NOVEL
TAKDIR PENGGANTI CINTA
SAAT CINTA DATANG SETELAH KEHILANGAN
DISCLAIMER
Cerita ini merupakan karya fiksi. Nama, tokoh, tempat, dan peristiwa seluruhnya merupakan hasil imajinasi penulis atau digunakan secara fiktif. Setiap kemiripan dengan orang hidup atau mati, atau peristiwa nyata, adalah kebetulan semata. Beberapa penggambaran penyakit dan kondisi medis telah dimodifikasi untuk keperluan cerita.
Oleh: Slamet Riyadi
PROLOG
Hujan belum reda meskipun sudah tiga jam mengguyur kota Cilacap. Air mengalir deras di selokan-selokan pinggir jalan, membawa dedaunan kering dan sampah-sampah kecil menuju muara di selatan. Lampu-lampu jalan menyala redup, sesekali berkedip seperti mata yang mengantuk. Suasana malam itu sunyi, hanya suara rintik hujan yang jatuh di atas atap seng toko kelontong dan suara sesekali mobil melintas di jalan raya yang sudah mulai tergenang.
Yulianto duduk bersandar di dinding toko kelontong yang sudah lama tutup. Toko itu milik Pak RT yang setiap malam selalu menutup rapat-rapat sejak jam delapan. Sekarang sudah hampir tengah malam, tapi Yulianto tidak peduli. Ia tidak tahu sudah berapa lama ia duduk di sini. Yang ia tahu adalah pakaiannya basah kuyup, rambutnya menempel di dahi, dan di tangannya ada secarik kertas yang sudah lembap karena terkena percikan air hujan.
Kertas itu adalah hasil fotokopian dari rekam medis yang ia ambil diam-diam dari kamar Nurmala, sahabat karibnya, cinta pertamanya, perempuan yang menolaknya dengan alasan yang tidak pernah ia mengerti... sampai malam ini.
Yulianto membuka kertas itu lagi. Tulisannya sedikit luntur karena air, tapi ia sudah hafal isinya. Ia sudah membacanya berkali-kali dalam tiga jam terakhir. Setiap kata tertanam di otaknya, setiap huruf menggores jantungnya.
"Malignansi stadium lanjut."
"Kenapa tidak bilang, Mala?" Bisik Yulianto.
Suaranya nyaris tak terdengar, tenggelam oleh deru angin yang menderu di sela-sela bangunan.
Ia menunduk. Air matanya jatuh, banyak, deras, tidak terbendung. Bercampur dengan butiran hujan yang menerpa wajahnya sehingga ia sendiri tidak tahu mana air mata dan mana air hujan. Yang jelas, dadanya sakit. Bukan sakit biasa, tapi sakit seperti ada pisau yang diputar-putar perlahan di ulu hatinya.
"Mala, kenapa? Kenapa?" Bisiknya lagi.
Dalam hatinya, Yulianto mengulang semua kejadian dalam beberapa bulan terakhir. Penolakan Nurmala yang tiba-tiba. Saran Nurmala untuk mendekati Kumala. Cara Nurmala yang terus menjaga jarak meskipun Yulianto sudah berusaha melupakannya. Semua tanda-tanda itu sekarang menjadi jelas. Nurmala tidak menolaknya karena ia tidak cinta. Nurmala menolaknya karena ia tahu ia akan mati muda.
"Lo egois, Mala. Lo egois banget." Gumam Yulianto sambil menggenggam kertas itu erat-erat hingga tangannya gemetar.
Angin bertiup lebih kencang. Sebuah botol plastik bekas terguling-guling di aspal basah. Seekor kucing hitam melompat dari pagar dan berlari menghilang ke dalam gang gelap. Yulianto tidak memperhatikan semua itu. Dunia di sekelilingnya terasa semu. Yang nyata hanya kertas di tangannya dan rasa sakit di dadanya.
"Ya Allah, kenapa harus dia? Kenapa bukan aku saja?" Bisiknya menatap langit yang gelap tanpa bintang.
Hujan mulai reda. Tetesannya tidak lagi deras, berganti menjadi gerimis halus yang terasa seperti jarum-jarum kecil menusuk kulit. Yulianto tidak bergerak. Ia masih duduk di posisi yang sama, menggenggam kertas itu, membiarkan tubuhnya basah dan dingin.
Ponselnya bergetar di saku celana. Yulianto mengeluarkannya dengan tangan gemetar. Layar ponsel basah, tapi masih menyala. Ada sepuluh panggilan tidak terjawab dari ibunya dan tiga pesan dari Kumala.
Ia membaca pesan Kumala.
"Kak Yuli, di mana? Hujan-hujan gini gak pulang-pulang."
"Kak, gue khawatir. Bales dong."
"Kak, gue telepon terus gak diangkat. Ada apa?"
Yulianto tidak membalas. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Bagaimana ia harus menjelaskan bahwa ia baru tahu bahwa kakak dari kekasihnya, bekas kekasihnya, sedang sekarat? Bagaimana ia harus menjelaskan bahwa selama berbulan-bulan ia dibohongi oleh dua saudari sekaligus? Dan yang lebih parah: bagaimana ia harus menjelaskan bahwa ia masih mencintai perempuan yang sebentar lagi akan mati?
Ia mematikan ponselnya. Tidak hari ini. Tidak malam ini. Malam ini ia hanya ingin sendiri dengan kesakitannya.
"Kenapa tidak bilang, Mala?" Ulangnya untuk kesekian kalinya.
Kali ini, ia membayangkan Nurmala ada di sampingnya. Ia membayangkan wajah sahabatnya itu dengan rambut pendek, senyum lebar, dan mata yang tajam seperti elang. Ia membayangkan Nurmala menjawab pertanyaannya.
"Karena gue sayang sama lo, Yuli." Jawab Nurmala dalam bayangannya.
"Sayang? Lo bilang sayang tapi lo sembunyiin penyakit lo dari gue?" Kata Yulianto lirih pada bayangan itu.
"Gue nggak mau lo sakit hati." Jawab bayangan Nurmala.
"Lo bohong! Gue sakit hati sekarang! Lebih sakit daripada lo nolak gue dulu!" Teriak Yulianto, dan untuk sesaat suaranya menggema di antara bangunan-bangunan kosong.
Kucing hitam itu muncul lagi, menatap Yulianto dari kejauhan dengan mata berwarna hijau menyala. Yulianto menatap balik.
"Pergi... lo pergi... semua pergi..." Bisik Yulianto.
Kucing itu tidak bergerak. Ia hanya mengeong pelan, lalu berbalik dan pergi.
Yulianto menghela napas panjang. Badannya terasa lemas. Ia menyandarkan kepalanya ke dinding toko. Dingin. Semuanya dingin.
"Mala, lo harus sembuh. Lo harus. Gue nggak rela lo mati. Belum. Belum saatnya." Bisiknya.
Tidak ada yang menjawab. Hanya angin yang menderu-deru seperti setan yang ikut menangis bersamanya.
Beberapa saat kemudian, Yulianto mendengar langkah kaki basah di aspal. Seseorang menghampirinya dari arah belakang. Ia tidak menoleh, terlalu lelah untuk peduli.
"Kak Yuli?"
Suara itu familiar. Suara yang tidak ingin ia dengar malam ini.
"Kak Yuli, beneran lo di sini? Ya Allah, Kak, lo kenapa sih? Hujan-hujan begini lo duduk-duduk di emperan?" Kata suara itu.
Kumala.
Yulianto menoleh. Kumala berdiri di hadapannya dengan payung biru tua di tangan kanan. Wajahnya basah, entah karena air hujan atau air mata. Matanya merah, sembab. Jaket tipis yang ia kenakan juga basah di beberapa bagian.
"Kumala? Lo ngapain di sini?" Tanya Yulianto dengan suara serak.
"Mencari kakak! Ibu kakak telepon ke rumah, bilang kakak belum pulang. Kak, lihat jam! Ini sudah jam dua belas malam! Hujan-hujan begini kakak pergi ke mana aja?" Jawab Kumala dengan nada panik.
"Kumala, pulang. Nggak usah repot-repot." Kata Yulianto.
"Pulang? Kakak bercanda? Kakak di sini basah kuyup kayak orang gila, kakak suruh gue pulang?" Kata Kumala.
Ia kemudian melihat kertas di tangan Yulianto.
"Itu apa, Kak?" Tanya Kumala.
"Bukan apa-apa." Jawab Yulianto cepat, berusaha menyembunyikan kertas itu.
"Bukain, Kak."
"Nggak usah, Kumala."
"Bukain, gue bilang!" Kata Kumala sambil meraih tangan Yulianto.
Yulianto mencoba melawan, tapi tubuhnya sudah terlalu lemas. Kumala berhasil merebut kertas itu. Ia membukanya. Matanya membaca. Yulianto melihat wajah Kumala berubah. Dari panik menjadi bingung, lalu syok, lalu hancur.
"Apa ini, Kak? Rekam medis? Milik siapa?" Tanya Kumala, suaranya bergetar.
"Kumala..."
"Ini tulisan nama kakak Mala. Ini rekam medis kakak Mala." Kata Kumala, suaranya nyaris tak terdengar.
"Kumala, dengarkan..."
"Malignansi stadium lanjut? Maksudnya apa, Kak? Ini maksudnya apa?" Potong Kumala, mulai panik.
Yulianto berdiri. Ia meraih bahu Kumala.
"Kumala, tenang dulu."
"Jangan suruh gue tenang! Jelaskan, Kak! Ini apa? Kakak Mala sakit? Sakit apa? Kenapa gue nggak tahu? Kenapa kakak yang tahu? Kenapa?" Teriak Kumala, suaranya pecah.
Yulianto menggenggam tangan Kumala. Tangan itu dingin, sedingin hujan malam ini.
"Kumala, Kakak Mala... dia sakit. Sudah lama. Dia diam-diam berobat. Aku baru tahu hari ini." Jawab Yulianto.
"Kanker? Kakak Mala kena kanker?" Tanya Kumala.
Yulianto mengangguk pelan.
"Kanker nasofaring, Kuma. Sudah stadium lanjut. Dokter bilang... dua tahun. Mungkin kurang." Jawab Yulianto.
Kumala terdiam. Tubuhnya lemas. Payung biru tua di tangannya terjatuh ke aspal basah. Hujan gerimis mulai membasahi rambutnya.
"Nggak... nggak mungkin, Kak. Kakak Mala kuat. Kakak Mala nggak pernah sakit. Dia tomboy. Dia main bola. Dia... dia..." Kumala tidak bisa melanjutkan.
"Aku tahu, Kuma. Aku juga nggak percaya." Kata Yulianto.
"Kenapa dia nggak bilang? Kenapa dia sembunyi? Kenapa..." Kumala menangis tersedu.
"Aku nggak tahu, Kuma. Mungkin dia nggak mau merepotkan. Mungkin dia nggak mau nyusahin keluarga." Jawab Yulianto.
Kumala memeluk Yulianto. Ia menangis di bahu Yulianto—bahunya itu basah, dingin, tapi ia tidak peduli.
"Kak Yuli, gue takut. Gue takut kehilangan kakak Mala." Isak Kumala.
"Aku juga, Kuma. Aku juga takut." Jawab Yulianto sambil memeluk balik.
Mereka berdua berdiri di emperan toko itu, tengah malam, di bawah hujan gerimis, memeluk satu sama lain dalam ketakutan yang sama.
Di kejauhan, kucing hitam itu muncul lagi. Ia mengeong sekali, lalu menghilang ke dalam gelap.
Yulianto menarik napas panjang. Udara dingin masuk ke paru-parunya, terasa menusuk.
"Kumala, kita harus pulang. Besok kita akan bicarakan ini. Kita harus tahu semuanya dari Mala langsung." Kata Yulianto.
"Iya, Kak. Tapi gue nggak kuat liat kakak Mala sakit. Gue nggak kuat." Jawab Kumala.
"Kita harus kuat, Kumala. Untuk Mala." Kata Yulianto.
Mereka berjalan di bawah hujan gerimis. Tidak ada payung. Tidak ada mantel. Hanya dua orang yang hancur hatinya berjalan pulang, berpegangan tangan, saling menguatkan.
Yulianto menggenggam kertas rekam medis itu erat-erat di tangannya yang lain.
"Kenapa tidak bilang, Mala?"
Masih pertanyaan yang sama. Masih belum terjawab.
Tapi malam ini terlalu gelap untuk mencari jawaban.
BAB I
SAHABAT KARIB BERBEDA RAHASIA
Perkenalan Yulianto dan Nurmala sejak kecil. Sifat tomboy Nurmala yang membuatnya lebih seperti "teman laki-laki" bagi Yulianto. Kedekatan mereka: main bola, mancing, kopi bareng, hiking. Yulianto mulai sadar bahwa ia nyaman dengan Nurmala, bukan sekadar sahabat.
Hari pertama Yulianto masuk SD Negeri 4 Cilacap, ia hampir menangis. Bukan karena takut dengan guru atau kesepian, melainkan karena ia lupa membawa bekal. Perut keroncongan sejak jam kedua. Saat jam istirahat tiba, semua anak berlarian ke kantin atau membuka kotak bekal masing-masing. Yulianto hanya bisa terdiam di bangkunya, menunduk malu.
Saat itulah seorang anak perempuan dengan rambut pendek hampir seperti tentara, kulit sawo matang, dan senyum lebar menghampirinya. Anak itu meletakkan sepiring nasi goreng lengkap dengan telur ceplok di depan Yulianto.
"Ets, lu kenapa diem aja? Makan dulu, nanti lemes." Kata anak perempuan itu sambil menarik kursi dan duduk di hadapannya.
"Nggak usah, nanti aku dibeliin ibu kalau pulang sekolah." Jawab Yulianto pelan.
"Bohong. Lu nggak bawa bekal, kan? Gue lihat dari tadi tas lu tipis banget. Udah makan aja, gue juga kebanyakan." Kata anak itu sambil mendorong piring lebih dekat.
"Nama lo siapa?" Tanya Yulianto mulai meluluh.
"Nurmala. Panggil Mala aja. Lo namanya Yulianto, kan? Gue dengar pas guru absen." Jawab Nurmala sambil menyuap nasi di mulutnya.
"Iya. Yulianto. Panggil Yuli aja." Kata Yulianto kemudian mulai makan.
Sejak hari itu, Yulianto dan Nurmala menjadi satu kesatuan yang sulit dipisahkan. Di kelas, mereka duduk bersebelahan. Saat pulang sekolah, mereka berjalan bersama meskipun arah rumah mereka berlawanan, Nurmala selalu rela memutar jalan hanya agar bisa menemani Yulianto sampai pertigaan pasar.
Tumbuh besar bersama membuat Yulianto lupa kalau Nurmala sebenarnya perempuan. Bukan karena Nurmala jelek, sebaliknya, ia punya rahang tegas, alis tebal, dan mata yang tajam seperti elang. Hanya saja, Nurmala lebih suka memakai kaos longgar, celana pendek di atas lutut, dan sepatu kets lusuh yang bolong di bagian jempol. Rambutnya tak pernah panjang melewati telinga. Ia lebih jago bermain bola daripada sebagian besar anak laki-laki di kompleks mereka.
Di usia dua belas tahun, Yulianto mulai sadar ada yang aneh dengan perasaannya. Saat ia bermain bola bersama Nurmala di lapangan tanah dekat sungai, tiba-tiba ia merasa berdebar setiap kali Nurmala tertawa. Bukan debar biasa, tapi debar yang membuatnya diam-diam memperhatikan gerak-gerik Nurmala.
Suatu sore, seusai bermain bola, mereka duduk di batu besar pinggir sungai. Keringat bercucuran. Sepatu bola Nurmala yang bolong itu ia lepas dan ia jemur di atas batu.
"Yuli, lo kenapa dari tadi diem?" Tanya Nurmala sambil mengibas-ngibaskan kaosnya yang basah.
Nurmala kemudian melihat Yulianto yang sedang menatapnya tidak seperti biasanya. Bukan tatapan sahabat, tapi tatapan yang membuat Nurmala merinding.
"Lo kenapa sih? Jangan-jangan lo jatuh cinta sama gue?" Ledek Nurmala sambil tertawa keras.
Yulianto tersentak. Wajahnya memanas.
"Apaan sih, Mala. Lo kan kayak laki-laki. Mana ada cowok jatuh cinta sama temen cowoknya sendiri." Jawab Yulianto berusaha terdengar biasa.
"Gue mah perempuan, goblok. Cuma ya gini gaya gue. Bukan berarti gue nggak bisa dicintai." Kata Nurmala masih dengan nada bercanda, tapi matanya tiba-tiba menghindar.
"Lo mau dicintai siapa? Tukang bakso depan sekolah?" Ledek Yulianto sambil menendang pelan betis Nurmala.
"Tolol. Gue mau dicintai cowok yang baik. Yang nggak ngeliat gue aneh gara-gara rambut pendek dan suka main bola. Yang nggak bilang gue kayak laki-laki." Jawab Nurmala tiba-tiba dengan nada serius.
Kali ini Yulianto terdiam. Ia merasa ada yang menusuk dadanya. Ia tidak suka mendengar Nurmala mengatakan seolah-olah ia tidak layak dicintai. Padahal di mata Yulianto, Nurmala lebih dari layak.
"Mala, lo tuh... cantik, tau." Kata Yulianto pelan.
Nurmala menoleh cepat. Matanya membulat.
"Lo nggak usah ngecengin gue, Yuli. Gue udah tau diri." Jawab Nurmala ketus.
"Beneran, Mala. Lo cantik dengan caramu sendiri. Gue suka..." Yulianto berhenti. Ia hampir mengatakan 'gue suka sama lo', tapi kata-kata itu mati di tengah jalan.
"Suka apa?" Tanya Nurmala dengan alis terangkat.
"Gue suka... main bola sama lo." Jawab Yulianto canggung.
Nurmala tertawa lagi. Tapi kali ini ada nada lega di tawanya.
Waktu terus berjalan. Mereka naik ke SMP yang sama, lalu ke SMA yang sama pula. Di setiap tahap, kedekatan mereka semakin dalam. Setiap Sabtu pagi, mereka pergi memancing ke waduk. Setiap Minggu sore, mereka ngopi di warung Mbok Darmi sambil bermain catur. Setiap libur panjang, mereka hiking ke bukit kecil di selatan kota.
Orang tua Yulianto mulai bertanya-tanya.
"Ayah lihat kamu itu terus sama Nurmala. Jangan-jangan kamu suka sama dia?" Tanya ayah Yulianto suatu malam di ruang keluarga.
"Enggak, Yah. Nurmala tuh kayak adik sendiri. Dia tomboy, gayanya kayak laki-laki." Jawab Yulianto berusaha meyakinkan, padahal di dalam hatinya ia bergolak.
"Kamu jangan salah, Nak. Perempuan itu kalau sudah dewisa bisa berubah. Nurmala itu baik. Keluarganya juga baik." Kata ibunya sambil menjahit.
"Ibu kok malah jodoh-jodohin sih. Aku masih SMA." Kata Yulianto kesal, lalu masuk ke kamar.
Tapi malam itu, Yulianto tidak bisa tidur. Ia membuka album foto lama di ponselnya. Ada ratusan foto bersama Nurmala. Foto saat mereka memegang ikan hasil pancingan. Foto saat Nurmala terjatuh dari sepeda dan Yulianto menolongnya. Foto saat Nurmala tertawa terbahak-bahak karena Yulianto memasang ekspresi lucu. Foto saat hujan deras dan mereka berdua berlindung di bawah pohon beringin.
Yulianto menyadari satu hal: tidak ada satu pun foto di mana ia terlihat bahagia tanpa Nurmala di sampingnya.
"Mala, lo bikin gue bingung," bisiknya sendirian.
Keesokan harinya, Yulianto mengajak Nurmala jalan-jalan ke alun-alun seperti biasa. Mereka duduk di bangku taman sambil memakan es krim. Suasana sore itu indah. Matahari berwarna jingga. Burung-burung beterbangan pulang ke sarang.
"Mala, gue mau serius nanya sama lo." Kata Yulianto sambil menatap es krimnya yang mulai meleleh.
"Serius kayak apa? Lo mau minjem duit lagi? Itu mah nggak usah serius-serius." Jawab Nurmala sambil menjilat es krim cokelatnya.
"Bukan. Lo jangan becanda dulu." Kata Yulianto tegas.
Nurmala berhenti menjilat. Ia memiringkan kepala. Matanya menyipit.
"Ada apa sih, Yuli? Lo bikin gue takut. Jangan-jangan lo sakit atau sesuatu." Kata Nurmala dengan nada mulai cemas.
"Gue nggak sakit, Mala. Gue... gue mau bilang sesuatu yang mungkin aneh buat lo." Kata Yulianto. Dadanya berdebar kencang. Tangannya berkeringat. Ia sudah berlatih mengucapkan kalimat ini seratus kali di depan cermin, tapi saat ini semua latihan itu sirna.
"Bilang aja, Yuli. Kita udah sahabatan lama. Apa pun itu, gue nggak akan marah." Jawab Nurmala lembut.
Yulianto menarik napas panjang. Ia mengerahkan seluruh keberaniannya. Kemudian ia menoleh ke arah Nurmala, menatap mata cokelat yang selalu ia lihat setiap hari selama bertahun-tahun itu, dan berkata:
"Mala, gue... gue suka sama lo. Bukan kayak suka teman biasa. Gue suka suka. Gue pengen lo jadi pacar gue." Kata Yulianto.
Dunia terasa berhenti.
Nurmala terdiam. Ia tidak bergerak. Es krimnya menetes ke tangan, tapi ia tidak peduli. Wajahnya berubah menjadi sesuatu yang sulit dibaca. Antara terkejut, bingung, dan takut.
"Yuli..." Nurmala memulai.
"Gue serius, Mala. Dari dulu sebenarnya gue suka sama lo. Cuma gue takut lo nolak. Tapi gue nggak bisa pendam terus. Gue nggak tahan." Kata Yulianto memotong, suaranya bergetar.
"Yuli, dengerin gue dulu." Kata Nurmala pelan.
"Iya." Jawab Yulianto, jantungnya berdebar minta ampun.
Nurmala meletakkan es krimnya di samping bangku. Ia menunduk sesaat, mengatur napas. Ketika ia mengangkat kepalanya lagi, matanya berkaca-kaca.
"Yuli, kita sahabatan aja ya." Kata Nurmala.
Satu kalimat. Pendek. Sederhana. Tapi bagi Yulianto, kalimat itu seperti pukulan martil ke dadanya.
"Ma... Mala, kenapa?" Tanya Yulianto, suaranya nyaris putus.
"Karena gue sayang sama lo. Tapi sayangnya beda. Lo itu sahabat terbaik yang pernah gue punya. Gue nggak mau kehilangan lo karena pacaran. Pacaran itu nggak ada yang abadi, Yuli. Yang abadi itu persahabatan." Jawab Nurmala. Air matanya mulai jatuh.
"Tapi Mala, gue bisa buktiin kalau gue serius. Gue nggak akan ninggalin lo." Kata Yulianto mencoba meyakinkan.
"Bukan itu masalahnya, Yuli." Kata Nurmala sambil menyeka air matanya dengan punggung tangan.
"Terus masalahnya apa? Lo takut sama omongan orang? Lo takut gue cuma iseng? Lo takut..." Yulianto bertanya dengan nada putus asa.
"Cukup, Yuli. Tolong jangan diterusin. Gue nggak mau bahas ini lagi. Gue mau pulang." Kata Nurmala tiba-tiba berdiri.
"Mala..." Yulianto juga berdiri.
"Tolong. Jangan ikutin gue." Kata Nurmala tanpa menoleh.
Nurmala berjalan cepat meninggalkan Yulianto yang terpaku di bangku taman. Bayangnya semakin kecil sampai akhirnya lenyap di tikungan jalan. Yulianto duduk kembali. Ia memegang es krim milik Nurmala yang sudah meleleh menjadi cairan cokelat menggenang di bangku.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Yulianto merasa kehilangan sesuatu yang belum pernah ia miliki.
Sepulang sekolah keesokan harinya, Yulianto tidak pergi ke warung kopi seperti biasa. Ia juga tidak bermain bola. Ia langsung pulang ke rumah dan mengurung diri di kamar. Ibunya mengetuk pintu berkali-kali, tapi Yulianto tidak menjawab.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Nurmala.
"Yuli, maafin gue. Bukan maksud gue buat nyakitin lo. Tapi percaya deh, ini yang terbaik buat kita berdua."
Yulianto membaca pesan itu berulang kali. Ia ingin marah. Ia ingin membalas dengan kata-kata pedas. Tapi yang ia lakukan hanyalah menangis.
Seminggu kemudian, mereka bertemu lagi di sekolah. Semua terasa canggung. Nurmala tersenyum seperti biasa, tapi ada jarak yang tidak terlihat. Yulianto berusaha bersikap biasa, tapi hatinya hancur setiap kali melihat Nurmala berbicara dengan teman laki-laki lain.
Suatu siang, Nurmala menghampiri Yulianto di kantin.
"Yuli, gue mau ngomong sesuatu." Kata Nurmala sambil duduk di hadapannya.
"Apa?" Jawab Yulianto dingin.
"Gue... gue punya ide. Mungkin ide gila. Tapi tolong dengerin dulu sebelum lo marah." Kata Nurmala.
Yulianto mengangkat alis. Ia tidak tahu harus bersikap apa.
"Apa ide lo, Mala?"
Nurmala menarik napas panjang. Ia menggigit bibir bawahnya, tanda ia sedang gugup.
"Lo kenal adik gue, kan? Kumala?" Tanya Nurmala.
"Iya. Kenapa? Dia adik lo yang kelas dua itu?" Jawab Yulianto bingung.
"Iya. Dia ... dia suka sama lo, Yuli." Kata Nurmala.
Yulianto tersentak. Kepalanya serasa berputar.
"Apa? Lo becanda?" Tanya Yulianto tidak percaya.
"Gue serius. Kumala cerita ke gue. Dia suka sama lo dari jauh-jauh hari. Cuma dia nggak berani ngomong karena takut lo nggak suka sama adiknya sahabatnya sendiri." Jawab Nurmala dengan mata memelas.
"Terus? Lo mau nyuruh gue pacaran sama adik lo? Demi apa?" Tanya Yulianto kesal.
"Demi lo, Yuli. Lo butuh pacar. Biar lo lupa sama... perasaan lo ke gue. Dan Kumala anaknya baik. Dia cantik, lembut, penurut. Dia akan sayang sama lo." Kata Nurmala.
Yulianto terdiam. Ia menatap Nurmala lama. Matanya mencari-cari sesuatu di wajah sahabatnya itu. Kepalsuan? Ketulusan? Atau mungkin rasa cemburu?
"Lo nggak cemburu, Mala?" Tanya Yulianto tiba-tiba.
Nurmala tersenyum pahit.
"Gue cemburu, Yuli. Tapi bukan karena gue cemburu sama lo. Gue cemburu karena lo akan bahagia sama orang lain. Dan gue nggak bisa kasih itu ke lo." Jawab Nurmala.
Yulianto menggeleng. Ia tidak mengerti. Ia tidak akan pernah mengerti.
"Gue pikir dulu, Mala." Kata Yulianto akhirnya.
"Jangan pikir lama-lama, Yuli. Karena Kumala nggak akan nunggu selamanya. Dan gue juga... gue nggak akan ada selamanya." Jawab Nurmala.
Kalimat terakhir itu membuat Yulianto bergidik. Ia tidak tahu mengapa. Tapi ada sesuatu di nada bicara Nurmala yang terasa... final. Seperti perpisahan yang tak terucapkan.
Namun saat itu, Yulianto tidak bertanya lebih lanjut. Ia mengira Nurmala hanya berbicara secara kiasan. Bahwa 'tidak akan ada selamanya' hanyalah ekspresi bahwa persahabatan mereka mungkin berubah jika Yulianto benar-benar berpacaran dengan Kumala.
Ia tidak tahu bahwa sebenarnya Nurmala sedang menghitung hari.
BAB II
KUMALA, ADIK YANG LUGU
Pertemuan pertama dengan Kumala melalui Nurmala. Kumala yang pendiam, manis, dan mulai menyimpan rasa. Konflik batin Yulianto: tertarik fisik pada Kumala, tapi hati lebih ke Nurmala. Nurmala mulai "menjodohkan" Yulianto dengan adiknya.
Tiga hari setelah percakapan di kantin itu, Yulianto belum juga memberi jawaban. Ia masih bingung. Kepalanya penuh dengan pikiran yang saling bertabrakan. Di satu sisi, ia merasa tidak etis mendekati adik dari sahabatnya sendiri, apalagi setelah sahabatnya itu baru saja menolak cintanya. Di sisi lain, ada rasa penasaran. Siapa sih Kumala sebenarnya? Selama ini Yulianto hanya tahu bahwa Kumala adalah adik Nurmala yang duduk di kelas dua SMA, dua tahun di bawah mereka. Wajahnya ia kenali sekilas, tapi tidak pernah benar-benar berinteraksi.
Nurmala tidak pernah membawa adiknya saat bermain bola atau memancing. Kumala adalah tipe perempuan yang berbeda seratus delapan puluh derajat dari Nurmala. Jika Nurmala tomboy dan ceplas-ceplos, maka Kumala digambarkan oleh teman-teman sekampus sebagai sosok yang pendiam, pemalu, dan sangat feminin.
Suatu malam, ponsel Yulianto bergetar. Sebuah pesan masuk dari Nurmala.
"Yuli, besok Kumala ultah. Gue mau kasih kejutan kecil di rumah. Lo dateng ya. Nggak usah bawa apa-apa, yang penting lo datang."
Yulianto membaca pesan itu berulang kali. Ia ingin membatalkan, tapi ada rasa penasaran yang menggerogotinya. Akhirnya ia membalas singkat.
"Oke. Jam berapa?"
"Jam 4 sore. Jangan telat."
Keesokan harinya, Yulianto datang tepat pukul empat sore. Ia memakai kemeja lengan pendek berwarna biru muda yang ibunya setrika khusus. Tanpa sadar, ia ingin memberi kesan baik. Rumah Nurmala terletak di ujung gang perumahan, sebuah rumah sederhana dengan cat hijau pudar dan halaman kecil yang dipenuhi pot bunga. Yulianto sudah sering ke sini untuk mengerjakan tugas kelompok, tapi kali ini ada yang berbeda.
Nurmala membukakan pintu dengan senyum lebar.
"Nah, akhirnya lo dateng juga. Masuk, Yuli. Kumala lagi di dalam." Kata Nurmala sambil menarik tangan Yulianto.
Ruang tamu rumah itu sudah dihiasi balon-balon warna-warni. Di meja tengah terdapat kue tart berukuran sedang dengan lilin berbentuk angka tujuh belas. Dan di samping kue itu, duduk seorang gadis yang membuat Yulianto berhenti melangkah.
Kumala.
Gadis itu duduk dengan kedua tangan di pangkuan. Rambutnya panjang sebahu, diikat setengah ke belakang dengan jepit sederhana. Wajahnya bulat dengan pipi yang sedikit merona alami. Matanya bulat dan bening, seperti kelereng cokelat yang mengilap. Ia memakai gamis merah muda polos tanpa motif. Saat melihat Yulianto masuk, Kumala langsung menunduk. Wajahnya memerah.
"Kumala, ini Yuli. Sahabat kakak. Lo kan udah kenal." Kata Nurmala sambil mendorong Yulianto lebih dekat.
"Ha... halo, Kak Yuli." Sapa Kumala dengan suara nyaris berbisik. Matara masih tertunduk.
"Halo, Mala... eh, maksudnya Kumala. Selamat ulang tahun, ya." Jawab Yulianto canggung. Ia mengulurkan tangannya, tapi Kumala hanya mengangguk dan tidak menyambut. Nurmala tertawa.
"Udah, jangan kaku-kaku. Yuli, duduk sana. Kumala, ambil minum buat kakak Yuli." Kata Nurmala seperti seorang sutradara.
Kumala beranjak ke dapur dengan langkah cepat. Yulianto duduk di sofa yang berhadapan dengan kursi tempat Kumala tadi duduk. Nurmala duduk di sampingnya.
"Gimana? Cantik kan adik gue?" Bisik Nurmala dengan nada menggoda.
"Mal... lo jangan aneh-aneh." Jawab Yulianto pelan.
"Gue serius, Yuli. Kumala itu anaknya baik banget. Dia nggak pernah keluar malam. Nggak pernah pacaran. Setiap pulang sekolah langsung bantu ibu di rumah. Jago masak juga." Kata Nurmala seperti sedang mempromosikan barang dagangan.
"Mala, lo kayak mak comblang aja." Kata Yulianto kesal.
"Emang gue mak comblang. Mak comblang buat lo sama adik gue." Jawab Nurmala enteng.
Kumala kembali dari dapur membawa segelas jus jeruk. Tangannya sedikit gemetar saat meletakkan gelas itu di meja di depan Yulianto.
"Ma... makasih, Kak Kumala." Kata Yulianto.
"Panggil Mala aja, Kak. Biar nggak canggung." Jawab Kumala pelan.
"Nggak ah, nanti sama dengan panggilan kakak lo." Kata Yulianto.
"Panggil Kumala aja. Teman-teman sekolah gue manggil gitu." Kata Kumala masih dengan suara yang nyaris tak terdengar.
"Oke, Kumala. Sekali lagi selamat ulang tahun. Maaf gue nggak bawa kado." Kata Yulianto.
"Nggak apa-apa, Kak. Kakak dateng aja udah seneng." Jawab Kumala Spontan, lalu ia langsung menutup mulutnya sendiri seolah sadar telah terlalu banyak bicara. Wajahnya memerah sampai ke telinga.
Nurmala terkikik geli.
"Kumala, jangan norak, dong." Ledek Nurmala.
"Ka... kakak nggak norak!" Sanggah Kumala kesal.
Sepanjang acara ulang tahun sederhana itu, Yulianto diam-diam mengamati Kumala. Ia ingin membenci gadis ini. Ia ingin merasa tidak nyaman. Tapi kenyataannya, ia justru merasa... tenang. Kehadiran Kumala seperti air dingin di saat panas terik. Ada kesejukan yang aneh.
Namun setiap kali matanya bertemu dengan mata Nurmala, jantungnya berdebar lagi. Dan setiap kali ia melihat Nurmala tersenyum, ia kembali teringat pada penolakan yang menyakitkan itu.
"Mendingan lo pacaran sama adik gue, Yuli. Daripada lo menderita sendirian." Kata Nurmala saat mereka berdua di dapur, membantu mencuci piring.
"Lo nggak bisa maksain perasaan orang, Mala." Jawab Yulianto sambil menggosok piring dengan spons.
"Gue nggak maksa. Gue cuma kasih saran. Lo kenalan dulu sama dia, jalan bareng, ketawa bareng. Siapa tau lo suka." Kata Nurmala.
"Terus lo? Lo nggak apa-apa liat gue sama adik lo?" Tanya Yulianto menatap Nurmala tajam.
Nurmala berhenti mencuci. Ia menatap busa sabun di tangannya. Ada jeda yang panjang.
"Gue nggak apa-apa, Yuli. Yang penting lo bahagia." Jawab Nurmala akhirnya.
Yulianto mendengar ada getaran aneh di suara Nurmala. Seperti seseorang yang sedang menahan tangis. Tapi ia memilih untuk tidak bertanya.
Sejak malam itu, Nurmala mulai gencar menjodohkan. Setiap ada kesempatan, ia akan mengajak Yulianto ke rumahnya dengan alasan apa pun. Belajar bareng, nonton film, bahkan sekadar makan malam. Dan di setiap kesempatan itu, Kumala selalu ada. Kadang Kumala hanya duduk di sudut ruangan sambil membaca buku, kadang ia membantu ibunya menyajikan makanan.
Suatu sore, Yulianto diajak Nurmala pergi ke toko buku. Namun sesampainya di sana, Nurmala mengaku ada urusan mendadak.
"Maaf, Yuli. Gue harus jemput ibu di pasar. Lo temanin Kumala dulu, ya. Nanti gue jemput." Kata Nurmala lalu pergi tanpa menunggu jawaban.
Yulianto dan Kumala terdiam berdua di depan toko buku. Kumala menggigit bibir bawahnya, tanda ia gugup.
"Ka... Kak Yuli, kita masuk aja, yuk." Kata Kumala memecah keheningan.
"Iya, ayo." Jawab Yulianto.
Mereka berdua masuk ke toko buku. Kumala langsung berjalan ke rak novel remaja. Yulianto mengikutinya dari belakang. Ia melihat Kumala mengambil sebuah buku bersampul merah muda, membaca sinopsis di belakangnya dengan serius.
"Kuma suka baca novel?" Tanya Yulianto.
"Iya, Kak. Terutama novel cinta." Jawab Kumala malu-malu.
"Lo percaya sama cerita cinta di novel?" Tanya Yulianto lagi.
Kumala menoleh. Matanya berbinar.
"Percaya, Kak. Gue percaya kalau cinta sejati itu ada. Mungkin nggak semanis di novel, tapi pasti ada." Jawab Kumala dengan keyakinan yang mengagetkan Yulianto.
"Lo pernah jatuh cinta, Kumala?" Tanya Yulianto tanpa berpikir.
Kumala terkejut. Bukunya hampir jatuh. Wajahnya memerah lagi.
"Gu... gue ..." Kumala terbata.
"Maaf, kalau itu terlalu pribadi." Kata Yulianto cepat.
"Enggak, Kak. Gue... gue pernah. Sedang. Sekarang." Jawab Kumala dengan suara bergetar.
Yulianto menatap Kumala. Gadis itu sekarang menunduk sangat dalam, hampir menyembunyikan wajahnya di balik buku.
"Orangnya beruntung." Kata Yulianto pelan.
Kumala tidak menjawab. Tapi dari balik bukunya, Yulianto bisa melihat ujung telinga Kumala yang merah padam.
Malam harinya, Yulianto tidak bisa tidur. Ia memikirkan Kumala. Wajahnya. Caranya tersenyum malu-malu. Caranya menggigit bibir saat gugup. Caranya memegang buku dengan kedua tangan seperti sedang memeluk sesuatu yang berharga.
Tapi setiap kali bayangan Kumala muncul, bayangan Nurmala langsung menyusul. Dan Yulianto kembali tersiksa.
Ia sadar bahwa ia sedang berada di persimpangan yang berbahaya. Tertarik pada adik dari sahabat yang ia cintai. Atau... mungkin ia hanya mencari pelarian? Pelarian dari rasa sakit karena ditolak.
"Tuhan, gue bingung banget." Bisik Yulianto ke langit-langit kamarnya.
Seminggu kemudian, Nurmala mengajak Yulianto makan malam di rumahnya lagi. Kali ini orang tua Nurmala dan Kumala juga ada. Suasana hangat. Ibu Nurmala, yang biasa dipanggil Bu Rahma, memasak ayam goreng lengkap dengan sambal terasi dan lalapan.
"Nak Yuli, kamu kok jarang main ke sini sekarang? Dulu sering banget." Kata Bu Rahma sambil menyendok nasi ke piring Yulianto.
"Kuliah agak sibuk, Bu." Jawab Yulianto sopan.
"Sibuk kuliah atau sibuk pacaran?" Tanya Pak Heru, ayah Nurmala, dengan nada bercanda.
"Belum pacaran, Pak." Jawab Yulianto.
Pak Heru tertawa.
"Kumala juga belum pacaran. Cocok tuh kalian." Kata Pak Heru iseng.
"Yah!" Seru Kumala kesal. Wajahnya langsung merah.
"Kumala, jangan malu-malu. Kak Yuli itu anak baik. Ayah suka." Kata Pak Heru menambahkan.
"Pak Heru, jangan jodoh-jodohin dong. Saya malu." Kata Yulianto ikut tersipu.
Bu Rahma tersenyum melihat interaksi itu. Ia menatap Yulianto dengan mata sayang.
