ROMAN EPIK
PENGEMBARA DUA LANGIT
BUKU II: PETA DI BAWAH BINTANG
"Ketika peta tak menunjukkan jalan, pengembara harus menuliskan jalannya sendiri dengan air mata dan harapan."
Oleh: Slamet Riyadi
PROLOG
Kidung Pembuka
Mlaku ing dalan ora ngerti wektu,
Langit gemerlap nanging ati peteng,
Nggawa peta sing durung ana garisan,
Nggoleki wong sing ilang ing tengah kalangan.
Malam sebelum Arga berangkat ke kota, desa Wringinrejo tenggelam dalam keheningan yang aneh.
Bukan keheningan seperti biasanya. Bukan keheningan yang nyaman, yang membuat orang bisa tidur nyenyak setelah seharian bekerja di sawah. Bukan keheningan yang diisi suara jangkrik dan kodok dan angin yang berbisik di antara daun, daun pisang.
Ini keheningan yang lain.
Keheningan yang tegang.
Keheningan yang seperti menahan napas terlalu lama.
Arga duduk di beranda rumahnya. Lampu minyak di sampingnya menyala redup, membuat bayangannya memanjang dan bergetar di dinding papan yang sudah usang. Di pangkuannya, ia memegang bantal kecil dari kebaya Sekar, kebaya yang dulu ia ambil dari rumah kosong itu, kebaya yang masih menyimpan wangi sekar meskipun semakin lama semakin memudar.
Jari, jarinya yang kasar karena bekerja di sawah menyentuh kain tipis itu dengan lembut. Sangat lembut. Seperti menyentuh sesuatu yang sangat berharga dan takut rusak.
"Masih belum tidur?"
Suara itu membuat Arga menoleh. Sukmawati berdiri di pintu, masih mengenakan kain jarik lusuh dan kebaya lengan panjang yang sudah kusam. Wajahnya tidak muda lagi. Garis, garis lelah terukir di dahi dan sudut matanya. Tapi matanya, matanya masih sama seperti dua puluh tahun lalu ketika ia menggendong Arga kecil dan berbisik bahwa anaknya istimewa.
"Belum, Bu," jawab Arga.
Sukmawati berjalan mendekat. Ia duduk di samping anaknya, di bangku kayu yang sama, di tempat yang sama, di mana bertahun, tahun lalu ia biasa mengajarkan Arga membaca huruf Jawa dengan telunjuk yang digoreskan di tanah.
"Kegatelan mau berangkat?" tanya Sukmawati.
Arga menghela napas. "Kegatelan, Bu. Tapi juga takut."
"Takut apa?"
Arga menunduk. Ia memandang bantal kecil di pangkuannya. "Takut tidak ketemu. Takut dia sudah berubah. Takut aku hanya buang, buang waktu."
Sukmawati tidak langsung menjawab. Ia justru memandang langit malam yang gelap tanpa bintang. Kemarin malam ada badai kecil yang melanda desa. Angin merobohkan pohon pisang di belakang rumah. Hujan mengguyur sampai subuh. Dan sekarang, langitnya masih menyisakan sisa, sisa mendung yang enggan pergi.
"Kamu tahu, Le," kata Sukmawati akhirnya, "Ibu dulu juga pernah mengalami yang namanya menunggu."
Arga menatap ibunya. "Ayah?"
Sukmawati tersenyum tipis. "Bukan. Sebelum ayahmu."
"Ini cerita yang dulu Ibu bilang tidak menarik?"
"Ya. Ini cerita yang tidak menarik." Sukmawati berhenti sejenak. "Tapi mungkin kamu butuh mendengarnya."
Arga diam. Ia memberi isyarat pada ibunya untuk melanjutkan.
"Waktu Ibu masih muda, sekitar umurmu sekarang, Ibu dekat dengan seorang laki, laki dari kota. Namanya Bagas. Dia anak seorang saudagar yang sering berdagang ke desa ini." Sukmawati memandang ke kejauhan, ke arah sawah yang gelap. "Dia tampan. Pintar. Ramah. Semua perempuan di desa ini iri pada Ibu."
"Lalu kenapa Ibu tidak menikah dengan dia?"
"Karena dia harus kembali ke kota. Dan Ibu harus tinggal di desa. Orang tua Ibu sudah tua. Tidak ada yang menjaga mereka selain Ibu."
"Bagas tidak mau menunggu?"
"Dia bilang dia akan menunggu. Tapi surat, suratnya semakin jarang. Kemudian berhenti sama sekali. Beberapa tahun kemudian, Ibu dengar dia menikah dengan anak seorang saudagar kaya di kotanya."
Sukmawati berbicara dengan datar. Seolah sedang menceritakan kisah orang lain, bukan kisahnya sendiri.
"Ibu sedih?"
"Sangat. Ibu tidak makan tiga hari. Ibu tidak keluar rumah seminggu. Ibu menangis setiap malam sampai mata Ibu bengkak dan hidung Ibu mampet."
"Lalu bagaimana Ibu bisa bertahan?"
Sukmawati menatap anaknya. Matanya yang keruh karena usia tiba, tiba terlihat jernih. "Karena Ibu sadar bahwa yang pergi memang bukan jodoh Ibu. Jodoh Ibu adalah ayahmu. Laki- laki desa yang tidak pernah bikin surat cinta, tidak pernah bikin puisi, tidak pernah bikin janji-janji manis, tapi setiap hari pergi ke sawah dan membawa pulang beras untuk keluarga."
Arga terdiam. Ia memikirkan kata, kata ibunya.
"Kamu mau Ibu teruskan ceritanya?" tanya Sukmawati.
"Tidak perlu, Bu. Akirnya sudah bisa menebak."
"Bagus. Karena Ibu juga tidak suka mengingat, ngingat masa lalu."
Sukmawati berdiri. Ia hendak masuk ke dalam rumah, tetapi tiba, tiba berhenti.
"Le."
"Iya, Bu."
"Satu pesan Ibu sebelum kamu berangkat."
Arga menatap ibunya.
"Jangan pernah lupa pulang."
"Pulang ke mana, Bu?"
Sukmawati tersenyum. "Ke desa ini. Ke rumah ini. Ke Ibu. Ke Ayah. Ke semua yang mencintaimu."
Arga mengangguk. "Aku tidak akan lupa, Bu."
"Bagus. Sekarang tidur. Besok kamu harus bangun pagi."
Pukul tiga pagi, Arga sudah bangun.
Ia tidak tidur nyenyak semalaman. Pikirannya melayang ke mana, mana. Kadang ke Sekar. Kadang ke Jatmika. Kadang ke sungai. Kadang ke pohon randu. Kadang ke senja, senja ketika ia dan Sekar duduk bersama tanpa banyak bicara.
Ia mandi dengan air dingin dari sumur. Kesegarannya membuat tubuhnya bergidik.
Ia memakai pakaian terbaiknya. Kemeja putih lengan panjang pemberian ibunya. Celana bahan hitam yang sedikit kebesaran. Sandal jepit karet yang masih baru.
Ia mengecek kopernya sekali lagi.
Bantal kecil dari kebaya Sekar? Ada.
Tumpukan surat yang tidak pernah dibalas? Ada.
Minyak wangi kenanga dari makam Mbah Raras? Ada.
Uang bekal dari ibunya? Ada.
Peta usang dari Mbah Jayarasa? Ada.
Ia mendesah lega. Semua sudah siap.
Dari dapur, terdengar suara ibunya memasak. Aroma nasi goreng dan telur dadar mulai menyebar ke seluruh rumah.
Arga berjalan ke dapur. Sukmawati sedang membalik telur dadar di wajan tanah liat. Sastro duduk di kursi bambu, mengasah aritnya meskipun sudah tajam.
"Ibu masak apa?" tanya Arga.
"Nasi goreng. Telur dadar. Kamu harus makan banyak. Perjalanan ke kota lama."
"Tidak usah banyak, banyak, Bu. Nanti saya mabuk di bis."
"Kamu tidak akan mabuk. Kamu anak desa. Anak desa tidak mabuk di bis. Kamu hanya akan mabuk kalau naik perahu."
Arga tertawa. "Ibu ini."
Mereka makan berdua. Sastro ikut menyantap nasi goreng meskipun biasanya ia hanya minum kopi hitam di pagi hari.
"Le," kata Sastro sambil mengunyah.
"Iya, Yah."
"Kamu ingat pesan Ayah?"
Arga menghela napas. "Ayah punya banyak pesan, Yah. Yang mana?"
"Yang paling penting."
"Jangan percaya orang asing?"
"Itu juga penting. Tapi bukan itu."
"Jangan lupa salat?"
"Itu sudah pasti. Tapi bukan itu."
"Jangan boros?"
"Bukan."
Arga mengerutkan kening. "Apa, Yah?"
Sastro meletakkan sendoknya. Ia menatap Arga dengan mata yang tajam—tajam seperti pisau arit yang baru diasah.
"Jangan lupa siapa kamu."
Arga terdiam. "Maksud Ayah?"
"Maksud Ayah, jangan sampai kamu berubah. Jangan sampai kota mengubahmu menjadi orang yang tidak Ayah kenal. Jangan sampai uang mengubahmu menjadi tamak. Jangan sampai kekuasaan mengubahmu menjadi sombong."
Arga mengangguk pelan. "Ayah, saya cari kerja di toko bangunan. Angkat semen. Angkat pasir. Mana ada kekuasaan di sana?"
"Kekuasaan tidak selalu tentang jabatan, Le." Sastro kembali mengambil sendoknya. "Kekuasaan juga tentang uang. Tentang pengaruh. Tentang bagaimana orang melihatmu. Dan kadang, orang desa yang sukses di kota justru paling lupa diri."
"Tidak akan, Yah."
"Saya tidak bisa percaya begitu saja. Saya butuh bukti."
"Buktinya bagaimana, Yah?"
Sastro mulai makan lagi. "Kamu buktikan nanti. Ketika kamu sudah kembali."
Arga tidak menjawab. Ia hanya menunduk, menatap nasi goreng di piringnya yang mulai dingin.
Pukul empat pagi, Arga pamit.
Sastro dan Sukmawati mengantarnya sampai gerbang desa. Perjalanan ke terminal bis naik becak. Becak langganan keluarga mereka, becak milik Pak Karto, tetangga sebelah.
"Le," panggil Sukmawati di perbatasan antara halaman rumah dan jalan tanah.
"Iya, Bu."
Sukmawati memeluk anaknya. Erat. Lama. Arga bisa merasakan dadanya bergetar—bukan karena dingin, tapi karena isak tangis yang tertahan.
"Ibu tidak akan bilang hati, hati," bisik Sukmawati. "Karena orang yang berhati- hati tidak akan pernah sampai ke mana pun. Ibu akan bilang: jadilah berani."
"Baik, Bu."
"Jadilah pintar."
"Baik, Bu."
"Jadilah baik."
"Baik, Bu."
"Dan jadilah..." Sukmawati berhenti. Ia melepaskan pelukannya. Matanya basah.
"Jadilah apa, Bu?"
"Jadilah dirimu sendiri."
Arga tersenyum. Ia mencium tangan ibunya. Lalu mencium tangan ayahnya.
"Ayah jaga Ibu."
"Iya."
"Ayah jangan marah, marah terus."
"Iya."
"Ayah jangan lupa makan."
"Iya, Le. Ayah juga tidak butuh dinasihati."
Arga tertawa. Ia melambaikan tangan. Lalu naik ke becak.
"Pak Karto, jalan."
Becak itu bergerak perlahan. Arga menoleh ke belakang. Sastro dan Sukmawati masih berdiri di perbatasan itu, di bawah pohon mangga tua, di bawah langit yang mulai terang di ufuk timur.
Ia melambaikan tangan sekali lagi.
Mereka juga melambaikan tangan.
Dan kemudian, becak itu berbelok di tikungan. Rumahnya hilang. Pohon mangganya hilang. Sawahnya hilang.
Yang tersisa hanya jalan setapak yang berlumpur, dan langit yang mulai merah, dan hati yang penuh dengan campur aduk perasaan.
Di terminal, Pak Karto menurunkan Arga.
"Ini, Le," katanya sambil menunjuk ke arah bus besar berwarna biru tua yang terparkir di pojok terminal. "Itu bus jurusan kota. Berangkat jam setengah lima. Masih ada waktu dua puluh menit. Kamu bisa beli jajan dulu."
"Terima kasih, Pak Karto."
"Sama, sama. Salam buat Sekar kalau ketemu."
Arga tersenyum. "Saya sampaikan, Pak."
Pak Karto pergi dengan becaknya. Arga berdiri sendirian di tengah terminal yang mulai ramai. Pedagang asongan berteriak, teriak menawarkan rokok, permen, dan minuman dingin. Anak, anak kecil berlarian di antara koper dan karung. Beberapa orang tidur di bangku kayu dengan kardus menutupi wajah mereka.
Arga membeli segelas kopi hitam dari pedagang kaki lima. Panas. Pahit. Membakar tenggorokan. Tapi ia terbiasa. Kopi di desanya juga pahit.
Ia duduk di bangku kayu yang agak jauh dari keramaian. Memandang bus biru tua itu. Di kaca depannya tertulis: "PO SUMBER REJEKI. KOTA , DESA , KOTA."
Kota , desa , kota, pikir Arga. Seperti hidup saya. Dari desa ke kota. Dan nanti, saya akan kembali.
Tepat pukul setengah lima, Arga naik ke bus.
Ia memilih kursi dekat jendela. Di sebelahnya belum ada siapa, siapa. Ia meletakkan kopernya di pangkuan. Ia memandang ke luar jendela.
Terminal masih ramai. Pedagang asongan masih berteriak, teriak. Anak, anak masih berlarian. Tapi Arga tidak mendengar suara mereka. Yang ia dengar hanyalah degup jantungnya sendiri.
Duar... duar... duar...
Seperti genderang perang sebelum bertempur.
Seperti alu di lesung saat menumbuk padi.
Seperti langkah kaki yang mengejar sesuatu yang tak pernah cukup dekat untuk diraih.
Bus mulai bergerak.
Perlahan.
Melewati gerbang terminal.
Melewati pasar pagi.
Melewati pertigaan.
Melewati persawahan.
Melewati sungai.
Melewati bukit.
Melewati desa demi desa yang semakin kecil.
Arga memandang semuanya dari balik kaca jendela yang agak buram.
Ia teringat pada rumahnya yang semakin jauh.
Pada ibunya yang masih berdiri di perbatasan halaman.
Pada ayahnya yang melambang dengan tangan kasar.
Pada Mbah Jayarasa yang memberinya peta usang.
Pada Ratri yang menyelipkan jambu air di kopernya.
Pada semua yang ia tinggalkan.
Air matanya jatuh.
Ia tidak menghapusnya.
Ia membiarkannya mengalir.
Karena kadang, menangis adalah cara tubuh mengatakan bahwa kita sedang berduka. Dan berduka adalah bagian dari perjalanan.
Di kursi sebelahnya, seseorang duduk.
Arga tidak memperhatikan. Matanya masih tertuju pada jendela.
"Pertama kali ke kota?" suara itu bertanya.
Arga menoleh.
Di sebelahnya duduk seorang laki-laki setengah baya dengan kumis tebal dan perut buncit. Ia tersenyum ramah. Di dadanya ada lencana kecil bertuliskan: "PO SUMBER REJEKI , SUPIR".
"Iya, Pak," jawab Arga.
"Nanti turun di terminal kota. Saya antar sampai sana."
"Terima kasih, Pak."
Laki, laki itu mengulurkan tangan. "Saya Hardiman. Orang biasa panggil Pak Man."
"Arga, Pak."
"Arga," Pak Man mengulangi. "Nama yang bagus. Berat."
"Orang tua saya yang memberi."
"Mereka pasti punya harapan besar padamu."
Arga tersenyum tipis. "Mungkin."
Pak Man mengeluarkan sebungkus rokok dari saku bajunya. Ia menawarkan pada Arga. Arga menolak dengan sopan. Pak Man mengangkat bahu, lalu menyalakan sebatang untuk dirinya sendiri.
"Jadi, Arga dari desa mana?"
"Wringinrejo, Pak. Kecil. Jauh dari sini."
"Ada keluarga di kota?"
"Tidak ada."
"Teman?"
"Belum ada."
"Kerja sudah dapat?"
"Belum. Tapi saya akan cari."
Pak Man mengisap rokoknya. Asapnya mengepul ke luar jendela yang dibuka sedikit.
"Berani sekali kamu, Nak. Pergi ke kota tanpa kenal siapa, siapa."
"Bukan berani, Pak. Terpaksa."
"Terpaksa?"
Arga diam sejenak. Ia memandang ke luar jendela lagi. Sawah sudah berganti kebun. Kebun sudah berganti perkebunan. Perkebunan sudah berganti hutan jati.
"Seseorang yang saya cari, Pak," katanya pelan, "dia dibawa paksa ke kota. Dijodohkan dengan laki, laki lain. Saya tidak bisa diam di desa sementara dia mungkin menangis setiap malam."
Pak Man berhenti mengisap rokoknya. Ia menatap Arga.
"Kamu mencintainya?"
"Ya."
"Dan dia?"
"Katanya juga."
"Katanya?"
Arga tersenyum pahit. "Kami belum sempat bicara banyak. Kami hanya saling mengirim surat. Tapi surat, surat saya tidak pernah dibalas karena orang tuanya menyembunyikan. Surat, surat dia nyaris hilang."
Pak Man menghela napas panjang. Ia membuang puntung rokoknya ke luar jendela.
"Dengar, Nak," katanya. "Saya sudah puluhan tahun jadi supir bis. Saya lihat banyak anak muda seperti kamu. Datang ke kota dengan harapan setinggi gunung. Tapi kebanyakan pulang dengan luka di hati dan kantong kosong."
"Jadi menurut Pak Man, saya harus pulang sekarang?"
"Tidak. Saya tidak bilang begitu. Saya hanya bilang, kota ini tidak seperti desamu. Di desa, orang saling kenal. Di kota, orang bisa tinggal bertahun, tahun di lorong yang sama tapi tidak tahu nama tetangganya."
"Saya tidak butuh mereka kenal. Saya hanya butuh satu orang."
"Kamu yakin bisa menemukannya?"
"Tidak. Tapi saya harus mencoba."
Pak Man terdiam. Lalu ia tertawa kecil.
"Kamu keras kepala, Nak. Saya suka itu."
Ia mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Selembar kartu nama yang sudah lusuh. Tulisannya mulai pudar, tapi masih bisa dibaca.
"Ini," katanya sambil menyerahkan kartu itu. "Toko bangunan punya teman saya. Namanya Pak Bondan. Orangnya baik. Suka membantu anak desa yang baru datang. Bilang saja saya yang kirim."
Arga menerima kartu itu. Dibaliknya. Dibacanya perlahan.
Toko Bangunan Tujuh Sembilan. Jalan Mawar Hitam Nomor 7.
"Terima kasih, Pak Man, saya juga ada dikasih alamat dari mbah Jayarasa."
"Oh, ya, Jangan berterima kasih dulu. Kerja di toko bangunan itu berat. Angkat pasir, angkat semen, angkat batu bata. Gajinya tidak besar. Tapi cukup untuk makan dan sewa kontrakan."
"Saya terbiasa kerja berat, Pak."
"Bagus. Itu modal utama anak desa di kota: tahan banting."
Bus terus melaju.
Hutan jati berganti perkebunan sawit.
Perkebunan sawit berganti pemukiman penduduk.
Pemukiman penduduk berganti perumahan.
Perumahan berganti gedung, gedung bertingkat.
Gedung, gedung bertingkat berganti gedung, gedung pencakar langit.
Arga tidak pernah melihat gedung setinggi itu. Di desanya, rumah tertinggi hanya dua lantai. Itu pun milik Pak Lurah yang kaya raya. Tapi di sini, gedung, gedung itu menjulang seperti raksasa beton yang sombong. Mereka menertawakan Arga. Menertawakan Arga yang hanya membawa koper kecil dan peta usang.
"Kita sudah hampir sampai," kata Pak Man. "Dua jam lagi."
Arga mengangguk. Ia tidak tahu harus merasakan apa. Senang? Takut? Bingung? Semua bercampur menjadi satu.
Ia mengeluarkan peta usang dari saku celananya.
Dibukanya.
Garis, garis kusam. Lingkaran merah di tengah. Tulisan kecil di pinggir: "Di sini, dia pernah menangis."
Mbah Jayarasa bilang peta ini akan membawanya ke tempat yang seharusnya.
Tapi Arga tidak mengerti.
Peta itu terlalu abstrak.
Terlalu misterius.
Terlalu... seperti Mbah Jayarasa.
"Peta apa itu, Nak?" tanya Pak Man.
"Peta dari tetua desa saya," jawab Arga.
"Untuk apa?"
"Katanya, ini akan membawa saya ke Sekar."
Pak Man mengambil peta itu. Diamatinya. Lalu ia tertawa keras.
"Apa ini? Garis, garis tidak jelas. Lingkaran merah tanpa nama. Tulisan 'di sini, dia pernah menangis'? Ini bercanda, Le?"
"Tidak, Pak. Mbah Jayarasa tidak pernah bercanda."
"Kamu percaya?"
"Lebih percaya dari pada omongan anak muda."
Pak Man menggeleng, geleng. "Kamu aneh, Le."
"Saya tahu."
"Tapi saya suka keanehanmu. Orang aneh biasanya punya cerita menarik."
Ia mengembalikan peta itu pada Arga. "Simpan baik, baik. Siapa tahu memang benar ada tuahnya."
Terminal kota terlihat dari kejauhan.
Lampu, lampu neon menyala terang meskipun hari masih sore. Orang, orang berlalu lalang dengan wajah lelah. Becak, taksi, dan angkutan kota berebut penumpang.
Bis berhenti dengan bunyi desisan udara.
"Kita sudah sampai, Nak," kata Pak Man. "Turun di sini."
Arga berdiri. Ia mengambil kopernya dari rak bagasi. Sebelum turun, ia menoleh pada Pak Man.
"Pak."
"Iya."
"Terima kasih. Saya tidak akan lupa kebaikan Bapak."
Pak Man tersenyum. "Jangan lupa diri sendiri juga, Nak. Itu lebih penting."
Arga turun dari bis.
Kakinya menginjak aspal panas.
Udara kota menyambutnya: panas, lembab, bau asap kendaraan, bau debu, bau makanan dari pedagang kaki lima.
Ia berdiri di tengah terminal.
Memutar tubuhnya perlahan.
Mencoba menyerap semuanya.
Gedung, gedung tinggi.
Lampu, lampu neon.
Orang, orang yang berlalu lalang tanpa saling menatap.
Arga kecil dalam pusaran ini.
Hanya titik hitam di antara jutaan titik hitam lainnya.
Tidak ada yang peduli.
Tidak ada yang melihat.
Tidak ada yang tahu siapa dia.
Arga menarik napas panjang.
Lalu ia berkata pada dirinya sendiri:
"Aku sudah sampai, Sekar. Di kota yang sama denganmu. Di suatu tempat. Mungkin dekat. Mungkin jauh. Tapi aku di sini."
Ia memegang peta usang di saku celananya.
"Dan aku tidak akan berhenti sampai menemukanmu."
BAB 1
KOTA YANG TAK PERNAH TIDUR
Terminal bis kota terasa seperti dunia yang berbeda dari semua yang pernah Arga kenal.
Dunia yang ia tinggalkan dua belas jam yang lalu adalah dunia di mana ayam jantan berkokok sebelum matahari terbit. Dunia di mana kabut tipis menggantung di atas pematang sawah. Dunia di mana udara dingin menusuk hidung setiap pagi. Dunia di mana orang saling menyapa meskipun tidak kenal.
Tapi dunia di sini, dunia yang baru saja menelannya bulat, bulat, adalah dunia di mana klakson berbunyi lebih keras dari suara manusia. Dunia di mana asap kendaraan memenuhi paru, paru. Dunia di mana orang berjalan cepat dengan wajah datar, seolah sedang dikejar sesuatu yang tidak pernah terlihat.
Arga berdiri di tengah terminal, memutar tubuhnya perlahan. Kopernya yang kecil terasa berat di tangan kirinya. Di tangan kanannya, ia masih memegang peta usang pemberian Mbah Jayarasa, meskipun ia sadar peta itu sama sekali tidak berguna di tempat asing ini.
Di mana saya harus pergi?
Pertanyaan itu berputar di kepalanya seperti air dalam kendi yang tidak pernah berhenti bergerak.
Ia mencoba mengingat, ingat pesan terakhir Mbah Jayarasa sebelum berangkat.
"Di kota, kau akan belajar satu hal: tidak semua orang yang tersenyum padamu adalah teman. Dan tidak semua orang yang membanting pintu di depanmu adalah musuh."
Arga menghela napas.
Nasihat yang sangat membantu, Mbah. Terima kasih.
Ia melipat peta itu dan memasukkannya kembali ke saku celana. Lalu ia berjalan perlahan menuju pintu keluar terminal, berusaha terlihat percaya diri meskipun hatinya berdebar seperti genderang perang.
"Mas! Mas!" suara seorang perempuan memanggil dari arah kiri.
Arga menoleh.
Seorang perempuan muda berdiri di dekat kios koran. Wajahnya bulat, matanya besar, rambutnya diikat kuda poni. Ia tersenyum ramah. Di tangannya ada setumpuk koran bekas yang diikat tali rafia.
"Mas dari desa, ya?" tanya perempuan itu.
Arga mengerutkan kening. "Kelihatan?"
"Kelihatan banget," perempuan itu tertawa. "Bawaan orang desa itu beda. Caranya jalan, caranya lihat gedung, gedung tinggi, caranya pegang koper. Semua beda."
"Kok Bisa Mbak tahu? Mbak juga dari desa?"
Perempuan itu mengangguk. "Dulu. Sekarang sudah lima tahun di kota. Nama saya Dewi. Kerja di toko roti dekat sini."
"Arga."
"Arga," Dewi mengulangi. "Nama yang bagus. Berat."
"Sudah tiga orang bilang begitu hari ini. Supir bis, Mas, mas di terminal, sekarang Mbak."
"Berarti itu pertanda bagus. Orang yang punya nama berat biasanya ditakdirkan untuk hal, hal besar."
Arga tersenyum tipis. "Atau ditakdirkan untuk kerja keras dan tidak pernah istirahat."
Dewi tertawa lagi. Tawanya nyaring, tidak malu, malu. Beberapa orang di sekitar mereka menoleh, tapi Dewi tidak peduli.
"Mas Arga cari tempat tinggal?" tanyanya.
"Iya. Tapi belum tahu harus cari di mana."
"Budget berapa?"
"Maaf?"
"Budget. Uang. Modal. Berapa duit yang Mas siapkan untuk sewa kos?"
Arga merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan uang sisa dari bekal ibunya. Dihitungnya perlahan.
"Ada tiga ratus ribu, Mbak."
Dewi bersiul kecil. "Kecil, Mas. Tapi masih cukup untuk kos murah. Asal Mas tidak pilih, pilih."
"Saya tidak pilih, pilih. Yang penting ada atap."
"Bagus. Saya tahu tempat kos murah di belakang pasar. Jauhnya sekitar dua kilometer dari sini. Mau saya antar?"
Arga ragu sejenak. Ia ingat pesan ayahnya: jangan percaya orang asing.
Tapi Dewi, ada sesuatu di matanya yang membuat Arga merasa tidak perlu curiga. Mungkin karena matanya mirip dengan mata ibunya. Atau mungkin karena ia terlalu lelah untuk berpikir jernih.
"Baik, Mbak. Tolong antar. Saya traktir makan nanti."
"Janji, ya?" Dewi mengangkat jari kelingkingnya.
"Janji." Arga menyambut kelingking Dewi dengan kelingkingnya sendiri.
Mereka berjalan keluar dari terminal.
Dewi berjalan di depan, sesekali menoleh untuk memastikan Arga masih mengikuti. Ia berbicara tanpa henti, tentang kota, tentang pekerjaannya, tentang pemilik toko roti yang galak, tentang pelanggan yang pelit, tentang segala hal yang tidak Arga pahami.
"Ini," kata Dewi ketika mereka sampai di sebuah gang sempit di antara dua gedung. "Gang ini pintasannya. Kalau lewat jalan raya, bisa makan waktu satu jam. Lewat sini, cuma lima belas menit."
Gang itu gelap. Sangat gelap. Matahari sudah hampir tenggelam, dan gang ini tidak punya lampu penerangan.
"Kok gelap, Mbak?" tanya Arga.
"Ya iyalah. Ini gang. Mana ada lampu di gang? Nanti kalau sudah lewat, ada pasar. Terang di sana."
"Banyak orang jahat di sini?"
Dewi tertawa. "Banyak. Tapi kalau Mas tidak bawa barang berharga, mereka tidak akan ganggu."
"HP saya cuma sepuluh ribu. Itu juga bekas."
"Ya sudah aman. Ayo."
Mereka berdua masuk ke gang gelap itu.
Arga merasakan dingin merambat di tengkuknya. Bukan dingin karena suhu, tapi dingin karena insting yang mengatakan bahwa tempat ini tidak aman. Ia mempercepat langkahnya, berusaha tetap di belakang Dewi meskipun hampir tidak bisa melihat apa, apa.
"Mas Arga," suara Dewi dari depan.
"Iya."
"Kamu cari siapa di kota? Atau cuma cari kerja?"
Arga terdiam sejenak. "Saya cari seseorang."
"Siapa?"
"Sekar."
"Pacar?"
"Saya harap begitu."
Dewi tidak bertanya lebih lanjut. Mungkin ia merasakan bahwa topik ini terlalu berat untuk dibahas di gang gelap yang penuh dengan bayangan, bayangan mencurigakan.
Mereka keluar dari gang.
Di depan mereka, pasar malam mulai beraktivitas. Lampu, lampu neon berwarna, warni menyala terang. Pedagang, pedagang berteriak menawarkan dagangan. Bau sate, bakso, dan nasi goreng memenuhi udara.
"Ini, Mas," kata Dewi sambil menunjuk sebuah gang lain yang lebih kecil di samping pasar. "Di sana ada kos, kosan. Dua kos, tepatnya. Yang pertama punya Bu Lastri, khusus perempuan. Yang kedua punya Mbok Darmi, campur. Saya sarankan Mas coba ke Mbok Darmi."
"Mbok Darmi orangnya baik?"
Dewi mengangkat bahu. "Baik kalau dibayar. Galak kalau telat bayar. Tapi kosnya murah."
Mereka berjalan menuju gang itu.
Rumah kos milik Mbok Darmi adalah sebuah bangunan tua dengan dinding batu bata setengah jadi. Atapnya dari seng gelombang yang sudah berkarat di beberapa tempat. Halamannya sempit, hanya cukup untuk dua orang berjalan bersisian.
Dewi mengetuk pintu kayu yang sudah lapuk.
"Mbok Darmi!" teriaknya.
Dari dalam terdengar suara perempuan tua yang parau. "Siapa?"
"Dewi, Mbok! Saya bawa orang baru!"
Pintu terbuka dengan bunyi derit panjang.
Di ambang pintu berdiri seorang perempuan gemuk dengan rambut keriting acak, acakan. Wajahnya lebar, kulitnya sawo matang, dan matanya sipit seperti orang yang baru bangun tidur. Ia memakai daster lusuh dan sandal jepit karet.
"Ini siapa?" tanyanya sambil memandang Arga dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Dia Arga, Mbok. Dari desa. Cari kos."
Mbok Darmi mengerutkan kening. "Dari desa mana?"
"Wringinrejo, Mbok. Kecil. Di selatan."
"Jauh sekali. Ada keluarga di sini?"
"Tidak ada, Mbok."
"Kerja?"
"Besok saya cari, Mbok."
Mbok Darmi terdiam. Ia menatap Dewi, lalu kembali pada Arga.
"Saya punya satu kamar kosong di belakang. Kecil. Cuma muat kasur. Tidak ada lemari. Tidak ada meja. Kamar mandi di luar, bareng sama tiga orang lain. Listrik pakai meteran. Bayar per bulan seratus lima puluh."
Arga mengangguk cepat. "Saya ambil, Mbok."
"Saya tidak terima utang. Bayar di muka."
Arga mengeluarkan uang dari saku celananya. Dihitungnya seratus lima puluh ribu. Pas.
"Ini, Mbok."
Mbok Darmi menerima uang itu. Dihitungnya satu per satu. Lalu dimasukkannya ke saku daster.
"Kamar paling ujung belok kiri. Pakai seperlunya. Jangan bawa perempuan. Jangan ribut. Jangan mabuk, mabukan. Jangan bawa teman banyak-banyak. Jangan masak pakai kompor minyak tanah, nanti kebakaran. Jangan pakai setrika listrik kalau tidak mau mati listrik. Jangan, "
"Mbok," potong Dewi. "Nanti Mas Arga lupa. Bilang saja yang penting."
Mbok Darmi mendengus. "Yang penting: bayar tepat waktu. Kalau telat seminggu, saya usir. Sudah, sana ke kamar. Saya mau tidur lagi."
Ia masuk ke dalam tanpa mengucapkan selamat malam.
Dewi tersenyum pada Arga. "Mbok Darmi memang begitu. Kasar, tapi baik. Asal Mas taat aturan, aman."
"Terima kasih, Mbak Dewi. Saya tidak tahu harus bagaimana kalau tidak ada Mbak."
"Jangan berterima kasih dulu. Nanti setelah Mas dapat kerja dan kaya, Mas boleh traktir saya makan."
"Saya belum kaya, Mbak."
"Dulu, saya punya prinsip: tidak usah menunggu kaya untuk berbagi. Berbagilah dengan apa yang ada. Nanti rezeki akan mengikuti."
Arga tersenyum. "Baik, Mbak. Besok siang, saya traktir Mbak makan di warung sate depan pasar."
"Janji?"
"Janji."
Dewi melambai dan berjalan pergi meninggalkan gang sempit itu.
Arga memandangnya sampai bayangannya hilang di tikungan.
Kamar kos itu lebih kecil dari yang ia bayangkan.
Dua meter kali dua meter. Di dalamnya hanya ada satu dipan bambu tipis tanpa seprai, satu kaca jendela kecil di dinding belakang, dan satu lampu bohlam lima watt yang menyala redup.
Dindingnya dari batu bata yang tidak diplester. Debu beterbangan setiap kali angin bertiup dari celah, celah dinding.
Lantainya dari tanah yang dipadatkan. Di beberapa tempat, tanah itu retak dan mengeluarkan bau lembab.
Tapi Arga bersyukur.
Ia meletakkan kopernya di pojok kamar. Lalu duduk di dipan bambu itu.
Dipannya keras. Sangat keras. Bantalnya hanya segumpal kain yang dilipat. Tidak ada guling. Tidak ada selimut.
Tapi ia bersyukur.
Ia membuka koper.
Mengeluarkan bantal kecil dari kebaya Sekar.
Wanginya masih tersisa. Samar. Tapi cukup untuk membuat Arga merasa sedikit lebih tenang.
Ia memeluk bantal itu.
"Aku sudah sampai, Sekar," bisiknya. "Di kota yang sama denganmu. Di suatu tempat. Mungkin dekat. Mungkin jauh. Tapi aku di sini."
Ia memejamkan mata.
Membayangkan Sekar.
Wajahnya yang bulat. Matanya yang sayu. Senyumnya yang tipis. Cara ia memainkan ujung kainnya saat gugup. Cara ia memanggil nama Arga dengan suara pelan.
"Aku akan menemukanmu," bisiknya lagi. "Janji."
Pukul delapan malam, Arga keluar dari kos untuk mencari makan.
Ia berjalan ke pasar malam yang masih ramai. Pedagang, pedagang berteriak, teriak menawarkan dagangan. Lampu, lampu neon berwarna, warni menyala terang. Bau sate, bakso, nasi goreng, dan ikan bakar bercampur menjadi satu aroma yang membuat perutnya keroncongan.
Ia memilih warung nasi goreng di pojok pasar.
"Mbak, nasi goreng satu, telur dadar satu," pesannya.
"Minumnya apa, Mas?" tanya pelayan warung, seorang perempuan muda dengan wajah lelah.
"Es teh."
"Tunggu lima menit."
Arga duduk di kursi plastik yang sedikit goyah. Ia memandangi lalu lalang orang yang lewat. Ada yang masih memakai seragam kantor, ada yang memakai kaos oblong dan sandal jepit, ada yang memakai pakaian tidur, ada yang memakai jas dan dasi.
Betapa beragamnya manusia di kota, pikir Arga. Tapi semua terlihat lelah. Semua terlihat kehabisan waktu.
"Mas, nasi gorengnya."
Arga menoleh. Pelayan itu meletakkan piring berisi nasi goreng dan telur dadar di depannya. Es teh di gelas plastik.
"Terima kasih, Mbak."
"Sama, sama."
Arga makan perlahan.
Nasi gorengnya tidak seenak buatan ibunya. Telur dadarnya terlalu matang. Es tehnya terlalu manis.
Tapi ia makan.
Karena ia butuh tenaga.
Untuk besok.
Untuk mencari kerja.
Untuk mencari Sekar.
Pukul setengah sepuluh, Arga kembali ke kos.
Gang menuju kos masih gelap. Tapi kali ini ia tidak takut. Ia sudah lewat dua kali. Ia hapal jalannya. Belok kiri setelah tiang listrik. Lurus sampai ujung. Belok kanan. Sampai.
Di depan kos, seorang laki-laki muda sedang duduk di kursi plastik sambil merokok. Wajahnya teduh, rambutnya ikal, matanya cekung seperti kurang tidur.
"Baru pindah?" tanya laki, laki itu.
Arga mengangguk. "Baru sampai hari ini."
"Kamar nomor berapa?"
"Belakang. Paling pojok."
"Ooh. Kamarnya Joko. Dia minggu lalu pindah ke kos yang lebih bagus. Katanya dapat kerja di pabrik rokok."
"Siapa nama Mas?"
"Dimas," laki-laki itu mengulurkan tangan. "Penghuni kamar nomor tiga."
Arga menyambut tangannya. "Arga."
"Arga," Dimas mengulangi. "Nama yang bagus. Berat."
"Kamu orang keempat yang bilang begitu hari ini."
"Berarti itu pertanda baik."
Dimas menawarkan rokok. Arga menolak.
"Kamu tidak merokok?"
"Tidak."
"Kamu tidak minum?"
"Saya Muslim, Mas. Haram."
Dimas tertawa. "Alim sekali. Nanti saya ajak minum-minum, kamu Cuma minum es teh?"
"Es teh manis itu halal, Mas."
"Ya sudah, es teh manis."
Mereka berdua tertawa.
"Dimas kerja apa?" tanya Arga.
"Kurir. Jalan-jalan keliling kota. Antar paket. Kadang enak, kadang enggak."
"Enaknya apa?"
"Bisa lihat banyak tempat. Ketemu banyak orang. Tahu jalan-jalan tikus yang nggak diketahui orang."
"Tidak enaknya?"
"Gajinya kecil. Macet. Hujan panas nggak nentu. Dan kadang pelanggannya rese."
"Rese gimana?"
Dimas mengisap rokoknya. Asapnya mengepul ke udara malam.
"Pernah saya antar paket ke rumah seseorang. Pintu dibuka sama bapak-bapak setengah baya. Saya bilang, 'Pak, ini paket dari Tangerang.' Dia lihat paketnya, lalu lihat saya, lalu bilang, 'Ini isinya apa?' Saya bilang, 'Saya tidak tahu, Pak. Saya cuma kurir.' Dia marah. 'Kamu harus tahu! Kamu bawa barang saya, masa kamu tidak tahu isinya?'"
Arga tertawa. "Lucu juga."
"Lucu? Saya hampir dihabisi, Mas."
"Lalu bagaimana akhirnya?"
"Ya saya pergi. Saya tidak mau urusan dengan orang gila."
Mereka berdua tertawa lagi.
"Arga," panggil Dimas setelah tawanya reda.
"Iya."
"Kamu dari desa, kan?"
"Kelihatan?"
"Kelihatan banget. Cara jalanmu, cara bicaramu, cara pegang koper. Semua kelihatan."
"Tadi Mbak Dewi juga bilang begitu."
"Mbak Dewi yang mana? Yang jualan koran di terminal?"
"Iya. Dia yang ngantar saya ke sini."
Dimas mengangguk. "Dewi orang baik. Dia suka bantu anak desa yang baru datang. Dulu waktu saya pertama kali ke kota, dia juga yang bantu."
"Kamu dari desa juga?"
"Desa di timur. Timur jauh. Sampai perbatasan."
"Jauh sekali."
"Iya. Makanya saya nggak mau pulang. Ongkosnya mahal."
Mereka berdua terdiam. Suara jangkrik dari selokan mengisi keheningan. Di kejauhan, terdengar suara klakson dan suara orang berteriak.
"Dimas," panggil Arga.
"Iya."
"Kamu kenal seseorang bernama Sekar?"
Dimas mengerutkan kening. "Sekar? Siapa itu?"
"Gadis yang saya cari. Usianya sekitar delapan belas tahun. Rambut panjang. Matanya sayu. Dulu tinggal di desa bersama neneknya."
"Desamu?"
"Iya."
Dimas menghela napas. "Mas, saya antar paket keliling kota setiap hari. Saya tahu banyak orang. Tapi saya tidak pernah dengar nama Sekar. Maaf."
Arga tidak kecewa. Ia sudah menduga jawaban itu. Kota ini terlalu besar. Sekar mungkin terlalu tersembunyi.
"Tidak apa, apa," katanya. "Saya coba cari sendiri."
"Kamu kerja di mana?"
"Belum dapat. Besok saya coba ke toko bangunan. Ada teman supir bis yang kasih rekomendasi."
"Toko bangunan yang mana?"
Arga mengeluarkan kartu nama dari saku celananya. Diberikannya pada Dimas.
Dimas membaca kartu itu. "Toko Bangunan Tujuh Sembilan. Jalan Mawar Hitam. Punya Pak Bondan?"
"Kamu kenal?"
"Kenal dong. Saya sering antar paket ke sana. Pak Bondan orangnya baik. Agak pelit, tapi baik."
"Pelit gimana?"
"Bayar utang telat seminggu. Gaji karyawan pas, pasan. Tapi dia suka bantu orang desa. Banyak karyawannya dari desa."
"Setidaknya ada harapan."
"Iya. Kamu kerja di sana, nanti kita sering ketemu. Saya lewat sana hampir setiap hari."
"Bagus. Kita bisa temenan."
Dimas tersenyum. "Kita sudah temenan, Arga. Sejak kamu bilang kamu tidak merokok."
Arga tertawa.
Pukul sebelas malam, Arga masuk ke kamarnya.
Ia membuka jendela kecil itu. Udara malam masuk, membawa bau asap kendaraan dan debu.
Di luar, kota masih hidup.
Lampu, lampu masih menyala.
Mobil, mobil masih lalu lalang.
Orang, orang masih berjalan.
Tidak ada yang tidur.
Tidak ada yang istirahat.
Kota ini benar, benar tidak pernah tidur.
Arga berbaring di dipan bambu.
Ia memeluk bantal kecil dari kebaya Sekar.
"Aku di sini," bisiknya. "Di kamar kecil yang pengap. Di gang sempit yang gelap. Di kota yang tidak pernah tidur. Tapi aku di sini. Dan aku tidak akan pergi."
Ia memejamkan mata.
Bayangan Sekar muncul.
Sekar berdiri di depan gerbang sebuah universitas. Memakai gaun biru muda. Rambutnya tergerai. Ia tersenyum.
"Aku tahu kamu akan datang," katanya.
"Aku janji, Sekar."
"Aku menunggumu."
Arga tersenyum dalam tidurnya.
Pukul lima pagi, Arga sudah bangun.
Ia tidak tidur nyenyak. Sepanjang malam ia terbangun beberapa kali, kaget oleh suara, suara asing: suara klakson, suara orang berteriak, suara motor balap, suara anjing menggonggong.
Tapi ia tidak mengeluh.
Ia keluar kamar. Kamar mandi luar masih kosong. Airnya dingin. Gayungnya hanya separuh. Sabunnya hanya sepotong kecil.
Tapi itu cukup.
Ia mandi dengan cepat. Menggosok tubuhnya dengan sabun murah yang beraroma melati. Bilas dengan air dingin.
Kesegarannya membuat tubuhnya bergidik.
Ia kembali ke kamar. Memakai baju terbaiknya. Kemeja putih lengan panjang pemberian ibunya. Celana bahan hitam yang sedikit kebesaran. Sandal jepit karet yang masih baru.
Ia mengecek kopernya.
Bantal kecil dari kebaya Sekar? Ada.
Tumpukan surat yang tidak pernah dibalas? Ada.
Minyak wangi kenanga dari makam Mbah Raras? Ada.
Uang sisa dari ibunya? Dua ratus ribu.
Peta usang dari Mbah Jayarasa? Ada.
Ia mendesah lega.
Semua masih utuh.
Ia keluar kamar.
Di halaman, Dimas sudah duduk di kursi plastik sambil minum kopi.
"Pagi, Arga," sapanya.
"Pagi, Dimas. Kamu belum antar paket?"
"Baru pulang. Antar paket ke luar kota. Macet di jalan. Sampai sekarang."
"Kamu tidak istirahat?"
"Nanti. Habis kopi ini. Kamu mau ke mana pagi-pagi begini?"
"Ke toko bangunan. Jalan Mawar Hitam. Tahu arahnya?"
Dimas mengangguk. "Dari sini lurus terus sampai perempatan. Belok kiri. Lurus lagi sampai ketemu lampu merah. Belok kanan. Lurus terus. Nanti ada gang di sebelah kiri. Masuk gang itu. Toko bangunannya di ujung gang."
Arga mengerutkan kening. "Rumit sekali."
Dimas tertawa. "Kota memang rumit, Arga. Kamu harus terbiasa."
"Bisakah kamu antar?"
"Saya tidak bisa. Saya harus istirahat. Nanti jam dua belas saya baru berangkat."
"Baiklah. Saya coba sendiri."
"Semoga tidak tersesat."
Arga tersenyum. "Amin."
Ia berjalan.
Jalanan di pagi hari sudah ramai.
Motor, motor saling mendahului dengan suara bising.
Mobil, mobil antre panjang di lampu merah.
Pedagang kaki lima berjajar di trotoar dengan gerobak, gerobak sederhana.
Arga berjalan menyusuri trotoar yang sempit. Sesekali ia harus minggir karena pejalan kaki lain yang berjalan lebih cepat. Sesekali ia harus berhenti karena ada gerobak pedagang yang menghalangi jalan.
Dari kos sampai toko bangunan, jaraknya sekitar tiga kilometer.
Tapi karena Arga tidak tahu persis arahnya, ia bolak, balik beberapa kali.
Ia bertanya pada orang, orang yang lewat. Ada yang ramah, ada yang acuh. Ada yang menunjuk dengan malas, ada yang menggeleng dan pergi.
Jam delapan pagi, ia tiba di Jalan Mawar Hitam.
Toko bangunan itu besar.
Dindingnya dari batu bata merah yang terawat. Atapnya dari seng gelombang yang tidak bocor. Di halaman depan, pasir, batu bata, semen, dan kayu, kayu panjang ditata rapi.
Seorang laki, laki paruh baya dengan kumis tebal dan perut buncit sedang duduk di kursi plastik di depan toko. Ia membaca koran sambil sesekali mengisap rokok.
"Pak Bondan?" tanya Arga.
Laki, laki itu mengangkat kepala. Matanya menyipit.
"Siapa kamu?"
"Saya Arga, Pak. Dikirim oleh Pak Man. Supir bis."
Pak Bondan meletakkan korannya. Ia memandang Arga dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Kamu dari desa?"
"Iya, Pak."
"Dari mana?"
"Wringinrejo, Pak. Kecil. Di selatan."
“ di desa itu ada paman saya. Le”, kata pak bondan
“ Siapa Namanya , pak”. tanya Arga
“ Mbah Jayarasa, le”,
“ Oo, itu tetua desa saya, imi ada kasih alamat juga , sama dengan pak man”, kata arga
“ Kebetulan sekali, le”, kata Pak Bondan
“ Trus pak Man bilang apa, le” lanjut pak Bondan
"Dia bilang Bapak orang baik. Suka bantu anak desa."
Pak Bondan mendengus. "Bantuin? Saya cari karyawan, bukan anak yatim piatu."
Arga tersenyum tipis. "Saya bisa kerja, Pak. Saya biasa bantu ayah di sawah. Angkat padi. Angkat pupuk. Angkat apa saja."
"Kamu sudah sarapan?"
"Belum, Pak."
"Kenapa belum?"
"Karena saya pikir lebih baik mencari kerja dulu."
Pak Bondan terdiam. Ia menatap Arga dengan mata yang sulit dibaca.
"Kamu jujur," katanya akhirnya. "Saya suka yang jujur."
Ia berdiri dan menepuk bahu Arga.
"Mulai hari ini. Kerja dari jam tujuh sampai jam lima. Istirahat satu jam untuk makan siang. Gaji lima puluh ribu per hari. Lembur dibayar. Kamu setuju?"
"Saya setuju, Pak."
"Tapi kamu harus buktikan dulu. Jangan cuma jujur di mulut, tapi malas di tangan."
"Saya tidak malas, Pak."
"Kita lihat."
Pak Bondan menunjuk ke tumpukan sak semen di pojok halaman.
"Itu empat puluh sak semen. Angkat ke gudang belakang. Selesai sebelum jam makan siang."
Arga memandang tumpukan sak semen itu.
Sak semen beratnya lima puluh kilogram. Masing, masing.
Empat puluh sak berarti dua ton.
Tiga jam.
"Baik, Pak," kata Arga tanpa ragu.
Ia melepas kemeja putihnya, melipatnya rapi, lalu meletakkannya di kursi kosong.
Keringat sudah mulai mengucur di keningnya meskipun ia belum memulai.
Tapi ia tidak mundur.
Ia mengangkat sak semen pertama.
Berat.
Sangat berat.
Lengannya bergetar menahan beban.
Tapi ia berjalan.
Langkah pertama.
Langkah kedua.
Langkah ketiga.
Ia masuk ke gudang belakang.
Menumpuk sak semen itu di pojok.
Kembali ke halaman.
Mengangkat sak kedua.
Berat lagi.
Tapi ia berjalan lagi.
Langkah pertama.
Langkah kedua.
Langkah ketiga.
Ditumpuk di pojok.
Kembali.
Mengangkat.
Berjalan.
Menumpuk.
Kembali.
Mengangkat.
Berjalan.
Menumpuk.
Ia tidak berhenti.
Ia tidak minta istirahat.
Ia tidak minum.
Ia hanya terus bergerak.
Seperti mesin.
Seperti robot.
Seperti orang yang tidak mengenal lelah.
Jam sepuluh pagi, Arga sudah mengangkat dua puluh sak semen.
Separuh.
Ia duduk di atas tumpukan batako, mengatur napas.
Keringat mengucur di sekujur tubuhnya. Kemeja yang ia lipat rapi sudah basah. Celana bahannya sudah basah. Wajahnya merah seperti kepiting rebus.
"Minum, Le."
Arga menoleh.
Pak Bondan berdiri di depannya dengan segelas air mineral.
"Terima kasih, Pak."
Arga meminumnya seteguk. Lalu dua teguk. Lalu seteguk lagi.
"Biar dingin," kata Pak Bondan. "Jangan minum terlalu cepat. Nanti sakit perut."
"Baik, Pak."
Pak Bondan duduk di samping Arga. Ia mengeluarkan sebatang rokok, menyalakannya, lalu mengisap dalam, dalam.
"Kamu kuat, Le," katanya. "Saya kira kamu cuma bisa angkat sepuluh sak, lalu pingsan."
"Saya terbiasa, Pak."
"Terbiasa di sawah?"
"Iya, Pak. Panen padi itu berat. Tapi bukan hanya fisik. Juga mental."
"Mental?"
"Iya, Pak. Di sawah, kadang hujan datang sebelum panen. Kadang gagal panen karena hama. Kadang harga padi anjlok. Petani harus kuat mental."
Pak Bondan mengangguk. "Kamu petani?"
"Anak petani, Pak. Bapak saya petani."
"Punya sawah?"
"Sawah kecil. Tiga bau. Cukup untuk makan sekeluarga."
"Kenapa kamu tidak ikut bapakmu di sawah?"
Arga terdiam.
"Kamu tidak perlu jawab kalau tidak mau," kata Pak Bondan cepat. "Saya hanya penasaran."
"Saya cari seseorang, Pak. Di kota ini."
"Siapa?"
"Sekar. Pacar saya. Gadis dari desa saya. Dia dibawa paksa ke kota, dijodohkan dengan laki, laki lain."
Pak Bondan tidak bertanya lebih lanjut. Ia hanya mengisap rokoknya. Asapnya mengepul ke udara siang.
"Kamu mencintainya?" tanyanya.
"Iya, Pak."
"Dan dia?"
"Katanya juga."
"Katanya?"
Arga tersenyum pahit. "Kami belum sempat bicara banyak. Kami hanya saling mengirim surat. Tapi surat, surat saya tidak pernah dibalas karena orang tuanya menyembunyikan. Surat, surat dia nyaris hilang."
"Tapi kamu tetap percaya?"
"Saya harus percaya, Pak. Karena itu satu, satunya yang saya punya."
Pak Bondan membuang puntung rokoknya. Ia berdiri.
"Istirahatmu sudah habis. Masih dua puluh sak."
"Siap, Pak."
Arga berdiri.
Ia kembali mengangkat semen.
Satu per satu.
Dua puluh sak terakhir.
Jam dua belas siang, Arga selesai.
Rasanya seperti perang.
Seperti perang dengan dirinya sendiri.
Tapi ia menang.
Pak Bondan mendekat dengan sebungkus nasi dan lauk.
"Ini makan siangmu," katanya. "Makan dulu. Jangan lupa minum. Sore nanti kamu angkat pasir ke lantai dua."
"Baik, Pak."
Arga duduk di bawah pohon rindang di depan toko. Ia membuka bungkusan nasi itu. Isinya nasi putih, telur dadar tipis, tempe goreng, dan sambal terasi.
Ia makan perlahan.
Memandang jalan raya di depannya.
Mobil, mobil lalu lalang.
Motor, motor saling mendahului.
Orang, orang berjalan tergesa, gesa dengan wajah lelah.
Di mana kau, Sekar?
Apakah kau juga makan siang sekarang?
Apakah kau juga memikirkan aku?
Tiba, tiba, ponselnya bergetar.
Ponsel murah pemberian Guntur sebelum ia berangkat. Hanya ada satu kontak: rumah.
"Le," suara ibunya dari ujung sana. "Kamu sudah sampai?"
"Sudah, Bu."
"Sudah makan?"
"Sedang makan, Bu."
"Kerja sudah dapat?"
"Sudah, Bu. Di toko bangunan."
"Kamu tidak usah banyak bicara," suara ibunya bergetar. "Ibu cuma mau dengar suaramu. Biar ibu tahu bahwa kamu masih hidup."
Arga tersenyum. "Aku masih hidup, Bu. Sehat. Kuat."
"Awas kalau kamu sakit, sakitan. Ibu naik bis ke kota."
"Siap, Bu."
"Kamu cari Sekar?"
"Sedang berusaha, Bu."
"Jangan patah semangat."
"Iya, Bu."
"Ibu doakan kamu setiap hari."
"Makasih, Bu."
"Ibu sayang kamu, Le."
"Saya juga, Bu."
Telepon ditutup. Arga memandang ponselnya sebentar. Lalu menyimpannya di saku.
Ia menghabiskan makan siangnya.
Lalu kembali bekerja.
Mengangkat pasir ke lantai dua.
Jam lima sore, Arga pulang ke kos.
Badannya terasa remuk.
Setiap langkah terasa seperti menginjak kapas.
Setiap otot terasa seperti ditarik, tarik.
Setiap sendi terasa seperti berkarat.
Tapi ia tetap berjalan.
Melewati gang sempit yang mulai gelap.
Melewati pasar yang mulai sepi.
Melewati terminal yang kembali ramai.
Di depan kos, Dimas sedang duduk di kursi plastik sambil minum kopi.
"Wah, Mas Arga, mukamu kayak habis dipukul," guraunya.
"Hampir," jawab Arga. "Empat puluh sak semen dan pasir ke lantai dua."
"Selamat. Kamu sekarang resmi jadi kuli bangunan."
"Terima kasih."
"Makan malam? Saya traktir."
"Kamu tidak antar paket?"
"Sudah. Saya istirahat."
Mereka berjalan ke pasar malam.
Memesan sate kambing dan es teh manis.
Makan bersama.
Tertawa bersama.
Bercerita tentang masa lalu.
Tentang desa.
Tentang impian.
Tentang Sekar.
Pukul sembilan malam, Arga kembali ke kamarnya.
Ia membuka jendela kecil itu.
Udara malam masuk. Membawa bau asap kendaraan dan debu.
Di luar, kota masih hidup.
Lampu, lampu masih menyala.
Mobil, mobil masih lalu lalang.
Orang, orang masih berjalan.
Tidak ada yang tidur.
Tidak ada yang istirahat.
Kota ini benar, benar tidak pernah tidur.
Arga berbaring di dipan bambu.
Ia memeluk bantal kecil dari kebaya Sekar.
"Sekar," bisiknya.
"Aku sudah mulai. Bukan mulai menemukanmu. Tapi mulai beradaptasi."
Ia memejamkan mata.
Bayangan Sekar muncul lagi.
Sekar berdiri di depan sebuah kampus. Gaun biru muda. Rambut tergerai. Tersenyum.
"Kau bisa, Arga. Aku percaya padamu."
"Terima kasih, Sekar."
"Jangan menyerah."
"Aku tidak akan."
Arga tersenyum dalam tidurnya.
BAB 2
KOS-KOSAN MAWAR MERAH
Tiga minggu sudah Arga tinggal di kos-kosan Mbok Darmi.
Tiga minggu. Dua puluh satu hari. Lima ratus empat jam. Tiga puluh ribu empat puluh menit. Waktu yang cukup lama untuk mulai terbiasa dengan suara klakson setiap pagi, dengan bau asap kendaraan yang menyengat hidung, dengan dinginnya air sumur di kamar mandi luar, dengan kerasnya dipan bambu yang setiap malam membuat punggungnya terasa seperti digerogoti semut.
Tapi ada satu hal yang tidak pernah bisa ia biasakan: keheningan di kamarnya setiap malam, ketika ia memeluk bantal kecil dari kebaya Sekar dan berbisik, bisik pada tembok yang tidak pernah menjawab.
"Arga! Bangun, Le!" suara Mbok Darmi dari luar pintu disertai ketukan keras. "Sudah jam setengah enam! Nanti kamu telat kerja!"
Arga membuka mata dengan berat. Badannya masih terasa remuk dari kerja kemarin. Empat puluh sak semen lagi. Dua puluh gerobak pasir ke lantai dua. Ditambah bongkar muat batu bata sore harinya. Pak Bondan memang tidak main, main. Ia membayar lima puluh ribu per hari, tapi ia juga mengambil seluruh tenaga Arga sampai habis.
"Iya, Mbok!" teriak Arga balik.
Ia duduk di dipan. Lehernya terasa kaku. Punggungnya terasa seperti habis dipukul kayu. Tangannya, ia melihat telapak tangannya, kini dipenuhi lepuhan dan kapalan. Kulitnya kasar seperti amplas.
Tapi ia tersenyum.
Ini harga yang harus dibayar, pikirnya. Demi bisa bertahan di kota. Demi bisa mencari Sekar.
Ia keluar kamar. Kamar mandi luar masih kosong. Airnya dingin, lebih dingin dari biasanya karena musim hujan sudah mulai datang. Ia mengguyur tubuhnya dengan cepat, menggigil kedinginan, tetapi tidak mengeluh.
Setelah mandi, ia memakai kemeja kerja, kemeja lengan pendek warna abu, abu pemberian Pak Bondan minggu lalu. "Ini seragam," kata Pak Bondan waktu itu. "Jangan bawa baju bagus dari desa ke sini. Nanti rusak kena semen."
Arga mengecek dompetnya. Uang sisa tinggal seratus ribu. Gaji tiga minggu ia kumpulkan, tetapi sebagian sudah ia kirim untuk ibunya di desa, sebagian lagi ia tabung untuk nanti, untuk biaya mencari Sekar nanti.
Ia keluar kamar.
Di halaman, Dimas sudah duduk di kursi plastik sambil mengisap rokok dan minum kopi hitam pahit.
"Wah, Mas Arga, hari ini wajahmu lebih merah dari biasanya," sapa Dimas sambil tersenyum. "Habis mimpi apa?"
"Mimpi angkat semen lima puluh sak," jawab Arga sambil duduk di sampingnya.
"Berarti mimpi kerja. Itu pertanda kamu sudah terlalu kerasan jadi kuli."
"Lebih baik kuli dari pada pengangguran."
"Setuju. Saya dulu juga nganggur tiga bulan. Rasanya menderita banget. Lebih enak capek fisik dari pada capek pikiran."
Dimas menawarkan rokok. Arga menolak seperti biasa.
"Kamu ini sungguh," kata Dimas sambil menggeleng. "Sudah tiga minggu saya tawari rokok, belum pernah sekali pun kamu terima."
"Saya sudah bilang, saya tidak merokok."
"Bukan tidak bisa. Tidak mau."
"Apa bedanya?"
"Orang yang tidak bisa merokok, saya hormati. Orang yang tidak mau merokok, saya curigai."
"Curiga apa?"
"Curiga kamu itu malaikat yang menyamar jadi manusia."
Arga tertawa. "Malaikat kerja jadi kuli bangunan?"
"Malaikat juga butuh uang, Le. Malaikat juga punya cicilan."
Mereka berdua tertawa. Beberapa penghuni kos lain yang sedang bersiap, siap berangkat kerja ikut menoleh dan tersenyum.
Selesai sarapan sederhana, nasi putih, telur dadar, dan sambal terasi buatan Mbok Darmi yang super pedas, Arga pamit pada Dimas dan berangkat ke toko bangunan.
Perjalanan dari kos ke toko bangunan memakan waktu sekitar empat puluh menit dengan berjalan kaki. Dulu ia butuh satu jam karena sering tersesat. Sekarang ia sudah hapal jalannya: keluar gang, belok kiri di pertigaan, lurus sampai lampu merah, belok kanan, masuk gang di sebelah minimarket, keluar lagi, lurus sampai perempatan, belok kiri, sampai.
Ia berjalan cepat.
Kaki kanannya sedikit terasa nyeri karena kemarin tertimpa batu bata yang jatuh dari tumpukan. Tapi ia paksakan. Tidak mau telat.
Pak Bondan bilang, kalau telat tiga kali, potong gaji. Arga tidak mau gajinya dipotong. Ia butuh setiap rupiah untuk ditabung.
Jam tujuh kurang sepuluh menit, Arga tiba di toko.
Pak Bondan sudah duduk di kursi plastik seperti biasa, membaca koran sambil mengisap rokok. Di sampingnya ada segelas kopi hitam yang masih mengepul.
"Nyaris telat, Le," sapa Pak Bondan tanpa menoleh dari korannya.
"Masih sepuluh menit, Pak."
"Sepuluh menit itu waktu yang pendek. Kalau kamu tersendat di jalan, bisa terlambat."
"Saya tidak akan tersendat, Pak. Saya jalan kaki."
"Kalau kamu jatuh di jalan?"
"Saya tidak akan jatuh, Pak."
"Kalau kamu dipukul orang?"
"Saya tidak punya musuh, Pak."
Pak Bondan meletakkan korannya. Ia memandang Arga dengan mata setengah menyipit.
"Kamu keras kepala, Le. Saya suka itu. Tapi keras kepala juga bisa bikin celaka."
"Tidak akan, Pak. Saya hati-hati."
"Hati-hati itu baik. Tapi jangan terlalu hati, hati. Nanti kamu tidak berani mengambil risiko."
"Risiko apa yang harus saya ambil, Pak?"
Pak Bondan menghela napas. "Risiko percaya pada orang. Risiko jatuh cinta. Risiko gagal. Risiko sakit. Semua itu risiko. Dan kamu tidak bisa hidup tanpa mengambil risiko."
Arga terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Sudah, sana kerja," kata Pak Bondan sambil kembali ke korannya. "Hari ini kamu angkat pasir ke lantai dua. Dua puluh gerobak. Selesai sebelum jam makan siang."
Arga mengangguk. "Baik, Pak."
Ia melepas kemeja abu, abunya, melipatnya rapi, lalu meletakkannya di kursi kosong.
Ia mengambil sekop dan mulai bekerja.
Jam dua belas siang, Arga menyelesaikan tugasnya.
Dua puluh gerobak pasir. Tepat sasaran. Tidak kurang.
Ia duduk di bawah pohon rindang sambil mengatur napas. Keringat mengucur di sekujur tubuhnya. Kemeja abu-abunya, yang baru dicuci semalam, kini basah lagi.
"Minum, Le."
Arga menoleh. Pak Bondan berdiri di depannya dengan segelas air mineral dan sebungkus nasi.
"Terima kasih, Pak."
Arga meminum air itu seteguk. Lalu dua teguk. Lalu seteguk lagi. Dinginnya menyegarkan tenggorokannya yang terasa kering seperti gurun pasir.
"Kamu lapar?" tanya Pak Bondan.
"Lapar, Pak."
"Makan."
Arga membuka bungkusan nasi itu. Isinya sama seperti kemarin: nasi putih, telur dadar tipis, tempe goreng, dan sambal terasi. Tapi kali ini ada tambahan: sepotong ayam goreng.
"Pak Bondan, ini ayam?" tanya Arga.
"Kelihatannya begitu."
"Biasanya saya hanya dapat telur dan tempe."
"Hari ini istimewa. Hari ini kamu kerja bagus."
"Terima kasih, Pak."
"Jangan berterima kasih. Makan saja. Nanti dingin."
Arga makan. Perlahan. Menikmati setiap suapan. Ayam goreng itu terasa sangat lezat, mungkin karena ia sudah terlalu lama tidak makan ayam. Sejak di kota, ia hanya makan nasi, telur, tempe, dan tahu. Ayam adalah kemewahan.
"Pak Bondan," panggil Arga sambil mengunyah.
"Iya."
"Saya boleh tanya sesuatu?"
"Tanya saja."
"Pak Bondan sudah berapa lama punya toko ini?"
Pak Bondan mengisap rokoknya. Asapnya mengepul ke udara siang.
"Dua puluh tahun," jawabnya. "Toko ini warisan dari bapak saya. Dulu kecil, cuma kios. Sekarang lumayan besar."
"Pak Bondan menikah?"
"Pernah."
"Sekarang?"
"Cerai."
Arga berhenti makan. "Maaf, Pak. Saya tidak tahu."
"Tidak apa. Cerai sudah sepuluh tahun lalu. Saya sudah tidak sakit lagi."
"Kenapa cerai, Pak?"
Pak Bondan tertawa kecil. "Kamu memang suka tanya, ya."
"Maaf kalau kepo, Pak."
"Tidak apa. Sesekali kepo itu baik. Tanda kamu peduli." Pak Bondan membuang puntung rokoknya. "Cerai karena istri saya tidak tahan hidup dengan laki, laki yang gila kerja."
"Bapak gila kerja?"
"Kelihatannya begitu. Saya kerja dari jam enam pagi sampai jam sepuluh malam. Saya lupa waktu. Saya lupa keluarga. Saya lupa istri. Saya lupa anak."
"Bapak punya anak?"
"Punya. Satu. Perempuan. Usianya sekarang lima belas tahun. Tinggal sama ibunya di kota lain."
"Bapak rindu?"
Pak Bondan terdiam. Matanya kosong memandang ke kejauhan.
"Rindu," katanya akhirnya. "Tapi apa daya. Jarak dan waktu tidak bisa dibohongi."
Arga tidak bertanya lebih lanjut. Ia hanya menghabiskan makan siangnya dalam diam.
Jam satu siang, Arga kembali bekerja.
Sore itu ia disuruh merapikan gudang belakang. Semen, pasir, batu bata, dan kayu, kayu panjang harus ditata ulang agar rapi.
Ia bekerja sendirian.
Sesekali Pak Bondan lewat untuk memeriksa.
"Bagus," kata Pak Bondan. "Kamu punya naluri kerapian. Di desa juga begitu?"
"Iya, Pak. Bapak saya orang yang sangat rapi. Sawahnya selalu bersih dari rumput liar. Peralatannya selalu disusun rapi di gudang."
"Bapakmu petani yang baik."
"Iya, Pak. Saya bangga padanya."
"Kamu juga anak yang baik. Bangga pada orang tua itu penting. Tanda kamu punya hati."
Arga tersenyum. "Terima kasih, Pak."
Jam lima sore, Arga selesai bekerja.
Pak Bondan memberinya uang lembur sepuluh ribu karena ia menyelesaikan pekerjaan lebih cepat dari target.
"Pak, ini uang lembur?" tanya Arga.
"Iya. Kamu bekerja cepat. Itu hadiahnya."
"Terima kasih, Pak."
"Jangan berterima kasih. Kamu yang bekerja, kamu yang berhak."
Arga memasukkan uang itu ke dompetnya. Dua puluh ribu? Ia hitung lagi. Dua puluh ribu. Itu cukup untuk membeli nasi bungkus dua malam.
Ia pamit pada Pak Bondan dan berjalan pulang.
Di perjalanan, ia melewati sebuah toko bunga.
Bunga, bunga segar tertata rapi di etalase kaca. Mawar merah, mawar putih, mawar kuning, melati, kenanga, dan beberapa jenis bunga yang tidak ia kenal.
Arga berhenti.
Ia teringat pada wangi kenanga dari makam Mbah Raras.
Wangi yang dulu selalu ia hirup setiap kali ke rumah Sekar.
Wangi yang kini sudah hampir hilang dari bantal kebaya yang ia peluk setiap malam.
Ia masuk ke toko bunga itu.
"Selamat sore, Mas. Ada yang bisa dibantu?" sapa seorang perempuan muda dengan rambut pendek dan kacamata tebal.
"Selamat sore, Mbak. Saya mau beli bunga kenanga."
Perempuan itu mengerutkan kening. "Kenanga? Maaf, Mas. Di sini tidak ada. Kami hanya jual mawar, melati, dan anggrek."
"Tidak apa, apa. Saya cari di toko lain."
"Kalau Mas mau, mawar merah juga wangi. Tidak kalah harum dengan kenanga."
Arga tersenyum tipis. "Terima kasih, Mbak. Tapi saya tetap cari kenanga. Itu bunga kesukaan seseorang."
"Seseorang yang spesial?"
"Ya. Spesial."
Perempuan itu tersenyum. "Semoga cepat ketemu, Mas."
"Terima kasih."
Arga keluar dari toko bunga. Ia melanjutkan perjalanan pulang.
Di kos, Dimas sudah menunggu dengan dua bungkus nasi goreng dan es teh manis.
"Wah, Mas Arga, hari ini beneran pulang tepat waktu," sapa Dimas.
"Iya. Lembur cuma sebentar."
"Makan dulu. Saya belikan nasi goreng. Yang pedas."
"Terima kasih, Dimas. Nanti saya ganti."
"Sudah, jangan ganti-ganti. Anggap saja traktiran. Kam kan kemarin traktir saya sate kambing."
"Itu mah kecil."
"Tidak ada kecil atau besar dalam urusan traktir, menraktir. Yang penting niatnya."
Mereka berdua makan di halaman kos. Lampu taman yang redup menerangi wajah mereka.
"Dimas," panggil Arga sambil mengunyah.
"Iya."
"Kamu kenal toko bunga di sekitar Jalan Mawar Hitam?"
"Kenal. Banyak. Empat atau lima toko bunga di sana. Kenapa?"
"Saya mencari bunga kenanga."
Dimas mengangkat alis. "Kenanga? Langka sekarang. Dulu banyak, tapi sekarang susah cari. Orang lebih suka mawar atau melati."
"Apakah ada toko yang menjual?"
"Mungkin. Saya kurang tahu. Tapi besok kalau saya lewat, saya tanyakan."
"Terima kasih, Dimas."
"Untuk apa? Mau bikin wewangian?"
"Bukan. Untuk kenang-kenangan."
Dimas tidak bertanya lebih lanjut. Ia hanya mengangguk.
Pukul delapan malam, Dimas pergi. Ia harus mengantar paket ke luar kota.
Arga masuk ke kamarnya.
Ia membuka jendela kecil itu. Udara malam masuk. Membawa bau asap kendaraan dan debu.
Di luar, kota masih hidup.
Lampu, lampu masih menyala.
Mobil, mobil masih lalu lalang.
Orang, orang masih berjalan.
Tidak ada yang tidur.
Tidak ada yang istirahat.
Kota ini benar, benar tidak pernah tidur.
Arga berbaring di dipan bambu.
Ia memeluk bantal kecil dari kebaya Sekar.
"Sekar," bisiknya.
"Aku mencari bunga kenanga hari ini. Bunga kesukaan nenekmu. Bunga yang wanginya selalu mengingatkanku pada rumahmu."
Ia memejamkan mata.
"Mbak Dewi bilang, di kota ini ada gedung pencakar langit. Ada pusat perbelanjaan besar. Ada bioskop. Ada taman hiburan. Tapi aku tidak tertarik pada semua itu. Aku hanya tertarik pada satu hal: menemukanmu."
"Jatmika, kakakku. Jika kau masih di sini, tolong tunjukkan aku jalan. Aku lelah berjalan tanpa arah."
Tidak ada jawaban.
Hanya suara jangkrik dari selokan.
Hanya suara klakson dari kejauhan.
Arga memeluk bantal itu lebih erat.
"Besok aku akan mencari lagi. Ke toko bunga lain. Ke alamat-alamat yang Mbak Dewi berikan. Ke mana pun. Aku tidak akan menyerah."
Ia menutup mata.
Bayangan Sekar muncul.
Sekar berdiri di sebuah taman kota. Memakai gaun biru muda. Rambutnya tergerai. Di tangannya ada sekuntum bunga kenanga.
"Kamu di sini, Arga," katanya. "Aku tahu kamu akan datang."
"Aku berjanji, Sekar."
"Aku menunggumu."
Arga tersenyum dalam tidurnya.
Keesokan harinya, Arga bangun lebih pagi dari biasanya.
Ia tidak mandi. Ia tidak sarapan. Ia langsung keluar kos dan berjalan ke arah timur, ke arah di mana matahari terbit.
Mbak Dewi bilang ada taman kota di timur. Taman yang besar. Taman yang sering dikunjungi mahasiswa untuk belajar atau sekadar bersantai.
"Mungkin Sekar ada di sana," kata Mbak Dewi kemarin. "Dia kan mahasiswa, kata Mas Arga. Mungkin dia suka ke taman."
Arga tidak tahu pasti. Tapi ia harus mencoba.
Setiap hari libur, yang hanya satu kali dalam seminggu, ia berkeliling kota. Naik angkutan kota, turun di tempat, tempat yang menurutnya mungkin dikunjungi Sekar.
Kampus.
Perpustakaan.
Kafe.
Taman.
Mal.
Gedung bioskop.
Semua ia datangi.
Tapi belum ada hasil.
Hanya nama samar.
Hanya bayangan.
Hanya harapan.
Taman kota itu luas.
Pohon, pohon rindang tumbuh di mana, mana. Bangku, bangku taman terbuat dari kayu jati. Air mancur di tengah taman menyemburkan air setinggi lima meter. Beberapa anak kecil bermain kejar, kejaran di rerumputan. Beberapa mahasiswa duduk sambil membaca buku.
Arga berjalan perlahan.
Matanya bergerak ke kiri dan ke kanan, memindai setiap wajah, setiap sosok, setiap perempuan berambut panjang dan bermata sayu.
Tidak ada.
Semua perempuan yang ia lihat tidak mirip Sekar.
Ada yang mirip, tapi setelah ia dekati, ternyata bukan.
Arga duduk di bangku taman.
Ia menghela napas lelah.
"Sekar," bisiknya, "di mana kau?"
"Aku sudah keliling kota. Dari utara ke selatan. Dari timur ke barat. Tapi kau tidak pernah muncul."
Ia memandang air mancur di depannya.
Airnya jernih.
Bening.
Memantulkan sinar matahari seperti berlian, berlian kecil.
"Apakah kau sudah berubah? Apakah kau sudah tidak mirip dengan yang dulu? Apakah aku tidak akan mengenalimu jika kita bertemu?"
Ia menunduk.
"Atau mungkin kau tidak ingin ditemukan? Mungkin kau sudah bahagia dengan hidup barumu? Mungkin kau sudah lupa padaku?"
"Maaf, Mas. Bangku ini untuk dua orang. Boleh saya duduk?"
Arga menoleh.
Seorang perempuan muda berdiri di sampingnya. Kacamata tebal. Rambut pendek. Berbadan kurus. Memakai jaket jeans dan sepatu kets putih.
Arga menggeser sedikit. "Silakan."
Perempuan itu duduk. Ia membuka buku tebal di pangkuannya. Mulai membaca.
Arga kembali memandang air mancur.
"Mas lagi cari seseorang?" tiba, tiba perempuan itu bertanya.
Arga menoleh. "Kelihatan?"
"Kelihatan banget. Dari tadi Mas melotot ke mana, mana. Seperti sedang mencari pencuri."
Arga tersenyum tipis. "Bukan pencuri. Seseorang yang hilang."
"Pacar?"
Arga mengangguk.
"Ceritanya panjang, ya?"
"Panjang. Sangat panjang."
"Mas tidak mau cerita?"
Arga menatap perempuan itu. Ada sesuatu di matanya yang membuat ia merasa tidak perlu curiga. Mungkin karena ia juga terlihat seperti orang baik. Atau mungkin karena Arga terlalu lelah untuk berpikir jernih.
"Namaku Arga," katanya.
"Namaku Nisa," jawab perempuan itu.
"Nisa."
"Iya. Arga. Nama yang bagus. Berat."
"Kamu orang kelima yang bilang begitu."
"Berarti itu pertanda baik."
Arga tersenyum. "Apa pertanda baiknya?"
"Bahwa kamu ditakdirkan untuk hal, hal besar."
"Seperti apa?"
"Seperti menemukan pacarmu yang hilang."
Arga tertawa kecil. "Amin."
"Jadi, Mas Arga, cerita," kata Nisa sambil menutup bukunya.
"Cerita apa?"
"Cerita tentang pacar Mas yang hilang."
Arga menghela napas. "Namanya Sekar. Kami dari desa yang sama. Wringinrejo namanya."
"Di mana itu?"
"Jauh. Di selatan. Sehari perjalanan."
"Kok bisa hilang?"
"Dibawa paksa orang tuanya ke kota. Dijodohkan dengan laki, laki kaya."
"Aduh, mirip sinetron."
"Memang sinetron kehidupan nyata."
"Lalu Mas ke kota untuk mencari dia?"
"Iya."
"Sendirian?"
"Sendirian."
"Tanpa kenal siapa-siapa?"
"Tanpa kenal siapa-siapa."
Nisa bersiul kecil. "Berani sekali, Mas."
"Bukan berani. Terpaksa."
"Maksudnya?"
Arga memandang air mancur. "Karena saya tidak bisa diam di desa sementara dia mungkin menangis setiap malam di sini."
Nisa terdiam. Ia memandang Arga lama.
"Mas, saya salut," katanya akhirnya. "Sungguh."
"Salut?"
"Iya. Saya tidak tahu banyak orang yang seberani Mas. Sebagian besar orang akan menyerah. Bilang, 'Ah, sudah, lupakan saja. Cari yang lain.' Tapi Mas tidak. Mas malah datang ke kota, kerja jadi kuli bangunan, demi mencari dia."
"Kenapa harus salut? Ini kewajiban saya. Saya yang memulai hubungan. Saya yang harus bertanggung jawab."
"Mas, hubungan itu urusan dua orang. Bukan hanya tanggung jawab Mas."
"Tapi Sekar tidak bisa berbuat apa, apa. Dia dikurung. Dijaga. Dilarang komunikasi dengan dunia luar. Satu-satunya yang bisa berbuat sesuatu adalah saya."
Nisa menghela napas. "Mas, saya tidak tahu harus bilang apa selain semoga cepat ketemu."
"Amin. Terima kasih, Nisa."
Mereka berbincang hingga matahari condong ke barat.
Arga bercerita tentang desanya. Tentang sawah yang menguning saat panen. Tentang Kali Wening yang airnya jernih. Tentang pohon randu tempat ia dan Sekar biasa duduk. Tentang Mbah Jayarasa yang memberinya peta usang.
Nisa mendengarkan dengan saksama. Sesekali ia tertawa. Sesekali ia mengerutkan kening. Sesekali ia mengangguk.
"Mas," kata Nisa setelah cerita Arga selesai.
"Iya."
"Saya ingin bantu."
"Bantu bagaimana?"
"Saya juga mahasiswa. Saya punya banyak teman. Mungkin saya bisa tanyakan ke teman-teman saya, apakah mereka kenal Sekar."
Arga menatap Nisa. "Kamu mau?"
"Mau. Saya suka membantu orang. Apalagi kisah Mas menyentuh hati."
"Terima kasih, Nisa."
"Jangan berterima kasih dulu. Belum tahu hasilnya."
"Tidak apa. Setidaknya Mas ada yang mau membantu."
Nisa tersenyum. Ia mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya.
"Mas punya HP?"
"Punya. Tapi murah. Cuma bisa telepon dan SMS."
"Nggak apa. Tulis nomor Mas di sini."
Arga menulis nomor ponselnya di buku catatan Nisa.
"Besok saya kabari," kata Nisa. "Kalau ada info."
"Siap. Terima kasih."
Arga pulang ke kos dengan perasaan sedikit lebih ringan.
Matahari sudah mulai terbenam. Langit berwarna jingga kemerahan. Beberapa burung terbang rendah di atas gedung, gedung tinggi.
Mungkin ada harapan, pikir Arga. Mungkin Nisa bisa membantu. Mungkin seseorang di kampusnya tahu tentang Sekar.
Ia tiba di kos saat lampu, lampu jalan mulai menyala.
Dimas belum pulang. Mungkin masih mengantar paket.
Mbok Darmi sedang duduk di teras sambil mengupas bawang.
"Mas Arga, habis dari mana?" tanyanya.
"Dari taman kota, Mbok."
"Nongkrong sama siapa?"
"Sendirian."
"Mana ada anak muda ke taman sendirian. Pasti sama perempuan."
"Tadi sempat ketemu perempuan. Tapi cuma kenalan."
Mbok Darmi mendengus. "Hati-hati sama perempuan kota. Banyak yang manipulatif."
"Saya hati-hati, Mbok."
"Makan dulu. Saya masak sayur asem."
"Terima kasih, Mbok."
Malam itu, Arga berbaring di dipan bambu sambil memeluk bantal kebaya Sekar.
Ia tersenyum.
Hari ini ia bertemu Nisa. Perempuan baik yang mau membantunya mencari Sekar.
Mungkin ini awal dari segalanya.
Mungkin pertemuan ini tidak kebetulan.
Mungkin Jatmika yang mengirim Nisa padanya.
"Sekar," bisiknya, "aku tidak sendiri lagi. Ada Nisa. Ada Dimas. Ada Mbak Dewi. Ada Pak Bondan. Ada banyak orang yang membantuku."
Ia memejamkan mata.
"Dan suatu hari, mungkin tidak sekarang, mungkin tidak besok, mungkin tidak lusa, kita akan bertemu. Di taman ini. Di kampus itu. Di suatu tempat."
"Tunggu aku."
BAB 3
TIGA SAHABAT BARU
Sejak bertemu Nisa di taman kota, kehidupan Arga berubah.
Bukan perubahan besar yang terlihat dari luar. Ia masih tinggal di kos, kosan Mbok Darmi yang sempit dan pengap. Ia masih bekerja sebagai kuli bangunan di toko Pak Bondan. Ia masih berjalan kaki empat puluh menit setiap pagi dan sore. Ia masih memeluk bantal kebaya Sekar setiap malam sebelum tidur.
Tapi ada sesuatu yang berbeda di dalam hatinya.
Sesuatu yang hangat.
Sesuatu yang membuat ia merasa tidak sendirian di kota sebesar ini.
Dan perasaan itu semakin kuat ketika ia bertemu dengan dua orang lain, dua laki-laki yang kelak menjadi sahabatnya dalam suka dan duka, dalam tawa dan air mata, dalam keberhasilan dan kegagalan.
Mereka adalah Guntur dan Faruq.
Tiga sahabat baru.
Tiga karakter berbeda.
Tiga warna yang melengkapi kehidupan Arga di kota.
GUNTUR: SANG IDEALIS
Pertemuan Arga dengan Guntur terjadi seminggu setelah ia bertemu Nisa.
Hari itu Arga sedang duduk di bangku taman kota, tempat yang sama, waktu yang sama, harapan yang sama. Ia sedang memandang air mancur dan membayangkan Sekar berdiri di depannya, ketika seseorang duduk di sampingnya tanpa permisi.
"Kamu Arga?" tanya laki, laki itu.
Arga menoleh. Laki, laki di sampingnya berusia sekitar dua puluh tahun. Wajahnya tegas, garis rahangnya kuat, alisnya tebal, dan matanya, matanya menyala seperti api. Ia memakai kemeja putih lengan panjang yang sedikit kusut, celana bahan hitam yang sudah pudar warnanya, dan sepatu pantofel yang solnya sudah mulai terkelupas.
"Iya. Siapa kamu?"
"Guntur. Temannya Nisa."
"Oh."
"Nisa cerita tentang kamu. Tentang pencarianmu. Saya tertarik."
"Tertarik?"
Guntur mengangguk. "Kisah cintamu epik. Seperti cerita wayang. Atau roman picisan."
Arga tersenyum tipis. "Picisan?"
"Iya. Tapi picisan yang bagus. Picisan yang bikin orang terharu."
"Terima kasih. Saya anggap itu pujian."
"Memang pujian."
Guntur mengeluarkan sebatang rokok dari saku kemejanya. Ia menawarkan pada Arga. Arga menolak.
"Kamu tidak merokok?"
"Saya tidak."
"Kenapa?"
"Karena tidak baik untuk kesehatan."
Guntur tertawa. "Kamu terlalu sehat. Kita butuh kematian, Arga. Kematian adalah bagian dari hidup."
"Kok filosofis?"
"Saya mahasiswa filsafat. Memang saya tugasnya filosofis."
"Ooh. Jadi kamu kuliah?"
"Universitas Gajah Mada. Jurusan Filsafat. Tahun ketiga."
"Kok bisa tahu nama saya?"
"Nisa yang kasih tahu. Dia juga mahasiswa. Fakultas Sastra. Angkatan saya juga."
Arga mengangguk. "Nisa orang baik."
"Dia memang baik. Terlalu baik."
"Kenapa terlalu baik?"
Guntur mengisap rokoknya dalam, dalam. Asapnya mengepul ke udara sore.
"Karena dia suka membantu orang tanpa memikirkan dirinya sendiri. Dia habiskan waktu, tenaga, dan uang untuk orang lain. Sementara hidupnya sendiri berantakan."
"Berantakan bagaimana?"
"Orang tuanya cerai. Dia tinggal dengan ibu yang sakit, sakitan. Uang kuliahnya dari beasiswa. Tapi dia tetap semangat membantu siapa pun."
Arga terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa.
"Tapi," lanjut Guntur, "itulah kelebihan Nisa. Dia tulus. Tidak banyak orang tulus di kota ini."
"Kamu juga tulus?"
Guntur tertawa. "Saya? Saya tidak tahu. Saya hanya tahu bahwa hidup ini absurd. Tidak ada makna. Kita semua akan mati. Dan tidak ada yang peduli."
"Kok depresif?"
"Bukan depresif. Realistis. Filsafat mengajarkan saya untuk menerima absurditas kehidupan."
"Lalu kenapa kamu masih kuliah? Kenapa kamu masih hidup?"
Guntur memandang Arga. Matanya yang tadinya menyala kini terlihat redup.
"Pertanyaan bagus," katanya. "Saya tidak tahu jawabannya. Mungkin karena saya masih punya harapan. Meskipun harapan itu irasional."
Arga tidak menjawab. Ia hanya memandang air mancur di depannya.
"Arga," panggil Guntur setelah beberapa saat.
"Iya."
"Saya mau bantu kamu mencari Sekar."
"Kamu?"
"Iya. Saya punya koneksi di kampus. Banyak teman. Banyak relasi. Mungkin saya bisa tanyakan ke sana kemari."
"Kenapa kamu mau bantu?"
Guntur tersenyum. Senyum yang aneh. Senyum yang sebagian sinis, sebagian tulus.
"Karena saya ingin percaya bahwa cinta sejati itu ada. Meskipun filsafat mengatakan sebaliknya."
Arga mengulurkan tangan. "Terima kasih, Guntur."
Guntur menyambut tangannya. Jabatannya kuat. Keras. Penuh keyakinan.
"Sama, sama, Arga. Sekarang, ceritakan semuanya. Jangan ada yang disembunyikan. Saya butuh detail."
Mereka berbincang hingga matahari tenggelam.
Arga bercerita tentang desanya. Tentang kelahirannya yang aneh, kilat tanpa suara, anjing melolong, lampu minyak menyala sendiri. Tentang masa kecilnya yang sunyi, diisi suara angin dan bisikan, bisikan gaib. Tentang pertemuannya dengan Sekar di tepi Kali Wening. Tentang cinta yang tumbuh di antara mereka. Tentang Jatmika, kakak yang meninggal sebelum ia lahir, yang rohnya masih menghantui mereka. Tentang kematian Mbah Raras, nenek Sekar. Tentang penculikan Sekar oleh utusan orang tuanya. Tentang surat, surat yang hampir hilang. Tentang semua.
Guntur mendengarkan dengan saksama. Sesekali ia mengangguk. Sesekali ia mengernyit. Sesekali ia bersiul kecil.
"Epik," katanya setelah Arga selesai. "Benar, benar epik. Seperti Mahabarata versi desa."
"Mahabarata desa?"
"Iya. Ada peperangan. Ada pengkhianatan. Ada cinta. Ada kematian. Ada roh halus. Ada takdir. Lengkap."
"Saya tidak bermaksud epik. Saya hanya menjalani hidup."
"Itulah yang dinamakan epik, Arga. Hidup yang dijalani dengan sungguh, sungguh."
Arga tersenyum. "Saya tidak tahu itu."
"Kamu tahu sekarang."
FARUQ: SANG HUMORIS
Pertemuan Arga dengan Faruq terjadi seminggu setelah pertemuan dengan Guntur.
Faruq adalah teman sekamar Guntur di kos. Guntur mengajak Arga makan malam di angkringan dekat kampus, dan di sanalah ia bertemu dengan Faruq untuk pertama kalinya.
Faruq bertubuh tambun, berkulit sawo matang, berwajah bulat dengan senyum yang tidak pernah pudar. Ia memakai kaos oblong bergambar tokoh kartun Doraemon, celana pendek di atas lutut, dan sandal jepit karet warna hijau neon.
"MAs Arga!" teriak Faruq begitu melihat Arga datang bersama Guntur. "AKHIRNYA! Saya sudah dengar cerita tentang Mas dari Guntur! EPIK! Suka saya!"
Arga terkejut dengan sambutan yang begitu meriah. "Halo."
"Duduk! Duduk! Saya sudah pesan sate kambing sepuluh tusuk. Nasi goreng dua porsi. Es teh manis tiga gelas. Jangan khawatir, saya yang bayar!"
"Wah, jangan, nanti saya, "
"SUDAH! Tidak usah protes! Ini rejeki! Saya baru dapat kiriman uang dari orang tua! Mereka kirim banyak karena saya lulus ujian tengah semester!"
Guntur menggeleng, geleng. "Dia memang begitu. Cerewet. Berisik. Tapi baik hati."
"Saya dengar dari Guntur, Mas Arga cari-cari bunga kenanga?" tanya Faruq sambil mengunyah sate.
Arga mengangguk. "Iya. Untuk kenang-kenangan."
"SUDAH KETEMU? Saya tahu toko bunga di Pasar Gede yang jual kenanga! Besok saya antar!"
"Kamu tahu?"
"Tahu dong! Saya anak keliling! Setiap sudut kota ini saya hapal!"
Faruq berbicara dengan sangat cepat, seperti orang yang takut kehabisan napas. Ia juga sering tertawa—tertawa keras, terbahak, bahak, tidak peduli orang di sekitarnya menatap aneh.
"Faruq, jangan terlalu berisik," tegur Guntur pelan.
"BIARIN! Ini angkringan! Tempatnya orang bersenang, senang! Bukan perpustakaan!"
Guntur menghela napas. "Dia tidak bisa diatur."
"Jangan diatur, jangan diatur," kata Faruq. "Hidup ini terlalu singkat untuk diatur-atur. Nikmati saja!"
Arga tersenyum. Ia belum pernah bertemu orang seceria Faruq. Di desanya, semua orang cenderung pendiam dan serius. Tawa jarang terdengar. Kalau pun ada, biasanya pelan dan terkontrol.
"Faruq," panggil Arga.
"Iya, Mas."
"Kamu kuliah di mana?"
"Universitas Gajah Mada! Fakultas Kedokteran! Tahun ketiga!"
"Kedokteran? Berarti kamu calon dokter?"
"Calon! Tapi jangan harap saya bisa mengobati penyakit serius. Saya masih sering salah diagnosis."
Guntur menambahkan, "Dia pernah salah membaca hasil rontgen. Kata pasien, bayinya kembar tiga. Ternyata yang bengkak itu bukan bayi, tapi tumor."
Faruq tertawa keras. "ITU KESALAHAN YANG LUMRAH! Siapa juga yang tidak salah?"
Arga ikut tertawa. "Kedokteran memang sulit."
"Sulit? Sangat sulit! Tapi saya tidak menyerah! Saya akan jadi dokter! Dokter yang suka bercanda! Biar pasien ketawa, bukan nangis!"
