NOVEL ROMANSA REMAJA
DI UJUNG PERSIMPANGAN CINTA KU BERLABUH
CINTA LAMA BERSEMI KEMBALI
Oleh: Slamet Riyadi
DISCLAIMER
Novel ini merupakan karya fiksi yang terinspirasi dari kisah nyata tokoh “Titik”.
Seluruh tokoh, latar, nama tempat, peristiwa, serta konflik di dalam cerita telah mengalami pengembangan dramatik demi kepentingan sastra dan alur cerita.
Kemiripan nama, kejadian, maupun latar dengan kehidupan nyata merupakan unsur yang tidak disengaja.
Novel ini mengandung kisah tentang cinta remaja, persahabatan, kehilangan, pencarian jati diri, serta perjalanan batin seorang perempuan yang tumbuh di antara luka, kasih sayang, dan harapan.
Sebagian dialog menggunakan gaya bahasa remaja dan nuansa kampung tahun 1995-an demi memperkuat suasana cerita.
Selamat menikmati perjalanan hati Titik.
PROLOG
“MERPATI TAK PERNAH INGKAR JALAN PULANG”
Malam itu langit Pengandon tampak gelap.
Angin berhembus pelan melewati pepohonan bambu di belakang rumah kayu milik Bu Yati. Suara jangkrik terdengar bersahut-sahutan dari arah kebun. Di kejauhan samar-samar terdengar bunyi gamelan latihan kuda lumping dari lapangan kampung.
Titik duduk sendirian di depan jendela kamarnya.
Tatapannya kosong.
Di tangannya ada sebuah boneka panda kecil berwarna cokelat yang mulai kusam dimakan waktu.
Boneka itu sudah bertahun-tahun ia simpan.
Tak pernah dibuang.
Tak pernah hilang.
Sama seperti kenangan.
Perempuan itu tersenyum kecil, lalu menarik napas panjang.
“Kenapa hidupku selalu dipenuhi perpisahan…” bisiknya lirih.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Ingatannya perlahan kembali mundur… jauh ke masa ketika semuanya masih sederhana.
Masa ketika ia masih mengenakan seragam putih biru.
Masa ketika hatinya pertama kali mengenal cinta.
Dan semuanya bermula…
dari pertunjukan kuda lumping.
“Tik… Titiiik… ayo cepet! Nanti kita nggak kebagian tempat depan!”
Suara Indah memecah lamunan Titik.
Remaja perempuan berambut panjang dengan kucil ekor kuda itu buru-buru keluar rumah sambil memakai sandal.
“Iya… iya… cerewet banget sih kamu,” jawab Titik sambil terkekeh.
Di depan rumah sudah ada Herman dan Deni.
Herman langsung bersiul jahil.
“Wuihh… si paling cantik kampung akhirnya keluar juga.”
Titik melotot.
“Herman! Mulutmu itu ya!”
“Hahaha… salah sendiri cantik.”
Deni yang berdiri sambil membawa kacang rebus hanya menggeleng.
“Kalian ini tiap ketemu pasti ribut.”
Indah nyengir.
“Biar seru.”
Mereka berjalan bersama melewati jalan tanah kampung yang malam itu ramai oleh warga.
Anak-anak kecil berlarian membawa balon.
Pedagang cilok dan jagung bakar memenuhi pinggir jalan.
Lampu petromaks menggantung di sekitar lapangan membuat suasana terasa hangat.
Malam itu ada pertunjukan kuda lumping terbesar di Pengandon.
Dan malam itu pula…
hidup Titik berubah.
“Eh Tik, duduk sini!” teriak Indah sambil menarik tangan Titik.
Mereka duduk di barisan depan.
Suara gamelan mulai dimainkan.
“Wah rame banget ya,” gumam Titik sambil melihat sekeliling.
Tiba-tiba…
matanya berhenti pada seorang laki-laki di sisi lapangan.
Pemuda itu mengenakan jaket hitam lusuh.
Tubuhnya tinggi.
Kulitnya sawo matang.
Tatapannya tenang.
Dan entah kenapa…
mata mereka bertemu.
Deg.
Jantung Titik mendadak berdegup aneh.
“Kenapa Tik?” tanya Deni.
Titik buru-buru mengalihkan pandangan.
“Eh? Nggak… nggak apa-apa.”
Indah mengikuti arah mata Titik lalu terkekeh pelan.
“Oalah… ada yang salah tingkah.”
“Apa sih!”
“Itu lho anak yang pakai jaket hitam dari tadi lihat kamu.”
“Hush! Jangan ngawur!”
Namun diam-diam Titik kembali melirik.
Dan laki-laki itu… masih memandangnya.
Herman langsung menyikut pelan.
“Waduh… kayaknya ada yang jatuh cinta nih.”
“Apaan sih kalian!”
Pipi Titik mulai merah.
Ia bahkan tak mengerti kenapa jantungnya berdebar begitu keras.
Padahal mereka belum saling kenal.
Belum pernah bicara.
Bahkan belum tahu nama masing-masing.
Namun malam itu…
ada sesuatu yang terasa berbeda.
Pertunjukan kuda lumping berlangsung meriah.
Orang-orang bersorak saat para pemain mulai kesurupan.
Namun perhatian Titik tak lagi sepenuhnya ke pertunjukan.
Entah kenapa…
matanya terus mencari laki-laki itu.
Dan setiap kali ia melirik…
pemuda itu masih memandangnya.
Sampai akhirnya…
seorang anak kecil menabrak Titik dari belakang.
“Aduhh!”
“Eh maaf mbak!”
Titik hampir jatuh.
Namun tiba-tiba seseorang menahan lengannya.
Hangat.
Kuat.
Titik terdiam.
Saat menoleh…
ternyata laki-laki itu.
“Ati-ati,” ucapnya pelan.
Suara itu sederhana.
Tapi entah kenapa membuat dada Titik bergetar.
“Eh… iya…”
Untuk beberapa detik mereka saling diam.
Suara gamelan terasa menjauh.
Keramaian seolah menghilang.
Yang tersisa hanya tatapan mata mereka.
Lalu laki-laki itu tersenyum kecil.
“Kamu Titik ya?”
Titik kaget.
“Kok tahu?”
“Sering lihat.”
“Lihat di mana?”
“Di sekolah… sama di jalan kampung.”
Indah yang melihat dari jauh langsung menahan tawa.
“Herman… Herman… bener kan! Ada yang naksir Titik!”
Herman ngakak.
“Wah… malam ini seru.”
Titik makin salah tingkah.
“Eh… aku balik dulu ya.”
Namun sebelum pergi, laki-laki itu berkata pelan—
“Aku Nur.”
Nama itu…
langsung tertanam dalam hati Titik.
Malam semakin larut.
Namun sejak pertemuan itu…
hati Titik tak lagi sama.
Sesampainya di rumah, Bu Yati yang sedang melipat pakaian langsung heran melihat anaknya senyum-senyum sendiri.
“Kenapa kamu senyum begitu?”
“Hah? Nggak kok.”
“Jangan bohong sama ibu.”
Titik buru-buru masuk kamar.
Bu Yati tertawa kecil.
“Anak gadis…”
Di dalam kamar…
Titik rebahan sambil menatap langit-langit.
Nama itu terus terngiang di kepalanya.
Nur.
Sederhana.
Tapi hangat.
Titik memegang dadanya sendiri.
“Kenapa deg-degan begini sih…”
Ia memejamkan mata pelan.
Tanpa sadar…
malam itu menjadi awal dari perjalanan panjang hidupnya.
Perjalanan tentang cinta.
Tentang kehilangan.
Tentang persahabatan.
Tentang luka.
Dan tentang seseorang yang kelak akan membuatnya mengerti…
bahwa setinggi apa pun merpati terbang…
ia akan tetap pulang pada tempat yang paling menenangkan hatinya.
Dan Titik belum tahu…
bahwa malam kuda lumping itu…
adalah awal dari semua takdir yang akan mengubah hidupnya selamanya
BAB I
UJIAN AKHIR DAN PERTEMUAN PERTAMA
“Di Antara Lembar Soal dan Degup Hati yang Baru Tumbuh”
Pagi di Pengandon datang perlahan bersama kabut tipis yang turun dari arah persawahan.
Embun masih menggantung di ujung daun pisang ketika suara ayam jantan bersahutan dari belakang rumah warga. Jalan kampung yang biasanya sepi mulai ramai oleh anak-anak sekolah berseragam putih biru.
Hari itu bukan hari biasa.
Hari itu adalah hari pertama Ujian Akhir Nasional.
Dan bagi sebagian anak SMP di Pengandon, ujian terasa seperti penentu masa depan.
Namun bagi Titik…
pagi itu terasa berbeda.
Bukan karena ujian.
Bukan karena takut tidak lulus.
Melainkan karena satu nama yang semalaman terus mengganggu pikirannya.
Nur.
“TITIIIIK! CEPET BANGUN!”
Suara Bu Yati menggema dari dapur.
Titik yang masih meringkuk di bawah selimut langsung mengerang pelan.
“Iyaaa Bu…”
“Katanya ujian nasional! Ini malah tidur kayak kebo!”
Titik terkekeh kecil sambil bangun perlahan.
Sinar matahari masuk dari sela-sela jendela kayu kamarnya.
Ia duduk termenung beberapa detik.
Lalu tanpa sadar…
tersenyum sendiri.
Bu Yati yang tiba-tiba muncul di depan pintu langsung menyipitkan mata.
“Nah loh.”
Titik kaget.
“Apa Bu?”
“Kamu kenapa senyum-senyum sendiri dari tadi?”
“Mana ada.”
“Ada. Ibu lihat dari semalam.”
Titik buru-buru berdiri.
“Aduh Bu… Titik mandi dulu ya!”
“Heh! Jangan ngeles!”
Namun Titik sudah kabur sambil membawa handuk.
Bu Yati hanya menggeleng sambil tersenyum kecil.
“Kayaknya anakku mulai gede…”
Di kamar mandi sederhana berdinding papan itu, Titik menyiram wajahnya berkali-kali.
Namun anehnya…
bayangan Nur masih muncul di pikirannya.
Tatapan matanya.
Senyumnya.
Cara dia memegang lengan Titik semalam.
Dan suara pelannya—
“Aku Nur.”
Titik menutup wajahnya sendiri.
“Aduh kenapa sih aku…”
Ia malu sendiri.
Padahal baru kenal.
Bahkan belum benar-benar ngobrol banyak.
Tapi hatinya seperti sedang dipenuhi kupu-kupu kecil yang beterbangan ke mana-mana.
Setelah selesai bersiap, Titik keluar rumah memakai seragam putih biru yang sudah disetrika rapi oleh ibunya.
Rambut panjangnya diikat sederhana.
Bu Yati memandangi anak gadisnya beberapa detik.
“Cantik.”
Titik tersipu.
“Ah ibu…”
“Jangan lupa sarapan.”
“Iya.”
Bu Yati duduk di sampingnya sambil menuangkan teh hangat.
“Ujian jangan tegang.”
“Titik nggak tegang kok.”
“Yakin?”
“Iya.”
Bu Yati mengernyit.
“Tumben.”
Biasanya kalau ujian Titik paling ribut sendiri.
Namun pagi itu anaknya malah terlihat tenang.
Terlalu tenang.
Bu Yati menatap curiga.
“Kamu mikirin apa?”
“Hah? Nggak mikirin apa-apa.”
“Bohong.”
“Beneran!”
Bu Yati terkekeh kecil.
“Ibu juga dulu pernah muda.”
Titik langsung salah tingkah.
“Aduh Bu…”
Jalan menuju sekolah pagi itu dipenuhi anak-anak berseragam.
Sebagian sibuk menghafal rumus.
Sebagian lagi terlihat panik.
Namun berbeda dengan Titik.
Pikirannya malah melayang entah ke mana.
“TITIIIIK!”
Suara Indah dari belakang membuatnya menoleh.
Indah berlari kecil sambil membawa buku.
“Huft… capek…”
“Kamu kenapa lari?”
“Takut telat!”
Herman datang menyusul sambil tertawa.
“Padahal sekolah masih setengah jam lagi.”
“Diam kamu!”
Deni berjalan santai di belakang mereka.
Seperti biasa, wajahnya terlihat paling tenang.
“Belajar semalam?” tanya Deni.
Indah langsung mengeluh.
“Belajar sih belajar… masuk otak apa nggak itu urusan nanti.”
Herman ngakak.
“Dasar.”
Lalu Herman menoleh ke Titik.
“Kamu kok diem aja?”
“Iya nih,” sambung Indah sambil menyipitkan mata. “Dari tadi senyum-senyum sendiri.”
“Mana ada.”
“Adaaaa.”
Herman tiba-tiba mendekat.
“Jangan-jangan mikirin cowok jaket hitam.”
DEG.
Titik langsung melotot.
“HERMAN!”
“Hahahaha!”
Indah tertawa sampai memegang perut.
“Tuh kan bener!”
“Apaan sih kalian!”
Namun semakin Titik menyangkal…
pipi merahnya justru makin terlihat jelas.
Deni hanya menggeleng sambil tersenyum tipis.
“Baru pertama kali lihat Titik malu begitu.”
“DIAM KALIAN!”
Sekolah pagi itu ramai sekali.
Spanduk bertuliskan SELAMAT MENEMPUH UJIAN NASIONAL tergantung di depan gerbang.
Guru-guru berdiri mengawasi siswa yang masuk.
Beberapa murid tampak tegang.
Ada yang membaca buku sambil berjalan.
Ada yang komat-kamit menghafal rumus.
Namun suasana hati Titik benar-benar kacau.
Karena sesaat setelah ia memasuki halaman sekolah…
ia melihat Nur berdiri di dekat pohon mangga.
Sendirian.
Memakai seragam putih abu-abu.
Dan lagi-lagi…
laki-laki itu sedang memandangnya.
Jantung Titik langsung berdegup keras.
Indah yang sadar langsung nyengir lebar.
“Eh ada tuh.”
“Hush!”
Nur tersenyum kecil saat Titik lewat di depannya.
“Pagi.”
Suara itu sederhana.
Namun sukses membuat Titik salah tingkah.
“Eh… pagi…”
Herman langsung menepuk jidat dramatis.
“Waduh… tamat riwayat Titik.”
Indah cekikikan.
“Biasanya galak sekarang jinak.”
Titik ingin melempar sandal rasanya.
Namun sebelum ia sempat membalas, Nur kembali bicara.
“Semangat ujiannya ya.”
Titik mengangguk pelan.
“Iya… kamu juga, rajin bekajar di SMA.”
Untuk beberapa detik suasana terasa canggung.
Lalu Deni tiba-tiba menarik tangan Herman.
“Udah yuk masuk kelas.”
“Eh bentar—”
“Biar mereka ngobrol.”
Titik langsung panik.
“WOI DEN!”
Namun teman-temannya malah kabur sambil tertawa.
Kini tinggal Titik dan Nur berdiri berdua.
Dan Titik benar-benar tidak tahu harus bicara apa.
Nur mengusap belakang lehernya sendiri.
“Mereka rame ya.”
“Iya… emang gitu.”
“Kamu gugup ujian?”
Titik menggeleng.
“Nggak terlalu.”
“Pinter berarti.”
“Nggak juga.”
Nur tersenyum kecil lagi.
Dan senyum itu…
anehnya selalu membuat hati Titik hangat.
“Aku semalam nggak bisa tidur,” kata Nur tiba-tiba.
“Kenapa?”
“Mikirin pelajaran sekola, di SMA pelajarannya susah.”
“Oh…”
Nur menatap Titik beberapa detik.
“Dan…”
“Dan apa?”
“Mikirin kamu.”
DEG.
Dunia rasanya berhenti.
Titik sampai bengong beberapa detik.
“Apa?”
Nur malah tertawa kecil.
“Bercanda.”
Namun wajahnya justru terlihat serius.
Dan itu membuat Titik makin salah tingkah.
Bel masuk tiba-tiba berbunyi nyaring.
“Teeeeeettt!”
Titik spontan mundur sedikit.
“Aku masuk dulu!”
“Iya.”
“Dadah.”
“Semangat ya Titik.”
Ia kembali menyebut nama itu dengan lembut.
Dan tanpa sadar…
Titik tersenyum sepanjang berjalan menuju kelas.
Ujian dimulai.
Lembar soal dibagikan satu per satu.
Namun selama beberapa menit pertama…
Titik malah melamun.
Indah yang duduk di belakangnya sampai menyenggol kursinya pelan.
“Woi fokus!”
Titik buru-buru sadar.
“Iya!”
Namun pikirannya benar-benar kacau.
Setiap kali mencoba mengerjakan soal…
yang muncul malah wajah Nur.
“Ya Allah Titik…” batinnya.
Saat jam istirahat tiba, halaman sekolah langsung ramai.
Anak-anak sibuk membahas jawaban.
“Aduh nomor lima jawabannya apa sih?”
“Matematika bikin sakit kepala!”
“Tadi aku ngasal!”
Namun Titik justru sibuk mencari seseorang dengan matanya.
Dan saat ia melihat Nur duduk di bawah pohon mangga…
entah kenapa langkahnya langsung menuju ke sana.
Nur yang melihat Titik datang langsung tersenyum.
“Gimana ujiannya?”
“Lumayan.”
“Lumayan itu bisa atau nggak?”
“Ya bisa dikit.”
Nur tertawa kecil.
Titik baru sadar…
ternyata suara tawanya enak didengar.
Mereka mulai mengobrol ringan.
Tentang pelajaran.
Tentang guru galak.
Tentang cita-cita.
Dan tanpa terasa…
waktu berjalan begitu cepat.
Untuk pertama kalinya sejak lama…
Titik merasa nyaman berbicara dengan seseorang.
Nyaman yang sederhana.
Bukan karena dipaksa.
Bukan karena ingin dipuji.
Melainkan karena hatinya benar-benar tenang.
Dan sejak hari itu…
setiap pagi ujian nasional…
Titik mulai menunggu satu hal.
Bukan lembar soal.
Bukan bel sekolah.
Melainkan senyum seorang laki-laki bernama Nur.
Dan tanpa ia sadari…
cinta pertama itu mulai tumbuh perlahan di dalam hatinya.
BAB II
KUDA LUMPING DAN CINTA PERTAMA
“Saat Tatapan Menjadi Awal dari Segala Rasa”
Hari-hari ujian nasional terus berjalan.
Namun bagi Titik, sekolah kini terasa berbeda.
Ada alasan baru yang membuatnya semangat berangkat pagi.
Ada seseorang yang diam-diam selalu ingin ia temui.
Dan anehnya…
setiap kali melihat Nur, rasa gugup itu selalu datang lagi.
Seolah jantungnya belum pernah belajar tenang.
Pagi itu halaman sekolah masih basah oleh embun.
Beberapa siswa duduk bergerombol sambil membuka buku.
Sebagian lain sibuk membeli gorengan di kantin depan sekolah.
Titik berjalan bersama Indah dan Herman sambil membawa map ujian.
Namun baru beberapa langkah memasuki gerbang…
Indah langsung nyenggol lengan Titik.
“Eh.”
“Apa?”
“Itu.”
Titik mengikuti arah mata Indah.
Dan benar saja.
Nur sedang berdiri dekat parkiran sepeda sambil berbincang dengan teman lamanya .
Saat melihat Titik…
ia langsung tersenyum.
DEG.
“Pagi.”
Suara Nur terdengar hangat seperti biasa.
Titik berusaha terlihat santai.
“Pagi juga.”
Herman langsung pura-pura muntah.
“Uhuk… uhuk… manis banget.”
“HERMAN!”
Nur tertawa kecil.
“Teman-temanmu lucu.”
“Jangan didengerin.”
Indah nyengir jahil.
“Nur, Titik semalam belajar sambil senyum-senyum sendiri loh.”
“INDAH!”
Pipi Titik langsung merah.
Nur terlihat menahan tawa.
“Masa?”
“Bohong dia!”
“Hmm… tapi kayaknya bener.”
Titik menutup wajahnya sendiri.
“Aduh malu…”
Mereka semua tertawa.
Dan pagi itu…
untuk pertama kalinya Titik merasa begitu dekat dengan seseorang yang baru dikenalnya beberapa hari.
Sejak pertemuan malam kuda lumping itu, Nur mulai sering menunggu Titik di sekolah.
Kadang hanya untuk menyapa.
Kadang menemani saat istirahat.
Kadang sekadar berjalan pulang bersama sampai pertigaan kampung.
Sederhana.
Namun cukup membuat hati Titik berbunga-bunga.
Bahkan Indah sampai mulai bosan menggoda.
“Duh kalian tuh kayak drama radio.”
“Apaan sih!”
“Belum pacaran aja udah kayak perangko nempel terus.”
Nur tertawa kecil.
Sedangkan Titik malah makin malu.
Namun diam-diam…
ia bahagia.
Siang itu ujian selesai lebih cepat.
Langit Pengandom terlihat cerah.
Anak-anak sekolah ramai keluar gerbang.
“Ayo pulang!” seru Herman.
Namun baru saja mereka hendak pergi…
Nur mendekati Titik.
“Titik.”
“Hm?”
“Malam ini ada kuda lumping lagi.”
Titik menatapnya.
“Oh ya?”
“Iya.”
“Terus?”
Nur tampak sedikit gugup.
“Mau nonton bareng nggak?”
Indah langsung refleks memegang dada dramatis.
“YA AMPUN.”
Herman ngakak keras.
“Ditembak nih kayaknya!”
“DIAM KALIAN!”
Nur ikut tertawa malu.
“Gimana?”
Titik pura-pura berpikir beberapa detik.
“Hm…”
“Kalau nggak mau nggak apa-apa.”
“Siapa bilang nggak mau?”
Nur tampak lega.
“Berarti nanti malam aku jemput?”
DEG.
Kata-kata itu membuat Titik mendadak gugup lagi.
“Eh… iya.”
Indah langsung menarik Herman menjauh.
“Udah yuk kita pergi.”
“Loh kok ditinggal?”
“Biar romantis!”
“HERMANNN!”
Sepanjang perjalanan pulang…
Titik tidak berhenti tersenyum sendiri.
Bahkan saat sampai rumah, Bu Yati langsung sadar ada yang berbeda.
“Kamu kenapa?”
“Hah?”
“Kayak orang habis menang undian.”
“Nggak kok.”
Bu Yati menyipitkan mata.
“Jangan-jangan…”
“Aduh ibu lagi.”
“Siapa namanya?”
Titik langsung tersedak teh.
“BU!”
Bu Yati tertawa puas.
“Nah ketahuan.”
Titik kabur ke kamar sambil salah tingkah.
Namun di dalam kamar…
ia justru berdiri di depan cermin cukup lama.
Mencoba beberapa ikatan rambut.
Mengganti baju berkali-kali.
Lalu mendadak sadar sendiri.
“Ya Allah… aku kenapa sih…”
Ia menutup wajahnya dengan bantal sambil tertawa malu.
Ini pertama kalinya ia merasa seperti itu.
Dan ternyata…
jatuh cinta memang sebodoh itu.
Malam tiba.
Lapangan kampung kembali ramai.
Lampu petromaks menggantung di mana-mana.
Suara gamelan terdengar hingga ujung jalan.
Titik keluar rumah memakai baju lengan panjang warna biru muda.
Rambutnya dibiarkan terurai.
Saat Nur datang menjemput menggunakan sepeda motor tua milik kakaknya…
ia langsung terdiam beberapa detik.
“Kok diem?” tanya Titik gugup.
Nur tersenyum kecil.
“Kamu cantik.”
DEG.
Kalimat sederhana itu langsung membuat pipi Titik panas.
“Ah biasa aja.”
“Nggak.”
Suasana mendadak canggung.
Nur mengusap tengkuknya sendiri.
“Yuk?”
“Iya.”
Sepanjang perjalanan menuju lapangan…
angin malam berhembus pelan.
Titik duduk di belakang sambil memegang ujung jaketnya sedikit.
Dan anehnya…
ia merasa aman.
Nyaman.
Perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Di lapangan, suasana jauh lebih ramai dibanding malam sebelumnya.
Pedagang memenuhi pinggir jalan.
Anak-anak kecil berlarian.
Musik gamelan menggema keras.
Nur dan Titik duduk agak jauh dari keramaian.
“Aku suka suasana begini,” kata Titik pelan.
“Kenapa?”
“Ramai tapi hangat.”
Nur mengangguk.
“Aku juga.”
Mereka terdiam beberapa saat menikmati pertunjukan.
Lalu Nur tiba-tiba bertanya—
“Kamu nanti mau lanjut sekolah ke mana?”
Titik berpikir sejenak.
“Belum tahu.”
“Kalau aku mungkin kerja.”
“Kenapa nggak sekolah lagi?”
“Keadaan.”
Jawabannya singkat.
Namun Titik bisa merasakan ada sesuatu yang disembunyikan di balik nada suaranya.
“Maaf…”
“Nggak apa-apa.”
Nur tersenyum tipis.
“Aku tetap pengen punya hidup bagus kok.”
Titik menatapnya diam-diam.
Dan untuk pertama kali…
ia melihat sisi dewasa dari laki-laki itu.
Bukan hanya sosok yang membuatnya deg-degan.
Namun juga seseorang yang sedang berjuang dengan hidupnya.
Tiba-tiba seorang penjual lewat.
“Jagung bakar… jagung bakar…”
Nur langsung memanggil.
“Pak sini dua.”
“Eh nggak usah,” kata Titik cepat.
“Kenapa?”
“Nanti aku bayar sendiri.”
Nur tertawa kecil.
“Baru pertama kali jalan masa bayar sendiri.”
“Kan aku nggak enak.”
“Udah diem.”
Titik mendengus kecil.
“Maksa.”
“Biarin.”
Beberapa menit kemudian mereka makan jagung bakar sambil menonton pertunjukan.
Dan tanpa sadar…
obrolan mereka mulai mengalir begitu saja.
Tentang masa kecil.
Tentang keluarga.
Tentang cita-cita.
Tentang hal-hal kecil yang ternyata menyenangkan saat dibicarakan dengan orang yang tepat.
“Titik.”
“Hm?”
“Kamu pernah pacaran sebelumnya?”
Pertanyaan itu membuat Titik hampir tersedak.
“Belum!”
Nur tertawa.
“Kenapa kaget?”
“Ya nggak nyangka aja kamu nanya begitu.”
“Terus sekarang?”
“Sekarang apa?”
Nur menatapnya beberapa detik.
“Kalau ada yang suka sama kamu gimana?”
Jantung Titik mulai tidak tenang lagi.
“Hm… nggak tahu.”
“Kalau aku suka sama kamu?”
DEG.
Suara gamelan mendadak terasa jauh.
Angin malam terasa berhenti.
Titik menatap Nur tanpa berkedip.
Wajah laki-laki itu terlihat serius.
Tidak bercanda.
Dan entah kenapa…
hati Titik bergetar hebat.
“Aku…”
Ia bahkan tak tahu harus menjawab apa.
Nur tersenyum kecil.
“Nggak usah jawab sekarang.”
“Tapi…”
“Aku cuma mau kamu tahu.”
Tatapan matanya hangat.
Tulus.
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya dalam hidupnya…
Titik merasa menjadi perempuan paling istimewa di dunia.
Saat mereka pulang…
jalanan kampung sudah mulai sepi.
Langit dipenuhi bintang.
Dan sepanjang perjalanan…
senyum Titik tidak pernah hilang.
Sesampainya di depan rumah, Nur mematikan motornya pelan.
“Makasih ya.”
“Iya.”
“Kamu seneng?”
Titik mengangguk kecil.
“Seneng.”
Nur tersenyum puas.
“Berarti aku berhasil.”
“Berhasil apa?”
“Bikin kamu senyum terus.”
Titik menunduk malu.
Dan sebelum masuk rumah…
Nur berkata pelan—
“Selamat malam, Titik.”
Malam itu…
nama itu kembali disebut dengan begitu lembut.
Dan diam-diam…
hati Titik mulai jatuh semakin dalam.
Ia belum tahu ke mana semua ini akan berjalan.
Namun satu hal mulai ia sadari—
cinta pertama memang selalu datang dengan cara sederhana.
Dengan tatapan.
Dengan perhatian kecil.
Dan dengan seseorang yang perlahan membuat dunia terasa lebih indah dari sebelumnya.
BAB III
ANAK KARATE DAN API KECEMBURUAN
“Saat Persahabatan Mulai Dianggap Ancaman”
Hari-hari setelah malam kuda lumping itu berubah menjadi hari-hari paling indah dalam hidup Titik.
Setiap pagi terasa menyenangkan.
Sekolah tidak lagi membosankan.
Dan setiap malam sebelum tidur…
selalu ada satu nama yang muncul terakhir kali di pikirannya.
Nur.
Cinta pertama itu tumbuh begitu cepat.
Polos.
Hangat.
Dan sederhana seperti hujan sore di kampung kecil Pengandon.
“Tik… kamu tuh sekarang beda.”
Indah menopang dagunya sambil memperhatikan Titik yang sedang menulis sesuatu di buku kecilnya saat jam istirahat.
“Beda apanya?”
“Lebih sering senyum sendiri.”
Herman yang sedang makan gorengan langsung menimpali—
“Dan lebih cantik.”
“Najis lu,” sahut Deni datar.
Herman ngakak.
Titik hanya mendengus malu.
“Apaan sih kalian…”
Indah tiba-tiba merebut buku kecil milik Titik.
“Eh jangan!”
Namun terlambat.
Indah langsung membaca tulisan di halaman terakhir.
“N… U… R…”
“AAAAA INDAH BALIKIN!”
Satu kantin langsung ricuh.
Herman sampai tertawa terbahak-bahak sambil memukul meja.
“WADUH! Ternyata beneran kasmaran!”
Titik mengejar Indah sambil malu setengah mati.
“Balikin nggak!”
“Cieeeee…”
Deni hanya geleng-geleng kepala.
“Anak SMP memang begitu.”
Akhirnya buku itu berhasil direbut kembali.
Titik langsung memeluk bukunya sambil melotot kesal.
“Kalian nyebelin!”
Namun di balik rasa malu itu…
hatinya justru bahagia.
Karena untuk pertama kalinya…
ia benar-benar sedang jatuh cinta.
Hubungan Titik dan Nur semakin dekat.
Mereka mulai sering pulang bersama.
Kadang Nur datang ke depan sekolah hanya untuk mengajak membeli es.
Kadang mereka duduk di pinggir lapangan sekolah sambil mengobrol sampai sore.
Tidak ada yang berlebihan.
Namun cukup membuat semua teman mereka tahu—
bahwa mereka saling menyukai.
Dan Titik menikmati semua itu.
Sampai akhirnya…
masalah mulai datang perlahan.
Suatu sore sepulang sekolah…
Titik melewati lapangan kecil dekat balai desa.
Di sana beberapa anak laki-laki sedang latihan karate.
Suara teriakan dan hentakan kaki terdengar keras.
“HIYAAAA!”
Titik spontan berhenti.
Matanya langsung berbinar.
“Astaga… masih latihan ternyata.”
Salah satu dari mereka menoleh.
Lalu tersenyum lebar.
“EH TITIK!”
Titik langsung melambaikan tangan.
“AKANG!”
Pemuda bertubuh tinggi itu berjalan mendekat sambil membawa handuk di lehernya.
Namanya Akang.
Anak karate paling disegani di kampung.
Namun sifatnya justru lembut dan penyabar.
Sudah sejak kecil ia mengenal Titik.
Bahkan Bu Yati sering meminta Akang menjaga Titik kalau sedang bermain jauh.
“Baru pulang sekolah?” tanya Akang.
“Iya.”
“Ujian gimana?”
“Lumayan.”
Akang tertawa kecil lalu mengacak rambut Titik.
“Pinter dong.”
“Heh! Rambutku!”
Dari belakang muncul dua anak karate lain.
Azis dan Karwan.
Azis terkenal usil.
Sedangkan Karwan paling humoris.
“Waduh… ada ratu kampung datang.”
“Tuh kan Akang langsung semangat latihan.”
Titik langsung melempar daun ke arah mereka.
“Berisik!”
Mereka semua tertawa.
Dan sore itu…
Titik duduk menonton latihan karate sampai menjelang magrib.
Seperti dulu.
Seperti masa kecilnya.
Tanpa ia sadari…
seseorang sedang melihat dari kejauhan.
Nur.
Malam harinya Nur terlihat berbeda.
Biasanya ia banyak bicara.
Namun malam itu ia lebih sering diam.
Mereka duduk di depan warung kecil sambil minum es teh.
“Ada apa?” tanya Titik.
“Hmm?”
“Kamu kok diem.”
“Nggak apa-apa.”
Titik menyipitkan mata.
“Bohong.”
Nur menghela napas pelan.
“Tadi sore kamu sama anak-anak karate ya?”
“Oh.”
Titik tersenyum santai.
“Iya.”
“Dekat banget kayaknya.”
“Mereka teman dari kecil.”
Nur terdiam beberapa detik.
“Yang namanya Akang itu siapa?”
“Kakak angkatku.”
“Bener cuma kakak?”
Pertanyaan itu membuat Titik langsung menoleh.
“Kamu kenapa sih?”
“Ya nanya aja.”
“Nggak usah aneh-aneh deh.”
Nur menatap meja.
“Aku nggak suka lihat mereka terlalu dekat sama kamu.”
DEG.
Kalimat itu membuat suasana berubah.
Titik mulai merasa tidak nyaman.
“Mereka temanku.”
“Tapi cowok semua.”
“Memangnya kenapa?”
Nur menghela napas panjang.
“Aku cuma nggak enak lihatnya.”
Titik mulai kesal.
“Nur, aku dari dulu memang berteman sama mereka.”
“Iya tapi sekarang beda.”
“Beda apanya?”
“Kamu udah dekat sama aku.”
Titik langsung diam.
Untuk pertama kalinya…
ia melihat sisi lain dari Nur.
Sisi yang penuh cemburu.
“Kamu nggak percaya sama aku?”
Nur buru-buru menggeleng.
“Bukan begitu.”
“Terus?”
“Aku cuma takut kehilangan.”
Jawaban itu membuat Titik sedikit luluh.
Namun tetap saja…
ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
“Aku nggak suka kalau dilarang berteman.”
“Aku nggak melarang.”
“Tapi nada bicaramu kayak melarang.”
Nur memijat pelipisnya pelan.
“Maaf…”
Mereka sama-sama diam beberapa saat.
Angin malam berhembus pelan.
Suara jangkrik terdengar dari sawah.
Dan entah kenapa…
malam itu terasa berbeda.
Tidak sehangat biasanya.
Beberapa hari kemudian…
Titik kembali ikut latihan karate.
Namun kali ini Nur datang tiba-tiba.
“Tik.”
Titik menoleh.
“Eh kamu.”
Nur berdiri sambil memasukkan tangan ke saku celana.
Tatapannya langsung tertuju pada Akang yang sedang membantu membetulkan posisi kuda-kuda Titik.
“Nur!” sapa Akang ramah.
Namun Nur hanya mengangguk kecil.
Azis yang sadar suasana mulai tidak enak langsung berbisik pada Karwan—
“Waduh… perang dingin.”
Karwan menahan tawa.
Titik mendekati Nur.
“Kamu kenapa datang?”
“Nyari kamu.”
“Oh.”
Nur melirik Akang lagi.
“Kamu pulang sekarang?”
“Latihannya belum selesai.”
“Masih lama?”
“Ya mungkin.”
Nur terlihat tidak suka.
Namun ia berusaha menahan diri.
“Aku tunggu.”
Akhirnya Nur duduk di pinggir lapangan.
Namun sepanjang latihan…
raut wajahnya jelas tidak nyaman.
Dan Titik mulai merasakan tekanan kecil yang aneh.
Setelah latihan selesai, Akang menghampiri mereka.
“Mau pulang?”
“Iya,” jawab Titik.
Akang tersenyum pada Nur.
“Titip Titik ya.”
Nur hanya menjawab singkat.
“Hm.”
Saat berjalan pulang…
Titik akhirnya berhenti di tengah jalan.
“Kamu marah?”
“Nggak.”
“Bohong lagi.”
Nur diam.
“Kamu nggak suka aku sama mereka?”
Nur akhirnya menjawab pelan—
“Aku nggak suka mereka terlalu dekat sama kamu.”
“Mereka sahabatku.”
“Aku tahu.”
“Terus kenapa?”
Nur menatap Titik cukup lama.
Karena…”
ia menggantung kalimatnya.
“Karena apa?”
“Aku takut suatu hari kamu lebih nyaman sama mereka daripada sama aku.”
Titik langsung terdiam.
Untuk sesaat…
ia bisa merasakan ketulusan rasa takut itu.
Namun di sisi lain…
ia mulai merasa kebebasannya perlahan dipersempit.
Dan itulah pertama kalinya Titik sadar—
bahwa cinta…
kadang bisa berubah menjadi rasa memiliki yang menyesakkan.
Malam itu sebelum tidur…
Titik duduk di dekat jendela kamarnya.
Angin malam masuk perlahan.
Pikirannya kacau.
Di satu sisi ia menyayangi Nur.
Namun di sisi lain…
ia tidak ingin kehilangan teman-temannya.
Tidak ingin berubah hanya karena cinta.
Titik memeluk lututnya sendiri.
“Kenapa cinta jadi ribet begini sih…”
Di luar rumah…
langit malam terlihat tenang.
Namun Titik belum tahu—
bahwa kecemburuan kecil itu…
nantinya akan menjadi awal dari perpisahan panjang yang meninggalkan luka paling dalam di hidupnya.
BAB IV
KEPERGIAN TANPA PAMIT
“Saat Hati Ditinggalkan Sebelum Sempat Mengerti”
Hari-hari di Pengandon mulai berubah pelan.
Awalnya hanya kecemburuan kecil.
Tatapan tidak suka.
Nada bicara yang berbeda.
Lalu perlahan berubah menjadi pertengkaran kecil yang semakin sering terjadi antara Titik dan Nur.
Dan yang paling membuat Titik sedih…
Nur bukan lagi laki-laki yang selalu tersenyum hangat seperti pertama kali mereka bertemu.
Kini ia lebih sering diam.
Lebih mudah cemburu.
Dan lebih sering marah karena hal-hal sederhana.
Sore itu langit mendung.
Titik duduk di pinggir lapangan sambil memperhatikan anak-anak karate latihan.
Azis sedang bercanda dengan Karwan sampai membuat semua tertawa.
Sedangkan Akang duduk di dekat Titik sambil minum air mineral.
“Kamu kenapa murung?” tanya Akang pelan.
Titik menghela napas panjang.
“Nggak apa-apa.”
“Kamu kalau bohong gampang ketahuan.”
Titik tersenyum kecil.
“Nur marah lagi.”
Akang diam beberapa detik.
“Karena kami?”
Titik menunduk pelan.
“Dia nggak suka aku sering di sini.”
Akang mengusap tengkuknya sendiri.
“Sebenarnya Nur sayang sama kamu.”
“Tapi kenapa rasanya aku kayak dikekang…”
Akang tidak langsung menjawab.
Tatapannya lurus ke lapangan.
“Kadang orang terlalu takut kehilangan.”
“Tapi aku nggak suka dicurigai terus.”
“Kamu udah ngomong baik-baik?”
“Udah… tapi tetap aja.”
Akang menatap Titik lalu tersenyum tipis.
“Kamu jangan berubah jadi orang lain cuma karena cinta.”
Kalimat itu membuat Titik terdiam.
Karena jauh di dalam hati…
ia merasa benar.
Malam harinya Nur datang ke rumah.
Namun wajahnya terlihat dingin.
Bu Yati yang melihat langsung menyapa ramah.
“Masuk Nur.”
“Iya Bu.”
Titik keluar dari kamar sambil membawa dua gelas teh.
Namun suasana terasa canggung.
Tidak seperti biasanya.
Nur duduk diam cukup lama sebelum akhirnya berkata—
“Kamu tadi ke lapangan lagi?”
Titik menghela napas pelan.
“Iya.”
“Kamu nggak capek?”
“Maksudnya?”
“Dekat terus sama mereka.”
Titik mulai kesal.
“Mereka temanku.”
Nur tertawa hambar.
“Teman apa penjaga?”
“NUR.”
“Aku serius.”
Titik meletakkan gelas sedikit keras di meja.
“Kamu tuh kenapa sih sekarang?”
Nur ikut terpancing emosi.
“Aku cuma nggak suka lihat cowok lain dekat sama kamu!”
“Mereka bukan siapa-siapa!”
“Tapi mereka selalu ada di sekitar kamu!”
“Ya karena mereka teman!”
Suasana langsung hening.
Bu Yati yang mendengar dari dapur hanya bisa saling pandang dengan dirinya sendiri.
Nur berdiri tiba-tiba.
“Udah lah.”
“Mau ke mana?”
“Pulang.”
“Kita belum selesai ngomong.”
Nur menatap Titik dengan mata kecewa.
“Percuma.”
“NUR!”
Namun laki-laki itu langsung pergi keluar rumah.
Titik mengejarnya sampai halaman.
“Haiii… dengerin dulu!”
Nur berhenti sebentar.
Namun tidak menoleh.
“Aku capek Tik…”
Suara itu terdengar lirih.
“Aku takut suatu hari kamu ninggalin aku.”
Titik langsung terdiam.
Hatinya mendadak nyeri.
“Aku nggak pernah mau ninggalin kamu…”
Nur tersenyum pahit.
“Tapi aku merasa kamu nggak pernah benar-benar milih aku.”
Setelah mengatakan itu…
ia pergi.
Meninggalkan Titik berdiri sendirian di depan rumah.
Malam terasa begitu sunyi.
Dan untuk pertama kalinya…
Titik menangis karena cinta.
Hari-hari berikutnya hubungan mereka semakin renggang.
Nur mulai jarang datang.
Jarang menyapa.
Di sekolah pun mereka jarang ketemu dan lebih sering diam.
Indah sampai bingung melihat perubahan itu.
“Kalian berantem?”
Titik hanya mengaduk mie bakso tanpa semangat.
“Nggak tahu.”
“Loh kok nggak tahu?”
“Habis capek.”
Herman yang biasanya bercanda pun kali ini ikut diam.
Deni menatap Titik beberapa detik.
“Kamu sayang sama dia?”
Titik mengangguk pelan.
“Terus kenapa nggak diperbaiki?”
Titik tersenyum sedih.
“Kadang… kita sayang sama seseorang tapi malah saling nyakitin.”
Semua langsung diam.
Tidak ada yang tahu harus menjawab apa.
Suatu sore…
Titik berangkat ke lapangan karate lagi.
Namun kali ini suasananya terasa berbeda.
Azis menghampirinya sambil terlihat ragu.
“Tik…”
“Hm?”
“Kamu belum tahu?”
“Tahu apa?”
Azis saling pandang dengan Karwan.
Lalu Akang berjalan mendekat dengan wajah serius.
“Nur mau pergi.”
DEG.
Dunia seperti berhenti.
“Maksudnya?”
“Katanya mau merantau ke Jakarta.”
Titik langsung berdiri.
“Apa?”
Akang mengangguk pelan.
“Berangkatnya mungkin minggu ini.”
Titik merasa dadanya sesak mendadak.
“Nggak mungkin…”
“Kami juga baru tahu.”
Tanpa sadar mata Titik mulai berkaca-kaca.
“Dia nggak bilang apa-apa ke aku…”
Malam itu Titik berjalan cepat menuju rumah Nur.
Langit gelap.
Angin malam terasa dingin.
Dadanya dipenuhi rasa takut yang aneh.
Saat sampai di depan rumah…
ia melihat beberapa tas sudah tergeletak di ruang tamu.
Dan Nur sedang membantu ibunya membereskan barang.
Titik berdiri terpaku di depan pintu.
Nur menoleh.
Dan wajahnya langsung berubah kaget.
“Titik…”
“Kamu mau pergi?”
Suasana langsung hening.
Ibunya Nur perlahan masuk ke dalam rumah memberi mereka ruang bicara.
Titik menatap Nur dengan mata bergetar.
“Kenapa aku nggak dikasih tahu?”
Nur menunduk pelan.
“Aku belum sempat.”
“Belum sempat atau memang nggak mau bilang?”
Nur diam.
Dan diam itu…
justru paling menyakitkan.
Air mata Titik mulai jatuh perlahan.
“Kamu tega banget…”
“Aku pergi buat kerja Tik.”
“Terus aku?”
Nur memejamkan mata sebentar.
“Aku juga bingung.”
“Kita belum selesai…”
“Aku tahu.”
“Terus kenapa pergi?”
Nur akhirnya menatap Titik.
Tatapannya penuh luka.
“Karena aku capek cemburu terus.”
Kalimat itu menghantam hati Titik.
“Aku nggak pernah selingkuh…”
“Aku tahu.”
“Terus?”
“Tapi aku takut kehilangan kamu.”
“Tapi kamu malah pergi…”
Suara Titik mulai pecah.
Dan itu membuat Nur terlihat semakin hancur.
“Aku cuma pengen hidup lebih baik,” ucap Nur lirih.
“Aku nggak mau selamanya jadi anak kampung yang nggak punya apa-apa.”
Titik menangis makin keras.
“Aku nggak pernah peduli soal itu…”
“Tapi aku peduli.”
Mereka sama-sama diam.
Tangis Titik pecah di depan rumah itu.
Dan untuk pertama kalinya…
Nur terlihat benar-benar tidak berdaya.
Ia mendekat perlahan.
Lalu mengusap air mata Titik dengan tangan gemetar.
“Maafin aku…”
“Jangan pergi…”
Suara itu begitu kecil.
Begitu rapuh.
Namun Nur hanya tersenyum sedih.
“Aku harus pergi.”
“Kalau kamu pergi… nanti aku gimana…”
Nur menunduk.
Dan kalimat berikutnya keluar begitu pelan—
“Jangan nunggu aku.”
Hati Titik langsung runtuh.
Pagi keberangkatan Nur datang terlalu cepat.
Titik tidak datang mengantar.
Ia hanya mengurung diri di kamar sambil menangis.
Di luar rumah terdengar suara mobil travel melintas.
Dan entah kenapa…
hati Titik merasa ada sesuatu yang benar-benar hilang.
Bu Yati masuk perlahan ke kamar.
“Titik…”
Titik memeluk bantal sambil menangis sesenggukan.
“Dia pergi Bu…”
Bu Yati duduk di samping anaknya lalu mengusap rambutnya perlahan.
“Kadang hidup memang begitu.”
“Tapi sakit…”
“Iya.”
“Titik nggak siap…”
Bu Yati memeluk anak gadisnya erat.
Dan pagi itu…
untuk pertama kalinya Titik merasakan arti kehilangan yang sesungguhnya.
Bukan karena putus cinta.
Bukan karena pertengkaran.
Namun karena seseorang pergi…
tanpa meninggalkan kepastian akan kembali.
Hari-hari setelah kepergian Nur terasa kosong.
Lapangan kuda lumping kini hanya menyisakan kenangan.
Jalan kampung terasa sepi.
Dan setiap sudut Pengandom…
selalu mengingatkan Titik pada laki-laki itu.
Tentang tatapan pertama.
Tentang jagung bakar.
Tentang malam-malam sederhana yang dulu terasa indah.
Kini semuanya berubah menjadi rindu.
Dan Titik belum tahu…
bahwa kepergian Nur hanyalah awal dari banyak kehilangan lain yang akan datang dalam hidupnya.
BAB V
AKANG, KAKAK YANG MENENANGKAN LUKA
“Ketika Kehilangan Membuat Seseorang Datang Menjadi Tempat Bersandar”
Hari-hari setelah kepergian Nur berubah menjadi hari paling sepi dalam hidup Titik.
Ia tidak lagi seramai dulu.
Tidak lagi suka bercanda berlebihan bersama Indah dan Herman.
Tidak lagi semangat pergi ke sekolah.
Bahkan senyumnya perlahan mulai menghilang.
Dan yang paling menyedihkan…
Nur benar-benar pergi tanpa kabar.
Tidak ada surat.
Tidak ada telepon.
Tidak ada pesan titipan.
Seolah laki-laki itu benar-benar menghilang begitu saja dari hidupnya.
Pagi itu hujan turun sejak subuh.
Atap seng rumah Bu Yati berbunyi berisik terkena air hujan.
Titik masih duduk termenung di dekat jendela sambil memeluk lutut.
Tatapannya kosong.
Di meja kecil dekat tempat tidurnya masih tersimpan tiket pertunjukan kuda lumping yang dulu ia simpan diam-diam.
Dan kini benda kecil itu justru menjadi sumber rasa sakit.
Bu Yati masuk membawa teh hangat.
“Kamu belum siap sekolah?”
“Males Bu…”
“Jangan begitu.”
Titik diam.
Bu Yati duduk di sampingnya perlahan.
“Kamu masih mikirin Nur?”
Air mata Titik langsung jatuh lagi.
“Aku nggak ngerti Bu… kenapa dia pergi gitu aja…”
Bu Yati mengusap rambut anaknya lembut.
“Kadang laki-laki pergi bukan karena nggak sayang.”
“Terus kenapa nggak bilang baik-baik…”
“Mungkin dia juga bingung.”
Titik menggigit bibirnya sendiri menahan tangis.
“Aku kangen…”
Suara itu lirih sekali.
Dan Bu Yati bisa merasakan betapa hancurnya hati anak gadisnya.
Sejak Nur pergi…
Titik jadi lebih sering menyendiri.
Sepulang sekolah ia jarang bermain.
Lebih sering diam di rumah.
Bahkan Indah mulai khawatir.
“Tik… kamu jangan kayak orang kehilangan jiwa gitu.”
Titik hanya tersenyum hambar.
“Aku nggak apa-apa.”
“Bohong.”
Herman ikut duduk di samping mereka di kantin.
“Kamu sekarang serem tau.”
“Serem kenapa?”
“Diem terus.”
Biasanya Titik paling ribut.
Paling heboh.
Paling susah diam.
Namun kini semuanya berubah.
Dan teman-temannya bisa melihat jelas—
ada sesuatu yang patah di dalam dirinya.
Sore itu Titik berjalan sendirian melewati lapangan karate.
Suara hentakan kaki dan teriakan latihan terdengar seperti biasa.
Namun kali ini ia hanya berdiri di pinggir pagar sambil memandang kosong.
Akang yang sedang latihan langsung sadar.
“Eh… Titik.”
Ia berjalan mendekat sambil membawa handuk kecil.
“Kok sendirian?”
Titik tersenyum tipis.
“Iya.”
Akang memperhatikan wajahnya beberapa detik.
“Kamu habis nangis?”
“Nggak.”
“Kamu kalau bohong jelek.”
Titik tertawa kecil untuk pertama kali setelah sekian lama.
Namun tawanya terdengar lemah.
Akang menatapnya pelan.
“Masih mikirin Nur?”
Pertanyaan itu membuat mata Titik langsung berkaca-kaca lagi.
“Aku tuh sebodoh itu ya Kang…”
Akang mengernyit.
“Kenapa ngomong begitu?”
“Dia pergi gitu aja tapi aku masih mikirin dia terus.”
Akang terdiam cukup lama.
Lalu duduk di samping Titik.
“Karena kamu sayang.”
“Tapi sakit…”
“Iya.”
“Aku capek nangis terus.”
Angin sore berhembus pelan.
Langit mulai berubah jingga.
Akang memandang lapangan beberapa detik sebelum akhirnya berkata—
“Kamu tahu kenapa orang kuat itu kelihatan tenang?”
Titik menggeleng pelan.
“Karena mereka belajar menerima rasa sakit.”
Titik menunduk.
“Kalau aku belum bisa gimana…”
Akang tersenyum kecil.
“Ya pelan-pelan.”
Hari itu Akang menemani Titik duduk sampai magrib.
Mereka mengobrol banyak hal.
Tentang sekolah.
Tentang cita-cita.
Tentang masa kecil Titik yang dulu suka jatuh dari sepeda.
Dan untuk pertama kalinya sejak Nur pergi…
Titik bisa tertawa lagi.
Walaupun belum sepenuhnya bahagia.
Malam harinya Bu Yati sedang menjemur pakaian di belakang rumah ketika Akang datang.
“Assalamualaikum Bu.”
“Waalaikumsalam.”
Bu Yati tersenyum ramah.
“Masuk Kang.”
Akang duduk di kursi kayu depan rumah.
Bu Yati menuangkan teh hangat.
“Kamu habis latihan?”
“Iya Bu.”
Bu Yati menghela napas pelan.
“Titik tadi ketawa lagi.”
Akang tersenyum kecil.
“Syukur.”
“Dia dari kemarin sedih terus.”
“Saya tahu.”
Bu Yati menatap Akang beberapa detik.
“Kang…”
“Iya Bu?”
“Tolong jagain Titik ya.”
Akang sedikit kaget.
“Maksud ibu?”
“Dia keras kepala… tapi hatinya lembut.”
Akang diam mendengarkan.
“Saya takut dia terlalu larut sedih.”
Akang mengangguk pelan.
“Iya Bu.”
Bu Yati tersenyum tipis.
“Anggap aja dia adikmu sendiri.”
Dan sejak malam itu…
hubungan mereka perlahan berubah.
Bukan sekadar teman lama.
Namun menjadi kakak dan adik yang saling menjaga.
Hari-hari berikutnya Akang mulai sering menemani Titik.
Kadang mengantar pulang sekolah.
Kadang membantu mengerjakan tugas.
Kadang sekadar duduk mendengarkan Titik bercerita.
Dan anehnya…
bersama Akang, Titik merasa tenang.
Tidak ada rasa takut.
Tidak ada kecemburuan.
Tidak ada tekanan.
Hanya rasa nyaman.
Suatu sore mereka duduk di bawah pohon dekat lapangan.
Titik sedang makan cilok sambil melihat anak-anak kecil bermain bola.
“Kang.”
“Hm?”
“Kalau suatu hari Nur balik… menurut Akang gimana?”
Akang tersenyum tipis.
“Kamu masih nunggu dia?”
Titik terdiam sebentar.
“Aku nggak tahu.”
“Kalau menurutku…”
“Apa?”
“Kalau dia memang sayang, dia pasti balik.”
“Tapi kalau nggak balik?”
Akang menatap langit sore.
“Berarti Tuhan nyiapin orang lain yang lebih baik.”
Titik tertawa kecil.
“Kok bijak banget.”
“Ya iyalah.”
“Padahal juara karate.”
Akang ikut tertawa.
“Emang juara karate nggak boleh bijak?”
“Kirain kerjanya mukul orang.”
“Eh aku mukul juga kok.”
Titik spontan menjauh pura-pura takut.
“Hii serem.”
Akang tertawa keras.
Dan suara tawa itu…
perlahan mengisi ruang kosong di hati Titik.
Sejak ada Akang…
hidup Titik mulai membaik.
Ia kembali sering tersenyum.
Kembali bercanda dengan teman-temannya.
Walaupun luka karena Nur belum benar-benar hilang.
Namun setidaknya…
ia tidak lagi merasa sendirian.
Dan tanpa Titik sadari…
Akang diam-diam menjadi sosok paling penting dalam hidupnya setelah kepergian Nur.
Seseorang yang selalu ada saat ia menangis.
Seseorang yang mendengarkan tanpa menghakimi.
Seseorang yang membuatnya merasa aman.
Seperti rumah.
Namun hidup tidak pernah benar-benar membiarkan seseorang tenang terlalu lama.
Karena di saat Titik mulai kembali berdiri…
takdir diam-diam sudah menyiapkan kehilangan berikutnya.
Dan kali ini…
luka itu akan jauh lebih dalam dibanding sebelumnya.
BAB VI
PERPISAHAN KEDUA
“Orang yang Membuatku Kuat, Kini Pergi Tanpa Suara”
Waktu berjalan pelan di Pengandon.
Musim hujan mulai berganti panas.
Jalan-jalan tanah yang dulu becek kini kembali berdebu saat siang hari.
Dan perlahan…
kehidupan Titik mulai terlihat normal lagi.
Ia kembali tertawa.
Kembali bercanda bersama teman-teman karatenya.
Dan semua itu terjadi karena satu orang—
Akang.
Hampir setiap waktu latihan Titik selalu datang ke lapangan karate.
Kadang hanya duduk melihat, kadang ikut latihan.
Kadang membantu membawakan air minum.
Kadang sekadar mengganggu Akang saat serius melatih adik-adik junior.
“Heh fokus!”
Akang menahan tawa saat Titik sengaja menghalangi pandangannya.
“Biarin.”
“Nanti mereka salah gerakan.”
“Kan ada pelatih lain.”
Azis langsung nyeletuk dari belakang—
“Kalau ada Titik mah Akang nggak fokus latihan.”
“Hahaha bener!”
Karwan ikut tertawa keras.
Akang melempar handuk ke arah mereka.
“Berisik!”
Titik malah cekikikan puas.
Dan sore-sore seperti itu perlahan menjadi kebiasaan yang menyenangkan.
Akang memang berbeda.
Ia tidak pernah memaksa.
Tidak pernah mengekang.
Tidak pernah marah berlebihan.
Kalau Titik sedih, ia mendengarkan.
Kalau Titik marah, ia menenangkan.
Kalau Titik menangis, ia membiarkan sampai hatinya lega.
Dan mungkin karena itulah…
Titik merasa sangat nyaman bersamanya.
Bahkan kadang lebih nyaman dibanding saat bersama Nur dulu.
Namun hubungan mereka tetap sederhana.
Seperti kakak dan adik.
Dan Bu Yati menyukai itu.
Suatu malam Titik sedang membantu ibunya melipat pakaian di ruang tengah.
“Kamu sekarang sering ketawa lagi.”
Titik tersenyum kecil.
“Kan bagus.”
Bu Yati mengangguk pelan.
“Akang anak baik.”
“Iya.”
“Dia perhatian sama kamu.”
Titik mengangguk lagi.
“Kalau ada dia… Titik nggak terlalu sepi.”
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun entah kenapa membuat Bu Yati ikut terdiam beberapa detik.
Ia tahu…
anaknya terlalu sering kehilangan.
Dan Akang menjadi satu-satunya orang yang berhasil membuat Titik bangkit lagi.
Namun kebahagiaan kecil itu ternyata tidak berlangsung lama.
Sore itu langit terlihat mendung.
Angin bertiup lebih dingin dari biasanya.
Titik datang ke lapangan karate seperti biasa.
Namun suasananya terasa aneh.
Azis tidak banyak bercanda.
Karwan terlihat diam.
Sedangkan Akang duduk sendiri di pinggir lapangan sambil memandang kosong ke arah jalan.
Titik langsung menghampiri.
“Kang.”
Akang menoleh lalu tersenyum kecil.
“Eh.”
“Kok diem?”
“Nggak apa-apa.”
Titik duduk di sampingnya.
“Kamu kalau bohong gampang ketahuan.”
Akang tertawa pelan.
“Bawaannya kalimatku terus.”
“Biar keren.”
Mereka sama-sama diam beberapa detik.
Lalu Akang berkata pelan—
“Titik…”
“Hm?”
“Aku mungkin bakal pergi.”
DEG.
Jantung Titik langsung terasa jatuh.
“Maksudnya?”
“Aku dapat kerja di Tangerang.”
Titik langsung menatapnya tidak percaya.
“Kapan?”
“Mungkin minggu depan.”
“Cepat banget…”
Akang mengangguk pelan.
“Tadinya aku juga nggak nyangka.”
Titik mendadak diam.
Dadanya terasa sesak lagi.
Perasaan itu…
perasaan kehilangan itu…
kembali datang.
“Kamu serius pergi?”
“Iya.”
“Terus latihan karate?”
“Diserahin ke senior lain.”
“Terus…”
Titik menggantung kalimatnya.
Terus aku gimana?
Namun kalimat itu tidak keluar.
Akang tersenyum kecil.
“Kamu sedih?”
Pertanyaan itu justru membuat mata Titik mulai panas.
“Nggak tahu…”
Akang mengusap kepala Titik pelan.
“Jangan nangis.”
“Aku capek ditinggal orang terus…”
Suara Titik mulai bergetar.
Dan kalimat itu langsung membuat Akang terdiam.
Angin sore berhembus pelan melewati lapangan.
Suasana mendadak sunyi.
“Aku pergi buat masa depan,” ucap Akang lirih.
“Tapi kenapa semua orang selalu pergi…”
Titik akhirnya menangis juga.
Dan seperti biasa…
Akang hanya diam menemani.
Tidak banyak bicara.
Tidak sok menguatkan.
Ia hanya membiarkan Titik meluapkan semuanya.
Karena ia tahu…
kadang seseorang hanya butuh ditemani saat terluka.
Hari-hari menjelang keberangkatan Akang terasa aneh.
Titik jadi semakin sering bersamanya.
Mereka pergi membeli bakso.
Duduk di pinggir sungai.
Mengobrol sampai malam.
Seolah diam-diam mereka tahu—
waktu kebersamaan itu akan segera habis.
Suatu malam mereka duduk di depan warung kopi kecil dekat jalan kampung.
Lampu kuning redup menggantung di atas kepala mereka.
“Kang.”
“Hm?”
“Nanti kalau udah di Tangerang jangan lupa sama Titik.”
Akang tersenyum kecil.
“Mana mungkin lupa.”
“Banyak orang pergi terus lupa.”
“Aku beda.”
Titik menatapnya.
“Janji?”
Akang mengulurkan jari kelingkingnya.
“Janji.”
Titik ikut mengaitkan jari mereka.
Dan entah kenapa…
malam itu terasa begitu sedih.
Hari keberangkatan Akang akhirnya datang.
Pagi masih sangat gelap saat mobil travel berhenti di depan rumahnya.
Beberapa tas sudah dimasukkan ke bagasi.
Azis dan Karwan datang mengantar.
Sedangkan Titik berdiri diam di pinggir jalan sejak tadi.
Tidak banyak bicara.
Akang menghampirinya perlahan.
“Kok diem aja?”
Titik menunduk.
“Nggak tahu mau ngomong apa.”
Akang tersenyum tipis.
“Jaga diri baik-baik.”
Titik mengangguk pelan.
“Kamu juga.”
Akang mengusap kepala Titik seperti biasa.
“Nanti kalau sedih jangan dipendem sendiri.”
“Iya.”
“Jangan sering nangis.”
Titik malah makin ingin menangis.
Dan sebelum naik ke mobil…
Akang berkata pelan—
“Kalau suatu hari kamu kehilangan arah… jangan lupa pulang.”
Titik menatapnya bingung.
“Maksudnya?”
Akang hanya tersenyum.
“Nanti juga ngerti.”
Lalu ia masuk ke mobil.
Pintu tertutup.
Mesin menyala.
Dan perlahan…
mobil itu pergi meninggalkan jalan kampung Pengandom.
Titik berdiri mematung.
Dadanya kembali kosong.
Perasaan itu datang lagi.
Perasaan ditinggalkan.
Dan kali ini lebih sakit…
karena Akang adalah orang yang membantu menyembuhkan luka sebelumnya.
Sepanjang hari Titik mengurung diri di kamar.
Boneka panda kecil milik Toro bahkan belum ada saat itu.
Yang ada hanya sepi.
Dan kenangan.
Bu Yati masuk perlahan membawa makanan.
“Makan dulu.”
“Nggak lapar.”
“Kamu sedih ya…”
Titik menatap ibunya dengan mata merah.
“Bu…”
“Iya?”
“Kenapa semua orang yang Titik sayang selalu pergi…”
Pertanyaan itu membuat Bu Yati terdiam cukup lama.
Lalu ia duduk memeluk anak gadisnya erat.
Karena bahkan seorang ibu pun…
kadang tidak punya jawaban untuk rasa kehilangan.
Malam itu hujan turun deras.
Titik duduk di dekat jendela sambil memandangi jalan kampung yang basah.
Lapangan karate terlihat kosong.
Tidak ada suara Akang.
Tidak ada tawa Azis dan Karwan.
Semua terasa sunyi.
Dan di tengah suara hujan…
Titik akhirnya sadar satu hal—
hidupnya perlahan mulai dipenuhi perpisahan.
Satu demi satu orang yang membuatnya nyaman pergi meninggalkan dirinya.
Nur pergi.
Kini Akang juga pergi.
Dan Titik belum tahu…
bahwa perjalanan hidupnya setelah ini akan membawanya jauh meninggalkan kampung kecil itu.
Menuju kota baru.
Lingkungan baru.
Dan kisah cinta baru yang jauh lebih rumit daripada sebelumnya.
BAB VII
KOTA BARU BERNAMA KLATEN
“Saat Aku Belajar Berdiri di Tempat yang Tak Pernah Kukenal”
Kepergian Akang meninggalkan ruang kosong yang sulit dijelaskan oleh Titik.
Hari-hari di Pengandon kembali terasa hambar.
Lapangan karate kini hanya menjadi tempat penuh kenangan.
Tidak ada lagi suara Akang yang memanggil namanya dari kejauhan.
Tidak ada lagi seseorang yang diam-diam memperhatikannya saat ia murung.
Dan untuk beberapa bulan…
Titik hidup seperti bayangan dirinya sendiri.
Namun hidup tidak pernah berhenti hanya karena seseorang terluka.
Kelulusan SMP akhirnya tiba.
Pagi itu sekolah ramai sekali.
Anak-anak berkerumun di depan papan pengumuman.
Suara teriakan bercampur tangis dan tawa memenuhi halaman sekolah.
“AKU LULUSSSS!”
“HERMAN LOLOS!”
“DENI NILAINYA TINGGI BANGET!”
Indah melompat sambil memeluk Titik.
“KITA LULUS TIK!”
Titik tersenyum kecil.
“Iya…”
Namun senyumnya tidak seceria dulu.
Indah langsung sadar.
“Kamu masih sedih ya…”
“Nggak kok.”
“Bohong.”
Herman datang sambil kipas-kipas kertas pengumuman.
“Waduh akhirnya bebas juga dari matematika.”
Deni langsung menyahut datar—
“Hidupmu nggak akan pernah bebas dari matematika.”
“DIEM LO!”
Mereka semua tertawa.
Dan untuk sesaat…
Titik ikut tertawa bersama mereka.
Walaupun jauh di dalam hati…
ia masih merasa kosong.
Beberapa minggu setelah kelulusan, Bu Yati mulai sibuk membicarakan sekolah lanjutan.
“Kamu mau lanjut di mana?”
Titik duduk di ruang tengah sambil mengupas rambutan.
“Nggak tahu.”
“Jangan nggak tahu terus.”
Titik menghela napas.
“Teman-teman banyak yang keluar kota.”
“Kamu mau juga?”
Titik diam beberapa detik.
Lalu mengangguk pelan.
“Mungkin.”
Bu Yati menatap anaknya cukup lama.
“Kamu mau lari dari kenangan ya?”
DEG.
Kalimat itu tepat sekali.
Titik menunduk pelan.
“Di sini terlalu banyak yang bikin sedih…”
Bu Yati mengusap kepala anaknya lembut.
“Kalau memang mau pergi, ibu dukung.”
Dan sejak malam itu…
keputusan besar mulai diambil.
Titik akan melanjutkan sekolah STM di Klaten.
Jauh dari kampung.
Jauh dari kenangan tentang Nur dan Akang.
Dan mungkin…
jauh dari luka yang selama ini menghantuinya.
Hari keberangkatan tiba.
Pagi itu suasana rumah terasa sibuk.
Bu Yati membereskan pakaian ke dalam tas besar.
Sedangkan Titik duduk diam di depan rumah memandangi jalan kampung.
Indah datang sambil membawa plastik makanan.
“Nih buat di jalan.”
“Halah kayak mau perang aja.”
“Ya kan jauh.”
Herman ikut datang membawa buku kecil.
“Ini buat kamu.”
Titik menerimanya bingung.
“Apa ini?”
“Buku quotes.”
Deni langsung nyeletuk—
“Padahal isinya jokes garing semua.”
“BODOH!”
Mereka tertawa bersama.
Namun di balik tawa itu…
ada rasa sedih yang tidak bisa disembunyikan.
Karena mereka tahu—
masa SMP mereka benar-benar selesai.
Dan hidup akan berubah setelah hari ini.
Mobil travel akhirnya datang.
Bu Yati membantu memasukkan tas.
Indah langsung memeluk Titik erat.
“Jangan lupa sama kita.”
“Iya bawel.”
Herman ikut memeluk sambil pura-pura nangis.
“Kalau sukses jangan lupa traktir.”
“Najis.”
Deni hanya menepuk bahu Titik pelan.
“Jaga diri.”
Kalimat sederhana itu justru membuat mata Titik mulai panas.
Ia menatap kampungnya sekali lagi.
Jalan kecil itu.
Lapangan kuda lumping.
Warung depan sekolah.
Lapangan karate.
Semua terasa begitu jauh padahal masih di depan mata.
Dan di sanalah…
semua kisah masa remajanya dimulai.
Perjalanan menuju Klaten terasa panjang.
Titik duduk di dekat jendela sambil memandangi jalan.
Pohon-pohon berlalu cepat.
Kota demi kota dilewati.
Dan semakin jauh kendaraan berjalan…
semakin terasa bahwa hidupnya benar-benar sedang berubah.
Saat akhirnya sampai di Klaten…
Titik langsung terpukau.
Suasana kota jauh berbeda dari Pengandom.
Jalanan ramai.
Motor berlalu lalang.
Toko-toko berdiri di mana-mana.
Dan orang-orang terlihat sibuk dengan urusan masing-masing.
“Capek?” tanya Bu Yati.
“Sedikit.”
Mereka akhirnya sampai di rumah kos sederhana dekat STM tempat Titik akan sekolah.
Bangunannya tidak besar.
Namun cukup nyaman.
Seorang ibu paruh baya menyambut mereka ramah.
“Oh ini Titik?”
“Iya Bu,” jawab Bu Yati.
“Cantik ya anaknya.”
Titik tersenyum malu.
“Nanti sekamar sama Dwi ya.”
“Dwi?”
Belum sempat bertanya…
tiba-tiba seorang perempuan pendek berambut sebahu muncul dari dalam rumah sambil membawa ember.
“HAH ADA ANAK BARU?!”
Suara cemprengnya membuat Titik refleks kaget.
Ibu kos langsung memukul pelan kepala gadis itu.
“Jangan teriak!”
“Hehehe maaf.”
Perempuan itu langsung mendekati Titik dengan semangat.
“Hai aku Dwi!”
“Titik…”
“Wah cantik banget kamu!”
Titik tertawa kecil.
Dan untuk pertama kalinya sejak datang…
ia merasa sedikit nyaman.
Malam pertama di Klaten terasa aneh.
Titik rebahan di tempat tidur sambil memandangi langit-langit kamar kos.
Di sampingnya Dwi masih sibuk bercerita tanpa henti.
“STM kamu nanti serem tau.”
“Kenapa?”
“Cowoknya banyak.”
“Emang ada ceweknya?”
“Ada… dikit.”
“Dikit tuh berapa?”
“Empat.”
Titik langsung bangun.
“HAH?!”
Dwi ngakak keras.
“Iya! Sisanya cowok semua!”
“Ya Allah…”
“Tenang aja nanti juga biasa.”
Namun Titik justru makin panik.
“Kalau mereka galak gimana…”
“Namanya juga STM.”
Titik menelan ludah.
Dalam bayangannya STM itu menyeramkan.
Anak-anak nakal.
Tawuran.
Preman.
Dan dirinya harus sekolah di sana.
Pagi pertama sekolah datang terlalu cepat.
Titik memakai seragam abu-abu putih barunya dengan gugup.
Dwi malah santai sambil makan gorengan.
“Kamu santai dikit napa.”
“Deg-degan tau.”
“Biasalah.”
Saat mereka sampai di gerbang STM…
Titik langsung terdiam.
Anak laki-laki ada di mana-mana.
Suara motor berisik memenuhi halaman.
Beberapa siswa bercanda keras.
Sebagian lain memainkan gitar.
Dan benar saja…
jumlah perempuan sangat sedikit.
“Ya ampun…”
Dwi tertawa melihat wajah Titik.
“Kaget kan?”
“Ini sekolah apa markas cowok…”
Saat memasuki kelas…
semua mata langsung tertuju pada Titik.
Suasana mendadak hening beberapa detik.
Lalu—
“WOY ADA SISWI BARU!”
Satu kelas langsung ribut.
Titik spontan ingin balik keluar.
Namun wali kelas sudah menyuruhnya masuk.
“Silakan perkenalkan diri.”
Titik berdiri gugup di depan kelas.
“Halo… nama saya Titik…”
Belum selesai bicara—
“Cantik banget …”
“Diam lu!”
“Waduh kelas kita naik level!”
Titik makin malu.
Dwi malah ngakak dari belakang.
“Kasihanin napa!”
Lalu seorang cowok berkacamata yang duduk pojok berkata pelan—
“Udah diem semua.”
Suaranya tidak keras.
Namun anehnya satu kelas langsung tenang.
Titik melirik sekilas.
Cowok itu terlihat pendiam.
Tatapannya tenang.
Dan entah kenapa berbeda dari yang lain.
“Namaku Riyadi.”
Ia memperkenalkan diri singkat saat Titik duduk di dekatnya.
“Oh… Titik.”
Riyadi mengangguk kecil.
Lalu kembali diam.
Dan tanpa Titik sadari…
pertemuan sederhana itu nantinya akan menjadi awal dari persahabatan paling penting dalam hidupnya.
Hari pertama sekolah berlangsung melelahkan.
Namun perlahan Titik mulai mengenal teman-teman barunya.
Ada Ahmad yang humoris.
Ada Yono yang cerewet.
Ada Muji yang usil.
Ada Aris yang paling jahil.
Dan ada Riyadi…
yang paling pendiam namun paling perhatian.
Sore itu sepulang sekolah…
Titik duduk di halte kecil depan STM sambil menghela napas panjang.
Dwi menyenggol bahunya pelan.
“Gimana hari pertama?”
Titik tersenyum kecil.
“Capek…”
“Tapi?”
Titik memandangi langit Klaten yang mulai jingga.
“…nggak seseram yang aku kira.”
Namun jauh di dalam hati…
ia belum tahu bahwa kota baru itu akan membawanya pada kisah cinta, kehilangan, persahabatan, dan luka yang jauh lebih rumit daripada masa lalunya di Pengandom.
BAB VIII
SAHABAT DI TENGAH DUNIA LELAKI
“Di Antara Tawa, Perhatian, dan Hati yang Diam-Diam Menunggu”
Hari-hari pertama di STM Klaten berjalan lebih cepat dari yang dibayangkan Titik.
Awalnya ia merasa asing.
Canggung.
Takut salah bicara.
Namun perlahan…
kelas yang dipenuhi laki-laki itu justru berubah menjadi tempat paling ramai yang pernah ia kenal.
Dan anehnya…
di tengah puluhan anak cowok dengan suara berisik dan tingkah absurd itu, Titik justru merasa diterima.
Pagi itu suasana kelas sudah ribut bahkan sebelum guru datang.
Ahmad berdiri di atas kursi sambil pura-pura jadi penyiar radio.
“SELAMAT PAGI PARA MANUSIA GAGAL!”
“WOIIII TURUN!”
Satu kelas langsung lempar-lempar penghapus.
Muji malah sibuk menggambar kumis di foto struktur organisasi kelas.
Sedangkan Yono sedang mengejar Aris karena sandal jepitnya disembunyikan.
“BALIKIN WOY!”
“Cari sendiri!”
Titik yang baru masuk kelas langsung bengong.
“Ya Allah…”
Dwi ngakak di sampingnya.
“Biasakan.”
Belum sempat duduk…
Ahmad langsung menunjuk Titik dramatis.
“NAH! RATU KELAS KITA DATANG!”
Satu kelas langsung bersorak lebay.
“TITIKKKK!”
“SELAMAT PAGI MBAK CANTIK!”
“WOY NORAK!”
Titik langsung menutup wajahnya malu.
“Kalian lebay banget sih…”
Riyadi yang duduk di pojok hanya tersenyum kecil sambil membuka buku.
Dan seperti biasa…
ia tidak ikut berisik.
Karena jumlah perempuan di kelas hanya empat orang, otomatis Titik jadi pusat perhatian.
Bukan cuma karena cantik.
Namun karena sifatnya yang gampang akrab dengan siapa saja.
Ia bisa bercanda dengan anak-anak bengkel.
Bisa ngobrol soal pelajaran.
Bahkan tidak takut ikut nongkrong bersama mereka sepulang sekolah.
Dan justru itu yang membuat semua orang nyaman dengannya.
Suatu siang saat jam kosong…
kelas berubah jadi pasar.
Ada yang tidur.
Ada yang main gitar.
Ada yang main kartu.
Sedangkan Titik duduk sambil mengerjakan tugas matematika dengan wajah pusing.
“Kenapa?” tanya Riyadi pelan dari sebelahnya.
“Ini susah…”
Riyadi melirik buku Titik.
“Oh ini gampang.”
“Gampang dari mana…”
Riyadi mengambil pensil.
“Nih lihat.”
Ia mulai menjelaskan pelan.
Suaranya tenang.
Tidak terburu-buru.
Dan anehnya…
cara menjelaskannya gampang dipahami.
Titik langsung melongo.
“Kok kamu pinter banget…”
Riyadi tersenyum kecil.
“Biasa aja.”
Ahmad yang melihat dari belakang langsung nyeletuk—
“Waduh… guru privat dimulai.”
Muji ikut nimbrung.
“Riyadi mah beda kalau sama Titik.”
Riyadi langsung melempar penghapus.
“DIEM.”
Satu kelas ngakak.
Sedangkan Titik malah tertawa sampai matanya berair.
Dan untuk pertama kalinya…
ia merasa benar-benar nyaman berada di lingkungan baru itu.
Hari-hari berikutnya persahabatan mereka semakin dekat.
Titik mulai sering pulang bersama Riyadi, Muji, Aris, Yono, dan Adi.
Kadang mereka makan bakso pinggir jalan.
Kadang nongkrong di taman Umbul sampai sore.
Kadang belajar kelompok di rumah Riyadi.
Dan tanpa sadar…
Titik menjadi pusat dari lingkaran persahabatan itu.
Rumah Riyadi adalah tempat favorit mereka belajar kelompok.
Rumah sederhana dengan halaman luas dan pohon mangga besar di depan.
Ibunya Riyadi sangat ramah.
“Masuk nak.”
“Permisi Bu!”
“Loh Titik datang?”
“Iya Bu.”
Ibunya Riyadi langsung tersenyum hangat.
“Bagus… rumah jadi rame.”
Ahmad langsung bisik ke Muji—
“Kalau Titik datang Riyadi pasti langsung rajin nyapu rumah.”
“WOY!”
Semua langsung tertawa.
Riyadi cuma geleng-geleng kepala pasrah.
Belajar kelompok mereka jarang benar-benar serius.
Sepuluh menit belajar.
Dua jam bercanda.
Muji suka iseng menyembunyikan buku Titik.
Aris paling hobi bikin lelucon receh.
Yono paling cerewet.
Sedangkan Adi paling suka menggoda semua orang.
“Tik nanti kalau kaya jangan lupa sama kita.”
“Emang aku mau jadi apa?”
“Jadi direktur.”
“Kenapa direktur?”
“Soalnya cantik.”
“NAH MULAI.”
Titik melempar bantal ke arah Adi.
Satu ruang tamu langsung ricuh.
Namun di tengah semua keributan itu…
Riyadi hanya memperhatikan Titik sambil tersenyum kecil.
Diam-diam.
Tanpa banyak bicara.
Suatu sore setelah teman-teman lain pulang…
tinggal Titik dan Riyadi yang masih duduk di teras rumah.
Langit mulai berubah jingga.
Angin sore terasa adem.
“Kamu betah di Klaten?” tanya Riyadi pelan.
Titik mengangguk.
“Lumayan.”
“Lumayan?”
“Awalnya takut.”
“Takut apa?”
“Takut nggak punya teman.”
Riyadi tersenyum tipis.
“Sekarang?”
Titik melihat ke arah jalan.
“Sekarang malah kayak punya banyak saudara.”
Kalimat itu membuat Riyadi diam beberapa detik.
Lalu ia berkata pelan—
“Syukur.”
Titik menoleh.
“Kamu tuh kalau ngomong dikit banget.”
Riyadi tertawa kecil.
“Bingung mau ngomong apa.”
“Padahal yang lain ribut semua.”
“Biar ada penyeimbang.”
Titik tertawa.
Dan Riyadi diam-diam ikut tersenyum melihatnya.
Hari demi hari…
persahabatan mereka semakin kuat.
Di sekolah Titik benar-benar diperlakukan seperti “ratu kelas”.
Kalau ia lapar, ada yang traktir.
Kalau sedih, semua menghibur.
Kalau ada yang mengganggu, satu kelas siap membela.
Dan di antara semuanya…
Riyadi adalah yang paling perhatian.
Suatu pagi Titik datang ke sekolah dengan wajah pucat.
“Kamu sakit?” tanya Riyadi langsung.
“Nggak kok.”
“Bohong.”
Titik tersenyum lemah.
“Cuma pusing.”
Tanpa banyak bicara Riyadi langsung berdiri.
Beberapa menit kemudian ia kembali membawa teh hangat dan roti.
“Nih.”
Titik melongo.
“Kamu beli?”
“Iya.”
“Kok repot…”
“Daripada kamu pingsan.”
Ahmad langsung bersiul dari belakang.
“WIIIIH.”
Muji ikut ngakak.
“Perhatian banget pak Riyadi.”
Titik langsung malu.
Namun Riyadi tetap santai.
“Udah diem.”
Dan entah kenapa…
perhatian-perhatian kecil seperti itu perlahan membuat hati Titik hangat.
Walaupun…
ia sendiri belum menganggap Riyadi lebih dari seorang sahabat.
Sore itu mereka berlima duduk di taman Umbul.
Tempat favorit mereka nongkrong.
Ada kolam kecil di tengah taman.
Anak-anak bermain sepeda.
Sedangkan mereka duduk di rerumputan sambil makan cilok.
“Kalau nanti lulus kalian mau jadi apa?” tanya Aris.
“Orang kaya,” jawab Ahmad cepat.
“Halah.”
Muji menunjuk Riyadi.
“Kalau dia pasti jadi dosen.”
Riyadi tertawa kecil.
“Kenapa dosen?”
“Soalnya mukanya serius terus.”
Semua tertawa.
Lalu Yono menunjuk Titik.
“Kalau Titik pasti banyak yang rebutan.”
“Apaan sih…”
Adi langsung nyeletuk—
“Ya jelas lah.”
Titik melempar plastik cilok ke arahnya.
“Berisik!”
Namun di tengah semua tawa itu…
Riyadi diam.
Tatapannya tertuju pada Titik yang sedang tertawa lepas bersama teman-temannya.
Dan jauh di dalam hatinya…
diam-diam tumbuh rasa yang perlahan semakin sulit disembunyikan.
Rasa yang tidak pernah ia minta.
Rasa yang membuatnya ingin selalu menjaga Titik.
Walaupun ia tahu…
kemungkinan besar Titik hanya menganggapnya sebagai sahabat.
Malam itu sepulang dari Umbul…
Titik berjalan sendiri menuju kos sambil tersenyum kecil.
Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Pengandom…
ia merasa hidupnya mulai punya warna lagi.
Ia mulai melupakan luka lama.
Mulai menikmati hari-harinya.
Mulai tertawa tanpa beban.
Namun Titik belum tahu…
bahwa kebahagiaan sederhana itu nantinya akan berubah saat seseorang datang memasuki hidup mereka.
Seseorang yang akan menghancurkan keseimbangan persahabatan itu perlahan.
Seseorang yang bernama—
Tono.
BAB IX
LAKI-LAKI PALING DITAKUTI DI STM
“Tatapan Pertama yang Membawa Masalah”
Semester pertama di STM Klaten berjalan begitu cepat.
Hari-hari Titik dipenuhi tawa bersama sahabat-sahabat barunya.
Ia mulai benar-benar menikmati hidup di kota itu.
Pulang sekolah nongkrong.
Belajar kelompok.
Main ke Umbul.
Kadang naik kereta ke Malioboro bersama teman-temannya.
Dan di tengah dunia STM yang penuh suara mesin, oli, dan anak-anak lelaki berisik…
Titik justru merasa menjadi dirinya sendiri.
Bebas.
Tanpa tekanan.
Tanpa larangan.
Tanpa rasa takut seperti saat bersama Nur dulu.
Pagi itu sekolah sedang ramai karena ada kegiatan pertemuan antarangkatan.
Lapangan dipenuhi siswa dari kelas satu sampai kelas tiga.
Suara musik terdengar keras dari aula.
Beberapa senior mondar-mandir dengan wajah sangar khas anak STM.
Dwi yang sedari tadi heboh langsung menarik tangan Titik.
“Tik Tik Tik!”
“Apaan sih…”
“Itu loh!”
“Apa?”
Dwi menunjuk ke arah sekelompok senior laki-laki yang baru masuk halaman sekolah.
Dan seketika suasana sekitar mendadak berubah.
Beberapa siswa langsung menepi memberi jalan.
Bahkan anak-anak yang biasanya ribut mendadak diam.
Titik mengernyit bingung.
“Kenapa?”
“Itu Tono.”
“Hah?”
“Senior paling ditakuti di STM.”
Titik spontan melihat lagi.
Di tengah kerumunan itu…
berjalan seorang laki-laki tinggi dengan jaket hitam digantung di bahunya.
Wajahnya tegas.
Tatapannya tajam.
Rambutnya sedikit panjang khas anak STM era itu.
Dan harus diakui…
dia memang tampan.
Namun auranya menyeramkan.
“Yang itu?”
“Iya.”
“Emang kenapa?”
Dwi langsung mendekat sambil berbisik—
“Katanya dia pernah mukul anak satu sekolah gara-gara masalah cewek.”
“HAH?”
“Makanya jangan dekat-dekat.”
Titik langsung menelan ludah.
“Serem amat…”
Namun justru saat itulah…
Tono menoleh ke arah mereka.
Tatapannya berhenti tepat pada Titik.
DEG.
Entah kenapa jantung Titik mendadak berdebar aneh.
Bukan karena suka.
Namun karena tatapan laki-laki itu terlalu tajam.
Tono memperhatikan beberapa detik.
Lalu tersenyum tipis.
Dan itu justru membuat Titik makin salah tingkah.
“Astaga…”
Dwi langsung panik.
“Dia lihat kamu!”
“Ya terus kenapa…”
“Tik… jangan bilang dia tertarik sama kamu.”
“Ogah!”
Namun entah kenapa…
sejak detik itu Titik mulai sering merasa diperhatikan.
Hari-hari berikutnya nama Tono semakin sering terdengar.
Semua orang membicarakannya.
Tentang keberaniannya.
Tentang kelompoknya.
Tentang bagaimana hampir semua anak STM segan padanya.
“Dia tuh kalau marah serem banget,” kata Ahmad suatu siang.
Muji mengangguk.
“Bahkan senior lain aja takut.”
Titik yang sedang makan bakso langsung menyahut—
“Lebay.”
“Serius!”
Aris ikut nimbrung.
“Dia juga paling jago berantem.”
“Ya terus?”
Ahmad menyeringai.
“Dan sekarang kayaknya dia suka sama kamu.”
PUK.
Sendok Titik jatuh.
“Hah?!”
Satu meja langsung tertawa.
“Woy serius!”
“Dari kemarin dia sering lihat ke kelas kita.”
“Bahkan kemarin nanya siapa kamu.”
Titik langsung menatap mereka satu-satu.
“Kalian bohong kan?”
Riyadi yang sedari tadi diam akhirnya bicara pelan—
“Mereka nggak bohong.”
Titik langsung menoleh.
“Kamu juga tahu?”
Riyadi mengangguk kecil.
Dan entah kenapa…
raut wajahnya terlihat tidak nyaman.
Sejak saat itu Tono mulai sering muncul.
Kadang berdiri di depan kelas saat jam istirahat.
Kadang pura-pura lewat.
Kadang hanya memandang dari kejauhan.
Dan semua itu membuat satu kelas heboh.
“Waduh ditungguin lagi.”
“Pak Tono hadir.”
“Ratu STM makin terkenal.”
Titik kesal sendiri.
“Kalian tuh ganggu banget.”
Namun jauh di dalam hati…
ia mulai merasa tidak nyaman.
Karena perhatian Tono terasa berbeda.
Terlalu intens.
Terlalu menekan.
Suatu sore sepulang sekolah…
Titik dan teman-temannya sedang duduk di taman Umbul.
Mereka makan gorengan sambil bercanda seperti biasa.
Tiba-tiba suara motor berhenti cukup keras di dekat mereka.
Semua langsung menoleh.
Dan di sana…
Tono turun dari motor bersama beberapa senior lain.
Suasana mendadak hening.
Ahmad langsung berbisik—
“Sialan…”
Tono berjalan santai mendekat.
Tatapannya langsung tertuju pada Titik.
“Hai.”
Titik spontan gugup.
“Hai…”
Teman-temannya langsung diam seperti patung.
Tono melirik mereka sebentar lalu kembali ke Titik.
“Boleh ngobrol?”
“Eh…”
Belum sempat menjawab…
Adi langsung nyeletuk santai.
“Ngobrol aja sini.”
Tono menatap Adi cukup lama.
Dan suasana mendadak terasa dingin.
Namun Adi tetap santai.
Titik langsung panik sendiri.
“Eh nggak apa-apa kok…”
Akhirnya Tono duduk di dekat mereka.
Dan sejak sore itu…
lingkaran pertemanan Titik mulai berubah perlahan.
Ternyata di balik wajah menyeramkannya…
Tono cukup pintar bicara.
Ia humoris.
Percaya diri.
Dan anehnya sangat perhatian pada Titik.
“Jadi kamu anak baru dari Pengandon?”
“Iya.”
“Pantes beda.”
“Beda gimana?”
“Lebih rame.”
Teman-teman langsung bersorak menggoda.
“WOOOO…”
Titik langsung malu.
“Apaan sih…”
Tono tertawa kecil.
Dan untuk pertama kalinya…
Titik melihat sisi lain dari laki-laki itu.
Tidak semenyeramkan rumor yang beredar.
Namun tetap saja…
ada sesuatu dalam dirinya yang membuat Titik waspada.
Hari-hari berikutnya Tono semakin sering mendekat.
Kadang mengantar makanan ke kelas.
Kadang menunggu Titik pulang.
Kadang muncul tiba-tiba di tempat nongkrong mereka.
Dan yang paling membuat Titik bingung—
semua orang seperti takut padanya.
Kalau Tono datang…
suasana langsung berubah.
Anak-anak yang biasanya ribut mendadak lebih hati-hati.
Bahkan guru pun mengenalnya.
Suatu sore Riyadi dan Titik sedang berjalan menuju halte.
Tiba-tiba Tono datang dengan motornya lalu berhenti tepat di depan mereka.
“Mau pulang?”
“Iya.”
“Ayo aku antar.”
Titik bingung.
“Eh nggak usah…”
“Nggak apa-apa.”
Belum sempat Titik menjawab…
Riyadi berkata pelan—
“Kita biasa naik angkot.”
Tono langsung menatap Riyadi.
Tatapan yang tajam.
“Kan aku cuma nawarin.”
Riyadi diam.
Namun Titik bisa merasakan suasana mulai tidak enak.
Akhirnya ia buru-buru berkata—
“Nggak apa-apa Ton… aku sama Riyadi aja.”
Tono tersenyum tipis.
Namun matanya tetap dingin.
“Oke.”
Motor itu akhirnya pergi.
Namun setelah Tono menghilang…
Riyadi justru terlihat murung.
“Kamu kenapa?”
“Nggak.”
“Kamu nggak suka ya sama dia?”
Riyadi terdiam beberapa detik.
Lalu menjawab pelan—
“Hati-hati aja.”
Kalimat itu membuat Titik bingung.
“Hati-hati kenapa?”
Riyadi menghela napas kecil.
“Dia bukan orang yang gampang nerima penolakan.”
Malam itu Titik rebahan di kamar kos sambil memandangi kipas angin.
Dwi yang sedari tadi baca majalah langsung meliriknya.
“Kamu dipikirin Tono ya?”
“Ogah.”
“Bohong.”
“Tapi dia aneh.”
“Kenapa?”
“Baik sih… tapi bikin nggak nyaman.”
Dwi mengangguk pelan.
“Karena dia terlalu serius.”
Titik memejamkan mata.
Entah kenapa…
ia mulai merasa hidupnya perlahan berubah lagi.
Dan jauh di dalam hatinya…
ada rasa takut kecil yang mulai tumbuh.
Karena tanpa sadar…
kehadiran Tono akan menjadi awal dari retaknya persahabatan paling indah yang pernah dimiliki Titik.
BAB X
PUKULAN PERTAMA
“Saat Persahabatan Mulai Berdarah Karena Cinta”
Hari-hari di STM mulai berubah sejak Tono hadir dalam kehidupan Titik.
Awalnya hanya perhatian biasa.
Datang ke kelas.
Mengantar makanan.
Menunggu pulang sekolah.
Namun lama-kelamaan…
semua itu terasa semakin berlebihan.
Dan yang paling membuat Titik tidak nyaman—
Tono mulai tidak suka melihatnya bersama teman-temannya sendiri.
Terutama Riyadi.
Pagi itu suasana kelas masih seperti biasa.
Ahmad sibuk menggambar karikatur guru di papan tulis.
Muji dan Aris rebutan kaset radio kecil.
Sedangkan Yono sedang berdebat entah soal apa.
Titik masuk kelas sambil membawa es teh.
“Pagiii…”
“PAGI RATU STM!”
Satu kelas langsung heboh.
“Apaan sih kalian…”
Riyadi yang duduk di dekat jendela hanya tersenyum kecil.
“Nih tugasmu udah aku tulisin poin pentingnya.”
Titik langsung duduk di sampingnya.
“Serius?”
“Iya.”
“Baik banget…”
Ahmad langsung bersiul keras.
“WIIIIH.”
Muji ikut ngakak.
“Riyadi tuh kalau sama Titik beda.”
“WOY DIEM.”
Titik tertawa kecil sambil membuka buku catatan Riyadi.
Tulisan cowok itu rapi sekali.
“Ya ampun tulisanmu kayak cewek.”
“Daripada tulisan Ahmad kayak cakar ayam.”
“WOY!”
Satu kelas kembali ribut.
Dan seperti biasa…
Titik merasa nyaman bersama mereka.
Namun ia tidak tahu—
seseorang sedang memperhatikan dari luar kelas dengan wajah dingin.
Tono.
Jam istirahat tiba.
Titik dan teman-temannya makan bakso di kantin belakang sekolah.
Riyadi duduk di samping Titik sambil membantu membawakan buku.
Adi yang melihat langsung menggoda—
“Kalau udah nikah tinggal gini terus ya.”
“NGACO.”
Titik melempar tisu ke arah Adi.
Namun tiba-tiba suasana kantin mendadak hening.
Beberapa siswa langsung menoleh ke belakang.
Tono datang.
Dengan wajah datar.
Dan tatapan tajam yang langsung tertuju pada Riyadi.
“Tik.”
Titik menoleh.
“Eh… Tono.”
“Kamu dicari dari tadi.”
“Oh.”
Tono melirik Riyadi sekilas.
Tatapannya membuat suasana berubah dingin.
“Ayo ikut bentar.”
Titik bingung.
“Mau ke mana?”
“Ngobrol.”
Adi langsung menyela santai—
“Ngobrol sini aja rame.”
Tono menatap Adi beberapa detik.
Namun kali ini ia memilih diam.
Titik akhirnya berdiri.
“Nggak lama ya.”
Riyadi hanya mengangguk kecil.
Namun entah kenapa…
raut wajahnya terlihat tidak tenang.
Tono membawa Titik ke belakang aula sekolah yang agak sepi.
“Ada apa?”
Tono menatapnya beberapa saat sebelum bicara.
“Kamu dekat banget sama Riyadi ya.”
DEG.
Pertanyaan itu langsung membuat Titik tidak nyaman.
“Kita teman.”
“Cuma teman?”
“Iya.”
Tono tertawa kecil hambar.
“Dia suka sama kamu.”
Titik langsung mengernyit.
“Nggak mungkin.”
“Kamu nggak sadar?”
“Dia sahabatku.”
“Tapi aku nggak suka.”
Kalimat itu membuat Titik mulai kesal.
“Kenapa?”
“Karena aku serius sama kamu.”
“Tapi aku belum jadi siapa-siapamu.”
Tono terdiam.
Tatapannya berubah.
Lebih dingin.
“Aku cuma nggak mau ada cowok lain dekat sama kamu.”
Titik langsung menghela napas berat.
“Kenapa sih semua cowok suka ngatur hidupku…”
“Aku cuma takut kehilangan.”
“Padahal aku aja belum tentu milikmu.”
Kalimat itu membuat Tono diam cukup lama.
Dan untuk pertama kalinya…
Titik melihat emosi yang aneh di mata laki-laki itu.
Sejak hari itu suasana mulai berubah.
Tono semakin sering memperhatikan gerak-gerik Titik.
Kalau Riyadi terlalu dekat…
wajahnya langsung berubah.
Kalau Titik pulang bersama teman-temannya…
Tono tiba-tiba muncul.
Dan semua itu membuat Titik mulai lelah.
Suatu sore sepulang sekolah…
Titik sedang membereskan buku di kelas ketika Riyadi mendekat.
“Kamu belum pulang?”
“Belum.”
“Nanti pulang sama anak-anak?”
“Iya.”
Riyadi mengangguk kecil.
Lalu tiba-tiba berkata pelan—
“Kalau kamu nggak nyaman sama Tono… jangan dipaksa.”
Titik menoleh.
“Kamu kenapa ngomong gitu?”
“Dia terlalu posesif.”
Titik menghela napas panjang.
“Aku juga mulai capek.”
Belum sempat melanjutkan…
tiba-tiba terdengar suara keras dari pintu kelas.
“Riyadi.”
Suasana langsung hening.
Tono berdiri di sana.
Sendirian.
Tatapannya tajam.
Riyadi langsung berdiri pelan.
“Ada apa?”
“Keluar bentar.”
Titik langsung merasa tidak enak.
“Mau ngapain?”
Tono tetap menatap Riyadi.
“Ngobrol cowok.”
Riyadi akhirnya keluar.
Dan entah kenapa…
jantung Titik mendadak berdebar tidak tenang.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Lalu…
BRAK!
Suara gaduh terdengar dari belakang gedung sekolah.
Titik spontan berdiri.
“Astaga…”
Ia langsung berlari keluar kelas.
Dan saat sampai di belakang gedung…
dadanya langsung terasa runtuh.
Riyadi jatuh di tanah.
Bibirnya berdarah.
Sedangkan Tono berdiri di depannya dengan napas kasar.
“Tolong jauhi Titik.”
Suara itu dingin sekali.
“Tono!”
Titik langsung berlari mendekat.
“Apa yang kamu lakukan?!”
Riyadi berusaha berdiri sambil memegang wajahnya.
Namun Tono masih terlihat emosi.
“Aku udah bilang jangan dekat-dekat sama dia.”
Riyadi menatap Tono tajam.
“Kita teman.”
“Bullshit.”
“Tono cukup!”
Titik berdiri di depan Riyadi dengan mata berkaca-kaca.
“Kamu gila ya?!”
Tono menatap Titik.
Tatapan keras itu perlahan berubah saat melihat air mata di wajah gadis itu.
“Aku cuma nggak mau dia ganggu hubungan kita.”
“KITA BELUM PUNYA HUBUNGAN APA-APA!”
Kalimat itu membuat suasana langsung sunyi.
Tono membeku beberapa detik.
Sedangkan Titik mulai menangis.
“Kamu nyakitin sahabatku…”
“Titik—”
“Aku benci kalau begini!”
Untuk pertama kalinya…
Titik benar-benar marah padanya.
Riyadi akhirnya dibawa ke UKS.
Muji, Ahmad, Aris, dan Yono langsung datang panik.
“SIALAN SIAPA YANG MUKUL?!”
Muji sampai emosi.
Namun Riyadi hanya diam sambil membersihkan darah di bibirnya.
Titik duduk di sampingnya dengan wajah pucat.
“Aku minta maaf…”
Riyadi menoleh pelan.
“Kamu nggak salah.”
“Tapi gara-gara aku…”
Riyadi tersenyum kecil walau wajahnya babak belur.
“Namanya juga hidup.”
Kalimat sederhana itu justru membuat Titik makin ingin menangis.
Malamnya Titik tidak bisa tidur.
Bayangan wajah Riyadi terus muncul di kepalanya.
Bibir berdarah.
Tatapan kecewa.
Dan suara keras pukulan itu.
Dwi yang melihat Titik termenung akhirnya bertanya—
“Kamu nangis?”
“Tono mukul Riyadi.”
“HAH?!”
Dwi langsung duduk tegak.
“Serius?”
Titik mengangguk pelan.
“Ya Allah…”
Suasana kamar mendadak hening.
Titik memeluk lututnya sendiri.
“Aku cuma pengen punya teman…”
Air matanya jatuh lagi.
“Kenapa semuanya jadi rusak…”
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya Titik mulai merasa takut pada cinta yang terlalu berlebihan.
Karena cinta seperti itu…
perlahan mulai menghancurkan orang-orang yang ia sayangi.
BAB XI
AIR MATA DI RUMAH RIYADI
“Aku Kehilangan Sahabat, Bahkan Sebelum Benar-Benar Kehilangan”
Sejak kejadian pemukulan itu…
suasana di kelas berubah drastis.
Tidak ada lagi tawa sekeras biasanya.
Tidak ada lagi candaan heboh setiap pagi.
Dan yang paling terasa—
lingkaran persahabatan mereka mulai retak perlahan.
Pagi itu Titik masuk kelas dengan langkah pelan.
Biasanya Ahmad langsung berteriak—
“RATU STM DATANG!”
Namun kali ini…
kelas hanya sunyi.
Muji sedang menggambar tanpa semangat.
Aris tidur sambil menutup wajah dengan buku.
Sedangkan Riyadi duduk di pojok dekat jendela dengan luka lebam yang masih terlihat jelas.
Hati Titik langsung terasa nyeri.
Ia mendekat perlahan.
“Yadi…”
Riyadi menoleh.
Lalu tersenyum kecil seperti biasa.
“Pagi.”
Senyum itu justru membuat Titik makin merasa bersalah.
“Kamu masih sakit?”
“Enggak.”
“Bohong.”
Riyadi tertawa pelan.
“Sedikit.”
Titik duduk di sampingnya.
Suasana canggung.
Untuk pertama kalinya…
mereka seperti kehilangan sesuatu yang dulu begitu nyaman.
Ahmad akhirnya memecah suasana.
“Kalau ada yang mukul temanku lagi, sumpah kubakar bengkel.”
Muji langsung menyahut—
“Bengkel siapa?”
“Ya bengkel sekolah lah goblok.”
Aris yang pura-pura tidur malah ikut nimbrung—
“Jangan bakar sekolah, nanti kita libur.”
“NAH ITU BAGUS.”
Semua akhirnya tertawa kecil.
Walaupun tidak seceria dulu.
Dan Titik sadar…
kejadian kemarin meninggalkan luka untuk semua orang.
Bukan cuma Riyadi.
Sepulang sekolah…
Riyadi memilih pulang lebih cepat.
Tidak seperti biasanya.
Biasanya mereka selalu nongkrong bersama.
Namun kini Riyadi lebih banyak diam.
Dan itu membuat Titik makin sedih.
“Aku ke rumah Riyadi dulu,” katanya pada Dwi.
“Sendiri?”
“Iya.”
“Hati-hati.”
Rumah Riyadi sore itu terasa sepi.
Pohon mangga di depan rumah bergoyang pelan tertiup angin.
Saat Titik masuk halaman…
ibunya Riyadi langsung kaget.
“Eh Titik.”
“Permisi Bu…”
“Ayo masuk.”
Suara ibu itu tetap hangat seperti biasa.
Namun Titik justru semakin merasa bersalah.
Riyadi sedang duduk di teras sambil membersihkan motornya.
Saat melihat Titik…
ia langsung berhenti.
“Kamu ngapain ke sini?”
Titik menatap luka di wajahnya.
Dan tanpa sadar matanya mulai berkaca-kaca.
“Aku mau minta maaf…”
Riyadi langsung menghela napas kecil.
“Aku udah bilang kamu nggak salah.”
