mata Danang yang tajam.
"Mak, apa itu?" tanya Danang suatu hari ketika ia melihat bercak merah di sapu tangan ibunya.
Ratih tersenyum. Senyum yang dipaksakan. Senyum yang tidak sampai ke matanya. "Tidak apa, Nang. Hanya sisa kecap dari masakan tadi. Ibu lupa membersihkan tangan."
Danang tidak percaya.
Tapi ia tidak bertanya lagi.
Ia hanya mengangguk, berpura-pura percaya, dan melanjutkan apa yang sedang ia lakukan.
Karena ia belajar bahwa kadang, orang dewasa berbohong bukan karena mereka ingin menipu, tetapi karena mereka ingin melindungi.
Dan ia tidak ingin membuat ibunya lebih khawatir dengan menunjukkan bahwa ia tahu ibunya berbohong.
Danang mulai membantu di rumah.
Ia mengambil air dari sumur setiap pagi, sebelum matahari terbit, ketika kabut masih menutupi desa dan udara masih dingin menusuk tulang. Sumur itu terletak di belakang rumah, sekitar lima puluh meter dari dapur, melewati kebun singkong yang daunnya masih basah oleh embun.
Ember yang ia bawa hampir sebesar dirinya. Ember seng yang sudah berkarat di beberapa tempat, dengan gagang dari kawat yang sudah longgar. Ketika ia menarik ember dari sumur, air di dalamnya berat, sangat berat, seperti sedang mengangkat beban yang tidak semestinya ia angkat.
Ia berjalan tertatih-tatih kembali ke rumah, ember di tangan kanan, sesekali berganti ke tangan kiri ketika tangannya terasa mau lepas. Air tumpah di beberapa tempat, membasahi celananya, membasahi kakinya yang telanjang. Tetapi ia tidak berhenti. Ia terus berjalan, terus membawa ember itu, sampai ia sampai di dapur dan menuangkan air ke dalam bak penampungan.
Ia melakukannya setiap pagi.
Tidak pernah bolong.
Tidak pernah mengeluh.
Meskipun tangannya terasa sakit, meskipun punggungnya terasa pegal, meskipun kakinya terasa lemas.
Karena ibunya tidak bisa lagi mengambil air sendiri.
Karena ibunya batuk setiap kali berjalan terlalu jauh.
Karena ibunya membutuhkannya.
Ia memasak nasi setiap siang, sepulang sekolah, sebelum pergi ke sungai atau ke pohon trembesi.
Memasak nasi dengan tungku tanah liat yang sudah retak di beberapa tempat, yang diikat dengan kawat agar tidak pecah. Kayu bakar yang ia kumpulkan dari kebun belakang, kayu-kayu kering yang patah dari pohon-pohon yang sudah tua.
Menyalakan api adalah hal yang paling sulit. Korek api yang lembab karena udara lembab, sering tidak mau menyala. Ia harus menggosok-gosokkan kepala korek api ke kotaknya berkali-kali, kadang lima kali, kadang sepuluh kali, sebelum akhirnya api kecil muncul dan ia segera mendekatkannya ke daun-daun kering yang ia tumpuk di bawah kayu bakar.
Ketika api sudah menyala, ia harus menjaga agar api tidak terlalu besar atau terlalu kecil. Terlalu besar, nasi akan gosong di luar tetapi mentah di dalam. Terlalu kecil, nasi tidak akan matang-matang, dan ia harus menambah kayu bakar, dan itu berarti waktu memasak lebih lama, dan itu berarti ia tidak bisa segera pergi ke sungai.
Kadang nasinya gosong. Kadang terlalu lembek. Kadang terlalu keras. Kadang setengah matang.
Tapi ia tidak menyerah.
Setiap hari ia belajar.
Setiap hari ia mencoba memperbaiki kesalahannya.
Setiap hari ia berusaha memasak nasi yang lebih baik dari hari sebelumnya.
Karena ibunya tidak bisa memasak lagi.
Karena ibunya terlalu lelah untuk berdiri di depan tungku.
Karena ibunya membutuhkannya.
Ia mencuci piring setiap malam, setelah makan malam selesai.
Piring-piring enamel putih dengan pinggiran biru, yang sudah tergores di sana-sini, yang enamelnya mulai terkelupas di beberapa tempat. Sendok dan garpu dari besi yang sudah berkarat, yang harus digosok keras-keras agar karatnya hilang.
Ia membawa piring-piring itu ke belakang rumah, ke tempat di mana ada ember berisi air dan sabun colek dari abu dapur. Sabun colek yang tidak berbusa, yang tidak wangi, yang hanya membuat air menjadi keruh, tetapi cukup untuk membersihkan minyak dan sisa-sisa makanan.
Tangannya yang kecil dan kurus menggosok setiap piring dengan sabut kelapa, dengan gerakan memutar, berulang-ulang, sampai piring itu terasa bersih ketika ia sentuh dengan jarinya.
Ia membilasnya dengan air bersih dari ember kedua, lalu menumpuknya di rak bambu di samping dapur, tempat piring-piring itu akan mengering semalaman, dan akan ia gunakan lagi besok pagi.
Ia melakukan semua itu tanpa disuruh.
Tanpa diminta.
Tanpa diingatkan.
Karena ia melihat ibunya lelah.
Karena ia melihat ibunya sakit.
Karena ia melihat ibunya tidak bisa lagi melakukan semua yang dulu ia lakukan.
Dan karena ia ingin membantu.
Bukan karena ia terpaksa.
Bukan karena ia ingin dipuji.
Tetapi karena ia sayang ibunya.
Kirana sering datang diam-diam membantu.
Kadang membawa sayuran dari kebun ibunya. Bayam, kangkung, terong, cabai, tomat. Sayuran yang masih segar, yang masih basah oleh embun pagi, yang daunnya masih hijau cerah. Ia meletakkannya di dapur tanpa suara, lalu pergi, tidak ingin diganggu, tidak ingin diucapkan terima kasih.
Kadang membawa obat batuk tradisional dari daun sirih dan jahe, yang ditumbuk halus dan dicampur dengan madu, lalu dibungkus daun pisang. "Minum tiga kali sehari, Mak," pesannya pada Ratih. "Nanti batuknya sembuh."
Kadang hanya duduk di samping Danang, tidak bicara, hanya menemani. Menemani ketika Danang sedang menggambar. Menemani ketika Danang sedang mencuci piring. Menemani ketika Danang sedang duduk di beranda, memandang sungai, memikirkan semua yang terjadi.
Suatu sore, ketika hujan gerimis turun pelan, Kirana dan Danang duduk di dapur. Ratih sedang tidur di kamar, tubuhnya panas karena demam, napasnya pendek-pendek. Danang sudah mengganti kompres di kening ibunya tiga kali, tetapi demamnya tidak kunjung turun.
Di luar, hujan turun dengan suara yang teratur, seperti detak jam yang tidak pernah berhenti. Air jatuh dari atap rumbia membentuk tirai tipis yang memburamkan dunia di luar. Sesekali angin berhembus, membawa butir-butir hujan ke dalam dapur, membasahi lantai kayu di dekat pintu.
Danang duduk di lantai dapur, bersandar di dinding kayu yang dingin. Tangannya yang kecil dan kurus menggenggam gelas berisi air putih, gelas yang tidak pernah ia minum, hanya ia genggam, seperti ia sedang menggenggam sesuatu yang berharga, seperti ia sedang menggenggam harapan yang hampir habis.
Kirana duduk di sampingnya, bersandar di dinding yang sama. Bahu mereka hampir bersentuhan. Hanya beberapa sentimeter yang memisahkan mereka. Kirana bisa merasakan dinginnya tubuh Danang. Danang bisa mencium wangi rambut Kirana, wangi sabun kelapa yang murah tetapi harum, yang selalu membuatnya tenang.
"Kau capek, Danang?" tanya Kirana. Suaranya pelan, hampir tenggelam oleh suara hujan, tetapi cukup jelas di telinga Danang.
Danang menggeleng. "Tidak."
"Kau bohong."
Danang menatap tungku api yang hampir padam. Abu-abu bercampur dengan bara kecil yang masih menyala, seperti harapan yang hampir habis, seperti api yang hampir mati, tetapi masih ada, masih bertahan, masih memberikan sedikit cahaya dan kehangatan.
"Iya," katanya akhirnya. "Aku capek."
Kirana tidak mengatakan "Sudah kuduga" atau "Aku tahu" atau "Makanya jangan bohong". Ia hanya diam. Ia hanya mendengarkan. Ia hanya menunggu Danang melanjutkan.
Danang menarik napas panjang. Udara di dapur terasa lembab, dingin, bau tanah basah dan abu kayu bakar.
"Aku capek melihat Ibu sakit," lanjut Danang. Suaranya pelan, hampir seperti bisikan, seperti suara yang keluar dari tempat paling dalam di hatinya. "Aku capek mendengar Ibu batuk setiap malam. Aku capek melihat Ibu semakin kurus setiap hari. Aku capek mengganti kompres di kening Ibu, tetapi demamnya tidak pernah turun. Aku capek berdoa kepada Tuhan, tetapi Tuhan sepertinya tidak mendengar."
Kirana menatapnya.
Matanya lembut.
Penuh perhatian.
Penuh kasih sayang.
"Apa kau takut?" tanya Kirana.
Danang terdiam lama.
Begitu lama hingga Kirana mengira ia tidak akan menjawab.
Lalu dengan suara yang sangat kecil, hampir tidak terdengar, hampir seperti bisikan yang hanya bisa didengar oleh angin dan hujan, ia berkata, "Aku takut Ibu mati."
Kirana tidak terkejut.
Ia sudah menduga.
Ia sudah melihat ketakutan di mata Danang sejak beberapa hari yang lalu, sejak Ratih mulai sakit parah, sejak Danang mulai mengambil alih semua pekerjaan rumah, sejak Danang mulai terlihat lebih tua dari usianya.
"Kalau Ibu mati," lanjut Danang, suaranya mulai bergetar, mulai pecah, seperti kaca yang retak dan akan hancur kapan saja, "aku tidak tahu harus jadi siapa. Aku tidak tahu harus tinggal di mana. Aku tidak tahu bagaimana hidup tanpa Ibu. Aku tidak tahu..."
Ia tidak bisa melanjutkan.
Air matanya jatuh.
Pertama setetes.
Lalu dua tetes.
Lalu tidak bisa dihitung lagi.
Ia tidak berusaha menyembunyikannya.
Ia tidak berusaha menghapusnya.
Ia hanya membiarkan air matanya jatuh.
Membiarkan tangisnya keluar.
Membiarkan semua ketakutan yang selama ini ia pendam, yang selama ini ia sembunyikan di balik senyum dan kerja keras dan keheningan, keluar semua.
Kirana tidak mengatakan "Jangan takut" atau "Ibu kamu tidak akan mati" atau "Semuanya akan baik-baik saja".
Ia tidak mengatakan apa pun.
Ia hanya mengambil tangan Danang dan menggenggamnya.
Genggaman yang hangat.
Genggaman yang sama seperti saat mereka berteduh di pondok sawah saat hujan deras dulu, ketika Danang pertama kali mengakui bahwa ia takut kehilangan segalanya.
Genggaman yang sama seperti saat mereka di tepi sungai, ketika Danang pertama kali memberi tahu bahwa ayahnya punya masalah.
Genggaman yang tidak berubah.
Genggaman yang selalu hangat.
Genggaman yang selalu menjadi rumah bagi Danang.
"Aku di sini, Danang," bisik Kirana. Hanya tiga kata. Tiga kata yang sederhana. Tiga kata yang tidak membutuhkan penjelasan. Tiga kata yang cukup untuk membuat Danang merasa bahwa ia tidak sendirian. "Aku di sini."
Danang tidak menjawab.
Ia hanya membalikkan tangannya, membalikkan telapak tangannya yang dingin dan basah oleh air mata, lalu menggenggam balik tangan Kirana.
Genggaman yang erat.
Genggaman yang tidak mau melepaskan.
Genggaman yang seperti mengatakan "Jangan pergi. Jangan tinggalkan aku. Aku tidak kuat sendirian."
Kirana menggenggam balik.
Tak perlu kata-kata.
Tak perlu janji.
Tak perlu sumpah.
Cukup genggaman.
Cukup kehangatan.
Cukup kehadiran.
Karena kadang, di saat-saat paling gelap dalam hidup seseorang, yang ia butuhkan bukanlah solusi atau nasihat atau kata-kata bijak.
Hanya seseorang yang duduk di sampingnya.
Yang menggenggam tangannya.
Yang mengatakan "Aku di sini."
Dan itu sudah cukup.
Itu sudah lebih dari cukup.
Di luar, hujan masih turun.
Gerimis.
Pelan.
Sayu.
Seperti alam ikut menangis.
Seperti langit ikut bersedih.
Seperti dunia ikut merasakan bahwa di sebuah dapur kecil di tepi Sungai Kapuas Muara, dua anak kecil sedang berpelukan di tengah kegelapan, berusaha bertahan dari badai yang tidak terlihat tetapi terasa.
Danang tidak tahu berapa lama mereka duduk di sana.
Mungkin beberapa menit.
Mungkin satu jam.
Mungkin lebih.
Yang ia tahu, ketika ia akhirnya berdiri untuk mengecek ibunya di kamar, tangannya masih terasa hangat.
Hangat oleh genggaman Kirana.
Hangat oleh kehadiran Kirana.
Hangat oleh cinta Kirana.
Cinta yang belum ia sadari, tetapi sudah ia rasakan.
Cinta yang tumbuh diam-diam, seperti akar pohon beringin yang perlahan merusak fondasi rumah, tetapi juga memberikan kekuatan untuk tetap berdiri.
Cinta yang akan menjadi alasan mengapa ia bertahan di hari-hari paling kelam dalam hidupnya.
Cinta yang akan menjadi lukanya yang paling indah dan paling menyakitkan pada saat yang bersamaan.
Bab 17
Hujan dan Janji yang Tak Disadari
Malam itu hujan turun sangat deras.
Bukan hujan biasa. Bukan hujan gerimis yang pelan dan sayu. Bukan hujan sore yang mengguyur sebentar lalu reda. Ini hujan yang turun dengan kemarahan, dengan amarah, dengan keputusasaan. Seperti langit sedang melampiaskan semua yang selama ini ia pendam. Seperti Tuhan sedang menangis dan tidak peduli siapa yang basah.
Air jatuh dari langit dalam jumlah yang luar biasa, butir-butirnya besar dan keras, menghantam atap rumbia dengan suara seperti ribuan genderang yang ditabuh bersamaan, seperti ribuan kuku kuda yang berlari di atas tanah kering, seperti ribuan orang yang bertepuk tangan dengan marah.
Angin bertiup kencang, menderu di antara celah-celah dinding kayu, membuat lampu minyak di ruang tengah bergoyang-goyang, hampir padam beberapa kali. Daun-daun kelapa di belakang rumah bergoyang liar, patah-patah, beberapa pelepah jatuh ke tanah dengan suara gemerisik yang nyaris tak terdengar di tengah derasnya hujan.
Hujan yang membuat orang enggan keluar rumah. Hujan yang membuat orang lebih memilih berdiam diri di dalam, berselimut tebal, menikmati secangkir teh hangat sambil mendengar suara air yang jatuh dari atap. Hujan yang membuat orang malas melakukan apa pun selain tidur atau bermalas-malasan.
Hujan yang membuat sungai meluap dan merendam beberapa rumah yang terlalu dekat dengan tepian. Air sungai yang biasanya tenang, yang biasanya mengalir pelan seperti orang yang sedang berjalan santai di sore hari, kini bergolak, mengalir cepat, naik setiap jamnya. Warna airnya coklat keruh, membawa lumpur dan pasir dan ranting-ranting pohon dari hulu.
Hujan yang membuat listrik padam di seluruh desa, jika desa itu punya listrik. Tapi desa itu tidak punya listrik. Tidak ada satupun rumah di desa itu yang memiliki sambungan listrik dari PLN. Listrik baru masuk ke desa itu sepuluh tahun kemudian, ketika Danang sudah dewasa dan pergi merantau. Malam itu, yang ada hanyalah lampu minyak dan lilin. Lampu minyak dengan sumbu yang pendek, yang minyaknya hampir habis, yang nyala apinya kecil dan berkedip-kedip seperti akan mati kapan saja.
Danang duduk di beranda rumahnya, bersandar di tiang kayu yang dingin dan lembab. Air hujan jatuh di depannya, membentuk tirai yang memburamkan dunia di luar. Dari balik tirai itu, ia bisa melihat sungai yang gelap, yang airnya naik, yang arusnya deras, yang mengancam akan merendam rumahnya jika hujan tidak berhenti dalam beberapa jam ke depan.
Sastrowiryo belum pulang. Mungkin ia sedang bertugas jaga malam di dermaga, menjaga karung-karung beras yang baru saja diturunkan dari kapal, menunggu truk-truk yang akan mengangkutnya ke gudang-gudang di kota. Mungkin ia sedang minum tuak di warung pinggir jalan, bersama teman-temannya yang juga pekerja dermaga, melupakan masalah sejenak, menenggelamkan kesedihan dalam botol.
Mungkin ia sedang menghindari rumahnya sendiri. Menghindari istri yang sakit. Menghindari anak yang bukan anak kandungnya. Menghindari pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa ia jawab. Menghindari kenyataan bahwa ia bukan ayah yang baik, bukan suami yang baik, bukan lelaki yang baik.
Seperti yang sering ia lakukan belakangan ini.
Seperti yang sudah menjadi kebiasaannya.
Pergi di pagi hari sebelum matahari terbit, pulang di malam hari ketika semua orang sudah tidur, atau tidak pulang sama sekali, tidur di dermaga, tidur di warung, tidur di mana pun asal tidak di rumah.
Ratih tertidur di kamar karena demam. Tubuhnya panas, sangat panas, seperti ada api yang membakar di dalam tubuhnya. Danang sudah mengganti kompres di kening ibunya tiga kali malam itu, tetapi demamnya tidak kunjung turun. Air rebusan jahe masih hangat di termos, tetapi Ratih tidak bisa minum karena ia terus batuk setiap kali mencoba meneguk air.
Obat dari Mak Tonah sudah diminum. Obat dari Kirana sudah diminum. Obat dari tetangga yang baik hati sudah diminum. Tapi tidak ada yang berhasil. Demamnya tidak turun. Batuknya tidak reda. Napasnya tetap pendek.
Sekarang yang bisa Danang lakukan hanyalah menunggu. Menunggu sampai demamnya turun dengan sendirinya. Menunggu sampai tubuh ibunya cukup kuat untuk melawan penyakitnya. Menunggu sampai keajaiban datang, jika keajaiban itu memang ada.
Desa gelap. Lampu minyak di rumah-rumah tetangga sudah padam satu per satu. Hanya beberapa titik cahaya yang masih terlihat di kejauhan, mungkin lilin, mungkin lampu minyak dengan sumbu yang masih panjang, mungkin api unggun di rumah petani yang sedang menjaga sawahnya dari hama tikus.
Danang hanya punya satu lilin kecil yang hampir habis. Lilin itu ia tempatkan di meja dekat ranjang ibunya, agar jika Ratih terbangun, ia tidak sendirian dalam gelap. Agar jika Ratih membutuhkan sesuatu, ia bisa melihat di mana Danang berada. Agar jika Ratih takut, ia bisa melihat cahaya kecil yang menyala, tanda bahwa masih ada kehidupan di rumah ini, bahwa ia tidak sendirian.
Lilin itu meleleh perlahan, lilin kuning yang mencair membentuk genangan kecil di atas meja kayu yang sudah tua. Sumbunya hitam, terbakar, kadang berasap, kadang berkedip-kedip, seperti akan mati, tetapi masih bertahan, masih memberikan cahaya, masih memberikan harapan.
Ia sendiri duduk di beranda karena ia tidak bisa tidur. Pikirannya terlalu sibuk. Kekhawatirannya terlalu besar. Ketakutannya terlalu nyata.
Ia memandang hujan. Memandang gelap. Memandang sungai yang mengalir deras. Memandang langit yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan cerah.
Tiba-tiba, dari kejauhan, di sela-sela suara hujan dan angin, ia mendengar suara langkah kaki. Langkah kaki yang berlari. Langkah kaki yang tergesa-gesa. Langkah kaki yang basah, yang menginjak genangan air, yang memercikkan lumpur ke mana-mana.
Ia menajamkan pandangan.
Seseorang berlari menuju rumahnya.
Seseorang kecil.
Seseorang dengan rambut panjang yang basah, yang berkibar-kibar ditiup angin, yang menempel di wajah dan leher.
Seseorang yang ia kenal.
Seseorang yang selalu menjadi rumah baginya.
Kirana.
Ia berlari dari arah timur, dari arah rumahnya yang berjarak hampir setengah kilometer. Payung yang ia bawa tidak berguna, karena angin terlalu kencang, karena hujan terlalu deras, karena ia berlari terlalu cepat. Payung itu terbalik, rusak, beberapa jari-jarinya patah, dan akhirnya ia buang di pinggir jalan, terus berlari tanpa perlindungan.
Rambutnya basah kuyup. Rambut panjang hitam yang biasanya diikat rapi dengan karet gelang merah, kini terurai, basah, menempel di dahi, di pipi, di leher. Air mengalir dari ujung rambutnya, jatuh ke bahunya, ke bajunya, ke tanah.
Bajunya basah. Baju tidur berwarna putih yang biasa ia kenakan ketika malam hari, kini basah, menempel di tubuhnya yang kecil, transparan, memperlihatkan kulitnya yang putih di bawahnya. Tetapi ia tidak peduli. Ia tidak sadar. Yang ia pikirkan hanyalah Danang. Yang ia pikirkan hanyalah Ratih. Yang ia pikirkan hanyalah obat yang ia bawa.
Di tangannya, ia memegang sesuatu. Bungkusan daun pisang yang basah, yang hampir hancur karena terguyur hujan, tetapi masih utuh, masih ia genggam erat, seperti sedang memegang sesuatu yang sangat berharga, seperti sedang memegang nyawa seseorang.
Danang berdiri. Ia berlari ke arah Kirana, menuruni tangga kayu yang licin, hampir jatuh karena kakinya terpeleset, tetapi ia seimbangkan dirinya tepat waktu.
"Kirana! Kau gila? Hujan deras begini kau keluar?" teriak Danang, suaranya nyaris tak terdengar di tengah derasnya hujan dan kencangnya angin.
Kirana tidak menjawab. Ia hanya terus berlari, terus mendekat, sampai akhirnya ia berdiri di depan Danang, di bawah atap rumah, terlindung dari hujan.
Napasnya tersengal-sengal. Dadanya naik turun dengan cepat. Wajahnya merah, bukan karena malu, tetapi karena kelelahan, karena berlari setengah kilometer di tengah hujan deras. Tangannya gemetar, entah karena dingin, entah karena kelelahan, entah karena ketakutan.
"Ini... ini obat dari Ibu," kata Kirana, suaranya terputus-putus karena napasnya yang masih tersengal. Ia mengulurkan tangannya, memberikan bungkusan daun pisang yang basah itu kepada Danang. "Ibu bilang... obat ini bagus untuk demam... Ibu bilang... diminum tiga kali sehari... Ibu bilang... Ibu bilang..."
Ia tidak bisa melanjutkan. Batuknya keluar. Batuk kering, seperti batuk yang diderita Ratih. Mungkin karena ia kehujanan. Mungkin karena ia berlari terlalu keras. Mungkin karena ia terlalu memaksakan diri.
Danang mengambil bungkusan itu. Daun pisangnya basah, hampir hancur, tetapi isinya masih utuh. Ramuan dari daun-daunan dan rempah-rempah, yang ditumbuk halus, yang dibungkus dengan hati-hati oleh ibu Kirana.
"Makasih, Kirana," kata Danang. Suaranya lembut, penuh terima kasih, tetapi juga penuh kekhawatiran. "Tapi kau... kau basah kuyup. Masuk. Ganti baju dulu. Nanti kau sakit."
Kirana menggeleng. "Tidak usah. Aku hanya antar obat. Aku harus segera pulang. Ibu menunggu."
"Tapi kau basah. Kau bisa sakit."
"Tidak apa. Aku kuat."
Danang menatapnya. Matanya yang gelap, yang dalam, yang seperti lubang sumur tua, menatap wajah Kirana yang basah oleh air hujan, yang merah karena kelelahan, yang bibirnya mulai membiru karena kedinginan.
"Kirana," panggilnya pelan.
"Ya?"
"Kau... kenapa kau melakukan ini? Hujan deras begini. Jauh. Gelap. Berbahaya. Kenapa?"
Kirana tersenyum.
Senyum yang sama.
Senyum yang dulu menjadi rumah bagi masa kecil Danang.
Senyum yang membuat Danang merasa bahwa ia tidak sendirian di dunia.
Senyum yang telah ia simpan di memorinya sejak pertama kali mereka bertemu di tepi sungai.
"Karena Ibu mu sakit, Danang," jawab Kirana sederhana. Seperti itu sudah cukup. Seperti tidak perlu penjelasan lebih lanjut. Seperti alasan itu sudah melebihi semua alasan lainnya. "Karena Ibu mu membutuhkan obat. Karena aku tidak tega melihatmu sendirian."
Danang terdiam.
Ia tidak tahu harus berkata apa.
Tidak ada kata-kata yang cukup untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya.
Tidak ada kata-kata yang cukup untuk menggambarkan apa yang ia rasakan saat itu.
Rasa haru.
Rasa terima kasih.
Rasa tidak percaya bahwa masih ada orang yang mau melakukan hal seperti ini untuknya.
"Masuk dulu," kata Danang akhirnya. "Aku ambilkan handuk. Kau bisa pakai baju Bapak dulu. Nanti setelah hujan reda, kau pulang."
Kirana menggeleng lagi. "Tidak usah, Danang. Aku harus—"
"Masuk, Kirana."
Suara Danang tegas. Tidak bisa ditawar. Tidak bisa dibantah.
Kirana terdiam. Ia menatap Danang. Matanya yang tadinya berkilau karena air hujan, kini berkaca-kaca. Bukan karena sedih. Bukan karena takut. Tetapi karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Sesuatu yang membuat hatinya terasa hangat meskipun tubuhnya dingin.
"Baiklah," bisiknya. "Sebentar saja."
Mereka duduk di beranda, di lantai kayu yang dingin dan lembab. Kirana sudah mengganti bajunya dengan kemeja tua milik Sastrowiryo, kemeja lengan panjang berwarna abu-abu yang sudah lusuh dan berlubang di siku. Kemeja itu terlalu besar untuknya, menjuntai di bahunya yang sempit, ujung lengannya menutupi jari-jarinya.
Tubuhnya masih basah, rambutnya masih basah, tetapi setidaknya ia tidak lagi menggigil. Handuk tipis yang diberikan Danang melingkar di bahunya, menyerap sisa-sisa air yang masih menetes dari rambutnya.
Danang menyiapkan teh hangat dari termos. Teh celup murah yang dibeli ibunya di warung, dengan gula batu sepotong. Ia menuangkan air panas ke dalam cangkir keramik yang sudah retak di pinggirnya, lalu menyerahkannya pada Kirana.
"Ini, hangatkan badan dulu."
Kirana menerima cangkir itu dengan kedua tangan. Telapak tangannya yang kecil dan dingin menyentuh cangkir yang hangat, dan ia menghela napas pelan, menikmati kehangatan yang merambat dari ujung jari ke pergelangan tangan, ke lengan, ke seluruh tubuh.
Mereka duduk berdampingan, memandang hujan yang masih turun deras. Air jatuh dari atap membentuk tirai, memburamkan dunia di luar. Sungai di kejauhan terdengar bergolak, arusnya deras, mengancam.
"Kirana," panggil Danang.
"Ya?"
"Aku... aku tidak tahu bagaimana membalas semua kebaikanmu."
Kirana menoleh. Matanya bertemu dengan mata Danang. Matanya yang coklat kehijauan, yang selalu berbinar, yang selalu membuat Danang merasa bahwa dunia ini masih layak dihuni.
"Kau tidak perlu membalas apa pun, Danang," kata Kirana. "Kita teman. Teman membantu teman. Tidak perlu balas-membalas."
"Tapi kau sudah melakukan banyak hal untukku. Membelaku di depan Surya. Membawa obat untuk Ibu. Menemaniku ketika aku sedih. Menggenggam tanganku ketika aku takut. Datang ke sini di tengah hujan deras. Semua itu... aku tidak tahu bagaimana membalasnya."
Kirana tersenyum.
Senyum yang lembut.
Senyum yang membuat Danang lupa pada semua masalah yang sedang menghantam hidupnya.
"Kau tidak perlu membalas, Danang. Cukup kau... cukup kau tetap menjadi Danang. Cukup kau tetap menjadi temanku. Cukup kau tidak pergi. Itu sudah cukup."
Danang menatapnya.
Untuk beberapa saat, hanya suara hujan yang terdengar.
Suara air jatuh dari atap.
Suara angin yang menderu.
Suara sungai yang bergolak.
Suara jantung mereka yang berdetak.
"Kirana," panggil Danang lagi, suaranya lebih pelan, hampir seperti bisikan.
"Hmm?"
"Apa kau... apa kau akan selalu di sini?"
Kirana tidak menjawab segera.
Ia menatap hujan.
Menatap gelap.
Menatap sungai.
Menatap sesuatu yang tidak terlihat oleh Danang.
"Aku tidak tahu, Danang," katanya akhirnya, jujur. "Ayahku pekerjaannya pindah-pindah. Suatu hari nanti, mungkin kita harus pindah lagi. Mungkin ke kota. Mungkin ke desa lain. Aku tidak tahu."
Danang terdiam.
Dadanya terasa sesak.
Ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya.
Sesuatu yang seperti ingin keluar, tetapi ia tahan.
"Kalau kau pergi," katanya pelan, "aku akan sendirian lagi."
Kirana menatapnya.
Matanya berkaca-kaca.
"Kau tidak akan sendirian, Danang. Aku akan selalu bersamamu. Meskipun aku jauh. Meskipun kita tidak bertemu. Meskipun bertahun-tahun berlalu. Aku akan selalu bersamamu."
"Janji?"
Kirana mengangkat jari kelingkingnya.
Jari kecil yang gemetar karena dingin dan sedih.
Jari yang sama yang dulu menggenggam tangannya saat badai.
Jari yang sama yang pernah menunjuk ke arah Surya dengan berani.
Jari yang sama yang pernah memegang bunga liar di tepi sungai.
"Janji," bisiknya.
Danang menatap jari kecil itu lama.
Jari yang dingin.
Jari yang basah.
Jari yang gemetar.
Lalu perlahan ia mengaitkan jari kelingkingnya.
Di bawah hujan malam, di beranda rumah yang dingin, di tengah kegelapan yang pekat, dua anak kecil membuat janji.
Janji yang belum mereka tahu akan menjadi luka seumur hidup.
Janji yang akan mereka ingat ketika rambut mulai memutih dan langkah mulai lambat.
Janji yang akan membuat mereka tersenyum pahit ketika sendirian di malam hari, memandang langit-langit yang retak, mengingat masa lalu yang tidak bisa kembali.
Janji yang mungkin tidak akan pernah bisa mereka tepati, tetapi akan terus mereka genggam seperti jimat, seperti harapan, seperti alasan untuk terus hidup.
Janji.
Kata yang paling indah dan paling menyakitkan.
Kata yang membuat orang bertahan di saat-saat paling sulit.
Kata yang membuat orang hancur ketika janji itu dilanggar.
Kata yang akan menemani Danang sepanjang hidupnya.
"Janji," ulang Danang, suaranya hampir tidak terdengar.
Jari kelingking mereka tergenggam.
Kecil.
Rapuh.
Tapi kuat.
Kuat seperti cinta yang belum mereka sadari.
Kuat seperti kenangan yang akan bertahan selamanya.
Kuat seperti waktu yang tidak akan pernah bisa menghapus jejak mereka.
Di dalam kamar, Ratih terbangun.
Demamnya masih tinggi.
Tubuhnya masih panas.
Napasnya masih pendek.
Tapi ia tersenyum.
Ia mendengar suara Danang dan Kirana di beranda.
Ia mendengar tawa kecil mereka di sela-sela suara hujan.
Ia mendengar janji yang mereka buat.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, setelah semua yang terjadi, setelah kebakaran, setelah tuduhan, setelah kedatangan Mandor Jalil, setelah penyakit yang menggerogoti tubuhnya, Ratih merasa tenang.
Karena ia tahu bahwa Danang tidak sendirian.
Karena ia tahu bahwa ada seseorang yang peduli pada anaknya.
Karena ia tahu bahwa meskipun ia pergi, Danang akan baik-baik saja.
Atau setidaknya, ia berharap demikian.
Hujan reda menjelang subuh.
Kirana pulang ketika langit timur mulai terang, ketika burung-burung mulai berkicau, ketika ayam-ayam mulai berkokok.
Danang mengantarnya sampai ke ujung jalan, sampai ke perempatan di mana mereka harus berpisah.
"Sampai nanti, Danang," kata Kirana, tersenyum.
"Sampai nanti, Kirana."
Kirana berjalan perlahan, menuju rumahnya yang berjarak setengah kilometer di timur.
Danang berdiri di perempatan itu, memandang sampai sosok Kirana hilang di balik tikungan, di balik pohon-pohon pisang, di balik kabut pagi yang mulai naik.
Ia tersenyum.
Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, setelah semua yang terjadi, ia tersenyum.
Senyum yang tulus.
Senyum yang keluar dari tempat paling dalam di hatinya.
Senyum yang mengatakan bahwa meskipun hidup berat, meskipun dunia kejam, meskipun masa lalu kelam, masih ada alasan untuk tersenyum.
Kirana.
Kirana adalah alasan itu.
Bab 18
Lelaki yang Mulai Kehilangan Rumah
Malam berikutnya, Danang pulang lebih lambat dari sungai.
Bukan karena ia sengaja ingin pulang terlambat. Bukan karena ia sedang bermain dengan Kirana hingga lupa waktu. Bukan karena ada sesuatu yang menahannya di tepi sungai. Tetapi karena ia duduk lama di akar pohon waru, terlalu lama, memandang air yang gelap, memikirkan banyak hal.
Ia duduk di akar pohon waru yang sama, di tempat yang sama, dengan pemandangan yang sama. Sungai yang gelap. Langit yang gelap. Bintang-bintang yang berkedip samar-samar karena tertutup awan tipis. Angin malam yang dingin menusuk tulang.
Tetapi pikirannya berbeda.
Ia memikirkan ibunya yang sakit.
Memikirkan ayahnya yang semakin jauh.
Memikirkan Mandor Jalil yang datang dengan ancaman.
Memikirkan Surya yang membencinya.
Memikirkan Kirana yang suatu hari mungkin akan pergi.
Memikirkan dirinya sendiri yang tidak tahu siapa dirinya.
Memikirkan ayah kandungnya, lelaki dengan rambut panjang yang menari di atas panggung ketoprak, yang menghamili ibunya lalu pergi tanpa pamit, tanpa kabar, tanpa tanggung jawab.
Memikirkan apakah lelaki itu masih hidup.
Memikirkan apakah lelaki itu pernah memikirkannya.
Memikirkan apakah lelaki itu menyesal.
Memikirkan apakah lelaki itu bahagia dengan hidupnya yang baru, dengan istri barunya, dengan anak-anak barunya, sementara ia, Danang, anak yang ditinggalkan, hidup dalam kemiskinan dan aib dan ketidakpastian.
Pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab.
Pertanyaan-pertanyaan yang tidak akan pernah terjawab.
Pertanyaan-pertanyaan yang hanya akan menemaninya sepanjang hidupnya, seperti bayangan yang tidak pernah pergi, seperti luka yang tidak pernah sembuh.
Ketika ia akhirnya berdiri dari akar pohon waru, ketika ia memutuskan untuk pulang, langit sudah benar-benar gelap. Tidak ada lagi cahaya senja. Tidak ada lagi warna jingga di ufuk barat. Hanya gelap. Gelap yang pekat. Gelap yang seperti beludru hitam yang menutupi seluruh dunia.
Ia berjalan pulang dengan langkah pelan, tidak tergesa-gesa, karena tidak ada yang menunggunya di rumah. Ayahnya mungkin belum pulang, atau sudah pulang tetapi mabuk dan tidur di kursi bambu. Ibunya mungkin sudah tidur, atau terbangun sendirian di kamar, menunggu Danang pulang, khawatir tetapi tidak bisa pergi mencarinya karena tubuhnya terlalu lemah.
Ketika ia sampai di depan rumahnya, rumah itu sudah gelap. Tidak ada lampu minyak yang menyala di ruang tengah. Tidak ada cahaya lilin dari kamar ibunya. Tidak ada tanda-tanda kehidupan dari dalam. Hanya kegelapan. Hanya kesunyian. Hanya rumah panggung dengan tiang kayu ulin yang mulai lapuk, berdiri diam di tepi sungai, seperti kuburan yang tidak terawat.
Tetapi ketika ia mendekat, ketika ia menaiki tangga kayu yang berderit, ketika ia hendak membuka pintu, ia mendengar suara dari dalam.
Suara keras.
Suara yang tidak asing baginya.
Suara yang sudah sering ia dengar, tetapi tidak pernah semengerikan ini.
Suara yang membuat jantungnya berhenti berdetak sejenak.
Sastrowiryo dan Ratih bertengkar lagi.
Danang berdiri di tangga, di anak tangga teratas, tepat di depan pintu. Tangannya yang hendak membuka pintu, berhenti di udara. Jari-jarinya yang kecil dan kurus menggantung, tidak bergerak, seperti patung, seperti orang yang sedang membeku.
Ia ragu.
Ia tidak tahu harus masuk atau tidak.
Ia ingin masuk. Tubuhnya lelah. Matanya mengantuk. Pikirannya penat. Ia hanya ingin berbaring di tikarnya, memejamkan mata, dan melupakan semua masalah untuk sementara waktu.
Tetapi ia juga ingin lari. Lari sejauh-jauhnya, ke tempat di mana tidak ada pertengkaran, tidak ada rahasia, tidak ada luka. Ke tempat di mana hanya ada sungai yang tenang dan pohon waru yang rindang dan Kirana yang tersenyum.
Kakinya terasa berat. Seolah ada akar yang tumbuh dari telapak kakinya, mencengkeram kayu tangga, menahannya di tempatnya.
"Dia mulai tahu, Mas!" suara Ratih pecah dari dalam. Tangisnya terdengar. Tangis yang sudah sering ia dengar akhir-akhir ini, tetapi tidak pernah semenyayat hati ini. Tangis yang seperti orang yang sudah tidak punya harapan lagi. Tangis yang seperti orang yang sudah menyerah. "Danang mulai tahu! Dia bertanya tentang ayah kandungnya! Dia bertanya kenapa Bapaknya bukan ayah kandungnya! Dia bertanya kenapa keluarganya berbeda!"
Sastrowiryo membanting sesuatu. Mungkin kursi. Mungkin piring. Mungkin gelas. Mungkin botol kosong yang ia temukan di meja. Suara kayu pecah terdengar keras di malam yang sunyi, seperti suara tulang yang patah, seperti suara sesuatu yang hancur dan tidak bisa diperbaiki lagi.
"Aku sudah bilang, Ratih! Jangan buka itu! Jangan buka masa lalu! Biarkan dia hidup seperti anak-anak lain! Biarkan dia tidak tahu! Biarkan dia tidak terbebani!"
"Untuk apa, Mas? Untuk apa kita sembunyikan? Untuk apa kita bohongi dia? Untuk apa kita pura-pura bahwa semuanya normal? Semuanya tidak normal, Mas! Keluarga kita tidak normal! Danang anak haram! Mas bukan ayah kandungnya! Aku hamil di luar nikah! Itu fakta! Itu kenyataan! Tidak bisa kita sembunyikan selamanya!"
"Kau diam, Ratih!"
"Tidak! Aku tidak bisa diam lagi! Aku sudah diam selama bertahun-tahun! Aku sudah pendam semua ini selama bertahun-tahun! Aku sudah biarkan Mas minum setiap malam, pulang larut, tidak pernah peduli pada anak! Aku sudah biarkan orang-orang menghina Danang, memanggilnya anak haram, tanpa bisa membela karena aku takut! Aku sudah cukup, Mas! Aku sudah cukup!"
Danang berdiri di tangga.
Tak berani masuk.
Tak berani pergi.
Hanya berdiri.
Membatu.
Seolah tubuhnya lupa cara bergerak.
Seolah pikirannya lupa cara berpikir.
Seolah dunianya berhenti berputar.
Ratih menangis lebih keras.
"Danang berhak tahu siapa ayahnya, Mas!" teriak Ratih, suaranya pecah, tangisnya keluar, tidak bisa lagi ditahan. "Dia berhak tahu dari mana dia berasal! Dia berhak tahu darah apa yang mengalir di tubuhnya! Dia berhak tahu mengapa ayah kandungnya pergi! Dia berhak tahu mengapa Mas mau menikahi aku! Dia berhak tahu semua! Karena itu hidupnya! Karena itu masa depannya! Karena itu identitasnya!"
Kalimat itu menghantam Danang seperti petir di siang bolong.
Seperti sambaran yang tidak terduga, yang membuat rambutnya berdiri, yang membuat jantungnya berhenti sejenak, yang membuat dunianya terbalik.
Danang berhak tahu siapa ayahnya.
Dia berhak tahu dari mana dia berasal.
Dia berhak tahu darah apa yang mengalir di tubuhnya.
Dia berhak tahu mengapa ayah kandungnya pergi.
Dia berhak tahu mengapa Mas mau menikahi aku.
Dia berhak tahu semua.
Karena itu hidupnya.
Karena itu masa depannya.
Karena itu identitasnya.
Identitas.
Kata yang berat.
Kata yang selama ini ia cari.
Kata yang selama ini ia tanyakan dalam diam.
Kata yang selama ini ia rindukan jawabannya.
Dan malam itu, di tangga rumahnya yang dingin, di tengah pertengkaran orang tuanya, ia mendengar kata itu diucapkan oleh ibunya sendiri.
Bukan oleh Surya.
Bukan oleh tetangga.
Bukan oleh dua perempuan tua di bawah rumah.
Tetapi oleh ibunya.
Ratih.
Perempuan yang melahirkannya.
Perempuan yang membesarkannya.
Perempuan yang menyembunyikan rahasia selama bertahun-tahun.
Perempuan yang malam itu, dengan tangis dan amarah dan keputusasaan, mengatakan bahwa ia berhak tahu.
Sastrowiryo terdiam.
Sunyi.
Hanya suara tangis Ratih yang terdengar.
Tangis yang sudah lama terpendam, yang akhirnya meledak seperti bendungan yang jebol, seperti gunung berapi yang meletus, seperti badai yang datang setelah kemarau panjang.
Tangis yang mengatakan bahwa ia sudah tidak kuat lagi.
Tangis yang mengatakan bahwa ia sudah lelah berpura-pura.
Tangis yang mengatakan bahwa ia sudah menyerah.
Lalu suara langkah berat mendekat.
Langkah kaki yang tidak stabil.
Langkah kaki yang seperti orang yang baru saja bangun dari tidur panjang, atau seperti orang yang baru saja kehilangan keseimbangan.
Pintu terbuka.
Sastrowiryo berdiri di sana.
Wajahnya merah karena minuman keras. Matanya sayu, merah, tidak fokus. Napasnya berat, bau alkohol menyengat dari mulutnya. Bajunya kusut, tidak disetrika, beberapa kancing terbuka. Rambutnya acak-acakan, seperti baru saja bangun tidur, atau seperti baru saja bergulung-gulung di lantai.
Ia melihat Danang di tangga.
Melihat anak itu.
Anak yang bukan anak kandungnya.
Anak yang selama ini ia besarkan, ia rawat, ia beri nama.
Anak yang tidak pernah ia peluk, tidak pernah ia cium, tidak pernah ia katakan "Aku sayang kamu".
Anak yang menjadi pengingat setiap hari bahwa ia gagal sebagai suami, gagal sebagai ayah, gagal sebagai lelaki.
Untuk beberapa detik, tak ada yang bicara.
Hanya suara hujan di kejauhan yang mulai turun lagi.
Hanya angin malam yang berhembus pelan, membawa bau tanah basah dan daun-daun basah.
Hanya suara napas mereka bertiga yang terdengar.
Sastrowiryo.
Ratih.
Danang.
Mata Danang perlahan basah.
Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Ia tidak ingin menangis.
Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan menangis di depan ayahnya.
Ia sudah berjanji bahwa ia akan kuat, bahwa ia tidak akan menunjukkan kelemahan, bahwa ia tidak akan memberi kepuasan pada ayahnya untuk melihatnya menangis.
Tapi air mata itu tetap keluar.
Mengalir di pipinya yang kurus.
Jatuh ke tanah.
Membasahi lantai kayu yang berderit.
"Benar, Pak?" suara Danang keluar, pelan, hampir tidak terdengar, seperti bisikan dari halaman yang sangat jauh. "Aku bukan anak Bapak?"
Sastrowiryo memandang anak itu.
Bukan anak kandungnya.
Anak yang selama ini ia besarkan, ia rawat, ia beri nama.
Anak yang tidak pernah ia peluk, tidak pernah ia cium, tidak pernah ia katakan "Aku sayang kamu".
Anak yang menjadi pengingat setiap hari bahwa ia gagal.
Tatapan kerasnya yang selama ini menjadi tameng, yang selama ini melindunginya dari perasaan-perasaan yang tidak ingin ia rasakan, untuk pertama kalinya retak.
Ada sesuatu di sana.
Sesuatu yang belum pernah Danang lihat sebelumnya.
Air mata.
Di mata lelaki yang tidak pernah menangis.
Di mata lelaki yang selalu terlihat keras, kasar, tidak punya perasaan.
Di mata lelaki yang lebih sering memegang botol daripada memegang tangan anaknya.
Air mata.
Bukan air mata karena sedih.
Bukan air mata karena menyesal.
Bukan air mata karena sakit.
Tetapi air mata karena tahu bahwa ia telah gagal.
Gagal sebagai suami.
Gagal sebagai ayah.
Gagal sebagai manusia.
Air mata yang mengatakan bahwa ia bukan lelaki yang baik, bahwa ia tidak pantas dipanggil "Bapak", bahwa ia tidak layak dihormati.
Air mata yang mengatakan bahwa ia menyesal, tetapi tidak tahu bagaimana cara memperbaikinya.
Danang menunggu.
Menunggu jawaban.
Menunggu kebenaran.
Menunggu kata-kata yang akan mengubah segalanya.
Tapi Sastrowiryo tidak menjawab.
Ia hanya berdiri di ambang pintu, dengan air mata di matanya yang merah, dengan tubuh yang gemetar, dengan napas yang berat.
Ia tidak bisa menjawab.
Bukan karena ia tidak tahu jawabannya.
Tetapi karena ia takut.
Takut bahwa jika ia mengakui kebenaran, Danang akan membencinya.
Takut bahwa jika ia mengatakan "Aku bukan ayah kandungmu", Danang akan pergi.
Takut bahwa jika ia jujur, ia akan kehilangan satu-satunya hal yang membuatnya masih terhubung dengan dunia.
Danang mundur satu langkah.
Satu langkah kecil.
Hanya beberapa sentimeter.
Tetapi terasa seperti jarak bertahun-tahun.
Seperti jarak antara seorang anak yang mencari ayah, dan seorang lelaki yang tidak bisa menjadi ayah.
Seperti jarak antara kebohongan yang nyaman dan kebenaran yang menyakitkan.
Seperti jarak antara Danang yang masih berharap, dan Danang yang mulai kehilangan harapan.
Karena kadang, rumah tidak runtuh karena badai.
Rumah tidak runtuh karena gempa.
Rumah tidak runtuh karena banjir.
Rumah runtuh karena satu jawaban yang tidak pernah datang.
Satu kata yang tidak pernah diucapkan.
Satu kebenaran yang terus ditunda hingga tidak ada lagi waktu untuk mengatakannya.
Dan malam itu, Danang sadar bahwa ia mulai kehilangan rumahnya, bahkan sebelum benar-benar meninggalkannya.
Bahwa rumah yang ia kenal selama ini mungkin tidak pernah benar-benar ada.
Bahwa ia hidup di atas ilusi, dan ilusi itu kini hancur berkeping-keping di hadapannya.
Bahwa ayah yang ia panggil "Bapak" selama ini, lelaki yang tinggal serumah dengannya, yang makan di meja yang sama, yang tidur di rumah yang sama, yang membayar biaya sekolahnya, yang membelikannya pakaian, yang memberinya makan, bukanlah ayah kandungnya.
Bahwa ia adalah anak haram.
Anak di luar nikah.
Anak yang tidak diinginkan oleh ayah kandungnya.
Anak yang dibesarkan oleh lelaki yang tidak memiliki kewajiban untuk membesarkannya.
Anak yang tidak tahu siapa dirinya, dari mana ia berasal, darah siapa yang mengalir di tubuhnya.
Ia tidak menangis.
Ia hanya berdiri di tengah hujan yang mulai turun, merasakan air dingin membasahi seluruh tubuhnya, dan berharap bahwa hujan bisa membersihkan semua luka yang tidak terlihat.
Tapi hujan tidak bisa.
Tidak ada yang bisa.
Danang berbalik.
Ia menuruni tangga.
Satu anak tangga.
Dua anak tangga.
Tiga anak tangga.
Langkahnya berat.
Seperti kakinya terbenam di lumpur.
Seperti ada beban yang menggantung di setiap langkahnya.
Sastrowiryo tidak memanggilnya.
Ratih tidak memanggilnya.
Mereka hanya berdiri di ambang pintu, memandang anak mereka pergi, dengan air mata di mata, dengan penyesalan di hati, dengan kata-kata yang tidak sempat diucapkan.
Danang berjalan ke tengah hujan.
Hujan mengguyur tubuhnya yang kecil.
Membasahi rambutnya.
Membasahi bajunya.
Membasahi kulitnya.
Membasahi lukanya.
Ia berjalan tanpa tujuan.
Tanpa arah.
Tanpa peta.
Tanpa kompas.
Hanya berjalan.
Meninggalkan rumah.
Meninggalkan rahasia.
Meninggalkan kebohongan.
Meninggalkan luka.
Berjalan ke mana matanya memandang.
Berjalan ke mana kakinya membawa.
Berjalan ke tempat yang tidak dikenal.
Berjalan ke tempat yang tidak akan ada yang mengenalnya.
Berjalan ke tempat di mana ia bisa menjadi siapa pun.
Berjalan ke tempat di mana ia bisa memulai dari awal.
Berjalan ke tempat di mana masa lalu tidak bisa mengejarnya.
Berjalan ke tempat di mana ia bisa melupakan.
Tapi ia tidak tahu, bahwa beberapa luka tidak bisa dilupakan.
Beberapa luka akan terus mengejarnya, tidak peduli seberapa jauh ia berlari.
Beberapa luka akan tetap tinggal di hatinya, seperti akar pohon beringin yang tidak bisa dicabut, yang terus tumbuh, yang terus merusak fondasi rumahnya, yang terus membuatnya tidak pernah benar-benar bisa pulang.
Bab 19
Malam Saat Kebenaran Pecah
Malam itu, setelah Danang berlari ke tengah hujan, setelah ia basah kuyup dan gemetar kedinginan, setelah ia berjalan tanpa tujuan selama hampir satu jam, ia kembali ke rumah.
Bukan karena ia ingin kembali. Bukan karena ia sudah memaafkan. Bukan karena ia sudah menerima kenyataan bahwa Sastrowiryo bukan ayah kandungnya. Tetapi karena ia tidak punya tempat lain untuk pergi. Karena di seluruh desa ini, di seluruh dunia ini, rumah itulah satu-satunya tempat yang bisa ia sebut "rumah", meskipun rumah itu dingin, meskipun rumah itu penuh rahasia, meskipun rumah itu terasa seperti kuburan bagi mimpi-mimpi.
Ia kembali dengan langkah gontai, tubuhnya basah, bajunya basah, rambutnya basah. Air mengalir dari ujung rambutnya, jatuh ke bahunya, ke bajunya, ke tanah. Giginya bergemeretak karena kedinginan. Bibirnya membiru. Tangannya gemetar.
Ketika ia menaiki tangga rumahnya, pintu masih terbuka. Sama seperti ketika ia pergi. Sastrowiryo dan Ratih masih di sana, berdiri di ruang tengah, saling berhadapan, tetapi tidak lagi berteriak. Yang tersisa hanyalah keheningan. Keheningan yang berat. Keheningan yang pekat. Keheningan yang seperti kain kafan yang menutupi orang mati.
Ratih menangis ketika melihat Danang basah kuyup. Ia berlari ke arah Danang, memeluknya, membawanya masuk ke dalam, mengeringkan rambutnya dengan handuk, mengganti bajunya dengan baju kering. Tangannya yang gemetar, yang dingin, yang lemah karena sakit, bergerak cepat, panik, takut anaknya sakit, takut anaknya demam, takut anaknya meninggal seperti ayahnya, seperti kakeknya, seperti semua lelaki dalam keluarganya.
"Nang, Nang, jangan begini," bisik Ratih di sela-sela isaknya. "Ibu minta maaf. Ibu minta maaf. Ibu tidak bermaksud menyembunyikan. Ibu hanya ingin melindungi. Ibu hanya ingin kau tidak terluka."
Danang tidak menjawab. Ia hanya duduk diam di lantai ruang tengah, di kursi yang biasa diduduki ayahnya, memandang kosong ke depan. Matanya merah, bukan karena menangis, tetapi karena kelelahan, karena terlalu banyak memikirkan, karena terlalu banyak menahan.
Sastrowiryo duduk di kursi bambu di seberangnya. Lelaki itu tidak minum malam itu. Botol yang biasanya ia pegang setiap malam, tidak ada di tangannya. Mungkin ia sudah membuangnya. Mungkin ia sudah meminumnya sampai habis. Mungkin ia lupa di mana ia meletakkannya. Yang jelas, malam itu, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Sastrowiryo duduk di kursi bambu tanpa botol di tangan.
Matanya merah. Wajahnya pucat. Tangannya gemetar. Tapi ia tidak mabuk. Ia sadar. Sepenuhnya sadar. Dan kesadaran itu lebih menyakitkan daripada mabuk.
Karena ketika mabuk, ia bisa melupakan. Bisa melupakan bahwa ia bukan ayah kandung Danang. Bisa melupakan bahwa ia gagal sebagai suami. Bisa melupakan bahwa ia gagal sebagai lelaki. Bisa melupakan bahwa ia berutang kepada Mandor Jalil. Bisa melupakan bahwa masa lalunya kelam. Bisa melupakan bahwa ia tidak punya masa depan.
Tapi malam ini, ia tidak mabuk. Dan ia tidak bisa melupakan apa pun.
Lampu minyak di ruang tengah menyala redup. Minyaknya hampir habis, sumbunya pendek, nyala apinya kecil dan berkedip-kedip, seperti akan mati kapan saja. Di luar, hujan masih turun, tidak sedera tadi, tetapi masih cukup deras untuk membuat suara gemericik di atap rumbia.
Angin malam berhembus melalui celah-celah dinding kayu, membuat nyala api bergoyang-goyang, membuat bayangan-bayangan di dinding bergerak seperti hantu, seperti arwah-arwah yang tidak bisa meninggalkan dunia.
Danang, Ratih, dan Sastrowiryo duduk dalam lingkaran kecil di ruang tengah. Jarak antara mereka hanya satu lengan. Cukup dekat untuk saling menyentuh. Tapi tidak ada yang menyentuh siapa pun. Mereka hanya duduk, saling memandang, dengan kata-kata yang tidak bisa diucapkan, dengan rahasia yang tidak bisa disembunyikan lagi, dengan kebenaran yang akan pecah malam itu juga.
"Aku mau tahu," kata Danang akhirnya. Suaranya pelan, tetapi tegas. Tidak ada getaran. Tidak ada keraguan. Hanya kepastian. Hanya keteguhan. Hanya keberanian yang tidak dimiliki anak seusianya. "Aku mau tahu semuanya. Jangan ada yang disembunyikan lagi. Jangan ada yang dibohongi lagi. Jangan ada yang dipalsukan lagi. Aku mau tahu siapa aku. Dari mana aku berasal. Darah siapa yang mengalir di tubuhku."
Ratih menunduk. Air matanya jatuh ke pangkuannya. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa menangis. Menangis karena tahu bahwa saat yang ia takuti akhirnya tiba. Menangis karena tahu bahwa ia tidak bisa lagi melindungi Danang dari kebenaran. Menangis karena tahu bahwa setelah malam ini, hubungan mereka tidak akan pernah sama.
Sastrowiryo menghela napas panjang. Napas yang terasa seperti mengeluarkan seluruh isi dadanya sekaligus, seperti menghela beban yang selama bertahun-tahun ia pikul sendirian, seperti menghela penyesalan yang tidak bisa ia perbaiki.
"Aku bukan ayah kandungmu, Danang," kata Sastrowiryo. Suaranya berat, serak, seperti suara yang keluar dari dasar sumur yang paling dalam. "Aku hanya... lelaki yang menikahi ibumu karena... karena..."
Ia tidak bisa melanjutkan.
"Karena apa, Pak?" tanya Danang. Matanya menatap lurus ke mata Sastrowiryo. Tidak ada amarah di sana. Tidak ada kebencian. Hanya keingintahuan. Hanya kebutuhan untuk tahu. Hanya kerinduan akan kebenaran.
Sastrowiryo menunduk. Kepalanya tertunduk sangat rendah, hampir menyentuh dadanya, seperti sedang sujud, seperti sedang memohon ampun pada Tuhan, pada Ratih, pada Danang, pada semua orang yang pernah ia sakiti.
"Karena aku lelaki yang tidak punya apa-apa, Danang," bisiknya. "Aku miskin. Aku tidak punya tanah. Aku tidak punya rumah. Aku hanya pekerja kasar di dermaga. Tidak ada perempuan yang mau menikah denganku. Tidak ada keluarga yang mau menerimaku. Aku sendirian. Aku kesepian. Aku putus asa."
Ratih menangis lebih keras.
"Ketika ibumu hamil," lanjut Sastrowiryo, suaranya terputus-putus, seperti radio tua yang rusak, "tidak ada lelaki yang mau menikahinya. Tidak ada yang mau menanggung malu. Tidak ada yang mau membesarkan anak orang lain. Kecuali aku. Aku yang tidak punya apa-apa. Aku yang tidak punya pilihan. Aku yang putus asa."
"Jadi Bapak menikahi Ibu karena... karena Bapak tidak punya pilihan lain?" tanya Danang. Suaranya masih pelan, masih tenang, tetapi ada sesuatu yang baru di sana. Sesuatu yang seperti kekecewaan. Sesuatu yang seperti luka. Sesuatu yang seperti "aku tahu dari awal, tetapi mendengarnya langsung dari mulutmu tetap menyakitkan."
Sastrowiryo mengangguk pelan.
Tidak bisa membantah.
Karena itu benar.
Ia menikahi Ratih bukan karena cinta.
Bukan karena ia terpesona oleh kecantikan Ratih.
Bukan karena ia ingin melindungi perempuan yang hamil.
Tetapi karena ia tidak punya pilihan.
Karena ia lelaki miskin yang tidak ada yang mau.
Karena Ratih adalah satu-satunya perempuan yang mau menerimanya, meskipun karena terpaksa.
Karena pernikahan mereka adalah pernikahan dua orang yang putus asa, yang tidak punya pilihan lain, yang saling membutuhkan tetapi tidak saling mencintai.
Danang menunduk.
Ia memandang lantai kayu yang berderit.
Di sela-sela papan lantai, ia bisa melihat tanah di bawah rumah, gelap, lembab, dingin.
Tanah yang sama tempat ia mendengar bisikan dua perempuan tua beberapa minggu lalu.
Tanah yang sama yang menjadi saksi bisu semua rahasia yang selama ini disembunyikan.
Tanah yang sama yang menjadi fondasi rumahnya, rumah yang ternyata berdiri di atas kebohongan.
"Siapa ayah kandungku, Mak?" tanya Danang, mengalihkan pandangan dari Sastrowiryo ke Ratih. Matanya menatap ibunya yang masih menangis, yang wajahnya basah oleh air mata, yang tubuhnya gemetar oleh tangis dan demam. "Siapa lelaki itu?"
Ratih mengangkat kepalanya.
Ia menatap Danang.
Matanya merah, basah, penuh dengan kesedihan dan penyesalan.
Mulutnya terbuka, hendak bicara, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Ia menutup matanya sebentar, menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian yang selama bertahun-tahun ia pendam.
"Seorang lelaki pendatang, Nang," bisiknya. Suaranya hampir tidak terdengar, seperti bisikan dari alam lain, seperti suara dari dunia yang berbeda. "Dia... dia bagian dari rombongan ketoprak yang mampir di desa ini... dua puluh tahun lalu... atau dua puluh satu tahun lalu... aku lupa... sudah terlalu lama..."
Ratih berhenti.
Menangis.
Lalu melanjutkan.
"Aku masih muda waktu itu, Nang. Masih sangat muda. Masih polos. Masih percaya pada kata-kata manis lelaki. Masih percaya bahwa cinta bisa mengatasi segalanya. Masih percaya bahwa lelaki yang mengatakan 'Aku cinta kamu' akan setia selamanya."
Ia tersenyum pahit.
Senyum yang pahit seperti kopi hitam tanpa gula.
Senyum yang mengatakan bahwa ia dulu bodoh.
Senyum yang mengatakan bahwa ia menyesal.
"Nama dia? Aku lupa, Nang. Sungguh, aku lupa. Sudah terlalu lama. Atau mungkin aku sengaja lupa. Karena lupa lebih mudah daripada mengingat. Karena lupa lebih tidak menyakitkan daripada mengingat bahwa lelaki yang kucintai, yang membuatku hamil, yang berjanji akan menikahiku, pergi begitu saja ketika aku memberitahu bahwa aku hamil."
Ratih menangis lagi.
Tangis yang pecah.
Tangis yang tidak bisa lagi ditahan.
Tangis yang seperti air bah yang menghancurkan bendungan.
"Aku tidak tahu namanya, Nang," isaknya. "Aku tidak tahu asalnya. Aku tidak tahu ke mana dia pergi. Yang aku tahu, setelah dia pergi, aku hamil. Dan seluruh desa tahu. Dan aku menjadi aib. Dan tidak ada lelaki yang mau menikahiku. Kecuali... kecuali Mas Sastro."
Danang menatap ibunya.
Matanya kosong.
Bukan marah.
Bukan sedih.
Bukan kecewa.
Hanya kosong.
Kosong yang lebih menakutkan daripada amarah apa pun.
Kosong yang seperti lubang hitam di angkasa, yang menyedot semua cahaya di sekitarnya.
Kosong yang seperti sumur tua yang tidak pernah mencapai dasar.
"Jadi Ibu tidak tahu nama ayah kandungku?" tanya Danang. Suaranya datar, tanpa emosi. "Ibu tidak tahu dari mana dia berasal? Ibu tidak tahu ke mana dia pergi? Ibu tidak tahu apakah dia masih hidup atau sudah mati? Ibu tidak tahu apakah dia punya keluarga lain? Ibu tidak tahu apa-apa tentang lelaki yang menghamili Ibu?"
Ratih tidak bisa menjawab.
Ia hanya bisa menangis.
Menangis di hadapan anaknya.
Menangis karena ia tahu bahwa ia gagal.
Gagal sebagai ibu.
Gagal sebagai perempuan.
Gagal sebagai manusia.
Danang berdiri.
Ia berdiri perlahan, tidak terburu-buru, seperti orang yang baru saja kehilangan segalanya, seperti orang yang tidak punya alasan lagi untuk tetap tinggal.
"Aku akan tidur, Mak," katanya. Suaranya masih datar, masih kosong, masih tanpa emosi. "Besok sekolah. Aku harus istirahat."
Ratih mengangguk, masih menangis, masih tidak bisa berkata apa-apa.
Sastrowiryo hanya diam, menunduk, tidak berani menatap Danang.
Danang berjalan ke kamarnya.
Langkahnya pelan, berat, seperti orang yang kelelahan, seperti orang yang baru saja selesai berperang melawan musuh yang tidak terlihat.
Ia masuk ke kamar, menutup pintu, berbaring di tikar pandan yang gatal.
Ia memejamkan mata.
Air matanya jatuh.
Ia tidak menangis keras-keras.
Ia hanya membiarkan air matanya jatuh.
Satu per satu.
Perlahan.
Seperti tetesan air dari atap yang bocor.
Seperti hujan gerimis di musim kemarau.
Seperti kesedihan yang tidak ingin mengganggu siapa pun.
Malam itu, Danang tidak bisa tidur.
Ia berbaring di tikarnya, memandang langit-langit yang retak, mendengar suara ayahnya yang masih duduk di ruang tengah, mendengar suara ibunya yang masih menangis di dapur.
Pikirannya melayang pada ayah kandungnya.
Lelaki dengan rambut panjang.
Lelaki yang menari di atas panggung ketoprak.
Lelaki yang membuat ibunya jatuh cinta.
Lelaki yang membuat ibunya hamil.
Lelaki yang pergi tanpa pamit.
Lelaki yang tidak pernah ia lihat.
Lelaki yang tidak pernah ia kenal.
Lelaki yang mungkin tidak pernah tahu bahwa ia memiliki anak.
Lelaki yang mungkin sudah mati, atau sudah punya keluarga lain, atau sudah lupa bahwa ia pernah singgah di desa ini.
Ia bertanya-tanya.
Apakah lelaki itu tampan?
Apakah lelaki itu baik?
Apakah lelaki itu pintar?
Apakah lelaki itu kaya?
Apakah lelaki itu bahagia?
Apakah lelaki itu menyesal?
Apakah lelaki itu memikirkannya?
Apakah lelaki itu ingin bertemu dengannya?
Apakah lelaki itu akan bangga jika melihatnya?
Apakah lelaki itu akan menerimanya?
Pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab.
Pertanyaan-pertanyaan yang tidak akan pernah terjawab.
Pertanyaan-pertanyaan yang akan menemaninya sepanjang hidupnya.
Di luar, hujan reda.
Langit mulai cerah.
Bintang-bintang muncul satu per satu.
Bulan bersinar terang, memantulkan cahaya keperakan di permukaan sungai yang tenang.
Jangkrik mulai bernyanyi.
Alam tenang.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
Seolah tidak ada anak kecil yang hancur hatinya malam itu.
Seolah tidak ada keluarga yang runtuh malam itu.
Seolah tidak ada rahasia yang terungkap malam itu.
Tapi Danang tahu.
Semuanya telah berubah.
Tidak akan pernah kembali seperti semula.
Rumahnya tidak akan pernah terasa seperti rumah.
Ayahnya tidak akan pernah terasa seperti ayah.
Ibunya tidak akan pernah terasa seperti ibu yang tidak menyembunyikan apa pun.
Dan ia, Danang, tidak akan pernah lagi menjadi Danang yang tidak tahu apa-apa.
Ia telah kehilangan sesuatu malam itu.
Sesuatu yang tidak bisa dikembalikan.
Masa kecilnya.
Kepercayaannya.
Identitasnya.
Dan yang tersisa hanyalah luka.
Luka yang akan terus berdarah.
Luka yang tidak akan pernah benar-benar sembuh.
Luka yang akan menjadi bagian dari dirinya selamanya.
Bab 20
Perpisahan di Tepi Sungai
Pagi berikutnya, desa terasa sunyi.
Bukan sunyi biasa seperti pagi-pagi buta ketika semua orang masih tidur. Bukan sunyi karena hujan deras yang membuat semua orang berdiam diri di dalam rumah. Sunyi yang aneh. Sunyi yang berat. Sunyi yang seperti ada yang hilang, seperti ada yang mati, seperti ada yang pergi untuk selamanya.
Tidak ada suara ayam berkokok. Ayam-ayam jantan yang biasanya bersahutan sejak pukul empat pagi, yang suaranya menjadi alarm alami bagi seluruh desa, tiba-tiba diam. Mungkin mereka merasakan sesuatu. Mungkin mereka tahu bahwa malam itu, di sebuah rumah di tepi sungai, seorang anak kecil kehilangan masa kecilnya.
Tidak ada suara burung bernyanyi. Burung-burung gereja yang biasanya berkicau riang di atas pohon-pohon kelapa, yang suaranya menjadi musik pagi bagi siapa pun yang mau mendengar, tiba-tiba menghilang. Mungkin mereka terbang ke hutan. Mungkin mereka bersembunyi di sarang-sarang mereka. Mungkin mereka ikut berduka.
Tidak ada suara tawa anak-anak yang bermain di halaman. Anak-anak yang biasanya sudah mulai bermain kejar-kejaran sejak matahari terbit, yang suaranya memecah kesunyian pagi, tiba-tiba tidak terdengar. Mungkin mereka masih tidur. Mungkin orang tua mereka melarang mereka bermain. Mungkin mereka sudah mendengar tentang apa yang terjadi, dan mereka tidak tahu harus bersikap bagaimana.
Bahkan sungai seperti mengalir lebih lambat dari biasanya, seolah alam ikut berduka. Air yang biasanya mengalir dengan riang, dengan suara gemericik yang menenangkan, kini mengalir pelan, sayu, seperti air mata yang tidak ingin mengganggu siapa pun. Daun-daun kering yang biasanya terapung riang di permukaan air, kini tenggelam, atau tersangkut di akar-akar pohon waru, tidak mau pergi ke hilir.
Danang bangun lebih lambat dari biasanya. Matanya sembab, bengkak karena menangis semalaman. Kelopak matanya terasa berat, seperti ada pasir di dalamnya. Kepalanya pusing, seperti baru saja bangun dari mimpi buruk yang panjang, tetapi ia tidak ingat apa pun yang ia mimpikan. Mungkin ia tidak bermimpi sama sekali. Mungkin tidurnya kosong, tanpa mimpi, tanpa apa pun, seperti kematian kecil yang terjadi setiap malam, tetapi malam ini terasa lebih mati dari biasanya.
Ketika ia membuka mata, cahaya matahari sudah masuk melalui celah-celah dinding kayu kamarnya. Garis-garis cahaya tipis jatuh di lantai kayu, di tikar pandannya, di tangannya yang kurus. Biasanya, ia akan segera bangun, melipat tikar, mencuci muka, dan membantu ibunya di dapur. Tapi pagi ini, ia hanya berbaring, memandang langit-langit yang retak, mendengar suara ibunya yang batuk-batuk di dapur, mendengar suara ayahnya yang masih mendengkur di kamar sebelah meskipun hari sudah siang.
Sastrowiryo pergi sebelum matahari terbit.
Tanpa pamit.
Tanpa pesan.
Tanpa jejak.
Ketika Danang akhirnya bangun dan berjalan ke ruang tengah, ia melihat kamar ayahnya kosong. Ranjang kayu yang sederhana, dengan kasur tipis yang sudah kempes di beberapa bagian, kosong. Selimut tipis yang biasanya menutupi tubuh ayahnya, terlipat rapi di ujung ranjang, seperti orang yang tidak pernah tidur di sana. Bantal yang biasanya penyok karena kepala ayahnya, mengembang kembali, seperti baru saja dicuci dan dijemur.
Hanya botol kosong di bawah tempat tidur yang menjadi bukti bahwa Sastrowiryo memang ada, tetapi memilih untuk tidak ada lagi. Botol kaca hijau dengan label yang sudah luntur, tidak terbaca lagi. Botol yang sama yang selalu ia pegang setiap malam. Botol yang menjadi teman setianya, lebih setia daripada istri, lebih setia daripada anak, lebih setia daripada siapa pun.
Danang berdiri di depan kamar ayahnya, memandang kekosongan di dalamnya. Ia tidak menangis. Ia tidak marah. Ia hanya berdiri, memandang, berusaha memahami mengapa lelaki itu pergi. Apakah karena malu? Apakah karena takut? Apakah karena tidak kuat menghadapi kenyataan bahwa ia bukan ayah kandung Danang? Apakah karena ia sudah tidak tahan hidup dalam kebohongan? Apakah karena ia sudah tidak tahan menjadi lelaki yang gagal?
Atau mungkin, Sastrowiryo pergi karena ia mencintai Danang. Mungkin ia pergi karena ia tahu bahwa kehadirannya hanya akan membuat Danang semakin bingung. Mungkin ia pergi karena ia tahu bahwa Danang membutuhkan waktu untuk memproses semua yang terjadi. Mungkin ia pergi karena ia ingin memberi Danang ruang, meskipun dengan cara yang salah.
Atau mungkin, Sastrowiryo pergi karena ia pengecut. Karena ia tidak bisa menghadapi masalah. Karena ia lebih memilih lari daripada berjuang. Karena ia lebih memilih botol daripada keluarga. Karena ia lebih memilih kesendirian daripada tanggung jawab.
Danang tidak tahu. Dan mungkin tidak akan pernah tahu.
Ratih hanya duduk di depan rumah dengan mata kosong.
Ia tidak menangis.
Tidak berbicara.
Tidak melakukan apa pun.
Ia hanya duduk di kursi bambu yang biasa diduduki Sastrowiryo, memandang jalan tanah yang basah karena hujan semalam, seolah menunggu seseorang yang tidak akan pernah kembali.
Wajahnya pucat. Lebih pucat dari biasanya. Matanya cekung. Lingkaran hitam di bawah matanya semakin gelap, seperti dua lubang yang digali di bawah matanya. Bibirnya kering, pecah-pecah, seperti tanah di musim kemarau.
Rambutnya kusut, tidak disisir sejak kemarin. Beberapa helai uban mulai terlihat di pelipisnya, meskipun usianya baru tiga puluh tahun. Uban yang tumbuh lebih cepat dari seharusnya, karena stres, karena penyakit, karena beban hidup yang terlalu berat.
Ia memegang sesuatu di tangannya. Sepasang sandal jepit. Sandal jepit hitam milik Sastrowiryo, yang sudah usang, yang talinya sudah putus dan diikat ulang dengan karet bekas. Sandal yang ditinggalkan di teras ketika Sastrowiryo pergi. Sandal yang mungkin sengaja ditinggalkan, sebagai tanda bahwa ia tidak akan kembali.
Atau mungkin, ia lupa memakainya karena terburu-buru. Karena ia ingin pergi secepat mungkin, sebelum Danang bangun, sebelum Ratih sempat memintanya untuk tetap tinggal, sebelum ia berubah pikiran.
"Mak, Bapak ke mana?" tanya Danang, meskipun ia sudah tahu jawabannya. Ia hanya perlu mendengar dari mulut ibunya. Ia hanya perlu kepastian bahwa ia tidak bermimpi.
Ratih tidak menjawab. Matanya tetap kosong, tetap menatap jalan tanah yang basah, tetap menunggu seseorang yang tidak akan pernah kembali.
"Mak," panggil Danang lagi, lebih keras.
Ratih menoleh perlahan, seperti orang yang baru sadar dari lamunan panjang, seperti orang yang baru terbangun dari tidur yang berat.
"Bapak... Bapak pergi, Nang," bisiknya. Suaranya serak, seperti suara orang yang kehabisan air, seperti suara orang yang sudah menangis terlalu lama. "Bapak... Bapak tidak tahu kapan pulang."
Danang menatap ibunya. Ia ingin bertanya lebih banyak. Ia ingin bertanya ke mana Sastrowiryo pergi. Ia ingin bertanya apakah Sastrowiryo akan kembali. Ia ingin bertanya apakah Sastrowiryo pamit. Ia ingin bertanya apakah Sastrowiryo menangis ketika pergi.
Tapi ia tidak bertanya apa pun. Ia hanya mengangguk, berpura-pura mengerti, berpura-pura menerima, berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
"Danang masak nasi, Mak," katanya. "Danang buatkan Ibu makan."
Ratih tersenyum. Senyum yang pahit. Senyum yang tidak sampai ke matanya. Senyum yang mengatakan bahwa ia menghargai usaha Danang, tetapi ia tidak bisa makan, tidak bisa menelan, tidak bisa melakukan apa pun selain duduk di kursi ini dan menunggu.
"Terima kasih, Nang," bisiknya. "Ibu tidak lapar."
Danang tidak memaksa. Ia hanya berjalan ke dapur, menyalakan api di tungku tanah liat yang sudah retak, menanak nasi dengan air yang ia ambil dari sumur. Ia melakukan semua itu dengan gerakan otomatis, tanpa berpikir, tanpa merasa, seperti robot, seperti mayat hidup.
Menjelang sore, Danang berdiri di pinggir jalan desa.
Ia tidak tahu mengapa ia berdiri di sana. Ia tidak tahu apa yang ia tunggu. Ia hanya berdiri, memandang ke arah timur, ke arah jalan yang menghubungkan desanya dengan dunia luar.
Rambutnya masih basah karena ia baru saja mandi di sungai. Bajunya masih basah di beberapa tempat karena ia tidak sempat mengeringkan diri dengan benar. Kakinya telanjang, berlumuran lumpur, karena ia berjalan tanpa sandal.
Di kejauhan, ia melihat sebuah mobil tua melaju perlahan di jalan tanah yang berlubang. Mobil itu sebenarnya lebih mirip truk kecil, dengan bak terbuka di belakang yang ditutupi terpal biru. Mobil itu bergoyang-goyang, mengikuti kontur jalan yang tidak rata, menciptakan debu yang beterbangan di belakangnya.
Di dalam mobil itu, di kursi penumpang di samping sopir, duduk seorang perempuan muda dengan rambut panjang yang diikat sederhana. Di sampingnya, seorang anak perempuan seusia Danang, dengan rambut panjang yang diikat karet gelang merah.
Kirana.
Mobil itu berhenti di depan Danang.
Pintu terbuka.
Kirana turun.
Matanya merah, bengkak, seperti sudah menangis sepanjang malam. Wajahnya pucat, tidak seperti biasanya. Bibirnya gemetar. Tangannya gemetar.
"Danang," panggilnya, suaranya serak, hampir tidak terdengar.
Danang menatapnya. Dadanya terasa sesak. Ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya, sesuatu yang seperti ingin keluar, tetapi ia tahan.
"Kau... kau jadi pergi, Kirana?" tanyanya, meskipun ia sudah tahu jawabannya.
Kirana mengangguk. Air matanya jatuh. "Ayah benar-benar dipindahkan, Danang. Kami berangkat... kami berangkat sekarang."
Danang terdiam.
Ia memandang mobil tua itu. Di dalam, ia melihat ibu Kirana yang juga menangis, dan ayah Kirana yang duduk di kursi sopir dengan wajah tegang, tidak berani menatap ke arah Danang.
"Kapan kau kembali?" tanya Danang, suaranya pelan, hampir seperti bisikan.
Kirana menggeleng. "Aku tidak tahu, Danang. Ayah bilang... ayah bilang kita akan tinggal di kota. Mungkin lama. Mungkin selamanya. Aku tidak tahu."
Danang menunduk.
Ia memandang tanah di bawah kakinya. Tanah yang becek, berlumpur, penuh bekas telapak kaki dan roda mobil.
"Aku... aku tidak mau kau pergi, Kirana," bisiknya. Suaranya pecah. Tangisnya keluar, tidak bisa lagi ditahan. "Kau satu-satunya temanku. Kau satu-satunya yang percaya padaku. Kau satu-satunya yang tidak menjauh ketika semua orang menjauh. Kau satu-satunya yang membelaku di depan Surya. Kau satu-satunya yang datang ke rumahku di tengah hujan untuk membawakan obat untuk Ibu. Kau satu-satunya..."
Ia tidak bisa melanjutkan.
Tangisnya pecah.
Ia menangis di depan Kirana.
Menangis untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
Menangis bukan karena ia lemah.
Menangis karena ia kehilangan.
Kehilangan sahabat.
Kehilangan rumah.
Kehilangan identitas.
Kehilangan segalanya.
Kirana juga menangis.
Ia memeluk Danang.
Pelukan yang erat.
Pelukan yang hangat.
Pelukan yang seperti mengatakan "Aku tidak mau pergi, tetapi aku tidak punya pilihan."
Pelukan yang seperti mengatakan "Aku akan kembali, suatu hari nanti."
Pelukan yang seperti mengatakan "Jangan lupakan aku."
Danang membalas pelukan itu.
Tangannya yang kecil dan kurus melingkar di pinggang Kirana.
Ia memejamkan mata.
Ia ingin waktu berhenti.
Ia ingin momen ini berlangsung selamanya.
Ia ingin Kirana tidak pernah pergi.
Tapi waktu tidak berhenti.
Mobil itu harus segera berangkat sebelum gelap.
Kirana melepaskan pelukannya.
Ia mengambil sesuatu dari sakunya.
Sebuah pita rambut kecil berwarna biru.
Pita yang biasa ia pakai untuk mengikat rambutnya.
Pita yang sudah usang, warna birunya mulai memudar menjadi biru keabu-abuan, tetapi masih terawat dengan baik.
Pita yang telah menemani Kirana sejak kecil, sejak ia masih bisa tertawa lepas tanpa beban, sejak ia masih percaya bahwa dunia adalah tempat yang indah.
"Ini untukmu, Danang," kata Kirana, menyerahkan pita itu.
Danang menatap pita itu.
Benda kecil sederhana.
Terbuat dari kain.
Tidak berharga di mata orang lain.
Tapi di matanya, pita itu adalah segalanya.
Pita itu adalah Kirana.
Pita itu adalah kenangan.
Pita itu adalah janji.
"Untuk apa?" tanya Danang, suaranya masih basah oleh tangis.
Kirana tersenyum. Senyum yang sama. Senyum yang dulu menjadi rumah bagi Danang. Senyum yang membuat Danang merasa bahwa ia tidak sendirian di dunia. Senyum yang akan ia rindukan setiap hari, setiap jam, setiap menit, setelah Kirana pergi.
"Supaya kau ingat aku, Danang."
Danang menatap Kirana.
"Aku tidak butuh benda untuk mengingatmu, Kirana," katanya. "Karena aku tahu aku tidak akan bisa lupa. Tidak peduli seberapa jauh kau pergi. Tidak peduli seberapa lama kita tidak bertemu. Aku tidak akan bisa lupa. Tidak akan pernah."
Kirana menangis lebih keras.
Ia memeluk Danang lagi.
Pelukan terakhir.
Pelukan perpisahan.
Pelukan yang akan ia ingat sepanjang hidupnya.
"Aku akan kembali, Danang," bisik Kirana di telinga Danang. "Aku janji. Aku akan kembali."
"Kapan?" tanya Danang.
Kirana tidak menjawab. Ia tidak tahu kapan. Ia tidak tahu apakah ia bisa menepati janjinya. Ia tidak tahu apakah Danang masih di sini ketika ia kembali. Ia tidak tahu apakah mereka masih sama ketika mereka bertemu lagi.
Yang ia tahu, ia harus pergi sekarang.
Mobil itu harus segera berangkat.
Ayahnya sudah menyalakan mesin.
Ibunya sudah melambai-lambaikan tangan dari dalam mobil.
"Danang, aku harus pergi," bisik Kirana.
Danang melepaskan pelukannya.
Ia memandang Kirana untuk terakhir kalinya.
Memandang rambut panjang hitam yang diikat karet gelang merah.
Memandang mata coklat kehijauan yang selalu berbinar.
Memandang lesung pipit di pipi kirinya yang muncul ketika ia tersenyum.
Memandang bibirnya yang gemetar menahan tangis.
Memandang tangannya yang kecil dan hangat.
Kirana naik ke mobil.
Pintu ditutup.
Mobil mulai bergerak.
Perlahan.
Meninggalkan Danang.
Meninggalkan desa.
Meninggalkan kenangan.
Danang berdiri di pinggir jalan, memandang mobil itu semakin kecil, semakin jauh, semakin kabur.
Kirana menoleh ke belakang.
Tangannya menempel di kaca.
Matanya penuh air.
Bibirnya bergerak, membentuk kata-kata yang tidak terdengar.
"Aku akan kembali."
Danang tidak melambaikan tangan.
Tidak memanggil namanya.
Ia hanya berdiri.
Berdiri sampai mobil itu hilang di tikungan.
Sampai debunya menghilang.
Sampai jalan itu kosong.
Dan untuk pertama kalinya, Danang benar-benar sendirian.
Di tangannya, pita rambut biru itu masih tergenggam.
Kecil.
Ringan.
Namun terasa lebih berat daripada seluruh dunia.
Ia memandang pita itu lama.
Warna birunya mulai pudar.
Kainnya mulai rapuh.
Tapi kenangannya masih utuh.
Masih segar.
Masih tajam.
Ia memasukkan pita itu ke dalam sakunya.
Di tempat yang aman.
Di tempat yang tidak akan ia lupakan.
Di tempat yang paling dekat dengan hatinya.
Ia berbalik.
Berjalan pulang.
Melewati rumah-rumah tetangga yang mulai menyalakan lampu.
Melewati sawah yang mulai tergenang air karena hujan semalam.
Melewati jembatan kayu yang berderit.
Melewati pohon-pohon kelapa yang bergoyang pelan ditiup angin sore.
Melewati sungai yang mengalir tenang.
Melewati pohon waru yang akarnya menjuntai ke air.
Melewati semua tempat yang penuh kenangan dengan Kirana.
Ia tidak menangis.
Ia sudah kehabisan air mata.
Yang tersisa hanyalah luka.
Luka yang akan terus berdarah.
Luka yang tidak akan pernah benar-benar sembuh.
Luka yang akan menjadi teman setianya di malam-malam yang sunyi.
Luka yang akan membuatnya sulit percaya pada janji.
Luka yang akan membuatnya ragu untuk mencintai.
Luka yang akan membuatnya lari setiap kali kebahagiaan mulai mendekat.
Luka bernama Kirana.
EPILOG BAGIAN PERTAMA
Akar yang Tidak Pernah Hilang
Danang berdiri sendiri di pinggir jalan desa.
Mobil yang membawa Kirana telah hilang dari pandangan.
Debu yang beterbangan di belakang mobil telah menetap di tanah.
Jalan itu kosong.
Sunyi.
Seperti hati Danang.
Ia memandang ke arah timur, ke arah kota yang entah di mana, ke arah tempat Kirana akan tinggal, ke arah tempat Kirana akan tumbuh dewasa, ke arah tempat Kirana mungkin akan melupakannya.
Ia memandang pita biru di tangannya.
Pita yang sudah usang.
Pita yang sudah pudar warnanya.
Pita yang dulu mengikat rambut Kirana.
Pita yang sekarang menjadi satu-satunya benda yang menghubungkannya dengan masa lalu.
Ia menggenggam pita itu erat-erat.
Seperti menggenggam janji.
Seperti menggenggam harapan.
Seperti menggenggam Kirana.
"Aku akan menunggumu, Kirana," bisiknya. "Aku akan menunggu sampai kau kembali. Satu tahun. Dua tahun. Sepuluh tahun. Dua puluh tahun. Aku akan menunggu. Sampai kapan pun."
Ia tidak tahu bahwa ia akan menunggu lebih lama dari yang ia duga.
Ia tidak tahu bahwa Kirana tidak akan kembali dalam waktu dekat.
Ia tidak tahu bahwa mereka akan bertemu lagi di kota, bertahun-tahun kemudian, ketika mereka sudah dewasa, ketika luka-luka lama terbuka kembali, ketika cinta mereka diuji oleh pengkhianatan dan kebohongan.
Ia tidak tahu bahwa pita biru itu akan menjadi satu-satunya benda yang ia simpan sepanjang hidupnya, yang akan ia bawa ke mana pun ia pergi, yang akan ia lihat setiap kali ia rindu pada Kirana.
Ia hanya tahu bahwa hari itu, di tepi sungai Kapuas Muara, di desa kecil yang sunyi, ia kehilangan seseorang yang sangat ia cintai.
Dan tidak ada yang bisa menggantikannya.
Ratih menunggu di rumah.
Ia masih duduk di kursi bambu di depan rumah, memandang jalan tanah yang basah, menunggu suaminya yang tidak akan pernah kembali, menunggu anaknya yang sedang berduka, menunggu keajaiban yang mungkin tidak akan pernah datang.
Tubuhnya semakin lemah.
Batuknya semakin parah.
Demamnya tidak kunjung turun.
Ia tahu waktunya tidak lama lagi.
Ia tahu ia harus pergi.
Tapi ia tidak tega meninggalkan Danang sendirian.
"Tuhan," bisiknya, "jaga anakku. Jaga Danang. Aku tidak bisa menjaganya selamanya. Aku tidak bisa melindunginya selamanya. Aku tidak bisa menyembunyikan rahasia selamanya. Tolong jaga dia. Tolong lindungi dia. Tolong beri dia kebahagiaan yang tidak pernah aku miliki."