"Bagus itu," kata Arga.
"IYA! Saya suka orang yang mendukung!" Faruq mengangkat gelas es teh manisnya. "TOAST! Untuk persahabatan baru!"
Guntur mengangkat gelasnya dengan malas. Arga mengikuti.
"TOAST!" teriak Faruq.
Mereka bertiga minum the manis.
Setelah makan malam, mereka bertiga berjalan, jalan di sekitar kampus. Faruq berjalan di depan, melompat, lompat kecil, sesekali berhenti untuk membeli gorengan dari pedagang kaki lima.
"Mas Arga," panggil Faruq sambil mengunyah tempe goreng.
"Iya."
"Saya dengar Mas kerja di toko bangunan. Angkat semen. Angkat pasir. Berat, ya?"
"Berat. Tapi saya terbiasa."
"Jangan terlalu memaksakan diri. Nanti sakit. Kalau sakit, datang ke say, Saya obati."
"Dengan apa? Tumor?"
Faruq tertawa keras. "HAHAHA! Mas Arga lucu! Saya suka!"
Guntur berjalan di samping Arga sambil mengisap rokok. "Faruq memang begitu. Orangnya ceria. Tapi di balik keceriaannya, dia juga punya masalah."
"Masalah apa?"
"Orang tuanya sudah meninggal. Dia tinggal sendiri. Biaya kuliah dari beasiswa dan kerja paruh waktu."
Arga menatap Faruq yang masih melompat, lompat di depan.
"Dia tidak kelihatan sedih," kata Arga.
"Itu strateginya. Dia memilih untuk tertawa daripada menangis."
"Mengagumkan."
"Iya. Dia mengagumkan. Kadang saya iri padanya."
"Kenapa iri?"
"Karena dia bisa tetap bahagia meskipun kehilangan. Saya justru sebaliknya. Saya kehilangan, lalu menjadi sinis."
Arga tidak menjawab. Ia hanya memandang Faruq yang kini sedang membeli pisang goreng.
"Mas Arga!" teriak Faruq dari kejauhan. "Mau pisang goreng? ENAK! Ini pisangnya manis! Renyah! GURIH!"
"Ya. Satu."
"Makan pisang goreng sambil cari jodoh," kata Faruq sambil menyerahkan pisang goreng pada Arga. "Itu moto saya."
"Kamu mencari jodoh?"
"ENGAAAAK! Belum! Masih kuliah! Nanti setelah jadi dokter, baru cari jodoh!"
"Kalau jodohnya lari duluan?"
"Ya nggak apa. Berarti bukan jodoh."
Faruq tertawa lagi. Arga ikut tertawa. Guntur hanya tersenyum tipis.
Malam itu, Arga pulang ke kos dengan perasaan yang berbeda.
Biasanya ia pulang dengan perasaan berat, lelah setelah seharian bekerja, ditambah kecewa karena belum menemukan Sekar.
Tapi malam ini, ia pulang dengan perasaan ringan.
Seperti ada beban yang berkurang.
Seperti ada udara segar yang masuk ke paru, parunya.
Seperti ada harapan baru yang tumbuh.
"Mas Arga, kok senyum, senyum sendiri?" sapa Dimas yang sedang duduk di kursi plastik di halaman kos.
"Ada teman baru," jawab Arga.
"Teman baru? Siapa?"
"Guntur dan Faruq. Mahasiswa UGM. Baik-baik."
"Sebaik apa?"
"Sebaik Dimas."
Dimas tertawa. "Wah, pujian itu berat. Saya tidak pernah menganggap diri saya baik."
"Tapi kamu baik, Mas. Saya lihat dari caramu membantu saya."
Dimas menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ah, itu mah biasa."
"Tidak biasa bagi saya. Di kota sebesar ini, orang baik susah dicari."
Dimas tidak menjawab. Ia hanya tersenyum.
PERTEMUAN DI KOST
Tiga hari setelah pertemuan di angkringan, Guntur dan Faruq datang ke kos Arga.
Mbok Darmi sempat curiga. Dua laki-laki asing masuk ke kosnya. "Siapa ini?" tanyanya dengan mata menyipit.
"Teman saya, Mbok," kata Arga. "Mahasiswa UGM."
"Mahasiswa kok bajunya kusut begitu?" Mbok Darmi menunjuk ke arah Guntur.
"Itu mah baju saya memang kusut, Bu," jawab Guntur datar. "Saya tidak suka setrika."
"Kalau yang satu ini?" Mbok Darmi menunjuk Faruq. "Bajunya Doraemon?"
"Hore! Mbok tahu Doraemon! Keren!" Faruq bersorak.
Mbok Darmi mendengus. "Kampungan."
Tapi ia tetap mempersilakan mereka masuk.
Di halaman kos, mereka bertiga duduk di kursi plastik. Dimas bergabung setelah pulang dari kerja. Nisa juga datang setelah dihubungi Arga.
"Ini baru namanya persahabatan," kata Faruq sambil memandang sekeliling. "Multikultural. Multietnis. Multiagama."
"Di sini tidak ada yang lihat agama," kata Dimas. "Yang penting sama-sama nggak punya duit."
Faruq tertawa keras. "BENAR! Saya setuju!"
"Jadi," kata Guntur sambil membuka buku catatannya, "kita berkumpul di sini untuk satu tujuan: membantu Arga mencari Sekar. Siapa yang punya ide?"
Silence.
"Mulai dari Nisa," kata Guntur.
Nisa menghela napas. "Saya sudah tanya teman, teman di fakultas. Belum ada yang tahu nama Sekar. Tapi saya masih terus berusaha."
"Bagus. Faruq?"
"Saya sudah tanya pemilik toko bunga di Pasar Gede!" lapor Faruq dengan semangat. "Katanya, ada seorang perempuan yang sering membeli bunga kenanga di tokonya! Rambut panjang! Mata sayu! Usia sekitar delapan belas tahun! Apakah itu Sekar?"
Arga tersentak. "Bisa jadi. Siapa namanya?"
"Pemilik toko tidak tahu namanya. Tapi dia bilang, perempuan itu datang setiap hari Kamis sore. Besok Kamis. Kita bisa coba intip."
"Bagus. Guntur?"
Guntur memandang catatannya. "Saya sudah tanya senior di fakultas filsafat. Mereka bilang ada mahasiswa baru dari fakultas hukum yang mirip dengan deskripsi Sekar. Namanya... saya lupa. Tapi saya bisa cek lagi."
"Baik. Dimas?"
Dimas mengangkat bahu. "Saya sudah tanya pelanggan langganan saya di sekitar Jalan Mawar Hitam. Tidak ada yang tahu. Tapi saya akan tanya lagi."
"Bagus. Arga?"
Arga memandang teman, temannya. Matanya basah.
"Saya... terima kasih. Saya tidak tahu harus berkata apa."
"Katakan terima kasih," kata Faruq.
"Terima kasih."
"YA! Itu sudah cukup! Sekarang kita lanjutkan perjuangan! Jangan menyerah! Sekar pasti ketemu!"
Mereka berlima tertawa.
Malam itu, Guntur, Faruq, Nisa, dan Dimas pulang. Arga mengantar mereka sampai gang depan.
Sebelum berpisah, Guntur menepuk bahu Arga.
"Arga," katanya.
"Iya."
"Kamu tidak sendirian. Ingat itu."
"Iya. Terima kasih."
"Saya juga tidak sendirian," kata Faruq sambil tersenyum. "Kita semua tidak sendirian. Kita punya satu sama lain."
Arga mengangguk.
"Selamat malam, Mas Arga," kata Nisa. "Besok kita ke toko bunga."
"Selamat malam."
Mereka berlima berpisah.
Arga berjalan kembali ke kos. Langkahnya terasa lebih ringan. Hatinya terasa lebih hangat.
Ia masuk ke kamar.
Membuka jendela.
Memandang langit malam yang gelap.
Ia memeluk bantal kecil dari kebaya Sekar.
"Sekar," bisiknya. "Aku punya teman, teman baru. Mereka baik. Mereka membantuku mencarimu."
Ia memejamkan mata.
"Mungkin ini takdir. Mungkin Tuhan mengirim mereka untukku. Untuk kita."
Air matanya jatuh.
Tapi kali ini bukan air mata kesedihan.
Air mata harapan.
BAB 4
TOKO BANGUNAN TUJUH SEMBILAN
Toko Bangunan Tujuh Sembilan bukan toko biasa. Setidaknya itulah yang Arga pelajari setelah lima minggu bekerja di sana.
Toko itu bukan sekadar tempat jual, beli pasir, semen, batu bata, dan kayu. Bukan sekadar tempat Pak Bondan duduk di kursi plastik sambil membaca koran dan mengisap rokok. Bukan sekadar tempat Arga mengangkat barang berat sampai keringatnya bercucuran seperti air hujan di musim penghujan.
Toko itu adalah dunia kecil.
Dunia dengan aturan sendiri.
Dunia dengan karakter, karakter unik yang tidak akan pernah Arga temukan di desanya.
Dan minggu kelima ini, Arga mulai mengenal mereka satu per satu.
PAK BONDAN: SANG PEMILIK
Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar terbit, Pak Bondan sudah duduk di kursi plastiknya. Koran. Rokok. Kopi hitam pahit tanpa gula. Tiga hal yang tidak pernah abses dalam dua puluh tahun terakhir.
"Arga," panggil Pak Bondan suatu pagi ketika Arga baru saja tiba.
"Iya, Pak."
"Kamu sudah lima minggu di sini."
"Iya, Pak."
"Kamu tahu berapa sak semen yang sudah kamu angkat?"
Arga mengerutkan kening. "Tidak tahu, Pak. Banyak."
"Empat ratus dua puluh sak," kata Pak Bondan tanpa melihat catatan. "Pasir tiga ratus gerobak. Batu bata sepuluh ribu biji. Kayu dua ratus batang."
Arga terkesima. "Bapak menghitung?"
"Saya menghitung semuanya. Saya tahu setiap barang yang masuk dan keluar. Itu kunci sukses bisnis."
"Bapak luar biasa."
"Bukan luar biasa. Teliti. Dua hal berbeda."
Pak Bondan mengisap rokoknya. Asapnya mengepul ke udara pagi yang masih dingin.
"Arga," katanya lagi.
"Iya, Pak."
"Kamu tidak sekadar kuli. Kamu pekerja keras. Saya suka itu."
"Terima kasih, Pak."
"Tapi kerja keras saja tidak cukup. Di kota ini, kerja keras tanpa koneksi hanya akan membuatmu menjadi kuli seumur hidup. Kamu mengerti?"
Arga mengangguk pelan. "Saya mengerti, Pak."
"Lalu apa rencanamu?"
"Rencana?"
"Iya. Rencana hidup. Rencana lima tahun ke depan. Rencana sepuluh tahun ke depan."
Arga terdiam. Ia belum pernah memikirkan itu. Hidupnya selalu tentang hari ini. Tentang besok. Tentang mencari Sekar. Tidak lebih.
"Kamu tidak punya rencana," kata Pak Bondan. Bukan pertanyaan. Pernyataan.
"Belum, Pak."
"Kamu harus punya rencana, Le. Kota ini tidak ramah pada orang tanpa rencana. Dia akan mengunyahmu, menelannya, lalu memuntahkanmu. Tanpa sisa."
Arga menunduk. "Saya akan buat rencana, Pak."
"Kapan?"
"Segera."
Pak Bondan berdiri. Ia menepuk bahu Arga.
"Bagus. Jangan lupa. Rencana itu penting. Sama pentingnya dengan kerja keras."
MAS WAHYU: SANG PESIMIS
Jam delapan pagi, seorang laki, laki datang ke toko. Ia berbadan kurus, berkulit hitam legam, berambut keriting, dan bermata sayu. Ia memakai kaos oblong lusuh dan celana bahan yang sudah pudar warnanya.
"Wahyu," sapa Pak Bondan. "Baru datang?"
"Iya, Pak. Macet di jalan."
"Kenapa tidak naik motor?"
"Motor mogok, Pak. Sudah seminggu."
"Kenapa tidak diperbaiki?"
"Tidak punya uang, Pak."
Pak Bondan menghela napas. "Kamu ini. Kerja sebagai mandor proyek, gajinya cukup besar. Kok tidak punya uang?"
"Gaji saya habis untuk biaya pengobatan ibu, Pak."
"Lalu kapan motor diperbaiki?"
"Entahlah, Pak. Mungkin bulan depan."
Wahyu adalah mandor proyek yang bekerja sama dengan toko bangunan. Setiap hari ia datang untuk mengambil material bangunan untuk proyek perumahan di selatan kota.
Tapi Wahyu bukan mandor biasa.
Wahyu adalah orang paling pesimis yang pernah Arga temui.
Setiap kali ia membuka mulut, yang keluar adalah keluhan. Tentang harga material yang naik, tentang upah buruh yang tidak pernah cukup, tentang proyek yang molor, tentang klien yang pelit, tentang macet, tentang hujan, tentang panas, tentang semuanya.
"Mas Arga," panggil Wahyu suatu siang ketika Arga sedang mengangkat pasir ke gerobak.
"Iya, Mas Wahyu."
"Kamu baru lima minggu di sini, ya?"
"Iya, Mas."
"Jangan betah-betah. Cari kerja lain yang lebih enak."
"Kerja di sini enak, Mas."
Wahyu tertawa pahit. "Enak? Angkat semen, angkat pasir, keringatan, pegal, pegal. Enak apa?"
"Saya terbiasa, Mas."
"Ya, sekarang kamu bilang terbiasa. Tunggu lima tahun lagi. Sepuluh tahun lagi. Badanmu akan rusak. Tulangmu akan keropos. Sendimu akan sakit. Dan apa yang kamu dapat? Uang pas, pasan untuk hidup sebatang kara."
"Dari pada menganggur, Mas."
"Ya, itu benar. Tapi jangan puas di sini. Cari yang lebih baik. Jangan seperti saya."
"Kenapa jangan seperti Mas Wahyu?"
Wahyu memandang Arga. Matanya sayu. Lelah.
"Karena saya sudah dua puluh tahun di proyek, proyek ini. Dan hidup saya tidak berubah. Masih begini, begini saja. Tidak maju, maju."
Arga tidak menjawab. Ia hanya tersenyum.
"Sudah, kamu kerja. Saya ambil kayu. Nanti sore proyek butuh."
Wahyu berjalan pergi dengan langkah gontai.
Arga memandang punggungnya.
Dua puluh tahun, pikir Arga. Dua puluh tahun kerja keras, tapi hidup tidak berubah. Apa yang salah?
Ia tidak tahu.
Tapi ia bertekad untuk tidak menjadi seperti Wahyu.
PAKDE KARTO: SANG FILOSOF
Jam dua siang, seorang laki, laki tua datang ke toko. Umurnya sekitar enam puluh tahun. Rambutnya putih semua. Jenggotnya panjang dan lebat. Ia memakai baju koko lengan panjang dan sarung batik.
"Pakde Karto," sapa Pak Bondan. "Ada perlu apa?"
"Beli semen. Untuk renovasi musala."
"Berapa banyak?"
"Lima sak."
Pak Bondan menunjuk Arga. "Arga, angkat lima sak semen ke gerobak Pakde."
"Siap, Pak."
Arga mengangkat lima sak semen ke gerobak tua milik Pakde Karto. Setelah selesai, ia membantu Pakde Karto mendorong gerobak ke pinggir toko.
"Terima kasih, Le," kata Pakde Karto. "Kamu namanya Arga?"
"Iya, Pakde."
"Berapa lama di kota?"
"Lima minggu, Pakde."
"Sudah betah?"
"Lumayan, Pakde."
"Jangan lupa pulang. Sesekali pulang ke desa. Orang tua di rumah pasti kangen."
"Saya tidak punya waktu, Pakde. Setiap Minggu libur, saya keliling kota."
"Mencari sesuatu?"
Mencari seseorang," Arga ragu sejenak, lalu memutuskan untuk jujur. "Pacar saya."
"Laki-laki setia," Pakde Karto tersenyum. "Langka. Saya suka."
"Terima kasih, Pakde."
"Dengar, Le," Pakde Karto memandang Arga dengan mata yang dalam. "Hidup ini seperti semen."
"Semen, Pakde?"
"Iya. Semen. Kalau kena air, dia mengeras. Kalau tidak kena air, dia tetap bubuk. Tidak berguna."
"Maksudnya?"
"Kamu harus kena sesuatu. Sesuatu yang membuatmu mengeras. Menjadi kuat. Kokoh. Tidak mudah hancur. Untukmu, mungkin itu cinta. Untuk orang lain, mungkin itu penderitaan. Untuk saya, itu agama."
Arga terdiam. Ia memikirkan kata, kata Pakde Karto.
"Jangan terlalu lama memikirkannya," kata Pakde Karto sambil tertawa. "Nanti pusing."
"Siap, Pakde."
"Terima kasih semennya. Saya pamit."
"Selamat jalan, Pakde."
BU SRI: SANG JURU KOMENTAR
Jam empat sore, seorang perempuan gemuk datang ke toko. Ia memakai daster lusuh dan sandal jepit karet. Rambutnya diikat asal, asalan.
"Bu Sri," sapa Pak Bondan. "Ada perlu apa?"
"Arisan, Pak Bondan. Bulan ini giliran saya yang dapat. Saya mau belanja perlengkapan."
"Belanja? Ini toko bangunan, Bu. Bukan toko kelontong."
"Ya, saya tahu. Saya mau beli cat. Untuk ngecat pagar."
"Cat warna apa?"
"Pink."
"Pink?"
"Iya, pink. Pagar saya kan putih, sudah kusam. Saya ingin warna yang ceria. Biar tetangga iri."
Pak Bondan menghela napas. "Arga, ambilkan cat warna pink dua kaleng."
"Siap, Pak."
Arga mengambil dua kaleng cat pink dari rak belakang. Diserahkannya pada Bu Sri.
"Ini, Bu."
"Mas Arga, ya?" Bu Sri memandang Arga dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Iya, Bu."
"Kamu yang baru lima minggu di sini?"
"Iya, Bu."
"Kamu datang dari desa?"
"Wringinrejo, Bu. Di selatan."
"Kampungku juga di selatan. Tapi dekat laut. Kamu suka ikan?"
"Suka, Bu."
"Bagus. Nanti kalau ada waktu, mampir ke rumah saya. Saya masak ikan bakar." Bu Sri berbisik, "Jangan bilang siapa-siapa, nanti pada dateng semua."
Arga tersenyum. "Siap, Bu."
"Bu Sri," potong Pak Bondan. "Catnya dua kaleng. Harga seratus dua puluh ribu."
"Aduh, mahal sekali, Pak. Kemarin di toko sebelah cuma seratus ribu."
"Itu toko sebelah, Bu. Beda kualitas. Cat ini anti luntur. Anti jamur. Tahan lima tahun."
"Tapi seratus dua puluh itu terlalu mahal. Bagaimana kalau seratus sepuluh?"
"Tidak bisa, Bu."
"Seratus lima belas?"
"Bu Sri," Pak Bondan menghela napas. "Saya sudah punya pelanggan dua puluh tahun. Semua tahu harga saya pas."
"Ya sudah, seratus dua puluh. Tapi jangan lupa bonus kuas."
"Kuas tidak termasuk."
"Pak Bondan, pelit sekali."
"Bukan pelit. Bisnis."
Bu Sri membayar. Sebelum pergi, ia menepuk bahu Arga.
"Baik-baik, Mas Arga. Jaga kesehatan. Jangan kerja terlalu keras. Nanti penyakit."
"Siap, Bu."
Bu Sri pergi dengan gerobaknya.
KERJA LEMBUR
Jam setengah enam sore, Pak Bondan mendekati Arga yang sedang membereskan gudang.
"Arga," panggilnya.
"Iya, Pak."
"Kamu mau lembur?"
"Lembur apa, Pak?"
"Toko buka sampai jam delapan malam. Kamu jaga toko. Saya ada urusan keluarga."
"Baik, Pak."
"Ada uang lembur. Dua puluh ribu."
"Siap, Pak."
"Kalau ada yang belanja, layani. Kalau ditanya harga, lihat daftar harga di meja. Kalau tawar, menawar, jangan turun lebih dari sepuluh persen."
"Baik, Pak."
Pak Bondan pergi. Arga duduk di kursi plastik. Memandang jalanan yang mulai sepi.
Jam setengah enam sore, pikirnya. Di desa, sekarang saatnya makan malam. Ibu memasak sayur asem. Ayah mengambil air wudhu untuk salat maghrib. Aroma dupa dari rumah Mbah Jayarasa mulai menyebar.
Ia merindukan desa.
Tapi ia tidak bisa pulang.
Belum.
Jam tujuh malam, seseorang datang.
Perempuan. Usia sekitar empat puluh tahun. Memakai baju batik dan kerudung coklat. Wajahnya lelah.
"Mas, toko masih buka?" tanyanya.
"Masih, Bu. Ada yang bisa dibantu?"
"Saya mau beli semen. Dua sak."
"Untuk apa, Bu?"
"Untuk nambal tembok rumah. Tembok kamar mandi retak. Takut roboh."
"Siap, Bu. Saya antar ke rumah."
"Sanggup?"
"Sanggup."
Arga mengangkat dua sak semen ke gerobak dorong. Ia mendorong gerobak di belakang perempuan itu. Rumahnya tidak jauh. Hanya lima ratus meter dari toko.
"Mas Arga, kan?" tanya perempuan itu di tengah jalan.
"Iya, Bu. Kok tahu?"
"Dengar dari Bu Sri. Katanya ada pemuda desa baru kerja di toko bangunan. Rajin. Jujur. Suka bantu."
"Saya hanya melakukan tugas, Bu."
"Tugas, ya. Tapi tidak semua orang melakukan tugas dengan baik. Kebanyakan asal, asalan."
"Terima kasih, Bu."
"Sama, sama."
Mereka sampai di rumah. Arga menurunkan semen di halaman depan.
"Mas, mau minum dulu?" tawar perempuan itu.
"Terima kasih, Bu. Saya harus kembali ke toko."
"Baik. Hati-hati di jalan."
Arga kembali ke toko. Perjalanan terasa lebih ringan. Bukan karena beban yang berkurang, tapi karena hatinya merasa berguna.
RAHASIA PAK BONDAN
Jam setengah delapan malam, Pak Bondan kembali.
"Ada apa, Le?" tanyanya.
"Ada Bu Surti beli semen dua sak, Pak. Saya antar."
"Bagus. Kamu jujur."
"Terima kasih, Pak."
Pak Bondan duduk di kursi plastik. Ia mengeluarkan sebatang rokok, menyalakannya, lalu mengisap dalam, dalam.
"Arga," panggilnya.
"Iya, Pak."
"Duduk."
Arga duduk di samping Pak Bondan.
"Kamu tahu kenapa saya mempertahankan toko ini selama dua puluh tahun?" tanya Pak Bondan.
"Karena Bapak pintar berbisnis?"
"Bukan. Banyak yang lebih pintar dari saya. Tapi gulung tikar."
"Lalu kenapa, Pak?"
"Karena saya tidak hanya jual barang. Saya juga jual kepercayaan. Pelanggan saya tahu bahwa saya tidak akan menipu mereka. Bahwa material saya bagus. Bahwa harga saya pas."
Arga mengangguk.
"Di kota ini," lanjut Pak Bondan, "kepercayaan adalah mata uang paling berharga. Lebih berharga dari emas. Lebih berharga dari uang. Karena uang bisa dicari, tapi kepercayaan harus dibangun bertahun, tahun."
"Saya mengerti, Pak."
"Kamu masih muda. Kamu punya banyak waktu untuk membangun kepercayaan. Jangan sia-siakan."
"Tidak akan, Pak."
Pak Bondan membuang puntung rokoknya.
"Sekarang, pulang. Besok masih ada kerja."
"Siap, Pak. Selamat malam."
"Selamat malam, Le."
SURAT DARI DESA
Sesampainya di kos, Arga menemukan surat di atas dipannya.
Surat dari desa.
Ia membuka amplop itu dengan hati, hati. Tangannya gemetar. Jantungnya berdegup kencang.
Mungkin dari Sekar, pikirnya. Mungkin akhirnya dia mengirim surat lagi.
Tapi bukan.
Surat itu dari ibunya.
"Le," tulis Sukmawati dengan tulisan tangan yang agak gemetar. "Kamu sehat? Ibu doakan setiap hari. Ayah juga. Jatmika juga, meskipun dia tidak bisa menulis."
"Seminggu yang lalu, Mbah Jayarasa sakit. Batuk, batuk. Badannya panas. Ibu dan Ayah jenguk. Mbah Jayarasa bilang, jangan bilang Arga. Nanti dia khawatir. Tapi Ibu tidak tega. Ibu harus bilang."
"Mbah Jayarasa sekarang sudah sehat. Tapi badannya semakin lemah. Katanya, umurnya tidak lama lagi. Dia ingin bertemu kamu sebelum mati."
"Le, pulanglah. Setidaknya sekali. Untuk lihat Mbah Jayarasa. Untuk lihat Ibu dan Ayah. Untuk lihat desa yang merindukanmu."
"Kamu tidak usah bawa oleh, oleh. Kamu tidak usah bawa uang. Cukup bawa dirimu."
"Ibu sayang Kamu, Le. Jaga kesehatan. Jangan lupa salat. Jangan lupa makan."
"Dari Ibu, yang selalu menunggumu pulang."
Air mata Arga jatuh.
Ia membaca surat itu berulang, ulang.
Mbah Jayarasa sakit.
Mbah Jayarasa ingin bertemu.
Mbah Jayarasa mungkin tidak lama lagi.
Arga menutup matanya.
Ia membayangkan Mbah Jayarasa duduk di kursi bambu. Menyesap teh jahe. Tersenyum padanya.
"Le, kowe ora usah bali kanggo aku. Bali kanggo awakmu dhewe."
"Kamu tidak usah pulang untukku. Pulanglah untuk dirimu sendiri."
Arga menggenggam surat itu erat, erat.
"Besok," bisiknya. "Besok saya minta izin Pak Bondan. Saya pulang. Saya lihat Mbah Jayarasa. Saya lihat Ibu dan Ayah. Saya lihat desa."
Ia memeluk bantal kecil dari kebaya Sekar.
"Sekar, doakan aku. Doakan agar Mbah Jayarasa sehat. Doakan agar aku kuat."
BAB 5
BAYANGAN DI HALTE BUS
Surat dari ibunya tentang penyakit Mbah Jayarasa masih tersimpan rapi di saku celana Arga saat ia berangkat kerja keesokan paginya. Kertas itu terasa berat, meskipun hanya selembar. Setiap langkah yang ia ambil, ia merasakan kertas itu menekan pahanya, mengingatkannya pada kakek tua yang duduk di kursi bambu dengan teh jahe dan peta usang di tangannya.
"Le, kowe ora usah bali kanggo aku. Bali kanggo awakmu dhewe."
Kata, kata itu terus berputar di kepalanya seperti air dalam kendi yang tidak pernah berhenti bergerak.
Tapi ia tidak bisa pulang sekarang.
Belum.
Belum menemukan Sekar.
Belum menemukan titik terang.
Tapi firasatnya hari ini berbeda. Ada sesuatu di udara pagi yang tidak biasa. Sesuatu yang dingin. Sesuatu yang menusuk pori, pori. Sesuatu yang membuat bulu kuduknya berdiri meskipun matahari sudah terbit dengan terangnya.
"Hati-hati hari ini," pesan Mbah Jayarasa terakhir kali sebelum ia berangkat. "Kadang, yang kita cari justru muncul saat kita tidak mencarinya."
Arga berjalan lebih cepat dari biasanya. Kaki kanannya masih sedikit tertatih karena cedera lama, tapi ia paksakan. Ia tidak mau telat. Pak Bondan sudah bilang, keterlambatan akan dipotong gaji. Dan ia tidak mau gajinya dipotong. Ia butuh setiap rupiah untuk ditabung.
Jam tujuh kurang lima menit, Arga tiba di toko.
Pak Bondan sudah duduk di kursi plastik seperti biasa. Koran. Rokok. Kopi hitam. Tapi hari ini ada yang berbeda. Pak Bondan tidak menyapanya seperti biasa. Ia hanya menatap Arga dengan mata yang dalam—seperti sedang membaca sesuatu di wajah Arga.
"Kamu kurang tidur, Le?" tanya Pak Bondan.
"Tidak, Pak. Saya tidur cukup."
"Matamu merah."
"Capek, Pak."
"Kerja kemarin?"
"Iya, Pak. Lembur sampai jam delapan."
"Jangan terlalu memaksakan diri. Nanti sakit."
"Saya tidak apa, apa, Pak."
Pak Bondan tidak menjawab. Ia kembali ke korannya. Arga melepas kemeja abu, abunya, melipatnya rapi, lalu meletakkannya di kursi kosong.
Ia mengambil sekop.
Hari ini ia disuruh memindahkan pasir dari halaman depan ke gudang belakang. Pekerjaan rutin. Membosankan. Tapi ia lakukan dengan sungguh, sungguh.
Sekop pertama. Pasir diangkat. Dimasukkan ke gerobak.
Sekop kedua. Pasir diangkat lagi. Dimasukkan ke gerobak lagi.
Sekop ketiga, keempat, kelima, tangannya bergerak otomatis. Pikirannya melayang ke mana, mana. Ke desa. Ke Mbah Jayarasa. Ke Sekar. Ke surat, surat yang tidak pernah dibalas. Ke peta usang yang masih tersimpan di saku celana, peta yang tidak pernah ia pahami, peta dengan lingkaran merah dan tulisan "di sini, dia pernah menangis."
Di mana lingkaran merah itu?
Di mana Sekar pernah menangis?
Di kota sebesar ini, di mana?
Jam sepuluh pagi, Arga istirahat.
Ia duduk di bawah pohon rindang di depan toko. Di tangannya ada segelas air mineral dingin. Ia meminumnya seteguk. Lalu dua teguk. Lalu seteguk lagi.
"Mas Arga."
Arga menoleh. Pak Bondan berdiri di sampingnya dengan sebungkus nasi.
"Makasih, Pak. Saya belum laper."
"Makan dulu. Nanti kalau laper, jam istirahatmu habis."
Arga menerima bungkusan itu. Dibukanya. Nasi putih, telur dadar, tempe goreng. Tidak ada sambal hari ini. Pak Bondan lupa.
"Pak," panggil Arga.
"Iya."
"Boleh saya minta izin pulang kampung?"
Pak Bondan mengerutkan kening. "Kapan?"
"Akhir pekan ini. Sabtu, Minggu. Saya mau lihat tetua desa. Katanya sakit."
"Parah?"
"Saya tidak tahu. Surat dari ibu saya tidak bilang detail."
"Pulanglah. Tapi kerja Sabtu biasanya lembur. Dua puluh ribu. Kamu rela kehilangan?"
"Keluarga lebih penting daripada uang, Pak."
Pak Bondan mengangguk. "Kamu benar. Pulanglah. Jangan lupa bawa oleh, oleh."
"Oleh, oleh apa, Pak?"
"Oleh, oleh dari kota. Makanan ringan. Biskuit. Permen. Biar orang, orang di desamu senang."
"Siap, Pak."
Jam dua belas siang, Arga makan siang.
Ia duduk sendirian di bawah pohon rindang itu, memandang jalan raya, memandang mobil, mobil yang lalu lalang, memandang orang, orang yang berjalan tergesa, gesa.
Di seberang jalan, ada sebuah halte bus.
Halte kecil dengan atap seng dan bangku kayu yang sudah lapuk.
Setiap hari Arga melihat halte itu. Setiap hari ia melihat orang, orang berdiri di bawah atap seng itu, menunggu bus, menunggu angkutan kota, menunggu sesuatu yang tidak pernah datang tepat waktu.
Tapi hari ini, ada yang berbeda.
Di bangku kayu halte itu, duduk seorang perempuan.
Rambut panjang. Gaun biru muda. Wajah tidak terlalu jelas karena jarak dan cahaya matahari yang menyilaukan.
Tapi Arga mengenali gaun itu.
Gaun biru muda.
Gaun yang biasa dipakai Sekar ketika mereka duduk di tepi Kali Wening. Gaun yang biasa dipakai Sekar ketika mereka berbincang tentang masa depan. Gaun yang biasa dipakai Sekar ketika ia tersenyum dengan mata sayu itu.
Arga berhenti mengunyah.
Ia menelan makanan di mulutnya dengan susah payah.
Matanya tidak berkedip.
"Pak Bondan," panggilnya pelan.
"Iya."
"Pak Bondan, lihat itu."
Pak Bondan menoleh ke seberang jalan. "Lihat apa?"
"Perempuan di halte. Gaun biru muda."
"Ada. Perempuan. Rambut panjang. Gaun biru. Lalu?"
"Itu Sekar, Pak."
Pak Bondan mengerutkan kening. "Sekar? Pacarmu?"
"Iya, Pak."
"Kamu yakin? Jaraknya lumayan jauh."
"Saya yakin, Pak. Saya tidak akan salah mengenali gaun itu."
Pak Bondan memandang Arga. Lalu memandang perempuan di halte. Lalu kembali pada Arga.
"Sudah lima minggu kamu cari dia, Le. Jangan sampai salah orang. Nanti kecewa."
"Saya tidak salah, Pak. Gaun itu, "
"Gaun itu bisa dipakai siapa saja."
"Tapi, "
"Kamu lihat wajahnya? Jelas?"
Arga terdiam. Jarak dari toko ke halte sekitar lima puluh meter. Ditambah sinar matahari yang menyilaukan, ditambah kaca mata Arga yang tidak terlalu bagus karena hanya beli di pasar malam, ia tidak bisa melihat wajah perempuan itu dengan jelas.
"Kurang jelas, Pak."
"Maka dekati. Pastikan. Jangan sampai kamu menyesal nanti."
Arga berdiri.
Tangannya gemetar.
Jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang.
Ia berjalan menyeberang jalan. Perlahan. Setiap langkah terasa berat, seperti kakinya terbenam di lumpur. Setiap napas terasa sesak, seperti ada yang menekan dadanya dari dalam.
Sekar.
Apakah itu kau?
Apakah aku tidak bermimpi?
Apakah setelah lima minggu, akhirnya aku menemukanmu?
Ia sampai di trotoar seberang.
Perempuan itu masih duduk di bangku kayu, membelakangi Arga.
Arga berjalan mendekat.
Lima langkah lagi.
Empat langkah.
Tiga langkah.
Dua langkah.
"Maaf, Mbak," kata Arga.
Perempuan itu menoleh.
Bukan Sekar.
Wajahnya berbeda. Hidungnya lebih mancung. Matanya lebih besar. Bibirnya lebih tipis. Ia tersenyum ramah pada Arga.
"Iya, Mas. Ada yang bisa dibantu?"
Arga terdiam. Dadanya terasa kosong. Hatinya terasa seperti jatuh ke jurang yang dalam.
"Maaf, Mbak. Saya kira Mbak orang lain."
"Ooh. Siapa?"
"Pacar saya."
Perempuan itu tersenyum lagi. "Cantik?"
"Menurut saya, iya."
"Mirip saya?"
"Jauh, Mbak. Saya yang salah lihat. Maaf."
"Tidak apa, apa. Semoga cepat ketemu."
"Terima kasih. Maaf mengganggu."
Arga berjalan kembali ke toko.
Langkahnya berat.
Lebih berat dari ketika ia menyeberang tadi.
Pak Bondan masih duduk di kursi plastik, memandang Arga dengan mata yang dalam.
"Bukan?" tanyanya.
"Bukan, Pak."
"Kamu kecewa."
"Iya, Pak. Sangat."
"Kamu menangis?"
"Tidak, Pak. Saya hanya..."
"Apa?"
"Kosong."
Pak Bondan menghela napas. "Duduk. Makan dulu. Nasi gorengmu tinggal sedikit."
"Saya tidak laper, Pak."
"Makan. Perut kosong tidak baik untuk pikiran."
Arga duduk. Ia mengambil sendok. Memasukkan nasi ke mulut. Mengunyah. Tidak terasa apa, apa. Hanya nasi. Hanya karbohidrat. Hanya pengganjal perut.
"Le," panggil Pak Bondan.
"Iya, Pak."
"Kamu tahu kenapa kamu bisa salah lihat?"
"Karena jaraknya jauh, Pak. Dan mata saya tidak bagus."
"Bukan itu."
"Lalu kenapa, Pak?"
"Karena kamu terlalu berharap. Harapanmu terlalu tinggi. Sehingga setiap perempuan berambut panjang dan berbaju biru, kamu anggap Sekar."
Arga tidak menjawab.
"Kamu harus sabar, Le. Mencari seseorang di kota besar itu tidak mudah. Butuh waktu. Butuh proses. Butuh kesabaran."
"Saya sudah sabar, Pak. Lima minggu."
"Lima minggu itu sebentar, Le. Saya mencari istri saya yang sudah cerai butuh tiga tahun. Itu pun saya tidak ketemu. Saya hanya tahu dia pindah ke kota lain."
"Tiga tahun?"
"Iya. Tiga tahun."
"Sabar sekali, Pak."
"Karena saya tidak punya pilihan. Selain sabar, apa yang bisa saya lakukan? Menangis? Meratapi nasib? Mengutuk takdir? Semua itu tidak akan mengembalikan istri saya."
Arga terdiam. Ia memandang nasi gorengnya yang sudah hampir habis.
"Kamu kerja lagi, Le," kata Pak Bondan. "Lupakan sebentar. Nanti sore, setelah pulang kerja, kamu bisa cari lagi. Tapi sekarang, fokus kerja. Jangan sampai kecelakaan karena pikiran melayang."
"Siap, Pak."
Jam lima sore, Arga pulang.
Perjalanan pulang terasa lebih berat dari biasanya. Setiap langkah terasa seperti menginjak kapas. Setiap bayangan perempuan berambut panjang membuat jantungnya berdegup kencang, lalu kecewa lagi ketika ternyata bukan.
Ia melewati halte bus itu lagi.
Perempuan berbaju biru sudah tidak ada.
Yang ada hanya bangku kayu kosong.
Dan selembar kertas kecil di atas bangku itu.
Arga mendekat.
Ia mengambil kertas itu.
Kertas buram, lipatan sembarangan. Ia membukanya perlahan.
Ada tulisan di dalamnya.
Tulisan tangan.
Hurufnya kecil. Rapi. Miring ke kanan.
"Kamu tidak salah lihat. Aku memang di sini. Tapi belum waktunya kita bertemu. S"
Darah Arga berhenti mengalir.
Ia membaca ulang.
"Kamu tidak salah lihat. Aku memang di sini. Tapi belum waktunya kita bertemu. —S"
S.
Sekar?
Sekar yang menulis ini?
Tapi bagaimana?
Dari mana ia tahu Arga akan lewat?
Dari mana ia tahu Arga akan melihat perempuan berbaju biru itu?
Apakah perempuan berbaju biru itu dia?
Atau hanya perantara?
Atau ini jebakan?
Arga memandang sekeliling. Mencari, cari. Siapa yang meninggalkan kertas ini? Siapa yang menulis ini?
Jalanan ramai. Mobil. Motor. Orang. Tidak ada yang mencurigakan.
"Mas Arga?"
Arga menoleh. Seorang perempuan berdiri di sampingnya. Perempuan muda dengan kacamata tebal dan rambut pendek. Jaket jeans. Sepatu kets putih.
Nisa.
"Nisa? Kamu ngapain di sini?" tanya Arga.
"Pulang kuliah. Lewat sini. Kamu lihat, Mas. Wajahmu pucat sekali."
"Ini, Nisa. Lihat ini."
Arga menyerahkan kertas itu pada Nisa. Nisa membacanya.
Matanya membesar. "Dari Sekar?"
"Saya tidak tahu."
"Ada tanda tangan S."
"Iya. Saya baca."
"Kamu yakin ini dari Sekar?"
"Siapa lagi, Nisa? Siapa lagi yang tahu saya mencari dia?"
Nisa terdiam. Ia memandang kertas itu lagi. Membolak, balik. Mencari petunjuk.
"Kertas ini," katanya, "kertas buram. Murah. Banyak dijual di toko alat tulis. Tidak bisa dilacak."
"Tulisan tangannya?"
"Rapi. Terlatih. Seperti orang yang biasa menulis."
"Sekar memang biasa menulis surat untuk saya."
"Tapi siapa yang meninggalkan ini? Orang itu pasti tahu kamu akan lewat sini. Pasti tahu kamu akan melihat perempuan berbaju biru. Pasti tahu kamu akan mendekati halte."
"Saya tidak tahu, Nisa. Pikiran saya kacau."
Nisa memegang bahu Arga. "Tenang, Mas. Ini petunjuk pertama. Ini berarti Sekar ada di kota ini. Dia tahu kamu mencari. Dia ingin kamu tahu bahwa dia di sini, tapi belum mau bertemu."
"Kenapa belum mau?"
"Mungkin ada alasan. Mungkin dia dalam bahaya. Mungkin orang tuanya masih mengawasi. Mungkin surat, suratnya masih dicegat."
"Tapi kenapa meninggalkan pesan yang samar, samar? Kenapa tidak langsung menulis alamat?"
"Karena itu risiko, Mas. Kalau ketemu orang yang salah, bisa celaka."
Arga menghela napas. "Saya bingung, Nisa. Senang sekaligus kecewa."
"Wajar. Kamu manusia."
Mereka berdua berdiri di tepi jalan. Orang, orang lalu lalang. Tidak ada yang memperhatikan.
"Mas, saya boleh simpan kertas ini?" tanya Nisa.
"Untuk apa?"
"Saya tunjukkan ke Guntur dan Faruq. Mungkin mereka bisa menganalisis."
"Analisis apa?"
"Tulisan tangan. Kertas. Tanda tangan. Mungkin ada petunjuk yang tidak kelihatan."
"Baik. Simpan."
Nisa memasukkan kertas itu ke saku jaketnya.
"Sekarang, Mas pulang. Istirahat. Jangan dipikirkan terus. Nanti stres."
"Saya sudah stres, Nisa."
"Ya, sudah. Jadi jangan tambah stres. Makan. Tidur. Besok cari lagi."
Arga sampai di kos pukul setengah enam sore.
Dimas belum pulang.
Mbok Darmi sedang duduk di teras sambil mengupas bawang.
"Mas Arga, mukamu pucat. Sakit?" tanyanya.
"Tidak, Mbok. Cuma capek."
"Lembur?"
"Bukan. Ada... sesuatu."
"Cerita."
Arga duduk di samping Mbok Darmi. "Mbok, kalau seseorang meninggalkan pesan misterius, itu pertanda apa?"
Mbok Darmi menghentikan kupasannya. "Pesan misterius? Seperti apa?"
Arga menceritakan semuanya. Tentang halte. Tentang perempuan berbaju biru. Tentang kertas. Tentang tanda tangan S.
Mbok Darmi mendengarkan dengan saksama. Matanya yang sipit tiba, tiba terbuka lebar.
"Kamu yakin itu dari Sekar?"
"Saya tidak yakin, Mbok."
"Kalau tidak yakin, jangan percaya dulu. Bisa jadi itu jebakan."
"Jebakan dari siapa?"
"Siapa pun yang tidak suka kamu dekat dengan Sekar. Orang tuanya. Calon suaminya. Siapa pun."
"Mereka tahu saya ada di kota?"
"Mungkin. Kamu tidak sembunyi, sembunyi, Mas. Kamu kerja di toko bangunan. Kamu punya teman, teman baru. Kamu keliling kota setiap hari libur. Mudah dilacak."
Arga terdiam. Mbok Darmi benar. Ia tidak sembunyi. Ia tidak menyamar. Ia hanya jadi dirinya sendiri.
"Kalau jebakan, tujuannya apa, Mbok?"
"Menjerumuskanmu. Membuatmu kecewa. Membuatmu putus asa. Membuatmu berhenti mencari."
"Saya tidak akan berhenti."
"Ya, sekarang kamu bilang begitu. Tapi kalau terus, terusan dapat umpan palsu, lama, lama capek."
Mbok Darmi kembali mengupas bawang. Jari, jarinya yang gemuk bergerak lincah.
"Mbok," panggil Arga.
"Iya."
"Mbok pernah dengar nama Ferry?"
Mbok Darmi berhenti. Ia menatap Arga. "Ferry? Ferry Kencana? Pengusaha muda?"
"Saya tidak tahu nama belakangnya. Tapi dia orang kaya. Calon suami yang dijodohkan dengan Sekar."
Mbok Darmi bersiul kecil. "Ferry Kencana memang tajir. Punya usaha properti. Punya mobil mewah. Punya rumah di kompleks elit. Sering muncul di koran."
"Kenapa Mbok tahu?"
"Karena Mbok baca koran. Mbok tidak buta informasi."
"Apakah Mbok tahu di mana rumahnya?"
"Tahu. Di perumahan Mutiara Indah. Blok A nomor tujuh. Tapi tidak usah coba, coba datang ke sana. Penjagaannya ketat. Kamu bisa dihadiahi pentungan."
"Terima kasih informasinya, Mbok."
"Jangan terima kasih. Mbok hanya kasihan lihat kamu. Anak desa, jauh-jauh ke kota, cari pacar yang mungkin sudah dilamar orang lain."
Arga tidak menjawab. Ia hanya menunduk.
Pukul delapan malam, Dimas pulang.
Ia langsung mencari Arga di kamar.
"Mas Arga! Mas Arga!" teriaknya dari luar pintu.
"Iya, Mas. Masuk."
Dimas masuk dengan wajah kusut dan baju basah keringat.
"Saya dapat informasi, Mas," katanya sambil mengatur napas.
"Informasi apa?"
"Tadi saya antar paket ke perumahan Mutiara Indah. Saya lihat seorang perempuan di balkon. Rambut panjang. Bermata sayu. Dia melambai ke arah saya."
"Kamu yakin itu Sekar?"
"Saya tidak yakin. Tapi ciri, cirinya mirip dengan cerita Mas."
"Rumahnya nomor berapa?"
"Blok A nomor tujuh."
Arga tersentak. Sama dengan informasi dari Mbok Darmi.
"Itu rumah Ferry, Mas," kata Dimas. "Calon suami Sekar."
"Saya tahu. Mbok Darmi sudah bilang."
"Jangan coba, coba datang ke sana. Penjagaannya banyak. Satpamnya galak."
"Saya tidak akan datang. Saya cuma..."
"Apa?"
"Kaget."
Dimas duduk di dipan Arga. "Mas, saya tahu ini berat. Tapi jangan putus asa. Mas masih punya kita. Guntur. Faruq. Nisa. Saya. Mbok Darmi. Pak Bondan. Banyak yang mendukung Mas."
"Terima kasih, Dimas."
"Sama, sama. Sekarang makan malam. Saya beli nasi goreng."
Malam itu, Arga tidak bisa tidur.
Ia memeluk bantal kecil dari kebaya Sekar.
Ia memandang langit, langit kamar yang gelap.
Ia memikirkan kertas misterius di halte.
"Kamu tidak salah lihat. Aku memang di sini. Tapi belum waktunya kita bertemu. —S"
S.
Sekar.
Atau Seseorang?
Atau Siapa pun?
Ia memejamkan mata.
Bayangan Sekar muncul.
Tapi kali ini tidak tersenyum.
Sekar menangis.
Tangan kecil. Wajah pucat. Mata merah.
"Jangan menyerah padaku," bisiknya.
"Aku tidak akan," jawab Arga dalam hati.
"Mereka mengawasiku. Setiap waktu. Setiap saat. Aku tidak bisa menulis surat. Aku tidak bisa telepon. Aku hanya bisa meninggalkan pesan, pesan kecil. Di tempat, tempat yang kamu mungkin lewati."
"Seperti di halte?"
"Iya. Aku tahu kamu lewat sana setiap hari. Aku minta teman yang bisa dipercaya meninggalkan pesan itu."
"Apa namanya?"
"Aku tidak bisa bilang. Nanti dia celaka."
"Sekar, aku rindu kamu."
"Aku juga. Tapi kita sabar. Waktunya belum tepat."
"Kapan?"
"Aku tidak tahu. Tapi aku percaya suatu hari kita akan bertemu."
"Aku juga percaya."
Bayangan itu menghilang.
Arga membuka mata.
Kamar gelap. Sunyi. Hanya suara jangkrik dari selokan.
Ia memeluk bantal kebaya itu lebih erat.
"Sekar," bisiknya, "aku akan terus mencari. Sampai kita bertemu. Sampai kau bilang 'aku di sini' bukan lewat kertas, tapi lewat suaramu sendiri."
BAB 6
MALAM CURHAT DI ATAP KOS
Malam itu, langit kota terlihat berbeda.
Biasanya, langit di atas kos, kosan Mbok Darmi selalu kelabu, tertutup polusi, tertutup asap pabrik, tertutup debu yang beterbangan dari jalan raya. Bintang, bintang jarang sekali muncul. Bulan pun seringkali hanya samar, samar, seperti lilin yang hendak padam.
Tapi malam ini, langit bersih.
Entah karena hujan semalam yang membasuh segala debu, entah karena angin dari utara yang membawa awan, awan pergi, entah karena takdir sedang ingin memberikan pemandangan yang indah untuk sekelompok anak muda yang hatinya sedang dilanda badai.
"Malam ini bagus," kata Guntur sambil menatap ke atas. Ia duduk di atas genting kos, kaki menjuntai, rokok di tangan kiri, segelas kopi hitam di tangan kanan. "Bulan purnama. Bintang-bintang terang. Langit seperti lukisan."
"Kamu tahu, Guntur," kata Faruq dari sampingnya, "kalau jadi pelukis, kamu pasti miskin. Soalnya kamu terlalu filosofis. Orang beli lukisan untuk hiasan, bukan untuk direnungkan."
"Seni tidak selalu untuk dijual, Faruq. Seni juga untuk ekspresi. Untuk menyampaikan apa yang tidak bisa diucapkan kata, kata."
"Omong kosong. Kalau tidak laku, ya percuma. Kamu tidak bisa makan ekspresi. Kamu tidak bisa bayar kos dengan filosofi."
Guntur dan Faruq sudah setengah jam duduk di atap kos. Mereka sengaja memanjat lewat jendela belakang yang bersebelahan dengan pohon jambu. Dari atas sana, mereka bisa melihat seluruh gang, seluruh pasar malam, seluruh kota yang berkelap, kelip bagaikan lautan lampu.
Arga bergabung lima belas menit kemudian. Ia naik dengan susah payah karena tangannya masih pegal setelah seharian mengangkat semen. Faruq harus menariknya dari atas.
"Mas Arga, kamu olahraga dikit," ledek Faruq. "Masa naik atap kos aja susah."
"Saya angkat semen empat puluh sak hari ini, Faruq. Otot saya sudah cukup olahraga."
"Nah, itu masalahnya. Otot lengan kamu kuat, tapi otot kaki kamu lemah. Nanti suatu hari kamu jatuh cinta, kamu bisa memeluk erat-erat, tapi tidak bisa mengejar."
"Wah, filosofis juga kamu hari ini."
"Bukan filosofis. Biologi. Otot kaki penting untuk lari."
Mereka bertiga tertawa.
PERTEMUAN DI ATAP
Nisa datang sepuluh menit kemudian. Ia tidak naik lewat pohon jambu seperti mereka bertiga. Ia naik lewat tangga darurat di belakang kos, jalan yang lebih aman, tapi lebih panjang.
"Kalian sudah pada di sini," katanya sambil mengatur napas.
"Kita baru setengah jam, Nis," kata Guntur. "Arga baru lima belas menit."
"Di mana Dimas?"
"Masih di jalan. Katanya ada kiriman dadakan."
Nisa duduk di sebelah Faruq. Ia membawa sekantong gorengan dan dua botol air mineral.
"Ini buat kalian," katanya. "Makan dulu. Nanti perut keroncongan terus suaranya kedengeran sampe bawah."
Faruq mengambil gorengan itu dengan lahap. "Nisa, kamu calon istri idaman. Rajin. Baik. Bawa gorengan."
"Jangan lamar saya, Faruq. Saya belum lulus kuliah."
"Ya nanti. Setelah lulus. Janji."
"Janji kacang."
Mereka tertawa lagi.
Dimas datang paling akhir. Wajahnya lelah, bajunya basah keringat, rambutnya acak, acakan.
"Maaf telat," katanya sambil memanjat lewat pohon jambu. "Ada kiriman ke perumahan Mutiara Indah. Macet parah."
"Mutiara Indah?" Guntur mengangkat alis. "Itu rumahnya Ferry, kan?"
"Iya. Saya lihat lagi perempuan di balkon. Rambut panjang. Mata sayu. Sekali lagi dia melambai ke arah saya."
"Kamu sudah dekat?" tanya Nisa.
"Tidak bisa. Satpamnya galak. Saya cuma antar paket ke pos satpam, tidak boleh masuk ke dalam."
Faruq bersiul kecil. "Misteri. Perempuan misterius. Seperti cerita detektif."
"Jangan bercanda, Faruq," kata Guntur tegas. "Ini serius. Nyawa Arga mungkin taruhannya."
"Saya tahu, Guntur. Saya hanya mencairkan suasana. Semua orang di sini tegang."
Faruq benar. Semua orang tegang. Arga paling tegang. Wajahnya pucat, matanya cekung, bibirnya kering. Sejak kejadian di halte, sejak menemukan kertas misterius itu, ia tidak bisa tidur nyenyak. Setiap malam ia terbangun beberapa kali, berkeringat dingin, jantung berdebar kencang.
"Nisa," panggil Arga.
"Iya, Mas."
"Kertas itu sudah kamu tunjukkan ke Guntur dan Faruq?"
"Sudah. Mereka sudah lihat."
"Bagaimana pendapat mereka?"
Guntur mengambil alih pembicaraan. "Menurut saya, kertas itu asli. Bukan palsu."
"Kenapa kamu yakin?" tanya Arga.
"Lima alasan. Pertama, kertas itu kertas buram, murah, mudah sobek. Itu kertas yang biasa dijual di toko alat tulis kecil, bukan di supermarket besar. Artinya, yang menulis bukan orang kaya. Orang kaya biasanya pakai kertas mahal."
"Kedua?"
"Kedua, tulisannya rapi tapi terburu-buru. Lihat saja huruf 'S' di tanda tangan. Ada getaran, getaran kecil. Seperti tangan yang gemetar. Bisa jadi karena takut. Atau karena dikejar waktu."
"Ketiga?"
"Ketiga, tinta hitam, pulpen murah. Bukan tinta mahal. Pulpen yang bisa dibeli di warung pinggir jalan."
"Keempat?"
"Keempat, lipatannya. Tidak rapi. Seperti dilipat dalam gelap. Atau dilipat sambil bersembunyi."
"Kelima?"
"Kelima, pesannya singkat. Tidak bertele, tele. Tidak ada basa, basi. Hanya inti. 'Aku di sini. Tapi belum waktunya bertemu.' Itu ciri, ciri pesan yang ditulis dalam tekanan, baik tekanan waktu, tekanan fisik, atau tekanan psikologis."
Arga terdiam. Guntur berbicara seperti detektif. Seperti orang yang terbiasa menganalisis.
"Guntur," panggil Faruq.
"Iya."
"Kamu yakin tidak salah jurusan? Filsafat itu buang-buang waktu. Kamu cocok jadi polisi."
"Saya tidak suka polisi."
"Ya sudah, detektif swasta."
"Belum ada izin."
"Bikin izin. Nanti saya jadi pasien pertama."
"Kamu tidak bisa jadi pasien detektif swasta. Kamu bisa jadi tersangka."
"Wah, saya ditangkap? Kejahatan apa?"
"Kejahatan terlalu banyak bercanda."
Mereka tertawa lagi. Tawa yang sedikit memecah ketegangan.
ARGA BERCERITA
Setelah tawa reda, Guntur menatap Arga. Matanya serius.
"Arga," katanya.
"Iya."
"Sekarang giliran kamu. Ceritakan semuanya. Dari awal. Jangan ada yang disembunyikan. Saya perlu detail."
"Sudah saya ceritakan."
"Ceritakan lagi. Lebih detail. Jangan sampai ada yang terlewat. Setiap kejadian, setiap tanggal, setiap tempat, setiap nama. Saya akan mencatat."
Arga menghela napas.
Ia memejamkan mata.
Lalu mulai bercerita.
KELAHIRAN
"Saya lahir di desa Wringinrejo, tiga puluh tahun yang lalu."
"Tiga puluh tahun?" Faruq memotong. "Mas Arga umur tiga puluh? Kelihatan lebih muda."
"Bukan tiga puluh. Dua puluh. Maksud saya, dua puluh tahun yang lalu."
"Dua puluh tahun," Faruq mengangguk. "Saya kira Mas Arga seumuran saya. Dua puluh. Saya juga dua puluh."
"Jadi cerita, Guntur tidak perlu dipotong," kata Nisa ketus.
Faruq menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Waktu saya lahir," lanjut Arga, "Mbah Jayarasa bilang ada keanehan. Kilat menyambar tiga kali. Tanpa suara. Anjing desa melolong serempak. Lampu minyak di rumah menyala sendiri. Kata Mbah Jayarasa, itu pertanda bahwa saya tidak seperti anak lain."
"Pertanda apa?" tanya Guntur.
"Bahwa saya bisa melihat dan mendengar hal-hal yang tidak bisa dilihat dan didengar orang lain."
"Klenik?" Faruq membuka mulutnya lagi.
"Entahlah. Saya tidak tahu. Tapi sepanjang masa kecil, saya sering mendengar suara-suara. Suara angin. Suara air. Suara bisikan dari arah sungai. Suara itu memanggil nama saya. Memanggil nama 'Jatmika'."
"Jatmika? Nama siapa itu?"
"Kakak saya. Anak pertama orang tua saya. Dia meninggal sebelum saya lahir."
Ruangan sunyi.
JATMIKA
"Waktu saya masih kecil, saya tidak tahu itu nama kakak saya. Saya pikir itu nama teman khayalan. Saya pikir itu nama hantu yang suka mengganggu. Tapi lama, lama saya sadar, suara itu tidak pernah berniat jahat. Suara itu hanya ingin ditemani."
"Kenapa?" tanya Nisa lembut.
"Karena dia mati sendirian. Tenggelam di sungai. Belum sempat mengucapkan selamat tinggal pada siapa pun. Belum sempat menyelesaikan urusan dengan orang yang dicintainya."
"Siapa orang yang dicintainya?"
Arga menelan ludah.
"Sekar."
Ruangan semakin sunyi.
SEKAR
"Waktu kecil, Sekar sering melihat Jatmika. Di sungai. Di halaman rumahnya. Di jalan setapak menuju bukit. Mereka berteman. Mereka bermain bersama. Mereka saling menyukai."
"Tapi Jatmika meninggal?"
"Iya. Tenggelam. Saat bermain di sungai bersama Sekar. Sekar selamat. Jatmika tidak."
"Trauma," bisik Guntur.
"Iya. Sekar trauma. Bertahun, tahun. Dia tidak bisa tidur nyenyak. Dia sering demam. Dia sering bicara sendiri. Orang bilang dia gila."
"Tapi dia tidak gila," kata Nisa.
"Dia tidak gila. Dia hanya bisa melihat Jatmika. Sama seperti saya."
"Karena itu kalian cocok?" tanya Faruq. "Sama, sama bisa lihat hantu?"
"Bukan hantu. Arwah. Mbah Jayarasa bilang, Jatmika belum pergi karena cintanya belum selesai. Dia ingin menyelesaikan sesuatu sebelum benar-benar meninggalkan dunia."
"Apa yang ingin diselesaikan?"
Arga memandang Guntur.
"Memastikan Sekar bahagia. Dengan saya."
CINTA
"Saya dan Sekar bertemu di Kali Wening. Sungai di belakang desa. Tempat Jatmika dulu meninggal. Awalnya hanya sekedar berteman. Tapi lama, lama... tumbuh perasaan."
"Karena apa?" tanya Nisa.
"Karena kami sama. Sama-sama kesepian. Sama-sama tidak dimengerti orang lain. Sama-sama dianggap aneh. Sama-sama bisa mendengar suara-suara yang tidak bisa didengar orang lain."
"Itu yang dinamakan soulmate," kata Faruq. "Dua jiwa yang terhubung."
"Mungkin."
"Lalu kenapa kalian berpisah?"
"Tidak berpisah. Dipisahkan."
"Oleh siapa?"
"Orang tua Sekar. Mereka datang dari kota. Membawa surat. Membawa preman. Membawa mobil mewah. Mereka menjemput Sekar paksa."
"Kenapa?"
"Karena mereka sudah menjodohkan Sekar dengan laki-laki kaya. Ferry. Pengusaha properti. Calon suami yang tidak pernah Sekar kenal sebelumnya."
"Bajingan," geram Guntur.
"Bajingan," ulang Faruq.
"Sialan," tambah Nisa.
"Dimas juga bilang begitu," kata Arga.
"Kami setuju dengan Dimas," kata Guntur.
EMOSI MELUAP
Setelah cerita itu, suasana di atap kos berubah.
Tidak ada lagi tawa.
Tidak ada lagi candaan.
Yang ada hanya angin malam yang dingin, hanya bintang, bintang yang berkerlap, kerlip, hanya jantung yang berdetak tidak beraturan.
Faruq yang biasanya paling ceria-tiba, tiba diam.
Bukan diam biasa.
Diam yang penuh amarah.
Diam yang seperti gunung berapi yang siap meletus.
"Mas Arga," panggil Faruq dengan suara yang tidak biasa. Suaranya berat. Dalam. Penuh emosi.
"Iya."
"Saya orang yang paling jarang marah. Saya lebih suka bercanda daripada berantem. Saya lebih suka tertawa daripada menangis. Tapi malam ini... saya marah."
"Kenapa?"
"Saya marah karena ketidakadilan. Saya marah karena orang tua yang seharusnya melindungi anaknya malah menjual anaknya demi uang. Saya marah karena laki-laki kaya bisa memaksa perempuan miskin untuk menikah tanpa cinta. Saya marah karena hukum diam. Saya marah karena masyarakat tutup mata."
"Faruq," Nisa memegang tangan Faruq.
"Jangan pegang saya, Nisa. Saya tidak sedang histeris. Saya sedang marah. Itu berbeda."
"Tapi, "
"Orang tua saya meninggal ketika saya masih kecil. Saya tahu rasanya tidak punya siapa-siapa. Saya tahu rasanya berjuang sendiri. Tapi saya tidak pernah sekalipun merasa dijual. Karena saya tidak punya siapa pun yang bisa menjual saya."
Faruq berdiri.
Ia memandang langit.
Ia memandang bintang, bintang.
"Mas Arga," katanya lagi.
"Iya, Faruq."
"Saya akan bantu. Bukan karena saya kasihan. Bukan karena saya baik. Bukan karena saya ingin pahala. Tapi karena saya marah. Dan amarah ini harus saya salurkan. Kalau tidak, saya gila."
"Terima kasih, Faruq."
"Jangan berterima kasih. Belum ada hasil."
GUNTUR BICARA
Setelah Faruq duduk kembali, Guntur berbicara.
Suaranya tenang.
Terlalu tenang.
"Arga," katanya.
"Iya."
"Saya orang yang paling sinis di antara kita semua. Saya percaya bahwa hidup tidak punya makna. Saya percaya bahwa semua yang kita lakukan sia-sia. Saya percaya bahwa cinta adalah ilusi kimiawi di otak."
"Tapi?"
"Tapi malam ini, saya mulai meragukan keyakinan saya."
"Kenapa?"
"Karena cerita kamu. Bukan cerita tentang cinta. Bukan cerita tentang perjuangan. Bukan cerita tentang kesetiaan. Tapi cerita tentang Jatmika."
"Jatmika?"
"Iya. Jatmika yang mati tenggelam. Jatmika yang rohnya masih gentayangan. Jatmika yang tidak bisa pergi karena cintanya belum selesai."
"Lalu?"
"Itu membuktikan bahwa ada sesuatu setelah kematian. Itu membuktikan bahwa cinta bisa melampaui kematian. Itu membuktikan bahwa hidup ini tidak sesia-sia yang saya kira."
Guntur mengisap rokoknya. Asapnya mengepul ke udara malam.
"Saya akan bantu, Arga," lanjutnya. "Bukan karena marah seperti Faruq. Bukan karena baik seperti Nisa. Bukan karena setia seperti Dimas. Tapi karena saya ingin tahu."
"Tahu apa?"
"Apakah cinta sejati itu benar-benar ada. Atau hanya cerita untuk menenangkan orang-orang yang ketakutan akan kesendirian."
Arga tidak menjawab.
Ia hanya menatap Guntur.
Dan untuk pertama kalinya, ia melihat keraguan di mata laki-laki sinis itu.
Keraguan yang indah.
Keraguan yang manusiawi.
NISA BERBICARA
Nisa belum berbicara sejak tadi.
Ia hanya duduk.
Mendengarkan.
Sesekali mengangguk.
Tapi ketika Arga mulai bercerita tentang Sekar yang dikurung di rumah Ferry, Nisa berdiri.
"Aku tidak suka ini," katanya.
"Apa yang tidak suka?" tanya Guntur.
"Semua ini. Cerita ini. Kejadian ini. Cara orang tua Sekar memperlakukan anaknya sendiri seperti barang dagangan."
"Hidup memang tidak adil, Nis."
"Aku tahu. Tapi bukan berarti kita diam."
Nisa memandang Arga.
Matanya berapi, api.
"Mas Arga," katanya.
"Iya, Nisa."
"Aku orang yang paling tidak bisa diam melihat ketidakadilan. Aku aktivis kampus. Aku sering demo. Aku sering turun ke jalan. Aku sering berhadapan dengan polisi. Aku sering diancam. Aku sering ditangkap."
"Berani sekali."
"Bukan keberanian. Keputusasaan. Karena kalau orang baik diam, kejahatan akan menang."
"Nisa, "
"Kita akan buat gerakan, Mas. Kita akan kumpulkan dukungan. Kita akan sebarkan cerita ini. Biar publik tahu bahwa ada seorang gadis desa yang dijual oleh orang tuanya sendiri demi melunasi utang."
"Tapi, "
"Jangan takut. Aku sudah berpengalaman. Aku punya jaringan. Aku punya koneksi. Aku punya media. Aku punya teman-teman yang mau bantu."
Arga terdiam.
"Kamu tidak sendirian, Mas," lanjut Nisa. "Kita semua di sini. Kita akan berjuang bersama."
DIMAS BERBICARA
Dimas yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara.
"Gue juga mau bicara."
Semua menoleh.
"Gue bukan aktivis seperti Nisa. Gue bukan filsuf seperti Guntur. Gue bukan mahasiswa kedokteran seperti Faruq. Gue cuma kurir. Kerja kirim-kirim paket. Gaji pas, pasan. Hidup pas, pasan."
"Tapi?"
"Tapi gue punya prinsip. Gue nggak suka orang kaya semena, mena. Gue nggak suka preman. Gue nggak suka pengusaha korup. Gue nggak suka calo. Gue nggak suka semua yang bikin hidup rakyat kecil susah."
"Setuju," kata Faruq.
"Setuju," kata Guntur.
"Setuju," kata Nisa.
"Jadi," lanjut Dimas, "gue bakal bantu Mas Arga dengan cara gue. Yaitu jadi mata-mata. Setiap hari gue antar paket ke seluruh kota. Termasuk ke perumahan Mutiara Indah. Termasuk ke rumah Ferry."
"Kamu tahu risiko?" tanya Guntur.
"Tahu. Tapi gue nggak takut."
"Kenapa?"
"Karena gue nggak punya apa, apa. Rumah kontrakan. Motor butut. HP jadul. Baju seadanya. Mereka nggak bisa ambil apa-apa dari gue. Karena gue nggak punya apa-apa."
"Biasa," kata Faruq. "Orang miskin paling ditakuti orang kaya."
"Kenapa?"
"Karena orang miskin tidak punya apa-apa untuk hilang. Mereka berani mati. Sedangkan orang kaya, segalanya bisa hilang. Harta. Tahta. Wanita. Mereka takut."
Faruq mengangkat gelas es teh manisnya.
"TOAST!" teriaknya.
Semua mengangkat gelas.
"TOAST!"
MOMEN MELANKOLIS
Setelah toast, suasana kembali tenang.
Angin malam berembus lebih dingin.
Bulan purnama bergerak ke barat.
Bintang, bintang masih berkerlap, kerlip.
Arga memandang langit.
Ia teringat pada desa.
Pada ibunya yang sedang menangis di dapur, merindukannya.
Pada ayahnya yang diam, diam menyeka air mata di beranda.
Pada Mbah Jayarasa yang sakit dan mungkin tidak lama lagi.
"Saya pulang akhir pekan ini," kata Arga tiba, tiba.
"Pulang ke desa?" tanya Nisa.
"Iya. Mbah Jayarasa sakit. Katanya ingin bertemu saya sebelum mati."
"Kapan kamu berangkat?"
"Sabtu pagi. Naik bis."
"Kamu tidak cari Sekar dulu?"
"Waktunya tidak banyak, Nisa. Saya harus pilih. Dan saya pilih pulang."
Suasana berubah.
Melankolis.
Sendu.
Semua orang terdiam.
"Kamu benar," kata Guntur akhirnya. "Keluarga lebih penting daripada segalanya. Karier. Uang. Bahkan cinta."
"Cinta juga penting," bantah Faruq.
"Tapi cinta bisa dicari lagi. Keluarga tidak."
"Keluarga bisa dicari lagi. Keluarga bukan hanya orang tua kandung. Keluarga juga teman. Sahabat. Bahkan musuh yang sudah berdamai."
"Faruq, kamu terlalu idealis."
"Kamu terlalu sinis, Guntur."
Mereka bertengkar kecil. Nisa dan Dimas hanya tersenyum.
"Sudah," kata Nisa. "Jangan bertengkar. Ini malam curhat. Bukan malam debat."
"Kamu jadi istriku aja, Nis," kata Faruq tiba, tiba.
"Apa?"
"Kamu jadi istriku. Supaya bisa ngatur aku setiap hari."
"Gila."
"Memang."
Mereka tertawa lagi.
PAMIT
Pukul sebelas malam, mereka turun dari atap.
Satu per satu.
Faruq duluan, melompat ke dahan pohon jambu, lalu ke tanah.
Guntur kedua, lebih hati, hati, dibantu Faruq.
Dimas ketiga, paling gesit, langsung mendarat seperti kucing.
Nisa lewat tangga darurat.
Arga terakhir.
Sebelum turun, ia memandang langit sekali lagi.
Bulan purnama.
Bintang, bintang.
Langit biru gelap.
Sekar, bisiknya, aku akan pulang sebentar. Menengok Mbah Jayarasa. Menengok Ibu dan Ayah. Menengok desa yang merindukanku.
Jangan pergi. Jangan hilang. Jangan menyerah.
Aku akan kembali.
Janji.
DI KAMAR
Sesampainya di kamar, Arga tidak langsung tidur.
Ia duduk di dipan bambu.
Memeluk bantal kecil dari kebaya Sekar.
Ia menciumnya.
"Aku rindu, Sekar," bisiknya. "Rindu sekali."
Ia mengeluarkan kertas misterius itu dari saku celana. Kertas yang diberikan Nisa setelah difoto dan dianalisis.
Ia membaca sekali lagi.
"Kamu tidak salah lihat. Aku memang di sini. Tapi belum waktunya kita bertemu. —S"
"Sekar, kapan waktunya? Kapan kita bisa bertemu? Kapan kita bisa tertawa bersama lagi? Kapan kita bisa duduk di tepi sungai? Kapan kita bisa berbisik tentang masa depan?"
Ia melipat kertas itu.
Menyimpannya di bawah bantal.
"Mungkin waktunya belum sekarang. Tapi suatu hari. Aku percaya."
Arga berbaring.
Ia memejamkan mata.
Bayangan Sekar muncul.
Sekar tersenyum.
"Kamu pulang dulu. Jaga Mbah Jayarasa. Jaga Ibu dan Ayah. Jaga desa. Aku akan di sini. Menunggumu."
"Kamu janji?"
"Janji."
"Janji di atas apa?"
"Janji di atas cinta kita."
Arga tersenyum dalam tidurnya.
BAB 7
SURAT YANG TERTUNDA
Subuh hari, sebelum adzan berkumandang, Arga sudah bangun.
Ia tidak tidur nyenyak semalaman. Bukan karena dipan bambu yang keras. Bukan karena dingin yang merembes dari lantai tanah. Bukan karena suara jangkrik yang terlalu nyaring. Tapi karena ada sesuatu di dadanya, sesuatu yang berat, sesuatu yang mengganjal, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.
Firasat.
Firasat bahwa hari ini akan ada sesuatu yang penting terjadi.
Tapi ia tidak tahu penting dengan cara yang baik atau buruk.
Pukul setengah lima, Arga keluar kamar. Kamar mandi luar masih kosong. Air sumur dingin menusuk tulang. Ia mengguyur tubuhnya cepat, cepat, menggigil, tapi tidak mengeluh.
Selesai mandi, ia memakai kemeja abu-abu lengan pendek, seragam kerja yang sudah mulai pudar warnanya karena sering dicuci dengan sabun colek. Celana bahan hitam yang sama, karena ia hanya punya dua celana, dan yang satu sedang dijemur. Sandal jepit karet yang solnya sudah mulai tipis di bagian tumit.
Di halaman kos, Mbok Darmi sudah duduk di kursi plastik sambil minum teh jahe.
"Bangun pagi sekali, Mas Arga," sapanya.
"Tidak bisa tidur, Mbok."
"Mikirin apa?"
"Banyak."
"Ya sudah. Nanti kamu sakit. Orang yang terlalu banyak mikir umurnya pendek."
"Makasih, Mbok."
"Jangan makasih. Mbok tidak doain kamu mati muda. Mbok doain kamu panjang umur."
Arga tersenyum. "Siap, Mbok."
Ia berjalan ke warung depan pasar. Membeli nasi bungkus dan es teh manis. Makan perlahan sambil memandangi orang, orang yang mulai beraktivitas. Pedagang sayur membuka lapak. Anak, anak berlari ke sekolah. Ibu, ibu berbelanja sambil bergosip.
Hidup di desa dan di kota tidak jauh berbeda, pikir Arga. Sama, sama orang mencari nafkah. Sama, sama orang menyayangi keluarganya. Sama, sama orang bermimpi tentang masa depan.
Tapi ada satu perbedaan besar: di desa, orang saling mengenal. Di kota, orang hanya saling melihat.
GUNTUR DATANG
Jam setengah tujuh, saat Arga bersiap berangkat kerja, Guntur datang.
Wajahnya kusut. Matanya cekung. Baju kemeja putihnya kusut, seperti tidak pernah disetrika. Sepatu pantofelnya kotor terkena lumpur.
"Guntur, kamu dari mana?" tanya Arga heran. Rumah kos Guntur jauh dari sini. Naik angkutan kota butuh tiga puluh menit.
"Dari kos ke sini, Jalan kaki," jawab Guntur sambil mengatur napas.
"Jalan kaki? Dari kampus ke sini? Lima kilometer?"
"Lima setengah."
"Gila."
"Mungkin."
"Ada apa?"
Guntur mengeluarkan sebuah amplop coklat dari saku jaketnya. Amplop itu tebal. Berisi sesuatu. Mungkin kertas. Mungkin foto. Mungkin dokumen.
"Ini," katanya sambil menyerahkan amplop itu pada Arga.
"Apa ini?"
"Buka."
Arga membuka amplop itu. Tangannya gemetar. Jantungnya berdegup kencang.
Isinya: sepuluh lembar fotokopi surat.
Surat-surat dari Sekar.
Surat-surat yang dulu ia kirim ke rumah Sekar di kota.
Surat-surat yang tidak pernah ia terima balasannya.
Lima belas surat.
Semua.
"Dari mana kamu dapat ini?" tanya Arga.
"Dari kakak senior di fakultas. Adiknya bekerja di kantor pos dekat perumahan Mutiara Indah. Dia menemukan tumpukan surat di gudang. Tidak pernah dikirim. Tidak pernah diterima. Hanya disimpan."
"Disimpan oleh siapa?"
"Tidak tahu. Namanya tidak ada. Yang jelas, surat-surat ini sengaja tidak diteruskan. Mungkin dicegat. Mungkin disita. Mungkin dianggap surat berbahaya."
Arga membaca surat-surat itu.
Satu per satu.
Dari surat pertama, yang ia tulis tiga hari setelah tiba di kota.
"Untuk Sekar, yang masih ku tunggu di kota ini..."
Sampai surat kelima belas, yang ia tulis seminggu yang lalu.
"Sekar, aku sudah punya teman baru. Namanya Guntur, Faruq, Nisa, Dimas. Mereka baik. Mereka membantu mencari kamu..."
Air mata Arga jatuh.
Ia tidak bisa menahannya.
Air mata yang keluar dari hati yang paling dalam, hati yang selama ini dipenuhi harapan, kecewa, cinta, rindu, marah, bahagia, sedih, semua bercampur menjadi satu.
"Guntur," isaknya, "ini surat-suratku."
"Aku tahu."
"Surat-surat yang tidak pernah sampai."
"Aku tahu."
"Kenapa bisa ada di gudang kantor pos?"
"Aku tidak tahu. Tapi ini petunjuk. Ini bukti bahwa seseorang tidak ingin surat-suratmu sampai ke Sekar."
"Siapa?"
"Kamu sudah tahu jawabannya. Tapi kamu tidak mau mengucapkannya."
Arga mengusap air matanya dengan lengan baju.
"Ferry," katanya pelan.
"Ferry," ulang Guntur.
"Atau orang tuanya."
"Atau keduanya."
Arga memandang amplop coklat itu. Surat, suratnya, yang ditulis dengan tangan gemetar, dengan hati yang penuh harap, kini kembali padanya. Tidak dibaca Sekar. Tidak dibalas. Hanya disimpan di gudang, tertutup debu, dilupakan waktu.
Guntur duduk di samping Arga. Ia mengeluarkan sebatang rokok, menyalakannya, lalu mengisap dalam, dalam.
"Kamu tahu, Arga," katanya, "saya tidak pernah percaya pada surat."
"Kenapa?"
"Karena surat bisa dicegat. Surat bisa hilang. Surat bisa dibaca orang lain. Surat bisa dipalsukan. Surat tidak bisa diandalkan."
"Tapi, "
"Tapi kamu terus menulis. Lima belas surat. Dalam lima minggu. Itu luar biasa."
"Luar biasa karena apa?"
"Karena kamu masih punya harapan. Padahal tidak ada satu pun balasan."
Arga tidak menjawab.
"Saya kagum," lanjut Guntur. "Saya tidak akan pernah bisa seperti kamu. Saya menulis satu surat, lalu tidak dibalas. Saya sudah berhenti. Saya sudah move on. Saya sudah bilang, 'Ah, sudahlah. Tidak usah dipaksakan.'"
"Tapi saya tidak bisa move on, Guntur. Sekar tidak bisa digantikan."
"Karena apa?"
"Karena dia bukan hanya pacar. Dia bagian dari masa laluku. Dia bagian dari masa kini. Dia bagian dari masa depan."
Guntur mengisap rokoknya sekali lagi. Asapnya mengepul ke udara pagi.
"Filosofis juga kamu, Arga."
"Saya tidak filosofis. Saya jujur."
PAK BONDAN TAHU
Jam tujuh kurang lima menit, Arga sampai di toko.
Wajahnya masih merah bekas air mata. Matanya masih sembab.
Pak Bondan langsung melihat perubahan itu.
"Kamu nangis, Le?" tanyanya.
"Sedikit, Pak."
"Kenapa?"
"Surat-surat saya yang tidak pernah sampai ke Sekar ditemukan. Di gudang kantor pos."
"Ada yang menyembunyikan?"
"Kelihatannya begitu."
"Kamu tahu siapa?"
"Ferry."
Pak Bondan menghela napas. Ia mematikan rokoknya di asbak kaleng bekas susu.
"Dengar, Le," katanya. "Saya sudah dengar nama Ferry dari pelanggan, pelanggan saya. Dia orang berpengaruh. Koneksinya luas. Uangnya banyak. Kalau dia tidak suka sama kamu, kamu bisa kena batunya."
"Saya tidak takut, Pak."
"Kamu harus takut. Takut itu wajar. Takut itu manusiawi. Takut membuatmu waspada. Takut membuatmu tidak ceroboh."
"Tapi, "
"Tapi jangan sampai takut menghentikanmu. Itu bedanya."
Pak Bondan berdiri. Ia menepuk bahu Arga.
"Kamu kerja dulu. Nanti sore, kalau sudah pulang, urus surat-suratmu."
"Siap, Pak."
SIANG YANG MELELAHKAN
Jam dua belas siang, Arga istirahat.
Tidak seperti biasanya, ia tidak duduk di bawah pohon rindang. Ia memilih menyendiri di gudang belakang. Di sana sunyi. Tidak ada yang ganggu. Hanya tumpukan semen, pasir, batu bata, dan kayu.
Ia membuka amplop coklat itu lagi.
Membaca surat, suratnya.
Satu per satu.
Dari surat pertama sampai surat kelima belas.
Ia membaca tulisannya sendiri.
Membaca kata, kata yang ia tulis dalam keadaan lelah, dalam keadaan rindu, dalam keadaan putus asa, dalam keadaan penuh harap.
Surat pertama: "Sekar, aku sudah sampai di kota. Aku tinggal di kos, kosan kecil di belakang pasar. Kamar sempit, dinding tembok belum diplester, tapi aku bersyukur..."
Surat kedua: "Sekar, aku dapat kerja di toko bangunan. Gajinya kecil, tapi cukup untuk makan dan bayar kos..."
Surat ketiga: "Sekar, aku bertemu Mbak Dewi. Dia baik. Dia bantu aku cari kos..."
Surat keempat: "Sekar, aku bertemu Dimas. Dia kurir. Dia baik. Dia bantu aku cari informasi tentang kamu..."
Surat kelima: "Sekar, hari ini aku salah lihat. Ada perempuan di halte pakai gaun biru, mirip kamu. Ternyata bukan. Kecewa..."
Surat keenam: "Sekar, aku bertemu Guntur. Dia mahasiswa filsafat. Aneh. Sinis. Tapi baik hati..."
Surat ketujuh: "Sekar, aku bertemu Faruq. Dia mahasiswa kedokteran. Cerewet. Berisik. Tapi lucu..."
Surat kedelapan: "Sekar, aku bertemu Nisa. Dia aktivis. Berani. Dia bilang mau bantu cari kamu..."
Surat kesembilan: "Sekar, aku pulang ke kos, ada surat dari Ibu. Mbah Jayarasa sakit. Katanya mau ketemu aku sebelum mati. Aku sedih..."
Surat kesepuluh: "Sekar, aku dapat kertas misterius. Tulisan tangan. 'Aku di sini. Tapi belum waktunya kita bertemu. —S.' Itu dari kamu?"
Surat kesebelas: "Sekar, tadi malam kita curhat di atap kos. Guntur, Faruq, Nisa, Dimas. Mereka berjanji bantu aku. Aku tidak sendiri lagi..."
Surat keduabelas: "Sekar, akhir pekan ini aku pulang ke desa. Mbah Jayarasa sakit. Aku takut dia..."
Surat ketigabelas: "Sekar, aku tidak bisa tidur. Memikirkan kamu. Memikirkan Mbah Jayarasa. Memikirkan Ibu dan Ayah..."
Surat keempatbelas: "Sekar, kalau kamu baca surat ini, tolong balas. Aku ingin tahu kabarmu. Aku ingin tahu kamu baik, baik saja..."
Surat kelimabelas: "Sekar, aku sayang kamu. Aku tidak akan berhenti mencari. Sampai kita bertemu..."
Arga menutup surat, surat itu.
Ia menangis lagi.
Kali ini lebih keras.
Ia tidak bisa menahan.
Isaknya menggema di gudang belakang yang sunyi.
"Mas Arga?"
Arga menoleh.
Pak Bondan berdiri di pintu gudang.
"Maaf, Pak. Saya cuma..."
"Menangis. Iya, saya lihat."
"Saya lemas, Pak."
"Lemas karena apa?"
"Karena... surat-surat ini. Karena semua yang saya tulis tidak pernah sampai. Karena semua yang saya rasakan tidak pernah diketahui Sekar. Karena saya tidak tahu apakah dia masih ingat saya. Atau sudah lupa. Atau sudah menyerah."
Pak Bondan berjalan mendekat.
Ia duduk di samping Arga, di atas tumpukan semen.
"Le," katanya, "saya ingin cerita sesuatu."
"Apa, Pak?"
CERITA PAK BONDAN
"Dulu," Pak Bondan mulai, "waktu saya masih muda, sekitar umurmu, saya juga pernah jatuh cinta."
"Pada siapa, Pak?"
"Pada istri saya. Yang sekarang sudah cerai."
"Ceritanya bagaimana?"
"Kami bertemu di toko ini. Waktu itu toko masih kecil. Hanya kios. Saya jualan semen eceran. Dia datang beli semen untuk bangun rumah."
"Lalu?"
"Saya suka padanya. Dia suka pada saya. Tapi kami tidak bisa menikah."
"Kenapa?"
"Karena orang tuanya tidak setuju. Saya dianggap miskin. Tidak pantas untuk anaknya."
"Mirip dengan cerita saya."
"Iya. Hampir sama. Bedanya, istri saya dulu tidak dijodohkan. Orang tuanya hanya melarang."
"Lalu bagaimana Bapak bisa menikah?"
Pak Bondan tersenyum. Senyum pahit.
"Kami kawin lari."
"Kawin lari?"
"Iya. Kami pergi ke kota lain. Menikah di sana. Tanpa restu orang tua. Tanpa pesta. Tanpa apa, apa."
"Lalu?"
"Lalu kami hidup susah. Saya buka toko kecil. Dia jualan kue. Pendapatan pas, pasan. Tapi kami bahagia. Atau setidaknya, saya mengira kami bahagia."
"Kenapa cerai?"
Pak Bondan menghela napas panjang.
"Karena setelah anak kami lahir, istri saya berubah. Dia tidak tahan hidup susah. Dia ingin hidup mewah. Dia ingin rumah besar. Mobil bagus. Liburan ke luar negeri. Semua yang tidak bisa saya berikan."
"Lalu dia pergi?"
"Dia minta cerai. Saya tidak bisa menolak."
"Bapak sedih?"
"Sedih? Sangat. Saya depresi setahun. Toko hampir bangkrut. Saya hampir bunuh diri."
"Tapi Bapak selamat."
"Iya. Saya selamat. Karena suatu hari, seorang pelanggan tua bilang pada saya..."
Pak Bondan berhenti.
Ia mengeluarkan rokok. Menyalakannya. Mengisap dalam, dalam.
"Bilang apa, Pak?"
"Bilang, 'Le, hidup ini bukan tentang siapa yang kamu cintai. Tapi tentang siapa yang bertahan ketika cinta itu pergi.'"
Arga terdiam.
Pak Bondan melanjutkan, "Sejak itu, saya fokus pada toko. Saya tidak mencari istri baru. Saya tidak mencari cinta baru. Saya hanya bekerja. Dan bekerja. Dan bekerja."
"Sampai sekarang?"
"Sampai sekarang. Kesepian. Tapi tidak menderita. Kerja keras. Tapi tidak kelaparan. Punya anak. Tapi tidak bisa ketemu setiap hari."
"Bapak rindu?"
"Rindu. Tapi sudah tidak sakit."
"Bapak hebat."
"Tidak hebat. Hanya bertahan."
Pak Bondan membuang puntung rokoknya, lalu berdiri.
"Sekarang, kamu kerja lagi. Jangan larut dalam kesedihan. Nanti kamu tidak bisa apa, apa."
"Siap, Pak."
Pak Bondan berjalan ke pintu gudang. Sebelum keluar, ia menoleh.
"Arga."
"Iya, Pak."
"Jangan kawin lari."
"Kenapa, Pak?"
"Karena kawin lari hanya solusi sementara. Masalah sebenarnya bukan pada restu orang tua. Tapi pada kesiapan mental."
"Maksud Bapak?"
"Kamu harus siap. Siap untuk hidup susah. Siap untuk dihina. Siap untuk dijauhi. Siap untuk kehilangan. Kalau tidak siap, jangan paksa. Nanti kamu sakit."
Pak Bondan pergi.
Arga duduk sendiri di gudang.
Ia memandang amplop coklat itu. Memandang surat, suratnya. Memandang kata, kata yang ia tulis dengan penuh harap.
"Sekar, aku sayang kamu. Aku tidak akan berhenti mencari. Sampai kita bertemu..."
"Apakah aku siap?" bisiknya pada diri sendiri.
Ia tidak tahu.
Tapi ia harus siap.
FARUQ DAN NASIHATNYA
Jam empat sore, Faruq datang ke toko.
Bukan untuk belanja. Bukan untuk antar sesuatu. Tapi untuk menjenguk Arga.
Faruq tahu Arga sedang sedih. Guntur sudah mengabari lewat pesan singkat.
"Mas Arga!" teriak Faruq dari depan toko. "MAS ARGA!"
Arga keluar dari gudang. Wajahnya masih lesu.
"Faruq, kamu ngapain ke sini?"
"Nengok kamu. Saya dengar kamu nangis di gudang."
"Siapa yang bilang?"
"Pak Bondan. Dia SMS Guntur. Guntur SMS saya."
"Pak Bondan punya HP?"
"Semua orang punya HP, Mas. Mas Arga saja yang tidak punya."
"Punya. Tapi jarang dipakai."
"Ya sudah. Sekarang, kita makan dulu. Saya beli sate kambing."
"Saya belum laper."
"Lapar atau tidak, kita makan. Makan itu kewajiban. Seperti salat. Seperti zakat. Seperti puasa."
Faruq menarik Arga ke warung sate di pinggir pasar.
Mereka duduk di kursi plastik. Memesan dua puluh tusuk sate kambing dan dua es teh manis.
"Mas Arga," kata Faruq sambil mengunyah.
"Iya."
"Saya dengar surat, surat Mas Arga dicegat."
"Iya."
"Oleh Ferry?"
"Diduga kuat."
"Bajingan itu."
"Iya."
"Tapi Mas Arga jangan sedih."
"Kenapa?"
"Karena surat itu bisa dikirim lagi. Sekarang bukan zaman pos. Sekarang zaman digital. Kita bisa pakai email. Pakai WhatsApp. Pakai media sosial."
"Tapi Sekar tidak punya HP. Orang tuanya melarang."
"Lalu bagaimana?"
"Kita harus cari cara lain. Mungkin lewat teman. Mungkin lewat tetangga. Mungkin lewat siapa pun yang bisa dipercaya."
"Fiver?"
"Apa?"
"Fiver. Slogan. Saya lupa."
Faruq tertawa.
"Mas Arga," katanya lagi.
"Iya."
"Saya mau pesan."
"Pesan apa?"
"Jangan menyerah. Saya tahu ini klise. Saya tahu ini sudah sering Mas Arga dengar. Tapi saya ulangi: jangan menyerah."
Arga tersenyum. "Saya tidak akan menyerah, Faruq."
"Bagus. Karena kalau Mas Arga menyerah, saya yang akan cari Sekar."
"Kamu?"
"Iya. Saya akan cari. Saya akan temui Ferry. Saya akan adu mulut. Saya akan adu fisik kalau perlu."
"Kamu bisa berkelahi?"
"Tidak bisa. Tapi saya bisa lari."
"Lari?"
"Iya. Lari adalah keahlian saya. Sejak kecil. Dikejar anjing. Dikejar ayam. Dikejar ibu-ibu yang marah karena saya ambil jambunya."
Arga tertawa. "Lucu."
"Bukan lucu. Tragis."
Mereka berdua tertawa. Tawa yang sedikit mengobati luka.
NISA DAN RENCANANYA
Jam lima sore, Nisa datang ke toko.
Bersamaan dengan waktu Arga pulang.
"Mas Arga," sapanya.
"Nisa, kamu ngapain ke sini?"
"Nemuin kamu. Saya mau tunjukkan sesuatu."
Nisa mengeluarkan ponselnya. Sebuah foto. Perempuan berdiri di balkon. Rambut panjang. Gaun putih. Wajahnya tidak terlalu jelas karena jarak.
"Ini siapa?" tanya Arga.
"Sekar."
Arga terkesiap. "Fotonya dari mana?"
"Dari Dimas. Dia memotret dari pos satpam. Jaraknya jauh. Tapi wajahnya masih kelihatan."
Arga memandang foto itu lama.
Membesar-besarkan.
Menganalisis.
"Hidungnya," bisiknya. "Matanya. Bibirnya. Rambutnya."
"Itu Sekar?"
"Ya. Itu Sekar."
Air mata Arga jatuh lagi.
"Sekar," isaknya. "Sekar masih di sana. Masih di rumah Ferry. Masih dikurung. Masih dijaga."
"Tapi dia masih hidup, Mas. Itu yang penting."
"Iya. Masih hidup. Masih di kota ini. Masih di dunia yang sama."
Nisa menyimpan ponselnya. Ia memegang tangan Arga.
"Mas, kita akan selamatkan dia. Saya punya rencana."
"Rencana apa?"
"Kita kumpulkan bukti. Penyekapan. Perjodohan paksa. Kekerasan dalam rumah tangga kalau sudah menikah."
"Tapi mereka belum menikah."
"Belum. Tapi Ferry terus memaksa. Katanya, minggu depan ada pesta pertunangan."
"Pertunangan?"
"Iya. Keluarga Sekar dan keluarga Ferry akan mengumumkan pertunangan. Itu yang Dimas dengar dari pembantunya."
Arga terdiam.
Pikirannya kacau.
Pertunangan.
Minggu depan.
Dengan Ferry.
"Mas," Nisa mengguncang bahu Arga. "Mas, dengar saya. Kita masih punya waktu. Satu minggu. Cukup untuk bergerak."