“Tapi gara-gara aku kamu dipukul…”
Riyadi tersenyum tipis.
“Namanya juga laki-laki.”
“Jangan bercanda…”
Suara Titik mulai bergetar.
Dan detik berikutnya…
air matanya jatuh.
Riyadi langsung panik.
“Eh eh jangan nangis…”
“Aku benci keadaan kayak gini…”
Titik menangis sungguhan sekarang.
Dan semua rasa bersalah yang dipendam sejak kemarin akhirnya pecah.
“Aku cuma pengen kita kayak dulu…”
Riyadi terdiam.
Tatapannya berubah sendu.
“Aku juga.”
Kalimat itu membuat tangis Titik semakin pecah.
Mereka akhirnya duduk di teras rumah.
Suasana sore terasa tenang.
Namun hati mereka sama-sama kacau.
“Aku takut kalian menjauh gara-gara Tono…”
Riyadi menunduk beberapa detik sebelum menjawab—
“Sebenernya…”
“Apa?”
“Kami semua mulai takut sama dia.”
DEG.
Titik langsung diam.
“Takut?”
Riyadi mengangguk pelan.
“Dia terlalu posesif.”
“Tapi aku belum jadian sama dia…”
“Itu yang bikin serem.”
Titik memeluk lututnya sendiri.
“Kenapa hidupku jadi ribet begini…”
Riyadi tersenyum kecil.
“Mungkin karena kamu terlalu disayang banyak orang.”
“Aku nggak butuh disayang kayak gini.”
Angin sore berhembus pelan.
Dan untuk beberapa saat…
mereka hanya diam.
“Aku kangen kita yang dulu,” ucap Titik lirih.
“Yang nongkrong berlima.”
“Yang pulang sekolah bareng.”
“Yang ketawa ngakak sampai dimarahin warga Umbul.”
Riyadi ikut tersenyum mengingatnya.
“Iya…”
“Tapi sekarang semuanya berubah.”
Riyadi menatap Titik cukup lama.
Lalu berkata pelan—
“Kalau suatu hari kami semua menjauh…”
“Jangan ngomong gitu.”
“…kamu harus tetap bahagia.”
Titik langsung menatapnya.
“Kenapa kamu ngomong kayak mau pergi…”
Riyadi tertawa kecil.
“Perasaan aja.”
Namun entah kenapa…
kalimat itu terasa begitu menyakitkan.
Saat Titik hendak pulang…
ibunya Riyadi tiba-tiba memanggil.
“Titik.”
“Iya Bu?”
“Jangan sedih ya.”
Titik tersenyum kecil.
“Iya Bu.”
Ibunya Riyadi mendekat lalu berkata pelan—
“Riyadi itu anak pendiam… tapi kalau sayang sama seseorang dia tulus.”
DEG.
Titik langsung membeku.
Sedangkan Riyadi spontan salah tingkah.
“Ibu…”
Ibunya malah tertawa kecil.
“Ya ibu cuma ngomong.”
Titik langsung gugup sendiri.
Dan suasana mendadak canggung.
Perjalanan pulang terasa panjang.
Titik berjalan pelan sambil memikirkan ucapan ibu Riyadi tadi.
“Kalau sayang sama seseorang dia tulus…”
Entah kenapa…
hatinya terasa hangat sekaligus sedih.
Karena jauh di dalam dirinya…
ia mulai sadar sesuatu.
Bahwa Riyadi mungkin memang menyimpan rasa lebih dari sekadar persahabatan.
Namun Titik tidak tahu harus bagaimana.
Karena ia terlalu nyaman menjadikan Riyadi tempat pulang sebagai sahabat.
Dan ia takut…
kalau semuanya berubah…
mereka akan kehilangan kebersamaan itu.
Malamnya Tono datang ke depan kos.
Dwi langsung panik melihatnya.
“Tik… ada Tono.”
Titik yang sedang membaca buku langsung menegang.
Saat keluar…
Tono berdiri di depan pagar sambil memegang helm.
Wajahnya terlihat lelah.
“Kita ngomong bentar?”
Titik menghela napas.
“Ada apa lagi?”
Tono menatapnya lama sebelum berkata—
“Aku minta maaf.”
Titik sedikit terkejut.
“Aku emosi kemarin.”
“Emosi bukan alasan mukul orang.”
“Aku cuma cemburu.”
“Kenapa harus Riyadi?”
“Karena dia paling dekat sama kamu.”
Titik mulai kesal lagi.
“Kalian semua sama aja.”
“Maksudnya?”
“Nur dulu juga begitu.”
Tono terdiam.
Sedangkan Titik mulai menahan emosi yang selama ini dipendam.
“Aku capek dikekang.”
“Aku nggak maksud—”
“Aku cuma pengen punya teman!”
Suara Titik mulai pecah.
“Aku nggak pernah selingkuh sama siapa pun!”
Tono menunduk.
Dan untuk pertama kalinya…
laki-laki yang ditakuti satu sekolah itu terlihat tidak berdaya.
“Aku takut kehilangan kamu…”
Suara Tono terdengar lirih.
Namun kali ini…
Titik tidak langsung luluh.
Karena di kepalanya masih terbayang wajah Riyadi yang babak belur.
Dan perlahan…
hati Titik mulai lelah menghadapi cinta yang selalu berubah menjadi rasa memiliki berlebihan.
Malam semakin larut.
Lampu jalan mulai sepi.
Dan saat Titik kembali masuk kamar kos…
ia duduk diam cukup lama di pinggir tempat tidur.
Dwi yang sedari tadi memperhatikan akhirnya bertanya—
“Kamu sebenarnya suka nggak sih sama Tono?”
Titik terdiam lama.
Sangat lama.
Lalu menjawab pelan—
“…aku nggak tahu.”
Karena yang Titik tahu saat itu hanya satu—
ia mulai kehilangan kebahagiaan sederhana yang dulu begitu ia jaga bersama sahabat-sahabatnya.
BAB XII
RUMAH SAKIT DAN CINTA YANG MENYESAKKAN
“Saat Tubuhku Lemah, Mereka Justru Berebut Menjadi Penyelamat”
Hari-hari setelah kejadian pemukulan Riyadi membuat hidup Titik semakin tidak tenang.
Di sekolah…
ia mulai merasa diawasi.
Kalau terlalu lama bersama teman-temannya, Tono muncul.
Kalau bercanda terlalu dekat dengan anak laki-laki lain, wajah Tono langsung berubah dingin.
Dan semua itu perlahan membuat Titik lelah secara batin.
Namun Titik tetap mencoba bertahan.
Ia tetap tersenyum.
Tetap bercanda bersama teman-temannya.
Tetap nongkrong di Umbul walaupun suasana tidak lagi sama seperti dulu.
Karena sekarang…
setiap tawa selalu disertai rasa waswas.
Suatu siang saat pelajaran berlangsung…
kepala Titik mendadak terasa berat.
Pandangan mulai berkunang-kunang.
Suara guru terdengar samar.
“Titik?”
Dwi yang duduk di dekatnya langsung panik.
“Kamu pucat banget.”
“Nggak apa…”
Belum selesai bicara—
BRUK.
Tubuh Titik langsung ambruk ke meja.
Satu kelas langsung heboh.
“TITIK!”
Riyadi berdiri paling cepat.
Sedangkan Ahmad langsung lari keluar mencari guru.
Tono yang kebetulan lewat depan kelas spontan masuk saat mendengar keributan.
Dan saat melihat Titik tidak sadarkan diri…
wajahnya langsung berubah panik.
Suasana sekolah mendadak kacau.
Titik dibawa ke rumah sakit kecil dekat Klaten menggunakan mobil guru.
Riyadi ikut.
Dwi ikut.
Dan tanpa diminta…
Tono juga ikut.
Sepanjang perjalanan…
Riyadi memegangi tangan Titik sambil cemas.
“Titik… bangun…”
Sedangkan Tono duduk di depan dengan wajah tegang.
Tidak biasanya laki-laki itu terlihat setakut itu.
Saat sampai rumah sakit…
dokter langsung memeriksa Titik.
Teman-temannya menunggu di luar ruang IGD dengan wajah cemas.
Ahmad mondar-mandir seperti orang kehilangan arah.
“Kalau sampai kenapa-kenapa gimana…”
Muji menepuk pundaknya.
“Tenang.”
Namun semua sebenarnya sama paniknya.
Tak lama kemudian dokter keluar.
“Siapa keluarganya?”
Semua langsung berdiri.
“Belum ada Dok…”
“Pasien kelelahan dan stres berat. Tekanan darahnya turun.”
DEG.
Kalimat itu membuat semua terdiam.
“Dia harus istirahat total beberapa hari.”
Malam mulai turun.
Hujan gerimis membasahi halaman rumah sakit.
Titik akhirnya sadar perlahan.
Pandangan pertama yang ia lihat—
lampu putih rumah sakit.
Pandangan kedua—
Riyadi tertidur sambil duduk di kursi dekat ranjangnya.
Dan di sudut ruangan…
Tono sedang berdiri memandangi hujan dari jendela.
Titik mengernyit pelan.
“Aku… di mana…”
Riyadi langsung bangun.
“Titik!”
Tono spontan menoleh cepat.
“Kamu sadar?”
Titik mencoba duduk namun kepalanya langsung pusing.
“Pelan,” kata Riyadi cepat sambil membantu menopang tubuhnya.
Dan entah kenapa…
pemandangan itu membuat wajah Tono berubah.
Dokter masuk memeriksa keadaan Titik.
“Kamu terlalu banyak pikiran.”
Titik tersenyum lemah.
“Iya Dok…”
“Anak muda jangan stres terus.”
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun justru membuat mata Titik berkaca-kaca.
Karena hanya dirinya yang tahu…
betapa lelah hatinya selama ini.
Malam itu Dwi datang membawa pakaian ganti.
“Kamu bikin kaget tau!”
“Maaf…”
Dwi duduk di pinggir ranjang.
“Kamu tuh dipikirin semua orang.”
Titik hanya tersenyum kecil.
Namun matanya tanpa sadar melihat ke arah Tono dan Riyadi yang duduk berjauhan.
Keduanya sama-sama diam.
Sama-sama menjaga.
Namun suasananya terasa dingin.
Beberapa jam kemudian…
Riyadi keluar membeli makanan.
Dan untuk pertama kalinya sejak Titik sadar…
ia hanya berdua dengan Tono di ruangan itu.
Suasana hening cukup lama.
Tono duduk perlahan di dekat ranjang.
“Kamu bikin takut.”
Titik memandang langit-langit kamar.
“Maaf.”
Tono menunduk.
“Aku kepikiran terus waktu kamu jatuh.”
Titik diam.
Lalu berkata pelan—
“Aku capek…”
Tono langsung menatapnya.
Capek apa?”
“Semua.”
Suasana mendadak sunyi.
Air mata Titik mulai jatuh perlahan.
“Aku capek hidup kayak diawasin terus…”
“Titik…”
“Aku capek takut teman-temanku disakitin…”
Suara Titik mulai pecah.
Dan untuk pertama kalinya…
Tono benar-benar terlihat terpukul.
“Aku cuma sayang sama kamu…”
Suara Tono lirih sekali.
“Tapi cara kamu bikin aku sesak.”
Kalimat itu menghantam keras hati Tono.
Ia menunduk cukup lama.
Lalu berkata pelan—
“Aku nggak pernah sayang sama cewek sampai segininya.”
“Tapi aku bukan barang yang harus dijaga terus.”
Tono memejamkan mata.
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya laki-laki paling ditakuti di STM itu terlihat kalah.
Bukan kalah karena berantem.
Namun kalah oleh perasaannya sendiri.
Tak lama kemudian Riyadi kembali membawa bubur hangat.
“Nih makan dulu.”
Titik langsung tersenyum kecil.
“Repot banget…”
“Nggak apa-apa.”
Riyadi membuka plastik makanan pelan.
Dan seperti biasa…
ia melakukan semuanya dengan tenang.
Tanpa banyak bicara.
Tanpa menuntut apa pun.
Tono yang melihat hanya diam.
Tatapannya sulit dijelaskan.
Ada cemburu.
Ada marah.
Namun juga ada rasa kalah yang tidak bisa ia sembunyikan.
Malam semakin larut.
Dwi akhirnya pulang ke kos.
Sedangkan Ahmad dan yang lain sudah lebih dulu pulang.
Tersisa Riyadi dan Tono yang masih bertahan menjaga Titik.
Dua laki-laki dengan cara mencintai yang sangat berbeda.
Yang satu mencintai dengan tenang.
Yang satu mencintai dengan rasa memiliki berlebihan.
Dan Titik…
terjebak di tengah semuanya.
Sekitar jam dua malam…
Titik terbangun dan melihat Riyadi tertidur sambil duduk dengan kepala bersandar ke dinding.
Sedangkan Tono masih terjaga di dekat jendela.
“Ton…”
Tono menoleh.
“Kamu belum tidur?”
“Belum.”
“Kenapa?”
Tono tersenyum tipis.
“Aku takut kamu kenapa-kenapa lagi.”
Titik memandang laki-laki itu cukup lama.
Dan untuk pertama kalinya…
ia melihat sisi rapuh dalam diri Tono.
Sisi yang selama ini tertutup oleh sikap galak dan kerasnya.
Namun tetap saja…
rasa sesak itu belum hilang dari hatinya.
Pagi harinya Bu Yati datang dari kampung setelah mendapat kabar.
Saat melihat Titik terbaring lemah…
mata ibunya langsung berkaca-kaca.
“Ya Allah anak ibu…”
Titik langsung memeluk ibunya sambil menangis.
“Aku nggak apa-apa Bu…”
Bu Yati mengusap rambutnya lembut.
“Kamu terlalu banyak pikiran ya…”
Titik tidak menjawab.
Karena kalau ia jujur…
hatinya memang sedang sangat lelah.
Sebelum pulang…
Bu Yati sempat berbicara dengan Tono dan Riyadi di luar ruangan.
“Ibu terima kasih kalian sudah jagain Titik.”
Riyadi mengangguk sopan.
“Udah kewajiban Bu.”
Sedangkan Tono berdiri diam dengan wajah serius.
Bu Yati menatap mereka bergantian.
Dan entah kenapa…
seorang ibu selalu bisa merasakan sesuatu yang tidak terlihat.
Ia bisa melihat—
kedua laki-laki itu sama-sama menyayangi anaknya.
Namun dengan cara yang sangat berbeda.
Dan jauh di dalam hati…
Bu Yati mulai takut.
Karena cinta yang terlalu besar…
kadang justru bisa melukai orang yang dicintai.
BAB XIII
BONEKA PANDA DI BULAN DESEMBER
“Ada Hati yang Menunggu dengan Sabar, Saat Aku Sibuk Mengejar Luka”
Setelah keluar dari rumah sakit…
hidup Titik perlahan berubah lagi.
Ia mulai lebih banyak diam.
Lebih sering memikirkan dirinya sendiri.
Dan mulai sadar…
bahwa selama ini ia terlalu memikirkan perasaan semua orang sampai lupa menjaga hatinya sendiri.
Namun satu hal yang tidak berubah—
Tono masih tetap ada.
Dan semakin hari…
laki-laki itu justru semakin dekat dengannya.
Tono berubah banyak setelah kejadian rumah sakit.
Ia tidak lagi terlalu sering marah di depan Titik.
Tidak lagi membentak teman-temannya secara terang-terangan.
Bahkan mulai mencoba lebih sabar.
Walaupun sifat posesifnya belum benar-benar hilang.
Suatu sore Titik duduk di taman Umbul sendirian.
Langit sore terlihat indah.
Anak-anak kecil bermain di dekat kolam.
Sedangkan daun-daun pohon bergerak pelan tertiup angin.
Tiba-tiba suara motor berhenti di belakangnya.
Tono datang sambil membawa dua gelas es teh.
“Nih.”
Titik menerimanya pelan.
“Makasih.”
Tono duduk di sampingnya.
Untuk beberapa saat mereka diam.
Lalu Tono berkata pelan—
“Aku lagi belajar.”
“Belajar apa?”
“Belajar nggak bikin kamu sesak.”
Titik langsung menoleh.
Dan entah kenapa…
kalimat sederhana itu membuat hatinya sedikit hangat.
“Aku emang keras kepala,” lanjut Tono.
“Tapi aku serius sayang sama kamu.”
Titik menunduk.
“Kadang aku takut…”
“Tono?”
“Iya?”
“Kalau suatu hari aku nggak bisa jadi seperti yang kamu mau.”
Tono langsung menjawab cepat—
“Aku nggak pengen kamu berubah.”
“Terus kenapa sering ngatur aku?”
Tono terdiam.
Dan lagi-lagi…
ia tidak punya jawaban.
Walaupun begitu…
perlahan Titik mulai mencoba memahami Tono.
Karena di balik sifat kerasnya…
laki-laki itu memang tulus.
Ia selalu ada saat Titik sakit.
Selalu datang saat Titik sedih.
Dan selalu berusaha menjaga walaupun caranya salah.
Namun di sisi lain…
hubungan Titik dengan sahabat-sahabatnya mulai berubah.
Mereka masih berteman.
Masih ngobrol.
Masih bercanda.
Namun tidak lagi seakrab dulu.
Kini ada jarak yang samar.
Dan Titik bisa merasakannya.
Suatu sore di kelas…
Ahmad berkata sambil bercanda—
“Sekarang Titik susah diajak nongkrong.”
“Apaan sih…”
Muji ikut nimbrung.
“Iya sekarang sibuk sama senior galak.”
Titik tersenyum hambar.
“Enggak juga.”
Namun Riyadi yang duduk di dekat jendela hanya diam.
Dan diamnya itu…
lebih menyakitkan dibanding semua candaan teman-temannya.
Sepulang sekolah…
Titik akhirnya memberanikan diri menghampiri Riyadi.
“Yadi.”
“Hm?”
“Kamu marah sama aku?”
Riyadi menggeleng pelan.
“Nggak.”
“Bohong.”
Riyadi tersenyum kecil.
“Aku cuma lagi banyak pikiran.”
“Tentang apa?”
Riyadi memandang halaman sekolah cukup lama sebelum menjawab—
“Kadang orang harus tahu kapan mundur.”
DEG.
Hati Titik langsung terasa nyeri.
“Maksud kamu apa…”
Riyadi tertawa kecil.
“Nggak ada.”
Namun Titik tahu…
ada sesuatu yang perlahan berubah di antara mereka.
Hari demi hari berlalu.
Dan tanpa terasa…
bulan Desember datang.
Bulan yang dingin.
Bulan hujan.
Dan bulan ulang tahun Titik.
Pagi itu kelas mendadak ribut.
Saat Titik masuk…
lampu kelas mati.
“Loh kenapa gelap?”
Tiba-tiba—
“SELAMAT ULANG TAHUNNN!”
Satu kelas langsung berteriak keras.
Titik spontan kaget.
“ASTAGA!”
Ahmad membawa roti kecil.
Muji meniup terompet.
Sedangkan Aris malah salah nyanyi.
“Panjang umurnyaaaaa—”
“WOY NADA LU SALAH!”
Satu kelas ngakak.
Titik sampai tertawa sambil menutup wajahnya.
“Kalian apaan sih…”
Namun jauh di dalam hati…
ia bahagia.
Karena untuk pertama kalinya ulang tahunnya dirayakan seramai itu.
Saat suasana mulai tenang…
tiba-tiba seseorang muncul di depan pintu kelas.
Tono.
Satu kelas langsung bersorak heboh.
“WOOOOOO!”
“PAHLAWAN DATANG!”
Tono berjalan masuk sambil membawa kantong kecil warna coklat.
Tatapannya langsung tertuju pada Titik.
“Selamat ulang tahun.”
Suasana kelas langsung berubah jadi stadion.
Ahmad sampai berdiri di atas meja.
“CIUM! CIUM! CIUM!”
“WOY GILA!”
Titik langsung malu setengah mati.
Tono hanya tersenyum tipis lalu menyerahkan kantong itu.
Titik membukanya perlahan.
Dan di dalamnya…
ada boneka panda kecil warna coklat.
Lucu.
Sederhana.
Namun entah kenapa…
langsung membuat hati Titik hangat.
“Lucu…”
Tono mengusap tengkuknya sendiri malu-malu.
“Aku lihat itu kemarin… terus kepikiran kamu.”
Titik memegang boneka itu pelan.
“Makasih…”
Lalu Tono berkata pelan—
“Kalau suatu hari kamu nggak bisa balas perasaanku…”
Suasana mendadak hening.
“…aku tetap mau jadi teman baikmu.”
DEG.
Kalimat itu membuat hati Titik bergetar aneh.
Karena untuk pertama kalinya…
Tono tidak terdengar menuntut.
Tidak terdengar memaksa.
Hanya tulus.
Sepulang sekolah…
Titik duduk sendiri di kamar kos sambil memeluk boneka panda kecil itu.
Dwi langsung duduk di sampingnya.
“Wih lucu banget.”
“Iya…”
“Tono ngasih?”
Titik mengangguk.
Dwi memperhatikan wajah sahabatnya beberapa detik.
“Kamu mulai suka ya sama dia…”
Titik terdiam cukup lama.
Sangat lama.
Lalu menjawab pelan—
“…aku mulai kasihan.”
“Kasihan?”
“Dia sayang banget sama aku.”
Dwi menghela napas kecil.
“Cinta karena kasihan itu bahaya, Tik.”
Kalimat itu langsung membuat Titik diam.
Karena jauh di dalam hati…
ia sendiri masih bingung membedakan mana rasa nyaman, mana rasa iba, dan mana cinta yang sebenarnya.
Malam itu hujan turun deras di Klaten.
Titik duduk dekat jendela sambil memandangi boneka panda kecil di pangkuannya.
Dan tanpa sadar…
senyum kecil muncul di wajahnya.
Mungkin…
ia memang mulai membuka sedikit ruang di hatinya untuk Tono.
Walaupun rasa itu belum benar-benar cinta.
Namun Titik belum tahu—
bahwa semakin ia mencoba menerima Tono…
semakin besar pula harga yang harus dibayar oleh persahabatan yang dulu begitu ia jaga.
BAB XIV
BURUNG YANG MULAI KEHILANGAN LANGIT
“Saat Cinta Perlahan Berubah Menjadi Sangkar”
Setelah ulang tahun itu…
hubungan Titik dan Tono semakin dekat.
Walaupun belum benar-benar resmi pacaran…
semua orang di sekolah mulai menganggap mereka memiliki hubungan khusus.
Dan anehnya…
Titik sendiri perlahan mulai terbiasa dengan kehadiran Tono.
Laki-laki itu selalu muncul di hidupnya.
Mengantar makan.
Menunggu pulang sekolah.
Datang saat ia sakit.
Bahkan sering duduk diam menemaninya tanpa banyak bicara.
Namun di balik semua perhatian itu…
ada sesuatu yang perlahan membuat Titik kehilangan dirinya sendiri.
Awalnya hanya hal kecil.
“Jangan pulang terlalu sore.”
“Jangan terlalu dekat sama anak-anak bengkel.”
“Kalau nongkrong kabarin.”
Titik masih menganggap itu wajar.
Namun lama-lama…
larangan itu semakin banyak.
Suatu sore di taman Umbul…
Titik sedang tertawa bersama Ahmad, Muji, Aris, dan Riyadi.
Mereka membahas guru yang salah masuk kelas pagi tadi.
“Terus pak guru bilang— eh salah kelas!”
Satu kelompok langsung ngakak.
Titik sampai memegangi perutnya karena terlalu banyak tertawa.
Dan tepat saat itulah…
motor Tono berhenti di dekat mereka.
Suasana langsung berubah.
Tono melepas helm pelan.
Tatapannya langsung tertuju pada Riyadi yang duduk dekat Titik.
“Belum pulang?”
Nada suaranya datar.
Namun cukup membuat semua orang diam.
“Masih santai,” jawab Ahmad mencoba mencairkan suasana.
Tono tidak menjawab.
Matanya tetap tertuju pada Titik.
“Aku nyariin kamu dari tadi.”
“Oh…”
“Kok nggak bilang nongkrong di sini?”
Titik mulai merasa tidak nyaman.
“Dadakan…”
Tono menghela napas kecil.
“Ayo pulang.”
Suasana mendadak canggung.
Padahal sebelumnya mereka sedang tertawa lepas.
Kini semua berubah sunyi.
Dalam perjalanan pulang…
Titik akhirnya bicara.
“Kamu kenapa sih?”
“Kenapa apa?”
“Kalau datang suasana langsung jadi nggak enak.”
Tono terdiam beberapa detik.
“Mereka terlalu dekat sama kamu.”
“Mereka sahabatku.”
“Aku tahu.”
“Terus?”
“Aku nggak suka.”
Kalimat itu langsung membuat Titik kesal.
“Kamu nggak bisa ngatur hidupku terus.”
“Aku cuma takut kehilangan.”
“Tapi caramu bikin aku sesak.”
Tono langsung diam.
Namun wajahnya jelas berubah.
Dan lagi-lagi…
Titik merasa seperti burung yang sayapnya mulai dipotong perlahan.
Hari-hari berikutnya keadaan makin rumit.
Tono mulai sering muncul tiba-tiba saat Titik bersama teman-temannya.
Kalau melihat Riyadi terlalu dekat…
raut wajahnya langsung berubah dingin.
Bahkan beberapa kali…
teman-teman Titik memilih pergi duluan agar tidak terjadi masalah.
Suatu siang di kantin…
Adi duduk di samping Titik sambil makan bakso.
“Kamu sekarang beda.”
Titik menoleh.
“Beda gimana?”
“Jarang ketawa lepas.”
Titik tersenyum hambar.
“Masih sama kok.”
Adi menggeleng pelan.
“Dulu kamu bebas.”
Kalimat itu menusuk hati Titik.
Karena ia sendiri mulai merasakannya.
Tono datang tak lama kemudian.
Dan seperti biasa…
suasana kantin langsung berubah sedikit tegang.
Adi berdiri santai.
“Gue duluan.”
Namun sebelum pergi…
ia sempat menepuk pundak Titik pelan.
“Hati-hati sama hidupmu sendiri.”
Kalimat itu membuat Tono menatap Adi tajam.
Sedangkan Titik hanya bisa diam.
Malamnya Titik menangis diam-diam di kamar kos.
Dwi yang melihat langsung duduk di dekatnya.
“Kamu kenapa lagi…”
“Aku capek…”
“Karena Tono?”
Titik mengangguk pelan.
“Dia baik.”
“Tapi?”
“Aku nggak bisa napas.”
Dwi langsung terdiam.
Dan beberapa detik kemudian berkata pelan—
“Kamu tahu nggak…?”
“Apa?”
“Cinta itu harusnya bikin tenang.”
Air mata Titik jatuh lagi.
“Kenapa hidupku selalu kayak gini…”
Hari-hari berikutnya Titik mulai lebih sering curhat pada Abdul.
Abdul adalah teman Tono yang sejak awal paling dewasa di antara mereka.
Sifatnya tenang.
Tidak banyak bicara.
Dan selalu bisa mendengarkan tanpa menghakimi.
Suatu sore setelah pulang sekolah…
Titik duduk di warung dekat terminal bersama Abdul.
“Aku bingung…”
Abdul menatapnya tenang.
“Karena Tono?”
“Iya.”
“Kalian berantem lagi?”
“Enggak.”
“Terus?”
Titik menunduk.
“Aku merasa dikekang.”
Abdul menghela napas kecil.
“Itu karena dia terlalu sayang.”
“Tapi aku bukan tahanan.”
Abdul tersenyum tipis.
“Aku ngerti.”
Titik langsung menatapnya.
“Serius?”
“Iya.”
“Terus aku harus gimana…”
Abdul diam cukup lama sebelum menjawab—
“Kamu harus tetap jadi dirimu sendiri.”
Kalimat sederhana itu justru membuat mata Titik mulai berkaca-kaca.
Karena hanya sedikit orang yang benar-benar memahami perasaannya.
“Aku kangen hidupku yang dulu…”
“Yang bebas?”
Titik mengangguk.
“Aku biasa berteman sama siapa aja.”
“Dan sekarang?”
“Aku takut kalau dekat sama siapa pun nanti mereka disakitin lagi.”
Abdul menatap jalanan cukup lama.
Lalu berkata pelan—
“Tono itu keras… tapi sebenernya dia takut.”
“Takut apa?”
“Kehilangan.”
Titik tersenyum pahit.
“Kenapa semua orang takut kehilangan aku… padahal aku sendiri aja kehilangan banyak hal.”
Abdul langsung diam.
Karena kalimat itu terdengar sangat sedih.
Malam itu Tono datang ke kos lagi.
Saat Titik keluar…
wajah laki-laki itu terlihat lelah.
“Kamu habis pergi sama Abdul?”
Titik langsung kesal.
“Kamu ngawasin aku?”
“Aku cuma lihat.”
“Kenapa sih semua harus kamu tahu?”
Tono mengusap wajahnya frustrasi.
“Aku cuma khawatir.”
“Khawatir atau curiga?”
Suasana mendadak hening.
Dan lagi-lagi…
percakapan mereka berubah jadi pertengkaran kecil.
“Aku capek selalu dicurigai.”
“Aku nggak curiga!”
“Terus kenapa semua orang yang dekat sama aku selalu jadi masalah?!”
Tono menatap Titik lama sekali.
Lalu berkata lirih—
“Karena aku takut nggak cukup buat kamu.”
Kalimat itu langsung membuat Titik membeku.
Untuk pertama kalinya…
ia melihat sisi rapuh yang sangat dalam dari laki-laki itu.
Ternyata di balik semua sifat galaknya…
Tono hanyalah seseorang yang takut ditinggalkan.
Namun tetap saja…
ketakutan itu perlahan berubah menjadi penjara.
Dan Titik mulai sadar—
ia sedang kehilangan langit tempatnya biasa terbang bebas.
Malam semakin larut.
Setelah Tono pergi…
Titik duduk sendirian di dekat jendela kamar kos.
Lampu kota terlihat redup terkena hujan.
Dan untuk pertama kalinya…
ia mulai bertanya pada dirinya sendiri—
“Apakah cinta memang harus sesakit ini?”
BAB XV
ABDUL, SOSOK YANG MENGINGATKANKU PADA AKANG
“Kadang yang Menenangkan Hati Bukan Kekasih, Melainkan Seseorang yang Mau Mendengar Tanpa Menghakimi”
Hari-hari Titik semakin rumit.
Hubungannya dengan Tono masih berjalan…
namun tidak benar-benar membuatnya bahagia.
Di depan semua orang mereka terlihat dekat.
Tono tetap perhatian.
Tetap setia menunggu.
Tetap menjaga Titik seperti sesuatu yang sangat berharga.
Namun di balik itu semua…
Titik perlahan kehilangan ruang bernapasnya sendiri.
Dan di saat hatinya mulai lelah…
Abdul hadir sebagai tempat paling nyaman untuk bercerita.
Abdul berbeda dari Tono.
Kalau Tono seperti api—
keras, panas, dan sulit ditebak.
Maka Abdul seperti hujan sore—
tenang, adem, dan menenangkan.
Ia tidak banyak bicara.
Namun selalu mendengarkan sampai selesai.
Tidak pernah memotong cerita.
Tidak pernah memaksa.
Dan mungkin…
itulah yang paling dibutuhkan Titik selama ini.
Suatu sore sepulang sekolah…
Titik duduk bersama Abdul di depan warung kecil dekat rel kereta.
Mereka membeli teh hangat dan gorengan.
Kereta lewat perlahan di depan mereka.
Suara rodanya menggema panjang.
“Aku iri sama kereta,” kata Titik tiba-tiba.
Abdul tersenyum kecil.
“Kenapa?”
“Dia tahu mau ke mana.”
Abdul tertawa pelan.
“Kamu lagi galau berat ya.”
Titik memandang langit senja.
“Kadang aku bingung sama hidupku sendiri.”
“Karena Tono?”
“Iya… dan semuanya.”
Abdul diam mendengarkan.
Dan seperti biasa…
ia membiarkan Titik bicara sampai puas.
“Tahu nggak…”
Titik menunduk sambil memainkan sedotan plastik.
“Aku tuh sebenarnya nggak butuh cowok posesif.”
“Terus?”
“Aku cuma pengen ada yang ngerti aku.”
Abdul mengangguk pelan.
“Dan Tono nggak ngerti?”
“Dia sayang… tapi terlalu takut kehilangan.”
Abdul tersenyum tipis.
“Karena kamu terlalu berarti buat dia.”
“Tapi aku capek dijaga kayak tahanan.”
Suasana hening beberapa detik.
Angin sore berembus pelan.
Dan Abdul akhirnya berkata—
“Kamu pernah ngomong soal Akang.”
DEG.
Nama itu langsung membuat hati Titik bergetar.
Akang.
Nama yang selalu tinggal diam-diam di sudut hati Titik.
Seseorang yang dulu hadir sebagai tempat paling nyaman sebelum pergi tanpa pamit.
Seseorang yang selalu membuat Titik merasa aman.
Dan anehnya…
sikap Abdul sering mengingatkannya pada sosok itu.
“Akang nggak pernah ngatur aku,” ucap Titik lirih.
“Tapi dia selalu ada.”
Abdul mendengarkan dengan tenang.
“Kalau aku sedih dia dengerin.”
“Kalau aku marah dia diem aja.”
“Kalau aku nangis dia cuma bilang… semuanya bakal baik-baik aja.”
Suara Titik mulai melemah.
Dan tanpa sadar matanya berkaca-kaca.
“Aku kangen dia…”
Abdul menatap Titik cukup lama.
Lalu berkata pelan—
“Mungkin dia pergi bukan karena mau ninggalin kamu.”
“Tapi dia pergi tanpa pamit…”
“Mungkin dia nggak sanggup pamit.”
Kalimat itu langsung membuat Titik diam.
Karena selama ini…
ia tidak pernah mencoba melihat dari sisi itu.
“Maksud kamu?”
Abdul tersenyum kecil.
“Kadang orang pergi bukan karena nggak sayang.”
“Tapi karena keadaan.”
Titik memandang jalanan kosong di depan mereka.
Dan untuk pertama kalinya…
hatinya sedikit tenang saat membicarakan Akang.
“Kamu tahu nggak?”
“Apa?”
“Kalau kamu cerita tentang Akang… mata kamu beda.”
Titik tersenyum kecil.
“Dia orang paling baik yang pernah aku kenal.”
Abdul tertawa pelan.
“Wah berat saingannya.”
“Apaan sih…”
“Mungkin makanya kamu susah jatuh cinta lagi.”
Kalimat itu membuat Titik terdiam cukup lama.
Karena mungkin…
itu benar.
Sejak hari itu Titik semakin dekat dengan Abdul.
Bukan sebagai kekasih.
Bukan juga sebagai lelaki yang diam-diam ia sukai.
Namun lebih seperti tempat pulang saat hatinya lelah.
Dan anehnya…
Abdul pun perlahan mulai menganggap Titik seperti adiknya sendiri.
Suatu malam Titik menangis lagi karena bertengkar dengan Tono.
Ia langsung menemui Abdul di depan kos.
Abdul yang baru pulang kerja sampingan langsung panik.
“Eh kenapa?”
“Tono lagi…”
Abdul menghela napas kecil.
“Berantem apa sekarang?”
“Dia marah karena aku ngobrol sama Adi.”
“Ya ampun…”
Titik duduk di bangku depan kos sambil menghapus air mata.
“Aku capek Dul…”
Abdul duduk di sampingnya.
“Denger ya.”
“Apa…”
“Kamu nggak boleh kehilangan dirimu sendiri cuma karena cinta.”
Kalimat itu langsung membuat Titik menoleh.
“Kalau orang sayang sama kamu…”
“…dia harusnya bikin kamu jadi lebih hidup, bukan malah takut.”
Air mata Titik jatuh lagi.
Karena itu tepat sekali dengan apa yang ia rasakan.
“Aku pengen bebas…”
“Kamu memang harus bebas.”
“Tapi aku takut nyakitin dia.”
Abdul tersenyum tipis.
“Kadang mencintai seseorang nggak harus memiliki sepenuhnya.”
“Tono nggak ngerti itu.”
“Mungkin karena dia terlalu muda untuk memahami cinta.”
Titik tertawa kecil di sela tangisnya.
“Kamu ngomong kayak orang tua.”
“Memang aku dewasa.”
“Lebay.”
Untuk pertama kalinya malam itu…
Titik tertawa lagi.
Dan Abdul merasa lega melihatnya.
Beberapa hari kemudian…
Bu Yati datang menjenguk Titik ke kos.
Dan tanpa sengaja bertemu Abdul.
“Ibu sering dengar nama kamu.”
Abdul langsung sopan.
“Eh… saya Abdul Bu.”
Bu Yati tersenyum hangat.
“Terima kasih ya sudah sering jagain Titik.”
“Enggak Bu… kebetulan aja.”
Namun seorang ibu selalu bisa membaca sesuatu.
Bu Yati melihat bagaimana Abdul memperlakukan anaknya.
Tidak berlebihan.
Tidak posesif.
Namun tulus menjaga.
Dan sejak hari itu…
Bu Yati mulai percaya pada Abdul.
Sore sebelum Bu Yati pulang kampung…
ia sempat bicara pelan pada Abdul.
“Tolong jagain Titik ya.”
Abdul sedikit terkejut.
“Bu…”
“Dia keras kepala… tapi hatinya lembut.”
Abdul tersenyum kecil.
“Iya Bu.”
Dan tanpa sadar…
kalimat sederhana itu membuat hubungan Abdul dan Titik berubah perlahan.
Bukan menjadi cinta.
Namun menjadi ikatan yang jauh lebih dalam—
seperti kakak dan adik yang saling menjaga.
Malamnya Titik duduk bersama Abdul di depan warung lagi.
“Kamu tahu nggak…”
“Apa?”
“Ibu suka sama kamu.”
Abdul tertawa kecil.
“Syukur.”
“Dia bilang kamu cocok jadi kakakku.”
Abdul menoleh sambil tersenyum.
“Boleh nggak?”
Titik langsung diam.
Angin malam berembus pelan.
Dan entah kenapa…
dadanya terasa hangat mendengar kalimat itu.
“Walaupun Akang nggak tergantikan…”
“…aku mau jadi kakak yang baik buat kamu.”
Air mata Titik tiba-tiba jatuh begitu saja.
Bukan karena sedih.
Namun karena untuk pertama kalinya sejak kehilangan Akang…
ia merasa menemukan kembali seseorang yang mampu membuatnya merasa aman.
Dan malam itu…
persahabatan mereka dimulai dengan sangat sederhana.
Di bawah lampu jalan kecil.
Di antara suara kendaraan yang lewat.
Dan di tengah hati Titik yang perlahan mulai belajar sembuh kembali.
BAB XVI
AKU BUKAN BURUNG DALAM SANGKAR
“Semakin Dicintai, Semakin Aku Kehilangan Diriku Sendiri”
Hubungan Titik dan Abdul semakin dekat setelah pertemuan Bu Yati itu.
Kini Titik benar-benar menganggap Abdul sebagai kakaknya sendiri.
Tempat curhat.
Tempat mengadu.
Dan satu-satunya orang yang bisa membuat pikirannya tenang saat hidup mulai terasa melelahkan.
Berbeda dengan Tono…
Abdul tidak pernah memaksa.
Tidak pernah melarang.
Tidak pernah marah kalau Titik pergi bersama teman-temannya.
Dan mungkin karena itulah…
Titik merasa sangat nyaman berada di dekatnya.
Nyaman seperti saat dulu bersama Akang.
Namun justru kedekatan itu…
perlahan membuat Tono semakin gelisah.
Suatu sore di sekolah…
Titik sedang duduk di kantin bersama Abdul sambil makan mie rebus.
Mereka tertawa membahas tingkah Ahmad yang salah memakai sepatu kanan kiri pagi tadi.
“Dia tuh bisa hidup tanpa malu ya,” kata Titik sambil tertawa.
Abdul ikut ngakak.
“Kalau malu bukan Ahmad namanya.”
Tiba-tiba suara kursi bergeser cukup keras.
Tono datang.
Wajahnya datar.
Namun matanya dingin.
“Seru banget.”
Suasana langsung berubah.
Titik langsung tahu—
Tono sedang cemburu lagi.
“Kamu nyariin aku?” tanya Titik pelan.
“Iya.”
“Kenapa?”
Tono menatap Abdul sekilas.
“Nggak apa.”
Abdul langsung berdiri santai.
“Gue tinggal dulu.”
Namun sebelum pergi…
ia sempat menepuk pundak Tono pelan.
“Jangan marah-marah terus.”
Tono tidak menjawab.
Tatapannya tetap dingin.
Setelah Abdul pergi…
suasana kantin mendadak terasa sesak.
“Kamu sekarang sering sama Abdul.”
Nada suara Tono terdengar pelan.
Namun jelas penuh tekanan.
“Dia kakakku.”
“Sejak kapan?”
“Sejak aku nyaman cerita sama dia.”
Tono tertawa kecil hambar.
“Nyaman ya…”
“Tono…”
“Aku pacarmu atau bukan sih?”
Pertanyaan itu membuat Titik langsung lelah.
“Kenapa semua harus dipermasalahkan…”
“Aku cuma nggak suka.”
“Tapi Abdul nggak pernah macam-macam!”
“Tetep aja aku nggak nyaman.”
Kalimat itu langsung membuat emosi Titik naik.
“TERUS AKU HARUS GIMANA?!”
Suara Titik cukup keras sampai beberapa siswa menoleh.
“Aku nggak boleh punya teman cowok?”
“Aku nggak boleh dekat sama sahabatku?”
“Sekarang aku bahkan nggak boleh cerita sama orang yang aku anggap kakak?!”
Tono langsung diam.
Sedangkan napas Titik mulai tidak teratur.
“Aku capek hidup kayak gini…”
Untuk beberapa detik…
suasana hanya dipenuhi suara napas mereka.
“Aku cuma takut kehilangan kamu.”
Lagi.
Kalimat itu lagi.
Dan entah kenapa…
kali ini justru membuat Titik semakin sedih.
“Kenapa sih semua orang selalu takut kehilangan aku…”
“…padahal aku sendiri aja sering kehilangan orang yang aku sayang.”
Tono menatap Titik cukup lama.
Namun tidak bisa menjawab.
Hari-hari berikutnya…
Titik mulai semakin sering merasa tertekan.
Ia tidak bisa bebas seperti dulu.
Kalau pergi harus bilang.
Kalau nongkrong harus laporan.
Kalau tidak membalas pesan…
Tono bisa marah seharian.
Suatu malam Titik duduk di depan kos bersama Abdul lagi.
Wajahnya kusut.
Matanya sembab habis menangis.
“Dia marah lagi?”
Titik mengangguk lemah.
“Karena apa sekarang…”
“Karena aku pergi sama Dwi dan anak-anak.”
Abdul menghela napas panjang.
“Itu bukan salahmu.”
“Tapi aku capek terus bertengkar.”
Abdul menatap Titik lama.
Lalu berkata pelan—
“Kamu tahu nggak…”
“Apa?”
“Kamu sekarang nggak sebahagia dulu.”
Kalimat itu langsung menusuk hati Titik.
Karena ia sendiri sadar akan hal itu.
“Aku kangen diriku yang dulu…”
Suara Titik lirih sekali.
“Yang bisa ketawa bebas.”
“Yang bisa nongkrong sampai sore.”
“Yang bisa main sama siapa aja tanpa takut ada yang marah.”
Air matanya jatuh lagi.
“Aku kayak burung dalam sangkar…”
Abdul diam mendengarkan.
Dan beberapa detik kemudian berkata—
“Kalau kamu memang merasa terkekang…”
“…jangan paksa dirimu bertahan.”
Titik langsung menoleh.
“Tapi aku nggak mau nyakitin dia.”
“Kalau terus begini yang sakit malah kamu.”
Kalimat itu membuat Titik terdiam lama.
Malam semakin larut.
Lampu jalan mulai redup.
Dan Titik masih duduk diam sambil memeluk lututnya.
“Aku takut sendirian lagi…”
Abdul tersenyum tipis.
“Kamu nggak sendiri.”
“Ada kamu?”
“Ada.”
“Janji?”
Abdul mengangguk pelan.
“Merpati nggak akan ingkar janji.”
DEG.
Kalimat itu langsung membuat Titik membeku.
Karena itu adalah kalimat yang dulu sering ia ucapkan tentang Akang.
Tentang seseorang yang pergi tanpa pamit namun masih ia tunggu diam-diam.
“Kamu tahu kalimat itu dari mana…”
Abdul tersenyum kecil.
“Kamu pernah cerita.”
Titik memandang langit malam.
Dan entah kenapa…
hatinya terasa sangat hangat sekaligus sedih.
Hari berikutnya di sekolah…
Titik kembali berkumpul dengan teman-temannya di taman Umbul.
Sudah lama mereka tidak nongkrong lengkap seperti dulu.
Ada Ahmad.
Muji.
Aris.
Yono.
Riyadi.
Dwi.
Dan beberapa teman lain.
Suasana kembali ramai.
Mereka tertawa sampai sore.
Membahas guru.
Membahas masa depan.
Membahas mimpi-mimpi absurd mereka.
Dan untuk beberapa jam…
Titik merasa hidup kembali.
“Kalau nanti sukses jangan lupa traktir kita!” teriak Ahmad.
“Tergantung suksesnya apa dulu.”
“Kalau jadi artis?”
“Ogah.”
Muji langsung nyeletuk—
“Kalau jadi ratu STM nasional?”
Satu kelompok langsung ngakak.
Riyadi yang duduk dekat Titik hanya tersenyum kecil sambil memperhatikan wajah gadis itu.
Dan dalam hati…
ia lega melihat Titik tertawa lagi seperti dulu.
Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama.
Karena dari kejauhan…
motor Tono mulai terlihat mendekat.
Dan seketika…
senyum di wajah Titik perlahan memudar lagi.
Ia tahu—
setelah ini semuanya pasti berubah kembali.
BAB XVII
MALAM DI MALIOBORO
“Di Tengah Lampu Kota dan Tawa Persahabatan, Aku Hampir Lupa Rasanya Dikekang”
Malam di Klaten terasa lebih dingin dari biasanya.
Hujan sore yang turun sejak siang menyisakan aroma tanah basah yang memenuhi udara.
Di kamar kos kecil mereka, suasana ramai seperti pasar.
Dwi sibuk memilih baju di depan cermin.
Tina heboh meminjam sisir.
Sedangkan Siti duduk tenang di sudut kamar sambil melipat jilbabnya pelan.
Dan di tengah semua keributan itu…
Titik hanya duduk di kasur sambil memandangi jendela.
Melamun.
“WOI!”
Dwi melempar bantal ke arah Titik.
“Kamu jadi ikut nggak sih?”
“Hah?”
“Ya Allah… ngelamun lagi.”
Tina langsung ikut nimbrung.
“Udah cantik malah murung terus.”
Titik tersenyum kecil.
“Jadi…”
“YA JADI!”
“Kalau nggak jadi aku pake jaketmu.”
“Eh jangan!”
Satu kamar langsung tertawa.
Malam itu mereka memang sudah berencana pergi ke Malioboro bersama.
Bukan cuma anak-anak cewek.
Namun juga Ahmad, Muji, Aris, Yono, Riyadi, Adi, dan beberapa teman lain.
Rencana yang sebenarnya sudah lama mereka buat.
Dan entah kenapa…
Titik sangat menunggu malam itu.
Karena sudah lama ia tidak benar-benar merasa bebas.
Sekitar jam tujuh malam mereka berkumpul di stasiun kecil dekat Klaten.
Suasana ramai.
Lampu-lampu stasiun menyala kekuningan.
Pedagang kopi keliling mondar-mandir.
Dan suara kereta sesekali terdengar dari kejauhan.
Ahmad datang paling heboh.
“ROMBONGAN ORANG GANTENG DATANG!”
Muji langsung menyenggolnya.
“Turun dulu gantengnya baru ngomong.”
Satu kelompok langsung ngakak.
Riyadi datang terakhir sambil membawa plastik makanan.
“Nih buat di jalan.”
Titik langsung tersenyum.
“Kamu selalu bawa makanan ya.”
“Daripada nanti kamu lapar.”
Ahmad langsung pura-pura muntah.
“CIE PERHATIAN.”
“WOY.”
Titik tertawa kecil.
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tawanya terdengar benar-benar lepas.
Kereta akhirnya datang.
Suara remnya memekakkan telinga.
Mereka semua naik sambil bercanda dan saling dorong.
“WOY JANGAN DESAK-DESAK!”
“MUJI KAKIKU!”
“AHMAD TURUN LU!”
Suasana gerbong langsung penuh suara tawa mereka.
Penumpang lain sampai ikut tersenyum melihat tingkah anak-anak STM itu.
Titik duduk di dekat jendela bersama Dwi.
Sedangkan Riyadi duduk di depannya.
Ahmad, Muji, dan yang lain sibuk bercanda di belakang.
Kereta mulai berjalan perlahan meninggalkan Klaten.
Lampu-lampu kota bergerak mundur dari balik kaca.
Angin malam masuk lewat jendela yang sedikit terbuka.
Dan entah kenapa…
hati Titik terasa jauh lebih ringan malam itu.
“Kamu senyum terus dari tadi,” kata Riyadi pelan.
Titik menoleh.
“Kelihatan ya?”
“Iya.”
“Jarang-jarang aku bisa keluar kayak gini lagi.”
Riyadi terdiam beberapa detik.
Lalu berkata pelan—
“Kalau bahagiamu sesederhana ini…”
“…kenapa harus hidup dalam tekanan?”
DEG.
Kalimat itu langsung membuat Titik diam.
Namun sebelum ia sempat menjawab…
Ahmad tiba-tiba berteriak dari belakang—
“WOI FOTO-FOTO!”
Suasana kembali ricuh.
Dan percakapan itu terpotong begitu saja.
Malioboro malam itu begitu ramai.
Lampu jalan menyala indah.
Pedagang kaki lima berjejer panjang.
Suara musik jalanan bercampur suara kendaraan dan tawa wisatawan.
Begitu turun dari kereta…
Ahmad langsung membuka tangan lebar-lebar.
“AKU DATANG WAHAI DUNIA!”
“Maluuuu…” kata Siti pelan.
“Biarin!”
Titik tertawa sampai memegangi perut.
Dan malam itu…
ia merasa seperti kembali menjadi dirinya sendiri.
Mereka berjalan bersama menyusuri Malioboro.
Kadang berhenti melihat gantungan kunci.
Kadang mencoba topi lucu.
Kadang rebutan beli bakpia murah.
Tina paling heboh.
“Tik! Tik! Lucu nggak?!”
Tina memakai kacamata hitam jumbo.
“Kayak nyamuk.”
“WOY!”
Satu kelompok langsung tertawa keras.
Adi berjalan di samping Titik sambil membawa kantong belanjaan.
“Kamu sekarang udah ketawa lagi.”
“Iya…”
“Bagus.”
Titik tersenyum kecil.
“Makasih.”
Adi meliriknya sebentar.
“Kamu tahu nggak?”
“Apa?”
“Banyak orang suka sama kamu bukan cuma karena cantik.”
“Terus?”
“Karena kamu bikin suasana hidup.”
Kalimat itu membuat Titik sedikit terdiam.
Namun sebelum ia sempat menjawab—
tiba-tiba suara motor terdengar berhenti tidak jauh dari mereka.
Dan entah kenapa…
jantung Titik langsung berdegup tidak tenang.
Tono datang.
Sendirian.
Dengan wajah datar.
Suasana kelompok mereka mendadak berubah.
Ahmad yang tadi heboh langsung diam.
Muji pura-pura melihat pedagang.
Sedangkan Riyadi hanya menatap jalan lurus ke depan.
Tono berjalan mendekat.
“Kamu nggak bilang pergi ke sini.”
Nada suaranya pelan.
Namun cukup membuat Titik kembali merasa sesak.
“Aku pergi sama teman-teman…”
“Aku tahu.”
Tatapan Tono beralih ke Riyadi dan Adi beberapa detik.
Lalu kembali ke Titik.
“Kenapa nggak ngajak aku?”
Titik menghela napas pelan.
“Karena ini rencana anak-anak.”
Tono diam.
Dan suasana kembali menjadi canggung.
Ahmad akhirnya mencoba mencairkan suasana.
“Ton mau gabung nggak?”
Tono menoleh sebentar.
Lalu mengangguk kecil.
Dan akhirnya…
mereka berjalan bersama.
Namun suasananya tidak lagi sebebas tadi.
Kini semua seperti menjaga jarak.
Mereka berhenti di angkringan dekat ujung Malioboro.
Lampu remang-remang.
Aroma kopi dan sate usus memenuhi udara malam.
Titik duduk di tengah Dwi dan Siti.
Sedangkan Tono duduk tepat di depannya.
Tatapannya nyaris tidak lepas dari Titik.
Dan itu membuat Titik kembali merasa tidak nyaman.
“Tik.”
“Hm?”
“Kamu tadi jalan sama Adi terus.”
Suara Tono pelan.
Namun cukup membuat meja mendadak hening.
Adi langsung meletakkan gelasnya.
“Kita cuma ngobrol.”
Tono tersenyum tipis.
“Aku nggak nanya kamu.”
Suasana mulai memanas.
Dan Titik langsung panik.
“Udah dong…”
Namun Tono tetap menatap Adi.
“Aku nggak suka.”
Adi tertawa kecil hambar.
“Lu tuh capek ya hidup penuh curiga.”
DEG.
Kalimat itu langsung membuat suasana dingin.
“Tono cukup.”
Suara Titik mulai terdengar lelah.
“Aku cuma pengen malam ini tenang.”
Tono menatapnya beberapa detik.
Dan akhirnya memilih diam.
Namun sejak saat itu…
suasana tidak benar-benar kembali seperti sebelumnya.
Sekitar jam sebelas malam…
mereka duduk di trotoar Malioboro sambil mendengarkan pengamen.
Lagu lawas Jawa terdengar pelan.
Lampu kota memantul indah di jalanan yang sedikit basah karena hujan sore tadi.
Dan di tengah suasana itu…
Titik mendadak merasa sangat sedih.
Padahal malam itu seharusnya menyenangkan.
“Kamu kenapa?” tanya Riyadi pelan yang duduk di sampingnya.
“Nggak apa…”
“Bohong.”
Titik tersenyum kecil.
“Aku cuma capek.”
Riyadi memandang keramaian Malioboro.
Lalu berkata pelan—
“Kalau kamu terus hidup buat nyenengin semua orang…”
“…kamu bakal kehilangan dirimu sendiri.”
Kalimat itu langsung menusuk hati Titik lagi.
Karena semakin lama…
semakin banyak orang mengatakan hal yang sama.
Di sisi lain…
Tono duduk diam memperhatikan mereka dari kejauhan.
Dan entah kenapa…
rasa takut kehilangan itu semakin besar dalam dirinya.
Ia takut suatu hari Titik benar-benar pergi.
Takut semua orang lebih bisa membuat Titik bahagia dibanding dirinya.
Dan ketakutan itu…
perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.
Malam semakin larut.
Kereta terakhir menuju Klaten akhirnya datang.
Mereka pulang dalam keadaan lelah.
Namun di dalam hati masing-masing…
ada sesuatu yang tidak lagi sama.
Dalam perjalanan pulang…
Titik memandangi lampu-lampu kota dari balik jendela kereta.
Ia teringat kata-kata Abdul.
“Kamu nggak boleh kehilangan dirimu sendiri cuma karena cinta.”
Lalu kata-kata Riyadi.
“Kalau bahagiamu sesederhana ini… kenapa harus hidup dalam tekanan?”
Dan entah kenapa…
air matanya jatuh diam-diam malam itu.
Karena untuk pertama kalinya…
ia mulai sadar—
ia memang sedang hidup di dalam sangkar yang perlahan menutup langitnya sendiri.
BAB XVIII
SAHABAT YANG PERLAHAN MENJAUH
“Kadang Kehilangan Tidak Terjadi Seketika, Tetapi Pelan-Pelan Sampai Kita Sadar Semuanya Sudah Berubah”
Setelah malam di Malioboro itu…
hubungan Titik dengan teman-temannya mulai terasa berbeda.
Bukan karena mereka membenci Titik.
Bukan juga karena mereka tidak peduli lagi.
Namun karena semua mulai lelah dengan suasana yang terus dipenuhi ketegangan.
Dan Titik…
merasakan perubahan itu sedikit demi sedikit.
Pagi di STM Klaten masih sama seperti biasanya.
Suara mesin praktik terdengar dari bengkel.
Anak-anak kelas lain berteriak-teriak di lapangan.
Dan aroma oli bercampur debu memenuhi udara sekolah.
Namun bagi Titik…
suasana itu tidak lagi sehangat dulu.
Saat masuk kelas…
Ahmad memang masih bercanda.
Muji masih suka usil.
Aris masih tidur saat jam kosong.
Namun semuanya terasa seperti ada jarak tak terlihat.
Dan yang paling terasa—
mereka tidak lagi sebebas dulu saat bersama Titik.
“Eh nanti sore nongkrong nggak?” tanya Titik suatu pagi.
Ahmad dan Muji saling pandang sebentar.
“Lihat nanti deh…”
Jawaban itu sederhana.
Namun cukup membuat hati Titik terasa aneh.
Karena dulu…
mereka selalu semangat kalau diajak berkumpul.
Riyadi yang duduk di dekat jendela hanya diam sambil menulis sesuatu di buku.
Titik memperhatikannya beberapa detik.
Laki-laki itu sekarang jauh lebih pendiam.
Tidak lagi sering menggoda seperti dulu.
Tidak lagi sering menawarkan pulang bersama.
Dan entah kenapa…
itu membuat hati Titik semakin sedih.
Jam istirahat tiba.
Biasanya mereka makan bersama di kantin.
Namun kali ini Ahmad, Muji, Aris, dan Yono memilih makan di bengkel belakang.
Tinggal Titik, Dwi, dan Riyadi di kelas.
“Kok mereka jarang bareng lagi ya…” ucap Titik lirih.
Dwi menghela napas kecil.
“Mungkin lagi males rame-rame.”
Namun Riyadi tahu.
Semua bukan soal malas.
Semua hanya berusaha menghindari masalah baru dengan Tono.
“Titik.”
Suara Riyadi pelan.
“Hm?”
“Jangan terlalu dipikirin.”
“Tapi aku ngerasa kehilangan mereka…”
Riyadi tersenyum kecil.
“Kadang orang menjauh bukan karena nggak sayang.”
“Terus?”
“Karena keadaan bikin mereka harus begitu.”
Kalimat itu membuat Titik langsung terdiam.
Karena tanpa sadar…
hidupnya memang mulai memengaruhi semua orang di sekitarnya.
Sore harinya Titik sengaja datang ke rumah Riyadi.
Sudah lama ia tidak ke sana.
Halaman rumah itu masih sama.
Pohon mangga besar masih berdiri teduh.
Dan suara radio tua masih terdengar dari dalam rumah.
Ibunya Riyadi langsung tersenyum hangat saat melihatnya.
“Eh Titik.”
“Permisi Bu…”
“Ayo masuk.”
Namun saat masuk…
Titik langsung sadar suasana rumah itu tidak lagi sama.
Dulu…
setiap ia datang, Ahmad dan yang lain pasti sudah berkumpul di ruang tamu.
Sekarang rumah itu sepi.
Hanya Riyadi yang duduk sendiri sambil memperbaiki radio kecil.
“Kamu sendirian?”
“Iya.”
“Yang lain?”
“Main entah ke mana.”
Jawaban Riyadi terdengar santai.
Namun Titik tahu…
ia juga merasa kehilangan.
Titik duduk di sampingnya.
“Aku kangen dulu…”
Riyadi tertawa kecil.
“Dulu yang mana?”
“Yang rame.”
“Yang belajar kelompok tapi malah bercanda.”
“Yang Ahmad nyolong gorengan ibumu.”
Riyadi ikut tertawa pelan.
“Iya…”
Untuk beberapa detik…
mereka hanya diam sambil mengenang masa-masa itu.
Dan anehnya…
kenangan yang bahkan belum terlalu lama berlalu itu sekarang terasa sangat jauh.
“Titik.”
“Hm?”
“Kamu bahagia nggak sekarang?”
Pertanyaan itu datang tiba-tiba.
Dan langsung membuat Titik diam.
Sangat lama.
Ia mencoba menjawab.
Namun tidak ada kata yang benar-benar keluar.
Karena bahkan dirinya sendiri tidak tahu jawabannya.
“Aku…”
Riyadi menatapnya pelan.
“Kalau susah jawabnya… berarti kamu sebenarnya tahu.”
Kalimat itu membuat dada Titik terasa sesak.
Ia menunduk.
Lalu tanpa sadar air matanya jatuh.
“Aku capek Yadi…”
Suara itu lirih sekali.
Riyadi mematung beberapa detik.
Lalu berkata pelan—
“Kenapa nggak berhenti?”
“Aku takut nyakitin dia…”
“Kalau terus begini yang rusak malah kamu.”
Titik menutup wajahnya.
Tangisnya pecah perlahan.
Dan Riyadi…
hanya bisa duduk diam di sampingnya.
Ia ingin memeluk Titik.
Ingin bilang kalau semua akan baik-baik saja.
Namun ia sadar…
ia bukan orang yang punya hak untuk itu.
Karena sejak awal…
Titik hanya menganggapnya sahabat.
“Aku pengen semuanya balik kayak dulu…”
Riyadi tersenyum pahit.
“Dulu nggak akan balik, Tik.”
Titik langsung menoleh.
“Maksud kamu?”
“Hidup terus jalan.”
“Kita juga berubah.”
Kalimat itu begitu sederhana.
Namun terasa sangat menyakitkan.
Karena memang benar—
mereka semua sedang berubah.
Sore itu mereka duduk lama di teras rumah.
Membicarakan banyak hal.
Tentang sekolah.
Tentang masa depan.
Tentang mimpi masing-masing.
Dan untuk sesaat…
Titik merasa nyaman lagi seperti dulu.
Tanpa tekanan.
Tanpa rasa takut.
Tanpa harus menjelaskan dirinya pada siapa pun.
Namun kebahagiaan kecil itu kembali runtuh saat suara motor berhenti di depan rumah.
Tono datang.
Wajahnya langsung berubah saat melihat Titik duduk bersama Riyadi.
“Aku nyariin kamu.”
Nada suaranya datar.
Namun cukup membuat suasana kembali dingin.
Titik langsung menghela napas lelah.
“Aku cuma main.”
“Kamu nggak bilang.”
“Aku nggak harus laporan terus kan?”
Tono diam.
Namun matanya langsung tertuju pada Riyadi.
Dan suasana mendadak sesak lagi.
Riyadi akhirnya berdiri pelan.
“Gue masuk dulu.”
Titik spontan menahannya.
“Yadi…”
“Nggak apa.”
Namun sebelum masuk rumah…
Riyadi sempat berkata pelan tanpa melihat Tono—
“Jangan bikin dia kehilangan dirinya sendiri.”
DEG.
Kalimat itu membuat Tono langsung menatap tajam.
Sedangkan Titik membeku di tempat.
Dalam perjalanan pulang…
Titik dan Tono kembali bertengkar kecil.
“Kamu masih sering ke rumah dia.”
“Karena dia sahabatku!”
“Tapi dia suka sama kamu.”
“Kenapa sih kamu selalu mikir begitu?!”
“Karena aku nggak buta!”
Suara Tono mulai meninggi.
Dan lagi-lagi…
Titik merasa seperti sedang diadili.
“Aku capek dicurigai terus!”
“Aku cuma takut!”
“TAKUT ATAU MAU NGUASAIN HIDUPKU?!”
Motor mendadak berhenti di pinggir jalan.
Suasana malam terasa sunyi.
Hanya ada suara jangkrik dan kendaraan dari kejauhan.
Tono memejamkan mata beberapa detik.
Lalu berkata lirih—
“Aku nggak tahu cara mencintai tanpa takut kehilangan.”
Kalimat itu membuat Titik mendadak diam.
Karena di balik semua sifat buruknya…
Tono memang benar-benar mencintainya.
Dan justru itu yang membuat semuanya semakin rumit.
Malam itu setelah sampai kos…
Titik duduk sendiri di depan cermin.
Wajahnya terlihat lelah.
Matanya sembab.
Dan untuk pertama kalinya…
ia mulai tidak mengenali dirinya sendiri.
Dulu ia adalah gadis tomboy yang bebas tertawa dengan siapa saja.
Sekarang…
ia bahkan takut membuat seseorang marah hanya karena berbicara dengan temannya sendiri.
Dwi yang melihatnya akhirnya duduk di sampingnya.
“Kamu nangis lagi…”
Titik tersenyum kecil pahit.
“Aku lelah.”
“Kalau lelah kenapa nggak berhenti?”
Pertanyaan itu lagi.
Pertanyaan yang sebenarnya sudah lama ada di kepalanya sendiri.
Namun ia selalu takut menjawabnya.
“Karena dia sayang sama aku…”
Dwi menghela napas pelan.
“Tapi kalau sayangnya bikin kamu kehilangan dunia kamu sendiri…”
“…itu masih cinta atau bukan?”
Kalimat itu membuat Titik terdiam lama sekali.
Sangat lama.
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya…
ia mulai takut kalau dirinya benar-benar akan hilang di dalam cinta yang terlalu besar itu.
BAB XIX
ROKOK, HUJAN, DAN HATI YANG MULAI RAPUH
“Ada Luka yang Tidak Berdarah, Tetapi Diam-Diam Menghancurkan Jiwa”
Musim hujan mulai datang di Klaten.
Langit lebih sering mendung.
Udara terasa dingin hampir setiap sore.
Dan entah kenapa…
suasana itu semakin membuat hati Titik terasa kosong.
Hari-harinya berjalan seperti biasa.
Sekolah.
Praktik.
Tugas.
Pulang.
Namun di balik rutinitas itu…
ada sesuatu dalam diri Titik yang perlahan berubah.
Ia semakin sering murung.
Lebih banyak diam.
Dan semakin mudah merasa lelah.
Hubungannya dengan Tono juga tidak pernah benar-benar tenang.
Kadang mereka baik-baik saja.
Tertawa bersama.
Pergi makan.
Naik motor keliling kota kecil Klaten saat malam.
Namun esoknya…
mereka bisa bertengkar hanya karena hal kecil.
Karena Titik terlalu lama bicara dengan teman cowok.
Karena Titik tidak segera membalas pesan.
Karena Tono merasa cemburu pada orang-orang di sekitar Titik.
Dan semua itu…
perlahan menguras hati Titik sedikit demi sedikit.
Suatu sore setelah hujan reda…
Titik duduk sendiri di belakang bengkel sekolah.
Tempat itu cukup sepi.
Hanya ada suara tetesan air dari atap seng dan aroma tanah basah.
Ia memeluk lututnya sambil melamun.
Matanya kosong.
Pikirannya penuh.
Dan dadanya terasa sesak tanpa tahu harus bercerita pada siapa.
Tak lama kemudian…
Riyadi datang membawa dua gelas kopi sachet panas.
“Nih.”
Titik menoleh pelan.
“Makasih.”
Riyadi duduk di sampingnya.
Tidak terlalu dekat.
Namun cukup membuat Titik merasa tidak sendirian.
“Kamu kenapa lagi?”
“Nggak apa.”
“Kalau sama aku nggak usah bohong.”
Titik tersenyum kecil pahit.
“Aku capek.”
“Karena Tono?”
Titik mengangguk pelan.
Riyadi memandang hujan yang masih rintik-rintik di luar.
Lalu berkata lirih—
“Kamu sekarang sering kelihatan sedih.”
Kalimat itu langsung membuat mata Titik berkaca-kaca.
“Aku nggak ngerti hidupku sendiri…”
Suara Titik sangat pelan.
“Kenapa semua jadi rumit…”
Riyadi diam mendengarkan.
Dan seperti biasa…
ia tidak memotong cerita.
“Dulu aku bebas.”
“Sekarang aku takut salah terus.”
“Aku takut bikin orang marah.”
“Aku takut bikin orang kecewa.”
“Aku takut kehilangan…”
Suara Titik mulai bergetar.
Dan akhirnya air matanya jatuh lagi.
“Aku capek jadi aku…”
Riyadi langsung menunduk pelan.
Karena mendengar kalimat itu…
hatinya ikut terasa sakit.
“Aku pengen bantu kamu…”
Titik menghapus air matanya.
“Tapi aku nggak tahu caranya.”
Riyadi tersenyum kecil.
“Kamu udah bantu kok.”
“Hah?”
“Setidaknya kamu masih mau cerita.”
Untuk beberapa detik…
mereka hanya diam mendengarkan suara hujan.
Dan anehnya…
diam bersama Riyadi selalu terasa menenangkan bagi Titik.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.
Karena tiba-tiba suara langkah kaki terdengar mendekat.
Tono.
Wajahnya langsung berubah saat melihat Titik dan Riyadi duduk berdua.
“Aku nyariin kamu.”
Nada suaranya dingin.
Titik langsung menghela napas pelan.
“Aku cuma duduk.”
“Berdua?”
Riyadi langsung berdiri.
“Gue tinggal.”
Namun sebelum pergi…
ia sempat menatap Tono lama sekali.
Tatapan yang penuh lelah.
Tatapan seseorang yang mulai muak dengan semua pertengkaran itu.
Setelah Riyadi pergi…
suasana langsung terasa berat.
“Kamu sekarang makin dekat sama dia.”
“Tono…”
“Aku nggak suka.”
Lagi.
Kalimat itu lagi.
Dan kali ini…
Titik benar-benar mulai lelah mendengarnya.
“Terus aku harus gimana?!”
Suara Titik meninggi.
“Aku nggak boleh punya sahabat?!”
“Aku cuma pengen kamu ngerti perasaanku.”
“Kenapa cuma perasaan kamu yang harus dimengerti?!”
Tono langsung diam.
Sedangkan napas Titik mulai memburu.
“Aku juga punya hati!”
“Aku juga capek!”
“Aku juga pengen hidup tenang!”
Air mata Titik mulai jatuh lagi.
Dan untuk pertama kalinya…
Tono terlihat benar-benar panik.
“Tik…”
Namun Titik mundur pelan.
“Aku mau sendiri.”
Malam itu Titik tidak langsung pulang ke kos.
Ia berjalan sendirian menyusuri jalan kecil dekat sekolah.
Udara dingin.
Lampu jalan redup.
Dan hujan kembali turun pelan.
Entah kenapa…
langkahnya membawanya ke warung kecil dekat terminal.
Warung tempat anak-anak STM sering nongkrong diam-diam.
Di sana…
beberapa anak laki-laki sedang merokok sambil bercanda.
Saat melihat Titik datang…
mereka langsung kaget.
“Eh Titik?”
“Kok sendirian?”
Titik hanya tersenyum kecil.
“Pinjam satu.”
Anak-anak itu langsung saling pandang.
“Hah?”
“Rokok.”
“Serius?”
Titik mengangguk.
Salah satu dari mereka akhirnya menyerahkan sebatang rokok.
Titik menerimanya pelan.
Tangannya sedikit gemetar.
Ia sebenarnya belum pernah benar-benar merokok sebelumnya.
Namun malam itu…
ia hanya ingin melampiaskan sesaknya.
Api korek menyala kecil.
Rokok itu menyala.
Dan Titik mulai menghisapnya pelan.
Batuk.
Pedih.
Namun entah kenapa…
asap yang keluar dari bibirnya terasa seperti membawa sebagian beban di dadanya.
“Pelan-pelan aja,” kata salah satu anak.
Titik tertawa kecil di sela batuk.
“Pahit…”
“Namanya juga rokok.”
Mereka semua tertawa kecil.
Namun tidak ada yang tahu—
bahwa malam itu sebenarnya hati Titik sedang benar-benar hancur.
Sejak malam itu…
Titik mulai sering merokok diam-diam.
Awalnya hanya satu batang.
Lalu dua.
Lalu semakin sering setiap kali pikirannya terasa sesak.
Dwi adalah orang pertama yang tahu.
Suatu malam ia memergoki Titik duduk dekat jendela kamar sambil merokok.
“YA ALLAH TITIK!”
Titik langsung panik.
“Eh…”
“Kamu ngerokok?!”
Titik tertawa kecil canggung.
“Cuma coba-coba.”
“COBA-COBA KATAMU?!”
Dwi langsung merebut rokok itu.
“Kamu stres ya?”
Pertanyaan itu membuat Titik langsung diam.
Dan beberapa detik kemudian…
air matanya jatuh lagi.
“Aku capek Dwe…”
Dwi langsung memeluk sahabatnya itu.
Dan malam itu…
Titik menangis cukup lama di pundaknya.
“Aku nggak tahu harus gimana…”
“Semua orang pengen memiliki aku…”
“…tapi nggak ada yang benar-benar ngerti aku.”
Dwi mengusap rambutnya pelan.
“Kamu terlalu memikirkan perasaan semua orang.”
“Tapi siapa yang mikirin perasaanku…”
Kalimat itu terdengar sangat rapuh.
Sangat lelah.
Dan Dwi tahu…
sahabatnya sedang berada di titik paling kacau dalam hidupnya.
Hari-hari berikutnya…
Titik semakin sering menyendiri.
Bahkan Ahmad mulai sadar ada yang berubah.
Suatu siang di kelas…
Ahmad duduk di depan Titik sambil membawa gorengan.
“Nih makan.”
Titik tersenyum kecil.
“Nggak lapar.”
“Tumben.”
Muji ikut nimbrung.
“Biasanya paling barbar kalau lihat bakwan.”
Titik tertawa kecil.
Namun tawanya hambar.
Dan itu membuat teman-temannya mulai khawatir.
“Kamu sakit?”
Titik menggeleng.
“Cuma capek.”
Ahmad menatapnya cukup lama.
Lalu berkata pelan—
“Jangan terlalu dipendem sendiri.”
Kalimat sederhana itu…
lagi-lagi membuat hati Titik terasa hangat sekaligus sedih.
Karena ternyata…
masih ada orang-orang yang peduli padanya tanpa ingin memilikinya.
Namun hidup belum selesai mengujinya.
Karena beberapa hari kemudian…
pertengkarannya dengan Tono mencapai titik yang lebih besar.
Dan kali ini…
bukan hanya hati Titik yang terluka.
Tetapi juga persahabatan yang selama ini masih ia pertahankan.
BAB XX
DARAH DI WAJAH RIYADI
“Kadang Cinta Yang Terlalu Takut Kehilangan, Justru Menghancurkan Semua yang Ingin Dipertahankan”
Hari itu langit Klaten terasa panas.
Udara gerah memenuhi ruang kelas.
Kipas angin tua di atas plafon berputar lambat sambil berdecit pelan.
Anak-anak STM mulai gelisah menunggu jam pulang.
Dan seperti biasa…
kelas Titik tetap paling ribut.
Ahmad sibuk menggambar karikatur guru di buku tulis.
Muji tidur sambil ngorok kecil.
Sedangkan Aris dan Yono bermain lempar kertas.
“WOY KENA MATA GUE!”
“Makanya jangan jelek.”
Satu kelas langsung tertawa.
Namun di tengah keramaian itu…
Titik terlihat lebih banyak diam.
Ia duduk dekat jendela sambil memandangi langit.
Pikirannya masih penuh.
Tentang Tono.
Tentang hidupnya.
Tentang rasa lelah yang makin sulit dijelaskan.
Riyadi yang duduk tidak jauh darinya memperhatikan itu diam-diam.
Sudah lama ia mengenal Titik.
Dan ia tahu…
senyum gadis itu sekarang sering dipaksakan.
Jam sekolah akhirnya selesai.
Bel pulang berbunyi keras.
Seketika kelas berubah seperti pasar malam.
Anak-anak berebut keluar.
Ada yang langsung ke bengkel.
Ada yang nongkrong.
Ada yang pulang.
Dan seperti biasa…
Titik berjalan bersama Riyadi dan beberapa teman lain menuju gerbang sekolah.
“Ayo nanti nongkrong bentar di Umbul,” kata Ahmad semangat.
“Gue ikut.”
“Gue juga.”
Muji langsung nyeletuk—
“Asal jangan Ahmad yang bayar.”
“WOY!”
Titik tertawa kecil mendengar mereka bercanda.
Dan untuk sesaat…
ia merasa nyaman lagi.
Namun kebahagiaan kecil itu mendadak runtuh.
Karena di depan gerbang sekolah…
Tono sudah berdiri sambil bersandar di motornya.
Wajahnya dingin.
Matanya langsung tertuju pada Riyadi yang berjalan di samping Titik.
Suasana langsung berubah tegang.
“Aku nyariin kamu.”
Suara Tono datar.
“Oh…”
“Kamu pulang sama mereka lagi?”
Nada suaranya mulai berubah.
Dan Titik langsung tahu—
sesuatu buruk akan terjadi lagi.
“Tono jangan mulai…”
“Aku cuma nanya.”
Riyadi langsung melangkah sedikit mundur.
Ia sudah terlalu sering menghadapi situasi seperti ini.
Dan ia lelah.
“Kita cuma pulang bareng,” kata Riyadi tenang.
Tono tersenyum tipis.
“Lu tuh selalu ada ya di dekat dia.”
Ahmad dan Muji mulai saling pandang.
Mereka tahu suasana semakin tidak baik.
“Tono udah…”
Suara Titik mulai panik.
Namun Tono tetap menatap Riyadi tajam.
“Gue udah bilang jangan terlalu dekat sama Titik.”
Riyadi menghela napas panjang.
“Dia bukan barang.”
DEG.
Kalimat itu langsung membuat suasana membeku.
Tono mendekat.
“Lu ngomong apa?”
Riyadi tetap berdiri tenang.
“Lu nggak bisa ngatur hidup dia terus.”
“Awas ya…”
“Kalau sayang sama orang bukan begitu caranya.”
BUGH!
Satu pukulan keras langsung mendarat di wajah Riyadi.
Semua orang kaget.
Titik spontan berteriak.
“TONO!”
Riyadi langsung terhuyung ke belakang.
Darah mulai keluar dari sudut bibirnya.
“WOY WOY WOY!”
Ahmad dan Muji langsung memisahkan mereka.
Namun emosi Tono sudah meledak.
“Jangan sok ngajarin gue!”
Riyadi mengusap darah di bibirnya pelan.
Dan entah kenapa…
wajahnya justru terlihat lebih kecewa daripada marah.
“Tono berhenti!”
Titik langsung berdiri di depan Riyadi.
Matanya penuh air mata.
“Kamu kenapa sih?!”
Tono masih bernapas kasar.
“Karena dia selalu dekat sama kamu!”
“DIA SAHABATKU!”
“Dia suka sama kamu!”
“TERUS KENAPA?!”
Semua mendadak diam.
Karena itu pertama kalinya Titik berteriak sekeras itu di depan semua orang.
“Kenapa semua orang yang dekat sama aku harus kamu sakitin?!”
Air mata Titik jatuh deras.
“Kenapa hidupku harus kayak gini terus?!”
Tono langsung terdiam.
Sedangkan Riyadi hanya memalingkan wajah sambil menghapus darah di bibirnya.
“Ayo Yadi kita ke UKS,” kata Ahmad pelan.
Namun Riyadi menggeleng kecil.
“Nggak usah.”
“Tapi darah lu…”
“Nggak apa.”
Ia lalu menatap Titik sekilas.
Tatapan yang sangat tenang.
Namun justru membuat hati Titik semakin hancur.
“Aku pulang dulu.”
Dan tanpa marah.
Tanpa membalas.
Tanpa teriak.
Riyadi pergi begitu saja.
Titik berdiri mematung.
Dadanya terasa sakit sekali.
Karena untuk pertama kalinya…
persahabatan yang selama ini ia jaga benar-benar terluka karena dirinya.
Malamnya…
Titik memberanikan diri datang ke rumah Riyadi.
Langkahnya terasa berat.
Hatinya dipenuhi rasa bersalah.
Saat pintu rumah terbuka…
ia melihat Riyadi duduk sendiri di ruang tamu sambil mengompres pipinya.
Wajahnya lebam.
Bibirnya sedikit bengkak.
Dan melihat itu…
air mata Titik langsung jatuh lagi.
“Yadi…”
Riyadi menoleh pelan.
“Oh kamu.”
“Maaf…”
Suara Titik langsung pecah.
“Maaf gara-gara aku…”
Riyadi tersenyum kecil.
“Nggak usah nangis.”
“Tapi kamu dipukul gara-gara aku…”
Riyadi terdiam beberapa detik.
Lalu berkata pelan—
“Bukan salah kamu.”
“Kalau aku nggak dekat sama kamu mungkin semua nggak kayak gini…”
Riyadi langsung menggeleng.
“Jangan nyalahin diri sendiri terus.”
Titik duduk pelan di dekatnya.
Tangannya gemetar melihat luka di wajah Riyadi.
“Masih sakit?”
“Lumayan.”
Titik makin merasa bersalah.
“Kenapa kamu nggak lawan…”
Riyadi tertawa kecil.
“Buat apa?”
“Tapi dia mukul kamu…”
Riyadi memandang lantai beberapa detik sebelum menjawab—
“Karena aku nggak mau kamu makin sedih.”
DEG.
Kalimat itu langsung membuat tangis Titik pecah lagi.
“Kenapa kalian semua baik banget sama aku…”
Suara Titik bergetar.
“Padahal aku malah nyakitin kalian…”
Riyadi menatapnya lama sekali.
Dan untuk pertama kalinya…
ia akhirnya berkata jujur.
“Karena aku sayang sama kamu, Tik.”
Sunyi.
Dunia seperti berhenti beberapa detik.
Titik langsung membeku.
“Aku tahu kamu nggak pernah lihat aku lebih dari sahabat.”
“Tapi aku nggak pernah nyesel kenal kamu.”
Air mata Titik jatuh semakin deras.
“Yadi…”
Riyadi tersenyum kecil.
“Tenang aja.”
“Aku nggak akan maksa kamu milih aku.”
“Tapi aku capek lihat kamu terus terluka.”
Kalimat itu terasa sangat tulus.
Sangat jujur.
Dan justru itu yang membuat hati Titik semakin sakit.
“Aku pengen semuanya balik kayak dulu…”
Riyadi menghela napas pelan.
“Kadang ada hal yang kalau rusak…”
“…udah nggak bisa benar-benar balik lagi.”
Kalimat itu membuat ruangan terasa semakin sunyi.
Tak lama kemudian…
ibunya Riyadi datang membawa teh hangat.
Beliau langsung kaget melihat Titik menangis.
“Lho kenapa ini…”
Titik langsung menunduk malu.
“Maaf Bu…”
Ibunya Riyadi hanya menghela napas kecil.
Lalu berkata lembut—
“Kalian ini masih muda…”
“…jangan saling nyakitin cuma karena cinta.”
Kalimat sederhana itu…
terasa sangat menampar hati Titik malam itu.
Saat pulang dari rumah Riyadi…
langit mulai gerimis.
Titik berjalan sendirian sambil menangis.
Dan untuk pertama kalinya…
ia benar-benar merasa lelah dengan semua cinta yang datang dalam hidupnya.
Karena semakin banyak orang mencintainya…
semakin banyak pula orang yang terluka karenanya.
Malam itu di kamar kos…
Titik kembali duduk dekat jendela sambil menyalakan rokok.
Tangannya gemetar.
Air matanya terus jatuh.
Dan dalam kepalanya…
terus terngiang suara Riyadi—
“Aku sayang sama kamu, Tik.”
Namun yang paling menyakitkan bukan pengakuan itu.
Melainkan kenyataan…
bahwa ia tidak bisa membalas perasaan sahabat terbaiknya sendiri.
BAB XXI
AKU MULAI KEHILANGAN SEMUA
“Saat Satu Persatu Orang Menjauh, Aku Baru Sadar Bahwa Hidupku Tidak Lagi Sama”
Sejak kejadian perkelahian itu…
semuanya berubah semakin jauh.
Tidak ada lagi suasana hangat seperti dulu.
Tidak ada lagi tawa lepas sepulang sekolah.
Dan tidak ada lagi kebersamaan sederhana yang dulu selalu membuat hari-hari Titik terasa hidup.
Kini…
semuanya terasa canggung.
Ahmad masih bercanda.
Muji masih suka bikin keributan.
Aris masih tidur saat pelajaran.
Namun ketika Titik datang…
mereka seperti lebih berhati-hati.
Tidak lagi terlalu dekat.
Tidak lagi terlalu bebas.
Seolah semua takut akan ada masalah baru.
Dan Titik…
merasakan itu setiap hari.
Pagi itu di kelas…
Ahmad sedang menggambar di meja.
Muji sibuk memainkan penggaris.
Sedangkan Riyadi duduk diam sambil menulis tugas.
Bekas lebam di wajahnya masih terlihat samar.
Dan setiap kali melihat itu…
hati Titik terasa nyeri.
Ia memberanikan diri mendekat.
“Yadi…”
“Hm?”
“Masih sakit?”
Riyadi tersenyum kecil.
“Udah mendingan.”
Namun suasana di antara mereka tidak lagi sama.
Tidak sehangat dulu.
Tidak sebebas dulu.
Karena sekarang…
ada perasaan yang sudah terlanjur terbuka.
Titik duduk pelan di sampingnya.
“Aku kangen kita yang dulu…”
Riyadi diam beberapa detik.
Lalu menjawab pelan—
“Aku juga.”
“Terus kenapa semuanya jadi begini…”
Riyadi memandang keluar jendela.
“Karena hidup nggak selalu bisa tetap sama.”
Jawaban itu sederhana.
Namun terasa sangat menyakitkan.
Bel masuk berbunyi.
Dan percakapan mereka terputus begitu saja.
Namun sejak hari itu…
Titik mulai sadar—
ia benar-benar sedang kehilangan orang-orang yang selama ini menjadi dunianya.
Sore harinya Titik duduk sendirian di taman Umbul.
Tempat itu dulu selalu ramai oleh mereka berlima.
Sekarang…
hanya ada suara angin dan riak air kolam kecil.
Ia memandangi bangku tempat mereka biasa bercanda.
Tempat Ahmad sering jatuh karena bercanda berlebihan.
Tempat Riyadi diam-diam memperhatikannya.
Tempat mereka tertawa sampai lupa waktu.
Dan kini…
semua hanya tinggal kenangan.
“Sendiri?”
Titik menoleh.
Abdul datang sambil membawa dua teh botol dingin.
“Eh…”
Abdul duduk di sampingnya.
“Ngelamun lagi.”
Titik tersenyum kecil.
“Aku lagi mikir…”
“Mikirin apa?”
“Hidupku.”
Abdul tertawa kecil.
“Berat amat.”
Namun saat melihat mata Titik yang mulai berkaca-kaca…
senyumnya perlahan hilang.
“Aku mulai kehilangan semuanya Dul…”
Suara Titik lirih.
“Sahabatku menjauh.”
“Aku capek bertengkar terus.”
“Aku bahkan nggak ngerti lagi apa yang aku mau.”
Abdul mendengarkan dengan tenang seperti biasa.
Dan justru itu yang membuat Titik nyaman.
“Aku pengen hidup kayak dulu.”
“Yang bebas?”
Titik mengangguk.
“Aku bisa ketawa tanpa takut ada yang marah.”
“Aku bisa dekat sama siapa aja.”
“Aku nggak harus mikir bakal bikin orang cemburu.”
Abdul menghela napas pelan.
“Kamu terlalu lama hidup buat menyenangkan orang lain.”
Kalimat itu membuat Titik diam.
Karena mungkin…
itu memang benar.
“Tapi aku nggak mau nyakitin siapa pun.”
Abdul tersenyum tipis.
“Kadang hidup nggak bisa bikin semua orang bahagia.”
“Tapi kenapa harus aku yang jadi penyebab semuanya rusak…”
Air mata Titik jatuh lagi.
Dan Abdul langsung menyerahkan sapu tangan kecil.
“Nih.”
Titik tertawa kecil di sela tangisnya.
“Kamu kayak bapak-bapak.”
“Daripada kayak anak kecil.”
“Lebay.”
Untuk sesaat…
mereka tertawa bersama.
Dan hati Titik terasa sedikit lebih ringan.
“Mau jujur nggak?” tanya Abdul tiba-tiba.
“Tentang apa?”
“Kamu sebenarnya masih sayang Tono?”
Pertanyaan itu langsung membuat Titik terdiam lama.
Sangat lama.
Ia mencoba mencari jawabannya sendiri.
Namun semakin dipikirkan…
semuanya terasa semakin membingungkan.
“Aku nggak tahu…”
Suara Titik pelan sekali.
“Kadang aku kasihan sama dia.”
“Kadang aku nyaman.”
“Tapi kadang aku juga takut…”
Abdul mengangguk kecil.
“Itu bukan cinta yang sehat.”
Kalimat itu langsung membuat Titik menunduk.
“Aku nggak ngerti cinta Dul…”
Abdul tersenyum tipis.
“Cinta itu harusnya bikin tenang.”
“Tapi hidupku malah makin kacau.”
“Berarti ada yang salah.”
Jawaban itu begitu sederhana.
Namun sangat masuk akal.
Malamnya…
Tono datang ke kos seperti biasa.
Namun kali ini suasana langsung terasa dingin sejak awal.
“Kamu dari mana?”
“Main.”
“Sama siapa?”
“Tono…”
“Aku cuma nanya.”
Nada suara itu lagi.
Nada yang membuat Titik lelah.
“Aku sama Abdul.”
Wajah Tono langsung berubah.
“Kenapa sama dia terus sekarang?”
“Karena dia mau dengerin aku!”
“Aku juga!”
“NGGAK!”
Suara Titik mendadak meninggi.
Dan untuk pertama kalinya…
Tono benar-benar terlihat kaget.
“Kamu nggak pernah dengerin aku!”
“Kamu cuma mau aku nurut!”
“Kamu cuma mau aku hidup sesuai maumu!”
Air mata Titik mulai jatuh lagi.
“Aku capek…”
Suara itu lirih sekali.
Dan untuk pertama kalinya…
Tono terlihat kehilangan kata-kata.
“Aku sayang sama kamu…”
Titik tertawa kecil pahit.
“Kalau sayang kenapa aku selalu nangis…”
Kalimat itu membuat suasana langsung hening.
Tidak ada suara.
Tidak ada jawaban.
Hanya ada tatapan penuh luka di antara mereka.
Tono akhirnya duduk pelan di bangku depan kos.
Wajahnya terlihat sangat lelah.
“Aku cuma takut kehilangan kamu.”
“Kenapa…”
“…kenapa semua orang takut kehilangan aku tapi nggak pernah takut kehilangan senyumku?”
DEG.
Kalimat itu langsung menghantam hati Tono.
Karena untuk pertama kalinya…
ia sadar bahwa selama ini Titik memang tidak benar-benar bahagia.
“Aku nggak tahu harus gimana…”
Suara Tono melemah.
Dan anehnya…
mendengar laki-laki itu bicara selemah itu justru membuat Titik semakin sedih.
Karena ia tahu—
di balik semua sifat kasarnya…
Tono benar-benar mencintainya.
Hanya saja…
caranya salah.
Malam semakin larut.
Tono pulang tanpa banyak bicara.
Dan Titik kembali duduk sendiri di depan jendela kamar.
Rokok menyala di tangannya.
Asap perlahan memenuhi udara.
Sedangkan pikirannya terasa semakin kacau.
Dwi yang baru selesai mandi langsung kaget.
“Kamu ngerokok lagi?!”
Titik hanya diam.
Dwi akhirnya duduk di sampingnya.
“Kamu makin parah.”
“Aku cuma pengen tenang…”
“Rokok nggak bakal bikin hidupmu selesai.”
“Tapi setidaknya bikin pikiranku diam sebentar.”
Jawaban itu membuat Dwi terdiam.
Karena ia tahu…
sahabatnya benar-benar sedang rapuh.
“Aku takut kehilangan diriku sendiri Dwe…”
Suara Titik mulai bergetar.
“Dulu aku ceria…”
“Sekarang aku gampang nangis.”
“Dulu aku bebas…”
“Sekarang aku takut bikin semua orang marah.”
Air matanya jatuh lagi.
Dan Dwi langsung memeluknya erat.
“Tik…”
“Hm…”
“Kamu harus mulai hidup buat dirimu sendiri.”
Kalimat itu terus terngiang di kepala Titik malam itu.
Dan untuk pertama kalinya…
ia mulai berpikir—
mungkin selama ini ia memang terlalu sibuk menjaga perasaan semua orang…
sampai lupa menjaga dirinya sendiri.
BAB XXII
PANTAI, TAWA, DAN KENANGAN YANG HAMPIR KEMBALI
“Ada Saat di Mana Aku Ingin Melupakan Semua Luka dan Menjadi Diriku Seperti Dulu Lagi”
Libur semester akhirnya datang.
Suasana sekolah mulai sepi.
Anak-anak STM sibuk pulang ke daerah masing-masing.
Ada yang kembali ke kampung.
Ada yang bekerja sambilan.
Ada juga yang tetap tinggal di kos karena rumahnya jauh.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
Titik merasa sedikit lega.
Karena setidaknya…
ia bisa menjauh sejenak dari semua kerumitan hidupnya.
Namun kali ini…
Titik memilih tidak langsung pulang kampung.
Ia meminta izin pada ibunya untuk bermain ke rumah Dwi di Comal selama beberapa hari.
Dan Bu Yati mengizinkannya.
“Asal jaga diri.”
“Iya Bu.”
“Jangan aneh-aneh.”
Titik tertawa kecil.
“Siap Bu Komandan.”
Perjalanan menuju Comal terasa menyenangkan.
Kereta berjalan perlahan melewati sawah-sawah hijau.
Langit cerah.
Angin masuk lewat jendela.
Dan untuk pertama kalinya…
Titik merasa pikirannya sedikit lebih ringan.
Dwi duduk di sampingnya sambil makan kerupuk.
“Kamu kelihatan lebih hidup.”
“Masa?”
“Iya.”
“Berarti di Klaten aku kayak mayat?”
“Lumayan.”
“WOY!”
Mereka tertawa bersama.
Dan suara tawa itu terasa begitu lama hilang dari hidup Titik.
Sesampainya di Comal…
suasana langsung ramai.
Rumah Dwi sederhana.
Namun hangat.
Ibunya Dwi menyambut Titik seperti anak sendiri.
“Eh Titik datang.”
“Permisi Bu…”
“Udah kayak rumah sendiri aja.”
Kalimat itu membuat hati Titik hangat.
Karena ia memang sedang sangat rindu suasana keluarga yang tenang.
Empat hari di Comal terasa seperti dunia yang berbeda.
Tidak ada pertengkaran.
Tidak ada tekanan.
Tidak ada rasa takut.
Yang ada hanya kebersamaan sederhana.
Hari pertama…
mereka pergi ke Matahari Pekalongan.
Bukan untuk belanja besar.
Karena uang mereka memang pas-pasan.
Namun sekadar jalan-jalan melihat toko saja sudah terasa menyenangkan.
Ahmad yang ikut rombongan paling heboh.
“Kalau gue kaya…”
“Lu tetep jelek,” potong Muji cepat.
“WOY!”
Satu kelompok langsung tertawa keras.
Titik berjalan bersama Dwi dan Siti sambil melihat-lihat baju.
Sedangkan Riyadi membantu membawakan tas mereka.
“Yadi kamu tuh cocok jadi bapak rumah tangga.”
Riyadi tertawa kecil.
“Minimal berguna.”
“Kalau Ahmad?”
Ahmad langsung menjawab cepat—
“Cocok jadi beban negara.”
Mereka semua ngakak sampai pengunjung lain ikut melihat.
Dan malam itu…
Titik sadar satu hal.
Ia sangat merindukan kebersamaan seperti ini.
Kebersamaan tanpa rasa takut.
Tanpa tekanan.
Tanpa kecemburuan.
Hari berikutnya mereka pergi ke pantai.
Naik motor berboncengan ramai-ramai.
Ada hampir dua belas orang.
Sebagian naik motor.
Sebagian naik angkot sambung.
Perjalanan panjang itu justru terasa menyenangkan karena dipenuhi candaan.
“WOY PEGANG JAKET GUE!”
“MUJI JANGAN NYANYI SUARAMU BIKIN HUJAN!”
“AHMAD TURUN AJA LU!”
Suara tawa mereka memenuhi jalanan.
Dan Titik…
tertawa paling keras hari itu.
Sesampainya di pantai…
angin laut langsung menyambut mereka.
Ombak bergulung pelan.
Langit biru terlihat luas.
Dan aroma laut membuat hati terasa tenang.
Titik langsung melepas sandal dan berlari ke bibir pantai.
“WOOOO!”
Dwi ikut mengejar.
“TUNGGUIN!”
Ahmad malah jatuh kena ombak kecil.
Satu kelompok langsung tertawa sampai sakit perut.
Titik berdiri memandangi laut cukup lama.
Angin menerbangkan rambutnya.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
ia merasa bebas.
Benar-benar bebas.
“Cantik ya…”
Titik menoleh.
Riyadi berdiri di sampingnya sambil memegang sandal.
“Pantainya?”
Riyadi tersenyum kecil.
“Iya.”
Titik langsung tertawa.
“Basi banget gombalnya.”
“Kan nggak bilang kamu.”
“BOHONG.”
Untuk sesaat…
suasana di antara mereka kembali hangat seperti dulu.
Tanpa rasa canggung.
Tanpa luka.
Namun jauh di dalam hati…
Riyadi tahu semuanya tidak akan pernah benar-benar sama lagi.
Dan mungkin…
itu sebabnya ia memilih menikmati setiap momen sederhana bersama Titik tanpa berharap terlalu banyak.
Malam harinya…
mereka duduk bersama di pinggir pantai sambil makan jagung bakar.
Langit penuh bintang.
Suara ombak terdengar menenangkan.
Dan suasana terasa begitu damai.
“Aku pengen hidup kayak gini terus,” kata Titik pelan.
“Yang sederhana?”
Titik mengangguk.
“Nggak ada drama.”
“Nggak ada orang marah-marah.”
“Nggak ada yang ngatur.”
Ahmad langsung nyeletuk—
“Berarti jangan pacaran sama preman.”
“AHMAD!”
Semua langsung tertawa.
Namun Titik hanya tersenyum kecil pahit.
Karena kalimat bercanda itu…
sedikit banyak memang benar.
Adi yang duduk tidak jauh dari mereka memperhatikan Titik diam-diam.
Laki-laki itu sebenarnya sudah lama menyukai Titik.
Namun tidak pernah benar-benar berani mendekat serius karena tahu ada Tono.
“Kamu lebih cantik kalau sering ketawa,” kata Adi tiba-tiba.
Titik langsung menoleh.
“Hah?”
“Iya.”
“Kalau murung serem.”
“Apaan sih…”
Semua kembali tertawa kecil.
Dan malam itu…
Titik merasa hidupnya kembali berwarna.
Keesokan harinya…
mereka pergi ziarah ke makam Teguh.
Teman kos yang pernah mencintai Titik begitu dalam hingga akhirnya menghancurkan dirinya sendiri.
Perjalanan menuju makam terasa sunyi.
Tidak banyak yang bicara.
Karena semua tahu…
kisah itu masih meninggalkan luka di hati Titik.
Saat berdiri di depan makam sederhana itu…
Titik mematung cukup lama.
Namanya tertulis jelas di batu nisan.
Dan mendadak…
dadanya terasa sesak.
“Aku datang…”
Suara Titik lirih sekali.
Angin berembus pelan.
Dan entah kenapa…
air matanya mulai jatuh lagi.
“Aku minta maaf…”
Dwi langsung menggenggam tangannya pelan.
Sedangkan teman-teman lain memilih diam memberi ruang.
“Aku nggak pernah mau nyakitin kamu…”
“Tapi aku juga nggak bisa bohong soal hati…”
Tangis Titik pecah perlahan.
Karena sampai sekarang…
ia masih merasa bersalah atas kematian Teguh.
Riyadi berdiri tidak jauh dari situ.
Memperhatikan Titik diam-diam.
Dan dalam hati…
ia semakin sadar betapa berat hidup yang dijalani gadis itu.
Sepulang dari makam…
suasana sedikit murung.
Namun Ahmad yang paling tidak tahan suasana sedih langsung mulai bercanda lagi.
“Kalau gue mati nanti jangan nangis ya.”
Muji langsung menepuk kepalanya.
“Lu mah mati ketawa orang-orang.”
“WOY!”
Dan akhirnya…
suasana perlahan kembali cair.
Empat hari di Comal terasa begitu cepat berlalu.
Namun bagi Titik…
empat hari itu seperti hadiah kecil dari hidup.
Karena selama beberapa hari…
ia bisa tertawa tanpa tekanan.
Bisa bebas tanpa rasa takut.
Dan bisa kembali merasa hidup seperti dulu.
Namun ia belum tahu…
bahwa saat kembali ke Klaten nanti…
hidupnya justru akan memasuki babak yang jauh lebih rumit lagi.
BAB XXIII
KAFID KEMBALI PULANG
“Cinta Pertama Tidak Selalu Hilang, Kadang Ia Hanya Menunggu Waktu untuk Datang Kembali”
Setelah empat hari di Comal…
Titik akhirnya pulang ke kampung.
Perjalanan panjang itu terasa campur aduk.
Di satu sisi…
hatinya masih hangat oleh kenangan bersama teman-temannya.
Namun di sisi lain…
ia kembali harus menghadapi kenyataan hidupnya sendiri.
Tentang Tono.
Tentang perasaannya yang makin tidak jelas.
Dan tentang luka-luka lama yang sebenarnya belum pernah benar-benar sembuh.
Bus yang ditumpangi Titik melaju perlahan melewati jalanan kampung.
Sawah terbentang luas.
Udara desa terasa berbeda.
Lebih tenang.
Lebih damai.
Dan selalu berhasil membuat hati Titik sedikit nyaman.
Saat sampai di rumah…
Bu Yati langsung memeluknya.
“Kurusan kamu.”
“Ah ibu lebay.”
“Di sana makan nggak sih?”
“Makan Bu… cuma nggak tiap lima menit.”
Bu Yati tertawa kecil.
Rumah sederhana itu kembali terasa hidup karena kepulangan Titik.
Malam itu…
setelah makan bersama…
Titik duduk sendirian di teras rumah.
Angin malam bertiup pelan.
Suara jangkrik terdengar dari kebun belakang.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
hatinya terasa cukup tenang.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.
Karena suara motor tiba-tiba terdengar berhenti di depan rumah.
Titik menoleh.
Dan seketika…
dadanya seperti berhenti berdetak beberapa detik.
Kafid.
Laki-laki itu berdiri di depan pagar sambil tersenyum kecil.
Tubuhnya terlihat sedikit lebih dewasa dibanding terakhir kali mereka bertemu.
Kulitnya lebih gelap.
Wajahnya lebih tenang.
Namun matanya…
masih sama seperti dulu.
Mata yang pernah membuat Titik jatuh cinta pertama kali.
“Kafid…”
Suara Titik lirih.
“Kamu pulang?”
Kafid mengangguk kecil.
“Iya.”
“Kapan?”
“Baru tadi siang.”
Titik masih mematung.
Karena jujur…
ia tidak pernah menyangka laki-laki itu akan kembali lagi.
Bu Yati yang keluar rumah langsung tersenyum.
“Eh Kafid.”
“Permisi Bu.”
“Kok nggak bilang pulang?”
“Dadakan Bu.”
Bu Yati mengangguk kecil lalu masuk lagi memberi mereka ruang bicara.
Dan suasana mendadak terasa canggung.
“Kamu sehat?”
“Iya…”
“Kamu?”
“Lumayan.”
Mereka tertawa kecil canggung.
Karena setelah sekian lama…
ternyata masih ada rasa yang sulit dijelaskan.
“Jakarta gimana?”
Kafid menghela napas kecil.
“Nggak betah.”
“Kenapa?”
“Terlalu ramai.”
Jawaban itu membuat Titik tersenyum tipis.
Karena dari dulu…
Kafid memang lebih suka suasana sederhana kampung mereka.
Mereka duduk di teras cukup lama malam itu.
Membahas banyak hal.
Tentang hidup.
Tentang perantauan.
Tentang masa lalu mereka.
Dan anehnya…
semuanya terasa begitu mudah seperti dulu lagi.
