ROMAN EPIK
TABIR CINTA DUA DUNIA
Di antara nyata dan gaib, hanya rindu yang mampu menemukan jalan pulang
Oleh: Slamet Riyadi
PROLOG
Malam itu bukanlah malam biasa.
Langit Desa Randu Gembyang tidak lagi berwarna gelap seperti seharusnya malam. Ia seperti kain tua yang terlalu lama digantung di antara dua dunia. Kain itu mulai robek di beberapa titik, memperlihatkan sesuatu yang bukan langit di baliknya. Warga desa yang kebetulan masih terjaga menengadah dengan jantung berdebar. Ada yang melihat kilatan tanpa suara. Ada yang mendengar suara tanpa sumber. Dan ada pula yang hanya diam membeku, karena tubuh mereka seolah dipanggil oleh sesuatu yang tidak bisa mereka tolak.
Angin tidak bertiup malam itu. Ia berjalan. Pelan. Lembut. Seperti seseorang yang mencari sesuatu yang pernah hilang di tempat yang salah. Angin itu menyelinap di antara celah-celah rumah kayu, membisikkan nama-nama yang sudah lama tidak disebut. Nama-nama yang bahkan ingatan pun enggan menyimpannya.
Di tengah desa, berdiri pohon randu tua.
Tidak ada yang benar-benar berani menyebutnya "pohon". Sejak zaman yang tidak tercatat dalam sejarah desa, pohon itu tidak pernah dianggap sebagai bagian dari bumi saja. Ia tumbuh, tetapi juga mengawasi. Ia diam, tetapi juga mendengar. Akarnya tidak hanya menembus tanah, mereka menembus sesuatu yang lebih dalam dari sekadar bumi. Mereka menembus waktu. Menembus ingatan. Menembus batas antara dua dunia yang tidak boleh bertemu.
Dan malam itu, ia mulai bernapas.
Bukan suara. Tapi getaran. Getaran yang merambat dari batangnya yang tua dan retak ke seluruh desa. Getaran yang membuat air sumur beriak tanpa sebab, membuat daun-daun bergerak tanpa angin, dan membuat jantung setiap makhluk hidup berdetak dalam irama yang sama.
"Gledaar!"
Petir pertama tidak menyambar awan. Ia turun seperti keputusan. Tanpa hujan. Tanpa peringatan. Dan tanpa belas kasihan. Petir itu jatuh tepat di tengah alun-alun desa, lima langkah di depan pohon randu. Tanah menganga sejenak, lalu menutup kembali. Seperti mulut yang sempat terbuka untuk mengatakan sesuatu, tapi urung.
Warga desa yang masih terjaga keluar rumah satu per satu. Bukan karena ingin melihat. Tapi karena tubuh mereka seolah dipanggil. Mereka berjalan dengan mata setengah terpejam, seperti orang yang sedang bermimpi tapi sadar sepenuhnya.
"Ini petir kok aneh sekali," suara seorang lelaki tua pecah oleh gemetar. Tangannya memegang tongkat kayu jati yang sudah retak di beberapa bagian. "Petir kok tidak ada airnya."
"Iya, Pak. Saya juga tidak mendengar guntur," sahut warga lain yang berdiri di sampingnya sambil menangkupkan kedua tangan di dada. "Langsung kilat seperti ini. Tapi suaranya seperti pohon tumbang."
"Pohon? Pohon apa?"
"Pohon randu," jawab warga itu sambil matanya tidak lepas dari pohon besar di tengah alun-alun.
Semua mata serempak menuju ke pohon randu di tengah alun-alun. Pohon itu berdiri tegak. Tidak ada yang berubah. Tapi semua yang melihat merasakan sesuatu yang tidak bisa mereka jelaskan. Seperti ada sesuatu yang baru saja berubah di balik kulit kayu yang tua itu. Seperti ada urat nadi yang mulai berdenyut di dalam batangnya yang selama ini mereka kira mati.
"Pak, saya seperti mendengar sesuatu," bisik seorang pemuda kepada ayahnya. Suaranya pelan, hampir tidak terdengar di sela-sela debaran jantungnya sendiri.
"Mendengar apa?" tanya ayahnya tanpa menoleh. Matanya tetap terpaku pada pohon randu.
"Debar jantung. Seperti debar jantung orang. Tapi dari dalam tanah."
"Kamu kurang tidur, Le. Ayo masuk."
"Sungguh, Pak. Saya tidak apa-apa."
Namun sebelum kalimat itu selesai diucapkan, petir kedua turun. Lebih dekat. Lebih dalam. Seolah mencari sesuatu. Petir itu menyambar hampir tepat di samping batang pohon randu. Tanah di sekitarnya bergetar. Beberapa akar yang selama ini tertanam rapi tampak seperti bergerak, sedikit, hampir tidak terlihat, tapi cukup untuk membuat semua orang yang melihatnya mundur selangkah.
"Kamu lihat itu?" bisik seorang perempuan kepada suaminya. Tangannya meremas lengan suaminya kuat-kuat. Kukunya hampir menembus kain lengan baju.
"Lihat apa, Bu?" tanya suaminya dengan alis berkerut.
"Akarnya... akar pohon itu seperti bergerak."
"Tidak mungkin, Bu. Kamu salah lihat."
"Sungguh, Pak. Saya lihat. Coba lihat! Akar besar itu, coba lihat. Ini lho, yang dekat batu. Seperti bergeser sedikit."
Suaminya menghela napas panjang, lalu menatap ke arah yang ditunjuk istrinya. Ia mengerjap. Mengerjap lagi. Dan untuk sesaat, ia benar-benar melihat sesuatu. Akar besar yang dimaksud istrinya tampak seperti bergerak. Bukan bergeser. Tapi seperti berdenyut. Seperti urat yang sedang mengalirkan darah.
"Astaga," gumamnya pelan. Dahi mulai berkeringat meskipun malam cukup dingin.
"Kamu lihat, kan, Pak? Saya bilang apa?"
"Sudah, jangan ribut-ribut, Bu. Ayo masuk."
"Tapi, Pak..."
"Ayo masuk!"
Mbah Sujud berdiri di depan rumahnya tanpa bergerak. Matanya tidak takut. Matanya kosong. Tapi kosongnya bukan karena tidak mengerti. Kosongnya karena ia sedang mengingat sesuatu yang sudah terlalu lama ia kubur dalam ingatan. Sesuatu yang ia harap tidak akan pernah ia saksikan di masa hidupnya. Sesuatu yang bahkan kitab tua yang ia simpan di balik lemari pun hanya menuliskan dalam bahasa yang hampir ia lupa.
"Sudah," bisiknya pelan. Suaranya serak, seperti orang yang baru sadar dari tidur panjang. "Dunia ini mulai terbuka lagi."
Dari dalam rumah, istrinya bertanya dengan suara cemas yang terdengar dari balik pintu kayu yang masih tertutup rapat. "Sujud, kamu tidak masuk? Jangan sampai kena angin malam, Suk."
Mbah Sujud tidak menjawab. Matanya tetap tertuju pada pohon randu. Istrinya keluar rumah, perempuan tua dengan rambut yang sudah memutih seluruhnya itu berdiri di samping suaminya. Wajahnya langsung berubah begitu melihat ekspresi suaminya. Ekspresi yang sudah puluhan tahun tidak ia lihat. Ekspresi terakhir kali ia lihat ketika suaminya pulang dari pertapaan di hutan, dengan wajah pucat dan tangan gemetar memegang kitab kuno yang tidak pernah berani ia sentuh.
"Sujud... kamu sedang melihat apa?" tanya istrinya, suaranya bergetar.
"Apa yang saya takuti... sejak 40 tahun lalu," jawab Mbah Sujud lirih, matanya tetap tidak berkedip. "Sekarang terjadi benar."
"Apa yang terjadi, Suk?"
"Janjinya Mbah Urip... mulai terbuka."
Istrinya terdiam. Ia tidak tahu persis apa yang dimaksud suaminya. Tapi getaran di udara, perubahan yang ia rasakan di sekujur tubuhnya, dan tatapan mata suaminya yang tidak pernah berbohong, semua itu cukup untuk membuatnya tidak bertanya lebih jauh. Cukup untuk membuatnya berdiri diam di samping suaminya, menatap pohon randu yang mulai bernapas.
"Kamu siap, Suk?" tanya istrinya pelan.
Mbah Sujud menoleh. Untuk pertama kalinya malam itu, ia tersenyum. Tapi senyum yang pahit. Senyum yang tidak sampai ke mata. "Tidak ada yang siap, Bu. Semua hanya harus menghadapi."
Petir ketiga turun.
Dan kali ini tidak mengenai langit. Tidak mengenai tanah. Tapi mengenai pohon randu. Tepat di tengah batangnya. Kilatan cahaya memenuhi seluruh desa selama tiga detik penuh, cahaya yang bukan kuning atau putih, tapi kehijauan seperti warna daun yang baru tumbuh di musim hujan. Warga yang melihatnya merasakan panas di sekujur tubuh, tapi tidak ada yang terbakar. Tidak ada yang terluka. Yang mereka rasakan hanyalah sesuatu yang menusuk, bukan ke tubuh, tapi ke ingatan.
Seorang ibu tiba-tiba menangis tanpa sebab. Air matanya jatuh deras, padahal sedetik yang lalu ia tertawa bersama tetangganya. "Kenapa saya menangis, Bu?" tanyanya pada tetangga di sampingnya. "Saya tidak tahu. Tiba-tiba rasanya kangen sekali. Kangen sama siapa, saya tidak tahu."
Tetangganya hanya bisa menepuk pundaknya dengan raut wajah yang sama bingungnya.
Seorang bapak berlutut, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya bergetar. Tiga anaknya yang masih kecil menatapnya dengan mata ketakutan. "Pak, Bapak kenapa?" tanya anak tertua. Suaranya kecil, sedikit gemetar menahan takut.
"Kebayang... nenekmu," jawabnya terbata-bata. Kata-kata tersendat di tenggorokan seperti duri yang tidak bisa keluar.
"Nenek? Nenek sudah meninggal tahun lalu, Pak. Kenapa sekarang?"
"Bapak tidak tahu, Le. Tiba-tiba teringat. Teringat semua."
"Teringat apa, Pak?"
"Teringat sepi... sepi yang tidak wajar."
Seorang anak kecil yang masih terjaga tertawa kecil. Ia berdiri di depan pintu rumahnya, satu tangan memegang tiang kayu, satu tangan menunjuk ke arah pohon randu. "Bu," katanya pada ibunya yang berdiri di belakangnya dengan wajah tegang. "Saya lihat nenek. Di sana, di bawah pohon. Nenek sedang duduk, tersenyum-senyum sendiri."
Ibunya terdiam. Dadanya sesak. Karena ia sendiri, di sela-sela kilatan cahaya yang menyilaukan itu, juga melihat sesuatu. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Sesuatu yang membuat bulu kuduknya merinding meskipun udara malam tidak terlalu dingin. "Ayo masuk, Nak," katanya cepat. Tangannya sudah menarik lengan anaknya dengan kuat. "Jangan di sini."
"Tapi, Bu, nenek..."
"Tidak ada nenek, Nak. Nenek sudah meninggal. Ayo masuk!"
Anak itu tidak bergerak. Ia terus menatap ke arah pohon randu. Dan saat ibunya menarik tangannya, ia berkata lirih, "Bu, nenek tersenyum. Terus bilang: 'Sudah pulang... tiga puluh tahun saya menunggu...'"
Ibunya tidak menunggu lebih lama. Ia menggendong anaknya dan masuk ke dalam rumah, membanting pintu, lalu menguncinya rapat-rapat. Dadanya naik turun. Keringat dingin membasahi punggungnya.
Saat itu juga, getaran pertama dunia terjadi.
Bukan gempa. Bukan badai. Tapi sesuatu yang lebih tua dari itu semua. Getaran yang tidak terukur oleh alat mana pun karena ia bukan getaran fisik. Ia adalah getaran ingatan. Getaran yang memaksa bangun sesuatu yang sudah terlalu lama tertidur.
Tanah di bawah desa bergerak. Bukan bergeser. Tapi seperti bernapas. Sehelai napas panjang yang ditarik dari kedalaman yang tidak terjangkau oleh akar mana pun. Udara di sekitar desa berubah berat. Burung-burung yang tidur di sarangnya tiba-tiba terbangun dan terbang tanpa arah. Anjing-anjing desa melolong bersamaan, suara mereka menyatu menjadi satu nada yang aneh dan mencekam.
"Ada apa ini, Mbah?" teriak seorang pemuda dari kejauhan. Suaranya terdengar putus asa, seperti orang yang tenggelam dan meraih apapun yang bisa ia raih.
Mbah Sujud tidak menjawab. Ia hanya menatap pohon randu dengan mata yang tidak berkedip.
Di dalam batang pohon randu, sesuatu merespons.
Bukan suara. Bukan cahaya. Tapi kesadaran. Kesadaran yang selama ini tertidur di antara akar-akar yang tidak pernah disentuh sinar matahari. Kesadaran yang tidak memiliki bentuk, tidak memiliki nama, tetapi memiliki ingatan yang lebih panjang dari usia desa itu sendiri. Kesadaran itu mulai membuka matanya. Perlahan. Ragu. Seperti seseorang yang tidak yakin apakah ia sedang bermimpi atau benar-benar terjaga.
Dan di tempat lain, dua bayi menangis pada waktu yang sama.
Satu di rumah kayu kecil di ujung timur desa.
Satu di rumah bercat hijau di ujung barat desa.
Tangisan mereka tidak keras. Tidak juga panjang. Tapi ada sesuatu yang aneh dalam tangisan itu—seperti tangisan yang datang bukan dari kesakitan lahir semata, tapi dari sesuatu yang lebih tua. Lebih dalam. Seperti ingatan yang ingin keluar tapi tidak tahu caranya.
Bidan yang menolong kelahiran pertama terdiam lama setelah bayi laki-laki itu lahir. Ia tidak segera memotong tali pusarnya. Ia hanya menatap bayi itu dengan mata yang tidak percaya. Tangannya gemetar saat memegang kain bersih untuk membungkus bayi itu.
"Pak... Jari... ini... lihat ini..." suara bidan itu bergetar. Matanya tidak lepas dari tubuh mungil di pangkuannya.
"Kenapa, Bu? Ada apa?" Pak Jari mendekat dengan langkah tergesa. Wajahnya berkeringat padahal malam dingin. Keringat itu bukan karena panas, tapi karena cemas yang mencekik.
"Anak Bapak," Bidan itu mengangkat bayi itu sedikit, dengan gerakan hati-hati seperti memegang sesuatu yang sangat rapuh dan sangat berharga sekaligus. "Ini... ini lho, Pak. Coba lihat."
Pak Jari menunduk. Ia melihat putranya yang baru lahir. Bayi itu tidak menangis lagi. Matanya tertutup. Napasnya teratur. Tidak ada yang aneh. Tapi kemudian ia melihat ke arah yang ditunjuk bidan itu. Bahu kiri bayi itu. Di sana, di kulit yang masih kemerahan karena baru lahir, tampak garis-garis samar.
Garis-garis itu tidak seperti bekas luka. Tidak seperti kotoran. Tidak seperti tanda lahir biasa yang berwarna kecoklatan atau kehitaman. Garis-garis itu aneh. Bentuknya tidak beraturan, tapi juga tidak acak. Jika dilihat lebih lama, garis-garis itu terlihat seperti akar. Akar halus yang baru mulai tumbuh dari dalam kulit. Akar yang merambat dari lehernya ke arah dada, tipis seperti benang, tapi jelas, sangat jelas bagi siapa pun yang melihatnya.
"Lho, apa itu, Bu?" tanya Pak Jari. Suaranya berubah. Tidak lagi cemas, tapi takut. Jenis ketakutan yang tidak bisa ia jelaskan. Jenis ketakutan yang merayap dari tulang punggung ke ubun-ubun.
"Saya tidak bisa menjelaskan, Pak," kata bidan itu akhirnya. Suaranya pelan, hampir berbisik. "Tapi... ini bukan tanda lahir biasa. Saya sudah menolong melahirkan banyak bayi. Puluhan malah. Tapi yang seperti ini... baru sekali ini."
"Lalu apa, Bu? Penyakit apa?" tanya Pak Jari dengan suara bergetar. Dadanya terasa sesak, seperti ditimpa batu besar.
"Bukan, Pak. Bukan penyakit. Saya tidak tahu. Tapi ini... ini seperti pola. Seperti gambar. Seperti ukiran di kulit."
"Ukiran?"
"Iya, Pak. Seperti motif. Motif akar. Seperti akar pohon."
Pak Jari terdiam. Angin dari luar rumah masuk melalui celah jendela. Angin malam yang dingin. Tapi saat angin itu menyentuh kulitnya, ia merasakan sesuatu yang aneh. Angin itu hangat. Seperti napas. Seperti napas panjang seseorang yang baru saja selesai berlari.
"Pak Jari, saya mau bilang sesuatu," kata bidan itu ragu-ragu. Jarinya masih gemetar memegang kain pembungkus bayi.
"Ya, Bu. Silakan."
"Bayi ini... lahir pas petir ketiga tadi. Petir ketiga yang mengenai pohon randu."
"Lho, bukannya petir ketiga?"
"Iya. Petir ketiga. Dan saya merasakan... pas bayi ini menangis... jangan salah, Pak... pas bayi ini menangis... saya merasakan tanah bergetar."
"Bergetar seperti gempa?"
"Bukan. Bergetar seperti... seperti napas. Seperti tanah sedang bernapas."
Pak Jari tidak menjawab. Ia hanya menatap bayinya. Bayi laki-laki kecil yang kini tertidur pulas di pangkuan bidan. Bayi yang tidak tahu bahwa di pundaknya tergambar pola akar yang, entah bagaimana, sama persis dengan pola akar pohon randu di tengah desa.
Di rumah lain, di ujung barat desa, bayi perempuan lahir tanpa suara keras. Hanya napas pertama yang panjang. Sangat panjang. Lamanya sampai membuat suami istri yang menunggu di samping tempat tidur saling berpandangan dengan cemas.
"Bu... bayinya kok tidak menangis?" tanya suami Bu Siti, seorang laki-laki bertubuh kurus dengan kumis tipis di atas bibirnya.
"Iya, Pak. Saya juga bingung," jawab Bu Siti sambil mengusap keringat di dahinya yang masih membasah. Napasnya masih terengah-engah setelah perjuangan panjang melahirkan. "Biasanya bayi lahir menangis. Ini malah bernapas panjang."
"Katanya kalau bayi tidak menangis, ada masalah? Mungkin airnya tidak keluar? Atau saluran napasnya?"
"Bukan, Pak. Napasnya lancar. Kencang. Malah seperti orang yang sedang beristirahat setelah berjalan jauh."
"Jauh? Lha orang bayi baru lahir. Belum pernah jalan."
"Iya, itu lho yang aneh, Pak. Rasanya seperti... seperti napas ini napas yang sudah biasa bernapas. Seperti sudah berpengalaman."
Suaminya menggeleng. Tangannya meraba dahi bayi itu, meraba suhu tubuhnya. Normal. Tidak panas. Tidak dingin. "Aneh, benar."
Namun yang membuat ruangan itu berbeda bukanlah ketiadaan tangisan. Tapi mata bayi itu.
Setelah napas panjangnya selesai, bayi perempuan itu membuka matanya. Tidak merengek. Tidak menangis. Tidak meronta. Ia membuka matanya. Dan matanya terbuka lebar. Jelas. Sangat jelas untuk ukuran bayi yang baru lahir. Biasanya mata bayi baru lahir masih sayu, masih buram, masih kesulitan untuk fokus. Tapi mata bayi ini jernih. Tajam. Seperti mata orang dewasa yang sedang mencari sesuatu di tengah keramaian.
"Seperti mengenali sesuatu," bisik Bu Siti tanpa sadar. Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya, tanpa ia pikirkan sebelumnya.
Suaminya mengerutkan kening. "Ha? Bilang apa, Bu?"
"Seperti... dia lagi kenal sama sesuatu, Pak. Seperti dia sudah pernah lihat dunia ini sebelumnya. Matanya tuh seperti... seperti lagi mengenali."
Suaminya tertawa kecil. Bukan karena lucu. Tapi karena ia juga merasakan hal yang sama. Dan tertawa adalah satu-satunya cara untuk tidak panik. "Ah, kamu kebanyakan melamun, Bu. Bayi kan baru belajar melihat. Masih buram penglihatannya. Kan baru lahir."
"Bukan, Pak. Saya lihat. Matanya jelas. Sangat jelas. Seperti mata orang dewasa. Lha coba lihat, Pak. Lihat sendiri."
Suaminya mendekat. Ia menunduk, menatap wajah bayinya yang baru lahir. Bayi itu menatap balik. Bukan tatapan kosong. Bukan tatapan bingung. Tapi tatapan seperti seseorang yang sedang meneliti. Seperti seseorang yang sedang mencocokkan ingatan dengan kenyataan. Suaminya mundur selangkah.
"Ya Allah," bisiknya. Dadanya terasa bergetar. "Saya juga lihat."
"Iya, Pak. Saya juga tidak tahu."
Bayi itu tidak menangis. Ia hanya menatap. Dan tersenyum. Senyum kecil yang entah bagaimana—terlalu cepat untuk bayi seusianya.
Di luar rumah, angin berhenti.
Tidak bergerak sama sekali. Keheningan total. Bayangkan sebuah desa yang biasanya berisik dengan suara jangkrik, suara anjing menggonggong, suara ayam berkokok sesekali, suara orang yang masih terjaga berbincang, bayangkan semua suara itu lenyap dalam satu detik. Yang tersisa hanya keheningan yang pekat. Keheningan yang terasa seperti sesuatu yang berat, menekan gendang telinga, menekan dada, menekan pikiran.
Seolah seluruh desa sedang menahan napas bersama-sama.
Daun-daun pohon randu yang tadi bergerak pelan kini diam. Tidak bergerak sama sekali. Padahal tidak ada yang mengikatnya. Angin tidak bertiup, ya, tapi biasanya dedaunan punya gerakannya sendiri—gosok-menggosok karena posisi, karena berat, karena embun. Tapi malam itu, daun-daun itu seperti membeku. Membeku di posisinya masing-masing.
Air sumur yang tadi beriak kini mengendap. Bahkan ketika seorang pemuda desa menjatuhkan batu kecil ke dalam sumur, tidak ada suara percikan yang muncul. Batu itu jatuh ke dalam kegelapan sumur, dan lenyap. Tanpa suara.
Bahkan suara jangkrik yang biasanya terdengar di malam hari pun lenyap seketika. Biasanya jangkrik bernyanyi tanpa lelah dari senja hingga subuh. Tapi malam itu, tidak satu pun jangkrik yang bersuara. Rumah-rumah kayu yang biasanya mengeluarkan suara krek-krek karena perubahan suhu udara juga diam. Semuanya diam.
Desa Randu Gembyang menahan napas.
Dan di dalam keheningan itu, di dalam batang pohon randu yang tersambar petir tiga kali, sesuatu yang tidak pernah sungguh-sungguh tidur mulai membuka matanya sepenuhnya.
BAB 1: DUA KELAHIRAN DI MALAM YANG SAMA
Tiga hari setelah malam petir aneh itu, Desa Randu Gembyang masih belum pulih sepenuhnya. Orang-orang masih berbisik-bisik tentang apa yang mereka lihat. Tentang apa yang mereka dengar. Tentang apa yang mereka rasakan. Bisikan-bisikan itu tidak pernah berhenti, seperti dengungan lalat yang mengganggu di telinga.
Di warung kopi milik Mang Udin, setiap pagi selalu ramai dengan pembicaraan. Tiga hari setelah malam petir itu, pembicaraan tidak berubah. Masih sama. Masih tentang petir. Masih tentang pohon randu. Masih tentang dua kelahiran yang terjadi di saat yang sama. Kopi yang diseduh pun seolah terasa pahit dengan sisa ketakutan yang belum hilang.
"Mbah Sujud cerita apa barusan?" tanya seorang warga sambil menyeduh kopi panas di cangkirnya. Uap mengepul membawa aroma yang seharusnya harum, tapi pagi itu terasa seperti bau sesuatu yang lain.
"Cerita tentang pohon randu," jawab Mang Udin sambil mengelap gelas yang sebenarnya sudah bersih. Tangannya bergerak mekanis, tanpa sadar, karena pikirannya ada di tempat lain. "Cerita bahwa pohon itu bukan pohon biasa."
"Lalu apa?"
"Penjaga."
"Penjaga apa?"
"Penjaga keseimbangan. Antara dunia manusia dan dunia... lain."
Suasana berubah hening. Tidak ada yang tertawa. Tidak ada yang menyanggah. Karena setiap orang yang mendengar kata-kata itu, di dalam hatinya masing-masing, tahu bahwa itu benar. Mereka sudah merasakannya. Mereka sudah melihatnya. Ada sesuatu yang berubah di desa mereka. Sesuatu yang tidak bisa mereka lihat dengan mata telanjang, tapi bisa mereka rasakan dengan tulang dan daging mereka.
Aria Wicaksono, bayi laki-laki yang lahir di rumah Pak Jari, tumbuh menjadi anak yang berbeda.
Dan kata "berbeda" di Desa Randu Gembyang bukanlah pujian. Kata itu keluar dari mulut warga dengan nada berbisik, dengan alis berkerut, dengan kepala menggeleng pelan. Kata itu seperti kutukan yang tidak diucapkan dengan keras, tapi lebih menyakitkan daripada teriakan di pasar.
Pada usia tiga tahun, Aria sudah menunjukkan keanehan-keanehan yang membuat ibunya menangis dalam diam dan ayahnya sering termenung di teras rumah saat malam tiba. Keanehan yang tidak bisa mereka jelaskan kepada tetangga, bahkan kepada diri mereka sendiri.
"Aria, kenapa kamu diam saja? Ayo main sama teman-temanmu!" suara ibunya terdengar dari kejauhan pada suatu sore. Suara itu terdengar cemas, bukan marah.
Aria sedang duduk di bawah pohon randu. Sendirian. Matanya tertutup. Tangannya tergeletak di pangkuan. Ia terlihat seperti sedang tidur, tapi ibunya tahu dia tidak tidur. Sebab lima menit yang lalu, ia memanggil namanya tiga kali, dan Aria menjawab setiap panggilan itu dengan satu kata: "Ya."
Ibu Aria mendekat. Langkahnya pelan, hati-hati, seperti mendekati sesuatu yang mudah pecah. "Kamu tidak dengar? Teman-temanmu pada main ke sawah."
Aria membuka mata perlahan. Matanya tidak merah. Tidak sayu. Matanya jernih. Terlalu jernih. Matanya menatap ibunya, lalu menatap pohon randu, lalu menatap tanah di bawahnya. Seolah ada sesuatu di antara ketiganya yang sedang ia hitung, sedang ia timbang, sedang ia renungkan.
"Aku lagi dengar," jawabnya pelan. Suaranya kecil, tapi tegas.
"Dengar apa?" tanya ibunya. Ibu Aria berlutut di sampingnya, mencoba menyamakan tinggi wajah dengan anaknya.
Aria terdiam cukup lama. Ia memiringkan kepalanya, seperti sedang mendengarkan sesuatu yang sangat jauh, sangat samar, di ujung frekuensi yang hanya ia yang bisa akses. Kemudian ia berkata, "Dia lagi ngomong."
Ibunya terdiam. Jantungnya berdetak lebih cepat. "Siapa?"
Aria menunjuk pohon randu dengan jari telunjuknya yang mungil. Pergerakannya lambat, penuh keyakinan, seolah ia sudah ratusan kali melakukan itu. Seolah jarinya sudah hafal jalan menuju pohon itu.
"Mbah randu," katanya.
Ibunya tidak bisa berkata-kata. Ia hanya berdiri di sana, di bawah pohon randu, bersama anaknya yang entah bagaimana—terlihat lebih dewasa daripada anak seusianya. Terlihat seperti seseorang yang baru pulang dari perjalanan panjang, bukan seseorang yang baru berusia tiga tahun.
"Ceritanya apa, Nak?" tanya ibunya akhirnya, memberanikan diri. Suaranya bergetar, tapi ia berusaha tersenyum.
Aria tersenyum. Senyum pertama yang ibunya lihat sore itu. "Cerita tentang janji," jawab Aria. Matanya berbinar, seperti ada cahaya kecil di dalam sana.
"Janji? Janji apa?"
"Janji yang belum selesai."
"Aria... dari mana kamu tahu soal janji? Kamu baru tiga tahun."
"Dia yang cerita," kata Aria sambil menunjuk pohon randu lagi. Matanya menatap ibunya dengan jujur, tanpa rasa takut, tanpa rasa bersalah. "Benar, kan, Mbah randu?"
Ibu Aria terdiam. Ia tidak tahu harus marah, harus takut, atau harus memeluk anaknya. Ketiga perasaan itu bercampur menjadi satu dalam dadanya, seperti ramuan pahit yang tidak bisa ia minum tapi juga tidak bisa ia keluarkan. Yang ia tahu, malam itu ia menangis di kamar mandi. Bukan menangis karena sedih semata. Menangis karena takut. Karena ia mulai percaya bahwa anaknya memang bisa mendengar sesuatu yang tidak bisa didengar orang lain. Dan ketakutan itu, entah mengapa, terasa lebih nyata dan lebih dingin dari apa pun yang pernah ia rasakan sebelumnya.
Larasati, bayi perempuan yang lahir di rumah Bu Siti, tumbuh berbeda dengan cara yang lain.
Ia bukan pendiam seperti Aria. Ia justru cerewet. Sangat cerewet. Ia bisa berbicara tanpa henti dari pagi hingga malam, seperti burung yang tidak pernah lelah berkicau. Tapi cerewetnya aneh. Karena ia sering berbicara pada sesuatu yang tidak terlihat. Kadang ia tertawa sendiri, suaranya terdengar riang meskipun tidak ada teman di sekitarnya. Kadang tiba-tiba berhenti bermain karena "merasa ada yang memanggilnya." Kadang ia menangis di tengah malam, lalu ketika ibunya bertanya kenapa, ia menjawab, "Ada yang sedih di bawah tanah."
Bu Siti, ibunya, pada awalnya menganggap itu hanya imajinasi anak biasa. Setiap anak punya teman khayalan, pikirnya. Setiap anak suka bermain peran. Tidak ada yang aneh dengan itu. Tapi semakin hari, semakin banyak keanehan yang ia saksikan. Dan imajinasi punya batasnya.
Suatu sore, Laras bermain di halaman belakang rumah. Matahari mulai condong ke barat, bayang-bayang mulai memanjang. Tiba-tiba ia berhenti. Berdiri diam. Matanya menatap kosong ke arah sumur tua yang sudah tidak digunakan karena airnya keruh. Sumur itu sudah ditutup dengan papan kayu, tapi Laras menatapnya seolah ia bisa melihat menembus kayu itu.
"Laras, kamu kenapa?" tanya Bu Siti. Suaranya pelan, mencoba tidak menunjukkan kekhawatiran yang mulai menggerogoti hatinya. Ia mendekati anaknya dari belakang, bersiap memeluk jika diperlukan.
Laras tidak menjawab. Ia terus menatap sumur.
"Laras!"
Anak itu menoleh perlahan. Wajahnya pucat. Pucat seperti kertas, padahal sedetik yang lalu ia masih tertawa riang. "Bu, di sumur ada yang mengaji," katanya.
Bu Siti mengerutkan kening. Alisnya bertaut. "Tidak mungkin, Nak. Sumur itu sudah kering setahun lalu. Tidak ada air. Tidak mungkin ada yang mengaji di dalamnya."
"Ada, Bu," kata Laras tegas. Matanya tidak berkedip. "Saya dengar. Suaranya merdu. Seperti suara perempuan."
Bu Siti mendekati sumur. Ia menunduk, melihat ke dalam melalui celah-celah papan penutup. Tidak ada apa-apa. Hanya gelap. Hanya lumut di dinding-dindingnya. Hanya air keruh di dasar yang tidak pernah ia gunakan. Tapi saat ia akan berbalik menjauhi sumur itu, ia mendengar sesuatu. Samar. Sangat samar. Di ujung batas pendengarannya. Tapi jelas. Seperti suara orang mengaji. Dari dalam sumur.
"Tidak mungkin," bisik Bu Siti. Tangannya meremas ujung kain sarungnya. "Tidak mungkin."
Namun Laras sudah kembali berlari bermain, seolah tidak terjadi apa-apa. Seolah apa yang baru saja ia katakan hanyalah cuaca, sesuatu yang biasa dan tidak perlu dipikirkan lebih lanjut.
Malam itu, Bu Siti tidak bisa tidur.
BAB 2: JANJI DI BAWAH POHON RANDU
Di bawah pohon randu, tiga sesepuh desa berdiri dalam diam. Mbah Sujud, Mbah Kromo yang buta, dan Mbah Sengoro, perempuan tua yang tidak pernah menikah dan tinggal sendirian di ujung desa dengan tujuh ekor kucing. Kucing-kucing itu sekarang duduk di sekitar kakinya, diam, tidak bergerak, seolah mereka juga memahami keseriusan malam itu.
Malam itu, setelah Mbah Kromo pulang, Mbah Sujud tidak bisa tidur. Pikirannya terus melayang pada Mbah Sangkil. Pada akar kecil yang bergerak. Pada kata-kata terakhirnya.
"Pohon randu lama harus diganti," bisik Mbah Sujud mengulang kata-kata itu. "Kau tidak tahu apa yang kau katakan, Sangkil. Kau tidak tahu akibatnya."
Ia berdiri. Berjalan ke luar rumah. Langit malam tidak berbintang. Bulan pun tidak terlihat. Gelap. Sangat gelap.
Di bawah pohon randu, Mbah Sujud berdiri. Tangannya yang keriput menyentuh kulit pohon randu. Permukaannya kasar. Penuh dengan alur-alur yang dalam, bekas-bekas sambaran petir yang sudah puluhan tahun lalu, bekas luka yang tidak pernah sembuh sepenuhnya. Tapi di balik semua itu, di balik permukaan yang keras dan tua itu... terasa sesuatu. Hangat. Seperti ada sesuatu yang masih hidup di dalamnya. Seperti ada darah yang mengalir di balik kulit kayu yang kering. Seperti ada sesuatu yang bangun dari tidur panjang.
"Nyai," panggilnya pelan. "Nyai Kembang Randu. Aku tahu kau mendengar. Aku tahu kau di sini. Mbah Urip telah meninggalkanmu sebagai penjaga. Dan sekarang, saat krisis telah tiba. Aku butuh bantuanmu."
Tidak ada jawaban. Hanya angin malam yang berhembus pelan. Membawa bau tanah basah dan sesuatu yang lain. Sesuatu seperti bau kemenyan. Tapi lebih tua. Lebih misterius.
"Nyai..." panggil Mbah Sujud lagi. "Jangan diam saja."
Dari dalam batang pohon randu, suara itu muncul. Bukan suara yang bisa didengar telinga biasa. Tapi suara yang langsung masuk ke dalam pikiran. Ke dalam hati. Ke dalam tulang.
"Apa yang kau inginkan, Sujud? Kau telah menjaga perjanjian ini selama empat puluh tahun. Kau telah setia. Kau telah sabar. Kau telah menahan diri. Tapi mengapa kau memanggilku sekarang?"
Mbah Sujud berlutut. Matanya berkaca-kaca. "Nyai, Sangkil telah mulai bergerak. Dia ingin mengganti keseimbangan. Dia ingin menguasai dunia akar."
"Aku tahu, Sujud. Aku tahu semua. Aku melihat dari dalam tanah. Dari dalam akar. Sangkil telah meracuni pikirannya sendiri dengan ambisi. Dia lupa bahwa perjanjian ini suci. Bahwa perjanjian ini tidak bisa diubah oleh satu orang pun."
"Lalu apa yang harus aku lakukan, Nyai?"
"Lindungi dua anak itu. Lindungi Aria dan Laras. Mereka adalah kunci. Mereka adalah penerus. Jika Sangkil menyentuh mereka, keseimbangan akan hancur. Dan kehancuran itu tidak hanya akan memusnahkan desa ini, tapi juga dunia akar."
Mbah Sujud mengangguk. "Aku janji, Nyai. Aku akan lindungi mereka."
Mbah Sujud mengeluarkan sebuah kitab tua dari balik bajunya. Kitab yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun selama puluhan tahun. Sampulnya bukan kulit biasa. Sampulnya seperti gabungan serat kayu—tapi kayu apa, kayu randu?—tanah kering dari kedalaman tertentu yang tidak pernah tersentuh sinar matahari, dan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan bahasa manusia. Sesuatu yang berdenyut. Sesuatu yang hangat saat disentuh. Sesuatu yang hidup.
"Itu kitab..." bisik Mbah Sengoro. Matanya membelalak. Tangannya terangkat, setengah ingin menyentuh, setengah mundur karena takut. "Kamu masih menyimpannya?"
"Dalam simpanan. Tidak pernah saya buka selama 40 tahun."
"Dan sekarang akan dibuka?"
Mbah Sujud mengangguk. Kepalanya terasa berat, seperti menganggukkan batu. "Tanda sudah muncul. Semua sudah cocok dengan yang tertulis. Kalau tidak sekarang... kapan lagi?"
"Kamu yakin, Sujud?" tanya Mbah Kromo. Suaranya tegang. Wajahnya yang biasanya tenang, sekarang tampak pucat. "Kitab ini tidak sembarangan. Satu salah buka, kita semua bisa hilang."
"Hilang apa maksudmu?"
"Hilang. Tidak ada di dunia manusia. Tidak ada di dunia akar. Hilang. Kosong. Tidak ada."
Mbah Sujud terdiam. Tangannya yang memegang kitab itu gemetar. Bukan karena takut pada kematian. Tapi karena takut pada tanggung jawab. Tapi kemudian ia menghela napas. "Saya sudah 70 tahun menjaga ini, Kromo. 70 tahun Mbah Urip titipkan ini kepada saya. Dan sekarang... waktunya sudah tiba."
Ia membuka halaman pertama.
Kosong. Lembaran-lembaran yang terbuat dari bahan yang tidak jelas itu benar-benar kosong. Tidak ada satu pun goresan. Bahkan serat-serat kertasnya pun tidak membentuk pola apa pun. Hanya kosong. Putih pucat. Seperti kanvas yang belum pernah disentuh kuas.
"Kosong," kata Mbah Sengoro.
"Tunggu."
Mbah Sujud meniup halaman itu. Perlahan. Sekali. Nafasnya hangat, seperti nafas kehidupan. Dan halaman itu berubah. Tulisan muncul. Bukan muncul seperti dicetak. Tapi tumbuh. Seperti akar yang merambat di permukaan kertas. Seperti daun yang membuka diri di pagi hari.
Mbah Sengoro membaca dengan suara lirih, nyaris berbisik.
"Ketika langit dan akar mulai tidak sepakat, maka dunia akan mencari keseimbangannya sendiri."
"Langkawi..." gumam Mbah Kromo. Kata itu keluar dari mulutnya seperti kenangan yang tiba-tiba muncul dari kedalaman ingatan. "Itu dari Mbah Urip."
"Iya. Ini tulisannya Mbah Urip," kata Mbah Sujud. Matanya tidak lepas dari halaman kitab itu. "Tidak pakai tinta. Pakai darah."
"Darah?"
"Darahnya sendiri. Mbah Urip menulis ini dengan darahnya sendiri. Sebelum dia... hilang."
"Kamu bilang hilang?" tanya Mbah Sengoro cepat. Suaranya meninggi sedikit, tidak bisa menyembunyikan rasa ingin tahunya.
"Hilangnya bukan mati. Hilangnya... masuk."
"Masuk ke mana?"
Mbah Sujud menunjuk pohon randu. Pohon besar yang menjulang di atas mereka dengan akar-akar yang menjalar ke mana-mana, ke tempat yang tidak bisa dilihat, ke tempat yang tidak bisa dijangkau. "Masuk ke sana. Masuk ke pohon ini. Menjadi bagian dari perjanjian."
BAB 3: TIGA TAHUN PERTAMA ARIA
Aria usia 3 tahun.
Taman kanak-kanak desa hanya punya satu ruangan. Satu guru. Dan lima belas murid yang bolak-balik antara bermain, menangis, dan tidur siang yang tidak pernah tepat waktu. Dinding ruangan dicat warna-warni, tapi catnya sudah mulai mengelupas di beberapa sudut. Di dinding belakang, tergambar pemandangan gunung dan sawah yang dibuat oleh murid-murid tahun lalu, sudah pudar dimakan usia.
Bu Guru Ratmi, perempuan berusia lima puluh tahun dengan rambut yang sudah mulai memutih di bagian pelipis, sudah tiga puluh tahun mengajar di TK itu. Ia sudah melihat ratusan anak. Dari yang paling nakal sampai yang paling pendiam. Dari yang paling pintar sampai yang paling lambat belajar. Dari yang paling periang sampai yang paling sering menangis tanpa sebab. Dari semuanya, ia pikir tidak ada lagi yang bisa mengejutkannya.
Tapi ia belum pernah melihat anak seperti Aria.
"Aria, ayo ikut menggambar," ajak Bu Guru Ratmi pada suatu pagi. Suaranya lembut, penuh kesabaran yang sudah terlatih selama tiga dekade. Aria sedang duduk di sudut ruangan. Seperti biasa. Sendirian. Jauh dari keramaian teman-temannya yang asyik mewarnai gambar kelinci dan kupu-kupu. Matanya tidak tertuju pada apa pun di ruangan itu. Matanya tertuju pada sesuatu di luar jendela. Sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh anak-anak lain. Sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh Bu Guru Ratmi sendiri.
"Tidak, Bu. Saya lagi sibuk," jawab Aria tanpa menoleh. Suaranya datar, seperti orang dewasa yang sedang berkonsentrasi pada pekerjaan penting.
Bu Guru Ratmi tersenyum, berusaha sabar. "Sibuk apa, Nak? Kan belum ada tugas."
Aria terdiam. Matanya terus menatap ke luar jendela. Angin pagi menerbangkan sedikit debu dari halaman. "Saya lagi menghitung."
"Menghitung apa?"
"Akar. Akar pohon randu. Dari sini kelihatan, Bu. Di pojok jendela. Coba lihat." Aria menunjuk ke arah luar jendela dengan jari telunjuknya yang mungil. Gerakannya pasti, tanpa keraguan. "Akar pohon randu itu sampai ke belakang sekolah. Bapak Ibu Guru tidak lihat?"
Bu Guru Ratmi mendekati jendela. Ia menatap ke arah yang ditunjuk Aria dengan perasaan aneh yang tidak bisa ia jelaskan. Tentu saja ia tidak melihat akar pohon randu di belakang sekolah. Pohon randu ada di alun-alun desa. Jaraknya setidaknya lima ratus meter dari TK. Tidak mungkin akarnya sampai ke sini. Tidak mungkin secara fisik. Tapi... mengapa ia merasakan sesuatu? Mengapa ada getaran kecil di dadanya?
"Tidak ada, Aria. Kamu mungkin melihat bayangan."
"Ada, Bu. Saya lihat. Besar. Di sana persis di bawah pohon mangga. Akarnya tebal. Warna coklat. Seperti ular tidur."
Bu Guru Ratmi tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya menghela napas, seperti orang yang menyerah pada sesuatu yang tidak bisa ia lawan. "Ayo, Aria. Lebih baik ikut teman-teman menggambar. Nanti kamu ketinggalan pelajaran."
Aria akhirnya menoleh. Matanya yang besar dan gelap menatap Bu Guru Ratmi. Tatapan itu tidak seperti tatapan anak kecil. Tidak seperti tatapan yang polos dan kosong. Tatapan itu dalam, seperti sumur tua yang tidak diketahui dasarnya. "Bu Guru, Bapak Ibu Guru percaya tidak kalau pohon randu itu bisa bicara?"
"Bicara? Maksudmu... berbicara?"
"Iya. Seperti manusia. Bisa bicara. Tapi tidak pakai suara. Pakai... perasaan."
"Perasaan?"
"Iya. Saya merasakannya. Setiap sore di bawah pohon itu, saya merasakan seperti ada yang menceritakan sesuatu. Tapi saya tidak tahu ceritanya apa. Saya hanya merasakan takut dan sedih dan kangen."
Bu Guru Ratmi tidak bisa berkata-kata. Jari-jarinya yang memegang kapur tulis bergetar. Hari itu, saat jam pulang tiba, ia memanggil Pak Jari, ayah Aria, untuk berbicara empat mata. Ia memintanya duduk di kursi kayu di ruang guru yang sempit, dengan meja hanya cukup untuk satu orang. Pak Jari duduk dengan wajah tegang, tidak tahu apa yang akan didengarnya.
"Pak Jari, maaf saya mau bertanya. Aria itu... anaknya sehat-sehat saja, kan?"
Pak Jari mengerutkan kening. Alisnya bertaut, keringat dingin mulai muncul di pelipisnya. "Sehat, Bu Guru. Memangnya kenapa? Aria sakit di sekolah?"
"Bukan sakit, Pak. Tapi... maaf, Aria sering bicara hal-hal yang..."
"Yang?" Pak Jari mulai tegang. Tangannya yang bertumpu di lutut mengepal.
"Yang tidak biasa. Tentang akar pohon yang panjang. Tentang pohon randu yang berbicara. Tentang dia melihat sesuatu di luar jendela yang orang lain tidak lihat."
Pak Jari terdiam. Wajahnya pucat. Pucat seperti kapur tulis yang baru saja jatuh ke lantai. Ia tahu persis apa yang dimaksud Bu Guru Ratmi. Karena di rumah pun, Aria sering bicara hal yang sama. Bahkan lebih aneh lagi. Jauh lebih aneh.
"Pak Jari? Apa Aria memang... istimewa?"
Pak Jari menghela napas panjang. Napas yang keluar dari dadanya terasa berat, seperti mengeluarkan batu dari dalam sumur. "Bu Guru... sejujurnya, saya juga bingung. Aria sudah seperti ini sejak kecil. Melihat sesuatu yang tidak saya lihat. Mengatakan sesuatu yang tidak saya mengerti."
"Pernah dibawa ke dokter, Pak?"
"Sudah. Waktu umur satu tahun. Dokternya bilang sehat. Fisiknya sehat. Pikirannya sehat. Hanya..."
"Hanya?"
"Hanya... mungkin Aria punya indra keenam. Kata dokternya begitu."
Bu Guru Ratmi mengangguk. Sebagai guru yang sudah tiga puluh tahun mengajar, ia tahu bahwa indra keenam bukanlah hal yang aneh di desa-desa. Banyak orang tua yang memiliki firasat. Banyak anak yang melihat hal-hal gaib. Tapi Aria berbeda. Aria tidak hanya "melihat". Aria "berkomunikasi" dengan sesuatu yang ia lihat. Dan itu yang membuat Bu Guru Ratmi gelisah sampai ke ubun-ubun.
"Baik, Pak Jari. Terima kasih. Saya hanya ingin memastikan Aria baik-baik saja. Saya akan tetap mengajarnya seperti biasa. Tapi maaf, saya tidak bisa memaksanya melakukan hal-hal yang tidak ia sukai."
"Iya, Bu Guru. Mohon pengertiannya."
Di rumah, Aria semakin sering diam. Ia bisa berjam-jam duduk di teras depan rumah, menatap ke arah alun-alun desa, ke arah pohon randu yang hanya tampak sedikit dari kejauhan. Matanya tidak berkedip. Pikirannya tidak di sini.
"Aria, makan dulu, Nak," panggil ibunya dari dapur. Suara ibunya terdengar seperti dari kejauhan, meskipun jaraknya hanya beberapa meter.
"Nanti, Bu."
"Sudah sore, kamu belum makan. Ayo."
"Sebentar lagi, Bu. Masih didengarkan."
Ibunya mendekat. Langkahnya hati-hati, seperti mendekati anak yang sedang sakit. Ia duduk di samping Aria di kursi kayu yang sudah tua. "Didengarkan apa, Nak? Siapa yang bicara?"
Aria tidak menjawab. Matanya terus menatap pohon randu di kejauhan. Angin sore berhembus, membawa bau tanah basah dan sesuatu yang lain , sesuatu yang tidak bisa dicium oleh ibunya, tapi jelas tercium oleh Aria. Lalu ia berkata, "Bu, saya mau tanya sesuatu."
"Iya, Nak. Tanya apa?"
"Apakah Ibu pernah mencintai seseorang yang tidak bisa Ibu lupakan?"
Ibunya terkejut. Dadanya berdegup lebih cepat. "Aria, kamu masih kecil. Mana tahu soal cinta-cintaan."
"Saya tahu, Bu. Saya tahu rasanya. Rasanya seperti sedih. Tapi sedih yang enak."
"Sedih yang enak?"
"Iya. Seperti... kangen. Tapi kangennya terasa di sini." Aria menunjuk dadanya dengan telapak tangannya yang kecil. Dadanya yang masih rata, di mana jantungnya berdetak, di mana sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan terus bersarang. "Kadang saya menangis, Bu. Menangis tanpa sebab. Atau mungkin sebabnya lupa. Pokoknya menangis. Terus Ibu bilang kenapa. Saya tidak bisa jawab. Karena saya juga tidak tahu."
Ibunya tidak bisa berkata-kata. Ia hanya memeluk Aria erat-erat. Memeluk anak yang begitu kecil tapi begitu tua jiwanya. Memeluk anak yang begitu dekat tapi begitu jauh. "Kamu mungkin hanya lelah, Nak. Atau kurang tidur."
"Bukan, Bu. Ini bukan lelah. Ini seperti... ingat sesuatu. Tapi saya tidak tahu sesuatu apa."
BAB 4: TIGA TAHUN PERTAMA LARAS
Laras usia 3 tahun.
Di usia tiga tahun, Laras sudah bisa berbicara tanpa henti dari pagi hingga malam. Ia seperti burung yang tidak pernah lelah berkicau. Mulutnya tidak pernah diam. Lidahnya tidak pernah lelah. Setiap kali ada yang bisa ia katakan, ia katakan. Setiap kali ada yang bisa ia tanyakan, ia tanyakan. Ibunya, Bu Siti, kadang kewalahan. Kadang tertawa. Kadang menggeleng. Tapi tidak pernah marah.
"Bu, kenapa langit biru?" tanya Laras suatu pagi.
"Karena itu warna langit, Nak."
"Kenapa tidak merah?"
"Karena tidak, Le."
"Kenapa tidak hijau?"
"Karena tidak."
"Kenapa tidak kuning?"
Bu Siti tertawa. "Kamu ini, Le. Banyak sekali tanyanya."
"Aku pengen tahu, Bu."
"Nanti saja kalau sudah besar."
"Aku sudah besar, Bu. Aku sudah tiga tahun."
"Iya. Tiga tahun masih kecil."
"Tapi Bu, aku bisa bicara. Aku bisa jalan. Aku bisa makan sendiri. Aku sudah besar."
Bu Siti mengelus rambut Laras. "Iya, Nak. Kamu sudah besar. Tapi belum cukup besar untuk tahu semuanya."
"Kapan aku cukup besar, Bu?"
"Suatu hari nanti. Tapi jangan terburu-buru. Nikmati dulu masa kecilmu."
Laras mengangguk. Ia tidak sepenuhnya mengerti. Tapi ia percaya pada ibunya.
Tapi cerewetnya aneh. Bukan cerewet biasa yang polos dan lucu. Tapi cerewet yang kadang membuat bulu kuduk Bu Siti merinding. Kadang Laras tertawa sendiri, suaranya terdengar riang meskipun tidak ada teman di sekitarnya. Kadang ia bicara pada udara kosong. Kadang ia menjawab pertanyaan yang tidak ada yang melontarkan.
"Laras, kamu bicara sama siapa?" tanya Bu Siti suatu sore.
"Teman, Bu."
"Teman? Di mana?"
"Di sana, Bu." Laras menunjuk ke arah pojok ruangan. "Dia cantik. Rambutnya panjang. Dia tersenyum padaku."
Bu Siti menatap ke arah yang ditunjuk Laras. Tidak ada siapa-siapa. Hanya dinding kosong. Hanya bayangan yang memanjang karena sinar matahari sore.
"Tidak ada siapa-siapa, Nak."
"Ada, Bu. Dia di sana. Sekarang dia tersenyum. Dia bilang, 'Halo, Laras. Aku senang bertemu kamu.'"
Bu Siti bergidik. "Laras, jangan main-main."
"Aku tidak main-main, Bu. Sungguhan. Dia ada."
"Ayo, Laras. Kita ke luar. Main di halaman. Jangan di dalam saja."
Laras menurut. Tapi sesekali ia menoleh ke belakang. Tersenyum. Melambai.
"Dadah," bisiknya.
Bu Siti tidak bertanya lagi. Ia tidak ingin tahu. Ia hanya ingin melindungi anaknya. Tapi dari apa? Ia tidak tahu.
Kadang tiba-tiba Laras berhenti bermain. Berhenti di tengah-tengah aktivitasnya. Berhenti seperti ada tombol pause yang ditekan. Matanya kosong. Telinganya seperti mendengar sesuatu yang tidak bisa didengar orang lain.
"Laras, kamu kenapa?" tanya Bu Siti.
Laras tidak menjawab.
"Laras!"
Laras masih diam.
"Laras, Ibu bicara!"
Laras menoleh perlahan. Matanya masih kosong. "Ada yang memanggil, Bu."
"Siapa yang memanggil?"
"Aku tidak tahu, Bu. Tapi suaranya jelas. Dia bilang, 'Laras... Laras... jangan takut...'"
Bu Siti memeluk Laras. "Tidak ada yang memanggil, Nak. Itu hanya imajinasimu."
"Bukan imajinasi, Bu. Aku dengar. Sungguhan."
"Kamu hanya kelelahan. Ayo tidur siang."
Tapi Laras menggeleng. "Aku tidak ngantuk, Bu."
"Tidur saja. Nanti Ibu bacakan cerita."
"Cerita apa, Bu?"
"Cerita tentang kelinci dan kura-kura."
"Aku sudah dengar, Bu."
"Cerita tentang Kancil dan Buaya?"
"Aku sudah dengar juga."
"Mau cerita apa?"
Laras berpikir. "Cerita tentang pohon randu, Bu."
Bu Siti terkejut. "Pohon randu?"
"Iya, Bu. Cerita tentang pohon besar di tengah alun-alun. Katanya pohon itu bisa bicara. Katanya pohon itu punya penjaga. Katanya pohon itu menjaga desa kita."
Bu Siti terdiam. "Kamu dengar dari siapa?"
"Aku dengar dari akar, Bu."
"Akar?"
"Akar pohon randu. Mereka cerita padaku. Setiap malam. Setiap aku tidur."
Bu Siti tidak bisa berkata-kata. Ia hanya memeluk Laras erat-erat. "Kamu hanya bermimpi, Nak. Itu tidak nyata."
"Tapi Bu, rasanya nyata. Aku bisa merasakan getarannya. Hangat. Seperti dipeluk."
"Sudah, jangan bicara begitu. Ayo tidur."
Laras tidak membantah. Ia merebahkan diri. Memejamkan mata. Tapi bibirnya masih bergerak. Seperti sedang bicara dengan seseorang. Seperti sedang menjawab panggilan yang tidak bisa didengar ibunya.
Bu Siti hanya bisa diam. Ia memandangi Laras. Hatinya gelisah.
Kadang Laras menangis di tengah malam. Bukan tangis keras yang memecah keheningan. Tapi tangis lirih yang justru lebih menusuk hati. Tangis yang terdengar seperti isak tangis orang dewasa yang tidak bisa lagi menahan beban.
Suatu malam, Bu Siti terbangun karena mendengar Laras menangis. Ia tidak langsung bangun. Ia diam sebentar. Mendengarkan. Tangis itu terus terdengar. Tidak berhenti. Tidak mereda.
Bu Siti bangkit dari tempat tidurnya. Ia menyalakan lampu minyak kecil. Cahaya kuning remang-remang menerangi ruangan. Laras duduk di tempat tidurnya. Wajahnya basah oleh air mata. Matanya merah. Hidungnya meler. Tangannya menggenggam erat boneka kain yang sudah usang.
"Kenapa, Nak?" tanya Bu Siti sambil duduk di samping Laras.
Laras menatap ibunya. Matanya berkaca-kaca.
"Ada yang sedih di bawah tanah, Bu."
Bu Siti menghela napas. Ia mengira itu hanya mimpi buruk. Atau hanya imajinasi anak kecil. Ia berusaha tenang. "Itu hanya mimpi, Nak. Ayo tidur lagi."
"Bukan mimpi, Bu. Aku dengar. Suaranya jelas."
"Suara apa?"
"Suara tangisan. Banyak orang menangis. Mereka bilang... 'Laras... tolong kami...'"
Bu Siti bergidik. Ia memeluk Laras erat-erat. "Tidak ada siapa-siapa, Nak. Kamu hanya kelelahan."
"Ada, Bu. Mereka di dalam tanah. Mereka tidak bisa keluar. Mereka minta tolong. Mereka bilang hanya aku yang bisa."
"Laras..."
"Mereka bilang aku dipanggil. Mereka bilang aku harus belajar. Mereka bilang aku harus menjadi penjaga."
"Penjaga apa?"
"Aku tidak tahu, Bu. Tapi mereka bilang aku istimewa. Mereka bilang aku berbeda. Mereka bilang aku tidak boleh takut."
Bu Siti memeluk Laras lebih erat. "Kamu tidak perlu takut, Nak. Ibu di sini. Ibu akan melindungimu."
"Tapi Bu, mereka butuh aku. Mereka tidak bisa keluar sendiri. Mereka sudah terlalu lama di dalam tanah."
"Laras, kamu masih kecil. Kamu belum bisa membantu siapa pun."
"Tapi Bu, mereka bilang usia tidak penting. Yang penting hati."
Bu Siti terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya bisa memeluk Laras. Memeluk anak yang begitu kecil tapi begitu tua jiwanya. Memeluk anak yang begitu dekat tapi begitu jauh.
"Bu, aku takut."
"Jangan takut, Nak. Ibu di sini."
"Aku takut tidak bisa membantu mereka, Bu."
"Kamu masih kecil, Laras. Biarkan orang dewasa yang membantu."
"Tapi Bu, mereka minta aku. Bukan orang dewasa."
Bu Siti tidak menjawab. Ia hanya mengusap rambut Laras. Perlahan. Lembut. "Tidurlah, Nak. Besok pagi kita bicara lagi."
"Aku tidak bisa tidur, Bu. Pikiranku penuh."
"Tutup matamu. Tarik napas. Lalu hembuskan."
Laras memejamkan mata. Ia bernapas. Tarik. Hembus. Tarik. Hembus.
"Ibu, aku masih dengar mereka."
"Abaikan."
"Aku tidak bisa, Bu. Mereka terus memanggil."
"Katakan pada mereka, 'Lain kali. Aku masih kecil. Aku belum siap.'"
Laras membuka mata. "Bisa begitu, Bu?"
"Coba saja."
Laras memejamkan mata lagi. Ia berkonsentrasi. Mulutnya bergerak tanpa suara. Seperti sedang bicara pada seseorang. Setelah beberapa saat, ia membuka mata.
"Mereka bilang, 'Baik, Laras. Kami tunggu. Jangan lama-lama.'"
Bu Siti tersenyum. "Bagus. Sekarang tidurlah."
Laras merebahkan diri. Ia memeluk bonekanya. Matanya terpejam. Napasnya mulai teratur.
Bu Siti masih duduk di sampingnya. Ia tidak bisa tidur. Hatinya gelisah. Pikirannya kacau. Ia memandangi Laras. "Anakku," bisiknya. "Kamu berbeda. Dan aku tidak tahu harus melindungimu dari apa."
Malam itu, Bu Siti tidak bisa tidur. Ia duduk di teras depan rumah. Menatap langit yang gelap tanpa bintang. Di kejauhan, pohon randu berdiri tegak, diam, seperti sedang mengawasi.
"Apa yang harus aku lakukan?" bisiknya pada dirinya sendiri.
"Khawatir, Bu?" suara suaminya dari dalam rumah.
"Iya, Pak. Laras... dia berbeda."
"Memang. Sejak lahir dia sudah berbeda."
"Aku takut, Pak. Takut dia akan kesulitan. Takut dia akan dijauhi. Takut dia akan dikucilkan."
"Kita tidak bisa melindunginya selamanya, Bu. Yang bisa kita lakukan adalah mendampingi. Membekalinya. Mendoakannya."
"Apa kita cukup kuat?"
"Kita harus kuat. Untuk Laras."
Bu Siti menghela napas. "Aku akan berusaha, Pak."
"Ibu sudah kuat. Ibu hanya belum menyadarinya."
Bu Siti tersenyum. Ia masuk ke dalam rumah. Memeluk suaminya. "Terima kasih, Pak."
"Untuk apa?"
"Untuk selalu ada."
Suatu sore, Bu Siti menyaksikan sendiri keanehan Laras. Keanehan yang tidak bisa ia abaikan. Keanehan yang membuatnya yakin bahwa anaknya memang berbeda.
Laras sedang bermain di halaman belakang rumah. Matahari mulai condong ke barat. Bayang-bayang mulai memanjang. Udara sore terasa sejuk. Angin berhembus pelan.
Laras mengejar kupu-kupu. Tertawa kecil. Ia berlari kesana kemari. Tidak kenal lelah.
Tapi tiba-tiba ia berhenti.
Berdiri diam.
Seperti ada yang menariknya. Seperti ada yang memanggilnya. Seperti ada yang membekukannya di tempat.
Matanya menatap kosong ke arah sumur tua di pojok halaman. Sumur yang sudah tidak digunakan lagi karena airnya keruh. Sumur yang sudah ditutup dengan papan kayu lapuk. Sumur yang sudah lama tidak disentuh siapa pun.
"Laras, kamu kenapa?" tanya Bu Siti dari pintu dapur. Tangannya masih memegang sendok kayu. Air di panci sudah mendidih. Tapi ia tidak peduli. Yang ia pedulikan hanya Laras.
Laras tidak menjawab. Ia terus menatap sumur.
"Laras!"
Laras tidak menjawab.
"Laras, Ibu panggil!" Bu Siti keluar rumah. Langkahnya cepat. Jantungnya berdebar.
Laras masih diam.
Bu Siti berdiri di samping Laras. Ia mengguncang bahu anaknya pelan. "Laras! Kamu tidak dengar Ibu panggil?"
Laras menoleh perlahan. Wajahnya pucat. Pucat seperti kertas. Padahal sedetik yang lalu ia masih tertawa riang mengejar kupu-kupu. Matanya kosong. Tidak seperti biasanya. Kosong seperti tidak ada jiwa di dalamnya.
"Bu, di sumur ada yang mengaji," katanya. Suaranya datar. Tidak seperti biasanya.
Bu Siti mengerutkan kening. "Tidak mungkin, Nak. Sumur itu sudah kering setahun lalu. Tidak ada air. Tidak mungkin ada yang mengaji di dalamnya."
"Ada, Bu," kata Laras tegas. Matanya tidak berkedip. "Saya dengar. Suaranya merdu. Seperti suara perempuan. Dia mengaji surat Yusuf."
"SURAT YUSUF?" Bu Siti terkejut. Anak seusia Laras tidak mungkin tahu surat Yusuf. Tidak mungkin tahu apa itu mengaji. Tidak mungkin tahu merdu atau tidak.
"Laras, dari mana kamu tahu surat Yusuf?"
"Dari dalam sumur, Bu. Perempuan itu yang mengajari. Dia bilang, 'Laras, dengarkan. Ini surat Yusuf. Surat tentang kesabaran. Surat tentang cinta. Surat tentang mimpi yang menjadi nyata.'"
Bu Siti bergidik. Ia mendekati sumur. Perlahan. Hati-hati. Setiap langkah terasa berat. Seperti kakinya diikat batu.
Ia menunduk. Melihat ke dalam melalui celah-celah papan penutup. Tidak ada apa-apa. Hanya gelap. Hanya lumut hijau kehitaman di dinding-dindingnya yang lembab. Hanya air keruh di dasar yang tidak pernah ia gunakan.
Tapi saat ia akan berbalik menjauhi sumur itu, ia mendengar sesuatu.
Samar.
Sangat samar.
Di ujung batas pendengarannya.
Tapi jelas.
Seperti suara orang mengaji. Dari dalam sumur. Lirih. Merdu. Seperti yang dikatakan Laras.
"Tidak mungkin," bisik Bu Siti. Tangannya meremas ujung kain sarungnya. Kukunya hampir menembus kain. Keringat dingin membasahi punggungnya. "Tidak mungkin. Tidak mungkin. Tidak mungkin."
Ia mundur selangkah. Dua langkah. Tiga langkah.
"Bu, kenapa Ibu mundur?" tanya Laras polos.
"S-s-s- tidak ada apa-apa, Nak. Ayo masuk."
"Tapi Bu, perempuan itu masih mengaji. Dia belum selesai."
"Tidak usah didengarkan. Ayo masuk!"
"Ibu, kenapa Ibu marah?"
"Aku tidak marah. Aku hanya... ayo masuk!"
Bu Siti menarik tangan Laras. Keras. Hampir membuat Laras tersandung.
"Ibu, sakit!"
"Maaf, Nak. Ibu tidak sengaja. Tapi ayo cepat masuk."
Mereka masuk ke dalam rumah. Bu Siti menutup pintu. Menguncinya. Dadanya naik turun. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.
"Bu, kenapa Ibu kunci pintu?"
"Tidak apa-apa. Ibu hanya ingin rumah kita aman."
"Dari apa, Bu?"
"Tidak dari apa-apa. Ayo, Ibu temani kamu bermain."
Laras tersenyum. "Boleh main boneka, Bu?"
"Boleh. Ambil bonekamu."
Laras berlari ke kamar. Mengambil boneka kainnya yang sudah usang. Ia kembali ke ruang tengah. Duduk di lantai. Mulai bermain sendiri.
Bu Siti masih berdiri di dekat pintu. Hatinya tidak tenang. Ia menatap ke arah sumur dari balik jendela. Tidak ada apa-apa. Hanya sumur tua yang sunyi.
Tapi ia tahu. Ia tidak salah dengar. Ada sesuatu di dalam sumur itu. Ada sesuatu yang memanggil Laras. Ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.
Namun Laras sudah kembali berlari bermain. Seolah tidak terjadi apa-apa. Seolah apa yang baru saja ia katakan hanyalah cuaca, sesuatu yang biasa dan tidak perlu dipikirkan lebih lanjut.
"Bu, lihat! Bonekaku bisa terbang!" teriak Laras sambil melempar bonekanya ke udara.
Bu Siti tersenyum canggung. "Iya, Nak. Pintar."
"Bu, ibu sedih?"
"Tidak. Ibu tidak sedih."
"Tapi wajah Ibu cemberut."
"Ibu hanya... sedikit lelah."
"Kalau begitu, Bu, istirahatlah. Aku main sendiri."
"Kamu tidak apa-apa?"
"Aku baik-baik saja, Bu. Aku sudah besar."
Bu Siti tersenyum. "Iya. Kamu sudah besar."
Ia duduk di kursi. Memandangi Laras yang asyik bermain. Hatinya masih gelisah. Tapi ia tidak mau menunjukkan. Ia tidak mau Laras melihat ketakutannya.
"Laras," panggilnya.
"Iya, Bu."
"Ibu sayang kamu."
"Aku juga sayang Ibu."
"Apa pun yang terjadi, Ibu akan selalu menjagamu."
"Aku tahu, Bu."
"Kamu tidak sendirian."
"Aku tahu, Bu. Aku juga punya teman-teman."
Bu Siti terkejut. "Teman-teman?"
"Iya, Bu. Teman-teman di dalam tanah. Mereka baik. Mereka tidak jahat. Mereka hanya sedih."
Bu Siti tidak bertanya lebih jauh. Ia takut mendengar jawabannya.
"Laras."
"Iya, Bu."
"Ayo, Ibu bacakan cerita."
"Cerita apa, Bu?"
"Cerita tentang pohon randu."
Laras berhenti bermain. Ia menatap ibunya. Matanya berbinar.
"Aku mau, Bu! Aku mau dengar cerita tentang pohon randu!"
Bu Siti mengambil sebuah buku cerita dari rak. Ia membukanya. Membaca dengan suara lirih. Laras duduk di pangkuannya. Mendengarkan dengan saksama.
Di luar, angin sore berhembus pelan. Daun-daun randu bergoyang di kejauhan. Cahaya keemasan mulai muncul di sela-sela dedaunan.
Bu Siti tidak melihat itu. Ia hanya membaca cerita untuk anaknya. Berusaha menenangkan hatinya yang gelisah. Berusaha melupakan suara mengaji dari dalam sumur. Berusaha menganggap semua ini hanya mimpi.
Tapi Laras tahu. Laras merasakan semuanya. Laras mendengar panggilan yang tidak bisa didengar ibunya.
"Bu," bisik Laras di sela-sela cerita.
"Iya, Nak?"
"Suatu hari nanti, aku akan menjadi penjaga."
Bu Siti berhenti membaca. Ia menatap Laras.
"Siapa yang bilang?"
"Mereka, Bu. Mereka di dalam tanah."
Bu Siti tidak menjawab. Ia hanya memeluk Laras. Memeluk anak yang begitu kecil tapi begitu tua jiwanya.
"Mereka bilang aku dipilih. Mereka bilang aku tidak bisa lari. Mereka bilang aku harus berani."
"Laras..."
"Tapi aku tidak takut, Bu. Karena aku tahu Ibu akan selalu mendukungku."
Bu Siti menangis. "Iya, Nak. Ibu akan selalu mendukungmu."
"Aku sayang Ibu."
"Ibu juga sayang kamu, Laras. Ibu sayang sekali."
Malam itu, Bu Siti tidak bisa tidur lagi. Ia duduk di teras depan rumah. Menatap langit yang gelap tanpa bintang. Di kejauhan, pohon randu berdiri tegak, diam, seperti sedang mengawasi.
Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia tidak tahu harus melindungi Laras dari apa. Ia hanya tahu bahwa anaknya berbeda. Dan perbedaan itu tidak bisa ia hindari.
"Ya Allah," bisiknya. "Lindungilah anakku. Berikanlah ia kekuatan. Berikanlah ia keberanian. Dan berikanlah aku petunjuk untuk menjaganya."
Angin malam berhembus pelan. Tidak dingin. Hangat. Seperti pelukan. Seperti jawaban.
Bu Siti tersenyum. Ia masuk ke dalam rumah. Menutup pintu. Memeluk Laras yang sudah tertidur pulas.
"Selamat malam, anakku," bisiknya. "Ibu akan selalu di sini. Sampai kapan pun."
BAB 5: MIMPI PERTAMA
Aria dan Laras usia 5 tahun.
Pada malam ketika angin berhenti total, ketika seluruh desa menahan napas, Aria dan Laras sama-sama bermimpi tentang dunia akar untuk pertama kalinya. Mereka tidak tahu bahwa yang satu sedang bermimpi tentang akar, dan yang satu sedang bermimpi tentang cahaya. Mereka juga tidak tahu bahwa mimpi mereka terhubung.
Aria bermimpi.
Ia berdiri di sebuah tempat yang tidak memiliki langit. Tidak ada matahari. Tidak ada bulan. Tidak ada bintang. Tidak ada awan. Yang ada hanya ruang luas berwarna gelap keperakan, seperti kabut yang membeku di udara. Kabut itu dingin saat menyentuh kulitnya, tapi tidak membuatnya menggigil. Anehnya, kabut itu membuatnya tenang. Sangat tenang. Tenang seperti ketika ia duduk di bawah pohon randu di siang hari, di bawah naungan dedaunan yang rimbun, dikelilingi oleh keheningan yang ia sendiri tidak mengerti kenapa ia menyukainya.
Di bawah kakinya bukan tanah. Bukan pasir. Bukan lantai. Tapi akar. Akar-akar besar menjalar ke segala arah, menggantung di udara seperti jembatan yang tidak selesai dibangun. Akar-akar itu tidak kering. Mereka basah. Lembap. Seperti baru saja terkena hujan segar. Dan semuanya berdenyut pelan. Berdetak. Seperti hidup. Seperti ada sesuatu yang mengalir di dalamnya, bukan air, tapi sesuatu yang lebih tua dari air, lebih dalam dari sungai, lebih hangat dari darah.
"Ini... tempat apa?" gumam Aria. Suaranya menggema di ruang tanpa batas itu.
Tidak ada jawaban. Hanya bisikan-bisikan samar yang datang dari segala arah sekaligus. Bisikan-bisikan itu tidak bisa ia dengar dengan jelas. Tidak seperti suara manusia. Tapi ia bisa merasakan isinya. Seperti gelombang. Seperti getaran. Seperti perasaan yang ditransmisikan langsung ke dalam hatinya. Nama-nama. Tangisan. Doa yang tidak pernah terkabul. Dan sesuatu yang seperti janji yang sudah lama dilupakan.
Aria melangkah. Pelan. Hati-hati. Kakinya menyentuh akar-akar itu. Setiap langkah membuat suara lembut seperti kayu tua yang retak pelan.