Ia memejamkan mata.
Air matanya jatuh.
Ia tidak membukanya lagi.
Danang pulang ketika matahari hampir tenggelam.
Langit berwarna jingga kemerahan, seperti sedang terbakar, seperti sedang berdarah.
Ia menaiki tangga rumahnya yang berderit.
Ia membuka pintu.
Rumah itu sunyi.
Terlalu sunyi.
"Ibu," panggilnya.
Tidak ada jawaban.
"Ibu," panggilnya lagi, lebih keras.
Masih tidak ada jawaban.
Ia berjalan ke ruang tengah.
Ratih masih duduk di kursi bambu.
Matanya terpejam.
Wajahnya tenang.
Sangat tenang.
Bibirnya tersenyum.
Senyum yang tidak pernah ia tunjukkan ketika masih hidup.
"Ibu," bisik Danang, suaranya gemetar.
Ia mendekat.
Menyentuh tangan ibunya.
Dingin.
Sangat dingin.
Dingin yang berbeda dengan dinginnya tidur.
Dingin yang mengatakan bahwa jiwa telah pergi.
Dingin yang mengatakan bahwa yang tersisa hanyalah cangkang.
Dingin yang mengatakan bahwa ia sekarang benar-benar sendirian.
Danang tidak menangis.
Ia hanya duduk di lantai di samping ibunya.
Memegang tangan ibunya yang dingin.
Menunduk.
Diam.
Untuk waktu yang lama.
Hanya suara jangkrik yang terdengar.
Hanya suara sungai yang mengalir.
Hanya suara angin yang berhembus.
Hanya suara kesunyian.
Beberapa hari kemudian, tetangga membantu mengurus pemakaman Ratih.
Makamnya sederhana, di pemakaman desa di lereng bukit, di bawah pohon beringin tua, menghadap ke timur, ke arah matahari terbit.
Danang berdiri di sisi makam ibunya, memandang tanah yang baru ditimbun, memandang nisan kayu sederhana dengan nama ibunya yang ditulis dengan cat hitam.
Ia tidak menangis.
Ia tidak berbicara.
Ia hanya berdiri.
Memandang.
Mengingat.
"Selamat jalan, Mak," bisiknya akhirnya. "Danang akan baik-baik saja. Danang akan kuat. Danang tidak akan mengecewakan Mak."
Ia berbalik.
Berjalan meninggalkan makam.
Meninggalkan ibunya.
Meninggalkan masa kecilnya.
Meninggalkan desanya.
Meninggalkan segalanya.
Ia pergi ke kota.
Mencari kehidupan baru.
Mencari identitas baru.
Mencari lupa.
Tapi ia tidak pernah lupa.
Tidak pernah.
Di tangannya, pita biru itu masih tergenggam.
Pita yang sama.
Pita yang dulu mengikat rambut Kirana.
Pita yang sekarang menjadi satu-satunya kenangan dari masa lalu.
Ia memasukkan pita itu ke dalam sakunya.
Di tempat yang aman.
Di tempat yang tidak akan ia lupakan.
Di tempat yang paling dekat dengan hatinya.
"Kirana," bisiknya, "aku akan menunggumu. Sampai kapan pun."
Dan ia berjalan.
Berjalan menjauh dari desa.
Berjalan menuju masa depan yang tidak pasti.
Berjalan dengan luka yang tidak akan pernah sembuh.
Berjalan dengan cinta yang tidak akan pernah mati.
BAGIAN KEDUA
Jejak Waktu, Langit yang Mulai Retak
"Kadang pengkhianatan terbesar bukan menghancurkan cinta, tetapi mencuri waktu yang seharusnya menjadi milik dua orang."
Prolog
Kota yang Menelan Langkah
Tahun 1985.
Tujuh tahun telah berlalu sejak Danang meninggalkan desa. Tujuh tahun sejak ia berdiri di pinggir jalan desa yang sunyi, memegang pita biru di tangan, menyaksikan mobil tua yang membawa Kirana menghilang di tikungan. Tujuh tahun sejak ibunya meninggal di kursi bambu dengan senyum di bibir. Tujuh tahun sejak Sastrowiryo pergi tanpa pamit, tanpa kabar, tanpa jejak. Tujuh tahun sejak masa kecilnya berakhir di tepi Sungai Kapuas Muara.
Danang sekarang berusia empat belas tahun. Ia tidak lagi anak kecil kurus yang mudah ditindas oleh Surya. Waktu dan kerasnya kehidupan di kota telah mengubahnya. Tubuhnya yang dulu kecil dan kurus, kini mulai tumbuh tinggi. Bahunya mulai melebar, meskipun tidak sebidan Sastrowiryo. Tangannya yang dulu mungil dan lembut, kini kasar, penuh kapalan, dengan bekas luka kecil di sana-sini akibat pekerjaan kasar yang ia lakukan untuk bertahan hidup.
Wajahnya yang dulu polos dan penuh rasa ingin tahu, kini lebih tegas. Tulang pipinya yang dulu terlalu menonjol kini lebih proporsional dengan wajahnya yang mulai dewasa. Rahangnya yang dulu masih bulat seperti anak-anak, kini mulai membentuk garis yang lebih tegas, lebih maskulin. Matanya yang dulu terlalu gelap dan terlalu dalam untuk anak seusianya, kini semakin gelap, semakin dalam, seperti sumur yang tidak pernah mencapai dasar.
Tapi yang paling berubah adalah matanya. Matanya tidak lagi penuh rasa ingin tahu seperti dulu. Tidak lagi berbinar-binar ketika melihat sesuatu yang baru. Matanya kini lebih tenang, lebih waspada, lebih seperti orang yang sudah terlalu sering dikecewakan oleh kehidupan. Matanya seperti air danau yang gelap, yang permukaannya datar tetapi di dalamnya menyimpan kedalaman yang tidak terlihat.
Danang tidak pernah kembali ke desa sejak kepergiannya. Ia tidak tahu apa yang terjadi di sana. Ia tidak tahu apakah Surya masih tinggal di desa itu. Ia tidak tahu apakah rumahnya masih berdiri atau sudah roboh dimakan usia. Ia tidak tahu apakah tetangga-tetangganya masih mengingatnya, masih membicarakannya, masih membisikkan aib keluarganya di setiap kesempatan.
Ia tidak ingin tahu.
Ia ingin melupakan.
Melupakan desa.
Melupakan sungai.
Melupakan pohon waru.
Melupakan rumah panggung dengan tiang kayu ulin yang mulai lapuk.
Melupakan ibunya yang meninggal di kursi bambu.
Melupakan ayah tirinya yang pergi tanpa pamit.
Melupakan ayah kandungnya yang tidak pernah ia kenal.
Melupakan Kirana.
Tapi ia tidak bisa melupakan Kirana.
Pita biru itu masih ia simpan. Di dalam kotak kayu kecil yang ia buat sendiri dari potongan kayu bekas. Kotak yang ia letakkan di dasar kopernya, di antara baju-baju lusuh dan buku-buku bekas yang ia kumpulkan dari pasar loak. Pita yang warnanya kini hampir putih, birunya hampir hilang seluruhnya, hanya tersisa sedikit di serat-serat kain yang masih tersisa.
Ia tidak pernah membuka kotak itu. Tidak pernah. Sudah bertahun-tahun ia tidak membukanya. Karena ia takut. Takut bahwa jika ia membuka kotak itu, jika ia melihat pita itu lagi, jika ia mengingat Kirana lagi, ia akan hancur. Ia akan teringat pada janji di tepi sungai. Ia akan teringat pada genggaman tangan Kirana. Ia akan teringat pada kata-kata Kirana: "Aku akan kembali."
Dan ia tidak bisa menunggu lagi.
Ia sudah lelah menunggu.
Kereta kayu tua berhenti perlahan di stasiun kecil pinggir kota. Lokomotifnya mengeluarkan suara mendesis seperti naga yang kelelahan, seperti raksasa yang menghembuskan napas terakhirnya setelah perjalanan panjang yang melelahkan. Uap putih mengepul dari cerobong asap, membubung ke langit pagi yang masih kelabu, membawa bau batu bara yang menyengat, bau yang sudah sangat akrab di hidung Danang setelah bertahun-tahun naik turun kereta antar kota.
Suara peluit panjang memecah pagi, seperti tangisan logam yang memanggil pulang, seperti ratapan dari dunia lain yang tidak bisa dimengerti manusia. Seorang kondektur tua dengan seragam coklat yang sudah kusam dan lusuh, berteriak-teriak dari gerbong paling depan, memberitahu para penumpang bahwa kereta akan berhenti di stasiun ini selama lima belas menit sebelum melanjutkan perjalanan ke tujuan akhir.
"Stasiun Purwokerto! Stasiun Purwokerto! Kereta akan berhenti selama lima belas menit! Penumpang yang turun di sini, segera turun! Penumpang yang melanjutkan perjalanan, jangan kemana-mana!"
Orang-orang turun dengan tas lusuh dan wajah lelah. Ada yang membawa karung beras di pundak, tubuh mereka membungkuk karena beban. Ada yang membawa ayam hidup dalam keranjang bambu, ayam-ayam itu berkotek-kotek, kepalanya mendongak-dongak, seperti sedang protes karena perjalanan yang terlalu lama. Ada yang membawa bayi yang menangis karena kaget oleh suara kereta, suara tangis bayi itu nyaring, menusuk telinga, mengganggu penumpang lain yang sudah lelah.
Ada yang hanya membawa diri mereka sendiri, dengan koper tua yang sudah tidak layak pakai, yang gagangnya terlepas, yang kulitnya mengelupas, yang sudutnya bolong, tetapi masih mereka bawa karena itu satu-satunya harta yang tersisa.
Di antara mereka, Danang Wiratama melangkah turun dengan sebuah koper tua di tangan. Koper itu milik Sastrowiryo, atau mantan ayah tirinya, atau seseorang yang pernah ia panggil "Bapak" selama bertahun-tahun. Koper dari kulit sintetis berwarna coklat tua, dengan gesper kuningan yang sudah berkarat, yang sulit dibuka karena karatnya sudah mengeras. Di sudut kanan bawah, ada inisial "SW" yang sudah hampir hilang karena gesekan, hanya terlihat seperti coretan tak berarti.
Usianya sekarang sembilan belas tahun. Lima tahun telah berlalu sejak ia pertama kali meninggalkan desa. Lima tahun sejak ia menjadi anak perantauan. Lima tahun sejak ia belajar bahwa hidup di kota tidak semudah yang ia bayangkan. Lima tahun sejak ia belajar bahwa uang tidak mudah didapat, bahwa pekerjaan tidak mudah dicari, bahwa manusia tidak selalu baik, bahwa dunia tidak adil.
Lima tahun yang melelahkan. Lima tahun yang mengajarkannya banyak hal. Lima tahun yang membentuknya menjadi lelaki yang sekarang berdiri di peron stasiun ini, dengan koper tua di tangan, dengan wajah lelah, dengan hati yang masih menyimpan luka lama.
Ia berdiri sejenak di peron, memandang kota yang asing di hadapannya.
Ini bukan kota besar seperti Jakarta atau Surabaya. Ini kota kecil di Jawa Tengah, dengan populasi yang tidak terlalu padat, dengan hiruk-pikuk yang tidak terlalu membingungkan, dengan penduduk yang masih ramah dan belum terlalu terpengaruh oleh modernisasi. Tapi bagi Danang, yang terbiasa dengan desa yang hanya berpenduduk beberapa ratus orang, kota ini sudah terasa sangat besar, sangat ramai, sangat menakutkan.
Lampu-lampu mulai menyala satu per satu di kejauhan, meskipun hari masih pagi. Lampu neon yang berwarna putih kebiruan, yang terangnya menyilaukan mata, sangat berbeda dengan lampu minyak yang redup dan hangat yang biasa ia gunakan di desa. Lampu-lampu itu berkedip-kedip, bergantian menyala dan mati, seperti bintang-bintang yang jatuh ke bumi.
Suara kendaraan bercampur teriakan pedagang kaki lima yang menawarkan makanan dan minuman. "Sate! Sate kambing muda! Masih hangat!" "Gudeg! Gudeg khas Solo! Enak! Murah!" "Es dawet! Es dawet segar! Pelepas dahaga!" "Kopi! Kopi hitam panas! Kopi tubruk khas Jawa!"
Aroma kopi, asap rokok, knalpot, dan tanah basah bercampur menjadi satu bau yang khas. Bau kota. Bau kehidupan yang berjalan terlalu cepat. Bau yang membuat Danang merasa pusing, merasa sesak, merasa bahwa ia tidak cocok di sini. Tapi ia tidak punya pilihan. Desa sudah tidak lagi menjadi rumah. Desa hanya kenangan yang menyakitkan. Desa adalah tempat ia kehilangan segalanya.
Kota terasa hidup. Terlalu hidup. Danang menarik napas panjang. Udara kota berbeda dengan udara desa. Di desa, udara terasa bersih, segar, membawa bau tanah dan daun-daun basah, bau yang menenangkan, yang membuat ia merasa aman, yang membuat ia merasa bahwa dunia ini masih baik. Di sini, udara terasa berat, penuh partikel debu dan asap, seperti sedang menghirup sejarah ribuan orang yang lalu lalang di tempat yang sama, seperti sedang menghirup keputusasaan ribuan orang yang datang ke kota dengan harapan tetapi pulang dengan kekecewaan.
"Selamat datang di tempat orang kehilangan dirinya sendiri," kata sebuah suara dari belakangnya.
Danang menoleh.
Seorang pemuda sebaya berdiri sambil tersenyum. Rambutnya sedikit panjang, tidak terlalu rapi, tidak terlalu berantakan, seperti rambut orang yang tidak punya waktu untuk ke salon tetapi juga tidak mau terlihat kusut. Kemejanya lengan pendek, warna biru muda, dengan kerah yang sedikit kusut, digulung sampai siku, memperlihatkan lengan yang kecoklatan karena terik matahari. Celananya kain, warna coklat muda, dengan lipatan setrika yang masih terlihat di bagian depan, meskipun sudah mulai pudar karena sering dicuci.
Matanya tajam tetapi ramah, seperti mata orang yang sudah terbiasa membaca karakter orang lain hanya dengan sekali lihat, seperti mata pedagang yang sudah terbiasa menawar dan ditawar. Matanya bergerak cepat dari ujung rambut Danang yang ikal dan tidak pernah rapi, ke kopernya yang tua dan lusuh, ke sepatunya yang bolong di bagian jempol.
"Aku Arman," katanya sambil mengulurkan tangan. Jabatannya kuat, tegas, seperti orang yang percaya diri, seperti orang yang tidak takut pada siapa pun, seperti orang yang sudah terbiasa berjabat tangan dengan orang asing. "Teman sepupu kau. Sepupuku, Budi, yang kerja di percetakan itu. Dia bilang kau butuh pekerjaan. Dia bilang kau orangnya jujur. Dia bilang kau bisa dipercaya."
Danang menyambut tangan itu. "Danang. Danang Wiratama."
Arman tersenyum lebar. Senyum yang mudah, alami, seperti ia tersenyum kepada semua orang, seperti ia tidak pernah punya masalah dengan siapa pun, seperti ia tidak pernah menyimpan dendam atau kebencian. "Danang Wiratama," ulangnya, seperti sedang mencicipi nama itu di lidahnya. "Nama yang bagus. Nama Jawa. Berarti 'unggul' dan 'beriman', ya? Orang tua kau pasti punya harapan besar padamu."
Danang tersenyum tipis. Ia tidak ingin membicarakan orang tuanya. Ia tidak ingin membicarakan masa lalunya. Ia ingin memulai hidup baru di kota ini. Ia ingin menjadi orang baru. Ia ingin melupakan semua yang terjadi di desa.
"Aku dengar kau dari desa di tepi Sungai Kapuas Muara," kata Arman, sambil berjalan di samping Danang menuju pintu keluar stasiun. "Jauh sekali. Naik kereta berapa hari?"
"Tiga hari," jawab Danang singkat. "Naik kereta api dari Pontianak ke Jakarta, terus dari Jakarta ke Purwokerto. Numpang di stasiun. Tidur di bangku. Kadang tidak tidur sama sekali."
Arman mengangguk-angguk, seperti mengerti, meskipun ia mungkin tidak benar-benar mengerti. Ia tumbuh di kota. Ia tidak pernah mengalami perjalanan tiga hari dengan kereta kayu yang lambat, dengan tempat duduk yang keras, dengan bau keringat dan asap rokok dan makanan basi yang bercampur menjadi satu. Ia tidak pernah mengalami tidur di bangku stasiun dengan koper sebagai bantal, dengan ketakutan bahwa kopernya akan dicuri, dengan dingin yang menusuk tulang, dengan suara kereta yang datang dan pergi sepanjang malam.
"Mulai hari ini, kau bukan anak sungai lagi, Danang," kata Arman, sambil menepuk pundak Danang. Tepukan yang ramah, seperti tepukan seorang kakak pada adiknya. "Mulai hari ini, kau anak kota. Anak perantauan. Anak yang harus berjuang untuk hidup. Anak yang tidak punya siapa-siapa selain dirinya sendiri."
Danang menoleh ke arah keramaian kota. Orang-orang berlalu lalang dengan kecepatan yang membuatnya pusing. Becak, sepeda motor, mobil tua, semua bergerak dalam ritme yang tidak bisa ia pahami. Pedagang kaki lima berteriak-teriak menawarkan dagangan mereka. Ibu-ibu dengan keranjang belanja di tangan, berjalan cepat, menghindari genangan air di jalan. Anak-anak sekolah dengan seragam putih merah, berlarian, tertawa, mengejar satu sama lain.
Ia belum tahu.
Bahwa kota ini akan mempertemukannya kembali dengan masa lalu yang paling ingin ia lupakan.
Bahwa di kota ini, ia akan menemukan Kirana.
Bahwa di kota ini, ia akan jatuh cinta untuk kedua kalinya.
Bahwa di kota ini, ia akan kehilangan Kirana untuk kedua kalinya.
Bahwa di kota ini, ia akan belajar bahwa pengkhianatan bisa datang dari orang yang paling ia percayai.
Bahwa di kota ini, ia akan belajar bahwa cinta tidak selalu cukup untuk membuat dua orang bersatu.
Bahwa di kota ini, ia akan belajar bahwa waktu, sejauh apa pun kita berlari, pada akhirnya akan selalu menemukan cara untuk membuat kita berhadapan dengan apa yang kita tinggalkan.
Bab 21
Lelaki yang Membawa Pita Biru
Kamar kos Danang kecil. Sangat kecil. Hanya cukup untuk satu ranjang sempit dengan kasur tipis yang sudah kempes di beberapa bagian, seperti perut orang yang kelaparan. Sebuah meja kayu yang kakinya tidak rata sehingga harus dialasi dengan potongan kardus di salah satu sisi agar tidak goyang setiap kali ia menulis. Dan sebuah jendela kecil yang menghadap gang sempit, yang hanya bisa terbuka setengah karena engselnya sudah berkarat, yang kacanya buram karena debu dan kotoran yang menempel bertahun-tahun tidak dibersihkan.
Dinding kamar terbuat dari papan kayu tipis yang tidak kedap suara. Danang bisa mendengar tetangga di sebelah kanan yang batuk sepanjang malam, batuk kering yang mengganggu, yang membuat Danang sulit tidur. Tetangga di sebelah kiri yang bertengkar setiap jam sembilan malam tepat, seperti sudah dijadwalkan, seperti itu adalah rutinitas malam mereka. Suami istri itu bertengkar tentang uang, tentang anak-anak, tentang mertua, tentang segala hal yang bisa dipertengkarkan. Dan tetangga di atas yang sepertinya suka memindahkan furnitur di tengah malam, suara kursi diseret, suara meja dipindahkan, suara barang-barang jatuh, yang membuat Danang bertanya-tanya apa yang sebenarnya mereka lakukan di sana.
Kamar itu sebenarnya lebih mirip kandang daripada kamar. Dulu, mungkin itu adalah gudang penyimpanan beras atau sayuran. Lantainya semen, kasar, dingin, tidak beralas apa pun selain tikar plastik tipis yang dibeli Danang di pasar seharga seribu rupiah. Dindingnya tidak bercat, hanya bata merah yang dibiarkan terbuka, dengan coretan-coretan bekas penumpang sebelumnya, nama-nama, tanggal-tanggal, kata-kata kotor, gambar-gambar tidak senonoh.
Tapi bagi Danang, yang terbiasa tidur di lantai kayu yang berderit di rumah panggung desanya, kamar ini sudah lebih dari cukup. Setidaknya ia punya tempat untuk pulang setelah seharian bekerja. Setidaknya ia punya atap di atas kepala, meskipun atap itu dari asbes yang bocor di beberapa tempat. Setidaknya ia tidak perlu lagi mendengar bisikan-bisikan tetangga tentang siapa ayah kandungnya, tentang ibunya yang hamil di luar nikah, tentang keluarganya yang bermasalah.
"Kamar ini kecil, ya," kata Arman sambil melihat-lihat kamar kos Danang. Ia berdiri di ambang pintu, tidak masuk, karena kamar itu terlalu sempit untuk dua orang. "Tapi murah. Hanya lima belas ribu sebulan. Termasuk listrik dan air. Lumayan untuk anak perantauan seperti kau."
Danang mengangguk. Ia meletakkan kopernya di atas ranjang, membuka gesper kuningan yang berkarat dengan susah payah. Koper itu terbuka dengan suara berderit, seperti engsel pintu yang sudah lama tidak dibuka, seperti suara sesuatu yang bangun setelah tidur panjang.
Di dalam koper itu, beberapa baju lusuh. Kemeja lengan panjang yang sudah kusam, warnanya pudar karena sering dicuci dengan sabun colek yang keras. Celana kain dua potong, satu warna hitam, satu warna coklat muda, keduanya sudah tambal sulam di bagian lutut dan saku. Jaket tipis warna abu-abu yang sudah lusuh, yang ia beli di pasar loak seharga dua ribu rupiah, yang masih ia simpan meskipun sudah tidak muat karena tubuhnya sudah bertambah besar.
Sebuah buku tulis lama berisi catatan-catatan kecil yang ia tulis selama bertahun-tahun. Catatan tentang desa, tentang sungai, tentang pohon waru, tentang Kirana. Catatan yang ia tulis ketika rindu, ketika sedih, ketika sendirian. Catatan yang tidak pernah ia baca ulang, karena ia takut jika ia membacanya, ia akan menangis, dan ia tidak mau menangis.
Sebuah foto hitam putih ibunya yang masih muda, sebelum sakit, sebelum lelah mengubah wajahnya. Foto yang ia curi dari album keluarga sebelum pergi dari desa. Foto yang sudah menguning di tepi-tepinya, yang sudah sedikit robek di sudut kanan bawah, yang masih ia simpan meskipun setiap kali ia melihatnya, hatinya terasa sesak.
Ratih dalam foto itu tersenyum. Senyum yang tulus. Senyum yang tidak pernah ia lihat di kehidupan nyata. Senyum yang mengatakan bahwa dulu, sebelum segalanya menjadi rumit, sebelum ia hamil di luar nikah, sebelum ia menikah dengan Sastrowiryo, sebelum ia sakit, sebelum ia meninggal, ia pernah bahagia. Ia pernah menjadi perempuan muda yang cantik dan penuh harapan.
Dan di sudut koper, terbungkus kain putih bersih yang selalu ia ganti setiap bulan, ada sebuah kotak kayu kecil. Kotak yang ia buat sendiri dari potongan kayu bekas peti kemasan. Kotak yang ia amplas sampai halus, yang ia poles dengan minyak kelapa agar mengkilap. Kotak yang ia simpan di dasar kopernya, di tempat yang paling aman, di tempat yang tidak akan mudah ditemukan orang lain.
Arman yang berdiri di pintu, yang ternyata belum pulang, tertawa kecil ketika melihat Danang membuka koper dan mengeluarkan kotak kayu itu.
"Kau membawa benda perempuan, Danang?" tanya Arman sambil tersenyum. Matanya menatap kotak kayu itu dengan rasa ingin tahu, dengan rasa penasaran, dengan sedikit rasa iri yang tidak ia sadari.
Danang cepat menutup kotak itu. Terlalu cepat. Seperti anak kecil yang ketahuan mencuri kue. Wajahnya yang tadinya tenang, tiba-tiba memerah. Telinganya terasa panas. Jantungnya berdebar lebih cepat. Tangannya yang memegang kotak itu gemetar sedikit.
"Bukan urusanmu, Arman," jawab Danang, suaranya sedikit lebih keras dari yang ia maksudkan. Ia berusaha terlihat tenang, berusaha terlihat seperti tidak ada yang istimewa dengan kotak itu, tetapi gagal. Wajahnya yang merah sudah mengkhianatinya.
Arman mengangkat kedua tangannya, seperti menyerah, seperti mengaku kalah. "Baiklah, baiklah. Rahasia. Aku tidak akan tanya lagi. Aku tidak akan lihat lagi. Aku tidak akan peduli lagi. Terserah kau mau simpan apa di kotak itu. Terserah kau mau bawa ke mana pun. Itu hak kau."
Ia tersenyum, tetapi matanya penasaran. Matanya bergerak dari tangan Danang yang menggenggam erat kotak itu, ke wajah Danang yang berusaha terlihat biasa saja tetapi gagal, ke koper tua yang masih terbuka, ke baju-baju lusuh di dalamnya, ke foto hitam putih Ratih yang tersenyum.
"Apa itu foto ibumu?" tanya Arman, menunjuk ke foto yang tergeletak di atas tumpukan baju.
Danang mengangguk. "Ibu. Sudah meninggal. Waktu aku masih kecil."
"Maaf," kata Arman cepat. "Aku tidak tahu. Aku tidak bermaksud..."
"Tidak apa," potong Danang. "Sudah lama. Aku sudah ikhlas."
Arman tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya mengangguk, berpura-pura percaya, meskipun ia tahu bahwa Danang tidak ikhlas. Tidak ada anak yang ikhlas ditinggal mati ibunya di usia yang masih sangat muda. Tidak ada anak yang ikhlas tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu. Tidak ada anak yang ikhlas sendirian di dunia tanpa siapa pun yang benar-benar peduli padanya.
Malam pertama di kota, setelah Arman pamit pulang, Danang duduk di ranjang sempitnya. Ranjang besi dengan kasur tipis yang sudah kempes, yang pegasnya sudah muncul di beberapa tempat, yang menusuk punggungnya setiap kali ia bergerak.
Matanya menatap koper tua yang masih terbuka di lantai. Di dalamnya, baju-baju lusuh, celana tambal sulam, jaket tipis, buku catatan, foto ibunya, dan di sudut paling dasar, kotak kayu kecil yang menyimpan pita biru.
Ia meraih kotak itu.
Tangannya gemetar.
Ia sudah bertahun-tahun tidak membuka kotak ini.
Bertahun-tahun tidak melihat pita itu.
Bertahun-tahun tidak mengingat Kirana.
Ia membuka kotak itu perlahan.
Jari-jarinya yang kaku karena kerja keras, yang kapalan karena mengangkat barang-barang berat di dermaga, yang terluka karena kertas dan pisau di percetakan, membuka tutup kotak dengan hati-hati, seperti sedang membuka peti harta karun yang terkubur selama berabad-abad, seperti sedang membuka luka lama yang tidak pernah benar-benar sembuh.
Di dalam kotak itu, pita rambut biru.
Warnanya mulai pudar. Biru langit yang dulu cerah dan segar, kini menjadi biru keabu-abuan, seperti langit sebelum hujan, seperti langit yang sedang murung. Kainnya mulai rapuh di beberapa bagian, tipis seperti sayap capung, hampir tembus pandang. Tali karetnya sudah kendor, tidak lagi elastis seperti dulu, sudah putus di satu sisi dan diikat ulang dengan benang jahit biasa.
Tapi kenangannya masih utuh. Masih segar. Masih tajam.
Danang memandang benda itu lama.
Matanya tidak berkedip.
Pikirannya terbang melintasi waktu, melintasi tujuh tahun, melintasi jarak antara desa dan kota, antara masa kecil dan masa remaja, antara Danang yang dulu dan Danang yang sekarang.
Ia kembali ke tepi sungai.
Ke pohon waru tua.
Ke seorang gadis kecil dengan rambut panjang yang diikat karet gelang merah.
Ke seorang gadis kecil yang mengangkat jari kelingkingnya dan berjanji akan kembali.
"Danang, aku akan kembali. Aku janji. Aku akan kembali."
"Kapan?"
"Aku tidak tahu. Tapi aku akan kembali. Suatu hari nanti. Aku janji."
Danang memejamkan mata.
Air matanya jatuh.
Pertama setetes.
Lalu dua tetes.
Lalu tiga tetes.
Lalu tidak bisa dihitung lagi.
Ia tidak berusaha menyembunyikannya.
Tidak ada yang melihat.
Tidak ada yang peduli.
Ia hanya seorang anak perantauan di kamar kos yang sempit, di kota yang tidak dikenalnya, menangis sendirian di malam hari, memegang pita biru yang dulu milik seorang gadis yang mungkin sudah melupakannya.
"Kirana," bisiknya. "Di mana kau sekarang? Apa kau masih ingat janji kita? Apa kau masih ingat aku? Apa kau masih menyimpan pita merah itu? Apa kau masih... apa kau masih..."
Ia tidak bisa melanjutkan.
Tangisnya pecah.
Ia menangis seperti anak kecil yang kehilangan ibunya.
Ia menangis seperti remaja yang kehilangan cinta pertamanya.
Ia menangis seperti lelaki yang sendirian di dunia tanpa siapa pun yang benar-benar peduli padanya.
Ia menangis untuk Kirana.
Untuk ibunya.
Untuk masa kecilnya.
Untuk semua yang telah hilang.
Untuk semua yang tidak akan pernah kembali.
Malam itu, di kota yang tidak dikenalnya, di kamar sempit yang dingin, di ranjang yang kasurnya kempes dan pegasnya menusuk punggung, Danang tidur dengan satu nama yang masih tinggal diam-diam di dadanya.
Kirana.
Nama yang tidak pernah ia ucapkan keras-keras selama bertahun-tahun.
Nama yang ia simpan seperti rahasia, seperti harta karun, seperti sesuatu yang terlalu berharga untuk dibagikan kepada siapa pun.
Nama yang menjadi alasan mengapa ia tidak pernah bisa benar-benar mencintai perempuan lain.
Nama yang menjadi alasan mengapa ia selalu merasa ada yang kurang, ada yang hilang, ada yang tidak lengkap dalam hidupnya.
Nama yang menjadi alasan mengapa ia masih hidup, mengapa ia masih berjuang, mengapa ia masih bertahan di kota yang keras dan kejam ini.
Nama yang akan muncul kembali, seperti hantu yang tidak pernah benar-benar mati, tepat ketika ia mulai merasa aman, tepat ketika ia mulai bisa melupakan, tepat ketika ia mulai bisa menerima bahwa ia akan sendirian selamanya.
Bab 22
Toko Buku di Sudut Jalan
Tahun 1987. Dua tahun telah berlalu sejak Danang pertama kali menginjakkan kaki di kota Purwokerto. Dua tahun sejak ia tidur di kamar kos sempit dengan kasur kempes dan pegas menusuk punggung. Dua tahun sejak ia menangis sendirian di malam pertama, memegang pita biru milik Kirana. Dua tahun sejak ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan kuat, bahwa ia akan bertahan, bahwa ia akan membuktikan bahwa anak haram dari desa tepi sungai bisa sukses di kota.
Danang sekarang berusia enam belas tahun. Tubuhnya yang dulu kurus kering mulai berisi, meskipun tidak gemuk. Bahunya semakin lebar, bidang, seperti bahu Sastrowiryo meskipun mereka tidak memiliki hubungan darah. Tangannya yang dulu mungil dan lembut, kini besar, kasar, penuh kapalan, dengan urat-urat biru yang terlihat jelas di punggung tangan. Jari-jarinya panjang, lentik, seperti jari pemain piano, tetapi kuku-kukunya pendek dan hitam karena kotoran, tidak terawat.
Wajahnya semakin dewasa. Tulang pipinya yang dulu terlalu menonjol kini proporsional dengan bentuk wajahnya yang mulai membentuk garis tegas. Rahangnya kotak, maskulin, memberikan kesan ketegasan dan kekerasan. Alisnya tebal, hampir menyatu di tengah, seperti alis Sastrowiryo. Matanya masih sama: gelap, dalam, seperti lubang sumur tua yang tidak pernah mencapai dasar. Matanya yang dulu penuh rasa ingin tahu, kini lebih tenang, lebih waspada, lebih seperti orang yang sudah terlalu sering dikecewakan.
Danang bekerja di sebuah percetakan kecil milik Pak Suryanto. Percetakan itu terletak di gang sempit di belakang pasar, tersembunyi di antara toko-toko lain yang sama usangnya. Gang itu hanya cukup untuk satu mobil, itupun jika mobilnya tidak terlalu lebar. Dinding-dinding di kiri kanan gang dipenuhi coretan-coretan dan poster-poster usang yang mengelupak. Bau pesing dan sampah kadang tercium dari selokan yang mampet di ujung gang.
Percetakan itu bernama "Suryanto Printing", sebuah nama yang terlalu megah untuk ukuran usahanya. Bangunannya hanya satu ruangan, berukuran sekitar enam kali delapan meter, dengan dinding bata tidak bercat yang sudah menghitam karena usia dan debu tinta. Lantainya semen, kasar, penuh noda tinta hitam dan merah dan biru yang sudah mengering dan tidak bisa dibersihkan lagi. Langit-langitnya tinggi, dengan rangka kayu yang sudah lapuk, dan atap seng yang bocor di beberapa tempat.
Di dalam percetakan itu, ada dua mesin cetak manual tua yang sudah berusia puluhan tahun. Mesin cetak pertama untuk koran dan majalah, mesin cetak kedua untuk buku dan brosur. Mesin-mesin itu terbuat dari besi tua, berat, berkarat di beberapa tempat, tetapi masih berfungsi dengan baik jika dirawat dengan benar. Suaranya keras, menggelegar, seperti suara kereta api yang lewat, seperti suara ribuan genderang yang ditabuh bersamaan. Setiap kali mesin itu dijalankan, seluruh ruangan bergetar, lantai bergetar, dinding bergetar, bahkan gelas di meja ikut bergerak.
Pekerjaan Danang sederhana. Membantu menyusun huruf-huruf timah untuk mesin cetak manual. Huruf-huruf itu kecil, seukuran ujung jari, terbuat dari timah yang sudah meleleh dan dicetak dalam berbagai ukuran dan jenis font. Setiap huruf memiliki cekungan di bagian belakang, tempat di mana ia akan diletakkan di rak penyusun. Tugas Danang adalah mengambil huruf-huruf itu satu per satu dari kotak penyimpanan yang besar, menyusunnya dalam baris-baris sesuai dengan naskah yang akan dicetak, lalu memasukkannya ke dalam mesin cetak.
Pekerjaan itu membutuhkan kesabaran dan ketelitian. Satu huruf salah, satu baris terbalik, satu spasi kelebihan, maka seluruh halaman harus diulang dari awal. Danang sudah beberapa kali membuat kesalahan di awal-awal bekerja, dan Pak Suryanto memarahinya dengan keras. Tapi Danang cepat belajar. Ia tidak mau dianggap bodoh. Ia tidak mau dianggap tidak berguna. Ia ingin membuktikan bahwa ia bisa.
Selain menyusun huruf, Danang juga bertugas mengangkat kertas-kertas berat dari gudang ke ruang cetak. Kertas-kertas itu dalam bentuk rim, beratnya bisa mencapai lima belas kilogram per rim. Danang harus mengangkatnya, menumpuknya di samping mesin cetak, lalu memotongnya sesuai ukuran yang diinginkan pelanggan. Pekerjaan ini menguras tenaga, membuat otot-otot lengannya terasa sakit setiap malam, tetapi Danang tidak pernah mengeluh. Ia sudah terbiasa dengan pekerjaan kasar. Ia sudah terbiasa dengan rasa sakit.
Membersihkan mesin-mesin tua yang penuh dengan tinta kering dan debu juga menjadi tugasnya. Setiap hari Jumat sore, setelah semua pekerjaan selesai, Danang harus membersihkan mesin cetak dengan kain lap dan minyak tanah. Tinta kering yang menempel di sela-sela mesin harus digosok dengan sikat besi sampai bersih. Debu yang menumpuk di bawah mesin harus disapu dan dibuang. Pekerjaan ini kotor, bau, melelahkan, tetapi Danang melakukannya dengan teliti, dengan kesabaran, dengan kebanggaan bahwa ia bertanggung jawab atas mesin-mesin itu.
Dan sesekali, ketika tukang antar sakit atau libur, Danang diminta mengantarkan pesanan ke pelanggan. Ia akan mengayuh sepeda tua pemberian Pak Suryanto, sepeda onthel warna hitam dengan rem tromol yang sudah tidak terlalu berfungsi, dan ban yang sudah botak di beberapa tempat. Ia akan menyusuri jalan-jalan di kota Purwokerto, melewati pasar, melewati sekolah, melewati rumah-rumah penduduk, melewati toko-toko, melewati sungai kecil yang mengalir di belakang kota. Pekerjaan ini yang paling ia sukai, karena ia bisa melihat kota, bisa merasakan kehidupan, bisa lupa sejenak pada semua masalah yang ia bawa.
Pak Suryanto, pemilik percetakan, adalah lelaki tua berperut buncit dengan kumis tebal yang selalu ia keriting dengan lilin. Setiap pagi, ia akan menghabiskan waktu setidaknya lima belas menit di depan cermin untuk merapikan kumisnya, melilitkan ujung-ujungnya dengan jari, mengoleskan lilin, lalu menekannya agar bentuknya sempurna. Hasilnya, dua ujung kumisnya melengkung ke atas seperti tanduk kerbau kecil, memberinya penampilan yang eksentrik tetapi menggemaskan.
Umurnya sudah mendekati enam puluh tahun, tetapi semangatnya masih seperti orang muda. Ia datang ke percetakan setiap pagi pukul enam, lebih awal dari semua karyawannya. Ia akan membuka pintu, menyalakan lampu, menyiapkan mesin cetak, dan membuat kopi hitam pekat untuk dirinya sendiri. Kopi hitam tanpa gula, tanpa susu, tanpa apa pun, hanya kopi bubuk kasar yang diseduh dengan air panas, lalu dibiarkan ampasnya mengendap di dasar cangkir.
"Kopi tubruk," katanya suatu pagi ketika Danang bertanya mengapa ia tidak menyaring ampasnya. "Kopi sejati tidak perlu disaring, Nak. Ampasnya adalah bagian dari rasa. Seperti kehidupan. Pahit, getir, tetapi itulah yang membuatnya nyata."
Suaranya keras, seperti suara komandan di lapangan tembak, seperti suara sersan yang melatih tentara baru. Ia terbiasa memberi perintah, terbiasa diikuti, terbiasa tidak dibantah. Tapi hatinya lembut. Danang sudah beberapa kali melihatnya diam-diam memberi uang kepada pengemis yang lewat di depan percetakan, atau membelikan makanan untuk anak jalanan yang tidur di emperan toko sebelah.
Ia jarang membayar Danang dengan uang. Lebih sering dengan makanan. Setiap hari, ia akan menyuruh Danang membeli nasi bungkus dari warung di ujung gang, dua bungkus, satu untuk Danang, satu untuk dirinya. "Makan dulu, Nak. Kerja dengan perut kosong tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali sakit maag," katanya sambil menyodorkan uang receh.
Kadang ia membayar Danang dengan pakaian bekas yang masih layak pakai. "Ini baju keponakanku. Sudah tidak muat. Masih bagus. Kau bisa pakai," katanya sambil melempar bungkusan ke arah Danang. Baju-baju itu memang masih bagus, tidak tambal sulam, tidak lusuh, bahkan ada yang masih berlabel toko.
Kadang ia membayar Danang dengan izin untuk tidur di ruang belakang percetakan jika Danang tidak ingin pulang ke kamar kosnya yang sunyi. Ruang belakang itu kecil, hanya berisi kasur bekas yang dilapisi terpal, dan satu lemari kayu tua yang berisi peralatan cetak yang sudah tidak terpakai. Tapi bagi Danang, ruang itu lebih nyaman daripada kamar kosnya. Setidaknya ia tidak sendirian. Setidaknya ia bisa mendengar suara mesin cetak yang bekerja, suara yang menenangkan, suara yang mengingatkannya bahwa ia masih hidup, bahwa ia masih punya pekerjaan, bahwa ia masih berguna.
"Kau anak yang rajin, Danang," kata Pak Suryanto suatu pagi, sambil menyeduh kopi hitam pekat di cangkir keramik yang sudah retak di pinggirnya. Cangkir itu sudah menemani Pak Suryanto selama dua puluh tahun, sejak ia pertama kali membuka percetakan ini. Retak di pinggirnya terjadi ketika ia menjatuhkannya lima tahun lalu, tetapi ia tidak mau membuangnya. "Sayang kau tidak sekolah tinggi-tinggi. Dengan otak kau yang encer, kau bisa jadi sarjana. Bisa jadi insinyur. Bisa jadi arsitek. Bisa jadi apa saja."
Danang tersenyum tipis. "Sekolah tidak menjamin apa-apa, Pak. Banyak sarjana nganggur. Banyak orang pintar yang jadi pengangguran. Yang penting kerja keras dan tidak menyerah."
Pak Suryanto tertawa keras. Tawanya menggema di ruang percetakan yang sempit, bergema di antara mesin-mesin cetak yang diam, bergema di antara tumpukan kertas yang menjulang. "Kau terlalu muda untuk bicara seperti itu, Danang. Tapi mungkin kau benar. Mungkin sekolah memang tidak menjamin apa-apa. Tapi pengetahuan, Nak, pengetahuan menjamin segalanya. Baca buku. Banyak-banyak baca buku. Jangan hanya bekerja. Jangan hanya mengejar uang. Bacalah. Belajarlah. Karena buku adalah jendela dunia. Buku adalah guru yang tidak pernah marah. Buku adalah teman yang tidak pernah mengkhianati."
Danang mengangguk. Ia tidak punya uang untuk membeli buku. Ia tidak punya waktu untuk membaca buku. Ia bekerja dari pagi sampai sore, kadang sampai malam jika ada pesanan yang harus segera diselesaikan. Tapi ia menyimpan nasihat Pak Suryanto di dalam hatinya. Suatu hari nanti, ketika ia punya cukup uang, ketika ia punya cukup waktu, ia akan membaca. Ia akan belajar. Ia akan menjadi seseorang yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga kuat secara intelektual.
Suatu siang di bulan Mei, ketika hujan mulai turun tipis-tipis, Pak Suryanto memberikan sebuah amplop coklat berisi pesanan.
"Ini, Danang. Antarkan ini ke toko buku di Jalan Veteran. Pemiliknya langganan lama. Namanya Bu Lastri. Jangan sampai basah. Hujan sudah mulai turun. Bungkus amplop ini dengan plastik. Kau tahu di mana plastik itu? Di laci meja belakang. Yang warna hitam itu. Jangan pakai yang warna putih. Yang putih bolong."
Danang mengangguk. Ia mengambil amplop coklat itu, memasukkannya ke dalam tas kainnya yang lusuh, lalu membungkus tas itu dengan plastik hitam yang ia temukan di laci meja belakang. Plastik itu besar, cukup untuk menutupi seluruh tas, tetapi tidak cukup tebal. Ia berharap hujan tidak terlalu deras.
Ia mengayuh sepeda onthelnya perlahan, melewati gang sempit di belakang pasar, melewati jalan aspal yang mulai rusak, melewati perempatan yang ramai, melewati jembatan kecil di atas sungai. Hujan masih turun, tidak deras, hanya gerimis, tetapi cukup untuk membasahi bajunya, cukup untuk membuat rambutnya basah, cukup untuk membuatnya menggigil kedinginan.
Jalan Veteran terletak di pusat kota, tidak terlalu jauh dari percetakan, sekitar dua puluh menit dengan sepeda. Di sepanjang jalan, ia melihat toko-toko, rumah-rumah, kantor-kantor, sekolah-sekolah. Ia melihat orang-orang berlalu lalang dengan payung di tangan, dengan jas hujan di badan, dengan koran di atas kepala. Ia melihat anak-anak sekolah yang berlarian, tertawa, mengejar satu sama lain, tidak peduli pada hujan, tidak peduli pada basah, tidak peduli pada masa depan.
Toko buku itu kecil. Sangat kecil. Hanya satu ruangan dengan rak-rak kayu yang dipenuhi buku-buku bekas. Dari luar, toko itu hampir tidak terlihat, tersembunyi di antara warung kopi dan toko kelontong yang menjual sembako dan mainan anak-anak. Hanya papan kayu kecil bergambar buku terbuka yang menandakan bahwa di sana ada toko buku. Papan itu sudah usang, warnanya pudar, gambar bukunya sudah hampir tidak terlihat, tetapi masih tergantung di atas pintu, seperti bendera yang tidak mau diturunkan meskipun sudah robek.
Pintu kayunya setengah terbuka. Aroma kertas tua, aroma seperti perpustakaan kuno, aroma yang mengingatkan Danang pada buku-buku pelajaran sekolahnya dulu, yang selalu ia baca berulang kali karena tidak punya buku lain. Aroma yang membuatnya rindu pada masa kecil, pada desa, pada sekolah, pada guru-guru yang baik, pada teman-teman yang sekarang mungkin sudah lupa padanya.
Danang memarkir sepedanya di depan toko, menguncinya dengan gembok kecil yang selalu ia bawa di saku celana. Ia mengambil tas kainnya, memeriksa apakah amplop di dalamnya masih kering, lalu berjalan menuju pintu.
"Permisi!" serunya, sambil mengetuk pintu kayu yang setengah terbuka.
Tidak ada jawaban.
"Permisi, Bu Lastri!" serunya lagi, lebih keras.
Masih tidak ada jawaban.
Ia mendorong pintu perlahan. Pintu itu terbuka dengan suara berderit, seperti suara yang keluar dari mulut orang tua yang sudah lama tidak bicara. Ia melangkah masuk.
Di dalam toko itu, rak-rak kayu penuh dengan buku. Buku-buku bekas dengan sampul yang sudah lusuh, dengan halaman yang sudah menguning, dengan bau yang khas, bau kertas tua, bau tinta yang sudah pudar, bau kenangan dari masa lalu. Buku-buku itu ditata dengan rapi, berdasarkan genre, berdasarkan penulis, berdasarkan ukuran. Buku novel di rak kiri, buku puisi di rak kanan, buku sejarah di rak belakang, buku anak-anak di rak paling bawah, buku agama di rak paling atas, dekat dengan langit-langit.
Di sudut ruangan, ada meja kayu besar yang berfungsi sebagai kasir. Di atas meja itu, berserakan buku-buku, kwitansi, pulpen, penggaris, gunting, lem, dan secangkir kopi yang sudah dingin. Sebuah radio tua merek National dengan kenop-kenop besar yang sudah longgar, diletakkan di sudut meja, menyanyikan lagu-lagu pop Indonesia tahun delapan puluhan. Suaranya pelan, sayu, seperti suara dari masa lalu, seperti suara kenangan yang tidak bisa dilupakan.
"Chrisye," bisik Danang, mendengar suara penyanyi itu. "Lagu 'Anak Sekolah'."
Ia tersenyum. Ia ingat lagu itu. Dulu, ketika ia masih kecil, lagu itu sering diputar di radio desa. Kirana suka menyanyikannya. Kirana suka menari-nari kecil ketika lagu itu diputar. Kirana suka memaksa Danang untuk ikut bernyanyi, meskipun Danang tidak bisa bernyanyi.
"Anak sekolah, anak sekolah, hai kawanku, anak sekolah..."
Kirana tertawa. Kirana berputar-putar. Kirana jatuh ke rumput. Kirana tertawa lagi.
Danang menggelengkan kepala, mengusir kenangan itu. Ia tidak boleh mengingat Kirana. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk melupakan Kirana. Ia sudah berusaha selama dua tahun. Ia tidak boleh gagal sekarang.
"Permisi!" serunya lagi, berusaha fokus pada tujuannya.
Tiba-tiba, di antara rak buku, seorang perempuan muncul.
Bukan Bu Lastri. Bukan pemilik toko yang tua dan gemuk yang digambarkan Pak Suryanto. Bukan perempuan paruh baya dengan rambut keriting dan kacamata tebal.
Seorang perempuan muda.
Remaja.
Sebaya dengannya.
Mungkin enam belas tahun. Mungkin tujuh belas tahun.
Rambutnya panjang, hitam, tergerai di punggung, sedikit bergelombang di ujung, seperti air terjun yang tenang, seperti sungai di musim kemarau. Tidak diikat, tidak dijepit, hanya dibiarkan tergerai, bebas, seperti tidak peduli pada aturan, seperti tidak peduli pada apa kata orang. Sehelai rambut jatuh di wajahnya, menutupi sedikit pipi kirinya, dan ia menyapunya dengan gerakan yang lembut, yang anggun, yang membuat Danang lupa bernapas.
Kebaya sederhana warna biru muda, dengan motif bunga kecil yang hampir tidak terlihat dari kejauhan. Kebaya yang longgar, tidak terlalu ketat, tidak terlalu terbuka, sopan tetapi tetap feminin. Kain batik yang melilit di pinggang, dengan warna yang senada dengan kebaya, biru muda dengan motif parang yang rumit, yang membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk dibuat.
Kulitnya putih bersih, bersinar, seperti porselen, seperti bulan purnama di malam yang cerah. Lesung pipit di pipi kirinya, kecil, manis, muncul setiap kali ia tersenyum. Dan saat itu, ia tersenyum. Senyum yang ramah, senyum yang menyambut, senyum yang membuat orang yang menerimanya merasa dihargai, merasa diterima, merasa bahwa mereka penting.
Matanya.
Mata itu.
Mata yang coklat kehijauan.
Mata yang berbinar-binar.
Mata yang seperti bintang di langit malam.
Mata yang sama.
Mata yang dulu menatapnya dari balik jendela mobil yang perlahan menjauh.
Mata yang sama yang basah oleh air mata perpisahan.
Mata yang sama yang berjanji akan kembali.
Kirana.
Bukan lagi gadis kecil di tepi sungai dengan rambut ekor kuda dan kaki penuh lumpur.
Bukan lagi gadis kecil yang berlari di tengah hujan dengan payung terbalik.
Bukan lagi gadis kecil yang menggenggam tangannya dan berjanji tidak akan pergi.
Kini ia tumbuh menjadi perempuan muda yang bahkan waktu pun tak berhasil menghapus dari ingatan Danang. Wajahnya lebih matang, lebih dewasa, tetapi masih memiliki kemiripan dengan gadis kecil yang dulu. Lesung pipit di pipi kirinya masih ada, meskipun kini hanya muncul ketika ia tersenyum lebar. Matanya masih sama, sehidup itu, secerah itu, sedalam itu.
Rambutnya lebih panjang, lebih hitam, lebih berkilau. Tubuhnya lebih tinggi, lebih berisi, lebih seperti perempuan dewasa. Gerakannya lebih anggun, lebih sadar, seperti ia tahu bahwa ia cantik dan ia tidak perlu berusaha keras untuk menunjukkannya.
Kirana menatapnya lama.
Matanya bergerak dari ujung rambut Danang yang masih ikal dan tidak pernah rapi, ke matanya yang masih terlalu gelap dan terlalu dalam, ke rahangnya yang kini lebih tegas, ke bahunya yang lebih lebar, ke tangannya yang lebih besar, ke sepatunya yang bolong di bagian jempol.
Ia melihat semua perubahan.
Dan ia tersenyum.
Senyum yang sama.
Senyum yang dulu menjadi rumah bagi Danang.
Senyum yang membuat Danang merasa bahwa ia tidak sendirian di dunia.
Senyum yang telah ia simpan di memorinya selama bertahun-tahun, seperti foto yang ia simpan di dompet, seperti pita biru yang ia simpan di kotak kayu.
Senyum yang sekarang, setelah sekian lama, setelah dua tahun di kota yang sama tanpa pernah bertemu, setelah ribuan malam sendirian di kamar kos yang sempit, akhirnya ia lihat lagi.
"Danang?" suara Kirana pelan, hampir tidak percaya, seperti orang yang sedang bermimpi, seperti orang yang tidak yakin apakah yang ia lihat nyata atau hanya khayalan.
Danang tidak bisa menjawab.
Mulutnya terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Tenggorokannya terasa kering, seperti ada yang mengganjal di sana, seperti ada duri yang tidak bisa ditelan, tidak bisa dimuntahkan.
Dadanya terasa sesak, seperti ada batu besar yang diletakkan di atasnya, seperti ada tangan raksasa yang meremas jantungnya.
Jantungnya berdebar kencang, begitu kencang hingga ia bisa mendengar detaknya di telinga, hingga ia merasa dadanya akan meledak, hingga ia harus berpegangan pada rak buku di sampingnya agar tidak jatuh.
"Kirana," akhirnya ia berkata. Suaranya serak, seperti suara orang yang tidak minum seharian, seperti suara orang yang baru bangun tidur, seperti suara orang yang kehabisan air mata. "Kau... kau di sini? Di kota ini? Selama ini? Selama dua tahun?"
Kirana mengangguk. Matanya basah. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, membentuk lapisan tipis yang membuat matanya terlihat berkilauan di bawah cahaya lampu neon yang redup.
"Aku pindah ke sini dua tahun lalu, Danang. Tepat setelah... tepat setelah kita berpisah di desa. Ayah dapat pekerjaan di sini. Di kantor pos. Kami pindah ke rumah dinas di Jalan Merdeka. Tidak jauh dari sini. Hanya lima belas menit naik becak."
"Kenapa... kenapa kau tidak mencari aku?" tanya Danang, suaranya masih serak, masih bergetar, masih seperti suara orang yang sedang menahan tangis. "Kenapa kau tidak memberi kabar? Kenapa kau diam saja? Aku menunggumu. Aku menunggu surat. Aku menunggu kabar. Aku menunggu kau kembali. Tapi tidak ada. Tidak ada apa-apa."
Kirana menunduk.
Air matanya jatuh.
Setetes.
Dua tetes.
Tiga tetes.
Jatuh ke kebaya biru mudanya, meninggalkan bercak-bercak basah yang perlahan melebar.
"Aku tidak tahu di mana kau, Danang," bisiknya, suaranya pecah, tangisnya keluar. "Aku kembali ke desa setahun yang lalu. Aku mencari kau. Tapi rumahmu kosong. Rumahmu sudah tidak terawat. Ibu... Ibu mu sudah... sudah..."
Ia tidak bisa melanjutkan.
Tangisnya pecah.
Ia menangis di depan Danang.
Menangis untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
Menangis bukan karena ia lemah.
Menangis karena ia rindu.
Menangis karena ia kehilangan.
Menangis karena ia tidak tahu bahwa Danang juga di kota ini, di kota yang sama, selama dua tahun, tanpa pernah bertemu.
"Mak sudah meninggal, Kirana," kata Danang, suaranya datar, kosong, seperti orang yang sudah kehabisan air mata, seperti orang yang sudah terlalu sering dilukai hingga tidak bisa lagi merasakan sakit. "Dua minggu setelah kau pergi. Mak meninggal di kursi bambu. Di ruang tengah. Waktu aku pulang dari mengantarmu."
Kirana menangis lebih keras.
Ia tidak bisa berkata apa-apa.
Ia hanya bisa menangis.
Menangis di hadapan Danang.
Menangis karena ia tahu bahwa Danang sendirian.
Menangis karena ia tahu bahwa Danang tidak punya siapa-siapa.
Menangis karena ia tahu bahwa Danang membutuhkannya, tetapi ia tidak ada.
"Dan Bapak... Bapak juga pergi," lanjut Danang. Suaranya masih datar, masih kosong, tetapi ada getaran di ujung kata-katanya, getaran yang menunjukkan bahwa ia masih menyimpan luka, bahwa ia masih sakit, bahwa ia belum sembuh. "Pergi tanpa pamit. Pagi-pagi sebelum matahari terbit. Tidak bilang ke mana. Tidak bilang kapan kembali. Tidak pernah kembali."
Kirana terisak.
Ia tidak bisa membayangkan.
Tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya kehilangan ibu dan ayah dalam waktu yang bersamaan.
Tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya sendirian di dunia pada usia yang masih sangat muda.
Tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya harus bertahan hidup tanpa siapa pun yang peduli.
"Danang... aku... aku minta maaf..." bisik Kirana di antara isaknya. "Aku seharusnya... aku seharusnya mencari kau lebih awal... aku seharusnya tidak menunggu setahun... aku seharusnya..."
"Tidak usah, Kirana," potong Danang. "Sudah terjadi. Tidak bisa diubah. Yang penting sekarang... yang penting kita bertemu. Di sini. Di kota ini. Setelah dua tahun."
Kirana mengangkat kepalanya.
Matanya bertemu dengan mata Danang.
Mata yang basah.
Mata yang merah.
Mata yang penuh dengan kesedihan dan penyesalan dan kerinduan.
"Kau tinggal di mana, Danang?" tanyanya. "Kau bekerja di mana? Kau sekolah? Kau punya teman? Kau... kau baik-baik saja?"
Danang tersenyum.
Senyum yang pahit.
Senyum yang tidak sampai ke matanya.
"Aku baik-baik saja, Kirana. Aku bekerja di percetakan. Punya kamar kos di dekat pasar. Tidak mewah. Tapi cukup. Aku tidak sekolah. Tidak punya uang. Tapi aku belajar sendiri. Baca buku. Banyak baca buku. Pak Suryanto, majikanku, sering pinjami aku buku."
Kirana mengangguk.
Ia masih menangis.
Tapi senyum mulai muncul di bibirnya.
Senyum yang lega.
Senyum yang bersyukur.
Senyum yang mengatakan bahwa ia senang Danang baik-baik saja, bahwa ia senang Danang masih hidup, bahwa ia senang mereka bertemu lagi.
"Danang," panggilnya pelan.
"Ya?"
"Aku... aku senang kita bertemu lagi. Aku kira... aku kira kau sudah melupakanku. Aku kira... aku kira kau sudah... sudah..."
"Tidak, Kirana," potong Danang. "Aku tidak pernah melupakanmu. Tidak pernah. Selama dua tahun. Selama di kota ini. Selama di kamar kos yang sempit. Selama bekerja di percetakan. Aku tidak pernah melupakanmu."
Kirana tersenyum.
Senyum yang sama.
Senyum yang dulu menjadi rumah bagi Danang.
Senyum yang membuat Danang merasa bahwa ia tidak sendirian di dunia.
Senyum yang akan ia ingat sepanjang hidupnya.
"Aku juga, Danang," bisiknya. "Aku juga tidak pernah melupakanmu."
Di luar, hujan mulai reda.
Langit mulai cerah.
Matahari mulai muncul dari balik awan.
Dan di dalam toko buku kecil di sudut Jalan Veteran, dua orang yang pernah dipisahkan oleh waktu dan jarak dan takdir, bertemu lagi.
Dan mereka tidak tahu bahwa pertemuan ini, meskipun terlihat seperti kebetulan, sebenarnya adalah awal dari babak baru dalam luka mereka.
Babak yang akan menguji cinta mereka.
Babak yang akan mengajarkan mereka tentang pengkhianatan.
Babak yang akan membuat mereka kehilangan satu sama lain lagi.
Tapi untuk saat ini, untuk sore itu, untuk beberapa menit yang berharga, mereka hanya dua remaja yang saling menatap, yang saling tersenyum, yang saling bersyukur bahwa mereka masih hidup, bahwa mereka masih di sini, bahwa mereka masih bersama.
Bab 23
Percakapan Setelah Bertahun-Tahun
Mereka duduk di kedai kopi kecil di seberang toko buku. Kedai itu bernama "Kopi Mbah Darmo", sebuah warung sederhana dengan tenda plastik biru yang sudah pudar warnanya karena terlalu sering terkena sinar matahari dan air hujan. Tenda itu terbuat dari terpal plastik tebal yang diikat dengan tali tambang ke tiang-tiang bambu di sekelilingnya. Di beberapa tempat, terpal itu sudah robek, ditambal dengan lakban hitam yang mulai mengelupas.
Di bawah tenda itu, ada beberapa meja kayu dan kursi plastik warna-warni. Meja-meja kayu itu sudah tua, penuh dengan goresan dan noda kopi yang tidak bisa dibersihkan. Kakinya tidak rata, ada yang dialasi potongan kardus, ada yang dialasi batu kerikil, ada yang hanya dibiarkan goyang dan pengunjung harus berhati-hati agar kopi tidak tumpah. Kursi-kursi plastiknya warna merah, kuning, hijau, biru, seperti pelangi yang jatuh ke tanah dan berubah menjadi tempat duduk.
Dinding kedai hanya terpal plastik yang kadang berkibar ditiup angin, tidak memberikan perlindungan yang cukup dari panas matahari atau dinginnya hujan. Tetapi bagi para pelanggan setianya, itu bukan masalah. Mereka datang bukan untuk kenyamanan, tetapi untuk kopi. Kopi hitam pekat yang diseduh dengan air mendidih, tanpa gula, tanpa susu, tanpa apa pun. Kopi yang pahit, getir, tetapi membuat ketagihan. Kopi yang seperti kehidupan itu sendiri.
"Cik, pesanannya dua kopi hitam pekat, satu dengan gula, satu tanpa gula, ya! Jangan lupa roti bakarnya dua porsi! Kejunya banyakin!" teriak Kirana kepada pelayan kedai, seorang perempuan muda dengan rambut pendek dan celemek kotor yang melilit di pinggangnya.
"Ya, Mbak! Dua kopi hitam! Satu gula satu tanpa gula! Dua roti bakar keju! Sebentar ya!" jawab pelayan itu dari dalam kedai, di balik meja kayu yang berfungsi sebagai dapur dan kasir sekaligus.
Danang duduk di kursi plastik warna biru yang sudah pudar, menghadap ke arah toko buku di seberang jalan. Dari tempat ini, ia bisa melihat pintu toko buku yang setengah terbuka, rak-rak buku di dalamnya, dan sesekali bayangan Bu Lastri yang mondar-mandir di antara rak-rak itu. Tapi matanya tidak tertuju pada toko buku. Matanya tertuju pada Kirana yang duduk di hadapannya.
Kirana duduk di kursi plastik warna merah yang sedikit goyang karena salah satu kakinya lebih pendek. Ia tidak peduli. Ia hanya duduk, sesekali menggeser kursinya agar lebih stabil, sesekali tersenyum pada Danang, sesekali memandang ke arah jalan, melihat orang-orang lalu lalang, melihat becak-becak yang berhenti menunggu penumpang, melihat anak-anak yang bermain kejar-kejaran di trotoar.
"Kopi hitam satu dengan gula, satu tanpa gula!" pelayan itu datang dengan nampan aluminium yang penyok di beberapa tempat. Di atas nampan itu, dua cangkir keramik putih dengan pinggiran biru, dan dua piring kecil berisi roti bakar yang masih mengepulkan uap panas.
"Ini yang dengan gula, Mbak," katanya sambil meletakkan satu cangkir di depan Kirana. "Ini yang tanpa gula, Mas," katanya sambil meletakkan cangkir lain di depan Danang. "Roti bakarnya dua porsi, ya. Kejunya sudah banyak. Selamat menikmati."
"Terima kasih, Mbak Rini," kata Kirana sambil tersenyum. "Nanti saya bayar."
"Ya, Mbak. Santai saja. Mbah Darmo bilang, Mbak Kirana pelanggan setia. Boleh bayar nanti." Pelayan itu pergi, meninggalkan mereka berdua di meja yang goyang.
Mereka berdua terdiam.
Cangkir-cangkir tipis mengeluarkan uap. Uap putih tipis naik ke udara, membawa aroma kopi hitam yang kuat, yang pahit, yang getir, yang seperti kenangan yang tidak bisa dilupakan. Aroma kopi hitam pekat, yang bagi Danang adalah aroma rumah, aroma masa kecil, aroma ibunya yang setiap pagi menyeduh kopi di dapur sebelum memasak nasi.
Aroma kopi hitam bercampur dengan aroma roti bakar yang masih hangat, dengan aroma keju yang meleleh di atas roti, dengan aroma mentega yang digosokkan di permukaan roti hingga meresap ke dalam pori-porinya. Aroma yang membuat perut Danang keroncongan, mengingatkannya bahwa ia belum makan sejak sarapan pagi.
Kirana mengambil roti bakar, memotongnya menjadi dua bagian dengan pisau kecil yang disediakan di meja, lalu menyodorkan separuhnya ke Danang. "Makan dulu, Danang. Kau pasti lapar. Dari tadi perutmu bunyi terus."
Danang tersenyum malu. "Kau dengar?"
"Siapa yang tidak dengar? Perutmu bunyi seperti genderang perang." Kirana tertawa. Tawa yang sama seperti dulu. Ringan. Ceria. Membuat sesuatu di dada Danang terasa hangat sekaligus nyeri. Hangat karena masih ada. Nyeri karena pernah hilang. "Makan. Nanti kita bicara. Aku juga belum makan siang. Tadi sibuk banget di toko. Bu Lastri minta tolong rapiin rak buku belakang. Buku-buku sejarah itu berantakan sekali. Ada yang jatuh, ada yang terbalik, ada yang sampulnya lepas. Aku jadi lupa makan."
Danang mengambil roti bakar itu. Roti panggang dengan permukaan renyah keemasan, dilumuri mentega yang masih mengkilap, ditaburi gula pasir kasar, lalu ditutup dengan keju cheddar yang meleleh karena panas. Ia menggigitnya perlahan. Rotinya renyah di luar, lembut di dalam, mentega dan gula dan keju bercampur menjadi satu rasa yang manis, gurih, asin, seperti hidup itu sendiri.
"Ini enak," katanya sambil mengunyah. "Roti bakarnya enak. Kejunya banyak. Manisnya pas. Tidak terlalu manis, tidak terlalu hambar."
"Iya. Mbah Darmo jago bikin roti bakar. Sudah tiga puluh tahun jualan di sini. Dari masih pakai gerobak dorong, sampai sekarang punya kedai begini. Kata orang, roti bakarnya Mbah Darmo yang terenak se-Purwokerto. Bahkan ada yang datang dari Banyumas, dari Cilacap, dari Kebumen, hanya untuk makan roti bakar di sini."
"Mbah Darmo siapa? Pemilik kedai?"
"Lelaki tua itu. Yang duduk di pojok sana. Di kursi bambu. Yang sedang merokok sambil baca koran." Kirana menunjuk ke arah pojok kedai, di mana seorang lelaki tua dengan kumis tebal dan rambut putih duduk sendirian, memegang koran Kompas edisi pagi, sesekali mengisap rokok kretek yang mengepulkan asap tipis ke udara. "Dia baik. Suka memberi diskon untuk pelanggan setia. Kadang kalau aku lupa bawa uang, dia bilang 'Bayar nanti saja, Mbak. Tidak usah buru-buru.'"
Danang mengangguk. Ia memandang lelaki tua itu. Mbah Darmo. Wajahnya penuh kerutan, kerutan yang seperti peta yang mencatat setiap tahun yang telah ia lalui, setiap suka dan duka yang ia alami, setiap pelanggan yang datang dan pergi. Matanya masih jernih, masih tajam, masih bisa membaca koran tanpa kacamata. Tangannya yang keriput gemetar sedikit ketika memegang rokok, tetapi stabil ketika memegang koran.
"Sudah dua tahun kau di kota ini, Kirana?" tanya Danang setelah menelan roti bakarnya. Ia mengambil cangkir kopinya, menyesap sedikit, merasakan pahitnya kopi hitam tanpa gula yang membakar tenggorokannya. Pahit. Getir. Tapi membuatnya sadar. Membuatnya terjaga. Membuatnya tidak bisa lari dari kenyataan.
Kirana mengangguk. Ia juga mengambil cangkirnya, menyesap kopi susu yang manis, yang hangat, yang membuatnya merasa nyaman, merasa aman, merasa bahwa semuanya akan baik-baik saja. "Dua tahun, tiga bulan, dan... delapan belas hari. Tepatnya."
Danang mengangkat alis. "Kau hitung?"
"Setiap hari, Danang. Aku menghitung setiap hari. Sejak kita berpisah di desa. Sejak aku naik ke mobil itu. Sejak kau berdiri di pinggir jalan dengan pita biru di tangan." Mata Kirana berkaca-kaca, tetapi ia tidak menangis. Ia sudah terlalu sering menangis. Ia sudah lelah menangis. "Aku ingin kembali. Aku ingin mencari kau. Tapi ayahku... ayahku bilang kita harus fokus dulu pada kehidupan baru di kota. Ayahku bilang kita harus beradaptasi dulu. Ayahku bilang..."
"Ayahmu bilang apa?" tanya Danang.
Kirana menunduk. Jari-jarinya yang lentik dan putih memutar-mutar ujung rambutnya yang panjang, kebiasaannya ketika gugup atau sedih. "Ayahku bilang... ayahku bilang aku harus melupakan masa lalu. Ayahku bilang aku harus fokus pada sekolah. Ayahku bilang aku tidak boleh membuang waktu untuk sesuatu yang tidak pasti. Ayahku bilang..."
"Dia bilang kau tidak boleh dekat dengan anak haram sepertiku?" potong Danang. Suaranya dingin, tidak marah, tidak sedih, hanya datar. Datar seperti orang yang sudah menerima kenyataan bahwa ia tidak akan pernah cukup baik untuk orang lain.
Kirana mengangkat kepalanya cepat. Matanya membesar. "Tidak, Danang! Bukan itu! Ayahku tidak pernah bilang seperti itu! Ayahku hanya... ayahku hanya khawatir. Ayahku tahu tentang... tentang apa yang terjadi di desa. Ayahku tahu tentang tuduhan. Ayahku tahu tentang... tentang ayah kandungmu. Ayahku hanya ingin melindungiku. Ayahku hanya..."
"Kau tidak perlu menjelaskan, Kirana," potong Danang lagi. Suaranya masih dingin, tetapi ada sedikit kelembutan di sana, sedikit pengertian, sedikit penerimaan. "Aku mengerti. Ayahmu benar. Aku bukan orang yang baik untukmu. Aku anak haram. Aku anak pembakar gudang. Aku anak yang tidak punya masa depan. Aku..."
"Jangan bilang begitu, Danang!" Kirana memotong, suaranya keras, tegas, seperti saat ia membela Danang di depan Surya di halaman sekolah dulu. Matanya menyala, tidak lagi sayu, tidak lagi berkaca-kaca. "Jangan bilang kau tidak punya masa depan! Jangan bilang kau tidak baik untukku! Jangan bilang kau anak haram! Aku tidak peduli dengan semua itu! Aku peduli dengan kau! Aku peduli dengan Danang! Aku peduli dengan anak laki-laki yang duduk di akar pohon waru dan melempar batu ke sungai! Aku peduli dengan anak laki-laki yang menggambar bunga kuning di buku gambarnya! Aku peduli dengan anak laki-laki yang menampar Surya di halaman sekolah karena ia menghina ibuku! Aku peduli dengan anak laki-laki yang menangis di depan ibunya karena takut kehilangan segalanya!"
Danang terdiam.
Ia tidak tahu harus berkata apa.
Tidak ada yang pernah bicara seperti itu padanya.
Tidak ada yang pernah mengatakan bahwa ia berharga, bahwa ia penting, bahwa ia dicintai.
Sejak ibunya meninggal, sejak Sastrowiryo pergi, sejak ia meninggalkan desa, ia hidup sendirian. Ia bekerja. Ia makan. Ia tidur. Ia bangun. Ia bekerja lagi. Tidak ada yang peduli. Tidak ada yang bertanya kabar. Tidak ada yang mengatakan "Aku peduli padamu."
Kecuali Kirana.
Kirana selalu ada.
Kirana selalu peduli.
Kirana selalu menjadi rumah baginya.
"Kenapa kau melakukan semua itu, Kirana?" tanya Danang, suaranya pelan, hampir seperti bisikan. "Kenapa kau peduli padaku? Kenapa kau membelaku? Kenapa kau menungguku? Kenapa kau tidak menyerah saja? Kenapa kau..."
"Karena aku mencintaimu, Danang."
Kalimat itu keluar begitu saja.
Tanpa direncanakan.
Tanpa dipersiapkan.
Tanpa dipertimbangkan.
Seperti air yang mengalir dari mata air.
Seperti hujan yang jatuh dari langit.
Seperti napas yang keluar dari paru-paru.
Danang terdiam.
Seluruh tubuhnya membeku.
Cangkir di tangannya hampir jatuh, tetapi ia menggenggamnya erat-erat, sampai buku-buku jarinya memutih.
Matanya membesar.
Mulutnya terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Dadanya terasa sesak, seperti ada yang meremas jantungnya perlahan-lahan.
Kirana juga terdiam.
Wajahnya merah padam.
Ia tidak bermaksud mengatakan itu.
Ia tidak bermaksud mengungkapkan perasaannya.
Ia tidak bermaksud membuat situasi menjadi canggung.
Tapi kata-kata itu keluar.
Kata-kata yang selama ini ia pendam.
Kata-kata yang selama ini ia sembunyikan.
Kata-kata yang selama ini ia takut untuk diucapkan.
Kata-kata yang sekarang menggantung di udara di antara mereka, berat, tidak bisa ditarik kembali, tidak bisa dihapus, tidak bisa diabaikan.
Mata mereka bertemu.
Mata Danang yang gelap, yang dalam, yang seperti lubang sumur tua.
Mata Kirana yang coklat kehijauan, yang berbinar-binar, yang seperti bintang di langit malam.
Untuk beberapa detik, tidak ada yang bicara.
Hanya suara angin yang berhembus, menggerakkan tenda plastik biru di atas mereka.
Hanya suara orang-orang yang lalu lalang di jalan, becak-becak yang berhenti menunggu penumpang, anak-anak yang bermain kejar-kejaran di trotoar.
Hanya suara Mbah Darmo yang batuk-batuk kecil di pojok kedai, suara koran yang dibalik halamannya, suara rokok yang diisap dan ditiupkan kembali ke udara.
"Maaf, Danang," bisik Kirana, suaranya hampir tidak terdengar, seperti bisikan dari alam lain, seperti suara dari dunia yang berbeda. "Aku... aku tidak bermaksud... aku hanya... maaf."
"Tidak usah minta maaf, Kirana," kata Danang akhirnya. Suaranya masih pelan, tetapi tidak lagi dingin. Ada kehangatan di sana. Ada kelembutan. Ada sesuatu yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun kecuali Kirana. "Aku juga."
Kirana menatapnya. "Juga apa?"
Danang tersenyum. Senyum yang tulus. Senyum yang keluar dari tempat paling dalam di hatinya. Senyum yang hanya ia simpan untuk Kirana. "Aku juga mencintaimu, Kirana. Sejak dulu. Sejak kita di tepi sungai. Sejak kau memberikan bunga kuning itu padaku. Sejak kau menggenggam tanganku di pondok sawah. Sejak kau berdiri di tengah kerumunan dan membelaku di depan Surya. Sejak kau datang ke rumahku di tengah hujan untuk membawakan obat untuk ibuku. Sejak kau memberikan pita biru itu padaku dan berjanji akan kembali."
Kirana menangis.
Ia tidak bisa menahan air matanya lagi.
Air matanya jatuh.
Membasahi pipinya.
Membasahi kebaya biru mudanya.
Membasahi roti bakar yang masih tersisa di piringnya.
"Danang," bisiknya di antara isak tangisnya. "Kenapa kau tidak bilang dari dulu? Kenapa kau diam saja? Kenapa kau membiarkan aku menunggu bertahun-tahun? Kenapa kau..."
"Aku takut, Kirana," potong Danang. Suaranya bergetar. Tangannya yang memegang cangkir kopi gemetar. "Aku takut kau tidak merasakan hal yang sama. Aku takut kau hanya menganggapku teman. Aku takut kau akan pergi jika aku jujur. Aku takut kehilanganmu. Aku takut..."
"Kau tidak akan kehilangan aku, Danang," kata Kirana, suaranya tegas, yakin, penuh keyakinan. "Aku janji. Aku tidak akan pergi. Aku akan selalu di sini. Untukmu. Untuk kita."
Danang menatap Kirana.
Matanya basah.
Ia ingin percaya.
Ia ingin percaya pada janji itu.
Ia ingin percaya bahwa Kirana tidak akan pergi.
Ia ingin percaya bahwa mereka bisa bersama.
Ia ingin percaya bahwa cinta mereka cukup kuat untuk mengatasi semua rintangan.
Tapi ia sudah belajar bahwa janji adalah hal paling rapuh di dunia.
Bahwa janji bisa pecah seperti kaca.
Bahwa janji bisa hilang seperti kabut pagi.
Bahwa janji, seindah apa pun, tidak akan pernah bisa menggantikan kehadiran.
Bahwa janji, sekuat apa pun, tidak akan pernah bisa melindungi mereka dari dunia yang kejam.
"Kirana," panggilnya pelan.
"Ya?"
"Aku... aku senang kita bertemu lagi. Di sini. Di kota ini. Setelah dua tahun. Setelah semua yang terjadi. Aku senang kau masih... kau masih peduli padaku."
Kirana tersenyum. Senyum yang sama. Senyum yang dulu menjadi rumah bagi Danang. Senyum yang membuat Danang merasa bahwa ia tidak sendirian di dunia. Senyum yang akan ia ingat sepanjang hidupnya.
"Aku juga, Danang. Aku juga."
Di luar kedai, matahari mulai condong ke barat. Langit mulai berwarna jingga keemasan. Awan-awan tipis berarak perlahan, seperti domba-domba yang sedang merumput di padang rumput biru. Burung-burung mulai pulang ke sarangnya, terbang berkelompok di atas atap-atap rumah, sesekali menukik ke bawah, sesekali terbang tinggi ke langit.
Danang dan Kirana duduk berdampingan di kedai kopi kecil itu, di tengah hiruk-pikuk kota Purwokerto yang mulai sibuk dengan aktivitas sore. Mereka bicara tentang banyak hal. Tentang desa yang sudah berubah. Tentang orang-orang yang telah pergi. Tentang Mbah Joyo yang meninggal dua tahun lalu dalam tidurnya. Tentang Mak Tonah yang masih sehat meskipun usianya sudah sembilan puluh tahun. Tentang Sastrowiryo yang tidak pernah kembali. Tentang Ratih yang meninggal dengan senyum di bibir. Tentang Surya yang pindah ke Jakarta bersama keluarganya setelah kebakaran itu. Tentang Bima yang sekarang bekerja di perkebunan kelapa sawit di Kalimantan. Tentang desa yang mulai berubah, rumah-rumah kayu berganti semen, jalan-jalan tanah berganti aspal, sawah-sawah mulai berubah menjadi perumahan.
Mereka juga bicara tentang masa kini. Tentang pekerjaan Danang di percetakan. Tentang toko buku tempat Kirana bekerja. Tentang kamar kos Danang yang sempit dan pengap. Tentang rumah dinas Kirana di Jalan Merdeka yang besar tetapi dingin. Tentang Pak Suryanto yang baik hati tetapi pelit. Tentang Bu Lastri yang cerewet tetapi perhatian. Tentang Mbah Darmo yang kopinya enak tetapi roti bakarnya lebih enak.
Mereka bicara tentang masa depan. Tentang mimpi-mimpi mereka. Tentang cita-cita mereka. Tentang apa yang ingin mereka capai. Tentang apa yang ingin mereka lakukan. Tentang apa yang ingin mereka jadi.
"Aku ingin buka toko buku sendiri, Danang," kata Kirana, matanya berbinar-binar. "Toko buku yang besar. Dengan rak-rak kayu yang bagus. Dengan lampu-lampu yang terang. Dengan kursi-kursi nyaman untuk pengunjung yang ingin membaca di tempat. Aku ingin menjual buku-buku bagus. Buku-buku yang menginspirasi. Buku-buku yang mengubah hidup orang."
"Kau pasti bisa, Kirana," kata Danang. "Kau orang yang pintar. Kau orang yang rajin. Kau orang yang tidak pernah menyerah. Aku yakin suatu hari nanti kau akan punya toko buku sendiri. Toko buku terbesar di Purwokerto. Mungkin di seluruh Jawa Tengah."
Kirana tertawa. "Kau melebih-lebihkan, Danang."
"Aku tidak. Aku serius."
"Baiklah. Kalau kau bilang begitu, aku percaya. Tapi kau harus janji sesuatu."
"Apa?"
"Kalau aku punya toko buku nanti, kau harus datang. Setiap hari. Membaca buku-buku di tokoku. Gratis. Tidak usah bayar."
Danang tersenyum. "Janji."
"Janji?"
"Janji."
Mereka mengangkat jari kelingking masing-masing.
Jari kecil yang kurus dan kasar milik Danang.
Jari kecil yang lentik dan putih milik Kirana.
Jari kecil yang pernah terpisah selama bertahun-tahun, kini bersatu lagi.
Mereka mengaitkan jari kelingking mereka.
Seperti dulu.
Di tepi sungai.
Di bawah pohon waru.
Di sore yang hujan.
"Janji," bisik mereka bersamaan.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, setelah semua yang terjadi, setelah semua luka dan air mata dan kesepian, Danang merasa bahwa ia tidak sendirian.
Bahwa ia memiliki seseorang.
Bahwa ia memiliki Kirana.
Bahwa ia memiliki rumah.
Bab 24
Arman Melihat Sesuatu
Malam itu, ketika Danang kembali ke kamar kosnya setelah seharian bekerja di percetakan dan setelah berjam-jam berbincang dengan Kirana di kedai kopi, Arman sudah menunggu di depan pintu.
Bulan purnama bersinar terang di langit, memancarkan cahaya keperakan yang lembut, yang membuat dunia terlihat seperti mimpi, seperti lukisan cat air yang indah tetapi tidak nyata. Bintang-bintang berkedip-kedip di sekitarnya, seperti anak-anak yang mengelilingi ibu mereka, seperti pengawal yang menjaga raja mereka. Cahaya bulan masuk melalui celah-celah atap seng yang bocor, menciptakan pola-pola cahaya di lantai semen yang kasar, seperti peta dari dunia lain, seperti kode rahasia yang tidak bisa dibaca.
Arman duduk di kursi kayu di depan kamar kos Danang. Kursi itu adalah kursi tunggal yang sudah tua, dengan sandaran yang longgar dan kaki yang patah di satu sisi, ditopang oleh tumpukan batu bata agar tidak roboh. Biasanya kursi itu digunakan oleh pemilik kos, Bu Tuminem, untuk duduk-duduk di sore hari sambil mengupas bawang atau membersihkan sayuran. Tapi malam itu, Arman duduk di sana, dengan kaki disilangkan, dengan tangan di saku celana, dengan senyum di bibir.
"Lama sekali kau, Danang," kata Arman sambil berdiri. Ia menjulurkan tangannya, menyodorkan sebuah bungkusan kecil yang dibungkus kertas koran. "Ini untukmu. Aku beli sate kambing di depan pasar. Masih hangat. Tadi aku lewat depan percetakan, Pak Suryanto bilang kau sudah pulang. Tapi kau tidak ada di sini. Aku tunggu hampir satu jam."
Danang mengambil bungkusan itu. Kertas korannya sudah sedikit basah oleh minyak dan bumbu kacang, tetapi masih utuh. Bau sate kambing yang harum, dengan bumbu kacang yang kental dan kecap manis yang pekat, langsung menyengat di hidungnya. Perutnya yang tadinya kenyang karena roti bakar di kedai kopi, tiba-tiba keroncongan lagi.
"Makasih, Arman," kata Danang sambil membuka pintu kamarnya. "Masuk. Maaf, kamarnya sempit. Kursinya cuma satu. Kau duduk di ranjang saja. Aku di kursi."
Arman masuk ke kamar kos Danang. Kamar itu masih sama seperti dua tahun lalu. Sempit. Pengap. Dinding bata merah tanpa cat. Lantai semen yang kasar dan dingin. Ranjang besi dengan kasur tipis yang sudah kempes. Meja kayu yang kakinya tidak rata, dialasi potongan kardus. Jendela kecil yang menghadap gang sempit, dengan kaca buram yang tidak bisa melihat apa pun selain bayangan samar-samar orang yang lewat.
Tapi ada beberapa perubahan kecil. Di sudut ruangan, ada rak kayu kecil yang terbuat dari potongan-potongan kayu bekas, disusun tidak rapi, tetapi cukup kuat untuk menahan beberapa buku. Buku-buku bekas yang Danang beli dari pasar loak atau pinjam dari Pak Suryanto atau toko buku Kirana. Buku-buku dengan sampul yang lusuh, dengan halaman yang menguning, dengan bau khas kertas tua.
Di dinding, ada poster Bob Marley yang sudah robek di sudut kanan bawah, ditempel dengan lem kertas yang sudah mengering dan mengelupas di beberapa tempat. Poster itu diberikan Arman pada ulang tahun Danang yang pertama di kota ini. "Kau harus kenal Bob Marley, Danang. Musiknya bagus. Liriknya dalam. Bisa bikin kau lupa masalah," kata Arman waktu itu.
Danang tidak pernah benar-benar mendengarkan musik Bob Marley. Ia tidak punya tape recorder. Ia tidak punya kaset. Ia hanya memiliki poster itu. Dan setiap malam, sebelum tidur, ia memandang wajah Bob Marley dengan rambut gimbalnya, dengan senyumnya yang khas, dengan mata yang sayu tetapi penuh semangat, dan ia bertanya-tanya apa arti lagu-lagu yang dinyanyikan lelaki itu.
"Kau habis dari mana, Danang?" tanya Arman sambil duduk di ranjang. Kasur itu berderit di bawah berat badannya, seperti mengeluh, seperti protes. "Pak Suryanto bilang kau mengantar pesanan ke toko buku di Jalan Veteran. Tapi itu tadi siang. Sekarang sudah malam. Sudah hampir jam delapan. Perjalanan dari toko buku ke sini cuma dua puluh menit dengan sepeda."
Danang duduk di kursi kayu di hadapan Arman. Kursi itu juga berderit, tetapi lebih karena usia daripada karena berat badan Danang yang kurus. Ia membuka bungkusan sate kambing, mengambil tiga tusuk, menyerahkan dua tusuk pada Arman.
"Kau makan dulu," kata Arman sambil menolak. "Itu untukmu. Aku sudah makan di rumah."
"Aku juga sudah makan," kata Danang. "Tadi di kedai kopi. Roti bakar keju. Kirana yang traktir."
"Kirana?"
Danang tersenyum. Senyum yang tidak bisa ia sembunyikan. Senyum yang membuat seluruh wajahnya berubah, dari yang biasanya dingin dan keras, menjadi lembut dan hangat. Senyum yang hanya muncul ketika ia memikirkan Kirana.
"Teman lama," katanya. "Dari desa. Dulu kita tetangga. Sahabat kecil. Kami berpisah waktu aku masih kecil. Dia pindah ke kota. Dan hari ini, aku bertemu dia lagi. Di toko buku itu. Ternyata dia bekerja di sana. Sebagai asisten. Membantu Bu Lastri, pemilik toko."
Arman mengangguk. Matanya yang tajam, yang sudah terbiasa membaca orang sejak pertemuan pertama, menatap Danang dengan intens. Ia melihat sesuatu. Sesuatu yang tidak biasa. Sesuatu yang tidak pernah ia lihat pada Danang sebelumnya.
"Kau senang sekali, Danang," kata Arman. "Wajahmu bersinar. Matamu berbinar. Seperti... seperti orang yang baru jatuh cinta."
Danang tersenyum malu. Ia menunduk, memandang sate kambing di tangannya, memutar-mutar tusuk bambu itu di antara jari-jarinya. "Bukan begitu, Arman. Kirana hanya teman. Teman lama. Sahabat kecil. Tidak lebih."
"Kau bohong," kata Arman. "Aku kenal kau, Danang. Sudah dua tahun kita berteman. Aku bisa membaca wajahmu. Aku bisa membaca matamu. Aku bisa membaca hatimu. Kau tidak pernah tersenyum seperti itu. Tidak pernah. Selama dua tahun kau di kota ini, kau tidak pernah tersenyum seperti itu. Tidak sekali pun. Bahkan ketika Pak Suryanto memberi kau bonus, kau hanya tersenyum tipis. Bahkan ketika kau berhasil menyusun huruf dengan sempurna tanpa kesalahan, kau hanya mengangguk puas. Tapi hari ini, ketika kau bicara tentang Kirana, wajahmu berubah. Matamu berbinar. Senyummu... senyummu seperti anak kecil yang baru diberi permen."