"Nak Yuli, ibu sudah anggap kamu kayak anak sendiri. Kalau memang ada perasaan sama Kumala, jangan sungkan-sungkan, ya." Kata Bu Rahma.
"Ibu!" Seru Kumala. Ia meletakkan sendoknya dan berlari ke kamar.
Nurmala tertawa terbahak-bahak.
"Ibu, ayah, kalian tuh nggak bisa diem aja, sih. Kan jadi malu-maluin." Kata Nurmala.
Setelah makan malam, Yulianto berpamitan. Nurmala mengantarnya ke depan pagar. Lampu teras menyorot wajah mereka berdua.
"Lo liat kan, Yuli? Orang tua gue juga restuin." Kata Nurmala.
"Mala, gue masih bingung. Gue nggak tahu perasaan gue yang sebenernya apa." Jawab Yulianto jujur.
"Lo coba aja dulu. Deketin dia. Ajak dia jalan. Kalo ternyata nggak cocok, ya udah. Nggak ada yang rugi." Kata Nurmala.
"Lo yang rugi, Mala." Kata Yulianto tiba-tiba.
Nurmala mengerjapkan mata.
"Maksud lo?" Tanya Nurmala.
"Lo kehilangan gue. Karena kalau gue sama Kumala, gue nggak akan bisa deket sama lo lagi kayak dulu. Bakal ada batasan." Jawab Yulianto.
Nurmala tersenyum. Tapi senyumnya berbeda. Ada kesedihan yang dalam di balik bibir yang melengkung itu.
"Nggak apa-apa, Yuli. Gue nggak butuh lo deket sama gue. Gue butuh lo bahagia, walau bahagianya lo bukan sama gue." Kata Nurmala pelan.
Yulianto menatap Nurmala. Ia ingin memeluk sahabatnya itu. Ia ingin berteriak bahwa ia tidak peduli dengan penolakan, ia akan terus mencintai Nurmala. Tapi mulutnya terkunci.
"Aku pulang dulu, Mala." Kata Yulianto akhirnya.
"Hati-hati di jalan, Yuli." Jawab Nurmala.
Yulianto berjalan menjauh. Di pertigaan, ia berbalik. Nurmala masih berdiri di depan pagar, melambai kecil. Cahaya lampu teras membuat sosoknya terlihat seperti malaikat yang perlahan memudar.
BAB III
PENOLAKAN YANG MEMBINGUNGKAN
Yulianto menyatakan perasaan ke Nurmala. Nurmala menolak tegas: "Kita sahabatan aja, Yul." Yulianto kecewa berat. Saran Nurmala untuk mendekati Kumala.
Sebulan berlalu. Yulianto belum juga mengambil langkah mendekati Kumala. Ia masih bergulat dengan perasaannya sendiri. Setiap malam, ia bermain skenario di kepalanya. Apa yang akan terjadi jika ia memaksakan diri mendekati Kumala? Apakah itu adil bagi Kumala? Apakah itu adil bagi dirinya sendiri?
Sementara itu, Nurmala semakin sering menghindar. Awalnya hanya hal-hal kecil. Ia membalas pesan Yulianto lebih lambat dari biasanya. Ia menolak ajakan ngopi dengan alasan sibuk. Ia tidak lagi duduk di samping Yulianto saat jam kuliah berlangsung.
Yulianto mulai panik.
Suatu hari, ia mencegat Nurmala di depan gerbang kampus. Matahari sedang terik-teriknya. Nurmala memakai topi baseball dan kacamata hitam, sesuatu yang tidak biasa karena ia tidak pernah peduli dengan sinar matahari.
"Mala, lo kenapa sih akhir-akhir ini? Lo ngehindarin gue?" Tanya Yulianto dengan nada setengah memohon.
Nurmala berhenti. Ia tidak melepas kacamata hitamnya, jadi Yulianto tidak bisa melihat matanya.
"Nggak ada, Yuli. Gue cuma sibuk." Jawab Nurmala singkat.
"Bohong. Lo nggak pernah sibuk. Lo bahkan punya waktu buat main bola jam segini. Sekarang lo pakai kacamata hitam? Lo nggak pernah pakai itu." Kata Yulianto.
"Capek, Yuli. Mata gue perih. Udah, gue mau pulang." Kata Nurmala berusaha melewati Yulianto.
Yulianto menarik tangan Nurmala. Lembut tapi tegas.
"Mala, tolong. Jangan kayak gini sama gue. Kalau gue salah, bilang. Kalau gue bikin lo kesal, marahin. Tapi jangan diem-diem kayak gini." Kata Yulianto.
Nurmala terdiam. Badannya sedikit bergetar.
"Melepas gue, Yuli." Kata Nurmala pelan.
"Nggak mau. Nggak sampai lo jelasin semuanya." Jawab Yulianto keras kepala.
Nurmala menghela napas panjang. Ia melepas kacamata hitamnya. Mata Yulianto terbelalak. Mata Nurmala sembab dan merah. Bukan karena perih atau alergi. Itu adalah mata seseorang yang baru saja selesai menangis.
"Lo nangis, Mala?" Tanya Yulianto.
"Gue nggak nangis." Jawab Nurmala membantah.
"Jelas-jelas mata lo bengkak. Lo nangisin siapa?" Tanya Yulianto lagi.
"Urusan gue." Jawab Nurmala ketus.
"Mala, kita sahabat. Cerita sama gue. Jangan dipendam sendiri." Kata Yulianto lembut.
Nurmala menatap Yulianto. Matanya berkaca-kaca lagi. Ia menggigit bibir bawahnya, sama seperti yang sering dilakukan Kumala.
"Gue nggak bisa cerita, Yuli." Kata Nurmala.
"Kenapa?" Tanya Yulianto.
"Karena lo akan sakit hati." Jawab Nurmala.
"Sakit hati kenapa? Lo mau cerita tentang apa sih, Mala? Lo bikin gue takut." Kata Yulianto.
Nurmala menggeleng. Ia memasang kembali kacamata hitamnya.
"Lupakan, Yuli. Gue nggak jadi cerita. Sekarang, lepas gue. Gue benar-benar harus pulang." Kata Nurmala.
Yulianto tidak punya pilihan. Ia melepas tangan Nurmala. Gadis itu langsung berjalan cepat meninggalkannya. Yulianto menatap punggung Nurmala yang semakin menjauh. Ada sesuatu yang sangat tidak beres. Ia bisa merasakannya. Perutnya mual. Dadanya sesak.
Malam itu juga, Yulianto mengambil keputusan. Ia tidak akan menunggu lebih lama lagi. Ia akan menyatakan perasaannya sekali lagi. Kali ini lebih tegas. Ia tidak peduli jika harus ditolak untuk kesekian kalinya. Yang penting ia sudah berusaha.
Jam sembilan malam, Yulianto sampai di depan rumah Nurmala. Lampu ruang tamu masih menyala. Ia mendengar suara televisi dari dalam. Setelah mengambil napas panjang, ia menekan bel.
Pintu dibuka oleh Kumala. Gadis itu terkejut melihat Yulianto.
"Ka... Kak Yuli? Jam segini?" Tanya Kumala.
"Kumala, kakak lo ada?" Tanya Yulianto.
"Kakak Mala ada di kamar. Tadi dia kayaknya kurang enak badan. Kak, masuk dulu, yuk." Jawab Kumala membuka pintu lebih lebar.
"Enggak usah, Kumala. Tolong panggilkan dia. Gue mau ngomong sesuatu." Kata Yulianto.
Kumala mengangguk lalu berlari ke dalam. Tak lama kemudian, Nurmala keluar. Ia memakai baju tidur lengan panjang dan rambutnya agak acak-acakan. Wajahnya masih terlihat pucat.
"Yuli? Ada apa? Udah malam begini." Tanya Nurmala.
"Gue mau ngomong, Mala. Di luar aja." Kata Yulianto.
Nurmala menghela napas. Ia menoleh ke Kumala.
"Kumala, lo di dalam aja, ya." Kata Nurmala.
Kumala mengangguk lalu masuk kembali ke rumah, tapi pintu tidak ditutup rapat. Nurmala keluar dan berdiri di teras. Yulianto berdiri di halaman. Jarak mereka sekitar dua meter.
"Bilang, Yuli. Cepet. Gue kedinginan." Kata Nurmala.
"Mala, gue mau tanya sesuatu. Dan gue minta lo jawab jujur." Kata Yulianto.
"Apa?" Jawab Nurmala.
"Lo nolak gue karena apa? Jujur. Jangan alasan 'kita sahabatan aja' yang gitu-gitu." Kata Yulianto tegas.
Nurmala terdiam. Angin malam berembus pelan. Daun-daun di pohon depan rumah bergerak-gerak.
"Gue nolak lo karena gue nggak pantas buat lo, Yuli." Jawab Nurmala akhirnya.
"Kenapa nggak pantas? Lo cantik, lo baik, lo pinter. Lo lebih pantas daripada cewek-cewek lain yang gue kenal." Kata Yulianto.
"Gue nggak cantik." Sanggah Nurmala.
"Bohong. Lo cantik, Mala. Lo... lo mungkin nggak kayak cewek pada umumnya. Lo tomboy. Lo suka main bola. Tapi itu yang bikin gue suka sama lo. Lo beda. Lo nggak norak. Lo nggak manja-manja. Lo... lo nyata." Kata Yulianto dengan suara bergetar.
Nurmala menunduk. Yulianto melihat ada setetes air jatuh dari balik kacamata hitam yang masih ia pakai meski malam.
"Mala, lepas tuh kacamata. Gelap. Nggak liat." Kata Yulianto.
Nurmala tidak bergerak.
"Mala, tolong." Kata Yulianto mendekat.
Ia berdiri tepat di depan Nurmala. Perlahan, ia melepas kacamata hitam itu. Wajah Nurmala basah. Air mata mengalir deras. Matanya merah.
"Kenapa lo nangis?" Tanya Yulianto.
"Karena lo... lo bikin gue sedih." Jawab Nurmala terisak.
"Gue bikin lo sedih? Bukannya gue yang harusnya sedih karena lo nolak gue?" Kata Yulianto bingung.
"Lo nggak ngerti, Yuli." Kata Nurmala.
"Maka jelaskan. Biar gue ngerti." Kata Yulianto.
Nurmala menggeleng kuat-kuat.
"Nggak bisa. Gue nggak bisa jelasin. Pokoknya gue nggak bisa nerima perasaan lo. Titik." Kata Nurmala.
"Tapi kenapa? Kasih gue satu alasan yang masuk akal." Kata Yulianto memohon.
Nurmala menatap Yulianto. Matanya penuh dengan emosi yang sulit diuraikan. Rasa sakit. Rasa takut. Rasa sayang. Semua bercampur jadi satu.
"Karena lo... lo pantas dapat yang lebih baik dari gue, Yuli. Jauh lebih baik." Jawab Nurmala.
"Tidak ada yang lebih baik dari lo, Mala." Kata Yulianto.
"Ada. Kumala." Kata Nurmala.
Yulianto tertegun.
"Kumala lebih baik dari gue, Yuli. Dia cantik, lembut, baik hati, nggak punya masalah macam-macam. Dia perawan baik-baik. Dia anak yang menurut orang tua. Dia... dia sempurna buat lo." Kata Nurmala.
"Gue nggak cinta sama Kumala, Mala. Gue cinta sama lo." Kata Yulianto.
"Lo akan cinta sama dia kalau lo kenal lebih dekat. Percaya deh sama gue." Kata Nurmala.
"Kenapa lo maksa banget gue sama adik lo?" Tanya Yulianto kesal.
"Karena itu yang terbaik." Jawab Nurmala.
"Terbaik buat siapa? Buat lo? Buat gue? Atau buat Kumala?" Tanya Yulianto.
"Buat kita semua." Jawab Nurmala.
Yulianto menggeleng. Ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Nurmala tampak seperti orang yang berbeda. Bukan sahabatnya yang biasa tertawa lepas. Bukan teman main bolanya yang energik. Ini adalah Nurmala yang penuh dengan rahasia dan dinding tebal.
"Gue pulang, Mala. Gue nggak tahan." Kata Yulianto.
"Yuli, tunggu." Kata Nurmala meraih tangan Yulianto.
"Apa lagi?" Tanya Yulianto tanpa menoleh.
"Setidaknya... setidaknya coba. Deketin Kumala. Buktikan sendiri. Kalau setelah itu lo masih merasa nggak cocok, gue nggak akan maksa lagi." Kata Nurmala.
Yulianto berbalik. Ia menatap Nurmala lama.
"Lo janji? Kalau gue deketin Kumala dan ternyata gue nggak bisa, lo akan jujur sama gue tentang alasan lo nolak gue?" Tanya Yulianto.
Nurmala mengangguk.
"Janji." Jawab Nurmala.
Yulianto menghela napas panjang. Rasanya seperti memasuki sebuah perjanjian dengan iblis. Tapi ia tidak punya pilihan lain. Ia ingin tahu kebenaran. Ia ingin tahu mengapa Nurmala begitu keras menolaknya.
Dan jika satu-satunya jalan menuju kebenaran itu adalah melalui Kumala, maka ia akan mengambil jalan itu. Betapapun sakitnya nanti.
BAB IV
ATAS NAMA SAHABAT
Yulianto mulai mendekati Kumala. Kumala awalnya ragu karena tahu Yulianto lebih dekat ke kakaknya. Dorongan dari Nurmala membuat Kumala bersedia. Mereka resmi berpacaran.
Mulanya tidak mudah. Yulianto tidak tahu harus mulai dari mana. Ia tidak pernah mendekati perempuan secara resmi. Semua hubungan sebelumnya, kalau pun bisa disebut hubungan, hanya sebatas suka-sukaan di bangku sekolah yang tidak pernah serius.
Tapi kali ini berbeda. Ia bukan hanya mendekati seorang perempuan, ia mendekati adik dari sahabatnya sendiri. Dan ia melakukannya dengan setengah hati, karena di lubuk hatinya yang paling dalam, ia masih berharap bahwa ini semua hanya strategi untuk membuat Nurmala sadar bahwa ia serius.
Strategi yang sangat tolol, pikirnya.
Hari pertama ia coba mengirim pesan ke Kumala. Bukan pesan panjang, hanya sekadar "Selamat pagi, Kumala. Udah sarapan?"
Dua puluh menit kemudian, Kumala membalas. "Udah, Kak. Kakak sendiri?"
Yulianto tersenyum membaca balasan itu. Sederhana. Tidak berlebihan. Tidak ada emoji hati atau stiker ciuman. Hanya jawaban polos seorang gadis yang mungkin masih bingung kenapa kakak sahabatnya tiba-tiba menulisnya.
Mereka lalu bertukar pesan sepanjang hari. Topiknya ringan. Kuliah, tugas, film yang baru tayang, hingga makanan favorit. Yulianto menemukan bahwa Kumala ternyata sangat mudah diajak bicara selama ia yang memulai topik. Kumala jarang memulai percakapan, tapi ia selalu antusias membalas.
Hari kedua, Yulianto mengirim pesan lagi. Kali ini ia menawari Kumala menemani jalan-jalan ke mal.
"Kak, gue nggak enak sama kakak Mala." Balas Kumala.
"Kenapa?" Tanya Yulianto.
"Kak Mala kan deket banget sama Kakak. Jangan-jangan Kakak deketin gue cuma karena kasihan atau apa gitu."
Yulianto membaca pesan itu berulang kali. Ada rasa bersalah yang menusuk dadanya. Karena memang itulah kenyataannya. Ia mendekati Kumala karena disuruh, dipaksa, oleh Nurmala. Tapi ia tidak bisa mengakui itu.
"Nggak, Kumala. Kakak serius. Kakak suka sama kamu."
Bohong. Tapi Yulianto tidak tahu apa yang harus ia katakan.
"Beneran, Kak?"
"Beneran."
"Kakak nggak suka sama kakak Mala?"
Pertanyaan itu membuat Yulianto terdiam selama sepuluh menit. Ia ingin menjawab jujur. Ia ingin bilang, "Iya, kakak suka sama kakak kamu. Tapi kakak kamu nolak kakak." Tapi ia tidak bisa. Itu akan menghancurkan segalanya.
"Kakak dan kakak Mala cuma sahabat, Kumala. Udah dari kecil. Nggak lebih."
"Janji, Kak?"
"Janji."
Dua minggu berlalu. Yulianto dan Kumala semakin sering bertukar pesan. Mereka juga sudah dua kali pergi keluar bersama. Pertama ke mal, kedua ke taman kota. Di setiap pertemuan, Kumala selalu tampil rapi. Gamis yang bersih, rambut yang disisir rapi, dan wangi parfum yang samar-samar.
Namun ada yang mengganjal di hati Yulianto. Setiap kali ia bersama Kumala, ia terus membandingkan. Kumala lembut, Nurmala tegas. Kumala pemalu, Nurmala terbuka. Kumala selalu berkata "Kak" di setiap kalimat, Nurmala berkata "Lu" dan "Gue" tanpa hormat. Dan Yulianto menyadari bahwa ia lebih nyaman dengan cara Nurmala.
Suatu malam, Nurmala menelepon Yulianto.
"Halo, Yuli. Gimana kabar lo sama adik gue?" Tanya Nurmala dengan nada ceria, terlalu ceria.
"Biasa aja. Baik." Jawab Yulianto singkat.
"Udah jalan bareng? Udah pegangan tangan?" Tanya Nurmala lagi.
"Mala, lo jangan norak." Kata Yulianto kesal.
"Gue cuma nanya, dong. Kan gue mak comblangnya." Jawab Nurmala tertawa.
"Lo nggak cemburu denger gue jalan sama adik lo?" Tanya Yulianto.
Ada jeda. Nurmala berhenti tertawa.
"Gue seneng, Yuli. Seneng liat lo bahagia." Jawab Nurmala.
"Gue nggak bahagia, Mala. Gue masih suka sama lo." Kata Yulianto.
"Yuli, tolong. Jangan mulai lagi." Kata Nurmala nadanya berubah.
"Tapi itu fakta, Mala. Gue cuma bisa jadi diri gue yang jujur." Kata Yulianto.
"Kalau lo jujur, lo akan menyakiti Kumala. Lo mau itu?" Kata Nurmala.
Yulianto terdiam. Ia tidak mau menyakiti Kumala. Kumala tidak bersalah apa-apa. Ia hanyalah gadis polos yang kebetulan jatuh cinta pada lelaki yang mencintai kakaknya.
"Nggak. Gue nggak mau nyakitin dia." Jawab Yulianto akhirnya.
"Maka coba sungguh-sungguh, Yuli. Lupakan perasaan lo ke gue. Fokus ke Kumala. Dia butuh lo. Dia sayang sama lo." Kata Nurmala.
"Lo tahu dari mana dia sayang sama gue?" Tanya Yulianto.
"Dia cerita, Yuli. Dia cerita semuanya ke gue. Setiap kali lo ngirim pesan, dia baca berulang kali. Setiap kali lo ngajak jalan, dia siap-siap dari jam dua belas meskipun jemputnya jam empat. Dia nge-print foto lo dari media sosial dan ditempel di buku catatannya, Yuli. Itu bukan sekadar suka. Itu udah gila." Jawab Nurmala.
Yulianto terperangah. Ia tidak pernah menyangka Kumala segitunya.
"Lo serius, Mala?" Tanya Yulianto.
"Gue nggak akan pernah becanda soal adik gue sendiri, Yuli. Dia rapuh. Dia nggak sekuat gue. Kalau lo mainin perasaannya, dia bisa hancur." Kata Nurmala.
"Gue nggak akan mainin dia, Mala. Cuma... gue nggak mau bohong sama dia juga." Kata Yulianto.
"Maka jangan bohong. Beri dia kesempatan. Cintai dia seperti dia mencintai lo. Pelan-pelan. Nggak perlu terburu-buru." Kata Nurmala.
Keesokan harinya, Yulianto mengajak Kumala makan malam di restoran sederhana. Setelah makan, mereka berjalan-jalan di sekitar area restoran. Suasana malam itu sejuk. Lampu-lampu jalan menerangi trotoar.
"Kumala, kakak mau ngomong serius sama kamu." Kata Yulianto berhenti di bawah pohon rindang.
"Iya, Kak." Jawab Kumala, matanya menatap penuh antisipasi.
"Kakak... kakak suka sama kamu, Kumala. Tapi kakak nggak mau buru-buru. Kakak mau kita kenalan lebih dalam dulu. Kakak mau serius sama kamu. Tapi kakak juga nggak mau kamu merasa terpaksa." Kata Yulianto.
Kumala terdiam. Wajahnya memerah. Kedua tangannya menggenggam ujung gamis.
"Kak, gue... gue dari dulu suka sama kakak." Jawab Kumala dengan suara nyaris berbisik.
"Kakak tahu. Kakak Mala cerita." Kata Yulianto.
Kumala terkejut.
"Kakak Mala cerita? Aduh, malu-maluin banget sih." Kata Kumala menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Yulianto tertawa kecil.
"Kakak Mala cerita karena dia sayang sama kamu. Dia pengen kamu bahagia." Kata Yulianto.
"Tapi Kak, gue takut. Takut kalau kakak deketin gue cuma karena kasihan sama gue atau karena dipaksa kakak Mala." Kata Kumala. Matanya mulai berkaca-kaca.
Yulianto merasakan dadanya ditusuk ribuan jarum. Kumala ternyata tidak sebodoh yang ia kira. Gadis ini bisa membaca situasi lebih baik daripada yang ia duga.
"Kumala, dengar. Kakak nggak akan pernah deketin seseorang karena kasihan. Dan kakak Mala juga nggak pernah maksa kakak. Ini murni dari hati kakak." Jawab Yulianto, lagi-lagi ia berbohong.
"Beneran, Kak?" Tanya Kumala. Air matanya mulai menetes.
"Beneran, Kumala. Kakak serius sama kamu. Kakak mau jadi pacar kamu. Tapi kakak nggak maksa. Kalau kamu belum siap, kita jalanin pelan-pelan." Kata Yulianto.
Kumala mengusap air matanya dengan punggung tangan. Ia tersenyum, senyum yang paling tulus yang pernah Yulianto lihat dalam hidupnya.
"Gue siap, Kak. Gue mau jadi pacar kakak." Jawab Kumala.
Yulianto tersenyum. Tapi senyumnya tidak sampai ke hati. Di dalam dadanya, ia mendengar suara kecil yang berbisik, "Kamu baru saja memulai sesuatu yang akan menghancurkan tiga orang sekaligus."
Malam itu, Yulianto mengantar Kumala pulang. Di depan pagar rumah, Kumala menatap Yulianto dengan mata berbinar-binar.
"Kak, makasih ya buat malam ini. Makasih udah jujur sama gue." Kata Kumala.
"Sama-sama, Kumala." Jawab Yulianto.
Kumala melambai lalu masuk ke dalam rumah. Yulianto berbalik. Ia melihat Nurmala berdiri di jendela kamarnya di lantai dua. Wajahnya samar-samar, tapi Yulianto bisa melihat Nurmala tersenyum dan mengacungkan jempol.
Yulianto hanya mengangguk kecil. Lalu ia berjalan pulang dengan langkah berat. Sepanjang jalan, ia tidak bisa berhenti bertanya-tanya.
"Apa yang sebenarnya terjadi di balik semua ini, Mala?"
BAB V
KEBAHAGIAAN SEMU
Hari-hari indah sebagai pasangan. Namun Yulianto masih diam-diam memperhatikan Nurmala. Kumala mulai merasa ada yang aneh. Nurmala menjaga jarak secara halus.
Tiga bulan berlalu sejak Yulianto dan Kumala resmi berpacaran. Di mata orang lain, mereka adalah pasangan idaman. Yulianto yang tampan dan Kumala yang manis. Mereka sering terlihat bersama di kampus—Yulianto mengantar Kumala pulang kuliah, atau sekadar duduk berdua di kantin sambil berbagi es teh manis.
Kumala berubah. Gadis yang dulu pendiam dan pemalu itu kini mulai banyak bicara, setidaknya jika bersama Yulianto. Ia bercerita tentang kuliahnya, tentang teman-temannya, tentang film yang baru ia tonton. Kadang-kadang ia tertawa lepas, sesuatu yang tidak pernah Yulianto dengar sebelumnya.
Suatu sore, mereka duduk di bangku taman kampus. Pohon rindang melindungi mereka dari terik matahari. Kumala menyandarkan kepalanya di bahu Yulianto. Rambutnya yang wangi tercium samar-samar.
"Kak, gue seneng banget." Kata Kumala dengan mata terpejam.
"Seneng kenapa, Kumala?" Tanya Yulianto sambil memainkan ujung rambut Kumala.
"Seneng punya kakak. Seneng setiap hari bisa ketemu kakak. Dulu gue cuma bisa mimpi." Jawab Kumala.
"Kamu nggak capek liat muka kakak setiap hari?" Ledek Yulianto.
"Nggak, Kak. Gue mah malah khawatir kalau kakak tiba-tiba ilang. Atau kakak bosan sama gue." Jawab Kumala jujur.
Yulianto tersenyum. Tapi senyumnya hambar.
"Kakak nggak akan bosan sama kamu, Kumala." Kata Yulianto, lagi-lagi ia berbohong. Karena sebenarnya ia mulai bosan. Bukan bosan dengan Kumala, tapi bosan dengan kebohongannya sendiri. Bosan berpura-pura bahwa ia bahagia. Bosan berpura-pura bahwa ia sudah melupakan Nurmala.
Karena kenyataannya, ia tidak pernah melupakan Nurmala. Bahkan setiap hari, ia tetap memikirkan sahabatnya itu.
Setiap kali Yulianto mengantar Kumala pulang, ia selalu melirik ke arah jendela kamar Nurmala. Kadang Nurmala ada di balik tirai itu, kadang tidak. Jika Nurmala ada, ia hanya melambai kecil lalu segera menghilang. Jika tidak ada, Yulianto merasa ada yang kurang.
Setiap kali Nurmala membalas pesan di grup pertemanan mereka, Yulianto akan membaca berulang kali. Ia hapal gaya bicara Nurmala, cara Nurmala menggunakan huruf kapital, cara Nurmala mengetik "wkwkwk" untuk menandakan tawa.
Setiap kali ada acara kampus yang mengharuskan mereka bertiga bertemu, jantung Yulianto berdebar lebih kencang saat melihat Nurmala daripada saat melihat Kumala. Dan setiap kali itu terjadi, ia membenci dirinya sendiri.
Suatu malam, Yulianto dan Kumala sedang menonton film di ruang tengah rumah Kumala. Orang tua Kumala sedang pergi ke acara hajatan. Nurmala ada di kamarnya, katanya sedang mengerjakan tugas.
Kumala menyandarkan kepalanya di dada Yulianto. Film yang mereka tonton adalah film komedi romantis. Di salah satu adegan, tokoh utama pria menyatakan cinta kepada tokoh utama wanita di tengah hujan.
"Kak, kalau kakak jadi cowok di film itu, kakak mau nyatain cinta kayak gitu?" Tanya Kumala.
"Enggak, ah. Ntar kedinginan." Jawab Yulianto asal.
"Ih, kakak nggak romantis." Cemberut Kumala.
"Romantis itu nggak harus basah-basahan, Kumala." Kata Yulianto.
"Terus gimana dong?" Tanya Kumala.
"Romantis itu... ya kayak gini. Duduk berdua. Nonton film. Santai. Nggak perlu hujan-hujanan." Jawab Yulianto.
Kumala tertawa.
"Kakak kaku banget sih." Kata Kumala.
"Nggak kaku, kamu aja yang lebay." Jawab Yulianto.
Mereka terdiam beberapa saat. Kemudian Kumala bergerak, menatap Yulianto. Matanya serius.
"Kak, gue mau tanya sesuatu." Kata Kumala.
"Apa?" Tanya Yulianto.
"Kakak... masih suka sama kakak Mala, nggak?" Tanya Kumala.
Udara di ruang itu terasa berubah. Yulianto berhenti bernapas. Ia menatap Kumala, berusaha membaca apakah ini pertanyaan polos atau pertanyaan yang sudah direncanakan.
"Kumala, kenapa kamu nanya begitu?" Tanya Yulianto berusaha tenang.
"Karena... karena gue kadang merasa kakak kayak nggak sepenuhnya sama gue." Jawab Kumala. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Kakak selalu sama kamu, Kumala. Kakak ada di sini." Kata Yulianto.
"Tapi hati kakak, Kak. Hati kakak di mana?" Tanya Kumala.
Yulianto tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa terdiam. Dan keheningan itu adalah jawaban yang paling jujur sekaligus paling menyakitkan bagi Kumala.
"Gue tahu, Kak. Gue tahu kakak dulunya deket banget sama kakak Mala. Gue tahu kakak pernah nyatain perasaan ke kakak Mala. Kakak Mala cerita semuanya ke gue." Kata Kumala dengan suara bergetar.
Yulianto terkejut.
"Kakak Mala cerita?" Tanya Yulianto.
"Iya. Kakak Mala cerita semuanya. Sebelum kakak deketin gue, kakak Mala cerita kalau kakak pernah suka sama dia, tapi dia nolak. Kakak Mala bilang ke gue, 'Kuma, kalau kamu suka sama Yuli, ambil aja. Jangan takut. Kakak nggak bakal ambil dia.' " Jawab Kumala.
Air mata Kumala mulai jatuh.
"Dan gue bodohnya malah seneng. Gue pikir kakak Mala rela. Gue pikir kakak Mala nggak punya perasaan sama kakak. Tapi lama-lama gue sadar, Kak. Setiap kali kakak datang ke rumah, mata kakak selalu nyari kakak Mala. Setiap kali kakak Mala lewat, kakak berhenti bicara. Setiap kali nama kakak Mala disebut, muka kakak berubah." Kata Kumala.
"Kumala, aku..." Yulianto mencoba memotong.
"Tolong jangan bohong sama gue, Kak. Kalau kakak masih cinta sama kakak Mala, bilang. Gue nggak akan marah. Gue cuma... gue cuma pengen dengar yang jujur dari kakak." Kata Kumala sambil terisak.
Yulianto menunduk. Ia menggenggam tangan Kumala yang dingin.
"Kumala, aku sayang sama kamu." Kata Yulianto.
"Tapi?" Tanya Kumala.
"Tapi..." Yulianto berhenti. Kalimat itu terlalu berat untuk diucapkan.
"Tapi kakak masih cinta sama kakak Mala, kan?" Tanya Kumala.
Yulianto mengangguk pelan. Sangat pelan. Tapi Kumala melihatnya. Dan saat itu juga, gadis itu terisak keras. Ia melepaskan genggaman tangan Yulianto dan berdiri.
"Kumala..." Yulianto juga berdiri.
"Jangan panggil gue Kumala." Kata Kumala.
"Kumala, maafin aku." Kata Yulianto.
"Kakak Mala udah ngorbanin perasaannya buat gue. Dia udah nolak kakak karena dia tahu gue suka sama kakak. Dan sekarang... sekarang kakak masih cinta sama dia? Itu berarti pengorbanan kakak Mala sia-sia, Kak. Sia-sia!" Teriak Kumala.
Di saat yang sama, terdengar suara pintu kamar terbuka. Nurmala keluar dengan wajah pucat. Ia sudah mendengar semuanya dari balik pintu.
"Kumala, tenang." Kata Nurmala.
"Nggak, Kak! Gue nggak mau tenang. Kalian berdua udah mainin gue." Tangis Kumala semakin keras.
"Kumala, nggak ada yang mainin kamu." Kata Nurmala mendekati adiknya.
"Kakak bilang ke gue bahwa kakak nggak punya perasaan sama Yuli. Tapi ternyata Yuli masih suka kakak. Itu artinya apa? Itu artinya kakak nggak jujur. Itu artinya kakak cuma masukin gue ke dalam hubungan yang gue kira nyata, tapi ternyata cuma sandiwara!" Teriak Kumala.
Nurmala memeluk adiknya. Kumala meronta, tapi akhirnya menyerah dan menangis di bahu kakaknya.
Yulianto hanya bisa berdiri diam. Ia merasa seperti orang asing di rumah yang dulu ia anggap rumah kedua.
Setelah Kumala tenang, ia masuk ke kamar dan mengunci pintu. Nurmala dan Yulianto duduk di ruang tamu. Hanya lampu meja yang menyala.
"Lo liat kan, Yuli. Apa yang udah lo perbuat." Kata Nurmala dingin.
"Gue nggak sengaja, Mala. Kumala yang nanya duluan." Jawab Yulianto.
"Bukan itu masalahnya. Masalahnya lo nggak serius dari awal. Lo deketin Kumala bukan karena lo suka, tapi karena lo nurut sama gue. Dan itu lebih menyakitkan daripada lo jujur dari awal bilang nggak bisa." Kata Nurmala.
"Lalu lo mau gue bilang apa? Lo yang maksa gue deketin dia. Lo yang jodohin kami. Lo yang bilang ini yang terbaik. Sekarang lo nyalahin gue?" Suara Yulianto mulai meninggi.
"Gue nyalahin lo karena lo nggak pernah berusaha! Lo dari awal udah pasrah. Lo nggak pernah buka hati buat Kumala. Lo selalu bandingin dia sama gue. Dan itu nggak adil, Yuli. Sangat nggak adil." Kata Nurmala, air matanya mulai jatuh lagi.
Yulianto terdiam. Nurmala benar. Ia tidak pernah benar-benar berusaha.
"Mala, gue minta maaf." Kata Yulianto pelan.
"Maaf lo nggak berguna buat Kumala yang hatinya hancur sekarang." Jawab Nurmala.
"Gue akan coba lagi. Gue akan buka hati buat dia." Kata Yulianto.
"Jangan, Yuli. Jangan kasi janji palsu lagi." Kata Nurmala sambil mengusap air matanya.
"Gue serius, Mala. Kali ini gue serius." Kata Yulianto.
Nurmala menatap Yulianto lama. Matanya mencari-cari kejujuran di wajah pemuda itu.
"Lo yakin?" Tanya Nurmala.
"Gue yakin." Jawab Yulianto dan untuk pertama kalinya, ia ingin meyakinkan dirinya sendiri juga.
Malam itu, Yulianto pulang dengan perasaan berat. Ia tahu ia sudah melukai Kumala. Ia tahu ia sudah mengecewakan Nurmala. Ia tahu ia sudah menjadi kekasih yang buruk dan sahabat yang buruk.
Tapi ia tidak tahu bagaimana cara memperbaikinya.
Seminggu kemudian, Yulianto berusaha menjadi pacar yang lebih baik. Ia lebih sering mengirim pesan. Ia lebih sering menelepon. Ia datang ke rumah Kumala dengan membawa bunga, sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.
Kumala menerimanya dengan dingin. Tidak ada senyum. Tidak ada pipi merona. Hanya anggukan kecil dan ucapan terima kasih yang hambar.
"Kamu marah sama kakak, ya?" Tanya Yulianto.
"Nggak, Kak. Gue cuma capek." Jawab Kumala.
"Capek?" Tanya Yulianto.
"Capek berharap. Capek berpura-pura bahwa gue cukup buat kakak." Jawab Kumala.
Kumala lalu masuk ke dalam kamarnya. Yulianto berdiri di depan pintu yang tertutup.
"Kumala, kakak sayang kamu. Tolong percaya sama kakak." Kata Yulianto dari balik pintu.
Tidak ada jawaban. Hanya suara isak tangis yang tertahan.
Yulianto menekan keningnya ke permukaan pintu kayu itu. Ia menutup mata. Ia ingin menangis, tapi air matanya tidak mau keluar. Yang ada hanya kekosongan yang dingin.
Di sisi lain rumah, Nurmala berdiri di dapur. Ia mendengar semuanya. Ia menggigit bibirnya sampai hampir berdarah. Di tangannya, ia memegang selembar surat dari dokter. Surat yang sudah ia baca puluhan kali tapi tetap terasa menyiksa setiap kali dibaca.
"Hasil biopsi menunjukkan sel-sel ganas telah menyebar ke jaringan sekitarnya. Kami merekomendasikan kemoterapi segera."
Nurmala melipat surat itu dan menyelipkannya di saku celana. Ia tidak akan memberitahu siapa pun. Belum. Tidak sekarang.
Ia menatap bayangannya sendiri di cermin dapur. Wajahnya pucat. Matanya cekung. Rambutnya mulai rontok meskipun belum kentara.
"Kamu harus kuat, Mala. Untuk Yuli. Untuk Kuma. Untuk semuanya." Bisiknya pada bayangannya sendiri.
BAB VI
RAHASIA DI BALIK RUMAH SAKIT
Yulianto tanpa sengaja melihat Nurmala di rumah sakit. Rasa penasaran membawanya menyelidiki. Dokter menolak memberi informasi medis. Yulianto nekad mencari rekam medis di rumah Nurmala.
Insiden itu terjadi pada suatu Kamis sore yang mendung. Yulianto sedang dalam perjalanan pulang dari kampus. Motor yang ia kendarai mogok di tengah jalan. Ia mendorong motornya ke pinggir dan memutuskan untuk beristirahat sebentar di taman kecil di depan Rumah Sakit Umum Daerah.
Dari kejauhan, ia melihat seseorang yang sangat dikenalnya.
Nurmala.
Sahabatnya itu berjalan perlahan menuju pintu masuk rumah sakit. Ia memakai jaket tebal meskipun cuaca tidak terlalu dingin. Wajahnya ditutupi topeng bedah. Rambutnya, yang dulu pendek dan tebal, kini tampak lebih tipis di bawah sinar matahari.
Yulianto membeku.
"Nurmala ke rumah sakit? Kenapa?"
Ia mengikuti dari jarak aman. Nurmala masuk ke dalam ruangan, lalu berjalan menuju lift. Yulianto menunggu lift itu naik, memperhatikan angka yang berhenti di lantai tiga.
Lantai tiga.
Yulianto tahu lantai itu adalah lantai rawat jalan untuk onkologi, bagian penyakit kanker.
Jantung Yulianto berdegup kencang. Ia berusaha menenangkan diri. "Mungkin salah. Mungkin dia hanya menjenguk orang. Mungkin dia hanya cek kesehatan biasa."
Tapi nalurinya berkata lain.
Setengah jam kemudian, Nurmala keluar dari lift. Wajahnya tampak lebih pucat dari sebelumnya. Di tangannya ada sebuah amplop cokelat. Ia berjalan cepat menuju pintu keluar.
Yulianto bersembunyi di balik pilar. Ia menunggu sampai Nurmala benar-benar pergi, lalu bergegas menuju meja pendaftaran di lantai tiga.
"Permisi, Bu. Saya mau tanya." Kata Yulianto kepada perawat di meja depan.
"Iya, ada yang bisa dibantu?" Jawab perawat itu ramah.
"Tadi teman saya datang ke sini. Namanya Nurmala. Saya lupa tanya dia ke dokter mana. Bisa tolong cek?" Tanya Yulianto berusaha terdengar santai.
Perawat itu mengetik sesuatu di komputernya. Matanya menyipit.
"Maaf, Mas. Data pasien itu sifatnya rahasia. Tidak bisa sembarangan diberikan." Jawab perawat itu.
"Saya saudaranya, Bu. Sepupunya." Kata Yulianto berbohong.
"Tetap tidak bisa, Mas. Harus dengan izin pasien langsung atau keluarga inti." Jawab perawat itu tegas.
Yulianto menghela napas. Ia tahu tidak akan dapat apa-apa di sini. Tapi rasa penasarannya semakin menjadi-jadi.
"Kenapa Nurmala ke onkologi? Kenapa?"
Sepanjang malam, Yulianto tidak bisa tidur. Ia bolak-balik membuka ponsel, membuka chat dengan Nurmala, ingin bertanya, tapi urung. Takut. Takut akan jawaban yang mungkin ia dengar.
Pikiran Yulianto terus mengembara. Ia ingat bagaimana Nurmala menolaknya dengan alasan yang tidak masuk akal. Ia ingat bagaimana Nurmala menjodohkannya dengan Kumala dengan cara yang hampir memaksa. Ia ingat bagaimana Nurmala mulai menjaga jarak dalam beberapa bulan terakhir.