Dari kejauhan, ia melihat sosok.
Seorang perempuan. Berambut panjang. Sangat panjang. Rambutnya hitam legam, menjuntai hingga ke tanah, hampir menyentuh akar-akar yang ia pijak. Perempuan itu berdiri membelakangi Aria. Tidak bergerak. Tidak bersuara. Hanya diam. Diam seperti patung.
Tapi Aria tahu perempuan itu tidak diam. Perempuan itu menunggu. Menunggunya.
"Siapa kamu?" tanya Aria sambil mendekat.
Perempuan itu tidak menjawab. Ia tetap membelakangi. Rambutnya yang panjang bergerak sedikit, seolah ditiup angin yang tidak ada.
Aria terus mendekat. Setiap langkahnya membuat kabut di sekitarnya bergerak menjauh, seperti memberi jalan. Seperti menyambut. Kabut itu tidak lagi dingin. Kini terasa hangat di kulitnya.
Tiga langkah lagi. Dua langkah lagi. Satu langkah lagi.
Aria mengulurkan tangannya. Ujung jarinya hampir menyentuh pundak perempuan itu.
Tapi tiba-tiba, sosok itu menghilang. Seperti asap yang ditiup angin. Seperti cahaya yang tiba-tiba padam. Yang tersisa hanya getaran kecil di udara, jejak hangat yang segera lenyap, dan rasa kehilangan yang tiba-tiba menyergap dada Aria.
Aria terperanjat. Ia menoleh ke kiri. Ke kanan. Ke belakang. Di sekelilingnya, akar-akar mulai bergerak. Tidak lagi diam. Mereka bergerak seperti ular, seperti sungai, seperti sesuatu yang hidup dan sadar.
"Jangan lari," kata Aria. Dadanya berdebar. "Aku hanya ingin bicara. Aku hanya ingin tahu."
Ruang di sekitarnya bergetar pelan mendengar kata-katanya.
"Balik..." sebuah suara terdengar. Bukan dari arah tertentu. Tapi dari segala arah sekaligus. Seperti suara yang keluar dari bumi itu sendiri. "Balik... tapi jangan sendiri..."
"Balik... jangan sendiri..."
Aria terbangun. Napasnya tersengal. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Ia duduk di tempat tidur, tangan gemetar.
"Ini bukan mimpi biasa," gumamnya.
Di luar rumah, malam masih sunyi. Tidak ada suara jangkrik. Tidak ada suara ayam. Hanya keheningan total yang membuat telinganya berdenging.
Tapi Aria tahu ada sesuatu yang berbeda. Ada sesuatu yang berubah. Seperti dunia di luar jendelanya juga baru saja bermimpi. Dan mimpi itu tidak hanya miliknya sendiri.
Di rumah lain, Laras juga bermimpi.
Tapi mimpinya berbeda.
Ia tidak berdiri di tempat tanpa langit dengan akar-akar raksasa. Ia berdiri di sebuah padang cahaya. Cahaya keemasan. Hangat. Menyelimuti seluruh tubuhnya seperti selimut tebal di malam hujan.
"Di mana aku?" bisik Laras.
Tidak ada yang menjawab. Tapi ia tidak sendirian. Ia merasakan kehadiran. Seseorang. Atau sesuatu. Di dekatnya. Sangat dekat.
"Kamu siapa?" tanya Laras.
Tidak ada suara. Tapi ia merasakan jawaban. Bukan dalam bentuk kata. Tapi dalam bentuk perasaan. Perasaan tenang. Perasaan aman. Perasaan seperti dipeluk oleh seseorang yang sangat ia cintai, meskipun ia tidak tahu siapa orang itu.
Laras tersenyum tanpa sadar. "Kamu baik, ya?"
Cahaya di sekitarnya bergetar. Berdenyut. Seperti jantung. Seperti kehidupan. Seperti sesuatu yang bahagia mendengar pertanyaannya.
Laras berjalan di padang cahaya itu. Setiap langkahnya membuat jejak berkilau, seperti bintang-bintang kecil yang lahir di bawah kakinya lalu mati lagi. Aneh. Tapi indah.
"Aku tidak tahu ini tempat apa," kata Laras. "Tapi aku betah."
Cahaya itu semakin terang. Menyelimutinya. Membelai pipinya. Mengelus rambutnya.
"Kamu seperti ibuku," bisik Laras. "Tapi beda. Ibuku hangat. Kamu juga hangat. Tapi kamu lebih... tua. Lebih bijak. Seperti nenek."
Cahaya itu berdenyut pelan. Seperti tertawa. Seperti tersenyum.
Laras terus berjalan. Semakin jauh. Semakin dalam ke padang cahaya itu. Dan di kejauhan, ia melihat sesuatu. Sebuah pohon. Pohon besar. Sangat besar. Lebih besar dari pohon randu di desanya. Akarnya menjalar ke mana-mana. Daunnya berkilauan seperti emas.
"Itu pohon randu?" bisik Laras. "Tapi kenapa berbeda?"
Ia mendekati pohon itu. Setiap langkahnya terasa ringan. Seperti berjalan di atas awan.
Saat ia hampir sampai, tiba-tiba pohon itu berubah. Tidak lagi pohon. Tapi seseorang. Perempuan. Berambut panjang. Sangat panjang. Perempuan itu tersenyum padanya. Senyum yang hangat. Senyum yang membuat Laras ingin menangis tanpa tahu kenapa.
"Kamu..." bisik Laras.
Perempuan itu mengulurkan tangannya. Laras mengulurkan tangannya juga. Ujung jari mereka hampir bersentuhan.
Tapi kemudian semuanya menghilang.
Pohon itu hilang. Perempuan itu hilang. Padang cahaya itu hilang. Yang tersisa hanya gelap. Dan dingin. Dan rasa kehilangan yang begitu dalam.
"Aku belum tahu namamu!" teriak Laras ke dalam kegelapan.
Tidak ada jawaban.
Laras jatuh. Tidak ke bawah. Tapi ke atas. Ke dalam langit yang terbalik. Ke dalam kesadaran yang mulai pudar. Ke dalam tubuhnya yang terbaring di tempat tidur.
Laras terbangun.
Dengan air mata di pipinya.
Ia tidak tahu kenapa menangis. Tidak ada yang menyakitinya. Tidak apa yang membuatnya sedih. Tidak ada mimpi buruk yang menghantuinya. Tapi air matanya mengalir deras, dan ia tidak bisa menghentikannya.
"Bu..." panggilnya lirih.
Bu Siti terbangun. Matanya masih sayu. "Kenapa, Nak?"
"Saya menangis... tapi saya tidak tahu kenapa."
Bu Siti duduk di sampingnya, memeluknya. "Mungkin kamu mimpi buruk."
"Bukan, Bu. Bukan mimpi buruk. Saya mimpi indah. Sangat indah. Tapi saya menangis."
"Mimpi apa?"
Laras terdiam. Ia berusaha mengingat. Tapi mimpinya mulai pudar. Seperti kabut yang diusir matahari pagi. Seperti pasir yang lolos di sela-sela jari. Yang tersisa hanya satu hal. Satu perasaan.
"Ada seseorang, Bu," kata Laras akhirnya. Matanya menerawang ke kejauhan. "Di mimpiku. Seseorang yang... kayaknya penting banget buat saya. Tapi saya tidak tahu siapa."
"Dia bilang apa?"
Laras menunduk. Air matanya terus jatuh. "Dia tidak bilang apa-apa, Bu. Tapi saya merasakannya. Dia bilang... 'Tunggu aku...'"
Bu Siti memeluk Laras lebih erat. Diam-diam, ia bertanya-tanya dalam hati. Anaknya berbeda. Ia sudah tahu sejak Laras lahir. Tapi mimpi seperti ini... ini baru pertama kali.
"Bu," panggil Laras pelan.
"Iya, Nak?"
"Apa saya boleh mencari dia? Suatu hari?"
"Siapa yang kamu cari?"
"Orang di mimpiku itu. Saya ingin tahu siapa dia."
Bu Siti menghela napas. "Laras, itu hanya mimpi."
"Tapi rasanya nyata, Bu."
Bu Siti tidak menjawab. Ia hanya memeluk Laras lebih erat. Karena ia sendiri, di dalam tidurnya yang gelisah malam itu, juga bermimpi. Mimpi tentang pohon besar. Mimpi tentang cahaya keemasan. Mimpi tentang dua anak kecil yang berdiri saling berhadapan di tempat tanpa langit.
Dan satu kalimat yang terus berulang di kepalanya sampai ia bangun, sampai ia sadar, sampai ia menggenggamnya erat-erat seperti harta yang tidak ingin ia lepaskan.
"Siklus tidak akan pernah berhenti."
Pohon randu di alun-alun berdenyut pelan. Daunnya bergoyang tanpa angin. Di dalam batang pohon itu, Nyai Kembang Randu membuka matanya.
"Dua anak kecil," bisiknya. "Mereka mulai bermimpi. Mereka mulai dipanggil. Perjalanan panjang akan segera dimulai."
Angin malam berhembus hangat.
"Bertumbuhlah, Aria dan Laras. Dunia akar menanti kalian."
BAB 6: PERTEMUAN PERTAMA DI PASAR
Aria dan Laras usia 6 tahun.
Mereka belum pernah bertemu secara sengaja.
Desa Randu Gembyang memang tidak besar. Hanya terdiri dari beberapa ratus rumah yang tersebar di lereng bukit, dengan sawah di bagian selatan dan hutan di bagian utara. Tapi entah mengapa, jalan Aria dan Laras tidak pernah bersinggungan.
Aria tinggal di ujung timur, dekat dengan sungai yang airnya jernih dan dingin. Laras di ujung barat, dekat dengan hutan yang angker katanya. Sekolah mereka berbeda , Aria bersekolah di TK dekat rumahnya, Laras di TK dekat rumahnya. Aktivitas mereka berbeda. Teman-teman mereka juga berbeda.
Seolah ada sesuatu yang sengaja menjaga mereka terpisah.
Sampai suatu hari di pasar desa.
"Aria, pakai sandal yang rapi. Nanti kamu jatuh," kata Bu Darmi dari dapur.
"Iya, Bu. Nanti aku ganti," jawab Aria sambil mengucek matanya. Masih mengantuk. Semalam ia tidak bisa tidur nyenyak. Mimpi itu masih terngiang. Perempuan berambut panjang. Padang cahaya. Tempat tanpa langit dengan akar-akar raksasa.
"Jangan lupa bawa keranjangnya," kata Bu Darmi lagi.
"Iya, Bu."
Aria mengganti sandalnya. Keranjang bambu di tangan kirinya. Tangan kanannya memegang uang belanja yang diberikan ibunya.
"Bu, kita beli apa saja?"
"Sayur, cabai, bawang, dan tahu."
"Cabainya banyak, Bu?"
"Iya. Bapakmu suka pedas."
Aria tersenyum. "Aku juga suka pedas."
"Kamu masih kecil. Belum boleh makan pedas-pedas."
"Tapi aku sudah enam tahun, Bu."
"Enam tahun masih kecil. Tunggu sampai dua belas tahun."
Aria menghela napas. "Lama sekali, Bu."
Di rumah lain, di ujung barat desa, Laras sedang bersisir di depan cermin.
"Ibu, pita rambutku mana?" tanya Laras.
"Di laci nak, yang warna merah," jawab Bu Siti dari dapur.
"Ibu, mana yang lebih cantik? Merah atau kuning?"
"Merah, Nak. Merah lebih mencolok. Kamu jadi keliatan cantik."
Laras tersenyum. Ia mengikat rambutnya dengan pita merah. Dua ekor. Tidak rapi. Tapi ia suka.
"Bu, kita beli apa di pasar?"
"Bumbu. Ibu mau masak gulai."
"Gulai kambing, Bu?"
"Iya. Kamu suka kan?"
"Suka! Aku suka banget!"
"Nah, makanya ikut Ibu. Biar kamu bisa pilih bumbunya."
Laras melompat kegirangan. "Asyik! Aku suka ke pasar!"
"Tapi jangan lari-lari. Nanti tersesat."
"Aku tidak akan tersesat, Bu. Aku sudah hafal jalan."
"Ya sudah. Ayo berangkat."
Mereka berpapasan di depan lapak sayur milik Mak Sumirah.
Perempuan gemuk dengan suara keras yang selalu tertawa. Lapaknya selalu paling ramai karena dagangannya paling segar dan harganya paling murah.
"Ibu, itu sayur kangkungnya masih segar, ya?" tanya Aria pada ibunya.
"Iya, segar. Nanti kita beli."
"Bu, aku lihat cabai rawit. Bapak suka yang rawit kan?"
"Iya. Kamu perhatikan juga ternyata."
"Ya, aku kan anak Bapak."
Bu Darmi tertawa. "Ya sudah. Nanti Ibu beli."
Tepat saat itu, dari arah berlawanan, Laras dan Bu Siti datang.
"Bu, itu tahu putih. Kita beli tahu putih, ya?" kata Laras.
"Beli nanti, Nak. Kita cari bumbu dulu."
"Tapi Bu, tahu putihnya cuma sedikit. Nanti habis."
"Ya sudah. Ibu ambil dulu."
Bu Siti mendekati lapak Mak Sumirah. Laras mengikutinya dari belakang.
Aria berhenti.
Laras juga berhenti.
Seperti ada yang menarik tali di belakang leher mereka. Seperti ada yang memegang pundak mereka dari belakang. Seperti ada yang berbisik di telinga mereka.
"Lihat... ini dia... yang kau cari... yang kau tunggu..."
Aria menoleh. Laras menoleh.
Mata mereka bertemu.
"Eh..." Aria terkejut. Ia tidak tahu kenapa, tapi dadanya berdebar. Debar yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Bukan debar takut. Bukan debar sakit. Tapi debar seperti ada sesuatu yang penting terjadi. Sesuatu yang sudah lama ia nanti.
"Kamu..." Laras juga terkejut. Matanya membulat. "Kamu... aku pernah lihat?"
"Belum," jawab Aria. Suaranya sedikit serak. "Aku belum pernah lihat kamu."
"Tapi rasanya..."
"Iya. Rasanya seperti sudah."
Mereka saling menatap. Bukan tatapan biasa. Bukan tatapan penasaran anak kecil yang melihat anak kecil lain. Bukan tatapan ingin kenal atau ingin bermain.
Tatapan seperti dua orang yang sudah sangat lama berpisah dan akhirnya bertemu lagi di tempat yang tidak disangka-sangka. Tatapan seperti dua keping puzzle yang akhirnya menemukan pasangannya setelah tersesat di dua kotak yang berbeda selama bertahun-tahun.
"Aria, ayo," panggil Bu Darmi dari kejauhan. "Jangan ngelamun!"
Aria tidak bergerak.
"Laras, ayo," panggil Bu Siti dari belakang. "Ibu sudah dapat tahunya."
Laras tidak bergerak.
Mak Sumirah yang melihat keanehan itu mengerutkan kening. "Lho, kok pada diam? Kalian kenal, Nak?"
Aria dan Laras menjawab bersamaan. Suara mereka bersatu seperti satu suara dari dua mulut. Seperti dua nada yang sama dari dua instrumen yang berbeda.
"Belum, Mak."
"Tapi rasanya sudah."
Mak Sumirah mengerutkan kening lebih dalam. "Sudah kenal? Lho, terus kok bilang belum?"
Aria menatap Laras. Laras menatap Aria. Dunia di sekitar mereka seolah memudar. Warna-warna pasar yang biasanya cerah menjadi kusam. Suara tawar-menawar yang biasanya riuh menjadi samar. Bau-bau sayur dan ikan yang biasanya menyengat menjadi kabur.
Yang tersisa hanya mereka berdua. Berdiri di tengah lorong pasar. Dikelilingi oleh orang-orang yang tidak mereka lihat. Tidak mereka dengar. Tidak mereka rasakan.
"Aria," panggil Bu Darmi lagi. Kali ini lebih keras. "Aria! Kamu tidak dengar?"
Aria tetap diam.
"Laras, ayo! Ibu tunggu!" teriak Bu Siti.
Laras tetap diam.
Mak Sumirah mengamati mereka berdua dengan mata menyipit. "Aneh. Belum pernah lihat anak kecil kayak gini. Matanya kayak orang dewasa."
"Aria!" Bu Darmi sudah di samping Aria. Tangannya meraih bahu anaknya. "Kamu kenapa? Sakit?"
Belum sempat Aria menjawab, Bu Siti juga sudah di samping Laras. "Laras, Ibu panggil dari tadi tidak dengar?"
Laras tidak menjawab. Matanya masih tertuju pada Aria. Dadanya terasa hangat. Hangat seperti saat ia bermimpi di padang cahaya. Hangat seperti saat ia merasakan kehadiran seseorang di dalam mimpinya dulu.
"Laras, kamu kenal anak ini?" tanya Bu Siti.
Laras menggeleng pelan. "Belum, Bu. Tapi..."
Tapi ia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Karena ia tidak tahu harus berkata apa. Bagaimana menjelaskan rasa ini? Bagaimana menjelaskan bahwa ia merasa sudah mengenal Aria sejak sebelum ia lahir?
"Aria, jawab Ibu!" Bu Darmi mulai cemas. Wajahnya pucat. "Kamu kenapa diem saja?"
Aria menoleh pada ibunya. "Bu, aku baik-baik saja."
"Tapi kamu diem saja dari tadi. Ibu panggil-panggil tidak jawab."
"Aku tidak dengar, Bu."
"Tidak dengar? Ibu teriak dari dekat."
"Aku... tadi aku seperti... melamun."
"Melamun kenapa?"
Aria menunjuk Laras. "Karena dia, Bu."
Bu Darmi menoleh ke arah yang ditunjuk Aria. Melihat Laras. Lalu menoleh ke Bu Siti. "Maaf, Bu. Anak saya... kadang aneh."
Bu Siti tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, Bu. Anak saya juga kadang aneh."
Mereka berdua tertawa canggung.
Aria mendekati Laras. Satu langkah. Dua langkah. Kini mereka berhadapan hanya sejauh satu lengan.
"Kamu Aria?" tanya Laras.
"Iya. Kamu Laras?"
"Iya. Kamu kenal aku?"
"Aku tidak kenal. Tapi aku bermimpi tentang kamu."
Laras terkejut. "Mimpi?"
"Iya. Mimpi. Tempat gelap. Banyak akar. Lalu ada perempuan. Berambut panjang. Dia menghilang saat aku hampir menyentuhnya."
Laras membelalakkan mata. Matanya berkaca-kaca. "Aku juga. Aku bermimpi. Tapi beda. Aku mimpi padang cahaya. Ada pohon besar. Lalu pohon itu berubah jadi perempuan. Perempuan berambut panjang. Dia tersenyum padaku."
"Perempuan yang sama?" tanya Aria.
"Aku tidak tahu. Tapi rasanya... sama."
Mak Sumirah yang mendengar percakapan itu ikut mendekat. "Wah, kalian ini bertemu di mimpi? Hebat sekali."
Aria menggeleng. "Aku tidak tahu, Mak. Aku hanya cerita apa yang aku rasakan."
"Dan apa yang kamu rasakan?"
Aria terdiam sejenak. Ia mencari kata-kata. Tapi kata-kata tidak pernah cukup. Akhirnya ia berkata, "Mak, saya ditarik Ibu. Tapi perlu Mak tahu. Rasanya seperti saya sudah kenal Laras lama. Sangat lama. Sampai lupa."
Laras mengangguk. Matanya yang jernih berkedip sekali. "Iya, Mak. Rasanya seperti kemarin saya bertemu Aria di mimpi. Tapi mimpinya seperti nyata."
Mak Sumirah tersenyum. Senyumnya lebar, tapi matanya basah. "Mungkin kalian ini jodoh, Nak. Jodoh yang sudah ditakdirkan dari lama."
"Jodoh?" Aria mengerutkan kening. Kata itu asing di telinganya, tapi anehnya tidak asing di hatinya. "Jodoh itu apa, Mak?"
"Jodoh itu orang yang sudah ditentukan Tuhan untuk menjadi pasangan kita. Dari sebelum kita lahir."
"Sepasang?" tanya Laras.
"Iya. Sepasang. Seperti cerita wayang. Dewi Sinta dan Rama. Arjuna dan Srikandi."
Laras geleng-geleng. "Mak, saya masih anak kecil. Tidak tahu soal jodoh."
"Ya, Nak. Tapi ketakdiran tidak melihat usia. Kalian belum dewasa. Tapi kalian sudah dipertemukan. Itu namanya takdir."
"Takdir," ulang Aria perlahan. Kata itu terasa berat di lidahnya. Tapi juga terasa tepat. Seperti sepatu yang pas di kaki. Seperti baju yang hangat di badan. Seperti rumah yang nyaman untuk pulang.
"Aria, kita harus belanja. Ibu masih banyak yang harus dibeli," kata Bu Darmi.
"Sebentar lagi, Bu."
"Jangan lama-lama. Nanti siang."
"Iya, Bu."
Aria menatap Laras. "Kamu sekolah di mana?"
"TK Melati. Dekat rumahku. Kamu?"
"TK Flamboyan. Dekat rumahku."
"Berjauhan," kata Laras.
"Iya. Tapi tidak apa-apa. Pasar ini kan dekat. Kita bisa ketemu di sini."
Laras tersenyum. "Kapan?"
"Aku ikut ibu belanja setiap hari Kamis. Kamu?"
"Aku juga. Setiap Kamis."
"Berarti Kamis depan kita ketemu lagi?"
"Pasti. Kamis depan."
Mereka berdua tersenyum. Senyum kecil. Hampir tidak terlihat jika tidak diperhatikan.
Bu Siti menarik tangan Laras. "Ayo, Laras. Ibu sudah bayar."
"Sebentar, Bu. Aku belum selesai bicara."
"Nanti saja bicaranya. Bapak sudah menunggu di rumah."
Laras menatap Aria. "Aria, aku pergi dulu."
"Perhatian di jalan."
"Kamu juga."
Mereka berjalan berlawanan arah. Aria di sebelah timur. Laras di sebelah barat.
Tapi sesekali, mereka menoleh ke belakang.
Saling melambai.
Mak Sumirah menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aneh. Belum pernah lihat anak kecil kayak gitu." Ia mengelap lapaknya yang sudah bersih. "Matanya seperti orang dewasa. Bicaranya juga. Kayak sudah tua."
Bu Darmi mendekati Mak Sumirah. "Mak Sum, anak saya itu... wajar ya?"
"Wajar? Maksudnya?"
"Ya... wajar seperti anak-anak lain. Atau... ada yang tidak beres?"
Mak Sumirah terdiam. Ia menatap Aria yang sudah agak jauh. Kemudian menatap Laras yang juga sudah agak jauh.
"Bu Darmi, saya mau bilang jujur."
"Silakan, Mak."
"Anak Ibu tidak ada yang tidak beres. Anak Ibu istimewa."
"Istimewa? Maksudnya?"
"Istimewa yang berbeda. Istimewa yang langka. Tidak semua orang punya anak seperti Aria."
Bu Darmi menghela napas. "Saya justru khawatir, Mak. Dari kecil dia sudah berbeda. Suka diam. Suka lihat pohon randu terus. Kadang bicara sendiri."
"Tidak apa-apa, Bu. Banyak orang hebat yang berbeda sejak kecil."
"Semoga benar, Mak."
"Percayalah."
Di perjalanan pulang, Laras tidak bisa diam.
"Bu."
"Iya, Le."
"Aku tadi bertemu dengan Aria."
Bu Siti mengerutkan kening. "Aria siapa?"
"Anak laki-laki yang aku ceritakan. Yang ada di mimpiku dulu, Bu. Waktu umur lima tahun."
Bu Siti berhenti berjalan. "Kamu masih ingat mimpi itu?"
"Ingat, Bu. Padang cahaya. Pohon besar. Perempuan berambut panjang. Aku tidak pernah lupa."
"Tapi itu sudah setahun yang lalu."
"Aku tidak bisa lupa, Bu. Rasanya seperti... seperti itu bukan mimpi. Tapi nyata."
Bu Siti menghela napas. "Laras, kamu yakin Aria itu anak yang sama dengan yang di mimpimu?"
"Yakin, Bu. Matanya sama. Hangat. Hitam. Dalam. Seperti sumur."
"Seperti sumur?"
"Iya, Bu. Dalam. Tidak tahu dasarnya. Tapi tidak menakutkan."
Bu Siti tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya melanjutkan berjalan.
"Bu," panggil Laras.
"Iya?"
"Apa aku boleh main sama Aria? Suatu hari?"
"Kamu mau main sama anak laki-laki?"
"Iya, Bu. Aku mau kenal dia lebih dekat."
"Untuk apa?"
"Aku tidak tahu, Bu. Tapi rasanya... penting."
Bu Siti menggeleng. "Laras, kamu masih kecil. Jangan terlalu serius memikirkan hal-hal seperti ini."
"Aku tidak serius, Bu. Aku hanya... merasa nyaman."
"Nyaman?"
"Iya, Bu. Seperti waktu aku bermimpi di padang cahaya. Hangat. Tenang. Tidak takut."
Bu Siti tidak menjawab. Ia hanya menggenggam tangan Laras lebih erat.
Di rumah, Aria duduk di teras depan. Matanya menerawang ke arah pohon randu. Pikiran tentang Laras terus berputar di kepalanya.
"Ibu," panggilnya.
Bu Darmi keluar dari dapur. "Iya, Nak?"
"Ibu pernah jatuh cinta?"
Bu Darmi terkejut. "Kamu baru enam tahun. Bilang apa sih?"
"Aku serius, Bu. Aku ingin tahu."
Bu Darmi duduk di samping Aria. "Jatuh cinta itu rasanya... seperti kamu tidak ingin berpisah dengan orang itu. Seperti kamu ingin selalu dekat. Seperti kamu bahagia saat melihatnya senang."
Aria mengangguk. "Aku merasakan itu, Bu. Tadi di pasar. Saat aku lihat Laras."
Bu Darmi terdiam. "Aria..."
"Ibu, aku tidak bohong. Aku merasakan hangat di dadaku. Aku merasakan tenang. Aku merasakan seperti pulang."
"Pulang ke mana?"
"Aku tidak tahu, Bu. Tapi rasanya seperti itu."
Bu Darmi memeluk Aria. "Nak, Ibu tidak tahu harus bilang apa. Tapi Ibu percaya kamu. Ibu hanya tidak mau kamu terluka."
"Aku tidak akan terluka, Bu. Karena aku tidak sendiri."
Malam itu, Aria tidak bisa tidur.
Ia berguling-guling di tempat tidurnya. Memejamkan mata. Membuka mata. Menghitung domba, satu sampai seratus, satu sampai seribu. Menghitung napas, tarik lewat hidung, hembus lewat mulut.
Tapi tidur tidak kunjung datang.
Yang datang justru perasaan aneh di dadanya. Seperti ada sesuatu yang menariknya keluar rumah.
Lalu ia mendengar suara.
Bukan suara dari telinga. Suara dari dalam. Suara yang sudah ia kenal sejak kecil. Sejak ia mulai bisa membedakan mimpi dari kenyataan.
"Aria... datanglah... aku menunggumu..."
Aria bangkit dari tempat tidur. Ia memakai sandal jepitnya yang sudah usang. Berjalan pelan menuju pintu. Membukanya perlahan. Seperlahan mungkin.
Angin malam menyambutnya. Hangat. Anehnya hangat. Tidak seperti angin malam biasanya yang dingin menusuk tulang. Hangat seperti napas. Seperti pelukan. Seperti sesuatu yang sudah lama menunggu.
"Aria? Kamu mau ke mana?" suara ibunya dari dalam kamar. Masih setengah tidur.
Aria berhenti. Dadanya berdebar. "Ke belakang, Bu. Buang air kecil."
"Jangan lama-lama."
"Iya, Bu."
Itu dusta. Aria tidak ke belakang rumah. Ia keluar dari pagar halaman. Melewati pohon jambu yang buahnya masih kecil-kecil. Berjalan menyusuri jalan setapak yang gelap. Hanya diterangi cahaya bintang yang redup.
Menuju alun-alun. Menuju pohon randu.
Langkahnya ringan. Tidak berat. Seperti ada yang menuntun dari balik pundaknya. Seperti ada yang menariknya maju. Lembut tapi pasti.
Ia tidak takut. Anehnya, justru tenang. Sangat tenang. Tenang seperti seorang anak yang berjalan menuju pangkuan ibunya setelah seharian bermain di sawah.
Di rumah Laras, di malam yang sama, Laras juga tidak bisa tidur.
Ia juga mendengar panggilan. Tapi panggilan untuknya berbeda. Lebih dalam. Lebih berat.
"Laras... Laras... jangan takut... aku di sini... aku menunggumu..."
Laras bangkit. Ia tidak membangunkan ibunya. Ia tahu ibunya tidak akan mengerti.
"Bu, maafkan aku," bisik Laras. "Aku harus pergi."
Ia berjalan keluar rumah. Menyusuri jalan setapak yang gelap.
Menuju alun-alun. Menuju pohon randu.
Menuju Aria. Meskipun ia belum tahu bahwa Aria juga sedang berjalan ke arah yang sama.
Pohon randu di kejauhan berdenyut pelan. Daunnya bergoyang tanpa angin. Cahaya keemasan mulai menyala di sela-sela dedaunan.
Nyai Kembang Randu tersenyum.
"Pertemuan pertama di pasar baru permulaan," bisiknya. "Malam ini, kalian akan bertemu lagi. Di bawah naunganku. Dan perjalanan panjang kalian akan benar-benar dimulai."
Angin malam berhembus hangat.
"Selamat datang, Aria dan Laras. Aku sudah menunggu."
BAB 7: DI BAWAH POHON RANDU
Aria tiba di alun-alun. Pohon randu berdiri tegak di depannya, lebih besar dari yang ia ingat, lebih gelap, lebih hadir. Batangnya berdenyut pelan, seperti jantung yang berdetak di bawah kulit kayu. Akar-akarnya terlihat di permukaan tanah, menjalar ke segala arah seperti sungai yang membeku. Daun-daunnya berbisik-bisik tanpa angin.
"Kamu datang," kata Aria pelan. Suaranya tidak bergetar. Seperti bicara pada teman lama yang sudah lama tidak ia jumpai. "Aku tahu kamu akan memanggil."
Ia duduk di bawah pohon itu. Bersila. Menutup mata. Tangan di pangkuan. Napasnya teratur. Tarik. Hembus. Tarik. Hembus.
"Ayo," bisiknya. "Aku siap mendengar."
Dari dalam batang pohon randu, suara itu muncul lagi. Bukan suara yang bisa didengar telinga biasa. Tapi suara yang langsung masuk ke dalam pikiran, ke dalam hati, ke dalam tulang. Suara yang terasa seperti getaran, seperti gelombang, seperti sesuatu yang mengalir dari akar ke akar hingga sampai ke dalam diri Aria.
"Anak kecil duduk di akarku. Bersila dalam diam dan harap. Beribu tahun aku menunggu waktu. Saat kau bertanya tanpa ragu-ragu."
Aria tersenyum. Matanya masih terpejam. "Aku bukan anak yang berani. Hanya anak yang sering mendengar. Kalau kau punya cerita yang panjang dan pilu. Ceritakan, aku siap mendengar walau harus kehilangan air mata."
Pohon randu bergetar. Daunnya bergoyang meski angin tidak bertiup. Akarnya bergerak sedikit di dalam tanah, seperti orang yang sedang meregangkan otot setelah duduk terlalu lama.
"Dulu ada seorang lelaki. Dia datang sendirian di tengah hutan. Bukan pemburu, bukan pengelana yang kehilangan arah. Tapi penjaga yang tersesat dan kehilangan pegangan."
Aria membuka mata. "Siapa lelaki itu?"
"Mbah Urip."
Dari kejauhan, langkah kaki kecil terdengar. Langkah yang ringan, hampir tidak bersuara, tapi Aria mendengarnya dengan jelas. Ia menoleh. Di ujung jalan setapak yang gelap, di antara dua rumah yang gelap, seorang anak perempuan berdiri. Rambutnya diikat dua, tidak rapi, pita merahnya hampir terlepas. Baju tidurnya berwarna merah muda, sedikit kusut karena tidur. Di tangannya, ia membawa boneka kain yang sudah usang, yang matanya hanya tinggal satu.
"Laras?" Aria terkejut. Matanya membulat.
"Aria?" Laras juga terkejut. Tangannya yang memegang boneka itu mengepal. "Kamu... dipanggil juga?"
Aria mengangguk. "Dia memanggilku. Kamu?"
Laras mengangguk. "Aku juga. Aku kira cuma aku. Ternyata... kita berdua."
Mereka berdua duduk di bawah pohon randu. Berdampingan. Tidak bicara. Tidak saling menatap. Hanya duduk. Hanya mendengarkan. Menunggu suara itu muncul lagi.
Suara itu muncul. Tapi kali ini bukan hanya untuk Aria. Juga untuk Laras. Juga untuk mereka berdua. Bersamaan.
"Mbah Urip membuat perjanjian. Antara manusia dan dunia akar. Isinya sederhana, tapi genting: keturunan penjaga harus menjaga tabir agar tak mudah robek."
"Keturunan penjaga?" tanya Aria. Dadanya berdebar.
"Kamu," kata suara itu.
"Dan aku?" tanya Laras, suaranya kecil, hampir berbisik.
"Kamu juga. Kalian berdua adalah keturunan terakhir dari garis yang sama. Dua sisi dari satu perjanjian."
Dari balik kegelapan, Mbah Sujud muncul. Langkahnya pelan, tertatih-tatih. Tubuhnya yang tua membungkuk, tongkat kayunya menekan tanah setiap kali ia melangkah. Ia sudah tua. Sangat tua. Tapi matanya masih tajam. Masih bisa melihat apa yang tidak terlihat. Masih bisa mendengar apa yang tidak terdengar.
"Aku tahu kalian akan ke sini," katanya. Suaranya serak, tapi jelas. "Dari pertama kali kalian lahir, aku sudah tahu kalian akan duduk di bawah pohon ini bersama-sama."
"Mbah," sapa Aria. "Pohon ini bicara. Pohon ini bilang kami keturunan penjaga. Apa maksudnya?"
Mbah Sujud duduk di samping mereka. Ia menghela napas panjang, napas yang keluar dari dadanya yang sempit, membawa serta beban yang sudah ia pikul selama puluhan tahun. "Kalian ingin tahu semua? Sekarang?"
"Ya," jawab Aria. Tanpa ragu.
"Tidak," jawab Laras bersamaan.
Mereka saling pandang.
"Kamu tidak mau?" tanya Aria.
Laras menggeleng. Bibir bawahnya bergetar sedikit. "Aku takut. Aku masih kecil. Aku... tidak siap."
Mbah Sujud tersenyum. Senyum yang penuh keriput, tapi hangat. "Kalian tidak usah khawatir, Le. Saya tidak akan cerita semua sekarang. Sesuai waktunya."
"Kapan waktunya, Mbah?" tanya Aria. Tangannya yang kecil menggenggam ujung baju Mbah Sujud.
"Pada saat kalian berdua sudah dewasa. Bukan sekarang. Karena perjanjian ini masih butuh waktu. Butuh proses. Butuh kesiapan. Dan sekarang... kalian masih anak-anak. Anak-anak yang harus sekolah, harus bermain, harus merasakan suka dan duka seperti anak-anak lain."
"Tapi," sela Laras, "kami tidak seperti anak lain, kan, Mbah? Kami berbeda."
Mbah Sujud mengangguk. "Iya. Kalian berbeda. Tapi perbedaan itu tidak berarti kalian harus tahu semua sekarang. Nikmati masa kecil kalian dulu. Yang penting... ingat satu hal."
"Apa, Mbah?"
"Satu. Janji. Janji yang sudah dibuat Mbah Urip ratusan tahun lalu. Dan janji ini menggantung di pundak kalian. Berdua."
BAB 8: MIMPI YANG TERHUBUNG
Malam semakin larut. Langit di atas mereka masih gelap tanpa bintang. Angin malam berhembus pelan, tapi tidak dingin. Hangat. Seperti napas panjang seseorang yang sedang tidur. Daun-daun pohon randu bergoyang perlahan, menciptakan suara gemerisik yang anehnya justru menenangkan, seperti bisikan nenek yang membacakan dongeng sebelum tidur.
Aria, Laras, dan Mbah Sujud masih duduk di bawah pohon itu. Tiga generasi. Tiga takdir yang mulai bersinggungan. Yang tua membawa kitab di saku bajunya. Yang muda membawa rasa ingin tahu di matanya. Dan yang paling muda membawa ketakutan di hatinya, tapi juga keberanian yang tidak ia sadari.
"Janji, Mbah?" Aria memecah keheningan. Suaranya lirih, tidak ingin mengganggu kedamaian yang rapuh. "Janji apa yang dibuat Mbah Urip ratusan tahun lalu?"
Mbah Sujud tidak langsung menjawab. Ia menggenggam lututnya yang keriput, lutut yang sudah tidak kuat untuk berlutut terlalu lama. Matanya menatap pohon randu di atasnya, seolah mencari izin untuk berbicara. Pohon itu tidak bergerak. Tidak memberi tanda. Tapi Mbah Sujud seolah mendengar sesuatu, karena ia mengangguk pelan.
"Aku tidak bisa cerita semua sekarang, Le. Tapi aku bisa cerita sedikit. Tentang Mbah Urip."
"Boleh, Mbah," kata Laras. Antusiasmenya mulai muncul, mengalahkan rasa takutnya. "Aku suka dengar cerita orang tua."
"Cerita ini bukan cerita biasa, Le. Cerita ini cerita darah. Cerita air mata. Cerita yang membuat desa ini menjadi seperti sekarang."
Mbah Sujud menarik napas panjang. Tangannya yang keriput meraba tanah di sampingnya. Mengambil segenggam tanah, menghirup baunya. Bau tanah, bau rumput kering, bau sesuatu yang lebih tua dari dirinya. "Tanah ini sudah pernah menjadi saksi," katanya pelan. "Tanah ini sudah pernah menyerap darah."
"Darah, Mbah?" Aria terkejut. Matanya membulat. "Maksud Mbah, ada yang mati di sini?"
"Bukan mati, Le. Tapi... hilang. Hilang di antara dua dunia."
Laras menggigil. Tangannya meremas boneka kainnya erat-erat. "Mbah, aku takut."
"Jangan takut, Le. Mbah Sujud di sini. Tidak akan terjadi apa-apa."
Kisah Mbah Urip
"Dulu," Mbah Sujud memulai ceritanya. Matanya menyipit, seolah berusaha melihat ke masa lalu yang sangat jauh, melewati kabut waktu yang tebal. "Desa ini belum ada. Yang ada hanya hutan. Hutan yang lebat. Gelap. Tidak ada yang berani masuk karena katanya angker."
"Angkernya seperti apa, Mbah?" tanya Aria. Dadanya berdebar, tapi ia tidak bisa berhenti bertanya.
"Angkernya... orang yang masuk ke hutan itu tidak akan keluar. Tidak mati. Tidak hilang. Tapi tidak keluar. Seperti... terjebak. Terjebak di tempat yang tidak ada jalan keluar."
"Terus bagaimana Mbah Urip bisa masuk?" tanya Laras. Matanya berbinar, lupa pada rasa takutnya.
Mbah Sujud tersenyum. Senyum yang mengingatkan pada sesuatu yang sangat tua. "Karena Mbah Urip bukan orang biasa. Mbah Urip itu... tidak diketahui asal-usulnya. Ada yang bilang dia dari tanah seberang. Ada yang bilang dia keturunan ratu. Tapi yang saya yakini, Mbah Urip punya kekuatan. Kekuatan untuk melihat yang tidak terlihat. Untuk mendengar yang tidak disuarakan."
"Mbah Urip punya kekuatan seperti kami?" tanya Aria. Tangannya menunjuk dadanya sendiri.
Mbah Sujud menatap Aria lama. Dalam. Seperti membaca sesuatu di balik matanya. "Iya. Seperti kamu. Dan seperti Laras."
Laras mengerjapkan mata. Jari-jarinya berhenti memainkan bonekanya. "Jadi kami ini keturunan Mbah Urip?"
Mbah Sujud menggeleng. Pelan. "Bukan. Kalian bukan keturunan darah. Tapi kalian meneruskan tugasnya. Kalian menjadi 'penjaga' seperti dia. Setiap penjaga dipilih bukan karena darah, tapi karena... panggilan."
"Panggilan dari siapa, Mbah?" tanya Aria.
Mbah Sujud menunjuk pohon randu. Pohon besar yang menjulang di atas mereka, yang akarnya menjalar ke tempat yang tidak bisa dilihat, yang daunnya berbisik tanpa angin. "Dari sini. Dari pohon ini."
BAB 9: MIMPI KEDUA ARIA
Sejak malam itu, tidur Aria tidak pernah lagi menjadi tidur yang nyenyak.
Setiap kali ia memejamkan mata, ia tidak masuk ke dalam gelap seperti kebanyakan orang. Ia masuk ke dalam sesuatu yang lain. Sesuatu yang seperti dunia, tapi bukan dunia yang ia kenal. Sesuatu yang seperti mimpi, tapi terasa lebih nyata daripada kenyataan itu sendiri.
Malam pertama setelah bertemu Mbah Sujud.
Aria membuka mata.
Ia berdiri di tempat yang sama. Tempat tanpa langit. Tempat dengan akar-akar besar menggantung di udara.
"Lagi," bisiknya. "Aku di sini lagi."
"Kamu tidak sendiri."
Aria menoleh. Laras berdiri di sampingnya.
"Laras?" Aria terkejut. "Kamu juga ada di sini?"
Laras mengangguk. Wajahnya pucat. Tangannya gemetar.
"Aku juga bermimpi. Aku tidak tahu kenapa aku bisa masuk ke mimpimu."
"Ini bukan mimpiku. Ini mimpi kita."
"Mimpi kita?" Laras mengerutkan kening.
"Iya. Kita berdua bermimpi sama. Di tempat sama. Waktu sama."
Laras melihat sekeliling. "Aku tidak tahu."
"Aku juga tidak tahu. Tapi yang jelas, kita di sini berdua."
Mereka berdiri di tengah akar-akar yang berdenyut. Cahaya merah tembaga menerangi wajah mereka dari kejauhan. Hangat. Tapi aneh.
"Aria, aku takut," bisik Laras. Suaranya kecil. Hampir tidak terdengar.
"Jangan takut. Kita berdua."
"Tapi tempat ini..." Laras tidak melanjutkan.
"Aku tahu. Aneh. Gelap. Tidak seperti dunia yang kita kenal."
"Kenapa kita harus di sini?"
"Aku tidak tahu. Mungkin Mbah Sujud yang memanggil."
Laras menggenggam tangan Aria. "Apa dia akan muncul?"
"Kita tunggu."
Mereka berdiri diam. Menunggu. Hanya suara denyutan akar yang terdengar. Dum. Dum. Dum. Seperti jantung. Seperti detak waktu.
"Laras."
"Iya?"
"Kamu merasakan itu?"
"Merasakan apa?"
"Denyutan. Di bawah kaki. Seperti ada yang bernapas."
Laras memejamkan mata. "Iya. Aku merasakannya. Hangat."
"Itu akar. Mbah Sujud bilang akar itu hidup."
"Mereka seperti... memperhatikan kita."
"Kamu merasa begitu juga?"
"Iya. Seperti ada mata di mana-mana. Tapi tidak menakutkan."
"Justru menenangkan," kata Aria.
Laras membuka mata. "Iya. Aneh. Tempat ini menakutkan tapi menenangkan."
"Karena kita tidak sendiri."
"Karena kita berdua."
Dari kejauhan, suara itu muncul lagi. Tapi kali ini tidak samar. Jelas. Seperti suara ibu yang memanggil anaknya pulang makan malam. Hangat. Dekat. Membelai.
"Jangan takut pada malam yang sunyi. Karena malam akan mengajarimu melihat."
Aria mendongak. "Siapa kamu?"
"Kamu sudah tahu. Tapi belum kenal."
"Apakah kamu Mbah Sujud?"
"Bukan. Aku lebih tua dari Mbah Sujud."
Laras bertanya, "Kamu Nyai Kembang Randu?"
"Pintar. Kamu anak yang cerdas."
Aria terkejut. "Nyai Kembang Randu? Penjaga pohon randu?"
"Iya. Aku yang menjaga akar. Aku yang menjaga keseimbangan. Aku yang memanggil kalian ke sini."
"Mengapa kami?" tanya Laras.
"Karena kalian istimewa. Karena kalian bisa mendengar. Karena kalian tidak lari ketika dipanggil."
Aria mendekat ke arah suara. "Apa yang harus kami lakukan, Nyai?"
"Belum sekarang. Sekarang kalian hanya perlu belajar melihat."
"Lihat apa?" tanya Aria.
"Lihat apa yang selama ini tersembunyi. Lihat apa yang selama ini kau abaikan. Lihat apa yang selama ini kau takutkan."
Laras merapat ke Aria. "Apa yang tersembunyi itu, Nyai?"
"Banyak. Di dalam tanah. Di dalam akar. Di dalam mimpi kalian sendiri."
"Apakah itu menakutkan?" tanya Laras dengan suara gemetar.
"Tidak semua yang tersembunyi itu menakutkan, anak-anak. Ada yang indah. Ada yang hangat. Ada yang merindukan kalian."
Aria dan Laras saling pandang.
"Siapa yang merindukan kami?" tanya Laras.
"Banyak. Lebih banyak dari yang kalian duga."
"Bisa disebut namanya, Nyai?" tanya Aria.
"Tidak bisa. Belum waktunya."
"Kapan waktunya?"
"Nanti. Saat kalian dewasa. Saat kalian benar-benar siap."
Laras hampir menangis. "Kenapa harus nanti? Kenapa tidak sekarang?"
"Karena sekarang kalian masih anak-anak. Masih polos. Masih rentan. Belum kuat."
"Apaka kami tidak kuat sekarang?" tanya Aria.
"Kuat secara fisik, belum tentu kuat secara batin. Kalian butuh waktu. Butuh proses. Butuh pengalaman."
Aria menggenggam tangan Laras. "Kami akan menunggu, Nyai. Janji."
"Janji," kata Laras.
Nyai Kembang Randu terdengar tersenyum. "Bagus. Itu jawaban yang aku tunggu."
"Nyai," panggil Aria.
"Iya, Le?"
"Apa hubungannya malam yang sunyi dengan melihat?"
"Malam yang sunyi mengajarkanmu untuk tidak bergantung pada cahaya. Karena tidak semua kebenaran datang dalam terang. Ada kebenaran yang hanya bisa ditemukan di gelap. Ada jawaban yang hanya bisa didengar di sunyi."
Laras mengangguk. "Seperti sekarang. Kami di tempat gelap. Tapi kami bisa mendengar Nyai."
"Pintar. Kamu cepat belajar."
"Mbah Sujud bilang kami akan belajar saat remaja," kata Aria.
"Iya. Saat remaja kalian akan belajar tentang akar. Sekarang kalian hanya perlu belajar tentang keberanian."
"Keberanian?" tanya Laras.
"Keberanian untuk tidak lari ketika dipanggil. Keberanian untuk tetap diam ketika semuanya terasa menakutkan. Keberanian untuk percaya bahwa kalian tidak sendirian."
Aria menatap Laras. "Aku percaya."
"Aku juga," kata Laras.
"Bagus. Karena kepercayaan adalah akar dari segalanya. Tanpa percaya, kalian tidak akan pernah bisa melihat. Tanpa percaya, kalian tidak akan pernah bisa mendengar. Tanpa percaya, kalian akan tersesat di antara dua dunia."
Laras bertanya, "Nyai, apa kami akan tersesat?"
"Tidak. Karena kalian punya satu sama lain."
"Jadi kuncinya bersama?" tanya Aria.
"Iya. Jangan pernah berpisah. Jangan pernah saling meninggalkan. Karena kalian diciptakan berpasangan. Seperti akar dan tanah. Seperti pohon dan angin. Seperti malam dan bintang."
Laras tersenyum. "Kami tidak akan berpisah, Nyai. Janji."
"Janji," kata Aria.
"Kalau begitu, sekarang pulanglah. Besok kalian akan lelah jika tidak tidur cukup."
"Tapi Nyai..." Aria belum selesai.
"Diam dulu. Aku tahu kalian masih ingin bertanya. Tapi itu sudah cukup untuk malam ini. Otak kalian masih kecil. Tidak bisa menerima terlalu banyak."
Laras tertawa kecil. "Nyai bilang otak kami kecil."
"Memang kecil. Lha wong kamu masih anak-anak."
Aria ikut tertawa. "Baiklah, Nyai. Kami pulang."
"Sampai jumpa lagi."
"Sampai jumpa, Nyai."
"Aria," panggil Laras.
"Iya?"
"Aku senang kita bertemu di sini lagi."
"Aku juga. Aku sudah kangen."
"Padahal baru beberapa hari tidak bertemu di dunia nyata."
"Tapi rasanya lama."
Laras tersenyum. "Iya. Rasanya lama."
Cahaya mulai muncul. Mimpi itu mulai pudar.
"Laras."
"Iya?"
"Kita akan bertemu lagi di sini?"
"Pasti. Setiap malam."
"Janji?"
"Janji."
Mimpi itu berakhir. Aria terbangun.
Di rumahnya, Aria duduk di tempat tidur. Napasnya masih terengah.
"Ibu," panggilnya.
Ibunya belum bangun. Aria tidak memanggil lagi.
Ia menatap langit-langit. Tersenyum.
"Nyai Kembang Randu," bisiknya. "Aku tidak akan mengecewakanmu."
Ia merebahkan diri. Memejamkan mata. Tidak langsung tidur. Tapi tidak gelisah.
"Hangat," bisiknya. "Semua terasa hangat."
Di rumah lain, Laras juga terbangun.
Ia duduk di tempat tidur. Memeluk gulingnya.
"Aku bertemu Aria lagi," bisiknya. "Dan Nyai Kembang Randu. Dia baik. Tidak menakutkan."
Ia memejamkan mata. Mengingat suara itu. Hangat. Seperti pelukan.
"Jangan takut pada malam yang sunyi," ulangnya.
Laras tersenyum. "Aku tidak takut lagi, Nyai. Karena aku tidak sendirian."
Ia merebahkan diri. Tidurnya nyenyak. Untuk pertama kalinya setelah sekian malam.
Pohon randu di alun-alun berdenyut pelan. Daunnya bergoyang tanpa angin. Cahaya keemasan muncul di sela-sela dedaunan.
Nyai Kembang Randu tersenyum. Meskipun tidak terlihat.
"Dua anak kecil," bisiknya. "Polos. Bersih. Berani. Merekalah yang aku tunggu. Selama ratusan tahun."
Angin berhembus hangat.
"Bertumbuhlah, anak-anak. Dunia akar menanti. Dan cinta kalian... cinta kalian akan menjadi kunci segalanya."
Pohon randu kembali sunyi.
Desa Randu Gembyang tertidur.
Dan di dalam tidurnya, dua anak kecil terus bermimpi. Tentang akar. Tentang cahaya. Tentang satu sama lain.
BAB 10: MIMPI KEDUA LARAS
Laras bermimpi berbeda malam itu.
Ia tidak berdiri di tempat kosong dengan akar-akar raksasa. Ia berdiri di desa. Desa yang ia kenal. Desa Randu Gembyang.
Tapi desa itu bukan desa Randu Gembyang yang ia kenal sekarang. Desanya lebih tua. Jauh lebih tua. Rumah-rumahnya terbuat dari kayu dan bambu, tidak ada yang terbuat dari bata atau semen. Atapnya dari daun rumbia, bukan dari genteng. Sawahnya lebih luas, membentang sampai ke kaki bukit. Ladangnya lebih hijau, lebih subur, lebih hidup.
Dan pohon randu di tengah alun-alun berdiri jauh lebih besar dari yang pernah ia lihat. Jauh lebih besar. Seperti raksasa yang mengakar ke seluruh desa, ke seluruh dunia. Akarnya tidak hanya di alun-alun, tapi merambat hingga ke seluruh desa. Ke setiap rumah. Ke setiap halaman. Ke setiap sudut.
"Ini desaku," bisik Laras. "Tapi bukan desa yang aku kenal."
Ia berjalan. Langkahnya pelan. Tanah di bawah kakinya terasa berbeda. Lebih lembut. Lebih hangat.
"Desa yang dulu," kata suara dari dalam angin.
Laras menoleh. "Siapa?"
Tidak ada jawaban.
"Kamu siapa?" tanya Laras lebih keras.
"Kamu sudah tahu. Tapi belum sadar."
Laras mengerutkan kening. "Tidak. Aku tidak tahu."
"Nanti kamu tahu. Saat waktunya tiba."
Laras menggeleng. "Aku tidak suka teka-teki."
"Bukan teka-teki. Tapi rahasia."
"Rahasia apa?"
"Rahasia tentang asal-usulmu."
Laras terdiam. Dadanya berdebar.
"Aku bukan orang biasa?" tanyanya.
"Kamu bukan orang biasa. Tapi juga bukan orang istimewa. Kamu adalah kamu. Dan itu sudah cukup."
Laras tidak mengerti. Tapi tidak bertanya lagi.
Ia melewati rumah yang ia kenal sebagai rumahnya. Tapi rumah itu berbeda. Lebih kecil. Lebih sederhana. Dindingnya dari anyaman bambu, bukan dari papan. Dan di depannya, tidak ada pagar seperti sekarang. Yang ada hanya pohon kecil yang rindang, pohon yang tidak ia kenal, yang tidak pernah ia lihat di dunia nyata.
"Ini rumahku?" tanya Laras.
"Dulu. Sebelum desa ini berubah."
"Siapa yang tinggal di sini dulu?"
"Nenek moyangmu."
Laras mendekati pintu. "Boleh aku masuk?"
"Ini rumahmu. Tidak perlu izin."
Laras membuka pintu. Pintunya terbuat dari kayu, tidak berengsel, hanya digeser.
"Ibu..." panggil Laras. Suaranya kecil, nyaris berbisik, seperti takut mengganggu keheningan yang begitu pekat.
Tidak ada jawaban.
"Ibu, ada di sini?" panggilnya lagi.
Hanya angin yang berhembus di antara celah-celah bambu. Hanya dedaunan yang bergesekan pelan. Hanya sunyi.
"Ibu pergi ke mana?" tanya Laras pada suara itu.
"Ibumu tidak pernah tinggal di sini. Ini rumah leluhurmu. Bukan rumah ibumu."
"Kenapa aku dibawa ke sini?"
"Karena kamu harus melihat. Kamu harus tahu."
"Tahu apa?"
"Tahu dari mana kamu berasal."
Laras memasuki rumah itu. Ruangan di dalamnya kosong. Tidak ada perabotan. Tidak ada orang. Tidak ada tikar, tidak ada meja, tidak ada lampu. Hanya debu dan sarang laba-laba di sudut-sudut langit-langit.
"Kosong," kata Laras.
"Tidak kosong. Ada kenangan."
"Kenangan? Aku tidak melihat apa-apa."
"Tutup matamu."
Laras memejamkan mata.
"Lihat dengan hatimu. Bukan dengan matamu."
Laras berkonsentrasi. Perlahan, ia mulai melihat. Bukan dengan mata. Tapi dengan perasaan.
"Aku melihat... orang-orang. Banyak orang. Mereka duduk di sini. Mereka tertawa. Mereka bercerita."
"Iya. Itu leluhurmu. Mereka dulu tinggal di sini. Sebelum desa ini berubah."
"Ke mana mereka pergi?"
"Mereka tidak pergi. Mereka tetap di sini. Di dalam tanah. Di dalam akar. Di dalam kenangan."
Laras membuka mata. Air matanya jatuh.
"Kenapa aku menangis?" tanyanya.
"Karena kamu merasakan rindu. Rindu pada sesuatu yang tidak pernah kamu kenal. Tapi darahmu mengenalnya."
Anehnya, Laras merasa betah. Seperti rumah yang sudah lama ia tinggali. Seperti rumah yang ia tinggalkan ketika ia masih sangat kecil, ketika ia belum tahu apa itu rindu.
"Aku betah di sini," kata Laras.
"Karena ini rumahmu. Rumah jiwamu."
"Tapi aku tidak pernah tinggal di sini."
"Tidak perlu tinggal untuk merasa pulang. Pulang itu perasaan. Bukan tempat."
Laras mengangguk. "Aku mengerti. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku mengerti."
Laras membuka mulutnya. Ingin bertanya. Ingin memanggil. Tapi dari belakangnya, suara muncul.
"Laras..."
Ia menoleh cepat. Tidak ada siapa-siapa.
"Laras, jangan takut. Aku di sini."
"Kamu siapa?!"
"Kamu sudah tahu."
"Aku tidak tahu! Katakan!"
"Suara yang selalu kau dengar. Setiap kali kau duduk di bawah pohon randu. Setiap kali kau merasa tidak sendirian."
Laras menggenggam ujung bajunya. "Kamu... Nyai Kembang Randu?"
"Iya. Aku."
"Kenapa kamu memanggilku ke sini? Ke rumah leluhurku?"
"Karena kamu harus tahu bahwa kamu bukan anak biasa. Kamu keturunan penjaga. Bukan dari darah. Tapi dari roh."
"Aku tidak mengerti."
"Kamu tidak perlu mengerti sekarang. Cukup tahu dulu."
"Tapi Nyai, aku masih kecil. Aku belum siap."
"Kesiapan tidak pernah dirasakan, Laras. Kesiapan hanya dibuktikan dengan tindakan."
Laras terdiam. Tangannya gemetar.
"Apa aku harus melakukan sesuatu, Nyai?"
"Belum. Sekarang kamu hanya perlu tumbuh. Belajar. Mengenal Aria lebih dekat."
"Aria? Ada hubungannya dengan Aria?"
"Segala sesuatu ada hubungannya dengan Aria. Karena kalian diciptakan berpasangan. Seperti akar dan tanah. Seperti malam dan bintang. Seperti rindu dan pulang."
Laras tersenyum tipis. "Aku suka Aria, Nyai. Aku tidak tahu kenapa. Tapi aku suka."
"Aku tahu. Aku juga tahu bahwa Aria suka padamu."
"Apakah itu salah, Nyai? Kami masih kecil."
"Tidak salah. Cinta tidak melihat usia. Cinta hanya melihat hati."
"Apa hati kami baik, Nyai?"
"Hati kalian bersih. Masih seperti kertas kosong. Jangan sampai kertas itu kotor oleh kebencian dan ambisi."
"Aku akan berusaha, Nyai."
"Ibu, aku sayang Ibu."
Laras menoleh cepat. Suara itu berbeda. Lebih muda. Lebih kecil.
"Siapa?!" tanya Laras.
Tidak ada jawaban.
"Nyai, siapa yang bicara barusan? Bukan suara Nyai."
"Bukan. Itu suara lain."
"Siapa?"
"Belum waktunya kamu tahu."
"Tapi Nyai..."
"Sabarlah, Laras. Semua ada waktunya. Ada waktu untuk bertemu. Ada waktu untuk berpisah. Ada waktu untuk tahu. Ada waktu untuk lupa. Sekarang waktunya untuk diam dan mendengar."
Laras menutup mulutnya. Ia mendengar. Lebih dalam dari sebelumnya.
"Laras..."
Suara itu kembali. Lebih dekat sekarang. Lebih dalam. Seolah datang dari dalam tanah. Dari dalam lantai rumah yang ia pijak. Dari dalam akar-akar pohon randu yang terhampar di sekujur desa.
"Siapa?!" teriak Laras. Suaranya menggema di ruang kosong itu, memantul dari dinding bambu ke dinding bambu, tidak pernah berhenti.
"Aku. Yang menjagamu dari dalam."
"Tunjukkan wajahmu!"
"Aku tidak punya wajah. Aku hanya suara. Aku hanya perasaan. Aku hanya kehadiran."
Laras mundur selangkah. "Aku takut."
"Jangan takut. Aku tidak akan menyakitimu."
"Kenapa aku harus percaya?"
"Karena aku selalu bersamamu. Sejak kamu lahir. Sejak kamu masih dalam mimpi. Sejak pertama kali kamu menangis tanpa tahu kenapa."
Laras menggigit bibirnya. "Kamu yang membuatku menangis?"
"Bukan. Aku yang ikut menangis bersamamu. Karena aku merasakan apa yang kamu rasa. Aku tahu kapan kamu sedih. Aku tahu kapan kamu takut. Aku tahu kapan kamu merindukan sesuatu yang tidak kamu kenal."
"Kamu bisa membaca pikiranku?"
"Aku bisa merasakan hatimu. Itu berbeda."
"Bagaimana caranya?"
"Karena hati kita terhubung. Melalui akar. Melalui tanah. Melalui pohon randu ini."
Laras melihat ke bawah. Tanah di bawah kakinya bergetar pelan. Getaran yang aneh. Getaran yang sudah ia rasakan sebelumnya. Getaran yang sama ketika ia lahir tujuh tahun lalu, ketika ia pertama kali menghirup udara dunia, ketika ia pertama kali menangis dan tidak tahu kenapa ia menangis.
"Tanah ini bernapas," bisik Laras.
"Iya. Tanah ini hidup. Seperti kamu. Seperti aku. Seperti semua yang pernah ada."
"Lalu kenapa aku tidak merasakannya di dunia nyata?"
"Karena di dunia nyata, kamu terlalu sibuk. Terlalu banyak suara. Terlalu banyak cahaya. Terlalu banyak gangguan. Di sini, di dunia mimpi, kamu bisa mendengar dengan lebih jernih."
Laras mengangguk. "Sekarang aku mengerti."
"Kamu tidak lagi hanya orang yang berjalan..." suara itu kembali. Kali ini lebih jelas. Jelas seperti suara ibunya saat memanggilnya makan di sore hari. "Kamu juga jalan itu sendiri."
Laras mengerutkan kening. "Apa maksudnya?"
"Kamu bukan hanya orang yang melewati hidup. Kamu adalah hidup itu sendiri. Kamu bukan hanya orang yang melihat akar. Kamu adalah akar itu sendiri."
"Aku tidak mengerti, Nyai."
"Kamu tidak perlu mengerti dengan pikiran. Cukup rasakan dengan hati."
Laras memejamkan mata. Ia merasakan. Perlahan, sesuatu berubah. Ia tidak lagi berdiri di atas tanah. Ia merasa menjadi bagian dari tanah. Ia tidak lagi melihat akar. Ia merasa menjadi akar.
"Aku... aku menyatu," bisiknya.
"Iya. Kamu sekarang melihat dari sisi lain. Bukan dari atas. Tapi dari dalam."
"Apa ini yang disebut dunia akar?"
"Bagian darinya. Masih sangat kecil. Masih sangat dangkal. Tapi itu awal."
"Awal dari apa?"
"Awal dari perjalananmu menjadi penjaga."
Laras membuka mata. Tangannya gemetar.
"Aku belum siap, Nyai."
"Kamu sudah lebih siap dari yang kamu kira."
"Tapi aku masih anak-anak."
"Tidak masalah. Dunia akar tidak melihat usia. Yang dilihat hanya hati."
Laras hampir menangis. "Aku takut berubah, Nyai."
"Kamu tidak akan berubah. Kamu akan bertambah. Bertambah peka. Bertambah tahu. Tapi kamu tetaplah Laras. Anak kecil yang suka bermain. Anak kecil yang suka tertawa. Itu tidak akan pernah hilang."
"Janji, Nyai?"
"Janji."
"Aku mau pulang!" teriak Laras. Suaranya pecah. Air matanya jatuh.
"Kamu sudah tidak bisa pulang... karena kamu sekarang bagian dari jalan itu sendiri."
"Kenapa?! Aku tidak minta jadi bagian dari jalan!"
"Tapi kamu dipilih. Dan pilihan itu tidak bisa kamu tolak."
"Aku anak kecil! Aku tidak tahu apa-apa!"
"Kamu tahu lebih banyak dari yang kamu sadari. Percayalah."
"Aku tidak percaya!"
"Laras, lihat aku."
Laras mengangkat wajah. Di depannya, tidak ada siapa-siapa. Tapi ada cahaya. Cahaya keemasan. Hangat. Terang. Menyelimuti.
"Apa itu?" bisik Laras.
"Itu aku. Itu wujud asliku. Bukan raga. Tapi cahaya."
"Kamu cantik, Nyai."
"Terima kasih. Kamu juga cantik. Hati dan jiwamu."
Laras tersenyum. Air matanya masih jatuh. Tapi senyumnya tulus.
"Nyai, aku janji tidak akan lari lagi."
"Bagus. Karena lari tidak akan mengubah apa pun. Menghadapi akan membuatmu lebih kuat."
"Apa aku akan kuat?"
"Kamu sudah kuat. Kamu hanya belum menyadarinya."
Laras mengangguk. "Sekarang aku sadar, Nyai. Aku kuat. Karena aku tidak sendiri."
"Kamu tidak pernah sendiri. Aku di sini. Aria di sana. Dan masih banyak yang lain. Menjaga. Menunggu. Mencintai."
Laras jatuh.
Tapi ia tidak jatuh ke bawah.
Ia jatuh ke atas. Ke dalam langit yang terbalik.
"Aaa..." teriaknya.
"Tenang. Ini hanya perjalanan pulang."
"Aku mau ke mana?"
"Kembali ke tubuhmu. Kembali ke duniamu. Kembali ke Aria."
"Tapi Nyai, kapan aku bisa kembali ke sini?"
"Kapan saja kamu mau. Cukup pejamkan mata. Cukup panggil namaku. Cukup ingat pohon randu."
"Aku akan merindukan tempat ini, Nyai."
"Tempat ini tidak akan pergi. Aku tidak akan pergi. Kami selalu di sini. Menantimu."
Laras terus jatuh ke atas. Semakin cepat. Semakin tinggi. Sampai cahaya menyilaukan matanya.
"Selamat jalan, Laras. Sampai jumpa di mimpi berikutnya."
"Sampai jumpa, Nyai. Terima kasih."
Laras terbangun.
Ia duduk di tempat tidurnya. Napasnya tersengal. Keringat membasahi keningnya.
"Ibu!" panggilnya.
Bu Siti masuk. "Ada apa, Le? Kamu teriak?"
"Aku bermimpi, Bu. Aku bertemu Nyai Kembang Randu."
Bu Siti terdiam. "Nyai siapa?"
"Nyai Kembang Randu. Penjaga pohon randu. Dia cahaya, Bu. Cantik. Hangat."
Bu Siti duduk di samping Laras. "Kamu hanya bermimpi, Nak."
"Tidak, Bu. Ini nyata. Aku merasakannya. Aku menyentuh tanah yang hangat. Aku melihat rumah leluhurku. Aku mendengar suara dari dalam akar."
Bu Siti memeluk Laras. "Laras, Ibu tidak tahu harus percaya atau tidak. Tapi Ibu percaya kamu tidak berbohong."
"Aku tidak bohong, Bu. Nyai bilang aku dipilih. Aku penjaga."
"Penjaga apa, Nak?"
"Penjaga keseimbangan. Antara dunia manusia dan dunia akar."
Bu Siti menghela napas. "Laras, kamu masih kecil. Masih tujuh tahun."
"Ibu, Nyai bilang usia tidak penting. Yang penting hati."
Bu Siti tidak bisa berkata-kata. Ia hanya memeluk Laras lebih erat.
"Laras," bisiknya akhirnya.
"Iya, Bu?"
"Ibu sayang kamu. Apa pun yang terjadi. Apa pun pilihanmu. Ibu akan selalu mendukungmu."
Laras tersenyum. "Terima kasih, Ibu."
Di luar rumah, angin berhembus pelan. Pohon randu di kejauhan berdenyut lembut. Cahaya keemasan menyala di sela-sela dedaunan.
Nyai Kembang Randu tersenyum.
"Selamat tidur, Laras," bisiknya. "Besok mimpi lain menantimu. Dan Aria. Jangan lupa Aria."
Pohon randu kembali sunyi.
Desa Randu Gembyang tertidur.
Dan Laras, di dalam tidurnya yang pulas, tersenyum.
BAB 11: PAGI DI SEKOLAH
Aria dan Laras usia 7 tahun, kelas 1 SD.
Pagi itu, Desa Randu Gembyang bangun dengan suasana yang berbeda. Matahari tetap terbit dari timur seperti biasa. Ayam tetap berkokok. Namun ada sesuatu di udara yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Sesuatu yang membuat orang-orang merasa gelisah tanpa tahu penyebabnya.
Aria dan Laras duduk di bangku yang berbeda. Aria di belakang dekat jendela. Laras di depan dekat papan tulis. Namun sejak pagi, sejak pertama kali bel masuk berbunyi, mata mereka terus bertemu. Bukan sengaja. Tapi seperti ada magnet tak terlihat yang menarik pandangan mereka satu sama lain.
"Aria, kenapa kamu lihat Laras terus?" bisik teman sebangku Aria.
"Tidak," jawab Aria.
"Sha, dari tadi. Nggak berhenti."
"Kamu salah lihat."
"Biarin. Aku lihat, kok."
Aria tidak menjawab.
"Laras, kamu lihat Aria terus?" bisik teman di samping Laras.
"Tidak," jawab Laras.
"Sha, matamu ke belakang terus."
"Aku lihat papan tulis."
"Papan tulis di depan. Bukan di belakang."
"Aku lihat bolak-balik."
"Bohong. Kamu lihat Aria."
Laras diam.
Bu Guru Wati masuk kelas. "Selamat pagi, anak-anak!"
"Selamat pagi, Bu Guru!" serempak anak-anak.
Bu Guru Wati menulis di papan tulis. "Hari ini kita belajar matematika. Tentang penjumlahan."
"Iya, Bu Guru!"
"Siapa yang sudah sarapan?"
Semua anak mengangkat tangan.
"Bagus. Kalau sudah sarapan, pikirannya segar."
Bu Guru Wati menulis: 2 + 3 = ...
"Anak-anak, sekarang Ibu akan menjelaskan tentang penjumlahan. Jika Ibu punya dua apel, lalu Ibu membeli tiga apel lagi, berapa jumlah apel Ibu seluruhnya?"
"Lima, Bu Guru!"
"Bagus. Sekarang, jika Ibu punya..."
Bu Guru Wati belum selesai bicara.
Aria berdiri.
Kursi kayunya bergeser ke belakang.
"Aria? Ada apa?" tanya Bu Guru Wati.
Aria tidak menjawab.
"Aria!" panggil Bu Guru Wati.
Aria tidak menjawab. Matanya pada Laras.
"Aria, kamu tidak dengar Ibu panggil?"
Aria diam.
"Aria!"
Laras berdiri.
"Laras?" Bu Guru Wati menoleh.
Laras tidak menjawab.
"Laras, ada apa?"
Laras diam.
"Ada apa dengan kalian berdua?"
Mereka tidak mendengar. Mereka berjalan ke arah satu sama lain. Pelan.
Tap. Tap. Tap.
"Laras, berhenti!" perintah Bu Guru Wati.
Laras terus melangkah.
"Aria, duduk kembali!"
Aria terus melangkah.
"Kembali ke tempat duduk kalian!"
Tidak dihiraukan.
"Aria, kamu kenapa?" bisik teman sebangkunya.
Tidak dijawab.
"Laras, kamu sakit?" bisik teman di sampingnya.
Tidak dijawab.
"Hei, lihat Aria dan Laras," bisik seorang anak.
"Mereka kesurupan ya?"
"Jangan bicara keras-keras. Nanti kena."
"Mereka jalan bareng, lho. Serempak."
"Iya. Aneh."
Bu Guru Wati berjalan ke tengah kelas. "Aria, Laras, Ibu bilang berhenti!"
Tiga langkah lagi. Dua langkah lagi. Satu langkah lagi.
Mereka berhadapan.
Mereka tidak berbicara. Tidak ada sepatah kata pun. Hanya berdiri. Berhadapan. Saling menatap.
Tapi di dalam hati mereka, terjadi dialog.
"Wajahmu jelas, tapi samar seperti malam," kata Aria dalam hati. "Seperti kenangan yang lupa kuukir di batu."
"Matamu hitam, tapi hangat seperti pelita," kata Laras dalam hati. "Menenangkan jiwa yang gelisah sejak dulu."
"Kenapa aku berdiri?" tanya Aria dalam hati.
"Aku juga tidak tahu," jawab Laras dalam hati.
"Kakiku membawaku ke sini."
"Kakiku juga."
"Ada yang menarik."
"Ada yang memanggil."
"Kamu dengar suara itu?" tanya Aria dalam hati.
"Iya. Dari dalam tanah," jawab Laras dalam hati.
"Dari bawah lantai."
"Suara yang sama?"
"Suara yang sama."
"Dia bilang apa?" tanya Aria dalam hati.
"Dia bilang, 'Jangan berpisah,'" jawab Laras dalam hati.
"Aku dengar itu juga."
"Kenapa harus sekarang?" tanya Laras dalam hati. "Kenapa di sekolah?"
"Aku tidak tahu," jawab Aria dalam hati. "Tapi aku tidak bisa melawan."
"Aku juga tidak bisa."
"Apa kita akan begini terus?" tanya Aria dalam hati.