Danang tidak menjawab. Ia hanya makan sate kambingnya, mengunyah perlahan, menikmati rasa daging yang empuk, bumbu kacang yang gurih, kecap manis yang pekat. Tapi lidahnya tidak merasakan apa-apa. Pikirannya terlalu sibuk. Hatinya terlalu berdebar.
"Danang," panggil Arman.
"Hmm?"
"Kau harus hati-hati."
Danang mengangkat kepala. "Maksudmu?"
Arman menghela napas panjang. Ia berdiri dari ranjang, berjalan ke jendela kecil, memandang ke luar, ke gang sempit yang gelap, ke langit yang penuh bintang, ke bulan purnama yang bersinar terang. "Perempuan. Cinta. Perasaan. Semua itu bisa membuat kau senang, tapi juga bisa membuat kau hancur. Aku sudah melihat banyak temanku yang hancur karena cinta. Ada yang putus sekolah. Ada yang kehilangan pekerjaan. Ada yang bunuh diri. Ada yang gila."
"Aku tidak akan seperti mereka, Arman."
"Kau tidak tahu, Danang. Cinta itu buta. Cinta itu tidak rasional. Cinta itu bisa membuat orang melakukan hal-hal bodoh. Hal-hal yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Kau adalah orang yang cerdas. Kau adalah orang yang rasional. Kau adalah orang yang tidak mudah terpengaruh perasaan. Tapi ketika cinta datang, semua itu bisa berubah. Kau bisa menjadi orang yang berbeda. Orang yang tidak kau kenali."
Danang terdiam.
Ia memikirkan kata-kata Arman.
Apakah ia sudah berubah?
Apakah ia sudah berbeda sejak bertemu Kirana?
Apakah ia sudah menjadi orang yang tidak ia kenali?
Mungkin.
Ya, mungkin.
Sejak bertemu Kirana sore ini, sejak mendengar suaranya, sejak melihat senyumnya, sejak mendengar kata-kata "Aku mencintaimu, Danang", ia merasa seperti terbang. Seperti melayang di atas awan. Seperti berada di dunia yang berbeda. Dunia yang hanya berisi dia dan Kirana. Dunia yang tidak ada masalah, tidak ada luka, tidak ada air mata.
"Kau jatuh cinta padanya, Danang," kata Arman. Bukan pertanyaan. Pernyataan. Fakta. "Aku bisa melihatnya dari matamu. Dari caramu menyebut namanya. Dari caramu tersenyum ketika bicara tentang dia. Kau jatuh cinta. Dan itu berbahaya."
"Kenapa berbahaya?" tanya Danang.
"Karena cinta bisa membuat kau lupa pada diri sendiri. Lupa pada tujuanmu. Lupa pada masa depanmu. Lupa pada semua yang telah kau perjuangkan selama ini. Kau datang ke kota ini untuk bekerja, untuk bertahan hidup, untuk membuktikan bahwa kau bisa sukses meskipun tanpa orang tua, meskipun tanpa uang, meskipun tanpa pendidikan. Bukan untuk jatuh cinta."
"Aku tidak lupa, Arman. Aku masih ingat tujuanku. Aku masih ingat mengapa aku di sini. Tapi... tapi Kirana berbeda. Kirana adalah bagian dari masa laluku. Kirana adalah satu-satunya orang yang percaya padaku ketika semua orang meragukanku. Kirana adalah satu-satunya orang yang membelaku ketika semua orang menuduhku. Kirana adalah... Kirana adalah rumahku."
Arman menatap Danang.
Matanya yang tajam, yang biasanya ramah dan mudah tersenyum, kini serius. Sangat serius. Tidak ada senyum di bibirnya. Tidak ada kerutan di dahinya. Hanya tatapan. Tatapan yang seperti sedang menimbang, sedang menghitung, sedang merencanakan sesuatu.
"Kau yakin dia orang yang tepat, Danang?" tanya Arman. "Kau yakin dia tidak akan menyakitimu? Kau yakin dia akan setia? Kau yakin dia tidak akan pergi seperti orang-orang lain?"
Danang terdiam.
Ia tidak bisa menjawab.
Ia tidak yakin.
Ia tidak tahu.
Ia hanya tahu bahwa ia mencintai Kirana.
Ia hanya tahu bahwa ia ingin bersama Kirana.
Ia hanya tahu bahwa tanpa Kirana, hidupnya terasa kosong, terasa hampa, terasa tidak berarti.
"Aku tidak yakin, Arman," kata Danang akhirnya. "Tapi aku ingin mencoba. Aku ingin percaya. Aku ingin berharap. Aku ingin... aku ingin bahagia. Untuk sekali saja. Aku ingin bahagia."
Arman tidak menjawab.
Ia hanya berdiri di depan jendela, memandang bulan, memandang bintang, memandang langit yang luas, yang tidak terbatas, yang penuh misteri.
Di dalam hatinya, ada sesuatu yang berubah.
Sesuatu yang tidak ia sadari.
Sesuatu yang tumbuh perlahan-lahan, seperti benih yang ditanam di tanah yang subur, seperti api yang mulai membara di bawah abu.
Iri.
Iri pada Danang.
Iri pada kebahagiaan Danang.
Iri pada cinta Danang.
Iri pada Kirana.
Perempuan yang membuat Danang tersenyum seperti itu.
Perempuan yang membuat Danang lupa pada semua masalahnya.
Perempuan yang menjadi rumah bagi Danang.
Perempuan yang tidak pernah ia lihat, tidak pernah ia kenal, tetapi sudah ia benci.
"Arman," panggil Danang.
Arman menoleh. Wajahnya berubah. Kembali tersenyum. Kembali ramah. Kembali seperti Arman yang dikenal semua orang. "Ya?"
"Kau kenapa diam? Kau marah?"
"Tidak. Aku hanya berpikir."
"Pikir apa?"
Arman berjalan kembali ke ranjang, duduk di samping Danang. Ia menepuk pundak Danang, seperti kakak yang menghibur adik, seperti teman yang memberi semangat.
"Aku hanya berpikir bahwa kau berhak bahagia, Danang. Setelah semua yang kau alami, setelah semua yang kau lalui, kau berhak bahagia. Jika Kirana bisa membuatmu bahagia, maka aku mendukungmu. Aku akan membantumu. Aku akan menjagamu. Aku akan memastikan tidak ada yang menyakitimu."
Danang tersenyum. "Makasih, Arman. Kau sahabat baik."
Arman tersenyum balik. "Tugas sahabat, Danang."
Tapi di dalam hatinya, di tempat yang paling gelap, di tempat yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun, Arman berkata pada dirinya sendiri:
"Kenapa dia? Kenapa bukan aku? Kenapa perempuan itu memilih dia, bukan aku? Kenapa Danang selalu mendapatkan apa yang aku inginkan? Kenapa Danang yang miskin, yang tidak punya apa-apa, yang anak haram, yang tidak berpendidikan, bisa mendapatkan cinta, sementara aku? Aku yang kaya, aku yang berpendidikan, aku yang punya masa depan, aku yang baik, aku yang selalu ada untuknya, mengapa aku tidak pernah cukup?"
Ia tidak mengatakan kata-kata itu keras-keras.
Ia hanya menyimpannya di dalam hati.
Menyimpannya seperti menyimpan racun.
Racun yang suatu hari nanti akan keluar.
Racun yang akan menghancurkan segalanya.
Racun yang akan mengubah Danang, Kirana, dan dirinya sendiri, selamanya.
Bab 25
Senja yang Membuka Luka Lama
Tiga bulan setelah pertemuan di toko buku, Danang dan Kirana semakin dekat.
Setiap hari, setelah Danang selesai bekerja di percetakan, ia akan mengayuh sepeda onthelnya yang tua dan berkarat menuju toko buku di Jalan Veteran. Perjalanan yang hanya dua puluh menit itu terasa seperti perjalanan menuju surga. Setiap pedal yang ia kayuh, setiap tikungan yang ia lewati, setiap lampu merah yang ia tunggu, semua terasa ringan, terasa indah, terasa berarti, karena di ujung perjalanan itu, Kirana menunggu.
Kirana akan menunggunya di depan toko buku, duduk di kursi kayu kecil yang biasa digunakan Bu Lastri untuk beristirahat di sore hari. Kursi itu sederhana, terbuat dari kayu jati tua dengan sandaran yang diukir bunga-bunga kecil, bantalan dari kain perca yang sudah kusam, tetapi bagi Danang, kursi itu adalah singgasana, dan Kirana adalah ratu yang duduk di atasnya.
"Kau datang, Danang," kata Kirana setiap kali melihat Danang memarkir sepedanya di depan toko. Matanya akan berbinar, senyumnya akan merekah, lesung pipitnya akan muncul, dan Danang akan merasa bahwa semua lelahnya selama seharian bekerja hilang seketika.
"Aku janji, Kirana. Aku akan datang setiap hari. Aku tidak akan ingkar janji."
Mereka akan berjalan bersama menyusuri trotoar Jalan Veteran, melewati toko-toko yang mulai tutup, melewati warung-warung yang mulai membuka lapak untuk makan malam, melewati rumah-rumah penduduk yang mulai menyalakan lampu. Kadang mereka berpegangan tangan, kadang tidak, tetapi selalu ada jarak yang sengaja mereka jaga, jarak yang lahir dari rasa malu, dari ketidakpastian, dari pertanyaan "Apakah kita pacaran?" yang tidak pernah mereka ucapkan tetapi selalu hadir di antara mereka.
Sesekali mereka mampir ke kedai kopi Mbah Darmo, memesan roti bakar keju dan kopi hitam, lalu duduk berjam-jam, berbicara tentang segala hal, dari hal-hal kecil seperti cuaca dan harga cabai, hingga hal-hal besar seperti mimpi dan masa depan dan cita-cita.
"Danang, kau tahu? Hari ini ada pelanggan yang lucu banget," kata Kirana suatu sore, matanya berbinar-binar, tangannya bergerak-gerak seperti sedang menggambarkan sesuatu yang sangat menarik. "Dia datang ke toko, mukanya serius banget, kayak orang mau beli buku seribu halaman. Aku pikir dia mau beli ensiklopedia atau kamus bahasa Sansekerta atau buku filsafat karangan Aristoteles. Tapi ternyata dia cari buku resep masakan. Resep masakan untuk pemula yang baru belajar masak. Katanya, dia baru menikah dan istrinya tidak bisa masak. Jadi dia yang harus masak untuk istrinya."
Danang tertawa. "Lucu juga. Suami yang masak untuk istri."
"Iya. Biasanya kan istri yang masak untuk suami. Tapi ini suami yang masak untuk istri. Aku jadi berpikir, mungkin suatu hari nanti, kalau aku menikah, aku juga ingin suami yang bisa masak. Jadi aku tidak perlu repot-repot belajar masak."
"Kau tidak bisa masak, Kirana?"
Kirana cemberut. "Bisa sih. Sedikit. Nasi goreng, mie goreng, telur dadar. Itu saja. Lauk-pauk yang rumit-rumit, aku tidak bisa. Ibu tidak pernah mengajariku. Ibu terlalu sibuk bekerja. Jadi aku belajar sendiri. Tapi hasilnya... yah, bisa dimakan. Tidak enak, tetapi bisa dimakan."
"Mungkin suatu hari nanti kau akan bisa. Belajar dari buku resep yang dibeli pelanggan lucu itu."
"Kau mau jadi kelinci percobaanku, Danang? Aku masak, kau yang mencicipi."
"Siap, Mbak Kirana. Asal tidak diracun."
Mereka berdua tertawa. Tawa mereka bergema di kedai kopi yang mulai sepi, menggema di antara meja-meja kayu yang kosong, menggema di antara kursi-kursi plastik yang berwarna-warni.
Kadang mereka tidak pergi ke mana-mana. Hanya duduk di dalam toko buku, di lantai yang dingin, di antara rak-rak kayu yang penuh dengan buku. Kirana akan membaca puisi-puisi karya Sapardi Djoko Damono atau Chairil Anwar atau W.S. Rendra, dengan suara yang lembut, dengan intonasi yang tepat, dengan penghayatan yang dalam.
"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana," Kirana membaca puisi Sapardi, matanya menatap Danang, "dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada."
Danang mendengarkan. Ia tidak mengerti puisi. Ia tidak pernah belajar puisi di sekolah. Ia tidak pernah membaca buku puisi. Tapi ketika Kirana membacakan puisi untuknya, kata-kata itu terasa indah, terasa dalam, terasa seperti sedang berbicara langsung kepada hatinya.
"Itu bagus, Kirana. Puisi siapa?"
"Sapardi. Penyair terkenal. Kau harus baca puisi-puisinya, Danang. Bagus-bagus. Bikin hati terasa hangat. Bikin hati terasa tersentuh."
"Aku tidak punya buku puisinya."
"Pinjam saja di sini. Bu Lastri tidak keberatan. Asal jangan lama-lama. Dan jangan robek. Dan jangan kotor. Dan jangan lipat halamannya. Dan jangan bawa ke luar toko."
Danang tertawa. "Banyak sekali aturannya."
"Harus. Buku itu berharga. Buku adalah jendela dunia. Buku adalah teman yang tidak pernah mengkhianati. Buku adalah harta yang tidak bisa dicuri."
"Kau seperti Pak Suryanto. Suka memberi nasihat tentang buku."
"Pak Suryanto siapa? Majikanmu?"
"Iya. Dia bilang, buku adalah jendela dunia. Buku adalah guru yang tidak pernah marah. Buku adalah teman yang tidak pernah mengkhianati."
"Wah, Pak Suryanto pintar. Aku suka dia. Suatu hari nanti, aku ingin bertemu dia."
"Kau akan suka. Dia baik. Agak pelit, tapi baik. Dia suka memberi nasihat. Kadang nasihatnya panjang banget. Sampai satu jam. Sampai aku mengantuk. Tapi nasihatnya selalu bermanfaat."
"Kau beruntung punya majikan seperti dia."
"Aku tahu. Aku bersyukur."
Kadang mereka berjalan ke sungai kecil di belakang kota. Sungai itu tidak seindah Sungai Kapuas Muara di desa. Airnya keruh, penuh sampah, baunya tidak sedap. Tidak ada pohon waru dengan akar yang menjuntai ke air. Tidak ada nelayan yang melempar jala. Tidak ada anak-anak yang bermain air. Hanya air kotor yang mengalir lambat, dan sampah-sampah plastik yang tersangkut di bebatuan.
Tapi bagi Danang dan Kirana, sungai itu adalah pengganti. Pengganti sungai di desa yang tidak bisa mereka kunjungi lagi. Pengganti kenangan masa kecil yang tidak bisa mereka ulang. Pengganti rumah yang tidak lagi mereka miliki.
Mereka akan duduk di tepi sungai, di atas bebatuan besar yang licin karena lumut, memandang air yang mengalir, mendengar suara air yang membentur batu, merasakan angin sore yang berhembus pelan, membawa bau sampah dan air kotor, tetapi juga membawa kenangan-kenangan lama.
"Aku rindu sungai di desa, Danang," kata Kirana suatu sore, matanya sayu, suaranya pelan, seperti bisikan. "Aku rindu airnya yang jernih. Aku rindu ikannya yang banyak. Aku rindu pohon waru yang rindang. Aku rindu akar-akar besar yang menjuntai ke air. Aku rindu tempat kita duduk dulu. Aku rindu... aku rindu masa kecil kita."
Danang mengangguk. "Aku juga, Kirana. Aku juga rindu. Tapi kita tidak bisa kembali. Desa sudah berubah. Sungai sudah berubah. Kita sudah berubah. Yang bisa kita lakukan hanyalah mengingat. Mengingat dan bersyukur bahwa kita pernah memilikinya."
"Apa kau masih ingat janji kita, Danang?"
"Janji apa?"
"Janji di tepi sungai. Janji dengan jari kelingking. Janji bahwa kita akan berteman selamanya. Janji bahwa kita tidak akan saling melupakan. Janji bahwa kita akan selalu bersama."
Danang tersenyum. "Aku ingat, Kirana. Aku ingat setiap kata. Aku ingat setiap detail. Aku ingat warna pita biru di rambutmu. Aku ingat bau sabun kelapa di rambutmu. Aku ingat hangatnya tanganmu ketika menggenggam tanganku. Aku ingat suaramu ketika kau bilang 'Aku akan kembali.' Aku ingat semuanya."
"Dan kau masih mau memegang janji itu?"
"Selamanya, Kirana. Aku akan memegang janji itu selamanya."
Kirana menangis.
Ia menangis bukan karena sedih.
Ia menangis karena bahagia.
Karena bahagia bahwa Danang masih ingat.
Karena bahagia bahwa Danang masih peduli.
Karena bahagia bahwa Danang masih mau.
Karena bahagia bahwa mereka masih bersama.
Meskipun tidak di desa.
Meskipun tidak di tepi sungai.
Meskipun tidak di bawah pohon waru.
Tapi bersama.
Di kota yang sama.
Di sungai yang berbeda.
Di waktu yang berbeda.
Tapi bersama.
Suatu sore di bulan Agustus, ketika langit berwarna jingga keemasan yang begitu indah, yang seperti lukisan cat minyak karya pelukis terkenal, Danang dan Kirana berjalan di tepi sungai kecil di belakang kota. Langit di barat berwarna jingga tua, kemerahan di bagian bawah, kekuningan di bagian atas, seperti matahari yang sedang demam tinggi, seperti dunia yang sedang terbakar perlahan-lahan.
Matahari hampir tenggelam. Hanya setengah lingkaran yang tersisa di ufuk barat, seperti mata yang setengah tertutup, seperti dunia yang sedang mengantuk. Awan-awan di sekitarnya berwarna merah muda, ungu, keemasan, seperti sedang berpesta, seperti sedang merayakan keindahan yang akan segera berakhir.
Burung-burung terbang di atas sungai, terbang rendah, hampir menyentuh permukaan air, seperti sedang bercermin, seperti sedang melihat bayangan mereka sendiri. Sesekali mereka menukik ke bawah, menangkap ikan kecil yang muncul ke permukaan, lalu terbang lagi, membawa mangsa di paruh mereka.
"Danang," panggil Kirana, suaranya pelan, lembut, seperti angin sore yang berhembus.
"Iya, Kirana?"
"Apa kau bahagia? Sekarang. Di sini. Bersamaku."
Danang menatap Kirana.
Wajahnya yang cantik di bawah sinar matahari sore. Rambutnya yang panjang berkibar-kibar ditiup angin, seperti bendera yang berkibar di tiang, seperti ombak yang bergerak di laut. Matanya yang coklat kehijauan memantulkan cahaya matahari, seperti batu permata yang berkilauan, seperti air sungai yang jernih.
"Aku bahagia, Kirana. Sangat bahagia. Mungkin ini saat paling bahagia dalam hidupku. Sejak... sejak ibuku masih hidup."
Kirana tersenyum. Senyum yang hangat. Senyum yang membuat Danang lupa pada semua masalah yang sedang menghantam hidupnya. Senyum yang menjadi rumah baginya di tengah badai.
"Aku juga bahagia, Danang. Sangat bahagia. Mungkin ini saat paling bahagia dalam hidupku. Sejak... sejak kita masih kecil di desa."
Mereka berdua terdiam.
Matahari semakin tenggelam.
Langit semakin gelap.
Bintang-bintang mulai muncul satu per satu.
"Danang," panggil Kirana lagi.
"Ya?"
"Ada yang ingin aku tanyakan. Tapi aku takut. Aku takut kau marah. Aku takut kau kecewa. Aku takut kau... kau pergi."
Danang mengernyit. "Tanya saja, Kirana. Aku tidak akan marah. Aku tidak akan kecewa. Aku tidak akan pergi. Janji."
Kirana menarik napas panjang. Dadanya naik turun. Tangannya yang berada di pangkuan, menggenggam ujung kebayanya, memilin-milin kain itu dengan gelisah.
"Apa kau... apa kau masih mencari ayah kandungmu, Danang?"
Danang terdiam.
Wajahnya berubah.
Senyumnya hilang.
Matanya yang tadinya hangat, tiba-tiba menjadi dingin. Dingin seperti es. Dingin seperti air sungai di pagi hari.
"Kenapa kau tanya itu, Kirana?"
Kirana menunduk. "Aku hanya... aku hanya ingin tahu. Aku hanya peduli padamu. Aku hanya ingin membantu. Aku hanya..."
"Aku tidak butuh bantuan, Kirana," potong Danang, suaranya dingin, tajam, seperti pisau. "Aku tidak butuh ayah. Aku sudah hidup tanpa ayah selama bertahun-tahun. Aku bisa hidup tanpa ayah selamanya. Aku tidak butuh lelaki itu. Aku tidak butuh siapa pun."
"Danang..."
"Dia meninggalkan ibuku ketika ibuku hamil. Dia pergi tanpa pamit. Dia tidak pernah kembali. Dia tidak pernah mengirim kabar. Dia tidak pernah peduli. Dia tidak pernah mengaku. Dia tidak pernah meminta maaf. Dia tidak pernah..."
Suara Danang pecah.
Tangisnya keluar.
Ia tidak bisa melanjutkan.
Ia menunduk, menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya naik turun, tangisnya tertahan tetapi terdengar.
Kirana memeluknya.
Ia memeluk Danang erat-erat.
Seperti dulu.
Seperti ketika mereka masih kecil.
Seperti ketika Danang menangis di dapur setelah pertengkaran orang tuanya.
Seperti ketika Danang menangis di beranda setelah mengetahui bahwa Sastrowiryo bukan ayah kandungnya.
Seperti ketika Danang menangis di pinggir jalan desa ketika ia pergi.
"Maaf, Danang," bisik Kirana di telinga Danang. "Maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih. Aku hanya... aku hanya ingin kau tahu bahwa kau tidak sendirian. Bahwa aku di sini. Bahwa aku akan selalu di sini. Bahwa aku akan membantumu mencari ayah kandungmu, jika kau mau. Bahwa aku akan mendukungmu apa pun keputusanmu. Bahwa aku..."
"Tidak usah, Kirana," kata Danang, suaranya masih basah oleh tangis, tetapi tidak lagi dingin. "Aku tidak mau mencari dia. Aku tidak peduli. Aku sudah punya keluarga. Aku punya ibu. Meskipun ibu sudah meninggal. Aku punya ayah tiri. Meskipun dia pergi. Aku punya kau. Meskipun... meskipun aku tidak tahu apa hubungan kita."
"Kita adalah kita, Danang. Tidak perlu diberi nama. Tidak perlu diberi label. Kita adalah kita. Dua orang yang saling peduli. Dua orang yang saling mencintai. Dua orang yang saling membutuhkan. Itu sudah cukup."
Danang mengangkat kepalanya.
Ia menatap Kirana.
Matanya masih basah.
Tapi ada senyum di bibirnya.
Senyum yang lemah, tetapi tulus.
"Terima kasih, Kirana."
"Tugas... tugas pacar?"
Danang terkejut. "Pacar?"
Kirana tersenyum malu. Wajahnya merah padam. "Iya. Pacar. Kalau kau mau. Kalau kau tidak mau, ya sudah. Kita tetap teman. Tidak apa."
"Aku mau, Kirana. Aku mau."
"Serius?"
"Serius. Aku sudah mencintaimu sejak kecil. Aku sudah menunggumu sejak kau pergi. Aku sudah memimpikanmu setiap malam. Aku sudah..."
Kirana mencium pipi Danang.
Cepat.
Ringan.
Seperti kupu-kupu yang hinggap di bunga.
Seperti daun yang jatuh ke tanah.
Seperti mimpi yang tidak nyata.
Danang terdiam.
Seluruh tubuhnya membeku.
Pipinya terasa hangat.
Bekas ciuman Kirana masih terasa di kulitnya.
"Aku juga mencintaimu, Danang," bisik Kirana. "Sejak dulu. Sejak kita di tepi sungai. Sejak kau melempar batu ke air. Sejak kau menggambar bunga kuning di buku gambarmu. Sejak kau menampar Surya karena menghina ibuku. Sejak kau menangis di depanku. Sejak kau bilang 'Aku takut kehilangan semuanya.' Sejak saat itu, Danang. Sejak saat itu, aku tahu. Aku tahu bahwa kau adalah orang yang aku tunggu. Aku tahu bahwa kau adalah orang yang aku cintai. Aku tahu bahwa kau adalah rumahku."
Danang tidak bisa berkata apa-apa.
Ia hanya memeluk Kirana.
Memeluknya erat-erat.
Seperti tidak ingin melepaskan.
Seperti takut Kirana akan pergi.
Seperti takut ini hanya mimpi.
"Ini mimpi, Kirana?" bisiknya.
"Tidak, Danang. Ini nyata. Kita nyata. Cinta kita nyata."
Danang memejamkan mata.
Ia ingin waktu berhenti.
Ia ingin momen ini berlangsung selamanya.
Ia ingin Kirana tetap di pelukannya.
Ia ingin kebahagiaan ini tidak pernah berakhir.
Tapi di kejauhan, di balik kegelapan malam yang mulai turun, di balik pohon-pohon yang mulai gelap, di balik sungai yang mengalir, seseorang berdiri.
Arman.
Ia datang untuk menjemput Danang, seperti biasa.
Ia ingin mengajak Danang makan malam di warung langganan mereka.
Tapi ketika ia sampai di tepi sungai, ia melihat mereka.
Danang dan Kirana.
Berpelukan.
Di bawah sinar matahari sore.
Di tepi sungai yang keruh.
Ia berhenti.
Ia tidak bergerak.
Ia tidak bersuara.
Ia hanya berdiri.
Memandang.
Dari kejauhan.
Dari balik kegelapan yang mulai menyelimuti.
Matanya tidak berkedip.
Wajahnya tidak berekspresi.
Tangannya yang memegang payung, gemetar.
Di dalam hatinya, ada sesuatu yang tumbuh.
Bukan marah.
Bukan benci.
Bukan sakit.
Tapi iri.
Iri yang perlahan berubah menjadi bahaya.
Iri yang perlahan berubah menjadi racun.
Iri yang perlahan berubah menjadi pengkhianatan.
Dan tanpa Danang ketahui, tanpa Kirana sadari, malam itu, di tepi sungai kecil yang keruh, di bawah senja yang mulai gelap, sesuatu yang berbahaya mulai tumbuh di hati Arman.
Sesuatu yang akan menghancurkan mereka bertiga.
Sesuatu yang akan mencuri kebahagiaan mereka.
Sesuatu yang akan mengubah cinta menjadi luka.
Sesuatu yang akan mengubah sahabat menjadi musuh.
Bab 26
Tatapan yang Tidak Sengaja Berubah
Hari-hari setelah pertemuan di tepi sungai, setelah ciuman di pipi yang mengubah segalanya, setelah kata-kata "Aku juga mencintaimu" yang terucap di senja yang indah, Danang dan Kirana semakin sering bersama. Bukan hanya setiap sore, tetapi juga setiap pagi sebelum bekerja, setiap akhir pekan, setiap waktu luang yang mereka miliki. Seperti dua magnet yang tidak bisa dipisahkan, seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa berdiri sendiri, seperti dua burung yang terbang bersama di langit yang luas.
Setiap pagi, sebelum matahari terbit, Danang akan mengayuh sepeda onthelnya menuju rumah dinas Kirana di Jalan Merdeka. Perjalanan yang memakan waktu hampir empat puluh menit itu ia tempuh dengan semangat yang tidak pernah pudar, dengan energi yang tidak pernah habis, dengan kebahagiaan yang tidak pernah berkurang. Ia akan berhenti di depan pasar pagi, membeli jajan untuk Kirana, kadang pisang goreng, kadang getuk, kadang lupis, kadang bubur kacang hijau. Jajanan yang masih hangat, yang masih mengepulkan uap, yang bau harumnya membuat orang yang lewat menoleh.
"Pagi, Kirana!" serunya dari depan pagar rumah dinas yang tinggi, pagar besi hitam dengan ornamen-ornamen bunga yang sudah berkarat di beberapa tempat.
Kirana akan keluar dengan wajah masih mengantuk, rambut masih kusut, baju tidur masih melekat di tubuhnya. Matanya masih sayu, belum benar-benar terbuka, seperti mata kucing yang baru bangun tidur. Tapi ketika ia melihat Danang, ketika ia melihat senyum Danang, ketika ia melihat bungkusan-bungkusan jajan di tangan Danang, matanya akan langsung berbinar, wajahnya akan langsung cerah, senyumnya akan langsung merekah.
"Kau datang, Danang. Aku kira kau tidak jadi datang. Hujan tadi malam deras sekali. Aku kira jalanan banjir."
"Aku janji, Kirana. Aku akan datang setiap pagi. Hujan, banjir, badai, aku akan tetap datang. Karena kau menungguku. Karena aku tidak mau kau kecewa."
Kirana tersenyum. Senyum yang membuat jantung Danang berdebar kencang, yang membuat lututnya terasa lemas, yang membuat ia lupa pada semua lelahnya.
"Ayo, masuk. Ibu sudah membuat kopi. Ayah sudah pergi ke kantor. Kita sarapan dulu. Nanti kau terlambat kerja."
"Tidak apa. Pak Suryanto maklum. Dia tahu aku punya... punya..."
"Punya pacar?" sambung Kirana, matanya nakal, senyumnya menggoda.
Danang tersenyum malu. "Iya. Punya pacar."
Mereka berdua tertawa. Tawa yang riang, tawa yang bebas, tawa yang seperti anak kecil yang bermain kejar-kejaran di halaman sekolah. Tawa yang membuat pagi terasa lebih cerah, yang membuat hari terasa lebih indah, yang membuat hidup terasa lebih berarti.
Tapi kebahagiaan mereka tidak luput dari perhatian.
Arman, yang selama ini menjadi sahabat Danang, yang selama ini selalu ada untuk Danang, yang selama ini menjadi tempat Danang berkeluh kesah, mulai berubah.
Bukan berubah drastis. Tidak tiba-tiba menjadi jahat. Tidak tiba-tiba membenci Danang. Berubah perlahan, seperti air yang mendidih di atas api kecil, seperti rumput yang tumbuh di sela-sela batu, seperti warna daun yang berubah di musim kemarau.
Ia masih datang ke kamar kos Danang setiap malam. Masih membawa sate kambing atau nasi goreng atau bakso. Masih duduk di ranjang sempit Danang, berbicara tentang banyak hal, tertawa tentang hal-hal lucu, mengeluh tentang pekerjaan yang melelahkan.
Tapi ada sesuatu yang berbeda.
Cara ia memandang Danang.
Cara ia memandang Kirana.
Cara ia memandang dunia.
Semua berubah.
Suatu sore, ketika Danang sedang menemani Kirana di toko buku, membantu merapikan rak-rak yang berantakan, menata buku-buku berdasarkan abjad, membersihkan debu-debu yang menempel di sampul, Arman datang.
Ia datang dengan alasan ingin membeli buku. "Aku butuh buku tentang mesin, Danang. Aku ingin belajar memperbaiki mesin sendiri. Biar tidak perlu ke bengkel terus. Mahal."
Tapi Danang tahu itu bukan alasan sebenarnya. Ia sudah cukup lama berteman dengan Arman untuk bisa membaca bahasa tubuhnya, untuk bisa merasakan ketika Arman sedang tidak jujur. Matanya. Matanya berbohong. Matanya mengatakan sesuatu yang berbeda dari kata-kata yang keluar dari mulutnya.
"Silakan, Arman. Rak buku teknik di pojok sana. Di sebelah rak buku kedokteran. Di samping rak buku pertanian. Kau cari saja. Aku masih sibuk di sini."
Arman mengangguk. Ia berjalan menuju rak buku teknik, tetapi matanya tidak tertuju pada buku. Matanya tertuju pada Kirana.
Kirana sedang duduk di meja kasir, menghitung uang hasil penjualan hari ini, mencatatnya di buku besar, melipat uang-uang kertas berdasarkan nominalnya. Tangannya yang lentik dan putih bergerak lincah, memisahkan uang lima ribuan, sepuluh ribuan, dua puluh ribuan. Matanya fokus, tidak terganggu oleh kehadiran Arman, tidak menyadari bahwa ia sedang ditatap.
Arman berdiri di depan rak buku teknik, tetapi ia tidak mengambil buku apa pun. Ia hanya berdiri, memegang rak kayu di depannya, memandang Kirana dari kejauhan. Matanya tidak berkedip. Wajahnya tidak berekspresi. Tangannya yang memegang rak kayu, mulai gemetar.
"Arman, kau tidak jadi beli buku?" tanya Danang dari belakang.
Arman terkejut. Ia menoleh cepat, terlalu cepat. Wajahnya memerah, seperti orang yang ketahuan mencuri, seperti orang yang ketahuan berbohong.
"Eh... iya, aku... aku tidak jadi. Bukunya tidak ada yang cocok. Mungkin lain kali."
"Kau yakin? Aku bisa tanya Bu Lastri. Mungkin ada di gudang. Buku-buku lama kadang disimpan di belakang."
"Tidak usah, Danang. Tidak usah repot-repot. Aku cari di toko lain saja. Terima kasih."
Arman pergi.
Ia berjalan cepat meninggalkan toko buku, hampir berlari, seperti orang yang dikejar sesuatu, seperti orang yang takut ketahuan.
Danang memandang sahabatnya pergi. Ia mengernyit. Ada yang aneh. Ada yang tidak beres. Tapi ia tidak tahu apa. Ia hanya merasakan firasat tidak enak di dadanya. Firasat yang mengatakan bahwa sesuatu akan terjadi. Sesuatu yang buruk. Sesuatu yang akan mengubah segalanya.
"Teman kau, Danang?" tanya Kirana dari meja kasir, matanya masih fokus pada uang di tangannya.
"Iya. Arman. Sahabatku. Sejak aku pertama datang ke kota ini. Dia yang menjemputku di stasiun. Dia yang mencarikan kamar kos untukku. Dia yang mengajarkanku banyak hal tentang kota ini. Dia baik. Dia perhatian. Dia..."
"Dia memandangku aneh, Danang."
Danang berhenti bicara. "Maksudmu?"
Kirana mengangkat kepalanya. Matanya bertemu dengan mata Danang. "Aku tidak tahu. Mungkin aku salah. Mungkin aku terlalu peka. Tapi tadi, ketika dia berdiri di depan rak buku teknik, dia tidak melihat buku. Dia melihat aku. Matanya... matanya seperti... seperti..."
"Seperti apa?"
Kirana terdiam. Ia memikirkan kata yang tepat. Kata yang tidak terlalu keras, tidak terlalu kasar, tidak terlalu menuduh. "Seperti dia sedang menghitung sesuatu. Seperti dia sedang merencanakan sesuatu. Seperti dia sedang... aku tidak tahu, Danang. Aku hanya merasa tidak nyaman."
Danang menatap ke arah pintu, ke arah Arman pergi. "Arman baik, Kirana. Dia tidak akan melakukan hal-hal jahat. Dia sahabatku. Dia seperti kakak bagiku. Dia..."
"Kadang, Danang, orang yang paling dekat dengan kita adalah orang yang paling berbahaya. Karena kita tidak pernah curiga. Karena kita tidak pernah waspada. Karena kita tidak pernah siap."
Danang tidak menjawab.
Ia hanya memandang kosong ke arah pintu.
Firasatnya semakin kuat.
Sesuatu akan terjadi.
Dan ia tidak tahu bagaimana mencegahnya.
Malam itu, Arman tidak datang ke kamar kos Danang.
Biasanya, ia akan datang sekitar jam tujuh malam, membawa makanan, duduk di ranjang, berbicara tentang banyak hal. Tapi malam ini, tidak ada. Hanya kesunyian. Hanya kehampaan. Hanya Danang sendirian di kamar sempitnya, dengan dinding bata merah tanpa cat, dengan lantai semen yang dingin, dengan jendela kecil yang menghadap gang sempit.
Danang berbaring di ranjangnya, memandang langit-langit yang gelap, mendengar suara tetangga di sebelah kanan yang batuk-batuk, tetangga di sebelah kiri yang bertengkar, tetangga di atas yang memindahkan furnitur.
Ia memegang pita biru di tangannya.
Pita yang sudah hampir putih.
Pita yang kainnya sudah rapuh.
Pita yang menjadi satu-satunya kenangan dari masa lalunya.
"Kirana," bisiknya. "Aku janji akan melindungimu. Aku janji tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu. Aku janji akan menjagamu. Aku janji akan mencintaimu. Sampai mati."
Ia memejamkan mata.
Ia berdoa.
"Tuhan, tolong jaga Kirana. Tolong lindungi dia. Tolong jauhkan dia dari bahaya. Tolong jangan biarkan siapa pun menyakitinya. Tolong... tolong jaga cinta kami."
Tapi doanya tidak didengar.
Atau didengar, tetapi tidak dijawab.
Karena di tempat lain, di kamar kosnya yang lebih besar, yang lebih rapi, yang lebih nyaman, Arman duduk di ranjangnya, memandang tembok di depannya, memikirkan Kirana.
Rambutnya yang panjang dan hitam.
Matanya yang coklat kehijauan.
Lesung pipitnya yang manis.
Senyumnya yang hangat.
Tawanya yang riang.
Suaranya yang lembut.
Kirana.
Perempuan yang tidak pernah ia kenal.
Perempuan yang baru ia lihat hari ini.
Perempuan yang sudah ia benci dan cintai pada saat yang bersamaan.
"Kenapa kau memilih dia, Kirana?" bisiknya. "Kenapa bukan aku? Aku lebih baik dari dia. Aku lebih kaya dari dia. Aku lebih pintar dari dia. Aku lebih tampan dari dia. Aku lebih... aku lebih pantas untukmu."
Ia berdiri.
Berjalan ke jendela.
Memandang bulan yang bersinar terang di langit.
"Danang tidak pantas untukmu, Kirana. Dia anak haram. Dia tidak punya masa depan. Dia tidak punya pendidikan. Dia tidak punya uang. Dia tidak punya apa-apa. Aku yang pantas untukmu. Aku. Bukan dia."
Tangannya mengepal.
Matanya menyala.
Ada api di sana.
Api yang akan membakar segalanya.
Api yang akan menghancurkan persahabatan.
Api yang akan menghancurkan cinta.
Api yang akan menghancurkan mereka bertiga.
"Aku akan mendapatkannya, Kirana," bisiknya. "Aku akan mendapatkamu. Dengan atau tanpa restu Danang. Dengan atau tanpa persetujuanmu. Aku akan mendapatkamu. Karena aku pantas. Karena aku lebih baik. Karena aku lebih layak."
Ia tersenyum.
Senyum yang dingin.
Senyum yang penuh dengan rencana.
Senyum yang seperti ular yang siap menerkam.
Senyum yang mengatakan bahwa ia akan melakukan apa pun untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
Bab 27
Rumah Kirana yang Tidak Lagi Hangat
Tiga bulan kemudian, Danang mulai sering diundang ke rumah Kirana. Bukan undangan resmi dengan surat atau kartu, tetapi undangan lisan yang diucapkan Kirana setiap kali mereka bertemu.
"Danang, main ke rumahku yuk. Ibu masak rendang. Enak banget. Kau harus coba."
"Danang, ayahku beli TV baru. Ada layar warna. Besar sekali. Ayo lihat."
"Danang, hari ini aku beli kaset lagu-lagu Chrisye. Ayo dengar bareng. Di rumahku. Nanti malam."
Danang tidak pernah menolak. Ia selalu datang, meskipun harus mengayuh sepeda onthelnya hampir satu jam dari kamar kosnya ke rumah dinas di Jalan Merdeka. Ia selalu datang, meskipun kadang hujan turun deras, meskipun kadang ban sepedanya bocor, meskipun kadang ia kehabisan uang untuk membeli bensin lampu minyak untuk penerangan.
Rumah dinas itu besar. Sangat besar. Dindingnya putih bersih dengan ornamen-ornamen klasik bergaya kolonial Belanda. Pilar-pilar kayunya tinggi menjulang, dengan ukiran-ukiran halus yang menunjukkan kemewahan masa lalu, ketika Belanda masih menguasai Indonesia, ketika pejabat-pejabat Belanda tinggal di rumah-rumah megah seperti ini. Ukiran-ukiran itu menggambarkan bunga-bunga dan daun-daun dan hewan-hewan mitologi, yang sulit dipahami maknanya tetapi indah dipandang.
Halaman depannya luas, ditumbuhi rumput yang terawat, rumput gajah yang hijau segar, yang setiap minggu dipotong oleh tukang kebun bernama Mamat, lelaki tua dengan topi caping dan sabit di tangan. Ada beberapa pohon mangga di halaman itu, pohon-pohon besar yang rindang, yang buahnya manis dan lebat setiap musim hujan. Ada juga pohon rambutan, pohon jambu air, pohon belimbing, dan pohon bunga kamboja yang bunganya putih kekuningan dengan wangi yang khas.
Lampu gantung kristal kecil menggantung di ruang tamu, berkilauan setiap kali terkena cahaya matahari yang masuk melalui jendela-jendela besar dengan kaca-kaca berwarna. Lampu itu mahal, sangat mahal, mungkin seharga pendapatan Danang setahun. Lampu itu adalah hadiah dari seorang kolega ayah Kirana yang bekerja di Jakarta, yang konon dibeli dari toko perhiasan terkenal di pusat kota.
Sofa beludru merah marun, dengan bantal-bantal tebal yang empuk, dengan ukiran kayu di bagian lengan dan kakinya, diletakkan di sudut ruang tamu, menghadap ke arah jendela. Sofa itu terlalu besar untuk ruang tamu, tetapi pemilik rumah tidak peduli. Yang penting mahal. Yang penting mewah. Yang penting orang yang datang terkesan.
Meja kopi dari kayu jati dengan ukiran halus, dengan permukaan yang mengkilap karena sering dipoles dengan lilin, diletakkan di tengah-tengah ruangan. Di atas meja itu, selalu ada vas bunga segar, bunga mawar merah atau bunga krisan putih atau bunga sedap malam yang wanginya memenuhi seluruh ruangan. Vas itu juga mahal, terbuat dari kristal bening dengan ukiran-ukiran halus di permukaannya.
Namun semakin sering Danang datang, semakin sering ia menginjakkan kaki di rumah megah itu, semakin ia merasakan sesuatu. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Sesuatu yang mengganjal di dadanya setiap kali ia melewati pintu masuk, setiap kali ia duduk di sofa beludru merah, setiap kali ia menatap lampu gantung kristal yang berkilauan.
Rumah itu indah. Sangat indah. Seperti istana mini di tengah kota yang kumuh, seperti surga kecil di tengah neraka besar. Dinding putih, pilar-pilar tinggi, ukiran-ukiran indah, lampu kristal, sofa beludru, meja jati, vas bunga. Semua serba indah. Serba mewah. Serba sempurna.
Tetapi tidak hangat.
Tidak ada tawa. Rumah itu sunyi, terlalu sunyi, seperti perpustakaan di malam hari, seperti gereja di hari biasa, seperti makam di tengah malam. Suara yang terdengar hanya suara langkah kaki di lantai marmer, suara pintu yang dibuka dan ditutup, suara jam dinding yang berdetak, suara napas orang-orang yang tinggal di dalamnya.
Tidak ada aroma masakan yang menggugah selera. Dapur di rumah itu bersih, sangat bersih, seperti tidak pernah digunakan. Semua peralatan masak tersusun rapi di lemari-lemari kaca, panci, wajan, spatula, pisau, semua mengkilap, semua bebas debu. Tapi tidak ada aroma bawang, tidak ada aroma rempah, tidak ada aroma masakan yang biasa menggugah selera Danang ketika ia masih tinggal di desa bersama ibunya.
Tidak ada foto keluarga di dinding. Dinding-dinding di rumah itu kosong, hanya cat putih bersih tanpa hiasan. Tidak ada foto pernikahan ayah dan ibu Kirana. Tidak ada foto Kirana ketika masih bayi. Tidak ada foto keluarga ketika berlibur. Tidak ada foto apa pun. Hanya kehampaan. Hanya kekosongan. Hanya dinding putih yang dingin dan tidak bersahabat.
Tidak ada tanda bahwa di rumah ini pernah hidup kebahagiaan. Tidak ada mainan anak-anak yang berserakan di lantai. Tidak ada buku-buku cerita yang tertumpuk di meja. Tidak ada coretan-coretan di dinding yang dibuat oleh anak kecil. Tidak ada bekas-bekas kehidupan. Hanya keindahan yang dingin. Hanya kesempurnaan yang hampa. Hanya rumah yang seperti hotel, tempat orang singgah sementara sebelum pergi lagi.
"Rumahmu besar sekali, Kirana," kata Danang suatu sore, ketika ia duduk di sofa beludru merah, memegang cangkir kopi yang disajikan oleh pembantu rumah tangga bernama Yati, perempuan muda dengan wajah cemberut dan celemek kotor. "Tapi... tapi sepi."
Kirana tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke matanya. Senyum yang sudah sering Danang lihat akhir-akhir ini, senyum yang mengatakan bahwa ada sesuatu yang disembunyikan, ada sesuatu yang tidak ingin dibicarakan, ada sesuatu yang terlalu sakit untuk diungkapkan.
"Iya. Sepi. Ayah sibuk kerja. Ibu sibuk arisan. Aku sibuk di toko buku. Jadi rumah ini hanya tempat tidur. Tidak lebih."
"Tidak ada adik?"
"Tidak. Aku anak tunggal. Ayah dan Ibu hanya punya aku. Mereka sudah tua. Ibu hampir tidak bisa punya anak lagi. Jadi ya... hanya aku."
"Kau tidak kesepian?"
Kirana terdiam.
Ia memandang ke luar jendela, ke arah halaman yang luas, ke arah pohon-pohon mangga yang rindang, ke arah rumput yang terawat, ke arah langit yang biru.
"Aku kesepian, Danang," katanya akhirnya, suaranya pelan, hampir seperti bisikan. "Sangat kesepian. Sejak kecil. Sejak aku bisa berpikir. Sejak aku sadar bahwa rumahku hanya tempat kosong tanpa cinta."
Danang menatap Kirana.
Ia tidak tahu harus berkata apa.
Ia tidak bisa membayangkan.
Ia tumbuh di rumah panggung yang kecil, yang dindingnya retak, yang lantainya berderit, yang atapnya bocor. Tapi di rumah itu, ada ibunya. Ada ibunya yang memasak nasi goreng setiap pagi. Ada ibunya yang membangunkannya dengan suara lembut. Ada ibunya yang tersenyum meskipun lelah. Ada ibunya yang memeluknya ketika ia menangis.
Rumah Kirana besar, indah, mewah. Tapi tidak ada ibu yang memasak. Tidak ada ibu yang membangunkan. Tidak ada ibu yang tersenyum. Tidak ada ibu yang memeluk.
"Kirana," panggil Danang.
"Ya?"
"Aku... aku tidak bisa membayangkan. Tapi aku mengerti. Aku juga kesepian. Sejak ibu meninggal. Sejak bapak pergi. Sejak aku tinggal sendiri di kamar kos yang sempit. Aku juga kesepian."
Mereka berdua terdiam.
Hanya suara jam dinding yang berdetak.
Hanya suara angin yang berhembus.
Hanya suara daun-daun yang bergesekan.
"Tapi sekarang kita tidak sendirian lagi, Kirana," kata Danang, memegang tangan Kirana. Tangannya yang kasar dan keras, memegang tangan Kirana yang lembut dan lentik. "Kita punya satu sama lain. Kita punya cinta. Kita punya masa depan."
Kirana tersenyum. Senyum yang tulus. Senyum yang sampai ke matanya. Senyum yang membuat Danang lupa pada semua masalah yang sedang menghantam hidupnya.
"Iya, Danang. Kita punya satu sama lain."
Suatu sore, ketika Danang sedang asyik membaca buku di ruang tamu, menunggu Kirana yang sedang mandi dan berganti pakaian, pintu depan terbuka.
Seorang perempuan setengah baya masuk.
Perempuan itu masih tampak muda meskipun usianya sudah setengah abad lebih. Wajahnya terawat, dengan kulit putih bersih tanpa kerutan, dengan riasan tipis yang membuatnya terlihat anggun dan elegan. Rambutnya disanggul rapi, disemat dengan tusuk konde berlapis emas, dengan hiasan bunga melati segar di samping kanannya. Pakaiannya selalu bersih dan tidak pernah kusut, kebaya brokat warna krem dengan motif bunga-bunga kecil, kain batik tulis dengan warna senada, sepatu kulit hitam dengan hak rendah.
Namun matanya dingin. Matanya selalu dingin. Matanya seperti es, seperti kaca, seperti air yang membeku di musim dingin. Tidak ada kehangatan di sana. Tidak ada kasih sayang. Tidak ada cinta. Hanya dingin. Hanya penilaian. Hanya penghakiman.
Itu adalah ibu Kirana. Nyonya Dewi Ratnasari, perempuan kelahiran Surakarta dari keluarga priyayi yang masih memegang teguh adat istiadat Jawa. Perempuan yang tumbuh dengan keyakinan bahwa status sosial adalah segalanya, bahwa uang adalah segalanya, bahwa penampilan adalah segalanya. Perempuan yang tidak pernah belajar bahwa cinta lebih penting dari uang, bahwa kebahagiaan lebih penting dari status, bahwa ketulusan lebih penting dari penampilan.
Matanya langsung menatap Danang. Bukan tatapan biasa. Tatapan yang penuh dengan penilaian. Tatapan yang seperti sedang menghitung, sedang menimbang, sedang memutuskan. Matanya bergerak dari ujung rambut Danang yang ikal dan tidak pernah rapi, ke bajunya yang lusuh dan tambal sulam, ke sepatunya yang bolong di bagian jempol, ke tangannya yang kasar dan penuh kapalan.
"Siapa ini, Kirana?" suaranya tegas, dingin, seperti suara komandan yang tidak terbiasa dibantah.
Kirana yang baru saja keluar dari kamar, dengan rambut masih basah, dengan pakaian santai, langsung terdiam. Wajahnya berubah pucat. Tangannya gemetar.
"Ini Danang, Bu. Teman lama. Dari desa. Kami... kami berteman sejak kecil. Dulu di desa."
"Teman lama?" Nyonya Dewi mendekat, berdiri di depan Danang, menatapnya dari atas ke bawah. "Teman lama yang mana? Apakah keluarga Sastrowiryo itu?"
Kirana membeku. "Ibu tahu?"
"Tahu. Aku tahu semuanya, Kirana. Aku tahu tentang kebakaran gudang. Aku tahu tentang tuduhan. Aku tahu tentang... tentang ayah kandungnya. Aku tahu semua. Dan aku tidak senang anakku bergaul dengan anak seperti itu."
"Bu..."
"Jangan 'Bu' terus. Aku tidak ingin anakku dekat-dekat dengan anak haram. Aku tidak ingin anakku dicemarkan oleh pergaulan dengan orang-orang yang tidak jelas asal-usulnya. Aku tidak ingin..."
"Bu, cukup!" potong Kirana, suaranya keras, tegas, seperti saat ia membela Danang di depan Surya dulu. Matanya menyala. Tangannya mengepal. "Jangan bicara seperti itu tentang Danang. Jangan. Dia baik. Dia jujur. Dia pekerja keras. Dia..."
"Dia anak haram, Kirana. Tidak punya ayah. Ibunya hamil di luar nikah. Itu fakta. Kau tidak bisa mengubah fakta."
Kirana menangis.
Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Ia hanya bisa menangis.
Menangis di depan ibunya.
Menangis di depan Danang.
Menangis karena ia tahu bahwa ibunya tidak akan pernah berubah.
Danang berdiri.
Ia berjalan ke arah pintu.
"Danang, jangan pergi!" teriak Kirana.
Danang berhenti. Ia menoleh. Matanya bertemu dengan mata Kirana. Mata yang basah. Mata yang merah. Mata yang penuh dengan kesedihan dan ketakutan.
"Aku pulang dulu, Kirana. Besok kita bertemu di toko buku."
"Danang..."
"Aku tidak ingin membuat masalah dengan ibumu. Aku tidak ingin membuatmu susah. Aku pergi dulu."
Ia pergi.
Meninggalkan rumah megah itu.
Meninggalkan Kirana yang menangis.
Meninggalkan Nyonya Dewi yang tersenyum puas.
Di luar, hujan mulai turun.
Gerimis.
Pelan.
Sayu.
Seperti langit ikut menangis.
Seperti alam ikut bersedih.
Danang mengayuh sepedanya perlahan, tidak tergesa-gesa, meskipun hujan mulai membasahi bajunya, meskipun rambutnya mulai basah, meskipun air mata mulai mengalir di pipinya.
Ia tidak tahu bahwa pertemuan dengan ibu Kirana adalah awal dari segalanya.
Awal dari penderitaan.
Awal dari air mata.
Awal dari kehilangan.
Awal dari pengkhianatan.
Tapi ia tidak menyesal.
Ia tidak menyesal mencintai Kirana.
Ia tidak menyesal berjuang untuk Kirana.
Ia tidak menyesal memilih Kirana.
Meskipun harus berhadapan dengan ibu yang dingin, dengan status yang berbeda, dengan dunia yang tidak merestui.
Karena cinta, pikir Danang, tidak pernah meminta izin.
Cinta datang begitu saja.
Tanpa diundang.
Tanpa permisi.
Tanpa peduli pada status, pada uang, pada asal-usul.
Cinta datang.
Dan ketika cinta datang, yang bisa kita lakukan hanyalah menerima.
Atau menolak.
Dan Danang memilih menerima.
Meskipun konsekuensinya berat.
Meskipun jalannya terjal.
Meskipun ujungnya mungkin tidak bahagia.
Ia memilih menerima.
Karena cinta.
Karena Kirana.
Karena mereka.
Bab 28
Surat Tanpa Nama
Suatu pagi di bulan September, ketika musim kemarau mulai berganti dengan musim hujan, ketika langit mulai sering mendung dan angin mulai bertiup kencang, Kirana menemukan sebuah amplop coklat di bawah pintu rumahnya.
Amplop itu tidak ada yang mengantar. Tidak ada tukang pos yang lewat. Tidak ada tetangga yang melihat siapa yang meletakkannya. Tidak ada suara langkah kaki di halaman. Tidak ada suara sepeda motor yang berhenti di depan pagar. Amplop itu begitu saja muncul, seperti sihir, seperti peringatan dari alam lain, seperti mimpi buruk yang menjadi nyata.
Kirana menemukannya ketika ia hendak berangkat ke toko buku, pagi-pagi buta sebelum matahari terbit, ketika kabut masih menutupi desa, ketika udara masih dingin menusuk tulang. Ia membuka pintu depan, berniat mengambil koran yang biasanya diantar oleh tukang koron setiap pukul lima pagi. Tapi koran itu tidak ada. Yang ada hanyalah amplop coklat, tergeletak di lantai teras, di antara pot-pot bunga yang mulai layu karena jarang disiram.
Amplop itu tidak terlalu besar, seukuran amplop surat biasa, tetapi terasa berat ketika ia memegangnya. Kertasnya tebal, berkualitas baik, tidak seperti amplop murahan yang biasa dijual di warung-warung. Di bagian depan amplop, tertulis namanya: "Kirana Prameswari". Tulisan tangan, huruf kapital semua, seperti orang yang sengaja menyamarkan tulisannya agar tidak mudah dikenali. Tulisannya rapi, terlatih, seperti tulisan orang yang terbiasa menulis surat.
Tidak ada alamat pengirim. Tidak ada nama. Tidak ada identitas apa pun. Hanya namanya. Hanya amplop coklat. Hanya rahasia.
Tangannya gemetar saat membukanya. Jari-jarinya yang lentik dan putih, yang biasa memegang buku-buku dengan hati-hati, kini gemetar seperti daun yang ditiup angin. Ia merobek amplop itu perlahan, tidak ingin merusak isinya, meskipun ia sudah tidak sabar untuk mengetahui apa yang ada di dalamnya.
Kertas di dalamnya tipis, murah, seperti kertas yang biasa dijual di warung-warung kecil, warna putih kusam dengan garis-garis biru tipis seperti buku tulis sekolah. Kertas itu dilipat menjadi dua, kemudian dilipat lagi menjadi empat, sehingga mudah dimasukkan ke dalam amplop.
Kirana membuka lipatan itu dengan hati-hati, jari-jarinya yang gemetar berusaha meratakan kertas yang sudah kusut karena terlipat terlalu lama.
Tulisan di dalamnya tangan kasar, huruf kapital semua, seperti orang yang sengaja menyamarkan tulisannya, seperti orang yang tidak ingin dikenali. Setiap huruf ditulis dengan tekanan yang keras, menembus kertas, meninggalkan bekas di balik kertas.
Isi surat itu pendek. Hanya beberapa baris. Tetapi setiap kata terasa seperti pisau, seperti belati, seperti racun yang menyebar perlahan di dalam tubuh.
"JANGAN ULANGI KESALAHAN MASA LALU. ANAK LELAKI MISKIN ITU TIDAK AKAN PERNAH PANTAS UNTUKMU. KAU AKAN MENYESAL. KELUARGAMU AKAN MENYESAL. SEMUA ORANG AKAN MENYESAL."
Kirana membaca surat itu sekali. Dua kali. Tiga kali. Sepuluh kali.
Wajahnya memucat. Wajahnya berubah menjadi putih seperti kertas amplop itu, seperti kapur, seperti orang yang sedang sakit parah. Bibirnya gemetar. Tangannya yang memegang surat mulai gemetar hebat, seperti orang yang kedinginan, seperti orang yang ketakutan.
Surat itu jatuh ke lantai.
Jatuh ke teras ubin yang dingin.
Jatuh di antara pot-pot bunga yang mulai layu.
Kirana memungutnya. Tangannya masih gemetar. Ia membaca lagi. Membaca berulang-ulang. Berharap kata-katanya berubah. Berharap ini hanya mimpi. Berharap ada yang salah.
Tapi tidak. Kata-katanya tetap sama. Tetap tajam. Tetap menyakitkan.
"Siapa yang menulis ini?" bisiknya. "Siapa yang tahu tentang Danang? Siapa yang tahu tentang masa lalu? Siapa yang tidak ingin kita bersama?"
Ia melihat ke kiri dan ke kanan, ke halaman yang sunyi, ke jalan yang masih sepi, ke rumah-rumah tetangga yang pintunya masih tertutup. Tidak ada siapa pun. Hanya kabut pagi yang mulai menipis. Hanya angin yang berhembus pelan. Hanya burung-burung yang mulai berkicau di atas pohon mangga.
Ia memasukkan surat itu ke dalam saku bajunya.
Ia tidak pergi ke toko buku.
Ia kembali ke dalam rumah, menutup pintu, berlari ke kamarnya, menangis di atas bantal.
Malamnya, Kirana menemui Danang di tepi sungai kecil di belakang kota. Tempat yang biasa mereka kunjungi ketika ingin berbicara berdua tanpa gangguan. Tempat yang sunyi, yang gelap, yang hanya diterangi oleh cahaya bulan dan bintang-bintang.
Langit malam itu gelap, tanpa bintang. Awan tebal menutupi bulan, tidak ada cahaya yang menembus. Hanya kegelapan. Kegelapan yang pekat. Kegelapan yang seperti masa depan mereka. Angin bertiup dingin, seperti angin yang membawa kabar buruk, seperti angin yang membawa kematian.
Kirana duduk di atas batu besar yang licin karena lumut, memeluk lututnya, menggigil kedinginan. Matanya merah, bengkak, seperti habis menangis berjam-jam. Wajahnya pucat, lesi, tidak bersemangat seperti biasanya.
Danang duduk di sampingnya, meraih tangannya, menggenggamnya erat-erat. "Ada apa, Kirana? Dari tadi menelepon ke percetakan, suruh aku datang ke sini. Katanya penting. Katanya darurat. Ada apa?"
Kirana mengeluarkan surat itu dari sakunya. Tangannya gemetar ketika memberikannya pada Danang. "Ini. Aku dapat ini pagi tadi. Di bawah pintu rumahku. Tidak ada yang mengantar. Tidak ada yang tahu. Tiba-tiba ada."
Danang mengambil surat itu. Ia membacanya. Sekali. Dua kali. Rahangnya mengeras. Matanya yang tadinya tenang, kini berubah menjadi gelap, penuh amarah yang ditahan. Tangannya yang memegang surat itu mengepal, meremas kertas tipis itu hingga hampir robek, hingga kusut, hingga tidak berbentuk lagi.
"Siapa yang kirim?" tanyanya. Suaranya dingin, seperti es, seperti air sungai di pagi hari.
Kirana menggeleng. Matanya basah. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Aku tidak tahu, Danang. Tidak ada nama. Tidak ada alamat. Tidak ada identitas. Hanya tulisan kapital. Hanya ancaman. Hanya..."
"Ancaman? Ini bukan ancaman, Kirana. Ini peringatan. Seseorang tidak ingin kita bersama. Seseorang tidak merestui hubungan kita. Seseorang..."
"Siapa, Danang? Siapa yang tidak ingin kita bersama? Ibu? Apakah ibu yang menulis ini? Apakah ibu yang mengirim surat ini?"
Danang terdiam.
Ia memikirkan kemungkinan itu.
Ibu Kirana.
Nyonya Dewi Ratnasari.
Perempuan dengan mata dingin, dengan suara tegas, dengan sikap angkuh. Perempuan yang jelas-jelas tidak menyukainya. Perempuan yang jelas-jelas tidak merestui hubungan mereka. Perempuan yang jelas-jelas akan melakukan apa pun untuk memisahkan mereka.
"Mungkin," kata Danang akhirnya. "Mungkin ibumu. Tapi kita tidak bisa menuduh tanpa bukti. Kita harus mencari tahu dulu. Kita harus..."
"Bagaimana kita mencari tahu, Danang? Tidak ada petunjuk. Tidak ada sidik jari. Tidak ada alamat. Hanya kertas dan amplop. Hanya itu."
Danang menatap surat itu lagi.
Ia membaca berulang-ulang.
Mencoba mengenali tulisan itu.
Mencoba mengingat apakah ia pernah melihat tulisan seperti itu sebelumnya.
Tapi tidak ada.
Tidak ada yang familiar.
Tidak ada yang pernah ia lihat.
"JANGAN ULANGI KESALAHAN MASA LALU."
Kata-kata itu.
"Kesalahan masa lalu."
Apa maksudnya?
Kesalahan apa?
Masa lalu siapa?
Apakah ini tentang ibunya? Tentang kehamilan di luar nikah? Tentang ayah kandung Danang yang pergi? Tentang aib yang tidak boleh terulang?
Atau tentang hal lain?
Tentang sesuatu yang tidak ia ketahui?
Tentang sesuatu yang disembunyikan orang lain?
"Kirana," panggil Danang.
"Ya?"
"Kau percaya padaku?"
Kirana menatap Danang. Matanya yang basah, yang merah, yang penuh ketakutan, menatap lurus ke mata Danang yang gelap, yang dalam, yang seperti lubang sumur tua.
"Aku percaya padamu, Danang. Aku selalu percaya padamu. Sejak kita kecil. Sejak pertama kita bertemu. Sejak kau melempar batu ke sungai. Sejak kau menggambar bunga kuning di buku gambarmu. Aku percaya padamu."
"Kalau begitu, jangan takut. Kita hadapi ini bersama. Siapa pun yang mengirim surat ini, apa pun tujuannya, kita tidak akan biarkan dia menghancurkan kita. Kita akan buktikan bahwa cinta kita lebih kuat dari kebencian. Kita akan buktikan bahwa kita pantas bersama. Kita akan buktikan bahwa..."
Kirana memeluk Danang.
Ia memeluknya erat-erat.
Seperti tidak ingin melepaskan.
Seperti takut kehilangan.
Seperti takut surat itu adalah awal dari segalanya.
"Danang, aku takut," bisiknya di telinga Danang. "Aku takut kehilanganmu lagi. Aku takut surat ini adalah awal dari... dari sesuatu yang buruk. Aku takut..."
"Aku tidak akan pergi, Kirana. Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku janji. Aku akan selalu di sini. Untukmu. Untuk kita."
Danang menggenggam tangan Kirana.
Menggenggamnya erat-erat.
Seperti berjanji.
Seperti bersumpah.
Seperti berdoa.
"Kita akan melewati ini bersama, Kirana. Aku, kau, dan cinta kita. Tidak ada yang bisa memisahkan kita. Tidak ada surat. Tidak ada ancaman. Tidak ada ibu. Tidak ada siapa pun."
Kirana mengangguk.
Ia masih menangis.
Tapi senyum mulai muncul di bibirnya.
Senyum yang lemah.
Senyum yang tidak secerah biasanya.
Tapi senyum.
Senyum yang mengatakan bahwa ia percaya.
Senyum yang mengatakan bahwa ia berharap.
Senyum yang mengatakan bahwa ia tidak sendirian.
Di kejauhan, di balik kegelapan malam, di balik pohon-pohon yang gelap, di balik sungai yang mengalir, seseorang berdiri.
Arman.
Ia datang untuk mencari Danang, seperti biasa.
Ia ingin mengajak Danang makan malam di warung langganan mereka.
Tapi ketika ia sampai di tepi sungai, ia melihat mereka.
Danang dan Kirana.
Berpelukan.
Di bawah kegelapan malam.
Di tepi sungai yang keruh.
Ia berhenti.
Ia tidak bergerak.
Ia tidak bersuara.
Ia hanya berdiri.
Memandang.
Dari kejauhan.
Dari balik kegelapan yang semakin pekat.
Matanya tidak berkedip.
Wajahnya tidak berekspresi.
Tangannya yang memegang payung, gemetar.
Di dalam sakunya, ada amplop coklat.
Amplop yang sama.
Amplop yang berisi surat tanpa nama.
Amplop yang ia letakkan di bawah pintu rumah Kirana pagi ini.
Ia tersenyum.
Senyum yang dingin.
Senyum yang penuh dengan rencana.
Senyum yang mengatakan bahwa ini baru awal.
Senyum yang mengatakan bahwa ia akan melakukan lebih banyak lagi.
Senyum yang mengatakan bahwa ia tidak akan berhenti sampai Kirana menjadi miliknya.
"Selamat malam, Danang. Selamat malam, Kirana," bisiknya. "Semoga kalian bahagia. Karena kebahagiaan kalian tidak akan lama lagi. Aku akan pastikan itu."
Ia berbalik.
Berjalan menjauh.
Menghilang di balik kegelapan.
Meninggalkan Danang dan Kirana yang berpelukan di tepi sungai.
Meninggalkan racun yang ia tanam.
Racun yang akan tumbuh.
Racun yang akan membunuh.
Racun yang akan menghancurkan segalanya.
Bab 29
Hujan yang Membuka Perasaan
Malam itu, hujan turun deras.
Bukan hujan biasa. Bukan hujan gerimis yang pelan dan sayu seperti biasanya. Bukan hujan sore yang mengguyur sebentar lalu reda. Ini hujan yang turun dengan kemarahan, dengan amarah, dengan keputusasaan. Seperti langit sedang melampiaskan semua yang selama ini ia pendam. Seperti Tuhan sedang menangis dan tidak peduli siapa yang basah.
Air jatuh dari langit dalam jumlah yang luar biasa, butir-butirnya besar dan keras, menghantam atap-atap seng dan asbes dengan suara seperti ribuan genderang yang ditabuh bersamaan. Angin bertiup kencang, menderu di antara celah-celah dinding, membuat daun-daun pohon bergoyang liar, membuat ranting-ranting patah dan jatuh ke tanah. Sesekali kilat menyambar di kejauhan, diikuti gemuruh yang mengguncang tanah, yang membuat jendela-jendela bergetar, yang membuat orang-orang yang masih terjaga melompat kaget.
Hujan yang membuat orang enggan keluar rumah. Hujan yang membuat orang lebih memilih berdiam diri di dalam, berselimut tebal, menikmati secangkir teh hangat sambil mendengar suara air yang jatuh dari atap. Hujan yang membuat orang malas melakukan apa pun selain tidur atau bermalas-malasan.
Tapi Kirana tidak bisa berdiam diri.
Ia terjebak di percetakan.
Ia datang sore tadi untuk mengantar pesanan buku yang sudah selesai dicetak. Bu Lastri menyuruhnya mengambil buku-buku pelajaran sekolah yang dipesan oleh yayasan pendidikan di kecamatan sebelah. "Ambil saja, Kirana. Biar tidak usah diantar. Lumayan, kau bisa ketemu Danang," kata Bu Lastri sambil tersenyum, matanya berbinar-binar, seperti tahu sesuatu yang tidak diketahui Kirana.
Kirana tersenyum malu. "Bu Lastri, jangan begitu. Aku ke sana karena pekerjaan, bukan karena..."
"Iya, iya. Karena pekerjaan. Tentu saja. Aku percaya."
Kirana menghela napas. Bu Lastri memang suka menggoda. Sejak tahu bahwa Kirana dekat dengan Danang, ia tidak pernah berhenti menggoda. "Kapan kau mau nikah, Kirana?" "Ajak Danang ke sini, Bi. Aku mau kenalan." "Danang itu anak baik, Kirana. Jangan lepaskan."
Tapi ketika ia hendak pulang, hujan sudah terlalu deras untuk dilalui. Jalanan di depan percetakan sudah berubah menjadi sungai kecil yang mengalir deras, air setinggi mata kaki, membawa lumpur dan sampah dan daun-daun kering. Becak tidak mau jalan. Andong tidak mau lewat. Bahkan sepeda motor pun mogok karena air masuk ke knalpot.
"Hujan deras sekali, Mbak," kata Pak Suryanto sambil memandang ke luar jendela, ke arah hujan yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan reda. Wajahnya yang tua dan penuh kerutan itu terlihat khawatir. "Sebaiknya Mbak tunggu dulu. Nanti kalau hujan reda, Mbak bisa pulang. Atau kalau tidak reda-reda, Mbak bisa tidur di sini. Di ruang belakang ada kasur. Tidak bagus, tapi cukup untuk tidur."
"Terima kasih, Pak. Tapi aku tidak enak. Aku sudah merepotkan."
"Tidak repot, Mbak. Kamar belakang memang sering dipakai Danang kalau dia tidak pulang ke kos. Dia sudah biasa. Mbak juga pasti bisa."
Kirana tersenyum. "Baik, Pak. Kalau begitu aku tunggu dulu."
Pak Suryanto mengangguk. Ia berjalan ke ruang belakang, mengambil selimut tipis dan bantal kempes, lalu memberikannya pada Kirana. "Ini, Mbak. Kalau dingin, pakai ini. Kopi di termos masih hangat. Ambil saja. Jangan sungkan."
"Terima kasih, Pak Suryanto. Bapak baik sekali."
"Ah, biasa. Mbak kan calon menantu Danang."
Kirana tertawa. "Belum, Pak. Masih jauh."
"Ya sudah, nanti. Yang penting Mbak nyaman."
Pak Suryanto masuk ke ruang belakang, menutup pintu, meninggalkan Kirana sendirian di ruang percetakan yang gelap dan sunyi.
Danang sedang menyusun huruf-huruf timah di meja kerjanya, di sudut ruangan yang paling dekat dengan jendela, tempat cahaya lampu minyak masih cukup terang untuk melihat. Tangannya yang besar dan kasar bergerak lincah, mengambil huruf-huruf kecil dari kotak kayu, menyusunnya dalam baris-baris, membentuk kata-kata, membentuk kalimat-kalimat, membentuk halaman-halaman yang akan dicetak besok pagi.
Keningnya berkeringat. Tangannya hitam oleh tinta dan debu. Bajunya basah oleh keringat. Matanya sayu, lelah, karena sudah bekerja sejak pagi tanpa istirahat yang cukup.
"Danang," panggil Kirana pelan.
Danang menoleh. Matanya yang sayu tiba-tiba berbinar ketika melihat Kirana. "Kirana? Kau masih di sini? Aku kira kau sudah pulang. Hujan sudah reda sedikit."
"Tidak. Masih deras. Aku tidak bisa pulang. Jalanan banjir. Becak tidak mau jalan. Andong tidak mau lewat. Aku... aku mungkin tidur di sini. Pak Suryanto sudah mengizinkan."
Danang tersenyum. "Kau bisa tidur di ruang belakang. Ada kasur. Tidak nyaman, tapi cukup untuk tidur. Aku sering tidur di sana kalau tidak pulang ke kos."
"Aku tidak mau tidur sendiri, Danang. Aku takut."
Danang mengernyit. "Takut apa? Di sini aman. Pak Suryanto di ruang belakang. Aku di sini. Tidak ada yang jahat."
"Bukan takut pencuri, Danang. Aku takut... aku takut gelap. Aku takut sendirian. Aku takut..."
Kirana tidak melanjutkan.
Ia hanya menunduk.
Memandang lantai semen yang kasar.
Memandang bayangannya sendiri yang bergoyang-goyang karena cahaya lampu minyak yang berkedip-kedip.
Danang berdiri.
Ia berjalan mendekati Kirana.
Duduk di sampingnya.
Di lantai yang dingin.
Di ruang percetakan yang gelap.
Di tengah hujan yang masih deras.
"Kirana," panggilnya pelan.
Kirana mengangkat kepalanya.
Matanya bertemu dengan mata Danang.
Mata yang gelap.
Mata yang dalam.
Mata yang seperti lubang sumur tua.
Tapi ada kehangatan di sana.
Ada kelembutan.
Ada cinta.
"Kau tidak sendirian, Kirana. Aku di sini. Aku akan menemanimu. Sampai hujan reda. Sampai kau bisa pulang. Sampai kau tidak takut lagi."
Kirana tersenyum.
Senyum yang lemah.
Senyum yang tidak secerah biasanya.
Tapi senyum.
"Aku mau ke ruang belakang, Danang. Tapi temani aku. Aku tidak mau sendirian."
"Baik. Aku temani kau."
Mereka berjalan ke ruang belakang.
Ruang itu kecil, sangat kecil, hanya cukup untuk satu kasur tipis yang sudah kempes di beberapa tempat, satu meja kayu kecil yang kakinya tidak rata, dan satu lemari kayu tua yang berisi peralatan cetak yang sudah tidak terpakai. Dindingnya bata merah tanpa cat, lantainya semen kasar dan dingin, langit-langitnya tinggi dengan rangka kayu yang sudah lapuk.
Kirana duduk di kasur.
Danang duduk di lantai, bersandar di dinding, di samping kasur.
Mereka berdua terdiam.
Hanya suara hujan yang terdengar.
Hujan yang masih deras.
Hujan yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan reda.
Suara air jatuh dari atap seng, membentuk genangan di halaman.
Suara angin yang menderu, menggerakkan daun-daun pohon.
Suara sesekali kilat yang menyambar, diikuti gemuruh yang mengguncang tanah.
"Danang," panggil Kirana pelan.
"Ya?"
"Apa kau masih ingat waktu kita berteduh di pondok sawah? Waktu hujan deras seperti ini? Waktu kita masih kecil? Waktu kita berlarian basah-basahan? Waktu kau memegang tanganku agar aku tidak jatuh?"
Danang tersenyum. "Aku ingat, Kirana. Aku ingat semua. Aku ingat bagaimana kau tertawa ketika kakimu terpeleset di lumpur. Aku ingat bagaimana kau memarahiku karena perahumu tersangkut di ranting. Aku ingat bagaimana kau menggenggam tanganku dan berkata, 'Kalau semua pergi, aku tetap di sini.'"
Kirana menangis.
Ia menangis bukan karena sedih.
Ia menangis karena bahagia.
Karena bahagia bahwa Danang masih ingat.
Karena bahagia bahwa Danang masih peduli.
Karena bahagia bahwa mereka masih bersama.
Meskipun tidak di desa.
Meskipun tidak di pondok sawah.
Meskipun tidak di bawah pohon waru.
Tapi bersama.
Di ruang belakang percetakan yang sempit.
Di tengah hujan yang deras.
Di tengah malam yang gelap.
"Danang, aku takut," bisik Kirana.
"Takut apa?"
"Aku takut kita tidak akan bersama selamanya. Aku takut surat itu adalah pertanda. Aku takut ada yang akan memisahkan kita. Aku takut..."
"Tidak ada yang bisa memisahkan kita, Kirana. Aku akan melawan siapa pun yang mencoba. Aku akan berjuang untuk kita. Aku tidak akan menyerah."
"Tapi ibuku..."
"Aku akan meyakinkan ibumu. Aku akan membuktikan bahwa aku pantas untukmu. Aku akan bekerja keras. Aku akan sekolah. Aku akan menjadi seseorang. Aku akan..."
"Danang..."
"Ya?"
"Aku mencintaimu."
Danang terdiam.
Jantungnya berdebar kencang.
Wajahnya terasa panas.
Tangannya gemetar.
"Aku juga mencintaimu, Kirana. Lebih dari apa pun di dunia ini."
Kirana meraih tangan Danang.
Tangannya yang lembut dan lentik, menggenggam tangan Danang yang kasar dan keras.
"Danang, aku kedinginan. Bisa tidak... bisa tidak kau duduk di sini? Di sampingku? Di kasur? Aku butuh kehangatan."
Danang ragu.
Ia tidak mau mengambil risiko.
Ia tidak mau melakukan hal-hal yang tidak seharusnya.
Ia tidak mau merusak harga diri Kirana.
Tapi Kirana membutuhkannya.
Kirana kedinginan.
Kirana takut.
Kirana ingin ia di sampingnya.
"Baik," kata Danang akhirnya.
Ia berdiri dari lantai.
Duduk di kasur.
Di samping Kirana.
Jarak mereka hanya beberapa sentimeter.
Kirana bisa merasakan hangatnya tubuh Danang.
Danang bisa mencium wangi rambut Kirana, wangi sabun kelapa yang murah tetapi harum, yang selalu membuatnya tenang.
"Danang," bisik Kirana.
"Ya?"
"Aku... aku ingin kau memelukku."
Danang terdiam.
Jantungnya berdebar lebih kencang.
Tangannya gemetar.
"Kirana, aku..."
"Tolong, Danang. Aku kedinginan. Aku takut. Aku butuh kau."
Danang menghela napas.
Ia tidak bisa menolak.
Ia tidak mau menolak.
Ia melingkarkan tangannya di pinggang Kirana.
Memeluknya.
Perlahan.
Lembut.
Hangat.
Kirana bersandar di dada Danang.
Ia memejamkan mata.
Ia merasakan detak jantung Danang yang berdebar kencang.
Ia merasakan hangatnya tubuh Danang yang mengusir dingin.
Ia merasakan aman.
Ia merasakan nyaman.
Ia merasakan pulang.
"Danang," bisiknya.
"Hmm?"
"Aku ingin kita bersama selamanya."
"Kita akan bersama selamanya, Kirana. Aku janji."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berpelukan di kasur tipis yang kempes, di ruang belakang percetakan yang sempit, di tengah hujan yang masih deras, di tengah malam yang gelap.
Mereka tidak melakukan hal-hal yang tidak seharusnya.
Mereka hanya berpelukan.
Hanya saling menghangatkan.
Hanya saling menguatkan.
Tapi bagi mereka, itu sudah cukup.
Itu sudah lebih dari cukup.
Karena cinta tidak selalu tentang fisik.
Cinta tidak selalu tentang nafsu.
Cinta tidak selalu tentang memiliki.
Cinta adalah tentang kehadiran.
Cinta adalah tentang kehangatan.
Cinta adalah tentang rasa aman.
Dan malam itu, di ruang belakang percetakan yang sempit, di tengah hujan yang deras, Danang dan Kirana saling memiliki.
Bukan secara fisik.
Tapi secara hati.
Secara jiwa.
Secara cinta.
Bab 30
Lelaki yang Mendengar dari Balik Pintu
Hujan masih turun deras ketika Arman sampai di percetakan.
Ia datang untuk menjemput Danang, seperti biasa. Setiap malam, setelah Danang selesai bekerja, Arman akan datang dengan sepeda motornya yang sudah tua dan berisik, membawa helm cadangan untuk Danang, lalu mereka akan pergi ke warung langganan di ujung jalan, makan bakso atau sate atau nasi goreng, berbicara tentang banyak hal, tertawa tentang hal-hal lucu, mengeluh tentang pekerjaan yang melelahkan.
Itu sudah menjadi rutinitas mereka selama dua tahun terakhir. Sejak Danang pertama kali datang ke kota ini. Sejak Arman menjemputnya di stasiun. Sejak Arman mencarikan kamar kos untuknya. Sejak Arman menjadi sahabatnya, keluarganya, rumahnya.
Tapi malam ini berbeda.
Arman tidak datang dengan semangat seperti biasanya. Ia tidak bersiul-siul kecil di jalan. Ia tidak tertawa sendiri memikirkan lelucon yang akan ia ceritakan pada Danang. Ia datang dengan wajah muram, dengan pikiran kacau, dengan hati yang gelisah.
Ia sudah tahu bahwa Danang tidak pulang ke kamar kos. Ia sudah mampir ke sana, mengetuk pintu, memanggil nama Danang, tetapi tidak ada jawaban. Bu Tuminem, pemilik kos, bilang Danang belum pulang. "Mungkin masih di percetakan, Nak. Hari ini ada pesanan banyak. Mungkin lembur."
Arman mengangguk. Ia berterima kasih pada Bu Tuminem, lalu berbalik, menuju percetakan.
Sepanjang jalan, pikirannya melayang pada Kirana.
Pada senyumnya.
Pada tawanya.
Pada matanya yang coklat kehijauan.
Pada lesung pipit di pipi kirinya.
Pada rambut panjang hitamnya yang tergerai di punggung.
"Kenapa kau memilih Danang, Kirana?" bisiknya di dalam hati. "Kenapa bukan aku? Aku lebih baik dari dia. Aku lebih kaya. Aku lebih pintar. Aku lebih tampan. Aku lebih... aku lebih pantas untukmu."
Ia menghela napas.
Ia menggelengkan kepala.
Ia berusaha mengusir pikiran-pikiran itu.
Tapi tidak bisa.
Pikiran itu terus muncul.
Terus mengganggu.
Terus menyiksa.
Ketika Arman sampai di percetakan, hujan masih deras. Ia memarkir sepeda motornya di depan pintu, di bawah atap seng yang bocor, sehingga air masih menetes ke jas hujannya. Ia melepas helm, mengibaskan rambutnya yang basah, lalu berjalan ke pintu.
Pintu percetakan sudah terkunci dari dalam. Arman mengernyit. Biasanya, jika Danang masih bekerja, pintu tidak pernah dikunci. Pak Suryanto percaya pada Danang. Pak Suryanto tahu Danang anak baik. Pak Suryanto tidak takut Danang mencuri atau merusak barang-barang di percetakan.
"Danang!" teriak Arman sambil mengetuk pintu keras-keras. "Danang, buka pintu! Aku Arman!"
Tidak ada jawaban.
"Danang!" teriaknya lagi, lebih keras.
Masih tidak ada jawaban.
Arman mengelilingi bangunan, mencari jendela yang tidak terkunci, mencari celah untuk masuk. Di sisi belakang bangunan, ia menemukan sebuah jendela kecil yang tidak tertutup rapat. Jendela itu menghadap ke ruang belakang, ruang tempat Pak Suryanto menyimpan barang-barang lama, ruang tempat Danang kadang tidur jika tidak pulang ke kos.
Arman mendekati jendela itu.
Ia mendongak.
Ia melihat ke dalam.
Dan ia membeku.
Di dalam ruang belakang yang sempit, dengan dinding bata merah tanpa cat, dengan lantai semen yang kasar, dengan satu kasur tipis yang sudah kempes di beberapa tempat, Danang dan Kirana sedang berpelukan.
Bukan pelukan biasa. Pelukan yang erat. Pelukan yang hangat. Pelukan yang penuh cinta. Danang duduk di kasur, bersandar di dinding, tangannya melingkar di pinggang Kirana. Kirana duduk di pangkuan Danang, kepalanya bersandar di dada Danang, matanya terpejam, bibirnya tersenyum.
Mereka tidak melakukan hal-hal yang tidak seharusnya. Mereka hanya berpelukan. Hanya saling menghangatkan. Hanya saling menguatkan. Tapi bagi Arman, pemandangan itu seperti pisau yang menusuk jantungnya, seperti belati yang menyayat hatinya, seperti racun yang membakar darahnya.
"Dasar..." bisiknya, suaranya penuh amarah. "Dasar... dasar..."
Ia tidak bisa melanjutkan.
Ia terlalu marah.
Terlalu kecewa.
Terlalu sakit.
Ia mengepalkan tangannya. Kuku-kukunya menusuk telapak tangannya, meninggalkan bekas setengah bulan yang akan ia lihat besok pagi. Giginya menggigit bibir bawahnya, menggigitnya keras-keras sampai ia merasakan rasa logam di lidahnya, rasa darah.
"Danang," bisiknya, "kau sahabatku. Tapi kau... kau mengambil Kirana dariku. Padahal aku... aku juga mencintainya. Sejak pertama aku melihatnya. Sejak pertama dia tersenyum padaku. Sejak pertama..."
Ia tidak melanjutkan.
Ia hanya berdiri di depan jendela, di tengah hujan yang masih deras, di tengah malam yang gelap, memandang Danang dan Kirana yang berpelukan, memandang kebahagiaan yang tidak ia miliki, memandang cinta yang tidak ia rasakan.
Air matanya jatuh.
Bercampur dengan air hujan.
Tidak ada yang membedakan.
Tidak ada yang tahu.
Ia menangis di tengah hujan.
Menangis karena kecewa.
Menangis karena sakit.
Menangis karena iri.
Menangis karena cinta.
"Kau akan menyesal, Danang," bisiknya. "Kau akan menyesal telah mengambil Kirana dariku. Aku akan membuatmu menyesal. Aku akan memisahkan kalian. Aku akan menghancurkan kebahagiaan kalian. Aku akan..."
Ia berbalik.
Berjalan menjauh.
Meninggalkan jendela itu.
Meninggalkan percetakan itu.
Meninggalkan Danang dan Kirana yang berpelukan.
Sepeda motornya menyala dengan suara berisik, mengganggu ketenangan malam, mengganggu suara hujan yang turun. Ia melaju kencang, melewati genangan air yang memercik ke mana-mana, melewati tikungan-tikungan tajam tanpa mengurangi kecepatan, melewati lampu merah tanpa berhenti.
Ia tidak peduli.
Ia tidak takut mati.
Ia sudah mati.
Matinya di depan jendela itu.
Matinya ketika melihat Danang dan Kirana berpelukan.
Matinya ketika sadar bahwa ia tidak akan pernah memiliki Kirana.
Di dalam percetakan, Danang dan Kirana tidak tahu apa-apa.
Mereka masih berpelukan di kasur tipis yang kempes, di ruang belakang yang sempit, di tengah hujan yang masih deras. Mereka masih merasakan hangatnya satu sama lain. Mereka masih merasakan cinta.
"Danang," bisik Kirana.
"Ya?"
"Apa kita akan begini selamanya? Berpelukan. Saling menghangatkan. Saling menguatkan."
"Kita akan begini selamanya, Kirana. Tidak harus berpelukan. Tapi saling memiliki. Saling mencintai. Saling menjaga. Itu yang terpenting."
Kirana tersenyum.
Ia mengangkat kepalanya dari dada Danang.
Ia menatap Danang.
Matanya yang coklat kehijauan berbinar-binar di bawah cahaya lampu minyak yang redup.
"Danang, aku ingin kau tahu sesuatu."
"Apa?"
"Aku tidak pernah mencintai siapa pun selain kau. Sejak kecil. Sejak pertama kita bertemu di tepi sungai. Sejak kau melempar batu ke air. Sejak kau menggambar bunga kuning di buku gambarmu. Aku hanya mencintai kau. Tidak ada yang lain."
Danang tersenyum. "Aku juga, Kirana. Aku juga hanya mencintai kau. Tidak ada yang lain. Tidak akan pernah ada yang lain."
Mereka berdua terdiam.
Hanya suara hujan yang terdengar.
Hujan yang mulai reda.
Hujan yang mulai berhenti.
"Danang, aku ingin kau janji sesuatu."
"Apa?"
"Janji bahwa kau tidak akan pernah meninggalkanku. Janji bahwa kau akan selalu di sisiku. Janji bahwa kau akan selalu mencintaiku. Sampai kapan pun. Sampai mati."
Danang mengangkat jari kelingkingnya.
Jari yang kurus dan kasar.
Jari yang sama yang dulu ia angkat di tepi sungai, ketika ia berjanji pada Kirana bahwa ia akan menunggunya.