"Bergerak bagaimana?"
"Aksi. Demo. Penggalangan dana. Tekanan publik. Saya sudah bicara dengan teman, teman aktivis. Mereka siap bantu."
"Bukannya itu berbahaya?"
"Berbahaya. Tapi kalau tidak pernah berani, tidak akan pernah berubah."
DIMAS DAN PENGINTIPAN
Jam setengah enam, Dimas datang.
Wajahnya tegang, berkeringat.
"Mas Arga," katanya. "Saya dapat informasi baru."
"Apa?"
"Ferry akan bepergian ke luar kota besok. Tiga hari. Rumahnya akan dijaga sedikit. Hanya dua satpam."
"Itu peluang?"
"Iya. Kita bisa menyusup. Atau setidaknya, mengintip dari dekat."
"Risikonya?"
"Besar. Kalau ketahuan, bisa dihabisi."
"Kita harus hati-hati."
"Tentu."
Mereka berlima, Arga, Guntur, Faruq, Nisa, Dimas, berkumpul di halaman kos.
Mbok Darmi menyuguhkan teh jahe dan pisang goreng.
"Kalian ini," katanya. "Kayak mau perang saja."
"Memang mau perang, Mbok," kata Faruq. "Perang melawan ketidakadilan."
"Jangan kematian. Nanti Mbok yang repot ngurus jenazah."
"Aamiin. Jangan mati."
Mereka merencanakan strategi.
Guntur sebagai koordinator. Nisa sebagai humas dan dokumentasi. Dimas sebagai mata, mata. Faruq sebagai logistik. Arga sebagai eksekutor.
"Eksekutor apanya?" tanya Faruq.
"Eksekutor pertemuan dengan Sekar," jawab Guntur. "Kalau kita berhasil masuk, Arga yang akan bicara dengan Sekar. Orang lain tidak boleh."
"Kenapa?"
"Karena Arga yang paling tahu situasi. Arga yang paling dekat dengan Sekar. Arga yang paling bisa meyakinkan Sekar untuk lari."
"Setuju," kata Nisa.
"Setuju," kata Faruq.
"Setuju," kata Dimas.
"Setuju," kata Arga.
MALAM SEBELUM PULANG
Pukul sembilan malam, teman, teman Arga pulang.
Satu per satu.
Guntur duluan. Faruq kedua. Nisa ketiga. Dimas keempat, karena ia paling dekat, kamarnya hanya di sebelah Arga.
Arga masuk ke kamar.
Ia membuka jendela.
Udara malam masuk. Membawa bau asap kendaraan dan debu.
Di luar, kota masih hidup.
Lampu, lampu masih menyala.
Mobil, mobil masih lalu lalang.
Orang, orang masih berjalan.
Tidak ada yang tidur.
Tidak ada yang istirahat.
Kota ini benar, benar tidak pernah tidur.
Arga membuka bantal kecil dari kebaya Sekar. Ia menciumnya.
"Sekar," bisiknya. "Besok aku pulang. Pulang ke desa. Melihat Mbah Jayarasa. Melihat Ibu dan Ayah. Melihat adikku Jatmika di kuburan."
Ia memeluk bantal itu.
"Aku akan kembali. Minggu malam. Atau Senin pagi. Jangan kemana, mana. Jangan menyerah. Jangan lupa aku."
Ia memejamkan mata.
Bayangan Sekar muncul.
Sekar menangis.
"Aku di sini, Arga. Di rumah besar ini. Sendirian. Hanya ditemani pembantu yang bisu. Aku rindu kamu. Aku rindu desa. Aku rindu nenek."
"Aku akan menjemputmu," jawab Arga dalam hati.
"Kapan?"
"Entah. Tapi aku akan."
"Aku percaya."
Bayangan itu menghilang.
Arga membuka mata.
Kamar gelap.
Sunyi.
Ia memandang langit, langit.
"Jatmika," bisiknya, "tolong jaga Sekar. Tolong lindungi dia. Tolong beri dia kekuatan. Sampai aku datang."
BAB 8
PERTEMUAN TAK TERDUGA
Hari Sabtu pagi, langit kota masih gelap ketika Arga sudah berdiri di terminal bis.
Ia tidak tidur semalaman. Bukan karena degup jantung atau pusing atau mimpi buruk. Ia hanya tidak bisa memejamkan mata. Setiap kali mencoba, bayangan Mbah Jayarasa muncul—wajah keriput dengan senyum misterius, tangan renta yang memegang peta usang, suara parau yang berkata, "Le, kowe ora usah bali kanggo aku. Bali kanggo awakmu dhewe."
Dan juga bayangan Sekar.
Sekar yang berdiri di balkon rumah Ferry, melambai ke arah Dimas, berharap lambaian itu sampai ke Arga. Sekar yang menulis pesan misterius di kertas buram, lalu menitipkan pada seseorang yang bisa dipercaya. Sekar yang menangis di kamar mewah yang terasa seperti penjara.
Arga menggenggam tiket bis di tangan kirinya. Tangan kanannya memegang bantal kecil dari kebaya Sekar, bantal yang selalu ia bawa ke mana pun sejak meninggalkan desa.
"Mas Arga!"
Ia menoleh. Dimas berlari kecil dari arah parkiran motor. Wajahnya masih ngantuk, rambutnya acak, acakan, jaket kurirnya terbalik.
"Dimas, kamu ngapain ke sini? Jam segini?"
"Nganter Mas Arga. Saya tahu Mas Arga berangkat pagi. Saya nggak tega kalau Mas Arga sendirian."
"Terima kasih, Dimas."
"Jangan makasih. Nanti saya minta traktir sate kambing lagi."
"Besok. Janji."
Dimas tertawa. Tapi tawanya cepat, cepat dipadamkan ketika melihat wajah Arga yang pucat dan mata yang sembab.
"Mas Arga, kenapa? Kok mukanya kayak habis dipukul?"
"Tidak kenapa, kenapa. Cuma kurang tidur."
"Kurang tidur atau kurang makan?"
"Keduanya."
"Ya ampun, Mas. Nanti sakit. Ini, bawa bekal."
Dimas menyerahkan sebuah kantong plastik. Isinya: dua bungkus nasi goreng, empat tusuk sate kambing, dua botol air mineral, dan sebatang coklat.
"Ini semua dari mana?" tanya Arga.
"Dari Guntur, Faruq, Nisa, dan saya. Mereka nitip. Katanya, Mas Arga harus makan di jalan. Jangan sampai kelaparan."
Arga tersenyum. Matanya berkaca, kaca.
"Kalian ini..."
"Ya, kami baik. Sudah, naik bis. Nanti telat."
DALAM BIS
Arga memilih kursi dekat jendela. Di sebelahnya belum ada siapa, siapa. Ia meletakkan bantal kebaya di pangkuan, menaruh kantong plastik di samping kiri, dan menaruh ransel kecil di bawah kursi.
Bis mulai bergerak perlahan.
Melewati terminal.
Melewati pasar.
Melewati pertigaan.
Melewati perumahan.
Melewati pabrik.
Melewati sawah.
Perlahan, gedung, gedung tinggi bergantian dengan pepohonan. Lampu, lampu neon bergantian dengan kegelapan. Suara klakson bergantian dengan suara jangkrik.
Arga memandang ke luar jendela.
Hari mulai terang.
Matahari terbit di ufuk timur, merah keemasan, seperti api yang membakar langit.
Di desa, saat ini Mbah Jayarasa sudah bangun, pikir Arga. Duduk di kursi bambu, minum teh jahe, memandang sawah yang menguning. Kadang ia tersenyum sendiri, kadang ia menangis sendiri. Tidak ada yang tahu apa yang ia pikirkan.
Ibu juga sudah bangun. Memasak bubur untuk sarapan. Menyiapkan lauk sederhana. Sesekali ia menangis, merindukan anak sulungnya yang pergi ke kota.
Ayah juga sudah bangun. Mengasah arit di halaman belakang. Wajahnya keras seperti biasa, tapi matanya sayu. Ia tidak banyak bicara sejak Arga pergi. Hanya diam. Bekerja. Tidur. Ulang.
Air mata Arga jatuh.
Ia tidak menghapusnya.
Ia membiarkannya mengalir.
BIS BERHENTI
Dua jam perjalanan, bis berhenti di sebuah terminal kecil di pertengahan jalan.
"Istirahat lima belas menit!" teriak kondektur. "Bisa beli makan, buang air, atau sekadar regangkan kaki!"
Arga turun.
Halaman terminal kecil itu dipenuhi pedagang kaki lima. Sate, bakso, nasi goreng, mie ayam, gorengan, kopi, teh, es jeruk. Suara pedagang berteriak, teriak saling menawarkan dagangan. Bau makanan bercampur asap kendaraan dan debu.
Arga membeli segelas kopi hitam.
Ia duduk di bangku kayu di pinggir terminal.
Memandang orang, orang yang lalu lalang.
Ada ibu-ibu dengan anak kecil. Ada bapak, bapak dengan koper besar. Ada mahasiswa dengan ransel tebal. Ada pedagang dengan gerobak. Ada pengamen dengan gitar.
Semua punya cerita, pikir Arga. Semua punya tujuan. Semua punya orang yang dinanti di ujung perjalanan.
Seorang pengamen menghampirinya. Laki, laki muda buta dengan pakaian lusuh.
"Mas, mau dengar lagu?" tanyanya.
"Lagu apa?"
"Lagu apa saja. Saya hapal banyak."
"Sekar. Ada lagu tentang sekar?"
"Mawar? Melati? Kenanga?"
"Kenanga."
Pengamen itu mulai bernyanyi.
Suaranya parau, tidak merdu, tapi menyentuh.
Kenanga, kenanga,
Kembang desa kang wangi neng ati,
Nanging saiki ilang,
Digowo angin menyang kutha sepi.
Kenanga, kenanga,
Aja lali marang desa,
Mbalia, mbalia,
Wektu isih ono roso.
Arga terenyuh. Ia mengeluarkan uang lima ribu, memberikannya pada pengamen itu.
"Terima kasih, Mas. Semoga cepat ketemu yang dicari."
Pengamen itu pergi.
Arga memandang punggungnya.
Dia tahu aku mencari seseorang, pikir Arga. Dari mana dia tahu?
TIBA DI DESA
Jam satu siang, bis tiba di terminal desa.
Arga turun.
Udara desa menyambutnya: dingin, segar, bau rumput dan tanah basah. Sangat berbeda dengan udara kota yang panas, lembab, dan bau asap.
Ia berjalan kaki menuju rumah.
Melewati jalan setapak yang berlumpur.
Melewati sawah yang menguning.
Melewati sungai kecil yang airnya jernih.
Melewati pohon randu di Bukit Watu Senja.
Setiap langkah membawa kenangan.
Setiap sudut mengingatkannya pada masa lalu.
Sekar di tepi sungai. Sekar di bawah pohon randu. Sekar di pematang sawah. Sekar di halaman rumah. Sekar di mana, mana. Sekar tidak pernah benar, benar pergi dari ingatannya.
Rumahnya terlihat dari kejauhan.
Masih sama seperti dulu. Dinding papan kayu tua yang mulai melengkung. Atap genteng yang ditumbuhi lumut. Halaman depan dengan pohon mangga yang akarnya menjulur ke tanah.
Dan di beranda, seorang perempuan tua duduk di kursi bambu.
Laki-laki tua di sampingnya.
Sukmawati dan Sastro.
Arga mempercepat langkahnya.
"Bu! Yah!" teriaknya.
Sukmawati menoleh. Ia berdiri. Tangannya gemetar. Matanya basah.
"Le!" teriaknya balik. "LE!"
Mereka berpelukan.
Sastro hanya berdiri, memandang, tidak banyak bicara. Tapi matanya, matanya yang keras itu, tiba-tiba lunak. Basah.
"Ayah," panggil Arga sambil memeluk ayahnya.
"Kamu kurus, Le," kata Sastro.
"Kerja keras, Yah."
"Makannya kurang?"
"Lumayan."
"Nanti Ibu masak banyak, banyak."
"Iya, Yah."
MBAH JAYARASA
Setelah makan siang, nasi putih, ayam goreng, sayur asem, sambal terasi, dan kerupuk, Arga berjalan ke rumah Mbah Jayarasa.
Rumah tua itu masih berdiri di balik rumpun bambu. Halamannya ditumbuhi rumput liar. Pagarnya dari bambu yang sudah mulai lapuk.
Arga mengetuk pintu.
"Mbah, Arga."
Dari dalam terdengar suara parau. Parau, lemah, nyaris tak terdengar.
"Masuk, Le. Pintu tidak dikunci."
Arga masuk.
Mbah Jayarasa terbaring di dipan bambu. Badannya kurus, sangat kurus. Tulang, tulangnya tampak menonjol di balik kulit yang keriput. Matanya cekung. Bibirnya kering.
Tapi matanya, matanya masih sama seperti dulu. Tajam. Dalam. Penuh teka, teki.
"Le," bisiknya, "kowe teka."
"Iya, Mbah. Arga teka."
"Kowe ora usah teka. Mbah ora usah ditekani."
"Mbah mau ketemu Arga. Surat Ibu bilang begitu."
"Surat Ibumu lebay. Mbah cuma masuk angin."
Mbah Jayarasa batuk. Batuknya keras. Kering. Seperti ada sesuatu di dadanya yang tidak mau keluar.
Arga memegang tangan Mbah Jayarasa. Tangan itu dingin. Sangat dingin.
"Mbah, jangan bicara banyak. Istirahat."
"Mbah tidak bisa istirahat. Mbah masih punya pesan."
"Pesan apa?"
Mbah Jayarasa memejamkan mata sejenak. Lalu membukanya. Kali ini matanya berkaca, kaca.
"Le, Mbah tahu semua yang terjadi di kota."
"Mbah tahu?"
"Mbah tahu. Mbah punya orang. Mbah punya mata, mata. Mbah tahu tentang Ferry. Tentang perjodohan. Tentang penyekapan. Tentang surat-surat yang dicegat."
Arga terkesiap. "Mbah tahu semua itu?"
"Mbah tahu. Mbah sudah tahu sejak lama. Tapi Mbah tidak bisa membantu karena Mbah sudah tua. Karena Mbah tidak punya kuasa."
"Mbah sudah cukup membantu. Peta usang itu sangat berguna."
Mbah Jayarasa tersenyum. Senyum yang lemah tapi penuh makna.
"Peta itu, Le... peta itu bukan peta biasa."
"Apa maksud Mbah?"
"Peta itu adalah peta dari Mbah Jayarasa. Mbah Jayarasa muda. Mbah Jayarasa yang dulu juga pengembara."
"Mbah juga pernah jadi pengembara?"
"Pernah. Mbah meninggalkan desa ini ketika umur Mbah dua puluh tahun. Pergi ke kota. Mencari kehidupan. Mencari cinta."
"Apakah Mbah menemukan?"
"Tidak. Mbah pulang dengan tangan hampa. Dan hati yang hancur."
Mbah Jayarasa batuk lagi. Lebih keras.
"Mbah, istirahat dulu."
"Tidak. Mbah belum selesai."
Mbah Jayarasa mengatur napas. Dua kali. Tiga kali. Lalu melanjutkan.
"Peta itu, Le... peta itu adalah peta yang sama yang Mbah gunakan dulu. Peta yang tidak pernah membawa Mbah ke mana-mana. Tapi peta itu Mbah berikan padamu sebagai simbol."
"Simbol apa?"
"Simbol bahwa perjalanan lebih penting daripada tujuan. Bahwa tersesat lebih penting daripada tiba. Bahwa jatuh lebih penting daripada berdiri."
Arga menunduk. Air matanya jatuh ke tangan Mbah Jayarasa yang dingin.
"Mbah, Arga tidak mengerti."
"Kamu akan mengerti. Suatu hari nanti. Ketika semua ini selesai."
Mbah Jayarasa memejamkan mata.
Napasnya teratur.
Lambat.
Dalam.
Arga duduk di sampingnya.
Diam.
Menunggu.
MALAM DI DESA
Malam hari, Arga duduk di beranda rumahnya.
Langit desa dipenuhi bintang.
Bulan sabit tipis menggantung rendah.
Suara jangkrik mengisi keheningan.
Suara kodok dari sawah.
Suara angin dari bukit.
Arga memeluk bantal kecil dari kebaya Sekar.
Ia menciumnya.
"Sekar," bisiknya, "aku di desa sekarang. Aku di rumahku. Aku di tempat kita dulu sering bertemu. Aku di Kali Wening. Aku di pohon randu. Aku di mana, mana, tapi kamu tidak ada. Kamu jauh. Kamu di kota besar yang sunyi. Kamu di rumah mewah yang terasa seperti penjara."
"Sekar, jangan menyerah. Aku akan kembali. Aku akan menjemputmu. Aku akan membawamu pulang."
"Ke desa ini."
"Ke Kali Wening."
"Ke pohon randu."
"Ke kita."
PULANG KE KOTA
Minggu sore, Arga kembali ke kota.
Ia naik bis malam.
Kursi dekat jendela.
Bantal kebaya di pangkuan.
Ransel kecil di bawah kursi.
Bis melaju perlahan.
Melewati sawah.
Melewati sungai.
Melewati bukit.
Melewati perumahan.
Melewati pabrik.
Melewati pasar.
Melewati terminal.
Dan akhirnya, sampai di kota.
Jam sembilan malam.
Arga turun.
Ia berjalan ke kos.
Setiap langkah berat.
Setiap bayangan perempuan berambut panjang membuat jantungnya berdegup kencang.
Tapi bukan Sekar.
Bukan.
Belum.
PERTEMUAN TAK TERDUGA
Hari Senin pagi, Arga kembali bekerja.
Seperti biasa. Pagi, pagi. Jalan kaki empat puluh menit. Keringat bercucuran. Sesekali berhenti untuk minum.
Jam tujuh kurang lima menit, ia tiba di toko.
Pak Bondan sudah duduk di kursi plastik.
Koran. Rokok. Kopi hitam.
"Le, kamu sudah kembali," sapa Pak Bondan.
"Iya, Pak. Mbah Jayarasa sehat."
"Syukurlah."
"Pak, hari ini tugas saya apa?"
"Angkat pasir ke lantai dua. Dua puluh gerobak. Selesai sebelum jam makan siang."
"Siap, Pak."
Arga melepas kemeja abu, abunya. Melipatnya rapi. Meletakkannya di kursi kosong.
Ia mengambil sekop.
Mulai bekerja.
Sekop pertama.
Sekop kedua.
Sekop ketiga.
Keringat mengucur.
Punggung terasa panas.
Tapi ia terus bekerja.
Tidak berhenti.
Tidak istirahat.
Jam dua belas siang, Arga duduk di bawah pohon rindang.
Makan siang. Nasi putih. Telur dadar. Tempe goreng. Sambal terasi.
Ia makan perlahan.
Memandang jalan raya.
Memandang halte bus.
Memandang perempuan, perempuan berambut panjang.
Tapi tidak ada yang mirip Sekar.
Tidak ada.
"Mas Arga."
Arga menoleh.
Seorang anak laki, laki berdiri di sampingnya. Umur sekitar sepuluh tahun. Rambut acak, acakan. Pakaian lusuh. Kaki telanjang.
"Ada apa, Le?" tanya Arga.
"Ada titipan untuk Mas."
Anak itu menyerahkan sebuah amplop.
Amplop putih. Tidak bertuliskan nama. Tidak bertuliskan alamat. Hanya amplop putih kosong.
Arga menerimanya.
Anak itu pergi.
Arga membuka amplop itu.
Di dalamnya: selembar kertas buram.
Dan tulisan tangan.
Tulisan yang sangat ia kenali.
Tulisan Sekar.
"Arga, aku tahu kamu ada di kota ini. Aku tahu kamu bekerja di toko bangunan. Aku tahu kamu tinggal di kos, kosan belakang pasar. Aku tahu kamu punya teman, teman baru. Aku tahu semua yang kamu lakukan. Karena aku juga punya orang yang bisa dipercaya."
"Aku ingin bertemu denganmu. Bukan sebentar. Tapi lama. Bukan untuk mengucapkan selamat tinggal. Tapi untuk merencanakan masa depan."
"Tapi aku tidak bisa keluar. Ferry menjagaku ketat. Satpam di mana, mana. Pembantu yang mengawasi.Setiap saat.Setiap waktu."
"Namun ada celah. Besok, Selasa, Ferry akan pergi ke luar kota. Hanya dua satpam yang berjaga. Aku bisa kabur jika ada yang menjemput."
"Jam dua belas malam. Aku akan turun dari balkon. Aku akan memanjat pohon jambu di belakang rumah."
"Jemput aku. Bawa aku pergi. Jauh. Ke desa. Ke tempat yang aman."
"Aku tidak tahan di sini lagi, Arga. Setiap hari aku menangis. Setiap malam aku tidak bisa tidur. Aku rindu kamu. Aku rindu desa. Aku rindu nenek. Aku rindu semuanya."
"Jangan biarkan aku sendiri lagi."
"—Sekar"
Arga membaca surat itu berulang, ulang.
Tangannya gemetar.
Jantungnya berdegup kencang.
Dadanya sesak.
Matanya basah.
Ini bukan mimpi.
Ini nyata.
Surat dari Sekar.
Sekar ingin bertemu.
Sekar ingin kabur.
Sekar ingin pulang.
"Pak Bondan!" teriak Arga.
Pak Bondan yang sedang membaca koran menoleh. "Ada apa, Le?"
"Sekar... Sekar minta tolong. Besok malam... dia mau kabur."
Pak Bondan berdiri. Ia berjalan mendekat. Membaca surat itu.
Matanya menyipit.
"Ini asli?" tanyanya.
"Asli, Pak. Tulisan tangan Sekar. Saya hafal."
"Kamu yakin?"
"Saya yakin, Pak."
"Risikonya besar, Le. Kalau ketahuan, kamu bisa ditangkap. Ferry bisa kirim preman."
"Saya tidak takut, Pak."
"Kamu harus takut. Tapi jangan sampai takut menghentikanmu."
"Saya sudah siap, Pak. Saya sudah lama siap."
Pak Bondan menghela napas. "Baik. Besok malam, toko tutup lebih awal. Kamu pulang jam lima. Istirahat. Siapkan tenaga."
"Siap, Pak."
"Dan jangan cerita ke siapa pun dulu. Hanya teman-teman terdekat yang boleh tahu."
"Siap, Pak."
RENCANA
Jam lima sore, Arga pulang.
Ia kumpulkan teman, temannya di kos.
Guntur. Faruq. Nisa. Dimas.
Mereka duduk di halaman kos.
Mbok Darmi menyuguhkan teh jahe dan pisang goreng.
"Kalian ini seperti kongsi gelap," gerutu Mbok Darmi.
"Memang kongsi gelap, Mbok," kata Faruq. "Kongsi penyelamat gadis desa."
"Jangan kematian."
"Aamiin."
Arga membacakan surat dari Sekar.
Satu per satu.
Semua diam.
Ketegangan.
"Besok malam," kata Arga, "kita harus jemput Sekar."
"Rencananya bagaimana?" tanya Guntur.
Rencananya: Dimas menjadi kurir sekaligus mata, mata. Ia akan memantau situasi di perumahan Mutiara Indah. Guntur akan menjemput Arga dan Faruq dengan mobil sewaan. Nisa akan menyiapkan tempat persembunyian sementara di rumah temannya. Arga yang akan memanjat pohon jambu dan mengevakuasi Sekar.
"Risiko?" tanya Faruq.
"Besar. Bisa ditangkap. Bisa dihabisi. Bisa dipenjara."
"Apakah kita siap?"
"Kita harus siap."
"Setuju," kata Guntur.
"Setuju," kata Faruq.
"Setuju," kata Nisa.
"Setuju," kata Dimas.
"Setuju," kata Arga.
MALAM SEBELUM
Malam itu, Arga tidak bisa tidur.
Ia duduk di dipan bambu.
Memeluk bantal kebaya.
Memandang langit, langit.
Memikirkan Sekar.
Sekar di balkon rumah Ferry. Sekar yang menangis. Sekar yang sendirian. Sekar yang menunggu.
"Besok," bisiknya. "Besok malam, aku akan jemput kamu."
"Kita akan bersama lagi."
"Di desa."
"Di Kali Wening."
"Di pohon randu."
"Selamanya."
Ia memejamkan mata.
Bayangan Sekar muncul.
Sekar tersenyum.
"Aku menunggumu."
"Aku datang."
BAB 9
KAMPUS IMPIAN
Malam setelah rencara penyelamatan disusun, Arga tidak bisa tidur.
Bukan karena takut. Bukan karena gugup. Bukan karena degup jantung yang tidak karuan. Tapi karena pikirannya melayang ke suatu tempat yang belum pernah ia kunjungi, ke suatu dunia yang selama ini hanya ia lihat dari kejauhan, ke suatu gerbang yang selama ini ia lewati tanpa pernah berani masuk.
Kampus.
Universitas Gajah Mada.
Tempat Guntur kuliah filsafat. Tempat Faruq kuliah kedokteran. Tempat Nisa kuliah sastra. Tempat ribuan mahasiswa dari seluruh Indonesia berkumpul, belajar, berdebat, jatuh cinta, patah hati, dan bermimpi tentang masa depan.
Arga tidak pernah kuliah.
Setelah lulus SMA, ia langsung membantu ayahnya di sawah. Uang tidak cukup untuk membayar SPP. Orang tuanya tidak bisa memaksakan. Mereka sudah cukup berjuang untuk menghidupi keluarga, untuk membiayai adik, adiknya yang masih sekolah.
Tapi malam ini, untuk pertama kalinya, Arga bertanya pada dirinya sendiri: "Apa yang akan terjadi jika aku kuliah? Apa yang akan terjadi jika aku punya ijazah? Apa yang akan terjadi jika aku punya pekerjaan yang lebih baik dari kuli bangunan?"
Ia tidak tahu jawabannya.
Tapi ia ingin tahu.
PAGI YANG BERBEDA
Pagi itu, Arga bangun lebih awal dari biasanya.
Bukan karena ingin buru, buru ke toko. Tapi karena Guntur mengajaknya jalan, jalan ke kampus.
"Kamu harus lihat dunia, Arga," kata Guntur semalam lewat pesan singkat. "Dunia di luar toko bangunan. Dunia di luar kos-kosan. Dunia di luar pencarian Sekar."
"Untuk apa?" tanya Arga.
"Untuk membuka wawasan. Untuk melihat bahwa hidup ini tidak hanya tentang cinta. Tapi juga tentang ilmu. Tentang ide. Tentang perdebatan. Tentang masa depan."
"Apa hubungannya dengan Sekar?"
"Semua berhubungan. Kamu tidak bisa menyelamatkan seseorang jika kamu sendiri butuh diselamatkan."
Arga tidak mengerti sepenuhnya. Tapi ia percaya pada Guntur. Laki, laki sinis itu mungkin keras kepala, mungkin suka merokok, mungkin suka berkata, kata pahit. Tapi ia teman yang baik. Ia tidak akan menyesatkan.
Jam setengah tujuh, Arga sudah mandi.
Ia memakai pakaian terbaiknya. Kemeja putih lengan panjang pemberian ibunya. Celana bahan hitam yang sedikit kebesaran. Sepatu pantofel pinjaman dari Dimas yang ukurannya terlalu besar.
"Mas Arga, kok pakaiannya rapi sekali?" tanya Dimas yang sedang sarapan nasi goreng di halaman kos.
"Diajak Guntur ke kampus," jawab Arga.
"Wah, jadi anak kampus dong."
"Cuma numpang lihat."
"Jangan rendah diri, Mas. Anak kampus juga manusia. Sama seperti kita. Cuma bedanya, mereka baca buku tebal, kita baca peta usang."
Arga tersenyum. "Kamu bijak, Dimas."
"Saya tidak bijak. Saya hanya pernah putus cinta sama mahasiswi."
"Ceritanya?"
"Panjang. Nanti. Sekarang pergi. Guntur pasti sudah nunggu."
PERJALANAN KE KAMPUS
Guntur menjemput Arga dengan sepeda motor bututnya, motor Honda 90 cc tahun 90, an yang suaranya seperti orang batuk.
"Naik," kata Guntur sambil menepuk jok belakang.
"Motor ini kuat?"
"Sudah sepuluh tahun saya pakai. Masih kuat. Yang penting jangan boncengan tiga."
"Saya sendiri. Tidak ada yang lain."
"Bagus. Helmnya pakai ini. Meskipun sudah retak, masih melindungi."
Arga memakai helm itu. Retak di bagian kiri. Busa di dalamnya sudah mulai lepas. Tapi ia tidak protes.
Mereka berangkat.
Perjalanan dari kos ke kampus memakan waktu sekitar setengah jam. Melewati jalan raya yang macet. Melewati pasar tradisional. Melewati gedung, gedung tua. Melewati jembatan. Melewati sungai yang airnya keruh.
Guntur mengemudi dengan hati, hati. Sesekali ia menoleh ke belakang untuk memastikan Arga masih di boncengannya.
"Kamu pernah ke kampus sebelumnya?" tanya Guntur sambil membelok ke kiri.
"Belum pernah. Saya cuma lihat dari kejauhan. Gedungnya besar. Mahasiswanya banyak. Sepeda motor di parkiran ribuan."
"Kampus itu dunia lain, Arga. Dunia yang berbeda dengan desamu. Berbeda dengan kos, kosanmu. Berbeda dengan toko bangunan."
"Berbeda bagaimana?"
"Di desa, orang berpikir tentang hari ini. Apa yang dimakan? Apa yang ditanam? Kapan panen? Di toko bangunan, orang berpikir tentang material. Pasir, semen, batu bata, kayu. Di kos, orang berpikir tentang uang. Bayar listrik, bayar air, bayar sewa."
"Lalu di kampus?"
"Di kampus, orang berpikir tentang ide. Tentang kebebasan. Tentang keadilan. Tentang masa depan. Tentang hal, hal yang tidak kelihatan tapi terasa."
"Mereka tidak berpikir tentang uang?"
"Juga. Tapi bukan prioritas. Prioritas mereka adalah ilmu. Ilmu yang akan membawa mereka ke mana, mana."
Arga terdiam. Ia memikirkan kata, kata Guntur.
Ilmu yang akan membawa mereka ke mana, mana.
Apakah aku punya ilmu?
Ilmu apa yang aku punya?
Ilmu menanam padi? Ilmu mengangkat semen? Ilmu berjalan kaki empat puluh menit setiap pagi?
Ia tidak tahu.
Tapi ia ingin tahu.
GERBANG KAMPUS
Sampailah mereka di gerbang kampus.
Gerbang besar dengan tulisan "UNIVERSITAS GAJAH MADA" di atasnya.. Suasananya ramai. Mahasiswa lalu lalang dengan buku di tangan, dengan laptop di ransel, dengan pakaian modis yang tidak pernah Arga lihat di desanya.
"Masuk dulu," kata Guntur. "Saya parkir motor di belakang fakultas."
Mereka melewati gerbang.
Arga memandang sekeliling dengan mata terbelalak.
Gedung, gedung megah. Halaman luas dengan pohon, pohon rindang. Taman dengan air mancur. Plaza dengan patung tokoh, tokoh besar. Mahasiswa duduk, duduk di bangku taman, baca buku, ngobrol, tertawa, berdebat.
Arga merasa kecil.
Sangat kecil.
Seperti semut di tengah lapangan.
Ia tidak paham bahasa mereka.
Ia tidak paham mode pakaian mereka.
Ia tidak paham topik pembicaraan mereka.
Ia hanya bisa diam.
Dan memandang.
Dan merasa asing.
"Kamu kenapa, Arga?" tanya Guntur setelah memarkir motor.
" Saya... merasa tidak pantas di sini."
"Kenapa tidak pantas?"
"Pakaian saya jelek. Sepatu saya kebesaran. Helm saya retak. Saya tidak bawa buku. Saya tidak tahu apa, apa tentang kuliah."
Guntur tersenyum. Senyum langka yang jarang ia tunjukkan.
"Kamu tidak perlu pantas, Arga. Kamu tidak perlu pakaian bagus. Kamu tidak perlu sepatu mahal. Kamu tidak perlu tahu tentang kuliah. Kamu hanya perlu satu hal."
"Apa?"
"Rasa ingin tahu."
Arga menatap Guntur.
"Rasa ingin tahu itu modal utama belajar, Arga. Tanpa rasa ingin tahu, kamu tidak akan pernah kemana-mana. Dengan rasa ingin tahu, kamu bisa belajar apa saja. Di mana saja. Kapan saja."
"Jadi saya boleh ada di sini?"
"Kamu boleh. Tidak ada yang melarang. Kampus ini milik rakyat. Milik semua orang. Termasuk kamu."
PERPUSTAKAAN PUSAT
Guntur mengajak Arga ke perpustakaan pusat.
Gedungnya besar. Kacanya lebar, lebar. Pintunya dari alumunium. Di dalamnya ribuan rak buku. ribuan koleksi. Mahasiswa duduk di kursi, kursi nyaman, membaca, menulis, mengetik di laptop.
Arga berjalan di antara rak, rak buku.
Matanya tidak bisa berhenti memandang judul, judul di punggung buku.
Filsafat Ilmu. Pengantar Sosiologi. Dasar, dasar Hukum. Teori Ekonomi. Sejarah Peradaban Manusia. Puisi, puisi Rendra. Novel, novel Pramoedya. Kumpulan cerpen Korrie Layun Rampan.
Ia mengambil satu buku.
"Pengembara: Sebuah Antologi Cerita Pendek."
Ia membuka halaman pertama.
Membaca kalimat pembuka:
"Pengembara sejati tidak pernah tahu kapan ia akan tiba. Yang ia tahu hanyalah bahwa perjalanan adalah rumahnya yang sesungguhnya."
Arga terenyuh.
Ia membaca lagi.
Dan lagi.
Dan lagi.
"Kamu suka membaca?" tanya Guntur yang tiba-tiba muncul di sampingnya.
"Saya dulu suka. Tapi setelah kerja di toko, tidak pernah lagi. Badan terlalu capek. Mata terlalu ngantuk."
"Di kampus, membaca adalah kewajiban. Setiap hari. Setiap malam. Bahkan di akhir pekan."
"Saya tidak kuat."
"Kamu akan kuat jika kamu terbiasa."
Guntur mengambil buku itu dari tangan Arga.
"Buku ini bagus," katanya. "Penulisnya juga anak desa. Dulu kuliah di sini. Sekarang jadi dosen."
"Saya bisa pinjam?"
"Bisa. Dengan kartu anggota. Tapi kamu belum punya kartu."
"Lalu bagaimana?"
"Baca di sini saja. Nanti kalau sudah punya KTP, bisa daftar jadi anggota."
Arga mengangguk.
Ia duduk di kursi dekat jendela.
Membaca buku itu.
Halaman demi halaman.
Cerita demi cerita.
Setiap cerita tentang pengembara. Tentang orang, orang yang meninggalkan kampung halaman untuk mencari sesuatu. Ada yang mencari uang. Ada yang mencari ilmu. Ada yang mencari cinta. Ada yang mencari jati diri.
Mirip dengan saya, pikir Arga. Saya juga pengembara. Meninggalkan desa. Mencari Sekar. Mencari jawaban. Mencari mana yang lebih penting: cinta atau bertahan hidup.
KELAS FILSAFAT
Jam sepuluh pagi, Guntur mengajak Arga ke kelas.
"Kamu mau lihat bagaimana cara mahasiswa berdebat?"
"Boleh?"
"Ikut saja. Duduk di belakang. Jangan bicara. Jangan bertanya. Cukup dengar."
Mereka masuk ke ruang kuliah. Gedung tua. Lantai marmer. Kursi, kursi kayu berjajar rapi. Papan tulis hitam besar. Dosen sudah berdiri di depan.
Dosen itu laki, laki setengah baya. Berjenggot tipis. Berkacamata tebal. Berjas hitam. Berdasi merah.
"Selamat pagi, mahasiswa, mahasiswi," sapanya.
"Selamat pagi, Pak Dosen," jawab mahasiswa serempak.
"Hari ini kita akan membahas tentang eksistensi manusia. Tentang makna hidup. Tentang mengapa kita ada di dunia ini."
Arga duduk di kursi paling belakang.
Ia mendengarkan.
Dosen itu berbicara tentang filsuf, filsuf besar: Socrates, Plato, Aristoteles, Descartes, Nietzsche, Sartre, Heidegger.
Kata, katanya sulit. Istilah, istilahnya asing. Tapi Arga berusaha mengerti.
"Eksistensi mendahului esensi," kata dosen itu. "Kita dilahirkan tanpa tujuan. Kita bebas menentukan tujuan kita sendiri. Kita bebas menciptakan makna hidup kita sendiri."
Bebas menentukan tujuan, pikir Arga. Tujuan saya adalah Sekar. Tapi apakah itu pilihan bebas? Atau karena takdir? Atau karena cinta?
"Kebebasan adalah kutukan," lanjut dosen itu. "Karena dengan kebebasan datang tanggung jawab. Kita bertanggung jawab atas pilihan, pilihan kita. Kita bertanggung jawab atas hidup kita. Kita bertanggung jawab atas orang, orang yang kita cintai."
Tanggung jawab, pikir Arga. Saya bertanggung jawab atas Sekar. Saya yang memulai hubungan. Saya yang harus menyelamatkannya. Bukan orang lain.
Setelah kelas selesai, Guntur menemui Arga di belakang.
"Bagaimana?" tanya Guntur.
"Saya tidak mengerti setengahnya."
"Tidak apa. Yang penting kamu dengar. Yang penting kamu tahu bahwa ada orang, orang yang memikirkan hal, hal besar. Bukan hanya tentang perut, uang, atau cinta."
"Apakah itu penting?"
"Sangat penting. Karena dengan berpikir, kita tidak hanya hidup. Kita juga mengerti mengapa kita hidup."
Arga mengangguk.
"Mungkin saya perlu belajar filsafat."
"Kamu bisa. Kamu punya bakat."
"Bakat apa?"
"Bakat merenung. Bakat bertanya. Bakat tidak puas dengan jawaban instan."
KANTIN MAHASISWA
Jam dua belas siang, Guntur mengajak Arga makan di kantin mahasiswa.
Kantinnya besar. Puluhan stan makanan. Nasi goreng, mie ayam, bakso, soto, sate, es buah, jus alpukat. Mahasiswa antri di depan stan. Suasana ramai. Tawa dan canda di mana, mana.
Mereka memesan nasi goreng dan es teh manis.
Duduk di kursi plastik.
Makan sambil memandang orang, orang.
"Arga," panggil Guntur.
"Iya."
"Kamu tahu kenapa saya hidup?"
"Karena orang tua melahirkan?"
"Saya tidak tahu. Tapi saya masih hidup sampai sekarang karena satu hal."
"Apa?"
"Penasaran."
"Penasaran tentang apa?"
"Tentang besok. Tentang masa depan. Tentang apa yang akan terjadi pada dunia ini. Pada bangsa ini. Pada orang, orang yang saya cintai."
"Termasuk saya?"
"Termasuk kamu. Termasuk Faruq. Termasuk Nisa. Termasuk Dimas."
Arga tersenyum.
"Kamu tidak seburuk yang saya kira, Guntur."
"Saya tahu. Saya hanya suka berpura-pura buruk."
"Kenapa?"
"Agar orang tidak berharap terlalu banyak pada saya."
PERPUSTAKAAN FAKULTAS EKONOMI
Sore harinya, Nisa bergabung dengan mereka.
Ia sedang ada tugas di fakultas ekonomi. Wawancara dengan mahasiswa tentang perilaku konsumen.
"Mas Arga!" sapanya dari kejauhan.
"Nisa, kamu ngapain di sini?"
"Tugas. Wawancara. Sekalian jenguk kalian. Guntur bilang kamu ke kampus."
"Iya. Guntur ngajak."
"Bagaimana? Suka?"
"Suka. Tapi saya merasa asing."
"Wajar. Pertama kali biasanya begitu. Nanti kalau sering, kamu akan terbiasa."
"Apakah saya pantas di sini?"
Nisa memandang Arga.
Matanya serius.
"Mas, pantas itu bukan tentang pakaian. Bukan tentang sepatu. Bukan tentang status. Pantas itu tentang mental. Tentang keberanian. Tentang rasa ingin tahu."
"Saya tidak punya semua itu."
"Kamu punya, Mas. Kamu berani meninggalkan desa. Kamu berani mencari Sekar. Kamu berani kerja jadi kuli bangunan. Itu semua bukti."
"Tapi, "
"Tidak ada tapi. Kamu pantas. Kamu lebih pantas dari saya sebagai mahasiswa di sini."
"Kenapa?"
"Karena saya kuliah dengan uang orang tua. Kamu belajar dengan keringat sendiri."
PERTEMUAN DENGAN DEWI
Jam empat sore, Arga dan Guntur berjalan keluar dari kampus.
Di gerbang, mereka bertemu dengan Dewi, perempuan yang dulu membantu Arga mencari kos.
"Dewi?" sapa Arga.
"Mas Arga!" Dewi tersenyum lebar. "Lama tidak bertemu. Bagaimana kabar?"
"Baik. Kerja di toko bangunan. Tinggal di kos Mbok Darmi."
"Syukurlah. Kamu masih cari Sekar?"
"Masih."
"Belum ketemu?"
"Belum. Tapi ada petunjuk."
"Petunjuk apa?"
Arga ragu sejenak. Tapi ia memutuskan untuk jujur.
"Sekar akan cabut besok malam. Saya jemput."
Dewi terkesiap. "Serius?"
"Serius."
"Risikonya besar."
"Saya tahu."
"Tapi kamu tetap mau?"
"Saya tidak punya pilihan."
Dewi menghela napas. "Mas Arga, saya salut. Saya tidak tahu banyak orang yang seberani Mas."
"Saya tidak berani. Saya terpaksa."
"Terpaksa atau berani, sama saja. Yang penting niatnya lurus."
Dewi mengeluarkan ponselnya.
"Ini nomor saya," katanya sambil mengetik. "Kalau Mas butuh bantuan, hubungi saya. Saya punya kenalan di kepolisian."
"Terima kasih, Dewi."
"Jangan berterima kasih. Belum tentu saya bisa membantu."
MALAM DI KOS
Jam delapan malam, Arga pulang ke kos.
Ia duduk di dipan bambu.
Memeluk bantal kebaya.
Memikirkan semua yang ia lihat hari ini.
Gedung-gedung megah.
Mahasiswa-mahasiswa cerdas.
Diskusi-diskusi filosofis.
Buku-buku tebal.
Ide-ide besar.
Apakah aku bisa seperti mereka?
Apakah aku bisa kuliah?
Apakah aku bisa menjadi seseorang yang lebih dari kuli bangunan?
Ia tidak tahu.
Tapi ia ingin tahu.
"Mas Arga," panggil Dimas dari luar pintu.
"Iya."
"Makan malam. Saya beli nasi goreng."
"Terima kasih."
Mereka makan bersama di halaman kos.
Mbok Darmi ikut bergabung.
"Mbok, aku mau cerita tentang kampus," kata Arga.
"Kampus mana?"
"UGM. Saya tadi ke sana."
"Wah, Mas Arga jadi anak kampus."
"Bukan. Cuma numpang lihat."
"Tapi suatu hari, Mas Arga bisa kuliah."
"Apakah bisa? Saya sudah dua puluh tahun. Tidak muda lagi."
"Usia dua puluh itu masih muda, Mas. Saya jamin. Saya dulu kuliah umur dua puluh lima."
"Serius, Mbok?"
"Serius. Saya kuliah di Universitas Terbuka. Jurusan Manajemen. Lulus umur tiga puluh."
"Lalu Mbok jadi apa?"
"Jadi pemilik kos-kosan. Tidak mulia-mulia amat. Tapi saya bangga."
Mbok Darmi tersenyum.
"Sekarang giliran Mas Arga. Jangan menyerah. Jangan putus asa. Terus belajar."
RENCANA BESOK
Jam sepuluh malam, Guntur, Faruq, Nisa, dan Dimas berkumpul di kos.
Mereka membahas rencana untuk besok malam.
"Dimas, kamu sudah pantau situasi?" tanya Guntur.
"Sudah. Ferry akan berangkat jam sepuluh pagi. Hanya dua satpam yang berjaga. Di depan dan di belakang."
"Rumahnya bagaimana?"
"Pagar tinggi. Tapi ada pohon jambu di belakang. Itu satu-satunya celah."
"Faruq, mobil sewaan?"
"Siap. Saya sudah pesan. Avanza hitam. Tidak mencolok."
"Nisa, tempat persembunyian?"
"Siap. Rumah teman saya di daerah Gejayan. Sepi. Aman. Dekat dengan kampus."
"Arga, kamu siap?"
Arga mengangguk. "Siap."
"Pisau?"
"Tidak perlu."
"Tapi kalau ada bahaya?"
"Saya tidak akan membawa senjata. Saya tidak mau menyakiti siapa pun."
Guntur menghela napas. "Kamu terlalu baik, Arga."
"Bukan baik. Saya hanya tidak ingin dosa."
"Setuju," kata Faruq. "Tuhan tidak suka kekerasan."
"Tuhan juga tidak suka ketidakadilan," timpal Nisa.
"Kita tidak akan menggunakan kekerasan. Kita hanya akan menjemput Sekar. Kalau ada yang menghalangi, kita lari. Jangan melawan. Jangan membahayakan diri."
"Setuju," kata semua.
MALAM YANG MENENTUKAN
Jam dua belas malam, teman, teman Arga pulang.
Satu per satu.
Guntur duluan. Faruq kedua. Nisa ketiga. Dimas keempat.
Arga masuk ke kamar.
Ia membuka jendela.
Udara malam masuk.
Dingin.
Ia memeluk bantal kebaya.
"Sekar," bisiknya, "besok malam kita bertemu."
"Besok malam kita bersama lagi."
"Besok malam kita mulai hidup baru."
Ia memejamkan mata.
Bayangan Sekar muncul.
Sekar tersenyum.
"Aku menunggumu, Arga."
"Aku datang."
"Janji?"
"Janji."
BAB 10
PETA PERTAMA
Malam itu, setelah teman-temannya pulang, Arga tidak langsung tidur.
Ia duduk di dipan bambu, memandang peta usang pemberian Mbah Jayarasa. Kertas kuning itu terlipat rapi di saku celananya, selalu ia bawa ke mana pun sejak meninggalkan desa. Kadang ia lupa bahwa peta itu ada. Kadang ia sengaja tidak mau membukanya karena takut kecewa. Tapi malam ini, untuk pertama kalinya, ia membuka peta itu dengan sengaja, dengan sadar, dengan tekad.
Lampu bohlam lima watt di kamarnya menyala redup. Cahayanya hampir tidak cukup untuk menerangi garis, garis kusam di atas kertas kuning itu. Tapi Arga tidak butuh cahaya terang. Ia sudah hafal setiap goresan, setiap lekukan, setiap lingkaran merah di tengah peta, setiap tulisan kecil yang hampir pudar: "Di sini, dia pernah menangis."
Tapi malam ini, ada yang berbeda.
Malam ini, untuk pertama kalinya, Arga melihat sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Mungkin karena cahaya lampu yang jatuh dari sudut tertentu. Mungkin karena matanya yang sudah lebih tajam setelah berbulan, bulan di kota. Mungkin karena Mbah Jayarasa sengaja menyembunyikan tinta itu dengan tinta lain yang hanya muncul setelah sekian lama.
Atau mungkin, peta itu memang hidup.
Peta itu bernapas.
Peta itu berbicara.
Di sudut kanan bawah, di bagian yang selama ini selalu gelap karena lipatan kertas, muncul garis, garis baru. Bukan garis yang digambar tangan. Garis yang tumbuh dengan sendirinya. Seperti akar. Seperti sungai. Seperti jalan setapak yang terbentuk karena sering dilalui.
Garis-garis itu membentuk sebuah pola.
Pola yang tidak asing bagi Arga.
Itu adalah peta kota.
Peta tempat ia sekarang tinggal.
Jalan Mawar Hitam. Pasar Lama. Terminal Bis. Perumahan Mutiara Indah. Kampus UGM. Semua tergambar di sana, tidak sempurna, tidak detail, tetapi cukup jelas untuk dikenali.
Dan di tengah, tengah peta itu, tepat di perumahan Mutiara Blok A nomor tujuh, ada lingkaran merah.
Bukan lingkaran merah baru.
Lingkaran merah yang sama.
Lingkaran merah yang dulu ada di peta Mbah Jayarasa ketika ia memberikannya pada Arga.
"Di sini, dia pernah menangis," tulis Mbah Jayarasa.
Arga menatap lingkaran itu. Tangannya gemetar. Jantungnya berdebar kencang. Dadanya sesak, bukan sesak karena sakit, tapi sesak karena perasaan yang terlalu penuh.
Mbah Jayarasa tahu.
Mbah Jayarasa sudah tahu sejak awal bahwa Sekar ada di rumah Ferry.
Mbah Jayarasa sudah tahu sejak awal bahwa Arga akan menemukan jalan ke sana.
Mbah Jayarasa tidak perlu memberi petunjuk yang jelas. Karena peta itu, peta usang itu, akan berbicara dengan sendirinya ketika waktunya tepat.
"Jatmika," bisik Arga pada udara malam yang dingin, "apa ini yang kau maksud? Apa ini yang Mbah Jayarasa maksud? Bahwa peta tidak pernah menunjukkan jalan, tapi hanya menunjukkan tempat di mana kita pernah berdiri?"
Ia tidak mendapat jawaban.
Hanya suara jangkrik dari selokan.
Hanya suara klakson dari kejauhan.
Hanya suara angin yang berbisik di sela, sela dinding kamar yang tidak diplester.
SUBUH YANG GELISAH
Pukul tiga pagi, Arga sudah bangun.
Tidak mandi. Tidak sarapan. Tidak menyalakan lampu. Ia hanya duduk di dipan bambu, memeluk bantal kebaya Sekar, dan memandang peta usang yang kini terbuka lebar di pangkuannya.
Garis-garis baru itu semakin jelas di bawah cahaya bulan yang masuk melalui jendela kecil di belakang kamar. Mungkin memang sengaja dirancang seperti itu, tinta khusus yang hanya terlihat di bawah sinar bulan atau setelah kertas terkena udara lembab selama berbulan, bulan. Mbah Jayarasa memang orang yang penuh rahasia. Ia tidak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan.
"Le, kamu sudah bangun?" suara Mbok Darmi dari luar pintu.
"Sudah, Mbok."
"Kok belum mandi? Biasanya kamu sudah berisik dari jam setengah empat."
"Saya tidak bisa tidur, Mbok. Pikiran saya kacau."
"Pikiran kacau karena apa?"
"Karena banyak hal."
Mbok Darmi membuka pintu tanpa permisi. Ia masuk dengan daster lusuh dan rambut keriting acak, acakan. Matanya masih mengantuk, tapi ia memaksakan diri untuk terjaga.
"Ngomong-ngomong, Mbok lihat kamu dari tadi megang, megang kertas kuning. Itu apa?" tanyanya.
"Peta, Mbok. Peta dari Mbah Jayarasa."
"Peta apa?"
"Peta yang katanya akan membawa saya ke Sekar."
Mbok Darmi mengambil peta itu. Diamatinya lama. Matanya yang sipit tiba-tiba terbuka lebar.
"Arga," panggilnya.
"Iya, Mbok."
"Kamu tahu ini peta apa?"
"Peta kota?"
"Bukan. Ini peta hati. Peta yang digambar oleh seseorang yang sangat mengenalmu. Seseorang yang tahu apa yang kamu butuhkan sebelum kamu mengetahuinya."
"Iya, Mbok. Saya mulai mengerti."
Mbok Darmi mengembalikan peta itu. Ia duduk di samping Arga, di dipan bambu yang sempit.
"Le, Mbok ingin cerita sesuatu. Tapi kamu jangan bilang siapa-siapa."
"Siap, Mbok."
"Dulu, sebelum Mbok janda, Mbok punya suami. Namanya Karto. Dia sopir truk. Sering pergi ke luar kota berminggu-minggu. Mbok ditinggal sendiri di rumah ini. Sendiri. Sepi. Lama-lama Mbok ketemu laki-laki lain."
Arga terdiam. Ia tidak menyangka Mbok Darmi akan bercerita tentang masa lalunya yang gelap.
"Mbok selingkuh," lanjut Mbok Darmi dengan suara datar. "Bukan karena Mbok tidak sayang Karto. Tapi karena Mbok butuh kehangatan. Butuh teman. Butuh seseorang yang ada setiap malam, bukan setiap bulan."
"Lalu, Mbok?"
"Karto tahu. Dia marah. Dia pukul Mbok. Dia pukul laki-laki itu. Lalu dia pergi. Tidak pernah kembali."
"Cerai?"
"Cerai. Mbok jadi janda. Laki-laki itu juga pergi. Tidak bertanggung jawab. Mbok ditinggal sendiri. Lagi."
"Maaf, Mbok. Saya tidak tahu."
"Tidak apa. Itu sudah lama. Mbok sudah tidak sakit. Tapi Mbok belajar satu hal."
"Apa, Mbok?"
"Bahwa cinta tidak cukup. Cinta harus dibarengi komitmen. Komitmen harus dibarengi integritas. Integritas harus dibarengi keberanian."
Arga mengangguk. "Saya mengerti, Mbok."
"Jadi, Le. Kamu cinta Sekar. Kamu komitmen mencarinya. Kamu punya integritas. Sekarang saatnya punya keberanian. Bukan keberanian untuk mati. Tapi keberanian untuk hidup."
Mbok Darmi berdiri. Ia keluar kamar tanpa menoleh.
Arga duduk sendiri.
Memandang peta di pangkuannya.
Keberanian untuk hidup.
Apa artinya?
Apakah hidup hanya tentang bertahan di kota, bekerja sebagai kuli bangunan, dan mencari Sekar? Atau ada sesuatu yang lebih, sesuatu yang lebih besar, lebih bermakna, lebih abadi?
PAGI YANG CERAH
Jam setengah enam, Arga keluar kamar.
Ia mandi dengan air dingin. Air sumur terasa lebih dingin dari biasanya, mungkin karena musim hujan sudah dekat, mungkin karena ia terlalu lama berdiri di bawah pancuran sambil melamun.
Selesai mandi, ia memakai kemeja abu, abu lengan pendek. Celana bahan hitam yang sama. Sandal jepit karet yang solnya mulai tipis.
Di halaman kos, Dimas sudah duduk di kursi plastik sambil minum kopi hitam pahit. Wajahnya masih ngantuk, rambutnya acak, acakan, jaket kurirnya dipakai terbalik.
"Mas Arga, kok pagi, pagi sudah dandan? Mau ke mana?" tanyanya sambil menguap.
"Ke toko, biasa. Terus nanti malam... kau tahu."
"Oh, iya. Malam ini. Saya sudah siap. Motor sudah full tank. Ban belakang baru ganti. Helm sudah saya periksa."
"Kamu yakin tidak takut?"
Dimas mengisap kopinya hingga habis. Ia meletakkan gelas di atas meja plastik yang goyang.
"Saya takut, Mas. Tapi kalau tidak berani, kita tidak akan pernah tahu hasilnya. Saya lebih takut penasaran daripada takut mati."
"Kamu bijak, Dimas."
"Saya tidak bijak. Saya hanya tidak punya apa-apa untuk hilang."
Arga menepuk bahu Dimas.
"Terima kasih."
"Jangan makasih. Nanti saya minta traktir sate kambing lagi."
"Besok. Janji."
DI TOKO BANGUNAN
Jam tujuh kurang lima menit, Arga tiba di toko.
Pak Bondan sudah duduk di kursi plastik seperti biasa. Koran. Rokok. Kopi hitam. Tapi hari ini ada yang berbeda. Di sampingnya ada seorang laki, laki muda, usia sekitar dua puluh lima tahun, berkulit putih, berambut rapi, berkemeja batik lengan panjang. Ia sedang berbicara dengan Pak Bondan dengan nada serius.
"Arga, kemari," panggil Pak Bondan.
Arga mendekat. "Ada apa, Pak?"
"Ini Mas Rudi. Pengusaha properti. Dia butuh kuli harian untuk proyeknya di selatan kota."
Laki, laki itu menatap Arga dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Kamu Arga?"
"Iya, Mas."
"Bisa angkat barang?"
"Bisa."
"Bisa kerja lembur?"
"Bisa."
"Bisa dipercaya?"
Bisa."
Mas Rudi mengangguk. "Bagus. Saya butuh lima orang. Harian. Bayaran seratus ribu per hari. Mulai besok."
Arga menoleh pada Pak Bondan. Pak Bondan mengangguk.
"Besok saya bisa, Mas," kata Arga.
"Bagus. Ini kartu nama saya. Datang ke alamat ini jam tujuh pagi. Jangan telat."
"Baik, Mas."
Mas Rudi pergi. Arga memandang kartu nama di tangannya.
Rudi Property. Perumahan Mutiara Indah Blok B nomor 12.
Perumahan Mutiara Indah.
Tempat yang sama dengan rumah Ferry.
Tempat Sekar dikurung.
"Ini petunjuk, Le," kata Pak Bondan. "Kamu harus memanfaatkannya."
"Saya mengerti, Pak."
"Tapi hati-hati. Jangan sampai ketahuan. Jangan sampai dicurigai."
"Siap, Pak."
PASIR, SEMEN DAN PETA
Hari itu, Arga bekerja lebih giat dari biasanya.
Ia mengangkat pasir. Mengangkat semen. Mengangkat batu bata. Tidak berhenti. Tidak istirahat. Keringat mengucur di sekujur tubuhnya. Wajahnya merah padam.
Pak Bondan beberapa kali menegurnya.
"Le, istirahat dulu. Nanti kamu pingsan."
"Saya tidak apa, apa, Pak."
"Kamu mau bunuh diri?"
"Tidak, Pak. Saya hanya... ingin cepat selesai."
"Kenapa?"
"Karena malam ini ada yang lebih penting."
Pak Bondan menghela napas. Ia tidak melarang. Ia hanya memandang Arga dengan mata yang dalam, penuh kekhawatiran, tapi juga penuh kebanggaan.
"Bawakan saya kopi, Le," kata Pak Bondan.
"Siap, Pak."
Arga berjalan ke warung di depan toko. Memesan kopi hitam tanpa gula. Sambil menunggu, ia memandang peta usang di saku celananya.
Peta pertama, pikirnya. Peta pertama yang benar-benar berguna.
"Mas, kopinya."
"Terima kasih, Mbak."
Arga membayar. Ia kembali ke toko. Menyerahkan kopi pada Pak Bondan.
"Pak," katanya.
"Iya."
"Terima kasih sudah menerima saya kerja di sini."
Pak Bondan menyesap kopinya. Pahitnya membuat wajahnya sedikit berkerut.
"Kamu pekerja keras, Le. Saya tidak akan menyesal menerima kamu."
"Terima kasih, Pak."
"Jangan berterima kasih. Sekarang kerja. Masih banyak."
"Siap, Pak."
JAM ISTIRAHAT
Jam dua belas siang, Arga makan siang.
Ia duduk di bawah pohon rindang di depan toko. Nasi putih. Telur dadar. Tempe goreng. Sambal terasi. Es teh manis.
Ia makan perlahan.
Memandang jalan raya.
Memandang halte bus.
Memandang orang, orang yang lalu lalang.
Tiba, tiba, ponselnya bergetar.
Pesan singkat dari Guntur.
"Siapkan diri. Malam ini kita bergerak."
Arga membalas: "Siap."
Ia menyimpan ponsel.
Ia menghabiskan makan siangnya.
Ia kembali bekerja.
SORE YANG MENEGANGKAN
Jam empat sore, Arga sudah menyelesaikan semua tugasnya.
Ia lebih cepat dari biasanya. Mungkin karena adrenalin. Mungkin karena semangat. Mungkin karena takut, takut tidak sempat, takut tertunda, takut sesuatu terjadi pada Sekar sebelum ia sempat menjemputnya.
"Kamu boleh pulang lebih awal, Le," kata Pak Bondan.
"Terima kasih, Pak."
"Jaga diri."
"Siap, Pak."
Arga berjalan pulang.
Langkahnya cepat.
Setiap bayangan perempuan berambut panjang membuat jantungnya berdegup kencang. Tapi ia tidak berhenti. Ia terus berjalan.
Sampai di kos, ia langsung masuk kamar.
Ia membuka peta usang.
Ia memandang lingkaran merah.
"Di sini, dia pernah menangis."
"Tidak akan lagi," bisik Arga. "Mulai malam ini, dia tidak akan pernah menangis lagi."
PERSIAPAN TERAKHIR
Jam enam sore, teman, temannya datang.
Guntur, Faruq, Nisa, Dimas.
Mereka berkumpul di halaman kos.
Mbok Darmi menyuguhkan teh jahe dan pisang goreng. Ia tidak banyak bicara. Ia hanya memandang mereka bergantian, mata yang penuh doa.
"Kita revisi rencana," kata Guntur.
"Revisi bagaimana?" tanya Faruq.
"Dari pemantauan Dimas, ternyata Ferry tidak pergi sendirian. Dia bawa dua preman. Jadi total yang jaga di rumah malam ini ada empat orang. Dua satpam di depan. Dua preman di belakang."
"Bahaya," kata Nisa.
"Bahaya. Tapi masih bisa diatasi."
"Bagaimana?"
"Kita bagi tugas. Dimas akan memantau dari luar. Faruq akan jaga mobil di belakang rumah, mesin menyala, siap kabur setiap saat. Nisa akan jaga di tempat persembunyian. Saya akan bantu Arga memanjat pagar."
"Lalu Arga?" tanya Faruq.
"Arga yang akan memanjat pohon jambu, mengambil Sekar, dan membawanya ke mobil."
"Risiko?"
"Besar. Tapi kita tidak punya pilihan lain."
Arga mengangguk. "Saya setuju."
"Setuju," kata yang lain.
PETA KEDUA
Sebelum berangkat, Arga membuka peta usangnya sekali lagi.
Ia memandang garis, garis baru yang muncul semalam.
Garis, garis itu membentuk sebuah pola.
Pola yang tidak hanya menunjukkan perumahan Mutiara Indah.
Tapi juga menunjukkan jalan alternatif.
Jalan kecil di belakang perumahan.
Jalan yang tidak terlihat di peta biasa.
Jalan yang hanya diketahui oleh warga lokal.
Jalan yang mungkin bisa digunakan untuk kabur jika pintu belakang dijaga.
"Ini," kata Arga sambil menunjuk peta.
"Apa itu?" tanya Guntur.
"Jalan alternatif. Di belakang perumahan. Lewat sungai kecil. Terus ke jalan raya."
"Kamu tahu jalan itu?"
"Saya belum pernah lewat. Tapi peta ini menunjukkan."
"Kamu percaya peta ini?"
Arga memandang Guntur.
"Saya percaya. Peta ini tidak pernah salah."
"Baik. Kita ikuti peta itu."
BERANGKAT
Jam sembilan malam, mereka berangkat.
Dimas duluan dengan motornya. Ia akan memantau situasi dari luar perumahan.
Faruq kedua dengan mobil sewaan Avanza hitam. Ia parkir di belakang perumahan, dekat sungai, siap menjemput kapan saja.
Guntur dan Nisa naik motor Guntur. Mereka akan menemani Arga sampai ke lokasi.
Arga naik di boncengan Guntur.
Perjalanan memakan waktu setengah jam.
Jalanan macet. Lampu merah di mana, mana. Orang, orang masih lalu lalang.
Arga memandang langit.
Bulan purnama bersinar terang.
Bintang, bintang berkerlap, kerlip.
Malam yang indah, pikirnya. Malam yang sempurna untuk memulai hidup baru.
DI DEPAN PAGAR
Jam setengah sepuluh, mereka tiba di depan perumahan Mutiara Indah.
Pagar tinggi. Tembok bata. Kawat berduri di atasnya.
Satpam di pos depan sedang tidur, atau pura, pura tidur. Lampu penerangan menyala terang. Kamera CCTV di setiap sudut.
"Kita tidak bisa masuk lewat sini," bisik Guntur.
"Harus lewat belakang," jawab Arga.
Mereka memutar ke arah belakang perumahan.
Jalanan semakin gelap. Lampu jalan mulai jarang. Pepohonan rimbun di kiri kanan.
"Di sini," kata Arga sambil menunjuk sebuah gang kecil di antara dua rumah.
Mereka masuk.
Gang itu sempit. Hanya cukup untuk satu orang. Di ujung gang, tembok pembatas perumahan.
"Pohon jambu," bisik Arga.
Di balik tembok, tampak pohon jambu yang menjulur ke atas. Daunnya rimbun. Cabangnya kuat. Batangnya tidak terlalu tinggi.
"Saya panjat," kata Arga.
"Hati, hati."
Arga memanjat tembok dengan bantuan Guntur. Ia berdiri di atas tembok. Meraih cabang pohon jambu. Memanjat perlahan.
Daun-daun bergesekan. Suaranya cukup keras di malam yang sunyi.
Arga berhenti.
Ia mendengar.
Tidak ada suara langkah.
Tidak ada suara anjing.
Tidak ada suara satpam.
Ia melanjutkan memanjat.
Sampai di cabang tertinggi, ia bisa melihat ke dalam rumah.
Rumah besar. Dua lantai. Lampu di lantai satu menyala terang. Lantai dua gelap.
Di balkon lantai dua, seorang perempuan berdiri.
Rambut panjang. Gaun biru muda.
Sekar.
Arga hampir berteriak.
Ia menahan napas.
Ia melambai.
Sekar melihat.
Sekar tersenyum.
Sekar menangis.
BAB 11
ANGKRINGAN JOGJA
Malam itu, setelah berjam, jam menunggu di belakang perumahan Mutiara Indah, rencana penyelamatan harus ditunda.
Bukan karena gagal. Bukan karena ketahuan. Bukan karena pengecut. Tapi karena Sekar sendiri yang membatalkannya.
Dari balkon lantai dua, Sekar melambaikan tangan pada Arga, bukan lambaian "kemarilah", tapi lambaian "tunggu dulu, jangan sekarang". Ia menunjuk ke arah pintu kamar, lalu ke telinganya, lalu ke bawah, lalu menggelengkan kepala.
Arga mengerti.
Ada seseorang di dalam kamar. Mungkin pembantu. Mungkin satpam. Mungkin preman bayaran Ferry. Sekar tidak bisa keluar malam ini.
Arga memanjat turun dari pohon jambu dengan hati yang hancur. Wajahnya pucat. Matanya basah. Tangannya gemetar.
"Gagal?" tanya Guntur.
"Ditunda," jawab Arga. "Ada orang di kamarnya."
"Sekar bilang begitu?"
"Dia memberi isyarat."
"Berarti dia masih aman. Masih hidup. Masih bisa kita selamatkan lain waktu."
"Tapi kapan? Ferry akan kembali besok atau lusa. Setelah itu, penjagaan akan semakin ketat."
"Kita cari cara lain. Sekarang, kita pulang. Istirahat. Jangan patah semangat."
Arga mengangguk pelan.
Mereka berjalan kembali ke mobil. Faruq masih duduk di kursi kemudi, mesin menyala, siap melaju kapan saja. Wajahnya tegang.
"Gagal?" tanyanya.
"Ditunda," jawab Guntur.
"Kecewa."
"Semua kecewa. Tapi tidak apa. Kita masih punya kesempatan."
MALAM YANG SUNYI
Perjalanan pulang terasa lebih berat daripada ketika berangkat.
Arga duduk di jok belakang mobil, di samping Nisa. Ia tidak bicara. Ia hanya memandang ke luar jendela, memandang lampu, lampu jalan yang berlalu cepat, memandang pepohonan yang bergerak lambat, memandang langit yang gelap tanpa bintang.
"Mas Arga," panggil Nisa pelan.
"Iya."
"Mas jangan sedih."
"Saya tidak sedih. Saya kecewa."
"Itu wajar. Tapi jangan biarkan kekecewaan menguasai Mas."
"Saya tidak akan, Nisa. Saya hanya... butuh waktu."
"Waktu untuk apa?"
"Untuk memproses. Untuk menerima. Untuk bangkit lagi."
Nisa menggenggam tangan Arga.
"Kita akan bersama, Mas. Suka dan duka. Berhasil dan gagal."
Arga menatap Nisa.
"Terima kasih, Nisa."
"Jangan berterima kasih. Nanti saya minta traktir."
Faruq dari depan ikut bersuara. "Nisa, jangan minta traktir terus. Nanti Mas Arga bangkrut."
"Nggak apa. Mas Arga kan pekerja keras. Pasti punya tabungan."
"Tabungannya buat biaya nikah sama Sekar."
"Ya sudah, nanti saya minta traktir setelah Mas Arga nikah."
"Setuju."
Mereka tertawa. Tawa yang sedikit mengobati luka.
KOS, KOSAN MBOK DARMI
Jam sebelas malam, mereka tiba di kos.
Mbok Darmi masih duduk di teras, menunggu. Wajahnya tegang. Matanya sembab, mungkin menangis, mungkin kurang tidur.
"Gagal?" tanyanya.
"Ditunda, Mbok," jawab Arga.
"Syukurlah. Setidaknya tidak ada yang terluka."
"Ferry belum kembali. Masih ada waktu."
"Kamu istirahat, Le. Besok masih ada hari. Lusa masih ada. Minggu depan masih ada. Jangan menyerah."
"Saya tidak akan menyerah, Mbok."
Mbok Darmi mengangguk. Ia masuk ke dalam rumah. Meninggalkan anak, anak muda yang masih duduk di halaman.
"Arga," panggil Guntur.
"Iya."
"Besok libur, kan?"
"Iya. Minggu."
"Aku ajak kamu keluar. Jalan, jalan. Melepas penat."
"Ke mana?"
"Ke Malioboro. Ke Kraton. Ke angkringan. Kamu belum pernah ke sana, kan?"
"Belum."
"Waktunya kamu kenal Jogja. Kota ini bukan hanya tempat kamu bekerja dan mencari Sekar. Kota ini juga tempat kamu hidup."
PAGI DI KOTA PELAJAR
Minggu pagi, langit Jogja cerah. Biru. Tanpa polusi. Setidaknya itulah yang Arga lihat dari jendela kamarnya yang kecil.
Ia bangun lebih lambat dari biasanya. Tidak ada target. Tidak ada tugas. Hanya istirahat. Hanya melepas lelah.
Jam delapan, Guntur sudah datang dengan motor bututnya.
"Ayo, Le. Tidak usah mandi. Pakai baju yang rapi sedikit."
Arga mandi. Memakai kemeja putih lengan panjang, yang terakhir, yang paling bagus, yang hanya ia pakai untuk acara, acara penting. Celana bahan hitam yang sedikit kebesaran. Sepatu pantofel pinjaman dari Dimas.
"Ganteng, Mas," panggil Nisa dari halaman. Ia sudah datang bersama Faruq.
"Kok rame?" tanya Arga.
"Ya iyalah. Wisata kan bareng, bareng."
Mereka berlima, Arga, Guntur, Faruq, Nisa, dan Dimas, berangkat dengan tiga motor.
Guntur bonceng Arga.
Faruq bonceng Nisa.
Dimas sendiri.
Perjalanan ke Malioboro memakan waktu sekitar dua puluh menit. Melewati jalanan yang mulai ramai. Melewati pasar tradisional. Melewati gedung, gedung tua peninggalan Belanda. Melewati pertigaan yang macet.
"Kota ini beda dengan kotamu," kata Guntur dari depan.
"Beda bagaimana?"
"Di kotamu, orang bangun pagi untuk ke sawah. Di sini, orang bangun pagi untuk ke kampus, ke pasar, ke Malioboro."
"Di desaku juga ada pasar."
"Pasar di desamu kecil. Pasar di sini besar. Pusat oleh-oleh. Pusat kuliner. Pusat budaya."
"Kamu suka Malioboro?"
"Aku suka. Bukan karena belanja. Tapi karena suasana. Campuran antara modern dan tradisional. Antara lokal dan turis. Antara yang serius dan yang santai."
MALIOBORO
Malioboro.
Nama yang sudah sering Arga dengar dari teman-temannya. Tapi ia belum pernah membayangkan seperti apa sebenarnya.
Sekarang ia tahu.
Gedung-gedung tua dengan arsitektur kolonial. Trotoar lebar yang dipenuhi pedagang kaki lima. Kios, kios yang menjual batik, kaos, tas, kerajinan perak, wayang kulit, patung kayu. Turis asing berjalan, jalan dengan tas ransel besar. Mahasiswa nongkrong di bangku, bangku taman. Pengamen bernyanyi dengan suara serak. Kuda delman berjalan pelan di tengah kemacetan.
"Ini dia Malioboro," kata Guntur sambil memarkir motor di pinggir jalan.
"Ramai sekali," komentar Arga.
"Iya. Setiap hari Minggu begini. Bahkan malam juga ramai. Namanya juga kota wisata."
"Apa yang bisa kita lakukan di sini?"
"Jalan-jalan. Lihat-lihat. Beli oleh-oleh. Makan. Ngopi. Ngobrol. Nongkrong. Apa saja."
Faruq yang sudah tidak sabar langsung menarik tangan Nisa. "Ayo ke toko batik! Saya mau beli kain buat ibu!"
"Ibu kamu sudah meninggal, Faruq," kata Nisa.
"Ini buat ibu tiri!"
"Kamu punya ibu tiri?"
"Enggak. Tapi siapa tahu nanti punya."
Mereka tertawa.
Dimas berjalan sendiri, memotret segala sesuatu dengan ponselnya. "Untuk dokumentasi," katanya. "Nanti saya jual ke koran."
"Koran apa?" tanya Guntur.
"Koran desa. Mereka butuh foto, foto Malioboro untuk rubrik wisata."
"Honornya?"
"Kacang. Tapi nggak apa. Yang penting eksis."
Arga berjalan di samping Guntur. Matanya tidak bisa berhenti memandang.
Pedagang bakso. Pedagang sate. Pedagang gudeg. Pedagang es campur. Pedagang jajanan tradisional, getuk, tiwul, gathot, jadah, gemblong, cenil, klepon.
"Lapar?" tanya Guntur.
"Lapar."
"Ayo makan. Ada warung gudeg terkenal di ujung jalan."
Mereka berjalan ke warung gudeg.
Warungnya kecil. Meja kursi dari kayu jati. Dindingnya dari bambu. Atapnya dari rumbia. Tapi antriannya panjang. Mahasiswa, turis, keluarga, semuanya rela mengantri untuk seporsi gudeg.
"Nikmat, kok," kata Guntur. "Nanti kamu buktikan sendiri."
GUDEG DAN CERITA
Setelah setengah jam mengantre, mereka akhirnya mendapat meja.
Lima porsi gudeg. Nasi, areh, ayam suwir, telur pindang, sambal goreng krecek, dan rempah, rempah yang membuat lidah bergoyang.
Arga menyendok nasi ke mulutnya.
Gurih. Manis. Pedas. Nikmat.
Ia belum pernah merasakan seperti ini.
"Ini enak banget," katanya.
"Iya. Itulah gudeg Jogja. Makanan para raja."
"Raja?"
"Dulu, gudeg disajikan di Kraton. Untuk keluarga kerajaan. Sekarang, semua orang bisa makan."
Arga memandang sekeliling.
Mahasiswa. Turis. Pedagang. Keluarga. Semua duduk berdampingan. Makan dengan lahap. Tertawa dengan riang.
Tidak ada perbedaan, pikir Arga. Di sini, semua sama. Semua manusia. Semua butuh makan. Semua butuh bahagia.
"Mas Arga," panggil Faruq yang sudah menghabiskan porsinya.
"Iya."
"Kenapa Mas diam terus? Makan dulu. Nanti kedinginan."
"Saya makan, kok. Cuma agak lambat."
"Nanti saya habisin."
"Jangan. Ini milik saya."
Mereka tertawa.
MALIOBORO MALAM
Setelah puas berkeliling dan membeli oleh, oleh—Arga membeli selendang batik untuk ibunya, topi caping untuk ayahnya, dan gantungan kunci berbentuk burung garuda untuk Mbah Jayarasa—mereka berjalan ke sebuah angkringan di pinggir Malioboro.
Angkringan.
Warung kaki lima yang menjual berbagai makanan dan minuman. Sejarahnya sudah ada sejak zaman penjajahan. Dulu, angkringan adalah tempat para kuli, buruh, dan rakyat jelata makan. Sekarang, semua kalangan datang. Mahasiswa, dosen, seniman, pejabat, wisatawan.
"Ini angkringan favorit saya," kata Guntur sambil duduk di bangku kayu.
"Kenapa?" tanya Arga.
"Karena di sini, semua orang sederajat. Tidak ada yang lebih tinggi. Tidak ada yang lebih rendah. Kita duduk di bangku yang sama. Kita minum kopi dari cangkir yang sama. Kita berbagi cerita yang sama."
Mereka memesan nasi kucing, nasi kecil seukuran kepalan tangan, dengan berbagai lauk: sate usus, sate telur puyuh, sate kerang, tempe bacem, tahu bacem, dan pecel.
Minumannya: kopi hitam pahit untuk Guntur, es teh manis untuk Arga, jahe hangat untuk Nisa, jeruk panas untuk Faruq, dan susu jahe untuk Dimas.
"Mari kita toast," kata Faruq.
"Toast untuk apa?" tanya Nisa.
"Toast untuk persahabatan. Untuk Jogja. Untuk angkringan. Untuk nasi kucing."
"Toast!" teriak Dimas.
"Toast!" teriak yang lain.
Mereka minum. Tertawa. Bercerita.
MALAM DI ANGKRINGAN
Suasana angkringan mulai ramai.
Mahasiswa datang bergerombol. Ada yang bawa gitar. Ada yang bawa buku. Ada yang bawa laptop. Ada yang bawa pacar.
Seorang mahasiswa membuka gitar. Memetik senar. Menyanyikan lagu Iwan Fals.
"Bongkar pintu... buka jendela... biar kulihat kulihat... dengan mata... dengan kepala..."
Mahasiswa lain ikut bernyanyi.
Arga terhanyut.
Ia belum pernah merasakan seperti ini.
Kebersamaan.
Kebahagiaan.
Kesederhanaan.
"Mbak, angkringannya rame," kata Arga pada penjual, seorang perempuan paruh baya dengan kerudung coklat.
"Iya, Mas. Setiap Minggu begini. Banyak mahasiswa."
"Mahasiswa sukanya apa di sini?"
"Ngopi. Nongkrong. Berdebat. Lalu tidur."
"Tidur?"
"Iya. Kadang sampai pagi. Nggak pulang-pulang."
"Lalu belajarnya kapan?"
"Belajar di sini. Sambil ngopi. Sambil merokok. Katanya, lebih mudah berkonsentrasi."
Arga tersenyum.
Dunia yang berbeda, pikirnya. Dunia yang tidak pernah ia kenal sebelumnya.
PERCAKAPAN DENGAN GUNTUR
Setelah Faruq, Nisa, dan Dimas asyik dengan gorengan dan es campur, Guntur mengajak Arga duduk sedikit jauh.
"Arga," panggil Guntur sambil mengisap rokok.
"Iya."
"Aku mau tanya."
"Tanya apa?"
"Apa kamu tidak iri dengan mereka?"
"Siapa?"
"Mahasiswa. Mereka bisa kuliah. Bebas bermimpi. Bebas menentukan masa depan."
Arga terdiam.
Ia memandang mahasiswa, mahasiswa itu.
Ada yang sedang berdebat tentang politik. Ada yang sedang berdiskusi tentang filsafat. Ada yang sedang bercerita tentang pengalaman organisasi. Ada yang sedang bercanda tentang dosen killer.
"Mungkin dulu aku iri," kata Arga akhirnya.
"Sekarang?"
"Sekarang, aku tidak. Karena aku sadar, setiap orang punya jalannya masing, masing. Aku jalanku. Mereka jalannya. Tidak ada yang lebih baik. Tidak ada yang lebih buruk."
"Kamu dewasa, Arga."
"Saya tidak dewasa. Saya hanya menerima."
Guntur membuang puntung rokoknya.
"Kamu tahu, Arga, saya juga dulu iri pada orang yang lebih pintar, lebih kaya, lebih sukses. Tapi lama, lama saya sadar, iri itu hanya menyiksa diri sendiri. Lebih baik saya fokus pada diri saya. Pada apa yang bisa saya capai."
"Itu yang saya lakukan, Guntur. Saya fokus pada Sekar. Pada pekerjaan. Pada teman, teman."
"Bagus. Itu sudah cukup."
PENGAMEN JALANAN
Tiba, tiba, suara gitar terdengar dari kejauhan.
Seorang pengamen jalanan mendekati angkringan. Laki, laki setengah baya dengan rambut gondrong dan pakaian lusuh. Ia bernyanyi dengan suara parau, tapi penuh penghayatan.
"Ibu... aku rindu... rindu pada senyummu... rindu pada hangat pelukmu..."
Arga terenyuh.
Ia teringat pada ibunya di desa.
Pada Sukmawati yang sedang menangis di dapur karena merindukannya.
Pada Sastro yang diam, diam mengusap air mata di beranda.
Pada Mbah Jayarasa yang terbaring sakit, memanggil namanya dalam mimpi.
"Mas Arga, kenapa?" tanya Nisa yang melihat Arga termenung.
"Saya rindu rumah."
"Kamu sudah sering pulang?"
"Sudah. Tapi tetap rindu."
"Itu wajar. Rumah adalah tempat pertama kita belajar tentang cinta."
"Nisa, kamu bijak."
"Saya tidak bijak. Saya hanya pernah merasakan kehilangan."
KEJAWEN DAN KERATON
Setelah dari Malioboro, mereka melanjutkan perjalanan ke Kraton.
Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Istana resmi Kesultanan Yogyakarta.
Bangunannya megah. Campuran arsitektur Jawa, Hindu, Buddha, dan Eropa. Halamannya luas. Pohon, pohon beringin tua tumbuh di tengah alon-alun. Pasukan berpakaian serba hitam dengan blangkon dan keris berjaga di pintu gerbang.
"Masuk yuk," ajak Nisa.
"Bayar?" tanya Arga.
"Bayar. Lima belas ribu untuk turis lokal. Untuk mahasiswa, sepuluh ribu."
"Saya bukan mahasiswa."
"Kamu teman saya. Jadi ikut tarif mahasiswa."
Mereka masuk.
Di dalam, mereka melihat berbagai koleksi kerajaan. Kereta kencana. Wayang kulit. Batik kuno. Senjata tradisional. Foto, foto raja dan ratu.
Seorang pemandu wisata menjelaskan tentang sejarah Kraton, tentang filosofi bangunan, tentang makna simbol, simbol yang terukir di dinding dan langit, langit.
"Saya baru tahu kalau Kraton seluas ini," komentar Arga.
"Iya. Dulu, kerajaan memang besar. Wilayah kekuasaannya sampai ke luar Jawa."
"Apakah raja masih tinggal di sini?"
"Iya. Sri Sultan Hamengkubuwono X masih tinggal di Kraton. Beliau juga gubernur DIY."
"Jadi raja merangkap gubernur?"
"Iya. Itu keistimewaan Yogyakarta."
Arga mengangguk.
Belajar sejarah sambil jalan, jalan, pikirnya. Tidak terasa seperti belajar. Terasa seperti bermain.
TAMAN SARI
Dari Kraton, mereka berjalan ke Taman Sari.
Taman Sari adalah bekas taman istana yang dulu digunakan untuk bersantai, berenang, dan bermeditasi. Bangunannya unik. Campuran arsitektur Jawa dan Portugis. Terdapat kolam pemandian, lorong bawah tanah, dan ruang, ruang sempit yang misterius.
"Ini tempat favorit saya," kata Faruq.
"Kenapa?" tanya Nisa.
"Karena dulu selir, selir Sultan mandi di sini."
"Kamu tahu dari mana?"
"Dari omongan teman."
"Teman omong kosong."
"Nggak tahu. Yang jelas, tempat ini angker."
"Angker?"
"Iya. Katanya banyak yang melihat perempuan cantik berjalan di lorong bawah tanah."
"Memanggil siapa?"
"Memanggil laki-laki hidung belang."
"Itu kamu, Faruq."
"Bukan. Saya tidak hidung belang. Hidung saya biasa saja."
Mereka tertawa.
LORONG BAWAH TANAH
Arga, Guntur, dan Dimas masuk ke lorong bawah tanah.
Suasana gelap. Dingin. Sunyi. Hanya suara tetesan air dari langit, langit.
"Menyeramkan," bisik Dimas.
"Biasa saja," kata Guntur. "Ini cuma lorong."
"Tapi kok dingin."
"Ya iyalah. Bawah tanah memang dingin."
"Maksud saya dingin yang tidak wajar."
"Perasaanmu saja."
"Nggak. Ini serius."
Tiba, tiba, mereka mendengar suara langkah kaki dari belakang.
Tap... tap... tap...
Mereka menoleh.
Tidak ada siapa-siapa.
Gelap.
"Faruq?" panggil Dimas.
Tidak ada jawaban.
"Nisa?"
Tidak ada jawaban.
Arga memegang dinding lorong. Batunya dingin, lembab, berlumut.
"Arga," panggil Guntur pelan.
"Iya."
"Apa kamu dengar?"
"Dengar apa?"
"Suara... perempuan."
Arga mendengarkan.
Ada suara. Sangat pelan. Seperti bisikan.
"Arga... Arga... aku di sini..."
Darah Arga berhenti mengalir.
Itu suara Sekar.
"Sekar?" bisiknya.
Tidak ada jawaban.
Hanya suara angin yang berembus dari ujung lorong.
"Arga, kamu dengar apa?" tanya Guntur.
"Suara Sekar."
"Serius?"
"Serius. Dia memanggil namaku."
"Ini lorong bawah tanah Taman Sari, Arga. Bukan rumah Ferry. Bukan perumahan Mutiara. Jangan khayalan."
"Saya tidak khayal. Saya dengar dengan jelas."
Faruq dan Nisa muncul dari balik tikungan.
"Kalian ngapain di sini? Kok lama?" tanya Faruq.
"Mendengar suara," jawab Dimas.
"Suara apa?"
"Suara perempuan. Memanggil nama Arga."
Faruq merinding. "Angker. Saya bilang angker."
"Bukan angker," kata Nisa. "Mungkin saja sekar mengirim pesan lewat energi. Kita tidak tahu."
Mereka keluar dari lorong.
Matahari sudah condong ke barat.
SENJA DI TAMAN SARI
Mereka duduk di halaman Taman Sari, di bangku kayu di bawah pohon beringin tua.
Langit jingga. Angin sepoi, sepoi. Burung, burung pulang ke sarang.
"Indah," kata Nisa.
"Iya," kata Arga. "Saya belum pernah lihat senja seindah ini. Bahkan di desa."
"Jogja memang istimewa. Budayanya. Makanannya. Alamnya. Orangnya."
"Termasuk mahasiswanya yang rese?" celetuk Faruq.
"Itu kamu, Faruq."
"Bukan. Saya bukan mahasiswa rese. Saya mahasiswa baik."
"Kamu baik hatinya. Tapi mulutmu nakal."
"Makasih. Itu pujian."
Mereka tertawa.
KEMBALI KE KOS
Jam enam sore, mereka pulang.
Perjalanan pulang terasa lebih ringan. Mungkin karena sudah lelah. Mungkin karena sudah bahagia. Mungkin karena sudah menerima bahwa malam ini tidak ada rencana penyelamatan.
"Mas Arga," panggil Nisa dari boncengan Faruq.
"Iya."
"Terima kasih sudah mau ikut."
"Terima kasih kembali. Saya senang."
"Senang karena apa?"
"Karena saya tahu jogja bukan hanya tempat saya mencari Sekar. Jogja juga tempat saya hidup."
"Itu baru namanya dewasa."
Mereka sampai di kos.
Mbok Darmi sudah menunggu di teras dengan segelas teh jahe hangat.
"Wisata, Le?" tanyanya.
"Iya, Mbok. Ke Malioboro. Ke Kraton. Ke Taman Sari."
"Senang?"
"Senang."
"Bagus. Sekarang istirahat. Besok masih ada kerja."
"Siap, Mbok."
MALAM DI KAMAR
Jam sembilan malam, Arga masuk ke kamar.
Ia membuka jendela.
Udara malam masuk. Dingin. Segar.
Ia memeluk bantal kecil dari kebaya Sekar.
"Sekar," bisiknya. "Hari ini aku pergi ke Malioboro. Ke Kraton. Ke Taman Sari. Aku melihat keindahan kota ini. Aku belajar sejarah. Aku makan gudeg dan nasi kucing. Aku tertawa dengan teman, teman."
Ia memejamkan mata.
"Tapi aku tetap merindukanmu. Di mana pun aku berada. Kapan pun. Setiap saat."
"Aku tidak akan menyerah. Aku akan terus mencari. Sampai kita bertemu."
Ia memeluk bantal itu.
"Sampai kita bertemu."
BAB 12
LARAS YANG MISTERIUS
Tiga hari setelah kegagalan penyelamatan di perumahan Mutiara Indah, hidup Arga kembali ke rutinitas yang membosankan. Pagi, pagi bangun, mandi air dingin, jalan kaki ke toko bangunan, angkat semen, angkat pasir, angkat batu bata, makan siang, kerja lagi, pulang, tidur. Ulang. Tanpa henti. Tanpa variasi.
Tapi pikirannya tidak pernah berhenti.
Setiap malam, ia memandang peta usang pemberian Mbah Jayarasa. Setiap malam, ia membaca surat, surat Sekar yang tertunda. Setiap malam, ia memeluk bantal kebaya dan berbisik, bisik pada tembok kamar yang tidak pernah menjawab.
"Di mana kau, Sekar?"
"Apakah kau baik, baik saja?"
"Apakah kau masih ingat janji kita?"
"Apakah kau masih mau menungguku?"
Ia tidak tahu jawabannya.
Tapi ia terus berharap.
Dan di tengah keputusasaan itu, muncul seseorang yang tidak pernah ia duga. Seseorang yang misterius. Seseorang yang penuh teka-teki. Seseorang yang seolah datang dari kegelapan untuk membawa cahaya, atau mungkin, untuk membawa malapetaka yang lebih besar.
Namanya Laras.
PAGI YANG HUJAN
Hari Kamis, langit mendung sejak subuh.
Hujan turun gerimis, lalu deras, lalu gerimis lagi, lalu deras lagi. Tidak menentu. Seperti perasaan Arga yang kacau.
Ia tetap berangkat kerja meskipun hujan. Tidak ada payung. Tidak ada jas hujan. Hanya kemeja abu, abu lengan pendek yang basah kuyup dalam hitungan menit.
"Le, kamu gila!" teriak Mbok Darmi dari teras. "Hujan, hujan pergi! Nanti sakit!"
"Saya tidak apa, apa, Mbok!"
"Pake payung dulu! Mbok punya!"
"Tidak usah, Mbok. Saya sudah basah."
"Ya sudah. Jangan nanti sakit. Mbok tidak mau repot."
Arga berjalan cepat di tengah hujan.
Jalanan licin. Genangan air di mana, mana. Mobil dan motor melintas dengan kecepatan tinggi, menyemburkan air kotor ke tubuhnya. Ia tidak peduli.
Biarlah basah, pikirnya. Biarlah sakit. Biarlah demam. Yang penting saya sampai di toko tepat waktu.
DI TOKO BANGUNAN
Jam tujuh kurang lima menit, Arga tiba di toko.
Basah. Kuyup. Giginya menggigil. Bibirnya membiru.
Pak Bondan menatapnya dengan mata setengah melotot.
"Kamu gila, Le? Hujan, hujan jalan kaki?"
"Saya tidak punya payung, Pak."
"Beli! Murah! Sepuluh ribu!"
"Nanti, Pak. Nanti kalau sudah gajian."
"Kamu sakit nanti, biaya berobat lebih mahal dari payung!"
"Saya tidak akan sakit, Pak."
"Sekarang kamu sudah sakit. Gigimu menggigil."
"Saya hanya kedinginan."
"Nongkrong dulu di belakang. Saya buatkan jahe hangat."
"Saya tidak usah, Pak."
"Jangan protes. Saya bosan lihat muka kedinginanmu."
Arga duduk di gudang belakang. Pak Bondan memasukkan jahe, gula merah, dan sedikit serai ke dalam panci. Direbusnya di atas kompor minyak tanah.
"Ini," katanya sambil menyerahkan gelas berisi jahe hangat. "Minum sampai habis. Jangan tumpah."
"Terima kasih, Pak."
"Jangan makasih. Kerja. Nanti potong gaji."
Arga tersenyum. Ia meminum jahe hangat itu seteguk. Dua teguk. Tiga teguk. Hangatnya menyebar dari perut ke dada, dari dada ke kepala, dari kepala ke ujung jari.
Pak Bondan baik, pikirnya. Kasar. Pelit. Suka marah, marah. Tapi baik.
SIANG YANG PANAS
Hujan berhenti tepat jam dua belas siang.
Matahari keluar dari balik awan. Panasnya menyengat. Tanah yang basah menguap, membuat udara terasa lembab dan lengket.
Arga duduk di bawah pohon rindang. Makan siang. Nasi putih, telur dadar, tempe goreng, sambal terasi. Menu yang sama setiap hari. Membosankan. Tapi ia tidak protes.
"Mas Arga."
Arga menoleh. Seorang perempuan berdiri di sampingnya.
Perempuan itu usianya sekitar dua puluh tahun. Wajahnya bulat, kulitnya sawo matang, matanya sipit dan tajam. Rambutnya panjang, diikat kuda poni. Ia memakai kemeja putih lengan panjang, rok panjang batik, dan sepatu pantofel hitam. Di tangannya ada map coklat tebal.
"Saya kenal Mbak?" tanya Arga.
"Belum. Saya Laras."
"Laras?"
"Iya. Temannya Nisa."