“Aku sempat nyari kabar kamu.”
Suara Kafid pelan.
“Hah?”
“Katanya kamu sekolah di Klaten.”
Titik mengangguk kecil.
“Iya.”
“Kamu bahagia di sana?”
Pertanyaan itu langsung membuat Titik diam.
Karena lagi-lagi…
ia tidak tahu harus menjawab apa.
“Kamu masih sama kayak dulu,” kata Kafid sambil tersenyum kecil.
“Maksudnya?”
“Kalau sedih suka diem.”
Titik langsung menunduk.
Dan tanpa sadar…
hatinya mulai terasa hangat lagi.
“Kamu sendiri gimana…” tanya Titik pelan.
“Kok bisa balik?”
Kafid memandang jalanan kampung beberapa detik sebelum menjawab—
“Karena ada yang belum selesai.”
DEG.
Jantung Titik langsung berdegup aneh.
“Maksud kamu?”
Kafid tersenyum kecil.
“Aku masih sayang sama kamu.”
Sunyi.
Angin malam terasa semakin dingin.
Sedangkan Titik membeku di tempat.
Karena sejujurnya…
ia juga belum pernah benar-benar melupakan laki-laki itu.
“Kafid…”
“Aku serius.”
“Tapi kita kan udah putus…”
“Kita putus baik-baik.”
Kalimat itu membuat hati Titik makin tidak tenang.
Karena memang benar.
Hubungan mereka dulu tidak berakhir karena pertengkaran.
Tidak ada kebencian.
Tidak ada pengkhianatan.
Hanya jarak dan keadaan.
Dan mungkin karena itulah…
rasa itu tidak pernah benar-benar hilang.
“Aku pikir kamu udah lupa sama aku.”
Kafid tertawa kecil.
“Cinta pertama susah dilupain.”
Kalimat sederhana itu…
langsung menghantam hati Titik.
Karena selama ini…
ia juga diam-diam masih menyimpan kenangan tentang Kafid.
Malam semakin larut.
Namun percakapan mereka tidak juga habis.
Mereka kembali tertawa seperti dulu.
Mengingat masa SMP.
Tentang nonton kuda lumping pertama kali.
Tentang surat-surat kecil.
Tentang rasa malu-malu masa remaja.
Dan semua kenangan itu…
perlahan membuat hati Titik kembali goyah.
“Kamu sekarang punya pacar?”
Pertanyaan Kafid datang tiba-tiba.
Titik langsung terdiam.
“Ada…”
“Dia baik?”
Titik mencoba menjawab.
Namun entah kenapa…
yang muncul di kepalanya justru semua pertengkaran dan rasa lelah bersama Tono.
“Dia sayang sama aku…”
“Tapi?”
Titik tersenyum kecil pahit.
“Kadang terlalu sayang.”
Kafid langsung memahami maksudnya.
Karena dari dulu…
ia tahu Titik bukan perempuan yang suka dikekang.
“Kalau aku…”
Kafid menatap Titik lama sekali.
“…aku cuma pengen lihat kamu bahagia.”
Kalimat itu terasa sangat lembut.
Sangat berbeda dengan hubungan yang selama ini dijalani Titik bersama Tono.
Dan tanpa sadar…
hatinya mulai membandingkan.
Hari-hari berikutnya…
Kafid semakin sering datang ke rumah.
Kadang membantu Bu Yati.
Kadang hanya duduk ngobrol di teras bersama Titik.
Dan Bu Yati…
diam-diam sebenarnya senang melihat mereka dekat lagi.
Suatu sore saat Kafid pulang…
Bu Yati akhirnya bicara.
“Kamu masih suka dia ya?”
Titik langsung kaget.
“Ibu apaan sih…”
“Ibu tahu dari muka kamu.”
Titik tersipu malu.
Namun beberapa detik kemudian…
raut wajahnya kembali murung.
“Tapi aku masih punya Tono…”
Bu Yati menghela napas kecil.
“Nak…”
“Iya?”
“Hidup itu bukan cuma soal siapa yang paling cinta.”
“Tapi siapa yang bikin kamu tenang.”
Kalimat itu langsung membuat Titik diam cukup lama.
Karena semakin hari…
ia memang semakin sadar—
bersama Kafid…
hatinya terasa jauh lebih nyaman.
Malamnya Kafid kembali datang.
Mereka duduk di bawah langit kampung yang dipenuhi bintang.
Dan untuk pertama kalinya…
Kafid bicara lebih serius.
“Titik.”
“Hm?”
“Balik sama aku.”
DEG.
Jantung Titik langsung berdegup keras.
“Aku…”
“Aku masih cinta sama kamu.”
Suara Kafid terdengar begitu tulus.
Begitu tenang.
Tanpa paksaan.
Tanpa tekanan.
Dan justru itu yang membuat hati Titik semakin goyah.
“Aku nggak tahu harus jawab apa…”
Kafid tersenyum kecil.
“Aku bisa nunggu.”
“Tapi aku udah punya orang lain.”
Kafid menunduk beberapa detik.
Lalu berkata pelan—
“Kalau kamu bahagia sama dia… aku mundur.”
“Tapi kalau kamu cuma bertahan karena kasihan…”
“…jangan sakiti dirimu sendiri.”
Air mata Titik langsung jatuh lagi.
Karena kalimat itu…
terasa sangat benar.
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
Titik mulai mempertanyakan hatinya sendiri.
Apakah ia benar-benar mencintai Tono…
atau hanya bertahan karena takut menyakiti seseorang yang terlalu mencintainya?
BAB XXIV
AKU MAU KAU DUAKAN
“Kadang Ada Cinta yang Begitu Dalam, Sampai Rela Berbagi Luka Asal Tidak Kehilangan”
Hari-hari setelah kepulangan Kafid berubah menjadi sangat membingungkan bagi Titik.
Setiap pagi…
ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua masih baik-baik saja.
Bahwa ia masih mencintai Tono.
Bahwa hubungannya masih bisa dipertahankan.
Namun setiap kali bertemu Kafid…
hatinya selalu kembali goyah.
Kafid berbeda.
Sangat berbeda.
Ia tidak pernah melarang.
Tidak pernah membentak.
Tidak pernah membuat Titik takut.
Bersamanya…
Titik merasa bisa kembali menjadi dirinya sendiri.
Dan itulah yang perlahan membuat hati Titik semakin kacau.
Suatu sore…
Kafid datang ke rumah membawa rambutan dari kebun belakang rumah pamannya.
“Ini buat ibu kamu.”
“Banyak banget.”
“Daripada dimakan kelelawar.”
Titik tertawa kecil.
Dan Bu Yati yang melihat mereka dari dapur hanya tersenyum tipis.
“Dulu kamu suka rambutan yang kecil-kecil gini,” kata Kafid sambil duduk di teras.
“Kamu masih ingat?”
“Kamu pikir aku pelupa?”
Titik terdiam sesaat.
Karena ternyata…
ada orang yang masih mengingat hal-hal kecil tentang dirinya.
Mereka ngobrol cukup lama sore itu.
Tentang masa kecil.
Tentang kampung.
Tentang mimpi-mimpi mereka dulu.
Dan semakin lama…
semakin terasa bahwa hubungan mereka sebenarnya belum pernah benar-benar selesai.
“Kamu berubah.”
“Hah?”
“Kamu sekarang lebih banyak sedih.”
Titik langsung diam.
Karena hampir semua orang yang benar-benar mengenalnya selalu mengatakan hal yang sama.
“Kamu nggak bahagia ya?”
Pertanyaan itu langsung menghantam hati Titik.
Dan seperti biasa…
ia tidak bisa langsung menjawab.
“Kafid…”
“Hm?”
“Kalau kamu jadi aku…”
“…apa kamu bakal bertahan sama orang yang terlalu mencintaimu tapi bikin kamu kehilangan diri sendiri?”
Kafid memandang Titik cukup lama.
Lalu menjawab pelan—
“Cinta nggak boleh bikin orang kehilangan dirinya.”
Jawaban itu sederhana.
Namun terasa sangat dalam.
Malamnya…
Tono menelepon dari Klaten.
Suara laki-laki itu terdengar dingin sejak awal.
“Kamu sama siapa tadi sore?”
DEG.
Titik langsung lelah.
“Kamu ngawasin aku?”
“Aku cuma nanya.”
“Kenapa setiap ngobrol sama kamu rasanya kayak diinterogasi…”
Tono terdiam beberapa detik.
“Karena aku takut kehilangan kamu.”
Kalimat itu lagi.
Kalimat yang dulu membuat Titik luluh.
Namun sekarang…
entah kenapa justru membuat dadanya sesak.
“Aku capek Ton…”
Suara Titik pelan.
“Capek apa?”
“Capek harus selalu jelasin semuanya.”
Tono langsung terdengar emosi.
“Berarti sekarang aku nggak boleh peduli?!”
“Bukan gitu!”
“Terus gimana?!”
Suara mereka mulai meninggi.
Dan lagi-lagi…
percakapan berubah menjadi pertengkaran.
Setelah telepon ditutup…
Titik menangis sendirian di kamar.
Kepalanya terasa penuh.
Dadanya sesak.
Dan untuk pertama kalinya…
ia mulai berpikir untuk menyerah.
Keesokan harinya…
Kafid datang lagi.
Dan kali ini…
ia langsung tahu Titik habis menangis.
“Kamu berantem lagi?”
Titik hanya diam.
“Kamu nggak harus cerita kalau nggak mau.”
Kalimat itu justru membuat air mata Titik jatuh lagi.
Karena Kafid selalu tahu kapan harus diam.
Dan kapan harus mendengarkan.
“Aku bingung…”
Suara Titik bergetar.
“Aku nggak mau nyakitin siapa pun.”
“Tapi aku juga capek…”
Kafid duduk di sampingnya pelan.
Tidak terlalu dekat.
Namun cukup membuat Titik merasa aman.
“Aku masih cinta sama kamu Tik.”
Kalimat itu diucapkan sangat tenang.
Tanpa tekanan.
Tanpa memaksa.
Dan justru itu yang membuat hati Titik semakin hancur.
“Tapi aku juga masih punya Tono…”
“Aku tahu.”
“Dia sayang banget sama aku…”
Kafid tersenyum kecil pahit.
“Aku juga.”
Sunyi.
Angin sore bertiup pelan.
Dan Titik merasa seperti berada di persimpangan yang tidak tahu harus dipilih ke mana.
“Aku nggak bisa milih…”
Kafid menunduk beberapa detik.
Lalu tertawa kecil getir.
“Aneh ya…”
“Hm?”
“Aku tuh rela apa aja asal nggak kehilangan kamu.”
Kalimat itu membuat Titik langsung menatapnya.
Dan beberapa detik kemudian…
Kafid berkata sesuatu yang tidak pernah dibayangkan Titik sebelumnya.
“Aku mau kau duakan.”
DEG.
“Apa?”
“Aku serius.”
“Kafid jangan bercanda…”
“Aku nggak bercanda.”
Suara laki-laki itu begitu tenang.
Namun justru membuat hati Titik terasa semakin sesak.
“Aku nggak peduli kamu masih sama dia…”
“Asal kamu jangan pergi lagi dari hidupku.”
Air mata Titik langsung jatuh.
Karena belum pernah ada seseorang yang mencintainya sampai setulus itu.
“Kamu bodoh…”
Kafid tertawa kecil.
“Iya.”
“Mana ada orang mau diduakan…”
“Ada kalau terlalu cinta.”
Tangis Titik pecah malam itu.
Karena kalimat itu terasa begitu menyakitkan sekaligus menghangatkan.
“Aku nggak pantas dicintai kayak gini…”
“Kamu pantas.”
“Aku malah nyakitin semua orang…”
Kafid menggeleng kecil.
“Cinta nggak selalu soal memiliki.”
“Tapi soal bertahan.”
Malam itu…
Titik benar-benar kacau.
Ia menangis lama sekali di kamarnya.
Memikirkan semuanya.
Tentang Tono yang begitu posesif karena takut kehilangan.
Tentang Kafid yang rela berbagi luka asal tetap bisa bersamanya.
Dan tentang dirinya sendiri…
yang semakin tidak mengenali isi hatinya.
Beberapa hari kemudian…
Titik kembali ke Klaten.
Dan begitu turun dari bus…
Tono sudah menunggu di terminal.
Wajahnya terlihat lelah.
Namun saat melihat Titik…
matanya langsung berubah hangat.
“Kamu kurusan.”
“Kamu lebay.”
Tono tersenyum kecil lalu membantu membawakan tasnya.
Dan untuk sesaat…
Titik kembali merasa bersalah.
Karena laki-laki ini juga benar-benar mencintainya.
Di perjalanan menuju kos…
Tono terus bercerita.
Tentang sekolah.
Tentang teman-teman.
Tentang betapa sepinya hari-harinya tanpa Titik.
Sedangkan Titik hanya diam mendengarkan.
Karena pikirannya masih penuh oleh ucapan Kafid.
“Aku mau kau duakan.”
Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.
“Mikir apa?”
Suara Tono membuyarkan lamunannya.
“Nggak…”
“Kamu berubah.”
“Hah?”
“Kamu makin jauh.”
Jantung Titik langsung berdegup.
Karena tanpa sadar…
Tono ternyata mulai merasakan perubahan itu.
Malamnya…
Titik duduk sendirian di depan kos sambil merokok.
Asap mengepul ke udara malam.
Sedangkan pikirannya terasa semakin rumit.
Abdul yang kebetulan lewat langsung kaget.
“Kamu makin jago aja ngerokok.”
Titik tertawa kecil hambar.
“Daripada nangis terus.”
Abdul duduk di sampingnya.
“Masalah lagi?”
Titik mengangguk pelan.
“Aku capek Dul…”
“Karena Tono?”
“Karena hidupku.”
Abdul memandangnya cukup lama.
Lalu berkata pelan—
“Kadang kita nggak harus memilih orang yang paling cinta sama kita…”
“…tapi orang yang bikin hidup kita tenang.”
Kalimat itu lagi.
Dan entah kenapa…
semua orang mulai mengatakan hal yang sama.
Malam semakin larut.
Namun Titik belum juga masuk kamar.
Karena semakin ia mencoba memahami hatinya…
semakin ia sadar—
ia sedang berada di titik paling rumit dalam hidupnya.
Di antara cinta pertama yang kembali pulang…
dan hubungan yang perlahan mulai menghancurkan dirinya sendiri.
BAB XXV
BURUNG YANG KELUAR DARI SANGKAR
“Kadang Kebebasan Datang Setelah Kita Berani Melepaskan Sesuatu yang Selama Ini Menyiksa”
Hari-hari di Klaten kembali berjalan seperti biasa.
Namun tidak bagi Titik.
Karena sejak kepulangannya dari kampung…
hatinya tidak lagi sama.
Ia semakin sering diam.
Semakin sering melamun.
Dan semakin sering mempertanyakan hubungannya dengan Tono.
Di sekolah…
teman-temannya mulai sadar ada sesuatu yang berubah.
Titik yang dulu selalu ramai kini lebih sering duduk diam dekat jendela.
Kadang tersenyum sendiri.
Kadang malah terlihat seperti ingin menangis.
“Tik.”
“Hm?”
Dwi duduk di sampingnya sambil membawa es teh.
“Kamu lagi mikirin siapa?”
“Nggak siapa-siapa.”
“Bohong.”
Titik tertawa kecil.
Namun tawanya hambar.
“Kamu habis ketemu Kafid ya?”
DEG.
Titik langsung menoleh cepat.
“Kok tahu?”
“Mukamu beda.”
“Bedanya apa?”
“Kayak orang galau.”
“DASAR.”
Dwi tertawa keras.
Namun beberapa detik kemudian…
raut wajahnya berubah serius.
“Kamu masih cinta dia?”
Pertanyaan itu membuat Titik diam lama sekali.
Karena jujur…
ia sendiri tidak tahu jawabannya.
“Aku nyaman sama dia…”
“Itu beda tipis sama cinta.”
“Tapi aku juga masih sayang Tono…”
Dwi menghela napas panjang.
“Kalau hidupmu tenang nggak sama Tono?”
Pertanyaan sederhana itu…
lagi-lagi membuat Titik tidak mampu menjawab.
Sore harinya…
Tono datang menjemput Titik di sekolah.
Namun suasana di antara mereka terasa canggung.
Tidak seperti dulu lagi.
“Mau makan bakso?”
“Terserah.”
Jawaban singkat itu membuat Tono langsung sadar.
“Kamu kenapa?”
“Nggak apa.”
“Kamu akhir-akhir ini dingin.”
Titik memandang jalanan sebentar sebelum menjawab—
“Aku capek.”
“Capek sama aku?”
Sunyi.
Dan diamnya Titik…
sudah menjadi jawaban yang paling menyakitkan.
Mereka akhirnya duduk di warung bakso dekat terminal.
Biasanya Tono akan banyak bicara.
Namun kali ini…
ia justru lebih sering diam.
Sedangkan Titik hanya mengaduk kuah baksonya pelan tanpa selera.
“Ada orang lain ya?”
Pertanyaan itu datang tiba-tiba.
Titik langsung mengangkat kepala.
“Hah?”
“Jawab jujur.”
“Tono…”
“Ada Kafid lagi kan?”
DEG.
Sendok di tangan Titik langsung berhenti bergerak.
“Siapa bilang?”
“Kamu pikir aku nggak tahu?”
Nada suara Tono mulai berubah dingin.
Dan lagi-lagi…
Titik merasa seperti sedang diadili.
“Kita cuma ngobrol.”
“Cuma ngobrol?”
“Iya.”
“Terus kenapa kamu berubah?”
“Aku berubah karena aku capek!”
Suara Titik akhirnya meninggi.
Dan beberapa pengunjung mulai melirik ke arah mereka.
“Aku capek terus dicurigai!”
“Aku capek harus jelasin semuanya!”
“Aku capek hidup kayak tahanan!”
Wajah Tono mulai menegang.
Sedangkan napas Titik memburu karena emosinya akhirnya meledak.
“Aku sayang sama kamu…”
“Tapi cara kamu nyayangin aku bikin aku sesak!”
Kalimat itu langsung membuat Tono membeku.
Karena untuk pertama kalinya…
Titik benar-benar mengucapkan isi hatinya tanpa ditahan lagi.
“Aku cuma takut kehilangan kamu…”
“Kenapa kamu nggak pernah percaya sama aku?!”
“Aku percaya!”
“NGGAK!”
Air mata Titik mulai jatuh.
Dan semua luka yang selama ini dipendam akhirnya keluar malam itu.
“Kamu nggak percaya aku punya teman!”
“Kamu nggak percaya aku bisa jaga diri!”
“Kamu selalu marah kalau aku dekat sama siapa pun!”
Tono langsung menunduk.
Sedangkan suara Titik semakin bergetar.
“Aku ini manusia Ton…”
“Bukan barang yang bisa kamu simpan sendiri.”
Sunyi.
Warung bakso itu mendadak terasa sangat sempit.
Dan untuk pertama kalinya…
Tono benar-benar terlihat kehilangan kata-kata.
“Aku salah…”
Suara laki-laki itu pelan sekali.
Namun Titik sudah terlalu lelah.
“Aku pengen hidup tenang…”
“Aku bisa berubah.”
“Tapi aku udah capek nunggu.”
Kalimat itu seperti pisau yang langsung menghantam dada Tono.
“Jadi…”
“…kamu mau putus?”
Pertanyaan itu membuat mata Titik langsung basah lagi.
Karena sejujurnya…
ia tidak pernah ingin menyakiti Tono.
Namun ia juga sadar—
jika hubungan ini terus dipertahankan…
yang hancur justru dirinya sendiri.
“Tono…”
“Aku nggak kuat lagi.”
Dan kalimat itu…
akhirnya menjadi akhir dari hubungan mereka.
Tono tertawa kecil pahit.
Namun matanya mulai merah.
“Jadi selama ini aku gagal ya…”
“Tolong jangan bikin aku makin merasa bersalah…”
“Aku terlalu cinta sama kamu…”
Air mata Titik jatuh semakin deras.
Karena ia tahu—
itu memang benar.
“Aku cuma pengen kamu jadi milikku…”
“Tapi aku bukan burung dalam sangkar…”
DEG.
Kalimat itu membuat Tono langsung terdiam.
Sedangkan Titik menangis semakin keras.
“Aku pengen terbang…”
“Aku pengen hidup tanpa takut…”
“Aku pengen jadi diriku sendiri lagi…”
Suara itu terdengar begitu rapuh.
Begitu lelah.
Dan malam itu…
Tono akhirnya sadar—
selama ini ia terlalu sibuk takut kehilangan Titik…
sampai lupa menjaga kebahagiaan perempuan yang dicintainya sendiri.
Mereka pulang tanpa banyak bicara.
Sepanjang perjalanan…
hanya suara motor dan angin malam yang terdengar.
Dan saat sampai di depan kos…
Tono akhirnya berkata pelan—
“Kalau suatu hari kamu bahagia sama orang lain…”
“…aku harap dia bisa jagain senyum kamu lebih baik dari aku.”
Air mata Titik langsung jatuh lagi.
Karena di balik semua sifat kerasnya…
Tono sebenarnya hanya laki-laki yang terlalu takut kehilangan.
“Maaf…”
“Itu aja?”
Titik menangis sambil mengangguk.
Dan malam itu…
hubungan mereka benar-benar berakhir.
Setelah Tono pergi…
Titik duduk sendiri di depan kos.
Hujan turun perlahan.
Dan anehnya…
di balik semua kesedihan itu…
dadanya terasa sedikit lebih lega.
Dwi yang melihat Titik langsung mendekat.
“Kamu habis nangis?”
Titik mengangguk pelan.
“Udah putus.”
Dwi langsung diam beberapa detik.
Lalu duduk memeluk sahabatnya itu.
“Sakit?”
“Iya…”
“Tapi lega.”
Jawaban itu membuat Dwi mengusap rambutnya pelan.
Karena ia tahu…
hubungan itu memang sudah terlalu lama menyiksa Titik.
“Aku jahat nggak sih?”
“Kenapa?”
“Aku ninggalin orang yang sayang banget sama aku…”
Dwi menggeleng kecil.
“Bertahan dalam hubungan yang bikin kamu hancur juga bukan cinta.”
Kalimat itu membuat Titik kembali menangis.
Namun kali ini…
tangisnya terasa berbeda.
Bukan hanya sedih.
Tetapi juga seperti seseorang yang akhirnya berhasil keluar dari tempat yang selama ini mengurungnya.
Malam semakin larut.
Titik berdiri di depan jendela kamar sambil memandangi hujan.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
ia merasa seperti burung yang akhirnya keluar dari sangkar.
Masih terluka.
Masih lelah.
Namun kembali memiliki langit untuk terbang sesuka hati.
BAB XXVI
AKU MENEMUKAN AKANG DALAM DIRIMU
“Tidak Semua Kehadiran Datang untuk Dicintai, Ada yang Datang untuk Menenangkan Luka”
Setelah putus dari Tono…
hidup Titik berubah perlahan.
Tidak langsung bahagia.
Tidak juga langsung tenang.
Namun setidaknya…
ia tidak lagi merasa sesak setiap hari.
Kini tidak ada lagi yang melarangnya berteman.
Tidak ada lagi yang marah saat ia pergi bersama teman-temannya.
Dan tidak ada lagi rasa takut setiap kali berbicara dengan orang lain.
Namun anehnya…
di tengah kebebasan itu…
Titik justru merasa sangat kosong.
Karena selama ini…
ia terlalu lama hidup di dalam keributan.
Dan ketika semuanya tiba-tiba sunyi…
ia seperti kehilangan arah.
Hari-harinya kembali dipenuhi sekolah dan nongkrong bersama teman-teman.
Namun hubungan mereka tidak pernah benar-benar kembali seperti dulu.
Riyadi masih baik.
Ahmad masih kocak.
Muji masih cerewet.
Namun luka-luka lama membuat ada jarak yang tidak terlihat di antara mereka.
Dan Titik sadar itu.
Satu-satunya orang yang selalu ada mendengarkan tanpa membuatnya merasa tertekan hanyalah Abdul.
Laki-laki itu kini menjadi tempat Titik bercerita hampir setiap hari.
Tentang sekolah.
Tentang hidup.
Tentang rasa lelah yang belum benar-benar hilang.
Sore itu…
mereka duduk di taman Umbul seperti biasa.
Langit mendung.
Angin bertiup pelan.
Dan suasana terasa tenang.
“Kamu sekarang lebih sering senyum.”
Titik tertawa kecil.
“Masa?”
“Iya.”
“Padahal aku masih berantakan.”
Abdul tersenyum tipis.
“Minimal sekarang nggak nangis tiap hari.”
“Eh iya juga ya…”
Mereka tertawa kecil bersama.
Titik memandangi kolam di depan mereka.
Airnya tenang.
Dan entah kenapa…
hati Titik juga terasa sedikit lebih damai saat bersama Abdul.
“Dul…”
“Hm?”
“Makasih ya.”
“Buat apa?”
“Udah mau dengerin aku terus.”
Abdul tertawa kecil.
“Ya masa aku suruh kamu curhat sama pohon.”
“Kan bisa sama kambing.”
“Lebih nyambung kamu sama kambing.”
“EH!”
Mereka kembali tertawa.
Dan tawa itu terasa sangat ringan.
Tanpa tekanan.
Tanpa rasa takut.
“Aku heran sama kamu.”
“Hm?”
“Kok bisa sabar banget.”
Abdul mengangkat bahu santai.
“Mungkin karena aku udah kebal.”
“Kebal apaan?”
“Ngadepin kamu.”
“Kurang ajar.”
Namun beberapa detik kemudian…
raut wajah Titik perlahan berubah murung.
“Aku kangen akang…”
Suasana langsung berubah tenang.
Karena Abdul tahu—
nama itu selalu menjadi luka paling dalam di hati Titik.
“Kamu masih sering mikirin dia?”
Titik mengangguk kecil.
“Kadang kalau aku lagi capek…”
“…aku pengen dia ada.”
Abdul diam mendengarkan.
Dan seperti biasa…
ia tidak pernah memotong cerita Titik.
“Dulu…”
“…kalau aku sedih dia selalu ada.”
“Dia nggak banyak ngomong.”
“Tapi aku selalu merasa aman.”
Air mata Titik mulai menggenang.
Dan Abdul hanya menyerahkan tisu pelan.
“Aku marah sama dia…”
“Karena pergi tanpa pamit?”
Titik mengangguk.
“Kenapa orang yang paling bikin nyaman malah pergi duluan…”
Suara itu terdengar sangat rapuh.
Dan Abdul bisa merasakan—
bahwa luka kehilangan Akang ternyata belum pernah sembuh.
“Kadang orang pergi bukan karena nggak peduli.”
“Tapi karena hidup memaksa mereka pergi.”
Titik menatap Abdul pelan.
“Aku pengen percaya itu…”
Abdul tersenyum kecil.
“Percaya aja.”
Angin sore bertiup lembut.
Daun-daun bergerak pelan.
Dan untuk beberapa saat…
mereka hanya duduk diam menikmati suasana.
“Dul…”
“Hm?”
“Boleh aku jujur?”
“Sejak kapan kamu nggak jujur?”
Titik tertawa kecil.
Namun beberapa detik kemudian…
matanya mulai berkaca-kaca lagi.
“Aku ngerasa…”
“…aku nemuin akang dalam diri kamu.”
DEG.
Abdul langsung terdiam.
Sedangkan Titik sendiri tampak gugup setelah mengucapkan kalimat itu.
“Maksudnya?”
“Kamu bikin aku nyaman.”
“Kamu nggak pernah maksa aku.”
“Kamu selalu ada pas aku sedih.”
Dan yang paling membuat hati Abdul bergetar—
suara Titik terdengar begitu tulus.
“Akang dulu juga kayak gitu…”
“Dia selalu bikin aku merasa aman.”
Air mata Titik jatuh perlahan.
Dan Abdul hanya mendengarkan diam-diam.
“Kadang aku takut…”
“Takut apa?”
“Takut kehilangan kamu juga.”
Kalimat itu membuat dada Abdul terasa sesak.
Karena untuk pertama kalinya…
ia sadar bahwa dirinya sudah menjadi sangat penting dalam hidup Titik.
“Aku nggak bakal pergi tanpa pamit.”
Jawaban Abdul sederhana.
Namun langsung membuat mata Titik kembali basah.
“Jangan tinggalin aku ya…”
Suara Titik lirih sekali.
Dan Abdul langsung mengusap kepala gadis itu pelan seperti seorang kakak.
“Iya.”
Hari-hari berikutnya…
kedekatan mereka semakin terasa.
Namun hubungan itu berbeda.
Tidak seperti hubungan Titik dan Tono.
Tidak penuh drama.
Tidak penuh cemburu.
Dan tidak dipenuhi tuntutan.
Abdul lebih seperti tempat pulang.
Tempat Titik bisa menjadi dirinya sendiri tanpa takut dihakimi.
Kadang mereka hanya duduk ngobrol sampai malam.
Kadang jalan kaki membeli gorengan.
Kadang sekadar mendengarkan Titik mengeluh tentang tugas sekolah.
Dan anehnya…
hal-hal sederhana itu justru terasa sangat berarti bagi Titik.
Suatu malam…
mereka duduk di depan kos sambil minum kopi sachet.
Langit penuh bintang.
Udara dingin.
Dan suasana sangat tenang.
“Kamu pernah jatuh cinta nggak sih Dul?”
Pertanyaan itu membuat Abdul tertawa kecil.
“Pernah lah.”
“Terus?”
“Ya gitu.”
“Gitu gimana?”
“Nggak jadian.”
“Kasihan banget.”
“Daripada kamu.”
“Eh?”
“Dikejar satu sekolah.”
Titik langsung ngakak.
“Kadang aku iri sama kamu.”
“Hah?”
“Kamu bebas.”
“Nggak juga.”
“Kok?”
“Karena orang yang paling bebas biasanya paling kesepian.”
Kalimat itu membuat Titik mendadak diam.
Karena entah kenapa…
ia merasa sangat relate dengan ucapan itu.
“Aku takut sendirian…”
Abdul menatapnya pelan.
“Kamu nggak sendiri.”
Jawaban singkat itu…
langsung membuat hati Titik terasa hangat.
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
Titik merasa hidupnya mulai kembali tenang.
Bukan karena menemukan cinta baru.
Tetapi karena menemukan seseorang…
yang mampu memahami luka-lukanya tanpa berusaha memilikinya.
Seseorang…
yang perlahan membuatnya percaya lagi—
bahwa tidak semua laki-laki datang untuk menyakiti atau mengekang.
Ada juga yang datang…
hanya untuk menjaga hati yang sudah terlalu lama terluka.
BAB XXVII
MEROKOK DI BALIK SENYUM
“Tidak Semua Tawa Berarti Bahagia, Kadang Itu Hanya Cara Seseorang Menyembunyikan Luka”
Hidup Titik perlahan mulai kembali tenang.
Tidak ada lagi pertengkaran besar.
Tidak ada lagi teror dari Tono.
Dan hari-harinya kini lebih banyak dipenuhi kebersamaan sederhana bersama teman-temannya.
Namun di balik semua itu…
ada satu kebiasaan buruk yang diam-diam semakin melekat dalam dirinya.
Merokok.
Awalnya hanya pelampiasan sesaat.
Hanya satu batang saat hati terasa sesak.
Namun lama-kelamaan…
rokok menjadi tempat Titik melarikan diri setiap kali pikirannya penuh.
Pagi itu…
Titik duduk sendirian di belakang bengkel sekolah sebelum pelajaran dimulai.
Udara masih dingin.
Kabut tipis belum sepenuhnya hilang.
Dan di tangannya…
sebatang rokok menyala pelan.
Ia menghembuskan asap perlahan ke udara.
Matanya kosong.
Pikirannya melayang entah ke mana.
Tentang hidup.
Tentang cinta.
Tentang semua kehilangan yang terus datang silih berganti.
“PANTES BAU ASAP.”
Titik langsung kaget.
Abdul berdiri sambil melipat tangan di depan dada.
Wajahnya terlihat kesal.
“Eh…”
“Kamu ngerokok lagi?”
Titik nyengir kecil.
“Cuma satu.”
“Kemarin juga bilang gitu.”
“Ya kan satu-satu jadinya banyak.”
“NAH TUH TAU.”
Titik langsung tertawa kecil.
Namun Abdul tidak ikut tertawa.
“Kamu pikir keren?”
“Nggak.”
“Terus kenapa masih dilakuin?”
Titik mengangkat bahu pelan.
“Biar tenang.”
Abdul langsung duduk di sampingnya.
Wajahnya masih serius.
“Rokok nggak bikin masalah selesai.”
“Tapi bikin pikiranku diam sebentar.”
Jawaban itu membuat Abdul terdiam.
Karena ia tahu…
Titik tidak sedang bercanda.
“Kamu masih sering kepikiran ya?”
Titik memandangi asap yang mengepul.
“Aku capek Dul…”
“Karena hidup?”
“Karena semuanya.”
Suara itu terdengar lirih sekali.
Dan Abdul langsung tahu—
di balik senyum dan tawa Titik selama ini…
masih ada luka yang belum benar-benar sembuh.
“Kamu tuh aneh.”
“Hah?”
“Kalau orang lain lihat kamu…”
“…mereka pasti pikir hidupmu enak.”
Titik tertawa kecil pahit.
“Padahal aku capek jadi aku.”
Kalimat itu membuat dada Abdul terasa sesak.
“Semua orang suka sama aku.”
“Tapi aku malah sering merasa sendirian.”
Angin pagi bertiup pelan.
Dan untuk beberapa saat…
mereka hanya diam.
Abdul akhirnya merebut rokok di tangan Titik.
“Eh!”
“Udah cukup.”
“Balikin.”
“Nggak.”
“Peliiit.”
Abdul langsung mematikan rokok itu.
Dan anehnya…
Titik tidak marah.
Karena ia tahu—
Abdul melakukan itu karena peduli.
“Kamu tahu nggak…”
“Hm?”
“Aku takut suatu hari kamu benar-benar hancur.”
Kalimat itu membuat Titik menunduk pelan.
“Aku juga takut…”
“Terus kenapa nggak berhenti?”
Titik tersenyum kecil.
“Karena kadang…”
“…asap lebih gampang diajak ngobrol daripada manusia.”
DEG.
Jawaban itu membuat Abdul tidak bisa langsung bicara.
Karena kalimat itu terdengar sangat sedih.
Bel sekolah akhirnya berbunyi.
Dan mereka berjalan menuju kelas bersama.
Namun sepanjang jalan…
Abdul terus memperhatikan Titik diam-diam.
Karena semakin lama…
ia semakin sadar bahwa gadis itu sebenarnya jauh lebih rapuh daripada yang terlihat.
Di kelas…
suasana kembali ramai seperti biasa.
Ahmad sedang bercanda.
Muji sibuk menggambar di papan.
Sedangkan Riyadi membaca buku sambil sesekali memperhatikan Titik.
“WOY TITIK!”
“Hm?”
“Kamu kalau jadi artis jangan lupain kita.”
“Ngapain aku jadi artis?”
“Soalnya drama hidupmu banyak.”
Satu kelas langsung tertawa keras.
Termasuk Titik.
Namun di balik tawanya…
hatinya terasa kosong.
Siang harinya…
Dwi memergoki Titik merokok lagi di belakang kantin.
“YA ALLAH!”
Titik langsung panik.
“Dwe…”
“Kamu makin parah!”
“Pelan dikit napa…”
“Cewek cantik kok ngerokok.”
“Emang cantik?”
“FOKUS TITIK!”
Mereka berdua akhirnya tertawa kecil.
Namun setelah itu…
Dwi mendadak diam.
“Kamu sebenarnya belum sembuh ya…”
Pertanyaan itu langsung membuat senyum Titik perlahan hilang.
“Aku nggak tahu…”
“Kadang aku ketawa.”
“Tapi malamnya nangis lagi.”
Dwi langsung memeluk sahabatnya itu.
Dan Titik akhirnya kembali menangis diam-diam di pundaknya.
“Aku lelah Dwe…”
“Aku tahu.”
“Kenapa hidupku rumit banget…”
“Karena kamu terlalu mikirin semua orang.”
Kalimat itu kembali terdengar.
Dan lagi-lagi…
Titik merasa semua orang mengatakan hal yang sama padanya.
Malam harinya…
Titik duduk di depan kos bersama Abdul.
Seperti biasa.
Mereka minum kopi sachet sambil ngobrol hal-hal random.
“Kalau kamu punya satu permintaan…”
“…apa yang paling pengen kamu ulang?”
Pertanyaan Abdul membuat Titik diam cukup lama.
Lalu perlahan ia menjawab—
“Masa waktu akang masih ada.”
Sunyi.
Dan Abdul bisa melihat—
betapa dalam luka kehilangan itu masih tersimpan di hati Titik.
“Aku kadang marah sama dia.”
“Karena pergi?”
Titik mengangguk.
“Tapi aku juga kangen…”
Air matanya mulai jatuh lagi.
Dan Abdul hanya duduk di sampingnya tanpa bicara.
“Kamu tahu nggak…”
“Hm?”
“Kalau aku lagi sedih…”
“…aku suka berharap tiba-tiba dia datang.”
Suara Titik begitu kecil.
Begitu rapuh.
Dan Abdul merasa hatinya ikut nyeri mendengarnya.
“Aku takut dilupain…”
Kalimat itu membuat Abdul langsung menatapnya.
“Siapa yang bakal lupain kamu?”
“Semua orang akhirnya pergi…”
Abdul menghela napas kecil.
Lalu berkata pelan—
“Aku nggak janji bakal selalu ada…”
“…tapi selama aku masih bisa nemanin kamu, aku bakal ada.”
Air mata Titik kembali jatuh.
Namun kali ini…
ia tersenyum kecil di sela tangisnya.
“Makasih ya Dul…”
“Hm?”
“Udah jadi kakak yang baik.”
Kalimat itu membuat Abdul tersenyum tipis.
Dan malam itu…
hubungan mereka terasa semakin dekat.
Bukan sebagai kekasih.
Bukan juga sekadar teman biasa.
Tetapi seperti dua orang yang sama-sama saling menjaga luka satu sama lain.
Namun jauh di dalam hati Titik…
masih ada kehampaan yang belum terisi.
Dan tanpa ia sadari…
kehampaan itu perlahan kembali membuka jalan bagi masa lalunya untuk datang sekali lagi.
BAB XXVIII
MALIOBORO, MALAM TAHUN BARU, DAN HATI YANG KEMBALI HIDUP
“Ada Kenangan yang Tidak Pernah Mati, Karena Ia Tercipta Saat Kita Benar-Benar Bahagia”
Malam tahun baru di Klaten selalu terasa berbeda.
Jalanan mulai ramai sejak sore.
Suara petasan terdengar di mana-mana.
Lampu-lampu kota terlihat lebih hidup.
Dan anak-anak STM…
tentu saja sudah menyiapkan rencana untuk jalan-jalan bersama.
“POKOKNYA MALAM INI KITA HARUS BERANGKAT!”
Ahmad berdiri di tengah kelas sambil berteriak seperti komandan perang.
Muji langsung nyeletuk—
“Lu kalau nggak teriak bisa mati ya?”
“INI SEMANGAT!”
“Ini gangguan mental.”
Satu kelas langsung pecah tertawa.
Titik yang duduk dekat jendela ikut tersenyum kecil.
Sudah lama ia tidak benar-benar menikmati suasana seperti ini.
Dan malam itu…
ia ingin mencoba melupakan semua masalahnya sejenak.
“Ayo ikut ya Tik,” kata Dwi sambil mengguncang lengannya.
“Ke mana emang?”
“Malioboro terus lanjut Parangtritis!”
“Hah? Jauh amat.”
“Namanya juga malam tahun baru!”
Ahmad langsung ikut nimbrung—
“Kalau perlu kita nyasar sampai Jakarta!”
“Lu aja sana nyasar sendiri.”
Akhirnya mereka sepakat berangkat ramai-ramai.
Ada yang naik motor.
Ada yang nebeng.
Ada juga yang naik kereta sambung.
Dan seperti biasa…
perjalanan mereka selalu penuh keributan.
“WOY SIAPA YANG BAWA GITAR?!”
“MUJI!”
“JANGAN NYANYI NANTI KACA RETAK!”
“Kurang ajar!”
Sepanjang jalan…
suara tawa mereka tidak berhenti.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
Titik tertawa tanpa beban.
Abdul yang duduk di belakang motor bersama Ahmad memperhatikan Titik diam-diam.
Melihat gadis itu kembali tertawa lepas…
entah kenapa membuat hatinya ikut lega.
Mereka sampai di Malioboro menjelang malam.
Suasana kota Jogja begitu ramai.
Lampu jalan menyala indah.
Pedagang kaki lima memenuhi trotoar.
Musik jalanan terdengar di mana-mana.
Dan udara malam terasa hangat oleh keramaian.
“WOOOO JOGJAAA!”
Ahmad langsung berlari kecil seperti anak TK piknik.
Muji menarik kerah bajunya.
“Malu-maluin.”
Titik tertawa sampai memegang perut.
Mereka berjalan bersama menyusuri Malioboro.
Kadang berhenti melihat aksesoris.
Kadang membeli jajanan murah.
Kadang hanya duduk menikmati suasana jalanan.
Dan anehnya…
hal sederhana itu terasa begitu membahagiakan.
“Titik sini!”
Dwi memanggil dari depan penjual gelang.
“Lucu nggak?”
“Lucu.”
“Belikan.”
“ENAK AJA.”
Mereka kembali tertawa.
Sedangkan Riyadi diam-diam membayar gelang kecil itu tanpa bilang apa-apa.
“Heh siapa yang bayar?”
Riyadi pura-pura bingung.
“Nggak tahu.”
“YADI!”
Ahmad langsung nyeletuk—
“CINTA MEMANG BUTA.”
Seketika semua langsung ribut.
Sedangkan Riyadi cuma tersenyum malu.
Titik memandangi gelang kecil di tangannya cukup lama.
Dan tanpa sadar…
hatinya terasa hangat.
Bukan karena hadiah itu mahal.
Namun karena perhatian kecil seperti itulah yang selama ini paling ia hargai.
Malam semakin larut.
Keramaian Malioboro semakin padat.
Dan mereka akhirnya duduk lesehan di pinggir jalan sambil makan angkringan.
“Kalau nanti kita tua…”
“…kira-kira masih bisa kumpul kayak gini nggak ya?”
Pertanyaan Titik mendadak membuat suasana sedikit hening.
“Kalau Ahmad sih paling udah ditangkap polisi,” jawab Muji cepat.
“WOY!”
Semua langsung tertawa lagi.
Namun setelah tawa reda…
Riyadi menjawab pelan—
“Semoga aja masih.”
Kalimat sederhana itu…
entah kenapa terasa sangat hangat.
Setelah puas di Malioboro…
rombongan mereka melanjutkan perjalanan ke Pantai Parangtritis.
Angin malam semakin dingin.
Namun semangat mereka justru makin besar.
Perjalanan panjang itu dipenuhi lagu-lagu random.
Ahmad nyanyi fals.
Muji protes terus.
Dwi tertawa tanpa henti.
Dan Titik…
duduk memandangi jalanan sambil tersenyum kecil.
Sesampainya di pantai…
jam hampir menunjukkan tengah malam.
Ombak terdengar keras.
Angin laut menerpa wajah mereka.
Dan langit malam terlihat begitu luas.
“DINGIN WOY!”
“Tuh kan sok keren nggak bawa jaket!”
Mereka semua langsung berlari kecil mencari tempat duduk.
Namun Titik justru berjalan mendekati bibir pantai.
Angin menerbangkan rambutnya.
Suara ombak terasa menenangkan.
Dan untuk pertama kalinya…
ia merasa hidupnya benar-benar kembali hidup.
“Sendiri aja.”
Suara Abdul terdengar dari belakang.
Titik menoleh lalu tersenyum kecil.
“Aku cuma pengen lihat laut.”
“Lautnya nggak ke mana.”
“Hatiku yang suka ke mana-mana.”
Abdul tertawa kecil.
Mereka berdiri berdampingan memandangi ombak.
Tidak banyak bicara.
Namun suasana itu terasa nyaman.
“Aku kangen jadi diriku yang dulu.”
Suara Titik pelan.
“Kamu sekarang juga masih Titik.”
“Nggak…”
“Aku sekarang lebih gampang sedih.”
Abdul memandangnya beberapa detik sebelum berkata—
“Orang yang banyak terluka biasanya memang jadi lebih sensitif.”
Kalimat itu membuat Titik tersenyum tipis.
“Aku takut suatu hari semua kenangan ini hilang.”
“Kenangan nggak hilang.”
“Hm?”
“Cuma orangnya yang jalan ke arah berbeda.”
DEG.
Kalimat itu membuat hati Titik mendadak sendu.
Karena ia sadar…
sebentar lagi semua akan lulus dan berpisah.
Jam menunjukkan pukul dua belas malam.
Dan tiba-tiba…
langit dipenuhi suara kembang api.
DUARRR!
Cahaya warna-warni memenuhi langit Parangtritis.
Semua orang berteriak senang.
“SELAMAT TAHUN BARU!”
Ahmad langsung loncat-loncat kayak kesurupan.
Muji tertawa sampai jatuh di pasir.
Dwi memeluk Titik sambil berteriak kegirangan.
Dan suasana malam itu terasa begitu hidup.
Titik memandang langit penuh cahaya.
Matanya perlahan berkaca-kaca.
Bukan karena sedih.
Tetapi karena bahagia.
Bahagia sederhana yang sudah lama tidak ia rasakan.
“Aku pengen malam ini nggak selesai…”
Suara Titik lirih.
Abdul tersenyum kecil.
“Kalau nggak selesai nanti kita nggak pulang.”
“Ya juga sih.”
Mereka tertawa kecil bersama.
Dan malam itu…
di bawah langit Parangtritis yang dipenuhi kembang api…
Titik akhirnya sadar satu hal.
Bahwa hidupnya memang penuh luka.
Penuh kehilangan.
Penuh cinta yang rumit.
Namun di tengah semua itu…
ia masih punya orang-orang yang membuatnya merasa berarti.
Orang-orang yang membuatnya kembali tertawa.
Dan orang-orang yang diam-diam menjadi rumah…
saat hatinya mulai lelah berjalan sendiri.
BAB XXIX
GUNUNG, KABUT, DAN HATI YANG MULAI IKHLAS
“Semakin Tinggi Kita Mendaki, Semakin Kita Belajar Bahwa Hidup Tidak Selalu Tentang Memiliki”
Hari-hari setelah malam tahun baru terasa jauh lebih ringan bagi Titik.
Ia mulai tertawa lebih sering.
Mulai kembali menikmati sekolah.
Dan perlahan…
ia belajar berdamai dengan semua luka yang pernah datang dalam hidupnya.
Namun satu hal tentang Titik tidak pernah berubah.
Ia selalu menyukai kebebasan.
Menyukai perjalanan.
Dan menyukai tempat-tempat yang membuatnya merasa kecil di hadapan Tuhan.
Salah satunya—
gunung.
“JADI FIX NAIK MERAPI?!”
Ahmad berteriak heboh di tengah kelas.
“Fix apanya, tenda aja nggak punya,” sahut Muji.
“Namanya juga anak muda!”
“Namanya juga calon hilang.”
Satu kelas langsung tertawa.
Titik yang mendengar obrolan itu langsung tertarik.
“Nggak bahaya?”
Ahmad langsung mendekat.
“Bahaya dikit nggak masalah.”
“Itu bukan motivasi bagus.”
“Yang penting pemandangannya keren!”
Dan begitulah…
rencana mendaki Gunung Merapi akhirnya dimulai.
Tanpa persiapan matang.
Tanpa perlengkapan lengkap.
Dan tentu saja…
penuh modal nekat khas anak STM.
Malam sebelum berangkat…
Dwi langsung panik melihat isi tas Titik.
“INI APAAN?”
“Hah?”
“Kamu naik gunung bawa sisir tiga?!”
“Kan rambut harus tetap cantik.”
“Ya Allah…”
Mereka berdua langsung tertawa keras.
Keesokan paginya…
rombongan kecil mereka akhirnya berangkat.
Ada Ahmad.
Muji.
Riyadi.
Abdul.
Dwi.
Dan beberapa teman lain.
Sedangkan Titik…
menjadi satu-satunya perempuan paling heboh di rombongan itu.
Perjalanan menuju kaki gunung dipenuhi candaan.
Ahmad tidak berhenti nyanyi.
Muji tidak berhenti ngomel.
Dan Titik tertawa hampir sepanjang jalan.
“Tik.”
“Hm?”
“Nanti kalau capek bilang ya.”
Riyadi berjalan di sampingnya sambil membawa carrier besar.
Titik tersenyum kecil.
“Iya Ayah.”
“Kurang ajar.”
Pendakian dimulai sore hari.
Awalnya masih terasa mudah.
Jalur tanah.
Pepohonan rindang.
Udara dingin.
Dan suasana yang membuat hati terasa tenang.
“WOOO KEREN!”
Ahmad langsung foto di mana-mana.
Muji geleng-geleng kepala.
“Baru jalan lima menit udah kayak penjelajah dunia.”
Namun semakin tinggi mereka mendaki…
jalur mulai berubah berat.
Napas mulai ngos-ngosan.
Kaki mulai pegal.
Dan udara semakin dingin.
“TITIK MASIH KUAT?”
teriak Abdul dari depan.
“MASIH!”
Padahal sebenarnya…
kakinya sudah terasa gemetar.
Beberapa jam kemudian…
kabut mulai turun.
Jalur semakin gelap.
Dan mereka akhirnya berhenti untuk istirahat.
Titik duduk di atas batu besar sambil mengatur napas.
Wajahnya pucat.
Namun matanya justru terlihat bahagia.
“Capek?”
Abdul duduk di sampingnya sambil menyerahkan air minum.
“Banget.”
“Terus kenapa senyum?”
Titik memandang langit yang mulai gelap.
“Karena rasanya hidup.”
Jawaban itu membuat Abdul tersenyum kecil.
“Aneh ya…”
“Hm?”
“Di bawah aku sering sedih.”
“Tapi di sini…”
“…aku malah tenang.”
Abdul mengangguk pelan.
“Mungkin karena di gunung…”
“…kita sadar masalah kita kecil.”
Kalimat itu membuat Titik diam cukup lama.
Karena memang benar.
Di hadapan alam sebesar ini…
semua luka cintanya terasa sangat kecil.
Perjalanan dilanjutkan malam hari.
Dan di sinilah perjuangan sebenarnya dimulai.
Jalur berbatu.
Udara menusuk.
Kabut semakin tebal.
Dan angin terasa begitu dingin.
“AHMAD JANGAN NYANYI!”
“BIAR SEMANGAT!”
“ITU BIKIN SETAN IKUT SEMANGAT!”
Mereka tetap tertawa di tengah lelah.
Karena candaan kecil seperti itulah yang membuat perjalanan terasa ringan.
Namun beberapa jam kemudian…
hujan mulai turun.
Awalnya kecil.
Lalu semakin deras.
Dan jalur berubah sangat licin.
“PEGANG TANGANKU!”
Abdul membantu Titik melewati jalur berbatu.
Tangan Titik dingin sekali.
Tubuhnya mulai gemetar.
“Aku nggak kuat…”
“Sedikit lagi.”
“Aku capek…”
“Nanti kita istirahat.”
Suara Abdul tetap tenang.
Dan entah kenapa…
itu selalu berhasil membuat Titik lebih kuat.
Mereka akhirnya berhenti di sebuah pos kecil.
Semua basah kuyup.
Kedinginan.
Dan wajah Ahmad sudah pucat seperti mayat kurang tidur.
“GILA…”
“Aku mau pulang…”
Muji langsung nyengir.
“Tadi paling semangat.”
“Aku menyesal jadi manusia.”
Semua langsung tertawa meski tubuh mereka menggigil.
Titik duduk memeluk lutut.
Tubuhnya gemetar hebat karena dingin.
Dan Abdul langsung memberikan jaketnya.
“Pakai.”
“Kamu nanti dingin.”
“Aku lebih takut kamu sakit.”
Kalimat itu sederhana.
Namun membuat hati Titik terasa hangat.
Malam semakin larut.
Kabut semakin tebal.
Dan mereka akhirnya memutuskan tetap melanjutkan pendakian menuju puncak.
Perjalanan terakhir terasa paling berat.
Napas sesak.
Kaki nyaris tidak kuat melangkah.
Dan angin dingin terus menghantam tubuh mereka.
“Aku nyerah…”
Suara Titik hampir menangis.
Abdul langsung berdiri di depannya.
“Lihat aku.”
Titik mengangkat wajah pelan.
“Kalau hidup aja kamu bisa lewatin…”
“…masa gunung kalah.”
DEG.
Kalimat itu langsung membuat Titik terdiam.
Dan entah dari mana…
ia kembali menemukan tenaga untuk berjalan.
Selangkah demi selangkah.
Melewati dingin.
Melewati lelah.
Melewati rasa ingin menyerah.
Hingga akhirnya…
menjelang subuh…
mereka sampai di puncak Merapi.
Langit perlahan berubah jingga.
Kabut bergerak pelan.
Dan matahari mulai muncul dari balik gunung.
Semua langsung terdiam.
Karena pemandangan di depan mereka terlalu indah untuk dijelaskan.
Titik memandang luasnya langit dengan mata berkaca-kaca.
Angin menerpa wajahnya.
Dan tanpa sadar…
air matanya jatuh pelan.
“Kenapa nangis?”
Suara Abdul terdengar lembut.
Titik tersenyum kecil sambil mengusap air matanya.
“Aku cuma…”
“…ngerasa kecil banget.”
Ia menatap matahari perlahan naik.
Dan untuk pertama kalinya…
hatinya terasa sangat tenang.
“Semua yang aku jalanin…”
“…ternyata nggak seberapa.”
Suara itu lirih.
Namun penuh keikhlasan.
Abdul berdiri di sampingnya.
Tidak banyak bicara.
Namun kehadirannya selalu cukup.
“Dul…”
“Hm?”
“Mungkin hidup memang kayak naik gunung ya.”
“Kok gitu?”
“Capek.”
“Banyak luka.”
“Kadang pengen nyerah.”
“Tapi indah kalau berhasil dilewatin.”
Abdul tersenyum kecil.
“Dan jangan lupa…”
“Hm?”
“Turunnya juga susah.”
“YA ELAH!”
Mereka langsung tertawa bersama di tengah dinginnya puncak Merapi.
Dan pagi itu…
di atas gunung yang dipenuhi kabut…
Titik mulai belajar satu hal penting.
Bahwa hidup tidak selalu tentang siapa yang tinggal atau pergi.
Tidak selalu tentang cinta yang berhasil dimiliki.
Kadang…
hidup hanya tentang terus berjalan…
meski hati pernah hancur berkali-kali.
BAB XXX
CINTA LAMA BERSEMI KEMBALI
“Setinggi-Tingginya Merpati Terbang, Ia Akan Pulang ke Tempat yang Membuatnya Tenang”
Waktu berjalan begitu cepat.
Tanpa terasa…
masa-masa STM akhirnya sampai di ujung perjalanan.
Semua kesibukan sekolah perlahan berubah menjadi kesibukan ujian akhir.
Kelas yang dulu selalu ramai…
kini mulai dipenuhi rasa takut akan perpisahan.
Ahmad masih tetap berisik.
Muji masih suka ngomel.
Dwi masih menjadi sahabat paling cerewet.
Dan Riyadi…
masih diam-diam memperhatikan Titik dengan cara yang sama.
Namun kini semuanya terasa berbeda.
Karena mereka tahu…
sebentar lagi hidup akan membawa masing-masing menuju jalan yang berbeda.
Hari pengumuman kelulusan tiba.
Suasana sekolah begitu ramai.
Anak-anak berteriak.
Ada yang menangis.
Ada yang saling peluk.
Dan ada juga yang sibuk coret-coret seragam.
“TITIK LULUSSSS!”
Dwi langsung memeluknya sambil lompat-lompat.
“LEPAS AKU WEH!”
“NGGAK MAU!”
Ahmad ikut teriak dari kejauhan—
“AKHIRNYA NEGARA SELAMAT!”
“Mulutmu ya!”
Semua langsung tertawa keras.
Namun di balik semua kebahagiaan itu…
hati Titik justru terasa aneh.
Kosong.
Seperti ada sesuatu yang perlahan berakhir.
Malam harinya…
mereka berkumpul terakhir kali di taman Umbul.
Tempat yang selama ini menjadi saksi begitu banyak cerita mereka.
Tentang tawa.
Tentang persahabatan.
Tentang cinta.
Dan tentang luka.
“Aku nggak nyangka kita sampai sejauh ini.”
Riyadi membuka suara pelan.
“Iya…”
“Dulu kita masih bocah tengil.”
“Sekarang juga masih.”
Semua tertawa kecil.
Namun mata mereka perlahan mulai berkaca-kaca.
“Kalau nanti kita sibuk…”
“…jangan pura-pura nggak kenal ya.”
Suara Dwi mulai bergetar.
Ahmad langsung nyeletuk—
“Kalau jadi orang sukses jangan lupa traktir!”
“OTAKMU MAKAN TERUS!”
Malam itu…
mereka berbicara sangat lama.
Tentang mimpi.
Tentang masa depan.
Tentang harapan-harapan sederhana.
Dan Titik sadar…
ia akan sangat merindukan semua ini.
Setelah kelulusan…
satu per satu teman-temannya mulai pulang ke daerah masing-masing.
Ada yang langsung bekerja.
Ada yang melanjutkan kuliah.
Dan ada juga yang memilih membantu orang tua.
Abdul pun akhirnya harus pulang ke Batang.
Dan berita itu…
membuat hati Titik kembali berat.
“Kapan berangkat?”
“Besok pagi.”
Cepat sekali.
Titik menunduk pelan.
Karena ia tidak pernah membayangkan harus kehilangan Abdul juga.
Malam terakhir sebelum Abdul pulang…
mereka duduk berdua di depan kos.
Seperti biasanya.
Dengan kopi sachet murah.
Dan obrolan yang mengalir pelan.
“Kamu nanti jangan ngerokok terus.”
Abdul membuka suara.
Titik tertawa kecil.
“Masih aja diomelin.”
“Karena bandel.”
“Kalau aku nggak bandel bukan Titik namanya.”
Abdul tersenyum tipis.
Namun matanya terlihat sendu.
“Nanti kalau sedih…”
“…jangan dipendam sendiri.”
“Iya.”
“Janji?”
Titik mengangguk kecil.
Namun dalam hatinya…
ia tahu akan sangat kehilangan sosok laki-laki itu.
“Makasih ya Dul…”
“Hm?”
“Udah jadi rumah waktu aku kehilangan arah.”
Kalimat itu membuat Abdul terdiam cukup lama.
Lalu ia tersenyum kecil.
“Kamu juga udah jadi adik paling nyebelin.”
“Enak aja.”
Mereka tertawa pelan bersama.
Namun beberapa detik kemudian…
mata Titik mulai berkaca-kaca.
“Aku takut kehilangan lagi…”
Suara itu lirih sekali.
Dan Abdul langsung mengusap kepalanya pelan.
“Kita cuma jauh.”
“Bukan hilang.”
Air mata Titik akhirnya jatuh.
“Kamu jangan pergi tanpa pamit ya…”
“Kali ini aku pamit.”
Jawaban itu langsung membuat Titik tersenyum sambil menangis.
Pagi harinya…
Abdul benar-benar pergi.
Dan saat bus mulai berjalan meninggalkan terminal…
Titik kembali merasakan rasa kosong yang dulu pernah datang saat Akang pergi.
Namun kali ini…
ia mencoba belajar ikhlas.
Tak lama setelah itu…
Titik pun memutuskan pulang kampung.
Untuk sementara menunggu pendaftaran kuliah.
Dan perjalanan pulang itu…
membawa begitu banyak kenangan memenuhi pikirannya.
Tentang Klaten.
Tentang Malioboro.
Tentang gunung.
Tentang sahabat-sahabatnya.
Dan tentang semua orang yang pernah singgah di hidupnya.
Saat sampai di kampung…
udara sore terasa begitu familiar.
Sawah masih sama.
Jalan kecil masih sama.
Dan suara anak-anak bermain masih terdengar seperti dulu.
Namun ada satu hal yang berbeda.
Kafid kini sudah benar-benar kembali tinggal di kampung.
Pertemuan mereka kali ini terasa jauh lebih tenang.
Tidak lagi canggung seperti dulu.
Tidak lagi penuh gengsi masa remaja.
Karena kini…
mereka sama-sama sudah lebih dewasa.
“Selamat datang kembali.”
Kafid tersenyum kecil saat melihat Titik di depan rumah.
“Kamu nggak kerja?”
“Libur.”
“Tumben.”
“Biar bisa lihat kamu.”
Titik langsung tersipu malu.
Mereka mulai sering bersama lagi.
Kadang jalan sore keliling kampung.
Kadang duduk di warung kopi.
Kadang membantu Bu Yati di rumah.
Dan perlahan…
hubungan mereka kembali tumbuh dengan cara yang jauh lebih sederhana.
Kini tidak ada lagi cinta posesif.
Tidak ada lagi drama berlebihan.
Dan tidak ada lagi rasa ingin saling memiliki secara egois.
Yang ada hanya dua orang…
yang pernah saling kehilangan dan kini kembali dipertemukan waktu.
Suatu malam…
mereka duduk di dekat lapangan kampung sambil melihat pertunjukan kuda lumping.
Tempat yang dulu pertama kali mempertemukan mereka.
“Kamu masih ingat?”
Kafid tersenyum kecil.
“Mana mungkin lupa.”
“Dulu kamu malu-malu banget.”
“Kamu juga.”
Titik tertawa kecil.
Dan malam itu…
rasanya seperti waktu kembali mundur bertahun-tahun lalu.
“Kita aneh ya.”
“Hm?”
“Udah muter ke mana-mana…”
“…ujung-ujungnya balik lagi.”
Kafid memandang Titik cukup lama sebelum menjawab—
“Karena rumah terbaik biasanya memang tempat pertama hati kita pulang.”
DEG.
Kalimat itu langsung membuat hati Titik hangat.
Angin malam bertiup pelan.
Suara gamelan terdengar samar.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
Titik merasa benar-benar tenang.
“Aku dulu marah sama kamu.”
“Karena pergi?”
Titik mengangguk kecil.
“Tapi sekarang aku ngerti…”
“Kita sama-sama masih terlalu muda waktu itu.”
Kafid tersenyum kecil.
“Makasih udah mau nerima aku lagi.”
Titik menatap langit malam cukup lama.
Lalu berkata pelan—
“Mungkin…”
“…cinta pertama memang nggak pernah benar-benar hilang.”
Kafid menggenggam tangan Titik perlahan.
Tidak erat.
Tidak memaksa.
Namun cukup hangat untuk membuat hati Titik yakin—
bahwa kali ini…
ia sudah menemukan tempat pulangnya kembali.
Dan malam itu…
di bawah langit kampung yang penuh bintang…
kisah mereka kembali dimulai.
Bukan lagi sebagai dua remaja labil yang penuh ego.
Tetapi sebagai dua hati…
yang akhirnya belajar bahwa cinta sejati bukan tentang mengekang.
Bukan tentang memiliki.
Melainkan tentang pulang…
kepada seseorang yang selalu membuat hati merasa tenang.
EPILOG
HARI BERJALAN
“Pada Akhirnya, Hidup Akan Membawa Kita Pulang Kepada Kenangan yang Paling Menguatkan”
Hari terus berjalan.
Waktu tidak pernah berhenti hanya karena seseorang sedang terluka.
Dan hidup…
tetap memaksa setiap manusia melangkah ke depan.
Setelah semua perjalanan panjang itu…
Titik akhirnya mulai memahami banyak hal tentang hidupnya sendiri.
Tentang cinta.
Tentang kehilangan.
Tentang perpisahan.
Dan tentang dirinya yang selama ini hanya ingin dicintai dengan sederhana.
Kampung kecil itu masih sama.
Sawah masih hijau.
Angin sore masih membawa aroma tanah yang menenangkan.
Dan suara anak-anak bermain masih terdengar setiap senja.
Namun Titik tahu…
dirinya sudah berubah.
Ia bukan lagi gadis SMP yang mudah menangis karena cinta pertama.
Bukan lagi remaja STM yang terjebak dalam cinta posesif dan luka batin.
Kini…
ia mulai belajar menjadi perempuan yang lebih kuat.
Kadang…
saat malam tiba dan suasana mulai sunyi…
Titik masih mengingat semua orang yang pernah hadir dalam hidupnya.
Nur.
Yang mengajarkan tentang cinta pertama dan kehilangan.
Tono.
Yang mencintainya terlalu dalam hingga lupa cara membebaskannya.
Toro.
Yang datang sebagai cinta paling tenang di masa mudanya.
Riyadi.
Yang diam-diam selalu menjaga tanpa pernah memaksa memiliki.
Dan Abdul…
sosok yang hadir seperti Akang yang pernah hilang.
Tentang Abdul…
Titik masih sering tersenyum sendiri saat mengingat laki-laki itu.
Tentang kopi sachet di depan kos.
Tentang omelan soal rokok.
Tentang gunung.
Tentang malam-malam panjang penuh curhat.
Dan tentang satu kalimat yang selalu diingat Titik—
“Kalau hidup aja kamu bisa lewatin, masa gunung kalah.”
Kalimat sederhana…
namun selalu berhasil membuat Titik bertahan setiap kali hidup terasa berat.
Kadang mereka masih saling berkirim surat.
Kadang hanya saling titip kabar lewat teman.
Namun hubungan itu tetap sama.
Hangat.
Tulus.
Dan tidak pernah berubah menjadi rumit.
Karena tidak semua hubungan harus menjadi cinta untuk terasa berarti.
Sedangkan Kafid…
perlahan benar-benar kembali menjadi bagian penting dalam hidup Titik.
Hubungan mereka kini jauh lebih dewasa.
Tidak lagi penuh cemburu kekanak-kanakan.
Tidak lagi dipenuhi drama seperti masa SMP dulu.
Kini mereka lebih banyak berjalan berdampingan.
Saling mendukung.
Dan belajar memahami satu sama lain.
Kadang mereka duduk bersama di pinggir sawah saat sore.
Kadang membantu Bu Yati di rumah.
Kadang sekadar berjalan kaki keliling kampung sambil membahas masa depan.
Hal-hal sederhana…
namun justru terasa paling membahagiakan.
Suatu malam…
Titik duduk sendirian di teras rumah.
Langit penuh bintang.
Angin malam bertiup lembut.
Dan suara jangkrik terdengar dari kejauhan.
Di tangannya…
masih ada boneka panda kecil cokelat pemberian Toro dulu.
Boneka itu masih disimpan rapi sampai sekarang.
Bukan karena masih cinta.
Namun karena itu bagian dari perjalanan hidupnya.
Bagian dari kenangan yang pernah membuatnya tumbuh.
Titik tersenyum kecil.
Lalu memandang langit panjang.
“Hidupku ternyata ramai sekali ya…”
gumamnya pelan.
Bu Yati yang keluar rumah tersenyum kecil melihat anaknya melamun.
“Mikir apa?”
“Mikir masa lalu.”
“Nyese l nggak?”
Titik diam sebentar.
Lalu perlahan menggeleng.
“Nggak.”
“Karena semua itu bikin Titik jadi sekarang.”
Bu Yati tersenyum hangat.
Lalu duduk di samping putrinya.
“Kamu sekarang lebih tenang.”
“Iya Bu…”
“Titik capek kalau harus hidup dalam drama terus.”
Mereka tertawa kecil bersama.
“Aku dulu pikir cinta itu harus selalu memiliki.”
Suara Titik pelan.
“Tapi ternyata…”
“…cinta juga bisa berarti mengikhlaskan.”
Bu Yati mengusap rambut anaknya lembut.
Dan malam itu terasa sangat damai.
Tak jauh dari rumah…
suara gamelan latihan kuda lumping terdengar samar.
Suara yang dulu menjadi awal pertemuannya dengan Kafid.
Suara yang dulu menjadi saksi cinta pertamanya tumbuh.
Dan kini…
menjadi pengingat bahwa hidup memang sering berputar dengan cara yang aneh.
Setinggi-tingginya merpati terbang…
akhirnya akan pulang juga.
Dan mungkin…
begitulah hati manusia.
Sejauh apa pun berjalan…
ia akan kembali mencari tempat paling nyaman untuk pulang.
Titik akhirnya sadar—
bahwa selama ini…
yang paling ia cari bukanlah cinta yang berlebihan.
Bukan cinta yang posesif.
Bukan juga cinta yang membuatnya dipuja seperti ratu.
Yang ia cari hanyalah seseorang…
yang mampu membuatnya merasa tenang tanpa harus kehilangan dirinya sendiri.
Dan ketenangan itu…
akhirnya ia temukan kembali pada cinta pertamanya.
Hari terus berjalan.
Musim terus berganti.
Dan hidup terus bergerak maju.
Namun semua kenangan tentang masa muda itu…
akan selalu hidup di hati Titik.
Tentang persahabatan.
Tentang gunung.
Tentang air mata.
Tentang rokok di balik senyum.
Tentang orang-orang yang datang dan pergi.
Dan tentang cinta lama…
yang akhirnya benar-benar bersemi kembali.
Karena pada akhirnya…
hidup bukan tentang siapa yang paling lama tinggal.
Tetapi tentang siapa yang tetap mampu membuat hati merasa pulang.
SELESAI
NOVEL ROMANSA REMAJA
DI UJUNG PERSIMPANGAN CINTA KU BERLABUH
CINTA LAMA BERSEMI KEMBALI
Oleh: Slamet Riyadi
DISCLAIMER
Novel ini merupakan karya fiksi yang terinspirasi dari kisah nyata tokoh “Titik”.
Seluruh tokoh, latar, nama tempat, peristiwa, serta konflik di dalam cerita telah mengalami pengembangan dramatik demi kepentingan sastra dan alur cerita.
Kemiripan nama, kejadian, maupun latar dengan kehidupan nyata merupakan unsur yang tidak disengaja.
Novel ini mengandung kisah tentang cinta remaja, persahabatan, kehilangan, pencarian jati diri, serta perjalanan batin seorang perempuan yang tumbuh di antara luka, kasih sayang, dan harapan.
Sebagian dialog menggunakan gaya bahasa remaja dan nuansa kampung tahun 1995-an demi memperkuat suasana cerita.
Selamat menikmati perjalanan hati Titik.
PROLOG
“MERPATI TAK PERNAH INGKAR JALAN PULANG”
Malam itu langit Pengandon tampak gelap.
Angin berhembus pelan melewati pepohonan bambu di belakang rumah kayu milik Bu Yati. Suara jangkrik terdengar bersahut-sahutan dari arah kebun. Di kejauhan samar-samar terdengar bunyi gamelan latihan kuda lumping dari lapangan kampung.
Titik duduk sendirian di depan jendela kamarnya.
Tatapannya kosong.
Di tangannya ada sebuah boneka panda kecil berwarna cokelat yang mulai kusam dimakan waktu.
Boneka itu sudah bertahun-tahun ia simpan.
Tak pernah dibuang.
Tak pernah hilang.
Sama seperti kenangan.
Perempuan itu tersenyum kecil, lalu menarik napas panjang.
“Kenapa hidupku selalu dipenuhi perpisahan…” bisiknya lirih.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Ingatannya perlahan kembali mundur… jauh ke masa ketika semuanya masih sederhana.
Masa ketika ia masih mengenakan seragam putih biru.
Masa ketika hatinya pertama kali mengenal cinta.
Dan semuanya bermula…
dari pertunjukan kuda lumping.
“Tik… Titiiik… ayo cepet! Nanti kita nggak kebagian tempat depan!”
Suara Indah memecah lamunan Titik.
Remaja perempuan berambut panjang dengan kucil ekor kuda itu buru-buru keluar rumah sambil memakai sandal.
“Iya… iya… cerewet banget sih kamu,” jawab Titik sambil terkekeh.
Di depan rumah sudah ada Herman dan Deni.
Herman langsung bersiul jahil.
“Wuihh… si paling cantik kampung akhirnya keluar juga.”
Titik melotot.
“Herman! Mulutmu itu ya!”
“Hahaha… salah sendiri cantik.”
Deni yang berdiri sambil membawa kacang rebus hanya menggeleng.
“Kalian ini tiap ketemu pasti ribut.”
Indah nyengir.
“Biar seru.”
Mereka berjalan bersama melewati jalan tanah kampung yang malam itu ramai oleh warga.
Anak-anak kecil berlarian membawa balon.
Pedagang cilok dan jagung bakar memenuhi pinggir jalan.
Lampu petromaks menggantung di sekitar lapangan membuat suasana terasa hangat.
Malam itu ada pertunjukan kuda lumping terbesar di Pengandon.
Dan malam itu pula…
hidup Titik berubah.
“Eh Tik, duduk sini!” teriak Indah sambil menarik tangan Titik.
Mereka duduk di barisan depan.
Suara gamelan mulai dimainkan.
“Wah rame banget ya,” gumam Titik sambil melihat sekeliling.
Tiba-tiba…
matanya berhenti pada seorang laki-laki di sisi lapangan.
Pemuda itu mengenakan jaket hitam lusuh.
Tubuhnya tinggi.
Kulitnya sawo matang.
Tatapannya tenang.
Dan entah kenapa…
mata mereka bertemu.
Deg.
Jantung Titik mendadak berdegup aneh.
“Kenapa Tik?” tanya Deni.
Titik buru-buru mengalihkan pandangan.
“Eh? Nggak… nggak apa-apa.”
Indah mengikuti arah mata Titik lalu terkekeh pelan.
“Oalah… ada yang salah tingkah.”
“Apa sih!”
“Itu lho anak yang pakai jaket hitam dari tadi lihat kamu.”
“Hush! Jangan ngawur!”
Namun diam-diam Titik kembali melirik.
Dan laki-laki itu… masih memandangnya.
Herman langsung menyikut pelan.
“Waduh… kayaknya ada yang jatuh cinta nih.”
“Apaan sih kalian!”
Pipi Titik mulai merah.
Ia bahkan tak mengerti kenapa jantungnya berdebar begitu keras.
Padahal mereka belum saling kenal.
Belum pernah bicara.
Bahkan belum tahu nama masing-masing.
Namun malam itu…
ada sesuatu yang terasa berbeda.
Pertunjukan kuda lumping berlangsung meriah.
Orang-orang bersorak saat para pemain mulai kesurupan.
Namun perhatian Titik tak lagi sepenuhnya ke pertunjukan.
Entah kenapa…
matanya terus mencari laki-laki itu.
Dan setiap kali ia melirik…
pemuda itu masih memandangnya.
Sampai akhirnya…
seorang anak kecil menabrak Titik dari belakang.
“Aduhh!”
“Eh maaf mbak!”
Titik hampir jatuh.
Namun tiba-tiba seseorang menahan lengannya.
Hangat.
Kuat.
Titik terdiam.
Saat menoleh…
ternyata laki-laki itu.
“Ati-ati,” ucapnya pelan.
Suara itu sederhana.
Tapi entah kenapa membuat dada Titik bergetar.
“Eh… iya…”
Untuk beberapa detik mereka saling diam.
Suara gamelan terasa menjauh.
Keramaian seolah menghilang.
Yang tersisa hanya tatapan mata mereka.
Lalu laki-laki itu tersenyum kecil.
“Kamu Titik ya?”
Titik kaget.
“Kok tahu?”
“Sering lihat.”
“Lihat di mana?”
“Di sekolah… sama di jalan kampung.”
Indah yang melihat dari jauh langsung menahan tawa.
“Herman… Herman… bener kan! Ada yang naksir Titik!”
Herman ngakak.
“Wah… malam ini seru.”
Titik makin salah tingkah.
“Eh… aku balik dulu ya.”
Namun sebelum pergi, laki-laki itu berkata pelan—
“Aku Nur.”
Nama itu…
langsung tertanam dalam hati Titik.
Malam semakin larut.
Namun sejak pertemuan itu…
hati Titik tak lagi sama.
Sesampainya di rumah, Bu Yati yang sedang melipat pakaian langsung heran melihat anaknya senyum-senyum sendiri.
“Kenapa kamu senyum begitu?”
“Hah? Nggak kok.”
“Jangan bohong sama ibu.”
Titik buru-buru masuk kamar.
Bu Yati tertawa kecil.
“Anak gadis…”
Di dalam kamar…
Titik rebahan sambil menatap langit-langit.
Nama itu terus terngiang di kepalanya.
Nur.
Sederhana.
Tapi hangat.
Titik memegang dadanya sendiri.
“Kenapa deg-degan begini sih…”
Ia memejamkan mata pelan.
Tanpa sadar…
malam itu menjadi awal dari perjalanan panjang hidupnya.
Perjalanan tentang cinta.
Tentang kehilangan.
Tentang persahabatan.
Tentang luka.
Dan tentang seseorang yang kelak akan membuatnya mengerti…
bahwa setinggi apa pun merpati terbang…
ia akan tetap pulang pada tempat yang paling menenangkan hatinya.
Dan Titik belum tahu…
bahwa malam kuda lumping itu…
adalah awal dari semua takdir yang akan mengubah hidupnya selamanya
BAB I
UJIAN AKHIR DAN PERTEMUAN PERTAMA
“Di Antara Lembar Soal dan Degup Hati yang Baru Tumbuh”
Pagi di Pengandon datang perlahan bersama kabut tipis yang turun dari arah persawahan.
Embun masih menggantung di ujung daun pisang ketika suara ayam jantan bersahutan dari belakang rumah warga. Jalan kampung yang biasanya sepi mulai ramai oleh anak-anak sekolah berseragam putih biru.
Hari itu bukan hari biasa.
Hari itu adalah hari pertama Ujian Akhir Nasional.
Dan bagi sebagian anak SMP di Pengandon, ujian terasa seperti penentu masa depan.
Namun bagi Titik…
pagi itu terasa berbeda.
Bukan karena ujian.
Bukan karena takut tidak lulus.
Melainkan karena satu nama yang semalaman terus mengganggu pikirannya.
Nur.
“TITIIIIK! CEPET BANGUN!”
Suara Bu Yati menggema dari dapur.
Titik yang masih meringkuk di bawah selimut langsung mengerang pelan.
“Iyaaa Bu…”
“Katanya ujian nasional! Ini malah tidur kayak kebo!”
Titik terkekeh kecil sambil bangun perlahan.
Sinar matahari masuk dari sela-sela jendela kayu kamarnya.
Ia duduk termenung beberapa detik.
Lalu tanpa sadar…
tersenyum sendiri.
Bu Yati yang tiba-tiba muncul di depan pintu langsung menyipitkan mata.
“Nah loh.”
Titik kaget.
“Apa Bu?”
“Kamu kenapa senyum-senyum sendiri dari tadi?”
“Mana ada.”
“Ada. Ibu lihat dari semalam.”
Titik buru-buru berdiri.
“Aduh Bu… Titik mandi dulu ya!”
“Heh! Jangan ngeles!”
Namun Titik sudah kabur sambil membawa handuk.
Bu Yati hanya menggeleng sambil tersenyum kecil.
“Kayaknya anakku mulai gede…”
Di kamar mandi sederhana berdinding papan itu, Titik menyiram wajahnya berkali-kali.
Namun anehnya…
bayangan Nur masih muncul di pikirannya.
Tatapan matanya.
Senyumnya.
Cara dia memegang lengan Titik semalam.
Dan suara pelannya—
“Aku Nur.”
Titik menutup wajahnya sendiri.
“Aduh kenapa sih aku…”
Ia malu sendiri.
Padahal baru kenal.
Bahkan belum benar-benar ngobrol banyak.
Tapi hatinya seperti sedang dipenuhi kupu-kupu kecil yang beterbangan ke mana-mana.
Setelah selesai bersiap, Titik keluar rumah memakai seragam putih biru yang sudah disetrika rapi oleh ibunya.
Rambut panjangnya diikat sederhana.
Bu Yati memandangi anak gadisnya beberapa detik.
“Cantik.”
Titik tersipu.
“Ah ibu…”
“Jangan lupa sarapan.”
“Iya.”
Bu Yati duduk di sampingnya sambil menuangkan teh hangat.
“Ujian jangan tegang.”
“Titik nggak tegang kok.”
“Yakin?”
“Iya.”
Bu Yati mengernyit.
“Tumben.”
Biasanya kalau ujian Titik paling ribut sendiri.
Namun pagi itu anaknya malah terlihat tenang.
Terlalu tenang.
Bu Yati menatap curiga.
“Kamu mikirin apa?”
“Hah? Nggak mikirin apa-apa.”
“Bohong.”
“Beneran!”
Bu Yati terkekeh kecil.
“Ibu juga dulu pernah muda.”
Titik langsung salah tingkah.
“Aduh Bu…”
Jalan menuju sekolah pagi itu dipenuhi anak-anak berseragam.
Sebagian sibuk menghafal rumus.
Sebagian lagi terlihat panik.
Namun berbeda dengan Titik.
Pikirannya malah melayang entah ke mana.
“TITIIIIK!”
Suara Indah dari belakang membuatnya menoleh.
Indah berlari kecil sambil membawa buku.
“Huft… capek…”
“Kamu kenapa lari?”
“Takut telat!”
Herman datang menyusul sambil tertawa.
“Padahal sekolah masih setengah jam lagi.”
“Diam kamu!”
Deni berjalan santai di belakang mereka.
Seperti biasa, wajahnya terlihat paling tenang.
“Belajar semalam?” tanya Deni.
Indah langsung mengeluh.
“Belajar sih belajar… masuk otak apa nggak itu urusan nanti.”
Herman ngakak.
“Dasar.”
Lalu Herman menoleh ke Titik.
“Kamu kok diem aja?”
“Iya nih,” sambung Indah sambil menyipitkan mata. “Dari tadi senyum-senyum sendiri.”
“Mana ada.”
“Adaaaa.”
Herman tiba-tiba mendekat.
“Jangan-jangan mikirin cowok jaket hitam.”
DEG.
Titik langsung melotot.
“HERMAN!”
“Hahahaha!”
Indah tertawa sampai memegang perut.
“Tuh kan bener!”
“Apaan sih kalian!”
Namun semakin Titik menyangkal…
pipi merahnya justru makin terlihat jelas.
Deni hanya menggeleng sambil tersenyum tipis.
“Baru pertama kali lihat Titik malu begitu.”
“DIAM KALIAN!”
Sekolah pagi itu ramai sekali.
Spanduk bertuliskan SELAMAT MENEMPUH UJIAN NASIONAL tergantung di depan gerbang.
Guru-guru berdiri mengawasi siswa yang masuk.
Beberapa murid tampak tegang.
Ada yang membaca buku sambil berjalan.
Ada yang komat-kamit menghafal rumus.
Namun suasana hati Titik benar-benar kacau.
Karena sesaat setelah ia memasuki halaman sekolah…
ia melihat Nur berdiri di dekat pohon mangga.
Sendirian.
Memakai seragam putih abu-abu.
Dan lagi-lagi…
laki-laki itu sedang memandangnya.
Jantung Titik langsung berdegup keras.
Indah yang sadar langsung nyengir lebar.
“Eh ada tuh.”
“Hush!”
Nur tersenyum kecil saat Titik lewat di depannya.
“Pagi.”
Suara itu sederhana.
Namun sukses membuat Titik salah tingkah.
“Eh… pagi…”
Herman langsung menepuk jidat dramatis.
“Waduh… tamat riwayat Titik.”
Indah cekikikan.
“Biasanya galak sekarang jinak.”
Titik ingin melempar sandal rasanya.
Namun sebelum ia sempat membalas, Nur kembali bicara.
“Semangat ujiannya ya.”
Titik mengangguk pelan.
“Iya… kamu juga, rajin bekajar di SMA.”
Untuk beberapa detik suasana terasa canggung.
Lalu Deni tiba-tiba menarik tangan Herman.
“Udah yuk masuk kelas.”
“Eh bentar—”
“Biar mereka ngobrol.”
Titik langsung panik.
“WOI DEN!”
Namun teman-temannya malah kabur sambil tertawa.
Kini tinggal Titik dan Nur berdiri berdua.
Dan Titik benar-benar tidak tahu harus bicara apa.
Nur mengusap belakang lehernya sendiri.
“Mereka rame ya.”
“Iya… emang gitu.”
“Kamu gugup ujian?”
Titik menggeleng.
“Nggak terlalu.”
“Pinter berarti.”
“Nggak juga.”
Nur tersenyum kecil lagi.
Dan senyum itu…
anehnya selalu membuat hati Titik hangat.
“Aku semalam nggak bisa tidur,” kata Nur tiba-tiba.
“Kenapa?”
“Mikirin pelajaran sekola, di SMA pelajarannya susah.”
“Oh…”
Nur menatap Titik beberapa detik.
“Dan…”
“Dan apa?”
“Mikirin kamu.”
DEG.
Dunia rasanya berhenti.
Titik sampai bengong beberapa detik.
“Apa?”
Nur malah tertawa kecil.
“Bercanda.”
Namun wajahnya justru terlihat serius.
Dan itu membuat Titik makin salah tingkah.
Bel masuk tiba-tiba berbunyi nyaring.
“Teeeeeettt!”
Titik spontan mundur sedikit.
“Aku masuk dulu!”
“Iya.”
“Dadah.”
“Semangat ya Titik.”
Ia kembali menyebut nama itu dengan lembut.
Dan tanpa sadar…
Titik tersenyum sepanjang berjalan menuju kelas.
Ujian dimulai.
Lembar soal dibagikan satu per satu.
Namun selama beberapa menit pertama…
Titik malah melamun.
Indah yang duduk di belakangnya sampai menyenggol kursinya pelan.
“Woi fokus!”
Titik buru-buru sadar.
“Iya!”
Namun pikirannya benar-benar kacau.
Setiap kali mencoba mengerjakan soal…
yang muncul malah wajah Nur.
“Ya Allah Titik…” batinnya.
Saat jam istirahat tiba, halaman sekolah langsung ramai.
Anak-anak sibuk membahas jawaban.
“Aduh nomor lima jawabannya apa sih?”
“Matematika bikin sakit kepala!”
“Tadi aku ngasal!”
Namun Titik justru sibuk mencari seseorang dengan matanya.
Dan saat ia melihat Nur duduk di bawah pohon mangga…
entah kenapa langkahnya langsung menuju ke sana.
Nur yang melihat Titik datang langsung tersenyum.
“Gimana ujiannya?”
“Lumayan.”
“Lumayan itu bisa atau nggak?”
“Ya bisa dikit.”
Nur tertawa kecil.
Titik baru sadar…
ternyata suara tawanya enak didengar.
Mereka mulai mengobrol ringan.
Tentang pelajaran.
Tentang guru galak.
Tentang cita-cita.
Dan tanpa terasa…
waktu berjalan begitu cepat.
Untuk pertama kalinya sejak lama…
Titik merasa nyaman berbicara dengan seseorang.
Nyaman yang sederhana.
Bukan karena dipaksa.
Bukan karena ingin dipuji.
Melainkan karena hatinya benar-benar tenang.
Dan sejak hari itu…
setiap pagi ujian nasional…
Titik mulai menunggu satu hal.
Bukan lembar soal.
Bukan bel sekolah.
Melainkan senyum seorang laki-laki bernama Nur.
Dan tanpa ia sadari…
cinta pertama itu mulai tumbuh perlahan di dalam hatinya.
BAB II
KUDA LUMPING DAN CINTA PERTAMA
“Saat Tatapan Menjadi Awal dari Segala Rasa”
Hari-hari ujian nasional terus berjalan.
Namun bagi Titik, sekolah kini terasa berbeda.
Ada alasan baru yang membuatnya semangat berangkat pagi.
Ada seseorang yang diam-diam selalu ingin ia temui.
Dan anehnya…
setiap kali melihat Nur, rasa gugup itu selalu datang lagi.
Seolah jantungnya belum pernah belajar tenang.
Pagi itu halaman sekolah masih basah oleh embun.
Beberapa siswa duduk bergerombol sambil membuka buku.
Sebagian lain sibuk membeli gorengan di kantin depan sekolah.
Titik berjalan bersama Indah dan Herman sambil membawa map ujian.
Namun baru beberapa langkah memasuki gerbang…
Indah langsung nyenggol lengan Titik.
“Eh.”
“Apa?”
“Itu.”
Titik mengikuti arah mata Indah.
Dan benar saja.
Nur sedang berdiri dekat parkiran sepeda sambil berbincang dengan teman lamanya .
Saat melihat Titik…
ia langsung tersenyum.
DEG.
“Pagi.”
Suara Nur terdengar hangat seperti biasa.
Titik berusaha terlihat santai.
“Pagi juga.”
Herman langsung pura-pura muntah.
“Uhuk… uhuk… manis banget.”
“HERMAN!”
Nur tertawa kecil.
“Teman-temanmu lucu.”
“Jangan didengerin.”
Indah nyengir jahil.
“Nur, Titik semalam belajar sambil senyum-senyum sendiri loh.”
“INDAH!”
Pipi Titik langsung merah.
Nur terlihat menahan tawa.
“Masa?”
“Bohong dia!”
“Hmm… tapi kayaknya bener.”
Titik menutup wajahnya sendiri.
“Aduh malu…”
Mereka semua tertawa.
Dan pagi itu…
untuk pertama kalinya Titik merasa begitu dekat dengan seseorang yang baru dikenalnya beberapa hari.
Sejak pertemuan malam kuda lumping itu, Nur mulai sering menunggu Titik di sekolah.
Kadang hanya untuk menyapa.
Kadang menemani saat istirahat.
Kadang sekadar berjalan pulang bersama sampai pertigaan kampung.
Sederhana.
Namun cukup membuat hati Titik berbunga-bunga.
Bahkan Indah sampai mulai bosan menggoda.
“Duh kalian tuh kayak drama radio.”
“Apaan sih!”
“Belum pacaran aja udah kayak perangko nempel terus.”
Nur tertawa kecil.
Sedangkan Titik malah makin malu.
Namun diam-diam…
ia bahagia.
Siang itu ujian selesai lebih cepat.
Langit Pengandom terlihat cerah.
Anak-anak sekolah ramai keluar gerbang.
“Ayo pulang!” seru Herman.
Namun baru saja mereka hendak pergi…
Nur mendekati Titik.
“Titik.”
“Hm?”
“Malam ini ada kuda lumping lagi.”
Titik menatapnya.
“Oh ya?”
“Iya.”
“Terus?”
Nur tampak sedikit gugup.
“Mau nonton bareng nggak?”
Indah langsung refleks memegang dada dramatis.
“YA AMPUN.”
Herman ngakak keras.
“Ditembak nih kayaknya!”
“DIAM KALIAN!”
Nur ikut tertawa malu.
“Gimana?”
Titik pura-pura berpikir beberapa detik.
“Hm…”
“Kalau nggak mau nggak apa-apa.”
“Siapa bilang nggak mau?”
Nur tampak lega.
“Berarti nanti malam aku jemput?”
DEG.
Kata-kata itu membuat Titik mendadak gugup lagi.
“Eh… iya.”
Indah langsung menarik Herman menjauh.
“Udah yuk kita pergi.”
“Loh kok ditinggal?”
“Biar romantis!”
“HERMANNN!”
Sepanjang perjalanan pulang…
Titik tidak berhenti tersenyum sendiri.
Bahkan saat sampai rumah, Bu Yati langsung sadar ada yang berbeda.
“Kamu kenapa?”
“Hah?”
“Kayak orang habis menang undian.”
“Nggak kok.”
Bu Yati menyipitkan mata.
“Jangan-jangan…”
“Aduh ibu lagi.”
“Siapa namanya?”
Titik langsung tersedak teh.
“BU!”
Bu Yati tertawa puas.
“Nah ketahuan.”
Titik kabur ke kamar sambil salah tingkah.
Namun di dalam kamar…
ia justru berdiri di depan cermin cukup lama.
Mencoba beberapa ikatan rambut.
Mengganti baju berkali-kali.
Lalu mendadak sadar sendiri.
“Ya Allah… aku kenapa sih…”
Ia menutup wajahnya dengan bantal sambil tertawa malu.
Ini pertama kalinya ia merasa seperti itu.
Dan ternyata…
jatuh cinta memang sebodoh itu.
Malam tiba.
Lapangan kampung kembali ramai.
Lampu petromaks menggantung di mana-mana.
Suara gamelan terdengar hingga ujung jalan.
Titik keluar rumah memakai baju lengan panjang warna biru muda.
Rambutnya dibiarkan terurai.
Saat Nur datang menjemput menggunakan sepeda motor tua milik kakaknya…
ia langsung terdiam beberapa detik.
“Kok diem?” tanya Titik gugup.
Nur tersenyum kecil.
“Kamu cantik.”
DEG.
Kalimat sederhana itu langsung membuat pipi Titik panas.
“Ah biasa aja.”
“Nggak.”
Suasana mendadak canggung.
Nur mengusap tengkuknya sendiri.
“Yuk?”
“Iya.”
Sepanjang perjalanan menuju lapangan…
angin malam berhembus pelan.
Titik duduk di belakang sambil memegang ujung jaketnya sedikit.
Dan anehnya…
ia merasa aman.
Nyaman.
Perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Di lapangan, suasana jauh lebih ramai dibanding malam sebelumnya.
Pedagang memenuhi pinggir jalan.
Anak-anak kecil berlarian.
Musik gamelan menggema keras.
Nur dan Titik duduk agak jauh dari keramaian.
“Aku suka suasana begini,” kata Titik pelan.
“Kenapa?”
“Ramai tapi hangat.”
Nur mengangguk.
“Aku juga.”
Mereka terdiam beberapa saat menikmati pertunjukan.
Lalu Nur tiba-tiba bertanya—
“Kamu nanti mau lanjut sekolah ke mana?”
Titik berpikir sejenak.
“Belum tahu.”
“Kalau aku mungkin kerja.”
“Kenapa nggak sekolah lagi?”
“Keadaan.”
Jawabannya singkat.
Namun Titik bisa merasakan ada sesuatu yang disembunyikan di balik nada suaranya.
“Maaf…”
“Nggak apa-apa.”
Nur tersenyum tipis.
“Aku tetap pengen punya hidup bagus kok.”
Titik menatapnya diam-diam.
Dan untuk pertama kali…
ia melihat sisi dewasa dari laki-laki itu.
Bukan hanya sosok yang membuatnya deg-degan.
Namun juga seseorang yang sedang berjuang dengan hidupnya.
Tiba-tiba seorang penjual lewat.
“Jagung bakar… jagung bakar…”
Nur langsung memanggil.
“Pak sini dua.”
“Eh nggak usah,” kata Titik cepat.
“Kenapa?”
“Nanti aku bayar sendiri.”
Nur tertawa kecil.
“Baru pertama kali jalan masa bayar sendiri.”
“Kan aku nggak enak.”
“Udah diem.”
Titik mendengus kecil.
“Maksa.”
“Biarin.”
Beberapa menit kemudian mereka makan jagung bakar sambil menonton pertunjukan.
Dan tanpa sadar…
obrolan mereka mulai mengalir begitu saja.
Tentang masa kecil.
Tentang keluarga.
Tentang cita-cita.
Tentang hal-hal kecil yang ternyata menyenangkan saat dibicarakan dengan orang yang tepat.
“Titik.”
“Hm?”
“Kamu pernah pacaran sebelumnya?”
Pertanyaan itu membuat Titik hampir tersedak.
“Belum!”
Nur tertawa.
“Kenapa kaget?”
“Ya nggak nyangka aja kamu nanya begitu.”
“Terus sekarang?”
“Sekarang apa?”
Nur menatapnya beberapa detik.
“Kalau ada yang suka sama kamu gimana?”
Jantung Titik mulai tidak tenang lagi.
“Hm… nggak tahu.”
“Kalau aku suka sama kamu?”
DEG.
Suara gamelan mendadak terasa jauh.
Angin malam terasa berhenti.
Titik menatap Nur tanpa berkedip.
Wajah laki-laki itu terlihat serius.
Tidak bercanda.
Dan entah kenapa…
hati Titik bergetar hebat.
“Aku…”
Ia bahkan tak tahu harus menjawab apa.
Nur tersenyum kecil.
“Nggak usah jawab sekarang.”
“Tapi…”
“Aku cuma mau kamu tahu.”
Tatapan matanya hangat.
Tulus.
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya dalam hidupnya…
Titik merasa menjadi perempuan paling istimewa di dunia.
Saat mereka pulang…
jalanan kampung sudah mulai sepi.
Langit dipenuhi bintang.
Dan sepanjang perjalanan…
senyum Titik tidak pernah hilang.
Sesampainya di depan rumah, Nur mematikan motornya pelan.
“Makasih ya.”
“Iya.”
“Kamu seneng?”
Titik mengangguk kecil.
“Seneng.”
Nur tersenyum puas.
“Berarti aku berhasil.”
“Berhasil apa?”
“Bikin kamu senyum terus.”
Titik menunduk malu.
Dan sebelum masuk rumah…
Nur berkata pelan—
“Selamat malam, Titik.”
Malam itu…
nama itu kembali disebut dengan begitu lembut.
Dan diam-diam…
hati Titik mulai jatuh semakin dalam.
Ia belum tahu ke mana semua ini akan berjalan.
Namun satu hal mulai ia sadari—
cinta pertama memang selalu datang dengan cara sederhana.
Dengan tatapan.
Dengan perhatian kecil.
Dan dengan seseorang yang perlahan membuat dunia terasa lebih indah dari sebelumnya.
BAB III
ANAK KARATE DAN API KECEMBURUAN
“Saat Persahabatan Mulai Dianggap Ancaman”
Hari-hari setelah malam kuda lumping itu berubah menjadi hari-hari paling indah dalam hidup Titik.
Setiap pagi terasa menyenangkan.
Sekolah tidak lagi membosankan.
Dan setiap malam sebelum tidur…
selalu ada satu nama yang muncul terakhir kali di pikirannya.
Nur.
Cinta pertama itu tumbuh begitu cepat.
Polos.
Hangat.
Dan sederhana seperti hujan sore di kampung kecil Pengandon.
“Tik… kamu tuh sekarang beda.”
Indah menopang dagunya sambil memperhatikan Titik yang sedang menulis sesuatu di buku kecilnya saat jam istirahat.
“Beda apanya?”
“Lebih sering senyum sendiri.”
Herman yang sedang makan gorengan langsung menimpali—
“Dan lebih cantik.”
“Najis lu,” sahut Deni datar.
Herman ngakak.
Titik hanya mendengus malu.
“Apaan sih kalian…”
Indah tiba-tiba merebut buku kecil milik Titik.
“Eh jangan!”
Namun terlambat.
Indah langsung membaca tulisan di halaman terakhir.
“N… U… R…”
“AAAAA INDAH BALIKIN!”
Satu kantin langsung ricuh.
Herman sampai tertawa terbahak-bahak sambil memukul meja.
“WADUH! Ternyata beneran kasmaran!”
Titik mengejar Indah sambil malu setengah mati.
“Balikin nggak!”
“Cieeeee…”
Deni hanya geleng-geleng kepala.
“Anak SMP memang begitu.”
Akhirnya buku itu berhasil direbut kembali.
Titik langsung memeluk bukunya sambil melotot kesal.
“Kalian nyebelin!”
Namun di balik rasa malu itu…
hatinya justru bahagia.
Karena untuk pertama kalinya…
ia benar-benar sedang jatuh cinta.
Hubungan Titik dan Nur semakin dekat.
Mereka mulai sering pulang bersama.
Kadang Nur datang ke depan sekolah hanya untuk mengajak membeli es.
Kadang mereka duduk di pinggir lapangan sekolah sambil mengobrol sampai sore.
Tidak ada yang berlebihan.
Namun cukup membuat semua teman mereka tahu—
bahwa mereka saling menyukai.
Dan Titik menikmati semua itu.
Sampai akhirnya…
masalah mulai datang perlahan.
Suatu sore sepulang sekolah…
Titik melewati lapangan kecil dekat balai desa.
Di sana beberapa anak laki-laki sedang latihan karate.
Suara teriakan dan hentakan kaki terdengar keras.
“HIYAAAA!”
Titik spontan berhenti.
Matanya langsung berbinar.
“Astaga… masih latihan ternyata.”
Salah satu dari mereka menoleh.
Lalu tersenyum lebar.
“EH TITIK!”
Titik langsung melambaikan tangan.
“AKANG!”
Pemuda bertubuh tinggi itu berjalan mendekat sambil membawa handuk di lehernya.
Namanya Akang.
Anak karate paling disegani di kampung.
Namun sifatnya justru lembut dan penyabar.
Sudah sejak kecil ia mengenal Titik.
Bahkan Bu Yati sering meminta Akang menjaga Titik kalau sedang bermain jauh.
“Baru pulang sekolah?” tanya Akang.
“Iya.”
“Ujian gimana?”
“Lumayan.”
Akang tertawa kecil lalu mengacak rambut Titik.
“Pinter dong.”
“Heh! Rambutku!”
Dari belakang muncul dua anak karate lain.
Azis dan Karwan.
Azis terkenal usil.
Sedangkan Karwan paling humoris.
“Waduh… ada ratu kampung datang.”
“Tuh kan Akang langsung semangat latihan.”
Titik langsung melempar daun ke arah mereka.
“Berisik!”
Mereka semua tertawa.
Dan sore itu…
Titik duduk menonton latihan karate sampai menjelang magrib.
Seperti dulu.
Seperti masa kecilnya.
Tanpa ia sadari…
seseorang sedang melihat dari kejauhan.
Nur.
Malam harinya Nur terlihat berbeda.
Biasanya ia banyak bicara.
Namun malam itu ia lebih sering diam.
Mereka duduk di depan warung kecil sambil minum es teh.
“Ada apa?” tanya Titik.
“Hmm?”
“Kamu kok diem.”
“Nggak apa-apa.”
Titik menyipitkan mata.
“Bohong.”
Nur menghela napas pelan.
“Tadi sore kamu sama anak-anak karate ya?”
“Oh.”
Titik tersenyum santai.
“Iya.”
“Dekat banget kayaknya.”
“Mereka teman dari kecil.”
Nur terdiam beberapa detik.
“Yang namanya Akang itu siapa?”
“Kakak angkatku.”
“Bener cuma kakak?”
Pertanyaan itu membuat Titik langsung menoleh.
“Kamu kenapa sih?”
“Ya nanya aja.”
“Nggak usah aneh-aneh deh.”
Nur menatap meja.
“Aku nggak suka lihat mereka terlalu dekat sama kamu.”
DEG.
Kalimat itu membuat suasana berubah.
Titik mulai merasa tidak nyaman.
“Mereka temanku.”
“Tapi cowok semua.”
“Memangnya kenapa?”
Nur menghela napas panjang.
“Aku cuma nggak enak lihatnya.”
Titik mulai kesal.
“Nur, aku dari dulu memang berteman sama mereka.”
“Iya tapi sekarang beda.”
“Beda apanya?”
“Kamu udah dekat sama aku.”
Titik langsung diam.
Untuk pertama kalinya…
ia melihat sisi lain dari Nur.
Sisi yang penuh cemburu.
“Kamu nggak percaya sama aku?”
Nur buru-buru menggeleng.
“Bukan begitu.”
“Terus?”
“Aku cuma takut kehilangan.”
Jawaban itu membuat Titik sedikit luluh.
Namun tetap saja…
ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
“Aku nggak suka kalau dilarang berteman.”
“Aku nggak melarang.”
“Tapi nada bicaramu kayak melarang.”
Nur memijat pelipisnya pelan.
“Maaf…”
Mereka sama-sama diam beberapa saat.
Angin malam berhembus pelan.
Suara jangkrik terdengar dari sawah.
Dan entah kenapa…
malam itu terasa berbeda.
Tidak sehangat biasanya.
Beberapa hari kemudian…
Titik kembali ikut latihan karate.
Namun kali ini Nur datang tiba-tiba.
“Tik.”
Titik menoleh.
“Eh kamu.”
Nur berdiri sambil memasukkan tangan ke saku celana.
Tatapannya langsung tertuju pada Akang yang sedang membantu membetulkan posisi kuda-kuda Titik.
“Nur!” sapa Akang ramah.