"Janji, Kirana. Aku janji. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku akan selalu di sisimu. Aku akan selalu mencintaimu. Sampai kapan pun. Sampai mati."
Kirana mengangkat jari kelingkingnya.
Jari yang lentik dan putih.
Jari yang sama yang dulu ia angkat di tepi sungai, ketika ia berjanji pada Danang bahwa ia akan kembali.
"Janji, Danang. Aku janji. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku akan selalu di sisimu. Aku akan selalu mencintaimu. Sampai kapan pun. Sampai mati."
Jari kelingking mereka bertaut.
Seperti dulu.
Di tepi sungai.
Di bawah pohon waru.
Di sore yang hujan.
"Janji," bisik mereka bersamaan.
Dan di luar, hujan berhenti.
Langit mulai cerah.
Bintang-bintang mulai muncul satu per satu.
Bulan mulai bersinar terang.
Seperti alam ikut bahagia.
Seperti alam ikut merestui.
Seperti alam ikut bersaksi bahwa dua insan yang saling mencintai telah berjanji untuk setia selamanya.
Tapi mereka tidak tahu bahwa di balik kegelapan malam, di balik pohon-pohon yang basah, di balik genangan air yang memantulkan cahaya bulan, seseorang masih berdiri.
Arman.
Ia tidak pergi.
Ia hanya berhenti di tikungan, mematikan mesin sepeda motornya, lalu kembali ke percetakan dengan berjalan kaki.
Ia ingin memastikan.
Ia ingin melihat lagi.
Ia ingin menyakiti hatinya lagi.
Dan ketika ia sampai di jendela itu lagi, ketika ia melihat Danang dan Kirana berpelukan lagi, ketika ia melihat jari kelingking mereka bertaut, ia tersenyum.
Senyum yang dingin.
Senyum yang penuh dengan rencana.
Senyum yang seperti ular yang siap menerkam.
"Janji?" bisiknya. "Janji yang indah. Tapi janji tidak akan bertahan lama. Aku akan pastikan itu. Aku akan hancurkan janji kalian. Aku akan hancurkan cinta kalian. Aku akan hancurkan kalian."
Ia berbalik.
Berjalan menjauh.
Menghilang di balik kegelapan.
Meninggalkan Danang dan Kirana yang berpelukan.
Meninggalkan kebahagiaan yang akan segera berakhir.
Meninggalkan cinta yang akan segera hancur.
Bab 31
Lelaki yang Mulai Mendekat Diam-Diam
Sejak malam di percetakan, sejak ia melihat Danang dan Kirana berpelukan di kasur tipis yang kempes, sejak ia menyaksikan jari kelingking mereka bertaut di bawah cahaya lampu minyak yang redup, sejak ia mendengar bisikan "Janji" yang keluar dari bibir mereka berdua, Arman berubah.
Tidak drastis.
Tidak mencolok.
Tidak seperti orang yang tiba-tiba menjadi jahat dalam semalam.
Justru terlalu halus untuk langsung disadari.
Terlalu pintar untuk langsung ditebak.
Terlalu sabar untuk langsung diketahui.
Ia tetap datang ke kamar kos Danang setiap malam, seperti biasa. Masih membawa sate kambing atau nasi goreng atau bakso, masih duduk di ranjang sempit yang kasurnya sudah semakin kempes, masih berbicara tentang banyak hal, masih tertawa tentang hal-hal lucu, masih mengeluh tentang pekerjaan yang melelahkan.
Tapi ada sesuatu dalam caranya memandang Danang yang berbeda. Bukan lagi tatapan sahabat yang tulus, yang penuh kasih, yang tanpa pamrih. Tapi tatapan yang penuh perhitungan, yang penuh rencana, yang seperti sedang mempelajari kelemahan lawan sebelum menyerang.
Danang tidak menyadari.
Danang terlalu sibuk dengan Kirana.
Terlalu bahagia dengan cintanya.
Terlalu buta oleh kebahagiaan.
"Arman, kau tahu? Hari ini Kirana masak untukku. Rendang. Enak banget. Dagingnya empuk. Bumbunya meresap. Pedasnya pas. Aku makan tiga porsi. Kirana sampai kaget. Katanya, 'Kau bisa sakit perut, Danang.' Tapi aku tidak sakit. Aku kuat. Aku sudah biasa makan banyak."
Arman tersenyum. Senyum yang tidak sampai ke matanya. "Bagus, Danang. Kau beruntung punya pacar yang bisa masak. Aku tidak pernah punya pacar. Tidak ada yang mau. Aku jelek. Aku miskin. Aku tidak berpendidikan."
"Kau tidak jelek, Arman. Kau tidak miskin. Kau berpendidikan. Kau lulusan STM. Kau bisa kerja di bengkel. Kau punya masa depan. Kau hanya belum ketemu orang yang tepat. Sabar. Nanti juga ketemu."
"Seperti kau ketemu Kirana?"
Danang tersenyum malu. "Iya. Seperti aku ketemu Kirana."
Arman tertawa. Tawa yang keras, yang riuh, yang seperti tawa orang yang sedang bahagia. Tapi di dalam hatinya, di tempat yang paling gelap, di tempat yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun, ia berkata pada dirinya sendiri:
"Kau tidak pantas untuk Kirana, Danang. Kau tidak pantas untuk bahagia. Kau tidak pantas untuk dicintai. Aku yang pantas. Aku. Bukan kau."
Ia mulai sering datang ke toko buku.
Bukan karena ada keperluan.
Bukan karena ingin membeli buku.
Tapi karena ia tahu Kirana akan ada di sana setiap sore.
Setiap hari, sekitar jam empat sore, ketika toko buku mulai sepi, ketika Bu Lastri pergi sholat Ashar atau ke pasar untuk membeli sayur, Arman akan datang. Ia akan masuk dengan senyum ramah, dengan sapaan hangat, dengan sikap yang tidak mencurigakan.
"Halo, Mbak Kirana. Apa kabar? Sehat?"
Kirana yang sedang merapikan rak buku atau menghitung uang di meja kasir, akan menoleh dan tersenyum. "Halo, Mas Arman. Kabar baik. Mas Arman sendiri? Masih sibuk di bengkel?"
"Sibuk, Mbak. Banyak pelanggan yang antre. Motor mereka mogok karena hujan. Tapi aku sempatkan diri ke sini. Ingin beli buku. Buku tentang mesin. Aku ingin belajar lebih dalam. Biar tidak kalah dengan montir-montir lain."
"Silakan, Mas. Rak buku teknik di pojok sana. Di sebelah rak buku kedokteran. Di samping rak buku pertanian. Buku-bukunya bagus-bagus. Ada yang baru datang minggu lalu. Langsung laris. Habis dalam dua hari. Tapi Bu Lastri sudah pesan lagi. Mungkin minggu depan datang."
"Terima kasih, Mbak."
Arman akan berjalan ke rak buku teknik, tetapi matanya tidak tertuju pada buku. Matanya tertuju pada Kirana. Pada setiap gerakannya. Pada setiap senyumnya. Pada setiap kata yang keluar dari mulutnya.
Ia akan berdiri di depan rak buku teknik, memegang buku, membuka-buka halamannya, tetapi tidak membaca. Pikirannya terlalu sibuk. Hatinya terlalu berdebar. Matanya terlalu terpesona.
Setelah beberapa menit, ia akan kembali ke meja kasir dengan sebuah buku di tangan. Buku yang ia ambil secara acak, tidak peduli judulnya, tidak peduli isinya, yang penting ada buku yang akan ia beli.
"Ini, Mbak. Aku ambil ini."
Kirana akan mengambil buku itu, mencatatnya di buku besar, menghitung harganya, lalu memberitahu Arman.
"Itu lima ribu rupiah, Mas."
"Ini, Mbak. Sepuluh ribu. Kembaliannya simpan saja. Buat infak atau sedekah. Atau buat jajan Mbak Kirana."
Kirana tersenyum. "Terima kasih, Mas Arman. Bapak baik sekali."
"Tidak baik, Mbak. Biasa saja. Aku hanya ingin berbagi. Lagipula, Mbak Kirana sudah banyak membantu aku. Membantu aku menemukan buku-buku yang aku butuhkan. Membantu aku belajar. Membantu aku..."
Ia berhenti.
Ia tidak melanjutkan.
Ia hanya tersenyum.
Senyum yang hangat.
Senyum yang ramah.
Senyum yang tidak mencurigakan.
Tapi di dalam hatinya, ia berkata:
"Suatu hari nanti, Mbak Kirana, kau akan menjadi milikku. Suatu hari nanti, kau akan tersenyum hanya untukku. Suatu hari nanti, kau akan mencintaiku, bukan Danang. Aku akan pastikan itu."
Ia mulai membantu Kirana di toko buku.
Bukan karena disuruh.
Bukan karena diminta.
Tapi karena ia ingin dekat dengan Kirana.
Ia ingin menjadi bagian dari kehidupan Kirana.
Ia ingin membuat Kirana terbiasa dengan kehadirannya.
"Mb, aku bantu angkat kardus ini. Berat. Nanti Mbak Kirana sakit punggung."
"Mas Arman, tidak usah. Aku biasa kok. Setiap hari angkat kardus. Sudah kuat."
"Tidak, Mb. Biar aku saja. Laki-laki yang harusnya angkat barang berat. Perempuan cukup merapikan rak buku. Menjaga kasir. Melayani pelanggan."
Kirana tertawa. "Mas Arman, kuno sekali. Sekarang sudah zaman modern. Perempuan bisa apa saja. Perempuan bisa kerja. Perempuan bisa angkat barang berat. Perempuan bisa..."
"Iya, Mb. Aku tahu. Tapi biarkan aku membantu. Aku ikhlas. Aku senang bisa membantu Mbak Kirana."
Kirana menghela napas. "Baiklah, Mas. Tapi jangan terlalu memaksakan diri. Nanti sakit."
"Siap, Mb. Aku kuat. Aku sudah biasa angkat barang berat di bengkel. Mesin motor, mesin mobil, semua aku angkat sendiri."
Arman akan mengangkat kardus-kardus berat berisi buku-buku baru dari gudang di belakang toko, membawanya ke ruang depan, menatanya di rak-rak yang sudah disediakan. Ia akan melakukannya dengan semangat, dengan senyum, dengan sikap yang tidak kenal lelah.
Ia akan membantu Kirana membersihkan rak-rak buku yang berdebu, mengambil buku-buku yang jatuh, menyusunnya kembali berdasarkan abjad atau genre atau ukuran. Ia akan melakukannya dengan teliti, dengan sabar, dengan penuh perhatian.
Ia akan membantu Kirana melayani pelanggan ketika toko sedang ramai, mengambil buku-buku yang diminta pelanggan, menghitung harga, membungkusnya dengan kertas koran, memberikan kembalian. Ia akan melakukannya dengan ramah, dengan sopan, dengan senyum yang membuat pelanggan merasa dihargai.
"Mas Arman, kau baik sekali," kata Kirana suatu sore, setelah Arman selesai membantu membereskan toko. "Aku tidak tahu bagaimana membalas kebaikanmu."
"Tidak usah dibalas, Mb. Aku ikhlas. Aku senang."
"Tapi aku tidak enak. Kau bekerja keras di bengkel seharian, lalu datang ke sini, membantu aku lagi. Kau pasti lelah."
"Tidak lelah, Mb. Lelah aku hilang ketika melihat Mbak Kirana tersenyum."
Kirana terdiam.
Wajahnya memerah.
Ia tidak tahu harus berkata apa.
Ia hanya menunduk, memandang lantai, memandang ubin-ubin yang mulai retak.
"Mas Arman, jangan bicara seperti itu. Aku... aku punya Danang. Danang pacarku. Aku tidak bisa..."
"Aku tahu, Mb. Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya... aku hanya senang melihat Mbak Kirana bahagia. Aku hanya ingin Mbak Kirana selalu tersenyum. Aku hanya..."
"Mas Arman, tolong..."
"Maaf, Mb. Aku tidak bermaksud membuatmu tidak nyaman. Aku pergi dulu. Sampai jumpa besok."
Arman pergi.
Ia berjalan cepat meninggalkan toko buku, hampir berlari, seperti orang yang ketakutan, seperti orang yang malu, seperti orang yang tidak ingin ditolak.
Tapi di dalam hatinya, ia tersenyum.
Ia tersenyum karena ia tahu bahwa ia sudah mulai masuk ke dalam hati Kirana.
Ia tersenyum karena ia tahu bahwa Kirana mulai merasa tidak enak padanya.
Ia tersenyum karena ia tahu bahwa Kirana mulai membandingkannya dengan Danang.
Danang yang sibuk bekerja di percetakan, yang tidak pernah punya waktu untuk Kirana, yang tidak pernah membantu Kirana di toko buku, yang tidak pernah membawakan hadiah untuk Kirana.
Dan Arman yang selalu ada untuk Kirana, yang selalu membantu Kirana, yang selalu membawakan hadiah untuk Kirana.
"Suatu hari nanti, Kirana, kau akan sadar," bisiknya. "Kau akan sadar bahwa aku lebih baik dari Danang. Kau akan sadar bahwa aku yang pantas untukmu. Kau akan sadar bahwa cintaku lebih tulus dari cintanya."
Danang tidak tahu apa-apa.
Ia terlalu sibuk bekerja.
Terlalu sibuk menyusun huruf-huruf timah di percetakan.
Terlalu sibuk mengangkat kertas-kertas berat dari gudang ke ruang cetak.
Terlalu sibuk membersihkan mesin-mesin tua yang penuh dengan tinta kering dan debu.
Ia tidak tahu bahwa Arman, sahabatnya, orang yang ia percayai, orang yang ia anggap seperti kakak, orang yang selalu ada untuknya, sedang mendekati Kirana diam-diam.
Ia tidak tahu bahwa Arman, sahabatnya, sedang menanam benih-benih keraguan di hati Kirana.
Ia tidak tahu bahwa Arman, sahabatnya, sedang merencanakan sesuatu.
Sesuatu yang akan menghancurkan cintanya.
Sesuatu yang akan menghancurkan persahabatannya.
Sesuatu yang akan menghancurkan hidupnya.
"Danang, kau kenapa melamun?" tanya Pak Suryanto dari belakang.
Danang tersentak. "Eh... tidak, Pak. Aku hanya... aku hanya berpikir."
"Pikir apa? Tentang Kirana?"
Danang tersenyum malu. "Iya, Pak. Tentang Kirana."
Pak Suryanto tertawa. "Wajar, Nak. Kau sedang jatuh cinta. Pikiran selalu melayang ke yang dicintai. Tapi jangan sampai mengganggu pekerjaan. Pesanan harus selesai hari ini. Pelanggan sudah menunggu."
"Baik, Pak. Aku akan fokus."
Danang kembali menyusun huruf-huruf timah.
Tangannya bergerak lincah.
Matanya fokus pada huruf-huruf kecil itu.
Tapi pikirannya masih melayang.
Melayang ke Kirana.
Melayang ke senyumnya.
Melayang ke tawanya.
Melayang ke matanya yang coklat kehijauan.
"Kirana," bisiknya. "Aku mencintaimu. Aku akan selalu mencintaimu. Sampai mati."
Ia tidak tahu bahwa cintanya akan diuji.
Bahwa cintanya akan dihancurkan.
Bahwa cintanya akan direbut oleh orang yang paling ia percayai.
Bab 32
Ibunda yang Menolak Masa Lalu
Malam Minggu itu, Kirana dipanggil ibunya ke ruang tamu.
Ruang tamu yang besar dengan lampu gantung kristal yang berkilauan, yang cahayanya memantul ke mana-mana seperti berlian-berlian kecil yang bertebaran di langit-langit. Sofa beludru merah yang tidak pernah diduduki siapa pun kecuali tamu penting, tamu-tamu yang datang dengan mobil mewah dan kemeja batik dan sepatu kulit mengkilap. Meja kayu jati dengan ukiran halus yang rumit, yang membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk dibuat oleh pengrajin di Jepara, yang harganya mungkin setara dengan pendapatan Danang setahun.
Tirai-tirai tebal dari beludru merah marun menggantung di jendela-jendela besar, menghalangi cahaya dari luar, membuat ruangan terasa seperti ruang sidang pengadilan, seperti ruang rapat dewan direksi, seperti ruang tahta seorang ratu. Vas-vas bunga dari kristal bening diletakkan di sudut-sudut ruangan, berisi bunga-bunga segar yang diganti setiap hari oleh pembantu rumah tangga, bunga mawar merah, bunga krisan putih, bunga lili kuning, yang wanginya memenuhi seluruh ruangan.
Lantai marmer putih mengkilap, seperti cermin raksasa yang memantulkan bayangan siapa pun yang berjalan di atasnya. Kirana bisa melihat bayangannya sendiri ketika ia berjalan, kaki telanjangnya yang kecil dan putih, kebaya biru muda yang ia kenakan, rambut panjangnya yang tergerai di punggung. Ia merasa seperti sedang berjalan di atas air, seperti sedang berjalan di atas kaca, seperti sedang berjalan di atas sesuatu yang indah tetapi dingin dan tidak bersahabat.
Ibunya duduk tegak di sofa, seperti ratu yang sedang menghadap rakyatnya, seperti hakim yang sedang menghakimi terdakwa, seperti guru yang sedang menghukum murid yang nakal. Wajahnya dingin, tanpa senyum, tanpa ekspresi, tanpa perasaan. Matanya tajam, meneliti setiap gerakan Kirana, meneliti setiap ekspresi di wajahnya, meneliti setiap ketukan jantung di dadanya.
"Duduk, Kirana," kata Nyonya Dewi, suaranya tegas, dingin, seperti perintah yang tidak bisa dibantah.
Kirana duduk di seberangnya, di sofa yang sama, tetapi di ujung yang berlawanan, sejauh mungkin dari ibunya. Tangannya gemetar, tetapi ia berusaha menyembunyikannya dengan melipat tangan di pangkuan, dengan menggenggam erat-erat ujung kebayanya.
"Aku dengar kau dekat dengan pemuda percetakan itu, Kirana," kata Nyonya Dewi, matanya menatap lurus ke mata Kirana, tidak berkedip, tidak bergerak.
Kirana menahan napas. Dadanya terasa sesak. "Danang teman lama, Bu. Kami berteman sejak kecil. Dulu di desa. Waktu kita masih tinggal di sana. Waktu ayah masih bertugas di kecamatan. Waktu..."
"Aku tidak butuh cerita masa lalu, Kirana," potong Nyonya Dewi, suaranya semakin dingin, semakin tajam, seperti pisau yang digerinda. "Aku butuh penjelasan. Apa hubunganmu dengan pemuda itu?"
Kirana menunduk. Ia tidak berani menatap mata ibunya. Ia takut. Takut apa yang akan ia lihat di sana. Takut apa yang akan ia rasakan. Takut apa yang akan ia dengar.
"Danang... Danang pacarku, Bu."
Nyonya Dewi terdiam.
Ruangan mendadak sunyi.
Hanya suara jam dinding yang berdetak.
Hanya suara napas Kirana yang mulai memburu.
Hanya suara detak jantungnya yang berdebar kencang.
"Apa katamu?" suara Nyonya Dewi akhirnya keluar, lebih pelan, tetapi lebih berbahaya. Seperti suara ular sebelum menerkam. Seperti suara badai sebelum menghancurkan.
"Danang pacarku, Bu. Kami saling mencintai. Kami sudah berjanji untuk bersama. Kami..."
"Berhenti, Kirana. Jangan lanjutkan."
Nyonya Dewi berdiri.
Ia berjalan ke jendela, membuka tirai tebal, memandang ke luar, ke halaman yang luas, ke pohon-pohon mangga yang rindang, ke rumput yang terawat, ke langit malam yang gelap tanpa bintang.
"Kau tahu siapa dia, Kirana?" suara Nyonya Dewi masih pelan, masih dingin, tetapi ada getaran di sana, getaran yang menunjukkan bahwa ia sedang menahan amarah, sedang menahan emosi, sedang menahan sesuatu yang mungkin akan meledak kapan saja.
"Dia Danang, Bu. Danang Wiratama. Anak dari Ratih dan Sastrowiryo. Teman kecilku. Aku sudah kenal dia sejak..."
"Aku tidak bertanya siapa namanya, Kirana. Aku bertanya apakah kau tahu siapa dia. Apakah kau tahu latar belakangnya. Apakah kau tahu masa lalunya. Apakah kau tahu aib keluarganya."
Kirana terdiam.
Ia tahu.
Ia tahu semua.
Ia tahu bahwa Danang bukan anak kandung Sastrowiryo.
Ia tahu bahwa Ratih hamil di luar nikah.
Ia tahu bahwa ayah kandung Danang adalah penari ketoprak yang pergi tanpa pamit.
Ia tahu bahwa Danang dituduh membakar gudang beras keluarga Surya.
Ia tahu bahwa seluruh desa membisikkan aib keluarga Danang.
Ia tahu semua.
Tapi ia tidak peduli.
Ia tidak pernah peduli.
Yang ia peduli hanyalah Danang.
Danang yang baik.
Danang yang jujur.
Danang yang pekerja keras.
Danang yang tidak pernah menyerah.
Danang yang selalu tersenyum meskipun hidupnya berat.
Danang yang ia cintai.
"Kau diam, Kirana. Berarti kau tahu," kata Nyonya Dewi, berbalik, menatap Kirana dengan mata yang penuh kemenangan. "Kau tahu bahwa dia anak haram. Kau tahu bahwa ibunya hamil di luar nikah. Kau tahu bahwa ayah kandungnya kabur. Kau tahu bahwa dia dituduh membakar gudang. Kau tahu semua. Tapi kau tetap memilih dia. Kenapa, Kirana? Kenapa kau membuang-buang masa depanmu untuk anak haram seperti dia?"
Kirana mengangkat kepalanya.
Matanya merah.
Air mata mulai menggenang.
Tapi ia tidak menangis.
Ia tidak akan menangis di depan ibunya.
Ia tidak akan memberi kepuasan pada ibunya untuk melihatnya menangis.
"Karena aku mencintainya, Bu. Karena dia baik. Karena dia jujur. Karena dia pekerja keras. Karena dia tidak pernah menyerah. Karena dia..."
"Karena dia apa, Kirana? Karena dia miskin? Karena dia tidak punya pendidikan? Karena dia tidak punya masa depan? Karena dia hanya pekerja rendahan di percetakan? Karena dia tidak bisa memberikan kehidupan yang layak untukmu?"
Kirana menangis.
Ia tidak bisa menahan lagi.
Air matanya jatuh.
Membasahi pipinya.
Membasahi kebaya biru mudanya.
Membasahi harapannya.
"Bu, tolong..."
"Tolong apa, Kirana? Tolong restui hubungan kau dengan anak haram itu? Tidak. Aku tidak akan pernah merestui. Aku tidak akan pernah mengizinkan. Aku tidak akan pernah membiarkan anakku hancur masa depannya karena cinta yang buta."
"Bu, cinta tidak buta. Cinta itu..."
"Cinta itu buta, Kirana. Cinta membuat orang tidak melihat kenyataan. Cinta membuat orang lupa pada akal sehat. Cinta membuat orang melakukan hal-hal bodoh. Seperti yang ibu lakukan dulu. Seperti yang ibu alami dulu. Ibu tidak ingin kau mengulangi kesalahan ibu."
Kirana terkejut.
Ia menatap ibunya.
Matanya membesar.
"Bu... ibu juga... ibu juga pernah..."
Nyonya Dewi menunduk.
Untuk pertama kalinya, wajahnya yang dingin itu retak.
Ada kesedihan di sana.
Ada penyesalan.
Ada luka lama yang belum sembuh.
"Ibu juga pernah mencintai lelaki miskin, Kirana," bisiknya, suaranya lirih, hampir tidak terdengar. "Ibu juga pernah berjuang untuk cinta. Ibu juga pernah melawan orang tua. Ibu juga pernah percaya bahwa cinta bisa mengatasi segalanya."
"Lalu, Bu? Kenapa ibu..."
"Karena cinta tidak cukup, Kirana. Cinta tidak bisa mengatasi segalanya. Cinta tidak bisa membayar utang. Cinta tidak bisa memberi makan anak. Cinta tidak bisa membeli rumah. Cinta tidak bisa menyekolahkan anak. Cinta hanya... cinta hanya perasaan. Dan perasaan bisa berubah. Perasaan bisa hilang. Perasaan bisa... perasaan bisa..."
Nyonya Dewi tidak melanjutkan.
Ia menangis.
Untuk pertama kalinya, Kirana melihat ibunya menangis.
Ibunya yang selalu tegas.
Ibunya yang selalu dingin.
Ibunya yang selalu angkuh.
Ibunya yang selalu tampak sempurna.
Menangis.
"Bu..." Kirana berdiri, berjalan mendekati ibunya, meraih tangannya.
Nyonya Dewi tidak menolak.
Ia membiarkan Kirana memegang tangannya.
Tangannya yang halus, yang terawat, yang tidak pernah kasar karena bekerja, terasa dingin, terasa gemetar.
"Ibu tidak ingin kau mengalami apa yang ibu alami, Kirana," bisik Nyonya Dewi, suaranya terputus-putus karena tangis. "Ibu tidak ingin kau menderita. Ibu tidak ingin kau kecewa. Ibu tidak ingin kau... ibu tidak ingin kau menyesal."
"Tapi Bu, Danang tidak seperti itu. Danang baik. Danang jujur. Danang pekerja keras. Danang..."
"Kata ibu juga dulu, Kirana. Kakek dan nenek juga melarang. Tapi ibu tidak mendengarkan. Ibu memilih lelaki itu. Ibu kabur dari rumah. Ibu tinggal bersamanya. Ibu... ibu hamil di luar nikah."
Kirana terkejut.
Ia melepaskan tangan ibunya.
Ia mundur selangkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Matanya membesar.
Mulutnya terbuka.
Tidak ada suara yang keluar.
"Ibu... ibu hamil di luar nikah? Dengan siapa, Bu?"
Nyonya Dewi menunduk.
Ia tidak bisa menjawab.
Ia hanya menangis.
Menangis di hadapan anaknya.
Menangis karena rahasia yang selama ini ia pendam, yang selama ini ia sembunyikan, yang selama ini ia kubur dalam-dalam, akhirnya terungkap.
"Dengan siapa, Bu?" desak Kirana, suaranya keras, tegas, tidak seperti biasanya.
"Tidak usah kau tahu, Kirana. Yang penting, ibu tidak ingin kau mengulangi kesalahan ibu. Ibu tidak ingin kau hamil di luar nikah. Ibu tidak ingin kau menjadi aib keluarga. Ibu tidak ingin..."
"Jadi semua ini tentang aib, Bu? Bukan tentang kebahagiaanku? Bukan tentang cintaku? Bukan tentang masa depanku? Hanya tentang aib? Hanya tentang apa kata orang? Hanya tentang status? Hanya tentang..."
"Kirana, jangan..."
"Aku tidak peduli dengan aib, Bu! Aku tidak peduli dengan apa kata orang! Aku tidak peduli dengan status! Aku hanya peduli dengan Danang! Aku hanya peduli dengan cintaku! Aku hanya peduli dengan kebahagiaanku!"
Kirana berlari keluar ruangan.
Meninggalkan ibunya yang menangis.
Meninggalkan rumah megah yang dingin.
Meninggalkan semua yang selama ini mengikatnya.
Ia berlari ke kamarnya, membanting pintu, menangis di atas ranjang.
Menangis untuk Danang.
Menangis untuk ibunya.
Menangis untuk dirinya sendiri.
Menangis untuk cinta yang terhalang.
Menangis untuk masa depan yang tidak pasti.
Bab 33
Bayangan dari Masa Kecil
Tahun 1988. Danang sekarang berusia tujuh belas tahun. Dua tahun telah berlalu sejak ia bertemu kembali dengan Kirana di toko buku. Dua tahun sejak mereka berjanji untuk bersama. Dua tahun sejak Arman mulai berubah. Dua tahun sejak surat tanpa nama pertama muncul. Dua tahun sejak ibu Kirana melarang hubungan mereka.
Dua tahun yang penuh dengan suka dan duka. Dua tahun yang penuh dengan tawa dan air mata. Dua tahun yang penuh dengan harapan dan kekecewaan. Dua tahun yang membuat Danang semakin dewasa, semakin kuat, semakin tabah, tetapi juga semakin lelah, semakin rapuh, semakin dekat dengan batas kesabarannya.
Dua tahun yang mengajarkannya bahwa cinta tidak semudah yang ia bayangkan. Bahwa cinta bukan hanya tentang perasaan, tetapi juga tentang perjuangan. Bahwa cinta bukan hanya tentang kebahagiaan, tetapi juga tentang pengorbanan. Bahwa cinta bukan hanya tentang memiliki, tetapi juga tentang melepaskan.
Danang sekarang bekerja lebih keras dari sebelumnya. Tidak hanya di percetakan, tetapi juga di dermaga pada malam hari, membantu bongkar muat barang dari kapal-kapal yang datang dari Jakarta dan Surabaya. Tubuhnya yang dulu kurus kini berotot, kekar, penuh dengan bekas-bekas kerja keras. Bahunya yang dulu sempit kini lebar, bidang, mampu mengangkat karung-karung beras yang beratnya puluhan kilogram.
Wajahnya yang dulu polos kini lebih tegas, lebih dewasa, lebih keras. Garis-garis di keningnya mulai tampak, meskipun usianya baru tujuh belas tahun. Lingkaran hitam di bawah matanya semakin gelap karena kurang tidur. Matanya yang dulu gelap dan dalam, kini semakin gelap, semakin dalam, seperti sumur tua yang tidak pernah mencapai dasar, seperti lubang hitam di angkasa yang menyerap semua cahaya.
Ia tidak pernah mengeluh. Ia tidak pernah berhenti. Ia tidak pernah menyerah. Ia bekerja dari pagi sampai malam, dari senin sampai minggu, dari awal bulan sampai akhir bulan. Ia menabung setiap rupiah yang ia dapatkan, menyimpannya di celengan bambu yang ia buat sendiri, berharap suatu hari nanti ia bisa membuka usaha sendiri, bisa menyekolahkan diri sendiri, bisa membahagiakan Kirana.
"Danang, kau bekerja terlalu keras," kata Pak Suryanto suatu sore, ketika melihat Danang hampir pingsan karena kelelahan. Wajah Danang pucat, bibirnya kering, matanya sayu, tubuhnya gemetar. "Istirahat dulu. Jangan paksakan diri. Nanti kau sakit."
"Tidak apa, Pak. Aku kuat. Aku sudah biasa."
"Kuat? Lihat wajahmu. Pucat seperti mayat. Kau makan? Kau tidur? Kau..."
"Aku makan, Pak. Aku tidur. Aku baik-baik saja."
Pak Suryanto menghela napas. Ia tahu Danang berbohong. Ia tahu Danang tidak makan. Ia tahu Danang tidak tidur. Ia tahu Danang memaksakan diri. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Danang keras kepala. Danang tidak mau dibantu. Danang ingin membuktikan bahwa ia bisa.
"Kirana tahu kau begini?" tanya Pak Suryanto.
Danang tersenyum tipis. "Kirana tidak perlu tahu, Pak. Kirana cukup tahu bahwa aku baik-baik saja. Kirana cukup tahu bahwa aku bahagia. Kirana cukup tahu bahwa aku mencintainya."
Pak Suryanto menggeleng. "Kau ini, Danang. Kau ini..."
Ia tidak melanjutkan. Ia hanya berjalan ke ruang belakang, mengambil selimut dan bantal, lalu memberikannya pada Danang. "Tidur dulu. Satu jam. Aku jagain toko. Nanti kau bangun, kita lanjut kerja."
"Pak, aku tidak..."
"Tidur, Danang! Itu perintah!"
Danang tidak bisa membantah. Ia mengambil selimut dan bantal itu, membawanya ke ruang belakang, merebahkan diri di kasur tipis yang kempes. Matanya terpejam. Pikirannya melayang. Ia memikirkan Kirana. Memikirkan senyumnya. Memikirkan tawanya. Memikirkan matanya yang coklat kehijauan.
"Kirana," bisiknya. "Aku akan membahagiakanmu. Aku janji. Aku akan bekerja keras. Aku akan sekolah. Aku akan menjadi seseorang. Aku akan..."
Ia tertidur.
Suatu sore, ketika Danang sedang mengantar pesanan ke restoran besar di pusat kota, ia mendengar suara yang sangat dikenalnya. Suara yang membuat masa kecilnya kembali seperti mimpi buruk, seperti hantu yang tidak pernah benar-benar mati, seperti luka yang tidak pernah benar-benar sembuh.
"Wah, Danang. Jadi benar itu kau. Aku kira aku salah lihat. Ternyata kau. Setelah bertahun-tahun. Setelah sekian lama."
Danang berhenti.
Perlahan.
Sangat perlahan.
Ia menoleh.
Surya Baskara berdiri di sana.
Kini ia jauh berbeda dari anak kecil yang dulu menindas Danang di halaman sekolah. Anak kecil yang dulu suka menginjak perahu daun, yang dulu suka memanggil Danang "anak haram", yang dulu suka menuduh Danang membakar gudang ayahnya. Kini ia tumbuh menjadi pemuda yang tampan, percaya diri, kaya raya.
Setelan rapi warna abu-abu muda, jas yang disetrika tanpa kerutan sedikit pun, dengan kancing-kancing berlapis emas yang berkilauan terkena sinar matahari. Dasi sutra merah marun, dengan motif batik yang rumit, yang harganya mungkin setara dengan pendapatan Danang sebulan. Jam tangan Rolex emas melingkar di pergelangan tangan kirinya, berkilauan setiap kali terkena cahaya, seperti mata ular yang siap memakan mangsanya.
Sepatu kulit hitam mengkilap, sepatu buatan Italia yang mungkin harganya lebih mahal dari seluruh pakaian yang pernah Danang miliki seumur hidup. Sepatu yang tidak pernah terkena lumpur, tidak pernah terkena debu, tidak pernah terkena hujan. Sepatu yang hanya dipakai untuk berjalan di karpet merah dan lantai marmer.
Rambutnya disisir rapi ke samping, dengan minyak rambut yang membuatnya mengkilap dan wangi. Kumis tipis mulai tumbuh di bibir atasnya, memberinya kesan dewasa, maskulin, berwibawa. Kulitnya putih bersih, terawat, tidak pernah terkena sinar matahari langsung. Wajahnya bulat, tembem, tanda bahwa ia tidak pernah kelaparan, tidak pernah kekurangan, tidak pernah menderita.
Tetapi senyum sinisnya tetap sama.
Senyum yang sama ketika ia menginjak perahu daun Danang di halaman sekolah.
Senyum yang sama ketika ia menuduh Danang membakar gudang ayahnya.
Senyum yang sama ketika ia memanggil Danang "anak haram" di depan semua anak.
Senyum yang sama ketika ia membisikkan rahasia tentang ayah kandung Danang.
Senyum yang tidak berubah.
Senyum yang tetap sinis.
Senyum yang tetap sombong.
Senyum yang tetap merendahkan.
"Sudah lama, Surya," kata Danang. Suaranya dingin, datar, tidak menunjukkan emosi. Matanya tenang, tidak gentar, tidak takut.
Surya tertawa pendek. Tawa yang dibuat-buat, seperti orang yang sedang menonton pertunjukan yang tidak lucu, seperti orang yang sedang berpura-pura terhibur. "Kota ini kecil sekali, Danang. Bahkan masa lalu pun bisa ikut pindah. Siapa sangka kita bertemu di sini? Di restoran mewah ini. Di pusat kota. Kau yang dulu tinggal di gubuk reot di tepi sungai, sekarang bisa masuk ke restoran seperti ini?"
"Aku hanya mengantar pesanan, Surya. Bukan makan di sini."
"Oh, benar. Kau masih pekerja rendahan. Masih mengantar pesanan. Masih bekerja kasar. Masih tidak punya pendidikan. Masih tidak punya masa depan. Seperti dulu. Tidak berubah."
Danang tidak menjawab. Ia hanya memandang Surya dengan tatapan kosong, tatapan yang tidak menunjukkan apa pun, tatapan yang membuat Surya tidak nyaman.
Surya berjalan mendekat. Kini ia berdiri hanya satu langkah dari Danang. Aroma parfum mahal menyengat di hidung Danang, aroma yang seperti bunga-bunga eksotis dari Prancis, yang harganya mungkin setara dengan pendapatan Danang sebulan.
"Kau tahu, Danang?" kata Surya, suaranya pelan, seperti bisikan, tetapi penuh dengan kebencian. "Aku tidak pernah lupa apa yang kau lakukan padaku. Tamparanmu di halaman sekolah. Itu sangat mempermalukanku. Aku tidak bisa melupakannya. Sampai sekarang."
"Aku juga tidak lupa apa yang kau lakukan padaku, Surya. Kau menghina ibuku. Kau memanggilku anak haram. Kau menuduhku membakar gudang ayahmu. Kau membuat seluruh desa membenciku."
"Itu semua benar, Danang. Kau memang anak haram. Ibumu memang hamil di luar nikah. Ayah kandungmu memang penari ketoprak yang kabur. Kau memang mencurigakan. Kau memang..."
"Surya, cukup."
"Belum cukup, Danang. Aku belum selesai."
Surya mendekat lebih dekat. Kini jarak mereka hanya beberapa sentimeter. Danang bisa merasakan napas Surya di wajahnya, bau bawang dan daging dari makan siangnya.
"Aku dengar kau dekat dengan Kirana," bisik Surya. "Perempuan itu. Yang dulu membelamu. Yang dulu memanggilku pengecut. Yang dulu..."
"Jangan sebut namanya, Surya."
"Kenapa? Takut dia tahu siapa dirimu sebenarnya? Takut dia tahu masa lalumu? Takut dia tahu bahwa kau anak haram? Takut dia tahu bahwa ibumu..."
Danang mengepal tangan. Buku-buku jarinya memutih. Kuku-kukunya menusuk telapak tangannya. Dadanya naik turun dengan napas yang berat. Matanya menyala, seperti bara api yang tertutup abu, masih panas meskipun tidak terlihat.
Surya tersenyum. Senyum kemenangan. Senyum yang mengatakan bahwa ia menang, bahwa ia berhasil, bahwa ia telah menemukan kelemahan Danang dan menusuknya tepat di tempat yang paling sakit.
"Kau selalu lupa, Danang," kata Surya, suaranya santai, seperti sedang berbicara tentang cuaca, seperti sedang mengomentari harga beras di pasar. "Di dunia seperti ini, asal-usul lebih penting daripada cinta. Uang lebih penting daripada perasaan. Status lebih penting daripada hati. Kau tidak akan pernah cukup baik untuk Kirana. Tidak peduli seberapa keras kau berusaha. Tidak peduli seberapa banyak kau bekerja. Tidak peduli seberapa banyak uang kau kumpulkan. Kau akan tetap menjadi anak haram. Anak haram selamanya."
Ia menepuk bahu Danang pelan. Tepukan yang terlihat akrab, seperti tepukan seorang teman lama, tetapi terasa seperti belati yang ditusukkan ke bahu.
"Selamat berjuang, Danang. Kau akan membutuhkan banyak keberuntungan."
Surya pergi.
Ia berjalan ke dalam restoran, disambut oleh pramusaji yang membungkuk hormat, dipersilakan duduk di meja VIP, dilayani dengan penuh perhatian.
Danang berdiri di depan restoran, memandang Surya yang duduk di meja VIP, tertawa dengan teman-temannya, menikmati makanan mahal yang disajikan di piring-piring porselen berlapis emas.
Ia tidak marah.
Ia tidak benci.
Ia hanya lelah.
Lelah hidup di dunia di mana uang dan status lebih penting daripada kerja keras dan ketulusan.
Lelah hidup di dunia di mana masa lalu lebih penting daripada masa depan.
Lelah hidup di dunia di mana ia harus terus membuktikan bahwa ia pantas, bahwa ia cukup baik, bahwa ia layak dicintai.
"Danang, kau kenapa?" tanya Kirana ketika Danang kembali ke toko buku sore itu. Wajah Danang pucat, matanya sayu, tangannya gemetar.
"Tidak apa, Kirana. Aku hanya... aku hanya bertemu seseorang dari masa lalu."
"Siapa?"
"Surya."
Kirana terdiam. Wajahnya berubah pucat. Matanya membesar. Tangannya gemetar.
"Surya? Surya Baskara? Anak saudagar beras itu? Yang dulu..."
"Iya. Dia. Dia sekarang kaya raya. Punya restoran. Punya mobil mewah. Punya segalanya."
"Apa yang dia katakan padamu, Danang?"
Danang tersenyum pahit. "Hal-hal yang biasa. Bahwa aku anak haram. Bahwa aku tidak pantas untukmu. Bahwa aku tidak akan pernah cukup baik. Bahwa..."
"Danang, jangan dengarkan dia. Dia hanya iri. Dia hanya dendam. Dia hanya..."
"Aku tahu, Kirana. Aku tidak peduli. Yang penting kau. Yang penting kita. Yang penting cinta kita."
Kirana memeluk Danang.
Ia memeluknya erat-erat.
Seperti tidak ingin melepaskan.
Seperti takut kehilangan.
Seperti takut masa lalu akan merenggut kebahagiaan mereka lagi.
"Danang, aku janji tidak akan pergi. Aku janji tidak akan meninggalkanmu. Aku janji akan selalu di sisimu. Apa pun yang terjadi. Siapa pun yang datang. Aku akan tetap di sini."
Danang memejamkan mata.
Ia ingin percaya.
Ia ingin percaya pada janji itu.
Tapi ia sudah belajar bahwa janji adalah hal paling rapuh di dunia.
Bahwa janji bisa pecah seperti kaca.
Bahwa janji bisa hilang seperti kabut pagi.
Bahwa janji, seindah apa pun, tidak akan pernah bisa menggantikan kehadiran.
"Kirana," bisiknya.
"Ya?"
"Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, Danang. Lebih dari apa pun di dunia ini."
Mereka berpelukan di toko buku yang sunyi, di antara rak-rak kayu yang penuh dengan buku, di bawah lampu neon yang redup, di sore yang mulai gelap.
Mereka tidak tahu bahwa Surya bukan satu-satunya musuh yang harus mereka hadapi.
Mereka tidak tahu bahwa musuh yang sebenarnya lebih dekat.
Musuh yang tidur di kamar yang sama.
Musuh yang makan di meja yang sama.
Musuh yang tertawa dengan tawa yang sama.
Musuh yang dipanggil "sahabat".
Bab 34
Kebenaran yang Tidak Pernah Selesai
Malam itu, setelah pertemuan dengan Surya di restoran, setelah kata-kata pedas yang menusuk hati, setelah senyum sinis yang masih terbayang di matanya, Danang duduk sendirian di tepi sungai kecil di belakang kota. Tempat yang biasa ia kunjungi bersama Kirana. Tempat yang menjadi saksi bisu cinta mereka. Tempat yang kini terasa sunyi, terasa dingin, terasa asing.
Langit malam itu gelap, tanpa bintang. Awan tebal menutupi bulan, tidak ada cahaya yang menembus. Hanya kegelapan. Kegelapan yang pekat. Kegelapan yang seperti masa depannya. Angin bertiup dingin, menusuk tulang, membuatnya menggigil meskipun ia memakai jaket tebal.
Ia memandang air sungai yang keruh, yang mengalir lambat, yang membawa sampah-sampah plastik dan daun-daun kering. Ia memandang bayangannya sendiri di permukaan air, bayangan yang terdistorsi, bayangan yang tidak jelas, bayangan yang seperti dirinya yang tidak pernah benar-benar tahu siapa dirinya.
"Danang, aku ikut, ya."
Danang menoleh. Kirana berdiri di belakangnya, dengan wajah cemas, dengan mata khawatir, dengan tangan yang gemetar memegang ujung kebayanya.
"Kirana? Kau tahu aku di sini?"
"Aku mampir ke percetakan. Pak Suryanto bilang kau sudah pulang. Tapi kau tidak ada di kos. Aku tahu kau pasti di sini. Di tempat kita biasa bertemu."
Kirana duduk di samping Danang, di atas batu besar yang licin karena lumut. Ia meraih tangan Danang, menggenggamnya erat-erat. Tangannya yang kecil dan lentik, terasa hangat di telapak tangan Danang yang dingin.
"Ada yang ingin kutanyakan, Danang," kata Kirana, suaranya pelan, lembut, seperti bisikan.
Danang menatapnya. Dadanya terasa sesak. Ia sudah bisa menebak pertanyaan apa yang akan keluar. Pertanyaan yang selama ini ia takutkan. Pertanyaan yang membuatnya lari dari desa, dari masa lalu, dari dirinya sendiri. Pertanyaan yang selalu ia hindari, selalu ia pendam, selalu ia kubur dalam-dalam.
"Apa, Kirana?"
Kirana ragu. Bibirnya gemetar. Matanya menatap Danang dengan campuran kasih sayang dan ketakutan. Lalu akhirnya ia berkata, "Apakah benar... apakah benar Surya tidak berbohong? Apakah benar Bapakmu bukan ayah kandungmu? Apakah benar ayah kandungmu adalah penari ketoprak yang pergi? Apakah benar..."
Danang tidak menjawab.
Ia hanya memandang sungai.
Memandang air yang keruh.
Memandang bayangannya yang terdistorsi.
Keheningan di antara mereka lebih menyakitkan daripada jawaban apa pun.
Keheningan yang berbicara lebih keras dari seribu kata.
Keheningan yang mengkonfirmasi semua ketakutan Kirana.
Keheningan yang mengatakan bahwa semua yang dikatakan Surya adalah benar.
Kirana tahu.
Ia tahu dari keheningan Danang.
Ia tahu dari wajah Danang yang pucat.
Ia tahu dari mata Danang yang kosong.
Ia tahu dari tangan Danang yang gemetar.
"Danang," bisik Kirana, suaranya pecah, air matanya mulai jatuh. "Kenapa kau tak pernah cerita?"
Danang menatap air sungai. Air yang mengalir terus, tidak pernah berhenti, tidak pernah melihat ke belakang. Air yang seperti hidupnya, terus mengalir, terus bergerak, tidak pernah berhenti meskipun lelah, meskipun sakit, meskipun ingin berhenti.
"Karena aku capek menjadi cerita orang, Kirana," katanya akhirnya, suaranya pelan, datar, tanpa emosi, seperti orang yang sudah kehabisan air mata, seperti orang yang sudah terlalu sering dilukai hingga tidak bisa lagi merasakan sakit. "Karena aku capek dilihat dengan tatapan kasihan. Karena aku capek menjadi anak haram di mata semua orang. Karena aku capek..."
"Tapi aku bukan orang lain, Danang. Aku Kirana. Aku temanmu. Aku... aku kekasihmu. Aku orang yang mencintaimu. Aku berhak tahu. Aku seharusnya tahu. Aku..."
"Kau tahu sekarang, Kirana. Kau tahu semuanya. Aku anak haram. Ayah kandungku penari ketoprak yang kabur. Ibunya hamil di luar nikah. Bapak yang membesarkanku bukan ayah kandungku. Aku tidak punya siapa-siapa. Aku tidak punya apa-apa. Aku tidak punya masa depan. Aku tidak pantas untukmu. Aku..."
"Jangan bilang begitu, Danang!" potong Kirana, suaranya keras, tegas, seperti saat ia membela Danang di depan Surya di halaman sekolah dulu. Matanya menyala, tidak lagi sayu, tidak lagi berkaca-kaca. "Jangan bilang kau tidak pantas untukku! Jangan bilang kau tidak punya masa depan! Jangan bilang kau anak haram! Aku tidak peduli dengan semua itu! Aku peduli dengan kau! Aku peduli dengan Danang! Aku peduli dengan anak laki-laki yang duduk di akar pohon waru dan melempar batu ke sungai! Aku peduli dengan anak laki-laki yang menggambar bunga kuning di buku gambarnya! Aku peduli dengan anak laki-laki yang menampar Surya di halaman sekolah karena ia menghina ibuku! Aku peduli dengan anak laki-laki yang menangis di depan ibunya karena takut kehilangan segalanya! Aku peduli denganmu, Danang!"
Danang menatap Kirana.
Matanya basah.
Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Ia tidak ingin menangis.
Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan menangis di depan Kirana.
Ia sudah berjanji bahwa ia akan kuat, bahwa ia tidak akan menunjukkan kelemahan, bahwa ia tidak akan membebani Kirana dengan masalahnya.
Tapi air mata itu tetap keluar.
Mengalir di pipinya yang kasar.
Jatuh ke tanah.
Membasahi batu besar yang licin.
"Kirana, aku takut," bisiknya, suaranya pecah, tangisnya keluar. "Aku takut kau pergi. Aku takut kau meninggalkanku seperti orang-orang lain. Aku takut kau... kau malu padaku. Aku takut kau..."
"Aku tidak akan pergi, Danang. Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku tidak akan malu padamu. Aku bangga padamu. Kau kuat. Kau pekerja keras. Kau tidak pernah menyerah. Kau tidak pernah mengeluh. Kau berjuang sendiri tanpa bantuan siapa pun. Kau..."
"Tapi ibumu..."
"Aku akan bicara dengan ibuku. Aku akan meyakinkan dia. Aku akan membuktikan bahwa kau pantas untukku. Aku akan..."
"Dan Surya..."
"Surya? Surya tidak ada apa-apanya. Dia hanya anak kaya yang sombong. Dia iri padamu. Dia dendam padamu. Dia ingin menghancurkan kita. Tapi kita tidak akan biarkan dia menang. Kita akan buktikan bahwa cinta kita lebih kuat dari kebenciannya."
Danang memeluk Kirana.
Ia memeluknya erat-erat.
Seperti tidak ingin melepaskan.
Seperti takut kehilangan.
Seperti takut ini hanya mimpi.
"Kirana, aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Aku tidak tahu apakah kita akan bersama selamanya. Tapi yang aku tahu, saat ini, di sini, bersama kau, aku bahagia. Aku bahagia karena kau di sampingku. Aku bahagia karena kau mencintaiku. Aku bahagia karena kau menerima aku apa adanya. Terima kasih, Kirana. Terima kasih untuk semuanya."
Kirana tersenyum.
Senyum yang sama.
Senyum yang dulu menjadi rumah bagi Danang.
Senyum yang membuat Danang merasa bahwa ia tidak sendirian di dunia.
Senyum yang akan ia ingat sepanjang hidupnya.
"Tugas kekasih, Danang. Tugas kekasih."
Mereka berpelukan di tepi sungai yang keruh, di bawah langit yang gelap tanpa bintang, di tengah angin yang dingin menusuk tulang.
Mereka tidak tahu bahwa kebenaran yang baru saja terungkap hanyalah awal.
Bahwa masih ada kebenaran lain yang lebih menyakitkan.
Bahwa masih ada rahasia lain yang lebih gelap.
Bahwa masih ada luka lain yang lebih dalam.
Kebenaran tentang ayah kandung Danang.
Kebenaran tentang Sastrowiryo.
Kebenaran tentang Mandor Jalil.
Kebenaran tentang surat-surat tanpa nama.
Kebenaran tentang Arman.
Semua kebenaran itu akan terungkap suatu hari nanti.
Suatu hari ketika mereka tidak siap.
Suatu hari ketika kebahagiaan mereka sedang puncak-puncaknya.
Suatu hari ketika mereka merasa aman.
Dan kebenaran itu akan menghancurkan mereka.
Menghancurkan cinta mereka.
Menghancurkan persahabatan mereka.
Menghancurkan hidup mereka.
Tapi untuk malam itu, untuk malam di tepi sungai yang keruh, untuk malam di bawah langit yang gelap, mereka hanya dua remaja yang saling mencintai, yang saling menguatkan, yang saling berjanji untuk tidak pernah berpisah.
Dan itu sudah cukup.
Itu sudah lebih dari cukup.
Bab 35
Benih Pengkhianatan
Beberapa hari setelah pertemuan di tepi sungai, setelah kebenaran tentang ayah kandung Danang terungkap, setelah air mata dan pelukan dan janji yang diucapkan di bawah langit gelap, Arman sengaja menemui Kirana sendirian.
Ia datang ke toko buku di sore hari, saat toko sedang sepi. Tidak ada pelanggan. Hanya Kirana yang sedang merapikan rak-rak buku di bagian belakang, menyusun buku-buku yang berantakan karena anak-anak kecil yang main-main saat orang tua mereka berbelanja. Suara radio tua merek National yang diletakkan di atas meja kasir menyanyikan lagu-lagu pop Indonesia tahun delapan puluhan, suaranya pelan, sayu, seperti suara dari masa lalu.
Arman masuk dengan langkah pelan, tidak ingin mengganggu, tidak ingin terlihat mencurigakan. Ia membawa sebuah bungkusan kecil yang dibungkus kertas minyak coklat, bungkusan yang masih hangat, yang mengeluarkan aroma harum pisang goreng dan gula merah.
"Halo, Mbak Kirana," sapanya, suaranya ramah, hangat, seperti biasa.
Kirana menoleh. Wajahnya sedikit terkejut, tetapi segera tersenyum. "Mas Arman? Kau tidak kerja? Bukannya bengkel buka sampai sore?"
"Jam istirahat, Mb. Aku mampir dulu ke sini. Ingin beli buku. Tapi sebelumnya, ini untuk Mbak Kirana." Arman mengulurkan bungkusan kecil itu. "Pisang goreang. Masih hangat. Aku beli di depan pasar. Langganan. Enak. Renyah. Manisnya pas."
Kirana ragu sejenak. Tangannya tidak segera menerima bungkusan itu. "Mas Arman, kau selalu saja membawakan sesuatu untukku. Aku jadi tidak enak. Aku belum bisa membalas kebaikanmu."
"Tidak usah dibalas, Mb. Aku ikhlas. Aku senang bisa membuat Mbak Kirana senang." Arman tersenyum. Senyum yang tulus, yang hangat, yang tidak mencurigakan. "Lagipula, ini hanya pisang goreng. Murah. Tidak seberapa. Bukan emas atau permata."
Kirana menghela napas. Ia menerima bungkusan itu, membukanya perlahan. Pisang goreng berwarna keemasan, dengan taburan wijen di atasnya, masih mengepulkan uap panas. Aromanya harum, menggugah selera.
"Terima kasih, Mas Arman. Kau baik sekali."
"Tidak baik, Mb. Biasa saja."
Mereka duduk di kursi kecil dekat jendela, kursi kayu yang biasa digunakan Bu Lastri untuk beristirahat di sore hari. Di luar, hujan mulai turun tipis, gerimis, membasahi jalanan, membuat udara terasa segar. Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh, pedagang kaki lima cepat-cepat menutup dagangan mereka dengan terpal plastik.
Arman memutar cangkir kopinya perlahan. Kopi hitam pekat tanpa gula yang ia pesan dari warung sebelah. Kopi yang pahit, getir, seperti hatinya saat ini. Kirana memesan teh manis hangat, dengan jahe dan serai, yang mengepulkan uap wangi.
"Mbak Kirana," panggil Arman, suaranya pelan, hati-hati, seperti sedang memilih kata-kata yang tidak akan menyakiti.
"Ya, Mas Arman?"
"Kau tahu, Danang sangat mencintaimu."
Kirana tersenyum. "Aku tahu, Mas. Aku juga mencintainya."
"Tapi kadang cinta tidak cukup, Mbak."
Kirana menatap Arman. Matanya bertanya, bingung, tidak mengerti maksud kata-kata itu. "Maksud Mas Arman?"
Arman menghela napas panjang. Ia memandang ke luar jendela, ke arah hujan yang mulai reda, ke arah orang-orang yang mulai keluar dari tempat berteduh mereka, ke arah langit yang mulai cerah.
"Danang hidup dengan masa lalu yang belum selesai, Mbak. Ia membawa luka yang tidak pernah sembuh. Ia lari dari desa karena tidak bisa menghadapi kenyataan. Ia lari dari masa lalunya. Ia lari dari dirinya sendiri."
Ia menatap Kirana dalam. Matanya yang tajam, yang biasanya ramah dan mudah tersenyum, kini serius. Sangat serius. Tidak ada senyum di bibirnya. Tidak ada kerutan di dahinya. Hanya tatapan. Tatapan yang seperti sedang membuka hati Kirana, sedang membaca pikirannya, sedang mencari kelemahannya.
"Dan orang seperti dia, Mbak, bisa menghancurkan siapa pun yang terlalu dekat dengannya. Bukan karena ia jahat. Bukan karena ia sengaja. Tapi karena luka yang ia bawa terlalu besar untuk tidak mempengaruhi orang di sekitarnya. Luka itu akan menular. Luka itu akan merambat. Luka itu akan melukai siapa pun yang mencoba mendekat."
Kirana mengernyit. Alisnya yang tipis bertaut. Wajahnya berubah sedikit, ada keraguan di sana, ada kegelisahan, ada pertanyaan yang mulai tumbuh di hatinya.
"Kenapa kau bilang begitu, Mas Arman?"
Arman menatapnya lama. Lalu berkata sangat pelan, suaranya hampir tidak terdengar di antara suara hujan yang mulai reda, tetapi setiap kata terdengar jelas di telinga Kirana, seperti paku yang dipukulkan ke kayu, seperti belati yang menusuk daging.
"Karena aku tidak mau melihatmu ikut tenggelam bersamanya, Mbak Kirana. Karena aku tidak mau melihatmu hancur karena cinta yang buta. Karena aku tidak mau melihatmu menyesal di kemudian hari. Karena aku..."
Ia berhenti.
Ia tidak melanjutkan.
Ia hanya menunduk, memandang cangkir kopinya yang sudah dingin, memandang ampas kopi yang mengendap di dasar cangkir, memandang bayangannya sendiri yang terdistorsi di permukaan kopi yang hitam pekat.
Kirana terdiam.
Wajahnya pucat.
Dadanya terasa sesak.
Ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya, sesuatu yang seperti ingin keluar, tetapi ia tahan.
"Mas Arman, aku tahu kau hanya peduli padaku. Aku tahu kau hanya ingin yang terbaik untukku. Tapi Danang... Danang tidak seperti yang kau bayangkan. Danang baik. Danang jujur. Danang pekerja keras. Danang..."
"Danang juga manusia, Mbak. Danang juga punya kelemahan. Danang juga punya batas. Danang juga bisa jatuh. Danang juga bisa hancur. Dan ketika Danang hancur, kau yang akan terkena imbasnya. Kau yang akan ikut hancur. Kau yang akan..."
"Mas Arman, cukup."
Kirana berdiri.
Tangannya gemetar.
Cangkir tehnya hampir jatuh, tetapi ia pegang erat-erat.
"Mas Arman, aku menghargai kepedulianmu. Aku berterima kasih atas nasihatmu. Tapi aku tidak bisa... aku tidak bisa meninggalkan Danang. Aku mencintainya. Aku sudah berjanji untuk bersamanya. Aku tidak bisa mengingkari janji."
Arman juga berdiri.
Ia berjalan mendekati Kirana.
Kini ia berdiri hanya satu lengan di depannya.
Jarak yang dekat.
Terlalu dekat.
"Kirana," panggilnya, tidak lagi "Mbak Kirana". Suaranya berubah. Tidak lagi ramah. Tidak lagi hangat. Ada sesuatu yang baru di sana. Sesuatu yang seperti kerinduan. Sesuatu yang seperti cinta. Sesuatu yang seperti keputusasaan. "Aku juga mencintaimu."
Kirana membeku.
Seluruh tubuhnya berubah menjadi batu.
Matanya membesar.
Mulutnya terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar.
"Aku mencintaimu, Kirana," ulang Arman, suaranya lebih tegas, lebih yakin, lebih berani. "Sejak pertama aku melihatmu di toko ini. Sejak pertama kau tersenyum padaku. Sejak pertama kau memanggil namaku. Aku mencintaimu. Aku tidak bisa menyembunyikannya lagi. Aku tidak bisa berpura-pura lagi. Aku..."
"Mas Arman, jangan..." Kirana mundur selangkah, dua langkah, tiga langkah. Tangannya mencari pegangan, menemukan rak buku di belakangnya, ia berpegangan erat-erat agar tidak jatuh.
"Aku tahu kau mencintai Danang. Aku tahu kau sudah berjanji padanya. Tapi aku juga punya hak untuk mencintaimu. Aku juga punya hak untuk memperjuangkanmu. Aku juga punya hak untuk..."
"Tidak, Mas Arman. Tidak. Aku hanya mencintai Danang. Aku tidak bisa mencintai orang lain. Aku tidak bisa..."
"Kau tidak tahu, Kirana. Kau tidak tahu apa yang aku rasakan. Kau tidak tahu bagaimana rasanya melihat orang yang kau cintai bersama orang lain. Kau tidak tahu bagaimana rasanya..."
Kirana menangis.
Ia tidak bisa menahan lagi.
Air matanya jatuh.
Membasahi pipinya.
Membasahi kebaya biru mudanya.
Membasahi harapannya.
"Mas Arman, tolong... tolong jangan lakukan ini. Kau sahabat Danang. Kau sahabatku. Aku tidak ingin kehilangan kalian berdua. Aku tidak ingin..."
"Kau tidak akan kehilangan aku, Kirana. Aku akan selalu di sini. Untukmu. Menunggumu. Mencintaimu. Sampai kapan pun. Sampai kau sadar bahwa aku yang pantas untukmu, bukan Danang."
Arman pergi.
Ia berjalan cepat meninggalkan toko buku, hampir berlari, seperti orang yang ketakutan, seperti orang yang malu, seperti orang yang tidak ingin ditolak.
Tapi di dalam hatinya, ia tersenyum.
Ia tersenyum karena ia tahu bahwa ia sudah menanam benih.
Benih keraguan.
Benih kebencian.
Benih pengkhianatan.
Benih yang akan tumbuh.
Benih yang akan meracuni hati Kirana.
Benih yang akan menghancurkan cinta Kirana pada Danang.
Benih yang akan membuat Kirana berpikir, "Mungkin Arman benar. Mungkin Danang tidak pantas untukku. Mungkin aku harus memilih Arman."
"Selamat tinggal, Kirana," bisiknya. "Sampai kita bertemu lagi. Dan ketika kita bertemu lagi, kau akan menjadi milikku. Aku akan pastikan itu."
Kirana duduk di lantai toko buku, di antara rak-rak kayu yang penuh dengan buku, menangis.
Ia menangis untuk Danang.
Ia menangis untuk Arman.
Ia menangis untuk dirinya sendiri.
Ia menangis untuk cinta yang rumit.
Ia menangis untuk persahabatan yang mulai retak.
Ia menangis untuk masa depan yang tidak pasti.
"Tuhan," bisiknya, "tolong aku. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku mencintai Danang. Tapi Arman... Arman juga baik. Arman juga peduli padaku. Arman juga... aku tidak tahu. Aku bingung. Aku..."
Ia tidak melanjutkan.
Ia hanya menangis.
Menangis di toko buku yang sunyi.
Menangis di antara rak-rak kayu yang penuh dengan buku.
Menangis di bawah lampu neon yang redup.
Menangis di sore yang mulai gelap.
Ia tidak tahu bahwa benih yang ditanam Arman telah mulai tumbuh.
Bahwa keraguan telah mulai masuk ke dalam hatinya.
Bahwa cintanya pada Danang mulai tergoyahkan.
Bahwa ia mulai membandingkan Danang dengan Arman.
Danang yang sibuk bekerja, yang tidak pernah punya waktu untuknya, yang tidak pernah membawakan hadiah, yang tidak pernah mengatakan kata-kata manis.
Arman yang selalu ada untuknya, yang selalu membawakan pisang goreng, yang selalu mengatakan kata-kata manis, yang selalu membuatnya merasa istimewa.
"Siapa yang sebenarnya mencintaiku?" bisiknya. "Siapa yang tulus? Siapa yang pantas? Siapa yang..."
Ia tidak bisa menjawab.
Ia hanya bisa menangis.
Menangis karena bingung.
Menangis karena takut.
Menangis karena cinta.
Bab 36
Retak Pertama di Mata Kirana
Sejak percakapan dengan Arman di toko buku, sejak kata-kata "Aku juga mencintaimu" yang keluar dari mulut sahabat Danang, sejak benih keraguan ditanam di hatinya, Kirana mulai berubah.
Bukan berubah drastis. Tidak tiba-tiba menjadi dingin. Tidak tiba-tiba menjauh. Berubah perlahan, seperti air yang mendidih di atas api kecil, seperti rumput yang tumbuh di sela-sela batu, seperti warna daun yang berubah di musim kemarau.
Ia masih bertemu Danang setiap hari. Masih pergi ke toko buku setiap sore. Masih duduk di kedai kopi Mbah Darmo setiap akhir pekan. Masih berjalan di tepi sungai kecil setiap malam Minggu. Masih tersenyum. Masih tertawa. Masih bercerita tentang banyak hal.
Tapi ada sesuatu yang berbeda.
Cukup untuk membuat Danang merasakannya.
Cukup untuk membuat Danang bertanya-tanya.
Cukup untuk membuat Danang gelisah.
Ia mulai lebih sering diam. Bukan diam yang nyaman seperti dulu, ketika mereka bisa duduk berjam-jam tanpa bicara, hanya menikmati keberadaan satu sama lain. Bukan diam yang penuh dengan pengertian, yang tidak perlu diisi dengan kata-kata. Tapi diam yang penuh dengan pikiran yang tidak diucapkan. Diam yang membuat Danang bertanya-tanya, apa yang salah? Apa yang ia lakukan? Apa yang berubah?
Ia mulai lebih sering menunduk. Bukan menunduk karena malu atau karena sedang memikirkan sesuatu, tetapi menunduk seperti sedang berusaha menghindari tatapan seseorang, seperti sedang menyembunyikan sesuatu, seperti sedang tidak ingin dilihat.
Ia mulai lebih lama membalas tatapan Danang. Seolah sedang mencari jawaban yang tidak kunjung ia temukan. Seolah sedang mencoba memutuskan apakah ia masih bisa percaya. Seolah sedang menimbang-nimbang, apakah Danang masih pantas untuk dicintai.
Ia mulai lebih sering melamun. Matanya kosong, menembus Danang, menembus dinding, menembus waktu, menembus ruang. Pikirannya jauh, di tempat yang tidak bisa dijangkau Danang. Pikirannya sibuk dengan sesuatu yang tidak ingin ia bagikan.
"Kirana, kau kenapa?" tanya Danang suatu sore, ketika mereka duduk di kedai kopi Mbah Darmo, menunggu pesanan roti bakar dan kopi hitam yang biasa mereka pesan. Meja kayu di depan mereka sudah tua, penuh dengan goresan dan noda kopi yang tidak bisa dibersihkan. Kursi plastik tempat mereka duduk berwarna merah dan biru, sudah pudar, sudah retak di beberapa tempat.
Kirana yang sedang memandang kosong ke arah jalan, tersentak. Ia menoleh cepat, terlalu cepat. Matanya yang sayu, yang kosong, tiba-tiba fokus pada Danang.
"Eh? Tidak. Tidak apa-apa. Aku hanya... aku hanya lelah. Hari ini toko ramai. Banyak pelanggan. Bu Lastri minta tolong ini itu. Aku jadi kelelahan."
"Kau bohong, Kirana." Suara Danang pelan, lembut, tidak menuduh, tidak memojokkan. Hanya pernyataan. Fakta. Kebenaran.
Kirana terdiam. Ia menunduk. Memandang meja kayu di depannya, memandang goresan-goresan yang tidak berarti, memandang noda kopi yang sudah mengering.
"Kau selalu tahu kalau aku bohong, Danang," bisiknya.
Danang menatapnya. Matanya yang gelap, yang dalam, yang seperti lubang sumur tua, menatap wajah Kirana yang pucat, yang lesi, yang tidak bercahaya seperti biasanya.
"Karena aku mengenalmu, Kirana. Aku mengenalmu sejak kita kecil. Aku tahu setiap ekspresimu. Aku tahu setiap gerakanmu. Aku tahu setiap nada bicaramu. Aku tahu kapan kau bahagia, kapan kau sedih, kapan kau marah, kapan kau takut, kapan kau berbohong."
Kirana menunduk lebih dalam.
Air matanya jatuh.
Setetes.
Dua tetes.
Tiga tetes.
Jatuh ke meja kayu, membasahi goresan-goresan yang tidak berarti, membasahi noda kopi yang sudah mengering.
"Danang, aku... aku takut."
"Takut apa?"
Kirana memejamkan mata sejenak. Ketika membukanya kembali, matanya basah, merah, seperti habis menangis berjam-jam.
"Takut bahwa semakin aku mengenalmu, semakin aku sadar betapa besar luka yang hidup di dalam dirimu. Dan luka seperti itu, Danang, bisa menyeret siapa pun yang mencintaimu. Bisa membuat orang yang mencintaimu ikut tenggelam. Bisa menghancurkan bukan hanya satu orang, tetapi dua orang sekaligus."
Danang terdiam.
Kata-kata itu menusuk hatinya.
Kata-kata itu seperti pisau yang tajam.
Kata-kata itu seperti belati yang menyayat.
Kata-kata itu seperti racun yang menyebar perlahan di dalam tubuhnya.
Ia tahu.
Ia tahu bahwa ia membawa luka.
Ia tahu bahwa ia tidak pernah benar-benar sembuh.
Ia tahu bahwa luka itu akan selalu ada, akan selalu menganga, akan selalu berdarah, tidak peduli seberapa keras ia berusaha menutupinya.
Tapi ia tidak tahu bahwa luka itu bisa menular.
Ia tidak tahu bahwa luka itu bisa melukai orang yang dicintainya.
Ia tidak tahu bahwa cintanya bisa menjadi racun bagi Kirana.
"Kirana," panggilnya pelan.
Kirana mengangkat kepalanya.
Matanya bertemu dengan mata Danang.
Mata yang basah.
Mata yang merah.
Mata yang penuh dengan ketakutan.
"Aku tidak akan menyakitimu, Kirana. Aku berjanji. Aku akan menjaga diriku sendiri. Aku akan menjaga lukaku. Aku tidak akan biarkan lukaku melukaimu. Aku..."
"Kau tidak bisa menjanjikan itu, Danang. Luka tidak pernah meminta izin. Luka datang kapan saja. Luka keluar ketika kau tidak siap. Luka melukai tanpa kau sadari."
"Tapi aku akan berusaha, Kirana. Aku akan berusaha sekuat tenaga. Aku akan..."
"Kadang berusaha tidak cukup, Danang. Kadang cinta tidak cukup. Kadang..."
Kirana tidak melanjutkan.
Ia hanya menunduk.
Menangis.
Menangis karena ia tidak tahu harus berkata apa.
Menangis karena ia tidak tahu harus berbuat apa.
Menangis karena ia mencintai Danang, tetapi juga takut pada cintanya.
Danang meraih tangan Kirana.
Tangannya yang kasar dan keras, menggenggam tangan Kirana yang lembut dan lentik.
"Kirana, dengarkan aku."
Kirana mengangkat kepalanya.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu akhir-akhir ini. Aku tidak tahu apa yang membuatmu berubah. Tapi aku tahu satu hal: aku mencintaimu. Aku akan selalu mencintaimu. Tidak peduli apa pun yang terjadi. Tidak peduli siapa pun yang datang. Tidak peduli berapa banyak rintangan yang menghadang. Aku akan tetap mencintaimu. Sampai mati."
Kirana menangis lebih keras.
Ia membalas genggaman Danang.
Genggaman yang erat.
Genggaman yang hangat.
Genggaman yang mengatakan bahwa ia masih mencintai Danang.
Genggaman yang mengatakan bahwa ia masih percaya pada Danang.
Genggaman yang mengatakan bahwa ia tidak ingin kehilangan Danang.
"Danang, aku juga mencintaimu. Tapi aku... aku bingung. Aku takut. Aku..."
"Takut apa, Kirana? Katakan padaku. Aku akan membantu. Aku akan melindungimu. Aku akan..."
"Tidak, Danang. Kau tidak bisa membantu. Ini masalahku. Ini masalah yang harus aku selesaikan sendiri. Aku hanya... aku butuh waktu. Aku butuh waktu untuk berpikir. Aku butuh waktu untuk..."
"Untuk apa, Kirana?"
Kirana tidak menjawab.
Ia hanya menunduk.
Menangis.
Menangis dalam diam.
Danang tidak memaksa.
Ia hanya duduk di samping Kirana, memegang tangannya, menemani dalam diam.
Ia tidak tahu bahwa Kirana sedang bergulat dengan pikirannya sendiri.
Bergulat dengan keraguan yang ditanam oleh Arman.
Bergulat dengan perasaan bersalah karena ia mulai membandingkan Danang dengan Arman.
Bergulat dengan pertanyaan, "Siapa yang benar-benar mencintaiku? Siapa yang pantas untukku? Siapa yang harus aku pilih?"
"Kirana," panggil Danang pelan.
"Ya?"
"Apa kau masih mencintaiku?"
Kirana mengangkat kepalanya.
Ia menatap Danang.
Matanya yang basah, yang merah, menatap lurus ke mata Danang yang gelap, yang dalam.
"Aku masih mencintaimu, Danang. Aku akan selalu mencintaimu. Tapi..."
"Tapi apa?"
Kirana menghela napas.
"Aku takut kita tidak cukup kuat, Danang. Aku takut cinta kita tidak cukup kuat. Aku takut..."
"Cinta kita cukup kuat, Kirana. Aku yakin. Kau juga harus yakin."
Kirana tersenyum.
Senyum yang lemah.
Senyum yang tidak secerah biasanya.
Tapi senyum.
"Kau selalu optimis, Danang."
"Kau selalu pesimis, Kirana."
Mereka berdua tersenyum.
Tersenyum di tengah kebingungan.
Tersenyum di tengah ketakutan.
Tersenyum di tengah cinta yang mulai retak.
Tapi mereka tidak tahu bahwa retakan itu akan semakin lebar.
Bahwa retakan itu akan menjadi celah.
Bahwa celah itu akan menjadi jurang.
Bahwa jurang itu akan memisahkan mereka.
Selamanya.
Bab 37
Kata-Kata yang Ditanam dalam Diam
Arman semakin dekat.
Bukan dengan Danang. Hubungan mereka masih baik. Mereka masih bekerja bersama di percetakan pada siang hari, Danang menyusun huruf timah sementara Arman kadang membantu mengantar pesanan jika tukang antar sedang sakit atau libur. Mereka masih makan bersama di warung langganan setiap malam, bercerita tentang hari mereka, tertawa tentang hal-hal lucu, mengeluh tentang bos yang galak dan pelanggan yang rewel. Mereka masih berbagi cerita tentang mimpi dan cita-cita, tentang masa depan yang ingin mereka raih, tentang perempuan-perempuan yang mereka kagumi.
Arman masih menjadi sahabat Danang.
Atau setidaknya, itulah yang Danang yakini.
Tapi dengan Kirana, Arman semakin dekat.
Bukan dekat secara fisik. Tidak ada sentuhan. Tidak ada pelukan. Tidak ada berduaan di tempat gelap. Arman terlalu pintar untuk itu. Ia tahu persis di mana batasnya. Ia tahu persis apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Ia tahu persis bagaimana cara mendekati seorang perempuan tanpa menimbulkan kecurigaan.
Ia semakin sering datang ke toko buku. Bukan karena ada keperluan. Bukan karena ingin membeli buku. Tapi karena ia tahu Kirana akan ada di sana setiap sore, dari jam empat sampai jam enam, sebelum Bu Lastri tutup dan pulang ke rumah.
Setiap hari, sekitar jam empat sore, ketika toko buku mulai sepi, ketika Bu Lastri pergi sholat Ashar atau ke pasar untuk membeli sayur, Arman akan datang. Ia akan masuk dengan senyum ramah, dengan sapaan hangat, dengan sikap yang tidak mencurigakan.
"Halo, Mbak Kirana. Apa kabar? Sehat?"
Kirana yang sedang merapikan rak buku atau menghitung uang di meja kasir, akan menoleh dan tersenyum. Senyum yang ramah, tetapi tidak lagi seperti dulu. Ada jarak di sana. Ada ketidaknyamanan. Ada perasaan bersalah yang tidak bisa ia sembunyikan.
"Baik, Mas Arman. Mas Arman sendiri? Masih sibuk?"
"Sibuk, Mb. Tapi aku selalu sempatkan diri untuk mampir ke sini. Untuk melihat Mbak Kirana. Untuk..."
"Mas Arman, tolong..."
"Maaf, Mb. Aku tidak bermaksud membuatmu tidak nyaman. Aku hanya..."
Arman tidak melanjutkan. Ia hanya tersenyum. Senyum yang lembut, yang hangat, yang membuat orang yang menerimanya merasa dihargai, merasa istimewa, merasa dicintai.
Setiap kali ia datang, ia selalu membawa sesuatu. Kadang pisang goreng dari langganan di depan pasar. Kadang getuk atau lupis atau bubur kacang hijau dari pedagang yang lewat. Kadang hanya segelas es dawet atau es campur atau es kelapa muda. Kadang setangkai bunga melati yang ia petik dari kebun belakang rumahnya, yang wanginya semerbak, yang membuat ruangan terasa lebih hidup.
"Ini untuk Mbak Kirana. Aku beli tadi. Masih hangat. Aku tahu Mbak Kirana suka pisang goreng."
"Mas Arman, kau tidak perlu repot-repot. Aku bisa beli sendiri."
"Aku tidak repot, Mb. Aku senang. Aku senang bisa membuat Mbak Kirana senang."
Kirana tidak bisa menolak. Setiap kali ia mencoba menolak, Arman akan memaksa dengan halus, dengan cara yang tidak membuatnya merasa tertekan, dengan cara yang membuatnya merasa bersalah jika tetap menolak.
"Baiklah, Mas. Terima kasih. Lain kali jangan repot-repot lagi, ya."
"Baik, Mb. Lain kali aku tidak akan repot-repot. Aku hanya akan membawakan yang lebih enak."
Kirana menghela napas. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya bisa menerima, tersenyum, dan berterima kasih.
Setiap kali ia datang, ia selalu membantu. Membantu merapikan rak-rak buku yang berantakan, membantu menata buku-buku baru yang datang dari penerbit, membantu membersihkan debu-debu yang menempel di sampul buku, membantu mengepel lantai yang kotor karena sepatu pelanggan.
"Mas Arman, kau tidak usah membantu. Aku bisa sendiri."
"Aku tahu, Mb. Tapi aku ingin membantu. Biarkan aku. Aku ikhlas. Aku senang."
Kirana tidak bisa menolak. Setiap kali ia mencoba menolak, Arman akan tetap melakukannya, dengan senyum, dengan semangat, dengan kerelaan yang tulus.
"Baiklah, Mas. Tapi jangan terlalu memaksakan diri."
"Aku tidak memaksakan diri, Mb. Aku senang. Aku senang bisa dekat dengan Mbak Kirana. Aku senang bisa..."
"Mas Arman..."
"Maaf, Mb. Aku tidak bermaksud..."
Arman tidak melanjutkan. Ia hanya tersenyum, lalu kembali bekerja, membersihkan rak-rak buku, menata buku-buku, mengepel lantai.
Setiap kali ia datang, ia selalu berbicara tentang Danang.
Bukan untuk menghina. Bukan untuk menjatuhkan. Bukan untuk menjelekkan.
Tetapi dengan cara yang lebih halus.
Dengan cara yang membuat Kirana berpikir.
Dengan cara yang membuat Kirana mulai membandingkan.
"Danang bekerja keras sekali, ya, Mb. Dari pagi sampai malam. Dari senin sampai minggu. Kadang aku kasihan melihatnya. Badannya kurus. Matanya cekung. Kayak kurang tidur. Kayak kurang makan. Aku khawatir suatu hari nanti dia jatuh sakit. Atau pingsan di tempat kerja. Atau lebih parah lagi."
Kirana terdiam. Ia memikirkan kata-kata Arman. Apakah Danang benar-benar bekerja terlalu keras? Apakah Danang benar-benar tidak makan? Apakah Danang benar-benar tidak tidur? Apakah Danang benar-benar mengabaikan kesehatannya?
"Danang memang pekerja keras, Mas. Itu salah satu hal yang aku kagumi darinya. Dia tidak pernah menyerah. Dia tidak pernah mengeluh. Dia..."
"Tapi kadang kerja keras tanpa diimbangi istirahat yang cukup itu berbahaya, Mb. Tubuh manusia ada batasnya. Danang bisa sakit. Danang bisa... aku tidak mau berpikir yang macam-macam. Tapi aku khawatir."
"Aku juga khawatir, Mas. Tapi Danang tidak mau mendengarkan. Setiap kali aku bilang untuk istirahat, dia bilang 'Tidak apa. Aku kuat. Aku biasa.'"
"Itu dia. Danang terlalu keras kepala. Terlalu memaksakan diri. Terlalu..."
Arman tidak melanjutkan. Ia hanya menghela napas. Menghela napas panjang, penuh makna, penuh arti, penuh pesan tersirat.
"Apa kau tahu, Mb? Danang itu orangnya pendiam. Dia tidak pernah cerita tentang masa lalunya. Tentang keluarganya. Tentang desanya. Tentang ayah kandungnya. Tentang ibunya. Tentang... tentang semua yang membuatnya menjadi dirinya sekarang."
Kirana mengangguk. "Aku tahu, Mas. Danang memang pendiam. Tapi aku mengerti. Dia tidak suka membicarakan masa lalu. Masa lalu menyakitkan baginya."
"Tapi bukankah seharusnya orang yang saling mencintai saling terbuka? Bukankah seharusnya tidak ada rahasia di antara mereka? Bukankah seharusnya..."
"Setiap orang punya cara masing-masing untuk menghadapi masa lalunya, Mas. Danang mungkin belum siap. Atau mungkin dia tidak ingin membebani aku dengan masalahnya."
"Tapi bukankah justru dengan berbagi, beban menjadi lebih ringan? Bukankah dengan bercerita, luka menjadi lebih mudah disembuhkan? Bukankah dengan..."
"Mas Arman, kenapa kau bertanya seperti ini? Kenapa kau..."
Arman tersenyum. Senyum yang lembut, yang hangat, yang tidak mencurigakan. "Aku hanya peduli, Mb. Aku hanya ingin yang terbaik untuk Danang. Dan untuk Mbak Kirana. Aku hanya..."
Ia tidak melanjutkan. Ia hanya menghela napas lagi. Menghela napas panjang, penuh makna, penuh arti, penuh pesan tersirat.
"Apa kau tidak lelah, Mb? Menunggu Danang yang selalu sibuk? Menunggu Danang yang tidak pernah punya waktu untukmu? Menunggu Danang yang selalu memprioritaskan pekerjaan daripada kebahagiaanmu?"
Kirana terdiam.
Pertanyaan itu menusuk hatinya.
Pertanyaan itu membuka luka yang selama ini ia pendam.
Pertanyaan itu mengingatkannya pada malam-malam yang ia lewati sendirian, menunggu Danang yang lembur di percetakan, menunggu Danang yang bekerja di dermaga, menunggu Danang yang tidak pernah punya waktu untuknya.
"Danang bekerja untuk masa depan kita, Mas. Dia ingin memberikan yang terbaik untukku. Dia ingin..."
"Tapi apa kau bahagia, Mb? Apa kau bahagia menunggu? Apa kau bahagia sendirian? Apa kau bahagia..."
"Mas Arman, tolong..."
"Maaf, Mb. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih. Aku hanya..."
Arman tidak melanjutkan. Ia hanya meraih tangan Kirana. Tangannya yang hangat, yang lembut, yang tidak kasar seperti tangan Danang, menggenggam tangan Kirana yang dingin.
Kirana terkejut. Ia menarik tangannya. Cepat. Keras. "Mas Arman, jangan..."
"Maaf, Mb. Aku tidak bermaksud. Aku hanya..."
Arman tersenyum. Senyum yang lembut, yang hangat, yang tidak mencurigakan. Tapi di dalam hatinya, ia tersenyum puas. Ia tahu bahwa ia telah berhasil. Ia tahu bahwa ia telah menanam keraguan di hati Kirana. Ia tahu bahwa Kirana mulai mempertanyakan hubungannya dengan Danang.
"Selamat tinggal, Mb. Sampai jumpa besok."
Arman pergi.
Meninggalkan Kirana yang bingung.
Meninggalkan Kirana yang gelisah.
Meninggalkan Kirana yang mulai meragukan cintanya pada Danang.
"Kirana, kau kenapa akhir-akhir ini?" tanya Danang suatu malam, ketika mereka duduk di tepi sungai kecil di belakang kota. "Kau jadi pendiam. Kau jadi jauh. Kau jadi..."
Kirana tidak menjawab. Ia hanya memandang sungai yang keruh, memandang air yang mengalir lambat, memandang sampah-sampah plastik yang tersangkut di bebatuan.
"Danang, apa kita bahagia?" tanyanya akhirnya.
Danang mengernyit. "Maksudmu?"
"Apa kita bahagia? Apa kau bahagia denganku? Apa aku bahagia denganmu? Apa kita..."
"Kirana, apa yang terjadi? Kenapa kau bertanya seperti ini?"
Kirana menghela napas. "Aku hanya... aku hanya berpikir. Apa hubungan kita akan bertahan? Apa cinta kita cukup kuat? Apa kita..."
"Cinta kita cukup kuat, Kirana. Aku yakin. Kau juga harus yakin."
"Tapi kadang yakin tidak cukup, Danang. Kadang cinta tidak cukup. Kadang..."
"Kirana, tolong katakan apa yang sebenarnya terjadi. Apa ada yang mengganggumu? Apa ada yang..."
"Tidak ada, Danang. Tidak ada yang menggangguku. Aku hanya... aku hanya lelah. Aku hanya butuh istirahat. Aku hanya..."
Kirana tidak melanjutkan. Ia hanya menunduk. Menangis. Menangis dalam diam.
Danang memeluknya.
Ia memeluk Kirana erat-erat.
Seperti tidak ingin melepaskan.
Seperti takut kehilangan.
Seperti takut Kirana akan pergi.
"Kirana, aku akan membahagiakanmu. Aku janji. Aku akan bekerja keras. Aku akan sekolah. Aku akan menjadi seseorang. Aku akan..."
"Danang, cukup. Aku tidak butuh semua itu. Aku hanya butuh kau. Aku hanya butuh kau di sampingku. Aku hanya butuh..."
"Tapi aku tidak bisa memberikan apa-apa sekarang, Kirana. Aku miskin. Aku tidak punya pendidikan. Aku tidak punya masa depan. Aku..."
"Aku tidak butuh harta, Danang. Aku tidak butuh pendidikan. Aku tidak butuh masa depan. Aku hanya butuh kau. Aku hanya butuh cintamu. Aku hanya butuh..."
"Tapi ibumu..."
"Aku akan bicara dengan ibuku. Aku akan meyakinkan dia. Aku akan..."
"Dan Surya..."
"Surya tidak ada apa-apanya. Aku tidak peduli dengan Surya. Aku hanya peduli dengan kau. Aku hanya peduli dengan kita."
Mereka berpelukan di tepi sungai yang keruh, di bawah langit yang gelap tanpa bintang, di tengah angin yang dingin menusuk tulang.
Mereka tidak tahu bahwa benih yang ditanam Arman telah tumbuh.
Bahwa keraguan telah bersarang di hati Kirana.
Bahwa cinta mereka mulai retak.
Bahwa retakan itu akan semakin lebar.
Bahwa suatu hari nanti, retakan itu akan menjadi jurang yang tidak bisa diseberangi.
Bab 38
Surya Menawarkan Kehancuran
Sementara itu, di tempat lain, di sisi kota yang berbeda, Surya Baskara sedang merencanakan sesuatu.
Bukan rencana biasa. Bukan rencana untuk memperluas bisnis keluarganya. Bukan rencana untuk membuka cabang restoran baru. Bukan rencana untuk membeli mobil mewah atau rumah megah. Bukan rencana untuk liburan ke luar negeri atau membeli perhiasan mahal untuk perempuan simpanannya.
Rencana yang lebih gelap.
Rencana yang lebih kejam.
Rencana yang lebih berbahaya.
Rencana untuk menghancurkan Danang.
Bukan karena ia benci pada Danang. Bukan karena ia dendam pada Danang karena tamparan di halaman sekolah dulu. Bukan karena ia iri pada Danang karena Danang memiliki Kirana. Bukan karena ia masih menyimpan sakit hati karena tuduhan kebakaran gudang yang tidak pernah terbukti.
Tapi karena ia bisa.
Karena ia punya uang.
Karena ia punya kekuasaan.
Karena ia punya koneksi.
Karena ia terbiasa mendapatkan apa yang ia inginkan.
Karena ia tidak pernah belajar bahwa tidak semua hal bisa dibeli dengan uang.