Arga mengerutkan kening. Nisa tidak pernah bercerita tentang Laras. Tidak pernah menyebut nama itu dalam percakapan mereka.
"Nisa tidak pernah cerita tentang Mbak."
"Karena saya tidak suka diceritakan. Saya lebih suka datang sendiri."
"Maksud Mbak?"
Laras duduk di samping Arga, tanpa permisi. Ia meletakkan map coklat di pangkuannya. Matanya menatap Arga dengan tajam.
"Saya tahu semua tentang kamu, Arga."
"Semua tentang saya?"
"Iya. Tentang desamu. Tentang kelahiranmu. Tentang Jatmika. Tentang Sekar. Tentang pencarianmu. Tentang Ferry. Tentang surat-surat yang tertunda. Tentang peta usang dari kakek tua di desamu."
Arga terkesiap. "Dari mana Mbak tahu?"
Laras tersenyum. Senyum yang misterius. Senyum yang tidak sampai ke mata.
"Saya punya mata-mata. Sama seperti Mbah Jayarasa punya mata-mata di kota ini."
"Mbah Jayarasa punya mata, mata?"
"Iya. Saya salah satunya."
Arga terdiam.
Ia tidak tahu harus berkata apa.
Pikirannya kacau.
Laras, perempuan asing yang tidak pernah ia kenal, tiba, tiba datang dan mengaku sebagai mata, mata Mbah Jayarasa. Apa tujuannya? Membantu? Atau menjebak?
"Jangan takut, Arga," kata Laras seolah membaca pikirannya. "Saya bukan musuh. Saya teman. Mbah Jayarasa yang memerintahkan saya untuk membantu kamu."
"Bukti?"
Laras membuka map coklat itu. Ia mengeluarkan sepucuk surat.
Surat dari Mbah Jayarasa.
Tulisan tangan tua yang sangat Arga kenali.
"Laras, tolong jaga anak ini. Dia cucu saya secara rohani, meskipun tidak secara darah. Dia penerus perjuangan saya. Jangan biarkan dia celaka. Jayarasa"
Arga membaca surat itu berulang, ulang.
Matanya basah.
"Mbah Jayarasa..."
"Dia sayang padamu, Arga. Dia tidak pernah bilang langsung. Dia laki-laki tua yang keras kepala. Tapi dia sayang. Seperti sayang pada anak kandungnya sendiri."
"Saya tidak pantas."
"Semua orang pantas dicintai. Termasuk kamu."
LARAS BERCERITA
Setelah Arga tenang, Laras mulai bercerita.
Ia bukan orang Jogja asli. Ia dari desa di timur laut, dekat Gunung Merapi. Ayahnya petani. Ibunya pedagang. Ia anak pertama dari tiga bersaudara.
"Dulu, sebelum kuliah di sini, saya sering ikut ayah ke sawah," katanya. "Saya bisa mencangkul, menanam padi, membajak dengan kerbau. Tidak kalah dengan laki, laki."
"Lalu kenapa pindah ke kota?"
"Karena orang tua saya ingin saya sekolah setinggi-tingginya. Mereka tidak mau saya jadi petani seperti mereka. Hidup petani susah. Tidak pasti. Kadang panen, kadang gagal."
"Dan sekarang?"
"Sekarang saya mahasiswa UGM jurusan Antropologi. Semester lima. Nilai saya bagus. Saya juga aktif di organisasi. Punya banyak teman. Punya banyak relasi."
"Termasuk mata-mata Mbah Jayarasa?"
Laras tersenyum. "Termasuk itu. Tapi jangan bilang siapa-siapa. Ini rahasia."
"Saya tidak akan bilang."
"Sumpah?"
"Sumpah."
TUJUAN LARAS
"Jadi, kenapa Mbak mencariku?" tanya Arga setelah Laras selesai bercerita.
Laras menghela napas. Ia memandang kejauhan, ke arah halte bus, ke arah orang, orang yang lalu, lalang, ke arah langit yang mulai beranjak mendung lagi.
"Saya ingin membantu kamu menyelamatkan Sekar."
"Kenapa Mbak mau membantu?"
"Karena Mbah Jayarasa memintaku. Karena saya tidak suka ketidakadilan. Dan karena saya juga pernah menjadi Sekar."
"Maksudnya?"
Laras menunduk. Tangannya yang tadi tegap sekarang gemetar.
"Dulu, ketika saya masih di desa, saya juga dijodohkan. Dengan laki-laki kaya raya. Ayahnya pemilik perkebunan. Ibunya keturunan ningrat. Mereka sudah merencanakan pernikahan sejak saya masih di bangku SMP."
"Lalu?"
"Saya lari. Saat malam. Saya sembunyi di rumah teman. Lalu pindah ke kota. Kuliah di sini dengan beasiswa. Orang tua saya marah. Mereka tidak mengakui saya sebagai anak lagi."
"Tapi Mbak tetap kuliah?"
"Saya tetap kuliah. Karena saya tidak mau hidup diatur. Karena saya ingin bebas. Karena saya ingin menentukan masa depan sendiri."
"Sekar juga ingin begitu."
"Iya. Itulah sebabnya saya membantunya. Saya tidak ingin dia mengalami apa yang saya alami. Saya tidak ingin dia kehilangan masa mudanya karena perjodohan paksa."
Laras mengeluarkan sesuatu dari map coklatnya.
Sebuah foto.
Foto Sekar.
Foto terbaru, bukan foto lama dari desa.
Sekar berdiri di balkon rumah Ferry. Memakai gaun putih. Wajahnya pucat. Matanya sayu. Ia tidak tersenyum.
"Foto ini saya ambil minggu lalu," kata Laras. "Saya menyamar sebagai petugas kebersihan kompleks. Masuk ke perumahan Mutiara. Memotret dari kejauhan."
"Sekar sakit?" tanya Arga cemas.
"Tidak sakit. Tapi kurus. Tidak makan. Tidak tidur. Setiap malam dia menangis."
Air mata Arga jatuh.
"Ferry," geramnya. "Bajingan."
"Ferry memang bajingan. Tapi dia tidak sendiri. Orang tua Sekar juga bajingan. Mereka lebih memilih uang daripada kebahagiaan anaknya sendiri."
"Apa yang bisa kita lakukan?"
Laras memandang Arga.
Matanya tajam.
Berapi, api.
"Kita butuh bukti. Bukti bahwa Sekar dikurung. Bahwa Sekar tidak bebas. Bahwa Ferry dan orang tuanya melakukan kekerasan psikologis."
"Bukti seperti apa?"
"Rekaman suara. Foto. Video. Saksi. Surat-surat. Semua yang bisa digunakan di pengadilan."
"Kita akan bawa Ferry ke pengadilan?"
"Iya. Atau setidaknya, tekan dia secara hukum. Agar dia takut. Agar dia melepaskan Sekar."
"Apakah itu mungkin?"
"Bisa. Saya punya teman di LBH. Lembaga Bantuan Hukum. Mereka sering menangani kasus seperti ini."
Arga mengangguk.
"Baik. Saya setuju."
RENCANA BARU
Sore itu, setelah kerja, Arga mengumpulkan teman, temannya di kos.
Guntur. Faruq. Nisa. Dimas.
Dan Laras.
Mereka duduk di halaman kos. Mbok Darmi menyuguhkan teh jahe dan pisang goreng. Seperti biasa.
"Ini Laras," kata Arga. "Teman baru. Mata-mata Mbah Jayarasa."
"Mata-mata?" Faruq mengerutkan kening. "Mas Arga punya mata-mata?"
"Bukan saya. Mbah Jayarasa."
"Mbah Jayarasa siapa?"
"Tetua desa saya. Orang bijak. Pemberi peta usang itu."
"Oh, peta usang. Saya dengar cerita."
"Laras, ini Guntur, Faruq, Nisa, Dimas. Sahabat-sahabat saya."
Laras tersenyum. "Salam kenal."
Mereka berjabat tangan.
"Laras punya rencana," kata Arga. "Rencana untuk menyelamatkan Sekar secara hukum."
"Hukum?" Guntur mengangkat alis. "Ferry punya pengacara terkenal. Kantornya di Jakarta. Harganya selangit."
"Tapi Ferry juga punya kelemahan. Dia korup. Dia suap sana, sini. Itu bisa dijadikan alat untuk menekan."
"Kita butuh bukti."
"Itu yang akan kita cari."
PEMBAGIAN TUGAS
Malam itu, mereka menyusun strategi.
Laras sebagai koordinator. Ia yang paling berpengalaman dalam hal investigasi.
Guntur sebagai analis. Ia yang akan mempelajari pola perilaku Ferry dari berbagai sumber.
Faruq sebagai logistik. Ia yang akan mengatur transportasi, konsumsi, dan kebutuhan teknis lainnya.
Nisa sebagai humas. Ia yang akan berhubungan dengan media, LSM, dan lembaga bantuan hukum.
Dimas sebagai mata, mata lapangan. Ia yang akan masuk ke perumahan Mutiara dengan menyamar sebagai kurir dan mengumpulkan informasi.
Arga sebagai eksekutor. Ia yang akan berkomunikasi langsung dengan Sekar jika ada kesempatan.
"Setuju?" tanya Laras.
"Setuju!" teriak Faruq.
"Jangan teriak. Nanti Mbok Darmi marah."
"Nggak apa. Mbok Darmi baik."
Mbok Darmi dari dalam rumah berseru, "Faruq, jangan teriak, teriak! Mbok lagi baca Alquran!"
"Iya, Mbok. Maaf."
Mereka tertawa.
LARAS DAN GUNTUR
Setelah yang lain pulang, Laras dan Guntur masih duduk di halaman.
Mereka berdua memandang langit, bintang, bintang mulai muncul satu per satu.
"Guntur," panggil Laras.
"Iya."
"Kamu kenapa diam terus tadi? Tidak protes? Tidak memberikan saran? Tidak mengkritik rencanaku?"
"Karena rencanamu bagus. Tidak perlu dikritik."
"Kamu percaya padaku?"
"Arga percaya padamu. Mbah Jayarasa juga percaya padamu. Itu cukup."
Laras tersenyum. "Kamu kelihatan sinis. Tapi hati kamu baik."
"Saya tidak baik. Saya hanya tidak mau ribet."
"Itu sudah termasuk baik."
"Terserah."
Mereka diam.
Angin malam berembus.
Bau sate dari warung pinggir jalan.
"Ok, Guntur."
"Iya."
"Kamu punya pacar?"
Guntur mengangkat alis. "Kenapa tanya?"
"Penasaran."
"Tidak. Saya tidak punya pacar. Saya tidak butuh pacar."
"Karena apa?"
"Karena saya lebih suka sendiri."
"Kesepian?"
"Biasa."
Laras tidak bertanya lagi.
Ia hanya memandang Guntur.
Laki-laki sinis dengan rambut ikal dan mata cekung.
Ada yang menarik, pikir Laras. Ada yang misterius. Sama sepertiku.
RAHASIA LARAS
Jam sepuluh malam, Laras pamit.
Sebelum pulang, ia memanggil Arga ke sudut halaman.
"Arga," bisiknya.
"Iya."
"Saya mau cerita sesuatu. Tapi jangan bilang siapa-siapa."
"Saya tidak akan bilang."
Laras menarik napas panjang.
"Ayah saya... ayah saya bekerja pada Ferry."
Arga terkesiap. "Apa?"
"Dulu, sebelum saya lari ke kota, ayah saya adalah mandor perkebunan milik keluarga Ferry. Dia diperlakukan dengan tidak manusiawi. Gaji kecil. Jam kerja panjang. Tidak ada jaminan kesehatan."
"Lalu?"
"Suatu hari, ayah saya jatuh dari pohon kelapa. Kakinya patah. Ferry tidak mau tanggung jawab. Ayah saya dipecat."
"Bajingan."
"Iya. Sejak itu, saya benci Ferry. Saya benci keluarganya. Saya benci semua yang berhubungan dengan dia."
"Jadi Mbak membantu saya bukan hanya karena Mbah Jayarasa?"
"Bukan. Juga karena dendam."
Arga memandang Laras.
Matanya berkilat, bukan kilat kebahagiaan, tapi kilat amarah yang tertahan.
"Mbak dendam?"
"Saya dendam. Tapi bukan dendam buta. Saya ingin keadilan. Untuk ayah saya. Untuk Sekar. Untuk semua korban Ferry."
"Mbak kuat."
"Saya terpaksa kuat."
MALAM DI KAMAR
Jam sebelas malam, Arga masuk ke kamar.
Ia membuka jendela.
Udara malam masuk dingin.
Ia memeluk bantal kecil dari kebaya Sekar.
"Sekar," bisiknya.
"Hari ini aku bertemu Laras. Dia perempuan misterius. Dia mata-mata Mbah Jayarasa. Dia juga korban keluarga Ferry."
Ia memejamkan mata.
"Aku tidak tahu apakah dia bisa dipercaya sepenuhnya. Tapi aku tidak punya pilihan. Kita butuh bantuan."
Ia memeluk bantal itu.
"Jaga dirimu. Aku akan menjemputmu. Tidak lama lagi."
BAB 13
TOKOH ANTAGONIS: FERRY
Malam itu, di sebuah restoran mewah di pusat kota Yogyakarta, seorang laki-laki sedang duduk sendirian di meja VIP lantai dua. Dari jendela kaca besarnya, ia bisa melihat seluruh pemandangan Malioboro yang gemerlap, lampu, lampu warna, warni, kereta kencana yang ditarik kuda berjalan pelan di tengah kemacetan, turis asing yang berfoto dengan blangkon dan batik, pengamen jalanan yang bernyanyi dengan suara serak.
Laki, laki itu bernama Ferry.
Ferry Kencana.
Usia dua puluh delapan tahun. Tinggi, sekitar seratus delapan puluh sentimeter. Berbadan tegap, berkulit putih bersih, berambut hitam legam yang selalu disisir rapi ke belakang. Wajahnya tampan—tajam seperti pahatan, dengan hidung mancung, bibir tipis yang jarang tersenyum, dan mata hitam pekat yang sulit ditebak isi hatinya.
Ia mengenakan jas bespoke warna navy, kemeja putih dengan kancing manset dari emas putih, dasi sutra merah marun, dan sepatu oxford hitam mengkilap buatan Italia. Di pergelangan tangan kirinya, melingkar arloji Rolex Daytona yang harganya cukup untuk membeli satu rumah sederhana di pinggiran kota. Di jari manis kanannya, cincin signet dari platinum dengan inisial "FK" berhiaskan berlian kecil.
Ferry bukan orang biasa.
Ia adalah putra sulung dari Hendro Kencana, pengusaha properti dan tambang yang namanya masuk dalam daftar 100 orang terkaya di Indonesia versi majalah Forbes. Keluarganya memiliki puluhan ribu hektar tanah di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Mereka memiliki hotel, mal, perumahan, dan perkebunan sawit. Mereka memiliki hubungan bisnis dengan para pejabat, politisi, bahkan beberapa menteri.
Tapi Ferry tidak hanya mengandalkan kekayaan keluarganya.
Ia lulusan hukum dari universitas terbaik di Inggris. Ia juga mengambil kursus bisnis di Harvard. Ia sudah menerbitkan dua buku tentang strategi investasi property, buku yang menjadi bacaan wajib bagi para pengusaha muda di Indonesia.
Di usia dua puluh delapan tahun, ia sudah memimpin tiga perusahaan di bawah naungan Kencana Group. Ia sudah mengantongi kontrak, kontrak miliaran rupiah. Namanya sudah sering muncul di media, sebagai pengusaha muda berbakat, sebagai dermawan yang suka memberi beasiswa, sebagai bujangan paling diinginkan di kalangan selebriti dan sosialita.
Tapi di balik semua kemewahan dan ketenaran itu, ada sisi gelap yang tidak pernah diketahui publik.
Ferry bukan hanya pengusaha.
Ia juga seorang manipulator.
Ia juga seorang psikopat.
Dan arwah-arwah yang ia kubur di masa lalu, arwah-arwah yang ia lupakan, mulai bangkit.
PESAN SINGKAT
Ferry mengeluarkan ponselnya dari saku jas.
Sebuah pesan singkat masuk dari seorang kontak yang disimpan dengan nama "BG" , singkatan dari "Bajingan", karena Ferry suka memberi nama sampah pada orang-orang yang tidak ia sukai.
"Tuan, ada yang memanjat pohon jambu belakang rumah tadi malam. Dua orang. Tidak berhasil masuk. Kabur setelah satpam menghampiri."
Ferry membaca pesan itu dua kali.
Wajahnya tidak berubah.
Tangannya tidak gemetar.
Ia hanya tersenyum.
Senyum tipis yang tidak sampai ke mata.
Senyum yang lebih menakutkan daripada teriakan marah.
Ia membalas pesan itu dengan satu kata: "Lacak."
Lalu ia menyimpan ponselnya.
Ia memanggil pelayan.
"Scotch. Double. Jangan pakai es."
"Baik, Tuan."
KENANGAN BURUK
Ferry memandang ke luar jendela.
Malioboro gemerlap.
Turis asing berfoto.
Mahasiswa nongkrong.
Pengamen bernyanyi.
Desa kecil di selatan, pikir Ferry. Wringinrejo namanya. Desa terpencil dengan sawah dan sungai dan orang-orang miskin yang sombong.
Ia teringat pada surat-surat yang dicegat anak buahnya. Surat-surat dari Arga, laki-laki desa yang tidak punya apa-apa, untuk Sekar.
"Aku sayang kamu, Sekar."
"Aku akan menjemputmu."
"Kita akan bersama selamanya."
Ferry mengepalkan tangannya.
Laki, laki desa, pikirnya. Laki, laki miskin. Laki, laki tidak penting. Laki, laki yang seharusnya tidak pernah lahir di dunia ini.
"Scotch, nya, Tuan."
"Taruh di sini."
Ferry meminum scotch itu seteguk. Pahit. Panas. Membakar tenggorokan.
Sekar, pikirnya. Gadis desa yang cantik. Gadis desa yang lugu. Gadis desa yang tidak tahu diri. Berani menolak lamaranku. Berani membandel. Berani pilih-pilih.
Ia ingat ketika pertama kali melihat Sekar di acara pernikahan sepupunya dua tahun lalu.
Sekar memakai kebaya putih. Rambutnya tergerai. Matanya sayu, sayu seperti rusa yang ketakutan.
Ferry langsung jatuh hati.
Bukan cinta.
Keinginan memiliki.
Seperti seorang kolektor yang melihat barang antik langka.
"Itu dia," katanya pada orang tuanya ketika itu. "Itu calon istri saya."
Orang tua Sekar awalnya ragu. Mereka orang miskin. Tidak pantas besan dengan keluarga Kencana.
Tapi Ferry tahu cara meluluhkan hati orang miskin: uang.
Utang orang tua Sekar dilunasi.
Sekolah adik-adik Sekar dibiayai.
Rumah desa mereka direnovasi.
Dan orang tua Sekar pun luluh.
Mereka menjual anak kandungnya sendiri demi uang.
Bajingan, pikir Ferry. Tapi bajingan yang berguna.
TELEPON DARI ANAK BUAH
Ponsel Ferry bergetar lagi.
Kali ini telepon.
"Ya."
"Tuan, kami sudah lacak. Yang memanjat pohon jambu adalah Arga. Pria desa yang dulu pacar Sekar. Dia dibantu oleh anak buahnya. Dua orang. Satu laki-laki, satu perempuan. Kami masih mencari identitas mereka."
Ferry mengisap scotch, nya.
"Apa yang mereka lakukan sekarang?"
"Mereka pulang ke kos-kosan di belakang pasar. Kami sudah pasang kamera di sekitar lokasi. Kami juga sudah menyusupkan orang ke dalam lingkungan mereka."
"Siapa?"
"Seseorang yang akan Tuan kenali."
"Baik. Laporkan setiap hari."
"Siap, Tuan."
Ferry menutup telepon.
Ia tersenyum lagi.
Misterius.
Jadi, Arga, pikirnya. Kamu berani mengganggu propertiku. Kamu berani mencuri apa yang sudah menjadi hakku. Kamu berani mengatur rencana untuk melarikan Sekar dari rumahku.
Ferry menghabiskan scotch, nya.
Ia menaruh gelas di meja.
Ia memanggil pelayan.
"Tagihan."
"Baik, Tuan."
RUMAH DI PERUMAHAN MUTIARA INDAH
Jam sepuluh malam, Ferry tiba di rumahnya di Perumahan Mutiara Indah Blok A nomor tujuh.
Rumah itu besar, tiga lantai, delapan kamar tidur, enam kamar mandi, kolam renang berpemanas, dan taman belakang yang ditumbuhi pohon, pohon tropis. Harganya mencapai puluhan miliar. Tapi bagi Ferry, itu bukan apa, apa.
Ia masuk melalui pintu utama.
Dua satpam menyambutnya.
"Selamat malam, Tuan."
"Selamat malam. Di mana Sekar?"
"Di kamar, Tuan. Sejak tadi tidak keluar."
"Sudah makan?"
"Belum, Tuan. Katanya tidak laper."
"Paksa."
"Kami sudah coba, Tuan. Tapi dia, "
"Gampang. Kalau tidak mau makan, suntik vitamin. Saya tidak mau tunangan saya kurus."
"Siap, Tuan."
Ferry naik ke lantai dua.
Ia berjalan menyusuri lorong yang panjang, melewati pintu, pintu kamar, sampai di ujung lorong, pintu paling besar, dengan kunci elektronik dan kamera CCTV.
Ia mengetuk pintu.
"Buka."
Dari dalam, tidak ada suara.
"Buka, Sekar. Saya tidak akan mengetuk dua kali."
Pintu terbuka perlahan.
Sekar berdiri di ambang pintu. Wajahnya pucat. Matanya sembab, tanda baru saja menangis. Rambutnya kusut. Gaun putihnya kusut. Ia terlihat kurus, jauh lebih kurus dari ketika pertama kali tiba di rumah ini.
"Ferry," katanya dengan suara lirih. "Apa yang kau inginkan?"
"Memastikan engkau baik, baik saja."
"Kau tidak peduli padaku. Kau hanya peduli pada propertimu."
"Salah. Aku peduli padamu. Sebagai calon istriku."
"Aku tidak akan menjadi istrimu."
"Itu bukan pilihanmu."
Sekar mengepalkan tangannya. "Kau bajingan."
"Bajingan kaya. Bajingan berkuasa. Bajingan punya masa depan cerah." Ferry tersenyum. "Lebih baik daripada kekasih desamu yang hanya bisa mengangkat semen."
"Jangan bicara tentang Arga!"
"Kenapa? Kau takut aku akan menyakitinya?"
"Kau tidak akan berani."
Ferry tertawa.
Tawa kecil. Dingin. Membekukan.
"Coba lihat saja, Sekar. Arga sudah kuberi pelajaran. Beberapa kali. Kecil-kecilan. Nanti kalau masih bandel, besaran."
"Apa maksudmu?"
"Tanyakan pada Arga. Dia pasti sudah merasakannya."
Ferry berbalik.
Ia berjalan ke arah tangga.
Sebelum turun, ia menoleh.
"Ah, satu lagi, Sekar."
"Apa?"
"Minggu depan, orang tuamu akan datang. Untuk membahas persiapan pernikahan. Mereka akan membawa adik-adikmu juga. Jadi, bersiaplah. Jangan buat malu."
Ferry pergi.
Sekar menutup pintu.
Ia bersandar di pintu.
Ia menangis.
JEJAK DI PAGI HARI
Keesokan paginya, Ferry memerintahkan anak buahnya untuk mencari tahu lebih banyak tentang Arga dan teman, temannya.
"Data. Biodata. Alamat. Pekerjaan. Aktivitas sehari, hari. Siapa saja yang sering dia temui. Siapa saja yang ikut dalam rencana penyelamatan. Jangan ada yang terlewat."
"Siap, Tuan."
Ferry duduk di ruang kerjanya, ruangan besar dengan view taman belakang. Dindingnya dipenuhi lukisan, lukisan mahal. Rak bukunya penuh dengan literatur hukum, bisnis, dan filsafat.
Ia membuka laptop.
Mengetik nama "Arga" di mesin pencari.
Tidak banyak hasil.
Hanya beberapa artikel tentang prestasi Arga di SMA, juara cerdas cermat, juara pidato, anggota OSIS. Tidak ada media sosial. Tidak ada jejak digital yang berarti.
Anak desa polos, pikir Ferry. Tapi berani.
Ia menutup laptop.
Ia memanggil asisten pribadinya.
"Rika."
"Iya, Tuan."
"Kirimkan seseorang ke desa Wringinrejo. Cari tahu tentang keluarga Arga. Tentang orang tuanya. Tentang tetua desa yang bernama Mbah Jayarasa. Tentang Jatmika, kakak Arga yang mati tenggelam."
"Baik, Tuan."
"Dan cari tahu juga tentang Sekar. Masa lalunya. Teman-temannya. Siapa saja yang pernah dekat dengannya."
"Siap, Tuan."
Rika pergi.
Ferry duduk sendirian.
Ia memandang taman belakang.
Pohon jambu.
Pohon jambu yang semalam dipanjat Arga.
Bodoh, pikir Ferry. Sekar bego. Arga bego. Semuanya bego.
MISTERI MBAH JAYARASA
Dua hari kemudian, anak buah Ferry kembali dari desa Wringinrejo.
Mereka membawa laporan tebal.
"Tuan, Mbah Jayarasa adalah tetua desa yang sangat dihormati. Dia dulu juga pengusaha. Tapi bangkrut. Sekarang hidup sebatang kara di rumah tua."
"Apakah dia memiliki hubungan dengan keluarga Arga?"
"Dekat. Dia seperti kakek bagi Arga. Dialah yang memberi Arga peta using, peta yang menurut masyarakat desa memiliki kekuatan gaib."
"Kekuatan gaib?"
"Katanya, peta itu bisa menunjukkan jalan menuju seseorang yang dicintai."
Ferry tertawa. "Omong kosong."
"Tapi Mbah Jayarasa juga punya mata-mata di kota ini. Salah satunya bernama Laras. Mahasiswi UGM. Aktif di organisasi. Dekat dengan Nisa, teman Arga."
Ferry berhenti tertawa.
Matanya menyipit.
"Laras?"
"Iya, Tuan. Laras bin Marto. Ayahnya dulu mandor perkebunan keluarga. Dipecat karena korupsi."
Ferry mengerutkan kening. Ia tidak ingat.
"Korupsi? Siapa yang bilang?"
"Tuan sendiri yang memerintahkan pemecatan. Tapi catatan menunjukkan bahwa dia tidak terbukti bersalah."
Ferry diam.
Ia tidak ingat detail. Terlalu banyak orang yang ia pecat. Terlalu banyak keluarga yang ia hancurkan.
"Lanjut."
"Laras sekarang aktif membantu Arga. Dia yang memotret Taman Sari." Sekar dari kejauhan. Dia yang menyusun rencana hukum untuk melawan Tuan."
"Rencana hukum?"
"Mereka akan mengumpulkan bukti kekerasan psikologis. Mereka akan melapor ke LBH. Mereka akan membawa kasus ini ke pengadilan."
Ferry tertawa lagi.
Tapi kali ini tidak dingin.
Tapi gugup.
"Rencana konyol. LBH tidak akan berani melawan saya."
"Tapi mereka punya koneksi dengan media, Tuan. Nisa, teman Arga, adalah aktivis yang sering muncul di TV dan koran. Dia juga punya relasi dengan komnas perempuan."
Ferry berdiri.
Ia berjalan ke jendela.
Memandang taman belakang.
Pohon jambu.
"Rencana kita," katanya.
"Tuan?"
"Rencana untuk menghancurkan mereka. Saya tidak akan membiarkan mereka merepotkan hidup saya."
FERRY DAN LARAS
Malam itu, Ferry mengirim pesan singkat ke Laras.
Nomornya ia dapat dari anak buahnya yang menyusup ke lingkungan kos-kosan Arga.
"Laras, saya tahu semua tentangmu. Tentang ayahmu. Tentang dendammu. Tentang rencanamu bersama Arga. Jika kau tidak ingin celaka, hentikan semua ini. Hentikan sekarang. Atau kau dan orang-orang yang kau cintai akan menyesal."
Laras membalas beberapa menit kemudian.
"Saya tidak takut pada sampah seperti kau, Ferry. Ayah saya tidak bersalah. Kau yang korup. Kau yang zalim. Kau akan diadili. Tidak di dunia, pasti di akhirat."
Ferry membalas.
"Kau berani. Saya suka. Tapi keberanianmu akan kubayar mahal. Saya akan hancurkan Arga. Saya akan hancurkan Guntur. Saya akan hancurkan Faruq. Saya akan hancurkan Nisa. Saya akan hancurkan Dimas. Dan kau akan melihat semuanya dari kejauhan. Tidak bisa berbuat apa, apa."
Laras tidak membalas.
Ferry menyimpan ponsel.
Ia tersenyum.
Senyum yang menakutkan.
Permainan dimulai, pikirnya.
FERRY DAN SEKAR
Seminggu kemudian, Ferry datang ke kamar Sekar.
Sekar sedang duduk di kursi dekat jendela. Memandang taman belakang. Memandang pohon jambu. Memandang langit yang kelabu.
"Masih betah di kamar?" tanya Ferry.
"Apa maumu?"
"Orang tuamu datang besok. Aku ingin memastikan bahwa kau akan bersikap baik di depan mereka."
"Aku tidak akan bersikap baik."
"Kau harus. Jika kau tidak, aku akan potong biaya sekolah adik-adikmu. Mereka akan dikeluarkan dari sekolah. Mereka akan jadi pengangguran. Mereka akan jadi pemulung."
Sekar mengepalkan tangannya.
"Kau iblis."
"Bukan. Aku hanya pengusaha. Pengusaha yang tahu cara memanfaatkan situasi."
"Aku tidak akan menikah denganmu."
"Kau akan. Cepat atau lambat."
Ferry mendekat.
Ia meraih dagu Sekar.
Memaksanya menatap mata.
"Kau lihat mata ini, Sekar? Mata ini penuh tekad. Aku tidak akan pernah menyerah padamu. Kau akan menjadi milikku. Suatu hari. Entah kau suka atau tidak."
Sekar meludahi wajah Ferry.
Ferry tidak marah.
Ia hanya tersenyum.
Ia menyeka ludah Sekar dengan saputangan.
"Kau hebat, Sekar. Aku makin tertarik."
Ia keluar kamar.
Sekar menangis.
FERRY DAN MASA LALU
Malam itu, Ferry tidak bisa tidur.
Ia berbaring di kasurnya yang empuk, memandang langit, langit kamar yang tinggi, mengingat, ingat masa lalu.
Masa lalu yang kelam.
Masa lalu yang tidak pernah ia ceritakan pada siapa pun.
Dulu, ketika ia masih kecil, ia sering melihat ayahnya memukul ibunya. Ibunya berteriak, teriak, meminta tolong, tapi tidak ada yang peduli. Tetangga hanya diam. Polisi tidak mau ikut campur urusan rumah tangga orang kaya.
Suatu malam, ayahnya memukul ibunya terlalu keras. Ibunya jatuh. Kepalanya membentur ujung meja marmer. Ia tidak bangun lagi.
Ayahnya tidak menyesal.
Ayahnya malah menikah lagi setahun kemudian.
Dengan perempuan yang lebih muda.
Perempuan yang diam, diam sudah menjadi selirnya bertahun-tahun.
Sejak itu, Ferry bertekad untuk tidak menjadi seperti ayahnya.
Tapi ia gagal.
Ia justru menjadi lebih jahat.
Ia menggunakan kekayaan untuk menindas.
Ia menggunakan kuasa untuk memanipulasi.
Ia menggunakan ketampanan untuk merusak hati perempuan.
Ia adalah monster.
Monster yang diciptakan oleh monster lain.
"Arga," bisik Ferry dalam gelap. "Kau tidak tahu siapa yang kau hadapi. Aku bukan hanya pengusaya biasa. Aku iblis. Dan iblis tidak pernah kalah."
BAB 14
ARENA KONFLIK PERTAMA
Tiga hari setelah Laras bergabung dalam tim, konflik pertama dengan Ferry akhirnya terjadi.
Bukan di pengadilan. Bukan di perumahan Mutiara Indah. Bukan di tempat yang Arga bayangkan.
Tapi di sebuah tempat yang lebih personal. Lebih kejam. Lebih menghancurkan.
Di tempat kerja Arga sendiri.
Toko Bangunan Tujuh Sembilan.
PAGI YANG CERAH
Hari Senin, langit cerah. Matahari bersinar terik. Burung, burung berkicau di pohon rindang depan toko. Pak Bondan duduk di kursi plastik seperti biasa, koran, rokok, kopi hitam. Arga sedang mengangkat pasir ke lantai dua. Keringat mengucur di sekujur tubuhnya. Wajahnya merah padam.
Tapi hatinya tenang.
Semalam, Laras memberinya kabar baik: LBH setuju menangani kasus Sekar. Mereka sudah mulai mengumpulkan bukti. Mereka sudah menyusun strategi hukum. Mereka optimis Ferry bisa ditekan.
"Mas Arga, semangat!" teriak Dimas dari kejauhan. Ia sedang antar paket, mampir sebentar untuk minum.
"Semangat!" balas Arga.
"Besok kita traktiran! Sate kambing!"
"Setuju!"
Tawa mereka pecah.
Pak Bondan menggeleng, geleng. "Anak muda. Kerja sedikit, traktiran mulu."
"Biar, Pak. Kita kan butuh hiburan."
"Hiburan mah gratis. Lihat langit. Lihat burung. Lihat orang jatuh."
"Orang jatuh mah bukan hiburan. Itu musibah."
"Ya itu hiburan bagi saya."
Mereka tertawa lagi.
TAMU TAK TERUNDANG
Jam sepuluh pagi, sebuah mobil hitam mewah berhenti di depan toko.
Mercedes, Benz S, Class. Hitam legam. Kacanya gelap, tidak tembus pandang. Plat nomor B 1 FKY , kependekan dari "Ferry Kencana Yogyakarta".
Arga berhenti bekerja.
Ia menatap mobil itu dari kejauhan.
Dadanya berdebar.
Jantungnya seperti mau melompat keluar.
Ferry, pikirnya. Itu mobil Ferry.
Pintu mobil terbuka.
Seorang laki-laki keluar.
Tinggi. Tegap. Jas navy. Kemeja putih. Dasi merah. Sepatu oxford mengkilap.
Tidak ada yang salah dengan penampilannya.
Tapi matanya, matanya hitam pekat, dingin, seperti ular kobra yang siap menerkam kapan saja.
Ferry Kencana.
Ia tersenyum.
Senyum yang tidak sampai ke mata.
Senyum yang membuat bulu kuduk Arga berdiri.
"Selamat pagi," sapa Ferry.
Pak Bondan meletakkan korannya. Wajahnya tegang. Ia sudah mendengar cerita tentang Ferry dari Arga.
"Selamat pagi. Ada perlu apa, Mas?"
"Saya Ferry. Pemilik Perumahan Mutiara Indah. Saya dengar toko ini supplier material untuk proyek saya di selatan kota."
"Itu proyek Mas Rudi. Bukan proyek Mas Ferry."
"Tapi saya pemilik tanahnya. Dan pemilik proyeknya. Jadi, dengan kata lain, saya adalah bos dari Mas Rudi. Dan Mas Rudi adalah bos dari toko ini."
Pak Bondan menghela napas. "Jadi, Mas Ferry ke sini mau apa?"
Ferry berjalan masuk ke area toko.
Ia memandang sekeliling.
Memandang tumpukan pasir, semen, batu bata, dan kayu.
Memandang Arga yang masih berdiri kaku di atas tumpukan pasir.
"Ini toko yang bagus," katanya. "Terawat. Bersih. Materialnya berkualitas. Saya suka."
"Terima kasih."
"Tapi ada satu hal yang tidak saya suka."
"Apa itu?"
Ferry menunjuk Arga.
"Dia."
KONFRONTASI
Pak Bondan berdiri. "Dia karyawan saya. Arga namanya. Orang baik. Rajin. Jujur."
"Orang baik?" Ferry tertawa kecil. "Orang baik yang memanjat pagar rumah orang tengah malam? Orang baik yang mau mencuri calon istri orang? Orang baik yang bersekongkol untuk menghancurkan nama baik keluarga?"
"Apa?"
Tanya Pak Bondan pada Arga.
Arga turun dari tumpukan pasir.
Ia berdiri di depan Ferry.
Jarak mereka hanya satu meter.
Mata mereka bertemu.
Arga tidak gentar.
"Saya tidak mencuri apa pun, Mas Ferry. Sekar bukan milik Mas Ferry. Sekar manusia. Sekar punya hak memilih."
"Sekar sudah dijodohkan dengan saya. Orang tuanya sudah setuju. Semuanya sudah diatur."
"Perjodohan paksa adalah kejahatan."
Ferry tertawa lagi. "Kejahatan? Hukum mana yang melarang? Di Indonesia, kawin paksa masih terjadi setiap hari. Tidak ada yang peduli. Tidak ada yang berani melapor."
"Kami akan melapor. Kami sudah punya bukti."
"Bukti?" Ferry mendekat. Ia berdiri tepat di depan Arga. Hanya setengah meter. "Kamu pikir LBH akan berani melawan saya? Kamu pikir media akan berani memberitakan saya? Kamu pikir polisi akan berani menahan saya?"
"Kami akan mencoba."
"Mencoba?" Ferry menepuk, nepuk bahu Arga. Pelan. Nyaris seperti sayang. Tapi nada bicaranya penuh ancaman. "Kamu anak desa. Kamu miskin. Kamu tidak punya pengaruh. Kamu tidak punya uang. Kamu tidak punya apa-apa. Lawan saya? Siapa kamu?"
"Saya Arga. Anak Sastro dan Sukmawati. Dari desa Wringinrejo. Saya tidak punya uang. Tidak punya pengaruh. Tidak punya apa, apa. Tapi saya punya nyali."
"Nyali?" Ferry mundur selangkah. Ia mengeluarkan saputangan dari saku jas. Menyeka keringat di dahinya, meskipun tidak berkeringat. "Kamu tahu, Arga, nyali tanpa strategi hanya akan membuatmu mati konyol."
"Saya tidak takut mati."
"Sebaiknya kamu takut. Karena kematian tidak selalu datang dalam bentuk ajal. Kematian juga bisa datang dalam bentuk kehilangan. Kehilangan pekerjaan. Kehilangan teman. Kehilangan keluarga. Kehilangan orang yang kamu cintai."
Arga mengepalkan tangannya.
"Jangan ancam saya."
"Bukan ancaman. Fakta."
PAK BONDAN BICARA
Pak Bondan yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara.
"Mas Ferry," katanya.
Ferry menoleh. "Ya."
"Saya tidak tahu urusan Mas Ferry dengan Arga. Saya tidak tahu urusan Mas Ferry dengan Sekar. Tapi satu hal yang saya tahu: Arga adalah karyawan saya. Di toko ini, saya yang berkuasa. Bukan Mas Ferry."
"Apakah Bapak berani melindungi anak ini? Padahal Bapak tahu, saya bisa menarik semua proyek saya dari toko Bapak. Saya bisa buat toko Bapak bangkrut dalam sebulan."
Pak Bondan tersenyum.
Senyum yang tidak kalah dingin dari senyum Ferry.
"Mas Ferry, toko ini sudah berdiri tiga puluh tahun. Sejak zaman bapak saya. Kami sudah melewati masa sulit. Krisis moneter. Gempa. Banjir. Kerusuhan. Pandemi. Dan kami masih berdiri."
"Tapi, "
"Tidak ada tapi. Silakan tarik proyek Mas Ferry. Saya tidak butuh proyek Mas Ferry. Saya punya pelanggan lain. Pelanggan setia. Pelanggan yang tidak main-main dengan hidup orang."
Ferry terdiam.
Ia memandang Pak Bondan.
Laki-laki tua itu tidak gentar.
Luar biasa, pikir Ferry. Orang kampung ini punya nyali lebih besar dari para eksekutif di perusahaanku.
"Baik," kata Ferry. "Saya hormati keberanian Bapak. Tapi ingat, saya tidak akan lupa dengan toko ini. Dan saya tidak akan lupa dengan Arga."
Ferry berbalik.
Ia berjalan ke mobilnya.
Sebelum masuk, ia menoleh.
"Arga."
Arga menatapnya.
"Kamu pikir kamu bisa melindungi Sekar? Kamu pikir kamu bisa melindungi teman, temanmu? Kamu pikir kamu bisa melindungi dirimu sendiri?"
"Saya akan berusaha."
"Usaha tidak cukup. Kamu butuh keajaiban."
Ferry masuk ke mobil.
Mesin menyala.
Mobil hitam itu melaju perlahan, meninggalkan toko, meninggalkan debu, meninggalkan ketegangan.
SETELAH KEPERGIAN FERRY
Pak Bondan duduk kembali di kursi plastik.
Wajahnya pucat.
Tangannya gemetar.
Ia mengeluarkan sebatang rokok, menyalakannya, mengisap dalam, dalam.
"Le," panggilnya.
"Iya, Pak."
"Kamu tahu risiko yang kamu hadapi?"
"Saya tahu, Pak."
"Kamu tahu Ferry bisa menghancurkan hidupmu?"
"Saya tahu, Pak."
"Kamu tetap mau?"
Arga memandang Pak Bondan.
Matanya basah.
Tapi suaranya tegas.
"Saya tetap mau, Pak. Karena Sekar lebih penting dari hidup saya."
Pak Bondan menghela napas.
Ia membuang puntung rokoknya.
"Kamu anak gila."
"Iya, Pak. Saya anak gila."
"Tapi saya suka keberanianmu."
"Terima kasih, Pak."
"Sekarang kerja. Jangan banyak melamun. Nanti gajimu saya potong."
Arga tersenyum.
Ia kembali mengangkat pasir.
KABAR KE TEMAN, TEMAN
Jam dua belas siang, Arga mengirim pesan singkat ke grup.
"Ferry datang ke toko. Ancaman gue. Ancaman toko. Kalian hati, hati."
Balasan berdatangan.
Guntur: "Dia mulai bergerak. Kita juga harus bergerak."
Faruq: "Tenang, Mas. Kita sudah siap."
Nisa: "LBH sudah setuju. Kita kumpulkan bukti besok."
Dimas: "Gue pantau terus rumahnya. Ada yang aneh."
Laras: "Arga, kita harus bertemu. Ada info penting."
Arga membalas: "Jam enam di kos."
PERTEMUAN MENDADAK
Jam enam sore, mereka berkumpul di kos.
Mbok Darmi menyuguhkan teh jahe dan pisang goreng.
Laras membuka map coklatnya.
"Ferry sudah tahu semua," katanya. "Dia punya mata-mata di antara kita."
"Mata-mata?" Faruq mengerutkan kening. "Siapa?"
"Kita belum tahu. Tapi yang jelas, dia tahu tentang rencana LBH. Dia tahu tentang fotoku di Taman Sari. Dia tahu tentang rencana penyelamatan di pohon jambu."
"Bagaimana mungkin?" tanya Nisa.
"Dia punya akses. Dia punya uang. Uang bisa membeli siapa saja. Termasuk orang-orang terdekat kita."
Suasana tegang.
Semua saling memandang.
"Kita tidak boleh saling curiga," kata Guntur. "Kita harus tetap solid."
"Setuju," kata Faruq. "Tapi kita juga harus waspada."
"Waspada tanpa curiga itu sulit," kata Dimas.
"Maka kita lakukan ini: setiap informasi penting, sampaikan secara lisan. Jangan lewat pesan singkat. Jangan lewat grup. Hanya bertatap muka."
"Setuju," kata Laras. "Saya akan atur jadwal pertemuan rahasia. Tempatnya berpindah-pindah. Waktunya tidak tetap."
LARAS BICARA
Setelah yang lain pulang, Laras memanggil Arga ke sudut.
"Arga," bisiknya.
"Iya."
"Saya punya informasi tentang keluarga Ferry."
"Informasi apa?"
"Ayah Ferry, Hendro Kencana, punya catatan kriminal. Penganiayaan istri. Korupsi lahan. Penyuapan pejabat. Semua ditutup-tutupi."
"Siapa yang bisa membuka?"
"Saya punya teman di lembaga anti korupsi. Mereka sudah mengumpulkan bukti sejak lama. Tapi belum berani mempublikasikan karena tekanan politik."
"Sekarang?"
"Sekarang mungkin sudah saatnya. Dengan kasus Sekar, kita bisa mengaitkan dengan praktik korupsi keluarga Ferry."
"Risiko?"
"Besar. Bisa dipenjara. Bisa dihabisi."
"Apakah kamu takut?"
Laras memandang Arga.
Matanya tajam.
"Ayah saya tidak takut. Kenapa saya harus takut?"
"Baik. Kita lanjutkan."
MALAM YANG MENENTUKAN
Jam sepuluh malam, Arga masuk ke kamar.
Ia membuka jendela.
Udara malam masuk dingin.
Ia memeluk bantal kecil dari kebaya Sekar.
"Sekar," bisiknya.
"Hari ini Ferry datang ke toko. Dia mengancamku. Mengancam Pak Bondan. Mengancam teman, teman."
Ia memejamkan mata.
"Aku tidak takut. Tapi aku khawatir. Khawatir mereka celaka karenaku."
Ia memeluk bantal itu.
"Tapi aku tidak akan menyerah. Karena kau lebih penting dari ketakutanku."
DI SISI LAIN
Di rumah mewah di Perumahan Mutiara Indah, Sekar duduk di kursi dekat jendela.
Ia memandang taman belakang.
Memandang pohon jambu.
Memandang langit yang gelap tanpa bintang.
"Arga," bisiknya.
"Aku tahu kau datang semalam. Aku lihat bayanganmu di balik pohon jambu. Aku ingin berteriak. Aku ingin melambai. Tapi ada orang di kamarku. Aku tidak bisa."
Air matanya jatuh.
"Arga, jangan menyerah. Aku akan menunggu. Sampai kau datang menjemputku."
BAB 15
SISI GELAP LARAS
Tiga minggu sudah Laras bergabung dalam tim pencarian Sekar. Tiga minggu penuh strategi, kecurigaan, pertemuan rahasia, dan pengintaian. Tiga minggu di mana Arga mulai menganggap Laras sebagai teman, bahkan sahabat, yang bisa diandalkan dalam suka dan duka.
Tapi malam ini, segalanya berubah.
Bukan karena Laras mengkhianati mereka. Bukan karena Laras ketahuan menjadi mata-mata Ferry. Bukan karena Laras menculik Sekar atau membocorkan rencana penyelamatan.
Tapi karena Arga menemukan sisi gelap Laras yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Sisi gelap yang membuatnya merinding.
Sisi gelap yang membuatnya bertanya, tanya: siapa sebenarnya perempuan ini?
Sisi gelap yang membuatnya sadar bahwa Laras bukan hanya aktivis, bukan hanya mahasiswa, bukan hanya mata-mata Mbah Jayarasa. Tapi juga sesuatu yang lebih, sesuatu yang berbahaya, sesuatu yang tidak dapat dikendalikan, sesuatu yang bisa menghancurkan mereka semua jika tidak dikelola dengan hati, hati.
PERTEMUAN DI KAMPUS
Hari Jumat malam, Laras mengajak Arga bertemu di kampus UGM. Bukan di perpustakaan, bukan di kantin, bukan di tempat umum yang biasa mereka gunakan untuk rapat. Tapi di sebuah ruangan bawah tanah fakultas Antropologi, ruangan yang tidak terdaftar dalam peta kampus, ruangan yang hanya diketahui oleh segelintir orang, ruangan yang digunakan untuk pertemuan rahasia organisasi mahasiswa bawah tanah.
"Apa tempat ini aman?" tanya Arga ketika Laras membukakan pintu.
"Lebih aman dari kos-kosanmu. Di sini tidak ada kamera CCTV. Tidak ada mata-mata. Tidak ada penyadap. Hanya kita."
Ruangan itu kecil. Empat meter kali empat meter. Dindingnya dari batu bata tanpa plester. Lantainya dari semen. Langit, langitnya rendah, hanya sekitar dua meter, dengan lampu bohlam sepuluh watt yang menyala redup. Di sudut ruangan, ada meja kayu panjang dengan dua kursi. Di atas meja, tumpukan dokumen, map, dan buku, buku tebal tentang antropologi hukum.
Arga duduk di salah satu kursi. Laras duduk di seberangnya. Jarak mereka hanya satu meter. Cukup dekat untuk saling melihat raut wajah, cukup jauh untuk tetap menjaga batas.
"Laras," panggil Arga.
"Iya."
"Kenapa kita harus bertemu di tempat ini? Ada apa?"
Laras menghela napas. Tangannya yang biasanya tegap dan penuh percaya diri, kini gemetar. Matanya yang biasanya tajam dan berapi, api, kini sayu, bahkan hampir menangis.
"Arga," katanya pelan, "saya mau cerita sesuatu. Sesuatu yang tidak pernah saya ceritakan pada siapa pun. Bukan pada Guntur. Bukan pada Faruq. Bukan pada Nisa. Bukan pada Dimas. Bahkan pada Mbah Jayarasa, saya hanya bercerita setengah-setengah."
"Sekarang Mbak mau cerita semuanya?"
"Sekarang saya mau cerita semuanya. Karena saya percaya pada kamu. Dan karena saya tidak bisa menyembunyikan ini lebih lama lagi, tidak setelah apa yang terjadi kemarin malam."
Arga menegang. "Apa yang terjadi kemarin malam?"
Laras tidak menjawab langsung. Ia berdiri, berjalan ke sudut ruangan, membuka sebuah lemari besi kecil yang tersembunyi di balik tumpukan kardus. Ia memasukkan kode, membuka pintu lemari, mengeluarkan sebuah kotak kayu hitam.
Kotak itu tidak besar, sekitar tiga puluh sentimeter kali dua puluh sentimeter. Permukaannya halus, dipoles dengan lilin, berukirkan simbol, simbol yang tidak Arga kenali. Ada gembok kecil di bagian depan, dengan kunci berbentuk unik, seperti salib, tapi tidak persis.
Laras membuka kotak itu dengan kunci yang tergantung di lehernya, tersembunyi di balik kalung perak yang tidak pernah ia lepaskan.
Di dalam kotak: sebuah pisau.
Bukan pisau biasa.
Pisau belati dengan gagang dari tulang-tulang manusia, kata Laras dan bilah dari besi hitam yang berkilat aneh di bawah cahaya lampu redup. Pada bilahnya terukir aksara Jawa kuno, aksara yang bahkan Arga yang bisa membaca huruf Jawa tidak sepenuhnya memahaminya.
"Ini pusaka keluarga," kata Laras. "Dari buyut saya. Dia dulu seorang panglima perang di Keraton. Tugasnya: membunuh musuh-musuh kerajaan secara diam, diam."
"Membunuh?" Arga merinding.
"Iya. Membunuh. Tanpa pengadilan. Tanpa vonis. Tanpa ampun."
"Lalu?"
"Pisau ini digunakan untuk membunuh lebih dari seratus orang. Musuh kerajaan. Pengkhianat. Mata-mata. Semua tewas oleh pisau ini."
Arga menelan ludah. "Kenapa Mbak menyimpan ini?"
Laras menatap Arga. Matanya yang tadi sayu kini berubah, menjadi gelap, kosong, seperti tidak ada jiwa di baliknya.
"Karena, Arga... saya sudah menggunakannya."
KEJADIAN KEMARIN MALAM
Malam sebelumnya, sekitar pukul dua dini hari, Laras sedang berjalan sendirian di sekitar perumahan Mutiara Indah. Tugasnya malam itu adalah memantau aktivitas satpam dan preman bayaran Ferry, mmencari celah untuk rencana penyelamatan kedua yang akan dilakukan akhir pekan ini.
Tapi tiba, tiba, dua orang laki, laki mendekatinya dari arah belakang.
Mereka besar. Tinggi. Berotot. Wajah mereka tertutup masker kain hitam. Di tangan mereka, pentungan dan pisau lipat.
"Hei, cewek," kata salah satu dari mereka. "Kamu Laras?"
"Siapa yang bertanya?" jawab Laras tenang.
"Kami utusan Bos Ferry. Bos ingin kamu berhenti ikut campur urusan dia. Kalau tidak, kamu dan teman, temanmu akan celaka."
"Apakah itu ancaman?"
"Bukan ancaman. Fakta."
Laras tersenyum. Senyum yang tidak wajar. Senyum yang membuat kedua preman itu merinding.
"Kalian tahu," katanya, "saya sudah lama tidak merasakan sensasi ini."
"Sensasi apa?"
"Sensasi... membunuh."
Sebelum kedua preman itu sempat bereaksi, Laras sudah bergerak.
Cepat.
Lebih cepat dari yang mereka kira.
Ia menusukkan pisau belati hitam itu ke perut preman pertama. Sekali tusuk. Dua tusuk. Tiga tusuk. Preman itu jatuh, tidak bergerak.
Preman kedua berusaha melarikan diri, tapi Laras lebih cepat. Ia mengejar, menjatuhkan, lalu menusuk bagian dada.
Empat tusuk.
Lima tusuk.
Enam tusuk.
Preman kedua tewas di tempat.
Laras berdiri di antara dua mayat.
Ia tidak gemetar.
Ia tidak menyesal.
Ia hanya memandang langit malam yang gelap, dan berbisik: "Satu untuk ayah. Satu lagi untuk semua korban Ferry."
SETELAH KEJADIAN
"Selesai," kata Laras datar pada Arga.
Arga terdiam. Wajahnya pucat. Tangannya gemetar. Ia tidak tahu harus berkata apa.
Dua orang tewas.
Dibunuh.
Oleh Laras.
Perempuan yang selama ini ia kenal sebagai aktivis kampus, mahasiswa berprestasi, teman baik Nisa, dan mata-mata Mbah Jayarasa.
"Kenapa?" bisik Arga akhirnya.
"Karena mereka mengancamku. Mengancam ayahku. Mengancam kalian."
"Tidak ada cara lain? Melaporkan ke polisi? Meminta perlindungan?"
Laras tertawa. Tawa pahit yang tidak sampai ke mata.
"Polisi? enggak. Ferry punya kenalan jaksa. Ferry punya kenalan hakim. Lapor polisi sama saja bunuh diri."
"Tapi membunuh juga bukan solusi."
"Bukan solusi. Tapi itu satu, satunya cara yang saya tahu untuk melindungi orang, orang yang saya cintai."
Laras menutup kotak kayu hitam itu.
Ia memasukkannya kembali ke lemari besi.
Ia mengunci lemari.
Ia duduk kembali di kursi seberang Arga.
"Sekarang kamu tahu sisi gelap saya, Arga. Kamu tahu bahwa saya bukan hanya aktivis. Bukan hanya mahasiswa. Bukan hanya mata-mata. Saya juga algojo. Algojo yang tidak segan, segan membunuh jika diperlukan."
"Apakah Mbah Jayarasa tahu?"
"Tidak. Mbah Jayarasa hanya tahu bahwa saya bisa diandalkan. Dia tidak tahu detail."
"Kenapa Mbak tidak cerita padanya?"
"Karena Mbah Jayarasa orang baik. Orang baik tidak akan merestui pembunuhan. Tapi saya bukan orang baik. Saya orang yang terluka. Dan orang yang terluka, kadang, melakukan hal-hal yang tidak bisa dimengerti oleh orang baik."
LARAS BERCERITA TENTANG MASA LALU
Setelah keheningan yang lama, Laras mulai bercerita.
Bukan tentang pisau. Bukan tentang pembunuhan. Tapi tentang masa lalunya, masa lalu yang kelam, yang membentuknya menjadi seperti sekarang.
"Ayah saya, Marto, adalah mandor perkebunan kelapa sawit milik keluarga Ferry. Dia bekerja di sana selama dua puluh tahun. Dua puluh tahun tanpa kenaikan gaji. Dua puluh tahun tanpa jaminan kesehatan. Dua puluh tahun tanpa hari libur."
"Suatu hari, ayah saya jatuh dari pohon kelapa. Kakinya patah. Tulangnya remuk. Dia tidak bisa bekerja lagi. Ferry memecatnya. Tanpa pesangon. Tanpa kompensasi. Tanpa apa, apa."
"Kami miskin. Keluarga saya miskin. Tidak punya tabungan. Tidak punya sawah. Tidak punya apa, apa. Ibu saya menjual kue keliling kampung. Saya putus sekolah karena tidak punya uang untuk bayar SPP."
"Ayah saya depresi. Setiap malam dia menangis. Setiap malam dia bilang, 'Laras, maafkan ayah. Ayah tidak bisa memberi apa-apa untukmu. Ayah gagal.'"
"Suatu malam, ketika saya berusia lima belas tahun, ayah saya gantung diri. Di belakang rumah. Di pohon jambu yang sama tempat kami biasa bermain ketika saya masih kecil."
Air mata Laras jatuh.
Untuk pertama kalinya, Arga melihat Laras menangis.
"Sejak itu, saya bersumpah. Saya akan balas dendam pada keluarga Ferry. Saya akan hancurkan mereka. Dengan cara apa pun. Dengan pisau ini. Dengan tangan saya sendiri."
ARGA BICARA
Arga memandang Laras.
Perempuan di depannya itu bukan lagi aktivis kampus yang ceria, bukan lagi mahasiswa berprestasi yang percaya diri, bukan lagi teman baik Nisa yang suka tertawa.
Tapi anak kecil yang kehilangan ayah.
Tapi anak perempuan yang tumbuh dalam kemiskinan dan keputusasaan.
Tapi korban kekejaman sistem yang membiarkan orang kaya semakin kaya dan orang miskin semakin menderita.
"Laras," panggil Arga pelan.
Laras mengangkat wajahnya. Pipinya basah. Matanya merah.
"Saya tidak bisa menyalahkan Mbak. Saya tidak bisa menghakimi Mbak. Saya tidak bisa mengatakan bahwa apa yang Mbak lakukan benar atau salah."
"Lalu?"
"Tapi saya bisa mengatakan satu hal."
"Apa?
"Mbak tidak sendirian. Saya di sini. Guntur di sini. Faruq di sini. Nisa di sini. Dimas di sini. Kita akan hancurkan Ferry bersama. Tanpa pisau. Tanpa darah. Dengan hukum. Dengan keadilan."
Laras tersenyum.
Senyum yang aneh, campuran antara lega, sedih, dan skeptis.
"Kamu orang baik, Arga. Saya iri."
"Saya tidak baik. Saya hanya tidak ingin ada yang mati."
PERTEMUAN DENGAN GUNTUR
Setelah dari ruangan bawah tanah, Arga dan Laras berjalan ke kantin fakultas filsafat. Guntur sudah menunggu di sana.
"Akhirnya kalian datang," sapa Guntur. "Kopi pesanan saya sudah dingin."
"Maaf, ada urusan," kata Arga.
Laras duduk di samping Guntur.
Guntur langsung menatap wajah Laras yang masih sembab.
"Kamu nangis?"
"Sedikit."
"Kenapa?"
"Masalah keluarga."
"Cerita."
"Tidak usah."
Guntur tidak memaksa. Ia hanya memegang tangan Laras. Pelan. Lembut.
"Laras," katanya.
"Iya."
"Kamu tidak sendirian. Aku di sini."
Laras menatap Guntur. Laki-laki sinis yang jarang menunjukkan perasaan. Tapi kali ini, matanya jujur.
"Terima kasih, Guntur."
"Jangan makasih. Nanti saya minta traktir."
Laras tersenyum. "Iya. Kapan saja."
MALAM DI KOS
Jam sebelas malam, Arga pulang ke kos.
Ia tidak langsung tidur. Ia duduk di dipan bambu, memeluk bantal kebaya Sekar, memandang langit, langit kamar yang gelap.
Pikirannya kacau.
Laras membunuh.
Laras punya pisau pusaka.
Laras punya masa lalu kelam.
Laras berbahaya, pikir Arga. Tapi Laras juga korban.
Ia membuka peta usang pemberian Mbah Jayarasa.
Ia memandang lingkaran merah.
"Di sini, dia pernah menangis."
"Mbah," bisik Arga, "apa yang harus saya lakukan? Laras pembunuh. Tapi Laras juga teman. Saya tidak bisa melaporkannya ke polisi. Tapi saya juga tidak bisa membiarkannya terus membunuh."
Peta itu tidak menjawab.
Hanya suara jangkrik dari selokan.
Hanya suara klakson dari kejauhan.
Arga memejamkan mata.
Bayangan Mbah Jayarasa muncul.
"Le," bisik bayangan itu. "Jangan menghakimi. Jangan membenarkan. Jangan memaafkan. Cukup pahami. Karena pemahaman adalah awal dari penyembuhan."
Arga membuka mata.
Ia tidak tahu apakah itu suara Mbah Jayarasa atau suara hatinya sendiri.
Tapi ia memilih untuk percaya.
KEPUTUSAN ARGA
Keesokan paginya, Arga mengumpulkan semua teman-temannya di kos.
Guntur. Faruq. Nisa. Dimas.
Dan Laras.
Mereka duduk di halaman kos. Mbok Darmi menyuguhkan teh jahe dan pisang goreng, seperti biasa.
"Semua sudah saya ceritakan pada Guntur tadi malam," kata Arga. "Tentang Laras. Tentang masa lalunya. Tentang... apa yang terjadi kemarin."
Guntur mengangguk. Wajahnya serius.
"Aku sudah tahu. Aku tidak kaget. Aku sudah curiga sejak lama kalau Laras punya sisi gelap."
"Kenapa tidak bilang padaku?" tanya Faruq.
"Karena bukan urusanku. Karena Laras tidak menggangguku. Karena Laras temanku."
Nisa memegang tangan Laras. "Kamu tidak sendiri, Laras."
Dimas mengangguk. "Gue juga dukung."
Laras menunduk. Air matanya jatuh lagi.
"Terima kasih, teman, teman," bisiknya. "Saya tidak pantas."
"Kamu pantas," kata Guntur. "Semua orang pantas mendapat kesempatan kedua."
RENCANA KE DEPAN
Setelah suasana sedikit reda, mereka berdiskusi tentang rencana ke depan.
"Laras," kata Guntur, "aku tidak akan melaporkanmu ke polisi. Tapi kamu harus berjanji. Tidak akan ada lagi pembunuhan."
Laras mengangguk. "Aku berjanji."
"Kita akan selesaikan masalah Ferry dengan hukum. Bukan dengan darah."
"Setuju."
"Kita akan kumpulkan bukti. Kita akan bawa ke LBH. Kita akan bawa ke media. Kita akan bawa ke komnas perempuan. Kita akan buat tekanan publik."
"Setuju," kata semua.
"Tapi kita juga harus waspada. Ferry punya mata-mata. Ferry punya preman. Ferry punya polisi. Kita harus bergerak cepat dan hati, hati."
"Setuju."
BAB 16
RAHASIA MASA LALU GUNTUR
Tiga hari setelah Laras mengakui sisi gelapnya tentang pisau pusaka dan dua preman tewas di tangannya, suasana di antara anggota tim berubah. Bukan menjadi dingin atau canggung, tapi menjadi lebih hati, hati, lebih waspada, lebih sadar bahwa setiap orang membawa rahasia yang mungkin suatu saat meledak.
Tapi dari semua orang, Guntur justru yang paling tenang.
Ia tetap sinis. Tetap suka merokok. Tetap minum kopi hitam pahit tanpa gula. Tetap berbicara dengan nada datar yang kadang membuat orang salah paham.
Tapi Arga melihat ada sesuatu yang berbeda di matanya akhir, akhir ini.
Mata Guntur yang biasanya dingin dan penuh teka, teki, kini kadang sayu. Kadang kosong. Kadang seperti sedang menatap sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain, sesuatu di masa lalu yang tidak pernah benar-benar pergi.
Dan malam ini, saat Arga tidak sengaja menemukan Guntur sendirian di atap kos pada pukul dua dini hari, semua keanehan itu akhirnya terungkap.
MALAM DI ATAP KOS
Arga tidak bisa tidur. Pikirannya masih kacau oleh pengakuan Laras tentang pisau dan pembunuhan. Ia keluar kamar, berjalan ke halaman, lalu tanpa sadar memanjat pohon jambu menuju atap kos.
Di sana, Guntur sudah duduk.
Sendirian.
Tanpa rokok.
Tanpa kopi.
Tanpa buku.
Hanya duduk, memandang langit malam yang dipenuhi bintang, pemandangan langka di kota sebesar Jogja.
"Guntur?" sapa Arga pelan.
Guntur menoleh. Ia tidak terkejut. Seolah sudah tahu Arga akan datang.
"Arga. Tidak bisa tidur?"
"Iya. Kamu juga?"
"Sudah tiga malam."
"Kenapa?"
Guntur tidak menjawab. Ia menepuk genting di sampingnya. Arga duduk.
Mereka berdua memandang langit. Bintang, bintang berkerlap, kerlip. Bulan sabit tipis menggantung rendah di ufuk barat.
"Guntur," panggil Arga lagi.
"Iya."
"Aku mau tanya sesuatu."
"Tanya."
"Kenapa kamu membantu kami? Mencari Sekar. Melawan Ferry. Kenapa?"
Guntur tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata.
"Karena aku punya hutang budi pada seseorang."
"Siapa?"
"Bukan siapa-siapa."
Arga mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
Guntur menghela napas panjang.
Ia mengeluarkan sebatang rokok dari saku kemejanya, menyalakannya, mengisap dalam-dalam. Asapnya mengepul ke udara malam.
"Arga, aku tidak pernah cerita tentang masa laluku, kan?"
"Tidak pernah."
"Karena tidak ada yang menarik. Hanya seorang anak desa dari timur Jawa yang merantau ke Jogja untuk kuliah, lalu menjadi sinis karena kecewa dengan dunia."
"Tapi itu tidak menjelaskan kenapa kamu membantu kami."
Guntur membuang puntung rokoknya. Ia memandang Arga.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Arga melihat Guntur menangis.
GUNTUR BERCERITA
"Dulu, ketika aku masih duduk di bangku SMA," Guntur mulai, "aku punya sahabat. Namanya Rini. Perempuan. Usia sama. Sebaya. Sekelas."
"Dia cantik? pintar?"
"Dia biasa saja. Tidak cantik-cantik amat. Tidak pintar-pintar amat. Tapi dia baik. Sangat baik. Baik sampai-sampai dia rela mengorbankan apa pun demi kebahagiaan orang yang dia cintai."
"Kamu mencintainya?"
Guntur tidak menjawab langsung. Ia mengeluarkan sebatang rokok lagi, menyalakannya, mengisap.
"Aku tidak tahu. Waktu itu, aku masih bingung dengan perasaanku. Tapi yang aku tahu, aku tidak ingin dia menikah dengan laki-laki lain."
"Lalu?"
"Rini dijodohkan. Dengan laki, laki kaya raya. Anak saudagar batik terkenal di kotaku. Orang tuanya berhutang banyak pada saudagar itu. Perjodohan adalah cara mereka melunasi hutang."
Arga terkesiap. "Sama seperti Sekar?"
"Sama persis."
"Lalu apa yang terjadi?"
Guntur mengisap rokoknya lebih dalam. Asapnya mengepul deras. Tangannya gemetar.
"Aku mencoba melawan. Aku coba bicara pada orang tua Rini. Mereka tidak peduli. Aku coba bicara pada saudagar itu. Dia malah mengancamku. Aku coba membawa Rini kabur. Dia tidak mau."
"Kenapa?"
"Karena dia takut. Takut orang tuanya celaka. Takut saudagar itu menyakiti keluarganya."
"Lalu?"
Guntur membuang puntung rokoknya. Ia memejamkan mata. Air matanya jatuh.
"Rini menikah. Aku tidak diundang. Tapi aku datang. Aku berdiri di depan gedung, di tengah hujan, menonton mobil pengantin lewat di depanku."
"Rini melambai padaku dari balik kaca. Tapi aku tidak bisa melihat wajahnya karena kacanya gelap. Yang aku lihat hanyalah bayangan."
"Aku berteriak. Aku memanggil namanya. Tapi mobil itu tetap melaju. Semakin jauh. Semakin kecil. Sampai akhirnya lenyap di tikungan."
"Seperti Sekar yang pergi dari gerbang desa?"
Guntur mengangguk. "Seperti itu."
TIGA BULAN SETELAH PERNIKAHAN
"Tiga bulan setelah pernikahan," Guntur melanjutkan, "Rini bunuh diri."
Arga terkesiap. "Apa?"
"Bunuh diri. Dia loncat dari lantai tiga rumah suaminya. Tidak ada yang tahu persis kenapa. Katanya depresi. Katanya dianiaya. Katanya tidak tahan hidup dalam tekanan."
"Tapi tidak ada yang mau menyelidiki. Keluarga suaminya kaya. Polisi tutup mata. Media diam. Semua orang takut.
"Kamu kecewa?"
"Aku marah. Aku marah pada sistem. Pada hukum. Pada polisi. Pada pengadilan. Pada semua yang membiarkan ketidakadilan terjadi."
"Tapi kamu tidak bisa berbuat apa, apa?"
"Aku tidak bisa. Aku hanya anak SMA. Tidak punya uang. Tidak punya kuasa. Tidak punya koneksi. Tidak punya apa, apa."
"Lalu kamu ke Jogja?"
"Aku ke Jogja. Kuliah filsafat. Karena filsafat mengajarkanku bahwa hidup tidak selalu adil. Bahwa penderitaan adalah bagian dari eksistensi. Bahwa kita harus menerima absurditas, bukan melawannya."
"Tapi itu tidak menyembuhkan lukamu?"
Guntur tersenyum pahit. "Luka tidak pernah sembuh. Luka hanya berubah bentuk. Dari sakit fisik menjadi sakit batin. Dari air mata menjadi sinisme."
GUNTUR DAN SEKAR
"Ketika Nisa bercerita tentang Sekar," Guntur melanjutkan, "aku langsung teringat pada Rini. Gadis desa. Dijodohkan paksa. Tidak punya suara. Tidak punya pilihan."
"Apakah itu sebabnya kamu membantu?"
"Iya. Aku tidak ingin Rini kedua terjadi. Aku tidak ingin Sekar mengalami nasib yang sama. Aku tidak ingin melihat Arga menjadi seperti aku dulu, hancur, pahit, dan kehilangan harapan."
"Apakah aku berhasil?"
Guntur menatap Arga. Matanya basah.
"Kamu berhasil membuatku percaya bahwa cinta sejati itu ada. Bahwa perjuangan itu berarti. Bahwa harapan tidak selalu sia, sia."
"Terima kasih, Guntur."
"Jangan berterima kasih. Saya tidak melakukan ini untukmu. Saya melakukan ini untuk Rini."
FOTO RINI
Guntur mengeluarkan ponselnya. Ia membuka galeri foto, scrolling ke bawah, lalu menunjukkan satu foto pada Arga.
Foto seorang perempuan. Usia sekitar tujuh belas tahun. Wajahnya bulat. Kulitnya putih. Rambutnya panjang, diikat kuda poni. Matanya sipit, tapi jernih. Ia tersenyum,senyum yang tulus, senyum yang membuat orang yang melihatnya ikut bahagia.
"Ini Rini," kata Guntur.
"Cantik," kata Arga.
"Dia cantik. Tapi bukan hanya itu. Dia baik. Dia pintar. Dia rajin. Dia suka membantu orang. Dia ingin jadi dokter. Dia ingin mengabdi pada masyarakat."
"Lalu?"
"Lalu semua itu sirna. Karena uang. Karena utang. Karena orang tuanya yang bego."
"Jangan salahkan orang tuanya. Mungkin mereka juga korban."
"Mereka bego," ulang Guntur. "Mereka lebih memilih uang daripada kebahagiaan anaknya. Mereka lebih memilih status daripada nyawa anaknya."
Arga tidak bisa membantah.
Ia hanya memandang foto Rini.
Gadis yang mati muda.
Gadis yang bunuh diri.
Gadis yang menjadi hantu dalam hati Guntur setiap malam.
RAHASIA YANG TERSIMPAN
"Selama ini, aku menyimpan rahasia ini sendirian," kata Guntur. "Tidak ada yang tahu. Bukan Faruq. Bukan Nisa. Bukan Dimas. Bukan siapa pun."
"Kenapa baru sekarang?"
"Karena Laras mengaku punya pisau dan dua mayat. Karena aku sadar bahwa setiap orang punya sisi gelap. Dan sisi gelap tidak akan pernah hilang jika tidak diakui."
"Maka sekarang kamu mengaku?"
"Sekarang aku mengaku. Bukan untuk menghakimi Laras. Tapi untuk menunjukkan bahwa aku juga punya luka. Aku juga punya dendam. Aku juga pernah ingin membunuh."
"Kamu ingin membunuh siapa?"
"Suami Rini. Orang tua Rini. Saudagar itu. Semua yang terlibat."
"Kenapa tidak?"
"Karena Rini bukan tipe orang yang menginginkan balas dendam. Rini baik. Rini penyayang. Rini pasti tersiksa jika melihatku menjadi pembunuh."
"Maka kamu memilih kuliah filsafat?"
"Aku memilih kuliah filsafat. Bukan untuk melupakan Rini. Tapi untuk memahami kenapa dunia ini begini kejam. Untuk mencari makna di tengah penderitaan. Untuk belajar menerima bahwa hidup tidak selalu adil."
"Apakah kau menemukan jawabannya?"
Guntur menatap langit.
Bintang, bintang berkerlap, kerlip.
"Aku belum menemukan jawaban. Tapi aku tidak berhenti mencari."
PAGI DI KOS
Keesokan paginya, Arga terbangun lebih lambat dari biasanya.
Matahari sudah tinggi. Burung, burung berkicau riang di pohon mangga depan kos.
Ia keluar kamar. Di halaman, semua temannya sudah berkumpul. Guntur, Faruq, Nisa, Dimas, dan Laras.
"Mas Arga bangun kesiangan!" seru Faruq.
"Maaf. Tidak bisa tidur semalaman."
"Karena apa?"
"Mikir."
"Mikir apa?"
"Banyak."
Guntur tersenyum. Ia mengangguk pada Arga, isyarat bahwa rahasia mereka berdua tetap aman.
"Kita sarapan dulu," kata Nisa. "Saya beli nasi goreng."
"Pesenin yang pedas!" teriak Dimas.
"Setuju!" teriak Faruq.
Mereka makan bersama. Tertawa bersama. Bercerita bersama.
Tapi di antara tawa dan canda, ada kesedihan yang mendalam.
Kesedihan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata, kata.
Kesedihan yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang pernah kehilangan.
MALAM DI KAMAR
Jam sepuluh malam, Arga masuk ke kamar.
Ia membuka jendela.
Udara malam masuk dingin.
Ia memeluk bantal kecil dari kebaya Sekar.
"Sekar," bisiknya.
"Malam ini, Guntur bercerita tentang Rini. Tentang sahabatnya yang dijodohkan paksa. Tentang Rini yang bunuh diri setelah menikah."
Ia memejamkan mata.
"Aku tidak ingin itu terjadi padamu. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."
Ia memeluk bantal itu.
"Karena kau bukan hanya cinta pertamaku. Kau adalah harapanku. Satu, satunya harapan yang tersisa."
BAB 17
MENCARI TITIK TERANG
Sejak malam Guntur membuka rahasia masa lalunya tentang Rini, sahabat yang dijodohkan paksa dan bunuh diri tiga bulan setelah menikah, suasana di antara tim berubah menjadi lebih serius. Bukan hanya karena mereka sekarang tahu bahwa Guntur membawa luka lama yang belum sembuh, tapi karena mereka sadar bahwa waktu semakin sempit.
Setiap hari yang berlalu tanpa tindakan adalah hari di mana Sekar semakin terperangkap dalam penderitaan.
Setiap hari yang berlalu tanpa kemajuan adalah hari di mana Ferry semakin berkuasa.
Setiap hari yang berlalu tanpa titik terang adalah hari di mana harapan perlahan memudar.
Tapi malam ini, setelah berminggu, minggu berada dalam kegelapan, akhirnya sebuah titik terang muncul.
Bukan dari arah yang mereka duga.
Bukan dari LBH yang dihubungi Nisa.
Bukan dari media yang dijanjikan Laras.
Bukan dari polisi yang katanya pro, rakyat.
Tapi dari sumber yang paling tidak terduga: seorang pembantu rumah tangga yang bekerja di rumah Ferry selama tiga tahun terakhir.
Namanya Mariyem.
TELEPON TENGAH MALAM
Jam satu dini hari, ponsel Arga bergetar keras di samping bantalnya.
Ia terbangun dengan kaget. Jantungnya berdebar kencang. Biasanya tidak ada yang menelepon tengah malam kecuali ada kabar buruk, kabar tentang Mbah Jayarasa, tentang ibunya, tentang Sekar.
"Ya?" jawabnya dengan suara serak.
"Mas Arga? Ini Laras. Maaf mengganggu jam segini. Tapi ini penting."
"Ada apa?"
"Saya baru dapat telepon dari seorang sumber. Namanya Mariyem. Pembantu rumah tangga di rumah Ferry. Dia mau bertemu dengan kita. Dia punya informasi penting tentang Sekar."
Arga duduk di dipan. Pikiran yang tadinya masih setengah tidur kini langsung segar.
"Informasi apa?"
"Dia tidak mau bilang lewat telepon. Katanya takut disadap. Dia minta kita datang ke rumahnya besok siang."
"Di mana?"
"Di kampungnya. Di utara kota. Jauh dari perumahan Mutiara."
"Apa ini aman?"
"Tidak tahu. Tapi kita tidak punya pilihan lain."
"Baik. Besok siang kita ke sana. Aku kabari yang lain."
"Jangan kabari semua. Cukup kamu, aku, dan Guntur. Semakin sedikit yang tahu, semakin aman."
"Siap."
PAGI YANG GELISAH
Arga tidak bisa tidur lagi setelah telepon itu.
Ia berbaring di dipan, memandang langit, langit kamar yang gelap, memikirkan Mariyem, pembantu rumah tangga yang bekerja di rumah Ferry.
Siapa dia?
Kenapa dia mau membantu?
Apa motifnya?
Apakah ini jebakan?
Ia tidak tahu.
Tapi ia harus mengambil risiko.
Jam enam pagi, ia sudah mandi.
Jam setengah tujuh, ia sudah sarapan nasi goreng buatan Mbok Darmi.
Jam tujuh, Guntur datang dengan motor bututnya.
"Ayo, arga," katanya. "Laras sudah menunggu di perempatan."
Mereka berangkat.
Perjalanan ke utara memakan waktu sekitar satu jam. Melewati jalanan macet, pasar tradisional, perumahan padat, hingga akhirnya sampai di sebuah kampung di pinggiran kota, kampung dengan rumah, rumah sederhana, jalan tanah becek, dan sungai kecil yang airnya keruh.
Laras sudah menunggu di depan sebuah warung kopi.
"Ikuti saya," katanya.
Mereka berjalan kaki menyusuri gang sempit, melewati rumah, rumah penduduk, sampai di sebuah rumah kecil berdinding bambu dan atap seng.
"Ini rumah Mariyem," kata Laras.
Ia mengetuk pintu.
Tiga kali.
Pelan.
"Bu Mariyem! Ini Laras!"
Pintu terbuka.
Seorang perempuan paruh baya berdiri di ambang pintu. Usianya sekitar empat puluh tahun. Wajahnya lelah, keriput lebih cepat dari usianya. Kulitnya gelap karena sering terpapar matahari. Ia memakai daster lusuh dan sandal jepit karet.
"Masuk," katanya pelan. "Jangan lama, lama. Takut ketahuan."
DI RUANG TAMU SEMPIT
Ruang tamu rumah Mariyem hanya berukuran dua meter kali dua meter. Hanya ada satu kursi kayu, satu dipan bambu, dan satu meja kecil dari triplek.
Mariyem duduk di dipan bambu. Arga, Guntur, dan Laras duduk di lantai beralas tikar pandan.
"Bu Mariyem," kata Laras, "ini Arga. Pacar Sekar. Ini Guntur. Teman kami."
Mariyem memandang Arga lama. Matanya berkaca, kaca.
"Kamu Arga?"
"Iya, Bu."
"Kamu yang dulu sering kirim surat untuk Sekar?"
"Iya, Bu."
"Surat-surat itu saya yang sembunyikan."
Arga terkesiap. "Apa?"
"Ferry menyuruh saya menyembunyikan surat-surat itu. Katanya, jangan sampai Sekar baca. Nanti dia kabur."
"Dari mana Bu Mariyem tahu surat-surat itu?"
"Saya yang mengambilnya dari kantor pos setiap minggu. Ferry punya perjanjian rahasia dengan kepala kantor pos. Semua surat untuk Sekar disita. Tidak pernah diteruskan."
Guntur mengepalkan tangannya. "Bajingan."
"Saya tahu," kata Mariyem. "Saya tahu Ferry bajingan. Tapi saya tidak bisa berbuat apa, apa. Saya cuma pembantu. Suami saya sudah meninggal. Anak saya tiga. Saya butuh pekerjaan."
"Tapi kenapa sekarang Bu Mariyem mau membantu?" tanya Laras.
Mariyem menunduk. Tangannya gemetar.
"Karena saya kasihan pada Sekar. Dia masih muda. Masih punya mimpi. Masih punya masa depan. Tidak pantas dia diperlakukan seperti itu."
Air mata Mariyem jatuh.
"Setiap malam, dia menangis. Setiap malam, dia memanggil nama Arga. Setiap malam, dia bilang, 'Bu Mariyem, tolong saya. Saya tidak tahan di sini.'"
"Tapi Bu Mariyem tidak bisa berbuat apa, apa?"
"Awalnya tidak. Tapi sekarang... sekarang saya punya bukti."
BUKTI DARI MARIYEM
Mariyem mengeluarkan sebuah amplop coklat dari bawah dipan.
Ia membukanya.
Isinya: puluhan lembar foto, rekaman suara dalam beberapa kaset kecil, dan sebuah buku catatan.
"Ini," katanya sambil menyerahkan foto, foto itu pada Arga.
Arga memandang foto, foto itu.
Foto Sekar duduk di sudut kamar, wajahnya pucat, matanya kosong.
Foto Sekar memeluk bantal, menangis.
Foto Sekar berdiri di balkon, memandang ke arah pohon jambu.
Foto Sekar tidur di lantai karena tidak kerasan di kasur.
Foto Sekar lebam di lengannya, bekas cubitan.
Foto Sekar pingsan di kamar mandi.
Darah Arga berhenti mengalir.
"Ferry," geramnya. "Apa yang dia lakukan pada Sekar?"
"Menyiksa," kata Mariyem datar. "Tidak secara fisik setiap hari. Tapi psikis. Setiap saat. Katanya, Sekar harus patuh. Katanya, Sekar harus mencintainya. Katanya, Sekar harus melupakan Mas Arga."
Guntur mengambil foto, foto itu. Diamatinya satu per satu.
"Ini bukti kuat," katanya. "Kekerasan dalam rumah tangga. Perjodohan paksa. Penyekapan. Bisa dibawa ke pengadilan."
"Tapi sampai di pengadilan, Ferry punya pengacara hebat," kata Laras.
"Kita tidak perlu sampai pengadilan. Kita cukup tekan dia. Dengan bukti, bukti ini, dia takut. Reputasinya hancur. Keluarganya malu. Bisnisnya terganggu."
REKAMAN SUARA
Mariyem mengeluarkan kaset, kaset kecil itu.
"Ini rekaman percakapan Ferry dengan orang tuanya. Dengan pengacaranya. Dengan preman-preman bayarannya."
"Rekaman ini bagaimana bisa Bu Mariyem dapatkan?" tanya Laras curiga.
"Saya pasang alat perekam di ruang kerja Ferry. Saya sembunyikan di bawah meja. Ferry tidak tahu."
"Risiko besar."
"Saya tahu. Tapi ini satu, satunya cara untuk mengungkap kejahatannya."
Salah satu kaset diputar menggunakan tape recorder kecil milik Mariyem.
Suara Ferry terdengar jelas.
"Pokoknya, Sekar harus menikah dengan saya. Saya tidak peduli dia cinta atau tidak. Yang penting status. Yang penting di mata publik, saya punya istri dari desa. Istri yang lugu. Istri yang tidak banyak tingkah."
"Tapi Mas Ferry, bagaimana kalau dia melawan?" suara orang tua Sekar.
"Beri dia obat. Supaya tenang. Saya sudah punya dokter langganan."
"Obat apa?"
"Obat penenang. Dosis tinggi. Setiap malam. Biar dia tidur. Biar tidak ribut."
Guntur mematikan tape recorder.
Wajahnya pucat.
"Ferry memberi Sekar obat penenang dosis tinggi?"
"Iya," kata Mariyem. "Setiap malam. Saya yang menyuruh minum. Saya tidak tega. Tapi Ferry mengancam akan memecat saya jika tidak patuh."
"Sejak kapan?" tanya Arga.
"Sejak tiga bulan lalu. Sekar semakin kurus. Kadang pingsan. Kadang bicara tidak jelas."
"Dokternya siapa?"
"Dokter langganan keluarga Ferry. Praktek di perumahan Mutiara. Namanya Dokter Raka."
BUKU CATATAN
Mariyem mengeluarkan buku catatan terakhir.
"Ini catatan harian saya. Setiap hari, saya menulis apa yang terjadi di rumah itu. Ferry marah-marah. Ferry memukul pembantu. Ferry menyiksa Sekar. Ferry bertemu dengan preman. Ferry bertemu dengan pejabat. Semua saya catat. Lengkap dengan tanggal dan jam."
Arga membolak, balik buku itu.
Tangannya gemetar.
Matanya basah.
15 Januari: Sekar tidak mau makan. Ferry marah. Dia pukul meja sampai pecah. Sekar menangis seharian.
3 Februari: Ferry bawa dokter Raka. Dokter beri suntikan pada Sekar. Sekar lemas. Tidak bisa bangun selama dua hari.
22 Maret: Sekar lolos ke balkon. Dia mau loncat. Saya tarik paksa. Ferry marah pada saya. Saya dilempari gelas.
*10 April: Sekar minta saya membelikan HP diam-diam. Saya belikan. Dia pakai untuk menghubungi seseorang. Saya tidak tahu siapa. Saya hanya disuruh mengambilkan di pos satpam.*
Arga berhenti di halaman itu.
Sekar minta membelikan HP.
Sekar menghubungi seseorang.
Siapa?
Apakah dia menghubungi aku?
Tapi nomor HP, ku tidak berubah sejak dari desa.
Kenapa aku tidak pernah mendapat telepon?
"Mariyem," panggil Arga.
"Iya, Mas."
"HP itu, sekarang di mana?"
"Masih pada Sekar. Dia simpan di balik bantal. Tapi tidak pernah bisa dipakai karena tidak ada sinyal. Rumah Ferry dijaga dengan alat peredam sinyal."
"Alat peredam sinyal?"
"Iya. Supaya Sekar tidak bisa menghubungi siapa pun. Supaya tidak ada yang bisa mendeteksi keberadaannya."
BUKTI YANG CUKUP
Setelah dua jam berbincang dengan Mariyem, Arga, Guntur, dan Laras pamit pulang.
Mereka membawa amplop coklat berisi foto, rekaman, dan buku catatan.
"Bu Mariyem," kata Arga sebelum pergi.
"Iya, Mas."
"Terima kasih. Saya tidak tahu harus membalas kebaikan Ibu."
"Tidak usah dibalas. Saya hanya ingin sekar bisa bebas. Saya hanya ingin dia bahagia."
"Ibu tidak takut pada Ferry?"
Mariyem tersenyum pahit.
"Saya sudah tidak punya apa-apa, Mas. Rumah ini. Anak, anak ini. Itu saja. Jika Ferry mau mengambilnya, ambillah. Yang penting dosa saya berkurang."
"Bu Mariyem..."
"Sudah, Mas. Pergi. Jangan lama, lama. Takut ketahuan."
Mereka keluar rumah.
Perjalanan pulang terasa lebih ringan.
Bukan karena masalah selesai. Tapi karena mereka akhirnya punya senjata untuk melawan.
PERTEMUAN DENGAN LBH
Sore harinya, mereka bertemu dengan pengacara LBH.
Namanya Bu Rina. Perempuan tangguh. Usia sekitar empat puluh tahun. Berpengalaman menangani kasus kekerasan dalam rumah tangga, perjodohan paksa, dan trafficking.
"Ini bukti yang kuat," kata Bu Rina setelah memeriksa foto, rekaman, dan catatan Mariyem.
"Apakah cukup untuk membawa Ferry ke pengadilan?" tanya Nisa.
"Bisa. Tapi prosesnya lama. Bisa berbulan, bulan. Bahkan bertahun, tahun."
"Kita tidak punya waktu lama. Ferry akan menikah dengan Sekar dalam waktu dekat."
"Maka kita gunakan tekanan publik. Kita sebarkan bukti-bukti ini ke media. Ke LSM. Ke Komnas Perempuan. Ke DPR. Biar publik tahu. Biar Ferry malu. Biar dia terpaksa melepaskan Sekar."
"Apakah itu bisa?"
"Bisa. Asalkan kita punya saksi yang berani bersaksi di depan umum."
"Mariyem?"
"Iya. Mariyem adalah kunci. Tanpa dia, bukti-bukti ini hanya barang mati."
MARIYEM DI ANTARA DUA PILIHAN
Malam itu, Arga menelepon Mariyem.
"Bu Mariyem, saya Arga."
"Iya, Mas."
"Bu Rina dari LBH membutuhkan Ibu sebagai saksi. Bersedia?"
Mariyem diam lama.
"Bu Mariyem?"
"Saya... takut, Mas. Ferry tahu di mana rumah saya. Dia tahu di mana anak-anak saya sekolah."
"Kita akan lindungi Ibu. Kita akan tempatkan Ibu dan anak, anak di rumah aman."
"Apakah itu cukup?"
"Kita akan berusaha sekuat tenaga."
Mariyem menangis.
"Mas Arga... saya tidak tahu harus memilih mana. Antara keselamatan anak-anak saya dan kebebasan Sekar."
"Bu Mariyem, saya tidak akan memaksa. Ibu yang memutuskan."
"Beri saya waktu, Mas. Sehari. Saya akan jawab besok."
"Baik, Bu."
KEPUTUSAN MARIYEM
Keesokan harinya, Mariyem menelepon Arga.
"Mas Arga, saya sudah memutuskan."
"Baik, Bu."
"Saya akan bersaksi."
Arga lega. "Terima kasih, Bu. Saya tidak tahu harus membalas..."
"Jangan balas apa, apa, Mas. Lakukan yang terbaik untuk Sekar. Itu balasan yang cukup."
Mariyem menutup telepon.
Arga memandang ponselnya.
Ia tersenyum.
Titik terang semakin dekat.
MALAM DI KAMAR
Jam sepuluh malam, Arga masuk ke kamar.
Ia membuka jendela.
Udara malam masuk dingin.
Ia memeluk bantal kecil dari kebaya Sekar.
"Sekar," bisiknya.
"Hari ini kita dapat titik terang. Mariyem, pembantumu, bersedia menjadi saksi. Dia punya bukti. Rekaman. Foto. Catatan harian."
Ia memejamkan mata.
"Kita akan selamatkan kamu, Sekar. Tidak lama lagi. Janji."
BAB 18
PENGKHIANATAN KECIL
Titik terang yang muncul dari Mariyem ternyata hanya berumur pendek.
Seperti lilin yang dinyalakan di tengah badai. Seperti bintang timur yang tertutup awan tepat sebelum fajar. Seperti harapan yang digenggam erat tapi tiba, tiba direbut oleh tangan tak terlihat.
Dua hari setelah pertemuan dengan Mariyem, penghianatan datang.
Bukan dari musuh.
Bukan dari luar.
Tapi dari dalam lingkaran terdekat mereka.
Dari seseorang yang selama ini mereka anggap teman.
Dari seseorang yang selama ini mereka percaya.
Dari seseorang yang selama ini ikut merencanakan penyelamatan Sekar.
Pengkhianat itu kecil.
Bukan tokoh besar.
Bukan dalang di balik layar.
Bukan musuh bebuyutan.
Tapi seorang perempuan muda dengan wajah polos dan senyum manis.
Seorang yang tidak pernah dicurigai siapa pun.
Seorang yang bahkan Arga anggap sebagai saudara.
Namanya Dewi.
DEWI YANG HILANG
Dewi, perempuan yang dulu membantu Arga mencari kos di hari pertamanya tiba di kota, sudah seminggu tidak muncul.
Tidak di terminal tempatnya biasa berjualan koran.
Tidak di kos-kosan tempatnya tinggal.
Tidak di toko roti tempatnya bekerja paruh waktu.
Tidak di kampus tempatnya kuliah.
Tidak di mana pun.
Ponselnya tidak aktif.
Media sosialnya tidak diperbarui.
Teman-temannya tidak tahu.
Arga mulai khawatir sejak tiga hari lalu. Tapi ia sibuk dengan bukti, bukti dari Mariyem dan persiapan pelaporan ke LBH. Ia tidak punya waktu untuk mencari Dewi.
"Laras," panggil Arga setelah rapat dengan Bu Rina.
"Iya."
"Apa kabar Dewi?"
Laras mengerutkan kening. "Dewi? Siapa itu?"
"Perempuan yang dulu membantu saya cari kos. Teman di terminal. Mbak kenal?"
"Oh, Dewi. Iya, saya kenal. Tapi sudah lama tidak bertemu. Kenapa?"
"Dia hilang. Seminggu tidak muncul."
Laras terdiam. Wajahnya berubah.
"Hilang?"
"Iya. Saya sudah tanya teman-temannya. Tidak ada yang tahu."
"Ini tidak baik, Arga. Bisa jadi Ferry yang, "
"Belum tentu. Jangan buru, buru menyimpulkan."