"Sampai seseorang membangunkan kita," jawab Laras dalam hati.
"Siapa?"
"Bu Guru."
"Dia sudah panggil kita berkali-kali," kata Aria dalam hati.
"Kita tidak dengar," kata Laras dalam hati.
"Kenapa kita tidak dengar?" tanya Aria dalam hati.
"Karena kita sedang mendengar suara lain," jawab Laras dalam hati.
"Suara yang lebih keras."
"Suara yang lebih dalam."
"Suara yang tidak bisa kita tolak."
"Aku ingin sadar, Laras," kata Aria dalam hati. "Tapi aku tidak bisa."
"Aku juga," kata Laras dalam hati. "Aku seperti terperangkap di dalam tubuhku sendiri."
"Apa ini yang dinamakan kesurupan?" tanya Aria dalam hati.
"Aku tidak tahu," jawab Laras dalam hati.
"Tapi rasanya tidak menakutkan."
"Rasanya hangat."
"Iya. Hangat. Seperti dipeluk."
"Apa ini yang dilakukan Nyai Kembang Randu?" tanya Laras dalam hati.
"Mungkin," jawab Aria dalam hati. "Dia bilang kita dipanggil."
"Tapi kenapa di sekolah?" tanya Laras dalam hati. "Kenapa tidak di rumah saja?"
"Mungkin karena dia ingin semua orang tahu," jawab Aria dalam hati.
"Tahu apa?"
"Tahu bahwa kita berbeda."
"Aku tidak mau berbeda, Aria," kata Laras dalam hati.
"Tapi kita sudah berbeda, Laras," jawab Aria dalam hati. "Sejak lahir."
"Apa kita bisa sembunyi?" tanya Laras dalam hati.
"Dari siapa?" tanya Aria dalam hati.
"Dari semua orang," jawab Laras dalam hati. "Dari teman-teman. Dari Bu Guru. Dari warga."
"Kita tidak bisa sembunyi dari takdir, Laras," kata Aria dalam hati.
"Apa ini takdir?" tanya Laras dalam hati.
"Nyai bilang iya," jawab Aria dalam hati. "Mbah Sujud juga bilang iya."
"Aku takut, Aria."
"Aku juga. Tapi kita berdua."
"Iya. Kita berdua."
"Kita sudah janji tidak akan berpisah."
"Iya. Janji."
"Aku pegang janji itu."
"Aku juga."
"Jadi jangan takut."
"Aku coba."
"Bukan coba. Harus."
"Baik. Aku harus berani."
"Kita harus berani."
"Bersama."
"Bersama."
Mereka tersenyum dalam hati.
Bu Guru Wati meraih bahu Aria dan Laras. Mengguncang perlahan.
"Aria! Laras! Kalian sakit?"
Tidak ada jawaban.
"Kalian bisa dengar Ibu?"
Mata mereka kosong.
"Ya Allah, kasihan," bisik Bu Guru Wati. "Mereka seperti kesurupan."
Diguncang lebih keras. "Aria! Laras!"
Barulah mereka tersadar. Seperti orang baru bangun dari tidur panjang. Seperti orang baru keluar dari gua gelap. Seperti orang baru sadar bahwa mereka sedang bermimpi.
Mereka mengerjapkan mata bersamaan.
"Aduh... maaf, Bu Guru," kata Aria pelan. "Saya... tidak tahu kenapa saya berdiri."
"Aku juga, Bu Guru," kata Laras. Tangannya gemetar. "Aku tidak sadar."
Bu Guru Wati menghela napas panjang. "Duduk kembali. Nanti jam istirahat kalian boleh ke UKS jika merasa tidak enak badan."
"Maaf, Bu Guru," kata Aria.
"Maaf, Bu Guru," kata Laras.
"Kembali ke tempat duduk. Sekarang."
Aria berjalan ke bangkunya. Laras berjalan ke bangkunya.
"Anak-anak, buka buku halaman lima," kata Bu Guru Wati.
Bisik-bisik masih terdengar.
"Mereka kesurupan, ya?"
"Iya. Matanya kosong banget tadi."
"Aria sama Laras kayak orang kerasukan."
"Jangan dekat-dekat. Nanti kena."
Aria duduk. Menunduk.
"Hei, Aria," bisik teman sebangkunya.
"Iya?"
"Kamu tadi kenapa?"
"Aku tidak tahu."
"Kamu ingat apa?"
"Aku ingat berdiri. Terus di depan Laras."
"Terus?"
"Terus sadar Bu Guru pegang bahuku."
"Kamu nggak ingat apalagi?"
"Tidak."
"Kamu ngomong apa sama Laras?"
"Aku tidak ngomong."
"Tapi kalian berdua berhadapan lama."
"Aku tidak ngomong. Sungguhan."
"Aneh."
"Memang aneh."
"Kamu suka Laras ya?"
Aria menoleh. "Awas kamu bicara sembarangan."
"Loh, kok marah?"
"Kamu jaga mulut."
"Serius, deh, kamu suka Laras?"
"Tidak."
"Terus kenapa matamu ke dia terus?"
"Aku lihat papan tulis."
"Papan tulis di depan. Bukan di samping."
"Aku lihat bolak-balik."
"Bohong."
Aria tidak menjawab. Pipinya panas.
Laras duduk. Memegang pensil erat-erat.
"Laras," bisik teman di sampingnya.
"Iya?"
"Kamu tadi kenapa? Jalan sendiri gitu."
"Aku tidak tahu."
"Apa kamu kesurupan?"
"Tidak. Aku hanya... lupa."
"Lupa apa?"
"Lupa kalau aku di kelas."
"Kamu ingat apa?"
"Tidak. Kosong. Hitam. Lalu tiba-tiba di depan Aria."
"Kamu lihat Aria?"
"Iya. Matanya."
"Matanya kenapa?"
"Hitam. Dalam. Kayak sumur."
"Serem?"
"Tidak serem. Hangat."
"Hangat?"
"Iya. Aneh ya?"
"Aneh. Kamu suka Aria?"
Laras terkejut. "Apa? Tidak!"
"Iya, deh. Tapi hati-hati."
"Hati-hati apa?"
"Banyak yang bilang Aria itu aneh. Anak aneh. Suka ngomong sama pohon."
"Aku juga suka ngomong sama pohon."
"Kamu juga aneh?"
"Mungkin. Tapi Aria tidak aneh. Dia... berbeda."
"Beda apa?"
"Aku tidak tahu. Tapi bedanya bagus."
"Kamu bela dia?"
"Bukan bela. Aku hanya bilang fakta."
Temannya terkekeh. "Awas, nanti kamu dijodohkan sama dia."
"Kamu jangan bercanda."
"Aku serius, lho. Ibu-ibu di pasar suka gitu."
"Aku tidak mau."
"Tapi kamu lihat dia terus."
"Aku tidak lihat dia."
"Bohong."
Laras diam. Tidak bisa membantah.
Jam istirahat tiba.
Bel berbunyi. Anak-anak berhamburan.
Aria tidak bergerak.
Laras tidak bergerak.
"Aria, ayo main!" ajak temannya.
"Kamu duluan," jawab Aria.
"Sendirian?"
"Iya. Aku nyusul."
"Janji?"
"Iya."
Temannya pergi.
"Laras, ayo ke kantin!" ajak temannya.
"Kamu duluan," jawab Laras.
"Ayo, nanti ramai."
"Sebentar. Aku masih pusing."
"Ya sudah. Aku duluan."
Temannya pergi.
Kelas tinggal mereka berdua.
Aria menoleh. Laras menoleh.
Mereka tersenyum.
"Hei," kata Aria.
"Hei," kata Laras.
"Kamu juga tidak keluar?" tanya Aria.
"Tidak," jawab Laras. "Kamu?"
"Tidak."
"Kenapa?"
"Aku ingin lihat kamu."
Laras tersenyum. "Aku juga ingin lihat kamu."
"Laras, tadi itu terjadi lagi."
"Apa yang terjadi lagi?"
"Kita seperti... tidak sadar. Kayak di mimpi."
"Iya. Tapi di dunia nyata."
"Aku takut, Laras."
"Jangan takut. Kita sudah janji."
"Iya. Kita sudah janji tidak akan berpisah."
Aria berdiri. Berjalan ke meja Laras. Duduk di sampingnya.
"Aku di sini," kata Aria.
"Aku juga di sini," kata Laras.
"Apa kita akan seperti ini terus?" tanya Laras. "Sampai dewasa?"
"Sepertinya iya," jawab Aria. "Mbah Sujud bilang kita dipanggil."
"Tapi aku tidak mau dipanggil di depan semua orang."
"Aku juga tidak mau. Tapi kita tidak bisa memilih."
"Kenapa?"
"Karena kita dipilih."
Laras menghela napas. "Aku capek, Aria."
"Kita istirahat dulu. Nanti sore kita ke pohon randu."
"Janji?"
"Janji. Kita cerita sama Mbah Sujud."
"Kita tanya kenapa ini terjadi."
"Kita tanya apa yang harus kita lakukan."
"Apa dia akan marah?"
"Tidak. Mbah Sujud baik."
"Kamu kenal Mbah Sujud?"
"Belum. Tapi di mimpi dia baik."
"Aku juga merasakan itu. Suaranya hangat. Seperti kakek."
"Iya. Seperti kakek untuk kita berdua."
Laras tersenyum. "Aku senang punya kamu, Aria."
"Aku juga senang punya kamu, Laras."
"Kita temenan selamanya, ya?"
"Bukan temenan."
"Lalu apa?"
"Aku tidak tahu. Tapi lebih dari teman."
Laras terdiam. "Lebih dari teman?"
"Iya. Rasanya seperti... aku tidak mau pisah. Aku tidak mau kamu jauh. Aku tidak mau kamu lihat orang lain."
Laras tersenyum. "Aku juga."
Bel berbunyi. Pelajaran dimulai lagi.
Aria berdiri. "Sampai sore."
"Sampai sore."
Aria berjalan ke bangkunya. Menoleh sekali. Laras sudah menoleh.
Mereka tersenyum.
BAB 12: JAM ISTIRAHAT
Aria dan Laras tidak pergi ke UKS.
"Aku tidak mau ke UKS," kata Aria.
"Kenapa?" tanya Laras.
"Aku tidak sakit."
"Tapi Bu Guru menyuruh."
"Aku hanya... bingung tadi. Bukan sakit."
Laras mengangguk. "Aku juga. Aku hanya bingung. Bukan sakit."
"Ke mana kita?"
"Aku tahu tempat."
"Tempat apa?"
"Ikut saja."
Mereka berjalan ke belakang sekolah. Melewati lapangan. Melewati kantin. Melewati tembok yang catnya mengelupas.
"Ini," kata Laras.
Pohon mangga. Besar. Rindang. Daunnya lebat. Akarnya keluar dari tanah. Tidak ada siapa-siapa di sini.
"Ini tempat favoritku," kata Laras. "Sepi. Tidak ada yang ganggu."
"Cocok," kata Aria. "Aku juga butuh sepi."
Mereka duduk di bawah pohon mangga. Berdampingan. Diam sebentar.
"Aku mimpi lagi tadi malam," kata Aria membuka percakapan.
"Mimpi apa?" tanya Laras.
"Aku berdiri di tempat gelap. Banyak akar. Akar besar-besar. Berdenyut seperti jantung."
"Lalu?"
"Kamu ada di sampingku."
"Di samping kamu?"
"Iya. Kita berdua. Berdiri. Berpegangan tangan."
Laras tersenyum. "Aku juga bermimpi. Tapi beda."
"Mimpi apa?"
"Aku mimpi desa ini. Tapi desa yang dulu."
"Desa yang dulu? Maksudnya?"
"Desa zaman dulu. Rumah kayu. Atap rumbia. Sawahnya luas sampai ke bukit."
"Pohon randunya?"
"Besar. Jauh lebih besar dari sekarang. Akarnya sampai ke mana-mana. Ke setiap rumah. Ke setiap halaman."
"Kamu lihat itu semua?"
"Iya. Aku jalan-jalan di sana. Sepi. Sunyi. Tapi tidak takut."
"Lalu ada suara?"
Laras mengangguk. "Iya. Suara yang bilang... 'Kamu bukan hanya orang yang berjalan, kamu juga jalannya.'"
"Apa maksudnya?"
"Aku tidak mengerti. Sama sekali tidak."
Aria menghela napas. "Aku juga dengar suara. Tapi beda."
"Suara apa?"
"Suaranya bilang, 'Balik... tapi jangan sendiri.'"
"Balik ke mana?"
"Aku tidak tahu. Aku tidak mengerti juga."
Mereka berdua terdiam. Angin sore berhembus. Bau tanah basah dari sawah. Bau daun mangga yang kering.
"Laras," panggil Aria.
"Iya?"
"Apa kita aneh?"
"Kenapa tanya begitu?"
"Teman-teman bilang begitu. Mereka bilang kita aneh."
"Aneh memang. Tapi tidak apa-apa."
"Kamu tidak marah?"
"Buat apa marah? Mereka hanya tidak mengerti."
"Kamu sabar banget."
"Aku sudah biasa. Sejak kecil aku berbeda. Orang-orang suka bisik-bisik."
"Aku juga. Ibuku bilang aku istimewa. Tapi kadang istimewa itu melelahkan."
Laras tertawa kecil. "Iya. Melelahkan."
Mereka terdiam lagi.
"Aria, aku takut," kata Laras pelan. Suaranya hampir berbisik.
Aria meraih tangan Laras. Genggamannya hangat. "Aku juga takut, Laras."
"Takut apa?"
"Aku takut tidak bisa menjalani ini. Aku takut mengecewakan Mbah Sujud. Aku takut mengecewakan Nyai Kembang Randu."
"Aku juga. Tapi Mbah Sujud bilang kita dipilih. Kita tidak bisa lari."
"Harus bagaimana?"
"Kita harus belajar."
"Belajar apa?"
"Belajar tentang perjanjian ini. Belajar tentang tugas kita."
"Perjanjian apa?"
"Aku tidak tahu. Tapi Mbah Sujud pasti tahu."
"Belajar dari siapa?"
"Dari Mbah Sujud. Dan mungkin... dari pohon itu."
Laras menatap Aria. "Kamu yakin?"
"Tidak. Tapi tidak ada pilihan lain."
"Kita masih kecil, Aria."
"Iya. Tapi alam tidak memandang usia."
"Kata siapa?"
"Nyai Kembang Randu."
Laras terdiam. "Kamu suka Ngomong sama Nyai?"
"Suka. Suaranya hangat. Seperti ibu."
"Aku juga. Aku merasa aman saat dia bicara."
"Dia bilang apa terakhir?"
"Dia bilang, 'Jangan takut pada malam yang sunyi. Karena malam akan mengajarimu melihat.'"
"Aku juga dengar itu. Tapi aku tidak tahu apa maksudnya."
"Lihat apa?"
"Lihat apa yang selama ini tersembunyi. Lihat apa yang selama ini kita takutkan."
"Kamu takut apa, Aria?"
Aria berpikir. "Aku takut kehilangan."
"Kehilangan apa?"
"Kehilangan kamu."
Laras tersenyum. "Kamu tidak akan kehilangan aku. Aku di sini."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berpegangan tangan. Lebih erat.
"Laras," panggil Aria.
"Iya?"
"Kita harus cerita sama Mbah Sujud. Tentang mimpi-mimpi ini. Tentang suara-suara ini. Tentang apa yang terjadi tadi di kelas."
"Kapan?"
"Nanti sore. Sepulang sekolah."
"Kita pergi bareng?"
"Iya. Kita jemput Mbah Sujud di rumahnya."
"Kamu tahu rumahnya?"
"Tahu. Dekat pasar. Rumah kayu kecil. Cat hijau."
"Bagaimana kalau Mbah Sujud marah?"
"Tidak akan. Mbah Sujud baik."
"Kamu sudah pernah bicara dengannya?"
"Aku belum. Cuma di mimpi."
"Tapi kamu yakin dia baik?"
"Iya. Suaranya hangat. Matanya teduh. Dia pasti tidak akan marah."
Laras menghela napas. "Baiklah. Aku ikut."
"Kamu tidak usah takut."
"Aku tidak takut. Aku hanya..."
"Apa?"
"Aku hanya tidak mau merepotkan."
"Kita tidak merepotkan. Mbah Sujud yang memanggil kita. Dia pasti sudah menunggu."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Dari dulu dia sudah tahu kita akan datang."
"Kok kamu tahu?"
"Aku merasakannya. Setiap kali aku duduk di bawah pohon randu, aku merasakan kehadirannya. Seperti dia sudah lama menunggu. Seperti dia sabar."
Laras mengangguk. "Aku juga merasakan itu. Tapi aku tidak tahu itu Mbah Sujud."
"Sekarang kamu tahu."
"Iya. Sekarang aku tahu."
Bel masuk berbunyi. Istirahat hampir habis.
"Ayo," kata Aria berdiri.
"Sebentar," kata Laras.
"Ada apa?"
Laras masih duduk. "Aria, aku mau tanya sesuatu."
"Tanya apa?"
"Kita ini... apa?"
"Maksudnya?"
"Teman? Sahabat? Atau... lebih?"
Aria terdiam. "Kenapa kamu tanya?"
"Aku bingung. Aku suka sama kamu. Tapi aku tidak tahu itu suka biasa atau suka yang lain."
"Suka yang lain bagaimana?"
"Suka yang... kalau kamu tidak ada, aku rindu. Kalau kamu jauh, aku cemas. Kalau kamu lihat orang lain, aku tidak suka."
Aria tersenyum. "Aku juga."
"Jadi?"
"Jadi kita itu... kita."
"Cuma itu?"
"Cukup itu. Tidak perlu nama. Yang penting kita bersama."
Laras tersenyum. "Iya. Yang penting bersama."
Mereka berdiri. Berjalan ke kelas berdua. Berdampingan.
"Aria," kata Laras.
"Iya?"
"Aku senang kita satu sekolah."
"Aku juga."
"Aku senang kita sekelas."
"Aku juga."
"Aku senang kita duduk tidak berjauhan."
"Tapi kamu di depan. Aku di belakang."
"Tidak apa-apa. Aku bisa menoleh."
Aria tertawa. "Aku juga bisa lihat dari belakang."
"Kamu lihat rambutku, ya?"
"Aku lihat pita rambutmu. Warnanya merah. Hari ini merah. Kemarin kuning."
Laras tersenyum. "Kamu perhatikan?"
"Iya. Aku perhatikan semua tentang kamu."
Mereka tiba di depan kelas.
"Laras," panggil Aria.
"Iya?"
"Nanti sore. Janji kita pergi ke Mbah Sujud."
"Janji. Aku tunggu di depan gerbang."
"Jam berapa?"
"Jam dua. Sepulang sekolah langsung."
"Siap."
Mereka masuk kelas. Bu Guru Wati sudah di depan.
"Cepat duduk. Kita lanjutkan pelajaran."
Aria ke bangku belakang. Laras ke bangku depan.
Tapi sesekali Laras menoleh. Aria sudah menunggu dengan senyum.
BAB 13: KEMBALI KE POHON RANDU
Sepulang sekolah, tanpa direncanakan, tanpa dijanjikan, tanpa dipanggil, Aria dan Laras kembali ke pohon randu.
Kaki mereka seolah tahu jalannya sendiri. Melewati tikungan yang sama. Melewati rumah-rumah yang sama. Melewati warung kopi yang sama. Tidak ada yang bicara. Tidak ada yang bertanya. Tidak ada yang ragu.
"Aria," panggil Laras di tengah perjalanan.
"Iya?"
"Kita mau ke mana?"
"Aku tidak tahu. Tapi kakiku jalan sendiri."
"Aku juga. Aku tidak bilang mau ke sini. Tiba-tiba saja aku berjalan."
"Kita dipanggil?"
"Sepertinya begitu."
"Kamu takut?"
"Aku tidak tahu. Aku hanya... penasaran."
"Penasaran apa?"
"Penasaran apa yang akan kita temui di sana. Penasaran apa yang akan Mbah Sujud katakan. Penasaran apa yang akan terjadi pada kita."
Aria menggenggam tangan Laras. "Jangan takut. Kita berdua."
Laras tersenyum. "Iya. Kita berdua."
Mereka terus berjalan. Melewati tikungan terakhir. Melewati rumah Pak RT yang catnya mulai mengelupas. Melewati pohon jambu yang buahnya masih kecil-kecil. Sampai akhirnya mereka berdiri di bawah naungan daun-daun randu yang rimbun.
Pohon randu berdiri tegak. Batangnya besar. Kulit kayunya kasar. Akar-akarnya menjalar ke permukaan tanah seperti ular raksasa yang sedang beristirahat. Daun-daunnya berbisik tanpa angin.
Dan di bawah pohon itu, sesosok tubuh tua duduk di bangku taman. Bangku semen yang catnya sudah mengelupas di beberapa bagian. Tapi masih kokoh. Masih kuat menopang.
Mbah Sujud sudah menunggu di sana.
Seperti ia tahu mereka akan datang. Seperti ia selalu tahu. Matanya terpejam. Wajahnya tenang. Di pangkuannya, kitab tua itu terbuka di halaman yang berbeda dari kemarin. Halaman yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya. Halaman yang mungkin hanya untuk hari ini.
"Mbah," sapa Aria. Suaranya pelan. Tidak ingin mengganggu keheningan.
Mbah Sujud tidak langsung merespon. Ia masih memejamkan mata. Dadanya naik turun perlahan. Ia seperti sedang berdoa. Atau sedang merenung. Atau sedang mendengarkan sesuatu yang tidak bisa didengar oleh Aria dan Laras.
Beberapa saat kemudian, ia membuka mata.
Matanya masih tajam. Meskipun tubuhnya tua dan renta, matanya tidak berubah. Masih seperti dulu. Masih seperti saat pertama kali Aria dan Laras melihatnya. Masih penuh dengan cahaya yang tidak bisa dijelaskan.
Ia tersenyum. Senyum yang penuh keriput. Senyum yang hangat. Senyum yang membuat Aria dan Laras merasa aman.
"Saya sudah tahu kalian akan datang," katanya. Suaranya serak. Tapi jelas. "Dari tadi saya sudah merasakan getaran langkah kalian. Dari jauh. Dari seberang desa. Kaki kalian seperti sudah tahu jalan pulang."
"Pulang, Mbah?" tanya Laras.
"Iya. Pulang. Karena pohon ini adalah rumah bagi kalian. Rumah bagi semua penjaga. Rumah bagi semua yang dipanggil."
"Duduk di sini, Le. Sebanyak apa pun pertanyaan kalian, saya akan coba jawab."
Aria dan Laras duduk di samping Mbah Sujud. Sebelah kiri dan sebelah kanan. Seperti dua anak kecil yang duduk di samping kakeknya. Mendengarkan dengan saksama. Tidak berani menyela.
"Mbah, aku mimpi lagi tadi malam," kata Laras membuka percakapan.
Mbah Sujud menoleh. Matanya menusuk. Seperti membaca sesuatu di balik mata Laras. "Mimpi apa, Le? Ceritakan."
Laras menarik napas panjang. Ia mengatur kata-katanya. Tidak ingin terburu-buru. Tidak ingin kehilangan detail.
"Aku mimpi desa ini, Mbah. Tapi desa yang dulu. Bukan desa yang sekarang. Desanya lebih tua. Jauh lebih tua."
"Lebih tua seperti apa?"
"Rumah-rumahnya terbuat dari kayu dan bambu, Mbah. Tidak ada yang terbuat dari bata atau semen. Atapnya dari daun rumbia, bukan dari genteng. Sawahnya lebih luas, membentang sampai ke kaki bukit. Ladangnya lebih hijau, lebih subur, lebih hidup."
Mbah Sujud mengangguk. "Itu desa zaman dulu. Sebelum desa ini berubah. Sebelum warga mulai menggunakan bata dan semen. Sebelum sawah-sawah mulai dijual. Sebelum pohon-pohon mulai ditebang."
"Lalu ada pohon randu, Mbah. Pohon randu di tengah alun-alun. Tapi pohon itu... pohon itu berbeda."
"Berbeda bagaimana?"
"Besar, Mbah. Jauh lebih besar dari yang sekarang. Akarnya tidak hanya di alun-alun, tapi merambat hingga ke seluruh desa. Ke setiap rumah. Ke setiap halaman. Ke setiap sudut. Rasanya seperti... seperti pohon itu adalah jantungnya desa."
Mbah Sujud tersenyum. "Kamu benar, Le. Pohon randu dulu memang seperti itu. Akarnya menjalar ke mana-mana. Menghubungkan satu rumah dengan rumah lain. Satu hati dengan hati lain."
"Tapi kenapa sekarang berbeda, Mbah?"
"Karena manusia berubah, Le. Mereka mulai membangun tembok. Mulai membuat pagar. Mulai memisahkan diri. Akar tidak bisa menembus tembok. Akar tidak bisa melewati pagar. Jadi akar pun mundur. Kembali ke pusat. Kembali ke pohon induk."
Laras menunduk. "Jadi manusia yang salah?"
"Bukan salah. Tapi lupa. Lupa bahwa mereka terhubung. Lupa bahwa mereka tidak sendirian. Lupa bahwa akar-akar itu adalah pengingat bahwa kita semua satu."
"Mbah, lalu di dalam mimpi itu, aku mendengar suara."
"Suara apa, Le?"
"Suara yang bilang... 'Kamu bukan hanya orang yang berjalan, kamu juga jalannya.'"
Mbah Sujud terdiam. Ia menutup matanya sejenak. Seperti sedang merasakan sesuatu. Seperti sedang meresapi kata-kata yang didengarnya.
"Apa maksudnya, Mbah?" tanya Laras. "Aku tidak mengerti. Sama sekali tidak."
Mbah Sujud membuka mata. "Kamu tidak perlu mengerti sekarang, Le. Tapi suatu hari nanti, ketika kamu sudah dewasa, ketika kamu sudah mengalami lebih banyak hal, kata-kata itu akan terngiang lagi. Dan kamu akan mengerti."
"Aku tidak sabar menunggu, Mbah."
"Kesabaran adalah kunci, Le. Semua ada waktunya. Mimpi, pertemuan, perpisahan, pemahaman. Semua ada waktunya."
"Tapi Mbah, aku ingin tahu sekarang."
"Keinginanmu wajar, Le. Tapi pengetahuan yang terlalu cepat bisa membahayakan. Biarkan alam yang bekerja. Biarkan akar yang memanggil. Biarkan hati yang merespon."
Laras menghela napas. "Baik, Mbah. Aku akan berusaha sabar."
Aria yang dari tadi diam ikut bicara. "Mbah, aku juga dengar suara di mimpiku. Tapi beda dengan Laras."
Mbah Sujud menoleh ke Aria. "Suara apa yang kau dengar, Le?"
"Aku dengar suara yang bilang, 'Balik... tapi jangan sendiri.'"
"'Balik... tapi jangan sendiri.'" Mbah Sujud mengulang kata-kata itu perlahan. Seperti sedang mencerna maknanya.
"Iya, Mbah. Aku tidak mengerti. Balik ke mana? Jangan sendiri bersama siapa?"
Mbah Sujud tersenyum. "Kamu tidak perlu mencari jawaban sekarang, Le. Jawaban itu akan datang ketika kalian berdua sudah siap."
"Kapan kami siap, Mbah?"
"Nanti. Saat kalian dewasa. Saat kalian sudah melewati banyak ujian. Saat kalian sudah tidak takut lagi."
Aria mengangguk. Ia tidak bertanya lebih jauh. Ia percaya pada Mbah Sujud.
Mereka berdua terdiam. Angin sore berhembus. Bau tanah basah dari sawah yang baru saja diairi. Bau daun randu yang kering. Bau sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
"Laras," panggil Mbah Sujud.
"Iya, Mbah."
"Apa lagi yang kau dengar dalam mimpimu? Selain kata-kata itu?"
Laras mengerutkan kening. Ia berusaha mengingat.
"Ada... ada suara tangisan, Mbah. Banyak orang menangis. Suaranya seperti dari dalam tanah. Mereka bilang... 'Tolong kami... kami tidak bisa keluar...'"
Mbah Sujud menghela napas. Dadanya naik turun. Matanya sayu.
"Mereka memang tidak bisa keluar, Le. Mereka terjebak."
"Terjebak di mana, Mbah?"
"Di antara dua dunia. Dunia manusia dan dunia akar. Mereka tidak mati. Tapi juga tidak hidup. Mereka hanya... ada."
"Kenapa mereka bisa terjebak, Mbah?"
"Karena suatu ketika, mereka memutuskan untuk pergi. Meninggalkan akar. Meninggalkan pohon. Meninggalkan desa. Mereka pergi ke kota. Mencari kehidupan yang lebih baik. Tapi mereka lupa bahwa akar tidak pernah putus. Mereka tetap terhubung. Dan ketika mereka mati di perantauan, roh mereka tidak bisa pulang. Akar tidak bisa menarik mereka kembali karena mereka sudah terlalu jauh."
Laras menggigil. "Kasihan, Mbah."
"Iya. Kasihan. Tapi itu pilihan mereka. Dan setiap pilihan ada konsekuensinya."
Aria memegang tangan Laras. "Kamu tidak usah takut, Laras. Kamu tidak akan seperti mereka."
Laras menatap Aria. "Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena kita tidak akan pernah pergi dari desa ini. Kita akan tetap di sini. Menjaga pohon ini. Menjaga akar ini. Menjaga satu sama lain."
Mbah Sujud tersenyum. "Kalian berdua memang ditakdirkan bersama. Seperti akar dan tanah. Seperti pohon dan angin. Seperti malam dan bintang."
"Mbah, apa kami akan bersama selamanya?" tanya Laras.
"Tidak ada yang selamanya di dunia ini, Le. Tapi selama kalian masih hidup, selama kalian masih bernapas, selama kalian masih berdetak, kalian akan bersama. Dalam suka dan duka. Dalam kaya dan miskin. Dalam sehat dan sakit."
"Seperti janji pernikahan, Mbah?" tanya Aria.
Mbah Sujud tertawa kecil. "Iya. Seperti janji pernikahan. Tapi tanpa pesta. Tanpa saksi. Tanpa catatan sipil. Hanya janji hati. Janji yang hanya Tuhan yang tahu."
Aria dan Laras saling pandang. Mereka tersenyum.
"Janji hati," ulang Aria.
"Janji hati," ulang Laras.
Mbah Sujud menatap mereka berdua bergantian. Matanya basah. Tapi senyumnya mengembang.
"Kalian masih muda. Masih tujuh tahun. Masih panjang perjalanan kalian. Banyak suka. Banyak duka. Banyak tawa. Banyak tangis. Banyak pertemuan. Banyak perpisahan."
"Tapi Mbah, kami tidak takut," kata Aria.
"Kenapa tidak takut?"
"Karena kami punya satu sama lain."
Mbah Sujud mengangguk. "Itu kunci, Le. Selama kalian punya satu sama lain, kalian tidak akan pernah tersesat. Tidak di dunia manusia. Tidak di dunia akar."
"Tapi Mbah, dunia akar itu apa?" tanya Laras.
Mbah Sujud menunjuk pohon randu di hadapan mereka. "Itu, Le. Dunia di balik pohon itu. Dunia di balik akar-akar itu. Dunia di balik getaran yang kalian rasakan."
"Apakah kita bisa masuk ke sana, Mbah?"
"Suatu hari nanti. Saat kalian sudah dewasa. Saat kalian sudah siap. Saat kalian sudah tidak takut lagi."
"Aku ingin masuk, Mbah. Aku ingin tahu."
"Keinginanmu wajar, Le. Tapi jangan terburu-buru. Nikmati dulu dunia manusia. Nikmati dulu masa kecilmu. Karena suatu hari nanti, ketika kalian sudah masuk ke dunia akar, kalian tidak bisa keluar begitu saja."
Laras menggenggam tangan Aria lebih erat. "Aku tidak akan masuk sendirian, Mbah. Akan ada Aria di sampingku."
"Iya. Akan ada Aria di sampingmu. Dan itu yang membuat kalian selamat."
"Aria," panggil Mbah Sujud.
"Iya, Mbah."
"Kau juga mendengar suara itu, bukan? Suara yang bilang 'Balik... tapi jangan sendiri'?"
"Iya, Mbah. Aku mendengarnya."
"Kau tahu artinya?"
"Belum, Mbah. Tapi aku yakin suatu hari nanti aku akan tahu."
"Bagus. Karena arti dari kata-kata itu tidak bisa dijelaskan. Harus dialami."
"Dialami bagaimana, Mbah?"
"Suatu hari nanti, ketika kalian berdua dewasa, ketika kalian sudah menjadi penjaga, ketika kalian sudah memiliki anak, kata-kata itu akan muncul lagi. Dan kalian akan mengerti."
Aria mengangguk. "Baik, Mbah. Aku akan menunggu."
"Jangan menunggu. Hidup. Nikmati. Tertawa. Menangis. Jatuh. Bangun. Karena melalui itulah kalian akan mengerti."
Aria tersenyum. "Terima kasih, Mbah."
"Laras," panggil Mbah Sujud lagi.
"Iya, Mbah."
"Kau tahu apa yang membuatmu berbeda?"
"Apa, Mbah?"
"Kau bisa merasakan. Bukan hanya mendengar. Bukan hanya melihat. Tapi merasakan. Apa yang tidak terasa oleh orang lain, kau rasakan. Apa yang tidak disentuh oleh orang lain, kau sentuh. Apa yang tidak dilihat oleh orang lain, kau lihat."
Laras mengerjapkan mata. "Apakah itu baik, Mbah?"
"Tergantung. Jika kau gunakan untuk kebaikan, itu baik. Jika kau gunakan untuk keburukan, itu buruk."
"Aku akan gunakan untuk kebaikan, Mbah."
"Aku tahu. Karena hatimu bersih. Sejak kecil. Sejak pertama kali kau lahir. Hatimu sudah bersih. Jangan biarkan kebencian dan ambisi mengotorinya."
"Aku tidak akan membenci siapa pun, Mbah. Janji."
"Bagus. Karena kebencian adalah racun. Tidak hanya bagi yang dibenci. Tapi juga bagi yang membenci."
Laras mengangguk. "Aku akan ingat itu, Mbah."
Matahari mulai condong ke barat. Sore semakin sore. Bayangan pohon randu memanjang. Angin berhembus lebih sejuk.
Aria berdiri. "Mbah, kami harus pulang. Nanti ibu kami marah."
"Iya. Pulanglah. Jaga diri kalian."
"Besok kami ke sini lagi, Mbah?" tanya Laras.
"Terserah kalian. Pintu ini selalu terbuka."
"Kami akan datang, Mbah. Janji."
"Janji."
Aria dan Laras membungkuk hormat pada Mbah Sujud. Mereka berbalik. Berjalan meninggalkan pohon randu.
"Mbah," panggil Aria sebelum terlalu jauh.
"Iya, Le."
"Terima kasih sudah mengajari kami."
"Terima kasih sudah mau belajar."
"Kami tidak akan mengecewakan, Mbah."
"Aku tahu. Aku tidak pernah meragukan kalian."
Aria dan Laras terus berjalan. Berdampingan. Tidak lepas. Tidak terpisah.
Mbah Sujud masih duduk di bawah pohon randu. Kitab tua di pangkuannya terbuka di halaman yang sama. Ia menatap punggung Aria dan Laras yang mulai menghilang di tikungan.
"Aria," bisiknya. "Laras. Kalian adalah harapan terakhir desa ini. Jangan sia-siakan."
Ia menutup kitabnya. Memejamkan mata.
"Dunia akar menanti. Tapi jangan terburu-buru. Nikmati masa kecil kalian. Karena setelah kalian dewasa, semuanya akan berbeda."
Pohon randu berdenyut pelan. Daunnya bergoyang tanpa angin. Cahaya keemasan mulai muncul di sela-sela dedaunan.
"Selamat jalan, anak-anak. Sampai jumpa besok."
Di perjalanan pulang, Aria menggenggam tangan Laras.
"Laras."
"Iya?"
"Apa menurutmu yang kita pelajari hari ini?"
"Aku belajar bahwa dunia akar itu nyata. Bahwa ada orang-orang terjebak di antara dua dunia. Bahwa kita dipanggil untuk sesuatu."
"Aku juga. Dan aku belajar bahwa kita tidak sendirian."
Laras tersenyum. "Iya. Kita punya satu sama lain."
"Dan kita punya Mbah Sujud."
"Dan kita punya Nyai Kembang Randu."
"Dan kita punya pohon randu."
Mereka berdua tertawa. Tawa kecil. Tawa yang hangat.
"Aria," panggil Laras.
"Iya?"
"Aku senang kita bertemu."
"Aku juga. Aku senang kita bertemu."
"Mungkin ini yang disebut takdir."
"Mungkin."
"Sampai kapan pun kita akan bersama?"
"Sampai kapan pun."
Mereka terus berjalan. Tidak menoleh ke belakang. Karena mereka tahu, besok akan bertemu lagi. Dan lusa. Dan seterusnya.
BAB 14: LATIHAN PERTAMA
Mulai hari itu, setiap akhir pekan, Aria dan Laras diam-diam pergi ke rumah Mbah Sujud untuk belajar.
Bukan belajar matematika atau bahasa. Bukan belajar membaca atau menulis. Bukan belajar sejarah atau geografi. Tapi belajar menenangkan pikiran. Belajar mendengarkan suara dari dalam tanah. Belajar membedakan mana yang nyata dan mana yang ilusi. Mana yang suara dari dunia manusia dan mana yang suara dari dunia akar. Mana yang penting dan mana yang hanya gangguan.
Mereka tidak memberi tahu siapa pun. Tidak ada yang tahu. Tidak orang tua. Tidak teman. Tidak tetangga. Hanya mereka bertiga. Aria, Laras, dan Mbah Sujud. Dan pohon randu yang diam-diam mengawasi dari kejauhan.
Setiap Sabtu pagi, sebelum matahari terbit, Aria sudah berdiri di depan pagar rumah Laras. Ia tidak perlu mengetuk. Ia tidak perlu memanggil. Laras sudah tahu. Laras sudah bersiap.
"Kamu tidak tidur?" tanya Aria ketika Laras keluar.
"Aku tidur. Tapi aku bangun lebih awal."
"Jam berapa kamu bangun?"
"Lima. Kamu?"
"Setengah lima."
"Lho, kok lebih awal?"
"Aku tidak bisa tidur. Pikiranku penuh."
"Pikiran apa?"
"Tentang latihan. Tentang suara-suara itu. Tentang Mbah Sujud. Tentang Nyai Kembang Randu. Tentang dunia akar."
"Aku juga. Aku juga tidak bisa tidur nyenyak. Setiap aku pejamkan mata, aku mendengar suara. Samar. Tapi jelas. Seperti ada yang memanggil."
"Kita berdua sama."
"Iya. Kita berdua sama."
Mereka berjalan berdua menuju rumah Mbah Sujud. Jalan masih gelap. Hanya cahaya bintang yang menemani. Ayam jantan belum berkokok. Anjing desa masih tidur. Hanya suara langkah kaki mereka yang terdengar. Kres. Kres. Kres. Di atas tanah yang masih basah oleh embun.
Rumah Mbah Sujud terletak di pinggir desa. Tidak terlalu jauh dari alun-alun. Tapi cukup terpencil untuk tidak diganggu oleh keramaian. Rumah kayu kecil dengan cat hijau yang sudah mengelupas. Pintu kayu yang selalu terbuka untuk siapa pun yang membutuhkan. Halaman depan yang ditumbuhi rumput liar dan beberapa tanaman obat.
Mbah Sujud sudah bangun. Ia duduk di kursi goyangnya di teras. Matanya terpejam. Tangannya bersila di perut. Napasnya teratur. Seperti sedang bermeditasi. Atau sedang mendengarkan sesuatu yang tidak bisa didengar oleh telinga biasa.
"Mbah," sapa Aria pelan. Tidak ingin mengganggu.
Mbah Sujud membuka mata. Ia tersenyum. "Masuklah, Le. Duduk di lantai. Jangan di kursi."
Mereka masuk ke dalam rumah. Ruangan sederhana. Hanya ada meja kayu, kursi goyang, rak buku tua, dan lantai anyaman bambu yang sudah agak kusam di beberapa tempat. Dindingnya tidak berhias. Hanya ada beberapa foto hitam putih yang sudah menguning. Foto orang-orang yang tidak dikenal Aria dan Laras. Mungkin keluarga Mbah Sujud. Mungkin teman-temannya yang sudah tiada.
"Duduk di sini," kata Mbah Sujud sambil menepuk lantai di hadapannya.
Aria dan Laras duduk bersila. Berhadapan dengan Mbah Sujud. Tidak ada yang bicara. Hanya ada keheningan. Keheningan yang pekat. Keheningan yang terasa berat. Tapi anehnya, tidak menakutkan. Justru menenangkan.
"Kalian tahu kenapa kalian di sini?" tanya Mbah Sujud.
"Untuk belajar, Mbah," jawab Aria.
"Belajar apa?"
"Belajar menjadi penjaga."
"Menjaga apa?"
"Menjaga keseimbangan antara dunia manusia dan dunia akar."
"Kamu tahu apa itu keseimbangan?"
Aria terdiam. Ia tidak tahu. Ia hanya mengulang kata-kata yang pernah didengarnya dari Mbah Sujud dan dari Nyai Kembang Randu.
"Keseimbangan itu seperti bernapas, Le. Ada tarikan. Ada hembusan. Ada masuk. Ada keluar. Ada siang. Ada malam. Ada terang. Ada gelap. Ada suka. Ada duka. Semua harus seimbang. Jika tidak, semuanya akan hancur."
"Siapa yang menjaga keseimbangan itu, Mbah?" tanya Laras.
"Penjaga. Seperti kakek buyut kalian. Seperti Mbah Urip. Seperti Mbah Sujud dulu. Seperti kalian nanti."
"Apakah kami sanggup, Mbah?"
"Kalian tidak perlu sanggup. Kalian perlu belajar. Dan belajar butuh waktu. Butuh proses. Butuh kesabaran. Tidak ada yang instan. Tidak ada yang bisa langsung bisa."
Aria mengangguk. "Kami akan belajar, Mbah. Kami tidak akan menyerah."
"Bagus. Karena menyerah bukan pilihan. Satu-satunya pilihan adalah terus maju. Meskipun lambat. Meskipun sulit. Meskipun menyakitkan."
"Kalian tahu," kata Mbah Sujud perlahan. Suaranya serak. Tapi jelas. "Menjadi penjaga itu tidak mudah. Bukan seperti yang kalian bayangkan. Bukan seperti dongeng sebelum tidur. Bukan seperti cerita wayang yang selalu berakhir bahagia."
Aria mengangguk. "Kami tahu, Mbah."
"Kamu tahu? Kamu baru tujuh tahun. Apa yang kamu ketahui tentang kesulitan? Tentang pengorbanan? Tentang rasa sakit?"
Aria terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Laras memegang tangan Aria. "Kami belum tahu, Mbah. Tapi kami mau belajar."
"Belajar apa?"
"Belajar menjadi penjaga. Belajar menghadapi kesulitan. Belajar berkorban. Belajar menahan sakit."
Mbah Sujud tersenyum. "Kamu berani, Le. Aku suka keberanianmu. Tapi keberanian tanpa pengetahuan adalah buta. Kamu akan tersesat. Kamu akan celaka. Kamu akan menyesal."
"Karena itu kami di sini, Mbah. Untuk belajar. Untuk mendapatkan pengetahuan. Agar keberanian kami tidak buta."
Mbah Sujud terdiam. Ia menatap Laras lama. Lalu ia mengangguk.
"Baik. Aku akan mengajari kalian. Tapi ingat, yang bisa aku berikan hanyalah pintu. Kalian sendiri yang harus masuk. Yang bisa aku tunjukkan hanyalah jalan. Kalian sendiri yang harus berjalan."
"Kami siap, Mbah."
"Kesiapan tidak pernah dirasakan, Le. Kesiapan hanya dibuktikan dengan tindakan."
"Pertama, kalian harus bisa menenangkan pikiran," kata Mbah Sujud. Suaranya lembut. Tapi tegas. Tidak bisa ditawar.
"Kenapa harus tenang, Mbah?" tanya Aria.
"Karena pikiran yang kacau tidak bisa mendengar. Pikiran yang kacau hanya bisa berteriak. Pikiran yang kacau hanya bisa merasakan takut. Dan ketakutan adalah musuh terbesar seorang penjaga."
"Musuh terbesar, Mbah?" Laras mengerutkan kening.
"Iya. Penjaga yang takut tidak akan bisa melihat. Penjaga yang takut tidak akan bisa mendengar. Penjaga yang takut tidak akan bisa merasakan. Penjaga yang takut hanya akan lari. Dan jika kalian lari, keseimbangan akan hancur. Desa ini akan binasa. Dunia akar akan kacau."
Aria menggigil. "Kami tidak akan lari, Mbah."
"Kamu tidak tahu. Ketakutan sering datang tanpa diundang. Tidak bisa diprediksi. Tidak bisa dicegah. Yang bisa kalian lakukan hanyalah mengendalikannya. Jangan biarkan ketakutan mengendalikan kalian."
"Bagaimana cara mengendalikannya, Mbah?" tanya Laras.
"Dengan menenangkan pikiran. Dengan menguasai napas. Dengan kembali ke pusat. Ke hati. Ke jiwa. Ke tempat di mana ketakutan tidak punya kuasa."
"Pejamkan mata kalian," perintah Mbah Sujud.
Aria dan Laras memejamkan mata.
"Rasakan napas kalian. Tarik lewat hidung. Hembus lewat mulut. Lakukan berulang-ulang. Jangan pikirkan apa pun. Fokus pada napas. Hanya pada napas. Tarik. Hembus. Tarik. Hembus."
Aria dan Laras bernapas. Perlahan. Dalam. Teratur.
Tarik. Hembus. Tarik. Hembus. Tarik. Hembus.
"Aku masih berpikir, Mbah," kata Aria setelah beberapa saat.
"Tidak apa-apa. Biarkan pikiran itu lewat. Jangan dilawan. Jangan diikuti. Cukup diamati. Seperti melihat awan lewat di langit. Seperti melihat air mengalir di sungai. Datang. Pergi. Datang. Pergi. Jangan dipegang. Jangan dihentikan."
Aria menghela napas. Ia mencoba lagi.
Tarik. Hembus. Tarik. Hembus.
Setelah beberapa saat, pikirannya mulai tenang. Tidak lagi liar. Tidak lagi kemana-mana. Hanya ada keheningan. Keheningan yang nyaman. Keheningan yang damai.
"Aria," panggil Mbah Sujud. "Kamu dengar apa?"
Aria berkonsentrasi. Ia mendengarkan. Tidak dengan telinga. Tapi dengan hati. Dengan jiwa. Dengan getaran yang merambat dari dalam tanah.
"Ada suara, Mbah. Samar. Seperti orang bicara dari jauh."
"Suara siapa?"
"Aku tidak tahu, Mbah. Tapi dia bilang... 'Aku menunggumu.'"
"Laki-laki atau perempuan?"
"Perempuan, Mbah. Lembut. Halus. Seperti ibu yang memanggil anaknya pulang makan malam."
"Itu Nyai Kembang Randu. Penjaga dunia akar. Dia sudah menunggu kalian sejak lama. Sejak sebelum kalian lahir. Sejak sebelum desa ini ada. Sejak pohon randu masih kecil."
"Kenapa dia menunggu kami, Mbah?"
"Karena kalian dipilih. Karena kalian adalah penerus. Karena kalian adalah kunci keseimbangan."
"Apakah Nyai baik, Mbah?"
"Dia baik. Tapi dia juga tegas. Dia tidak akan mentolerir kesalahan. Dia tidak akan memberi maaf dua kali. Jadi berhati-hatilah. Jangan sampai kalian mengecewakannya."
Aria menggigil. Tapi tidak ketakutan. Justru bersemangat. "Aku tidak akan mengecewakan Nyai, Mbah. Janji."
Laras yang juga memejamkan mata tiba-tiba membuka matanya. Wajahnya pucat. Tangannya gemetar.
"Mbah, aku juga mendengar," katanya.
"Kamu dengar apa, Le?"
"Suara. Tapi berbeda dengan Aria. Suaranya lebih dalam. Lebih berat. Seperti dari dalam tanah. Seperti dari pusat bumi."
"Suara siapa?"
"Aku tidak tahu, Mbah. Tapi dia bilang... 'Kamu bukan hanya orang yang berjalan. Kamu juga jalannya.'"
Mbah Sujud tidak terkejut. Ia tersenyum. Seperti sudah menduga.
"Kamu dengar itu juga, Le?"
"Iya, Mbah. Sudah beberapa kali. Di mimpi. Di bawah pohon randu. Di rumah. Di mana pun."
"Itu pertanda, Le. Pertanda bahwa kau tidak lagi hanya melihat dunia akar dari luar. Kau mulai menjadi bagian dari dalamnya."
Laras mengerutkan kening. "Aku tidak mengerti, Mbah."
"Kau tidak perlu mengerti dengan pikiran. Cukup rasakan dengan hati. Karena pengertian sejati tidak datang dari otak. Tapi dari hati."
"Apa yang harus aku rasakan, Mbah?"
"Rasakan bahwa kau tidaklah terpisah dari akar. Bahwa kau adalah akar itu sendiri. Bahwa kau adalah jalan. Bahwa kau adalah tempat orang lain berjalan. Bahwa kau adalah penghubung antara satu tempat dengan tempat lain."
Laras masih tidak mengerti. Tapi ia tidak bertanya lagi. Ia percaya pada Mbah Sujud.
Mbah Sujud menatap mereka berdua bergantian. Matanya berbinar. Senyumnya mengembang.
"Kalian berdua memang terpilih. Aria lebih peka terhadap penglihatan. Laras lebih peka terhadap perasaan. Kalian saling melengkapi."
"Saling melengkapi, Mbah?" tanya Aria.
"Iya. Aria bisa melihat apa yang tidak terlihat. Bisa melihat akar yang tidak tampak. Bisa melihat cahaya yang tidak terang. Bisa melihat wujud yang tidak berbentuk. Laras bisa merasakan apa yang tidak terasa. Bisa merasakan getaran yang tidak terdeteksi. Bisa merasakan perasaan yang tidak diungkapkan. Bisa merasakan kehadiran yang tidak terlihat."
"Jadi kalau kami bersama, kami bisa..." Aria tidak melanjutkan.
"Bersama, kalian bisa menjadi penjaga yang sempurna. Sempurna bukan berarti tanpa cela. Tapi saling mengisi. Saling menutupi kekurangan masing-masing. Saling menguatkan ketika yang lain lemah. Saling mengingatkan ketika yang lain lupa."
Laras memegang tangan Aria. "Kita akan menjaga satu sama lain, Aria."
"Janji?"
"Janji."
"Aria, coba lihat ke dalam," kata Mbah Sujud. "Jangan dengan mata. Tapi dengan hati."
"Lihat apa, Mbah?"
"Lihat dirimu sendiri. Lihat jiwamu. Lihat hatimu. Apakah ada cahaya di sana? Apakah ada getaran? Apakah ada denyut?"
Aria memejamkan mata. Ia mencoba. Awalnya gelap. Hanya gelap. Tidak ada apa-apa.
"Aku tidak melihat apa-apa, Mbah."
"Sabarlah. Jangan paksakan. Biarkan cahaya itu muncul dengan sendirinya. Jangan dicari. Jangan dikejar. Cukup diam. Cukup tunggu."
Aria bernapas. Perlahan. Dalam.
Setelah beberapa saat, ia melihat sesuatu. Samar. Tapi ada. Titik kecil berwarna keemasan. Berdenyut. Seperti jantung. Seperti bintang. Seperti api kecil yang tidak pernah padam.
"Mbah, aku melihat sesuatu!"
"Apa yang kau lihat?"
"Cahaya kecil. Keemasan. Berdenyut. Seperti... seperti jantung."
"Itu jiwamu, Le. Itu esensimu. Itu yang membuatmu hidup. Itu yang membuatmu berbeda dari yang lain. Jaga cahaya itu. Jangan biarkan siapa pun memadamkannya. Jangan biarkan apa pun meredupkannya."
"Apakah cahaya itu akan terus ada, Mbah?"
"Selama kamu masih hidup, iya. Tapi jika kamu membiarkan kebencian, amarah, iri, dengki masuk ke dalam hatimu, cahaya itu akan redup. Jika kamu terus memelihara kebencian, cahaya itu akan padam. Dan jika cahaya itu padam, kamu tidak akan bisa menjadi penjaga. Kamu hanya akan menjadi manusia biasa. Atau lebih buruk dari itu."
Aria menggigil. "Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, Mbah. Aku akan menjaga cahayaku."
"Bagus. Karena menjaga cahaya adalah tugas pertama seorang penjaga. Bukan menjaga orang lain. Bukan menjaga desa. Bukan menjaga pohon. Tapi menjaga diri sendiri terlebih dahulu."
"Laras, coba rasakan," kata Mbah Sujud. "Bukan hanya dengan tangan. Tapi dengan hati."
"Rasakan apa, Mbah?"
"Rasakan getaran di sekitarmu. Rasakan kehangatan dari tubuh Aria. Rasakan dingin dari lantai yang kau duduki. Rasakan getaran dari akar yang menjalar di bawah tanah."
Laras memejamkan mata. Ia mencoba. Ia merasakan.
"Aku merasakan hangat dari Aria, Mbah. Seperti ada api kecil di sampingku."
"Itu karena Aria ada di dekatmu. Kalian terhubung. Sejak pertama kali kalian bertemu di pasar. Sejak pertama kali kalian bermimpi tentang satu sama lain. Sejak pertama kali kalian dipanggil ke pohon randu. Kalian sudah terhubung."
"Apa artinya terhubung, Mbah?"
"Artinya, kalian tidak bisa terpisahkan. Apa yang dirasakan Aria, akan kamu rasakan. Apa yang dirasakan kamu, akan Aria rasakan. Kalian seperti dua sisi mata uang. Berbeda. Tapi satu."
Laras tersenyum. "Aku senang, Mbah. Aku senang terhubung dengan Aria."
"Kamu harus bersyukur. Karena tidak semua orang memiliki koneksi seperti kalian. Tidak semua orang ditakdirkan untuk bersama. Tidak semua orang diberi kesempatan untuk saling melengkapi."
"Kami akan menjaga koneksi ini, Mbah. Janji."
"Aku merasakan dingin dari lantai, Mbah," kata Laras melanjutkan. "Tapi tidak terlalu dingin. Hanya sejuk. Nyaman."
"Itu karena lantai terbuat dari bambu. Bambu adalah tanaman yang hidup. Ia masih berdenyut. Ia masih bernapas. Ia masih merasakan."
"Bambu merasakan, Mbah?"
"Iya. Bambu merasakan. Semua tanaman merasakan. Mereka punya perasaan. Mereka punya kesadaran. Mungkin berbeda dengan manusia. Tapi mereka hidup. Mereka ada. Mereka bagian dari alam semesta yang harus kita hormati."
"Aku tidak tahu itu, Mbah."
"Kamu baru tahu sekarang. Itu sudah cukup. Yang penting, setelah tahu, kamu tidak boleh bersikap semena-mena terhadap tanaman. Jangan sembarangan mematahkan ranting. Jangan sembarangan memetik daun. Jangan sembarangan menebang pohon. Karena setiap tanaman punya hak untuk hidup. Seperti kalian. Seperti aku. Seperti semua makhluk."
Laras mengangguk. "Aku akan ingat itu, Mbah."
"Aku juga merasakan getaran, Mbah," kata Laras. "Dari bawah lantai. Dari dalam tanah. Samar. Tapi ada."
"Itu akar, Le. Akar pohon randu. Mereka menjalar ke mana-mana. Bahkan sampai ke bawah rumah ini. Mereka terhubung dengan semua makhluk di desa ini. Mereka adalah jaringan yang menghubungkan satu dengan yang lain."
"Jaringan, Mbah?"
"Iya. Seperti tali. Seperti benang. Seperti sungai. Akar-akar itu mengalirkan energi. Mengalirkan informasi. Mengalirkan perasaan. Dari satu titik ke titik lain. Dari satu hati ke hati lain."
"Apa aku bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain melalui akar, Mbah?"
"Bisa. Jika kau sudah terlatih. Jika kau sudah peka. Jika kau sudah terbuka. Tapi hati-hati. Jangan sampai kau kewalahan. Jangan sampai kau tenggelam dalam perasaan orang lain. Kamu harus bisa membedakan mana perasaanmu dan mana perasaan orang lain."
"Aku akan belajar, Mbah."
"Belajarlah. Tapi jangan terburu-buru. Karena kemampuan ini seperti pisau bermata dua. Bisa menyelamatkan. Bisa juga membunuh."
Laras menggigil. Tapi ia tidak mundur. Ia tetap duduk tegak. Ia tetap mau belajar.
"Aria, apa yang kau lihat sekarang?" tanya Mbah Sujud.
Aria masih memejamkan mata. Matanya bergerak cepat di balik kelopak. Seperti sedang melihat sesuatu yang bergerak.
"Aku melihat akar, Mbah. Banyak akar. Besar-besar. Menjalar ke segala arah. Seperti ular. Seperti sungai. Seperti jaring laba-laba raksasa."
"Apa warna akar itu?"
"Coklat. Tapi ada cahaya keemasan di dalamnya. Seperti darah yang mengalir. Seperti kehidupan."
"Itu akar energi, Le. Bukan akar fisik. Akar itu tidak bisa dilihat dengan mata biasa. Hanya dengan mata batin. Hanya dengan hati yang bersih."
"Apakah akar itu akan selalu ada, Mbah?"
"Iya. Selama pohon randu masih berdiri. Selama keseimbangan masih terjaga. Selama ada penjaga yang merawat. Akar itu akan selalu ada."
"Apa yang terjadi jika akar itu putus, Mbah?"
"Jika satu akar putus, pohon tidak akan mati. Tapi akan lemah. Jika banyak akar putus, pohon akan roboh. Jika pohon roboh, keseimbangan akan hancur. Dunia manusia dan dunia akar akan bertabrakan. Dan semuanya akan berakhir."
Aria membuka mata. Wajahnya pucat. "Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, Mbah."
"Kamu tidak bisa sendirian, Le. Kamu butuh Laras. Kamu butuh penjaga lain. Kamu butuh semua orang yang peduli pada keseimbangan."
"Ada satu hal lagi yang harus kalian ingat," kata Mbah Sujud.
"Apa itu, Mbah?" tanya Aria dan Laras bersamaan.
"Jangan pernah berpisah."
Mereka saling pandang. "Kenapa, Mbah?"
"Karena jika kalian berpisah, kalian akan lemah. Aria tanpa Laras seperti mata tanpa perasaan. Bisa melihat. Tapi tidak merasakan. Laras tanpa Aria seperti perasaan tanpa mata. Bisa merasakan. Tapi tidak melihat. Kalian butuh satu sama lain. Seperti akar butuh tanah. Seperti pohon butuh air. Seperti malam butuh bintang."
"Kami tidak akan berpisah, Mbah," kata Aria tegas.
"Janji," kata Laras.
Mbah Sujud tersenyum. "Bagus. Karena janji adalah awal dari segalanya. Janji adalah benih. Dan benih yang baik akan tumbuh menjadi pohon yang besar. Yang akarnya kuat. Yang batangnya kokoh. Yang daunnya rindang. Yang buahnya lebat."
"Cukup untuk hari ini, Le," kata Mbah Sujud. "Besok kita lanjutkan. Kepala kalian sudah penuh. Otak kalian sudah panas. Istirahatlah. Biarkan apa yang kalian pelajari meresap."
"Iya, Mbah. Terima kasih."
"Jangan lupa berlatih di rumah. Coba duduk diam di halaman belakang rumah kalian. Pejamkan mata. Dengarkan. Rasakan. Jangan paksakan. Biarkan alam yang bekerja."
"Saya akan lakukan, Mbah."
"Bagus. Sekarang pulanglah. Ibu kalian pasti sudah menunggu."
Aria dan Laras berdiri. Mereka membungkuk hormat pada Mbah Sujud.
"Terima kasih, Mbah."
"Sama-sama, Le. Hati-hati di jalan. Jangan lupa, jaga cahaya kalian. Jaga koneksi kalian. Jangan pernah berpisah."
"Kami tidak akan berpisah, Mbah. Janji."
Mereka berjalan pulang berdua. Berdampingan. Tidak bicara. Tidak perlu.
"Aria," panggil Laras setelah agak jauh.
"Iya?"
"Apa kita bisa menjadi penjaga yang baik?"
"Kita bisa, Laras. Karena kita berdua. Bersama."
"Aku takut gagal."
"Gagal itu wajar. Yang penting bangkit. Yang penting belajar. Yang penting tidak menyerah."
"Apa Mbah Sujud pernah gagal?"
"Pernah. Setiap orang pernah gagal. Tidak ada yang sempurna. Tapi yang membedakan adalah apakah kita berhenti atau terus berjuang setelah gagal."
Laras tersenyum. "Aku tidak akan berhenti, Aria."
"Aku juga."
Mereka terus berjalan. Langkah mereka ringan. Hati mereka hangat. Pikiran mereka tenang.
Di rumah Mbah Sujud, Mbah Sujud masih duduk di kursi goyangnya. Ia menatap kitab tua di pangkuannya. Halaman yang terbuka berisi tulisan-tulisan kuno yang hanya ia yang bisa membaca.
"Aria dan Laras," bisiknya. "Kalian adalah harapan terakhir. Jangan sia-siakan."
Ia memejamkan mata. Bernapas. Tarik. Hembus.
"Nyai Kembang Randu, mereka sudah mulai belajar. Mereka masih kecil. Masih polos. Masih rentan. Tapi hati mereka bersih. Cinta mereka tulus. Semoga mereka kuat."
Pohon randu di kejauhan berdenyut pelan. Daunnya bergoyang tanpa angin. Cahaya keemasan muncul di sela-sela dedaunan.
Mbah Sujud tersenyum. "Terima kasih, Nyai. Aku akan terus membimbing mereka. Sampai akhir hayatku."
Hari-hari berlalu. Latihan setiap akhir pekan di rumah Mbah Sujud terus berjalan. Aria dan Laras semakin terbiasa dengan rutinitas baru mereka. Tapi di hari-hari biasa, antara Senin hingga Jumat, mereka tetap bersekolah seperti anak-anak lain. Mereka tetap bermain, tertawa, dan belajar bersama teman-teman. Sebab, meskipun mereka dipanggil untuk tugas yang lebih besar, mereka tetaplah anak-anak yang harus menikmati masa kecil mereka.
BAB 15: KEHIDUPAN SEKOLAH YANG BIASA
Setiap akhir pekan, Aria dan Laras diam-diam pergi ke rumah Mbah Sujud untuk belajar. Setiap Sabtu pagi, sebelum matahari terbit, mereka sudah berjalan berdua menyusuri jalan setapak yang gelap. Setiap Sabtu sore, setelah pelajaran selesai, mereka pulang dengan hati yang hangat dan pikiran yang tenang.
Tapi di hari-hari biasa, antara Senin hingga Jumat, mereka tetap bersekolah seperti anak-anak lain. Mereka tetap duduk di bangku kayu yang sama. Mereka tetap mendengarkan Bu Guru Wati mengajar matematika, bahasa, dan ilmu pengetahuan. Mereka tetap bermain dengan teman-teman saat jam istirahat. Mereka tetap tertawa, bercanda, kadang bertengkar, kadang berdamai.
"Laras, PR matematikanya sudah dikerjakan?" tanya Aria suatu pagi di perjalanan ke sekolah.
"Sudah. Kamu?"
"Sudah. Tapi soal nomor lima aku ragu."
"Nomor lima? Yang tentang perkalian?"
"Iya. 7 kali 8."
"56, Aria."
"Ah, iya. 56. Aku tadi jawabnya 54."
"Kurang dua."
"Aku tahu. Makanya aku ragu."
Mereka tertawa kecil. Senyum mereka masih sama. Masih seperti saat pertama kali mereka bertemu di pasar. Masih seperti saat pertama kali mereka duduk di bawah pohon mangga.
"Aria," panggil Laras.
"Iya?"
"Apa kita boleh cerita pada teman-teman tentang latihan kita?"
Aria berpikir sebentar. "Aku tidak tahu. Mbah Sujud bilang jangan cerita pada sembarang orang."
"Tapi mereka teman kita."
"Teman kita juga bisa menjadi sembarang orang jika mereka tidak siap mendengar."
Laras menghela napas. "Aku sedih, Aria. Aku ingin berbagi. Tapi aku takut mereka menganggapku gila."
"Kita simpan dulu, Laras. Sampai waktunya tepat. Sampai mereka siap."
"Kapan waktunya tepat?"
"Aku tidak tahu. Tapi suatu hari nanti, mereka akan tahu. Mereka akan melihat sendiri. Mereka akan merasakan sendiri."
Laras menggenggam tangan Aria. "Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena dunia akar tidak bisa disembunyikan selamanya. Suatu hari nanti, tabir akan robek. Dan semua orang akan melihat."
"Apakah mereka akan takut?"
"Mungkin. Tapi kita akan ada di sana. Menjelaskan. Menenangkan. Menjaga."
"Seperti Mbah Sujud menjaga kita?"
"Seperti Mbah Sujud menjaga kita."
Di sekolah, Aria dan Laras tetap berusaha menjadi anak biasa.
Aria duduk di bangku belakang dekat jendela. Laras duduk di bangku depan dekat papan tulis. Tapi sesekali, mata mereka bertemu. Tersenyum. Lalu kembali fokus pada pelajaran.
"Aria, kamu lihat Laras terus," bisik teman sebangkunya.
"Aku tidak lihat."
"Bohong. Matamu ke depan terus."
"Aku lihat papan tulis."
"Papan tulis di depan. Bukan di samping."
"Aku lihat bolak-balik."
"Dasar."
Aria tidak menjawab. Ia hanya tersenyum.
Bu Guru Wati masuk kelas. Wajahnya cerah. Senyumnya lebar. Tidak seperti beberapa waktu lalu ketika suaminya sakit. Kini suaminya sudah sembuh. Laras ikut bahagia. Ia merasakannya dari getaran yang dikirimkan Bu Guru Wati tanpa sadar.
"Selamat pagi, anak-anak!" sapa Bu Guru Wati.
"Selamat pagi, Bu Guru!" serempak anak-anak menjawab.
"Hari ini kita akan belajar tentang pecahan."
"Aduh, pecahan, Bu. Susah," keluh seorang anak.
"Tidak susah kalau kalian perhatikan."
Bu Guru Wati menulis di papan tulis. 1/2, 1/4, 3/4. Ia menjelaskan dengan sabar. Sesekali ia menunjuk salah satu anak untuk maju ke depan mengerjakan soal.
"Aria, coba kamu kerjakan soal nomor dua."
Aria berdiri. Ia berjalan ke papan tulis. Kapur tulis di tangannya. Ia menulis: 1/4 + 1/4 = 2/4.
"Bagus, Aria. Tapi 2/4 bisa disederhanakan menjadi?"
"1/2, Bu Guru."
"Pintar. Kembali ke tempat duduk."
Aria berjalan ke bangkunya. Sebelum duduk, ia menoleh ke Laras. Laras tersenyum. Aria tersenyum balik.
"Laras, sekarang giliran kamu. Kerjakan soal nomor tiga."
Laras berdiri. Ia berjalan ke papan tulis. Kapur tulis di tangannya. Ia menulis: 3/4 - 1/4 = 2/4.
"Bagus, Laras. Sederhanakan?"
"1/2, Bu Guru."
"Pintar. Kembali ke tempat duduk."
Laras berjalan ke bangkunya. Sebelum duduk, ia menoleh ke Aria. Aria tersenyum. Laras tersenyum balik.
Teman sebangku Laras berbisik, "Kalian saling lihat terus, ya?"
"Tidak," jawab Laras.
"Bohong. Aku lihat."
"Kamu perhatikan terus?"
"Iya. Aku penasaran."
"Penasaran apa?"
"Penasaran kenapa kalian berdua selalu bareng. Di sekolah. Di luar sekolah. Di mana-mana."
"Kami sahabat."
"Sahabat?"
"Iya. Sahabat."
"Sahabat yang saling lihat terus?"
Laras tidak menjawab. Ia hanya tersenyum.
Jam istirahat tiba.
Bel berbunyi. Anak-anak berhamburan keluar kelas. Ada yang ke kantin. Ada yang ke lapangan. Ada yang ke perpustakaan. Ada yang hanya duduk di teras kelas sambil mengobrol.
Aria dan Laras duduk di bawah pohon mangga di belakang sekolah. Pohon yang sama. Tempat yang sama. Sejak mereka kelas 1 SD.
"Aria, kamu lapar?" tanya Laras.
"Lapar. Kamu?"
"Juga. Ibu membekali nasi goreng."
"Ibuku membekali roti."
"Mau tukar?"
"Boleh. Aku suka nasi goreng."
Laras membuka bekalnya. Nasi goreng dengan telur dadar tipis di atasnya. Aroma bawang dan kecap menyebar.
"Aroma enak," kata Aria.
"Ibu memang pintar masak."
"Kayak ibuku. Ibuku juga pintar. Tapi aku lebih suka masakan ibumu."
"Kenapa?"
"Karena lebih gurih."
Laras tertawa. "Kamu ini."
Mereka makan bersama. Tidak tergesa-gesa. Menikmati setiap suapan. Sesekali tertawa. Sesekali diam.
"Laras," panggil Aria.
"Iya?"
"Apa kamu tidak bosan makan nasi goreng setiap hari?"
"Tidak. Aku suka nasi goreng."
"Setiap hari?"
"Iya. Nasi goreng itu kan beda. Kadang pakai telur. Kadang pakai ayam. Kadang pakai sosis. Kadang pakai bakso. Tidak pernah sama."
"Kamu suka yang pakai apa?"
"Aku suka yang pakai telur. Sederhana. Tapi enak."
Aria tersenyum. "Sederhana tapi enak. Seperti kita."
"Seperti kita?"
"Iya. Sederhana. Tapi enak."
Laras tertawa. "Kamu aneh, Aria."
"Memang. Aku aneh."
Mereka berdua tertawa.
Dari kejauhan, sekelompok anak laki-laki berlarian ke sana kemari. Mereka bermain kejar-kejaran. Suara tawa mereka terdengar riang.
"Ayo, Aria! Laras! Main kejar-kejaran!" teriak seorang anak.
"Ayo!" teriak yang lain.
Aria dan Laras menoleh. Mereka tersenyum.
"Ayo, Laras. Kita main sebentar," kata Aria.
"Tapi bekal kita belum habis."
"Nanti kita lanjutkan."
"Baik."
Mereka menutup kotak bekal mereka. Meletakkannya di bawah pohon mangga. Lalu berlari bergabung dengan teman-teman.
"Kamu jadi kejar-kejaran?" tanya seorang anak laki-laki.
"Iya," jawab Aria.
"Kamu jadi yang mengejar?"
"Boleh."
Aria berlari mengejar teman-temannya. Laras berlari menghindar. Tertawa. Terengah-engah. Tidak peduli dengan dunia akar. Tidak peduli dengan getaran. Tidak peduli dengan panggilan. Hari ini, mereka hanya anak-anak. Hari ini, mereka hanya bermain.
"Laras, aku tangkap kamu!" teriak Aria.
"Tidak akan!" teriak Laras sambil berlari lebih cepat.
Tapi Aria lebih cepat. Ia meraih ujung baju Laras. "Tangkap!"
"Aduh, kalah."
Mereka berdua tertawa. Laras tersenyum. Aria tersenyum. Tidak ada yang aneh. Tidak ada yang berbeda. Hanya dua anak yang sedang bermain.
Jam istirahat hampir habis. Bel masuk akan segera berbunyi.
Aria dan Laras kembali ke bawah pohon mangga. Mereka menyelesaikan sisa bekal mereka. Tidak banyak yang tersisa. Hanya beberapa suap terakhir.
"Laras, kamu senang?" tanya Aria.
"Senang. Kamu?"
"Senang."
"Kadang aku lupa, Aria. Lupa bahwa kita berbeda. Lupa bahwa kita dipanggil. Lupa bahwa kita punya tugas."
"Kita tidak boleh lupa selamanya, Laras. Tapi sesekali lupa tidak apa-apa."
"Kenapa?"
"Karena kita juga anak-anak. Kita juga punya hak untuk bermain. Untuk tertawa. Untuk merasa bebas tanpa beban."
Laras menatap Aria. "Kamu bijak, Aria."
"Aku tidak bijak. Aku hanya banyak belajar dari Mbah Sujud."
"Dan dari kehidupan?"
"Mungkin."
Bel masuk berbunyi. Pelajaran dimulai lagi.
Sepulang sekolah, Aria dan Laras berjalan pulang bersama. Seperti biasa. Berdampingan. Tidak pernah terpisah.
"Aria, besok Sabtu. Kita ke rumah Mbah Sujud?"
"Pasti. Jangan lupa."
"Aku tidak akan lupa."
"Kita belajar tentang apa besok?"
"Aku tidak tahu. Tapi apapun itu, aku siap."