Namun Nur hanya mengangguk kecil.
Azis yang sadar suasana mulai tidak enak langsung berbisik pada Karwan—
“Waduh… perang dingin.”
Karwan menahan tawa.
Titik mendekati Nur.
“Kamu kenapa datang?”
“Nyari kamu.”
“Oh.”
Nur melirik Akang lagi.
“Kamu pulang sekarang?”
“Latihannya belum selesai.”
“Masih lama?”
“Ya mungkin.”
Nur terlihat tidak suka.
Namun ia berusaha menahan diri.
“Aku tunggu.”
Akhirnya Nur duduk di pinggir lapangan.
Namun sepanjang latihan…
raut wajahnya jelas tidak nyaman.
Dan Titik mulai merasakan tekanan kecil yang aneh.
Setelah latihan selesai, Akang menghampiri mereka.
“Mau pulang?”
“Iya,” jawab Titik.
Akang tersenyum pada Nur.
“Titip Titik ya.”
Nur hanya menjawab singkat.
“Hm.”
Saat berjalan pulang…
Titik akhirnya berhenti di tengah jalan.
“Kamu marah?”
“Nggak.”
“Bohong lagi.”
Nur diam.
“Kamu nggak suka aku sama mereka?”
Nur akhirnya menjawab pelan—
“Aku nggak suka mereka terlalu dekat sama kamu.”
“Mereka sahabatku.”
“Aku tahu.”
“Terus kenapa?”
Nur menatap Titik cukup lama.
Karena…”
ia menggantung kalimatnya.
“Karena apa?”
“Aku takut suatu hari kamu lebih nyaman sama mereka daripada sama aku.”
Titik langsung terdiam.
Untuk sesaat…
ia bisa merasakan ketulusan rasa takut itu.
Namun di sisi lain…
ia mulai merasa kebebasannya perlahan dipersempit.
Dan itulah pertama kalinya Titik sadar—
bahwa cinta…
kadang bisa berubah menjadi rasa memiliki yang menyesakkan.
Malam itu sebelum tidur…
Titik duduk di dekat jendela kamarnya.
Angin malam masuk perlahan.
Pikirannya kacau.
Di satu sisi ia menyayangi Nur.
Namun di sisi lain…
ia tidak ingin kehilangan teman-temannya.
Tidak ingin berubah hanya karena cinta.
Titik memeluk lututnya sendiri.
“Kenapa cinta jadi ribet begini sih…”
Di luar rumah…
langit malam terlihat tenang.
Namun Titik belum tahu—
bahwa kecemburuan kecil itu…
nantinya akan menjadi awal dari perpisahan panjang yang meninggalkan luka paling dalam di hidupnya.
BAB IV
KEPERGIAN TANPA PAMIT
“Saat Hati Ditinggalkan Sebelum Sempat Mengerti”
Hari-hari di Pengandon mulai berubah pelan.
Awalnya hanya kecemburuan kecil.
Tatapan tidak suka.
Nada bicara yang berbeda.
Lalu perlahan berubah menjadi pertengkaran kecil yang semakin sering terjadi antara Titik dan Nur.
Dan yang paling membuat Titik sedih…
Nur bukan lagi laki-laki yang selalu tersenyum hangat seperti pertama kali mereka bertemu.
Kini ia lebih sering diam.
Lebih mudah cemburu.
Dan lebih sering marah karena hal-hal sederhana.
Sore itu langit mendung.
Titik duduk di pinggir lapangan sambil memperhatikan anak-anak karate latihan.
Azis sedang bercanda dengan Karwan sampai membuat semua tertawa.
Sedangkan Akang duduk di dekat Titik sambil minum air mineral.
“Kamu kenapa murung?” tanya Akang pelan.
Titik menghela napas panjang.
“Nggak apa-apa.”
“Kamu kalau bohong gampang ketahuan.”
Titik tersenyum kecil.
“Nur marah lagi.”
Akang diam beberapa detik.
“Karena kami?”
Titik menunduk pelan.
“Dia nggak suka aku sering di sini.”
Akang mengusap tengkuknya sendiri.
“Sebenarnya Nur sayang sama kamu.”
“Tapi kenapa rasanya aku kayak dikekang…”
Akang tidak langsung menjawab.
Tatapannya lurus ke lapangan.
“Kadang orang terlalu takut kehilangan.”
“Tapi aku nggak suka dicurigai terus.”
“Kamu udah ngomong baik-baik?”
“Udah… tapi tetap aja.”
Akang menatap Titik lalu tersenyum tipis.
“Kamu jangan berubah jadi orang lain cuma karena cinta.”
Kalimat itu membuat Titik terdiam.
Karena jauh di dalam hati…
ia merasa benar.
Malam harinya Nur datang ke rumah.
Namun wajahnya terlihat dingin.
Bu Yati yang melihat langsung menyapa ramah.
“Masuk Nur.”
“Iya Bu.”
Titik keluar dari kamar sambil membawa dua gelas teh.
Namun suasana terasa canggung.
Tidak seperti biasanya.
Nur duduk diam cukup lama sebelum akhirnya berkata—
“Kamu tadi ke lapangan lagi?”
Titik menghela napas pelan.
“Iya.”
“Kamu nggak capek?”
“Maksudnya?”
“Dekat terus sama mereka.”
Titik mulai kesal.
“Mereka temanku.”
Nur tertawa hambar.
“Teman apa penjaga?”
“NUR.”
“Aku serius.”
Titik meletakkan gelas sedikit keras di meja.
“Kamu tuh kenapa sih sekarang?”
Nur ikut terpancing emosi.
“Aku cuma nggak suka lihat cowok lain dekat sama kamu!”
“Mereka bukan siapa-siapa!”
“Tapi mereka selalu ada di sekitar kamu!”
“Ya karena mereka teman!”
Suasana langsung hening.
Bu Yati yang mendengar dari dapur hanya bisa saling pandang dengan dirinya sendiri.
Nur berdiri tiba-tiba.
“Udah lah.”
“Mau ke mana?”
“Pulang.”
“Kita belum selesai ngomong.”
Nur menatap Titik dengan mata kecewa.
“Percuma.”
“NUR!”
Namun laki-laki itu langsung pergi keluar rumah.
Titik mengejarnya sampai halaman.
“Haiii… dengerin dulu!”
Nur berhenti sebentar.
Namun tidak menoleh.
“Aku capek Tik…”
Suara itu terdengar lirih.
“Aku takut suatu hari kamu ninggalin aku.”
Titik langsung terdiam.
Hatinya mendadak nyeri.
“Aku nggak pernah mau ninggalin kamu…”
Nur tersenyum pahit.
“Tapi aku merasa kamu nggak pernah benar-benar milih aku.”
Setelah mengatakan itu…
ia pergi.
Meninggalkan Titik berdiri sendirian di depan rumah.
Malam terasa begitu sunyi.
Dan untuk pertama kalinya…
Titik menangis karena cinta.
Hari-hari berikutnya hubungan mereka semakin renggang.
Nur mulai jarang datang.
Jarang menyapa.
Di sekolah pun mereka jarang ketemu dan lebih sering diam.
Indah sampai bingung melihat perubahan itu.
“Kalian berantem?”
Titik hanya mengaduk mie bakso tanpa semangat.
“Nggak tahu.”
“Loh kok nggak tahu?”
“Habis capek.”
Herman yang biasanya bercanda pun kali ini ikut diam.
Deni menatap Titik beberapa detik.
“Kamu sayang sama dia?”
Titik mengangguk pelan.
“Terus kenapa nggak diperbaiki?”
Titik tersenyum sedih.
“Kadang… kita sayang sama seseorang tapi malah saling nyakitin.”
Semua langsung diam.
Tidak ada yang tahu harus menjawab apa.
Suatu sore…
Titik berangkat ke lapangan karate lagi.
Namun kali ini suasananya terasa berbeda.
Azis menghampirinya sambil terlihat ragu.
“Tik…”
“Hm?”
“Kamu belum tahu?”
“Tahu apa?”
Azis saling pandang dengan Karwan.
Lalu Akang berjalan mendekat dengan wajah serius.
“Nur mau pergi.”
DEG.
Dunia seperti berhenti.
“Maksudnya?”
“Katanya mau merantau ke Jakarta.”
Titik langsung berdiri.
“Apa?”
Akang mengangguk pelan.
“Berangkatnya mungkin minggu ini.”
Titik merasa dadanya sesak mendadak.
“Nggak mungkin…”
“Kami juga baru tahu.”
Tanpa sadar mata Titik mulai berkaca-kaca.
“Dia nggak bilang apa-apa ke aku…”
Malam itu Titik berjalan cepat menuju rumah Nur.
Langit gelap.
Angin malam terasa dingin.
Dadanya dipenuhi rasa takut yang aneh.
Saat sampai di depan rumah…
ia melihat beberapa tas sudah tergeletak di ruang tamu.
Dan Nur sedang membantu ibunya membereskan barang.
Titik berdiri terpaku di depan pintu.
Nur menoleh.
Dan wajahnya langsung berubah kaget.
“Titik…”
“Kamu mau pergi?”
Suasana langsung hening.
Ibunya Nur perlahan masuk ke dalam rumah memberi mereka ruang bicara.
Titik menatap Nur dengan mata bergetar.
“Kenapa aku nggak dikasih tahu?”
Nur menunduk pelan.
“Aku belum sempat.”
“Belum sempat atau memang nggak mau bilang?”
Nur diam.
Dan diam itu…
justru paling menyakitkan.
Air mata Titik mulai jatuh perlahan.
“Kamu tega banget…”
“Aku pergi buat kerja Tik.”
“Terus aku?”
Nur memejamkan mata sebentar.
“Aku juga bingung.”
“Kita belum selesai…”
“Aku tahu.”
“Terus kenapa pergi?”
Nur akhirnya menatap Titik.
Tatapannya penuh luka.
“Karena aku capek cemburu terus.”
Kalimat itu menghantam hati Titik.
“Aku nggak pernah selingkuh…”
“Aku tahu.”
“Terus?”
“Tapi aku takut kehilangan kamu.”
“Tapi kamu malah pergi…”
Suara Titik mulai pecah.
Dan itu membuat Nur terlihat semakin hancur.
“Aku cuma pengen hidup lebih baik,” ucap Nur lirih.
“Aku nggak mau selamanya jadi anak kampung yang nggak punya apa-apa.”
Titik menangis makin keras.
“Aku nggak pernah peduli soal itu…”
“Tapi aku peduli.”
Mereka sama-sama diam.
Tangis Titik pecah di depan rumah itu.
Dan untuk pertama kalinya…
Nur terlihat benar-benar tidak berdaya.
Ia mendekat perlahan.
Lalu mengusap air mata Titik dengan tangan gemetar.
“Maafin aku…”
“Jangan pergi…”
Suara itu begitu kecil.
Begitu rapuh.
Namun Nur hanya tersenyum sedih.
“Aku harus pergi.”
“Kalau kamu pergi… nanti aku gimana…”
Nur menunduk.
Dan kalimat berikutnya keluar begitu pelan—
“Jangan nunggu aku.”
Hati Titik langsung runtuh.
Pagi keberangkatan Nur datang terlalu cepat.
Titik tidak datang mengantar.
Ia hanya mengurung diri di kamar sambil menangis.
Di luar rumah terdengar suara mobil travel melintas.
Dan entah kenapa…
hati Titik merasa ada sesuatu yang benar-benar hilang.
Bu Yati masuk perlahan ke kamar.
“Titik…”
Titik memeluk bantal sambil menangis sesenggukan.
“Dia pergi Bu…”
Bu Yati duduk di samping anaknya lalu mengusap rambutnya perlahan.
“Kadang hidup memang begitu.”
“Tapi sakit…”
“Iya.”
“Titik nggak siap…”
Bu Yati memeluk anak gadisnya erat.
Dan pagi itu…
untuk pertama kalinya Titik merasakan arti kehilangan yang sesungguhnya.
Bukan karena putus cinta.
Bukan karena pertengkaran.
Namun karena seseorang pergi…
tanpa meninggalkan kepastian akan kembali.
Hari-hari setelah kepergian Nur terasa kosong.
Lapangan kuda lumping kini hanya menyisakan kenangan.
Jalan kampung terasa sepi.
Dan setiap sudut Pengandom…
selalu mengingatkan Titik pada laki-laki itu.
Tentang tatapan pertama.
Tentang jagung bakar.
Tentang malam-malam sederhana yang dulu terasa indah.
Kini semuanya berubah menjadi rindu.
Dan Titik belum tahu…
bahwa kepergian Nur hanyalah awal dari banyak kehilangan lain yang akan datang dalam hidupnya.
BAB V
AKANG, KAKAK YANG MENENANGKAN LUKA
“Ketika Kehilangan Membuat Seseorang Datang Menjadi Tempat Bersandar”
Hari-hari setelah kepergian Nur berubah menjadi hari paling sepi dalam hidup Titik.
Ia tidak lagi seramai dulu.
Tidak lagi suka bercanda berlebihan bersama Indah dan Herman.
Tidak lagi semangat pergi ke sekolah.
Bahkan senyumnya perlahan mulai menghilang.
Dan yang paling menyedihkan…
Nur benar-benar pergi tanpa kabar.
Tidak ada surat.
Tidak ada telepon.
Tidak ada pesan titipan.
Seolah laki-laki itu benar-benar menghilang begitu saja dari hidupnya.
Pagi itu hujan turun sejak subuh.
Atap seng rumah Bu Yati berbunyi berisik terkena air hujan.
Titik masih duduk termenung di dekat jendela sambil memeluk lutut.
Tatapannya kosong.
Di meja kecil dekat tempat tidurnya masih tersimpan tiket pertunjukan kuda lumping yang dulu ia simpan diam-diam.
Dan kini benda kecil itu justru menjadi sumber rasa sakit.
Bu Yati masuk membawa teh hangat.
“Kamu belum siap sekolah?”
“Males Bu…”
“Jangan begitu.”
Titik diam.
Bu Yati duduk di sampingnya perlahan.
“Kamu masih mikirin Nur?”
Air mata Titik langsung jatuh lagi.
“Aku nggak ngerti Bu… kenapa dia pergi gitu aja…”
Bu Yati mengusap rambut anaknya lembut.
“Kadang laki-laki pergi bukan karena nggak sayang.”
“Terus kenapa nggak bilang baik-baik…”
“Mungkin dia juga bingung.”
Titik menggigit bibirnya sendiri menahan tangis.
“Aku kangen…”
Suara itu lirih sekali.
Dan Bu Yati bisa merasakan betapa hancurnya hati anak gadisnya.
Sejak Nur pergi…
Titik jadi lebih sering menyendiri.
Sepulang sekolah ia jarang bermain.
Lebih sering diam di rumah.
Bahkan Indah mulai khawatir.
“Tik… kamu jangan kayak orang kehilangan jiwa gitu.”
Titik hanya tersenyum hambar.
“Aku nggak apa-apa.”
“Bohong.”
Herman ikut duduk di samping mereka di kantin.
“Kamu sekarang serem tau.”
“Serem kenapa?”
“Diem terus.”
Biasanya Titik paling ribut.
Paling heboh.
Paling susah diam.
Namun kini semuanya berubah.
Dan teman-temannya bisa melihat jelas—
ada sesuatu yang patah di dalam dirinya.
Sore itu Titik berjalan sendirian melewati lapangan karate.
Suara hentakan kaki dan teriakan latihan terdengar seperti biasa.
Namun kali ini ia hanya berdiri di pinggir pagar sambil memandang kosong.
Akang yang sedang latihan langsung sadar.
“Eh… Titik.”
Ia berjalan mendekat sambil membawa handuk kecil.
“Kok sendirian?”
Titik tersenyum tipis.
“Iya.”
Akang memperhatikan wajahnya beberapa detik.
“Kamu habis nangis?”
“Nggak.”
“Kamu kalau bohong jelek.”
Titik tertawa kecil untuk pertama kali setelah sekian lama.
Namun tawanya terdengar lemah.
Akang menatapnya pelan.
“Masih mikirin Nur?”
Pertanyaan itu membuat mata Titik langsung berkaca-kaca lagi.
“Aku tuh sebodoh itu ya Kang…”
Akang mengernyit.
“Kenapa ngomong begitu?”
“Dia pergi gitu aja tapi aku masih mikirin dia terus.”
Akang terdiam cukup lama.
Lalu duduk di samping Titik.
“Karena kamu sayang.”
“Tapi sakit…”
“Iya.”
“Aku capek nangis terus.”
Angin sore berhembus pelan.
Langit mulai berubah jingga.
Akang memandang lapangan beberapa detik sebelum akhirnya berkata—
“Kamu tahu kenapa orang kuat itu kelihatan tenang?”
Titik menggeleng pelan.
“Karena mereka belajar menerima rasa sakit.”
Titik menunduk.
“Kalau aku belum bisa gimana…”
Akang tersenyum kecil.
“Ya pelan-pelan.”
Hari itu Akang menemani Titik duduk sampai magrib.
Mereka mengobrol banyak hal.
Tentang sekolah.
Tentang cita-cita.
Tentang masa kecil Titik yang dulu suka jatuh dari sepeda.
Dan untuk pertama kalinya sejak Nur pergi…
Titik bisa tertawa lagi.
Walaupun belum sepenuhnya bahagia.
Malam harinya Bu Yati sedang menjemur pakaian di belakang rumah ketika Akang datang.
“Assalamualaikum Bu.”
“Waalaikumsalam.”
Bu Yati tersenyum ramah.
“Masuk Kang.”
Akang duduk di kursi kayu depan rumah.
Bu Yati menuangkan teh hangat.
“Kamu habis latihan?”
“Iya Bu.”
Bu Yati menghela napas pelan.
“Titik tadi ketawa lagi.”
Akang tersenyum kecil.
“Syukur.”
“Dia dari kemarin sedih terus.”
“Saya tahu.”
Bu Yati menatap Akang beberapa detik.
“Kang…”
“Iya Bu?”
“Tolong jagain Titik ya.”
Akang sedikit kaget.
“Maksud ibu?”
“Dia keras kepala… tapi hatinya lembut.”
Akang diam mendengarkan.
“Saya takut dia terlalu larut sedih.”
Akang mengangguk pelan.
“Iya Bu.”
Bu Yati tersenyum tipis.
“Anggap aja dia adikmu sendiri.”
Dan sejak malam itu…
hubungan mereka perlahan berubah.
Bukan sekadar teman lama.
Namun menjadi kakak dan adik yang saling menjaga.
Hari-hari berikutnya Akang mulai sering menemani Titik.
Kadang mengantar pulang sekolah.
Kadang membantu mengerjakan tugas.
Kadang sekadar duduk mendengarkan Titik bercerita.
Dan anehnya…
bersama Akang, Titik merasa tenang.
Tidak ada rasa takut.
Tidak ada kecemburuan.
Tidak ada tekanan.
Hanya rasa nyaman.
Suatu sore mereka duduk di bawah pohon dekat lapangan.
Titik sedang makan cilok sambil melihat anak-anak kecil bermain bola.
“Kang.”
“Hm?”
“Kalau suatu hari Nur balik… menurut Akang gimana?”
Akang tersenyum tipis.
“Kamu masih nunggu dia?”
Titik terdiam sebentar.
“Aku nggak tahu.”
“Kalau menurutku…”
“Apa?”
“Kalau dia memang sayang, dia pasti balik.”
“Tapi kalau nggak balik?”
Akang menatap langit sore.
“Berarti Tuhan nyiapin orang lain yang lebih baik.”
Titik tertawa kecil.
“Kok bijak banget.”
“Ya iyalah.”
“Padahal juara karate.”
Akang ikut tertawa.
“Emang juara karate nggak boleh bijak?”
“Kirain kerjanya mukul orang.”
“Eh aku mukul juga kok.”
Titik spontan menjauh pura-pura takut.
“Hii serem.”
Akang tertawa keras.
Dan suara tawa itu…
perlahan mengisi ruang kosong di hati Titik.
Sejak ada Akang…
hidup Titik mulai membaik.
Ia kembali sering tersenyum.
Kembali bercanda dengan teman-temannya.
Walaupun luka karena Nur belum benar-benar hilang.
Namun setidaknya…
ia tidak lagi merasa sendirian.
Dan tanpa Titik sadari…
Akang diam-diam menjadi sosok paling penting dalam hidupnya setelah kepergian Nur.
Seseorang yang selalu ada saat ia menangis.
Seseorang yang mendengarkan tanpa menghakimi.
Seseorang yang membuatnya merasa aman.
Seperti rumah.
Namun hidup tidak pernah benar-benar membiarkan seseorang tenang terlalu lama.
Karena di saat Titik mulai kembali berdiri…
takdir diam-diam sudah menyiapkan kehilangan berikutnya.
Dan kali ini…
luka itu akan jauh lebih dalam dibanding sebelumnya.
BAB VI
PERPISAHAN KEDUA
“Orang yang Membuatku Kuat, Kini Pergi Tanpa Suara”
Waktu berjalan pelan di Pengandon.
Musim hujan mulai berganti panas.
Jalan-jalan tanah yang dulu becek kini kembali berdebu saat siang hari.
Dan perlahan…
kehidupan Titik mulai terlihat normal lagi.
Ia kembali tertawa.
Kembali bercanda bersama teman-teman karatenya.
Dan semua itu terjadi karena satu orang—
Akang.
Hampir setiap waktu latihan Titik selalu datang ke lapangan karate.
Kadang hanya duduk melihat, kadang ikut latihan.
Kadang membantu membawakan air minum.
Kadang sekadar mengganggu Akang saat serius melatih adik-adik junior.
“Heh fokus!”
Akang menahan tawa saat Titik sengaja menghalangi pandangannya.
“Biarin.”
“Nanti mereka salah gerakan.”
“Kan ada pelatih lain.”
Azis langsung nyeletuk dari belakang—
“Kalau ada Titik mah Akang nggak fokus latihan.”
“Hahaha bener!”
Karwan ikut tertawa keras.
Akang melempar handuk ke arah mereka.
“Berisik!”
Titik malah cekikikan puas.
Dan sore-sore seperti itu perlahan menjadi kebiasaan yang menyenangkan.
Akang memang berbeda.
Ia tidak pernah memaksa.
Tidak pernah mengekang.
Tidak pernah marah berlebihan.
Kalau Titik sedih, ia mendengarkan.
Kalau Titik marah, ia menenangkan.
Kalau Titik menangis, ia membiarkan sampai hatinya lega.
Dan mungkin karena itulah…
Titik merasa sangat nyaman bersamanya.
Bahkan kadang lebih nyaman dibanding saat bersama Nur dulu.
Namun hubungan mereka tetap sederhana.
Seperti kakak dan adik.
Dan Bu Yati menyukai itu.
Suatu malam Titik sedang membantu ibunya melipat pakaian di ruang tengah.
“Kamu sekarang sering ketawa lagi.”
Titik tersenyum kecil.
“Kan bagus.”
Bu Yati mengangguk pelan.
“Akang anak baik.”
“Iya.”
“Dia perhatian sama kamu.”
Titik mengangguk lagi.
“Kalau ada dia… Titik nggak terlalu sepi.”
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun entah kenapa membuat Bu Yati ikut terdiam beberapa detik.
Ia tahu…
anaknya terlalu sering kehilangan.
Dan Akang menjadi satu-satunya orang yang berhasil membuat Titik bangkit lagi.
Namun kebahagiaan kecil itu ternyata tidak berlangsung lama.
Sore itu langit terlihat mendung.
Angin bertiup lebih dingin dari biasanya.
Titik datang ke lapangan karate seperti biasa.
Namun suasananya terasa aneh.
Azis tidak banyak bercanda.
Karwan terlihat diam.
Sedangkan Akang duduk sendiri di pinggir lapangan sambil memandang kosong ke arah jalan.
Titik langsung menghampiri.
“Kang.”
Akang menoleh lalu tersenyum kecil.
“Eh.”
“Kok diem?”
“Nggak apa-apa.”
Titik duduk di sampingnya.
“Kamu kalau bohong gampang ketahuan.”
Akang tertawa pelan.
“Bawaannya kalimatku terus.”
“Biar keren.”
Mereka sama-sama diam beberapa detik.
Lalu Akang berkata pelan—
“Titik…”
“Hm?”
“Aku mungkin bakal pergi.”
DEG.
Jantung Titik langsung terasa jatuh.
“Maksudnya?”
“Aku dapat kerja di Tangerang.”
Titik langsung menatapnya tidak percaya.
“Kapan?”
“Mungkin minggu depan.”
“Cepat banget…”
Akang mengangguk pelan.
“Tadinya aku juga nggak nyangka.”
Titik mendadak diam.
Dadanya terasa sesak lagi.
Perasaan itu…
perasaan kehilangan itu…
kembali datang.
“Kamu serius pergi?”
“Iya.”
“Terus latihan karate?”
“Diserahin ke senior lain.”
“Terus…”
Titik menggantung kalimatnya.
Terus aku gimana?
Namun kalimat itu tidak keluar.
Akang tersenyum kecil.
“Kamu sedih?”
Pertanyaan itu justru membuat mata Titik mulai panas.
“Nggak tahu…”
Akang mengusap kepala Titik pelan.
“Jangan nangis.”
“Aku capek ditinggal orang terus…”
Suara Titik mulai bergetar.
Dan kalimat itu langsung membuat Akang terdiam.
Angin sore berhembus pelan melewati lapangan.
Suasana mendadak sunyi.
“Aku pergi buat masa depan,” ucap Akang lirih.
“Tapi kenapa semua orang selalu pergi…”
Titik akhirnya menangis juga.
Dan seperti biasa…
Akang hanya diam menemani.
Tidak banyak bicara.
Tidak sok menguatkan.
Ia hanya membiarkan Titik meluapkan semuanya.
Karena ia tahu…
kadang seseorang hanya butuh ditemani saat terluka.
Hari-hari menjelang keberangkatan Akang terasa aneh.
Titik jadi semakin sering bersamanya.
Mereka pergi membeli bakso.
Duduk di pinggir sungai.
Mengobrol sampai malam.
Seolah diam-diam mereka tahu—
waktu kebersamaan itu akan segera habis.
Suatu malam mereka duduk di depan warung kopi kecil dekat jalan kampung.
Lampu kuning redup menggantung di atas kepala mereka.
“Kang.”
“Hm?”
“Nanti kalau udah di Tangerang jangan lupa sama Titik.”
Akang tersenyum kecil.
“Mana mungkin lupa.”
“Banyak orang pergi terus lupa.”
“Aku beda.”
Titik menatapnya.
“Janji?”
Akang mengulurkan jari kelingkingnya.
“Janji.”
Titik ikut mengaitkan jari mereka.
Dan entah kenapa…
malam itu terasa begitu sedih.
Hari keberangkatan Akang akhirnya datang.
Pagi masih sangat gelap saat mobil travel berhenti di depan rumahnya.
Beberapa tas sudah dimasukkan ke bagasi.
Azis dan Karwan datang mengantar.
Sedangkan Titik berdiri diam di pinggir jalan sejak tadi.
Tidak banyak bicara.
Akang menghampirinya perlahan.
“Kok diem aja?”
Titik menunduk.
“Nggak tahu mau ngomong apa.”
Akang tersenyum tipis.
“Jaga diri baik-baik.”
Titik mengangguk pelan.
“Kamu juga.”
Akang mengusap kepala Titik seperti biasa.
“Nanti kalau sedih jangan dipendem sendiri.”
“Iya.”
“Jangan sering nangis.”
Titik malah makin ingin menangis.
Dan sebelum naik ke mobil…
Akang berkata pelan—
“Kalau suatu hari kamu kehilangan arah… jangan lupa pulang.”
Titik menatapnya bingung.
“Maksudnya?”
Akang hanya tersenyum.
“Nanti juga ngerti.”
Lalu ia masuk ke mobil.
Pintu tertutup.
Mesin menyala.
Dan perlahan…
mobil itu pergi meninggalkan jalan kampung Pengandom.
Titik berdiri mematung.
Dadanya kembali kosong.
Perasaan itu datang lagi.
Perasaan ditinggalkan.
Dan kali ini lebih sakit…
karena Akang adalah orang yang membantu menyembuhkan luka sebelumnya.
Sepanjang hari Titik mengurung diri di kamar.
Boneka panda kecil milik Toro bahkan belum ada saat itu.
Yang ada hanya sepi.
Dan kenangan.
Bu Yati masuk perlahan membawa makanan.
“Makan dulu.”
“Nggak lapar.”
“Kamu sedih ya…”
Titik menatap ibunya dengan mata merah.
“Bu…”
“Iya?”
“Kenapa semua orang yang Titik sayang selalu pergi…”
Pertanyaan itu membuat Bu Yati terdiam cukup lama.
Lalu ia duduk memeluk anak gadisnya erat.
Karena bahkan seorang ibu pun…
kadang tidak punya jawaban untuk rasa kehilangan.
Malam itu hujan turun deras.
Titik duduk di dekat jendela sambil memandangi jalan kampung yang basah.
Lapangan karate terlihat kosong.
Tidak ada suara Akang.
Tidak ada tawa Azis dan Karwan.
Semua terasa sunyi.
Dan di tengah suara hujan…
Titik akhirnya sadar satu hal—
hidupnya perlahan mulai dipenuhi perpisahan.
Satu demi satu orang yang membuatnya nyaman pergi meninggalkan dirinya.
Nur pergi.
Kini Akang juga pergi.
Dan Titik belum tahu…
bahwa perjalanan hidupnya setelah ini akan membawanya jauh meninggalkan kampung kecil itu.
Menuju kota baru.
Lingkungan baru.
Dan kisah cinta baru yang jauh lebih rumit daripada sebelumnya.
BAB VII
KOTA BARU BERNAMA KLATEN
“Saat Aku Belajar Berdiri di Tempat yang Tak Pernah Kukenal”
Kepergian Akang meninggalkan ruang kosong yang sulit dijelaskan oleh Titik.
Hari-hari di Pengandon kembali terasa hambar.
Lapangan karate kini hanya menjadi tempat penuh kenangan.
Tidak ada lagi suara Akang yang memanggil namanya dari kejauhan.
Tidak ada lagi seseorang yang diam-diam memperhatikannya saat ia murung.
Dan untuk beberapa bulan…
Titik hidup seperti bayangan dirinya sendiri.
Namun hidup tidak pernah berhenti hanya karena seseorang terluka.
Kelulusan SMP akhirnya tiba.
Pagi itu sekolah ramai sekali.
Anak-anak berkerumun di depan papan pengumuman.
Suara teriakan bercampur tangis dan tawa memenuhi halaman sekolah.
“AKU LULUSSSS!”
“HERMAN LOLOS!”
“DENI NILAINYA TINGGI BANGET!”
Indah melompat sambil memeluk Titik.
“KITA LULUS TIK!”
Titik tersenyum kecil.
“Iya…”
Namun senyumnya tidak seceria dulu.
Indah langsung sadar.
“Kamu masih sedih ya…”
“Nggak kok.”
“Bohong.”
Herman datang sambil kipas-kipas kertas pengumuman.
“Waduh akhirnya bebas juga dari matematika.”
Deni langsung menyahut datar—
“Hidupmu nggak akan pernah bebas dari matematika.”
“DIEM LO!”
Mereka semua tertawa.
Dan untuk sesaat…
Titik ikut tertawa bersama mereka.
Walaupun jauh di dalam hati…
ia masih merasa kosong.
Beberapa minggu setelah kelulusan, Bu Yati mulai sibuk membicarakan sekolah lanjutan.
“Kamu mau lanjut di mana?”
Titik duduk di ruang tengah sambil mengupas rambutan.
“Nggak tahu.”
“Jangan nggak tahu terus.”
Titik menghela napas.
“Teman-teman banyak yang keluar kota.”
“Kamu mau juga?”
Titik diam beberapa detik.
Lalu mengangguk pelan.
“Mungkin.”
Bu Yati menatap anaknya cukup lama.
“Kamu mau lari dari kenangan ya?”
DEG.
Kalimat itu tepat sekali.
Titik menunduk pelan.
“Di sini terlalu banyak yang bikin sedih…”
Bu Yati mengusap kepala anaknya lembut.
“Kalau memang mau pergi, ibu dukung.”
Dan sejak malam itu…
keputusan besar mulai diambil.
Titik akan melanjutkan sekolah STM di Klaten.
Jauh dari kampung.
Jauh dari kenangan tentang Nur dan Akang.
Dan mungkin…
jauh dari luka yang selama ini menghantuinya.
Hari keberangkatan tiba.
Pagi itu suasana rumah terasa sibuk.
Bu Yati membereskan pakaian ke dalam tas besar.
Sedangkan Titik duduk diam di depan rumah memandangi jalan kampung.
Indah datang sambil membawa plastik makanan.
“Nih buat di jalan.”
“Halah kayak mau perang aja.”
“Ya kan jauh.”
Herman ikut datang membawa buku kecil.
“Ini buat kamu.”
Titik menerimanya bingung.
“Apa ini?”
“Buku quotes.”
Deni langsung nyeletuk—
“Padahal isinya jokes garing semua.”
“BODOH!”
Mereka tertawa bersama.
Namun di balik tawa itu…
ada rasa sedih yang tidak bisa disembunyikan.
Karena mereka tahu—
masa SMP mereka benar-benar selesai.
Dan hidup akan berubah setelah hari ini.
Mobil travel akhirnya datang.
Bu Yati membantu memasukkan tas.
Indah langsung memeluk Titik erat.
“Jangan lupa sama kita.”
“Iya bawel.”
Herman ikut memeluk sambil pura-pura nangis.
“Kalau sukses jangan lupa traktir.”
“Najis.”
Deni hanya menepuk bahu Titik pelan.
“Jaga diri.”
Kalimat sederhana itu justru membuat mata Titik mulai panas.
Ia menatap kampungnya sekali lagi.
Jalan kecil itu.
Lapangan kuda lumping.
Warung depan sekolah.
Lapangan karate.
Semua terasa begitu jauh padahal masih di depan mata.
Dan di sanalah…
semua kisah masa remajanya dimulai.
Perjalanan menuju Klaten terasa panjang.
Titik duduk di dekat jendela sambil memandangi jalan.
Pohon-pohon berlalu cepat.
Kota demi kota dilewati.
Dan semakin jauh kendaraan berjalan…
semakin terasa bahwa hidupnya benar-benar sedang berubah.
Saat akhirnya sampai di Klaten…
Titik langsung terpukau.
Suasana kota jauh berbeda dari Pengandom.
Jalanan ramai.
Motor berlalu lalang.
Toko-toko berdiri di mana-mana.
Dan orang-orang terlihat sibuk dengan urusan masing-masing.
“Capek?” tanya Bu Yati.
“Sedikit.”
Mereka akhirnya sampai di rumah kos sederhana dekat STM tempat Titik akan sekolah.
Bangunannya tidak besar.
Namun cukup nyaman.
Seorang ibu paruh baya menyambut mereka ramah.
“Oh ini Titik?”
“Iya Bu,” jawab Bu Yati.
“Cantik ya anaknya.”
Titik tersenyum malu.
“Nanti sekamar sama Dwi ya.”
“Dwi?”
Belum sempat bertanya…
tiba-tiba seorang perempuan pendek berambut sebahu muncul dari dalam rumah sambil membawa ember.
“HAH ADA ANAK BARU?!”
Suara cemprengnya membuat Titik refleks kaget.
Ibu kos langsung memukul pelan kepala gadis itu.
“Jangan teriak!”
“Hehehe maaf.”
Perempuan itu langsung mendekati Titik dengan semangat.
“Hai aku Dwi!”
“Titik…”
“Wah cantik banget kamu!”
Titik tertawa kecil.
Dan untuk pertama kalinya sejak datang…
ia merasa sedikit nyaman.
Malam pertama di Klaten terasa aneh.
Titik rebahan di tempat tidur sambil memandangi langit-langit kamar kos.
Di sampingnya Dwi masih sibuk bercerita tanpa henti.
“STM kamu nanti serem tau.”
“Kenapa?”
“Cowoknya banyak.”
“Emang ada ceweknya?”
“Ada… dikit.”
“Dikit tuh berapa?”
“Empat.”
Titik langsung bangun.
“HAH?!”
Dwi ngakak keras.
“Iya! Sisanya cowok semua!”
“Ya Allah…”
“Tenang aja nanti juga biasa.”
Namun Titik justru makin panik.
“Kalau mereka galak gimana…”
“Namanya juga STM.”
Titik menelan ludah.
Dalam bayangannya STM itu menyeramkan.
Anak-anak nakal.
Tawuran.
Preman.
Dan dirinya harus sekolah di sana.
Pagi pertama sekolah datang terlalu cepat.
Titik memakai seragam abu-abu putih barunya dengan gugup.
Dwi malah santai sambil makan gorengan.
“Kamu santai dikit napa.”
“Deg-degan tau.”
“Biasalah.”
Saat mereka sampai di gerbang STM…
Titik langsung terdiam.
Anak laki-laki ada di mana-mana.
Suara motor berisik memenuhi halaman.
Beberapa siswa bercanda keras.
Sebagian lain memainkan gitar.
Dan benar saja…
jumlah perempuan sangat sedikit.
“Ya ampun…”
Dwi tertawa melihat wajah Titik.
“Kaget kan?”
“Ini sekolah apa markas cowok…”
Saat memasuki kelas…
semua mata langsung tertuju pada Titik.
Suasana mendadak hening beberapa detik.
Lalu—
“WOY ADA SISWI BARU!”
Satu kelas langsung ribut.
Titik spontan ingin balik keluar.
Namun wali kelas sudah menyuruhnya masuk.
“Silakan perkenalkan diri.”
Titik berdiri gugup di depan kelas.
“Halo… nama saya Titik…”
Belum selesai bicara—
“Cantik banget …”
“Diam lu!”
“Waduh kelas kita naik level!”
Titik makin malu.
Dwi malah ngakak dari belakang.
“Kasihanin napa!”
Lalu seorang cowok berkacamata yang duduk pojok berkata pelan—
“Udah diem semua.”
Suaranya tidak keras.
Namun anehnya satu kelas langsung tenang.
Titik melirik sekilas.
Cowok itu terlihat pendiam.
Tatapannya tenang.
Dan entah kenapa berbeda dari yang lain.
“Namaku Riyadi.”
Ia memperkenalkan diri singkat saat Titik duduk di dekatnya.
“Oh… Titik.”
Riyadi mengangguk kecil.
Lalu kembali diam.
Dan tanpa Titik sadari…
pertemuan sederhana itu nantinya akan menjadi awal dari persahabatan paling penting dalam hidupnya.
Hari pertama sekolah berlangsung melelahkan.
Namun perlahan Titik mulai mengenal teman-teman barunya.
Ada Ahmad yang humoris.
Ada Yono yang cerewet.
Ada Muji yang usil.
Ada Aris yang paling jahil.
Dan ada Riyadi…
yang paling pendiam namun paling perhatian.
Sore itu sepulang sekolah…
Titik duduk di halte kecil depan STM sambil menghela napas panjang.
Dwi menyenggol bahunya pelan.
“Gimana hari pertama?”
Titik tersenyum kecil.
“Capek…”
“Tapi?”
Titik memandangi langit Klaten yang mulai jingga.
“…nggak seseram yang aku kira.”
Namun jauh di dalam hati…
ia belum tahu bahwa kota baru itu akan membawanya pada kisah cinta, kehilangan, persahabatan, dan luka yang jauh lebih rumit daripada masa lalunya di Pengandom.
BAB VIII
SAHABAT DI TENGAH DUNIA LELAKI
“Di Antara Tawa, Perhatian, dan Hati yang Diam-Diam Menunggu”
Hari-hari pertama di STM Klaten berjalan lebih cepat dari yang dibayangkan Titik.
Awalnya ia merasa asing.
Canggung.
Takut salah bicara.
Namun perlahan…
kelas yang dipenuhi laki-laki itu justru berubah menjadi tempat paling ramai yang pernah ia kenal.
Dan anehnya…
di tengah puluhan anak cowok dengan suara berisik dan tingkah absurd itu, Titik justru merasa diterima.
Pagi itu suasana kelas sudah ribut bahkan sebelum guru datang.
Ahmad berdiri di atas kursi sambil pura-pura jadi penyiar radio.
“SELAMAT PAGI PARA MANUSIA GAGAL!”
“WOIIII TURUN!”
Satu kelas langsung lempar-lempar penghapus.
Muji malah sibuk menggambar kumis di foto struktur organisasi kelas.
Sedangkan Yono sedang mengejar Aris karena sandal jepitnya disembunyikan.
“BALIKIN WOY!”
“Cari sendiri!”
Titik yang baru masuk kelas langsung bengong.
“Ya Allah…”
Dwi ngakak di sampingnya.
“Biasakan.”
Belum sempat duduk…
Ahmad langsung menunjuk Titik dramatis.
“NAH! RATU KELAS KITA DATANG!”
Satu kelas langsung bersorak lebay.
“TITIKKKK!”
“SELAMAT PAGI MBAK CANTIK!”
“WOY NORAK!”
Titik langsung menutup wajahnya malu.
“Kalian lebay banget sih…”
Riyadi yang duduk di pojok hanya tersenyum kecil sambil membuka buku.
Dan seperti biasa…
ia tidak ikut berisik.
Karena jumlah perempuan di kelas hanya empat orang, otomatis Titik jadi pusat perhatian.
Bukan cuma karena cantik.
Namun karena sifatnya yang gampang akrab dengan siapa saja.
Ia bisa bercanda dengan anak-anak bengkel.
Bisa ngobrol soal pelajaran.
Bahkan tidak takut ikut nongkrong bersama mereka sepulang sekolah.
Dan justru itu yang membuat semua orang nyaman dengannya.
Suatu siang saat jam kosong…
kelas berubah jadi pasar.
Ada yang tidur.
Ada yang main gitar.
Ada yang main kartu.
Sedangkan Titik duduk sambil mengerjakan tugas matematika dengan wajah pusing.
“Kenapa?” tanya Riyadi pelan dari sebelahnya.
“Ini susah…”
Riyadi melirik buku Titik.
“Oh ini gampang.”
“Gampang dari mana…”
Riyadi mengambil pensil.
“Nih lihat.”
Ia mulai menjelaskan pelan.
Suaranya tenang.
Tidak terburu-buru.
Dan anehnya…
cara menjelaskannya gampang dipahami.
Titik langsung melongo.
“Kok kamu pinter banget…”
Riyadi tersenyum kecil.
“Biasa aja.”
Ahmad yang melihat dari belakang langsung nyeletuk—
“Waduh… guru privat dimulai.”
Muji ikut nimbrung.
“Riyadi mah beda kalau sama Titik.”
Riyadi langsung melempar penghapus.
“DIEM.”
Satu kelas ngakak.
Sedangkan Titik malah tertawa sampai matanya berair.
Dan untuk pertama kalinya…
ia merasa benar-benar nyaman berada di lingkungan baru itu.
Hari-hari berikutnya persahabatan mereka semakin dekat.
Titik mulai sering pulang bersama Riyadi, Muji, Aris, Yono, dan Adi.
Kadang mereka makan bakso pinggir jalan.
Kadang nongkrong di taman Umbul sampai sore.
Kadang belajar kelompok di rumah Riyadi.
Dan tanpa sadar…
Titik menjadi pusat dari lingkaran persahabatan itu.
Rumah Riyadi adalah tempat favorit mereka belajar kelompok.
Rumah sederhana dengan halaman luas dan pohon mangga besar di depan.
Ibunya Riyadi sangat ramah.
“Masuk nak.”
“Permisi Bu!”
“Loh Titik datang?”
“Iya Bu.”
Ibunya Riyadi langsung tersenyum hangat.
“Bagus… rumah jadi rame.”
Ahmad langsung bisik ke Muji—
“Kalau Titik datang Riyadi pasti langsung rajin nyapu rumah.”
“WOY!”
Semua langsung tertawa.
Riyadi cuma geleng-geleng kepala pasrah.
Belajar kelompok mereka jarang benar-benar serius.
Sepuluh menit belajar.
Dua jam bercanda.
Muji suka iseng menyembunyikan buku Titik.
Aris paling hobi bikin lelucon receh.
Yono paling cerewet.
Sedangkan Adi paling suka menggoda semua orang.
“Tik nanti kalau kaya jangan lupa sama kita.”
“Emang aku mau jadi apa?”
“Jadi direktur.”
“Kenapa direktur?”
“Soalnya cantik.”
“NAH MULAI.”
Titik melempar bantal ke arah Adi.
Satu ruang tamu langsung ricuh.
Namun di tengah semua keributan itu…
Riyadi hanya memperhatikan Titik sambil tersenyum kecil.
Diam-diam.
Tanpa banyak bicara.
Suatu sore setelah teman-teman lain pulang…
tinggal Titik dan Riyadi yang masih duduk di teras rumah.
Langit mulai berubah jingga.
Angin sore terasa adem.
“Kamu betah di Klaten?” tanya Riyadi pelan.
Titik mengangguk.
“Lumayan.”
“Lumayan?”
“Awalnya takut.”
“Takut apa?”
“Takut nggak punya teman.”
Riyadi tersenyum tipis.
“Sekarang?”
Titik melihat ke arah jalan.
“Sekarang malah kayak punya banyak saudara.”
Kalimat itu membuat Riyadi diam beberapa detik.
Lalu ia berkata pelan—
“Syukur.”
Titik menoleh.
“Kamu tuh kalau ngomong dikit banget.”
Riyadi tertawa kecil.
“Bingung mau ngomong apa.”
“Padahal yang lain ribut semua.”
“Biar ada penyeimbang.”
Titik tertawa.
Dan Riyadi diam-diam ikut tersenyum melihatnya.
Hari demi hari…
persahabatan mereka semakin kuat.
Di sekolah Titik benar-benar diperlakukan seperti “ratu kelas”.
Kalau ia lapar, ada yang traktir.
Kalau sedih, semua menghibur.
Kalau ada yang mengganggu, satu kelas siap membela.
Dan di antara semuanya…
Riyadi adalah yang paling perhatian.
Suatu pagi Titik datang ke sekolah dengan wajah pucat.
“Kamu sakit?” tanya Riyadi langsung.
“Nggak kok.”
“Bohong.”
Titik tersenyum lemah.
“Cuma pusing.”
Tanpa banyak bicara Riyadi langsung berdiri.
Beberapa menit kemudian ia kembali membawa teh hangat dan roti.
“Nih.”
Titik melongo.
“Kamu beli?”
“Iya.”
“Kok repot…”
“Daripada kamu pingsan.”
Ahmad langsung bersiul dari belakang.
“WIIIIH.”
Muji ikut ngakak.
“Perhatian banget pak Riyadi.”
Titik langsung malu.
Namun Riyadi tetap santai.
“Udah diem.”
Dan entah kenapa…
perhatian-perhatian kecil seperti itu perlahan membuat hati Titik hangat.
Walaupun…
ia sendiri belum menganggap Riyadi lebih dari seorang sahabat.
Sore itu mereka berlima duduk di taman Umbul.
Tempat favorit mereka nongkrong.
Ada kolam kecil di tengah taman.
Anak-anak bermain sepeda.
Sedangkan mereka duduk di rerumputan sambil makan cilok.
“Kalau nanti lulus kalian mau jadi apa?” tanya Aris.
“Orang kaya,” jawab Ahmad cepat.
“Halah.”
Muji menunjuk Riyadi.
“Kalau dia pasti jadi dosen.”
Riyadi tertawa kecil.
“Kenapa dosen?”
“Soalnya mukanya serius terus.”
Semua tertawa.
Lalu Yono menunjuk Titik.
“Kalau Titik pasti banyak yang rebutan.”
“Apaan sih…”
Adi langsung nyeletuk—
“Ya jelas lah.”
Titik melempar plastik cilok ke arahnya.
“Berisik!”
Namun di tengah semua tawa itu…
Riyadi diam.
Tatapannya tertuju pada Titik yang sedang tertawa lepas bersama teman-temannya.
Dan jauh di dalam hatinya…
diam-diam tumbuh rasa yang perlahan semakin sulit disembunyikan.
Rasa yang tidak pernah ia minta.
Rasa yang membuatnya ingin selalu menjaga Titik.
Walaupun ia tahu…
kemungkinan besar Titik hanya menganggapnya sebagai sahabat.
Malam itu sepulang dari Umbul…
Titik berjalan sendiri menuju kos sambil tersenyum kecil.
Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Pengandom…
ia merasa hidupnya mulai punya warna lagi.
Ia mulai melupakan luka lama.
Mulai menikmati hari-harinya.
Mulai tertawa tanpa beban.
Namun Titik belum tahu…
bahwa kebahagiaan sederhana itu nantinya akan berubah saat seseorang datang memasuki hidup mereka.
Seseorang yang akan menghancurkan keseimbangan persahabatan itu perlahan.
Seseorang yang bernama—
Tono.
BAB IX
LAKI-LAKI PALING DITAKUTI DI STM
“Tatapan Pertama yang Membawa Masalah”
Semester pertama di STM Klaten berjalan begitu cepat.
Hari-hari Titik dipenuhi tawa bersama sahabat-sahabat barunya.
Ia mulai benar-benar menikmati hidup di kota itu.
Pulang sekolah nongkrong.
Belajar kelompok.
Main ke Umbul.
Kadang naik kereta ke Malioboro bersama teman-temannya.
Dan di tengah dunia STM yang penuh suara mesin, oli, dan anak-anak lelaki berisik…
Titik justru merasa menjadi dirinya sendiri.
Bebas.
Tanpa tekanan.
Tanpa larangan.
Tanpa rasa takut seperti saat bersama Nur dulu.
Pagi itu sekolah sedang ramai karena ada kegiatan pertemuan antarangkatan.
Lapangan dipenuhi siswa dari kelas satu sampai kelas tiga.
Suara musik terdengar keras dari aula.
Beberapa senior mondar-mandir dengan wajah sangar khas anak STM.
Dwi yang sedari tadi heboh langsung menarik tangan Titik.
“Tik Tik Tik!”
“Apaan sih…”
“Itu loh!”
“Apa?”
Dwi menunjuk ke arah sekelompok senior laki-laki yang baru masuk halaman sekolah.
Dan seketika suasana sekitar mendadak berubah.
Beberapa siswa langsung menepi memberi jalan.
Bahkan anak-anak yang biasanya ribut mendadak diam.
Titik mengernyit bingung.
“Kenapa?”
“Itu Tono.”
“Hah?”
“Senior paling ditakuti di STM.”
Titik spontan melihat lagi.
Di tengah kerumunan itu…
berjalan seorang laki-laki tinggi dengan jaket hitam digantung di bahunya.
Wajahnya tegas.
Tatapannya tajam.
Rambutnya sedikit panjang khas anak STM era itu.
Dan harus diakui…
dia memang tampan.
Namun auranya menyeramkan.
“Yang itu?”
“Iya.”
“Emang kenapa?”
Dwi langsung mendekat sambil berbisik—
“Katanya dia pernah mukul anak satu sekolah gara-gara masalah cewek.”
“HAH?”
“Makanya jangan dekat-dekat.”
Titik langsung menelan ludah.
“Serem amat…”
Namun justru saat itulah…
Tono menoleh ke arah mereka.
Tatapannya berhenti tepat pada Titik.
DEG.
Entah kenapa jantung Titik mendadak berdebar aneh.
Bukan karena suka.
Namun karena tatapan laki-laki itu terlalu tajam.
Tono memperhatikan beberapa detik.
Lalu tersenyum tipis.
Dan itu justru membuat Titik makin salah tingkah.
“Astaga…”
Dwi langsung panik.
“Dia lihat kamu!”
“Ya terus kenapa…”
“Tik… jangan bilang dia tertarik sama kamu.”
“Ogah!”
Namun entah kenapa…
sejak detik itu Titik mulai sering merasa diperhatikan.
Hari-hari berikutnya nama Tono semakin sering terdengar.
Semua orang membicarakannya.
Tentang keberaniannya.
Tentang kelompoknya.
Tentang bagaimana hampir semua anak STM segan padanya.
“Dia tuh kalau marah serem banget,” kata Ahmad suatu siang.
Muji mengangguk.
“Bahkan senior lain aja takut.”
Titik yang sedang makan bakso langsung menyahut—
“Lebay.”
“Serius!”
Aris ikut nimbrung.
“Dia juga paling jago berantem.”
“Ya terus?”
Ahmad menyeringai.
“Dan sekarang kayaknya dia suka sama kamu.”
PUK.
Sendok Titik jatuh.
“Hah?!”
Satu meja langsung tertawa.
“Woy serius!”
“Dari kemarin dia sering lihat ke kelas kita.”
“Bahkan kemarin nanya siapa kamu.”
Titik langsung menatap mereka satu-satu.
“Kalian bohong kan?”
Riyadi yang sedari tadi diam akhirnya bicara pelan—
“Mereka nggak bohong.”
Titik langsung menoleh.
“Kamu juga tahu?”
Riyadi mengangguk kecil.
Dan entah kenapa…
raut wajahnya terlihat tidak nyaman.
Sejak saat itu Tono mulai sering muncul.
Kadang berdiri di depan kelas saat jam istirahat.
Kadang pura-pura lewat.
Kadang hanya memandang dari kejauhan.
Dan semua itu membuat satu kelas heboh.
“Waduh ditungguin lagi.”
“Pak Tono hadir.”
“Ratu STM makin terkenal.”
Titik kesal sendiri.
“Kalian tuh ganggu banget.”
Namun jauh di dalam hati…
ia mulai merasa tidak nyaman.
Karena perhatian Tono terasa berbeda.
Terlalu intens.
Terlalu menekan.
Suatu sore sepulang sekolah…
Titik dan teman-temannya sedang duduk di taman Umbul.
Mereka makan gorengan sambil bercanda seperti biasa.
Tiba-tiba suara motor berhenti cukup keras di dekat mereka.
Semua langsung menoleh.
Dan di sana…
Tono turun dari motor bersama beberapa senior lain.
Suasana mendadak hening.
Ahmad langsung berbisik—
“Sialan…”
Tono berjalan santai mendekat.
Tatapannya langsung tertuju pada Titik.
“Hai.”
Titik spontan gugup.
“Hai…”
Teman-temannya langsung diam seperti patung.
Tono melirik mereka sebentar lalu kembali ke Titik.
“Boleh ngobrol?”
“Eh…”
Belum sempat menjawab…
Adi langsung nyeletuk santai.
“Ngobrol aja sini.”
Tono menatap Adi cukup lama.
Dan suasana mendadak terasa dingin.
Namun Adi tetap santai.
Titik langsung panik sendiri.
“Eh nggak apa-apa kok…”
Akhirnya Tono duduk di dekat mereka.
Dan sejak sore itu…
lingkaran pertemanan Titik mulai berubah perlahan.
Ternyata di balik wajah menyeramkannya…
Tono cukup pintar bicara.
Ia humoris.
Percaya diri.
Dan anehnya sangat perhatian pada Titik.
“Jadi kamu anak baru dari Pengandon?”
“Iya.”
“Pantes beda.”
“Beda gimana?”
“Lebih rame.”
Teman-teman langsung bersorak menggoda.
“WOOOO…”
Titik langsung malu.
“Apaan sih…”
Tono tertawa kecil.
Dan untuk pertama kalinya…
Titik melihat sisi lain dari laki-laki itu.
Tidak semenyeramkan rumor yang beredar.
Namun tetap saja…
ada sesuatu dalam dirinya yang membuat Titik waspada.
Hari-hari berikutnya Tono semakin sering mendekat.
Kadang mengantar makanan ke kelas.
Kadang menunggu Titik pulang.
Kadang muncul tiba-tiba di tempat nongkrong mereka.
Dan yang paling membuat Titik bingung—
semua orang seperti takut padanya.
Kalau Tono datang…
suasana langsung berubah.
Anak-anak yang biasanya ribut mendadak lebih hati-hati.
Bahkan guru pun mengenalnya.
Suatu sore Riyadi dan Titik sedang berjalan menuju halte.
Tiba-tiba Tono datang dengan motornya lalu berhenti tepat di depan mereka.
“Mau pulang?”
“Iya.”
“Ayo aku antar.”
Titik bingung.
“Eh nggak usah…”
“Nggak apa-apa.”
Belum sempat Titik menjawab…
Riyadi berkata pelan—
“Kita biasa naik angkot.”
Tono langsung menatap Riyadi.
Tatapan yang tajam.
“Kan aku cuma nawarin.”
Riyadi diam.
Namun Titik bisa merasakan suasana mulai tidak enak.
Akhirnya ia buru-buru berkata—
“Nggak apa-apa Ton… aku sama Riyadi aja.”
Tono tersenyum tipis.
Namun matanya tetap dingin.
“Oke.”
Motor itu akhirnya pergi.
Namun setelah Tono menghilang…
Riyadi justru terlihat murung.
“Kamu kenapa?”
“Nggak.”
“Kamu nggak suka ya sama dia?”
Riyadi terdiam beberapa detik.
Lalu menjawab pelan—
“Hati-hati aja.”
Kalimat itu membuat Titik bingung.
“Hati-hati kenapa?”
Riyadi menghela napas kecil.
“Dia bukan orang yang gampang nerima penolakan.”
Malam itu Titik rebahan di kamar kos sambil memandangi kipas angin.
Dwi yang sedari tadi baca majalah langsung meliriknya.
“Kamu dipikirin Tono ya?”
“Ogah.”
“Bohong.”
“Tapi dia aneh.”
“Kenapa?”
“Baik sih… tapi bikin nggak nyaman.”
Dwi mengangguk pelan.
“Karena dia terlalu serius.”
Titik memejamkan mata.
Entah kenapa…
ia mulai merasa hidupnya perlahan berubah lagi.
Dan jauh di dalam hatinya…
ada rasa takut kecil yang mulai tumbuh.
Karena tanpa sadar…
kehadiran Tono akan menjadi awal dari retaknya persahabatan paling indah yang pernah dimiliki Titik.
BAB X
PUKULAN PERTAMA
“Saat Persahabatan Mulai Berdarah Karena Cinta”
Hari-hari di STM mulai berubah sejak Tono hadir dalam kehidupan Titik.
Awalnya hanya perhatian biasa.
Datang ke kelas.
Mengantar makanan.
Menunggu pulang sekolah.
Namun lama-kelamaan…
semua itu terasa semakin berlebihan.
Dan yang paling membuat Titik tidak nyaman—
Tono mulai tidak suka melihatnya bersama teman-temannya sendiri.
Terutama Riyadi.
Pagi itu suasana kelas masih seperti biasa.
Ahmad sibuk menggambar karikatur guru di papan tulis.
Muji dan Aris rebutan kaset radio kecil.
Sedangkan Yono sedang berdebat entah soal apa.
Titik masuk kelas sambil membawa es teh.
“Pagiii…”
“PAGI RATU STM!”
Satu kelas langsung heboh.
“Apaan sih kalian…”
Riyadi yang duduk di dekat jendela hanya tersenyum kecil.
“Nih tugasmu udah aku tulisin poin pentingnya.”
Titik langsung duduk di sampingnya.
“Serius?”
“Iya.”
“Baik banget…”
Ahmad langsung bersiul keras.
“WIIIIH.”
Muji ikut ngakak.
“Riyadi tuh kalau sama Titik beda.”
“WOY DIEM.”
Titik tertawa kecil sambil membuka buku catatan Riyadi.
Tulisan cowok itu rapi sekali.
“Ya ampun tulisanmu kayak cewek.”
“Daripada tulisan Ahmad kayak cakar ayam.”
“WOY!”
Satu kelas kembali ribut.
Dan seperti biasa…
Titik merasa nyaman bersama mereka.
Namun ia tidak tahu—
seseorang sedang memperhatikan dari luar kelas dengan wajah dingin.
Tono.
Jam istirahat tiba.
Titik dan teman-temannya makan bakso di kantin belakang sekolah.
Riyadi duduk di samping Titik sambil membantu membawakan buku.
Adi yang melihat langsung menggoda—
“Kalau udah nikah tinggal gini terus ya.”
“NGACO.”
Titik melempar tisu ke arah Adi.
Namun tiba-tiba suasana kantin mendadak hening.
Beberapa siswa langsung menoleh ke belakang.
Tono datang.
Dengan wajah datar.
Dan tatapan tajam yang langsung tertuju pada Riyadi.
“Tik.”
Titik menoleh.
“Eh… Tono.”
“Kamu dicari dari tadi.”
“Oh.”
Tono melirik Riyadi sekilas.
Tatapannya membuat suasana berubah dingin.
“Ayo ikut bentar.”
Titik bingung.
“Mau ke mana?”
“Ngobrol.”
Adi langsung menyela santai—
“Ngobrol sini aja rame.”
Tono menatap Adi beberapa detik.
Namun kali ini ia memilih diam.
Titik akhirnya berdiri.
“Nggak lama ya.”
Riyadi hanya mengangguk kecil.
Namun entah kenapa…
raut wajahnya terlihat tidak tenang.
Tono membawa Titik ke belakang aula sekolah yang agak sepi.
“Ada apa?”
Tono menatapnya beberapa saat sebelum bicara.
“Kamu dekat banget sama Riyadi ya.”
DEG.
Pertanyaan itu langsung membuat Titik tidak nyaman.
“Kita teman.”
“Cuma teman?”
“Iya.”
Tono tertawa kecil hambar.
“Dia suka sama kamu.”
Titik langsung mengernyit.
“Nggak mungkin.”
“Kamu nggak sadar?”
“Dia sahabatku.”
“Tapi aku nggak suka.”
Kalimat itu membuat Titik mulai kesal.
“Kenapa?”
“Karena aku serius sama kamu.”
“Tapi aku belum jadi siapa-siapamu.”
Tono terdiam.
Tatapannya berubah.
Lebih dingin.
“Aku cuma nggak mau ada cowok lain dekat sama kamu.”
Titik langsung menghela napas berat.
“Kenapa sih semua cowok suka ngatur hidupku…”
“Aku cuma takut kehilangan.”
“Padahal aku aja belum tentu milikmu.”
Kalimat itu membuat Tono diam cukup lama.
Dan untuk pertama kalinya…
Titik melihat emosi yang aneh di mata laki-laki itu.
Sejak hari itu suasana mulai berubah.
Tono semakin sering memperhatikan gerak-gerik Titik.
Kalau Riyadi terlalu dekat…
wajahnya langsung berubah.
Kalau Titik pulang bersama teman-temannya…
Tono tiba-tiba muncul.
Dan semua itu membuat Titik mulai lelah.
Suatu sore sepulang sekolah…
Titik sedang membereskan buku di kelas ketika Riyadi mendekat.
“Kamu belum pulang?”
“Belum.”
“Nanti pulang sama anak-anak?”
“Iya.”
Riyadi mengangguk kecil.
Lalu tiba-tiba berkata pelan—
“Kalau kamu nggak nyaman sama Tono… jangan dipaksa.”
Titik menoleh.
“Kamu kenapa ngomong gitu?”
“Dia terlalu posesif.”
Titik menghela napas panjang.
“Aku juga mulai capek.”
Belum sempat melanjutkan…
tiba-tiba terdengar suara keras dari pintu kelas.
“Riyadi.”
Suasana langsung hening.
Tono berdiri di sana.
Sendirian.
Tatapannya tajam.
Riyadi langsung berdiri pelan.
“Ada apa?”
“Keluar bentar.”
Titik langsung merasa tidak enak.
“Mau ngapain?”
Tono tetap menatap Riyadi.
“Ngobrol cowok.”
Riyadi akhirnya keluar.
Dan entah kenapa…
jantung Titik mendadak berdebar tidak tenang.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Lalu…
BRAK!
Suara gaduh terdengar dari belakang gedung sekolah.
Titik spontan berdiri.
“Astaga…”
Ia langsung berlari keluar kelas.
Dan saat sampai di belakang gedung…
dadanya langsung terasa runtuh.
Riyadi jatuh di tanah.
Bibirnya berdarah.
Sedangkan Tono berdiri di depannya dengan napas kasar.
“Tolong jauhi Titik.”
Suara itu dingin sekali.
“Tono!”
Titik langsung berlari mendekat.
“Apa yang kamu lakukan?!”
Riyadi berusaha berdiri sambil memegang wajahnya.
Namun Tono masih terlihat emosi.
“Aku udah bilang jangan dekat-dekat sama dia.”
Riyadi menatap Tono tajam.
“Kita teman.”
“Bullshit.”
“Tono cukup!”
Titik berdiri di depan Riyadi dengan mata berkaca-kaca.
“Kamu gila ya?!”
Tono menatap Titik.
Tatapan keras itu perlahan berubah saat melihat air mata di wajah gadis itu.
“Aku cuma nggak mau dia ganggu hubungan kita.”
“KITA BELUM PUNYA HUBUNGAN APA-APA!”
Kalimat itu membuat suasana langsung sunyi.
Tono membeku beberapa detik.
Sedangkan Titik mulai menangis.
“Kamu nyakitin sahabatku…”
“Titik—”
“Aku benci kalau begini!”
Untuk pertama kalinya…
Titik benar-benar marah padanya.
Riyadi akhirnya dibawa ke UKS.
Muji, Ahmad, Aris, dan Yono langsung datang panik.
“SIALAN SIAPA YANG MUKUL?!”
Muji sampai emosi.
Namun Riyadi hanya diam sambil membersihkan darah di bibirnya.
Titik duduk di sampingnya dengan wajah pucat.
“Aku minta maaf…”
Riyadi menoleh pelan.
“Kamu nggak salah.”
“Tapi gara-gara aku…”
Riyadi tersenyum kecil walau wajahnya babak belur.
“Namanya juga hidup.”
Kalimat sederhana itu justru membuat Titik makin ingin menangis.
Malamnya Titik tidak bisa tidur.
Bayangan wajah Riyadi terus muncul di kepalanya.
Bibir berdarah.
Tatapan kecewa.
Dan suara keras pukulan itu.
Dwi yang melihat Titik termenung akhirnya bertanya—
“Kamu nangis?”
“Tono mukul Riyadi.”
“HAH?!”
Dwi langsung duduk tegak.
“Serius?”
Titik mengangguk pelan.
“Ya Allah…”
Suasana kamar mendadak hening.
Titik memeluk lututnya sendiri.
“Aku cuma pengen punya teman…”
Air matanya jatuh lagi.
“Kenapa semuanya jadi rusak…”
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya Titik mulai merasa takut pada cinta yang terlalu berlebihan.
Karena cinta seperti itu…
perlahan mulai menghancurkan orang-orang yang ia sayangi.
BAB XI
AIR MATA DI RUMAH RIYADI
“Aku Kehilangan Sahabat, Bahkan Sebelum Benar-Benar Kehilangan”
Sejak kejadian pemukulan itu…
suasana di kelas berubah drastis.
Tidak ada lagi tawa sekeras biasanya.
Tidak ada lagi candaan heboh setiap pagi.
Dan yang paling terasa—
lingkaran persahabatan mereka mulai retak perlahan.
Pagi itu Titik masuk kelas dengan langkah pelan.
Biasanya Ahmad langsung berteriak—
“RATU STM DATANG!”
Namun kali ini…
kelas hanya sunyi.
Muji sedang menggambar tanpa semangat.
Aris tidur sambil menutup wajah dengan buku.
Sedangkan Riyadi duduk di pojok dekat jendela dengan luka lebam yang masih terlihat jelas.
Hati Titik langsung terasa nyeri.
Ia mendekat perlahan.
“Yadi…”
Riyadi menoleh.
Lalu tersenyum kecil seperti biasa.
“Pagi.”
Senyum itu justru membuat Titik makin merasa bersalah.
“Kamu masih sakit?”
“Enggak.”
“Bohong.”
Riyadi tertawa pelan.
“Sedikit.”
Titik duduk di sampingnya.
Suasana canggung.
Untuk pertama kalinya…
mereka seperti kehilangan sesuatu yang dulu begitu nyaman.
Ahmad akhirnya memecah suasana.
“Kalau ada yang mukul temanku lagi, sumpah kubakar bengkel.”
Muji langsung menyahut—
“Bengkel siapa?”
“Ya bengkel sekolah lah goblok.”
Aris yang pura-pura tidur malah ikut nimbrung—
“Jangan bakar sekolah, nanti kita libur.”
“NAH ITU BAGUS.”
Semua akhirnya tertawa kecil.
Walaupun tidak seceria dulu.
Dan Titik sadar…
kejadian kemarin meninggalkan luka untuk semua orang.
Bukan cuma Riyadi.
Sepulang sekolah…
Riyadi memilih pulang lebih cepat.
Tidak seperti biasanya.
Biasanya mereka selalu nongkrong bersama.
Namun kini Riyadi lebih banyak diam.
Dan itu membuat Titik makin sedih.
“Aku ke rumah Riyadi dulu,” katanya pada Dwi.
“Sendiri?”
“Iya.”
“Hati-hati.”
Rumah Riyadi sore itu terasa sepi.
Pohon mangga di depan rumah bergoyang pelan tertiup angin.
Saat Titik masuk halaman…
ibunya Riyadi langsung kaget.
“Eh Titik.”
“Permisi Bu…”
“Ayo masuk.”
Suara ibu itu tetap hangat seperti biasa.
Namun Titik justru semakin merasa bersalah.
Riyadi sedang duduk di teras sambil membersihkan motornya.
Saat melihat Titik…
ia langsung berhenti.
“Kamu ngapain ke sini?”
Titik menatap luka di wajahnya.
Dan tanpa sadar matanya mulai berkaca-kaca.
“Aku mau minta maaf…”
Riyadi langsung menghela napas kecil.
“Aku udah bilang kamu nggak salah.”
“Tapi gara-gara aku kamu dipukul…”
Riyadi tersenyum tipis.
“Namanya juga laki-laki.”
“Jangan bercanda…”
Suara Titik mulai bergetar.
Dan detik berikutnya…
air matanya jatuh.
Riyadi langsung panik.
“Eh eh jangan nangis…”
“Aku benci keadaan kayak gini…”
Titik menangis sungguhan sekarang.
Dan semua rasa bersalah yang dipendam sejak kemarin akhirnya pecah.
“Aku cuma pengen kita kayak dulu…”
Riyadi terdiam.
Tatapannya berubah sendu.
“Aku juga.”
Kalimat itu membuat tangis Titik semakin pecah.
Mereka akhirnya duduk di teras rumah.
Suasana sore terasa tenang.
Namun hati mereka sama-sama kacau.
“Aku takut kalian menjauh gara-gara Tono…”
Riyadi menunduk beberapa detik sebelum menjawab—
“Sebenernya…”
“Apa?”
“Kami semua mulai takut sama dia.”
DEG.
Titik langsung diam.
“Takut?”
Riyadi mengangguk pelan.
“Dia terlalu posesif.”
“Tapi aku belum jadian sama dia…”
“Itu yang bikin serem.”
Titik memeluk lututnya sendiri.
“Kenapa hidupku jadi ribet begini…”
Riyadi tersenyum kecil.
“Mungkin karena kamu terlalu disayang banyak orang.”
“Aku nggak butuh disayang kayak gini.”
Angin sore berhembus pelan.
Dan untuk beberapa saat…
mereka hanya diam.
“Aku kangen kita yang dulu,” ucap Titik lirih.
“Yang nongkrong berlima.”
“Yang pulang sekolah bareng.”
“Yang ketawa ngakak sampai dimarahin warga Umbul.”
Riyadi ikut tersenyum mengingatnya.
“Iya…”
“Tapi sekarang semuanya berubah.”
Riyadi menatap Titik cukup lama.
Lalu berkata pelan—
“Kalau suatu hari kami semua menjauh…”
“Jangan ngomong gitu.”
“…kamu harus tetap bahagia.”
Titik langsung menatapnya.
“Kenapa kamu ngomong kayak mau pergi…”
Riyadi tertawa kecil.
“Perasaan aja.”
Namun entah kenapa…
kalimat itu terasa begitu menyakitkan.
Saat Titik hendak pulang…
ibunya Riyadi tiba-tiba memanggil.
“Titik.”
“Iya Bu?”
“Jangan sedih ya.”
Titik tersenyum kecil.
“Iya Bu.”
Ibunya Riyadi mendekat lalu berkata pelan—
“Riyadi itu anak pendiam… tapi kalau sayang sama seseorang dia tulus.”
DEG.
Titik langsung membeku.
Sedangkan Riyadi spontan salah tingkah.
“Ibu…”
Ibunya malah tertawa kecil.
“Ya ibu cuma ngomong.”
Titik langsung gugup sendiri.
Dan suasana mendadak canggung.
Perjalanan pulang terasa panjang.
Titik berjalan pelan sambil memikirkan ucapan ibu Riyadi tadi.
“Kalau sayang sama seseorang dia tulus…”
Entah kenapa…
hatinya terasa hangat sekaligus sedih.
Karena jauh di dalam dirinya…
ia mulai sadar sesuatu.
Bahwa Riyadi mungkin memang menyimpan rasa lebih dari sekadar persahabatan.
Namun Titik tidak tahu harus bagaimana.
Karena ia terlalu nyaman menjadikan Riyadi tempat pulang sebagai sahabat.
Dan ia takut…
kalau semuanya berubah…
mereka akan kehilangan kebersamaan itu.
Malamnya Tono datang ke depan kos.
Dwi langsung panik melihatnya.
“Tik… ada Tono.”
Titik yang sedang membaca buku langsung menegang.
Saat keluar…
Tono berdiri di depan pagar sambil memegang helm.
Wajahnya terlihat lelah.
“Kita ngomong bentar?”
Titik menghela napas.
“Ada apa lagi?”
Tono menatapnya lama sebelum berkata—
“Aku minta maaf.”
Titik sedikit terkejut.
“Aku emosi kemarin.”
“Emosi bukan alasan mukul orang.”
“Aku cuma cemburu.”
“Kenapa harus Riyadi?”
“Karena dia paling dekat sama kamu.”
Titik mulai kesal lagi.
“Kalian semua sama aja.”
“Maksudnya?”
“Nur dulu juga begitu.”
Tono terdiam.
Sedangkan Titik mulai menahan emosi yang selama ini dipendam.
“Aku capek dikekang.”
“Aku nggak maksud—”
“Aku cuma pengen punya teman!”
Suara Titik mulai pecah.
“Aku nggak pernah selingkuh sama siapa pun!”
Tono menunduk.
Dan untuk pertama kalinya…
laki-laki yang ditakuti satu sekolah itu terlihat tidak berdaya.
“Aku takut kehilangan kamu…”
Suara Tono terdengar lirih.
Namun kali ini…
Titik tidak langsung luluh.
Karena di kepalanya masih terbayang wajah Riyadi yang babak belur.
Dan perlahan…
hati Titik mulai lelah menghadapi cinta yang selalu berubah menjadi rasa memiliki berlebihan.
Malam semakin larut.
Lampu jalan mulai sepi.
Dan saat Titik kembali masuk kamar kos…
ia duduk diam cukup lama di pinggir tempat tidur.
Dwi yang sedari tadi memperhatikan akhirnya bertanya—
“Kamu sebenarnya suka nggak sih sama Tono?”
Titik terdiam lama.
Sangat lama.
Lalu menjawab pelan—
“…aku nggak tahu.”
Karena yang Titik tahu saat itu hanya satu—
ia mulai kehilangan kebahagiaan sederhana yang dulu begitu ia jaga bersama sahabat-sahabatnya.
BAB XII
RUMAH SAKIT DAN CINTA YANG MENYESAKKAN
“Saat Tubuhku Lemah, Mereka Justru Berebut Menjadi Penyelamat”
Hari-hari setelah kejadian pemukulan Riyadi membuat hidup Titik semakin tidak tenang.
Di sekolah…
ia mulai merasa diawasi.
Kalau terlalu lama bersama teman-temannya, Tono muncul.
Kalau bercanda terlalu dekat dengan anak laki-laki lain, wajah Tono langsung berubah dingin.
Dan semua itu perlahan membuat Titik lelah secara batin.
Namun Titik tetap mencoba bertahan.
Ia tetap tersenyum.
Tetap bercanda bersama teman-temannya.
Tetap nongkrong di Umbul walaupun suasana tidak lagi sama seperti dulu.
Karena sekarang…
setiap tawa selalu disertai rasa waswas.
Suatu siang saat pelajaran berlangsung…
kepala Titik mendadak terasa berat.
Pandangan mulai berkunang-kunang.
Suara guru terdengar samar.
“Titik?”
Dwi yang duduk di dekatnya langsung panik.
“Kamu pucat banget.”
“Nggak apa…”
Belum selesai bicara—
BRUK.
Tubuh Titik langsung ambruk ke meja.
Satu kelas langsung heboh.
“TITIK!”
Riyadi berdiri paling cepat.
Sedangkan Ahmad langsung lari keluar mencari guru.
Tono yang kebetulan lewat depan kelas spontan masuk saat mendengar keributan.
Dan saat melihat Titik tidak sadarkan diri…
wajahnya langsung berubah panik.
Suasana sekolah mendadak kacau.
Titik dibawa ke rumah sakit kecil dekat Klaten menggunakan mobil guru.
Riyadi ikut.
Dwi ikut.
Dan tanpa diminta…
Tono juga ikut.
Sepanjang perjalanan…
Riyadi memegangi tangan Titik sambil cemas.
“Titik… bangun…”
Sedangkan Tono duduk di depan dengan wajah tegang.
Tidak biasanya laki-laki itu terlihat setakut itu.
Saat sampai rumah sakit…
dokter langsung memeriksa Titik.
Teman-temannya menunggu di luar ruang IGD dengan wajah cemas.
Ahmad mondar-mandir seperti orang kehilangan arah.
“Kalau sampai kenapa-kenapa gimana…”
Muji menepuk pundaknya.
“Tenang.”
Namun semua sebenarnya sama paniknya.
Tak lama kemudian dokter keluar.
“Siapa keluarganya?”
Semua langsung berdiri.
“Belum ada Dok…”
“Pasien kelelahan dan stres berat. Tekanan darahnya turun.”
DEG.
Kalimat itu membuat semua terdiam.
“Dia harus istirahat total beberapa hari.”
Malam mulai turun.
Hujan gerimis membasahi halaman rumah sakit.
Titik akhirnya sadar perlahan.
Pandangan pertama yang ia lihat—
lampu putih rumah sakit.
Pandangan kedua—
Riyadi tertidur sambil duduk di kursi dekat ranjangnya.
Dan di sudut ruangan…
Tono sedang berdiri memandangi hujan dari jendela.
Titik mengernyit pelan.
“Aku… di mana…”
Riyadi langsung bangun.
“Titik!”
Tono spontan menoleh cepat.
“Kamu sadar?”
Titik mencoba duduk namun kepalanya langsung pusing.
“Pelan,” kata Riyadi cepat sambil membantu menopang tubuhnya.
Dan entah kenapa…
pemandangan itu membuat wajah Tono berubah.
Dokter masuk memeriksa keadaan Titik.
“Kamu terlalu banyak pikiran.”
Titik tersenyum lemah.
“Iya Dok…”
“Anak muda jangan stres terus.”
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun justru membuat mata Titik berkaca-kaca.
Karena hanya dirinya yang tahu…
betapa lelah hatinya selama ini.
Malam itu Dwi datang membawa pakaian ganti.
“Kamu bikin kaget tau!”
“Maaf…”
Dwi duduk di pinggir ranjang.
“Kamu tuh dipikirin semua orang.”
Titik hanya tersenyum kecil.
Namun matanya tanpa sadar melihat ke arah Tono dan Riyadi yang duduk berjauhan.
Keduanya sama-sama diam.
Sama-sama menjaga.
Namun suasananya terasa dingin.
Beberapa jam kemudian…
Riyadi keluar membeli makanan.
Dan untuk pertama kalinya sejak Titik sadar…
ia hanya berdua dengan Tono di ruangan itu.
Suasana hening cukup lama.
Tono duduk perlahan di dekat ranjang.
“Kamu bikin takut.”
Titik memandang langit-langit kamar.
“Maaf.”
Tono menunduk.
“Aku kepikiran terus waktu kamu jatuh.”
Titik diam.
Lalu berkata pelan—
“Aku capek…”
Tono langsung menatapnya.
Capek apa?”
“Semua.”
Suasana mendadak sunyi.
Air mata Titik mulai jatuh perlahan.
“Aku capek hidup kayak diawasin terus…”
“Titik…”
“Aku capek takut teman-temanku disakitin…”
Suara Titik mulai pecah.
Dan untuk pertama kalinya…
Tono benar-benar terlihat terpukul.
“Aku cuma sayang sama kamu…”
Suara Tono lirih sekali.
“Tapi cara kamu bikin aku sesak.”
Kalimat itu menghantam keras hati Tono.
Ia menunduk cukup lama.
Lalu berkata pelan—
“Aku nggak pernah sayang sama cewek sampai segininya.”
“Tapi aku bukan barang yang harus dijaga terus.”
Tono memejamkan mata.
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya laki-laki paling ditakuti di STM itu terlihat kalah.
Bukan kalah karena berantem.
Namun kalah oleh perasaannya sendiri.
Tak lama kemudian Riyadi kembali membawa bubur hangat.
“Nih makan dulu.”
Titik langsung tersenyum kecil.
“Repot banget…”
“Nggak apa-apa.”
Riyadi membuka plastik makanan pelan.
Dan seperti biasa…
ia melakukan semuanya dengan tenang.
Tanpa banyak bicara.
Tanpa menuntut apa pun.
Tono yang melihat hanya diam.
Tatapannya sulit dijelaskan.
Ada cemburu.
Ada marah.
Namun juga ada rasa kalah yang tidak bisa ia sembunyikan.
Malam semakin larut.
Dwi akhirnya pulang ke kos.
Sedangkan Ahmad dan yang lain sudah lebih dulu pulang.
Tersisa Riyadi dan Tono yang masih bertahan menjaga Titik.
Dua laki-laki dengan cara mencintai yang sangat berbeda.
Yang satu mencintai dengan tenang.
Yang satu mencintai dengan rasa memiliki berlebihan.
Dan Titik…
terjebak di tengah semuanya.
Sekitar jam dua malam…
Titik terbangun dan melihat Riyadi tertidur sambil duduk dengan kepala bersandar ke dinding.
Sedangkan Tono masih terjaga di dekat jendela.
“Ton…”
Tono menoleh.
“Kamu belum tidur?”
“Belum.”
“Kenapa?”
Tono tersenyum tipis.
“Aku takut kamu kenapa-kenapa lagi.”
Titik memandang laki-laki itu cukup lama.
Dan untuk pertama kalinya…
ia melihat sisi rapuh dalam diri Tono.
Sisi yang selama ini tertutup oleh sikap galak dan kerasnya.
Namun tetap saja…
rasa sesak itu belum hilang dari hatinya.
Pagi harinya Bu Yati datang dari kampung setelah mendapat kabar.
Saat melihat Titik terbaring lemah…
mata ibunya langsung berkaca-kaca.
“Ya Allah anak ibu…”
Titik langsung memeluk ibunya sambil menangis.
“Aku nggak apa-apa Bu…”
Bu Yati mengusap rambutnya lembut.
“Kamu terlalu banyak pikiran ya…”
Titik tidak menjawab.
Karena kalau ia jujur…
hatinya memang sedang sangat lelah.
Sebelum pulang…
Bu Yati sempat berbicara dengan Tono dan Riyadi di luar ruangan.
“Ibu terima kasih kalian sudah jagain Titik.”
Riyadi mengangguk sopan.
“Udah kewajiban Bu.”
Sedangkan Tono berdiri diam dengan wajah serius.
Bu Yati menatap mereka bergantian.
Dan entah kenapa…
seorang ibu selalu bisa merasakan sesuatu yang tidak terlihat.
Ia bisa melihat—
kedua laki-laki itu sama-sama menyayangi anaknya.
Namun dengan cara yang sangat berbeda.
Dan jauh di dalam hati…
Bu Yati mulai takut.
Karena cinta yang terlalu besar…
kadang justru bisa melukai orang yang dicintai.
BAB XIII
BONEKA PANDA DI BULAN DESEMBER
“Ada Hati yang Menunggu dengan Sabar, Saat Aku Sibuk Mengejar Luka”
Setelah keluar dari rumah sakit…
hidup Titik perlahan berubah lagi.
Ia mulai lebih banyak diam.
Lebih sering memikirkan dirinya sendiri.
Dan mulai sadar…
bahwa selama ini ia terlalu memikirkan perasaan semua orang sampai lupa menjaga hatinya sendiri.
Namun satu hal yang tidak berubah—
Tono masih tetap ada.
Dan semakin hari…
laki-laki itu justru semakin dekat dengannya.
Tono berubah banyak setelah kejadian rumah sakit.
Ia tidak lagi terlalu sering marah di depan Titik.
Tidak lagi membentak teman-temannya secara terang-terangan.
Bahkan mulai mencoba lebih sabar.
Walaupun sifat posesifnya belum benar-benar hilang.
Suatu sore Titik duduk di taman Umbul sendirian.
Langit sore terlihat indah.
Anak-anak kecil bermain di dekat kolam.
Sedangkan daun-daun pohon bergerak pelan tertiup angin.
Tiba-tiba suara motor berhenti di belakangnya.
Tono datang sambil membawa dua gelas es teh.
“Nih.”
Titik menerimanya pelan.
“Makasih.”
Tono duduk di sampingnya.
Untuk beberapa saat mereka diam.
Lalu Tono berkata pelan—
“Aku lagi belajar.”
“Belajar apa?”
“Belajar nggak bikin kamu sesak.”
Titik langsung menoleh.
Dan entah kenapa…
kalimat sederhana itu membuat hatinya sedikit hangat.
“Aku emang keras kepala,” lanjut Tono.
“Tapi aku serius sayang sama kamu.”
Titik menunduk.
“Kadang aku takut…”
“Tono?”
“Iya?”
“Kalau suatu hari aku nggak bisa jadi seperti yang kamu mau.”
Tono langsung menjawab cepat—
“Aku nggak pengen kamu berubah.”
“Terus kenapa sering ngatur aku?”
Tono terdiam.
Dan lagi-lagi…
ia tidak punya jawaban.
Walaupun begitu…
perlahan Titik mulai mencoba memahami Tono.
Karena di balik sifat kerasnya…
laki-laki itu memang tulus.
Ia selalu ada saat Titik sakit.
Selalu datang saat Titik sedih.
Dan selalu berusaha menjaga walaupun caranya salah.
Namun di sisi lain…
hubungan Titik dengan sahabat-sahabatnya mulai berubah.
Mereka masih berteman.
Masih ngobrol.
Masih bercanda.
Namun tidak lagi seakrab dulu.
Kini ada jarak yang samar.
Dan Titik bisa merasakannya.
Suatu sore di kelas…
Ahmad berkata sambil bercanda—
“Sekarang Titik susah diajak nongkrong.”
“Apaan sih…”
Muji ikut nimbrung.
“Iya sekarang sibuk sama senior galak.”
Titik tersenyum hambar.
“Enggak juga.”
Namun Riyadi yang duduk di dekat jendela hanya diam.
Dan diamnya itu…
lebih menyakitkan dibanding semua candaan teman-temannya.
Sepulang sekolah…
Titik akhirnya memberanikan diri menghampiri Riyadi.
“Yadi.”
“Hm?”
“Kamu marah sama aku?”
Riyadi menggeleng pelan.
“Nggak.”
“Bohong.”
Riyadi tersenyum kecil.
“Aku cuma lagi banyak pikiran.”
“Tentang apa?”
Riyadi memandang halaman sekolah cukup lama sebelum menjawab—
“Kadang orang harus tahu kapan mundur.”
DEG.
Hati Titik langsung terasa nyeri.
“Maksud kamu apa…”
Riyadi tertawa kecil.
“Nggak ada.”
Namun Titik tahu…
ada sesuatu yang perlahan berubah di antara mereka.
Hari demi hari berlalu.
Dan tanpa terasa…
bulan Desember datang.
Bulan yang dingin.
Bulan hujan.
Dan bulan ulang tahun Titik.
Pagi itu kelas mendadak ribut.
Saat Titik masuk…
lampu kelas mati.
“Loh kenapa gelap?”
Tiba-tiba—
“SELAMAT ULANG TAHUNNN!”
Satu kelas langsung berteriak keras.
Titik spontan kaget.
“ASTAGA!”
Ahmad membawa roti kecil.
Muji meniup terompet.
Sedangkan Aris malah salah nyanyi.
“Panjang umurnyaaaaa—”
“WOY NADA LU SALAH!”
Satu kelas ngakak.
Titik sampai tertawa sambil menutup wajahnya.
“Kalian apaan sih…”
Namun jauh di dalam hati…
ia bahagia.
Karena untuk pertama kalinya ulang tahunnya dirayakan seramai itu.
Saat suasana mulai tenang…
tiba-tiba seseorang muncul di depan pintu kelas.
Tono.
Satu kelas langsung bersorak heboh.
“WOOOOOO!”
“PAHLAWAN DATANG!”
Tono berjalan masuk sambil membawa kantong kecil warna coklat.
Tatapannya langsung tertuju pada Titik.
“Selamat ulang tahun.”
Suasana kelas langsung berubah jadi stadion.
Ahmad sampai berdiri di atas meja.
“CIUM! CIUM! CIUM!”
“WOY GILA!”
Titik langsung malu setengah mati.
Tono hanya tersenyum tipis lalu menyerahkan kantong itu.
Titik membukanya perlahan.
Dan di dalamnya…
ada boneka panda kecil warna coklat.
Lucu.
Sederhana.
Namun entah kenapa…
langsung membuat hati Titik hangat.
“Lucu…”
Tono mengusap tengkuknya sendiri malu-malu.
“Aku lihat itu kemarin… terus kepikiran kamu.”
Titik memegang boneka itu pelan.
“Makasih…”
Lalu Tono berkata pelan—
“Kalau suatu hari kamu nggak bisa balas perasaanku…”
Suasana mendadak hening.
“…aku tetap mau jadi teman baikmu.”
DEG.
Kalimat itu membuat hati Titik bergetar aneh.
Karena untuk pertama kalinya…
Tono tidak terdengar menuntut.
Tidak terdengar memaksa.
Hanya tulus.
Sepulang sekolah…
Titik duduk sendiri di kamar kos sambil memeluk boneka panda kecil itu.
Dwi langsung duduk di sampingnya.
“Wih lucu banget.”
“Iya…”
“Tono ngasih?”
Titik mengangguk.
Dwi memperhatikan wajah sahabatnya beberapa detik.
“Kamu mulai suka ya sama dia…”
Titik terdiam cukup lama.
Sangat lama.
Lalu menjawab pelan—
“…aku mulai kasihan.”
“Kasihan?”
“Dia sayang banget sama aku.”
Dwi menghela napas kecil.
“Cinta karena kasihan itu bahaya, Tik.”
Kalimat itu langsung membuat Titik diam.
Karena jauh di dalam hati…
ia sendiri masih bingung membedakan mana rasa nyaman, mana rasa iba, dan mana cinta yang sebenarnya.
Malam itu hujan turun deras di Klaten.
Titik duduk dekat jendela sambil memandangi boneka panda kecil di pangkuannya.
Dan tanpa sadar…
senyum kecil muncul di wajahnya.
Mungkin…
ia memang mulai membuka sedikit ruang di hatinya untuk Tono.
Walaupun rasa itu belum benar-benar cinta.
Namun Titik belum tahu—
bahwa semakin ia mencoba menerima Tono…
semakin besar pula harga yang harus dibayar oleh persahabatan yang dulu begitu ia jaga.
BAB XIV
BURUNG YANG MULAI KEHILANGAN LANGIT
“Saat Cinta Perlahan Berubah Menjadi Sangkar”
Setelah ulang tahun itu…
hubungan Titik dan Tono semakin dekat.
Walaupun belum benar-benar resmi pacaran…
semua orang di sekolah mulai menganggap mereka memiliki hubungan khusus.
Dan anehnya…
Titik sendiri perlahan mulai terbiasa dengan kehadiran Tono.
Laki-laki itu selalu muncul di hidupnya.
Mengantar makan.
Menunggu pulang sekolah.
Datang saat ia sakit.
Bahkan sering duduk diam menemaninya tanpa banyak bicara.
Namun di balik semua perhatian itu…
ada sesuatu yang perlahan membuat Titik kehilangan dirinya sendiri.
Awalnya hanya hal kecil.
“Jangan pulang terlalu sore.”
“Jangan terlalu dekat sama anak-anak bengkel.”
“Kalau nongkrong kabarin.”
Titik masih menganggap itu wajar.
Namun lama-lama…
larangan itu semakin banyak.
Suatu sore di taman Umbul…
Titik sedang tertawa bersama Ahmad, Muji, Aris, dan Riyadi.
Mereka membahas guru yang salah masuk kelas pagi tadi.
“Terus pak guru bilang— eh salah kelas!”
Satu kelompok langsung ngakak.
Titik sampai memegangi perutnya karena terlalu banyak tertawa.
Dan tepat saat itulah…
motor Tono berhenti di dekat mereka.
Suasana langsung berubah.
Tono melepas helm pelan.
Tatapannya langsung tertuju pada Riyadi yang duduk dekat Titik.
“Belum pulang?”
Nada suaranya datar.
Namun cukup membuat semua orang diam.
“Masih santai,” jawab Ahmad mencoba mencairkan suasana.
Tono tidak menjawab.
Matanya tetap tertuju pada Titik.
“Aku nyariin kamu dari tadi.”
“Oh…”
“Kok nggak bilang nongkrong di sini?”
Titik mulai merasa tidak nyaman.
“Dadakan…”
Tono menghela napas kecil.
“Ayo pulang.”
Suasana mendadak canggung.
Padahal sebelumnya mereka sedang tertawa lepas.
Kini semua berubah sunyi.
Dalam perjalanan pulang…
Titik akhirnya bicara.
“Kamu kenapa sih?”
“Kenapa apa?”
“Kalau datang suasana langsung jadi nggak enak.”
Tono terdiam beberapa detik.
“Mereka terlalu dekat sama kamu.”
“Mereka sahabatku.”
“Aku tahu.”
“Terus?”
“Aku nggak suka.”
Kalimat itu langsung membuat Titik kesal.
“Kamu nggak bisa ngatur hidupku terus.”
“Aku cuma takut kehilangan.”
“Tapi caramu bikin aku sesak.”
Tono langsung diam.
Namun wajahnya jelas berubah.
Dan lagi-lagi…
Titik merasa seperti burung yang sayapnya mulai dipotong perlahan.
Hari-hari berikutnya keadaan makin rumit.
Tono mulai sering muncul tiba-tiba saat Titik bersama teman-temannya.
Kalau melihat Riyadi terlalu dekat…
raut wajahnya langsung berubah dingin.
Bahkan beberapa kali…
teman-teman Titik memilih pergi duluan agar tidak terjadi masalah.
Suatu siang di kantin…
Adi duduk di samping Titik sambil makan bakso.
“Kamu sekarang beda.”
Titik menoleh.
“Beda gimana?”
“Jarang ketawa lepas.”
Titik tersenyum hambar.
“Masih sama kok.”
Adi menggeleng pelan.
“Dulu kamu bebas.”
Kalimat itu menusuk hati Titik.
Karena ia sendiri mulai merasakannya.
Tono datang tak lama kemudian.
Dan seperti biasa…
suasana kantin langsung berubah sedikit tegang.
Adi berdiri santai.
“Gue duluan.”
Namun sebelum pergi…
ia sempat menepuk pundak Titik pelan.
“Hati-hati sama hidupmu sendiri.”
Kalimat itu membuat Tono menatap Adi tajam.
Sedangkan Titik hanya bisa diam.
Malamnya Titik menangis diam-diam di kamar kos.
Dwi yang melihat langsung duduk di dekatnya.
“Kamu kenapa lagi…”
“Aku capek…”
“Karena Tono?”
Titik mengangguk pelan.
“Dia baik.”
“Tapi?”
“Aku nggak bisa napas.”
Dwi langsung terdiam.
Dan beberapa detik kemudian berkata pelan—
“Kamu tahu nggak…?”
“Apa?”
“Cinta itu harusnya bikin tenang.”
Air mata Titik jatuh lagi.
“Kenapa hidupku selalu kayak gini…”
Hari-hari berikutnya Titik mulai lebih sering curhat pada Abdul.
Abdul adalah teman Tono yang sejak awal paling dewasa di antara mereka.
Sifatnya tenang.
Tidak banyak bicara.
Dan selalu bisa mendengarkan tanpa menghakimi.
Suatu sore setelah pulang sekolah…
Titik duduk di warung dekat terminal bersama Abdul.
“Aku bingung…”
Abdul menatapnya tenang.
“Karena Tono?”
“Iya.”
“Kalian berantem lagi?”
“Enggak.”
“Terus?”
Titik menunduk.
“Aku merasa dikekang.”
Abdul menghela napas kecil.
“Itu karena dia terlalu sayang.”
“Tapi aku bukan tahanan.”
Abdul tersenyum tipis.
“Aku ngerti.”
Titik langsung menatapnya.
“Serius?”
“Iya.”
“Terus aku harus gimana…”
Abdul diam cukup lama sebelum menjawab—
“Kamu harus tetap jadi dirimu sendiri.”
Kalimat sederhana itu justru membuat mata Titik mulai berkaca-kaca.
Karena hanya sedikit orang yang benar-benar memahami perasaannya.
“Aku kangen hidupku yang dulu…”
“Yang bebas?”
Titik mengangguk.
“Aku biasa berteman sama siapa aja.”
“Dan sekarang?”
“Aku takut kalau dekat sama siapa pun nanti mereka disakitin lagi.”
Abdul menatap jalanan cukup lama.
Lalu berkata pelan—
“Tono itu keras… tapi sebenernya dia takut.”
“Takut apa?”
“Kehilangan.”
Titik tersenyum pahit.
“Kenapa semua orang takut kehilangan aku… padahal aku sendiri aja kehilangan banyak hal.”
Abdul langsung diam.
Karena kalimat itu terdengar sangat sedih.
Malam itu Tono datang ke kos lagi.
Saat Titik keluar…
wajah laki-laki itu terlihat lelah.
“Kamu habis pergi sama Abdul?”
Titik langsung kesal.
“Kamu ngawasin aku?”
“Aku cuma lihat.”
“Kenapa sih semua harus kamu tahu?”
Tono mengusap wajahnya frustrasi.
“Aku cuma khawatir.”
“Khawatir atau curiga?”
Suasana mendadak hening.
Dan lagi-lagi…
percakapan mereka berubah jadi pertengkaran kecil.
“Aku capek selalu dicurigai.”
“Aku nggak curiga!”
“Terus kenapa semua orang yang dekat sama aku selalu jadi masalah?!”
Tono menatap Titik lama sekali.
Lalu berkata lirih—
“Karena aku takut nggak cukup buat kamu.”
Kalimat itu langsung membuat Titik membeku.
Untuk pertama kalinya…
ia melihat sisi rapuh yang sangat dalam dari laki-laki itu.
Ternyata di balik semua sifat galaknya…
Tono hanyalah seseorang yang takut ditinggalkan.
Namun tetap saja…
ketakutan itu perlahan berubah menjadi penjara.
Dan Titik mulai sadar—
ia sedang kehilangan langit tempatnya biasa terbang bebas.
Malam semakin larut.
Setelah Tono pergi…
Titik duduk sendirian di dekat jendela kamar kos.
Lampu kota terlihat redup terkena hujan.
Dan untuk pertama kalinya…
ia mulai bertanya pada dirinya sendiri—
“Apakah cinta memang harus sesakit ini?”
BAB XV
ABDUL, SOSOK YANG MENGINGATKANKU PADA AKANG
“Kadang yang Menenangkan Hati Bukan Kekasih, Melainkan Seseorang yang Mau Mendengar Tanpa Menghakimi”
Hari-hari Titik semakin rumit.
Hubungannya dengan Tono masih berjalan…
namun tidak benar-benar membuatnya bahagia.
Di depan semua orang mereka terlihat dekat.
Tono tetap perhatian.
Tetap setia menunggu.
Tetap menjaga Titik seperti sesuatu yang sangat berharga.
Namun di balik itu semua…
Titik perlahan kehilangan ruang bernapasnya sendiri.
Dan di saat hatinya mulai lelah…
Abdul hadir sebagai tempat paling nyaman untuk bercerita.
Abdul berbeda dari Tono.
Kalau Tono seperti api—
keras, panas, dan sulit ditebak.
Maka Abdul seperti hujan sore—
tenang, adem, dan menenangkan.
Ia tidak banyak bicara.
Namun selalu mendengarkan sampai selesai.
Tidak pernah memotong cerita.
Tidak pernah memaksa.
Dan mungkin…
itulah yang paling dibutuhkan Titik selama ini.
Suatu sore sepulang sekolah…
Titik duduk bersama Abdul di depan warung kecil dekat rel kereta.
Mereka membeli teh hangat dan gorengan.
Kereta lewat perlahan di depan mereka.
Suara rodanya menggema panjang.
“Aku iri sama kereta,” kata Titik tiba-tiba.
Abdul tersenyum kecil.
“Kenapa?”
“Dia tahu mau ke mana.”
Abdul tertawa pelan.
“Kamu lagi galau berat ya.”
Titik memandang langit senja.
“Kadang aku bingung sama hidupku sendiri.”
“Karena Tono?”
“Iya… dan semuanya.”
Abdul diam mendengarkan.
Dan seperti biasa…
ia membiarkan Titik bicara sampai puas.
“Tahu nggak…”
Titik menunduk sambil memainkan sedotan plastik.
“Aku tuh sebenarnya nggak butuh cowok posesif.”
“Terus?”
“Aku cuma pengen ada yang ngerti aku.”
Abdul mengangguk pelan.
“Dan Tono nggak ngerti?”
“Dia sayang… tapi terlalu takut kehilangan.”
Abdul tersenyum tipis.
“Karena kamu terlalu berarti buat dia.”
“Tapi aku capek dijaga kayak tahanan.”
Suasana hening beberapa detik.
Angin sore berembus pelan.
Dan Abdul akhirnya berkata—
“Kamu pernah ngomong soal Akang.”
DEG.
Nama itu langsung membuat hati Titik bergetar.
Akang.
Nama yang selalu tinggal diam-diam di sudut hati Titik.
Seseorang yang dulu hadir sebagai tempat paling nyaman sebelum pergi tanpa pamit.
Seseorang yang selalu membuat Titik merasa aman.
Dan anehnya…
sikap Abdul sering mengingatkannya pada sosok itu.
“Akang nggak pernah ngatur aku,” ucap Titik lirih.
“Tapi dia selalu ada.”
Abdul mendengarkan dengan tenang.
“Kalau aku sedih dia dengerin.”
“Kalau aku marah dia diem aja.”
“Kalau aku nangis dia cuma bilang… semuanya bakal baik-baik aja.”
Suara Titik mulai melemah.
Dan tanpa sadar matanya berkaca-kaca.
“Aku kangen dia…”
Abdul menatap Titik cukup lama.
Lalu berkata pelan—
“Mungkin dia pergi bukan karena mau ninggalin kamu.”
“Tapi dia pergi tanpa pamit…”
“Mungkin dia nggak sanggup pamit.”
Kalimat itu langsung membuat Titik diam.
Karena selama ini…
ia tidak pernah mencoba melihat dari sisi itu.
“Maksud kamu?”
Abdul tersenyum kecil.
“Kadang orang pergi bukan karena nggak sayang.”
“Tapi karena keadaan.”
Titik memandang jalanan kosong di depan mereka.
Dan untuk pertama kalinya…
hatinya sedikit tenang saat membicarakan Akang.
“Kamu tahu nggak?”
“Apa?”
“Kalau kamu cerita tentang Akang… mata kamu beda.”
Titik tersenyum kecil.
“Dia orang paling baik yang pernah aku kenal.”
Abdul tertawa pelan.
“Wah berat saingannya.”
“Apaan sih…”
“Mungkin makanya kamu susah jatuh cinta lagi.”
Kalimat itu membuat Titik terdiam cukup lama.
Karena mungkin…
itu benar.
Sejak hari itu Titik semakin dekat dengan Abdul.
Bukan sebagai kekasih.
Bukan juga sebagai lelaki yang diam-diam ia sukai.
Namun lebih seperti tempat pulang saat hatinya lelah.
Dan anehnya…
Abdul pun perlahan mulai menganggap Titik seperti adiknya sendiri.