Dan ia ingat satu kalimat yang diucapkan Nurmala saat mereka terakhir bertengkar.
"Gue juga nggak akan ada selamanya, Yuli."
Saat itu, Yulianto menganggapnya hanya metafora. Kiasan. Gaya bicara dramatis Nurmala.
Tapi sekarang... sekarang ia tidak yakin lagi.
Keesokan harinya, Yulianto memutuskan untuk mendatangi rumah Nurmala saat tidak ada siapa-siapa. Ia tahu jadwal keluarga itu. Setiap hari Jumat, orang tua Nurmala pergi ke pengajian. Kumala ada les bahasa Inggris sampai sore. Nurmala biasanya sendirian di rumah.
Yulianto tiba di sana sekitar pukul dua siang. Ia memarkir motornya di depan pagar. Pintu rumah tidak terkunci, hal yang biasa karena lingkungan mereka cukup aman.
"Permisi, Mala?" Sapa Yulianto dari pintu.
Tidak ada jawaban. Ia masuk ke ruang tamu. Sepi. Ia mendekati kamar Nurmala. Pintunya setengah terbuka.
"Mala?" Sapa Yulianto lagi.
Nurmala sedang tidur. Wajahnya pucat pasi. Selimut menutupi tubuhnya hingga ke dagu. Di samping tempat tidur, ada beberapa botol obat dan segelas air putih.
Yulianto mendekat. Ia mengamati obat-obatan itu. Semuanya adalah obat resep dengan label yang sulit ia mengerti. Tapi ada satu nama yang membuatnya berhenti.
Metotreksat.
Yulianto membuka ponselnya. Ia mencari arti obat itu. Layar ponselnya bersinar terang.
Metotreksat: Obat untuk kemoterapi pada pasien kanker.
Ponsel Yulianto hampir jatuh.
"Ya Allah..." Bisiknya.
Nurmala bergerak. Matanya terbuka perlahan. Saat melihat Yulianto berdiri di samping tempat tidurnya, ia terkejut setengah mati.
"Yuli? Lo... lo ngapain di sini? Udah jam berapa?" Tanya Nurmala dengan suara serak.
"Baru jam dua, Mala. Pintu rumah nggak terkunci." Jawab Yulianto berusaha tenang, padahal hatinya berteriak.
"Lo... lo lihat obat-obatan itu?" Tanya Nurmala panik. Ia langsung duduk dan berusaha menyembunyikan botol-botol itu di balik bantal.
"Gue udah lihat, Mala. Metotreksat." Kata Yulianto.
Nurmala membeku. Wajahnya berubah menjadi abu-abu.
"Lo tahu itu obat apa?" Tanya Yulianto.
"Obat biasa. Untuk..." Nurmala berusaha mencari alasan.
"Jangan bohong, Mala. Gue searching tadi. Itu obat kemoterapi." Potong Yulianto.
Nurmala tidak menjawab. Ia hanya menunduk. Rambutnya yang tipis itu tergerai menutupi wajahnya.
"Mala, liat gue. Tolong liat gue." Kata Yulianto sambil duduk di tepi tempat tidur.
Nurmala mengangkat kepalanya. Matanya basah.
"Lo sakit, Mala, ya? Sakit apa?" Tanya Yulianto.
Nurmala menggeleng.
"Jawab, Mala!" Desak Yulianto.
"Gue... gue nggak mau cerita, Yuli." Jawab Nurmala.
"Lo harus cerita! Lo sakit, lo di rumah sakit, lo minum obat kemoterapi, dan lo bilang gue nggak harus tahu?" Suara Yulianto mulai meninggi.
"Karena nggak ada yang bisa lo lakukan, Yuli. Nggak ada." Kata Nurmala, suaranya putus asa.
"Setidaknya gue bisa nemenin lo. Setidaknya gue bisa bantu. Setidaknya gue... gue bisa..." Yulianto tidak bisa melanjutkan. Ia terlalu tersedak oleh emosi.
"Lo bisa apa, Yuli? Lo bisa sembuhin gue? Nggak. Lo bisa ganti sakit gue? Nggak. Satu-satunya yang bisa lo lakukan adalah cari kebahagiaan lo sendiri. Dan itu nggak akan lo temukan di samping gue." Kata Nurmala.
"Jangan tentukan kebahagiaan gue, Mala. Gue sendiri yang tahu apa yang bikin gue bahagia." Jawab Yulianto.
"Dan apa yang bikin lo bahagia?" Tanya Nurmala.
"Lo, Mala. Dari dulu cuma lo." Jawab Yulianto.
Nurmala menangis. Bukan tangis isak biasa, tapi tangis keras yang ia tahan selama berbulan-bulan. Yulianto memeluknya. Ia merasakan tubuh Nurmala yang kini kurus sangat kurus, tidak seperti dulu saat mereka bermain bola dan tubuh Nurmala kekar.
"Kenapa lo nggak bilang dari awal, Mala?" Bisik Yulianto.
"Karena gue nggak mau lo kasihan sama gue. Karena gue nggak mau lo mengorbankan kebahagiaan lo cuma karena gue sakit. Karena gue tahu gue nggak lama lagi, Yuli." Jawab Nurmala di sela isaknya.
"Nggak lama lagi apa?" Tanya Yulianto.
Nurmala melepaskan pelukan. Ia meraih amplop cokelat di laci samping tempat tidurnya. Amplop yang Yulianto lihat kemarin di rumah sakit.
"Ini, Yuli. Baca." Kata Nurmala menyerahkan amplop itu.
Yulianto menerimanya dengan tangan gemetar. Ia membuka amplop itu dan mengeluarkan lembaran-lembaran kertas. Hasil CT scan. Hasil biopsi. Laporan dokter.
Matanya membaca baris demi baris. Ada kata-kata yang tidak ia mengerti. Tapi ada satu kalimat yang tertulis jelas di halaman terakhir.
"Diagnosis: Karsinoma Nasofaring Stadium IVB dengan metastasis ke tulang dan paru. Prognosis: survival rate <5% dalam 2 tahun."
Dunia Yulianto runtuh.
"Ma... Mala... ini..." Yulianto tidak bisa bicara.
"Dua tahun, Yuli. Atau kurang. Dokter bilang gue mungkin cuma punya satu setengah tahun lagi. Itu kalau kemoterapinya berhasil. Kalau nggak... bisa lebih cepat." Kata Nurmala.
"Nggak, Mala. Lo pasti sembuh. Lo harus sembuh." Kata Yulianto.
"Jangan bikin janji palsu, Yuli. Gue udah terima ini. Yang berat bukan sakitnya. Yang berat adalah lihat orang-orang yang gue sayang harus kehilangan gue. Itu kenapa gue nolak lo. Itu kenapa gue jodohin lo sama Kumala. Karena kalau lo sama gue, lo akan kehilangan gue. Dan gue nggak tega." Kata Nurmala.
Yulianto tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya memeluk Nurmala erat-erat. Erat sekali. Seolah jika ia melepas, Nurmala akan hilang ditelan angin.
"Maafin gue, Mala. Maafin gue yang egois. Maafin gue yang nggak ngerti." Kata Yulianto.
"Nggak ada yang perlu dimaafkan, Yuli. Lo nggak tahu. Gue sengaja nggak kasih lo tahu." Jawab Nurmala.
"Mala, gue akan jagain lo. Gue akan temenin lo sampe kapan pun. Pokoknya gue nggak akan pergi." Kata Yulianto.
"Tapi Kumala..." Kata Nurmala.
"Gue akan urus itu nanti. Yang penting sekarang lo. Kesehatan lo. Kesembuhan lo." Kata Yulianto.
Nurmala menggeleng.
"Yuli, tolong. Jangan tinggalin Kumala. Dia butuh lo. Dia sayang sama lo." Kata Nurmala.
"Dan gue butuh lo, Mala. Gue sayang sama lo." Jawab Yulianto.
Keduanya terdiam. Udara di kamar itu terasa berat. Ada banyak yang tidak terucapkan. Ada banyak yang tidak bisa diucapkan.
Jam menunjukkan pukul empat sore. Tak lama lagi Kumala pulang les. Yulianto harus pergi.
"Gue pulang dulu, Mala. Tapi gue akan kembali. Besok, lusa, dan seterusnya." Kata Yulianto sambil berdiri.
"Jangan bilang siapa-siapa, Yuli. Tolong. Belum." Kata Nurmala.
"Kenapa?" Tanya Yulianto.
"Karena gue belum siap. Karena orang tua gue belum tahu. Kumala juga belum tahu. Gue... gue masih butuh waktu." Jawab Nurmala.
"Tapi ini serius, Mala. Mereka harus tahu." Kata Yulianto.
"Gue tahu. Tapi tolong... beri gue waktu. Seminggu. Dua minggu. Gue akan bilang sendiri." Kata Nurmala.
Yulianto mengangguk meski berat hati.
"Iya, Mala. Tapi janji, lo nggak akan sembunyi lagi. Janji, lo akan cerita semuanya." Kata Yulianto.
"Janji." Jawab Nurmala.
Yulianto melangkah keluar dari kamar Nurmala. Di pintu, ia berbalik. Nurmala tersenyum, senyum yang sama seperti dulu. Senyum yang membuat Yulianto jatuh cinta sejak pertama kali.
"Gue cinta lo, Mala. Dari dulu, sekarang, dan selamanya." Kata Yulianto.
Nurmala tidak menjawab. Tapi air matanya berbicara lebih keras dari kata-kata.
BAB VII
KEBENARAN YANG MENGHANCURKAN
Yulianto membaca diagnosis: penyakit mematikan, sisa hidup dua tahun. Shock berat. Menangis sendirian. Baru sadar: penolakan Nurmala karena ia tahu akan mati muda. Yulianto mempertanyakan hubungannya dengan Kumala.
Malam itu, sepulang dari rumah Nurmala, Yulianto tidak langsung pulang ke rumahnya. Ia memutar motornya ke arah yang berlawanan, entah ke mana. Yang jelas ia tidak ingin pulang. Tidak ingin bertemu siapa pun. Tidak ingin berbicara dengan siapa pun. Angin malam menerpa wajahnya yang masih basah oleh air mata, tapi ia tidak merasakan dingin. Yang ia rasakan hanya hampa. Hampa yang luar biasa.
Motor tua itu melaju pelan di jalanan yang mulai sepi. Lampu-lampu rumah berkedip satu per satu, tanda pemiliknya mulai beristirahat. Yulianto tidak tahu harus ke mana. Ia hanya mengikuti jalannya roda, membiarkan motornya membawanya ke tempat yang entah.
Akhirnya ia berhenti di emperan toko kelontong yang sudah tutup. Tempat yang sama yang sering ia singgahi dulu bersama Nurmala untuk membeli es teh setelah bermain bola. Dulu, tempat ini selalu ramai dengan suara tawa mereka berdua. Nurmala akan memesan es teh manis dengan es batu yang banyak, sementara Yulianto memilih es jeruk. Mereka akan duduk di bangku panjang di depan toko itu, bercerita tentang apa saja, tertawa tentang hal-hal yang sekarang terasa begitu jauh.
Kini toko itu gelap. Lampu neon bertuliskan "Toko Kelontong Pak RT" sudah mati sejak jam delapan. Hanya lampu jalan yang menyorot redup dari tiang di seberang jalan, menerangi bekas-bekas air hujan yang masih menggenang di aspal. Daun-daun kering berserakan di sudut-sudut. Sepeda bekas yang biasanya terparkir di depan toko sudah tidak ada. Sepi. Sunyi.
Yulianto mematikan mesin motornya. Ia duduk di trotoar, membelakangi dinding toko yang dingin. Ia mengeluarkan amplop cokelat yang tadi diberikan Nurmala. Amplop itu masih utuh, meskipun sedikit basah di sudutnya karena terkena air mata yang ia teteskan saat di kamar Nurmala. Ia belum mengembalikannya. Diam-diam ia bawa pulang. Nurmala mungkin tidak sadar karena kondisi emosinya yang kacau saat itu.
Kembali ia membaca lembaran demi lembaran. Tangannya gemetar. Jari-jarinya terasa kaku seperti orang yang kedinginan, padahal udara malam ini tidak terlalu dingin. Yang dingin adalah hatinya.
Karsinoma Nasofaring Stadium IVB.
Yulianto membaca kalimat itu berulang kali. Seolah-olah dengan membacanya cukup banyak, kalimat itu akan berubah. Seolah-olah dengan membacanya berulang-ulang, ini semua akan terbukti hanya mimpi buruk.
"Stadium IVB..." Bisiknya.
Ia pernah mendengar tentang stadium kanker dari film-film atau berita di televisi. Stadium satu masih bisa dioperasi. Stadium dua masih bisa diobati. Stadium tiga sudah sulit. Tapi stadium empat? Itu artinya apa?
Ia tidak ingin hanya menduga-duga. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Layar ponsel menyala terang di kegelapan malam. Jari-jarinya yang gemetar mengetik di mesin pencari.
"Karsinoma Nasofaring Stadium IVB"
Jari telunjuknya berhenti di atas tombol 'cari' selama beberapa detik. Ia ragu. Takut. Apa yang akan ia temukan di sana? Apakah ia siap?
Ia menekan tombol itu.
Layar ponselnya berganti. Ratusan hasil pencarian muncul dalam waktu kurang dari satu detik. Artikel-artikel dari situs medis, forum-forum diskusi pasien kanker, jurnal-jurnal kesehatan, video-video edukasi dari dokter-dokter di YouTube.
Yulianto memilih artikel pertama dari situs kesehatan ternama. Ia membacanya pelan-pelan, satu per satu. Matanya bergerak dari kiri ke kanan, dari atas ke bawah. Setiap kata ia baca, setiap istilah ia cari artinya.
"Karsinoma Nasofaring adalah jenis kanker yang tumbuh di daerah nasofaring, yaitu bagian paling atas dari tenggorokan di belakang hidung. Stadium IVB merupakan stadium paling lanjut di mana sel-sel kanker telah menyebar (metastasis) ke organ-organ jauh seperti tulang, paru-paru, atau hati."
Yulianto berhenti membaca. Dadanya sesak.
"Sudah menyebar... ke tulang... ke paru... ke hati..." Ulangnya lirih.
Ia melanjutkan membaca.
*"Pada stadium ini, pengobatan kuratif (penyembuhan) umumnya tidak lagi memungkinkan. Tujuan pengobatan bersifat paliatif, yaitu untuk memperpanjang usia pasien dan meningkatkan kualitas hidup. Rata-rata harapan hidup pasien dengan stadium IVB berkisar antara 12 hingga 24 bulan, tergantung pada respons terhadap kemoterapi dan kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan."*
12 hingga 24 bulan.
Satu tahun. Dua tahun.
Yulianto meletakkan ponselnya di pangkuan. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Napasnya terengah-engah seperti orang yang baru saja selesai berlari jauh. Tapi ia tidak berlari. Ia hanya duduk. Namun rasanya seperti ia berlari mengejar sesuatu yang tidak pernah bisa ia capai.
"Ya Allah... Ya Allah..." Bisiknya di sela-sela jari-jarinya.
Ia tidak menangis. Belum. Matanya kering. Yang ada hanya rasa sakit yang luar biasa di dadanya. Seperti ada yang meremas-remas jantungnya dengan tangan dingin.
Ia ingat semua momen. Semua tawa. Semua kebersamaan. Semua mimpi yang tidak kesampaian karena penolakan Nurmala yang membingungkan, penolakan yang sekarang ia pahami alasannya.
Yulianto teringat saat ia jatuh dari pohon jambu di belakang rumah Nurmala. Waktu itu usianya masih sepuluh tahun. Ia memanjat pohon jambu untuk mengambil buah yang paling ranum di pucuk. Tangannya sudah hampir meraih buah itu ketika dahan yang ia pijak patah. Tubuhnya jatuh membentur tanah. Lututnya robek. Tangannya lecet. Ia menangis keras.
Nurmala yang mendengar teriakan itu berlari dari dalam rumah. "Yuli, lo kenapa? Jatuh? Sini gue lihat!" Seru Nurmala.
"Lutut gue sakit, Mala. Darah." Jawab Yulianto sambil menangis.
Nurmala tidak panik. Ia langsung membungkuk, meraih lengan Yulianto, dan memapahnya berdiri. "Ayo, gue gotong lo masuk ke rumah. Nanti gue obatin." Kata Nurmala.
"Lo nggak kuat, Mala. Berat." Kata Yulianto.
"Coba aja dulu. Tunjukkin." Jawab Nurmala.
Yulianto menurut. Ia naik ke punggung Nurmala. Gadis kecil dengan rambut pendek itu menggotongnya dengan susah payah. Tubuh mereka berdua kecil, tapi Nurmala tidak menyerah. Ia berjalan tertatih-tatih menuju pintu rumah, menggerutu sepanjang jalan, "Dasar Yuli gendut. Makan mulu sih lo."
Yulianto tertawa di punggung Nurmala meskipun lututnya masih sakit.
Itulah Nurmala. Kuat. Selalu kuat. Bahkan saat ia sendiri yang lemah.
Kenangan itu datang bergantian dengan kenangan-kenangan lain. Saat Yulianto tidak punya uang untuk membeli buku pelajaran ekonomi di SMA. Ia sudah putus asa karena ayahnya sedang tidak punya uang. Nurmala datang ke rumahnya dengan buku tebal di tangan.
"Pinjem dulu, Yuli. Punya gue. Udah gue baca dari kemarin." Kata Nurmala.
"Lo yakin, Mala? Lo nggak pakai?" Tanya Yulianto.
"Buat apa gue pakai. Gue udah hapal semua. Ambil aja." Jawab Nurmala santai.
Yulianto tahu Nurmala berbohong. Ia belum hapal. Ia baru saja membeli buku itu seminggu yang lalu. Tapi ia tidak membantah. Ia hanya menerima buku itu dan mengucapkan terima kasih.
Saat Yulianto gagal ujian matematika di kelas dua SMA, nilainya hanya empat puluh lima, sedangkan batas minimal ketuntasan adalah tujuh puluh, ia murung selama seminggu. Ia tidak keluar rumah. Tidak membalas pesan siapa pun. Nurmala datang dengan bola basket di tangannya.
"Ayo keluar, Yuli. Main bola." Kata Nurmala dari depan pagar.
"Nggak mau, Mala. Aku malu. Gagal." Jawab Yulianto dari dalam kamar.
"Gagal itu biasa. Yang nggak biasa kalau lo diem aja. Ayo, gue tunggu. Sampai jam lima sore, kalau lo nggak keluar, gue cabut." Jawab Nurmala.
Yulianto tidak keluar sampai jam lima. Nurmala benar-benar menunggu di depan pagar selama hampir tiga jam. Ketika jam menunjukkan pukul lima tepat, Nurmala berteriak, "Yuli, gue cabut ya! Besok gue dateng lagi! Mama lo bilang lo belum makan dari kemarin! Gue bawa nasi goreng, taruh di depan pintu!"
Yulianto mendengar langkah kaki Nurmala pergi. Ia menangis di balik pintu kamarnya. Bukan karena gagal ujian, tapi karena ia memiliki sahabat seperti Nurmala.
Ia ingat betapa Nurmala selalu ada. Selalu.
Dan sekarang, Nurmala akan pergi. Untuk selamanya.
"Kenapa, Tuhan? Kenapa dia? Kenapa bukan gue?" Bisik Yulianto menatap langit malam yang gelap.
Tidak ada bintang. Tidak ada bulan. Awan hitam menggantung tebal seperti kapas basah yang siap menumpahkan airnya kapan saja. Langit malam itu pekat, sepekat kesedihan yang mencekik dadanya.
Yulianto menunduk. Air matanya jatuh. Setetes. Dua tetes. Lalu deras.
Ia tidak bisa menahan tangisnya lagi. Ia menangis sejadi-jadinya. Tangis yang keluar dari dasar hatinya yang paling dalam. Tangis yang sudah ia tahan sejak ia tahu bahwa cintanya ditolak, tapi ternyata penolakan itu adalah bentuk cinta yang paling besar, paling menyakitkan, paling mengorbankan, paling tidak masuk akal.
Tangisnya terdengar jelas di kesunyian malam. Tidak ada yang mendengar. Tidak ada yang peduli. Hanya angin yang ikut menderu.
Nurmala tidak menolaknya karena ia tidak cinta. Nurmala menolaknya karena ia terlalu cinta. Cinta yang begitu besar sehingga ia rela melepaskan Yulianto untuk kebahagiaan Yulianto sendiri, kebahagiaan yang menurut Nurmala tidak akan ia dapatkan jika bersama perempuan yang sebentar lagi mati.
"Tapi lo salah, Mala." Bisik Yulianto di sela isaknya.
Ia mengusap air matanya dengan punggung tangan. Tangannya basah.
"Kebahagiaan gue bukan tanpa lo. Kebahagiaan gue adalah sama lo. Sakit atau sehat, hidup atau mati. Gue nggak peduli, Mala. Yang penting lo ada. Yang penting lo di samping gue. Tapi lo nggak pernah kasih gue kesempatan untuk memilih." Lanjut Yulianto.
Ia membayangkan Nurmala duduk di sampingnya seperti dulu. Ia membayangkan sahabatnya itu menatapnya dengan mata tajam seperti elang.
"Gue kasih lo kesempatan, Yuli. Kesempatan untuk bahagia sama orang lain." Jawab bayangan Nurmala.
"Bahagia sama Kumala? Lo pikir itu bahagia buat gue?" Kata Yulianto pada bayangan itu.
"Kumala sayang sama lo. Dia bisa buat lo bahagia." Jawab bayangan Nurmala.
"Tapi gue nggak sayang sama dia. Bukan kayak gue sayang sama lo. Gue cuma... gue cuma pura-pura. Buat lo. Buat senengin lo. Tapi sekarang gue tahu itu semua bohong. Semuanya bohong." Kata Yulianto.
Bayangan Nurmala tidak menjawab. Ia hanya tersenyum, senyum yang sama seperti saat mereka masih kecil, saat mereka berbagi es teh manis di emperan toko ini.
"Lo jahat, Mala. Lo jahat banget." Bisik Yulianto.
Seorang bapak-bapak yang lewat dengan sepeda motor melihat Yulianto dengan tatapan heran. Lampu motor itu menyorot sekilas ke arahnya. Mungkin bapak itu mengira pemuda ini mabuk berat atau mungkin sedang sakau. Wajah Yulianto memang kacau—basah, mata merah, rambut acak-acakan. Bapak itu tidak berhenti. Ia hanya melambat sebentar, lalu tancap gas dan menghilang di tikungan.
Yulianto tidak peduli. Ia sudah tidak peduli dengan dunia luar. Biarlah orang-orang mengira apa pun tentang dirinya. Malam ini ia hanya ingin sendiri dengan kesakitannya.
Air matanya habis setelah beberapa saat. Yang tersisa hanya perih di mata dan rasa hampa di dada yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Ia duduk di emperan itu selama berjam-jam. Tidak bergerak. Tidak berbicara. Hanya menatap kosong ke arah jalan yang gelap.
Ponselnya bergetar di saku celana. Bergetar sekali, dua kali, tiga kali. Berturut-turut. Berulang-ulang. Yulianto tidak langsung mengeluarkannya. Ia membiarkan ponsel itu bergetar sampai berhenti dengan sendirinya. Tapi beberapa detik kemudian, ponsel itu bergetar lagi.
Dengan malas, ia mengeluarkan ponselnya. Layar menyala. Ada sepuluh panggilan tidak terjawab dari ibunya. Dan tiga pesan dari Kumala.
Ia membuka pesan-pesan itu satu per satu.
"Kak, udah makan belum?"
Yulianto membaca kalimat itu. Polos. Sederhana. Biasanya ia akan tersenyum membaca pesan seperti itu dari Kumala. Tapi sekarang tidak. Sekarang tidak ada senyum. Yang ada hanya rasa bersalah yang luar biasa besar.
"Kak, gue kangen."
Pesan kedua.
Yulianto membacanya berulang kali. Kangen. Kata itu begitu ringan di bibir Kumala. Tapi Yulianto tahu bahwa di balik kata "kangen" itu ada perasaan yang besar. Kumala benar-benar sayang padanya. Kumala benar-benar mencintainya. Terlalu mencintainya.
"Kak, lo di mana sih? Kok nggak bales?"
Pesan ketiga. Nada bicaranya mulai panik. Cemas. Khawatir.
Yulianto membayangkan Kumala sekarang sedang duduk di kamarnya, menggigit bibir bawah, kebiasaannya saat cemas, sambil terus menatap layar ponsel, berharap ada balasan darinya. Sesekali ia mungkin akan membuka chat mereka berdua, membaca pesan-pesan lama, lalu menutupnya lagi karena tidak ada yang baru.
"Kumala..." Bisik Yulianto.
Ia ingin membalas. Ia ingin berkata sesuatu. Tapi tangannya terasa berat. Tidak ada kata-kata yang bisa ia ucapkan.
Ia ingat perjanjiannya dengan Nurmala, perjanjian diam-diam yang tidak tertulis, tapi mengikat hatinya. Ia diminta untuk tidak meninggalkan Kumala. Ia diminta untuk menjadi pacar yang baik bagi gadis yang tidak tahu apa-apa tentang penyakit kakaknya.
Tapi bagaimana caranya? Bagaimana ia bisa berpura-pura mencintai Kumala ketika hatinya hancur untuk Nurmala? Bagaimana ia bisa tersenyum di depan Kumala ketika setiap kali ia tersenyum, ia membayangkan Nurmala yang sedang sekarat di kamarnya? Bagaimana ia bisa menjadi kekasih yang baik ketika setiap malam ia terbangun dengan mimpi buruk tentang Nurmala yang terbaring lemah di rumah sakit?
Dan yang lebih parah: bagaimana ia bisa memilih di antara dua saudari yang sama-sama ia sayangi? Dua saudari yang sama-sama tidak bersalah? Dua saudari yang sama-sama menjadi korban dari keadaan yang tidak adil?
"Apa yang harus gue lakukan, Mala? Lo bilang jangan tinggalin Kumala. Tapi lo juga tahu gue cuma sama lo." Bisik Yulianto.
Tidak ada jawaban. Hanya angin yang berembus pelan, membawa bau tanah basah dari sawah di belakang perumahan.
Yulianto memejamkan matanya. Ia ingin menghilang. Ia ingin melupakan semua ini. Ia ingin kembali ke masa-masa ketika satu-satunya masalah yang ia hadapi adalah bagaimana membeli es teh manis dengan uang saku yang pas-pasan.
Tapi waktu tidak bisa diputar balik.
Malam itu, di emperan toko kelontong yang gelap, Yulianto memutuskan sesuatu. Ia akan tetap di samping Nurmala. Sampai kapan pun. Sampai akhir. Sampai detik terakhir. Dan ia akan menjaga Kumala. Bukan sebagai kekasih, ia sudah tidak bisa berpura-pura lagi. Tapi sebagai teman. Sebagai seseorang yang juga kehilangan seseorang yang ia cintai.
"Aku janji, Mala. Aku nggak akan pergi." Bisiknya.
Yulianto pulang ke rumah sekitar pukul sebelas malam. Motor tuanya ia parkir di halaman. Lampu teras masih menyala, ibunya pasti belum tidur. Yulianto mendengar suara televisi dari dalam ruang tamu. Ia berdiri di depan pintu selama beberapa detik, mengatur napas. Wajahnya ia usap-usap untuk menghilangkan bekas air mata. Tidak banyak yang bisa ia sembunyikan, tapi setidaknya ia akan mencoba.
Ia membuka pintu.
"Ibu." Sapa Yulianto.
"Kamu dari mana saja, Yul? Ibu sudah telepon berkali-kali." Kata ibunya, Bu Sartini dengan wajah cemas. Ia baru bangkit dari sofa. Matanya menatap Yulianto dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Maaf, Bu. Tadi Yuli bareng teman." Jawab Yulianto singkat. Ia melepas sepatunya dan menaruhnya di rak.
"Bareng teman jam segini? Hujan-hujan? Kamu basah kuyup, Yul. Rambutmu basah. Bajumu basah. Ini jam sebelas malam." Kata Bu Sartini mendekat.
"Tadi kehujanan, Bu." Jawab Yulianto.
"Wajahmu pucat. Matamu merah. Kamu sakit?" Tanya Bu Sartini sambil meraih kening Yulianto. Tangannya hangat. Yulianto hampir menangis lagi merasakan kehangatan itu.
"Nggak, Bu. Yuli cuma capek." Jawab Yulianto menghindar.
Ia tidak ingin ibunya memegang wajahnya terlalu lama. Takut ketahuan. Takut ibunya melihat sisa-sisa tangis di pipinya.
"Nak, ada apa? Kamu bisa cerita sama ibu." Kata Bu Sartini.
"Nggak ada apa-apa, Bu. Yuli mau tidur. Capek." Jawab Yulianto.
Ia berjalan cepat menuju kamarnya. Begitu masuk, ia mengunci pintu dari dalam. Tubuhnya lemas. Ia bersandar di pintu, memejamkan mata, mencoba mengatur napas. Kamarnya gelap. Hanya cahaya dari jendela yang menerangi sedikit sinar bulan yang berusaha menembus awan.
Yulianto melangkah ke tempat tidur. Ia duduk di tepi tempat tidur. Di depannya, di atas meja belajar, ada sebuah pigura foto. Foto itu diambil saat ulang tahun Kumala yang lalu, sekitar dua bulan sebelum Nurmala meninggal. Foto itu diambil oleh Bu Rahma menggunakan kamera ponsel.
Dalam foto itu, Kumala tersenyum manis di tengah. Ia memakai gamis merah muda dengan hiasan pita di pinggang. Rambutnya diikat setengah ke belakang. Pipinya merona karena cahaya lilin di kue ulang tahun. Ia terlihat bahagia. Sangat bahagia.
Di samping kanan Kumala, Nurmala berdiri dengan tangan memegang pundak adiknya. Nurmala tersenyum lebar, senyum khasnya yang memperlihatkan deretan gigi putih. Matanya berbinar meskipun sekarang Yulianto sadar bahwa di balik senyum itu ada rasa sakit yang ia sembunyikan.
Di samping kiri Kumala, Yulianto berdiri. Ia tersenyum juga. Tapi sekarang ia sadar bahwa senyum itu adalah senyum palsu. Saat foto itu diambil, ia sedang dilanda kebingungan dan rasa bersalah karena ia masih mencintai Nurmala meskipun sedang berpacaran dengan Kumala. Senyum di bibirnya tidak sampai ke hati.
Yulianto mengambil pigura itu. Ia menatap wajah Nurmala.
"Aku janji, Mala. Aku nggak akan ninggalin kamu. Sampai akhir." Bisiknya.
Jempolnya mengusap permukaan kaca pigura itu, tepat di atas wajah Nurmala.
Lalu ia menatap wajah Kumala.
"Tapi aku juga nggak bisa ninggalin dia, Mala. Dia juga butuh aku. Dia sayang sama aku." Lanjut Yulianto.
Ia meletakkan pigura itu kembali di meja belajar. Wajah mereka bertiga masih tersenyum di dalam pigura itu. Senyum yang tidak pernah ia duga akan secepat ini berubah menjadi air mata.
Yulianto berbaring di tempat tidur. Kasurnya terasa keras. Bantalnya terasa panas. Ia memejamkan matanya. Tapi tidur tidak datang. Yang datang hanya bayangan-bayangan.
Nurmala tersenyum di bangku taman kota saat ia menyatakan cinta untuk pertama kalinya.
Nurmala tertawa saat mereka bermain bola di lapangan tanah dekat sungai.
Nurmala menangis di teras rumahnya saat ia menolak Yulianto untuk kedua kalinya.
Nurmala terbaring lemah di tempat tidur dengan rambut yang mulai menipis.
Nurmala sekarat.
Dan di sela-sela bayangan itu, ada Kumala. Kumala yang tertawa saat kencan pertama mereka. Kumala yang menangis saat tahu Yulianto masih mencintai kakaknya. Kumala yang terluka, hancur, tapi tetap bertahan.
"Kumala, maafin aku. Maafin aku yang nggak bisa jadi pacar yang baik buat kamu." Bisik Yulianto ke langit-langit kamar yang gelap.
Pukul tiga dini hari, Yulianto masih belum bisa tidur. Ia sudah bolak-balik berganti posisi berkali-kali. Ke kanan, ke kiri, telentang, tengkurap, tidak ada yang nyaman. Pikirannya terlalu kacau.
Akhirnya ia meraih ponselnya. Layar menyala dengan cahaya yang menyilaukan di kegelapan. Matanya sedikit perih, tapi ia abaikan. Ia membuka aplikasi pesan. Klik nama Kumala. Jari-jarinya berhenti di atas keyboard.
Ia mengetik kalimat pertama, lalu menghapusnya. Mengetik lagi, lalu menghapusnya lagi. Berulang kali. Tidak ada kata-kata yang bisa mewakili apa yang ia rasakan.
Akhirnya ia mengetik pesan pendek.
"Maaf baru bales, Sayang. Kakak tadi tidur. Besok kita ketemu, ya. Kakak mau cerita banyak sama kamu."
Jari telunjuknya bergetar di atas tombol kirim. Apakah ia yakin? Apakah ini yang benar? Ia tidak tahu. Tapi ia tidak punya pilihan lain selain terus melangkah.
Ia tekan tombol kirim.
Pesan itu terkirim. Tanda centang satu, belum terbaca. Wajar, sudah jam tiga pagi. Mungkin Kumala sedang tidur.
Yulianto meletakkan ponselnya di samping bantal. Ia memejamkan mata. Hampir tertidur ketika ponselnya bergetar.
Dua menit kemudian, Kumala membalas, meski jam sudah sangat larut.
"Iya, Kak. Gue tunggu. Gue selalu nunggu kakak."
Yulianto membaca balasan itu. Matanya panas. Air matanya jatuh lagi.
"Lo sayang banget sama gue, Kumala. Terlalu sayang. Dan gue nggak tahu harus balas kayak gimana." Bisiknya.
Ia menatap balasan itu. Tiga titik sedang berkedip, Kumala sedang mengetik lagi. Lalu balasan kedua masuk.
"Kak, lo nggak apa-apa kan? Kok balesnya jam segini?"
Yulianto membacanya. Bibirnya bergetar. Ia mengetik balasan.
"Iya, Kakak baik. Cuma nggak bisa tidur."
Balasan Kumala cepat.
"Kenapa nggak bisa tidur? Kakak sakit?"
"Nggak. Cuma banyak pikiran."
"Pikirin apa, Kak? Cerita dong."
Yulianto terdiam. Ia ingin cerita. Ia ingin berteriak bahwa ia baru tahu kakak Kumala sedang sekarat. Tapi ia tidak bisa. Ia sudah berjanji pada Nurmala.
"Biasa aja, Kumala. Sekarang tidur dulu. Udah jam tiga pagi."
"Kak, gue nggak bisa tidur kalau nggak denger suara kakak."
Yulianto membaca balasan itu. Perutnya terasa mual. Kumala sangat mencintainya. Dan ia tidak bisa membalas cinta itu. Tidak dengan cara yang sama.
"Besok kita ketemu, ya. Kakak janji. Sekarang tidur."
"Janji, Kak?"
"Janji."
"Baik. Selamat malam, Kak. Sayang kakak."
Yulianto membaca kata "Sayang kakak" itu berulang kali. Jempolnya mengusap layar ponsel.
Ia membalas.
"Selamat malam, Kumala. Sayang juga."
Ia tidak mengirim pesan itu. Ia menghapusnya. Lalu ia mengetik ulang.
"Selamat malam, Kumala."
Tanpa kata sayang. Ia tidak tega mengucapkan kata itu untuk Kumala. Bukan karena ia tidak sayang, tapi karena sayang yang ia rasakan bukan sayang yang seharusnya dirasakan seorang kekasih. Dan ia tidak mau berbohong lagi.
Pesan itu terkirim.
"Selamat malam, Kak." Balas Kumala.
Yulianto mematikan ponselnya. Ia memejamkan mata dengan keras. Keras sekali hingga terasa sakit. Tapi rasa sakit di matanya tidak seberapa dibandingkan rasa sakit di hatinya.
Pagi datang terlalu cepat.
Matahari terbit di ufuk timur, menyembul perlahan dari balik bukit-bukit kecil di selatan kota. Langit berwarna jingga keemasan. Burung-burung mulai berkicau di pohon-pohon depan rumah. Ayam jantan tetangga berkokok dengan suaranya yang keras dan mengagetkan.
Yulianto tidak tidur semalaman. Matanya tetap terbuka, menatap langit-langit kamar, menunggu fajar. Ia mendengar suara ibunya bangun dan mulai bergerak di dapur. Bau kopi mulai tercium. Suara sendok mengaduk gula. Suara air yang dituang ke dalam cangkir.
Ia tidak bergerak.
"Yul, bangun. Sudah subuh." Panggil ibunya dari balik pintu.
"Iya, Bu. Yuli dengar." Jawab Yulianto.
Ia duduk di tepi tempat tidur. Badannya terasa berat. Setiap sendi terasa kaku. Matanya perih dan sembab, seperti orang yang baru saja selesai menangis semalaman. Karena memang itulah yang terjadi.
Yulianto menatap pigura foto di meja belajarnya. Wajah Nurmala tersenyum padanya. Wajah Kumala tersenyum padanya.
"Mala, Kumala... maafin aku." Bisiknya.
Ia berdiri. Berjalan ke kamar mandi. Membuka keran air. Air dingin mengalir deras. Ia membasuh wajahnya berkali-kali, berharap kesegaran air bisa menghapus rasa lelah di wajah dan hatinya. Tapi tidak. Rasa lelah itu sudah meresap ke dalam tulang.
Hari ini ia harus memutuskan. Antara cinta pertama yang sekarat dan adiknya yang terluka. Antara janji kepada Nurmala dan suara hatinya sendiri.
Tapi bagaimana caranya?
"Ya Allah, tunjukkan aku jalan." Bisiknya di depan cermin yang berkabut.
Wajahnya di cermin itu samar-samar. Tidak jelas. Mungkin itulah yang ia rasakan sekarang, hidupnya menjadi samar. Tidak jelas arahnya. Tidak jelas tujuannya. Yang jelas hanya satu: ia tidak akan meninggalkan Nurmala. Dan ia juga tidak ingin meninggalkan Kumala.
Tapi apakah itu mungkin? Apakah mungkin mencintai dua orang sekaligus dengan cara yang berbeda?
Yulianto tidak tahu jawabannya.
Yang ia tahu, pagi ini ia harus menemui Kumala. Ia harus bicara. Ia harus jujur. Meskipun kejujuran itu akan menyakitkan.
BAB VIII
DRAMA CINTA SEGITIGA DIMULAI
Perubahan sikap Yulianto: lebih perhatian ke Nurmala. Kumala mulai cemburu. Nurmala berusaha menjauh, tapi Yulianto terus mendekat. Konflik diam-diam antara kakak dan adik.
Sejak malam penemuannya di rumah Nurmala, Yulianto berubah. Bukan perubahan yang baik, tapi perubahan yang membuat semua orang di sekitarnya bingung. Ia menjadi lebih pendiam, lebih sering melamun, dan yang paling mencolok, ia mulai sangat perhatian kepada Nurmala.
Setiap pagi, Yulianto mengirim pesan ke Nurmala menanyakan kabar. Setiap siang, ia menyempatkan diri mampir ke rumah Nurmala hanya untuk memastikan sahabatnya itu makan. Setiap malam, ia menelepon Nurmala dan berbicara berjam-jam tentang hal-hal kecil yang dulu tidak pernah ia perhatikan.
Semua itu tentu saja tidak luput dari perhatian Kumala.
Suatu sore, Yulianto dan Kumala sedang duduk di teras belakang rumah Kumala. Biasanya, Kumala akan menyandarkan kepalanya di bahu Yulianto sambil bercerita tentang harinya. Tapi sore itu, Kumala duduk agak jauh. Ekspresinya muram.