Surya sekarang berusia delapan belas tahun. Ia sudah lulus dari SMA swasta terbaik di Purwokerto, dengan nilai yang biasa-biasa saja, tetapi itu tidak penting karena ayahnya sudah menyiapkan posisi untuknya di perusahaan keluarga. Ia akan menjadi direktur suatu hari nanti. Ia akan mewarisi seluruh kekayaan ayahnya. Ia akan menjadi pengusaha sukses tanpa perlu bekerja keras, tanpa perlu berpendidikan tinggi, tanpa perlu menjadi orang baik.
Ia sudah memiliki segalanya. Uang. Mobil. Rumah. Perempuan. Kekuasaan. Nama baik. Status. Segalanya.
Tapi ia masih belum puas.
Ia masih menyimpan dendam pada Danang.
Dendam yang sudah bertahun-tahun ia pendam.
Dendam yang tidak pernah ia lupakan.
Dendam yang terus ia pelihara, seperti api yang dijaga agar tidak padam, seperti tanaman yang disiram setiap hari agar tetap hidup.
"Danang Wiratama," bisiknya suatu malam, sambil duduk di ruang kerjanya yang mewah, di kursi kulit hitam yang empuk, di belakang meja kayu jati yang besar. Di tangannya, segelas wiski mahal dari Skotlandia, berwarna keemasan, dengan es batu yang berbunyi klinking setiap kali ia menggoyangkan gelas. "Kau pikir kau bisa lolos dari masa lalu? Kau pikir kau bisa hidup bahagia dengan Kirana? Kau pikir kau bisa melupakan semua yang terjadi? Tidak, Danang. Tidak. Aku tidak akan membiarkanmu bahagia. Aku tidak akan membiarkanmu melupakan. Aku akan membuatmu menderita. Aku akan membuatmu menyesal. Aku akan..."
Ia tidak melanjutkan. Ia hanya tersenyum. Senyum yang dingin. Senyum yang penuh dengan rencana. Senyum yang seperti ular yang siap menerkam.
Suatu malam, di sebuah kedai gelap di pinggir kota, Surya menemui Arman.
Kedai itu terletak di gang sempit di belakang pasar, tersembunyi di antara toko-toko lain yang sama usangnya. Tidak ada papan nama. Tidak ada lampu terang. Hanya satu bola lampu 5 watt yang menggantung di langit-langit, memberikan cahaya yang redup, yang membuat segala sesuatu terlihat seperti mimpi buruk.
Dinding kedai itu terbuat dari papan kayu yang sudah lapuk, dengan cat yang mengelupas di sana-sini. Lantainya tanah, becek, bau arak dan rokok dan keringat bercampur menjadi satu bau yang menyengat. Meja-meja kayu yang dipakai pelanggan sudah tua, penuh dengan goresan dan noda minuman, kakinya tidak rata, ada yang dialasi batu bata, ada yang hanya dibiarkan goyang.
Pelanggannya adalah orang-orang pinggiran. Pekerja kasar. Kuli angkut. Pengangguran. Preman. Perempuan-perempuan malam dengan riasan tebal dan pakaian seksi. Orang-orang yang tidak punya apa-apa, yang tidak punya masa depan, yang tidak punya harapan.
Tempat yang tidak pernah dikunjungi orang-orang baik. Tempat yang tidak pernah dimasuki oleh orang-orang seperti Surya. Tapi malam itu, Surya ada di sana. Duduk di sudut ruangan yang paling gelap, dengan jas mahalnya yang menyala di antara kegelapan, dengan jam tangan Rolex yang berkilauan setiap kali terkena cahaya, dengan sepatu kulit Italia yang mengkilap.
Ia memesan minuman. Arak. Minuman keras yang murah, yang rasanya menyengat di tenggorokan, yang baunya seperti obat, yang membuat orang mabuk dengan cepat. Ia tidak meminumnya. Ia hanya memegang gelas itu, memutar-mutarnya di antara jari-jarinya, menikmati aroma yang tidak enak itu.
"Kau datang," kata Surya ketika Arman masuk ke kedai. Arman mengenakan jaket lusuh dan celana jeans belel, wajahnya pucat, matanya sayu. Ia duduk di hadapan Surya, di kursi kayu yang goyang, di meja yang penuh dengan noda minuman.
"Apa yang kau mau, Surya?" tanya Arman, suaranya datar, tidak bersemangat. "Kenapa kau minta aku datang ke tempat ini? Tempat gelap. Tempat kotor. Tempat..."
"Aku punya tawaran untukmu, Arman."
"Tawaran apa?"
Surya tersenyum. Senyum yang dingin. Senyum yang penuh dengan rencana. Senyum yang seperti ular yang siap menerkam. "Kau mencintai Kirana, bukan?"
Arman terkejut. Matanya membesar. Wajahnya memerah. "Apa... apa maksudmu? Aku tidak..."
"Jangan bohong, Arman. Aku bisa melihatnya dari matamu. Aku bisa mendengarnya dari caramu bicara tentang dia. Aku bisa merasakannya dari caramu..."
"Bagaimana kau tahu?"
Surya tertawa kecil. Tawa yang dingin. Tawa yang tidak lucu. "Aku punya banyak mata di kota ini, Arman. Aku punya banyak informan. Aku tahu banyak hal. Termasuk perasaanmu pada Kirana. Termasuk usahamu untuk mendekatinya. Termasuk kegagalanmu untuk merebutnya dari Danang."
Arman menunduk. Ia tidak bisa membantah. Ia tahu Surya benar. Ia tahu Surya tahu segalanya. Ia tahu Surya sudah mengawasinya.
"Aku bisa membantumu, Arman," kata Surya, suaranya pelan, seperti bisikan, tetapi penuh dengan janji. "Aku bisa membantu merebut Kirana dari Danang. Aku bisa membantu menghancurkan hubungan mereka. Aku bisa membantu..."
"Kenapa kau mau membantu aku? Apa untungnya bagi kau?"
Surya tersenyum lagi. Senyum yang sama. Senyum yang dingin. Senyum yang penuh dengan rencana. "Aku juga punya dendam pada Danang, Arman. Dendam lama. Dendam yang belum selesai. Aku ingin melihatnya hancur. Aku ingin melihatnya menderita. Aku ingin melihatnya kehilangan segalanya. Termasuk Kirana."
Arman terdiam.
Ia memikirkan tawaran Surya.
Tawaran yang berbahaya.
Tawaran yang bisa menghancurkan persahabatannya dengan Danang.
Tawaran yang bisa menghancurkan cintanya pada Kirana.
Tawaran yang bisa menghancurkan dirinya sendiri.
Tapi ia juga memikirkan Kirana.
Kirana yang cantik.
Kirana yang baik.
Kirana yang lembut.
Kirana yang selalu tersenyum padanya.
Kirana yang selalu berterima kasih padanya.
Kirana yang selalu menerima pisang goreng darinya.
Kirana yang selalu...
"Baik," kata Arman akhirnya, suaranya tegas, penuh keyakinan. "Aku setuju. Aku akan bekerja sama denganmu. Apa yang harus aku lakukan?"
Surya tersenyum puas.
Ia mengambil sesuatu dari sakunya.
Sebuah amplop coklat.
Amplop yang sama.
Amplop yang berisi surat tanpa nama.
Amplop yang pernah ia letakkan di bawah pintu rumah Kirana.
"Ini," kata Surya, menyerahkan amplop itu pada Arman. "Kau tahu apa yang harus kau lakukan."
Arman mengambil amplop itu.
Tangannya gemetar.
Ia tahu isinya.
Ia tahu konsekuensinya.
Ia tahu bahwa setelah ini, tidak ada yang bisa kembali.
"Kau yakin ini akan berhasil?" tanya Arman.
Surya mengangguk. "Percayalah. Aku sudah merencanakan semuanya. Aku sudah mempersiapkan semuanya. Aku sudah menghitung semua kemungkinan. Ini akan berhasil. Kirana akan meninggalkan Danang. Danang akan hancur. Dan kau akan mendapatkan Kirana."
"Tapi bagaimana dengan Danang? Dia sahabatku. Dia..."
"Kau sudah memilih, Arman. Kau sudah memutuskan. Kau sudah berkomitmen. Tidak ada jalan mundur. Sekarang kau harus maju. Apapun risikonya. Apapun konsekuensinya."
Arman menghela napas.
Ia memasukkan amplop itu ke dalam sakunya.
Ia berdiri.
"Baik. Aku akan lakukan."
Ia berbalik.
Berjalan meninggalkan kedai.
Meninggalkan Surya yang tersenyum puas.
Meninggalkan Danang yang tidak tahu apa-apa.
Meninggalkan Kirana yang akan segera hancur.
Meninggalkan persahabatan yang akan segera berakhir.
Meninggalkan cinta yang akan segera mati.
Surya tetap duduk di kedai itu.
Ia memanggil pelayan. Memesan arak lagi. Menuangkannya ke dalam gelas. Meminumnya dalam satu tegukan. Arak itu panas di tenggorokannya, membakar kerongkongannya, membuat matanya berair.
Ia tersenyum.
Senyum kemenangan.
Senyum yang mengatakan bahwa ia menang.
Senyum yang mengatakan bahwa Danang akan hancur.
Senyum yang mengatakan bahwa dendamnya akan terbalas.
"Selamat malam, Danang," bisiknya. "Selamat malam, Kirana. Selamat malam, Arman. Semoga kalian bahagia. Karena kebahagiaan kalian tidak akan lama lagi. Aku akan pastikan itu."
Ia berdiri.
Ia membayar minumannya.
Ia berjalan ke luar.
Mobil mewahnya menunggu di depan.
Supir pribadinya membukakan pintu.
Ia masuk ke dalam mobil.
Duduk di kursi kulit yang empuk.
Mobil itu melaju pelan meninggalkan gang sempit.
Meninggalkan kedai gelap.
Meninggalkan Arman yang sudah pergi.
Meninggalkan Danang yang tidak tahu apa-apa.
Meninggalkan Kirana yang akan segera menerima surat palsu.
Bab 39
Malam Surat Palsu
Tiga hari setelah pertemuan di kedai gelap, setelah Arman menerima amplop coklat dari Surya, setelah ia berkomitmen untuk menghancurkan kebahagiaan sahabatnya sendiri, Kirana menerima surat.
Surat itu diletakkan di bawah pintu rumahnya, sama seperti surat sebelumnya. Amplop coklat. Ukuran sedang. Tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil. Kertasnya tebal, berkualitas baik, tidak seperti amplop murahan yang biasa dijual di warung-warung. Di bagian depan amplop, tertulis namanya: "Kirana Prameswari". Tulisan tangan rapi, huruf kapital semua, seperti orang yang sengaja menyamarkan tulisannya.
Tidak ada cap pos. Tidak ada perangko. Tidak ada alamat pengirim. Tidak ada identitas apa pun. Hanya namanya. Hanya amplop coklat. Hanya rahasia yang akan menghancurkan cintanya.
Kirana menemukan surat itu ketika ia hendak pergi ke toko buku, pagi-pagi buta sebelum matahari terbit, ketika kabut masih menutupi desa, ketika udara masih dingin menusuk tulang. Ia membuka pintu depan, berniat mengambil koran yang biasanya diantar oleh tukang koran setiap pukul lima pagi. Tapi koran itu tidak ada. Yang ada hanyalah amplop coklat, tergeletak di lantai teras, di antara pot-pot bunga yang mulai layu karena jarang disiram.
Ia membeku sejenak.
Jantungnya berdegup kencang.
Dadanya terasa sesak.
Tangannya gemetar.
Ia tahu surat ini.
Ia pernah menerima surat seperti ini.
Surat tanpa nama.
Surat tanpa pengirim.
Surat yang berisi ancaman.
Surat yang berisi peringatan.
Surat yang berisi kebencian.
"JANGAN ULANGI KESALAHAN MASA LALU. ANAK LE LAKI MISKIN ITU TIDAK AKAN PERNAH PANTAS UNTUKMU."
Itu isi surat pertama.
Surat yang membuatnya takut.
Surat yang membuatnya gelisah.
Surat yang membuatnya meragukan cintanya pada Danang.
Dan sekarang, surat kedua datang.
Apa isinya?
Ancaman lagi?
Peringatan lagi?
Kebencian lagi?
Atau sesuatu yang lebih buruk?
Sesuatu yang lebih kejam?
Sesuatu yang akan menghancurkannya?
Ia memungut amplop itu.
Tangannya gemetar.
Ia membawanya masuk ke dalam rumah.
Berjalan ke kamarnya.
Menutup pintu.
Duduk di ranjang.
Membuka amplop itu perlahan.
Jari-jarinya yang lentik dan putih, yang biasa memegang buku-buku dengan hati-hati, yang biasa membalik halaman-halaman dengan lembut, kini gemetar seperti daun yang ditiup angin, seperti orang yang ketakutan, seperti orang yang tahu bahwa hidupnya akan berubah setelah membaca surat ini.
Ia merobek amplop itu.
Perlahan.
Hati-hati.
Seperti sedang membuka peti mati.
Seperti sedang membuka luka lama.
Seperti sedang membuka pintu menuju neraka.
Kertas di dalamnya tipis, murah, seperti kertas yang biasa dijual di warung-warung kecil, warna putih kusam dengan garis-garis biru tipis seperti buku tulis sekolah. Kertas itu dilipat menjadi dua, kemudian dilipat lagi menjadi empat, sehingga mudah dimasukkan ke dalam amplop.
Kirana membuka lipatan itu dengan hati-hati.
Jari-jarinya yang gemetar berusaha meratakan kertas yang sudah kusut karena terlipat terlalu lama.
Tulisan di dalamnya rapi.
Huruf kapital semua.
Sama seperti surat pertama.
Tapi ada yang berbeda.
Tulisan ini lebih rapi.
Lebih terlatih.
Lebih seperti tulisan orang yang terbiasa menulis.
Dan yang lebih penting, tulisan ini mirip dengan tulisan Danang.
Sangat mirip.
Sama persis.
Sampai-sampai Kirana yang sudah mengenal tulisan Danang sejak kecil, yang sudah hafal setiap lengkungan hurufnya, yang sudah tahu persis bagaimana Danang menulis huruf "D" dengan lingkaran yang tidak sempurna, bagaimana Danang menulis huruf "a" dengan ekor yang terlalu panjang, bagaimana Danang menulis huruf "n" dengan garis yang putus di tengah, tidak bisa membedakannya.
Matanya membesar.
Mulutnya terbuka.
Napasnya terhenti.
Isi surat itu pendek. Hanya beberapa baris. Tetapi setiap kata terasa seperti pisau, seperti belati, seperti racun yang menyebar perlahan di dalam tubuhnya.
"KIRANA, AKU CAPEK. AKU CAPEK BERJUANG. AKU CAPEK MELAWAN. AKU CAPEK MENUNGGU. AKU CAPEK MENGHARAP. MUNGKIN KITA MEMANG TIDAK DITAKDIRKAN BERSAMA. MUNGKIN DARI AWAL KITA MEMANG HANYA KENANGAN. MAAF. DANANG."
Kirana membaca surat itu sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Sepuluh kali.
Dua puluh kali.
Seratus kali.
Berharap bahwa jika ia baca cukup sering, kata-kata itu akan berubah.
Berharap bahwa ini hanya mimpi buruk.
Berharap bahwa ada kesalahan.
Berharap bahwa surat ini bukan dari Danang.
Berharap bahwa Danang tidak mungkin menulis surat seperti ini.
Berharap bahwa Danang tidak mungkin meninggalkannya.
Tapi tidak.
Kata-katanya tetap sama.
Tetap tajam.
Tetap menyakitkan.
Tetap menghancurkan.
"MUNGKIN KITA MEMANG TIDAK DITAKDIRKAN BERSAMA."
"MUNGKIN DARI AWAL KITA MEMANG HANYA KENANGAN."
"MAAF."
"Danang."
Surat itu jatuh dari tangannya.
Jatuh ke lantai.
Jatuh ke karpet wol berwarna krem yang tebal dan empuk.
Jatuh di antara kaki ranjang dan lemari.
Kirana tidak memungutnya.
Ia hanya duduk di ranjang.
Memandang kosong ke depan.
Memandang tembok yang putih.
Memandang jendela yang terbuka.
Memandang langit yang mulai cerah.
Matanya kosong.
Pikirannya kosong.
Hatinya kosong.
Tidak ada tangis.
Tidak ada air mata.
Tidak ada isakan.
Hanya kekosongan.
Kekosongan yang lebih menakutkan daripada amarah apa pun.
Kekosongan yang seperti lubang hitam di angkasa.
Kekosongan yang seperti kematian.
"Danang," bisiknya, suaranya pelan, hampir tidak terdengar, seperti bisikan dari alam lain, seperti suara dari dunia yang berbeda. "Kenapa? Kenapa kau melakukan ini? Kenapa kau meninggalkan aku? Kenapa kau..."
Ia tidak melanjutkan.
Ia tidak bisa melanjutkan.
Ia hanya duduk.
Duduk di ranjang.
Memandang kosong.
Berjam-jam.
Sampai matahari meninggi.
Sampai ibunya mengetuk pintu.
Sampai pembantunya memanggil untuk sarapan.
Sampai dunia di luar tetap berputar.
Sampai ia sadar bahwa Danang benar-benar meninggalkannya.
Malam itu, Kirana tidak pergi ke toko buku.
Ia tidak pergi ke mana pun.
Ia hanya duduk di kamarnya.
Memandang surat itu.
Membacanya berulang-ulang.
Berharap ada penjelasan.
Berharap ada maaf.
Berharap ada "aku bercanda".
Tapi tidak ada.
Hanya kata-kata itu.
Kata-kata yang menghancurkan.
Kata-kata yang mengakhiri segalanya.
"Kirana, buka pintu! Ibu bawakan makan malam!" suara Nyonya Dewi dari luar pintu.
"Tidak usah, Bu. Aku tidak lapar."
"Kau belum makan sejak pagi. Kau harus makan. Kau bisa sakit."
"Tidak usah, Bu. Aku tidak mau makan. Aku hanya ingin sendiri."
Nyonya Dewi menghela napas.
Ia meletakkan nampan berisi makanan di depan pintu.
Berbalik.
Berjalan menjauh.
Meninggalkan Kirana sendirian dengan surat itu.
Sendirian dengan rasa sakit.
Sendirian dengan kehancuran.
Sementara itu, di tempat lain, di kamar kosnya yang sempit, Danang tidak tahu apa-apa.
Ia bekerja seperti biasa.
Ia menyusun huruf-huruf timah.
Ia mengangkat kertas-kertas berat.
Ia membersihkan mesin-mesin tua.
Ia mengantar pesanan ke pelanggan.
Ia makan nasi bungkus di warung.
Ia pulang ke kos.
Ia mandi.
Ia tidur.
Ia tidak tahu bahwa Kirana sedang menangis.
Ia tidak tahu bahwa surat palsu telah menghancurkan cinta mereka.
Ia tidak tahu bahwa sahabatnya telah mengkhianatinya.
Ia tidak tahu bahwa Surya telah berhasil.
Ia tidak tahu bahwa dunianya akan segera runtuh.
"Danang, kau kenapa melamun?" tanya Pak Suryanto dari belakang.
Danang tersentak. "Eh... tidak, Pak. Aku hanya... aku hanya berpikir tentang Kirana."
"Kirana? Ada apa dengan Kirana?"
"Aku tidak tahu, Pak. Aku tidak bisa menghubunginya. Telepon di toko buku tidak diangkat. Aku mampir ke rumahnya, tapi pembantunya bilang Kirana tidak mau bertemu siapa pun. Aku bingung. Aku khawatir."
Pak Suryanto menghela napas. "Mungkin Kirana sedang sakit, Nak. Atau sedang ada masalah. Beri dia waktu. Nanti dia akan hubungi kau."
"Tapi Pak, aku..."
"Bersabar, Nak. Cinta butuh kesabaran. Cinta butuh pengertian. Cinta butuh..."
"Aku tahu, Pak. Tapi aku..."
"Percaya pada Kirana, Nak. Dia perempuan baik. Dia tidak akan meninggalkan kau begitu saja."
Danang mengangguk.
Ia kembali bekerja.
Tapi pikirannya tetap pada Kirana.
Pada senyumnya.
Pada tawanya.
Pada matanya yang coklat kehijauan.
Pada janji mereka.
Pada cinta mereka.
Ia tidak tahu bahwa janji itu akan segera berakhir.
Bahwa cinta itu akan segera mati.
Bahwa Kirana akan segera pergi dari hidupnya.
Bab 40
Hujan yang Memisahkan
Dua hari setelah surat palsu itu diterima Kirana, Danang datang ke rumahnya.
Hujan turun deras malam itu. Bukan hujan biasa. Bukan hujan gerimis yang pelan dan sayu. Bukan hujan sore yang mengguyur sebentar lalu reda. Ini hujan yang turun dengan kemarahan, dengan amarah, dengan keputusasaan. Seperti langit sedang melampiaskan semua yang selama ini ia pendam. Seperti Tuhan sedang menangis dan tidak peduli siapa yang basah.
Air jatuh dari langit dalam jumlah yang luar biasa, butir-butirnya besar dan keras, menghantam atap-atap rumah dengan suara seperti ribuan genderang yang ditabuh bersamaan. Angin bertiup kencang, menderu di antara celah-celah dinding, membuat pohon-pohon di halaman bergoyang liar, membuat ranting-ranting patah dan jatuh ke tanah. Sesekali kilat menyambar di kejauhan, diikuti gemuruh yang mengguncang tanah, yang membuat jendela-jendela bergetar, yang membuat orang-orang yang masih terjaga melompat kaget.
Danang berdiri di depan pagar rumah Kirana, basah kuyup. Tubuhnya yang kekar dan berotot, yang terbiasa dengan kerja keras dan hujan dan panas, menggigil kedinginan. Rambutnya yang ikal dan tidak pernah rapi, basah menempel di dahi, di pipi, di leher. Air mengalir dari ujung rambutnya, jatuh ke bahunya, ke bajunya, ke tanah. Bajunya yang tipis dan lusuh basah, menempel di kulitnya, memperlihatkan bentuk tubuhnya yang kurus tetapi berotot.
Sepatu bolongnya basah, penuh lumpur. Kaus kakinya basah, dingin, tidak nyaman. Tapi ia tidak peduli. Yang ia pedulikan hanyalah Kirana. Yang ia pedulikan hanyalah menjenguk Kirana. Yang ia pedulikan hanyalah memastikan bahwa Kirana baik-baik saja.
"Kirana!" teriaknya dari depan pagar, suaranya nyaris tak terdengar di tengah derasnya hujan dan kencangnya angin. "Kirana, buka pintu! Aku Danang!"
Tidak ada jawaban.
"Kirana! Aku tahu kau di dalam! Buka pintu! Kita bicara!"
Masih tidak ada jawaban.
Danang membuka pagar besi hitam yang tinggi. Pagar itu berat, berkarat di beberapa tempat, tetapi ia mendorongnya dengan kuat. Ia berjalan melewati halaman yang basah, melewati rumput yang becek, melewati genangan air yang menggenang di mana-mana. Air hujan setinggi mata kakinya, dingin, lumpur, membuat langkahnya berat.
Ia menaiki tangga menuju teras rumah. Tangga marmer putih yang licin karena air hujan, membuatnya hampir jatuh beberapa kali, tetapi ia berpegangan pada pegangan besi yang dingin dan basah. Ia sampai di depan pintu utama, pintu kayu jati besar dengan ukiran-ukiran rumit yang menggambarkan bunga-bunga dan daun-daun dan hewan-hewan mitologi.
Ia mengetuk pintu.
Keras.
"Kirana! Buka pintu! Aku tahu kau di dalam! Aku mau bicara denganmu!"
Pintu terbuka.
Bukan Kirana.
Pembantu rumah tangga, Yati, perempuan muda dengan wajah cemberut dan celemek kotor, berdiri di ambang pintu. Matanya menatap Danang dengan sinis, dengan tidak suka, dengan kebencian.
"Mbak Kirana tidak mau bertemu siapa pun, Mas. Pulanglah. Basah-basah. Nanti sakit."
"Yati, tolong. Aku harus bicara dengan Kirana. Ini penting. Tolong panggilkan dia."
"Tidak bisa, Mas. Mbak Kirana sudah bilang. Dia tidak mau bertemu siapa pun. Khususnya Mas Danang."
Danang terdiam.
Kata-kata itu menusuk hatinya.
Kata-kata itu seperti pisau.
Kata-kata itu seperti belati.
Kata-kata itu seperti racun.
"Yati, tolong..."
"Pulanglah, Mas. Mbak Kirana tidak mau melihat Mas. Mbak Kirana sudah muak dengan Mas. Mbak Kirana sudah..."
"Yati, cukup!"
Suara Kirana dari dalam.
Yati menyingkir.
Kirana muncul di balik pintu.
Wajahnya pucat.
Matanya merah, bengkak, seperti habis menangis berjam-jam.
Rambutnya kusut, tidak disisir.
Bajunya kusut, tidak berganti sejak kemarin.
Ia memegang sesuatu di tangannya.
Surat itu.
Surat palsu.
Surat yang ditulis Arman.
Surat yang menghancurkan hatinya.
"Kau mau bicara, Danang?" suara Kirana dingin. Sangat dingin. Lebih dingin dari air hujan. Lebih dingin dari angin malam. Tidak ada kehangatan di sana. Tidak ada cinta. Tidak ada kasih sayang. Hanya dingin. Hanya kebencian. Hanya kekecewaan.
"Kirana, apa yang terjadi? Kenapa kau tidak mengangkat telepon? Kenapa kau tidak mau bertemu aku? Kenapa kau..."
"Kau bertanya apa yang terjadi, Danang?" Kirana mengangkat surat itu, mengibas-ngibaskannya di depan wajah Danang. "Ini yang terjadi. Surat ini. Surat dari kau. Surat yang mengatakan bahwa kau capek. Surat yang mengatakan bahwa kau menyerah. Surat yang mengatakan bahwa kita hanya kenangan."
Danang mengernyit. Ia meraih surat itu, membacanya. Sekali. Dua kali. Wajahnya berubah. Dari bingung menjadi marah. Dari marah menjadi takut. Dari takut menjadi putus asa.
"Kirana, aku tidak pernah menulis surat ini," katanya, suaranya tegas, yakin, tidak ada keraguan. "Aku tidak pernah menulis surat seperti ini. Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku capek. Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku menyerah. Aku tidak pernah mengatakan bahwa kita hanya kenangan. Aku tidak pernah..."
"Jangan bohong, Danang!" potong Kirana, suaranya keras, tajam, seperti pisau. Matanya menyala, bukan dengan cinta, tetapi dengan amarah. "Aku tahu tulisan kau! Aku hafal tulisan kau! Aku sudah mengenal tulisan kau sejak kita kecil! Ini tulisan kau! Tidak mungkin orang lain yang menulis!"
"Kirana, aku tidak..."
"Kau selalu bilang kau mencintaiku. Kau selalu bilang kau tidak akan meninggalkanku. Kau selalu bilang kita akan bersama selamanya. Tapi lihat kenyataannya, Danang! Kau menulis surat ini! Kau mengatakan bahwa kau capek! Kau mengatakan bahwa kau menyerah! Kau mengatakan bahwa kita hanya kenangan!"
"Kirana, aku tidak pernah menulis surat itu! Aku bersumpah! Aku tidak pernah!"
"Jangan sumpah, Danang! Sumpah tidak akan mengubah apa pun! Surat ini sudah cukup! Aku tidak mau mendengar penjelasan apa pun! Aku tidak mau melihat kau lagi! Aku tidak mau..."
Kirana menangis.
Ia tidak bisa melanjutkan.
Tangisnya pecah.
Ia menutup pintu.
Banting.
Keras.
Suara pintu tertutup terdengar seperti bunyi peti mati ditutup, seperti bunyi sesuatu yang berakhir, seperti bunyi jantung yang berhenti berdetak.
Danang berdiri di depan pintu.
Basah.
Kedinginan.
Hancur.
Ia mengetuk pintu lagi.
"Kirana! Buka pintu! Dengarkan aku! Aku tidak menulis surat itu! Aku tidak pernah! Seseorang memalsukan tulisanku! Seseorang ingin memisahkan kita! Kirana!"
Tidak ada jawaban.
Hanya suara hujan.
Hanya suara angin.
Hanya suara tangis Kirana dari dalam.
Danang mengetuk lagi.
Lebih keras.
"Kirana! Tolong buka pintu! Kita bicara baik-baik! Kita selesaikan masalah ini bersama! Aku tidak mau kehilangan kau! Kirana!"
Masih tidak ada jawaban.
Danang tidak menyerah.
Ia terus mengetuk.
Terus memanggil.
Terus berteriak.
Sampai tangannya sakit.
Sampai suaranya serak.
Sampai ia kehabisan tenaga.
Tapi Kirana tidak membuka pintu.
Ia hanya menangis di dalam.
Menangis sendirian.
Menangis dengan surat palsu di tangan.
Menangis dengan hati yang hancur.
Menangis dengan cinta yang mati.
Danang akhirnya berhenti.
Ia berdiri di depan pintu.
Basah.
Kedinginan.
Hancur.
Air matanya bercampur dengan air hujan.
Tidak ada yang membedakan.
Tidak ada yang tahu.
"Kirana," bisiknya, suaranya pelan, lembut, penuh dengan kesedihan. "Aku mencintaimu. Aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu. Sampai kapan pun. Sampai mati."
Ia berbalik.
Berjalan menjauh.
Menuruni tangga.
Melewati halaman.
Melewati pagar.
Meninggalkan rumah Kirana.
Meninggalkan cintanya.
Meninggalkan kebahagiaannya.
Meninggalkan masa depannya.
Di tengah hujan.
Di tengah malam.
Di tengah kesendirian.
Di dalam kamarnya, Kirana mendengar langkah kaki Danang yang menjauh.
Ia mendengar suara pagar yang dibuka dan ditutup.
Ia mendengar suara sepeda onthel yang dikayuh perlahan, meninggalkan rumahnya.
Ia menangis lebih keras.
Ia menyesali semuanya.
Ia menyesali surat itu.
Ia menyesali kemarahannya.
Ia menyesali kata-kata pedas yang keluar dari mulutnya.
Ia menyesali pintu yang ia banting.
Ia menyesali semuanya.
Tapi ia tidak bisa memutar waktu.
Ia tidak bisa mengambil kembali kata-katanya.
Ia tidak bisa membuka pintu itu.
Ia hanya bisa menangis.
Menangis di atas ranjang.
Menangis dengan surat palsu di tangan.
Menangis dengan hati yang hancur.
Menangis dengan cinta yang mati.
"Danang," bisiknya, suaranya pelan, lembut, penuh dengan penyesalan. "Maafkan aku. Aku tidak tahu. Aku tidak berpikir. Aku hanya... aku hanya sakit. Aku hanya kecewa. Aku hanya..."
Ia tidak melanjutkan.
Ia hanya menangis.
Menangis sampai tertidur.
Menangis sampai pagi.
Menangis sampai tidak ada air mata yang tersisa.
Di tempat lain, di kamar kosnya yang sempit, Danang juga tidak bisa tidur.
Ia berbaring di ranjangnya, memandang langit-langit yang gelap, mendengar suara hujan yang masih deras, mendengar suara tetangga di sebelah kanan yang batuk-batuk, tetangga di sebelah kiri yang bertengkar, tetangga di atas yang memindahkan furnitur.
Ia memegang pita biru di tangannya.
Pita yang sudah hampir putih.
Pita yang kainnya sudah rapuh.
Pita yang menjadi satu-satunya kenangan dari Kirana.
"Kirana," bisiknya. "Aku tidak akan menyerah. Aku akan membuktikan bahwa aku tidak menulis surat itu. Aku akan mencari tahu siapa yang memalsukan tulisanku. Aku akan menemukan orang yang ingin memisahkan kita. Aku akan..."
Ia tidak melanjutkan.
Ia hanya menangis.
Menangis di ranjang sempitnya.
Menangis di kamar kos yang dingin.
Menangis di tengah malam yang gelap.
Menangis karena kehilangan.
Menangis karena kebohongan.
Menangis karena pengkhianatan.
Di luar, hujan masih turun.
Tidak reda-reda.
Seperti langit ikut menangis.
Seperti alam ikut bersedih.
Seperti dunia ikut merasakan bahwa malam itu, dua insan yang saling mencintai berpisah.
Bukan karena takdir.
Bukan karena perbedaan status.
Bukan karena campur tangan orang tua.
Tapi karena surat palsu.
Tapi karena kebohongan.
Tapi karena pengkhianatan.
Tapi karena sahabat yang iri.
Tapi karena dendam yang tidak pernah padam.
"Selamat malam, Danang. Selamat malam, Kirana," bisik Arman dari kejauhan, dari balik kegelapan malam, dari balik hujan yang deras. "Semoga kalian bahagia. Karena kebahagiaan kalian tidak akan lama lagi. Aku akan pastikan itu."
Ia tersenyum.
Senyum yang dingin.
Senyum yang penuh dengan kemenangan.
Senyum yang mengatakan bahwa ia berhasil.
Senyum yang mengatakan bahwa Danang dan Kirana telah berpisah.
Senyum yang mengatakan bahwa ia akan segera mendapatkan Kirana.
"Kirana," bisiknya. "Kau akan menjadi milikku. Aku akan menjagamu. Aku akan mencintaimu. Aku akan membahagiakanmu. Tidak seperti Danang. Tidak seperti..."
Ia tidak melanjutkan.
Ia hanya tersenyum.
Tersenyum di tengah hujan.
Tersenyum di tengah malam.
Tersenyum di tengah kesendirian.
Tersenyum di atas kehancuran sahabatnya.
EPILOG BAGIAN KEDUA
Langit yang Benar-Benar Retak
Beberapa hari setelah malam hujan itu, setelah pintu dibanting, setelah kata-kata pedas diucapkan, setelah air mata mengalir tanpa henti, Kirana pergi dari kota.
Bukan karena ia ingin pergi. Bukan karena ia sudah tidak mencintai Danang. Bukan karena ia memilih Arman. Tapi karena ia tidak kuat. Tapi karena ia tidak tega. Tapi karena ia tidak bisa melihat Danang lagi tanpa mengingat surat itu, tanpa mengingat kata-kata "aku capek", tanpa mengingat "kita hanya kenangan".
Ia pergi tanpa pamit.
Tanpa penjelasan.
Tanpa sepatah kata pun.
Ia hanya mengemas kopernya, meninggalkan surat untuk orang tuanya, lalu pergi ke stasiun, naik kereta, meninggalkan kota Purwokerto, meninggalkan Danang, meninggalkan Arman, meninggalkan semua kenangan.
Ia pergi ke Jakarta.
Bersama seorang teman yang membantunya mendapatkan pekerjaan di toko kain di Pasar Senen.
Ia memulai hidup baru.
Ia mencoba melupakan.
Ia mencoba move on.
Ia mencoba bahagia.
Tapi ia tidak bisa melupakan Danang.
Tidak peduli seberapa jauh ia pergi.
Tidak peduli seberapa lama waktu berlalu.
Tidak peduli seberapa banyak ia berusaha.
Danang tetap di hatinya.
Selamanya.
Danang datang ke toko buku suatu sore. Toko itu kosong. Rak-rak yang biasanya penuh dengan buku kini sunyi. Buku-buku sudah dipindahkan, mungkin dijual, mungkin disumbangkan, mungkin dibuang. Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang peduli.
Pintu tertutup rapat. Gembok besar menggantung di pintu, seperti mulut yang terkunci rapat, seperti hati yang tertutup, seperti cinta yang mati.
Debu mulai turun di rak-rak kosong. Debu putih tipis yang terlihat seperti salju di musim kemarau, seperti abu di tempat kremasi, seperti sisa-sisa kehidupan yang telah berlalu.
Ia berdiri lama di depan tempat itu.
Tak marah.
Tak menangis.
Hanya kosong.
Kosong yang tidak bisa ia isi dengan apa pun.
Kosong yang membuatnya merasa seperti mayat hidup.
Kosong yang membuatnya bertanya-tanya apa gunanya terus hidup jika semua yang ia cintai selalu pergi.
"Kirana," bisiknya. "Kenapa kau pergi? Kenapa kau tidak bilang? Kenapa kau..."
Ia tidak melanjutkan.
Ia hanya berdiri.
Berdiri di depan toko buku yang kosong.
Berdiri di depan kenangan yang hancur.
Berdiri di depan cinta yang mati.
Arman datang dari belakang.
Berdiri beberapa langkah di belakang Danang.
Wajahnya pucat.
Matanya sayu.
Tangannya gemetar.
"Danang, aku turut berduka. Aku turut sedih. Aku turut..."
Danang tidak menoleh.
Ia sudah tahu.
Ia sudah tahu sejak lama.
Ia sudah tahu bahwa Arman yang menulis surat itu.
Ia sudah tahu bahwa Arman yang memalsukan tulisannya.
Ia sudah tahu bahwa Arman yang menghancurkan cintanya.
Ia sudah tahu bahwa Arman yang mengkhianatinya.
"Kenapa, Arman?" tanyanya, suaranya pelan, datar, tanpa emosi. "Kenapa kau lakukan ini? Kenapa kau hancurkan kebahagiaan aku dan Kirana? Kenapa kau..."
"Karena aku juga mencintainya, Danang."
Danang menoleh.
Matanya bertemu dengan mata Arman.
Mata yang dulu ramah.
Mata yang dulu hangat.
Mata yang dulu menjadi tempatnya berkeluh kesah.
Mata yang dulu menjadi sahabatnya.
Kini mata itu penuh dengan penyesalan.
Penuh dengan rasa bersalah.
Penuh dengan kehancuran.
"Kau sahabatku, Arman. Kau seperti kakak bagiku. Aku percaya padamu. Aku... kenapa kau tega melakukan ini padaku?"
Arman menunduk.
Air matanya jatuh.
Ia tidak bisa menjawab.
Ia hanya bisa menangis.
Menangis di hadapan Danang.
Menangis karena ia tahu bahwa ia telah menghancurkan persahabatan mereka.
Menangis karena ia tahu bahwa ia tidak akan pernah bisa memperbaikinya.
Menangis karena ia tahu bahwa ia kehilangan segalanya.
"Maafkan aku, Danang," bisiknya. "Maafkan aku."
Danang tidak menjawab.
Ia hanya berbalik.
Berjalan menjauh.
Meninggalkan Arman.
Meninggalkan toko buku.
Meninggalkan kota.
Meninggalkan semua kenangan.
Meninggalkan semua luka.
Ia pergi ke tempat yang tidak dikenal siapa pun.
Memulai hidup baru.
Menjadi orang baru.
Melupakan masa lalu.
Tapi ia tidak bisa melupakan Kirana.
Tidak peduli seberapa jauh ia pergi.
Tidak peduli seberapa lama waktu berlalu.
Tidak peduli seberapa banyak ia berusaha.
Kirana tetap di hatinya.
Selamanya.
BAGIAN KETIGA
Jejak Waktu, Senja yang Memulangkan
"Kadang, pulang bukan berarti kembali ke tempat kita dilahirkan. Pulang adalah kembali ke orang yang membuat kita merasa hidup."
PROLOG
Jalan Pulang yang Terlambat
Tahun 2008. Dunia telah banyak berubah sejak Danang terakhir kali menginjakkan kaki di desa kelahirannya. Tiga puluh tahun telah berlalu. Tiga puluh tahun sejak ia meninggalkan Kirana di stasiun Purwokerto. Tiga puluh tahun sejak Arman mengkhianatinya. Tiga puluh tahun sejak Surya merencanakan kehancurannya. Tiga puluh tahun sejak ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan pernah kembali.
Tiga puluh tahun yang terasa seperti sekejap mata di ingatan, tetapi terasa sangat lama di tulang dan sendi yang mulai rapuh. Tiga puluh tahun yang mengajarkannya bahwa waktu tidak pernah berhenti untuk siapa pun, bahwa hidup terus berjalan meskipun hati hancur, bahwa luka tidak pernah benar-benar sembuh, hanya tertimbun oleh lapisan-lapisan waktu yang terus menumpuk.
Sekarang, di usia lima puluh tahun, Danang Wiratama berdiri di pelataran stasiun Purwokerto yang telah berubah total. Stasiun kayu tua yang dulu ia kenal, dengan bangunan bergaya kolonial Belanda yang megah tetapi usang, kini telah digantikan oleh bangunan modern berlantai dua dengan dinding kaca dan atap baja ringan. Lampu-lampu neon terang menyala di mana-mana, menggantikan lampu minyak dan lilin yang dulu menerangi kegelapan malam. Papan-papan elektronik digital berkedip-kedip menampilkan jadwal kedatangan dan keberangkatan kereta, dengan huruf-huruf hijau terang yang terlihat jelas meskipun dari kejauhan.
"Kereta api Argo Lawu jurusan Jakarta Gambir akan segera tiba di jalur 2. Diharapkan para penumpang untuk bersiap di peron yang telah ditentukan," suara perempuan dari pengeras suara menggema di seluruh area stasiun, terdengar jelas, tidak lagi parau seperti dulu ketika pengeras suara masih menggunakan pita kaset dan amplifier tabung yang sering mati.
Danang menghela napas. Ia membawa koper baru, bukan koper tua milik Sastrowiryo yang sudah hancur dimakan usia dan perjalanan. Koper warna hitam dengan roda di bagian bawah, canggih, modern, sangat berbeda dengan koper kulit sintetis coklat tua dengan gesper kuningan berkarat yang dulu ia bawa ke mana-mana. Koper itu sudah ia buang sepuluh tahun lalu, ketika ia memutuskan untuk memulai hidup baru di Jakarta, menjadi orang baru, melupakan masa lalu.
Rambutnya telah memutih di pelipis, dan uban-uban itu kini menyebar ke seluruh kepalanya seperti salju yang turun di musim dingin yang panjang. Putih yang tidak bisa lagi disembunyikan dengan minyak rambut atau pewarna. Putih yang datang sebagai pengingat bahwa waktu tidak pernah berhenti untuk siapa pun, bahwa setiap hari yang lewat meninggalkan jejaknya di tubuh kita, tidak peduli seberapa keras kita berusaha melupakannya.
Wajahnya dipenuhi kerutan, kerutan yang seperti peta yang mencatat setiap tahun yang telah ia lalui, setiap suka dan duka yang ia alami, setiap luka yang ia simpan. Kerutan di keningnya dalam, bekas dari terlalu banyak berpikir, terlalu banyak khawatir, terlalu banyak menahan amarah. Kerutan di sekitar matanya halus, bekas dari terlalu banyak menahan air mata, terlalu banyak tersenyum padahal hancur. Kerutan di pipinya kasar, bekas dari terlalu banyak bekerja di bawah terik matahari, terlalu banyak menghirup debu dan asap.
Bahunya tidak lagi setegak dulu. Pekerjaan kasar selama bertahun-tahun, mengangkat kertas dan mesin cetak, membongkar muat barang di dermaga-dermaga kecil, membangun rumah-rumah sebagai kuli bangunan, semuanya telah membungkukkan sedikit punggungnya. Ia masih bisa berdiri tegak jika berusaha, tetapi usahanya itu semakin melelahkan setiap tahun. Tulang-tulangnya terasa sakit setiap pagi ketika ia bangun, persendiannya kaku, lututnya berderit ketika ia berjalan.
Tapi matanya masih sama. Masih gelap. Masih dalam. Masih seperti lubang sumur tua yang tidak pernah mencapai dasar. Hanya saja, kini ada lebih banyak kesedihan di sana. Lebih banyak penyesalan. Lebih banyak kelelahan. Lebih banyak kerinduan pada seseorang yang mungkin sudah tidak ingat lagi padanya.
"Pak, Bapak mau naik taksi?" seorang lelaki muda dengan jaket biru dan kartu nama menggantung di leher, menghampirinya. Wajahnya cerah, penuh semangat, seperti orang yang masih percaya bahwa dunia ini baik. "Aku antar ke mana saja. Murah. Pakai argo. Tidak pakai tawar-menawar. Terjamin aman."
Danang tersenyum tipis. "Ke desa Kapuas Muara, Nak. Bisa?"
"Bisa, Pak. Jauh memang. Tapi saya tahu jalannya. Sering antar orang ke sana. Rumah dinas camat, ya? Atau ke rumah kepala desa?"
"Ke rumah lama. Rumah panggung di tepi sungai. Tapi saya tidak tahu apakah masih berdiri."
Lelaki muda itu mengangguk. "Saya coba cari, Pak. Kalau tidak ada, saya antar ke rumah kepala desa. Beliau pasti tahu."
"Baik. Terima kasih."
Mobil taksi yang ditumpangi Danang adalah mobil Avanza hitam tahun 2005, masih bagus, masih mulus, AC-nya dingin, joknya empuk. Sangat berbeda dengan bus-bus tua yang dulu ia tumpangi ketika pertama kali merantau ke kota. Bus yang lantainya bolong, joknya sobek, AC-nya tidak ada, mesinnya sering mogok di tengah jalan.
Danang duduk di kursi belakang, memandang ke luar jendela, melihat pemandangan yang berubah dengan cepat. Jalanan yang dulu masih tanah dan kerikil, kini sudah beraspal hitam mulus. Rumah-rumah panggung yang dulu berdiri di pinggir jalan, kini sudah digantikan oleh bangunan-bangunan semen bertingkat. Toko-toko modern dengan papan nama berwarna-warni menjamur di mana-mana, menjual segala macam kebutuhan, dari sembako hingga pulsa listrik dan pulsa telepon seluler.
Di pinggir jalan, anak-anak muda dengan pakaian modern, celana jins ketat, kaus oblong dengan tulisan-tulisan Inggris yang tidak mereka mengerti, rambut dicat merah atau pirang, berdiri sambil memegang telepon seluler, berbicara dengan suara keras, tertawa dengan riang. Di saku mereka, ponsel-ponsel canggih dengan kamera dan layar warna, yang dulu tidak pernah terbayangkan oleh Danang ketika ia masih muda.
Tower-tower telepon seluler berdiri tinggi di mana-mana, seperti pohon-pohon besi raksasa yang tumbuh di tengah sawah dan kebun. Kabel-kabel fiber optik membentang di atas jalanan, menghubungkan desa-desa terpencil dengan dunia luar. Internet, kata orang, telah masuk ke desa. Anak-anak muda sekarang bisa mengakses informasi dari seluruh dunia hanya dengan menyentuh layar kaca di tangan mereka.
Dunia telah berubah.
Danang merasa asing.
Ia merasa seperti orang yang bangun dari koma panjang, setelah tiga puluh tahun tertidur, dan mendapati bahwa semua yang ia kenal telah berubah, telah hilang, telah mati.
"Ini sudah masuk desa, Pak," kata sopir taksi, Budi namanya, lelaki muda berusia sekitar tiga puluh tahun, dengan wajah cerah dan ramah. "Jalanannya sudah bagus, ya, Pak? Dulu kan masih tanah. Waktu saya kecil, sering main ke sini. Lumpur di mana-mana. Hujan sedikit banjir. Sekarang sudah aspal. Bagus."
"Iya. Sudah bagus," jawab Danang datar.
"Bapak dulu tinggal di sini? Lama tidak pulang, ya? Wajah Bapak masih saya kenali. Mirip dengan foto-foto lama yang saya lihat di rumah kepala desa. Dulu Bapak terkenal, ya? Cerita orang-orang, Bapak berani melawan Surya, anak saudagar beras. Berani menampar dia di halaman sekolah."
Danang terkejut. "Kau tahu tentang itu?"
"Semua orang di desa ini tahu, Pak. Cerita itu sudah menjadi legenda. Diceritakan turun-temurun dari orang tua ke anak, dari anak ke cucu. Bahwa dulu ada anak muda pemberani dari keluarga miskin yang berani melawan anak saudagar kaya. Dan anak muda itu bernama Danang Wiratama."
Danang tersenyum pahit. "Legenda yang aneh. Aku tidak merasa pemberani. Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan."
"Tapi Bapak berhasil, Pak. Surya sekarang bangkrut. Bisnisnya hancur. Restorannya tutup. Rumahnya disita bank. Ia sekarang tinggal di gubuk reot di pinggir sungai, persis di seberang rumah Bapak dulu. Katanya, ia setiap hari minum tuak dan menangis-nangis sendiri, menyesali semua perbuatannya."
Danang terdiam.
Ia tidak tahu.
Ia tidak pernah tahu.
Ia tidak pernah kembali.
Ia tidak pernah bertanya.
Ia tidak pernah peduli.
"Kirana? Apa kau tahu tentang Kirana?" tanya Danang, suaranya bergetar.
Budi menghela napas. "Kirana Prameswari, Pak? Perempuan yang dulu Bapak cintai? Yang Bapak kejar sampai ke kota? Yang surat-suratnya ditahan oleh Arman?"
Danang terkejut lagi. "Kau tahu tentang itu juga?"
"Semua orang tahu, Pak. Itu juga cerita yang terkenal. Arman sekarang sakit-sakitan. Kena stroke. Lumpuh setengah badan. Tidak bisa bicara. Ia tinggal sendiri di rumahnya yang reot, dirawat oleh keponakannya yang kadang datang seminggu sekali. Katanya, ia sering nangis sambil menyebut-nyebut nama Bapak dan nama Kirana. Menyesal. Tapi sudah terlambat."
"Dan Kirana?"
Budi tersenyum. "Kirana masih di sini, Pak. Ia tidak pernah pergi. Setelah kepergian Bapak dari kota, ia kembali ke desa. Ia menikah dengan lelaki pilihan ibunya, seorang pegawai bank. Tapi pernikahannya tidak bahagia. Suaminya meninggal lima tahun lalu, kecelakaan di tempat kerja. Sekarang ia tinggal sendiri di rumah tua di ujung kebun rambutan. Kadang anaknya yang perempuan datang menjenguk, tapi tidak sering. Kebanyakan ia sendiri."
Danang menunduk.
Air matanya jatuh.
"Bawa aku ke sana, Budi. Ke rumah Kirana."
"Baik, Pak."
Bab 41
Perempuan di Beranda Senja
Mobil berhenti di depan sebuah rumah kayu sederhana di ujung kebun rambutan. Rumah itu tidak besar, tidak kecil, sederhana, seperti kebanyakan rumah di desa. Dindingnya terbuat dari papan kayu yang dicat putih, catnya sudah mengelupas di beberapa tempat, tetapi masih terawat. Atapnya dari seng gelombang, berwarna merah marun, dengan tambalan terpal di beberapa tempat yang bocor. Halamannya ditumbuhi rumput yang tidak terlalu panjang, beberapa pot bunga diletakkan di beranda, bunga melati, bunga mawar, bunga kamboja, yang wanginya semerbak di sore hari.
Di halaman, seorang perempuan sedang duduk di kursi rotan yang sudah tua, kursi yang sandarannya longgar, yang bantalnya pipis, yang kakinya ditopang dengan potongan kayu agar tidak goyang. Ia memegang sebuah buku di tangannya, buku novel tebal dengan sampul yang sudah lusuh. Di meja di sampingnya, segelas teh hangat masih mengepulkan uap, dan sebuah radio tua merek National, yang sama persis dengan radio di toko buku dulu, menyanyikan lagu-lagu lawas dari tahun delapan puluhan.
"Chrisye," bisik Danang. "Lagu 'Anak Sekolah'."
Perempuan itu menoleh.
Rambutnya sebagian memutih. Tidak seluruhnya, tetapi cukup banyak untuk terlihat jelas di antara hitam yang tersisa. Putih itu terkonsentrasi di pelipis dan di bagian depan kepalanya, seperti salju yang turun di puncak gunung. Rambut yang dulu panjang dan hitam dan tergerai indah di punggungnya, kini lebih pendek, hanya sebahu, diikat sederhana di belakang dengan karet gelang hitam, tidak lagi merah.
Tubuhnya lebih kurus dari yang ia ingat. Dulu, ketika ia masih muda, Kirana memiliki tubuh yang berisi, tidak gemuk tetapi tidak kurus, dengan lekuk-lekuk yang membuat setiap pemuda di desa itu menoleh. Kini, bahunya yang dulu tegap dan percaya diri, terlihat sedikit membungkuk, seperti sedang memikul beban yang terlalu berat sendirian. Lengannya yang dulu lentik dan mulus, kini keriput, dengan urat-urat biru yang terlihat di bawah kulit tipis yang mulai mengendur.
Wajahnya diselimuti usia. Garis-garis halus di sekitar mata dan mulut, yang dulu hanya muncul ketika ia tersenyum lebar, kini telah menjadi kerutan permanen. Kulit di pipinya mulai kendur, tidak lagi kencang seperti dulu. Ada bintik-bintik hitam kecil di pipi dan dahinya, tanda bahwa matahari telah terlalu sering menyentuh kulitnya tanpa perlindungan.
Namun di balik semua itu, di balik kerutan dan kulit kendur dan rambut memutih, masih ada sisa-sisa kecantikan yang tidak bisa dihilangkan oleh waktu. Seperti bunga yang masih mekar meskipun kelopaknya mulai layu. Seperti senja yang masih indah meskipun matahari hampir tenggelam.
Dan ketika perempuan itu menoleh, ketika matanya yang sayu karena usia dan mungkin karena terlalu banyak menangis dalam diam, menangkap sosok yang berdiri di depan pagar rumahnya, Danang tahu.
Beberapa orang tidak pernah benar-benar berubah di mata hati seseorang. Wajah boleh berkerut. Rambut boleh memutih. Tubuh boleh menyusut. Suara boleh menjadi parau. Tetapi mata tidak pernah berubah. Mata tetap sama. Mata adalah jendela jiwa, kata orang. Dan jendela jiwa Kirana masih sama seperti dulu, ketika ia masih kecil dan mengangkat jari kelingkingnya di tepi sungai, ketika ia masih muda dan tersenyum di toko buku kecil di pinggir kota.
Mata itu. Mata yang sama. Mata yang dulu membuat Danang jatuh cinta pada pandangan pertama, meskipun saat itu ia tidak tahu apa namanya. Mata yang dulu menjadi rumah baginya ketika seluruh dunia terasa asing dan dingin. Mata yang dulu menangis ketika mereka berpisah, dan yang sekarang mungkin akan menangis lagi karena mereka bertemu.
"Danang?" suara Kirana pelan, hampir tidak percaya, seperti orang yang sedang bermimpi, seperti orang yang tidak yakin apakah yang ia lihat nyata atau hanya khayalan.
Danang tidak bisa menjawab. Mulutnya terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar. Tenggorokannya terasa kering, seperti ada yang mengganjal di sana, seperti ada duri yang tidak bisa ditelan, tidak bisa dimuntahkan. Dadanya terasa sesak, seperti ada batu besar yang diletakkan di atasnya, seperti ada tangan raksasa yang meremas jantungnya.
"Danang Wiratama," ulang Kirana, suaranya lebih jelas sekarang, lebih yakin, tetapi masih bergetar. "Kau... kau kembali?"
Danang mengangguk. Air matanya jatuh. "Aku kembali, Kirana. Maaf... maaf aku terlambat."
Kirana berdiri. Tubuhnya yang tua bergerak dengan perlahan, dengan hati-hati, seperti orang yang sudah hafal betapa rapuhnya tulang-tulangnya. Lututnya berbunyi ketika ia berdiri. Tangannya yang keriput dan gemetar memegang pagar kayu di depannya, mencari pegangan agar tidak jatuh.
"Kau terlambat sekali, Danang," katanya, suaranya bergetar, air matanya jatuh. "Tiga puluh tahun. Tiga puluh tahun kau pergi. Tiga puluh tahun aku menunggu. Tiga puluh tahun aku berharap. Tiga puluh tahun aku... aku..."
Ia tidak melanjutkan. Tangisnya pecah. Ia menangis di hadapan Danang. Menangis untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Menangis bukan karena ia lemah. Menangis karena ia rindu. Menangis karena ia kehilangan. Menangis karena ia tidak tahu bahwa Danang akan kembali, bahwa Danang masih hidup, bahwa Danang masih mengingatnya.
Danang membuka pagar. Ia berjalan mendekati Kirana. Langkahnya pelan, berat, seperti orang yang kelelahan, seperti orang yang baru saja selesai berperang melawan musuh yang tidak terlihat.
Ia berhenti di depan Kirana. Hanya satu lengan jaraknya. Ia bisa melihat setiap kerutan di wajah Kirana, setiap uban di rambutnya, setiap bintik hitam di kulitnya. Ia bisa melihat bahwa Kirana telah menua. Bahwa Kirana telah menderita. Bahwa Kirana telah sendirian.
"Kirana," bisiknya, suaranya pelan, lembut, penuh dengan penyesalan. "Maafkan aku. Maafkan aku karena tidak pernah kembali. Maafkan aku karena tidak pernah mencari tahu kebenaran. Maafkan aku karena membiarkan kau menunggu. Maafkan aku karena..."
"Sudah, Danang. Tidak usah. Yang penting kau kembali. Yang penting kau di sini. Yang penting..."
Kirana memeluk Danang.
Ia memeluknya erat-erat.
Seperti tidak ingin melepaskan.
Seperti takut kehilangan lagi.
Seperti takut ini hanya mimpi.
Danang membalas pelukan itu.
Tangannya yang tua dan keriput, yang kasar karena kerja keras, yang gemetar karena usia, melingkar di pinggang Kirana yang kurus.
Ia memejamkan mata.
Ia ingin waktu berhenti.
Ia ingin momen ini berlangsung selamanya.
Ia ingin Kirana tetap dalam pelukannya.
Ia ingin kebahagiaan ini tidak pernah berakhir.
"Kirana, aku tidak akan pergi lagi," bisiknya di telinga Kirana. "Aku janji. Aku akan tinggal di sini. Bersamamu. Sampai mati."
Kirana tersenyum.
Senyum yang sama.
Senyum yang dulu menjadi rumah bagi Danang.
Senyum yang membuat Danang merasa bahwa ia tidak sendirian di dunia.
Senyum yang telah ia simpan di memorinya selama tiga puluh tahun, seperti foto yang ia simpan di dompet, seperti pita biru yang ia simpan di kotak kayu.
"Jangan janji dulu, Danang," katanya. "Kita sudah tua. Kita tidak tahu berapa lama lagi kita hidup. Yang penting, hari ini, di sini, kita bersama. Itu sudah cukup."
Danang mengangguk.
Ia melepaskan pelukannya.
Ia memandang Kirana.
Matanya yang basah, yang merah, yang penuh dengan kebahagiaan dan kesedihan pada saat yang bersamaan.
"Kirana, aku membawa sesuatu untukmu."
Ia merogoh sakunya.
Mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil.
Kotak yang sama.
Kotak yang ia buat sendiri dari potongan kayu bekas peti kemasan.
Kotak yang ia amplas sampai halus, yang ia poles dengan minyak kelapa agar mengkilap.
Kotak yang ia simpan di dasar kopernya selama tiga puluh tahun.
Kotak yang tidak pernah ia buka, karena ia takut, takut bahwa jika ia membuka kotak itu, ia akan hancur, ia akan teringat pada Kirana, ia akan menangis.
Kirana menerima kotak itu. Tangannya gemetar. Ia membukanya perlahan. Jari-jarinya yang keriput dan kaku membuka tutup kotak dengan hati-hati, seperti sedang membuka peti harta karun yang terkubur selama berabad-abad, seperti sedang membuka luka lama yang tidak pernah benar-benar sembuh.
Di dalam kotak itu, pita rambut biru.
Warnanya hampir putih.
Biru langit yang dulu cerah dan segar, kini telah memudar menjadi putih keabu-abuan, seperti langit sebelum hujan, seperti langit yang sedang murung. Kainnya rapuh, tipis seperti sayap capung, hampir hancur, hampir tidak berbentuk. Tali karetnya sudah putus, sudah diganti dengan benang jahit biasa yang warnanya tidak sama.
Tapi kenangannya masih utuh.
Masih segar.
Masih tajam.
Kirana menangis.
Ia tidak bisa menahan lagi.
Air matanya jatuh.
Membasahi pipinya.
Membasahi kebaya putihnya.
Membasahi pita biru yang sudah hampir hancur.
"Kau masih menyimpannya, Danang?" bisiknya, suaranya pecah, tangisnya keluar.
"Selamanya, Kirana. Aku akan menyimpannya selamanya."
Mereka berpelukan lagi.
Berpelukan di beranda rumah tua.
Berpelukan di sore yang mulai gelap.
Berpelukan di bawah langit yang mulai berwarna jingga.
Berpelukan setelah tiga puluh tahun terpisah.
Berpelukan setelah tiga puluh tahun menunggu.
Berpelukan setelah tiga puluh tahun menderita.
"Kirana, aku tidak akan pergi lagi," bisik Danang.
"Aku tahu, Danang. Aku tahu."
Bab 42
Teh Hangat dan Kenangan Dingin
Kirana mengajaknya masuk. Tidak dengan kata-kata, hanya dengan anggukan kecil dan gerakan tangan yang mengarah ke dalam rumah. Sebuah isyarat sederhana yang sudah cukup bagi Danang untuk mengerti. Setelah tiga puluh tahun, setelah ribuan malam sendirian, setelah lautan air mata yang tak terhitung, ia masih bisa membaca bahasa tubuh Kirana seperti membaca buku yang sudah ia hafal di luar kepala.
Rumah itu sangat sederhana. Satu ruang tamu yang juga berfungsi sebagai ruang keluarga, satu kamar tidur yang pintunya tertutup rapat, satu dapur mungil di belakang yang terlihat dari ruang tamu melalui sebuah jendela kecil tanpa kaca, hanya lubang persegi di dinding kayu yang ditutup kain tipis. Tidak ada kemewahan. Tidak ada lampu gantung kristal seperti di rumah ibunya dulu. Tidak ada sofa beludru merah atau meja kayu jati dengan ukiran halus. Tidak ada pembantu rumah tangga yang berlalu-lalang dengan wajah cemberut.
Hanya kesederhanaan yang jujur. Kesederhanaan yang tidak perlu berpura-pura menjadi sesuatu yang bukan dirinya. Kesederhanaan yang mengatakan bahwa orang yang tinggal di sini tidak lagi peduli pada penampilan, pada apa kata orang, pada status dan gengsi. Kesederhanaan yang mengatakan bahwa ia telah melepaskan semua itu, bahwa ia telah menemukan bahwa kebahagiaan tidak terletak pada barang-barang mewah, tetapi pada kedamaian hati.
Wangi melati dari pot bunga di jendela memenuhi seluruh ruangan. Wangi yang lembut, menenangkan, seperti pelukan dari masa lalu yang sudah lama tidak ia rasakan. Wangi yang mengingatkannya pada hari-hari ketika ia masih kecil, ketika ibunya masih menanam melati di halaman rumah, ketika ia masih percaya bahwa hidup itu sederhana dan bahagia itu mudah ditemukan. Wangi yang sama yang dulu ia hirup setiap kali ia memasuki toko buku di Jalan Veteran, ketika Kirana masih muda dan tersenyum padanya dengan lesung pipit di pipi kiri.
Lemari kayu jati tua berdiri di sudut ruangan, dengan ukiran sederhana yang sudah hampir hilang karena usia dan terlalu sering dilap. Ukiran bunga melati, sama seperti wangi yang memenuhi ruangan. Mungkin Kirana memang menyukai melati. Mungkin melati adalah bunga yang paling ia cintai. Mungkin melati adalah bunga yang dulu sering ia petik ketika masih kecil, ketika ia datang menemui Danang di tepi sungai dengan bunga liar di tangannya.
Foto-foto lama tergantung di dinding dengan paku yang sudah berkarat. Foto hitam putih yang menguning karena usia, foto berwarna yang warnanya sudah memudar menjadi merah muda dan biru pudar. Wajah-wajah yang sudah tidak ia kenali. Mungkin orang tua Kirana. Mungkin saudara-saudaranya. Mungkin teman-teman lamanya yang sudah meninggal atau pindah ke kota lain.
Di sudut ruangan, di atas meja kecil dari kayu mahoni yang sudah aus, ada radio tua. Bukan radio tabung seperti dulu, tetapi radio transistor merek National yang lebih modern, dengan kenop-kenop plastik putih yang sudah menguning karena usia. Radio itu masih menyala, masih menyanyikan lagu-lagu lawas dari tahun delapan puluhan, suaranya jernih, tidak lagi parau seperti dulu. Mungkin Kirana sudah mengganti spekernya, atau mungkin teknisi di desa itu sudah pandai memperbaiki radio tua.
"Danang, duduklah. Jangan hanya berdiri di sana seperti patung. Kau membuat aku gugup." Kirana menunjuk ke arah kursi rotan di samping jendela, kursi yang sama yang tadi ia duduki di beranda. "Kursinya memang sudah tua. Sandarannya longgar. Bantalnya pipis. Tapi masih nyaman. Aku sudah terbiasa."
Danang duduk di kursi rotan itu. Kursi itu berderit pelan di bawah berat badannya, seperti sedang mengeluh karena tidak terbiasa menahan beban seberat ini. Bantal duduknya yang pipis membuat ia duduk lebih rendah dari yang ia inginkan, tetapi ia tidak peduli. Ia sudah terlalu tua untuk peduli pada kenyamanan. Yang ia pedulikan hanyalah Kirana. Yang ia pedulikan hanyalah berada di dekat Kirana. Yang ia pedulikan hanyalah menghabiskan sisa hidupnya di samping Kirana.
"Rumahmu masih suka sunyi, Kirana," katanya. Matanya menjelajahi setiap sudut ruangan, berhenti di setiap detail kecil, mencoba memahami kehidupan seperti apa yang telah dijalani Kirana selama tiga puluh tahun tanpa dirinya. "Seperti dulu. Seperti rumah ibumu. Besar, tapi sunyi. Indah, tapi dingin."
Kirana tersenyum tipis. Senyum yang tidak lagi secerah dulu, tetapi tetap memiliki kehangatan yang sama. Senyum yang mengatakan bahwa ia telah berdamai dengan kesunyian, bahwa ia telah belajar bahwa kesunyian tidak selalu buruk, bahwa kesunyian bisa menjadi teman jika kita mau menerimanya.
"Sunyi ternyata ikut menua, Danang," katanya sambil berjalan ke dapur, mengambil termos tua dari rak kayu di samping pintu. Termos warna hijau army dengan bintik-bintik karat di beberapa tempat, termos yang sudah berusia setidaknya dua puluh tahun, tetapi masih berfungsi dengan baik. "Dulu sunyi terasa menyakitkan. Sunyi membuatku ingin berteriak. Sunyi membuatku ingin lari ke mana saja, asal tidak sendirian. Tapi sekarang, sunyi terasa seperti teman lama yang tidak perlu banyak bicara. Sunyi terasa seperti selimut hangat di malam yang dingin. Sunyi terasa seperti..."
"Seperti aku?" potong Danang, setengah bercanda, setengah serius.
Kirana tertawa. Tawa kecil yang terdengar seperti gemericik air di sungai, seperti suara daun-daun yang bergesekan ditiup angin. "Kau masih suka bergurau, Danang. Tiga puluh tahun tidak mengubahmu."
"Tiga puluh tahun mengubah segalanya, Kirana. Rambutku memutih. Punggungku membungkuk. Lututku sakit setiap pagi. Aku tidak bisa makan pedas seperti dulu. Aku tidak bisa begadang seperti dulu. Aku tidak bisa..."
"Tapi hatimu tidak berubah, Danang. Aku bisa melihatnya dari matamu. Matamu masih sama seperti dulu. Masih gelap. Masih dalam. Masih menyimpan kesedihan yang tidak pernah selesai. Masih... masih mencintaiku."
Danang terdiam.
Ia tidak bisa membantah.
Karena itu benar.
Ia tidak pernah berhenti mencintai Kirana.
Tidak selama tiga puluh tahun.
Tidak selama ia bekerja di percetakan.
Tidak selama ia menjadi kuli bangunan di Jakarta.
Tidak selama ia tidur di emperan toko ketika kehabisan uang.
Tidak selama ia sakit dan tidak punya siapa-siapa yang merawatnya.
Tidak selama ia sendirian di malam hari, memandang langit-langit yang retak, memegang pita biru di tangannya, dan berbisik, "Kirana, aku merindukanmu."
"Kau benar, Kirana," katanya akhirnya, suaranya pelan, lembut, penuh dengan penyesalan. "Hatiku tidak berubah. Aku masih mencintaimu. Aku tidak pernah berhenti mencintaimu. Bahkan ketika aku mencoba melupakanmu. Bahkan ketika aku mencoba mencintai perempuan lain. Bahkan ketika aku menikah. Bahkan ketika aku memiliki anak. Hatiku tetap milikmu. Selamanya."
Kirana menuangkan teh hangat dari termos tua ke dalam dua cangkir keramik. Cangkir yang sudah retak di pinggirnya, dengan pola bunga yang sudah hampir hilang karena sering dicuci. Cangkir yang mungkin sudah berusia puluhan tahun, yang mungkin merupakan warisan dari ibunya, atau dari neneknya, atau dari seseorang yang tidak pernah ia kenal.
Cangkir pertama berwarna putih dengan pinggiran biru, pola bunga mawar merah yang sudah pudar. Cangkir kedua berwarna krem dengan pinggiran emas, pola bunga melati putih yang masih terlihat jelas, mungkin karena lebih sering digunakan, mungkin karena lebih dicintai.
"Untukmu, Danang. Teh jahe dengan madu. Hangat. Manis. Seperti yang kau suka." Kirana menyerahkan cangkir yang berwarna krem dengan pinggiran emas, cangkir dengan pola bunga melati putih.
Danang terkejut. "Kau masih ingat? Bahwa aku suka teh jahe dengan madu?"
"Kau lupa, Danang? Aku perempuan yang selalu membawakanmu pisang goreng di tepi sungai. Aku perempuan yang selalu membawakanmu obat ketika ibumu sakit. Aku perempuan yang selalu membuatkanmu teh jahe dengan madu ketika kau demam. Aku tidak mungkin lupa. Tidak akan pernah."
Tangannya nyaris bersentuhan ketika Kirana menyerahkan cangkir itu. Jari-jari Kirana yang keriput dan sedikit bengkok karena rematik, menyentuh ujung jari Danang yang kasar dan kapalan. Sentuhan kecil. Hanya sepersekian detik. Tetapi cukup untuk membuat listrik mengalir di antara mereka, seperti ketika mereka masih muda dan pertama kali menyadari bahwa mereka saling mencintai.
Keduanya sama-sama berhenti sesaat. Mata mereka bertemu. Jari-jari mereka masih berdekatan, hampir menyentuh, tetapi tidak. Ada jarak yang disengaja, jarak yang lahir dari ketidakpastian, dari rasa takut, dari pertanyaan apakah mereka masih berhak untuk saling menyentuh setelah semua yang terjadi, setelah tiga puluh tahun terpisah, setelah tiga puluh tahun luka yang tidak pernah sembuh.
"Kirana," panggil Danang pelan.
"Ya?"
"Apa kau masih... apa kau masih mengingat hari itu? Hari ketika aku datang ke rumahmu di tengah hujan? Hari ketika kau membanting pintu di depanku? Hari ketika kau mengatakan bahwa kita hanya kenangan?"
Kirana menunduk.
Tangannya yang memegang cangkir teh mulai gemetar.
Teh di dalam cangkir itu bergoyang kecil, hampir tumpah, tetapi ia pegang erat-erat.
"Aku mengingatnya, Danang. Setiap hari. Setiap malam. Setiap kali hujan turun. Aku mengingat bagaimana kau berdiri di depan pintu, basah kuyup, menggigil kedinginan. Aku mengingat bagaimana kau mengetuk pintu berulang-ulang, memanggil namaku, memintaku untuk mendengarkan. Aku mengingat bagaimana aku menangis di kamar, memegang surat itu, meyakini bahwa kau yang menulisnya. Aku mengingat bagaimana aku membiarkan kau pergi, membiarkan kau basah di tengah hujan, membiarkan kau... membiarkan kau hancur."
"Aku tidak menyalahkanmu, Kirana. Surat itu sangat meyakinkan. Tulisannya persis seperti tulisanku. Aku sendiri hampir percaya bahwa aku yang menulisnya, padahal aku tahu aku tidak pernah."
"Tapi kau tahu siapa yang menulisnya, Danang. Kau sudah tahu sejak lama. Kenapa kau tidak memberitahuku? Kenapa kau tidak membela diri? Kenapa kau..."
"Karena aku tidak punya bukti, Kirana. Aku hanya curiga. Aku hanya merasa. Tapi curiga dan perasaan tidak cukup untuk meyakinkan seseorang yang sudah terluka. Aku butuh bukti. Dan aku butuh waktu tiga puluh tahun untuk mendapatkannya."
Kirana mengangkat kepalanya. Matanya membesar. "Kau punya bukti? Setelah tiga puluh tahun?"
Danang mengangguk. Ia meletakkan cangkir tehnya di meja, merogoh saku jaketnya yang sudah lusuh, mengeluarkan sebuah amplop coklat tua. Amplop yang sama. Amplop yang dulu ia temukan di kamar Arman, setelah Arman meninggal karena stroke dua tahun lalu. Amplop yang berisi surat-surat palsu, surat-surat yang ditulis Arman untuk menghancurkan cintanya.
"Ini, Kirana. Aku menemukannya di kamar Arman setelah ia meninggal. Keponakannya yang membersihkan rumah, menemukan amplop ini di bawah kasur, lalu memberikannya padaku. Katanya, 'Om Arman selalu memegang amplop ini sebelum tidur. Kadang ia menangis sambil memeluknya. Mungkin ini penting untuk Bapak.'"
Kirana mengambil amplop itu. Tangannya gemetar hebat. Ia membukanya perlahan, mengeluarkan isinya. Puluhan surat. Surat-surat palsu. Surat-surat yang ditulis Arman dengan meniru tulisan Danang. Surat-surat yang dikirimkan padanya setiap minggu selama berbulan-bulan, sebelum surat terakhir yang menghancurkan segalanya.
"Tuhan..." bisik Kirana, suaranya pecah, air matanya jatuh. "Ini... ini semua surat-surat itu? Semuanya?"
"Semuanya, Kirana. Arman menyimpannya. Sebagai kenang-kenangan, mungkin. Atau sebagai pengingat akan dosanya. Atau sebagai sesuatu yang ia tidak bisa buang meskipun ia tahu itu salah. Aku tidak tahu. Yang aku tahu, ia menyesal. Ia menyesal setiap hari. Ia menyesal sampai mati."
"Aku tidak percaya... selama ini... selama tiga puluh tahun... aku menyalahkanmu... aku membencimu... aku mengutukmu... padahal kau tidak bersalah... padahal kau..."
Kirana tidak melanjutkan.
Tangisnya pecah.
Ia menangis di hadapan Danang.
Menangis untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
Menangis bukan karena ia lemah.
Menangis karena ia tahu bahwa ia telah salah.
Menangis karena ia tahu bahwa ia telah membuang tiga puluh tahun kebahagiaannya karena surat palsu.
Menangis karena ia tahu bahwa ia tidak bisa mengembalikan waktu.
"Maafkan aku, Danang," bisiknya di antara isak tangisnya. "Maafkan aku karena tidak pernah mendengarkanmu. Maafkan aku karena membanting pintu di depanmu. Maafkan aku karena membiarkan kau pergi. Maafkan aku karena..."
"Tidak usah, Kirana," potong Danang, suaranya lembut, penuh dengan pengertian. "Aku juga salah. Aku seharusnya tidak pergi. Aku seharusnya tidak menyerah. Aku seharusnya berjuang lebih keras. Aku seharusnya..."
"Kita berdua salah, Danang. Kita berdua bodoh. Kita berdua membiarkan orang lain menghancurkan kebahagiaan kita."
Mereka berdua terdiam.
Hanya suara radio tua yang terdengar.
Radio yang masih menyanyikan lagu-lagu lawas.
Lagu tentang cinta yang hilang.
Lagu tentang waktu yang tidak bisa kembali.
Lagu tentang penyesalan yang tidak pernah berakhir.
"Kirana," panggil Danang setelah beberapa lama.
"Ya?"
"Apa kau masih... apa kau masih mau menerimaku? Setelah semua yang terjadi? Setelah tiga puluh tahun? Setelah aku pergi? Setelah aku menikah? Setelah aku memiliki anak? Setelah aku..."
Kirana tersenyum.
Senyum yang sama.
Senyum yang dulu menjadi rumah bagi Danang.
Senyum yang membuat Danang merasa bahwa ia tidak sendirian di dunia.
Senyum yang telah ia simpan di memorinya selama tiga puluh tahun.
"Kau masih bertanya, Danang? Setelah kau datang kembali? Setelah kau membawa pita biru itu? Setelah kau membawa bukti bahwa kau tidak bersalah? Apa kau pikir aku akan mengusirmu?"
"Aku tidak tahu, Kirana. Aku takut. Aku takut kau akan mengatakan bahwa sudah terlambat. Aku takut kau akan mengatakan bahwa kau sudah tidak mencintaiku lagi. Aku takut..."
"Sudahlah, Danang. Jangan banyak bicara. Minum tehmu. Nanti dingin."
Danang tersenyum.
Ia mengambil cangkir tehnya.
Menyesap perlahan.
Teh jahe dengan madu.
Hangat.
Manis.
Seperti pelukan Kirana.
Seperti rumah.
Seperti pulang.
Bab 43
Luka yang Tidak Pernah Mati
Menjelang malam, ketika langit di luar jendela sudah berwarna gelap pekat dan bintang-bintang mulai muncul satu per satu di langit yang bersih tanpa polusi, mereka memutuskan untuk duduk di beranda lagi. Lampu minyak sudah tidak ada. Yang ada adalah lampu listrik 15 watt yang dipasang di teras, dengan bohlam bulat yang sudah menguning karena usia, memberikan cahaya yang redup tetapi cukup untuk menerangi wajah mereka berdua.
Kirana menyalakan sebuah lentera kecil di atas meja kayu di antara mereka. Lentera dari bambu dan kertas minyak, buatan tangan pengrajin lokal, dengan lilin di dalamnya yang menyala terang, bergoyang-goyang setiap kali angin malam berhembus. "Ini lebih romantis, Danang. Lampu listrik terlalu terang. Terlalu dingin. Lentera ini... hangat. Seperti kita dulu."
Danang tersenyum. "Kau masih suka hal-hal romantis, Kirana. Tidak berubah."
"Kita tidak berubah, Danang. Hanya tubuh kita yang menua. Hati kita masih sama. Masih muda. Masih berdebar ketika melihat orang yang kita cintai. Masih sakit ketika ditinggalkan. Masih berharap ketika sendirian."
Jangkrik mulai bernyanyi di semak-semak di sekitar rumah. Suara mereka bersahutan, menciptakan irama yang tenang, yang sudah tidak berubah selama ribuan tahun, sejak manusia pertama kali mendengar suara jangkrik di malam hari. Suara yang mengingatkan Danang pada masa kecilnya, pada malam-malam ketika ia tidur di tikar pandan, mendengar suara yang sama, dan merasa bahwa dunia ini luas dan penuh misteri.
Sesekali terdengar suara katak dari rawa di kejauhan, suara yang lebih berat, seperti bass dalam orkestra alam. Kadang terdengar suara burung hantu dari pohon waru di tepi sungai, suara yang misterius, yang membuat orang yang mendengarnya merinding, yang konon pertanda akan ada kematian atau kelahiran atau sesuatu yang besar akan terjadi.
Sungai di kejauhan memantulkan cahaya bulan yang hampir purnama, hanya sedikit yang kurang, memancarkan cahaya keperakan yang lembut di permukaan air yang tenang. Airnya tidak lagi keruh seperti dulu, mungkin karena tidak ada lagi pabrik atau tambang di hulu, atau mungkin karena desa ini sudah tidak sepadat dulu. Banyak anak muda yang pergi merantau ke kota, meninggalkan desa ini sunyi, hanya orang-orang tua yang tinggal.
Angin malam berhembus pelan, membawa dingin yang menusuk tulang. Danang menggigil sedikit, tetapi tidak mau masuk. Ia tidak mau melewatkan satu menit pun dari pertemuan ini. Ia tidak tahu kapan ia akan bisa duduk seperti ini lagi dengan Kirana. Ia tidak tahu berapa lama lagi ia akan hidup. Ia tidak tahu apakah besok pagi ia masih bisa bangun dan melihat wajah Kirana.
"Danang, kau kedinginan," kata Kirana, melihat tubuh Danang yang menggigil. "Masuklah. Aku ambilkan selimut."
"Tidak usah, Kirana. Aku tidak dingin. Aku hanya... aku hanya..."
"Kau hanya apa?"
"Aku hanya takut. Takut jika aku masuk ke dalam, jika aku meninggalkan beranda ini, jika aku memejamkan mata, kau akan menghilang. Seperti dulu. Seperti di stasiun. Seperti di toko buku. Seperti di rumahmu. Kau akan pergi, dan aku tidak akan pernah melihatmu lagi."
Kirana meraih tangan Danang.
Tangannya yang keriput dan sedikit bengkok karena rematik, menggenggam tangan Danang yang kasar dan kapalan.
"Aku tidak akan pergi, Danang. Aku sudah terlalu tua untuk pergi. Aku sudah terlalu lelah untuk lari. Aku sudah terlalu capek untuk memulai hidup baru di tempat lain. Ini rumahku. Ini desaku. Ini tempat aku dilahirkan, dibesarkan, menikah, menjadi janda, dan akan mati. Aku tidak akan ke mana-mana."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berdua terdiam.
Mata mereka bertemu.
Mata yang tua.
Mata yang lelah.
Mata yang penuh dengan luka.
Tapi juga mata yang penuh dengan cinta.
Cinta yang tidak pernah mati.
Cinta yang bertahan selama tiga puluh tahun.
Cinta yang sekarang, di senja hidup mereka, akhirnya bersatu lagi.
"Kirana," panggil Danang setelah beberapa lama.
"Ya?"
"Aku ingin bercerita tentang sesuatu. Tentang tiga puluh tahun yang hilang. Tentang apa yang terjadi padaku setelah aku meninggalkan kota. Tentang apa yang aku alami. Tentang apa yang aku rasakan. Tentang..."
"Tentang pernikahanmu? Tentang anakmu? Tentang istrimu?"
Danang terkejut. "Kau tahu?"
"Aku tahu, Danang. Aku selalu tahu. Aku memiliki informan di Jakarta. Teman lama yang bekerja di perusahaan yang sama dengan istrimu. Dia memberi tahu aku tentang pernikahanmu, tentang kelahiran anakmu, tentang perceraianmu, tentang... tentang semuanya."
"Kenapa kau tidak menghubungiku? Kenapa kau tidak menulis surat? Kenapa kau..."
"Karena kau sudah menikah, Danang. Kau sudah memiliki istri. Kau sudah memiliki anak. Kau sudah memiliki kehidupan baru. Aku tidak ingin mengganggu. Aku tidak ingin menjadi perusak rumah tangga. Aku tidak ingin..."
"Tapi aku tidak pernah bahagia, Kirana. Aku menikah karena aku sendirian. Aku menikah karena aku butuh teman. Aku menikah karena aku butuh seseorang yang mengingatkanku bahwa aku masih hidup. Aku tidak pernah mencintai istriku. Aku mencintaimu. Hanya kau. Selamanya."
Kirana menunduk.
Air matanya jatuh.
"Maafkan aku, Danang. Aku juga menikah. Aku juga memiliki suami. Aku juga memiliki anak. Aku juga... aku juga tidak pernah bahagia. Aku menikah karena ibuku memaksaku. Aku menikah karena aku putus asa. Aku menikah karena aku berpikir kau tidak akan pernah kembali. Aku menikah karena..."
"Karena kau mengira aku yang menulis surat itu. Karena kau mengira aku yang meninggalkanmu. Karena kau mengira aku yang tidak menginginkanmu."
Kirana mengangguk.
"Ya. Karena itu. Aku membencimu, Danang. Selama bertahun-tahun, aku membencimu. Aku mengutukmu setiap malam. Aku berdoa agar kau menderita seperti aku menderita. Aku berdoa agar kau merasakan apa yang aku rasakan. Aku berdoa agar kau..."
"Tapi sekarang?"
Kirana mengangkat kepalanya.
Matanya bertemu dengan mata Danang.
"Aku tidak membencimu lagi, Danang. Aku tidak bisa. Aku sudah terlalu tua untuk membenci. Aku sudah terlalu lelah untuk marah. Aku sudah terlalu capek untuk menyimpan dendam. Yang tersisa hanyalah... hanyalah cinta. Cinta yang tidak pernah mati. Cinta yang bertahan selama tiga puluh tahun. Cinta yang sekarang, di senja hidup kita, akhirnya kita akui."
Mereka berpelukan.
Berpelukan di beranda rumah tua.
Berpelukan di bawah cahaya lentera yang redup.
Berpelukan di bawah langit yang penuh bintang.
Berpelukan setelah tiga puluh tahun saling membenci.
Berpelukan setelah tiga puluh tahun saling merindukan.
Berpelukan setelah tiga puluh tahun saling mencintai dalam diam.
Tiba-tiba, dari kejauhan, terdengar suara langkah kaki.
Langkah kaki yang berat.
Langkah kaki yang tidak stabil.
Langkah kaki yang disertai dengan suara tongkat yang mengetuk-ngetuk tanah.
Kirana melepaskan pelukannya.
Ia memandang ke arah suara.
Matanya menyipit.
"Siapa itu?" bisiknya.
Danang juga memandang ke arah yang sama.
Di kegelapan malam, di bawah cahaya bulan yang redup, seorang lelaki tua muncul.
Tubuhnya kurus, hampir seperti kerangka.
Wajahnya penuh kerutan.
Rambutnya putih semua, tidak ada yang hitam.
Matanya cekung, sayu, seperti orang yang sudah kehilangan semangat hidup.
Ia berjalan dengan susah payah, ditopang oleh tongkat kayu yang sudah halus karena sering dipegang.
Setiap langkah terasa berat, seperti sedang berjalan di lumpur yang dalam.
Setiap napas terdengar tersengal-sengal, seperti orang yang sedang sakit parah.
"Surya?" bisik Danang, tidak percaya.
Lelaki itu berhenti di depan pagar.
Ia memandang Danang dan Kirana.
Matanya yang cekung dan sayu, tiba-tiba berkaca-kaca.
"Danang... Kirana... maafkan aku... maafkan aku..." suaranya parau, hampir tidak terdengar, seperti suara yang keluar dari dasar sumur yang paling dalam.
"Surya, apa yang kau lakukan di sini? Sudah malam. Kau harus istirahat. Tubuhmu tidak kuat." Kirana berdiri, berjalan mendekati pagar, membukanya.
Surya masuk dengan susah payah.
Ia berdiri di halaman, di depan Danang.
Tubuhnya gemetar.
Tangannya yang memegang tongkat gemetar.
Bibirnya gemetar.
"Aku tidak bisa tidur, Kirana. Aku tidak bisa tidur selama bertahun-tahun. Setiap kali aku memejamkan mata, aku melihat Danang. Aku melihat kau. Aku melihat Arman. Aku melihat apa yang telah aku lakukan. Aku melihat kehancuran yang aku sebabkan. Aku tidak bisa..."
"Sudah, Surya. Duduklah. Kau tidak kuat berdiri." Danang berdiri, menyerahkan kursinya pada Surya.
Surya duduk dengan susah payah.
Ia memandang Danang.
Matanya berkaca-kaca.
"Danang, aku datang ke sini malam ini karena aku tidak tahu apakah aku masih punya waktu besok. Dokter bilang, jantungku lemah. Aku bisa mati kapan saja. Aku tidak ingin mati tanpa meminta maaf padamu. Aku tidak ingin mati tanpa mengakui semua kesalahanku. Aku tidak ingin..."
"Kau tidak perlu meminta maaf, Surya. Itu sudah lama. Aku sudah memaafkanmu."
"Tapi aku belum memaafkan diriku sendiri, Danang. Aku belum bisa tidur nyenyak sejak kebakaran itu. Aku belum bisa tersenyum tulus sejak aku menuduhmu. Aku belum bisa..."
"Itu bukan salahmu, Surya. Kau hanya anak kecil. Kau hanya mengikuti apa kata ayahmu. Kau hanya..."
"Tapi aku yang menginjak perahu daunmu. Aku yang memanggilmu anak haram. Aku yang menyuruh ayahku menuduhmu. Aku yang menyuruh Mandor Jalil membakar gudang. Aku yang..."
Danang terkejut.
"Apa? Kau yang menyuruh Mandor Jalil membakar gudang?"
Surya menunduk.
Air matanya jatuh.