Suatu malam Titik menangis lagi karena bertengkar dengan Tono.
Ia langsung menemui Abdul di depan kos.
Abdul yang baru pulang kerja sampingan langsung panik.
“Eh kenapa?”
“Tono lagi…”
Abdul menghela napas kecil.
“Berantem apa sekarang?”
“Dia marah karena aku ngobrol sama Adi.”
“Ya ampun…”
Titik duduk di bangku depan kos sambil menghapus air mata.
“Aku capek Dul…”
Abdul duduk di sampingnya.
“Denger ya.”
“Apa…”
“Kamu nggak boleh kehilangan dirimu sendiri cuma karena cinta.”
Kalimat itu langsung membuat Titik menoleh.
“Kalau orang sayang sama kamu…”
“…dia harusnya bikin kamu jadi lebih hidup, bukan malah takut.”
Air mata Titik jatuh lagi.
Karena itu tepat sekali dengan apa yang ia rasakan.
“Aku pengen bebas…”
“Kamu memang harus bebas.”
“Tapi aku takut nyakitin dia.”
Abdul tersenyum tipis.
“Kadang mencintai seseorang nggak harus memiliki sepenuhnya.”
“Tono nggak ngerti itu.”
“Mungkin karena dia terlalu muda untuk memahami cinta.”
Titik tertawa kecil di sela tangisnya.
“Kamu ngomong kayak orang tua.”
“Memang aku dewasa.”
“Lebay.”
Untuk pertama kalinya malam itu…
Titik tertawa lagi.
Dan Abdul merasa lega melihatnya.
Beberapa hari kemudian…
Bu Yati datang menjenguk Titik ke kos.
Dan tanpa sengaja bertemu Abdul.
“Ibu sering dengar nama kamu.”
Abdul langsung sopan.
“Eh… saya Abdul Bu.”
Bu Yati tersenyum hangat.
“Terima kasih ya sudah sering jagain Titik.”
“Enggak Bu… kebetulan aja.”
Namun seorang ibu selalu bisa membaca sesuatu.
Bu Yati melihat bagaimana Abdul memperlakukan anaknya.
Tidak berlebihan.
Tidak posesif.
Namun tulus menjaga.
Dan sejak hari itu…
Bu Yati mulai percaya pada Abdul.
Sore sebelum Bu Yati pulang kampung…
ia sempat bicara pelan pada Abdul.
“Tolong jagain Titik ya.”
Abdul sedikit terkejut.
“Bu…”
“Dia keras kepala… tapi hatinya lembut.”
Abdul tersenyum kecil.
“Iya Bu.”
Dan tanpa sadar…
kalimat sederhana itu membuat hubungan Abdul dan Titik berubah perlahan.
Bukan menjadi cinta.
Namun menjadi ikatan yang jauh lebih dalam—
seperti kakak dan adik yang saling menjaga.
Malamnya Titik duduk bersama Abdul di depan warung lagi.
“Kamu tahu nggak…”
“Apa?”
“Ibu suka sama kamu.”
Abdul tertawa kecil.
“Syukur.”
“Dia bilang kamu cocok jadi kakakku.”
Abdul menoleh sambil tersenyum.
“Boleh nggak?”
Titik langsung diam.
Angin malam berembus pelan.
Dan entah kenapa…
dadanya terasa hangat mendengar kalimat itu.
“Walaupun Akang nggak tergantikan…”
“…aku mau jadi kakak yang baik buat kamu.”
Air mata Titik tiba-tiba jatuh begitu saja.
Bukan karena sedih.
Namun karena untuk pertama kalinya sejak kehilangan Akang…
ia merasa menemukan kembali seseorang yang mampu membuatnya merasa aman.
Dan malam itu…
persahabatan mereka dimulai dengan sangat sederhana.
Di bawah lampu jalan kecil.
Di antara suara kendaraan yang lewat.
Dan di tengah hati Titik yang perlahan mulai belajar sembuh kembali.
BAB XVI
AKU BUKAN BURUNG DALAM SANGKAR
“Semakin Dicintai, Semakin Aku Kehilangan Diriku Sendiri”
Hubungan Titik dan Abdul semakin dekat setelah pertemuan Bu Yati itu.
Kini Titik benar-benar menganggap Abdul sebagai kakaknya sendiri.
Tempat curhat.
Tempat mengadu.
Dan satu-satunya orang yang bisa membuat pikirannya tenang saat hidup mulai terasa melelahkan.
Berbeda dengan Tono…
Abdul tidak pernah memaksa.
Tidak pernah melarang.
Tidak pernah marah kalau Titik pergi bersama teman-temannya.
Dan mungkin karena itulah…
Titik merasa sangat nyaman berada di dekatnya.
Nyaman seperti saat dulu bersama Akang.
Namun justru kedekatan itu…
perlahan membuat Tono semakin gelisah.
Suatu sore di sekolah…
Titik sedang duduk di kantin bersama Abdul sambil makan mie rebus.
Mereka tertawa membahas tingkah Ahmad yang salah memakai sepatu kanan kiri pagi tadi.
“Dia tuh bisa hidup tanpa malu ya,” kata Titik sambil tertawa.
Abdul ikut ngakak.
“Kalau malu bukan Ahmad namanya.”
Tiba-tiba suara kursi bergeser cukup keras.
Tono datang.
Wajahnya datar.
Namun matanya dingin.
“Seru banget.”
Suasana langsung berubah.
Titik langsung tahu—
Tono sedang cemburu lagi.
“Kamu nyariin aku?” tanya Titik pelan.
“Iya.”
“Kenapa?”
Tono menatap Abdul sekilas.
“Nggak apa.”
Abdul langsung berdiri santai.
“Gue tinggal dulu.”
Namun sebelum pergi…
ia sempat menepuk pundak Tono pelan.
“Jangan marah-marah terus.”
Tono tidak menjawab.
Tatapannya tetap dingin.
Setelah Abdul pergi…
suasana kantin mendadak terasa sesak.
“Kamu sekarang sering sama Abdul.”
Nada suara Tono terdengar pelan.
Namun jelas penuh tekanan.
“Dia kakakku.”
“Sejak kapan?”
“Sejak aku nyaman cerita sama dia.”
Tono tertawa kecil hambar.
“Nyaman ya…”
“Tono…”
“Aku pacarmu atau bukan sih?”
Pertanyaan itu membuat Titik langsung lelah.
“Kenapa semua harus dipermasalahkan…”
“Aku cuma nggak suka.”
“Tapi Abdul nggak pernah macam-macam!”
“Tetep aja aku nggak nyaman.”
Kalimat itu langsung membuat emosi Titik naik.
“TERUS AKU HARUS GIMANA?!”
Suara Titik cukup keras sampai beberapa siswa menoleh.
“Aku nggak boleh punya teman cowok?”
“Aku nggak boleh dekat sama sahabatku?”
“Sekarang aku bahkan nggak boleh cerita sama orang yang aku anggap kakak?!”
Tono langsung diam.
Sedangkan napas Titik mulai tidak teratur.
“Aku capek hidup kayak gini…”
Untuk beberapa detik…
suasana hanya dipenuhi suara napas mereka.
“Aku cuma takut kehilangan kamu.”
Lagi.
Kalimat itu lagi.
Dan entah kenapa…
kali ini justru membuat Titik semakin sedih.
“Kenapa sih semua orang selalu takut kehilangan aku…”
“…padahal aku sendiri aja sering kehilangan orang yang aku sayang.”
Tono menatap Titik cukup lama.
Namun tidak bisa menjawab.
Hari-hari berikutnya…
Titik mulai semakin sering merasa tertekan.
Ia tidak bisa bebas seperti dulu.
Kalau pergi harus bilang.
Kalau nongkrong harus laporan.
Kalau tidak membalas pesan…
Tono bisa marah seharian.
Suatu malam Titik duduk di depan kos bersama Abdul lagi.
Wajahnya kusut.
Matanya sembab habis menangis.
“Dia marah lagi?”
Titik mengangguk lemah.
“Karena apa sekarang…”
“Karena aku pergi sama Dwi dan anak-anak.”
Abdul menghela napas panjang.
“Itu bukan salahmu.”
“Tapi aku capek terus bertengkar.”
Abdul menatap Titik lama.
Lalu berkata pelan—
“Kamu tahu nggak…”
“Apa?”
“Kamu sekarang nggak sebahagia dulu.”
Kalimat itu langsung menusuk hati Titik.
Karena ia sendiri sadar akan hal itu.
“Aku kangen diriku yang dulu…”
Suara Titik lirih sekali.
“Yang bisa ketawa bebas.”
“Yang bisa nongkrong sampai sore.”
“Yang bisa main sama siapa aja tanpa takut ada yang marah.”
Air matanya jatuh lagi.
“Aku kayak burung dalam sangkar…”
Abdul diam mendengarkan.
Dan beberapa detik kemudian berkata—
“Kalau kamu memang merasa terkekang…”
“…jangan paksa dirimu bertahan.”
Titik langsung menoleh.
“Tapi aku nggak mau nyakitin dia.”
“Kalau terus begini yang sakit malah kamu.”
Kalimat itu membuat Titik terdiam lama.
Malam semakin larut.
Lampu jalan mulai redup.
Dan Titik masih duduk diam sambil memeluk lututnya.
“Aku takut sendirian lagi…”
Abdul tersenyum tipis.
“Kamu nggak sendiri.”
“Ada kamu?”
“Ada.”
“Janji?”
Abdul mengangguk pelan.
“Merpati nggak akan ingkar janji.”
DEG.
Kalimat itu langsung membuat Titik membeku.
Karena itu adalah kalimat yang dulu sering ia ucapkan tentang Akang.
Tentang seseorang yang pergi tanpa pamit namun masih ia tunggu diam-diam.
“Kamu tahu kalimat itu dari mana…”
Abdul tersenyum kecil.
“Kamu pernah cerita.”
Titik memandang langit malam.
Dan entah kenapa…
hatinya terasa sangat hangat sekaligus sedih.
Hari berikutnya di sekolah…
Titik kembali berkumpul dengan teman-temannya di taman Umbul.
Sudah lama mereka tidak nongkrong lengkap seperti dulu.
Ada Ahmad.
Muji.
Aris.
Yono.
Riyadi.
Dwi.
Dan beberapa teman lain.
Suasana kembali ramai.
Mereka tertawa sampai sore.
Membahas guru.
Membahas masa depan.
Membahas mimpi-mimpi absurd mereka.
Dan untuk beberapa jam…
Titik merasa hidup kembali.
“Kalau nanti sukses jangan lupa traktir kita!” teriak Ahmad.
“Tergantung suksesnya apa dulu.”
“Kalau jadi artis?”
“Ogah.”
Muji langsung nyeletuk—
“Kalau jadi ratu STM nasional?”
Satu kelompok langsung ngakak.
Riyadi yang duduk dekat Titik hanya tersenyum kecil sambil memperhatikan wajah gadis itu.
Dan dalam hati…
ia lega melihat Titik tertawa lagi seperti dulu.
Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama.
Karena dari kejauhan…
motor Tono mulai terlihat mendekat.
Dan seketika…
senyum di wajah Titik perlahan memudar lagi.
Ia tahu—
setelah ini semuanya pasti berubah kembali.
BAB XVII
MALAM DI MALIOBORO
“Di Tengah Lampu Kota dan Tawa Persahabatan, Aku Hampir Lupa Rasanya Dikekang”
Malam di Klaten terasa lebih dingin dari biasanya.
Hujan sore yang turun sejak siang menyisakan aroma tanah basah yang memenuhi udara.
Di kamar kos kecil mereka, suasana ramai seperti pasar.
Dwi sibuk memilih baju di depan cermin.
Tina heboh meminjam sisir.
Sedangkan Siti duduk tenang di sudut kamar sambil melipat jilbabnya pelan.
Dan di tengah semua keributan itu…
Titik hanya duduk di kasur sambil memandangi jendela.
Melamun.
“WOI!”
Dwi melempar bantal ke arah Titik.
“Kamu jadi ikut nggak sih?”
“Hah?”
“Ya Allah… ngelamun lagi.”
Tina langsung ikut nimbrung.
“Udah cantik malah murung terus.”
Titik tersenyum kecil.
“Jadi…”
“YA JADI!”
“Kalau nggak jadi aku pake jaketmu.”
“Eh jangan!”
Satu kamar langsung tertawa.
Malam itu mereka memang sudah berencana pergi ke Malioboro bersama.
Bukan cuma anak-anak cewek.
Namun juga Ahmad, Muji, Aris, Yono, Riyadi, Adi, dan beberapa teman lain.
Rencana yang sebenarnya sudah lama mereka buat.
Dan entah kenapa…
Titik sangat menunggu malam itu.
Karena sudah lama ia tidak benar-benar merasa bebas.
Sekitar jam tujuh malam mereka berkumpul di stasiun kecil dekat Klaten.
Suasana ramai.
Lampu-lampu stasiun menyala kekuningan.
Pedagang kopi keliling mondar-mandir.
Dan suara kereta sesekali terdengar dari kejauhan.
Ahmad datang paling heboh.
“ROMBONGAN ORANG GANTENG DATANG!”
Muji langsung menyenggolnya.
“Turun dulu gantengnya baru ngomong.”
Satu kelompok langsung ngakak.
Riyadi datang terakhir sambil membawa plastik makanan.
“Nih buat di jalan.”
Titik langsung tersenyum.
“Kamu selalu bawa makanan ya.”
“Daripada nanti kamu lapar.”
Ahmad langsung pura-pura muntah.
“CIE PERHATIAN.”
“WOY.”
Titik tertawa kecil.
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tawanya terdengar benar-benar lepas.
Kereta akhirnya datang.
Suara remnya memekakkan telinga.
Mereka semua naik sambil bercanda dan saling dorong.
“WOY JANGAN DESAK-DESAK!”
“MUJI KAKIKU!”
“AHMAD TURUN LU!”
Suasana gerbong langsung penuh suara tawa mereka.
Penumpang lain sampai ikut tersenyum melihat tingkah anak-anak STM itu.
Titik duduk di dekat jendela bersama Dwi.
Sedangkan Riyadi duduk di depannya.
Ahmad, Muji, dan yang lain sibuk bercanda di belakang.
Kereta mulai berjalan perlahan meninggalkan Klaten.
Lampu-lampu kota bergerak mundur dari balik kaca.
Angin malam masuk lewat jendela yang sedikit terbuka.
Dan entah kenapa…
hati Titik terasa jauh lebih ringan malam itu.
“Kamu senyum terus dari tadi,” kata Riyadi pelan.
Titik menoleh.
“Kelihatan ya?”
“Iya.”
“Jarang-jarang aku bisa keluar kayak gini lagi.”
Riyadi terdiam beberapa detik.
Lalu berkata pelan—
“Kalau bahagiamu sesederhana ini…”
“…kenapa harus hidup dalam tekanan?”
DEG.
Kalimat itu langsung membuat Titik diam.
Namun sebelum ia sempat menjawab…
Ahmad tiba-tiba berteriak dari belakang—
“WOI FOTO-FOTO!”
Suasana kembali ricuh.
Dan percakapan itu terpotong begitu saja.
Malioboro malam itu begitu ramai.
Lampu jalan menyala indah.
Pedagang kaki lima berjejer panjang.
Suara musik jalanan bercampur suara kendaraan dan tawa wisatawan.
Begitu turun dari kereta…
Ahmad langsung membuka tangan lebar-lebar.
“AKU DATANG WAHAI DUNIA!”
“Maluuuu…” kata Siti pelan.
“Biarin!”
Titik tertawa sampai memegangi perut.
Dan malam itu…
ia merasa seperti kembali menjadi dirinya sendiri.
Mereka berjalan bersama menyusuri Malioboro.
Kadang berhenti melihat gantungan kunci.
Kadang mencoba topi lucu.
Kadang rebutan beli bakpia murah.
Tina paling heboh.
“Tik! Tik! Lucu nggak?!”
Tina memakai kacamata hitam jumbo.
“Kayak nyamuk.”
“WOY!”
Satu kelompok langsung tertawa keras.
Adi berjalan di samping Titik sambil membawa kantong belanjaan.
“Kamu sekarang udah ketawa lagi.”
“Iya…”
“Bagus.”
Titik tersenyum kecil.
“Makasih.”
Adi meliriknya sebentar.
“Kamu tahu nggak?”
“Apa?”
“Banyak orang suka sama kamu bukan cuma karena cantik.”
“Terus?”
“Karena kamu bikin suasana hidup.”
Kalimat itu membuat Titik sedikit terdiam.
Namun sebelum ia sempat menjawab—
tiba-tiba suara motor terdengar berhenti tidak jauh dari mereka.
Dan entah kenapa…
jantung Titik langsung berdegup tidak tenang.
Tono datang.
Sendirian.
Dengan wajah datar.
Suasana kelompok mereka mendadak berubah.
Ahmad yang tadi heboh langsung diam.
Muji pura-pura melihat pedagang.
Sedangkan Riyadi hanya menatap jalan lurus ke depan.
Tono berjalan mendekat.
“Kamu nggak bilang pergi ke sini.”
Nada suaranya pelan.
Namun cukup membuat Titik kembali merasa sesak.
“Aku pergi sama teman-teman…”
“Aku tahu.”
Tatapan Tono beralih ke Riyadi dan Adi beberapa detik.
Lalu kembali ke Titik.
“Kenapa nggak ngajak aku?”
Titik menghela napas pelan.
“Karena ini rencana anak-anak.”
Tono diam.
Dan suasana kembali menjadi canggung.
Ahmad akhirnya mencoba mencairkan suasana.
“Ton mau gabung nggak?”
Tono menoleh sebentar.
Lalu mengangguk kecil.
Dan akhirnya…
mereka berjalan bersama.
Namun suasananya tidak lagi sebebas tadi.
Kini semua seperti menjaga jarak.
Mereka berhenti di angkringan dekat ujung Malioboro.
Lampu remang-remang.
Aroma kopi dan sate usus memenuhi udara malam.
Titik duduk di tengah Dwi dan Siti.
Sedangkan Tono duduk tepat di depannya.
Tatapannya nyaris tidak lepas dari Titik.
Dan itu membuat Titik kembali merasa tidak nyaman.
“Tik.”
“Hm?”
“Kamu tadi jalan sama Adi terus.”
Suara Tono pelan.
Namun cukup membuat meja mendadak hening.
Adi langsung meletakkan gelasnya.
“Kita cuma ngobrol.”
Tono tersenyum tipis.
“Aku nggak nanya kamu.”
Suasana mulai memanas.
Dan Titik langsung panik.
“Udah dong…”
Namun Tono tetap menatap Adi.
“Aku nggak suka.”
Adi tertawa kecil hambar.
“Lu tuh capek ya hidup penuh curiga.”
DEG.
Kalimat itu langsung membuat suasana dingin.
“Tono cukup.”
Suara Titik mulai terdengar lelah.
“Aku cuma pengen malam ini tenang.”
Tono menatapnya beberapa detik.
Dan akhirnya memilih diam.
Namun sejak saat itu…
suasana tidak benar-benar kembali seperti sebelumnya.
Sekitar jam sebelas malam…
mereka duduk di trotoar Malioboro sambil mendengarkan pengamen.
Lagu lawas Jawa terdengar pelan.
Lampu kota memantul indah di jalanan yang sedikit basah karena hujan sore tadi.
Dan di tengah suasana itu…
Titik mendadak merasa sangat sedih.
Padahal malam itu seharusnya menyenangkan.
“Kamu kenapa?” tanya Riyadi pelan yang duduk di sampingnya.
“Nggak apa…”
“Bohong.”
Titik tersenyum kecil.
“Aku cuma capek.”
Riyadi memandang keramaian Malioboro.
Lalu berkata pelan—
“Kalau kamu terus hidup buat nyenengin semua orang…”
“…kamu bakal kehilangan dirimu sendiri.”
Kalimat itu langsung menusuk hati Titik lagi.
Karena semakin lama…
semakin banyak orang mengatakan hal yang sama.
Di sisi lain…
Tono duduk diam memperhatikan mereka dari kejauhan.
Dan entah kenapa…
rasa takut kehilangan itu semakin besar dalam dirinya.
Ia takut suatu hari Titik benar-benar pergi.
Takut semua orang lebih bisa membuat Titik bahagia dibanding dirinya.
Dan ketakutan itu…
perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.
Malam semakin larut.
Kereta terakhir menuju Klaten akhirnya datang.
Mereka pulang dalam keadaan lelah.
Namun di dalam hati masing-masing…
ada sesuatu yang tidak lagi sama.
Dalam perjalanan pulang…
Titik memandangi lampu-lampu kota dari balik jendela kereta.
Ia teringat kata-kata Abdul.
“Kamu nggak boleh kehilangan dirimu sendiri cuma karena cinta.”
Lalu kata-kata Riyadi.
“Kalau bahagiamu sesederhana ini… kenapa harus hidup dalam tekanan?”
Dan entah kenapa…
air matanya jatuh diam-diam malam itu.
Karena untuk pertama kalinya…
ia mulai sadar—
ia memang sedang hidup di dalam sangkar yang perlahan menutup langitnya sendiri.
BAB XVIII
SAHABAT YANG PERLAHAN MENJAUH
“Kadang Kehilangan Tidak Terjadi Seketika, Tetapi Pelan-Pelan Sampai Kita Sadar Semuanya Sudah Berubah”
Setelah malam di Malioboro itu…
hubungan Titik dengan teman-temannya mulai terasa berbeda.
Bukan karena mereka membenci Titik.
Bukan juga karena mereka tidak peduli lagi.
Namun karena semua mulai lelah dengan suasana yang terus dipenuhi ketegangan.
Dan Titik…
merasakan perubahan itu sedikit demi sedikit.
Pagi di STM Klaten masih sama seperti biasanya.
Suara mesin praktik terdengar dari bengkel.
Anak-anak kelas lain berteriak-teriak di lapangan.
Dan aroma oli bercampur debu memenuhi udara sekolah.
Namun bagi Titik…
suasana itu tidak lagi sehangat dulu.
Saat masuk kelas…
Ahmad memang masih bercanda.
Muji masih suka usil.
Aris masih tidur saat jam kosong.
Namun semuanya terasa seperti ada jarak tak terlihat.
Dan yang paling terasa—
mereka tidak lagi sebebas dulu saat bersama Titik.
“Eh nanti sore nongkrong nggak?” tanya Titik suatu pagi.
Ahmad dan Muji saling pandang sebentar.
“Lihat nanti deh…”
Jawaban itu sederhana.
Namun cukup membuat hati Titik terasa aneh.
Karena dulu…
mereka selalu semangat kalau diajak berkumpul.
Riyadi yang duduk di dekat jendela hanya diam sambil menulis sesuatu di buku.
Titik memperhatikannya beberapa detik.
Laki-laki itu sekarang jauh lebih pendiam.
Tidak lagi sering menggoda seperti dulu.
Tidak lagi sering menawarkan pulang bersama.
Dan entah kenapa…
itu membuat hati Titik semakin sedih.
Jam istirahat tiba.
Biasanya mereka makan bersama di kantin.
Namun kali ini Ahmad, Muji, Aris, dan Yono memilih makan di bengkel belakang.
Tinggal Titik, Dwi, dan Riyadi di kelas.
“Kok mereka jarang bareng lagi ya…” ucap Titik lirih.
Dwi menghela napas kecil.
“Mungkin lagi males rame-rame.”
Namun Riyadi tahu.
Semua bukan soal malas.
Semua hanya berusaha menghindari masalah baru dengan Tono.
“Titik.”
Suara Riyadi pelan.
“Hm?”
“Jangan terlalu dipikirin.”
“Tapi aku ngerasa kehilangan mereka…”
Riyadi tersenyum kecil.
“Kadang orang menjauh bukan karena nggak sayang.”
“Terus?”
“Karena keadaan bikin mereka harus begitu.”
Kalimat itu membuat Titik langsung terdiam.
Karena tanpa sadar…
hidupnya memang mulai memengaruhi semua orang di sekitarnya.
Sore harinya Titik sengaja datang ke rumah Riyadi.
Sudah lama ia tidak ke sana.
Halaman rumah itu masih sama.
Pohon mangga besar masih berdiri teduh.
Dan suara radio tua masih terdengar dari dalam rumah.
Ibunya Riyadi langsung tersenyum hangat saat melihatnya.
“Eh Titik.”
“Permisi Bu…”
“Ayo masuk.”
Namun saat masuk…
Titik langsung sadar suasana rumah itu tidak lagi sama.
Dulu…
setiap ia datang, Ahmad dan yang lain pasti sudah berkumpul di ruang tamu.
Sekarang rumah itu sepi.
Hanya Riyadi yang duduk sendiri sambil memperbaiki radio kecil.
“Kamu sendirian?”
“Iya.”
“Yang lain?”
“Main entah ke mana.”
Jawaban Riyadi terdengar santai.
Namun Titik tahu…
ia juga merasa kehilangan.
Titik duduk di sampingnya.
“Aku kangen dulu…”
Riyadi tertawa kecil.
“Dulu yang mana?”
“Yang rame.”
“Yang belajar kelompok tapi malah bercanda.”
“Yang Ahmad nyolong gorengan ibumu.”
Riyadi ikut tertawa pelan.
“Iya…”
Untuk beberapa detik…
mereka hanya diam sambil mengenang masa-masa itu.
Dan anehnya…
kenangan yang bahkan belum terlalu lama berlalu itu sekarang terasa sangat jauh.
“Titik.”
“Hm?”
“Kamu bahagia nggak sekarang?”
Pertanyaan itu datang tiba-tiba.
Dan langsung membuat Titik diam.
Sangat lama.
Ia mencoba menjawab.
Namun tidak ada kata yang benar-benar keluar.
Karena bahkan dirinya sendiri tidak tahu jawabannya.
“Aku…”
Riyadi menatapnya pelan.
“Kalau susah jawabnya… berarti kamu sebenarnya tahu.”
Kalimat itu membuat dada Titik terasa sesak.
Ia menunduk.
Lalu tanpa sadar air matanya jatuh.
“Aku capek Yadi…”
Suara itu lirih sekali.
Riyadi mematung beberapa detik.
Lalu berkata pelan—
“Kenapa nggak berhenti?”
“Aku takut nyakitin dia…”
“Kalau terus begini yang rusak malah kamu.”
Titik menutup wajahnya.
Tangisnya pecah perlahan.
Dan Riyadi…
hanya bisa duduk diam di sampingnya.
Ia ingin memeluk Titik.
Ingin bilang kalau semua akan baik-baik saja.
Namun ia sadar…
ia bukan orang yang punya hak untuk itu.
Karena sejak awal…
Titik hanya menganggapnya sahabat.
“Aku pengen semuanya balik kayak dulu…”
Riyadi tersenyum pahit.
“Dulu nggak akan balik, Tik.”
Titik langsung menoleh.
“Maksud kamu?”
“Hidup terus jalan.”
“Kita juga berubah.”
Kalimat itu begitu sederhana.
Namun terasa sangat menyakitkan.
Karena memang benar—
mereka semua sedang berubah.
Sore itu mereka duduk lama di teras rumah.
Membicarakan banyak hal.
Tentang sekolah.
Tentang masa depan.
Tentang mimpi masing-masing.
Dan untuk sesaat…
Titik merasa nyaman lagi seperti dulu.
Tanpa tekanan.
Tanpa rasa takut.
Tanpa harus menjelaskan dirinya pada siapa pun.
Namun kebahagiaan kecil itu kembali runtuh saat suara motor berhenti di depan rumah.
Tono datang.
Wajahnya langsung berubah saat melihat Titik duduk bersama Riyadi.
“Aku nyariin kamu.”
Nada suaranya datar.
Namun cukup membuat suasana kembali dingin.
Titik langsung menghela napas lelah.
“Aku cuma main.”
“Kamu nggak bilang.”
“Aku nggak harus laporan terus kan?”
Tono diam.
Namun matanya langsung tertuju pada Riyadi.
Dan suasana mendadak sesak lagi.
Riyadi akhirnya berdiri pelan.
“Gue masuk dulu.”
Titik spontan menahannya.
“Yadi…”
“Nggak apa.”
Namun sebelum masuk rumah…
Riyadi sempat berkata pelan tanpa melihat Tono—
“Jangan bikin dia kehilangan dirinya sendiri.”
DEG.
Kalimat itu membuat Tono langsung menatap tajam.
Sedangkan Titik membeku di tempat.
Dalam perjalanan pulang…
Titik dan Tono kembali bertengkar kecil.
“Kamu masih sering ke rumah dia.”
“Karena dia sahabatku!”
“Tapi dia suka sama kamu.”
“Kenapa sih kamu selalu mikir begitu?!”
“Karena aku nggak buta!”
Suara Tono mulai meninggi.
Dan lagi-lagi…
Titik merasa seperti sedang diadili.
“Aku capek dicurigai terus!”
“Aku cuma takut!”
“TAKUT ATAU MAU NGUASAIN HIDUPKU?!”
Motor mendadak berhenti di pinggir jalan.
Suasana malam terasa sunyi.
Hanya ada suara jangkrik dan kendaraan dari kejauhan.
Tono memejamkan mata beberapa detik.
Lalu berkata lirih—
“Aku nggak tahu cara mencintai tanpa takut kehilangan.”
Kalimat itu membuat Titik mendadak diam.
Karena di balik semua sifat buruknya…
Tono memang benar-benar mencintainya.
Dan justru itu yang membuat semuanya semakin rumit.
Malam itu setelah sampai kos…
Titik duduk sendiri di depan cermin.
Wajahnya terlihat lelah.
Matanya sembab.
Dan untuk pertama kalinya…
ia mulai tidak mengenali dirinya sendiri.
Dulu ia adalah gadis tomboy yang bebas tertawa dengan siapa saja.
Sekarang…
ia bahkan takut membuat seseorang marah hanya karena berbicara dengan temannya sendiri.
Dwi yang melihatnya akhirnya duduk di sampingnya.
“Kamu nangis lagi…”
Titik tersenyum kecil pahit.
“Aku lelah.”
“Kalau lelah kenapa nggak berhenti?”
Pertanyaan itu lagi.
Pertanyaan yang sebenarnya sudah lama ada di kepalanya sendiri.
Namun ia selalu takut menjawabnya.
“Karena dia sayang sama aku…”
Dwi menghela napas pelan.
“Tapi kalau sayangnya bikin kamu kehilangan dunia kamu sendiri…”
“…itu masih cinta atau bukan?”
Kalimat itu membuat Titik terdiam lama sekali.
Sangat lama.
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya…
ia mulai takut kalau dirinya benar-benar akan hilang di dalam cinta yang terlalu besar itu.
BAB XIX
ROKOK, HUJAN, DAN HATI YANG MULAI RAPUH
“Ada Luka yang Tidak Berdarah, Tetapi Diam-Diam Menghancurkan Jiwa”
Musim hujan mulai datang di Klaten.
Langit lebih sering mendung.
Udara terasa dingin hampir setiap sore.
Dan entah kenapa…
suasana itu semakin membuat hati Titik terasa kosong.
Hari-harinya berjalan seperti biasa.
Sekolah.
Praktik.
Tugas.
Pulang.
Namun di balik rutinitas itu…
ada sesuatu dalam diri Titik yang perlahan berubah.
Ia semakin sering murung.
Lebih banyak diam.
Dan semakin mudah merasa lelah.
Hubungannya dengan Tono juga tidak pernah benar-benar tenang.
Kadang mereka baik-baik saja.
Tertawa bersama.
Pergi makan.
Naik motor keliling kota kecil Klaten saat malam.
Namun esoknya…
mereka bisa bertengkar hanya karena hal kecil.
Karena Titik terlalu lama bicara dengan teman cowok.
Karena Titik tidak segera membalas pesan.
Karena Tono merasa cemburu pada orang-orang di sekitar Titik.
Dan semua itu…
perlahan menguras hati Titik sedikit demi sedikit.
Suatu sore setelah hujan reda…
Titik duduk sendiri di belakang bengkel sekolah.
Tempat itu cukup sepi.
Hanya ada suara tetesan air dari atap seng dan aroma tanah basah.
Ia memeluk lututnya sambil melamun.
Matanya kosong.
Pikirannya penuh.
Dan dadanya terasa sesak tanpa tahu harus bercerita pada siapa.
Tak lama kemudian…
Riyadi datang membawa dua gelas kopi sachet panas.
“Nih.”
Titik menoleh pelan.
“Makasih.”
Riyadi duduk di sampingnya.
Tidak terlalu dekat.
Namun cukup membuat Titik merasa tidak sendirian.
“Kamu kenapa lagi?”
“Nggak apa.”
“Kalau sama aku nggak usah bohong.”
Titik tersenyum kecil pahit.
“Aku capek.”
“Karena Tono?”
Titik mengangguk pelan.
Riyadi memandang hujan yang masih rintik-rintik di luar.
Lalu berkata lirih—
“Kamu sekarang sering kelihatan sedih.”
Kalimat itu langsung membuat mata Titik berkaca-kaca.
“Aku nggak ngerti hidupku sendiri…”
Suara Titik sangat pelan.
“Kenapa semua jadi rumit…”
Riyadi diam mendengarkan.
Dan seperti biasa…
ia tidak memotong cerita.
“Dulu aku bebas.”
“Sekarang aku takut salah terus.”
“Aku takut bikin orang marah.”
“Aku takut bikin orang kecewa.”
“Aku takut kehilangan…”
Suara Titik mulai bergetar.
Dan akhirnya air matanya jatuh lagi.
“Aku capek jadi aku…”
Riyadi langsung menunduk pelan.
Karena mendengar kalimat itu…
hatinya ikut terasa sakit.
“Aku pengen bantu kamu…”
Titik menghapus air matanya.
“Tapi aku nggak tahu caranya.”
Riyadi tersenyum kecil.
“Kamu udah bantu kok.”
“Hah?”
“Setidaknya kamu masih mau cerita.”
Untuk beberapa detik…
mereka hanya diam mendengarkan suara hujan.
Dan anehnya…
diam bersama Riyadi selalu terasa menenangkan bagi Titik.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.
Karena tiba-tiba suara langkah kaki terdengar mendekat.
Tono.
Wajahnya langsung berubah saat melihat Titik dan Riyadi duduk berdua.
“Aku nyariin kamu.”
Nada suaranya dingin.
Titik langsung menghela napas pelan.
“Aku cuma duduk.”
“Berdua?”
Riyadi langsung berdiri.
“Gue tinggal.”
Namun sebelum pergi…
ia sempat menatap Tono lama sekali.
Tatapan yang penuh lelah.
Tatapan seseorang yang mulai muak dengan semua pertengkaran itu.
Setelah Riyadi pergi…
suasana langsung terasa berat.
“Kamu sekarang makin dekat sama dia.”
“Tono…”
“Aku nggak suka.”
Lagi.
Kalimat itu lagi.
Dan kali ini…
Titik benar-benar mulai lelah mendengarnya.
“Terus aku harus gimana?!”
Suara Titik meninggi.
“Aku nggak boleh punya sahabat?!”
“Aku cuma pengen kamu ngerti perasaanku.”
“Kenapa cuma perasaan kamu yang harus dimengerti?!”
Tono langsung diam.
Sedangkan napas Titik mulai memburu.
“Aku juga punya hati!”
“Aku juga capek!”
“Aku juga pengen hidup tenang!”
Air mata Titik mulai jatuh lagi.
Dan untuk pertama kalinya…
Tono terlihat benar-benar panik.
“Tik…”
Namun Titik mundur pelan.
“Aku mau sendiri.”
Malam itu Titik tidak langsung pulang ke kos.
Ia berjalan sendirian menyusuri jalan kecil dekat sekolah.
Udara dingin.
Lampu jalan redup.
Dan hujan kembali turun pelan.
Entah kenapa…
langkahnya membawanya ke warung kecil dekat terminal.
Warung tempat anak-anak STM sering nongkrong diam-diam.
Di sana…
beberapa anak laki-laki sedang merokok sambil bercanda.
Saat melihat Titik datang…
mereka langsung kaget.
“Eh Titik?”
“Kok sendirian?”
Titik hanya tersenyum kecil.
“Pinjam satu.”
Anak-anak itu langsung saling pandang.
“Hah?”
“Rokok.”
“Serius?”
Titik mengangguk.
Salah satu dari mereka akhirnya menyerahkan sebatang rokok.
Titik menerimanya pelan.
Tangannya sedikit gemetar.
Ia sebenarnya belum pernah benar-benar merokok sebelumnya.
Namun malam itu…
ia hanya ingin melampiaskan sesaknya.
Api korek menyala kecil.
Rokok itu menyala.
Dan Titik mulai menghisapnya pelan.
Batuk.
Pedih.
Namun entah kenapa…
asap yang keluar dari bibirnya terasa seperti membawa sebagian beban di dadanya.
“Pelan-pelan aja,” kata salah satu anak.
Titik tertawa kecil di sela batuk.
“Pahit…”
“Namanya juga rokok.”
Mereka semua tertawa kecil.
Namun tidak ada yang tahu—
bahwa malam itu sebenarnya hati Titik sedang benar-benar hancur.
Sejak malam itu…
Titik mulai sering merokok diam-diam.
Awalnya hanya satu batang.
Lalu dua.
Lalu semakin sering setiap kali pikirannya terasa sesak.
Dwi adalah orang pertama yang tahu.
Suatu malam ia memergoki Titik duduk dekat jendela kamar sambil merokok.
“YA ALLAH TITIK!”
Titik langsung panik.
“Eh…”
“Kamu ngerokok?!”
Titik tertawa kecil canggung.
“Cuma coba-coba.”
“COBA-COBA KATAMU?!”
Dwi langsung merebut rokok itu.
“Kamu stres ya?”
Pertanyaan itu membuat Titik langsung diam.
Dan beberapa detik kemudian…
air matanya jatuh lagi.
“Aku capek Dwe…”
Dwi langsung memeluk sahabatnya itu.
Dan malam itu…
Titik menangis cukup lama di pundaknya.
“Aku nggak tahu harus gimana…”
“Semua orang pengen memiliki aku…”
“…tapi nggak ada yang benar-benar ngerti aku.”
Dwi mengusap rambutnya pelan.
“Kamu terlalu memikirkan perasaan semua orang.”
“Tapi siapa yang mikirin perasaanku…”
Kalimat itu terdengar sangat rapuh.
Sangat lelah.
Dan Dwi tahu…
sahabatnya sedang berada di titik paling kacau dalam hidupnya.
Hari-hari berikutnya…
Titik semakin sering menyendiri.
Bahkan Ahmad mulai sadar ada yang berubah.
Suatu siang di kelas…
Ahmad duduk di depan Titik sambil membawa gorengan.
“Nih makan.”
Titik tersenyum kecil.
“Nggak lapar.”
“Tumben.”
Muji ikut nimbrung.
“Biasanya paling barbar kalau lihat bakwan.”
Titik tertawa kecil.
Namun tawanya hambar.
Dan itu membuat teman-temannya mulai khawatir.
“Kamu sakit?”
Titik menggeleng.
“Cuma capek.”
Ahmad menatapnya cukup lama.
Lalu berkata pelan—
“Jangan terlalu dipendem sendiri.”
Kalimat sederhana itu…
lagi-lagi membuat hati Titik terasa hangat sekaligus sedih.
Karena ternyata…
masih ada orang-orang yang peduli padanya tanpa ingin memilikinya.
Namun hidup belum selesai mengujinya.
Karena beberapa hari kemudian…
pertengkarannya dengan Tono mencapai titik yang lebih besar.
Dan kali ini…
bukan hanya hati Titik yang terluka.
Tetapi juga persahabatan yang selama ini masih ia pertahankan.
BAB XX
DARAH DI WAJAH RIYADI
“Kadang Cinta Yang Terlalu Takut Kehilangan, Justru Menghancurkan Semua yang Ingin Dipertahankan”
Hari itu langit Klaten terasa panas.
Udara gerah memenuhi ruang kelas.
Kipas angin tua di atas plafon berputar lambat sambil berdecit pelan.
Anak-anak STM mulai gelisah menunggu jam pulang.
Dan seperti biasa…
kelas Titik tetap paling ribut.
Ahmad sibuk menggambar karikatur guru di buku tulis.
Muji tidur sambil ngorok kecil.
Sedangkan Aris dan Yono bermain lempar kertas.
“WOY KENA MATA GUE!”
“Makanya jangan jelek.”
Satu kelas langsung tertawa.
Namun di tengah keramaian itu…
Titik terlihat lebih banyak diam.
Ia duduk dekat jendela sambil memandangi langit.
Pikirannya masih penuh.
Tentang Tono.
Tentang hidupnya.
Tentang rasa lelah yang makin sulit dijelaskan.
Riyadi yang duduk tidak jauh darinya memperhatikan itu diam-diam.
Sudah lama ia mengenal Titik.
Dan ia tahu…
senyum gadis itu sekarang sering dipaksakan.
Jam sekolah akhirnya selesai.
Bel pulang berbunyi keras.
Seketika kelas berubah seperti pasar malam.
Anak-anak berebut keluar.
Ada yang langsung ke bengkel.
Ada yang nongkrong.
Ada yang pulang.
Dan seperti biasa…
Titik berjalan bersama Riyadi dan beberapa teman lain menuju gerbang sekolah.
“Ayo nanti nongkrong bentar di Umbul,” kata Ahmad semangat.
“Gue ikut.”
“Gue juga.”
Muji langsung nyeletuk—
“Asal jangan Ahmad yang bayar.”
“WOY!”
Titik tertawa kecil mendengar mereka bercanda.
Dan untuk sesaat…
ia merasa nyaman lagi.
Namun kebahagiaan kecil itu mendadak runtuh.
Karena di depan gerbang sekolah…
Tono sudah berdiri sambil bersandar di motornya.
Wajahnya dingin.
Matanya langsung tertuju pada Riyadi yang berjalan di samping Titik.
Suasana langsung berubah tegang.
“Aku nyariin kamu.”
Suara Tono datar.
“Oh…”
“Kamu pulang sama mereka lagi?”
Nada suaranya mulai berubah.
Dan Titik langsung tahu—
sesuatu buruk akan terjadi lagi.
“Tono jangan mulai…”
“Aku cuma nanya.”
Riyadi langsung melangkah sedikit mundur.
Ia sudah terlalu sering menghadapi situasi seperti ini.
Dan ia lelah.
“Kita cuma pulang bareng,” kata Riyadi tenang.
Tono tersenyum tipis.
“Lu tuh selalu ada ya di dekat dia.”
Ahmad dan Muji mulai saling pandang.
Mereka tahu suasana semakin tidak baik.
“Tono udah…”
Suara Titik mulai panik.
Namun Tono tetap menatap Riyadi tajam.
“Gue udah bilang jangan terlalu dekat sama Titik.”
Riyadi menghela napas panjang.
“Dia bukan barang.”
DEG.
Kalimat itu langsung membuat suasana membeku.
Tono mendekat.
“Lu ngomong apa?”
Riyadi tetap berdiri tenang.
“Lu nggak bisa ngatur hidup dia terus.”
“Awas ya…”
“Kalau sayang sama orang bukan begitu caranya.”
BUGH!
Satu pukulan keras langsung mendarat di wajah Riyadi.
Semua orang kaget.
Titik spontan berteriak.
“TONO!”
Riyadi langsung terhuyung ke belakang.
Darah mulai keluar dari sudut bibirnya.
“WOY WOY WOY!”
Ahmad dan Muji langsung memisahkan mereka.
Namun emosi Tono sudah meledak.
“Jangan sok ngajarin gue!”
Riyadi mengusap darah di bibirnya pelan.
Dan entah kenapa…
wajahnya justru terlihat lebih kecewa daripada marah.
“Tono berhenti!”
Titik langsung berdiri di depan Riyadi.
Matanya penuh air mata.
“Kamu kenapa sih?!”
Tono masih bernapas kasar.
“Karena dia selalu dekat sama kamu!”
“DIA SAHABATKU!”
“Dia suka sama kamu!”
“TERUS KENAPA?!”
Semua mendadak diam.
Karena itu pertama kalinya Titik berteriak sekeras itu di depan semua orang.
“Kenapa semua orang yang dekat sama aku harus kamu sakitin?!”
Air mata Titik jatuh deras.
“Kenapa hidupku harus kayak gini terus?!”
Tono langsung terdiam.
Sedangkan Riyadi hanya memalingkan wajah sambil menghapus darah di bibirnya.
“Ayo Yadi kita ke UKS,” kata Ahmad pelan.
Namun Riyadi menggeleng kecil.
“Nggak usah.”
“Tapi darah lu…”
“Nggak apa.”
Ia lalu menatap Titik sekilas.
Tatapan yang sangat tenang.
Namun justru membuat hati Titik semakin hancur.
“Aku pulang dulu.”
Dan tanpa marah.
Tanpa membalas.
Tanpa teriak.
Riyadi pergi begitu saja.
Titik berdiri mematung.
Dadanya terasa sakit sekali.
Karena untuk pertama kalinya…
persahabatan yang selama ini ia jaga benar-benar terluka karena dirinya.
Malamnya…
Titik memberanikan diri datang ke rumah Riyadi.
Langkahnya terasa berat.
Hatinya dipenuhi rasa bersalah.
Saat pintu rumah terbuka…
ia melihat Riyadi duduk sendiri di ruang tamu sambil mengompres pipinya.
Wajahnya lebam.
Bibirnya sedikit bengkak.
Dan melihat itu…
air mata Titik langsung jatuh lagi.
“Yadi…”
Riyadi menoleh pelan.
“Oh kamu.”
“Maaf…”
Suara Titik langsung pecah.
“Maaf gara-gara aku…”
Riyadi tersenyum kecil.
“Nggak usah nangis.”
“Tapi kamu dipukul gara-gara aku…”
Riyadi terdiam beberapa detik.
Lalu berkata pelan—
“Bukan salah kamu.”
“Kalau aku nggak dekat sama kamu mungkin semua nggak kayak gini…”
Riyadi langsung menggeleng.
“Jangan nyalahin diri sendiri terus.”
Titik duduk pelan di dekatnya.
Tangannya gemetar melihat luka di wajah Riyadi.
“Masih sakit?”
“Lumayan.”
Titik makin merasa bersalah.
“Kenapa kamu nggak lawan…”
Riyadi tertawa kecil.
“Buat apa?”
“Tapi dia mukul kamu…”
Riyadi memandang lantai beberapa detik sebelum menjawab—
“Karena aku nggak mau kamu makin sedih.”
DEG.
Kalimat itu langsung membuat tangis Titik pecah lagi.
“Kenapa kalian semua baik banget sama aku…”
Suara Titik bergetar.
“Padahal aku malah nyakitin kalian…”
Riyadi menatapnya lama sekali.
Dan untuk pertama kalinya…
ia akhirnya berkata jujur.
“Karena aku sayang sama kamu, Tik.”
Sunyi.
Dunia seperti berhenti beberapa detik.
Titik langsung membeku.
“Aku tahu kamu nggak pernah lihat aku lebih dari sahabat.”
“Tapi aku nggak pernah nyesel kenal kamu.”
Air mata Titik jatuh semakin deras.
“Yadi…”
Riyadi tersenyum kecil.
“Tenang aja.”
“Aku nggak akan maksa kamu milih aku.”
“Tapi aku capek lihat kamu terus terluka.”
Kalimat itu terasa sangat tulus.
Sangat jujur.
Dan justru itu yang membuat hati Titik semakin sakit.
“Aku pengen semuanya balik kayak dulu…”
Riyadi menghela napas pelan.
“Kadang ada hal yang kalau rusak…”
“…udah nggak bisa benar-benar balik lagi.”
Kalimat itu membuat ruangan terasa semakin sunyi.
Tak lama kemudian…
ibunya Riyadi datang membawa teh hangat.
Beliau langsung kaget melihat Titik menangis.
“Lho kenapa ini…”
Titik langsung menunduk malu.
“Maaf Bu…”
Ibunya Riyadi hanya menghela napas kecil.
Lalu berkata lembut—
“Kalian ini masih muda…”
“…jangan saling nyakitin cuma karena cinta.”
Kalimat sederhana itu…
terasa sangat menampar hati Titik malam itu.
Saat pulang dari rumah Riyadi…
langit mulai gerimis.
Titik berjalan sendirian sambil menangis.
Dan untuk pertama kalinya…
ia benar-benar merasa lelah dengan semua cinta yang datang dalam hidupnya.
Karena semakin banyak orang mencintainya…
semakin banyak pula orang yang terluka karenanya.
Malam itu di kamar kos…
Titik kembali duduk dekat jendela sambil menyalakan rokok.
Tangannya gemetar.
Air matanya terus jatuh.
Dan dalam kepalanya…
terus terngiang suara Riyadi—
“Aku sayang sama kamu, Tik.”
Namun yang paling menyakitkan bukan pengakuan itu.
Melainkan kenyataan…
bahwa ia tidak bisa membalas perasaan sahabat terbaiknya sendiri.
BAB XXI
AKU MULAI KEHILANGAN SEMUA
“Saat Satu Persatu Orang Menjauh, Aku Baru Sadar Bahwa Hidupku Tidak Lagi Sama”
Sejak kejadian perkelahian itu…
semuanya berubah semakin jauh.
Tidak ada lagi suasana hangat seperti dulu.
Tidak ada lagi tawa lepas sepulang sekolah.
Dan tidak ada lagi kebersamaan sederhana yang dulu selalu membuat hari-hari Titik terasa hidup.
Kini…
semuanya terasa canggung.
Ahmad masih bercanda.
Muji masih suka bikin keributan.
Aris masih tidur saat pelajaran.
Namun ketika Titik datang…
mereka seperti lebih berhati-hati.
Tidak lagi terlalu dekat.
Tidak lagi terlalu bebas.
Seolah semua takut akan ada masalah baru.
Dan Titik…
merasakan itu setiap hari.
Pagi itu di kelas…
Ahmad sedang menggambar di meja.
Muji sibuk memainkan penggaris.
Sedangkan Riyadi duduk diam sambil menulis tugas.
Bekas lebam di wajahnya masih terlihat samar.
Dan setiap kali melihat itu…
hati Titik terasa nyeri.
Ia memberanikan diri mendekat.
“Yadi…”
“Hm?”
“Masih sakit?”
Riyadi tersenyum kecil.
“Udah mendingan.”
Namun suasana di antara mereka tidak lagi sama.
Tidak sehangat dulu.
Tidak sebebas dulu.
Karena sekarang…
ada perasaan yang sudah terlanjur terbuka.
Titik duduk pelan di sampingnya.
“Aku kangen kita yang dulu…”
Riyadi diam beberapa detik.
Lalu menjawab pelan—
“Aku juga.”
“Terus kenapa semuanya jadi begini…”
Riyadi memandang keluar jendela.
“Karena hidup nggak selalu bisa tetap sama.”
Jawaban itu sederhana.
Namun terasa sangat menyakitkan.
Bel masuk berbunyi.
Dan percakapan mereka terputus begitu saja.
Namun sejak hari itu…
Titik mulai sadar—
ia benar-benar sedang kehilangan orang-orang yang selama ini menjadi dunianya.
Sore harinya Titik duduk sendirian di taman Umbul.
Tempat itu dulu selalu ramai oleh mereka berlima.
Sekarang…
hanya ada suara angin dan riak air kolam kecil.
Ia memandangi bangku tempat mereka biasa bercanda.
Tempat Ahmad sering jatuh karena bercanda berlebihan.
Tempat Riyadi diam-diam memperhatikannya.
Tempat mereka tertawa sampai lupa waktu.
Dan kini…
semua hanya tinggal kenangan.
“Sendiri?”
Titik menoleh.
Abdul datang sambil membawa dua teh botol dingin.
“Eh…”
Abdul duduk di sampingnya.
“Ngelamun lagi.”
Titik tersenyum kecil.
“Aku lagi mikir…”
“Mikirin apa?”
“Hidupku.”
Abdul tertawa kecil.
“Berat amat.”
Namun saat melihat mata Titik yang mulai berkaca-kaca…
senyumnya perlahan hilang.
“Aku mulai kehilangan semuanya Dul…”
Suara Titik lirih.
“Sahabatku menjauh.”
“Aku capek bertengkar terus.”
“Aku bahkan nggak ngerti lagi apa yang aku mau.”
Abdul mendengarkan dengan tenang seperti biasa.
Dan justru itu yang membuat Titik nyaman.
“Aku pengen hidup kayak dulu.”
“Yang bebas?”
Titik mengangguk.
“Aku bisa ketawa tanpa takut ada yang marah.”
“Aku bisa dekat sama siapa aja.”
“Aku nggak harus mikir bakal bikin orang cemburu.”
Abdul menghela napas pelan.
“Kamu terlalu lama hidup buat menyenangkan orang lain.”
Kalimat itu membuat Titik diam.
Karena mungkin…
itu memang benar.
“Tapi aku nggak mau nyakitin siapa pun.”
Abdul tersenyum tipis.
“Kadang hidup nggak bisa bikin semua orang bahagia.”
“Tapi kenapa harus aku yang jadi penyebab semuanya rusak…”
Air mata Titik jatuh lagi.
Dan Abdul langsung menyerahkan sapu tangan kecil.
“Nih.”
Titik tertawa kecil di sela tangisnya.
“Kamu kayak bapak-bapak.”
“Daripada kayak anak kecil.”
“Lebay.”
Untuk sesaat…
mereka tertawa bersama.
Dan hati Titik terasa sedikit lebih ringan.
“Mau jujur nggak?” tanya Abdul tiba-tiba.
“Tentang apa?”
“Kamu sebenarnya masih sayang Tono?”
Pertanyaan itu langsung membuat Titik terdiam lama.
Sangat lama.
Ia mencoba mencari jawabannya sendiri.
Namun semakin dipikirkan…
semuanya terasa semakin membingungkan.
“Aku nggak tahu…”
Suara Titik pelan sekali.
“Kadang aku kasihan sama dia.”
“Kadang aku nyaman.”
“Tapi kadang aku juga takut…”
Abdul mengangguk kecil.
“Itu bukan cinta yang sehat.”
Kalimat itu langsung membuat Titik menunduk.
“Aku nggak ngerti cinta Dul…”
Abdul tersenyum tipis.
“Cinta itu harusnya bikin tenang.”
“Tapi hidupku malah makin kacau.”
“Berarti ada yang salah.”
Jawaban itu begitu sederhana.
Namun sangat masuk akal.
Malamnya…
Tono datang ke kos seperti biasa.
Namun kali ini suasana langsung terasa dingin sejak awal.
“Kamu dari mana?”
“Main.”
“Sama siapa?”
“Tono…”
“Aku cuma nanya.”
Nada suara itu lagi.
Nada yang membuat Titik lelah.
“Aku sama Abdul.”
Wajah Tono langsung berubah.
“Kenapa sama dia terus sekarang?”
“Karena dia mau dengerin aku!”
“Aku juga!”
“NGGAK!”
Suara Titik mendadak meninggi.
Dan untuk pertama kalinya…
Tono benar-benar terlihat kaget.
“Kamu nggak pernah dengerin aku!”
“Kamu cuma mau aku nurut!”
“Kamu cuma mau aku hidup sesuai maumu!”
Air mata Titik mulai jatuh lagi.
“Aku capek…”
Suara itu lirih sekali.
Dan untuk pertama kalinya…
Tono terlihat kehilangan kata-kata.
“Aku sayang sama kamu…”
Titik tertawa kecil pahit.
“Kalau sayang kenapa aku selalu nangis…”
Kalimat itu membuat suasana langsung hening.
Tidak ada suara.
Tidak ada jawaban.
Hanya ada tatapan penuh luka di antara mereka.
Tono akhirnya duduk pelan di bangku depan kos.
Wajahnya terlihat sangat lelah.
“Aku cuma takut kehilangan kamu.”
“Kenapa…”
“…kenapa semua orang takut kehilangan aku tapi nggak pernah takut kehilangan senyumku?”
DEG.
Kalimat itu langsung menghantam hati Tono.
Karena untuk pertama kalinya…
ia sadar bahwa selama ini Titik memang tidak benar-benar bahagia.
“Aku nggak tahu harus gimana…”
Suara Tono melemah.
Dan anehnya…
mendengar laki-laki itu bicara selemah itu justru membuat Titik semakin sedih.
Karena ia tahu—
di balik semua sifat kasarnya…
Tono benar-benar mencintainya.
Hanya saja…
caranya salah.
Malam semakin larut.
Tono pulang tanpa banyak bicara.
Dan Titik kembali duduk sendiri di depan jendela kamar.
Rokok menyala di tangannya.
Asap perlahan memenuhi udara.
Sedangkan pikirannya terasa semakin kacau.
Dwi yang baru selesai mandi langsung kaget.
“Kamu ngerokok lagi?!”
Titik hanya diam.
Dwi akhirnya duduk di sampingnya.
“Kamu makin parah.”
“Aku cuma pengen tenang…”
“Rokok nggak bakal bikin hidupmu selesai.”
“Tapi setidaknya bikin pikiranku diam sebentar.”
Jawaban itu membuat Dwi terdiam.
Karena ia tahu…
sahabatnya benar-benar sedang rapuh.
“Aku takut kehilangan diriku sendiri Dwe…”
Suara Titik mulai bergetar.
“Dulu aku ceria…”
“Sekarang aku gampang nangis.”
“Dulu aku bebas…”
“Sekarang aku takut bikin semua orang marah.”
Air matanya jatuh lagi.
Dan Dwi langsung memeluknya erat.
“Tik…”
“Hm…”
“Kamu harus mulai hidup buat dirimu sendiri.”
Kalimat itu terus terngiang di kepala Titik malam itu.
Dan untuk pertama kalinya…
ia mulai berpikir—
mungkin selama ini ia memang terlalu sibuk menjaga perasaan semua orang…
sampai lupa menjaga dirinya sendiri.
BAB XXII
PANTAI, TAWA, DAN KENANGAN YANG HAMPIR KEMBALI
“Ada Saat di Mana Aku Ingin Melupakan Semua Luka dan Menjadi Diriku Seperti Dulu Lagi”
Libur semester akhirnya datang.
Suasana sekolah mulai sepi.
Anak-anak STM sibuk pulang ke daerah masing-masing.
Ada yang kembali ke kampung.
Ada yang bekerja sambilan.
Ada juga yang tetap tinggal di kos karena rumahnya jauh.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
Titik merasa sedikit lega.
Karena setidaknya…
ia bisa menjauh sejenak dari semua kerumitan hidupnya.
Namun kali ini…
Titik memilih tidak langsung pulang kampung.
Ia meminta izin pada ibunya untuk bermain ke rumah Dwi di Comal selama beberapa hari.
Dan Bu Yati mengizinkannya.
“Asal jaga diri.”
“Iya Bu.”
“Jangan aneh-aneh.”
Titik tertawa kecil.
“Siap Bu Komandan.”
Perjalanan menuju Comal terasa menyenangkan.
Kereta berjalan perlahan melewati sawah-sawah hijau.
Langit cerah.
Angin masuk lewat jendela.
Dan untuk pertama kalinya…
Titik merasa pikirannya sedikit lebih ringan.
Dwi duduk di sampingnya sambil makan kerupuk.
“Kamu kelihatan lebih hidup.”
“Masa?”
“Iya.”
“Berarti di Klaten aku kayak mayat?”
“Lumayan.”
“WOY!”
Mereka tertawa bersama.
Dan suara tawa itu terasa begitu lama hilang dari hidup Titik.
Sesampainya di Comal…
suasana langsung ramai.
Rumah Dwi sederhana.
Namun hangat.
Ibunya Dwi menyambut Titik seperti anak sendiri.
“Eh Titik datang.”
“Permisi Bu…”
“Udah kayak rumah sendiri aja.”
Kalimat itu membuat hati Titik hangat.
Karena ia memang sedang sangat rindu suasana keluarga yang tenang.
Empat hari di Comal terasa seperti dunia yang berbeda.
Tidak ada pertengkaran.
Tidak ada tekanan.
Tidak ada rasa takut.
Yang ada hanya kebersamaan sederhana.
Hari pertama…
mereka pergi ke Matahari Pekalongan.
Bukan untuk belanja besar.
Karena uang mereka memang pas-pasan.
Namun sekadar jalan-jalan melihat toko saja sudah terasa menyenangkan.
Ahmad yang ikut rombongan paling heboh.
“Kalau gue kaya…”
“Lu tetep jelek,” potong Muji cepat.
“WOY!”
Satu kelompok langsung tertawa keras.
Titik berjalan bersama Dwi dan Siti sambil melihat-lihat baju.
Sedangkan Riyadi membantu membawakan tas mereka.
“Yadi kamu tuh cocok jadi bapak rumah tangga.”
Riyadi tertawa kecil.
“Minimal berguna.”
“Kalau Ahmad?”
Ahmad langsung menjawab cepat—
“Cocok jadi beban negara.”
Mereka semua ngakak sampai pengunjung lain ikut melihat.
Dan malam itu…
Titik sadar satu hal.
Ia sangat merindukan kebersamaan seperti ini.
Kebersamaan tanpa rasa takut.
Tanpa tekanan.
Tanpa kecemburuan.
Hari berikutnya mereka pergi ke pantai.
Naik motor berboncengan ramai-ramai.
Ada hampir dua belas orang.
Sebagian naik motor.
Sebagian naik angkot sambung.
Perjalanan panjang itu justru terasa menyenangkan karena dipenuhi candaan.
“WOY PEGANG JAKET GUE!”
“MUJI JANGAN NYANYI SUARAMU BIKIN HUJAN!”
“AHMAD TURUN AJA LU!”
Suara tawa mereka memenuhi jalanan.
Dan Titik…
tertawa paling keras hari itu.
Sesampainya di pantai…
angin laut langsung menyambut mereka.
Ombak bergulung pelan.
Langit biru terlihat luas.
Dan aroma laut membuat hati terasa tenang.
Titik langsung melepas sandal dan berlari ke bibir pantai.
“WOOOO!”
Dwi ikut mengejar.
“TUNGGUIN!”
Ahmad malah jatuh kena ombak kecil.
Satu kelompok langsung tertawa sampai sakit perut.
Titik berdiri memandangi laut cukup lama.
Angin menerbangkan rambutnya.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
ia merasa bebas.
Benar-benar bebas.
“Cantik ya…”
Titik menoleh.
Riyadi berdiri di sampingnya sambil memegang sandal.
“Pantainya?”
Riyadi tersenyum kecil.
“Iya.”
Titik langsung tertawa.
“Basi banget gombalnya.”
“Kan nggak bilang kamu.”
“BOHONG.”
Untuk sesaat…
suasana di antara mereka kembali hangat seperti dulu.
Tanpa rasa canggung.
Tanpa luka.
Namun jauh di dalam hati…
Riyadi tahu semuanya tidak akan pernah benar-benar sama lagi.
Dan mungkin…
itu sebabnya ia memilih menikmati setiap momen sederhana bersama Titik tanpa berharap terlalu banyak.
Malam harinya…
mereka duduk bersama di pinggir pantai sambil makan jagung bakar.
Langit penuh bintang.
Suara ombak terdengar menenangkan.
Dan suasana terasa begitu damai.
“Aku pengen hidup kayak gini terus,” kata Titik pelan.
“Yang sederhana?”
Titik mengangguk.
“Nggak ada drama.”
“Nggak ada orang marah-marah.”
“Nggak ada yang ngatur.”
Ahmad langsung nyeletuk—
“Berarti jangan pacaran sama preman.”
“AHMAD!”
Semua langsung tertawa.
Namun Titik hanya tersenyum kecil pahit.
Karena kalimat bercanda itu…
sedikit banyak memang benar.
Adi yang duduk tidak jauh dari mereka memperhatikan Titik diam-diam.
Laki-laki itu sebenarnya sudah lama menyukai Titik.
Namun tidak pernah benar-benar berani mendekat serius karena tahu ada Tono.
“Kamu lebih cantik kalau sering ketawa,” kata Adi tiba-tiba.
Titik langsung menoleh.
“Hah?”
“Iya.”
“Kalau murung serem.”
“Apaan sih…”
Semua kembali tertawa kecil.
Dan malam itu…
Titik merasa hidupnya kembali berwarna.
Keesokan harinya…
mereka pergi ziarah ke makam Teguh.
Teman kos yang pernah mencintai Titik begitu dalam hingga akhirnya menghancurkan dirinya sendiri.
Perjalanan menuju makam terasa sunyi.
Tidak banyak yang bicara.
Karena semua tahu…
kisah itu masih meninggalkan luka di hati Titik.
Saat berdiri di depan makam sederhana itu…
Titik mematung cukup lama.
Namanya tertulis jelas di batu nisan.
Dan mendadak…
dadanya terasa sesak.
“Aku datang…”
Suara Titik lirih sekali.
Angin berembus pelan.
Dan entah kenapa…
air matanya mulai jatuh lagi.
“Aku minta maaf…”
Dwi langsung menggenggam tangannya pelan.
Sedangkan teman-teman lain memilih diam memberi ruang.
“Aku nggak pernah mau nyakitin kamu…”
“Tapi aku juga nggak bisa bohong soal hati…”
Tangis Titik pecah perlahan.
Karena sampai sekarang…
ia masih merasa bersalah atas kematian Teguh.
Riyadi berdiri tidak jauh dari situ.
Memperhatikan Titik diam-diam.
Dan dalam hati…
ia semakin sadar betapa berat hidup yang dijalani gadis itu.
Sepulang dari makam…
suasana sedikit murung.
Namun Ahmad yang paling tidak tahan suasana sedih langsung mulai bercanda lagi.
“Kalau gue mati nanti jangan nangis ya.”
Muji langsung menepuk kepalanya.
“Lu mah mati ketawa orang-orang.”
“WOY!”
Dan akhirnya…
suasana perlahan kembali cair.
Empat hari di Comal terasa begitu cepat berlalu.
Namun bagi Titik…
empat hari itu seperti hadiah kecil dari hidup.
Karena selama beberapa hari…
ia bisa tertawa tanpa tekanan.
Bisa bebas tanpa rasa takut.
Dan bisa kembali merasa hidup seperti dulu.
Namun ia belum tahu…
bahwa saat kembali ke Klaten nanti…
hidupnya justru akan memasuki babak yang jauh lebih rumit lagi.
BAB XXIII
KAFID KEMBALI PULANG
“Cinta Pertama Tidak Selalu Hilang, Kadang Ia Hanya Menunggu Waktu untuk Datang Kembali”
Setelah empat hari di Comal…
Titik akhirnya pulang ke kampung.
Perjalanan panjang itu terasa campur aduk.
Di satu sisi…
hatinya masih hangat oleh kenangan bersama teman-temannya.
Namun di sisi lain…
ia kembali harus menghadapi kenyataan hidupnya sendiri.
Tentang Tono.
Tentang perasaannya yang makin tidak jelas.
Dan tentang luka-luka lama yang sebenarnya belum pernah benar-benar sembuh.
Bus yang ditumpangi Titik melaju perlahan melewati jalanan kampung.
Sawah terbentang luas.
Udara desa terasa berbeda.
Lebih tenang.
Lebih damai.
Dan selalu berhasil membuat hati Titik sedikit nyaman.
Saat sampai di rumah…
Bu Yati langsung memeluknya.
“Kurusan kamu.”
“Ah ibu lebay.”
“Di sana makan nggak sih?”
“Makan Bu… cuma nggak tiap lima menit.”
Bu Yati tertawa kecil.
Rumah sederhana itu kembali terasa hidup karena kepulangan Titik.
Malam itu…
setelah makan bersama…
Titik duduk sendirian di teras rumah.
Angin malam bertiup pelan.
Suara jangkrik terdengar dari kebun belakang.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
hatinya terasa cukup tenang.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.
Karena suara motor tiba-tiba terdengar berhenti di depan rumah.
Titik menoleh.
Dan seketika…
dadanya seperti berhenti berdetak beberapa detik.
Kafid.
Laki-laki itu berdiri di depan pagar sambil tersenyum kecil.
Tubuhnya terlihat sedikit lebih dewasa dibanding terakhir kali mereka bertemu.
Kulitnya lebih gelap.
Wajahnya lebih tenang.
Namun matanya…
masih sama seperti dulu.
Mata yang pernah membuat Titik jatuh cinta pertama kali.
“Kafid…”
Suara Titik lirih.
“Kamu pulang?”
Kafid mengangguk kecil.
“Iya.”
“Kapan?”
“Baru tadi siang.”
Titik masih mematung.
Karena jujur…
ia tidak pernah menyangka laki-laki itu akan kembali lagi.
Bu Yati yang keluar rumah langsung tersenyum.
“Eh Kafid.”
“Permisi Bu.”
“Kok nggak bilang pulang?”
“Dadakan Bu.”
Bu Yati mengangguk kecil lalu masuk lagi memberi mereka ruang bicara.
Dan suasana mendadak terasa canggung.
“Kamu sehat?”
“Iya…”
“Kamu?”
“Lumayan.”
Mereka tertawa kecil canggung.
Karena setelah sekian lama…
ternyata masih ada rasa yang sulit dijelaskan.
“Jakarta gimana?”
Kafid menghela napas kecil.
“Nggak betah.”
“Kenapa?”
“Terlalu ramai.”
Jawaban itu membuat Titik tersenyum tipis.
Karena dari dulu…
Kafid memang lebih suka suasana sederhana kampung mereka.
Mereka duduk di teras cukup lama malam itu.
Membahas banyak hal.
Tentang hidup.
Tentang perantauan.
Tentang masa lalu mereka.
Dan anehnya…
semuanya terasa begitu mudah seperti dulu lagi.
“Aku sempat nyari kabar kamu.”
Suara Kafid pelan.
“Hah?”
“Katanya kamu sekolah di Klaten.”
Titik mengangguk kecil.
“Iya.”
“Kamu bahagia di sana?”
Pertanyaan itu langsung membuat Titik diam.
Karena lagi-lagi…
ia tidak tahu harus menjawab apa.
“Kamu masih sama kayak dulu,” kata Kafid sambil tersenyum kecil.
“Maksudnya?”
“Kalau sedih suka diem.”
Titik langsung menunduk.
Dan tanpa sadar…
hatinya mulai terasa hangat lagi.
“Kamu sendiri gimana…” tanya Titik pelan.
“Kok bisa balik?”
Kafid memandang jalanan kampung beberapa detik sebelum menjawab—
“Karena ada yang belum selesai.”
DEG.
Jantung Titik langsung berdegup aneh.
“Maksud kamu?”
Kafid tersenyum kecil.
“Aku masih sayang sama kamu.”
Sunyi.
Angin malam terasa semakin dingin.
Sedangkan Titik membeku di tempat.
Karena sejujurnya…
ia juga belum pernah benar-benar melupakan laki-laki itu.
“Kafid…”
“Aku serius.”
“Tapi kita kan udah putus…”
“Kita putus baik-baik.”
Kalimat itu membuat hati Titik makin tidak tenang.
Karena memang benar.
Hubungan mereka dulu tidak berakhir karena pertengkaran.
Tidak ada kebencian.
Tidak ada pengkhianatan.
Hanya jarak dan keadaan.
Dan mungkin karena itulah…
rasa itu tidak pernah benar-benar hilang.
“Aku pikir kamu udah lupa sama aku.”
Kafid tertawa kecil.
“Cinta pertama susah dilupain.”
Kalimat sederhana itu…
langsung menghantam hati Titik.
Karena selama ini…
ia juga diam-diam masih menyimpan kenangan tentang Kafid.
Malam semakin larut.
Namun percakapan mereka tidak juga habis.
Mereka kembali tertawa seperti dulu.
Mengingat masa SMP.
Tentang nonton kuda lumping pertama kali.
Tentang surat-surat kecil.
Tentang rasa malu-malu masa remaja.
Dan semua kenangan itu…
perlahan membuat hati Titik kembali goyah.
“Kamu sekarang punya pacar?”
Pertanyaan Kafid datang tiba-tiba.
Titik langsung terdiam.
“Ada…”
“Dia baik?”
Titik mencoba menjawab.
Namun entah kenapa…
yang muncul di kepalanya justru semua pertengkaran dan rasa lelah bersama Tono.
“Dia sayang sama aku…”
“Tapi?”
Titik tersenyum kecil pahit.
“Kadang terlalu sayang.”
Kafid langsung memahami maksudnya.
Karena dari dulu…
ia tahu Titik bukan perempuan yang suka dikekang.
“Kalau aku…”
Kafid menatap Titik lama sekali.
“…aku cuma pengen lihat kamu bahagia.”
Kalimat itu terasa sangat lembut.
Sangat berbeda dengan hubungan yang selama ini dijalani Titik bersama Tono.
Dan tanpa sadar…
hatinya mulai membandingkan.
Hari-hari berikutnya…
Kafid semakin sering datang ke rumah.
Kadang membantu Bu Yati.
Kadang hanya duduk ngobrol di teras bersama Titik.
Dan Bu Yati…
diam-diam sebenarnya senang melihat mereka dekat lagi.
Suatu sore saat Kafid pulang…
Bu Yati akhirnya bicara.
“Kamu masih suka dia ya?”
Titik langsung kaget.
“Ibu apaan sih…”
“Ibu tahu dari muka kamu.”
Titik tersipu malu.
Namun beberapa detik kemudian…
raut wajahnya kembali murung.
“Tapi aku masih punya Tono…”
Bu Yati menghela napas kecil.
“Nak…”
“Iya?”
“Hidup itu bukan cuma soal siapa yang paling cinta.”
“Tapi siapa yang bikin kamu tenang.”
Kalimat itu langsung membuat Titik diam cukup lama.
Karena semakin hari…
ia memang semakin sadar—
bersama Kafid…
hatinya terasa jauh lebih nyaman.
Malamnya Kafid kembali datang.
Mereka duduk di bawah langit kampung yang dipenuhi bintang.
Dan untuk pertama kalinya…
Kafid bicara lebih serius.
“Titik.”
“Hm?”
“Balik sama aku.”
DEG.
Jantung Titik langsung berdegup keras.
“Aku…”
“Aku masih cinta sama kamu.”
Suara Kafid terdengar begitu tulus.
Begitu tenang.
Tanpa paksaan.
Tanpa tekanan.
Dan justru itu yang membuat hati Titik semakin goyah.
“Aku nggak tahu harus jawab apa…”
Kafid tersenyum kecil.
“Aku bisa nunggu.”
“Tapi aku udah punya orang lain.”
Kafid menunduk beberapa detik.
Lalu berkata pelan—
“Kalau kamu bahagia sama dia… aku mundur.”
“Tapi kalau kamu cuma bertahan karena kasihan…”
“…jangan sakiti dirimu sendiri.”
Air mata Titik langsung jatuh lagi.
Karena kalimat itu…
terasa sangat benar.
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
Titik mulai mempertanyakan hatinya sendiri.
Apakah ia benar-benar mencintai Tono…
atau hanya bertahan karena takut menyakiti seseorang yang terlalu mencintainya?
BAB XXIV
AKU MAU KAU DUAKAN
“Kadang Ada Cinta yang Begitu Dalam, Sampai Rela Berbagi Luka Asal Tidak Kehilangan”
Hari-hari setelah kepulangan Kafid berubah menjadi sangat membingungkan bagi Titik.
Setiap pagi…
ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua masih baik-baik saja.
Bahwa ia masih mencintai Tono.
Bahwa hubungannya masih bisa dipertahankan.
Namun setiap kali bertemu Kafid…
hatinya selalu kembali goyah.
Kafid berbeda.
Sangat berbeda.
Ia tidak pernah melarang.
Tidak pernah membentak.
Tidak pernah membuat Titik takut.
Bersamanya…
Titik merasa bisa kembali menjadi dirinya sendiri.
Dan itulah yang perlahan membuat hati Titik semakin kacau.
Suatu sore…
Kafid datang ke rumah membawa rambutan dari kebun belakang rumah pamannya.
“Ini buat ibu kamu.”
“Banyak banget.”
“Daripada dimakan kelelawar.”
Titik tertawa kecil.
Dan Bu Yati yang melihat mereka dari dapur hanya tersenyum tipis.
“Dulu kamu suka rambutan yang kecil-kecil gini,” kata Kafid sambil duduk di teras.
“Kamu masih ingat?”
“Kamu pikir aku pelupa?”
Titik terdiam sesaat.
Karena ternyata…
ada orang yang masih mengingat hal-hal kecil tentang dirinya.
Mereka ngobrol cukup lama sore itu.
Tentang masa kecil.
Tentang kampung.
Tentang mimpi-mimpi mereka dulu.
Dan semakin lama…
semakin terasa bahwa hubungan mereka sebenarnya belum pernah benar-benar selesai.
“Kamu berubah.”
“Hah?”
“Kamu sekarang lebih banyak sedih.”
Titik langsung diam.
Karena hampir semua orang yang benar-benar mengenalnya selalu mengatakan hal yang sama.
“Kamu nggak bahagia ya?”
Pertanyaan itu langsung menghantam hati Titik.
Dan seperti biasa…
ia tidak bisa langsung menjawab.
“Kafid…”
“Hm?”
“Kalau kamu jadi aku…”
“…apa kamu bakal bertahan sama orang yang terlalu mencintaimu tapi bikin kamu kehilangan diri sendiri?”
Kafid memandang Titik cukup lama.
Lalu menjawab pelan—
“Cinta nggak boleh bikin orang kehilangan dirinya.”
Jawaban itu sederhana.
Namun terasa sangat dalam.
Malamnya…
Tono menelepon dari Klaten.
Suara laki-laki itu terdengar dingin sejak awal.
“Kamu sama siapa tadi sore?”
DEG.
Titik langsung lelah.
“Kamu ngawasin aku?”
“Aku cuma nanya.”
“Kenapa setiap ngobrol sama kamu rasanya kayak diinterogasi…”
Tono terdiam beberapa detik.
“Karena aku takut kehilangan kamu.”
Kalimat itu lagi.
Kalimat yang dulu membuat Titik luluh.
Namun sekarang…
entah kenapa justru membuat dadanya sesak.
“Aku capek Ton…”
Suara Titik pelan.
“Capek apa?”
“Capek harus selalu jelasin semuanya.”
Tono langsung terdengar emosi.
“Berarti sekarang aku nggak boleh peduli?!”
“Bukan gitu!”
“Terus gimana?!”
Suara mereka mulai meninggi.
Dan lagi-lagi…
percakapan berubah menjadi pertengkaran.
Setelah telepon ditutup…
Titik menangis sendirian di kamar.
Kepalanya terasa penuh.
Dadanya sesak.
Dan untuk pertama kalinya…
ia mulai berpikir untuk menyerah.
Keesokan harinya…
Kafid datang lagi.
Dan kali ini…
ia langsung tahu Titik habis menangis.
“Kamu berantem lagi?”
Titik hanya diam.
“Kamu nggak harus cerita kalau nggak mau.”
Kalimat itu justru membuat air mata Titik jatuh lagi.
Karena Kafid selalu tahu kapan harus diam.
Dan kapan harus mendengarkan.
“Aku bingung…”
Suara Titik bergetar.
“Aku nggak mau nyakitin siapa pun.”
“Tapi aku juga capek…”
Kafid duduk di sampingnya pelan.
Tidak terlalu dekat.
Namun cukup membuat Titik merasa aman.
“Aku masih cinta sama kamu Tik.”
Kalimat itu diucapkan sangat tenang.
Tanpa tekanan.
Tanpa memaksa.
Dan justru itu yang membuat hati Titik semakin hancur.
“Tapi aku juga masih punya Tono…”
“Aku tahu.”
“Dia sayang banget sama aku…”
Kafid tersenyum kecil pahit.
“Aku juga.”
Sunyi.
Angin sore bertiup pelan.
Dan Titik merasa seperti berada di persimpangan yang tidak tahu harus dipilih ke mana.
“Aku nggak bisa milih…”
Kafid menunduk beberapa detik.
Lalu tertawa kecil getir.
“Aneh ya…”
“Hm?”
“Aku tuh rela apa aja asal nggak kehilangan kamu.”
Kalimat itu membuat Titik langsung menatapnya.
Dan beberapa detik kemudian…
Kafid berkata sesuatu yang tidak pernah dibayangkan Titik sebelumnya.
“Aku mau kau duakan.”
DEG.
“Apa?”
“Aku serius.”
“Kafid jangan bercanda…”
“Aku nggak bercanda.”
Suara laki-laki itu begitu tenang.
Namun justru membuat hati Titik terasa semakin sesak.
“Aku nggak peduli kamu masih sama dia…”
“Asal kamu jangan pergi lagi dari hidupku.”
Air mata Titik langsung jatuh.
Karena belum pernah ada seseorang yang mencintainya sampai setulus itu.
“Kamu bodoh…”
Kafid tertawa kecil.
“Iya.”
“Mana ada orang mau diduakan…”
“Ada kalau terlalu cinta.”
Tangis Titik pecah malam itu.
Karena kalimat itu terasa begitu menyakitkan sekaligus menghangatkan.
“Aku nggak pantas dicintai kayak gini…”
“Kamu pantas.”
“Aku malah nyakitin semua orang…”
Kafid menggeleng kecil.
“Cinta nggak selalu soal memiliki.”
“Tapi soal bertahan.”
Malam itu…
Titik benar-benar kacau.
Ia menangis lama sekali di kamarnya.
Memikirkan semuanya.
Tentang Tono yang begitu posesif karena takut kehilangan.
Tentang Kafid yang rela berbagi luka asal tetap bisa bersamanya.
Dan tentang dirinya sendiri…
yang semakin tidak mengenali isi hatinya.
Beberapa hari kemudian…
Titik kembali ke Klaten.
Dan begitu turun dari bus…
Tono sudah menunggu di terminal.
Wajahnya terlihat lelah.
Namun saat melihat Titik…
matanya langsung berubah hangat.
“Kamu kurusan.”
“Kamu lebay.”
Tono tersenyum kecil lalu membantu membawakan tasnya.
Dan untuk sesaat…
Titik kembali merasa bersalah.
Karena laki-laki ini juga benar-benar mencintainya.
Di perjalanan menuju kos…
Tono terus bercerita.
Tentang sekolah.
Tentang teman-teman.
Tentang betapa sepinya hari-harinya tanpa Titik.
Sedangkan Titik hanya diam mendengarkan.
Karena pikirannya masih penuh oleh ucapan Kafid.
“Aku mau kau duakan.”
Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.
“Mikir apa?”
Suara Tono membuyarkan lamunannya.
“Nggak…”
“Kamu berubah.”
“Hah?”
“Kamu makin jauh.”
Jantung Titik langsung berdegup.
Karena tanpa sadar…
Tono ternyata mulai merasakan perubahan itu.
Malamnya…
Titik duduk sendirian di depan kos sambil merokok.
Asap mengepul ke udara malam.
Sedangkan pikirannya terasa semakin rumit.
Abdul yang kebetulan lewat langsung kaget.
“Kamu makin jago aja ngerokok.”
Titik tertawa kecil hambar.
“Daripada nangis terus.”
Abdul duduk di sampingnya.
“Masalah lagi?”
Titik mengangguk pelan.
“Aku capek Dul…”
“Karena Tono?”
“Karena hidupku.”
Abdul memandangnya cukup lama.
Lalu berkata pelan—
“Kadang kita nggak harus memilih orang yang paling cinta sama kita…”
“…tapi orang yang bikin hidup kita tenang.”
Kalimat itu lagi.
Dan entah kenapa…
semua orang mulai mengatakan hal yang sama.
Malam semakin larut.
Namun Titik belum juga masuk kamar.
Karena semakin ia mencoba memahami hatinya…
semakin ia sadar—
ia sedang berada di titik paling rumit dalam hidupnya.
Di antara cinta pertama yang kembali pulang…
dan hubungan yang perlahan mulai menghancurkan dirinya sendiri.
BAB XXV
BURUNG YANG KELUAR DARI SANGKAR
“Kadang Kebebasan Datang Setelah Kita Berani Melepaskan Sesuatu yang Selama Ini Menyiksa”
Hari-hari di Klaten kembali berjalan seperti biasa.
Namun tidak bagi Titik.
Karena sejak kepulangannya dari kampung…
hatinya tidak lagi sama.
Ia semakin sering diam.
Semakin sering melamun.
Dan semakin sering mempertanyakan hubungannya dengan Tono.
Di sekolah…
teman-temannya mulai sadar ada sesuatu yang berubah.
Titik yang dulu selalu ramai kini lebih sering duduk diam dekat jendela.
Kadang tersenyum sendiri.
Kadang malah terlihat seperti ingin menangis.
“Tik.”
“Hm?”
Dwi duduk di sampingnya sambil membawa es teh.
“Kamu lagi mikirin siapa?”
“Nggak siapa-siapa.”
“Bohong.”
Titik tertawa kecil.
Namun tawanya hambar.
“Kamu habis ketemu Kafid ya?”
DEG.
Titik langsung menoleh cepat.
“Kok tahu?”
“Mukamu beda.”
“Bedanya apa?”
“Kayak orang galau.”
“DASAR.”
Dwi tertawa keras.
Namun beberapa detik kemudian…
raut wajahnya berubah serius.
“Kamu masih cinta dia?”
Pertanyaan itu membuat Titik diam lama sekali.
Karena jujur…
ia sendiri tidak tahu jawabannya.
“Aku nyaman sama dia…”
“Itu beda tipis sama cinta.”
“Tapi aku juga masih sayang Tono…”
Dwi menghela napas panjang.
“Kalau hidupmu tenang nggak sama Tono?”
Pertanyaan sederhana itu…
lagi-lagi membuat Titik tidak mampu menjawab.
Sore harinya…
Tono datang menjemput Titik di sekolah.
Namun suasana di antara mereka terasa canggung.
Tidak seperti dulu lagi.
“Mau makan bakso?”
“Terserah.”
Jawaban singkat itu membuat Tono langsung sadar.
“Kamu kenapa?”
“Nggak apa.”
“Kamu akhir-akhir ini dingin.”
Titik memandang jalanan sebentar sebelum menjawab—
“Aku capek.”
“Capek sama aku?”
Sunyi.
Dan diamnya Titik…
sudah menjadi jawaban yang paling menyakitkan.
Mereka akhirnya duduk di warung bakso dekat terminal.
Biasanya Tono akan banyak bicara.
Namun kali ini…
ia justru lebih sering diam.
Sedangkan Titik hanya mengaduk kuah baksonya pelan tanpa selera.
“Ada orang lain ya?”
Pertanyaan itu datang tiba-tiba.
Titik langsung mengangkat kepala.
“Hah?”
“Jawab jujur.”
“Tono…”
“Ada Kafid lagi kan?”
DEG.
Sendok di tangan Titik langsung berhenti bergerak.
“Siapa bilang?”
“Kamu pikir aku nggak tahu?”
Nada suara Tono mulai berubah dingin.
Dan lagi-lagi…
Titik merasa seperti sedang diadili.
“Kita cuma ngobrol.”
“Cuma ngobrol?”
“Iya.”
“Terus kenapa kamu berubah?”
“Aku berubah karena aku capek!”
Suara Titik akhirnya meninggi.
Dan beberapa pengunjung mulai melirik ke arah mereka.
“Aku capek terus dicurigai!”
“Aku capek harus jelasin semuanya!”
“Aku capek hidup kayak tahanan!”
Wajah Tono mulai menegang.
Sedangkan napas Titik memburu karena emosinya akhirnya meledak.
“Aku sayang sama kamu…”
“Tapi cara kamu nyayangin aku bikin aku sesak!”
Kalimat itu langsung membuat Tono membeku.
Karena untuk pertama kalinya…
Titik benar-benar mengucapkan isi hatinya tanpa ditahan lagi.
“Aku cuma takut kehilangan kamu…”
“Kenapa kamu nggak pernah percaya sama aku?!”
“Aku percaya!”
“NGGAK!”
Air mata Titik mulai jatuh.
Dan semua luka yang selama ini dipendam akhirnya keluar malam itu.
“Kamu nggak percaya aku punya teman!”
“Kamu nggak percaya aku bisa jaga diri!”
“Kamu selalu marah kalau aku dekat sama siapa pun!”
Tono langsung menunduk.
Sedangkan suara Titik semakin bergetar.
“Aku ini manusia Ton…”
“Bukan barang yang bisa kamu simpan sendiri.”
Sunyi.
Warung bakso itu mendadak terasa sangat sempit.
Dan untuk pertama kalinya…
Tono benar-benar terlihat kehilangan kata-kata.
“Aku salah…”
Suara laki-laki itu pelan sekali.
Namun Titik sudah terlalu lelah.
“Aku pengen hidup tenang…”
“Aku bisa berubah.”
“Tapi aku udah capek nunggu.”
Kalimat itu seperti pisau yang langsung menghantam dada Tono.
“Jadi…”
“…kamu mau putus?”
Pertanyaan itu membuat mata Titik langsung basah lagi.
Karena sejujurnya…
ia tidak pernah ingin menyakiti Tono.
Namun ia juga sadar—
jika hubungan ini terus dipertahankan…
yang hancur justru dirinya sendiri.
“Tono…”
“Aku nggak kuat lagi.”
Dan kalimat itu…
akhirnya menjadi akhir dari hubungan mereka.
Tono tertawa kecil pahit.
Namun matanya mulai merah.
“Jadi selama ini aku gagal ya…”
“Tolong jangan bikin aku makin merasa bersalah…”
“Aku terlalu cinta sama kamu…”
Air mata Titik jatuh semakin deras.
Karena ia tahu—
itu memang benar.
“Aku cuma pengen kamu jadi milikku…”
“Tapi aku bukan burung dalam sangkar…”
DEG.
Kalimat itu membuat Tono langsung terdiam.
Sedangkan Titik menangis semakin keras.
“Aku pengen terbang…”
“Aku pengen hidup tanpa takut…”
“Aku pengen jadi diriku sendiri lagi…”
Suara itu terdengar begitu rapuh.
Begitu lelah.
Dan malam itu…
Tono akhirnya sadar—
selama ini ia terlalu sibuk takut kehilangan Titik…
sampai lupa menjaga kebahagiaan perempuan yang dicintainya sendiri.
Mereka pulang tanpa banyak bicara.
Sepanjang perjalanan…
hanya suara motor dan angin malam yang terdengar.
Dan saat sampai di depan kos…
Tono akhirnya berkata pelan—
“Kalau suatu hari kamu bahagia sama orang lain…”
“…aku harap dia bisa jagain senyum kamu lebih baik dari aku.”
Air mata Titik langsung jatuh lagi.
Karena di balik semua sifat kerasnya…
Tono sebenarnya hanya laki-laki yang terlalu takut kehilangan.
“Maaf…”
“Itu aja?”
Titik menangis sambil mengangguk.
Dan malam itu…
hubungan mereka benar-benar berakhir.
Setelah Tono pergi…
Titik duduk sendiri di depan kos.
Hujan turun perlahan.
Dan anehnya…
di balik semua kesedihan itu…
dadanya terasa sedikit lebih lega.
Dwi yang melihat Titik langsung mendekat.
“Kamu habis nangis?”
Titik mengangguk pelan.
“Udah putus.”
Dwi langsung diam beberapa detik.
Lalu duduk memeluk sahabatnya itu.
“Sakit?”
“Iya…”
“Tapi lega.”
Jawaban itu membuat Dwi mengusap rambutnya pelan.
Karena ia tahu…
hubungan itu memang sudah terlalu lama menyiksa Titik.
“Aku jahat nggak sih?”
“Kenapa?”
“Aku ninggalin orang yang sayang banget sama aku…”
Dwi menggeleng kecil.
“Bertahan dalam hubungan yang bikin kamu hancur juga bukan cinta.”
Kalimat itu membuat Titik kembali menangis.
Namun kali ini…
tangisnya terasa berbeda.
Bukan hanya sedih.
Tetapi juga seperti seseorang yang akhirnya berhasil keluar dari tempat yang selama ini mengurungnya.
Malam semakin larut.
Titik berdiri di depan jendela kamar sambil memandangi hujan.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
ia merasa seperti burung yang akhirnya keluar dari sangkar.
Masih terluka.
Masih lelah.
Namun kembali memiliki langit untuk terbang sesuka hati.
BAB XXVI
AKU MENEMUKAN AKANG DALAM DIRIMU
“Tidak Semua Kehadiran Datang untuk Dicintai, Ada yang Datang untuk Menenangkan Luka”
Setelah putus dari Tono…
hidup Titik berubah perlahan.
Tidak langsung bahagia.
Tidak juga langsung tenang.
Namun setidaknya…
ia tidak lagi merasa sesak setiap hari.
Kini tidak ada lagi yang melarangnya berteman.
Tidak ada lagi yang marah saat ia pergi bersama teman-temannya.
Dan tidak ada lagi rasa takut setiap kali berbicara dengan orang lain.
Namun anehnya…
di tengah kebebasan itu…
Titik justru merasa sangat kosong.
Karena selama ini…
ia terlalu lama hidup di dalam keributan.
Dan ketika semuanya tiba-tiba sunyi…
ia seperti kehilangan arah.
Hari-harinya kembali dipenuhi sekolah dan nongkrong bersama teman-teman.
Namun hubungan mereka tidak pernah benar-benar kembali seperti dulu.
Riyadi masih baik.
Ahmad masih kocak.
Muji masih cerewet.
Namun luka-luka lama membuat ada jarak yang tidak terlihat di antara mereka.
Dan Titik sadar itu.
Satu-satunya orang yang selalu ada mendengarkan tanpa membuatnya merasa tertekan hanyalah Abdul.
Laki-laki itu kini menjadi tempat Titik bercerita hampir setiap hari.
Tentang sekolah.
Tentang hidup.
Tentang rasa lelah yang belum benar-benar hilang.
Sore itu…
mereka duduk di taman Umbul seperti biasa.
Langit mendung.
Angin bertiup pelan.
Dan suasana terasa tenang.
“Kamu sekarang lebih sering senyum.”
Titik tertawa kecil.
“Masa?”
“Iya.”
“Padahal aku masih berantakan.”
Abdul tersenyum tipis.
“Minimal sekarang nggak nangis tiap hari.”
“Eh iya juga ya…”
Mereka tertawa kecil bersama.
Titik memandangi kolam di depan mereka.
Airnya tenang.
Dan entah kenapa…
hati Titik juga terasa sedikit lebih damai saat bersama Abdul.
“Dul…”
“Hm?”
“Makasih ya.”
“Buat apa?”
“Udah mau dengerin aku terus.”
Abdul tertawa kecil.
“Ya masa aku suruh kamu curhat sama pohon.”
“Kan bisa sama kambing.”
“Lebih nyambung kamu sama kambing.”
“EH!”
Mereka kembali tertawa.
Dan tawa itu terasa sangat ringan.
Tanpa tekanan.
Tanpa rasa takut.
“Aku heran sama kamu.”
“Hm?”
“Kok bisa sabar banget.”
Abdul mengangkat bahu santai.
“Mungkin karena aku udah kebal.”
“Kebal apaan?”
“Ngadepin kamu.”
“Kurang ajar.”
Namun beberapa detik kemudian…
raut wajah Titik perlahan berubah murung.
“Aku kangen akang…”
Suasana langsung berubah tenang.
Karena Abdul tahu—
nama itu selalu menjadi luka paling dalam di hati Titik.
“Kamu masih sering mikirin dia?”
Titik mengangguk kecil.
“Kadang kalau aku lagi capek…”
“…aku pengen dia ada.”
Abdul diam mendengarkan.
Dan seperti biasa…
ia tidak pernah memotong cerita Titik.
“Dulu…”
“…kalau aku sedih dia selalu ada.”
“Dia nggak banyak ngomong.”
“Tapi aku selalu merasa aman.”
Air mata Titik mulai menggenang.
Dan Abdul hanya menyerahkan tisu pelan.
“Aku marah sama dia…”
“Karena pergi tanpa pamit?”
Titik mengangguk.
“Kenapa orang yang paling bikin nyaman malah pergi duluan…”
Suara itu terdengar sangat rapuh.
Dan Abdul bisa merasakan—
bahwa luka kehilangan Akang ternyata belum pernah sembuh.
“Kadang orang pergi bukan karena nggak peduli.”
“Tapi karena hidup memaksa mereka pergi.”
Titik menatap Abdul pelan.
“Aku pengen percaya itu…”
Abdul tersenyum kecil.
“Percaya aja.”
Angin sore bertiup lembut.
Daun-daun bergerak pelan.
Dan untuk beberapa saat…
mereka hanya duduk diam menikmati suasana.
“Dul…”
“Hm?”
“Boleh aku jujur?”
“Sejak kapan kamu nggak jujur?”
Titik tertawa kecil.
Namun beberapa detik kemudian…
matanya mulai berkaca-kaca lagi.
“Aku ngerasa…”
“…aku nemuin akang dalam diri kamu.”
DEG.
Abdul langsung terdiam.
Sedangkan Titik sendiri tampak gugup setelah mengucapkan kalimat itu.
“Maksudnya?”
“Kamu bikin aku nyaman.”
“Kamu nggak pernah maksa aku.”
“Kamu selalu ada pas aku sedih.”
Dan yang paling membuat hati Abdul bergetar—
suara Titik terdengar begitu tulus.
“Akang dulu juga kayak gitu…”
“Dia selalu bikin aku merasa aman.”
Air mata Titik jatuh perlahan.
Dan Abdul hanya mendengarkan diam-diam.
“Kadang aku takut…”
“Takut apa?”
“Takut kehilangan kamu juga.”
Kalimat itu membuat dada Abdul terasa sesak.
Karena untuk pertama kalinya…
ia sadar bahwa dirinya sudah menjadi sangat penting dalam hidup Titik.
“Aku nggak bakal pergi tanpa pamit.”
Jawaban Abdul sederhana.
Namun langsung membuat mata Titik kembali basah.
“Jangan tinggalin aku ya…”
Suara Titik lirih sekali.
Dan Abdul langsung mengusap kepala gadis itu pelan seperti seorang kakak.
“Iya.”
Hari-hari berikutnya…
kedekatan mereka semakin terasa.
Namun hubungan itu berbeda.
Tidak seperti hubungan Titik dan Tono.
Tidak penuh drama.
Tidak penuh cemburu.
Dan tidak dipenuhi tuntutan.
Abdul lebih seperti tempat pulang.
Tempat Titik bisa menjadi dirinya sendiri tanpa takut dihakimi.
Kadang mereka hanya duduk ngobrol sampai malam.
Kadang jalan kaki membeli gorengan.
Kadang sekadar mendengarkan Titik mengeluh tentang tugas sekolah.
Dan anehnya…
hal-hal sederhana itu justru terasa sangat berarti bagi Titik.
Suatu malam…
mereka duduk di depan kos sambil minum kopi sachet.
Langit penuh bintang.
Udara dingin.
Dan suasana sangat tenang.
“Kamu pernah jatuh cinta nggak sih Dul?”
Pertanyaan itu membuat Abdul tertawa kecil.
“Pernah lah.”
“Terus?”
“Ya gitu.”
“Gitu gimana?”
“Nggak jadian.”
“Kasihan banget.”
“Daripada kamu.”
“Eh?”
“Dikejar satu sekolah.”
Titik langsung ngakak.
“Kadang aku iri sama kamu.”
“Hah?”
“Kamu bebas.”
“Nggak juga.”
“Kok?”
“Karena orang yang paling bebas biasanya paling kesepian.”
Kalimat itu membuat Titik mendadak diam.
Karena entah kenapa…
ia merasa sangat relate dengan ucapan itu.
“Aku takut sendirian…”
Abdul menatapnya pelan.
“Kamu nggak sendiri.”
Jawaban singkat itu…
langsung membuat hati Titik terasa hangat.
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
Titik merasa hidupnya mulai kembali tenang.
Bukan karena menemukan cinta baru.
Tetapi karena menemukan seseorang…
yang mampu memahami luka-lukanya tanpa berusaha memilikinya.
Seseorang…
yang perlahan membuatnya percaya lagi—
bahwa tidak semua laki-laki datang untuk menyakiti atau mengekang.
Ada juga yang datang…
hanya untuk menjaga hati yang sudah terlalu lama terluka.
BAB XXVII
MEROKOK DI BALIK SENYUM
“Tidak Semua Tawa Berarti Bahagia, Kadang Itu Hanya Cara Seseorang Menyembunyikan Luka”
Hidup Titik perlahan mulai kembali tenang.
Tidak ada lagi pertengkaran besar.
Tidak ada lagi teror dari Tono.
Dan hari-harinya kini lebih banyak dipenuhi kebersamaan sederhana bersama teman-temannya.
Namun di balik semua itu…
ada satu kebiasaan buruk yang diam-diam semakin melekat dalam dirinya.
Merokok.
Awalnya hanya pelampiasan sesaat.
Hanya satu batang saat hati terasa sesak.
Namun lama-kelamaan…
rokok menjadi tempat Titik melarikan diri setiap kali pikirannya penuh.
Pagi itu…
Titik duduk sendirian di belakang bengkel sekolah sebelum pelajaran dimulai.
Udara masih dingin.
Kabut tipis belum sepenuhnya hilang.
Dan di tangannya…
sebatang rokok menyala pelan.
Ia menghembuskan asap perlahan ke udara.
Matanya kosong.
Pikirannya melayang entah ke mana.
Tentang hidup.
Tentang cinta.
Tentang semua kehilangan yang terus datang silih berganti.
“PANTES BAU ASAP.”
Titik langsung kaget.
Abdul berdiri sambil melipat tangan di depan dada.
Wajahnya terlihat kesal.
“Eh…”
“Kamu ngerokok lagi?”
Titik nyengir kecil.
“Cuma satu.”
“Kemarin juga bilang gitu.”
“Ya kan satu-satu jadinya banyak.”
“NAH TUH TAU.”
Titik langsung tertawa kecil.
Namun Abdul tidak ikut tertawa.
“Kamu pikir keren?”
“Nggak.”
“Terus kenapa masih dilakuin?”
Titik mengangkat bahu pelan.
“Biar tenang.”
Abdul langsung duduk di sampingnya.
Wajahnya masih serius.
“Rokok nggak bikin masalah selesai.”
“Tapi bikin pikiranku diam sebentar.”
Jawaban itu membuat Abdul terdiam.
Karena ia tahu…
Titik tidak sedang bercanda.
“Kamu masih sering kepikiran ya?”
Titik memandangi asap yang mengepul.
“Aku capek Dul…”
“Karena hidup?”
“Karena semuanya.”
Suara itu terdengar lirih sekali.
Dan Abdul langsung tahu—
di balik senyum dan tawa Titik selama ini…
masih ada luka yang belum benar-benar sembuh.
“Kamu tuh aneh.”
“Hah?”
“Kalau orang lain lihat kamu…”
“…mereka pasti pikir hidupmu enak.”
Titik tertawa kecil pahit.
“Padahal aku capek jadi aku.”
Kalimat itu membuat dada Abdul terasa sesak.
“Semua orang suka sama aku.”
“Tapi aku malah sering merasa sendirian.”
Angin pagi bertiup pelan.
Dan untuk beberapa saat…
mereka hanya diam.
Abdul akhirnya merebut rokok di tangan Titik.
“Eh!”
“Udah cukup.”
“Balikin.”
“Nggak.”
“Peliiit.”
Abdul langsung mematikan rokok itu.
Dan anehnya…
Titik tidak marah.
Karena ia tahu—
Abdul melakukan itu karena peduli.
“Kamu tahu nggak…”
“Hm?”
“Aku takut suatu hari kamu benar-benar hancur.”
Kalimat itu membuat Titik menunduk pelan.
“Aku juga takut…”
“Terus kenapa nggak berhenti?”
Titik tersenyum kecil.
“Karena kadang…”
“…asap lebih gampang diajak ngobrol daripada manusia.”
DEG.
Jawaban itu membuat Abdul tidak bisa langsung bicara.
Karena kalimat itu terdengar sangat sedih.
Bel sekolah akhirnya berbunyi.
Dan mereka berjalan menuju kelas bersama.
Namun sepanjang jalan…
Abdul terus memperhatikan Titik diam-diam.
Karena semakin lama…
ia semakin sadar bahwa gadis itu sebenarnya jauh lebih rapuh daripada yang terlihat.
Di kelas…
suasana kembali ramai seperti biasa.
Ahmad sedang bercanda.
Muji sibuk menggambar di papan.
Sedangkan Riyadi membaca buku sambil sesekali memperhatikan Titik.