"Kak, gue mau tanya." Kata Kumala memecah keheningan.
"Iya, sayang. Tanya aja." Jawab Yulianto sambil menatap layar ponselnya—ia baru saja mengirim pesan ke Nurmala.
"Kak Yuli sayang nggak sama gue?" Tanya Kumala.
Yulianto mendongak. Ia melihat wajah Kumala yang serius.
"Sayang, Kuma. Kenapa lo tanya begitu?" Jawab Yulianto.
"Kalau sayang, kenapa akhir-akhir ini kakak lebih sering perhatian sama kakak Mala daripada sama gue?" Tanya Kumala.
Yulianto terdiam. Ia tidak siap dengan pertanyaan itu.
"Kakak Mala kan lagi kurang sehat, Kumala. Wajar kalau kakak perhatian." Jawab Yulianto berusaha tenang.
"Tapi kakak nggak pernah sesering ini perhatian ke kakak Mala dulu. Dulu kalau kakak Mala sakit, kakak cuma tanya sekilas lewat pesan. Sekarang kakak sampe masakin dia makan? Beliin dia vitamin? Jemput dia ke rumah sakit?" Kata Kumala, suaranya mulai bergetar.
"Kuma, jangan cemburu sama kakak sendiri." Kata Yulianto.
"Gue nggak cemburu, Kak. Gue sedih. Gue pacar kakak, tapi kakak lebih perhatian sama orang lain. Padahal gue di sini. Gue juga butuh perhatian kakak." Jawab Kumala, air matanya mulai menggenang.
Yulianto menghela napas. Ia mendekat dan meraih tangan Kumala.
"Kumala, dengerin kakak. Kakak sayang sama kamula. Tapi kakak Mala juga penting buat kakak. Dia sahabat kakak dari kecil. Kalau dia sakit, tanggung jawab kakak untuk jaga dia." Kata Yulianto.
"Tapi batasannya di mana, Kak? Gue pacar kakak, bukan kakak Mala. Kalau kakak terus-terusan kayak gini, orang-orang bakal ngira kakak sama kakak Mala pacaran." Kata Kumala.
"Biarkan mereka ngira. Yang penting kita tahu yang benar." Jawab Yulianto.
Kumala melepaskan tangannya dari genggaman Yulianto.
"Nggak, Kak. Nggak bisa gitu. Gue nggak nyaman. Gue minta kakak kurangi perhatian ke kakak Mala. Atau... atau gue mau ikut setiap kali kakak ke rumah kakak Mala." Kata Kumala.
"Kumala, kakak nggak bisa..." Yulianto mencoba.
"Kenapa nggak bisa? Emang ada yang kakak sembunyikan dari gue?" Potong Kumala.
Yulianto terdiam lagi. Ia ingin berteriak, "Iya, ada. Kakak Mala sakit parah. Dia mungkin nggak lama lagi. Dan kakak masih cinta sama dia!" Tapi ia tidak bisa. Ia sudah berjanji pada Nurmala untuk tidak memberi tahu siapa pun.
"Nggak ada, Kumala. Kakak cuma..." Yulianto berhenti.
"Cuma apa?" Tanya Kumala.
"Cuma capek. Banyak pikiran. Maafin kakak kalau akhir-akhir ini kurang perhatian sama kamu. Kakak usahain lebih baik." Jawab Yulianto akhirnya.
Kumala menatap Yulianto lama. Ia ingin percaya. Tapi di lubuk hatinya yang paling dalam, ada suara kecil yang mengatakan bahwa Yulianto sedang berbohong.
"Kak, gue mau lo bilang jujur. Apa kakak masih cinta sama kakak Mala?" Tanya Kumala.
Yulianto tidak menjawab. Matanya menghindar.
"Jawab, Kak." Desak Kumala.
"Kumala, ini bukan soal cinta atau nggak cinta. Ini soal..." Yulianto berusaha mencari kata-kata.
"Ini soal kakak masih cinta sama dia." Potong Kumala. Air matanya jatuh.
"Kumala, aku..."
"Jangan panggil gue Kumala. Cukup. Gue nggak mau denger alasan kakak lagi. Gue mau pulang." Kata Kumala berdiri.
Dia berlari masuk ke dalam rumah. Terdengar suara pintu kamar ditutup keras. Yulianto menekan wajahnya dengan kedua tangan. Kepalanya pusing. Ia tidak tahu harus berbuat apa.
Di dalam rumah, di balik pintu kamarnya yang tertutup, Kumala menangis tersedu-sedu. Ia memeluk bantal dan membenamkan wajahnya. Tubuhnya bergetar.
Beberapa saat kemudian, terdengar ketukan pelan di pintu.
"Kumala, buka pintunya." Kata suara dari balik pintu. Suara Nurmala.
"Nggak mau. Pergi, Kak." Jawab Kumala.
"Kuma, kakak mau ngomong." Kata Nurmala.
"Nggak ada yang perlu diomongin. Kakak udah ngomong banyak, tapi semuanya bohong." Jawab Kumala.
"Kumala, tolong. Bukanya sebentar. Kakak mau jelasin." Kata Nurmala.
Kumala enggan, tapi akhirnya ia membuka pintu. Matanya sembab. Wajahnya basah. Nurmala masuk dan duduk di samping adiknya di tempat tidur.
"Apa yang mau kakak jelasin?" Tanya Kumala dingin.
"Kumala, kakak tahu kakak salah. Kakak seharusnya jaga jarak dari Yuli. Tapi..." Nurmala berhenti.
"Tapi apa, Kak?" Tanya Kumala.
"Tapi kakak nggak bisa. Yuli terus mendekat. Yuli terus ada. Kakak udah berusaha nolak dia, tapi dia nggak pernah menyerah." Jawab Nurmala.
"Karena kakak nggak pernah tegas. Karena kakak selalu kasih dia harapan." Kata Kumala.
"Kuma, bukan itu masalahnya." Kata Nurmala.
"Lalu apa? Jelaskan, Kak. Jelaskan kenapa kakak nggak bisa bilang 'tidak' tegas ke Yuli. Jelaskan kenapa kakak malah keliatan seneng setiap kali Yuli perhatian." Desak Kumala.
Nurmala terdiam. Bibirnya bergetar. Ia ingin sekali memberitahu Kumala tentang penyakitnya. Tentang sisa hidupnya yang hanya hitungan bulan. Tentang alasannya dulu menolak Yulianto. Tapi ia belum siap. Ia takut. Takut melihat reaksi adiknya. Takut membebani keluarganya.
"Kumala, percaya sama kakak. Kakak nggak berniat ambil Yuli dari kamu. Kakak... kakak hanya ingin menghabiskan..." Nurmala berhenti. Ia hampir mengatakan 'menghabiskan sisa hidup'.
"Menghabiskan apa, Kak?" Tanya Kumala.
"Menghabiskan... waktu bersama teman. Persahabatan. Kakak dan Yuli sudah bersahabat sejak kecil. Kalau dia memilih untuk peduli, kakak nggak bisa menolak. Tapi itu nggak berarti kakak mengambil posisi kamu." Jawab Nurmala.
Kumala menggeleng.
"Kakak, gue capek. Gue capek jadi orang ketiga di hubungan gue sendiri. Setiap kali gue sama Yuli, gue selalu merasa bahwa gue cuma pengganti. Bahwa di mata Yuli, gue cuma versi kedua dari kakak." Kata Kumala.
"Kumala, jangan bilang begitu." Kata Nurmala.
"Tapi itu fakta, Kak. Yuli pernah bilang ke gue sendiri kalau dia masih cinta sama kakak. Dia nggak bisa bohong. Dan gue... gue bodohnya milih bertahan. Karena gue sayang banget sama dia." Jawab Kumala, tangisnya pecah lagi.
Nurmala memeluk adiknya. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya bisa memeluk erat-erat.
"Maafin kakak, Kumala. Maafin kakak yang nggak bisa jadi kakak yang baik buat kamu." Bisik Nurmala.
Kumala tidak menjawab. Ia hanya menangis di bahu kakaknya, sama seperti dulu saat ia kecil dan ketakutan dengan badai. Bedanya, dulu pelukan Nurmala mampu menenangkannya. Sekarang, tidak ada yang bisa menenangkan badai di hatinya.
BAB IX
PENGKHIANATAN ATAU EMPATI?
Kumala menuduh Yulianto berselingkuh secara emosional. Yulianto kesulitan menjelaskan. Pernyataan Yulianto: "Aku mau menikahi Nurmala." Nurmala menolak karena kasihan pada Kumala.
Konflik antara Yulianto, Nurmala, dan Kumala terus memanas dalam beberapa minggu berikutnya. Yulianto semakin sulit menyembunyikan perasaannya. Setiap kali ia melihat Nurmala, matanya berbinar. Setiap kali ia mendengar suara Nurmala, hatinya bergetar. Dan setiap kali ia harus berpura-pura di depan Kumala, jiwanya terasa terkoyak.
Suatu malam, Yulianto mengajak Kumala makan malam di restoran. Ia ingin berbicara serius. Ia sudah memutuskan untuk jujur, sejujur-jujurnya, meskipun itu mungkin akan menghancurkan hubungan mereka.
Restoran itu sepi. Hanya ada beberapa pasangan lain yang duduk berjauhan. Yulianto memilih meja di pojok, di samping jendela yang menghadap ke taman kota.
"Kumala, makasih ya mau dateng." Kata Yulianto setelah mereka duduk.
"Ada apa sih, Kak? Serius amat." Jawab Kumala. Matanya waspada.
"Kakak mau ngomong sesuatu. Dan kakak minta kamu dengerin sampai selesai sebelum kamu marah." Kata Yulianto.
Kumala menelan ludah. Dadanya berdebar.
"Bilang, Kak." Jawab Kumala.
Yulianto menarik napas panjang. Ia menggenggam tangan Kumala di atas meja.
"Kumala, kakak sayang sama kamu. Sungguh. Tapi..." Yulianto berhenti.
"Tapi?" Tanya Kumala, suaranya bergetar.
"Tapi kakak nggak bisa melanjutkan hubungan ini." Kata Yulianto.
Diam.
Kumala melepas genggaman tangannya. Wajahnya berubah menjadi pucat.
"Maksud kakak?" Tanya Kumala.
"Kakak mau putus sama kamu, Kumala." Kata Yulianto.
Kumala terdiam beberapa saat. Matanya kosong. Kemudian, perlahan, air mata mulai mengalir.
"Kenapa, Kak? Apa yang salah sama gue? Apa gue nggak cukup baik? Apa gue nggak cukup cantik? Apa..." Kumala bertanya dengan suara putus asa.
"Bukan, Kuma. Bukan salah kamu. Kamu sempurna. Terlalu sempurna. Dan kakak nggak pantas buat kamu." Jawab Yulianto.
"Jangan kasih alasan klise, Kak. Kasih alasan yang bener." Kata Kumala, nadanya berubah menjadi dingin.
Yulianto menunduk. Ia tahu ia harus jujur.
"Kakak masih cinta sama kakak Mala, Kumala. Dari dulu nggak pernah berubah. Dan kakak nggak bisa terus-terusan bohong sama kamu dan sama diri kakak sendiri." Jawab Yulianto.
Kumala tertawa. Bukan tawa bahagia. Tawa pahit yang menyayat hati.
"Gue tahu. Gue udah tahu dari awal. Tapi gue tetap milih buat percaya. Gue tetap milih buat berharap bahwa suatu hari kakak akan liat gue. Bahwa suatu hari kakak akan sadar kalau gue juga bisa bikin kakak bahagia." Kata Kumala.
"Kumala, kakak sudah berusaha. Sungguh. Tapi hati kakak nggak bisa dipaksa." Kata Yulianto.
"Jadi kakak memilih dia? Memilih kakak Mala?" Tanya Kumala.
"Iya." Jawab Yulianto tegas.
"Padahal kakak tau dia nolak kakak? Padahal kakak tau dia nggak mau sama kakak?" Tanya Kumala lagi.
"Itu urusan nanti. Yang penting kakak udah memutuskan." Jawab Yulianto.
Kumala menggeleng. Ia tidak percaya. Ia tidak percaya bahwa Yulianto begitu tega.
"Kakak, gue nggak bisa. Gue nggak bisa ngelepas kakak semudah itu. Gue udah investasi perasaan terlalu banyak. Gue udah ngebayangin masa depan sama kakak. Gue udah..." Kumala tidak bisa melanjutkan. Ia menangis tersedu.
Yulianto meraih tangan Kumala lagi. Kali ini Kumala tidak melepas, tapi tangannya dingin dan kaku.
"Aku minta maaf, Kumala. Aku tahu maafku nggak cukup. Tapi ini yang terbaik." Kata Yulianto.
"Terbaik buat siapa? Buat kakak? Buat kakak Mala? Bukan buat gue." Jawab Kumala.
Sebelum Yulianto bisa menjawab, ponselnya berdering. Layar menampilkan nama Nurmala. Kumala melihatnya. Matanya menyala dengan amarah.
"Lihat tuh. Dia nelpon. Pasti buat mastiin kakak udah putus sama gue." Kata Kumala sinis.
"Kuma, jangan." Kata Yulianto.
"Angkat, Kak. Angkat dan bilang ke dia bahwa kakak sudah berhasil ngancurin hati gue." Kata Kumala.
Yulianto tidak mengangkat. Ia mematikan ponselnya. Tapi kerusakan sudah terjadi.
Kumala berdiri. Ia mengambil tasnya.
"Kalo gitu, gue pamit, Kak. Semoga kakak bahagia sama pilihan kakak." Kata Kumala.
"Kumala, jangan pergi kayak gini. Setidaknya biar kakak anter." Kata Yulianto juga berdiri.
"Nggak usah. Gue nggak butuh kakak lagi. Gue nggak butuh orang yang nggak pernah tulus sama gue." Jawab Kumala.
Ia berbalik dan berjalan cepat meninggalkan restoran. Yulianto ingin mengejar, tapi kakinya terasa berat. Ia tahu ia sudah melakukan hal yang benar. Tapi kenapa rasanya seperti melakukan hal yang paling salah?
Setelah Kumala pergi, Yulianto duduk kembali. Ia memesan segelas air putih dan meminumnya dalam satu tegukan. Ponselnya ia nyalakan. Ada tujuh panggilan tidak terjawab dari Nurmala.
Dia menelepon balik.
"Halo, Mala." Kata Yulianto.
"Yuli, lo di mana? Lo kenapa nggak angkat-angkat?" Suara Nurmala panik.
"Gue di restoran. Bareng Kumala." Jawab Yulianto.
"Bareng Kumala? Ngapain?" Tanya Nurmala.
"Gue... gue baru putus sama dia, Mala." Jawab Yulianto.
Diam panjang di ujung telepon.
"Lo apaan, Yuli?! Gue bilang jangan tinggalin dia! Kenapa lo nggak denger?" Teriak Nurmala.
"Karena gue nggak bisa hidup bohong, Mala. Karena gue cinta sama lo. Gue cuma mau sama lo. Sampai kapan pun." Jawab Yulianto.
"Yuli, lo bodoh. Lo sangat bodoh. Gue nggak butuh cinta lo. Gue butuh lo jagain Kumala. Dia adik gue. Dia lemah. Dia nggak sekuat gue." Kata Nurmala.
"Tapi gue butuh lo, Mala. Lo nggak ngerti." Kata Yulianto, suaranya bergetar.
"Gue nggak mau ngerti. Pokoknya lo harus balikan sama Kumala. Atau..." Nurmala berhenti.
"Atau apa, Mala?" Tanya Yulianto.
"Atau gue akan... gue akan kabur. Gue akan pergi dari kota ini. Lo nggak akan pernah nemuin gue." Ancaman Nurmala.
"Lo nggak akan berani, Mala. Lo sakit. Lo butuh perawatan." Kata Yulianto.
"Gue serius, Yuli. Coba aja." Jawab Nurmala.
Telepon terputus. Nurmala menutup teleponnya. Yulianto mencoba menelepon kembali, tapi tidak diangkat. Ia mengirim pesan.
"Mala, jangan lakukan hal bodoh. Gue sayang sama lo."
Balasan Nurmala datang lima menit kemudian.
"Kalau lo sayang sama gue, lakukan apa yang gue minta. Balikan sama Kumala."
Yulianto membaca pesan itu berulang kali. Jari-jarinya bergetar saat mengetik balasan.
"Gue nggak bisa, Mala. Gue nggak bisa pura-pura. Tapi gue juga nggak bisa kehilangan lo. Jadi gue minta lo denger proposal gue."
"Proposal apa?"
"Gue mau nikah sama lo, Mala."
Tidak ada balasan untuk waktu yang lama. Yulianto menunggu. Lima menit. Sepuluh menit. Dua puluh menit.
Ketika balasan akhirnya datang, hanya satu kata.
"Gila."
Yulianto segera menelepon. Kali ini Nurmala mengangkat.
"Mala, dengerin gue." Kata Yulianto.
"Lo gila, Yuli. Lo tahu konsekuensinya? Gue sakit. Gue nggak bisa jadi istri yang baik buat lo. Gue mungkin nggak bisa kasih lo anak. Gue bahkan mungkin nggak bisa bertahan hidup sampai tahun depan. Lo mau nikah sama mayat hidup?" Kata Nurmala.
"Gue nggak peduli, Mala. Selama kita halal di mata Allah, selama kita bisa bersama, gue rela." Jawab Yulianto.
"Tapi gue nggak rela, Yuli. Lo pantas dapet yang lebih baik. Yang sehat. Yang bisa nemenin lo sampe tua. Bukan gue yang sebentar lagi mati." Kata Nurmala, tangisnya mulai terdengar.
"Lo nggak akan mati, Mala. Lo akan sembuh. Kita akan berjuang bareng-bareng." Kata Yulianto.
"Jangan janjiin hal yang nggak pasti, Yuli. Dokter udah bilang..." Nurmala tidak bisa melanjutkan.
"Percaya sama gue, Mala. Atau kalau lo nggak percaya sama gue, percaya sama Allah. Setiap penyakit pasti ada obatnya. Setiap kesulitan pasti ada kemudahan." Kata Yulianto.
Nurmala menangis di ujung telepon. Yulianto bisa mendengar isak tangisnya yang tertahan.
"Lo tega ninggalin Kumala? Dia lagi hancur sekarang. Dan lo mau nikah sama gue? Itu akan membunuhnya, Yuli. Itu akan membunuh adik gue." Kata Nurmala.
"Kumala akan mengerti suatu hari nanti. Mungkin sekarang dia benci. Tapi waktu akan menyembuhkan semuanya." Jawab Yulianto.
"Lo yakin?" Tanya Nurmala.
"Gue yakin." Jawab Yulianto.
"Gue nggak bisa bilang iya sekarang, Yuli. Gue butuh waktu. Gue harus pikirin Kumala. Gue harus pikirin orang tua gue. Gue harus..." Nurmala berhenti.
"Gue tunggu, Mala. Gue akan selalu nunggu." Kata Yulianto.
Keesokan harinya, Yulianto mendatangi rumah Nurmala. Ia datang dengan membawa sepuluh tangkai bunga mawar putih. Warna putih melambangkan ketulusan. Atau mungkin melambangkan kematian, ia tidak tahu. Yang ia tahu, ia harus meyakinkan Nurmala.
Namun saat ia tiba, suasana rumah itu tegang. Kumala sedang duduk di ruang tamu dengan mata bengkak. Nurmala berdiri di dekat jendela, membelakangi pintu.
"Kak Yuli datang." Kata Kumala datar.
Nurmala berbalik. Matanya juga merah.
"Yuli, kita harus bicara." Kata Nurmala.
"Gue juga mau bicara." Jawab Yulianto.
Mereka bertiga duduk di ruang tamu. Tidak ada yang memulai pembicaraan selama beberapa menit. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar.
"Aku mulai duluan." Kata Kumala akhirnya.
Semua menatap Kumala.
"Kak Yuli, gue udah mikir semalaman. Gue marah. Gue kecewa. Gue hancur. Tapi gue juga sayang sama kakak Mala. Dan gue nggak mau kehilangan kakak Mala." Kata Kumala.
"Maksud kamu?" Tanya Yulianto.
"Kakak Mala cerita semuanya ke gue tadi malam." Jawab Kumala.
Yulianto menoleh ke Nurmala. Nurmala mengangguk pelan.
"Kakak cerita tentang penyakitnya. Tentang... tentang sisa waktunya." Kata Kumala, suaranya bergetar.
Yulianto terkejut. Ia tidak menyangka Nurmala akan memberitahu Kumala secepat ini.
"Kumala, maafin kakak yang sembunyi selama ini." Kata Nurmala.
"Gue marah, Kak. Marah kenapa kakak simpen sendiri. Marah kenapa kakak nggak cerita dari awal. Tapi gue lebih marah sama diri gue sendiri karena gue nggak pernah sadar. Karena gue sibuk cemburu buta." Jawab Kumala sambil menangis.
"Kumala..." Nurmala meraih tangan adiknya.
"Izinkan gue ngomong dulu, Kak." Kata Kumala menatap Yulianto.
Yulianto mengangguk.
"Kak Yuli, gue melepas kakak. Bukan karena gue ikhlas. Belum. Tapi karena gue lebih sayang sama kakak Mala daripada egoku. Kakak Mala butuh kakak. Dan gue nggak mau jadi penghalang." Kata Kumala.
"Kumala, aku..." Yulianto mencoba.
"Tapi jangan harap gue bakal seneng liat kakak sama dia. Jangan harap gue bakal tersenyum di pernikahan kakak. Jangan harap gue bakal dateng. Gue belum sekuat itu." Potong Kumala.
"Kumala, nggak ada pernikahan. Gue belum setuju." Kata Nurmala tiba-tiba.
"Apa?" Kumala dan Yulianto bersamaan.
"Gue bilang, gue belum setuju nikah sama Yuli." Kata Nurmala tegas.
"Kenapa, Kak? Kakak kan cinta sama dia." Kata Kumala.
"Ini bukan soal cinta, Kuma. Ini soal kakak nggak tega. Kakak nggak tega lihat lo menderita. Kakak nggak tega lihat Yuli mengorbankan masa depannya buat kakak yang sebentar lagi mati." Jawab Nurmala.
"Tapi kakak..." Kumala mencoba membantah.
"Cukup, Kumala. Keputusan kakak final. Yuli, lo denger ini baik-baik. Gue sayang sama lo. Tapi gue nggak akan nikah sama lo. Gue nggak mau lo jadi duda di usia muda. Gue nggak mau anak-anak kita, kalau pun punya, tumbuh tanpa ibu. Gue nggak mau." Kata Nurmala.
Yulianto berdiri. Wajahnya memerah.
"Mala, lo egois. Lo mikirin semua orang kecuali diri lo sendiri. Lo nggak pernah mikirin apa yang gue mau. Lo nggak pernah." Kata Yulianto.
"Gue mikirin masa depan lo, Yuli. Itu yang paling gue pikirin." Jawab Nurmala.
"Tapi gue nggak peduli masa depan. Gue peduli lo. Gue peduli saat ini. Gue peduli bahwa gue nggak akan bahagia tanpa lo." Kata Yulianto.
"Lo akan bahagia, Yuli. Waktu akan menyembuhkan semuanya. Lo akan bertemu cewek lain yang lebih baik. Yang bisa kasih lo kebahagiaan seutuhnya." Kata Nurmala.
"Nggak ada yang lebih baik dari lo, Mala." Jawab Yulianto.
Diam. Tiga orang di ruangan itu sama-sama tidak bisa bergerak. Mereka seperti terjebak dalam pusaran yang tidak ada jalan keluarnya.
Kumala berdiri. Ia berjalan mendekati Yulianto, lalu mendekati Nurmala. Ia menggenggam tangan Yulianto dan tangan Nurmala lalu menyatukannya.
"Kakak berdua bodoh. Sama-sama bodoh." Kata Kumala sambil menangis.
"Kumala..." Nurmala memanggil.
"Kakak Mala, tolong. Jangan tolak kebahagiaan hanya karena lo takut. Kakak Yuli, tolong jangan maksa. Biarkan waktu yang bicara. Tapi satu yang kakak tahu... gue nggak akan pernah benci kakak berdua. Meskipun sakit, meskipun perih, gue tetap sayang." Kata Kumala.
Ia melepas genggaman tangannya, lalu berjalan ke kamar. Pintu ditutup perlahan, tidak dibanting seperti yang biasa ia lakukan dulu. Ada kedewasaan baru di balik pintu itu.
Nurmala dan Yulianto terdiam berdua. Tidak ada yang berkata apa-apa. Hanya angin sore yang masuk melalui jendela, mengusap wajah mereka berdua.
BAB X
TERBUKA KEPADA KELUARGA
Yulianto membeberkan penyakit Nurmala ke orang tua. Kaget dan pilu: orang tua dan Kumala tidak tahu. Amarah, tangis, dan pengampunan mulai mengalir. Orang tua Nurmala merestui pernikahan Yulianto dan Nurmala.
Seminggu setelah pertemuan dramatis itu, Yulianto mengambil keputusan besar. Ia tidak akan menunggu Nurmala lagi. Ia akan mengambil tindakan. Jika Nurmala tidak mau membuka diri kepada keluarganya, maka Yulianto yang akan melakukannya. Ini soal nyawa. Ini soal waktu yang terus berdetak.
Dengan berat hati, Yulianto mendatangi rumah Nurmala pada suatu Minggu pagi. Ia sengaja memilih waktu di mana seluruh keluarga berkumpul: Pak Heru, Bu Rahma, Nurmala, dan Kumala. Ia sudah memberi tahu Nurmala sebelumnya melalui pesan bahwa ia akan datang dan ada hal penting yang harus dibicarakan.
Nurmala panik. Ia sudah mencoba mencegah, memohon, bahkan mengancam tidak mau bicara dengan Yulianto lagi. Tapi Yulianto tidak bergeming.
"Maaf, Mala. Ini untuk kebaikanmu." Begitu pesan terakhir Yulianto sebelum berangkat.
Sekitar pukul sembilan pagi, bel rumah berbunyi. Kumala yang membukakan pintu. Ia sudah tahu Yulianto akan datang. Wajahnya masih dingin, tapi tidak lagi penuh kebencian.
"Masuk, Kak." Kata Kumala singkat.
Yulianto masuk ke ruang tamu. Pak Heru sedang membaca koran sambil minum kopi. Bu Rahma baru selesai merapikan dapur. Nurmala duduk di sofa dengan wajah pucat pasi.
"Selamat pagi, Pak, Bu." Sapa Yulianto sopan.
"Pagi, Nak Yuli. Ada apa pagi-pagi begini? Makan dulu, yuk, bareng." Kata Bu Rahma ramah.
"Maaf, Bu. Saya tidak bisa makan. Saya datang karena ada hal penting yang harus saya sampaikan." Jawab Yulianto.
Pak Heru meletakkan korannya. Matanya menyipit.
"Apa hal penting itu, Nak?" Tanya Pak Heru.
Yulianto menarik napas panjang. Ia menatap Nurmala sekilas. Nurmala menggeleng pelan, sebuah permohonan terakhir.
"Maaf, Mala. Aku terpaksa." Kata Yulianto.
"Kak Yuli, jangan." Kata Nurmala, suaranya bergetar.
"Ada apa ini? Kenapa kalian berdua kayak ada yang disembunyiin?" Tanya Bu Rahma mulai cemas.
Yulianto berlutut di depan Pak Heru dan Bu Rahma. Tindakan itu membuat semua orang terkejut, termasuk Nurmala.
"Pak, Bu. Saya mohon maaf sebelumnya. Saya akan mengatakan sesuatu yang mungkin sangat berat untuk didengar. Tapi sebagai seseorang yang sangat mencintai Nurmala, saya tidak bisa tinggal diam." Kata Yulianto.
"Apa, Nak? Jangan bikin kami takut." Kata Pak Heru.
Yulianto mengangkat kepalanya. Matanya berkaca-kaca.
"Nurmala sakit, Pak. Sakit parah. Dia didiagnosa menderita Karsinoma Nasofaring stadium lanjut. Itu kanker, Pak. Di area hidung dan tenggorokan. Sudah menyebar ke tulang dan paru." Kata Yulianto.
Bu Rahma terkesiap. Gelas kopi di tangan Pak Heru hampir jatuh.
"Apa?" Suara Pak Heru nyaris tidak terdengar.
"Nurmala sudah menjalani kemoterapi diam-diam selama beberapa bulan. Beliau tidak memberi tahu siapa pun. Bapak, Ibu, bahkan Kumala tidak tahu." Lanjut Yulianto.
"Mala... Nak Mala... ini benar?" Tanya Bu Rahma, air matanya mulai mengalir.
Nurmala tidak menjawab. Ia hanya menunduk. Rambutnya yang tipis itu tergerai menutupi wajahnya.
"Jawab, Mala!" Bentak Pak Heru berdiri.
"Ya, Yah. Itu benar." Jawab Nurmala pelan.
"Sejak kapan? Sejak kapan kamu sakit?" Tanya Pak Heru.
"Sudah hampir setahun, Yah. Awalnya cuma sakit kepala dan mimisan. Terus tambah parah. Akhirnya saya periksa ke dokter. Hasilnya... hasilnya seperti itu." Jawab Nurmala.
"Kenapa kamu tidak bilang dari dulu? Kenapa kamu sembunyi-sembunyi? Kamu pikir kami orang tuamu tidak akan peduli?" Suara Pak Heru meninggi, bercampur antara marah dan sedih.
"Karena saya tidak mau merepotkan, Yah. Karena saya tidak mau keluarga saya stres. Karena saya... saya takut." Jawab Nurmala, akhirnya menangis.
Ibunya langsung memeluk Nurmala. Bu Rahma menangis tersedu-sedu.
"Anak ibu... kenapa kamu tega-teganya sembunyi? Kamu sakit, kamu butuh pertolongan. Kamu butuh keluarga." Kata Bu Rahma.
"Maaf, Bu. Maaf, Yah. Maaf, Kumala." Kata Nurmala di sela isaknya.
Kumala yang sejak tadi hanya diam, kini berdiri. Wajahnya dingin, tapi air mata mengalir deras.
"Kakak tahu nggak? Selama ini gue membenci kakak. Gue membenci kakak karena gue pikir kakak berusaha merebut Yuli dari gue. Tapi ternyata... ternyata kakak hanya ingin... ingin..." Kumala tidak bisa melanjutkan.
"Iya, Kumala. Kakak hanya ingin melihat kamu dan Yuli bahagia sebelum kakak pergi. Tapi kakak gagal. Kakak gagal jadi kakak yang baik buat kamu." Jawab Nurmala.
Kumala berlari dan memeluk kakaknya. Dua saudari itu menangis bersama. Yulianto hanya bisa terdiam, menonton adegan yang mengharukan itu.
Setelah suasana sedikit mereda, Pak Heru duduk kembali. Wajahnya tampak tua dalam sekejap.
"Dokter bilang apa, Mala? Ada harapan?" Tanya Pak Heru.
"Harapan selalu ada, Yah. Tapi... prognosisnya tidak terlalu baik. Dokter bilang saya mungkin hanya punya waktu... satu atau dua tahun lagi." Jawab Nurmala.
"Jangan bicara begitu, Nak. Kamu harus berjuang. Kita semua akan berjuang bersama." Kata Pak Heru.
"Ada yang bisa kita lakukan? Operasi? Kemoterapi? Apapun." Tanya Bu Rahma.
"Nurmala sudah menjalani kemoterapi, Bu. Tapi stadiumnya sudah lanjut. Dokter bilang kemoterapi hanya untuk memperlambat penyebaran, bukan menyembuhkan." Jawab Yulianto.
"Kita akan cari dokter lain. Kita akan cari rumah sakit yang lebih baik. Di Jakarta, di Singapura, di mana pun. Asal Mala sembuh." Kata Pak Heru.
"Yah, saya tidak mau merepotkan. Biayanya besar." Kata Nurmala.
"Bicara soal biaya, itu bukan masalah. Yang penting kamu sembuh. Kamu kesayangan ayah." Jawab Pak Heru, suaranya patah.
Setelah semua tenang, giliran Yulianto yang angkat bicara.
"Pak, Bu. Ada satu hal lagi yang ingin saya sampaikan." Kata Yulianto.
"Apa lagi, Nak?" Tanya Bu Rahma.
Yulianto menatap Nurmala. Lalu menatap Pak Heru dan Bu Rahma.
"Saya ingin menikahi Nurmala, Pak. Saya mohon restu Bapak dan Ibu." Kata Yulianto.
Semua terdiam. Bu Rahma menatap suaminya. Pak Heru menghela napas panjang.
"Kamu yakin, Nak? Kamu tahu kondisi Mala?" Tanya Pak Heru.
"Saya yakin, Pak. Saya sudah memikirkannya matang-matang. Saya mencintai Nurmala. Saya ingin menghabiskan sisa waktunya bersama dia, sebagai suami istri yang sah di mata Allah." Jawab Yulianto.
"Tapi bagaimana dengan Kumala? Bukannya kamu sebelumnya pacaran dengan Kumala?" Tanya Pak Heru.
Yulianto menunduk.
"Saya akui itu kesalahan saya, Pak. Saya mendekati Kumala karena saya kecewa ditolak Nurmala. Saya tidak tahu saat itu bahwa penolakan Nurmala karena penyakitnya. Saya sudah meminta maaf kepada Kumala. Dan saya berjanji akan bertanggung jawab atas apa pun yang terjadi." Jawab Yulianto.
Semua mata tertuju ke Kumala. Gadis itu terdiam sejenak, lalu mengangguk.
"Gue sudah memaafkan Kak Yuli, Yah. Dan gue... gue merestui mereka." Kata Kumala.
"Kuma, kamu yakin?" Tanya Bu Rahma.
"Gue yakin, Bu. Kakak Mala butuh kebahagiaan. Dan Kakak Yuli adalah kebahagiaan itu." Jawab Kumala.
Pak Heru menatap istrinya. Bu Rahma mengangguk.
"Nak Yuli, ayah hanya punya satu syarat." Kata Pak Heru.
"Apa pun, Pak." Jawab Yulianto.
"Jangan pernah tinggalkan Mala. Sampai kapan pun. Sampai akhir hayatnya. Janji?" Kata Pak Heru.
"Saya janji, Pak. Saya akan setia di samping Mala. Saya akan merawatnya. Saya akan membahagiakannya. Saya tidak akan pernah pergi." Jawab Yulianto dengan tegas.
Pak Heru mengulurkan tangannya. Yulianto menjabatnya. Itu adalah simbol restu. Simbol penerimaan.
Bu Rahma menangis lagi, tapi kali ini tangis haru.
"Kita akan adakan pernikahan secepatnya. Tidak perlu mewah. Yang penting sah." Kata Bu Rahma.
"Kita akan undang tetangga dan kerabat terdekat saja. Dan kita akan berdoa bersama agar Mala diberi kesembuhan." Tambah Pak Heru.
Nurmala yang sejak tadi diam, akhirnya bicara.
"Yah, Bu... aku tidak tahu harus bilang apa. Aku hanya... terima kasih." Kata Nurmala.
"Nggak usah bilang apa-apa, Nak. Kamu anak ayah. Ayah akan selalu mendukung keputusanmu." Jawab Pak Heru.
Malam itu, Yulianto pulang dengan hati yang lega namun berat. Ia sudah mendapatkan restu. Tapi di balik itu semua, ia tahu perjalanan yang berat masih menanti. Ia akan menikahi perempuan yang dicintainya, tapi perempuan itu perlahan-lahan meninggalkannya.
"Tapi aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Mala. Sampai mati."
Ia berbisik pada angin malam yang dingin.
BAB XI
PERNIKAHAN DI BAWAH BAYANG AJAL
Pernikahan heroik Yulianto dan Nurmala. Kebencian Kumala memuncak. Hari-hari sebagai suami istri yang dihitung. Kehamilan yang tidak direncanakan.
Pernikahan Yulianto dan Nurmala dilangsungkan dua minggu setelah restu dari orang tua Nurmala. Tidak ada pesta mewah, tidak ada resepsi besar, tidak ada gedung yang dihias gemerlap. Hanya akad nikah sederhana di rumah Nurmala dengan dihadiri keluarga inti dan beberapa tetangga terdekat.
Yulianto datang pagi-pagi sekali. Ia memakai kemeja putih lengan panjang yang ibunya setrika hingga rapi tanpa lipatan sedikit pun. Rambutnya ia sisir ke belakang dengan sedikit minyak rambut. Ia tampak gugup. Tangannya berkeringat meskipun udara pagi itu sejuk.
Nurmala duduk di kamarnya, didampingi ibunya dan beberapa kerabat perempuan yang membantu meriasnya. Riasannya sederhana, hanya bedak tipis, lipstik merah muda lembut, dan sedikit polesan di mata. Rambutnya yang tipis karena kemoterapi ditutupi dengan kerudung putih yang anggun.
"Mala, kamu cantik banget hari ini." Kata Bu Rahma sambil menitikkan air mata.
"Makasih, Bu." Jawab Nurmala pelan.
"Kamu yakin, Nak? Ayah nggak mau kamu terpaksa." Tanya Bu Rahma lagi.
"Yakin, Bu. Ini pilihan saya. Saya cinta Yuli dan saya ingin menghabiskan sisa hidup saya bersamanya." Jawab Nurmala dengan suara lirih namun tegas.
Di ruang tamu, Pak Heru duduk di kursi utama, memegang tongkat yang sebenarnya tidak ia perlukan. Wajahnya serius namun matanya berkaca-kaca. Kumala duduk di sudut ruangan, melipat kedua tangan di pangkuan. Ia memakai gamis biru muda, bukan warna yang biasa ia pilih, dan rambutnya diikat rapi. Wajahnya tanpa ekspresi.
Yulianto memasuki ruang tamu. Ia menunduk hormat kepada Pak Heru.
"Selamat pagi, Pak." Sapa Yulianto.
"Pagi, Nak. Duduk dulu. Sebentar lagi akadnya dimulai." Jawab Pak Heru.
Yulianto duduk di kursi yang disediakan. Matanya mencari-cari Kumala. Ketika mata mereka bertemu, Kumala segera memalingkan wajah. Yulianto bisa melihat bibir Kumala bergetar.
"Kumala, aku..." Yulianto berusaha memulai.
"Jangan bicara sama gue, Kak. Hari ini bukan hari gue. Hari ini hari kakak Mala. Fokus sama dia." Potong Kumala dingin.
Yulianto mengangguk. Ia mengerti. Lalunya tidak akan mudah dimaafkan. Tapi setidaknya Kumala datang. Setidaknya ia tidak pergi. Itu sudah cukup.
Penghulu datang tepat pukul sembilan. Pria paruh baya dengan kopiah hitam dan jubah putih itu duduk di hadapan Yulianto setelah memastikan semua syarat terpenuhi.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh." Sapa penghulu.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab semua yang hadir.
"Kita berkumpul di sini dalam rangka melangsungkan akad nikah antara saudara Yulianto bin Sartono dengan saudari Nurmala binti Heru Susanto. Apakah saudara Yulianto siap?" Tanya penghulu.
"Siap, Pak." Jawab Yulianto tegas.
"Baik. Sekarang saya akan membacakan ijab kabul. Saudara Yulianto, tolong ikuti."
Penghulu mulai membaca dengan suara lantang. Yulianto mendengarkan dengan seksama. Jantungnya berdegup kencang. Tangannya berkeringat semakin banyak.
"...Saya nikahkan dan saya kawinkan saudari Nurmala binti Heru Susanto dengan maskawin berupa seperangkat alat salat dan uang tunai sebesar lima ratus ribu rupiah dibayar tunai."
Yulianto menarik napas panjang. Ia mengucapkan kalimat sakral itu dengan suara yang nyaris pecah karena emosi.
"Saya terima nikahnya saudari Nurmala binti Heru Susanto dengan maskawin tersebut dibayar tunai."
"Sah." Kata penghulu.