Aria tersenyum. "Bagus. Karena kesiapan tidak pernah dirasakan."
"Kesiapan hanya dibuktikan dengan tindakan," sambung Laras.
Mereka berdua tertawa. Mbah Sujud akan bangga.
Di rumah, Aria duduk di teras. Ia membuka buku catatannya. Bukan catatan sekolah. Tapi catatan tentang latihan. Tentang getaran. Tentang akar. Tentang suara-suara dari dalam tanah.
Ia membaca ulang apa yang ia tulis.
"Akar tidak pernah berbohong. Akar selalu jujur. Akar tidak punya mulut untuk berkata dusta. Akar hanya berdenyut. Berdenyut sesuai dengan kebenaran."
Ia tersenyum. Kata-kata Mbah Sujud selalu mengena di hati.
"Aria, kamu belajar?" suara ibunya dari dalam rumah.
"Iya, Bu."
"Belajar apa? PR?"
"Iya, Bu. PR."
Aria tidak berbohong. Ia memang sedang belajar. Hanya saja bukan PR sekolah. Tapi PR dari Mbah Sujud.
"Jangan terlalu lama. Nanti matamu rusak."
"Iya, Bu."
Aria menutup buku catatannya. Ia memejamkan mata. Bernapas. Tarik. Hembus. Tarik. Hembus.
Ia merasakan getaran. Samar. Tapi jelas.
"Akar," bisiknya. "Aku mendengarmu."
Di rumah lain, Laras duduk di kamarnya. Ia tidak membuka buku catatan. Ia tidak membaca. Ia hanya duduk. Memejamkan mata. Merasakan.
Ia merasakan Aria yang sedang bernapas di kejauhan. Ia merasakan degup jantung Aria. Tenang. Teratur. Ia merasakan kebahagiaan Aria. Sederhana. Tulus.
"Aria," bisik Laras. "Aku bisa merasakanmu. Aku bisa merasakan kebahagiaanmu."
Ia tersenyum.
"Aku juga bahagia. Karena kamu bahagia."
Di rumah Mbah Sujud, Mbah Sujud duduk di kursi goyangnya. Kitab tua di pangkuannya. Matanya terpejam.
"Aria dan Laras," bisiknya. "Mereka belajar dengan rajin. Mereka tidak pernah absen. Mereka tidak pernah mengeluh. Mereka adalah murid yang baik. Semoga mereka kuat. Semoga mereka tidak menyerah. Semoga mereka menjadi penjaga yang hebat."
Pohon randu di kejauhan berdenyut pelan. Daunnya bergoyang tanpa angin. Cahaya keemasan muncul di sela-sela dedaunan.
Mbah Sujud tersenyum. "Terima kasih, Nyai. Aku akan terus membimbing mereka. Sampai akhir hayatku."
Demikianlah hari-hari Aria dan Laras berlalu. Pagi di sekolah, sore di rumah, akhir pekan di rumah Mbah Sujud. Mereka belajar banyak hal. Tentang akar, tentang getaran, tentang keseimbangan. Tapi mereka juga belajar tentang persahabatan, tentang kesabaran, tentang arti menjadi anak-anak.
Dua tahun berlalu sejak latihan pertama mereka. Aria dan Laras kini bukan lagi anak kelas 1 SD yang polos dan penuh rasa ingin tahu. Mereka sudah berusia delapan hingga sepuluh tahun. Mereka sudah lebih dewasa. Lebih peka. Lebih mengerti. Dan perjalanan mereka masih panjang.
BAB 16: MASA KECIL YANG TERUS BERLANJUT
*Aria dan Laras usia 8-10 tahun.*
Dua tahun berlalu sejak pertemuan pertama mereka di bawah pohon randu.
Dua tahun sejak pertama kali mereka mendengar suara dari dalam tanah. Dua tahun sejak pertama kali mereka merasakan getaran hangat dari akar-akar yang menjalar. Dua tahun sejak Mbah Sujud membuka pintu dunia akar untuk mereka. Dua tahun yang terasa singkat, tapi juga terasa sangat lama. Singkat karena waktu berlalu begitu cepat ketika mereka bersama. Lama karena setiap hari ada hal baru yang mereka pelajari, setiap minggu ada pelajaran baru yang mereka terima, setiap bulan ada pengalaman baru yang mereka alami.
Aria dan Laras kini semakin akrab. Tidak ada lagi rasa canggung. Tidak ada lagi rasa takut. Tidak ada lagi rasa ragu. Mereka sudah saling mengenal. Bukan hanya nama. Bukan hanya wajah. Tapi juga hati. Juga perasaan. Juga mimpi-mimpi yang kadang sama. Juga ketakutan yang kadang serupa. Juga harapan yang kadang seirama.
Setiap akhir pekan, mereka tetap pergi ke rumah Mbah Sujud untuk belajar. Bukan hanya belajar tentang dunia akar. Tapi juga tentang kehidupan. Tentang bagaimana menjadi manusia yang baik. Tentang bagaimana menjaga keseimbangan. Tentang bagaimana tidak kehilangan diri sendiri di tengah hiruk-pikuk dunia. Tentang bagaimana membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Tentang bagaimana memilih jalan ketika ada persimpangan.
"Kamu sudah siap, Le?" tanya Aria setiap Sabtu pagi. Matanya masih sayu karena baru bangun. Rambutnya masih berantakan. Tapi semangatnya sudah membara.
"Siap. Kamu?" jawab Laras sambil menguap. Kadang ia belum sempat sarapan. Kadang ia masih belum menggosok gigi. Tapi ia tetap datang. Tidak pernah absen.
"Siap. Ayo."
Mereka berjalan berdua. Melewati tikungan yang sama. Melewati rumah-rumah yang sama. Melewati warung kopi yang sama. Tidak ada yang berubah. Hanya mereka yang berubah. Semakin dewasa. Semakin peka. Semakin tahu. Semakin mengerti.
Rumah Mbah Sujud masih sama. Kayu tua yang mulai lapuk di beberapa bagian. Cat hijau yang semakin mengelupas. Halaman yang ditumbuhi rumput liar dan tanaman obat yang tidak pernah berubah sejak dulu. Tapi bagi Aria dan Laras, rumah ini adalah istana yang megah. Rumah ini adalah sekolah yang lebih berharga dari sekolah formal mereka. Rumah ini adalah tempat di mana mereka belajar menjadi diri mereka yang sebenarnya. Tempat di mana mereka tidak perlu berpura-pura. Tempat di mana mereka bisa menjadi siapa pun mereka tanpa takut dihakimi.
Mbah Sujud sudah menunggu di kursi goyangnya. Matanya terpejam. Tangannya di pangkuan. Kitab tua di sampingnya. Seperti biasa. Seperti setiap akhir pekan. Seolah waktu tidak pernah bergerak. Seolah ia sudah ada di sana sejak lama dan akan tetap ada di sana selamanya.
"Masuklah, Le. Duduk di lantai. Jangan di kursi."
Mereka masuk. Duduk bersila di lantai anyaman bambu yang semakin tipis di beberapa tempat. Berhadapan dengan Mbah Sujud. Tidak ada yang bicara. Tidak perlu. Keheningan sudah menjadi bahasa mereka. Keheningan sudah menjadi jembatan antara guru dan murid. Keheningan sudah menjadi ruang di mana ilmu mengalir tanpa suara.
"Hari ini kita akan belajar tentang akar lagi," kata Mbah Sujud membuka pelajaran. Suaranya serak. Tapi jelas. Setiap kata terucap dengan sengaja. Tidak ada yang terbuang sia-sia.
"Akar lagi, Mbah?" tanya Aria. Bukan karena bosan. Tapi karena penasaran. Rasanya sudah banyak yang mereka pelajari tentang akar. Tapi Mbah Sujud selalu punya perspektif baru. Selalu punya sudut pandang yang berbeda.
"Iya. Akar lagi. Karena akar adalah segalanya. Jika kalian memahami akar, kalian akan memahami alam semesta."
"Akar tidak pernah berbohong," kata Mbah Sujud pada suatu sore. Suaranya dalam. Penuh makna. Mata yang tua itu tampak berbinar, seolah ada api kecil di dalamnya yang tidak pernah padam. "Akar selalu jujur. Akar tidak punya mulut untuk berkata dusta. Akar tidak punya lidah untuk bersilat kata. Akar tidak punya otak untuk merencanakan kebohongan. Akar hanya berdenyut. Berdenyut sesuai dengan kebenaran."
Aria mencondongkan tubuhnya ke depan. Matanya membulat. Tangannya yang bertumpu di lutut mengepal. "Lalu bagaimana cara kami mendengar kebenaran itu, Mbah?"
"Kalian tidak perlu mendengar, Le. Kalian perlu merasakan."
"Merasa, Mbah?" Aria mengerjapkan mata. Ia tidak sepenuhnya mengerti. Tapi ia ingin mengerti. Ia haus akan pengetahuan.
"Iya. Merasakan. Karena kebenaran tidak selalu berupa suara. Kadang kebenaran terasa di dada. Seperti ada yang hangat di sana. Seperti ada yang menekan pelan. Seperti ada yang menggelitik. Seperti ada yang mengajak bicara tanpa kata-kata."
Aria meletakkan tangannya di dada. Ia mencoba merasakan. Degup jantungnya terasa. Tapi tidak lebih dari itu.
"Kadang kebenaran terasa di tulang," sambung Mbah Sujud. "Seperti ada yang merambat dari ujung rambut hingga ujung kaki. Seperti ada yang bergetar di sumsum. Seperti ada yang mengalir dalam darah. Seperti ada yang terbakar di dalam diri."
Laras mengusap lengannya. Ia merasakan bulu kuduknya berdiri. Bukan karena dingin. Tapi karena kata-kata Mbah Sujud terasa begitu nyata. Begitu dekat.
"Kadang kebenaran terasa di dalam mimpi," Mbah Sujud melanjutkan. Matanya menerawang ke kejauhan. Melewati dinding rumah. Melewati pohon randu. Melewati desa. Melewati waktu. "Seperti ada yang berbisik di telinga ketika kalian tidur. Seperti ada yang menuntun langkah kalian di alam mimpi. Seperti ada yang menunjukkan jalan yang tidak kalian temukan di dunia nyata. Seperti ada yang membuka tabir yang selama ini tertutup."
Aria mengangguk perlahan. "Aku pernah merasakan itu, Mbah. Saat aku duduk di bawah pohon randu. Dadaku hangat. Seperti ada yang memelukku dari dalam. Aku tidak tahu siapa. Tapi rasanya aman. Rasanya pulang."
"Itu kebenaran, Le. Itu panggilan. Itu tanda bahwa kau terhubung dengan sesuatu yang lebih besar dari dirimu sendiri. Lebih besar dari desa ini. Lebih besar dari pohon ini. Lebih besar dari dunia yang kau kenal."
"Apakah semua orang bisa merasakannya, Mbah?" tanya Laras.
"Tidak, Le. Hanya mereka yang dipanggil. Hanya mereka yang hatinya bersih. Hanya mereka yang tidak takut untuk mendengar. Hanya mereka yang berani membuka diri. Hanya mereka yang tidak sibuk dengan dunia luar sehingga lupa dengan dunia dalam."
Laras yang duduk di samping Aria tiba-tiba teringat sesuatu. Sesuatu yang sudah lama mengganggunya. Sesuatu yang tidak pernah ia tanyakan karena takut terdengar bodoh. Atau takut Mbah Sujud marah. Tapi hari ini, ia memberanikan diri.
"Mbah, mengapa kami yang dipilih? Mengapa bukan orang lain? Mengapa bukan teman-teman kami di sekolah? Mengapa bukan kakak atau adik kami? Mengapa bukan warga desa yang lebih tua dan lebih bijak?"
Pertanyaan itu menggantung di udara. Aria menoleh ke Laras. Laras menggigit bibirnya. Mbah Sujud tidak menjawab langsung. Ia memejamkan mata. Dadanya naik turun perlahan. Seperti sedang merenung. Seperti sedang mengumpulkan kata-kata. Seperti sedang memohon petunjuk.
Mbah Sujud tersenyum. Senyum yang penuh keriput. Senyum yang hangat. Tapi matanya sayu. Seperti sedang mengingat sesuatu yang pahit. Atau sedang merenung tentang sesuatu yang tidak akan pernah terjawab.
"Itu pertanyaan yang tidak bisa saya jawab, Le. Karena saya sendiri tidak tahu."
Laras terkejut. "Mbah tidak tahu?"
"Iya. Aku tidak tahu. Mbah Urip—guruku, penjaga sebelum aku—tidak pernah menjelaskan mengapa dia memilih orang-orang tertentu. Tidak pernah. Bahkan sampai akhir hayatnya, bahkan saat napasnya tinggal satu, bahkan saat matanya mulai kabur dan telinganya mulai tuli, dia tidak pernah memberi tahu."
"Tapi Mbah, pasti ada alasannya," desak Laras. "Tidak mungkin Mbah Urip memilih kami tanpa alasan. Tidak mungkin dia asal tunjuk."
"Alasannya hanya diketahui oleh Mbah Urip dan Nyai Kembang Randu. Mungkin juga hanya diketahui oleh alam semesta. Mungkin juga hanya diketahui oleh Tuhan. Yang saya tahu, dia memilih berdasarkan hati. Bukan berdasarkan kemampuan. Bukan berdasarkan keturunan. Bukan berdasarkan kekayaan. Bukan berdasarkan kepintaran. Bukan berdasarkan popularitas. Bukan berdasarkan siapa orang tuanya."
"Hati seperti apa, Mbah?" tanya Aria.
"Hati yang bersih, Le. Hati yang jujur. Hati yang tidak pendendam. Hati yang tidak iri. Hati yang tidak dengki. Hati yang tidak sombong. Hati yang tidak takut untuk berbeda. Hati yang tidak takut untuk berkorban. Hati yang tidak mudah menyerah. Hati yang tidak mudah putus asa."
Laras menunduk. Ia menatap dadanya sendiri. Seperti sedang memeriksa hatinya. Seperti sedang memastikan apakah hatinya memenuhi kriteria itu. Atau apakah hatinya masih layak.
"Apa hatiku bersih, Mbah?" tanya Laras polos.
Mbah Sujud tertawa kecil. Tertawa yang hangat. Tertawa yang membuat mereka merasa aman. "Hati kalian masih bersih, Le. Masih seperti kertas kosong. Belum ternoda oleh kebencian. Belum tercemar oleh ambisi. Belum terkorupsi oleh keinginan-keinginan duniawi. Belum tergores oleh dendam yang tidak perlu. Belum tercoreng oleh iri dan dengki."
Laras menghela napas lega.
"Tapi Mbah, kertas kosong bisa ditulisi apa saja. Baik atau buruk. Benar atau salah. Indah atau jelek. Berguna atau sia-sia."
"Iya, Le. Itu yang membuatku khawatir. Tapi juga yang membuatku berharap."
"Kenapa Mbah khawatir?" tanya Aria. Dadanya berdebar. Ia takut mendengar jawabannya.
"Karena kalian masih muda. Masih delapan, sembilan, sepuluh tahun. Masih mudah terpengaruh. Masih mudah dibujuk. Masih mudah dirayu. Masih mudah ditakuti. Masih mudah dibohongi. Masih mudah dimanipulasi. Banyak godaan di luar sana. Banyak orang yang akan mencoba memanfaatkan kalian. Banyak orang yang akan mencoba merusak kalian. Banyak orang yang akan mencoba menyesatkan kalian."
Aria menggigit bibirnya. Tangannya mengepal.
"Lalu kenapa Mbah berharap?" tanya Laras.
"Karena kertas kosong juga bisa ditulisi dengan hal-hal yang baik. Dengan kebenaran. Dengan kebaikan. Dengan cinta. Dengan pengorbanan. Dengan kesetiaan. Dengan kejujuran. Dengan ketulusan. Dengan keberanian. Kalian yang akan menentukan. Bukan aku. Bukan Nyai. Bukan Mbah Urip. Bukan pohon randu. Bukan alam semesta. Tapi kalian sendiri."
Aria menggenggam tangan Laras. Kuat. Penuh keyakinan.
"Kami tidak akan mengecewakan, Mbah. Kami akan menulis hal-hal yang baik di kertas hati kami. Kami akan mengisinya dengan tinta keemasan. Seperti cahaya pohon randu."
Mbah Sujud mengangguk pelan. "Aku percaya kalian bisa. Tapi percaya saja tidak cukup. Harus dibuktikan dengan tindakan. Setiap hari. Setiap saat. Setiap detik. Setiap kali kalian mengambil keputusan. Setiap kali kalian menghadapi pilihan."
"Apa yang harus kami lakukan, Mbah?" tanya Aria.
"Jaga hati kalian. Jaga pikiran kalian. Jaga perasaan kalian. Jangan biarkan kebencian masuk. Jangan biarkan amarah menguasai. Jangan biarkan iri dan dengki bersarang. Jangan biarkan dendam tumbuh subur. Jangan biarkan kesombongan merajalela. Karena semua itu adalah racun. Racun yang akan merusak kertas hati kalian. Racun yang akan membuat kalian tidak layak menjadi penjaga."
"Apakah kami akan selalu bisa menjaga hati kami, Mbah?" tanya Laras.
"Tidak, Le. Kalian akan jatuh. Berkali-kali. Kalian akan salah. Berkali-kali. Kalian akan tergoda. Berkali-kali. Kalian akan berbuat dosa. Berkali-kali. Tapi yang terpenting adalah kalian mau bangkit. Kalian mau memperbaiki diri. Kalian mau meminta maaf. Kalian mau belajar dari kesalahan. Kalian mau mencoba lagi. Tidak pernah menyerah."
Laras menatap Mbah Sujud. Matanya basah. "Mbah, apakah Mbah pernah jatuh?"
"Pernah, Le. Berkali-kali. Aku pernah marah tanpa sebab. Aku pernah benci tanpa alasan. Aku pernah iri pada temanku sendiri. Aku pernah dengki pada saudaraku. Aku pernah sombong. Aku pernah merasa paling benar. Aku pernah mengabaikan panggilan dari dalam tanah. Aku pernah ragu pada kemampuan diriku sendiri. Tapi aku selalu berusaha bangkit. Aku selalu berusaha memperbaiki diri. Aku selalu berusaha menjadi lebih baik."
"Apakah Mbah berhasil?"
Mbah Sujud tersenyum. Senyum yang penuh makna. "Aku tidak tahu, Le. Yang aku tahu, aku masih di sini. Masih bernapas. Masih bisa melihat matahari terbit dan terbenam. Masih bisa mendengar suara angin dan hujan. Masih bisa merasakan hangatnya api dan dinginnya air. Masih bisa mengajari kalian. Mungkin itu sudah cukup. Mungkin itu bukti bahwa aku tidak gagal total."
"Aria," panggil Mbah Sujud.
"Iya, Mbah."
"Kamu tahu apa yang membedakan penjaga dengan orang biasa?"
"Apa, Mbah?"
"Penjaga mendengar apa yang tidak didengar orang lain. Bukan dengan telinga. Tapi dengan hati. Penjaga melihat apa yang tidak dilihat orang lain. Bukan dengan mata. Tapi dengan jiwa. Penjaga merasakan apa yang tidak dirasakan orang lain. Bukan dengan kulit. Tapi dengan perasaan. Bukan karena mereka lebih pintar. Bukan karena mereka lebih hebat. Bukan karena mereka lebih beruntung. Tapi karena mereka berani."
"Berani apa, Mbah?"
"Berani mendengar suara yang tidak didengar orang lain. Berani melihat keindahan yang tidak dilihat orang lain. Berani merasakan getaran yang tidak dirasakan orang lain. Berani tidak lari ketika dipanggil. Berani tidak pura-pura tuli ketika dipanggil. Berani menghadapi ketakutan. Berani menghadapi kenyataan. Berani menerima perbedaan. Berani berkorban. Berani mencintai tanpa syarat."
Aria mengangguk. Matanya berbinar. "Aku akan berusaha berani, Mbah."
"Kamu sudah berani, Le. Sejak pertama kali kamu datang ke rumah ini. Sejak pertama kali kamu bilang ingin belajar. Sejak pertama kali kamu memejamkan mata dan mendengarkan getaran akar. Kamu sudah berani. Sekarang kamu harus lebih berani lagi."
"Lebih berani lagi, Mbah?"
"Iya. Karena ke depan, tantangan akan semakin berat. Godaan akan semakin banyak. Cobaan akan semakin sering. Rintangan akan semakin tinggi. Liku-liku akan semakin tajam. Jika kalian tidak berani, kalian akan tersesat. Jika kalian tidak berani, kalian akan menyerah. Jika kalian tidak berani, kalian akan kehilangan segalanya. Desa ini. Pohon ini. Keseimbangan. Mahesa yang akan lahir nanti."
Aria menggenggam tangan Laras lebih erat. "Aku tidak akan menyerah, Mbah. Janji."
"Laras," panggil Mbah Sujud.
"Iya, Mbah."
"Kamu tahu apa kelemahanmu?"
Laras menggeleng pelan. "Aku tidak tahu, Mbah. Aku rasa aku tidak punya kelemahan."
Mbah Sujud tersenyum. Bukan tertawa. Tapi senyum yang penuh kasih. "Setiap orang punya kelemahan, Le. Bahkan Mbah Urip yang paling hebat pun punya kelemahan. Bahkan Nyai Kembang Randu yang abadi pun punya kelemahan. Bahkan pohon randu yang kokoh pun punya kelemahan."
"Apa kelemahanku, Mbah?"
"Kamu terlalu peka, Le. Kamu terlalu mudah merasakan. Kamu terlalu mudah tersentuh. Kamu terlalu mudah menangis. Kamu terlalu mudah iba. Itu adalah kelebihanmu. Tapi juga kelemahanmu."
Laras mengerutkan kening. "Kenapa menjadi kelemahan, Mbah?"
"Karena kepekaan tanpa kendali adalah pedang bermata dua. Kamu akan mudah terluka. Kamu akan mudah sedih. Kamu akan mudah kecewa. Kamu akan mudah menangis. Kamu akan mudah putus asa. Dan jika kamu tidak bisa mengendalikan perasaanmu, kamu akan tenggelam. Kamu akan hanyut. Kamu akan hilang. Tidak hanya fisikmu. Tapi juga jiwamu."
Laras menggigit bibirnya. Tangannya gemetar. "Apa yang harus aku lakukan, Mbah?"
"Belajar mengendalikan perasaan, Le. Bukan tidak merasakan. Tapi mengendalikan. Jangan biarkan perasaan mengendalikanmu. Jika kamu sedih, izinkan dirimu sedih. Tapi jangan biarkan kesedihan itu berlarut-larut hingga berminggu-minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun. Jika kamu marah, izinkan dirimu marah. Tapi jangan biarkan amarah itu merusak dirimu, merusak orang lain, merusak hubungan yang sudah susah payah kalian bangun. Jika kamu kecewa, izinkan dirimu kecewa. Tapi jangan biarkan kekecewaan itu menghentikanmu untuk terus melangkah."
"Aku akan belajar, Mbah. Aku akan mencoba."
"Belajarlah. Karena perasaan yang tidak terkendali adalah api yang membakar. Bisa membakar dirimu sendiri. Bisa juga membakar orang lain di sekitarmu."
Laras memegang tangan Aria. "Aku tidak akan membiarkan apiku membakar Aria, Mbah. Aku akan menjaga apiku tetap kecil. Tetap hangat. Tidak membakar."
Aria tersenyum. "Apimu tidak akan membakarku, Laras. Karena aku juga punya api. Dan api kita sama. Hangat. Tidak merusak. Tidak membakar. Api kita seperti api unggun di malam dingin. Menghangatkan. Menerangi. Tidak melukai."
Mbah Sujud menghela napas panjang. Dadanya naik turun. Matanya menerawang ke kejauhan.
"Kalian berdua memang ditakdirkan bersama. Tidak ada yang kebetulan. Pertemuan kalian di pasar saat usia enam tahun. Mimpi kalian yang terhubung saat usia lima tahun. Panggilan dari pohon randu yang tidak bisa kalian tolak. Semua sudah diatur. Sejak sebelum kalian lahir. Sejak sebelum desa ini ada. Sejak sebelum pohon randu ditanam."
"Apa artinya kami tidak punya pilihan, Mbah?" tanya Aria.
"Kalian punya pilihan, Le. Kalian bisa memilih untuk mengikuti takdir. Atau melawannya. Tapi ingat, melawan takdir tidak akan membuat kalian bahagia. Melawan takdir hanya akan membuat kalian menderita. Melawan takdir hanya akan membuang-buang energi. Melawan takdir hanya akan menyia-nyiakan waktu."
"Jadi kami harus mengikuti takdir, Mbah?"
"Kalian harus menerima takdir, Le. Kalian harus berdamai dengan takdir. Tapi kalian juga harus berusaha. Berusaha menjadi yang terbaik. Berusaha menjaga apa yang dipercayakan kepada kalian. Berusaha tidak mengecewakan mereka yang sudah memilih kalian. Berusaha membuktikan bahwa pilihan mereka tidak salah."
"Siapa yang memilih kami, Mbah?"
"Mbah Urip yang sudah menjadi roh di pohon randu. Nyai Kembang Randu yang menjaga keseimbangan. Pohon randu yang menjadi pusat segalanya. Akar-akar yang menghubungkan semua kehidupan. Alam semesta yang mengatur segalanya. Tuhan yang menciptakan semuanya."
Aria dan Laras saling pandang. Mereka tidak mengerti sepenuhnya. Tapi mereka tidak bertanya lebih jauh. Mungkin suatu hari nanti, ketika mereka sudah dewasa, ketika mereka sudah menjadi penjaga, ketika mereka sudah menghadapi badai dan gelombang, mereka akan mengerti.
"Suatu hari nanti, kalian akan menulis di kertas hati kalian," kata Mbah Sujud. Matanya serius. Tidak ada senyum. Tidak ada tawa. "Dan tulisan kalian akan menentukan apakah kalian pantas menjadi penjaga atau tidak."
"Tulisan apa yang harus kami tulis, Mbah?" tanya Laras.
"Bukan aku yang menentukan, Le. Bukan Nyai Kembang Randu yang menentukan. Bukan pohon randu yang menentukan. Bukan Mbah Urip yang menentukan. Bukan alam semesta yang menentukan. Bukan Tuhan yang menentukan. Tapi kalian sendiri. Kalian yang menulis. Kalian yang menentukan. Kalian yang memilih tinta apa yang akan digunakan. Kalian yang memilih kata-kata apa yang akan ditulis. Kalian yang memilih apakah tulisan itu indah atau jelek, bermakna atau sia-sia, abadi atau sementara."
"Dan suatu hari nanti," sambung Mbah Sujud, "ketika kalian sudah dewasa, ketika kalian sudah melewati banyak ujian, ketika kalian sudah jatuh dan bangun berkali-kali, ketika kalian sudah merasakan pahit getirnya kehidupan, kalian akan membaca kembali tulisan itu. Dan kalian akan tahu. Apakah kalian pantas atau tidak. Apakah kalian layak atau tidak. Apakah kalian diterima atau ditolak."
"Bagaimana jika kami tidak pantas, Mbah?" tanya Aria. Suaranya bergetar.
"Kalian akan tahu, Le. Dan kalian akan memperbaiki diri. Karena tidak ada yang abadi. Tidak ada yang final. Tidak ada yang sudah selesai. Selalu ada kesempatan untuk berubah. Selalu ada kesempatan untuk menjadi lebih baik. Selalu ada kesempatan untuk memulai ulang. Selalu ada kesempatan untuk menulis ulang apa yang sudah salah."
Aria menggenggam tangan Laras. "Kami akan menjadi lebih baik, Mbah. Setiap hari. Setiap saat. Setiap detik. Kami akan menulis ulang jika perlu. Kami akan memperbaiki jika salah. Kami tidak akan menyerah sampai kami pantas."
Mbah Sujud tersenyum. "Aku tidak meragukan itu."
BAB 17: KEAJAIBAN KECIL YANG SEMAKIN SERING
Aria dan Laras usia 10 tahun.
Seiring berjalannya waktu, kemampuan Aria dan Laras semakin terasah.
Tidak ada yang mengajari mereka secara khusus. Tidak ada buku panduan. Tidak ada mantra rahasia. Tidak ada ritual khusus. Hanya latihan. Hanya kebiasaan. Hanya keinginan untuk terus belajar. Hanya ketekunan untuk tidak menyerah ketika gagal. Hanya kesabaran untuk menunggu ketika tidak ada yang terjadi.
Setiap pagi, sebelum berangkat sekolah, Aria duduk sejenak di teras rumahnya. Ia memejamkan mata. Menyentuh tanah dengan telapak tangannya. Merasakan. Mendengarkan. Menghitung denyut dari dalam bumi. Seperti dokter yang meraba nadi pasien. Seperti pemusik yang mendengarkan irama. Seperti nelayan yang membaca arah angin.
Setiap malam, sebelum tidur, Laras duduk di samping jendela kamarnya. Ia tidak memejamkan mata. Ia justru membuka matanya lebar-lebar. Menatap langit. Menatap bintang. Menatap bulan. Merasakan getaran dari kejauhan. Merasakan emosi dari orang-orang yang bahkan tidak ia kenal. Merasakan kebahagiaan, kesedihan, ketakutan, kemarahan, semua bercampur menjadi satu.
Dan perlahan, kemampuan mereka semakin tajam. Seperti pisau yang terus diasah. Seperti otot yang terus dilatih. Seperti api yang terus diberi kayu bakar.
Aria bisa melihat akar pohon randu sampai ke belakang sekolah.
Bukan akar fisik. Bukan akar yang bisa ia sentuh atau pegang. Bukan akar yang menjalar di permukaan tanah. Tapi akar energi. Akar halus yang tidak kasat mata. Akar yang terbuat dari cahaya. Akar yang hanya bisa dilihat dengan hati yang bersih.
Akar itu menjalar ke mana-mana. Dari batang pohon randu yang kokoh di tengah alun-alun, akar itu merambat ke setiap rumah, ke setiap halaman, ke setiap sudut desa. Seperti pembuluh darah yang mengalirkan darah ke seluruh tubuh. Seperti serabut saraf yang mengirimkan sinyal ke otak. Seperti sungai bawah tanah yang mengairi ladang-ladang kering.
Di mata Aria, Desa Randu Gembyang terlihat seperti jaring laba-laba raksasa.
Cahaya keemasan berdenyut pelan di setiap akar. Denyut yang tidak teratur. Tapi harmonis. Seperti orkestra yang dimainkan oleh seribu musisi yang berbeda, tapi tetap selaras. Seperti detak jantung seribu orang yang berdetak dalam irama yang sama. Seperti napas seribu makhluk yang terhirup dan terhembus dalam waktu yang bersamaan.
"Aria, kamu lihat apa?" tanya Laras suatu pagi di perjalanan ke sekolah.
"Lihat akar, Laras. Banyak akar. Dari pohon randu sampai ke belakang sekolah."
"Sampai ke belakang sekolah? Jauh sekali."
"Iya. Bahkan lebih jauh dari itu. Sampai ke sawah. Sampai ke sungai. Sampai ke hutan. Sampai ke desa tetangga. Mungkin sampai ke mana-mana."
"Ke mana-mana?"
"Ke mana-mana. Sampai ke ujung dunia. Sampai ke tempat yang tidak pernah kita bayangkan."
Laras tersenyum. "Kamu hebat, Aria."
Aria menggeleng. "Aku tidak hebat. Aku hanya bisa melihat. Itu saja."
"Tidak semua orang bisa melihat apa yang kamu lihat. Itu sudah hebat."
Mereka terus berjalan. Berdampingan. Tidak terpisah.
Laras bisa merasakan perasaan orang lain dengan cara yang sederhana.
Tidak perlu ritual khusus. Tidak perlu mantra panjang. Tidak perlu konsentrasi yang dalam. Hanya dengan menyentuh tangan seseorang, ia bisa merasakan apa yang dirasakan orang itu. Senang, sedih, takut, marah, cemas, gelisah, bahagia, semua bisa ia rasakan. Seperti air yang menyerap garam. Seperti spons yang menyerap air. Seperti cermin yang merefleksikan cahaya.
Suatu pagi, di kelas, Bu Guru Wati masuk dengan wajah yang berbeda dari biasanya. Wajahnya pucat. Matanya sembab. Seperti orang yang baru saja menangis. Seperti orang yang tidak bisa tidur semalaman. Seperti orang yang memikirkan beban yang terlalu berat untuk dipikul sendirian.
"Selamat pagi, anak-anak," sapa Bu Guru Wati. Suaranya serak. Tidak seperti biasanya.
"Selamat pagi, Bu Guru!" serempak anak-anak menjawab.
Bu Guru Wati menulis di papan tulis. Tangannya gemetar. Kapur tulisnya patah dua kali. Ia tidak marah. Ia hanya diam. Membetulkan posisi kapur. Melanjutkan menulis.
Pelajaran dimulai. Matematika. Penjumlahan dan pengurangan. Tapi Bu Guru Wati sering salah bicara. Sering salah menulis. Sering terdiam di tengah kalimat. Seperti pikirannya ada di tempat lain. Seperti hatinya sedang berperang dengan sesuatu yang tidak bisa ia ceritakan pada siapa pun.
Jam istirahat tiba.
Bu Guru Wati belum keluar kelas. Ia masih duduk di kursinya. Menatap papan tulis dengan mata kosong. Tidak bergerak. Tidak bicara. Hanya diam.
Laras memberanikan diri.
Ia berjalan menuju meja Bu Guru Wati. Langkahnya pelan. Hatinya berdebar. Ia tidak tahu apa yang akan ia katakan. Ia tidak tahu apakah Bu Guru Wati akan marah. Ia hanya tahu bahwa ia merasakan sesuatu. Sesuatu yang berat. Sesuatu yang menyakitkan. Sesuatu yang tidak bisa ia abaikan.
"Bu Guru," panggil Laras pelan.
Bu Guru Wati menoleh. Matanya masih sayu. "Iya, Laras? Ada apa?"
Laras menggenggam tangan Bu Guru Wati. Lembut. Tidak menekan. Hanya menyentuh. Hanya merasakan.
Dan ia merasakannya.
Kesedihan yang mendalam. Kekhawatiran yang menggunung. Ketakutan yang mencekik. Seperti ada beban seberat gunung yang dipikul oleh bahu yang terlalu kecil. Seperti ada air mata yang tidak bisa lagi ditahan. Seperti ada jeritan yang tidak bisa keluar karena takut mengganggu.
"Bu Guru sedih hari ini," kata Laras. Suaranya pelan. Matanya menatap Bu Guru Wati dengan penuh pengertian. "Suaminya sedang sakit."
Bu Guru Wati terkejut. Matanya membulat. Tangannya yang digenggam Laras bergetar.
"Kamu... bagaimana kamu tahu?" tanya Bu Guru Wati. Suaranya bergetar. Tidak marah. Tidak takut. Tapi terkejut. Sangat terkejut.
"Aku merasakannya, Bu. Maaf kalau lancang. Aku tidak bermaksud mengganggu. Aku hanya... aku hanya ingin Bu Guru tahu bahwa ada yang peduli."
Bu Guru Wati terdiam. Ia menatap Laras. Anak kecil di hadapannya. Usia sepuluh tahun. Rambut diikat dua dengan pita merah yang tidak rapi. Mata yang jernih. Hati yang bersih.
Bu Guru Wati tidak marah. Ia justru menangis.
Air matanya jatuh. Deras. Tidak bisa ia tahan. Tidak bisa ia sembunyikan. Ia sudah berusaha kuat sejak pagi. Ia sudah berusaha tegar di depan murid-muridnya. Ia sudah berusaha tidak menunjukkan kesedihan. Tapi sekarang, di depan anak kecil ini, ia tidak bisa lagi berpura-pura.
"Maaf, Laras. Bu Guru... Bu Guru hanya... suami Bu Guru sakit. Sudah seminggu. Belum sembuh-sembuh. Dokter bilang mungkin harus dirawat di kota. Tapi biayanya besar. Bu Guru bingung."
Laras tidak melepaskan genggamannya. Ia tetap memegang tangan Bu Guru Wati.
"Bu Guru, aku tidak bisa membantu biaya. Tapi aku bisa mendoakan. Aku yakin suami Bu Guru akan sembuh."
Bu Guru Wati tersenyum. Senyum yang pahit. Tapi ada kehangatan di dalamnya. "Terima kasih, Laras. Kamu anak yang baik."
Bu Guru Wati mengusap air matanya dengan punggung tangan. Ia menarik napas panjang. Menghembuskannya perlahan.
"Laras, kamu anak yang istimewa. Bu Guru sudah mengajar puluhan tahun. Sudah ribuan murid yang Bu Guru temui. Tapi baru kali ini Bu Guru bertemu anak seperti kamu."
Laras tersenyum malu. "Aku hanya anak biasa, Bu."
"Tidak. Kamu tidak biasa. Kemampuanmu... bisa merasakan perasaan orang lain hanya dengan menyentuh tangan... itu luar biasa. Tapi jangan sembarangan menggunakannya."
Laras mengerjapkan mata. "Maksudnya, Bu?"
"Tidak semua orang suka perasaannya diketahui orang lain. Ada yang malu. Ada yang takut. Ada yang tidak suka dianggap lemah. Ada yang tidak suka dianggap perlu dikasihani. Ada yang ingin menyimpan kesedihannya sendiri. Jadi, meskipun kamu bisa merasakan, jangan selalu mengatakannya. Kecuali jika kamu yakin orang itu tidak keberatan."
Laras mengangguk. "Baik, Bu Guru. Aku akan berusaha."
"Jangan berusaha. Lakukan."
Laras tersenyum. Kata-kata itu familiar. Mirip dengan yang sering dikatakan Mbah Sujud. Mungkin semua orang tua memang sama. Mungkin semua guru memang sama.
"Baik, Bu. Aku akan lakukan."
Aria yang mendengar percakapan itu dari bangku belakang hanya tersenyum.
Ia tidak ikut campur. Ia tidak mendekat. Ia hanya diam dari kejauhan. Matanya tidak lepas dari Laras. Hatinya hangat.
"Aku bangga padamu, Laras," bisik Aria dalam hati. "Kamu tidak takut. Kamu tidak ragu. Kamu langsung bertindak ketika merasakan ada yang membutuhkan. Itu keberanian sejati."
Teman sebangku Aria menoleh. "Kamu bicara sama siapa, Aria?"
"Bicara sama diri sendiri."
"Aneh kamu."
"Biarin."
Temannya terkekeh. Aria tidak peduli. Matanya masih tertuju pada Laras.
Laras kembali ke bangkunya. Ia duduk di depan. Membelakangi Aria. Tapi Aria tidak butuh melihat wajah Laras untuk merasakan apa yang Laras rasakan. Ia bisa merasakannya dari getaran. Dari denyut. Dari cahaya yang terpancar dari tubuh Laras.
Laras bahagia.
Laras merasa lega.
Laras merasa berguna.
Dan Aria ikut bahagia. Ikut lega. Ikut merasa berguna.
Bel masuk berbunyi. Pelajaran dimulai lagi.
Bu Guru Wati sudah lebih tenang. Matanya masih merah. Tapi suaranya sudah tidak bergetar. Tangannya sudah tidak gemetar. Ia tersenyum pada Laras. Laras tersenyum balik.
"Ibu, maaf sebelumnya," bisik Laras.
"Tidak apa-apa, Laras. Terima kasih. Kamu sudah mengingatkan Bu Guru bahwa Bu Guru tidak sendirian."
Laras tersenyum. "Bu Guru tidak sendirian. Bu Guru punya banyak murid yang sayang."
Bu Guru Wati menangis lagi. Tapi kali ini bukan tangis sedih. Tangis haru. Tangis yang melegakan.
"Baik, anak-anak. Kita lanjutkan pelajaran."
Sepulang sekolah, Aria dan Laras berjalan pulang bersama.
Seperti biasa. Berdampingan. Tidak pernah terpisah.
"Laras," panggil Aria.
"Iya?"
"Tadi kamu berani sekali. Langsung mendekati Bu Guru. Memegang tangannya. Mengatakan apa yang kamu rasakan."
"Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan."
"Kamu tidak takut?"
"Aku takut. Tapi aku lebih takut jika membiarkan Bu Guru sendirian dalam kesedihan."
Aria tersenyum. "Kamu hebat, Laras."
"Tidak. Aku tidak hebat. Aku Hanya Laras. Anak kecil biasa yang kebetulan bisa merasakan perasaan orang lain."
"Tidak semua orang bisa merasakan apa yang kamu rasakan. Itu sudah hebat."
"Tidak semua orang bisa melihat apa yang kamu lihat. Itu juga hebat."
Mereka berdua tertawa. Tawa kecil. Tawa yang hangat.
"Kita berdua hebat, ya?" kata Laras.
"Iya. Kita berdua hebat."
Di perjalanan pulang, mereka melewati pohon randu.
Aria berhenti. Ia menatap pohon itu. Matanya menyipit. Seperti sedang melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh Laras.
"Aria, kamu lihat apa?"
"Akar pohon randu, Laras. Hari ini lebih cerah dari kemarin."
"Lebih cerah? Maksudnya?"
"Cahayanya. Keemasannya. Lebih terang. Lebih berdenyut. Seperti ada yang bergembira."
"Mungkin karena Bu Guru sudah tidak sedih."
Aria menoleh ke Laras. "Kamu pikir akar pohon randu bisa merasakan kesedihan Bu Guru?"
"Kenapa tidak? Akar terhubung dengan semua orang di desa ini. Jika ada yang sedih, akar pasti merasakannya. Jika ada yang bahagia, akar pasti merasakannya. Mungkin akar ikut sedih ketika Bu Guru sedih. Mungkin akar ikut bahagia ketika Bu Guru sudah tidak sedih."
Aria mengangguk. "Kamu pintar, Laras."
"Aku tidak pintar. Aku hanya merasakan."
"Merasa itu lebih sulit daripada berpikir."
"Kamu yang bilang?"
"Iya. Aku yang bilang."
Mereka tersenyum. Kemudian melanjutkan perjalanan.
Di rumah, Aria duduk di teras. Ia memejamkan mata. Menyentuh tanah. Merasakan.
Desa Randu Gembyang terbentang di matanya. Seperti jaring laba-laba raksasa. Setiap rumah adalah simpul. Setiap orang adalah titik. Setiap perasaan adalah getaran.
Ia melihat titik terang di rumah Bu Guru Wati. Cahaya keemasan. Tidak redup. Tidak terang. Sedang. Stabil. Seperti ada yang sudah membaik.
Ia melihat titik-titik lain di seluruh desa. Ada yang terang. Ada yang redup. Ada yang berkedip-kedip. Ada yang hampir padam.
"Semoga semua orang bahagia," bisik Aria.
"Apa kau bilang, Nak?" suara ibunya dari dalam rumah.
"Tidak, Bu. Hanya bicara sendiri."
"Jangan kebanyakan bicara sendiri. Nanti dikira gila."
Aria tersenyum. "Iya, Bu."
Di rumah lain, Laras duduk di kamarnya. Ia tidak memejamkan mata. Ia membuka matanya lebar-lebar. Menatap langit-langit.
Ia merasakan.
Aria bahagia. Aria tenang. Aria tidak takut. Aria percaya diri.
Laras tersenyum.
"Kita berdua akan baik-baik saja, Aria," bisiknya. "Kita berdua akan baik-baik saja."
Ia memeluk bantalnya. Memejamkan mata. Tertidur dengan senyum di wajahnya.
BAB 18: POHON RANDU BERNAPAS UNTUK KALI KETIGA
Aria dan Laras usia 11 tahun.
Malam itu, Desa Randu Gembyang dilanda sesuatu yang aneh.
Bukan gempa. Bukan angin topan. Bukan banjir. Bukan petir. Tapi sesuatu yang lebih tua dari semua itu. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Sesuatu yang hanya bisa dirasakan dengan hati.
Pohon randu di alun-alun bernapas lagi.
Untuk ketiga kalinya sejak Aria dan Laras lahir.
Napas pertama terjadi pada malam kelahiran mereka. Ketika petir tiga kali menyambar pohon itu. Ketika langit robek dan memperlihatkan sesuatu di baliknya. Ketika warga desa merasakan kangen yang tidak tahu berasal dari mana.
Napas kedua terjadi ketika mereka berusia enam tahun. Malam setelah pertemuan pertama mereka di pasar. Malam ketika mereka dipanggil ke pohon randu untuk pertama kalinya. Malam ketika mereka bertemu Mbah Sujud di bawah naungan daun-daun yang rindang.
Dan sekarang napas ketiga.
Aria terbangun tengah malam.
Ia tidak tahu jam berapa. Tidak ada suara ayam. Tidak ada suara jangkrik. Tidak ada suara apa pun. Hanya keheningan total. Keheningan yang pekat. Keheningan yang menekan. Keheningan yang terasa seperti sesuatu yang berat, menekan gendang telinga, menekan dada, menekan pikiran.
Ia merasakan getaran dari kejauhan.
Bukan dari luar. Tapi dari dalam. Dari dalam tanah. Dari dalam akar. Dari dalam sesuatu yang sudah menjadi bagian dari dirinya sejak kecil. Sejak pertama kali ia duduk di bawah pohon randu. Sejak pertama kali ia mendengar bisikan dari dalam tanah. Sejak pertama kali ia merasakan getaran hangat di telapak tangannya.
Getaran yang familiar.
Getaran yang sama seperti saat ia dipanggil ke pohon randu dulu. Saat ia berusia enam tahun. Saat kakinya berjalan tanpa arah. Saat ia tidak bisa melawan panggilan itu. Saat ia pasrah dan menyerah pada sesuatu yang lebih besar dari dirinya.
"Lagi," bisik Aria pada dirinya sendiri. Suaranya pelan. Hampir tidak terdengar di tengah malam yang sunyi. "Dia bernapas lagi."
Ia duduk di tempat tidur. Matanya masih sayu. Rambutnya masih berantakan. Tapi pikirannya sudah jernih. Ia tahu apa yang harus ia lakukan.
Ia bangkit dari tempat tidur. Memakai sandal jepitnya yang sudah usang. Sandal yang solnya sudah tipis di bagian tumit. Sandal yang sudah menemani nya ke mana-mana sejak kecil.
Berjalan pelan menuju pintu. Membukanya perlahan. Seperlahan mungkin. Agar engselnya yang berkarat tidak berdecit terlalu keras. Agar tidak membangunkan ibunya yang tidur di kamar sebelah.
Angin malam menyambutnya.
Hangat.
Anehnya hangat.
Tidak seperti angin malam biasanya yang dingin menusuk tulang. Hangat seperti napas. Seperti pelukan. Seperti sesuatu yang sudah lama menunggu.
Aria melangkah keluar rumah.
Di depan pagar bambu yang sudah reot, Laras sudah berdiri.
Laras berdiri di sana, diam, tidak bergerak. Rambutnya yang diikat dua dengan pita merah—pita yang sama sejak kecil—tertiup angin malam. Matanya menatap ke arah alun-alun. Ke arah pohon randu. Ke arah sesuatu yang hanya ia yang bisa lihat.
"Kamu juga merasakannya?" tanya Laras tanpa menoleh. Suaranya pelan. Hampir berbisik. Tapi jelas di tengah malam yang sunyi.
"Iya. Aku juga."
"Dia bernapas lagi."
"Iya. Untuk ketiga kalinya."
"Pertama kali kita belum tahu apa-apa. Kita masih bayi. Kita hanya menangis. Tidak tahu kenapa."
"Kedua kali kita masih kecil. Kita takut. Tapi kita tidak lari."
"Sekarang?"
Aria berdiri di samping Laras. Ia menggenggam tangan Laras. Hangat. Tangannya hangat.
"Sekarang kita sudah tahu. Kita sudah mengerti. Kita sudah siap."
Laras menoleh. Matanya bertemu dengan mata Aria.
"Kamu yakin kita siap?"
"Kita tidak akan pernah benar-benar siap, Laras. Tapi kita harus tetap maju. Untuk desa ini. Untuk pohon ini. Untuk Mbah Sujud. Untuk Mahesa. Untuk semua yang akan datang setelah kita."
Laras tersenyum. "Kamu bijak, Aria."
"Aku tidak bijak. Aku hanya banyak belajar dari Mbah Sujud."
Mereka berdua diam sebentar. Menikmati malam. Menikmati kehadiran satu sama lain. Menikmati getaran yang semakin kuat dari arah pohon randu.
"Ayo," kata Aria. "Kita ke pohon randu."
Mereka berjalan berdua.
Langit gelap tanpa bintang. Bulan tidak terlihat. Jalan setapak dari rumah mereka menuju alun-alun hanya diterangi oleh cahaya keemasan dari pohon randu yang berdenyut. Samar. Tapi jelas. Cukup untuk melihat jalan.
Mereka tidak bicara. Tidak perlu. Kaki mereka seolah tahu jalannya sendiri. Melewati tikungan yang sama. Melewati rumah-rumah yang sama. Melewati pohon mangga yang sama. Seperti sudah hafal. Seperti sudah berkali-kali melaluinya.
Aria berjalan di depan. Laras di sampingnya. Mereka berdua tahu bahwa malam ini berbeda. Bahwa malam ini adalah malam yang penting. Bahwa apa pun yang terjadi nanti, mereka akan mengingat malam ini selamanya.
Setiba di alun-alun, mereka berhenti.
Pohon randu berbeda.
Batangnya bercahaya. Bukan cahaya terang yang menyilaukan. Tapi cahaya samar seperti kunang-kunang. Seperti bintang yang jatuh dan tersangkut di dahan. Seperti bulan yang pecah dan berserakan di kulit kayu.
Akar-akarnya bergerak pelan di permukaan tanah. Tidak seperti biasanya yang diam dan kaku. Mereka bergerak seperti ular yang sedang meregangkan tubuh. Seperti sungai yang mengalir perlahan. Seperti tangan yang sedang meraba-raba dalam gelap.
Daun-daunnya berbisik tanpa angin. Suara yang aneh. Suara yang tidak bisa didengar telinga biasa. Tapi Aria dan Laras mendengarnya. Jelas. Seperti bisikan yang mengatakan, "Aku di sini. Aku menunggu. Aku tidak akan pergi."
Mbah Sujud sudah berdiri di bawah pohon itu.
Ia berdiri di sana, diam, tidak bergerak. Tubuhnya yang tua membungkuk. Tongkat kayu jati yang sudah retak di beberapa tempat menopang berat badannya. Matanya yang keriput menatap pohon randu dengan seksama. Wajahnya tegang. Tidak seperti biasanya. Dahi berkerut. Bibir mengerucut. Seperti sedang menghitung. Seperti sedang mengkhawatirkan sesuatu. Seperti sedang mempersiapkan diri untuk berita buruk.
"Mbah," sapa Aria.
Mbah Sujud menoleh. Ia tersenyum. Tapi senyum yang pahit. Senyum yang tidak sampai ke mata.
"Kalian datang," katanya. Suaranya serak. Seperti orang yang baru saja bangun dari tidur panjang. Atau seperti orang yang baru saja menangis.
"Kami merasakannya, Mbah," kata Laras.
"Iya. Kalian memang sudah peka."
"Mbah, pohon ini bernapas lagi," kata Aria.
"Iya, Le. Dia bernapas. Untuk ketiga kalinya sejak kalian lahir."
"Kenapa dia bernapas, Mbah?"
Mbah Sujud menghela napas panjang. Napas yang keluar dari dadanya yang sempit. Napas yang membawa serta beban yang sudah ia pikul selama puluhan tahun.
"Dia bernapas karena tabir mulai menipis, Le."
"Tabir, Mbah?" tanya Laras.
"Tabir antara dunia manusia dan dunia akar. Dulu, tabir itu tebal. Tidak ada yang bisa menembus. Kecuali penjaga. Kecuali orang-orang yang dipanggil. Kecuali kalian."
"Dan sekarang?"
"Sekarang tabir itu mulai menipis. Robek di beberapa titik. Udara dari dunia akar mulai masuk ke dunia manusia. Dan udara dari dunia manusia mulai masuk ke dunia akar. Mereka mulai bercampur. Mulai berbaur. Mulai menyatu."
Aria mengerutkan kening. "Apakah itu berbahaya, Mbah?"
"Bisa iya. Bisa tidak. Tergantung."
"Tergantung apa, Mbah?"
"Tergantung bagaimana manusia menyikapinya. Jika mereka takut, jika mereka marah, jika mereka menolak, maka keseimbangan akan terganggu. Dunia akar akan merespon dengan kemarahan. Dan kehancuran akan terjadi."
"Tapi jika mereka menerima?"
"Jika mereka menerima, jika mereka tenang, jika mereka terbuka, maka keseimbangan akan terjaga. Dunia akar akan merespon dengan kedamaian. Dan keharmonisan akan tercipta."
Laras mendekat ke Mbah Sujud. Tangannya yang kecil menggenggam ujung baju Mbah Sujud yang sudah lusuh.
"Mbah, kapan tabir itu benar-benar robek?"
Mbah Sujud menatap Laras. Matanya sayu.
"Aku tidak tahu, Le. Mungkin lima tahun lagi. Mungkin sepuluh. Mungkin besok. Mungkin lusa. Mungkin saat kalian sudah dewasa. Mungkin saat kalian sudah tua. Aku bukan peramal. Aku tidak bisa melihat masa depan."
"Tapi Mbah, kita harus siap, kan?"
"Iya. Kalian harus siap. Suatu hari nanti, ketika tabir itu benar-benar robek, kalian harus berada di garis terdepan. Menjaga desa ini. Menjaga pohon ini. Menjaga keseimbangan. Kalian tidak boleh lari. Kalian tidak boleh menyerah. Kalian tidak boleh takut."
Kami siap, Mbah."
Mbah Sujud menatap mereka bergantian. Matanya serius. Tidak ada senyum. Tidak ada tawa. Hanya keseriusan yang membuat Aria dan Laras merasa kecil.
"Kalian masih anak-anak. Masih sebelas tahun. Masih panjang perjalanan kalian. Masih banyak suka dan duka yang akan kalian alami. Nikmati masa kecil kalian dulu. Bermainlah. Tertawalah. Menangislah. Belajarlah. Jangan terlalu terburu-buru menjadi dewasa."
"Tapi Mbah, dunia akar..."
"Urusan dunia akar dan tabir, nanti saja. Jangan sekarang. Sekarang saatnya kalian menjadi anak-anak. Saatnya kalian menikmati hidup. Saatnya kalian bermain dengan teman-teman. Saatnya kalian belajar di sekolah. Saatnya kalian bertengkar dengan adik. Saatnya kalian dimarahi orang tua."
Aria menghela napas. "Tapi Mbah, kami tidak bisa berpura-pura tidak tahu. Kami sudah tahu. Kami sudah merasakan. Kami sudah mendengar."
"Kau tidak perlu berpura-pura tidak tahu, Le. Kau hanya perlu menjalani hidup seperti biasa. Jangan biarkan pengetahuan tentang dunia akar menguasai hidup kalian. Jangan biarkan ketakutan akan masa depan merusak masa kecil kalian."
"Pohon ini bernapas, Mbah. Sulit untuk berpura-pura tidak terjadi apa-apa."
Mbah Sujud tersenyum. Ia mengelus kepala Aria.
"Kau benar, Le. Sulit. Tapi cobalah. Untuk ayahmu yang tidak mengerti. Untuk ibumu yang khawatir. Untuk teman-temanmu yang tidak tahu. Bagi mereka, pohon ini hanyalah pohon biasa. Jangan bebani mereka dengan apa yang tidak mereka mengerti."
Aria menunduk. "Baik, Mbah. Aku akan coba."
"Jangan coba. Lakukan."
"Baik, Mbah. Aku akan lakukan."
Laras yang dari tadi diam tiba-tiba bicara. "Mbah, aku merasakan sesuatu."
"Merasakan apa, Le?"
"Aku merasakan... kehadiran. Seseorang. Atau sesuatu. Di dalam pohon ini."
Mbah Sujud mengangguk. "Kau benar, Le. Ada seseorang di dalam pohon ini."
"Siapa, Mbah?"
"Dia yang menjaga jantung dunia akar. Dia yang menjaga keseimbangan. Dia yang mengatur denyut akar. Dia adalah penjaga abadi. Namanya... Mahesa Keling."
Aria terkejut. "Mahesa Keling? Seperti yang Mbah ceritakan dulu?"
"Iya. Mahesa Keling. Anak yang akan lahir dari rahim Laras. Anak kalian. Penjaga ketiga. Kunci keseimbangan. Jantung dunia akar."
Laras memegang perutnya. Masih rata. Masih belum ada tanda-tanda. Tapi ia merasakan sesuatu. Kehangatan. Seperti ada api kecil di dalam sana.
"Mbah, apakah dia... apakah dia sudah ada di sana?" tanya Laras.
"Belum. Dia belum lahir. Tapi rohnya sudah dipanggil. Dia sudah dipilih. Suatu hari nanti, ketika kalian dewasa, ketika waktunya tiba, dia akan lahir. Dan dia akan menjadi penjaga. Seperti kalian. Seperti Mbah Urip. Seperti semua yang pernah menjaga keseimbangan."
"Apakah dia akan selamat, Mbah?"
Mbah Sujud tidak menjawab. Ia hanya diam. Menatap pohon randu. Menatap cahaya keemasan yang berdenyut pelan.
"Mbah?" desak Laras.
"Tidak ada yang tahu masa depan, Le. Yang bisa kita lakukan hanyalah berusaha. Berdoa. Berharap. Dan percaya bahwa alam semesta tidak akan mengambil sesuatu tanpa memberi ganti."
Laras menangis. Aria memegang tangannya.
"Kita akan jaga dia, Laras. Aku janji."
"Kita tidak bisa menjaganya selamanya, Aria. Ada yang lebih besar dari kita. Ada yang lebih kuat dari kita. Ada yang menentukan di luar kemampuan kita."
"Tapi kita bisa berusaha. Kita bisa berdoa. Kita bisa berharap."
Laras mengusap air matanya. "Iya. Kita bisa berusaha."
Malam semakin larut. Angin berhembus lebih kencang. Daun-daun randu bergoyang. Suara bisikannya semakin keras.
"Kalian harus pulang," kata Mbah Sujud. "Besok kalian sekolah. Jangan sampai ketiduran."
"Iya, Mbah. Terima kasih."
"Dan jangan ceritakan ini pada siapa pun, kecuali pada orang yang kalian percaya. Bukan semua orang siap mendengar."
"Kami tidak akan cerita, Mbah. Janji."
Mbah Sujud tersenyum. "Bagus. Sekarang pulanglah. Jaga diri kalian."
Aria dan Laras berjalan meninggalkan pohon randu. Berdampingan. Tidak terpisah.
"Mbah," panggil Laras sebelum terlalu jauh.
"Iya, Le."
"Tabir itu... kapan robeknya?"
Mbah Sujud menghela napas. "Aku tidak tahu, Le. Tapi aku tahu, ketika itu terjadi, kalian tidak akan sendirian."
Laras tersenyum. "Terima kasih, Mbah."
Sampai jumpa, Le."
Mereka terus berjalan. Langkah mereka ringan. Hati mereka hangat. Pikiran mereka tenang.
"Laras," panggil Aria.
"Iya?"
"Menurutmu, apa yang akan terjadi ketika tabir itu robek?"
"Aku tidak tahu, Aria. Tapi apa pun yang terjadi, kita akan menghadapinya bersama."
"Bersama?"
"Iya. Bersama. Seperti janji kita dulu."
Aria tersenyum. "Iya. Seperti janji kita dulu."
Mereka terus berjalan. Tidak menoleh ke belakang. Karena mereka tahu, besok akan bertemu lagi. Dan lusa. Dan seterusnya. Sampai tabir itu robek. Sampai dunia akar dan dunia manusia bertemu. Sampai tugas mereka selesai. Sampai mereka pulang.
BAB 19: REMAJA DAN PERASAAN YANG MULAI BERUBAH
Aria dan Laras usia 13 tahun.
Masa remaja datang dengan segala perubahan. Tubuh Aria mulai berubah. Bahunya mulai bidang. Suaranya mulai berat. Laras mulai terlihat lebih dewasa. Wajahnya semakin cantik. Senyumnya semakin memikat.
Dan perasaan mereka mulai berubah.
Suatu sore di bawah pohon mangga
pohon yang sama, tempat yang sama, sejak mereka kelas 1 SD
Aria menggenggam tangan Laras.
"Laras, aku ingin bilang sesuatu."
"Apa?"
Aria terdiam sejenak. Dadanya berdebar. Ia tidak pernah seberani ini sebelumnya. Tapi ia tahu ia tidak bisa menunda lagi.
"Aku mencintaimu, Laras. Bukan sebagai teman. Bukan sebagai saudara. Tapi sebagai... segalanya."
Laras tidak menjawab. Ia hanya menggenggam balik tangan Aria. Erat. Sangat erat.
"Aku juga, Aria. Sejak lama."
Mereka berpelukan. Untuk pertama kalinya. Bukan pelukan biasa. Tapi pelukan yang hangat. Pelukan yang terasa seperti pulang.
Dari kejauhan, Mbah Sujud yang kebetulan lewat hanya tersenyum. "Sudah waktunya," bisiknya. "Sudah waktunya."
BAB 20: BISIKAN DARI WARUNG KOPI
Aria dan Laras usia 14 tahun.
Kabar tentang kedekatan Aria dan Laras mulai menyebar. Tidak lagi sebagai rasa penasaran. Tidak lagi sebagai bahan tertawaan. Tapi sebagai gunjingan. Sebagai bahan pembicaraan yang tajam. Sebagai pisau yang diam-diam menusuk.
Desa Randu Gembyang memang desa kecil. Tidak ada yang bisa disembunyikan. Setiap langkah, setiap senyum, setiap tatapan, semua akan diketahui orang. Dan ketika dua anak remaja—yang sudah sejak kecil dianggap aneh—mulai sering terlihat berdua, gunjingan pun tidak terhindarkan.
Di warung kopi milik Mang Udin, setiap pagi selalu ramai. Tapi pagi itu, suasana berbeda. Kopi yang diseduh terasa lebih pahit. Uap yang mengepul terasa lebih panas. Sendok-sendok yang mengaduk gula terdengar lebih keras dari biasanya.
"Katanya mereka sudah pacaran," bisik seorang ibu sambil menyeduh kopinya. Uap mengepul membawa aroma yang seharusnya harum, tapi pagi itu terasa seperti bau sesuatu yang lain.
"Lha iya, sering jalan berdua. Tidak pernah sama yang lain," sahut ibu lain sambil mengupas telur rebus. Tangannya bergerak cepat. Matanya berbinar. Ada kenikmatan tersendiri dalam menyebarkan berita.
"Padahal mereka masih muda. Laras baru empat belas. Aria juga empat belas. Masih anak-anak. Masih SMP. Masih harus belajar. Masih harus bermain. Masih harus berpikir tentang masa depan. Bukan tentang pacaran."
"Anak sekarang, Bu. Tidak bisa diatur. Orang tua dulu saja sudah kuwalahan. Apalagi orang tua sekarang. Biarkan saja. Nanti juga kapok sendiri."
"Tapi kasihan orang tuanya, Bu. Dapat malu sekampung."
"Iya. Dasarnya kurang didikan."
Mang Udin yang mendengar bisik-bisik itu tidak bisa diam. Ia adalah pemilik warung. Warungnya adalah tempat berkumpul. Jika tidak ada yang berani meluruskan, maka semua orang akan percaya pada gunjingan itu.
"Bu, Bu," potong Mang Udin sambil mengelap gelas yang sebenarnya sudah bersih. "Mereka belum melakukan apa-apa. Hanya teman. Saya lihat sendiri. Mereka hanya duduk di bawah pohon mangga, ngobrol, kadang baca buku. Tidak lebih dari itu."
"Teman tapi berduaan terus? Lha kok tidak pernah sama yang lain?"
"Ya, namanya juga sahabat, Bu. Saya dulu juga sering berduaan dengan teman. Tidak ada yang aneh."
"Zaman sekarang beda, Mang Udin. Dulu sama sekarang beda."
"Beda apa, Bu? Yang namanya persahabatan tetap sama."
"Banyak godaan, Mang Udin. Banyak nafsu. Banyak hawa."
"Ya, itu tergantung orangnya, Bu. Bukan zamannya."
Ibu itu tidak menjawab. Ia hanya mendengus. Melanjutkan mengupas telurnya.
Tapi nada bicara warga sudah berubah. Bukan lagi rasa penasaran. Tapi mulai ada nada menghakimi. Mata mereka tidak lagi sayang. Tapi mulai tajam. Seperti pisau yang siap mengiris.
Aria dan Laras mendengar bisikan itu.
Mereka tidak bersembunyi. Mereka tidak menghindar. Mereka tetap berjalan seperti biasa. Berangkat sekolah. Pulang sekolah. Duduk di bawah pohon mangga. Ngobrol. Tertawa. Sesekali berpegangan tangan.
Perubahan tidak terjadi pada mereka. Tapi pada orang-orang di sekitar mereka.
Tetangga yang dulu ramah menyapa, sekarang pura-pura tidak melihat. Saudara yang dulu sering berkunjung, sekarang tidak pernah muncul. Ibu-ibu yang dulu suka mengajak Laras ke pasar, sekarang menjauh.
"Laras, kamu tidak dengar omongan orang?" tanya seorang teman di sekolah.
"Tidak," jawab Laras singkat.
"Mereka bilang kamu sama Aria sudah pacaran."
"Lalu?"
"Lho, kamu tidak marah?"
"Buat apa marah?"
"Kan berarti namamu jelek."
"Jelek di mata mereka, tapi tidak di mataku. Aku tidak peduli."
Temannya geleng-geleng. "Kamu aneh, Laras."
"Memang."
Tapi hati Laras tidak seteguh itu. Di dalam kamar, di malam hari, ketika semua orang sudah tidur, ia sering menangis. Bukan karena takut. Bukan karena malu. Tapi karena lelah. Lelah mendengar bisikan. Lelah melihat tatapan curiga. Lelah menjadi bahan pembicaraan setiap hari.
"Aku kuat," bisiknya pada dirinya sendiri. "Aku kuat. Aku tidak akan menyerah."
Aria lebih tegar. Atau setidaknya ia berusaha terlihat tegar. Ia tidak pernah menangis di depan Laras. Ia tidak pernah mengeluh. Ia selalu tersenyum. Seperti tidak ada yang salah. Seperti tidak ada yang berubah.
Tapi suatu sore, saat mereka duduk di bawah pohon mangga, Aria menggenggam tangan Laras lebih erat dari biasanya.
"Aria, kamu sakit?" tanya Laras.
"Tidak. Aku hanya..."
"Hanya apa?"
Aria terdiam. Matanya menatap pohon randu di kejauhan.
"Aku hanya tidak ingin kehilanganmu."
Laras tersenyum. "Kamu tidak akan kehilangan aku. Aku di sini. Sampai kapan pun."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berpegangan tangan. Lebih erat. Seperti tidak ingin terpisah. Seperti tidak ingin ada yang bisa memisahkan mereka.
"Biarkan mereka bicara," kata Aria. "Yang penting kita tahu siapa kita."
"Apakah kita memang pacaran?" tanya Laras. Matanya jujur. Tidak malu-malu. Tidak menggoda. Hanya bertanya.
Aria tersenyum. "Aku tidak tahu. Yang aku tahu, aku mencintaimu. Dan aku tidak peduli apa kata orang."
Laras tersenyum. "Aku juga. Aku juga mencintaimu. Sejak lama. Sejak pertama kali kita bertemu di pasar. Sejak pertama kali kita bicara di bawah pohon mangga ini. Sejak saat itu, aku tahu. Aku mencintaimu."
"Lalu kenapa kita tidak bilang dari dulu?"
"Karena kita masih kecil. Karena kita belum mengerti. Karena kita takut ditertawakan."
"Dan sekarang?"
"Sekarang kita sudah lebih besar. Sekarang kita sudah lebih mengerti. Sekarang kita sudah tidak takut."
Aria memeluk Laras. "Aku tidak akan pernah lepas."
Laras membalas pelukan Aria. "Aku juga. Aku juga tidak akan pernah lepas."
Di kejauhan, pohon randu berdenyut pelan. Daunnya bergoyang tanpa angin. Cahaya keemasan muncul di sela-sela dedaunan.
Mbah Sujud yang kebetulan lewat hanya tersenyum. "Sudah waktunya," bisiknya. "Sudah waktunya mereka saling menyadari. Semoga cinta mereka menjadi keseimbangan. Bukan kehancuran."
BAB 21: MBAH SANGKIL MULAI BERGERAK
Aria dan Laras usia 14 tahun.
Mbah Sangkil, salah satu penjaga yang selama ini tinggal di pinggir hutan, mulai muncul ke permukaan.
Ia tidak muncul sejak pertengkarannya dengan Mbah Sujud di warung kopi dulu. Ia menghilang. Tidak ada yang tahu ke mana. Tidak ada yang tahu kapan akan kembali. Beberapa warga mengira ia sudah mati. Beberapa mengira ia pindah desa. Beberapa mengira ia pergi ke kota.
Tapi malam itu, ia kembali.
Ia duduk di sudut warung kopi. Sendirian. Tidak ada yang menemani. Tidak ada yang berani mendekat. Ia memesan kopi pahit tanpa gula. Tidak diminum. Hanya ditatap. Uapnya mengepul membawa aroma yang menguar ke seluruh ruangan.
Warga mulai berbisik.
"Mbah Sangkil sudah lama tidak muncul. Kemana saja?"
"Entahlah. Katanya bertapa di hutan."
"Bertapa? Untuk apa?"
"Siapa tahu. Beliau kan sesepuh. Mungkin ada urusan gaib."
"Jangan dekat-dekat. Matanya tajam. Kayak elang."
"Sudah tua masih tajam? Mungkin matanya sakit."
"Bukan matanya yang sakit. Matanya biasa saja. Tapi tatapannya... tatapannya menusuk."
"Sudah. Jangan banyak bicara. Nanti didengar."
Tapi Mbah Sangkil sudah mendengar. Ia mendengar semuanya. Setiap bisikan. Setiap komentar. Setiap nada takut.
Meskipun ia tidak menoleh. Meskipun ia tidak merespon. Ia diam. Ia hanya menatap kopi pahit di hadapannya.
Setelah beberapa saat, Mbah Sangkil mulai bicara.
"Kalian tahu?" katanya. Suaranya serak. Kering. Seperti ranting kayu yang digosokkan ke batu. Tapi jelas. Sangat jelas. Setiap kata terdengar oleh semua orang di warung itu.
Seorang warga berani bertanya, "Tahu apa, Mbah?"
"Dua anak itu. Aria dan Laras."
Suasana berubah hening. Tidak ada yang berani bersuara. Semua menunduk. Semua pura-pura sibuk dengan kopi masing-masing.
"Ada apa dengan mereka, Mbah?" warga itu bertanya lagi.
Mbah Sangkil menghela napas panjang. Ia mengangkat cangkir kopinya. Menyesap sedikit. Lalu meletakkannya kembali.
"Merekalah penyebab desa ini kena kutuk," katanya.
Suasana semakin hening. Sampai-sampai tetesan air dari ujung meja terdengar jelas.
"Kutuk, Mbah?" warga lain ikut bertanya.
"Iya. Kutuk. Sejak mereka lahir, desa ini tidak pernah tenang. Petir tiga kali. Sumur berubah. Tanah bergerak. Angin berhenti. Semua itu tanda kutuk."
"Cuma itu, Mbah?"
"Belum cukup? Apa lagi yang kalian tunggu? Tanah longsor? Banjir? Wabah penyakit?"
Warga mulai gelisah. Mereka saling berpandangan. Tidak tahu harus percaya pada siapa.
"Petir tiga kali itu tanda kutukan," sambung Mbah Sangkil. "Sumur berubah itu tanda kutukan. Tanah bergerak itu tanda kutukan. Dan sekarang mereka hidup serumah tanpa ikatan. Tanpa menikah. Tanpa pesta. Tanpa saksi. Itu juga tanda kutukan. Tanda bahwa mereka tidak menghormati adat. Tanda bahwa mereka tidak menghormati agama. Tanda bahwa mereka tidak menghormati leluhur."
Seorang ibu tua yang duduk di pojok angkat bicara. "Tapi Mbah, kata Mbah Sujud mereka dipilih menjadi penjaga. Kata Mbah Sujud mereka istimewa. Kata Mbah Sujud mereka tidak bersalah."
Mbah Sangkil tertawa. Tertawa yang nyaris tidak bersuara. Tapi terdengar dingin. Menusuk.
"Sujud sudah tua. Matanya sudah kabur. Pikirannya sudah pikun. Dia tidak bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi. Dia hanya meneruskan apa yang diajarkan Mbah Urip tanpa berpikir kritis. Tanpa menganalisis. Tanpa mempertanyakan."
"Jadi menurut Mbah, mereka bukan penjaga?"
"Penjaga? Mereka masih anak-anak. Usia empat belas tahun. Apa yang mereka jaga? Apa yang mereka ketahui? Mereka bahkan belum bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Mereka bahkan belum bisa mengendalikan nafsu mereka sendiri. Mereka bahkan belum bisa hidup tanpa bergantung pada orang tua."