“WOY TITIK!”
“Hm?”
“Kamu kalau jadi artis jangan lupain kita.”
“Ngapain aku jadi artis?”
“Soalnya drama hidupmu banyak.”
Satu kelas langsung tertawa keras.
Termasuk Titik.
Namun di balik tawanya…
hatinya terasa kosong.
Siang harinya…
Dwi memergoki Titik merokok lagi di belakang kantin.
“YA ALLAH!”
Titik langsung panik.
“Dwe…”
“Kamu makin parah!”
“Pelan dikit napa…”
“Cewek cantik kok ngerokok.”
“Emang cantik?”
“FOKUS TITIK!”
Mereka berdua akhirnya tertawa kecil.
Namun setelah itu…
Dwi mendadak diam.
“Kamu sebenarnya belum sembuh ya…”
Pertanyaan itu langsung membuat senyum Titik perlahan hilang.
“Aku nggak tahu…”
“Kadang aku ketawa.”
“Tapi malamnya nangis lagi.”
Dwi langsung memeluk sahabatnya itu.
Dan Titik akhirnya kembali menangis diam-diam di pundaknya.
“Aku lelah Dwe…”
“Aku tahu.”
“Kenapa hidupku rumit banget…”
“Karena kamu terlalu mikirin semua orang.”
Kalimat itu kembali terdengar.
Dan lagi-lagi…
Titik merasa semua orang mengatakan hal yang sama padanya.
Malam harinya…
Titik duduk di depan kos bersama Abdul.
Seperti biasa.
Mereka minum kopi sachet sambil ngobrol hal-hal random.
“Kalau kamu punya satu permintaan…”
“…apa yang paling pengen kamu ulang?”
Pertanyaan Abdul membuat Titik diam cukup lama.
Lalu perlahan ia menjawab—
“Masa waktu akang masih ada.”
Sunyi.
Dan Abdul bisa melihat—
betapa dalam luka kehilangan itu masih tersimpan di hati Titik.
“Aku kadang marah sama dia.”
“Karena pergi?”
Titik mengangguk.
“Tapi aku juga kangen…”
Air matanya mulai jatuh lagi.
Dan Abdul hanya duduk di sampingnya tanpa bicara.
“Kamu tahu nggak…”
“Hm?”
“Kalau aku lagi sedih…”
“…aku suka berharap tiba-tiba dia datang.”
Suara Titik begitu kecil.
Begitu rapuh.
Dan Abdul merasa hatinya ikut nyeri mendengarnya.
“Aku takut dilupain…”
Kalimat itu membuat Abdul langsung menatapnya.
“Siapa yang bakal lupain kamu?”
“Semua orang akhirnya pergi…”
Abdul menghela napas kecil.
Lalu berkata pelan—
“Aku nggak janji bakal selalu ada…”
“…tapi selama aku masih bisa nemanin kamu, aku bakal ada.”
Air mata Titik kembali jatuh.
Namun kali ini…
ia tersenyum kecil di sela tangisnya.
“Makasih ya Dul…”
“Hm?”
“Udah jadi kakak yang baik.”
Kalimat itu membuat Abdul tersenyum tipis.
Dan malam itu…
hubungan mereka terasa semakin dekat.
Bukan sebagai kekasih.
Bukan juga sekadar teman biasa.
Tetapi seperti dua orang yang sama-sama saling menjaga luka satu sama lain.
Namun jauh di dalam hati Titik…
masih ada kehampaan yang belum terisi.
Dan tanpa ia sadari…
kehampaan itu perlahan kembali membuka jalan bagi masa lalunya untuk datang sekali lagi.
BAB XXVIII
MALIOBORO, MALAM TAHUN BARU, DAN HATI YANG KEMBALI HIDUP
“Ada Kenangan yang Tidak Pernah Mati, Karena Ia Tercipta Saat Kita Benar-Benar Bahagia”
Malam tahun baru di Klaten selalu terasa berbeda.
Jalanan mulai ramai sejak sore.
Suara petasan terdengar di mana-mana.
Lampu-lampu kota terlihat lebih hidup.
Dan anak-anak STM…
tentu saja sudah menyiapkan rencana untuk jalan-jalan bersama.
“POKOKNYA MALAM INI KITA HARUS BERANGKAT!”
Ahmad berdiri di tengah kelas sambil berteriak seperti komandan perang.
Muji langsung nyeletuk—
“Lu kalau nggak teriak bisa mati ya?”
“INI SEMANGAT!”
“Ini gangguan mental.”
Satu kelas langsung pecah tertawa.
Titik yang duduk dekat jendela ikut tersenyum kecil.
Sudah lama ia tidak benar-benar menikmati suasana seperti ini.
Dan malam itu…
ia ingin mencoba melupakan semua masalahnya sejenak.
“Ayo ikut ya Tik,” kata Dwi sambil mengguncang lengannya.
“Ke mana emang?”
“Malioboro terus lanjut Parangtritis!”
“Hah? Jauh amat.”
“Namanya juga malam tahun baru!”
Ahmad langsung ikut nimbrung—
“Kalau perlu kita nyasar sampai Jakarta!”
“Lu aja sana nyasar sendiri.”
Akhirnya mereka sepakat berangkat ramai-ramai.
Ada yang naik motor.
Ada yang nebeng.
Ada juga yang naik kereta sambung.
Dan seperti biasa…
perjalanan mereka selalu penuh keributan.
“WOY SIAPA YANG BAWA GITAR?!”
“MUJI!”
“JANGAN NYANYI NANTI KACA RETAK!”
“Kurang ajar!”
Sepanjang jalan…
suara tawa mereka tidak berhenti.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
Titik tertawa tanpa beban.
Abdul yang duduk di belakang motor bersama Ahmad memperhatikan Titik diam-diam.
Melihat gadis itu kembali tertawa lepas…
entah kenapa membuat hatinya ikut lega.
Mereka sampai di Malioboro menjelang malam.
Suasana kota Jogja begitu ramai.
Lampu jalan menyala indah.
Pedagang kaki lima memenuhi trotoar.
Musik jalanan terdengar di mana-mana.
Dan udara malam terasa hangat oleh keramaian.
“WOOOO JOGJAAA!”
Ahmad langsung berlari kecil seperti anak TK piknik.
Muji menarik kerah bajunya.
“Malu-maluin.”
Titik tertawa sampai memegang perut.
Mereka berjalan bersama menyusuri Malioboro.
Kadang berhenti melihat aksesoris.
Kadang membeli jajanan murah.
Kadang hanya duduk menikmati suasana jalanan.
Dan anehnya…
hal sederhana itu terasa begitu membahagiakan.
“Titik sini!”
Dwi memanggil dari depan penjual gelang.
“Lucu nggak?”
“Lucu.”
“Belikan.”
“ENAK AJA.”
Mereka kembali tertawa.
Sedangkan Riyadi diam-diam membayar gelang kecil itu tanpa bilang apa-apa.
“Heh siapa yang bayar?”
Riyadi pura-pura bingung.
“Nggak tahu.”
“YADI!”
Ahmad langsung nyeletuk—
“CINTA MEMANG BUTA.”
Seketika semua langsung ribut.
Sedangkan Riyadi cuma tersenyum malu.
Titik memandangi gelang kecil di tangannya cukup lama.
Dan tanpa sadar…
hatinya terasa hangat.
Bukan karena hadiah itu mahal.
Namun karena perhatian kecil seperti itulah yang selama ini paling ia hargai.
Malam semakin larut.
Keramaian Malioboro semakin padat.
Dan mereka akhirnya duduk lesehan di pinggir jalan sambil makan angkringan.
“Kalau nanti kita tua…”
“…kira-kira masih bisa kumpul kayak gini nggak ya?”
Pertanyaan Titik mendadak membuat suasana sedikit hening.
“Kalau Ahmad sih paling udah ditangkap polisi,” jawab Muji cepat.
“WOY!”
Semua langsung tertawa lagi.
Namun setelah tawa reda…
Riyadi menjawab pelan—
“Semoga aja masih.”
Kalimat sederhana itu…
entah kenapa terasa sangat hangat.
Setelah puas di Malioboro…
rombongan mereka melanjutkan perjalanan ke Pantai Parangtritis.
Angin malam semakin dingin.
Namun semangat mereka justru makin besar.
Perjalanan panjang itu dipenuhi lagu-lagu random.
Ahmad nyanyi fals.
Muji protes terus.
Dwi tertawa tanpa henti.
Dan Titik…
duduk memandangi jalanan sambil tersenyum kecil.
Sesampainya di pantai…
jam hampir menunjukkan tengah malam.
Ombak terdengar keras.
Angin laut menerpa wajah mereka.
Dan langit malam terlihat begitu luas.
“DINGIN WOY!”
“Tuh kan sok keren nggak bawa jaket!”
Mereka semua langsung berlari kecil mencari tempat duduk.
Namun Titik justru berjalan mendekati bibir pantai.
Angin menerbangkan rambutnya.
Suara ombak terasa menenangkan.
Dan untuk pertama kalinya…
ia merasa hidupnya benar-benar kembali hidup.
“Sendiri aja.”
Suara Abdul terdengar dari belakang.
Titik menoleh lalu tersenyum kecil.
“Aku cuma pengen lihat laut.”
“Lautnya nggak ke mana.”
“Hatiku yang suka ke mana-mana.”
Abdul tertawa kecil.
Mereka berdiri berdampingan memandangi ombak.
Tidak banyak bicara.
Namun suasana itu terasa nyaman.
“Aku kangen jadi diriku yang dulu.”
Suara Titik pelan.
“Kamu sekarang juga masih Titik.”
“Nggak…”
“Aku sekarang lebih gampang sedih.”
Abdul memandangnya beberapa detik sebelum berkata—
“Orang yang banyak terluka biasanya memang jadi lebih sensitif.”
Kalimat itu membuat Titik tersenyum tipis.
“Aku takut suatu hari semua kenangan ini hilang.”
“Kenangan nggak hilang.”
“Hm?”
“Cuma orangnya yang jalan ke arah berbeda.”
DEG.
Kalimat itu membuat hati Titik mendadak sendu.
Karena ia sadar…
sebentar lagi semua akan lulus dan berpisah.
Jam menunjukkan pukul dua belas malam.
Dan tiba-tiba…
langit dipenuhi suara kembang api.
DUARRR!
Cahaya warna-warni memenuhi langit Parangtritis.
Semua orang berteriak senang.
“SELAMAT TAHUN BARU!”
Ahmad langsung loncat-loncat kayak kesurupan.
Muji tertawa sampai jatuh di pasir.
Dwi memeluk Titik sambil berteriak kegirangan.
Dan suasana malam itu terasa begitu hidup.
Titik memandang langit penuh cahaya.
Matanya perlahan berkaca-kaca.
Bukan karena sedih.
Tetapi karena bahagia.
Bahagia sederhana yang sudah lama tidak ia rasakan.
“Aku pengen malam ini nggak selesai…”
Suara Titik lirih.
Abdul tersenyum kecil.
“Kalau nggak selesai nanti kita nggak pulang.”
“Ya juga sih.”
Mereka tertawa kecil bersama.
Dan malam itu…
di bawah langit Parangtritis yang dipenuhi kembang api…
Titik akhirnya sadar satu hal.
Bahwa hidupnya memang penuh luka.
Penuh kehilangan.
Penuh cinta yang rumit.
Namun di tengah semua itu…
ia masih punya orang-orang yang membuatnya merasa berarti.
Orang-orang yang membuatnya kembali tertawa.
Dan orang-orang yang diam-diam menjadi rumah…
saat hatinya mulai lelah berjalan sendiri.
BAB XXIX
GUNUNG, KABUT, DAN HATI YANG MULAI IKHLAS
“Semakin Tinggi Kita Mendaki, Semakin Kita Belajar Bahwa Hidup Tidak Selalu Tentang Memiliki”
Hari-hari setelah malam tahun baru terasa jauh lebih ringan bagi Titik.
Ia mulai tertawa lebih sering.
Mulai kembali menikmati sekolah.
Dan perlahan…
ia belajar berdamai dengan semua luka yang pernah datang dalam hidupnya.
Namun satu hal tentang Titik tidak pernah berubah.
Ia selalu menyukai kebebasan.
Menyukai perjalanan.
Dan menyukai tempat-tempat yang membuatnya merasa kecil di hadapan Tuhan.
Salah satunya—
gunung.
“JADI FIX NAIK MERAPI?!”
Ahmad berteriak heboh di tengah kelas.
“Fix apanya, tenda aja nggak punya,” sahut Muji.
“Namanya juga anak muda!”
“Namanya juga calon hilang.”
Satu kelas langsung tertawa.
Titik yang mendengar obrolan itu langsung tertarik.
“Nggak bahaya?”
Ahmad langsung mendekat.
“Bahaya dikit nggak masalah.”
“Itu bukan motivasi bagus.”
“Yang penting pemandangannya keren!”
Dan begitulah…
rencana mendaki Gunung Merapi akhirnya dimulai.
Tanpa persiapan matang.
Tanpa perlengkapan lengkap.
Dan tentu saja…
penuh modal nekat khas anak STM.
Malam sebelum berangkat…
Dwi langsung panik melihat isi tas Titik.
“INI APAAN?”
“Hah?”
“Kamu naik gunung bawa sisir tiga?!”
“Kan rambut harus tetap cantik.”
“Ya Allah…”
Mereka berdua langsung tertawa keras.
Keesokan paginya…
rombongan kecil mereka akhirnya berangkat.
Ada Ahmad.
Muji.
Riyadi.
Abdul.
Dwi.
Dan beberapa teman lain.
Sedangkan Titik…
menjadi satu-satunya perempuan paling heboh di rombongan itu.
Perjalanan menuju kaki gunung dipenuhi candaan.
Ahmad tidak berhenti nyanyi.
Muji tidak berhenti ngomel.
Dan Titik tertawa hampir sepanjang jalan.
“Tik.”
“Hm?”
“Nanti kalau capek bilang ya.”
Riyadi berjalan di sampingnya sambil membawa carrier besar.
Titik tersenyum kecil.
“Iya Ayah.”
“Kurang ajar.”
Pendakian dimulai sore hari.
Awalnya masih terasa mudah.
Jalur tanah.
Pepohonan rindang.
Udara dingin.
Dan suasana yang membuat hati terasa tenang.
“WOOO KEREN!”
Ahmad langsung foto di mana-mana.
Muji geleng-geleng kepala.
“Baru jalan lima menit udah kayak penjelajah dunia.”
Namun semakin tinggi mereka mendaki…
jalur mulai berubah berat.
Napas mulai ngos-ngosan.
Kaki mulai pegal.
Dan udara semakin dingin.
“TITIK MASIH KUAT?”
teriak Abdul dari depan.
“MASIH!”
Padahal sebenarnya…
kakinya sudah terasa gemetar.
Beberapa jam kemudian…
kabut mulai turun.
Jalur semakin gelap.
Dan mereka akhirnya berhenti untuk istirahat.
Titik duduk di atas batu besar sambil mengatur napas.
Wajahnya pucat.
Namun matanya justru terlihat bahagia.
“Capek?”
Abdul duduk di sampingnya sambil menyerahkan air minum.
“Banget.”
“Terus kenapa senyum?”
Titik memandang langit yang mulai gelap.
“Karena rasanya hidup.”
Jawaban itu membuat Abdul tersenyum kecil.
“Aneh ya…”
“Hm?”
“Di bawah aku sering sedih.”
“Tapi di sini…”
“…aku malah tenang.”
Abdul mengangguk pelan.
“Mungkin karena di gunung…”
“…kita sadar masalah kita kecil.”
Kalimat itu membuat Titik diam cukup lama.
Karena memang benar.
Di hadapan alam sebesar ini…
semua luka cintanya terasa sangat kecil.
Perjalanan dilanjutkan malam hari.
Dan di sinilah perjuangan sebenarnya dimulai.
Jalur berbatu.
Udara menusuk.
Kabut semakin tebal.
Dan angin terasa begitu dingin.
“AHMAD JANGAN NYANYI!”
“BIAR SEMANGAT!”
“ITU BIKIN SETAN IKUT SEMANGAT!”
Mereka tetap tertawa di tengah lelah.
Karena candaan kecil seperti itulah yang membuat perjalanan terasa ringan.
Namun beberapa jam kemudian…
hujan mulai turun.
Awalnya kecil.
Lalu semakin deras.
Dan jalur berubah sangat licin.
“PEGANG TANGANKU!”
Abdul membantu Titik melewati jalur berbatu.
Tangan Titik dingin sekali.
Tubuhnya mulai gemetar.
“Aku nggak kuat…”
“Sedikit lagi.”
“Aku capek…”
“Nanti kita istirahat.”
Suara Abdul tetap tenang.
Dan entah kenapa…
itu selalu berhasil membuat Titik lebih kuat.
Mereka akhirnya berhenti di sebuah pos kecil.
Semua basah kuyup.
Kedinginan.
Dan wajah Ahmad sudah pucat seperti mayat kurang tidur.
“GILA…”
“Aku mau pulang…”
Muji langsung nyengir.
“Tadi paling semangat.”
“Aku menyesal jadi manusia.”
Semua langsung tertawa meski tubuh mereka menggigil.
Titik duduk memeluk lutut.
Tubuhnya gemetar hebat karena dingin.
Dan Abdul langsung memberikan jaketnya.
“Pakai.”
“Kamu nanti dingin.”
“Aku lebih takut kamu sakit.”
Kalimat itu sederhana.
Namun membuat hati Titik terasa hangat.
Malam semakin larut.
Kabut semakin tebal.
Dan mereka akhirnya memutuskan tetap melanjutkan pendakian menuju puncak.
Perjalanan terakhir terasa paling berat.
Napas sesak.
Kaki nyaris tidak kuat melangkah.
Dan angin dingin terus menghantam tubuh mereka.
“Aku nyerah…”
Suara Titik hampir menangis.
Abdul langsung berdiri di depannya.
“Lihat aku.”
Titik mengangkat wajah pelan.
“Kalau hidup aja kamu bisa lewatin…”
“…masa gunung kalah.”
DEG.
Kalimat itu langsung membuat Titik terdiam.
Dan entah dari mana…
ia kembali menemukan tenaga untuk berjalan.
Selangkah demi selangkah.
Melewati dingin.
Melewati lelah.
Melewati rasa ingin menyerah.
Hingga akhirnya…
menjelang subuh…
mereka sampai di puncak Merapi.
Langit perlahan berubah jingga.
Kabut bergerak pelan.
Dan matahari mulai muncul dari balik gunung.
Semua langsung terdiam.
Karena pemandangan di depan mereka terlalu indah untuk dijelaskan.
Titik memandang luasnya langit dengan mata berkaca-kaca.
Angin menerpa wajahnya.
Dan tanpa sadar…
air matanya jatuh pelan.
“Kenapa nangis?”
Suara Abdul terdengar lembut.
Titik tersenyum kecil sambil mengusap air matanya.
“Aku cuma…”
“…ngerasa kecil banget.”
Ia menatap matahari perlahan naik.
Dan untuk pertama kalinya…
hatinya terasa sangat tenang.
“Semua yang aku jalanin…”
“…ternyata nggak seberapa.”
Suara itu lirih.
Namun penuh keikhlasan.
Abdul berdiri di sampingnya.
Tidak banyak bicara.
Namun kehadirannya selalu cukup.
“Dul…”
“Hm?”
“Mungkin hidup memang kayak naik gunung ya.”
“Kok gitu?”
“Capek.”
“Banyak luka.”
“Kadang pengen nyerah.”
“Tapi indah kalau berhasil dilewatin.”
Abdul tersenyum kecil.
“Dan jangan lupa…”
“Hm?”
“Turunnya juga susah.”
“YA ELAH!”
Mereka langsung tertawa bersama di tengah dinginnya puncak Merapi.
Dan pagi itu…
di atas gunung yang dipenuhi kabut…
Titik mulai belajar satu hal penting.
Bahwa hidup tidak selalu tentang siapa yang tinggal atau pergi.
Tidak selalu tentang cinta yang berhasil dimiliki.
Kadang…
hidup hanya tentang terus berjalan…
meski hati pernah hancur berkali-kali.
BAB XXX
CINTA LAMA BERSEMI KEMBALI
“Setinggi-Tingginya Merpati Terbang, Ia Akan Pulang ke Tempat yang Membuatnya Tenang”
Waktu berjalan begitu cepat.
Tanpa terasa…
masa-masa STM akhirnya sampai di ujung perjalanan.
Semua kesibukan sekolah perlahan berubah menjadi kesibukan ujian akhir.
Kelas yang dulu selalu ramai…
kini mulai dipenuhi rasa takut akan perpisahan.
Ahmad masih tetap berisik.
Muji masih suka ngomel.
Dwi masih menjadi sahabat paling cerewet.
Dan Riyadi…
masih diam-diam memperhatikan Titik dengan cara yang sama.
Namun kini semuanya terasa berbeda.
Karena mereka tahu…
sebentar lagi hidup akan membawa masing-masing menuju jalan yang berbeda.
Hari pengumuman kelulusan tiba.
Suasana sekolah begitu ramai.
Anak-anak berteriak.
Ada yang menangis.
Ada yang saling peluk.
Dan ada juga yang sibuk coret-coret seragam.
“TITIK LULUSSSS!”
Dwi langsung memeluknya sambil lompat-lompat.
“LEPAS AKU WEH!”
“NGGAK MAU!”
Ahmad ikut teriak dari kejauhan—
“AKHIRNYA NEGARA SELAMAT!”
“Mulutmu ya!”
Semua langsung tertawa keras.
Namun di balik semua kebahagiaan itu…
hati Titik justru terasa aneh.
Kosong.
Seperti ada sesuatu yang perlahan berakhir.
Malam harinya…
mereka berkumpul terakhir kali di taman Umbul.
Tempat yang selama ini menjadi saksi begitu banyak cerita mereka.
Tentang tawa.
Tentang persahabatan.
Tentang cinta.
Dan tentang luka.
“Aku nggak nyangka kita sampai sejauh ini.”
Riyadi membuka suara pelan.
“Iya…”
“Dulu kita masih bocah tengil.”
“Sekarang juga masih.”
Semua tertawa kecil.
Namun mata mereka perlahan mulai berkaca-kaca.
“Kalau nanti kita sibuk…”
“…jangan pura-pura nggak kenal ya.”
Suara Dwi mulai bergetar.
Ahmad langsung nyeletuk—
“Kalau jadi orang sukses jangan lupa traktir!”
“OTAKMU MAKAN TERUS!”
Malam itu…
mereka berbicara sangat lama.
Tentang mimpi.
Tentang masa depan.
Tentang harapan-harapan sederhana.
Dan Titik sadar…
ia akan sangat merindukan semua ini.
Setelah kelulusan…
satu per satu teman-temannya mulai pulang ke daerah masing-masing.
Ada yang langsung bekerja.
Ada yang melanjutkan kuliah.
Dan ada juga yang memilih membantu orang tua.
Abdul pun akhirnya harus pulang ke Batang.
Dan berita itu…
membuat hati Titik kembali berat.
“Kapan berangkat?”
“Besok pagi.”
Cepat sekali.
Titik menunduk pelan.
Karena ia tidak pernah membayangkan harus kehilangan Abdul juga.
Malam terakhir sebelum Abdul pulang…
mereka duduk berdua di depan kos.
Seperti biasanya.
Dengan kopi sachet murah.
Dan obrolan yang mengalir pelan.
“Kamu nanti jangan ngerokok terus.”
Abdul membuka suara.
Titik tertawa kecil.
“Masih aja diomelin.”
“Karena bandel.”
“Kalau aku nggak bandel bukan Titik namanya.”
Abdul tersenyum tipis.
Namun matanya terlihat sendu.
“Nanti kalau sedih…”
“…jangan dipendam sendiri.”
“Iya.”
“Janji?”
Titik mengangguk kecil.
Namun dalam hatinya…
ia tahu akan sangat kehilangan sosok laki-laki itu.
“Makasih ya Dul…”
“Hm?”
“Udah jadi rumah waktu aku kehilangan arah.”
Kalimat itu membuat Abdul terdiam cukup lama.
Lalu ia tersenyum kecil.
“Kamu juga udah jadi adik paling nyebelin.”
“Enak aja.”
Mereka tertawa pelan bersama.
Namun beberapa detik kemudian…
mata Titik mulai berkaca-kaca.
“Aku takut kehilangan lagi…”
Suara itu lirih sekali.
Dan Abdul langsung mengusap kepalanya pelan.
“Kita cuma jauh.”
“Bukan hilang.”
Air mata Titik akhirnya jatuh.
“Kamu jangan pergi tanpa pamit ya…”
“Kali ini aku pamit.”
Jawaban itu langsung membuat Titik tersenyum sambil menangis.
Pagi harinya…
Abdul benar-benar pergi.
Dan saat bus mulai berjalan meninggalkan terminal…
Titik kembali merasakan rasa kosong yang dulu pernah datang saat Akang pergi.
Namun kali ini…
ia mencoba belajar ikhlas.
Tak lama setelah itu…
Titik pun memutuskan pulang kampung.
Untuk sementara menunggu pendaftaran kuliah.
Dan perjalanan pulang itu…
membawa begitu banyak kenangan memenuhi pikirannya.
Tentang Klaten.
Tentang Malioboro.
Tentang gunung.
Tentang sahabat-sahabatnya.
Dan tentang semua orang yang pernah singgah di hidupnya.
Saat sampai di kampung…
udara sore terasa begitu familiar.
Sawah masih sama.
Jalan kecil masih sama.
Dan suara anak-anak bermain masih terdengar seperti dulu.
Namun ada satu hal yang berbeda.
Kafid kini sudah benar-benar kembali tinggal di kampung.
Pertemuan mereka kali ini terasa jauh lebih tenang.
Tidak lagi canggung seperti dulu.
Tidak lagi penuh gengsi masa remaja.
Karena kini…
mereka sama-sama sudah lebih dewasa.
“Selamat datang kembali.”
Kafid tersenyum kecil saat melihat Titik di depan rumah.
“Kamu nggak kerja?”
“Libur.”
“Tumben.”
“Biar bisa lihat kamu.”
Titik langsung tersipu malu.
Mereka mulai sering bersama lagi.
Kadang jalan sore keliling kampung.
Kadang duduk di warung kopi.
Kadang membantu Bu Yati di rumah.
Dan perlahan…
hubungan mereka kembali tumbuh dengan cara yang jauh lebih sederhana.
Kini tidak ada lagi cinta posesif.
Tidak ada lagi drama berlebihan.
Dan tidak ada lagi rasa ingin saling memiliki secara egois.
Yang ada hanya dua orang…
yang pernah saling kehilangan dan kini kembali dipertemukan waktu.
Suatu malam…
mereka duduk di dekat lapangan kampung sambil melihat pertunjukan kuda lumping.
Tempat yang dulu pertama kali mempertemukan mereka.
“Kamu masih ingat?”
Kafid tersenyum kecil.
“Mana mungkin lupa.”
“Dulu kamu malu-malu banget.”
“Kamu juga.”
Titik tertawa kecil.
Dan malam itu…
rasanya seperti waktu kembali mundur bertahun-tahun lalu.
“Kita aneh ya.”
“Hm?”
“Udah muter ke mana-mana…”
“…ujung-ujungnya balik lagi.”
Kafid memandang Titik cukup lama sebelum menjawab—
“Karena rumah terbaik biasanya memang tempat pertama hati kita pulang.”
DEG.
Kalimat itu langsung membuat hati Titik hangat.
Angin malam bertiup pelan.
Suara gamelan terdengar samar.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
Titik merasa benar-benar tenang.
“Aku dulu marah sama kamu.”
“Karena pergi?”
Titik mengangguk kecil.
“Tapi sekarang aku ngerti…”
“Kita sama-sama masih terlalu muda waktu itu.”
Kafid tersenyum kecil.
“Makasih udah mau nerima aku lagi.”
Titik menatap langit malam cukup lama.
Lalu berkata pelan—
“Mungkin…”
“…cinta pertama memang nggak pernah benar-benar hilang.”
Kafid menggenggam tangan Titik perlahan.
Tidak erat.
Tidak memaksa.
Namun cukup hangat untuk membuat hati Titik yakin—
bahwa kali ini…
ia sudah menemukan tempat pulangnya kembali.
Dan malam itu…
di bawah langit kampung yang penuh bintang…
kisah mereka kembali dimulai.
Bukan lagi sebagai dua remaja labil yang penuh ego.
Tetapi sebagai dua hati…
yang akhirnya belajar bahwa cinta sejati bukan tentang mengekang.
Bukan tentang memiliki.
Melainkan tentang pulang…
kepada seseorang yang selalu membuat hati merasa tenang.
EPILOG
HARI BERJALAN
“Pada Akhirnya, Hidup Akan Membawa Kita Pulang Kepada Kenangan yang Paling Menguatkan”
Hari terus berjalan.
Waktu tidak pernah berhenti hanya karena seseorang sedang terluka.
Dan hidup…
tetap memaksa setiap manusia melangkah ke depan.
Setelah semua perjalanan panjang itu…
Titik akhirnya mulai memahami banyak hal tentang hidupnya sendiri.
Tentang cinta.
Tentang kehilangan.
Tentang perpisahan.
Dan tentang dirinya yang selama ini hanya ingin dicintai dengan sederhana.
Kampung kecil itu masih sama.
Sawah masih hijau.
Angin sore masih membawa aroma tanah yang menenangkan.
Dan suara anak-anak bermain masih terdengar setiap senja.
Namun Titik tahu…
dirinya sudah berubah.
Ia bukan lagi gadis SMP yang mudah menangis karena cinta pertama.
Bukan lagi remaja STM yang terjebak dalam cinta posesif dan luka batin.
Kini…
ia mulai belajar menjadi perempuan yang lebih kuat.
Kadang…
saat malam tiba dan suasana mulai sunyi…
Titik masih mengingat semua orang yang pernah hadir dalam hidupnya.
Nur.
Yang mengajarkan tentang cinta pertama dan kehilangan.
Tono.
Yang mencintainya terlalu dalam hingga lupa cara membebaskannya.
Toro.
Yang datang sebagai cinta paling tenang di masa mudanya.
Riyadi.
Yang diam-diam selalu menjaga tanpa pernah memaksa memiliki.
Dan Abdul…
sosok yang hadir seperti Akang yang pernah hilang.
Tentang Abdul…
Titik masih sering tersenyum sendiri saat mengingat laki-laki itu.
Tentang kopi sachet di depan kos.
Tentang omelan soal rokok.
Tentang gunung.
Tentang malam-malam panjang penuh curhat.
Dan tentang satu kalimat yang selalu diingat Titik—
“Kalau hidup aja kamu bisa lewatin, masa gunung kalah.”
Kalimat sederhana…
namun selalu berhasil membuat Titik bertahan setiap kali hidup terasa berat.
Kadang mereka masih saling berkirim surat.
Kadang hanya saling titip kabar lewat teman.
Namun hubungan itu tetap sama.
Hangat.
Tulus.
Dan tidak pernah berubah menjadi rumit.
Karena tidak semua hubungan harus menjadi cinta untuk terasa berarti.
Sedangkan Kafid…
perlahan benar-benar kembali menjadi bagian penting dalam hidup Titik.
Hubungan mereka kini jauh lebih dewasa.
Tidak lagi penuh cemburu kekanak-kanakan.
Tidak lagi dipenuhi drama seperti masa SMP dulu.
Kini mereka lebih banyak berjalan berdampingan.
Saling mendukung.
Dan belajar memahami satu sama lain.
Kadang mereka duduk bersama di pinggir sawah saat sore.
Kadang membantu Bu Yati di rumah.
Kadang sekadar berjalan kaki keliling kampung sambil membahas masa depan.
Hal-hal sederhana…
namun justru terasa paling membahagiakan.
Suatu malam…
Titik duduk sendirian di teras rumah.
Langit penuh bintang.
Angin malam bertiup lembut.
Dan suara jangkrik terdengar dari kejauhan.
Di tangannya…
masih ada boneka panda kecil cokelat pemberian Toro dulu.
Boneka itu masih disimpan rapi sampai sekarang.
Bukan karena masih cinta.
Namun karena itu bagian dari perjalanan hidupnya.
Bagian dari kenangan yang pernah membuatnya tumbuh.
Titik tersenyum kecil.
Lalu memandang langit panjang.
“Hidupku ternyata ramai sekali ya…”
gumamnya pelan.
Bu Yati yang keluar rumah tersenyum kecil melihat anaknya melamun.
“Mikir apa?”
“Mikir masa lalu.”
“Nyese l nggak?”
Titik diam sebentar.
Lalu perlahan menggeleng.
“Nggak.”
“Karena semua itu bikin Titik jadi sekarang.”
Bu Yati tersenyum hangat.
Lalu duduk di samping putrinya.
“Kamu sekarang lebih tenang.”
“Iya Bu…”
“Titik capek kalau harus hidup dalam drama terus.”
Mereka tertawa kecil bersama.
“Aku dulu pikir cinta itu harus selalu memiliki.”
Suara Titik pelan.
“Tapi ternyata…”
“…cinta juga bisa berarti mengikhlaskan.”
Bu Yati mengusap rambut anaknya lembut.
Dan malam itu terasa sangat damai.
Tak jauh dari rumah…
suara gamelan latihan kuda lumping terdengar samar.
Suara yang dulu menjadi awal pertemuannya dengan Kafid.
Suara yang dulu menjadi saksi cinta pertamanya tumbuh.
Dan kini…
menjadi pengingat bahwa hidup memang sering berputar dengan cara yang aneh.
Setinggi-tingginya merpati terbang…
akhirnya akan pulang juga.
Dan mungkin…
begitulah hati manusia.
Sejauh apa pun berjalan…
ia akan kembali mencari tempat paling nyaman untuk pulang.
Titik akhirnya sadar—
bahwa selama ini…
yang paling ia cari bukanlah cinta yang berlebihan.
Bukan cinta yang posesif.
Bukan juga cinta yang membuatnya dipuja seperti ratu.
Yang ia cari hanyalah seseorang…
yang mampu membuatnya merasa tenang tanpa harus kehilangan dirinya sendiri.
Dan ketenangan itu…
akhirnya ia temukan kembali pada cinta pertamanya.
Hari terus berjalan.
Musim terus berganti.
Dan hidup terus bergerak maju.
Namun semua kenangan tentang masa muda itu…
akan selalu hidup di hati Titik.
Tentang persahabatan.
Tentang gunung.
Tentang air mata.
Tentang rokok di balik senyum.
Tentang orang-orang yang datang dan pergi.
Dan tentang cinta lama…
yang akhirnya benar-benar bersemi kembali.
Karena pada akhirnya…
hidup bukan tentang siapa yang paling lama tinggal.
Tetapi tentang siapa yang tetap mampu membuat hati merasa pulang.
SELESAI
NOVEL ROMANSA REMAJA
DI UJUNG PERSIMPANGAN CINTA KU BERLABUH
CINTA LAMA BERSEMI KEMBALI
Oleh: Slamet Riyadi
DISCLAIMER
Novel ini merupakan karya fiksi yang terinspirasi dari kisah nyata tokoh “Titik”.
Seluruh tokoh, latar, nama tempat, peristiwa, serta konflik di dalam cerita telah mengalami pengembangan dramatik demi kepentingan sastra dan alur cerita.
Kemiripan nama, kejadian, maupun latar dengan kehidupan nyata merupakan unsur yang tidak disengaja.
Novel ini mengandung kisah tentang cinta remaja, persahabatan, kehilangan, pencarian jati diri, serta perjalanan batin seorang perempuan yang tumbuh di antara luka, kasih sayang, dan harapan.
Sebagian dialog menggunakan gaya bahasa remaja dan nuansa kampung tahun 1995-an demi memperkuat suasana cerita.
Selamat menikmati perjalanan hati Titik.
PROLOG
“MERPATI TAK PERNAH INGKAR JALAN PULANG”
Malam itu langit Pengandon tampak gelap.
Angin berhembus pelan melewati pepohonan bambu di belakang rumah kayu milik Bu Yati. Suara jangkrik terdengar bersahut-sahutan dari arah kebun. Di kejauhan samar-samar terdengar bunyi gamelan latihan kuda lumping dari lapangan kampung.
Titik duduk sendirian di depan jendela kamarnya.
Tatapannya kosong.
Di tangannya ada sebuah boneka panda kecil berwarna cokelat yang mulai kusam dimakan waktu.
Boneka itu sudah bertahun-tahun ia simpan.
Tak pernah dibuang.
Tak pernah hilang.
Sama seperti kenangan.
Perempuan itu tersenyum kecil, lalu menarik napas panjang.
“Kenapa hidupku selalu dipenuhi perpisahan…” bisiknya lirih.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Ingatannya perlahan kembali mundur… jauh ke masa ketika semuanya masih sederhana.
Masa ketika ia masih mengenakan seragam putih biru.
Masa ketika hatinya pertama kali mengenal cinta.
Dan semuanya bermula…
dari pertunjukan kuda lumping.
“Tik… Titiiik… ayo cepet! Nanti kita nggak kebagian tempat depan!”
Suara Indah memecah lamunan Titik.
Remaja perempuan berambut panjang dengan kucil ekor kuda itu buru-buru keluar rumah sambil memakai sandal.
“Iya… iya… cerewet banget sih kamu,” jawab Titik sambil terkekeh.
Di depan rumah sudah ada Herman dan Deni.
Herman langsung bersiul jahil.
“Wuihh… si paling cantik kampung akhirnya keluar juga.”
Titik melotot.
“Herman! Mulutmu itu ya!”
“Hahaha… salah sendiri cantik.”
Deni yang berdiri sambil membawa kacang rebus hanya menggeleng.
“Kalian ini tiap ketemu pasti ribut.”
Indah nyengir.
“Biar seru.”
Mereka berjalan bersama melewati jalan tanah kampung yang malam itu ramai oleh warga.
Anak-anak kecil berlarian membawa balon.
Pedagang cilok dan jagung bakar memenuhi pinggir jalan.
Lampu petromaks menggantung di sekitar lapangan membuat suasana terasa hangat.
Malam itu ada pertunjukan kuda lumping terbesar di Pengandon.
Dan malam itu pula…
hidup Titik berubah.
“Eh Tik, duduk sini!” teriak Indah sambil menarik tangan Titik.
Mereka duduk di barisan depan.
Suara gamelan mulai dimainkan.
“Wah rame banget ya,” gumam Titik sambil melihat sekeliling.
Tiba-tiba…
matanya berhenti pada seorang laki-laki di sisi lapangan.
Pemuda itu mengenakan jaket hitam lusuh.
Tubuhnya tinggi.
Kulitnya sawo matang.
Tatapannya tenang.
Dan entah kenapa…
mata mereka bertemu.
Deg.
Jantung Titik mendadak berdegup aneh.
“Kenapa Tik?” tanya Deni.
Titik buru-buru mengalihkan pandangan.
“Eh? Nggak… nggak apa-apa.”
Indah mengikuti arah mata Titik lalu terkekeh pelan.
“Oalah… ada yang salah tingkah.”
“Apa sih!”
“Itu lho anak yang pakai jaket hitam dari tadi lihat kamu.”
“Hush! Jangan ngawur!”
Namun diam-diam Titik kembali melirik.
Dan laki-laki itu… masih memandangnya.
Herman langsung menyikut pelan.
“Waduh… kayaknya ada yang jatuh cinta nih.”
“Apaan sih kalian!”
Pipi Titik mulai merah.
Ia bahkan tak mengerti kenapa jantungnya berdebar begitu keras.
Padahal mereka belum saling kenal.
Belum pernah bicara.
Bahkan belum tahu nama masing-masing.
Namun malam itu…
ada sesuatu yang terasa berbeda.
Pertunjukan kuda lumping berlangsung meriah.
Orang-orang bersorak saat para pemain mulai kesurupan.
Namun perhatian Titik tak lagi sepenuhnya ke pertunjukan.
Entah kenapa…
matanya terus mencari laki-laki itu.
Dan setiap kali ia melirik…
pemuda itu masih memandangnya.
Sampai akhirnya…
seorang anak kecil menabrak Titik dari belakang.
“Aduhh!”
“Eh maaf mbak!”
Titik hampir jatuh.
Namun tiba-tiba seseorang menahan lengannya.
Hangat.
Kuat.
Titik terdiam.
Saat menoleh…
ternyata laki-laki itu.
“Ati-ati,” ucapnya pelan.
Suara itu sederhana.
Tapi entah kenapa membuat dada Titik bergetar.
“Eh… iya…”
Untuk beberapa detik mereka saling diam.
Suara gamelan terasa menjauh.
Keramaian seolah menghilang.
Yang tersisa hanya tatapan mata mereka.
Lalu laki-laki itu tersenyum kecil.
“Kamu Titik ya?”
Titik kaget.
“Kok tahu?”
“Sering lihat.”
“Lihat di mana?”
“Di sekolah… sama di jalan kampung.”
Indah yang melihat dari jauh langsung menahan tawa.
“Herman… Herman… bener kan! Ada yang naksir Titik!”
Herman ngakak.
“Wah… malam ini seru.”
Titik makin salah tingkah.
“Eh… aku balik dulu ya.”
Namun sebelum pergi, laki-laki itu berkata pelan—
“Aku Nur.”
Nama itu…
langsung tertanam dalam hati Titik.
Malam semakin larut.
Namun sejak pertemuan itu…
hati Titik tak lagi sama.
Sesampainya di rumah, Bu Yati yang sedang melipat pakaian langsung heran melihat anaknya senyum-senyum sendiri.
“Kenapa kamu senyum begitu?”
“Hah? Nggak kok.”
“Jangan bohong sama ibu.”
Titik buru-buru masuk kamar.
Bu Yati tertawa kecil.
“Anak gadis…”
Di dalam kamar…
Titik rebahan sambil menatap langit-langit.
Nama itu terus terngiang di kepalanya.
Nur.
Sederhana.
Tapi hangat.
Titik memegang dadanya sendiri.
“Kenapa deg-degan begini sih…”
Ia memejamkan mata pelan.
Tanpa sadar…
malam itu menjadi awal dari perjalanan panjang hidupnya.
Perjalanan tentang cinta.
Tentang kehilangan.
Tentang persahabatan.
Tentang luka.
Dan tentang seseorang yang kelak akan membuatnya mengerti…
bahwa setinggi apa pun merpati terbang…
ia akan tetap pulang pada tempat yang paling menenangkan hatinya.
Dan Titik belum tahu…
bahwa malam kuda lumping itu…
adalah awal dari semua takdir yang akan mengubah hidupnya selamanya
BAB I
UJIAN AKHIR DAN PERTEMUAN PERTAMA
“Di Antara Lembar Soal dan Degup Hati yang Baru Tumbuh”
Pagi di Pengandon datang perlahan bersama kabut tipis yang turun dari arah persawahan.
Embun masih menggantung di ujung daun pisang ketika suara ayam jantan bersahutan dari belakang rumah warga. Jalan kampung yang biasanya sepi mulai ramai oleh anak-anak sekolah berseragam putih biru.
Hari itu bukan hari biasa.
Hari itu adalah hari pertama Ujian Akhir Nasional.
Dan bagi sebagian anak SMP di Pengandon, ujian terasa seperti penentu masa depan.
Namun bagi Titik…
pagi itu terasa berbeda.
Bukan karena ujian.
Bukan karena takut tidak lulus.
Melainkan karena satu nama yang semalaman terus mengganggu pikirannya.
Nur.
“TITIIIIK! CEPET BANGUN!”
Suara Bu Yati menggema dari dapur.
Titik yang masih meringkuk di bawah selimut langsung mengerang pelan.
“Iyaaa Bu…”
“Katanya ujian nasional! Ini malah tidur kayak kebo!”
Titik terkekeh kecil sambil bangun perlahan.
Sinar matahari masuk dari sela-sela jendela kayu kamarnya.
Ia duduk termenung beberapa detik.
Lalu tanpa sadar…
tersenyum sendiri.
Bu Yati yang tiba-tiba muncul di depan pintu langsung menyipitkan mata.
“Nah loh.”
Titik kaget.
“Apa Bu?”
“Kamu kenapa senyum-senyum sendiri dari tadi?”
“Mana ada.”
“Ada. Ibu lihat dari semalam.”
Titik buru-buru berdiri.
“Aduh Bu… Titik mandi dulu ya!”
“Heh! Jangan ngeles!”
Namun Titik sudah kabur sambil membawa handuk.
Bu Yati hanya menggeleng sambil tersenyum kecil.
“Kayaknya anakku mulai gede…”
Di kamar mandi sederhana berdinding papan itu, Titik menyiram wajahnya berkali-kali.
Namun anehnya…
bayangan Nur masih muncul di pikirannya.
Tatapan matanya.
Senyumnya.
Cara dia memegang lengan Titik semalam.
Dan suara pelannya—
“Aku Nur.”
Titik menutup wajahnya sendiri.
“Aduh kenapa sih aku…”
Ia malu sendiri.
Padahal baru kenal.
Bahkan belum benar-benar ngobrol banyak.
Tapi hatinya seperti sedang dipenuhi kupu-kupu kecil yang beterbangan ke mana-mana.
Setelah selesai bersiap, Titik keluar rumah memakai seragam putih biru yang sudah disetrika rapi oleh ibunya.
Rambut panjangnya diikat sederhana.
Bu Yati memandangi anak gadisnya beberapa detik.
“Cantik.”
Titik tersipu.
“Ah ibu…”
“Jangan lupa sarapan.”
“Iya.”
Bu Yati duduk di sampingnya sambil menuangkan teh hangat.
“Ujian jangan tegang.”
“Titik nggak tegang kok.”
“Yakin?”
“Iya.”
Bu Yati mengernyit.
“Tumben.”
Biasanya kalau ujian Titik paling ribut sendiri.
Namun pagi itu anaknya malah terlihat tenang.
Terlalu tenang.
Bu Yati menatap curiga.
“Kamu mikirin apa?”
“Hah? Nggak mikirin apa-apa.”
“Bohong.”
“Beneran!”
Bu Yati terkekeh kecil.
“Ibu juga dulu pernah muda.”
Titik langsung salah tingkah.
“Aduh Bu…”
Jalan menuju sekolah pagi itu dipenuhi anak-anak berseragam.
Sebagian sibuk menghafal rumus.
Sebagian lagi terlihat panik.
Namun berbeda dengan Titik.
Pikirannya malah melayang entah ke mana.
“TITIIIIK!”
Suara Indah dari belakang membuatnya menoleh.
Indah berlari kecil sambil membawa buku.
“Huft… capek…”
“Kamu kenapa lari?”
“Takut telat!”
Herman datang menyusul sambil tertawa.
“Padahal sekolah masih setengah jam lagi.”
“Diam kamu!”
Deni berjalan santai di belakang mereka.
Seperti biasa, wajahnya terlihat paling tenang.
“Belajar semalam?” tanya Deni.
Indah langsung mengeluh.
“Belajar sih belajar… masuk otak apa nggak itu urusan nanti.”
Herman ngakak.
“Dasar.”
Lalu Herman menoleh ke Titik.
“Kamu kok diem aja?”
“Iya nih,” sambung Indah sambil menyipitkan mata. “Dari tadi senyum-senyum sendiri.”
“Mana ada.”
“Adaaaa.”
Herman tiba-tiba mendekat.
“Jangan-jangan mikirin cowok jaket hitam.”
DEG.
Titik langsung melotot.
“HERMAN!”
“Hahahaha!”
Indah tertawa sampai memegang perut.
“Tuh kan bener!”
“Apaan sih kalian!”
Namun semakin Titik menyangkal…
pipi merahnya justru makin terlihat jelas.
Deni hanya menggeleng sambil tersenyum tipis.
“Baru pertama kali lihat Titik malu begitu.”
“DIAM KALIAN!”
Sekolah pagi itu ramai sekali.
Spanduk bertuliskan SELAMAT MENEMPUH UJIAN NASIONAL tergantung di depan gerbang.
Guru-guru berdiri mengawasi siswa yang masuk.
Beberapa murid tampak tegang.
Ada yang membaca buku sambil berjalan.
Ada yang komat-kamit menghafal rumus.
Namun suasana hati Titik benar-benar kacau.
Karena sesaat setelah ia memasuki halaman sekolah…
ia melihat Nur berdiri di dekat pohon mangga.
Sendirian.
Memakai seragam putih abu-abu.
Dan lagi-lagi…
laki-laki itu sedang memandangnya.
Jantung Titik langsung berdegup keras.
Indah yang sadar langsung nyengir lebar.
“Eh ada tuh.”
“Hush!”
Nur tersenyum kecil saat Titik lewat di depannya.
“Pagi.”
Suara itu sederhana.
Namun sukses membuat Titik salah tingkah.
“Eh… pagi…”
Herman langsung menepuk jidat dramatis.
“Waduh… tamat riwayat Titik.”
Indah cekikikan.
“Biasanya galak sekarang jinak.”
Titik ingin melempar sandal rasanya.
Namun sebelum ia sempat membalas, Nur kembali bicara.
“Semangat ujiannya ya.”
Titik mengangguk pelan.
“Iya… kamu juga, rajin bekajar di SMA.”
Untuk beberapa detik suasana terasa canggung.
Lalu Deni tiba-tiba menarik tangan Herman.
“Udah yuk masuk kelas.”
“Eh bentar—”
“Biar mereka ngobrol.”
Titik langsung panik.
“WOI DEN!”
Namun teman-temannya malah kabur sambil tertawa.
Kini tinggal Titik dan Nur berdiri berdua.
Dan Titik benar-benar tidak tahu harus bicara apa.
Nur mengusap belakang lehernya sendiri.
“Mereka rame ya.”
“Iya… emang gitu.”
“Kamu gugup ujian?”
Titik menggeleng.
“Nggak terlalu.”
“Pinter berarti.”
“Nggak juga.”
Nur tersenyum kecil lagi.
Dan senyum itu…
anehnya selalu membuat hati Titik hangat.
“Aku semalam nggak bisa tidur,” kata Nur tiba-tiba.
“Kenapa?”
“Mikirin pelajaran sekola, di SMA pelajarannya susah.”
“Oh…”
Nur menatap Titik beberapa detik.
“Dan…”
“Dan apa?”
“Mikirin kamu.”
DEG.
Dunia rasanya berhenti.
Titik sampai bengong beberapa detik.
“Apa?”
Nur malah tertawa kecil.
“Bercanda.”
Namun wajahnya justru terlihat serius.
Dan itu membuat Titik makin salah tingkah.
Bel masuk tiba-tiba berbunyi nyaring.
“Teeeeeettt!”
Titik spontan mundur sedikit.
“Aku masuk dulu!”
“Iya.”
“Dadah.”
“Semangat ya Titik.”
Ia kembali menyebut nama itu dengan lembut.
Dan tanpa sadar…
Titik tersenyum sepanjang berjalan menuju kelas.
Ujian dimulai.
Lembar soal dibagikan satu per satu.
Namun selama beberapa menit pertama…
Titik malah melamun.
Indah yang duduk di belakangnya sampai menyenggol kursinya pelan.
“Woi fokus!”
Titik buru-buru sadar.
“Iya!”
Namun pikirannya benar-benar kacau.
Setiap kali mencoba mengerjakan soal…
yang muncul malah wajah Nur.
“Ya Allah Titik…” batinnya.
Saat jam istirahat tiba, halaman sekolah langsung ramai.
Anak-anak sibuk membahas jawaban.
“Aduh nomor lima jawabannya apa sih?”
“Matematika bikin sakit kepala!”
“Tadi aku ngasal!”
Namun Titik justru sibuk mencari seseorang dengan matanya.
Dan saat ia melihat Nur duduk di bawah pohon mangga…
entah kenapa langkahnya langsung menuju ke sana.
Nur yang melihat Titik datang langsung tersenyum.
“Gimana ujiannya?”
“Lumayan.”
“Lumayan itu bisa atau nggak?”
“Ya bisa dikit.”
Nur tertawa kecil.
Titik baru sadar…
ternyata suara tawanya enak didengar.
Mereka mulai mengobrol ringan.
Tentang pelajaran.
Tentang guru galak.
Tentang cita-cita.
Dan tanpa terasa…
waktu berjalan begitu cepat.
Untuk pertama kalinya sejak lama…
Titik merasa nyaman berbicara dengan seseorang.
Nyaman yang sederhana.
Bukan karena dipaksa.
Bukan karena ingin dipuji.
Melainkan karena hatinya benar-benar tenang.
Dan sejak hari itu…
setiap pagi ujian nasional…
Titik mulai menunggu satu hal.
Bukan lembar soal.
Bukan bel sekolah.
Melainkan senyum seorang laki-laki bernama Nur.
Dan tanpa ia sadari…
cinta pertama itu mulai tumbuh perlahan di dalam hatinya.
BAB II
KUDA LUMPING DAN CINTA PERTAMA
“Saat Tatapan Menjadi Awal dari Segala Rasa”
Hari-hari ujian nasional terus berjalan.
Namun bagi Titik, sekolah kini terasa berbeda.
Ada alasan baru yang membuatnya semangat berangkat pagi.
Ada seseorang yang diam-diam selalu ingin ia temui.
Dan anehnya…
setiap kali melihat Nur, rasa gugup itu selalu datang lagi.
Seolah jantungnya belum pernah belajar tenang.
Pagi itu halaman sekolah masih basah oleh embun.
Beberapa siswa duduk bergerombol sambil membuka buku.
Sebagian lain sibuk membeli gorengan di kantin depan sekolah.
Titik berjalan bersama Indah dan Herman sambil membawa map ujian.
Namun baru beberapa langkah memasuki gerbang…
Indah langsung nyenggol lengan Titik.
“Eh.”
“Apa?”
“Itu.”
Titik mengikuti arah mata Indah.
Dan benar saja.
Nur sedang berdiri dekat parkiran sepeda sambil berbincang dengan teman lamanya .
Saat melihat Titik…
ia langsung tersenyum.
DEG.
“Pagi.”
Suara Nur terdengar hangat seperti biasa.
Titik berusaha terlihat santai.
“Pagi juga.”
Herman langsung pura-pura muntah.
“Uhuk… uhuk… manis banget.”
“HERMAN!”
Nur tertawa kecil.
“Teman-temanmu lucu.”
“Jangan didengerin.”
Indah nyengir jahil.
“Nur, Titik semalam belajar sambil senyum-senyum sendiri loh.”
“INDAH!”
Pipi Titik langsung merah.
Nur terlihat menahan tawa.
“Masa?”
“Bohong dia!”
“Hmm… tapi kayaknya bener.”
Titik menutup wajahnya sendiri.
“Aduh malu…”
Mereka semua tertawa.
Dan pagi itu…
untuk pertama kalinya Titik merasa begitu dekat dengan seseorang yang baru dikenalnya beberapa hari.
Sejak pertemuan malam kuda lumping itu, Nur mulai sering menunggu Titik di sekolah.
Kadang hanya untuk menyapa.
Kadang menemani saat istirahat.
Kadang sekadar berjalan pulang bersama sampai pertigaan kampung.
Sederhana.
Namun cukup membuat hati Titik berbunga-bunga.
Bahkan Indah sampai mulai bosan menggoda.
“Duh kalian tuh kayak drama radio.”
“Apaan sih!”
“Belum pacaran aja udah kayak perangko nempel terus.”
Nur tertawa kecil.
Sedangkan Titik malah makin malu.
Namun diam-diam…
ia bahagia.
Siang itu ujian selesai lebih cepat.
Langit Pengandom terlihat cerah.
Anak-anak sekolah ramai keluar gerbang.
“Ayo pulang!” seru Herman.
Namun baru saja mereka hendak pergi…
Nur mendekati Titik.
“Titik.”
“Hm?”
“Malam ini ada kuda lumping lagi.”
Titik menatapnya.
“Oh ya?”
“Iya.”
“Terus?”
Nur tampak sedikit gugup.
“Mau nonton bareng nggak?”
Indah langsung refleks memegang dada dramatis.
“YA AMPUN.”
Herman ngakak keras.
“Ditembak nih kayaknya!”
“DIAM KALIAN!”
Nur ikut tertawa malu.
“Gimana?”
Titik pura-pura berpikir beberapa detik.
“Hm…”
“Kalau nggak mau nggak apa-apa.”
“Siapa bilang nggak mau?”
Nur tampak lega.
“Berarti nanti malam aku jemput?”
DEG.
Kata-kata itu membuat Titik mendadak gugup lagi.
“Eh… iya.”
Indah langsung menarik Herman menjauh.
“Udah yuk kita pergi.”
“Loh kok ditinggal?”
“Biar romantis!”
“HERMANNN!”
Sepanjang perjalanan pulang…
Titik tidak berhenti tersenyum sendiri.
Bahkan saat sampai rumah, Bu Yati langsung sadar ada yang berbeda.
“Kamu kenapa?”
“Hah?”
“Kayak orang habis menang undian.”
“Nggak kok.”
Bu Yati menyipitkan mata.
“Jangan-jangan…”
“Aduh ibu lagi.”
“Siapa namanya?”
Titik langsung tersedak teh.
“BU!”
Bu Yati tertawa puas.
“Nah ketahuan.”
Titik kabur ke kamar sambil salah tingkah.
Namun di dalam kamar…
ia justru berdiri di depan cermin cukup lama.
Mencoba beberapa ikatan rambut.
Mengganti baju berkali-kali.
Lalu mendadak sadar sendiri.
“Ya Allah… aku kenapa sih…”
Ia menutup wajahnya dengan bantal sambil tertawa malu.
Ini pertama kalinya ia merasa seperti itu.
Dan ternyata…
jatuh cinta memang sebodoh itu.
Malam tiba.
Lapangan kampung kembali ramai.
Lampu petromaks menggantung di mana-mana.
Suara gamelan terdengar hingga ujung jalan.
Titik keluar rumah memakai baju lengan panjang warna biru muda.
Rambutnya dibiarkan terurai.
Saat Nur datang menjemput menggunakan sepeda motor tua milik kakaknya…
ia langsung terdiam beberapa detik.
“Kok diem?” tanya Titik gugup.
Nur tersenyum kecil.
“Kamu cantik.”
DEG.
Kalimat sederhana itu langsung membuat pipi Titik panas.
“Ah biasa aja.”
“Nggak.”
Suasana mendadak canggung.
Nur mengusap tengkuknya sendiri.
“Yuk?”
“Iya.”
Sepanjang perjalanan menuju lapangan…
angin malam berhembus pelan.
Titik duduk di belakang sambil memegang ujung jaketnya sedikit.
Dan anehnya…
ia merasa aman.
Nyaman.
Perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Di lapangan, suasana jauh lebih ramai dibanding malam sebelumnya.
Pedagang memenuhi pinggir jalan.
Anak-anak kecil berlarian.
Musik gamelan menggema keras.
Nur dan Titik duduk agak jauh dari keramaian.
“Aku suka suasana begini,” kata Titik pelan.
“Kenapa?”
“Ramai tapi hangat.”
Nur mengangguk.
“Aku juga.”
Mereka terdiam beberapa saat menikmati pertunjukan.
Lalu Nur tiba-tiba bertanya—
“Kamu nanti mau lanjut sekolah ke mana?”
Titik berpikir sejenak.
“Belum tahu.”
“Kalau aku mungkin kerja.”
“Kenapa nggak sekolah lagi?”
“Keadaan.”
Jawabannya singkat.
Namun Titik bisa merasakan ada sesuatu yang disembunyikan di balik nada suaranya.
“Maaf…”
“Nggak apa-apa.”
Nur tersenyum tipis.
“Aku tetap pengen punya hidup bagus kok.”
Titik menatapnya diam-diam.
Dan untuk pertama kali…
ia melihat sisi dewasa dari laki-laki itu.
Bukan hanya sosok yang membuatnya deg-degan.
Namun juga seseorang yang sedang berjuang dengan hidupnya.
Tiba-tiba seorang penjual lewat.
“Jagung bakar… jagung bakar…”
Nur langsung memanggil.
“Pak sini dua.”
“Eh nggak usah,” kata Titik cepat.
“Kenapa?”
“Nanti aku bayar sendiri.”
Nur tertawa kecil.
“Baru pertama kali jalan masa bayar sendiri.”
“Kan aku nggak enak.”
“Udah diem.”
Titik mendengus kecil.
“Maksa.”
“Biarin.”
Beberapa menit kemudian mereka makan jagung bakar sambil menonton pertunjukan.
Dan tanpa sadar…
obrolan mereka mulai mengalir begitu saja.
Tentang masa kecil.
Tentang keluarga.
Tentang cita-cita.
Tentang hal-hal kecil yang ternyata menyenangkan saat dibicarakan dengan orang yang tepat.
“Titik.”
“Hm?”
“Kamu pernah pacaran sebelumnya?”
Pertanyaan itu membuat Titik hampir tersedak.
“Belum!”
Nur tertawa.
“Kenapa kaget?”
“Ya nggak nyangka aja kamu nanya begitu.”
“Terus sekarang?”
“Sekarang apa?”
Nur menatapnya beberapa detik.
“Kalau ada yang suka sama kamu gimana?”
Jantung Titik mulai tidak tenang lagi.
“Hm… nggak tahu.”
“Kalau aku suka sama kamu?”
DEG.
Suara gamelan mendadak terasa jauh.
Angin malam terasa berhenti.
Titik menatap Nur tanpa berkedip.
Wajah laki-laki itu terlihat serius.
Tidak bercanda.
Dan entah kenapa…
hati Titik bergetar hebat.
“Aku…”
Ia bahkan tak tahu harus menjawab apa.
Nur tersenyum kecil.
“Nggak usah jawab sekarang.”
“Tapi…”
“Aku cuma mau kamu tahu.”
Tatapan matanya hangat.
Tulus.
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya dalam hidupnya…
Titik merasa menjadi perempuan paling istimewa di dunia.
Saat mereka pulang…
jalanan kampung sudah mulai sepi.
Langit dipenuhi bintang.
Dan sepanjang perjalanan…
senyum Titik tidak pernah hilang.
Sesampainya di depan rumah, Nur mematikan motornya pelan.
“Makasih ya.”
“Iya.”
“Kamu seneng?”
Titik mengangguk kecil.
“Seneng.”
Nur tersenyum puas.
“Berarti aku berhasil.”
“Berhasil apa?”
“Bikin kamu senyum terus.”
Titik menunduk malu.
Dan sebelum masuk rumah…
Nur berkata pelan—
“Selamat malam, Titik.”
Malam itu…
nama itu kembali disebut dengan begitu lembut.
Dan diam-diam…
hati Titik mulai jatuh semakin dalam.
Ia belum tahu ke mana semua ini akan berjalan.
Namun satu hal mulai ia sadari—
cinta pertama memang selalu datang dengan cara sederhana.
Dengan tatapan.
Dengan perhatian kecil.
Dan dengan seseorang yang perlahan membuat dunia terasa lebih indah dari sebelumnya.
BAB III
ANAK KARATE DAN API KECEMBURUAN
“Saat Persahabatan Mulai Dianggap Ancaman”
Hari-hari setelah malam kuda lumping itu berubah menjadi hari-hari paling indah dalam hidup Titik.
Setiap pagi terasa menyenangkan.
Sekolah tidak lagi membosankan.
Dan setiap malam sebelum tidur…
selalu ada satu nama yang muncul terakhir kali di pikirannya.
Nur.
Cinta pertama itu tumbuh begitu cepat.
Polos.
Hangat.
Dan sederhana seperti hujan sore di kampung kecil Pengandon.
“Tik… kamu tuh sekarang beda.”
Indah menopang dagunya sambil memperhatikan Titik yang sedang menulis sesuatu di buku kecilnya saat jam istirahat.
“Beda apanya?”
“Lebih sering senyum sendiri.”
Herman yang sedang makan gorengan langsung menimpali—
“Dan lebih cantik.”
“Najis lu,” sahut Deni datar.
Herman ngakak.
Titik hanya mendengus malu.
“Apaan sih kalian…”
Indah tiba-tiba merebut buku kecil milik Titik.
“Eh jangan!”
Namun terlambat.
Indah langsung membaca tulisan di halaman terakhir.
“N… U… R…”
“AAAAA INDAH BALIKIN!”
Satu kantin langsung ricuh.
Herman sampai tertawa terbahak-bahak sambil memukul meja.
“WADUH! Ternyata beneran kasmaran!”
Titik mengejar Indah sambil malu setengah mati.
“Balikin nggak!”
“Cieeeee…”
Deni hanya geleng-geleng kepala.
“Anak SMP memang begitu.”
Akhirnya buku itu berhasil direbut kembali.
Titik langsung memeluk bukunya sambil melotot kesal.
“Kalian nyebelin!”
Namun di balik rasa malu itu…
hatinya justru bahagia.
Karena untuk pertama kalinya…
ia benar-benar sedang jatuh cinta.
Hubungan Titik dan Nur semakin dekat.
Mereka mulai sering pulang bersama.
Kadang Nur datang ke depan sekolah hanya untuk mengajak membeli es.
Kadang mereka duduk di pinggir lapangan sekolah sambil mengobrol sampai sore.
Tidak ada yang berlebihan.
Namun cukup membuat semua teman mereka tahu—
bahwa mereka saling menyukai.
Dan Titik menikmati semua itu.
Sampai akhirnya…
masalah mulai datang perlahan.
Suatu sore sepulang sekolah…
Titik melewati lapangan kecil dekat balai desa.
Di sana beberapa anak laki-laki sedang latihan karate.
Suara teriakan dan hentakan kaki terdengar keras.
“HIYAAAA!”
Titik spontan berhenti.
Matanya langsung berbinar.
“Astaga… masih latihan ternyata.”
Salah satu dari mereka menoleh.
Lalu tersenyum lebar.
“EH TITIK!”
Titik langsung melambaikan tangan.
“AKANG!”
Pemuda bertubuh tinggi itu berjalan mendekat sambil membawa handuk di lehernya.
Namanya Akang.
Anak karate paling disegani di kampung.
Namun sifatnya justru lembut dan penyabar.
Sudah sejak kecil ia mengenal Titik.
Bahkan Bu Yati sering meminta Akang menjaga Titik kalau sedang bermain jauh.
“Baru pulang sekolah?” tanya Akang.
“Iya.”
“Ujian gimana?”
“Lumayan.”
Akang tertawa kecil lalu mengacak rambut Titik.
“Pinter dong.”
“Heh! Rambutku!”
Dari belakang muncul dua anak karate lain.
Azis dan Karwan.
Azis terkenal usil.
Sedangkan Karwan paling humoris.
“Waduh… ada ratu kampung datang.”
“Tuh kan Akang langsung semangat latihan.”
Titik langsung melempar daun ke arah mereka.
“Berisik!”
Mereka semua tertawa.
Dan sore itu…
Titik duduk menonton latihan karate sampai menjelang magrib.
Seperti dulu.
Seperti masa kecilnya.
Tanpa ia sadari…
seseorang sedang melihat dari kejauhan.
Nur.
Malam harinya Nur terlihat berbeda.
Biasanya ia banyak bicara.
Namun malam itu ia lebih sering diam.
Mereka duduk di depan warung kecil sambil minum es teh.
“Ada apa?” tanya Titik.
“Hmm?”
“Kamu kok diem.”
“Nggak apa-apa.”
Titik menyipitkan mata.
“Bohong.”
Nur menghela napas pelan.
“Tadi sore kamu sama anak-anak karate ya?”
“Oh.”
Titik tersenyum santai.
“Iya.”
“Dekat banget kayaknya.”
“Mereka teman dari kecil.”
Nur terdiam beberapa detik.
“Yang namanya Akang itu siapa?”
“Kakak angkatku.”
“Bener cuma kakak?”
Pertanyaan itu membuat Titik langsung menoleh.
“Kamu kenapa sih?”
“Ya nanya aja.”
“Nggak usah aneh-aneh deh.”
Nur menatap meja.
“Aku nggak suka lihat mereka terlalu dekat sama kamu.”
DEG.
Kalimat itu membuat suasana berubah.
Titik mulai merasa tidak nyaman.
“Mereka temanku.”
“Tapi cowok semua.”
“Memangnya kenapa?”
Nur menghela napas panjang.
“Aku cuma nggak enak lihatnya.”
Titik mulai kesal.
“Nur, aku dari dulu memang berteman sama mereka.”
“Iya tapi sekarang beda.”
“Beda apanya?”
“Kamu udah dekat sama aku.”
Titik langsung diam.
Untuk pertama kalinya…
ia melihat sisi lain dari Nur.
Sisi yang penuh cemburu.
“Kamu nggak percaya sama aku?”
Nur buru-buru menggeleng.
“Bukan begitu.”
“Terus?”
“Aku cuma takut kehilangan.”
Jawaban itu membuat Titik sedikit luluh.
Namun tetap saja…
ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
“Aku nggak suka kalau dilarang berteman.”
“Aku nggak melarang.”
“Tapi nada bicaramu kayak melarang.”
Nur memijat pelipisnya pelan.
“Maaf…”
Mereka sama-sama diam beberapa saat.
Angin malam berhembus pelan.
Suara jangkrik terdengar dari sawah.
Dan entah kenapa…
malam itu terasa berbeda.
Tidak sehangat biasanya.
Beberapa hari kemudian…
Titik kembali ikut latihan karate.
Namun kali ini Nur datang tiba-tiba.
“Tik.”
Titik menoleh.
“Eh kamu.”
Nur berdiri sambil memasukkan tangan ke saku celana.
Tatapannya langsung tertuju pada Akang yang sedang membantu membetulkan posisi kuda-kuda Titik.
“Nur!” sapa Akang ramah.
Namun Nur hanya mengangguk kecil.
Azis yang sadar suasana mulai tidak enak langsung berbisik pada Karwan—
“Waduh… perang dingin.”
Karwan menahan tawa.
Titik mendekati Nur.
“Kamu kenapa datang?”
“Nyari kamu.”
“Oh.”
Nur melirik Akang lagi.
“Kamu pulang sekarang?”
“Latihannya belum selesai.”
“Masih lama?”
“Ya mungkin.”
Nur terlihat tidak suka.
Namun ia berusaha menahan diri.
“Aku tunggu.”
Akhirnya Nur duduk di pinggir lapangan.
Namun sepanjang latihan…
raut wajahnya jelas tidak nyaman.
Dan Titik mulai merasakan tekanan kecil yang aneh.
Setelah latihan selesai, Akang menghampiri mereka.
“Mau pulang?”
“Iya,” jawab Titik.
Akang tersenyum pada Nur.
“Titip Titik ya.”
Nur hanya menjawab singkat.
“Hm.”
Saat berjalan pulang…
Titik akhirnya berhenti di tengah jalan.
“Kamu marah?”
“Nggak.”
“Bohong lagi.”
Nur diam.
“Kamu nggak suka aku sama mereka?”
Nur akhirnya menjawab pelan—
“Aku nggak suka mereka terlalu dekat sama kamu.”
“Mereka sahabatku.”
“Aku tahu.”
“Terus kenapa?”
Nur menatap Titik cukup lama.
Karena…”
ia menggantung kalimatnya.
“Karena apa?”
“Aku takut suatu hari kamu lebih nyaman sama mereka daripada sama aku.”
Titik langsung terdiam.
Untuk sesaat…
ia bisa merasakan ketulusan rasa takut itu.
Namun di sisi lain…
ia mulai merasa kebebasannya perlahan dipersempit.
Dan itulah pertama kalinya Titik sadar—
bahwa cinta…
kadang bisa berubah menjadi rasa memiliki yang menyesakkan.
Malam itu sebelum tidur…
Titik duduk di dekat jendela kamarnya.
Angin malam masuk perlahan.
Pikirannya kacau.
Di satu sisi ia menyayangi Nur.
Namun di sisi lain…
ia tidak ingin kehilangan teman-temannya.
Tidak ingin berubah hanya karena cinta.
Titik memeluk lututnya sendiri.
“Kenapa cinta jadi ribet begini sih…”
Di luar rumah…
langit malam terlihat tenang.
Namun Titik belum tahu—
bahwa kecemburuan kecil itu…
nantinya akan menjadi awal dari perpisahan panjang yang meninggalkan luka paling dalam di hidupnya.
BAB IV
KEPERGIAN TANPA PAMIT
“Saat Hati Ditinggalkan Sebelum Sempat Mengerti”
Hari-hari di Pengandon mulai berubah pelan.
Awalnya hanya kecemburuan kecil.
Tatapan tidak suka.
Nada bicara yang berbeda.
Lalu perlahan berubah menjadi pertengkaran kecil yang semakin sering terjadi antara Titik dan Nur.
Dan yang paling membuat Titik sedih…
Nur bukan lagi laki-laki yang selalu tersenyum hangat seperti pertama kali mereka bertemu.
Kini ia lebih sering diam.
Lebih mudah cemburu.
Dan lebih sering marah karena hal-hal sederhana.
Sore itu langit mendung.
Titik duduk di pinggir lapangan sambil memperhatikan anak-anak karate latihan.
Azis sedang bercanda dengan Karwan sampai membuat semua tertawa.
Sedangkan Akang duduk di dekat Titik sambil minum air mineral.
“Kamu kenapa murung?” tanya Akang pelan.
Titik menghela napas panjang.
“Nggak apa-apa.”
“Kamu kalau bohong gampang ketahuan.”
Titik tersenyum kecil.
“Nur marah lagi.”
Akang diam beberapa detik.
“Karena kami?”
Titik menunduk pelan.
“Dia nggak suka aku sering di sini.”
Akang mengusap tengkuknya sendiri.
“Sebenarnya Nur sayang sama kamu.”
“Tapi kenapa rasanya aku kayak dikekang…”
Akang tidak langsung menjawab.
Tatapannya lurus ke lapangan.
“Kadang orang terlalu takut kehilangan.”
“Tapi aku nggak suka dicurigai terus.”
“Kamu udah ngomong baik-baik?”
“Udah… tapi tetap aja.”
Akang menatap Titik lalu tersenyum tipis.
“Kamu jangan berubah jadi orang lain cuma karena cinta.”
Kalimat itu membuat Titik terdiam.
Karena jauh di dalam hati…
ia merasa benar.
Malam harinya Nur datang ke rumah.
Namun wajahnya terlihat dingin.
Bu Yati yang melihat langsung menyapa ramah.
“Masuk Nur.”
“Iya Bu.”
Titik keluar dari kamar sambil membawa dua gelas teh.
Namun suasana terasa canggung.
Tidak seperti biasanya.
Nur duduk diam cukup lama sebelum akhirnya berkata—
“Kamu tadi ke lapangan lagi?”
Titik menghela napas pelan.
“Iya.”
“Kamu nggak capek?”
“Maksudnya?”
“Dekat terus sama mereka.”
Titik mulai kesal.
“Mereka temanku.”
Nur tertawa hambar.
“Teman apa penjaga?”
“NUR.”
“Aku serius.”
Titik meletakkan gelas sedikit keras di meja.
“Kamu tuh kenapa sih sekarang?”
Nur ikut terpancing emosi.
“Aku cuma nggak suka lihat cowok lain dekat sama kamu!”
“Mereka bukan siapa-siapa!”
“Tapi mereka selalu ada di sekitar kamu!”
“Ya karena mereka teman!”
Suasana langsung hening.
Bu Yati yang mendengar dari dapur hanya bisa saling pandang dengan dirinya sendiri.
Nur berdiri tiba-tiba.
“Udah lah.”
“Mau ke mana?”
“Pulang.”
“Kita belum selesai ngomong.”
Nur menatap Titik dengan mata kecewa.
“Percuma.”
“NUR!”
Namun laki-laki itu langsung pergi keluar rumah.
Titik mengejarnya sampai halaman.
“Haiii… dengerin dulu!”
Nur berhenti sebentar.
Namun tidak menoleh.
“Aku capek Tik…”
Suara itu terdengar lirih.
“Aku takut suatu hari kamu ninggalin aku.”
Titik langsung terdiam.
Hatinya mendadak nyeri.
“Aku nggak pernah mau ninggalin kamu…”
Nur tersenyum pahit.
“Tapi aku merasa kamu nggak pernah benar-benar milih aku.”
Setelah mengatakan itu…
ia pergi.
Meninggalkan Titik berdiri sendirian di depan rumah.
Malam terasa begitu sunyi.
Dan untuk pertama kalinya…
Titik menangis karena cinta.
Hari-hari berikutnya hubungan mereka semakin renggang.
Nur mulai jarang datang.
Jarang menyapa.
Di sekolah pun mereka jarang ketemu dan lebih sering diam.
Indah sampai bingung melihat perubahan itu.
“Kalian berantem?”
Titik hanya mengaduk mie bakso tanpa semangat.
“Nggak tahu.”
“Loh kok nggak tahu?”
“Habis capek.”
Herman yang biasanya bercanda pun kali ini ikut diam.
Deni menatap Titik beberapa detik.
“Kamu sayang sama dia?”
Titik mengangguk pelan.
“Terus kenapa nggak diperbaiki?”
Titik tersenyum sedih.
“Kadang… kita sayang sama seseorang tapi malah saling nyakitin.”
Semua langsung diam.
Tidak ada yang tahu harus menjawab apa.
Suatu sore…
Titik berangkat ke lapangan karate lagi.
Namun kali ini suasananya terasa berbeda.
Azis menghampirinya sambil terlihat ragu.
“Tik…”
“Hm?”
“Kamu belum tahu?”
“Tahu apa?”
Azis saling pandang dengan Karwan.
Lalu Akang berjalan mendekat dengan wajah serius.
“Nur mau pergi.”
DEG.
Dunia seperti berhenti.
“Maksudnya?”
“Katanya mau merantau ke Jakarta.”
Titik langsung berdiri.
“Apa?”
Akang mengangguk pelan.
“Berangkatnya mungkin minggu ini.”
Titik merasa dadanya sesak mendadak.
“Nggak mungkin…”
“Kami juga baru tahu.”
Tanpa sadar mata Titik mulai berkaca-kaca.
“Dia nggak bilang apa-apa ke aku…”
Malam itu Titik berjalan cepat menuju rumah Nur.
Langit gelap.
Angin malam terasa dingin.
Dadanya dipenuhi rasa takut yang aneh.
Saat sampai di depan rumah…
ia melihat beberapa tas sudah tergeletak di ruang tamu.
Dan Nur sedang membantu ibunya membereskan barang.
Titik berdiri terpaku di depan pintu.
Nur menoleh.
Dan wajahnya langsung berubah kaget.
“Titik…”
“Kamu mau pergi?”
Suasana langsung hening.
Ibunya Nur perlahan masuk ke dalam rumah memberi mereka ruang bicara.
Titik menatap Nur dengan mata bergetar.
“Kenapa aku nggak dikasih tahu?”
Nur menunduk pelan.
“Aku belum sempat.”
“Belum sempat atau memang nggak mau bilang?”
Nur diam.
Dan diam itu…
justru paling menyakitkan.
Air mata Titik mulai jatuh perlahan.
“Kamu tega banget…”
“Aku pergi buat kerja Tik.”
“Terus aku?”
Nur memejamkan mata sebentar.
“Aku juga bingung.”
“Kita belum selesai…”
“Aku tahu.”
“Terus kenapa pergi?”
Nur akhirnya menatap Titik.
Tatapannya penuh luka.
“Karena aku capek cemburu terus.”
Kalimat itu menghantam hati Titik.
“Aku nggak pernah selingkuh…”
“Aku tahu.”
“Terus?”
“Tapi aku takut kehilangan kamu.”
“Tapi kamu malah pergi…”
Suara Titik mulai pecah.
Dan itu membuat Nur terlihat semakin hancur.
“Aku cuma pengen hidup lebih baik,” ucap Nur lirih.
“Aku nggak mau selamanya jadi anak kampung yang nggak punya apa-apa.”
Titik menangis makin keras.
“Aku nggak pernah peduli soal itu…”
“Tapi aku peduli.”
Mereka sama-sama diam.
Tangis Titik pecah di depan rumah itu.
Dan untuk pertama kalinya…
Nur terlihat benar-benar tidak berdaya.
Ia mendekat perlahan.
Lalu mengusap air mata Titik dengan tangan gemetar.
“Maafin aku…”
“Jangan pergi…”
Suara itu begitu kecil.
Begitu rapuh.
Namun Nur hanya tersenyum sedih.
“Aku harus pergi.”
“Kalau kamu pergi… nanti aku gimana…”
Nur menunduk.
Dan kalimat berikutnya keluar begitu pelan—
“Jangan nunggu aku.”
Hati Titik langsung runtuh.
Pagi keberangkatan Nur datang terlalu cepat.
Titik tidak datang mengantar.
Ia hanya mengurung diri di kamar sambil menangis.
Di luar rumah terdengar suara mobil travel melintas.
Dan entah kenapa…
hati Titik merasa ada sesuatu yang benar-benar hilang.
Bu Yati masuk perlahan ke kamar.
“Titik…”
Titik memeluk bantal sambil menangis sesenggukan.
“Dia pergi Bu…”
Bu Yati duduk di samping anaknya lalu mengusap rambutnya perlahan.
“Kadang hidup memang begitu.”
“Tapi sakit…”
“Iya.”
“Titik nggak siap…”
Bu Yati memeluk anak gadisnya erat.
Dan pagi itu…
untuk pertama kalinya Titik merasakan arti kehilangan yang sesungguhnya.
Bukan karena putus cinta.
Bukan karena pertengkaran.
Namun karena seseorang pergi…
tanpa meninggalkan kepastian akan kembali.
Hari-hari setelah kepergian Nur terasa kosong.
Lapangan kuda lumping kini hanya menyisakan kenangan.
Jalan kampung terasa sepi.
Dan setiap sudut Pengandom…
selalu mengingatkan Titik pada laki-laki itu.
Tentang tatapan pertama.
Tentang jagung bakar.
Tentang malam-malam sederhana yang dulu terasa indah.
Kini semuanya berubah menjadi rindu.
Dan Titik belum tahu…
bahwa kepergian Nur hanyalah awal dari banyak kehilangan lain yang akan datang dalam hidupnya.
BAB V
AKANG, KAKAK YANG MENENANGKAN LUKA
“Ketika Kehilangan Membuat Seseorang Datang Menjadi Tempat Bersandar”
Hari-hari setelah kepergian Nur berubah menjadi hari paling sepi dalam hidup Titik.
Ia tidak lagi seramai dulu.
Tidak lagi suka bercanda berlebihan bersama Indah dan Herman.
Tidak lagi semangat pergi ke sekolah.
Bahkan senyumnya perlahan mulai menghilang.
Dan yang paling menyedihkan…
Nur benar-benar pergi tanpa kabar.
Tidak ada surat.
Tidak ada telepon.
Tidak ada pesan titipan.
Seolah laki-laki itu benar-benar menghilang begitu saja dari hidupnya.
Pagi itu hujan turun sejak subuh.
Atap seng rumah Bu Yati berbunyi berisik terkena air hujan.
Titik masih duduk termenung di dekat jendela sambil memeluk lutut.
Tatapannya kosong.
Di meja kecil dekat tempat tidurnya masih tersimpan tiket pertunjukan kuda lumping yang dulu ia simpan diam-diam.
Dan kini benda kecil itu justru menjadi sumber rasa sakit.
Bu Yati masuk membawa teh hangat.
“Kamu belum siap sekolah?”
“Males Bu…”
“Jangan begitu.”
Titik diam.
Bu Yati duduk di sampingnya perlahan.
“Kamu masih mikirin Nur?”
Air mata Titik langsung jatuh lagi.
“Aku nggak ngerti Bu… kenapa dia pergi gitu aja…”
Bu Yati mengusap rambut anaknya lembut.
“Kadang laki-laki pergi bukan karena nggak sayang.”
“Terus kenapa nggak bilang baik-baik…”
“Mungkin dia juga bingung.”
Titik menggigit bibirnya sendiri menahan tangis.
“Aku kangen…”
Suara itu lirih sekali.
Dan Bu Yati bisa merasakan betapa hancurnya hati anak gadisnya.
Sejak Nur pergi…
Titik jadi lebih sering menyendiri.
Sepulang sekolah ia jarang bermain.
Lebih sering diam di rumah.
Bahkan Indah mulai khawatir.
“Tik… kamu jangan kayak orang kehilangan jiwa gitu.”
Titik hanya tersenyum hambar.
“Aku nggak apa-apa.”
“Bohong.”
Herman ikut duduk di samping mereka di kantin.
“Kamu sekarang serem tau.”
“Serem kenapa?”
“Diem terus.”
Biasanya Titik paling ribut.
Paling heboh.
Paling susah diam.
Namun kini semuanya berubah.
Dan teman-temannya bisa melihat jelas—
ada sesuatu yang patah di dalam dirinya.
Sore itu Titik berjalan sendirian melewati lapangan karate.
Suara hentakan kaki dan teriakan latihan terdengar seperti biasa.
Namun kali ini ia hanya berdiri di pinggir pagar sambil memandang kosong.
Akang yang sedang latihan langsung sadar.
“Eh… Titik.”
Ia berjalan mendekat sambil membawa handuk kecil.
“Kok sendirian?”
Titik tersenyum tipis.
“Iya.”
Akang memperhatikan wajahnya beberapa detik.
“Kamu habis nangis?”
“Nggak.”
“Kamu kalau bohong jelek.”
Titik tertawa kecil untuk pertama kali setelah sekian lama.
Namun tawanya terdengar lemah.
Akang menatapnya pelan.
“Masih mikirin Nur?”
Pertanyaan itu membuat mata Titik langsung berkaca-kaca lagi.
“Aku tuh sebodoh itu ya Kang…”
Akang mengernyit.
“Kenapa ngomong begitu?”
“Dia pergi gitu aja tapi aku masih mikirin dia terus.”
Akang terdiam cukup lama.
Lalu duduk di samping Titik.
“Karena kamu sayang.”
“Tapi sakit…”
“Iya.”
“Aku capek nangis terus.”
Angin sore berhembus pelan.
Langit mulai berubah jingga.
Akang memandang lapangan beberapa detik sebelum akhirnya berkata—
“Kamu tahu kenapa orang kuat itu kelihatan tenang?”
Titik menggeleng pelan.
“Karena mereka belajar menerima rasa sakit.”
Titik menunduk.
“Kalau aku belum bisa gimana…”
Akang tersenyum kecil.
“Ya pelan-pelan.”
Hari itu Akang menemani Titik duduk sampai magrib.
Mereka mengobrol banyak hal.
Tentang sekolah.
Tentang cita-cita.
Tentang masa kecil Titik yang dulu suka jatuh dari sepeda.
Dan untuk pertama kalinya sejak Nur pergi…
Titik bisa tertawa lagi.
Walaupun belum sepenuhnya bahagia.
Malam harinya Bu Yati sedang menjemur pakaian di belakang rumah ketika Akang datang.
“Assalamualaikum Bu.”
“Waalaikumsalam.”
Bu Yati tersenyum ramah.
“Masuk Kang.”
Akang duduk di kursi kayu depan rumah.
Bu Yati menuangkan teh hangat.
“Kamu habis latihan?”
“Iya Bu.”
Bu Yati menghela napas pelan.
“Titik tadi ketawa lagi.”
Akang tersenyum kecil.
“Syukur.”
“Dia dari kemarin sedih terus.”
“Saya tahu.”
Bu Yati menatap Akang beberapa detik.
“Kang…”
“Iya Bu?”
“Tolong jagain Titik ya.”
Akang sedikit kaget.
“Maksud ibu?”
“Dia keras kepala… tapi hatinya lembut.”
Akang diam mendengarkan.
“Saya takut dia terlalu larut sedih.”
Akang mengangguk pelan.
“Iya Bu.”
Bu Yati tersenyum tipis.
“Anggap aja dia adikmu sendiri.”
Dan sejak malam itu…
hubungan mereka perlahan berubah.
Bukan sekadar teman lama.
Namun menjadi kakak dan adik yang saling menjaga.
Hari-hari berikutnya Akang mulai sering menemani Titik.
Kadang mengantar pulang sekolah.
Kadang membantu mengerjakan tugas.
Kadang sekadar duduk mendengarkan Titik bercerita.
Dan anehnya…
bersama Akang, Titik merasa tenang.
Tidak ada rasa takut.
Tidak ada kecemburuan.
Tidak ada tekanan.
Hanya rasa nyaman.
Suatu sore mereka duduk di bawah pohon dekat lapangan.
Titik sedang makan cilok sambil melihat anak-anak kecil bermain bola.
“Kang.”
“Hm?”
“Kalau suatu hari Nur balik… menurut Akang gimana?”
Akang tersenyum tipis.
“Kamu masih nunggu dia?”
Titik terdiam sebentar.
“Aku nggak tahu.”
“Kalau menurutku…”
“Apa?”
“Kalau dia memang sayang, dia pasti balik.”
“Tapi kalau nggak balik?”
Akang menatap langit sore.
“Berarti Tuhan nyiapin orang lain yang lebih baik.”
Titik tertawa kecil.
“Kok bijak banget.”
“Ya iyalah.”
“Padahal juara karate.”
Akang ikut tertawa.
“Emang juara karate nggak boleh bijak?”
“Kirain kerjanya mukul orang.”
“Eh aku mukul juga kok.”
Titik spontan menjauh pura-pura takut.
“Hii serem.”
Akang tertawa keras.
Dan suara tawa itu…
perlahan mengisi ruang kosong di hati Titik.
Sejak ada Akang…
hidup Titik mulai membaik.
Ia kembali sering tersenyum.
Kembali bercanda dengan teman-temannya.
Walaupun luka karena Nur belum benar-benar hilang.
Namun setidaknya…
ia tidak lagi merasa sendirian.
Dan tanpa Titik sadari…
Akang diam-diam menjadi sosok paling penting dalam hidupnya setelah kepergian Nur.
Seseorang yang selalu ada saat ia menangis.
Seseorang yang mendengarkan tanpa menghakimi.
Seseorang yang membuatnya merasa aman.
Seperti rumah.
Namun hidup tidak pernah benar-benar membiarkan seseorang tenang terlalu lama.
Karena di saat Titik mulai kembali berdiri…
takdir diam-diam sudah menyiapkan kehilangan berikutnya.
Dan kali ini…
luka itu akan jauh lebih dalam dibanding sebelumnya.
BAB VI
PERPISAHAN KEDUA
“Orang yang Membuatku Kuat, Kini Pergi Tanpa Suara”
Waktu berjalan pelan di Pengandon.
Musim hujan mulai berganti panas.
Jalan-jalan tanah yang dulu becek kini kembali berdebu saat siang hari.
Dan perlahan…
kehidupan Titik mulai terlihat normal lagi.
Ia kembali tertawa.
Kembali bercanda bersama teman-teman karatenya.
Dan semua itu terjadi karena satu orang—
Akang.
Hampir setiap waktu latihan Titik selalu datang ke lapangan karate.
Kadang hanya duduk melihat, kadang ikut latihan.
Kadang membantu membawakan air minum.
Kadang sekadar mengganggu Akang saat serius melatih adik-adik junior.
“Heh fokus!”
Akang menahan tawa saat Titik sengaja menghalangi pandangannya.
“Biarin.”
“Nanti mereka salah gerakan.”
“Kan ada pelatih lain.”
Azis langsung nyeletuk dari belakang—
“Kalau ada Titik mah Akang nggak fokus latihan.”
“Hahaha bener!”
Karwan ikut tertawa keras.
Akang melempar handuk ke arah mereka.
“Berisik!”
Titik malah cekikikan puas.
Dan sore-sore seperti itu perlahan menjadi kebiasaan yang menyenangkan.
Akang memang berbeda.
Ia tidak pernah memaksa.
Tidak pernah mengekang.
Tidak pernah marah berlebihan.
Kalau Titik sedih, ia mendengarkan.
Kalau Titik marah, ia menenangkan.
Kalau Titik menangis, ia membiarkan sampai hatinya lega.
Dan mungkin karena itulah…
Titik merasa sangat nyaman bersamanya.
Bahkan kadang lebih nyaman dibanding saat bersama Nur dulu.
Namun hubungan mereka tetap sederhana.
Seperti kakak dan adik.
Dan Bu Yati menyukai itu.
Suatu malam Titik sedang membantu ibunya melipat pakaian di ruang tengah.
“Kamu sekarang sering ketawa lagi.”
Titik tersenyum kecil.
“Kan bagus.”
Bu Yati mengangguk pelan.
“Akang anak baik.”
“Iya.”
“Dia perhatian sama kamu.”
Titik mengangguk lagi.
“Kalau ada dia… Titik nggak terlalu sepi.”
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun entah kenapa membuat Bu Yati ikut terdiam beberapa detik.
Ia tahu…
anaknya terlalu sering kehilangan.
Dan Akang menjadi satu-satunya orang yang berhasil membuat Titik bangkit lagi.
Namun kebahagiaan kecil itu ternyata tidak berlangsung lama.
Sore itu langit terlihat mendung.
Angin bertiup lebih dingin dari biasanya.
Titik datang ke lapangan karate seperti biasa.
Namun suasananya terasa aneh.
Azis tidak banyak bercanda.
Karwan terlihat diam.
Sedangkan Akang duduk sendiri di pinggir lapangan sambil memandang kosong ke arah jalan.
Titik langsung menghampiri.
“Kang.”
Akang menoleh lalu tersenyum kecil.
“Eh.”
“Kok diem?”
“Nggak apa-apa.”
Titik duduk di sampingnya.
“Kamu kalau bohong gampang ketahuan.”
Akang tertawa pelan.
“Bawaannya kalimatku terus.”
“Biar keren.”
Mereka sama-sama diam beberapa detik.
Lalu Akang berkata pelan—
“Titik…”
“Hm?”
“Aku mungkin bakal pergi.”
DEG.
Jantung Titik langsung terasa jatuh.
“Maksudnya?”
“Aku dapat kerja di Tangerang.”
Titik langsung menatapnya tidak percaya.
“Kapan?”
“Mungkin minggu depan.”
“Cepat banget…”
Akang mengangguk pelan.
“Tadinya aku juga nggak nyangka.”
Titik mendadak diam.
Dadanya terasa sesak lagi.
Perasaan itu…
perasaan kehilangan itu…
kembali datang.
“Kamu serius pergi?”
“Iya.”
“Terus latihan karate?”
“Diserahin ke senior lain.”
“Terus…”
Titik menggantung kalimatnya.
Terus aku gimana?
Namun kalimat itu tidak keluar.
Akang tersenyum kecil.
“Kamu sedih?”
Pertanyaan itu justru membuat mata Titik mulai panas.
“Nggak tahu…”
Akang mengusap kepala Titik pelan.
“Jangan nangis.”
“Aku capek ditinggal orang terus…”
Suara Titik mulai bergetar.
Dan kalimat itu langsung membuat Akang terdiam.
Angin sore berhembus pelan melewati lapangan.
Suasana mendadak sunyi.
“Aku pergi buat masa depan,” ucap Akang lirih.
“Tapi kenapa semua orang selalu pergi…”
Titik akhirnya menangis juga.
Dan seperti biasa…
Akang hanya diam menemani.
Tidak banyak bicara.
Tidak sok menguatkan.
Ia hanya membiarkan Titik meluapkan semuanya.
Karena ia tahu…
kadang seseorang hanya butuh ditemani saat terluka.
Hari-hari menjelang keberangkatan Akang terasa aneh.
Titik jadi semakin sering bersamanya.
Mereka pergi membeli bakso.
Duduk di pinggir sungai.
Mengobrol sampai malam.
Seolah diam-diam mereka tahu—
waktu kebersamaan itu akan segera habis.
Suatu malam mereka duduk di depan warung kopi kecil dekat jalan kampung.
Lampu kuning redup menggantung di atas kepala mereka.
“Kang.”
“Hm?”
“Nanti kalau udah di Tangerang jangan lupa sama Titik.”
Akang tersenyum kecil.
“Mana mungkin lupa.”
“Banyak orang pergi terus lupa.”
“Aku beda.”
Titik menatapnya.
“Janji?”
Akang mengulurkan jari kelingkingnya.
“Janji.”
Titik ikut mengaitkan jari mereka.
Dan entah kenapa…
malam itu terasa begitu sedih.
Hari keberangkatan Akang akhirnya datang.
Pagi masih sangat gelap saat mobil travel berhenti di depan rumahnya.
Beberapa tas sudah dimasukkan ke bagasi.
Azis dan Karwan datang mengantar.
Sedangkan Titik berdiri diam di pinggir jalan sejak tadi.
Tidak banyak bicara.
Akang menghampirinya perlahan.
“Kok diem aja?”
Titik menunduk.
“Nggak tahu mau ngomong apa.”
Akang tersenyum tipis.
“Jaga diri baik-baik.”
Titik mengangguk pelan.
“Kamu juga.”
Akang mengusap kepala Titik seperti biasa.
“Nanti kalau sedih jangan dipendem sendiri.”
“Iya.”
“Jangan sering nangis.”
Titik malah makin ingin menangis.
Dan sebelum naik ke mobil…
Akang berkata pelan—
“Kalau suatu hari kamu kehilangan arah… jangan lupa pulang.”
Titik menatapnya bingung.
“Maksudnya?”
Akang hanya tersenyum.
“Nanti juga ngerti.”
Lalu ia masuk ke mobil.
Pintu tertutup.
Mesin menyala.
Dan perlahan…
mobil itu pergi meninggalkan jalan kampung Pengandom.
Titik berdiri mematung.
Dadanya kembali kosong.
Perasaan itu datang lagi.
Perasaan ditinggalkan.
Dan kali ini lebih sakit…
karena Akang adalah orang yang membantu menyembuhkan luka sebelumnya.
Sepanjang hari Titik mengurung diri di kamar.
Boneka panda kecil milik Toro bahkan belum ada saat itu.
Yang ada hanya sepi.
Dan kenangan.
Bu Yati masuk perlahan membawa makanan.
“Makan dulu.”
“Nggak lapar.”
“Kamu sedih ya…”
Titik menatap ibunya dengan mata merah.
“Bu…”
“Iya?”
“Kenapa semua orang yang Titik sayang selalu pergi…”
Pertanyaan itu membuat Bu Yati terdiam cukup lama.
Lalu ia duduk memeluk anak gadisnya erat.
Karena bahkan seorang ibu pun…
kadang tidak punya jawaban untuk rasa kehilangan.
Malam itu hujan turun deras.
Titik duduk di dekat jendela sambil memandangi jalan kampung yang basah.
Lapangan karate terlihat kosong.
Tidak ada suara Akang.
Tidak ada tawa Azis dan Karwan.
Semua terasa sunyi.
Dan di tengah suara hujan…
Titik akhirnya sadar satu hal—
hidupnya perlahan mulai dipenuhi perpisahan.
Satu demi satu orang yang membuatnya nyaman pergi meninggalkan dirinya.
Nur pergi.
Kini Akang juga pergi.
Dan Titik belum tahu…
bahwa perjalanan hidupnya setelah ini akan membawanya jauh meninggalkan kampung kecil itu.
Menuju kota baru.
Lingkungan baru.
Dan kisah cinta baru yang jauh lebih rumit daripada sebelumnya.
BAB VII
KOTA BARU BERNAMA KLATEN
“Saat Aku Belajar Berdiri di Tempat yang Tak Pernah Kukenal”
Kepergian Akang meninggalkan ruang kosong yang sulit dijelaskan oleh Titik.
Hari-hari di Pengandon kembali terasa hambar.
Lapangan karate kini hanya menjadi tempat penuh kenangan.
Tidak ada lagi suara Akang yang memanggil namanya dari kejauhan.
Tidak ada lagi seseorang yang diam-diam memperhatikannya saat ia murung.
Dan untuk beberapa bulan…
Titik hidup seperti bayangan dirinya sendiri.
Namun hidup tidak pernah berhenti hanya karena seseorang terluka.
Kelulusan SMP akhirnya tiba.
Pagi itu sekolah ramai sekali.
Anak-anak berkerumun di depan papan pengumuman.
Suara teriakan bercampur tangis dan tawa memenuhi halaman sekolah.
“AKU LULUSSSS!”
“HERMAN LOLOS!”
“DENI NILAINYA TINGGI BANGET!”
Indah melompat sambil memeluk Titik.
“KITA LULUS TIK!”
Titik tersenyum kecil.
“Iya…”
Namun senyumnya tidak seceria dulu.
Indah langsung sadar.
“Kamu masih sedih ya…”
“Nggak kok.”
“Bohong.”
Herman datang sambil kipas-kipas kertas pengumuman.
“Waduh akhirnya bebas juga dari matematika.”
Deni langsung menyahut datar—
“Hidupmu nggak akan pernah bebas dari matematika.”
“DIEM LO!”
Mereka semua tertawa.
Dan untuk sesaat…
Titik ikut tertawa bersama mereka.
Walaupun jauh di dalam hati…
ia masih merasa kosong.
Beberapa minggu setelah kelulusan, Bu Yati mulai sibuk membicarakan sekolah lanjutan.
“Kamu mau lanjut di mana?”
Titik duduk di ruang tengah sambil mengupas rambutan.
“Nggak tahu.”
“Jangan nggak tahu terus.”
Titik menghela napas.
“Teman-teman banyak yang keluar kota.”
“Kamu mau juga?”
Titik diam beberapa detik.
Lalu mengangguk pelan.
“Mungkin.”
Bu Yati menatap anaknya cukup lama.
“Kamu mau lari dari kenangan ya?”
DEG.
Kalimat itu tepat sekali.
Titik menunduk pelan.
“Di sini terlalu banyak yang bikin sedih…”
Bu Yati mengusap kepala anaknya lembut.
“Kalau memang mau pergi, ibu dukung.”
Dan sejak malam itu…
keputusan besar mulai diambil.
Titik akan melanjutkan sekolah STM di Klaten.
Jauh dari kampung.
Jauh dari kenangan tentang Nur dan Akang.
Dan mungkin…
jauh dari luka yang selama ini menghantuinya.
Hari keberangkatan tiba.
Pagi itu suasana rumah terasa sibuk.
Bu Yati membereskan pakaian ke dalam tas besar.
Sedangkan Titik duduk diam di depan rumah memandangi jalan kampung.
Indah datang sambil membawa plastik makanan.
“Nih buat di jalan.”
“Halah kayak mau perang aja.”
“Ya kan jauh.”
Herman ikut datang membawa buku kecil.
“Ini buat kamu.”
Titik menerimanya bingung.
“Apa ini?”
“Buku quotes.”
Deni langsung nyeletuk—
“Padahal isinya jokes garing semua.”
“BODOH!”
Mereka tertawa bersama.
Namun di balik tawa itu…
ada rasa sedih yang tidak bisa disembunyikan.
Karena mereka tahu—
masa SMP mereka benar-benar selesai.
Dan hidup akan berubah setelah hari ini.
Mobil travel akhirnya datang.
Bu Yati membantu memasukkan tas.
Indah langsung memeluk Titik erat.
“Jangan lupa sama kita.”
“Iya bawel.”
Herman ikut memeluk sambil pura-pura nangis.
“Kalau sukses jangan lupa traktir.”
“Najis.”
Deni hanya menepuk bahu Titik pelan.
“Jaga diri.”
Kalimat sederhana itu justru membuat mata Titik mulai panas.
Ia menatap kampungnya sekali lagi.
Jalan kecil itu.
Lapangan kuda lumping.
Warung depan sekolah.
Lapangan karate.
Semua terasa begitu jauh padahal masih di depan mata.
Dan di sanalah…
semua kisah masa remajanya dimulai.
Perjalanan menuju Klaten terasa panjang.
Titik duduk di dekat jendela sambil memandangi jalan.
Pohon-pohon berlalu cepat.
Kota demi kota dilewati.
Dan semakin jauh kendaraan berjalan…
semakin terasa bahwa hidupnya benar-benar sedang berubah.
Saat akhirnya sampai di Klaten…
Titik langsung terpukau.
Suasana kota jauh berbeda dari Pengandom.
Jalanan ramai.
Motor berlalu lalang.
Toko-toko berdiri di mana-mana.
Dan orang-orang terlihat sibuk dengan urusan masing-masing.
“Capek?” tanya Bu Yati.
“Sedikit.”
Mereka akhirnya sampai di rumah kos sederhana dekat STM tempat Titik akan sekolah.
Bangunannya tidak besar.
Namun cukup nyaman.
Seorang ibu paruh baya menyambut mereka ramah.
“Oh ini Titik?”