Semua yang hadir mengucapkan selamat. Suasana haru menyelimuti ruangan. Bu Rahma menangis. Pak Heru mengusap matanya dengan ujung baju. Bahkan beberapa tetangga ikut menitikkan air mata.
Nurmala keluar dari kamarnya ditemani ibunya. Ia berjalan perlahan menuju kursi di samping Yulianto. Wajahnya berseri-seri meskipun pucat. Yulianto menatap istrinya dengan penuh cinta.
"Mala, kamu cantik banget." Bisik Yulianto.
"Terima kasih sudah mau sama aku, Yuli." Jawab Nurmala.
"Bukan mau. Ini pilihanku. Dan ini adalah pilihan terbaik dalam hidupku." Kata Yulianto.
Mereka berdua tersenyum. Tangan mereka saling bertautan. Tidak ada yang bisa memisahkan mereka sekarang.
Setelah akad selesai, acara dilanjutkan dengan makan bersama. Makanannya sederhana: nasi kotak dari tetangga dan keluarga yang beramai-ramai membawa makanan. Tidak ada panggung, tidak ada orgen, tidak ada hiburan. Hanya kebersamaan yang hangat.
Namun di sudut ruangan, Kumala duduk sendiri. Ia tidak makan. Ia hanya menatap piring di depannya. Sesekali ia melihat ke arah Yulianto dan Nurmala yang tampak bahagia. Hatinya sakit. Bukan karena ia masih cinta pada Yulianto, meskipun sebagian kecil dari hatinya mungkin masih ada rasa. Tapi karena ia merasa kehilangan. Kehilangan kakak yang dulu hanya miliknya. Kehilangan sosok yang selalu ia jadikan tempat berteduh.
"Kumala, kamu nggak makan?" Tanya Bu Rahma menghampiri.
"Nggak lapar, Bu." Jawab Kumala.
"Ibu tahu kamu pasti sakit hati. Tapi ini yang terbaik buat kakak kamu." Kata Bu Rahma sambil membelai rambut Kumala.
"Bu, gue nggak sakit hati. Gue sedih. Gue takut. Kakak Mala sakit. Dan gue takut gue akan kehilangan dia lebih cepat sekarang." Jawab Kumala.
"Kita semua takut, Nak. Tapi kita harus kuat. Untuk kakak kamu." Kata Bu Rahma.
Kumala mengangguk. Ia memeluk ibunya. Air matanya jatuh lagi, untuk kesekian kalinya dalam beberapa pekan ini.
Pernikahan itu berlangsung satu hari. Tidak ada acara malam hari karena kondisi Nurmala yang cepat lelah. Yulianto mengantar Nurmala ke kamarnya. Mereka berdua duduk di tepi tempat tidur.
"Ini aneh, ya." Kata Nurmala tiba-tiba.
"Apa yang aneh?" Tanya Yulianto.
"Kita belum pacaran. Tapi langsung nikah." Jawab Nurmala.
Yulianto tertawa kecil.
"Iya. Kita lompatin banyak tahap. Tapi nggak apa-apa. Yang penting sekarang kita suami istri." Kata Yulianto.
"Yuli, aku takut." Kata Nurmala.
"Takut apa, Mala? Aku di sini." Kata Yulianto meraih tangan Nurmala.
"Aku takut nggak bisa jadi istri yang baik buat kamu. Aku takut penyakitku kambuh di tengah malam dan kamu panik. Aku takut... aku takut mati di depan kamu." Jawab Nurmala.
Yulianto menatap mata istrinya dalam-dalam.
"Mala, dengerin aku. Kematian itu pasti. Cepat atau lambat, kita semua akan mati. Perbedaannya, aku akan mati sebagai suami kamu. Dan kamu akan mati sebagai istri aku. Itu sudah lebih dari cukup. Tidak ada penyesalan." Kata Yulianto.
"Kamu nggak takut?" Tanya Nurmala.
"Aku takut, Mala. Tapi bukan takut mati. Aku takut kehilangan kamu. Tapi aku lebih takut kalau aku nggak sempat menunjukkan semua cintaku ke kamu sebelum kamu pergi." Jawab Yulianto.
Nurmala tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya memeluk Yulianto erat-erat. Seakan-akan jika ia melepas, ia akan kehilangan suaminya itu untuk selamanya.
Malam pertama pernikahan mereka tidak seperti malam pertama biasanya. Tidak ada kegairahan, tidak ada gairah yang membara. Yang ada hanya dua jiwa yang saling menguatkan, dua hati yang saling menyembuhkan, dan dua pasang mata yang saling berjanji untuk tidak saling meninggalkan.
Bulan pertama pernikahan mereka berjalan dengan penuh kehati-hatian. Yulianto belajar menjadi suami bagi seorang yang sakit parah. Ia bangun setiap subuh untuk menyiapkan obat-obatan yang harus diminum Nurmala. Ia memasak makanan lunak karena tenggorokan Nurmala mulai terasa sakit akibat kemoterapi. Ia menemani setiap jadwal kontrol ke rumah sakit. Ia mencatat setiap perubahan kondisi istrinya dan melaporkannya ke dokter.
Nurmala berusaha menjadi istri yang baik meskipun tubuhnya semakin lemah. Ia tetap tersenyum setiap pagi meskipun mual dan pusing selalu menghampiri. Ia menyapu dan mengepel pelan-pelan saat Yulianto pergi ke kampus. Ia melipat baju, meskipun seringkali ia harus beristirahat di tengah jalan.
"Mala, kamu nggak usah capek-capek. Istirahat aja. Aku yang kerjain semuanya." Kata Yulianto suatu sore saat melihat Nurmala sedang mengepel lantai.
"Aku nggak mau jadi beban, Yuli. Aku masih punya tenaga." Jawab Nurmala.
"Kamu bukan beban. Kamu istriku. Tugas istri itu nggak cuma masak dan bersih-bersih. Tugas istri itu ya... ada." Kata Yulianto.
"Ada apa?" Tanya Nurmala.
"Ada di hati suaminya." Jawab Yulianto sambil mencium kening Nurmala.
Nurmala tersenyum. Tapi senyumnya langsung berubah menjadi ekspresi mual. Ia berlari ke kamar mandi. Yulianto mengikutinya. Ia memegangi rambut Nurmala sambil membasuh wajahnya.
"Mala, ini sudah minggu ketiga kamu mual terus. Aku khawatir." Kata Yulianto.
"Mungkin efek samping kemoterapi. Biasa itu." Jawab Nurmala.
"Tapi dulu kamu nggak separah ini. Ayo besok kita ke dokter." Kata Yulianto.
"Iya, Yuli." Jawab Nurmala.
Keesokan harinya, Yulianto mengantar Nurmala ke rumah sakit. Dokter yang menangani Nurmala, dr. Andini, memeriksa Nurmala dengan teliti. Setelah melakukan USG perut, wajah dr. Andini berubah.
"Nurmala, ini kehamilan." Kata dr. Andini.
"Apa?" Nurmala dan Yulianto bersamaan.
"Nurmala positif hamil. Usianya sekitar enam minggu." Ulang dr. Andini.
Nurmala membeku. Yulianto juga terdiam. Ruangan itu terasa berputar.
"Tapi, Dok... saya sedang menjalani kemoterapi. Saya minum obat-obatan keras. Apakah ini aman?" Tanya Nurmala panik.
Dr. Andini menghela napas.
"Itulah masalahnya, Nurmala. Kondisi kamu sangat kompleks. Di satu sisi, kehamilan bisa memperburuk kondisimu karena tubuhmu harus berbagi nutrisi dengan janin. Di sisi lain, obat-obatan kemoterapi yang kamu konsumsi berpotensi menyebabkan cacat pada janin." Jelas dr. Andini.
"Lalu... apa yang harus saya lakukan, Dok?" Tanya Nurmala dengan suara bergetar.
"Ada dua pilihan, Nurmala. Yang pertama, melanjutkan kehamilan dengan risiko tinggi bagi kamu dan janin. Yang kedua, menghentikan kehamilan." Jawab dr. Andini dengan hati-hati.
"Menghentikan kehamilan?" Nurmala mengulang kalimat itu dengan suara hampa.
"Aborsi medis. Demi keselamatan kamu. Karena kehamilan akan mempercepat penyebaran sel kanker." Jelas dr. Andini.
Nurmala menunduk. Tangannya memegang perutnya yang masih rata. Di dalam sana ada kehidupan kecil yang tidak ia rencanakan. Kehidupan yang mungkin tidak akan pernah ia lihat jika ia memilih untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
"Yuli, bagaimana menurutmu?" Tanya Nurmala.
Yulianto terdiam. Ia juga tidak tahu. Ia ingin mengatakan "pertahankan bayinya" karena itu adalah buah cinta mereka. Tapi ia juga tidak ingin kehilangan Nurmala lebih cepat dari yang seharusnya.
"Aku nggak tahu, Mala. Ini terlalu berat." Jawab Yulianto jujur.
"Aku ingin pertahankan." Kata Nurmala.
"Mala, kamu sadar dengan risikonya?" Tanya dr. Andini.
"Aku sadar, Dok. Tapi ini mungkin satu-satunya kesempatan aku punya anak. Dengan Yuli. Aku nggak mau menyia-nyiakan." Jawab Nurmala.
"Mala, apa kamu yakin? Aku nggak mau kehilangan kamu lebih cepat." Kata Yulianto.
"Dan aku nggak mau kehilangan anak kita, Yuli. Biarlah Tuhan yang menentukan. Aku akan berjuang. Untuk dia. Untuk kita." Jawab Nurmala.
Yulianto memeluk Nurmala. Air matanya jatuh. Ia tidak tahu apakah ini keputusan yang benar. Yang ia tahu, ia akan mendukung apapun keputusan istrinya.
Dr. Andini menghela napas.
"Baik, kalau itu keputusanmu. Tapi kamu harus menjalani pemeriksaan lebih rutin. Dan kita akan menghentikan kemoterapi sementara untuk mengurangi risiko pada janin. Tapi konsekuensinya, sel kanker bisa menyebar lebih cepat." Kata dr. Andini.
"Tidak apa-apa, Dok. Saya siap." Jawab Nurmala.
Berita tentang kehamilan Nurmala segera menyebar ke keluarga. Bu Rahma menangis haru. Pak Heru terdiam lama, lalu menghela napas pasrah. Kumala yang mendengar kabar itu hanya bisa terdiam. Tidak ada lagi air mata. Hanya rasa takut yang semakin menggunung.
"Kakak Mala, kakak yakin dengan keputusan ini?" Tanya Kumala saat mereka berdua di dapur.
"Yakin, Kumala. Ini anugerah." Jawab Nurmala.
"Tapi kakak..."
"Kumala, kakak tahu kakak mungkin nggak akan hidup cukup lama untuk melihat anak ini besar. Tapi setidaknya, sebagian dari kakak akan hidup. Lewat dia. Lewat kalian yang menjaga dia." Kata Nurmala.
Kumala memeluk kakaknya.
"Kakak akan hidup lama, Kak. Aku yakin. Tuhan nggak akan mengambil kakak sekarang. Belum waktunya." Kata Kumala.
"Kita lihat saja, Kumala. Yang jelas, aku nggak akan berhenti berjuang." Jawab Nurmala.
BAB XII
DUA TAHUN BAHAGIA YANG FANA
Kebahagiaan kecil di tengah keterbatasan waktu. Kesehatan Nurmala mulai menurun setelah hamil. Yulianto merawat dengan penuh kasih. Firasat buruk menjelang persalinan.
Kehamilan Nurmala berjalan tidak mudah. Hari-hari yang seharusnya penuh dengan kebahagiaan menanti buah hati justru berubah menjadi rangkaian panjang rasa mual, pusing, dan kelelahan yang luar biasa. Di trimester pertama, Nurmala mengalami hiperemesis gravidarum, mual dan muntah yang tidak seperti mual biasa. Ini bukan mual yang datang di pagi hari lalu hilang setelah makan. Ini adalah mual yang datang setiap saat, siang dan malam, tanpa kenal waktu, tanpa kenal ampun.
Setiap kali Yulianto menyajikan makanan di hadapan istrinya, Nurmala akan mencium aromanya lalu berubah pucat. Ia akan berlari ke kamar mandi atau sekadar membuang muka ke samping tempat tidur, dan segala yang baru saja masuk ke perutnya akan keluar kembali dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Kadang bahkan tidak sampai semenit. Kadang hanya memikirkan makanan saja sudah cukup untuk memicu muntah.
Yulianto sudah mencoba segalanya. Pagi-pagi sekali ia bangun lebih awal untuk membuat bubur ayam dengan potongan daging yang sangat halus, makanan favorit Nurmala sejak kecil. Ia menyajikannya di atas nampan kayu yang ia beli khusus, dengan sendok dan garpu yang sudah ia cuci bersih. Ia membawa nampan itu ke kamar dengan penuh harap.
"Mala, ini bubur ayam kesukaan kamu. Aku buat sendiri dari jam empat subuh. Ayamnya aku rebus dulu, lalu aku suwir-suwir halus. Aku kasih sedikit kecap dan bawang goreng. Coba cicipi sedikit saja." Kata Yulianto sambil duduk di tepi tempat tidur.
Nurmala membuka matanya perlahan. Wajahnya pucat pasi. Ia menatap nampan di tangan Yulianto, lalu mencium aroma bubur itu. Sejenak ia tersenyum.
"Wangi, Yuli. Kayak dulu bubur langganan kita di pinggir jalan dekat pasar." Jawab Nurmala.
"Iya. Aku belajar bikin dari Mama. Katanya resep turun-temurun. Coba, Mala. Satu sendok saja." Kata Yulianto.
Ia menyendok bubur itu perlahan. Uap panas masih mengepul. Ia meniupnya sebentar, lalu mendekatkan sendok ke bibir Nurmala.
Nurmala membuka mulut. Ia memakan satu sendok bubur itu. Matanya berkaca-kaca.
"Enak, Yuli. Enak banget." Kata Nurmala.
"Alhamdulillah. Satu lagi, Mala." Kata Yulianto.
Nurmala menggeleng.
"Enggak dulu, Yuli. Aku sudah mual." Jawab Nurmala.
"Baru satu sendok, Mala." Kata Yulianto.
"Maaf, Yuli. Aku benar-benar sudah mual." Jawab Nurmala.
Ia memalingkan wajahnya ke arah jendela. Tangan kirinya memegang perut yang masih rata. Tangannya gemetar.
Yulianto menurunkan sendok. Ia meletakkan nampan di atas meja samping tempat tidur. Ia tidak mau memaksa. Tapi hatinya sakit melihat istri tercintanya tidak bisa makan.
Tidak hanya bubur. Yulianto mencoba sup ayam bening dengan potongan wortel dan kentang yang sangat lembut. Nurmala menghabiskan dua sendok, lalu muntah. Ia mencoba jus jambu biji yang manis dan segar. Nurmala meminum setengah gelas, lalu mual. Ia mencoba biskuit gandum, pudding susu, es krim vanilla, bahkan kerupuk asin, semua berakhir sama. Mual, pusing, dan muntah.
Berat badan Nurmala turun drastis. Dari lima puluh kilogram menjadi empat puluh tiga kilogram dalam waktu hanya dua bulan. Tulang-tulangnya mulai terlihat di balik kulit yang semakin pucat. Tulang pipinya menonjol. Tulang selangkanya tampak jelas setiap kali ia memakai baju dengan leher sedikit lebar. Matanya cekung, seperti orang yang tidak tidur berminggu-minggu, padahal ia tidur lebih dari dua belas jam sehari. Bibirnya pecah-pecah meskipun Yulianto rajin mengoleskan lip balm setiap beberapa jam.
Yulianto panik. Setiap hari ia mencoba berbagai macam makanan baru untuk Nurmala. Ia pergi ke pasar tradisional untuk membeli sayuran organik. Ia pergi ke supermarket besar untuk mencari camilan-camilan impor yang mungkin lebih mudah dicerna. Ia bahkan memesan makanan online dari restoran-restoran yang terkenal dengan masakannya yang lezat. Tapi semuanya ditolak oleh perut istrinya. Tidak ada yang bertahan lebih dari lima belas menit.
Suatu pagi, Yulianto duduk di tepi tempat tidur dengan wajah yang sangat lelah. Matanya merah. Wajahnya kusut. Ia sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi.
"Mala, kamu harus makan. Kamu nggak bisa cuma minum air putih seharian." Kata Yulianto dengan nada setengah memohon, setengah putus asa.
"Aku sudah coba, Yuli. Sungguh. Tapi semuanya mual. Bahkan air putih kadang bikin aku mual." Jawab Nurmala lemas. Suaranya nyaris tak terdengar. Ia berbaring di atas bantal dengan mata setengah terpejam.
"Tapi kamu kurus sekali, Mala. Tulang-tulangmu sudah kelihatan. Aku takut." Kata Yulianto.
"Aku juga takut, Yuli. Tapi apa daya. Badanku sendiri yang nolak." Jawab Nurmala.
"Aku panggil dokter. Ini nggak boleh dibiarkan terus-terusan." Kata Yulianto sambil berdiri.
"Nggak usah, Yuli. Mungkin cuma mual biasa. Nanti juga hilang." Jawab Nurmala.
"Ini bukan mual biasa, Mala. Ini sudah berbulan-bulan. Kamu sudah kurus banget. Aku lihat kamu seperti... seperti..." Yulianto tidak bisa melanjutkan. Ia tidak tega mengatakan kalimat itu.
"Seperti mayat hidup?" Tanya Nurmala.
"Jangan bicara begitu, Mala." Kata Yulianto.
"Tapi itu fakta, Yuli. Aku sudah kurus. Aku sudah pucat. Aku tahu. Aku lihat di cermin." Jawab Nurmala.
"Aku panggil dokter. Sekarang juga." Kata Yulianto tegas.
Ia keluar dari kamar dan mengambil ponselnya. Ia menelepon dr. Andini, dokter kandungan sekaligus dokter onkologi yang menangani Nurmala. Telepon diangkat setelah tiga kali dering.
"Halo, dr. Andini? Selamat pagi, Dok. Ini Yulianto, suami Nurmala. Maaf mengganggu pagi-pagi." Kata Yulianto.
"Selamat pagi, Yulianto. Ada apa? Ada keluhan?" Jawab dr. Andini.
"Iya, Dok. Nurmala mual dan muntah terus. Sudah berbulan-bulan. Berat badannya turun drastis. Dari lima puluh jadi empat puluh tiga sekarang. Dia hampir tidak bisa makan apa pun." Kata Yulianto.
"Sudah berapa lama?" Tanya dr. Andini.
"Sudah hampir dua bulan, Dok." Jawab Yulianto.
"Lama sekali. Kenapa tidak segera hubungi saya?" Tanya dr. Andini.
"Maaf, Dok. Saya pikir tadi mual biasa. Tapi sekarang semakin parah." Jawab Yulianto.
"Saya akan datang hari ini. Jangan beri dia makan atau minum apa pun dulu sebelum saya periksa. Biarkan perutnya kosong." Kata dr. Andini.
"Baik, Dok. Terima kasih." Jawab Yulianto.
Ia menutup telepon. Wajahnya masih tegang.
Dr. Andini datang sekitar pukul sebelas siang. Ia membawa tas medis besar berisi peralatan pemeriksaan. Ia langsung masuk ke kamar Nurmala tanpa banyak bicara. Yulianto mengikutinya dari belakang.
"Selamat siang, Nurmala. Bagaimana perasaanmu?" Sapa dr. Andini sambil duduk di kursi di samping tempat tidur.
"Lelah, Dok. Mual. Kepala pusing." Jawab Nurmala.
"Muntahnya berapa kali sehari?" Tanya dr. Andini sambil memeriksa tensi darah Nurmala.
"Banyak, Dok. Setiap kali habis makan atau minum. Kadang meskipun tidak makan juga muntah. Cuma muntah empedu." Jawab Nurmala.
Dr. Andini memasang stetoskopnya. Ia mendengarkan detak jantung Nurmala dan suara napasnya. Wajahnya semakin serius.
"Nurmala, kamu dehidrasi berat. Tekanan darahmu rendah sekali. Jantungmu berdetak terlalu cepat." Kata dr. Andini.
"Apa gejala dehidrasi, Dok?" Tanya Yulianto.
"Mulut kering, mata cekung, urine sedikit dan berwarna pekat, pusing, lemas. Dari pemeriksaan fisik, Nurmala punya semua gejala itu. Dia harus segera diinfus." Jawab dr. Andini.
"Infus?" Tanya Nurmala.
"Iya. Kamu butuh cairan dan elektrolit. Nutrisi juga. Kalau ini dibiarkan, kamu dan janinmu sama-sama dalam bahaya." Jawab dr. Andini.
Nurmala memegang perutnya.
"Tapi janinnya, Dok? Apakah infus aman? Saya takut ada efek samping." Tanya Nurmala.
Dr. Andini menyentuh bahu Nurmala dengan lembut.
"Infus itu aman, Nurmala. Cairan infus adalah campuran air steril, garam, gula, dan vitamin yang dibutuhkan tubuh. Yang tidak aman adalah ibunya tidak makan. Janin akan mengambil nutrisi dari cadangan tubuhmu. Kalau kamu terus kurus, cadangan nutrisimu habis. Janin tidak dapat apa-apa. Ini bisa menyebabkan keguguran atau janin lahir dengan berat sangat rendah." Jawab dr. Andini.
Nurmala menggigit bibir bawahnya. Matanya berkaca-kaca.
"Apakah ada pilihan lain, Dok?" Tanya Nurmala.
"Satu-satunya pilihan adalah kamu mau diinfus dan mau makan. Tidak ada pilihan lain. Maaf kalau saya terdengar kasar, tapi ini demi kamu dan bayimu." Jawab dr.Andini.
Nurmala menatap Yulianto. Yulianto mengangguk.
"Mala, tolong. Setuju saja. Aku nggak tega lihat kamu kayak gini." Kata Yulianto.
Nurmala menghela napas panjang.
"Baik, Dok. Saya setuju diinfus." Jawab Nurmala.
Dr. Andini segera mempersiapkan peralatan infus. Ia memegang tangan kiri Nurmala, mencari pembuluh darah yang masih cukup baik. Setelah menemukannya, ia menusukkan jarum dengan hati-hati. Nurmala memejamkan mata, menahan sakit.
"Maaf ya. Selesai." Kata dr. Andini.
Nurmala membuka matanya. Ia melihat selang plastik tipis yang terhubung dari tangannya ke botol infus berwarna bening.
"Aku harus infus berapa lama, Dok?" Tanya Nurmala.
"Kamu akan diinfus setiap hari. Saya akan mengirim perawat ke rumah untuk memasang infus dan memberimu cairan serta vitamin. Setelah seminggu, kita evaluasi lagi apakah kondisimu membaik." Jawab dr. Andini.
"Setiap hari? Repot sekali." Kata Nurmala.
"Tidak repot. Ini untuk kesehatanmu. Saya titip pesan ke Yulianto, jaga istri Anda dengan baik. Dia butuh support luar biasa sekarang." Kata dr. Andini sambil menatap Yulianto.
"Saya janji, Dok. Saya akan lakukan apa pun untuk Mala." Jawab Yulianto.
Perawatan infus berlangsung selama satu minggu penuh. Setiap pagi, seorang perawat bernama Suster Dewi datang ke rumah dengan membawa botol-botol infus segar. Suster Dewi adalah perawat yang ramah dan sabar. Ia selalu tersenyum setiap kali memasang jarum di tangan Nurmala.
"Bu Nurmala, hari ini merasa lebih baik?" Tanya Suster Dewi sambil membersihkan area tangan yang akan diinfus.
"Masih mual, Suster. Tapi sudah tidak semuntah dulu." Jawab Nurmala.
"Bagus. Berarti infusnya berfungsi. Tubuh Ibu mulai mendapatkan cairan yang cukup. Sekarang tolong Ibu berusaha makan. Sedikit demi sedikit. Jangan langsung banyak." Kata Suster Dewi.
"Saya coba, Suster." Jawab Nurmala.
Setiap hari, setelah Suster Dewi selesai memasang infus, Yulianto akan duduk di samping tempat tidur dan menemani istrinya. Ia membaca buku cerita untuk Nurmala, novel-novel romantis yang dulu sering mereka baca bersama saat masih SMA. Kadang ia membacakan dengan suara lantang. Kadang ia hanya membacanya dalam hati.
Suatu sore, ketika infus sudah terpasang di tangan kirinya, Nurmala berkata pada Yulianto.
"Yuli, hari ini aku bisa makan. Aku rasa perutku mulai tenang." Kata Nurmala.
"Serius, Mala?" Tanya Yulianto.
"Iya. Coba buatkan sup ayam bening seperti dulu. Tapi jangan banyak-banyak. Satu mangkuk kecil saja." Jawab Nurmala.
Yulianto tersenyum lebar. Ia hampir menangis. Ini adalah pertama kalinya dalam berminggu-minggu Nurmala meminta makanan.
"Aku buatkan sekarang. Tunggu di sini ya." Kata Yulianto sambil bergegas ke dapur.
Ia memasak sup ayam bening dengan penuh cinta. Ia memotong wortel dan kentang berbentuk bunga-bunga kecil, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Ia menyuwir daging ayam hingga halus. Ia menambahkan sedikit seledri dan bawang daun untuk aroma. Ia mencicipi kuahnya. Pas. Tidak terlalu asin. Tidak terlalu hambar.
Ia membawa semangkuk sup ke kamar. Nurmala sedang duduk bersandar di kepala tempat tidur dengan bantal tambahan di punggungnya.
"Ini, Mala. Sup ayam bening spesial edisi Yulianto." Kata Yulianto sambil menyendok sup ke piring kecil.
Nurmala mengambil sendok. Ia menyendok sedikit sup, meniupnya, lalu memasukkannya ke mulut. Matanya terpejam. Ia mengunyah perlahan. Menelan.
Ia membuka mata. Tersenyum.
"Enak, Yuli. Enak banget." Kata Nurmala.
"Alhamdulillah. Satu lagi, Mala." Kata Yulianto.
Nurmala menyendok lagi. Dan lagi. Dan lagi. Dalam lima belas menit, ia menghabiskan satu mangkuk sup tanpa muntah. Itu adalah keajaiban kecil, tapi bagi Yulianto, itu lebih dari sekadar keajaiban.
Setelah seminggu menjalani perawatan infus, kondisi Nurmala mulai membaik. Rasa mual tidak hilang sepenuhnya, mungkin tidak akan pernah hilang sampai ia melahirkan, tapi sudah jauh berkurang. Ia bisa makan sedikit demi sedikit. Berat badannya stabil di angka empat puluh lima kilogram. Tidak naik banyak, tapi setidaknya tidak turun lagi.
Memasuki trimester kedua, kondisi Nurmala sedikit membaik. Rasa mualnya berkurang drastis. Ia mulai bisa berjalan-jalan kecil di halaman rumah tanpa merasa pusing. Bahkan kadang ia bisa berdiri selama lima belas menit penuh, sesuatu yang mustahil ia lakukan pada trimester pertama.
Suatu sore, Yulianto membelikannya kursi goyang kayu jati yang ia pesan dari tukang kayu langganan di desa sebelah. Kursi itu berwarna cokelat alami dengan sandaran yang tinggi dan sandaran tangan yang lebar. Ada bantal tipis di bagian dudukan dan sandaran.
"Ini untuk apa, Yuli?" Tanya Nurmala saat Yulianto meletakkan kursi goyang itu di teras depan.
"Buat kamu duduk-duduk di teras. Biar dapat angin sore. Nggak terus-terusan di kamar." Jawab Yulianto.
"Cantik." Kata Nurmala sambil membelai kursi itu.
"Coba duduk. Aku dengar kursi goyang itu bagus untuk ibu hamil. Kata Mama, dulu Mama juga pakai kursi goyang waktu hamil aku." Kata Yulianto.
Nurmala duduk perlahan di kursi goyang itu. Ia menyesuaikan posisinya. Lalu ia mulai mengayun pelan. Kursi itu bergerak maju-mundur dengan suara kayu yang berdecit kecil.
"Enak, Yuli. Beneran enak. Kayak diayun-ayun." Kata Nurmala sambil tersenyum.
"Itu sudah resmi jadi properti nomor satu di rumah kita." Kata Yulianto sambil duduk di kursi plastik di sampingnya.
Setiap sore, rutinitas baru mereka mulai. Yulianto dan Nurmala duduk di teras rumah. Yulianto membawa dua gelas es teh manis, satu untuknya, satu untuk Nurmala. Mereka minum es teh sambil menikmati angin sore yang sejuk. Burung-burung beterbangan pulang ke sarang. Matahari perlahan turun di ufuk barat, meninggalkan warna jingga keemasan di langit.
"Mala, kamu dengar nggak? Ada burung berkicau." Kata Yulianto sambil menunjuk ke arah pohon mangga di samping rumah.
"Iya. Indah, ya. Aku suka suara burung. Tenang. Nggak bikin stres." Jawab Nurmala sambil memegang perutnya yang mulai membesar.
Perutnya sekarang sudah terlihat jelas, bukan tonjolan kecil lagi, tapi gundukan yang bulat dan padat. Janin di dalamnya tumbuh dengan baik, meskipun ibunya kekurangan gizi di trimester pertama.
"Kira-kira anak kita laki-laki atau perempuan, Mala?" Tanya Yulianto sambil menatap perut istrinya.
"Aku nggak tahu, Yuli. Belum pernah cek USG. Tapi aku doanya anak kita sehat. Laki atau perempuan sama saja. Yang penting sehat dan sempurna." Jawab Nurmala.
"Tapi kalau laki-laki siapa tahu bisa main bola sama aku kayak kita dulu." Kata Yulianto.
"Kalau perempuan nggak bisa main bola?" Tanya Nurmala.
"Bisa. Masa nggak. Lihat saja kamu. Perempuan tomboy. Main bola lebih jago daripada aku." Jawab Yulianto, dan mereka berdua tertawa.
Tawa yang sederhana. Tawa yang tidak membutuhkan alasan. Tawa yang keluar begitu saja karena mereka masih bisa tertawa di tengah badai yang menghantam.
"Kalau laki-laki namanya Muhammad Yuli. Biar ada namaku." Kata Yulianto.
"Muhammad Yuli? Kok panjang. Panggilannya Yuli lagi. Nanti bingung. Kamu Yuli besar, dia Yuli kecil." Kata Nurmala.
"Ya terserah. Yang penting namanya bagus. Kalau perempuan?" Tanya Yulianto.
"Kalau perempuan namanya Dewi Nurmala. Biar ada namaku." Jawab Nurmala.
"Dewi Nurmala. Dewi berarti dewi. Nurmala berarti cahaya. Jadi Dewi Cahaya?" Kata Yulianto.
"Iya. Dewi Cahaya. Mudah-mudahan dia menjadi cahaya buat kita berdua." Jawab Nurmala.
Yulianto tersenyum. Tapi senyumnya hambar. Ada firasat buruk yang tidak bisa ia hilangkan. Setiap kali Nurmala tersenyum, ia melihat senyum itu seperti senyum perpisahan. Senyum yang terlalu manis, terlalu tulus, terlalu sempurna, seperti seseorang yang sedang menikmati makanan terakhirnya sebelum dieksekusi.
Setiap kali Nurmala memegang perutnya, ia merasa bahwa istrinya sedang memeluk sesuatu yang mungkin tidak akan sempat ia peluk lama. Seperti seorang ibu yang tahu bahwa ia tidak akan hidup cukup lama untuk melihat anaknya tumbuh besar, maka ia memeluk perutnya sekuat tenaga untuk menyimpan semua rasa cinta yang tidak akan sempat ia berikan.
Setiap kali malam tiba dan mereka berbaring berdampingan, Yulianto selalu memegang tangan Nurmala. Kadang ia menempelkan telinganya di perut Nurmala untuk mendengar detak jantung bayi mereka. Kadang ia hanya diam dan berdoa dalam hati.
"Ya Allah, jangan ambil dia. Belum. Aku belum siap. Aku tidak akan pernah siap."
Sebagai suami, ia tahu bahwa istrinya sedang berjuang. Sebagai laki-laki, ia merasa tidak berdaya. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain merawat, menemani, dan berdoa.
Di trimester ketiga, kesehatan Nurmala menurun drastis. Keadaannya seperti rollercoaster, naik turun tanpa pola yang jelas. Ada hari-hari di mana ia merasa cukup kuat untuk berjalan keliling rumah. Ada hari-hari di mana ia tidak bisa bangun dari tempat tidur sama sekali.
Kankernya mulai menyebar lebih cepat karena selama kehamilan ia tidak menjalani kemoterapi. Sel-sel ganas itu tidak peduli bahwa inangnya sedang hamil. Mereka terus membelah, terus menyebar, terus merusak jaringan-jaringan sehat di tubuh Nurmala.
Nurmala sering mengeluh sesak napas. Bahkan saat sedang tidur, napasnya kadang terdengar berat seperti orang yang baru saja berlari. Yulianto sering terbangun di tengah malam karena mendengar suara napas istrinya yang tidak normal.
"Mala, kamu nggak apa-apa?" Tanya Yulianto sambil duduk di samping Nurmala.
"Aku... aku sesak, Yuli. Susah napas." Jawab Nurmala dengan suara terputus-putus.
"Harus ke rumah sakit?" Tanya Yulianto.
"Nggak usah. Nanti juga reda. Kamu tidur lagi saja." Jawab Nurmala.
"Aku nggak bisa tidur kalau lihat kamu kayak gini." Kata Yulianto.
Yulianto kemudian mengatur bantal-bantal di punggung Nurmala. Ia menyusun tiga bantal agar posisi Nurmala lebih tegak. Posisi setengah duduk biasanya membantu pernapasan pasien kanker yang sudah menyebar ke paru-paru.
Setelah beberapa menit, napas Nurmala mulai teratur.
"Makasih, Yuli." Kata Nurmala.
"Sama-sama, Mala. Sekarang kamu tidur. Aku di sini. Aku nggak akan pergi." Jawab Yulianto.
Selain sesak napas, batuk Nurmala juga semakin parah. Batuknya kering dan keras, kadang disertai dahak berwarna merah muda, tanda adanya perdarahan kecil di saluran pernapasan. Yulianto setiap kali melihat dahak itu, hatinya terasa seperti diremas-remas.
Tulang-tulang Nurmala juga mulai terasa nyeri, terutama di punggung dan pinggul. Kanker nasofaring stadium lanjut sering bermetastasis ke tulang. Sel-sel kanker itu membuat lubang-lubang kecil di tulang, menyebabkan rasa sakit yang luar biasa. Nurmala tidak pernah mengeluh keras-keras, tapi Yulianto melihat bagaimana ia mengerutkan dahi setiap kali bergerak, bagaimana ia menggigit bibir bawahnya saat berdiri dari tempat tidur, bagaimana ia menghela napas panjang setiap kali harus berjalan ke kamar mandi.
"Mala, aku pijat punggungmu ya." Kata Yulianto.
"Nggak usah, Yuli. Kamu sudah capek." Jawab Nurmala.
"Nggak capek. Ayo, balik." Kata Yulianto.
Nurmala menurut. Ia membalikkan badannya sehingga punggungnya menghadap Yulianto. Yulianto meletakkan kedua telapak tangannya di punggung Nurmala. Kulitnya terasa panas—mungkin karena demam yang sering datang dan pergi. Ia mulai memijat perlahan, lembut, dengan penuh kasih.
"Aku sayang kamu, Mala." Bisik Yulianto.
"Aku juga sayang kamu, Yuli. Maaf aku jadi beban." Jawab Nurmala.
"Kamu bukan beban. Kamu istriku." Kata Yulianto.
Suatu pagi, Yulianto membawa Nurmala ke rumah sakit untuk kontrol rutin. Dr. Andini memeriksa kondisi Nurmala dengan saksama. Ia melakukan USG untuk memeriksa kondisi janin, lalu memeriksa denyut jantung Nurmala, tekanan darah, dan saturasi oksigen.
Setelah selesai, dr. Andini melepas sarung tangan karetnya. Wajahnya serius.
"Yulianto, Nurmala, kita harus bicara." Kata dr. Andini.
"Apa, Dok?" Tanya Yulianto.
"Kondisi Nurmala semakin menurun. Kankernya menyebar cukup cepat karena selama kehamilan dia tidak menjalani kemoterapi. Janinnya sudah cukup besar, sekitar dua kilogram. Masih prematur, tapi memiliki peluang hidup yang baik jika dilahirkan sekarang." Kata dr. Andini.
"Maksud Dokter, kami harus melahirkan sekarang?" Tanya Nurmala.
"Iya. Kami merekomendasikan untuk melakukan operasi caesar dalam waktu dekat. Usia kehamilanmu sudah delapan bulan. Janin sudah cukup matang. Paru-parunya mungkin belum sempurna, tapi dengan bantuan alat, dia bisa bertahan." Jawab dr. Andini.
"Tapi bukankah lebih baik menunggu sampai cukup bulan, Dok? Biar bayinya lebih kuat." Kata Yulianto.
"Dalam kondisi normal, ya. Tapi kondisi Nurmala tidak normal. Setiap hari yang kita tunggu, beban di tubuh Nurmala semakin berat. Jantungnya sudah mulai terbebani. Paru-parunya juga. Jika kita terus menunggu, bisa terjadi komplikasi yang membahayakan nyawa Nurmala." Jawab dr. Andini.
Nurmala menggenggam tangan Yulianto.
"Kapan, Dok?" Tanya Nurmala.
"Besok pagi. Karena hari ini kamu harus dipersiapkan dulu." Jawab dr. Andini.
Nurmala menatap Yulianto. Matanya basah.
"Yuli, aku takut." Bisik Nurmala.
"Jangan takut, Mala. Aku di sini. Aku nggak akan pergi." Jawab Yulianto. Ia menggenggam balik tangan istrinya. Tangan itu dingin dan kurus, tapi masih terasa hangat baginya.
"Bukan takut operasi, Yuli. Aku takut... takut nggak bisa lihat anak kita. Aku takut nggak sempet menggendongnya. Aku takut..." Nurmala tidak bisa melanjutkan.
"Kamu akan lihat, Mala. Kamu akan gendong dia. Kamu akan susui dia. Kamu akan lihat dia tumbuh besar. Percaya sama aku. Percaya sama dokter." Kata Yulianto. Suaranya tegas, tapi hatinya ragu.
Dr. Andini menepuk bahu Nurmala.
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin, Nurmala. Kamu juga harus berjuang. Untuk bayimu." Kata dr. Andini.
Nurmala mengangguk. Ia mengusap air matanya yang jatuh.
Malam sebelum persalinan, Nurmala meminta Yulianto untuk memangku-nya. Mereka duduk di tepi tempat tidur. Cahaya lampu remang-remang dari lampu tidur yang diletakkan di meja samping. Hujan turun di luar, rintik-rintik kecil yang jatuh di atas atap rumah, menciptakan suara yang tenang dan sendu.
Di kamar itu hanya ada mereka berdua. Dewi, bayi dalam kandungan Nurmala, sedang bergerak-gerak. Mungkin ia juga tidak bisa tidur.
"Mala, kamu nggak bisa tidur?" Tanya Yulianto sambil membelai rambut Nurmala yang semakin tipis.
"Nggak. Aku pengen ngobrol." Jawab Nurmala.
"Tentang apa?" Tanya Yulianto.
"Tentang semuanya. Tentang kita. Tentang masa lalu. Tentang masa depan." Jawab Nurmala.
Yulianto menghela napas. Ia melihat jam di dinding. Sudah pukul sebelas malam.
"Kita punya banyak waktu, Mala. Nggak harus malam ini juga. Besok kamu operasi. Kamu butuh istirahat." Kata Yulianto.
"Nggak, Yuli. Aku butuh malam ini. Aku butuh sekarang." Jawab Nurmala. Suaranya tegas, meskipun lemah.
Yulianto menatap mata istrinya. Di matanya yang cekung itu, ia melihat ketulusan. Ia melihat seseorang yang tahu bahwa waktu tidak berpihak padanya.