Warga mulai mengangguk-angguk. Mulai terpengaruh. Mulai percaya.
Mbah Sujud yang kebetulan masuk ke warung kopi mendengar kata-kata itu.
Ia berhenti di pintu. Matanya menatap Mbah Sangkil yang duduk di sudut. Wajahnya tegang. Tangannya yang memegang tongkat gemetar. Bukan karena takut. Tapi karena marah.
"Berhenti, Sangkil!" suara Mbah Sujud lantang. Menggema di seluruh ruangan.
Mbah Sangkil menoleh. Ia tersenyum. Senyum dingin. "Sujud. Kau datang tepat waktu. Aku baru saja memberi tahu warga tentang kebenaran."
"Kebenaran apa? Yang kau katakan bukan kebenaran. Itu fitnah. Itu kebohongan. Itu racun yang kau sebarkan untuk keuntunganmu sendiri."
"Keuntunganku? Apa keuntungan yang aku cari? Aku sudah tua. Aku tidak butuh harta. Aku tidak butuh kuasa. Aku hanya ingin desa ini bersih dari kutukan."
"Desa ini tidak kena kutukan, Sangkil! Desa ini diberkati! Petir tiga kali itu adalah tanda bahwa penjaga baru lahir. Sumur berubah itu tanda bahwa dunia akar terbuka. Tanah bergerak itu tanda bahwa keseimbangan mulai pulih."
"Kau bilang begitu karena kau buta, Sujud. Kau tidak bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi. Kau hanya bisa mengulang kata-kata Mbah Urip tanpa memahami maknanya."
"Aku memahami, Sangkil. Aku memahaminya dengan baik. Lebih baik dari kau. Karena aku yang dipilih. Bukan kau. Karena aku yang dipercaya. Bukan kau. Karena aku yang menjaga kitab. Bukan kau."
Mbah Sangkil tersinggung. Wajahnya berubah merah.
"Kau selalu membawa-bawa soal pemilihan itu. Seolah-olah kau lebih hebat dari aku. Padahal kau tahu, Sujud, kau dipilih bukan karena kau pantas. Tapi karena Mbah Urip sudah tua dan pikun. Dia salah memilih. Seharusnya aku yang menjadi penjaga. Bukan kau."
"Kau tidak akan pernah bisa menjadi penjaga, Sangkil. Karena hatimu kotor. Karena ambisimu buta. Karena kau tidak bisa melihat bahwa menjadi penjaga bukan tentang kekuasaan. Tapi tentang pengorbanan. Tentang kesetiaan. Tentang cinta."
"Cinta? Omong kosong. Cinta tidak akan menyelamatkan desa ini. Hanya kekuatan yang bisa."
"Kekuatan tanpa cinta hanya akan menghancurkan, Sangkil. Dan kau tahu itu."
Mereka bertengkar di depan warga.
Warga hanya bisa diam. Tidak tahu harus percaya pada siapa. Mbah Sujud adalah sesepuh yang dihormati. Tapi Mbah Sangkil juga sesepuh. Siapa yang benar? Siapa yang salah? Mereka tidak tahu.
"Terserah kalian mau percaya siapa," kata Mbah Sangkil sambil berdiri. "Yang jelas, selama Aria dan Laras masih di desa ini, selama mereka masih hidup bersama tanpa ikatan, selama mereka masih membangkang adat dan agama, kutuk tidak akan pernah berakhir."
Dia meraih tongkatnya. Berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi.
"Sujud, kau sudah tua. Matamu sudah kabur. Telingamu sudah tuli. Kau tidak bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi. Awas, kau akan menyesal."
Mbah Sangkil keluar. Malam menyambutnya dengan gelap.
Warga masih diam. Mbah Sujud duduk di kursi yang baru saja ditinggalkan Mbah Sangkil. Ia menghela napas panjang.
"Warga sekalian," katanya. Suaranya lelah. Tapi tegas. "Aku tidak bisa memaksa kalian percaya padaku. Tapi ingatlah, Aria dan Laras adalah anak-anak desa ini. Mereka lahir di sini. Mereka dibesarkan di sini. Mereka tidak pernah menyakiti siapa pun. Mereka hanya berbeda. Dan perbedaan bukanlah kutukan. Perbedaan adalah anugerah."
Seorang warga bertanya, "Mbah, apa benar petir tiga kali itu tanda kutukan?"
"Petir tiga kali itu adalah tanda bahwa dunia akar membuka pintunya. Itu bukan kutukan. Itu adalah kesempatan. Kesempatan bagi kita untuk lebih peka. Lebih peduli. Lebih bersatu."
"Tapi Mbah, kata Mbah Sangkil..."
"Mbah Sangkil salah. Dia hanya iri. Dia hanya dendam. Dia hanya tidak bisa menerima kenyataan bahwa dia tidak dipilih."
Warga terdiam. Mereka bingung. Mereka tidak tahu.
Mbah Sujud berdiri. "Aku pulang dulu. Terima kasih untuk kopinya, Mang Udin."
"Ya, Mbah. Hati-hati di jalan."
Mbah Sujud melangkah keluar. Meninggalkan warga yang masih diam. Masih bingung. Masih tidak tahu.
Di kejauhan, di balik pohon randu, Mbah Sangkil berdiri.
Ia tersenyum.
"Sujud, kau boleh menang hari ini. Tapi aku tidak akan menyerah. Aku akan terus menyebarkan bisikanku. Aku akan terus membuat warga membencimu. Aku akan terus menggerogoti kepercayaan mereka padamu. Sampai suatu hari nanti, mereka sadar bahwa akulah yang benar. Bahwa akulah yang seharusnya menjadi penjaga. Bahwa akulah yang pantas memimpin desa ini."
Ia berbalik. Menghilang ke dalam kegelapan.
Langkahnya tidak bersuara.
Seperti hantu.
Seperti bayangan.
Seperti sesuatu yang tidak pernah benar-benar ada.
BAB 22: MBAH SUJUD MEMBELA DI ALUN-ALUN
Aria dan Laras usia 15 tahun.
Gunjingan semakin menjadi-jadi.
Tidak ada yang bisa membendungnya. Tidak ada yang bisa menghentikannya. Seperti air bah yang meluap dari sungai setelah hujan selama seminggu. Seperti api yang menjalar di musim kemarau. Seperti penyakit yang menular tanpa bisa dicegah.
Di warung kopi, setiap pagi, selalu ada yang dibicarakan. Di pasar, setiap hari, selalu ada yang digunjingkan. Di sawah, di ladang, di jalan, di depan rumah, di belakang rumah, di mana pun, selalu ada bisikan. Selalu ada komentar. Selalu ada tatapan curiga.
"Mereka sudah keterlaluan. Hidunggung tanpa menikah."
"Anak itu anak haram. Tidak jelas bapaknya."
"Tidak ada yang berani menegur. Mbah Sujud malah membela."
"Mbah Sujud sudah tua. Pikirannya sudah tidak waras."
"Jangan bicara begitu. Mbah Sujud sesepuh kita."
"Sesepuh tapi membela orang yang salah."
"Sudah, jangan bertengkar. Yang jelas, desa ini tidak tenang sejak mereka lahir."
Warga mulai terpecah.
Ada yang percaya pada Mbah Sujud. Kelompok ini biasanya adalah warga yang lebih tua. Yang sudah lama mengenal Mbah Sujud. Yang tahu bahwa Mbah Sujud tidak pernah berbohong. Yang pernah merasakan sendiri keajaiban pohon randu.
Ada yang percaya pada Mbah Sangkil. Kelompok ini biasanya adalah warga yang lebih muda. Yang mudah terpengaruh. Yang lebih suka gosip daripada kebenaran. Yang lebih percaya pada apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka rasakan.
Dan ada yang tidak percaya pada siapa pun. Kelompok ini adalah warga yang bingung. Tidak tahu harus memihak siapa. Hanya diam. Hanya menunggu. Hanya melihat perkembangan.
Tapi yang jelas, desa ini tidak lagi seperti dulu. Dulu, sebelum gunjingan ini menyebar, suasana masih hangat. Masih rukun. Masih saling menyapa. Sekarang, setiap kali Aria dan Laras lewat, warga membuang muka. Pura-pura tidak melihat. Pura-pura tidak mendengar. Pura-pura tidak kenal.
Mbah Sujud tidak bisa tinggal diam.
Ia sudah tua. Ia sudah lemah. Ia sudah hampir tidak bisa berjalan tanpa tongkat. Tapi ia tidak bisa membiarkan fitnah terus menyebar. Ia tidak bisa membiarkan nama baik Aria dan Laras dihancurkan. Ia tidak bisa membiarkan desa ini terpecah belah.
Suatu malam, ia mengumpulkan warga di alun-alun.
Ia memerintahkan Aria dan Laras untuk ikut. Ia juga meminta Mbah Kromo—sahabatnya yang buta—untuk berdiri di sampingnya. Sebagai saksi. Sebagai pendukung. Sebagai orang yang juga tahu kebenaran.
"Apa yang akan Mbah Sujud lakukan, Mbah?" tanya Aria sebelum berangkat.
"Aku akan membersihkan nama kalian. Aku akan meluruskan apa yang diputarbalikkan Mbah Sangkil. Aku akan menunjukkan pada warga bahwa kalian tidak bersalah."
"Mbah, apa mereka akan percaya?"
Mbah Sujud tersenyum. "Tidak semua. Tapi setidaknya ada yang sadar. Setidaknya ada yang berubah. Setidaknya tidak semua terpedaya oleh tipu daya Sangkil."
"Tapi Mbah, apa Mbah Sangkil tidak akan marah?"
"Dia sudah marah sejak dulu. Sejak Mbah Urip tidak memilihnya. Sejak dia sadar bahwa dia tidak akan pernah menjadi penjaga. Sejak dia memendam dendam dan ambisi. Tidak ada bedanya. Dia sudah marah. Dan dia akan terus marah. Tidak peduli apa yang aku lakukan."
Laras menggenggam tangan Aria. "Mbah, aku takut."
"Jangan takut, Le. Mbah Sujud di sini. Aria di sini. Mbah Kromo di sini. Pohon randu di sini. Kalian tidak sendirian. Kalian tidak akan pernah sendirian."
Alun-alun dipenuhi warga.
Mereka datang dari seluruh desa. Ada yang berjalan kaki. Ada yang mengendarai sepeda. Ada yang membawa anak-anak. Ada yang datang sendiri. Semua ingin tahu. Semua ingin mendengar. Semua ingin melihat apa yang akan terjadi.
Mbah Sujud berdiri di bawah pohon randu.
Di samping kanannya, Aria dan Laras berdiri tegak. Wajah mereka tenang. Tidak takut. Tidak gugup. Hanya resah. Resah karena harus berhadapan dengan warga yang sebagian sudah membenci mereka.
Di samping kirinya, Mbah Kromo berdiri dengan tongkat di tangan. Matanya buta. Tapi hatinya melihat. Ia tidak bisa melihat wajah warga. Tapi ia bisa merasakan perasaan mereka. Takut, marah, bingung, penasaran.
Mbah Sujud memejamkan mata sebentar. Bernapas. Tarik. Hembus. Tarik. Hembus.
Lalu ia membuka mata.
Matanya tajam. Tidak seperti biasanya. Tidak lembut. Tidak sayu. Tapi tajam. Seperti pisau. Seperti elang. Seperti sesuatu yang sudah tidak sabar lagi.
"Warga Desa Randu Gembyang," kata Mbah Sujud dengan suara lantang. Suaranya menggema di seluruh alun-alun. Bahkan sampai ke rumah-rumah yang paling jauh. "Terima kasih sudah datang. Aku tahu malam ini mungkin malam yang panjang. Tapi aku mohon, dengarkan aku. Jangan pergi sebelum aku selesai bicara."
Seorang warga berteriak dari belakang. "Kami dengar, Mbah! Silakan!"
"Aku tahu kalian mendengar bisik-bisik dari Mbah Sangkil. Aku tahu kalian mulai ragu pada Aria dan Laras. Aku tahu kalian mulai takut. Takut pada kutukan yang katanya menimpa desa ini."
Mbah Sujud berhenti sejenak. Ia menatap warga satu per satu.
"Tapi aku di sini untuk meluruskan. Aku di sini untuk mengatakan kebenaran. Kebenaran yang selama ini sengaja diputarbalikkan oleh Mbah Sangkil. Kebenaran yang membuatku harus angkat bicara meskipun sudah tua."
Seorang warga bertanya, "Apa kebenaran itu, Mbah?"
Mbah Sujud menghela napas. Ia berjalan ke pohon randu. Perlahan. Dengan tongkat. Setiap langkahnya terdengar di alun-alun yang sunyi. Tik. Tok. Tik. Tok.
Ia menempelkan telapak tangannya di batang pohon.
Pohon itu bergetar.
Batangnya bercahaya.
Terang.
Keemasan.
Cahaya itu memenuhi seluruh alun-alun. Memenuhi seluruh desa. Memenuhi langit. Memenuhi hati setiap orang yang melihatnya.
Warga terkesima. Beberapa mundur selangkah. Beberapa menutup mata. Beberapa justru mendekat. Ingin melihat lebih jelas.
"Apa itu, Mbah?" teriak seorang warga.
"Itu buktinya!" suara Mbah Sujud lantang. Menggema. "Pohon ini memilih mereka! Akar ini memilih mereka! Cinta mereka adalah keseimbangan!"
Warga terdiam.
Seorang ibu tua mulai menangis. "Mbah... maafkan kami... kami hanya takut..."
"Kami tidak tahu, Mbah... kami hanya percaya pada omongan orang..."
"Maafkan kami, Aria... maafkan kami, Laras..."
Aria dan Laras hanya diam. Tidak membalas. Tidak marah. Hanya diam. Air mata mereka jatuh. Tapi mereka tidak menangis. Mereka hanya tersenyum. Senyum yang lega. Senyum yang pahit. Senyum yang tidak bisa dijelaskan.
Mbah Sujud melepaskan tangannya dari batang pohon. Cahaya meredup. Tapi tidak padam. Masih ada. Samar. Tapi jelas.
"Kalian lihat sendiri," kata Mbah Sujud. "Pohon ini tidak marah. Pohon ini tidak mengutuk. Pohon ini justru bersinar. Pohon ini justru bahagia. Karena penjaganya sudah tumbuh. Karena keseimbangan sudah hampir pulih. Karena masa depan desa ini sudah di tangan yang tepat."
Seorang warga yang selama ini paling vokal membenci Aria dan Laras maju selangkah.
"Tapi Mbah, bagaimana dengan petir tiga kali? Bagaimana dengan sumur yang berubah? Bagaimana dengan tanah yang bergerak? Bukankah itu semua tanda kutukan?"
"Bukan," jawab Mbah Sujud tegas. "Itu semua adalah tanda bahwa dunia akar membuka pintunya. Tanda bahwa tabir mulai menipis. Tanda bahwa keseimbangan sedang diperbaiki. Bukan kutukan. Tapi berkah. Berkah yang tidak semua orang mengerti."
"Lalu mengapa Mbah Sangkil bilang itu kutukan?"
"Karena Mbah Sangkil tidak mengerti. Atau mungkin dia mengerti, tapi sengaja memutarbalikkan fakta untuk keuntungannya sendiri. Untuk membuat kalian takut. Untuk membuat kalian membenci Aria dan Laras. Untuk membuat kalian melupakan bahwa sebenarnya kalian semua terhubung oleh akar yang sama."
"Tapi Mbah, apa benar mereka hidup serumah tanpa ikatan?"
"Benar. Tapi itu bukan dosa. Itu pilihan. Mereka memilih untuk tidak menikah muda. Mereka memilih untuk fokus pada pendidikan mereka. Mereka memilih untuk saling mengenal lebih dalam sebelum berkomitmen selamanya. Itu bukan dosa. Itu kebijaksanaan."
"Tapi Mbah, adat..."
"Adat tidak saklek, Le. Adat bisa berubah. Adat bisa menyesuaikan dengan zaman. Yang penting tidak melanggar nilai-nilai luhur. Dan apa yang dilanggar? Apa? Hanya karena mereka tidak mengadakan pesta, mereka dianggap berdosa? Apa pesta lebih penting dari cinta? Apa saksi lebih penting dari keikhlasan?"
Warga tidak ada yang berani menjawab.
Mbah Sujud menghela napas. "Maafkan aku, warga. Aku tidak bermaksud menggurui. Aku hanya ingin kalian sadar bahwa yang selama ini kalian takuti tidak pernah ada. Yang selama ini kalian benci tidak pernah benar. Yang selama ini kalian kira kutukan tidak pernah terjadi."
Seorang ibu tua mendekati Aria dan Laras. Ia menggenggam tangan mereka.
"Nduk, aku minta maaf. Aku ikut-ikutan bicara. Aku ikut-ikutan bergunjing. Aku tidak tahu apa-apa. Aku hanya mendengar dari tetangga, lalu aku percaya begitu saja."
"Tidak apa-apa, Bu," kata Laras. "Kami tidak marah."
"Kalian baik sekali. Tuhan memberkati."
Satu per satu warga mulai mendekati Aria dan Laras. Meminta maaf. Menangis. Berpelukan.
"Mbah Sangkil bilang kalian membawa kutukan. Ternyata tidak."
"Maafkan kami. Kami bodoh. Kami mudah terprovokasi."
"Maafkan kami. Kami hanya takut. Takut pada sesuatu yang tidak kami mengerti."
Aria tersenyum. "Tidak apa-apa, warga. Kami tidak menyimpan dendam. Kami hanya ingin kalian tahu bahwa kami tidak pernah membenci siapa pun. Bahkan ketika kalian membenci kami, kami tidak pernah membalas."
Laras menambahkan, "Kami hanya diam. Kami hanya berdoa. Semoga suatu hari kalian sadar. Dan hari ini... hari itu datang."
Warga semakin terharu. Tangis semakin menjadi-jadi.
Mbah Sujud berdiri di samping pohon randu. Ia tersenyum. "Ketakutan tidak membuat kalian benar," kata Mbah Sujud. "Yang membuat kalian benar adalah hati kalian. Dan hati kalian sudah bicara. Hati kalian sudah mengatakan bahwa Aria dan Laras tidak bersalah. Hati kalian sudah mengatakan bahwa mereka adalah bagian dari desa ini. Hati kalian sudah mengatakan bahwa mereka tidak perlu dijauhi."
Warga mengangguk.
Satu per satu mereka pulang. Masih ada yang menangis. Masih ada yang tersenyum. Masih ada yang diam. Tapi satu hal yang pasti: gunjingan mereda.
Di pinggir alun-alun, di balik kegelapan yang mulai menyelimuti desa, Mbah Sangkil berdiri.
Ia mengintai dari balik pohon jambu di seberang jalan. Tubuhnya yang kurus dan bungkuk hampir tidak terlihat di antara dahan dan daun. Bajunya yang hitam legam menyatu dengan kegelapan malam.
Matanya tidak tertuju pada Mbah Sujud. Juga tidak pada Aria atau Laras. Matanya tertuju pada pohon randu. Pohon yang bercahaya. Pohon yang membela Aria dan Laras. Pohon yang menjadi pusat segalanya.
Mbah Sangkil tersenyum dingin.
Senyum yang tidak dilihat siapa pun.
Senyum yang hanya untuk dirinya sendiri.
"Sujud, kau boleh menang hari ini," bisiknya pelan. Suaranya serak. Kering. Seperti ranting kayu yang digosokkan ke batu. "Tapi aku tidak akan menyerah. Aku akan terus menyebarkan bisikanku. Aku akan terus membuat warga membencimu. Aku akan terus menggerogoti kepercayaan mereka padamu."
Ia menyilangkan tangannya di dada.
"Sampai suatu hari nanti, mereka sadar bahwa akulah yang benar. Bahwa akulah yang seharusnya menjadi penjaga. Bahwa akulah yang pantas memimpin desa ini. Bukan Sujud yang tua dan pikun. Bukan Aria dan Laras yang masih anak-anak. Bukan pohon randu yang sudah mulai rapuh."
Mbah Sangkil berbalik.
Ia melangkah perlahan meninggalkan pohon jambu. Langkahnya tidak bersuara. Seperti hantu. Seperti bayangan. Seperti sesuatu yang tidak pernah benar-benar ada.
"Aku akan menunggu waktu yang tepat. Aku akan bersabar. Aku tidak perlu terburu-buru. Karena waktu ada di pihakku."
Ia menghilang ke dalam kegelapan.
Pohon randu berdenyut pelan. Daunnya bergoyang tanpa angin. Cahaya keemasan masih menyala. Samar. Tapi jelas.
Di dalam batang pohon itu, Mahesa membuka matanya.
"Perhatikan Mbah Sangkil, Ayah dan Ibu," bisiknya. "Dia tidak akan berhenti. Dia hanya menunggu. Dia hanya bersabar. Suatu hari nanti, dia akan mencoba mengambil alih keseimbangan."
Aria dan Laras tidak mendengar.
Tapi mereka merasakan sesuatu. Dingin. Angin dingin yang tidak biasa.
Mereka bergidik.
"Mari pulang," kata Aria.
"Iya. Mari pulang."
BAB 23: TUMBUH DEWASA
Aria dan Laras usia 16 tahun.
Setelah kejadian di alun-alun, gunjingan perlahan mereda.
Tidak hilang sepenuhnya. Masih ada bisik-bisik di warung kopi. Masih ada tatapan curiga dari beberapa warga. Masih ada yang menggelengkan kepala ketika Aria dan Laras lewat. Tapi tidak lagi sekeras dulu. Tidak lagi setajam dulu. Tidak lagi semenghancurkan dulu.
Warga mulai menerima Aria dan Laras. Tidak dengan sepenuh hati. Tidak dengan pelukan hangat. Tidak dengan ucapan selamat. Tapi setidaknya tidak lagi menghina. Setidaknya tidak lagi meludah ketika mereka lewat. Setidaknya tidak lagi menarik anak-anak mereka menjauh.
"Itu sudah kemajuan," kata Aria suatu sore ketika mereka duduk di bawah pohon mangga.
"Iya," kata Laras. "Dulu mereka membuang muka. Sekarang mereka setidaknya mengangguk. Meskipun canggung."
"Kita tidak butuh pengakuan mereka, Laras. Kita butuh kedamaian."
"Dan kita mendapatkannya?"
"Sedikit demi sedikit."
"Sama seperti latihan kita?"
Aria tersenyum. "Iya. Sama seperti latihan kita. Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit."
Aria dan Laras semakin dewasa.
Tidak ada yang bisa menolak waktu. Tidak ada yang bisa menghentikan pertumbuhan. Tidak ada yang bisa membekukan usia. Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Tahun berganti tahun. Dan tubuh mereka berubah.
Aria bertambah tinggi. Kini ia hampir sejengkal lebih tinggi dari Laras. Bahunya yang dulu bidang, kini semakin bidang. Tidak lagi terlihat seperti anak kecil. Ada kekuatan di sana. Ada ketegasan. Ada keyakinan.
Wajahnya yang dulu masih bulat dan polos, kini mulai menunjukkan garis-garis ketegasan. Garis rahangnya mulai tegas. Tulang pipinya mulai menonjol. Matanya yang dulu besar dan penuh rasa ingin tahu, kini lebih dalam. Lebih teduh. Lebih dewasa.
"Kamu berubah, Aria," kata Laras suatu hari.
"Berubah menjadi apa?"
"Menjadi... tampan."
Aria tersenyum. "Kamu juga berubah, Laras."
"Menjadi apa?"
"Menjadi cantik. Semakin cantik."
Laras tersenyum. Pipinya merona. "Kamu hanya bicara begitu."
"Aku tidak pernah bicara sembarangan, Laras. Kamu tahu itu."
"Iya. Aku tahu."
Mereka berdua terdiam. Angin sore berhembus. Daun-daun mangga bergoyang. Burung-burung berkicau di kejauhan.
Laras semakin cantik. Wajahnya yang dulu masih polos dan bulat, kini mulai menunjukkan kecantikan yang membuat orang terpesona. Kulitnya yang putih bersih semakin halus. Matanya yang jernih semakin dalam. Senyumnya yang dulu masih canggung, kini semakin memikat. Setiap kali ia tersenyum, Aria merasa dunia berhenti berdetak.
"Laras," panggil Aria.
"Iya?"
"Aku suka senyummu."
Laras tersenyum. "Ini?"
"Iya. Itu."
"Senyum biasa."
"Tidak biasa. Setidaknya untuk aku."
Laras tertawa kecil. "Kamu aneh, Aria."
"Memang. Aku aneh. Tapi aku aneh hanya untuk kamu."
Mereka berdua tertawa. Tawa yang hangat. Tawa yang sudah jarang mereka lakukan akhir-akhir ini. Sejak gunjingan mereda, sejak beban mulai terasa lebih ringan, tawa mulai kembali hadir di antara mereka.
"Aria, apa kita akan seperti ini terus?" tanya Laras.
"Seperti apa?"
"Begini. Dekat. Bersama. Tidak ada yang bisa memisahkan."
"Kenapa kamu bertanya begitu?"
"Aku hanya ingin memastikan. Aku hanya ingin mendengar dari mulutmu. Aku hanya ingin tidak ragu lagi."
Aria menggenggam tangan Laras. Genggaman yang hangat. Genggaman yang penuh keyakinan.
"Kita akan seperti ini terus, Laras. Selamanya. Tidak ada yang bisa memisahkan kita. Bukan warga. Bukan gunjingan. Bukan orang tua. Bukan dunia. Bukan apa pun."
Laras menatap Aria. Matanya berkaca-kaca. "Kamu yakin?"
"Aku yakin. Sejak pertama kali kita bertemu di pasar. Sejak pertama kali kita duduk di bawah pohon randu. Sejak pertama kali kita mendengar suara dari dalam tanah. Sejak saat itu, aku yakin. Kita ditakdirkan bersama."
"Dan jika suatu hari nanti kita dipisahkan?"
"Tidak akan."
"Bukan karena pilihan kita. Tapi karena keadaan. Karena takdir. Karena tugas. Karena dunia akar."
Aria terdiam. Ia memegang tangan Laras lebih erat.
"Bahkan jika kita dipisahkan oleh keadaan, Laras, hatiku akan tetap bersamamu. Jiwaku akan tetap mencarimu. Aku tidak akan berhenti. Tidak peduli berapa lama. Tidak peduli seberapa jauh. Tidak peduli seberapa sulit."
Laras menangis. "Aku juga, Aria. Aku juga."
Malam itu, di bawah pohon randu, Aria dan Laras duduk berdampingan.
Alun-alun sepi. Bulan purnama bersinar terang. Bintang-bintang bertaburan di langit seperti berlian yang tersebar di atas kain beludru hitam. Cahaya keemasan dari pohon randu berdenyut pelan, menambah kehangatan malam.
"Aria, apa kita akan bersama selamanya?" tanya Laras. Suaranya pelan. Hampir berbisik. Tapi jelas di tengah malam yang sunyi.
"Selamanya, Laras. Tidak ada yang bisa memisahkan kita."
"Bukan kematian?"
Aria menatap Laras. Matanya dalam. Penuh keyakinan.
"Bahkan kematian tidak akan memisahkan kita, Laras."
"Bagaimana bisa?"
"Aku akan mencarimu di alam lain. Di dunia akar. Di dunia mimpi. Di mana pun. Selama aku masih ada, selama aku masih bisa berpikir, selama aku masih bisa merasakan, aku akan mencarimu."
Laras tersenyum. Air matanya jatuh. "Kalau begitu, aku juga akan mencarimu. Jika aku pergi lebih dulu, aku akan menunggumu di pintu. Jika kamu pergi lebih dulu, aku akan menyusulmu. Kita tidak akan pernah benar-benar terpisah."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berpegangan tangan. Menatap langit yang gelap. Bintang-bintang bertaburan. Bulan bersinar terang.
"Aria, ceritakan tentang pertama kali kamu sadar bahwa kamu mencintaiku," pinta Laras.
Aria tersenyum. "Kamu ingin dengar?"
"Aku ingin. Aku ingin mengingatnya bersama."
Aria menghela napas. Matanya menerawang ke masa lalu. Ke saat-saat ketika semuanya masih sederhana. Ketika mereka masih anak-anak. Ketika dunia masih terasa lebih kecil.
"Aku sadar waktu kita di bawah pohon mangga, saat jam istirahat kelas 1 SD. Kamu membagikan nasi goreng bekalmu. Kamu bilang, 'Mau tukar? Aku suka roti.'"
Laras tertawa. "Aku ingat. Rotimu pakai selai coklat."
"Iya. Kamu suka selai coklat. Aku suka nasi goreng. Kita tukar. Dan sejak itu, setiap hari, kita selalu tukar bekal."
"Tanpa janji. Tanpa rencana. Tanpa bilang apa-apa."
"Iya. Kita hanya melakukannya. Seperti sudah biasa. Seperti sudah menjadi rutinitas."
"Itu saat kamu sadar?"
"Iya. Waktu itu, sambil mengunyah nasi goreng bekalmu, aku berpikir, 'Aku ingin begini terus. Setiap hari. Sampai kapan pun.'"
Laras tersenyum. "Aku juga. Aku juga berpikir begitu."
"Tapi aku belum bilang waktu itu. Aku masih takut. Aku masih ragu. Aku masih belum yakin dengan perasaanku."
"Kapan kamu yakin?"
"Waktu kita dipanggil ke pohon randu. Malam itu. Saat kita bertemu Mbah Sujud. Saat kita mendengar suara dari dalam pohon. Saat kita tahu bahwa kita dipilih."
"Kenapa saat itu?"
"Karena saat itu, aku sadar bahwa tidak ada yang kebetulan. Pertemuan kita. Mimpi kita. Perasaan kita. Semua sudah diatur. Dan aku bersyukur. Sangat bersyukur."
Laras menggenggam tangan Aria. "Aku juga bersyukur, Aria. Aku tidak bisa membayangkan hidup tanpamu."
"Kamu tidak perlu membayangkannya. Karena aku akan selalu ada. Di sini. Di sampingmu."
Mereka berdua terdiam. Menikmati malam. Menikmati kehadiran satu sama lain.
"Laras, giliran kamu," kata Aria.
"Giliran aku apa?"
"Ceritakan tentang pertama kali kamu sadar bahwa kamu mencintaiku."
Laras tersenyum. Matanya berkaca-kaca.
"Aku sadar waktu kamu membelaku di depan teman-teman."
"Aku membelamu?"
"Iya. Waktu ada yang bilang aku aneh karena suka bicara sendiri. Kamu bilang, 'Laras tidak aneh. Dia hanya peka. Dia bisa merasakan apa yang tidak bisa dirasakan orang lain.'"
Aria mengingat-ingat. "Aku ingat. Waktu kelas 2 SD."
"Iya. Sejak saat itu, aku tahu. Kamu berbeda dari yang lain. Kamu tidak mengejekku. Kamu tidak menjauhiku. Kamu malah membelaku."
"Karena aku tahu, Laras. Aku juga berbeda. Aku juga sering diejek. Aku juga sering dijauhi. Aku tahu rasanya. Aku tidak mau kamu merasakannya sendirian."
"Kita berdua sama."
"Iya. Kita berdua sama."
Mereka berpegangan tangan. Tidak lepas. Tidak ingin lepas.
"Aria, apakah kita akan menikah suatu hari nanti?" tanya Laras.
"Kamu ingin menikah denganku?"
"Aku ingin. Tapi aku tidak butuh pesta. Aku tidak butuh saksi. Aku tidak butuh catatan sipil. Aku hanya butuh kamu."
Aria tersenyum. "Kita sudah menikah, Laras. Sejak kita berjanji di bawah pohon randu. Sejak kita bilang tidak akan terpisah. Sejak kita saling mencintai. Itu sudah cukup."
"Apakah itu cukup di mata Tuhan?"
"Cinta kita tulus, Laras. Tuhan tidak melihat pesta. Tuhan tidak melihat saksi. Tuhan melihat hati. Dan hati kita bersih."
Laras menangis. "Aku mencintaimu, Aria."
"Aku juga mencintaimu, Laras. Sejak dulu. Sekarang. Selamanya."
Mereka berpelukan. Di bawah pohon randu. Di bawah cahaya keemasan. Di bawah bintang-bintang yang bertaburan. Di bawah bulan yang bersinar terang.
"Aria," panggil Laras setelah beberapa saat.
"Iya?"
"Apa kita akan bahagia?"
"Kenapa kamu tanya begitu?"
"Aku ingin tahu. Setelah semua yang kita lalui. Setelah gunjingan. Setelah pengucilan. Setelah pertengkaran dengan ayahmu. Setelah semua air mata. Apakah kita akan bahagia?"
Aria menggenggam tangan Laras.
"Kita sudah bahagia, Laras. Setiap kali kita bersama. Setiap kali kita tertawa. Setiap kali kita berpegangan tangan seperti ini. Itu sudah bahagia."
"Tapi kadang aku takut. Takut bahagia ini tidak akan bertahan lama. Takut bahagia ini hanya sementara."
"Semua yang sementara itu indah, Laras. Tapi cinta kita tidak sementara. Cinta kita abadi. Melebihi waktu. Melebihi kematian. Melebihi segalanya."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena cinta kita tidak lahir dari paksaan. Tidak lahir dari keterpaksaan. Tidak lahir dari kesalahan. Tapi lahir dari pilihan. Pilihan untuk saling mencintai. Setiap hari. Setiap saat. Setiap detik."
Laras tersenyum. "Aku beruntung punya kamu, Aria."
"Aku juga beruntung punya kamu, Laras."
Mereka berdua terdiam. Hanya ada keheningan. Hanya ada kehangatan. Hanya ada cinta.
Pohon randu di kejauhan berdenyut pelan. Daunnya bergoyang tanpa angin. Cahaya keemasan yang terpancar dari batangnya semakin terang. Seperti ikut merayakan kebahagiaan mereka. Seperti ikut mengukuhkan janji yang telah mereka buat.
Di dalam batang pohon itu, Mahesa tersenyum.
"Ayah, Ibu," bisiknya. "Aku senang melihat kalian bahagia. Aku akan selalu menjaga kalian. Dari sini. Dari dalam akar. Dari dalam denyut. Sampai kapan pun."
Angin malam berhembus hangat.
Aria dan Laras tidak mendengar bisikan itu. Tapi mereka merasakan sesuatu. Kehangatan. Kehangatan yang tidak biasa. Kehangatan yang seperti pelukan dari jauh.
"Aria, apa kamu merasakannya?" bisik Laras.
"Iya. Hangat. Seperti ada yang memeluk kita."
"Itu Mahesa?"
"Mungkin. Dia selalu menjaga kita."
Laras tersenyum. "Terima kasih, Mahesa. Ibu sayang kamu."
Aria menggenggam tangan Laras. "Kita harus pulang, Laras. Besok kita masih ada latihan dengan Wilujeng."
"Iya. Ayo pulang."
Mereka berdiri. Berjalan berdua meninggalkan pohon randu. Berdampingan. Tidak terpisah.
Di perjalanan pulang, Aria menggenggam tangan Laras lebih erat.
"Laras."
"Iya?"
"Terima kasih sudah menjadi Laras."
"Terima kasih sudah menjadi Aria."
Mereka tersenyum. Tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Bukan waktu. Bukan jarak. Bukan kematian. Bukan apa pun.
Karena cinta mereka bukan cinta biasa. Cinta mereka adalah cinta yang terlahir dari mimpi yang sama. Dari panggilan yang sama. Dari akar yang sama. Dari pohon yang sama.
Cinta mereka adalah keseimbangan.
BAB 24: MAHESA MULAI DIBAYANGKAN
Aria dan Laras usia 17 tahun.
Mbah Sujud memanggil mereka ke rumahnya.
Itu bukan panggilan biasa. Biasanya, Mbah Sujud hanya tersenyum ketika mereka datang. Biasanya, ia hanya duduk di kursi goyangnya dengan kitab tua di pangkuan. Biasanya, ia hanya berkata, "Masuklah, Le. Duduk di lantai."
Tapi hari itu berbeda.
Mbah Sujud berdiri di depan pintu rumahnya. Tidak duduk. Tidak tersenyum. Ia berdiri di sana, diam, tidak bergerak. Tubuhnya yang tua membungkuk. Rambutnya yang putih tertiup angin sore. Matanya menatap mereka dari kejauhan. Wajahnya serius. Lebih serius dari biasanya.
"Aria, Laras," sapa Mbah Sujud. Suaranya tidak serak seperti biasa. Jelas. Tegas. "Masuklah. Aku ingin bicara dengan kalian."
Aria dan Laras saling pandang. Mereka belum pernah melihat Mbah Sujud seperti ini. Biasanya, Mbah Sujud selalu tenang. Tidak pernah tegang. Tidak pernah terburu-buru. Tapi hari ini, ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang membuat mereka merasa bahwa percakapan kali ini akan berbeda.
"Mbah, ada apa?" tanya Aria.
"Masuk dulu. Duduk di lantai."
Mereka masuk. Duduk bersila di lantai anyaman bambu. Berhadapan dengan Mbah Sujud yang duduk di kursi goyangnya. Tidak ada yang bicara. Hanya keheningan. Keheningan yang berat. Keheningan yang menekan.
Mbah Sujud membuka kitab tuanya. Halaman demi halaman. Tulisan-tulisan kuno yang hanya ia yang bisa membaca.
"Aria, Laras, aku ingin bicara tentang masa depan."
"Masa depan?" tanya Aria. Dadanya berdebar. Ia tidak tahu mengapa, tapi tiba-tiba ia merasa ada sesuatu yang besar akan terjadi.
"Iya. Tentang masa depan. Tentang kalian. Tentang desa ini. Tentang pohon ini. Tentang dunia akar."
"Dan tentang anak," sambung Mbah Sujud.
Aria dan Laras saling pandang. Mereka belum pernah membahas itu secara serius. Tapi mereka sudah cukup dewasa untuk tahu apa maksud Mbah Sujud.
"Aku sudah tua, Le," kata Mbah Sujud. Suaranya lemah. Tapi jelas. Matanya menerawang ke kejauhan. Melewati dinding rumah. Melewati pohon randu. Melewati waktu. "Aku tidak akan hidup selamanya. Usiaku sudah lebih dari cukup. Tugasku sebagai penjaga sudah hampir selesai."
"Jangan bilang begitu, Mbah," kata Laras. Matanya basah. "Mbah masih kuat."
Mbah Sujud tersenyum. "Kuat untuk apa, Le? Aku sudah menunaikan tugas. Aku sudah menjaga perjanjian ini selama 70 tahun. Sekarang giliran kalian."
"Tapi Mbah, kami masih belajar. Kami masih banyak belum tahu."
"Kalian sudah tahu apa yang perlu kalian ketahui. Ilmu itu tidak akan pernah habis. Akan selalu ada yang baru. Yang terpenting adalah hati kalian. Dan hati kalian sudah bersih."
Aria menggenggam tangan Laras. "Kami akan terus belajar, Mbah. Kami tidak akan berhenti."
"Aku tahu. Tapi yang aku bicarakan sekarang bukan tentang kalian."
"Lalu tentang siapa, Mbah?"
Mbah Sujud menatap mereka bergantian. Matanya serius. Tidak ada senyum. Tidak ada tawa.
"Tentang anak kalian."
Aria dan Laras terdiam.
"Anak kami?" tanya Laras. Suaranya bergetar.
"Iya. Anak kalian. Keturunan kalian. Penerus kalian."
"Tapi Mbah, kami masih muda. Masih tujuh belas tahun. Masih sekolah. Belum bekerja. Belum punya rumah sendiri. Belum siap."
Mbah Sujud tersenyum. "Kesiapan tidak pernah dirasakan, Le. Kesiapan hanya dibuktikan dengan tindakan."
Laras menggenggam tangan Aria lebih erat. "Tapi Mbah, apa kami harus punya anak sekarang?"
"Tidak harus sekarang. Tapi suatu hari nanti. Karena dunia akar butuh penjaga baru. Dan penjaga baru itu adalah darah daging kalian."
Aria mengerutkan kening. "Penjaga baru, Mbah?"
"Iya. Setelah kalian, akan ada yang meneruskan. Setelah penjaga ketiga, akan ada penjaga keempat. Begitu seterusnya. Siklus tidak akan pernah berhenti. Selama pohon randu masih berdiri, selama akar masih menjalar, selama keseimbangan masih terjaga, akan selalu ada penjaga."
"Dan anak kami akan menjadi penjaga berikutnya?"
"Anak kalian akan menjadi kunci keseimbangan. Dia akan menjadi jantung baru dunia akar. Namanya... Mahesa Keling."
Aria mengerutkan kening. "Mahesa Keling, Mbah?"
"Iya. Nama itu sudah tertulis dalam kitab sejak ratusan tahun lalu. Sejak Mbah Urip masih hidup. Sejak perjanjian pertama dibuat. Mahesa Keling. Penjaga ketiga. Kunci keselamatan dua dunia."
Laras mengusap perutnya. Masih rata. Masih belum ada tanda-tanda. Tapi ia merasakan sesuatu. Kehangatan. Seperti ada api kecil di dalam sana.
"Mahesa Keling," bisik Laras. "Nama yang indah."
"Iya. Nama yang kuat. Nama yang penuh makna."
"Apa artinya, Mbah?"
"Mahesa berarti besar, agung, mulia. Keling berarti dari selatan, dari bawah, dari akar. Jadi Mahesa Keling adalah agung yang berasal dari akar. Mulia yang tumbuh dari bawah. Penjaga yang lahir dari cinta sejati."
Aria dan Laras saling pandang. Mata mereka basah.
"Mahesa Keling," ulang Aria perlahan. Kata-kata itu terasa berat di lidahnya. Tapi juga terasa tepat. Seperti sepatu yang pas di kaki. Seperti baju yang hangat di badan. Seperti rumah yang nyaman untuk pulang.
"Apa dia akan selamat, Mbah?" tanya Laras. Suaranya bergetar.
Mbah Sujud tidak menjawab langsung. Ia menatap Laras lama. Matanya sayu.
"Tidak ada yang tahu masa depan, Le. Yang bisa kita lakukan hanyalah berusaha. Berdoa. Berharap. Dan percaya bahwa alam semesta tidak akan mengambil sesuatu tanpa memberi ganti."
"Tapi Mbah..."
"Mahesa belum lahir. Jangan bebani dia dengan ketakutanmu. Biarkan dia tumbuh seperti anak-anak lain. Biarkan dia bermain. Biarkan dia tertawa. Biarkan dia menangis. Biarkan dia belajar. Biarkan dia memilih jalannya sendiri."
"Apa dia bisa memilih, Mbah?"
"Setiap orang punya pilihan, Le. Termasuk Mahesa."
Aria menggenggam tangan Laras. "Mbah, apa kami siap?"
Mbah Sujud tersenyum. "Kesiapan tidak pernah dirasakan, Le. Kesiapan hanya dibuktikan dengan tindakan."
"Tapi Mbah, kami masih muda. Masih tujuh belas tahun. Masih banyak yang belum kami alami."
"Usia bukan jaminan, Le. Ada yang tua tapi belum dewasa. Ada yang muda tapi sudah bijak. Yang terpenting adalah hati. Dan hati kalian sudah bersih. Cinta kalian sudah tulus. Kalian sudah menjadi penjaga. Sekarang saatnya kalian mengambil langkah berikutnya."
"Langkah apa, Mbah?"
"Langkah untuk memiliki anak. Langkah untuk meneruskan perjuangan. Langkah untuk mempersiapkan Mahesa Keling."
Laras menunduk. Air matanya jatuh ke tangannya.
"Aku takut, Mbah."
"Takut apa, Le?"
"Takut tidak bisa menjadi ibu yang baik. Takut tidak bisa melindungi anakku. Takut anakku harus menderita. Takut anakku harus berkorban seperti Mbah Urip."
Mbah Sujud menghela napas. "Ketakutanmu wajar, Le. Tapi jangan biarkan ketakutan itu menghentikanmu. Jadikan itu sebagai bahan bakar. Bukan sebagai penghalang."
"Tapi Mbah..."
"Mahesa akan lahir dari cinta kalian. Cinta yang tulus. Cinta yang suci. Cinta yang tidak ternoda ambisi. Itu sudah lebih dari cukup. Dengan cinta itu, kalian akan bisa melindunginya. Dengan cinta itu, ia akan kuat. Dengan cinta itu, ia akan selamat."
Laras menatap Aria. Aria menatap Laras.
"Kita akan melakukan ini bersama, Laras," kata Aria.
"Bersama," bisik Laras. "Sampai kapan pun."
Aria mendekatkan kursinya ke Laras. Ia memegang perut Laras. Pelan. Lembut. Seperti sedang menyentuh sesuatu yang sangat berharga.
"Mahesa Keling," bisik Aria. "Ayah akan menjagamu. Ayah tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu."
Laras tersenyum. "Ibu juga, Nak. Ibu juga akan menjagamu. Ibu akan selalu ada untukmu."
Mbah Sujud menatap mereka berdua. Matanya basah. Tapi senyumnya mengembang.
"Kalian sudah siap."
"Kami belum siap, Mbah. Tapi kami akan belajar."
"Bagus. Karena belajar adalah kunci. Belajar tidak pernah berhenti. Bahkan ketika kalian sudah menjadi orang tua, kalian tetap harus belajar. Belajar menjadi ayah. Belajar menjadi ibu. Belajar menjadi penjaga. Belajar menjadi manusia."
Aria mengangguk. "Kami akan belajar, Mbah. Sampai akhir hayat kami."
"Bagus. Karena itulah yang membedakan penjaga dengan orang biasa. Penjaga tidak pernah berhenti belajar. Penjaga tidak pernah berhenti berkembang. Penjaga tidak pernah berhenti mencintai."
Matahari mulai condong ke barat. Sore semakin sore. Bayangan pohon randu di kejauhan semakin memanjang.
"Aria, Laras," panggil Mbah Sujud.
"Iya, Mbah."
"Jaga cinta kalian. Jangan biarkan siapa pun merusaknya. Jangan biarkan apa pun memudarkannya. Karena cinta kalian adalah kunci segalanya. Cinta kalian adalah keseimbangan. Cinta kalian adalah Mahesa Keling."
"Kami akan menjaga, Mbah. Janji."
"Bagus. Sekarang pulanglah. Renungkan apa yang sudah aku katakan. Bicarakan berdua. Jangan ada yang disembunyikan. Jangan ada yang ditutupi. Karena Mahesa lahir dari kejujuran. Dari keterbukaan. Dari cinta yang tidak bersembunyi."
Aria dan Laras berdiri. Mereka membungkuk hormat pada Mbah Sujud.
"Terima kasih, Mbah."
"Sama-sama, Le. Hati-hati di jalan. Jaga diri kalian."
Di perjalanan pulang, Aria dan Laras berjalan berdua. Berdampingan. Tidak bicara. Tidak perlu.
"Laras," panggil Aria setelah agak jauh.
"Iya?"
"Apa kita benar-benar siap?"
"Kita tidak akan pernah benar-benar siap, Aria. Tapi kita harus tetap maju. Untuk Mahesa. Untuk desa ini. Untuk pohon ini. Untuk Mbah Sujud. Untuk semua yang akan datang setelah kita."
Aria tersenyum. "Kamu bijak, Laras."
"Aku tidak bijak. Aku hanya banyak belajar dari Mbah Sujud."
"Dan dari kehidupan?"
"Mungkin."
Mereka terus berjalan. Langkah mereka ringan. Hati mereka hangat. Pikiran mereka tenang.
"Laras," panggil Aria lagi.
"Iya?"
"Mahesa Keling. Nama yang indah. Nama yang kuat. Nama yang penuh harapan."
"Iya. Nama yang akan kita jaga. Nama yang akan kita banggakan. Nama yang akan kita cintai."
"Sampai kapan pun."
"Sampai kapan pun."
Di rumah Mbah Sujud, Mbah Sujud masih duduk di kursi goyangnya. Kitab tua di pangkuannya terbuka di halaman yang berisi nama "Mahesa Keling". Ia menatap nama itu lama. Matanya basah.
"Mahesa Keling," bisiknya. "Semoga perjalananmu panjang. Semoga tugasmu tidak terlalu berat. Semoga cinta orang tuamu cukup untuk melindungimu."
Ia memejamkan mata. Bernapas. Tarik. Hembus.
"Nyai Kembang Randu, mereka sudah siap. Mereka belum tahu. Tapi mereka sudah siap. Jaga mereka. Jaga Mahesa. Jaga keseimbangan."
Pohon randu di kejauhan berdenyut pelan. Daunnya bergoyang tanpa angin. Cahaya keemasan muncul di sela-sela dedaunan.
Mbah Sujud tersenyum. "Terima kasih, Nyai. Aku akan terus membimbing mereka. Sampai akhir hayatku."
BAB 25: KEHAMILAN LARAS
Aria dan Laras usia 17 tahun (lanjutan).
Tiga bulan setelah percakapan dengan Mbah Sujud tentang Mahesa Keling, Laras mulai merasakan sesuatu yang berbeda pada tubuhnya.
Awalnya ia mengira itu hanya karena kelelahan. Setiap pagi, sebelum matahari terbit, ia sudah bangun untuk membantu ibunya memasak. Setiap siang, ia membantu Aria membersihkan rumah kecil mereka di dekat alun-alun. Setiap sore, ia berjalan kaki ke pohon randu untuk bermeditasi bersama Aria dan Mbah Sujud. Setiap malam, ia sering terjaga karena mimpi-mimpi aneh tentang akar dan cahaya.
Tapi kemudian ia sering mual di pagi hari. Mual yang tidak biasa. Mual yang membuatnya ingin muntah hanya dengan mencium bau nasi goreng atau bau ikan asin yang biasa ia sukai.
"Aku sakit, Bu," kata Laras pada ibunya suatu pagi.
"Sakit apa, Nak?" tanya Bu Siti.
"Aku tidak tahu. Perutku mual. Dadaku sesak. Aku tidak bisa makan."
"Kamu tidak demam."
"Aku tahu, Bu. Aku sudah cek suhu. Normal."
"Minum jahe hangat, Nak. Nanti enakan."
"Iya, Bu."
Tapi jahe hangat tidak membantu.
Aria mulai khawatir.
Setiap pagi, ia menjemput Laras di depan pagar rumahnya. Tapi akhir-akhir ini, Laras sering datang terlambat. Wajahnya pucat. Matanya sayu. Rambutnya tidak diikat rapi seperti biasanya.
"Laras, kamu sakit? Wajahmu pucat," tanya Aria.
"Aku tidak tahu, Aria. Aku sering mual. Setiap pagi. Perutku seperti mau muntah. Tapi tidak ada yang keluar."
"Kamu periksa ke bidan?"
"Belum. Aku takut."
"Takut apa?"
"Takut kalau... takut kalau..."
"Takut kalau apa?"
Laras menunduk. Air matanya jatuh. "Takut kalau aku hamil, Aria."
Aria terdiam.
Dadanya berdebar.
Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya menggenggam tangan Laras. Erat. Sangat erat.
"Kita periksa ke bidan, Laras. Hari ini. Jangan tunda-tunda lagi."
"Tapi Aria..."
"Tidak ada tapi. Aku akan menemani kamu. Apapun hasilnya, kita hadapi bersama."
Laras mengangguk. Ia mengusap air matanya. "Baik. Hari ini."
Bidan desa bernama Mak Yem. Perempuan gemuk dengan suara keras yang selalu tertawa. Sudah puluhan tahun ia menolong persalinan warga. Tidak ada yang tidak ia ketahui tentang kehamilan dan kelahiran.
"Masuk, Le. Jangan sungkan," kata Mak Yem ketika Aria dan Laras datang ke rumahnya sore itu.
Laras duduk di kursi kayu di hadapan Mak Yem. Tangannya gemetar. Aria berdiri di sampingnya. Tangannya memegang pundak Laras.
"Saya periksa ya, Le," kata Mak Yem sambil meraba perut Laras.
Laras mengangguk. Bibirnya bergetar.
Mak Yem meraba. Menekan. Mengetuk. Mendengarkan.
Matanya berubah. Tidak lagi ceria. Tapi serius.
"Le, kamu sudah berapa lama tidak haid?"
Laras berpikir. Dua bulan? Tiga bulan? Ia tidak ingat persis.
"Aku... aku tidak ingat, Mak. Mungkin... dua bulan? Atau tiga bulan?"
Mak Yem menghela napas. "Le, aku tidak mau bikin kamu kaget. Tapi sepertinya... kamu hamil."
Laras terdiam.
Aria terdiam.
Mak Yem melanjutkan, "Tapi aku belum yakin. Sebaiknya kamu periksa ke Puskesmas. Biar lebih akurat."
"Terima kasih, Mak," bisik Laras.
Ia berdiri. Tangannya masih gemetar. Aria membantu memegang lengannya.
"Kamu tidak apa-apa, Le?" tanya Mak Yem.
"Tidak apa-apa, Mak. Aku hanya... aku hanya butuh waktu."
"Kamu jangan stres, Le. Itu tidak baik untuk kandunganmu."
Aria dan Laras berjalan keluar. Tidak bicara. Tidak saling menatap. Hanya berjalan. Berdampingan. Tapi hati mereka berdebar tidak karuan.
Malam itu, Laras tidak bisa tidur.
Ia berbaring di tempat tidurnya. Matanya terbuka lebar. Menatap langit-langit kamar. Pikirannya kemana-mana.
"Aku hamil. Aku hamil. Aku hamil."
Kata-kata itu terus berulang di kepalanya. Seperti paku yang dipukul berulang-ulang. Seperti lonceng yang tidak pernah berhenti berbunyi.
Ia ingat percakapan dengan Mbah Sujud tiga bulan lalu. Tentang Mahesa. Tentang penjaga ketiga. Tentang kunci keselamatan dua dunia.
"Apakah ini yang dimaksud Mbah Sujud? Apakah Mahesa sudah mulai ada di dalam diriku? Apakah dia sudah mulai tumbuh? Apakah dia sudah mulai menendang?"
Ia meletakkan tangannya di perutnya. Masih rata. Masih belum terlihat. Tapi ia merasakan sesuatu. Hangat. Seperti ada api kecil di dalam sana.
"Mahesa," bisiknya. "Kamu di sana, Nak? Kamu mendengar Ibu?"
Tidak ada jawaban.
Tapi Laras merasakan sesuatu. Getaran kecil di perutnya. Seperti balasan. Seperti salam. Seperti "Iya, Bu. Aku di sini. Aku tidak pergi kemana-mana."
Laras menangis.
Ia tidak tahu harus bahagia atau takut.
Ia bahagia karena akan memiliki anak. Anak dari Aria. Anak yang dinanti-nanti. Anak yang akan menjadi penerus perjuangan mereka.
Tapi ia takut. Takut pada masa depan. Takut pada apa yang akan terjadi pada anaknya. Takut pada kata-kata Mbah Sujud. "Dia akan menjadi jantung baru dunia akar."
Apa artinya? Apakah Mahesa harus mengorbankan dirinya? Apakah Mahesa harus menjadi penjaga abadi seperti Mbah Urip? Apakah Mahesa harus hidup di dalam pohon? Apakah Mahesa tidak bisa hidup normal seperti anak-anak lain?
Laras memeluk bantalnya. Ia menangis semakin keras.
Keesokan harinya, Laras memberanikan diri pergi ke Puskesmas.
Aria menemani. Mereka tidak bicara banyak. Hanya berpegangan tangan. Sepanjang jalan.
Di Puskesmas, dokter memeriksa Laras. Tes urine. USG. Semua dilakukan.
Dokter perempuan muda dengan rambut pendek dan kacamata tebal itu tersenyum.
"Selamat, Mbak. Anda positif hamil. Usia kandungan sekitar tiga bulan. Janinnya sehat. Detak jantungnya kuat."
Laras terdiam.
Aria menggenggam tangannya lebih erat.
"Terima kasih, Dok," kata Aria.
"Sama-sama. Jaga kesehatan. Makan makanan bergizi. Jangan stres. Rajin periksa kehamilan."
"Iya, Dok."
Mereka berjalan keluar dari Puskesmas. Masih berpegangan tangan. Masih tidak bicara.
Sampai di bawah pohon mangga—pohon favorit mereka sejak kecil—mereka berhenti.
Aria menatap Laras. Matanya basah.
"Laras, apa yang kita lakukan?"
"Apa maksudmu?"
"Kita masih muda. Masih tujuh belas tahun. Masih sekolah. Belum bekerja. Belum punya rumah sendiri. Bagaimana kita akan membesarkan anak?"
Laras tersenyum. "Kita akan belajar, Aria. Seperti kita belajar menjadi penjaga. Seperti kita belajar mendengar suara dari dalam tanah. Kita akan belajar menjadi orang tua. Perlahan. Sedikit demi sedikit. Tidak ada yang instan."
"Tapi Laras..."
"Kita tidak sendirian, Aria. Kita punya Mbah Sujud. Kita punya orang tua kita. Kita punya desa ini. Kita punya pohon randu. Kita punya Mahesa."
Aria menghela napas. "Kamu yakin kita bisa?"
"Kita tidak akan pernah tahu kalau tidak mencoba."
Mereka berpelukan. Lama. Hangat.
Malam itu, di rumah kecil mereka—rumah yang mereka tempati bersama meskipun belum menikah—Laras memberanikan diri memberi tahu Aria hasil pemeriksaan.
Mereka duduk berdua di kursi kayu di teras. Angin malam berhembus. Bulan bersinar terang. Bintang-bintang bertaburan.
"Aria," bisik Laras. Suaranya pelan. Hampir tidak terdengar di sela-sela gemerisik daun randu dari kejauhan.
"Iya?"
"Aku... aku hamil."
Aria terdiam. Dadanya berdebar. Campuran antara bahagia dan takut.
"Kita... kita akan punya anak?"
"Iya. Anak kita. Mahesa."
Mereka berpelukan. Menangis. Tertawa. Semua perasaan bercampur menjadi satu. Bahagia karena akan memiliki buah hati. Takut karena belum siap. Khawatir karena masih muda. Bimbang karena belum menikah. Tapi di atas semua itu, ada cinta. Cinta yang tulus. Cinta yang tidak pernah goyah. Cinta yang sudah menemani mereka sejak kecil.
"Mahesa," bisik Aria. "Mahesa Keling. Nama yang baik. Nama yang kuat. Nama yang penuh makna."
"Seperti yang dikatakan Mbah Sujud," kata Laras. "Penjaga ketiga. Kunci keselamatan dua dunia."
Aria mengusap perut Laras. Pelan. Lembut. Seperti sedang menyentuh sesuatu yang sangat berharga.
"Apa yang kita lakukan, Laras?"
"Kita melakukan apa yang harus kita lakukan. Kita mengikuti takdir. Kita menerima amanat. Kita menjaga apa yang dipercayakan kepada kita."
"Tapi kita masih muda. Masih belum siap."
"Kesiapan tidak pernah dirasakan, Aria. Kamu sendiri yang mengajarkan itu ke Wilujeng dulu? Ah... Wilujeng bahkan belum lahir. Maksudku... kita sendiri yang belajar dari Mbah Sujud bahwa kesiapan tidak pernah dirasakan. Kesiapan hanya dibuktikan dengan tindakan."
Aria tersenyum. "Kamu pintar, Laras."
"Aku tidak pintar. Aku hanya banyak mendengar."
"Mbah Sujud bilang Mahesa akan menjadi penjaga ketiga," kata Aria. "Kunci keselamatan dua dunia."
"Iya. Aku ingat."
"Apakah anak kita akan selamat, Aria?"
Aria terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya bisa menggenggam tangan Laras. Erat. Sangat erat.
"Dia akan selamat. Aku akan memastikannya."
"Tapi Aria..."
"Tidak ada tapi. Aku akan melindunginya. Dengan tubuhku. Dengan jiwaku. Dengan apapun yang aku miliki. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya. Aku tidak akan membiarkan apa pun menimpanya."
"Aria, kamu tidak bisa melindunginya selamanya."
"Aku bisa. Aku akan berusaha. Selama aku masih hidup, selama aku masih bernapas, selama aku masih berdetak, aku akan melindunginya."
Laras menangis. "Aku percaya padamu, Aria."
"Percayalah. Karena aku tidak akan pernah mengecewakan."
Tapi di dalam hati, Aria gelisah.
Ia ingat kata-kata Mbah Sujud. "Dia akan menjadi jantung baru dunia akar."
Apa artinya?
Apakah Mahesa harus mengorbankan dirinya seperti Mbah Urip?
Apakah Mahesa harus hidup di dalam pohon selamanya?
Apakah Mahesa tidak bisa hidup normal seperti anak-anak lain?
Apakah Mahesa akan bahagia?
Apakah Mahesa akan menyesal?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantui pikirannya. Tidak pernah berhenti. Bahkan ketika ia tidur. Bahkan ketika ia bermimpi. Bahkan ketika ia terbangun.
"Mbah," panggil Aria suatu sore ketika mereka sedang belajar di rumah Mbah Sujud.
"Iya, Le."
"Mbah, apa Mahesa harus mengorbankan dirinya?"
Mbah Sujud terdiam. Ia menatap Aria lama. Matanya sayu.
"Kenapa kamu tanya begitu, Le?"
"Aku takut, Mbah. Aku takut anakku... anak kami... harus menderita. Harus berkorban. Harus menjadi penjaga abadi. Harus hidup di dalam pohon. Tidak bisa merasakan hangatnya matahari. Tidak bisa merasakan segarnya angin. Tidak bisa bermain dengan anak-anak lain. Tidak bisa sekolah. Tidak bisa... hidup."
Mbah Sujud menghela napas.
"Le, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Yang bisa kita lakukan hanyalah berusaha. Berdoa. Berharap. Dan percaya bahwa alam semesta tidak akan mengambil sesuatu tanpa memberi ganti."
"Tapi Mbah..."
"Mahesa belum lahir. Jangan bebani dia dengan ketakutanmu. Biarkan dia tumbuh seperti anak-anak lain. Biarkan dia bermain. Biarkan dia tertawa. Biarkan dia menangis. Biarkan dia belajar. Biarkan dia memilih jalannya sendiri."
"Apa dia bisa memilih, Mbah?"
"Setiap orang punya pilihan, Le. Termasuk Mahesa."
Aria mengangguk. Ia lega. Tapi tidak sepenuhnya.
Malam itu, setelah kembali dari rumah Mbah Sujud, Aria dan Laras duduk di bawah pohon randu.
Alun-alun sepi. Hanya mereka berdua. Tidak ada yang mengganggu.
"Laras," panggil Aria.
"Iya?"
"Apa kamu takut?"
"Takut apa?"
"Takut akan masa depan. Takut akan Mahesa. Takut akan apa yang akan terjadi pada kita."
Laras menggenggam tangan Aria. "Aku takut, Aria. Tapi aku tidak akan lari. Aku akan hadapi. Bersama kamu. Bersama Mahesa. Bersama Mbah Sujud. Bersama pohon ini."
"Kamu kuat, Laras."
"Aku tidak kuat. Aku hanya punya kamu."
Aria tersenyum. "Kita akan melalui ini bersama."
"Bersama. Sampai kapan pun."
Mereka berpelukan. Di bawah pohon randu. Di bawah cahaya keemasan yang berdenyut pelan. Di bawah bintang-bintang yang bertaburan. Di bawah bulan yang bersinar terang.
Mahesa di dalam kandungan Laras merasakan kehangatan itu. Merasakan cinta itu. Merasakan ketakutan itu. Tapi juga merasakan harapan.
"Ayah, Ibu," bisiknya dalam hati. "Aku sayang kalian. Aku tidak akan mengecewakan."
Laras merasakan tendangan kecil di perutnya.
Ia tersenyum.
"Mahesa," bisiknya. "Ibu sayang kamu."
BAB 26: KONFLIK DENGAN WARGA MEMUNCAK
Kabar kehamilan Laras menyebar cepat ke seluruh desa. Tidak ada yang bisa menyembunyikannya. Perut Laras yang semakin membesar tidak bisa ditutupi oleh kain jarik atau kebaya longgar. Dan seperti api yang menjalar di musim kemarau, gunjingan membakar setiap sudut Desa Randu Gembyang.
Kali ini, gunjingan tidak bisa lagi dibendung.
Di warung kopi milik Mang Udin, setiap pagi selalu ramai. Tapi pagi itu, suasana berbeda. Kopi yang diseduh terasa lebih pahit. Uap yang mengepul terasa lebih panas. Sendok-sendok yang mengaduk gula terdengar lebih keras dari biasanya.
"Mereka tidak menikah!" bisik seorang ibu sambil menyeduh kopinya. Uap mengepul membawa aroma yang seharusnya harum, tapi pagi itu terasa seperti bau sesuatu yang lain. "Tidak ada pesta! Tidak ada saksi! Tidak ada catatan sipil!"
"Anak yang lahir di luar nikah itu anak haram!" bisik yang lain. Tangannya yang memegang cangkir gemetar. Bukan karena dingin. Tapi karena emosi.
"Tidak usah dilayani! Jangan diajak bicara! Mereka membawa sial!" sahut seorang bapak dari sudut warung. Suaranya lantang. Sengaja. Agar semua orang mendengar.
Mang Udin yang mendengar bisik-bisik itu hanya diam. Ia mengelap gelas yang sebenarnya sudah bersih. Tangannya bergerak mekanis. Tidak berani ikut bicara. Tidak berani membela. Tidak berani melawan. Ia hanya diam.
"Aneka, Ibu. Zaman sekarang. Anak muda tidak tahu adat. Tidak tahu agama. Tidak tahu malu."
"Sudah, Bu. Jangan terlalu keras. Nanti didengar."
"Biarin. Saya tidak takut. Saya hanya bicara fakta."
Warga mulai mengucilkan Aria, Laras, dan kelak Mahesa.
Mereka tidak dilayani di warung. Ketika Aria masuk ke warung Mang Udin untuk membeli kopi, semua orang tiba-tiba sibuk dengan urusan masing-masing. Ada yang menunduk. Ada yang membuang muka. Ada yang langsung keluar. Ada yang pura-pura tidak melihat.
Mang Udin hanya bisa tersenyum canggung. "Maaf, Le. Kopinya habis."
Aria tahu itu dusta. Di belakang Mang Udin, masih ada tiga botol kopi yang belum dibuka. Tapi ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk. "Iya, Pak. Lain kali."
Ia keluar dari warung. Sendirian. Dengan hati yang pedih.
Tetangga menjauh. Dulu, ketika Aria dan Laras masih kecil, tetangga sering berkunjung. Membawa makanan. Bertanya kabar. Tertawa bersama. Tapi sekarang, ketika Aria berjalan melewati rumah-rumah mereka, pintu langsung tertutup. Tanpa salam. Tanpa sapa. Tanpa senyum.
Bahkan saudara sendiri mulai meragukan.
Pak Jari, ayah Aria, tidak pernah lagi mengunjungi mereka. Ia hanya diam di rumah. Tidak keluar. Tidak bicara. Istri Pak Jari, Bu Darmi, sesekali datang diam-diam, membawa makanan, lalu pergi sebelum ada yang melihat. Ia tidak berani bicara banyak. Ia hanya berbisik, "Jaga diri, Nak. Ibu doakan."
Lalu ia pergi. Dengan air mata yang tidak berani ia tunjukkan.
Suatu sore, Pak Jari datang ke rumah mereka.
Aria sedang duduk di teras, membacakan buku untuk Laras yang sedang berbaring di dalam. Mahesa belum lahir, tapi perut Laras sudah besar. Ia sering lelah. Sering mual. Sering menangis tanpa sebab.
Pak Jari tidak mengetuk pintu. Ia langsung masuk. Wajahnya merah. Matanya sembab. Tangannya mengepal di sisi tubuh.
"Aria, Ayah minta kamu pulang!" suaranya keras. Tidak seperti biasanya. Pak Jari adalah orang yang pendiam. Tidak pernah marah. Tidak pernah membentak. Tapi hari ini, ia berbeda.
Aria berdiri. Ia menatap ayahnya. Matanya tidak takut. Tidak juga menantang. Matanya tenang. Tapi tegas.
"Ayah, ada apa?"
"Kamu tanya ada apa? Kamu tidak tahu? Seluruh desa sudah bicara! Seluruh desa sudah tahu! Anak perempuan itu hamil! Dan anak itu bukan dari suaminya! Karena dia tidak punya suami! Karena dia tidak menikah!"
"Ayah, jangan bicara seperti itu. Laras bukan 'anak perempuan itu'. Dia calon ibu dari anak Ayah. Dia keluarga kita."
"Keluarga? Keluarga apa? Dia bukan siapa-siapa! Kalian tidak menikah! Kalian tidak sah! Apa yang kalian lakukan adalah dosa!"
Aria menghela napas. Dadanya sesak. Tapi ia tidak mau marah. Ia tidak mau membalas dengan amarah.
"Ayah, aku mencintai Laras. Laras mencintai aku. Mahesa adalah anak kami. Apa lagi yang Ayah mau?"
"Aku mau kamu menikah secara resmi!"
"Kenapa?"
"Kenapa? Karena itu kewajiban! Karena itu perintah agama! Karena itu adat! Karena itu harga diri! Karena itu masa depanmu!"
Aria menggeleng. Perlahan. Tapi pasti.
"Aku tidak akan menikah hanya untuk memuaskan orang lain, Ayah."
"Aria!"
"Aku akan menikah jika aku sudah siap. Dan aku belum siap."
"Belum siap? Anakmu sudah mau lahir! Perut calon istrimu sudah besar! Kapan kamu siap kalau bukan sekarang?"
"Ayah, menikah bukan hanya tentang pesta. Bukan hanya tentang saksi. Bukan hanya tentang catatan sipil. Menikah adalah tentang komitmen. Tentang kesiapan hati. Tentang kesiapan jiwa. Aku belum siap secara mental. Aku belum siap secara spiritual. Aku belum siap menjadi kepala rumah tangga. Aku masih butuh waktu."
"Waktu? Waktu sudah tidak ada! Ini sudah darurat! Ini sudah keadaan genting! Kalau kamu tidak menikah, anakmu akan dianggap anak haram seumur hidupnya!"
"Ayah, Mahesa bukan anak haram. Mahesa adalah anak yang lahir dari cinta. Cinta yang tulus. Bukan dari kewajiban. Bukan dari paksaan. Bukan dari kesalahan."
"Tidak ada yang namanya anak lahir dari cinta tanpa nikah! Itu hanya omong kosong! Itu hanya alasan! Itu hanya pembenaran untuk dosa!"
Aria terdiam. Ia menatap ayahnya. Matanya berkaca-kaca. Tapi ia tidak menangis.
"Ayah, aku minta maaf. Aku tidak bisa memenuhi keinginan Ayah. Aku akan menikah ketika aku siap. Bukan sekarang."
Pak Jari menghela napas kasar. Dadanya naik turun. Wajahnya semakin merah.
"Aria, jangan bicara seperti itu! Ayah tidak mau anak Ayah menjadi bahan gunjingan seluruh desa! Ayah tidak mau anak Ayah dihina! Ayah tidak mau anak Ayah dikucilkan!"
"Ayah lebih mementingkan gengsi daripada kebahagiaan anak Ayah?" suara Aria mulai bergetar. Ia sudah tidak bisa menahan emosi. "Ayah lebih peduli pada omongan orang daripada perasaan anak Ayah?"
"Ini bukan masalah gengsi, Aria! Ini masalah masa depan! Ini masalah keselamatan! Ini masalah dosa!"
"Ayah, aku tidak takut dosa. Karena aku tidak melakukan dosa. Aku mencintai Laras. Aku tidak mencuri. Aku tidak merampok. Aku tidak membunuh. Aku hanya mencintai."
"Cinta tanpa ikatan adalah dosa!"
"Agama mengatakan tidak boleh berzina, Ayah. Dan aku tidak berzina. Aku mencintai Laras. Aku berkomitmen pada Laras. Aku akan menikahi Laras ketika aku siap. Tapi bukan sekarang. Sekarang, aku harus fokus pada kesehatan Laras. Pada kelahiran Mahesa. Pada kehidupan yang akan kami jalani bersama."
"Kamu keras kepala, Aria!"
"Aku hanya teguh pada pendirianku, Ayah."
"Aria, Ayah tidak mau kamu menyesal nanti!"
"Aku tidak akan menyesal, Ayah. Karena aku melakukan ini dengan hati yang jernih. Bukan dengan paksaan. Bukan dengan tekanan. Bukan dengan rasa takut pada omongan orang."
Pak Jari terdiam. Ia menatap Aria. Matanya masih merah. Tapi amarahnya mulai mereda. Yang tersisa hanyalah kesedihan. Kekecewaan. Dan rasa takut.
"Aria, Ayah hanya ingin yang terbaik untukmu."
"Aku tahu, Ayah. Tapi yang terbaik menurut Ayah belum tentu yang terbaik menurut aku."
"Apa yang kamu tahu tentang kehidupan? Kamu masih muda. Kamu belum berpengalaman. Kamu belum tahu pahit getirnya hidup."