"Ya. Aku yang menyuruhnya. Aku ingin kau diusir dari desa. Aku ingin kau menderita. Aku ingin kau kehilangan segalanya. Aku tidak tahu bahwa api akan membesar. Aku tidak tahu bahwa gudang akan hangus. Aku tidak tahu bahwa ayahku akan bangkrut. Aku tidak tahu..."
"Kau hanya anak kecil, Surya. Kau tidak tahu apa yang kau lakukan."
"Tapi aku sudah dewasa sekarang, Danang. Aku tahu apa yang aku lakukan. Dan aku menyesal. Aku sangat menyesal. Setiap hari. Setiap malam. Selama tiga puluh tahun."
Kirana yang mendengar percakapan itu, diam-diam menangis.
Ia tidak tahu.
Ia tidak pernah tahu.
Ia tidak pernah tahu bahwa Surya yang berada di balik semua ini.
Ia tidak pernah tahu bahwa kebakaran itu direncanakan.
Ia tidak pernah tahu bahwa tuduhan itu adalah kebohongan.
Ia tidak pernah tahu bahwa Danang tidak bersalah.
"Kenapa kau tidak pernah bilang, Surya?" tanyanya, suaranya bergetar.
"Karena aku takut, Kirana. Aku takut pada ayahku. Aku takut pada Mandor Jalil. Aku takut pada seluruh desa. Aku takut pada... pada diriku sendiri."
"Tapi sekarang?"
"Sekarang aku tidak takut lagi. Aku sudah tua. Aku sudah sakit. Aku sudah tidak punya apa-apa. Yang tersisa hanyalah penyesalan. Dan aku tidak ingin membawa penyesalan ini ke liang kubur."
Surya berdiri.
Ia berjalan mendekati Danang.
Ia berlutut di depannya.
"Maafkan aku, Danang. Maafkan aku untuk semuanya. Untuk perahu daun. Untuk kata-kata 'anak haram'. Untuk tuduhan. Untuk kebakaran. Untuk... untuk semua."
Danang memegang pundak Surya.
Ia menatap mata lelaki tua itu.
Mata yang penuh dengan penyesalan.
Mata yang penuh dengan air mata.
Mata yang penuh dengan permohonan maaf.
"Aku memaafkanmu, Surya. Aku sudah memaafkanmu sejak lama. Sejak aku meninggalkan desa ini. Sejak aku memutuskan untuk memulai hidup baru. Aku tidak ingin membawa kebencian. Aku tidak ingin membawa dendam. Aku hanya ingin... aku hanya ingin damai."
Surya menangis.
Ia menangis di hadapan Danang.
Menangis seperti anak kecil.
Menangis karena ia merasa lega.
Menangis karena ia merasa diampuni.
Menangis karena ia tidak sendirian.
"Terima kasih, Danang. Terima kasih. Aku tidak akan melupakan kebaikanmu. Aku akan berdoa untukmu setiap hari. Aku akan..."
"Sudah, Surya. Pulanglah. Istirahat. Kau perlu tidur."
Surya mengangguk.
Ia berdiri dengan susah payah.
Kirana membantunya berjalan ke pagar.
"Surya, kau tidak sendiri. Aku dan Danang akan menjagamu. Kita tetangga. Kita harus saling membantu."
Surya tersenyum.
Senyum yang tulus.
Senyum yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.
"Terima kasih, Kirana. Terima kasih, Danang. Kalian baik. Kalian terlalu baik untuk orang seperti aku."
Ia pergi.
Berjalan perlahan.
Menghilang di balik kegelapan malam.
Di balik pohon-pohon rambutan.
Di balik suara jangkrik dan katak.
Meninggalkan Danang dan Kirana yang berpelukan di beranda.
"Danang," panggil Kirana setelah Surya pergi.
"Ya?"
"Apa kau benar-benar memaafkannya? Setelah semua yang ia lakukan? Setelah semua penderitaan yang ia sebabkan?"
Danang menghela napas.
"Aku memaafkannya, Kirana. Bukan karena ia pantas dimaafkan. Tapi karena aku butuh kedamaian. Aku tidak ingin membawa amarah sampai mati. Aku tidak ingin..."
"Kau baik, Danang. Kau terlalu baik untuk dunia ini."
"Aku tidak baik, Kirana. Aku hanya lelah. Lelah marah. Lelah benci. Lelah dendam. Lelah... lelah menjadi korban."
Kirana memeluk Danang.
Ia memeluknya erat-erat.
"Kita semua lelah, Danang. Tapi kita masih di sini. Kita masih hidup. Kita masih punya satu sama lain. Itu yang terpenting."
"Iya, Kirana. Itu yang terpenting."
Mereka berpelukan di beranda rumah tua.
Berpelukan di bawah cahaya lentera yang redup.
Berpelukan di bawah langit yang penuh bintang.
Berpelukan setelah tiga puluh tahun terpisah.
Berpelukan setelah tiga puluh tahun menderita.
Berpelukan setelah tiga puluh tahun menunggu.
Dan untuk pertama kalinya, mereka merasa bahwa semua penderitaan itu sepadan.
Karena pada akhirnya, mereka bertemu lagi.
Karena pada akhirnya, mereka bersama lagi.
Karena pada akhirnya, cinta mereka menang.
Bab 44
Surat yang Tidak Pernah Sampai
Sebelum Danang pulang ke rumah lamanya malam itu, ketika bintang-bintang sudah semakin banyak di langit dan udara semakin dingin menusuk tulang, ketika jangkrik mulai mengubah irama nyanyian mereka menjadi lebih pelan seolah tahu bahwa malam akan segera berakhir, Kirana masuk ke kamarnya. Ia pergi dengan langkah pelan, tertatih-tatih karena lututnya yang sakit, meninggalkan Danang sendirian di beranda.
Danang mendengar suara pintu kamar yang dibuka dengan bunyi derit kayu yang sudah tua, suara langkah kaki yang bergerak di dalam ruangan yang sempit, suara lemari kayu jati yang dibuka dengan bunyi engsel yang berkarat, suara sesuatu yang diambil dari dalam lemari, lalu suara langkah kaki yang kembali dengan berat karena membawa sesuatu.
Kirana keluar dari kamar dengan membawa sebuah kotak kayu besar. Kotak itu tidak sederhana seperti kotak tempat Danang menyimpan pita biru. Kotak ini besar, seukuran koper kecil, terbuat dari kayu mahoni dengan ukiran bunga melati yang rumit di seluruh permukaannya. Ukiran yang membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk diselesaikan oleh pengrajin yang sabar dan teliti. Ukiran yang sudah aus karena sering disentuh, karena sering dibuka dan ditutup, karena sering dielus-elus oleh jari-jari yang rindu.
Gembok kuningan kecil menggantung di depan, tetapi tidak terkunci. Mungkin sudah lama tidak dikunci. Mungkin tidak ada lagi yang perlu disembunyikan. Mungkin semua rahasia sudah terlalu berat untuk disimpan sendirian.
Ia meletakkan kotak itu di meja di antara mereka. Meja kayu kecil yang kakinya tidak rata, yang sudah berusia puluhan tahun, yang permukaannya penuh dengan goresan dan noda lilin. Tangannya gemetar ketika meletakkan kotak itu, seperti sedang meletakkan sesuatu yang sangat berharga, seperti sedang membuka bagian paling pribadi dari hidupnya, seperti sedang mengakui semua yang selama ini ia sembunyikan.
"Aku menyimpan ini, Danang," katanya. Suaranya pelan, hampir tidak terdengar, seperti bisikan dari alam lain, seperti suara dari dunia yang berbeda.
Danang menatap kotak itu. Dadanya terasa sesak. Ia sudah bisa menebak apa isinya. Ia sudah tahu sejak Kirana masuk ke kamar dan mengambil kotak itu. Ia sudah tahu sejak Kirana mengatakan "Aku menyimpan ini". Tapi ia tidak mau percaya. Ia takut. Takut bahwa jika tebakannya benar, ia akan hancur. Takut bahwa jika tebakannya salah, ia akan kecewa.
"Apa itu, Kirana?" tanyanya, suaranya bergetar.
Kirana tidak menjawab. Ia hanya membuka kotak itu perlahan. Jari-jarinya yang keriput dan sedikit bengkok karena rematik, membuka tutup kotak dengan hati-hati, seperti sedang membuka peti mati yang terkubur selama berabad-abad, seperti sedang membuka luka lama yang tidak pernah benar-benar sembuh.
Di dalam kotak itu, ratusan surat.
Bukan puluhan.
Ratusan.
Kertas-kertas yang sudah menguning karena usia, rapuh di tepi-tepinya, hampir hancur jika disentuh terlalu keras. Beberapa surat dilipat dengan rapi, berbentuk persegi panjang sempurna, dengan tepi yang lurus dan sudut yang tajam. Beberapa lain terlihat kusut, seperti pernah diremas dalam emosi, seperti pernah dibasahi air mata, kemudian diluruskan kembali dan disimpan dengan hati-hati.
Beberapa surat masih dalam amplop coklat, dengan tulisan alamat yang sudah pudar, dengan perangko yang sudah tidak berwarna. Beberapa surat sudah lepas dari amplopnya, hanya kertas yang terlipat, dengan tulisan tangan yang masih jelas meskipun kertasnya sudah tua.
Tulisan tangan Kirana.
Rapi.
Lembut.
Penuh hati-hati.
Setiap huruf dibentuk dengan teliti, dengan lengkungan-lengkungan kecil di ujung huruf yang membuat tulisannya terlihat feminin dan elegan. Setiap kata ditulis dengan tekanan yang sama, tidak ada yang terlalu tebal, tidak ada yang terlalu tipis. Setiap kalimat disusun dengan struktur yang sempurna, seperti seorang sastrawan yang sedang menulis puisi.
Dan di atas semua surat itu, di atas tumpukan kertas yang menguning, tergeletak sebuah pita rambut.
Pita merah.
Pita yang sama.
Pita yang dulu ia kenakan di rambutnya ketika masih kecil, ketika ia berlari di tepi sungai dengan bunga liar di tangan, ketika ia pertama kali bertemu Danang.
Pita yang warna merahnya telah memudar menjadi merah muda pucat, seperti warna langit di pagi hari sebelum matahari terbit, seperti warna bunga yang mulai layu.
Pita yang kainnya mulai rapuh, tipis seperti sayap capung, dengan serat-serat yang mulai terlepas di beberapa tempat.
Pita yang menjadi saksi bisu semua surat yang tidak pernah sampai.
Danang menatap Kirana.
Matanya basah.
Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, tetapi belum jatuh.
Ia tidak ingin menangis.
Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan menangis di depan Kirana.
Ia sudah berjanji bahwa ia akan kuat, bahwa ia tidak akan menunjukkan kelemahan, bahwa ia akan menjadi sandaran bagi Kirana di usia tua mereka.
Tapi air mata itu tetap menggenang.
Tetap mendesak keluar.
"Apa ini, Kirana?" tanyanya, suaranya serak, hampir patah di tengah kalimat.
Kirana menunduk. Tangannya yang berada di pangkuan menggenggam erat ujung kebayanya, memilin-milin kain itu dengan gerakan yang sama persis dengan kebiasaan Danang ketika kecil. Gerakan yang diturunkan dari ibu ke anak, dari Kirana ke Danang, tanpa ada yang mengajarkan, tanpa ada yang menyadari.
"Surat-surat yang kutulis untukmu, Danang," bisiknya, suaranya hampir tidak terdengar, seperti bisikan angin malam yang berhembus di antara dedaunan. "Setiap minggu. Selama bertahun-tahun. Setelah aku pindah ke kota. Setelah kita berpisah di desa. Setelah... setelah surat palsu itu."
Danang membeku.
Seluruh tubuhnya berubah menjadi batu.
Tangannya yang hendak meraih surat di kotak, berhenti di udara, tidak bergerak, seperti patung, seperti orang yang sedang membeku.
Dadanya terasa sesak, seperti ada batu besar yang diletakkan di atasnya, seperti ada tangan raksasa yang meremas jantungnya.
Napasnya terasa berat, seperti orang yang baru saja berlari jauh, seperti orang yang sedang berusaha mengendalikan emosi yang meledak-ledak.
"Aku tidak pernah menerima satu pun, Kirana," katanya, suaranya serak, hampir patah di tengah kalimat. "Tidak satu pun. Aku tidak tahu. Aku tidak pernah tahu. Aku pikir... aku pikir kau sudah melupakanku. Aku pikir kau sudah bahagia dengan hidupmu yang baru. Aku pikir kau sudah..."
"Aku tahu, Danang. Aku tahu sekarang. Arman sudah cerita. Beberapa hari setelah kau pergi dari kota, dia datang menemuiku. Dia mengaku semuanya. Dia mengaku bahwa dia yang menahan surat-suratku. Dia mengaku bahwa dia yang memalsukan tulisanku. Dia mengaku bahwa dia yang... bahwa dia yang mencintaiku."
Danang terdiam.
Pikirannya berputar, mencoba memproses semua informasi yang baru saja ia dengar.
Arman.
Sahabatnya.
Orang yang ia percayai selama bertahun-tahun.
Orang yang tinggal sekamar dengannya.
Orang yang makan bersamanya setiap hari.
Orang yang tertawa bersama dengannya.
Orang yang ia anggap seperti kakak.
Orang yang ia cintai seperti saudara.
Orang yang sama yang menahan surat-surat Kirana.
Orang yang sama yang memalsukan tulisannya.
Orang yang sama yang menghancurkan cintanya.
Orang yang sama yang mencuri tiga puluh tahun kebahagiaannya.
Ia memegang surat paling atas.
Tangannya gemetar hebat.
Kertas tua itu terasa sangat rapuh di tangannya, seperti sayap kupu-kupu yang bisa hancur jika tidak hati-hati, seperti daun kering di musim kemarau yang hancur hanya dengan disentuh.
"Kenapa kau simpan semua ini, Kirana?" tanyanya. Suaranya tidak lebih dari bisikan, seperti suara yang keluar dari mimpi, seperti suara dari dunia yang berbeda. "Kenapa tidak kau buang? Kenapa tidak kau bakar? Kenapa tidak kau..."
Kirana memandangnya dengan mata yang lelah.
Mata yang sudah terlalu banyak menangis.
Mata yang sudah terlalu banyak kehilangan.
Mata yang sudah terlalu lama sendirian.
Mata yang sudah terlalu lama berharap pada sesuatu yang tidak pernah datang.
Mata yang sekarang, di senja hidupnya, akhirnya bertemu dengan mata Danang.
"Karena sebagian cinta tidak pernah benar-benar selesai, Danang," bisiknya, suaranya penuh dengan kesedihan yang mendalam, dengan penyesalan yang tidak pernah berakhir, dengan kerinduan yang tidak pernah terobati. "Cinta itu hanya berubah menjadi sesuatu yang tidak tahu harus pergi ke mana. Cinta itu hanya berubah menjadi surat-surat yang tidak pernah sampai. Cinta itu hanya berubah menjadi air mata yang tidak pernah kering. Cinta itu hanya berubah menjadi kenangan yang tidak pernah pudar."
Ia berhenti.
Menarik napas panjang.
Napas yang terasa seperti mengeluarkan seluruh isi dadanya sekaligus.
"Aku tidak bisa membuangnya, Danang. Aku tidak bisa melupakannya. Aku tidak bisa berpura-pura bahwa surat-surat ini tidak pernah ada. Mereka adalah satu-satunya bukti bahwa aku pernah mencintai seseorang dengan segenap hatiku. Bahwa aku pernah menunggu. Bahwa aku pernah berharap. Bahwa aku pernah hidup."
Danang tidak mampu bicara.
Ia hanya menatap kotak besar itu.
Ratusan surat.
Ratusan minggu.
Ratusan bulan.
Ratusan harapan.
Ratusan mimpi.
Ratusan kesempatan yang hilang karena seorang sahabat yang iri.
Ratusan malam yang seharusnya bisa mereka habiskan bersama, tetapi berakhir dengan air mata di bantal masing-masing.
Ratusan pagi yang seharusnya bisa mereka mulai dengan senyuman, tetapi berakhir dengan kepahitan di hati masing-masing.
Ratusan kenangan yang seharusnya bisa mereka ciptakan bersama, tetapi berakhir dengan kekosongan di jiwa masing-masing.
"Kirana," panggilnya pelan.
"Ya?"
"Apa kau... apa kau masih ingat isi surat-surat ini? Apa kau masih ingat apa yang kau tulis?"
Kirana tersenyum pahit. "Aku ingat semuanya, Danang. Setiap kata. Setiap kalimat. Setiap tanda baca. Aku bisa membacakan semuanya untukmu sekarang, jika kau mau. Dari surat pertama sampai surat terakhir. Dari hari pertama aku di kota sampai hari terakhir aku menulis."
"Bacakan satu saja, Kirana. Satu surat. Yang paling kau ingat."
Kirana mengangguk.
Ia mengambil surat paling atas.
Surat pertama.
Surat yang ditulisnya ketika ia baru tiba di kota, ketika ia masih berusia empat belas tahun, ketika ia masih percaya bahwa Danang akan segera menyusul, ketika ia masih berharap bahwa mereka akan bersama lagi.
Ia membuka lipatan surat itu dengan hati-hati.
Jari-jarinya yang gemetar meratakan kertas yang sudah kusut karena terlipat terlalu lama.
Matanya yang sudah kabur karena usia, menyipit membaca tulisan tangannya sendiri yang sudah setengah luntur.
Lalu dengan suara yang lembut, yang bergetar, yang seperti angin malam yang berhembus di antara dedaunan, ia mulai membaca.
"Danang, surat pertama untukmu. Aku baru sampai di kota. Rumah baruku besar, lebih besar dari rumah kita di desa. Tapi aku merasa lebih sempit. Lebih sepi. Lebih dingin. Aku rindu sungai. Aku rindu pohon waru. Aku rindu suara jangkrik di malam hari. Aku rindu... aku rindu kamu."
Kirana berhenti.
Air matanya jatuh.
Setetes.
Dua tetes.
Tiga tetes.
Jatuh ke kertas yang sudah menguning, membuat tinta sedikit luntur, tetapi kata-katanya masih terbaca.
"Aku menunggumu di kota, Danang. Sampai musim hujan ketiga. Sampai aku lulus sekolah. Sampai aku dewasa. Kalau kau datang, aku masih di tempat yang sama. Rumah dinas di Jalan Merdeka. Nomor empat puluh dua. Kalau kau tidak datang... kalau kau tidak datang, aku akan mengerti. Tapi tolong beri kabar, Danang. Apa pun. Sepatah kata saja. Selembar surat saja. Sebuah kabar bahwa kau masih hidup. Sebuah kabar bahwa kau baik-baik saja. Sebuah kabar bahwa kau... bahwa kau masih mengingatku."
Kirana tidak bisa melanjutkan.
Tangisnya pecah.
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Surat itu jatuh dari tangannya, jatuh ke lantai kayu yang berderit, jatuh di antara kursi dan meja.
Danang memungutnya.
Ia membaca surat itu.
Membacanya berulang-ulang.
Air matanya jatuh.
Membasahi kertas yang sudah menguning.
Membasahi tinta yang sudah mulai luntur.
Membasahi kata-kata yang penuh dengan harapan.
"Kirana," bisiknya, suaranya pecah, tangisnya keluar. "Aku tidak pernah menerima surat ini. Aku tidak pernah tahu. Aku pikir... aku pikir kau sudah melupakanku. Aku pikir kau sudah bahagia dengan hidupmu yang baru. Aku pikir kau sudah..."
"Aku tidak pernah melupakanmu, Danang. Tidak sehari pun. Tidak semenit pun. Tidak sedetik pun. Kau selalu ada di pikiranku. Kau selalu ada di mimpiku. Kau selalu ada di hatiku. Selamanya."
Mereka berpelukan.
Berpelukan di ruang tamu yang sederhana.
Berpelukan di bawah cahaya lentera yang redup.
Berpelukan di antara ratusan surat yang tidak pernah sampai.
Berpelukan setelah tiga puluh tahun saling merindukan.
Berpelukan setelah tiga puluh tahun saling mencintai dalam diam.
"Kirana, aku ingin membaca semua suratmu. Semua. Dari pertama sampai terakhir. Dari awal sampai akhir. Dari harapan sampai keputusasaan. Dari cinta sampai kebencian. Dari rindu sampai lupa. Aku ingin tahu semuanya. Aku ingin merasakan semuanya. Aku ingin..."
"Kau bisa, Danang. Surat-surat ini milikmu. Aku menyimpannya untukmu. Aku menulisnya untukmu. Aku berharap suatu hari nanti kau akan membacanya. Dan sekarang, hari itu datang. Tiga puluh tahun terlambat. Tapi datang."
Danang mengangguk.
Ia mengambil surat berikutnya.
Tangannya masih gemetar.
Matanya masih basah.
Tapi ia tersenyum.
Senyum yang tulus.
Senyum yang keluar dari tempat paling dalam di hatinya.
Senyum yang mengatakan bahwa ia bersyukur.
Bersyukur bahwa Kirana masih menyimpan surat-surat ini.
Bersyukur bahwa Kirana masih mencintainya.
Bersyukur bahwa mereka masih diberi kesempatan untuk bersama.
"Kirana, aku akan membaca semua suratmu. Malam ini. Besok. Lusa. Sampai habis. Sampai aku hafal setiap kata. Sampai aku tahu setiap perasaanmu. Sampai aku..."
"Jangan baca semuanya malam ini, Danang. Nanti kau tidak bisa tidur. Nanti kau sakit. Nanti kau..."
"Aku tidak peduli, Kirana. Aku sudah tiga puluh tahun tidak bisa tidur. Aku sudah tiga puluh tahun sakit. Aku sudah tiga puluh tahun... tiga puluh tahun menunggu surat-surat ini."
Kirana tersenyum.
Senyum yang lembut.
Senyum yang penuh dengan cinta.
Senyum yang membuat Danang lupa pada semua penderitaan yang telah ia alami.
"Baiklah, Danang. Tapi jangan terlalu larut. Aku akan menemanimu. Aku akan membuatkan teh. Aku akan..."
"Kau tidak usah melakukan apa-apa, Kirana. Cukup kau di sini. Di sampingku. Itu sudah cukup. Itu sudah lebih dari cukup."
Mereka duduk berdampingan.
Di ruang tamu yang sederhana.
Di bawah cahaya lentera yang redup.
Di antara ratusan surat yang tidak pernah sampai.
Membaca bersama.
Menangis bersama.
Tersenyum bersama.
Mengingat masa lalu bersama.
Merencanakan masa depan bersama.
Dan untuk pertama kalinya setelah tiga puluh tahun, mereka merasa bahwa semua penderitaan itu sepadan.
Karena pada akhirnya, mereka bertemu lagi.
Karena pada akhirnya, mereka bersama lagi.
Karena pada akhirnya, cinta mereka menang.
Bab 45
Nama yang Kembali Datang
Keesokan paginya, Danang pergi ke pasar desa. Langit masih gelap ketika ia berjalan keluar dari rumah lamanya, dengan tongkat di tangan, dengan langkah pelan karena lututnya yang sakit. Kabut tipis masih menutupi desa, membuat semuanya terlihat seperti mimpi, seperti lukisan cat air yang indah tetapi tidak nyata. Embun masih membasahi rumput di pinggir jalan, membuat sepatunya basah, membuat kakinya terasa dingin.
Ia tidak punya keperluan khusus. Ia hanya ingin melihat desa yang sudah berubah. Ia hanya ingin merasakan kembali keramaian yang dulu menjadi bagian dari kehidupannya. Ia hanya ingin mengingat bahwa ia pernah menjadi bagian dari tempat ini, meskipun tempat ini mungkin sudah melupakannya. Ia hanya ingin membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia tidak takut, bahwa ia tidak lagi lari, bahwa ia sudah siap menghadapi masa lalu.
Pasar desa masih sama seperti tiga puluh tahun lalu. Letaknya masih di tempat yang sama, di lapangan terbuka di tengah desa, di bawah pohon beringin besar yang sudah berusia ratusan tahun. Bangunannya masih sama, hanya tenda-tenda plastik dan meja-meja kayu yang disusun berjajar, tanpa dinding, tanpa atap permanen. Lantainya masih tanah, becek, berlumpur, bercampur dengan sampah-sampah sayuran dan kulit buah dan kotoran ayam.
Tapi ada yang berubah. Pedagangnya berbeda. Wajah-wajah baru. Wajah-wajah muda. Wajah-wajah yang tidak mengenalnya. Wajah-wajah yang tidak tahu siapa Danang Wiratama, tidak tahu tentang kebakaran gudang, tidak tahu tentang tuduhan, tidak tahu tentang aib keluarganya.
"Sayur! Sayur segar! Bayam! Kangkung! Sawi! Wortel! Tomat! Cabai! Bawang! Baru datang dari kebun! Masih basah! Masih berembun!" teriak seorang perempuan muda dengan keranjang besar di kepalanya, suaranya lantang, bersemangat, seperti burung yang sedang berkicau di pagi hari.
"Ikan! Ikan segar! Baru dari sungai! Masih hidup! Masih loncat-loncat!" teriak seorang lelaki tua dengan kulit hitam legam karena terik matahari, dengan tangan yang kasar dan kapalan karena menarik jala setiap hari, dengan bau amis yang menyengat dari meja kayunya yang penuh dengan ikan-ikan berbagai ukuran.
"Tahu! Tempe! Kedelai asli! Bukan kedelai impor! Enak! Murah! Sehat!" teriak seorang ibu-ibu dengan celemek kotor dan rambut yang diikat dengan kain batik, tangannya lincah membungkus tahu dan tempe dengan daun pisang, mengikatnya dengan lidi yang sudah disiapkan.
"Jamu! Jamu kunyit asem! Jamu beras kencur! Jamu sinom! Jamu kudu laos! Sehat! Awet muda! Tidak bikin enek!" teriak seorang perempuan tua dengan kebaya lusuh dan kain batik yang sudah pudar, dengan lesung dan alu di tangannya, menumbuk rempah-rempah dengan irama yang teratur, seperti musik, seperti doa.
Danang berjalan pelan di antara kerumunan. Ia melewati pedagang sayur, pedagang ikan, pedagang tahu tempe, pedagang jamu, pedagang daging, pedagang ayam, pedagang kelapa, pedagang gula, pedagang garam, pedagang beras, pedagang minyak, pedagang sabun, pedagang sampo, pedagang rokok, pedagang kopi, pedagang teh, pedagang gorengan, pedagang es, pedagang kue, pedagang roti, pedagang mainan anak-anak.
Semuanya ramai.
Semuanya sibuk.
Semuanya hidup.
Tidak ada yang memperhatikannya.
Tidak ada yang mengenalnya.
Tidak ada yang tahu bahwa ia adalah Danang Wiratama, anak haram dari keluarga bermasalah, yang dulu dituduh membakar gudang beras keluarga Surya, yang dulu lari dari desa karena tidak kuat menanggung malu.
Ia merasa lega.
Ia merasa bebas.
Ia merasa seperti orang baru.
"Pak! Pak! Beli gorengan, Pak! Pisang goreng! Tahu isi! Tempe goreng! Mendoan! Singkong goreng! Ubi goreng! Enak, Pak! Masih hangat!" seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun, dengan pakaian lusuh dan rambut kusut, menarik ujung bajunya.
Danang tersenyum. "Berapa, Nak?"
"Pisang goreng seribu, Pak. Tahu isi lima ratus. Tempe goreng lima ratus. Mendoan lima ratus. Singkong goreng lima ratus. Ubi goreng lima ratus. Mau yang mana, Pak?"
"Beli semua. Masing-masing sepuluh. Bungkus."
Mata anak itu membesar. "Semua, Pak? Masing-masing sepuluh?"
"Iya. Aku punya banyak teman di rumah. Mereka suka gorengan."
Anak itu tersenyum lebar. Giginya yang masih lengkap dan putih bersih terlihat, dua gigi seri atasnya yang sedikit maju ke depan, seperti kelinci. "Baik, Pak! Tunggu sebentar! Aku bungkus dulu!"
Danang memandang anak itu. Ia teringat pada Kirana. Kirana ketika masih kecil, ketika ia berjualan bunga liar di tepi sungai, ketika ia tersenyum dengan lesung pipit di pipi kirinya, ketika ia mengatakan "Kau kelihatan seperti orang yang butuh sesuatu yang cantik dalam hidupmu."
"Nak, siapa namamu?" tanya Danang.
"Budi, Pak. Budi Santoso."
"Budi Santoso. Nama yang bagus. Kau anak siapa?"
"Anak Pak RT, Pak. Pak RT Santoso. Bapak ketua RT tiga. Rumahnya di belakang masjid. Yang cat hijau. Gampang kok, Pak. Nanti kalau Bapak tersesat, tanya saja rumah Pak RT Santoso. Semua orang tahu."
"Santoso? Apa dia anaknya Mbah Joyo?"
Anak itu mengangguk cepat. "Iya, Pak. Mbah Joyo kakek saya. Sudah meninggal dua puluh tahun lalu. Waktu saya belum lahir. Tapi ibu saya sering cerita tentang beliau. Katanya, Mbah Joyo sakti. Bisa lihat masa depan. Bisa lihat takdir. Bisa..."
"Bisa apa?"
"Bisa lihat bahwa Bapak akan kembali ke desa ini. Bahwa Bapak akan bertemu dengan Kirana. Bahwa Bapak akan..."
Danang terkejut. "Kau tahu siapa aku?"
Budi tersenyum. "Semua orang tahu, Pak. Wajah Bapak sudah berubah. Rambut Bapak sudah memutih. Tapi mata Bapak tidak berubah. Masih sama seperti foto yang disimpan ibu saya. Foto Bapak waktu masih muda, berdiri di samping Mbah Joyo di bawah pohon waru. Ibu saya sering menunjukkan foto itu. Katanya, 'Lihat, Budi, ini Danang Wiratama. Pahlawan desa kita. Laki-laki yang berani melawan Surya, anak saudagar kaya. Laki-laki yang tidak takut pada siapa pun. Laki-laki yang...'"
Danang tertawa. Tertawa untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Tertawa karena ia tidak tahu bahwa ia dianggap pahlawan. Tertawa karena ia tidak pernah merasa pahlawan. Tertawa karena ia hanya seorang pengecut yang lari dari masalah.
"Pahlawan, Budi? Aku bukan pahlawan. Aku hanya..."
"Bapak pahlawan, Pak. Ibu saya bilang begitu. Mbah Joyo juga bilang begitu. Bahwa suatu hari nanti, Bapak akan kembali. Bahwa Bapak akan menyelamatkan desa ini. Bahwa Bapak akan..."
"Menyelamatkan desa dari apa?"
"Dari Surya, Pak. Surya sekarang bangkrut. Bisnisnya hancur. Restorannya tutup. Rumahnya disita bank. Tapi ia masih punya pengaruh. Ia masih punya preman-preman yang siap membantunya. Ia masih bisa berbuat jahat. Ia masih bisa..."
Danang mengernyit. "Surya? Masih bisa berbuat jahat? Ia sudah tua. Ia sudah sakit. Ia sudah tidak punya apa-apa."
"Tapi ia masih punya dendam, Pak. Dendam pada Bapak. Dendam pada Kirana. Dendam pada semua orang yang pernah melawannya. Ia tidak akan berhenti. Ia tidak akan menyerah. Ia akan terus berusaha menghancurkan Bapak, sampai mati."
Danang terdiam.
Ia memikirkan kata-kata Budi.
Apakah Surya masih menyimpan dendam?
Apakah Surya masih berusaha menghancurkannya?
Apakah pertemuan semalam hanyalah tipu muslihat?
Apakah Surya masih sama seperti dulu?
"Budi, tolong sampaikan pada ibumu bahwa Danang Wiratama mengucapkan terima kasih. Terima kasih karena masih mengingatnya. Terima kasih karena masih menganggapnya pahlawan. Terima kasih karena..."
"Baik, Pak. Nanti saya sampaikan. Tapi sekarang, gorengannya dulu, Pak. Sudah saya bungkus. Ini, Pak. Tiga puluh lima ribu rupiah."
Danang mengambil uang dari sakunya. Uang lima puluh ribuan. "Ini, Budi. Kembaliannya untuk kau. Beli mainan. Atau buku. Atau jajan."
Budi tersenyum lebar. "Terima kasih, Pak! Bapak baik sekali! Bapak memang pahlawan!"
Anak itu berlari kecil, meninggalkan Danang yang berdiri di tengah pasar, dengan bungkusan gorengan di tangan, dengan senyum di bibir, dengan harapan di hati.
"Danang! Danang Wiratama!"
Danang menoleh.
Seorang lelaki tua dengan tongkat di tangan, dengan tubuh bungkuk, dengan wajah penuh kerutan, berjalan mendekatinya. Lelaki itu memakai kemeja batik lengan panjang, dengan sarung batik yang melilit di pinggang, dengan kopiah hitam di kepala.
"Bima?" bisik Danang, tidak percaya.
Bima, teman masa kecilnya, satu-satunya teman laki-laki yang tidak sepenuhnya menjauh ketika Danang dituduh membakar gudang. Bima, yang dulu bertubuh tambun dengan rambut keriting yang tidak pernah rapi, kini kurus kering, keriput, hampir tidak bisa dikenali.
"Bima, apa kabar? Sehat?" Danang mendekat, memeluk Bima. Tubuh Bima terasa ringan, seperti orang yang kehilangan separuh berat badannya.
Bima tertawa. Tawa yang keras, yang riuh, yang seperti tawa anak muda meskipun suaranya sudah parau karena usia. "Sehat, Danang. Alhamdulillah. Masih diberi umur panjang. Masih bisa lihat kau kembali. Masih bisa..."
"Kau tahu aku kembali?"
"Semua orang tahu, Danang. Desa ini kecil. Tidak ada yang bisa disembunyikan. Kau datang kemarin sore. Naik taksi Avanza hitam. Sopirnya Budi, anaknya RT Santoso. Kau turun di depan rumah Kirana. Kau masuk ke rumahnya. Kau keluar tengah malam. Kau tidur di rumah lamamu. Kau bangun pagi-pagi. Kau pergi ke pasar. Kau membeli gorengan dari Budi Santoso. Kau..."
Danang tertawa. "Kau tahu semua, Bima. Kau seperti mata-mata."
"Mata-mata? Bukan. Aku hanya pensiunan. Tidak ada kerjaan. Setiap hari duduk di rumah, minum kopi, makan pisang goreng, ngobrol dengan tetangga, dengar berita. Itu saja."
"Kau sudah pensiun? Dari apa?"
"Dari kebun kelapa sawit. Dulu aku kerja di Kalimantan. Jadi mandor. Gaji lumayan. Rumah dan mobil disediakan perusahaan. Anak-anak sekolah gratis. Tapi setelah pensiun, aku kembali ke desa. Ingin menikmati masa tua. Ingin menanam sayur. Ingin memelihara ayam. Ingin..."
"Ingin apa?"
"Ingin bertemu dengan kau, Danang. Aku sudah lama menunggu. Aku tahu kau akan kembali. Mbah Joyo sudah meramalkannya sebelum beliau meninggal. Beliau bilang, 'Bima, kau tunggu Danang. Ia akan kembali ketika rambutnya sudah memutih. Ia akan kembali ketika Kirana sudah menjanda. Ia akan kembali ketika Surya sudah bangkrut. Ia akan kembali ketika Arman sudah mati. Ia akan kembali ketika...'"
"Ketika apa?"
"Ketika cinta sudah tidak bisa lagi ditunda. Ketika waktu sudah tidak bisa lagi diulang. Ketika penyesalan sudah tidak bisa lagi diobati."
Danang terdiam.
Ia memikirkan kata-kata Mbah Joyo.
Lelaki tua bijak yang dulu meramalkan masa depannya.
Lelaki tua yang dulu mengatakan bahwa ia akan membawa luka panjang, lebih panjang dari hidupnya sendiri.
Lelaki tua yang dulu mengatakan bahwa ia akan kehilangan terlalu banyak hal sebelum cukup umur untuk mengerti arti kehilangan.
Lelaki tua yang dulu mengatakan bahwa ia akan mencintai terlalu dalam, dan cinta itu akan menjadi lukanya yang paling parah.
Lelaki tua yang dulu mengatakan bahwa ia akan mencari sesuatu sepanjang hidupnya, tanpa pernah benar-benar tahu apa yang ia cari.
"Bima, apa Mbah Joyo juga meramalkan bahwa aku akan kembali? Bahwa aku akan bertemu Kirana lagi? Bahwa aku akan..."
Mbah Joyo meramalkan semuanya, Danang. Beliau tahu kau akan pergi. Beliau tahu kau akan kembali. Beliau tahu kau akan menderita. Beliau tahu kau akan bahagia. Beliau tahu kau akan menangis. Beliau tahu kau akan tertawa. Beliau tahu kau akan..."
"Beliau tahu aku akan menyesal?"
Bima mengangguk. "Beliau tahu kau akan menyesal. Beliau tahu Kirana akan menyesal. Beliau tahu Arman akan menyesal. Beliau tahu Surya akan menyesal. Beliau tahu semua orang akan menyesal. Tapi penyesalan tidak bisa mengubah masa lalu. Penyesalan hanya bisa mengubah masa depan. Itu yang beliau bilang."
"Penyesalan hanya bisa mengubah masa depan?"
"Iya. Penyesalan membuat kita tidak mengulangi kesalahan yang sama. Penyesalan membuat kita lebih bijak. Penyesalan membuat kita lebih menghargai waktu. Penyesalan membuat kita..."
"Penyesalan membuat kita sadar bahwa kita tidak abadi. Bahwa kita akan mati. Bahwa kita harus memanfaatkan waktu yang tersisa sebaik-baiknya."
Bima tersenyum. "Kau masih sama, Danang. Masih suka memotong pembicaraan orang. Masih suka mengambil kesimpulan sendiri. Masih suka..."
"Masih suka apa?"
"Masih suka berpikir terlalu keras. Masih suka menganalisis segala sesuatu. Masih suka mencari makna di balik setiap kata. Padahal kadang, kata-kata hanyalah kata-kata. Tidak perlu dicari maknanya. Tidak perlu..."
"Tidak perlu apa?"
"Tidak perlu dipikirkan terlalu lama. Nikmati saja. Seperti gorengan ini. Gorengan dari Budi Santoso. Enak. Renyah. Gurih. Tidak perlu ditanya dari mana asal minyaknya. Tidak perlu ditanya apakah minyaknya sehat. Tidak perlu ditanya apakah pisangnya organik. Nikmati saja."
Danang tertawa. "Kau masih suka memberi nasihat, Bima. Seperti dulu. Waktu kita masih kecil. Waktu kau bilang, 'Jangan sedih, Danang. Surya hanya anak kaya yang sombong. Suatu hari nanti ia akan jatuh. Suatu hari nanti ia akan menyesal.'"
Bima mengangguk. "Dan aku benar. Lihat Surya sekarang. Bangkrut. Sakit. Sendirian. Menyesal. Semua yang ia bangun selama bertahun-tahun, hancur dalam sekejap. Semua karena kesombongannya. Semua karena dendamnya. Semua karena..."
"Karena ia tidak bisa memaafkan."
"Karena ia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri."
Mereka berdua terdiam.
Hanya suara pasar yang terdengar.
Suara tawar-menawar.
Suara teriakan.
Suara tawa.
Suara tangisan.
Suara kehidupan.
"Bima, aku harus pulang. Kirana menunggu. Aku janji akan sarapan bersamanya."
"Baik, Danang. Aku juga harus pulang. Istriku menunggu. Aku janji akan membelikannya ikan segar."
Mereka berpelukan.
Berpelukan di tengah pasar yang ramai.
Berpelukan di antara pedagang dan pembeli.
Berpelukan di antara tawa dan tangis.
Berpelukan di antara masa lalu dan masa depan.
"Selamat tinggal, Bima."
"Selamat tinggal, Danang. Sampai jumpa lagi."
"Sampai jumpa."
Danang berjalan meninggalkan pasar, meninggalkan Bima, meninggalkan Budi, meninggalkan semua wajah-wajah baru yang tidak dikenalnya, meninggalkan semua kenangan lama yang tidak bisa dilupakannya.
Ia berjalan menuju rumah Kirana.
Dengan bungkusan gorengan di tangan.
Dengan senyum di bibir.
Dengan harapan di hati.
Dengan cinta di jiwa.
Bab 46
Anak-Anak dari Masa yang Berbeda
Beberapa hari setelah pertemuan di pasar, setelah Danang dan Kirana mulai membiasakan diri dengan kehadiran satu sama lain, setelah mereka mulai belajar lagi bagaimana berbagi cerita, berbagi tawa, berbagi air mata, keluarga mulai datang.
Bukan keluarga dalam arti orang tua atau saudara kandung. Orang tua mereka sudah lama meninggal. Ibu Kirana, Nyonya Dewi Ratnasari, meninggal sepuluh tahun lalu karena komplikasi diabetes. Ayah Kirana meninggal lebih awal, dua puluh tahun lalu, karena serangan jantung di kantor pos tempatnya bekerja. Ibu Danang, Ratih, meninggal tiga puluh tahun lalu di kursi bambu. Sastrowiryo, ayah tiri Danang, tidak pernah kembali, tidak pernah memberi kabar, tidak pernah diketahui nasibnya. Ayah kandung Danang, lelaki dengan rambut panjang yang menari di atas panggung ketoprak, tidak pernah muncul, tidak pernah dicari, tidak pernah diingat.
Yang datang adalah anak-anak mereka. Anak-anak dari pernikahan mereka masing-masing. Anak-anak yang tumbuh tanpa mengetahui sejarah cinta orang tua mereka. Anak-anak yang sekarang sudah dewasa, sudah berkeluarga, sudah punya anak sendiri. Anak-anak yang datang untuk melihat apakah benar ayah mereka telah kembali, apakah benar ibu mereka telah menemukan kebahagiaan, apakah benar cinta lama bisa bersemi kembali di usia senja.
Hari Sabtu pagi, matahari bersinar terang, langit biru tanpa awan, angin berhembus sepoi-sepoi, membawa wangi bunga melati dari kebun Kirana. Burung-burung berkicau riang di pohon-pohon rambutan, seolah ikut merayakan pertemuan keluarga yang telah lama dinanti.
Danang duduk di beranda rumah Kirana, di kursi rotan yang sudah reyot, dengan bantal pipis yang sudah tidak empuk lagi, dengan sandaran yang diikat tali plastik agar tidak terlepas. Ia memegang secangkir teh jahe dengan madu buatan Kirana, menyesap perlahan, menikmati hangatnya yang menyebar dari tenggorokan ke seluruh tubuh.
Di depannya, halaman rumah yang sederhana, dengan rumput yang tidak terlalu panjang, dengan pot-pot bunga di pinggir-pinggirnya, dengan pohon mangga yang rindang di sudut halaman. Ayam-ayam berkeliaran di halaman, mematuk-matuk tanah mencari cacing atau sisa-sisa makanan yang jatuh. Seekor kucing oren dengan mata sipit tidur di atas pagar, sesekali membuka mata, mengeong pelan, lalu tidur lagi.
"Danang, mereka sudah datang," kata Kirana dari dalam rumah, suaranya terdengar sedikit gugup, sedikit cemas, sedikit bahagia. "Aku melihat mobil masuk ke gang. Itu mobil Raka, anakmu. Aku kenal plat nomornya. B 1234 R. Anakmu memang suka pamer."
Danang tersenyum. "Raka memang begitu. Ia suka barang-barang mewah. Mobil, jam tangan, pakaian, sepatu. Semua harus bermerek. Semua harus mahal. Semua harus bagus. Ia tidak seperti aku. Ia..."
"Ia anak kau, Danang. Darah kau mengalir di tubuhnya. Mungkin ia berbeda. Mungkin ia suka pamer. Tapi ia tetap anak kau. Ia tetap mencintaimu. Ia tetap..."
"Aku tidak yakin, Kirana. Aku tidak pernah menjadi ayah yang baik. Aku tidak pernah ada untuknya. Aku sibuk bekerja. Aku sibuk mencari uang. Aku sibuk melupakan masa lalu. Aku sibuk... sibuk mencintaimu."
Kirana keluar dari rumah, berdiri di samping Danang, memegang bahunya yang sudah membungkuk. "Kau bisa menjadi ayah yang baik sekarang, Danang. Kau masih punya waktu. Kau masih bisa memperbaiki kesalahan. Kau masih bisa..."
"Apakah waktu masih cukup, Kirana? Apakah Raka masih mau menerimaku? Apakah ia masih mau mengakuiku sebagai ayah? Apakah ia masih..."
"Kau tidak akan tahu jika tidak mencoba, Danang. Ayo. Mereka sudah masuk halaman."
Mobil Avanza hitam dengan plat nomor B 1234 R masuk ke halaman rumah Kirana, perlahan, hati-hati, menghindari ayam-ayam yang berkeliaran dan pot-pot bunga yang diletakkan di pinggir jalan. Mobil itu berhenti di depan teras, mesinnya mati, pintu terbuka.
Seorang lelaki muda berusia sekitar dua puluh tujuh tahun turun dari mobil. Raka, anak Danang dari pernikahannya dengan seorang perempuan bernama Dewi, yang sudah bercerai lima belas tahun lalu. Raka tidak mirip Danang. Wajahnya lebih mirip ibunya, dengan kulit putih bersih, hidung mancung, mata sipit, rambut lurus hitam. Tapi cara berjalannya, cara berdiri, cara memandang, semua mirip Danang. Seperti ayah, seperti anak.
Raka mengenakan kemeja batik lengan panjang dengan motif parang, warna coklat keemasan, yang terlihat mahal. Celana kain hitam, bahan wol, dengan lipatan setrika yang masih terlihat jelas di bagian depan. Sepatu pantofel kulit hitam, mengkilap, merek terkenal, yang harganya mungkin setara dengan pendapatan Danang sebulan ketika masih bekerja di percetakan dulu.
Di tangannya, ia memegang tas kertas coklat dari butik terkenal di Jakarta. Tas yang berisi hadiah untuk Danang. Mungkin baju. Mungkin sepatu. Mungkin jam tangan. Mungkin sesuatu yang mahal, yang tidak terlalu dibutuhkan oleh Danang, yang hanya akan disimpan di lemari dan tidak pernah dipakai.
"Ayah," kata Raka, suaranya dingin, datar, tidak menunjukkan emosi. Matanya menatap Danang dengan tatapan yang sulit dibaca. Bukan benci. Bukan marah. Bukan sedih. Bukan rindu. Hanya kosong. Kosong seperti orang yang sudah kehilangan harapan.
Danang berdiri. Lututnya sakit, tetapi ia tahan. Ia berjalan mendekati Raka, perlahan, dengan tongkat di tangan, dengan langkah yang tidak stabil. Ia berdiri di depan anaknya, menatap wajahnya yang tidak mirip dengannya, menatap matanya yang kosong, menatap sikapnya yang dingin.
"Raka," sapanya, suaranya bergetar. "Kau datang."
"Ayah yang memanggil. Ayah yang bilang mau bertemu. Ayah yang bilang mau bicara. Ayah yang bilang mau minta maaf. Jadi aku datang. Bukan karena aku rindu. Bukan karena aku kangen. Tapi karena ayah memanggil. Itu saja."
Kirana yang mendengar percakapan itu, menghela napas. Ia mendekati Raka, meraih tangannya, menggenggamnya erat. "Raka, jangan begitu. Ayahmu sudah tua. Ayahmu sakit. Ayahmu..."
"Ayahku tidak pernah ada untukku, Bu Kirana. Ayahku tidak pernah hadir di ulang tahunku. Ayahku tidak pernah hadir di perpisahan sekolahku. Ayahku tidak pernah hadir di wisudaku. Ayahku tidak pernah..."
"Ayahmu bekerja keras untuk menghidupimu, Raka. Ayahmu..."
"Bekerja keras? Atau melarikan diri? Ayahku bekerja keras untuk melupakan masa lalunya. Ayahku bekerja keras untuk melupakan Kirana. Ayahku bekerja keras untuk melupakan desa ini. Ayahku tidak pernah bekerja keras untukku. Aku hanya... aku hanya kewajiban. Aku hanya tanggung jawab. Aku hanya..."
Danang menunduk.
Air matanya jatuh.
Ia tidak bisa membantah.
Karena itu benar.
Ia tidak pernah menjadi ayah yang baik.
Ia tidak pernah ada untuk Raka.
Ia sibuk bekerja.
Ia sibuk mencari uang.
Ia sibuk melupakan Kirana.
Ia sibuk membenci Arman.
Ia sibuk menyalahkan Surya.
Ia sibuk... sibuk menjadi korban.
"Raka, maafkan ayah," bisiknya, suaranya pecah, tangisnya keluar. "Ayah tidak bisa menjadi ayah yang baik. Ayah tidak bisa menjadi ayah yang kau harapkan. Ayah tidak bisa..."
"Ayah tidak perlu meminta maaf, Ayah. Aku sudah terbiasa. Aku sudah dewasa. Aku sudah punya keluarga sendiri. Aku sudah punya anak sendiri. Aku sudah... aku sudah tidak butuh ayah lagi."
Raka berbalik.
Ia berjalan ke mobilnya.
Membuka pintu.
Masuk ke dalam.
Menyalakan mesin.
Mobil itu berputar perlahan.
Meninggalkan halaman.
Meninggalkan Danang.
Meninggalkan Kirana.
Meninggalkan semua kata-kata yang tidak sempat diucapkan.
Danang berdiri di halaman, memandang mobil anaknya yang semakin kecil, semakin jauh, semakin kabur. Ia tidak menangis. Ia tidak berteriak. Ia hanya berdiri. Berdiri di tengah halaman yang sunyi. Berdiri di tengah rasa sakit yang tidak bisa ia ungkapkan. Berdiri di tengah penyesalan yang tidak bisa ia perbaiki.
"Danang," panggil Kirana pelan, memegang tangannya. "Kau tidak apa-apa?"
"Raka benar, Kirana. Aku bukan ayah yang baik. Aku tidak pernah ada untuknya. Aku tidak pernah..."
"Kau bisa berubah, Danang. Kau masih punya waktu. Kau masih bisa..."
"Raka tidak mau. Ia sudah dewasa. Ia sudah punya keluarga sendiri. Ia sudah tidak butuh aku."
"Tapi ia tetap anakmu, Danang. Darahmu mengalir di tubuhnya. Suatu hari nanti, ia akan sadar. Suatu hari nanti, ia akan kembali. Suatu hari nanti, ia akan..."
"Kapan, Kirana? Kapan ia akan sadar? Kapan ia akan kembali? Kapan ia akan... aku tidak punya banyak waktu. Aku sudah tua. Aku sakit. Aku bisa mati kapan saja."
Kirana memeluk Danang.
Ia memeluknya erat-erat.
"Jangan bicara seperti itu, Danang. Kau tidak akan mati. Kita tidak akan mati. Kita masih panjang umur. Kita masih bisa bersama. Kita masih bisa..."
"Kita masih bisa apa, Kirana?"
"Kita masih bisa bahagia. Kita masih bisa menikmati sisa hidup kita bersama. Kita masih bisa..."
Tiba-tiba, dari kejauhan, terdengar suara mobil lain.
Mobil masuk ke halaman.
Bukan Avanza hitam.
Bukan mobil Raka.
Mobil lain.
Mobil yang lebih kecil.
Mobil yang lebih sederhana.
Mobil yang lebih tua.
Mobil Daihatsu Xenia warna putih, dengan plat nomor B 5678 R, berhenti di depan teras.
Pintu terbuka.
Seorang perempuan muda turun.
Ayu.
Kirana.
Anak Kirana dari pernikahannya dengan almarhum suaminya, seorang pegawai bank bernama Bambang, yang meninggal lima tahun lalu karena kecelakaan di tempat kerja.
Ayu berusia dua puluh lima tahun. Wajahnya mirip Kirana ketika masih muda. Mata yang sama. Senyum yang sama. Lesung pipit di pipi kiri yang sama. Rambut panjang hitam yang sama. Bahkan cara berjalannya, cara tertawanya, cara bicaranya, semua mirip Kirana.
Ia mengenakan kemeja putih lengan panjang, kain batik coklat, sandal jepit hitam. Tidak seperti Raka yang suka pamer, Ayu sederhana, bersahaja, tidak neko-neko. Ia tidak butuh barang-barang mewah untuk merasa berharga. Ia tidak butuh pakaian mahal untuk merasa percaya diri. Ia hanya butuh kebahagiaan. Kebahagiaan sederhana. Kebahagiaan bersama orang-orang yang dicintainya.
"Ibu!" seru Ayu, berlari kecil mendekati Kirana, memeluknya erat-erat. "Ibu, apa kabar? Sehat? Aku kangen Ibu. Kangen banget."
Kirana tertawa. Tawa yang riang, tawa yang bebas, tawa yang seperti anak kecil yang bermain kejar-kejaran di halaman sekolah. "Sehat, Nak. Ibu sehat. Ibu baik-baik saja. Ibu..."
"Ibu, ini siapa?" Ayu menunjuk ke arah Danang, matanya penasaran, matanya seperti sedang mencari-cari kemiripan dengan foto-foto lama yang ia lihat di album ibunya.
"Ini Danang, Nak. Danang Wiratama. Teman lama Ibu. Dari desa. Dari kecil. Dari..."
"Dari dulu? Dari sebelum Ibu menikah dengan almarhum ayah? Dari sebelum aku lahir? Dari sebelum..."
Kirana mengangguk. "Dari sebelum itu, Nak. Danang sudah dikenal Ibu sejak Ibu masih kecil. Sejak Ibu masih tinggal di desa. Sejak Ibu masih..."
"Ibu, jangan bilang ini... jangan bilang ini Danang yang Ibu ceritakan? Danang yang Ibu tulis surat setiap minggu? Danang yang Ibu tunggu selama bertahun-tahun? Danang yang..."
Kirana tersenyum. "Iya, Nak. Ini dia. Danang. Setelah tiga puluh tahun, akhirnya ia kembali."
Ayu menatap Danang.
Matanya berkaca-kaca.
"Pak Danang," sapanya, suaranya bergetar. "Aku Ayu. Anak Ibu. Ibu sering cerita tentang Bapak. Ibu sering bercerita tentang masa kecil Ibu di desa. Ibu sering bercerita tentang pohon waru di tepi sungai. Ibu sering bercerita tentang pita biru. Ibu sering bercerita tentang..."
"Tentang apa, Nak?"
"Tentang cinta. Cinta yang tidak pernah mati. Cinta yang bertahan selama tiga puluh tahun. Cinta yang sekarang, di senja hidup Ibu, akhirnya bersatu lagi."
Danang tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya memeluk Ayu. Memeluknya erat-erat. Seperti anak sendiri. Seperti darah daging sendiri. Seperti bagian dari dirinya yang hilang, dan sekarang ditemukan kembali.
"Ayu, maafkan aku. Maafkan aku karena tidak pernah ada untuk ibumu. Maafkan aku karena tidak pernah kembali. Maafkan aku karena..."
"Tidak usah minta maaf, Pak Danang. Yang penting Bapak kembali. Yang penting Ibu bahagia. Yang penting..."
"Ibu bahagia, Ayu. Ibu bahagia karena Danang kembali. Ibu bahagia karena kalian di sini. Ibu bahagia karena..."
Kirana menangis.
Ia menangis di hadapan anaknya.
Menangis di hadapan Danang.
Menangis karena ia bahagia.
Menangis karena ia tidak sendirian.
Menangis karena ia dicintai.
"Ayu, tolong panggil Raka. Suruh ia kembali. Aku tidak mau Danang sedih. Aku tidak mau..."
"Aku sudah coba, Bu. Raka tidak mau. Ia keras kepala. Ia marah. Ia kecewa. Ia..."
"Tolong, Ayu. Untuk Ibu. Untuk Danang. Untuk..."
Ayu menghela napas. "Baik, Bu. Aku coba lagi. Tapi tidak janji."
Ia berjalan ke mobilnya, mengambil ponsel dari saku celananya, menekan nomor Raka, berbicara dengan suara pelan, dengan kata-kata yang tidak terdengar oleh Danang dan Kirana.
Beberapa menit kemudian, ia kembali.
"Raka mau kembali, Bu. Tapi ia minta waktu. Ia mau bicara berdua dengan Bapak. Tanpa Ibu. Tanpa aku. Tanpa siapa pun."
Danang mengangguk. "Baik. Aku tunggu. Dimana saja. Kapan saja. Aku siap."
Ayu tersenyum. "Raka akan datang nanti malam, Pak. Jam tujuh. Di rumah Ibu. Ia janji."
"Terima kasih, Ayu. Terima kasih."
"Tugas anak, Pak. Tugas anak."
Mereka masuk ke dalam rumah.
Mereka duduk di ruang tamu.
Mereka minum teh.
Mereka makan gorengan.
Mereka bercerita.
Mereka tertawa.
Mereka menangis.
Mereka berbagi.
Mereka mencintai.
Dan untuk pertama kalinya setelah tiga puluh tahun, Danang merasa bahwa ia memiliki keluarga.
Bukan keluarga karena darah.
Tapi keluarga karena cinta.
Cinta yang tidak pernah mati.
Cinta yang bertahan selama tiga puluh tahun.
Cinta yang sekarang, di senja hidupnya, akhirnya ia temukan.
Bab 47
Pengakuan di Ujung Senja
Sore itu, setelah Ayu pergi untuk menjemput keponakannya di sekolah, setelah Raka belum juga datang meskipus sudah hampir pukul tujuh malam, Danang dan Kirana duduk di beranda rumah, memandang matahari yang mulai tenggelam di ufuk barat. Langit berwarna jingga keemasan, seperti sedang terbakar, seperti sedang berdarah, seperti sedang merayakan sesuatu yang indah. Awan-awan di sekitarnya berwarna merah muda, ungu, keemasan, seperti sedang berpesta, seperti sedang merayakan keindahan yang akan segera berakhir.
Danang memegang tangan Kirana. Tangannya yang keriput dan gemetar, menggenggam tangan Kirana yang juga keriput dan gemetar. Dua tangan tua yang telah melalui banyak hal. Dua tangan yang telah bekerja keras sepanjang hidup. Dua tangan yang telah menangis, tertawa, berdoa, berharap, kecewa, dan sekarang, di senja hidup mereka, saling menggenggam.
"Kirana, apa kau takut?" tanya Danang, suaranya pelan, lembut, seperti angin sore yang berhembus.
"Takut apa, Danang?"
"Takut mati. Takut tidak bisa bersama lagi. Takut..."
Kirana tersenyum. "Aku tidak takut mati, Danang. Aku sudah lama siap mati. Sejak suamiku meninggal. Sejak aku sendirian. Sejak aku sadar bahwa tidak ada lagi yang bisa aku harapkan dari hidup ini."
"Tapi sekarang? Sekarang aku kembali. Sekarang kita bersama. Sekarang..."
"Sekarang aku masih tidak takut mati, Danang. Karena jika aku mati, aku akan mati dengan bahagia. Aku akan mati dengan tenang. Aku akan mati dengan cinta. Cinta yang tidak pernah mati. Cinta yang bertahan selama tiga puluh tahun. Cinta yang..."
"Jangan bicara tentang kematian, Kirana. Kita masih panjang umur. Kita masih bisa bersama. Kita masih bisa..."
"Kita sudah tua, Danang. Kita tidak tahu kapan kita akan mati. Bisa besok. Bisa lusa. Bisa minggu depan. Bisa bulan depan. Yang penting, hari ini kita bersama. Hari ini kita bahagia. Hari ini kita..."
Tiba-tiba, suara mobil terdengar dari kejauhan.
Mobil masuk ke halaman.
Bukan Avanza hitam milik Raka.
Bukan Xenia putih milik Ayu.
Mobil lain.
Mobil yang lebih besar.
Mobil yang lebih mewah.
Mobil Toyota Innova hitam, dengan plat nomor B 9999 R, berhenti di depan teras.
Pintu terbuka.
Seseorang turun.
Bukan Raka.
Bukan Ayu.
Bukan siapa pun yang mereka kenal.
Seorang perempuan setengah baya, berusia sekitar lima puluh tahun, dengan pakaian sederhana, dengan wajah yang lelah, dengan mata yang sayu. Rambutnya diikat sederhana, dengan karet gelang hitam. Wajahnya tidak dirias, pucat, lesi. Tubuhnya kurus, seperti orang yang baru sembuh dari sakit parah.
"Ayu? Kirana?" bisik Danang, tidak percaya.
Bukan Ayu.
Bukan Kirana.
Perempuan lain.
Perempuan asing.
Tapi ada sesuatu di matanya.
Sesuatu yang familiar.
Sesuatu yang mengingatkan Danang pada masa lalu.
Sesuatu yang...
"Dewi?" bisik Danang, suaranya gemetar.
Dewi.
Mantan istrinya.
Ibu dari Raka.
Perempuan yang dinikahinya dua puluh tahun lalu, karena ia sendirian, karena ia butuh teman, karena ia butuh seseorang yang mengingatkannya bahwa ia masih hidup.
Perempuan yang dicerainya lima belas tahun lalu, karena ia tidak bisa mencintainya, karena ia tidak pernah bisa mencintainya, karena hatinya selalu milik Kirana.
Perempuan yang tidak pernah ia temui lagi setelah perceraian, karena ia malu, karena ia bersalah, karena ia tidak tega melihat bekas luka di matanya.
"Dewi, apa yang kau lakukan di sini? Kenapa kau... kenapa kau..." Danang berdiri, hampir jatuh karena lututnya sakit, tetapi Kirana cepat memegang tangannya.
Dewi tersenyum. Senyum yang pahit. Senyum yang getir. Senyum yang mengatakan bahwa ia telah melalui banyak hal, bahwa ia telah menderita, bahwa ia telah berjuang, bahwa ia telah menyerah.
"Raka meneleponku, Danang. Ia cerita bahwa kau kembali ke desa. Ia cerita bahwa kau bertemu Kirana lagi. Ia cerita bahwa kau bahagia. Ia cerita bahwa..."
"Bahwa aku tidak pernah bahagia bersamamu, Dewi. Bahwa aku selalu mencintai Kirana. Bahwa aku hanya menikahimu karena..."
"Aku tahu, Danang. Aku sudah tahu sejak awal. Sejak pertama kali kita bertemu. Sejak pertama kali kau melamarku. Sejak pertama kali kita menikah. Aku tahu bahwa kau tidak mencintaiku. Aku tahu bahwa hatimu milik orang lain. Aku tahu bahwa..."
"Kenapa kau tetap menikah denganku, Dewi? Kenapa kau tidak menolak? Kenapa kau..."
"Karena aku juga sendirian, Danang. Karena aku juga butuh teman. Karena aku juga butuh seseorang yang mengingatkanku bahwa aku masih hidup. Karena aku juga..."
Dewi menangis.
Ia menangis di hadapan Danang.
Menangis di hadapan Kirana.
Menangis di hadapan semua yang telah terjadi.
"Maafkan aku, Danang. Maafkan aku karena tidak bisa membuatmu bahagia. Maafkan aku karena tidak bisa menjadi Kirana. Maafkan aku karena..."
"Tidak, Dewi. Jangan minta maaf. Akulah yang harus minta maaf. Aku yang tidak bisa mencintaimu. Aku yang tidak bisa menjadi suami yang baik. Aku yang..."
"Kita berdua salah, Danang. Kita berdua bodoh. Kita berdua memilih untuk hidup dalam kebohongan, karena takut sendirian."
Kirana yang mendengar percakapan itu, diam-diam menangis. Ia berjalan mendekati Dewi, meraih tangannya, menggenggamnya erat.
"Dewi, aku Kirana. Kirana Prameswari. Perempuan yang... yang dicintai Danang. Perempuan yang... yang menjadi alasan perceraian kalian. Maafkan aku. Maafkan aku karena..."
Dewi tersenyum. "Kau tidak perlu minta maaf, Kirana. Cinta tidak pernah salah. Cinta tidak pernah meminta izin. Cinta datang begitu saja. Cinta pergi begitu saja. Cinta..."
"Aku tidak pernah bermaksud merebut Danang darimu, Dewi. Aku tidak pernah..."
"Aku tahu, Kirana. Danang tidak pernah menjadi milikku. Danang selalu menjadi milikmu. Sejak awal. Sejak sebelum aku lahir. Sejak sebelum aku mengenalnya. Danang selalu menjadi milikmu."
Mereka bertiga terdiam.
Hanya suara angin yang terdengar.
Hanya suara jangkrik.
Hanya suara hati.
"Danang, aku datang ke sini bukan untuk merebutmu kembali," kata Dewi akhirnya. "Aku datang ke sini untuk melepaskanmu. Untuk memastikan bahwa kau bahagia. Untuk memastikan bahwa kau tidak sendirian. Untuk memastikan bahwa..."
"Bahwa aku dicintai?"
Dewi mengangguk. "Bahwa kau dicintai. Oleh Kirana. Oleh Raka. Oleh Ayu. Oleh semua orang yang peduli padamu."
"Tapi Raka... Raka marah padaku. Raka kecewa padaku. Raka..."
"Raka hanya butuh waktu, Danang. Ia akan datang. Ia akan memaafkanmu. Ia akan..."
Tiba-tiba, suara mobil lain terdengar.
Mobil masuk ke halaman.
Mobil Avanza hitam dengan plat nomor B 1234 R.
Raka.
Ia turun dari mobil.
Wajahnya masih dingin.
Matanya masih kosong.
Tapi ada sesuatu yang berbeda.
Ada keraguan.
Ada ketakutan.
Ada harapan.
"Ayah," panggilnya, suaranya tidak sedingin tadi. Masih dingin, tetapi tidak membeku. Masih jauh, tetapi tidak sejauh sebelumnya.
Danang berdiri. Ia berjalan mendekati Raka, perlahan, dengan tongkat di tangan, dengan langkah yang tidak stabil, dengan hati yang berdebar.
"Raka, maafkan ayah," katanya, suaranya bergetar, air matanya jatuh. "Ayah tidak bisa menjadi ayah yang baik. Ayah tidak bisa..."
"Ayah, aku tidak datang ke sini untuk mendengar permintaan maaf," potong Raka, suaranya tegas, tetapi matanya berkaca-kaca. "Aku datang ke sini untuk..."
"Untuk apa, Nak?"
Raka menunduk.
Ia menggenggam tangannya sendiri.
Tangannya gemetar.
"Aku datang ke sini untuk mengatakan bahwa aku... aku merindukan ayah."
Danang terkejut.
Ia tidak percaya.
Ia tidak percaya bahwa Raka, anak yang selalu dingin, selalu jauh, selalu marah, selalu kecewa, mengatakan bahwa ia merindukannya.
"Apa katamu, Nak?"
"Aku merindukan ayah, Ayah. Aku merindukan ayah setiap hari. Aku merindukan ayah setiap malam. Aku merindukan ayah setiap kali aku melihat teman-temanku bermain dengan ayah mereka. Aku merindukan ayah setiap kali aku ulang tahun. Aku merindukan ayah setiap kali aku lulus sekolah. Aku merindukan ayah setiap kali aku..."
Raka tidak melanjutkan.
Tangisnya pecah.
Ia menangis di hadapan Danang.
Menangis untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
Menangis karena ia lelah.
Menangis karena ia rindu.
Menangis karena ia ingin dimaafkan.
Menangis karena ia ingin memaafkan.
Danang memeluk Raka.
Ia memeluknya erat-erat.
Seperti tidak ingin melepaskan.
Seperti takut kehilangan lagi.
Seperti takut ini hanya mimpi.
"Maafkan ayah, Nak. Maafkan ayah karena tidak pernah ada untukmu. Maafkan ayah karena..."
"Sudah, Ayah. Tidak usah. Yang penting sekarang ayah di sini. Yang penting sekarang ayah..."
"Ayah di sini, Nak. Ayah tidak akan pergi lagi. Ayah akan tinggal di sini. Bersama Kirana. Bersama kau. Bersama Ayu. Bersama..."
"Bersama ibu?" Raka menunjuk ke arah Dewi yang masih berdiri di halaman, menangis.
Danang mengangguk. "Bersama ibumu. Sebagai teman. Sebagai sahabat. Sebagai..."
"Sebagai keluarga," sambut Dewi, berjalan mendekat, berdiri di samping Raka. "Kita keluarga, Danang. Mungkin tidak utuh. Mungkin tidak sempurna. Tapi kita keluarga."
Mereka berpelukan.
Danang, Raka, Dewi.
Berpelukan di halaman rumah Kirana.
Berpelukan di bawah langit yang mulai gelap.
Berpelukan di bawah bintang-bintang yang mulai muncul.
Berpelukan sebagai keluarga.
Keluarga yang tidak utuh.
Keluarga yang tidak sempurna.
Tapi keluarga.
"Danang, aku juga ingin berpelukan," kata Kirana dari beranda, matanya basah, senyumnya mengembang.
Danang tertawa. "Ayo, Kirana. Kita berpelukan bersama. Kita keluarga. Kita semua keluarga."
Kirana berjalan mendekat.
Ia berdiri di samping Danang.
Mereka berpelukan.
Berlima.
Danang, Kirana, Raka, Dewi, dan Ayu yang baru saja tiba dari menjemput keponakannya.
Berpelukan di halaman rumah.
Berpelukan di bawah langit yang penuh bintang.
Berpelukan sebagai keluarga yang baru terbentuk.
Keluarga yang lahir dari cinta.
Cinta yang tidak pernah mati.
Cinta yang bertahan selama tiga puluh tahun.
Cinta yang sekarang, di senja hidup mereka, akhirnya bersatu.
"Danang, aku sayang kau," bisik Kirana di telinga Danang.
"Aku juga sayang kau, Kirana. Lebih dari apa pun di dunia ini."
"Danang, aku juga sayang ayah," kata Raka, suaranya masih bergetar.
"Aku juga sayang kau, Nak. Maafkan ayah."
"Danang, aku juga sayang kau," kata Dewi, suaranya pelan, lembut.
"Aku juga sayang kau, Dewi. Sebagai teman. Sebagai sahabat. Sebagai..."
"Sebagai keluarga," sambut Ayu. "Kita keluarga. Kita semua keluarga."
Mereka tertawa.
Tertawa bersama.
Tertawa sebagai keluarga.
Tertawa sebagai orang yang saling mencintai.
Tertawa sebagai orang yang saling memaafkan.
Tertawa sebagai orang yang saling merindukan.
Tertawa sebagai orang yang akhirnya bersama.
Bab 48
Lelaki yang Datang Membawa Penyesalan
Malam itu, setelah Raka dan Dewi pamit pulang, setelah Ayu mengantarkan keponakannya tidur di kamar belakang, setelah Kirana membereskan cangkir-cangkir teh yang berserakan di meja ruang tamu, hujan turun lagi. Bukan hujan deras seperti malam-malam sebelumnya. Hujan gerimis. Pelan. Sayu. Seperti langit sedang menangis pelan, tidak ingin mengganggu siapa pun dengan kesedihannya.
Danang duduk di beranda, sendirian, ditemani oleh secangkir teh jahe yang sudah dingin dan sebatang rokok kretek yang tidak pernah ia nyalakan. Ia hanya memegang rokok itu, memutarnya di antara jari-jarinya yang keriput, mencium aroma tembakau yang bercampur dengan cengkeh, mengingat masa lalunya ketika ia masih muda dan bodoh dan penuh amarah.
"Danang, kau tidak tidur?" suara Kirana dari dalam rumah, lembut, penuh perhatian.
"Belum, Kirana. Aku masih menikmati malam. Masih menikmati hujan. Masih menikmati..."
"Masih menikmati apa?"
"Masih menikmati kenyataan bahwa aku di sini. Bersamamu. Setelah tiga puluh tahun."
Kirana keluar rumah, membawa selimut tipis untuk Danang. Ia menyelimuti pundak Danang yang sudah membungkuk, merapikan ujung-ujung selimut yang terlepas, lalu duduk di kursi di sampingnya.
"Kau kedinginan, Danang. Pakai selimut. Jangan sampai sakit. Kita sudah tua. Tidak seperti dulu."
"Kau masih perhatian, Kirana. Seperti dulu. Waktu kau membawakanku pisang goreng di tepi sungai. Waktu kau membawakanku obat untuk ibuku. Waktu kau..."
"Sudahlah, Danang. Jangan bicara tentang masa lalu. Masa lalu sudah berlalu. Tidak bisa diubah. Yang penting sekarang kita di sini. Bersama."
"Tapi masa lalu terus menghantuiku, Kirana. Setiap malam. Setiap kali aku memejamkan mata. Aku melihat Arman. Aku melihat surat-surat palsu. Aku melihat kau membanting pintu di depanku. Aku melihat..."
"Sudah, Danang. Jangan. Aku tidak mau kau sakit. Aku tidak mau kau..."
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari kejauhan.
Langkh kaki yang berat.
Langkh kaki yang tidak stabil.
Langkh kaki yang disertai dengan suara tongkat yang mengetuk-ngetuk tanah becek.
Danang dan Kirana menoleh ke arah suara.
Di kegelapan malam, di bawah cahaya bulan yang redup, di bawah gerimis yang masih turun, seorang lelaki tua muncul.
Tubuhnya kurus, hampir seperti kerangka.
Wajahnya penuh kerutan, seperti peta yang mencatat setiap tahun yang telah ia lalui, setiap kesalahan yang telah ia buat, setiap penyesalan yang tidak pernah bisa ia perbaiki.
Rambutnya putih semua, tidak ada yang hitam, tipis, hampir botak di bagian atas.
Matanya cekung, sayu, seperti orang yang sudah kehilangan semangat hidup, seperti orang yang sudah menyerah pada takdir.
Ia berjalan dengan susah payah, ditopang oleh tongkat kayu yang sudah halus karena sering dipegang, yang mungkin sudah berusia puluhan tahun, yang mungkin adalah satu-satunya teman setianya.
Setiap langkah terasa berat, seperti sedang berjalan di lumpur yang dalam, seperti sedang menyeret beban yang tidak terlihat.
Setiap napas terdengar tersengal-sengal, seperti orang yang sedang sakit parah, seperti orang yang sedang berjuang melawan waktu.
"Arman?" bisik Danang, tidak percaya.
Arman.
Sahabatnya.
Saudaranya.
Pengkhianatnya.
Orang yang selama tiga puluh tahun ia benci.
Orang yang selama tiga puluh tahun ia coba lupakan.
Orang yang selama tiga puluh tahun ia harap mati.
Dan sekarang, orang itu berdiri di depannya.
Di halaman rumah Kirana.
Di tengah hujan gerimis.
Di tengah malam yang gelap.
Di tengah penyesalan yang tidak pernah berakhir.
"Danang... Kirana... maafkan aku... maafkan aku..." suara Arman parau, hampir tidak terdengar, seperti suara yang keluar dari dasar sumur yang paling dalam, seperti suara orang yang sudah kehabisan air mata.
Kirana berdiri. Ia berjalan mendekati Arman, membuka pagar, membiarkan lelaki tua itu masuk. "Arman, apa yang kau lakukan di sini? Sudah malam. Hujan. Kau bisa sakit. Tubuhmu tidak kuat. Kau..."
"Aku tidak bisa tidur, Kirana. Aku tidak bisa tidur selama bertahun-tahun. Setiap kali aku memejamkan mata, aku melihat Danang. Aku melihat kau. Aku melihat surat-surat yang aku tahan. Aku melihat surat-surat palsu yang aku tulis. Aku melihat kehancuran yang aku sebabkan. Aku tidak bisa..."
"Masuklah, Arman. Kau basah. Kau kedinginan. Kau..."
"Tidak, Kirana. Aku tidak mau masuk. Aku tidak pantas masuk ke rumahmu. Aku tidak pantas duduk di kursimu. Aku tidak pantas minum dari cangkirmu. Aku tidak pantas..."
"Arman, jangan bicara seperti itu. Kau manusia. Kau punya hak. Kau..."
"Aku tidak punya hak, Kirana. Aku sudah kehilangan hakku ketika aku menahan surat-suratmu. Aku sudah kehilangan hakku ketika aku menulis surat-surat palsu. Aku sudah kehilangan hakku ketika aku menghancurkan kebahagiaan kalian. Aku sudah..."
Arman tidak melanjutkan.
Tangisnya pecah.
Ia menangis di halaman rumah Kirana.
Menangis di tengah hujan gerimis.
Menangis di hadapan Danang dan Kirana.
Menangis karena ia menyesal.
Menangis karena ia tidak bisa memperbaiki kesalahannya.
Menangis karena ia tahu bahwa ia tidak pantas diampuni.
Danang berdiri.
Ia berjalan mendekati Arman.
Perlahan.
Sangat perlahan.
Dengan tongkat di tangan.
Dengan langkah yang tidak stabil.
Dengan hati yang berdebar.
Ia berhenti di depan Arman.
Hanya satu lengan jaraknya.
Ia bisa melihat setiap kerutan di wajah Arman.
Ia bisa melihat setiap uban di rambutnya.
Ia bisa melihat setiap tetes air hujan yang jatuh dari dagunya.
Ia bisa melihat setiap tetes air mata yang bercampur dengan air hujan.
"Arman," panggilnya, suaranya pelan, lembut, tidak seperti yang ia bayangkan.
Selama tiga puluh tahun, ia membayangkan akan membentak Arman.
Selama tiga puluh tahun, ia membayangkan akan memukul Arman.
Selama tiga puluh tahun, ia membayangkan akan membunuh Arman.
Tapi sekarang, ketika Arman berdiri di depannya, ketika ia melihat betapa hancurnya lelaki itu, ketika ia melihat betapa menyesalnya lelaki itu, ketika ia melihat betapa sakitnya lelaki itu, ia tidak bisa marah.
Ia hanya bisa sedih.
Sedih untuk dirinya sendiri.
Sedih untuk Kirana.
Sedih untuk Arman.
Sedih untuk semua yang telah terjadi.
"Danang, aku datang ke sini malam ini karena aku tidak tahu apakah aku masih punya waktu besok," kata Arman, suaranya terputus-putus, seperti radio tua yang rusak, seperti pita kaset yang kusut. "Dokter bilang, jantungku lemah. Aku bisa mati kapan saja. Aku tidak ingin mati tanpa meminta maaf padamu. Aku tidak ingin mati tanpa mengakui semua kesalahanku. Aku tidak ingin mati tanpa..."
"Kau tidak perlu meminta maaf, Arman. Itu sudah lama. Aku sudah memaafkanmu."
"Tapi aku belum memaafkan diriku sendiri, Danang. Aku belum bisa tidur nyenyak sejak hari itu. Aku belum bisa tersenyum tulus sejak kau pergi. Aku belum bisa..."
"Itu bukan salahmu, Arman. Kau hanya... kau hanya jatuh cinta. Kau hanya... kau hanya iri. Kau hanya..."
"Tapi aku yang menahan surat-surat Kirana. Aku yang menulis surat-surat palsu. Aku yang berbohong pada kalian. Aku yang..."
"Kau manusia, Arman. Manusia boleh salah. Manusia boleh jatuh cinta. Manusia boleh iri. Manusia boleh..."
"Tapi manusia juga harus bertanggung jawab atas kesalahannya, Danang. Manusia juga harus meminta maaf. Manusia juga harus..."
"Kau sudah minta maaf, Arman. Sekarang. Di sini. Di depan aku. Di depan Kirana. Itu sudah cukup."
"Tapi apakah kau bisa memaafkanku, Danang? Apakah kau bisa melupakan semua yang telah aku lakukan? Apakah kau bisa..."
"Aku bisa memaafkanmu, Arman. Aku sudah memaafkanmu sejak lama. Sejak aku meninggalkan kota. Sejak aku memutuskan untuk memulai hidup baru. Sejak aku sadar bahwa membenci tidak akan membuatku bahagia."
Arman menangis lebih keras.
Ia berlutut di halaman yang basah.
Di tanah yang becek.
Di rumput yang basah.
Di depan Danang.
"Maafkan aku, Danang. Maafkan aku. Maafkan aku. Maafkan aku."
Danang memegang pundak Arman.
Ia membantunya berdiri.
"Jangan berlutut, Arman. Kau tidak perlu berlutut. Kau tidak perlu merendahkan diri. Kau hanya perlu..."
"Aku hanya perlu apa, Danang?"
"Kau hanya perlu memaafkan dirimu sendiri."
Arman terdiam.
Ia menatap Danang.
Matanya yang cekung dan sayu, tiba-tiba berkaca-kaca.
"Bagaimana caranya, Danang? Bagaimana cara memaafkan diri sendiri? Bagaimana cara..."
"Kau mulai dengan menerima bahwa kau manusia. Bahwa kau bisa salah. Bahwa kau bisa jatuh. Bahwa kau bisa..."
"Tapi kesalahanku terlalu besar, Danang. Kesalahanku menghancurkan hidup kalian. Kesalahanku mencuri tiga puluh tahun kebahagiaan kalian. Kesalahanku..."
"Kesalahanmu juga mengajarkan kami banyak hal, Arman. Kesalahanmu mengajarkan kami arti kesabaran. Kesalahanmu mengajarkan kami arti pengampunan. Kesalahanmu mengajarkan kami arti..."
"Arti apa, Danang?"
"Arti cinta. Cinta tidak hanya tentang kebahagiaan. Cinta juga tentang penderitaan. Cinta tidak hanya tentang memiliki. Cinta juga tentang melepaskan. Cinta tidak hanya tentang bersama. Cinta juga tentang..."
"Tentang apa?"
"Tentang memaafkan."
Arman menangis lagi.
Ia memeluk Danang.
Memeluknya erat-erat.
Seperti tidak ingin melepaskan.
Seperti takut Danang akan pergi lagi.
Seperti takut ini hanya mimpi.
"Danang, aku tidak tahu bagaimana membalas kebaikanmu. Aku tidak tahu bagaimana..."
"Kau tidak perlu membalas apa pun, Arman. Cukup kau hidup. Cukup kau bahagia. Cukup kau..."
"Tapi bagaimana aku bisa bahagia, Danang? Setelah semua yang telah aku lakukan? Setelah semua yang..."
"Kau mulai dengan memaafkan dirimu sendiri. Seperti yang aku katakan tadi. Menerima bahwa kau manusia. Menerima bahwa kau bisa salah. Menerima bahwa kau..."
"Aku mencoba, Danang. Aku sudah mencoba selama bertahun-tahun. Tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Aku tidak bisa..."
"Kau butuh bantuan, Arman. Kau butuh teman. Kau butuh keluarga. Kau butuh..."
"Aku tidak punya siapa-siapa, Danang. Keluargaku sudah meninggal. Teman-temanku sudah pergi. Aku sendirian. Aku..."
"Kau tidak sendirian, Arman. Aku di sini. Kirana di sini. Kami akan membantumu. Kami akan menjagamu. Kami akan..."
"Kalian baik, Danang. Kalian terlalu baik untuk orang seperti aku."
"Tidak ada yang terlalu baik, Arman. Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua. Setiap orang berhak..."
"Apakah aku berhak, Danang? Apakah aku berhak mendapatkan kesempatan kedua? Apakah aku..."
"Kau berhak, Arman. Karena kau manusia. Karena kau masih hidup. Karena kau masih..."
Arman tersenyum.
Senyum yang lemah.
Senyum yang tidak secerah biasanya.
Tapi senyum.
"Terima kasih, Danang. Terima kasih, Kirana. Aku tidak akan melupakan kebaikan kalian. Aku akan berdoa untuk kalian setiap hari. Aku akan..."
"Kau tidak perlu berdoa untuk kami, Arman. Cukup kau berdoa untuk dirimu sendiri. Cukup kau..."
"Baik, Danang. Aku akan berdoa untuk diriku sendiri. Aku akan memaafkan diriku sendiri. Aku akan..."
"Kau bisa, Arman. Aku percaya kau bisa."
Mereka berpelukan.
Berpelukan di halaman rumah Kirana.
Berpelukan di tengah hujan gerimis.
Berpelukan di tengah malam yang gelap.
Berpelukan sebagai sahabat.
Sahabat yang pernah tersesat.
Sahabat yang pernah saling membenci.
Sahabat yang sekarang saling memaafkan.
"Arman, kau mau masuk? Aku buatkan teh hangat," tanya Kirana, suaranya lembut, penuh perhatian.
"Tidak, Kirana. Aku harus pulang. Aku sudah merepotkan kalian. Aku sudah..."
"Kau tidak merepotkan, Arman. Kami senang kau datang. Kami senang kau..."
"Lain kali, Kirana. Lain kali aku akan mampir. Lain kali aku akan minum teh buatanmu. Lain kali aku akan..."
"Janji, Arman? Janji kau akan mampir?"
Arman mengangguk. "Janji, Kirana. Aku janji."
Ia berbalik.
Berjalan perlahan.
Meninggalkan halaman.
Meninggalkan Danang dan Kirana.
Meninggalkan penyesalan.
Meninggalkan masa lalu.
Meninggalkan semua yang telah terjadi.
"Arman!" panggil Danang.
Arman berhenti. Ia menoleh.
"Kau tidak sendirian, Arman. Ingat itu. Kau tidak sendirian."
Arman tersenyum.
Senyum yang tulus.
Senyum yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.
Senyum yang mengatakan bahwa ia lega.
Senyum yang mengatakan bahwa ia diampuni.
Senyum yang mengatakan bahwa ia tidak sendirian.
"Terima kasih, Danang. Terima kasih, Kirana. Aku mencintai kalian berdua. Sebagai sahabat. Sebagai saudara. Sebagai..."
"Sebagai keluarga," sambut Kirana.
Arman mengangguk.
Ia berjalan lagi.
Menghilang di balik kegelapan malam.
Di balik pohon-pohon rambutan.
Di balik suara jangkrik dan katak.
Di balik hujan gerimis yang masih turun.
Meninggalkan Danang dan Kirana yang berpelukan di halaman.
"Danang, kau benar-benar memaafkannya?" tanya Kirana.
"Iya, Kirana. Aku benar-benar memaafkannya."
"Kenapa? Setelah semua yang ia lakukan? Setelah semua penderitaan yang ia sebabkan? Setelah..."
"Karena aku tidak ingin membawa amarah sampai mati, Kirana. Karena aku tidak ingin seperti Surya. Karena aku tidak ingin..."
"Kau baik, Danang. Kau terlalu baik untuk dunia ini."
"Aku tidak baik, Kirana. Aku hanya lelah. Lelah marah. Lelah benci. Lelah dendam. Lelah..."
"Lelah apa?"
"Lelah menjadi korban."
Kirana memeluk Danang.
Ia memeluknya erat-erat.
"Aku bangga padamu, Danang. Aku bangga menjadi kekasihmu. Aku bangga menjadi..."
"Kau belum menjadi kekasihku lagi, Kirana. Kita belum..."
"Aku akan menjadi kekasihmu lagi, Danang. Jika kau mau. Jika kau masih..."
"Aku mau, Kirana. Aku selalu mau. Sejak dulu. Sejak kita di tepi sungai. Sejak kau memberikan bunga kuning itu padaku. Sejak..."
"Sudah, Danang. Jangan bicara tentang masa lalu. Masa lalu sudah berlalu. Yang penting sekarang kita di sini. Bersama."
Mereka berpelukan di halaman rumah Kirana.
Berpelukan di tengah hujan gerimis.
Berpelukan di tengah malam yang gelap.
Berpelukan sebagai kekasih.
Kekasih yang pernah terpisah.
Kekasih yang pernah saling membenci.
Kekasih yang sekarang saling mencintai.
"Danang, aku sayang kau," bisik Kirana.
"Aku juga sayang kau, Kirana. Lebih dari apa pun di dunia ini."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berciuman.
Ciuman pertama setelah tiga puluh tahun.
Ciuman yang lembut.
Ciuman yang hangat.
Ciuman yang penuh dengan cinta.
Ciuman yang mengatakan bahwa mereka telah menunggu terlalu lama.
Ciuman yang mengatakan bahwa mereka tidak akan berpisah lagi.
Ciuman yang mengatakan bahwa mereka akan bersama selamanya.
Sampai mati.
Bab 9
Malam Terakhir di Beranda
Malam itu, meskipun tubuhnya sudah sangat lemah, meskipun doktor di puskesmas sudah memperingatkan agar ia tidak banyak bergerak, meskipun Raka dan Ayu sudah melarangnya untuk keluar rumah setelah matahari terbenam, Danang meminta untuk duduk di beranda. Ia ingin merasakan angin malam di wajahnya untuk terakhir kalinya. Ia ingin mendengar suara jangkrik dan katak untuk terakhir kalinya. Ia ingin melihat bintang-bintang di langit untuk terakhir kalinya. Ia ingin menghabiskan waktu bersama Kirana untuk terakhir kalinya.