"Baik, kalau begitu." Kata Yulianto.
Nurmala menarik napas panjang. Dadanya naik turun perlahan. Ia menggenggam tangan Yulianto dengan kedua tangannya.
"Aku minta maaf, Yuli." Kata Nurmala.
"Maaf soal apa, Mala?" Tanya Yulianto.
"Maaf karena dulu aku nolak kamu. Maaf karena aku nyakitin kamu. Maaf karena aku maksa kamu deketin Kumala. Maaf karena aku bohong tentang penyakitku. Maaf karena aku... aku nggak bisa jadi istri yang sempurna buat kamu." Jawab Nurmala. Air matanya mengalir pelan di pipinya yang kurus.
"Kamu nggak perlu minta maaf, Mala. Kamu nggak salah apa-apa. Aku yang salah. Aku yang nggak peka." Kata Yulianto.
"Aku salah, Yuli. Aku salah karena terlalu mencintai kamu dengan caraku sendiri. Cara yang salah. Cara yang egois." Jawab Nurmala.
"Kamu nggak egois, Mala. Kamu orang yang paling tidak egois yang aku kenal." Kata Yulianto.
"Aku egois, Yuli. Aku memutuskan sendiri tanpa melibatkan kamu. Aku memilih untuk menderita sendiri tanpa memberi kamu kesempatan untuk memilih. Aku pikir itu yang terbaik buat kamu. Tapi aku tidak pernah bertanya apa yang kamu mau. Itu egois. Sangat egois." Jawab Nurmala.
Yulianto tidak bisa menjawab. Karena Nurmala benar. Ia benar-benar benar. Tapi ia tidak bisa marah. Hatinya terlalu penuh dengan cinta—cinta yang sudah ia pendam sejak kecil, cinta yang sempat ia pikir akan pupus ketika Nurmala menolaknya, tapi ternyata tumbuh semakin kuat ketika ia tahu alasan sesungguhnya di balik penolakan itu.
"Mala, aku sudah memaafkan kamu dari dulu. Bahkan sebelum kamu minta maaf." Kata Yulianto.
"Terima kasih, Yuli. Kamu laki-laki yang baik. Terlalu baik untuk aku. Terlalu baik untuk perempuan sepertiku yang sebentar lagi..." Nurmala tidak melanjutkan.
"Jangan bicara begitu, Mala." Potong Yulianto.
"Aku nggak baik, Mala. Aku juga punya ego. Aku juga punya marah. Tapi untuk kamu, aku belajar menjadi lebih baik. Karena kamu mengajarkanku arti kesabaran. Kamu mengajarkanku arti pengorbanan. Kamu mengajarkanku bahwa cinta itu tidak selalu tentang memiliki." Kata Yulianto.
"Kamu bilang aku mengajarimu, tapi sebenarnya kamulah yang mengajariku, Yuli. Kamu mengajariku bahwa ada laki-laki yang setia. Bahwa ada cinta yang tidak mati meskipun ditolak berkali-kali. Bahwa ada orang yang mau menerima aku apa adanya, termasuk penyakitku yang mematikan ini." Jawab Nurmala.
Mereka berdua terdiam. Hujan di luar semakin deras. Suara air jatuh di atas atap rumah seperti musik pengantar tidur yang sendu.
"Yuli, kalau... kalau sesuatu terjadi besok." Kata Nurmala memecah keheningan.
"Jangan bicara begitu, Mala. Aku sudah bilang jangan bicara begitu." Potong Yulianto cepat.
"Tolong dengerin aku, Yuli. Ini mungkin terakhir kalinya aku bisa bicara dengan kamu seperti ini." Kata Nurmala.
Yulianto menggigit bibirnya. Ia tidak mau mendengar kalimat itu. Tapi ia tidak bisa menolak.
"Baik. Aku dengar." Kata Yulianto.
"Kalau sesuatu terjadi besok. Kalau aku... kalau aku nggak bangun dari meja operasi. Tolong jaga anak kita, Yuli. Jaga Dewi, aku sudah yakin anak kita perempuan karena aku mimpi semalam. Jaga dia baik-baik. Jangan sampai dia kekurangan kasih sayang. Jangan sampai dia tumbuh tanpa tahu bahwa ibunya sangat mencintainya." Kata Nurmala.
"Kamu akan bangun, Mala. Kamu akan lihat Dewi." Kata Yulianto.
"Kalau aku tidak, dengar aku. Jangan biarkan Dewi tumbuh tanpa ibu. Kalau perlu... kalau perlu nikah lagi sama Kumala. Biar dia punya ibu. Biar dia punya sosok perempuan yang merawatnya, menyayanginya, membesarkannya." Kata Nurmala.
Yulianto terperangah.
"Mala, jangan bicara gila. Aku nggak bisa menikahi adik iparku sendiri." Kata Yulianto.
"Aku serius, Yuli. Kumala baik. Dia sayang sama kamu. Aku tahu itu. Aku tahu dia masih punya perasaan padamu. Dan dia akan sayang sama Dewi. Aku tahu itu." Jawab Nurmala.
"Tapi aku tidak sayang dia seperti aku sayang kamu, Mala. Aku tidak akan pernah bisa mencintainya seperti itu." Kata Yulianto.
"Itu tidak masalah, Yuli. Yang penting Dewi punya ibu. Yang penting kamu punya pendamping. Aku tidak tega lihat kamu sendiri. Aku tidak tega lihat Dewi tumbuh tanpa kasih sayang ibu." Jawab Nurmala.
"Mala, aku..."
"Janji, Yuli. Janji bahwa kamu akan mempertimbangkannya. Janji bahwa kamu tidak akan menutup hatimu untuk Kumala. Janji bahwa kamu akan melakukan yang terbaik untuk Dewi—apa pun itu." Potong Nurmala.
Yulianto terdiam. Air matanya jatuh.
"Aku janji, Mala. Aku akan mempertimbangkannya. Aku akan melakukan yang terbaik untuk Dewi." Kata Yulianto akhirnya.
Nurmala tersenyum. Senyum yang paling tulus yang pernah Yulianto lihat dalam hidupnya. Senyum seorang ibu yang meskipun mungkin tidak akan sempat melihat anaknya tumbuh, sudah memastikan bahwa anaknya akan baik-baik saja.
"Makasih, Yuli. Aku sayang kamu. Sampai kapan pun. Sampai di surga nanti." Kata Nurmala.
"Aku juga sayang kamu, Mala. Sampai kapan pun. Sampai di surga nanti." Jawab Yulianto.
Mereka berdua berpelukan. Tubuh Nurmala terasa ringan—tidak seberat dulu saat mereka masih kecil dan ia menggotong Yulianto yang jatuh dari pohon jambu. Sekarang Yulianto yang menggendong istrinya. Menggendong dengan penuh cinta.
Hujan di luar mulai reda. Tetesannya tidak lagi deras, berganti menjadi gerimis halus yang membawa kesejukan.
"Yuli, aku ngantuk." Kata Nurmala.
"Tidurlah, Mala. Besok kamu harus kuat." Kata Yulianto.
"Gendong aku sampai aku tidur, ya." Pinta Nurmala.
"Iya, Mala. Aku gendong. Aku nggak akan lepas." Jawab Yulianto.
Nurmala memejamkan matanya. Napasnya perlahan teratur. Dadanya naik turun dengan irama yang tenang. Ia tertidur di pelukan suaminya—mungkin untuk terakhir kalinya. Yulianto mendekapnya erat. Tidak mau melepas. Tidak mau melepaskan.
"Jangan pergi, Mala. Belum. Aku belum siap. Aku tidak akan pernah siap." Bisik Yulianto dalam hati, cukup keras agar Tuhan mendengarnya, tapi cukup pelan agar tidak membangunkan istrinya yang sedang tidur pulas.
Jam di dinding menunjukkan pukul dua belas lewat lima belas menit. Hari telah berganti. Besok adalah hari persalinan, hari yang dinanti sekaligus ditakuti.
Yulianto masih tetap duduk di tepi tempat tidur, memeluk istrinya, tidak mau tidur. Ia takut jika ia tidur, ia akan kehilangan momen-momen terakhir bersama Nurmala tanpa sadar.
Ia menatap wajah istrinya yang bersinar di bawah cahaya lampu remang-remang. Wajah yang sama yang ia lihat setiap hari sejak kecil. Wajah yang membuatnya jatuh cinta. Wajah yang akan selalu ia ingat meskipun waktu terus berjalan.
"Mala, aku cinta kamu. Lebih dari kata-kata yang bisa aku ucapkan. Lebih dari air mata yang bisa aku teteskan." Bisik Yulianto.
Ia mengecup kening Nurmala pelan.
Nurmala bergerak sedikit dalam tidurnya. Bibirnya komat-kamit seperti sedang bicara dengan seseorang dalam mimpi.
"Aku juga cinta kamu, Yuli. Sampai jumpa di surga." Bisik Nurmala dalam tidurnya.
Yulianto tidak tahu apakah itu hanya mimpi atau istrinya sadar dan bicara setengah sadar. Yang ia tahu, kalimat itu terngiang di kepalanya sepanjang malam.
"Sampai jumpa di surga."
Firasat buruk yang tidak bisa ia hilangkan sejak trimester pertama kini semakin menguat. Tapi ia tidak mau berpikir negatif. Ia harus positif. Untuk Nurmala. Untuk Dewi. Untuk mereka semua.
"Besok kita akan lihat anak kita, Mala. Kamu harus kuat. Aku di sini. Selamanya." Bisik Yulianto.
Ia memeluk istrinya lebih erat. Gerimis di luar berhenti sama sekali. Malam itu sunyi—sangat sunyi. Seperti alam semesta sedang berhenti bernapas, menunggu sesuatu yang besar akan terjadi.
BAB XIII
AIR MATA KELAHIRAN DAN KEMATIAN
Nurmala melahirkan bayi perempuan, Dewi Nurmala. Namun kondisi Nurmala sangat kritis. Nurmala meninggal dalam pelukan Yulianto. Bayi selamat.
Pagi itu, langit tampak kelabu seperti tidak mau ikut bersaksi atas apa yang akan terjadi. Awan hitam menggantung rendah, berat, dan suram. Seperti langit sedang berduka sebelum duka itu benar-benar tiba. Matahari tidak muncul. Yang ada hanya cahaya pucat yang berusaha menembus celah-celah awan, tapi tidak pernah cukup terang untuk menghangatkan bumi.
Yulianto sudah bangun sejak subuh. Bahkan sebelum azan Subuh berkumandang, ia sudah duduk di tepi tempat tidur dengan mata terbuka lebar. Ia tidak tidur semalaman. Semalaman ia hanya berbaring di samping Nurmala, mendengarkan napas istrinya yang naik turun, merasakan gerakan janin di dalam perut Nurmala, dan berdoa dalam hati. Tidak ada mimpi yang datang. Pikirannya hanya tertuju pada Nurmala dan bayi di dalam kandungannya. Tidak ada ruang untuk mimpi.
Sekitar pukul setengah tujuh pagi, Yulianto mendengar suara mobil di depan rumah. Ia melihat ke luar jendela. Sebuah ambulans putih dengan lampu strobo yang tidak dinyalakan sudah terparkir di halaman. Dua orang paramedis keluar dengan tandu.
"Mala, ambulan sudah datang." Kata Yulianto sambil membangunkan istrinya.
Nurmala membuka matanya perlahan. Wajahnya pucat, lebih pucat dari biasanya. Matanya sayu. Bibirnya kering. Tapi ia masih tersenyum. Entah dari mana ia mengambil kekuatan untuk tersenyum di pagi yang kelabu seperti ini.
"Yuli, bantu aku duduk." Kata Nurmala dengan suara lirih.
Yulianto menopang punggung istrinya. Ia menyusun dua bantal di belakang Nurmala. Tulang-tulang punggung Nurmala terasa menusuk telapak tangannya, saking kurusnya tubuh istrinya.
"Kita harus kuat, Mala." Kata Yulianto.
"Aku kuat, Yuli. Yang kuatir jangan." Jawab Nurmala.
Di ruang tamu, Pak Heru dan Bu Rahma sudah berkumpul. Wajah mereka tegang. Bu Rahma sudah menangis sejak tadi. Pak Heru berusaha tegar, tapi matanya merah, tanda ia juga tidak tidur semalaman. Kumala duduk di kursi plastik dekat pintu. Ia memakai gamis cokelat dan jilbab krem. Wajahnya pucat. Tangannya menggenggam ujung gamis erat-erat.
"Nak Yuli, kita doakan yang terbaik, ya." Kata Pak Heru sambil menepuk pundak Yulianto.
"Aamiin, Pak." Jawab Yulianto.
Bu Rahma mendekati Nurmala yang masih terbaring di tempat tidur. Ia memegang tangan anaknya.
"Mala, kamu harus kuat, Nak. Ibu di sini. Ibu akan tunggu." Kata Bu Rahma sambil menangis.
"Ibu, jangan nangis. Nanti Mala ikut nangis. Bikin lemes." Jawab Nurmala.
"Iya, Nak. Ibu berusaha." Jawab Bu Rahma sambil mengusap air matanya.
Kumala hanya berdiri di dekat pintu. Ia tidak bisa mendekat. Ia takut jika ia mendekat, ia akan pingsan. Kakaknya, satu-satunya kakak yang ia miliki, akan pergi ke ruang operasi dan mungkin... ia tidak mau memikirkan kemungkinan terburuk.
"Mala, aku doain yang terbaik, ya." Kata Kumala dari kejauhan.
"Makasih, Kumala. Doain kakak." Jawab Nurmala.
Dua paramedis masuk dengan tandu. Mereka membentangkan tandu di samping tempat tidur.
"Bu Nurmala, kami akan memindahkan Ibu ke tandu. Tolong rileks saja." Kata paramedis laki-laki.
"Iya, Mas." Jawab Nurmala.
Dengan hati-hati, dua paramedis itu memindahkan Nurmala dari tempat tidur ke tandu. Nurmala menggigit bibirnya menahan sakit. Setiap gerakan terasa menyiksa bagi tubuhnya yang rapuh.
Setelah Nurmala terbaring di tandu, Yulianto meraih tangan istrinya. Tangan itu dingin—sangat dingin, tapi Yulianto tidak peduli. Ia menggenggamnya erat.
"Yuli, gandeng tangan aku. Jangan lepas." Kata Nurmala.
"Aku di sini, Mala. Aku nggak akan lepas. Sampai kapan pun." Jawab Yulianto.
Mereka berjalan keluar rumah. Pak Heru dan Bu Rahma mengikuti dari belakang. Kumala ikut, sesekali menyeka air matanya yang jatuh. Langit masih kelabu. Udara pagi itu dingin menusuk tulang.
Di rumah sakit, Nurmala segera dibawa ke ruang operasi yang sudah disiapkan. Seorang perawat meminta Yulianto untuk menunggu di ruang tunggu.
"Bapak, Ibu Nurmala akan kami bawa ke ruang operasi sekarang. Bapak bisa menunggu di ruang tunggu yang sudah disediakan." Kata perawat itu.
"Tapi saya ingin menemani dia." Kata Yulianto.
"Maaf, Bapak. Tidak diizinkan. Hanya tim medis yang boleh masuk ke ruang operasi. Bapak bisa menunggu di luar." Jawab perawat.
Nurmala yang sedang terbaring di tandu memegang tangan Yulianto.
"Yuli, kamu tunggu di luar saja. Aku nggak mau kamu lihat aku diiris-iris di meja operasi. Nanti kamu trauma." Kata Nurmala.
"Tapi Mala..." Kata Yulianto.
"Aku kuat, Yuli. Aku sudah sampai sejauh ini. Aku akan kuat sampai akhir. Kamu tunggu di luar. Berdoa buat aku." Potong Nurmala.
Yulianto mengecup kening Nurmala. Kening itu terasa panas—mungkin demam, mungkin karena stres.
"Aku di sini, Mala. Pintu ini akan aku tatap terus sampai kamu keluar." Kata Yulianto.
"Janji?" Tanya Nurmala.
"Janji." Jawab Yulianto.
Nurmala tersenyum. Tandu itu didorong masuk ke ruang operasi. Pintu besar berwarna putih tertutup perlahan. Yulianto mendengar suara gesekan sepatu para perawat di lantai keramik, suara alat-alat medis yang dipersiapkan, dan suara jantung monitor yang mulai terpasang.
Ia duduk di kursi ruang tunggu. Kulit kursi itu dingin. Udara di koridor rumah sakit berbau antiseptik tajam menusuk hidung.
Kumala duduk di sampingnya. Pak Heru dan Bu Rahma duduk di kursi di seberang. Mereka tidak berbicara. Hanya diam sambil memegang tangan masing-masing di pangkuan. Bibir mereka bergerak-gerak, mungkin sedang berdoa dalam hati. Yulianto tidak tahu. Yang ia tahu, suasana di ruang tunggu itu mencekik.
Jam berjalan lambat. Setiap detik terasa seperti satu jam. Yulianto menatap pintu ruang operasi tanpa berkedip. Ia berdoa dalam hati. Berdoa dengan khusyuk seperti tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Ia memohon pada Tuhan agar Nurmala selamat. Ia memohon agar anak mereka lahir dengan selamat. Ia memohon agar keluarganya tidak dihancurkan oleh kematian lagi.
"Ya Allah, ambil nyawaku saja kalau perlu. Tapi selamatkan Mala. Selamatkan anak kami." Bisik Yulianto dalam hati.
Setelah dua jam menunggu, yang terasa seperti dua tahun, pintu ruang operasi terbuka. Seorang perawat keluar dengan wajah yang tidak bisa dibaca.
"Keluarga Nurmala?" Tanya perawat itu.
"Kami." Jawab Yulianto berdiri cepat. Dadanya berdebar kencang. Lututnya terasa lemas.
"Ibu Nurmala telah melahirkan bayi perempuan. Berat dua kilogram dua ratus gram. Panjang empat puluh sentimeter. Bayi sehat." Kata perawat.
"Alhamdulillah." Ucap Bu Rahma sambil menangis. Ia memeluk suaminya.
"Alhamdulillah, ya Allah. Alhamdulillah." Ucap Pak Heru.
Yulianto menghela napas lega. Bayi selamat. Bayinya perempuan—seperti yang Nurmala impikan. Tapi lega itu hanya berlangsung beberapa detik.
"Bagaimana kondisi Nurmala?" Tanya Yulianto dengan suara yang mulai gemetar.
Perawat itu terdiam. Wajahnya berubah. Senyum yang tadi menghiasi bibirnya kini lenyap digantikan oleh ekspresi serius yang membuat darah Yulianto terasa berhenti mengalir.
"Ibu Nurmala mengalami perdarahan hebat pasca operasi. Dokter sedang berusaha menghentikan perdarahan." Jawab perawat.
"Apa?" Suara Yulianto meninggi. Ia hampir berteriak.
"Perdarahan hebat? Maksudnya gimana?" Tanya Kumala juga berdiri.
"Perdarahan postpartum. Rahim Ibu Nurmala tidak bisa berkontraksi dengan baik setelah plasenta keluar. Darah keluar terus dan tidak bisa dihentikan dengan obat-obatan. Dokter sedang berusaha menjahit pembuluh darah yang robek, tapi..." Perawat itu berhenti.
"Tapi apa?" Desak Yulianto.
"Tapi perdarahannya sangat banyak. Ibu Nurmala sudah kehilangan banyak darah. Tekanan darahnya sangat rendah. Jantungnya melemah." Jawab perawat.
"Tolong selamatkan dia. Apa pun. Tolong." Kata Yulianto.
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin, Bapak. Tolong bersabar." Kata perawat lalu masuk kembali. Pintu ruang operasi tertutup rapat.
Yulianto duduk kembali. Kepalanya pusing. Dunia di sekitarnya terasa berputar. Ruang tunggu itu berputar-putar seperti korsel yang tidak bisa ia hentikan. Ia memegang sisi kursi dengan tangan gemetar.
"Yuli, tenang. Kita doakan yang terbaik." Kata Pak Heru.
"Aku nggak bisa tenang, Pak. Mala di dalam sana sekarat. Istri aku sekarat." Jawab Yulianto. Suaranya pecah.
"Kita berdoa saja, Nak. Hanya doa yang bisa kita berikan sekarang." Kata Bu Rahma sambil memegang tangan Yulianto.
Yulianto menunduk. Ia menggenggam tangan Bu Rahma erat-erat. Tangan itu hangat—seperti tangan ibunya sendiri.
Satu jam berlalu. Dua jam. Tidak ada kabar. Tidak ada perawat yang keluar. Tidak ada dokter yang muncul. Yang ada hanya keheningan yang mencekik dan suara detak jarum jam di dinding ruang tunggu yang berdetak seperti menghitung mundur waktu seseorang.
Yulianto tidak bisa duduk diam. Ia mondar-mandir di koridor. Langkahnya cepat dan tidak menentu. Kadang ia berhenti di depan pintu ruang operasi, menempelkan telinganya ke pintu, berharap mendengar sesuatu—suara Nurmala, suara dokter, suara apa pun. Tapi tidak ada. Pintu itu tebal. Kedap suara. Seperti tembok pemisah antara hidup dan mati.
Kumala hanya bisa menatapnya dari kursi. Matanya berkaca-kaca. Ia sudah tidak bisa menangis lagi. Air matanya habis.
"Kak Yuli, duduk dulu. Kakak capek." Kata Kumala.
"Aku nggak bisa duduk, Kuma. Duduk bikin aku mati rasa." Jawab Yulianto.
"Kak, kakak Mala kuat. Dia selalu kuat. Sejak kecil dia kuat. Dia nggak akan gampang menyerah." Kata Kumala.
"Tapi kali ini bukan soal kuat atau nggak kuat, Kuma. Ini soal nyawa. Darah yang keluar nggak bisa diganti dengan kesaktian." Jawab Yulianto.
Kumala tidak menjawab. Ia hanya menunduk.
Akhirnya, sekitar pukul dua siang, saat matahari paling panas, meskipun langit masih kelabu—pintu ruang operasi terbuka.
Dr. Andini keluar.
Wajahnya lelah. Pucat. Matanya merah sembab, bukan karena kurang tidur, tapi karena ia baru saja selesai menangis di dalam ruang operasi setelah berjam-jam berjuang melawan kematian.
Yulianto berlari menghampiri.
"Bagaimana, Dok? Bagaimana Mala?" Tanya Yulianto.
Dr. Andini menghela napas panjang. Ia menggigit bibir bawahnya, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan di depan pasien. Matanya berkaca-kaca.
"Maaf, Yulianto. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tim kami sudah bekerja keras selama tiga jam. Kami sudah memberikan obat-obatan untuk menghentikan perdarahan. Kami sudah menjahit pembuluh darah yang robek. Kami sudah memberi transfusi darah tiga kantong. Tapi... tapi perdarahannya tidak bisa kami hentikan. Nurmala kehilangan terlalu banyak darah. Jantungnya... jantungnya sudah berhenti sepuluh menit yang lalu." Jawab dr. Andini.
Yulianto terdiam.
Tidak bergerak.
Tidak bernapas.
Dunia di sekitarnya berhenti. Suara-suara di rumah sakit itu sirna. Lampu-lampu di koridor itu padam. Orang-orang di sekitarnya menghilang. Yang ada hanya dr. Andini dengan bibir yang masih bergetar dan mata yang masih berkaca-kaca.
"Apa?" Bisik Yulianto.
"Maaf, Yulianto. Kami kehilangan dia." Ulang dr. Andini. Suaranya pecah. Dokter yang biasanya tegar dan profesional itu kini tidak bisa menahan tangisnya. Air matanya jatuh.
Tangis Bu Rahma pecah. Ia jatuh ke lantai sambil memeluk suaminya. "Mala... anak ibu... Mala..." Teriak Bu Rahma.
Pak Heru hanya bisa menangis dalam pelukan istrinya. Tubuhnya yang tua itu gemetar seperti daun kering tertiup angin. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Hanya suara isak tangis yang keluar dari tenggorokannya.
Kumala berdiri kaku. Wajahnya kosong. Matanya terbuka lebar. Tidak ada ekspresi. Tidak ada tangis. Tidak ada gerakan. Tubuhnya lemas, lalu perlahan jatuh ke samping. Tubuhnya membentur kursi kayu sebelum mendarat di lantai.
"Kumala!" Seru beberapa perawat yang melihat.
Dua perawat segera berlari menolong Kumala. Mereka membopong tubuh gadis itu ke kursi dan memeriksa tanda-tanda vitalnya.
"Pingsan. Hipotensi. Stres berat." Kata salah satu perawat.
"Bawa ke ruang rawat." Kata perawat lainnya.
Kumala dibawa ke ruang rawat di ujung koridor.
Yulianto masih berdiri. Tidak menangis. Tidak bicara. Matanya kosong, lebih kosong dari mata Kumala. Ia seperti patung. Seperti orang yang jiwanya sudah meninggalkan tubuhnya.
"Yulianto, maafkan kami." Kata dr. Andini.
Yulianto tidak menjawab. Ia berjalan, atau lebih tepatnya melangkah seperti robot—menuju ruang operasi. Langkahnya lambat, tidak tegap, seperti orang yang sedang berjalan di dalam mimpi buruk.
Seorang perawat mencoba menghentikannya. "Maaf, Bapak. Bapak tidak bisa masuk ke ruang operasi. Masih steril."
"Biarkan dia masuk." Kata dr. Andini.
Perawat itu menyingkir.
Yulianto membuka pintu ruang operasi. Suasana di dalamnya berbeda dari yang ia bayangkan. Tidak ada keributan. Tidak ada staf medis yang berlarian. Semua tenang. Mati. Perawat-perawat sedang membersihkan alat-alat bedah. Beberapa dari mereka menangis diam-diam.
Di tengah ruangan, di atas meja operasi, Nurmala terbaring.
Wajahnya bersih. Perawat pasti sudah membersihkan keringat dan bekas-bekas darah dari kulitnya. Matanya terpejam dengan lembut. Bibirnya sedikit tersenyum, seperti orang yang sedang tidur nyenyak dan bermimpi indah. Rambutnya yang tipis itu telah disisir rapi ke belakang. Tubuhnya sudah ditutupi kain putih bersih dari leher ke bawah. Hanya wajah dan kedua tangannya yang terlihat.
Tangannya yang dulu kekar karena sering bermain bola, kini kurus dan pucat. Tulang-tulang jarinya terlihat jelas di bawah kulit yang tipis. Di pergelangan tangannya, masih terpasang bekas infus yang sudah dilepas. Ada bekas luka kecil dari jarum.
Yulianto mendekat.
Langkahnya terasa berat. Setiap langkah seperti berjalan di atas lumpur yang mengisap kakinya ke bawah.
Ia berdiri di samping meja operasi. Ia menatap wajah Nurmala. Wajah yang sama yang ia lihat setiap hari sejak mereka masih kecil. Wajah yang pertama kali membuatnya jatuh cinta tanpa ia sadari. Wajah yang akan selalu ia ingat meskipun waktu terus berjalan dan ia mungkin lupa akan banyak hal.
Ia meraih tangan Nurmala.
Tangan itu sudah dingin. Tidak lagi hangat seperti tadi pagi saat mereka berpegangan tangan di atas tandu. Tidak lagi menggenggam balik. Tidak lagi bergerak. Tangan itu hanya diam, dingin, kaku, dan sunyi.
"Mala... Mala, bangun." Bisik Yulianto.
Tidak ada jawaban. Tidak ada kedipan mata. Tidak ada senyuman. Hanya keheningan yang kejam.
"Mala, kamu janji nggak akan pergi. Tadi pagi kamu bilang kamu kuat. Kamu bilang kamu akan kuat sampai akhir. Mala, bangun. Kamu sudah sampai di akhir. Sekarang bangun. Lihat anak kita." Kata Yulianto dengan suara yang mulai pecah.
Tidak ada gerakan. Tidak ada napas. Tidak ada detak jantung.
"Mala, anak kita perempuan. Namanya Dewi Nurmala. Seperti yang kamu mau. Kamu mau lihat dia, kan? Kamu mau gendong dia, kan? Kamu mau lihat wajahnya, kan? Dia mirip kamu, Mala. Perawat bilang dia mirip kamu. Hidungnya mancung kayak hidung kamu. Bangun, Mala. Bangun." Kata Yulianto.
Air matanya jatuh. Setetes. Dua tetes. Lalu deras.
Ia memeluk tubuh dingin istrinya. Ia memeluk erat-erat. Seolah-olah jika ia memeluk cukup erat, Nurmala akan hidup kembali. Seolah-olah jika ia tidak melepas, kematian tidak akan berani mendekat.
"Jangan pergi, Mala. Aku belum siap. Aku nggak akan pernah siap. Aku butuh kamu. Dewi butuh kamu. Semuanya butuh kamu. Mala... Mala..." Teriak Yulianto.
Tangisnya pecah. Ia menangis sekeras-kerasnya. Tangis yang keluar dari dasar hatinya yang paling dalam—dasar hati yang selama ini ia tutup rapat dengan kesibukan merawat Nurmala, dengan harapan bahwa istrinya akan sembuh, dengan doa-doa panjang yang ia panjatkan setiap malam.
Tangis seorang suami yang kehilangan istrinya.
Tangis seorang calon ayah yang harus menjadi ayah sekaligus ibu.
Tangis seorang pria yang tidak tahu harus berbuat apa selain menangis.
Perawat-perawat di ruangan itu hanya bisa diam. Beberapa dari mereka ikut menangis menyaksikan pemandangan mengharukan itu. Ada yang menutup mulutnya dengan tangan. Ada yang memeluk rekannya.
Dr. Andini berdiri di pintu, menangis. Ia sudah puluhan tahun menjadi dokter. Ia sudah menyaksikan ratusan pasien meninggal di meja operasinya. Tapi setiap kali seorang suami menangisi istrinya yang meninggal, setiap kali seorang ibu menjerit kehilangan anaknya, setiap kali seorang ayah terdiam kaku, ia tidak pernah bisa tidak ikut menangis.
"Yulianto, maafkan kami. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin." Kata dr. Andini dari pintu.
Yulianto tidak menjawab. Ia masih memeluk Nurmala. Masih menangis. Masih berteriak dalam hati.
Setelah hampir satu jam, Yulianto akhirnya bisa ditenangkan. Dua perawat membantu melepaskan pelukannya dari tubuh Nurmala. Yulianto melawan pada awalnya, ia menolak dilepaskan.
"Nggak, jangan. Jangan ambil dia dari aku. Jangan." Teriak Yulianto.
"Bapak, Ibu Nurmala harus dibawa ke kamar jenazah. Bapak harus ikhlas." Kata seorang perawat.
"Aku nggak bisa ikhlas. Aku nggak bisa. Dia istriku. Dia segalanya." Jawab Yulianto.
"Tapi Bapak harus kuat. Buat bayi Bapak. Bayi Bapak butuh Bapak." Kata perawat itu.
Bayi. Dewi.
Yulianto menghela napas panjang. Ia melepaskan pelukannya. Untuk terakhir kalinya, ia menatap wajah Nurmala.
"Mala, aku nggak akan pernah melupakanmu. Sampai kapan pun. Sampai mati." Bisiknya.
Ia mengecup kening Nurmala. Kening itu dingin. Sangat dingin.
Yulianto berjalan keluar dari ruang operasi dengan langkah yang limbung. Pak Heru dan Bu Rahma masih duduk di ruang tunggu. Wajah mereka hancur. Bu Rahma sudah tidak bisa menangis lagi—suaranya hilang karena terlalu banyak berteriak.
"Nak Yuli... Mala..." Bu Rahma tidak bisa melanjutkan.
"Ibu, Mala sudah tenang. Mala nggak sakit lagi. Mala nggak mual lagi. Mala nggak sesak napas lagi. Mala... Mala sudah bahagia di sana." Kata Yulianto sambil memeluk ibu mertuanya.
Bu Rahma menangis di bahu Yulianto.
Setelah beberapa jam, Yulianto dibawa ke ruang tunggu lain, ruangan kecil dengan sofa dan meja. Seorang perawat membawa bayi perempuan mungil yang sudah dibersihkan dan dibungkus selimut putih tebal. Bayi itu tertidur pulas. Mulutnya sedikit terbuka. Tangannya yang mungil mengepal.
"Ini bayi Ibu Nurmala, Bapak. Selamat." Kata perawat sambil menyerahkan bayi itu ke Yulianto.
Yulianto menerima bayinya dengan hati-hati. Tangannya gemetar. Ia sangat takut menjatuhkan makhluk kecil yang rapuh ini, satu-satunya yang tersisa dari Nurmala.
Bayi itu sangat kecil. Sangat ringan. Yulianto merasakan beratnya, hanya dua kilogram lebih. Ia bisa muat di kedua telapak tangannya.
Ia memandangi wajah bayinya. Wajahnya mungil, bulat, dengan pipi yang sedikit merah. Hidungnya mancung, sangat mirip dengan hidung Nurmala. Di dagunya, ada lesung pipit kecil, persis seperti lesung pipit yang Yulianto suka ketika Nurmala tersenyum.
"Dewi... namamu Dewi Nurmala." Bisik Yulianto sambil meneteskan air mata.
Seperti mendengar namanya disebut, bayi itu membuka matanya. Matanya bulat, hitam, dan berbinar. Binar yang sama yang Yulianto lihat di mata Nurmala saat mereka masih anak-anak dan bermain bola bersama.
Bayi itu menangis. Suaranya lantang. Kencang. Tangis seorang bayi yang baru lahir ke dunia—dunia yang kejam, dunia yang mengambil ibunya sebelum ia sempat melihat wajah ibunya.
"Ibu kamu sayang kamu, Dewi. Ibu kamu nggak sempat lihat kamu, tapi dia sayang kamu. Dia rela mati buat ngelakuin kamu." Kata Yulianto.
Bayi itu masih menangis. Yulianto mendekapnya erat.
Kumala yang sudah sadar dari pingsannya, wajahnya masih pucat, matanya sembab, berjalan menghampiri Yulianto. Ia berdiri di samping Yulianto, memandangi bayi itu.
"Kak Yuli, boleh gue gendong?" Tanya Kumala dengan suara serak.
Yulianto mengangguk. Ia menyerahkan Dewi ke tangan Kumala.
Kumala menggendong bayi itu dengan hati-hati. Kedua tangannya menyangga kepala bayi yang masih sangat lunak. Ia menatap wajah bayi itu lama-lama. Matanya berkaca-kaca.
"Mirip kakak Mala." Kata Kumala.
"Iya. Hidungnya. Matanya. Lesung pipitnya." Jawab Yulianto.
"Kak Mala pasti seneng lihat ini." Lanjut Kumala.
"Tapi dia nggak sempet lihat." Jawab Yulianto.
Kumala tidak menjawab. Ia hanya memeluk bayi itu lebih erat. Ia meletakkan pipinya di dahi Dewi.
"Dewi, kamu punya ibu yang hebat. Ibu kamu pejuang. Ibu kamu rela apa pun buat kamu. Kamu harus bangga." Bisik Kumala.
Dewi menangis lagi. Mungkin ia lapar. Mungkin ia kedinginan. Mungkin ia merindukan kehangatan rahim ibunya yang tidak akan pernah ia rasakan lagi.
Pemakaman Nurmala dilangsungkan keesokan harinya. Langit masih kelabu. Awan hitam menggantung rendah. Hujan turun dengan deras, seolah-olah langit tidak rela melepaskan Nurmala ke bumi.
Jenazah Nurmala dimandikan, dikafani, dan disalatkan di masjid dekat rumah. Hanya kerabat dan tetangga terdekat yang hadir. Tidak banyak yang diundang karena keluarga ingin prosesi yang sederhana.
Yulianto menjadi imam salat jenazah. Suaranya bergetar saat membaca takbir. Matanya basah. Tapi ia tidak menangis. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menangis di depan jenazah Nurmala, karena Nurmala tidak suka melihat orang menangis.
Setelah salat selesai, jenazah dibawa ke pemakaman umum di bukit kecil di selatan kota. Hujan masih turun. Deras. Petugas menggali liang lahat dengan cepat di tengah hujan. Air menggenang di dasar kubur.
Jenazah Nurmala diturunkan perlahan. Yulianto berdiri di tepi kubur, menggenggam segenggam tanah. Tanah itu basah dan dingin.
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un." Ucap Yulianto.
Ia menaburkan tanah ke liang lahat. Tanah itu jatuh menutupi kain kafan putih yang membungkus tubuh istrinya.
Pak Heru dan Bu Rahma duduk di kursi-kursi plastik yang disediakan panitia di bawah tenda darurat. Wajah mereka hancur. Bu Rahma sudah tidak bisa menangis lagi, matanya kering. Pak Heru hanya diam, menatap liang lahat putrinya dengan tatapan kosong.
Kumala berdiri di samping Yulianto. Ia memegang payung biru tua untuk melindungi Yulianto dari hujan. Yulianto menggenggam tanah lagi. Menaburkan lagi.
Setelah kubur ditutup dengan tanah dan batu nisan sederhana dipasang, semua orang mulai beranjak pulang. Hujan mulai reda, berganti menjadi gerimis.
Yulianto masih berdiri di depan pusara Nurmala. Ia tidak bergerak. Tidak bicara. Hanya berdiri.
Batu nisan itu sederhana. Hanya lempengan marmer putih dengan tulisan hitam:
Nurmala binti Heru Susanto
*1998 - 2020*
"Ya Allah, ampunilah dosa-dosanya, tempatkanlah ia di tempat yang mulia, dan luaskanlah kuburnya."
"Mala, aku titip anak kita di sini dulu. Aku harus urus administrasi rumah sakit. Tapi aku janji, aku akan balik. Setiap hari. Aku akan balik ke sini. Aku akan bawain bunga. Aku akan bacain doa. Aku nggak akan pernah lupa." Bisik Yulianto.
Ia menunduk, mengecup batu nisan itu.
Yulianto berbalik. Ia melihat Kumala berdiri di kejauhan sambil menggendong Dewi. Gadis itu menangis. Payung biru tuanya sudah tidak ia buka. Tubuhnya basah oleh gerimis.
"Kumala, kau nggak usah ikut. Aku bisa sendiri. Aku harus ke rumah sakit dulu. Ada administrasi yang harus ditandatangani." Kata Yulianto.
"Gue nggak ikut karena kakak, Kak. Gue ikut karena Dewi. Dia butuh gue. Dia butuh ASI. Dia butuh digendong. Dia butuh kehangatan. Dan kakak sekarang... kakak lagi nggak stabil. Gue nggak tega lihat Dewi sama kakak sendirian." Jawab Kumala.
Yulianto tidak membantah. Ia tahu Kumala benar. Ia tidak stabil. Ia bahkan tidak tahu apakah ia bisa menggendong Dewi tanpa menangis.
"Baik. Kita pulang bersama." Kata Yulianto.
Mereka berdua berjalan meninggalkan pemakaman dalam diam. Gerimis masih turun, membasahi wajah mereka, menyembunyikan air mata yang masih mengalir.
Yulianto menoleh sekali lagi ke pusara Nurmala.
"Selamat jalan, Mala. Aku cinta kamu. Sampai kita bertemu lagi nanti."
BAB XIV
DUKA TAK BERKESUDAHAN
Pemakaman dan kesedihan seluruh keluarga. Kumala yang membenci Yulianto, namun hancur kehilangan kakaknya. Yulianto terpukul, hampir jatuh dalam depresi. Dewi menjadi satu-satunya alasan ia bertahan.
Tiga puluh hari setelah kepergian Nurmala, rumah yang dulu menjadi tempat tinggal Yulianto dan istrinya berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa ia kenali lagi. Rumah itu masih berdiri kokoh dengan dinding-dinding yang sama, atap yang sama, pintu dan jendela yang sama. Tapi ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang tidak bisa ia lihat dengan mata, tapi bisa ia rasakan dengan hati. Kehangatan itu hilang. Tawa yang dulu sering terdengar dari ruang tamu kini hanya menjadi gema di kepalanya. Cahaya yang dulu menyinari setiap sudut rumah kini terasa redup meskipun lampu-lampu dinyalakan terang.