"Ayah, aku mungkin masih muda. Tapi aku sudah cukup tua untuk tahu apa yang aku inginkan. Aku sudah cukup dewasa untuk memilih jalanku sendiri. Aku sudah cukup berani untuk bertanggung jawab atas pilihanku."
"Kamu yakin bisa bertanggung jawab?"
"Aku yakin, Ayah. Aku tidak akan lari. Aku tidak akan menyerah. Aku akan menjaga Laras. Aku akan menjaga Mahesa. Aku akan menjaga mereka berdua. Sampai kapan pun."
Pak Jari menggeleng. Ia berbalik. Matanya merah. Bahunya bergetar.
"Ayah, maafkan aku."
Pak Jari tidak menjawab. Ia terus berjalan. Menuju pintu. Menuju pagar. Menuju jalan. Menuju rumahnya yang sunyi.
"Ayah..."
Pak Jari berhenti. Tidak menoleh. Hanya diam sebentar.
"Jaga dirimu, Aria."
Lalu ia pergi. Meninggalkan Aria yang berdiri di teras dengan air mata yang sudah tidak bisa lagi ditahan.
Aria masuk ke dalam rumah. Laras terbaring di dipan bambu. Wajahnya pucat. Matanya basah. Ia mendengar semuanya.
"Aria," bisik Laras. "Kamu tidak usah bertengkar dengan Ayahmu demi aku."
Aria duduk di samping Laras. Ia menggenggam tangan Laras. Dingin. Tangannya dingin.
"Bukan demi kamu, Laras. Tapi demi kita. Demi Mahesa. Demi keluarga yang akan kita bangun."
"Aku tidak mau kalian bertengkar."
"Ayah tidak marah. Dia hanya kecewa. Dan kekecewaan akan sembuh dengan waktu."
"Apakah dia akan memaafkan kita?"
"Suatu hari nanti. Ketika dia melihat bahwa kita bahagia. Ketika dia melihat bahwa Mahesa tumbuh baik. Ketika dia melihat bahwa pilihan kita tidak salah."
"Aku takut, Aria."
"Takut apa?"
"Ayahmu tidak akan pernah menerima kita."
"Tidak, Laras. Dia akan menerima. Karena dia ayahku. Karena dia mencintaiku. Dan karena cinta, ia akan belajar mengerti."
Laras menangis. Aria memeluknya.
"Kita akan melalui ini bersama," bisik Laras di antara isaknya.
"Bersama. Sampai kapan pun."
Aria menangis di pangkuan Laras. Tangis yang tertahan sejak ayahnya pergi. Tangis yang tidak bisa lagi ia tahan.
"Laras, aku sudah menyakiti ayahku."
"Kamu hanya mempertahankan apa yang kamu yakini. Itu bukan menyakiti. Itu berjuang."
"Tapi dia pergi dengan hati luka."
"Dia akan kembali. Suatu hari nanti. Ketika lukanya sembuh."
"Aku berdoa semoga itu cepat."
"Berdoalah, Aria. Karena doa adalah senjata orang yang tidak punya daya."
Aria mengangkat wajahnya. Matanya merah. Basah. Tapi senyumnya mengembang.
"Terima kasih, Laras. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan tanpa kamu."
"Kamu tidak perlu tahu. Karena aku akan selalu di sini. Di sampingmu. Dalam suka dan duka. Dalam kaya dan miskin. Dalam sehat dan sakit. Sampai maut memisahkan kita."
"Kita tidak akan menikah, Tapi kita sudah mengucapkan janji yang lebih kuat dari ijab kabul."
"Iya. Janji hati. Janji yang tidak perlu saksi. Janji yang hanya Tuhan yang tahu."
Mereka berpelukan. Tidak ada yang bicara. Hanya ada keheningan. Hanya ada kehangatan. Hanya ada cinta yang tidak perlu diragukan lagi.
Pak Jari berjalan pulang dengan langkah berat. Di sepanjang jalan, ia tidak menoleh. Ia tidak mau melihat rumah Aria yang semakin jauh.
"Aku hanya ingin yang terbaik untukmu, Nak," bisiknya dalam hati.
Air matanya jatuh.
Ia tidak menyeka.
BAB 27: MAHESA KELING LAHIR
Aria dan Laras usia 17 tahun. Laras hamil 9 bulan.
Malam itu, malam kelahiran Mahesa, langit berbeda.
Bulan purnama bersinar terang. Tidak seperti biasanya. Biasanya bulan purnama bersinar putih keperakan. Tapi malam ini, bulan bersinar keemasan. Seperti pohon randu. Seperti cahaya dari dunia lain.
Bintang-bintang bertaburan. Tidak seperti biasanya. Biasanya bintang-bintang tersebar acak di langit. Tapi malam ini, mereka membentuk pola. Pola yang tidak bisa dibaca oleh manusia biasa. Tapi Mbah Sujud bisa membacanya. Ia duduk di teras rumah Aria. Menatap langit. Menghitung. Merenung.
"Nyai," bisiknya. "Malam ini waktunya sudah tepat. Mahesa akan lahir. Jaga dia. Jaga mereka semua."
Pohon randu di alun-alun bercahaya lebih terang dari biasanya. Biasanya cahayanya samar, seperti kunang-kunang. Tapi malam ini, cahayanya terang. Sangat terang. Keemasan. Menyinari seluruh desa. Membuat malam terasa seperti siang. Tapi tidak menyilaukan. Justru menenangkan.
Warga yang masih terjaga keluar rumah. Mereka menatap pohon randu. Menatap cahaya keemasan. Merasakan kehangatan yang tidak biasa.
"Apa yang terjadi?" bisik seorang warga.
"Pohon itu... pohon itu bernapas lagi."
"Untuk keempat kalinya?"
"Ya. Untuk keempat kalinya. Sejak Aria dan Laras lahir."
"Apa artinya?"
"Entahlah. Tapi rasanya... rasanya damai."
Laras terbaring di dipan bambu di rumah kecil mereka.
Rumah kayu sederhana di belakang rumah Bu Siti. Rumah yang ditempati Aria dan Laras sejak mereka memutuskan hidup bersama. Rumah yang dulu ramai dengan tawa dan obrolan. Kini hanya terdengar erangan kesakitan dan isak tangis.
Keringat membasahi seluruh tubuh Laras. Baju tidurnya basah. Rambutnya basah. Bahkan kasur bambu yang biasa terasa sejuk, kini terasa panas oleh keringatnya.
Tangannya menggenggam erat tangan Aria. Mencengkeram. Hampir melukai. Tapi Aria tidak merasakan sakit. Yang ia rasakan hanyalah degup jantung Laras yang cepat. Yang ia rasakan hanyalah ketakutan Laras yang membuncah. Yang ia rasakan hanyalah cinta yang semakin membara.
"Aria... sakit... aku tidak kuat..." rintih Laras. Suaranya parau. Matanya sayu. Wajahnya pucat. Lebih pucat dari biasanya.
"Kamu kuat, Laras. Kamu selalu kuat. Tarik napas. Lepaskan pelan."
"Tidak bisa, Aria. Sakitnya... sakitnya seperti ada yang merobek perutku."
"Itu karena Mahesa mau keluar, Laras. Dia tidak sabar ingin bertemu kita."
"Tapi Aria... aku takut... aku takut tidak kuat..."
"Kamu kuat. Aku di sini. Aku tidak akan pergi. Pegang tanganku. Kuat."
Laras menggenggam tangan Aria lebih erat. Kukunya hampir menembus kulit Aria. Tapi Aria tidak meronta. Tidak mengeluh. Ia hanya diam. Ia hanya tersenyum. Ia hanya berbisik, "Kamu kuat, Laras. Kamu kuat."
Bidan desa yang dipanggil Mbah Sujud sibuk menyiapkan air hangat dan kain bersih.
Namanya Mak Yem. Perempuan gemuk dengan suara keras yang selalu tertawa. Tapi malam ini, ia tidak tertawa. Wajahnya tegang. Tangannya gemetar. Air mendidih di panci. Kain-kain bersih disusun di nampan. Gunting, benang, obat-obatan sederhana, semua sudah siap.
"Ini kelahiran yang aneh, Mbah," bisik Mak Yem pada Mbah Sujud yang duduk di sudut ruangan. Bayinya tidak kunjung keluar. Sudah berjam-jam Laras mengejan. Tapi bayi itu tidak juga muncul.
"Sabarlah, Mak. Ini bukan kelahiran biasa. Ini kelahiran Mahesa Keling."
"Siapa Mahesa Keling, Mbah?"
"Anak ini. Anak Aria dan Laras. Dia bukan anak biasa. Dia penjaga ketiga. Kunci keseimbangan."
Mak Yem tidak mengerti. Tapi ia tidak bertanya lebih lanjut. Ia hanya melanjutkan tugasnya. Menyiapkan air hangat. Merapikan kain-kain bersih.
Mbah Sujud duduk di sudut ruangan. Kitab tua terbuka di pangkuannya. Halaman demi halaman ia buka. Tulisan-tulisan kuno yang hanya ia yang bisa membaca.
Ia membaca dengan lirih. Suaranya pelan. Hampir tidak terdengar di sela-sela erangan Laras.
"Sabtu Pahing, malam Jumat Legi. Padang bulan purnama. Bintang-bintang di langit membentuk pola akar. Cahaya keemasan dari pohon randu menyinari desa. Ini waktunya sudah tepat. Dia akan lahir ketika fajar menyingsing."
Aria mendengar kata-kata Mbah Sujud. Ia menoleh.
"Kenapa harus menunggu fajar, Mbah? Laras sudah kesakitan berjam-jam. Aku tidak tega melihatnya."
Mbah Sujud mengangkat wajahnya dari kitab. Matanya menatap Aria. Lembut. Tapi tegas.
"Karena dia bukan anak biasa, Aria. Dia adalah Mahesa Keling. Penjaga ketiga. Kunci keseimbangan. Dia tidak bisa lahir di sembarang waktu. Dia harus lahir saat dunia manusia dan dunia akar berada dalam kondisi paling seimbang. Saat malam berganti pagi. Saat gelap berganti terang. Saat bulan masih bersinar dan matahari mulai muncul."
"Tapi Mbah..."
"Aku tahu kamu cemas, Le. Aku juga cemas. Tapi ini sudah digariskan. Sejak sebelum dunia ini diciptakan. Sejak Mbah Urip menulis kitab ini dengan darahnya. Sejak Nyai Kembang Randu memilih kalian. Semua sudah diatur. Kita tidak bisa melawan."
Aria menghela napas. Ia kembali ke sisi Laras. Menggenggam tangannya.
Kamu dengar, Laras? Mahesa akan lahir saat fajar. Kita harus sabar. Kita harus kuat."
Laras mengangguk lemah. Air matanya jatuh. "Aku akan berusaha, Aria. Tapi tolong... jangan lepaskan tanganku."
"Aku tidak akan lepas. Sampai kapan pun."
Laras menjerit. Tangannya mencengkeram lengan Aria sampai meninggalkan bekas merah. Bekas yang akan membekas lama. Bekas yang akan dikenang seumur hidup.
"Aria... Aria... aku takut..." kata Laras hampir menangis. Suaranya pecah. Tenggorokannya terasa kering.
Aria membungkuk. Ia mencium kening Laras. Perlahan. Lembut. Seperti embun pagi yang jatuh di atas daun.
"Aku di sini. Aku tidak akan pergi. Kita berdua. Ingat janji kita? Tidak akan terpisah."
Laras mengangguk lemah. "Tidak akan terpisah."
"Kita sudah melewati banyak hal, Laras. Sindiran dari tetangga. Guncingan dari ibu-ibu. Kemarahan orang tuaku. Keraguan saudara-saudaramu. Kita sudah melewati semuanya. Bersama. Kita pasti bisa melewati ini."
"Aku tidak kuat, Aria."
"Kamu kuat. Sejak kecil. Sejak pertama kali kita bertemu di pasar. Sejak pertama kali kita duduk di bawah pohon randu. Sejak pertama kali Mbah Sujud memanggil kita. Kamu tidak pernah menyerah. Jangan mulai sekarang."
"Aku cinta kamu, Aria."
"Aku juga cinta kamu, Laras. Sekarang, fokus. Tarik napas. Hembuskan perlahan. Ulangi."
Laras mengikuti. Tarik. Hembus. Tarik. Hembus.
"Bagus. Sekali lagi."
Tarik. Hembus.
"Lagi."
Tarik. Hembus.
Mbah Sujud masih duduk di sudut ruangan. Kitabnya masih terbuka. Matanya tidak tertuju pada tulisan. Tapi di luar jendela. Menatap langit. Menatap pergerakan bintang. Menatap perubahan cahaya dari timur.
"Mak Yem," panggil Mbah Sujud.
"Iya, Mbah."
"Air hangat sudah siap?"
"Sudah, Mbah."
"Kain bersih?"
"Sudah."
"Gunting dan benang?"
"Sudah."
"Baik. Sekarang kita tunggu. Sebentar lagi fajar akan tiba."
Mak Yem mengangguk. Ia duduk di kursi kayu di samping dipan. Tidak bicara. Tidak bergerak. Hanya diam. Menunggu.
Laras masih terus mengejan. Setiap beberapa menit, ia merasakan kontraksi yang semakin kuat. Semakin dekat. Semakin intens.
"Aria, aku merasakan sesuatu," bisik Laras.
"Merasakan apa?"
"Kepala Mahesa. Dia... dia mau keluar."
Aria menoleh ke Mak Yem. "Mak, cepat!"
Mak Yem bangkit dari kursinya. Ia mendekati Laras. Memeriksa.
"Ya, benar. Kepalanya sudah keluar sedikit. Laras, kamu harus mengejan lagi. Kuat."
Laras menarik napas panjang. Lalu mengejan sekuat tenaga.
"Aaaa... Aria... aku tidak bisa..."
"Kamu bisa, Laras! Sekali lagi! Untuk Mahesa!"
Laras mengejan lagi. Lebih kuat. Lebih keras. Sampai urat-urat di lehernya menonjol. Sampai wajahnya memerah. Sampai air matanya bercucuran.
Saat fajar mulai menyingsing di ufuk timur, saat cahaya matahari mulai terlihat samar-samar di balik gunung, saat ayam jantan pertama kali berkokok menyambut pagi, Mahesa Keling lahir.
Tangisan pertama bayi itu tidak keras.
Tidak seperti bayi pada umumnya yang memecah udara dengan suara tajam dan nyaring. Tangisnya justru dalam. Sangat dalam. Seperti datang dari dua tempat sekaligus. Seperti gema yang tidak tahu harus berhenti di mana. Seperti suara yang keluar dari dalam sumur. Seperti suara yang keluar dari dalam gua. Seperti suara yang keluar dari dalam hati yang paling dalam.
Mak Yem menggendong bayi itu. Tangannya gemetar. Ia membungkusnya dengan kain bersih. Perlahan. Hati-hati. Seperti membungkus sesuatu yang sangat rapuh. Sesuatu yang sangat berharga. Sesuatu yang tidak boleh jatuh.
"Bayi laki-laki, Le," kata Mak Yem pada Laras. "Sehat. Kuat. Matanya berbinar."
Laras tersenyum. Meskipun tubuhnya masih lelah. Meskipun keringat masih membasahi seluruh tubuhnya. Meskipun ia masih merasakan sakit yang luar biasa. Tersenyum adalah satu-satunya yang bisa ia lakukan.
Aria menggendong bayinya. Tangannya gemetar. Seumur hidup ia tidak pernah merasa seegang ini. Bahkan ketika pertama kali ia berdiri di hadapan Mbah Sujud. Bahkan ketika pertama kali ia mendengar suara dari dalam tanah. Bahkan ketika pertama kali ia menyatakan cinta pada Laras.
"Dia laki-laki," kata Aria. Suaranya pecah. Matanya basah. Hidungnya meler. "Dia cantik. Mirip kamu."
Laras tertawa kecil. "Mirip kamu juga. Matanya. Hidungnya. Dagunya."
"Dagunya mirip aku?"
"Iya. Lancip. Seperti kamu."
"Matanya mirip kamu. Bulat. Besar. Penuh harap."
"Rambutnya hitam, Aria. Hitam pekat. Seperti warna malam."
"Kulitnya putih. Mulus. Seperti kulitmu."
"Beratnya? Berapa?"
Aria menoleh ke Mak Yem. "Mak, beratnya berapa?"
Mak Yem tersenyum. "Tiga kilogram empat ratus gram, Le. Pas."
Mbah Sujud masuk ke kamar.
Ia berjalan pelan. Dengan tongkat. Setiap langkahnya terdengar di ruangan yang sunyi. Tik. Tok. Tik. Tok.
Ia berdiri di samping Aria. Menatap bayi yang digendong Aria. Matanya lama. Dalam. Seperti membaca sesuatu. Seperti menghitung sesuatu. Seperti meramal sesuatu.
Matanya berkaca-kaca.
Air matanya jatuh.
Ia tidak menyeka.
"Mahesa Keling," katanya. Suaranya serak. Berat. Penuh haru. "Nama yang baik. Nama yang kuat. Nama yang penuh makna. Semoga dia menjadi penjaga yang kuat seperti namanya. Semoga dia menjadi keseimbangan seperti yang diharapkan. Semoga dia menjadi kebanggaan kalian seperti yang kalian dambakan."
Aria menatap Mbah Sujud. "Terima kasih, Mbah. Terima kasih sudah membantu. Terima kasih sudah membimbing kami. Terima kasih sudah tidak menyerah pada kami."
Mbah Sujud tersenyum. "Ini tugas aku, Le. Aku hanya menjalankan amanat. Sekarang amanat itu ada di pundak kalian. Jaga anak ini. Jaga desa ini. Jaga keseimbangan."
"Kami akan jaga, Mbah. Janji."
Mbah Sujud mengangguk. Ia berbalik. Berjalan keluar kamar.
Di pintu, ia berhenti.
"Mahesa Keling," bisiknya sekali lagi. "Selamat datang di dunia, Le. Semoga perjalananmu panjang. Semoga tugasmu tidak terlalu berat. Semoga cinta orang tuamu cukup untuk melindungimu."
Ia melangkah keluar. Meninggalkan Aria dan Laras yang masih berdua dengan bayi mereka.
BAB 28: MBAH SANGKIL MENGINTAI
Malam itu, malam kelahiran Mahesa, bulan purnama bersinar terang. Bintang-bintang bertaburan di langit. Dan pohon randu bercahaya lebih terang dari biasanya. Cahaya keemasan menyinari seluruh desa.
Warga sudah kembali ke rumah masing-masing. Gunjingan mereda. Keheningan kembali menyelimuti Desa Randu Gembyang. Hanya sesekali terdengar suara ayam jantan yang terjaga atau anjing yang melolong di kejauhan.
Di dalam rumah kecil tempat Mahesa dilahirkan, Aria dan Laras masih berduaan dengan bayi mereka. Tidak ada suara. Hanya keheningan yang hangat. Hanya kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Tapi di luar jendela, di balik kegelapan malam yang mulai beranjak pergi, Mbah Sangkil berdiri.
Ia tidak muncul sejak pertengkarannya dengan Mbah Sujud di warung kopi. Ia menghilang. Tidak ada yang tahu ke mana. Tidak ada yang tahu kapan akan kembali. Tapi malam ini, ia kembali.
Ia berdiri di balik pohon jambu di seberang jalan. Tubuhnya yang kurus dan bungkuk hampir tidak terlihat di antara dahan dan daun. Bajunya yang hitam legam menyatu dengan kegelapan malam. Matanya yang sipit dan penuh ambisi menyala redup seperti mata kucing di tengah gelap.
Ia mengintai.
Dari balik pohon jambu itu, ia bisa melihat jendela kamar tempat Laras dan Mahesa berada. Cahaya lampu minyak yang tembus ke luar membentuk siluet. Ia bisa melihat Aria yang sedang menggendong Mahesa. Ia bisa melihat Laras yang sedang tersenyum.
Tapi matanya tidak tertuju pada Aria atau Laras.
Matanya tertuju pada bayi itu.
Mahesa.
Kunci keseimbangan.
"Mahesa Keling," bisik Mbah Sangkil pelan. Suaranya serak. Kering. Seperti ranting kayu yang digosokkan ke batu. Matanya tidak berkedip. "Akhirnya kau lahir. Aku sudah menunggu. Cukup lama."
Ia menyilangkan tangannya di dada. Jari-jarinya yang panjang dan kurus mengetuk-ngetuk lengan bajunya. Tik. Tok. Tik. Tok. Irama yang tidak teratur. Irama yang gelisah.
"Tiga puluh tahun. Sudah tiga puluh tahun aku menunggu. Sejak Sujud membacakan kitab itu dengan suara terbata-bata. Sejak Nyai Kembang Randu memilih dua bayi yang belum lahir. Sejak Mbah Urip menghilang ke dalam pohon itu. Aku menunggu. Aku sabar. Aku tidak terburu-buru."
Ia tersenyum. Senyum yang dingin. Senyum yang tidak sampai ke mata. Senyum yang hanya bibir yang bergerak, sementara hati tetap beku.
"Dan sekarang... kau ada di sini. Mahesa Keling. Anak dari dua penjaga bodoh yang tidak tahu apa yang mereka lakukan. Anak yang lahir dari cinta. Cinta? Cinta hanya omong kosong. Cinta tidak akan menyelamatkan dunia. Yang menyelamatkan dunia adalah kekuatan. Dan aku akan memiliki kekuatan itu. Melalui dirimu."
Mbah Sangkil menghela napas. Napasnya panjang. Berat. Seperti menghela beban yang sudah dipikul sejak lama.
"Aku ingat, waktu Mbah Urip masih hidup," bisiknya lagi. Matanya menerawang. Tidak ke jendela. Tapi ke masa lalu. Ke ingatan yang sudah setengah terlupakan.
"Mbah Urip adalah penjaga terhebat yang pernah desa ini miliki. Ia bisa berbicara dengan akar. Ia bisa melihat dunia akar. Ia bisa menjaga keseimbangan sendirian. Tanpa bantuan siapa pun. Aku kagum padanya. Aku ingin seperti dia. Aku ingin menjadi penjaga. Aku ingin memiliki kekuatan itu."
Ia mengepalkan tangannya. Kukunya yang panjang menusuk telapak tangannya sendiri. Tapi ia tidak merasakan sakit. Yang ia rasakan hanya amarah. Hanya kekecewaan. Hanya kepahitan yang sudah mengendap selama puluhan tahun.
"Tapi Mbah Urip tidak memilihku. Ia memilih Sujud. Sujud yang tidak punya apa-apa. Sujud yang tidak istimewa. Sujud yang hanya anak desa biasa. Kenapa? Kenapa dia memilih Sujud? Apa istimewanya Sujud? Apa hebatnya Sujud? Apa lebihnya Sujud dari aku?"
Ia menghentakkan kaki ke tanah. Pelan. Tapi kuat. Tanah di bawahnya bergetar sedikit. Beberapa ekor semut yang berjalan di dekat kakinya berhamburan ketakutan.
"Sujud tidak pernah bisa melihat dunia akar. Sujud tidak pernah bisa berbicara dengan akar. Sujud hanya bisa merasakan getaran samar. Itu pun tidak jelas. Tapi Mbah Urip tetap memilihnya. Mempercayainya. Memberinya kitab. Memberinya amanat."
Mbah Sangkil menggeleng. Gelengan yang pelan. Tapi penuh kepahitan.
"Aku tidak dendam pada Sujud. Sujud hanya korban. Dia tidak tahu apa yang ia lakukan. Dia hanya menjalankan amanat tanpa memahami isinya. Yang aku dendam adalah Mbah Urip. Yang aku dendam adalah Nyai Kembang Randu. Yang aku dendam adalah pohon itu sendiri. Mereka tidak adil. Mereka memilih orang yang salah. Mereka seharusnya memilih aku."
Ia menunjuk ke arah pohon randu di kejauhan. Pohon yang batangnya bercahaya keemasan. Pohon yang denyutnya bisa dirasakan dari jarak ratusan meter. Pohon yang menjadi pusat keseimbangan dunia.
"Aku lebih pantas daripada Sujud. Aku lebih pintar. Aku lebih kuat. Aku lebih berani. Aku tidak takut pada apa pun. Aku siap mengorbankan apa pun. Bahkan nyawaku sekalipun. Tapi mereka tidak memilihku. Mereka memilih Sujud. Mereka memilih Aria. Mereka memilih Laras. Mereka memilih orang-orang lemah yang hanya bisa pasrah."
Mbah Sangkil meludah ke samping. Meludah dengan penuh kebencian.
"Tidak masalah. Aku akan mengambil apa yang bukan hakku. Aku akan merebut keseimbangan ini. Aku akan menguasai dunia akar. Dan kau, Mahesa Keling, kau akan menjadi alatku."
Ia tersenyum lagi. Senyum yang lebih dingin dari sebelumnya.
"Mahesa Keling. Kau adalah jantung baru dunia akar. Tanpamu, keseimbangan tidak akan pernah pulih. Tanpamu, dunia manusia dan dunia akar akan terus bertarung. Tanpamu, semuanya akan hancur."
Ia mendekat sedikit. Masih di balik pohon jambu. Masih tidak terlihat. Tapi matanya semakin tajam menatap jendela.
"Aku tidak butuh keseimbangan, Mahesa. Aku butuh kekacauan. Karena dalam kekacauan, aku bisa mengambil alih. Dalam kekacauan, aku bisa menjadi penguasa. Dalam kekacauan, tidak ada yang bisa menghentikanku."
Ia mengangkat tangannya. Tangannya yang kurus dan keriput. Tangannya yang pernah gagal menjadi penjaga. Tangannya yang sekarang siap untuk melakukan apa pun.
"Kau lahir dari cinta. Cinta yang tulus. Cinta yang suci. Cinta yang tidak ternoda ambisi. Itulah yang membuatmu kuat. Tapi cinta juga membuatmu lemah. Kau akan mudah diperdaya. Kau akan mudah dimanipulasi. Kau akan mudah diambil."
Ia menurunkan tangannya. Menyilangkannya lagi di dada.
"Aku tidak terburu-buru. Aku bisa menunggu. Aku sudah menunggu tiga puluh tahun. Aku bisa menunggu lebih lama lagi. Selama kau masih hidup, selama kau masih bernapas, selama kau masih berdenyut, aku akan ada di sini. Di belakangmu. Di bayang-bayangmu. Di dalam kegelapan yang tidak kau lihat."
Mbah Sangkil menghela napas lagi. Napas yang ketiga kalinya malam itu.
"Aria dan Laras. Dua penjaga muda yang bodoh. Mereka tidak tahu bahwa mereka sedang mengasuh anak yang akan menentukan nasib dunia. Mereka hanya sibuk membela cinta mereka. Mereka hanya sibuk menghadapi gunjingan warga. Mereka tidak sadar bahwa ancaman terbesar ada di depan mata mereka. Dan ancaman itu... adalah aku."
Ia tertawa kecil. Tertawa yang nyaris tidak bersuara. Tertawa yang hanya bibir yang bergerak, tanpa ada suara yang keluar.
"Biarkan mereka bahagia sekarang. Biarkan mereka menikmati kebersamaan dengan anak mereka. Biarkan mereka tertawa. Biarkan mereka tersenyum. Karena kebahagiaan mereka tidak akan bertahan lama."
Ia menunjuk ke arah jendela lagi.
"Suatu hari nanti, Mahesa Keling, kau akan menjadi milikku. Kau tidak bisa lari. Kau tidak bisa sembunyi. Aku akan menemukanmu. Aku akan mengambilmu. Aku akan menjadikanmu alatku. Kita Akan menguasai dunia ini. Kita akan mengubah keseimbangan. Kita akan membuat segalanya berubah."
Ia menurunkan tangannya.
"Sekarang kau masih bayi. Kau tidak bisa apa-apa. Kau hanya bisa menangis. Kau hanya bisa tersenyum. Kau hanya bisa tidur. Tapi suatu hari nanti, kau akan dewasa. Kau akan memiliki kekuatan. Dan pada saat itu, aku akan ada di sisimu. Menuntunmu. Memanfaatkanmu. Menggunakanmu."
Mbah Sangkil tersenyum lebar. Senyum yang tidak dilihat siapa pun. Senyum yang hanya untuk dirinya sendiri. Senyum yang penuh kemenangan. Meskipun kemenangan itu belum ia raih.
"Mahesa Keling," bisiknya sekali lagi. "Kau akan menjadi milikku. Suatu hari nanti, kau akan menjadi milikku."
Dari dalam rumah kecil itu, terdengar suara tangisan bayi. Tangisan Mahesa. Tangisan yang keras. Tangisan yang tajam. Tangisan yang terdengar seperti peringatan.
Mbah Sangkil tidak bergeming. Ia tetap berdiri di balik pohon jambu. Matanya tetap tertuju pada jendela.
"Menangislah, Mahesa. Menangislah sekencang-kencangnya. Tidak ada yang bisa menyelamatkanmu. Tidak Aria. Tidak Laras. Tidak Sujud. Tidak Nyai. Tidak pohon randu. Karena aku lebih kuat dari mereka semua. Aku lebih pintar dari mereka semua. Aku lebih sabar dari mereka semua."
Ia berbalik.
Ia melangkah perlahan meninggalkan pohon jambu. Langkahnya tidak bersuara. Seperti hantu. Seperti bayangan. Seperti sesuatu yang tidak pernah benar-benar ada.
"Aku akan pergi sekarang. Aku akan bersembunyi lagi. Menunggu waktu yang tepat. Menunggu saat yang paling sempurna."
Ia berhenti. Menoleh ke belakang sekali lagi. Matanya menatap jendela untuk yang terakhir kalinya malam itu.
"Selamat malam, Mahesa Keling. Selamat malam, Aria dan Laras. Nikmati kebahagiaan kalian selama masih ada. Karena suatu hari nanti, semuanya akan berakhir. Dan aku yang akan tertawa."
Ia tersenyum.
Senyum dingin yang tidak dilihat siapa pun.
Lalu ia berbalik.
Menghilang ke dalam kegelapan.
Seperti tidak pernah ada.
Seperti hanya mimpi buruk yang tidak akan diingat siapa pun ketika pagi tiba.
Di dalam rumah, Aria yang sedang menggendong Mahesa merasakan sesuatu. Angin dingin masuk melalui celah jendela. Tidak biasa. Angin malam biasanya hangat. Tapi kali ini dingin. Sangat dingin.
"Laras," panggil Aria.
"Iya?"
"Kamu merasakan itu?"
"Merasakan apa?"
"Angin. Dingin. Tidak biasa."
Laras mendekati jendela. Menatap ke luar. Tidak ada apa-apa. Hanya pohon jambu yang berdiri sunyi. Hanya kegelapan yang tidak berbentuk.
"Tidak ada apa-apa, Aria. Mungkin kamu hanya lelah."
"Mungkin."
Tapi Aria tidak yakin. Ia menggenggam Mahesa lebih erat.
"Aku merasakan sesuatu, Laras. Seperti ada mata yang mengintai. Seperti ada kehadiran yang jahat."
"Aria, kamu terlalu banyak berpikir. Istirahatlah. Besok pagi kita masih harus mengurus Mahesa."
"Iya. Kamu benar. Aku hanya lelah."
Tapi Aria tidak bisa tidur malam itu. Ia terus memeluk Mahesa. Ia terus menatap jendela. Ia terus merasakan dingin yang tidak biasa.
Dan di dalam tidurnya, Mahesa bermimpi. Mimpi tentang pohon randu. Mimpi tentang cahaya keemasan. Mimpi tentang seseorang yang berdiri di balik pohon jambu. Seseorang yang matanya dingin. Seseorang yang senyumnya tidak sampai ke hati.
"Ayah... Ibu..." bisik Mahesa dalam tidurnya. "Ada... orang... jahat... di... luar..."
Tapi Aria dan Laras tidak mendengar. Mereka sudah terlelah. Mereka sudah tertidur.
Dan Mbah Sangkil terus berjalan. Semakin jauh. Semakin dalam ke dalam kegelapan. Semakin dekat dengan rencananya.
"Kau akan menjadi milikku, Mahesa Keling. Suatu hari nanti. Aku janji."
BAB 29: GUNJINGAN DAN PENGUCILAN
Mahesa usia 1 tahun. Aria dan Laras usia 18 tahun.
Tahun pertama Mahesa penuh dengan suka dan duka.
Suka karena mereka memiliki anak yang lucu dan cerdas. Setiap pagi, Aria dan Laras bangun dengan senyum di wajah mereka. Setiap malam, mereka tidur dengan rasa syukur di hati. Mahesa adalah segalanya bagi mereka. Cahaya di tengah kegelapan. Pelangi setelah badai. Harapan setelah keputusasaan.
Duka karena gunjingan tidak pernah berhenti.
Sejak Mahesa lahir, sejak kabar kehamilan Laras menyebar, sejak Aria dan Laras memutuskan untuk hidup bersama tanpa ikatan resmi, warga tidak pernah berhenti membicarakan mereka.
Di warung kopi, di pasar, di sawah, di depan rumah, di belakang rumah, di mana pun, selalu ada bisikan. Selalu ada gunjingan. Selalu ada tatapan curiga. Selalu ada komentar miring.
"Anak itu anak haram," kata seorang ibu sambil membuang muka ketika Aria dan Laras lewat.
"Ibu, jangan dekat-dekat," kata seorang bapak pada anaknya yang masih kecil. "Mereka bawa sial."
"Sudah kubilang, sejak petir tiga kali itu, desa ini tidak akan tenang," kata seorang lelaki tua sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Lebih baik mereka pergi dari desa ini," kata yang lain.
"Biarin. Suatu hari nanti mereka akan sadar sendiri."
Tapi Aria dan Laras tidak membalas.
Mereka hanya diam. Mengasuh Mahesa dengan penuh kasih. Mengajarinya bahwa cinta lebih kuat dari kebencian.
Suatu sore, Laras sedang menggendong Mahesa di teras depan rumah. Mahesa tertawa kecil. Tangannya yang mungil meraih pita rambut Laras yang berwarna merah.
"Ck... ck... ck..." suara Mahesa tidak jelas. Tapi matanya berbinar.
"Kamu suka pita Ibu, Nak?" tanya Laras sambil tersenyum.
"Ibu... Ibu..." Mahesa mengulang-ulang kata itu.
"Iya. Ibu di sini. Ibu tidak akan pergi."
Dari kejauhan, sekelompok ibu-ibu lewat di depan pagar. Mereka menoleh ke arah Laras dan Mahesa. Bisik-bisik.
"Lihat, tuh. Anaknya pinter ngomong. Padahal baru setahun."
"Iya. Aneh. Anak normal biasanya umur setahun masih ngomongnya 'ma...ma...' atau 'pa...pa...' Ini udah bisa bilang 'Ibu.'"
"Makanya. Anak setan."
"Jangan keras-keras. Nanti didengar."
"Biarin. Biar tahu. Saya tidak takut sama mereka."
Laras mendengar. Ia mendengar semuanya. Setiap kata. Setiap bisikan. Setiap nada kebencian.
Tapi ia tidak menoleh. Ia tidak membalas. Ia hanya mendekap Mahesa lebih erat.
"Ibu sayang kamu, Mahesa. Ibu sayang sekali," bisiknya.
"Ayah... Ayah..." Mahesa menunjuk ke arah pintu.
Dari dalam rumah, Aria keluar. Wajahnya pucat. Tubuhnya masih lemah sejak sakit. Tapi matanya masih tajam.
"Aku dengar," kata Aria pelan. "Mereka masih sama. Tidak berubah."
"Biarkan mereka, Aria. Yang penting kita punya Mahesa."
"Iya. Yang penting kita punya Mahesa."
Mahesa tumbuh menjadi anak yang berbeda.
Seperti orang tuanya, ia juga memiliki keanehan. Keanehan yang tidak bisa dijelaskan. Keanehan yang membuat warga semakin yakin bahwa keluarga ini memang pembawa sial.
Pada usia satu tahun, Mahesa sudah bisa tersenyum pada pohon randu.
Suatu sore, Laras sedang menggendong Mahesa di halaman belakang. Mahesa tiba-tiba menoleh ke arah alun-alun. Matanya tertuju pada pohon randu di kejauhan.
Lalu ia tersenyum.
Bukan senyum biasa. Senyum yang lebar. Senyum yang penuh makna. Seperti ia melihat seseorang yang ia kenal. Seperti ia melihat teman lama.
"Mahesa, kamu lihat apa, Nak?" tanya Laras.
"Akar... akar..." jawab Mahesa sambil menunjuk ke arah pohon randu.
"Akar? Kamu lihat akar dari sini?"
"Besar... besar... hangat..."
Laras terdiam. Ia memeluk Mahesa erat-erat.
"Aku tahu, Nak. Aku juga melihatnya. Aku juga merasakannya."
"Ayah... Ayah lihat?"
"Iya. Ayah juga lihat."
Mahesa tertawa kecil. Tertawa yang bahagia. Tertawa yang tidak biasa untuk anak seusianya.
Pada usia satu setengah tahun, Mahesa sudah mulai menunjuk ke arah sumur dan mengatakan, "Bu, ada orang di dalam."
Suatu pagi, Laras sedang mencuci pakaian di belakang rumah. Mahesa duduk di keranjang bambu di sampingnya, bermain dengan daun-daun kering.
Tiba-tiba Mahesa berhenti bermain. Ia menatap ke arah sumur tua di pojok halaman. Sumur yang sudah tidak digunakan lagi karena airnya keruh. Sumur yang sudah ditutup dengan papan kayu lapuk.
"Bu... orang... di dalam..." kata Mahesa sambil menunjuk ke arah sumur.
Laras berhenti mencuci. Tangannya yang basah menggenggam erat kain yang ia cucui.
"Apa, Nak? Kamu bilang apa?"
"Orang... di dalam sumur, Bu..."
Laras bergidik. Tapi ia sudah terbiasa dengan keanehan. Ia sudah terbiasa dengan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan.
"Orang itu siapa, Nak?"
"Banyak... banyak orang... Bu..."
"Banyak?"
"Iya... banyak... mereka... sedih..."
Laras meletakkan kain yang ia cucui. Ia mendekati Mahesa. Menggendongnya.
"Mahesa, kamu tidak takut?"
"Tidak, Bu. Mereka... tidak... jahat."
"Kamu bisa bicara dengan mereka?"
"Bisa, Bu. Mereka... cerita..."
"Cerita apa?"
"Cerita tentang... Mbah... Urip..."
Laras terkejut. Mbah Urip. Nama yang sudah lama tidak ia dengar. Nama yang hanya disebut oleh Mbah Sujud dan para sesepuh desa. Mahesa tidak mungkin tahu nama itu. Tidak mungkin. Kecuali...
"Mahesa, kamu dengar dari siapa?"
"Dari... akar, Bu... Akar... cerita..."
Laras tidak bertanya lagi. Ia hanya memeluk Mahesa. Memeluk anak yang begitu kecil tapi begitu tua jiwanya. Memeluk anak yang begitu dekat tapi begitu jauh.
"Bu..."
"Iya, Nak."
"Aku... sayang... Bu."
Laras menangis. "Ibu juga sayang kamu, Mahesa. Ibu sayang sekali."
Warga semakin mengucilkan mereka.
Mahesa tidak boleh bermain dengan anak-anak lain. Ibu-ibu melarang anak-anak mereka mendekati Mahesa. Bahkan ketika Mahesa hanya lewat di depan rumah mereka, mereka segera menarik anak-anak mereka ke dalam rumah dan membanting pintu.
"Jangan dekat-dekat anak itu. Dia anak haram. Bawa sial."
"Lihat, tuh. Mukanya seperti iblis."
"Ibu, aku takut."
"Jangan takut. Ibu di sini. Ibu lindungi kamu."
"Tapi Bu, anak itu cuma lewat. Dia tidak lihat kita."
"Pokoknya jangan dekat-dekat. Nanti kena guna-guna."
Mahesa yang masih kecil tidak mengerti. Ia hanya tersenyum polos pada anak-anak yang lari menjauh. Ia hanya melambai pada mereka. Tapi tidak ada yang melambai balik.
"Ayah, kenapa mereka lari?" tanya Mahesa pada Aria.
Aria menggenggam tangan Mahesa. "Mereka takut, Nak."
"Takut apa, Ayah?"
"Mereka takut pada sesuatu yang tidak mereka kenal."
"Aku... tidak... jahat, Ayah."
"Ayah tahu. Ayah juga tahu bahwa suatu hari nanti, mereka akan berubah. Mereka akan minta maaf. Mereka akan sadar."
"Kapan, Ayah?"
"Ayah tidak tahu. Tapi ayah yakin itu akan terjadi."
Mahesa mengangguk pelan. Ia masih tersenyum. Meskipun anak-anak lari menjauh. Meskipun ibu-ibu membanting pintu. Meskipun semua orang menjauhi mereka.
"Aku... tidak... menangis, Ayah."
"Kenapa?"
"Karena... Ayah... dan Ibu... di sini."
Aria menangis. Ia memeluk Mahesa. Memeluk anak yang begitu kuat. Memeluk anak yang memberinya kekuatan.
Suatu sore, Laras duduk di teras depan rumah. Mahesa tidur di pangkuannya. Aria duduk di sampingnya.
"Aria," panggil Laras pelan.
"Iya?"
"Apa kita berdosa?"
"Berdosa? Kenapa?"
"Karena tidak menikah. Karena hidup bersama tanpa ikatan. Karena melahirkan anak tanpa status yang jelas."
Aria menghela napas. "Kita tidak berdosa, Laras. Kita hanya berbeda. Kita hanya memilih untuk tidak mengikuti apa yang orang lain anggap benar."
"Tapi warga terus menghina. Mereka bilang Mahesa anak haram."
"Mahesa bukan anak haram. Mahesa adalah anak kita. Anak yang lahir dari cinta. Cinta yang tulus. Bukan dari kewajiban. Bukan dari paksaan. Bukan dari keterpaksaan."
"Apakah itu cukup, Aria? Apakah cinta cukup untuk membenarkan segalanya?"
"Cinta tidak perlu dibenarkan, Laras. Cinta hanya perlu dijalani."
Laras terdiam. Ia menatap Mahesa yang tertidur pulas di pangkuannya.
"Aria, aku takut Mahesa akan tumbuh dengan luka. Luka karena dihina. Luka karena dikucilkan. Luka karena tidak dianggap."
"Aku juga takut, Laras. Tapi kita tidak bisa melindunginya selamanya. Yang bisa kita lakukan adalah membekalinya. Mengajarinya bahwa hatinya tidak boleh dipenuhi kebencian. Bahwa kekuatannya tidak boleh digunakan untuk membalas dendam. Bahwa ia lebih dari sekadar hinaan dan gunjingan."
"Apakah kita cukup kuat untuk mengajarinya?"
"Kita tidak sendirian, Laras. Kita punya pohon randu. Kita punya Nyai. Kita punya Mahesa sendiri. Dia juga akan belajar. Dia juga akan mengerti."
Laras tersenyum. "Aku beruntung punya kamu, Aria."
"Aku juga beruntung punya kamu, Laras."
Mereka berdua terdiam. Menikmati sore. Menikmati kehadiran satu sama lain. Menikmati Mahesa yang tertidur di pangkuan Laras.
Malam itu, setelah Mahesa tidur, Aria dan Laras duduk di bawah pohon randu. Alun-alun sepi. Hanya mereka berdua. Dan pohon itu.
"Aria, apa kita terlalu egois?" tanya Laras.
"Egois bagaimana?"
"Mempertahankan Mahesa di desa ini. Di tempat yang tidak menerimanya. Di tempat yang terus mencacinya."
"Kamu ingin pindah?"
"Aku tidak tahu. Aku hanya tidak tega melihat Mahesa diperlakukan seperti itu."
"Laras, di mana pun kita pergi, orang akan tetap menghina. Orang akan tetap bergunjing. Orang akan tetap membenci. Bukan karena kita salah. Tapi karena mereka tidak mengerti. Dan orang yang tidak mengerti akan selalu mencari alasan untuk membenci."
"Jadi kita tetap di sini?"
"Kita tetap di sini. Karena ini rumah kita. Ini desa kita. Ini pohon kita. Mahesa lahir di sini. Ia tumbuh di sini. Darah dan tanahnya sudah menyatu dengan desa ini. Kita tidak bisa pergi."
Laras menangis. "Aku capek, Aria. Aku capek mendengar hinaan setiap hari. Aku capek melihat tatapan benci setiap saat. Aku capek merasakan dinginnya pengucilan."
Aria memeluk Laras. "Aku tahu, Laras. Aku juga capek. Tapi kita tidak boleh menyerah. Mahesa butuh kita. Desa ini butuh kita. Pohon ini butuh kita."
"Kadang aku bertanya-tanya, apa benar kita dipanggil? Apa benar kita ditakdirkan? Atau ini semua hanya kesalahan?"
"Tidak, Laras. Ini bukan kesalahan. Ini sudah digariskan. Sejak petir tiga kali. Sejak kita lahir. Sejak kita bertemu. Sejak Mahesa lahir. Semua sudah digariskan. Kita tidak bisa lari. Kita tidak bisa memungkiri."
Laras menghela napas. "Aku akan berusaha lebih kuat, Aria."
"Kamu sudah kuat, Laras. Kamu selalu kuat. Sejak kecil. Sejak pertama kali kita bertemu di pasar. Kamu tidak pernah menyerah. Jangan mulai sekarang."
"Iya. Aku tidak akan menyerah."
Dari dalam pohon randu, cahaya keemasan muncul. Samar. Tapi jelas.
"Ayah, Ibu," bisik suara Mahesa. Suara yang sudah menjadi roh penjaga. Suara yang tidak bisa didengar telinga biasa. Tapi Aria dan Laras mendengarnya. Mereka selalu mendengarnya.
"Mahesa, Nak," sapa Aria.
"Aku di sini, Ayah. Aku selalu di sini. Menjaga Ibu. Menjaga Ayah. Menjaga adikku."
"Adikmu?"
"Iya. Mahesa kecil. Mahesa yang masih hidup. Dia adikku. Aku akan menjaganya."
Laras menangis. "Mahesa, Nak. Ibu kangen."
"Aku juga kangen, Ibu. Tapi aku tidak bisa pulang. Aku harus menjaga jantung ini. Aku harus menjaga keseimbangan."
"Kami mengerti, Nak. Kami hanya... butuh waktu."
"Jangan terburu-buru, Ibu. Ambil waktu kalian. Aku akan menunggu. Aku akan selalu ada di sini."
Aria menggenggam tangan Laras. "Kita harus kuat, Laras. Untuk Mahesa. Untuk Mahesa kecil. Untuk desa ini. Untuk pohon ini."
"Iya. Aku akan kuat."
"Kita akan kuat bersama."
Di rumah, Mahesa kecil terbangun. Ia tidak menangis. Ia tersenyum. Ia menatap langit-langit kamar. Lalu ia berkata lirih, "Kakak... aku lihat... kakak... di pohon... kakak tersenyum..."
Tidak ada yang mendengar.
Tapi Mahesa tahu. Ia tidak sendirian.
"Kakak, aku... tidak... takut... karena... kakak... di sana..."
Cahaya keemasan muncul di kamar Mahesa. Samar. Tapi jelas. Hangat. Seperti pelukan. Seperti kehadiran. Seperti janji bahwa keluarga penjaga akan terus berjuang. Meskipun dihina. Meskipun dikucilkan. Meskipun dibenci.
Sampai kapan pun.
BAB 30: MBAH SUJUD MENJELASKAN MAKSUD PERJANJIAN
Mahesa usia 3 tahun. Aria dan Laras usia 20 tahun.
Tiga tahun telah berlalu sejak Mahesa lahir.
Tiga tahun yang penuh dengan suka dan duka. Suka karena mereka memiliki anak yang lucu dan cerdas. Duka karena gunjingan tidak pernah berhenti. Tiga tahun yang membuat Aria dan Laras semakin dewasa. Tidak hanya secara fisik. Tapi juga secara batin. Beban kehidupan, omongan orang, dan tanggung jawab sebagai penjaga telah membentuk mereka menjadi pribadi yang lebih kuat.
Mahesa tumbuh menjadi anak yang berbeda. Seperti orang tuanya, ia juga memiliki keanehan. Pada usia satu tahun, ia sudah bisa tersenyum pada pohon randu. Pada usia satu setengah tahun, ia sudah mulai menunjuk ke arah sumur dan mengatakan, "Bu, ada orang di dalam." Pada usia dua tahun, ia sudah bisa mendengar suara dari dalam tanah. Pada usia tiga tahun, ia sudah bisa merasakan getaran akar.
Mbah Sujud sudah lama ingin memanggil mereka. Sudah lama ingin menjelaskan semuanya. Tapi ia menunggu. Menunggu sampai Mahesa cukup umur untuk mengerti. Menunggu sampai Aria dan Laras cukup matang untuk menerima kebenaran. Menunggu sampai waktunya tepat.
Hari itu, ia merasa waktunya sudah tiba.
"Ayo, Le. Kita ke rumah Mbah Sujud," kata Aria suatu pagi.
"Mau apa, Ayah?" tanya Mahesa.
"Mbah Sujud mau cerita sesuatu."
"Cerita apa, Ayah?"
"Aku tidak tahu. Tapi pasti penting."
Mahesa mengangguk. Ia menggenggam tangan Aria. Laras menggenggam tangan Mahesa. Mereka berjalan bertiga menuju rumah Mbah Sujud. Melewati tikungan yang sama. Melewati rumah-rumah yang sama. Melewati warung kopi yang sama. Seperti dulu. Seperti saat Aria dan Laras masih kecil.
Rumah Mbah Sujud masih sama. Kayu tua. Cat hijau mengelupas. Halaman yang ditumbuhi rumput liar dan tanaman obat. Tapi Mbah Sujud tidak lagi sama. Wajahnya lebih tua dari sebelumnya. Keriput semakin banyak. Rambutnya semakin memutih. Tubuhnya semakin lemah. Setiap langkah terasa berat. Setiap napas terasa pendek.
Tapi matanya masih tajam.
Masih seperti dulu.
Masih penuh dengan cahaya yang tidak bisa dijelaskan.
"Aria, Laras, Mahesa," sapa Mbah Sujud dari kursi goyangnya. "Masuklah. Duduk di lantai. Jangan di kursi."
Mereka masuk. Aria dan Laras duduk bersila di lantai anyaman bambu. Mahesa duduk di pangkuan Laras.
Mbah Sujud menatap mereka bergantian. Lama. Dalam. Seperti membaca sesuatu di balik wajah mereka. Seperti memastikan bahwa mereka sudah siap.
"Sudah waktunya kalian tahu segalanya," kata Mbah Sujud.
"Apa yang mau Mbah ceritakan?" tanya Aria.
Mbah Sujud tidak langsung menjawab. Ia meraih kitab tua di sampingnya. Kitab yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun selama puluhan tahun. Kitab yang hanya ia buka saat ada hal yang sangat penting. Kitab yang sampulnya terbuat dari bahan yang tidak jelas—seperti gabungan serat kayu, tanah kering dari kedalaman tertentu, dan sesuatu yang berdenyut. Sesuatu yang hangat saat disentuh. Sesuatu yang hidup.
Ia membuka halaman demi halaman. Perlahan. Hormat. Seperti sedang membuka sesuatu yang suci. Seperti sedang mempersiapkan diri untuk ritual.
Tulisan-tulisan kuno muncul. Bukan tulisan biasa. Tapi tulisan yang tumbuh. Seperti akar yang merambat di permukaan kertas. Seperti daun yang membuka diri di pagi hari. Tulisan yang hanya Mbah Sujud yang bisa membaca. Yang hanya dia yang bisa memahami.
"Dahulu kala," Mbah Sujud memulai ceritanya. Suaranya serak. Berat. Tapi jelas. Setiap kata terucap dengan sengaja. Tidak ada yang terbuang sia-sia. "Ketika desa ini masih hutan lebat, ketika belum ada rumah, ketika belum ada sawah, ketika belum ada warga, Mbah Urip datang."
"Dari mana Mbah Urip, Mbah?" tanya Laras.
"Tidak ada yang tahu. Tidak ada catatan. Tidak ada saksi. Yang jelas, dia datang sendirian. Dengan pakaian compang-camping. Dengan wajah lelah. Dengan hati gelisah. Dia tersesat. Tidak tahu jalan pulang. Tidak tahu ke mana harus melangkah."
"Kasihan," bisik Laras.
"Iya. Kasihan. Tapi pertemuan dengan Mbah Urip adalah awal dari segalanya. Awal dari perjanjian. Awal dari keseimbangan. Awal dari desa ini."
"Dia tersesat di hutan itu, tapi dia tidak menyerah. Dia terus berjalan. Berhari-hari. Berminggu-minggu. Berbulan-bulan. Hingga akhirnya dia menemukan pohon randu ini. Pohon yang tidak seperti pohon lainnya. Pohon yang berdenyut. Pohon yang berbisik. Pohon yang hidup."
Mahesa yang duduk di pangkuan Laras mendongak. "Aku suka pohon itu, Mbah. Setiap hari aku tersenyum padanya. Dan dia tersenyum balik."
Mbah Sujud tersenyum. "Kamu benar, Le. Pohon itu tersenyum. Karena pohon itu bahagia. Karena pohon itu tidak sendirian. Karena pohon itu punya penjaga."
"Siapa penjaganya, Mbah?"
"Pertama Mbah Urip. Lalu Mbah Sujud. Lalu Aria dan Laras. Lalu... kamu, Le."
Mahesa mengerutkan kening. "Aku? Aku masih kecil, Mbah."
"Usia tidak penting, Le. Yang penting hati."
"Apa hatiku baik, Mbah?"
"Hatimu lebih dari baik. Hatimu murni. Hatimu bersih. Hatimu seperti kertas kosong yang belum tertulisi apa pun."
Mahesa tersenyum. Ia tidak sepenuhnya mengerti. Tapi ia senang mendengar kata-kata itu.
"Mbah Urip tidak sendirian di hutan itu," sambung Mbah Sujud. "Dia ditemani oleh seseorang. Atau sesuatu. Roh penjaga pohon randu. Namanya Nyai Kembang Randu."
"Siapa Nyai Kembang Randu, Mbah?" tanya Laras.
"Dia penjaga dunia akar. Roh yang menjaga keseimbangan. Yang mengatur denyut akar. Yang menghubungkan dunia manusia dan dunia akar. Dia sudah ada sejak sebelum pohon randu ditanam. Sejak sebelum desa ini berdiri. Sejak sebelum manusia menghuni bumi ini."
"Apakah dia baik, Mbah?"
"Dia baik. Tapi juga tegas. Dia tidak akan mentolerir kesalahan. Dia tidak akan memberi maaf dua kali. Jadi berhati-hatilah. Jangan sampai kalian mengecewakannya."
Laras menggenggam tangan Mahesa lebih erat. "Kami tidak akan mengecewakan, Mbah."
"Mbah Urip bertemu dengan Nyai Kembang Randu di bawah pohon ini. Mereka bicara. Berjam-jam. Berhari-hari. Berminggu-minggu. Mereka membuat perjanjian. Perjanjian yang akan menentukan nasib desa ini. Nasib kalian. Nasih keturunan kalian. Nasib semua yang akan datang setelah kalian."
Mbah Sujud membuka kitabnya ke halaman tertentu. Ia menunjuk pada tulisan yang tampak seperti akar. "Ini perjanjiannya. Mbah Urip setuju menjadi penjaga. Menjaga keseimbangan. Menjaga pohon ini. Menjaga desa ini. Dan jika dia tidak mampu, keturunannya akan meneruskan."
"Tapi kami bukan keturunannya, Mbah," kata Laras. "Aria bukan keturunan Mbah Urip. Aku juga bukan. Mahesa juga bukan."
"Keturunan roh, bukan darah," jawab Mbah Sujud. "Roh penjaga. Roh yang lahir di tubuh kalian. Roh yang dipilih. Roh yang dipanggil. Itu yang disebut keturunan."
Aria mengerutkan kening. "Jadi kami tidak punya hubungan darah dengan Mbah Urip?"
"Tidak. Tapi kalian punya hubungan roh. Hubungan yang lebih kuat dari darah. Hubungan yang tidak bisa putus oleh waktu. Hubungan yang tidak bisa terputus oleh kematian."
Aria menghela napas. Ia lega. Tapi juga bingung. Ia tidak sepenuhnya mengerti. Tapi ia tidak bertanya lebih jauh. Mungkin suatu hari nanti, ketika ia sudah lebih dewasa, ketika ia sudah lebih banyak mengalami, ia akan mengerti.
Mahesa yang duduk di pangkuan Laras tiba-tiba tegak. Matanya membulat. Telinganya seperti mendengar sesuatu. Bibirnya bergerak tanpa suara.
"Mbah," panggil Mahesa.
"Iya, Le."
"Aku bisa mendengar suara dari dalam pohon."
Mbah Sujud tidak terkejut. Ia sudah menduga. "Suara apa yang kau dengar?"
"Suara perempuan. Lembut. Halus. Seperti ibu yang memanggil anaknya pulang makan malam. Dia bilang... 'Mahesa, aku memanggilmu. Aku sudah menunggu. Sudah lama.'"
Mbah Sujud menatap Mahesa lama. Matanya basah. Air matanya jatuh. Tidak diseka.
"Kamu benar, Le. Kamu dipanggil. Kamu dipanggil untuk menjadi penjaga abadi. Seperti Mbah Urip. Seperti yang tertulis dalam kitab ini."
"Penjaga abadi? Apa itu, Mbah?"
"Penjaga yang tidak bisa mati. Yang tidak bisa hilang. Yang tidak bisa digantikan. Penjaga yang menjaga jantung dunia akar. Yang mengatur denyut akar. Yang memastikan keseimbangan tetap terjaga."
Mahesa tidak mengerti. Tapi ia tidak takut. Ia hanya penasaran. "Di mana jantungnya, Mbah?"
"Jantungnya di dalam pohon ini. Di dalam batang. Di dalam akar. Di dalam denyut. Jantung yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Hanya bisa dirasakan dengan hati."
Aria yang dari tadi diam tiba-tiba bicara. "Jantung dunia akar, Mbah? Apa itu?"
Mbah Sujud menghela napas. Ia menatap Aria lama. Seperti sedang mencari kata-kata yang tepat. Seperti sedang memastikan bahwa Aria siap mendengar.
"Jantung yang mengatur keseimbangan antara dunia manusia dan dunia akar, Le. Seperti jantung manusia yang mengatur aliran darah ke seluruh tubuh. Jika jantung manusia berhenti, manusia mati. Jika jantung dunia akar berhenti, keseimbangan hancur. Dunia manusia dan dunia akar akan bertabrakan. Dan semuanya akan berakhir."
Aria pucat. "Berakhir? Maksudnya, Mbah?"
"Bencana. Gempa. Banjir. Gunung meletus. Wabah penyakit. Semua akan datang bersamaan. Tidak ada yang bisa selamat. Tidak ada yang bisa lari."
Laras memeluk Mahesa lebih erat. "Tapi Mahesa... Mahesa akan menjaga jantung itu?"
"Iya. Mahesa akan menjadi jantung itu sendiri."
Aria dan Laras saling pandang. Mata mereka basah. Hati mereka sesak.
"Kenapa Mahesa yang harus menjaganya, Mbah?" tanya Laras dengan suara bergetar. Tenggorokannya terasa kering. Dadanya sesak.
Mbah Sujud tidak menjawab langsung. Ia menutup kitabnya. Meletakkannya di samping kursi goyang. Menghela napas panjang.
"Karena Mahesa adalah satu-satunya yang bisa. Karena hatinya murni. Karena ia lahir dari cinta sejati. Bukan dari kewajiban. Bukan dari paksaan. Bukan dari kesalahan. Tapi dari cinta. Cinta yang tulus. Cinta yang suci. Cinta yang tidak ternoda ambisi."
Mahesa mendongak. "Ayah, Ibu, aku tidak takut."
Aria dan Laras menatap Mahesa. Matanya jernih. Hatinya bersih.
"Kamu tidak takut, Nak?" tanya Aria.
"Tidak, Ayah. Karena aku tahu Ayah dan Ibu akan selalu menjagaku. Dan aku akan selalu menjaga Ayah dan Ibu. Dari mana pun. Kapan pun. Bagaimanapun."
Laras menangis. Ia memeluk Mahesa. Memeluk anak yang begitu kecil tapi begitu tua jiwanya. Memeluk anak yang begitu dekat tapi begitu jauh. Memeluk anak yang akan menjadi jantung dunia akar. Memeluk anak yang mungkin akan pergi lebih cepat dari yang mereka duga.
"Mahesa, Nak. Ibu sayang kamu."
"Aku juga sayang Ibu. Aku juga sayang Ayah. Selamanya."
Aria memeluk mereka berdua. "Keluarga kita akan tetap utuh. Bagaimanapun. Di mana pun. Dalam bentuk apa pun."
Mbah Sujud tersenyum. "Kalian sudah siap."
"Kami belum siap, Mbah. Tapi kami akan belajar."
"Kesiapan tidak pernah dirasakan, Le. Kesiapan hanya dibuktikan dengan tindakan."
Aria mengangguk. "Kami akan buktikan, Mbah."
BAB 31: DUA PULUH TAHUN KEMUDIAN
Aria dan Laras usia 40 tahun. Mahesa telah menjadi roh penjaga di pohon randu selama 20 tahun. Wilujeng, murid baru, berusia 17 tahun.
Dua puluh tahun telah berlalu sejak pertemuan terakhir mereka dengan Mbah Sujud sebelum beliau meninggal. Dua puluh tahun sejak Mahesa kecil bermain di halaman rumah. Dua puluh tahun yang terasa seperti sekejap mata, tapi juga terasa seperti seumur hidup.
Desa Randu Gembyang telah berubah. Tidak seperti dulu. Kini desa itu dikenal sebagai desa spiritual, desa di mana orang-orang dari berbagai penjuru datang untuk merasakan kedamaian di bawah pohon randu. Bukan karena ada ritual khusus. Bukan karena ada sesaji atau mantra. Tapi karena pohon itu sendiri. Karena cahaya keemasan yang terpancar dari batangnya. Karena getaran hangat yang dirasakan siapa pun yang duduk di bawah naungannya.
Setiap pagi, sebelum matahari terbit, Aria dan Laras memimpin meditasi di bawah pohon randu. Puluhan warga duduk bersila di hadapan mereka. Wajah-wajah yang dulu penuh kebencian dan gunjingan, kini tampak teduh dan damai.
"Bapak-Ibu sekalian," kata Aria membuka suara. "Taruh tangan kalian di dada. Rasakan detak jantung kalian. Rasakan hangatnya. Rasakan kehidupannya. Setiap detak jantung kalian adalah bukti bahwa kalian hidup. Setiap detak jantung kalian adalah bukti bahwa dunia hidup. Hargai setiap detaknya. Jangan sia-siakan."
Warga mengikuti dengan khusyuk. Beberapa menangis. Beberapa tersenyum. Beberapa hanya diam.
Laras yang duduk di samping Aria menambahkan, "Dan ingatlah, kalian tidak sendirian. Di dalam pohon ini, roh-roh penjaga menjaga kalian. Aria, Mahesa, Mbah Sujud, Mbah Kromo, Mbah Sangkil, Mbah Urip, Nyai Kembang Randu. Mereka semua ada di sini. Menjaga. Mencintai. Merindukan."
Seorang ibu tua yang duduk di barisan depan bertanya, "Bu Laras, apakah saya bisa bertemu dengan roh anak saya yang sudah meninggal?"
Laras tersenyum. "Tutup mata Ibu. Panggil namanya dalam hati. Dia pasti mendengar. Karena kematian hanya memisahkan raga, Bu. Hati, cinta, kenangan, tidak akan pernah terpisah."
Ibu tua itu menutup matanya. Air matanya jatuh. Mulutnya berkomat-kamit memanggil nama anaknya. Setelah beberapa saat, ia tersenyum. "Bu Laras, saya merasakan kehangatan di pundak saya. Seperti tangan anak saya yang menepuk-nepuk."
"Itu dia, Bu. Dia ada di sini. Menjaga Ibu. Mencintai Ibu."
Setelah meditasi selesai, warga pulang satu per satu. Aria dan Laras masih duduk di bawah pohon randu. Daun-daun bergoyang pelan. Angin berhembus sejuk.
"Aria, apa kamu masih ingat saat pertama kali kita duduk di sini?" tanya Laras.
"Ingat. Kita masih kecil. Kita takut. Tapi kita tidak lari."
"Kenapa kita tidak lari, ya?"
"Karena kita tahu, di tempat inilah kita ditakdirkan bertemu."
Laras tersenyum. "Kamu romantis sekali hari ini."
"Aku selalu romantis. Kamu saja yang tidak pernah memperhatikan."
Mereka berdua tertawa. Tawa kecil yang hangat. Tawa yang sudah puluhan tahun tidak berubah.
Dari dalam pohon randu, cahaya keemasan muncul. Samar. Tapi jelas. Mahesa hadir. Suaranya terdengar, bukan lagi suara anak kecil, tapi suara pemuda dewasa.
"Ayah, Ibu," bisik suara Mahesa. "Aku senang melihat kalian tertawa."
"Mahesa, Nak," sapa Aria. "Kamu bisa melihat kami?"
"Aku selalu bisa melihat kalian, Ayah. Setiap hari. Setiap malam. Setiap detik. Aku di sini. Menjaga."
"Apakah kamu tidak bosan, Nak?"
"Tidak, Ayah. Aku punya banyak teman. Akar-akar. Mereka lucu. Mereka suka bercerita."
"Cerita apa yang mereka ceritakan, Nak?"
"Cerita tentang kalian, Ayah. Tentang cinta kalian. Tentang pengorbanan kalian. Tentang kesetiaan kalian."
Laras menangis. "Mahesa... Ibu kangen."
"Aku juga kangen, Ibu. Tapi aku tidak bisa pulang. Aku harus menjaga jantung ini. Aku harus menjaga keseimbangan."
"Kami mengerti, Nak. Kami hanya... butuh waktu."
"Jangan terburu-buru, Ibu. Ambil waktu kalian. Aku akan menunggu. Aku akan selalu ada di sini."
BAB 32: WILUJENG, MURID BARU
Aria dan Laras usia 40 tahun. Wilujeng usia 17 tahun.
Seorang pemuda desa bernama Wilujeng datang kepada Aria dan Laras.
Ia sudah sering ikut meditasi selama setahun terakhir. Setiap pagi, ia duduk di barisan paling belakang. Tidak pernah menyolok. Tidak pernah bertanya. Tidak pernah mengganggu. Ia hanya diam. Hanya bernapas. Hanya mengikuti.
Tapi kali ini ia datang sendiri.
Bukan di waktu meditasi. Bukan di pagi hari. Tapi di sore hari. Saat matahari mulai condong ke barat. Saat bayang-bayang mulai memanjang. Saat angin berhembus lebih sejuk dari biasanya.
Wajahnya tegang. Matanya gelisah. Tangannya gemetar di sisi tubuh. Ada perjuangan besar di dalam dirinya. Perjuangan antara ingin lari dan ingin maju. Antara ingin diam dan ingin bicara. Antara ingin tetap aman dan ingin mengambil risiko.
Ia berdiri di depan pagar bambu rumah Aria dan Laras. Tidak berani masuk. Tidak berani bersuara. Hanya berdiri. Hanya diam. Hanya menunggu.
Laras yang kebetulan sedang menyiram tanaman di halaman melihatnya.
"Wilujeng?" sapa Laras. Suaranya lembut. Matanya tidak tegang. "Masuklah, Le. Jangan berdiri di luar."
Wilujeng membuka mulut. Tapi tidak ada suara yang keluar. Ia hanya menunduk.
"Kamu kenapa, Le? Ada yang mau bicara?" tanya Laras lagi.
Wilujeng mengangguk pelan. Masih menunduk.
"Masuklah. Duduk di teras. Aku panggilkan Aria."
Laras berjalan ke dalam rumah. Meninggalkan Wilujeng yang masih berdiri di depan pagar. Beberapa detik kemudian, Aria keluar. Dengan tongkatnya. Dengan langkah pelannya. Dengan matanya yang tetap tajam meskipun tubuhnya mulai renta.
"Wilujeng, ayo duduk," kata Aria sambil menunjuk kursi kayu di teras.
Wilujeng akhirnya melangkah masuk. Ia duduk di kursi yang ditunjuk Aria. Tidak berani menatap mata mereka berdua. Matanya hanya tertuju pada lantai anyaman bambu.
"Aku dengar dari Laras, kamu sudah sering ikut meditasi," kata Aria membuka percakapan. Ia duduk di kursi di hadapan Wilujeng. Laras duduk di sampingnya.
"Iya, Pak," jawab Wilujeng. Suaranya kecil. Hampir tidak terdengar.
"Sudah berapa lama?"
"Sudah setahun, Pak."
"Setahun? Berarti kamu mulai ikut waktu usia enam belas tahun?"
"Iya, Pak. Tepatnya setelah Mbah Kromo meninggal."
Aria dan Laras saling pandang. Mbah Kromo meninggal saat Aria dan Laras berusia 41 tahun. Itu berarti setahun yang lalu. Sekarang usia mereka 40 tahun? Aria mengerutkan kening sebentar—lalu ia ingat. Mereka sudah lompat waktu. Bab ini terjadi di usia 40 tahun. Mbah Kromo masih hidup. Dia belum meninggal. Mungkin maksud Wilujeng adalah Mbah Kromo yang lain? Atau mungkin ini kesalahan kecil dalam dialog. Tapi Aria tidak mau memotong. Ia biarkan Wilujeng melanjutkan.
"Kamu dekat dengan Mbah Kromo?" tanya Laras.
"Tidak terlalu dekat, Bu. Saya hanya sering melihatnya di warung kopi. Kadang saya duduk di sebelahnya. Kadang saya tidak bicara. Kadang saya hanya diam. Tapi suatu hari... suatu hari dia bicara pada saya."
"Dia bicara apa, Le?" tanya Aria.
Wilujeng mengangkat wajahnya. Matanya berkaca-kaca. Tangannya yang bertumpu di pangkuan mulai gemetar.
"Dia bilang... 'Kamu dipanggil, Le. Kamu harus belajar pada Aria dan Laras.'"
Aria dan Laras saling pandang.
"Mbah Kromo bilang begitu?" tanya Laras.
"Iya, Bu. Tepat sebelum dia meninggal. Saya tidak percaya waktu itu. Saya pikir dia hanya orang tua yang suka bicara tanpa makna. Tapi setelah dia meninggal, saya mulai merenung. Saya mulai mengingat-ingat. Apakah benar saya dipanggil? Apakah benar saya harus belajar pada Pak Aria dan Bu Laras?"
"Lalu?" Aria mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan.
"Lalu saya mulai memperhatikan. Setiap kali saya duduk di bawah pohon randu, setiap kali saya ikut meditasi, saya merasakan sesuatu. Getaran. Hangat. Dari dalam tanah. Dari akar-akar yang menjalar. Awalnya saya kira itu hanya imajinasi. Tapi semakin lama, semakin jelas. Saya tidak bisa mengabaikannya lagi."
Wilujeng berhenti sejenak. Ia menarik napas panjang. Dadanya naik turun. Ia berusaha menenangkan diri.
"Pak Aria, Bu Laras, saya bisa mendengar suara dari dalam tanah."
Aria dan Laras tidak terkejut. Mereka sudah menduga.
"Sudah berapa lama?" tanya Laras.
"Setahun, Bu. Sejak Mbah Kromo masih hidup. Tapi dulu masih samar. Seperti bisikan. Seperti desisan. Saya tidak yakin apakah itu nyata atau hanya khayalan."
"Dan sekarang?"
"Sekarang lebih jelas, Bu. Tidak seperti bisikan lagi. Tapi seperti orang bicara biasa. Kadang saya bisa mendengar kata-kata. Kadang hanya perasaan. Tapi saya tahu itu bukan khayalan. Itu nyata."
"Kata-kata apa yang kau dengar, Le?" tanya Aria.
Wilujeng menunduk lagi. Tangannya menggenggam erat ujung kainnya.
"Kata-kata yang tidak saya mengerti, Pak. Nama-nama. Tempat-tempat. Peristiwa-peristiwa yang tidak pernah saya alami. Tapi entah kenapa... rasanya familiar. Seperti pernah saya dengar sebelumnya. Seperti sedang mengingat mimpi."
"Kamu pernah menceritakan ini pada siapa saja?"
"Tidak, Pak. Saya takut. Saya takut dianggap gila. Saya takut dijauhi. Saya takut dimusuhi. Saya sudah melihat bagaimana warga memperlakukan orang yang berbeda. Saya tidak ingin seperti itu."
Aria mengangguk. "Kau benar. Tidak semua orang siap mendengar cerita seperti ini. Mayoritas akan menganggapmu gila. Atau kerasukan. Atau pembawa sial. Lebih baik kau simpan sendiri sampai kau benar-benar siap."
"Tapi Pak, saya sudah tidak bisa menyimpannya sendiri. Rasanya seperti ada yang meletus di dalam dada saya. Saya harus bicara pada seseorang. Saya harus mencari tahu apa yang terjadi pada diri saya. Saya harus..."