“Iya Bu,” jawab Bu Yati.
“Cantik ya anaknya.”
Titik tersenyum malu.
“Nanti sekamar sama Dwi ya.”
“Dwi?”
Belum sempat bertanya…
tiba-tiba seorang perempuan pendek berambut sebahu muncul dari dalam rumah sambil membawa ember.
“HAH ADA ANAK BARU?!”
Suara cemprengnya membuat Titik refleks kaget.
Ibu kos langsung memukul pelan kepala gadis itu.
“Jangan teriak!”
“Hehehe maaf.”
Perempuan itu langsung mendekati Titik dengan semangat.
“Hai aku Dwi!”
“Titik…”
“Wah cantik banget kamu!”
Titik tertawa kecil.
Dan untuk pertama kalinya sejak datang…
ia merasa sedikit nyaman.
Malam pertama di Klaten terasa aneh.
Titik rebahan di tempat tidur sambil memandangi langit-langit kamar kos.
Di sampingnya Dwi masih sibuk bercerita tanpa henti.
“STM kamu nanti serem tau.”
“Kenapa?”
“Cowoknya banyak.”
“Emang ada ceweknya?”
“Ada… dikit.”
“Dikit tuh berapa?”
“Empat.”
Titik langsung bangun.
“HAH?!”
Dwi ngakak keras.
“Iya! Sisanya cowok semua!”
“Ya Allah…”
“Tenang aja nanti juga biasa.”
Namun Titik justru makin panik.
“Kalau mereka galak gimana…”
“Namanya juga STM.”
Titik menelan ludah.
Dalam bayangannya STM itu menyeramkan.
Anak-anak nakal.
Tawuran.
Preman.
Dan dirinya harus sekolah di sana.
Pagi pertama sekolah datang terlalu cepat.
Titik memakai seragam abu-abu putih barunya dengan gugup.
Dwi malah santai sambil makan gorengan.
“Kamu santai dikit napa.”
“Deg-degan tau.”
“Biasalah.”
Saat mereka sampai di gerbang STM…
Titik langsung terdiam.
Anak laki-laki ada di mana-mana.
Suara motor berisik memenuhi halaman.
Beberapa siswa bercanda keras.
Sebagian lain memainkan gitar.
Dan benar saja…
jumlah perempuan sangat sedikit.
“Ya ampun…”
Dwi tertawa melihat wajah Titik.
“Kaget kan?”
“Ini sekolah apa markas cowok…”
Saat memasuki kelas…
semua mata langsung tertuju pada Titik.
Suasana mendadak hening beberapa detik.
Lalu—
“WOY ADA SISWI BARU!”
Satu kelas langsung ribut.
Titik spontan ingin balik keluar.
Namun wali kelas sudah menyuruhnya masuk.
“Silakan perkenalkan diri.”
Titik berdiri gugup di depan kelas.
“Halo… nama saya Titik…”
Belum selesai bicara—
“Cantik banget …”
“Diam lu!”
“Waduh kelas kita naik level!”
Titik makin malu.
Dwi malah ngakak dari belakang.
“Kasihanin napa!”
Lalu seorang cowok berkacamata yang duduk pojok berkata pelan—
“Udah diem semua.”
Suaranya tidak keras.
Namun anehnya satu kelas langsung tenang.
Titik melirik sekilas.
Cowok itu terlihat pendiam.
Tatapannya tenang.
Dan entah kenapa berbeda dari yang lain.
“Namaku Riyadi.”
Ia memperkenalkan diri singkat saat Titik duduk di dekatnya.
“Oh… Titik.”
Riyadi mengangguk kecil.
Lalu kembali diam.
Dan tanpa Titik sadari…
pertemuan sederhana itu nantinya akan menjadi awal dari persahabatan paling penting dalam hidupnya.
Hari pertama sekolah berlangsung melelahkan.
Namun perlahan Titik mulai mengenal teman-teman barunya.
Ada Ahmad yang humoris.
Ada Yono yang cerewet.
Ada Muji yang usil.
Ada Aris yang paling jahil.
Dan ada Riyadi…
yang paling pendiam namun paling perhatian.
Sore itu sepulang sekolah…
Titik duduk di halte kecil depan STM sambil menghela napas panjang.
Dwi menyenggol bahunya pelan.
“Gimana hari pertama?”
Titik tersenyum kecil.
“Capek…”
“Tapi?”
Titik memandangi langit Klaten yang mulai jingga.
“…nggak seseram yang aku kira.”
Namun jauh di dalam hati…
ia belum tahu bahwa kota baru itu akan membawanya pada kisah cinta, kehilangan, persahabatan, dan luka yang jauh lebih rumit daripada masa lalunya di Pengandom.
BAB VIII
SAHABAT DI TENGAH DUNIA LELAKI
“Di Antara Tawa, Perhatian, dan Hati yang Diam-Diam Menunggu”
Hari-hari pertama di STM Klaten berjalan lebih cepat dari yang dibayangkan Titik.
Awalnya ia merasa asing.
Canggung.
Takut salah bicara.
Namun perlahan…
kelas yang dipenuhi laki-laki itu justru berubah menjadi tempat paling ramai yang pernah ia kenal.
Dan anehnya…
di tengah puluhan anak cowok dengan suara berisik dan tingkah absurd itu, Titik justru merasa diterima.
Pagi itu suasana kelas sudah ribut bahkan sebelum guru datang.
Ahmad berdiri di atas kursi sambil pura-pura jadi penyiar radio.
“SELAMAT PAGI PARA MANUSIA GAGAL!”
“WOIIII TURUN!”
Satu kelas langsung lempar-lempar penghapus.
Muji malah sibuk menggambar kumis di foto struktur organisasi kelas.
Sedangkan Yono sedang mengejar Aris karena sandal jepitnya disembunyikan.
“BALIKIN WOY!”
“Cari sendiri!”
Titik yang baru masuk kelas langsung bengong.
“Ya Allah…”
Dwi ngakak di sampingnya.
“Biasakan.”
Belum sempat duduk…
Ahmad langsung menunjuk Titik dramatis.
“NAH! RATU KELAS KITA DATANG!”
Satu kelas langsung bersorak lebay.
“TITIKKKK!”
“SELAMAT PAGI MBAK CANTIK!”
“WOY NORAK!”
Titik langsung menutup wajahnya malu.
“Kalian lebay banget sih…”
Riyadi yang duduk di pojok hanya tersenyum kecil sambil membuka buku.
Dan seperti biasa…
ia tidak ikut berisik.
Karena jumlah perempuan di kelas hanya empat orang, otomatis Titik jadi pusat perhatian.
Bukan cuma karena cantik.
Namun karena sifatnya yang gampang akrab dengan siapa saja.
Ia bisa bercanda dengan anak-anak bengkel.
Bisa ngobrol soal pelajaran.
Bahkan tidak takut ikut nongkrong bersama mereka sepulang sekolah.
Dan justru itu yang membuat semua orang nyaman dengannya.
Suatu siang saat jam kosong…
kelas berubah jadi pasar.
Ada yang tidur.
Ada yang main gitar.
Ada yang main kartu.
Sedangkan Titik duduk sambil mengerjakan tugas matematika dengan wajah pusing.
“Kenapa?” tanya Riyadi pelan dari sebelahnya.
“Ini susah…”
Riyadi melirik buku Titik.
“Oh ini gampang.”
“Gampang dari mana…”
Riyadi mengambil pensil.
“Nih lihat.”
Ia mulai menjelaskan pelan.
Suaranya tenang.
Tidak terburu-buru.
Dan anehnya…
cara menjelaskannya gampang dipahami.
Titik langsung melongo.
“Kok kamu pinter banget…”
Riyadi tersenyum kecil.
“Biasa aja.”
Ahmad yang melihat dari belakang langsung nyeletuk—
“Waduh… guru privat dimulai.”
Muji ikut nimbrung.
“Riyadi mah beda kalau sama Titik.”
Riyadi langsung melempar penghapus.
“DIEM.”
Satu kelas ngakak.
Sedangkan Titik malah tertawa sampai matanya berair.
Dan untuk pertama kalinya…
ia merasa benar-benar nyaman berada di lingkungan baru itu.
Hari-hari berikutnya persahabatan mereka semakin dekat.
Titik mulai sering pulang bersama Riyadi, Muji, Aris, Yono, dan Adi.
Kadang mereka makan bakso pinggir jalan.
Kadang nongkrong di taman Umbul sampai sore.
Kadang belajar kelompok di rumah Riyadi.
Dan tanpa sadar…
Titik menjadi pusat dari lingkaran persahabatan itu.
Rumah Riyadi adalah tempat favorit mereka belajar kelompok.
Rumah sederhana dengan halaman luas dan pohon mangga besar di depan.
Ibunya Riyadi sangat ramah.
“Masuk nak.”
“Permisi Bu!”
“Loh Titik datang?”
“Iya Bu.”
Ibunya Riyadi langsung tersenyum hangat.
“Bagus… rumah jadi rame.”
Ahmad langsung bisik ke Muji—
“Kalau Titik datang Riyadi pasti langsung rajin nyapu rumah.”
“WOY!”
Semua langsung tertawa.
Riyadi cuma geleng-geleng kepala pasrah.
Belajar kelompok mereka jarang benar-benar serius.
Sepuluh menit belajar.
Dua jam bercanda.
Muji suka iseng menyembunyikan buku Titik.
Aris paling hobi bikin lelucon receh.
Yono paling cerewet.
Sedangkan Adi paling suka menggoda semua orang.
“Tik nanti kalau kaya jangan lupa sama kita.”
“Emang aku mau jadi apa?”
“Jadi direktur.”
“Kenapa direktur?”
“Soalnya cantik.”
“NAH MULAI.”
Titik melempar bantal ke arah Adi.
Satu ruang tamu langsung ricuh.
Namun di tengah semua keributan itu…
Riyadi hanya memperhatikan Titik sambil tersenyum kecil.
Diam-diam.
Tanpa banyak bicara.
Suatu sore setelah teman-teman lain pulang…
tinggal Titik dan Riyadi yang masih duduk di teras rumah.
Langit mulai berubah jingga.
Angin sore terasa adem.
“Kamu betah di Klaten?” tanya Riyadi pelan.
Titik mengangguk.
“Lumayan.”
“Lumayan?”
“Awalnya takut.”
“Takut apa?”
“Takut nggak punya teman.”
Riyadi tersenyum tipis.
“Sekarang?”
Titik melihat ke arah jalan.
“Sekarang malah kayak punya banyak saudara.”
Kalimat itu membuat Riyadi diam beberapa detik.
Lalu ia berkata pelan—
“Syukur.”
Titik menoleh.
“Kamu tuh kalau ngomong dikit banget.”
Riyadi tertawa kecil.
“Bingung mau ngomong apa.”
“Padahal yang lain ribut semua.”
“Biar ada penyeimbang.”
Titik tertawa.
Dan Riyadi diam-diam ikut tersenyum melihatnya.
Hari demi hari…
persahabatan mereka semakin kuat.
Di sekolah Titik benar-benar diperlakukan seperti “ratu kelas”.
Kalau ia lapar, ada yang traktir.
Kalau sedih, semua menghibur.
Kalau ada yang mengganggu, satu kelas siap membela.
Dan di antara semuanya…
Riyadi adalah yang paling perhatian.
Suatu pagi Titik datang ke sekolah dengan wajah pucat.
“Kamu sakit?” tanya Riyadi langsung.
“Nggak kok.”
“Bohong.”
Titik tersenyum lemah.
“Cuma pusing.”
Tanpa banyak bicara Riyadi langsung berdiri.
Beberapa menit kemudian ia kembali membawa teh hangat dan roti.
“Nih.”
Titik melongo.
“Kamu beli?”
“Iya.”
“Kok repot…”
“Daripada kamu pingsan.”
Ahmad langsung bersiul dari belakang.
“WIIIIH.”
Muji ikut ngakak.
“Perhatian banget pak Riyadi.”
Titik langsung malu.
Namun Riyadi tetap santai.
“Udah diem.”
Dan entah kenapa…
perhatian-perhatian kecil seperti itu perlahan membuat hati Titik hangat.
Walaupun…
ia sendiri belum menganggap Riyadi lebih dari seorang sahabat.
Sore itu mereka berlima duduk di taman Umbul.
Tempat favorit mereka nongkrong.
Ada kolam kecil di tengah taman.
Anak-anak bermain sepeda.
Sedangkan mereka duduk di rerumputan sambil makan cilok.
“Kalau nanti lulus kalian mau jadi apa?” tanya Aris.
“Orang kaya,” jawab Ahmad cepat.
“Halah.”
Muji menunjuk Riyadi.
“Kalau dia pasti jadi dosen.”
Riyadi tertawa kecil.
“Kenapa dosen?”
“Soalnya mukanya serius terus.”
Semua tertawa.
Lalu Yono menunjuk Titik.
“Kalau Titik pasti banyak yang rebutan.”
“Apaan sih…”
Adi langsung nyeletuk—
“Ya jelas lah.”
Titik melempar plastik cilok ke arahnya.
“Berisik!”
Namun di tengah semua tawa itu…
Riyadi diam.
Tatapannya tertuju pada Titik yang sedang tertawa lepas bersama teman-temannya.
Dan jauh di dalam hatinya…
diam-diam tumbuh rasa yang perlahan semakin sulit disembunyikan.
Rasa yang tidak pernah ia minta.
Rasa yang membuatnya ingin selalu menjaga Titik.
Walaupun ia tahu…
kemungkinan besar Titik hanya menganggapnya sebagai sahabat.
Malam itu sepulang dari Umbul…
Titik berjalan sendiri menuju kos sambil tersenyum kecil.
Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Pengandom…
ia merasa hidupnya mulai punya warna lagi.
Ia mulai melupakan luka lama.
Mulai menikmati hari-harinya.
Mulai tertawa tanpa beban.
Namun Titik belum tahu…
bahwa kebahagiaan sederhana itu nantinya akan berubah saat seseorang datang memasuki hidup mereka.
Seseorang yang akan menghancurkan keseimbangan persahabatan itu perlahan.
Seseorang yang bernama—
Tono.
BAB IX
LAKI-LAKI PALING DITAKUTI DI STM
“Tatapan Pertama yang Membawa Masalah”
Semester pertama di STM Klaten berjalan begitu cepat.
Hari-hari Titik dipenuhi tawa bersama sahabat-sahabat barunya.
Ia mulai benar-benar menikmati hidup di kota itu.
Pulang sekolah nongkrong.
Belajar kelompok.
Main ke Umbul.
Kadang naik kereta ke Malioboro bersama teman-temannya.
Dan di tengah dunia STM yang penuh suara mesin, oli, dan anak-anak lelaki berisik…
Titik justru merasa menjadi dirinya sendiri.
Bebas.
Tanpa tekanan.
Tanpa larangan.
Tanpa rasa takut seperti saat bersama Nur dulu.
Pagi itu sekolah sedang ramai karena ada kegiatan pertemuan antarangkatan.
Lapangan dipenuhi siswa dari kelas satu sampai kelas tiga.
Suara musik terdengar keras dari aula.
Beberapa senior mondar-mandir dengan wajah sangar khas anak STM.
Dwi yang sedari tadi heboh langsung menarik tangan Titik.
“Tik Tik Tik!”
“Apaan sih…”
“Itu loh!”
“Apa?”
Dwi menunjuk ke arah sekelompok senior laki-laki yang baru masuk halaman sekolah.
Dan seketika suasana sekitar mendadak berubah.
Beberapa siswa langsung menepi memberi jalan.
Bahkan anak-anak yang biasanya ribut mendadak diam.
Titik mengernyit bingung.
“Kenapa?”
“Itu Tono.”
“Hah?”
“Senior paling ditakuti di STM.”
Titik spontan melihat lagi.
Di tengah kerumunan itu…
berjalan seorang laki-laki tinggi dengan jaket hitam digantung di bahunya.
Wajahnya tegas.
Tatapannya tajam.
Rambutnya sedikit panjang khas anak STM era itu.
Dan harus diakui…
dia memang tampan.
Namun auranya menyeramkan.
“Yang itu?”
“Iya.”
“Emang kenapa?”
Dwi langsung mendekat sambil berbisik—
“Katanya dia pernah mukul anak satu sekolah gara-gara masalah cewek.”
“HAH?”
“Makanya jangan dekat-dekat.”
Titik langsung menelan ludah.
“Serem amat…”
Namun justru saat itulah…
Tono menoleh ke arah mereka.
Tatapannya berhenti tepat pada Titik.
DEG.
Entah kenapa jantung Titik mendadak berdebar aneh.
Bukan karena suka.
Namun karena tatapan laki-laki itu terlalu tajam.
Tono memperhatikan beberapa detik.
Lalu tersenyum tipis.
Dan itu justru membuat Titik makin salah tingkah.
“Astaga…”
Dwi langsung panik.
“Dia lihat kamu!”
“Ya terus kenapa…”
“Tik… jangan bilang dia tertarik sama kamu.”
“Ogah!”
Namun entah kenapa…
sejak detik itu Titik mulai sering merasa diperhatikan.
Hari-hari berikutnya nama Tono semakin sering terdengar.
Semua orang membicarakannya.
Tentang keberaniannya.
Tentang kelompoknya.
Tentang bagaimana hampir semua anak STM segan padanya.
“Dia tuh kalau marah serem banget,” kata Ahmad suatu siang.
Muji mengangguk.
“Bahkan senior lain aja takut.”
Titik yang sedang makan bakso langsung menyahut—
“Lebay.”
“Serius!”
Aris ikut nimbrung.
“Dia juga paling jago berantem.”
“Ya terus?”
Ahmad menyeringai.
“Dan sekarang kayaknya dia suka sama kamu.”
PUK.
Sendok Titik jatuh.
“Hah?!”
Satu meja langsung tertawa.
“Woy serius!”
“Dari kemarin dia sering lihat ke kelas kita.”
“Bahkan kemarin nanya siapa kamu.”
Titik langsung menatap mereka satu-satu.
“Kalian bohong kan?”
Riyadi yang sedari tadi diam akhirnya bicara pelan—
“Mereka nggak bohong.”
Titik langsung menoleh.
“Kamu juga tahu?”
Riyadi mengangguk kecil.
Dan entah kenapa…
raut wajahnya terlihat tidak nyaman.
Sejak saat itu Tono mulai sering muncul.
Kadang berdiri di depan kelas saat jam istirahat.
Kadang pura-pura lewat.
Kadang hanya memandang dari kejauhan.
Dan semua itu membuat satu kelas heboh.
“Waduh ditungguin lagi.”
“Pak Tono hadir.”
“Ratu STM makin terkenal.”
Titik kesal sendiri.
“Kalian tuh ganggu banget.”
Namun jauh di dalam hati…
ia mulai merasa tidak nyaman.
Karena perhatian Tono terasa berbeda.
Terlalu intens.
Terlalu menekan.
Suatu sore sepulang sekolah…
Titik dan teman-temannya sedang duduk di taman Umbul.
Mereka makan gorengan sambil bercanda seperti biasa.
Tiba-tiba suara motor berhenti cukup keras di dekat mereka.
Semua langsung menoleh.
Dan di sana…
Tono turun dari motor bersama beberapa senior lain.
Suasana mendadak hening.
Ahmad langsung berbisik—
“Sialan…”
Tono berjalan santai mendekat.
Tatapannya langsung tertuju pada Titik.
“Hai.”
Titik spontan gugup.
“Hai…”
Teman-temannya langsung diam seperti patung.
Tono melirik mereka sebentar lalu kembali ke Titik.
“Boleh ngobrol?”
“Eh…”
Belum sempat menjawab…
Adi langsung nyeletuk santai.
“Ngobrol aja sini.”
Tono menatap Adi cukup lama.
Dan suasana mendadak terasa dingin.
Namun Adi tetap santai.
Titik langsung panik sendiri.
“Eh nggak apa-apa kok…”
Akhirnya Tono duduk di dekat mereka.
Dan sejak sore itu…
lingkaran pertemanan Titik mulai berubah perlahan.
Ternyata di balik wajah menyeramkannya…
Tono cukup pintar bicara.
Ia humoris.
Percaya diri.
Dan anehnya sangat perhatian pada Titik.
“Jadi kamu anak baru dari Pengandon?”
“Iya.”
“Pantes beda.”
“Beda gimana?”
“Lebih rame.”
Teman-teman langsung bersorak menggoda.
“WOOOO…”
Titik langsung malu.
“Apaan sih…”
Tono tertawa kecil.
Dan untuk pertama kalinya…
Titik melihat sisi lain dari laki-laki itu.
Tidak semenyeramkan rumor yang beredar.
Namun tetap saja…
ada sesuatu dalam dirinya yang membuat Titik waspada.
Hari-hari berikutnya Tono semakin sering mendekat.
Kadang mengantar makanan ke kelas.
Kadang menunggu Titik pulang.
Kadang muncul tiba-tiba di tempat nongkrong mereka.
Dan yang paling membuat Titik bingung—
semua orang seperti takut padanya.
Kalau Tono datang…
suasana langsung berubah.
Anak-anak yang biasanya ribut mendadak lebih hati-hati.
Bahkan guru pun mengenalnya.
Suatu sore Riyadi dan Titik sedang berjalan menuju halte.
Tiba-tiba Tono datang dengan motornya lalu berhenti tepat di depan mereka.
“Mau pulang?”
“Iya.”
“Ayo aku antar.”
Titik bingung.
“Eh nggak usah…”
“Nggak apa-apa.”
Belum sempat Titik menjawab…
Riyadi berkata pelan—
“Kita biasa naik angkot.”
Tono langsung menatap Riyadi.
Tatapan yang tajam.
“Kan aku cuma nawarin.”
Riyadi diam.
Namun Titik bisa merasakan suasana mulai tidak enak.
Akhirnya ia buru-buru berkata—
“Nggak apa-apa Ton… aku sama Riyadi aja.”
Tono tersenyum tipis.
Namun matanya tetap dingin.
“Oke.”
Motor itu akhirnya pergi.
Namun setelah Tono menghilang…
Riyadi justru terlihat murung.
“Kamu kenapa?”
“Nggak.”
“Kamu nggak suka ya sama dia?”
Riyadi terdiam beberapa detik.
Lalu menjawab pelan—
“Hati-hati aja.”
Kalimat itu membuat Titik bingung.
“Hati-hati kenapa?”
Riyadi menghela napas kecil.
“Dia bukan orang yang gampang nerima penolakan.”
Malam itu Titik rebahan di kamar kos sambil memandangi kipas angin.
Dwi yang sedari tadi baca majalah langsung meliriknya.
“Kamu dipikirin Tono ya?”
“Ogah.”
“Bohong.”
“Tapi dia aneh.”
“Kenapa?”
“Baik sih… tapi bikin nggak nyaman.”
Dwi mengangguk pelan.
“Karena dia terlalu serius.”
Titik memejamkan mata.
Entah kenapa…
ia mulai merasa hidupnya perlahan berubah lagi.
Dan jauh di dalam hatinya…
ada rasa takut kecil yang mulai tumbuh.
Karena tanpa sadar…
kehadiran Tono akan menjadi awal dari retaknya persahabatan paling indah yang pernah dimiliki Titik.
BAB X
PUKULAN PERTAMA
“Saat Persahabatan Mulai Berdarah Karena Cinta”
Hari-hari di STM mulai berubah sejak Tono hadir dalam kehidupan Titik.
Awalnya hanya perhatian biasa.
Datang ke kelas.
Mengantar makanan.
Menunggu pulang sekolah.
Namun lama-kelamaan…
semua itu terasa semakin berlebihan.
Dan yang paling membuat Titik tidak nyaman—
Tono mulai tidak suka melihatnya bersama teman-temannya sendiri.
Terutama Riyadi.
Pagi itu suasana kelas masih seperti biasa.
Ahmad sibuk menggambar karikatur guru di papan tulis.
Muji dan Aris rebutan kaset radio kecil.
Sedangkan Yono sedang berdebat entah soal apa.
Titik masuk kelas sambil membawa es teh.
“Pagiii…”
“PAGI RATU STM!”
Satu kelas langsung heboh.
“Apaan sih kalian…”
Riyadi yang duduk di dekat jendela hanya tersenyum kecil.
“Nih tugasmu udah aku tulisin poin pentingnya.”
Titik langsung duduk di sampingnya.
“Serius?”
“Iya.”
“Baik banget…”
Ahmad langsung bersiul keras.
“WIIIIH.”
Muji ikut ngakak.
“Riyadi tuh kalau sama Titik beda.”
“WOY DIEM.”
Titik tertawa kecil sambil membuka buku catatan Riyadi.
Tulisan cowok itu rapi sekali.
“Ya ampun tulisanmu kayak cewek.”
“Daripada tulisan Ahmad kayak cakar ayam.”
“WOY!”
Satu kelas kembali ribut.
Dan seperti biasa…
Titik merasa nyaman bersama mereka.
Namun ia tidak tahu—
seseorang sedang memperhatikan dari luar kelas dengan wajah dingin.
Tono.
Jam istirahat tiba.
Titik dan teman-temannya makan bakso di kantin belakang sekolah.
Riyadi duduk di samping Titik sambil membantu membawakan buku.
Adi yang melihat langsung menggoda—
“Kalau udah nikah tinggal gini terus ya.”
“NGACO.”
Titik melempar tisu ke arah Adi.
Namun tiba-tiba suasana kantin mendadak hening.
Beberapa siswa langsung menoleh ke belakang.
Tono datang.
Dengan wajah datar.
Dan tatapan tajam yang langsung tertuju pada Riyadi.
“Tik.”
Titik menoleh.
“Eh… Tono.”
“Kamu dicari dari tadi.”
“Oh.”
Tono melirik Riyadi sekilas.
Tatapannya membuat suasana berubah dingin.
“Ayo ikut bentar.”
Titik bingung.
“Mau ke mana?”
“Ngobrol.”
Adi langsung menyela santai—
“Ngobrol sini aja rame.”
Tono menatap Adi beberapa detik.
Namun kali ini ia memilih diam.
Titik akhirnya berdiri.
“Nggak lama ya.”
Riyadi hanya mengangguk kecil.
Namun entah kenapa…
raut wajahnya terlihat tidak tenang.
Tono membawa Titik ke belakang aula sekolah yang agak sepi.
“Ada apa?”
Tono menatapnya beberapa saat sebelum bicara.
“Kamu dekat banget sama Riyadi ya.”
DEG.
Pertanyaan itu langsung membuat Titik tidak nyaman.
“Kita teman.”
“Cuma teman?”
“Iya.”
Tono tertawa kecil hambar.
“Dia suka sama kamu.”
Titik langsung mengernyit.
“Nggak mungkin.”
“Kamu nggak sadar?”
“Dia sahabatku.”
“Tapi aku nggak suka.”
Kalimat itu membuat Titik mulai kesal.
“Kenapa?”
“Karena aku serius sama kamu.”
“Tapi aku belum jadi siapa-siapamu.”
Tono terdiam.
Tatapannya berubah.
Lebih dingin.
“Aku cuma nggak mau ada cowok lain dekat sama kamu.”
Titik langsung menghela napas berat.
“Kenapa sih semua cowok suka ngatur hidupku…”
“Aku cuma takut kehilangan.”
“Padahal aku aja belum tentu milikmu.”
Kalimat itu membuat Tono diam cukup lama.
Dan untuk pertama kalinya…
Titik melihat emosi yang aneh di mata laki-laki itu.
Sejak hari itu suasana mulai berubah.
Tono semakin sering memperhatikan gerak-gerik Titik.
Kalau Riyadi terlalu dekat…
wajahnya langsung berubah.
Kalau Titik pulang bersama teman-temannya…
Tono tiba-tiba muncul.
Dan semua itu membuat Titik mulai lelah.
Suatu sore sepulang sekolah…
Titik sedang membereskan buku di kelas ketika Riyadi mendekat.
“Kamu belum pulang?”
“Belum.”
“Nanti pulang sama anak-anak?”
“Iya.”
Riyadi mengangguk kecil.
Lalu tiba-tiba berkata pelan—
“Kalau kamu nggak nyaman sama Tono… jangan dipaksa.”
Titik menoleh.
“Kamu kenapa ngomong gitu?”
“Dia terlalu posesif.”
Titik menghela napas panjang.
“Aku juga mulai capek.”
Belum sempat melanjutkan…
tiba-tiba terdengar suara keras dari pintu kelas.
“Riyadi.”
Suasana langsung hening.
Tono berdiri di sana.
Sendirian.
Tatapannya tajam.
Riyadi langsung berdiri pelan.
“Ada apa?”
“Keluar bentar.”
Titik langsung merasa tidak enak.
“Mau ngapain?”
Tono tetap menatap Riyadi.
“Ngobrol cowok.”
Riyadi akhirnya keluar.
Dan entah kenapa…
jantung Titik mendadak berdebar tidak tenang.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Lalu…
BRAK!
Suara gaduh terdengar dari belakang gedung sekolah.
Titik spontan berdiri.
“Astaga…”
Ia langsung berlari keluar kelas.
Dan saat sampai di belakang gedung…
dadanya langsung terasa runtuh.
Riyadi jatuh di tanah.
Bibirnya berdarah.
Sedangkan Tono berdiri di depannya dengan napas kasar.
“Tolong jauhi Titik.”
Suara itu dingin sekali.
“Tono!”
Titik langsung berlari mendekat.
“Apa yang kamu lakukan?!”
Riyadi berusaha berdiri sambil memegang wajahnya.
Namun Tono masih terlihat emosi.
“Aku udah bilang jangan dekat-dekat sama dia.”
Riyadi menatap Tono tajam.
“Kita teman.”
“Bullshit.”
“Tono cukup!”
Titik berdiri di depan Riyadi dengan mata berkaca-kaca.
“Kamu gila ya?!”
Tono menatap Titik.
Tatapan keras itu perlahan berubah saat melihat air mata di wajah gadis itu.
“Aku cuma nggak mau dia ganggu hubungan kita.”
“KITA BELUM PUNYA HUBUNGAN APA-APA!”
Kalimat itu membuat suasana langsung sunyi.
Tono membeku beberapa detik.
Sedangkan Titik mulai menangis.
“Kamu nyakitin sahabatku…”
“Titik—”
“Aku benci kalau begini!”
Untuk pertama kalinya…
Titik benar-benar marah padanya.
Riyadi akhirnya dibawa ke UKS.
Muji, Ahmad, Aris, dan Yono langsung datang panik.
“SIALAN SIAPA YANG MUKUL?!”
Muji sampai emosi.
Namun Riyadi hanya diam sambil membersihkan darah di bibirnya.
Titik duduk di sampingnya dengan wajah pucat.
“Aku minta maaf…”
Riyadi menoleh pelan.
“Kamu nggak salah.”
“Tapi gara-gara aku…”
Riyadi tersenyum kecil walau wajahnya babak belur.
“Namanya juga hidup.”
Kalimat sederhana itu justru membuat Titik makin ingin menangis.
Malamnya Titik tidak bisa tidur.
Bayangan wajah Riyadi terus muncul di kepalanya.
Bibir berdarah.
Tatapan kecewa.
Dan suara keras pukulan itu.
Dwi yang melihat Titik termenung akhirnya bertanya—
“Kamu nangis?”
“Tono mukul Riyadi.”
“HAH?!”
Dwi langsung duduk tegak.
“Serius?”
Titik mengangguk pelan.
“Ya Allah…”
Suasana kamar mendadak hening.
Titik memeluk lututnya sendiri.
“Aku cuma pengen punya teman…”
Air matanya jatuh lagi.
“Kenapa semuanya jadi rusak…”
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya Titik mulai merasa takut pada cinta yang terlalu berlebihan.
Karena cinta seperti itu…
perlahan mulai menghancurkan orang-orang yang ia sayangi.
BAB XI
AIR MATA DI RUMAH RIYADI
“Aku Kehilangan Sahabat, Bahkan Sebelum Benar-Benar Kehilangan”
Sejak kejadian pemukulan itu…
suasana di kelas berubah drastis.
Tidak ada lagi tawa sekeras biasanya.
Tidak ada lagi candaan heboh setiap pagi.
Dan yang paling terasa—
lingkaran persahabatan mereka mulai retak perlahan.
Pagi itu Titik masuk kelas dengan langkah pelan.
Biasanya Ahmad langsung berteriak—
“RATU STM DATANG!”
Namun kali ini…
kelas hanya sunyi.
Muji sedang menggambar tanpa semangat.
Aris tidur sambil menutup wajah dengan buku.
Sedangkan Riyadi duduk di pojok dekat jendela dengan luka lebam yang masih terlihat jelas.
Hati Titik langsung terasa nyeri.
Ia mendekat perlahan.
“Yadi…”
Riyadi menoleh.
Lalu tersenyum kecil seperti biasa.
“Pagi.”
Senyum itu justru membuat Titik makin merasa bersalah.
“Kamu masih sakit?”
“Enggak.”
“Bohong.”
Riyadi tertawa pelan.
“Sedikit.”
Titik duduk di sampingnya.
Suasana canggung.
Untuk pertama kalinya…
mereka seperti kehilangan sesuatu yang dulu begitu nyaman.
Ahmad akhirnya memecah suasana.
“Kalau ada yang mukul temanku lagi, sumpah kubakar bengkel.”
Muji langsung menyahut—
“Bengkel siapa?”
“Ya bengkel sekolah lah goblok.”
Aris yang pura-pura tidur malah ikut nimbrung—
“Jangan bakar sekolah, nanti kita libur.”
“NAH ITU BAGUS.”
Semua akhirnya tertawa kecil.
Walaupun tidak seceria dulu.
Dan Titik sadar…
kejadian kemarin meninggalkan luka untuk semua orang.
Bukan cuma Riyadi.
Sepulang sekolah…
Riyadi memilih pulang lebih cepat.
Tidak seperti biasanya.
Biasanya mereka selalu nongkrong bersama.
Namun kini Riyadi lebih banyak diam.
Dan itu membuat Titik makin sedih.
“Aku ke rumah Riyadi dulu,” katanya pada Dwi.
“Sendiri?”
“Iya.”
“Hati-hati.”
Rumah Riyadi sore itu terasa sepi.
Pohon mangga di depan rumah bergoyang pelan tertiup angin.
Saat Titik masuk halaman…
ibunya Riyadi langsung kaget.
“Eh Titik.”
“Permisi Bu…”
“Ayo masuk.”
Suara ibu itu tetap hangat seperti biasa.
Namun Titik justru semakin merasa bersalah.
Riyadi sedang duduk di teras sambil membersihkan motornya.
Saat melihat Titik…
ia langsung berhenti.
“Kamu ngapain ke sini?”
Titik menatap luka di wajahnya.
Dan tanpa sadar matanya mulai berkaca-kaca.
“Aku mau minta maaf…”
Riyadi langsung menghela napas kecil.
“Aku udah bilang kamu nggak salah.”
“Tapi gara-gara aku kamu dipukul…”
Riyadi tersenyum tipis.
“Namanya juga laki-laki.”
“Jangan bercanda…”
Suara Titik mulai bergetar.
Dan detik berikutnya…
air matanya jatuh.
Riyadi langsung panik.
“Eh eh jangan nangis…”
“Aku benci keadaan kayak gini…”
Titik menangis sungguhan sekarang.
Dan semua rasa bersalah yang dipendam sejak kemarin akhirnya pecah.
“Aku cuma pengen kita kayak dulu…”
Riyadi terdiam.
Tatapannya berubah sendu.
“Aku juga.”
Kalimat itu membuat tangis Titik semakin pecah.
Mereka akhirnya duduk di teras rumah.
Suasana sore terasa tenang.
Namun hati mereka sama-sama kacau.
“Aku takut kalian menjauh gara-gara Tono…”
Riyadi menunduk beberapa detik sebelum menjawab—
“Sebenernya…”
“Apa?”
“Kami semua mulai takut sama dia.”
DEG.
Titik langsung diam.
“Takut?”
Riyadi mengangguk pelan.
“Dia terlalu posesif.”
“Tapi aku belum jadian sama dia…”
“Itu yang bikin serem.”
Titik memeluk lututnya sendiri.
“Kenapa hidupku jadi ribet begini…”
Riyadi tersenyum kecil.
“Mungkin karena kamu terlalu disayang banyak orang.”
“Aku nggak butuh disayang kayak gini.”
Angin sore berhembus pelan.
Dan untuk beberapa saat…
mereka hanya diam.
“Aku kangen kita yang dulu,” ucap Titik lirih.
“Yang nongkrong berlima.”
“Yang pulang sekolah bareng.”
“Yang ketawa ngakak sampai dimarahin warga Umbul.”
Riyadi ikut tersenyum mengingatnya.
“Iya…”
“Tapi sekarang semuanya berubah.”
Riyadi menatap Titik cukup lama.
Lalu berkata pelan—
“Kalau suatu hari kami semua menjauh…”
“Jangan ngomong gitu.”
“…kamu harus tetap bahagia.”
Titik langsung menatapnya.
“Kenapa kamu ngomong kayak mau pergi…”
Riyadi tertawa kecil.
“Perasaan aja.”
Namun entah kenapa…
kalimat itu terasa begitu menyakitkan.
Saat Titik hendak pulang…
ibunya Riyadi tiba-tiba memanggil.
“Titik.”
“Iya Bu?”
“Jangan sedih ya.”
Titik tersenyum kecil.
“Iya Bu.”
Ibunya Riyadi mendekat lalu berkata pelan—
“Riyadi itu anak pendiam… tapi kalau sayang sama seseorang dia tulus.”
DEG.
Titik langsung membeku.
Sedangkan Riyadi spontan salah tingkah.
“Ibu…”
Ibunya malah tertawa kecil.
“Ya ibu cuma ngomong.”
Titik langsung gugup sendiri.
Dan suasana mendadak canggung.
Perjalanan pulang terasa panjang.
Titik berjalan pelan sambil memikirkan ucapan ibu Riyadi tadi.
“Kalau sayang sama seseorang dia tulus…”
Entah kenapa…
hatinya terasa hangat sekaligus sedih.
Karena jauh di dalam dirinya…
ia mulai sadar sesuatu.
Bahwa Riyadi mungkin memang menyimpan rasa lebih dari sekadar persahabatan.
Namun Titik tidak tahu harus bagaimana.
Karena ia terlalu nyaman menjadikan Riyadi tempat pulang sebagai sahabat.
Dan ia takut…
kalau semuanya berubah…
mereka akan kehilangan kebersamaan itu.
Malamnya Tono datang ke depan kos.
Dwi langsung panik melihatnya.
“Tik… ada Tono.”
Titik yang sedang membaca buku langsung menegang.
Saat keluar…
Tono berdiri di depan pagar sambil memegang helm.
Wajahnya terlihat lelah.
“Kita ngomong bentar?”
Titik menghela napas.
“Ada apa lagi?”
Tono menatapnya lama sebelum berkata—
“Aku minta maaf.”
Titik sedikit terkejut.
“Aku emosi kemarin.”
“Emosi bukan alasan mukul orang.”
“Aku cuma cemburu.”
“Kenapa harus Riyadi?”
“Karena dia paling dekat sama kamu.”
Titik mulai kesal lagi.
“Kalian semua sama aja.”
“Maksudnya?”
“Nur dulu juga begitu.”
Tono terdiam.
Sedangkan Titik mulai menahan emosi yang selama ini dipendam.
“Aku capek dikekang.”
“Aku nggak maksud—”
“Aku cuma pengen punya teman!”
Suara Titik mulai pecah.
“Aku nggak pernah selingkuh sama siapa pun!”
Tono menunduk.
Dan untuk pertama kalinya…
laki-laki yang ditakuti satu sekolah itu terlihat tidak berdaya.
“Aku takut kehilangan kamu…”
Suara Tono terdengar lirih.
Namun kali ini…
Titik tidak langsung luluh.
Karena di kepalanya masih terbayang wajah Riyadi yang babak belur.
Dan perlahan…
hati Titik mulai lelah menghadapi cinta yang selalu berubah menjadi rasa memiliki berlebihan.
Malam semakin larut.
Lampu jalan mulai sepi.
Dan saat Titik kembali masuk kamar kos…
ia duduk diam cukup lama di pinggir tempat tidur.
Dwi yang sedari tadi memperhatikan akhirnya bertanya—
“Kamu sebenarnya suka nggak sih sama Tono?”
Titik terdiam lama.
Sangat lama.
Lalu menjawab pelan—
“…aku nggak tahu.”
Karena yang Titik tahu saat itu hanya satu—
ia mulai kehilangan kebahagiaan sederhana yang dulu begitu ia jaga bersama sahabat-sahabatnya.
BAB XII
RUMAH SAKIT DAN CINTA YANG MENYESAKKAN
“Saat Tubuhku Lemah, Mereka Justru Berebut Menjadi Penyelamat”
Hari-hari setelah kejadian pemukulan Riyadi membuat hidup Titik semakin tidak tenang.
Di sekolah…
ia mulai merasa diawasi.
Kalau terlalu lama bersama teman-temannya, Tono muncul.
Kalau bercanda terlalu dekat dengan anak laki-laki lain, wajah Tono langsung berubah dingin.
Dan semua itu perlahan membuat Titik lelah secara batin.
Namun Titik tetap mencoba bertahan.
Ia tetap tersenyum.
Tetap bercanda bersama teman-temannya.
Tetap nongkrong di Umbul walaupun suasana tidak lagi sama seperti dulu.
Karena sekarang…
setiap tawa selalu disertai rasa waswas.
Suatu siang saat pelajaran berlangsung…
kepala Titik mendadak terasa berat.
Pandangan mulai berkunang-kunang.
Suara guru terdengar samar.
“Titik?”
Dwi yang duduk di dekatnya langsung panik.
“Kamu pucat banget.”
“Nggak apa…”
Belum selesai bicara—
BRUK.
Tubuh Titik langsung ambruk ke meja.
Satu kelas langsung heboh.
“TITIK!”
Riyadi berdiri paling cepat.
Sedangkan Ahmad langsung lari keluar mencari guru.
Tono yang kebetulan lewat depan kelas spontan masuk saat mendengar keributan.
Dan saat melihat Titik tidak sadarkan diri…
wajahnya langsung berubah panik.
Suasana sekolah mendadak kacau.
Titik dibawa ke rumah sakit kecil dekat Klaten menggunakan mobil guru.
Riyadi ikut.
Dwi ikut.
Dan tanpa diminta…
Tono juga ikut.
Sepanjang perjalanan…
Riyadi memegangi tangan Titik sambil cemas.
“Titik… bangun…”
Sedangkan Tono duduk di depan dengan wajah tegang.
Tidak biasanya laki-laki itu terlihat setakut itu.
Saat sampai rumah sakit…
dokter langsung memeriksa Titik.
Teman-temannya menunggu di luar ruang IGD dengan wajah cemas.
Ahmad mondar-mandir seperti orang kehilangan arah.
“Kalau sampai kenapa-kenapa gimana…”
Muji menepuk pundaknya.
“Tenang.”
Namun semua sebenarnya sama paniknya.
Tak lama kemudian dokter keluar.
“Siapa keluarganya?”
Semua langsung berdiri.
“Belum ada Dok…”
“Pasien kelelahan dan stres berat. Tekanan darahnya turun.”
DEG.
Kalimat itu membuat semua terdiam.
“Dia harus istirahat total beberapa hari.”
Malam mulai turun.
Hujan gerimis membasahi halaman rumah sakit.
Titik akhirnya sadar perlahan.
Pandangan pertama yang ia lihat—
lampu putih rumah sakit.
Pandangan kedua—
Riyadi tertidur sambil duduk di kursi dekat ranjangnya.
Dan di sudut ruangan…
Tono sedang berdiri memandangi hujan dari jendela.
Titik mengernyit pelan.
“Aku… di mana…”
Riyadi langsung bangun.
“Titik!”
Tono spontan menoleh cepat.
“Kamu sadar?”
Titik mencoba duduk namun kepalanya langsung pusing.
“Pelan,” kata Riyadi cepat sambil membantu menopang tubuhnya.
Dan entah kenapa…
pemandangan itu membuat wajah Tono berubah.
Dokter masuk memeriksa keadaan Titik.
“Kamu terlalu banyak pikiran.”
Titik tersenyum lemah.
“Iya Dok…”
“Anak muda jangan stres terus.”
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun justru membuat mata Titik berkaca-kaca.
Karena hanya dirinya yang tahu…
betapa lelah hatinya selama ini.
Malam itu Dwi datang membawa pakaian ganti.
“Kamu bikin kaget tau!”
“Maaf…”
Dwi duduk di pinggir ranjang.
“Kamu tuh dipikirin semua orang.”
Titik hanya tersenyum kecil.
Namun matanya tanpa sadar melihat ke arah Tono dan Riyadi yang duduk berjauhan.
Keduanya sama-sama diam.
Sama-sama menjaga.
Namun suasananya terasa dingin.
Beberapa jam kemudian…
Riyadi keluar membeli makanan.
Dan untuk pertama kalinya sejak Titik sadar…
ia hanya berdua dengan Tono di ruangan itu.
Suasana hening cukup lama.
Tono duduk perlahan di dekat ranjang.
“Kamu bikin takut.”
Titik memandang langit-langit kamar.
“Maaf.”
Tono menunduk.
“Aku kepikiran terus waktu kamu jatuh.”
Titik diam.
Lalu berkata pelan—
“Aku capek…”
Tono langsung menatapnya.
Capek apa?”
“Semua.”
Suasana mendadak sunyi.
Air mata Titik mulai jatuh perlahan.
“Aku capek hidup kayak diawasin terus…”
“Titik…”
“Aku capek takut teman-temanku disakitin…”
Suara Titik mulai pecah.
Dan untuk pertama kalinya…
Tono benar-benar terlihat terpukul.
“Aku cuma sayang sama kamu…”
Suara Tono lirih sekali.
“Tapi cara kamu bikin aku sesak.”
Kalimat itu menghantam keras hati Tono.
Ia menunduk cukup lama.
Lalu berkata pelan—
“Aku nggak pernah sayang sama cewek sampai segininya.”
“Tapi aku bukan barang yang harus dijaga terus.”
Tono memejamkan mata.
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya laki-laki paling ditakuti di STM itu terlihat kalah.
Bukan kalah karena berantem.
Namun kalah oleh perasaannya sendiri.
Tak lama kemudian Riyadi kembali membawa bubur hangat.
“Nih makan dulu.”
Titik langsung tersenyum kecil.
“Repot banget…”
“Nggak apa-apa.”
Riyadi membuka plastik makanan pelan.
Dan seperti biasa…
ia melakukan semuanya dengan tenang.
Tanpa banyak bicara.
Tanpa menuntut apa pun.
Tono yang melihat hanya diam.
Tatapannya sulit dijelaskan.
Ada cemburu.
Ada marah.
Namun juga ada rasa kalah yang tidak bisa ia sembunyikan.
Malam semakin larut.
Dwi akhirnya pulang ke kos.
Sedangkan Ahmad dan yang lain sudah lebih dulu pulang.
Tersisa Riyadi dan Tono yang masih bertahan menjaga Titik.
Dua laki-laki dengan cara mencintai yang sangat berbeda.
Yang satu mencintai dengan tenang.
Yang satu mencintai dengan rasa memiliki berlebihan.
Dan Titik…
terjebak di tengah semuanya.
Sekitar jam dua malam…
Titik terbangun dan melihat Riyadi tertidur sambil duduk dengan kepala bersandar ke dinding.
Sedangkan Tono masih terjaga di dekat jendela.
“Ton…”
Tono menoleh.
“Kamu belum tidur?”
“Belum.”
“Kenapa?”
Tono tersenyum tipis.
“Aku takut kamu kenapa-kenapa lagi.”
Titik memandang laki-laki itu cukup lama.
Dan untuk pertama kalinya…
ia melihat sisi rapuh dalam diri Tono.
Sisi yang selama ini tertutup oleh sikap galak dan kerasnya.
Namun tetap saja…
rasa sesak itu belum hilang dari hatinya.
Pagi harinya Bu Yati datang dari kampung setelah mendapat kabar.
Saat melihat Titik terbaring lemah…
mata ibunya langsung berkaca-kaca.
“Ya Allah anak ibu…”
Titik langsung memeluk ibunya sambil menangis.
“Aku nggak apa-apa Bu…”
Bu Yati mengusap rambutnya lembut.
“Kamu terlalu banyak pikiran ya…”
Titik tidak menjawab.
Karena kalau ia jujur…
hatinya memang sedang sangat lelah.
Sebelum pulang…
Bu Yati sempat berbicara dengan Tono dan Riyadi di luar ruangan.
“Ibu terima kasih kalian sudah jagain Titik.”
Riyadi mengangguk sopan.
“Udah kewajiban Bu.”
Sedangkan Tono berdiri diam dengan wajah serius.
Bu Yati menatap mereka bergantian.
Dan entah kenapa…
seorang ibu selalu bisa merasakan sesuatu yang tidak terlihat.
Ia bisa melihat—
kedua laki-laki itu sama-sama menyayangi anaknya.
Namun dengan cara yang sangat berbeda.
Dan jauh di dalam hati…
Bu Yati mulai takut.
Karena cinta yang terlalu besar…
kadang justru bisa melukai orang yang dicintai.
BAB XIII
BONEKA PANDA DI BULAN DESEMBER
“Ada Hati yang Menunggu dengan Sabar, Saat Aku Sibuk Mengejar Luka”
Setelah keluar dari rumah sakit…
hidup Titik perlahan berubah lagi.
Ia mulai lebih banyak diam.
Lebih sering memikirkan dirinya sendiri.
Dan mulai sadar…
bahwa selama ini ia terlalu memikirkan perasaan semua orang sampai lupa menjaga hatinya sendiri.
Namun satu hal yang tidak berubah—
Tono masih tetap ada.
Dan semakin hari…
laki-laki itu justru semakin dekat dengannya.
Tono berubah banyak setelah kejadian rumah sakit.
Ia tidak lagi terlalu sering marah di depan Titik.
Tidak lagi membentak teman-temannya secara terang-terangan.
Bahkan mulai mencoba lebih sabar.
Walaupun sifat posesifnya belum benar-benar hilang.
Suatu sore Titik duduk di taman Umbul sendirian.
Langit sore terlihat indah.
Anak-anak kecil bermain di dekat kolam.
Sedangkan daun-daun pohon bergerak pelan tertiup angin.
Tiba-tiba suara motor berhenti di belakangnya.
Tono datang sambil membawa dua gelas es teh.
“Nih.”
Titik menerimanya pelan.
“Makasih.”
Tono duduk di sampingnya.
Untuk beberapa saat mereka diam.
Lalu Tono berkata pelan—
“Aku lagi belajar.”
“Belajar apa?”
“Belajar nggak bikin kamu sesak.”
Titik langsung menoleh.
Dan entah kenapa…
kalimat sederhana itu membuat hatinya sedikit hangat.
“Aku emang keras kepala,” lanjut Tono.
“Tapi aku serius sayang sama kamu.”
Titik menunduk.
“Kadang aku takut…”
“Tono?”
“Iya?”
“Kalau suatu hari aku nggak bisa jadi seperti yang kamu mau.”
Tono langsung menjawab cepat—
“Aku nggak pengen kamu berubah.”
“Terus kenapa sering ngatur aku?”
Tono terdiam.
Dan lagi-lagi…
ia tidak punya jawaban.
Walaupun begitu…
perlahan Titik mulai mencoba memahami Tono.
Karena di balik sifat kerasnya…
laki-laki itu memang tulus.
Ia selalu ada saat Titik sakit.
Selalu datang saat Titik sedih.
Dan selalu berusaha menjaga walaupun caranya salah.
Namun di sisi lain…
hubungan Titik dengan sahabat-sahabatnya mulai berubah.
Mereka masih berteman.
Masih ngobrol.
Masih bercanda.
Namun tidak lagi seakrab dulu.
Kini ada jarak yang samar.
Dan Titik bisa merasakannya.
Suatu sore di kelas…
Ahmad berkata sambil bercanda—
“Sekarang Titik susah diajak nongkrong.”
“Apaan sih…”
Muji ikut nimbrung.
“Iya sekarang sibuk sama senior galak.”
Titik tersenyum hambar.
“Enggak juga.”
Namun Riyadi yang duduk di dekat jendela hanya diam.
Dan diamnya itu…
lebih menyakitkan dibanding semua candaan teman-temannya.
Sepulang sekolah…
Titik akhirnya memberanikan diri menghampiri Riyadi.
“Yadi.”
“Hm?”
“Kamu marah sama aku?”
Riyadi menggeleng pelan.
“Nggak.”
“Bohong.”
Riyadi tersenyum kecil.
“Aku cuma lagi banyak pikiran.”
“Tentang apa?”
Riyadi memandang halaman sekolah cukup lama sebelum menjawab—
“Kadang orang harus tahu kapan mundur.”
DEG.
Hati Titik langsung terasa nyeri.
“Maksud kamu apa…”
Riyadi tertawa kecil.
“Nggak ada.”
Namun Titik tahu…
ada sesuatu yang perlahan berubah di antara mereka.
Hari demi hari berlalu.
Dan tanpa terasa…
bulan Desember datang.
Bulan yang dingin.
Bulan hujan.
Dan bulan ulang tahun Titik.
Pagi itu kelas mendadak ribut.
Saat Titik masuk…
lampu kelas mati.
“Loh kenapa gelap?”
Tiba-tiba—
“SELAMAT ULANG TAHUNNN!”
Satu kelas langsung berteriak keras.
Titik spontan kaget.
“ASTAGA!”
Ahmad membawa roti kecil.
Muji meniup terompet.
Sedangkan Aris malah salah nyanyi.
“Panjang umurnyaaaaa—”
“WOY NADA LU SALAH!”
Satu kelas ngakak.
Titik sampai tertawa sambil menutup wajahnya.
“Kalian apaan sih…”
Namun jauh di dalam hati…
ia bahagia.
Karena untuk pertama kalinya ulang tahunnya dirayakan seramai itu.
Saat suasana mulai tenang…
tiba-tiba seseorang muncul di depan pintu kelas.
Tono.
Satu kelas langsung bersorak heboh.
“WOOOOOO!”
“PAHLAWAN DATANG!”
Tono berjalan masuk sambil membawa kantong kecil warna coklat.
Tatapannya langsung tertuju pada Titik.
“Selamat ulang tahun.”
Suasana kelas langsung berubah jadi stadion.
Ahmad sampai berdiri di atas meja.
“CIUM! CIUM! CIUM!”
“WOY GILA!”
Titik langsung malu setengah mati.
Tono hanya tersenyum tipis lalu menyerahkan kantong itu.
Titik membukanya perlahan.
Dan di dalamnya…
ada boneka panda kecil warna coklat.
Lucu.
Sederhana.
Namun entah kenapa…
langsung membuat hati Titik hangat.
“Lucu…”
Tono mengusap tengkuknya sendiri malu-malu.
“Aku lihat itu kemarin… terus kepikiran kamu.”
Titik memegang boneka itu pelan.
“Makasih…”
Lalu Tono berkata pelan—
“Kalau suatu hari kamu nggak bisa balas perasaanku…”
Suasana mendadak hening.
“…aku tetap mau jadi teman baikmu.”
DEG.
Kalimat itu membuat hati Titik bergetar aneh.
Karena untuk pertama kalinya…
Tono tidak terdengar menuntut.
Tidak terdengar memaksa.
Hanya tulus.
Sepulang sekolah…
Titik duduk sendiri di kamar kos sambil memeluk boneka panda kecil itu.
Dwi langsung duduk di sampingnya.
“Wih lucu banget.”
“Iya…”
“Tono ngasih?”
Titik mengangguk.
Dwi memperhatikan wajah sahabatnya beberapa detik.
“Kamu mulai suka ya sama dia…”
Titik terdiam cukup lama.
Sangat lama.
Lalu menjawab pelan—
“…aku mulai kasihan.”
“Kasihan?”
“Dia sayang banget sama aku.”
Dwi menghela napas kecil.
“Cinta karena kasihan itu bahaya, Tik.”
Kalimat itu langsung membuat Titik diam.
Karena jauh di dalam hati…
ia sendiri masih bingung membedakan mana rasa nyaman, mana rasa iba, dan mana cinta yang sebenarnya.
Malam itu hujan turun deras di Klaten.
Titik duduk dekat jendela sambil memandangi boneka panda kecil di pangkuannya.
Dan tanpa sadar…
senyum kecil muncul di wajahnya.
Mungkin…
ia memang mulai membuka sedikit ruang di hatinya untuk Tono.
Walaupun rasa itu belum benar-benar cinta.
Namun Titik belum tahu—
bahwa semakin ia mencoba menerima Tono…
semakin besar pula harga yang harus dibayar oleh persahabatan yang dulu begitu ia jaga.
BAB XIV
BURUNG YANG MULAI KEHILANGAN LANGIT
“Saat Cinta Perlahan Berubah Menjadi Sangkar”
Setelah ulang tahun itu…
hubungan Titik dan Tono semakin dekat.
Walaupun belum benar-benar resmi pacaran…
semua orang di sekolah mulai menganggap mereka memiliki hubungan khusus.
Dan anehnya…
Titik sendiri perlahan mulai terbiasa dengan kehadiran Tono.
Laki-laki itu selalu muncul di hidupnya.
Mengantar makan.
Menunggu pulang sekolah.
Datang saat ia sakit.
Bahkan sering duduk diam menemaninya tanpa banyak bicara.
Namun di balik semua perhatian itu…
ada sesuatu yang perlahan membuat Titik kehilangan dirinya sendiri.
Awalnya hanya hal kecil.
“Jangan pulang terlalu sore.”
“Jangan terlalu dekat sama anak-anak bengkel.”
“Kalau nongkrong kabarin.”
Titik masih menganggap itu wajar.
Namun lama-lama…
larangan itu semakin banyak.
Suatu sore di taman Umbul…
Titik sedang tertawa bersama Ahmad, Muji, Aris, dan Riyadi.
Mereka membahas guru yang salah masuk kelas pagi tadi.
“Terus pak guru bilang— eh salah kelas!”
Satu kelompok langsung ngakak.
Titik sampai memegangi perutnya karena terlalu banyak tertawa.
Dan tepat saat itulah…
motor Tono berhenti di dekat mereka.
Suasana langsung berubah.
Tono melepas helm pelan.
Tatapannya langsung tertuju pada Riyadi yang duduk dekat Titik.
“Belum pulang?”
Nada suaranya datar.
Namun cukup membuat semua orang diam.
“Masih santai,” jawab Ahmad mencoba mencairkan suasana.
Tono tidak menjawab.
Matanya tetap tertuju pada Titik.
“Aku nyariin kamu dari tadi.”
“Oh…”
“Kok nggak bilang nongkrong di sini?”
Titik mulai merasa tidak nyaman.
“Dadakan…”
Tono menghela napas kecil.
“Ayo pulang.”
Suasana mendadak canggung.
Padahal sebelumnya mereka sedang tertawa lepas.
Kini semua berubah sunyi.
Dalam perjalanan pulang…
Titik akhirnya bicara.
“Kamu kenapa sih?”
“Kenapa apa?”
“Kalau datang suasana langsung jadi nggak enak.”
Tono terdiam beberapa detik.
“Mereka terlalu dekat sama kamu.”
“Mereka sahabatku.”
“Aku tahu.”
“Terus?”
“Aku nggak suka.”
Kalimat itu langsung membuat Titik kesal.
“Kamu nggak bisa ngatur hidupku terus.”
“Aku cuma takut kehilangan.”
“Tapi caramu bikin aku sesak.”
Tono langsung diam.
Namun wajahnya jelas berubah.
Dan lagi-lagi…
Titik merasa seperti burung yang sayapnya mulai dipotong perlahan.
Hari-hari berikutnya keadaan makin rumit.
Tono mulai sering muncul tiba-tiba saat Titik bersama teman-temannya.
Kalau melihat Riyadi terlalu dekat…
raut wajahnya langsung berubah dingin.
Bahkan beberapa kali…
teman-teman Titik memilih pergi duluan agar tidak terjadi masalah.
Suatu siang di kantin…
Adi duduk di samping Titik sambil makan bakso.
“Kamu sekarang beda.”
Titik menoleh.
“Beda gimana?”
“Jarang ketawa lepas.”
Titik tersenyum hambar.
“Masih sama kok.”
Adi menggeleng pelan.
“Dulu kamu bebas.”
Kalimat itu menusuk hati Titik.
Karena ia sendiri mulai merasakannya.
Tono datang tak lama kemudian.
Dan seperti biasa…
suasana kantin langsung berubah sedikit tegang.
Adi berdiri santai.
“Gue duluan.”
Namun sebelum pergi…
ia sempat menepuk pundak Titik pelan.
“Hati-hati sama hidupmu sendiri.”
Kalimat itu membuat Tono menatap Adi tajam.
Sedangkan Titik hanya bisa diam.
Malamnya Titik menangis diam-diam di kamar kos.
Dwi yang melihat langsung duduk di dekatnya.
“Kamu kenapa lagi…”
“Aku capek…”
“Karena Tono?”
Titik mengangguk pelan.
“Dia baik.”
“Tapi?”
“Aku nggak bisa napas.”
Dwi langsung terdiam.
Dan beberapa detik kemudian berkata pelan—
“Kamu tahu nggak…?”
“Apa?”
“Cinta itu harusnya bikin tenang.”
Air mata Titik jatuh lagi.
“Kenapa hidupku selalu kayak gini…”
Hari-hari berikutnya Titik mulai lebih sering curhat pada Abdul.
Abdul adalah teman Tono yang sejak awal paling dewasa di antara mereka.
Sifatnya tenang.
Tidak banyak bicara.
Dan selalu bisa mendengarkan tanpa menghakimi.
Suatu sore setelah pulang sekolah…
Titik duduk di warung dekat terminal bersama Abdul.
“Aku bingung…”
Abdul menatapnya tenang.
“Karena Tono?”
“Iya.”
“Kalian berantem lagi?”
“Enggak.”
“Terus?”
Titik menunduk.
“Aku merasa dikekang.”
Abdul menghela napas kecil.
“Itu karena dia terlalu sayang.”
“Tapi aku bukan tahanan.”
Abdul tersenyum tipis.
“Aku ngerti.”
Titik langsung menatapnya.
“Serius?”
“Iya.”
“Terus aku harus gimana…”
Abdul diam cukup lama sebelum menjawab—
“Kamu harus tetap jadi dirimu sendiri.”
Kalimat sederhana itu justru membuat mata Titik mulai berkaca-kaca.
Karena hanya sedikit orang yang benar-benar memahami perasaannya.
“Aku kangen hidupku yang dulu…”
“Yang bebas?”
Titik mengangguk.
“Aku biasa berteman sama siapa aja.”
“Dan sekarang?”
“Aku takut kalau dekat sama siapa pun nanti mereka disakitin lagi.”
Abdul menatap jalanan cukup lama.
Lalu berkata pelan—
“Tono itu keras… tapi sebenernya dia takut.”
“Takut apa?”
“Kehilangan.”
Titik tersenyum pahit.
“Kenapa semua orang takut kehilangan aku… padahal aku sendiri aja kehilangan banyak hal.”
Abdul langsung diam.
Karena kalimat itu terdengar sangat sedih.
Malam itu Tono datang ke kos lagi.
Saat Titik keluar…
wajah laki-laki itu terlihat lelah.
“Kamu habis pergi sama Abdul?”
Titik langsung kesal.
“Kamu ngawasin aku?”
“Aku cuma lihat.”
“Kenapa sih semua harus kamu tahu?”
Tono mengusap wajahnya frustrasi.
“Aku cuma khawatir.”
“Khawatir atau curiga?”
Suasana mendadak hening.
Dan lagi-lagi…
percakapan mereka berubah jadi pertengkaran kecil.
“Aku capek selalu dicurigai.”
“Aku nggak curiga!”
“Terus kenapa semua orang yang dekat sama aku selalu jadi masalah?!”
Tono menatap Titik lama sekali.
Lalu berkata lirih—
“Karena aku takut nggak cukup buat kamu.”
Kalimat itu langsung membuat Titik membeku.
Untuk pertama kalinya…
ia melihat sisi rapuh yang sangat dalam dari laki-laki itu.
Ternyata di balik semua sifat galaknya…
Tono hanyalah seseorang yang takut ditinggalkan.
Namun tetap saja…
ketakutan itu perlahan berubah menjadi penjara.
Dan Titik mulai sadar—
ia sedang kehilangan langit tempatnya biasa terbang bebas.
Malam semakin larut.
Setelah Tono pergi…
Titik duduk sendirian di dekat jendela kamar kos.
Lampu kota terlihat redup terkena hujan.
Dan untuk pertama kalinya…
ia mulai bertanya pada dirinya sendiri—
“Apakah cinta memang harus sesakit ini?”
BAB XV
ABDUL, SOSOK YANG MENGINGATKANKU PADA AKANG
“Kadang yang Menenangkan Hati Bukan Kekasih, Melainkan Seseorang yang Mau Mendengar Tanpa Menghakimi”
Hari-hari Titik semakin rumit.
Hubungannya dengan Tono masih berjalan…
namun tidak benar-benar membuatnya bahagia.
Di depan semua orang mereka terlihat dekat.
Tono tetap perhatian.
Tetap setia menunggu.
Tetap menjaga Titik seperti sesuatu yang sangat berharga.
Namun di balik itu semua…
Titik perlahan kehilangan ruang bernapasnya sendiri.
Dan di saat hatinya mulai lelah…
Abdul hadir sebagai tempat paling nyaman untuk bercerita.
Abdul berbeda dari Tono.
Kalau Tono seperti api—
keras, panas, dan sulit ditebak.
Maka Abdul seperti hujan sore—
tenang, adem, dan menenangkan.
Ia tidak banyak bicara.
Namun selalu mendengarkan sampai selesai.
Tidak pernah memotong cerita.
Tidak pernah memaksa.
Dan mungkin…
itulah yang paling dibutuhkan Titik selama ini.
Suatu sore sepulang sekolah…
Titik duduk bersama Abdul di depan warung kecil dekat rel kereta.
Mereka membeli teh hangat dan gorengan.
Kereta lewat perlahan di depan mereka.
Suara rodanya menggema panjang.
“Aku iri sama kereta,” kata Titik tiba-tiba.
Abdul tersenyum kecil.
“Kenapa?”
“Dia tahu mau ke mana.”
Abdul tertawa pelan.
“Kamu lagi galau berat ya.”
Titik memandang langit senja.
“Kadang aku bingung sama hidupku sendiri.”
“Karena Tono?”
“Iya… dan semuanya.”
Abdul diam mendengarkan.
Dan seperti biasa…
ia membiarkan Titik bicara sampai puas.
“Tahu nggak…”
Titik menunduk sambil memainkan sedotan plastik.
“Aku tuh sebenarnya nggak butuh cowok posesif.”
“Terus?”
“Aku cuma pengen ada yang ngerti aku.”
Abdul mengangguk pelan.
“Dan Tono nggak ngerti?”
“Dia sayang… tapi terlalu takut kehilangan.”
Abdul tersenyum tipis.
“Karena kamu terlalu berarti buat dia.”
“Tapi aku capek dijaga kayak tahanan.”
Suasana hening beberapa detik.
Angin sore berembus pelan.
Dan Abdul akhirnya berkata—
“Kamu pernah ngomong soal Akang.”
DEG.
Nama itu langsung membuat hati Titik bergetar.
Akang.
Nama yang selalu tinggal diam-diam di sudut hati Titik.
Seseorang yang dulu hadir sebagai tempat paling nyaman sebelum pergi tanpa pamit.
Seseorang yang selalu membuat Titik merasa aman.
Dan anehnya…
sikap Abdul sering mengingatkannya pada sosok itu.
“Akang nggak pernah ngatur aku,” ucap Titik lirih.
“Tapi dia selalu ada.”
Abdul mendengarkan dengan tenang.
“Kalau aku sedih dia dengerin.”
“Kalau aku marah dia diem aja.”
“Kalau aku nangis dia cuma bilang… semuanya bakal baik-baik aja.”
Suara Titik mulai melemah.
Dan tanpa sadar matanya berkaca-kaca.
“Aku kangen dia…”
Abdul menatap Titik cukup lama.
Lalu berkata pelan—
“Mungkin dia pergi bukan karena mau ninggalin kamu.”
“Tapi dia pergi tanpa pamit…”
“Mungkin dia nggak sanggup pamit.”
Kalimat itu langsung membuat Titik diam.
Karena selama ini…
ia tidak pernah mencoba melihat dari sisi itu.
“Maksud kamu?”
Abdul tersenyum kecil.
“Kadang orang pergi bukan karena nggak sayang.”
“Tapi karena keadaan.”
Titik memandang jalanan kosong di depan mereka.
Dan untuk pertama kalinya…
hatinya sedikit tenang saat membicarakan Akang.
“Kamu tahu nggak?”
“Apa?”
“Kalau kamu cerita tentang Akang… mata kamu beda.”
Titik tersenyum kecil.
“Dia orang paling baik yang pernah aku kenal.”
Abdul tertawa pelan.
“Wah berat saingannya.”
“Apaan sih…”
“Mungkin makanya kamu susah jatuh cinta lagi.”
Kalimat itu membuat Titik terdiam cukup lama.
Karena mungkin…
itu benar.
Sejak hari itu Titik semakin dekat dengan Abdul.
Bukan sebagai kekasih.
Bukan juga sebagai lelaki yang diam-diam ia sukai.
Namun lebih seperti tempat pulang saat hatinya lelah.
Dan anehnya…
Abdul pun perlahan mulai menganggap Titik seperti adiknya sendiri.
Suatu malam Titik menangis lagi karena bertengkar dengan Tono.
Ia langsung menemui Abdul di depan kos.
Abdul yang baru pulang kerja sampingan langsung panik.
“Eh kenapa?”
“Tono lagi…”
Abdul menghela napas kecil.
“Berantem apa sekarang?”
“Dia marah karena aku ngobrol sama Adi.”
“Ya ampun…”
Titik duduk di bangku depan kos sambil menghapus air mata.
“Aku capek Dul…”
Abdul duduk di sampingnya.
“Denger ya.”
“Apa…”
“Kamu nggak boleh kehilangan dirimu sendiri cuma karena cinta.”
Kalimat itu langsung membuat Titik menoleh.
“Kalau orang sayang sama kamu…”
“…dia harusnya bikin kamu jadi lebih hidup, bukan malah takut.”
Air mata Titik jatuh lagi.
Karena itu tepat sekali dengan apa yang ia rasakan.
“Aku pengen bebas…”
“Kamu memang harus bebas.”
“Tapi aku takut nyakitin dia.”
Abdul tersenyum tipis.
“Kadang mencintai seseorang nggak harus memiliki sepenuhnya.”
“Tono nggak ngerti itu.”
“Mungkin karena dia terlalu muda untuk memahami cinta.”
Titik tertawa kecil di sela tangisnya.
“Kamu ngomong kayak orang tua.”
“Memang aku dewasa.”
“Lebay.”
Untuk pertama kalinya malam itu…
Titik tertawa lagi.
Dan Abdul merasa lega melihatnya.
Beberapa hari kemudian…
Bu Yati datang menjenguk Titik ke kos.
Dan tanpa sengaja bertemu Abdul.
“Ibu sering dengar nama kamu.”
Abdul langsung sopan.
“Eh… saya Abdul Bu.”
Bu Yati tersenyum hangat.
“Terima kasih ya sudah sering jagain Titik.”
“Enggak Bu… kebetulan aja.”
Namun seorang ibu selalu bisa membaca sesuatu.
Bu Yati melihat bagaimana Abdul memperlakukan anaknya.
Tidak berlebihan.
Tidak posesif.
Namun tulus menjaga.
Dan sejak hari itu…
Bu Yati mulai percaya pada Abdul.
Sore sebelum Bu Yati pulang kampung…
ia sempat bicara pelan pada Abdul.
“Tolong jagain Titik ya.”
Abdul sedikit terkejut.
“Bu…”
“Dia keras kepala… tapi hatinya lembut.”
Abdul tersenyum kecil.
“Iya Bu.”
Dan tanpa sadar…
kalimat sederhana itu membuat hubungan Abdul dan Titik berubah perlahan.
Bukan menjadi cinta.
Namun menjadi ikatan yang jauh lebih dalam—
seperti kakak dan adik yang saling menjaga.
Malamnya Titik duduk bersama Abdul di depan warung lagi.
“Kamu tahu nggak…”
“Apa?”
“Ibu suka sama kamu.”
Abdul tertawa kecil.
“Syukur.”
“Dia bilang kamu cocok jadi kakakku.”
Abdul menoleh sambil tersenyum.
“Boleh nggak?”
Titik langsung diam.
Angin malam berembus pelan.
Dan entah kenapa…
dadanya terasa hangat mendengar kalimat itu.
“Walaupun Akang nggak tergantikan…”
“…aku mau jadi kakak yang baik buat kamu.”
Air mata Titik tiba-tiba jatuh begitu saja.
Bukan karena sedih.
Namun karena untuk pertama kalinya sejak kehilangan Akang…
ia merasa menemukan kembali seseorang yang mampu membuatnya merasa aman.
Dan malam itu…
persahabatan mereka dimulai dengan sangat sederhana.
Di bawah lampu jalan kecil.
Di antara suara kendaraan yang lewat.
Dan di tengah hati Titik yang perlahan mulai belajar sembuh kembali.
BAB XVI
AKU BUKAN BURUNG DALAM SANGKAR
“Semakin Dicintai, Semakin Aku Kehilangan Diriku Sendiri”
Hubungan Titik dan Abdul semakin dekat setelah pertemuan Bu Yati itu.
Kini Titik benar-benar menganggap Abdul sebagai kakaknya sendiri.
Tempat curhat.
Tempat mengadu.
Dan satu-satunya orang yang bisa membuat pikirannya tenang saat hidup mulai terasa melelahkan.
Berbeda dengan Tono…
Abdul tidak pernah memaksa.
Tidak pernah melarang.
Tidak pernah marah kalau Titik pergi bersama teman-temannya.
Dan mungkin karena itulah…
Titik merasa sangat nyaman berada di dekatnya.
Nyaman seperti saat dulu bersama Akang.
Namun justru kedekatan itu…
perlahan membuat Tono semakin gelisah.
Suatu sore di sekolah…
Titik sedang duduk di kantin bersama Abdul sambil makan mie rebus.
Mereka tertawa membahas tingkah Ahmad yang salah memakai sepatu kanan kiri pagi tadi.
“Dia tuh bisa hidup tanpa malu ya,” kata Titik sambil tertawa.
Abdul ikut ngakak.
“Kalau malu bukan Ahmad namanya.”
Tiba-tiba suara kursi bergeser cukup keras.
Tono datang.
Wajahnya datar.
Namun matanya dingin.
“Seru banget.”
Suasana langsung berubah.
Titik langsung tahu—
Tono sedang cemburu lagi.
“Kamu nyariin aku?” tanya Titik pelan.
“Iya.”
“Kenapa?”
Tono menatap Abdul sekilas.
“Nggak apa.”
Abdul langsung berdiri santai.
“Gue tinggal dulu.”
Namun sebelum pergi…
ia sempat menepuk pundak Tono pelan.
“Jangan marah-marah terus.”
Tono tidak menjawab.
Tatapannya tetap dingin.
Setelah Abdul pergi…
suasana kantin mendadak terasa sesak.
“Kamu sekarang sering sama Abdul.”
Nada suara Tono terdengar pelan.
Namun jelas penuh tekanan.
“Dia kakakku.”
“Sejak kapan?”
“Sejak aku nyaman cerita sama dia.”
Tono tertawa kecil hambar.
“Nyaman ya…”
“Tono…”
“Aku pacarmu atau bukan sih?”
Pertanyaan itu membuat Titik langsung lelah.
“Kenapa semua harus dipermasalahkan…”
“Aku cuma nggak suka.”
“Tapi Abdul nggak pernah macam-macam!”
“Tetep aja aku nggak nyaman.”
Kalimat itu langsung membuat emosi Titik naik.
“TERUS AKU HARUS GIMANA?!”
Suara Titik cukup keras sampai beberapa siswa menoleh.
“Aku nggak boleh punya teman cowok?”
“Aku nggak boleh dekat sama sahabatku?”
“Sekarang aku bahkan nggak boleh cerita sama orang yang aku anggap kakak?!”
Tono langsung diam.
Sedangkan napas Titik mulai tidak teratur.
“Aku capek hidup kayak gini…”
Untuk beberapa detik…
suasana hanya dipenuhi suara napas mereka.
“Aku cuma takut kehilangan kamu.”
Lagi.
Kalimat itu lagi.
Dan entah kenapa…
kali ini justru membuat Titik semakin sedih.
“Kenapa sih semua orang selalu takut kehilangan aku…”
“…padahal aku sendiri aja sering kehilangan orang yang aku sayang.”
Tono menatap Titik cukup lama.
Namun tidak bisa menjawab.
Hari-hari berikutnya…
Titik mulai semakin sering merasa tertekan.
Ia tidak bisa bebas seperti dulu.
Kalau pergi harus bilang.
Kalau nongkrong harus laporan.
Kalau tidak membalas pesan…
Tono bisa marah seharian.
Suatu malam Titik duduk di depan kos bersama Abdul lagi.
Wajahnya kusut.
Matanya sembab habis menangis.
“Dia marah lagi?”
Titik mengangguk lemah.
“Karena apa sekarang…”
“Karena aku pergi sama Dwi dan anak-anak.”
Abdul menghela napas panjang.
“Itu bukan salahmu.”
“Tapi aku capek terus bertengkar.”
Abdul menatap Titik lama.
Lalu berkata pelan—
“Kamu tahu nggak…”
“Apa?”
“Kamu sekarang nggak sebahagia dulu.”
Kalimat itu langsung menusuk hati Titik.
Karena ia sendiri sadar akan hal itu.
“Aku kangen diriku yang dulu…”
Suara Titik lirih sekali.
“Yang bisa ketawa bebas.”
“Yang bisa nongkrong sampai sore.”
“Yang bisa main sama siapa aja tanpa takut ada yang marah.”
Air matanya jatuh lagi.
“Aku kayak burung dalam sangkar…”
Abdul diam mendengarkan.
Dan beberapa detik kemudian berkata—
“Kalau kamu memang merasa terkekang…”
“…jangan paksa dirimu bertahan.”
Titik langsung menoleh.
“Tapi aku nggak mau nyakitin dia.”
“Kalau terus begini yang sakit malah kamu.”
Kalimat itu membuat Titik terdiam lama.
Malam semakin larut.
Lampu jalan mulai redup.
Dan Titik masih duduk diam sambil memeluk lututnya.
“Aku takut sendirian lagi…”
Abdul tersenyum tipis.
“Kamu nggak sendiri.”
“Ada kamu?”
“Ada.”
“Janji?”
Abdul mengangguk pelan.
“Merpati nggak akan ingkar janji.”
DEG.
Kalimat itu langsung membuat Titik membeku.
Karena itu adalah kalimat yang dulu sering ia ucapkan tentang Akang.
Tentang seseorang yang pergi tanpa pamit namun masih ia tunggu diam-diam.
“Kamu tahu kalimat itu dari mana…”
Abdul tersenyum kecil.
“Kamu pernah cerita.”
Titik memandang langit malam.
Dan entah kenapa…
hatinya terasa sangat hangat sekaligus sedih.
Hari berikutnya di sekolah…
Titik kembali berkumpul dengan teman-temannya di taman Umbul.
Sudah lama mereka tidak nongkrong lengkap seperti dulu.
Ada Ahmad.
Muji.
Aris.
Yono.
Riyadi.
Dwi.
Dan beberapa teman lain.
Suasana kembali ramai.
Mereka tertawa sampai sore.
Membahas guru.
Membahas masa depan.
Membahas mimpi-mimpi absurd mereka.
Dan untuk beberapa jam…
Titik merasa hidup kembali.
“Kalau nanti sukses jangan lupa traktir kita!” teriak Ahmad.
“Tergantung suksesnya apa dulu.”
“Kalau jadi artis?”
“Ogah.”
Muji langsung nyeletuk—
“Kalau jadi ratu STM nasional?”
Satu kelompok langsung ngakak.
Riyadi yang duduk dekat Titik hanya tersenyum kecil sambil memperhatikan wajah gadis itu.
Dan dalam hati…
ia lega melihat Titik tertawa lagi seperti dulu.
Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama.
Karena dari kejauhan…
motor Tono mulai terlihat mendekat.
Dan seketika…
senyum di wajah Titik perlahan memudar lagi.
Ia tahu—
setelah ini semuanya pasti berubah kembali.
BAB XVII
MALAM DI MALIOBORO
“Di Tengah Lampu Kota dan Tawa Persahabatan, Aku Hampir Lupa Rasanya Dikekang”
Malam di Klaten terasa lebih dingin dari biasanya.
Hujan sore yang turun sejak siang menyisakan aroma tanah basah yang memenuhi udara.
Di kamar kos kecil mereka, suasana ramai seperti pasar.
Dwi sibuk memilih baju di depan cermin.
Tina heboh meminjam sisir.
Sedangkan Siti duduk tenang di sudut kamar sambil melipat jilbabnya pelan.
Dan di tengah semua keributan itu…
Titik hanya duduk di kasur sambil memandangi jendela.
Melamun.
“WOI!”
Dwi melempar bantal ke arah Titik.
“Kamu jadi ikut nggak sih?”
“Hah?”
“Ya Allah… ngelamun lagi.”
Tina langsung ikut nimbrung.
“Udah cantik malah murung terus.”
Titik tersenyum kecil.
“Jadi…”
“YA JADI!”
“Kalau nggak jadi aku pake jaketmu.”
“Eh jangan!”
Satu kamar langsung tertawa.
Malam itu mereka memang sudah berencana pergi ke Malioboro bersama.
Bukan cuma anak-anak cewek.
Namun juga Ahmad, Muji, Aris, Yono, Riyadi, Adi, dan beberapa teman lain.
Rencana yang sebenarnya sudah lama mereka buat.
Dan entah kenapa…
Titik sangat menunggu malam itu.
Karena sudah lama ia tidak benar-benar merasa bebas.
Sekitar jam tujuh malam mereka berkumpul di stasiun kecil dekat Klaten.
Suasana ramai.
Lampu-lampu stasiun menyala kekuningan.
Pedagang kopi keliling mondar-mandir.
Dan suara kereta sesekali terdengar dari kejauhan.
Ahmad datang paling heboh.
“ROMBONGAN ORANG GANTENG DATANG!”
Muji langsung menyenggolnya.
“Turun dulu gantengnya baru ngomong.”
Satu kelompok langsung ngakak.
Riyadi datang terakhir sambil membawa plastik makanan.
“Nih buat di jalan.”
Titik langsung tersenyum.
“Kamu selalu bawa makanan ya.”
“Daripada nanti kamu lapar.”
Ahmad langsung pura-pura muntah.
“CIE PERHATIAN.”
“WOY.”
Titik tertawa kecil.
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tawanya terdengar benar-benar lepas.
Kereta akhirnya datang.
Suara remnya memekakkan telinga.
Mereka semua naik sambil bercanda dan saling dorong.
“WOY JANGAN DESAK-DESAK!”
“MUJI KAKIKU!”
“AHMAD TURUN LU!”
Suasana gerbong langsung penuh suara tawa mereka.
Penumpang lain sampai ikut tersenyum melihat tingkah anak-anak STM itu.
Titik duduk di dekat jendela bersama Dwi.
Sedangkan Riyadi duduk di depannya.
Ahmad, Muji, dan yang lain sibuk bercanda di belakang.
Kereta mulai berjalan perlahan meninggalkan Klaten.
Lampu-lampu kota bergerak mundur dari balik kaca.
Angin malam masuk lewat jendela yang sedikit terbuka.
Dan entah kenapa…
hati Titik terasa jauh lebih ringan malam itu.
“Kamu senyum terus dari tadi,” kata Riyadi pelan.
Titik menoleh.
“Kelihatan ya?”
“Iya.”
“Jarang-jarang aku bisa keluar kayak gini lagi.”
Riyadi terdiam beberapa detik.
Lalu berkata pelan—
“Kalau bahagiamu sesederhana ini…”
“…kenapa harus hidup dalam tekanan?”
DEG.
Kalimat itu langsung membuat Titik diam.
Namun sebelum ia sempat menjawab…
Ahmad tiba-tiba berteriak dari belakang—
“WOI FOTO-FOTO!”
Suasana kembali ricuh.
Dan percakapan itu terpotong begitu saja.
Malioboro malam itu begitu ramai.
Lampu jalan menyala indah.
Pedagang kaki lima berjejer panjang.
Suara musik jalanan bercampur suara kendaraan dan tawa wisatawan.
Begitu turun dari kereta…
Ahmad langsung membuka tangan lebar-lebar.
“AKU DATANG WAHAI DUNIA!”
“Maluuuu…” kata Siti pelan.
“Biarin!”
Titik tertawa sampai memegangi perut.
Dan malam itu…
ia merasa seperti kembali menjadi dirinya sendiri.
Mereka berjalan bersama menyusuri Malioboro.
Kadang berhenti melihat gantungan kunci.
Kadang mencoba topi lucu.
Kadang rebutan beli bakpia murah.
Tina paling heboh.
“Tik! Tik! Lucu nggak?!”
Tina memakai kacamata hitam jumbo.
“Kayak nyamuk.”
“WOY!”
Satu kelompok langsung tertawa keras.
Adi berjalan di samping Titik sambil membawa kantong belanjaan.
“Kamu sekarang udah ketawa lagi.”
“Iya…”
“Bagus.”
Titik tersenyum kecil.
“Makasih.”
Adi meliriknya sebentar.
“Kamu tahu nggak?”
“Apa?”
“Banyak orang suka sama kamu bukan cuma karena cantik.”
“Terus?”
“Karena kamu bikin suasana hidup.”
Kalimat itu membuat Titik sedikit terdiam.
Namun sebelum ia sempat menjawab—
tiba-tiba suara motor terdengar berhenti tidak jauh dari mereka.
Dan entah kenapa…
jantung Titik langsung berdegup tidak tenang.
Tono datang.
Sendirian.
Dengan wajah datar.
Suasana kelompok mereka mendadak berubah.
Ahmad yang tadi heboh langsung diam.
Muji pura-pura melihat pedagang.
Sedangkan Riyadi hanya menatap jalan lurus ke depan.
Tono berjalan mendekat.
“Kamu nggak bilang pergi ke sini.”
Nada suaranya pelan.
Namun cukup membuat Titik kembali merasa sesak.
“Aku pergi sama teman-teman…”
“Aku tahu.”
Tatapan Tono beralih ke Riyadi dan Adi beberapa detik.
Lalu kembali ke Titik.
“Kenapa nggak ngajak aku?”
Titik menghela napas pelan.
“Karena ini rencana anak-anak.”
Tono diam.
Dan suasana kembali menjadi canggung.
Ahmad akhirnya mencoba mencairkan suasana.
“Ton mau gabung nggak?”
Tono menoleh sebentar.
Lalu mengangguk kecil.
Dan akhirnya…
mereka berjalan bersama.
Namun suasananya tidak lagi sebebas tadi.
Kini semua seperti menjaga jarak.
Mereka berhenti di angkringan dekat ujung Malioboro.
Lampu remang-remang.
Aroma kopi dan sate usus memenuhi udara malam.
Titik duduk di tengah Dwi dan Siti.
Sedangkan Tono duduk tepat di depannya.
Tatapannya nyaris tidak lepas dari Titik.
Dan itu membuat Titik kembali merasa tidak nyaman.
“Tik.”
“Hm?”
“Kamu tadi jalan sama Adi terus.”
Suara Tono pelan.
Namun cukup membuat meja mendadak hening.
Adi langsung meletakkan gelasnya.
“Kita cuma ngobrol.”
Tono tersenyum tipis.
“Aku nggak nanya kamu.”
Suasana mulai memanas.
Dan Titik langsung panik.
“Udah dong…”
Namun Tono tetap menatap Adi.
“Aku nggak suka.”
Adi tertawa kecil hambar.
“Lu tuh capek ya hidup penuh curiga.”
DEG.
Kalimat itu langsung membuat suasana dingin.
“Tono cukup.”
Suara Titik mulai terdengar lelah.
“Aku cuma pengen malam ini tenang.”
Tono menatapnya beberapa detik.
Dan akhirnya memilih diam.
Namun sejak saat itu…
suasana tidak benar-benar kembali seperti sebelumnya.
Sekitar jam sebelas malam…
mereka duduk di trotoar Malioboro sambil mendengarkan pengamen.
Lagu lawas Jawa terdengar pelan.
Lampu kota memantul indah di jalanan yang sedikit basah karena hujan sore tadi.
Dan di tengah suasana itu…
Titik mendadak merasa sangat sedih.
Padahal malam itu seharusnya menyenangkan.
“Kamu kenapa?” tanya Riyadi pelan yang duduk di sampingnya.
“Nggak apa…”
“Bohong.”
Titik tersenyum kecil.
“Aku cuma capek.”
Riyadi memandang keramaian Malioboro.
Lalu berkata pelan—
“Kalau kamu terus hidup buat nyenengin semua orang…”
“…kamu bakal kehilangan dirimu sendiri.”
Kalimat itu langsung menusuk hati Titik lagi.
Karena semakin lama…
semakin banyak orang mengatakan hal yang sama.
Di sisi lain…
Tono duduk diam memperhatikan mereka dari kejauhan.
Dan entah kenapa…
rasa takut kehilangan itu semakin besar dalam dirinya.
Ia takut suatu hari Titik benar-benar pergi.
Takut semua orang lebih bisa membuat Titik bahagia dibanding dirinya.
Dan ketakutan itu…
perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.
Malam semakin larut.
Kereta terakhir menuju Klaten akhirnya datang.
Mereka pulang dalam keadaan lelah.
Namun di dalam hati masing-masing…
ada sesuatu yang tidak lagi sama.
Dalam perjalanan pulang…
Titik memandangi lampu-lampu kota dari balik jendela kereta.
Ia teringat kata-kata Abdul.
“Kamu nggak boleh kehilangan dirimu sendiri cuma karena cinta.”
Lalu kata-kata Riyadi.
“Kalau bahagiamu sesederhana ini… kenapa harus hidup dalam tekanan?”
Dan entah kenapa…
air matanya jatuh diam-diam malam itu.
Karena untuk pertama kalinya…
ia mulai sadar—
ia memang sedang hidup di dalam sangkar yang perlahan menutup langitnya sendiri.
BAB XVIII
SAHABAT YANG PERLAHAN MENJAUH
“Kadang Kehilangan Tidak Terjadi Seketika, Tetapi Pelan-Pelan Sampai Kita Sadar Semuanya Sudah Berubah”
Setelah malam di Malioboro itu…
hubungan Titik dengan teman-temannya mulai terasa berbeda.
Bukan karena mereka membenci Titik.
Bukan juga karena mereka tidak peduli lagi.
Namun karena semua mulai lelah dengan suasana yang terus dipenuhi ketegangan.
Dan Titik…
merasakan perubahan itu sedikit demi sedikit.
Pagi di STM Klaten masih sama seperti biasanya.
Suara mesin praktik terdengar dari bengkel.
Anak-anak kelas lain berteriak-teriak di lapangan.
Dan aroma oli bercampur debu memenuhi udara sekolah.
Namun bagi Titik…
suasana itu tidak lagi sehangat dulu.
Saat masuk kelas…
Ahmad memang masih bercanda.
Muji masih suka usil.
Aris masih tidur saat jam kosong.
Namun semuanya terasa seperti ada jarak tak terlihat.
Dan yang paling terasa—
mereka tidak lagi sebebas dulu saat bersama Titik.
“Eh nanti sore nongkrong nggak?” tanya Titik suatu pagi.
Ahmad dan Muji saling pandang sebentar.
“Lihat nanti deh…”
Jawaban itu sederhana.
Namun cukup membuat hati Titik terasa aneh.
Karena dulu…
mereka selalu semangat kalau diajak berkumpul.
Riyadi yang duduk di dekat jendela hanya diam sambil menulis sesuatu di buku.
Titik memperhatikannya beberapa detik.
Laki-laki itu sekarang jauh lebih pendiam.
Tidak lagi sering menggoda seperti dulu.
Tidak lagi sering menawarkan pulang bersama.
Dan entah kenapa…
itu membuat hati Titik semakin sedih.
Jam istirahat tiba.
Biasanya mereka makan bersama di kantin.
Namun kali ini Ahmad, Muji, Aris, dan Yono memilih makan di bengkel belakang.
Tinggal Titik, Dwi, dan Riyadi di kelas.
“Kok mereka jarang bareng lagi ya…” ucap Titik lirih.
Dwi menghela napas kecil.
“Mungkin lagi males rame-rame.”
Namun Riyadi tahu.
Semua bukan soal malas.
Semua hanya berusaha menghindari masalah baru dengan Tono.
“Titik.”
Suara Riyadi pelan.
“Hm?”
“Jangan terlalu dipikirin.”
“Tapi aku ngerasa kehilangan mereka…”
Riyadi tersenyum kecil.
“Kadang orang menjauh bukan karena nggak sayang.”
“Terus?”
“Karena keadaan bikin mereka harus begitu.”
Kalimat itu membuat Titik langsung terdiam.
Karena tanpa sadar…
hidupnya memang mulai memengaruhi semua orang di sekitarnya.
Sore harinya Titik sengaja datang ke rumah Riyadi.
Sudah lama ia tidak ke sana.
Halaman rumah itu masih sama.
Pohon mangga besar masih berdiri teduh.
Dan suara radio tua masih terdengar dari dalam rumah.
Ibunya Riyadi langsung tersenyum hangat saat melihatnya.
“Eh Titik.”
“Permisi Bu…”
“Ayo masuk.”
Namun saat masuk…
Titik langsung sadar suasana rumah itu tidak lagi sama.
Dulu…
setiap ia datang, Ahmad dan yang lain pasti sudah berkumpul di ruang tamu.
Sekarang rumah itu sepi.
Hanya Riyadi yang duduk sendiri sambil memperbaiki radio kecil.
“Kamu sendirian?”
“Iya.”
“Yang lain?”
“Main entah ke mana.”
Jawaban Riyadi terdengar santai.
Namun Titik tahu…
ia juga merasa kehilangan.
Titik duduk di sampingnya.
“Aku kangen dulu…”
Riyadi tertawa kecil.
“Dulu yang mana?”
“Yang rame.”
“Yang belajar kelompok tapi malah bercanda.”
“Yang Ahmad nyolong gorengan ibumu.”
Riyadi ikut tertawa pelan.
“Iya…”
Untuk beberapa detik…
mereka hanya diam sambil mengenang masa-masa itu.
Dan anehnya…
kenangan yang bahkan belum terlalu lama berlalu itu sekarang terasa sangat jauh.
“Titik.”
“Hm?”
“Kamu bahagia nggak sekarang?”
Pertanyaan itu datang tiba-tiba.
Dan langsung membuat Titik diam.
Sangat lama.
Ia mencoba menjawab.
Namun tidak ada kata yang benar-benar keluar.
Karena bahkan dirinya sendiri tidak tahu jawabannya.
“Aku…”
Riyadi menatapnya pelan.
“Kalau susah jawabnya… berarti kamu sebenarnya tahu.”
Kalimat itu membuat dada Titik terasa sesak.
Ia menunduk.
Lalu tanpa sadar air matanya jatuh.
“Aku capek Yadi…”
Suara itu lirih sekali.
Riyadi mematung beberapa detik.
Lalu berkata pelan—
“Kenapa nggak berhenti?”
“Aku takut nyakitin dia…”
“Kalau terus begini yang rusak malah kamu.”
Titik menutup wajahnya.
Tangisnya pecah perlahan.
Dan Riyadi…
hanya bisa duduk diam di sampingnya.
Ia ingin memeluk Titik.
Ingin bilang kalau semua akan baik-baik saja.
Namun ia sadar…
ia bukan orang yang punya hak untuk itu.
Karena sejak awal…
Titik hanya menganggapnya sahabat.
“Aku pengen semuanya balik kayak dulu…”
Riyadi tersenyum pahit.
“Dulu nggak akan balik, Tik.”
Titik langsung menoleh.
“Maksud kamu?”
“Hidup terus jalan.”
“Kita juga berubah.”
Kalimat itu begitu sederhana.
Namun terasa sangat menyakitkan.
Karena memang benar—
mereka semua sedang berubah.
Sore itu mereka duduk lama di teras rumah.
Membicarakan banyak hal.
Tentang sekolah.
Tentang masa depan.
Tentang mimpi masing-masing.
Dan untuk sesaat…
Titik merasa nyaman lagi seperti dulu.
Tanpa tekanan.
Tanpa rasa takut.
Tanpa harus menjelaskan dirinya pada siapa pun.
Namun kebahagiaan kecil itu kembali runtuh saat suara motor berhenti di depan rumah.
Tono datang.
Wajahnya langsung berubah saat melihat Titik duduk bersama Riyadi.
“Aku nyariin kamu.”
Nada suaranya datar.
Namun cukup membuat suasana kembali dingin.
Titik langsung menghela napas lelah.
“Aku cuma main.”
“Kamu nggak bilang.”
“Aku nggak harus laporan terus kan?”
Tono diam.
Namun matanya langsung tertuju pada Riyadi.
Dan suasana mendadak sesak lagi.
Riyadi akhirnya berdiri pelan.
“Gue masuk dulu.”
Titik spontan menahannya.
“Yadi…”
“Nggak apa.”
Namun sebelum masuk rumah…
Riyadi sempat berkata pelan tanpa melihat Tono—
“Jangan bikin dia kehilangan dirinya sendiri.”
DEG.
Kalimat itu membuat Tono langsung menatap tajam.
Sedangkan Titik membeku di tempat.
Dalam perjalanan pulang…
Titik dan Tono kembali bertengkar kecil.
“Kamu masih sering ke rumah dia.”
“Karena dia sahabatku!”
“Tapi dia suka sama kamu.”
“Kenapa sih kamu selalu mikir begitu?!”
“Karena aku nggak buta!”
Suara Tono mulai meninggi.
Dan lagi-lagi…
Titik merasa seperti sedang diadili.
“Aku capek dicurigai terus!”
“Aku cuma takut!”
“TAKUT ATAU MAU NGUASAIN HIDUPKU?!”
Motor mendadak berhenti di pinggir jalan.
Suasana malam terasa sunyi.
Hanya ada suara jangkrik dan kendaraan dari kejauhan.
Tono memejamkan mata beberapa detik.
Lalu berkata lirih—
“Aku nggak tahu cara mencintai tanpa takut kehilangan.”
Kalimat itu membuat Titik mendadak diam.
Karena di balik semua sifat buruknya…
Tono memang benar-benar mencintainya.
Dan justru itu yang membuat semuanya semakin rumit.
Malam itu setelah sampai kos…
Titik duduk sendiri di depan cermin.
Wajahnya terlihat lelah.
Matanya sembab.
Dan untuk pertama kalinya…
ia mulai tidak mengenali dirinya sendiri.
Dulu ia adalah gadis tomboy yang bebas tertawa dengan siapa saja.
Sekarang…
ia bahkan takut membuat seseorang marah hanya karena berbicara dengan temannya sendiri.
Dwi yang melihatnya akhirnya duduk di sampingnya.
“Kamu nangis lagi…”
Titik tersenyum kecil pahit.
“Aku lelah.”
“Kalau lelah kenapa nggak berhenti?”
Pertanyaan itu lagi.
Pertanyaan yang sebenarnya sudah lama ada di kepalanya sendiri.
Namun ia selalu takut menjawabnya.
“Karena dia sayang sama aku…”
Dwi menghela napas pelan.
“Tapi kalau sayangnya bikin kamu kehilangan dunia kamu sendiri…”
“…itu masih cinta atau bukan?”
Kalimat itu membuat Titik terdiam lama sekali.
Sangat lama.
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya…
ia mulai takut kalau dirinya benar-benar akan hilang di dalam cinta yang terlalu besar itu.
BAB XIX
ROKOK, HUJAN, DAN HATI YANG MULAI RAPUH
“Ada Luka yang Tidak Berdarah, Tetapi Diam-Diam Menghancurkan Jiwa”
Musim hujan mulai datang di Klaten.
Langit lebih sering mendung.
Udara terasa dingin hampir setiap sore.
Dan entah kenapa…
suasana itu semakin membuat hati Titik terasa kosong.
Hari-harinya berjalan seperti biasa.
Sekolah.
Praktik.
Tugas.
Pulang.
Namun di balik rutinitas itu…
ada sesuatu dalam diri Titik yang perlahan berubah.
Ia semakin sering murung.
Lebih banyak diam.
Dan semakin mudah merasa lelah.
Hubungannya dengan Tono juga tidak pernah benar-benar tenang.
Kadang mereka baik-baik saja.
Tertawa bersama.
Pergi makan.
Naik motor keliling kota kecil Klaten saat malam.
Namun esoknya…
mereka bisa bertengkar hanya karena hal kecil.
Karena Titik terlalu lama bicara dengan teman cowok.
Karena Titik tidak segera membalas pesan.
Karena Tono merasa cemburu pada orang-orang di sekitar Titik.
Dan semua itu…
perlahan menguras hati Titik sedikit demi sedikit.
Suatu sore setelah hujan reda…
Titik duduk sendiri di belakang bengkel sekolah.
Tempat itu cukup sepi.
Hanya ada suara tetesan air dari atap seng dan aroma tanah basah.
Ia memeluk lututnya sambil melamun.
Matanya kosong.
Pikirannya penuh.
Dan dadanya terasa sesak tanpa tahu harus bercerita pada siapa.
Tak lama kemudian…
Riyadi datang membawa dua gelas kopi sachet panas.
“Nih.”
Titik menoleh pelan.
“Makasih.”
Riyadi duduk di sampingnya.
Tidak terlalu dekat.
Namun cukup membuat Titik merasa tidak sendirian.
“Kamu kenapa lagi?”
“Nggak apa.”
“Kalau sama aku nggak usah bohong.”
Titik tersenyum kecil pahit.
“Aku capek.”
“Karena Tono?”
Titik mengangguk pelan.
Riyadi memandang hujan yang masih rintik-rintik di luar.
Lalu berkata lirih—
“Kamu sekarang sering kelihatan sedih.”
Kalimat itu langsung membuat mata Titik berkaca-kaca.
“Aku nggak ngerti hidupku sendiri…”
Suara Titik sangat pelan.
“Kenapa semua jadi rumit…”
Riyadi diam mendengarkan.
Dan seperti biasa…
ia tidak memotong cerita.
“Dulu aku bebas.”
“Sekarang aku takut salah terus.”
“Aku takut bikin orang marah.”
“Aku takut bikin orang kecewa.”
“Aku takut kehilangan…”
Suara Titik mulai bergetar.
Dan akhirnya air matanya jatuh lagi.
“Aku capek jadi aku…”
Riyadi langsung menunduk pelan.
Karena mendengar kalimat itu…
hatinya ikut terasa sakit.
“Aku pengen bantu kamu…”
Titik menghapus air matanya.
“Tapi aku nggak tahu caranya.”
Riyadi tersenyum kecil.
“Kamu udah bantu kok.”
“Hah?”
“Setidaknya kamu masih mau cerita.”
Untuk beberapa detik…
mereka hanya diam mendengarkan suara hujan.
Dan anehnya…
diam bersama Riyadi selalu terasa menenangkan bagi Titik.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.
Karena tiba-tiba suara langkah kaki terdengar mendekat.
Tono.
Wajahnya langsung berubah saat melihat Titik dan Riyadi duduk berdua.
“Aku nyariin kamu.”
Nada suaranya dingin.
Titik langsung menghela napas pelan.
“Aku cuma duduk.”
“Berdua?”
Riyadi langsung berdiri.
“Gue tinggal.”
Namun sebelum pergi…
ia sempat menatap Tono lama sekali.
Tatapan yang penuh lelah.
Tatapan seseorang yang mulai muak dengan semua pertengkaran itu.
Setelah Riyadi pergi…
suasana langsung terasa berat.
“Kamu sekarang makin dekat sama dia.”
“Tono…”
“Aku nggak suka.”
Lagi.
Kalimat itu lagi.
Dan kali ini…
Titik benar-benar mulai lelah mendengarnya.
“Terus aku harus gimana?!”