Setiap sudut rumah mengingatkannya pada istrinya. Dapur mengingatkannya pada saat Nurmala mencoba memasak untuk pertama kalinya dan hampir membakar kompor. Ruang tamu mengingatkannya pada saat mereka berdua duduk di sofa sambil menonton televisi, kepala Nurmala bersandar di bahunya. Kamar mandi mengingatkannya pada saat ia membantu Nurmala keramas karena tangan istrinya terlalu lemah untuk mengangkat tangannya sendiri.
Setiap benda yang disentuhnya memiliki cerita tentang Nurmala.
Cangkir kopi favorit Nurmala masih ada di meja dapur. Cangkir keramik berwarna biru tua dengan gambar bunga matahari di sisinya. Cangkir itu tidak pernah dipindahkan sejak hari terakhir Nurmala memakainya, pagi sebelum ia dibawa ke rumah sakit untuk operasi caesar. Dulu, Yulianto membersihkan cangkir itu setiap hari. Sekarang, ia membiarkannya tetap di tempatnya. Tidak dicuci. Tidak dipindahkan. Ada sisa-sisa kopi kering yang membekas di dasar cangkir, sisa terakhir Nurmala sebelum ia pergi untuk selamanya.
Di atas meja samping tempat tidur, masih ada buku yang sedang Nurmala baca sebelum akhirnya ia terlalu lemah untuk memegang buku. Novel romantis setebal tiga ratus halaman dengan sampul bergambar pasangan sedang berpelukan. Sebuah buku catatan kecil terselip di halaman 124—tanda bahwa Nurmala baru sampai di situ. Yulianto pernah membuka halaman itu dan membaca kalimat terakhir yang dibaca Nurmala sebelum ia tidak pernah melanjutkan lagi.
"Cinta sejati tidak pernah mati. Ia hanya berubah bentuk."
Yulianto menutup buku itu dan tidak pernah membukanya lagi.
Bantal tempat Nurmala bersandar masih menyisakan bau rambutnya yang khas. Yulianto tidak bisa menjelaskan bau itu dengan kata-kata. Bukan parfum. Bukan sabun. Bukan sampo. Ada sesuatu di dalamnya, campuran aroma tubuh manusia, sedikit keringat, sedikit obat-obatan yang meresap dari pori-pori kulitnya, dan kehangatan yang hanya dimiliki oleh orang yang sedang tidur di sampingmu setiap malam. Yulianto sering mencium bantal itu di malam hari. Ia memeluknya. Ia membenamkan wajahnya di atasnya. Ia menangis sampai bantal itu basah. Lalu besoknya ia mengeringkan bantal itu di bawah sinar matahari, dan malamnya ia mengulangi hal yang sama lagi.
Yulianto tidak lagi keluar rumah. Ia sudah sebulan penuh tidak menjejakkan kaki ke luar pagar. Tidak ke kampus. Tidak ke warung kopi langganannya. Tidak ke rumah orang tua Nurmala. Tidak ke mana pun.
Dosen pembimbing skripsinya sudah mengirim lima email yang tidak ia baca. Teman-teman sekelasnya sudah puluhan kali menelepon, tidak ada yang diangkat. Orang tuanya sudah datang berkali-kali, membawa makanan, membawa kabar, membawa harapan. Tapi Yulianto seperti tidak mendengar. Tidak melihat. Tidak merasakan.
Ia hanya duduk di kursi goyang di teras, kursi yang dulu sering ia dan Nurmala gunakan bersama saat sore hari, sambil menatap langit. Dari pagi hingga sore. Dari sore hingga malam. Dari malam hingga pagi lagi. Ia tidak tidur. Tidak makan. Tidak mandi. Ia hanya duduk, bergoyang pelan, dan menatap langit.
Langit tidak pernah menjawab pertanyaannya. Langit hanya berganti warna dari biru menjadi jingga, dari jingga menjadi kelabu, dari kelabu menjadi hitam. Dan Yulianto masih duduk di sana. Masih menatap. Masih menunggu, meskipun ia tidak tahu apa yang ia tunggu.
Ibunya, Bu Sartini, datang setiap hari. Setiap pagi, ia datang dengan membawa nasi kotak berisi lauk-pauk favorit Yulianto. Ikan asin, sambal terasi, sayur asem, dan telur dadar. Kadang ia membawa sup ayam bening seperti yang dulu sering Yulianto buat untuk Nurmala. Tapi Yulianto jarang menyentuh makanan itu. Mangkuk nasi yang disajikan pagi masih utuh hingga malam. Ketika Bu Sartini datang lagi keesokan harinya, makanan kemarin masih ada di tempat yang sama, hanya saja sudah dingin, sudah basi, dan mulai ditumbuhi jamur di pinggir-pinggirnya.
Bu Sartini hanya bisa menghela napas. Ia membawa pulang makanan itu. Mencuci piring dan mangkuk yang sudah tidak terpakai. Lalu keesokan harinya ia datang lagi dengan makanan baru.
Siklus itu berulang setiap hari. Seperti roda yang berputar di tempat. Seperti hidup Yulianto yang berputar tanpa arah.
Suatu sore, ketika matahari mulai condong ke barat dan langit berwarna oranye pucat, Bu Sartini duduk di samping Yulianto. Kursi plastik yang ia tarik dari dalam rumah. Angin sore berembus lembut, membawa bau tanah dari sawah di belakang perumahan.
"Nak, ibu tahu kamu sedih. Ibu tahu kamu kehilangan orang yang sangat kamu cintai. Ibu juga kehilangan menantu yang ibu sayangi. Tapi kamu harus makan. Kamu harus kuat buat Dewi." Kata Bu Sartini sambil memegang tangan Yulianto.
Yulianto tidak menoleh. Matanya masih tertuju pada langit.
"Aku nggak bisa, Bu. Aku nggak nafsu makan. Setiap kali aku melihat nasi, yang terbayang di kepalaku adalah Mala yang duduk di seberangku sambil tersenyum. Setiap kali aku mencium bau masakan, yang tercium adalah aroma masakan terakhir yang Mala buat sebelum dia terlalu lemah untuk berdiri di dapur." Jawab Yulianto. Suaranya datar. Tidak ada intonasi. Tidak ada emosi, seolah-olah ia sudah terlalu lelah untuk merasakan apa pun.
"Tapi Dewi butuh ayah yang sehat, Nak. Kamu lihat dia? Dia sudah mulai tumbuh. Pipinya sudah berisi. Matanya sudah mulai fokus. Dia mulai mengenali orang-orang di sekitarnya. Kamu juga harus berisi dong. Jangan sampai Dewi punya ayah yang kurus kering kayak mayat hidup." Kata Bu Sartini berusaha menghibur dengan sedikit candaan.
Yulianto tidak tertawa.
Dewi, bayi mungil berusia sebulan itu, saat itu sedang digendong oleh bibinya. Adik dari Bu Sartini yang kebetulan sedang berkunjung dari desa seberang. Bibinya duduk di kursi plastik di sudut teras sambil menggendong Dewi yang terbungkus selimut putih tebal.
Tiba-tiba, Dewi menangis. Tangis bayi itu terdengar nyaring, melengking, menusuk, tetapi juga polos, murni, dan tanpa beban. Tangis yang mengatakan bahwa ia lapar. Tangis yang mengatakan bahwa ia ingin digendong. Tangis yang mengatakan bahwa ia butuh perhatian.
"Dengar itu? Anakmu lapar. Dia butuh susu." Kata Bu Sartini.
Yulianto tidak bergerak.
"Yul, dengar ibu. Kamu punya kewajiban memberinya makan. Meskipun kamu nggak nafsu makan untuk dirimu sendiri, kamu harus makan untuk dia. Kamu harus hidup untuk dia." Kata Bu Sartini dengan nada lebih tegas.
"Dia butuh ibunya, Bu. Bukan ayah yang gagal kayak aku." Jawab Yulianto.
"Kamu nggak gagal, Nak. Kamu sudah melakukan yang terbaik untuk Mala. Mala sendiri yang bilang ke ibu sebelum dia meninggal. Pesan terakhir Mala ke ibu: 'Bu, jaga Yuli. Jangan biarkan dia hancur. Dia laki-laki yang baik.' " Kata Bu Sartini.
Yulianto menoleh untuk pertama kalinya. Matanya berkaca-kaca.
"Mala bilang begitu?" Tanya Yulianto.
"Iya. Saat kamu ke kamar mandi. Mala pegang tangan ibu dan bilang: 'Bu, kalau Yuli hancur setelah aku pergi, tolong ingatkan dia bahwa aku sayang dia. Aku sayang dia lebih dari apa pun. Dan aku nggak mau dia berhenti hidup hanya karena aku sudah tiada.' " Jawab Bu Sartini.
Yulianto tidak bisa menahan tangisnya. Air matanya jatuh. Untuk pertama kalinya setelah tiga puluh hari, ia menangis bukan karena kesedihan yang mematikan, tapi karena ada sedikit harapan yang mulai merambat di hatinya.
Ia berdiri. Tubuhnya lemas, tapi ia memaksakan diri. Ia berjalan ke arah Dewi yang masih menangis di pelukan bibinya.
"Dewi... ayah di sini." Bisik Yulianto.
Ia mengambil Dewi dari pelukan bibinya. Bayi itu langsung sedikit tenang. Tangisnya berkurang menjadi rengekan kecil. Wajahnya yang merah karena menangis mulai berubah menjadi merah muda. Matanya yang bulat menatap Yulianto.
Yulianto membawa Dewi ke dalam rumah. Ia pergi ke dapur. Dengan tangan yang masih gemetar, ia menghangatkan air. Ia menuangkan air hangat ke dalam botol susu. Ia menakar susu formula dengan sendok takar, satu sendok untuk tiga puluh mililiter air. Empat sendok untuk seratus dua puluh mililiter. Itu yang biasa diminum Dewi. Ia mengocok botol itu. Susu bubuk larut dalam air hangat. Aroma susu formula yang manis dan sedikit anyir tercium di dapur.
Ia menyuapi Dewi. Bayi itu menyusu dengan lahap. Matanya yang bulat tidak berkedip. Matanya yang bening menatap Yulianto, seolah-olah Dewi tahu bahwa ayahnya sedang berusaha, bahwa ayahnya sedang berjuang, bahwa ayahnya butuh alasan untuk terus hidup.
Dan untuk pertama kalinya setelah Nurmala meninggal, Yulianto tersenyum. Senyum kecil. Hanya beberapa detik. Tapi itu adalah awal dari sesuatu. Sebuah titik terang di tengah kegelapan.
Sementara itu, di rumah orang tua Nurmala, suasana tidak kalah suram. Bahkan mungkin lebih suram, karena setiap sudut rumah itu dipenuhi dengan kenangan akan masa kecil Nurmala. Foto-foto Nurmala dari bayi hingga dewasa terpajang di dinding ruang tamu. Piala-piala olahraga yang ia menangkan saat masih aktif bermain bola masih tersusun rapi di rak pajangan. Sepatu bola lamanya yang bolong di bagian jempol masih tersimpan di lemari, tidak pernah dibuang meskipun sudah tidak layak pakai.
Bu Rahma, ibu Nurmala, hampir tidak pernah keluar kamar sejak pemakaman. Ia hanya berbaring di tempat tidur sambil memeluk foto-foto Nurmala. Foto paling besar berukuran dua puluh empat kali tiga puluh sentimeter dalam pigura kayu hitam. Foto itu diambil saat kelulusan SMA Nurmala. Nurmala tersenyum lebar dengan toga di kepalanya, rambut pendeknya yang khas, dan matanya yang berbinar-binar penuh harapan.
Bu Rahma berbicara pada foto itu seolah-olah Nurmala masih ada di depannya.
"Mala, ibu masak sayur asem kesukaan kamu hari ini. Ibu tahu kamu suka yang pedas. Ibu kasih cabai banyak. Cobain, Nak." Kata Bu Rahma sambil memegang foto itu.
Lalu ia terdiam. Wajahnya berubah dari tersenyum menjadi menangis dalam sekejap.
"Ibu lupa, kamu nggak bisa makan. Kamu di sana nggak butuh makan. Di sana semuanya sudah tersedia. Di sana kamu nggak sakit lagi. Ibu senang kamu nggak sakit lagi. Tapi ibu... ibu rindu, Mala. Ibu rindu banget." Tangis Bu Rahma pecah.
Ia memeluk foto itu erat-erat. Air matanya membasahi kaca pigura.
Kadang Bu Rahma tertidur dalam pelukan foto Nurmala. Kadang ia terbangun di tengah malam dan menangis lagi. Berat badannya turun drastis dalam sebulan. Celana yang dulu pas kini terasa longgar di pinggang. Baju yang dulu ia pakai sehari-hari kini terlihat seperti karung goni yang menggantung di tubuhnya. Wajahnya kusut, matanya cekung, bibirnya kering.
Pak Heru, ayah Nurmala, berusaha tegar. Setiap pagi, ia tetap pergi ke ladang seperti biasa. Ia mencangkul, menanam, menyiram, dan memanen, semua dilakukan dengan otomatis seperti robot yang tidak perlu merasa. Tapi di ladang itu, kadang ia berhenti di tengah pekerjaan. Ia menatap langit. Ia menatap pohon-pohon. Ia menatap bunga-bunga liar yang tumbuh di pinggir ladang.
"Mala, ayah tanam jagung untuk kamu. Kamu suka jagung rebus, kan? Nanti kalau sudah panen, ayah rebuskan. Ayah kasih mentega dan keju, kayak yang biasa kamu beli di pinggir jalan." Bisiknya pada angin.
Tapi angin tidak pernah menjawab. Yang ada hanya daun-daun jagung yang bergoyang-goyang, seperti sedang mengangguk-angguk.
Di malam hari, saat semua orang sudah tidur, Pak Heru duduk di ruang tamu sendirian. Lampu ruang tamu hanya satu, lampu dinding dengan cahaya kuning redup. Ia duduk di kursi kayu kesayangannya, menatap kursi kosong di sampingnya. Kursi plastik biru yang dulu sering Nurmala gunakan untuk duduk sambil mengupas bawang atau membaca buku.
Pak Heru berbicara sendirian. Kadang ia memanggil nama putrinya.
"Mala, ayah rindu sama kamu. Ayah rindu tawa kamu. Ayah rindu kamu ribut di rumah. Ayah rindu kamu marah-marah kalau ayah lupa belikan es teh manis." Kata Pak Heru.
Ia mengusap matanya yang basah.
"Sekarang rumah ini sepi, Mala. Ibu kamu nggak pernah masak lagi. Dia cuma di kamar terus. Kamar kamu nggak pernah dibuka pintunya sejak kamu pergi. Ayah takut lihat kamar kamu kosong. Ayah takut." Lanjut Pak Heru.
Ia diam sejenak. Tangannya yang keriput memegang gagang tongkat.
"Tapi ayah ikhlas, Mala. Ayah ikhlas karena kamu nggak sakit lagi. Ayah ikhlas karena kamu sekarang di tempat yang lebih baik. Cuma... cuma ayah butuh waktu. Banyak waktu. Ayah belum bisa ikhlas sepenuhnya." Lanjutnya.
Angin malam masuk melalui jendela yang tidak ditutup rapat. Tirai tipis bergerak-gerak seperti ada yang melewatinya. Pak Heru tersenyum.
"Kamu yang lewat, Mala? Kamu pulang? Jangan lama-lama ya, Nak. Ayah kangen." Bisiknya.
Kumala adalah yang paling terlihat kuat di antara mereka bertiga. Di mata orang lain, Kumala tampak tegar. Ia mengurus semua keperluan rumah tangga. Ia memasak untuk orang tuanya meskipun seringkulu masakannya hanya dimakan sedikit. Ia membersihkan rumah, menyapu, mengepel, mencuci pakaian, semua dilakukan dengan tenang dan tanpa keluhan.
Ia bahkan sempat mengajak ibunya jalan-jalan kecil ke pasar tradisional yang berjarak hanya lima ratus meter dari rumah. "Ayo, Bu. Kita ke pasar. Beli sayur. Ibu kan suka liat sayur-sayuran segar." Kata Kumala.
Bu Rahma hanya diam sepanjang perjalanan. Ia tidak bicara. Tidak menawar harga seperti dulu. Tidak tertawa saat Kumala bercanda. Ia hanya berjalan di samping Kumala, menggenggam tangan putrinya yang bungsu, dan sesekali menghela napas panjang.
Tapi di malam hari, setelah semua pintu tertutup dan semua lampu dimatikan, di dalam kamarnya yang kecil, Kumala menangis. Ia menangis sekeras-kerasnya sambil membenamkan wajahnya di bantal agar suaranya tidak terdengar oleh orang tuanya. Ia tidak ingin mereka tahu bahwa ia lemah. Ia tidak ingin mereka tahu bahwa ia sama hancurnya dengan mereka.
Ia menangis untuk kakak yang sangat ia cintai, kakak yang dulu menjadi pelindungnya saat ia diganggu teman laki-laki nakal di SD, kakak yang mengajarinya mengikat rambut saat ia masih kecil dan tidak bisa melakukannya sendiri, kakak yang selalu membelanya saat orang tua memarahinya, kakak yang ternyata menyembunyikan penyakit mematikan selama berbulan-bulan tanpa memberitahu siapa pun.
Ia menangis untuk cinta pertamanya yang berakhir tragis. Yulianto. Laki-laki yang pertama kali membuatnya jatuh cinta di usianya yang keenambelas. Laki-laki yang pertama kali menggenggam tangannya. Laki-laki yang pertama kali mencium keningnya. Laki-laki yang kemudian ia benci karena memilih kakaknya, namun kini ia sadar bahwa pilihan itu bukan karena Yulianto jahat atau tidak setia, tapi karena cinta yang lebih tua dan lebih dalam.
Ia menangis untuk dirinya sendiri yang merasa bersalah karena dulu sempat membenci kakaknya sendiri. Ia membenci Nurmala karena ia pikir Nurmala merebut Yulianto darinya. Ia tidak tahu bahwa sebenarnya Nurmala sedang sekarat. Ia tidak tahu bahwa Nurmala , dengan segala sakit yang ia derita, dengan kesadaran bahwa sebentar lagi ia akan mati, masih berpikir untuk kebahagiaan adiknya. Nurmala menjodohkannya dengan Yulianto bukan untuk merebut, tapi untuk memberi. Nurmala memberi Yulianto kepada Kumala karena ia tahu bahwa setelah ia mati, Kumala butuh seseorang untuk berbagi hidup.
Dan Kumala membenci kakaknya untuk itu.
"Kak Mala, maafin Kumala. Maafin Kumala yang dulu sempat benci sama kakak. Kumala nggak tahu kalau kakak sakit. Kumala kira kakak cuma merebut Yuli. Padahal kakak cuma..." Kumala berhenti, tangisnya semakin keras.
Ia duduk di lantai kamar. Ia memeluk lututnya. Kepalanya ia tundukkan di antara kedua lututnya.
"Kakak Mala, Kumala egois. Kumala hanya mikirin diri Kuma sendiri. Kuma nggak pernah mikir bahwa kakak mungkin sedang menderita. Kumala cuma sibuk dengan cemburu dan kebencian. Kumala minta maaf, Kak. Maafin Kumala, ya Kak." Lanjut Kumala.
Ia mengusap air matanya dengan punggung tangan. Mata dan hidungnya merah.
Setiap malam, doa yang sama ia panjatkan. Tidak pernah berubah. Tidak pernah berkurang.
"Ya Allah, tempatkan kakak Mala di sisi-Mu. Ampuni dosa-dosanya. Terima semua amal ibadahnya. Dan... dan beri Kumala kekuatan untuk ikhlas. Dan beri Kumala kesempatan untuk menebus kesalahan Kumala selama ini. Kumala janji, Kumala akan jaga Kak Yuli dan Dewi. Kumala janji, Kumala tidak akan biarkan Kak Yuli hancur. Kumala janji, Kuma akan buat kakak Mala bangga dari surga." Bisik Kumala.
Suatu hari, sekitar empat puluh hari setelah kematian Nurmala, ketika masa berkabung paling intens mulai mereda sedikit, Kumala memutuskan untuk mengunjungi Yulianto. Bukan karena ia rindu, meskipun ada sedikit rasa di hatinya yang tidak bisa ia akui. Bukan karena ia masih berharap bahwa Yulianto akan kembali padanya, meskipun terkadang di malam hari ia membayangkan skenario yang tidak mungkin.
Ia pergi karena Dewi. Bayi itu adalah satu-satunya bagian dari kakaknya yang masih hidup. Melihat Dewi seperti melihat kakaknya dalam versi mini. Wajah Dewi yang mirip Nurmala. Hidung mancung. Lesung pipit di dagu. Mata yang tajam meskipun masih bayi. Melihat Dewi adalah satu-satunya cara untuk merasakan kehadiran kakaknya lagi, meskipun hanya sekilas, meskipun hanya dalam bayangan.
Kumala datang sore hari. Ia memakai jilbab hitam, warna yang belum pernah ia kenakan sebelumnya, tapi ia merasa cocok untuk masa berkabung. Gamis sederhana berwarna abu-abu tua. Tidak ada riasan di wajahnya. Matanya masih sedikit sembab, bekas menangis semalaman. Rambutnya yang panjang ia ikat ke belakang dengan karet hitam.
"Selamat sore, Bu." Sapa Kumala saat pintu dibukakan oleh Bu Sartini, ibu Yulianto.
"Eh, Kumala. Sore, sore. Masuk, masuk. Aduh, kamu kurus, Nak. Apakah kamu makan dengan baik?" Kata Bu Sartini ramah sambil membuka pintu lebih lebar.
"Kumala makan, Bu. Tapi mungkin kurang napsu belakangan ini." Jawab Kumala.
"Begitu juga Yuli. Anak itu juga nggak mau makan. Ibu sudah bawa makanan berkali-kali. Nggak disentuh. Cuma diem aja di kursi goyang. Ibu khawatir dia sakit." Kata Bu Sartini.
"Kak Yuli ada, Bu?" Tanya Kumala.
"Ada. Di kamar. Lagi gendong Dewi. Biasanya dia di teras, tapi sore ini dia masuk ke kamar. Mungkin karena anginnya agak kencang. Ibu khawatir Dewi kedinginan." Jawab Bu Sartini.
Kumala mengangguk. Ia melepas sandal jepitnya di teras lalu masuk ke dalam rumah. Rumah Yulianto terasa sepi. Sunyi. Ada bau yang tidak biasa, bau rumah yang lama tidak dibersihkan, bau debu yang menumpuk di sudut-sudut, bau makanan basi yang mungkin lupa dibuang. Jendela-jendela tertutup rapat. Cahaya matahari sore tidak bisa masuk.
Kumala mengetuk pintu kamar Yulianto pelan.
"Masuk." Kata Yulianto dari balik pintu. Suaranya serak, seperti orang yang tidak bicara dalam waktu lama, seperti orang yang baru saja bangun tidur meskipun sudah sore.
Kumala membuka pintu.
Yulianto sedang duduk di tepi tempat tidur. Di pangkuannya, Dewi tertidur pulas. Bayi itu dibungkus selimut putih tebal. Mulutnya sedikit terbuka. Tangannya yang mungil mengepal. Napasnya teratur, naik turun kecil.
Yulianto sendiri tampak tidak jauh berbeda dengan terakhir kali Kumala melihatnya di pemakaman. Wajahnya kusut, lebih kusut. Jenggotnya sudah panjang, lebat, dan tidak terawat. Kumala bahkan tidak yakin Yulianto pernah mencukur selama empat puluh hari ini. Rambutnya acak-acakan, tidak pernah disisir, beberapa helai bahkan menutupi matanya. Kemeja lengan panjang yang ia pakai kusut dan tampak sudah dua hari tidak diganti, mungkin lebih. Yulianto dulu selalu menjaga penampilannya. Sekarang ia tidak peduli siapa yang melihatnya.
"Kak Yuli, apa kabar?" Tanya Kumala sambil duduk di kursi dekat jendela.
"Biasa saja." Jawab Yulianto singkat. Matanya tidak menatap Kumala. Ia menatap Dewi, lalu menatap lantai, lalu menatap dinding. Ke mana pun kecuali ke arah Kumala.
Kumala duduk di kursi dekat jendela. Ia membuka sedikit jendela untuk memberi sirkulasi udara. Cahaya sore langsung masuk, menerangi wajah Yulianto yang pucat.
"Dewi gemes banget. Tambah gemuk." Kata Kumala sambil menatap bayi itu.
"Iya. Dia tambah berat. Susu habis dua kotak seminggu. Padahal dulu satu kotak bisa buat sepuluh hari." Jawab Yulianto.
"Berarti Dewi sehat. Bagus dong." Kata Kumala.
"Iya. Sehat. Dia sehat. Alhamdulillah." Jawab Yulianto. Ucapan alhamdulillah itu keluar dengan datar, tanpa rasa syukur yang terlihat.
"Kak Yuli makan belum?" Tanya Kumala.
"Belum." Jawab Yulianto.
"Masak jam segini belum makan? Kakak inget nggak waktu terakhir kakak makan kapan?" Tanya Kumala.
Yulianto terdiam. Ia berpikir.
"Kemarin." Jawabnya.
"Kemarin pagi, siang, atau malam?" Tanya Kumala lagi.
Yulianto tidak menjawab. Ia tidak ingat. Yang ia ingat, ia pernah mengunyah sesuatu beberapa waktu yang lalu. Tapi apakah itu kemarin? Lusa? Atau seminggu yang lalu? Tubuhnya sudah tidak bisa membedakan rasa lapar lagi. Yang ia tahu, ia lemas. Semakin lemas setiap hari. Tapi rasa lemas itu justru ia syukuri karena membuatnya lupa pada rasa sakit yang lebih besar.
"Gue masakin, yuk. Biar kakak makan." Kata Kumala berdiri.
"Nggak usah, Kumala. Aku nggak nafsu. Aku nggak bisa makan. Setiap kali aku menelan, rasanya ada yang menyumbat di tenggorokan." Jawab Yulianto.
"Tapi kakak harus makan, Kak. Lihat kakak. Kurus sekali. Jenggot kakak sudah panjang kayak ustad. Rambut kakak acak-acakan. Kalau kakak Mala lihat kakak sekarang, pasti sedih. Pasti nangis." Kata Kumala.
Yulianto diam. Tidak menjawab.
"Kak Yuli, gue tahu kakak sedih. Gue juga sedih. Setiap malam gue nangis di kamar. Orang tua gue juga sedih. Ibu gue nggak pernah keluar kamar. Ayah gue di ladang terus karena dia nggak bisa diam di rumah. Tapi kita nggak bisa larut dalam kesedihan terus. Dewi butuh kakak. Bayi itu butuh ayahnya." Kata Kumala.
"Aku tahu. Tapi aku... aku nggak bisa, Kuma. Aku sudah berusaha. Setiap hari aku bilang ke diriku sendiri: 'Yuli, bangun. Yuli, makan. Yuli, mandi. Yuli, hidup untuk Dewi.' Tapi tubuhku nggak merespon. Aku kayak... kayak mati hidup. Aku cuma ada. Tapi aku nggak hidup." Jawab Yulianto. Suaranya pecah.
"Maka jangan pikirkan diri kakak. Jangan pikirkan kesedihan kakak. Pikirkan Dewi. Lihat dia. Dia butuh ayah. Dia butuh kakak. Kalau kakak nggak bangun dari tempat tidur, siapa yang akan membesarkan Dewi? Siapa yang akan mengajarinya berjalan? Siapa yang akan mengantarnya ke sekolah pertama kali? Siapa yang akan menikahkannya kelak?" Kata Kumala.
Yulianto menatap Dewi. Bayi itu menggeliat sedikit di pangkuannya. Mulutnya bergerak-gerak seperti sedang menyusu dalam mimpi.
"Dewi butuh kakak. Dia butuh figur ayah. Kalau bukan kakak, siapa lagi? Orang tua kakak? Mereka sudah tua. Gue? Gue cuma bibinya. Gue nggak bisa menggantikan posisi ayah. Cuma kakak yang bisa." Lanjut Kumala.
Yulianto menghela napas panjang.
"Kumala, kamu nggak benci sama aku?" Tanya Yulianto tiba-tiba.
Pertanyaan itu membuat Kumala terdiam. Udara di kamar itu terasa berubah.
Kumala menggigit bibir bawahnya, kebiasaannya saat sedang memikirkan sesuatu yang sulit.
"Gue benci, Kak. Gue benci karena dulu kakak ninggalin gue buat kakak Mala. Gue benci karena kakak memilih mati, maksudnya memilih kakak Mala yang sakit, daripada gue yang sehat dan siap memberikan segalanya buat kakak. Gue benci karena kakak membuat gue merasa nggak cukup. Nggak cukup cantik. Nggak cukup baik. Nggak cukup apa pun." Jawab Kumala.
Yulianto terdiam. Ia tidak bisa membantah.
"Tapi..." Kumala berhenti.
"Tapi apa, Kumala?" Tanya Yulianto.
"Tapi gue lebih benci sama diri gue sendiri. Karena gue nggak bisa nolong kakak Mala. Karena gue sibuk cemburu buta sampai nggak sadar kalau kakak Mala sekarat. Gue lebih benci sama diri gue sendiri karena gue malah menambah beban kakak Mala di masa-masa terakhir hidupnya dengan cemburu dan kebencian gue. Kakak Mala sudah sakit, sudah menderita, sudah dekat dengan ajal, tapi gue malah marah-marah karena gue pikir dia merebut kakak dariku. Padahal dia hanya ingin..." Kumala tidak bisa melanjutkan. Air matanya jatuh.
"Bukan salah kamu, Kumala. Mala sendiri yang nggak mau cerita ke siapa pun. Aku juga baru tahu saat aku melihatnya di rumah sakit. Kalau dia nggak ketahuan, mungkin dia akan bawa rahasia ini sampai ke liang lahat." Kata Yulianto.
"Tapi seharusnya gue peka, Kak. Seharusnya gue lihat tanda-tandanya. Kakak Mala kurus. Rambutnya rontok. Wajahnya pucat. Dia sering ke rumah sakit. Dia bilang dia ada proyek kampus, tapi gue nggak percaya sekarang. Kenapa gue nggak sadar? Kenapa gue nggak bertanya lebih lanjut?" Kata Kumala.
"Aku juga nggak sadar, Kumala. Aku sahabatnya. Aku orang yang paling dekat dengannya setelah keluarganya. Tapi aku juga nggak sadar. Aku baru sadar setelah aku melihat rekam medisnya. Dan itu pun karena aku sengaja menyelidiki, bukan karena dia cerita." Jawab Yulianto.
Kumala mengusap air matanya dengan punggung tangan. Ia menarik napas panjang. Dadanya naik turun.
"Kak, kita berdua sama-sama gagal. Kita berdua nggak cukup peka. Tapi itu bukan waktunya untuk saling menyalahkan. Sekarang kita harus saling menguatkan. Untuk Dewi." Kata Kumala.
Yulianto tidak menjawab. Tapi matanya mulai berbinar sedikit.
Kumala berdiri dari kursinya. Ia berjalan mendekati Yulianto. Ia menatap wajah Dewi yang masih tertidur.
"Kak, boleh gue gendong Dewi?" Tanya Kumala.
"Iya. Silakan." Jawab Yulianto sambil menyerahkan bayinya dengan hati-hati.
Kumala menggendong Dewi dengan penuh kehati-hatian. Kedua tangannya menyangga kepala bayi itu yang masih sangat lunak. Dewi terbangun sebentar. Matanya yang bulat dan hitam menatap Kumala—tidak menangis, hanya menatap. Lalu ia tersenyum kecil. Senyum tanpa gigi. Senyum khas bayi yang baru berusia sebulan. Senyum yang paling tulus di dunia karena belum terkontaminasi oleh kebohongan dan kepalsuan.
Dewi tersenyum pada bibinya.
"Lihat, Kak. Dia tersenyum. Dia bahagia. Dia nggak tahu kesedihan kita. Dan dia nggak perlu tahu. Dia anak kecil. Dunianya cuma makan, tidur, dan kadang pup. Tugas kita adalah membuatnya tetap bahagia. Kita boleh sedih. Kita boleh menangis setiap malam. Tapi di depan Dewi, kita harus tersenyum." Kata Kumala.
Yulianto menatap Kumala.
Wajah Kumala kini tidak lagi dingin seperti saat pertama kali ia datang. Ada kelembutan di sana. Ada kasih sayang. Ada kesedihan yang sama. Tapi di atas semua itu, ada tekad.
Untuk pertama kalinya, Yulianto melihat Kumala bukan sebagai adik dari Nurmala. Bukan sebagai mantan kekasihnya. Bukan sebagai orang yang dulu ia sakiti. Kumala kini adalah seseorang yang juga berjuang. Seseorang yang juga terluka, mungkin sedalam luka yang ia rasakan. Tapi seseorang yang memilih untuk tetap tegar. Seseorang yang memilih untuk tidak hancur meskipun semua alasan untuk hancur ada di depannya.
Kumala memilih untuk hidup. Dan Yulianto ingin seperti itu juga.
"Makasih, Kumala." Kata Yulianto.
"Makasih buat apa, Kak?" Tanya Kumala.
"Makasih sudah datang. Makasih sudah ingat sama Dewi. Makasih sudah... masih peduli sama aku, meskipun aku sudah menyakiti kamu berkali-kali." Jawab Yulianto.
Kumala tersenyum tipis. Bukan senyum bahagia. Tapi senyum yang mengatakan bahwa ia telah memaafkan.
"Kak, gue akan sering-sering ke sini. Bukan buat kakak. Bukan karena gue masih punya perasaan atau apa. Tapi buat Dewi. Dia butuh gue. Dan gue nggak akan meninggalkan dia. Dia satu-satunya bagian dari kakak Mala yang masih hidup." Kata Kumala.
"Terserah kamu, Kumala. Rumah ini selalu terbuka untukmu. Dan untuk Dewi, kamu adalah bibinya. Dewi berhak dekat dengan bibinya." Jawab Yulianto.
Kumala mengangguk. Ia menggendong Dewi lebih erat. Dewi yang masih tersenyum kecil itu kini terlelap lagi. Mulutnya yang mungil menganga. Kumala meletakkan pipinya di dahi Dewi.
"Dewi, kamu harus tumbuh sehat ya. Kamu harus jadi anak yang baik. Kamu harus pintar. Kamu harus kuat. Kayak ibumu." Bisik Kumala.
Bayi itu bergerak sedikit, lalu kembali tidur.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam empat puluh hari, Yulianto makan dengan lahap. Kumala memasak nasi goreng sederhana, tidak mewah, hanya nasi putih yang digoreng dengan sedikit kecap, bawang putih, bawang merah, dan telur dadar di atasnya. Rasanya tidak seenak masakan ibunya. Tidak seenak masakan Nurmala dulu. Tapi Yulianto menghabiskan dua piring. Piring pertama ia makan dengan perlahan, seolah-olah lidahnya lupa bagaimana cara mengunyah. Piring kedua ia makan lebih cepat—tubuhnya mulai mengingat rasa lapar yang selama ini ia abaikan.
"Enak, Kumala. Makasih." Kata Yulianto.
"Masakan sederhana. Nggak ada lauknya." Jawab Kumala.
"Sudah cukup. Ini lebih baik dari apa pun yang aku makan dalam sebulan terakhir." Kata Yulianto.
Mereka berdua duduk di meja dapur. Dewi sudah tidur di keranjang bayi di samping meja. Kakak beradik, atau mantan kekasih, atau apa pun sebutan yang tepat untuk hubungan mereka yang rumit ini, makan bersama dalam diam. Tidak banyak bicara. Tidak perlu banyak bicara.
Kehadiran Kumala sudah cukup untuk mengusir sedikit kegelapan di rumah itu.
Dan untuk pertama kalinya dalam empat puluh hari, Yulianto tidur sebelum tengah malam. Ia tidak memeluk bantal Nurmala. Ia tidak menangis sampai tertidur. Ia hanya berbaring, memejamkan mata, dan perlahan-lahan tenggelam ke dalam tidur yang tidak tenang, tapi setidaknya tidur.
Ketika ia memejamkan mata, ia mendengar Kumala masih bergerak di dapur, mencuci piring, merapikan meja, membuang sampah. Suara-suara kecil itu mengingatkannya bahwa dunia masih berputar. Bahwa hidup masih berjalan. Bahwa ia tidak sendiri.
"Makasih, Kumala." Bisiknya dalam hati sebelum ia tertidur.
BAB XV
PEREBUTAN HAK ASUH
Yulianto kesulitan bekerja sambil merawat Dewi. Orang tua Nurmala ingin mengasuh Dewi. Orang tua Yulianto juga ingin membantu. Pertengkaran panjang hingga keputusan: Dewi tinggal dengan kakek-nenek dari Nurmala.
Bulan kelima setelah kepergian Nurmala, saat duka mulai sedikit mereda meskipun tidak pernah benar-benar hilang, masalah baru muncul. Masalah yang tidak pernah Yulianto bayangkan sebelumnya. Masalah yang bahkan lebih rumit dari perasaannya yang terbelah antara dua saudari. Masalah tentang Dewi, siapa yang berhak mengasuhnya, di mana ia harus tinggal, dan bagaimana masa depannya akan diatur oleh orang-orang dewasa yang saling berebut karena cinta.
Yulianto harus kembali ke kampus.
Sudah lima bulan ia mengambil cuti akademik. Lima bulan sejak ia meninggalkan bangku kuliah untuk merawat Nurmala, untuk menemani istrinya berjuang melawan kanker yang akhirnya memenangkan pertempuran. Lima bulan sejak ia terakhir kali duduk di ruang kelas, mendengar suara dosen yang menjelaskan tentang teori-teori yang sekarang terasa sangat jauh dari realitas hidupnya.
Dosen pembimbing skripsinya, Prof. Budi, sudah mengirim tiga surat peringatan melalui email. Yulianto membuka email itu pagi itu saat sedang menyusui Dewi. Matanya membaca baris demi baris.
"Kepada saudara Yulianto,
Kami perhatikan bahwa saudara telah mengambil cuti akademik selama dua semester berturut-turut tanpa adanya konfirmasi lanjutan. Berdasarkan peraturan akademik universitas, seorang mahasiswa hanya diperbolehkan mengambil cuti maksimal empat semester sepanjang masa studinya. Saudara telah menggunakan dua semester. Jika saudara tidak segera menyelesaikan tugas akhir dalam waktu dua bulan ke depan, saudara terancam drop out (DO) dari program studi.
Kami memahami bahwa saudara sedang mengalami musibah kehilangan istri. Kami turut berduka cita. Namun demikian, kami tetap harus mengikuti aturan yang berlaku. Kami menyarankan saudara untuk segera menghubungi kami untuk membahas kelanjutan studi saudara.
Hormat kami,
Prof. Dr. Budi Santoso, M.Ec.
Pembimbing Akademik"
Yulianto membaca email itu berulang kali. Dua bulan. Ia hanya punya waktu dua bulan untuk menyelesaikan skripsi yang bahkan belum ia mulai tulis. Dua bulan untuk mengumpulkan data, menganalisis, menulis bab demi bab, revisi, siding, semua harus rampung dalam delapan minggu.
Mustahil. Tapi ia tidak punya pilihan. Jika ia DO, ia tidak akan punya ijazah. Tanpa ijazah, sulit mencari pekerjaan yang layak. Tanpa pekerjaan, bagaimana ia akan membesarkan Dewi? Memberinya makan? Menyekolahkannya nanti?
"Dua bulan..." Bisik Yulianto sambil menatap Dewi yang sedang menyusu dengan lahap di pangkuannya.
Bayi itu tidak tahu apa yang sedang terjadi. Ia hanya tahu bahwa ia lapar dan susu dari botol itu enak. Dunianya sesederhana itu. Tapi dunia Yulianto semakin rumit setiap harinya.