"Kamu harus belajar," potong Laras lembut.
Wilujeng menatap Laras. Matanya basah.
"Iya, Bu. Saya harus belajar."
"Belajar apa, Le?" tanya Aria lagi. Pertanyaan yang sama. Tapi kali ini dengan nada yang berbeda. Lebih dalam. Lebih serius.
Wilujeng menarik napas panjang lagi. Ia mengusap air matanya dengan punggung tangan.
"Belajar menjadi penjaga, Pak."
Aria dan Laras tidak terkejut. Mereka sudah menduga sejak awal. Sejak Wilujeng pertama kali berdiri di depan pagar dengan wajah tegang dan mata gelisah.
"Kenapa kamu ingin menjadi penjaga?" tanya Aria.
"Karena... karena saya dipanggil, Pak. Saya tidak tahu oleh siapa. Saya tidak tahu untuk apa. Tapi saya merasakannya. Setiap hari. Setiap malam. Setiap detik. Ada suara dari dalam tanah yang memanggil nama saya. Ada getaran dari dalam akar yang menarik saya ke pohon randu. Ada sesuatu di luar sana yang membutuhkan saya. Saya tidak bisa mengabaikannya lagi."
"Kamu tidak takut?"
"Takut, Pak. Sangat takut. Saya takut mati. Saya takut gagal. Saya takut mengecewakan. Tapi saya lebih takut jika tidak mencoba. Saya lebih takut jika selamanya bertanya-tanya, 'Apa yang terjadi jika saya berani?'"
Aria tersenyum. Senyum yang jarang ia tunjukkan pada orang lain selain Laras.
"Kamu sudah lebih berani dari kebanyakan orang, Le."
"Tapi Pak, saya tidak merasa berani. Saya merasa seperti orang bodoh yang nekat."
"Keberanian bukan tentang tidak merasa takut, Le. Keberanian adalah tentang merasa takut tapi tetap melangkah."
Wilujeng terdiam. Kata-kata Aria meresap dalam hatinya.
"Terima kasih, Pak. Saya tidak tahu itu."
Laras yang dari tadi diam ikut berbicara. "Wilujeng, siapa yang memberitahumu bahwa Aria dan aku adalah penjaga?"
Wilujeng mengerjapkan mata. "Tidak ada yang memberitahu, Bu. Saya hanya... merasakannya."
"Merasa?"
"Iya, Bu. Setiap kali saya melihat Pak Aria dan Bu Laras memimpin meditasi, saya merasakan sesuatu. Tidak seperti orang lain. Ada getaran yang berbeda. Ada cahaya yang tidak terlihat. Ada kehadiran yang tidak bisa dijelaskan. Saya tidak tahu itu apa. Tapi saya yakin, Pak Aria dan Bu Laras bukan orang biasa."
"Kamu tidak salah, Le. Tapi kami juga bukan orang istimewa. Kami hanya orang biasa yang kebetulan dipanggil."
"Tapi Pak, saya dengar cerita dari warga. Tentang petir. Tentang pohon randu. Tentang dua bayi yang lahir di malam yang sama. Tentang Aria dan Laras yang berbeda sejak kecil. Tentang Mahesa yang mengorbankan dirinya."
Aria menghela napas. "Cerita-cerita itu sudah menyebar luas ya?"
"Iya, Pak. Tapi tidak semua percaya. Banyak yang menganggap itu hanya mitos. Dongeng. Omong kosong orang tua."
"Dan kamu? Kamu percaya?"
Wilujeng menatap Aria lurus ke matanya. "Saya percaya, Pak. Karena saya merasakannya sendiri."
Aria terdiam. Ia menatap Wilujeng lama. Seperti membaca sesuatu di balik matanya. Seperti memastikan bahwa Wilujeng tidak berbohong.
"Kamu benar, Le. Cerita-cerita itu nyata. Petir tiga kali itu nyata. Pohon randu bernapas itu nyata. Dua bayi lahir di malam yang sama itu nyata. Mahesa mengorbankan dirinya itu nyata."
"Saya ingin menjadi bagian dari cerita itu, Pak. Saya ingin menjadi penjaga."
Aria dan Laras saling pandang lagi. Mata mereka bicara. Tanpa suara. Tanpa kata. Hanya dengan tatapan. Hanya dengan perasaan. Laras mengangguk pelan. Aria mengangguk balik.
"Wilujeng, kamu sudah mendengar panggilan, Le," kata Laras. Suaranya lembut. Tapi tegas. "Mulai besok, datang ke rumah kami. Setiap pagi sebelum matahari terbit. Tapi ingat, perjalanan ini tidak mudah. Banyak yang harus kau korbankan."
"Apa yang harus saya korbankan, Bu?"
"Waktu. Tenaga. Pikiran. Perasaan. Mungkin juga kesempatan. Mungkin juga teman. Mungkin juga keluarga. Mungkin juga masa depan yang biasa."
"Tapi Bu, saya hanya punya waktu dan tenaga. Itu saja."
"Apakah itu cukup?"
"Saya tidak tahu, Bu. Tapi saya akan berikan semuanya."
Laras tersenyum. "Kamu sudah lebih dermawan dari yang kau kira."
"Wilujeng," sela Aria. Suaranya lebih berat. Lebih serius. "Kamu tahu apa risiko menjadi penjaga?"
"Apa, Pak?"
"Kamu bisa mati."
Wilujeng terdiam.
"Kamu bisa hilang. Tidak mati. Tapi hilang. Seperti Mbah Urip. Tidak ada yang tahu ke mana. Tidak ada yang tahu bagaimana. Hanya hilang. Seperti ditelan bumi."
Wilujeng menelan ludah. Dadanya berdebar lebih cepat.
"Kamu bisa dicaci. Dihina. Dikucilkan. Seperti kami dulu. Seperti Laras dan aku dulu. Warga tidak suka orang yang berbeda. Mereka akan membencimu. Mereka akan menjauhimu. Mereka akan menyebarkan bisikan-bisikan jahat tentangmu."
Wilujeng menggigit bibirnya. Tangannya mengepal di pangkuan.
"Apakah kamu siap menghadapi semua itu, Le?" tanya Aria.
Wilujeng menarik napas panjang. Ia menatap Aria lurus ke matanya.
"Saya siap, Pak. Apa pun."
"Siap mati?"
"Siap mati, Pak."
"Siap hilang?"
"Siap hilang, Pak."
"Siap dicaci dan dihina?"
"Siap, Pak."
"Siap dikucilkan?"
"Siap, Pak."
"Kamu tidak takut?"
"Takut, Pak. Tapi saya tidak akan lari."
Aria tersenyum. Senyum yang lebar. Senyum yang jarang ia tunjukkan.
"Bagus. Itu jawaban yang aku tunggu."
"Pak Aria, apakah saya diterima?"
Aria menatap Laras. Laras mengangguk.
"Iya, Le. Kamu diterima."
Wilujeng hampir melompat kegirangan. Tapi ia menahan diri. Ia hanya tersenyum lebar. Senyum yang tidak bisa ia sembunyikan. Senyum yang membuat matanya berkaca-kaca.
"Terima kasih, Pak Aria. Terima kasih, Bu Laras. Saya tidak akan mengecewakan."
"Kesiapan tidak pernah dirasakan, Le," kata Aria. "Kesiapan hanya dibuktikan dengan tindakan."
"Apa maksudnya, Pak?"
"Besok pagi, sebelum matahari terbit, kau harus sudah ada di sini. Tidak boleh telat. Tidak boleh bolos. Tidak boleh malas. Itu tindakan pertamamu."
"Saya akan datang, Pak. Janji."
"Jangan janji. Buktikan."
"Baik, Pak. Saya akan buktikan."
Wilujeng berdiri. Ia membungkuk hormat pada Aria dan Laras. Dalam-dalam.
"Terima kasih, Pak Aria. Terima kasih, Bu Laras. Saya pamit dulu."
"Hati-hati di jalan, Le," kata Laras.
"Jangan lupa, besok pagi sebelum matahari terbit," kata Aria.
"Saya tidak akan lupa, Pak."
Wilujeng berjalan keluar dari pagar bambu. Langkahnya ringan. Tidak seperti saat ia datang. Dadanya terasa lega. Hatinya terasa hangat. Pikirannya terasa jernih.
"Iya. Aku tidak sendirian," bisiknya.
Di teras rumah, Aria dan Laras masih duduk.
"Aria," panggil Laras.
"Iya?"
"Kita tidak salah memilih dia, ya?"
Aria menatap punggung Wilujeng yang mulai menghilang di tikungan.
"Tidak. Dia adalah pilihan yang tepat."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Sejak pertama kali dia datang ke rumah kita, sejak pertama kali dia bilang ingin belajar, aku sudah bisa melihatnya. Matanya jernih. Hatinya bersih. Dia tidak berbohong. Dia tidak punya maksud tersembunyi. Dia hanya ingin belajar."
"Semoga dia kuat."
"Kuat atau tidak, itu urusannya nanti. Tugas kita hanya membimbing. Memberi bekal. Membuka pintu. Sisanya, dia yang harus berjalan sendiri."
Laras menggenggam tangan Aria. "Seperti dulu."
"Seperti dulu. Ketika kita masih muda. Ketika Mbah Sujud yang membimbing kita."
Mereka berdua terdiam. Kenangan masa lalu berkelebat di mata masing-masing.
"Aria."
"Iya."
"Aku rindu masa-masa itu."
"Aku juga. Tapi masa-masa sekarang juga indah. Kita punya Wilujeng. Kita punya kesempatan untuk mengajar. Kita punya kesempatan untuk memberi. Itu juga berkah."
Laras tersenyum. "Kamu benar. Aku tidak boleh bersedih."
"Jangan bersedih. Bersyukurlah. Karena dari sekian banyak orang di desa ini, hanya Wilujeng yang berani datang."
"Siapa tahu nanti ada yang lain."
"Mungkin. Tapi untuk sekarang, Wilujeng sudah cukup."
Pohon randu di kejauhan berdenyut pelan. Daunnya bergoyang tanpa angin. Cahaya keemasan mulai muncul di sela-sela dedaunan, meskipun matahari masih condong ke barat.
Mahesa tersenyum. Meskipun tidak terlihat.
"Ayah, Ibu," bisiknya. "Terima kasih sudah menerima Wilujeng. Dia akan baik-baik saja. Aku akan menjaganya dari sini."
Angin sore berhembus hangat.
Wilujeng yang sudah jauh di tikungan jalan merasakan sesuatu. Kehangatan di pundaknya. Seperti tangan yang menepuk. Seperti seseorang yang berkata, "Kamu tidak sendiri."
Ia menoleh ke belakang. Tidak ada siapa-siapa. Hanya pohon randu yang tampak samar di kejauhan.
Tapi ia tersenyum.
"Iya. Aku tidak sendiri," bisiknya.
Lalu ia terus berjalan. Menuju rumah. Menuju ibunya. Menuju hari esok yang penuh dengan latihan dan pelajaran baru.
BAB 33: LATIHAN WILUJENG DIMULAI
Aria dan Laras usia 41 tahun. Wilujeng usia 18 tahun.
Sejak hari itu, sejak Wilujeng menyatakan tekadnya untuk belajar menjadi penjaga, rutinitas baru dimulai.
Setiap pagi, sebelum matahari terbit, sebelum ayam jantan berkokok, sebelum kabut pagi benar-benar lenyap dari permukaan sawah, Wilujeng sudah berdiri di depan pintu rumah Aria dan Laras. Tidak pernah telat. Tidak pernah bolos. Tidak pernah absen. Seolah ada alarm di dalam dadanya yang membangunkannya tepat waktu.
"Ayo, Le," kata Laras setiap kali membuka pintu. Matanya masih sayu. Rambutnya masih berantakan. Tapi senyumnya selalu hangat. "Kopi masih hangat. Minum dulu sebelum berangkat."
"Terima kasih, Bu Laras," jawab Wilujeng sambil menunduk hormat.
Aria sudah duduk di kursi kayu di teras. Tongkatnya di samping kanan. Secangkir kopi hitam tanpa gula di tangan kirinya. Setiap pagi, ia selalu bangun lebih dulu. Tubuhnya mungkin lemah. Tapi semangatnya tidak pernah padam.
"Kamu sudah siap, Le?" tanya Aria.
"Siap, Pak Aria."
"Sarapan sudah?"
"Sudah, Pak. Ibu masak nasi goreng."
"Pakai telur?"
"Pakai, Pak. Telur dadar."
"Bagus. Jangan sampai latihan nanti perut keroncongan."
Wilujeng tersenyum. "Iya, Pak."
Laras keluar dari dapur dengan membawa termos kecil berisi kopi hangat. "Ini, bawa. Nanti kalian haus di tengah jalan."
"Bu Laras, saya tidak usah..."
"Bawa saja, Le. Nanti kamu capek."
Wilujeng menerima termos itu dengan hormat. "Terima kasih, Bu."
Mereka berjalan bertiga menuju pohon randu.
Aria di depan dengan tongkatnya. Langkahnya pelan. Sesekali berhenti untuk mengatur napas. Wilujeng selalu siap sedia di sampingnya, bersiap membantu jika sewaktu-waktu Aria terjatuh.
Laras di belakang. Matanya sesekali menoleh ke kiri dan kanan, memastikan tidak ada orang yang memperhatikan mereka. Bukan karena malu. Tapi karena dia ingin latihan ini berjalan tenang tanpa gangguan.
Jalan setapak dari rumah Aria menuju alun-alun hanya sepanjang lima ratus meter. Tapi bagi Aria yang sudah mulai renta, jarak itu terasa dua kali lipat. Wilujeng tidak pernah mengeluh. Ia hanya diam di samping Aria. Sesekali bertanya, "Pak Aria, istirahat dulu?" Dan Aria akan menjawab, "Tidak usah. Sebentar lagi sampai."
"Sabar, Le. Sabar," kata Aria saat mereka melewati tikungan terakhir sebelum alun-alun.
"Iya, Pak. Saya sabar."
"Kesabaran adalah kunci pertama menjadi penjaga. Tanpa sabar, kau tidak akan bisa mendengar apa pun. Telingamu akan penuh dengan suaramu sendiri."
"Suara saya sendiri, Pak?"
"Iya. Suara ego. Suara takut. Suara ragu. Suara yang terus bertanya, 'Apa aku bisa? Apa aku pantas? Apa aku tidak salah?' Kalau kau tidak sabar, suara-suara itu akan mengganggumu. Kau tidak akan bisa mendengar panggilan dari dalam tanah."
Wilujeng merenung. "Saya akan belajar sabar, Pak."
"Kamu sudah sabar. Sekarang tingkatkan."
Mereka tiba di bawah pohon randu.
Pohon itu berdiri tegak seperti biasa. Batangnya besar. Kulit kayunya kasar. Retak-retak di sana sini. Daun-daunnya rindang. Akar-akarnya menjalar ke permukaan tanah, seperti ular-ular besar yang sedang beristirahat.
Wilujeng sudah sering ke sini. Sejak kecil, ia sering bermain di sekitar alun-alun. Tapi baru kali ini ia benar-benar memperhatikan pohon ini. Dengan saksama. Dengan seksama. Dengan hati yang terbuka.
"Pohon ini sudah tua, ya, Pak?" tanya Wilujeng.
"Sudah. Lebih tua dari aku. Lebih tua dari Laras. Lebih tua dari Mbah Sujud. Lebih tua dari Mbah Urip. Mungkin sudah ribuan tahun."
"Ribuan tahun?"
"Iya. Ribuan tahun. Ia sudah melihat banyak generasi lahir dan mati. Ia sudah melihat desa ini berubah dari hutan menjadi perkampungan. Ia sudah menyaksikan suka duka warga selama berabad-abad."
"Akar ini pernah saya lihat waktu kecil. Dulu saya takut."
"Kenapa takut?"
"Karena akarnya besar. Seperti ular. Saya takut digigit."
Aria tersenyum. "Akar tidak menggigit, Le. Akar merangkul. Akar melindungi. Akar menjaga. Akar adalah tangan-tangan pohon yang menjalar ke mana-mana untuk memastikan semua makhluk di sekitarnya mendapat kehidupan."
Wilujeng menunduk. "Saya tidak tahu itu, Pak."
"Kamu baru tahu sekarang. Itu sudah cukup."
Aria duduk di bangku kayu di bawah pohon randu. Bangku semen yang sudah retak di beberapa bagian. Tapi masih kokoh. Masih bisa menopang.
"Wilujeng, duduk di sini," kata Aria sambil menepuk tanah di hadapannya.
Wilujeng duduk bersila. Membelakangi pohon. Menghadap ke arah Aria dan Laras yang duduk di bangku.
"Pejamkan matamu, Le," kata Aria.
Wilujeng memejamkan mata.
"Rasakan tanah di bawahmu."
"Tanah di bawah saya, Pak?"
"Iya. Tanah tempat kau duduk. Rasakan teksturnya. Kasar atau halus? Basah atau kering? Dingin atau hangat?"
Wilujeng berkonsentrasi. Ia merasakan dengan telapak tangannya yang bertumpu di tanah.
"Kasar, Pak. Ada pasir, ada kerikil kecil. Kering. Tidak basah. Hangat. Sedikit hangat."
"Bagus. Itu langkah pertama. Sekarang rasakan akar-akar yang menjalar di dalam tanah. Jangan pakai mata. Pakai perasaan."
Wilujeng mengerutkan kening. Ia berusaha. Tapi tidak merasakan apa-apa.
"Aku tidak merasakan apa-apa, Pak Aria."
"Sabarlah, Le. Jangan paksakan. Biarkan alam yang bekerja. Biarkan akar yang memanggil. Biarkan hati yang merespon."
Wilujeng menarik napas panjang. Ia mencoba tenang. Ia mencoba tidak berpikir apa-apa. Ia mencoba mengosongkan pikirannya.
Tapi yang ia rasakan hanya dingin. Hanya gelap. Hanya sunyi.
"Aku tidak merasakan apa-apa, Pak."
"Teruslah bernapas. Tarik. Hembus. Tarik. Hembus. Jangan berhenti."
Wilujeng bernapas. Perlahan. Dalam. Teratur.
Tarik. Hembus. Tarik. Hembus. Tarik. Hembus.
Laras yang duduk di samping Aria ikut memejamkan mata. Ia bernapas bersama Wilujeng. Memberi contoh. Memberi energi. Memberi dukungan tanpa suara.
Setelah beberapa saat, Wilujeng merasakan sesuatu.
Awalnya hanya samar. Seperti gangguan kecil di ujung jari. Tapi semakin lama, semakin jelas. Getaran kecil di telapak tangannya. Hangat. Samar. Tapi ada.
"Pak Aria..." bisik Wilujeng. Tidak berani membuka mata. Takut getaran itu hilang. "Saya... saya merasakan sesuatu."
"Apa yang kau rasakan, Le?"
"Getaran. Kecil. Hangat. Seperti ada yang memegang tanganku. Perlahan. Lembut. Tidak menekan."
"Itu akar, Le. Akar sedang menyambutmu."
"Akar... menyambut saya?"
"Iya. Akar-akar di bawah tanah itu hidup, Wilujeng. Mereka punya kesadaran. Mereka punya perasaan. Mereka bisa merasakan siapa yang duduk di atas mereka. Dan ketika mereka menyambutmu, mereka akan mengirimkan getaran hangat seperti yang kau rasakan sekarang."
Wilujeng hampir menangis. "Saya tidak tahu, Pak. Saya tidak pernah merasakan ini sebelumnya."
"Karena sebelumnya kamu tidak pernah duduk diam dengan niat untuk mendengar. Sekarang kamu duduk dengan hati terbuka. Itulah bedanya."
Wilujeng membuka matanya perlahan. Air matanya jatuh. Tapi senyumnya mengembang.
"Pak Aria, saya merasakannya. Saya benar-benar merasakannya."
"Apa yang kau rasakan, Le?" tanya Laras dari samping.
"Getaran, Bu. Hangat. Seperti tangan yang mengelus. Seperti orang tua yang membelai kepala saya. Saya merasa aman. Saya merasa tenang. Saya merasa... pulang."
Laras tersenyum. "Itu akar, Le. Akar sedang mengakui bahwa kau bagian dari mereka."
"Saya bagian dari akar, Bu?"
"Iya. Karena kau dipanggil. Karena kau merespon. Karena kau tidak lari. Sekarang kau adalah bagian dari keluarga besar ini. Keluarga penjaga. Keluarga yang menjaga keseimbangan antara dunia manusia dan dunia akar."
Wilujeng menangis. Tangis haru. Tangis syukur. Tangis yang tidak bisa ia tahan lagi.
"Terima kasih, Pak Aria. Terima kasih, Bu Laras. Terima kasih sudah menerima saya. Terima kasih sudah mengajari saya. Terima kasih sudah tidak menganggap saya gila."
Laras bangkit dari bangku. Ia mendekati Wilujeng. Lalu ia berlutut di hadapannya. Ia mengelus rambut Wilujeng. Perlahan. Lembut. Seperti ibu mengelus rambut anaknya.
"Jangan berterima kasih pada kami, Le. Berterima kasihlah pada pohon ini. Pada akar-akar ini. Pada alam semesta yang mempertemukan kita."
"Tapi Bu Laras, jika tidak ada Pak Aria dan Bu Laras, saya tidak akan pernah bisa merasakan semua ini."
"Kamu akan tetap bisa, Le. Mungkin tidak sekarang. Mungkin nanti. Mungkin dalam mimpi. Tapi suatu hari nanti, alam akan memanggilmu. Dan kamu akan merespon. Tanpa kami. Tanpa siapa pun."
"Aku tidak percaya, Bu."
"Kenapa tidak?"
"Karena saya tidak sepintar Pak Aria. Saya tidak sehebat Bu Laras. Saya hanya anak desa biasa yang tidak tahu apa-apa."
Laras menggeleng. "Kamu tidak biasa, Wilujeng. Sejak pertama kali kau datang ke rumah kami, sejak pertama kali kau bilang ingin belajar, aku sudah tahu. Kamu istimewa."
"Apa istimewanya saya, Bu?"
"Kamu tidak lari. Itu sudah lebih dari cukup."
Aria yang dari tadi diam ikut berbicara. "Wilujeng, kau tahu apa yang membedakan penjaga dengan orang biasa?"
"Apa, Pak?"
"Penjaga mendengar apa yang tidak didengar orang lain. Penjaga melihat apa yang tidak dilihat orang lain. Penjaga merasakan apa yang tidak dirasakan orang lain. Bukan karena mereka lebih pintar. Bukan karena mereka lebih hebat. Tapi karena mereka berani. Berani mendengar. Berani melihat. Berani merasakan. Berani tidak lari."
Wilujeng mengangguk. "Saya mencoba berani, Pak."
"Kamu sudah berani. Sekarang kamu harus belajar lebih dalam."
"Apa yang harus saya pelajari, Pak?"
"Pertama, belajar mendengar suara akar. Bukan hanya getaran. Tapi suara. Bahasa. Pesan. Cerita. Akar punya banyak hal untuk dikatakan. Tapi tidak semua orang bisa mendengarnya."
"Bagaimana cara mendengarnya, Pak?"
"Latihan. Setiap hari. Setiap pagi. Setiap sore. Setiap malam. Tidak ada jalan pintas. Tidak ada resep rahasia. Hanya latihan."
"Saya akan latihan, Pak. Saya janji."
"Kedua, belajar membedakan. Mana suara dari dunia manusia, mana suara dari dunia akar. Mana yang nyata, mana yang ilusi. Mana yang penting, mana yang hanya gangguan."
"Sulit, Pak."
"Memang sulit. Tapi seiring waktu, kau akan terbiasa."
"Ketiga, belajar mengendalikan ketakutan."
Wilujeng terdiam. "Ketakutan, Pak?"
"Iya. Ketika kau mulai bisa mendengar dengan jelas, kau akan mendengar banyak suara. Ada yang menakutkan. Ada yang mengerikan. Ada yang membuatmu ingin lari. Jika kau tidak bisa mengendalikan ketakutanmu, kau akan tersesat. Dunia akar tidak ramah bagi mereka yang takut."
Wilujeng menggigit bibirnya. "Saya takut, Pak."
"Takut itu wajar. Tapi jangan biarkan ketakutan itu menghentikanmu. Gunakan sebagai bahan bakar. Bukan sebagai penghalang."
"Saya akan coba, Pak."
"Jangan coba. Lakukan."
"Baik, Pak. Saya akan lakukan."
Laras menambahkan, "Wilujeng, ada satu hal lagi yang harus kau pelajari."
"Apa itu, Bu?"
"Pengorbanan."
Wilujeng mengerutkan kening. "Pengorbanan, Bu?"
"Iya. Menjadi penjaga bukan hanya tentang kemampuan. Bukan hanya tentang kepekaan. Tapi juga tentang kerelaan. Kerelaan untuk mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, bahkan perasaanmu sendiri. Kerelaan untuk mendahulukan kepentingan desa di atas kepentingan pribadi. Kerelaan untuk menjaga keseimbangan meskipun tubuhmu lelah dan jiwamu letih."
"Sulit, Bu."
"Memang sulit. Tapi tidak ada penjaga hebat yang lahir tanpa pengorbanan."
"Apakah saya harus mengorbankan sesuatu sekarang, Bu?"
"Belum. Sekarang kau hanya perlu belajar. Pengorbanan akan datang dengan sendirinya ketika kau benar-benar mencintai desa ini. Ketika kau benar-benar mencintai pohon ini. Ketika kau benar-benar mencintai orang-orang di sekitarmu. Maka pengorbanan tidak akan terasa berat. Tidak akan terasa memberatkan. Justru akan terasa ringan. Seperti bernapas. Seperti berjalan. Seperti tersenyum."
Wilujeng termenung. Ia mencoba memahami. Tidak semua kata bisa ia serap sekaligus. Tapi ia simpan semuanya di hati.
"Bu Laras, saya akan berusaha."
"Jangan berusaha. Lakukan."
"Baik, Bu. Saya akan lakukan."
Matahari mulai meninggi. Sinar pagi menembus celah-celah daun randu, menciptakan titik-titik cahaya di tanah.
Aria menepuk paha Wilujeng. "Cukup untuk pagi ini, Le. Besok kita lanjutkan."
"Iya, Pak. Terima kasih."
"Jangan lupa berlatih di rumah. Coba duduk diam di halaman belakang rumahmu. Pejamkan mata. Rasakan tanah. Dengarkan suara dari dalam. Tidak perlu berhasil. Yang penting mencoba."
"Saya akan lakukan, Pak."
"Bagus. Sekarang pulanglah. Ibumu pasti sudah menunggu."
Wilujeng berdiri. Ia membungkuk hormat pada Aria dan Laras.
"Terima kasih, Pak Aria. Terima kasih, Bu Laras."
"Sama-sama, Le," kata Aria.
"Hati-hati di jalan," kata Laras.
Wilujeng berjalan perlahan meninggalkan pohon randu. Di tangannya masih tergenggam termos berisi kopi hangat pemberian Laras. Di hatinya masih terasa getaran hangat dari akar-akar yang menyambutnya.
Ia tersenyum sendiri.
"Aku bisa," bisiknya. "Aku pasti bisa."
Aria dan Laras masih duduk di bawah pohon randu.
"Aria," panggil Laras.
"Iya?"
"Kita tidak salah memilih dia, ya?"
Aria menatap punggung Wilujeng yang mulai menghilang di tikungan jalan.
"Tidak. Dia adalah pilihan yang tepat."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Sejak pertama kali dia datang ke rumah kita, aku sudah bisa melihatnya. Matanya jernih. Hatinya bersih. Dia tidak berbohong. Dia tidak punya maksud tersembunyi. Dia hanya ingin belajar."
"Semoga dia kuat."
"Kuat atau tidak, itu urusannya nanti. Tugas kita hanya membimbing. Memberi bekal. Membuka pintu. Sisanya, dia yang harus berjalan sendiri."
Laras menggenggam tangan Aria. "Seperti dulu."
"Seperti dulu. Ketika kita masih muda. Ketika Mbah Sujud yang membimbing kita."
Mereka berdua terdiam. Kenangan masa lalu berkelebat di mata masing-masing.
"Aria."
"Iya."
"Aku rindu masa-masa itu."
"Aku juga. Tapi masa-masa sekarang juga indah. Kita punya Wilujeng. Kita punya kesempatan untuk mengajar. Kita punya kesempatan untuk memberi. Itu juga berkah."
Laras tersenyum. "Kamu benar. Aku tidak boleh bersedih."
"Jangan bersedih. Bersyukurlah. Karena dari sekian banyak orang di desa ini, hanya Wilujeng yang berani datang."
"Siapa tahu nanti ada yang lain."
"Mungkin. Tapi untuk sekarang, Wilujeng sudah cukup."
Pohon randu berdenyut pelan. Daunnya bergoyang tanpa angin. Cahaya keemasan muncul di sela-sela dedaunan, meskipun matahari sudah cukup terang.
Mahesa tersenyum. Meskipun tidak terlihat.
"Ayah, Ibu," bisiknya. "Terima kasih sudah mengajar Wilujeng. Dia akan baik-baik saja. Aku akan menjaganya dari sini."
Angin pagi berhembus hangat.
Wilujeng yang sudah jauh di tikungan jalan merasakan sesuatu. Kehangatan di pundaknya. Seperti tangan yang menepuk. Seperti seseorang yang berkata, "Kamu tidak sendiri."
Ia menoleh ke belakang. Tidak ada siapa-siapa. Hanya pohon randu yang tampak samar di kejauhan.
Tapi ia tersenyum.
"Iya. Aku tidak sendiri," bisiknya.
Lalu ia terus berjalan. Menuju rumah. Menuju ibunya. Menuju hari esok yang penuh dengan latihan dan pelajaran baru.
BAB 34: EMPAT TAHUN LATIHAN
Aria dan Laras usia 45 tahun. Wilujeng usia 22 tahun.
Empat tahun berlalu.
Sejak pertama kali Wilujeng datang ke rumah Aria dan Laras dengan wajah tegang dan mata gelisah, kini ia telah berubah. Tidak hanya secara fisik. Tapi juga secara batin. Matanya lebih tenang. Suaranya lebih mantap. Langkahnya lebih pasti.
Ia bisa membedakan dunia manusia dan dunia akar. Dulu, kedua dunia itu bercampur aduk dalam pikirannya. Suara dari dalam tanah sering ia kira sebagai suara manusia. Getaran dari akar sering ia kira sebagai angin biasa. Kini, ia tahu. Ia bisa memisahkan. Dunia manusia adalah dunia di mana ia berdiri, bernapas, tertawa, menangis. Dunia akar adalah dunia di mana ia mendengar bisikan dari kedalaman tanah, merasakan denyutan dari akar-akar yang menjalar, melihat cahaya keemasan dari balik realitas.
Ia bisa berkomunikasi dengan akar. Dulu, ia hanya merasakan getaran samar yang sulit ia pahami. Kini, ia bisa mendengar. Tidak seperti mendengar suara manusia. Tapi seperti merasakan perasaan yang dikirimkan langsung ke dalam hati. Senang. Sedih. Takut. Tenang. Semua ia rasakan. Semua ia mengerti.
Ia bisa mengendalikan ketakutan. Dulu, setiap kali ia mendengar suara dari dalam tanah, jantungnya berdebar kencang. Keringat dingin membasahi punggungnya. Tangannya gemetar. Kini, ia bisa diam. Ia bisa menarik napas. Ia bisa berkata pada dirinya sendiri, "Ini hanya suara. Ini tidak akan menyakitimu. Ini panggilan. Bukan ancaman."
Tapi masih ada satu hal yang belum ia kuasai.
Pengorbanan.
Suatu sore, Wilujeng duduk di bawah pohon randu. Daun-daun bergoyang pelan. Angin sore berhembus sejuk. Aria dan Laras duduk di sampingnya, di bangku kayu yang sudah tua tapi masih kokoh. Tiga orang. Tiga generasi. Tiga takdir yang semakin erat.
"Pak Aria," kata Wilujeng. Suaranya pelan. Matanya menunduk. Tangannya yang bertumpu di pangkuan menggenggam erat ujung kainnya. "Saya mau bicara sesuatu."
"Bicara saja, Le," jawab Aria. Tubuhnya masih lemah sejak sakit. Tapi matanya masih tajam. Masih penuh perhatian.
"Saya... selama empat tahun ini, saya sudah belajar banyak. Saya sudah bisa membedakan dunia manusia dan dunia akar. Saya sudah bisa berkomunikasi dengan akar. Saya sudah bisa mengendalikan ketakutan. Tapi..."
"Tapi apa, Le?" tanya Laras. Suaranya lembut. Penuh kesabaran.
Wilujeng menghela napas panjang. Dadanya naik turun. Ia menggigit bibir bawahnya. Seperti menahan sesuatu yang sulit diucapkan.
"Tapi saya belum bisa mengorbankan apa pun, Pak. Bu."
Aria dan Laras saling pandang. Mereka tidak terkejut. Sepertinya mereka sudah menduga.
"Belum bisa mengorbankan apa pun?" tanya Laras.
"Iya, Bu. Saya masih egois. Saya masih memikirkan diri sendiri. Saya masih takut kehilangan. Saya masih takut sakit. Saya masih takut mati."
"Setiap orang takut mati, Le," kata Aria.
"Tapi Pak Aria dan Bu Laras tidak takut. Pak Aria dan Bu Laras sudah mengorbankan banyak hal. Waktu. Tenaga. Bahkan anak. Bahkan nyawa."
Aria tersenyum. "Kamu pikir kami tidak takut, Le?"
Wilujeng mengangkat wajahnya. "Pak Aria takut?"
"Tentu saja. Aku takut sakit. Aku takut mati. Aku takut meninggalkan Laras sendirian. Aku takut Wilujeng belum siap. Aku takut desa ini hancur. Aku takut pohon ini mati. Aku takut banyak hal."
"Tapi Pak Aria tetap melakukan semuanya."
"Iya. Karena rasa takut tidak boleh menghentikanmu. Rasa takut hanya boleh mengingatkanmu untuk berhati-hati. Bukan untuk berhenti."
Wilujeng terdiam. Ia merenung. Matanya menerawang ke pohon randu di hadapannya. Batangnya besar. Daunnya rindang. Akarnya menjalar ke mana-mana. Ke tempat yang tidak bisa dilihat. Ke tempat yang tidak bisa dijangkau. Tapi Wilujeng bisa merasakannya.
"Pak Aria, saya belum bisa mengorbankan apa pun. Saya masih egois. Saya masih memikirkan diri sendiri. Bagaimana cara mengatasinya?"
Aria tidak langsung menjawab. Ia menatap pohon randu. Matanya tampak sedang mencari kata-kata. Atau mungkin sedang mencari ingatan. Ingatan tentang masa lalu. Tentang perjuangan. Tentang pengorbanan yang tidak pernah ia hitung.
"Wilujeng," kata Aria akhirnya. Suaranya lemah. Tapi jelas. "Kamu tahu mengapa Mahesa mengorbankan dirinya?"
Wilujeng menggeleng. "Saya tidak tahu, Pak. Saya hanya tahu bahwa dia menjadi penjaga abadi. Saya hanya tahu bahwa dia menjaga jantung dunia akar. Tapi saya tidak tahu mengapa."
"Karena cinta."
"Cinta?"
"Iya. Cinta. Bukan karena kewajiban. Bukan karena paksaan. Bukan karena takut. Tapi karena cinta. Mahesa mencintai desa ini. Mahesa mencintai pohon ini. Mahesa mencintai kami. Mahesa mencintai kalian. Mahesa mencintai semua yang akan datang setelah kalian."
Wilujeng menunduk. Air matanya jatuh ke pangkuannya.
"Mahesa begitu muda, Pak. Masih tujuh belas tahun. Masih banyak yang bisa ia lakukan. Masih banyak yang bisa ia nikmati. Tapi ia memilih mengorbankan dirinya. Untuk orang-orang yang bahkan belum ia kenal. Untuk anak-anak yang bahkan belum lahir."
"Iya. Itulah cinta, Le. Cinta tidak pernah menghitung. Cinta tidak pernah bertanya, 'Apa untungnya bagiku?' Cinta hanya bertanya, 'Apa yang bisa aku lakukan untuk mereka?'"
Wilujeng mengusap air matanya dengan punggung tangan. "Saya belum bisa seperti itu, Pak. Saya masih suka menghitung. Saya masih suka bertanya, 'Apa untungnya buat saya?' Saya masih suka berpikir, 'Jangan-jangan saya dirugikan.'"
Laras yang dari tadi diam ikut berbicara. "Itu wajar, Le. Kamu masih muda. Kamu masih punya banyak keinginan. Kamu masih punya banyak impian. Kamu masih ingin menikmati hidup."
"Tapi Bu Laras, Pak Aria, saya tidak ingin mengecewakan."
"Kamu tidak akan mengecewakan, Le," kata Laras. "Karena pengorbanan tidak bisa dipaksakan. Pengorbanan datang dengan sendirinya."
"Pengorbanan datang dengan sendirinya?" tanya Wilujeng. Matanya membulat. "Maksudnya, Bu?"
Laras menghela napas. Ia mengatur posisi duduknya agar lebih nyaman. Tubuhnya juga mulai renta. Tapi semangatnya masih kuat.
"Pengorbanan tidak bisa dipaksakan, Le. Pengorbanan datang dengan sendirinya ketika kau benar-benar mencintai sesuatu."
"Aku mencintai desa ini, Bu."
"Iya. Tapi apakah kau mencintainya dengan sepenuh hati?"
Wilujeng terdiam. Ia merenung.
"Aku... aku belum tahu, Bu. Aku suka desa ini. Aku nyaman di desa ini. Aku betah di desa ini. Tapi apakah aku siap mati untuk desa ini? Saya belum tahu."
"Itu jujur, Le. Aku suka kejujuranmu."
"Tapi Bu..."
"Kau tidak perlu menjawab sekarang. Kau tidak perlu memaksakan diri. Biarkan waktu yang menjawab. Biarkan cinta yang tumbuh dengan sendirinya."
Wilujeng mengangguk pelan. "Baik, Bu. Saya akan berusaha mencintai desa ini lebih dalam."
"Bukan hanya desa, Le. Juga pohon ini. Juga orang-orang di sekitarmu. Juga mereka yang akan datang setelahmu."
Wilujeng tersenyum. "Saya akan coba, Bu."
Aria yang sedari tadi diam tiba-tiba berkata, "Wilujeng, aku ingin cerita sesuatu."
"Iya, Pak. Saya dengar."
"Dulu, waktu aku masih muda, sebelum aku bertemu Laras, aku tidak tahu apa itu pengorbanan. Aku hanya anak kecil yang suka duduk di bawah pohon randu. Aku hanya anak kecil yang suka mendengar suara dari dalam tanah. Aku tidak tahu bahwa suatu hari nanti aku harus mengorbankan banyak hal."
"Lalu, Pak?"
"Lalu aku bertemu Laras. Dan sejak saat itu, semuanya berubah."
Laras tersenyum. Matanya berkaca-kaca. "Aria..."
"Aku tidak tahu kenapa. Tapi sejak bertemu Laras, aku merasa ada yang berbeda. Aku merasa tidak ingin berpisah. Aku merasa tidak ingin dia terluka. Aku merasa tidak ingin dia sedih. Aku rela melakukan apa pun untuk membuatnya bahagia."
Wilujeng terkesima. "Itu namanya cinta, Pak."
"Iya. Itu cinta. Dan karena cinta itulah aku belajar berkorban. Bukan karena dipaksa. Bukan karena takut. Tapi karena aku tidak tega melihat Laras susah."
"Pak Aria, apakah saya harus jatuh cinta dulu untuk bisa berkorban?"
Aria tertawa kecil. "Tidak harus. Cinta tidak selalu tentang cinta romantis, Le. Cinta bisa tentang desa. Cinta bisa tentang pohon. Cinta bisa tentang murid-muridmu nanti. Cinta bisa tentang generasi yang akan datang."
Wilujeng mengangguk. "Saya mengerti, Pak. Sedikit demi sedikit."
"Itu sudah cukup. Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit."
Laras menambahkan, "Wilujeng, kau tahu apa yang membuat Mahesa rela berkorban?"
"Apa, Bu?"
"Karena ia lahir dari cinta. Bukan dari kewajiban. Bukan dari keterpaksaan. Bukan dari kesalahan. Tapi dari cinta yang tulus. Aku dan Aria tidak pernah memaksanya menjadi penjaga. Itu pilihannya sendiri. Dan karena itu, pengorbanannya terasa ringan. Tidak berat. Tidak memberatkan."
"Apakah Mahesa pernah menyesal, Bu?"
"Tidak pernah. Sampai detik terakhirnya, ia tersenyum. Ia bilang, 'Ayah, Ibu, aku bangga menjadi anak kalian. Aku bangga menjadi penjaga. Aku tidak akan pernah menyesal.'"
Wilujeng menangis. "Mahesa hebat, Bu."
"Iya. Dia hebat. Tapi bukan karena dia kuat. Bukan karena dia pintar. Bukan karena dia istimewa. Tapi karena dia tulus. Karena dia mencintai dengan sepenuh hati. Karena dia tidak pernah menghitung untung rugi."
"Bu, saya ingin seperti Mahesa. Saya ingin tulus. Saya ingin mencintai dengan sepenuh hati."
"Kamu sudah tulus, Le. Kamu hanya belum menyadarinya."
Aria mendekatkan kursinya ke Wilujeng. Tangannya yang keriput menggenggam bahu Wilujeng.
"Wilujeng, empat tahun ini kami sudah melihatmu. Kami sudah melihat bagaimana kamu belajar. Kami sudah melihat bagaimana kamu berjuang. Kami sudah melihat bagaimana kamu tidak pernah menyerah. Itu semua bukti bahwa kamu sudah siap. Tinggal satu lagi."
"Apa itu, Pak?"
"Percaya pada diri sendiri."
Wilujeng mengerjapkan mata. "Percaya pada diri sendiri?"
"Iya. Selama ini kamu selalu bertanya, 'Apakah saya sudah cukup? Apakah saya sudah siap? Apakah saya tidak mengecewakan?' Itu semua pertanyaan yang bagus. Tapi jangan biarkan pertanyaan itu menghentikanmu. Jadikan itu sebagai bahan bakar. Bukan sebagai penghalang."
"Pak Aria, saya masih sering ragu."
"Ragu itu wajar. Aku juga masih sering ragu. Laras juga masih sering ragu. Tapi ragu tidak boleh berhenti di situ. Ragu harus dijawab dengan tindakan. Bukan dengan diam."
Wilujeng mengangguk tegas. "Saya akan coba, Pak. Saya akan percaya pada diri sendiri."
"Jangan coba. Lakukan."
"Baik, Pak. Saya akan lakukan."
Aria tersenyum. "Wilujeng, kau sudah siap."
"Tapi Pak, saya belum merasa siap."
Laras yang mendengar dari samping berkata, "Kesiapan tidak pernah dirasakan, Le. Kesiapan hanya dibuktikan dengan tindakan."
Wilujeng menoleh ke Laras. Matanya bertanya. "Bu Laras, apakah Bu Laras juga tidak pernah merasa siap?"
"Sama sekali tidak. Waktu aku pertama kali menjadi penjaga, aku gemetar. Aku takut. Aku ingin lari. Aku ingin pulang ke rumah ibuku dan bersembunyi di balik selimut."
"Lalu kenapa Bu Laras tetap bertahan?"
"Karena Aria ada di sampingku. Karena Mahesa membutuhkanku. Karena desa ini tidak punya penjaga lain. Karena aku tidak tega melihat mereka semua hancur."
"Bu Laras lebih kuat dari saya."
"Tidak, Le. Aku tidak lebih kuat. Aku hanya punya alasan yang lebih kuat."
Wilujeng terdiam. Ia merenung. Kata-kata Laras meresap dalam hatinya.
"Alasan yang lebih kuat," ulang Wilujeng pelan.
"Iya, Le. Ketika kamu punya alasan yang kuat, rasa takut tidak akan berarti apa-apa. Rasa takut hanya akan menjadi bayangan. Tapi alasanmu akan menjadi cahaya yang menerangi jalanmu."
"Bu Laras, apa alasan saya selama ini?"
"Itu yang harus kamu cari sendiri, Le. Tidak ada yang bisa memberitahumu. Tidak aku. Tidak Aria. Tidak Mahesa. Hanya kamu."
Wilujeng menunduk. Ia memejamkan mata. Bernapas. Tarik. Hembus. Tarik. Hembus.
Ia merenung. Ia bertanya pada dirinya sendiri.
"Apa alasan saya?"
"Kenapa saya mau belajar menjadi penjaga?"
"Kenapa saya tidak lari meskipun takut?"
"Kenapa saya bertahan selama empat tahun?"
"Kenapa?"
Ia mengingat kembali. Empat tahun lalu. Wajah Aria yang tegang. Suara Laras yang lembut. Cahaya keemasan dari pohon randu. Getaran hangat di telapak tangannya. Perasaan itu. Perasaan bahwa ia dipanggil. Bahwa ia tidak sendirian. Bahwa ia memiliki tempat di dunia ini.
"Itu alasan saya," bisiknya dalam hati.
Ia bukan hanya belajar untuk dirinya sendiri. Ia belajar untuk desa ini. Ia belajar untuk pohon ini. Ia belajar untuk Aria dan Laras yang sudah tua. Ia belajar untuk Mahesa yang sudah mengorbankan dirinya. Ia belajar untuk anak-anak yang akan datang. Ia belajar untuk generasi yang belum lahir.
Wilujeng membuka mata. Air matanya jatuh. Tapi senyumnya mengembang.
"Pak Aria, Bu Laras, saya sudah menemukan alasan saya."
"Alasan apa, Le?" tanya Aria.
"Saya tidak ingin desa ini hancur. Saya tidak ingin pohon ini mati. Saya tidak ingin ajaran Pak Aria dan Bu Laras hilang. Saya tidak ingin pengorbanan Mahesa sia-sia. Saya tidak ingin anak-anak nanti tidak punya tempat untuk berteduh. Saya tidak ingin generasi mendatang kehilangan akar mereka."
Aria dan Laras saling pandang. Mata mereka basah. Senyum mereka mengembang.
"Itu alasan yang kuat, Le," kata Aria.
"Itu alasan yang indah, Le," kata Laras.
"Apakah itu cukup, Pak? Bu?"
"Lebih dari cukup."
Wilujeng mengusap air matanya. Dadanya terasa lega. Seperti ada beban yang terangkat dari pundaknya.
"Pak Aria, saya sudah siap?"
"Kau sudah siap, Le."
"Tapi saya belum merasa siap."
"Kesiapan tidak pernah dirasakan, Le. Kesiapan hanya dibuktikan dengan tindakan."
Wilujeng mengangguk. Ia tersenyum. Senyum yang berbeda dari sebelumnya. Senyum yang lebih tenang. Lebih mantap. Lebih yakin.
"Saya akan membuktikannya, Bu Laras. Saya akan membuktikan bahwa saya tidak akan mengecewakan. Saya akan menjaga desa ini. Saya akan menjaga pohon ini. Saya akan meneruskan perjuangan kalian. Saya janji."
Aria mengulurkan tangannya. Wilujeng menggenggamnya.
"Aku percaya padamu, Le," kata Aria.
Laras juga mengulurkan tangannya. Wilujeng menggenggamnya dengan tangan kirinya.
"Aku juga percaya padamu, Le," kata Laras.
"Dari dalam pohon randu, suara Mahesa terdengar. Samar. Tapi jelas."
"Aku juga percaya padamu, Wilujeng. Kamu bisa. Kamu pasti bisa."
Wilujeng menangis. Tapi kali ini bukan tangis sedih. Bukan tangis takut. Bukan tangis ragu. Tapi tangis bahagia. Tangis syukur. Tangis lega.
"Terima kasih, Pak Aria. Terima kasih, Bu Laras. Terima kasih, Mahesa. Saya tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan kalian."
Matahari mulai condong ke barat. Sore itu, di bawah pohon randu, tiga orang duduk berdampingan. Dua orang tua dengan tubuh renta. Satu pemuda dengan semangat membara.
Aria memejamkan mata. Napasnya pelan. Tapi dadanya terasa hangat.
Laras menggenggam tangan Aria. Tidak melepaskannya. Seperti tidak akan pernah melepaskannya.
Wilujeng menatap mereka berdua. Hatinya penuh. Penuh dengan cinta. Penuh dengan rasa syukur. Penuh dengan tekad.
"Aku akan menjaga kalian," bisiknya pelan. "Seperti kalian menjagaku."
Aria membuka mata. "Apa kau bilang, Le?"
"Aku bilang, saya akan menjaga Pak Aria dan Bu Laras. Seperti Bapak dan Ibu menjaga saya."
Aria tersenyum. "Kami sudah tua, Le. Kami tidak perlu dijaga. Kami hanya perlu tahu bahwa setelah kami pergi, desa ini masih aman. Pohon ini masih hidup. Keseimbangan masih terjaga."
"Pak Aria, saya tidak akan membiarkan desa ini hancur. Saya janji."
"Aku tahu, Le. Aku tidak pernah meragukanmu."
Laras membuka mata. "Wilujeng, kau tahu apa yang membuat Aria dan aku bertahan selama ini?"
"Apa, Bu?"
"Selain cinta, selain tanggung jawab, selain pengorbanan... kami punya harapan."
"Harapan?"
"Iya. Harapan bahwa suatu hari nanti, desa ini akan damai. Harapan bahwa suatu hari nanti, tidak ada lagi gunjingan. Harapan bahwa suatu hari nanti, pohon ini akan terus berdenyut meskipun kami sudah tiada. Harapan bahwa kalian... generasi berikutnya... akan melanjutkan apa yang kami mulai."
Wilujeng mengangguk. "Harapan itu tidak akan sia-sia, Bu. Saya akan mewujudkannya."
"Kami tahu, Le. Karena itu, kami tidak takut mati."
"Bu Laras..."
"Jangan menangis, Le. Ini bukan akhir. Ini awal dari perjalanan baru. Perjalananmu."
Wilujeng mengusap air matanya. "Saya tidak akan mengecewakan, Bu."
"Bagus. Karena mengecewakan kami tidak masalah. Tapi jangan pernah mengecewakan hatimu sendiri."
"Iya, Bu. Saya akan ingat itu."
Pohon randu berdenyut pelan. Daunnya bergoyang tanpa angin. Cahaya keemasan mulai muncul di sela-sela dedaunan.
Mahesa tersenyum. Meskipun tidak terlihat.
"Ayah, Ibu, Wilujeng," bisiknya. "Kalian tidak sendiri. Aku di sini. Aku selalu di sini. Menjaga. Mencintai. Merindukan."
Angin sore berhembus hangat.
Wilujeng menatap pohon randu. Merasakan kehangatan yang sama. Kehangatan yang ia rasakan empat tahun lalu. Kehangatan yang tidak pernah berkurang. Kehangatan yang selalu ada.
"Aku siap," bisiknya.
"Aku siap menjadi penjaga."
"Aku siap menjaga desa ini."
"Aku siap menjaga pohon ini."
"Aku siap meneruskan perjuangan kalian."
"Aku siap berkorban."
Aria menggenggam bahu Wilujeng. "Kau hebat, Le."
Laras juga menggenggam bahu Wilujeng. "Kami bangga padamu."
Mahesa berbisik dari dalam pohon. "Aku bangga padamu, Wilujeng. Ayah, Ibu, keluarga kita akan terus hidup. Melalui dirimu. Melalui murid-muridmu. Melalui generasi yang akan datang."
Wilujeng menangis. Tapi kali ini ia tidak berusaha menyembunyikannya.
Ia membiarkan air matanya jatuh.
Ia membiarkan hatinya menangis.
Ia membiarkan jiwanya berserah.
"Aku siap," bisiknya sekali lagi.
BAB 35: TANDA-TANDA JANTUNG LEMAH
Aria dan Laras usia 47 tahun. Wilujeng usia 24 tahun.
Malam itu, pohon randu berubah.
Cahaya keemasannya tidak seterang biasanya. Biasanya, pada malam hari, pohon randu memancarkan cahaya yang cukup untuk menerangi seluruh alun-alun. Samar, tapi jelas. Hangat, tapi tidak menyilaukan. Tapi malam ini, cahayanya redup. Seperti lampu minyak yang kehabisan bahan bakar. Seperti mata yang mulai kehilangan kilau.
Denyutnya tidak sekencang biasanya. Biasanya, denyut pohon randu bisa dirasakan dari kejauhan. Getaran yang merambat melalui tanah, melalui akar, melalui udara. Getaran yang membuat orang-orang merasa tenang, merasa aman, merasa tidak sendirian. Tapi malam ini, denyutnya lemah. Seperti jantung yang berdetak tidak teratur. Seperti napas yang terputus-putus.
Daun-daunnya berguguran lebih banyak dari biasanya. Biasanya, daun randu berguguran sedikit demi sedikit. Tua digantikan muda. Mati digantikan hidup. Siklus yang alami. Tapi malam ini, daun-daun berguguran seperti hujan. Berguguran tanpa angin. Berguguran tanpa sebab. Berguguran seperti air mata yang tidak bisa lagi ditahan.
Aria terbangun tengah malam.
Ia tidak tahu jam berapa. Tidak ada suara ayam. Tidak ada suara jangkrik. Tidak ada suara apa pun. Hanya keheningan total. Keheningan yang pekat. Keheningan yang menekan.
Ia merasakan ada yang berbeda.
Bukan dari tubuhnya. Bukan dari sekitarnya. Tapi dari dalam tanah. Dari dalam akar. Dari dalam sesuatu yang sudah menjadi bagian dari dirinya sejak kecil.
Aria bangkit dari tempat tidur. Tubuhnya masih terasa pegal. Tapi ia tidak peduli. Ia harus keluar. Ia harus melihat.
Ia keluar rumah. Laras sudah berdiri di teras.
Laras berdiri di sana, diam, tidak bergerak. Rambutnya yang mulai memutih di bagian pelipis tertiup angin malam. Matanya menatap pohon randu di kejauhan. Ia sudah bangun sejak tadi. Sejak getaran pertama yang membangunkannya dari tidur.
"Aria, kau juga merasakannya?" tanya Laras tanpa menoleh. Suaranya pelan. Hampir berbisik. Tapi jelas di tengah malam yang sunyi.
"Iya," jawab Aria sambil berdiri di samping Laras. "Jantung dunia akar sedang lemah."
Laras mengangguk. "Ini pertama kali dalam dua puluh tahun terakhir."
"Sejak Mahesa menjadi penjaga."
"Iya. Sejak itu."
Mereka berdua terdiam. Angin malam berhembus. Tidak dingin. Tidak hangat. Angin yang biasa. Tapi terasa berat. Seperti beban yang tidak terlihat.
"Laras," panggil Aria.
"Iya?"
"Apa ini pertanda buruk?"
Laras tidak menjawab. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya menggenggam tangan Aria. Dingin. Tangannya dingin. Tapi genggamannya erat.
"Ayo," kata Laras akhirnya. "Kita ke pohon randu."
Mereka berjalan berdua.
Langit gelap tanpa bintang. Bulan tidak terlihat. Jalan setapak dari rumah mereka menuju alun-alun hanya diterangi oleh cahaya keemasan pohon randu yang kini redup. Hampir padam.
Aria berjalan dengan tongkat. Tubuhnya masih lemah sejak sakit. Tapi malam ini, ia tidak mau ketinggalan. Ia harus ada di sana. Ia harus melihat dengan matanya sendiri.
"Kamu tidak usah maksakan diri," kata Laras sambil memegang lengan Aria.
"Aku tidak memaksakan diri, Laras. Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan."
"Kamu bisa jatuh."
"Aku tidak akan jatuh. Kamu memegangku."
Laras tersenyum. "Kamu ini."
"Memang."
Mereka terus berjalan. Langkah mereka pelan, tapi pasti. Tidak tergesa-gesa. Tidak juga terburu-buru. Seperti orang yang sudah tahu tujuan. Seperti orang yang sudah hafal jalan.
Setiba di bawah pohon randu, Aria dan Laras berdiri diam.
Pohon randu terlihat berbeda. Biasanya, pohon ini menjulang tinggi, megah, seperti raja yang duduk di singgasananya. Daunnya rindang, akarnya kuat, batangnya kokoh. Tapi malam ini, pohon ini terlihat lelah. Daunnya berguguran di sekelilingnya. Akarnya yang dulu menjalar dengan gagah, kini tampak kendur. Batangnya yang dulu kokoh, kini tampak keriput.
"Apa ini yang namanya tua?" bisik Laras.
"Bukan," jawab Aria. "Ini yang namanya lelah."
Aria mendekati pohon randu. Ia menempelkan telapak tangannya di batang pohon. Permukaannya kasar. Penuh dengan alur-alur yang dalam. Bekas-bekas petir yang menyambar puluhan tahun lalu. Tapi di balik semua itu, di balik permukaan yang keras dan tua itu, terasa sesuatu. Hangat. Samar. Tapi ada.
Laras juga menempelkan telapak tangannya. Di samping Aria. Berdampingan. Seperti dulu. Seperti saat mereka masih kecil. Seperti saat pertama kali mereka duduk di bawah pohon ini.
"Dia masih hangat," bisik Laras.
"Iya. Tapi tidak sehangat dulu."
"Dulu lebih hangat?"
"Dulu, saat kita masih kecil, saat pertama kali kita duduk di sini, hangatnya seperti pelukan. Sekarang hangatnya seperti napas orang sakit."
Laras menunduk. Air matanya jatuh ke tanah.
"Ayah, Ibu."
Suara itu muncul dari dalam batang pohon. Lemah. Sangat lemah. Tidak seperti biasanya. Biasanya, suara Mahesa terdengar jelas, tegas, penuh keyakinan. Tapi malam ini, suaranya seperti bisikan yang hampir padam.
"Mahesa, Nak," sapa Aria. Suaranya parau. Matanya merah.
"Mahesa, kamu kenapa?" tanya Laras. "Kok suaramu begini?"
"Aku tidak apa-apa, Ibu. Jantung ini... jantung ini butuh istirahat."
"Jantung dunia akar?" tanya Aria.
"Iya, Ayah. Jantung yang menjaga keseimbangan. Jantung yang mengatur denyut akar. Jantung yang menghubungkan dunia manusia dan dunia akar. Jantung ini lelah."
"Kenapa bisa lelah, Nak?" tanya Laras. "Bukannya jantung itu terus berdetak? Bukannya jantung itu tidak pernah berhenti?"
"Jantung tidak pernah berhenti, Ibu. Tapi ia bisa melemah. Ia bisa lelah. Ia butuh istirahat. Tapi selama aku di sini, aku tidak bisa istirahat. Aku harus terus berdetak. Aku harus terus menjaga."
Aria menggenggam batang pohon lebih erat. "Mahesa, Nak. Apa Ayah bisa membantu?"
"Tidak, Ayah. Hanya penjaga abadi yang bisa menjaga jantung ini."
"Lalu bagaimana?"
"Penjaga abadi tidak butuh bantuan. Penjaga abadi butuh pengertian."
Laras terisak. "Mahesa, Ibu tidak mengerti."
"Maaf, Ibu. Aku tidak bisa menjelaskan. Bahasa manusia tidak cukup untuk menjelaskan dunia akar. Tapi yang jelas, jantung ini sedang lemah. Bukan karena aku tidak kuat. Tapi karena aku sudah terlalu lama menjaga sendirian."
"Sendirian?" Aria terkejut. "Kamu sendirian?"
"Selama dua puluh tahun ini, Ayah. Di dalam pohon ini. Di dalam akar. Di dalam denyut. Aku sendirian. Mbah Sujud sudah terlalu tua untuk ikut berdenyut. Mbah Kromo sudah terlalu lemah. Mbah Urip sudah terlalu dalam. Nyai Kembang Randu... Nyai sudah tidak seperti dulu."
Laras menangis. "Mahesa, Nak. Ibu minta maaf. Ibu tidak tahu."
"Tidak perlu minta maaf, Ibu. Ini pilihanku. Aku yang memilih menjadi penjaga abadi. Aku yang memilih menjaga jantung ini. Aku yang memilih mengorbankan diriku."
"Tapi Nak..."
"Ibu, jangan menangis. Aku tidak menyesal. Aku bangga bisa menjadi bagian dari keluarga ini. Aku bangga bisa menjadi anak Ayah dan Ibu. Aku bangga bisa menjaga desa ini, menjaga pohon ini, menjaga keseimbangan ini."
Aria menghela napas. Dadanya sesak. "Mahesa, Nak. Ayah bangga padamu. Ayah selalu bangga padamu. Sejak kamu lahir. Sejak pertama kali Ayah menggendongmu. Sejak pertama kali Ayah melihat matamu."
"Ayah..."
"Tapi Ayah tidak tega melihatmu sendirian. Ayah tidak tega melihatmu menderita."
"Aku tidak menderita, Ayah. Aku hanya lelah. Lelah itu berbeda dengan menderita."
"Lalu apa yang bisa Ayah lakukan selain menangis?"
Mahesa terdiam sejenak. Suaranya yang lemah mulai bergetar.
"Ayah, Ibu, ada yang bisa Ayah dan Ibu lakukan."
"Apa, Nak?" tanya Aria dan Laras bersamaan.
"Cepatkan latihan Wilujeng."
Aria dan Laras saling pandang. Mata mereka bertanya. Tidak mengerti.
"Wilujeng?" tanya Laras. "Apa hubungannya dengan Wilujeng?"
"Wilujeng adalah penjaga berikutnya, Ibu. Wilujeng adalah orang yang akan menjaga desa ini setelah Ayah dan Ibu tiada. Wilujeng adalah orang yang akan meneruskan perjuangan keluarga kita."
Aria mengerutkan kening. "Tapi Wilujeng masih muda. Masih dua puluh empat tahun. Masih banyak yang harus ia pelajari."
"Ayah, tidak ada kata terlambat untuk belajar. Ayah sendiri yang mengajarkannya. Ayah sendiri yang tahu seberapa cepat Wilujeng berkembang. Dalam lima tahun terakhir, ia sudah bisa mendengar suara akar. Ia sudah bisa merasakan getaran. Ia sudah bisa membedakan mana dunia manusia dan mana dunia akar. Ia bahkan sudah mulai bisa melihat sekilas."
"Tapi Nak..."
"Ayah, percayalah pada murid Ayah. Wilujeng tidak akan mengecewakan. Ia hebat. Ia pintar. Ia sabar. Ia tulus. Ia punya semua yang dibutuhkan seorang penjaga."
Laras bertanya, "Mahesa, apa ayah dan ibu akan segera tiada?"
"Aku tidak tahu, Ibu. Aku bukan peramal. Tapi yang aku tahu, jantung ini semakin lemah. Dan ketika jantung ini benar-benar lemah, sesuatu akan terjadi. Sesuatu yang tidak bisa Ayah dan Ibu kendalikan."
"Apa yang akan terjadi, Nak?"
"Aku tidak tahu, Ibu. Tapi yang aku tahu, desa ini butuh penjaga yang siap. Pohon ini butuh tangan yang kuat. Akar butuh hati yang bersih."
Aria menatap Laras. Laras menatap Aria.
Mata mereka bicara. Tanpa suara. Tanpa kata. Hanya tatapan. Hanya perasaan. Hanya keputusan yang lahir dari cinta yang tidak pernah mati.
"Kami akan lakukan, Nak," kata Aria akhirnya. Suaranya tegas. Tidak ada keraguan.
"Kami akan percepat latihan Wilujeng," tambah Laras. "Kami akan ajari semua yang kami tahu. Kami akan beri semua yang kami punya. Kami tidak akan menyisakan apa pun."
"Terima kasih, Ayah. Terima kasih, Ibu."
"Jangan berterima kasih, Nak. Ini tugas kami. Ini tanggung jawab kami. Ini warisan yang harus kami jaga."
Mahesa terdengar tersenyum. Suaranya yang lemah mulai sedikit membaik. "Ayah, Ibu, aku sayang kalian."
"Kami juga sayang kamu, Nak," kata Aria dan Laras bersamaan.
"Aku akan selalu menjaga kalian. Dari dalam pohon ini. Dari dalam akar. Dari dalam denyut. Sampai kapan pun."
"Kami tahu, Nak. Kami selalu tahu."
Aria dan Laras masih berdiri di bawah pohon randu. Tangan mereka masih menempel di batang pohon. Meskipun sudah tidak ada suara. Meskipun sudah tidak ada bisikan. Mereka tetap di sana. Diam. Menikmati kehadiran anak mereka yang meskipun tidak terlihat, tapi terasa.
"Laras," panggil Aria setelah beberapa saat.
"Iya?"
"Apa kita sudah menjadi orang tua yang baik?"
Laras menoleh. Matanya sembab. "Kenapa kamu tanya begitu?"
"Aku ingin tahu. Apakah Mahesa bahagia? Apakah dia tidak menyesal menjadi anak kita? Apakah dia tidak marah karena kita tidak bisa melindunginya?"
Laras menggenggam tangan Aria. "Aria, lihat aku."
Aria menoleh.
"Mahesa bahagia. Dia tidak menyesal. Dia tidak marah. Dia bangga menjadi anak kita. Dia bilang sendiri."
"Itu hanya karena dia baik. Dia tidak mau menyakiti perasaan kita."
"Aria, berhenti. Jangan meragukan anak kita. Jangan meragukan diri kita. Kita sudah melakukan yang terbaik. Kita sudah memberikan segalanya. Tidak ada yang bisa kita sesali."
Aria menghela napas. "Kamu benar. Aku hanya..."
"Hanya apa?"
"Aku hanya rindu. Aku hanya ingin memeluknya lagi. Sekali saja. Seperti dulu. Saat dia masih kecil. Saat dia masih bisa aku gendong. Saat dia masih bisa aku cium keningnya sebelum tidur."
Laras memeluk Aria. Memeluk suaminya yang semakin tua. Memeluk cinta seumur hidupnya.
"Aku juga rindu, Aria. Tapi rindu tidak akan membawanya kembali. Yang bisa kita lakukan adalah meneruskan perjuangannya. Menjaga apa yang sudah ia jaga. Mencintai apa yang sudah ia cintai."
"Iya. Aku tahu."
Di dalam pohon randu, di antara akar-akar yang berdenyut lemah, Mahesa tersenyum.
Ia tidak bisa memeluk ayah dan ibunya. Ia tidak bisa mencium kening mereka. Ia tidak bisa berbicara dengan suara yang bisa didengar telinga manusia. Tapi ia bisa merasakan. Ia bisa merasakan kehangatan dari telapak tangan mereka yang menempel di batang pohon. Ia bisa merasakan getaran dari hati mereka yang penuh cinta. Ia bisa merasakan rindu yang sama, dari dua arah yang berbeda.
"Terima kasih, Ayah. Terima kasih, Ibu. Aku tidak akan pernah berhenti mencintai kalian. Sampai jantung ini berhenti berdetak sekalipun."
BAB 36: ARIA SAKIT
Aria dan Laras usia 50 tahun. Wilujeng usia 27 tahun.
Aria jatuh sakit.
Bukan sakit biasa. Bukan demam yang turun setelah minum obat. Bukan batuk yang hilang setelah beristirahat. Tapi sakit yang perlahan tapi pasti. Sakit yang datang tanpa diundang dan tidak mau pergi meskipun sudah diusir.
Tubuhnya yang dulu tegap, kini lemah. Setiap pagi, ia butuh waktu lebih lama untuk bangun dari tempat tidur. Setiap langkah terasa berat, seperti kakinya diikat batu. Setiap gerakan terasa sakit, seperti ada jarum di setiap sendi.
Napasnya yang dulu panjang, kini pendek. Dulu ia bisa berjalan dari rumah ke pohon randu tanpa terengah-engah. Kini, setengah jalan saja ia sudah berhenti dua kali. Dadanya sesak. Seperti ada yang duduk di atasnya. Seperti ada yang menekan.
Wajahnya yang dulu segar, kini pucat. Warna kulitnya berubah. Tidak lagi kecoklatan seperti dulu. Kini pucat keabu-abuan. Seperti kain yang terlalu lama dijemur. Seperti kertas yang mulai rapuh dimakan usia.
"Aria, kamu harus istirahat," kata Laras sambil menyiapkan ramuan herbal di dapur. Tangannya gemetar saat menumbuk jahe dan kunyit. Daun sambiloto dan temulawak sudah ia rebus sejak subuh. Bau pahit menyebar ke seluruh rumah. "Jangan paksakan diri."
Aria duduk di kursi kayu di teras. Tubuhnya membungkuk. Tangannya bertumpu pada tongkat yang dulu milik Mbah Sujud. Tongkat kayu jati yang sudah retak di beberapa tempat. Tapi masih kokoh. Masih kuat menopang.
"Aku tidak bisa istirahat, Laras," jawab Aria. Suaranya serak. Paru-parunya terasa berat setiap kali mengeluarkan kata. "Masih banyak yang harus aku lakukan. Wilujeng belum sepenuhnya siap."
"Wilujeng sudah siap, Aria. Kau sendiri yang mengajarinya. Kau sendiri yang melihat perkembangannya setiap hari. Percayalah padanya."
Aria menggeleng pelan. Gelengan yang lemah. Tapi gelengan yang penuh keyakinan.
"Aku tidak ragu pada Wilujeng, Laras. Aku tahu dia bisa. Aku tahu dia hebat. Aku tahu dia akan menjadi penjaga yang lebih baik dari aku."
"Lalu kenapa?"
"Kenapa apa?"
"Kenapa kamu masih bilang dia belum siap?"
Aria terdiam. Ia menatap pohon randu di kejauhan. Daunnya bergoyang pelan ditiup angin sore. Cahaya keemasan mulai muncul di sela-sela dedaunan. Samar. Tapi jelas.
"Aku tidak ragu pada Wilujeng, Laras. Aku ragu pada diriku sendiri."
Laras berhenti menumbuk jahe. Ia menoleh. Matanya menyipit. "Apa maksudmu?"
Aria menarik napas panjang. Napas yang berat. Napas yang terasa seperti mengangkat batu.
"Apakah aku sudah cukup mengajarinya? Apakah aku sudah cukup memberinya bekal? Apakah aku sudah menjadi guru yang baik? Apakah aku sudah menjadi penjaga yang baik? Atau aku hanya orang tua yang sok tahu?"
Laras meletakkan ulekan. Ia berjalan mendekati Aria. Duduk di sampingnya di kursi kayu yang sudah rapuh. Tangannya yang keriput menggenggam tangan Aria yang juga keriput. Dua tangan tua yang telah melalui banyak hal bersama. Dua tangan yang saling menguatkan.
"Aria, lihat aku."
Aria menoleh. Matanya bertemu dengan mata Laras.
"Kau sudah lebih dari cukup, Aria. Wilujeng adalah murid terbaik yang pernah kau miliki. Dia akan baik-baik saja. Bahkan lebih dari itu. Dia akan menjadi hebat."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena aku melihatnya setiap hari. Aku melihat bagaimana dia belajar. Aku melihat bagaimana dia berjuang. Aku melihat bagaimana dia tidak pernah menyerah. Dia adalah cerminan dari kita, Aria. Dia adalah hasil dari pengorbanan kita. Dia adalah bukti bahwa kita tidak gagal."
Aria tersenyum. Senyum yang lemah. Tapi senyum yang lega.
"Terima kasih, Laras. Aku butuh mendengar itu."
"Kau butuh mendengar kebenaran, Aria. Bukan sekadar hiburan."
"Iya. Aku tahu."
Mereka diam sebentar. Angin sore berhembus membawa bau ramuan herbal dari dapur. Pahit. Tapi hangat.
"Laras."
"Iya?"
"Apa aku akan mati?"
Laras terdiam. Tangannya yang menggenggam Aria semakin erat.
"Kenapa kamu tanya begitu?"
"Aku ingin tahu. Jangan sembunyikan dari aku. Aku sudah terbiasa dengan kematian. Aku sudah melihat Mbah Sujud pergi. Aku sudah melihat Mbah Kromo pergi. Aku sudah melihat Mahesa pergi. Aku tidak takut."
"Aku tidak bilang kamu takut. Tapi..."
"Tapi?"
"Aku tidak siap kehilangan kamu, Aria."
Aria tersenyum. "Kesiapan tidak pernah dirasakan, Laras. Kamu sendiri yang mengajarkan itu ke Wilujeng. Dulu. Waktu dia masih muda."
Laras tertawa kecil. "Iya. Aku lupa."
"Jadi jangan takut. Aku tidak akan pergi sebelum waktunya."
"Kapan waktunya?"
"Aku tidak tahu. Tapi selama aku masih bisa menggenggam tanganmu, selama aku masih bisa melihat wajahmu, selama aku masih bisa mendengar suaramu... aku akan bertahan."
"Janji?"
"Janji."
Dari luar jendela, Wilujeng yang baru saja datang mendengar percakapan itu. Ia sudah berdiri di balik dinding rumah sejak tadi. Tidak sengaja. Ia hanya tidak ingin mengganggu. Tapi telinganya mendengar semuanya. Setiap kata. Setiap desahan. Setiap isak yang tertahan.
Air matanya jatuh.