"Kirana, tolong antar aku ke beranda," pinta Danang, suaranya lemah, napasnya pendek, matanya sayu. "Aku ingin duduk di luar. Aku ingin merasakan angin malam. Aku ingin..."
"Danang, kau tidak boleh. Dokter bilang kau harus istirahat. Jangan memaksakan diri. Nanti kau..."
"Kirana, tolong. Ini mungkin malam terakhirku. Aku tidak ingin mati di dalam kamar. Aku tidak ingin mati tanpa melihat bintang. Aku tidak ingin mati tanpa..."
"Jangan bicara seperti itu, Danang. Kau tidak akan mati. Kita masih panjang umur. Kita masih bisa bersama. Kita masih bisa..."
"Kita sudah tua, Kirana. Kita tidak tahu kapan kita akan mati. Bisa besok. Bisa lusa. Bisa minggu depan. Bisa bulan depan. Yang penting, malam ini aku ingin duduk di beranda. Bersamamu. Menikmati angin malam. Menikmati bintang. Menikmati..."
Kirana menangis.
Ia tidak bisa menolak.
Ia tidak tega menolak.
Ia membantu Danang berdiri dari ranjang. Satu tangan Kirana melingkar di pinggang Danang, tangan satunya memegang tangannya yang dingin. Mereka berjalan sangat lambat, langkah demi langkah, berhenti di setiap anak tangga untuk mengatur napas. Tubuh Danang terasa sangat ringan di pelukannya, seperti orang yang sudah kehilangan separuh berat badannya, seperti orang yang sedang sekarat.
"Pelankan langkahmu, Danang. Jangan terburu-buru. Kita tidak ke mana-mana. Kita hanya ke beranda. Masih banyak waktu. Masih..."
"Waktu tidak banyak, Kirana. Aku bisa merasakannya. Aku bisa merasakan bahwa waktuku hampir habis. Aku bisa merasakan bahwa..."
"Jangan, Danang. Jangan bicara seperti itu. Aku tidak mau mendengarnya. Aku tidak mau..."
"Kita harus realistis, Kirana. Kita sudah tua. Kita sakit. Kita tidak abadi. Kita akan mati. Itu fakta. Tidak bisa..."
"Tapi aku tidak siap, Danang. Aku tidak siap kehilanganmu lagi. Aku sudah kehilanganmu sekali. Aku tidak bisa kehilanganmu dua kali. Aku tidak bisa..."
"Kau tidak akan kehilangan aku, Kirana. Aku akan selalu bersamamu. Dalam doamu. Dalam kenanganmu. Dalam..."
"Aku tidak mau kenangan, Danang. Aku mau kau. Aku mau kau di sini. Aku mau kau..."
"Kita tidak bisa memilih, Kirana. Kita hanya bisa menerima. Menerima apa yang diberikan Tuhan. Menerima apa yang..."
"Tapi aku belum siap menerima, Danang. Aku belum siap..."
Akhirnya mereka sampai di beranda. Kirana membantunya duduk di kursi rotan yang sudah reyot, yang sandarannya longgar, yang bantalnya pipis, yang kakinya ditopang dengan potongan kayu agar tidak goyang. Ia mengambil selimut tipis dari dalam, menyelimuti kaki Danang yang mulai membiru karena dingin. Ia mengambil bantal kecil dari kamar, menyangga punggung Danang agar ia tidak terlalu membungkuk.
Lalu ia duduk di sampingnya. Kursi yang sama. Kursi yang hanya cukup untuk satu orang, tetapi mereka berdua duduk di sana, berdesakan, hangat, seperti dua burung yang bertengger di dahan yang sama, seperti dua anak kecil yang berbagi bangku di sekolah.
Langit malam itu bersih. Tidak ada awan. Bintang-bintang terlihat sangat jelas, seperti berlian yang tersebar di atas kain beludru hitam, seperti pasir keemasan yang bertebaran di lautan gelap, seperti mata-mata kecil yang berkedip-kedip mengirimkan pesan rahasia. Bulan hampir penuh, hanya sedikit yang kurang, memancarkan cahaya keperakan yang lembut, yang membuat dunia terlihat seperti mimpi, seperti negeri dongeng, seperti surga di bumi.
Sungai di kejauhan terdengar tenang. Airnya mengalir pelan, tidak seperti biasanya yang bergolak di musim hujan. Mungkin sungai itu juga sedang tenang, seperti tahu bahwa malam ini adalah malam yang istimewa, seperti tahu bahwa dua insang yang saling mencintai sedang menghabiskan waktu terakhir mereka bersama. Mungkin sungai itu juga ikut berduka, tetapi tidak mau menunjukkan kesedihannya, karena tidak ingin mengganggu.
Angin malam berhembus pelan, membawa wangi bunga melati dari kebun tetangga, membawa wangi tanah basah dari sawah yang baru digarap, membawa wangi sungai dari tepian yang berlumpur. Angin yang lembut, seperti belaian tangan ibu, seperti bisikan kekasih, seperti doa yang dipanjatkan dengan penuh harap.
"Kirana, apa kau ingat malam pertama kita di beranda ini?" tanya Danang, suaranya pelan, lembut, seperti angin malam yang berhembus.
"Yang mana, Danang? Ada banyak malam. Aku tidak bisa mengingat semuanya. Aku sudah tua. Ingatanku sudah..."
"Yang ketika kau bilang, 'Danang, aku takut kita tidak akan bersama selamanya.' Yang ketika kau bilang, 'Danang, aku takut cinta kita tidak cukup kuat.' Yang ketika kau bilang, 'Danang, aku takut...'"
Kirana tersenyum. "Aku ingat, Danang. Aku ingat malam itu. Aku ingat bagaimana kau menggenggam tanganku. Aku ingat bagaimana kau bilang, 'Cinta kita cukup kuat, Kirana. Aku yakin. Kau juga harus yakin.' Aku ingat bagaimana kau..."
"Dan aku benar, Kirana. Cinta kita cukup kuat. Cinta kita bertahan selama tiga puluh tahun. Cinta kita melewati badai. Cinta kita melewati pengkhianatan. Cinta kita melewati..."
"Cinta kita melewati segalanya, Danang. Cinta kita tidak pernah mati. Cinta kita hanya tidur. Cinta kita hanya..."
"Cinta kita hanya menunggu waktu yang tepat untuk bangun lagi."
Mereka berdua terdiam.
Hanya suara angin.
Hanya suara jangkrik.
Hanya suara hati.
"Kirana, aku ingin kau tahu sesuatu," kata Danang setelah beberapa lama.
"Apa, Danang?"
"Aku tidak pernah berhenti mencintaimu. Tidak selama tiga puluh tahun. Tidak selama aku bekerja di percetakan. Tidak selama aku menjadi kuli bangunan di Jakarta. Tidak selama aku tidur di emperan toko. Tidak selama aku sakit. Tidak selama aku..."
"Danang, jangan..."
"Dengarkan aku, Kirana. Ini mungkin terakhir kalinya aku bisa bicara seperti ini. Aku tidak ingin menyimpan apa pun. Aku tidak ingin menyesal. Aku ingin..."
"Baik, Danang. Aku mendengarkan. Aku mendengarkan."
Danang menarik napas panjang.
Napas yang terasa berat.
Napas yang terasa seperti mengeluarkan seluruh isi dadanya.
"Aku mencintaimu sejak pertama kali aku melihatmu di tepi sungai. Waktu kau masih kecil. Waktu kau memegang bunga liar di tanganmu. Waktu kau bilang, 'Kau kelihatan seperti orang yang butuh sesuatu yang cantik dalam hidupmu.' Waktu itu, aku tidak tahu apa itu cinta. Aku hanya tahu bahwa aku ingin selalu di dekatmu. Aku hanya tahu bahwa aku ingin selalu melihat senyummu. Aku hanya tahu bahwa aku ingin..."
Kirana menangis.
Air matanya jatuh.
Membasahi pipinya.
Membasahi kebaya putihnya.
Membasahi tangannya yang menggenggam tangan Danang.
"Aku juga, Danang. Aku juga mencintaimu sejak pertama kali aku melihatmu di tepi sungai. Waktu kau masih kecil. Waktu kau duduk di akar pohon waru. Waktu kau melempar batu ke sungai. Waktu itu, aku tidak tahu apa itu cinta. Aku hanya tahu bahwa aku ingin selalu di dekatmu. Aku hanya tahu bahwa aku ingin selalu melihat matamu yang gelap. Aku hanya tahu bahwa aku ingin..."
"Kita bodoh, Kirana. Kita membuang waktu bertahun-tahun hanya karena surat palsu. Kita membuang waktu bertahun-tahun hanya karena ketidakpercayaan. Kita membuang waktu bertahun-tahun hanya karena..."
"Kita tidak bodoh, Danang. Kita hanya manusia. Kita hanya khilaf. Kita hanya..."
"Kita hanya takut. Takut kehilangan. Takut disakiti. Takut..."
"Takut cinta kita tidak cukup kuat."
"Tapi cinta kita cukup kuat, Kirana. Cinta kita melewati semuanya. Cinta kita..."
"Cinta kita abadi, Danang. Cinta kita tidak akan pernah mati. Cinta kita akan terus hidup. Dalam kenangan. Dalam doa. Dalam..."
"Dalam hati kita. Selamanya."
Mereka berpelukan.
Berpelukan di beranda.
Berpelukan di bawah bintang.
Berpelukan di bawah bulan.
Berpelukan di bawah langit yang luas.
"Kirana, aku ingin kau janji sesuatu," bisik Danang.
"Apa, Danang?"
"Janji bahwa kau akan bahagia. Bahwa kau tidak akan menangis. Bahwa kau tidak akan..."
"Aku tidak bisa janji, Danang. Aku akan sedih. Aku akan menangis. Aku akan..."
"Tapi kau harus bahagia, Kirana. Untukku. Untuk anak-anak kita. Untuk..."
"Bagaimana aku bisa bahagia tanpa kau, Danang? Bagaimana aku bisa..."
"Kau bisa, Kirana. Kau kuat. Kau tegar. Kau tidak pernah menyerah. Kau..."
"Aku tidak kuat, Danang. Aku lemah. Aku rapuh. Aku..."
"Kau kuat, Kirana. Aku tahu. Kau sudah membuktikannya. Selama tiga puluh tahun. Kau bertahan. Kau tidak menyerah. Kau..."
"Aku bertahan karena aku berharap kau kembali. Aku tidak menyerah karena aku percaya pada cinta kita. Aku..."
"Sekarang aku sudah kembali, Kirana. Sekarang cinta kita sudah bersatu. Sekarang kau bisa bahagia. Sekarang kau bisa..."
"Tapi kau akan pergi lagi, Danang. Kau akan meninggalkanku lagi. Kau akan..."
"Aku tidak akan pergi, Kirana. Aku akan selalu bersamamu. Dalam doamu. Dalam kenanganmu. Dalam..."
"Aku tidak mau kenangan, Danang. Aku mau kau. Aku mau kau di sini. Aku mau kau..."
"Kita tidak bisa memilih, Kirana. Kita hanya bisa menerima. Menerima apa yang diberikan Tuhan. Menerima apa yang..."
"Tapi aku belum siap menerima, Danang. Aku belum siap..."
"Kau harus siap, Kirana. Karena waktu tidak akan menunggumu. Karena hidup tidak akan..."
"Danang, jangan..."
"Kirana, dengarkan aku. Ini penting."
Kirana diam.
Ia mendengarkan.
Ia menangis.
Ia memeluk Danang erat-erat.
"Kirana, aku ingin kau tahu bahwa aku bahagia. Bahagia karena aku bisa kembali. Bahagia karena aku bisa bertemu denganmu lagi. Bahagia karena aku bisa mencintaimu lagi. Bahagia karena aku bisa..."
"Danang, aku juga bahagia. Bahagia karena kau kembali. Bahagia karena kau di sini. Bahagia karena kau..."
"Tapi aku juga sedih, Kirana. Sedih karena waktu kita singkat. Sedih karena kita tidak bisa bersama lama. Sedih karena..."
"Jangan sedih, Danang. Kita masih punya waktu. Kita masih bisa bersama. Kita masih bisa..."
"Berapa lama, Kirana? Berapa lama lagi kita bisa bersama? Berapa lama lagi..."
"Entahlah, Danang. Aku tidak tahu. Yang aku tahu, hari ini kita bersama. Hari ini kita bahagia. Hari ini kita..."
"Kita mencintai satu sama lain."
Mereka berciuman.
Ciuman yang lembut.
Ciuman yang hangat.
Ciuman yang penuh dengan cinta.
Ciuman yang mengatakan bahwa mereka telah menunggu terlalu lama.
Ciuman yang mengatakan bahwa mereka tidak akan berpisah lagi.
Ciuman yang mengatakan bahwa mereka akan bersama selamanya.
Sampai mati.
"Kirana, aku sayang kau," bisik Danang.
"Aku juga sayang kau, Danang. Lebih dari apa pun di dunia ini."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berpelukan.
Berpelukan di beranda.
Berpelukan di bawah bintang.
Berpelukan di bawah bulan.
Berpelukan di bawah langit yang luas.
Berpelukan sebagai kekasih.
Kekasih yang pernah terpisah.
Kekasih yang pernah saling membenci.
Kekasih yang sekarang saling mencintai.
Kekasih yang akan bersama selamanya.
Sampai mati.
Bab 50
Pagi yang Tidak Lagi Sama
Pagi datang sangat tenang. Tidak ada hujan. Tidak ada angin. Tidak ada suara selain burung kecil di pohon waru yang bernyanyi dengan riang, seolah tidak tahu bahwa dunia telah kehilangan seseorang, seolah tidak peduli bahwa hati seseorang telah hancur, seolah alam sedang merayakan sesuatu yang tidak dimengerti oleh manusia.
Matahari terbit dengan indahnya, menyapa bumi dengan cahaya keemasan yang hangat, yang lembut, yang seperti pelukan dari surga. Awan-awan tipis berarak perlahan di langit biru, seperti sedang berjalan-jalan santai, seperti tidak ada yang perlu dikejar, seperti tidak ada yang perlu ditakutkan. Desa mulai bangun. Ayam-ayam berkokok bersahutan, saling memberi tahu bahwa pagi telah tiba, bahwa hari baru telah dimulai. Asap mulai mengepul dari cerobong dapur rumah-rumah penduduk, asap tipis yang membawa aroma kayu bakar dan rempah-rempah dan nasi yang baru ditanak.
Kirana datang seperti biasa. Setiap pagi, sejak Danang kembali ke desa, ia selalu datang sebelum matahari terbit. Membawa teh hangat dalam termos tua yang sudah berkarat di beberapa tempat, termos warna hijau army yang dulu hadiah pernikahannya dengan almarhum suami. Membawa sepiring pisang goreng untuk sarapan, pisang yang masih hangat, yang masih mengepulkan uap, yang renyah di luar dan lembut di dalam. Membawa senyum di bibir, senyum yang sama seperti tiga puluh tahun lalu, senyum yang tidak pernah berubah meskipun waktu telah mengubah segalanya.
"Danang! Bangun! Aku bawa teh hangat! Pisang goreng! Sarapan!" seru Kirana dari depan pintu, suaranya ceria, riang, seperti burung kenari yang baru belajar berkicau. Ia mengetuk pintu kayu yang sudah tua, pintu yang engselnya berkarat, pintu yang sudah berderit setiap kali dibuka dan ditutup.
Tidak ada jawaban.
"Danang! Ayo bangun! Nanti tehnya dingin! Pisang gorengnya tidak enak!" serunya lagi, lebih keras, sedikit panik. Jantungnya berdebar lebih cepat. Ada firasat tidak enak di dadanya. Ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya. Ada sesuatu yang tidak beres.
Masih tidak ada jawaban.
"Danang! Kau dengar aku? Danang!"
Diam.
Sunyi.
Hanya suara burung di pohon waru.
Hanya suara ayam di kejauhan.
Hanya suara jantungnya yang berdebar kencang.
Ia mendorong pintu. Pintu itu terbuka dengan suara berderit panjang, seperti suara orang tua yang mengeluh karena diganggu dari tidurnya, seperti suara sesuatu yang bangun setelah sekian lama tertidur. Kirana masuk ke dalam rumah. Rumah itu sunyi. Terlalu sunyi. Bahkan lantai kayu yang biasanya berderit ketika diinjak, seolah ikut diam. Bahkan angin yang biasanya masuk melalui celah-celah dinding, seolah berhenti berhembus. Bahkan debu-debu yang biasanya menari di udara ketika terkena sinar matahari, seolah membeku.
Ia berjalan ke kamar Danang. Langkahnya pelan, berat, seperti kakinya terbenam di lumpur, seperti ada beban yang menggantung di setiap langkahnya. Tangannya gemetar. Bibirnya gemetar. Seluruh tubuhnya gemetar.
"Danang," panggilnya sekali lagi, suaranya hampir berbisik, hampir tidak terdengar, seperti doa yang dipanjatkan dengan penuh harap, seperti permohonan yang tidak akan dikabulkan.
Danang masih berbaring di ranjang. Wajahnya tenang. Sangat tenang. Tidak ada kerutan di dahinya yang biasanya mengerut ketika ia memikirkan masa lalu. Tidak ada rasa sakit di wajahnya yang biasanya muncul ketika ia batuk atau sesak napas. Tidak ada beban di pundaknya yang biasanya membuat ia terlihat lebih tua dari usianya.
Bibirnya sedikit tersenyum, senyum yang tidak pernah ia tunjukkan ketika masih hidup, senyum yang hanya muncul dalam tidurnya, senyum yang mengatakan bahwa ia sedang bermimpi indah, senyum yang mengatakan bahwa ia telah menemukan kedamaian.
Tangannya di atas dada, tergenggam satu sama lain, seperti sedang berdoa, seperti sedang memeluk sesuatu yang tidak terlihat, seperti sedang memegang pita biru yang selama tiga puluh tahun ia simpan di kotak kayu.
Seperti seseorang yang sedang tidur setelah perjalanan yang sangat panjang. Perjalanan yang penuh lika-liku. Perjalanan yang penuh onak dan duri. Perjalanan yang penuh air mata dan tawa. Perjalanan yang melelahkan. Perjalanan yang hampir membuatnya menyerah di tengah jalan. Tetapi akhirnya, ia sampai. Ia pulang. Ia beristirahat.
Kirana tersenyum kecil. Senyum yang lembut, penuh kasih sayang, penuh kesedihan, penuh kehilangan.
"Bangun, Danang," katanya pelan, suaranya lembut, seperti sedang membangunkan bayi yang baru lahir, seperti sedang membangunkan kekasih yang tertidur di pangkuannya. "Tehnya dingin nanti. Pisang gorengnya tidak enak. Aku sudah repot-repot membuatkan untukmu. Bangunlah."
Tak ada jawaban.
"Danang, ini tidak lucu. Bangun. Aku tidak suka kau berbohong. Aku tidak suka kau..."
Ia mendekat.
Langkhnya pelan.
Hampir tidak bersuara.
Ia menyentuh tangan Danang.
Dingin.
Sangat dingin.
Dingin yang berbeda dengan dinginnya tidur.
Dingin yang mengatakan bahwa jiwa telah pergi.
Dingin yang mengatakan bahwa yang tersisa hanyalah cangkang.
Dingin yang mengatakan bahwa perjalanan telah usai.
Cangkir di tangannya jatuh ke lantai.
Byar!
Suara pecahnya kaca memecah kesunyian pagi.
Teh hangat tumpah, membentuk genangan kecil di lantai kayu yang berderit.
Cangkir keramik putih dengan pinggiran biru itu pecah berkeping-keping, seperti hati Kirana yang baru saja hancur untuk kesekian kalinya, seperti mimpi-mimpi yang baru saja pupus, seperti harapan-harapan yang baru saja mati.
"Danang..." bisiknya, suaranya pecah, tangisnya keluar. "Danang, jangan... jangan tinggalkan aku... jangan..."
Ia duduk di sisi ranjang.
Perlahan.
Dengan hati-hati.
Seperti takut membangunkan Danang dari tidurnya.
Seperti takut mengganggu ketenangannya.
Seperti takut bahwa jika ia bergerak terlalu cepat, Danang akan benar-benar pergi.
Ia menggenggam tangan Danang yang sudah dingin.
Tangannya yang keriput dan gemetar, menggenggam tangan Danang yang juga keriput dan dingin.
Ia menyandarkan dahinya ke tangan itu.
Dahinya yang keriput.
Tangannya yang dingin.
Dan akhirnya, air matanya jatuh.
Pelan.
Diam.
Seperti hujan kecil yang datang setelah kemarau panjang.
Seperti air yang akhirnya menembus bendungan setelah sekian lama ditahan.
Seperti doa yang akhirnya dijawab dengan cara yang tidak pernah ia duga.
"Kenapa kau pergi, Danang?" bisiknya di antara isak tangisnya. "Kenapa kau tinggalkan aku? Kenapa kau... kau bilang tidak akan pergi. Kau bilang akan selalu di sini. Kau bilang akan bersamaku selamanya. Kau bilang..."
Ia tidak melanjutkan.
Tangisnya pecah.
Ia menangis di samping ranjang.
Menangis di samping mayat kekasihnya.
Menangis untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
Menangis karena ia kehilangan.
Menangis karena ia sendirian.
Menangis karena ia tidak tahu harus berbuat apa.
"Bu Kirana! Bu Kirana!"
Suara Ayu dari luar rumah.
Ia berlari masuk, dengan wajah panik, dengan mata cemas, dengan napas tersengal-sengal.
"Ibu, aku dengar suara pecahan kaca. Ibu tidak apa-apa? Ibu..."
Ia berhenti di depan pintu kamar.
Matanya tertuju pada Kirana yang duduk di sisi ranjang, menangis.
Matanya tertuju pada Danang yang terbaring diam dengan senyum di bibir.
"Pak Danang..." bisik Ayu, suaranya gemetar. "Pak Danang... meninggal?"
Kirana mengangguk pelan.
Tidak bisa bicara.
Hanya bisa menangis.
Ayu berlari mendekat.
Ia memeriksa denyut nadi Danang.
Dingin.
Tidak ada denyut.
Ia memeriksa pernapasan Danang.
Diam.
Tidak ada napas.
Ia memeriksa mata Danang.
Terpejam.
Tidak akan terbuka lagi.
"Bu, saya panggil Pak Raka. Saya panggil Pak Bima. Saya panggil Pak RT. Saya panggil..."
"Panggil siapa saja, Ayu. Panggil semua orang. Biar mereka tahu bahwa Danang Wiratama telah pergi. Biar mereka tahu bahwa pahlawan desa ini telah tiada. Biar mereka tahu bahwa..."
Ayu mengangguk.
Ia berlari keluar rumah.
Mencari sinyal di ponselnya.
Menekan nomor Raka.
"Raka, cepat ke sini! Ayahmu... ayahmu meninggal!"
Tiga puluh menit kemudian, rumah Kirana dipenuhi orang.
Raka datang dengan mobil Avanza hitamnya, melaju kencang, hampir menabrak pohon mangga di halaman. Wajahnya pucat, matanya merah, tangannya gemetar. Ia berlari masuk ke kamar, langsung jatuh berlutut di samping ranjang, memegang tangan ayahnya yang sudah dingin.
"Ayah... Ayah... maafkan aku... maafkan aku karena tidak bisa menjadi anak yang baik... maafkan aku karena tidak pernah mengatakan bahwa aku sayang ayah... maafkan aku karena..."
Ia tidak melanjutkan.
Tangisnya pecah.
Ia menangis di samping mayat ayahnya.
Menangis karena ia menyesal.
Menangis karena ia kehilangan.
Menangis karena ia tidak bisa memutar waktu.
Dewi datang bersama Raka. Ia berdiri di pintu kamar, menangis, tidak berani mendekat. "Danang... maafkan aku... maafkan aku karena tidak bisa membuatmu bahagia... maafkan aku karena..."
"Bu Dewi, masuklah. Ayah tidak akan marah. Ayah sudah memaafkan semua orang," kata Raka sambil terus menangis.
Dewi masuk.
Ia duduk di sisi lain ranjang.
Memegang tangan Danang yang lain.
"Danang, istirahatlah dengan tenang. Kau sudah berjuang cukup lama. Kau sudah menderita cukup lama. Kau sudah..."
"Kau sudah mencintai cukup lama," sambut Kirana dari sisi ranjang yang lain. "Dan cintamu tidak akan pernah sia-sia. Cintamu akan terus hidup. Dalam diri kami. Dalam kenangan kami. Dalam..."
Bima datang dengan tongkatnya, dengan tubuh bungkuk, dengan wajah penuh kerutan. Ia berdiri di pintu kamar, menangis, tidak kuasa mendekat. "Danang... sahabatku... kau pergi terlalu cepat... kita masih belum selesai bercerita... kita masih belum..."
"Bima, masuklah. Danang tidak suka dilihat dari jauh. Danang suka orang yang berani. Danang suka..."
Bima masuk.
Ia duduk di kursi di samping pintu.
Tidak bisa mendekat.
Tangannya terlalu gemetar.
Matanya terlalu kabur.
"Danang, kau tahu? Aku iri padamu. Kau berani. Kau tidak takut pada siapa pun. Kau..."
"Kau juga berani, Bima. Kau tetap menjadi sahabatku ketika semua orang menjauh. Kau..."
"Tapi aku tidak bisa seperti kau. Aku tidak bisa..."
"Kau sudah seperti aku, Bima. Kau sudah menjadi pahlawan bagi keluargamu. Kau sudah..."
Mereka berdua terdiam.
Hanya suara tangis.
Hanya suara doa.
Hanya suara hati.
Ayu membawa keponakannya yang masih kecil, seorang anak laki-laki berusia lima tahun bernama Adi. Adi belum mengerti apa itu kematian. Ia hanya melihat orang-orang dewasa menangis, dan ia ikut menangis karena ia takut.
"Om Danang kenapa, Tante Ayu?" tanya Adi, matanya polos, tidak mengerti.
"Om Danang sudah pergi, Adi. Om Danang sudah di surga. Om Danang sudah..."
"Kapan Om Danang kembali, Tante? Om Danang janji mau belikan aku mobil-mobilan. Om Danang..."
"Om Danang tidak akan kembali, Adi. Om Danang sudah..."
"Kenapa, Tante? Kenapa Om Danang tidak kembali? Apakah Om Danang marah padaku? Apakah Om Danang..."
"Om Danang tidak marah, Adi. Om Danang sayang padamu. Om Danang..."
"Tapi kenapa Om Danang pergi? Kenapa Om Danang..."
Ayu menangis.
Ia tidak bisa menjawab.
Ia hanya memeluk Adi erat-erat.
"Om Danang pergi karena Om Danang sudah terlalu lelah, Adi. Om Danang sudah berjuang cukup lama. Om Danang sudah..."
"Tapi aku akan merindukan Om Danang, Tante. Aku akan..."
"Kita semua akan merindukan Om Danang, Adi. Kita semua."
Pak RT Santoso datang dengan beberapa orang tua di desa. Mereka membantu mengurus pemakaman. Mereka menggali kubur di pemakaman desa di lereng bukit, di bawah pohon beringin tua, di samping makam Ratih, ibu Danang.
"Ini makam ibunya, ya?" tanya Pak RT Santoso, sambil membersihkan rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar makam.
"Iya, Pak. Ratih. Meninggal tiga puluh tahun lalu. Waktu Danang masih kecil. Waktu Danang..."
"Danang pasti senang bisa dekat dengan ibunya. Danang pasti..."
"Danang pasti bahagia. Danang pasti..."
Mereka menurunkan peti mati ke dalam liang kubur. Peti kayu sederhana, terbuat dari papan kayu nangka, berwarna coklat muda, dengan ukiran bunga melati di tutupnya. Peti yang dibuat oleh Bima dan Raka, dengan tangan yang gemetar, dengan mata yang basah, dengan hati yang hancur.
"Danang Wiratama telah berpulang ke rahmatullah pada hari Sabtu, tanggal 15 November 2008, pukul 04.30 pagi. Jenazah akan dimakamkan di pemakaman desa ini. Semoga arwahnya diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Semoga amal ibadahnya diterima. Semoga dosa-dosanya diampuni. Semoga..." suara pemuka agama menggema di pemakaman, sayup-sayup, terbawa angin, naik ke langit, sampai ke tempat yang tidak bisa dijangkau manusia.
Kirana berdiri paling dekat dengan pusara.
Di tangannya, ia memegang pita biru.
Pita yang warnanya hampir putih.
Pita yang kainnya sudah rapuh.
Pita yang menjadi saksi bisu cinta mereka.
Pita yang menemani Danang selama tiga puluh tahun.
Pita yang sekarang akan menemani Danang untuk selama-lamanya.
"Danang, aku simpan pita ini untukmu," bisiknya, suaranya pelan, lembut, seperti sedang berbicara dengan Danang yang masih hidup. "Kau bawa ke surga. Kau simpan di sana. Kau ingat aku. Kau..."
Ia menaruh pita itu di atas peti.
Perlahan.
Dengan hati-hati.
Seperti sedang meletakkan bayi tidur di buaian.
Seperti sedang meletakkan kenangan di tempat yang aman.
Seperti sedang meletakkan cinta di dalam kubur.
"Selamat jalan, Danang. Aku akan menyusul. Tunggu aku di sana. Kita akan bersama lagi. Kita akan..."
Tanah mulai ditaburkan.
Suara tanah jatuh ke peti.
Suara yang berat.
Suara yang menyayat hati.
Suara yang mengatakan bahwa semuanya telah berakhir.
"Danang! Danang! Jangan pergi! Aku belum siap! Aku belum..." teriak Kirana, mencoba menerobos, tetapi Raka dan Ayu menahannya.
"Ibu, jangan. Ibu harus kuat. Ibu harus..."
"Aku tidak kuat, Nak. Aku tidak bisa. Aku..."
"Ibu bisa. Ibu kuat. Ibu sudah membuktikan selama tiga puluh tahun. Ibu..."
Kirana menangis.
Ia menangis di pelukan anaknya.
Menangis di pemakaman.
Menangis di atas pusara kekasihnya.
"Danang, aku sayang kau," bisiknya. "Aku sayang kau. Aku sayang kau. Aku sayang kau."
Dan angin berhembus.
Membawa kata-katanya ke langit.
Membawa cintanya ke surga.
Membawa doanya ke tempat Danang berada.
"Kirana, aku juga sayang kau," bisik angin. "Aku juga sayang kau. Aku juga sayang kau. Aku juga sayang kau."
Kirana tersenyum.
Ia mendengar suara Danang.
Dalam hembusan angin.
Dalam rintik hujan.
Dalam nyanyian burung.
Dalam setiap sudut desa.
Dalam setiap kenangan.
Dalam setiap doa.
"Danang, aku akan selalu bersamamu. Sampai kita bertemu lagi. Sampai..."
"Sampai kita bersama lagi. Selamanya."
Bab 51
Tiga Puluh Hari Tanpa Danang
Tiga puluh hari telah berlalu sejak Danang dimakamkan di lereng bukit, di bawah pohon beringin tua, di samping makam ibunya. Tiga puluh hari sejak Kirana menaruh pita biru di atas peti kayu nangka yang sederhana. Tiga puluh hari sejak ia mendengar suara tanah jatuh ke liang kubur, suara yang masih terngiang di telinganya setiap malam, setiap kali ia memejamkan mata, setiap kali ia sendirian.
Tiga puluh hari dalam tradisi Jawa adalah waktu yang penting. Tiga puluh hari adalah batas antara berkabung dan kembali ke kehidupan normal. Tiga puluh hari adalah waktu yang cukup untuk mengadakan selamatan, untuk mendoakan arwah yang telah pergi, untuk melepas kepergian dengan ikhlas. Tiga puluh hari adalah waktu yang diyakini bahwa arwah masih berada di sekitar keluarga, masih belum sepenuhnya meninggalkan dunia, masih bisa menerima doa dan kiriman dari yang masih hidup.
Kirana duduk di beranda rumahnya, di kursi rotan yang sama, di tempat yang sama, dengan pemandangan yang sama. Tapi semuanya terasa berbeda. Langit yang dulu biru, kini tampak kelabu. Matahari yang dulu hangat, kini terasa dingin. Burung-burung yang dulu bernyanyi riang, kini terdengar sayu. Angin yang dulu berhembus sepoi-sepoi, kini terasa menusuk tulang.
"Bu, sarapan dulu," kata Ayu, membawa nampan berisi nasi uduk, ayam goreng, sambal, dan teh jahe hangat. "Ibu belum makan sejak subuh. Ibu harus makan. Ibu..."
"Tidak, Ayu. Aku tidak lapar. Aku tidak bisa makan. Aku..."
"Ibu, Pak Danang tidak suka melihat ibu kurus. Pak Danang pasti sedih jika melihat ibu..."
"Pak Danang sudah tidak bisa melihat apa pun, Ayu. Pak Danang sudah..."
"Ibu, jangan bicara seperti itu. Pak Danang masih melihat ibu. Dari surga. Dari alam sana. Pak Danang..."
Kirana menangis.
Ia tidak bisa menahan lagi.
Setiap hari, sejak Danang meninggal, ia menangis.
Setiap pagi, ketika ia bangun dan menyadari bahwa Danang tidak lagi di sampingnya.
Setiap siang, ketika ia memasak dan menyadari bahwa ia hanya memasak untuk dirinya sendiri.
Setiap sore, ketika ia duduk di beranda dan menyadari bahwa kursi di sampingnya kosong.
Setiap malam, ketika ia tidur dan menyadari bahwa ia sendirian.
"Bu, saya baca Yasin untuk Pak Danang, ya?" kata Ayu, duduk di samping ibunya, membuka Al-Quran yang sudah usang, yang sudah berwarna coklat karena usia, yang sudah banyak robek di beberapa halaman.
"Bacakan, Nak. Pak Danang suka mendengar Yasin. Dulu, waktu masih di desa, setiap Jumat malam ia pergi ke masjid. Ia ikut pengajian. Ia belajar mengaji. Ia..."
"Ibu, ceritakan tentang Pak Danang. Tentang masa kecil ibu. Tentang desa. Tentang sungai. Tentang..."
Kirana tersenyum.
Senyum yang lemah.
Senyum yang tidak secerah biasanya.
Tapi senyum.
"Dulu, waktu kami masih kecil, Danang suka duduk di akar pohon waru di tepi sungai. Ia melempar batu ke air. Pluk. Pluk. Pluk. Satu per satu. Berjam-jam. Aku bertanya, 'Kau tidak bosan?' Ia menjawab, 'Batu tidak pernah marah kalau dilempar.'"
Ayu tersenyum. "Pak Danang lucu juga, ya, Bu."
"Lucu? Tidak. Ia hanya... aneh. Tapi aku suka keanehannya. Aku suka caranya memandang dunia. Aku suka..."
"Ibu suka Pak Danang."
Kirana mengangguk. "Ibu suka Danang. Ibu cinta Danang. Sejak kecil. Sejak pertama kali melihatnya di tepi sungai. Sejak..."
"Sejak kapan tepatnya, Bu?"
Kirana memejamkan mata.
Ia mengingat.
Mengingat hari itu.
Hari ketika ia pertama kali melihat Danang.
"Waktu itu, aku baru pindah ke desa. Aku tidak punya teman. Aku kesepian. Aku berjalan-jalan ke tepi sungai. Aku melihat seorang anak laki-laki duduk di akar pohon waru. Ia melempar batu ke sungai. Wajahnya sedih. Matanya kosong. Aku bertanya, 'Kau kenapa?' Ia tidak menjawab. Aku bertanya lagi, 'Kau sendirian?' Ia mengangguk. Aku bilang, 'Aku mau jadi temanmu.' Ia menatapku. Matanya yang gelap. Matanya yang dalam. Matanya yang... yang membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama."
"Bu, umur ibu waktu itu berapa?"
"Tujuh tahun. Danang juga tujuh tahun."
"Tujuh tahun sudah jatuh cinta, Bu?"
Kirana tertawa. "Mungkin bukan cinta. Mungkin hanya suka. Tapi perasaan itu tumbuh. Membesar. Menjadi cinta. Cinta yang tidak pernah mati. Cinta yang bertahan selama tiga puluh tahun. Cinta yang..."
"Cinta yang abadi, Bu."
"Abadi, Nak. Abadi."
Raka datang pada sore hari. Ia membawa buah tangan dari Jakarta. Kue-kue kering dalam toples-toples cantik. Pakaian untuk Kirana. Buku bacaan untuk Ayu. Mainan untuk Adi. Juga sebuah amplop tebal berisi uang untuk biaya hidup.
"Bu Kirana, ini untuk ibu. Uang. Juga oleh-oleh. Saya minta maaf tidak bisa sering datang. Pekerjaan di Jakarta banyak. Saya..."
"Raka, kau tidak perlu minta maaf. Aku mengerti. Kau sibuk. Kau punya keluarga. Kau..."
"Tapi saya ingin sering datang, Bu. Saya ingin menjaga ibu. Saya ingin..."
"Kau sudah menjagaku, Raka. Dengan mendoakan ayahmu. Dengan mengirimkan uang. Dengan..."
"Saya hanya melakukan kewajiban saya, Bu. Ayah pasti tidak ingin saya..."
"Ayahmu pasti bangga padamu, Raka. Ayahmu pasti..."
Raka menangis.
Ia menangis di hadapan Kirana.
Menangis karena ia rindu ayahnya.
Menangis karena ia menyesal.
Menangis karena ia tidak bisa mengatakan "Aku sayang ayah" ketika ayahnya masih hidup.
"Bu Kirana, saya menyesal. Saya menyesal tidak pernah mengatakan bahwa saya sayang ayah. Saya menyesal tidak pernah..."
"Ayahmu tahu, Raka. Ayahmu tahu bahwa kau sayang dia. Ayahmu tahu bahwa kau..."
"Tapi saya tidak pernah mengucapkannya, Bu. Saya tidak pernah..."
"Tidak apa, Raka. Yang penting kau menyesal. Yang penting kau..."
"Tapi penyesalan tidak bisa mengubah apa pun, Bu. Penyesalan hanya..."
"Penyesalan bisa mengubah masa depan, Raka. Penyesalan membuat kita lebih baik. Penyesalan membuat kita..."
"Penyesalan membuat saya sadar bahwa saya harus lebih sering datang ke sini. Bahwa saya harus menjaga ibu. Bahwa saya harus..."
"Kau tidak harus apa-apa, Raka. Yang penting kau bahagia. Yang penting kau..."
"Tidak, Bu. Saya harus. Untuk ayah. Untuk ibu. Untuk..."
Mereka berpelukan.
Berpelukan di ruang tamu yang sederhana.
Berpelukan sebagai keluarga.
Keluarga yang lahir dari cinta.
Cinta yang tidak pernah mati.
Bima datang pada malam hari. Ia membawa peti mati kecil berisi tanah dari makam Danang. "Ini, Kirana. Tanah dari makam Danang. Aku ambil sedikit. Untuk kenang-kenangan. Untuk..."
"Terima kasih, Bima. Kau baik. Kau selalu baik."
"Aku tidak baik, Kirana. Aku hanya..."
"Kau sahabat Danang. Kau sahabatku. Kau..."
"Danang sudah pergi, Kirana. Kita harus melanjutkan hidup. Kita harus..."
"Aku tidak bisa, Bima. Aku tidak bisa melanjutkan hidup. Aku tidak bisa..."
"Kau bisa, Kirana. Kau kuat. Kau tegar. Kau..."
"Aku tidak kuat, Bima. Aku lemah. Aku..."
"Kau kuat, Kirana. Aku tahu. Kau sudah membuktikan selama tiga puluh tahun. Kau bertahan. Kau tidak menyerah. Kau..."
"Aku bertahan karena aku berharap Danang kembali. Aku tidak menyerah karena aku percaya pada cinta kita. Aku..."
"Danang sudah kembali, Kirana. Danang sudah di sini. Danang sudah..."
"Tapi Danang pergi lagi, Bima. Danang meninggalkanku lagi. Danang..."
"Danang tidak pergi, Kirana. Danang masih di sini. Dalam hatimu. Dalam kenanganmu. Dalam..."
"Aku tidak bisa hidup dengan kenangan, Bima. Aku butuh Danang. Aku butuh..."
"Kau punya kami, Kirana. Aku. Raka. Ayu. Adi. Kami akan menjagamu. Kami akan..."
"Aku butuh Danang, Bima. Bukan kalian. Bukan..."
"Danang sudah tiada, Kirana. Kita harus menerima. Kita harus..."
"Aku tidak bisa menerima, Bima. Aku tidak bisa..."
Kirana menangis.
Ia menangis di pelukan Bima.
Menangis sebagai sahabat.
Menangis sebagai orang yang kehilangan.
Menangis sebagai orang yang tidak bisa menerima kenyataan.
"Bima, kenapa Tuhan begitu kejam? Kenapa Tuhan mengambil Danang? Kenapa Tuhan..."
"Tuhan tidak kejam, Kirana. Tuhan sayang Danang. Tuhan ingin Danang istirahat. Tuhan ingin Danang..."
"Tapi aku belum siap melepaskan Danang, Bima. Aku belum siap..."
"Kau harus siap, Kirana. Karena hidup harus terus berjalan. Karena waktu tidak akan menunggu. Karena..."
"Aku tidak peduli dengan hidup, Bima. Aku tidak peduli dengan waktu. Aku hanya peduli dengan Danang. Aku hanya..."
"Danang juga peduli padamu, Kirana. Danang ingin kau bahagia. Danang ingin kau..."
"Bagaimana aku bisa bahagia tanpa Danang, Bima? Bagaimana aku bisa..."
"Kau bisa, Kirana. Dengan mengingat Danang. Dengan mendoakan Danang. Dengan..."
"Aku sudah melakukan semua itu, Bima. Tapi aku masih sedih. Aku masih..."
"Kesedihan adalah bagian dari cinta, Kirana. Kesedihan adalah bukti bahwa kita pernah mencintai. Kesedihan adalah..."
"Kesedihan adalah beban, Bima. Kesedihan adalah..."
"Kesedihan adalah beban yang harus kita pikul bersama, Kirana. Kau tidak sendirian. Aku di sini. Raka di sini. Ayu di sini. Kami akan membantumu. Kami akan..."
"Terima kasih, Bima. Terima kasih untuk semuanya."
"Tugas sahabat, Kirana. Tugas sahabat."
Bab 52
Taman Kenangan di Tepi Sungai
Seratus hari setelah kepergian Danang, desa Kapuas Muara berubah. Bukan berubah secara fisik, tetapi berubah dalam cara orang-orang memandangnya. Ada sesuatu yang berbeda di udara. Ada sesuatu yang berbeda di hati setiap penduduk. Ada sesuatu yang berbeda dalam cara mereka berjalan, berbicara, tertawa, menangis.
Mbah Joyo dulu pernah berkata, "Ketika seseorang yang dicintai mati, ia tidak benar-benar pergi. Ia hanya berubah wujud. Menjadi angin. Menjadi hujan. Menjadi sinar matahari. Menjadi senyum di wajah orang yang ditinggalkan."
Danang Wiratama, anak haram dari keluarga bermasalah, lelaki yang dulu dituduh membakar gudang beras, pemuda yang lari dari desa karena tidak kuat menanggung malu, kini menjadi legenda. Ia bukan lagi anak haram. Ia bukan lagi tersangka. Ia bukan lagi orang buangan. Ia adalah pahlawan. Ia adalah simbol perjuangan. Ia adalah bukti bahwa cinta bisa mengatasi segalanya.
Raka, anak Danang, memutuskan untuk membangun sebuah taman kecil di tepi sungai, di bawah pohon waru tua, tempat Danang dan Kirana pertama kali bertemu. Taman itu sederhana. Hanya beberapa bangku kayu, lampu-lampu taman yang menyala di malam hari, dan sebuah prasasti batu hitam yang bertuliskan:
"Untuk Danang Wiratama. Lelaki yang mengajarkan kami bahwa cinta tidak pernah mati. Lelaki yang mengajarkan kami bahwa pulang tidak selalu berarti kembali ke tempat kita dilahirkan, tetapi kembali ke orang yang kita cintai. Lelaki yang mengajarkan kami bahwa waktu, sejauh apa pun kita berlari, pada akhirnya akan selalu membawa kita pulang."
Prasasti itu diresmikan oleh Kirana, didampingi oleh Raka, Ayu, Bima, dan seluruh warga desa. Tidak ada sambutan panjang. Tidak ada doa-doa yang rumit. Hanya Kirana yang berdiri di depan prasasti itu, memegang setangkai bunga melati dari kebunnya, menatap nama Danang yang terukir di batu hitam.
"Danang, ini untukmu," kata Kirana, suaranya lirih, hampir tidak terdengar, tetapi cukup jelas di telinga semua orang yang hadir. "Taman ini. Pohon waru ini. Sungai ini. Desa ini. Semua untukmu. Karena kau yang mengajarkan kami arti cinta. Karena kau yang mengajarkan kami arti kesetiaan. Karena kau yang mengajarkan kami arti..."
Ia tidak melanjutkan.
Air matanya jatuh.
Ia menaruh bunga melati di atas prasasti.
Lalu ia berbalik.
Menghadap ke arah sungai.
Menghadap ke arah pohon waru.
Menghadap ke arah masa lalu.
"Danang, aku merindukanmu," bisiknya. "Setiap hari. Setiap malam. Setiap kali aku melihat sungai ini. Setiap kali aku mendengar suara angin. Setiap kali aku..."
"Bu Kirana, Pak Danang pasti bangga melihat taman ini," kata Raka, berdiri di sampingnya. "Ayah pasti tersenyum di surga. Ayah pasti..."
"Ayahmu tidak suka hal-hal seperti ini, Raka. Ayahmu tidak suka pamer. Ayahmu tidak suka..."
"Ini bukan pamer, Bu. Ini penghormatan. Ini rasa terima kasih. Ini..."
"Ini cinta, Raka. Ini cinta kami padanya. Ini cinta yang tidak pernah mati. Ini cinta yang..."
Ayu mendekat, memegang tangan ibunya. "Ibu, ayo kita duduk di bangku itu. Di bawah pohon waru. Seperti dulu. Seperti waktu Ibu masih kecil. Seperti waktu Ibu..."
"Seperti waktu Ibu pertama kali bertemu Danang."
Mereka duduk di bangku kayu yang baru, yang masih wangi cat, yang masih mulus permukaannya. Kirana duduk di tengah, Raka di sebelah kanannya, Ayu di sebelah kirinya. Bima duduk di bangku di seberang, bersama istri dan cucu-cucunya. Warga desa lainnya berdiri atau duduk di rumput, menikmati sore yang indah, menikmati taman yang baru, menikmati kenangan yang tidak akan pernah hilang.
"Ibu, ceritakan lagi tentang Pak Danang," pinta Adi, cucu Ayu, anak laki-laki berusia lima tahun dengan rambut ikal dan mata bulat. Ia duduk di pangkuan Kirana, mainan mobil-mobilan di tangannya, sesekali ia vroom-vroom seperti sedang balapan.
"Cerita apa lagi, Nak? Ibu sudah cerita semuanya. Ibu sudah..."
"Cerita tentang waktu Ibu dan Pak Danang berjanji di tepi sungai. Cerita tentang pita biru. Cerita tentang..."
Kirana tersenyum. "Kau suka cerita itu, Nak?"
"Adi suka, Bu. Cerita itu romantis. Seperti di sinetron. Seperti di film. Seperti..."
"Ini bukan sinetron, Nak. Ini nyata. Ini terjadi. Ini..."
"Tapi ada pita birunya, Bu. Ada janjinya. Ada..."
"Iya, Nak. Ada pita biru. Ada janji. Ada cinta. Cinta yang tidak pernah mati. Cinta yang..."
"Bu, mana pita birunya sekarang? Adi mau lihat."
Kirana menghela napas. "Pita biru itu sudah ikut dengan Pak Danang, Nak. Pita biru itu di dalam kubur. Pita biru itu..."
"Kenapa tidak disimpan saja, Bu? Kenapa..."
"Karena pita biru itu milik Pak Danang. Karena pita biru itu..."
"Tapi Bu Kirana juga sayang pita biru itu, kan? Bu Kirana juga..."
"Ibu sayang pita biru itu. Tapi Ibu lebih sayang Pak Danang. Jadi Ibu berikan pita biru itu kepada Pak Danang. Agar Pak Danang tidak sendirian di sana. Agar Pak Danang..."
"Om Danang tidak sendirian, Bu. Om Danang bersama Malaikat. Om Danang bersama..."
Adi tidak melanjutkan. Ia sibuk dengan mobil-mobilan di tangannya, vroom-vroom, seolah sedang balapan, seolah tidak ada yang lebih penting dari balapan.
Kirana tertawa. "Kau ini, Adi. Kau ini..."
"Adi sayang Bu Kirana," kata Adi, tiba-tiba menatap Kirana, matanya bulat, polos, penuh kasih sayang.
Kirana menangis. "Ibu juga sayang Adi. Ibu sayang..."
"Bu Kirana jangan nangis. Nanti Om Danang sedih. Om Danang..."
"Om Danang tidak sedih, Nak. Om Danang bahagia. Om Danang..."
"Kenapa Om Danang bahagia?"
"Karena Om Danang melihat kita semua di sini. Karena Om Danang melihat taman ini. Karena Om Danang..."
"Om Danang melihat Bu Kirana dari surga?"
Kirana mengangguk. "Om Danang melihat Bu Kirana dari surga. Setiap hari. Setiap malam. Setiap kali Bu Kirana..."
"Setiap kali Bu Kirana apa?"
"Setiap kali Bu Kirana merindukannya."
Sementara itu, di sisi lain taman, Raka dan Ayu sedang berbincang dengan Bima. Mereka duduk di bangku kayu yang lain, di bawah pohon trembesi yang rindang, yang dulu menjadi tempat Danang dan Kirana bercerita tentang masa depan.
"Pak Bima, apa benar ayah dulu suka menggambar?" tanya Raka, matanya penuh rasa ingin tahu.
Bima mengangguk. "Danang suka menggambar. Setiap hari. Setiap sore. Di tepi sungai. Di bawah pohon waru. Ia menggambar apa pun yang ia lihat. Perahu. Burung. Ikan. Wajah ibunya. Wajah Kirana. Wajah..."
"Apa gambar-gambar itu masih ada, Pak? Apa masih disimpan?"
Bima menghela napas. "Setelah Danang pergi dari desa, rumahnya kosong. Tidak ada yang merawat. Gambar-gambar itu hilang. Dimakan rayap. Dimakan usia. Dimakan..."
"Ayah tidak menyimpan satu pun, Pak?"
"Danang membawa beberapa gambar ketika ia pergi. Tapi entah ke mana sekarang. Mungkin hilang. Mungkin rusak. Mungkin..."
"Aku punya satu, Pak," kata Ayu tiba-tiba. Matanya berbinar. Tangannya merogoh tas selempangnya, mengeluarkan sebuah buku gambar tua, sampulnya lusuh, halamannya menguning, beberapa halaman sudah lepas.
Raka terkejut. "Kau punya gambar ayah? Dari mana?"
"Ibu menyimpannya. Ibu menyimpan banyak barang lama. Termasuk buku gambar ini. Dulu, waktu Ibu masih kecil, Pak Danang memberikannya pada Ibu. Sebagai kenang-kenangan. Sebagai..."
Ayu membuka buku gambar itu perlahan, dengan hati-hati, seperti sedang membuka peti harta karun, seperti sedang membuka luka lama. Halaman pertama: gambar seorang anak perempuan dengan rambut panjang dan pita merah di rambutnya. Di bawah gambar itu, ada tulisan: "Kirana, 1978."
Raka menatap gambar itu. Matanya berkaca-kaca. "Ini... ini Kirana? Ibu Kirana waktu masih kecil?"
Ayu mengangguk. "Iya. Ini Ibu. Waktu masih kecil. Waktu masih tinggal di desa. Waktu masih..."
"Umur berapa Ibu waktu itu?"
"Tujuh tahun. Sama seperti Pak Danang."
"Tujuh tahun sudah menggambar, Pak? Tujuh tahun sudah..."
"Danang memang berbakat, Raka. Ia bisa menggambar apa pun. Ia bisa menangkap ekspresi. Ia bisa..."
"Kenapa ayah tidak menjadi pelukis, Pak? Kenapa ayah..."
"Karena ayahmu tidak punya uang, Raka. Karena ayahmu harus bekerja. Karena ayahmu..."
"Karena ayah harus menghidupi aku dan ibuku."
Bima mengangguk. "Ayahmu mengorbankan mimpi-mimpinya untuk keluarganya. Ayahmu..."
"Ayahku tidak pernah cerita tentang ini. Ayahku tidak pernah..."
"Karena ayahmu tidak ingin kau merasa berutang budi. Karena ayahmu tidak ingin..."
"Tapi aku berutang budi, Pak. Aku berutang nyawa. Aku berutang..."
"Kau tidak berutang apa pun, Raka. Yang kau lakukan sekarang sudah cukup. Yang kau lakukan..."
"Aku belum melakukan apa pun, Pak. Aku hanya..."
"Kau sudah membangun taman ini, Raka. Itu sudah lebih dari cukup. Itu sudah..."
"Tapi aku tidak bisa membangunkan ayah dari kubur, Pak. Aku tidak bisa..."
"Tidak ada yang bisa, Raka. Kematian adalah rahasia Tuhan. Kematian adalah..."
"Aku tahu, Pak. Tapi aku tetap menyesal. Aku tetap..."
"Penyesalan adalah bagian dari cinta, Raka. Penyesalan adalah..."
"Penyesalan adalah beban, Pak. Penyesalan adalah..."
"Penyesalan adalah beban yang harus kita pikul bersama, Raka. Kau tidak sendirian. Aku di sini. Ayu di sini. Kirana di sini. Kami akan membantumu. Kami akan..."
Raka menangis.
Ia menangis di hadapan Bima.
Menangis di hadapan Ayu.
Menangis di hadapan semua orang yang hadir.
Menangis karena ia rindu ayahnya.
Menangis karena ia menyesal.
Menangis karena ia tidak bisa memutar waktu.
"Aku sayang ayah, Pak. Aku sayang ayah. Aku sayang..."
"Ayahmu tahu, Raka. Ayahmu tahu. Ayahmu selalu tahu. Ayahmu..."
"Tapi aku tidak pernah mengucapkannya, Pak. Aku tidak pernah..."
"Tidak apa, Raka. Yang penting kau menyesal. Yang penting kau..."
"Penyesalan tidak bisa mengubah apa pun, Pak. Penyesalan hanya..."
"Penyesalan bisa mengubah masa depan, Raka. Penyesalan membuat kita lebih baik. Penyesalan membuat kita..."
"Penyesalan membuat saya sadar bahwa saya harus lebih sering datang ke sini. Bahwa saya harus menjaga Bu Kirana. Bahwa saya harus..."
"Kau sudah melakukan itu, Raka. Kau sudah..."
"Tapi belum cukup, Pak. Belum cukup."
Mereka berpelukan.
Berpelukan di bawah pohon trembesi.
Berpelukan sebagai keluarga.
Keluarga yang lahir dari cinta.
Cinta yang tidak pernah mati.
Sore itu, ketika matahari mulai tenggelam di ufuk barat, ketika langit mulai berwarna jingga keemasan, ketika burung-burung mulai pulang ke sarangnya, Kirana berjalan sendirian ke tepi sungai. Ia meninggalkan Raka, Ayu, Bima, dan semua orang yang hadir. Ia ingin sendiri. Ia ingin merenung. Ia ingin berbicara dengan Danang.
"Danang, apa kau di sini?" bisiknya, suaranya pelan, lembut, seperti sedang berbicara dengan angin, seperti sedang berdoa, seperti sedang merindukan seseorang.
Tidak ada jawaban.
Hanya suara sungai.
Hanya suara angin.
Hanya suara daun-daun yang bergesekan.
"Danang, aku rindu. Aku rindu senyummu. Aku rindu tawamu. Aku rindu matamu yang gelap. Aku rindu..."
"Kirana."
Kirana terkejut.
Ia menoleh.
Tidak ada siapa pun.
Hanya bayangannya sendiri di permukaan air.
Hanya pohon waru yang tua.
Hanya akar-akar yang menjuntai.
"Danang, apa kau?" bisiknya.
"Kirana, aku di sini. Di setiap hembusan angin. Di setiap rintik hujan. Di setiap sinar matahari. Di setiap..."
"Danang, aku tidak bisa melihatmu. Aku tidak bisa..."
"Kau tidak perlu melihatku, Kirana. Cukup kau rasakan. Cukup kau..."
"Tapi aku ingin melihatmu, Danang. Aku ingin memelukmu. Aku ingin..."
"Kita akan bertemu lagi, Kirana. Di surga. Di akhirat. Di..."
"Kapan, Danang? Kapan kita akan bertemu lagi? Aku tidak sabar. Aku..."
"Kau harus sabar, Kirana. Kau masih punya tugas di dunia. Kau masih harus menjaga anak-anak kita. Kau masih harus..."
"Aku sudah tua, Danang. Aku tidak kuat. Aku..."
"Kau kuat, Kirana. Aku tahu. Aku percaya. Aku..."
"Danang, jangan pergi lagi. Jangan tinggalkan aku lagi. Aku..."
"Aku tidak akan pergi, Kirana. Aku akan selalu di sini. Menemanimu. Menjagamu. Mencintaimu. Sampai..."
"Sampai kapan, Danang?"
"Sampai kita bertemu lagi. Selamanya."
Kirana tersenyum.
Ia tersenyum di tepi sungai.
Ia tersenyum di bawah pohon waru.
Ia tersenyum di bawah langit yang mulai gelap.
Ia tersenyum karena ia merasakan kehadiran Danang.
Ia tersenyum karena ia tahu bahwa Danang tidak pernah benar-benar pergi.
Ia tersenyum karena ia tahu bahwa cinta mereka abadi.
"Danang, aku sayang kau," bisiknya.
"Aku juga sayang kau, Kirana. Selamanya."
Bab 53
Surat dari Masa Lalu
Satu tahun setelah kepergian Danang, ketika musim hujan kembali datang dan sungai Kapuas Muara mulai naik, ketika pohon waru mulai berbunga dan kelopak-kelopak putihnya berguguran ke air, Kirana menemukan sesuatu yang tidak pernah ia duga. Sebuah surat. Bukan surat palsu seperti yang dulu ditulis Arman. Bukan surat cinta seperti yang dulu ia tulis untuk Danang setiap minggu. Surat yang berbeda. Surat yang ditulis oleh Danang. Untuknya. Sebelum Danang meninggal.
Surat itu ditemukan oleh Ayu ketika ia membersihkan lemari tua di kamar Danang. Lemari kayu jati yang sudah usang, dengan cat yang mengelupas, dengan engsel yang berkarat, dengan laci-laci yang macet karena sudah tidak pernah dibuka selama bertahun-tahun. Ayu sengaja membersihkan lemari itu karena ingin mencari barang-barang Danang yang mungkin masih tersisa. Baju. Celana. Foto. Kenangan.
"Ayu, apa yang kau cari?" tanya Kirana dari pintu kamar, suaranya lemah, matanya sayu.
"Aku hanya... aku hanya ingin membersihkan lemari ini, Bu. Sudah lama tidak dibuka. Mungkin ada barang-barang Pak Danang yang masih bagus. Mungkin ada..."
"Pak Danang tidak punya banyak barang, Ayu. Ia hidup sederhana. Ia tidak suka..."
"Ibu, lihat ini."
Ayu mengeluarkan sebuah amplop coklat dari laci paling bawah. Amplop itu sudah menguning, sudah rapuh di tepi-tepinya, sudah berbau apak karena terlalu lama tersimpan. Di bagian depan amplop, tertulis dengan tulisan tangan Danang: "Untuk Kirana. Hanya boleh dibuka setelah aku tiada."
Kirana terkejut. Ia meraih amplop itu, tangannya gemetar. "Ini... ini tulisan Danang. Aku kenal tulisannya. Aku hafal. Aku..."
"Ibu, baca. Mungkin Pak Danang menulis sesuatu. Mungkin Pak Danang..."
Kirana membuka amplop itu perlahan, dengan hati-hati, seperti sedang membuka peti harta karun, seperti sedang membuka luka lama, seperti sedang membuka pintu menuju masa lalu.
Di dalam amplop itu, ada sepucuk surat. Kertasnya sudah menguning, tulisannya mulai pudar, tetapi masih terbaca. Kirana duduk di ranjang, merapatkan surat itu ke matanya yang sudah kabur, dan mulai membaca.
"Untuk Kirana, cinta pertamaku, cinta terakhiku, cinta selamaku.
Jika kau membaca surat ini, berarti aku sudah tiada. Aku sudah pergi ke alam yang lebih baik. Aku sudah meninggalkan dunia fana ini. Aku sudah... maaf, aku tidak bisa menulis kata-kata ini dengan tenang. Tanganku gemetar. Mataku basah. Hatiku... hancur.
Kirana, aku menulis surat ini bukan untuk membuatmu sedih. Aku menulis surat ini untuk membuatmu bahagia. Aku menulis surat ini untuk mengatakan bahwa aku tidak pernah menyesal mencintaimu. Aku tidak pernah menyesal menunggumu. Aku tidak pernah menyesal memilihmu. Meskipun kita harus berpisah selama tiga puluh tahun. Meskipun kita harus melalui banyak penderitaan. Meskipun kita harus...
Maaf, aku tidak bisa melanjutkan. Aku menangis. Aku menangis seperti anak kecil. Aku menangis karena aku rindu. Aku rindu senyummu. Aku rindu tawamu. Aku rindu matamu yang coklat kehijauan. Aku rindu lesung pipit di pipi kirimu. Aku rindu...
Kirana, aku ingin kau tahu bahwa aku bahagia. Bahagia karena aku bisa kembali ke desa. Bahagia karena aku bisa bertemu denganmu lagi. Bahagia karena aku bisa menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Bahagia karena aku bisa... mati di sampingmu.
Jangan menangis, Kirana. Jangan bersedih. Aku tidak suka melihatmu menangis. Aku tidak suka melihatmu sedih. Aku ingin kau tersenyum. Aku ingin kau tertawa. Aku ingin kau...
Kirana, aku meninggalkan sesuatu untukmu. Di lemari. Di laci paling bawah. Di sebelah surat ini. Aku menyimpannya selama tiga puluh tahun. Aku tidak pernah membukanya. Aku tidak pernah...
Maaf, Kirana. Maaf karena aku tidak bisa menjadi kekasih yang baik. Maaf karena aku tidak bisa menjadi suami yang baik. Maaf karena aku tidak bisa menjadi ayah yang baik. Maaf karena aku...
Kirana, aku sayang kau. Aku sayang kau. Aku sayang kau. Sampai mati. Sampai kapan pun. Sampai...
Danang."
Kirana tidak bisa membaca lebih jauh.
Surat itu jatuh dari tangannya.
Jatuh ke lantai.
Jatuh di antara kaki ranjang dan lemari.
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Bahunya naik turun.
Tangisnya keluar.
Bukan tangis biasa.
Tangis yang pecah.
Tangis yang tidak bisa lagi ditahan.
Tangis yang seperti air bah yang menghancurkan bendungan.
"Ayu... tolong... ambilkan... apa yang Danang tinggalkan... di lemari... di laci paling bawah..." bisiknya di antara isak tangisnya.
Ayu mengangguk. Ia berlari ke lemari, membuka laci paling bawah. Di sana, di sudut laci, terbungkus kain putih bersih, sebuah kotak kayu kecil. Kotak yang sama. Kotak yang dulu Danang bawa dari desa ke kota. Kotak yang dulu ia simpan di dasar kopernya. Kotak yang tidak pernah ia buka selama tiga puluh tahun.
"Ini, Bu," kata Ayu, menyerahkan kotak itu pada Kirana.
Kirana menerima kotak itu. Tangannya gemetar hebat. Ia membuka kotak itu perlahan, dengan hati-hati, seperti sedang membuka peti mati, seperti sedang membuka luka yang tidak pernah sembuh.
Di dalam kotak itu, sebuah buku kecil. Buku catatan. Buku yang sudah tua, sampulnya lusuh, halamannya menguning, beberapa halaman sudah lepas. Buku yang dulu menemani Danang ketika ia masih kecil. Buku yang dulu ia gunakan untuk menggambar. Buku yang dulu...
Kirana membuka buku itu.
Halaman pertama: gambar seorang anak perempuan dengan rambut panjang dan pita merah di rambutnya. Sama seperti gambar yang ia simpan. Sama seperti gambar yang Ayu tunjukkan pada Raka. Tapi ada yang berbeda. Di bawah gambar itu, ada tulisan. Tulisan Danang. Tulisan yang rapi. Tulisan yang penuh dengan cinta.
"Kirana, 1978. Hari pertama aku jatuh cinta."
Kirana menangis lebih keras.
Ia membuka halaman kedua.
Gambar seorang anak perempuan dan anak laki-laki duduk di akar pohon waru. Anak laki-laki sedang melempar batu ke sungai. Anak perempuan sedang tersenyum. Di bawah gambar itu, ada tulisan:
"Kirana dan Danang, 1978. Hari pertama kita berteman."
Halaman ketiga.
Gambar seorang anak perempuan berdiri di tengah kerumunan, melindungi anak laki-laki yang lebih kecil. Wajah anak perempuan itu marah, berani, tidak takut pada siapa pun. Wajah anak laki-laki itu sedih, takut, membutuhkan perlindungan. Di bawah gambar itu, ada tulisan:
"Kirana dan Danang, 1979. Hari ketika Kirana membelaku di depan Surya. Aku tidak pernah melupakan keberanianmu."
Halaman keempat.
Gambar seorang anak perempuan berlari di tengah hujan, membawa bungkusan di tangan, wajahnya basah, bajunya basah, rambutnya basah. Di bawah gambar itu, ada tulisan:
"Kirana, 1980. Hari ketika kau datang ke rumahku di tengah hujan untuk membawakan obat untuk ibuku. Aku tidak pernah melupakan kebaikanmu."
Halaman kelima.
Gambar seorang anak perempuan dan anak laki-laki berdiri di pinggir jalan, berpelukan. Di belakang mereka, sebuah mobil tua perlahan menjauh. Wajah anak perempuan itu menangis. Wajah anak laki-laki itu juga menangis. Di bawah gambar itu, ada tulisan:
"Kirana dan Danang, 1985. Hari perpisahan kita. Aku tidak pernah melupakan janjimu. 'Aku akan kembali.'"
Kirana tidak bisa membaca lebih jauh.
Ia menutup buku itu.
Ia memeluknya erat-erat.
Seperti memeluk Danang.
Seperti tidak ingin melepaskan.
Seperti takut kehilangan lagi.
"Danang... kau menyimpan semua ini? Kau menyimpan gambar-gambar ini? Kau menyimpan..."
"Bu, Pak Danang menyimpan semuanya. Setiap kenangan. Setiap detik. Setiap..."
"Tapi kenapa ia tidak pernah menunjukkan padaku? Kenapa ia..."
"Mungkin Pak Danang ingin memberikan ini setelah ia tiada. Mungkin Pak Danang ingin..."
"Ingin apa, Ayu?"
"Ingin ibu tahu bahwa ia tidak pernah berhenti mencintai ibu. Tidak selama tiga puluh tahun. Tidak selama..."
Kirana menangis.
Ia menangis di pelukan Ayu.
Menangis di kamar Danang.
Menangis di antara kenangan yang tidak pernah mati.
"Ayu, aku rindu Danang. Aku sangat rindu. Aku..."
"Ibu, Pak Danang masih di sini. Dalam buku ini. Dalam gambar-gambar ini. Dalam..."
"Aku tidak bisa hidup dengan gambar, Ayu. Aku butuh Danang. Aku butuh..."
"Ibu punya kami. Raka. Adi. Bima. Semua orang yang mencintai ibu. Kami akan..."
"Aku butuh Danang, Ayu. Bukan kalian. Bukan..."
"Pak Danang tidak akan pergi, Bu. Pak Danang akan selalu di sini. Di hati ibu. Di..."
"Tapi aku ingin memeluknya, Ayu. Aku ingin menciumnya. Aku ingin..."
"Ibu bisa memeluk kenangan, Bu. Ibu bisa mencium doa. Ibu bisa..."
Kirana terdiam.
Ia memandang buku kecil di tangannya.
Buku yang penuh dengan gambar.
Buku yang penuh dengan kenangan.
Buku yang penuh dengan cinta.
"Ayu, tolong panggil Raka. Panggil Bima. Panggil semua orang. Aku ingin mereka melihat buku ini. Aku ingin mereka tahu bahwa Danang tidak pernah berhenti mencintai. Aku ingin..."
"Baik, Bu. Saya panggil."
Satu jam kemudian, rumah Kirana dipenuhi orang.
Raka datang dengan Dewi. Ayu datang dengan suami dan Adi. Bima datang dengan istri dan cucu-cucunya. Pak RT Santoso datang dengan beberapa warga desa. Arman datang dengan tongkatnya, dengan tubuhnya yang semakin kurus, dengan matanya yang semakin cekung. Semua orang ingin melihat buku itu. Semua orang ingin melihat gambar-gambar yang dibuat Danang. Semua orang ingin merasakan cinta yang tidak pernah mati.
Kirana duduk di kursi rotan di ruang tamu, buku itu di pangkuannya, tangannya gemetar. Ia membuka halaman demi halaman, menunjukkan gambar-gambar itu pada semua orang yang hadir.
"Ini Danang waktu masih kecil. Waktu kami pertama kali berteman. Waktu..."
"Bu, kok Pak Danang sudah bisa menggambar waktu masih kecil?" tanya Adi, matanya bulat, penuh rasa ingin tahu.
"Pak Danang memang berbakat, Nak. Pak Danang bisa menggambar apa pun. Pak Danang..."
"Kenapa Pak Danang tidak menjadi pelukis, Bu? Kenapa..."
"Karena Pak Danang tidak punya uang, Nak. Karena Pak Danang harus bekerja. Karena..."
"Tapi Pak Danang tetap menggambar, Bu. Pak Danang tetap..."
"Pak Danang tetap menggambar untukku. Untuk ibu. Untuk..."
"Ibu, ini gambar apa?" tanya Adi, menunjuk ke halaman terakhir buku itu. Halaman yang kosong. Hanya ada satu kalimat. Ditulis dengan tulisan Danang yang sudah tidak rapi karena tangannya yang gemetar karena sakit.
"Kirana, aku akan menunggumu di surga. Jangan lama-lama. Aku sudah rindu."
Semua orang terdiam.
Suasana ruangan berubah.
Ada yang menangis.
Ada yang terisak.
Ada yang hanya diam, menatap kalimat itu, berusaha menahan air mata.
Raka berdiri. Ia berjalan mendekati Kirana, berlutut di depannya, memegang tangannya.
"Bu Kirana, ayah saya orang yang luar biasa. Ayah saya..."
"Ayahmu orang yang sederhana, Raka. Ayahmu..."
"Tapi ayah saya mencintai ibu dengan sepenuh hati. Ayah saya..."
"Ayahmu mencintaiku sejak kami masih kecil. Ayahmu..."
"Dan ayah saya tidak pernah berhenti mencintai ibu. Tidak selama tiga puluh tahun. Tidak..."
Kirana menangis.
Ia memeluk Raka.
Memeluknya erat-erat.
"Raka, maafkan aku. Maafkan aku karena tidak bisa menjadi ibu yang baik untukmu. Maafkan aku karena..."
"Bu Kirana tidak perlu minta maaf. Bu Kirana sudah menjadi ibu yang baik. Bu Kirana sudah..."
"Aku tidak pernah ada untukmu, Raka. Aku tidak pernah..."
"Bu Kirana selalu ada untukku. Dalam doa. Dalam..."
"Tapi aku tidak pernah..."
"Bu Kirana, cukup. Jangan bicara seperti itu. Yang penting sekarang kita di sini. Bersama. Mengenang ayah. Mengenang..."
Mereka berpelukan.
Berpelukan di ruang tamu yang sederhana.
Berpelukan sebagai keluarga.
Keluarga yang lahir dari cinta.
Cinta yang tidak pernah mati.
Bab 54
Pengakuan Terakhir Arman
Tiga hari setelah surat Danang ditemukan, setelah buku gambar tua itu menjadi pusat perhatian seluruh desa, setelah semua orang menangis dan tersenyum dan berpelukan dan berdoa, Arman datang lagi. Bukan di malam hari seperti biasanya. Bukan di waktu senja ketika orang-orang mulai beristirahat. Di pagi hari. Di waktu ketika matahari baru saja terbit. Di waktu ketika kabut masih menutupi desa. Di waktu ketika burung-burung baru mulai berkicau.
Ia datang dengan tongkatnya, dengan tubuhnya yang semakin kurus, dengan matanya yang semakin cekung, dengan napasnya yang semakin pendek. Ia datang dengan sebuah kotak kayu di tangan. Kotak yang lebih besar dari kotak Danang. Kotak yang terbuat dari kayu mahoni dengan ukiran sederhana. Kotak yang sudah usang, sudah tergores di sana-sini, sudah berubah warna menjadi coklat tua karena usia.
Ia berdiri di depan pagar rumah Kirana, tidak berani masuk, tidak berani memanggil. Ia hanya berdiri, menunggu, berharap seseorang melihatnya, berharap seseorang mengundangnya masuk.
"Ayu, tolong lihat siapa yang di luar," kata Kirana dari dalam rumah, suaranya lemah, matanya sayu.
Ayu berjalan ke halaman. Ia melihat Arman berdiri di depan pagar, dengan kotak kayu di tangan, dengan air mata di pipi.
"Pak Arman? Pak Arman, masuklah. Hari masih pagi. Udara masih dingin. Nanti bapak sakit."
Arman menggeleng. "Tidak, Ayu. Aku tidak pantas masuk. Aku tidak pantas..."
"Pak Arman, Ibu sudah memaafkan bapak. Kami semua sudah memaafkan bapak. Bapak tidak perlu..."
"Tapi aku belum memaafkan diriku sendiri, Ayu. Aku belum..."
"Pak Arman, masuklah. Ibu menunggu."
Arman menghela napas. Ia membuka pagar, berjalan masuk, melangkah perlahan, dengan susah payah, dengan tongkat yang hampir terlepas dari tangannya. Ayu membantunya berjalan, memegang sikunya, menuntunnya ke ruang tamu.
Kirana sudah duduk di kursi rotan, dengan buku gambar Danang di pangkuannya, dengan secangkir teh jahe di sampingnya, dengan senyum tipis di bibirnya.
"Arman, duduklah. Aku sudah membuatkan teh untukmu. Teh jahe, seperti yang kau suka. Masih hangat."
Arman duduk di kursi di hadapan Kirana. Tangannya gemetar. Matanya basah. Ia meletakkan kotak kayu di meja di antara mereka.
"Kirana, aku datang untuk memberikan ini. Ini... ini milikmu. Milik Danang. Milik kalian berdua. Aku menyimpannya selama tiga puluh tahun. Aku tidak pernah berani memberikannya. Aku tidak pernah..."
"Apa itu, Arman?"
Arman membuka kotak itu.
Perlahan.
Dengan tangan yang gemetar.
Dengan napas yang tersengal.
Di dalam kotak itu, puluhan surat.
Bukan surat palsu.
Bukan surat yang ditulis Arman.
Surat asli.
Surat yang ditulis Kirana untuk Danang.
Surat yang ditahan Arman selama tiga puluh tahun.
Surat yang tidak pernah sampai ke tangan Danang.
Surat yang menjadi biang kerok semua penderitaan.
Surat yang menjadi awal dari segalanya.
"Kirana, ini surat-suratmu. Yang kau tulis untuk Danang. Yang aku... yang aku sembunyikan. Yang aku..."
Arman tidak melanjutkan.
Tangisnya pecah.
Ia menangis di hadapan Kirana.
Menangis untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
Menangis karena ia menyesal.
Menangis karena ia tidak bisa memperbaiki kesalahannya.
Menangis karena ia tahu bahwa ia tidak pantas diampuni.
Kirana mengambil surat paling atas.
Ia membukanya.
Tangannya gemetar.
Matanya basah.
Ia membaca.
"Danang, surat pertama untukmu. Aku baru sampai di kota. Rumah baruku besar, lebih besar dari rumah kita di desa. Tapi aku merasa lebih sempit. Lebih sepi. Lebih dingin. Aku rindu sungai. Aku rindu pohon waru. Aku rindu suara jangkrik di malam hari. Aku rindu... aku rindu kamu.
Aku menunggumu di kota, Danang. Sampai musim hujan ketiga. Sampai aku lulus sekolah. Sampai aku dewasa. Kalau kau datang, aku masih di tempat yang sama. Rumah dinas di Jalan Merdeka. Nomor empat puluh dua. Kalau kau tidak datang... kalau kau tidak datang, aku akan mengerti. Tapi tolong beri kabar, Danang. Apa pun. Sepatah kata saja. Selembar surat saja. Sebuah kabar bahwa kau masih hidup. Sebuah kabar bahwa kau baik-baik saja. Sebuah kabar bahwa kau... bahwa kau masih mengingatku.
Kirana."
Kirana tidak bisa membaca lebih jauh.
Surat itu jatuh dari tangannya.
Jatuh ke lantai.
Jatuh di antara kursi dan meja.
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Bahunya naik turun.
Tangisnya keluar.
"Arman, kenapa? Kenapa kau lakukan ini? Kenapa kau sembunyikan surat-surat ini? Kenapa kau..."
"Karena aku juga mencintaimu, Kirana. Karena aku iri pada Danang. Karena aku..."
"Tapi cinta tidak seharusnya merusak, Arman. Cinta tidak seharusnya..."
"Aku tahu, Kirana. Aku tahu sekarang. Tapi sudah terlambat. Sudah..."
"Kenapa kau tidak menyadarinya dari dulu? Kenapa kau..."
"Karena aku bodoh, Kirana. Karena aku egois. Karena aku..."
Kirana menghela napas.
Ia memandang Arman.
Matanya yang basah, yang merah, menatap lelaki tua di depannya.
Lelaki yang dulu adalah sahabat Danang.
Lelaki yang dulu adalah temannya.
Lelaki yang dulu ia percayai.
Lelaki yang sama yang menghancurkan hidupnya.
"Arman, aku sudah memaafkanmu. Tapi aku tidak bisa melupakan. Aku tidak bisa..."
"Aku tidak minta kau melupakan, Kirana. Aku hanya minta... aku hanya minta kau menerima surat-surat ini. Surat-surat ini milikmu. Milik Danang. Aku tidak berhak menyimpannya. Aku tidak berhak..."
"Kau benar, Arman. Kau tidak berhak. Tapi kau sudah melakukannya. Tidak bisa diubah."
"Maafkan aku, Kirana. Maafkan aku."
Kirana tidak menjawab.
Ia hanya mengambil surat-surat itu satu per satu.
Membacanya.
Menangis.
Mengenang.
Merindukan.
Sementara itu, di halaman rumah, Raka, Ayu, Adi, dan Bima sedang duduk di bangku kayu di bawah pohon mangga. Mereka berbincang, tertawa, mengenang Danang. Adi bermain mobil-mobilan di tanah, sesekali berlari ke arah ayam-ayam yang berkeliaran, sesekali memetik bunga di pot.
"Pak Bima, apa benar Pak Arman yang menahan surat-surat Nenek?" tanya Adi, matanya bulat, penuh rasa ingin tahu.
Bima mengangguk. "Benar, Nak. Pak Arman yang menahan surat-surat itu. Pak Arman yang..."
"Kenapa Pak Arman jahat, Pak? Kenapa Pak Arman..."
"Pak Arman tidak jahat, Nak. Pak Arman hanya... tersesat. Pak Arman hanya..."
"Tersesat ke mana, Pak?"
"Tersesat ke dalam hatinya sendiri, Nak. Tersesat ke dalam rasa iri. Tersesat ke dalam..."
"Rasa iri itu apa, Pak?"
"Rasa iri adalah ketika kita tidak senang melihat orang lain bahagia, Nak. Ketika kita ingin memiliki apa yang dimiliki orang lain. Ketika kita..."
"Pak Arman iri pada Om Danang?"
Bima mengangguk. "Pak Arman iri pada Om Danang. Karena Om Danang memiliki Nenek Kirana. Karena Om Danang..."
"Tapi Nenek Kirana tidak mencintai Pak Arman, kan, Pak?"
"Tidak, Nak. Nenek Kirana hanya mencintai Om Danang. Sejak kecil. Sampai mati."
"Kasihan Pak Arman," kata Adi, matanya berkaca-kaca. "Pak Arman sendirian. Pak Arman tidak punya siapa-siapa. Pak Arman..."
"Pak Arman punya kita, Nak. Kita akan menjaganya. Kita akan..."
"Tapi Pak Arman jahat, Pak. Pak Arman..."
"Pak Arman sudah menyesal, Nak. Pak Arman sudah minta maaf. Pak Arman sudah..."
"Apakah Om Danang memaafkan Pak Arman?"
Bima tersenyum. "Om Danang sudah memaafkan Pak Arman. Sebelum Om Danang meninggal. Om Danang..."
"Om Danang baik, Pak. Om Danang..."
"Om Danang sangat baik, Nak. Om Danang mengajarkan kita arti memaafkan. Om Danang..."
Adi berlari ke arah Arman yang masih duduk di ruang tamu. Ia menarik ujung baju Arman, menatap matanya yang cekung, berkata dengan suara lantang, "Pak Arman, aku memaafkan bapak. Nenek Kirana juga memaafkan bapak. Om Danang juga sudah memaafkan bapak. Jadi bapak tidak usah sedih lagi. Bapak tidak usah menangis lagi. Bapak..."
Arman menangis.
Ia memeluk Adi.
Memeluknya erat-erat.
"Terima kasih, Nak. Terima kasih. Kau baik. Kau sangat baik. Seperti kakekmu. Seperti..."
"Adi tidak seperti Om Danang, Pak. Adi hanya Adi. Tapi Adi sayang Pak Arman. Adi..."
"Terima kasih, Nak. Terima kasih."
Raka berdiri. Ia berjalan ke ruang tamu, berdiri di depan Arman, menatap lelaki tua yang pernah menjadi sahabat ayahnya.
"Pak Arman, aku Raka. Anak Danang. Aku tidak tahu apakah aku berhak bicara mewakili ayah. Tapi aku ingin mengatakan sesuatu."
Arman mengangguk. "Katakan, Nak."
"Ayah saya sudah memaafkan bapak. Ayah saya tidak pernah membenci bapak. Ayah saya..."
"Tapi aku membenci diriku sendiri, Nak. Aku..."
"Bapak tidak perlu membenci diri sendiri. Bapak sudah minta maaf. Bapak sudah..."
"Tapi penyesalan tidak cukup, Nak. Penyesalan tidak bisa..."
"Penyesalan bisa mengubah masa depan, Pak. Penyesalan bisa membuat kita menjadi lebih baik. Penyesalan bisa..."
"Tapi masa lalu tidak bisa diubah, Nak. Masa lalu..."
"Masa lalu adalah guru, Pak. Masa lalu mengajarkan kita untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Masa lalu..."
Arman menangis.
Ia memeluk Raka.
Memeluknya erat-erat.
"Raka, kau baik. Kau sangat baik. Seperti ayahmu. Seperti..."
"Aku tidak seperti ayah, Pak. Ayah lebih baik dari aku. Ayah lebih..."
"Ayahmu adalah orang terbaik yang aku kenal, Raka. Ayahmu..."
"Ayahmu juga orang baik, Pak. Ayahmu..."
"Ayahku? Ayahku pecandu minuman keras. Ayahku tidak pernah peduli padaku. Ayahku..."
"Tapi bapak memilih untuk menjadi baik, Pak. Bapak memilih untuk..."
"Apakah aku baik, Raka? Apakah aku..."
"Bapak baik, Pak. Karena bapak menyesal. Karena bapak..."
"Penyesalan tidak membuatku baik, Raka. Penyesalan hanya..."
"Penyesalan membuat bapak sadar, Pak. Penyesalan membuat bapak..."
"Sadar untuk apa, Raka?"
"Sadar bahwa cinta tidak harus memiliki, Pak. Sadar bahwa..."
Arman terdiam.
Ia memandang Raka.
Matanya yang cekung, yang sayu, tiba-tiba berkaca-kaca.
"Kau bijak, Raka. Kau sangat bijak. Seperti ayahmu. Seperti..."
"Aku tidak bijak, Pak. Aku hanya..."
"Kau bijak, Nak. Aku bisa melihatnya dari matamu. Dari caramu..."
"Dari caraku apa, Pak?"
"Dari caramu memandang dunia. Dari caramu..."
Raka tersenyum. "Terima kasih, Pak. Tapi aku hanya anak biasa. Aku hanya..."
"Kau tidak biasa, Raka. Kau istimewa. Kau..."
"Tidak, Pak. Aku tidak istimewa. Aku hanya..."
"Kau istimewa di mataku, Raka. Di mata semua orang yang mencintaimu."
Mereka berpelukan.
Berpelukan di ruang tamu.
Berpelukan sebagai keluarga.
Keluarga yang lahir dari cinta.
Cinta yang tidak pernah mati.
Bab 55
Wasiat Terakhir
Tiga hari setelah Arman mengembalikan surat-surat yang selama tiga puluh tahun ia sembunyikan, setelah Kirana membaca semua surat itu satu per satu, setelah air mata mengalir tanpa henti dan pelukan hangat saling menguatkan, Raka menemukan sesuatu yang lain di lemari tua ayahnya. Bukan buku gambar. Bukan surat cinta. Bukan kenangan manis masa lalu.
Sebuah amplop besar berwarna coklat tua, dengan tulisan di depan: "Wasiat Danang Wiratama. Untuk anak-anakku. Untuk generasi selanjutnya. Hanya boleh dibuka setelah aku tiada, setelah semua rahasia terbuka, setelah semua luka mulai sembuh."
Raka memegang amplop itu dengan tangan gemetar. Ia duduk di kursi kayu di beranda, di tempat yang sama yang dulu menjadi tempat ayahnya duduk setiap sore, tempat ayahnya memandang sungai dan merenungkan hidup. Ayu duduk di sampingnya. Kirana duduk di hadapannya. Bima duduk di kursi rotan di pojok. Adi duduk di lantai, bermain mobil-mobilan, sesekali menatap orang dewasa dengan mata polosnya.
"Raka, bacalah," kata Kirana, suaranya lembut, penuh harap. "Ayahmu pasti menulis sesuatu yang penting. Ayahmu pasti..."
"Aku takut, Bu. Aku takut isinya... aku takut..."
"Kau tidak perlu takut, Nak. Ayahmu tidak akan menulis hal-hal yang menakutkan. Ayahmu..."
"Tapi aku belum siap, Bu. Aku belum..."
"Kau harus siap, Raka. Ini wasiat ayahmu. Ini pesan terakhirnya. Ini..."
Raka menghela napas. Ia membuka amplop itu perlahan, dengan hati-hati, seperti sedang membuka peti harta karun, seperti sedang membuka pintu menuju masa depan. Di dalam amplop itu, ada beberapa lembar kertas. Kertas yang sudah menguning, tulisannya sudah mulai pudar, tetapi masih terbaca. Ada sepuluh halaman. Sepuluh halaman penuh dengan tulisan tangan Danang. Tulisan yang rapi, yang jelas, yang penuh dengan cinta.
"Raka, bacakan untuk kami semua," pinta Bima. "Biar kami semua mendengar pesan Danang. Biar kami semua..."
Raka mengangguk. Ia menarik napas panjang, mengusap air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya, lalu mulai membaca.
"Untuk anak-anakku, untuk generasi selanjutnya, untuk semua orang yang mungkin membaca surat ini suatu hari nanti.
Aku, Danang Wiratama, lahir di desa kecil di tepi Sungai Kapuas Muara, dari seorang ibu yang hamil di luar nikah dan seorang ayah tiri yang tidak pernah benar-benar menginginkanku. Aku tumbuh dalam kemiskinan, dalam aib, dalam bisikan-bisikan tetangga yang mengatakan bahwa aku anak haram, bahwa aku tidak punya masa depan, bahwa aku tidak pantas untuk apa pun.
Tapi aku tidak menyerah. Aku tidak membiarkan masa lalu menentukan masa depanku. Aku tidak membiarkan kata-kata orang menghancurkanku. Aku memilih untuk berjuang. Aku memilih untuk bertahan. Aku memilih untuk hidup.