Tapi firasat Laras ternyata benar.
Dewi tidak hilang.
Dewi dijemput.
Bukan oleh Ferry.
Tapi oleh preman bayaran Ferry.
Dan Dewi tidak diculik.
Dewi pergi dengan sukarela.
TELEPON DARI DEWI
Malam itu, pukul sebelas, ponsel Arga berdering.
Nomor tidak dikenal.
Arga mengangkat.
"Halo?"
"Mas Arga." Suara perempuan. Lirih. Bergetar. Takut.
"Dewi?"
"Iya, Mas. Saya Dewi."
"Dewi! Kamu di mana? Seminggu kamu hilang! Kami khawatir!"
"Maaf, Mas. Saya... saya di rumah Ferry."
Darah Arga berhenti mengalir. "Apa? Di rumah Ferry?"
"Iya, Mas. Saya... saya dibayar untuk jadi mata-mata. Ferry menyuruh saya mengawasi Mas Arga dan teman, teman. Setiap hari. Setiap malam. Saya lapor semua."
Arga terdiam.
Pikirannya kosong.
Dadanya sesak.
Tangannya gemetar.
"Dewi," bisiknya. "Kamu... kamu mata-mata Ferry?"
"Maaf, Mas. Maaf. Saya terpaksa. Ferry mengancam akan mengusir saya dari kos. Mengancam akan memecat saya dari kerja. Mengancam akan melaporkan saya ke polisi karena hutang."
"Kenapa kamu tidak cerita pada kami?"
"Karena Ferry bilang, jika saya cerita, dia akan bunuh saya. Bunuh adik saya. Bunuh ibu saya."
"Kamu percaya?"
"Ferry orang berkuasa, Mas. Dia bisa melakukan apa saja."
Arga menutup mata.
Ia menghela napas panjang.
Dewi, perempuan yang membantunya hari pertama di kota, adalah mata-mata Ferry sejak awal.
Semua yang mereka rencanakan. Semua yang mereka diskusikan. Semua yang mereka rahasiakan.
Dewi tahu.
Dewi dengar.
Dewi lapor.
"Mas Arga," suara Dewi dari ujung sana.
"Iya."
"Ferry tahu semua. Tentang Mariyem. Tentang bukti, bukti. Tentang rencana ke LBH. Tentang rencana pers. Tentang semuanya."
"Kapan Ferry tahu?"
"Sejak awal. Saya lapor setiap hari."
"Termasuk tentang pertemuan kita dengan Mariyem?"
Termasuk. Saya yang memberi tahu Ferry jadwal dan lokasi pertemuan."
Arga membanting ponselnya ke dinding.
Ponsel itu hancur.
Pecah.
Berserakan di lantai.
SETELAH TELEPON
Guntur yang sedang duduk di halaman kos mendengar suara benturan dari kamar Arga.
Ia berlari.
"Arga! Ada apa?"
Arga duduk di dipan. Wajahnya pucat. Matanya kosong. Tangannya berdarah—terkena pecahan ponsel.
"Apa yang terjadi?" tanya Guntur.
Arga tidak menjawab.
Ia hanya memandang dinding.
Guntur mengambil handuk kecil, membalut tangan Arga.
"Kamu bicara, Arga. Jangan diam."
"Guntur... Dewi mata, mata Ferry."
"Apa?"
"Dewi. Perempuan yang dulu bantu saya cari kos. Dia mata-mata Ferry. Sejak awal. Dia lapor semua. Rencana kita. Bukti, bukti. Mariyem. Semua."
Guntur terdiam.
Ia melepaskan balutan di tangan Arga.
Ia berdiri.
Ia berjalan ke dinding.
Ia membanting kepalan tangannya ke tembok.
DUAR!
"BAJINGAN!" teriaknya.
Mbok Darmi yang sedang tidur terbangun. Ia keluar kamar, menghampiri anak, anak muda itu.
"Ada apa, Le? Berisik sekali."
"Maaf, Mbok," kata Guntur sambil mengatur napas. "Ada masalah."
"Masalah apa?"
"Teman kami mata-mata musuh."
Mbok Darmi menghela napas. Ia duduk di kursi plastik.
"Cerita."
Guntur bercerita.
Mbok Darmi mendengarkan.
Tak banyak komentar.
"Hidup itu persilangan," katanya setelah Guntur selesai. "Ada orang datang sebagai teman, lalu pergi sebagai musuh. Ada orang datang sebagai musuh, lalu pergi sebagai teman."
"Sekarang?" tanya Guntur.
"Sekarang, kumpulkan teman-temanmu. Diskusikan. Jangan bertindak sendiri."
PERTEMUAN DARURAT
Jam dua belas malam, semua dikumpulkan.
Guntur. Faruq. Nisa. Dimas. Laras.
Mereka duduk di halaman kos.
Lampu penerangan redup.
Suasana tegang.
Arga cerita tentang telepon dari Dewi. Tentang pengakuan Dewi sebagai mata-mata Ferry. Tentang semua rahasia yang sudah bocor.
Faruq membanting gelas ke tanah. Pecah.
"NISA! SIAPA LAGI YANG MATA-MATA?" teriaknya.
"Aku tidak tahu, Faruq," jawab Nisa tenang. "Tapi kita tidak boleh panik."
"PANIK? RAHASIA KITA BOCOR SEMUA! BUKTI KITA DIAMBIL FERRY! MARIYEM DALAM BAHAYA!"
"Iya, Faruq. Aku tahu. Tapi panik tidak akan menyelesaikan masalah."
Dimas yang biasanya ceria, kini diam. Wajahnya pucat. Tangannya gemetar.
"Dimas, kenapa?" tanya Guntur curiga.
"Saya... saya takut."
"Takut apa?"
"Takut saya juga mata-mata."
Semua menoleh.
"Apa maksudmu?" tanya Laras.
Dimas menunduk. Air matanya jatuh.
"Dewi... Dewi itu... pacar saya."
Ruangan hening.
"Dewi pacarmu?" tanya Guntur.
"Iya. Tapi kami sudah putus sebulan lalu. Saya tahu dia mata-mata Ferry. Saya tahu sejak awal. Tapi saya tidak tega melaporkannya."
"KAMU TAHU TAPI DIAM?" teriak Faruq.
"Maaf, Faruq. Maaf."
Guntur berdiri. Ia berjalan ke arah Dimas.
Dimas mendekat.
"Kamu kenapa, Guntur?"
Guntur mengepalkan tangan.
Dimas memejamkan mata.
Tapi pukulan itu tidak datang.
Guntur hanya menepuk bahu Dimas.
"Kamu bodoh, Dimas."
"Iya. Saya bodoh."
"Tapi kamu temanku. Kita seleseikan ini bersama."
MARIYEM DALAM BAHAYA
Laras yang sejak tadi diam, angkat bicara.
"Kita harus evakuasi Mariyem."
"Sekarang?" tanya Nisa.
"Besok pagi. Paling lambat. Ferry pasti sudah tahu. Dia mungkin sudah mengirim preman ke rumah Mariyem malam ini juga."
"Apa kita bisa?" tanya Dimas.
"Bisa. Saya punya teman di LSM yang punya rumah aman."
"Ayo kita bergerak," kata Arga.
Mereka berlima, Arga, Guntur, Faruq, Nisa, Laras, berangkat dengan dua motor.
Dimas disuruh tinggal. "Kamu jaga kos," kata Guntur. "Lapor kalau ada yang mencurigakan."
Dimas mengangguk.
RUMAH MARIYEM
Jam satu dini hari, mereka tiba di kampung Mariyem.
Rumah kecil berdinding bambu dan atap seng itu gelap.
Tidak ada lampu.
Tidak ada suara.
Arga mengetuk pintu.
"Bu Mariyem! Ini Arga!"
Tidak ada jawaban.
Ia mengetuk lagi. Lebih keras.
"Bu Mariyem!"
Masih tidak ada jawaban.
Guntur mendobrak pintu dengan bahunya.
Pintu terbuka.
Di dalam, kursi dan meja berserakan.
Kasur kosong.
Tidak ada Mariyem.
Tidak ada anak, anaknya.
"Ferry," geram Laras. "Dia sudah mengambil mereka."
Arga memandang sekeliling.
Di lantai, ada secarik kertas.
Ia mengambilnya.
Tulisan cetak komputer.
"Arga, kamu pikir kamu pintar? Kamu pikir bisa mengalahkan saya? Mariyem dan anak, anaknya sekarang dalam perlindungan saya. Mereka akan aman jika kamu berhenti mencari Sekar. Jika tidak, mereka akan hilang. Selamanya."
—F
Arga meremas kertas itu.
Ia berteriak.
"FERRY!!!"
Suaranya menggema di kampung yang sunyi.
Beberapa tetangga keluar rumah, mengintip, lalu masuk lagi.
Tidak ada yang berani membantu.
KEMBALI KE KOS
Perjalanan pulang terasa seperti perjalanan di neraka.
Motor melaju lambat.
Hujan mulai turun.
Gerimis.
Lalu deras.
Mereka basah kuyup.
Tidak ada yang bicara.
Tidak ada yang menangis.
Hanya diam.
Dan amarah.
Sampai di kos, jam tiga pagi.
Dimas masih terjaga. Wajahnya tegang.
"Bagaimana?" tanyanya.
"Gagal. Mariyem sudah diambil Ferry."
Dimas menunduk. "Ini salah saya."
"Bukan salahmu," kata Guntur. "Salah Dewi. Salah Ferry. Bukan salahmu."
"Tapi saya tahu Dewi mata-mata. Saya diam."
"Itu kesalahan. Tapi bukan yang terbesar."
"Apa yang terbesar?"
"Jika kamu menyerah sekarang."
PAGI YANG HUJAN
Matahari tidak muncul pagi itu.
Langit kelabu.
Hujan tidak berhenti.
Arga duduk di beranda kos, memandang air hujan yang jatuh dari atap seng.
Ia memegang peta usang pemberian Mbah Jayarasa.
Kertas itu basah oleh air hujan yang menerpa dari samping.
Tapi garis-garisnya tidak luntur.
Lingkaran merahnya tetap jelas.
"Di sini, dia pernah menangis," tulis Mbah Jayarasa.
"Apakah masih relevan, Mbah?" bisik Arga. "Apakah peta ini masih berguna?"
Ia tidak mendapat jawaban.
Tapi ia merasa ada tangan yang menepuk pundaknya.
Tangan tak terlihat.
Tangan Mbah Jayarasa.
"Le, peta itu tidak pernah salah. Hanya kita yang salah membaca."
Arga tersenyum.
Ia melipat peta itu.
Memasukkannya ke saku celana.
RAPAT DENGAN BU RINA
Siang itu, hujan reda.
Mereka mengadakan rapat darurat di kantor LBH.
Bu Rina sudah mendengar kabar tentang Mariyem.
"Ini pukulan telak," katanya. "Tanpa Mariyem, bukti kita lemah."
"Tidak ada saksi lain?" tanya Nisa.
"Mungkin ada. Tapi kita tidak punya waktu untuk mencari."
"Apa yang bisa kita lakukan?"
"Kita ubah strategi. Dari hukum ke media."
"Media?"
"Iya. Kita sebarkan cerita ini ke publik. Tanpa menyebut nama Mariyem. Tanpa bukti, bukti kuat. Cukup cerita."
"Apakah cukup?"
"Untuk membuat Ferry malu? Mungkin. Untuk membuat dia melepaskan Sekar? Tidak."
"Lalu?"
"Kita perlu bukti lain. Bukti yang tidak bisa dipalsukan. Bukti yang tidak tergantung pada satu saksi."
"Seperti apa?"
Bu Rina memandang Arga.
"Kamu. Kamu adalah bukti hidup. Kamu adalah korban. Kamu adalah saksi."
"Saya?"
"Iya. Kamu. Ferry mengancammu. Ferry menyiksamu secara psikis. Itu juga kejahatan."
"Apa bisa?"
"Bisa. Tapi risikonya besar. Kamu harus bersedia menjadi publik figur. Kamu harus bersedia tampil di media. Kamu harus bersedia diwawancarai, difoto, diekspos."
"Saya siap, Bu."
"Kamu tidak takut?"
"Saya lebih takut kehilangan Sekar."
PENGKHIANATAN KECIL BERGANDA
Malam itu, Dimas menerima pesan singkat dari Dewi.
"Maaf. Saya tidak bisa memilih. Ferry mengancam keluarga saya. Saya lari ke luar kota. Jangan cari saya. Jaga diri. —D"
Dimas menunjukkan pesan itu pada Arga.
"Kita kehilangan dua orang dalam satu hari," kata Guntur.
"Mariyem dan Dewi."
"Bukan kehilangan. Mereka diambil."
"Apakah beda?"
Guntur menghela napas. "Beda. Kehilangan berarti mereka pergi sendiri. Diambil berarti mereka bisa kembali."
"Bisakah?"
"Entahlah."
MALAM YANG BERAT
Jam sebelas malam, semua pulang.
Arga masuk ke kamar.
Ia membuka jendela.
Udara malam masih dingin.
Bau tanah basah karena hujan.
Ia memeluk bantal kecil dari kebaya Sekar.
"Sekar," bisiknya.
"Hari ini kita kehilangan Mariyem. Juga Dewi. Dewi ternyata mata-mata Ferry. Aku tidak tahu harus marah atau sedih."
Ia memejamkan mata.
"Tapi aku tidak akan menyerah. Aku tidak akan membiarkan Ferry menang."
Ia memeluk bantal itu.
"Karena kau menungguku. Aku harus kuat. Untukmu."
BAB 19
JEJAK DIGITAL
Setelah kehilangan Mariyem dan pengkhianatan Dewi, tim Arga berada di titik terendah. Bukti, bukti fisik yang mereka kumpulkan dengan susah payah, foto, rekaman, catatan harian, kini tidak lagi berguna tanpa saksi yang berani bersaksi. Ferry telah mengambil Mariyem dan anak, anaknya ke tempat yang tidak diketahui. Dewi telah melarikan diri ke luar kota. Dua orang yang bisa menjadi kunci pembebasan Sekar kini lenyap seperti ditelan bumi.
Tapi di tengah keputusasaan itu, ada satu harapan yang tersisa: jejak digital.
Dunia maya tidak pernah lupa.
Setiap pesan, setiap panggilan, setiap transaksi, setiap lokasi yang pernah dikunjungi, semua terekam di suatu tempat, di server, di cloud, di hard disk, di kartu SIM yang dibuang, di ponsel yang sudah tidak dipakai.
Dan Dimas, kurir yang kelihatannya biasa-biasa saja, yang hanya lulusan SMA, yang kerjanya keliling kota mengantar paket, ternyata memiliki keahlian yang tidak pernah ia ceritakan pada siapa pun.
Dunia digital adalah medan perangnya.
Dan malam ini, untuk pertama kalinya, ia membuka senjata rahasianya.
DIMAS YANG BERBEDA
Malam itu, sekitar pukul sembilan, Dimas mengirim pesan singkat ke grup.
"Kumpul di kos. Ada yang mau kutunjukkan."
Arga, Guntur, Faruq, Nisa, dan Laras datang. Mereka duduk di halaman kos seperti biasa. Mbok Darmi menyuguhkan teh jahe dan pisang goring, ritual yang sudah tidak pernah terlewat.
Tapi kali ini, Dimas tidak duduk di kursi plastik seperti biasanya. Ia berdiri di depan mereka, di bawah lampu penerangan yang redup. Wajahnya serius, lebih serius dari yang pernah mereka lihat. Matanya berapi, api. Tangannya memegang sebuah laptop tua berstiker Doraemon yang sudah mengelupas di beberapa bagian.
"Dimas," panggil Arga. "Kamu kenapa? Kok serius banget?"
Dimas tidak menjawab. Ia membuka laptopnya, menyalakannya, menunggu beberapa saat hingga layar menampilkan desktop dengan wallpaper foto motor bututnya.
"Mas Arga," katanya akhirnya.
"Iya."
"Selama ini, Mas Arga tahu saya kerja jadi kurir. Antar paket keliling kota. Kerja dari pagi sampai malam. Gaji pas-pasan. Hidup pas-pasan."
"Iya. Saya tahu."
"Tapi Mas Arga tidak tahu satu hal."
"Apa?"
Dimas menarik napas panjang. Jari, jarinya menari, nari di atas keyboard laptop dengan kecepatan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Tap, tap, tap, tap, tap.
Layar berganti.
Sebuah program muncul. Tampilannya gelap, hanya teks, teks hijau di latar hitam, seperti film, film hacker di Hollywood.
"Saya juga seorang...," Dimas mencari kata yang tepat. "...penggemar teknologi. Sebut saja begitu. Saya suka otak-atik sistem. Saya suka cari celah keamanan. Saya suka... membobol data."
"HACKER?" Faruq hampir berteriak.
Dimas mengangguk pelan. "Bukan hacker profesional. Saya belajar otodidak. Dari YouTube. Dari forum, forum bawah tanah. Dari teman-teman di dunia maya."
"Selama ini kamu diam?" tanya Guntur.
"Saya tidak pernah punya alasan untuk menggunakannya. Sampai sekarang."
"Dan sekarang?"
Dimas memandang Arga.
"Ferry pikir dia aman. Dia pikir dia bisa menghapus semua jejak. Dia pikir dia bisa menyembunyikan Sekar selamanya. Tapi dia lupa satu hal: di era digital, tidak ada yang benar, benar tersembunyi."
PONSEL KORBAN
"Mas Arga," kata Dimas sambil terus mengetik.
"Iya."
"Kamu ingat ponsel yang kamu banting ke dinding tiga hari lalu?"
"Iya. Banting. Hancur."
"Kamu buang?"
"Iya. Ke tempat sampah di belakang kos."
"Sisa, sisanya masih ada?"
"Entahlah. Sudah tiga hari. Mungkin sudah diambil pemulung."
Dimas berhenti mengetik. Ia memandang Arga dengan mata kecewa.
"Mas Arga, di era digital, ponsel yang hancur sekalipun bisa diambil datanya. Selama chip memorinya masih utuh, selama kartu SIM, nya masih ada, selama baterainya tidak meledak data bisa dipulihkan."
"Tapi sudah tiga hari —"
"Masih mungkin. Aku bisa coba."
Dimas berdiri. "Tunjukkan tempat sampahnya."
Faruq dan Nisa ikut. Mereka berempat berjalan ke belakang kos, ke tempat sampah plastik besar yang biasanya diangkut petugas kebersihan setiap hari Senin dan Kamis. Hari ini Jumat. Sampah sudah menumpuk empat hari.
Bau busuk menyengat.
Belatung merayap di mana, mana.
Lalat beterbangan.
"Astaga," gumam Faruq sambil menutup hidung.
Dimas tidak peduli. Ia mulai mengais sampah satu per satu. Kantong bekas. Bungkus makanan. Botol plastik. Kaleng minuman. Kertas. Daun kering.
"DIMAS, NANTI KAMU SAKIT!" teriak Nisa dari kejauhan.
"Saya sudah pernah menggali sampah yang lebih busuk dari ini," jawab Dimas tanpa menoleh.
"Kapan?" tanya Faruq.
"Waktu saya kecil. Keluarga saya miskin. Saya mencari botol bekas untuk dijual ke pengepul."
Faruq terdiam. Nisa menunduk. Mereka tidak pernah tahu masa lalu Dimas.
Lima belas menit kemudian, Dimas menemukan sesuatu.
Sebuah ponsel dalam kondisi hancur. Layar pecah. Bodi terlepas. Baterai copot. Tapi chip memori, chip memori masih utuh.
"Ini dia," kata Dimas tersenyum. "Chip memorinya masih bagus."
"Bisa dipulihkan?" tanya Arga.
"Bisa. Tapi butuh waktu. Mungkin semalaman."
"Apa yang akan kamu cari?"
Dimas berdiri. Ia membersihkan tangannya yang kotor dengan kain lap yang ia bawa dari kos.
"Data panggilan terakhir. SMS terakhir. Lokasi terakhir saat ponsel masih hidup. Dan satu hal lagi."
"Apa?"
"Rekaman percakapan."
Arga mengerutkan kening. "Perekam percakapan?"
"Iya. Semua ponsel modern punya fitur itu. Tersembunyi. Tidak semua orang tahu. Tapi datanya tetap tersimpan."
"Termasuk ponsel murahanku?"
Dimas tersenyum. "Termasuk. Saya yang memasang aplikasinya waktu itu. Tanpa sepengetahuan Mas Arga."
"KAMU MEMASANG APLIKASI MATA-MATA DI PONSELKU?"
"Untuk berjaga, jaga. Maaf. Saya tidak bermaksud jahat. Tapi saya tahu konflik dengan Ferry akan semakin panas. Saya butuh alat untuk merekam jika sesuatu terjadi."
Arga menghela napas.
"Sudahlah. Tidak usah dimarahi. Yang penting sekarang bisa membantu."
DI KAMAR DIMAS
Jam sepuluh malam, mereka pindah ke kamar Dimas.
Kamar itu kecil, lebih kecil dari kamar Arga. Hanya muat satu dipan, satu meja komputer, dan satu lemari pakaian. Dindingnya dipenuhi poster tokoh, tokoh fiksi ilmiah. Di meja komputer, dua monitor berukuran dua puluh empat inci berdiri berjajar.
"Ini ruang komandoku," kata Dimas sambil duduk di kursi gaming yang joknya sudah robek.
"Ruang komando?" Faruq tertawa. "Kayak di film aja."
"Ya. Ini ruang komando perang melawan Ferry."
Dimas menyalakan kedua monitor.
Layar menyala.
Tampilan desktop yang rapi, ikon, ikon berjejer di sisi kiri, taskbar di bagian bawah, wallpaper foto pemandangan gunung.
Ia memasukkan chip memori ke dalam card reader.
Laptop kedua ia sambungkan ke monitor utama.
Beberapa aplikasi ia buka.
"Apa itu?" tanya Nisa sambil menunjuk sebuah aplikasi dengan logo mata satu.
"Software recovery data. Ini bisa memulihkan file yang sudah terhapus. Termasuk dari HP yang sudah hancur."
"Kamu belajar dari mana?"
"Internet. YouTube. Forum. Juga dari teman saya di Eropa."
"Kamu punya teman di Eropa?"
"Kadang. Bukan teman dekat. Cuma kenal di forum."
PROSES PEMULIHAN DATA
Dimas mulai bekerja.
Jari, jarinya menari di atas keyboard.
Tap, tap, tap, tap, tap.
Layar berganti dengan cepat.
Arga, Guntur, Faruq, Nisa, dan Laras hanya bisa memandang kagum.
Tap, tap, tap, tap, tap.
Sebuah jendela baru muncul. Teks, teks hijau di latar hitam. Seperti matriks.
"Mulai," bisik Dimas.
Proses pemulihan data berjalan.
Loading bar muncul di layar.
0%... 15%... 30%...
"Lama?" tanya Arga.
"Mungkin setengah jam. Tergantung seberapa parah kerusakan chip."
Mereka menunggu.
Tidak ada yang bicara.
Hanya suara kipas laptop yang berputar pelan.
Dan suara detak jantung mereka sendiri.
45%... 60%... 75%...
"Semoga berhasil," bisik Nisa.
"Semoga," jawab Laras.
90%... 95%... 99%...
100%
"YES!" teriak Dimas.
Semua mendekat.
Monitor menampilkan ribuan file.
"Yang mana yang harus kita lihat?" tanya Faruq.
"Data panggilan. SMS. Lokasi. Rekaman. Semua yang berhubungan dengan Ferry."
Dimas membuka folder data panggilan.
Daftar nomor telepon muncul.
Nomor Arga.
Nomor ibu Arga di desa.
Nomor Guntur, Faruq, Nisa, Laras.
Nomor Dimas sendiri.
Nomor Dewi.
"Semua nomor ada di sini," kata Dimas.
"Termasuk nomor Ferry?" tanya Guntur.
"Nggak tahu. Kita cari."
Dimas mengetik kata kunci "Ferry" di kolom pencarian.
Tidak ada hasil.
"Kencana."
Tidak ada hasil.
"FK."
Tidak ada hasil.
"Bajingan."
Tidak ada hasil.
"Mungkin nomornya tidak tersimpan dengan nama. Kita harus cari manual."
CARI NOMOR FERRY
Dimas membuka folder SMS.
Ribuan pesan.
"Dari siapa?" tanya Nisa.
"Kebanyakan dari Mas Arga. Juga dari Guntur, Faruq, saya, Nisa, Laras. Semua tersimpan di sini."
"Termasuk pesan dari nomor tidak dikenal?"
"Termasuk."
Dimas memfilter pesan dari nomor tidak dikenal.
Hasilnya: dua belas pesan.
"Yang mana?" tanya Guntur.
"Saya baca satu per satu."
Pesan pertama: "Mas Arga, kamu sudah sampai di kota? Saya Dewi. Ini nomor saya. Simpan."
Pesan kedua: "Arga, ini Guntur. Kamu bisa hubungi saya di nomor ini untuk diskusi lebih lanjut."
Pesan ketiga: "Mas Arga, ini Laras. Saya dapat nomor ini dari Nisa. Besok kita ketemuan ya."
Pesan keempat: "Arga, ini Faruq. GW DAPET NOMOR LO DARI GUNTUR. BESOK GW AJAK MAKAN SATE. LO TRAKTIR."
Pesan kelima: "Selamat malam. Saya Ferry. Saya tahu kamu mencari Sekar. Saya tahu kamu ada di kota ini. Hentikan. Sebelum sesuatu terjadi pada orang, orang yang kamu cintai."
Semua menegang.
"Itu dari Ferry," kata Guntur.
"Iya," kata Dimas. "Tapi sayang, tidak ada balasan dari Mas Arga. Karena Mas Arga tidak pernah membalas nomor tidak dikenal."
"Lokasinya?" tanya Laras.
Dimas membuka folder lokasi.
Setiap kali ponsel menyala, lokasi GPS terekam.
Lokasi terakhir saat ponsel masih hidup: Jalan Mawar Hitam nomor 7, toko bangunan tempat Arga bekerja.
"Saat Mas Arga mematikan ponsel?" tanya Dimas.
"Setelah telepon dari Dewi, malam tiga hari lalu."
"Di mana?"
"Di kamarku. Kos. Belakang pasar."
"Itu tidak membantu. Ferry tidak akan mengirim preman ke kos. Terlalu ramai. Banyak saksi."
"Lalu?"
Dimas membuka folder rekaman.
Sebuah file audio muncul.
Tanggal: hari ini, jam setengah satu dini hari.
"Rekaman dari malam ketika Mas Arga telepon dengan Dewi."
Dimas mengklik file itu.
Suara Arga terdengar. Jelas. Tidak putus, putus.
Dewi? Kamu di mana? Seminggu kamu hilang! Kami khawatir.
Maaf, Mas. Saya... saya di rumah Ferry.
Ferry? Di rumah Ferry?
Iya, Mas. Saya... saya mata-mata Ferry.
Rekaman terus berjalan.
Suara Arga yang marah, kecewa, putus asa.
Suara Dewi yang menangis, meminta maaf, ketakutan.
Lalu suara lain.
Suara laki-laki.
Suara yang tidak asing bagi mereka.
Suara Ferry.
"Dewi, kamu sudah selesai? Jangan lama, lama. Saya tidak suka pegawai saya bicara lama dengan musuh."
Rekaman berhenti.
"TERSIP!" teriak Faruq.
"Jelas sekali," kata Guntur. "Suara Ferry ada di rekaman itu. Itu bukti kuat."
"Tapi apakah cukup?" tanya Nisa.
"Di pengadilan, bukti rekaman bisa diterima asalkan tidak dipalsukan."
"Kita tidak akan ke pengadilan. Kita akan ke media," kata Laras.
REKAMAN LAIN
"Ada rekaman lain?" tanya Arga.
Dimas membuka folder rekaman lagi.
Beberapa file audio dengan tanggal berbeda.
"Mas Arga sering menelepon siapa?"
"Ibu saya. Di desa."
"Ada rekamannya?"
"Setiap telepon saya rekam. Otomatis. Karena saya aktifkan fitur itu untuk berjaga, jaga."
"Kamu hebat, Dimas."
"Saya tidak hebat. Saya hanya paranoid."
Mereka mendengarkan rekaman demi rekaman.
Percakapan Arga dengan ibunya.
Percakapan Arga dengan Guntur.
Percakapan Arga dengan Faruq.
Percakapan Arga dengan Nisa.
Percakapan Arga dengan Laras.
Percakapan Arga dengan Dimas.
Semua tersimpan rapi.
"Tidak ada yang berguna," kata Nisa kecewa. "Semua tentang rencana biasa. Tidak ada yang mengarah pada kejahatan Ferry."
"Satu lagi," kata Dimas.
File terakhir.
Tanggal: seminggu yang lalu.
Jam: dua belas malam.
"Siapa yang menelepon Mas Arga jam segitu?" tanya Guntur.
"Tidak tahu. Mari kita dengar."
Dimas mengklik file itu.
Awalnya hanya suara desisan, seperti angin. Lalu suara seorang perempuan. Lirih. Terputus, putus. Takut.
"Arga... tolong aku..."
Arga terkesiap. "Itu Sekar!"
"Arga... aku di sini... di rumah Ferry... mereka mengurungku... mereka menyiksaku... tolong... tolong...."
Suara pria dari kejauhan.
"Hei! Siapa yang menelepon? Matikan! Matikan!"
Suara benturan.
Kretekan.
Lalu nada sibuk.
Rekaman berakhir.
Ruangan sunyi.
Faruq menangis.
Nisa memeluk Laras.
Guntur mengepalkan tangan.
Arga diam.
Matanya kosong.
Tapi air matanya, air matanya jatuh.
"Sekar," bisiknya. "Sekar meneleponku. Minta tolong. Dan aku tidak tahu. Ponselku tidak berdering karena fitur silent."
"Ferry pasti sudah mengambil ponsel Sekar setelah kejadian itu," kata Guntur. "Itu sebab dia tidak pernah menelepon lagi."
RENCANA BARU
Jam tiga pagi, mereka masih duduk di kamar Dimas.
Mata sudah mengantuk. Tapi pikiran masih segar.
"Kita punya bukti," kata Guntur. "Rekaman Sekar minta tolong. Rekaman Ferry mengancam. Data lokasi. Jejak digital yang tidak bisa dihapus."
"Tapi apakah cukup untuk membebaskan Sekar?" tanya Nisa.
"Tidak. Kita butuh tekanan publik."
"Media?"
"Iya. Media. Tapi jangan koran. Jangan TV. Mereka bisa dibeli Ferry."
"Lalu?"
"Media sosial."
Nisa mengangguk. "Aku punya banyak teman. Aktivis. Bloger. YouTuber. Mereka bisa membantu menyebarkan cerita ini."
"Secepatnya. Besok pagi."
"Baik."
SUBUH MENYINGSING
Jam setengah lima pagi, mereka selesai.
Arga berdiri.
Ia berjalan ke jendela kamar Dimas.
Membukanya.
Udara subuh dingin menusuk.
Langit timur mulai terang.
Bintang timur bersinar terang , lebih terang dari biasanya.
"Jatmika," bisik Arga. "Apa kau di sana? Apa kau melihat kami? Apa kau membantu kami?"
Ia tidak mendapat jawaban.
Tapi ia merasakan sesuatu.
Kehangatan di dadanya.
Kehangatan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata, kata.
Ia tersenyum.
"Terima kasih, Dimas."
"Sama, sama, Mas."
"Terima kasih, teman-teman."
"Sama-sama," kata mereka serempak.
PAGI YANG CERAH
Matahari terbit di ufuk timur.
Cahayanya masuk melalui jendela kamar Dimas yang sempit.
Arga memandang peta usang di tangannya.
Garis, garis baru muncul lagi.
Mungkin karena cahaya matahari.
Mungkin karena keajaiban.
Garis, garis itu mengarah ke satu titik.
Titik yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Di luar perumahan Mutiara.
Di sebuah rumah kecil di pinggiran kota.
Arga mengerutkan kening.
"Apa ini?" bisiknya.
Peta itu tidak menjawab.
Tapi Arga tahu.
Ini adalah titik terang baru.
Dan kali ini, tidak akan ada yang bisa menghalanginya.
BAB 20
SANDIWARA DI PERPUSTAKAAN
Jejak digital dari Dimas dan peta usang dari Mbah Jayarasa membawa tim Arga ke sebuah tempat yang tidak pernah mereka duga sebelumnya: Perpustakaan Pusat Universitas Gajah Mada.
Bukan karena di sana ada buku tentang Ferry. Bukan karena di sana ada dokumen rahasia tentang keluarga Kencana. Bukan karena di sana ada saksi yang bersembunyi di antara rak, rak buku.
Tapi karena peta usang itu, yang tiba-tiba menampilkan garis-garis baru di bawah sinar matahari pagi, menunjukkan sebuah titik merah di lantai dua perpustakaan, di bagian koleksi langka dan naskah kuno.
Dan di titik merah itu, tertulis: "Di sini, dia meninggalkan sesuatu untukmu."
Arga tidak tahu apa artinya. Tapi ia tidak bisa mengabaikan petunjuk dari Mbah Jayarasa. Peta itu tidak pernah salah. Peta itu selalu berbicara pada waktu yang tepat.
Maka malam itu, mereka menyusun sebuah rencana.
Bukan rencana penyelamatan.
Bukan rencana evakuasi.
Tapi sebuah sandiwara.
Sandiwara yang akan membawa mereka ke perpustakaan tanpa dicurigai mata-mata Ferry. Sandiwara yang akan memungkinkan Arga mencari petunjuk di koleksi langka tanpa diketahui siapa pun. Sandiwara yang akan menjadi titik balik dalam perjuangan mereka melawan pengusaha kaya yang licik itu.
PAGI SEBELUM SANDIWARA
Hari Sabtu, langit cerah. Matahari bersinar hangat. Burung, burung pipit beterbangan di halaman kos.
Arga duduk di beranda, memandang peta usang di tangannya. Garis, garis baru itu masih jelas, tidak luntur meskipun sudah ia lipat dan buka berkali, kali. Titik merah di perpustakaan masih setia menunjuk ke arah yang sama.
"Mas Arga, masih lihat peta itu?" tanya Dimas sambil membawa dua cangkir kopi hitam.
"Masih. Aku tidak bisa berhenti."
"Itu peta ajaib. Seperti di film Harry Potter."
"Apa itu Harry Potter?"
Dimas tertawa. "Mas Arga, kamu ketinggalan zaman. Harry Potter itu penyihir cilik. Dia punya peta ajaib yang menunjukkan posisi semua orang di sekolah sihirnya."
"Peta ini juga ajaib. Tapi tidak menunjukkan orang. Hanya tempat."
"Tempat apa?"
Arga menunjuk titik merah di lantai dua perpustakaan UGM. "Di sini. Mbah Jayarasa bilang, seseorang meninggalkan sesuatu untukku."
"Siapa?"
"Tidak tahu."
"Kapan?"
"Tidak tahu."
"Apakah itu jebakan?"
Arga menghela napas. "Itu yang ingin kita ketahui malam ini."
PERTEMUAN DI KAMPUS
Jam sepuluh pagi, mereka berkumpul di kantin fakultas filsafat , tempat yang sudah menjadi markas tidak resmi tim Arga. Meja panjang di pojok, dekat jendela yang menghadap ke taman, dengan pemandangan mahasiswa yang lalu lalang membawa buku tebal.
Guntur membuka laptopnya. Faruq mengunyah pisang goreng. Nisa mencatat sesuatu di buku kecil. Laras memandang ke luar jendela dengan mata waspada. Dimas mengecek ponselnya setiap lima menit. Arga duduk di ujung meja, dekat dengan Guntur.
"Semua sudah tahu rencananya?" tanya Guntur.
Belum, jawab Faruq sambil mengunyah. "Coba ulangi. Saya tadi kurang dengar karena sibuk makan."
"Faruq, ini serius."
"Saya juga serius. Perut keroncongan tidak bisa diajak serius."
Nisa menepuk bahu Faruq. "Dengar, kau. Jangan banyak tingkah."
"Baik, Mbok."
Guntur menghela napas. Ia membuka file di laptopnya, sebuah peta digital perpustakaan UGM.
"Ini perpustakaan pusat. Empat lantai. Lantai satu: sirkulasi, referensi umum, ruang baca. Lantai dua: koleksi langka, naskah kuno, dan ruang digital. Lantai tiga: jurnal internasional dan skripsi. Lantai empat: ruang rapat dan kantor pengelola."
"Kita masuk lewat mana?" tanya Laras.
"Kita tidak semua masuk. Hanya Arga yang akan masuk. Dia yang punya peta. Dia yang harus mencari petunjuk."
"Lalu kami?"
"Kami akan jadi pengalih perhatian."
"Pengalih perhatian?" Faruq mengangkat alis.
"Iya. Sandiwara. Kita akan berpura, pura ribut di lantai satu. Keributan kecil. Cukup untuk menarik perhatian penjaga dan pengunjung."
"Selama itu, Arga naik ke lantai dua?"
"Tepat."
"Siapa yang akan ribut?"
"Faruq dan Nisa. Kalian yang paling bisa akting."
Faruq tersenyum lebar. "Akhirnya saya dipanggil! Saya lahir untuk jadi aktor!"
"Jangan kebanyakan gaya," kata Nisa. "Nanti ketahuan."
PERAN MASING, MASING
Guntur melanjutkan.
"Dimas, kamu jaga di luar perpustakaan. Pantau siapa saja yang masuk dan keluar. Laporkan jika ada yang mencurigakan."
"Siap, Komandan," kata Dimas setengah bercanda.
"Laras, kamu di lantai dua. Bukan sebagai pengawal Arga. Tapi sebagai mahasiswa biasa yang sedang membaca naskah kuno. Posisikan diri di dekat tangga darurat. Kalau ada bahaya, kamu bisa evakuasi Arga lewat situ."
"Baik," kata Laras pendek.
"Guntur, kamu di mana?" tanya Arga.
Guntur tersenyum tipis. "Aku di ruang keamanan. Aku punya teman yang bekerja di sana. Dia bisa mematikan CCTV selama lima belas menit."
"Lima belas menit cukup?"
"Cukup. Asalkan Faruq dan Nisa bisa membuat keributan selama itu."
Faruq mengacungkan jempol. "Jamanku! Saya dulu juara drama tingkat provinsi!"
"Drama apa?" tanya Nisa.
"Drama cinta. Saya main jadi pacar yang selingkuh. Penonton pada nangis."
"Mungkin mereka nangis karena aktingmu jelek."
"Itu tetap nangis. Namanya juga seni."
Mereka tertawa kecil.
PERSIAPAN
Jam dua siang, mereka berpisah sementara.
Faruq dan Nisa berlatih adegan di taman dekanat. Faruq berteriak, teriak histeris, Nisa menangis histeris. Beberapa mahasiswa menonton, ada yang tertawa, ada yang bingung.
"Astaga, Faruq, jangan terlalu keras," bisik Nisa sambil menahan tawa.
"Harus keras, biar dramatis."
"Nanti penjaga mengira kita benar-benar bertengkar."
"Itu tujuannya."
Dimas memeriksa rute perpustakaan. Dari mana harus mengintai tanpa ketahuan satpam. Di mana tempat parkir yang aman. Ke mana harus lari jika terjadi sesuatu.
Laras pergi ke perpustakaan lebih dulu. Ia meminjam buku naskah kuno berjudul Serat Centhini , buku tebal beraksara Jawa yang tidak pernah ia baca. Ia duduk di sudut lantai dua, dekat tangga darurat, memandang pintu masuk dari balik bukunya.
Guntur menemui temannya, Budi, petugas keamanan perpustakaan.
"Guntur, kamu yakin mau melakukan ini?" tanya Budi. "Risikonya besar. Kamu bisa dikeluarkan dari kampus."
"Perpustakaan ini milik rakyat, Budi. Bukan milik rektor. Bukan milik Ferry."
"Tapi , "
"Budi, tolong. Ini menyangkut nyawa seseorang."
Budi menghela napas. "Baik. Lima belas menit. Tidak lebih."
"Terima kasih, Budi. Saya tidak akan lupa."
"Jangan berterima kasih. Bantu saya nanti kalau saya butuh."
MENJELANG EKSEKUSI
Jam enam sore, perpustakaan mulai sepi.
Mahasiswa pulang ke kos. Dosen pulang ke rumah. Karyawan membersihkan ruangan.
Arga berdiri di pintu masuk perpustakaan. Ia memakai jaket tebal , padahal cuaca tidak dingin, untuk menyembunyikan peta usang yang ia selipkan di saku dalam jaketnya.
"Mas Arga," bisik Guntur dari samping.
"Iya."
"Kita mulai dalam lima menit. Kamu siap?"
"Gugup."
"Wajar. Tapi ingat, ini demi Sekar."
Arga mengangguk. "Demi Sekar."
BABAK SATU: KERIBUTAN
Jam 18.15.
Faruq dan Nisa masuk ke perpustakaan.
Mereka berjalan ke meja sirkulasi. Faruq memegang buku tebal. Nisa memegang buku tipis.
"Mbak, buku ini salah!" teriak Faruq keras-keras.
Nisa pura, pura kaget. "Apa?"
"Ini buku sastra. Saya pesan buku sosologi! Saya orang sosolog! Saya tidak mau baca buku sastra!"
Suasana perpustakaan yang tadinya tenang mendadak gaduh.
Mahasiswa menoleh. Petugas sirkulasi bingung.
"Nak, ini perpustakaan umum. Semua buku tersedia. Kamu tidak boleh —"
"TIDAK BOLEH APA? SAYA PELANGGAN! SAYA MEMBAYAR SPP! SAYA BERHAK MEMILIH BUKU SESUAI SELERA SAYA!"
Nisa mulai menangis histeris. "Faruq, jangan begini! Malu!"
"MALU? KAMU YANG MEMALUKAN! KAMU YANG MEMILIHKAN BUKU INI!"
"Aku tidak sengaja, Faruq!"
"TIDAK SENGAJA? KAMU SIAPA? MAHASISWA BODOH!"
Orang, orang mulai mengerumuni.
Petugas sirkulasi menelepon keamanan.
Budi, yang sudah bekerja sama dengan Guntur, berlari ke lokasi.
"Ada apa? Ada apa?"
"Orang ini ribut soal buku," kata petugas.
"Saudara, tenang —"
"SAYA TIDAK BISA TENANG! BUKU INI BUKAN YANG SAYA CARI!"
Budi pura, pura panik. "Saudara, ikut saya ke ruang keamanan. Kita selesaikan baik, baik."
"TIDAK MAU! SAYA MAU DI SINI! BIAR SEMUA TAHU!"
Faruq berteriak semakin keras.
Nisa menangis semakin histeris.
Mahasiswa mulai merekam dengan ponsel.
Petugas lain mulai berdatangan.
Suasana makin kacau.
BABAK DUA: PENYUSUPAN
Jam 18.20.
Arga masuk ke perpustakaan.
Ia tidak lari. Ia berjalan biasa.
Seperti tidak ada yang terjadi.
Seperti tidak mendengar keributan di meja sirkulasi.
Ia naik tangga ke lantai dua.
Laras sudah menunggu di tangga darurat.
"Cepat," bisiknya. "Kita punya lima belas menit lagi."
Mereka berjalan menyusuri rak, rak koleksi langka.
Buku, buku tua berdebu. Kulitnya dari kertas tebal. Sampulnya dari kayu atau kulit binatang. Tulisannya aksara Jawa, aksara Bali, aksara Arab pegon, dan huruf Latin kuno.
"Di mana?" bisik Laras.
Arga membuka peta.
Garis, garis baru itu mengarah ke sebuah rak di pojok, rak nomor 27, baris ketiga, kolom kelima.
"Di sini," kata Arga sambil menunjuk.
Rak itu penuh dengan buku, buku bertema spiritualitas Jawa. Primbon. Wedhatama. Serat Wulangreh. Suluk Saloka Jiwa.
Laras mengambil buku demi buku, memeriksanya satu per satu.
Arga melakukan hal yang sama.
Tangannya gemetar.
Waktu terus berjalan.
14 menit.
13 menit.
12 menit.
"Ada apa ini?" bisik Arga frustrasi.
"Sabarlah."
"Tidak ada waktu."
"Sabar."
Laras mengambil buku keempat dari rak, buku tipis berwarna coklat tua, tidak ada judul di sampulnya. Ia membuka halaman pertama.
Kosong.
Halaman kedua.
Kosong.
Halaman ketiga.
Ada tulisan.
Bukan aksara Jawa. Bukan aksara Bali. Bukan aksara Arab pegon. Tapi aksara Latin. Tulisan tangan. Rapi. Terbaca.
"Untuk Arga, dari Mbah Jayarasa."
Laras menyerahkan buku itu pada Arga.
Arga menerimanya.
Tangannya gemetar hebat.
Ia membuka halaman demi halaman.
ISI BUKU
Buku itu bukan buku biasa.
Buku itu adalah catatan harian Mbah Jayarasa.
Catatan tentang masa lalunya di kota.
Catatan tentang perjuangannya melawan keluarga Kencana, kakek Ferry, puluhan tahun lalu.
Catatan tentang pengkhianatan, penderitaan, dan kehilangan.
Catatan tentang peta usang yang ia buat untuk dirinya sendiri.
Catatan tentang seorang perempuan bernama Sri , perempuan yang ia cintai, yang dijodohkan dengan kakek Ferry, yang bunuh diri setelah menikah.
Sama seperti Rini.
Sama seperti Sekar.
Siklus yang berulang.
Keluarga Kencana tidak pernah berubah.
Mereka selalu mengambil perempuan desa untuk dijadikan istri.
Mereka selalu menggunakan uang untuk membeli segalanya.
Mereka selalu menghancurkan kehidupan orang miskin.
Dan Mbah Jayarasa , sejak puluhan tahun lalu , sudah berusaha melawan.
Tapi gagal.
Karena ia sendirian.
Tanpa teman.
Tanpa teknologi.
Tanpa bukti digital.
Sekarang, ia menitipkan perjuangannya pada Arga.
Pada generasi berikutnya.
Pada anak desa yang berani melawan.
BABAK TIGA: KABUR
5 menit.
4 menit.
3 menit.
"Arga, kita harus pergi," bisik Laras.
"Sebentar. Saya baca ini."
"Tidak bisa. Kamu baca nanti. Di kos. Sekarang kita kabur."
Laras menarik tangan Arga.
Mereka berlari menuju tangga darurat.
Tepat saat pintu tangga darurat terbuka, mereka mendengar suara dari lantai bawah.
"POLISI! JANGAN ADA YANG BERGERAK!"
Ferry sudah melapor.
Polisi datang.
Budi tidak bisa menahan lebih lama.
Faruq dan Nisa ditangkap.
Dimas yang memantau dari luar segera mengirim pesan ke Guntur.
"POLISI DATANG! KABUR!"
Laras dan Arga berhasil keluar lewat pintu belakang perpustakaan, pintu yang tidak dijaga, pintu yang hanya digunakan untuk membuang sampah.
Mereka berlari menyusuri gang sempit.
Menembus halaman belakang fakultas.
Keluar ke jalan raya.
Guntur sudah menunggu dengan motor bututnya.
"Naik!" teriaknya.
Laras naik di boncengan Guntur.
Arga naik di boncengan Dimas yang datang tepat waktu.
Mereka berpencar.
Tiga motor melaju ke arah berbeda.
Untuk mengelabui polisi yang mungkin mengejar.
PERTEMUAN DI TEMPAT AMAN
Jam delapan malam, mereka berkumpul di kos.
Faruq dan Nisa belum datang. Mereka masih di kantor polisi.
Dimas mendapat kabar dari kontaknya: Faruq dan Nisa akan dibebaskan setelah memberi keterangan. Tuduhan mereka hanya "keributan kecil di perpustakaan" , tidak cukup untuk ditahan.
"Sekarang, baca itu," kata Guntur sambil menunjuk buku tua di tangan Arga.
Arga membuka halaman demi halaman.
Diam.
Matanya basah.
Tidak ada yang berani bicara.
Mereka hanya mendengar suara lembaran kertas yang dibalik.
Halaman terakhir.
Tulisan Mbah Jayarasa.
"Le, jika kau membaca ini, berarti kau sudah sampai di titik di mana aku dulu gagal."
"Jangan ulangi kesalahanku. Jangan percaya pada siapa pun sebelum kau benar, benar yakin. Jangan menyerah meskipun semua orang meninggalkanmu. Jangan biarkan kemarahan membunuh kemanusiaanmu."
"Kau punya teman. Aku dulu tidak punya. Manfaatkan mereka. Jaga mereka. Mereka adalah kekuatanmu."
"Sekar masih menunggumu. Jangan biarkan dia menunggu terlalu lama."
"—Mbah Jayarasa"
Arga menutup buku itu.
Ia memeluknya.
Seperti memeluk Mbah Jayarasa.
Seperti memeluk masa lalu.
Seperti memeluk harapan.
MALAM YANG PANJANG
Jam sebelas malam, Faruq dan Nisa tiba di kos.
Wajah mereka lelah, pakaian kusut, tapi senyum tetap mengembang.
"Kami selamat!" teriak Faruq.
"Aktingmu hebat," kata Guntur.
"Bukan akting. Itu tadi asli. Saya kesal beneran."
"Kesal kenapa?"
"Buku Sastra yang saya pegang ternyata benar-benar buku bagus. Saya jadi tertarik baca."
"Lalu?"
"Lalu polisi menyitanya. Saya tidak bisa baca sampai selesai."
Mereka tertawa.
Tawa yang melepas penat.
Tawa yang mengusir lelah.
Tawa yang mengingatkan bahwa mereka masih punya satu sama lain.
BAB 21
LARAS TERNYATA MATA-MATA
Tiga hari setelah sandiwara di perpustakaan, tim Arga masih dalam masa pemulihan. Faruq dan Nisa sudah kembali beraktivitas meskipun masih sering digoda teman, teman kampus tentang "adegan histeris di perpustakaan". Dimas terus memantau pergerakan Ferry dari kejauhan. Guntur merangkum catatan harian Mbah Jayarasa menjadi dokumen rahasia yang hanya dibaca oleh tim inti.
Dan Laras, Laras tetap menjadi anggota tim yang paling misterius. Ia selalu datang tepat waktu. Selalu memberikan saran tajam. Selalu waspada terhadap bahaya. Tapi tidak pernah benar, benar terbuka. Tidak pernah benar, benar menceritakan perasaannya. Tidak pernah benar, benar menjadi salah satu dari mereka.
Arga menyadari keanehan itu sejak awal. Tapi ia menganggapnya wajar. Laras adalah mata-mata Mbah Jayarasa. Laras terbiasa menyembunyikan identitas. Laras terbiasa tidak percaya pada siapa pun.
Tapi malam ini, segalanya berubah.
Bukan karena Laras mengaku.
Bukan karena Laras ketahuan.
Tapi karena Arga menemukan sesuatu yang tidak seharusnya ia temukan.
Sesuatu yang menghancurkan kepercayaannya.
Sesuatu yang membuat ia sadar bahwa Laras, perempuan yang selama ini ia anggap sebagai teman, sekutu, bahkan saudara, ternyata memiliki misi ganda.
Misi yang tidak pernah ia ceritakan pada siapa pun.
Misi yang mungkin membawa mereka pada kehancuran.
Misi yang menghubungkan Laras dengan Ferry jauh sebelum tim ini terbentuk.
MALAM YANG SUNYI
Jam sebelas malam. Kos, kosan sepi. Faruq pulang ke kosnya. Guntur dan Nisa juga. Dimas sedang bertugas malam mengantar paket ke luar kota. Hanya Arga, Laras, dan Mbok Darmi yang masih terjaga.
Laras duduk di halaman kos, memandang langit malam yang cerah. Bulan purnama bersinar terang. Bintang, bintang berkerlap, kerlip. Ia tidak bicara. Ia hanya duduk. Sesekali menghela napas panjang.
Arga keluar dari kamar. Ia membawa dua gelas teh jahe hangat , satu untuknya, satu untuk Laras.
"Laras, minum," katanya sambil menyerahkan gelas.
Laras menerima tanpa berkata apa, apa. Ia meminumnya seteguk. Lalu dua teguk. Lalu seteguk lagi.
"Kamu tidak bisa tidur?" tanya Arga.
"Kamu juga."
"Aku memikirkan banyak hal."
"Apa?"
"Tentang Mbah Jayarasa. Tentang catatan hariannya. Tentang Sri , perempuan yang ia cintai, yang dijodohkan dengan kakek Ferry, yang bunuh diri setelah menikah."
"Siklus yang berulang."
"Iya. Rini. Sekar. Sri. Semua korban keluarga Kencana."
Laras meneguk teh jahenya sampai habis. Ia meletakkan gelas di atas meja plastik.
"Arga," panggilnya.
"Iya."
"Apa kamu percaya pada takdir?"
"Entahlah. Kadang iya. Kadang tidak."
"Kadang takdir membawa kita ke jalan yang tidak kita inginkan. Kadang takdir memaksa kita menjadi sesuatu yang tidak kita inginkan. Kadang takdir mengkhianati kita."
"Kamu bicara seperti orang yang pernah dikhianati takdir."
Laras tersenyum pahit. "Mungkin."
Mereka diam.
Angin malam berembus.
Daun, daun pohon mangga bergemerisik.
"Aku ingin cerita sesuatu," kata Laras tiba, tiba.
"Cerita apa?"
"Tapi kamu tidak boleh marah."
Tergantung ceritanya.
"Kamu janji?"
"Baik. Janji."
Laras menarik napas panjang.
Ia memandang Arga.
Matanya basah.
"Arga, saya... mata-mata Ferry."
PENGARUH KEJUTAN
Waktu seolah berhenti.
Arga tidak bergerak.
Tidak berkedip.
Tidak bernapas.
Ia hanya menatap Laras.
Menunggu Laras mengatakan bahwa itu adalah lelucon.
Tapi Laras tidak tertawa.
Laras hanya menunduk.
"Laras," bisik Arga. "Apa katamu?"
"Saya mata-mata Ferry. Sejak awal. Sejak Mbah Jayarasa meminta saya membantu kamu. Saya sudah dihubungi Ferry. Dia menawari saya uang. Banyak."
"Kamu... menerima?"
"Iya. Saya menerima."
Arga berdiri.
Wajahnya pucat.
Tangannya gemetar.
Dadanya sesak.
"KELUAR!" teriaknya. "KELUAR DARI SINI!"
"Arga —"
"KELUAR! JANGAN DEKAT, DEKAT AKU!"
Laras berdiri.
Ia tidak lari.
Ia hanya berdiri.
Menatap Arga.
Air matanya jatuh.
"Arga, saya terpaksa. Ferry mengancam akan membunuh ayah saya. Ayah saya yang sudah lumpuh. Ayah saya yang tidak bisa berbuat apa, apa."
"KAMU BOONG!" Arga hampir meninju Laras. Tapi ia menahan. "KAMU BOONG! AYAHMU SUDAH MENINGGAL! KAMU SENDIRI YANG BILANG!"
Laras menggeleng. "Ayah saya tidak meninggal. Saya bohong. Saya bilang ayah saya meninggal agar kalian tidak curiga. Agar kalian menganggap saya korban Ferry. Agar kalian percaya pada saya."
"Jadi selama ini , "
"Semua yang saya ceritakan tentang ayah saya dipecat, tentang ayah saya gantung diri, tentang dendam saya pada Ferry, semua bohong. Saya tidak punya dendam. Saya tidak punya pisau pusaka. Saya tidak pernah membunuh dua preman."
"Tapi pisau itu —"
"Pisau itu hanya properti. Saya beli di pasar malam. Cerita tentang buyut saya panglima perang, tentang seratus korban tewas, semua karangan saya."
"REKAMAN SUARA FERRY DI PONSELKU?"
"Saya yang menyuruh Dewi menanam aplikasi perekam. Dewi bukan mata-mata Ferry. Dewi mata-mata saya."
Arga jatuh duduk di kursi.
Wajahnya pucat pasi.
Ia tidak bisa berkata, kata.
Dunia yang ia bangun selama berbulan, bulan, dunia di mana Laras adalah sekutu tepercaya , runtuh dalam sekejap.
"Kenapa?" bisiknya. "Kenapa kamu melakukan ini?"
Laras duduk di seberang Arga.
Ia menggenggam tangannya sendiri yang gemetar.
"Karena Ferry menjanjikan sesuatu yang tidak bisa saya tolak."
"Apa?"
"Pengobatan untuk ibu saya."
KISAH LARAS YANG SESUNGGUHNYA
Laras mulai bercerita.
Kali ini jujur.
Tanpa topeng.
Tanpa rekayasa.
Tanpa kebohongan.
"Ibu saya sakit, Arga. Sakit parah. Kanker stadium empat. Dokter bilang, umurnya tinggal tiga bulan. Tapi ada pengobatan di luar negeri. Mahal. Sangat mahal. Saya tidak punya uang."
"Lalu?"
"Ferry datang pada saya. Dua bulan sebelum Mbah Jayarasa meminta saya membantu kamu. Dia tahu siapa saya. Dia tahu latar belakang saya. Dia tahu kelemahan saya. Dia menawari saya uang. Banyak. Untuk biaya pengobatan ibu saya."
"Kamu setuju?"
"Saya setuju. Ferry memberi saya uang muka dua ratus juta. Ibu saya sudah berangkat ke Singapura. Dirawat di rumah sakit terbaik. Kemoterapi. Operasi. Semua ditanggung Ferry."
"Tapi , "
"Tapi Ferry minta imbalan. Saya harus menjadi mata-matanya di dalam tim kamu. Saya harus melaporkan setiap rencana. Setiap gerakan. Setiap kelemahan."
"Termasuk tentang Mariyem?"
Termasuk tentang Mariyem. Saya yang memberi tahu Ferry jadwal pertemuan kalian dengan Mariyem. Saya yang memberi tahu Ferry bahwa Mariyem punya bukti-bukti kuat."
"JADI MARIYEM DIAMBIL FERRY KARENA ULAHMU?"
Laras menangis.
"Saya menyesal, Arga. Saya sangat menyesal. Tapi saya tidak punya pilihan. Ibu saya lebih penting dari apapun."
"Termasuk dari kebebasan Sekar?"
Laras tidak menjawab.
Ia hanya menunduk.
Menangis.
KEJUTAN DARI MARIYEM
Saat ketegangan memuncak, ponsel Arga berdering.
Nomor tidak dikenal.
Ia mengangkat.
"Halo?"
"Mas Arga? Ini Mariyem."
Arga terkesiap. "Bu Mariyem? Ibu baik-baik saja? Saya dengar Ibu diambil Ferry —"
"Saya baik, baik saja, Mas. Ferry tidak menyakiti saya. Dia hanya memindahkan saya dan anak-anak ke rumah aman."
"Rumah aman?"
"Iya. Saya tidak diculik. Saya diam-diam setuju dengan Ferry untuk pindah. Karena saya tahu, jika saya tetap di kampung, saya dan anak, anak akan dalam bahaya."
"Tapi bukti-bukti , "
"Bukti, bukti sudah saya simpan di tempat aman. Fotokopiannya. Rekamannya. Buku catatannya. Ferry tidak tahu. Saya kasih semua pada Laras sebelum saya pindah."
Arga menatap Laras.
Laras mengangguk.
"Ibu Mariyem memberikan bukti-bukti itu pada saya kemarin," kata Laras pelan. "Saya belum sempat memberikannya pada kalian."
"Kenapa?"
"Karena saya masih bingung. Antara membantu Ferry dan membantu kalian. Antara keselamatan ibu saya dan kebebasan Sekar."
Ibumu bilang apa?"
Laras terisak.
"Ibu saya bilang... 'Le, jualah ibumu. Jualah demi uang. Jualah demi apapun. Tapi jangan jualah kebenaran. Kebenaran tidak bisa dibeli dengan uang.'"
"Lalu?"
"Saya sadar. Saya tidak bisa terus begini. Saya tidak bisa terus berbohong. Saya tidak bisa terus mengkhianati orang-orang yang sudah percaya pada saya."
PERTEMUAN DENGAN GUNTUR, FARUQ, NISA, DAN DIMAS
Jam satu dini hari, Arga memanggil semua temannya.
Guntur, Faruq, Nisa, Dimas datang dengan motor masing, masing. Wajah mereka masih mengantuk, tapi langsung segar ketika melihat Laras duduk di kursi dengan mata sembab dan Arga berdiri di sampingnya dengan wajah tegang.
"Ada apa?" tanya Guntur.
"Laras mau cerita sesuatu," kata Arga. "Duduk."
Mereka duduk di kursi plastik.
Laras berdiri di depan mereka.
Ia menunduk.
Tidak berani menatap mata siapa pun.
"Teman, teman," katanya pelan. "Saya... mata-mata Ferry."
Guntur tidak terkejut. "Aku sudah tahu."
Laras terkesiap. "Apa?"
"Aku sudah tahu sejak dua minggu lalu. Ada keanehan. Informasi kita selalu bocor. Tapi tidak semuanya. Hanya informasi penting yang bocor. Itu tanda bahwa mata-mata ada di lingkaran terdekat. Bukan di luar."
"Kenapa kamu tidak bilang?" tanya Nisa.
"Karena aku ingin tahu motif Laras. Aku ingin tahu kenapa dia melakukan ini. Dan aku ingin dia mengaku sendiri, bukan karena dipaksa."
Faruq mengepalkan tangan. "Laras, kamu...."
"Maaf, Faruq," potong Laras. "Maaf, semuanya. Saya bersalah. Saya mengkhianati kalian."
"Kenapa?" tanya Dimas.
Laras menceritakan semuanya.
Tentang ibunya. Tentang kanker. Tentang biaya pengobatan. Tentang tawaran Ferry. Tentang uang muka dua ratus juta. Tentang ibunya di Singapura. Tentang tekanan antara membantu Ferry dan membantu tim.
Faruq yang tadinya marah, kini diam.
Nisa menangis.
Dimas memandang lantai.
Guntur menghela napas.
"Laras," kata Guntur akhirnya.
"Iya."
"Kamu salah. Tapi kamu juga korban."
"Saya mengkhianati kalian."
"Ya. Tapi kamu juga korban sistem. Sistem yang membiarkan orang miskin susah berobat. Sistem yang membiarkan orang kaya membeli siapa saja. Termasuk hati nurani."
"Apakah kalian bisa memaafkan saya?"
Guntur memandang Arga. Faruq memandang Nisa. Nisa memandang Dimas. Dimas memandang Laras.
"Kita putuskan bersama," kata Arga.
MUSYAWARAH
Mereka berdiskusi selama satu jam.
Faruq awalnya menolak memaafkan. "Dia mengkhianati kita! Dia mengkhianati Sekar! Dia mengkhianati perjuangan kita!"
Tapi Nisa membela Laras. "Faruq, coba bayangkan jika ibumu sakit. Jika kamu tidak punya uang. Jika satu-satunya harapan adalah menerima uang dari setan sekalipun. Apa yang akan kamu lakukan?"
Faruq diam.
"Laras memang salah," lanjut Nisa. "Tapi dia juga manusia. Dia punya batas. Dan dia sudah melewati batas itu. Sekarang dia sadar. Dia mau bertobat. Bukankah itu yang penting?"
Guntur mengangguk. "Setuju. Kesalahan bisa dimaafkan. Tapi konsekuensi harus diterima."
"Konsekuensi apa?" tanya Laras.
"Kamu harus membantu kami membebaskan Sekar. Dengan risiko apapun. Termasuk risiko kehilangan ibumu jika Ferry tahu."
Laras menunduk. "Saya siap."
"Apa kamu yakin? Ini tidak main-main. Ferry bisa membunuhmu. Atau membunuh ibumu."
"Saya yakin. Karena kebenaran lebih penting daripada nyawa."
Faruq menghela napas. "Baik. Saya maafkan kamu. Tapi jangan ulangi."
"Tidak akan, Faruq. Saya sumpah."
LARAS KEMBALI
Jam tiga pagi, mereka semua masih duduk di halaman kos.
Kelelahan. Tapi lega.
Laras tidak lagi dipandang curiga. Ia kembali menjadi bagian dari tim. Sebagai sekutu. Bukan sebagai mata-mata.
"Mariyem di mana sekarang?" tanya Guntur.
"Di rumah aman. Saya yang menyembunyikannya. Ferry tidak tahu."
"Buktinya?"
"Dipegang Mariyem. Fotokopiannya. Rekamannya. Buku catatannya. Semua aman."
"Kita butuh bukti asli. Bukan fotokopian."
"Kita bisa ambil besok."
"Ferry akan tahu jika kita bergerak."
"Maka kita bergerak cepat. Hari ini juga. Sebelum Ferry sadar."
"Setuju," kata semua.
Arga memandang Laras.
Laras memandang Arga.
"Terima kasih, Laras," kata Arga.
"Jangan berterima kasih. Saya yang berterima kasih karena kalian masih mau menerima saya."
FERRY TAHU
Jam empat pagi, ponsel Laras berdering.
Nomor Ferry.
Laras mengangkat dengan tangan gemetar.
"Ya?"
"Laras, saya dengar ada keributan di kos. Ada yang terjadi?"
"Tidak, Tuan. Semua aman. Saya hanya sedang begadang dengan teman, teman."
"Kamu yakin?"
"Yakin, Tuan."
"Jangan coba-coba berkhianat, Laras. Saya tahu siapa kamu. Saya tahu di mana ibumu."
Laras mengepalkan tangan.
"Tuan, saya tidak akan berkhianat."
"Bagus. Lapor besok pagi. Saya mau tahu perkembangan tim Arga."
"Baik, Tuan."
Telepon ditutup.
Laras memandang Arga.
"Dia tahu."
"Tidak mungkin. Kita belum bergerak."
"Dia selalu tahu. Mungkin ada mata-mata lain di antara kita."
Mereka saling memandang.
Kecurigaan kembali muncul.
MATA, MATA KEDUA
Guntur berdiri. "Kita harus mencari tahu siapa mata-mata kedua. Sebelum dia melaporkan rencana kita ke Ferry."
"Bagaimana caranya?" tanya Dimas.
"Perangkap. Kita buat rencana palsu. Rencana yang hanya diketahui oleh orang dalam. Lalu kita lihat siapa yang membocorkannya."
"Setuju," kata Laras.
"Setuju," kata yang lain.
Mereka menyusun rencana palsu.
Rencana untuk "menyerbu rumah Ferry" malam ini juga.
Rencana yang mustahil dilakukan karena kurang persiapan.
Rencana yang pasti akan gagal jika bocor.
"Kita sebarkan rencana ini hanya pada kita berenam. Tidak pada siapa pun."
"Bagaimana jika mata-matanya salah satu dari kita?" tanya Faruq curiga.
"Kita akan tahu nanti."
SUBUH MENYINGSING
Jam setengah lima pagi, fajar mulai menyingsing.
Mereka semua kelelahan.
Tapi belum ada yang tidur.
Laras duduk di sudut halaman, memeluk lututnya.
Arga mendekat.
"Laras."
"Iya."
"Aku tidak akan menghakimimu."
"Terima kasih."
"Tapi aku juga tidak akan sepenuhnya percaya padamu. Sampai semua ini selesai. Sampai Sekar bebas."
"Itu wajar. Aku tidak berharap lebih."
"Sekarang, kita istirahat. Sebentar. Satu jam. Nanti pagi kita bergerak."
"Baik."
Arga masuk ke kamar.
Ia membuka peta usang.
Ia memandang titik merah di perpustakaan.
"Di sini, dia meninggalkan sesuatu untukmu."
Sesuatu itu ternyata catatan harian Mbah Jayarasa.
Catatan tentang perjuangan puluhan tahun lalu.
Catatan yang mengajarkan Arga satu hal:
"Jangan pernah percaya sepenuhnya pada siapa pun. Tapi jangan juga menutup hati. Karena musuh bisa jadi teman. Dan teman bisa jadi musuh."
Arga menutup peta.
Ia memeluk bantal kebaya Sekar.
"Sekar," bisiknya. "Hari ini aku kehilangan kepercayaan pada Laras. Tapi aku juga mendapat kepercayaan baru. Kepercayaan bahwa tidak ada yang benar-benar jahat. Hanya orang, orang yang tersesat."
Ia memejamkan mata.
"Dan orang, orang yang tersesat, jika diberi kesempatan, bisa kembali ke jalan yang benar. Seperti Laras. Seperti aku. Seperti kita semua."
BAB 22
TAUBATNYA LARAS
Subuh itu, setelah pengakuannya sebagai mata-mata Ferry, Laras tidak bisa tidur.
Ia berbaring di kamar kosnya yang sempit, memandang langit, langit yang gelap, mendengar suara jangkrik dari selokan dan suara adzan subuh dari masjid kampung. Matanya terbuka lebar, tidak berkedip. Air matanya mengalir tanpa suara, bukan air mata kesedihan, tapi air mata penyesalan. Penyesalan yang begitu dalam, begitu berat, begitu membakar hingga ia merasa dadanya seperti terbakar api.
"Apa yang telah kulakukan?"
Pertanyaan itu berputar di kepalanya seperti air dalam kendi yang tidak pernah berhenti bergerak. Ia membayangkan wajah Arga ketika tahu bahwa Laras, perempuan yang ia percaya sebagai sekutu, sebagai saudara, sebagai orang yang paling bisa diandalkan, adalah mata-mata Ferry.
Wajah Arga pucat. Tangannya gemetar. Matanya kosong. Dan suaranya, suara Arga yang selama ini lembut dan penuh harapan, tiba, tiba berubah menjadi teriakan keras yang memecah keheningan malam.
"KELUAR! JAUH, JAUH DARI SINI!"
Laras menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia menangis. Bukan isak tangis pelan. Tapi tangis yang tertahan, tangis yang ingin pecah tapi ia tahan karena takut mengganggu penghuni kos lain.
"Aku monster," bisiknya pada dirinya sendiri. "Aku monster yang rela mengkhianati teman demi uang. Aku monster yang rela mengorbankan kebebasan Sekar demi keselamatan ibuku. Aku monster yang tidak pantas hidup di antara manusia baik."
Ia teringat pada ibunya, ibu yang sedang dirawat di rumah sakit Singapura, ibu yang tidak tahu bahwa biaya pengobatannya berasal dari uang haram, ibu yang menghabiskan hari, hari terakhirnya dengan tenang karena mengira anaknya baik, baik saja.
"Maafkan aku, Bu," bisik Laras. "Aku tidak bisa terus begini. Aku tidak bisa terus berbohong pada teman, temanku. Aku tidak bisa terus menjadi mata, mata Ferry. Maafkan aku, Bu... aku rela kau mati daripada aku hidup dalam dosa selamanya."
PUKUL ENAM PAGI
Laras keluar kamar.
Wajahnya pucat. Matanya sembab, bengkak karena semalaman menangis. Rambutnya kusut. Bajunya kusut. Ia tidak mandi. Tidak menyisir rambut. Tidak memakai sandal. Ia hanya berjalan tanpa tujuan ke halaman kos.
Mbok Darmi sudah duduk di kursi plastik, minum teh jahe, membaca Al, Qur'an dengan kacamata tebal di ujung hidung.
Melihat Laras, Mbok Darmi mengerutkan kening.
"Nduk, kamu kenapa? Wajahmu pucat sekali. Sakit?"
Laras menggeleng. "Tidak sakit, Mbok."
"Kamu nangis semalaman?"
"Iya, Mbok."
"Kenapa?"
Laras duduk di samping Mbok Darmi. Ia memandang perempuan tua itu—perempuan yang tidak pernah bertanya banyak, tidak pernah ikut campur urusan anak muda, tapi selalu menyediakan teh jahe dan pisang goreng setiap kali mereka berkumpul.
"Mbok, saya... saya sudah khianati teman, teman saya."
Mbok Darmi menutup Al, Qur'annya. Ia meletakkan kacamata di atas meja.
"Nduk, setiap orang pernah khianat. Entah sengaja, entah tidak. Entah besar, entah kecil. Yang penting, setelah khianat, apa yang kamu lakukan?"
Laras menunduk. "Saya... saya tidak tahu, Mbok."
"Kamu minta maaf?"
"Sudah. Tadi malam."
"Kamu diterima?"
"Belum sepenuhnya. Arga masih marah. Guntur masih curiga. Faruq masih kesal. Nisa masih sedih. Dimas masih kecewa."
"Itu wajar, Nduk. Luka karena pengkhianatan tidak sembuh dalam semalam. Butuh waktu. Butuh kesabaran. Butuh bukti."
"Bukti apa, Mbok?"
"Bukti bahwa kamu benar-benar berubah. Bukan hanya omongan. Bukan hanya air mata. Tapi tindakan."
Laras memandang Mbok Darmi.
Matanya berkaca, kaca.
"Apa yang harus saya lakukan, Mbok?"
Mbok Darmi menghela napas. "Kamu tahu sendiri. Kamu sudah dewasa. Kamu kuliah di universitas ternama. Kamu punya otak encer. Kamu tidak butuh Mbok memberi tahu."
Laras terdiam.
Ia memikirkan kata, kata Mbok Darmi.
Bukti bahwa kamu benar-benar berubah. Bukan hanya omongan. Bukan hanya air mata. Tapi tindakan.
Tindakan.
Tindakan apa yang bisa membuktikan taubatnya?
Tindakan apa yang bisa mengembalikan kepercayaan teman, temannya?
Tindakan apa yang bisa menebus kesalahannya?
Laras berdiri.
Ia berjalan ke kamar Arga.
Mengetuk pintu.
"Mas Arga."
Tidak ada jawaban.
"Mas Arga, saya mau bicara."
"Pintu tidak dikunci."
Laras masuk.
Arga duduk di dipan bambu. Wajahnya tegang. Matanya merah, tanda juga tidak tidur semalaman. Di tangannya, peta usang pemberian Mbah Jayarasa. Di pangkuannya, bantal kecil dari kebaya Sekar.
"Ada apa, Laras?" tanyanya dingin.
Laras duduk di lantai. Di depan Arga. Ia tidak berani duduk di dipan. Tidak berani sejajar.
"Mas Arga, saya mau minta maaf. Lagi. Dan lagi. Sampai Mas Arga mau memaafkan saya."
"Maaf tidak cukup, Laras."
"Saya tahu."
"Kamu sudah mengkhianati kami. Kamu sudah mengkhianati Sekar. Kamu sudah mengkhianati perjuangan kami."
"Saya tahu."
"Apa yang bisa kamu lakukan untuk memperbaiki?"
Laras menggigit bibirnya.
Tangannya gemetar.
"Mas Arga... saya akan mengambil bukti, bukti dari Mariyem. Sendirian. Tanpa bantuan siapa pun. Saya akan menghadapi risiko apapun. Saya akan buktikan bahwa saya tidak lagi mata-mata Ferry."
"Sendirian?"
"Sendirian. Saya tidak mau membahayakan kalian lagi."
Arga memandang Laras.
Lama.
"Kamu yakin?"
"Yakin."
"Ferry bisa membunuhmu."
"Saya tidak takut mati, Mas. Saya lebih takut hidup dalam dosa."
Arga menghela napas.
Ia memejamkan mata.
"Baik. Pergi. Tapi bawa Dimas. Untuk jaga, jaga."
"Tidak usah, Mas , "
"Bawa Dimas. Itu perintah."
Laras mengangguk.
PERJALANAN KE RUMAH AMAN
Jam delapan pagi, Laras dan Dimas berangkat.
Mereka naik motor Dimas, motor butut yang hanya bisa melaju empat puluh kilometer per jam. Perjalanan ke rumah aman Mariyem memakan waktu satu setengah jam. Melewati jalan raya macet. Melewati persawahan. Melewati perumahan padat. Melewati hutan kecil.
"Laras," panggil Dimas dari depan.
"Iya."
"Kamu kenapa mau melakukan ini?"
"Karena aku harus menebus kesalahan."
"Kamu takut?"
"Takut mati? Tidak. Takut gagal? Iya."
"Kamu tidak akan gagal. Aku di sini."
Laras tersenyum. "Terima kasih, Dimas."
"Jangan makasih. Nanti traktir."
Mereka tiba di rumah aman, sebuah rumah sederhana di tengah perkebunan salak. Dindingnya dari bambu. Atapnya dari seng. Halamannya ditumbuhi rumput liar.
Laras mengetuk pintu.
"Bu Mariyem! Ini Laras!"
Pintu terbuka.
Mariyem berdiri di ambang pintu. Wajahnya kaget.
"Laras? Kamu sendiri?"
"Sama Dimas. Di luar."
"Masuk. Cepat."
DI DALAM RUMAH AMAN
Rumah itu kecil. Hanya dua ruangan. Ruang tamu sekaligus ruang tidur. Dan dapur di belakang.
Mariyem duduk di dipan bambu. Wajahnya tegang.
"Laras, ada apa? Kok menelepon tadi malam bilang mau ambil bukti?"
"Iya, Bu. Saya mau ambil bukti asli. Fotokopian. Rekaman. Buku catatan. Semua."
"Untuk apa?"
"Untuk dibawa ke LBH. Untuk dibawa ke media. Untuk melawan Ferry."
Mariyem terdiam.
Ia memandang Laras.
"Kamu yakin, Nduk? Risikonya besar."
"Saya yakin, Bu."
"Ferry bisa membunuhmu."
"Saya sudah siap mati, Bu."
Mariyem menghela napas.
Ia berdiri. Berjalan ke dapur. Membuka sebuah kotak kayu di bawah tumpukan kayu bakar. Mengeluarkan sebuah tas plastik hitam.
"Ini," katanya sambil menyerahkan tas itu pada Laras. "Semua ada di sini. Fotokopian surat, surat Ferry. Rekaman percakapan. Buku catatan harian saya. Foto, foto Sekar. Semua."
Laras menerima tas itu.
Tangannya gemetar.
"Terima kasih, Bu."
"Jangan berterima kasih. Yang penting Sekar bebas."
"Ibu tidak takut pada Ferry?"
"Aku sudah tidak takut mati, Laras. Hidupku sudah cukup berat. Mati mungkin lebih ringan."
PERJALANAN PULANG
Jam sepuluh pagi, Laras dan Dimas pulang.
Tas plastik hitam berisi bukti, bukti diletakkan di jok belakang motor, di antara Laras dan Dimas. Laras memeluknya erat. Seperti memeluk nyawanya sendiri.
"Laras," panggil Dimas.
"Iya."
"Kamu dengar suara motor di belakang?"
Laras menoleh.
Dua motor. Hitam. Tanpa plat nomor. Pengendara helm hitam, jaket hitam.
"Dimas, cepat!"
Dimas memutar gas. Motor bututnya bergetar, melaju lebih cepat dari biasanya, mungkin karena adrenalin, mungkin karena takut.
Tapi motor hitam itu lebih cepat.
Mereka mendekat.
Satu di kiri. Satu di kanan.
"LARAS, LEPASKAN TAS ITU!" teriak salah satu pengendara.
"TIDAK MAU!"
"LEPASKAN ATAU KAMU CELAKA!"
"LEPASKAN SENDIRI!"
Pengendara di kiri mengeluarkan pentungan. Diayunkan ke arah Dimas.
Dimas menghindar. Motor oleng. Hampir jatuh.
"DIMAS!" teriak Laras.
"Aku baik, baik saja!"
Pengendara di kanan mengeluarkan pisau. Ditujukan ke tas plastik hitam.
Laras memeluk tas itu erat, erat.
Pisau itu mengenai lengan Laras.
Darat.
Laras berteriak.
Tapi ia tidak melepaskan tas itu.
"LARAS, DARAHMU!" teriak Dimas.
"BIARKAN! YANG PENTING BUKTI!"
Motor hitam itu semakin gencar menyerang.
Dimas kelabakan.
Tas diambil paksa.
Laras jatuh dari motor.
Berguling di aspal.
Tapi ia masih memegang tas itu.
"BUAT APA KAMU MEMPERTAHANKAN BARANG ITU? KAMU AKAN MATI!" teriak pengendara.
"BIARKAN AKU MATI! AKU SUDAH MATI SECARA BATIN!"
PERTOLONGAN DARI TAK TERDUGA
Tiba-tiba, sebuah truk besar muncul dari belokan.
Mengklakson keras.
Pengendara motor hitam itu terkejut, oleng, jatuh.
Satu. Dua.
Truk berhenti.
Sopirnya turun.
Laki, laki setengah baya dengan kumis tebal dan perut buncit.
"PAK MAN!" teriak Dimas.
Pak Man, supir bis yang dulu membantu Arga hari pertama di kota, berlari ke arah Laras.
"Nduk, kamu baik, baik saja?"
Laras menggeleng. "Saya... luka... tapi bukti... bukti masih aman."
"Mana buktinya?"
"Ini," Laras mengangkat tas plastik hitam.
"Diam di sini. Saya panggil polisi."
"Jangan, Pak. Polisi bisa membeli Ferry."
"Lalu?"
"Antar kami ke LBH. Sekarang. Sebelum Ferry mengirim anak buah lagi."
Pak Man mengangguk.
Ia mengangkat Laras ke truk.
Dimas mengikuti.
Motor bututnya ditinggal di pinggir jalan.
DI TRUK
Truk Pak Man melaju cepat.
Laras terbaring di lantai truk yang berdebu. Tangannya luka. Pakaiannya robek. Wajahnya pucat karena kehilangan darah.
"Nduk, kamu kuat?" tanya Pak Man.
"Saya kuat, Pak. Yang penting bukti."
"Nanti di LBH, kamu harus berobat dulu."
"Tidak usah, Pak. Saya mau serahkan bukti dulu."
"Kamu bisa pingsan."
"Biarkan."
Dimas memegang tangan Laras. "Laras, kamu berani."
"Bukan berani. Nekat."
"Itu sama saja."
"Tidak. Berani itu punya perhitungan. Nekat itu tanpa perhitungan."
"Sekarang kamu punya perhitungan?"
Laras tersenyum tipis. "Sekarang? Tidak. Aku hanya ingin mati dengan tenang."
"Jangan mati. Mas Arga belum memaafkanmu."
"Maka biarkan dia tidak memaafkanku. Yang penting dia bisa membebaskan Sekar."
DI LBH
Jam dua belas siang, mereka tiba di LBH.
Bu Rina sudah menunggu di depan kantor. Wajahnya tegang.
"Laras! Kamu kenapa?"
"Dihajar preman Ferry, Bu."
"Bu Mariyem?"
"Selamat. Bukti di tangan saya."
Laras menyerahkan tas plastik hitam itu pada Bu Rina.
Bu Rina menerimanya.
Dibukanya.
Fotokopian surat. Rekaman suara. Buku catatan. Foto, foto.
"Ini bukti yang kita butuhkan," kata Bu Rina. "Dengan ini, Ferry tidak bisa berkutik."
"Apakah cukup untuk membebaskan Sekar?"
"Cukup. Tapi kita butuh waktu."
"Berapa lama?"
"Mungkin satu minggu. Dua minggu. Tergantung proses hukum."
"Kita tidak punya waktu banyak. Ferry akan menikah dengan Sekar akhir bulan ini."
"Maka kita percepat. Saya akan hubungi media hari ini juga."
LARAS DI RUMAH SAKIT
Jam dua siang, Laras dibawa ke rumah sakit.
Lukanya cukup parah. Pisau menembus otot lengan. Butuh sepuluh jahitan. Dokter bilang, beruntung tidak mengenai urat nadi. Kalau tidak, Laras bisa mati kehabisan darah.
"Nduk, kamu harus istirahat seminggu," kata dokter.
"Saya tidak bisa, Dok. Saya harus membantu teman, teman."
"Tidak bisa. Ini perintah medis."
"Saya , "
"Laras," potong Arga yang baru datang bersama Guntur, Faruq, Nisa. "Dokter bilang istirahat. Kamu istirahat."
"Tapi , "
"Tidak ada tapi. Kamu sudah cukup berjuang. Sekarang giliran kami."
Laras memandang Arga.
Matanya basah.
"Kamu... sudah memaafkanku?"
Arga tidak menjawab.
Ia hanya memegang tangan Laras.
"Kamu selamat. Itu yang penting."
"Jawaban saya belum, Laras. Tapi kamu di jalur yang benar."
ISI BUKTI
Malam itu, di ruang rapat LBH, Bu Rina memeriksa semua bukti.
Fotokopian surat, surat Ferry: ancaman pada Mariyem, perintah untuk menyekap Sekar, perintah untuk memberi obat penenang dosis tinggi.
Rekaman suara: percakapan Ferry dengan pengacaranya tentang cara "mengamankan" Sekar, percakapan Ferry dengan orang tua Sekar tentang perjodohan, percakapan Ferry dengan preman bayaran.
Buku catatan Mariyem: catatan harian tentang penyiksaan psikis dan fisik pada Sekar, catatan tentang tamu, tamu mencurigakan yang datang ke rumah Ferry, catatan tentang aliran uang haram.
Foto, foto: Sekar lebam, Sekar pingsan, Sekar menangis di sudut kamar, Sekar berdiri di balkon dengan mata kosong.
"Ini bom waktu," kata Bu Rina. "Jika ini kita sebarkan ke media, Ferry akan hancur."
"Kapan kita sebarkan?" tanya Nisa.
"Besok pagi. Tapi kita harus hati, hati. Jangan sampai Ferry kabur ke luar negeri."
"Kita cegah. Dimas, kamu bisa pantau bandara?"
"Bisa," kata Dimas.
"Bagus. Guntur, kamu siapkan pernyataan pers."
"Siap."
"Faruq, kamu koordinasi dengan teman, teman aktivis. Besok kita demo di depan rumah Ferry."
"Siap."
"Arga, kamu... kamu yang paling berat."
"Apa, Bu?"
"Kamu harus siap tampil di depan media. Ceritakan semua. Tentang Sekar. Tentang perjuanganmu. Tentang cintamu."
Arga menghela napas.
"Apa itu perlu, Bu?"
"Perlu. Publik perlu tahu bahwa perjuangan ini bukan hanya tentang hukum. Tapi tentang cinta. Cinta yang tidak bisa dibeli uang."
MALAM DI KOS
Jam sebelas malam, Arga pulang ke kos.
Ia tidak langsung tidur.
Ia duduk di beranda.
Memandang langit malam.
Bulan purnama.
Bintang, bintang terang.
"Le, belum tidur?" sapa Mbok Darmi dari pintu.
"Belum, Mbok."
"Mikirkan Laras?"
"Iya. Juga besok. Demo. Media. Semua."
"Kamu takut?"
"Takut. Tapi tidak bisa mundur."
Mbok Darmi duduk di samping Arga.
"Nduk, Mbok mau cerita."
"Cerita apa, Mbok?"
"Dulu, ketika Mbok masih muda, Mbok juga pernah mengkhianati teman. Mbok iri. Mbok dengki. Mbok fitnah. Teman itu hampir bunuh diri karena ulah Mbok."
"Lalu?"
"Mbok menyesal. Mbok minta maaf. Tapi teman Mbok tidak bisa memaafkan. Sampai sekarang."
"Kenapa Mbok cerita ini?"
"Karena Mbok ingin kamu tahu bahwa memaafkan itu sulit. Tapi tidak memaafkan juga sulit. Pilih yang paling ringan untuk hatimu."
Arga tidak menjawab.
Ia hanya memandang langit.
BAB 23
DEMO DI DEPAN RUMAH FERRY
Bukti, bukti dari Mariyam telah diverifikasi oleh LBH. Rekaman suara, foto, foto, catatan harian, dan fotokopian surat, surat ancaman, semuanya otentik, semuanya kuat, semuanya cukup untuk menghancurkan reputasi Ferry dalam semalam. Tapi Bu Rina mengingatkan mereka bahwa hukum di negeri ini tidak selalu berpihak pada kebenaran. Hukum seringkali berpihak pada uang. Dan Ferry punya banyak uang.
"Maka kita gunakan senjata lain," kata Bu Rina dalam rapat terakhir sebelum aksi demo. "Publik. Tekanan publik lebih kuat dari seribu pengacara. Jika rakyat marah, tidak ada uang yang bisa membungkam mereka."
Nisa sudah menyebarkan undangan demo melalui jaringan aktivisnya. Dalam waktu dua hari, lebih dari lima ratus orang dari berbagai organisasi mahasiswa, LSM, serikat buruh, dan komunitas peduli perempuan menyatakan akan hadir. Media lokal dan nasional juga sudah dihubungi. Beberapa jurnalis investigasi tertarik dengan kasus ini, bukan hanya karena perjodohan paksa, tapi juga karena keterlibatan nama besar keluarga Kencana.
"Besok pagi, jam delapan, kita kumpul di Taman Pintar. Dari sana kita longmarch ke perumahan Mutiara Indah," kata Nisa. "Rute sudah kita urus izinnya. Polisi akan mengawal. Tapi jangan harap mereka akan melindungi kita jika terjadi kericuhan."
"Kenapa?" tanya Faruq.
"Karena polisi juga bisa dibeli Ferry."
"Lalu siapa yang akan melindungi kita?"
"Kita sendiri."
MALAM SEBELUM DEMO
Jam sepuluh malam, Arga tidak bisa tidur.
Ia duduk di beranda kos, memandang langit malam yang gelap tanpa bintang. Peta usang Mbah Jayarasa terbuka di pangkuannya. Bantal kecil dari kebaya Sekar ia genggam erat. Pikirannya melayang ke mana, mana, ke Sekar yang terkurung di rumah mewah itu, ke Laras yang masih dirawat di rumah sakit dengan lengan berbalut perban, ke Mariyem yang bersembunyi di rumah aman bersama anak, anaknya, ke teman, teman yang siap mempertaruhkan segalanya untuk kebebasan seorang gadis desa yang tidak pernah mereka kenal sebelumnya.
"Mas Arga," panggil Dimas dari halaman.
"Iya."
"Guntur minta kita kumpul di posko. Ada perubahan rencana."
Arga berdiri. Ia melipat peta, memasukkan ke saku celana. Bantal kebaya ia letakkan di dipan, tidak mau dibawa, takut rusak jika terjadi kericuhan.
Mereka berlima, Arga, Guntur, Faruq, Nisa, dan Dimas, berkumpul di ruang tamu kos yang telah disulap menjadi posko. Dindingnya dipenuhi peta, foto, foto, dan catatan, catatan. Meja kayu panjang dipenuhi dokumen, laptop, dan ponsel.
Guntur membuka laptopnya. "Ada kabar buruk. Ferry tahu soal demo besok."
"Dari mana?" tanya Nisa.
"Dari mata-matanya. Dia sudah menyiapkan preman. Ratusan. Mereka akan berpura-pura jadi pendemo dan membuat kericuhan."
"Tujuannya?"
"Agar polisi membubarkan demo. Agar citra kita rusak. Agar media memberitakan bahwa demo anarkis."
"Bajingan," geram Faruq.
"Kita harus antisipasi," kata Guntur. "Nisa, kamu koordinasi dengan koordinator lapangan. Setiap kelompok harus punya orang yang bertugas mendokumentasi. Rekam semua kejadian. Jangan sampai ada fitnah."
"Baik."
"Dimas, kamu di posisi tinggi. Atap toko dekat perumahan. Pantau pergerakan preman."
"Siap."
"Faruq, kamu di barisan depan. Kamu wajahnya paling tidak kenal di mata-mata Ferry. Bisa menyusup."
"Saya siap berkorban, Komandan."
"Jangan mati. Nanti repot."
Mereka tertawa kecil. Tapi tawa itu hambar.
PAGI DEMO
Jam setengah enam pagi, Arga sudah bangun.
Ia tidak tidur semalaman. Pikirannya terlalu kacau. Ia membayangkan Sekar di balik jendela rumah Ferry, mendengar suara demo, mungkin ketakutan, mungkin berharap, mungkin menangis.
Ia mandi dengan air dingin. Memakai kemeja putih lengan panjang, kemeja terbaik yang ia miliki, kemeja pemberian ibunya, kemeja yang hanya ia pakai untuk acara, acara penting. Celana bahan hitam yang sedikit kebesaran. Sepatu pantofel pinjaman dari Dimas.
Ia memandang cermin pecah di kamar mandi.
Wajahnya pucat. Matanya cekung. Bibirnya kering.
"Ini untuk Sekar," bisiknya pada bayangannya sendiri. "Ini untuk semua yang kau derita. Ini untuk kebebasanmu."
Ia keluar kamar.
Di halaman, teman, temannya sudah berkumpul.
Guntur dengan kemeja hitam lengan panjang, warna yang tidak pernah ia pakai sebelumnya. Faruq dengan kaos oblong bertuliskan "FREE SEKAR" di dadanya, cetakan sendiri semalam dengan cat tembok. Nisa dengan jaket jurnalistik lengkap dengan kantong, kantongnya. Dimas dengan rompi kurir yang dimodifikasi menjadi rompi taktis.
"Kita siap?" tanya Guntur.
"Siap," jawab mereka serempak.
TAMAN PINTAR
Jam tujuh pagi, mereka tiba di Taman Pintar.
Lapangan itu sudah mulai dipenuhi orang. Mahasiswa membawa poster. Ibu, ibu membawa bendera. Buruh membawa spanduk. Aktivis membawa pengeras suara. Wajah-wajah asing, tapi semuanya datang untuk satu tujuan: membebaskan Sekar.
Nisa naik ke atas panggung darurat, sebuah truk yang diparkir di pinggir taman. Ia memegang pengeras suara.
"SAUDARA, SAUDARA! TERIMA KASIH TELAH DATANG!"
Sorak sorai.
"HARI INI KITA BUKAN HANYA DEMO UNTUK SEKAR! HARI INI KITA DEMO UNTUK SEMUA PEREMPUAN YANG DIJODOHKAN PAKSA! UNTUK SEMUA PEREMPUAN YANG DIKURUNG! UNTUK SEMUA PEREMPUAN YANG HILANG SUARANYA!"
Sorak sorai makin keras.