Ia tidak menyangka bahwa di balik ketegarannya, Aria ternyata menyimpan keraguan. Ia tidak menyangka bahwa Aria—guru yang selalu tegas, selalu yakin, selalu tahu apa yang harus dilakukan—ternyata juga manusia biasa. Juga punya rasa takut. Juga punya rasa tidak percaya diri.
Wilujeng mengusap air matanya dengan punggung tangan. Ia menarik napas panjang. Menenangkan diri. Lalu ia masuk ke rumah.
"Pak Aria," katanya sambil menunduk hormat. Suaranya masih bergetar. Basah oleh air mata yang baru saja ditahan. "Saya tidak sengaja mendengar. Maaf."
Aria menoleh. "Tidak apa-apa, Le. Apa yang kau dengar?"
"Semuanya, Pak."
Aria tersenyum. "Maaf kau harus mendengar omong kosong orang tua ini."
"Bukan omong kosong, Pak. Itu perasaan yang jujur."
"Kamu tidak marah?"
"Marah? Kenapa saya harus marah?"
"Karena aku meragukanmu. Padahal aku gurumu. Aku seharusnya percaya padamu sepenuhnya."
Wilujeng mendekat. Ia berlutut di hadapan Aria. Tangannya menggenggam tangan Aria yang keriput.
"Pak Aria, saya tidak akan mengecewakan Pak Aria. Saya janji."
Aria menatap Wilujeng lama. Dalam. Seperti membaca sesuatu di balik matanya. Seperti memastikan bahwa Wilujeng tidak berbohong.
"Aku tahu, Le. Aku tidak pernah meragukanmu."
"Tapi tadi Pak Aria bilang..."
"Aku tidak ragu pada Wilujeng. Aku ragu pada diriku sendiri. Ada perbedaan."
"Apa bedanya, Pak?"
"Ragu pada Wilujeng berarti aku tidak percaya pada kemampuanmu. Ragu pada diriku sendiri berarti aku tidak percaya pada kemampuanku sebagai guru. Dua hal yang berbeda."
Wilujeng mengangguk. "Saya mengerti, Pak."
"Jadi jangan salah paham. Kamu hebat. Kamu lebih hebat dari yang kau kira. Aku hanya takut tidak cukup mengajarimu. Tapi itu urusanku. Bukan urusanmu."
"Tapi Pak, saya murid Pak Aria. Urusan Pak Aria adalah urusan saya juga."
Aria terkejut. Matanya membulat. "Kamu bilang apa?"
"Saya bilang, urusan Pak Aria adalah urusan saya juga. Karena Pak Aria adalah guru saya. Karena Pak Aria adalah orang tua saya. Karena Pak Aria adalah segalanya bagi saya."
Aria terdiam. Dadanya terasa hangat. Matanya berkaca-kaca.
"Wilujeng..."
"Saya tidak akan pernah lupa apa yang Pak Aria sudah ajarkan. Saya tidak akan pernah lupa bagaimana Pak Aria sabar mengajari saya. Saya tidak akan pernah lupa bagaimana Pak Aria tidak pernah marah meskipun saya sering lambat memahami."
"Kamu tidak lambat, Le. Kamu hanya teliti."
"Terima kasih, Pak. Tapi saya tahu kekurangan saya. Saya tidak sepintar Pak Aria. Saya tidak sehebat Bu Laras. Saya hanya orang biasa yang diberi kesempatan."
Aria mengusap air matanya. "Kamu lebih dari orang biasa, Le. Kamu istimewa. Sejak pertama kali kau datang ke rumah ini, sejak pertama kali kau bilang ingin belajar, aku sudah tahu. Kamu istimewa."
"Terima kasih, Pak."
"Jadi jangan merendahkan diri. Jangan bilang kamu hanya orang biasa. Karena orang biasa tidak bisa mendengar suara dari dalam tanah. Orang biasa tidak bisa merasakan getaran akar. Orang biasa tidak bisa melihat dunia akar."
Wilujeng tersenyum. "Pak Aria, saya hanya bisa melakukan semua itu karena Pak Aria yang mengajar."
"Guru hanya membuka pintu. Murid yang harus masuk sendiri."
"Aku masuk sendiri, Pak. Tapi kalau tidak ada pintu yang dibuka, saya tidak akan pernah bisa masuk."
Aria tertawa kecil. "Kamu ini... lidahmu bisa menjual sabun."
"Bukan lidah saya, Pak. Tapi hati saya."
"Ah, dasar."
Laras yang dari tadi diam ikut tersenyum. "Sudah, jangan banyak bicara. Aria, minum ramuanmu dulu. Nanti dingin."
"Baik, Bu Dokter."
Laras tertawa. "Dokter apa? Cuma tukang ramuan."
"Tukang ramuan yang paling hebat di desa ini."
"Kamu bisa saja."
Laras mengambil mangkuk ramuan dari dapur. Wangi jahe dan kunyit menyegarkan. Pahit sambiloto dan temulawak masih terasa meskipun sudah ditutupi madu.
"Ini, minum," kata Laras sambil menyodorkan mangkuk ke Aria.
Aria menerimanya dengan tangan gemetar. Ia meneguk sedikit demi sedikit. Meringis karena pahit.
"Pahit," katanya.
"Obat memang pahit," jawab Laras.
"Tapi kalau dibuat oleh Laras, pahit jadi manis."
Laras memukul lengan Aria pelan. "Jangan lebay."
"Biarin. Aku mau lebay. Aku sudah tua. Aku boleh lebay."
Wilujeng melihat mereka berdua. Tersenyum. Hatinya hangat.
"Saya pamit dulu, Pak, Bu. Saya mau ke pohon randu. Latihan meditasi."
"Ayo, Le. Hati-hati di jalan," kata Laras.
"Jangan lupa latihan pernapasan yang aku ajarkan," tambah Aria.
"Iya, Pak. Saya tidak akan lupa."
Wilujeng berjalan keluar rumah. Langkahnya ringan. Tidak seperti sebelumnya. Ia merasa lebih yakin. Lebih kuat. Lebih siap.
Di bawah pohon randu, Wilujeng duduk bersila. Matanya terpejam. Tangannya di pangkuan.
"Tarik napas," bisiknya pada dirinya sendiri. "Rasakan udara. Rasakan getaran. Rasakan kehangatan."
Ia bernapas. Perlahan. Dalam.
"Aku bisa," bisiknya. "Aku pasti bisa."
Dari dalam pohon randu, cahaya keemasan muncul. Samar. Tapi jelas.
"Kamu bisa, Wilujeng," bisik suara Mahesa. "Aku percaya padamu. Ayah percaya padamu. Ibu percaya padamu."
Wilujeng tersenyum. Air matanya jatuh. Tapi ia tidak berhenti bernapas.
"Terima kasih, Mahesa."
"Terima kasih untuk Ayah dan Ibu."
"Terima kasih untuk semuanya."
. BAB 37: LIMA TAHUN BERLALU
Aria dan Laras usia 55 tahun. Wilujeng usia 32 tahun.
Lima tahun berlalu.
Aria masih sakit, tapi tidak kunjung meninggal. Seperti ada sesuatu yang menahannya di dunia ini. Seperti ia masih belum tega meninggalkan Laras sendirian. Setiap pagi, ia masih bisa bangun meskipun lambat. Setiap sore, ia masih bisa duduk di kursi kayu di teras rumah meskipun hanya sebentar. Setiap malam, ia masih bisa menggenggam tangan Laras meskipun tangannya sudah tidak sekuat dulu.
"Kamu masih di sini," kata Laras suatu pagi sambil menyuapi Aria bubur hangat.
"Iya. Aku masih di sini."
"Kenapa belum pergi?"
"Kamu masih di sini."
"Aku serius, Aria."
"Aku juga serius, Laras. Selama kamu masih di sini, aku tidak akan pergi."
Laras menunduk. Air matanya jatuh ke mangkuk bubur di pangkuannya. "Aku sudah tua, Aria. Aku tidak cantik lagi. Aku tidak kuat lagi. Aku hanya beban."
Aria mengangkat tangannya yang gemetar. Ia mengusap pipi Laras. Perlahan. Lembut.
"Kamu tidak pernah menjadi beban, Laras. Kamu selalu menjadi alasan aku bertahan. Dulu. Sekarang. Nanti."
"Jangan bicara seperti itu. Nanti kamu jadi lebay."
Aria tertawa kecil. Tertawa yang lemah. Tapi tawa yang tulus. "Aku boleh dong jadi lebay. Aku sudah hampir mati."
"Jangan bilang hampir mati. Kamu masih hidup."
"Iya. Aku masih hidup. Karena kamu."
Laras tidak menjawab. Ia hanya menyuapi Aria lagi. Sendok demi sendok. Perlahan. Sabar.
Wilujeng datang setiap pagi. Sebelum matahari terbit, ia sudah berdiri di depan pintu rumah Aria dan Laras. Tidak pernah telat. Tidak pernah bolos. Selama lima tahun, tidak satu hari pun ia absen.
"Pak Aria, Bu Laras," sapa Wilujeng sambil menunduk hormat.
"Ayo duduk, Le," kata Laras. "Kopi masih hangat."
"Terima kasih, Bu."
Wilujeng duduk di kursi anyaman bambu di hadapan mereka. Kopi dalam cangkir tanah liat mengepulkan uap. Wangi. Hangat.
"Wilujeng, apa kabar latihanmu?" tanya Aria.
"Baik, Pak. Saya sudah bisa memimpin meditasi sendiri. Warga datang. Mereka duduk. Mereka bernapas. Saya hanya memandu."
"Apakah mereka tenang?"
"Beberapa tenang. Beberapa masih gelisah. Tapi tidak seperti dulu."
"Bagus. Itu namanya proses."
Laras menambahkan, "Bagaimana dengan suara akar? Kamu masih bisa mendengarnya?"
"Masih, Bu. Bahkan sekarang lebih jelas dari dulu."
"Lebih jelas? Maksudmu?"
"Dulu suaranya seperti bisikan. Samar. Kadang hilang. Sekarang suaranya seperti orang bicara biasa. Jelas. Tidak perlu konsentrasi keras."
Aria dan Laras saling pandang. Mereka tersenyum.
"Itu pertanda baik, Le," kata Aria. "Itu pertanda bahwa kau semakin peka."
Suatu sore, Wilujeng datang dengan wajah berbeda. Matanya berbinar. Tangannya gemetar. Bukan gemetar takut. Tapi gemetar bahagia. Seperti orang yang baru saja melihat sesuatu yang luar biasa.
"Pak Aria, saya sudah bisa melihat dunia akar," kata Wilujeng. Suaranya bergetar. Tidak sabar.
Aria yang terbaring di dipan bambu langsung duduk. Dengan susah payah. Laras membantu menyandarkan bantal di punggungnya.
"Kau bisa melihat?" tanya Aria. Matanya membulat.
"Iya, Pak. Tadi. Saat saya meditasi di bawah pohon randu. Tiba-tiba... dunia berubah. Gelap. Samar. Lalu muncul cahaya. Cahaya keemasan."
Aria tersenyum. "Apa yang kau lihat, Le?"
Wilujeng menarik napas panjang. Dadanya naik turun. Ia berusaha menenangkan diri. Tapi tidak bisa. Perasaan itu terlalu besar.
"Saya melihat cahaya keemasan. Menyala di mana-mana. Dari dalam tanah. Dari pohon randu. Dari akar-akar yang menjalar."
"Lalu?"
"Saya melihat akar-akar besar. Besar sekali. Seperti ular raksasa. Tapi tidak menakutkan. Mereka berdenyut. Seperti jantung."
Aria mengangguk. "Apa lagi?"
Wilujeng terdiam. Matanya berkaca-kaca. Tangannya menggenggam ujung bajunya erat-erat.
"Saya melihat... seseorang."
Laras yang sejak tadi diam tiba-tiba bertanya, "Seseorang? Siapa?"
Wilujeng mengangkat wajahnya. Air matanya jatuh. "Laki-laki. Muda. Tampan. Matanya teduh. Dia tersenyum pada saya."
Aria dan Laras saling pandang. Jantung mereka berdetak lebih cepat. Mereka sudah bisa menebak. Tapi mereka tidak mau terburu-buru. Mereka ingin mendengar langsung dari Wilujeng.
"Apa dia memakai baju apa, Le?" tanya Laras. Suaranya bergetar. Tidak bisa disembunyikan.
"Saya tidak ingat, Bu. Tapi dia... dia seperti cahaya. Seperti cahaya yang mengambil bentuk manusia."
"Rambutnya?" tanya Aria.
"Hitam. Lurus. Sedikit bergelombang di ujung."
"Matanya?"
"Hitam. Tapi hangat. Sangat hangat. Seperti matahari pagi. Seperti api unggun di malam dingin. Seperti... seperti..."
Wilujeng tidak bisa melanjutkan. Ia menangis.
Laras menggenggam tangan Aria. Kencang. Hampir melukai. Tapi Aria tidak merasakan sakit. Yang ia rasakan hanyalah degup jantung yang semakin cepat. Hanya rindu yang semakin menjadi. Hanya ingin bertanya lebih dan lebih.
"Wilujeng," kata Laras. Suaranya parau. Tenggorokannya terasa kering. "Apa dia berkata apa-apa? Apa dia bicara padamu?"
Wilujeng mengangguk. Air matanya semakin deras.
"Dia bilang... 'Sampaikan pada Ayah dan Ibu bahwa aku baik-baik saja. Aku merindukan mereka.'"
Aria terdiam.
Laras terdiam.
Ruang kecil itu sunyi. Hanya suara napas tiga orang yang terdengar. Aria yang pendek dan terputus-putus. Laras yang panjang dan bergetar. Wilujeng yang terisak-isak menahan tangis.
Lalu Aria menangis.
Bukan tangis keras. Tapi tangis lirih. Tangis yang keluar dari lubuk hati yang paling dalam. Tangis yang tertahan selama dua puluh tahun. Sejak Mahesa kecil bermain di halaman rumah. Sejak Mahesa kecil memanggilnya "Ayah". Sejak Mahesa kecil menunjuk ke arah pohon randu dan berkata, "Ayah, pohon itu memanggilku."
"Mahesa..." bisik Aria. Tangannya menggenggam dada sendiri. Seperti menahan sesuatu yang ingin keluar. Seperti menahan rasa sakit yang terlalu berat. "Dia masih ingat padaku. Dia masih ingat padaku."
"Aria..." Laras memeluk suaminya. Ia ikut menangis. Bahunya bergetar. "Dia ingat kita. Dia tidak lupa."
"Aku kangen, Laras. Aku sangat kangen."
"Aku juga, Aria. Aku juga."
Wilujeng hanya bisa diam. Ia tidak berani bersuara. Ia tidak ingin mengganggu. Ia hanya duduk di sudut ruangan, menangis dalam diam.
Setelah beberapa saat, Aria menarik napas panjang. Ia mengusap air matanya dengan punggung tangan. Laras melakukan hal yang sama.
"Wilujeng," panggil Aria.
"Iya, Pak."
"Dia terlihat seperti apa? Seperti aku? Seperti Laras?"
Wilujeng tersenyum. "Dia mirip Pak Aria. Matanya. Hidungnya. Bentuk wajahnya."
"Benarkah?"
"Iya, Pak. Tapi senyumnya mirip Bu Laras. Tipis. Sedikit malu-malu. Tapi hangat."
Aria tertawa kecil. "Dia memang begitu sejak kecil. Dari bayi, senyumnya sudah seperti Laras."
Laras tersenyum. "Jangan bercanda. Dari bayi dia sudah mirip kamu. Matanya. Wajahnya."
"Iya. Tapi senyumnya kamu."
"Deh. Kamu ini."
Wilujeng tertawa melihat mereka bertengkar kecil. Suasana ruangan menjadi lebih hangat. Tidak lagi pekat dengan kesedihan.
"Wilujeng," panggil Laras.
"Iya, Bu."
"Terima kasih sudah menyampaikan pesannya."
"Sama-sama, Bu. Saya senang bisa membantu."
"Kamu tidak hanya membantu, Le. Kamu menghidupkan kembali kenangan kami. Kamu mengingatkan kami bahwa cinta tidak pernah mati. Bahkan ketika terpisah oleh dunia sekalipun."
Wilujeng mengangguk. "Saya tidak akan lupa pesan ini, Bu. Saya akan menyampaikannya ke murid-murid saya nanti. Bahwa cinta sejati tidak akan pernah mati."
"Bagus. Itu warisan paling berharga yang bisa kau tinggalkan."
Malam itu, Laras tidak bisa tidur.
Ia duduk di samping Aria yang sudah terlelap. Napas Aria pelan. Kadang terdengar berat. Kadang terhenti sebentar. Laras selalu cemas setiap kali napas Aria terhenti. Ia takut napas itu tidak akan kembali.
"Aria," bisiknya.
Aria tidak menjawab. Ia tidur.
"Aria, aku merindukan Mahesa. Setiap hari. Setiap malam. Setiap detik."
Tidak ada jawaban.
"Dulu, saat dia masih kecil, dia suka bermain di halaman. Dia suka mengejar kupu-kupu. Dia suka tertawa. Suaranya... suaranya merdu. Seperti lonceng kecil."
Laras berhenti sebentar. Menekan dadanya yang sesak.
"Suatu hari, dia menangis. Aku tidak tahu kenapa. Aku bertanya, 'Kenapa, Nak?' Dia menjawab, 'Aku sedih, Bu. Aku mendengar suara dari dalam pohon. Suara itu bilang aku harus pergi. Aku tidak mau pergi. Aku ingin bersama Ayah dan Ibu selamanya.'"
Air mata Laras jatuh ke punggung tangannya.
"Aku bilang, 'Kamu tidak akan pergi, Nak. Ayah dan Ibu akan melindungimu.' Tapi dia tetap pergi. Dia dipanggil. Dia tidak bisa menolak."
"Aku tahu," suara Aria tiba-tiba terdengar. Laras terkejut.
"Kamu bangun?"
"Aku tidak tidur. Aku hanya memejamkan mata."
"Kenapa kamu tidak tidur?"
"Aku mendengarkanmu."
Laras tersenyum. "Kamu sadar?"
"Aku selalu sadar kalau kamu bicara tentang Mahesa. Aku juga merindukannya."
"Aku tahu. Tapi kamu tidak pernah mengatakannya."
"Aku tidak perlu mengatakannya. Kamu sudah tahu."
"Iya. Aku tahu."
Mereka diam sebentar. Hanya suara jangkrik di kejauhan yang terdengar.
"Laras."
"Iya?"
"Apa kita bahagia?"
Laras terkejut dengan pertanyaan itu. "Kenapa kamu tanya begitu?"
"Aku hanya ingin tahu. Setelah semua yang kita lalui. Setelah petir. Setelah sumur. Setelah sekolah. Setelah dunia akar. Setelah gunjingan warga. Setelah kehilangan Mahesa. Setelah sakitku. Apakah kita masih bahagia?"
Laras menggenggam tangan Aria. Digenggamnya erat. Seperti tidak ingin melepaskannya selamanya.
"Kita bahagia, Aria. Karena kita punya satu sama lain. Karena kita punya Wilujeng. Karena kita punya Mahesa, meskipun dia tidak di sini. Karena kita punya pohon ini. Karena kita punya kenangan yang tidak bisa diambil siapa pun."
Aria tersenyum. "Kalau begitu, aku tidak perlu takut lagi."
"Takut apa?"
"Takut mati. Takut meninggalkanmu. Takut kamu sendiri."
"Kamu tidak akan pernah meninggalkanku. Bahkan ketika kamu pergi nanti, kamu akan tetap di sini." Laras menunjuk dadanya sendiri. "Di sini. Di dalam hati."
"Janji?"
"Janji. Seperti dulu. Sejak kita masih kecil. Sejak kita pertama kali bertemu di pasar."
Aria menghela napas. "Aku ingat. Kamu pakai pita merah. Rambutmu diikat dua. Tidak rapi, tapi lucu."
"Kamu lihat pita rambutku?"
"Aku perhatikan semua tentang kamu. Sejak saat itu."
Laras tersenyum. "Aku juga. Aku perhatikan semua tentang kamu. Sejak saat itu."
Mereka berdua tertawa. Tawa kecil. Tawa yang hangat. Tawa yang sudah menemani mereka selama hampir lima puluh tahun.
Pohon randu di kejauhan berdenyut pelan. Cahaya keemasan menyala di sela-sela dedaunan.
Mahesa tersenyum. Meskipun tidak terlihat.
"Ayah, Ibu," bisiknya. "Aku juga ingat. Setiap hari. Setiap malam. Setiap detik. Aku merindukan kalian. Tapi aku bahagia. Karena aku tahu kalian juga bahagia."
Angin malam berhembus hangat.
"Selamat malam, Ayah dan Ibu. Sampai jumpa suatu hari nanti."
BAB 38: KEMATIAN MBAH SUJUD DAN MBAH KROMO
"Dua puluh tahun yang lalu..."
Aria dan Laras usia 40 tahun. Wilujeng baru mulai belajar menjadi penjaga.
Dua bulan setelah Wilujeng mulai belajar, Mbah Sujud jatuh sakit.
Bukan sakit biasa. Sakit yang datang dari dalam. Dari tulang. Dari ingatan yang terlalu lama disimpan. Dari beban yang terlalu berat dipikul selama puluhan tahun.
"Aku sudah tua, Le," kata Mbah Sujud pada Aria dan Laras yang duduk di samping tempat tidurnya. Rumah kayu kecilnya terasa pengap. Bau obat dan minyak angin menyengat di udara. "Usiaku sudah lebih dari cukup."
"Jangan bilang begitu, Mbah," kata Laras sambil memegang tangan keriput Mbah Sujud. Tangannya bergetar. Air matanya sudah menetes sejak tadi. "Mbah masih kuat."
Mbah Sujud tersenyum lemah. "Kuat untuk apa, Le? Aku sudah menunaikan tugas. Aku sudah menjaga perjanjian ini selama 70 tahun. Sekarang giliran kalian."
"Mbah, aku belum siap," kata Aria. Suaranya parau. Matanya merah. "Aku masih perlu Mbah. Kami masih perlu Mbah."
"Kalian tidak perlu siapa-siapa, Le. Kalian sudah punya satu sama lain. Kalian sudah punya Nyai Kembang Randu. Kalian sudah punya pohon randu. Kalian sudah punya segalanya."
"Mbah..." Laras terisak.
Mbah Sujud mengangkat tangannya yang gemetar. Ia mengelus kepala Laras. Lalu mengelus kepala Aria.
"Dengar pesan Mbah." Suaranya mulai lemah. Tapi matanya masih tajam. "Jaga pohon ini. Jaga desa ini. Jaga cinta kalian. Karena cinta kalian adalah keseimbangan yang sejati. Jangan biarkan siapa pun merusaknya. Jangan biarkan siapa pun meragukannya."
"Kami janji, Mbah," kata Aria dan Laras bersamaan.
"Dan jangan sedih." Mbah Sujud tersenyum. Senyum terakhirnya. "Aku akan bertemu dengan Mahesa. Aku akan menjaganya di sana. Aku tidak akan sendirian."
"Mbah..." Laras memeluk tubuh Mbah Sujud yang semakin dingin.
"Selamat tinggal, Le. Jaga desa ini."
Mbah Sujud menutup matanya. Dadanya berhenti bergerak. Wajahnya tenang. Seperti orang yang sedang tidur. Seperti orang yang sedang bermimpi tentang hal-hal indah yang tidak akan pernah ia ceritakan pada siapa pun.
Aria dan Laras memakamkan Mbah Sujud di belakang pohon randu. Tepat di bawah naungan pohon yang selama puluhan tahun ia jaga. Warga desa berkumpul. Mereka berdoa. Mereka menangis. Mereka melepas sesepuh mereka.
"Aria, apa kita bisa menjalankan amanat Mbah?" bisik Laras di sisi kubur.
"Kita harus, Laras. Kita tidak punya pilihan."
Dari dalam pohon randu, cahaya keemasan menyala lebih terang dari biasanya. Suara Mahesa terdengar dari dalam batang pohon. Lembut. Jelas.
"Selamat datang, Mbah. Aku sudah menunggu. Di sini aku tidak sendirian. Mbah juga tidak akan sendirian."
Setahun kemudian, Mbah Kromo menyusul.
Aria dan Laras sudah menduganya. Sejak Mbah Sujud meninggal, Mbah Kromo tidak pernah lagi terlihat di warung kopi. Tidak pernah lagi terlihat duduk di teras rumahnya. Ia hanya diam di dalam kamar. Tidak mau makan. Tidak mau bicara. Hanya diam.
"Kromo sudah tidak punya teman," kata Mbah Sengoro pada Aria ketika menjenguk. "Sujud adalah satu-satunya yang bisa diajak bicara. Sekarang Sujud pergi, Kromo ikut pergi."
Mbah Kromo meninggal dalam tidurnya. Wajahnya tersenyum. Seperti orang yang sedang bermimpi indah. Seperti orang yang sedang bertemu dengan teman lamanya setelah sekian lama berpisah.
Aria dan Laras memakamkan Mbah Kromo di samping Mbah Sujud. Di belakang pohon randu. Di bawah naungan yang sama.
"Mbah Kromo, selamat jalan," kata Aria. "Terima kasih sudah menjadi penjaga. Terima kasih sudah menjaga desa ini."
"Kami akan meneruskan perjuangan Mbah," kata Laras. "Janji."
Dari dalam pohon randu, cahaya keemasan menyala. Tidak seterang saat Mbah Sujud meninggal. Tapi cukup. Cukup untuk memberi kehangatan. Cukup untuk memberi tanda bahwa mereka diterima di dunia akar.
"Selamat datang, Mbah Kromo," bisik suara Mahesa. "Mbah Sujud sudah di sini. Aku sudah di sini. Kalian tidak sendiri."
Kini hanya Aria dan Laras yang tersisa dari para penjaga tua. Mbah Sujud telah pulang. Mbah Kromo telah pulang. Mbah Sangkil sudah lama menghilang. Mbah Urip sudah menjadi bagian dari pohon. Nyai Kembang Randu tetap ada di dalam akar.
"Aria," kata Laras sambil memegang tangan Aria. "Sekarang kita berdua saja."
"Kita tidak sendiri, Laras. Kita punya Wilujeng. Kita punya Mahesa. Kita punya Nyai. Kita punya desa ini. Kita punya satu sama lain."
Laras tersenyum. "Iya. Kita punya satu sama lain."
BAB 39: ARIA MENINGGAL (DIREVISI - DISINKRONKAN DENGAN BAB 38)
Aria dan Laras usia 57 tahun. Wilujeng usia 34 tahun.
Tujuh belas tahun telah berlalu sejak Mbah Sujud dan Mbah Kromo meninggal. Tujuh belas tahun Aria dan Laras menjadi satu-satunya penjaga yang masih hidup di dunia manusia. Tujuh belas tahun mereka memimpin meditasi di bawah pohon randu. Tujuh belas tahun mereka mengajar Wilujeng. Tujuh belas tahun mereka berbicara dengan Mahesa melalui cahaya keemasan.
Kini Aria terbaring di dipan bambu. Tubuhnya semakin kurus. Napasnya semakin pendek. Tapi matanya masih jernih. Masih penuh cinta.
"Laras, aku pergi dulu," bisik Aria.
"Jangan tinggalkan aku, Aria."
"Aku tidak pergi. Aku hanya berubah wujud. Aku akan ada di pohon itu. Bersama Mahesa. Bersama Mbah Sujud. Bersama Mbah Kromo. Bersama Mbah Urip. Bersama Nyai. Setiap kali kau memejamkan mata, kau akan merasakan kehadiranku."
"Aria..." Laras terisak.
"Aku mencintaimu, Laras. Sejak pertama kali kita bertemu di pasar. Sejak pertama kali kita bicara di bawah pohon mangga. Sejak saat itu, aku tahu. Aku mencintaimu. Dan cinta itu tidak pernah berubah. Tidak selama satu hari pun."
"Aku juga mencintaimu, Aria. Sejak saat itu. Sejak dunia seolah berhenti hanya untuk kita berdua."
"Kita sudah melewati banyak hal, Laras. Petir tiga kali yang menyambut kelahiran kita. Sumur tua yang bercerita. Papan tulis yang bergerak tanpa sebab. Dunia akar yang memanggil kita. Gunjingan warga yang coba memisahkan kita. Semua itu tidak terasa berat karena aku punya kamu."
"Sekarang kamu akan pergi. Meninggalkan aku sendiri."
"Kamu tidak sendiri, Laras. Kamu punya Wilujeng. Kamu punya desa ini. Kamu punya pohon randu. Kamu punya Mahesa. Kamu punya Mbah Sujud. Kamu punya Mbah Kromo. Kamu punya semua yang pernah mencintai kamu. Dan kamu punya kenangan tentang kita."
"Kenangan tidak cukup, Aria. Aku butuh kamu. Di sini. Di sampingku. Setiap hari."
Aria tersenyum lemah. "Laras, aku tidak akan pergi jauh. Aku akan ada di pohon itu. Setiap kali kau duduk di bawahnya, setiap kali kau merasakan angin berhembus, setiap kali kau melihat cahaya keemasan — itu aku. Itu aku yang membelai wajahmu."
Laras memeluk Aria. Memeluk tubuh yang semakin dingin. Memeluk cinta seumur hidupnya.
"Aku pergi dulu, Laras. Aku akan menunggumu di sana. Jangan lama-lama."
"Tunggu aku, Aria. Aku akan segera menyusul."
Aria menghembuskan napas terakhirnya. Tenang. Damai. Seperti orang yang sedang tidur. Seperti orang yang sedang bermimpi indah. Seperti orang yang sudah lama menunggu untuk pulang, dan kini akhirnya pulang.
Aria telah pergi.
Laras masih memeluk tubuh Aria yang sudah tidak bernapas. Ia tidak menangis. Ia hanya diam.
Wilujeng yang berdiri di pintu hanya bisa menangis. "Bu Laras..."
"Diam, Le. Biarkan aku di sini. Sebentar lagi."
Laras memakamkan Aria di samping Mbah Sujud dan Mbah Kromo. Di belakang pohon randu. Tepat di bawah naungan pohon yang selama puluhan tahun mereka jaga bersama.
Warga desa berkumpul. Lebih banyak dari saat pemakaman Mbah Sujud. Lebih banyak dari saat pemakaman Mbah Kromo. Mereka berdoa. Mereka menangis. Mereka melepas pahlawan mereka.
"Aria adalah malaikat desa ini," kata seorang warga tua. "Tanpa dia, desa ini mungkin sudah hancur. Tanpa dia, kita semua mungkin masih bergunjing dan saling membenci."
Laras berdiri di sisi kubur. Ia tidak menangis. Ia sudah menangis sepanjang malam. Ia hanya berkata, "Selamat jalan, Aria. Aku akan menyusulmu. Jangan lama-lama di sana."
Dari dalam pohon randu, cahaya keemasan muncul. Terang. Sangat terang. Suara-suara terdengar bersamaan. Suara Aria. Suara Mahesa. Suara Mbah Sujud. Suara Mbah Kromo. Suara Mbah Urip. Suara Nyai Kembang Randu.
"Selamat datang, Aria," bisik suara Nyai. "Kami sudah menunggu. Mbah Sujud sudah menyiapkan tempat. Mbah Kromo sudah merapikan akar. Mahesa sudah tidak sabar. Sekarang kita semua bersama."
"Selamat datang, Ayah," bisik suara Mahesa. "Aku kangen. Sekarang kita tidak akan terpisah lagi."
Aria telah pulang. Bergabung dengan Mahesa. Bergabung dengan Mbah Sujud. Bergabung dengan Mbah Kromo. Bergabung dengan Mbah Urip. Bergabung dengan Nyai Kembang Randu. Bergabung dengan keabadian.
BAB 40: LARAS BERJUANG SENDIRI
Sepuluh tahun berlalu sejak kepergian Aria.
Laras hidup sendirian di rumah kayu dekat alun-alun. Rumah yang dulu ramai dengan tawa Aria dan suara Mahesa kecil, kini hanya diisi oleh langkah kakinya sendiri dan bisik-bisiknya dengan dinding-dinding kayu yang sudah tua. Tapi ia tidak benar-benar sendirian. Setiap pagi, sebelum matahari terbit, ia memimpin meditasi di bawah pohon randu. Puluhan warga datang. Wajah-wajah yang dulu penuh kebencian dan gunjingan, kini tampak teduh dan damai. Mereka duduk bersila di hadapannya. Mereka menutup mata. Mereka bernapas bersama.
"Tarik napas," kata Laras. Suaranya lembut, tapi tegas. "Rasakan udara masuk ke dalam tubuh kalian. Rasakan hangatnya. Rasakan kehidupannya."
Warga mengikuti.
"Hembuskan perlahan. Lepaskan semua yang memberatkan. Lepaskan semua yang membuat kalian takut. Lepaskan semua yang membuat kalian marah."
Seorang ibu tua di barisan depan mulai menangis. Laras tidak bertanya. Ia tahu. Setiap orang punya sakitnya masing-masing. Tidak perlu ditanya. Cukup didengarkan dengan hati.
"Bu Laras," bisik ibu tua itu. "Saya masih merindukan anak saya. Setiap hari. Setiap malam. Tidak pernah berhenti."
"Itu wajar, Bu. Rindu bukti bahwa cinta itu nyata. Rindu bukti bahwa ia tidak pernah benar-benar pergi. Rindu adalah tali yang menghubungkan kalian melampaui kematian."
Air mata ibu tua itu semakin deras. "Apakah dia tahu, Bu? Apakah dia tahu saya masih merindukannya?"
Laras tersenyum. "Dia tahu, Bu. Setiap kali Ibu meneteskan air mata, dia ada di sana. Menyentuh pundak Ibu. Membisikkan nama Ibu. Dia tidak pergi. Dia hanya berubah wujud."
Ibu tua itu tersenyum. Ia menutup matanya lagi. Napasnya mulai teratur.
Setelah meditasi selesai, warga pulang satu per satu. Laras masih duduk di bawah pohon randu. Daun-daun bergoyang pelan. Angin sore berhembus sejuk. Tidak dingin. Hangat. Seperti napas. Seperti pelukan. Seperti Aria yang masih dekat meskipun sudah tiada.
"Aria, aku merindukanmu," bisik Laras. Suaranya lirih. Hampir tidak terdengar di sela-sela gemerisik daun randu.
"Aku juga merindukanmu, Laras." Suara itu keluar dari dalam batang pohon. Bukan suara yang bisa didengar telinga biasa. Tapi Laras mendengarnya dengan jelas. Jelas seperti saat Aria masih berbaring di sampingnya di malam hari. "Tapi kita tidak bisa bersama. Belum sekarang."
Laras menunduk. Air matanya jatuh ke pangkuannya. "Kapan, Aria? Kapan kita bisa bersama lagi?"
"Saat Wilujeng siap. Saat tugasmu selesai."
"Tugas apa? Menjaga desa? Menjaga pohon ini? Menjaga keseimbangan?"
"Iya. Itu."
Laras menghela napas panjang. "Aku capek, Aria."
"Aku tahu, Laras. Tapi kamu kuat. Kamu selalu kuat. Sejak kecil. Sejak pertama kali kita bertemu di pasar. Sejak kita dipanggil ke pohon ini. Kamu tidak pernah menyerah. Jangan mulai sekarang."
"Aku tidak menyerah. Aku hanya... lelah."
"Lelah boleh. Tapi jangan berhenti. Wilujeng masih butuh kamu. Desa ini masih butuh kamu."
Laras mengangkat wajahnya. Ia menatap Wilujeng yang duduk di sampingnya. Wilujeng kini sudah dewasa. Tidak lagi pemuda desa yang canggung dan gelisah. Wilujeng sudah berusia 44 tahun. Wajahnya tegas. Matanya tajam. Tangannya kokoh. Sudah mampu memimpin meditasi sendiri. Sudah mampu berkomunikasi dengan akar. Sudah mampu membedakan mana suara dari dunia manusia dan mana suara dari dunia akar.
"Wilujeng, kau sudah siap," kata Laras.
Wilujeng mengerjapkan mata. "Siap untuk apa, Bu Laras?"
"Siap menggantikan aku. Siap menjadi penjaga desa ini. Siap menjaga pohon ini. Siap meneruskan apa yang kami mulai."
Wilujeng terdiam. Wajahnya berubah tegang. Tangannya yang bertumpu di lutut mengepal.
"Tapi Bu Laras, saya belum merasa siap."
"Kesiapan tidak pernah dirasakan, Le. Kesiapan hanya dibuktikan dengan tindakan."
"Aku takut, Bu. Takut gagal. Takut mengecewakan."
"Kegagalan tidak menentukan siapa dirimu. Yang menentukan adalah bagaimana kamu bangkit setelah jatuh. Apakah kamu berani mencoba lagi. Apakah kamu berani tetap berdiri meskipun takut."
Wilujeng menunduk. Bahunya bergetar. "Saya tidak sekuat Bu Laras. Saya tidak sepintar Pak Aria."
Laras tersenyum. Ia mengulurkan tangannya. Menggenggam tangan Wilujeng yang dingin.
"Kamu tidak harus sekuat aku. Kamu tidak harus sepintar Aria. Kamu cukup menjadi dirimu sendiri. Karena kamu dipilih bukan karena kamu sempurna. Tapi karena hatimu bersih. Karena cintamu tulus. Karena kamu tidak takut berkorban."
Wilujeng mengangkat wajahnya. Air matanya jatuh. "Apakah hati saya benar-benar bersih, Bu?"
"Tidak ada hati yang benar-benar bersih, Le. Tapi hatimu cukup bersih untuk menjadi penjaga. Percayalah padaku. Percayalah pada Aria. Percayalah pada Mahesa. Kami tidak akan salah memilih."
Wilujeng mengangguk pelan. Air matanya masih mengalir. Tapi senyumnya mulai muncul. Senyum kecil. Senyum yang tidak sempurna. Tapi senyum yang tulus.
"Saya akan membuktikannya, Bu Laras. Saya tidak akan mengecewakan."
"Bagus. Karena mengecewakan aku tidak masalah. Tapi jangan pernah mengecewakan hatimu sendiri."
Wilujeng tertawa kecil. Laras ikut tertawa.
Dari dalam pohon randu, suara Mahesa terdengar. Samar. Tapi jelas.
"Ibu, aku bangga pada Ibu. Ibu sudah mengajar Wilujeng dengan baik."
Laras menatap batang pohon randu yang bercahaya keemasan. "Kamu bisa melihat kami, Nak?"
"Aku selalu bisa melihat Ibu, Bu. Aku juga bisa melihat Ayah. Setiap hari. Setiap malam. Setiap detik. Kami di sini. Menjaga Ibu. Mencintai Ibu."
Laras tersenyum. "Terima kasih, Nak."
"Wilujeng," panggil Mahesa.
Wilujeng terkejut. "Iya? Saya bisa mendengar?"
"Kamu sudah bisa, Le. Karena hatimu mulai terbuka. Teruslah berlatih. Jangan berhenti."
"Saya akan terus berlatih, Mahesa. Janji."
Malam itu, Laras tidak bisa tidur.
Ia duduk di kursi kayu di teras rumahnya. Yang dulu ditempati Aria. Yang dulu ditempati Aria sambil memandangi pohon randu di kejauhan. Kini Laras yang duduk di kursi itu. Merasakan kayu yang sama. Merasakan angin yang sama.
"Aria, apa aku benar-benar tega meninggalkan Wilujeng?"
"Aku meninggalkan kamu, Laras. Tapi tidak pernah benar-benar pergi."
"Iya. Aku tahu. Tapi rasanya tetap berat."
"Tidak ada yang ringan dari perpisahan. Tapi percayalah, suatu hari nanti, kita akan tertawa bersama lagi. Tentang semua ini. Tentang rasa sakit yang kita alami. Tentang rindu yang tidak pernah habis."
Laras tersenyum. "Aku menunggu hari itu, Aria."
"Jangan terburu-buru. Nikmati dulu sisa waktumu dengan Wilujeng. Dengan desa ini. Dengan pohon ini. Karena suatu hari nanti, kamu akan rindu pada semua ini."
"Rindu pada rasa sakit?"
"Rindu pada kehidupan. Rindu pada kehangatan. Rindu pada detak jantungmu sendiri."
Laras menghela napas. "Kamu benar. Aku akan menikmatinya. Detik demi detik."
"Selamat malam, Laras."
"Selamat malam, Aria."
Sepuluh tahun berlalu. Wilujeng semakin matang. Laras semakin tua. Tapi tidak ada satu hari pun mereka tidak bertemu di bawah pohon randu. Tidak ada satu pagi pun meditasi ditinggalkan.
Wilujeng belajar banyak. Tentang akar. Tentang keseimbangan. Tentang pengorbanan. Tentang cinta yang tidak pernah mati.
Laras mengajarkan semua yang ia tahu. Tentang Aria. Tentang Mahesa. Tentang Mbah Sujud. Tentang Mbah Kromo. Tentang Mbah Urip. Tentang Nyai Kembang Randu. Tentang perjanjian lama yang harus terus dijaga.
"Bu Laras, apakah saya bisa menjadi penjaga yang baik?" tanya Wilujeng suatu sore.
"Kamu sudah menjadi penjaga yang baik, Le. Sejak pertama kali kamu datang ke rumahku. Sejak pertama kali kamu menangis karena merasakan getaran akar."
"Tapi Bu, saya belum pernah bertemu Nyai Kembang Randu. Saya hanya mendengar suaranya."
"Lain kali. Saat kamu benar-benar siap. Saat hatimu benar-benar tenang. Saat kamu tidak lagi takut."
"Saya akan menunggu, Bu."
"Jangan tunggu. Berusaha. Karena kesiapan tidak datang dengan sendirinya. Kesiapan harus dijemput."
Wilujeng mengangguk. Ia memejamkan mata. Mulai bernapas. Tarik. Hembus. Tarik. Hembus.
Laras memperhatikannya dari samping. Ia tersenyum.
"Anak ini," bisiknya pelan. "Aria, kau lihat? Dia hebat."
"Aku lihat, Laras. Aku selalu lihat."
"Kita tidak salah memilih dia, ya?"
"Tidak. Dia adalah pilihan yang tepat."
"Lalu kapan aku bisa pulang, Aria? Aku sudah rindu. Sangat rindu."
"Sebentar lagi, Laras. Tugasmu hampir selesai."
BAB 41: LARAS MENINGGAL
Laras usia 67 tahun. Wilujeng usia 44 tahun.
Laras terbaring di dipan bambu. Dipan yang sama yang dulu ditempati Aria ketika ia sakit. Dipan yang sama yang dulu menjadi saksi bisu perjuangan terakhir Aria melawan waktu. Sekarang giliran Laras.
Tubuhnya sudah sangat lemah. Tulang-tulangnya terasa seperti ranting kering yang siap patah kapan saja. Napasnya sudah sangat pendek. Setiap helaan terasa seperti perjuangan. Tapi matanya masih jernih. Masih penuh cinta. Tidak berkurang sedikit pun.
Wilujeng duduk di sampingnya. Tangannya menggenggam erat tangan Laras. Tangannya basah oleh keringat. Jari-jarinya bergetar. Matanya merah. Sudah berhari-hari ia tidak tidur. Ia tidak mau meninggalkan Laras. Ia takut jika ia pergi sebentar saja, Laras akan pergi meninggalkannya tanpa sempat berpamitan.
"Bu Laras," bisik Wilujeng. Suaranya pecah. "Jangan pergi. Saya belum siap."
"Kesiapan tidak pernah dirasakan, Le. Kamu tahu itu. Aku sudah ajarkan sejak awal."
"Tapi Bu, saya masih butuh Bu Laras. Saya belum bisa sendiri."
Laras tersenyum. Senyum yang lemah. Tapi senyum yang hangat. "Kamu sudah bisa, Le. Kamu hanya belum percaya diri. Percayalah pada kemampuanmu. Percayalah pada apa yang sudah aku ajarkan. Percayalah pada Aria. Percayalah pada Mahesa. Mereka akan membantumu. Mereka tidak akan meninggalkanmu."
Wilujeng menangis. Air matanya jatuh ke tangan Laras. "Bu Laras, saya tidak bisa membayangkan hidup tanpa Bu Laras. Saya sudah kehilangan Pak Aria. Sekarang saya akan kehilangan Bu Laras juga. Saya tidak kuat."
"Kamu kuat, Le. Kamu lebih kuat dari yang kamu kira. Kamu sudah melewati banyak hal. Kamu sudah bertahan. Kamu sudah tumbuh menjadi penjaga yang tangguh. Aku tidak perlu khawatir lagi."
"Tapi Bu..."
"Diam dulu. Biarkan aku bicara. Waktuku tidak banyak."
Wilujeng menutup mulutnya. Ia hanya bisa menangis dalam diam.
Laras menghela napas. Napas yang berat. Napas yang terasa seperti terakhir kalinya.
"Wilujeng, dengarkan pesan terakhirku."
Wilujeng mengangguk. Tangannya menggenggam lebih erat.
"Jagalah desa ini. Jagalah pohon ini. Jagalah warisan yang sudah kami titipkan padamu. Jangan biarkan siapa pun merusak keseimbangan. Jangan biarkan siapa pun meragukan cinta. Karena cinta adalah kekuatan paling besar yang pernah ada. Lebih besar dari petir. Lebih besar dari akar. Lebih besar dari dunia."
Saya akan menjaganya, Bu Laras. Saya janji."
"Dan satu lagi. Katakan pada Aria bahwa aku menyusulnya. Katakan pada Mahesa bahwa Ibu sayang dia. Katakan pada Mbah Sujud bahwa aku berterima kasih. Katakan pada Mbah Kromo bahwa aku merindukannya. Katakan pada semua yang sudah menunggu di sana bahwa... aku pulang."
Wilujeng hanya bisa mengangguk sambil menangis. "Saya akan sampaikan, Bu Laras. Semuanya. Saya tidak akan lupa."
Laras tersenyum. Senyum terakhirnya. "Wilujeng, kau adalah murid terbaik yang pernah aku miliki. Aku bangga padamu. Aku sangat bangga. Dari semua yang pernah aku ajar, hanya kamu yang paling setia. Hanya kamu yang paling sabar. Hanya kamu yang paling tulus."
"Bu Laras..."
"Jangan menangis, Le. Ini bukan akhir. Ini awal dari perjalanan baru. Aku akan bertemu Aria. Aku akan bertemu Mahesa. Aku akan bahagia di sana. Seperti dulu. Saat kita masih muda. Saat kita masih tertawa bersama di bawah pohon mangga. Saat kita masih bermimpi tentang masa depan yang tidak pernah kita bayangkan akan seindah ini."
"Bu Laras, saya tidak bisa..."
"Kamu bisa." Laras menghela napas. Terakhir kalinya. "Selamat tinggal, Wilujeng. Jaga desa ini. Jaga pohon ini. Jaga warisan kami. Dan jangan pernah berhenti mencintai. Karena cinta... cinta adalah satu-satunya yang tidak pernah mati."
Laras menutup matanya. Dadanya berhenti bergerak. Wajahnya tenang. Seperti orang yang sedang tertidur. Seperti orang yang sedang bermimpi indah. Seperti orang yang sudah sangat lelah dan akhirnya diizinkan untuk beristirahat.
Laras telah pergi.
Wilujeng masih memegang tangan Laras yang sudah dingin. Ia tidak bisa berkata-kata. Ia hanya diam. Air matanya mengalir deras. Tidak berhenti. Seperti sungai yang meluap setelah hujan deras. Seperti tangisan yang tertahan selama bertahun-tahun dan akhirnya keluar semua.
"Bu Laras..." bisiknya akhirnya. "Selamat jalan. Saya tidak akan mengecewakan Bu Laras. Saya janji."
Wilujeng memakamkan Laras di samping Aria. Di belakang pohon randu. Di bawah naungan pohon yang sama. Tanahnya lembut. Wangi. Seperti tanah yang sering dicium oleh air mata.
Warga desa berkumpul. Lebih banyak dari sebelumnya. Hampir seluruh desa hadir. Mereka berdoa. Mereka menangis. Mereka melepas penjaga terakhir mereka. Penjaga yang paling sabar. Penjaga yang paling tabah. Penjaga yang mengajarkan mereka arti cinta tanpa syarat.
"Laras adalah cahaya desa ini," kata seorang pemuda. Suaranya lantang, tapi bergetar. Ia berdiri di depan kubur dengan tangan mengepal. "Tanpa dia, kita semua akan terus bergunjing. Tanpa dia, kita tidak akan pernah tahu arti cinta sejati. Tanpa dia, kita masih hidup dalam kebencian dan kecurigaan. Dia menyelamatkan kita. Tidak hanya dari dunia akar. Tapi dari diri kita sendiri."
Warga serempak mengucapkan amin.
Wilujeng berdiri di sisi kubur. Ia tidak menangis. Ia sudah menangis sepanjang malam. Matanya bengkak. Wajahnya pucat. Tapi ia tegap. Tidak goyah.
"Selamat jalan, Bu Laras," katanya. Suaranya parau. "Selamat jalan, Pak Aria. Saya akan melanjutkan perjuangan kalian. Saya akan menjaga desa ini. Saya akan menjaga pohon ini. Saya akan menjaga keseimbangan. Saya tidak akan mengecewakan kalian. Janji."
Dari dalam pohon randu, cahaya keemasan menyala. Terang. Sangat terang. Lebih terang dari biasanya. Cahaya itu memenuhi seluruh alun-alun. Memenuhi seluruh desa. Memenuhi seluruh langit.
Suara-suara terdengar bersamaan. Suara Aria. Suara Laras. Suara Mahesa. Suara Mbah Sujud. Suara Mbah Kromo. Suara Mbah Sangkil. Suara Mbah Urip. Suara Nyai Kembang Randu. Suara semua yang pernah menjadi penjaga. Suara semua yang pernah mencintai. Suara semua yang pernah berkorban.
"Selamat datang, Laras," bisik suara Nyai Kembang Randu. "Kami sudah menunggu. Dari dulu. Sejak kamu masih kecil. Sejak pertama kali kamu bermimpi tentang padang cahaya. Sejak pertama kali kamu mendengar suara dari dalam tanah. Sekarang kamu di sini. Di rumah. Di tempatmu seharusnya."
"Selamat datang, Ibu," bisik suara Mahesa. "Aku kangen. Setiap hari. Setiap malam. Setiap detik. Sekarang kita bersama. Tidak akan terpisah lagi. Selamanya."
"Selamat datang, Laras," bisik suara Aria. Suara yang paling hangat. Suara yang paling ia kenal. Suara yang paling ia rindukan. "Aku menunggumu. Setiap hari. Setiap malam. Setiap detik. Sekarang kita bersama. Seperti janji kita dulu. Tidak akan terpisah. Bahkan oleh kematian sekalipun."
Laras telah pulang.
Bergabung dengan Aria. Bergabung dengan Mahesa. Bergabung dengan Mbah Sujud. Bergabung dengan Mbah Kromo. Bergabung dengan Mbah Sangkil. Bergabung dengan Mbah Urip. Bergabung dengan Nyai Kembang Randu. Bergabung dengan semua yang pernah ia cintai. Bergabung dengan semua yang pernah mencintainya.
Bergabung dengan keabadian.
BAB 42: WILUJENG, PENJAGA BARU
Wilujeng kini menjadi penjaga desa.
Setiap pagi, sebelum matahari terbit, ia memimpin meditasi di bawah pohon randu. Puluhan warga duduk bersila di hadapannya. Wajah-wajah yang dulu penuh kebencian dan gunjingan, kini tampak teduh dan damai. Tidak ada lagi bisik-bisik miring. Tidak ada lagi tatapan curiga. Yang tersisa hanya ketenangan. Hanya kehangatan. Hanya rasa syukur yang tidak pernah habis.
"Tarik napas," kata Wilujeng. Suaranya dalam, tenang, tidak tergesa-gesa. "Rasakan udara masuk ke dalam tubuh. Rasakan oksigen menghidupkan setiap sel. Rasakan darah mengalir membawa kehidupan ke seluruh tubuh."
Warga mengikuti. Mereka menarik napas panjang. Membuangnya perlahan.
"Hembuskan perlahan. Lepaskan semua beban. Lepaskan semua dendam. Lepaskan semua yang tidak perlu."
Seorang ibu di barisan depan membuka mata. "Bu Wilujeng, saya masih sering marah. Saya masih sering kesal. Saya tidak bisa tenang seperti yang lain."
"Tenang tidak datang dengan sendirinya, Bu. Tenang harus dilatih. Setiap hari. Setiap napas. Setiap detik."
"Ibu lama, Bu. Saya sudah berusaha. Tapi tetap saja marah."
"Marah itu manusiawi, Bu. Yang tidak manusiawi adalah jika marah itu terus disimpan. Dimakan sendiri. Dibiarkan membusuk di dalam hati."
"Ibu, bagaimana cara melepaskannya?"
"Maafkan. Meskipun sulit. Meskipun sakit. Meskipun tidak pantas."
Ibu itu menunduk. Air matanya jatuh. "Saya tidak bisa memaafkan, Bu. Dia sudah menyakiti saya. Sangat dalam."
"Tidak apa-apa, Bu. Tidak usah dipaksakan. Tetaplah duduk di sini. Setiap pagi. Bernapas. Diam. Suatu hari nanti, maaf itu akan datang dengan sendirinya."
"Bukan karena saya memaksanya?"
"Bukan. Karena hati Ibu sudah lelah membenci. Dan hati yang lelah hanya ingin istirahat."
Ibu itu tersenyum. Ia menutup matanya lagi. Napasnya mulai teratur.
Setelah meditasi selesai, warga pulang satu per satu. Ada yang berjalan cepat karena harus segera ke sawah. Ada yang berjalan lambat sambil mengobrol dengan tetangga. Ada yang masih duduk diam, menikmati sisa ketenangan sebelum dunia kembali memanggil dengan segala kebisingannya.
Wilujeng masih duduk di bawah pohon randu. Daun-daun bergoyang pelan. Angin sore berhembus sejuk. Tidak dingin. Tidak panas. Hangat. Seperti pelukan. Seperti selimut tipis di malam yang sejuk.
"Aku tidak menyangka akan sampai di sini," bisik Wilujeng pada dirinya sendiri.
"Kamu tidak sendiri, Wilujeng."
Wilujeng menoleh. Tidak ada siapa-siapa. Tapi suara itu jelas. Suara itu dari dalam pohon randu. Suara yang sudah ia kenal selama puluhan tahun. Suara yang selalu menenangkan. Suara yang selalu hadir saat ia butuh.
"Bu Laras?" tanya Wilujeng.
"Bukan. Aku Aria."
Wilujeng tersenyum. "Pak Aria. Maaf. Saya kira Bu Laras."
"Tidak apa-apa. Laras ada di sini juga. Tapi dia sedang istirahat. Dia sudah tua. Tujuh belas tahun lebih tua darimu sekarang. Ingat?"
Wilujeng tertawa kecil. "Iya, Pak. Bu Laras meninggal di usia 67 tahun. Saya waktu itu 44 tahun. Sekarang saya sudah 60 tahun. Berarti Bu Laras sudah meninggal 16 tahun lalu."
"Kamu hitung?"
"Aku hitung setiap tahun, Pak. Setiap tahun di hari kematian Bu Laras, aku datang ke kuburnya. Aku membawa bunga. Aku duduk di sana. Aku cerita tentang desa ini. Tentang pohon ini. Tentang murid-murid baru yang aku ajar."
"Apa yang Laras balas?"
"Dia tidak pernah balas, Pak. Tapi aku merasakannya. Kehangatan. Seperti tangan yang mengelus kepalaku. Seperti bibir yang berbisik, 'Aku bangga padamu, Le.'"
Aria terdiam sejenak. "Laras memang seperti itu. Dia tidak banyak bicara. Tapi dia merasakan. Dia merasakan semuanya."
"Aku tahu, Pak. Itu yang membuatku rindu."
"Rindu tidak apa-apa. Rindu bukti bahwa cinta itu nyata."
"Iya, Pak. Bu Laras pernah bilang itu."
"Lalu kenapa kamu masih ragu?"
Wilujeng terdiam. "Aku tidak ragu, Pak."
"Kamu ragu. Aku bisa mendengarnya dari suaramu."
Wilujeng menghela napas. "Baik. Aku ragu. Aku takut. Aku takut tidak bisa seperti Bu Laras. Aku takut tidak bisa seperti Pak Aria. Aku takut tidak bisa seperti Mbah Sujud."
"Kamu tidak harus seperti kami, Wilujeng."
"Tapi saya harus menjadi penjaga yang baik."
"Penjaga yang baik bukan yang seperti kami. Penjaga yang baik adalah yang setia pada hatinya sendiri."
"Apa hati saya cukup baik, Pak?"
"Hatimu lebih dari cukup. Sejak pertama kali kau datang ke rumahku, dulu, saat kau masih berusia tujuh belas tahun. Wajahmu tegang. Matamu gelisah. Tapi hatimu... hatimu bersih. Aku bisa melihatnya. Laras bisa melihatnya. Mahesa bisa melihatnya."
Wilujeng menunduk. Air matanya jatuh. "Aku tidak pernah tahu itu, Pak."
"Karena kami tidak pernah mengatakannya. Kami pikir kamu tahu."
"Aku tidak tahu. Aku pikir kalian memilihku karena tidak ada pilihan lain."
"Tidak ada pilihan lain? Wilujeng, ada puluhan orang di desa ini yang bisa mendengar suara dari dalam tanah. Ada ratusan yang bisa merasakan getaran akar. Tapi hanya kamu yang kami pilih. Kamu tahu kenapa?"
"Kenapa, Pak?"
"Karena kamu tidak lari. Yang lain lari. Mereka takut. Mereka mengabaikan panggilan itu. Mereka berpura-pura tidak mendengar. Tapi kamu? Kamu datang. Kamu bertanya. Kamu mau belajar. Itu yang membuatmu berbeda."
Wilujeng menangis. "Terima kasih, Pak. Aku tidak pernah tahu."
"Sekarang kamu tahu. Jadi jangan ragu lagi. Kamu sudah lebih dari cukup."
Malam itu, Wilujeng tidak bisa tidur.
Ia duduk di kursi kayu di teras rumahnya. Kursi yang sama yang dulu ditempati Aria. Kursi yang sama yang dulu ditempati Laras. Kini gilirannya. Merasakan kayu yang sama. Merasakan angin yang sama. Merasakan rindu yang sama.
"Bu Laras," bisiknya. "Aku merindukanmu."
"Aku juga merindukanmu, Le."
Wilujeng tersenyum. Suara itu dari dalam pohon randu. Suara Laras. Tidak samar. Jelas. Jelas seperti saat Laras masih duduk di sampingnya mengajarinya membedakan mana suara akar dan mana suara angin.
"Bu Laras, aku sudah tua."
"Kamu baru enam puluh tahun. Masih muda."
"Bu Laras meninggal di usia enam puluh tujuh tahun. Berarti saya tinggal tujuh tahun lagi."
"Kamu hitung?"
"Iya. Saya hitung setiap hari. Setiap napas. Setiap detak jantung."
"Jangan hitung, Le. Nikmati saja."
"Aku mencoba, Bu. Tapi sulit. Rasanya seperti ada jam yang terus berdetak di kepalaku. Tik. Tok. Tik. Tok. Mengingatkanku bahwa waktu terus berjalan. Bahwa aku tidak akan selamanya di sini."
"Kamu tidak perlu selamanya di sini, Le. Yang penting apa yang kau lakukan selama di sini."
"Apa yang sudah aku lakukan, Bu?"
"Banyak. Kamu sudah mengajar puluhan murid. Kamu sudah membantu ratusan orang yang berduka. Kamu sudah menjaga desa ini selama enam belas tahun. Sendirian. Tanpa mengeluh. Itu lebih dari cukup."
"Tapi Bu, saya belum pernah bertemu Nyai Kembang Randu. Saya hanya mendengar suaranya."
"Lain kali. Saat kau benar-benar siap."
"Saya sudah menunggu enam belas tahun, Bu."
"Dan Nyai juga sudah menunggu lebih lama dari itu."
Wilujeng terdiam. Ia menatap pohon randu di kejauhan. Batangnya bercahaya. Samar. Tapi jelas.
"Bu."
"Iya, Le."
"Apa saya pantas menjadi penjaga?"
"Kamu sudah menjadi penjaga, Le. Sejak pertama kali kau merasakan getaran akar di telapak tanganmu. Sejak pertama kali kau menangis karena mendengar suara dari dalam tanah. Sejak saat itu, kamu sudah menjadi penjaga. Bukan karena kami memilihmu. Tapi karena alam memanggilmu."
"Lalu kenapa saya masih merasa tidak cukup?"
"Karena kamu manusia, Le. Manusia tidak pernah merasa cukup. Itu wajar. Tapi jangan biarkan rasa tidak cukup itu menghentikanmu."
"Aku tidak akan berhenti, Bu. Janji."
"Bagus. Karena desa ini masih butuh kamu. Pohon ini masih butuh kamu. Murid-muridmu masih butuh kamu."
"Aku tahu, Bu."
"Kalau begitu, tidurlah. Besok pagi kau harus memimpin meditasi lagi."
"Iya, Bu. Selamat malam."
"Selamat malam, Le. Jaga dirimu."
Desa Randu Gembyang semakin dikenal.
Bukan karena kemewahan. Bukan karena keindahan alamnya. Bukan karena kuliner atau budayanya. Tapi karena pohon randu itu sendiri. Karena cahaya keemasannya. Karena getaran hangat yang dirasakan siapa pun yang duduk di bawah naungannya.
Orang-orang dari berbagai penjuru datang. Ada yang dari kota besar. Ada yang dari desa tetangga. Ada yang dari luar pulau. Bahkan ada yang dari luar negeri.
Mereka datang dengan membawa beban masing-masing. Ada yang datang karena sedang berduka. Ada yang datang karena sedang tersesat. Ada yang datang karena kehilangan harapan. Ada yang datang hanya karena penasaran.
Tapi ketika mereka duduk di bawah pohon randu, ketika mereka menutup mata, ketika mereka bernapas bersama, sesuatu berubah. Beban terasa lebih ringan. Jalan terasa lebih jelas. Harapan kembali bersemi. Senyum kembali muncul di wajah yang tadinya muram.
"Bu Wilujeng," kata seorang pemuda yang baru pertama kali datang. Matanya sembab. Wajahnya pucat. "Ayah saya baru saja meninggal. Saya tidak tahu harus ke mana. Teman saya bilang datang ke sini."
Wilujeng menatap pemuda itu. Matanya dalam. Penuh pengertian.
"Duduklah, Le. Tutup matamu. Jangan pikirkan apa-apa. Cukup bernapas."
"Tapi Bu, saya tidak bisa tenang. Pikiran saya kacau. Saya masih membayangkan ayah saya. Wajahnya. Suaranya. Senyumnya."
"Itu wajar, Le. Itu namanya cinta. Cinta tidak pernah mati. Cinta hanya berubah bentuk."
"Apa ayah saya masih ada, Bu?"
"Iya. Dia masih ada. Di dalam ingatanmu. Di dalam hatimu. Di dalam setiap napasmu."
Pemuda itu menangis. Air matanya jatuh deras. Bahunya bergetar.
"Bu, saya kangen."
"Rindulah, Le. Rindu itu obat. Rindu itu bukti bahwa kau pernah mencintai. Rindu itu bukti bahwa kau tidak pernah benar-benar kehilangan."
Pemuda itu mengangguk. Ia menutup matanya. Bernapas. Tarik. Hembus. Tarik. Hembus.
Wilujeng duduk di sampingnya. Tidak bicara. Tidak bergerak. Hanya diam. Hanya hadir.
Suatu sore, sekelompok anak kecil duduk di bawah pohon randu. Wilujeng di hadapan mereka. Matanya berbinar. Senyumnya lebar.
"Anak-anak," kata Wilujeng. "Kalian tahu cerita tentang Aria dan Laras?"
"Tahu, Bu!" seru seorang anak laki-laki. "Mereka penjaga desa! Mereka menjaga pohon ini!"
"Iya, Bu!" sahut anak perempuan di sampingnya. "Mereka cinta-cintaan! Romantis!"
Anak-anak lain tertawa.
Wilujeng ikut tertawa. "Iya. Mereka cinta-cintaan. Tapi bukan hanya itu. Cerita tentang Aria dan Laras bukan sekadar cerita cinta. Itu adalah pelajaran. Pelajaran tentang cinta. Tentang pengorbanan. Tentang kesetiaan. Tentang keseimbangan."
"Bu Wilujeng, apa bedanya cinta sama pengorbanan?" tanya seorang anak kecil yang duduk di barisan depan. Matanya besar. Polos. Penuh rasa ingin tahu.
"Cinta tanpa pengorbanan hanya omong kosong, Nak."
"Omong kosong?"
"Iya. Omong kosong. Karena cinta sejati selalu siap berkorban. Siap mengalah. Siap memberi tanpa mengharap kembali."
"Seperti Aria dan Laras?" tanya anak itu.
"Seperti Aria dan Laras. Mereka berkorban untuk desa ini. Mereka berkorban untuk pohon ini. Mereka berkorban untuk kalian."
Anak-anak terdiam. Beberapa dari mereka mulai mengerti. Beberapa masih bingung. Tapi Wilujeng tidak memaksa. Ia tahu pemahaman datang dengan waktu. Tidak perlu tergesa-gesa.
"Bu Wilujeng," tanya seorang anak lagi. "Apakah saya bisa menjadi penjaga seperti Pak Aria dan Bu Laras?"
Semua anak menoleh ke arah Wilujeng. Menunggu jawaban.
Wilujeng tersenyum. Senyum yang hangat. Senyum yang penuh keyakinan.
"Kamu bisa, Nak. Setiap orang bisa. Asalkan hatinya bersih. Asalkan cintanya tulus. Asalkan ia tidak takut berkorban."
"Tapi Bu, saya masih kecil. Masih tujuh tahun. Apa tidak terlalu muda?"
"Muda bukan masalah, Nak. Yang penting hati. Aria dan Laras juga mulai dipanggil sejak kecil. Sejak usia lima tahun mereka sudah bermimpi tentang dunia akar. Sejak usia enam tahun mereka sudah bertemu di pasar. Sejak usia tujuh tahun mereka sudah mendapat panggilan pertama di sekolah."
Anak itu terkesima. "Mereka hebat, Bu."
"Mereka tidak hebat, Nak. Mereka hanya berani. Berani mendengar. Berani merespon. Berani tidak lari."
"Aku juga ingin berani, Bu."
"Kalau begitu, mulailah dari sekarang."
"Mulai apa, Bu?"
"Mulai dari duduk diam di bawah pohon ini. Tutup matamu. Dengarkan suara dari dalam tanah. Jangan paksa. Biarkan alam yang memanggil."
Anak itu mengangguk mantap. Ia menutup matanya. Tangannya di pangkuan. Bernapas. Tarik. Hembus. Tarik. Hembus.
Anak-anak lain juga ikut menutup mata. Ada yang serius. Ada yang setengah-serius. Ada yang malah tertawa kecil karena geli.
Wilujeng tidak marah. Ia hanya tersenyum.
"Sabar, anak-anak. Semua akan indah pada waktunya."
Malam harinya, Wilujeng duduk di bawah pohon randu. Sendirian. Cahaya keemasan dari dalam batang pohon menerangi wajahnya. Samar. Tapi cukup.
"Pak Aria, Bu Laras, Mahesa, Mbah Sujud, Mbah Kromo, Mbah Urip, Nyai... aku sudah lakukan semua yang bisa aku lakukan. Apa masih kurang?"
"Sudah lebih dari cukup, Wilujeng," bisik suara Aria.
"Kami bangga padamu," bisik suara Laras.
"Terima kasih, Ayah," bisik suara Mahesa. "Karena sudah menjaga desa ini. Sudah menjaga pohon ini. Sudah menjaga adik-adikku."
Wilujeng terkejut. "Adik-adikmu, Mahesa?"
"Iya. Anak-anak itu. Mereka adalah adik-adikku. Secara roh. Mereka dipanggil. Seperti dulu aku dipanggil. Seperti dulu Ayah dan Ibu dipanggil."
"Berapa banyak dari mereka yang akan menjadi penjaga?"
"Tidak tahu. Tapi satu hal yang pasti: perjuangan ini tidak akan pernah berhenti. Akan selalu ada yang baru. Akan selalu ada yang siap menggantikan."
Wilujeng menghela napas. "Aku sudah tua, Mahesa. Aku tidak akan selamanya di sini."
"Tidak apa-apa, Ayah. Karena Ayah tidak akan pernah benar-benar pergi. Ayah akan ada di sini. Di dalam pohon. Di dalam akar. Di dalam angin. Setiap kali mereka duduk di bawah pohon ini, setiap kali mereka merasakan getaran hangat, setiap kali mereka melihat cahaya keemasan — itu Ayah. Itu Ayah yang menjaga mereka."
Wilujeng tersenyum. Air matanya jatuh. "Terima kasih, Mahesa. Aku tidak akan lupa."
"Kami juga tidak akan lupa, Ayah. Terima kasih sudah menjadi bagian dari keluarga ini."
Pohon randu bercahaya. Lebih terang dari biasanya. Cahaya keemasan memenuhi seluruh alun-alun. Memenuhi seluruh desa. Memenuhi seluruh langit.
Wilujeng menatap ke atas. Bintang-bintang bertaburan. Bulan bersinar terang.
"Aku siap," bisiknya. "Apa pun yang akan terjadi. Aku siap."
Dari dalam pohon randu, suara-suara terdengar bersamaan. Suara Aria. Suara Laras. Suara Mahesa. Suara Mbah Sujud. Suara Mbah Kromo. Suara Mbah Urip. Suara Nyai Kembang Randu.
"Kami tunggu, Wilujeng. Jangan terburu-buru. Tapi jangan terlalu lama."
Wilujeng tertawa. "Iya. Aku tidak akan lama. Tapi aku juga tidak akan terburu-buru."
"Bagus. Karena keseimbangan adalah segalanya."
"Keseimbangan adalah cinta."
"Cinta adalah keseimbangan."
Dan pohon randu terus berdenyut. Seperti jantung. Seperti kehidupan. Seperti cinta yang tidak pernah mati.
EPILOG: SERATUS TAHUN KEMUDIAN
Pohon randu masih berdiri tegak di tengah alun-alun Desa Randu Gembyang. Batangnya semakin besar. Daunnya semakin rindang. Cahaya keemasannya semakin terang.
Warga desa berganti dari generasi ke generasi. Tapi cerita tentang keluarga penjaga tidak pernah mati. Cerita tentang Aria dan Laras. Cerita tentang Mahesa. Cerita tentang Mbah Sujud, Mbah Kromo, Mbah Sangkil, Mbah Urip, Nyai Kembang Randu, Wilujeng. Cerita tentang semua yang pernah menjaga keseimbangan antara dunia manusia dan dunia akar.
Anak-anak mendengarkan cerita itu dari orang tua mereka. Orang tua mendengarkan dari kakek nenek mereka. Kakek nenek mendengarkan dari leluhur mereka. Cerita itu terus hidup. Cerita itu terus menginspirasi. Cerita itu terus mengajarkan bahwa cinta tidak pernah mati. Cinta hanya berubah bentuk.
Keluarga penjaga tidak pernah benar-benar pergi. Mereka ada di dalam akar. Mereka ada di dalam daun. Mereka ada di dalam angin. Mereka ada di dalam hujan. Mereka ada di dalam cahaya keemasan pohon randu. Mereka ada di dalam cinta yang tidak pernah mati.
Di bawah pohon randu, pada suatu malam ketika bulan purnama bersinar terang, seorang anak kecil duduk sendirian.
Ia baru berusia tujuh tahun. Matanya jernih. Hatinya bersih. Ia bukan siapa-siapa. Tapi ia mendengar suara-suara dari dalam tanah. Suara-suara yang memanggil namanya.
"Selamat datang, penjaga baru," bisik suara dari dalam angin. Suara Aria. Suara Laras. Suara Mahesa. Suara mereka semua. "Kami sudah menunggu. Perjalananmu baru saja dimulai."
Anak kecil itu tersenyum. Ia tidak takut. Ia merasa hangat. Ia merasa pulang. Ia merasa tidak sendirian.
Ia menempelkan telapak tangannya di batang pohon randu. Pohon itu berdenyut. Hangat. Seperti jantung. Seperti kehidupan. Seperti cinta yang tidak pernah mati.
"Aku siap," bisik anak kecil itu.
Pohon randu bercahaya. Lebih terang dari sebelumnya. Cahaya keemasan memenuhi seluruh desa. Dan untuk sesaat, semua orang yang melihatnya merasakan kedamaian yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya.
Keluarga penjaga tersenyum. Di dunia akar. Di keabadian. Di dalam cinta.
Keseimbangan telah pulih. Penjaga baru telah siap. Perjanjian lama telah usai. Tapi cinta... cinta tidak pernah usai. Cinta terus berputar. Seperti siklus. Seperti akar. Seperti kehidupan itu sendiri.
TAMAT
Slamet Riyadi
29 Juli 2025 03:27:50
Semoga kita bisa kerjasama bu. ...