Dan aku menulis surat ini bukan untuk membuat kalian kasihan padaku. Bukan untuk membuat kalian menangis. Bukan untuk membuat kalian marah pada orang-orang yang pernah menyakitiku. Aku menulis surat ini untuk berbagi pelajaran. Pelajaran yang aku petik dari hidupku yang penuh lika-liku. Pelajaran yang mungkin berguna bagi kalian yang masih muda, yang masih punya banyak waktu, yang masih bisa memilih jalan hidup kalian sendiri.
Pelajaran pertama: Jangan pernah menyerah pada keadaan.
Aku lahir sebagai anak haram. Aku tidak punya ayah kandung. Aku dibesarkan oleh ayah tiri yang lebih sering memegang botol daripada memegang tanganku. Aku tumbuh dalam kemiskinan yang luar biasa. Aku sering kelaparan. Aku sering kedinginan. Aku sering tidak punya baju layak pakai.
Tapi aku tidak pernah menyerah. Aku percaya bahwa suatu hari nanti hidupku akan berubah. Aku percaya bahwa aku bisa menjadi lebih baik dari keadaanku. Aku percaya bahwa kemiskinan bukanlah takdir, tetapi hanya ujian.
Dan aku benar. Hidupku berubah. Aku bisa bertahan. Aku bisa bangkit. Aku bisa... menjadi seseorang yang berguna bagi orang lain.
*Jadi, anak-anakku, jangan pernah menyerah pada keadaan. Seberat apa pun ujian yang kalian hadapi, sebesar apa pun masalah yang kalian hadapi, tetaplah berjuang. Tetaplah percaya bahwa besok akan lebih baik. Tetaplah..."
Raka berhenti. Tangisnya pecah. Ia tidak bisa melanjutkan.
"Raka, terima kasih. Aku lanjutkan," kata Ayu, mengambil kertas dari tangan Raka.
Pelajaran kedua: Jangan pernah membenci orang tua.
Aku tidak pernah tahu siapa ayah kandungku. Ia pergi sebelum aku lahir. Ia tidak pernah kembali. Ia tidak pernah mengirim kabar. Ia tidak pernah... mengakuiku sebagai anaknya.
*Dulu, aku marah. Dulu, aku benci. Dulu, aku bertanya-tanya, "Kenapa ia meninggalkan ibuku? Kenapa ia tidak bertanggung jawab? Kenapa ia tidak..."
Tapi semakin tua, semakin aku sadar bahwa membenci tidak akan mengubah apa pun. Membenci tidak akan membuat ayah kandungku kembali. Membenci tidak akan menyembuhkan luka ibuku. Membenci hanya akan meracuni hatiku sendiri.
Jadi aku memilih untuk memaafkan. Bukan karena ia pantas dimaafkan. Tapi karena aku butuh kedamaian. Aku butuh... melepaskan beban yang selama ini aku pikul.
Anak-anakku, jika kalian memiliki masalah dengan orang tua kalian, jangan biarkan kebencian bersarang di hati kalian. Maafkan mereka. Bukan untuk mereka, tetapi untuk kalian sendiri. Karena kebencian hanya akan menghancurkan kalian dari dalam.
Pelajaran ketiga: Cinta sejati tidak pernah mati.
Aku mencintai Kirana sejak aku berusia tujuh tahun. Sejak pertama kali aku melihatnya di tepi sungai, dengan bunga liar di tangannya, dengan senyum di bibirnya, dengan lesung pipit di pipi kirinya.
Kami berpisah selama tiga puluh tahun. Tiga puluh tahun karena surat-surat yang tidak sampai. Tiga puluh tahun karena kebohongan. Tiga puluh tahun karena pengkhianatan seorang sahabat.
Tapi cinta kami tidak pernah mati. Ia hanya tidur. Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk bangun kembali.
*Dan ketika kami akhirnya bertemu lagi, ketika kami akhirnya bersama lagi, ketika kami akhirnya... merasakan kebahagiaan yang selama ini kami rindukan, aku tahu bahwa cinta sejati tidak pernah mati. Ia hanya menunggu. Ia hanya sabar. Ia hanya..."
Ayu tidak bisa melanjutkan. Ia menangis. Ia menyerahkan kertas itu pada Bima.
Bima menghela napas, mengusap matanya yang basah, lalu melanjutkan membaca.
Pelajaran keempat: Uang bukanlah segalanya.
Aku miskin. Sangat miskin. Aku tidak punya tanah. Aku tidak punya rumah. Aku tidak punya tabungan. Aku tidak punya pendidikan. Aku tidak punya... apa pun.
Tapi aku tidak pernah merasa miskin hati. Aku tidak pernah merasa miskin cinta. Aku tidak pernah merasa miskin kebahagiaan.
Karena aku punya Kirana. Aku punya Raka. Aku punya Ayu. Aku punya Adi. Aku punya Bima. Aku punya... banyak orang yang mencintaiku.
Uang bisa membuatmu kaya secara materi, tetapi tidak bisa membuatmu bahagia. Kebahagiaan sejati datang dari orang-orang di sekitarmu. Dari cinta yang kau berikan dan kau terima. Dari... ketulusan.
Jadi, anak-anakku, jangan pernah mengejar uang dengan mengorbankan kebahagiaanmu. Jangan pernah mengejar kekayaan dengan mengorbankan orang-orang yang kau cintai. Karena pada akhirnya, ketika kau mati, yang akan kau bawa hanyalah cinta. Bukan uang.
Pelajaran kelima: Memaafkan adalah kekuatan, bukan kelemahan.
Banyak orang menyangka bahwa memaafkan adalah tanda kelemahan. Bahwa memaafkan berarti mengakui kekalahan. Bahwa memaafkan berarti membiarkan orang lain menginjak-injak harga diri kita.
Mereka salah.
Memaafkan adalah kekuatan terbesar yang pernah aku pelajari. Memaafkan Arman yang telah mencuri tiga puluh tahun kebahagiaanku. Memaafkan Surya yang telah menuduhku membakar gudang. Memaafkan ayah kandungku yang telah meninggalkan ibuku. Memaafkan semua orang yang pernah menyakitiku.
Memaafkan membuatku bebas. Bebas dari amarah. Bebas dari dendam. Bebas dari... belenggu masa lalu.
Anak-anakku, belajarlah memaafkan. Bukan karena orang lain pantas dimaafkan. Tapi karena kalian pantas untuk bebas.
Pelajaran keenam: Waktu adalah hal paling berharga.
Aku membuang tiga puluh tahun hidupku hanya karena surat-surat yang tidak sampai. Tiga puluh tahun yang tidak bisa aku kembalikan. Tiga puluh tahun yang seharusnya bisa aku habiskan bersama Kirana. Tiga puluh tahun yang seharusnya bisa aku gunakan untuk membahagiakan orang-orang yang aku cintai.
Jangan ulangi kesalahanku. Jangan buang waktu kalian untuk hal-hal yang tidak penting. Jangan tunda kebahagiaan kalian. Jangan tunda mengatakan "Aku sayang kamu" pada orang yang kalian cintai.
Karena waktu tidak pernah menunggu. Waktu terus berjalan. Dan ketika kalian sadar, mungkin sudah terlambat.
Pelajaran ketujuh: Kesederhanaan adalah kebahagiaan.
Sepanjang hidupku, aku tidak pernah kaya. Aku tidak pernah punya mobil mewah. Aku tidak pernah punya rumah besar. Aku tidak pernah punya pakaian mahal. Aku tidak pernah...
Tapi aku bahagia. Bahagia dengan hal-hal sederhana. Secangkir teh jahe di pagi hari. Sepiring pisang goreng di sore hari. Sebatang rokok kretek di malam hari. Senyum Kirana. Tawa Raka. Pelukan Ayu. Ciuman Adi.
Kebahagiaan tidak selalu datang dari hal-hal besar. Kebahagiaan sering datang dari hal-hal kecil. Dari orang-orang di sekitarmu. Dari... rasa syukur.
Jadi, anak-anakku, belajarlah bersyukur. Belajarlah melihat kebahagiaan dalam hal-hal sederhana. Karena pada akhirnya, itulah yang akan membuat kalian benar-benar kaya.
Pelajaran kedelapan: Jangan pernah menyerah pada cinta.
Banyak orang mengatakan bahwa cinta itu buta. Bahwa cinta itu menyakitkan. Bahwa cinta itu tidak rasional. Bahwa cinta itu hanya membuang-buang waktu.
Mereka salah.
Cinta adalah hal terindah yang pernah aku alami. Cinta membuatku bertahan. Cinta membuatku berjuang. Cinta membuatku... hidup.
Meskipun cinta juga membuatku menderita. Meskipun cinta juga membuatku kecewa. Meskipun cinta juga membuatku menangis.
Tapi aku tidak pernah menyesal mencintai Kirana. Aku tidak pernah menyesal memilihnya. Aku tidak pernah menyesal... menunggunya selama tiga puluh tahun.
Karena pada akhirnya, cinta kami menang. Cinta kami bersatu. Cinta kami... abadi.
Jadi, anak-anakku, jangan pernah takut untuk mencintai. Jangan pernah takut untuk dicintai. Karena cinta adalah hadiah terindah dari Tuhan. Cinta adalah... alasan kita hidup.
Pelajaran kesembilan: Keluarga bukan hanya tentang darah.
Aku tidak punya ayah kandung. Ayah tiriku pergi ketika aku masih kecil. Ibuku meninggal ketika aku masih remaja. Aku sendirian. Aku tidak punya siapa-siapa.
Tapi aku punya Kirana. Aku punya Raka. Aku punya Ayu. Aku punya Adi. Aku punya Bima. Aku punya... banyak orang yang mencintaiku, meskipun tidak sedarah denganku.
Keluarga bukan hanya tentang darah. Keluarga adalah tentang orang-orang yang peduli padamu. Orang-orang yang ada untukmu. Orang-orang yang mencintaimu apa adanya.
Jadi, anak-anakku, jangan pernah membatasi keluargamu hanya pada mereka yang sedarah denganmu. Buka hatimu. Terima orang-orang yang mencintaimu. Dan cintailah mereka kembali.
Pelajaran kesepuluh: Hidup adalah tentang perjalanan, bukan tujuan.
Selama hidupku, aku selalu berpikir bahwa kebahagiaan ada di tujuan. Bahwa aku akan bahagia ketika aku kaya. Bahwa aku akan bahagia ketika aku bersama Kirana. Bahwa aku akan bahagia ketika aku...
Tapi aku salah.
Kebahagiaan tidak ada di tujuan. Kebahagiaan ada di perjalanan. Di setiap langkah yang aku ambil. Di setiap air mata yang aku teteskan. Di setiap tawa yang aku bagikan. Di setiap... cinta yang aku berikan.
Jadi, anak-anakku, nikmati setiap momen dalam hidup kalian. Jangan terburu-buru mengejar tujuan. Karena perjalananlah yang membentuk kalian. Perjalananlah yang mengajarkan kalian. Perjalananlah yang... membuat kalian menjadi siapa kalian sekarang.
Penutup
Anak-anakku, aku tidak tahu apakah kalian akan membaca surat ini. Aku tidak tahu apakah kalian akan mengingat pesan-pesan ini. Aku tidak tahu apakah kalian akan... menganggapku sebagai ayah yang baik.
Tapi aku berharap. Aku berharap bahwa suatu hari nanti, ketika kalian dewasa, ketika kalian menghadapi masalah, ketika kalian merasa putus asa, kalian akan mengingat pesan-pesan ini. Kalian akan mengingat bahwa ayah kalian pernah melalui hal-hal yang lebih sulit, tetapi tidak pernah menyerah. Kalian akan mengingat bahwa ayah kalian pernah jatuh, tetapi selalu bangkit. Kalian akan mengingat bahwa ayah kalian pernah dicaci, tetapi tidak pernah membenci.
Karena pada akhirnya, yang terpenting bukanlah seberapa sering kita jatuh. Yang terpenting adalah seberapa sering kita bangkit. Yang terpenting adalah... apa yang kita lakukan setelah kita bangkit.
Aku sayang kalian. Lebih dari apa pun di dunia ini. Lebih dari hidupku sendiri.
Danang Wiratama.
Desa Kapuas Muara, 2008.
Bima selesai membaca.
Seluruh ruangan sunyi.
Hanya suara tangis yang terdengar.
Raka menangis.
Ayu menangis.
Kirana menangis.
Bima menangis.
Adi menangis, meskipun ia tidak sepenuhnya mengerti.
"Om Danang baik," kata Adi, memeluk neneknya. "Om Danang sangat baik. Adi sayang Om Danang."
Kirana memeluk Adi.
Ia memeluknya erat-erat.
"Iya, Nak. Om Danang sangat baik. Om Danang..."
"Bu Kirana, aku akan mengingat pesan-pesan ini," kata Raka, suaranya tegas, penuh keyakinan. "Aku akan mengajarkannya pada anak-anakku. Aku akan..."
"Aku juga, Bu," kata Ayu. "Aku akan menceritakan pada Adi setiap hari. Aku akan..."
"Aku akan menceritakan pada semua orang," kata Bima. "Aku akan memastikan bahwa pesan Danang tidak akan pernah dilupakan. Aku akan..."
Kirana tersenyum.
Senyum yang sama.
Senyum yang dulu menjadi rumah bagi Danang.
Senyum yang membuat Danang merasa bahwa ia tidak sendirian di dunia.
Senyum yang sekarang, di senja hidupnya, masih tetap sama.
"Terima kasih, Danang," bisiknya. "Terima kasih untuk semuanya. Untuk cintamu. Untuk kesetiaanmu. Untuk pengorbananmu. Untuk... untuk wasiatmu. Aku akan menjaganya. Aku akan mengamalkannya. Aku akan..."
"Bu Kirana, Om Danang pasti bangga melihat ibu," kata Adi.
"Kenapa kau bilang begitu, Nak?"
"Karena ibu kuat. Karena ibu tidak menyerah. Karena ibu..."
Kirana menangis.
Ia memeluk Adi.
Memeluknya erat-erat.
"Terima kasih, Nak. Terima kasih."
Bab 56
Cahaya dari Masa Lalu
Satu tahun setelah wasiat Danang dibacakan, setelah air mata mulai kering dan senyum mulai kembali menghiasi wajah, desa Kapuas Muara berubah lagi. Bukan berubah secara fisik, tetapi berubah dalam semangat. Ada energi baru yang mengalir di desa itu. Ada harapan baru yang tumbuh di hati setiap penduduk. Ada mimpi baru yang mulai dirancang oleh generasi muda.
Taman kenangan di tepi sungai tidak lagi hanya menjadi tempat untuk berduka. Ia menjadi tempat untuk belajar. Raka, yang selama ini sibuk dengan bisnisnya di Jakarta, memutuskan untuk pindah kembali ke desa. Ia menjual perusahaannya, menginvestasikan uangnya untuk membangun sebuah pusat pendidikan informal di samping taman kenangan. Namanya: "Sekolah Cinta Danang Wiratama".
Bukan sekolah biasa. Tidak ada gedung megah. Tidak ada laboratorium canggih. Tidak ada perpustakaan ber-AC. Hanya sebuah bangunan kayu sederhana dengan dinding terbuka, menghadap ke sungai, menghadap ke pohon waru, menghadap ke alam. Di dalamnya, rak-rak penuh dengan buku. Buku-buku bekas yang dikumpulkan dari sumbangan warga. Buku-buku tentang kehidupan, tentang cinta, tentang perjuangan, tentang ketabahan.
"Raka, kau yakin dengan keputusanmu?" tanya Dewi, mantan istrinya, yang kini menjadi teman baiknya. Ia datang dari Jakarta, membawa serta kabar baik. "Kau meninggalkan semua yang sudah kau bangun di kota. Bisnis. Jabatan. Gaji besar. Semua."
"Bu, aku sudah lama berpikir tentang ini," jawab Raka, matanya menatap sungai yang mengalir tenang. "Ayah mengajarkanku bahwa uang bukanlah segalanya. Ayah mengajarkanku bahwa kebahagiaan tidak datang dari harta. Ayah mengajarkanku bahwa..."
"Bahwa cinta dan keluarga adalah yang terpenting," sambut Dewi, tersenyum. "Aku tahu, Raka. Aku juga belajar dari ayahmu. Meskipun pernikahan kami gagal, aku belajar banyak dari Danang. Bahwa kesederhanaan adalah kebahagiaan. Bahwa memaafkan adalah kekuatan. Bahwa..."
"Bu Dewi, apa ibu tidak menyesal menikah dengan ayah?" tanya Raka, matanya penuh rasa ingin tahu.
Dewi menggeleng. "Tidak, Raka. Aku tidak menyesal. Meskipun ayahmu tidak pernah mencintaiku, aku bersyukur pernah menjadi bagian dari hidupnya. Aku bersyukur karena dari pernikahan itu, lahirlah kau. Aku bersyukur karena..."
"Karena ibu belajar banyak dari ayah?"
Dewi mengangguk. "Aku belajar bahwa cinta tidak harus memiliki. Aku belajar bahwa kebahagiaan tidak harus sempurna. Aku belajar bahwa..."
"Bahwa hidup adalah tentang memberi, bukan menerima."
"Kau bijak, Raka. Seperti ayahmu."
"Aku tidak bijak, Bu. Aku hanya..."
"Kau bijak, Nak. Aku bisa melihatnya dari matamu. Dari caramu..."
Dari caramu memandang dunia, Bu?
Dewi tersenyum. "Dari caramu mencintai. Tanpa pamrih. Tanpa mengharapkan imbalan. Seperti ayahmu."
Mereka berdua terdiam. Hanya suara sungai. Hanya suara angin. Hanya suara burung.
"Bu Dewi, aku ingin ibu tinggal di sini. Bersama aku. Bersama Ayu. Bersama Bu Kirana. Bersama..."
Dewi menggeleng. "Aku tidak bisa, Raka. Aku punya kehidupan di Jakarta. Aku punya..."
"Tapi ibu sendirian di sana. Ibu tidak punya siapa-siapa. Ibu..."
"Aku punya teman-teman, Raka. Aku punya kegiatan sosial. Aku punya..."
"Tapi ibu tidak punya keluarga, Bu."
Dewi menangis. Ia memeluk Raka. "Kau keluargaku, Raka. Kau satu-satunya..."
"Kalau begitu, ibu tinggal di sini. Bersama aku. Kita bangun sekolah ini bersama. Kita ajarkan anak-anak desa. Kita..."
"Raka, aku bukan guru. Aku tidak bisa..."
"Bu Dewi bisa. Bu Dewi bisa mengajarkan banyak hal. Bu Dewi bisa..."
Dewi tersenyum. "Baik, Raka. Aku coba. Tapi jangan harap aku bisa seperti ayahmu. Aku tidak sebaik dia. Aku tidak..."
"Tidak ada yang bisa seperti ayah, Bu. Tapi kita bisa belajar dari dia. Kita bisa..."
"Kita bisa melanjutkan perjuangannya."
Raka mengangguk. "Iya, Bu. Kita bisa melanjutkan perjuangannya."
Sekolah Cinta Danang Wiratama dibuka pada hari Minggu, di bawah pohon waru yang rindang, di tepi sungai yang tenang. Upacara pembukaan sederhana. Tidak ada menteri. Tidak ada pejabat. Tidak ada artis. Hanya warga desa. Hanya anak-anak. Hanya orang-orang yang mencintai Danang.
Kirana berdiri di depan podium kayu sederhana. Ia memegang mikrofon, tangannya gemetar, matanya basah.
"Selamat pagi, anak-anak. Selamat pagi, bapak-ibu. Selamat pagi, semua."
"Selamat pagi, Bu Kirana!" seru anak-anak serempak, suara mereka riang, penuh semangat.
"Hari ini, kita meresmikan Sekolah Cinta Danang Wiratama. Sekolah ini bukan sekolah biasa. Di sini, kalian tidak akan belajar matematika, fisika, kimia, atau bahasa Inggris. Di sini, kalian akan belajar tentang kehidupan. Tentang cinta. Tentang perjuangan. Tentang..."
"Tentang apa, Bu?" tanya seorang anak laki-laki dari barisan depan.
"Tentang menjadi manusia yang baik, Nak. Tentang menjadi manusia yang berguna bagi orang lain. Tentang..."
"Bu Kirana, kenapa sekolah ini dinamai Om Danang?" tanya seorang anak perempuan dengan pigtails dan baju merah muda.
Kirana tersenyum. "Karena Om Danang adalah guru terbaik yang pernah aku kenal. Om Danang mengajarkan aku arti kesetiaan. Om Danang mengajarkan aku arti..."
"Om Danang mengajarkan Bu Kirana tentang cinta, ya, Bu?" tanya anak itu lagi, matanya polos, penuh rasa ingin tahu.
Kirana tertawa. "Iya, Nak. Om Danang mengajarkan aku tentang cinta. Cinta yang tidak pernah mati. Cinta yang..."
"Bu Kirana, aku juga mau belajar cinta. Aku mau punya pacar," kata anak laki-laki di barisan depan, membuat semua orang tertawa.
Kirana menggeleng. "Kau masih kecil, Nak. Belajar dulu yang baik. Nanti kalau sudah besar, kau bisa mencari pacar."
"Tapi Om Danang sudah punya pacar waktu masih kecil, kan, Bu? Om Danang punya Bu Kirana."
Semua orang terdiam.
Suasana berubah.
Ada yang menangis.
Ada yang terisak.
Ada yang hanya diam, menatap Kirana, menunggu jawabannya.
Kirana menghela napas. "Iya, Nak. Om Danang sudah punya pacar waktu masih kecil. Tapi Om Danang tidak mengganggu sekolahnya. Om Danang tetap belajar. Om Danang tetap..."
"Om Danang tetap apa, Bu?"
"Om Danang tetap berjuang. Untuk masa depannya. Untuk keluarganya. Untuk..."
"Untuk Bu Kirana?"
Kirana mengangguk. "Untuk Bu Kirana. Untuk kalian semua. Untuk..."
"Bu Kirana, aku janji akan belajar sungguh-sungguh. Aku janji akan menjadi anak yang baik. Aku janji akan..."
"Kau bisa, Nak. Aku percaya."
Raka berdiri di samping Kirana. Ia memegang mikrofon, matanya berkaca-kaca.
"Anak-anak, hari ini kita memulai sesuatu yang baru. Sesuatu yang belum pernah ada di desa ini sebelumnya. Sebuah sekolah yang tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai kehidupan. Nilai-nilai yang diajarkan ayahku. Nilai-nilai yang..."
"Apa itu, Pak Raka?" tanya anak yang sama.
"Kesederhanaan, Nak. Kejujuran. Kesetiaan. Ketabahan. Kerja keras. Pantang menyerah. Memaafkan. Mencintai. Berbagi. Bersyukur. Itu yang diajarkan ayahku. Itu yang akan kita ajarkan di sini."
"Pak Raka, aku bisa ikut? Aku bisa belajar?" tanya seorang anak perempuan dari barisan belakang, dengan pakaian lusuh, dengan wajah kotor, dengan mata yang penuh harap.
"Semua bisa ikut, Nak. Sekolah ini gratis. Tidak dipungut biaya. Cukup bawa semangat. Cukup bawa..."
"Bawa apa, Pak?"
"Bawa hati yang bersih, Nak. Bawa niat yang tulus. Bawa..."
"Bawa cinta, Pak?"
Raka tersenyum. "Bawa cinta, Nak. Cinta kepada Tuhan. Cinta kepada orang tua. Cinta kepada sesama. Cinta kepada..."
"Kepada siapa lagi, Pak?"
"Kepada diri sendiri, Nak. Karena sebelum kita bisa mencintai orang lain, kita harus mencintai diri sendiri terlebih dahulu."
Anak-anak bertepuk tangan.
Warga desa bersorak.
Kirana menangis.
Bima tersenyum.
Ayu memeluk Adi.
Dan di atas sana, di tempat yang tidak bisa dilihat mata, Danang tersenyum. Ia tersenyum melihat anak-anak desanya belajar. Ia tersenyum melihat Raka melanjutkan perjuangannya. Ia tersenyum melihat Kirana bahagia. Ia tersenyum melihat cinta yang tidak pernah mati.
Bab 57
Generasi Penerus
Lima tahun setelah Sekolah Cinta Danang Wiratama berdiri, desa Kapuas Muara berubah lagi. Bukan hanya fisik, tetapi juga cara berpikir penduduknya. Anak-anak yang dulu masih kecil, sekarang sudah remaja. Remaja yang dulu suka bermain kejar-kejaran, sekarang sudah duduk di bangku SMA, bahkan ada yang sudah kuliah di kota. Dan yang paling membanggakan, beberapa di antara mereka memilih untuk kembali ke desa setelah lulus, untuk mengabdi, untuk mengajar, untuk melanjutkan apa yang telah dimulai oleh Danang dan Raka.
Adi, cucu Ayu yang dulu masih bermain mobil-mobilan di tanah, sekarang sudah berusia sepuluh tahun. Ia duduk di kelas lima SD, di sekolah desa yang masih sederhana, tetapi semangat belajarnya luar biasa. Setiap hari, sebelum berangkat sekolah, ia mampir ke rumah Kirana untuk mencium tangan neneknya, meminta restu, dan mendengarkan cerita tentang Om Danang.
"Nenek, ceritakan lagi tentang Om Danang," pinta Adi suatu pagi, duduk di lantai ruang tamu, bersandar di kaki Kirana yang duduk di kursi rotan.
Kirana tersenyum. "Cerita apa lagi, Nak? Nenek sudah cerita semua. Nenek sudah..."
"Cerita tentang waktu Nenek dan Om Danang berpisah. Cerita tentang surat-surat yang tidak sampai. Cerita tentang..."
"Nak, cerita itu sedih. Nenek tidak mau Adi sedih. Nenek tidak mau..."
"Adi tidak sedih, Nek. Adi ingin belajar. Adi ingin tahu bagaimana rasanya menunggu tiga puluh tahun. Adi ingin..."
"Kenapa kau ingin tahu, Nak?"
Adi menatap Kirana dengan mata bulatnya, mata yang penuh dengan ketulusan. "Karena suatu hari nanti, Adi juga akan mencintai seseorang. Adi juga akan menunggu. Adi juga akan..."
Kirana terkejut. "Kau masih kecil, Nak. Belum waktunya untuk memikirkan cinta. Belum waktunya untuk..."
"Tapi Om Danang sudah mencintai Nenek sejak usia tujuh tahun, Nek. Om Danang..."
"Itu berbeda, Nak. Om Danang..."
"Kenapa berbeda, Nek? Cinta tetap cinta. Tidak peduli usia. Tidak peduli..."
Kirana menghela napas. Ia memandang cucunya, memandang mata polos yang penuh dengan rasa ingin tahu, memandang semangat yang membara di dadanya.
"Baiklah, Nak. Nenek ceritakan. Tapi kau harus janji sesuatu."
"Apa, Nek?"
"Kau harus janji bahwa kau tidak akan melakukan hal-hal bodoh seperti Nenek dulu. Kau harus janji bahwa kau akan jujur pada orang yang kau cintai. Kau harus janji bahwa kau tidak akan membiarkan orang lain menghancurkan kebahagiaanmu. Kau harus..."
"Adi janji, Nek. Adi janji."
Kirana memeluk Adi. Ia memeluknya erat-erat, seperti tidak ingin melepaskan, seperti takut kehilangan, seperti takut cucunya akan mengulangi kesalahannya.
"Nak, waktu itu Nenek dan Om Danang berpisah karena surat-surat yang tidak sampai. Om Danang tidak pernah menerima surat Nenek. Nenek tidak pernah menerima surat Om Danang. Kami berdua saling merindukan, tetapi tidak pernah tahu."
"Kenapa surat-surat itu tidak sampai, Nek?"
"Karena ada orang yang menahannya, Nak. Karena ada orang yang iri. Karena ada orang yang..."
"Pak Arman?"
Kirana mengangguk. "Pak Arman. Sahabat Om Danang. Sahabat Nenek. Orang yang kami percayai. Orang yang..."
"Kenapa Pak Arman tega melakukan itu, Nek? Kenapa Pak Arman..."
"Karena Pak Arman juga mencintai Nenek, Nak. Karena Pak Arman iri melihat Nenek dan Om Danang bahagia. Karena Pak Arman..."
"Tapi Pak Arman sudah minta maaf, kan, Nek? Pak Arman sudah..."
"Pak Arman sudah minta maaf. Pak Arman sudah menyesal. Pak Arman sudah..."
"Apakah Nenek memaafkan Pak Arman?"
Kirana tersenyum. "Nenek sudah memaafkan Pak Arman, Nak. Sejak lama. Sejak sebelum Pak Arman meninggal. Nenek..."
"Pak Arman sudah meninggal, Nek?"
"Pak Arman meninggal dua tahun lalu, Nak. Setelah sakit lama. Setelah..."
"Apakah Pak Arman bahagia sebelum meninggal, Nek?"
Kirana mengangguk. "Pak Arman bahagia, Nak. Karena ia sudah diampuni. Karena ia sudah..."
"Karena ia sudah mencintai dengan tulus, Nek?"
"Karena ia sudah melepaskan, Nak. Karena ia sudah..."
"Melepaskan apa, Nek?"
"Melepaskan keinginannya untuk memiliki. Melepaskan rasa irinya. Melepaskan..."
"Melepaskan cintanya pada Nenek?"
Kirana mengangguk lagi. "Melepaskan cintanya pada Nenek. Agar ia bisa mencintai dirinya sendiri. Agar ia bisa..."
"Pak Arman tidak menikah, kan, Nek?"
"Tidak, Nak. Pak Arman tidak pernah menikah. Pak Arman tidak pernah punya anak. Pak Arman..."
"Kasihan Pak Arman. Pak Arman sendirian. Pak Arman..."
"Pak Arman tidak sendirian, Nak. Pak Arman punya kami. Pak Arman punya..."
"Pak Arman punya siapa, Nek?"
"Pak Arman punya Nenek. Punya Ayu. Punya Raka. Punya Bima. Punya semua orang yang peduli padanya. Pak Arman..."
"Tapi Pak Arman tidak punya istri, Nek. Pak Arman tidak punya anak. Pak Arman..."
"Kadang, Nak, kebahagiaan tidak selalu datang dari memiliki istri atau anak. Kebahagiaan bisa datang dari hal-hal lain. Dari sahabat. Dari keluarga. Dari..."
"Dari memaafkan, Nek?"
Kirana tersenyum. "Dari memaafkan, Nak. Dari melepaskan. Dari..."
"Dari mencintai tanpa memiliki?"
"Iya, Nak. Dari mencintai tanpa memiliki."
Adi terdiam. Ia memandang neneknya, memandang mata yang penuh dengan kebijaksanaan, memandang senyum yang tetap sama meskipun usia terus bertambah.
"Nek, Adi sayang Nenek," kata Adi, tiba-tiba memeluk Kirana. "Adi sayang Nenek lebih dari apa pun."
Kirana menangis. Ia memeluk cucunya. "Nenek juga sayang Adi, Nak. Nenek juga..."
Sementara itu, di taman kenangan, Raka dan Ayu sedang duduk di bangku kayu di bawah pohon waru. Mereka berbincang tentang masa depan sekolah, tentang anak-anak desa, tentang mimpi-mimpi yang belum tercapai.
"Raka, apa kau tidak bosan tinggal di desa?" tanya Ayu, matanya menatap sungai yang mengalir tenang. "Dulu kau orang kota. Dulu kau punya bisnis besar. Dulu kau..."
"Ayu, aku sudah lelah dengan hiruk-pikuk kota. Aku sudah lelah dengan persaingan. Aku sudah lelah dengan..."
"Kau lelah dengan apa, Raka?"
"Aku lelah dengan kepalsuan, Ayu. Di kota, orang-orang berpura-pura bahagia. Di kota, orang-orang berpura-pura kaya. Di kota, orang-orang..."
"Di kota, orang-orang lupa pada nilai-nilai kehidupan."
Raka mengangguk. "Di kota, orang-orang terlalu sibuk mengejar uang, mengejar jabatan, mengejar status. Mereka lupa pada keluarga. Mereka lupa pada sahabat. Mereka lupa pada..."
"Mereka lupa pada diri mereka sendiri."
"Kau benar, Ayu. Mereka lupa pada diri mereka sendiri. Mereka lupa apa yang membuat mereka bahagia. Mereka lupa..."
"Tapi kau tidak lupa, Raka. Kau memilih untuk kembali. Kau memilih untuk..."
"Aku memilih untuk mengikuti jejak ayahku. Aku memilih untuk..."
"Kau memilih untuk hidup sederhana, seperti ayahmu."
Raka tersenyum. "Ayahku mengajarkan bahwa kesederhanaan adalah kebahagiaan. Ayahku mengajarkan bahwa..."
"Ayahmu mengajarkan bahwa cinta tidak pernah mati."
"Kau benar, Ayu. Ayahku mengajarkan bahwa cinta tidak pernah mati. Cinta hanya berubah wujud. Cinta hanya..."
"Cinta hanya pindah dari satu generasi ke generasi berikutnya."
Raka menatap Ayu. Matanya berkaca-kaca. "Ayu, apa kau pernah berpikir untuk menikah lagi? Setelah suamimu meninggal? Setelah..."
Ayu menggeleng. "Aku tidak berpikir untuk menikah lagi, Raka. Aku sudah bahagia dengan Adi. Aku sudah bahagia dengan..."
"Kau bahagia sendirian, Ayu?"
"Aku tidak sendirian, Raka. Aku punya Adi. Aku punya Ibu. Aku punya kau. Aku punya..."
"Tapi kau tidak punya suami, Ayu. Kau tidak punya..."
"Aku tidak butuh suami, Raka. Aku sudah punya cinta. Cinta dari Adi. Cinta dari Ibu. Cinta dari..."
"Dari ayahmu?"
Ayu mengangguk. "Dari ayahku. Meskipun ayahku sudah tiada, cintanya masih ada. Masih terasa. Masih..."
"Kau kuat, Ayu. Kau sangat kuat."
"Aku tidak kuat, Raka. Aku hanya..."
"Kau kuat, Ayu. Aku bisa melihatnya dari matamu. Dari caramu..."
"Dari caraku apa, Raka?"
"Dari caramu menghadapi hidup. Dari caramu..."
Ayu tersenyum. "Terima kasih, Raka. Tapi aku hanya perempuan biasa. Aku hanya..."
"Kau tidak biasa, Ayu. Kau istimewa. Kau..."
"Sudahlah, Raka. Jangan memuji aku terus. Aku tidak terbiasa."
Mereka berdua tertawa.
Tertawa di tepi sungai.
Tertawa di bawah pohon waru.
Tertawa sebagai sahabat.
Tertawa sebagai keluarga.
Di sekolah, anak-anak sedang belajar dengan Bima. Bima sudah sangat tua, usianya sudah mendekati delapan puluh tahun. Tubuhnya bungkuk. Langkahnya lambat. Matanya kabur. Tapi semangatnya masih membara. Ia masih ingin mengajar. Ia masih ingin berbagi. Ia masih ingin...
"Anak-anak, hari ini kita akan belajar tentang kesederhanaan," kata Bima, suaranya parau, tetapi masih lantang.
"Pak Bima, apa itu kesederhanaan?" tanya seorang anak perempuan di barisan depan.
"Kesederhanaan adalah ketika kita merasa cukup dengan apa yang kita miliki. Ketika kita tidak iri pada orang lain. Ketika kita..."
"Pak Bima, apa kita tidak boleh bermimpi menjadi kaya?" tanya seorang anak laki-laki dengan kacamata tebal.
Bima tersenyum. "Boleh, Nak. Menjadi kaya tidak salah. Yang salah adalah ketika kita mengejar kekayaan dengan cara yang tidak halal. Yang salah adalah ketika kita lupa pada orang lain. Yang salah adalah ketika kita..."
"Ketika kita sombong, Pak?"
"Ketika kita sombong, Nak. Ketika kita merasa lebih baik dari orang lain. Ketika kita..."
"Pak Bima, Om Danang dulu miskin, kan, Pak? Tapi Om Danang tidak sombong. Om Danang..."
"Om Danang tidak pernah sombong, Nak. Meskipun ia miskin, ia tetap rendah hati. Meskipun ia..."
"Meskipun ia dicaci, ia tidak membenci."
Bima mengangguk. "Om Danang mengajarkan kita bahwa harga diri tidak ditentukan oleh harta. Harga diri ditentukan oleh..."
"Oleh apa, Pak?"
"Oleh sikap kita. Oleh perilaku kita. Oleh..."
"Oleh hati kita, Pak?"
Bima tersenyum. "Oleh hati kita, Nak. Hati yang bersih. Hati yang tulus. Hati yang..."
"Hati yang penuh cinta, Pak?"
"Penuh cinta, Nak. Cinta kepada Tuhan. Cinta kepada orang tua. Cinta kepada sesama. Cinta kepada..."
"Kepada siapa lagi, Pak?"
"Kepada diri sendiri, Nak. Karena sebelum kita bisa mencintai orang lain, kita harus mencintai diri sendiri terlebih dahulu."
Anak-anak bertepuk tangan.
Bima tersenyum.
Ia memandang anak-anak di depannya.
Anak-anak yang masih polos.
Anak-anak yang masih penuh semangat.
Anak-anak yang akan meneruskan perjuangan Danang.
Anak-anak yang akan menjaga cinta agar tidak pernah mati.
Bab 58
Cinta yang Tidak Pernah Mati
Tahun 2015. Tujuh tahun telah berlalu sejak Danang Wiratama meninggal. Tujuh tahun sejak Kirana menaruh pita biru di atas peti kayu nangka. Tujuh tahun sejak Sekolah Cinta Danang Wiratama berdiri di tepi sungai. Tujuh tahun sejak generasi baru mulai belajar tentang cinta, tentang kesetiaan, tentang pengorbanan, tentang memaafkan.
Desa Kapuas Muara kini berbeda. Bukan desa terpencil lagi. Bukan desa yang hanya dikenal karena kebakaran gudang beras dan tuduhan terhadap Danang. Kini desa itu dikenal sebagai desa pendidikan. Sebagai desa yang melahirkan generasi-generasi muda yang berkarakter. Sebagai desa yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan kepada siapa pun yang mau belajar.
Banyak pengunjung datang dari berbagai daerah. Bukan untuk berwisata. Bukan untuk melihat pemandangan. Tapi untuk belajar. Belajar dari kisah Danang dan Kirana. Belajar dari perjuangan mereka. Belajar dari cinta yang tidak pernah mati.
"Sekolah Cinta Danang Wiratama" kini memiliki cabang di tiga kota. Raka yang memimpin pengembangannya. Ia tidak sendiri. Ia dibantu oleh lulusan-lulusan pertama sekolah tersebut. Anak-anak desa yang dulu masih kecil, kini sudah dewasa, sudah sarjana, sudah kembali untuk mengabdi.
"Nak, kau tidak menyesal kembali ke desa?" tanya Kirana suatu sore, ketika ia duduk di beranda rumahnya, ditemani oleh seorang perempuan muda bernama Sari, lulusan pertama sekolah itu, yang kini menjadi guru di cabang Jakarta.
Sari tersenyum. "Tidak, Bu. Saya tidak menyesal. Justru saya bersyukur. Bersyukur karena bisa mengabdi. Bersyukur karena bisa..."
"Bisa apa, Nak?"
"Bisa melanjutkan perjuangan Om Danang, Bu. Om Danang mengajarkan saya bahwa hidup bukan hanya tentang diri sendiri. Hidup adalah tentang..."
"Tentang memberi, Nak. Tentang berbagi. Tentang..."
"Tentang mencintai tanpa pamrih, Bu."
Kirana menatap Sari. Matanya berkaca-kaca. "Kau tahu, Nak? Dulu, ketika Danang masih hidup, ia sering berkata, 'Kirana, suatu hari nanti, akan ada generasi yang meneruskan perjuangan kita. Mereka tidak akan mengalami penderitaan seperti kita. Mereka akan...'"
"Bu, Om Danang benar. Kami tidak mengalami penderitaan seperti Om Danang. Tapi kami belajar dari penderitaannya. Kami belajar dari..."
"Kami belajar dari kesalahannya, Bu," sambut Sari. "Kami belajar bahwa cinta harus diperjuangkan. Bahwa cinta tidak boleh disia-siakan. Bahwa cinta..."
"Bahwa cinta adalah segalanya, Nak."
Sari mengangguk. "Cinta adalah segalanya, Bu. Cinta adalah alasan kita hidup. Cinta adalah..."
"Sudah, Nak. Jangan terlalu serius. Aku jadi ingin menangis."
Sari tertawa. "Maaf, Bu. Saya tidak bermaksud membuat ibu sedih. Saya hanya..."
"Kau tidak membuatku sedih, Nak. Kau membuatku bahagia. Bahagia karena melihat anak-anak muda seperti kau mau meneruskan perjuangan Danang. Bahagia karena..."
"Karena cinta tidak pernah mati, Bu."
Kirana tersenyum. "Karena cinta tidak pernah mati, Nak. Cinta hanya..."
"Cinta hanya berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya."
Di taman kenangan, di bawah pohon waru, Adi yang sekarang sudah berusia lima belas tahun, duduk bersama teman-temannya. Ia sudah remaja. Tingginya sudah melebihi neneknya. Suaranya sudah berubah menjadi berat. Kumis tipis mulai tumbuh di bibir atasnya. Tapi matanya masih sama. Mata yang polos. Mata yang penuh rasa ingin tahu. Mata yang mewarisi semangat Om Danang.
"Adi, apa kau punya pacar?" tanya salah seorang temannya, seorang perempuan bernama Maya, dengan rambut sebahu dan lesung pipit di pipi kirinya.
Adi tersenyum malu. "Belum, May. Aku masih fokus belajar. Nenek bilang..."
"Nenek bilang apa?"
"Nenek bilang, jangan terburu-buru mencari cinta. Cinta sejati akan datang pada waktunya. Cinta sejati tidak perlu..."
"Tidak perlu dicari, ya? Cinta sejati akan datang sendiri."
Adi mengangguk. "Seperti Om Danang dan Nenek Kirana. Mereka tidak mencari satu sama lain. Mereka bertemu. Mereka jatuh cinta. Mereka..."
"Mereka berpisah selama tiga puluh tahun."
"Iya. Tiga puluh tahun. Tapi cinta mereka tidak pernah mati. Cinta mereka..."
"Apakah kau bisa menunggu selama itu, Adi?" tanya Maya, matanya serius.
Adi terdiam. Ia memandang sungai yang mengalir tenang. Ia memandang pohon waru yang rindang. Ia memandang taman kenangan yang penuh dengan bunga.
"Aku tidak tahu, May. Aku tidak tahu apakah aku bisa menunggu selama itu. Tapi yang aku tahu, jika aku benar-benar mencintai seseorang, aku akan berusaha. Aku akan berjuang. Aku akan..."
"Kau akan apa, Adi?"
"Kau akan menunggu, May. Selama yang diperlukan."
Maya tersenyum. "Kau romantis, Adi. Seperti Om Danang."
"Aku tidak romantis, May. Aku hanya..."
"Kau hanya apa?"
"Aku hanya belajar dari Om Danang. Aku hanya..."
"Kau hanya ingin mencintai dengan tulus, seperti Om Danang."
Adi mengangguk. "Aku ingin mencintai dengan tulus, May. Tanpa pamrih. Tanpa..."
"Tanpa mengharapkan imbalan?"
"Tanpa mengharapkan imbalan, May. Karena cinta sejati tidak pernah meminta imbalan. Cinta sejati hanya..."
"Hanya memberi?"
Adi mengangguk lagi. "Hanya memberi, May. Hanya..."
Maya meraih tangan Adi. Tangannya yang kecil dan hangat, menggenggam tangan Adi yang mulai besar.
"Adi, aku suka kau," katanya, suaranya pelan, hampir seperti bisikan.
Adi terkejut. "Apa?"
"Aku suka kau, Adi. Sejak kita kecil. Sejak kau masih bermain mobil-mobilan di tanah. Sejak kau..."
"May, jangan bercanda. Aku tidak suka..."
"Aku tidak bercanda, Adi. Aku serius. Aku suka kau. Aku..."
"Tapi kita masih muda, May. Kita masih harus belajar. Kita masih..."
"Belajar sambil mencintai, Adi. Tidak ada yang melarang. Om Danang juga..."
"Om Danang lain, May. Om Danang..."
"Om Danang juga muda ketika ia jatuh cinta pada Nenek Kirana. Om Danang juga..."
"Tapi Om Danang tidak pacaran, May. Om Danang hanya..."
"Om Danang hanya mencintai dalam diam?"
Adi mengangguk. "Om Danang hanya mencintai dalam diam. Sampai waktu yang tepat. Sampai..."
"Sampai kapan, Adi?"
"Sampai mereka dewasa. Sampai mereka siap. Sampai..."
"Kau mau menunggu sampai kita dewasa, Adi?"
Adi menatap Maya. Matanya yang polos, yang penuh dengan rasa ingin tahu, menatap mata Maya yang juga polos, yang juga penuh dengan rasa ingin tahu.
"Aku mau, May. Aku mau menunggu. Sampai kita dewasa. Sampai kita siap. Sampai..."
"Sampai kita bisa mencintai dengan dewasa, Adi?"
"Sampai kita bisa mencintai dengan dewasa, May. Tanpa menyakiti. Tanpa..."
"Tanpa mengulangi kesalahan Om Danang dan Nenek Kirana?"
Adi mengangguk. "Tanpa mengulangi kesalahan mereka, May. Kita akan belajar dari mereka. Kita akan..."
"Kita akan mencintai dengan jujur. Dengan terbuka. Dengan..."
"Dengan tidak menyembunyikan apa pun."
Maya tersenyum. "Kau dewasa, Adi. Kau lebih dewasa dari usiamu."
"Aku tidak dewasa, May. Aku hanya..."
"Kau hanya apa?"
"Aku hanya ingin mencintai dengan benar. Agar tidak ada yang tersakiti. Agar tidak ada yang..."
"Agar tidak ada yang menangis seperti Nenek Kirana?"
Adi mengangguk. "Agar tidak ada yang menangis seperti Nenek Kirana. Agar tidak ada yang..."
"Aku janji, Adi. Aku tidak akan membuatmu menangis."
"Aku juga janji, May. Aku tidak akan membuatmu menangis."
Mereka berpelukan.
Berpelukan di bawah pohon waru.
Berpelukan di tepi sungai.
Berpelukan sebagai generasi penerus.
Generasi yang belajar dari kesalahan masa lalu.
Generasi yang akan mencintai dengan lebih baik.
Generasi yang akan menjaga cinta agar tidak pernah mati.
Sementara itu, di dalam rumah, Kirana sedang membaca surat-surat lama. Surat-surat yang dulu ia tulis untuk Danang. Surat-surat yang tidak pernah sampai. Surat-surat yang kini menjadi kenangan yang tak ternilai.
"Ibu, kenapa ibu menangis?" tanya Ayu, yang baru saja masuk ke ruang tamu, membawa nampan berisi teh jahe dan pisang goreng.
Kirana mengusap air matanya. "Tidak, Nak. Ibu tidak menangis. Ibu hanya..."
"Ibu hanya merindukan Om Danang?"
Kirana mengangguk. "Ibu merindukan Danang, Nak. Setiap hari. Setiap malam. Setiap kali..."
"Ibu, Om Danang pasti tersenyum melihat ibu. Om Danang pasti..."
"Apakah Danang tersenyum, Nak? Apakah ia bangga padaku?"
"Ibu, Om Danang pasti bangga. Om Danang pasti..."
"Kenapa kau yakin, Nak?"
Ayu duduk di samping ibunya, memegang tangannya. "Karena ibu kuat, Bu. Karena ibu tidak menyerah. Karena ibu..."
"Ibu tidak kuat, Nak. Ibu lemah. Ibu..."
"Ibu kuat, Bu. Ibu sudah membuktikan. Selama tiga puluh tahun. Ibu menunggu. Ibu..."
"Ibu menunggu karena ibu cinta Danang, Nak. Bukan karena ibu kuat."
"Cinta adalah kekuatan, Bu. Cinta membuat ibu kuat. Cinta membuat ibu..."
"Cinta membuat ibu bertahan, Nak. Cinta membuat ibu..."
"Cinta membuat ibu hidup, Bu."
Kirana menangis. Ia memeluk Ayu.
"Ayu, ibu sayang kau. Ibu sayang..."
"Aku juga sayang ibu, Bu. Lebih dari apa pun."
Mereka berpelukan.
Berpelukan di ruang tamu.
Berpelukan sebagai ibu dan anak.
Berpelukan sebagai keluarga.
Keluarga yang lahir dari cinta.
Cinta yang tidak pernah mati.
Bab 59
Perjumpaan di Alam Mimpi
Malam itu, setelah semua orang pulang, setelah Adi dan Maya berjanji di bawah pohon waru, setelah Ayu mencuci piring dan merapikan dapur, setelah Raka menelepon dari Jakarta untuk memastikan ibunya baik-baik saja, setelah Bima berjalan pulang dengan tongkatnya yang gemetar, Kirana berbaring di ranjangnya. Ia tidak bisa tidur. Matanya terbuka lebar di kegelapan, menatap langit-langit kamar yang retak, mendengar suara jangkrik dari kejauhan, mendengar suara sungai yang mengalir tenang, mendengar suara angin yang berhembus pelan.
Ia memegang buku gambar Danang di dadanya. Buku yang sudah usang, yang halamannya menguning, yang beberapa halaman sudah lepas. Buku yang berisi gambar-gambar yang dibuat Danang ketika masih kecil. Gambar tentang mereka. Gambar tentang cinta. Gambar tentang kenangan.
"Danang," bisiknya, suaranya pelan, lembut, seperti angin malam yang berhembus. "Apa kau di sini? Apa kau mendengarku? Apa kau..."
Tidak ada jawaban.
Hanya suara jangkrik.
Hanya suara sungai.
Hanya suara angin.
"Danang, aku rindu. Aku rindu senyummu. Aku rindu tawamu. Aku rindu matamu yang gelap. Aku rindu..."
"Kirana."
Kirana terkejut.
Ia duduk di ranjang.
Matanya membesar.
"Danang? Apa kau?"
"Kirana, aku di sini. Di sampingmu. Di hatimu. Di..."
"Aku tidak bisa melihatmu, Danang. Aku tidak bisa..."
"Kau tidak perlu melihatku, Kirana. Cukup kau rasakan. Cukup kau..."
"Tapi aku ingin melihatmu, Danang. Aku ingin memelukmu. Aku ingin..."
"Tutup matamu, Kirana. Tutup matamu dan kau akan melihatku."
Kirana memejamkan mata.
Perlahan.
Dengan hati-hati.
Seperti sedang berdoa.
Seperti sedang berharap.
Seperti sedang memohon.
Dan ketika ia membuka matanya, Danang ada di depannya.
Bukan Danang yang tua, yang sakit, yang lemah.
Danang yang muda.
Danang yang berusia tujuh belas tahun.
Danang yang dulu ia cintai di kota.
Danang yang dulu ia tinggalkan karena surat palsu.
Danang yang dulu ia rindukan setiap hari.
"Danang? Apa ini? Apa ini mimpi?"
"Ya, Kirana. Ini mimpi. Tapi mimpi ini nyata. Mimpi ini..."
"Tapi kau sudah mati, Danang. Kau sudah..."
"Aku memang sudah mati, Kirana. Tapi cinta kita tidak pernah mati. Cinta kita..."
"Bisa bertemu di alam mimpi?"
Danang tersenyum. Senyum yang sama. Senyum yang dulu menjadi rumah bagi Kirana. Senyum yang membuat Kirana merasa bahwa ia tidak sendirian di dunia.
"Iya, Kirana. Cinta kita bisa bertemu di alam mimpi. Di sini, tidak ada waktu. Di sini, tidak ada jarak. Di sini, hanya kita. Hanya cinta. Hanya..."
Kirana menangis.
Ia memeluk Danang.
Memeluknya erat-erat.
"Danang, jangan pergi lagi. Jangan tinggalkan aku lagi. Aku..."
"Aku tidak akan pergi, Kirana. Aku akan selalu di sini. Di setiap mimpimu. Di setiap..."
"Tapi aku tidak bisa terus bermimpi, Danang. Aku harus bangun. Aku harus..."
"Kau harus hidup, Kirana. Kau harus bahagia. Kau harus..."
"Bagaimana aku bisa bahagia tanpa kau, Danang? Bagaimana aku bisa..."
"Kau bisa, Kirana. Kau punya Ayu. Kau punya Adi. Kau punya Raka. Kau punya..."
"Tapi aku tidak punya kau, Danang. Aku tidak punya..."
"Kau punya aku, Kirana. Di hatimu. Di kenanganmu. Di..."
"Aku tidak bisa hidup dengan kenangan, Danang. Aku butuh kau. Aku butuh..."
"Kau kuat, Kirana. Aku tahu. Aku percaya. Aku..."
"Danang, jangan. Jangan tinggalkan aku lagi. Jangan..."
"Kirana, dengarkan aku. Aku tidak punya banyak waktu. Mimpi ini akan segera berakhir. Aku harus..."
"Harus apa, Danang?"
"Harus kembali. Ke alam sana. Ke tempat aku berada. Ke..."
"Bawa aku, Danang. Bawa aku bersamamu. Aku tidak ingin hidup tanpa kau. Aku..."
"Kau tidak bisa, Kirana. Masih ada yang membutuhkanmu di dunia. Masih ada..."
"Ayu sudah dewasa. Adi sudah besar. Raka sudah mandiri. Tidak ada yang..."
"Ada, Kirana. Masih ada yang membutuhkanmu. Masih ada..."
"Siapa, Danang? Siapa yang membutuhkanku?"
"Dirimu sendiri, Kirana. Kau masih membutuhkan dirimu sendiri. Kau masih..."
Kirana terdiam.
Ia menatap Danang.
Matanya yang basah, yang merah, menatap mata Danang yang gelap, yang dalam.
"Danang, apa kau bahagia di sana? Apa kau..."
"Aku bahagia, Kirana. Aku bahagia karena kau bahagia. Aku bahagia karena..."
"Tapi aku tidak bahagia, Danang. Aku tidak..."
"Kau bahagia, Kirana. Aku bisa melihatnya dari matamu. Dari caramu..."
"Dari caraku apa, Danang?"
"Dari caramu tersenyum. Dari caramu tertawa. Dari caramu..."
"Tapi aku menangis setiap malam, Danang. Aku menangis karena..."
"Kau menangis karena kau rindu, Kirana. Bukan karena kau tidak bahagia."
Kirana menghela napas.
Ia memandang Danang.
Lelaki yang dicintainya sejak kecil.
Lelaki yang dinanti selama tiga puluh tahun.
Lelaki yang kini berada di alam yang berbeda.
"Danang, apa kita akan bertemu lagi? Di alam mimpi? Di alam..."
"Kita akan bertemu lagi, Kirana. Setiap kali kau rindu. Setiap kali kau..."
"Setiap kali aku menutup mata?"
Danang mengangguk. "Setiap kali kau menutup mata dan mengingatku, Kirana. Aku akan datang. Aku akan..."
"Kau akan menjemputku?"
"Suatu hari nanti, Kirana. Ketika waktunya tiba. Ketika tugasmu di dunia selesai. Ketika..."
"Aku tidak sabar menunggu, Danang. Aku..."
"Kau harus sabar, Kirana. Masih banyak yang harus kau lakukan. Masih banyak..."
"Apa lagi yang harus aku lakukan, Danang? Aku sudah tua. Aku sudah..."
"Kau harus menjaga anak-anak kita, Kirana. Kau harus mengajarkan mereka. Kau harus..."
"Adi sudah besar. Ayu sudah dewasa. Raka sudah mandiri. Mereka tidak perlu..."
"Mereka butuh kau, Kirana. Mereka butuh nenek. Mereka butuh..."
"Mereka butuh apa, Danang?"
"Mereka butuh cintamu, Kirana. Mereka butuh..."
"Tapi cintaku hanya untukmu, Danang. Sejak dulu. Sampai sekarang. Sampai..."
"Cintamu untukku, Kirana. Tapi perhatianmu, kasih sayangmu, bimbinganmu, semua itu untuk mereka. Untuk..."
"Untuk generasi penerus kita?"
Danang tersenyum. "Untuk generasi penerus kita, Kirana. Mereka akan meneruskan perjuangan kita. Mereka akan..."
"Mereka akan menjaga cinta agar tidak pernah mati."
Danang mengangguk. "Mereka akan menjaga cinta agar tidak pernah mati, Kirana. Mereka akan..."
"Danang, aku sayang kau. Aku sayang kau. Aku sayang kau."
"Aku juga sayang kau, Kirana. Lebih dari apa pun. Lebih dari..."
"Dari hidupmu?"
"Dari hidupku, Kirana. Dari segalanya."
Mereka berpelukan.
Berpelukan di alam mimpi.
Berpelukan di antara bintang.
Berpelukan di antara cinta.
"Danang, jangan pergi. Jangan..."
"Aku harus pergi, Kirana. Mimpi ini akan segera berakhir. Aku harus..."
"Kapan kita akan bertemu lagi?"
"Malam ini. Besok. Lusa. Setiap kali kau tidur. Setiap kali kau..."
"Setiap kali aku merindukanmu?"
"Setiap kali kau merindukanku, Kirana. Aku akan datang. Aku akan..."
"Kau akan menemaniku?"
"Aku akan menemanimu, Kirana. Sampai kita bertemu di alam yang abadi. Sampai..."
"Sampai kapan, Danang?"
"Sampai selamanya, Kirana. Sampai selamanya."
Danang mulai menghilang.
Perlahan.
Seperti kabut yang ditiup angin.
Seperti mimpi yang berakhir.
"Danang! Jangan pergi! Jangan..."
"Kirana, ingatlah pesanku. Jangan menangis. Jangan bersedih. Aku akan selalu bersamamu. Di..."
"Di mana, Danang? Di mana?"
"Di hatimu, Kirana. Di hatimu. Selamanya."
Danang menghilang.
Kirana sendirian.
Di alam mimpi.
Di antara bintang.
Di antara cinta.
"Danang," bisiknya. "Aku sayang kau. Aku sayang kau. Aku sayang kau."
Ia membuka mata.
Ia kembali ke dunia nyata.
Ke kamarnya yang sunyi.
Ke ranjangnya yang dingin.
Ke buku gambar yang masih ia pegang di dadanya.
"Danang," bisiknya lagi. "Terima kasih. Terima kasih sudah datang. Terima kasih sudah..."
"Bu, ibu menangis? Ada apa?" suara Ayu dari luar pintu.
Kirana mengusap air matanya. "Tidak, Nak. Ibu tidak menangis. Ibu hanya..."
"Ibu hanya bermimpi tentang Om Danang?"
Kirana terkejut. "Kau tahu?"
"Ibu, wajah ibu bersinar. Seperti orang yang baru bertemu kekasihnya. Seperti..."
"Ayu, ibu bertemu Danang. Di alam mimpi. Danang masih muda. Danang..."
"Om Danang bahagia, Bu?"
Kirana mengangguk. "Danang bahagia, Nak. Danang..."
"Om Danang pasti rindu ibu, Bu. Om Danang..."
"Danang rindu, Nak. Tapi ia sabar. Ia menunggu. Ia..."
"Ia menunggu apa, Bu?"
"Ia menunggu ibu di surga, Nak. Ia menunggu..."
"Bu, jangan bicara seperti itu. Ibu masih panjang umur. Ibu masih..."
"Ayu, ibu sudah tua. Ibu tidak tahu kapan ibu akan mati. Tapi yang ibu tahu, ketika ibu mati, ibu akan bersama Danang lagi. Ibu akan..."
"Bu, aku tidak siap kehilangan ibu. Aku tidak..."
"Kau tidak akan kehilangan ibu, Nak. Ibu akan selalu bersamamu. Di hatimu. Di..."
"Tapi aku ingin ibu di sini, Bu. Aku ingin..."
"Ibu di sini, Nak. Selama ibu masih hidup. Selama..."
"Bu, janji. Janji bahwa ibu tidak akan pergi sebelum waktunya. Janji bahwa ibu..."
"Ayu, ibu tidak bisa janji. Hidup dan mati adalah hak Tuhan. Ibu hanya bisa..."
"Bisa apa, Bu?"
"Bisa berdoa. Bisa berusaha. Bisa..."
"Bisa mencintai kami, Bu?"
Kirana tersenyum. "Bisa mencintai kalian, Nak. Sampai akhir hayat. Sampai..."
"Sampai kapan, Bu?"
"Sampai Tuhan memanggil, Nak. Sampai..."
Ayu menangis. Ia memeluk ibunya.
"Bu, aku sayang ibu. Aku sayang..."
"Aku juga sayang kau, Nak. Lebih dari apa pun."
Mereka berpelukan.
Berpelukan di kamar.
Berpelukan sebagai ibu dan anak.
Berpelukan sebagai keluarga.
Keluarga yang lahir dari cinta.
Cinta yang tidak pernah mati.
Bab 60
Senja yang Memulangkan
Tahun 2018. Sepuluh tahun telah berlalu sejak Danang Wiratama meninggal. Sepuluh tahun sejak Kirana menaruh pita biru di atas peti kayu nangka. Sepuluh tahun sejak Sekolah Cinta Danang Wiratama berdiri di tepi sungai. Sepuluh tahun sejak generasi baru mulai belajar tentang cinta, tentang kesetiaan, tentang pengorbanan, tentang memaafkan.
Desa Kapuas Muara kini telah menjadi desa yang dikenal di seluruh Indonesia. Bukan karena kekayaan alamnya. Bukan karena keindahan wisatanya. Tapi karena kisah cintanya. Kisah Danang dan Kirana. Kisah dua insan yang berpisah selama tiga puluh tahun karena surat-surat yang tidak sampai. Kisah dua insan yang akhirnya bersatu di senja hidup mereka. Kisah dua insan yang mengajarkan bahwa cinta tidak pernah mati.
Setiap tahun, ribuan orang datang berziarah ke makam Danang. Mereka datang dari berbagai daerah. Dari berbagai kalangan. Dari berbagai usia. Mereka datang bukan hanya untuk berziarah, tetapi juga untuk belajar. Belajar dari kehidupan Danang. Belajar dari perjuangannya. Belajar dari cintanya.
"Bu Kirana, ada tamu dari Jakarta. Mereka ingin bertemu ibu," kata Ayu suatu pagi, ketika Kirana sedang duduk di beranda, menikmati secangkir teh jahe, ditemani oleh buku gambar Danang yang selalu ia bawa ke mana-mana.
"Ada keperluan apa, Nak?" tanya Kirana, suaranya lemah, matanya sayu. Usianya sudah enam puluh lima tahun. Rambutnya hampir seluruhnya putih. Wajahnya penuh kerutan. Tubuhnya kurus. Tapi matanya masih sama. Mata yang dulu membuat Danang jatuh cinta. Mata yang masih menyimpan cahaya.
"Mereka ingin membuat film tentang Om Danang, Bu. Tentang perjuangan Om Danang. Tentang cinta Om Danang. Tentang..."
Kirana tersenyum. "Film? Tentang Danang? Untuk apa?"
"Untuk menginspirasi orang, Bu. Untuk mengajarkan bahwa cinta tidak pernah mati. Untuk..."
"Katakan pada mereka, Ayu. Aku setuju. Asalkan mereka tidak mengubah cerita. Asalkan mereka..."
"Mereka tidak akan mengubah cerita, Bu. Mereka sudah membaca semua surat. Mereka sudah..."
"Sudah apa, Nak?"
"Mereka sudah jatuh cinta pada Om Danang, Bu. Seperti kita semua."
Kirana tertawa. "Danang memang mudah dicintai. Ia..."
"Ia orang yang baik, Bu. Ia..."
"Ia orang yang sederhana, Nak. Ia tidak pernah..."
"Ia tidak pernah menyerah, Bu. Ia selalu..."
"Ia selalu percaya pada cinta, Nak. Ia selalu..."
"Ia selalu percaya pada ibu, Bu."
Kirana menangis. Ia memeluk Ayu.
"Ayu, terima kasih. Terima kasih sudah menjadi anak yang baik. Terima kasih sudah..."
"Ibu, aku yang harus berterima kasih. Terima kasih sudah menjadi ibu yang baik. Terima kasih sudah..."
"Sudah apa, Nak?"
"Sudah mengajarkan aku arti cinta, Bu. Arti kesetiaan. Arti..."
"Arti pengorbanan, Nak. Arti..."
"Arti kehidupan, Bu."
Mereka berpelukan.
Berpelukan di beranda.
Berpelukan sebagai ibu dan anak.
Berpelukan sebagai keluarga.
Sore itu, Kirana meminta untuk diantar ke makam Danang. Ia ingin berziarah. Untuk terakhir kalinya. Karena ia sudah merasakan bahwa waktunya tidak lama lagi. Tubuhnya semakin lemah. Napasnya semakin pendek. Jantungnya semakin berdebar tidak teratur.
"Ayu, antar ibu ke makam Danang," pinta Kirana, suaranya lemah, matanya sayu.
"Bu, hari sudah sore. Nanti gelap. Besok saja. Besok pagi kita..."
"Ayu, tolong. Ibu tidak tahu apakah besok ibu masih hidup. Ibu ingin..."
"Bu, jangan bicara seperti itu. Ibu masih panjang umur. Ibu masih..."
"Ayu, ibu sudah tua. Ibu sudah lelah. Ibu sudah..."
"Bu, aku tidak siap kehilangan ibu. Aku tidak..."
"Kau tidak akan kehilangan ibu, Nak. Ibu akan selalu bersamamu. Di hatimu. Di..."
"Tapi aku ingin ibu di sini, Bu. Aku ingin..."
"Ayu, tolong. Antar ibu."
Ayu menangis. Ia membantu ibunya berdiri, berjalan pelan ke mobil, membantunya duduk di kursi penumpang, lalu mengemudi perlahan menuju pemakaman di lereng bukit.
Di pemakaman, Kirana berjalan sendiri menuju makam Danang. Ayu menunggu di mobil, menangis, tidak tega melihat ibunya yang semakin lemah.
Kirana berdiri di depan makam Danang. Nisan kayu sederhana dengan tulisan: "Danang Wiratama. Lelaki yang mengajarkan kami arti cinta. 1970-2008."
"Danang, aku datang," bisiknya, suaranya pelan, lembut, seperti angin sore yang berhembus. "Aku datang untuk menjengukmu. Untuk..."
"Kirana."
Kirana terkejut.
Ia menoleh.
Tidak ada siapa pun.
Hanya angin.
Hanya pepohonan.
Hanya suara burung.
"Danang? Apa kau?"
"Kirana, aku di sini. Di sampingmu. Di..."
"Aku tidak bisa melihatmu, Danang. Aku tidak bisa..."
"Kau tidak perlu melihatku, Kirana. Cukup kau rasakan. Cukup kau..."
"Danang, aku rindu. Aku sangat rindu. Aku..."
"Kirana, aku juga rindu. Tapi kita akan segera bertemu. Kita akan..."
"Kapan, Danang? Kapan kita akan bertemu?"
"Sebentar lagi, Kirana. Sebentar lagi. Kau sudah lelah. Kau sudah..."
"Kau tahu, Danang? Aku sudah lelah. Aku sudah sangat lelah. Aku ingin..."
"Kau ingin istirahat, Kirana?"
Kirana mengangguk. "Aku ingin istirahat, Danang. Aku ingin..."
"Kau ingin pulang, Kirana?"
Kirana mengangguk lagi. "Aku ingin pulang, Danang. Aku ingin pulang ke rumah. Rumah kita. Rumah..."
"Rumah di surga, Kirana?"
"Rumah di surga, Danang. Di mana kita bisa bersama selamanya. Tanpa..."
"Tanpa perpisahan. Tanpa air mata. Tanpa..."
"Tanpa sakit. Tanpa..."
"Tanpa usia, Kirana. Kita akan muda lagi. Kita akan..."
"Kita akan tersenyum lagi. Kita akan tertawa lagi. Kita akan..."
"Kita akan mencintai lagi, Kirana. Seperti dulu. Seperti..."
"Seperti pertama kali kita bertemu di tepi sungai."
Danang tersenyum. "Aku menunggumu, Kirana. Di sini. Di surga. Di..."
"Jemput aku, Danang. Jemput aku sekarang. Aku tidak sabar. Aku..."
"Tutup matamu, Kirana. Tutup matamu dan kau akan bersamaku."
Kirana memejamkan mata.
Perlahan.
Dengan hati-hati.
Seperti sedang berdoa.
Seperti sedang berharap.
Seperti sedang memohon.
Dan ketika ia membuka matanya, Danang ada di depannya.
Bukan Danang yang tua, yang sakit, yang lemah.
Danang yang muda.
Danang yang berusia tujuh belas tahun.
Danang yang dulu ia cintai di kota.
Danang yang dulu ia tinggalkan karena surat palsu.
Danang yang dulu ia rindukan setiap hari.
"Danang," bisiknya, suaranya penuh dengan kebahagiaan.
"Kirana," jawab Danang, suaranya penuh dengan cinta.
"Kau datang menjemputku?"
"Aku datang menjemputmu, Kirana. Seperti yang aku janjikan. Seperti..."
"Kita akan bersama selamanya?"
"Kita akan bersama selamanya, Kirana. Tidak ada lagi perpisahan. Tidak ada lagi..."
"Tidak ada lagi air mata, Danang?"
"Tidak ada lagi air mata, Kirana. Hanya kebahagiaan. Hanya..."
"Hanya cinta, Danang?"
"Hanya cinta, Kirana. Cinta yang tidak pernah mati. Cinta yang..."
Kirana tersenyum.
Ia meraih tangan Danang.
Tangannya yang muda, yang hangat, yang kuat.
"Danang, aku siap. Aku siap pulang."
"Tutup matamu, Kirana. Dan ikuti aku."
Kirana memejamkan mata.
Ia merasakan tangan Danang menggenggam tangannya.
Ia merasakan kehangatan.
Ia merasakan kedamaian.
Ia merasakan cinta.
Dan kemudian, ia tidak merasakan apa-apa.
Ayu yang menunggu di mobil, mulai gelisah. Ibunya sudah terlalu lama di makam. Biasanya, hanya sebentar. Lima belas menit. Paling lama setengah jam. Tapi kali ini, sudah hampir satu jam.
Ia turun dari mobil.
Berjalan ke makam Danang.
"Bu... Bu Kirana..."
Ia berhenti.
Kirana duduk di samping makam Danang, bersandar di nisan kayu, matanya terpejam, bibirnya tersenyum.
"Bu... Bu..."
Ayu mendekat.
Ia menyentuh tangan ibunya.
Dingin.
Sangat dingin.
"Ibu... Ibu..."
Ayu menangis.
Ia memeluk ibunya.
"Ibu... jangan tinggalkan aku... Ibu..."
"Tante Ayu, ada apa?" suara Adi dari belakang. Ia datang bersama Maya, yang kini menjadi pacarnya. Mereka sudah lulus SMA dan kuliah di kota yang sama.
Ayu tidak bisa menjawab.
Ia hanya menangis.
Adi mendekat.
Ia melihat neneknya duduk di samping makam Om Danang, tersenyum, matanya terpejam.
"Nenek... Nenek..."
Ia menyentuh tangan neneknya.
Dingin.
"Nenek sudah pergi, Adi," bisik Ayu. "Nenek sudah..."
Adi menangis.
Ia berlutut di samping neneknya.
"Nenek, kenapa nenek pergi? Kenapa nenek..."
"Nenek sudah bahagia, Adi," kata Maya, memegang pundak Adi. "Nenek sudah bertemu Om Danang. Nenek sudah..."
"Tapi aku belum siap kehilangan nenek, May. Aku belum..."
"Kita tidak akan pernah siap, Adi. Tapi kita harus menerima. Kita harus..."
"Kita harus ikhlas, May?"
Kita harus ikhlas, Adi. Karena nenek sudah berjuang cukup lama. Nenek sudah..."
"Nenek sudah pantas beristirahat, May?"
Nenek sudah pantas beristirahat, Adi. Nenek sudah..."
Mereka berpelukan.
Berpelukan di makam.
Berpelukan sebagai keluarga.
Keluarga yang lahir dari cinta.
Cinta yang tidak pernah mati.
Raka datang dari Jakarta.
Ia berlari ke makam.
Menangis.
Memeluk ibunya.
"Ibu... maafkan aku... maafkan aku karena tidak bisa menjaga ibu... maafkan aku karena..."
"Pak Raka, Bu Kirana sudah bahagia," kata Ayu, memegang pundak Raka. "Bu Kirana sudah bersama Om Danang. Bu Kirana..."
"Tapi aku belum sempat meminta maaf, Ayu. Aku belum sempat..."
"Bu Kirana sudah memaafkan bapak, Raka. Bu Kirana sudah..."
"Sejak kapan?"
"Sejak lama, Raka. Sejak sebelum bapak datang ke desa. Bu Kirana..."
"Ibu tidak pernah marah padaku?"
"Ibu tidak pernah marah pada bapak, Raka. Ibu hanya..."
"Ibu hanya sedih karena aku tidak pernah mengakuinya sebagai ibu?"
Ayu mengangguk. "Ibu sedih, Raka. Tapi ibu tidak marah. Ibu..."
"Ibu memaafkan aku?"
"Ibu memaafkan bapak, Raka. Seperti Om Danang memaafkan Pak Arman. Seperti..."
Raka menangis.
Ia memeluk Ayu.
"Terima kasih, Ayu. Terima kasih sudah menjaga ibu. Terima kasih sudah..."
"Aku hanya melakukan tugasku, Raka. Aku hanya..."
"Kau anak yang baik, Ayu. Kau..."
"Aku tidak baik, Raka. Aku hanya..."
"Kau baik, Ayu. Seperti ibumu. Seperti..."
"Seperti Om Danang, Raka?"
Raka mengangguk. "Seperti Om Danang, Ayu. Sederhana. Tulus. Penuh cinta."
Mereka berpelukan.
Berpelukan sebagai saudara.
Berpelukan sebagai keluarga.
Pemakaman Kirana dilaksanakan keesokan harinya.
Seluruh desa hadir.
Bukan hanya warga desa Kapuas Muara, tetapi juga warga dari desa-desa tetangga.
Bahkan dari kota.
Bahkan dari Jakarta.
Mereka datang untuk memberi penghormatan terakhir.
Untuk Kirana.
Untuk Danang.
Untuk cinta yang tidak pernah mati.
"Bu Kirana adalah perempuan hebat," kata Bima dalam sambutannya. Suaranya parau, tubuhnya lemah, matanya kabur. Tapi semangatnya masih membara. "Ia menunggu Danang selama tiga puluh tahun. Tiga puluh tahun! Siapa yang bisa menunggu selama itu? Hanya Kirana. Hanya perempuan yang benar-benar mencintai."
"Pak Bima, apa rahasia kesetiaan Bu Kirana?" tanya seorang anak muda dari Jakarta.
Bima tersenyum. "Cinta, Nak. Cinta sejati. Cinta yang tidak pernah mati. Cinta yang..."
"Cinta yang bagaimana, Pak?"
"Cinta yang tulus, Nak. Cinta yang ikhlas. Cinta yang..."
"Cinta yang tidak mengharapkan imbalan?"
Bima mengangguk. "Cinta yang tidak mengharapkan imbalan, Nak. Cinta yang..."
"Seperti cinta Om Danang pada Bu Kirana?"
"Seperti cinta Om Danang pada Bu Kirana, Nak. Mereka saling mencintai tanpa pamrih. Mereka..."
"Mereka mengajarkan kita arti cinta sejati, Pak?"
Bima mengangguk lagi. "Mereka mengajarkan kita bahwa cinta sejati tidak pernah mati. Cinta sejati hanya..."
"Hanya berubah wujud, Pak?"
"Berubah wujud, Nak. Dari pertemuan menjadi kenangan. Dari suara menjadi bisikan. Dari..."
"Dari pelukan menjadi doa, Pak?"
"Dari pelukan menjadi doa, Nak. Doa yang tidak pernah putus. Doa yang..."
"Doa yang mengiringi kita sepanjang hidup?"
Bima menangis. Ia memeluk anak muda itu. "Kau mengerti, Nak. Kau mengerti."
Anak muda itu tersenyum. "Saya belajar dari Om Danang dan Bu Kirana, Pak. Saya belajar dari..."
"Dari sekolah cinta?"
"Sekolah cinta, Pak. Sekolah kehidupan. Sekolah..."
Mereka berdoa bersama.
Berdoa untuk Kirana.
Berdoa untuk Danang.
Berdoa untuk cinta.
Kirana dimakamkan di samping Danang.
Di lereng bukit.
Di bawah pohon beringin tua.
Di samping makam Ratih, ibu Danang.
"Bu Kirana pasti senang," kata Ayu, sambil menaburkan bunga di atas makam. "Bu Kirana bisa bersama Om Danang. Bu Kirana bisa..."
"Ibu bisa istirahat dengan tenang," kata Raka, sambil menaburkan tanah. "Ibu tidak perlu menunggu lagi. Ibu tidak perlu..."
"Ibu tidak perlu menangis lagi," kata Adi, sambil memeluk Maya. "Ibu sudah bahagia. Ibu sudah..."
"Kita yang harus melanjutkan perjuangan mereka," kata Maya. "Kita yang harus..."
"Menjaga cinta agar tidak pernah mati," kata Bima. "Itu pesan terakhir Danang dan Kirana. Itu..."
"Itu amanat yang harus kita emban sepanjang hidup," kata seorang pemuka agama. "Mari kita berdoa semoga mereka ditempatkan di tempat yang terbaik. Semoga..."
Semoga cinta mereka menjadi penerang bagi kita semua.
Semoga.
Malam itu, di rumah Kirana, Ayu, Raka, Adi, Maya, Bima, dan semua orang yang mencintai Kirana berkumpul. Mereka tidak menangis. Mereka tersenyum. Mereka tertawa. Mereka mengenang.
"Ayu, ingatkah kau waktu kecil kau selalu minta tolong dibelikan pisang goreng?" tanya Raka, sambil tertawa.
"Iya, Raka. Dan kau selalu membelikannya. Padahal kau tidak punya uang. Kau..."
"Kau mencuri uang dari dompet ibu?"
Raka tertawa. "Iya. Aku mencuri. Tapi aku tidak pernah ketahuan."
"Kami tahu, Raka. Ibu tahu. Tapi ibu tidak pernah marah. Ibu hanya..."
"Ibu hanya tersenyum dan berkata, 'Raka, lain kali jangan curi. Minta saja.'"
Mereka tertawa bersama.
"Aku ingat waktu Adi masih kecil," kata Ayu. "Ia selalu bertanya tentang Om Danang. Setiap hari. Setiap malam. 'Tante, ceritakan tentang Om Danang.' 'Tante, kenapa Om Danang tidak bisa datang?' 'Tante, Om Danang sayang tidak sama Adi?'"
Adi tersenyum malu. "Aku memang suka bertanya, Tante. Aku ingin tahu. Aku ingin..."
"Kau ingin belajar, Adi. Kau ingin..."
"Aku ingin menjadi seperti Om Danang, Tante. Baik. Sabar. Tidak mudah marah. Tidak..."
"Tidak pendendam, Adi?"
Adi mengangguk. "Tidak pendendam, Tante. Memaafkan. Seperti Om Danang memaafkan Pak Arman. Seperti..."
"Seperti Nenek memaafkan semua orang?"
"Seperti Nenek memaafkan semua orang, Tante. Nenek mengajarkan aku bahwa memaafkan adalah..."
"Memaafkan adalah kekuatan, Adi. Bukan kelemahan."
Adi mengangguk. "Aku akan mengingat itu, Tante. Aku akan..."
"Kau akan mengajarkannya pada anak-anakmu nanti, Adi?"
Adi tersenyum. "Aku akan mengajarkannya pada anak-anakku nanti, Tante. Agar mereka..."
"Agar mereka tidak mengulangi kesalahan masa lalu?"
"Agar mereka menjadi lebih baik dari kita, Tante."
Mereka semua terdiam.
Hanya suara angin.
Hanya suara jangkrik.
Hanya suara hati.
"Raka, apa kau akan menikah lagi?" tanya Ayu tiba-tiba.
Raka terkejut. "Kenapa kau tanya itu, Ayu?"
"Aku hanya... aku hanya ingin kau bahagia, Raka. Kau sudah sendirian terlalu lama. Kau sudah..."
"Aku bahagia, Ayu. Aku punya kalian. Aku punya..."
"Tapi kau tidak punya istri, Raka. Kau tidak punya..."
"Aku tidak butuh istri, Ayu. Aku butuh keluarga. Dan aku sudah punya keluarga. Kalian. Itu cukup."
"Tapi suatu hari nanti, ketika kita semua pergi, kau akan sendirian, Raka."
"Kita tidak akan pernah sendirian, Ayu. Kita punya kenangan. Kita punya..."
"Kenangan tidak bisa memeluk kita, Raka. Kenangan tidak bisa..."
"Tapi cinta bisa, Ayu. Cinta bisa memeluk kita. Dari mana pun. Kapan pun. Cinta..."
Ayu menangis. Ia memeluk Raka.
"Maafkan aku, Raka. Aku tidak bermaksud..."
"Tidak apa, Ayu. Aku mengerti. Kau hanya peduli padaku. Kau hanya..."
"Kau saudaraku, Raka. Aku sayang kau."
"Aku juga sayang kau, Ayu. Lebih dari apa pun."
Mereka berpelukan.
Berpelukan sebagai saudara.
Berpelukan sebagai keluarga.
Di luar, di taman kenangan, di bawah pohon waru, di tepi sungai, Adi dan Maya duduk berdampingan. Mereka memandang bintang. Memandang bulan. Memandang air sungai yang mengalir tenang.
"Adi, apa kau percaya pada cinta sejati?" tanya Maya, suaranya pelan, lembut, seperti angin malam.
"Maya, aku percaya. Sejak kecil. Sejak Nenek bercerita tentang Om Danang. Sejak..."
"Sejak kapan tepatnya?"
"Sejak Nenek bercerita tentang surat-surat yang tidak sampai. Tentang tiga puluh tahun menunggu. Tentang..."
"Tentang cinta yang tidak pernah mati?"
Adi mengangguk. "Tentang cinta yang tidak pernah mati, May. Cinta yang..."
"Cinta yang abadi?"
"Cinta yang abadi, May. Seperti Om Danang dan Nenek Kirana."
Maya meraih tangan Adi.
"Adi, aku berjanji. Aku tidak akan membuatmu menunggu selama itu. Aku tidak akan..."
"May, kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Kita hanya bisa..."
"Kita hanya bisa berusaha, Adi. Berusaha menjadi yang terbaik. Berusaha..."
"Berusaha mencintai dengan tulus, May. Tanpa pamrih. Tanpa..."
"Tanpa menyakiti?"
"Tanpa menyakiti, May. Seperti Om Danang. Seperti..."
"Seperti Nenek Kirana?"
Adi mengangguk. "Seperti Nenek Kirana, May. Mereka mengajarkan kita bahwa cinta adalah..."
"Cinta adalah perjuangan, Adi?"
"Cinta adalah perjuangan, May. Cinta adalah..."
"Cinta adalah pengorbanan?"
"Cinta adalah pengorbanan, May. Cinta adalah..."
"Cinta adalah segalanya?"
Adi tersenyum. "Cinta adalah segalanya, May. Cinta adalah alasan kita hidup. Cinta adalah..."
"Cinta adalah pulang, Adi?"
"Cinta adalah pulang, May. Pulang ke orang yang kita cintai. Pulang ke..."
"Pulang ke rumah, Adi?"
"Pulang ke rumah, May. Rumah bukan tempat. Rumah adalah seseorang. Rumah adalah..."
"Rumah adalah cinta?"
Adi mengangguk. "Rumah adalah cinta, May. Cinta yang tidak pernah mati. Cinta yang..."
Mereka berpelukan.
Berpelukan di bawah pohon waru.
Berpelukan di tepi sungai.
Berpelukan sebagai generasi penerus.
Generasi yang belajar dari masa lalu.
Generasi yang akan mencintai dengan lebih baik.
Generasi yang akan menjaga cinta agar tidak pernah mati.
Dan di atas sana, di tempat yang tidak bisa dilihat mata, di alam yang tidak bisa dijangkau akal, Danang dan Kirana duduk berdampingan. Mereka tersenyum. Mereka tertawa. Mereka berpelukan. Mereka bahagia.
"Danang, lihat mereka," kata Kirana, menunjuk ke arah Adi dan Maya.
"Kirana, mereka mewarisi cinta kita," jawab Danang.
"Mereka akan melanjutkan perjuangan kita."
"Mereka akan menjaga cinta agar tidak pernah mati."
"Danang, aku sayang kau."
"Kirana, aku juga sayang kau. Selamanya."
Mereka berciuman.
Ciuman yang abadi.
Ciuman yang tidak akan pernah berakhir.
Ciuman di alam yang tidak mengenal waktu.
Ciuman di surga.
EPILOG
Jejak yang Tidak Pernah Hilang
Tahun 2023. Dua puluh lima tahun setelah Danang Wiratama meninggal. Lima belas tahun setelah Kirana menyusulnya. Desa Kapuas Muara kini telah menjadi destinasi wisata religi dan edukasi. Ribuan orang datang setiap bulan. Bukan hanya dari Indonesia, tetapi juga dari luar negeri. Malaysia. Singapura. Brunei. Bahkan dari Jepang dan Belanda.
Mereka datang untuk belajar. Belajar dari kisah Danang dan Kirana. Belajar tentang cinta sejati. Belajar tentang kesetiaan. Belajar tentang pengorbanan. Belajar tentang memaafkan.
"Selamat datang di Desa Kapuas Muara, Desa Cinta Sejati," kata Adi, yang kini menjadi ketua pengelola wisata desa. Ia sudah menikah dengan Maya. Mereka memiliki dua orang anak. Laki-laki dan perempuan. Laki-laki diberi nama Danang. Perempuan diberi nama Kirana.
"Danang, Kirana, ayo cepat! Banyak tamu yang menunggu!" panggil Maya dari jauh.
"Iya, Ma! Ayo, Dik Kirana!" seru Danang kecil, sambil menggandeng adik perempuannya.
Mereka berlari ke taman kenangan.
Ke tepi sungai.
Ke bawah pohon waru.
Ke tempat di mana cinta itu bermula.
"Anak-anak, hari ini kita akan belajar tentang cinta sejati," kata Adi kepada para pengunjung. "Cinta sejati tidak pernah mati. Cinta sejati hanya berubah wujud. Dari pertemuan menjadi kenangan. Dari suara menjadi bisikan. Dari pelukan menjadi doa."
"Pak Adi, apa yang dimaksud dengan cinta sejati?" tanya seorang pengunjung dari Jepang, dengan logat yang kental.
Adi tersenyum. "Cinta sejati adalah ketika kau mencintai seseorang tanpa mengharapkan imbalan. Ketika kau rela berkorban untuknya. Ketika kau rela menunggunya. Selama apa pun. Di mana pun."
"Seperti Om Danang dan Nenek Kirana?" tanya seorang anak kecil dari belakang.
Adi mengangguk. "Seperti Om Danang dan Nenek Kirana, Nak. Mereka menunggu selama tiga puluh tahun. Tiga puluh tahun! Dan cinta mereka tidak pernah mati. Cinta mereka..."
"Cinta mereka abadi?"
"Abadi, Nak. Abadi selamanya."
Anak-anak bertepuk tangan.
Para pengunjung tersenyum.
Dan di atas sana, di tempat yang tidak bisa dilihat mata, Danang dan Kirana tersenyum. Mereka tersenyum melihat cinta mereka menginspirasi banyak orang. Mereka tersenyum melihat generasi penerus menjaga cinta agar tidak pernah mati. Mereka tersenyum melihat jejak mereka tidak pernah hilang.
"Danang, kita berhasil," bisik Kirana.
"Kirana, cinta kita tidak pernah sia-sia."
"Cinta kita abadi."
"Cinta kita selamanya."
Mereka berpelukan.
Berpelukan di surga.
Berpelukan selamanya.
TAMAT
TRILOGI ROMAN EPIK
JEJAK WAKTU
"Kadang, cinta tidak mempertemukan dua orang di dunia. Kadang, cinta mempertemukan mereka di surga. Di tempat di mana tidak ada lagi perpisahan. Di tempat di mana tidak ada lagi air mata. Di tempat di mana mereka bisa bersama selamanya."
— Danang Wiratama, dalam surat terakhirnya untuk Kirana —
Slamet Riyadi
29 Juli 2025 03:27:50
Semoga kita bisa kerjasama bu. ...