"TAPI INGAT! KITA DATANG DENGAN DAMAI! KITA TIDAK AKAN MEMBANTING SATU PUN KACA TOKO! KITA TIDAK AKAN MEMBAKAR BAN! KITA TIDAK AKAN MELAWAN POLISI! KITA HANYA AKAN BERSERU! KARENA SUARA KITA ADALAH SENJATA PALING TAJAM!"
"SETUJU!" teriak massa.
Nisa turun dari truk.
Guntur mendekatinya. "Bagus. Tapi hati-hati. Mata, mata Ferry sudah mulai masuk."
"Dari mana?"
"Sana. Kelompok sebelah timur. Yang bawa bendera kuning. Itu bukan bendera organisasi mana pun."
"Lalu apa?"
"Bendera palsu. Mereka preman."
"Laporkan pada koordinator lapangan. Saya akan ke barat."
LONGMARCH
Jam setengah delapan, aksi longmarch dimulai.
Massa berjalan kaki dari Taman Pintar menuju perumahan Mutiara Indah. Jaraknya sekitar tiga kilometer. Polisi berjalan di samping kiri dan kanan, mengamankan, tapi tidak ikut serta.
Arga berjalan di barisan depan, di samping Guntur dan Faruq. Ia memegang poster besar bertuliskan "SEKAR, KAMI DATANG UNTUKMU!"
Wajahnya tegang.
Pikirannya kacau.
Ia terus memandang ke arah perumahan Mutiara, belum terlihat, masih tertutup gedung, gedung dan pepohonan.
"Mas Arga, tenang," bisik Faruq.
"Saya tenang."
"Tangan Mas gemetar."
"Itu karena dingin."
"Panas begini dingin?"
"Keringat dingin."
Mereka terus berjalan.
DI DEPAN GERBANG PERUMAHAN
Jam sembilan pagi, massa tiba di depan gerbang perumahan Mutiara Indah.
Gerbang besi setinggi tiga meter itu tertutup rapat. Di belakangnya, berjejer preman, mungkin seratus orang dengan pentungan, bambu runcing, dan sajam lainnya. Wajah, wajah garang. Tubuh, tubuh kekar.
Ferry tidak terlihat.
Tapi Arga tahu, dia ada di suatu tempat. Mengawasi. Tersenyum.
Nisa naik ke atas mobil komando, sebuah truk kontainer yang diparkir di pinggir jalan.
"SAUDARA, SAUDARA! KITA BERHENTI DI SINI! KITA TIDAK AKAN MASUK KE DALAM PERUMAHAN! KITA TIDAK AKAN MELAWAN PREMAN! KITA HANYA AKAN BERSERU!"
"SETUJU!"
"SEKAR, KAMI DI SINI!" teriak Nisa lewat pengeras suara.
"SEKAR, KAMI DI SINI!" ulang massa.
Suara gemuruh.
Arga ikut berteriak. Sekeras, kerasnya. Sampai suaranya serak.
"SEKAR! KAMU DENGAR? KAMI DI SINI! KAMI TIDAK AKAN PERGI! KAMI TIDAK AKAN MENYERAH!"
PREMAN MENYERANG
Jam setengah sepuluh, ketegangan memuncak.
Preman-preman mulai keluar dari gerbang. Bukan menyerang. Tapi mendekat. Mengintimidasi.
"KALIAN BUBAR! INI KAWASAN PRIBADI!" teriak salah satu preman.
"INI RUANG PUBLIK! INI JALAN RAYA!" bantah Nisa.
"URUSAN KAMI DENGAN YANG PUNYA RUMAH! KALIAN TIDAK BERHAK MELARANG!" teriak massa.
Preman itu meludah. "KALIAN TIDAK TAHU DIRI! KALIAN MELAWAN SIAPA?"
"KAMI MELAWAN KEJAHATAN! KAMI MELAWAN KETIDAKADILAN! KAMI MELAWAN FERRY!"
Preman itu mengangkat pentungan.
Massa mundur selangkah.
Tapi tidak lari.
Faruq maju ke depan. "AYO! PAKAI PENTUNGANMU! LEHERKU DI SINI! PUKUL!" teriaknya.
Preman itu terkejut. Tidak menyangka ada yang seberani itu.
"KAMU GILA?"
"MUNGKIN! TAPI SETIDAKNYA AKU TIDAK TAKUT PADA SESEORANG YANG HIDUPNYA BERGANJALAN PADA KEBENARAN!"
Preman itu mundur.
Massa bersorak.
Arga maju di samping Faruq.
"Dengar, saya tidak kenal kamu. Saya tidak tahu kenapa kamu mau bekerja pada Ferry. Mungkin karena uang. Mungkin karena terpaksa. Saya tidak menghakimi."
"TAPI HARI INI, SAYA MINTA KAMU BERHENTI! BERHENTI MENGHALANGI KEADILAN! BERHENTI MENJADI BONEKA ORANG KAYA!"
Preman itu memandang Arga.
Matanya berubah.
Dari garang menjadi ragu.
Dari ragu menjadi malu.
Ia menurunkan pentungannya.
Tanpa berkata apa, apa, ia berbalik dan masuk ke gerbang.
Preman lain mengikutinya.
Satu per satu.
Massa bersorak lebih keras.
FERRY MUNCUL
Tepat saat preman-preman masuk, sebuah mobil hitam Mercedes, Benz melaju dari dalam perumahan.
Plat B 1 FKY.
Ferry.
Mobil berhenti tepat di depan gerbang.
Ferry turun.
Tinggi. Tegap. Jas navy. Dasi merah. Sepatu oxford mengkilap. Wajahnya tampan, tapi dingin. Matanya tajam, tapi kosong.
Ia tersenyum.
Senyum yang tidak sampai ke mata.
"Demo yang bagus," katanya. "Terima kasih sudah meramaikan kawasan saya. Properiti saya jadi naik daun."
Massa mendesis.
"Ferry! Lepaskan Sekar!" teriak seseorang.
Ferry tertawa. "Sekar tidak di sini. Sekar sudah pindah. Ke tempat yang tidak akan kalian temukan. Bahkan dengan peta ajaib sekalipun."
Arga maju. "Ferry, di mana Sekar?"
"Kenapa kamu harus tahu? Kamu siapa? Pacar? Pacar desa yang tidak punya apa, apa?"
"Saya Arga. Anak Sastro dan Sukmawati. Dari desa Wringinrejo. Saya tidak punya uang. Tidak punya mobil. Tidak punya rumah mewah. Tapi saya punya hati. Hati yang mencintai Sekar. Dan hati itu tidak bisa kau beli dengan uang."
Ferry bertepuk tangan. Pelan. "Sastra banget. Kamu cocok jadi penulis roman picisan."
"Di mana Sekar?"
"Di tempat yang aman. Tempat di mana dia tidak akan diganggu preman desa seperti kamu."
"Ferry!" Nisa maju dengan pengeras suara. "KAMI PUNYA BUKTI! BUKTI PENYEKAPAN! BUKTI KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA! BUKTI PERJODOHAN PAKSA! BUKTI SUAP PADA POLISI! BUKTI SEGALA, GALANYA!"
"Bukti palsu," kata Ferry tenang. "Kalian bisa memalsukan apa saja."
"BUKTI ASLI! ADA REKAMAN SUARA! ADA FOTO! ADA SAKSI! KAMI SIAP BAWA KE PENGADILAN!"
Ferry mendekati Nisa. Berdiri tepat di depannya. Hanya setengah meter.
"Apa kamu tidak takut dipenjara karena memfitnah?"
"Saya tidak takut, karena saya tidak memfitnah. Saya hanya menyampaikan kebenaran. Dan kebenaran akan selalu menang, meskipun kau sembunyikan di balik uang dan kuasa."
Ferry tersenyum lagi. Tapi kali ini senyumnya berbeda. Ada gugup di balik bibir tipisnya.
"Kamu... berani."
"Bukan berani. Terpaksa. Karena jika orang baik diam, kejahatan akan menang."
Massa bersorak.
Ferry berbalik.
Ia berjalan ke mobilnya.
Sebelum masuk, ia menoleh.
"Arga."
Arga menatapnya.
"Kamu hebat. Tapi ingat, saya tidak akan kalah. Saya tidak pernah kalah. Dari dulu sampai sekarang. Dan kamu? Kamu hanya anak desa. Kamu tidak akan pernah menjadi apa, apa."
"Menjadi apa, apa tidak penting. Yang penting menjadi benar."
Ferry masuk ke mobil.
Mobil itu melaju.
Meninggalkan gerbang.
Meninggalkan massa.
Meninggalkan Arga yang berdiri tegap di tengah terik matahari.
SETELAH DEMO
Jam dua belas siang, massa mulai bubar.
Polisi mengamankan jalan. Petugas kebersihan membersihkan sampah. Beberapa demonstran masih bertahan, menunggu Ferry keluar lagi, tapi Ferry tidak akan keluar.
Arga duduk di pinggir jalan. Wajahnya lelah. Tenggorokannya kering. Kakinya pegal.
"Minum, Mas," kata Dimas sambil menyerahkan botol air mineral.
Arga meminumnya seteguk. Dua teguk. Tiga teguk.
"Ferry bilang Sekar sudah pindah," kata Arga.
"Bohong dia. Cuma taktik."
"Tapi bagaimana jika benar?"
"Kita cari. Dengan peta. Dengan bukti. Dengan teman, teman."
"Sekar..."
"Mas Arga, jangan patah semangat. Ini baru awal."
KEMBALI KE KOS
Jam dua siang, mereka tiba di kos.
Mbok Darmi sudah menyiapkan makan siang. Nasi, sayur asem, ayam goreng, sambal terasi.
"Makan, Le. Jangan banyak pikiran."
"Terima kasih, Mbok."
Mereka makan bersama. Tidak banyak bicara. Hanya suara sendok dan piring.
"Guntur," panggil Arga setelah makan.
"Iya."
"Kita harus cari Sekar. Cepat. Sebelum Ferry benar, benar memindahkannya ke tempat yang tidak bisa kita jangkau."
"Dimas, kamu punya ide?"
Dimas menggaruk kepalanya. "Rumah Ferry masih kita pantau. Tapi jika dia sudah pindah, kita butuh informasi dari dalam."
"Apa maksudmu?"
"Kita butuh mata-mata di dalam lingkaran Ferry. Bukan seperti Laras yang disusupkan. Tapi orang yang memang sudah ada di sana sejak lama."
"Contoh?"
"Mariyem. Tapi dia sudah ketahuan."
"Yang lain?"
"Pembantu lain. Satpam. Sopir. Koki. Tukang kebun. Pedagang keliling. Siapa pun yang punya akses."
"Itu ide bagus. Tapi berisiko."
"Semua berisiko, Mas."
MALAM DI RUMAH SAKIT
Jam tujuh malam, Arga menjenguk Laras di rumah sakit.
Laras terbaring di tempat tidur. Wajahnya masih pucat. Lengannya masih dibalut perban tebal. Tapi matanya, matanya sudah tidak sayu lagi. Ada cahaya di sana. Cahaya yang tidak pernah Arga lihat sebelumnya.
"Mas Arga, demo berhasil?"
"Berhasil. Massa ribuan. Ferry kewalahan."
"Apa dia mengaku?"
"Tidak. Tapi dia ketakutan. Aku lihat sendiri."
Laras tersenyum. "Bagus. Itu awal."
"Awal dari apa?"
"Awal dari kehancurannya."
Arga duduk di kursi samping tempat tidur.
"Laras, aku mau tanya."
"Iya."
"Apa motifmu sebenarnya membantu Ferry?"
Laras menunduk.
"Aku sudah cerita. Ibuku."
"Tapi itu tidak cukup. Ada yang lain."
Laras diam lama.
"Ada."
"Apa?"
"Aku... dulu pernah dekat dengan Ferry."
Arga terkesiap.
"Apa?"
"Dulu, sebelum Ferry kenal Sekar, kami dekat. Bukan pacaran. Tapi... dekat. Dia sering ajak aku makan. Belikan aku barang. Tawarkan beasiswa. Tapi aku tahu, semua itu ada harganya."
"Apa harganya?"
"Tubuhku."
Ruangan hening.
Laras melanjutkan.
"Aku tidak mau, Mas. Aku tolak. Sejak itu, dia benci aku. Tapi dia juga tahu kelemahanku: ibuku yang sakit. Jadi dia gunakan itu. Tawarkan uang. Bantuan. Semua untuk ibuku. Tapi dengan satu syarat."
"Apa?"
"Aku jadi mata-matanya. Mengawasi tim penyelamat Sekar."
"Dan kamu terima?"
"Aku terima. Karena ibuku. Karena tidak ada pilihan lain. Karena aku pikir, mungkin setelah ibuku sembuh, aku bisa lari. Bisa mulai hidup baru. Bisa melupakan semua ini."
"Tapi?"
"Tapi dosa tidak bisa dilupakan. Dosa tidak bisa disembunyikan. Dosa tidak bisa dibayar dengan uang."
PELUKAN PERDAMAIAN
Arga memandang Laras.
Perempuan di depannya bukan lagi mata, mata Ferry. Bukan lagi aktivis kampus yang misterius. Bukan lagi mahasiswa berprestasi yang selalu percaya diri. Tapi anak perempuan yang takut kehilangan ibunya. Tapi anak perempuan yang terpaksa melakukan hal, hal kejam demi orang yang dicintainya. Tapi anak perempuan yang sedang menangis di ranjang rumah sakit karena penyesalan.
"Laras," panggil Arga.
"Iya."
"Aku memaafkanmu."
Laras terisak.
"Aku sudah memaafkanmu sejak kamu jatuh dari motor, memeluk tas plastik berisi bukti, dan siap mati demi kebenaran."
"Mas Arga , "
"Kita teman. Kita saudara. Kita satu tim. Dan tim tidak saling mengkhianati. Tapi jika salah satu tersesat, tim akan membawanya kembali."
Laras menangis.
Arga memeluknya.
Pelukan yang hangat.
Pelukan yang tulus.
Pelukan yang mengubur masa lalu yang kelam.
BAB 24
FERRY MENYERANG BALIK
Demo besar di depan perumahan Mutiara Indah menjadi peristiwa yang mengguncang publik. Media massa memberitakannya di halaman depan. Televisi menayangkan rekaman massa yang berteriak "Lepaskan Sekar!" dan "Ferry Penjahat!" di setiap jam tayang utama. Media sosial dibanjiri tagar #FreeSekar dan #FerryTahanan. Publik mulai mempertanyakan siapa sebenarnya Ferry Kencana, pengusaha muda berbakat yang selama ini dipuja, puja, atau monster berjas yang menyekap dan menyiksa gadis desa?
Tapi Ferry tidak tinggal diam.
Dia bukan tipe orang yang mundur ketika terpojok. Dia bukan tipe orang yang menyerah ketika reputasinya hancur. Dia bukan tipe orang yang takut pada demo, media, atau publik. Dia adalah penguasa. Dan penguasa tidak pernah kalah. Penguasa selalu punya rencana cadangan. Penguasa selalu punya kartu as di balik lengan bajunya.
Dan malam itu, tepat ketika tim Arga merayakan kemenangan kecil mereka di kos, kosan, Ferry melancarkan serangan balik.
Bukan serangan fisik. Bukan serangan hukum. Tapi serangan psikologis. Serangan yang lebih kejam, lebih menghancurkan, lebih membuat Arga nyaris kehilangan akal.
Ferry menyerang dari dalam.
Dari orang-orang terdekat Arga.
Dari orang-orang yang tidak pernah ia duga.
TELEPON TENGAH MALAM
Jam satu dini hari, ponsel Arga berdering.
Tidak seperti biasanya. Nomor tidak dikenal. Tapi Arga mengangkat mungkin karena firasat, mungkin karena tidak bisa tidur, mungkin karena ada sesuatu di dadanya yang bergetar aneh.
"Halo?"
"Selamat malam, Arga." Suara itu dingin. Familiar. Menyebalkan.
"Ferry."
"Cerdas. Aku suka."
"Apa yang kau inginkan jam segini?"
Ferry tertawa kecil. Tawa kecil yang membuat bulu kuduk Arga merinding.
"Aku hanya ingin memberi kabar. Sekar baik, baik saja. Dia sudah pindah ke tempat yang lebih aman. Tempat yang tidak akan kau temukan. Bahkan dengan peta ajaib dari kakek tuamu."
"Kau tidak akan bisa bersembunyi selamanya, Ferry. Publik sudah tahu. Media sudah meliput. LBH sudah memproses. Hukum akan berjalan."
"Hukum?" Ferry tertawa lebih keras. "Kamu anak desa. Kamu tidak tahu apa, apa tentang hukum. Hukum adalah alat. Alat yang bisa dibeli dengan uang. Dan aku punya banyak uang."
"Uang tidak bisa membeli segalanya."
"Bisa. Kebanyakan hal. Termasuk nyawa."
Arga mengepalkan tangan. "Kau mengancamku?"
"Bukan ancaman. Fakta. Aku tahu semua tentang kamu. Tentang keluargamu. Tentang teman, temanmu. Bahkan tentang adikmu yang mati tenggelam Jatmika, bukan?"
Darah Arga berhenti mengalir. "Jangan bawa Jatmika ke dalam ini."
"Kenapa? Kau takut? Kau takut masa lalumu terbongkar? Kau takut orang, orang tahu bahwa kamu bukan anak normal? Bahwa kamu bisa melihat hantu? Bahwa kamu lahir di bawah kilat tanpa suara?"
"Ferry —"
"Aku punya orang di desamu, Arga. Orang yang merekam semua. Orang yang tahu semua. Aku punya bukti bahwa kamu anak aneh. Anak setan. Anak yang seharusnya tidak pernah lahir di dunia ini."
Arga terdiam.
Pikirannya kosong.
Dadanya sesak.
"Jika kamu tidak berhenti mencari Sekar," lanjut Ferry, "aku akan sebarkan bukti itu ke publik. Kamu akan diusir dari kos. Dipecat dari kerja. Dijauhi teman, teman. Dikucilkan. Kamu akan jadi orang buangan di kotamu sendiri."
"Kau iblis."
"Saya pengusaha. Saya realistis. Saya tidak percaya pada kebaikan, keadilan, atau cinta. Saya hanya percaya pada uang dan kuasa."
"Aku tidak takut."
"Kamu harus takut. Karena aku belum selesai. Aku juga akan menyerang teman-temanmu. Satu per satu. Guntur. Faruq. Nisa. Dimas. Laras. Semua yang membantumu akan hancur."
"Jangan sentuh mereka!"
Maka berhentilah. Hentikan pencarianmu. Lupakan Sekar. Biarkan dia menjadi istriku. Biarkan dia hidup dalam kemewahan. Itu lebih baik daripada hidup di desa miskin bersamamu."
Arga tidak menjawab.
"Kau punya waktu tiga hari, Arga. Tiga hari untuk memutuskan. Berhenti. Atau hancur."
Telepon ditutup.
Arga memandang ponselnya.
Tangannya gemetar.
Wajahnya pucat.
Ia jatuh duduk di dipan.
PAGI YANG KELAM
Jam enam pagi, Guntur datang ke kos.
Wajahnya tegang. Matanya merah. Bajunya kusut , sepertinya tidak tidur semalaman.
"Arga, kita kena serangan."
"Serangan apa?"
"Laptopku diretas. Semua data tentang kasus ini bukti, foto, rekaman, catatan hilang."
"Hilang?"
"Iya. Terhapus. Tidak bisa direcovery. Pelaku profesional."
"Ferry?"
"Pasti."
Belum selesai Guntur bicara, ponsel Faruq berdering. Ia angkat. Wajahnya berubah pucat.
"Apa?"
Diam.
"Apa katamu?"
Diam lagi.
"Baik. Saya datang."
Faruq menutup ponsel. Wajahnya pucat pasi.
"Faruq, kenapa?" tanya Nisa.
"Kos, kusanku digeledah. Polisi. Surat perintah dari pengadilan. Mereka bilang ada laporan bahwa aku menyimpan narkoba."
"Kamu menyimpan?"
"Tidak! Aku tidak pernah!"
"Pasti Ferry yang mengatur."
"Sialan."
Belum lagi mereka memproses berita itu, ponsel Nisa berdering.
Ia angkat.
Wajahnya berubah.
"Bu Rina? Ada apa?"
Diam.
"Kantor LBH digeledah? Bukti, bukti disita?"
Diam.
"Polisi? Atas perintah siapa?"
Diam.
"Baik. Saya ke sana."
Nisa menutup ponsel. Matanya berkaca, kaca.
"Bu Rina bilang, semua bukti yang kita serahkan ke LBH disita polisi. Alasan: dugaan pemalsuan dokumen."
"Pemalsuan dokumen?" Guntur tertawa pahit. "Itu kentara sekali rekayasa."
"Tapi itu yang tertulis di surat perintah."
"Sialan."
Dimas yang sejak tadi diam, angkat bicara.
"Kalau begitu, kita tidak punya apa, apa lagi. Bukti hilang. Laptop diretas. Kos digeledah. LBH disita."
"Kita masih punya Mariyem," kata Arga.
"Mariyem? Ferry sudah tahu di mana dia."
"Tapi dia saksi hidup. Saksi yang tidak bisa disita polisi."
"Ferry bisa membunuhnya sebelum dia bersaksi."
"Maka kita lindungi dia."
"Dengan apa? Dengan siapa? Polisi ada di pihak Ferry. Preman semakin banyak. Uang habis. Tenaga habis. Semua habis."
KEDATANGAN TAK TERDUGA
Saat suasana paling kelam, seseorang datang ke kos.
Ibu, ibu setengah baya dengan keranjang anyaman di tangan. Wajahnya lelah, keringat membasahi dahi.
"Selamat pagi. Arga?"
Arga menoleh. "Iya. Siapa Ibu?"
"Saya Utami. Tetangganya Mbah Jayarasa di desa."
Arga terkesiap. "Mbah Jayarasa? Bagaimana kabarnya?"
Utami menunduk. Tangannya gemetar.
"Maaf, Mas Arga. Mbah Jayarasa meninggal tiga hari lalu."
Dunia Arga berhenti berputar.
"Apa?"
"Meninggal. Dalam tidur. Kata dokter, usianya sudah cukup."
"Mengapa saya tidak diberi tahu?"
"Karena Mbah Jayarasa yang meminta. Dia bilang, jangan ganggu Arga. Dia sedang berjuang untuk sesuatu yang penting. Biarkan dia fokus. Jangan beri kabar duka."
Air mata Arga jatuh.
Ia jatuh duduk di kursi.
Guntur memegang bahunya.
"Mbah Jayarasa..." bisik Arga. "Mbah Jayarasa... aku tidak sempat pamit... aku tidak sempat melihatmu terakhir kali..."
Utami mengeluarkan sesuatu dari keranjangnya.
Sebuah kotak kayu kecil. Ukiran. Polos. Tapi elegan.
"Ini titipan Mbah Jayarasa untukmu. Dia bilang, buka ketika kamu merasa paling putus asa."
Arga menerima kotak itu.
Tangannya gemetar.
Ia membuka tutupnya.
Di dalamnya: peta lain.
Peta yang berbeda.
Peta yang lebih detail.
Peta yang menunjukkan lokasi persembunyian Sekar yang baru.
Dan sepucuk surat.
ISI SURAT MBAH JAYARASA
Arga membaca surat itu dengan suara parau, terbata-bata, di antara isak tangisnya.
"Le, jika kau membaca surat ini, berarti aku sudah tiada. Jangan sedih. Aku hidup cukup lama. Aku melihatmu lahir, tumbuh, jatuh cinta, berjuang. Itu sudah lebih dari cukup."
"Le, aku tahu semua yang terjadi. Aku tahu tentang Ferry. Tentang Sekar. Tentang perjuanganmu. Aku tahu tentang Laras. Tentang pengkhianatannya. Aku tahu tentang demo. Tentang serangan balik Ferry."
"Aku juga tahu bahwa saat kau membaca surat ini, kamu sedang berada di titik terendah. Kamu merasa kalah. Kamu merasa tidak punya harapan. Kamu merasa semua sia, sia."
"Tapi Le, ingatlah: puncak gunung tidak akan pernah tercapai jika kamu berhenti di tengah jalan. Lembah terdalam tidak akan pernah kau lewati jika kamu menyerah sebelum mencoba."
"Aku meninggalkan peta kedua untukmu. Peta ini lebih detail dari yang pertama. Peta ini menunjukkan lokasi sebenarnya Sekar tempat persembunyian baru yang Ferry bangun khusus untuk mengamankan calon istrinya."
"Jangan tanya dari mana aku tahu. Aku punya mata-mata yang tidak pernah ketahuan. Mata-mata yang bahkan Laras tidak tahu."
"Sekarang, bangkitlah. Kumpulkan teman, temanmu. Bergeraklah. Jangan biarkan kematianku menghentikan kalian. Biarkan kematianku menjadi bahan bakar semangatmu."
"Arga, aku bangga padamu. Kamu bukan anak desa biasa. Kamu adalah pengembara yang mencari rumahnya sendiri. Dan rumah itu bukan tembok dan genteng. Rumah itu adalah hati Sekar."
"Salam untuk teman, temanmu. Dan untuk Jatmika — kakakmu yang setia menjaga dari alam sana."
"—Mbah Jayarasa"
Arga menutup surat itu.
Ia memeluk kotak kayu.
Ia menangis.
Bukan isak tangis kecil.
Tapi tangis keras yang keluar dari hati paling dalam.
Tangis untuk Mbah Jayarasa.
Tangis untuk semua pengorbanan.
Tangis untuk perjuangan yang belum selesai.
KEDATANGAN RATRI
Saat Arga masih terisak, seseorang masuk ke halaman kos.
Perempuan muda. Rambut panjang. Wajah bulat. Matanya sayu.
"Ratri?" Arga tidak percaya.
Ratri, teman masa kecilnya, sahabat setia yang selalu ada di desa, kini berdiri di depannya. Di kota. Di tempat yang tidak pernah ia bayangkan akan ia kunjungi.
"Mas Arga," Ratri tersenyum tipis.
"Kamu ngapain di sini?"
"Nggak tenang. Dengar-dengar Mas Arga dalam bahaya. Ibu dan Ayah juga nggak tenang. Mereka suruh aku ke sini."
"Sendirian?"
"Sendirian. Naik bis dua belas jam."
"Berani sekali kamu."
Ratri mendekat. Ia memeluk Arga. "Aku bukan cuma teman masa kecilmu, Mas. Aku juga saudaramu. Saudara tidak akan membiarkan saudaranya berjuang sendiri."
Guntur, Faruq, Nisa, dan Dimas hanya diam memandang.
Mereka tidak mengenal Ratri. Tapi dari cara Ratri memeluk Arga, dari cara Arga tidak menolak mereka tahu bahwa perempuan ini istimewa.
"Saudara?" bisik Faruq pada Guntur.
"Teman masa kecil," bisik Guntur balik.
"Lebih dari teman?"
"Entahlah."
RATRI BERGABUNG
Ratri duduk di antara mereka. Mbok Darmi menyuguhkan teh jahe dan pisang goreng.
"Mas Arga," kata Ratri setelah mendengar cerita singkat dari Arga.
"Iya."
"Aku nggak bisa bantu banyak. Aku cuma gadis desa. Tapi aku bisa jaga Mariyem. Aku bisa jaga bukti-bukti cadangan."
"Bukti cadangan?"
"Iya. Ibu Mariyem titipkan satu set bukti padaku sebelum dia pindah ke rumah aman. Katanya, untuk jaga, jaga."
Semua terkesiap.
"Kamu memiliki bukti asli?" tanya Nisa.
"Iya. Fotokopian. Rekaman. Buku catatan. Foto. Semua."
"Dari mana kamu tahu?"
"Mbah Jayarasa yang menyuruhku. Dia bilang, 'Ratri, kamu harus ke kota. Bawa ini. Serahkan pada Arga saat dia paling putus asa.'"
Arga memeluk Ratri.
"Kamu penyelamat, Rat."
"Aku bukan penyelamat. Aku hanya menjalankan pesan Mbah Jayarasa."
RENCANA BARU
Malam itu, mereka menyusun rencana baru.
Dengan peta kedua dari Mbah Jayarasa. Dengan bukti cadangan dari Ratri. Dengan semangat yang membara.
"Lokasi persembunyian baru Sekar," kata Guntur sambil menunjuk peta. "Di sini. Sebuah vila di lereng Gunung Merapi. Jauh dari keramaian. Sulit dijangkau."
"Penjagaan?" tanya Dimas.
"Ketat. Tapi celahnya: setiap hari Rabu, Ferry ke sana. Sendirian. Tanpa preman."
"Kenapa?"
"Karena dia ingin privasi. Ingin bertemu Sekar tanpa gangguan."
"Itu kesempatan kita."
"Tapi risikonya besar. Gunung Merapi. Medan berat. Jauh dari bantuan."
"Kita siap."
"Kita?"
"Semua."
PEMBERANGKATAN
Jam delapan malam, mereka berangkat.
Dua mobil sewaan.
Guntur, Arga, Ratri di mobil pertama. Faruq, Nisa, Dimas di mobil kedua.
Perjalanan ke lereng Merapi memakan waktu tiga jam. Melewati jalanan berkelok, desa, desa terpencil, kebun sayur, dan hutan pinus.
Arga duduk di kursi depan, memandang gelap di luar jendela.
Ia memegang peta kedua peta terakhir dari Mbah Jayarasa.
"Peta ini tidak akan gagal," bisiknya pada dirinya sendiri. "Peta ini tidak akan gagal. Sekar, tunggu aku."
BAB 25
EKSEKUSI DI LERENG MERAPI
Perjalanan menuju lereng Gunung Merapi memakan waktu lebih lama dari perkiraan. Jalanan berkelok, gelap, dan sesekali diterjang kabut tebal yang turun dari puncak. Mobil sewaan Guntur dan Dimas melaju pelan, hanya mengandalkan lampu utama yang tembusannya terbatas. Di kiri kanan jalan, pohon pinus menjulang tinggi seperti raksasa yang sedang tidur, diam, diam mengawasi rombongan kecil yang nekat memasuki wilayah mereka.
Arga duduk di kursi depan, di samping Guntur yang menyetir. Jari, jarinya menggenggam peta kedua pemberian Mbah Jayarasa peta yang basah oleh keringatnya sendiri. Ratri di kursi belakang tidak bicara. Ia hanya memandang ke luar jendela, sesekali menarik napas panjang, sesekali menggenggam tangannya sendiri.
"Guntur, masih jauh?" tanya Arga.
"Setengah jam lagi. Menurut peta, vila itu berada di ketinggian seribu dua ratus meter. Lewat desa ini, belok kiri, masuk jalan setapak."
"Jalan setapak? Mobil bisa lewat?"
"Tidak. Kita harus jalan kaki. Sekitar dua kilometer."
Ratri menghela napas. "Dua kilometer di lereng Merapi, malam, malam, tanpa penerangan?"
"Ada senter."
"Bukan itu masalahnya. Medannya berat. Bisa longsor. Bisa ada binatang buas."
Guntur tersenyum tipis. "Kita sudah terlalu jauh untuk mundur."
DI POS KETIGA
Jam sebelas malam, mereka tiba di sebuah pos perbatasan gardu kecil milik warga setempat yang biasa digunakan untuk memantau aktivitas gunung. Dari sana, jalan aspal berubah menjadi jalan tanah berbatu. Mobil tidak bisa melaju lebih jauh.
Mereka berhenti.
Dimas mematikan mesin mobil keduanya. Faruq dan Nisa turun, meregangkan kaki, memandang ke arah gelap di depan.
"Ini dia," kata Guntur sambil membuka peta. "Dari sini kita jalan kaki. Melewati kebun warga, menembus hutan pinus, sampai ke tebing kecil. Vila Ferry ada di atas tebing itu."
"Siapa punya senter?" tanya Dimas.
Mereka mengeluarkan senter masing, masing kecuali Ratri yang lupa membawa.
"Ratri, kamu di belakangku," kata Arga. "Pegang bahuku. Jangan lepas."
Ratri mengangguk. Tangannya yang dingin menyentuh bahu Arga.
Mereka berjalan.
Sunyi.
Hanya suara langkah kaki di tanah berbatu.
Suara detak jantung sendiri.
Suara nafas yang tertahan.
HUTAN PINUS
Hutan pinus di lereng Merapi memiliki suasana yang berbeda dari hutan biasa. Pepohonannya tinggi, jarang, dengan jarak tanam yang teratur peninggalan zaman Belanda yang ditanam untuk mencegah erosi. Di bawahnya, tanah kering ditumbuhi semak belukar dan rumput liar.
Angin malam berembus di antara batang pinus, menimbulkan suara siulan panjang yang menyeramkan. Beberapa kali mereka mendengar suara ranting patah di kejauhan mungkin binatang, mungkin penjaga vila, mungkin imajinasi sendiri.
"Guntur," bisik Arga.
"Iya."
"Apa kamu yakin Ferry tidak punya penjaga di sini?"
"Menurut informasi, hari Rabu Ferry datang sendiri. Tidak bawa preman. Tapi bisa saja dia punya satpam tetap di vila."
"Berapa?"
"Informasi tidak jelas. Bisa dua, bisa empat."
"Kita hanya berenam."
"Berlima. Ratri tidak ikut masuk. Dia jaga di luar."
Ratri yang mendengar itu langsung protes. "Aku tidak akan tinggal di luar!"
"Ratri, ini berbahaya."
"Aku sudah jalan berjam- jam dari desa. Aku tidak akan diam di luar saat kalian bertaruh nyawa."
"Tapi , "
"Sudah, Mas. Aku ikut. Aku tidak mau ketinggalan saat Sekar akhirnya bebas."
Arga menghela napas. Ia tidak bisa membantah.
TEBING DAN VILA
Setelah satu jam berjalan, mereka tiba di kaki tebing.
Tebing itu tidak terlalu tinggi sekitar lima belas meter. Di atasnya, berdiri sebuah vila bergaya Eropa, dengan dinding batu bata merah dan atap genteng tanah liat. Lampu, lampu taman menyala redup, menerangi halaman yang ditumbuhi bunga, bunga alpine.
"Ini dia," bisik Guntur. "Vila Ferry."
"Cantik," kata Ratri setengah bergumam.
"Itu penjara, Rat. Bukan rumah indah. Itu tempat Sekar dikurung, disuntik obat penenang, dan disiksa psikis."
Ratri menunduk. "Maaf. Aku tidak bermaksud , "
"Tidak apa. Ayo, kita cari jalan masuk."
Mereka memutari tebing. Di sisi barat, ada tangga batu sempit yang terpotong di alam ,mungkin bekas jalur pendakian warga sebelum vila itu dibangun.
"Lewat sini," kata Dimas. "Aku lihat bekas jejak sepatu. Baru. Mungkin Ferry lewat sini tadi."
Mereka naik.
Pelan. Satu per satu.
Arga di depan. Guntur di belakangnya. Ratri di belakang Guntur. Dimas, Faruq, Nisa menyusul.
Tangga itu licin. Lumut di mana-mana. Sesekali bebatuan lepas, jatuh ke bawah, menimbulkan suara berdebam.
Arga berhenti. "Pelan, pelan. Jangan tergesa. Satu orang jatuh, kita semua bisa jatuh."
Mereka terus naik.
HALAMAN VILA
Jam dua belas malam, mereka tiba di halaman vila.
Halamannya luas. Rumput taman dipotong rapi. Kolam ikan koi berwarna oranye dan putih berenang pelan di bawah cahaya lampu taman. Di teras depan, dua kursi rotan dengan meja kaca. Di atas meja, segelas anggur merah yang sudah setengah diminum.
"Ferry baru saja ke sini," bisik Guntur. "Anggurnya masih dingin."
"Mungkin dia di dalam," kata Dimas.
"Bersama Sekar?"
"Atau bersama penjaga."
"Kita harus masuk."
"Caranya?"
Guntur mengamati vila. Dua lantai. Jendela, jendela besar dengan tirai tebal. Lampu di lantai satu menyala terang. Lantai dua gelap hanya satu lampu temaram di kamar pojok.
"Itu kamar Sekar," kata Guntur yakin.
"Kenapa yakin?"
"Karena hanya satu lampu yang menyala. Seperti lampu tidur. Lampu yang biasa dinyalakan untuk orang yang sedang sendirian. Atau untuk orang yang sedang dikurung."
Arga mengepalkan tangannya. "Kita masuk lewat pintu belakang. Jendela dapur. Biasanya tidak terkunci."
"Berani?"
"Untuk Sekar, apa pun aku berani."
PINTU BELAKANG
Pintu belakang vila adalah pintu kayu sederhana dengan gagang besi berkarat. Tidak ada kamera CCTV mungkin Ferry terlalu percaya diri dengan lokasi terpencilnya.
Arga memutar gagangnya pelan.
Terkunci.
Dia mengeluarkan sebilah pisau lipat dari saku celana pisau pemberian Dimas untuk "keadaan darurat". Diselipkannya di sela pintu dan kusen. Digerakannya pelan.
Klik.
Pintu terbuka.
Mereka masuk.
Dapur vila itu besar. Modern. Peralatan masak dari stainless steel. Kulkas dua pintu. Kompor gas enam tungku. Di meja dapur, piring berisi sisa makanan roti, keju, buah anggur.
"Ferry makan malam di sini," bisik Nisa. "Dua piring."
"Satu untuk Ferry, satu untuk Sekar?"
"Atau untuk penjaga."
"Kita tidak tahu. Hati, hati."
KORIDOR MENUJU KAMAR
Mereka berjalan menyusuri koridor.
Dinding kiri kanan dipenuhi lukisan mahal pemandangan gunung, laut, dan potret seorang perempuan cantik yang tidak Arga kenal. Lantai marmer mengkilap, licin, memantulkan bayangan mereka.
"Mati lampu," bisik Guntur.
"Mati?"
"Ferry matikan lampu koridor. Tidak mau ada bayangan."
"Atau dia sudah tahu kita datang."
Mereka berhenti.
Jantung berdebar.
Tidak ada suara.
Hanya angin malam yang masuk melalui celah, celah jendela.
"Lanjut," perintah Arga.
Mereka terus berjalan.
TANGGA MENUJU LANTAI DUA
Tangga menuju lantai dua terbuat dari kayu jati dengan ukiran halus di setiap anak tangganya.
Mereka naik perlahan.
Setiap langkah menimbulkan bunyi derit kecil tidak terlalu keras, tapi cukup untuk mengingatkan mereka bahwa mereka tidak seharusnya berada di sini.
Arga sampai di ujung tangga.
Ia memandang koridor lantai dua.
Koridor panjang. Hanya satu lampu di ujung sana dekat kamar yang diduga kamar Sekar.
Dinding kiri kanan tertutup pintu, pintu kayu.
"Ke kamar nomor tiga," bisik Guntur.
"Kenapa nomor tiga?"
"Kamar pojok. Paling sunyi. Paling aman. Tempat yang tepat untuk menyekap seseorang."
Arga berjalan.
Langkahnya pelan.
Hampir tidak bersuara.
Faruq dan Dimas mengikuti di belakang.
Ratri dan Nisa di belakang lagi.
Guntur di paling belakang, memantau.
PINTU KAMAR SEKAR
Mereka sampai di depan pintu kamar nomor tiga.
Pintu kayu solid dengan gagang kuningan. Tidak ada gembok dari luar berarti tidak dikunci, atau dikunci dari dalam.
Arga menempelkan telinganya di pintu.
Ia mendengar suara isak tangis.
Suara yang sangat ia kenali.
Suara Sekar.
"Mas Arga," bisik Ratri di belakang.
Arga mengetuk pintu.
Tiga kali.
Pelan.
"KREK..."
Pintu terbuka sedikit.
Sekar mengintip dari balik celah.
Wajahnya pucat. Matanya sembab. Rambutnya kusut. Gaun tidur putihnya kusut.
"Arga?" bisiknya tidak percaya.
"Sekar, ini aku."
"Kamu... di sini?"
"Aku di sini. Aku datang menjemputmu."
Sekar membuka pintu lebar-lebar.
Ia memeluk Arga.
Menangis.
Terisak.
Tubuhnya kurus sangat kurus. Arga bisa merasakan tulang iga Sekar di balik gaun tipis itu.
"Arga... Arga... aku kira kamu tidak akan datang... aku kira kamu lupa padaku..."
"Aku tidak akan lupa, Sekar. Aku tidak akan pernah lupa."
FERRY MUNCUL
Saat mereka berpelukan, lampu koridor menyala terang.
Suara tepuk tangan dari belakang.
Ferry berdiri di ujung koridor.
Jas navy. Dasi merah. Sepatu oxford mengkilap. Wajahnya tersenyum senyum yang tidak sampai ke mata.
"Romantis," katanya. "Saya hampir menangis."
Arga melepaskan pelukannya.
Ia berdiri di depan Sekar. Melindunginya.
"Ferry, biarkan Sekar pergi."
"Biarkan? Dia calon istriku. Aku sudah bayar mahar. Aku sudah lunasi hutang orang tuanya."
"Perjodohan tidak halal."
"Halal atau tidak, itu urusan nanti. Sekarang, urusannya adalah kamu menyusup ke propertiku. Itu tindak kriminal."
"Aku tidak peduli."
"Polisi akan peduli."
Ferry mengeluarkan ponsel. Jarinya menari di layar.
"Selamat malam, Komandan. Saya Ferry Kencana. Ada penyusup di vila saya. Tolong kirim tim."
Ia menutup telepon.
"Polisi akan datang dalam lima belas menit. Kalian tidak akan sempat kabur."
Guntur maju selangkah. "Kami tidak akan kabur. Kami akan bertahan. Dan kami akan buktikan bahwa kamulah penjahatnya, bukan kami."
Ferry tertawa. "Dengan bukti apa? Bukti kalian sudah disita polisi. Laptop Guntur sudah diretas. Kos Faruq sudah digeledah. LBH sudah dibekukan. Bukti cadangan dari Mariyem sudah saya ambil malam ini."
Arga tersenyum.
"Ferry, kamu lupa satu hal."
"Apa?"
Arga melihat ke arah Ratri.
Ratri mengangguk. Ia mengeluarkan sebuah flashdisk dari saku celananya.
"Flashdisk ini berisi fotokopian semua bukti. Plus rekaman percakapanmu dengan Mariyem malam ini saat kamu bilang bahwa kamu akan mengambil bukti dari rumah aman. Rekaman itu sudah kami simpan di tiga tempat berbeda. Jika kami tidak kembali ke kos dalam dua jam, rekaman itu akan otomatis terkirim ke media, ke LBH pusat di Jakarta, dan ke Komnas Perempuan."
Wajah Ferry berubah.
Pucat.
"Kamu... kamu menyadap ponselku?"
"Bukan saya. Mantan pacarmu, Laras. Dia yang pasang alat perekam di ponselmu minggu lalu. Tanpa sepengetahuanmu."
"Laras ,"
"Dia sudah taubat, Ferry. Dia memilih kebenaran daripada uangmu."
KEJUTAN DARI MARIYEM
Belum selesai Ferry memproses keterkejutannya, seseorang masuk dari pintu belakang.
Mariyem.
Ibu-ibu paruh baya dengan keranjang anyaman di tangan.
"Ferry," katanya tenang. "Aku di sini. Aku bukan di rumah amanmu. Aku sudah pindah ke tempat yang tidak akan kau temukan. Dan aku sudah membuat surat pernyataan di depan notaris. Jika aku mati karena alasan apapun surat itu akan terbuka. Isinya: semua kejahatanmu."
Ferry mundur selangkah. "Kamu... kamu tidak mungkin..."
"Saya mungkin. Karena saya tidak takut mati. Saya sudah cukup menderita hidup di dunia yang dikuasai setan seperti kamu."
Mariyem mendekati Sekar.
Ia memeluk gadis itu.
"Nduk, maafkan saya. Saya tidak bisa melindungimu selama ini. Saya hanya pembantu. Tapi mulai hari ini, saya akan bersaksi. Saya akan lawan Ferry. Sampai mati."
Sekar menangis dalam pelukan Mariyem.
POLISI DATANG
Sirene polisi terdengar dari kejauhan.
Ferry tersenyum. "Polisi datang. Sekarang giliran kalian yang ketakutan."
Arga tidak bergerak.
Ia hanya memandang Ferry.
"Ferry, kamu pikir polisi akan menangkap kami?"
"Tentu. Aku yang melapor."
"Tapi kami yang punya bukti."
"Bukti kalian sudah "
"Sudah kami gandakan di tiga tempat. Seperti yang kau dengar."
"Tapi , "
"Dan aku sudah berbicara dengan jurnalis investigasi dari Tempo dan Kompas. Mereka sedang dalam perjalanan ke sini. Mungkin sudah dekat."
Wajah Ferry semakin pucat.
"Kamu... kamu tidak mungkin secerdas itu."
"Aku tidak cerdas. Aku hanya punya teman yang cerdas."
Arga menunjuk Guntur.
Guntur mengangkat laptopnya laptop yang sebelumnya dikabarkan diretas. Ternyata tidak. Itu hanya kamuflase.
"Laptopku tidak diretas, Ferry. Aku hanya pura, pura. Agar kamu lengah."
"Kamu "
"Kami sudah mempersiapkan ini sejak Laras mengaku. Semua bagian dari rencana. Termasuk peta kedua dari Mbah Jayarasa. Termasuk kedatangan Ratri dari desa. Termasuk keberanian Mariyem untuk keluar dari persembunyian."
"Kalian... kalian semua..."
"Kami bukan anak desa bodoh yang bisa kau beli dengan uang. Kami manusia. Manusia yang percaya pada keadilan. Manusia yang percaya pada cinta. Manusia yang percaya bahwa kebenaran akan selalu menang."
Ferry jatuh duduk di lantai.
Wajahnya lemas.
Tangannya gemetar.
Ia tidak bicara.
Ia hanya diam.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ferry Kencana pengusaha kaya raya, anak keluarga terpandang, calon menantu idaman tidak punya kata, kata.
POLISI MASUK
Polisi masuk ke vila.
Bukan satu atau dua.
Tapi lima mobil.
Lengkap dengan senjata dan rompi antipeluru.
"Semua jangan bergerak!" teriak komandan.
Arga mengangkat tangan.
Sekar mengangkat tangan.
Guntur, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Mariyem semuanya mengangkat tangan.
Ferry juga mengangkat tangan.
"Kami dari kepolisian daerah. Ada laporan penculikan dan penyekapan. Siapa yang melapor?"
"Saya," kata Guntur.
"Saudara, laporan Saudara sudah kami terima. Dan setelah penyelidikan awal, kami menemukan bukti, bukti yang cukup untuk menahan terduga pelaku."
"Terduga pelaku siapa?"
Komandan polisi memandang Ferry.
"Ferry Kencana, kami menahan Saudara atas dugaan penculikan, penyekapan, kekerasan dalam rumah tangga, dan perjodohan paksa."
Ferry tidak melawan. Ia hanya tersenyum pahit.
"Ini belum selesai," katanya pada Arga. "Aku punya pengacara. Aku akan bebas."
"Kita lihat saja, Ferry. Kita lihat saja."
SEKAR BEBAS
Polisi membawa Ferry ke mobil.
Ferry tidak menoleh.
Ia hanya berjalan.
Lurus.
Tanpa melihat ke belakang.
Setelah mobil polisi pergi, Arga memeluk Sekar.
Erat.
Lama.
Sekar menangis di bahunya.
"Arga... aku bebas? Benar, benar bebas?"
"Kamu bebas, Sekar. Kamu tidak perlu takut lagi."
"Apa Ferry tidak akan kembali?"
"Dia akan ditahan. Pengacaranya mungkin hebat. Tapi bukti kita lebih kuat."
"Aku... aku tidak tahu harus bilang apa."
"Bilang terima kasih pada teman, teman. Mereka semua berjuang untukmu."
Sekar melepaskan pelukan.
Ia memandang Guntur, Faruq, Nisa, Dimas, Laras, yang baru datang dari rumah sakit, Ratri, Mariyem.
"Terima kasih," katanya pelan. "Terima kasih untuk semuanya."
"Sama, sama," kata mereka serempak.
PAGI DI LERENG MERAPI
Matahari terbit di ufuk timur.
Cahayanya keemasan, hangat, menyapu kabut yang menggantung di lereng Gunung Merapi.
Arga dan Sekar duduk di batu besar di halaman vila.
Mereka tidak bicara.
Hanya duduk.
Memandang matahari.
Memandang awan.
Memandang masa depan.
"Sekar," panggil Arga.
"Iya."
"Aku rindu."
"Aku juga."
"Setelah ini, apa yang akan kita lakukan?"
Sekar memandang Arga. Matanya sayu. Tapi kali ini bukan sayu karena ketakutan. Sayu karena kebahagiaan.
"Pulang, Arga. Pulang ke desa. Pulang ke Kali Wening. Pulang ke pohon randu. Pulang ke rumah."
"Selamanya?"
"Selamanya."
BAB 26
BABAK BELUR DI PARKIRAN
Kebebasan Sekar dari vila di lereng Merapi bukanlah akhir dari perjuangan. Itu hanyalah awal dari babak baru yang tidak kalah berat. Ferry mungkin sudah ditahan, tapi pengaruhnya masih tersisa seperti racun yang meracuni tanah. Preman, preman bayarannya masih berkeliaran. Mata, matanya masih tersebar di berbagai tempat. Dan orang, orang yang selama ini diam, diam bekerja untuk Ferry karena uang, karena takut, karena terpaksa mulai panik. Mereka takut identitasnya terbongkar. Mereka takut diadili. Mereka takut kehilangan segalanya.
Salah satu dari mereka adalah Samsul.
Rekan kerja Arga di toko bangunan.
Laki-laki kurus berkulit hitam legam dengan mata sipit penuh iri.
Samsul tidak pernah menyukai Arga sejak hari pertama. Bukan karena Arga melakukan kesalahan. Bukan karena Arga merugikannya. Tapi karena Arga datang dari desa, miskin, tidak punya apa, apa, tapi langsung mendapatkan simpati dari Pak Bondan. Samsul sudah bekerja di toko itu selama lima tahun. Lima tahun! Tapi perhatian Pak Bondan pada Arga dalam lima minggu melebihi perhatian pada Samsul dalam lima tahun.
Iri.
Dengki.
Benci.
Itulah yang tumbuh di hati Samsul setiap hari, setiap jam, setiap menit.
Dan ketika Ferry menawarkan uang banyak uang untuk informasi tentang pergerakan Arga, Samsul tidak berpikir dua kali.
PAGI YANG TAK MENYENANGKAN
Tiga hari setelah penyelamatan Sekar, Arga kembali bekerja di toko bangunan.
Sekar sementara waktu tinggal di kos Laras kamar Laras yang kosong karena Laras masih dirawat di rumah sakit. Ratri menemani Sekar, memasakkan makanan, menemaninya bicara, memastikan dia tidak merasa sendirian.
Arga lega. Tapi lega itu tidak bertahan lama.
Begitu masuk ke toko, ia sudah disambut oleh tatapan sinis Samsul. Laki, laki itu sedang memindahkan tumpukan kayu, pura, pura sibuk, tapi matanya tidak lepas dari Arga.
"Mas Arga sudah kembali," sapa Samsul dengan nada yang tidak ramah.
"Iya, Mas Samsul. Maaf tiga hari tidak masuk kerja. Ada keperluan mendadak."
"Keperluan mendadak? Mendadak apa? Menculik calon istri orang?"
Arga menghentikan langkahnya. Ia menatap Samsul. "Apa maksud Mas Samsul?"
"Aku dengar, dengar, Mas Arga main serobot. Merebut perempuan dari pengusaha kaya. Berani amat, ya?"
"Perempuan itu bukan milik Ferry. Perempuan itu punya hak memilih."
"Di desamu mungkin begitu. Di kota, uang yang bicara."
Arga tidak ingin berdebat. Ia berjalan ke gudang belakang, mengambil sekop, dan mulai bekerja.
Tapi Samsul tidak berhenti.
Ia mengikuti Arga ke gudang.
"Mas Arga, aku tahu semua tentang rencanamu. Aku tahu kau ke vila di Merapi. Aku tahu kau membawa polisi. Aku tahu kau membuat Ferry ditahan."
Arga berhenti menyekop. Ia menatap Samsul. "Dari mana kau tahu?"
"Aku punya sumber."
"Siapa?"
"Itu rahasia."
"Kau... mata-mata Ferry?"
Samsul tersenyum. Senyum yang membuat Arga merinding. "Bukan mata, mata. Mitra. Ferry membayarku. Mahal. Setiap kali aku memberi informasi, dia transfer uang ke rekeningku."
"Maka selama ini —"
"Setiap langkahmu, aku laporkan. Setiap rencana, aku bocorkan. Setiap teman baru, aku kenalkan."
"Dewi?"
"Dewi memang mata-mata. Tapi dia bukan satu-satunya."
"Laras?"
"Laras bukan bawahanku. Dia terlalu tinggi. Aku hanya preman kecil."
Arga meletakkan sekop. Tangannya gemetar. Bukan takut. Marah.
"Kau menghianati kami, Samsul. Kau menghianati Pak Bondan. Kau menghianati toko ini."
"Pak Bondan? Pak Bondan tidak pernah menghargaiku. Lima tahun aku bekerja di sini, gajiku tidak pernah naik. Tidak pernah dapat bonus. Tidak pernah dapat ucapan terima kasih."
"Bukan berarti kau , "
"Bukan berarti aku bisa berkhianat? Justru itu! Aku bisa! Karena tidak ada yang peduli padaku! Tidak ada yang melihat aku! Aku hanya bayangan! Bayangan yang bergerak sendiri!"
Samsul berbicara dengan suara meninggi. Wajahnya merah. Matanya melotot.
Arga mundur selangkah. "Mas Samsul, tenang , "
"JANGAN SURUH AKU TENANG! AKU SUDAH LIMA TAHUN DIAM! LIMA TAHUN! DAN KAU? LIMA MINGGU! LIMA MINGGU KAU DATANG, LANGSUNG MENJADI FAVORIT! LANGSUNG DIPERCAYA! LANGSUNG DIAJAK BICARA MASALAH PRIBADI!"
"Bukan salahku —"
"BUKAN SALAHMU? IYA, BUKAN SALAHMU! TAPI AKU TETAP BENCI!" Samsul mengangkat kayu panjang dari tumpukan. Diayunkannya ke arah Arga.
KONFRONTASI FISIK
Arga menghindar. Kayu itu menghantam tumpukan semen, menimbulkan debu putih beterbangan.
"Mas Samsul, jangan!"
"DIAM!" Samsul mengayun lagi.
Arga menghindar lagi.
"Samsul!" suara Pak Bondan dari pintu gudang. "BERHENTI!"
Samsul tidak berhenti. Ia malah berlari ke arah Arga, kayu terangkat tinggi.
Arga tidak bisa menghindar lagi. Ia berada di sudut gudang, terhalang tumpukan pasir.
DUAR!
Kayu itu mengenai lengan Arga.
Arga meringis kesakitan. Tangannya terasa kebas.
"Apa kau sudah gila, Samsul!" teriak Pak Bondan.
"Saya tidak gila, Pak! Saya hanya marah! Marah pada ketidakadilan!"
DUAR!
Kayu itu mengenai bahu Arga.
Arga jatuh berlutut.
"Arga!" Pak Bondan berlari ke arah mereka.
Samsul mengayun sekali lagi. Kali ini ke arah kepala Arga.
Tapi pak Bondan lebih cepat. Ia menangkap kayu itu di udara. Merebutnya dari tangan Samsul.
"KELUAR! KELUAR DARI TOKOKU!" teriak Pak Bondan.
Samsul tidak bergerak.
"KELUAR! ATAU AKU PANGGIL POLISI!"
Samsul tertawa. "Polisi? Polisi temanku, Pak. Ferry yang perkenalkan."
"TETAP KELUAR!"
Samsul berjalan ke pintu. Sebelum keluar, ia menoleh.
"Arga, ini belum selesai. Kau membuatku kehilangan pekerjaan. Kau membuatku kehilangan sumber penghasilan. Aku akan membuatmu membayarnya. Dengan bunga."
Ia pergi.
Arga jatuh duduk di lantai gudang.
Lengannya sakit. Bahunya sakit. Dadanya sakit bukan karena pukulan, tapi karena pengkhianatan.
DI RUANG BELAKANG
Pak Bondan membawa Arga ke ruang belakang toko. Ia mengambil kotak P3K, membersihkan luka di lengan Arga dengan alkohol.
"Awas, perih."
Arga tidak merasakan apa, apa. Pikirannya jauh. Pada Samsul. Pada pengkhianatan. Pada kehancuran yang semakin dekat.
"Pak Bondan," panggil Arga.
"Iya."
"Samsul tahu semua rencana kita. Dia mata-mata Ferry."
"Aku tahu."
"Bapak tahu?"
"Aku curiga sejak dua minggu lalu. Samsul beberapa kali bertanya tentangmu. Tentang teman, temanmu. Tentarng kegiatanmu di luar toko. Tidak wajar."
"Kenapa Bapak tidak bilang?"
"Karena aku tidak punya bukti. Aku tidak bisa menuduh tanpa bukti."
"Sekarang buktinya sudah ada."
"Ya. Sekarang buktinya sudah ada. Tapi Samsul sudah pergi. Kita tidak bisa berbuat apa, apa."
"Bapak tidak takut dia balas dendam?"
Pak Bondan menghela napas. "Aku sudah tua, Le. Aku sudah sering diancam. Tidak takut lagi."
"Tapi saya —"
"Kamu yang harus takut. Samsul dendam padamu. Bukan padaku."
PESAN SINGKAT DARI SAMSUL
Jam dua belas siang, ponsel Arga berdering.
Pesan singkat dari nomor tidak dikenal.
"Arga, kau pikir kau menang? Belum. Ferry memang di tahanan. Tapi pengacaranya sudah bekerja. Dia akan bebas minggu depan. Dan setelah dia bebas, dia akan menghancurkanmu. Satu per satu. Temanmu. Keluargamu. Sekar. Semua."
"Kau tidak bisa lari. Kau tidak bisa sembunyi. Kami tahu di mana keluargamu di desa. Kami tahu di mana Sekar sekarang. Kami tahu di mana teman, temanmu tinggal."
"Bersiaplah untuk yang terburuk."
"Samsul"
Arga memandang ponselnya.
Tangannya gemetar.
Bukan takut.
Marah.
Ia membalas: "Aku tidak takut padamu. Aku tidak takut pada Ferry. Aku tidak takut pada siapa pun. Karena kebenaran ada di pihakku. Dan kebenaran akan selalu menang."
Balasan datang cepat: "Kita lihat saja, Arga. Kita lihat siapa yang tertawa terakhir."
TEMAN, TEMAN BERKUMPUL
Jam enam sore, Arga pulang ke kos.
Ia kumpulkan teman, temannya.
Guntur. Faruq. Nisa. Dimas. Laras (sudah keluar dari rumah sakit). Ratri. Sekar.
Semua di halaman kos. Mbok Darmi menyuguhkan teh jahe dan pisang goreng seperti biasa.
"Apa yang terjadi, Mas?" tanya Sekar cemas.
Arga menceritakan semuanya. Tentang Samsul. Tentang pengkhianatan. Tentang ancaman. Tentang pesan singkat.
Guntur mendengarkan dengan saksama. "Ini serius."
"Aku tahu."
"Ferry akan bebas minggu depan."
"Kata Samsul."
"Pengacaranya memang hebat. Kemungkinan besar dia bisa keluar dengan jaminan."
"Lalu?"
"Lalu dia akan balas dendam."
"Apa yang bisa kita lakukan?"
Guntur memandang teman, temannya.
"Kita lindungi semua. Sekar. Keluarga Arga di desa. Mariyem. Kita lindungi dengan cara apa pun."
"Polisi?" tanya Dimas.
"Polisi bisa dibeli."
"Preman bayaran?"
"Kita bisa menyewa. Tapi uang terbatas."
"Lalu?"
"Kita andalkan diri kita sendiri. Kekompakan. Kecepatan. Informasi."
"Siapa yang akan melindungi siapa?"
Guntur membuka peta di laptopnya.
"Desa Wringinrejo. Saya akan kirim Faruq dan Nisa ke sana. Untuk melindungi orang tua Arga dan Mbah Jayarasa, maaf, makam Mbah Jayarasa."
"Siap," kata Faruq dan Nisa.
"Kos-kosan ini. Saya dan Dimas akan menjaga. Juga Laras dan Ratri."
"Baik."
"Arga dan Sekar, kalian harus pindah. Ke tempat yang tidak diketahui Samsul. Ke tempat yang tidak diketahui Ferry."
"Ke mana?" tanya Arga.
Guntur memandang peta. Jarinya berhenti di sebuah titik di selatan kota.
"Ke rumah Mariyem. Rumah aman yang dulu. Ferry sudah tahu, tapi dia tidak akan menyangka kita kembali ke sana."
"Bukannya itu berbahaya?"
"Justru aman. Karena tidak ada yang menyangka."
PENGAMANAN KELUARGA
Jam delapan malam, Faruq dan Nisa berangkat menuju desa Wringinrejo. Naik bus malam. Mereka membawa ponsel cadangan, baterai cadangan, dan uang secukupnya.
"Jaga diri," pesan Guntur.
"Jaga orang tua Arga," pesan Arga.
"Kami akan menjaga," kata Faruq. "Janji."
Setelah Faruq dan Nisa pergi, Arga, Sekar, dan Ratri bersiap pindah ke rumah Mariyem.
Mereka hanya membawa barang seperlunya. Pakaian. Bantal kebaya. Peta usang Mbah Jayarasa. Dan bukti, bukti cadangan yang masih tersisa.
"Rumah Mariyem sepi," kata Laras. "Tapi aman. Tidak ada tetangga. Tidak ada yang mengganggu."
"Apa kita bisa bertahan di sana?" tanya Ratri.
"Bisa. Sementara waktu."
"Lalu setelah itu?"
"Kita lihat perkembangan. Jika Ferry benar, benar bebas, kita cari tempat lain. Jika tidak, kita kembali."
DI RUMAH MARIYEM
Jam sebelas malam, mereka tiba di rumah Mariyem.
Rumah kecil di tengah perkebunan salak itu gelap. Sunyi. Hanya suara jangkrik dan sesekali suara anjing menggonggong dari kejauhan.
Arga membuka pintu dengan kunci cadangan yang diberikan Mariyem.
Di dalam, meja dan kursi berdebu. Dapur kosong. Kasur ditata rapi.
"Kita bersihkan dulu," kata Ratri.
Mereka membersihkan rumah sampai subuh. Menyapu. Mengepel. Menata kasur. Memasang kelambu.
Arga kelelahan. Ia duduk di kursi kayu di teras depan. Sekar duduk di sampingnya.
"Arga," panggil Sekar.
"Iya."
"Aku takut."
"Kamu tidak perlu takut. Aku di sini."
"Bukan takut pada Ferry. Aku takut pada... masa depan."
"Masa depan kita?"
"Iya. Apa yang akan terjadi setelah semua ini selesai? Apakah kita bisa hidup normal? Apakah kita bisa bahagia? Apakah kita tidak akan terus diburu oleh masa lalu?"
Arga menggenggam tangan Sekar.
"Sekar, masa lalu tidak bisa diubah. Tapi masa depan bisa kita bentuk. Bersama."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena kita sudah melewati banyak hal bersama. Dan kita masih bertahan."
"Karena kita saling percaya?"
"Karena kita saling mencintai."
Sekar menunduk. Air matanya jatuh.
"Arga, aku sayang kamu."
"Aku juga sayang kamu, Sekar. Lebih dari apapun."
SUBUH DI RUMAH MARIYEM
Jam setengah lima pagi, fajar mulai menyingsing.
Arga masih terjaga. Ia duduk di teras, memandang ke arah timur.
Di tangannya, peta usang Mbah Jayarasa.
Ia membuka peta itu.
Garis, garis baru muncul lagi.
Mungkin karena cahaya subuh.
Mungkin karena keajaiban.
Garis, garis itu menunjukkan sebuah titik di selatan kota.
Titik yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Apa ini? pikir Arga. Petunjuk baru? Atau hanya debu yang menempel?
Ia tidak tahu.
Tapi ia menyimpan peta itu.
Untuk jaga, jaga.
BAB 27
SAMSUL MENGHILANG DAN MISTERI BARU
Setelah konfrontasi fisik di gudang toko bangunan dan ancaman maut melalui pesan singkat, Samsul tidak pernah kembali ke toko. Tidak muncul di kos, kosan tempatnya tinggal. Tidak terlihat di warung, warung langganannya. Tidak menjenguk keluarganya di kampung. Tidak ada kabar. Tidak ada jejak. Tidak ada siapa pun yang tahu ke mana ia pergi.
Seperti ditelan bumi.
Seperti diambil setan.
Seperti tidak pernah ada.
Tapi Arga tahu, Samsul tidak mungkin menghilang begitu saja. Samsul adalah mata-mata Ferry. Samsul punya utang budi pada pengusaha kaya itu. Samsul pasti bersembunyi atau disembunyikan, untuk melindungi diri dari pembalasan tim Arga, atau untuk mempersiapkan serangan balik yang lebih kejam.
Dan kekhawatiran Arga terbukti ketika kabar buruk mulai berdatangan.
Bukan tentang Samsul.
Tapi tentang keluarganya.
Istri Samsul, Bu Suliah mulai menerima teror. Telepon anonim di tengah malam. Pesan singkat bergambar ancaman. Orang tidak dikenal yang mondar-mandir di depan rumahnya.
"Apa hubungannya keluargaku dengan urusanmu dengan Samsul?" teriak Bu Suliah pada Arga lewat telepon suatu malam. "Saya tidak tahu apa, apa! Saya hanya istri! Saya tidak pernah ikut campur kerja suamiku!"
Arga tidak bisa menjawab.
Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Ia hanya bisa diam.
Dan merasa bersalah.
TELEFON DARI BU SULIAH
Hari Kamis malam, pukul sepuluh. Arga sedang duduk di teras rumah Mariyem, ditemani Sekar yang sudah mulai pulih, meskipun masih sering terbangun di tengah malam karena mimpi buruk tentang Ferry. Ponselnya berdering. Nomor tidak dikenal.
"Mas Arga?" suara perempuan paruh baya, panik, terputus, putus.
"Iya. Siapa ini?"
"Saya Suliah. Istri Samsul."
Arga terdiam. Jantungnya berdegup lebih cepat.
"Ada apa, Bu?"
"Samsul... Samsul hilang, Mas. Sudah seminggu. Tidak pulang. Tidak telepon. Tidak kabar. Anak-anak saya nangis terus. Saya tidak tahu harus bagaimana."
"Bu, saya, "
"Tapi bukan itu yang mau saya sampaikan. Malam ini, ada orang datang ke rumah saya. Dua orang. Besar. Preman. Mereka tanya di mana Samsul. Saya bilang tidak tahu. Mereka marah. Mereka ancam akan bunuh saya dan anak-anak jika Samsul tidak segera muncul."
"Nanti, Bu. Saya akan, "
"Mereka juga tanya di mana Mas Arga. Siapa teman, teman Mas Arga. Di mana Sekar. Mereka tahu semuanya, Mas. Mereka tahu alamat kos. Tahu nama teman, teman. Tahu tempat kerja. Tahu semuanya."
Darah Arga berhenti mengalir.
"Bu, apakah Samsul yang kasih tahu?"
"Saya tidak tahu, Mas. Saya hanya ingin Mas Arga tahu bahwa keluarga saya dalam bahaya. Bukan karena Samsul, tapi karena Mas Arga. Karena perjuangan Mas Arga. Karena semua ini."
Telepon ditutup.
Arga memandang ponselnya.
Tangannya gemetar.
Sekar memegang bahunya. "Arga, ada apa?"
"Keluarga Samsul diancam. Oleh preman. Mungkin preman Ferry."
"Kenapa?"
"Karena Ferry ingin Samsul muncul. Atau karena Ferry ingin menghancurkan semua orang yang terlibat, termasuk keluarga mata-matanya sendiri."
"Kejam."
"Ferry memang kejam."
PERTEMUAN DARURAT DI KOS
Jam sebelas malam, Arga memanggil semua temannya ke kos. Guntur, Laras, Dimas, Ratri dan Sekar yang ikut serta meskipun Arga melarang.
Mbok Darmi menyuguhkan teh jahe dan pisang goreng, matanya penuh kekhawatiran.
"Kalau begini terus, kalian tidak akan selamat," kata Mbok Darmi. "Mbok tidak mau lihat anak-anak muda mati sia-sia."
"Kami tidak akan mati sia-sia, Mbok," kata Guntur. "Kami akan bertahan."
"Bertahan bagaimana? Lawan uang? Lawan preman? Lawan pengacara? Lawan polisi? Ferry punya semua."
"Tapi Ferry tidak punya satu hal, Mbok."
"Apa?"
"Kebenaran."
Mbok Darmi menghela napas. Ia masuk ke dalam rumah. Meninggalkan anak-anak muda yang masih sibuk berdiskusi.
Guntur membuka laptopnya. "Dimas, apa yang bisa kamu lacak tentang Samsul?"
Dimas mengeluarkan laptopnya sendiri, laptop tua berstiker Doraemon yang sudah mengelupas. Jari, jarinya menari di atas keyboard.
"Samsul tidak punya jejak digital yang kuat. Tidak punya medsos. Tidak punya email aktif. Tapi aku bisa lacak ponselnya."
"Lacak."
Dimas mengetik. Tap, tap, tap, tap, tap.
Layar berganti. Sebuah peta digital muncul. Sebuah titik merah berkedip di selatan kota dekat perbatasan dengan desa.
"Ini ponsel Samsul," kata Dimas. "Masih hidup. Masih aktif."
"Di mana tepatnya?"
"Di sebuah kampung. Di dalam hutan. Jauh dari jalan raya."
"Apa yang dia lakukan di sana?"
"Tidak tahu. Mungkin bersembunyi. Mungkin bertemu dengan preman Ferry. Mungkin sudah mati."
"Kita harus ke sana."
"Berbahaya."
"Aku tahu. Tapi kita tidak punya pilihan. Samsul adalah kunci. Dia tahu banyak tentang rencana Ferry. Dia bisa menjadi saksi."
"Saksi atau musuh?"
"Tergantung. Kita bujuk dia. Kita yakinkan bahwa kami tidak akan menyakitinya. Kami hanya butuh informasi."
Laras angkat bicara. "Guntur, aku ikut."
"Kamu baru sembuh."
"Lenganku sudah baikan. Dan aku punya pengalaman. Aku bisa menghadapi preman."
"Baik. Aku, Arga, Dimas, Laras. Nisa dan Faruq di desa, jaga orang tua Arga. Ratri dan Sekar di rumah Mariyem. Jangan kemana, mana."
"Setuju," kata semua.
PERJALANAN KE SELATAN
Jam satu dini hari, mereka berangkat.
Motor Guntur, motor Dimas, dan motor Laras yang dipinjam dari tetangga. Tiga motor. Empat orang. Dimas bonceng Laras. Guntur bonceng Arga.
Perjalanan ke selatan memakan waktu dua jam. Melewati jalan raya yang sepi. Melewati perkebunan tebu. Melewati hutan jati. Melewati sungai kecil yang airnya keruh.
Arga memandang langit. Bulan purnama bersinar terang. Bintang, bintang berkerlap, kerlip.
Jatmika, bisiknya dalam hati. Jaga kami. Jangan biarkan ada yang celaka.
Mereka sampai di pinggir kampung. Jalan aspal berubah menjadi jalan tanah becek.
"Motor tidak bisa lewat," kata Guntur. "Kita jalan kaki."
Mereka memarkir motor di pinggir jalan, menyembunyikan di balik semak belukar.
Berjalan.
Hutan semakin lebat.
Suara jangkrik dan kodok menggema.
Sesekali suara cabang patah di kejauhan, mungkin binatang, mungkin preman, mungkin imajinasi sendiri.
"Awas," bisik Laras. "Jalan setapak licin. Banyak akar."
"Ada cahaya di depan," kata Dimas. "Lampu. Mungkin rumah."
"Atau markas."
RUMAH TUA DI TENGAH HUTAN
Mereka mendekati sumber cahaya.
Sebuah rumah tua berdiri di tengah hutan. Dinding kayu. Atap seng. Halaman sempit. Di halaman, dua motor trail terparkir.
"Motor preman," bisik Dimas.
"Berapa orang?" tanya Guntur.
"Tidak tahu. Bisa dua, bisa empat. Motor dua, tapi bisa boncengan."
"Kita intip."
Mereka merunduk. Mendekati jendela belakang rumah, jendela kayu dengan tirai kain tipis.
Di dalam, mereka melihat Samsul.
Samsul duduk di kursi kayu. Wajahnya pucat. Tangannya diikat ke belakang. Mulutnya ditutup lakban. Matanya merah, baru saja menangis, atau tidak tidur berhari, hari.
Di depannya, dua preman duduk di kursi lain, makan mi instan, tertawa, tawa.
"Ferry tidak akan terima Samsul begini," kata preman satu. "Dia harus bayar. Dia lari. Dia sembunyi. Dia penyebab semua masalah."
"Tapi Samsul sudah kasih informasi," kata preman dua. "Semua informasi. Tentang Arga. Tentang teman, teman. Tentang Sekar."
"Informasi tidak berguna jika hasilnya Ferry dipenjara. Ferry marah. Ferry mau Samsul dihukum."
"Hukum bagaimana?"
"Patahkan tangan kirinya. Nanti kirim video ke Arga. Biar Arga takut."
Samsul meronta. Matanya melotot. Suaranya tertahan di balik lakban.
Preman itu berdiri. Mengambil pentungan dari meja.
Arga tidak bisa diam lagi.
Ia berdiri. Berlari ke pintu depan. Mendobraknya.
DUAR!
KONFRONTASI DI RUMAH TUA
Preman itu terkejut. Pentungannya jatuh.
"Siapa kamu?" teriaknya.
"Aku Arga. Yang kalian cari."
Preman itu tertawa. "Kau datang sendiri? Mau mati?"
"Aku tidak datang sendiri."
Guntur, Dimas, dan Laras masuk dari pintu belakang. Mereka mengelilingi kedua preman.
"Kami empat. Kalian dua. Kalian kalah jumlah."
"Tapi kita punya pentungan. Kalian tidak punya apa, apa."
"Salah. Kita punya nyali."
Preman itu mengangkat pentungan. Diayunkannya ke arah Arga.
Arga menghindar.
Dimas menendang preman itu dari samping. Ia jatuh.
Preman kedua berusaha kabur lewat pintu belakang, tapi Laras sudah menunggu. Ia menyapu kaki preman itu. Jatuh.
Guntur mengikat tangan mereka dengan tali rapia yang ditemukan di sudut ruangan.
"Kalian siapa?" tanya preman itu.
"Kami bukan siapa-siapa. Hanya orang, orang yang kamu cari-cari."
"Ferry akan, "
"Ferry sudah di tahanan. Pengacaranya hebat, tapi bukti kami lebih hebat."
SAMSUL BEBAS
Arga melepas lakban dari mulut Samsul. Memotong tali pengikat tangannya.
Samsul langsung menangis.
"Mas Arga... maaf... maafkan saya..."
"Kenapa kau lari? Kenapa kau tidak minta bantuan kami?"
"Saya takut. Saya kira Ferry akan menang. Saya kira kalian akan hancur. Saya kira tidak ada yang bisa melindungi saya."
"Kamu salah, Samsul. Kami tetap berdiri. Ferry mungkin bebas, tapi dia tidak akan bisa berbuat banyak. Bukti sudah tersebar. Publik sudah tahu. Media sudah meliput."
"Tapi keluargaku—"
"Aman. Kami akan lindungi mereka. Asal kau mau bekerja sama."
"Saya mau. Saya mau jadi saksi. Saya mau lawan Ferry."
Arga menghela napas. "Bagus. Sekarang, ikut kami. Keluargamu akan kami tempatkan di rumah aman. Kamu juga. Sementara waktu."
"Terima kasih, Mas Arga. Saya tidak tahu harus, "
"Jangan berterima kasih dulu. Masih panjang."
KEMBALI KE KOS
Jam empat pagi, mereka tiba di kos.
Mbok Darmi masih terjaga. Matanya sembab, mungkin menangis, mungkin tidak tidur.
"Kalian selamat," katanya lega.
"Selamat, Mbok. Bawa oleh, oleh dua preman dan satu saksi."
Mbok Darmi memandang Samsul. "Ini yang menghianati kalian?"
"Ini, Mbok. Tapi sekarang dia mau jadi saksi."
"Kamu yakin dia tidak akan berkhianat lagi?"
Laras memandang Samsul. "Samsul, jika kau berkhianat lagi, aku yang akan menghabisimu."
Samsul mengangguk takut. "Saya tidak akan, Mbak. Saya bersumpah."
MISTERI BARU
Saat semua orang bersiap istirahat, ponsel Arga berdering.
Nomor tidak dikenal.
Ia angkat.
"Mas Arga?" suara perempuan. Lirih. Terputus, putus.
"Iya."
"Saya... saya anaknya Samsul. Maya namanya."
"Ada apa, Maya?"
"Ayah saya... ayah saya tidak pernah jadi mata-mata. Dia dipaksa Ferry. Ferry punya video... video ayah saya... melakukan sesuatu... saya tidak tahu detail... tapi Ferry gunakan itu untuk memeras."
Arga menatap Samsul.
Samsul menunduk. Menangis.
"Ferry punya video ibunya mandi, Mas," bisik Samsul. "Ferry ancam akan menyebarkan jika saya tidak patuh. Saya terpaksa. Saya malu. Saya tidak tega istri saya jadi bahan gunjingan."
Ruangan hening.
Guntur memejamkan mata.
Laras mengepalkan tangan.
Dimas membuang muka.
"Ferry benar, benar monster," kata Guntur.
"Sekarang video itu ada di mana?" tanya Arga.
"Di laptop Ferry. Di ruang kerja. Di perumahan Mutiara."
"Apakah masih ada?"
"Mungkin. Ferry tidak pernah menghapus apa pun. Dia kolektor. Dia simpan semua untuk jaga-jaga."
"Itu bukti lain," kata Laras. "Selain perjodohan paksa, penyekapan, kekerasan, Ferry juga melakukan pemerasan dan pelanggaran privasi."
"Bisa kita gunakan di pengadilan?"
"Bisa. Tapi harus hati-hati. Jangan sampai video itu tersebar."
"Aku bisa ambil," kata Dimas. "Aku kenal satpam perumahan Mutiara. Dia bisa membantu."
"Risiko?"
"Besar. Tapi tidak ada pilihan lain."
KEPUTUSAN SAMSUL
Samsul berdiri.
Ia memandang Arga.
"Mas Arga, izinkan saya ikut."
"Kamu? Ikut ke mana?"
"Ke perumahan Mutiara. Saya kenal rumah Ferry. Saya kenal ruang kerjanya. Saya tahu kode kunci brankas tempat Ferry menyimpan laptop pribadinya."
"Berbahaya."
"Saya sudah terlanjur berbahaya, Mas. Istri saya mungkin sudah tidak mau lagi menerima saya. Anak, anak saya mungkin sudah malu pada saya. Tapi setidaknya, saya bisa membersihkan nama saya. Sedikit."
Arga memandang Guntur. Guntur mengangguk.
"Baik. Kamu ikut. Tapi jangan macam, macam."
"Saya tidak akan, Mas. Saya sumpah."
PAGI YANG CERAH
Jam enam pagi, matahari terbit di ufuk timur.
Cahayanya keemasan, hangat, menyapu kabut yang menggantung di atas kota.
Arga duduk di beranda kos. Samsul di sampingnya.
"Samsul," panggil Arga.
"Iya, Mas."
"Kenapa kau memusuhiku sejak awal? Sebelum Ferry terlibat?"
Samsul menunduk.
"Karena saya iri, Mas. Iri pada perhatian Pak Bondan. Iri pada keberanian Mas. Iri pada teman, teman Mas. Saya tidak punya siapa, siapa."
"Sekarang?"
"Sekarang saya sadar. Iri hanya menyiksa diri sendiri."
Arga menepuk bahu Samsul.
"Kita lawan Ferry bersama. Selesai semua, kita mulai lagi dari awal. Tanpa iri. Tanpa dengki."
"Mas Arga mau memaafkan saya?"
"Aku sudah memaafkanmu sejak kau mau menjadi saksi."
Samsul menangis.
Arga memandang langit. Bintang timur sudah menghilang. Fajar sudah sempurna.
Mbah Jayarasa, bisiknya, aku terus berjalan. Seperti pesanmu. Jangan menyerah. Sampai keadilan tercapai.
BAB 28
FERRY KEMBALI MENYERANG , SERANGAN BERTUBI, TUBI
Tiga hari setelah penyelamatan Samsul dari rumah tua di tengah hutan, kabar buruk datang bertubi, tubi. Seperti badai yang datang dari segala penjuru, tanpa peringatan, tanpa ampun. Ferry, meskipun masih dalam tahanan, telah menggerakkan semua pasukannya. Preman, pengacara, polisi bayaran, jurnalis bayaran, semua dikerahkan untuk satu tujuan: menghancurkan Arga dan timnya sebelum sidang dimulai.
Serangan pertama datang dari arah yang paling tidak terduga. Bukan fisik. Bukan hukum. Tapi psikologis. Dan yang menjadi sasaran bukan Arga, bukan Guntur, bukan Sekar. Tapi orang yang paling tidak berdaya di antara mereka: orang tua Arga di desa Wringinrejo.
TELEPON DARI DESA
Kamis pagi, pukul setengah tujuh. Langit masih kelabu. Hujan gerimis turun tipis, membasahi tanah, membuat udara dingin menusuk tulang. Arga sedang duduk di beranda rumah Mariyem, ditemani Sekar yang masih setengah tidur, ketika ponselnya berdering. Nama yang muncul di layar: "Ibu".
"Bu?" jawab Arga dengan suara masih serak.
"Le..." Suara Sukmawati terputus, putus. Bukan karena sinyal buruk. Tapi karena tangis.
"Bu, kenapa? Ada apa?"
"Ibumu... Ibumu... diancam orang, Le. Orang tidak dikenal. Datang ke rumah tadi malam. Bawa pentungan. Bawa pisau. Mereka cari kamu. Mereka cari Sekar."
Darah Arga berhenti mengalir. "Apa? Mereka ngapain? Ibu baik, baik saja?"
"Ayam... Ayahmu... Ayahmu dipukul, Le. Tangannya... tangannya patah."
Dunia Arga runtuh.
"Ayah... Ayah dipukul? Di mana sekarang? Di rumah sakit?"
"Di rumah, Le. Tidak mau ke rumah sakit. Katanya, tidak punya uang."
"BU, BAWA AYAH KE RUMAH SAKIT! SAYA KIRIM UANG!"
"Tapi, Le —"
"BU! AYAH BISA CACAT! Bisa cacat seumur hidup! Bawa sekarang! Saya telepon Faruq! Faruq dan Nisa di desa!"
Arga menutup telepon. Jari, jarinya gemetar hebat. Ia salah tekan tiga kali sebelum akhirnya berhasil menghubungi Faruq.
"Faruq! Ada apa di desa? Kenapa Ayah saya dipukul? Kenapa Ibu saya diancam?"
Faruq terdiam beberapa saat. Suaranya berat. "Maaf, Mas Arga. Saya... saya gagal."
"Gagal bagaimana?"
"Tadi malam, saat saya dan Nisa sedang jaga di depan rumah, ada serangan dari belakang. Mereka masuk lewat dapur. Kami tidak siap. Kami kewalahan."
"Berapa orang?"
"Lima. Besar, besar. Bawa sajam."
"Kamu dan Nisa tidak terluka?"
"Nisa kena pukul di bahu. Saya... saya masih utuh. Tapi gagal melindungi keluarga Mas Arga. Saya minta maaf."
Arga menutup telepon.
Ia duduk di lantai. Wajahnya pucat. Tangannya gemetar. Matanya kosong.
Sekar berlutut di sampingnya. "Arga? Arga! Ada apa?"
"Ayahku... dipukul. Tangannya patah. Ibuku diancam. Faruq dan Nisa kewalahan."
"Ferry?"
"Pasti Ferry. Meskipun di tahanan, dia masih bisa gerakkan preman."
"Kita harus ke desa."
"Tidak. Kita tidak bisa. Kalau kita ke sana, mereka akan menangkap kita. Atau membunuh kita. Atau menggunakan kita untuk menekan orang tua."
"Lalu?"
"Aku akan kirim lebih banyak orang. Dimas. Guntur. Laras. Mereka yang akan ke desa."
PERTEMUAN DARURAT
Jam delapan pagi, semua dikumpulkan di kos.
Guntur, Dimas, Laras, Ratri, Samsul, dan Sekar. Mbok Darmi menyuguhkan teh jahe, tapi kali ini tidak ada pisang goreng. Wajahnya tegang.
"Aku dengar kabar dari desa," kata Guntur. "Ini serangan serius. Ferry tidak main, main."
"Kita harus kirim bantuan ke desa," kata Arga. "Faruq dan Nisa kewalahan. Mereka butuh orang lagi."
"Aku yang akan ke desa," kata Dimas. "Aku lincah. Aku bisa selip. Aku tahu medan."
"Aku ikut," kata Laras. "Aku punya pengalaman menghadapi preman."
"Jangan," kata Guntur. "Kamu masih dalam masa pemulihan. Lengannya masih luka."
"Lenganku sudah baikan. Aku bisa."
"Tidak."
Laras mengepalkan tangan. "Guntur, aku tidak bisa diam di sini sementara teman, teman kita dalam bahaya."
"Kita semua tidak bisa diam. Tapi kita harus pintar. Jangan emosi."
"Apa rencanamu?"
Guntur membuka laptopnya. Sebuah peta muncul di layar. Peta desa Wringinrejo dan sekitarnya.
"Kita kirim Dimas dan Ratri ke desa. Ratri kenal desa. Ratri kenal orang, orang di sana. Ratri bisa bantu Faruq dan Nisa bersembunyi."
"Aku setuju," kata Ratri.
"Lalu Laras, aku, dan Samsul akan fokus ke kota. Kita pantau pergerakan preman Ferry. Kita cari tahu siapa dalang di balik serangan ini."
"Siapa dalangnya?" tanya Samsul.
"Pasti orang dalam. Orang yang tahu persis lokasi kita. Orang yang tahu kelemahan kita."
"Bukan aku," kata Samsul cepat.
"Aku tidak menuduhmu. Tapi kita harus selidiki."
KEJUTAN DARI SAMSUL
Samsul mengangkat tangan. "Guntur, aku mau usul."
"Apa?"
"Aku bisa jadi umpan."
"Umpan?"
"Iya. Ferry ingin menangkapku. Dia marah karena aku lari. Dia ingin menghukumku. Jika aku muncul di tempat umum, dia pasti akan mengirim preman untuk menangkapku. Saat itu, kalian bisa memotret mereka. Bisa jadi bukti."
"Berbahaya," kata Guntur.
"Saya sudah terlanjur berbahaya, Mas. Istri saya sudah tidak mau menerima saya lagi. Anak, anak saya malu. Lebih baik saya mati terhormat daripada hidup dalam ketakutan."
Arga memandang Samsul. Laki, laki yang dulu ia benci, kini berdiri di depannya, menawarkan nyawanya untuk membantu.
"Samsul," kata Arga.
"Iya, Mas."
"Aku tidak akan biarkan kau mati."
"Tidak usah khawatir, Mas. Saya sudah lama mati secara batin. Sekarang giliran fisik."
JEBAKAN DI PASAR LAMA
Jam dua siang, Samsul muncul di Pasar Lama pasar tradisional paling ramai di kota. Ia tidak menyamar. Tidak memakai topi atau kacamata. Ia berjalan santai di antara lapak, lapak sayur, buah, dan bumbu dapur, sesekali berhenti untuk membeli gorengan, sesekali menyapa pedagang yang ia kenal.
Dari kejauhan, Dimas dan Laras memantau dari atap toko kelontong. Guntur duduk di sebuah warung kopi, pura, pura membaca koran, tapi matanya tidak lepas dari Samsul.
"Dimas, ada yang bergerak?" bisik Guntur lewat ponsel.
"Ada. Dua orang. Dari arah timur. Mereka mengikuti Samsul sejak tadi."
"Preman?"
"Kelihatannya. Bawa pentungan di balik jaket."
"Hitung mundur. Jika mereka mendekat, kita bergerak."
"Siap."
Preman itu semakin dekat. Samsul pura, pura tidak sadar. Ia terus berjalan.
"Samsul!" teriak salah satu preman.
Samsul berbalik. "Apa?"
"Kami utusan Ferry. Kau harus ikut."
"Saya tidak mau ikut."
"Bukan pilihan."
Preman itu mengeluarkan pentungan. Yang satu lagi mengeluarkan pisau.
Samsul mundur selangkah. "Jangan dekati saya!"
"Terlambat."
PENYERGAPAN
Tepat saat preman itu mengayunkan pentungan, Dimas melompat dari atap toko. Ia mendarat tepat di punggung preman pertama. DUAR! Preman itu jatuh. Pentungannya terlepas.
Preman kedua terkejut. Pisau di tangannya bergetar.
"Siapa kamu?" teriaknya.
"Orang yang akan mengirimmu ke penjara."
Guntur muncul dari warung kopi. Laras dari balik lapak sayur. Mereka mengelilingi preman kedua.
"Jangan coba, coba lari. Atau melawan. Kami lebih banyak."
Preman itu tertawa. "Kalian pikir kalian bisa menang melawan kami? Kami hanya dua dari dua puluh. Ferry punya banyak anak buah. Di mana-mana. Siap menyerang kapan saja."
"Kami tidak takut."
"Kamu harus takut. Karena besok, giliran rumah kos kalian yang diserang. Giliran keluarga kalian. Giliran pacar kalian. Giliran semua yang kalian cintai."
Laras memukul preman itu dengan gagang senter. DUAR! Preman itu jatuh pingsan.
"Banyak bicara," kata Laras dingin.
INTEROGASI
Mereka membawa kedua preman itu ke gudang kosong di belakang pasar. Samsul ikut. Wajahnya pucat, tapi ia berusaha tegar.
Dimas mengikat tangan preman itu ke kursi kayu. Guntur berdiri di depan mereka.
"Siapa yang mengirim kalian?"
Preman pertama tertawa. "Ferry. Siapa lagi?"
"Ferry di tahanan. Bagaimana dia bisa mengirim kalian?"
"Dia punya orang kepercayaan. Namanya Toni. Mantan polisi. Dia yang koordinasi."
"Di mana Toni sekarang?"
"Tidak tahu. Dia selalu ganti tempat."
"Bagaimana cara hubungi dia?"
"Kami tidak pernah hubungi. Dia yang hubungi kami."
"Siapa saja yang terlibat dalam serangan ke desa tadi malam?"
Wajah preman itu berubah. "Kami tidak tahu."
"Aku tanya sekali lagi. Siapa yang terlibat?"
Preman itu diam.
Laras maju. Ia mengeluarkan pisau lipat, yang dulu ia klaim sebagai pisau pusaka, ternyata hanya pisau biasa. Tapi preman itu tidak tahu.
"Kami tidak punya waktu untuk basa, basi," kata Laras. "Jika kalian tidak bicara, aku akan potong telinga kalian satu per satu."
Preman itu ketakutan. "Tunggu... tunggu... aku bicara. Aku bicara."
"Silakan."
"Yang ke desa... kelompok Bambang. Anak buah Ferry yang paling brutal. Tugas mereka menculik orang tua Arga dan memaksa Arga menyerah."
"Apakah mereka berhasil?"
"Belum. Tadi malam gagal. Tapi mereka akan coba lagi. Malam ini. Dengan pasukan lebih banyak."
KEPUTUSAN BERGESA
Guntur segera menghubungi Faruq.
"Faruq, malam ini desa akan diserang lagi. Pasukan lebih banyak. Kalian harus evakuasi orang tua Arga."
"Ke mana?"
"Ke rumah Mbah Jayarasa. Rumah tua itu punya ruang bawah tanah. Sembunyikan di sana. Jangan keluar sebelum kami datang."
"Baik. Aku akan bilang Nisa."
"Jaga diri."
"Kamu juga."
Guntur menutup telepon. Ia memandang Arga.
"Arga, kamu harus ke desa. Sekarang. Bawa Dimas dan Laras."
"Kenapa aku?"
"Karena orang tuamu butuh kamu. Karena Ferry ingin menangkapmu. Jika kamu ada di desa, perhatian preman akan terbagi. Mereka tidak akan fokus menyerang sembarangan."
"Tapi Sekar —"
"Sekar akan kami jaga. Samsul, Ratri, dan aku akan di sini. Rumah Mariyem aman. Tidak mudah ditemukan."
Arga ragu.
"Pergi, Le," kata Samsul. "Saya jaga Sekar. Saya tidak akan berkhianat lagi. Saya sumpah."
Arga memandang Sekar. Sekar mengangguk.
"Pergi, Arga. Aku akan baik, baik saja. Aku percaya pada Samsul. Aku percaya pada Guntur."
Arga memeluk Sekar. Lama. Erat.
"Aku akan kembali," bisiknya.
"Aku tunggu."
PERJALANAN KE DESA
Jam empat sore, Arga, Dimas, dan Laras berangkat menuju desa Wringinrejo. Naik mobil sewaan, mobil yang sama saat penyelamatan Sekar di vila Merapi.
Perjalanan yang biasanya dua belas jam, mereka tempuh dalam sembilan jam. Ngebut. Berhenti hanya untuk buang air kecil dan ganti bensin. Dimas yang menyetir, matanya merah karena kantuk, tapi ia paksakan.
"Dimas, kamu istirahat. Aku gantian," kata Arga.
"Tidak usah, Mas. Aku kuat. Ini bukan pertama kali saya begadang."
"Tapi , "
"Mas Arga, fokuslah pada orang tua Mas. Jangan pikirkan saya."