Suara Titik meninggi.
“Aku nggak boleh punya sahabat?!”
“Aku cuma pengen kamu ngerti perasaanku.”
“Kenapa cuma perasaan kamu yang harus dimengerti?!”
Tono langsung diam.
Sedangkan napas Titik mulai memburu.
“Aku juga punya hati!”
“Aku juga capek!”
“Aku juga pengen hidup tenang!”
Air mata Titik mulai jatuh lagi.
Dan untuk pertama kalinya…
Tono terlihat benar-benar panik.
“Tik…”
Namun Titik mundur pelan.
“Aku mau sendiri.”
Malam itu Titik tidak langsung pulang ke kos.
Ia berjalan sendirian menyusuri jalan kecil dekat sekolah.
Udara dingin.
Lampu jalan redup.
Dan hujan kembali turun pelan.
Entah kenapa…
langkahnya membawanya ke warung kecil dekat terminal.
Warung tempat anak-anak STM sering nongkrong diam-diam.
Di sana…
beberapa anak laki-laki sedang merokok sambil bercanda.
Saat melihat Titik datang…
mereka langsung kaget.
“Eh Titik?”
“Kok sendirian?”
Titik hanya tersenyum kecil.
“Pinjam satu.”
Anak-anak itu langsung saling pandang.
“Hah?”
“Rokok.”
“Serius?”
Titik mengangguk.
Salah satu dari mereka akhirnya menyerahkan sebatang rokok.
Titik menerimanya pelan.
Tangannya sedikit gemetar.
Ia sebenarnya belum pernah benar-benar merokok sebelumnya.
Namun malam itu…
ia hanya ingin melampiaskan sesaknya.
Api korek menyala kecil.
Rokok itu menyala.
Dan Titik mulai menghisapnya pelan.
Batuk.
Pedih.
Namun entah kenapa…
asap yang keluar dari bibirnya terasa seperti membawa sebagian beban di dadanya.
“Pelan-pelan aja,” kata salah satu anak.
Titik tertawa kecil di sela batuk.
“Pahit…”
“Namanya juga rokok.”
Mereka semua tertawa kecil.
Namun tidak ada yang tahu—
bahwa malam itu sebenarnya hati Titik sedang benar-benar hancur.
Sejak malam itu…
Titik mulai sering merokok diam-diam.
Awalnya hanya satu batang.
Lalu dua.
Lalu semakin sering setiap kali pikirannya terasa sesak.
Dwi adalah orang pertama yang tahu.
Suatu malam ia memergoki Titik duduk dekat jendela kamar sambil merokok.
“YA ALLAH TITIK!”
Titik langsung panik.
“Eh…”
“Kamu ngerokok?!”
Titik tertawa kecil canggung.
“Cuma coba-coba.”
“COBA-COBA KATAMU?!”
Dwi langsung merebut rokok itu.
“Kamu stres ya?”
Pertanyaan itu membuat Titik langsung diam.
Dan beberapa detik kemudian…
air matanya jatuh lagi.
“Aku capek Dwe…”
Dwi langsung memeluk sahabatnya itu.
Dan malam itu…
Titik menangis cukup lama di pundaknya.
“Aku nggak tahu harus gimana…”
“Semua orang pengen memiliki aku…”
“…tapi nggak ada yang benar-benar ngerti aku.”
Dwi mengusap rambutnya pelan.
“Kamu terlalu memikirkan perasaan semua orang.”
“Tapi siapa yang mikirin perasaanku…”
Kalimat itu terdengar sangat rapuh.
Sangat lelah.
Dan Dwi tahu…
sahabatnya sedang berada di titik paling kacau dalam hidupnya.
Hari-hari berikutnya…
Titik semakin sering menyendiri.
Bahkan Ahmad mulai sadar ada yang berubah.
Suatu siang di kelas…
Ahmad duduk di depan Titik sambil membawa gorengan.
“Nih makan.”
Titik tersenyum kecil.
“Nggak lapar.”
“Tumben.”
Muji ikut nimbrung.
“Biasanya paling barbar kalau lihat bakwan.”
Titik tertawa kecil.
Namun tawanya hambar.
Dan itu membuat teman-temannya mulai khawatir.
“Kamu sakit?”
Titik menggeleng.
“Cuma capek.”
Ahmad menatapnya cukup lama.
Lalu berkata pelan—
“Jangan terlalu dipendem sendiri.”
Kalimat sederhana itu…
lagi-lagi membuat hati Titik terasa hangat sekaligus sedih.
Karena ternyata…
masih ada orang-orang yang peduli padanya tanpa ingin memilikinya.
Namun hidup belum selesai mengujinya.
Karena beberapa hari kemudian…
pertengkarannya dengan Tono mencapai titik yang lebih besar.
Dan kali ini…
bukan hanya hati Titik yang terluka.
Tetapi juga persahabatan yang selama ini masih ia pertahankan.
BAB XX
DARAH DI WAJAH RIYADI
“Kadang Cinta Yang Terlalu Takut Kehilangan, Justru Menghancurkan Semua yang Ingin Dipertahankan”
Hari itu langit Klaten terasa panas.
Udara gerah memenuhi ruang kelas.
Kipas angin tua di atas plafon berputar lambat sambil berdecit pelan.
Anak-anak STM mulai gelisah menunggu jam pulang.
Dan seperti biasa…
kelas Titik tetap paling ribut.
Ahmad sibuk menggambar karikatur guru di buku tulis.
Muji tidur sambil ngorok kecil.
Sedangkan Aris dan Yono bermain lempar kertas.
“WOY KENA MATA GUE!”
“Makanya jangan jelek.”
Satu kelas langsung tertawa.
Namun di tengah keramaian itu…
Titik terlihat lebih banyak diam.
Ia duduk dekat jendela sambil memandangi langit.
Pikirannya masih penuh.
Tentang Tono.
Tentang hidupnya.
Tentang rasa lelah yang makin sulit dijelaskan.
Riyadi yang duduk tidak jauh darinya memperhatikan itu diam-diam.
Sudah lama ia mengenal Titik.
Dan ia tahu…
senyum gadis itu sekarang sering dipaksakan.
Jam sekolah akhirnya selesai.
Bel pulang berbunyi keras.
Seketika kelas berubah seperti pasar malam.
Anak-anak berebut keluar.
Ada yang langsung ke bengkel.
Ada yang nongkrong.
Ada yang pulang.
Dan seperti biasa…
Titik berjalan bersama Riyadi dan beberapa teman lain menuju gerbang sekolah.
“Ayo nanti nongkrong bentar di Umbul,” kata Ahmad semangat.
“Gue ikut.”
“Gue juga.”
Muji langsung nyeletuk—
“Asal jangan Ahmad yang bayar.”
“WOY!”
Titik tertawa kecil mendengar mereka bercanda.
Dan untuk sesaat…
ia merasa nyaman lagi.
Namun kebahagiaan kecil itu mendadak runtuh.
Karena di depan gerbang sekolah…
Tono sudah berdiri sambil bersandar di motornya.
Wajahnya dingin.
Matanya langsung tertuju pada Riyadi yang berjalan di samping Titik.
Suasana langsung berubah tegang.
“Aku nyariin kamu.”
Suara Tono datar.
“Oh…”
“Kamu pulang sama mereka lagi?”
Nada suaranya mulai berubah.
Dan Titik langsung tahu—
sesuatu buruk akan terjadi lagi.
“Tono jangan mulai…”
“Aku cuma nanya.”
Riyadi langsung melangkah sedikit mundur.
Ia sudah terlalu sering menghadapi situasi seperti ini.
Dan ia lelah.
“Kita cuma pulang bareng,” kata Riyadi tenang.
Tono tersenyum tipis.
“Lu tuh selalu ada ya di dekat dia.”
Ahmad dan Muji mulai saling pandang.
Mereka tahu suasana semakin tidak baik.
“Tono udah…”
Suara Titik mulai panik.
Namun Tono tetap menatap Riyadi tajam.
“Gue udah bilang jangan terlalu dekat sama Titik.”
Riyadi menghela napas panjang.
“Dia bukan barang.”
DEG.
Kalimat itu langsung membuat suasana membeku.
Tono mendekat.
“Lu ngomong apa?”
Riyadi tetap berdiri tenang.
“Lu nggak bisa ngatur hidup dia terus.”
“Awas ya…”
“Kalau sayang sama orang bukan begitu caranya.”
BUGH!
Satu pukulan keras langsung mendarat di wajah Riyadi.
Semua orang kaget.
Titik spontan berteriak.
“TONO!”
Riyadi langsung terhuyung ke belakang.
Darah mulai keluar dari sudut bibirnya.
“WOY WOY WOY!”
Ahmad dan Muji langsung memisahkan mereka.
Namun emosi Tono sudah meledak.
“Jangan sok ngajarin gue!”
Riyadi mengusap darah di bibirnya pelan.
Dan entah kenapa…
wajahnya justru terlihat lebih kecewa daripada marah.
“Tono berhenti!”
Titik langsung berdiri di depan Riyadi.
Matanya penuh air mata.
“Kamu kenapa sih?!”
Tono masih bernapas kasar.
“Karena dia selalu dekat sama kamu!”
“DIA SAHABATKU!”
“Dia suka sama kamu!”
“TERUS KENAPA?!”
Semua mendadak diam.
Karena itu pertama kalinya Titik berteriak sekeras itu di depan semua orang.
“Kenapa semua orang yang dekat sama aku harus kamu sakitin?!”
Air mata Titik jatuh deras.
“Kenapa hidupku harus kayak gini terus?!”
Tono langsung terdiam.
Sedangkan Riyadi hanya memalingkan wajah sambil menghapus darah di bibirnya.
“Ayo Yadi kita ke UKS,” kata Ahmad pelan.
Namun Riyadi menggeleng kecil.
“Nggak usah.”
“Tapi darah lu…”
“Nggak apa.”
Ia lalu menatap Titik sekilas.
Tatapan yang sangat tenang.
Namun justru membuat hati Titik semakin hancur.
“Aku pulang dulu.”
Dan tanpa marah.
Tanpa membalas.
Tanpa teriak.
Riyadi pergi begitu saja.
Titik berdiri mematung.
Dadanya terasa sakit sekali.
Karena untuk pertama kalinya…
persahabatan yang selama ini ia jaga benar-benar terluka karena dirinya.
Malamnya…
Titik memberanikan diri datang ke rumah Riyadi.
Langkahnya terasa berat.
Hatinya dipenuhi rasa bersalah.
Saat pintu rumah terbuka…
ia melihat Riyadi duduk sendiri di ruang tamu sambil mengompres pipinya.
Wajahnya lebam.
Bibirnya sedikit bengkak.
Dan melihat itu…
air mata Titik langsung jatuh lagi.
“Yadi…”
Riyadi menoleh pelan.
“Oh kamu.”
“Maaf…”
Suara Titik langsung pecah.
“Maaf gara-gara aku…”
Riyadi tersenyum kecil.
“Nggak usah nangis.”
“Tapi kamu dipukul gara-gara aku…”
Riyadi terdiam beberapa detik.
Lalu berkata pelan—
“Bukan salah kamu.”
“Kalau aku nggak dekat sama kamu mungkin semua nggak kayak gini…”
Riyadi langsung menggeleng.
“Jangan nyalahin diri sendiri terus.”
Titik duduk pelan di dekatnya.
Tangannya gemetar melihat luka di wajah Riyadi.
“Masih sakit?”
“Lumayan.”
Titik makin merasa bersalah.
“Kenapa kamu nggak lawan…”
Riyadi tertawa kecil.
“Buat apa?”
“Tapi dia mukul kamu…”
Riyadi memandang lantai beberapa detik sebelum menjawab—
“Karena aku nggak mau kamu makin sedih.”
DEG.
Kalimat itu langsung membuat tangis Titik pecah lagi.
“Kenapa kalian semua baik banget sama aku…”
Suara Titik bergetar.
“Padahal aku malah nyakitin kalian…”
Riyadi menatapnya lama sekali.
Dan untuk pertama kalinya…
ia akhirnya berkata jujur.
“Karena aku sayang sama kamu, Tik.”
Sunyi.
Dunia seperti berhenti beberapa detik.
Titik langsung membeku.
“Aku tahu kamu nggak pernah lihat aku lebih dari sahabat.”
“Tapi aku nggak pernah nyesel kenal kamu.”
Air mata Titik jatuh semakin deras.
“Yadi…”
Riyadi tersenyum kecil.
“Tenang aja.”
“Aku nggak akan maksa kamu milih aku.”
“Tapi aku capek lihat kamu terus terluka.”
Kalimat itu terasa sangat tulus.
Sangat jujur.
Dan justru itu yang membuat hati Titik semakin sakit.
“Aku pengen semuanya balik kayak dulu…”
Riyadi menghela napas pelan.
“Kadang ada hal yang kalau rusak…”
“…udah nggak bisa benar-benar balik lagi.”
Kalimat itu membuat ruangan terasa semakin sunyi.
Tak lama kemudian…
ibunya Riyadi datang membawa teh hangat.
Beliau langsung kaget melihat Titik menangis.
“Lho kenapa ini…”
Titik langsung menunduk malu.
“Maaf Bu…”
Ibunya Riyadi hanya menghela napas kecil.
Lalu berkata lembut—
“Kalian ini masih muda…”
“…jangan saling nyakitin cuma karena cinta.”
Kalimat sederhana itu…
terasa sangat menampar hati Titik malam itu.
Saat pulang dari rumah Riyadi…
langit mulai gerimis.
Titik berjalan sendirian sambil menangis.
Dan untuk pertama kalinya…
ia benar-benar merasa lelah dengan semua cinta yang datang dalam hidupnya.
Karena semakin banyak orang mencintainya…
semakin banyak pula orang yang terluka karenanya.
Malam itu di kamar kos…
Titik kembali duduk dekat jendela sambil menyalakan rokok.
Tangannya gemetar.
Air matanya terus jatuh.
Dan dalam kepalanya…
terus terngiang suara Riyadi—
“Aku sayang sama kamu, Tik.”
Namun yang paling menyakitkan bukan pengakuan itu.
Melainkan kenyataan…
bahwa ia tidak bisa membalas perasaan sahabat terbaiknya sendiri.
BAB XXI
AKU MULAI KEHILANGAN SEMUA
“Saat Satu Persatu Orang Menjauh, Aku Baru Sadar Bahwa Hidupku Tidak Lagi Sama”
Sejak kejadian perkelahian itu…
semuanya berubah semakin jauh.
Tidak ada lagi suasana hangat seperti dulu.
Tidak ada lagi tawa lepas sepulang sekolah.
Dan tidak ada lagi kebersamaan sederhana yang dulu selalu membuat hari-hari Titik terasa hidup.
Kini…
semuanya terasa canggung.
Ahmad masih bercanda.
Muji masih suka bikin keributan.
Aris masih tidur saat pelajaran.
Namun ketika Titik datang…
mereka seperti lebih berhati-hati.
Tidak lagi terlalu dekat.
Tidak lagi terlalu bebas.
Seolah semua takut akan ada masalah baru.
Dan Titik…
merasakan itu setiap hari.
Pagi itu di kelas…
Ahmad sedang menggambar di meja.
Muji sibuk memainkan penggaris.
Sedangkan Riyadi duduk diam sambil menulis tugas.
Bekas lebam di wajahnya masih terlihat samar.
Dan setiap kali melihat itu…
hati Titik terasa nyeri.
Ia memberanikan diri mendekat.
“Yadi…”
“Hm?”
“Masih sakit?”
Riyadi tersenyum kecil.
“Udah mendingan.”
Namun suasana di antara mereka tidak lagi sama.
Tidak sehangat dulu.
Tidak sebebas dulu.
Karena sekarang…
ada perasaan yang sudah terlanjur terbuka.
Titik duduk pelan di sampingnya.
“Aku kangen kita yang dulu…”
Riyadi diam beberapa detik.
Lalu menjawab pelan—
“Aku juga.”
“Terus kenapa semuanya jadi begini…”
Riyadi memandang keluar jendela.
“Karena hidup nggak selalu bisa tetap sama.”
Jawaban itu sederhana.
Namun terasa sangat menyakitkan.
Bel masuk berbunyi.
Dan percakapan mereka terputus begitu saja.
Namun sejak hari itu…
Titik mulai sadar—
ia benar-benar sedang kehilangan orang-orang yang selama ini menjadi dunianya.
Sore harinya Titik duduk sendirian di taman Umbul.
Tempat itu dulu selalu ramai oleh mereka berlima.
Sekarang…
hanya ada suara angin dan riak air kolam kecil.
Ia memandangi bangku tempat mereka biasa bercanda.
Tempat Ahmad sering jatuh karena bercanda berlebihan.
Tempat Riyadi diam-diam memperhatikannya.
Tempat mereka tertawa sampai lupa waktu.
Dan kini…
semua hanya tinggal kenangan.
“Sendiri?”
Titik menoleh.
Abdul datang sambil membawa dua teh botol dingin.
“Eh…”
Abdul duduk di sampingnya.
“Ngelamun lagi.”
Titik tersenyum kecil.
“Aku lagi mikir…”
“Mikirin apa?”
“Hidupku.”
Abdul tertawa kecil.
“Berat amat.”
Namun saat melihat mata Titik yang mulai berkaca-kaca…
senyumnya perlahan hilang.
“Aku mulai kehilangan semuanya Dul…”
Suara Titik lirih.
“Sahabatku menjauh.”
“Aku capek bertengkar terus.”
“Aku bahkan nggak ngerti lagi apa yang aku mau.”
Abdul mendengarkan dengan tenang seperti biasa.
Dan justru itu yang membuat Titik nyaman.
“Aku pengen hidup kayak dulu.”
“Yang bebas?”
Titik mengangguk.
“Aku bisa ketawa tanpa takut ada yang marah.”
“Aku bisa dekat sama siapa aja.”
“Aku nggak harus mikir bakal bikin orang cemburu.”
Abdul menghela napas pelan.
“Kamu terlalu lama hidup buat menyenangkan orang lain.”
Kalimat itu membuat Titik diam.
Karena mungkin…
itu memang benar.
“Tapi aku nggak mau nyakitin siapa pun.”
Abdul tersenyum tipis.
“Kadang hidup nggak bisa bikin semua orang bahagia.”
“Tapi kenapa harus aku yang jadi penyebab semuanya rusak…”
Air mata Titik jatuh lagi.
Dan Abdul langsung menyerahkan sapu tangan kecil.
“Nih.”
Titik tertawa kecil di sela tangisnya.
“Kamu kayak bapak-bapak.”
“Daripada kayak anak kecil.”
“Lebay.”
Untuk sesaat…
mereka tertawa bersama.
Dan hati Titik terasa sedikit lebih ringan.
“Mau jujur nggak?” tanya Abdul tiba-tiba.
“Tentang apa?”
“Kamu sebenarnya masih sayang Tono?”
Pertanyaan itu langsung membuat Titik terdiam lama.
Sangat lama.
Ia mencoba mencari jawabannya sendiri.
Namun semakin dipikirkan…
semuanya terasa semakin membingungkan.
“Aku nggak tahu…”
Suara Titik pelan sekali.
“Kadang aku kasihan sama dia.”
“Kadang aku nyaman.”
“Tapi kadang aku juga takut…”
Abdul mengangguk kecil.
“Itu bukan cinta yang sehat.”
Kalimat itu langsung membuat Titik menunduk.
“Aku nggak ngerti cinta Dul…”
Abdul tersenyum tipis.
“Cinta itu harusnya bikin tenang.”
“Tapi hidupku malah makin kacau.”
“Berarti ada yang salah.”
Jawaban itu begitu sederhana.
Namun sangat masuk akal.
Malamnya…
Tono datang ke kos seperti biasa.
Namun kali ini suasana langsung terasa dingin sejak awal.
“Kamu dari mana?”
“Main.”
“Sama siapa?”
“Tono…”
“Aku cuma nanya.”
Nada suara itu lagi.
Nada yang membuat Titik lelah.
“Aku sama Abdul.”
Wajah Tono langsung berubah.
“Kenapa sama dia terus sekarang?”
“Karena dia mau dengerin aku!”
“Aku juga!”
“NGGAK!”
Suara Titik mendadak meninggi.
Dan untuk pertama kalinya…
Tono benar-benar terlihat kaget.
“Kamu nggak pernah dengerin aku!”
“Kamu cuma mau aku nurut!”
“Kamu cuma mau aku hidup sesuai maumu!”
Air mata Titik mulai jatuh lagi.
“Aku capek…”
Suara itu lirih sekali.
Dan untuk pertama kalinya…
Tono terlihat kehilangan kata-kata.
“Aku sayang sama kamu…”
Titik tertawa kecil pahit.
“Kalau sayang kenapa aku selalu nangis…”
Kalimat itu membuat suasana langsung hening.
Tidak ada suara.
Tidak ada jawaban.
Hanya ada tatapan penuh luka di antara mereka.
Tono akhirnya duduk pelan di bangku depan kos.
Wajahnya terlihat sangat lelah.
“Aku cuma takut kehilangan kamu.”
“Kenapa…”
“…kenapa semua orang takut kehilangan aku tapi nggak pernah takut kehilangan senyumku?”
DEG.
Kalimat itu langsung menghantam hati Tono.
Karena untuk pertama kalinya…
ia sadar bahwa selama ini Titik memang tidak benar-benar bahagia.
“Aku nggak tahu harus gimana…”
Suara Tono melemah.
Dan anehnya…
mendengar laki-laki itu bicara selemah itu justru membuat Titik semakin sedih.
Karena ia tahu—
di balik semua sifat kasarnya…
Tono benar-benar mencintainya.
Hanya saja…
caranya salah.
Malam semakin larut.
Tono pulang tanpa banyak bicara.
Dan Titik kembali duduk sendiri di depan jendela kamar.
Rokok menyala di tangannya.
Asap perlahan memenuhi udara.
Sedangkan pikirannya terasa semakin kacau.
Dwi yang baru selesai mandi langsung kaget.
“Kamu ngerokok lagi?!”
Titik hanya diam.
Dwi akhirnya duduk di sampingnya.
“Kamu makin parah.”
“Aku cuma pengen tenang…”
“Rokok nggak bakal bikin hidupmu selesai.”
“Tapi setidaknya bikin pikiranku diam sebentar.”
Jawaban itu membuat Dwi terdiam.
Karena ia tahu…
sahabatnya benar-benar sedang rapuh.
“Aku takut kehilangan diriku sendiri Dwe…”
Suara Titik mulai bergetar.
“Dulu aku ceria…”
“Sekarang aku gampang nangis.”
“Dulu aku bebas…”
“Sekarang aku takut bikin semua orang marah.”
Air matanya jatuh lagi.
Dan Dwi langsung memeluknya erat.
“Tik…”
“Hm…”
“Kamu harus mulai hidup buat dirimu sendiri.”
Kalimat itu terus terngiang di kepala Titik malam itu.
Dan untuk pertama kalinya…
ia mulai berpikir—
mungkin selama ini ia memang terlalu sibuk menjaga perasaan semua orang…
sampai lupa menjaga dirinya sendiri.
BAB XXII
PANTAI, TAWA, DAN KENANGAN YANG HAMPIR KEMBALI
“Ada Saat di Mana Aku Ingin Melupakan Semua Luka dan Menjadi Diriku Seperti Dulu Lagi”
Libur semester akhirnya datang.
Suasana sekolah mulai sepi.
Anak-anak STM sibuk pulang ke daerah masing-masing.
Ada yang kembali ke kampung.
Ada yang bekerja sambilan.
Ada juga yang tetap tinggal di kos karena rumahnya jauh.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
Titik merasa sedikit lega.
Karena setidaknya…
ia bisa menjauh sejenak dari semua kerumitan hidupnya.
Namun kali ini…
Titik memilih tidak langsung pulang kampung.
Ia meminta izin pada ibunya untuk bermain ke rumah Dwi di Comal selama beberapa hari.
Dan Bu Yati mengizinkannya.
“Asal jaga diri.”
“Iya Bu.”
“Jangan aneh-aneh.”
Titik tertawa kecil.
“Siap Bu Komandan.”
Perjalanan menuju Comal terasa menyenangkan.
Kereta berjalan perlahan melewati sawah-sawah hijau.
Langit cerah.
Angin masuk lewat jendela.
Dan untuk pertama kalinya…
Titik merasa pikirannya sedikit lebih ringan.
Dwi duduk di sampingnya sambil makan kerupuk.
“Kamu kelihatan lebih hidup.”
“Masa?”
“Iya.”
“Berarti di Klaten aku kayak mayat?”
“Lumayan.”
“WOY!”
Mereka tertawa bersama.
Dan suara tawa itu terasa begitu lama hilang dari hidup Titik.
Sesampainya di Comal…
suasana langsung ramai.
Rumah Dwi sederhana.
Namun hangat.
Ibunya Dwi menyambut Titik seperti anak sendiri.
“Eh Titik datang.”
“Permisi Bu…”
“Udah kayak rumah sendiri aja.”
Kalimat itu membuat hati Titik hangat.
Karena ia memang sedang sangat rindu suasana keluarga yang tenang.
Empat hari di Comal terasa seperti dunia yang berbeda.
Tidak ada pertengkaran.
Tidak ada tekanan.
Tidak ada rasa takut.
Yang ada hanya kebersamaan sederhana.
Hari pertama…
mereka pergi ke Matahari Pekalongan.
Bukan untuk belanja besar.
Karena uang mereka memang pas-pasan.
Namun sekadar jalan-jalan melihat toko saja sudah terasa menyenangkan.
Ahmad yang ikut rombongan paling heboh.
“Kalau gue kaya…”
“Lu tetep jelek,” potong Muji cepat.
“WOY!”
Satu kelompok langsung tertawa keras.
Titik berjalan bersama Dwi dan Siti sambil melihat-lihat baju.
Sedangkan Riyadi membantu membawakan tas mereka.
“Yadi kamu tuh cocok jadi bapak rumah tangga.”
Riyadi tertawa kecil.
“Minimal berguna.”
“Kalau Ahmad?”
Ahmad langsung menjawab cepat—
“Cocok jadi beban negara.”
Mereka semua ngakak sampai pengunjung lain ikut melihat.
Dan malam itu…
Titik sadar satu hal.
Ia sangat merindukan kebersamaan seperti ini.
Kebersamaan tanpa rasa takut.
Tanpa tekanan.
Tanpa kecemburuan.
Hari berikutnya mereka pergi ke pantai.
Naik motor berboncengan ramai-ramai.
Ada hampir dua belas orang.
Sebagian naik motor.
Sebagian naik angkot sambung.
Perjalanan panjang itu justru terasa menyenangkan karena dipenuhi candaan.
“WOY PEGANG JAKET GUE!”
“MUJI JANGAN NYANYI SUARAMU BIKIN HUJAN!”
“AHMAD TURUN AJA LU!”
Suara tawa mereka memenuhi jalanan.
Dan Titik…
tertawa paling keras hari itu.
Sesampainya di pantai…
angin laut langsung menyambut mereka.
Ombak bergulung pelan.
Langit biru terlihat luas.
Dan aroma laut membuat hati terasa tenang.
Titik langsung melepas sandal dan berlari ke bibir pantai.
“WOOOO!”
Dwi ikut mengejar.
“TUNGGUIN!”
Ahmad malah jatuh kena ombak kecil.
Satu kelompok langsung tertawa sampai sakit perut.
Titik berdiri memandangi laut cukup lama.
Angin menerbangkan rambutnya.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
ia merasa bebas.
Benar-benar bebas.
“Cantik ya…”
Titik menoleh.
Riyadi berdiri di sampingnya sambil memegang sandal.
“Pantainya?”
Riyadi tersenyum kecil.
“Iya.”
Titik langsung tertawa.
“Basi banget gombalnya.”
“Kan nggak bilang kamu.”
“BOHONG.”
Untuk sesaat…
suasana di antara mereka kembali hangat seperti dulu.
Tanpa rasa canggung.
Tanpa luka.
Namun jauh di dalam hati…
Riyadi tahu semuanya tidak akan pernah benar-benar sama lagi.
Dan mungkin…
itu sebabnya ia memilih menikmati setiap momen sederhana bersama Titik tanpa berharap terlalu banyak.
Malam harinya…
mereka duduk bersama di pinggir pantai sambil makan jagung bakar.
Langit penuh bintang.
Suara ombak terdengar menenangkan.
Dan suasana terasa begitu damai.
“Aku pengen hidup kayak gini terus,” kata Titik pelan.
“Yang sederhana?”
Titik mengangguk.
“Nggak ada drama.”
“Nggak ada orang marah-marah.”
“Nggak ada yang ngatur.”
Ahmad langsung nyeletuk—
“Berarti jangan pacaran sama preman.”
“AHMAD!”
Semua langsung tertawa.
Namun Titik hanya tersenyum kecil pahit.
Karena kalimat bercanda itu…
sedikit banyak memang benar.
Adi yang duduk tidak jauh dari mereka memperhatikan Titik diam-diam.
Laki-laki itu sebenarnya sudah lama menyukai Titik.
Namun tidak pernah benar-benar berani mendekat serius karena tahu ada Tono.
“Kamu lebih cantik kalau sering ketawa,” kata Adi tiba-tiba.
Titik langsung menoleh.
“Hah?”
“Iya.”
“Kalau murung serem.”
“Apaan sih…”
Semua kembali tertawa kecil.
Dan malam itu…
Titik merasa hidupnya kembali berwarna.
Keesokan harinya…
mereka pergi ziarah ke makam Teguh.
Teman kos yang pernah mencintai Titik begitu dalam hingga akhirnya menghancurkan dirinya sendiri.
Perjalanan menuju makam terasa sunyi.
Tidak banyak yang bicara.
Karena semua tahu…
kisah itu masih meninggalkan luka di hati Titik.
Saat berdiri di depan makam sederhana itu…
Titik mematung cukup lama.
Namanya tertulis jelas di batu nisan.
Dan mendadak…
dadanya terasa sesak.
“Aku datang…”
Suara Titik lirih sekali.
Angin berembus pelan.
Dan entah kenapa…
air matanya mulai jatuh lagi.
“Aku minta maaf…”
Dwi langsung menggenggam tangannya pelan.
Sedangkan teman-teman lain memilih diam memberi ruang.
“Aku nggak pernah mau nyakitin kamu…”
“Tapi aku juga nggak bisa bohong soal hati…”
Tangis Titik pecah perlahan.
Karena sampai sekarang…
ia masih merasa bersalah atas kematian Teguh.
Riyadi berdiri tidak jauh dari situ.
Memperhatikan Titik diam-diam.
Dan dalam hati…
ia semakin sadar betapa berat hidup yang dijalani gadis itu.
Sepulang dari makam…
suasana sedikit murung.
Namun Ahmad yang paling tidak tahan suasana sedih langsung mulai bercanda lagi.
“Kalau gue mati nanti jangan nangis ya.”
Muji langsung menepuk kepalanya.
“Lu mah mati ketawa orang-orang.”
“WOY!”
Dan akhirnya…
suasana perlahan kembali cair.
Empat hari di Comal terasa begitu cepat berlalu.
Namun bagi Titik…
empat hari itu seperti hadiah kecil dari hidup.
Karena selama beberapa hari…
ia bisa tertawa tanpa tekanan.
Bisa bebas tanpa rasa takut.
Dan bisa kembali merasa hidup seperti dulu.
Namun ia belum tahu…
bahwa saat kembali ke Klaten nanti…
hidupnya justru akan memasuki babak yang jauh lebih rumit lagi.
BAB XXIII
KAFID KEMBALI PULANG
“Cinta Pertama Tidak Selalu Hilang, Kadang Ia Hanya Menunggu Waktu untuk Datang Kembali”
Setelah empat hari di Comal…
Titik akhirnya pulang ke kampung.
Perjalanan panjang itu terasa campur aduk.
Di satu sisi…
hatinya masih hangat oleh kenangan bersama teman-temannya.
Namun di sisi lain…
ia kembali harus menghadapi kenyataan hidupnya sendiri.
Tentang Tono.
Tentang perasaannya yang makin tidak jelas.
Dan tentang luka-luka lama yang sebenarnya belum pernah benar-benar sembuh.
Bus yang ditumpangi Titik melaju perlahan melewati jalanan kampung.
Sawah terbentang luas.
Udara desa terasa berbeda.
Lebih tenang.
Lebih damai.
Dan selalu berhasil membuat hati Titik sedikit nyaman.
Saat sampai di rumah…
Bu Yati langsung memeluknya.
“Kurusan kamu.”
“Ah ibu lebay.”
“Di sana makan nggak sih?”
“Makan Bu… cuma nggak tiap lima menit.”
Bu Yati tertawa kecil.
Rumah sederhana itu kembali terasa hidup karena kepulangan Titik.
Malam itu…
setelah makan bersama…
Titik duduk sendirian di teras rumah.
Angin malam bertiup pelan.
Suara jangkrik terdengar dari kebun belakang.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
hatinya terasa cukup tenang.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.
Karena suara motor tiba-tiba terdengar berhenti di depan rumah.
Titik menoleh.
Dan seketika…
dadanya seperti berhenti berdetak beberapa detik.
Kafid.
Laki-laki itu berdiri di depan pagar sambil tersenyum kecil.
Tubuhnya terlihat sedikit lebih dewasa dibanding terakhir kali mereka bertemu.
Kulitnya lebih gelap.
Wajahnya lebih tenang.
Namun matanya…
masih sama seperti dulu.
Mata yang pernah membuat Titik jatuh cinta pertama kali.
“Kafid…”
Suara Titik lirih.
“Kamu pulang?”
Kafid mengangguk kecil.
“Iya.”
“Kapan?”
“Baru tadi siang.”
Titik masih mematung.
Karena jujur…
ia tidak pernah menyangka laki-laki itu akan kembali lagi.
Bu Yati yang keluar rumah langsung tersenyum.
“Eh Kafid.”
“Permisi Bu.”
“Kok nggak bilang pulang?”
“Dadakan Bu.”
Bu Yati mengangguk kecil lalu masuk lagi memberi mereka ruang bicara.
Dan suasana mendadak terasa canggung.
“Kamu sehat?”
“Iya…”
“Kamu?”
“Lumayan.”
Mereka tertawa kecil canggung.
Karena setelah sekian lama…
ternyata masih ada rasa yang sulit dijelaskan.
“Jakarta gimana?”
Kafid menghela napas kecil.
“Nggak betah.”
“Kenapa?”
“Terlalu ramai.”
Jawaban itu membuat Titik tersenyum tipis.
Karena dari dulu…
Kafid memang lebih suka suasana sederhana kampung mereka.
Mereka duduk di teras cukup lama malam itu.
Membahas banyak hal.
Tentang hidup.
Tentang perantauan.
Tentang masa lalu mereka.
Dan anehnya…
semuanya terasa begitu mudah seperti dulu lagi.
“Aku sempat nyari kabar kamu.”
Suara Kafid pelan.
“Hah?”
“Katanya kamu sekolah di Klaten.”
Titik mengangguk kecil.
“Iya.”
“Kamu bahagia di sana?”
Pertanyaan itu langsung membuat Titik diam.
Karena lagi-lagi…
ia tidak tahu harus menjawab apa.
“Kamu masih sama kayak dulu,” kata Kafid sambil tersenyum kecil.
“Maksudnya?”
“Kalau sedih suka diem.”
Titik langsung menunduk.
Dan tanpa sadar…
hatinya mulai terasa hangat lagi.
“Kamu sendiri gimana…” tanya Titik pelan.
“Kok bisa balik?”
Kafid memandang jalanan kampung beberapa detik sebelum menjawab—
“Karena ada yang belum selesai.”
DEG.
Jantung Titik langsung berdegup aneh.
“Maksud kamu?”
Kafid tersenyum kecil.
“Aku masih sayang sama kamu.”
Sunyi.
Angin malam terasa semakin dingin.
Sedangkan Titik membeku di tempat.
Karena sejujurnya…
ia juga belum pernah benar-benar melupakan laki-laki itu.
“Kafid…”
“Aku serius.”
“Tapi kita kan udah putus…”
“Kita putus baik-baik.”
Kalimat itu membuat hati Titik makin tidak tenang.
Karena memang benar.
Hubungan mereka dulu tidak berakhir karena pertengkaran.
Tidak ada kebencian.
Tidak ada pengkhianatan.
Hanya jarak dan keadaan.
Dan mungkin karena itulah…
rasa itu tidak pernah benar-benar hilang.
“Aku pikir kamu udah lupa sama aku.”
Kafid tertawa kecil.
“Cinta pertama susah dilupain.”
Kalimat sederhana itu…
langsung menghantam hati Titik.
Karena selama ini…
ia juga diam-diam masih menyimpan kenangan tentang Kafid.
Malam semakin larut.
Namun percakapan mereka tidak juga habis.
Mereka kembali tertawa seperti dulu.
Mengingat masa SMP.
Tentang nonton kuda lumping pertama kali.
Tentang surat-surat kecil.
Tentang rasa malu-malu masa remaja.
Dan semua kenangan itu…
perlahan membuat hati Titik kembali goyah.
“Kamu sekarang punya pacar?”
Pertanyaan Kafid datang tiba-tiba.
Titik langsung terdiam.
“Ada…”
“Dia baik?”
Titik mencoba menjawab.
Namun entah kenapa…
yang muncul di kepalanya justru semua pertengkaran dan rasa lelah bersama Tono.
“Dia sayang sama aku…”
“Tapi?”
Titik tersenyum kecil pahit.
“Kadang terlalu sayang.”
Kafid langsung memahami maksudnya.
Karena dari dulu…
ia tahu Titik bukan perempuan yang suka dikekang.
“Kalau aku…”
Kafid menatap Titik lama sekali.
“…aku cuma pengen lihat kamu bahagia.”
Kalimat itu terasa sangat lembut.
Sangat berbeda dengan hubungan yang selama ini dijalani Titik bersama Tono.
Dan tanpa sadar…
hatinya mulai membandingkan.
Hari-hari berikutnya…
Kafid semakin sering datang ke rumah.
Kadang membantu Bu Yati.
Kadang hanya duduk ngobrol di teras bersama Titik.
Dan Bu Yati…
diam-diam sebenarnya senang melihat mereka dekat lagi.
Suatu sore saat Kafid pulang…
Bu Yati akhirnya bicara.
“Kamu masih suka dia ya?”
Titik langsung kaget.
“Ibu apaan sih…”
“Ibu tahu dari muka kamu.”
Titik tersipu malu.
Namun beberapa detik kemudian…
raut wajahnya kembali murung.
“Tapi aku masih punya Tono…”
Bu Yati menghela napas kecil.
“Nak…”
“Iya?”
“Hidup itu bukan cuma soal siapa yang paling cinta.”
“Tapi siapa yang bikin kamu tenang.”
Kalimat itu langsung membuat Titik diam cukup lama.
Karena semakin hari…
ia memang semakin sadar—
bersama Kafid…
hatinya terasa jauh lebih nyaman.
Malamnya Kafid kembali datang.
Mereka duduk di bawah langit kampung yang dipenuhi bintang.
Dan untuk pertama kalinya…
Kafid bicara lebih serius.
“Titik.”
“Hm?”
“Balik sama aku.”
DEG.
Jantung Titik langsung berdegup keras.
“Aku…”
“Aku masih cinta sama kamu.”
Suara Kafid terdengar begitu tulus.
Begitu tenang.
Tanpa paksaan.
Tanpa tekanan.
Dan justru itu yang membuat hati Titik semakin goyah.
“Aku nggak tahu harus jawab apa…”
Kafid tersenyum kecil.
“Aku bisa nunggu.”
“Tapi aku udah punya orang lain.”
Kafid menunduk beberapa detik.
Lalu berkata pelan—
“Kalau kamu bahagia sama dia… aku mundur.”
“Tapi kalau kamu cuma bertahan karena kasihan…”
“…jangan sakiti dirimu sendiri.”
Air mata Titik langsung jatuh lagi.
Karena kalimat itu…
terasa sangat benar.
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
Titik mulai mempertanyakan hatinya sendiri.
Apakah ia benar-benar mencintai Tono…
atau hanya bertahan karena takut menyakiti seseorang yang terlalu mencintainya?
BAB XXIV
AKU MAU KAU DUAKAN
“Kadang Ada Cinta yang Begitu Dalam, Sampai Rela Berbagi Luka Asal Tidak Kehilangan”
Hari-hari setelah kepulangan Kafid berubah menjadi sangat membingungkan bagi Titik.
Setiap pagi…
ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua masih baik-baik saja.
Bahwa ia masih mencintai Tono.
Bahwa hubungannya masih bisa dipertahankan.
Namun setiap kali bertemu Kafid…
hatinya selalu kembali goyah.
Kafid berbeda.
Sangat berbeda.
Ia tidak pernah melarang.
Tidak pernah membentak.
Tidak pernah membuat Titik takut.
Bersamanya…
Titik merasa bisa kembali menjadi dirinya sendiri.
Dan itulah yang perlahan membuat hati Titik semakin kacau.
Suatu sore…
Kafid datang ke rumah membawa rambutan dari kebun belakang rumah pamannya.
“Ini buat ibu kamu.”
“Banyak banget.”
“Daripada dimakan kelelawar.”
Titik tertawa kecil.
Dan Bu Yati yang melihat mereka dari dapur hanya tersenyum tipis.
“Dulu kamu suka rambutan yang kecil-kecil gini,” kata Kafid sambil duduk di teras.
“Kamu masih ingat?”
“Kamu pikir aku pelupa?”
Titik terdiam sesaat.
Karena ternyata…
ada orang yang masih mengingat hal-hal kecil tentang dirinya.
Mereka ngobrol cukup lama sore itu.
Tentang masa kecil.
Tentang kampung.
Tentang mimpi-mimpi mereka dulu.
Dan semakin lama…
semakin terasa bahwa hubungan mereka sebenarnya belum pernah benar-benar selesai.
“Kamu berubah.”
“Hah?”
“Kamu sekarang lebih banyak sedih.”
Titik langsung diam.
Karena hampir semua orang yang benar-benar mengenalnya selalu mengatakan hal yang sama.
“Kamu nggak bahagia ya?”
Pertanyaan itu langsung menghantam hati Titik.
Dan seperti biasa…
ia tidak bisa langsung menjawab.
“Kafid…”
“Hm?”
“Kalau kamu jadi aku…”
“…apa kamu bakal bertahan sama orang yang terlalu mencintaimu tapi bikin kamu kehilangan diri sendiri?”
Kafid memandang Titik cukup lama.
Lalu menjawab pelan—
“Cinta nggak boleh bikin orang kehilangan dirinya.”
Jawaban itu sederhana.
Namun terasa sangat dalam.
Malamnya…
Tono menelepon dari Klaten.
Suara laki-laki itu terdengar dingin sejak awal.
“Kamu sama siapa tadi sore?”
DEG.
Titik langsung lelah.
“Kamu ngawasin aku?”
“Aku cuma nanya.”
“Kenapa setiap ngobrol sama kamu rasanya kayak diinterogasi…”
Tono terdiam beberapa detik.
“Karena aku takut kehilangan kamu.”
Kalimat itu lagi.
Kalimat yang dulu membuat Titik luluh.
Namun sekarang…
entah kenapa justru membuat dadanya sesak.
“Aku capek Ton…”
Suara Titik pelan.
“Capek apa?”
“Capek harus selalu jelasin semuanya.”
Tono langsung terdengar emosi.
“Berarti sekarang aku nggak boleh peduli?!”
“Bukan gitu!”
“Terus gimana?!”
Suara mereka mulai meninggi.
Dan lagi-lagi…
percakapan berubah menjadi pertengkaran.
Setelah telepon ditutup…
Titik menangis sendirian di kamar.
Kepalanya terasa penuh.
Dadanya sesak.
Dan untuk pertama kalinya…
ia mulai berpikir untuk menyerah.
Keesokan harinya…
Kafid datang lagi.
Dan kali ini…
ia langsung tahu Titik habis menangis.
“Kamu berantem lagi?”
Titik hanya diam.
“Kamu nggak harus cerita kalau nggak mau.”
Kalimat itu justru membuat air mata Titik jatuh lagi.
Karena Kafid selalu tahu kapan harus diam.
Dan kapan harus mendengarkan.
“Aku bingung…”
Suara Titik bergetar.
“Aku nggak mau nyakitin siapa pun.”
“Tapi aku juga capek…”
Kafid duduk di sampingnya pelan.
Tidak terlalu dekat.
Namun cukup membuat Titik merasa aman.
“Aku masih cinta sama kamu Tik.”
Kalimat itu diucapkan sangat tenang.
Tanpa tekanan.
Tanpa memaksa.
Dan justru itu yang membuat hati Titik semakin hancur.
“Tapi aku juga masih punya Tono…”
“Aku tahu.”
“Dia sayang banget sama aku…”
Kafid tersenyum kecil pahit.
“Aku juga.”
Sunyi.
Angin sore bertiup pelan.
Dan Titik merasa seperti berada di persimpangan yang tidak tahu harus dipilih ke mana.
“Aku nggak bisa milih…”
Kafid menunduk beberapa detik.
Lalu tertawa kecil getir.
“Aneh ya…”
“Hm?”
“Aku tuh rela apa aja asal nggak kehilangan kamu.”
Kalimat itu membuat Titik langsung menatapnya.
Dan beberapa detik kemudian…
Kafid berkata sesuatu yang tidak pernah dibayangkan Titik sebelumnya.
“Aku mau kau duakan.”
DEG.
“Apa?”
“Aku serius.”
“Kafid jangan bercanda…”
“Aku nggak bercanda.”
Suara laki-laki itu begitu tenang.
Namun justru membuat hati Titik terasa semakin sesak.
“Aku nggak peduli kamu masih sama dia…”
“Asal kamu jangan pergi lagi dari hidupku.”
Air mata Titik langsung jatuh.
Karena belum pernah ada seseorang yang mencintainya sampai setulus itu.
“Kamu bodoh…”
Kafid tertawa kecil.
“Iya.”
“Mana ada orang mau diduakan…”
“Ada kalau terlalu cinta.”
Tangis Titik pecah malam itu.
Karena kalimat itu terasa begitu menyakitkan sekaligus menghangatkan.
“Aku nggak pantas dicintai kayak gini…”
“Kamu pantas.”
“Aku malah nyakitin semua orang…”
Kafid menggeleng kecil.
“Cinta nggak selalu soal memiliki.”
“Tapi soal bertahan.”
Malam itu…
Titik benar-benar kacau.
Ia menangis lama sekali di kamarnya.
Memikirkan semuanya.
Tentang Tono yang begitu posesif karena takut kehilangan.
Tentang Kafid yang rela berbagi luka asal tetap bisa bersamanya.
Dan tentang dirinya sendiri…
yang semakin tidak mengenali isi hatinya.
Beberapa hari kemudian…
Titik kembali ke Klaten.
Dan begitu turun dari bus…
Tono sudah menunggu di terminal.
Wajahnya terlihat lelah.
Namun saat melihat Titik…
matanya langsung berubah hangat.
“Kamu kurusan.”
“Kamu lebay.”
Tono tersenyum kecil lalu membantu membawakan tasnya.
Dan untuk sesaat…
Titik kembali merasa bersalah.
Karena laki-laki ini juga benar-benar mencintainya.
Di perjalanan menuju kos…
Tono terus bercerita.
Tentang sekolah.
Tentang teman-teman.
Tentang betapa sepinya hari-harinya tanpa Titik.
Sedangkan Titik hanya diam mendengarkan.
Karena pikirannya masih penuh oleh ucapan Kafid.
“Aku mau kau duakan.”
Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.
“Mikir apa?”
Suara Tono membuyarkan lamunannya.
“Nggak…”
“Kamu berubah.”
“Hah?”
“Kamu makin jauh.”
Jantung Titik langsung berdegup.
Karena tanpa sadar…
Tono ternyata mulai merasakan perubahan itu.
Malamnya…
Titik duduk sendirian di depan kos sambil merokok.
Asap mengepul ke udara malam.
Sedangkan pikirannya terasa semakin rumit.
Abdul yang kebetulan lewat langsung kaget.
“Kamu makin jago aja ngerokok.”
Titik tertawa kecil hambar.
“Daripada nangis terus.”
Abdul duduk di sampingnya.
“Masalah lagi?”
Titik mengangguk pelan.
“Aku capek Dul…”
“Karena Tono?”
“Karena hidupku.”
Abdul memandangnya cukup lama.
Lalu berkata pelan—
“Kadang kita nggak harus memilih orang yang paling cinta sama kita…”
“…tapi orang yang bikin hidup kita tenang.”
Kalimat itu lagi.
Dan entah kenapa…
semua orang mulai mengatakan hal yang sama.
Malam semakin larut.
Namun Titik belum juga masuk kamar.
Karena semakin ia mencoba memahami hatinya…
semakin ia sadar—
ia sedang berada di titik paling rumit dalam hidupnya.
Di antara cinta pertama yang kembali pulang…
dan hubungan yang perlahan mulai menghancurkan dirinya sendiri.
BAB XXV
BURUNG YANG KELUAR DARI SANGKAR
“Kadang Kebebasan Datang Setelah Kita Berani Melepaskan Sesuatu yang Selama Ini Menyiksa”
Hari-hari di Klaten kembali berjalan seperti biasa.
Namun tidak bagi Titik.
Karena sejak kepulangannya dari kampung…
hatinya tidak lagi sama.
Ia semakin sering diam.
Semakin sering melamun.
Dan semakin sering mempertanyakan hubungannya dengan Tono.
Di sekolah…
teman-temannya mulai sadar ada sesuatu yang berubah.
Titik yang dulu selalu ramai kini lebih sering duduk diam dekat jendela.
Kadang tersenyum sendiri.
Kadang malah terlihat seperti ingin menangis.
“Tik.”
“Hm?”
Dwi duduk di sampingnya sambil membawa es teh.
“Kamu lagi mikirin siapa?”
“Nggak siapa-siapa.”
“Bohong.”
Titik tertawa kecil.
Namun tawanya hambar.
“Kamu habis ketemu Kafid ya?”
DEG.
Titik langsung menoleh cepat.
“Kok tahu?”
“Mukamu beda.”
“Bedanya apa?”
“Kayak orang galau.”
“DASAR.”
Dwi tertawa keras.
Namun beberapa detik kemudian…
raut wajahnya berubah serius.
“Kamu masih cinta dia?”
Pertanyaan itu membuat Titik diam lama sekali.
Karena jujur…
ia sendiri tidak tahu jawabannya.
“Aku nyaman sama dia…”
“Itu beda tipis sama cinta.”
“Tapi aku juga masih sayang Tono…”
Dwi menghela napas panjang.
“Kalau hidupmu tenang nggak sama Tono?”
Pertanyaan sederhana itu…
lagi-lagi membuat Titik tidak mampu menjawab.
Sore harinya…
Tono datang menjemput Titik di sekolah.
Namun suasana di antara mereka terasa canggung.
Tidak seperti dulu lagi.
“Mau makan bakso?”
“Terserah.”
Jawaban singkat itu membuat Tono langsung sadar.
“Kamu kenapa?”
“Nggak apa.”
“Kamu akhir-akhir ini dingin.”
Titik memandang jalanan sebentar sebelum menjawab—
“Aku capek.”
“Capek sama aku?”
Sunyi.
Dan diamnya Titik…
sudah menjadi jawaban yang paling menyakitkan.
Mereka akhirnya duduk di warung bakso dekat terminal.
Biasanya Tono akan banyak bicara.
Namun kali ini…
ia justru lebih sering diam.
Sedangkan Titik hanya mengaduk kuah baksonya pelan tanpa selera.
“Ada orang lain ya?”
Pertanyaan itu datang tiba-tiba.
Titik langsung mengangkat kepala.
“Hah?”
“Jawab jujur.”
“Tono…”
“Ada Kafid lagi kan?”
DEG.
Sendok di tangan Titik langsung berhenti bergerak.
“Siapa bilang?”
“Kamu pikir aku nggak tahu?”
Nada suara Tono mulai berubah dingin.
Dan lagi-lagi…
Titik merasa seperti sedang diadili.
“Kita cuma ngobrol.”
“Cuma ngobrol?”
“Iya.”
“Terus kenapa kamu berubah?”
“Aku berubah karena aku capek!”
Suara Titik akhirnya meninggi.
Dan beberapa pengunjung mulai melirik ke arah mereka.
“Aku capek terus dicurigai!”
“Aku capek harus jelasin semuanya!”
“Aku capek hidup kayak tahanan!”
Wajah Tono mulai menegang.
Sedangkan napas Titik memburu karena emosinya akhirnya meledak.
“Aku sayang sama kamu…”
“Tapi cara kamu nyayangin aku bikin aku sesak!”
Kalimat itu langsung membuat Tono membeku.
Karena untuk pertama kalinya…
Titik benar-benar mengucapkan isi hatinya tanpa ditahan lagi.
“Aku cuma takut kehilangan kamu…”
“Kenapa kamu nggak pernah percaya sama aku?!”
“Aku percaya!”
“NGGAK!”
Air mata Titik mulai jatuh.
Dan semua luka yang selama ini dipendam akhirnya keluar malam itu.
“Kamu nggak percaya aku punya teman!”
“Kamu nggak percaya aku bisa jaga diri!”
“Kamu selalu marah kalau aku dekat sama siapa pun!”
Tono langsung menunduk.
Sedangkan suara Titik semakin bergetar.
“Aku ini manusia Ton…”
“Bukan barang yang bisa kamu simpan sendiri.”
Sunyi.
Warung bakso itu mendadak terasa sangat sempit.
Dan untuk pertama kalinya…
Tono benar-benar terlihat kehilangan kata-kata.
“Aku salah…”
Suara laki-laki itu pelan sekali.
Namun Titik sudah terlalu lelah.
“Aku pengen hidup tenang…”
“Aku bisa berubah.”
“Tapi aku udah capek nunggu.”
Kalimat itu seperti pisau yang langsung menghantam dada Tono.
“Jadi…”
“…kamu mau putus?”
Pertanyaan itu membuat mata Titik langsung basah lagi.
Karena sejujurnya…
ia tidak pernah ingin menyakiti Tono.
Namun ia juga sadar—
jika hubungan ini terus dipertahankan…
yang hancur justru dirinya sendiri.
“Tono…”
“Aku nggak kuat lagi.”
Dan kalimat itu…
akhirnya menjadi akhir dari hubungan mereka.
Tono tertawa kecil pahit.
Namun matanya mulai merah.
“Jadi selama ini aku gagal ya…”
“Tolong jangan bikin aku makin merasa bersalah…”
“Aku terlalu cinta sama kamu…”
Air mata Titik jatuh semakin deras.
Karena ia tahu—
itu memang benar.
“Aku cuma pengen kamu jadi milikku…”
“Tapi aku bukan burung dalam sangkar…”
DEG.
Kalimat itu membuat Tono langsung terdiam.
Sedangkan Titik menangis semakin keras.
“Aku pengen terbang…”
“Aku pengen hidup tanpa takut…”
“Aku pengen jadi diriku sendiri lagi…”
Suara itu terdengar begitu rapuh.
Begitu lelah.
Dan malam itu…
Tono akhirnya sadar—
selama ini ia terlalu sibuk takut kehilangan Titik…
sampai lupa menjaga kebahagiaan perempuan yang dicintainya sendiri.
Mereka pulang tanpa banyak bicara.
Sepanjang perjalanan…
hanya suara motor dan angin malam yang terdengar.
Dan saat sampai di depan kos…
Tono akhirnya berkata pelan—
“Kalau suatu hari kamu bahagia sama orang lain…”
“…aku harap dia bisa jagain senyum kamu lebih baik dari aku.”
Air mata Titik langsung jatuh lagi.
Karena di balik semua sifat kerasnya…
Tono sebenarnya hanya laki-laki yang terlalu takut kehilangan.
“Maaf…”
“Itu aja?”
Titik menangis sambil mengangguk.
Dan malam itu…
hubungan mereka benar-benar berakhir.
Setelah Tono pergi…
Titik duduk sendiri di depan kos.
Hujan turun perlahan.
Dan anehnya…
di balik semua kesedihan itu…
dadanya terasa sedikit lebih lega.
Dwi yang melihat Titik langsung mendekat.
“Kamu habis nangis?”
Titik mengangguk pelan.
“Udah putus.”
Dwi langsung diam beberapa detik.
Lalu duduk memeluk sahabatnya itu.
“Sakit?”
“Iya…”
“Tapi lega.”
Jawaban itu membuat Dwi mengusap rambutnya pelan.
Karena ia tahu…
hubungan itu memang sudah terlalu lama menyiksa Titik.
“Aku jahat nggak sih?”
“Kenapa?”
“Aku ninggalin orang yang sayang banget sama aku…”
Dwi menggeleng kecil.
“Bertahan dalam hubungan yang bikin kamu hancur juga bukan cinta.”
Kalimat itu membuat Titik kembali menangis.
Namun kali ini…
tangisnya terasa berbeda.
Bukan hanya sedih.
Tetapi juga seperti seseorang yang akhirnya berhasil keluar dari tempat yang selama ini mengurungnya.
Malam semakin larut.
Titik berdiri di depan jendela kamar sambil memandangi hujan.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
ia merasa seperti burung yang akhirnya keluar dari sangkar.
Masih terluka.
Masih lelah.
Namun kembali memiliki langit untuk terbang sesuka hati.
BAB XXVI
AKU MENEMUKAN AKANG DALAM DIRIMU
“Tidak Semua Kehadiran Datang untuk Dicintai, Ada yang Datang untuk Menenangkan Luka”
Setelah putus dari Tono…
hidup Titik berubah perlahan.
Tidak langsung bahagia.
Tidak juga langsung tenang.
Namun setidaknya…
ia tidak lagi merasa sesak setiap hari.
Kini tidak ada lagi yang melarangnya berteman.
Tidak ada lagi yang marah saat ia pergi bersama teman-temannya.
Dan tidak ada lagi rasa takut setiap kali berbicara dengan orang lain.
Namun anehnya…
di tengah kebebasan itu…
Titik justru merasa sangat kosong.
Karena selama ini…
ia terlalu lama hidup di dalam keributan.
Dan ketika semuanya tiba-tiba sunyi…
ia seperti kehilangan arah.
Hari-harinya kembali dipenuhi sekolah dan nongkrong bersama teman-teman.
Namun hubungan mereka tidak pernah benar-benar kembali seperti dulu.
Riyadi masih baik.
Ahmad masih kocak.
Muji masih cerewet.
Namun luka-luka lama membuat ada jarak yang tidak terlihat di antara mereka.
Dan Titik sadar itu.
Satu-satunya orang yang selalu ada mendengarkan tanpa membuatnya merasa tertekan hanyalah Abdul.
Laki-laki itu kini menjadi tempat Titik bercerita hampir setiap hari.
Tentang sekolah.
Tentang hidup.
Tentang rasa lelah yang belum benar-benar hilang.
Sore itu…
mereka duduk di taman Umbul seperti biasa.
Langit mendung.
Angin bertiup pelan.
Dan suasana terasa tenang.
“Kamu sekarang lebih sering senyum.”
Titik tertawa kecil.
“Masa?”
“Iya.”
“Padahal aku masih berantakan.”
Abdul tersenyum tipis.
“Minimal sekarang nggak nangis tiap hari.”
“Eh iya juga ya…”
Mereka tertawa kecil bersama.
Titik memandangi kolam di depan mereka.
Airnya tenang.
Dan entah kenapa…
hati Titik juga terasa sedikit lebih damai saat bersama Abdul.
“Dul…”
“Hm?”
“Makasih ya.”
“Buat apa?”
“Udah mau dengerin aku terus.”
Abdul tertawa kecil.
“Ya masa aku suruh kamu curhat sama pohon.”
“Kan bisa sama kambing.”
“Lebih nyambung kamu sama kambing.”
“EH!”
Mereka kembali tertawa.
Dan tawa itu terasa sangat ringan.
Tanpa tekanan.
Tanpa rasa takut.
“Aku heran sama kamu.”
“Hm?”
“Kok bisa sabar banget.”
Abdul mengangkat bahu santai.
“Mungkin karena aku udah kebal.”
“Kebal apaan?”
“Ngadepin kamu.”
“Kurang ajar.”
Namun beberapa detik kemudian…
raut wajah Titik perlahan berubah murung.
“Aku kangen akang…”
Suasana langsung berubah tenang.
Karena Abdul tahu—
nama itu selalu menjadi luka paling dalam di hati Titik.
“Kamu masih sering mikirin dia?”
Titik mengangguk kecil.
“Kadang kalau aku lagi capek…”
“…aku pengen dia ada.”
Abdul diam mendengarkan.
Dan seperti biasa…
ia tidak pernah memotong cerita Titik.
“Dulu…”
“…kalau aku sedih dia selalu ada.”
“Dia nggak banyak ngomong.”
“Tapi aku selalu merasa aman.”
Air mata Titik mulai menggenang.
Dan Abdul hanya menyerahkan tisu pelan.
“Aku marah sama dia…”
“Karena pergi tanpa pamit?”
Titik mengangguk.
“Kenapa orang yang paling bikin nyaman malah pergi duluan…”
Suara itu terdengar sangat rapuh.
Dan Abdul bisa merasakan—
bahwa luka kehilangan Akang ternyata belum pernah sembuh.
“Kadang orang pergi bukan karena nggak peduli.”
“Tapi karena hidup memaksa mereka pergi.”
Titik menatap Abdul pelan.
“Aku pengen percaya itu…”
Abdul tersenyum kecil.
“Percaya aja.”
Angin sore bertiup lembut.
Daun-daun bergerak pelan.
Dan untuk beberapa saat…
mereka hanya duduk diam menikmati suasana.
“Dul…”
“Hm?”
“Boleh aku jujur?”
“Sejak kapan kamu nggak jujur?”
Titik tertawa kecil.
Namun beberapa detik kemudian…
matanya mulai berkaca-kaca lagi.
“Aku ngerasa…”
“…aku nemuin akang dalam diri kamu.”
DEG.
Abdul langsung terdiam.
Sedangkan Titik sendiri tampak gugup setelah mengucapkan kalimat itu.
“Maksudnya?”
“Kamu bikin aku nyaman.”
“Kamu nggak pernah maksa aku.”
“Kamu selalu ada pas aku sedih.”
Dan yang paling membuat hati Abdul bergetar—
suara Titik terdengar begitu tulus.
“Akang dulu juga kayak gitu…”
“Dia selalu bikin aku merasa aman.”
Air mata Titik jatuh perlahan.
Dan Abdul hanya mendengarkan diam-diam.
“Kadang aku takut…”
“Takut apa?”
“Takut kehilangan kamu juga.”
Kalimat itu membuat dada Abdul terasa sesak.
Karena untuk pertama kalinya…
ia sadar bahwa dirinya sudah menjadi sangat penting dalam hidup Titik.
“Aku nggak bakal pergi tanpa pamit.”
Jawaban Abdul sederhana.
Namun langsung membuat mata Titik kembali basah.
“Jangan tinggalin aku ya…”
Suara Titik lirih sekali.
Dan Abdul langsung mengusap kepala gadis itu pelan seperti seorang kakak.
“Iya.”
Hari-hari berikutnya…
kedekatan mereka semakin terasa.
Namun hubungan itu berbeda.
Tidak seperti hubungan Titik dan Tono.
Tidak penuh drama.
Tidak penuh cemburu.
Dan tidak dipenuhi tuntutan.
Abdul lebih seperti tempat pulang.
Tempat Titik bisa menjadi dirinya sendiri tanpa takut dihakimi.
Kadang mereka hanya duduk ngobrol sampai malam.
Kadang jalan kaki membeli gorengan.
Kadang sekadar mendengarkan Titik mengeluh tentang tugas sekolah.
Dan anehnya…
hal-hal sederhana itu justru terasa sangat berarti bagi Titik.
Suatu malam…
mereka duduk di depan kos sambil minum kopi sachet.
Langit penuh bintang.
Udara dingin.
Dan suasana sangat tenang.
“Kamu pernah jatuh cinta nggak sih Dul?”
Pertanyaan itu membuat Abdul tertawa kecil.
“Pernah lah.”
“Terus?”
“Ya gitu.”
“Gitu gimana?”
“Nggak jadian.”
“Kasihan banget.”
“Daripada kamu.”
“Eh?”
“Dikejar satu sekolah.”
Titik langsung ngakak.
“Kadang aku iri sama kamu.”
“Hah?”
“Kamu bebas.”
“Nggak juga.”
“Kok?”
“Karena orang yang paling bebas biasanya paling kesepian.”
Kalimat itu membuat Titik mendadak diam.
Karena entah kenapa…
ia merasa sangat relate dengan ucapan itu.
“Aku takut sendirian…”
Abdul menatapnya pelan.
“Kamu nggak sendiri.”
Jawaban singkat itu…
langsung membuat hati Titik terasa hangat.
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
Titik merasa hidupnya mulai kembali tenang.
Bukan karena menemukan cinta baru.
Tetapi karena menemukan seseorang…
yang mampu memahami luka-lukanya tanpa berusaha memilikinya.
Seseorang…
yang perlahan membuatnya percaya lagi—
bahwa tidak semua laki-laki datang untuk menyakiti atau mengekang.
Ada juga yang datang…
hanya untuk menjaga hati yang sudah terlalu lama terluka.
BAB XXVII
MEROKOK DI BALIK SENYUM
“Tidak Semua Tawa Berarti Bahagia, Kadang Itu Hanya Cara Seseorang Menyembunyikan Luka”
Hidup Titik perlahan mulai kembali tenang.
Tidak ada lagi pertengkaran besar.
Tidak ada lagi teror dari Tono.
Dan hari-harinya kini lebih banyak dipenuhi kebersamaan sederhana bersama teman-temannya.
Namun di balik semua itu…
ada satu kebiasaan buruk yang diam-diam semakin melekat dalam dirinya.
Merokok.
Awalnya hanya pelampiasan sesaat.
Hanya satu batang saat hati terasa sesak.
Namun lama-kelamaan…
rokok menjadi tempat Titik melarikan diri setiap kali pikirannya penuh.
Pagi itu…
Titik duduk sendirian di belakang bengkel sekolah sebelum pelajaran dimulai.
Udara masih dingin.
Kabut tipis belum sepenuhnya hilang.
Dan di tangannya…
sebatang rokok menyala pelan.
Ia menghembuskan asap perlahan ke udara.
Matanya kosong.
Pikirannya melayang entah ke mana.
Tentang hidup.
Tentang cinta.
Tentang semua kehilangan yang terus datang silih berganti.
“PANTES BAU ASAP.”
Titik langsung kaget.
Abdul berdiri sambil melipat tangan di depan dada.
Wajahnya terlihat kesal.
“Eh…”
“Kamu ngerokok lagi?”
Titik nyengir kecil.
“Cuma satu.”
“Kemarin juga bilang gitu.”
“Ya kan satu-satu jadinya banyak.”
“NAH TUH TAU.”
Titik langsung tertawa kecil.
Namun Abdul tidak ikut tertawa.
“Kamu pikir keren?”
“Nggak.”
“Terus kenapa masih dilakuin?”
Titik mengangkat bahu pelan.
“Biar tenang.”
Abdul langsung duduk di sampingnya.
Wajahnya masih serius.
“Rokok nggak bikin masalah selesai.”
“Tapi bikin pikiranku diam sebentar.”
Jawaban itu membuat Abdul terdiam.
Karena ia tahu…
Titik tidak sedang bercanda.
“Kamu masih sering kepikiran ya?”
Titik memandangi asap yang mengepul.
“Aku capek Dul…”
“Karena hidup?”
“Karena semuanya.”
Suara itu terdengar lirih sekali.
Dan Abdul langsung tahu—
di balik senyum dan tawa Titik selama ini…
masih ada luka yang belum benar-benar sembuh.
“Kamu tuh aneh.”
“Hah?”
“Kalau orang lain lihat kamu…”
“…mereka pasti pikir hidupmu enak.”
Titik tertawa kecil pahit.
“Padahal aku capek jadi aku.”
Kalimat itu membuat dada Abdul terasa sesak.
“Semua orang suka sama aku.”
“Tapi aku malah sering merasa sendirian.”
Angin pagi bertiup pelan.
Dan untuk beberapa saat…
mereka hanya diam.
Abdul akhirnya merebut rokok di tangan Titik.
“Eh!”
“Udah cukup.”
“Balikin.”
“Nggak.”
“Peliiit.”
Abdul langsung mematikan rokok itu.
Dan anehnya…
Titik tidak marah.
Karena ia tahu—
Abdul melakukan itu karena peduli.
“Kamu tahu nggak…”
“Hm?”
“Aku takut suatu hari kamu benar-benar hancur.”
Kalimat itu membuat Titik menunduk pelan.
“Aku juga takut…”
“Terus kenapa nggak berhenti?”
Titik tersenyum kecil.
“Karena kadang…”
“…asap lebih gampang diajak ngobrol daripada manusia.”
DEG.
Jawaban itu membuat Abdul tidak bisa langsung bicara.
Karena kalimat itu terdengar sangat sedih.
Bel sekolah akhirnya berbunyi.
Dan mereka berjalan menuju kelas bersama.
Namun sepanjang jalan…
Abdul terus memperhatikan Titik diam-diam.
Karena semakin lama…
ia semakin sadar bahwa gadis itu sebenarnya jauh lebih rapuh daripada yang terlihat.
Di kelas…
suasana kembali ramai seperti biasa.
Ahmad sedang bercanda.
Muji sibuk menggambar di papan.
Sedangkan Riyadi membaca buku sambil sesekali memperhatikan Titik.
“WOY TITIK!”
“Hm?”
“Kamu kalau jadi artis jangan lupain kita.”
“Ngapain aku jadi artis?”
“Soalnya drama hidupmu banyak.”
Satu kelas langsung tertawa keras.
Termasuk Titik.
Namun di balik tawanya…
hatinya terasa kosong.
Siang harinya…
Dwi memergoki Titik merokok lagi di belakang kantin.
“YA ALLAH!”
Titik langsung panik.
“Dwe…”
“Kamu makin parah!”
“Pelan dikit napa…”
“Cewek cantik kok ngerokok.”
“Emang cantik?”
“FOKUS TITIK!”
Mereka berdua akhirnya tertawa kecil.
Namun setelah itu…
Dwi mendadak diam.
“Kamu sebenarnya belum sembuh ya…”
Pertanyaan itu langsung membuat senyum Titik perlahan hilang.
“Aku nggak tahu…”
“Kadang aku ketawa.”
“Tapi malamnya nangis lagi.”
Dwi langsung memeluk sahabatnya itu.
Dan Titik akhirnya kembali menangis diam-diam di pundaknya.
“Aku lelah Dwe…”
“Aku tahu.”
“Kenapa hidupku rumit banget…”
“Karena kamu terlalu mikirin semua orang.”
Kalimat itu kembali terdengar.
Dan lagi-lagi…
Titik merasa semua orang mengatakan hal yang sama padanya.
Malam harinya…
Titik duduk di depan kos bersama Abdul.
Seperti biasa.
Mereka minum kopi sachet sambil ngobrol hal-hal random.
“Kalau kamu punya satu permintaan…”
“…apa yang paling pengen kamu ulang?”
Pertanyaan Abdul membuat Titik diam cukup lama.
Lalu perlahan ia menjawab—
“Masa waktu akang masih ada.”
Sunyi.
Dan Abdul bisa melihat—
betapa dalam luka kehilangan itu masih tersimpan di hati Titik.
“Aku kadang marah sama dia.”
“Karena pergi?”
Titik mengangguk.
“Tapi aku juga kangen…”
Air matanya mulai jatuh lagi.
Dan Abdul hanya duduk di sampingnya tanpa bicara.
“Kamu tahu nggak…”
“Hm?”
“Kalau aku lagi sedih…”
“…aku suka berharap tiba-tiba dia datang.”
Suara Titik begitu kecil.
Begitu rapuh.
Dan Abdul merasa hatinya ikut nyeri mendengarnya.
“Aku takut dilupain…”
Kalimat itu membuat Abdul langsung menatapnya.
“Siapa yang bakal lupain kamu?”
“Semua orang akhirnya pergi…”
Abdul menghela napas kecil.
Lalu berkata pelan—
“Aku nggak janji bakal selalu ada…”
“…tapi selama aku masih bisa nemanin kamu, aku bakal ada.”
Air mata Titik kembali jatuh.
Namun kali ini…
ia tersenyum kecil di sela tangisnya.
“Makasih ya Dul…”
“Hm?”
“Udah jadi kakak yang baik.”
Kalimat itu membuat Abdul tersenyum tipis.
Dan malam itu…
hubungan mereka terasa semakin dekat.
Bukan sebagai kekasih.
Bukan juga sekadar teman biasa.
Tetapi seperti dua orang yang sama-sama saling menjaga luka satu sama lain.
Namun jauh di dalam hati Titik…
masih ada kehampaan yang belum terisi.
Dan tanpa ia sadari…
kehampaan itu perlahan kembali membuka jalan bagi masa lalunya untuk datang sekali lagi.
BAB XXVIII
MALIOBORO, MALAM TAHUN BARU, DAN HATI YANG KEMBALI HIDUP
“Ada Kenangan yang Tidak Pernah Mati, Karena Ia Tercipta Saat Kita Benar-Benar Bahagia”
Malam tahun baru di Klaten selalu terasa berbeda.
Jalanan mulai ramai sejak sore.
Suara petasan terdengar di mana-mana.
Lampu-lampu kota terlihat lebih hidup.
Dan anak-anak STM…
tentu saja sudah menyiapkan rencana untuk jalan-jalan bersama.
“POKOKNYA MALAM INI KITA HARUS BERANGKAT!”
Ahmad berdiri di tengah kelas sambil berteriak seperti komandan perang.
Muji langsung nyeletuk—
“Lu kalau nggak teriak bisa mati ya?”
“INI SEMANGAT!”
“Ini gangguan mental.”
Satu kelas langsung pecah tertawa.
Titik yang duduk dekat jendela ikut tersenyum kecil.
Sudah lama ia tidak benar-benar menikmati suasana seperti ini.
Dan malam itu…
ia ingin mencoba melupakan semua masalahnya sejenak.
“Ayo ikut ya Tik,” kata Dwi sambil mengguncang lengannya.
“Ke mana emang?”
“Malioboro terus lanjut Parangtritis!”
“Hah? Jauh amat.”
“Namanya juga malam tahun baru!”
Ahmad langsung ikut nimbrung—
“Kalau perlu kita nyasar sampai Jakarta!”
“Lu aja sana nyasar sendiri.”
Akhirnya mereka sepakat berangkat ramai-ramai.
Ada yang naik motor.
Ada yang nebeng.
Ada juga yang naik kereta sambung.
Dan seperti biasa…
perjalanan mereka selalu penuh keributan.
“WOY SIAPA YANG BAWA GITAR?!”
“MUJI!”
“JANGAN NYANYI NANTI KACA RETAK!”
“Kurang ajar!”
Sepanjang jalan…
suara tawa mereka tidak berhenti.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
Titik tertawa tanpa beban.
Abdul yang duduk di belakang motor bersama Ahmad memperhatikan Titik diam-diam.
Melihat gadis itu kembali tertawa lepas…
entah kenapa membuat hatinya ikut lega.
Mereka sampai di Malioboro menjelang malam.
Suasana kota Jogja begitu ramai.
Lampu jalan menyala indah.
Pedagang kaki lima memenuhi trotoar.
Musik jalanan terdengar di mana-mana.
Dan udara malam terasa hangat oleh keramaian.
“WOOOO JOGJAAA!”
Ahmad langsung berlari kecil seperti anak TK piknik.
Muji menarik kerah bajunya.
“Malu-maluin.”
Titik tertawa sampai memegang perut.
Mereka berjalan bersama menyusuri Malioboro.
Kadang berhenti melihat aksesoris.
Kadang membeli jajanan murah.
Kadang hanya duduk menikmati suasana jalanan.
Dan anehnya…
hal sederhana itu terasa begitu membahagiakan.
“Titik sini!”
Dwi memanggil dari depan penjual gelang.
“Lucu nggak?”
“Lucu.”
“Belikan.”
“ENAK AJA.”
Mereka kembali tertawa.
Sedangkan Riyadi diam-diam membayar gelang kecil itu tanpa bilang apa-apa.
“Heh siapa yang bayar?”
Riyadi pura-pura bingung.
“Nggak tahu.”
“YADI!”
Ahmad langsung nyeletuk—
“CINTA MEMANG BUTA.”
Seketika semua langsung ribut.
Sedangkan Riyadi cuma tersenyum malu.
Titik memandangi gelang kecil di tangannya cukup lama.
Dan tanpa sadar…
hatinya terasa hangat.
Bukan karena hadiah itu mahal.
Namun karena perhatian kecil seperti itulah yang selama ini paling ia hargai.
Malam semakin larut.
Keramaian Malioboro semakin padat.
Dan mereka akhirnya duduk lesehan di pinggir jalan sambil makan angkringan.
“Kalau nanti kita tua…”
“…kira-kira masih bisa kumpul kayak gini nggak ya?”
Pertanyaan Titik mendadak membuat suasana sedikit hening.
“Kalau Ahmad sih paling udah ditangkap polisi,” jawab Muji cepat.
“WOY!”
Semua langsung tertawa lagi.
Namun setelah tawa reda…
Riyadi menjawab pelan—
“Semoga aja masih.”
Kalimat sederhana itu…
entah kenapa terasa sangat hangat.
Setelah puas di Malioboro…
rombongan mereka melanjutkan perjalanan ke Pantai Parangtritis.
Angin malam semakin dingin.
Namun semangat mereka justru makin besar.
Perjalanan panjang itu dipenuhi lagu-lagu random.
Ahmad nyanyi fals.
Muji protes terus.
Dwi tertawa tanpa henti.
Dan Titik…
duduk memandangi jalanan sambil tersenyum kecil.
Sesampainya di pantai…
jam hampir menunjukkan tengah malam.
Ombak terdengar keras.
Angin laut menerpa wajah mereka.
Dan langit malam terlihat begitu luas.
“DINGIN WOY!”
“Tuh kan sok keren nggak bawa jaket!”
Mereka semua langsung berlari kecil mencari tempat duduk.
Namun Titik justru berjalan mendekati bibir pantai.
Angin menerbangkan rambutnya.
Suara ombak terasa menenangkan.
Dan untuk pertama kalinya…
ia merasa hidupnya benar-benar kembali hidup.
“Sendiri aja.”
Suara Abdul terdengar dari belakang.
Titik menoleh lalu tersenyum kecil.
“Aku cuma pengen lihat laut.”
“Lautnya nggak ke mana.”
“Hatiku yang suka ke mana-mana.”
Abdul tertawa kecil.
Mereka berdiri berdampingan memandangi ombak.
Tidak banyak bicara.
Namun suasana itu terasa nyaman.
“Aku kangen jadi diriku yang dulu.”
Suara Titik pelan.
“Kamu sekarang juga masih Titik.”
“Nggak…”
“Aku sekarang lebih gampang sedih.”
Abdul memandangnya beberapa detik sebelum berkata—
“Orang yang banyak terluka biasanya memang jadi lebih sensitif.”
Kalimat itu membuat Titik tersenyum tipis.
“Aku takut suatu hari semua kenangan ini hilang.”
“Kenangan nggak hilang.”
“Hm?”
“Cuma orangnya yang jalan ke arah berbeda.”
DEG.
Kalimat itu membuat hati Titik mendadak sendu.
Karena ia sadar…
sebentar lagi semua akan lulus dan berpisah.
Jam menunjukkan pukul dua belas malam.
Dan tiba-tiba…
langit dipenuhi suara kembang api.
DUARRR!
Cahaya warna-warni memenuhi langit Parangtritis.
Semua orang berteriak senang.
“SELAMAT TAHUN BARU!”
Ahmad langsung loncat-loncat kayak kesurupan.
Muji tertawa sampai jatuh di pasir.
Dwi memeluk Titik sambil berteriak kegirangan.
Dan suasana malam itu terasa begitu hidup.
Titik memandang langit penuh cahaya.
Matanya perlahan berkaca-kaca.
Bukan karena sedih.
Tetapi karena bahagia.
Bahagia sederhana yang sudah lama tidak ia rasakan.
“Aku pengen malam ini nggak selesai…”
Suara Titik lirih.
Abdul tersenyum kecil.
“Kalau nggak selesai nanti kita nggak pulang.”
“Ya juga sih.”
Mereka tertawa kecil bersama.
Dan malam itu…
di bawah langit Parangtritis yang dipenuhi kembang api…
Titik akhirnya sadar satu hal.
Bahwa hidupnya memang penuh luka.
Penuh kehilangan.
Penuh cinta yang rumit.
Namun di tengah semua itu…
ia masih punya orang-orang yang membuatnya merasa berarti.
Orang-orang yang membuatnya kembali tertawa.
Dan orang-orang yang diam-diam menjadi rumah…
saat hatinya mulai lelah berjalan sendiri.
BAB XXIX
GUNUNG, KABUT, DAN HATI YANG MULAI IKHLAS
“Semakin Tinggi Kita Mendaki, Semakin Kita Belajar Bahwa Hidup Tidak Selalu Tentang Memiliki”
Hari-hari setelah malam tahun baru terasa jauh lebih ringan bagi Titik.
Ia mulai tertawa lebih sering.
Mulai kembali menikmati sekolah.
Dan perlahan…
ia belajar berdamai dengan semua luka yang pernah datang dalam hidupnya.
Namun satu hal tentang Titik tidak pernah berubah.
Ia selalu menyukai kebebasan.
Menyukai perjalanan.
Dan menyukai tempat-tempat yang membuatnya merasa kecil di hadapan Tuhan.
Salah satunya—
gunung.
“JADI FIX NAIK MERAPI?!”
Ahmad berteriak heboh di tengah kelas.
“Fix apanya, tenda aja nggak punya,” sahut Muji.
“Namanya juga anak muda!”
“Namanya juga calon hilang.”
Satu kelas langsung tertawa.
Titik yang mendengar obrolan itu langsung tertarik.
“Nggak bahaya?”
Ahmad langsung mendekat.
“Bahaya dikit nggak masalah.”
“Itu bukan motivasi bagus.”
“Yang penting pemandangannya keren!”
Dan begitulah…
rencana mendaki Gunung Merapi akhirnya dimulai.
Tanpa persiapan matang.
Tanpa perlengkapan lengkap.
Dan tentu saja…
penuh modal nekat khas anak STM.
Malam sebelum berangkat…
Dwi langsung panik melihat isi tas Titik.
“INI APAAN?”
“Hah?”
“Kamu naik gunung bawa sisir tiga?!”
“Kan rambut harus tetap cantik.”
“Ya Allah…”
Mereka berdua langsung tertawa keras.
Keesokan paginya…
rombongan kecil mereka akhirnya berangkat.
Ada Ahmad.
Muji.
Riyadi.
Abdul.
Dwi.
Dan beberapa teman lain.
Sedangkan Titik…
menjadi satu-satunya perempuan paling heboh di rombongan itu.
Perjalanan menuju kaki gunung dipenuhi candaan.
Ahmad tidak berhenti nyanyi.
Muji tidak berhenti ngomel.
Dan Titik tertawa hampir sepanjang jalan.
“Tik.”
“Hm?”
“Nanti kalau capek bilang ya.”
Riyadi berjalan di sampingnya sambil membawa carrier besar.
Titik tersenyum kecil.
“Iya Ayah.”
“Kurang ajar.”
Pendakian dimulai sore hari.
Awalnya masih terasa mudah.
Jalur tanah.
Pepohonan rindang.
Udara dingin.
Dan suasana yang membuat hati terasa tenang.
“WOOO KEREN!”
Ahmad langsung foto di mana-mana.
Muji geleng-geleng kepala.
“Baru jalan lima menit udah kayak penjelajah dunia.”
Namun semakin tinggi mereka mendaki…
jalur mulai berubah berat.
Napas mulai ngos-ngosan.
Kaki mulai pegal.
Dan udara semakin dingin.
“TITIK MASIH KUAT?”
teriak Abdul dari depan.
“MASIH!”
Padahal sebenarnya…
kakinya sudah terasa gemetar.
Beberapa jam kemudian…
kabut mulai turun.
Jalur semakin gelap.
Dan mereka akhirnya berhenti untuk istirahat.
Titik duduk di atas batu besar sambil mengatur napas.
Wajahnya pucat.
Namun matanya justru terlihat bahagia.
“Capek?”
Abdul duduk di sampingnya sambil menyerahkan air minum.
“Banget.”
“Terus kenapa senyum?”
Titik memandang langit yang mulai gelap.
“Karena rasanya hidup.”
Jawaban itu membuat Abdul tersenyum kecil.
“Aneh ya…”
“Hm?”
“Di bawah aku sering sedih.”
“Tapi di sini…”
“…aku malah tenang.”
Abdul mengangguk pelan.
“Mungkin karena di gunung…”
“…kita sadar masalah kita kecil.”
Kalimat itu membuat Titik diam cukup lama.
Karena memang benar.
Di hadapan alam sebesar ini…
semua luka cintanya terasa sangat kecil.
Perjalanan dilanjutkan malam hari.
Dan di sinilah perjuangan sebenarnya dimulai.
Jalur berbatu.
Udara menusuk.
Kabut semakin tebal.
Dan angin terasa begitu dingin.
“AHMAD JANGAN NYANYI!”
“BIAR SEMANGAT!”
“ITU BIKIN SETAN IKUT SEMANGAT!”
Mereka tetap tertawa di tengah lelah.
Karena candaan kecil seperti itulah yang membuat perjalanan terasa ringan.
Namun beberapa jam kemudian…
hujan mulai turun.
Awalnya kecil.
Lalu semakin deras.
Dan jalur berubah sangat licin.
“PEGANG TANGANKU!”
Abdul membantu Titik melewati jalur berbatu.
Tangan Titik dingin sekali.
Tubuhnya mulai gemetar.
“Aku nggak kuat…”
“Sedikit lagi.”
“Aku capek…”
“Nanti kita istirahat.”
Suara Abdul tetap tenang.
Dan entah kenapa…
itu selalu berhasil membuat Titik lebih kuat.
Mereka akhirnya berhenti di sebuah pos kecil.
Semua basah kuyup.
Kedinginan.
Dan wajah Ahmad sudah pucat seperti mayat kurang tidur.
“GILA…”
“Aku mau pulang…”
Muji langsung nyengir.
“Tadi paling semangat.”
“Aku menyesal jadi manusia.”
Semua langsung tertawa meski tubuh mereka menggigil.
Titik duduk memeluk lutut.
Tubuhnya gemetar hebat karena dingin.
Dan Abdul langsung memberikan jaketnya.
“Pakai.”
“Kamu nanti dingin.”
“Aku lebih takut kamu sakit.”
Kalimat itu sederhana.
Namun membuat hati Titik terasa hangat.
Malam semakin larut.
Kabut semakin tebal.
Dan mereka akhirnya memutuskan tetap melanjutkan pendakian menuju puncak.
Perjalanan terakhir terasa paling berat.
Napas sesak.
Kaki nyaris tidak kuat melangkah.
Dan angin dingin terus menghantam tubuh mereka.
“Aku nyerah…”
Suara Titik hampir menangis.
Abdul langsung berdiri di depannya.
“Lihat aku.”
Titik mengangkat wajah pelan.
“Kalau hidup aja kamu bisa lewatin…”
“…masa gunung kalah.”
DEG.
Kalimat itu langsung membuat Titik terdiam.
Dan entah dari mana…
ia kembali menemukan tenaga untuk berjalan.
Selangkah demi selangkah.
Melewati dingin.
Melewati lelah.
Melewati rasa ingin menyerah.
Hingga akhirnya…
menjelang subuh…
mereka sampai di puncak Merapi.
Langit perlahan berubah jingga.
Kabut bergerak pelan.
Dan matahari mulai muncul dari balik gunung.
Semua langsung terdiam.
Karena pemandangan di depan mereka terlalu indah untuk dijelaskan.
Titik memandang luasnya langit dengan mata berkaca-kaca.
Angin menerpa wajahnya.
Dan tanpa sadar…
air matanya jatuh pelan.
“Kenapa nangis?”
Suara Abdul terdengar lembut.
Titik tersenyum kecil sambil mengusap air matanya.
“Aku cuma…”
“…ngerasa kecil banget.”
Ia menatap matahari perlahan naik.
Dan untuk pertama kalinya…
hatinya terasa sangat tenang.
“Semua yang aku jalanin…”
“…ternyata nggak seberapa.”
Suara itu lirih.
Namun penuh keikhlasan.
Abdul berdiri di sampingnya.
Tidak banyak bicara.
Namun kehadirannya selalu cukup.
“Dul…”
“Hm?”
“Mungkin hidup memang kayak naik gunung ya.”
“Kok gitu?”
“Capek.”
“Banyak luka.”
“Kadang pengen nyerah.”
“Tapi indah kalau berhasil dilewatin.”
Abdul tersenyum kecil.
“Dan jangan lupa…”
“Hm?”
“Turunnya juga susah.”
“YA ELAH!”
Mereka langsung tertawa bersama di tengah dinginnya puncak Merapi.
Dan pagi itu…
di atas gunung yang dipenuhi kabut…
Titik mulai belajar satu hal penting.
Bahwa hidup tidak selalu tentang siapa yang tinggal atau pergi.
Tidak selalu tentang cinta yang berhasil dimiliki.
Kadang…
hidup hanya tentang terus berjalan…
meski hati pernah hancur berkali-kali.
BAB XXX
CINTA LAMA BERSEMI KEMBALI
“Setinggi-Tingginya Merpati Terbang, Ia Akan Pulang ke Tempat yang Membuatnya Tenang”
Waktu berjalan begitu cepat.
Tanpa terasa…
masa-masa STM akhirnya sampai di ujung perjalanan.
Semua kesibukan sekolah perlahan berubah menjadi kesibukan ujian akhir.
Kelas yang dulu selalu ramai…
kini mulai dipenuhi rasa takut akan perpisahan.
Ahmad masih tetap berisik.
Muji masih suka ngomel.
Dwi masih menjadi sahabat paling cerewet.
Dan Riyadi…
masih diam-diam memperhatikan Titik dengan cara yang sama.
Namun kini semuanya terasa berbeda.
Karena mereka tahu…
sebentar lagi hidup akan membawa masing-masing menuju jalan yang berbeda.
Hari pengumuman kelulusan tiba.
Suasana sekolah begitu ramai.
Anak-anak berteriak.
Ada yang menangis.
Ada yang saling peluk.
Dan ada juga yang sibuk coret-coret seragam.
“TITIK LULUSSSS!”
Dwi langsung memeluknya sambil lompat-lompat.
“LEPAS AKU WEH!”
“NGGAK MAU!”
Ahmad ikut teriak dari kejauhan—
“AKHIRNYA NEGARA SELAMAT!”
“Mulutmu ya!”
Semua langsung tertawa keras.
Namun di balik semua kebahagiaan itu…
hati Titik justru terasa aneh.
Kosong.
Seperti ada sesuatu yang perlahan berakhir.
Malam harinya…
mereka berkumpul terakhir kali di taman Umbul.
Tempat yang selama ini menjadi saksi begitu banyak cerita mereka.
Tentang tawa.
Tentang persahabatan.
Tentang cinta.
Dan tentang luka.
“Aku nggak nyangka kita sampai sejauh ini.”
Riyadi membuka suara pelan.
“Iya…”
“Dulu kita masih bocah tengil.”
“Sekarang juga masih.”
Semua tertawa kecil.
Namun mata mereka perlahan mulai berkaca-kaca.
“Kalau nanti kita sibuk…”
“…jangan pura-pura nggak kenal ya.”
Suara Dwi mulai bergetar.
Ahmad langsung nyeletuk—
“Kalau jadi orang sukses jangan lupa traktir!”
“OTAKMU MAKAN TERUS!”
Malam itu…
mereka berbicara sangat lama.
Tentang mimpi.
Tentang masa depan.
Tentang harapan-harapan sederhana.
Dan Titik sadar…
ia akan sangat merindukan semua ini.
Setelah kelulusan…
satu per satu teman-temannya mulai pulang ke daerah masing-masing.
Ada yang langsung bekerja.
Ada yang melanjutkan kuliah.
Dan ada juga yang memilih membantu orang tua.
Abdul pun akhirnya harus pulang ke Batang.
Dan berita itu…
membuat hati Titik kembali berat.
“Kapan berangkat?”
“Besok pagi.”
Cepat sekali.
Titik menunduk pelan.
Karena ia tidak pernah membayangkan harus kehilangan Abdul juga.
Malam terakhir sebelum Abdul pulang…
mereka duduk berdua di depan kos.
Seperti biasanya.
Dengan kopi sachet murah.
Dan obrolan yang mengalir pelan.
“Kamu nanti jangan ngerokok terus.”
Abdul membuka suara.
Titik tertawa kecil.
“Masih aja diomelin.”
“Karena bandel.”
“Kalau aku nggak bandel bukan Titik namanya.”
Abdul tersenyum tipis.
Namun matanya terlihat sendu.
“Nanti kalau sedih…”
“…jangan dipendam sendiri.”
“Iya.”
“Janji?”
Titik mengangguk kecil.
Namun dalam hatinya…
ia tahu akan sangat kehilangan sosok laki-laki itu.
“Makasih ya Dul…”
“Hm?”
“Udah jadi rumah waktu aku kehilangan arah.”
Kalimat itu membuat Abdul terdiam cukup lama.
Lalu ia tersenyum kecil.
“Kamu juga udah jadi adik paling nyebelin.”
“Enak aja.”
Mereka tertawa pelan bersama.
Namun beberapa detik kemudian…
mata Titik mulai berkaca-kaca.
“Aku takut kehilangan lagi…”
Suara itu lirih sekali.
Dan Abdul langsung mengusap kepalanya pelan.
“Kita cuma jauh.”
“Bukan hilang.”
Air mata Titik akhirnya jatuh.
“Kamu jangan pergi tanpa pamit ya…”
“Kali ini aku pamit.”
Jawaban itu langsung membuat Titik tersenyum sambil menangis.
Pagi harinya…
Abdul benar-benar pergi.
Dan saat bus mulai berjalan meninggalkan terminal…
Titik kembali merasakan rasa kosong yang dulu pernah datang saat Akang pergi.
Namun kali ini…
ia mencoba belajar ikhlas.
Tak lama setelah itu…
Titik pun memutuskan pulang kampung.
Untuk sementara menunggu pendaftaran kuliah.
Dan perjalanan pulang itu…
membawa begitu banyak kenangan memenuhi pikirannya.
Tentang Klaten.
Tentang Malioboro.
Tentang gunung.
Tentang sahabat-sahabatnya.
Dan tentang semua orang yang pernah singgah di hidupnya.
Saat sampai di kampung…
udara sore terasa begitu familiar.
Sawah masih sama.
Jalan kecil masih sama.
Dan suara anak-anak bermain masih terdengar seperti dulu.
Namun ada satu hal yang berbeda.
Kafid kini sudah benar-benar kembali tinggal di kampung.
Pertemuan mereka kali ini terasa jauh lebih tenang.
Tidak lagi canggung seperti dulu.
Tidak lagi penuh gengsi masa remaja.
Karena kini…
mereka sama-sama sudah lebih dewasa.
“Selamat datang kembali.”
Kafid tersenyum kecil saat melihat Titik di depan rumah.
“Kamu nggak kerja?”
“Libur.”
“Tumben.”
“Biar bisa lihat kamu.”
Titik langsung tersipu malu.
Mereka mulai sering bersama lagi.
Kadang jalan sore keliling kampung.
Kadang duduk di warung kopi.
Kadang membantu Bu Yati di rumah.
Dan perlahan…
hubungan mereka kembali tumbuh dengan cara yang jauh lebih sederhana.
Kini tidak ada lagi cinta posesif.
Tidak ada lagi drama berlebihan.
Dan tidak ada lagi rasa ingin saling memiliki secara egois.
Yang ada hanya dua orang…
yang pernah saling kehilangan dan kini kembali dipertemukan waktu.
Suatu malam…
mereka duduk di dekat lapangan kampung sambil melihat pertunjukan kuda lumping.
Tempat yang dulu pertama kali mempertemukan mereka.
“Kamu masih ingat?”
Kafid tersenyum kecil.
“Mana mungkin lupa.”
“Dulu kamu malu-malu banget.”
“Kamu juga.”
Titik tertawa kecil.
Dan malam itu…
rasanya seperti waktu kembali mundur bertahun-tahun lalu.
“Kita aneh ya.”
“Hm?”
“Udah muter ke mana-mana…”
“…ujung-ujungnya balik lagi.”
Kafid memandang Titik cukup lama sebelum menjawab—
“Karena rumah terbaik biasanya memang tempat pertama hati kita pulang.”
DEG.
Kalimat itu langsung membuat hati Titik hangat.
Angin malam bertiup pelan.
Suara gamelan terdengar samar.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
Titik merasa benar-benar tenang.
“Aku dulu marah sama kamu.”
“Karena pergi?”
Titik mengangguk kecil.
“Tapi sekarang aku ngerti…”
“Kita sama-sama masih terlalu muda waktu itu.”
Kafid tersenyum kecil.
“Makasih udah mau nerima aku lagi.”
Titik menatap langit malam cukup lama.
Lalu berkata pelan—
“Mungkin…”
“…cinta pertama memang nggak pernah benar-benar hilang.”
Kafid menggenggam tangan Titik perlahan.
Tidak erat.
Tidak memaksa.
Namun cukup hangat untuk membuat hati Titik yakin—
bahwa kali ini…
ia sudah menemukan tempat pulangnya kembali.
Dan malam itu…
di bawah langit kampung yang penuh bintang…
kisah mereka kembali dimulai.
Bukan lagi sebagai dua remaja labil yang penuh ego.
Tetapi sebagai dua hati…
yang akhirnya belajar bahwa cinta sejati bukan tentang mengekang.
Bukan tentang memiliki.
Melainkan tentang pulang…
kepada seseorang yang selalu membuat hati merasa tenang.
EPILOG
HARI BERJALAN
“Pada Akhirnya, Hidup Akan Membawa Kita Pulang Kepada Kenangan yang Paling Menguatkan”
Hari terus berjalan.
Waktu tidak pernah berhenti hanya karena seseorang sedang terluka.
Dan hidup…
tetap memaksa setiap manusia melangkah ke depan.
Setelah semua perjalanan panjang itu…
Titik akhirnya mulai memahami banyak hal tentang hidupnya sendiri.
Tentang cinta.
Tentang kehilangan.
Tentang perpisahan.
Dan tentang dirinya yang selama ini hanya ingin dicintai dengan sederhana.
Kampung kecil itu masih sama.
Sawah masih hijau.
Angin sore masih membawa aroma tanah yang menenangkan.
Dan suara anak-anak bermain masih terdengar setiap senja.
Namun Titik tahu…
dirinya sudah berubah.
Ia bukan lagi gadis SMP yang mudah menangis karena cinta pertama.
Bukan lagi remaja STM yang terjebak dalam cinta posesif dan luka batin.
Kini…
ia mulai belajar menjadi perempuan yang lebih kuat.
Kadang…
saat malam tiba dan suasana mulai sunyi…
Titik masih mengingat semua orang yang pernah hadir dalam hidupnya.
Nur.
Yang mengajarkan tentang cinta pertama dan kehilangan.
Tono.
Yang mencintainya terlalu dalam hingga lupa cara membebaskannya.
Toro.
Yang datang sebagai cinta paling tenang di masa mudanya.
Riyadi.
Yang diam-diam selalu menjaga tanpa pernah memaksa memiliki.
Dan Abdul…
sosok yang hadir seperti Akang yang pernah hilang.
Tentang Abdul…
Titik masih sering tersenyum sendiri saat mengingat laki-laki itu.
Tentang kopi sachet di depan kos.
Tentang omelan soal rokok.
Tentang gunung.
Tentang malam-malam panjang penuh curhat.
Dan tentang satu kalimat yang selalu diingat Titik—
“Kalau hidup aja kamu bisa lewatin, masa gunung kalah.”
Kalimat sederhana…
namun selalu berhasil membuat Titik bertahan setiap kali hidup terasa berat.
Kadang mereka masih saling berkirim surat.
Kadang hanya saling titip kabar lewat teman.
Namun hubungan itu tetap sama.
Hangat.
Tulus.
Dan tidak pernah berubah menjadi rumit.
Karena tidak semua hubungan harus menjadi cinta untuk terasa berarti.
Sedangkan Kafid…
perlahan benar-benar kembali menjadi bagian penting dalam hidup Titik.
Hubungan mereka kini jauh lebih dewasa.
Tidak lagi penuh cemburu kekanak-kanakan.
Tidak lagi dipenuhi drama seperti masa SMP dulu.
Kini mereka lebih banyak berjalan berdampingan.
Saling mendukung.
Dan belajar memahami satu sama lain.
Kadang mereka duduk bersama di pinggir sawah saat sore.
Kadang membantu Bu Yati di rumah.
Kadang sekadar berjalan kaki keliling kampung sambil membahas masa depan.
Hal-hal sederhana…
namun justru terasa paling membahagiakan.
Suatu malam…
Titik duduk sendirian di teras rumah.
Langit penuh bintang.
Angin malam bertiup lembut.
Dan suara jangkrik terdengar dari kejauhan.
Di tangannya…
masih ada boneka panda kecil cokelat pemberian Toro dulu.
Boneka itu masih disimpan rapi sampai sekarang.
Bukan karena masih cinta.
Namun karena itu bagian dari perjalanan hidupnya.
Bagian dari kenangan yang pernah membuatnya tumbuh.
Titik tersenyum kecil.
Lalu memandang langit panjang.
“Hidupku ternyata ramai sekali ya…”
gumamnya pelan.
Bu Yati yang keluar rumah tersenyum kecil melihat anaknya melamun.
“Mikir apa?”
“Mikir masa lalu.”
“Nyese l nggak?”
Titik diam sebentar.
Lalu perlahan menggeleng.
“Nggak.”
“Karena semua itu bikin Titik jadi sekarang.”
Bu Yati tersenyum hangat.
Lalu duduk di samping putrinya.
“Kamu sekarang lebih tenang.”
“Iya Bu…”
“Titik capek kalau harus hidup dalam drama terus.”
Mereka tertawa kecil bersama.
“Aku dulu pikir cinta itu harus selalu memiliki.”
Suara Titik pelan.
“Tapi ternyata…”
“…cinta juga bisa berarti mengikhlaskan.”
Bu Yati mengusap rambut anaknya lembut.
Dan malam itu terasa sangat damai.
Tak jauh dari rumah…
suara gamelan latihan kuda lumping terdengar samar.
Suara yang dulu menjadi awal pertemuannya dengan Kafid.
Suara yang dulu menjadi saksi cinta pertamanya tumbuh.
Dan kini…
menjadi pengingat bahwa hidup memang sering berputar dengan cara yang aneh.
Setinggi-tingginya merpati terbang…
akhirnya akan pulang juga.
Dan mungkin…
begitulah hati manusia.
Sejauh apa pun berjalan…
ia akan kembali mencari tempat paling nyaman untuk pulang.
Titik akhirnya sadar—
bahwa selama ini…
yang paling ia cari bukanlah cinta yang berlebihan.
Bukan cinta yang posesif.
Bukan juga cinta yang membuatnya dipuja seperti ratu.
Yang ia cari hanyalah seseorang…
yang mampu membuatnya merasa tenang tanpa harus kehilangan dirinya sendiri.
Dan ketenangan itu…
akhirnya ia temukan kembali pada cinta pertamanya.
Hari terus berjalan.
Musim terus berganti.
Dan hidup terus bergerak maju.
Namun semua kenangan tentang masa muda itu…
akan selalu hidup di hati Titik.
Tentang persahabatan.
Tentang gunung.
Tentang air mata.
Tentang rokok di balik senyum.
Tentang orang-orang yang datang dan pergi.
Dan tentang cinta lama…
yang akhirnya benar-benar bersemi kembali.
Karena pada akhirnya…
hidup bukan tentang siapa yang paling lama tinggal.
Tetapi tentang siapa yang tetap mampu membuat hati merasa pulang.
SELESAI
Slamet Riyadi
29 Juli 2025 03:27:50
Semoga kita bisa kerjasama bu. ...