Laras duduk di kursi belakang. Ia memandang ke luar jendela. Hutan jati berganti perkebunan sawit. Perkebunan sawit berganti persawahan.
"Arga," panggil Laras.
"Iya."
"Apa kamu takut?"
"Takut kehilangan orang tua. Takut tidak bisa melindungi mereka."
"Itu wajar. Tapi ingat, kita tidak sendirian."
"Aku tahu."
TIBA DI DESA
Jam satu dini hari, mereka tiba di desa Wringinrejo.
Desa itu gelap. Sunyi. Tidak ada lampu penerangan jalan. Hanya suara jangkrik dan sesekali suara anjing menggonggong.
Mobil berhenti di depan rumah Sastro dan Sukmawati.
Rumah itu gelap. Seperti tidak berpenghuni.
Arga turun. Ia lari ke pintu.
"Ibu! Ayah!"
Tidak ada jawaban.
Ia mendobrak pintu.
Di dalam, rumah kosong. Kasur berserakan. Meja jatuh. Piring pecah di lantai.
"Bu! Yah!" teriak Arga panik.
Dari belakang rumah, suara Faruq. "Mas Arga, di sini! Di rumah Mbah Jayarasa!"
Mereka berlari ke rumah Mbah Jayarasa.
Di halaman, Faruq dan Nisa berdiri dengan wajah tegang, lengkap dengan luka di bahu Nisa.
"Orang tua Mas di dalam," kata Faruq. "Selamat. Tapi ayah Mas... lukanya parah. Kami sudah panggil mantri desa. Dia sedang dirawat."
DI RUMAH MBAH JAYARASA
Rumah tua Mbah Jayarasa berbeda dari biasanya.
Dulu, rumah ini dingin, sepi, hanya dihuni kakek tua yang hampir buta. Sekarang, terasa hangat, mungkin karena banyak orang, mungkin karena doa, mungkin karena kehadiran Sukmawati yang sedang memeluk suaminya yang terbaring lemas.
"Bu!" Arga berlutut di samping ibunya.
"Le... akhirnya kau datang."
"Ayah... bagaimana ayah?"
Sastro terbaring di dipan bambu. Tangannya dibalut perban tebal. Wajahnya pucat. Bibirnya kering. Matanya sayu.
"Le," bisik Sastro. "Kau datang."
"Ayah, maafkan aku. Aku tidak bisa, "
"Jangan maaf. Tidak ada salahmu. Yang salah mereka. Yang salah Ferry."
"Ayah, aku akan, "
"Jangan balas dendam, Le. Balas dendam tidak menyelesaikan masalah. Fokus pada Sekar. Fokus pada masa depan."
"Tapi tangan ayah , "
"Tangan bisa sembuh. Hati yang luka lebih susah disembuhkan."
Sastro memejamkan mata. Ia kelelahan.
Arga menangis.
SERANGAN KEDUA
Jam dua dini hari, suara motor terdengar dari kejauhan. Banyak. Puluhan.
"Kepung!" teriak seseorang.
"Mereka datang!" teriak Faruq.
Semua panik.
Nisa membawa Sukmawati ke ruang bawah tanah, ruang yang dulu digunakan Mbah Jayarasa untuk menyimpan hasil bumi, sekarang menjadi tempat persembunyian.
Dimas dan Laras mengambil posisi di jendela.
Arga memegang parang, parang peninggalan Mbah Jayarasa yang sejak dulu tergantung di dinding, tidak pernah dipakai, tapi tajamnya masih mengerikan.
"Jangan bunuh, Arga," bisik Laras. "Lumpuhkan saja."
"Aku tidak akan bunuh. Aku hanya ingin mereka takut."
Preman mulai masuk halaman.
Satu, dua, tiga, empat, lima, diikuti puluhan.
"Mana penghuni rumah ini? Keluar!" teriak pemimpin preman, laki, laki tambun dengan wajah babi dan suara serak.
"Kami tidak akan keluar," teriak Arga dari balik jendela.
"Kau Arga?"
"Aku."
"Ferry kirim salam. Kata dia, kau harus mati."
"Ferry di tahanan. Dia tidak bisa apa, apa."
"Tapi anak buahnya bisa."
Preman itu memberi isyarat. Semua preman menyerang.
PERTEMPURAN
Dimas membanting kursi ke arah preman pertama. Preman itu jatuh.
Laras memukul preman kedua dengan gagang sapu, sapu tua yang kebetulan ada di sudut ruangan.
Faruq menendang preman ketiga. Preman itu terhuyung.
Nisa, meskipun bahunya luka, masih bisa melempar piring ke arah preman keempat.
Arga keluar rumah. Parang di tangan.
"Jangan dekati rumah ini!" teriaknya.
Preman itu tidak takut. Mereka terus maju.
Arga mengayunkan parang. Tidak ke arah tubuh. Ke arah pentungan mereka.
BRUK! Pentungan pertama putus.
BRUK! Pentungan kedua patah.
Preman itu mundur.
"Kurang ajar!" pemimpin preman maju dengan celurit.
Arga mengelak. Celurit itu mengenai tiang kayu. Bruk!
Arga membacok celurit itu dengan parang. Percikan api. Celuritnya patah.
Preman itu terkejut.
"Kau... kau tidak mungkin..."
"Aku anak desa. Aku tumbuh dengan parang. Jangan main, main."
Preman itu mundur. "Semua mundur!" teriaknya.
Mereka kabur.
Meninggalkan halaman yang berantakan.
Meninggalkan pentungan dan celurit patah.
Meninggalkan ketakutan.
PAGI DI DESA
Matahari terbit di ufuk timur.
Cahayanya keemasan, hangat, menyapu kabut yang menggantung di atas sawah.
Arga duduk di halaman rumah Mbah Jayarasa. Parang di pangkuan. Tangannya gemetar, bukan takut, tapi adrenalin.
"Mas Arga," panggil Dimas dari pintu.
"Iya."
"Kita bertahan."
"Kita bertahan."
"Ferry belum menyerah."
"Kita juga."
Mereka memandang langit.
Bintang timur masih terlihat, meskipun fajar sudah sempurna.
Jatmika, bisik Arga. Kau tadi membantu kami, bukan?
Tidak ada jawaban.
Tapi Arga merasakan sesuatu. Kehangatan di dadanya.
"Aku selalu di sini, Le. Menjagamu. Menjaga keluarga. Menjaga Sekar."
Arga tersenyum.
BAB 29
KONSPIRASI TERBONGKAR
Setelah pertempuran sengit di halaman rumah Mbah Jayarasa, tim Arga berhasil memukul mundur preman bayaran Ferry. Tapi kemenangan itu terasa hampa. Ada yang aneh. Ada yang tidak beres. Preman-preman itu sepertinya tahu persis di mana Arga bersembunyi. Mereka tahu persis tata letak rumah. Mereka tahu persis pintu masuk dan pintu keluar. Mereka tahu persis kelemahan tim Arga.
Itu bukan kebetulan.
Itu adalah hasil dari pengkhianatan.
Pengkhianatan dari dalam lingkaran terdekat mereka sendiri.
PAGI YANG GELISAH
Matahari belum sepenuhnya terbit ketika Arga terbangun dari tidurnya yang singkat. Ia bermimpi buruk, mimpi tentang Jatmika berdiri di tepi Kali Wening, menangis, memanggil namanya, lalu menghilang ditelan air hitam.
Ia duduk di dipan. Keringat dingin membasahi keningnya.
Di sampingnya, Sastro masih terbaring lemah, tangan kiri dibalut perban tebal, mata terpejam tapi tidak tidur. Sukmawati duduk di kursi kayu, memegang tangan suaminya, sesekali mengusap air mata yang jatuh tanpa suara.
"Bu," panggil Arga pelan.
Sukmawati menoleh. Matanya merah. Wajahnya sembab.
"Iya, Le."
"Aku akan cari teh jahe untuk Ayah."
"Jangan repot, repot. Ibu yang buatkan."
"Ibu istirahat. Aku yang buat."
Arga berjalan ke dapur rumah Mbah Jayarasa. Dapur itu kecil, hanya cukup untuk satu orang memasak. Tungku tanah liat masih menyala kecil, menghangatkan air di panci.
Arga mengambil jahe dari keranjang bambu. Diparutnya kasar. Direbusnya dengan air. Ditambah gula merah. Menunggu hingga mendidih dan wangi.
"Mas Arga."
Suara itu membuat Arga menoleh. Faruq berdiri di pintu dapur, wajahnya tegang, matanya cekung, seperti tidak tidur semalaman.
"Faruq, kenapa? Kamu tidak istirahat?"
"Tidak bisa tidur, Mas. Pikiran saya kacau."
"Pikiran kacau karena apa?"
Faruq masuk ke dapur. Ia duduk di bangku kayu di sudut—bangku yang biasa digunakan Mbah Jayarasa untuk mengupas bawang atau memotong sayur.
"Mas Arga, saya mau cerita sesuatu. Tapi Mas Arga jangan marah."
Arga menghentikan adukan jahenya. Ia menatap Faruq.
"Cerita apa?"
Faruq menunduk. Tangannya gemetar. Air matanya jatuh.
"Saya... saya yang kasih tahu preman Ferry tentang lokasi persembunyian Mas Arga di rumah Mbah Jayarasa."
Sendok kayu di tangan Arga jatuh.
BRUK!
"Faruq, apa katamu?" suara Arga dingin. Sangat dingin.
"Saya yang kasih tahu. Saya yang kasih tahu mereka tentang tata letak rumah. Tentang pintu belakang. Tentang jendela. Tentang ruang bawah tanah."
"Kenapa?" Arga masih tidak percaya. "Kenapa kau lakukan itu, Faruq? Kau temanku. Kau sahabatku. Kau orang yang paling saya percaya setelah Guntur."
Faruq terisak. "Karena mereka mengancam keluarga saya, Mas. Mereka punya video. Video adik perempuan saya... mandi. Mereka bilang jika saya tidak membantu, mereka akan menyebarkan video itu ke media sosial. Ke sekolah. Ke tetangga. Ke semua orang."
"Ferry lagi?"
"Ferry. Melalui anak buahnya. Toni namanya. Mantan polisi. Dia yang mengkoordinasi semua."
"Kenapa kau tidak cerita pada kami?"
"Karena saya takut, Mas. Saya takut kalau saya cerita, mereka akan sebar videonya lebih cepat. Saya takut adik saya malu. Saya takut keluarga saya hancur."
Arga duduk di lantai dapur. Wajahnya pucat. Matanya kosong.
Faruq, Faruq yang selama ini menjadi penghibur tim, Faruq yang selalu membuat mereka tertawa di saat paling sulit, Faruq yang rela mempertaruhkan nyawanya di demo, Faruq yang ikut menyusup ke vila Ferry, ternyata mata-mata.
"Mas Arga," Faruq berlutut di depan Arga. "Saya mohon, jangan usir saya. Saya mau bertobat. Saya mau lawan Ferry. Saya mau bantu Mas Arga sampai akhir."
"Bagaimana saya bisa percaya kata-katamu, Faruq? Kau sudah berbohong. Kau sudah mengkhianati kami. Bagaimana saya tahu ini bukan bagian dari rencana Ferry untuk menghancurkan kami dari dalam?"
Faruq mengeluarkan ponselnya. Ia membuka rekaman suara.
"Mas Arga, dengar ini."
REKAMAN SUARA TONI
Suara laki, laki berat, tegas, seperti orang yang terbiasa memberi perintah.
"Faruq, kau dengar. Ini Toni. Ferry marah padamu. Target pertama gagal. Keluarga Arga tidak jadi ditangkap. Kau harus perbaiki."
"Saya sudah lakukan sesuai perintah," suara Faruq dalam rekaman. "Saya kasih tahu lokasi. Saya kasih tahu tata letak rumah. Saya kasih tahu kelemahan mereka. Tapi preman yang Mas Toni kirim terlalu lemah. Mereka kalah."
"Jangan salahkan anak buahku. Mereka profesional. Mereka sudah bertahun, tahun bekerja untuk Ferry. Tidak mungkin kalah oleh anak desa."
"Tapi faktanya mereka kalah, Mas Toni. Arga dan teman, temannya lebih kuat dari yang Mas kira."
"Maka kau harus buat mereka lemah. Racuni makanan mereka. Potong kabel motor mereka. Tusuk ban mobil mereka. Lakukan apa pun untuk mempermudah anak buahku besok malam."
"Saya tidak bisa, Mas Toni. Saya tidak tega."
"Kau tidak punya pilihan, Faruq. Ferry sudah mentransfer lima puluh juta ke rekeningmu. Itu tanda jadi. Setelah target tercapai, sisanya akan masuk. Tapi jika kau gagal, bukan hanya uang yang hilang. Video adikmu akan tersebar. Kau mengerti?"
Rekaman berakhir.
Arga memandang Faruq. "Kau menerima uang?"
Faruq mengangguk pelan. "Lima puluh juta. Tapi belum saya pakai. Masih utuh di rekening. Saya akan kembalikan."
"Kembalikan? Pada siapa? Ferry? Preman?"
"Pada Mas Arga. Saya akan transfer semua ke rekening Mas Arga. Saya tidak mau uang haram itu."
Arga menghela napas. "Faruq, kau bodoh."
"Saya tahu, Mas."
"Bodoh karena menerima uang dari setan."
"Saya tahu, Mas."
"Bodoh karena tidak cerita pada kami."
"Saya tahu, Mas."
"Tapi kau juga berani. Berani mengaku. Berani bertobat."
Faruq mengangkat wajahnya. Matanya basah, tapi ada cahaya di sana, cahaya harapan.
"Mas Arga, saya ingin membantu Mas Arga menjebak Toni. Saya akan berpura, pura masih setia pada Ferry. Saya akan beri informasi palsu. Saya akan buat mereka lengah."
"Berbahaya."
"Saya tidak takut mati, Mas. Saya lebih takut hidup dalam dosa."
PERTEMUAN DENGAN TIM
Jam delapan pagi, Arga mengumpulkan semua tim di ruang tamu rumah Mbah Jayarasa.
Guntur, Dimas, Laras, Nisa, dan Samsul, kecuali Ratri yang sedang menjaga Sukmawati dan Sastro di ruang bawah tanah.
Arga berdiri di depan mereka. Wajahnya tegang.
"Teman, teman, saya punya kabar buruk."
"Apa?" tanya Guntur.
Arga menatap Faruq. Faruq menunduk.
"Faruq adalah mata-mata Ferry."
Ruangan hening.
Guntur tidak terkejut. "Aku sudah tahu."
Semua menatap Guntur.
"Kamu tahu?" tanya Nisa.
"Sejak dua hari lalu. Ada keanehan. Informasi kita selalu bocor. Tapi tidak semuanya. Hanya informasi yang dimiliki orang, orang tertentu. Saya curiga pada Faruq karena dia yang paling sering komunikasi dengan Toni, tanpa sepengetahuan kita."
"Kenapa tidak bilang?" tanya Dimas.
"Karena aku ingin Faruq mengaku sendiri. Dan dia sudah mengaku. Pada Arga. Pagi ini."
Laras mengepalkan tangan. "Faruq, kau, "
"Saya tahu, Laras. Saya salah. Saya minta maaf."
"Maaf tidak cukup, Faruq. Kau membahayakan kita semua. Keluarga Arga nyaris tewas."
"Saya tahu. Saya akan perbaiki."
"Bagaimana?"
Faruq memandang Laras. "Saya akan jadi umpan. Saya akan pura, pura masih setia pada Ferry. Saya akan beri informasi palsu pada Toni. Saya akan buat mereka lengah."
Laras terdiam.
"Laras, aku butuh bantuanmu. Kamu mantan mata-mata Ferry. Kamu tahu cara kerja mereka. Kamu tahu trik-trik mereka."
Laras menghela napas. "Baik. Aku bantu."
RENCANA JEBATAN
Mereka menyusun rencana di ruang tamu yang sempit. Guntur membuka laptop. Dimas menyiapkan alat perekam. Nisa mencatat poin, poin penting.
"Faruq, kau akan hubungi Toni. Bilang bahwa besok malam Arga dan Sekar akan pindah ke tempat persembunyian baru di Gunung Kidul. Rute yang akan dilewati: lewat jalur selatan, melewati hutan jati, sepi, tidak ada polisi."
"Apakah itu benar?" tanya Faruq.
"Tidak. Itu jebakan. Kami akan menyiapkan penyergapan di hutan jati. Polisi sudah kami hubungi, polisi yang bisa dipercaya, bukan polisi bayaran Ferry."
"Tapi bagaimana jika Toni mengirim preman dalam jumlah besar?"
"Kami sudah siap. Laras akan memantau dari kejauhan. Dimas akan merekam semua. Guntur akan koordinasi dengan polisi."
"Siapa yang akan memancing?"
"Samsul."
Samsul mengangkat alis. "Saya?"
"Iya. Kau yang paling dikenal preman. Kau yang paling dicari Ferry. Jika kau terlihat di hutan jati, mereka pasti akan datang."
"Risiko?"
"Besar. Tapi tidak ada pilihan lain."
Samsul menghela napas. "Baik. Saya lakukan. Untuk istri saya. Untuk anak, anak saya. Untuk membersihkan nama saya."
FARUQ MENGHUBUNGI TONI
Jam sepuluh pagi, Faruq menelepon Toni.
Tangan Faruq gemetar. Wajahnya pucat. Tapi suaranya tegas.
"Mas Toni, ini Faruq."
"Ada apa, Le?"
"Saya punya informasi penting. Arga dan Sekar akan pindah besok malam. Ke Gunung Kidul. Lewat jalur selatan. Sepi. Tidak ada polisi."
"Kamu yakin?"
"Yakin. Saya dengar sendiri dari Arga."
"Rutenya?"
"Lewat hutan jati. Keluar di perbatasan. Desa terakhir sebelum Gunung Kidul."
"Bagus. Besok malam kita gerakan semua pasukan. Ferry akan senang."
"Tapi Mas Toni, satu lagi."
"Apa?"
"Aku tidak bisa ikut. Ada tugas lain dari Guntur."
"Tidak apa. Tugasmu sudah selesai. Besok malam, kau tinggal di rumah. Jangan kemana-mana. Biar anak buahku yang bekerja."
"Baik, Mas Toni."
Telepon ditutup.
Faruq memandang Arga. "Dia percaya."
"Kita tunggu besok malam."
MALAM SEBELUM EKSEKUSI
Jam delapan malam, semua berkumpul di ruang tamu.
Suasana tegang. Tidak ada tawa. Tidak ada canda. Hanya fokus.
"Guntur, apakah polisi sudah siap?" tanya Arga.
"Sudah. Dua mobil. Delapan orang. Polisi dari Polda, bukan Polres. Tidak bisa disuap Ferry."
"Dimas, alat rekam?"
"Siap. Dua kamera tersembunyi di hutan. Juga drone untuk pantau dari udara."
"Laras, posisi?"
"Aku di bukit kecil dekat hutan. Bisa lihat semua."
"Nisa, kau di mana?"
"Aku di rumah Mariyem. Jaga Sekar dan Ratri. Juga Sastro dan Sukmawati."
"Baik. Samsul, kau siap?"
Samsul mengangguk. "Badanku gemetar. Tapi hatiku siap."
"Faruq, kau di rumah kos. Jangan kemana, mana. Biar Toni tidak curiga."
"Baik."
Arga memandang semua temannya.
"Teman, teman, ini puncak. Jika berhasil, Ferry akan hancur. Jika gagal, kita semua bisa mati. Tapi saya percaya pada kita. Saya percaya pada kebenaran."
"Setuju!" kata mereka serempak.
BAB 30
FERRY TERPOJOK
Malam itu adalah malam yang ditunggu, tunggu. Bukan hanya oleh Arga dan timnya, tapi juga oleh semua pihak yang selama ini diam, diam menyimpan bukti kejahatan Ferry Kencana. Jurnalis investigasi dari Tempo, Kompas, dan BBC Indonesia sudah bersiap di lokasi yang telah ditentukan. Aktivis dari Komnas Perempuan dan LBH sudah siaga dengan pernyataan resmi. Polisi dari Polda yang tidak bisa disuap sudah menyiapkan tim penangkapannya.
Dan Ferry, pengusaha muda yang selama ini merasa kebal hukum, yang merasa uang bisa membeli segalanya, yang merasa tidak ada yang berani melawannya, akan terjebak dalam perangkapnya sendiri.
Rencana jebakan di hutan jati berjalan sempurna. Toni dan dua puluh preman bayarannya datang tepat waktu. Mereka mengira akan menangkap Arga dan Sekar sendirian, tanpa pengawalan. Mereka tidak tahu bahwa polisi sudah mengepung dari semua sisi. Mereka tidak tahu bahwa setiap gerakan mereka direkam oleh kamera tersembunyi dan drone Dimas. Mereka tidak tahu bahwa ini adalah akhir dari kekuasaan Ferry di kota ini.
JEBATAN DI HUTAN JATI
Hutan jati di selatan kota itu gelap. Pepohonan tinggi menjulang, menutupi cahaya bulan dan bintang. Hanya sesekali cahaya senter preman yang menerobos kegelapan, menciptakan bayangan panjang yang menari, nari di tanah kering.
Arga berdiri di tengah hutan, di samping mobil sewaan yang sengaja diparkir di pinggir jalan setapak. Sekar tidak ada di sana, itu bagian dari rencana. Arga sendirian. Tapi ia tidak takut. Di balik semak, semak, Guntur, Dimas, dan Laras bersiap dengan kamera dan alat perekam. Di atas bukit kecil, polisi bersenjata lengkap menunggu komando.
"Ini dia," bisik Dimas lewat komunikasi radio. "Mereka datang. Dua puluh orang. Toni di depan. Bawa celurit."
"Biar mereka mendekat," bisik Guntur balik. "Jangan bergerak sampai aku kasih kode."
Arga berdiri tegap. Ia memegang peta usang Mbah Jayarasa di saku celananya, bukan untuk dibaca, tapi untuk keberanian.
"Arga!" teriak Toni dari kejauhan. "Kau sendirian?"
"Sendirian!" teriak Arga balik. "Apa kalian takut pada orang sendirian?"
Tomi tertawa. "Kami tidak takut pada siapapun. Apalagi anak desa sepertimu."
"Kalau begitu, kemari. Aku tidak akan lari."
Toni memberi isyarat. Semua preman maju. Perlahan. Merangkak. Pentungan, celurit, dan pisau terangkat.
Mereka semakin dekat.
Lima puluh meter.
Tiga puluh meter.
Sepuluh meter.
"Sekarang!" teriak Guntur.
Lampu sorot menyala dari segala arah. Polisi keluar dari persembunyian. "POLISI! JANGAN BERGERAK! ANGKAT TANGAN!"
Preman itu panik. Ada yang mencoba lari, tapi langsung dikejar. Ada yang melawan, tapi langsung dilumpuhkan. Ada yang menangis, memohon ampun.
Toni tidak lari. Ia hanya berdiri. Memandang Arga.
"Kau... kau menjebakku?"
"Bukan aku. Kau sendiri yang menjebak dirimu."
"Ferry akan, "
"Ferry sudah selesai. Malam ini, dia akan ditangkap. Di hadapan publik. Di hadapan media. Di hadapan semua orang yang selama ini membelanya."
"Kau tidak mungkin, "
"Aku punya bukti, Toni. Rekaman percakapanmu dengan Faruq. Rekaman perintahmu pada preman. Video penyergapan ini. Semua akan jadi barang bukti di pengadilan."
Tomi tertawa pahit. "Kau pikir pengadilan akan memenangkan orang miskin seperti kamu?"
"Bukan saya yang akan menang. Kebenaran yang akan menang."
PENYERBUAN RUMAH FERRY
Jam sembilan malam, saat penyergapan di hutan jati masih berlangsung, tim lain bergerak menuju rumah Ferry di perumahan Mutiara Indah. Ferry sudah keluar dari tahanan dijamin pengacaranya yang hebat dan sedang bersantai di ruang kerjanya, meminum anggur merah, mendengarkan musik klasik.
Ia tidak tahu bahwa dunianya akan runtuh dalam hitungan menit.
"Kepung semua pintu!" perintah komandan polisi dari Polda. "Jangan biarkan satu pun keluar!"
Ferry mendengar keributan dari luar. Ia berjalan ke jendela. Melihat mobil polisi berjejer di depan gerbang.
"Astaga," bisiknya. "Mereka berani."
Ia mengambil ponsel. Menelepon pengacaranya.
"Pak Gerry, saya dikepung polisi. Apa yang harus saya lakukan?"
"Tenang, Pak Ferry. Saya akan ke sana. Jangan lawan. Jangan lari. Biarkan mereka menangkap Bapak. Saya akan urus sisanya."
"Tapi, "
DUAR! DUAR! DUAR!
Pintu depan didobrak.
"POLISI! JANGAN BERGERAK!"
Ferry meletakkan ponselnya. Ia mengangkat tangan.
"Saya tidak melawan."
"Ferry Kencana, kami menahan Saudara atas dugaan penyekapan, kekerasan dalam rumah tangga, perjodohan paksa, pemerasan, dan pengiriman preman untuk melakukan kekerasan."
"Saya ingin telepon pengacara saya."
"Boleh. Nanti. Setelah kami geledah rumah ini."
Polisi mulai menggeledah.
Mereka menemukan laptop di brankas, laptop yang berisi video pemerasan terhadap keluarga Samsul dan Faruq.
Mereka menemukan buku catatan, catatan aliran uang haram, suap pada polisi dan pejabat.
Mereka menemukan foto, foto Sekar, foto saat disuntik obat penenang, foto saat pingsan, foto saat lebam.
Mereka menemukan semuanya.
Ferry tidak bisa berkutik.
FERRY DI HADAPAN PUBLIK
Jam sepuluh malam, Ferry digiring ke mobil polisi. Di depan gerbang perumahan, puluhan jurnalis sudah menunggu dengan kamera dan alat perekam.
"Pak Ferry, benarkah Bapak menyekap Sekar selama berbulan, bulan?"
"Pak Ferry, apa tanggapan Bapak tentang video pemerasan yang disita polisi?"
"Pak Ferry, apakah Bapak mengakui semua kejahatan ini?"
Ferry tidak menjawab. Ia hanya berjalan. Wajahnya pucat. Matanya kosong. Tidak ada lagi senyum sinis. Tidak ada lagi tatapan angkuh.
Tapi tiba, tiba, ia berhenti.
Ia melihat seseorang di antara kerumunan.
Arga.
Arga berdiri di pinggir jalan, ditemani Guntur, Dimas, Laras, dan Samsul. Wajahnya tenang. Matanya tajam.
Ferry berjalan mendekat. Polisi mengawal, tapi tidak melarang.
"Arga," panggil Ferry.
"Ferry."
"Kau menang."
"Bukan saya. Kebenaran."
"Kebenaran?" Ferry tertawa pahit. "Kebenaran tidak pernah ada. Yang ada hanya kekuatan. Dan hari ini, kekuatan ada di pihakmu."
"Bukan kekuatan. Keberanian. Keberanian untuk melawan ketidakadilan."
Ferry memandang Arga lama.
"Kau anak desa yang luar biasa."
"Saya anak desa biasa. Tapi saya punya teman, teman luar biasa."
"Semoga kau bahagia dengan Sekar."
"Terima kasih."
Ferry berbalik. Ia masuk ke mobil polisi. Mobil itu melaju perlahan, meninggalkan perumahan, meninggalkan kekayaannya, meninggalkan masa lalunya yang kelam.
PENGAKUAN FERRY
Tiga hari kemudian, sidang perdana Ferry digelar di pengadilan negeri. Ruangan penuh. Jurnalis dari berbagai media memadati kursi pengunjung. Aktivis dan mahasiswa berdemo di depan gedung menuntut hukuman maksimal.
Ferry duduk di kursi pesakitan. Wajahnya masih tampan, tapi matanya, matanya yang dulu tajam dan angkuh, kini sayu dan kosong.
Jaksa membacakan dakwaan.
Pertama: penyekapan terhadap Sekar, gadis desa yang dijodohkan paksa, selama lebih dari enam bulan.
Kedua: kekerasan psikis dan fisik terhadap Sekar, termasuk pemberian obat penenang dosis tinggi tanpa resep dokter.
Ketiga: perjodohan paksa yang melanggar hak asasi manusia.
Keempat: pemerasan terhadap Samsul dan Faruq menggunakan video pribadi keluarga mereka.
Kelima: penyuapan terhadap oknum polisi dan pejabat untuk menutupi kejahatannya.
Keenam: pengerahan preman untuk melakukan kekerasan terhadap Arga dan timnya.
Ferry mengaku tidak bersalah untuk semua dakwaan. Pengacaranya, Pak Gerry, akan membantah satu per satu.
Tapi saksi demi saksi dipanggil.
Sekar menjadi saksi pertama. Ia menceritakan semua dengan suara lirih, tapi tegas. Tentang penculikan. Tentang suntikan. Tentang cacian. Tentang segala yang ia derita selama berbulan, bulan di rumah Ferry.
Samsul menjadi saksi kedua. Ia menceritakan tentang tekanan, tentang ancaman, tentang video yang digunakan Ferry untuk memerasnya.
Faruq menjadi saksi ketiga. Ia menceritakan hal yang sama, tentang adik perempuannya, tentang video, tentang ancaman, tentang alasannya terpaksa menjadi mata, mata.
Mariyem menjadi saksi keempat. Ia menunjukkan buku catatan hariannya, rekaman percakapan, dan foto, foto bukti penyekapan.
Toni ditangkap dan menjadi saksi kelima. Ia membongkar semua perintah Ferry dari penyekapan hingga pengerahan preman.
Ferry tidak bisa berkutik.
Pengacaranya hanya bisa diam.
Hakim menundukkan palu.
"Sidang ditunda minggu depan untuk mendengarkan vonis."
VONIS
Minggu berikutnya, ruang pengadilan kembali penuh. Ferry duduk di kursi pesakitan dengan wajah lemas. Ia sudah tidak peduli lagi. Tidak peduli dengan bisik, bisik pengunjung. Tidak peduli dengan sorot kamera. Tidak peduli dengan demo di luar gedung.
Hakim membacakan vonis.
"Terdakwa Ferry Kencana terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana penculikan, penganiayaan, perjodohan paksa, pemerasan, dan pengerahan preman untuk melakukan kekerasan."
"Menjatuhkan pidana penjara selama lima belas tahun."
"Denda satu miliar rupiah."
"Kewajiban membayar restitusi kepada korban Sekar sebesar lima ratus juta rupiah."
Ferry tidak bereaksi. Ia hanya diam.
Pengacaranya akan mengajukan banding, tapi semua orang tahu banding tidak akan mengubah apa pun. Bukti terlalu kuat. Publik terlalu marah.
KEBEBASAN SEKAR
Setelah vonis dibacakan, Sekar keluar dari ruang pengadilan. Ia tidak sendiri. Arga di samping kanannya. Guntur, Faruq, Nisa, Dimas, Laras, Ratri, dan Samsul di belakang.
Jurnalis menyerbu.
"Mbak Sekar, bagaimana perasaan Mbak setelah Ferry divonis?"
Sekar tersenyum. "Senang. Lega. Tapi juga sedih."
"Sedih kenapa?"
"Sedih karena ada orang yang rela menghancurkan hidup orang lain demi uang dan kekuasaan."
"Apa pesan Mbak untuk perempuan lain yang mengalami nasib serupa?"
"Jangan takut. Jangan diam. Laporkan. Cari bantuan. Karena kalian tidak sendirian."
Mereka berjalan ke mobil. Mobil sewaan yang sama yang membawa Arga ke vila Ferry, ke hutan jati, ke berbagai medan perang.
"Pulang, Mas," kata Sekar pada Arga.
"Pulang ke mana?"
"Pulang ke desa. Kali Wening. Pohon randu. Semua yang sudah lama tidak kita lihat."
Arga memeluk Sekar.
"Iya. Kita pulang."
BAB 31
PENCULIKAN ARGA
Tiga hari setelah vonis Ferry dijatuhkan, suasana di kos, kosan Mbok Darmi terasa berbeda. Bukan hanya karena kemenangan yang mereka raih, tapi karena kelelahan yang mengendap di tulang, tulang setiap orang. Delapan bulan berada dalam ketegangan, delapan bulan hidup dalam ancaman, delapan bulan mempertaruhkan nyawa, semua itu meninggalkan luka yang tidak terlihat, tapi terasa setiap malam ketika lampu dipadamkan.
Arga duduk di beranda kos, ditemani oleh bantal kecil dari kebaya Sekar dan peta usang pemberian Mbah Jayarasa. Peta itu kini terlihat berbeda. Garis, garis baru yang dulu muncul secara misterius, kini perlahan memudar seolah peta itu sadar bahwa perjuangan telah usai, bahwa pengembara telah menemukan jalannya, bahwa tidak ada lagi yang perlu ditunjukkan.
"Mas Arga, belum tidur?" sapa Dimas yang keluar dari kamarnya.
"Belum. Pikiranku kacau."
"Kacau kenapa? Ferry sudah di penjara."
"Ferry di penjara, tapi anak buahnya masih berkeliaran. Toni dan preman, preman yang kemarin lolos dari penyergapan, mereka belum tertangkap."
Dimas duduk di samping Arga. "Mas Arga khawatir mereka akan balas dendam?"
"Iya. Aku tidak takut pada mereka. Tapi aku takut pada Sekar. Pada keluargaku. Pada kalian."
Dimas menghela napas. "Mas Arga, kita sudah melewati banyak hal bersama. Apa lagi yang bisa mereka lakukan? Kita sudah buktikan bahwa kita tidak mudah dikalahkan."
"Orang yang terpojok seringkali melakukan hal, hal nekat, Dimas. Toni kehilangan bosnya. Kehilangan sumber uang. Kehilangan kekuasaan. Dia pasti marah. Dan orang marah tidak berpikir rasional."
Mereka terdiam.
Angin malam berembus membawa aroma daun mangga yang basah oleh embun.
"Mas Arga," panggil Dimas lagi.
"Iya."
"Aku akan jaga malam ini. Mas tidur saja. Besok masih banyak yang harus dilakukan."
"Terima kasih, Dimas."
"Jangan berterima kasih. Nanti malam Minggu traktir saya sate kambing."
"Janji."
Arga masuk ke kamarnya. Ia memeluk bantal kebaya, memejamkan mata, dan berusaha tidur. Tapi tidur tidak kunjung datang.
MALAM YANG SUNYI
Jam satu dini hari, Arga terbangun oleh suara lolongan anjing dari kejauhan. Bukan satu atau dua, tapi puluhan. Anjing, anjing kampung di sekitar kos seolah sedang memberi peringatan tentang sesuatu.
Arga duduk di dipan. Ia merasakan firasat tidak enak. Bulu kuduknya berdiri.
Ia berjalan ke jendela.
Di luar, gelap. Lampu penerangan gang hanya menyala samar. Bayangan pohon mangga bergoyang pelan diterpa angin.
Tapi di antara bayangan itu, ada yang bergerak.
Bukan bayangan.
Manusia.
Banyak.
"Dimas!" teriak Arga.
Belum sempat Dimas menjawab, pintu kamar Arga didobrak.
DUAR!
Tiga orang preman masuk. Wajah mereka ditutup kain hitam. Di tangan mereka, pentungan dan pisau.
"Arga? Jangan melawan. Ikut kami."
"Siapa kalian?"
"Utusan Toni. Ferry mungkin dipenjara, tapi Toni belum menyerah."
"Saya tidak akan ikut."
"Bukan pilihan."
Preman itu mengayunkan pentungan ke arah kepala Arga. Arga menghindar. Tangan kirinya terangkat untuk memblokir. Bruk! Pentungan mengenai lengannya. Arga meringis kesakitan.
Preman kedua dan ketiga ikut menyerang.
Arga melawan.
Ia menendang preman pertama. Preman itu jatuh. Ia membacok lengan preman kedua dengan sisi tangan. Preman itu menjerit.
Tapi jumlah mereka terlalu banyak.
Dari luar, masuk dua preman lagi. Dan dua lagi. Dan dua lagi.
Arga kewalahan.
Pukulan demi pukulan menghantam tubuhnya. Perutnya. Dadanya. Kepalanya.
Dunia terasa gelap.
Ia jatuh.
Dan tidak ingat apa, apa lagi.
SETELAH PENCULIKAN
Arga membuka mata dengan susah payah.
Kepalanya pusing. Badannya terasa remuk. Ada rasa sakit di sekujur tubuh, di lengan, di bahu, di dadanya, di tulang rusuk. Mulutnya terasa pahit, mungkin karena darah.
Ia berada di sebuah ruangan gelap. Dindingnya dari batu bata tanpa plester. Lantainya dari semen. Udara lembab dan bau apek. Lampu bohlam lima watt menyala redup di sudut ruangan, hanya cukup untuk melihat garis besar ruangan.
Tangan Arga diikat ke belakang. Kaki juga diikat.
"Sial," geramnya.
Ia berusaha mengingat kejadian tadi malam. Preman. Toni. Pukulan. Kegelapan.
"Mas Arga?"
Suara itu membuat Arga menoleh.
Di sudut ruangan, Samsul duduk bersandar di dinding. Wajahnya lebam. Bibirnya pecah. Tangannya juga diikat.
"Samsul? Kamu juga diculik?"
"Iya, Mas. Saya diculik jam dua malam. Dari kos saya yang baru. Mereka masuk lewat jendela. Saya tidak sempat melawan."
"Ada yang lain?"
"Dimas mungkin juga. Saya dengar suara ribut dari kos Mbok Darmi sebelum saya di bawa."
Arga mengepalkan tangannya. "Mereka akan membayar."
"Kita harus kabur, Mas."
"Dengan tangan dan kaki diikat? Kamu tahu di mana kita?"
"Tidak tahu. Tapi pasti di suatu gudang kosong. Mungkin di pinggiran kota."
Mereka berdua terdiam.
Suara langkah kaki dari luar.
Pintu terbuka.
Toni masuk.
Laki, laki tambun dengan wajah babi itu tersenyum. Senyum yang membuat Arga ingin memuntahkan isi perutnya.
"Selamat pagi, Arga. Selamat pagi, Samsul. Selamat datang di hotel bintang satu versi saya."
"Apa maumu, Toni?" tanya Arga dingin.
"Ferry ingin kalian mati. Tapi saya tidak mau membunuh kalian dengan mudah. Saya mau menyiksa kalian. Perlahan. Biar Ferry senang."
"Ferry di penjara. Dia tidak bisa lihat."
"Saya akan rekam. Kirim ke penjara. Ferry akan menonton sambil tertawa."
Toni mendekat. Ia menendang perut Arga.
DUAR!
Arga jatuh. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuh.
"Jangan!" teriak Samsul.
"Siapa yang suruh bicara?"
Toni menendang Samsul juga. Samsul jatuh di samping Arga.
"Kalian berdua sudah merepotkan saya. Berminggu, minggu. Berbulan, bulan. Sekarang giliran saya yang merepotkan kalian."
Toni mengeluarkan pisau lipat dari saku celananya. Ia memainkannya di depan mata Arga.
"Tangan kananmu dulu, Arga. Atau jari, jarimu? Ferry minta potong jari, jarimu. Satu per satu. Sebagai kenang, kenangan."
Arga tidak bergeming. "Potong saja. Nanti akan tumbuh lagi."
"Hebat. Berani. Saya suka."
Toni mendekatkan pisau ke jari kelingking Arga.
KRIIING...
Pintu gudang didobrak.
DUAR! DUAR! DUAR!
"POLISI! JANGAN BERGERAK!"
Toni terkejut. Pisau jatuh dari tangannya.
"Sudah!" teriak seseorang.
Itu suara Guntur.
Arga menoleh.
Guntur berdiri di pintu, ditemani oleh komandan polisi dari Polda. Di belakang mereka, Dimas dan Laras ikut masuk.
"Toni, kau ditahan!" kata komandan polisi.
Toni tidak melawan. Ia hanya tertawa pahit.
"Kalian... kalian pintar. Saya kira kalian anak desa bodoh, ternyata kalian lebih pintar dari yang saya kira."
"Bukan pintar," kata Guntur. "Kami kompak. Dan tim tidak akan membiarkan anggotanya diculik."
PEMBEBASAN
Polisi membawa Toni ke mobil. Preman-preman lain yang berjaga di luar gudang juga ditangkap.
Arga dan Samsul dibebaskan.
Guntur memeluk Arga. "Kamu baik, baik saja?"
"Selamat. Berkat kalian."
"Dimas yang melapor. Dia melihat preman masuk ke kos. Dia ikuti mobil yang membawa kalian ke sini."
Arga memandang Dimas. "Terima kasih, Dimas."
"Sama, sama, Mas. Sekarang traktirannya dua kali."
Mereka tertawa.
KEMBALI KE KOS
Jam enam pagi, mereka tiba di kos. Matahari baru saja terbit. Cahayanya keemasan, hangat, menyapu kabut yang menggantung di atas kota.
Sekar berlari keluar. Ia memeluk Arga. Menangis.
"Arga... Arga... aku pikir kamu..."
"Aku baik, baik saja, Sekar. Aku selamat."
"Jangan pergi lagi. Jangan tinggalkan aku."
"Aku tidak akan pergi. Aku janji."
Mbok Darmi keluar dari dapur dengan membawa segelas jahe hangat.
"Ini, diminum. Badanmu kedinginan."
"Terima kasih, Mbok."
Mbok Darmi mengusap air matanya. "Mbok sudah tidak tega lihat kalian begini. Kapan perjuangan ini selesai?"
"Sudah, Mbok," kata Guntur. "Toni sudah ditangkap. Preman Ferry hampir semuanya tertangkap. Ferry di penjara. Bandingnya ditolak. Perjuangan kita sudah selesai."
"Benarkah?"
"Benar, Mbok. Tinggal proses hukum. Tapi secara fisik, tidak ada lagi yang mengancam kita."
Mbok Darmi menghela napas lega. "Syukurlah. Syukurlah."
MALAM PERAYAAN KECIL
Malam itu, mereka mengadakan perayaan kecil di halaman kos.
Mbok Darmi memasak nasi tumpeng. Rendang. Ayam goreng. Sayur lodeh. Sambal terasi. Krupuk. Semua dibuat dengan penuh cinta.
Guntur, Faruq, Nisa, Dimas, Laras, Ratri, Samsul, Arga, dan Sekar duduk melingkar di tikar pandan. Mereka tertawa. Bercerita. Mengenang masa, masa sulit yang telah mereka lalui bersama.
"Guntur, kamu hebat," kata Faruq. "Kamu yang menyusun strategi. Kamu yang jaga tim tetap kompak. Kamu pantas jadi komandan."
"Aku hanya melakukan bagianku," kata Guntur. "Kalian juga hebat. Faruq, kamu berani mengaku. Nisa, kamu rela dipukul di pundak. Dimas, kamu jenius teknologi. Laras, kamu berani mati demi kebenaran. Ratri, kamu setia menemani Arga dari desa. Samsul, kamu berani menjadi saksi. Sekar, kamu kuat melewati semua ini. Dan Arga... Arga adalah jantung dari perjuangan ini."
Arga tersenyum. "Bukan aku. Kita."
"TOAST!" teriak Faruq.
"TOAST!"
Mereka bersulang dengan es teh manis.
BAB 32
GUNTUR YANG BERANI
Seminggu setelah penculikan Arga dan penangkapan Toni, suasana di kos, kosan Mbok Darmi mulai kembali normal. Normal yang sesungguhnya, bukan normal yang dipaksakan. Tawa mulai terdengar lagi di halaman kos setiap pagi dan sore. Sendiran Faruq yang konyol, ledekan Nisa yang tajam, candaan Dimas yang kadang absurd, dan senyum tipis Laras yang dulu langka kini lebih sering muncul.
Tapi Guntur, Guntur justru semakin pendiam.
Ia lebih banyak duduk di beranda sambil merokok dan minum kopi hitam, memandang jalanan yang ramai, sesekali menghela napas panjang. Matanya sayu, terlihat lelah, bukan lelah fisik karena begadang, tapi lelah batin yang sudah mengendap bertahun, tahun dan kini mulai muncul ke permukaan setelah perjuangan panjang ini usai.
Arga memperhatikan sahabatnya itu dari kejauhan. Ada sesuatu yang berbeda dari Guntur akhir-akhir ini. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan, tapi ia rasakan.
"Guntur," panggil Arga sambil duduk di sampingnya.
Guntur menoleh pelan. "Arga."
"Kamu kenapa? Akhir-akhir ini diem aja. Pendiam banget. Bahkan lebih pendiam dari biasanya."
"Aku hanya berpikir."
"Pikir apa?"
Guntur mengisap rokoknya. Asapnya mengepul ke udara sore yang mulai dingin.
"Tentang Rini."
Arga terdiam. Rini, sahabat Guntur yang dijodohkan paksa, yang bunuh diri setelah tiga bulan menikah dengan laki-laki kaya raya. Luka lama yang belum pernah benar-benar sembuh.
"Kamu masih ingat dia?" tanya Arga pelan.
"Setiap hari. Setiap malam. Setiap kali aku memejamkan mata."
"Guntur, "
"Kau tahu, Arga. Aku iri padamu."
"Iri kenapa?"
"Kamu berhasil menyelamatkan Sekar. Aku dulu gagal menyelamatkan Rini. Tiga tahun aku hidup dengan rasa bersalah. Tiga tahun aku bertanya-tanya, apa yang bisa aku lakukan? Apa yang seharusnya aku lakukan? Kenapa aku tidak cukup berani saat itu?"
Arga memegang bahu Guntur.
"Kamu sudah melakukan yang terbaik, Guntur. Kamu tidak bisa menyalahkan diri sendiri selamanya."
"Tapi aku tidak melakukan apa pun. Aku hanya diam. Aku hanya menonton. Aku hanya menjadi penonton dalam tragedi hidup orang yang aku cintai."
"Dan sekarang? Kamu sudah membuktikan bahwa kamu berani. Kamu memimpin tim ini. Kamu menyusun strategi. Kamu menghadapi Ferry. Kamu menyelamatkan Sekar. Itu semua karena kamu. Tanpamu, kami tidak akan sampai sejauh ini."
Guntur tidak menjawab. Ia hanya membuang puntung rokoknya ke asbak kaleng bekas susu.
"Arga, aku harus pergi sebentar."
"Pergi ke mana?"
"Ada urusan yang belum selesai."
KABAR DARI BALI
Jam delapan malam, Guntur menerima telepon dari seorang sumber yang tidak pernah ia sebutkan pada siapa pun. Sumber itu adalah mantan pegawai keluarga suami Rini, laki-laki yang dulu menikahi Rini paksa, laki-laki yang menjadi penyebab utama kematian sahabatnya.
"Mas Guntur, saya punya kabar," kata sumber itu.
"Kabar apa?"
"Suami Rini, Gus Aldo, akan berkunjung ke Bali minggu depan. Untuk urusan bisnis. Dia akan menginap di Hotel Royal Ambarukmo."
"Terima kasih informasinya."
"Mas Guntur, jangan macam-macam ya. Saya cuma kasih info. Saya tidak mau terlibat."
"Tidak usah khawatir. Saya hanya ingin bicara."
Telepon ditutup.
Guntur memandang ponselnya.
Ia teringat pada Rini.
Pada senyumnya.
Pada tawanya.
Pada air matanya.
Pada surat terakhir yang Rini tulis sebelum bunuh diri, surat yang hanya dikirimkan pada Guntur, surat yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun.
"Guntur, maafkan aku. Aku tidak kuat. Aku tidak sekuat yang kau kira. Aku lelah. Aku sakit. Aku ingin pergi. Jaga dirimu. Jangan seperti aku. Jangan menyerah. —Rini"
Guntur mengepalkan tangannya.
Aldo.
Laki, laki yang merenggut Rini dari orang, orang yang mencintainya.
Laki, laki yang mengurung Rini dalam pernikahan tanpa cinta.
Laki, laki yang menjadi penyebab utama Rini mengambil nyawanya sendiri.
Dan sekarang, laki, laki itu akan datang ke Jogja.
"Ini kesempatanku," bisik Guntur. "Ini saatnya aku bertanya. Bukan untuk balas dendam. Tapi untuk memahami. Untuk melepaskan. Agar Rini bisa tenang di alam sana."
GUNTUR BERPAMIT
Keesokan paginya, Guntur mengumpulkan semua teman, temannya di halaman kos.
Faruq, Nisa, Dimas, Laras, dan Arga. Samsul, Ratri, dan Sekar ikut serta mendengarkan meskipun belum sepenuhnya tahu apa yang akan disampaikan.
"Teman, teman," kata Guntur. "Aku mau pamit. Beberapa hari. Mungkin seminggu."
"Pergi ke mana?" tanya Faruq.
"Ke Bali."
"Kenapa ke Bali? Tiba, tiba sekali."
"Ada urusan lama yang belum saya selesaikan. Urusan yang seharusnya saya selesaikan bertahun, tahun lalu, tapi saya tunda karena takut."
"Cerita, Guntur," kata Nisa. "Kami berhak tahu."
Guntur menghela napas panjang. Ia duduk di kursi plastik, mengeluarkan sebatang rokok, lalu menyalakannya. Asapnya mengepul ke udara pagi yang masih dingin.
"Kalian tahu tentang Rini?" tanyanya.
Semua mengangguk. Arga pernah menceritakan.
"Aku akan menemui suaminya. Aldo namanya. Laki, laki yang menikahi Rini paksa. Laki, laki yang menjadi penyebab Rini bunuh diri."
Ruangan hening.
"Guntur, kamu mau apa?" tanya Laras hati-hati.
"Aku mau bertanya. Mengapa dia melakukan itu? Apakah dia tahu Rini menderita? Apakah dia menyesal? Atau dia tidak peduli?"
"Apa gunanya?" tanya Dimas.
"Entahlah. Tapi aku harus melakukannya. Untuk Rini. Untukku. Agar aku bisa melepaskan masa lalu dan mulai hidup dengan damai."
"Aku ikut," kata Arga.
"Tidak. Ini urusanku sendiri."
"Kami tidak akan membiarkanmu pergi sendirian, Guntur. Aldo orang berpengaruh. Dia punya preman. Dia punya polisi. Kamu bisa celaka."
"Aku tidak takut."
"Kami tahu kamu tidak takut. Tapi kami tidak mau kehilanganmu."
Guntur memandang teman, temannya. Matanya berkaca, kaca.
"Kalian... sungguh mau ikut?"
"Tentu," kata Faruq. "Kita tim. Tim tidak membiarkan anggotanya berjuang sendirian."
PERJALANAN KE BALI
Dua hari kemudian, mereka berangkat ke Bali.
Guntur, Arga, Faruq, Nisa, Dimas, Laras, dan Samsul. Tujuh orang. Tiket pesawat dibeli sendiri, sendiri—kecuali Samsul yang dibayari Guntur karena masih dalam masa sulit.
Sekar, Ratri, dan Mariyem tetap di Jogja. Rumah Mariyem sudah aman. Preman Ferry sudah hampir semuanya tertangkap.
Perjalanan pesawat memakan waktu satu setengah jam. Guntur duduk di kursi dekat jendela, memandang awan, awan putih di bawah sana. Pikirannya melayang ke masa lalu, ke hari, hari ketika Rini masih tersenyum padanya, ketika mereka masih duduk di bangku SMA yang sama, ketika cinta masih terasa sederhana.
"Guntur," panggil Arga dari kursi sebelah.
"Iya."
"Apa kamu yakin dengan keputusanmu?"
"Tidak. Tapi aku harus melakukannya."
"Kami di belakangmu."
"Terima kasih."
HOTEL ROYAL AMBARUKMO
Hotel Royal Ambarukmo adalah hotel bintang lima di jantung kota Denpasar. Megah. Mewah. Harga semalam bisa mencapai belasan juta. Aldo menginap di suite presidential di lantai paling atas.
Guntur berdiri di lobi hotel, ditemani Arga. Yang lain menunggu di parkiran, siap, siap membantu jika terjadi sesuatu.
"Selamat siang, Tuan. Ada yang bisa dibantu?" sapa resepsionis.
"Saya ingin bertemu dengan Gus Aldo. Kamar suite presidential."
"Maaf, Tuan. Tamu kami tidak boleh diganggu tanpa janji."
"Ini urusan pribadi. Tolong sampaikan pada Gus Aldo bahwa Guntur dari Jogja ingin menemuinya. Dia pasti tahu siapa saya."
Resepsionis itu ragu. Tapi setelah melihat wajah Guntur yang tegas, ia memutuskan untuk menelepon ke kamar.
Setelah beberapa saat, ia mengangguk. "Gus Aldo bersedia menerima Tuan. Silakan naik ke lantai tujuh."
PERTEMUAN DENGAN ALDO
Guntur dan Arga naik lift. Suasana hening. Hanya suara musik klasik yang pelan dari speaker.
Pintu lift terbuka di lantai tujuh.
Seorang pria berdiri di depan pintu suite. Tinggi. Berbadan tegap. Berjas hitam. Wajahnya tegas, tapi matanya sayu, seperti orang yang tidak pernah tidur nyenyak.
"Guntur?" sapa pria itu.
"Aldo."
"Masuklah. Aku sudah dengar banyak tentangmu dari Rini. Dulu."
Mereka masuk ke dalam suite.
Ruangan itu besar. Mewah. Lantai marmer. Lampu kristal. Sofa kulit asli. Pemandangan kota Denpasar dari jendela kaca besar.
Aldo duduk di sofa. Guntur dan Arga duduk di seberang.
"Aku ingin bicara tentang Rini," kata Guntur.
"Aku tahu."
"Kau tahu Rini bunuh diri?"
"Iya."
"Kau tahu penyebabnya?"
Aldo menunduk. Tangannya gemetar. "Aku tahu."
"Lalu kenapa kau diam? Kenapa kau tidak menghubungi keluarga Rini? Kenapa kau tidak datang ke pemakamannya? Kenapa kau bersikap seolah Rini tidak pernah ada?"
Aldo mengangkat wajahnya. Matanya merah. "Karena aku malu, Guntur. Aku malu pada Rini. Aku malu pada keluarganya. Aku malu pada diriku sendiri."
"Kau malu?" Guntur hampir berteriak. "Rini mati, Aldo! Mati! Dan kau hanya bilang malu?"
"Aku mencintai Rini, Guntur. Aku serius. Tapi aku tidak bisa menunjukkan cinta itu dengan cara yang benar. Keluargaku mendesakku untuk menikahi Rini demi bisnis. Aku tidak punya pilihan saat itu. Aku masih muda. Aku takut pada ayahku."
"Takut pada ayahmu lebih penting dari nyawa Rini?"
Aldo menangis. "Aku menyesal, Guntur. Setiap hari. Setiap malam. Setiap detik. Aku menyesal."
"Penyesalan tidak akan mengembalikan Rini."
"Aku tahu. Tapi apa yang bisa aku lakukan? Rini sudah mati. Aku tidak bisa menghidupkannya kembali."
Guntur berdiri. Ia berjalan ke jendela. Memandang kota Denpasar dari ketinggian.
"Aldo, aku tidak datang ke sini untuk membencimu. Aku datang untuk memaafkanmu."
Aldo terkejut. "Apa?"
"Aku memaafkanmu. Karena Rini pasti tidak ingin aku menyimpan dendam. Rini baik. Rini penyayang. Rini pasti tersiksa jika melihatku seperti ini."
Aldo berdiri. Ia berjalan mendekati Guntur.
"Maaf, Guntur. Aku minta maaf. Setulus, tulusnya."
"Maafmu aku terima. Tapi itu tidak cukup."
"Apa lagi yang kau inginkan?"
Guntur menatap Aldo. "Bangun yayasan atas nama Rini. Yayasan untuk perempuan korban perjodohan paksa. Bantu mereka mendapatkan keadilan. Bantu mereka mendapatkan kehidupan yang layak."
Aldo mengangguk. "Aku akan lakukan."
"Janji?"
"Janji. Demi Rini."
PULANG DENGAN HATI DAMAI
Perjalanan pulang ke Jogja terasa lebih ringan. Guntur tersenyum-senyum yang jarang muncul, senyum yang tulus, senyum yang tidak dipaksakan.
"Akhirnya," bisiknya.
"Akhirnya apa?" tanya Arga.
"Akhirnya aku bisa melepaskan."
"Rini?"
"Iya. Rini. Dia sudah tenang sekarang."
Mereka tiba di Jogja malam hari.
Di kos, Sekar dan Ratri sudah menunggu dengan makan malam hangat.
"Guntur, makan dulu," kata Sekar.
"Terima kasih."
Untuk pertama kalinya setelah bertahun, tahun, Guntur makan dengan lahap. Tidur dengan nyenyak. Bangun dengan damai.
PAGI YANG BARU
Keesokan paginya, Guntur keluar kamar dengan wajah cerah.
"Mas Guntur, kamu kelihatan beda," kata Faruq.
"Beda bagaimana?"
"Kayak... lebih enteng."
"Karena bebanku sudah berkurang."
Mereka sarapan bersama di halaman kos. Mbok Darmi menyuguhkan nasi uduk, ayam goreng, sambal, dan kerupuk.
"Guntur," panggil Laras.
"Iya."
"Aku bangga padamu."
"Kenapa?"
"Karena kamu berani menghadapi masa lalumu. Bukan lari."
"Aku belajar dari Arga. Arga tidak pernah lari dari masalah. Dia hadapi semua. Sampai akhir."
Arga tersenyum. "Kita semua belajar dari satu sama lain."
Mereka melanjutkan sarapan dengan tawa dan canda.
BAB 33
LARAS MENGORBANKAN DIRI
Dua minggu setelah kunjungan Guntur ke Bali dan pertemuannya dengan Aldo, kehidupan tim Arga di Jogja mulai memasuki babak baru. Sebuah babak yang lebih tenang, lebih damai, tanpa teror tengah malam, tanpa ancaman, tanpa rasa takut yang menyelimuti setiap langkah.
Ferry sudah menjalani hukuman. Toni dan preman, preman bayarannya juga sudah diproses hukum. Samsul menjadi saksi kunci dan kini tinggal di rumah aman bersama keluarganya. Faruq dan Nisa kembali ke rutinitas kuliah. Dimas kembali menjadi kurir keliling. Guntur menyelesaikan skripsinya tentang filsafat keadilan.
Laras juga kembali ke kampus.
Tapi ada yang berbeda dari Laras akhir, akhir ini. Ia lebih sering diam. Lebih sering menyendiri. Lebih sering memandang kosong ke arah langit, seolah sedang mencari sesuatu di antara awan, awan putih.
Ia juga mulai menjauh.
Bukan dari tim. Tapi dari orang, orang yang paling dekat dengannya.
Dari Guntur terutama.
PERUBAHAN LARAS
Suatu sore, Arga dan Sekar sedang duduk di beranda kos, menikmati angin sore yang sejuk, ketika mereka melihat Laras berjalan keluar dari kamarnya dengan sebuah ransel besar di punggung.
"Laras, mau ke mana?" tanya Arga.
"Jalan, jalan. Melepas penat."
"Kok bawa ransel besar?"
"Biasa. Saya suka jalan jauh."
"Sendirian?"
Laras tersenyum tipis. "Sendirian."
Arga dan Sekar saling pandang. Ada sesuatu yang ganjil, tapi mereka tidak ingin bertanya terlalu jauh.
"Jaga diri," kata Sekar.
"Kamu juga."
Laras berjalan ke gerbang kos. Langkahnya tegap, tidak terburu, buru. Sesekali ia menoleh, memandang kos, kosan yang sudah menjadi rumahnya selama berbulan, bulan, memandang Arga dan Sekar yang masih duduk di beranda, memandang Mbok Darmi yang sedang menyapu halaman.
Matanya berkaca, kaca.
Tapi ia tidak menangis.
Ia hanya tersenyum.
Lalu berbalik.
Dan pergi.
TELEPON DARI GUNTUR
Jam delapan malam, ponsel Arga berdering.
"Arga, Laras hilang," suara Guntur panic, sesuatu yang jarang terjadi.
"Hilang? Maksudmu?"
"Dia tidak di kos. Tidak di kampus. Tidak di rumah sakit tempat ibunya dulu dirawat. Tidak di rumah Mariyem. Tidak di tempat mana pun yang biasa dia kunjungi."
"Tadi sore aku lihat dia pergi. Bawa ransel besar. Katanya mau jalan, jalan."
"Sendirian?"
"Sendirian."
"Astaga. Dia pasti, "
"Apa?"
"Dia pasti pergi ke rumah ibunya. Bukan ke rumah sakit. Ke rumah ibunya yang dulu. Di kampung."
"Kampung mana?"
"Di lereng Merapi. Selatan. Dekat vila Ferry dulu."
"Kenapa dia ke sana?"
Guntur diam sejenak. "Karena ibu Laras... ibu Laras sudah meninggal dua minggu lalu. Di Singapura. Laras tidak memberi tahu siapa pun. Dia mengurus sendiri. Sendirian."
Arga terdiam. Dadanya terasa sesak.
"Kenapa dia tidak cerita?"
"Karena Laras tipe orang yang tidak mau merepotkan orang lain. Dia merasa sudah cukup merepotkan kita dengan pengkhianatannya dulu. Dia ingin menyelesaikan urusan keluarganya sendiri."
"Kita harus cari dia."
"Aku sudah di jalan. Aku antar jemput. Kamu di kos jaga Sekar."
"Tidak. Aku ikut."
"Arga,
"Dia temanku. Aku tidak akan diam."
PERJALANAN KE LERENG MERAPI
Guntur menjemput Arga lima belas menit kemudian. Mereka berdua naik motor butut Guntur, melaju kencang menuju selatan, melewati jalanan yang semakin gelap dan sepi.
Langit malam tidak bersahabat. Awan hitam menggulung dari arah barat. Angin bertiup kencang, membawa aroma tanah basah, tanda hujan akan segera turun.
"Kita harus cepat," kata Guntur. "Sebentar lagi hujan."
"Laras pasti di sana."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Di tempat yang paling menyakitkan, orang sering kembali untuk terakhir kalinya."
Mereka melaju lebih kencang.
Hujan mulai turun.
Gerimis.
Lalu deras.
Guntur tidak berhenti. Arga tidak protes.
Mereka basah kuyup. Gigi mereka menggigil. Tapi mereka terus melaju.
RUMAH TUA DI LERENG MERAPI
Rumah tua Laras berdiri di lereng bukit, dikelilingi pohon pinus dan semak belukar. Dindingnya dari batu bata setengah jadi. Atapnya dari seng yang sudah berkarat. Halamannya ditumbuhi rumput liar setinggi lutut.
Di dalam, lampu minyak menyala redup.
Guntur memarkir motor di pinggir jalan setapak. Mereka berdua berlari ke rumah itu.
"Laras!" teriak Guntur sambil mengetuk pintu.
Tidak ada jawaban.
"Laras! Buka pintu!"
Masih tidak ada jawaban.
Guntur mendobrak pintu.
Di dalam, Laras duduk di lantai, memeluk foto ibunya. Wajahnya basah, bukan karena hujan, tapi karena air mata.
"Laras," bisik Guntur.
Laras tidak menoleh. Ia hanya memandang foto ibunya.
Guntur mendekat. Ia berlutut di samping Laras.
"Kenapa kau tidak bilang padaku? Kenapa kau mengurus semuanya sendiri?"
"Karena aku terbiasa sendiri, Guntur. Sejak kecil. Sejak ayahku dipecat Ferry. Sejak ibuku sakit. Aku terbiasa sendiri."
"Kamu tidak sendiri."
"Iya. Sekarang aku tahu. Tapi kebiasaan sudah mendarah daging."
PELUKAN DI TENGAH HUJAN
Arga masuk ke rumah itu. Ia berdiri di pintu, tidak ingin mengganggu.
Guntur memeluk Laras.
Laras terisak.
"Maaf, Guntur. Maaf aku tidak cerita. Aku tidak ingin merepotkan kalian. Kalian sudah banyak membantu."
"Kamu tidak pernah merepotkan, Laras. Kamu keluarga. Keluarga tidak merepotkan."
"Aku dulu mengkhianati kalian."
"Itu sudah lewat. Kita sudah memaafkanmu."
"Tapi aku belum memaafkan diriku sendiri."
Maka maafkan dirimu. Sekarang. Di sini. Bersama kami."
Laras melepaskan pelukan. Ia memandang Guntur, lalu memandang Arga.
"Terima kasih," bisiknya. "Terima kasih sudah datang."
"Kami tidak akan pernah membiarkanmu sendirian, Laras," kata Arga. "Itu janji."
PAGI DI RUMAH TUA
Mereka bertiga menghabiskan malam di rumah tua itu. Tidak banyak bicara. Hanya duduk. Mendengar suara hujan di atap seng. Sesekali Guntur membuat kopi. Sesekali Arga menambah kayu di tungku.
Pagi harinya, hujan reda. Matahari terbit dari balik Gunung Merapi. Cahayanya keemasan, hangat, menyapu kabut yang menggantung di lembah.
Laras berdiri di halaman. Ia memandang ibunya.
"Bu," bisiknya. "Aku pamit. Aku akan kembali ke Jogja. Aku akan kuliah lagi. Aku akan jadi antropolog. Aku akan buat Ibu bangga."
Ia mencium foto ibunya.
Lalu berbalik.
"Guntur, Arga, ayo pulang."
KEMBALI KE JOGJA
Perjalanan pulang terasa lebih ringan. Meskipun hujan semalam membuat jalan licin dan becek, mereka tetap bisa melaju dengan selamat.
"Laras," panggil Guntur dari depan motor.
"Iya."
"Aku mau ngomong sesuatu."
"Apa?"
"Aku... aku suka sama kamu."
Laras terdiam. "Apa?"
"Aku suka sama kamu. Bukan karena kasihan. Bukan karena ibumu meninggal. Bukan karena kamu sendirian. Aku suka karena kamu kuat. Karena kamu berani. Karena kamu tetap tegar meskipun hidup tidak adil padamu."
Laras tidak menjawab. Ia hanya memeluk punggung Guntur. Erat.
"Jangan bilang di sini," bisiknya. "Nanti Arga dengar."
"Arga sudah dengar," kata Arga dari boncengan belakang. "Dari tadi."
"Kupingmu peka sekali."
"Sudah terbiasa mendengar bisikan angin."
MENERIMA PERASAAN
Malam harinya, di kos, mereka mengadakan pertemuan kecil. Hanya Guntur, Laras, Arga, dan Sekar.
"Akhirnya Guntur ngaku," kata Sekar sambil tersenyum.
"Ngaku apa?" tanya Guntur pura-pura bodoh.
"Ngaku suka sama Laras."
"Aku tidak ngaku."
"Tadi di motor, aku dengar jelas."
"Itu kan angin."
"Angin apa yang bisa bicara?"
Guntur menghela napas. "Baik. Aku suka Laras. Senang?"
"Senang," kata Sekar. "Laras, kamu bagaimana?"
Laras menunduk. Pipinya merona.
"Aku juga."
"Juga apa?"
"Juga suka."
Mereka berdua tersenyum malu-malu.
Arga dan Sekar tertawa.
"Selamat," kata Arga. "Kalian cocok."
"Kenapa cocok?" tanya Guntur.
"Sama, sama keras kepala. Sama, sama suka menyembunyikan perasaan. Sama, sama suka diam kalau ada masalah."
"Kamu juga sama, Arga."
"Saya tidak. Saya terus terang."
"Sekar, apa Arga terus terang?" tanya Guntur.
Sekar tertawa. "Dulu tidak. Sekarang iya."
LARAS BICARA
Setelah Guntur dan Laras resmi pacaran, meskipun mereka tidak mau mengakuinya secara terang, terangan, suasana di kos semakin hangat. Laras mulai lebih sering tersenyum. Guntur mulai lebih sering bercanda.
Suatu malam, Laras memanggil Arga ke halaman kos.
"Mas Arga," panggilnya.
"Iya."
"Aku mau cerita sesuatu."
"Cerita apa?"
"Aku tahu tentang Jatmika. Lebih dari yang aku ceritakan dulu."
Arga menegang. "Jatmika?"
"Iya. Mbah Jayarasa cerita padaku sebelum dia meninggal. Tentang Jatmika. Tentang mengapa dia masih gentayangan. Tentang mengapa dia memilihmu."
"Cerita."
Laras menghela napas. "Jatmika tidak meninggal karena kecelakaan. Dia sengaja."
"Apa?"
"Dia sengaja tenggelam. Karena dia tahu, jika dia terus hidup, Sekar akan terikat padanya. Dia tahu keluarganya akan memisahkan dia dan Sekar. Dia tahu perjodohan akan terjadi cepat atau lambat. Jadi dia memilih mati. Agar Sekar bebas."
Arga terdiam.
"Tapi Jatmika tidak tahu bahwa Sekar akan tetap terikat. Pada kenangan. Pada trauma. Pada rasa bersalah."
"Lalu?"
"Jatmika gentayangan karena dia ingin memastikan Sekar bahagia. Dengan siapa pun. Dia tidak memaksakan Sekar untuk memilihmu. Dia hanya ingin Sekar bebas memilih."
"Dan sekarang?"
"Sekarang, Jatmika sudah pergi. Setelah melihatmu berhasil menyelamatkan Sekar, setelah melihat Sekar tersenyum lagi, setelah melihat Sekar bebas, Jatmika merasa tugasnya selesai."
Arga memandang langit.
Bintang, bintang berkerlap, kerlip.
"Jatmika," bisiknya. "Terima kasih."
PAGI YANG DAMAI
Keesokan paginya, Arga membuka peta usang Mbah Jayarasa.
Garis-garis baru yang dulu muncul kini sudah hilang sama sekali. Peta itu kembali kosong, seperti saat pertama kali ia menerimanya.
Tapi Arga tidak sedih.
Ia tersenyum.
Peta itu tidak pernah menunjukkan jalan, pikirnya. Peta itu menunjukkan bahwa perjalanan lebih penting daripada tujuan. Bahwa jatuh lebih penting daripada berdiri. Bahwa tersesat lebih penting daripada tiba.
Ia melipat peta itu.
Memasukkannya ke dalam kotak kayu pemberian Mbah Jayarasa.
Lalu ia keluar kamar.
Di halaman, teman-temannya sudah berkumpul. Guntur, Laras, Faruq, Nisa, Dimas, Samsul, Ratri, Sekar, dan Mbok Darmi.
"Kita sarapan dulu," kata Mbok Darmi. "Mbok masak nasi uduk."
"Terima kasih, Mbok."
Mereka makan bersama.
Tertawa bersama.
Menikmati kebersamaan.
Karena mereka tahu, kebersamaan adalah hal paling berharga yang tidak bisa dibeli dengan uang.
BAB 34
CINTA YANG DIUJI
Kebahagiaan setelah kemenangan melawan Ferry ternyata tidak berlangsung lama tanpa ujian baru. Bukan ujian dari luar, bukan dari preman, bukan dari pengacara, bukan dari keluarga Ferry yang masih dendam. Tapi ujian dari dalam. Ujian yang lebih rumit, lebih membingungkan, lebih menyakitkan karena tidak ada musuh yang bisa dilawan, tidak ada kejahatan yang bisa dibongkar, tidak ada pengadilan yang bisa dimintai keadilan.
Ujian itu bernama Dewi.
Perempuan yang dulu membantu Arga mencari kos di hari pertamanya tiba di kota. Perempuan yang dulu menjadi teman pertama Arga di Jogja. Perempuan yang dulu direkrut Ferry menjadi mata-mata. Perempuan yang kemudian menghilang setelah pengkhianatannya terbongkar.
Dan sekarang, setelah semua konflik usai, Dewi kembali.
Bukan dengan dendam. Bukan dengan niat jahat. Tapi dengan sebuah pengakuan yang membuat Arga terjebak di antara dua pilihan: kenyamanan masa lalu bersama Sekar, atau sesuatu yang baru yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
DEWI DATANG
Hari Minggu pagi, langit cerah. Matahari bersinar hangat. Burung, burung pipit beterbangan di halaman kos. Arga sedang duduk di beranda, ditemani Sekar yang masih setengah tidur, ketika seseorang masuk ke halaman.
Perempuan. Rambut pendek. Kacamata tebal. Jaket jeans. Sepatu kets putih.
Dewi.
Sekar langsung tegang. Ia memegang erat lengan Arga.
"Dewi?" Arga berdiri.
Dewi tersenyum tipis. Senyum yang tidak percaya diri. Senyum yang penuh ketakutan.
"Mas Arga. Lama tidak bertemu."
"Kamu... kamu kenapa ke sini? Bukannya kamu lari ke luar kota?"
"Iya. Saya lari. Tapi sekarang saya kembali."
"Kenapa?"
Dewi memandang Sekar. Matanya sayu.
"Karena saya tidak bisa lari selamanya. Karena saya ingin minta maaf. Kepada Mas Arga. Kepada Sekar. Kepada semua yang saya khianati."
Sekar berdiri. Wajahnya tegang.
"Kamu tahu apa yang kamu lakukan, Dewi? Kamu hampir menghancurkan hidup kami. Kamu hampir membuat Arga mati. Kamu hampir membuatku tetap terkurung di rumah Ferry selamanya."
Dewi menunduk. "Saya tahu. Saya menyesal. Saya minta maaf."
"Maaf tidak cukup."
"Iya. Saya tahu. Tapi saya tidak punya apa-apa selain maaf."
Sekar mengepalkan tangan. Arga memegang bahunya.
"Tunggu, Sekar. Dengarkan dulu."
"Apa yang mau didengar? Dia mata-mata Ferry. Dia menghianati kita."
"Iya. Tapi dia juga korban. Ferry memerasnya. Sama seperti Samsul. Sama seperti Faruq."
Sekar menghela napas. Ia duduk kembali. Wajahnya masih tegang, tapi ia memberi kesempatan.
"Duduk, Dewi," kata Arga.
Dewi duduk di kursi plastik di depan mereka.
"Ceritakan semuanya. Dari awal."
PENGKUAN DEWI
Dewi menarik napas panjang. Tangannya gemetar. Matanya berkaca, kaca.
"Waktu itu, setelah Mas Arga pindah ke kos Mbok Darmi, saya masih sering ketemu Mas Arga. Kadang di terminal. Kadang di pasar. Kadang di toko bangunan."
"Aku ingat."
"Suatu hari, seorang laki, laki datang ke terminal. Jas rapi. Mobil mewah. Dia tanya tentang Mas Arga. Tanya tentang aktivitas Mas. Tanya tentang teman-teman Mas."
"Ferry?"
"Iya. Aku tidak kenal dia waktu itu. Tapi dia megakesan. Berwibawa. Aku pikir dia pejabat atau pengusaha."
"Lalu?"
"Dia menawari saya uang. Banyak. Untuk mengawasi Mas Arga. Melaporkan setiap gerakan Mas Arga. Setiap teman baru. Setiap rencana."
"Kamu terima?"
"Saya terima. Tapi bukan karena uang. Karena Ferry mengancam akan memecat saya dari kerja. Mengusir dari kos. Melaporkan ke polisi karena hutang."
"Kenapa kamu tidak cerita pada kami?"
"Karena saya takut. Saya takut Mas Arga marah. Takut teman, teman menjauhi saya. Takut kehilangan satu-satunya orang yang peduli pada saya."
Sekar menyela. "Tapi kamu tetap melakukannya. Kamu tetap mengkhianati kami."
"Saya terpaksa, Mbak. Saya tidak punya pilihan."
"Semua orang punya pilihan, Dewi. Kamu bisa memilih untuk cerita. Tapi kamu memilih diam."
Dewi menunduk. Air matanya jatuh.
"Saya minta maaf. Saya mohon maaf."
ARGA BICARA
Arga memandang Dewi. Perempuan di depannya bukan lagi mata, mata yang culas. Ia hanya anak desa yang takut, yang terpaksa, yang tersesat.
"Dewi," panggil Arga.
"Iya, Mas."
"Aku memaafkanmu."
Sekar menatap Arga. "Mas?"
"Tapi Sekar, dengarkan aku dulu."
Sekar diam.
"Aku memaafkan Dewi, bukan karena aku baik. Tapi karena aku juga pernah salah. Aku juga pernah bodoh. Aku juga pernah tersesat. Dan orang-orang di sekitarku memaafkanku."
"Tapi, "
"Tanpa mereka, aku tidak akan selamat. Tanpa mereka, mungkin aku sudah mati di tangan preman Ferry. Tanpa mereka, mungkin aku tidak akan pernah bertemu denganmu lagi."
Sekar terdiam.
"Dewi salah. Tapi dia sudah minta maaf. Dia sudah menyesal. Bukankah itu yang penting?"
Sekar menghela napas. Ia memandang Dewi.
"Dewi, aku memaafkanmu. Tapi jangan harap aku akan melupakan. Luka ini akan tetap ada. Tapi setidaknya, aku tidak akan membencimu."
Dewi menangis. "Terima kasih, Mbak. Terima kasih, Mas Arga."
PENGKHIANATAN YANG TAK TERDUGA
Setelah Dewi pergi, Sekar masuk ke kamar. Ia tidak bicara pada Arga. Hanya diam. Menutup pintu. Tidak keluar-keluar.
Arga bingung. "Sekar, buka pintu."
"Tidak."
"Kenapa?"
"Aku capek."
"Capek apa?"
"Capek berpura-pura baik. Capek menerima orang yang menyakiti aku."
"Tapi kamu sudah memaafkan Dewi?"
"Itu di depan Dewi. Untuk membuat dia tidak merasa bersalah. Tapi di dalam hati, aku masih marah. Aku masih sakit."
"Kamu marah padaku?"
"Bukan. Aku marah pada diriku sendiri."
"Kenapa?"
"Karena aku lemah. Karena aku tidak bisa membenci orang yang pantas dibenci. Karena aku terlalu cepat memaafkan."
Arga berdiri di depan pintu. Ia tidak mengetuk. Ia hanya bersandar.
"Sekar, memaafkan bukan kelemahan. Itu kekuatan."
"Kata siapa?"
"Mbah Jayarasa."
"Omongan orang tua."
"Tapi benar."
Sekar tidak menjawab.
Arga melanjutkan. "Aku akan menunggumu di sini. Sampai kamu buka pintu. Sampai kamu mau bicara."
"Bisa lama."
"Biar. Aku sudah biasa menunggu."
PINTU TERBUKA
Jam dua belas malam, pintu terbuka.
Sekar berdiri di ambang pintu. Wajahnya masih sembab, bekas menangis.
"Arga."
"Iya."
"Aku laper."
Arga tersenyum. "Aku buatkan mie instan."
"Pake telur."
"Pake telur."
Mereka berdua berjalan ke dapur. Arga merebus air. Sekar mengambil mie dan telur dari kardus.
Diam, diam, Mbok Darmi mengintip dari balik pintu kamarnya. Ia tersenyum.
"Anak muda," bisiknya. "Bertengkar sebentar, baikan lagi. Seperti Mbok dulu."
Mie instan matang. Arga menuangkan ke dua mangkuk. Sekar menambahkan telur setengah matang di atasnya.
Mereka makan di dapur. Tidak banyak bicara. Hanya suara slurp mie dan sesekali tawa kecil saat Sekar menumpahkan kuah di bajunya.
"Arga," panggil Sekar setelah makan.
"Iya."
"Aku sayang kamu."
"Aku juga."
"Jangan biarkan aku marah terlalu lama."
"Aku tidak akan."
Mereka berpelukan.
KEJUTAN DARI GUNTUR
Keesokan paginya, Guntur datang ke kos dengan wajah ceria.
"Ada apa, Guntur? Kamu kelihatan bahagia banget," tanya Arga.
"Aku dapat beasiswa. Ke Belanda. Buat S3."
"Serius?"
"Serius. Aku berangkat bulan depan."
"Lama?"
"Tiga tahun. Mungkin lebih."
Ruangan hening.
Selamat, Guntur," kata Laras pelan. Tapi matanya, matanya tidak bahagia.
"Laras, kamu bisa ikut. Itu beasiswa untuk mahasiswa berpasangan."
"Berpasangan?"
"Iya. Aku bisa ajak pasangan. Istri. Atau calon istri."
Laras tersenyum. "Kita belum menikah, Guntur."
"Bisa menikah dulu."
"Lamaran dulu."
Guntur berlutut. Ia mengeluarkan cincin dari saku celananya, cincin perak sederhana, bukan berlian, tapi elegan.
"Laras, maukah kau menjadi istriku?"
Ruangan hening.
Faruq bersiul.
Nisa menutup mulut.
Dimas memotret dengan ponsel.
Arga dan Sekar tersenyum.
Mbok Darmi menangis.
"Laras, jawab," bisik Ratri.
Laras memandang Guntur lama.
"Ya. Aku mau."
Mereka berpelukan.
Semua bertepuk tangan.
DEWI PERGI LAGI
Dewi datang ke kos untuk berpamitan.
"Mas Arga, saya mau pulang kampung. Buka usaha kecil, kecilan. Bantu orang tua."
"Kamu yakin?"
"Yakin. Saya sudah tidak betah di kota. Terlalu banyak kenangan buruk."
"Semoga sukses, Dewi."
"Terima kasih semuanya. Maaf untuk semua kesalahan saya."
Dewi pergi.
Arga memandang punggungnya.
Semoga bahagia, Dewi," bisiknya. "Semoga kau menemukan kedamaian di kampungmu."
BAB 35
KONSPIRASI TERBONGKAR (TAHAP 2)
Kebahagiaan setelah pertunangan Guntur dan Laras serta keberangkatan Dewi ke kampung halamannya ternyata hanya bertahan seminggu. Seperti biasa, setiap kali tim Arga merasa aman, setiap kali mereka mulai tertawa lepas, setiap kali mereka mulai melupakan ketegangan, badai baru datang. Bukan badai yang diprediksi. Bukan badai yang datang dari musuh yang sudah dikenal. Tapi badai yang muncul dari dalam, dari orang yang selama ini mereka anggap paling tidak mungkin berkhianat.
Samsul.
Laki, laki yang dulu menjadi mata-mata Ferry, yang kemudian bertobat, yang menjadi saksi kunci di persidangan, yang ikut dalam misi penyelamatan Sekar, yang kini tinggal di rumah aman bersama keluarganya, ternyata menyimpan rahasia terakhir. Rahasia yang tidak pernah ia ceritakan pada siapa pun. Rahasia yang bahkan tidak diketahui oleh istrinya sendiri. Rahasia yang jika terbongkar, bisa menghancurkan semua yang telah mereka bangun.
Rahasia itu terungkap bukan karena Samsul mengaku. Tapi karena seorang kurir mengantarkan sebuah amplop tebal ke alamat kos, kosan Mbok Darmi. Amplop coklat tanpa nama pengirim, tanpa perangko, tanpa cap pos. Amplop yang diantar langsung oleh seorang laki, laki bertopi dan berjaket, yang setelah menyerahkan amplop itu langsung pergi tanpa meninggalkan jejak.
AMPLOP COKLAT
Hari Kamis sore, langit mendung. Hujan gerimis turun tipis, membuat halaman kos becek dan licin. Suasana di dalam kos hangat karena Mbok Darmi baru saja selesai memasak nasi goreng untuk makan malam.
Tok... tok... tok...
"Ada yang ketok pintu," kata Dimas yang sedang membaca komik di kursi plastik.
"Buka, Le," kata Mbok Darmi dari dapur.
Dimas berjalan ke pintu. Di luar, tidak ada siapa, siapa. Tapi di teras, sebuah amplop coklat tergeletak di lantai.
Ini apa?" gumam Dimas sambil mengambil amplop itu.
Ia masuk ke dalam. Membalik amplop itu. Tidak ada tulisan. Hanya amplop coklat polos, tebal karena berisi banyak kertas.
"Guntur, lihat ini," panggil Dimas.
Guntur yang sedang membaca skripsi di pojok ruangan mendekat. Ia mengambil amplop itu, merasakan ketebalannya, lalu membukanya dengan hati, hati.
Isinya: puluhan lembar foto.
Guntur mengamati foto, foto itu satu per satu. Wajahnya berubah dari penasaran menjadi tegang, dari tegang menjadi pucat, dari pucat menjadi marah.
"Ini foto Samsul," katanya.
"Samsul?" Dimas mendekat.
"Iya. Samsul sedang bertemu dengan seseorang. Laki-laki. Tidak jelas wajahnya. Tapi dari gaya bicara dan cara duduk, itu anak buah Ferry."
"Toni?"
"Bukan. Orang lain. Mungkin pengganti Toni."
"Samsul masih berkhianat?"
Tampaknya begitu."
FOTO, FOTO BUKTI
Arga, Sekar, Faruq, Nisa, Laras, dan Ratri berkumpul di ruang tamu. Mereka bergantian memeriksa foto, foto itu.
Foto pertama: Samsul duduk di sebuah warung kopi, berbicara dengan seorang laki, laki berjas hitam. Wajah laki, laki itu tidak terlihat karena topi dan kacamata hitam.
Foto kedua: Samsul menerima sebuah amplop putih, amplop berisi uang, dari cara ia menyelipkannya ke saku jaket.
Foto ketiga: Samsul sedang menelepon seseorang. Ekspresi wajahnya tegang, keringat membasahi dahinya.
Foto keempat: Samsul dan laki, laki berjas hitam itu bertemu lagi, kali ini di parkiran basement sebuah mal.
Foto kelima: Samsul menandatangani sebuah dokumen, mungkin surat perjanjian, mungkin kontrak, mungkin sesuatu yang lebih gelap.
"Itu Samsul," kata Faruq. "Aku kenal cara jalannya. Cara duduknya. Cara pegang rokoknya."
"Tapi apa isi dokumen itu?" tanya Nisa.
"Tidak jelas. Fotonya kurang tajam."
"Kita harus tanyakan langsung pada Samsul."
"Tunggu," kata Guntur. "Jangan terburu, buru. Jika Samsul masih berkhianat, dia akan menghapus bukti jika kita tanya langsung."
"Lalu?"
"Kita pantau. Kita buktikan dulu. Jangan sampai kita salah."
PENGAMATAN DI RUMAH AMAN
Malam itu, Guntur, Dimas, dan Laras pergi ke rumah aman tempat Samsul dan keluarganya tinggal. Rumah itu berada di kompleks perumahan sederhana di pinggiran kota tempat yang dulu dianggap aman karena jauh dari jangkauan Ferry. Tapi sekarang, tempat itu justru menjadi pusat kecurigaan.
Mereka bersembunyi di balik semak, semak di seberang jalan. Hujan gerimis masih turun, membuat pakaian mereka basah dan dingin.
"Dimas, apa kamu melihat sesuatu?" bisik Guntur.
"Lampu ruang tamu menyala. Tirai tidak tertutup rapat. Ada dua orang di dalam. Samsul dan seorang laki, laki."
"Laki-laki yang sama?"
"Tidak tahu. Jarak terlalu jauh. Kita butuh alat pembesar."
"Aku akan mendekat," kata Laras.
"Jangan. Berbahaya."
"Aku sudah biasa. Aku mantan mata mata."
Laras merunduk. Ia berjalan menyusuri pagar rumah, memanfaatkan bayangan pohon dan tiang listrik untuk bersembunyi.
Ia sampai di jendela ruang tamu. Ia mengintip.
Samsul duduk di kursi. Di depannya, seorang laki, laki berpakaian rapi, wajahnya tidak terlalu jelas karena cahaya lampu dari belakang.
"Tuan Ferry mengirim salam," kata laki, laki itu.
Samsul terdiam.
"Ferry di penjara," katanya akhirnya.
"Tapi pengaruhnya masih ada. Dan Tuan Ferry tidak senang dengan pengkhianatanmu."
"Aku tidak berkhianat. Aku hanya..."
"Hanya apa? Hanya berpura, pura bertobat agar tim Arga percaya padamu? Hanya menjadi saksi kunci di persidangan agar hukuman berkurang? Itu pengkhianatan, Samsul."
"Aku tidak punya pilihan."
"Kau punya pilihan. Kau bisa memilih tetap setia pada Ferry. Tapi kau memilih menjadi saksi."
"Karena Ferry tidak membayarku. Ferry hanya mengancam."
"Tapi kau tetap menerima uang."
Samsul diam.
Laki-laki itu berdiri. "Tuan Ferry ingin kau mengoreksi kesalahanmu."
"Bagaimana caranya?"
"Ada yang harus kau lakukan. Dan jika kau berhasil, Tuan Ferry akan mengirimkan uang, sepuluh kali lipat dari yang kau terima sebelumnya."
"Apa yang harus aku lakukan?"
Laki, laki itu mengeluarkan sebuah botol kecil dari saku jasnya. Botol kaca gelap dengan tutup putih. Tidak ada label.
"Ini racun. Tidak mematikan. Hanya membuat seseorang pingsan selama beberapa jam. Cukup untuk kami menculiknya."
"Siapa yang harus aku beri racun?"
Laki-laki itu tersenyum.
"Sekar."
LARAS MENDENGAR
Laras mundur dari jendela. Tangannya gemetar. Dadanya sesak. Ia berlari kecil kembali ke tempat Guntur dan Dimas bersembunyi.
"Kita harus pergi. Sekarang."
"Kenapa? Apa yang kau dengar?"
"Samsul akan meracuni Sekar."
Mereka bertiga bergegas meninggalkan lokasi. Perjalanan pulang terasa seperti mimpi buruk. Setiap bayangan, setiap suara, setiap lampu jalan, semua terasa seperti ancaman.
PERTEMUAN DARURAT
Jam sebelas malam, semua dikumpulkan di kos. Guntur, Arga, Sekar, Faruq, Nisa, Dimas, Laras, dan Ratri. Wajah masing, masing tegang.
Laras menceritakan semua yang ia dengar.
Sekar pucat. "Samsul? Samsul yang dulu kelihatan bertobat? Samsul yang menjadi saksi kunci?"
"Samsul. Dia masih setia pada Ferry."
"Tapi Ferry di penjara. Masa dia bisa, "
"Uang bisa membeli apa pun, Sekar. Termasuk kesetiaan orang yang sudah bertobat."
Arga mengepalkan tangan. Aku akan menghadapinya."
"Jangan. Dia berbahaya."
"Tapi, "
"Kita harus cerdik. Kita harus menjebaknya. Sama seperti dulu kita menjebak Ferry."
RENCANA JEBATAN
Guntur menyusun rencana.
"Kita biarkan Samsul datang ke kos. Kita biarkan dia memberikan racun pada Sekar. Tapi racun itu tidak akan diminum Sekar."
"Lalu siapa yang akan meminumnya?" tanya Faruq.
"Tidak ada. Kita ganti racun itu dengan air biasa. Lalu kita pura-pura Sekar pingsan. Kita lihat apa yang akan Samsul lakukan setelah itu."
"Dan jika dia mencoba menculik Sekar?"
"Kita tangkap. Kita bawa ke polisi. Dengan bukti rekaman dan saksi."
"Setuju," kata semua.
SAMSUL DATANG
Keesokan harinya, Samsul datang ke kos. Wajahnya pura, pura ramah. Tangannya membawa bingkisan kue, kedok untuk menyembunyikan botol racun.
"Mas Arga, saya bawakan kue. Buatan istri saya."
"Terima kasih, Samsul. Masuk."
Samsul duduk di kursi plastik. Matanya bergerak cepat, mencari Sekar.
"Sekar di mana?"
"Di kamar. Lagi istirahat."
"Saya titip kue ini untuk dia. Katakan dari saya."
"Baik."
Samsul tidak berlama-lama. Ia cepat-cepat pamit.
Setelah Samsul pergi, Arga membuka bingkisan itu. Di dalamnya, di bawah lapisan kue, botol kaca gelap dengan tutup putih, sama seperti yang dideskripsikan Laras.
"Racun," bisik Arga.
"Ganti dengan air," kata Guntur.
Dimas mengambil botol itu, membawanya ke dapur, menuangkan isinya ke wastafel, lalu mengisinya dengan air putih.
"Simpan di tempat yang sama," kata Guntur.
MALAM YANG MENENTUKAN
Jam delapan malam, Samsul datang lagi. Kali ini tidak membawa bingkisan. Ia hanya duduk, mengobrol, sesekali melirik ke arah Sekar.
"Sekar, sudah coba kue dari istri Samsul?" tanya Arga pura, pura.
"Belum. Nanti malam."
"Dimas, tolong ambilkan kue itu."
Dimas mengambil bingkisan dari lemari dapur. Ia meletakkannya di meja.
Samsul memperhatikan dengan saksama. Ia melihat bahwa botol itu masih di tempat yang sama. Ia menghela napas lega, tidak tahu bahwa isinya sudah diganti dengan air.
Sekar mengambil sepotong kue. Ia memakannya perlahan. Lalu ia mengambil botol itu, membuka tutupnya, dan meminum seteguk.
"Manis," katanya.
"Iya buatan istri saya memang manis," kata Samsul.
Tiga menit kemudian, Sekar menggeleng, gelengkan kepala, lalu pura, pura pingsan.
"Sekar!" Arga pura-pura panik.
Samsul berdiri. Matanya berubah. Dari ramah menjadi dingin.
"Mas Arga, biar saya bantu."
Ia mendekati Sekar. Tangannya meraih lengan Sekar.
"Jangan sentuh dia!" teriak Arga.
Samsul terkejut. Ia mundur. Tapi terlambat.
Guntur, Faruq, Dimas, dan Laras sudah mengepungnya dari belakang.
"Apa ini? Kenapa kalian, "
"Kami tahu, Samsul. Kami tahu tentang racun. Kami tahu tentang pertemuanmu dengan utusan Ferry. Kami mendengar semuanya."
Samsul pucat. "Aku tidak, "
"Kami punya rekaman. Laras merekam dari jendela rumah amanmu tadi malam."
Samsul jatuh duduk di kursi. Wajahnya lemas.
"Saya... saya terpaksa..."
"Lagi, lagi terpaksa, Samsul? Setiap kali berkhianat, kamu bilang terpaksa. Kapan berhenti?"
Samsul menangis. "Tuan Ferry..."
"Ferry di penjara. Dia tidak bisa menyakitimu lagi. Tapi kamu tetap memilih berkhianat. Itu bukan terpaksa. Itu pilihan."
PENGAKUAN SAMSUL
Setelah diam beberapa saat, Samsul mulai bicara. Suaranya lirih, putus asa.
"Ferry tidak di penjara lagi. Dia sudah keluar."
"Apa?" Guntur terkejut.
"Bandingnya dikabulkan. Dia bebas dengan jaminan. Pengacaranya hebat. Hakimnya bisa disuap."
"Kapan?"
"Tiga hari lalu."
Mengapa tidak ada di berita?"
"Karena Ferry bayar media untuk tutup mulut."
Ruangan hening.
Berita ini lebih buruk dari perkiraan mereka. Ferry bebas. Ferry kembali. Dan Ferry pasti akan balas dendam.
"Samsul," kata Guntur dingin.
"Iya."
"Kau akan menjadi saksi lagi. Di persidangan ulang. Kau akan mengaku semua. Termasuk percobaan meracuni Sekar."
"Tapi Ferry akan, "
"Kami lindungi kau. Dan keluargamu. Tapi kau tidak punya pilihan. Kalau kau tidak bersaksi, kau akan dipenjara karena percobaan pembunuhan."
Samsul mengangguk lesu. "Baik. Saya akan bersaksi."
FERRY BEBAS
Berita kebebasan Ferry menyebar cepat. Media yang tadinya tutup mulut, mulai memberitakan setelah Guntur dan Nisa menyebarkan siaran pers ke jurnalis independen.
"Ferry Kencana Bebas! Banding Dikabulkan!"
"Kontroversi Vonis Ringan untuk Pengusaha Kaya!"
"Publik Marah! Tuntutan Hukuman Mati untuk Ferry!"
Demo kembali terjadi di depan gedung pengadilan. Aktivis, mahasiswa, dan masyarakat umum menuntut keadilan untuk Sekar dan korban lain.
Tapi Ferry tidak terlihat.
Ia bersembunyi.
Menunggu waktu yang tepat.
Menunggu saat tim Arga lengah.
PERSIAPAN MENGHADAPI FERRY
Di kos, mereka mengadakan rapat darurat.
"Ferry bebas," kata Guntur. "Tapi dia tidak bisa berbuat banyak. Publik marah. Media mengawasi. Polisi juga mengawasi."
"Tapi dia pasti akan coba sesuatu," kata Arga.
"Pasti. Tapi kita sudah siap. Kita punya bukti lebih kuat. Kita punya saksi lebih banyak. Kita punya publik di pihak kita."
"Tapi, "
"Arga, kita sudah melewati masa, masa sulit. Kita bisa melewati ini juga."
Arga menghela napas. "Aku harap begitu."
BAB 36
BABAK BELUR DI PARKIRAN (EPISODE 2)
Tiga hari setelah pengakuan Samsul tentang kebebasan Ferry, ketegangan di kos, kosan Mbok Darmi mencapai puncaknya. Setiap orang waspada. Setiap bayangan mencurigakan. Setiap suara langkah kaki di luar membuat jantung berdebar lebih cepat. Mereka tahu Ferry tidak akan tinggal diam. Mereka tahu dia sedang menyusun rencana. Mereka tahu serangan bisa datang kapan saja dari arah mana saja, dari orang yang tidak mereka duga, dengan cara yang tidak mereka bayangkan.
Tapi yang tidak mereka duga adalah, serangan itu tidak datang ke kos.
Serangan itu datang ke tempat kerja Arga.
Ke toko bangunan Tujuh Sembilan.
Ke tempat di mana Arga menghabiskan sebagian besar waktunya.
Ke tempat di mana Pak Bondan, laki, laki tua yang sudah seperti ayah kedua bagi Arga, setiap hari duduk di kursi plastik dengan koran, rokok, dan kopi hitam di tangannya.
PAGI YANG CERAH
Hari Senin, langit cerah. Matahari bersinar terik. Burung, burung pipit beterbangan di atas tumpukan pasir dan semen. Pak Bondan duduk di kursi plastik seperti biasa—koran, rokok, kopi hitam. Arga sedang mengangkat batu bata ke gerobak. Keringat mengucur di sekujur tubuhnya. Wajahnya merah padam.
"Le, istirahat dulu," kata Pak Bondan.
"Sebentar lagi selesai, Pak. Tinggal sepuluh bata lagi."
"Kamu ini keras kepala."
"Sudah kebiasaan, Pak."
Pak Bondan tersenyum. "Sama seperti saya dulu."
Arga mengangkat bata kesepuluh. Dilemparnya ke gerobak. Bruk! Debu beterbangan.
"Selesai, Pak."
"Bagus. Sekarang minum dulu. Nanti kesambet."
Arga duduk di samping Pak Bondan. Ia mengambil botol air mineral yang diberikan Pak Bondan. Diminumnya seteguk. Dua teguk. Tiga teguk.
"Pak," panggil Arga.
"Iya."
"Saya mau minta nasihat."
"Nasihat apa?"
"Tentang Ferry. Dia bebas. Tapi belum menunjukkan taringnya. Saya tidak tenang."
Pak Bondan menghela napas. "Dia pasti akan menyerang. Tapi kapan dan di mana, kita tidak tahu. Yang bisa kita lakukan hanya bersiap."
"Saya sudah siap. Tapi saya takut, "
"Takut apa?"
"Saya takut dia menyerang orang, orang yang tidak bersalah. Seperti Bapak. Seperti Mbok Darmi. Seperti teman-teman saya."
Pak Bondan menepuk bahu Arga. "Kami sudah dewasa, Le. Kami sudah sering menghadapi masalah. Jangan khawatirkan kami."
MOBIL HITAM
Jam sepuluh pagi, sebuah mobil hitam berhenti di depan toko.
Mercedes, Benz. Kaca gelap. Plat nomor B 1 FKY.
Arga langsung berdiri. "Ferry."
"Tenang, Le," kata Pak Bondan. "Lihat dulu siapa yang keluar."
Pintu mobil terbuka.
Bukan Ferry.
Tapi preman. Empat orang. Besar. Kekar. Wajah garang.
Yang paling depan, laki, laki botak dengan tato naga di lengan kiri, berjalan ke arah Arga.
"Kamu Arga?"
"Iya."
"Bos kami ingin bicara."
"Siapa bos kalian?"
"Ferry Kencana."
"Aku tidak ada urusan dengan Ferry."
"Ferry yang menentukan. Bukan kamu."
Preman botak itu mendekat. Di tangannya, pentungan besi.
"Kami hanya suruhan. Jangan bikin susah."
Arga tidak bergeming. "Saya tidak akan ikut."
"Maka kami bawa paksa."
Preman itu mengayunkan pentungan.
Arga menghindar. Pentungan itu mengenai tumpukan kayu. Bruk! Kayu berserakan.
Preman kedua dan ketiga ikut menyerang.
Arga melawan. Ia menendang preman kedua. Preman itu jatuh. Ia memukul preman ketiga dengan sisi tangan. Preman itu terhuyung.
Tapi jumlah mereka terlalu banyak.
Preman keempat menyerang dari belakang. Pentungannya mengenai punggung Arga.
DUAR!
Arga jatuh. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuh.
"Arga!" teriak Pak Bondan.
Pak Bondan mengambil linggis dari balok meja. Ia mengayunkannya ke arah preman botak.
BRUK! Linggis mengenai lengan preman itu. Preman itu berteriak kesakitan.
"Bapak tua!" preman botak itu marah. "Kau mau mati?"
"Daripada saya diam melihat anak saya dipukuli."
Preman botak itu mengayunkan pentungan ke arah Pak Bondan.
Pak Bondan tidak sempat menghindar.
DUAR!
Pentungan mengenai pelipis Pak Bondan.
Darah.
Pak Bondan jatuh.
"PAK BONDAN!" teriak Arga.
Arga bangkit. Amarahnya memuncak.
Ia berlari ke arah preman botak. Meninju wajahnya. DOR! Preman itu jatuh.
Ia menendang preman kedua. DUAR! Preman itu terjatuh.
Ia memukul preman ketiga. BRUK! Preman itu pingsan.
Preman keempat berusaha lari. Arga mengejar. Menarik kerah bajunya. Membantingnya ke tanah.
"SIAPA YANG SURUH KALIAN?" teriak Arga.
"Ferry... Ferry yang suruh..."
"KALIAN BILANG PADA FERRY, JIKA DIA BERANI, HADAPI AKU LANGSUNG. JANGAN PAKAI ORANG LAIN. JANGAN PAKAI PREMAN. JANGAN PAKAI ANAK BUAH. HADAPI AKU. LANGSUNG. SATU LAWAN SATU."
Preman itu mengangguk ketakutan.
Mereka berempat bangkit. Lari ke mobil. Mobil hitam itu melaju kencang, meninggalkan debu, meninggalkan darah, meninggalkan Pak Bondan yang tergeletak di lantai.
RUMAH SAKIT
Ambulans datang sepuluh menit kemudian.
Pak Bondan dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Arga ikut di dalam ambulans. Tangannya menggenggam tangan Pak Bondan yang dingin.
"Pak Bondan, bertahan. Bapak harus bertahan."
Pak Bondan membuka mata. Bibirnya bergetar.
"Le... jangan khawatir... saya tidak akan mati... belum saatnya..."
"Tapi darah Bapak, "
"Hanya luka kecil. Kepala orang tua memang mudah berdarah."
"Pak Bondan, "
"Le, saya titip toko. Jaga toko. Jangan sampai ditutup. Itu warisan orang tua saya."
"Bapak, "
"Janji."
Arga menangis. "Saya janji, Pak. Saya janji."
DI RUMAH SAKIT
Guntur, Faruq, Nisa, Dimas, Laras, Ratri, dan Sekar datang bergantian. Mereka bergantian menjaga Pak Bondan. Bergantian membawakan makanan. Bergantian menghibur.
"Bagaimana keadaan Pak Bondan, Dok?" tanya Guntur pada dokter yang memeriksa.
"Luka di kepala cukup dalam. Tapi tidak mengenai saraf. Beliau akan pulih. Tapi butuh istirahat total setidaknya sebulan."
"Terima kasih, Dok."
Dokter pergi.
Guntur memandang Arga. "Kita harus jaga toko."
"Iya. Saya sudah janji."
"Kita bergantian. Aku, Faruq, Dimas, Laras. Kita semua akan bantu."
"Terima kasih, Guntur."
"Jangan berterima kasih. Itu tugas kita."
TOKO BANGUNAN TUJUH SEMBILAN
Keesokan paginya, Arga membuka toko lebih awal. Ia membersihkan bekas pertempuran kemarin. Darah kering di lantai. Kayu berserakan. Pasir bertebaran.
Ia menyapu, mengepel, merapikan.
Jam delapan, Guntur datang.
"Aku bantu."
Jam sembilan, Faruq datang.
"Aku bantu."
Jam sepuluh, Dimas datang.
"Aku bantu."
Jam sebelas, Laras datang.
"Aku bantu."
Jam dua belas, mereka istirahat. Makan siang bersama di bawah pohon rindang.
"Toko ini berat," kata Faruq. "Belum pernah saya angkat semen."
"Kamu mahasiswa kedokteran," kata Dimas. "Nanti pasienmu kamu angkat?"
"Pasien tidak diangkat. Pake tandu."
"Sama saja."
Mereka tertawa.
Tawa yang sedikit mengobati luka.
PELANGGAN LAMA
Jam dua siang, Bu Sri, pelanggan lama Pak Bondan datang. Perempuan gemuk dengan daster lusuh dan keranjang anyaman.
"Mas Arga, Pak Bondan bagaimana?"
"Masih di rumah sakit, Bu. Tapi sudah sadar."
"Aduh, kasihan. Saya bawakan pisang goreng. Ini untuk Pak Bondan."
"Terima kasih, Bu."
"Giliran siapa yang jaga toko?"
"Saya, Bu. Sama teman, teman."
"Bagus. Saya doakan semoga Pak Bondan lekas sembuh."
"Terima kasih, Bu."
Bu Sri pergi.
Arga memandang pisang goreng di tangannya.
Wanginya harum.
Mengingatkannya pada ibunya.
Pada desa.
Pada masa lalu yang sederhana.
"Arga, kenapa?" tanya Sekar yang datang siang itu.
"Kangen rumah."
"Kapan kita pulang?"
"Setelah Pak Bondan sembuh. Setelah Ferry tidak lagi mengancam."
"Aku akan menunggu."
MALAM DI KOS
Jam sembilan malam, Arga pulang ke kos.
Ia duduk di beranda, ditemani Sekar.
"Arga," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa kita bisa hidup normal setelah ini?"
"Normal bagaimana?"
"Normal seperti orang lain. Tidak perlu takut. Tidak perlu waspada. Tidak perlu memikirkan Ferry setiap detik."
Arga menggenggam tangan Sekar.
"Aku tidak tahu. Tapi aku akan berusaha. Untukmu. Untuk kita."
Mereka berdua terdiam.
Memandang langit malam.
Bintang, bintang berkerlap, kerlip.
Bulan sabit tipis menggantung rendah.
"Arga, lihat," kata Sekar sambil menunjuk ke arah timur.
"Apa?"
"Bintang timur. Sekarang terang. Dulu waktu kita di desa, kita sering lihat bintang itu."
"Iya. Waktu kita di pohon randu."
"Kita akan lihat lagi, kan?"
"Kita akan lihat lagi. Di pohon randu. Di Kali Wening. Di desa."
Mereka berpelukan.
BAB 37
FERRY MENGANCAM LEWAT MEDIA , TEKANAN PUBLIK MENINGKAT
Seminggu setelah penyerangan di toko bangunan yang mengakibatkan Pak Bondan dirawat di rumah sakit, Ferry berubah strategi. Ia sadar bahwa kekerasan fisik tidak akan efektif melawan Arga dan timnya. Setiap kali mengirim preman, preman itu yang kalah. Setiap kali menculik, korban yang berhasil diselamatkan. Setiap kali menyerang, serangan itu berhasil dipukul mundur.
Ferry butuh cara lain.
Cara yang lebih licik.
Cara yang tidak melibatkan kekerasan fisik, tapi tetap bisa menghancurkan.
Cara yang menggunakan senjata paling ampuh di era digital: media.
Ferry menyewa tim humas, tim pengacara, tim jurnalis bayaran, dan tim buzzer media sosial. Mereka disebar untuk satu tujuan: menghancurkan reputasi Arga dan timnya di mata publik. Membalikkan posisi. Menjadikan korban sebagai pelaku. Menjadikan penjahat sebagai pahlawan.
Dan dalam semalam, nama Arga berubah dari pahlawan penyelamat gadis desa menjadi penculik, perebut pacar orang, pembuat onar, dan perusak keluarga bahagia.
WAWANCARA EKSKLUSIF FERRY
Hari Rabu malam, stasiun televisi swasta menayangkan wawancara eksklusif dengan Ferry. Wawancara yang dibayar mahal, yang pertanyaannya sudah diatur, yang jawabannya sudah disiapkan tim humas.
"Selamat malam, pemirsa. Malam ini kami kedatangan tamu spesial. Pengusaha muda Ferry Kencana, yang namanya sempat tercemar oleh tuduhan penyekapan dan perjodohan paksa. Ferry, bagaimana tanggapan Bapak?"
Ferry tersenyum ke kamera. Senyum yang ramah, teduh, tidak bersalah, sangat berbeda dari senyum sinis yang Arga kenal.
"Terima kasih sudah mengundang saya. Saya ingin meluruskan beberapa hal. Pertama, tuduhan penyekapan tidak benar. Sekar adalah tunangan saya. Orang tuanya sudah merestui. Kami akan menikah. Itu sudah direncanakan sejak lama."
"Tapi Sekar mengaku bahwa dia dikurung dan tidak boleh keluar rumah?"
"Itu pengakuannya. Tapi perlu diingat, Sekar dalam tekanan psikologis. Dia dibohongi oleh Arga, seorang pemuda desa yang tidak bertanggung jawab. Arga memanfaatkan situasi untuk merebut Sekar dari saya."
"Arga? Siapa dia?"
"Dia anak desa miskin yang tidak punya apa, apa. Datang ke kota, kerja serabutan, lalu berusaha merebut tunangan orang. Untung saya punya bukti."
"Apa buktinya?"
Ferry mengeluarkan beberapa lembar foto. Foto Arga bersama Sekar di tepi sungai. Foto Arga bersama teman-temannya. Foto Arga bersama Laras, yang dipotret dari sudut membuat mereka terlihat mesra.
"Ini foto Arga dengan perempuan lain. Bukan Sekar. Artinya, Arga tidak setia. Dia hanya memanfaatkan Sekar."
"Wah, sungguh keterlaluan."
"Ya. Itulah kenapa saya memutuskan untuk melawan. Saya akan buktikan bahwa saya tidak bersalah. Dan Arga beserta teman, temannya akan dihukum."
REAKSI TIM ARGA
Di kos, semua orang terpaku di depan layar televisi milik Mbok Darmi, televisi tabung tua yang hanya bisa menangkap dua channel.
"Bajingan!" teriak Faruq. "Dia memutarbalikkan fakta!"
"Tenang, Faruq," kata Guntur.
"Tenang? Dia bilang Mas Arga selingkuh! Dia bilang Mas Arga perebut tunangan orang! Dia bilang Mas Arga yang salah!"
"Marah tidak akan menyelesaikan masalah."
"Lalu?"
"Kita balas. Lewat media juga."
KONFERENSI PERS TIM ARGA
Keesokan harinya, Guntur dan Nisa mengatur konferensi pers di kantin fakultas filsafat. Jurnalis dari beberapa media independen datang. Jurnalis dari media yang pro, Ferry juga datang, untuk mencari kelemahan.
Arga berdiri di depan mikrofon. Wajahnya tegang, tangannya gemetar, tapi suaranya tegas.
"Saudara, saudara, saya Arga. Saya dari desa Wringinrejo, di selatan. Saya bukan pahlawan. Saya juga bukan penjahat. Saya hanya anak desa yang mencintai seorang gadis desa. Gadis itu bernama Sekar."
Ferry bilang dia tunangannya. Tapi siapa yang menentukan tunangan? Orang tua? Uang? Kekuasaan? Atau hati?"
Arga menceritakan semuanya. Tentang perjodohan paksa. Tentang penyekapan. Tentang suntikan obat penenang. Tentang preman. Tentang pengkhianatan. Tentang perjuangan.
Ia tidak hanya bicara. Ia juga menunjukkan bukti.
Foto, foto Sekar lebam. Rekaman suara Ferry mengancam. Buku catatan Mariyem. Surat, surat perintah dari Ferry untuk preman, preman.
"Ini bukti, Saudara-saudara. Bukan rekayasa. Bukan fitnah. Ini fakta. Ferry Kencana adalah penjahat. Dan kami korban."
REAKSI PUBLIK
Konferensi pers itu tayang di media sosial. Tagar #ArgaBukanPenjahat dan #FerryPenjahat kembali trending.
Publik mulai terbelah.
Pro, Ferry menganggap Arga pembohong.
Pro, Arga menganggap Ferry iblis berkemeja rapi.
"Waspada ya, Arga," kata Guntur setelah konferensi pers. "Ini baru awal. Ferry tidak akan tinggal diam."
"Aku tahu."
"Kamu harus siap mental."
"Aku sudah siap. Karena kebenaran ada di pihakku."
ANCAMAN LANGSUNG
Seminggu setelah konferensi pers, Arga menerima amplop berisi surat ancaman. Dikirim ke toko bangunan. Dikirim ke kos. Dikirim ke alamat rumah Mariyem. Dikirim ke desa Wringinrejo.
Isinya sama: gambar tengkorak, tulisan merah, dan pesan singkat.
"Kau tidak akan selamat, Arga. Kau tidak akan bisa melindungi semua orang. Keluargamu. Teman, temanmu. Sekar. Semua akan hancur. Satu per satu."
Arga tidak takut. Tapi ia khawatir pada orang, orang di sekitarnya.
"Guntur, kita harus tingkatkan keamanan," katanya.
"Bagaimana caranya? Kita tidak punya uang untuk bayar satpam."
"Kita jaga bergantian. Malam. Siang. Tanpa henti."
"Delapan orang?"
"Delapan orang. Guntur, Faruq, Nisa, Dimas, Laras, Ratri, aku, Sekar."
"Setuju."
MALAM PENUH KETAKUTAN
Malam itu, mereka mulai berjaga.
Pukul delapan hingga dua belas: Arga dan Sekar.
Pukul dua belas hingga empat: Guntur dan Laras.
Pukul empat hingga subuh: Faruq dan Nisa.
Dimas dan Ratri jaga siang.
Hari pertama berjalan lancar. Tidak ada kejadian aneh.
Hari kedua juga.
Hari ketiga juga.
Hari keempat, Jumat malam, pukul satu dini hari. Guntur dan Laras sedang duduk di teras kos, ditemani kopi hitam dan pisang goreng sisa sore.
"Guntur," panggil Laras.
"Iya."
"Apa kita akan selamat?"
"Kita akan selamat. Kita sudah melewati yang terberat."
"Ini belum yang terberat?"
"Belum. Yang terberat adalah setelah Ferry benar, benar tidak berdaya. Setelah dia tidak punya uang, tidak punya kuasa, tidak punya preman. Saat itu, dia akan menyerah. Atau mati."
"Kamu kejam."
"Bukan kejam. Realistis."
Mereka terdiam.
Tiba, tiba, suara motor dari kejauhan. Banyak. Puluhan.
Guntur berdiri. "Laras, bangunkan yang lain."
Laras berlari ke dalam.
Guntur memandang ke arah jalan.
Lampu motor menyala terang. Puluhan. Mendekat.
"Ferry," bisik Guntur. "Akhirnya kau datang sendiri."
BAB 38
FERRY MENYERANG LANGSUNG KE KOS , PERTEMPURAN PUNCAK
Malam itu adalah malam paling mencekam yang pernah dialami oleh penghuni kos, kosan Mbok Darmi. Puluhan preman bayaran Ferry mengepung kos dari segala arah. Suara motor meraung, raung seperti kawanan serigala yang kelaparan. Lampu, lampu sorot menyilaukan mata, menembus tirai jendela yang tipis, menciptakan bayangan, bayangan panjang yang menari, nari di dinding.
Guntur berdiri di teras, memandang ke arah jalan. Di tangannya, sebatang besi panjang yang ia ambil dari belakang kos, besi bekas rangka tempat tidur yang sudah tidak terpakai. Laras di sampingnya, memegang gagang sapu yang ujungnya sudah diraut runcing.
"Berapa banyak?" bisik Laras.
"Puluhan. Mungkin empat puluh. Mungkin lima puluh."
"Kita hanya delapan."
"Tidak masalah. Yang penting kita bertahan sampai polisi datang."
"Polisi tidak akan datang. Ferry sudah bayar mereka."
"Maka kita serang mereka. Jangan menunggu."
KEPUNG
Arga keluar dari kamar dengan parang di tangan, parang pemberian Mbah Jayarasa yang dulu tergantung di dinding rumah tuanya, parang yang sudah ia bawa ke kota sebagai kenang, kenangan, parang yang sekarang akan ia gunakan untuk melindungi orang, orang yang ia cintai.
Sekar di belakangnya, memegang panah dan busur sederhana buatan Dimas, bukan untuk membunuh, hanya untuk menakuti.
Faruq dan Nisa keluar dari kamar mereka. Faruq memegang pentungan kayu. Nisa memegang ketapel dan batu, batu kecil.
Dimas dan Ratri memanjat atap kos. Dimas membawa ponsel untuk merekam. Ratri membawa teropong.
Mbok Darmi berdiri di pintu dapur. Wajahnya tegang, tangannya memegang wajan penggorengan.
"Kalian jangan mati," katanya.
"Kami tidak akan mati, Mbok," kata Faruq. "Kami masih punya utang traktiran."
FERRY MUNCUL
Dari tengah kerumunan preman, seorang laki, laki berjas hitam berjalan ke depan. Jas navy. Dasi merah. Sepatu oxford mengkilap. Rambut disisir rapi ke belakang.
Ferry Kencana.
Ia tersenyum, senyum yang tidak sampai ke mata.
"Selamat malam, Arga." Suaranya tenang. Terlalu tenang. "Akhirnya kita bertemu lagi."
"Ferry, apa maumu?"
"Aku ingin mengambil apa yang menjadi hakku. Sekar."
"Sekar bukan hakmu. Dia manusia. Dia punya hak memilih."
"Dia sudah memilih. Orang tuanya sudah memilih."
"Orang tuanya tidak berhak memilih untuknya."
Ferry menghela napas. "Debat tidak berguna, Arga. Malam ini, aku akan mengambil Sekar. Dengan atau tanpa izinmu."
"Kau harus melewatiku dulu."
"Dengan senang hati."
Ferry memberi isyarat.
Preman, preman maju.
PERTEMPURAN PUNCAK
Preman pertama menerjang Arga dengan pentungan. Arga mengelak. Parangnya berayun, bukan ke arah tubuh, tapi ke arah pentungan, membuatnya terpental.
Preman kedua menyerang dari samping. Guntur menghadang dengan besi panjangnya. Bruk! Preman itu jatuh.
Preman ketiga, keempat, kelima, silih berganti.
Faruq dan Nisa bertahan di pintu dapur. Faruq memukul dengan pentungan. Nisa memanah dengan ketapel, tepat sasaran, mengenai mata preman.
Dimas dan Ratri dari atap melemparkan batu, batu kecil. Preman, preman terjatuh.
Tapi jumlah mereka terlalu banyak.
Setiap satu jatuh, dua muncul.
Setiap dua jatuh, empat muncul.
Laras mulai kelelahan. Lengan kirinya, yang dulu luka, mulai berdarah lagi.
"Guntur, aku, "
"Bertahan, Laras! Jangan menyerah!"
"Tapi, "
"BERTAHAN!"
SEKAR MEMANAH
Sekar melihat Laras kesulitan. Ia mengarahkan busurnya ke preman yang akan memukul Laras.
DOR!
Panah melesat.
Mengenai lengan preman.
Preman itu berteriak, jatuh.
"Awas!" teriak Sekar pada Guntur. "Dari belakang!"
Guntur menoleh. Preman lain sudah mengayunkan pentungan ke kepalanya.
Ia tidak sempat menghindar.
DUAR!
Guntur jatuh.
Darah mengalir di pelipisnya.
"GUNTUR!" teriak Laras.
Laras berlari ke arah Guntur. Ia menendang preman itu. Preman itu terhuyung. Laras memukulnya dengan gagang sapu sampai pingsan.
"Guntur... Guntur... bangun..."
Guntur membuka mata. "Aku... baik, baik saja..."
"Kepalamu berdarah!"
"Hanya luka kecil. Tidak apa."
Laras memeluk Guntur.
Ia menangis.
FERRY MASUK
Ferry tidak ikut bertempur. Ia berdiri di pinggir, menyaksikan anak buahnya bertumbangan.
"Bodoh," gumamnya. "Semua bodoh."
Ia berjalan ke pintu kos.
Mbok Darmi menghadang dengan wajan.
"Jangan masuk, Tuan. Ini rumah saya."
"Kosongkan jalan, Bu."
"Saya tidak akan."
Ferry mendorong Mbok Darmi. Perempuan tua itu jatuh.
"SIALAN!" teriak Faruq. Ia berlari ke arah Ferry, pentungan terangkat.
Ferry tidak bergeming. "Kamu pikir pentunganmu akan menyentuhku?"
Ia mengeluarkan pistol dari saku jasnya.
Semua terdiam.
"Pistol?" bisik Nisa.
"Iya. Pistol. Ijazah saya di Inggris juga punya lisensi senjata." Ferry tersenyum. "Sekarang, siapa yang berani maju?"
Tidak ada yang bergerak.
"Bagus. Sekarang, Sekar, ikut aku. Atau aku tembak Arga."
Sekar tidak bergerak.
"Aku hitung tiga. Satu... dua..."
"Saya ikut."
Arga menoleh. "Sekar, jangan!"
"Kalau tidak, dia akan bunuh kamu, Mas."
"Tidak apa. Aku rela mati daripad kau kembali ke Ferry."
"Tapi aku tidak rela, Mas. Aku tidak rela melihatmu mati."
Sekar berjalan ke arah Ferry.
Ferry tersenyum. "Bagus. Akhirnya kau sadar."
"Sekar!" Arga mencoba menghalangi, tapi preman menahannya.
"Diam!" bentak Ferry.
KEJUTAN DI ATAP
Tepat saat Sekar mencapai Ferry, suara tembakan lain terdengar.
DOR!
Pistol Ferry jatuh.
"POLISI! JANGAN BERGERAK!"
Ferry menoleh ke atas.
Di atap kos, bukan hanya Dimas dan Ratri. Ada polisi. Berseragam lengkap. Bersenjata lengkap.
"Komandan Budi," bisik Ferry.
"Saya sudah memantau sejak awal, Ferry. Saya tidak bisa disuap. Saya tidak bisa dibeli. Saya polisi yang percaya pada keadilan."
"Kau, "
"Kau sudah saya laporkan ke polda. Pengacaramu juga. Hakim yang membebaskanmu juga. Semua akan diproses."
Ferry terdiam.
Ia tidak bisa berkutik.
Polisi turun dari atap. Puluhan preman ditangkap.
Ferry diborgol.
"Ferry Kencana, saya tahan Saudara atas dugaan percobaan pembunuhan, memiliki senjata api ilegal, dan pengerahan preman untuk melakukan kekerasan."
Ferry tidak melawan.
Ia hanya memandang Arga.
"Kau beruntung, Arga. Punya teman polisi."
"Bukan teman polisi. Teman sejati. Orang yang percaya pada kebenaran."
SETELAH PERTEMPURAN
Ferry digiring ke mobil polisi.
Preman, preman satu per satu dimasukkan ke mobil tahanan.
Mbok Darmi dibawa ke ruang tamu, luka di sikunya dibersihkan oleh Nisa.
Guntur dirawat oleh Laras dan Faruq, yang kebetulan mahasiswa kedokteran.
"Faruq, jahit kepalaku," kata Guntur.
"Saya belum pernah jahit luka."
"Sekarang belajar."
faruq menekan luka Guntur dengan kain bersih. Guntur meringis.
"Sakit, tapi jangan mati. Nanti Laras nangis."
"Saya tidak akan nangis," kata Laras sambil menyeka air matanya.
"Kamu sudah nangis."
"Itu keringat."
"Keringat dari mata?"
"Keringat dingin."
Mereka tertawa.
PAGI YANG SUNYI
Matahari terbit di ufuk timur.
Cahayanya keemasan, hangat, menyapu kabut yang menggantung di atas kos.
Arga duduk di beranda. Sekar di sampingnya.
"Sekar," panggil Arga.
"Iya."
"Kita selamat."
"Kita selamat."
"Ferry tidak akan pernah bebas lagi."
"Kita harap begitu."
"Setelah ini, apa yang akan kita lakukan?"
Sekar memandang Arga.
"Pulang, Mas. Pulang ke desa. Pulang ke Kali Wening. Pulang ke pohon randu. Pulang ke rumah."
"Iya. Kita pulang."
Mereka berpelukan.
BAB 39
TITIK BALIK
Tiga hari setelah penangkapan Ferry dan pembubaran preman-preman bayarannya, suasana di kos, kosan Mbok Darmi mulai kembali normal. Normal yang sesungguhnya, bukan normal yang dipaksakan. Tawa mulai terdengar di halaman setiap pagi. Sendiran Faruq yang konyol, ledekan Nisa yang tajam, candaan Dimas yang absurd, dan senyum tipis Laras yang dulu langka kini lebih sering muncul.
Tapi satu hal masih mengganjal di hati Sekar, Arga, dan semua yang peduli pada mereka. Satu hal yang belum selesai. Satu hal yang harus dibereskan sebelum mereka benar, benar bisa melanjutkan hidup dengan damai.
Restu.
Restu dari orang tua Sekar.
Ayah dan ibu yang dulu menjodohkannya dengan Ferry, yang dulu menerima uang untuk melunasi utang, yang dulu membiarkan anak kandungnya disiksa demi kepentingan bisnis.
Mereka belum minta maaf. Mereka belum mengakui kesalahan. Mereka belum membatalkan perjodohan secara resmi.
Dan tanpa itu, Sekar tidak akan pernah benar-benar bebas.
SURAT DARI AYAH SEKAR
Hari Kamis pagi, pukul sembilan. Langit cerah. Matahari bersinar hangat. Burung, burung pipit beterbangan di halaman kos.
Seorang anak kecil mengantarkan amplop ke kos. Amplop putih, tidak bertuliskan nama pengirim, tidak bertuliskan alamat tujuan. Hanya satu kata di bagian depan amplop: "SEKAR".
Sekar menerima amplop itu dengan tangan gemetar. Ia membukanya perlahan, takut dengan isinya, takut itu ancaman, takut itu umpatan, takut itu sesuatu yang akan melukai hatinya lagi.
Tapi isinya bukan ancaman.
Bukan umpatan.
Bukan kebencian.
Tapi undangan.
Undangan untuk bertemu di sebuah restoran sederhana di pinggiran kota.
"Untuk Sekar," tulis surat itu. "Ayah dan Ibu ingin bertemu denganmu. Bukan untuk memaksamu kembali. Bukan untuk menjodohkanmu lagi. Tapi untuk... meminta maaf. Kami sadar, kami telah salah. Kami telah gagal menjadi orang tua yang baik. Kami menyesal. Datanglah, Nak. Beri kami kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. —Ayah dan Ibu."
Sekar menangis.
Arga memegang bahunya. "Kamu mau datang?"
"Iya. Aku mau. Tapi aku takut."
"Takut apa?"
"Aku takut... ini jebakan. Aku takut mereka masih bekerja sama dengan Ferry."
"Kita akan datang bersama. Aku, Guntur, Laras. Kita akan jaga dari kejauhan."
"Kamu mau?"
"Tentu. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian."
PERSIAPAN
Mereka berdiskusi di ruang tamu kos.
"Mari kita analisis," kata Guntur sambil membuka laptop. "Restoran ini. Di pinggiran kota. Sepi. Tidak terlalu ramai. Tempat yang tepat untuk pertemuan pribadi, tapi juga tempat yang tepat untuk jebakan."
"Kamu pikir ini jebakan?" tanya Sekar.
"Bisa jadi. Tapi bisa juga bukan. Kita tidak bisa memastikan sebelum datang."
"Lalu bagaimana?" tanya Arga.
"Kita bagi tim. Sekar dan Arga masuk ke restoran. Guntur, Laras, Dimas di luar. Nisa, Faruq, Ratri di dalam mobil siaga. Jika ada yang aneh, kita langsung evakuasi."
"Setuju," kata semua.
DI RESTORAN
Jam enam sore, Sekar dan Arga tiba di restoran. Restoran itu sederhana, dinding kayu, atap genteng, lantai semen. Meja, meja kayu ditata rapi di dalam dan di teras. Hanya sedikit pengunjung, mungkin karena hari masih sore, mungkin karena lokasinya yang agak terpencil.
Di meja pojok, seorang laki-laki dan perempuan setengah baya duduk. Laki-laki itu berpakaian rapi, kemeja batik lengan panjang, celana bahan hitam. Wajahnya tegas, tapi matanya sayu. Perempuan itu memakai kebaya sederhana, rambutnya di sanggul rapi. Matanya merah, seperti baru saja menangis.
Itu ayah dan ibu Sekar.
Sekar berjalan mendekat. Langkahnya pelan, berat, seperti kakinya terbenam di lumpur.
Arga mengikuti di belakang, menjaga jarak.
"Ayah... Ibu..." bisik Sekar.
Ibu Sekar berdiri. Ia memeluk putrinya.
"Nduk... Nduk... maafkan Ibu... maafkan Ibu..."
Ayah Sekar juga berdiri. Ia menunduk, tidak berani menatap mata putrinya.
"Sekar," katanya pelan. "Ayah... Ayah minta maaf. Ayah salah. Ayah gagal melindungimu."
PENGAKUAN AYAH SEKAR
Mereka duduk di meja kayu itu. Suasana hening. Hanya suara angin yang berembus di sela, sela dinding kayu.
Ayah Sekar mulai bicara.
"Sekar, Ayah tahu Ayah tidak pantas disebut ayah. Ayah menjualmu. Ayah menerima uang dari Ferry. Ayah membiarkanmu disiksa. Ayah tidak pernah membelamu."
Sekar diam. Matanya basah.
"Ayah tidak tahu, Nak. Ayah tidak tahu bahwa Ferry sejahat itu. Ayah pikir dia orang baik. Ayah pikir dia bisa memberi kehidupan yang layak untukmu. Ayah pikir uang bisa membeli segalanya, termasuk kebahagiaan."
"Tapi Ayah salah," lanjut ayah Sekar. "Ayah salah besar. Kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang. Kebahagiaan adalah ketika anak Ayah tersenyum. Kebahagiaan adalah ketika anak Ayah tidak takut. Kebahayaan adalah ketika anak Ayah hidup dalam damai."
Ayah Sekar menangis.
Air matanya jatuh ke meja kayu.
"Sekar, Ayah batalkan perjodohan itu. Ayah sudah kirim surat resmi ke keluarga Ferry. Ayah sudah kembalikan semua uang. Ayah sudah siap menerima konsekuensi apa pun."
Ayah Sekar mengeluarkan sebuah amplop coklat dari saku jasnya.
"Ini surat pembatalan perjodohan. Sudah ditandatangani Ayah dan Ibu. Juga sudah dilegalisir notaris."
Sekar menerima amplop itu. Tangannya gemetar. Ia membukanya, membaca surat itu berulang, ulang.
"Terima kasih, Ayah."
"Jangan berterima kasih, Nak. Ayah yang berterima kasih karena kau masih mau datang. Karena kau masih mau memanggil Ayah."
ARGA BERBICARA
Ayah Sekar memandang Arga.
"Kamu Arga?"
"Iya, Pak."
"Kamu yang menyelamatkan anak saya?"
"Saya hanya melakukan yang benar, Pak."
"Kamu tidak takut pada Ferry?"
"Saya takut, Pak. Tapi saya lebih takut kehilangan Sekar."
Ayah Sekar menghela napas.
"Kamu anak desa yang berani. Saya salut."
"Terima kasih, Pak."
"Kamu mencintai Sekar?"
"Saya mencintainya, Pak. Sejak dulu. Sejak di desa. Sejak di Kali Wening. Sejak di pohon randu. Dan saya akan terus mencintainya sampai kapan pun."
Ayah Sekar tersenyum. "Saya restui."
Sekar terkejut. "Ayah?"
"Ayah restui kalian. Ayah tidak punya hak melarang. Ayah sudah cukup gagal sebagai orang tua. Sekarang, Ayah ingin memperbaiki kesalahan. Ayah ingin melihatmu bahagia. Dengan siapa pun. Selama dia baik dan mencintaimu."
Sekar memeluk ayahnya.
Ibu Sekar juga memeluk putrinya.
Mereka menangis bersama.
RESTORAN MENANGIS
Arga hanya bisa diam. Matanya juga basah. Ia teringat pada orang tuanya di desa, pada Sastro yang dipukul preman Ferry, pada Sukmawati yang menangis di dapur karena khawatir.
"Ayah, Ibu," bisiknya dalam hati. "Perjuangan kita hampir selesai. Sekar sudah bebas. Orang tuanya sudah merestui. Kita akan pulang. Kita akan bersama lagi."
Guntur, Laras, Dimas yang mengintai dari luar restoran melihat suasana haru itu. Mereka memutuskan untuk tidak mengganggu.
"Biarkan mereka," bisik Guntur. "Ini momen mereka."
PULANG DENGAN HATI DAMAI
Jam delapan malam, mereka keluar dari restoran.
Ayah dan ibu Sekar naik ke mobil mereka. Sebelum masuk, ayah Sekar menepuk bahu Arga.
"Jaga anak saya, Le. Jangan sampai dia menangis."
"Saya tidak akan membuatnya menangis, Pak. Saya janji."
"Bagus. Kalau kamu sakiti dia, saya cari kamu ke mana pun."
"Siap, Pak."
Ayah Sekar tersenyum. Ia masuk ke mobil. Mobil itu perlahan meninggalkan restoran, meninggalkan Sekar dan Arga di tepi jalan.
"Arga," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa ini mimpi?"
"Bukan. Ini nyata."
"Ayah dan Ibuku merestui kita?"
"Mereka merestui kita."
Sekar memeluk Arga. Erat. Lama.
"Aku bahagia, Arga."
"Aku juga."
KEMBALI KE KOS
Jam sembilan malam, mereka tiba di kos.
Semua sudah berkumpul. Mbok Darmi menyuguhkan nasi tumpeng, kecil, sederhana, tapi penuh makna.
"Selamat, Nduk," kata Mbok Darmi pada Sekar.
"Terima kasih, Mbok."
"Ini awal baru. Mulai sekarang, kalian bebas. Tidak perlu takut. Tidak perlu waspada. Tidak perlu sembunyi."
"Apa benar, Mbok?"
"Benar. Ferry sudah di penjara. Preman sudah ditangkap. Orang tua sudah merestui. Tidak ada lagi yang menghalangi."
Air mata Sekar jatuh lagi. Tapi kali ini bukan air mata sedih, bukan air mata takut. Tapi air mata bahagia.
"TOAST!" teriak Faruq.
"TOAST!"
Mereka minum es teh manis.
Tertawa.
Bercerita.
Bernostalgia tentang masa, masa sulit yang telah mereka lalui bersama.
BAB 40
SATU LANGKAH LAGI
Tiga bulan setelah pertemuan mengharukan di restoran pinggiran kota, setelah ayah Sekar secara resmi membatalkan perjodohan dengan Ferry dan merestui hubungan Sekar dengan Arga, kehidupan di kos, kosan Mbok Darmi berubah drastis. Bukan karena ada yang pergi atau datang. Tapi karena suasana yang tadinya tegang, penuh ancaman, dan diliputi rasa takut, kini berganti menjadi hangat, penuh tawa, dan dipenuhi harapan.
Ferry menjalani hukuman di penjara dengan keamanan maksimal, tidak ada lagi banding, tidak ada lagi suap, tidak ada lagi preman yang berani menyentuhnya karena semua jalurnya sudah diputus. Toni dan anak buahnya juga sudah divonis dengan hukuman yang setimpal. Samsul menjadi saksi kunci dan kini tinggal di rumah aman bersama keluarganya, memulai hidup baru dengan usaha kecil, kecilan.
Dan di kos-kosan kecil di belakang pasar itu, dua pasangan sedang bersiap untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Arga dan Sekar.
Guntur dan Laras.
Dua pasangan yang ditempa oleh badai yang sama. Dua pasangan yang bertahan di tengah ujian yang hampir menghancurkan. Dua pasangan yang kini bersiap untuk mengucapkan janji suci di hadapan Tuhan, keluarga, dan sahabat, sahabat yang setia menemani dalam suka maupun duka.
PAGI DI KOS
Minggu pagi, langit cerah. Matahari bersinar hangat. Burung, burung pipit beterbangan di halaman kos, mencari sisa, sisa nasi yang jatuh dari meja makan.
Arga duduk di beranda, ditemani oleh bantal kecil dari kebaya Sekar, bantal yang sudah usang, sudah pudar warnanya, sudah hampir tidak berbau lagi. Tapi ia tidak mau membuangnya. Bantal itu adalah saksi bisu perjuangannya selama ini.
"Mas Arga, masih pegang bantal itu?" tanya Sekar sambil keluar dari kamar dengan membawa segelas kopi.
"Iya. Ini kenang-kenangan."
"Kenang-kenangan apa? Saya masih hidup. Tidak usah bawa-bawa bantal."
"Buat jaga-jaga kalau kamu marah dan pergi."
"Aku tidak akan pergi."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berdua tersenyum.
Mbok Darmi dari dapur berseru, "Sarapan! Nasi uduk! Jangan nunggu dingin!"
Mereka berjalan ke dapur. Guntur, Laras, Faruq, Nisa, Dimas, dan Ratri sudah duduk di meja kayu panjang.
"Ini pesta terakhir sebelum kalian menikah," kata Faruq. "Nikmati."
"Pesta?" Guntur mengangkat alis. "Ini sarapan biasa."
"Bagi saya, setiap sarapan adalah pesta. Karena saya masih diberi kesempatan hidup."
"Faruq, kamu terlalu filosofis."
"Bukan filosofis. Lapar."
Mereka tertawa.
PERSIAPAN PERNIKAHAN ARGA DAN SEKAR
Setelah sarapan, mereka berdiskusi tentang persiapan pernikahan.
"Tanggalnya sudah ditentukan?" tanya Nisa.
"Bulan depan. Tanggal Enam Juni 2026," jawab Sekar.
"Tempatnya?"
"Di desa. Di Wringinrejo. Di halaman rumah Arga."
"Kenapa tidak di masjid? Atau di gedung?"
"Karena Arga ingin pernikahan sederhana. Seperti orang tuanya dulu."
Arga mengangguk. "Aku ingin semua dimulai dari tempat yang sama. Dari desa. Dari rumah. Dari pohon randu. Dari Kali Wening."
"Rombongan?"
"Dari kos ini. Kita naik bis sewaan. Besok berangkat H, 3."
"Yang diundang siapa saja?"
"Keluarga. Teman-teman. Andaikata mbah Jayarasa masih hidup"
Suasana hening sejenak. Nama Mbah Jayarasa selalu membawa haru.
"Pak Bondan?" tanya Dimas.
"Pak Bondan sudah sembuh. Dia akan datang. Sama istri dan anaknya."
"Seru. Pak Bondan yang galak tapi baik."
"Dia tidak galak. Dia tegas."
"Sama saja."
PERSIAPAN PERNIKAHAN GUNTUR DAN LARAS
Guntur menyela. "Kami juga sudah menentukan tanggal."
"Kapan?" tanya Faruq.
"Sepekan setelah Arga dan Sekar. Di Jogja. Di masjid kampus."
"Kenapa tidak di kampungmu?"
"Kampungku jauh. Laras juga tidak punya kampung. Ibunya sudah meninggal. Jadi kami memutuskan di sini di tempat kami bertemu, di tempat kami jatuh cinta, di tempat kami berjuang bersama."
Laras tersenyum. "Guntur memang romantis kalau sedang tidak sinis."
"Aku tidak sinis. Aku realistis."
"Realistis itu sinis versi orang optimis."
"Itu baru filosofis."
Mereka tertawa lagi.
MAS KAWIN
"Mas kawin Arga?" tanya Nisa.
Arga mengeluarkan sebuah cincin dari saku celananya, cincin perak sederhana, tidak berkilau, tidak bermata berlian. Tapi ada ukiran kecil di bagian dalam.
"Apa itu?" tanya Sekar.
"Cincin. Dari Mbah Jayarasa. Dia titipkan pada ibuku sebelum meninggal."
"Untuk siapa?"
"Untukmu. Dia bilang, ini cincin pernikahannya dulu. Dengan istrinya yang sudah meninggal. Dia ingin aku memberikannya pada perempuan yang aku cintai."
Sekar menerima cincin itu. Matanya basah.
"Mas Arga... ini terlalu berharga..."
"Kamu lebih berharga, Sekar. Cincin ini hanya simbol."
Mereka berpelukan.
"Guntur, mas kawinmu apa?" tanya Dimas.
Guntur mengeluarkan sebuah buku dari tasnya. Buku tebal. Sampul hitam. Judul: "Filsafat Keadilan untuk Laras."
"Aku tulis ini untuk Laras. Selama tiga bulan. Tentang perjuangan kita. Tentang cinta. Tentang keadilan. Tentang harapan."
Laras mengambil buku itu. Ia membuka halaman pertama.
"Untuk Laras, perempuan yang mengajarkanku bahwa cinta tidak butuh alasan, dan keadilan tidak butuh kompromi."
Laras menangis. "Guntur... kamu..."
"Aku tidak bisa memberi cincin mahal. Tapi aku bisa memberi sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang."
"Itu lebih dari cukup."
Mereka juga berpelukan.
Faruq bersiul. "Aduh, jadi pengen nikah."
"Siapa yang mau nikah sama kamu?" ledek Nisa.
"Kamu."
"Gila."
"Memang."
Mereka semua tertawa.
PERJALANAN KE DESA
H, 3 pernikahan Arga dan Sekar, mereka berangkat ke desa Wringinrejo.
Satu bis sewaan. Lima belas orang. Arga, Sekar, Guntur, Laras, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Mbok Darmi, Samsul dan keluarganya, Pak Bondan bersama istri dan anaknya, serta beberapa teman lain.
Perjalanan dua belas jam terasa seperti setahun karena kebisingan Faruq yang terus bercerita, nyanyian Nisa yang sumbang, dan tawa Dimas di setiap lelucon.
"Faruq, diam!" teriak Guntur.
"Tidak bisa. Saya bahagia."
"Kebahagiaan tidak perlu diumumkan."
"Tidak perlu, tapi boleh."
Guntur menghela napas. Laras tertawa.
TIBA DI DESA
Jam sepuluh malam, bis tiba di desa Wringinrejo.
Desa itu gelap. Sunyi. Hanya lampu, lampu rumah penduduk yang menyala remang, remang.
Sastro dan Sukmawati sudah menunggu di depan rumah.
Arga turun dari bis. Ia berlari ke arah orang tuanya.
"Bu! Yah!"
"Le!" Sukmawati memeluk anaknya. "Kamu kurus."
"Kerja keras, Bu."
"Setelah ini, istirahat. Jangan pikirkan yang lain."
Sastro menepuk pundak Arga. "Kamu hebat, Le. Ayah bangga."
"Ayah, saya minta maaf karena membuat Ayah terluka."
"Luka kecil. Tidak masalah. Yang penting kau selamat. Dan Sekar selamat."
Sekar mendekat. "Pakdhe, Budhe."
Sastro tersenyum. "Kamu cantik, Nduk. Pantas Arga mati-matian cari kamu."
Sekar tersenyum malu.
Mereka masuk ke rumah. Rumah kecil yang sudah disulap menjadi tempat perayaan sederhana. Lampu, lampu minyak dinyalakan. Tikar pandan dihamparkan. Bau dupa dan bunga kenanga memenuhi ruangan.
MALAM SEBELUM PERNIKAHAN
Arga dan Sekar duduk di beranda, di bangku kayu yang sama, di tempat yang sama, di mana dulu mereka sering bercerita tentang masa depan.
"Kita sudah sampai, Sekar," kata Arga.
"Iya. Kita sudah sampai."
"Apa kamu bahagia?"
"Sangat."
"Aku juga."
Mereka berdua terdiam. Memandang langit malam. Bintang, bintang berkerlap, kerlip. Bulan sabit tipis menggantung rendah.
"Arga, ingatkah kau dulu kita sering lihat bintang di sini?"
"Ingat. Waktu kita masih kecil. Waktu kita belum tahu apa, apa tentang cinta."
"Sekarang kita tahu?"
"Sekarang kita tahu. Bahwa cinta tidak selalu indah. Kadang menyakitkan. Kadang mengkhianati. Kadang membuat kita kehilangan. Tapi cinta juga membuat kita kuat. Cinta juga membuat kita bertahan. Cinta juga membuat kita menemukan diri kita sendiri."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Arga, apa cinta kita akan bertahan selamanya?"
"Selamanya, Sekar. Sampai mati. Sampai setelah mati. Sampai kita bertemu lagi di alam yang berbeda."
"Janji?"
"Janji. Di atas bintang timur."
BAB 41
PERNIKAHAN ARGA DAN SEKAR
Hari yang dinanti akhirnya tiba.
Matahari terbit di ufuk timur dengan kemegahan yang jarang terjadi di desa Wringinrejo. Langit biru tanpa awan. Burung, burung kecil terbang rendah di atas hamparan sawah yang mulai menguning. Kabut tipis yang biasanya menggantung di pematang sudah lama menghilang, seolah, olah alam sendiri ikut merayakan kebahagiaan dua insan yang perjuangannya telah menginspirasi banyak orang.
Desa Wringinrejo tidak pernah seramai ini. Puluhan orang datang dari berbagai tempat, dari Jogja, dari Jakarta, dari Surabaya, bahkan dari luar negeri. Kerabat, sahabat, aktivis yang dulu mendukung gerakan #FreeSekar, jurnalis yang meliput perjuangan mereka, polisi yang membantu penyergapan, hingga para tetangga desa yang penasaran ingin melihat pesta pernikahan anak Sastro yang dulu dianggap aneh karena lahir di bawah kilat tanpa suara.
Tapi hari ini, tidak ada yang menganggap Arga aneh.
Hari ini, Arga adalah pahlawan.
Pahlawan bagi Sekar.
Pahlawan bagi keluarganya.
Pahlawan bagi semua yang percaya bahwa cinta sejati tidak akan pernah kalah oleh uang dan kekuasaan.
PAGI DI RUMAH ARGA
Jam enam pagi, rumah kecil Sastro sudah ramai.
Sukmawati sibuk di dapur, memasak nasi tumpeng, ayam ingkung, sayur lodeh, sambal goreng ati, dan berbagai hidangan tradisional lainnya. Aroma rempah memenuhi seluruh ruangan, membuat perut siapa pun yang menciumnya langsung keroncongan.
"Nanti jangan lupa taburi bawang goreng di atas sambal gorengnya!" teriak Sukmawati pada Nisa dan Ratri yang membantu di dapur.
"Siap, Budhe!" jawab Nisa.
Di ruang tengah, Arga duduk di kursi kayu, ditemani Guntur, Faruq, dan Dimas. Ia memakai beskap hitam dengan blangkon dan kain jarik batik, pakaian adat Jawa yang dipinjamkan dari keluarga Pak Lurah. Wajahnya tampan, lebih tampan dari biasanya. Matanya berbinar, senyumnya tidak henti, hentinya.
"Mas Arga, gugup?" tanya Faruq.
"Gugup? Tidak. Saya sudah biasa di depan banyak orang."
"Demo beda dengan pernikahan. Di demo, orang teriak, teriak minta keadilan. Di pernikahan, orang teriak, teriak minta ketupat."
Mereka tertawa.
"Sekar pasti cantik hari ini," kata Dimas.
"Cantik selalu. Tapi hari ini pasti lebih."
"Mas Arga, siapkan diri. Sebentar lagi akad."
DI RUMAH MBOK RARAS
Di rumah tua peninggalan nenek Sekar, yang dulu kosong, sepi, dan hampir dijual, kini ramai. Rumah itu dibersihkan, dicat ulang, dan dihiasi janur dan bunga melati. Di halaman depan, tenda putih dipasang untuk tamu undangan.
Sekar duduk di kamar neneknya, di depan cermin tua yang masih tergantung di dinding. Ia memakai kebaya putih dengan hiasan payet di bagian dada dan lengan. Rambutnya yang panjang disanggul rapi, disisipi tusuk konde berukir bunga melati. Wajahnya dipoles tipis dengan bedak dan lipstik merah muda, cukup untuk membuatnya terlihat segar, tanpa menghilangkan kesederhanaan yang menjadi ciri khasnya.
"Cantik, Mbak," kata Laras yang membantu merias.
"Kamu juga cantik, Lar."
"Aku tidak cantik. Aku biasa."
"Guntur bilang apa?"
"Dia bilang, kecantikan itu subjektif."
"Gombal dia."
"Memang. Tapi aku suka."
Mereka berdua tersenyum.
Dari luar, suara Ibu Sekar terdengar. "Nduk, sudah siap? Sebentar lagi akad."
"Siap, Bu."
Sekar memandang cermin sekali lagi.
Ia berbisik pada bayangannya sendiri.
"Nek, doakan aku. Doakan agar pernikahanku langgeng. Doakan agar aku bahagia. Doakan agar Arga menjadi suami yang baik. Doakan kami."
Ia mencium foto neneknya yang terletak di atas meja rias.
Lalu berdiri.
PEMBERANGKATAN ARGA
Jam sembilan pagi, Arga berangkat dari rumahnya menuju rumah Sekar. Diiringi oleh keluarga, sahabat, dan tetangga desa yang ikut serta dalam pawai pernikahan. Guntur dan Faruq berjalan di samping Arga. Dimas memotret dengan ponselnya. Nisa membawa payung untuk Arga, meskipun matahari tidak terlalu terik.
Sepanjang jalan setapak menuju rumah Sekar, orang, orang bersorak.
"Mas Arga! Mas Arga!"
"Selamat! Selamat!"
Arga tersenyum, melambaikan tangan, kadang berhenti untuk bersalaman dengan anak-anak kecil yang menghadang.
"Guntur, ini seperti mimpi," bisik Arga.
"Bukan mimpi. Ini nyata. Kau pantas mendapatkan ini."
"Aku tidak pantas. Aku hanya anak desa biasa."
"Anak desa biasa yang berani melawan pengusaha kaya. Itu luar biasa."
AKAD NIKAH
Jam sepuluh pagi, Arga tiba di rumah Sekar.
Halaman depan dipenuhi tamu. Kursi, kursi kayu berjajar rapi. Karpet merah dibentang dari pintu masuk hingga pelaminan. Penghulu sudah duduk di kursi kehormatan, siap memimpin jalannya akad nikah.
Arga berjalan masuk. Matanya langsung mencari Sekar.
Sekar duduk di pelaminan, di samping ibu dan ayahnya. Wajahnya tertutup kain kerudung tipis, sesuai tradisi. Tapi matanya, matanya yang sayu itu, terlihat jelas menatap Arga dari balik kerudung.
Arga duduk di kursi yang telah disediakan, di depan penghulu.
"Mas Arga, siap?" tanya penghulu.
"Siap, Pak."
"Sekar binti Marto, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Arga bin Sastro dengan mas kawin cincin perak dan uang tunai sebesar dua juta rupiah dibayar tunai."
Arga mengucapkan ijab kabul dengan suara lantang, tegas, tanpa ragu.
"Saya terima nikah dan kawinnya Sekar binti Marto dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
Ruangan hening.
“ SAH” Jawab kedua saksi
Lalu tepuk tangan bergemuruh.
Faruq bersorak paling keras. "YES! SELAMAT!"
Mbok Darmi menangis di kursi belakang.
Sukmawati memeluk Sastro.
Ibu Sekar menangis di bahu ayah Sekar.
Sekar membuka kerudungnya.
Ia tersenyum.
Arga tersenyum.
Mereka saling menatap.
Setelah sekian lama berpisah, setelah sekian lama berjuang, setelah sekian lama menunggu, akhirnya mereka bersama.
RESEPSI
Jam dua belas siang, acara resepsi dimulai.
Ribuan tamu datang. Bukan hanya dari desa, tapi juga dari kota. Aktivis yang dulu membantu gerakan #FreeSekar ikut hadir. Polisi yang membantu penyergapan Ferry dan preman, preman juga datang. Jurnalis yang meliput perjuangan mereka meminta izin untuk mengambil foto.
Makanan berlimpah. Nasi tumpeng, ayam ingkung, sate kambing, gudeg, sayur lodeh, sambal goreng, kerupuk, dan berbagai jajanan pasar.
"Pak Bondan, makan yang banyak!" kata Arga sambil mengantar piring ke mantan bosnya.
"Kamu jangan sibuk melayani tamu. Ini pestamu."
"Justru karena ini pestaku, aku harus memastikan semua tamu senang."
"Kamu baik, Le. Saya bangga."
"Terima kasih, Pak. Atas segalanya."
Pak Bondan menepuk bahu Arga.
GUNTUR DAN LARAS
Guntur dan Laras duduk di meja pojok, jauh dari keramaian.
"Mereka bahagia," kata Laras.
"Kita juga akan bahagia. Sepekan lagi."
"Aku takut, Guntur."
"Takut apa?"
"Aku takut pernikahan. Takut komitmen. Takut gagal."
Guntur menggenggam tangan Laras.
"Lihat Arga dan Sekar. Mereka sudah melewati yang terberat. Kita juga akan melewatinya."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena kita tidak sendirian."
TARIAN DAN NYANYIAN
Jam dua siang, acara hiburan dimulai.
Faruq naik ke panggung darurat. Ia memegang microphone dan mulai bernyanyi, suaranya sumbang, kata, katanya kacau, tapi semangatnya membara.
"Hari ini bahagia... hari ini meriah... Arga dan Sekar... akhirnya bersama..."
Penonton tertawa. Ada yang ikut bernyanyi, ada yang menutup telinga, ada yang merekam dengan ponsel.
"Nisa, tolong! Faruq merusak pestaku!" teriak Arga setengah bercanda.
"Biarkan, Mas. Nanti dia capek sendiri."
Setelah Faruq turun panggung karena kehabisan napas, giliran Dimas yang naik. Ia tidak bernyanyi. Ia hanya bercerita, tentang pertemuan pertamanya dengan Arga di kos, tentang malam, malam curhat di atap, tentang perjuangan mencari Sekar.
"Dan sekarang, mereka menikah," kata Dimas. "Kita semua bersaksi."
Penonton bertepuk tangan.
MAHAR CINCIN MBAH JAYARASA
Acara serah, serahan mahar.
Arga merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan cincin perak sederhana, cincin peninggalan Mbah Jayarasa yang dulu dipakainya untuk menikahi istrinya.
"Sekar, ini untukmu."
Sekar menerima cincin itu.
"Apa ini?"
"Cincin Mbah Jayarasa. Dia titipkan padaku sebelum meninggal. Katanya, berikan pada perempuan yang ku cintai."
Air mata Sekar jatuh.
"Mas Arga... aku tidak pantas..."
"Kamu pantas. Kamu yang paling pantas."
Arga memakaikan cincin itu di jari manis Sekar.
Tangan mereka bertautan.
Semua orang bertepuk tangan.
Sukmawati menangis di bahu Sastro.
Mbok Darmi mengusap air matanya dengan ujung kebaya.
Pak Bondan tersenyum.
Ibu Sekar memeluk ayah Sekar.
Anak, anak kecil berlarian riang di antara kursi, kursi.
Langit sore berwarna jingga keemasan.
Dan di kejauhan, di atas pohon randu tua, sepasang burung duduk berdampingan, menyaksikan keramaian, sesekali berkicau, seolah ikut mendoakan kebahagiaan dua insan yang baru saja mengucapkan janji suci.
MALAM PERTAMA
Setelah tamu pulang satu per satu, setelah kursi dan meja dirapikan, setelah lampu, lampu minyak mulai redup, Arga dan Sekar duduk di beranda rumah.
Desa sunyi. Hanya suara jangkrik dan suara angin yang berembus di antara daun-daun pisang.
"Arga," panggil Sekar.
"Iya."
"Ini mimpi?"
"Bukan. Ini nyata."
"Aku takut besok bangun, aku sadar bahwa ini hanya mimpi."
"Kamu tidak akan bangun dari mimpi, karena ini bukan mimpi. Ini kehidupan. Kehidupan kita. Mulai sekarang."
"Selamanya?"
"Selamanya."
Mereka berpelukan.
Bintang timur bersinar terang di ufuk timur, seperti jutaan bintang lain yang dulu mereka lihat bersama di tempat yang sama, di waktu yang sama, ketika cinta masih berupa misteri yang belum terpecahkan.
Kini misteri itu telah terjawab.
Cinta adalah perjuangan.
Cinta adalah pengorbanan.
Cinta adalah bertahan ketika semuanya terasa mustahil.
Dan cinta adalah pulang.
Pulang ke tempat di mana semua dimulai.
Pulang ke desa.
Pulang ke rumah.
Pulang ke hati yang sama.
BAB 42
PERNIKAHAN GUNTUR DAN LARAS
Seminggu setelah pernikahan Arga dan Sekar di desa Wringinrejo, suasana di kos, kosan Mbok Darmi berubah lagi. Bukan menjadi sepi, tapi menjadi sibuk dengan persiapan pernikahan kedua. Guntur dan Laras, pasangan yang lebih pendiam, lebih filosofis, lebih misterius, akhirnya akan mengucapkan janji suci di hadapan Tuhan, keluarga, dan sahabat, sahabat yang setia menemani mereka dalam suka maupun duka.
Berbeda dengan pernikahan Arga dan Sekar yang meriah, ramai, dan dihadiri ribuan orang, pernikahan Guntur dan Laras justru sebaliknya. Sederhana. Sepi. Hanya dihadiri oleh orang, orang terdekat. Tidak ada pawai. Tidak ada resepsi besar. Hanya akad nikah di masjid kampus UGM, dilanjutkan dengan syukuran kecil di halaman kos.
"Kami tidak butuh pesta," kata Guntur ketika ditanya alasannya. "Kami hanya butuh restu. Dari Tuhan. Dari keluarga. Dari sahabat."
"Dan dari satu sama lain," tambah Laras.
PERSIAPAN DI KOS
H, 1 pernikahan, kos, kosan Mbok Darmi berubah menjadi pusat persiapan. Nisa dan Ratri sibuk merangkai bunga untuk dekorasi. Faruq dan Dimas sibuk membersihkan halaman dan memasang tenda sederhana. Mbok Darmi sibuk di dapur, memasak untuk acara syukuran.
Arga dan Sekar, yang sudah resmi menjadi suami istri, turut membantu. Arga mengatur kursi, kursi kayu. Sekar membantu Laras merias diri di kamar.
"Laras, cantik banget," kata Sekar sambil menyisir rambut Laras.
"Kamu juga cantik waktu nikah."
"Tapi kamu lebih cantik hari ini."
"Karena aku bahagia."
Mereka berdua tersenyum.
Di ruang tengah, Guntur duduk di kursi kayu, ditemani Arga, Faruq, dan Dimas. Ia memakai kemeja putih lengan panjang dan celana bahan hitam, pakaian sederhana, tapi rapi. Tidak ada beskap, tidak ada blangkon, tidak ada kain jarik batik.
"Guntur, kamu yakin tidak mau pakaian adat?" tanya Faruq.
"Aku yakin. Aku tidak suka ribet."
"Tapi ini pernikahan."
"Ini pernikahanku. Aku yang menentukan."
"Baik. Terserah."
"Aku hanya ingin Laras bahagia. Itu yang penting."
MALAM SEBELUM PERNIKAHAN
Jam sembilan malam, semua orang sudah lelah. Tenda sudah berdiri. Kursi, kursi sudah tertata rapi. Dekorasi bunga sudah terpasang di pintu masuk. Lampu, lampu kecil bergantungan di dinding dan pagar.
Guntur dan Laras duduk di beranda, berdua saja. Yang lain sengaja memberi mereka waktu untuk berbincang berdua.
"Guntur," panggil Laras.
"Iya."
"Kita benar, benar akan menikah besok?"
"Iya. Besok. Setelah sekian lama."
"Apa kamu tidak takut?"
"Takut apa?"
"Aku. Masa laluku. Pengkhianatanku. Luka-lukaku."
Guntur menggenggam tangan Laras.
"Laras, aku sudah tahu semua itu sebelum aku memutuskan untuk mencintaimu. Dan aku tetap memilihmu."
"Kenapa?"
"Karena kamu kuat. Kamu berani. Kamu tidak sempurna, tapi kamu nyata. Aku tidak butuh perempuan sempurna. Aku butuh perempuan yang bisa menemani aku dalam suka dan duka. Dan kamu adalah itu."
Laras menangis.
"Jangan nangis. Besok kamu harus cantik."
"Aku sudah cantik."
"Iya. Kamu cantik. Sekarang tidur. Besok pagi kita akad."
PAGI PERNIKAHAN
Jam enam pagi, Masjid Kampus UGM mulai dipenuhi oleh keluarga dan sahabat. Guntur sudah berdiri di depan penghulu, menunggu Laras datang. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang akan menikah.
"Guntur, kamu kenapa tidak gugup?" bisik Faruq dari barisan belakang.
"Aku sudah melewati yang lebih berat dari pernikahan."
"Apa?"
"Menyelamatkan Sekar dari Ferry."
"Itu benar."
Laras datang bersama Arga dan Sekar. Ia memakai kebaya putih sederhana—bukan kebaya dengan payet atau bordir, hanya kebaya polos dengan renda tipis di ujung lengan. Rambutnya tidak disanggul, hanya diikat kuda poni. Wajahnya tidak dipoles tebal, hanya bedak tipis dan lipstik merah muda.
"Sederhana, tapi elegan," bisik Nisa pada Ratri.
"Sesuai dengan karakter mereka."
Laras duduk di kursi yang telah disediakan, di samping ayahnya, ayah Laras yang dulu dipecat Ferry, yang kakinya patah, yang tidak bisa bekerja.
"Nduk," bisik ayah Laras.
"Iya, Yah."
"Ayah minta maaf. Karena tidak bisa berdiri di sampingmu saat akad."
"Tidak apa, Yah. Yang penting Ayah ada di sini."
AKAD NIKAH
Penghulu membacakan doa.
Guntur mengucapkan ijab kabul.
"Saya terima nikah dan kawinnya Laras binti Saman dengan maskawin satu set peralatan salat dan lima ratus ribu rupiah dibayar tunai."
Ruangan hening.
“SAH”, jawab kedua saksi
Tepuk tangan menggema.
Faruq bersorak, tidak terlalu keras, karena di masjid.
"Selamat, Guntur! Selamat, Laras!"
Laras menangis.
Guntur tersenyum.
Mereka berdua saling menatap.
SYUKURAN DI KOS
Jam dua belas siang, acara syukuran dimulai di halaman kos. Tenda sederhana, kursi, kursi kayu, makanan sederhana, nasi kuning, ayam goreng, sayur lodeh, sambal goreng kentang, dan kerupuk.
Tidak ada hiburan. Tidak ada musik. Hanya obrolan hangat, tawa lepas, dan doa, doa yang dipanjatkan bersama.
"Guntur," panggil Arga.
"Iya."
"Aku bangga sama kamu."
"Kenapa?"
"Karena kamu tidak berubah. Setelah sekian lama, setelah sekian banyak ujian, setelah sekian banyak tekanan, kamu tetap menjadi dirimu sendiri."
"Aku tidak pantas dibanggakan."
"Kamu pantas. Lebih pantas dari aku."
Mereka berpelukan.
"Laras," panggil Sekar.
"Iya."
"Aku juga bangga sama kamu."
"Kenapa?"
"Karena kamu berani mengakui kesalahan. Karena kamu berani memulai hidup baru. Karena kamu berani menerima cinta."
"Terima kasih, Sekar."
"Kita saudara sekarang. Ipar."
"Ipar?"
"Iya. Suamiku dan suamimu sahabat. Artinya kita ipar."
Mereka tertawa.
DOA DARI MBAH JAYARASA (ARWAH)
Saat acara syukuran hampir selesai, Arga berdiri. Ia memegang peta usang pemberian Mbah Jayarasa.
"Teman, teman, aku mau membacakan sesuatu. Ini pesan terakhir Mbah Jayarasa untuk Guntur dan Laras."
Semua terdiam.
Arga membuka peta itu, peta yang dulu kosong, kini penuh garis. Garis yang menceritakan perjalanan mereka. Garis yang menceritakan perjuangan mereka. Garis yang menceritakan cinta mereka.
"Guntur, Laras," baca Arga. "Kalian tidak perlu pesta mewah. Kalian tidak perlu undangan berlapis emas. Kalian tidak perlu gaun pengantin dari Paris. Cinta tidak butuh semua itu."
"Cinta butuh keberanian. Keberanian untuk jujur. Keberanian untuk setia. Keberanian untuk bertahan."
"Kalian sudah membuktikan semua itu. Dalam perjuangan melawan Ferry. Dalam pengkhianatan dan pengampunan. Dalam luka dan penyembuhan."
"Sekarang, nikmati kebahagiaan. Nikmati kedamaian. Nikmati cinta yang telah kalian rebut dari tangan takdir."
"Salam untuk Arga, Sekar, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Mbok Darmi, Pak Bondan, Samsul, dan semua yang membantu."
"Aku akan selalu mengawasi dari alam sana."
"—Jayarasa"
Ruangan hening.
Ada yang menangis. Ada yang tersenyum. Ada yang memandang langit, langit, seolah, olah Mbah Jayarasa sedang tersenyum dari atas sana.
"Terima kasih, Mbah," bisik Guntur.
"Terima kasih, Mbah," bisik Laras.
MALAM PERTAMA GUNTUR DAN LARAS
Jam sembilan malam, semua tamu pulang. Guntur dan Laras masuk ke kamar kos Laras, kamar yang sudah disulap menjadi kamar pengantin sederhana. Dindingnya dihias bunga kertas, lampu tidur menyala temaram, seprai baru berwarna krem.
Mereka duduk di dipan.
"Laras," panggil Guntur.
"Iya."
"Aku tidak bisa memberi kamu istana."
"Aku tidak butuh istana."
"Aku tidak bisa memberi kamu mobil mewah."
"Aku tidak butuh mobil mewah."
"Aku tidak bisa memberi kamu perhiasan mahal."
"Aku tidak butuh perhiasan mahal."
"Aku hanya bisa memberi kamu diriku. Apa adanya. Dengan segala kekurangan."
Laras memeluk Guntur.
"Itu sudah lebih dari cukup."
Mereka berpelukan lama.
PAGI YANG CERAH
Keesokan paginya, Guntur dan Laras keluar kamar lebih lambat dari biasanya. Wajah mereka segar, seperti orang yang baru saja tidur nyenyak setelah sekian lama tidak bisa tidur.
"Selamat pagi, pengantin baru!" sapa Faruq yang sudah duduk di halaman.
"Pagi," jawab Guntur singkat.
"Kok kelihatan damai?"
"Karena kami tidak begadang."
"Ah, masa?"
"Faruq, jangan usil," kata Nisa.
"Aku hanya bertanya."
"Pertanyaanmu menggoda."
"Tidak. Aku serius."
Mbok Darmi keluar dari dapur dengan nampan berisi nasi uduk dan teh jahe.
"Makan dulu, Nduk. Jangan nunggu pada lapar."
"Terima kasih, Mbok."
Mereka makan bersama. Tanpa beban. Tanpa ancaman. Tanpa rasa takut.
Kos, kosan yang dulu menjadi markas perjuangan, kini menjadi rumah.
Rumah bagi mereka yang percaya pada cinta.
Rumah bagi mereka yang percaya pada persahabatan.
Rumah bagi mereka yang percaya pada kebenaran.
BAB 43
KEMBALI KE DESA , MENATA HIDUP BARU
Tiga bulan setelah pernikahan Arga dan Sekar, kehidupan di kos-kosan Mbok Darmi mulai sepi. Bukan karena ada yang meninggal atau pergi untuk selamanya. Tapi karena sebagian besar penghuni kos mulai menata hidup baru masing, masing. Faruq dan Nisa sibuk dengan skripsi dan penelitian. Dimas memutuskan untuk pindah ke kota lain untuk bekerja sebagai teknisi jaringan. Guntur dan Laras tinggal di kos sambil mempersiapkan diri untuk berangkat ke Belanda, beasiswa S3 Guntur akhirnya cair, dan Laras mendapat beasiswa pendamping dari lembaga yang sama.
Tapi ada satu pasangan yang memilih jalan yang berbeda.
Arga dan Sekar.
Mereka memutuskan untuk tidak kembali ke Jogja. Tidak melanjutkan hidup di kos. Tidak mengejar karir di kota. Mereka memilih pulang. Pulang ke desa. Pulang ke Wringinrejo. Pulang ke tempat di mana semuanya dimulai, di Kali Wening, di pohon randu, di rumah sederhana peninggalan orang tua.
"Aku tidak butuh gedung, gedung tinggi," kata Arga pada Guntur malam sebelum keberangkatannya. "Aku tidak butuh lampu, lampu neon yang menyala sepanjang malam. Aku tidak butuh hiruk, pikuk kota yang tidak pernah tidur. Aku butuh ketenangan. Aku butuh sawah. Aku butuh sungai. Aku butuh desa."
"Dan Sekar?" tanya Guntur.
"Dia setuju. Dia bilang, 'di mana kau di situ aku.'"
"Kalian beruntung."
"Bukan keberuntungan. Pilihan."
Mereka bersalaman, salaman terakhir sebagai teman seperjuangan, sebelum masing, masing menjalani kehidupan yang berbeda.
PERJALANAN TERAKHIR
Mobil sewaan yang sama yang dulu membawa mereka ke vila Merapi, ke hutan jati, ke berbagai medan perang, kini membawa mereka pulang untuk terakhir kalinya. Arga di kursi depan, Sekar di sampingnya. Guntur, Laras, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, dan Mbok Darmi ikut mengantar, hanya sampai terminal, karena mereka harus kembali ke rutinitas masing, masing.
"Mas Arga, jangan lupa kabari," kata Dimas sambil memeluk Arga.
"Iya. Kamu juga."
"Kalau ada apa, apa, telepon. Saya siap bantu."
"Terima kasih, Dimas. Jasa, jasamu tidak akan saya lupakan."
"Sama, sama, Mas."
Faruq memeluk Arga. "Mas Arga, saya titip Sekar. Jaga dia baik, baik."
"Saya akan jaga, Faruq. Saya janji."
"Kalau kamu sakiti dia, saya akan cari kamu ke desa."
"Siap."
Mereka semua tertawa.
Nisa memeluk Sekar. "Mbak Sekar, bahagia selalu."
"Kamu juga, Nisa. Semoga cepat menyusul."
"Aamiin."
Guntur memeluk Arga. "Kita sudah melalui banyak hal bersama. Kita sudah seperti saudara."
"Kita memang saudara, Guntur. Bukan karena darah. Tapi karena perjuangan."
"Jaga diri."
"Kamu juga. Di Belanda, jangan cari masalah."
"Aku tidak pernah mencari masalah. Masalah yang mencari aku."
Mereka tertawa lagi.
Laras memeluk Sekar. "Terima kasih untuk semuanya."
"Terima kasih kembali, Laras. Kamu telah berubah."
"Karena kalian."
"Karena kita."
Mbok Darmi memeluk Arga dan Sekar bergantian. "Nduk, Le, jangan lupa pulang ke Jogja. Sesekali. Untuk main. Untuk bernostalgia."
"Kami tidak akan lupa, Mbok."
Mbok Darmi menangis.
TIBA DI DESA
Jam delapan malam, bis tiba di terminal desa Wringinrejo. Hanya Arga dan Sekar yang turun. Yang lain sudah turun di perjalanan di kota, di kabupaten, di kecamatan.
Desa gelap. Sunyi. Hanya lampu, lampu rumah penduduk yang menyala remang, remang. Suara jangkrik mengisi malam. Suara kodok dari sawah. Suara angin dari bukit.
Arga menggandeng tangan Sekar. Mereka berjalan menyusuri jalan setapak yang berlumpur. Membawa dua koper kecil, berisi pakaian, surat, surat, bantal kebaya, peta usang, dan kenangan, kenangan lain yang tidak bisa ditinggalkan.
"Arga, gelap," bisik Sekar.
"Pegang tanganku erat, erat."
"Aku takut jatuh."
"Aku akan menangkapmu."
Mereka berjalan perlahan. Setiap langkah mengingatkan mereka pada masa lalu. Pada saat mereka masih kecil, bermain di pematang sawah. Pada saat remaja, jatuh cinta di tepi Kali Wening. Pada saat berpisah karena perjodohan. Pada saat berjuang untuk bersatu kembali.
Dan kini, mereka kembali.
Bukan sebagai anak-anak desa yang lugu.
Bukan sebagai remaja yang sedang jatuh cinta.
Tapi sebagai suami istri yang siap menjalani hidup bersama.
RUMAH KECIL DI PINGGIR SAWAH
Rumah itu masih sama. Dinding papan kayu tua yang mulai melengkung. Atap genteng yang ditumbuhi lumut. Halaman depan dengan pohon mangga yang akarnya menjulur ke tanah. Tapi ada yang berbeda. Rumah itu sudah dicat ulang oleh Sukmawati dan Sastro. Halaman depan dibersihkan dari rumput liar. Pagar bambu diperbaiki. Lampu, lampu minyak dinyalakan di beranda.
"Bu! Yah! Kami pulang!" teriak Arga.
Sukmawati keluar dari rumah. Wajahnya berbinar.
"Le! Nduk! Masuk! Masuk!"
Sastro juga keluar. Ia tersenyum, senyum yang jarang muncul. "Kalian sudah sampai. Masuk. Istirahat. Besok kita bersih, bersih."
Mereka masuk ke rumah.
Rumah itu terasa hangat. Bukan karena lampu minyak. Tapi karena hati yang saling menerima.
MALAM PERTAMA DI DESA
Arga dan Sekar tidur di kamar yang dulu ditempati Arga. Dipan bambu yang sama. Dinding yang sama. Jendela yang sama.
"Arga," panggil Sekar dalam gelap.
"Iya."
"Apa kita akan bahagia di sini?"
"Kita akan bahagia. Di mana pun. Selama kita bersama."
"Tapi, "
"Tidak ada tapi. Kita sudah melewati yang terberat. Sisanya, kita nikmati."
Sekar memeluk Arga.
"Arga, aku sayang kamu."
"Aku juga sayang kamu, Sekar. Sampai mati. Sampai setelah mati."
PAGI DI DESA
Keesokan paginya, Arga terbangun lebih awal dari biasanya. Matahari baru saja terbit. Cahaya keemasan masuk melalui jendela, jatuh di wajah Sekar yang masih tertidur. Ia tersenyum.
Ia keluar rumah. Di halaman, Sukmawati sudah menyapu. Sastro sudah duduk di kursi bambu, minum kopi hitam.
"Bu, aku mau ke Kali Wening."
"Sendirian?"
"Ajak Sekar. Nanti kalau dia bangun."
"Jaga-jaga. Jangan lama. Nanti sarapan."
"Siap, Bu."
KALI WENING
Arga berjalan menyusuri pematang sawah menuju Kali Wening. Setiap langkah membawa kenangan. Di sinilah ia pertama kali melihat Sekar duduk di batu besar, di bawah pohon waru, dengan gaun biru muda dan rambut panjang tergerai.
Di sinilah mereka pertama kali berbicara.
Di sinilah mereka pertama kali tertawa.
Di sinilah mereka pertama kali berbagi rahasia.
Di sinilah mereka pertama kali jatuh cinta.
Arga duduk di batu besar itu. Ia memandang air sungai yang jernih. Ikan, ikan kecil berenang di sela, sela batu. Burung, burung beterbangan rendah.
"Sekar," bisiknya. "Kita sudah kembali."
Ia mengeluarkan peta usang dari saku celananya. Peta itu kini tidak berguna lagi. Garis, garisnya sudah hampir tidak terlihat. Tapi Arga tidak bisa membuangnya.
Peta itu adalah saksi bisu perjalanannya.
Peta itu adalah simbol harapan.
Peta itu adalah kenangan tentang Mbah Jayarasa.
Ia melipat peta itu. Memasukkannya ke saku.
Lalu tersenyum.
BAB 44
PETA YANG TERISI
Satu tahun telah berlalu sejak Arga dan Sekar memutuskan untuk kembali ke desa Wringinrejo. Waktu berlalu begitu cepat, seperti air Kali Wening yang terus mengalir tanpa pernah berhenti. Musim hujan berganti kemarau, kemarau berganti hujan, dan sawah, sawah di belakang rumah mereka telah dua kali dipanen.
Kehidupan di desa berjalan lambat, tenang, tanpa tekanan. Arga membantu ayahnya di sawah setiap pagi, mengajar anak, anak desa mengaji setiap sore, dan tidur nyenyak setiap malam tanpa mimpi buruk tentang Ferry atau preman atau penculikan. Sekar membantu ibunya memasak dan berjualan pecel di pasar desa setiap Kamis pagi. Ia juga membuka kursus membaca dan menulis untuk anak, anak yang putus sekolah.
Mereka tidak kaya. Tapi mereka bahagia.
Dan bagi mereka, itu sudah cukup.
PAGI DI BAWAH POHON RANDU
Hari Minggu pagi, langit cerah. Matahari belum terlalu tinggi. Kabut tipis masih menggantung di atas sawah. Arga dan Sekar berjalan berdua menuju Bukit Watu Senja, tempat di mana pohon randu tua berdiri kokoh sejak puluhan tahun lalu, menyaksikan lahirnya kisah cinta mereka.
"Arga, ingatkah kau dulu kita sering ke sini?" tanya Sekar sambil menggenggam erat tangan suaminya.
"Ingat. Waktu kita masih kecil. Waktu kita masih polos. Waktu kita belum tahu apa, apa tentang cinta."
"Sekarang kita tahu?"
Arga tersenyum. "Sekarang kita tahu. Bahwa cinta tidak semudah yang kita bayangkan. Cinta butuh perjuangan. Cinta butuh pengorbanan. Cinta butuh air mata. Tapi di akhir semua itu, cinta juga memberikan kebahagiaan. Kebahagiaan yang tidak bisa digantikan oleh apa pun."
Mereka sampai di bawah pohon randu.
Pohon itu masih sama seperti dulu. Batangnya besar, akarnya menjalar ke tanah, cabangnya melebar seperti tangan raksasa yang melindungi siapa pun yang berteduh di bawahnya. Daun, daunnya rimbun, menghalangi sinar matahari yang mulai meninggi.
Arga duduk di akar pohon yang besar. Sekar duduk di sampingnya, bersandar di bahu suaminya.
"Arga," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa kita akan selamanya di sini?"
"Di mana?"
"Di desa ini. Di rumah ini. Di bawah pohon ini."
Arga terdiam sejenak. Ia memandang hamparan sawah di bawah bukit, ke arah rumah, rumah desa yang tampak kecil dari kejauhan, ke arah Kali Wening yang berkelok, kelok seperti ular perak, ke arah langit biru tanpa awan.
"Aku tidak tahu, Sekar. Tidak ada yang tahu masa depan. Tapi yang aku tahu, selama kita bersama, di mana pun kita, itu sudah cukup."
Sekar memejamkan mata. "Aku ingin kita di sini. Selamanya."
"Selamanya, Sekar. Janji."
PESAN TERAKHIR DARI MBAH JAYARASA
Saat mereka sedang duduk, seorang anak kecil laki, laki mendekat. Wajahnya familiar, mirip dengan anak yang dulu biasa mengantarkan surat, surat misterius dari Sekar ketika Arga masih bekerja di toko bangunan.
"Mas Arga," panggil anak itu.
"Iya, Le."
"Ini titipan. Dari Mbah Jayarasa."
Arga terkesiap. "Mbah Jayarasa? Dia sudah meninggal setahun yang lalu."
"Titipan ini ditinggalkan sebelum beliau meninggal. Beliau bilang, berikan pada Mas Arga ketika Mas sudah tenang. Ketika Mas sudah tidak sibuk berperang. Ketika Mas sudah bahagia."
Anak itu menyerahkan sebuah amplop coklat tua, yang sudah menguning karena usia. Arga menerimanya dengan tangan gemetar.
Anak itu pergi.
Arga membuka amplop itu perlahan, takut merusak isinya, kertas yang sudah rapuh, tulisan yang sudah mulai pudar.
"Le, jika kau membaca surat ini, berarti kau sudah menemukan kebahagiaan. Kau sudah menyelesaikan perjuangan. Kau sudah pulang."
"Aku tidak ingin mengganggu kebahagiaanmu dengan nasihat, nasihat panjang. Aku hanya ingin mengatakan satu hal."
"Jagalah Kali Wening. Jagalah pohon randu. Jagalah desa ini. Karena suatu hari nanti, anak cucumu akan bertanya tentang masa lalu. Tentang perjuangan. Tentang cinta. Tentang arti pulang."
"Jangan biarkan mereka lupa."
"Salam untuk Sekar. Untuk teman-temanmu. Untuk semua yang membantu."
"Aku akan selalu mengawasi dari alam sana."
"—Mbah Jayarasa"
Air mata Arga jatuh.
Ia tidak bisa menahan tangisnya.
Sekar memeluknya. "Arga, jangan nangis. Mbah Jayarasa tidak suka lihat kamu nangis."
"Aku nangis karena bahagia, Sekar. Karena kita sudah sampai. Karena perjuangan kita sudah selesai. Karena Mbah Jayarasa masih mengawasi kita."
Mereka berpelukan di bawah pohon randu.
Angin sore berembus.
Daun, daun bergemerisik.
Dan dari kejauhan, seolah ada suara tertawa—tawa tua yang khas, tawa Mbah Jayarasa yang dulu sering menghiasi malam, malam di desa ini.
Sore menjelang, Arga dan Sekar berjalan pulang ke rumah. Di halaman depan, Sukmawati sedang menyapu. Sastro sedang memperbaiki pagar bambu.
"Bu, Yah, kami pulang," kata Arga.
"Makan dulu. Ibu masak sayur asem."
"Siap, Bu."
Mereka makan bersama di ruang tengah. Lampu minyak menyala redup. Tawa dan canda menghiasi ruangan.
"Le," panggil Sastro.
"Iya, Yah."
"Ayah bangga sama kamu."
"Terima kasih, Yah."
"Kamu sudah menjadi laki, laki sejati. Laki, laki yang berani berjuang. Laki, laki yang berani bertanggung jawab. Laki, laki yang tidak pernah menyerah."
"Semua karena didikan Ayah dan Ibu."
"Bukan. Karena kamu memilih menjadi baik."
Mereka semua tersenyum.
TIDUR LELAP
Malam itu, Arga dan Sekar berbaring di dipan bambu. Jendela kamar terbuka, membiarkan angin malam masuk. Suara jangkrik dan suara kodok dari sawah mengisi keheningan.
"Sekar," panggil Arga.
"Iya."
"Kita sudah berhasil."
"Iya. Kita sudah berhasil."
"Apa yang akan kita lakukan besok?"
Sekar tersenyum. "Besok? Kita bangun pagi. Makan bubur buatan Ibu. Bantu ayah di sawah. Jualan pecel di pasar. Tidur lagi. Lusa? Sama. Minggu depan? Sama. Bulan depan? Sama. Tahun depan? Mungkin berbeda. Tapi yang penting, kita bersama."
"Iya. Yang penting kita bersama."
Mereka berdua memejamkan mata.
Tidur lelap.
Tanpa mimpi buruk.
Tanpa beban.
Tanpa rasa takut.
EPILOG
PETA YANG TERISI
Wanci subuh nyawang langit wiwit padhang,
Pengembara wis ora nglembara maneh,
Wis nemokake sing digoleki,
Wis tekan panggonan sing dikarepake.
Peta sing biyen kosong,
Saiki wis kebak garis,
Garis lurus, garis bengkong,
Garis tangis, garis tawa.
Peta sing biyen peteng,
Saiki wis padhang,
Merga ati sing wani peteng,
Bisa nemokake padhang.
Sekar wis ora dadi buronan impian,
Arga wis ora dadi pengembara sepi,
Jatmika wis ora kangen, kangenan,
Mbah Jayarasa wis ora nunggu, nunggu.
Kabeh wis mari,
Kabeh wis tenang,
Kabeh wis bali marang panggonane.
Pengembara wis pulang.
Terjemahan:
Waktu subuh memandang langit mulai terang,
Pengembara tidak lagi mengembara,
Sudah menemukan yang dicari,
Sudah sampai di tempat yang diinginkan.
Peta yang dulu kosong,
Kini sudah penuh garis,
Garis lurus, garis bengkok,
Garis tangis, garis tawa.
Peta yang dulu gelap,
Kini sudah terang,
Karena hati yang berani gelap,
Bisa menemukan terang.
Sekar tidak lagi menjadi buronan impian,
Arga tidak lagi menjadi pengembara sepi,
Jatmika tidak lagi rindu, rinduan,
Mbah Jayarasa tidak lagi menunggu, nunggu.
Semua sudah sembuh,
Semua sudah tenang,
Semua sudah kembali ke tempatnya.
Pengembara telah pulang.
TAMAT BUKU II: PETA DI BAWAH BINTANG
BERSAMBUNG KE BUKU III: PULANG DI BAWAH MENTARI
Sinopsis Singkat Buku III: Pulang di Bawah Mentari
Setelah perjuangan panjang di Buku I dan Buku II, Arga dan Sekar akhirnya menikah dan menetap di desa Wringinrejo. Namun, kehidupan pernikahan tidak selalu semulus yang dibayangkan. Ada tantangan baru yang harus mereka hadapi: membangun rumah tangga dengan keterbatasan ekonomi, mengatasi trauma masa lalu yang kadang masih muncul, dan menghadapi tekanan sosial dari warga desa yang masih menganggap Arga sebagai "anak aneh" yang lahir di bawah kilat tanpa suara.
Di sisi lain, Guntur dan Laras yang tinggal di Belanda mulai merencanakan kepulangan mereka ke Indonesia untuk mengabdi di kampung halaman. Faruq dan Nisa yang hubungannya semakin dekat harus menghadapi restu orang tua yang tidak mudah. Dimas yang kini menjadi pengusaha muda sukses mulai melirik Ratri, sahabat Arga yang setia. Samsul dan keluarganya mencoba memulai hidup baru di desa Wringinrejo, sambil terus berusaha melupakan masa lalunya sebagai mata-mata Ferry.
Dan di tengah semua itu, sebuah misteri baru muncul. Jatmika, kakak Arga yang meninggal dunia dan rohnya sempat gentayangan, memberikan tanda bahwa ada satu rahasia lagi yang belum terungkap. Rahasia tentang kelahiran Arga. Rahasia tentang dua langit di matanya. Rahasia tentang takdir yang sesungguhnya.
Akankah Arga dan Sekar mampu mempertahankan kebahagiaan mereka? Akankah rahasia terakhir Jatmika terungkap? Dan apakah arti "pulang" yang sesungguhnya bagi seorang pengembara yang telah kehilangan arah?
Semua akan terjawab di Buku III: PULANG DI BAWAH MENTARI.
Slamet Riyadi
29 Juli 2025 03:27:50
Semoga kita bisa kerjasama bu. ...