Masalahnya, siapa yang akan mengasuh Dewi saat Yulianto pergi ke kampus? Ia tidak bisa membawa bayinya ke ruang kuliah, Dewi akan menangis, mengganggu dosen dan mahasiswa lain. Ia juga tidak bisa meninggalkan Dewi sendirian di rumah, bayi itu butuh perhatian setiap saat, butuh diganti popoknya, butuh disusui setiap dua hingga tiga jam, butuh digendong saat rewel.
Yulianto tidak punya uang untuk menyewa baby sitter. Uang tabungannya habis untuk biaya pengobatan Nurmala dan biaya pemakaman. Rumah yang ia tempati sekarang adalah rumah peninggalan orang tuanya, rumah sederhana dengan dua kamar dan satu ruang tamu. Tidak ada asisten rumah tangga. Tidak ada keluarga yang tinggal bersamanya.
Ia sendirian dengan Dewi.
Ibunya sendiri, Bu Sartini, tinggal di desa seberang, berjarak sekitar satu jam perjalanan dengan motor. Rumahnya jauh. Terlalu jauh untuk bolak-balik setiap hari. Apalagi Yulianto harus ke kampus yang lokasinya berlawanan arah dengan desa tempat ibunya tinggal.
Suatu pagi, ketika Yulianto sedang duduk termenung di teras sambil menggendong Dewi, Bu Sartini datang. Ia datang dengan membawa dua kantong plastik berisi sayuran, telur, dan beberapa bungkus mi instan. Wajahnya cerah, lebih cerah dari biasanya. Seolah-olah ia datang dengan kabar baik.
"Selamat pagi, Nak. Dewi sehat hari ini?" Sapa Bu Sartini sambil meletakkan belanjaannya di meja teras.
"Pagi, Bu. Dewi sehat. Baru habis susu, sekarang tidur." Jawab Yulianto.
Bu Sartini duduk di kursi plastik di samping Yulianto. Ia menatap cucunya yang tertidur pulas di pangkuan Yulianto. Wajah bayi itu mungil, bulat, damai.
"Nak, ibu mau bicara serius sama kamu." Kata Bu Sartini.
"Apa, Bu?" Tanya Yulianto.
"Ibu sudah mikir matang-matang. Ibu sudah bicara sama ayah kamu. Ibu mau ngajuin sesuatu." Kata Bu Sartini.
Yulianto mengernyitkan dahi. Sesuatu yang dimaksud ibunya terdengar seperti sesuatu yang besar.
"Apa itu, Bu?"
Bu Sartini menarik napas panjang. Ia menggenggam tangan Yulianto.
"Nak, Dewi titip sama ibu saja. Ibu yang akan mengasuhnya. Ibu kan sudah pensiun dari kerja kantoran. Sekarang ibu cuma di rumah, nggak ada kerjaan berarti. Ibu bisa jaga Dewi seharian. Ibu bisa masakin susu, ganti popok, ajak jalan-jalan, bacain dongeng. Ibu akan rawat dia seperti ibu merawat kamu dulu." Kata Bu Sartini.
Yulianto terdiam. Ia tidak menyangka ibunya akan mengajukan hal ini.
"Tapi Bu, rumah ibu jauh. Jauh banget. Satu jam perjalanan pake motor. Setiap hari Yuli harus antar jemput Dewi? Yuli nanti capek, Bu. Belum lagi bensin. Belum lagi kalau hujan. Nanti Dewi kedinginan." Jawab Yulianto.
Bu Sartini menggeleng.
"Nggak usah antar jemput, Nak. Nggak usah repot-repot. Dewi tinggal di rumah ibu saja. Kamu tinggal di kos-kosan dekat kampus. Fokus kuliah. Selesaikan skripsi. Lulus cepat. Nanti kalau libur atau akhir pekan, kamu pulang ke rumah ibu. Kamu jenguk Dewi. Kamu bermain dengan Dewi. Tapi Dewi tetap di rumah ibu." Kata Bu Sartini.
Yulianto menghela napas. Ia tidak suka ide ini. Ia tidak suka sama sekali.
"Bu, Yuli nggak tega jauh-jauh sama Dewi. Dewi kan masih kecil banget. Baru lima bulan. Dia masih butuh ASI, maksudnya butuh susu formula setiap dua jam. Dia butuh digendong. Dia butuh perhatian penuh dari orang tuanya. Dia butuh ayahnya." Kata Yulianto.
"Tapi kamu juga butuh fokus kuliah, Nak. Kamu nggak bisa sambil mengasuh bayi dan sambil nulis skripsi. Itu namanya membagi perhatian. Hasilnya nggak maksimal. Skripsimu molor. Dewi juga nggak terurus maksimal." Kata Bu Sartini.
"Yuli bisa, Bu. Yuli sudah terbiasa. Lima bulan ini Yuli sendiri yang jaga Dewi. Yuli bisa." Jawab Yulianto.
"Bisa memang bisa. Tapi apakah maksimal? Kamu lihat dirimu, Nak. Badanmu kurus. Matamu cekung. Kemejamu kusut. Rambutmu panjang. Kamu sendiri nggak terurus, masa mau ngurus orang lain." Kata Bu Sartini tajam.
Yulianto terdiam lagi. Ibunya benar. Ia memang tidak terurus. Ia jarang mandi. Jarang makan. Kadang ia lupa mengganti pakaian selama dua hari. Semua energinya ia habiskan untuk Dewi, membangunkan di tengah malam untuk menyusui, mengganti popok setiap kali basah, menggendong saat rewel, mengajak jalan-jalan pagi untuk mendapatkan sinar matahari. Untuk dirinya sendiri, ia tidak punya energi tersisa.
"Tapi Bu, Yuli nggak tega." Kata Yulianto lagi. Suaranya lemah.
"Nak, ibu tahu kamu sayang Dewi. Ibu tahu kamu nggak tega pisah sama dia. Tapi ini sementara. Hanya sampai kamu lulus kuliah. Setelah kamu lulus, setelah kamu dapat kerja, setelah kamu punya rumah sendiri, kamu bisa ambil Dewi lagi. Ibu nggak akan mempertahankan dia selamanya." Kata Bu Sartini.
"Janji, Bu?" Tanya Yulianto.
"Janji. Ibu serius. Ibu hanya ingin membantu. Ibu nggak mau cucu ibu terlantar karena ayahnya sibuk kuliah. Ibu nggak mau kamu DO karena nggak punya waktu buat skripsi." Jawab Bu Sartini.
Yulianto belum sempat menjawab. Belum sempat mengatakan ya atau tidak. Belum sempat memikirkan semua konsekuensi dari keputusan ini. Karena saat itu juga, dari dalam rumah, terdengar suara motor matic yang masuk ke halaman. Suara mesin yang dimatikan. Suara sandal jepit yang menggesek tanah.
Pak Heru dan Bu Rahma datang.
Mertua Yulianto itu berjalan masuk ke teras dengan langkah yang tidak tergesa-gesa tapi penuh wibawa. Wajah mereka serius. Bu Rahma menggenggam tas kecil berwarna hitam. Pak Heru membawa tongkat kayu yang biasa ia gunakan untuk berjalan di ladang.
"Selamat pagi, Nak Yuli. Selamat pagi, Bu Sartini." Sapa Pak Heru.
"Pagi, Pak Heru. Pagi, Bu Rahma. Silakan duduk." Jawab Bu Sartini sambil berdiri sedikit memberi hormat.
Pak Heru dan Bu Rahma duduk di kursi plastik yang disediakan. Yulianto masih terdiam, masih menggendong Dewi yang mulai terbangun karena suara-suara baru.
"Nak Yuli, ayah dan ibu mau bicara." Kata Pak Heru setelah duduk.
"Iya, Pak. Ada apa?" Tanya Yulianto.
Pak Heru menatap Bu Rahma. Bu Rahma mengangguk, memberi isyarat bahwa suaminya yang memulai.
"Ayah dan ibu sudah berdiskusi panjang. Sudah beberapa minggu ini. Ini bukan keputusan yang ayah dan ibu buat dengan ringan. Ini keputusan yang berat. Tapi ayah dan ibu rasa ini yang terbaik." Kata Pak Heru.
"Tentang apa, Pak?" Tanya Yulianto. Jantungnya berdebar lebih kencang. Ia sudah bisa menebak.
"Tentang Dewi." Jawab Bu Rahma.
Yulianto menghela napas. Tebakannya benar.
"Ada apa dengan Dewi?" Tanya Yulianto. Suaranya waspada. Tangannya secara naluriah memeluk Dewi lebih erat.
Bu Rahma menatap Dewi dengan mata berkaca-kaca.
"Kami ingin Dewi tinggal dengan kami. Di rumah kami. Kami yang akan merawatnya, membesarkannya, menyekolahkannya nanti. Seperti kami merawat Mala dulu." Kata Bu Rahma.
Yulianto terdiam. Dunia terasa berputar sedikit. Ini bukan hanya tawaran, ini adalah pernyataan. Ini adalah klaim.
"Kenapa, Pak? Kenapa tiba-tiba?" Tanya Yulianto akhirnya.
Pak Heru menjawab, "Bukan tiba-tiba, Nak. Ini sudah kami pikirkan sejak Mala meninggal. Lima bulan lalu. Kami hanya menunggu waktu yang tepat untuk menyampaikannya. Dan kami rasa sekarang waktunya sudah tepat."
"Tepat kenapa, Pak?" Tanya Yulianto.
"Karena kamu akan kembali kuliah. Kamu tidak bisa merawat Dewi sendirian. Kamu masih muda. Kamu butuh fokus pada masa depanmu. Dewi butuh pengasuhan yang stabil. Bukan pengasuhan setengah-setengah dari ayah yang lelah dan stres." Jawab Pak Heru.
"Aku bisa, Pak. Aku akan mengatur waktu. Aku bisa kuliah pagi, jaga Dewi sore dan malam. Aku akan..." Yulianto mencoba meyakinkan, tapi suaranya terdengar putus asa.
"Nak, ibu tahu kamu sayang sama Dewi. Tidak ada yang meragukan itu. Tapi lihatlah kondisimu." Bu Rahma memotong dengan lembut.
Bu Rahma menunjuk ke arah wajah Yulianto. Matanya yang cekung. Pipinya yang tirus. Jenggotnya yang panjang dan tidak terawat.
"Kamu kurus, Nak. Kamu pucat. Kamu masih berduka, jangan bilang tidak, ibu bisa lihat dari matamu. Kamu belum stabil. Baik secara fisik maupun mental. Kamu akan kuliah lagi. Kamu akan skripsi. Kamu akan menghadapi tekanan akademik. Ibu khawatir Dewi tidak mendapatkan yang terbaik jika kamu yang menjaganya sendirian." Lanjut Bu Rahma.
"Tapi Bu, Dewi adalah satu-satunya yang tersisa dari Mala. Aku nggak bisa kehilangan dia. Aku nggak bisa pisah sama dia. Dia adalah bagian dari Mala yang masih hidup." Jawab Yulianto. Suaranya pecah. Air matanya menggenang.
Bu Rahma juga menangis.
"Kami juga tidak bisa kehilangan Dewi, Nak. Dia cucu kami. Satu-satunya cucu dari Mala, dari anak kami yang sudah tiada. Melihat Dewi adalah satu-satunya cara kami untuk masih merasakan kehadiran Mala. Mendengar tawa Dewi adalah satu-satunya musik yang bisa menghibur hati kami yang hancur." Jawab Bu Rahma sambil mengusap air matanya.
"Dewi adalah satu-satunya alasan kami masih bisa bangun setiap pagi, Nak. Mala sudah tiada. Rumah kami sepi. Ibu tidak bisa masak lagi karena dulu Mala selalu membantu ibu di dapur. Ayah pergi ke ladang bukan karena ingin bertani, tapi karena ayah tidak tahan di rumah yang sunyi. Kumala... Kumala menangis setiap malam. Tapi ketika Dewi ada di rumah kami, ada sedikit cahaya. Ada sedikit tawa. Ada sedikit alasan untuk terus hidup." Lanjut Bu Rahma.
Yulianto tidak bisa menjawab. Ia mengerti perasaan mertuanya. Lebih dari siapa pun, ia mengerti kehilangan yang mereka alami, karena ia juga mengalaminya. Tapi kehilangan yang sama justru membuat mereka sekarang bersaing untuk hal yang sama: Dewi.
Yulianto menghela napas. Ia mencoba pendekatan lain.
"Bagaimana kalau Dewi tinggal dengan kami? Maksudnya tinggal di rumahku yang ini? Aku yang akan jaga dia, seperti yang sudah aku lakukan selama lima bulan ini. Tapi kalian bisa datang kapan saja. Setiap hari kalau mau. Rumah ini selalu terbuka. Kalian bisa bermain dengan Dewi, menggendongnya, menyusuinya, menidurkannya. Tapi Dewi tetap tinggal di sini. Bersamaku." Kata Yulianto.
"Tapi kamu tidak akan bisa fokus kuliah, Nak. Kamu bilang rumah kamu lebih dekat dengan kampus? Berapa jauhnya dari sini ke kampus?" Tanya Pak Heru.
"Lima belas kilometer, Pak. Sekitar setengah jam perjalanan dengan motor." Jawab Yulianto.
"Rumah kami lebih dekat, Nak. Rumah kami hanya sepuluh kilometer dari kampus. Lima belas menit saja dengan motor. Lebih dekat. Lebih efisien." Kata Pak Heru.
"Tapi rumah kalian juga dari kampus lumayan jauh juga, Pak. Sepuluh kilometer tetap jauh kalau harus bolak-balik setiap hari." Jawab Yulianto.
"Tapi lebih dekat dari rumahmu. Lima kilometer lebih dekat. Itu berarti hemat sepuluh menit perjalanan. Hemat dua puluh menit bolak-balik. Waktu yang bisa kamu gunakan untuk belajar atau istirahat." Kata Pak Heru.
Yulianto terdiam. Argumen Pak Heru masuk akal. Tapi ia belum menyerah.
"Kalau begitu, bagaimana kalau Dewi tinggal dengan kami?" Tiba-tiba Bu Sartini yang sejak tadi hanya diam mendengar, ikut bicara.
Semua menoleh ke arah Bu Sartini. Wajahnya tegas. Matanya tidak berkedip.
"Maaf, Bu Rahma. Maaf, Pak Heru. Saya tidak bermaksud ikut campur. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa Dewi adalah cucu saya juga. Saya juga punya hak untuk mengasuhnya. Saya juga punya hak untuk dekat dengannya. Saya juga punya hak untuk memastikan bahwa dia tumbuh dengan baik." Kata Bu Sartini.
"Bu Sartini, kami tidak mempermasalahkan itu. Dewi adalah cucu Bapak dan Ibu juga. Tentu Bapak dan Ibu punya hak. Tapi kami mengajukan tawaran ini bukan karena kami ingin mengambil hak Bapak dan Ibu. Kami mengajukan tawaran ini karena kami khawatir dengan kondisi Yulianto. Dia masih berduka. Dia belum stabil. Dia butuh waktu untuk menyembuhkan dirinya sendiri sebelum bisa menyembuhkan orang lain, termasuk Dewi." Jawab Pak Heru.
"Kondisi Yulianto akan membaik kalau Dewi ada di sisinya. Anak itu butuh motivasi. Dan Dewi adalah motivasinya. Lihat saja, setelah Dewi lahir, Yulianto mulai makan lagi. Setelah Dewi ada di sampingnya, Yulianto mulai tidur lagi. Dewi adalah obat bagi kesedihannya. Jangan ambil obat itu darinya." Kata Bu Sartini.
"Tapi Yulianto juga butuh istirahat, Bu Sartini. Butuh waktu untuk menyelesaikan kuliahnya. Butuh waktu untuk fokus pada masa depannya. Kalau Dewi ada di sisinya setiap saat, ia tidak akan bisa fokus. Ia akan terus memikirkan Dewi. Ia akan terus khawatir apakah Dewi makan, apakah Dewi tidur, apakah Dewi rewel. Itu tidak baik untuk konsentrasinya." Kata Bu Rahma.
"Justru sebaliknya, Bu Rahma. Kehadiran Dewi akan membuat Yulianto lebih teratur. Dia tidak akan bisa malas-malasan karena Dewi butuh dia. Dia tidak akan bisa tenggelam dalam kesedihan karena Dewi butuh senyumnya. Dia akan bangun pagi karena Dewi bangun pagi. Dia akan tidur malam karena Dewi tidur malam. Itu yang disebut tanggung jawab. Dan tanggung jawab itu akan menyembuhkannya." Kata Bu Sartini.
Dua ibu itu saling berdebat dengan argumen masing-masing. Suara mereka tidak meninggi—mereka masih menjaga kesopanan. Tapi ada ketegangan di udara. Ada perang dingin antara dua keluarga yang sama-sama mencintai bayi yang sama.
Bu Sartini berbicara tentang hak sebagai nenek kandung.
Bu Rahma berbicara tentang kedekatan lokasi dan stabilitas emosional Yulianto.
Pak Heru sesekali menambahkan argumen tentang waktu dan efisiensi.
Yulianto hanya bisa terdiam. Ia memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. Kepalanya sakit. Pusing. Ia tidak tahu harus berpihak ke mana. Ibunya benar. Mertuanya juga benar. Semua orang hanya ingin yang terbaik untuk Dewi. Tapi "yang terbaik" itu berbeda-beda menurut perspektif masing-masing.
Dewi yang masih terbangun mulai rewel. Mungkin ia lapar. Mungkin ia tidak suka suara-suara keras. Yulianto menggoyang-goyangkan bayinya perlahan, berusaha menenangkannya.
"Sudah, Bu. Sudah, Pak." Kata Yulianto akhirnya. Suaranya tidak keras, tapi tegas.
Semua diam. Dua ibu itu berhenti berdebat. Pak Heru yang sedang mau menambahkan sesuatu menutup mulutnya.
Yulianto menatap satu per satu orang yang hadir di teras itu. Ibu kandungnya. Ibu mertuanya. Ayah mertuanya. Semua orang yang ia hormati. Semua orang yang ia sayangi. Semua orang yang sekarang sedang berselisih karena cinta pada bayi mungil di pangkuannya.
"Aku punya usul." Kata Yulianto.
"Apa usulmu, Nak?" Tanya Bu Rahma.
"Bagaimana kalau Dewi tinggal bergantian? Seminggu di rumah orang tua Yuli. Seminggu di rumah orang tua Mala. Jadi semua dapat giliran. Semua bisa dekat dengan Dewi. Dan aku bisa fokus kuliah karena di saat Dewi tidak bersamaku, aku bisa belajar dengan tenang." Kata Yulianto.
Bu Sartini menggeleng cepat.
"Tidak bisa, Nak. Itu nggak baik untuk perkembangan anak. Bayi butuh rutinitas. Butuh tempat yang tetap. Butuh orang yang tetap. Kalau Dewi bolak-balik setiap minggu, dia akan bingung. Di mana rumahnya? Siapa yang mengasuhnya? Dia akan stres. Dia akan rewel terus. Nanti berat badannya turun." Kata Bu Sartini.
"Ibu benar." Bu Rahma mengangguk.
"Ibu juga setuju dengan Bu Sartini. Bayi tidak boleh bolak-balik tempat tinggal. Apalagi seusia Dewi yang baru lima bulan. Dia butuh kenyamanan. Butuh stabilitas." Tambah Bu Rahma.
Pak Heru juga mengangguk.
"Mereka benar, Nak. Saya sebagai ayah yang sudah membesarkan dua anak, Mala dan Kumala, setuju bahwa bayi butuh tempat tinggal yang tetap. Bolak-balik hanya akan membuatnya stres. Nanti perkembangan fisik dan mentalnya terganggu." Kata Pak Heru.
Yulianto menghela napas lagi. Ide gilirannya kandas sebelum sempat lepas landas. Ia merasa seperti berada di ruang sidang tanpa ada yang memihak padanya. Hakimnya berat sebelah. Juri sudah memutuskan sebelum mendengar semua argumen.
"Terus gimana dong?" Tanya Yulianto. Suaranya lelah.
Semua diam. Tidak ada yang punya solusi. Dua ibu itu saling pandang. Pak Heru menunduk. Yulianto memeluk Dewi yang kini sudah tenang lagi.
Kemudian Yulianto mendapat ide. Ide yang gila. Ide yang tidak pernah terpikirkan oleh siapa pun sebelumnya. Ide yang mungkin akan mengundang gunjingan tetangga dan cibiran sanak famili. Tapi ide yang mungkin bisa menyelesaikan semua masalah sekaligus.
"Kalau begitu, bagaimana kalau aku yang tinggal di rumah orang tua Mala bersama Dewi?" Kata Yulianto.
Semua terkejut. Mata mereka membulat. Mulut mereka menganga. Bahkan Dewi yang sedang tenang seolah ikut terkejut dan menggeliat.
"Maksud kamu, Nak? Kamu mau tinggal bersama kami? Di rumah kami?" Tanya Pak Heru.
"Iya, Pak. Aku akan tinggal di rumah Bapak bersama Dewi. Aku akan membantu pekerjaan rumah. Aku akan bersih-bersih. Aku akan masak. Aku akan jaga Dewi. Aku juga akan kuliah seperti biasa. Dan Dewi akan tetap dekat dengan kakek-neneknya. Setiap hari dia bisa bertemu kalian. Setiap hari kalian bisa menggendongnya, menyusuinya, menidurkannya. Tidak perlu bolak-balik. Tidak perlu rebutan hak asuh." Jawab Yulianto.
"Tapi itu nggak etis, Nak." Kata Bu Rahma dengan nada khawatir.
"Kenapa nggak etis, Bu?" Tanya Yulianto.
"Kamu sudah menikah dengan anak kami. Mala sudah tiada. Sekarang kamu tinggal bersama kami, orang tua mantan istrimu, akan menimbulkan gunjingan. Tetangga akan bicara. Keluarga akan bertanya-tanya. 'Lho, kok Yulianto tinggal di rumah mertuanya padahal istrinya sudah meninggal?' 'Apakah dia merebut Kumala?' 'Apakah dia cuma mau rumah gratis?' Banyak pertanyaan tidak enak yang akan muncul." Jawab Bu Rahma.
"Aku nggak peduli gunjingan, Bu. Yang penting Dewi dapat yang terbaik. Yang penting Dewi tumbuh dengan dekat dengan ayahnya dan dekat dengan kakek-neneknya dari kedua sisi. Aku nggak peduli orang mau bilang apa tentang aku. Mereka bisa bicara sampai kering tenggorokan. Selama Dewi bahagia, aku bahagia." Jawab Yulianto.
Pak Heru menatap istrinya. Bu Rahma menatap suaminya. Mereka berbisik-bisik sebentar. Terdengar potongan-potongan kalimat.
"Bagaimana menurutmu, Yah?" "Aku nggak tahu, Bu. Ini tidak biasa." "Tapi dia benar tentang Dewi. Dewi butuh dekat dengan kita." "Tapi risikonya besar, Bu. Gunjingan dari tetangga." "Yuli bilang dia nggak peduli." "Iya, dia nggak peduli. Tapi kita? Kita yang tinggal di lingkungan itu setiap hari."
Mereka berbisik cukup lama. Yulianto tidak menyela. Bu Sartini yang sejak tadi ikut mendengar bisik-bisik itu, duduk dengan tangan dilipat di dada. Wajahnya tidak bisa dibaca.
Akhirnya Pak Heru mengangkat kepalanya.
"Baik, Nak. Ayah dan ibu setuju. Kamu boleh tinggal bersama kami. Tapi dengan satu syarat." Kata Pak Heru.
"Apa syaratnya, Pak? Apa pun akan aku penuhi." Jawab Yulianto.
Pak Heru menatap Yulianto dengan serius. Matanya yang sudah tua itu tajam—seperti menguji ketulusan Yulianto.
"Kamu harus menyelesaikan kuliahmu tepat waktu. Kamu harus fokus pada skripsimu. Kamu tidak boleh gagal. Kamu tidak boleh DO. Kamu harus lulus dalam dua bulan ke depan seperti yang ditargetkan. Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari karena mengorbankan masa depanmu, masa depan Dewi, demi hal-hal yang tidak penting. Janji?" Kata Pak Heru.
"Saya janji, Pak. Saya akan lulus tepat waktu. Saya akan fokus pada skripsi. Saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang Bapak dan Ibu berikan." Jawab Yulianto dengan tegas.
Bu Sartini yang dari tadi diam, menghela napas panjang. Ia tidak sepenuhnya setuju dengan keputusan ini. Di lubuk hatinya yang paling dalam, ia ingin cucunya tinggal di rumahnya, dekat dengannya, sehingga ia bisa setiap hari melihat Dewi tersenyum, setiap hari mendengar tawanya, setiap hari merasakan kehangatan bayi itu di pangkuannya.
Tapi ia melihat ketulusan di mata Yulianto. Ia melihat bahwa anaknya benar-benar ingin yang terbaik untuk Dewi. Ia melihat bahwa Yulianto tidak memilih tinggal di rumah mertua karena ia ingin dekat dengan Kumala atau ingin memanfaatkan kebaikan mertuanya. Yulianto memilih itu karena baginya, itulah solusi terbaik, solusi yang paling tidak merugikan siapa pun.
"Baik, Nak. Ibu merestui. Ibu akan mendukung keputusanmu. Tapi ibu mempunyai satu permintaan." Kata Bu Sartini.
"Apa, Bu?" Tanya Yulianto.
"Ibu boleh jenguk Dewi kapan saja, ya? Tidak perlu minta izin setiap kali datang. Ibu bisa datang pagi, siang, sore, atau malam. Ibu bisa bermain dengan Dewi, menggendongnya, menyusuinya. Jangan halangi ibu. Jangan tutup pintu untuk ibu." Kata Bu Sartini.
"Tentu, Bu. Rumah kami, maksudnya rumah Bapak dan Ibu Heru, selalu terbuka untuk Ibu. Ibu bisa datang kapan saja. Bahkan kalau Ibu mau, Ibu bisa nginep. Dewi akan senang punya banyak nenek." Jawab Yulianto.
"Tentu, Bu Sartini. Kami tidak akan pernah menutup pintu untuk Ibu. Dewi adalah cucu Ibu juga. Rumah kami adalah rumah Ibu juga." Kata Pak Heru.
Bu Sartini tersenyum. Senyum pertama yang terlihat di wajahnya sejak pemakaman Nurmala.
"Terima kasih, Pak Heru. Terima kasih, Bu Rahma. Maaf jika saya tadi bersikap keras. Saya hanya... saya hanya khawatir tidak bisa dekat dengan Dewi. Saya hanya takut cucu saya tumbuh tanpa mengenal saya." Kata Bu Sartini.
"Kami mengerti, Bu Sartini. Kami juga orang tua. Kami juga takut hal yang sama." Jawab Bu Rahma.
Mereka berdua berpelukan. Dua ibu yang tadi saling berdebat kini saling menguatkan. Air mata mereka jatuh. Pelukan mereka lama. Seolah-olah mereka sedang saling memaafkan atas kata-kata tajam yang terucap saat debat tadi.
Yulianto menatap semua itu dari tempatnya duduk. Pangkuannya masih hangat karena Dewi. Hatinya masih berat karena keputusan yang baru saja ia ambil, keputusan untuk meninggalkan rumah yang ia tempati selama bertahun-tahun, keputusan untuk pindah ke rumah mertua yang penuh kenangan tentang Nurmala.
Tapi ia tahu ini yang terbaik. Untuk Dewi. Untuk kuliahnya. Untuk semua orang.
"Aku akan membereskan barang-barangku hari ini. Besok aku akan pindah ke rumah Bapak dan Ibu. Maaf merepotkan." Kata Yulianto.
"Nggak usah buru-buru, Nak. Siapkan semuanya dengan tenang. Rumah kami sudah menyiapkan kamar untukmu. Kamar yang dulu..." Bu Rahma tidak melanjutkan.
"Kamar yang dulu ditempati Mala." Lanjut Pak Heru.
Yulianto terdiam. Kamar Nurmala. Ia akan tinggal di kamar Nurmala, kamar yang masih penuh dengan kenangan, penuh dengan aroma istrinya, penuh dengan bekas-bekas kehidupannya yang terputus terlalu cepat.
Itu akan berat. Sangat berat. Tapi ia harus kuat. Untuk Dewi.
"Baik, Pak. Saya siap." Jawab Yulianto.
Matahari mulai condong ke barat. Langit berwarna jingga keemasan. Pak Heru dan Bu Rahma pamit pulang. Bu Sartini juga bersiap-siap pulang ke desanya.
Sebelum berangkat, Bu Sartini mengecup kening Dewi.
"Dewi, nenek pulang dulu ya. Nenek sayang kamu. Besok nenek datang lagi. Nenek bawain baju baru buat Dewi." Bisik Bu Sartini.
Dewi yang sedang terjaga menatap neneknya dengan mata bulat. Ia tidak menangis. Ia tidak tersenyum. Ia hanya menatap, seperti bayi yang sedang merekam wajah baru ke dalam memorinya yang masih terbatas.
Bu Sartini berpamitan pada Yulianto.
"Nak, jaga diri. Jangan lupa makan. Jangan lupa mandi. Jangan hanya sibuk ngurus Dewi, tapi lupa ngurus diri sendiri. Ibu nggak tega lihat kamu kurus." Kata Bu Sartini.
"Iya, Bu. Yuli janji. Yuli akan makan teratur. Yuli akan istirahat cukup. Yuli akan selesaikan skripsi tepat waktu." Jawab Yulianto.
"Janji?" Tanya Bu Sartini.
"Janji, Bu." Jawab Yulianto.
Bu Sartini tersenyum. Ia menepuk pundak Yulianto. Lalu ia berjalan ke motornya, menyalakan mesin, dan pergi. Yulianto menatap punggung ibunya yang semakin kecil hingga hilang di tikungan.
Sekarang hanya ia dan Dewi di rumah itu. Rumah yang akan segera ia tinggalkan.
Yulianto menggendong Dewi. Ia berjalan ke dalam rumah. Ia melihat sekeliling. Dinding-dinding yang sudah ia kenal sejak kecil. Lantai yang ia injak setiap hari. Meja dan kursi yang menyaksikan tawa dan tangisnya bersama Nurmala.
"Selamat tinggal, rumah." Bisik Yulianto.
Dewi menangis pelan, mungkin lapar, mungkin kedinginan, mungkin karena ia merasakan kesedihan ayahnya. Yulianto menggoyang-goyangkan bayinya.
"Sebentar, Dewi. Ayah buatin susu dulu. Nanti kita tidur. Besok kita pindah ke rumah kakek. Di sana Dewi akan punya banyak orang yang sayang Dewi. Kakek. Nenek. Tante Kuma. Mereka semua sayang Dewi. Ayah juga sayang Dewi. Paling sayang." Bisik Yulianto.
Bayi itu mendengar suara ayahnya yang lembut. Perlahan ia tenang.
Yulianto pergi ke dapur. Ia menghangatkan air. Ia menuangkan air hangat ke dalam botol susu. Ia menakar susu formula. Ia mengocok botol itu. Ia menyuapi Dewi.
Bayi itu menyusu dengan lahap. Matanya tidak berkedip. Matanya yang bulat menatap Yulianto dengan penuh kepercayaan, kepercayaan bahwa ayahnya akan selalu ada untuknya, bahwa ayahnya akan selalu melindunginya, bahwa ke mana pun ayahnya pergi, ia akan ikut.
Yulianto tersenyum.
"Besok kita mulai hidup baru, Sayang. Ayah dan Dewi bersama-sama. Di rumah baru. Tapi ayah janji, Dewi nggak akan pernah kesepian. Ayah di sini. Ayah selalu di sini." Bisiknya.
Dewi menghentikan menyusu sejenak. Ia menatap Yulianto. Lalu ia tersenyum, senyum tanpa gigi yang paling tulus di dunia.
Yulianto menangis. Tapi kali ini bukan tangis kesedihan. Ini tangis haru. Tangis syukur bahwa ia masih memiliki sesuatu, seseorang, yang membuatnya ingin terus hidup.
BAB XVI
TINGGAL DI RUMAH BEKAS KEKASIH
Yulianto sering menginap di rumah orang tua Nurmala untuk membesarkan Dewi. Setiap hari bertemu Kumala. Kebencian Kumala masih membara. Cacian, tendangan, gigitan. Yulianto menahan semua demi Dewi.
Tinggal di rumah mertua bukanlah hal yang mudah bagi Yulianto. Apalagi setelah semua yang terjadi, setelah ia memilih Nurmala, setelah ia menikahi Nurmala, setelah Nurmala meninggal di pelukannya, setelah ia sekarang harus berbagi atap dengan keluarga yang sama, dengan adik dari istrinya yang dulu pernah ia cintai dan ia sakiti.
Setiap hari Yulianto harus berhadapan dengan Kumala. Dan Kumala, meskipun sudah berusaha, masih menyimpan luka dan kemarahan yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya. Luka karena ditinggalkan. Luka karena dikhianati, meskipun kata "khianat" mungkin terlalu kasar untuk situasi yang rumit ini. Kumala merasa ia telah kehilangan kakaknya dan kehilangan kekasihnya dalam waktu yang hampir bersamaan. Dan sekarang, kekasih yang dulu meninggalkannya itu tinggal di rumahnya, makan di mejanya, tidur di kamar kakaknya, dan mengasuh anak kakaknya setiap hari.
Itu bukanlah situasi yang mudah bagi siapa pun.
Hari pertama Yulianto pindah ke rumah Pak Heru dan Bu Rahma, cuaca sedang mendung. Awan kelabu menggantung rendah, seperti tidak rela melepaskan sisa-sisa hujan yang masih tersimpan di dalamnya. Yulianto datang dengan satu koper besar berisi pakaiannya dan satu keranjang bayi berisi Dewi yang tertidur pulas setelah seharian rewel karena proses pindahan.
Bu Rahma menyambutnya di depan pintu dengan senyum hangat meskipun matanya masih berkaca-kaca. Pak Heru membantu membawakan koper Yulianto ke dalam rumah. Mereka sudah menyiapkan kamar untuk Yulianto, kamar yang dulu ditempati Nurmala sebelum ia menikah.
Kamar itu masih sama seperti saat Nurmala masih hidup dan masih tinggal di sini sebagai seorang gadis. Dindingnya dicat warna lavender lembut, warna favorit Nurmala sejak SMA. Di atas tempat tidur, masih tergantung poster pemandangan alam pegunungan yang dulu Nurmala beli saat study tour ke Lembang. Poster itu sudah agak lusuh di pinggir-pinggirnya, tapi tidak pernah dilepas. Di meja belajar kayu jati di dekat jendela, masih ada buku-buku kuliah Nurmala yang tersusun rapi berdasarkan ukuran, buku yang paling tebal di paling kanan, yang paling tipis di paling kiri. Di sudut kamar, dekat pintu, ada rak sepatu kayu berisi lima pasang sepatu kets bekas yang dulu sering digunakan Nurmala untuk bermain bola. Sepatu yang paling bolong di bagian jempol kaki kanan masih ada di rak itu, sepatu kesayangan Nurmala yang tidak pernah ia buang meskipun sudah tidak layak pakai.
Yulianto berdiri di ambang pintu kamar itu selama beberapa detik. Ia tidak bisa masuk. Dadanya terasa sesak. Udara di dalam kamar itu masih terasa seperti ada Nurmala di dalamnya atau mungkin hanya perasaannya saja.
"Maaf, Nak. Hanya ini kamar yang tersedia." Kata Bu Rahma dari belakang. Suaranya lembut, penuh pengertian.
"Tidak apa-apa, Bu. Ini lebih dari cukup." Jawab Yulianto.
Ia akhirnya melangkah masuk. Ia meletakkan keranjang bayi di atas tempat tidur. Dewi masih tidur, tangannya yang mungil mengepal, mulutnya sedikit terbuka, napasnya teratur. Yulianto duduk di tepi tempat tidur. Ia memegang bantal yang masih menyisakan aroma Nurmala, aroma sampo dan sedikit aroma obat yang dulu melekat di tubuh istrinya selama berbulan-bulan. Aroma itu sekarang sudah sangat samar, hampir tidak tercium, tapi bagi Yulianto, aroma itu masih jelas seperti baru kemarin.
"Maaf, Mala. Aku pakai kamarmu dulu, ya. Pinjam sebentar. Sampai aku lulus kuliah." Bisik Yulianto sambil menatap langit-langit kamar.
Tidak ada jawaban. Hanya angin dari jendela yang berembus pelan, menggerakkan tirai tipis berwarna putih.
Hari-hari pertama Yulianto tinggal di rumah mertuanya tidaklah mudah. Ia harus belajar beradaptasi dengan lingkungan baru, dengan rutinitas baru, dengan orang-orang baru, meskipun orang-orang itu sebenarnya sudah ia kenal sejak kecil. Tapi mengenal seseorang sebagai tamu berbeda dengan tinggal bersama mereka sebagai penghuni tetap.
Yulianto berusaha membantu pekerjaan rumah sebisa mungkin. Ia bangun lebih awal dari semua orang, biasanya sekitar pukul setengah lima pagi, sebelum Dewi bangun dan menangis minta susu. Ia menyapu halaman depan dan halaman belakang yang dipenuhi daun-daun kering dari pohon mangga tua di samping rumah. Ia mencuci piring bekas makan malam semalam yang masih menggunung di wastafel dapur. Ia bahkan sesekali memasak untuk keluarga, memasak nasi goreng, sup ayam, atau sayur asem, masakan-masakan sederhana yang ia pelajari dari ibunya dulu.
Tapi setiap kali ia mencoba berinteraksi dengan Kumala, mengajaknya bicara, menawarinya makanan, atau sekadar menyapanya di pagi hari, selalu ada dinding tebal yang menghalangi. Dinding yang tidak terlihat tapi terasa. Dinding yang terbuat dari luka, kemarahan, dan kebencian yang belum sepenuhnya sirna.
Kumala tidak pernah memulai pembicaraan. Jika Yulianto yang memulai, ia menjawab dengan singkat, dingin, dan penuh jarak. Matanya tidak pernah menatap Yulianto lebih dari dua detik. Jika kebetulan pandangan mereka bertemu, Kumala akan segera memalingkan muka, bukan karena malu, tapi karena ia tidak tahan melihat wajah Yulianto yang mengingatkannya pada kakaknya dan pada cintanya yang gagal.
Suatu pagi, sekitar pukul setengah tujuh, Yulianto sedang berdiri di dapur. Ia baru saja selesai menyiapkan susu formula untuk Dewi. Botol susu sudah ia kocok hingga larut sempurna. Suhu susu sudah ia teteskan di pergelangan tangannya, hangat, tidak panas. Dewi sedang rewel di keranjang bayinya yang ia letakkan di meja dapur. Bayi itu menangis dengan suara yang melengking, tangis minta susu yang sudah menjadi rutinitas setiap pagi.
"Sebentar, Sayang. Ayah tuang dulu ke botol." Kata Yulianto sambil menuang susu dari panci kecil ke botol plastik berwarna biru muda bergambar kelinci.
Dewi menangis semakin keras. Tangannya yang mungil meronta-ronta di dalam keranjang. Yulianto menggendong Dewi dengan satu tangan, kiri, sementara tangan kanannya masih memegang botol susu yang belum ditutup. Ia berusaha menutup botol itu dengan satu tangan sambil menggendong bayi yang terus bergerak. Tidak mudah. Tapi ia sudah terbiasa.
Di saat yang sama, Kumala masuk ke dapur. Ia memakai gamis panjang berwarna hijau tua dan rambutnya masih terurai. Wajahnya masih mengantuk. Matanya setengah terbuka. Ia berjalan menuju lemari es untuk mengambil air minum.
"Pagi, Kumala." Sapa Yulianto ramah sambil terus mengocok botol susu.
Kumala tidak menjawab. Ia membuka lemari es, mengambil botol air minum besar, dan menuang air ke dalam gelas. Ia tidak menoleh ke arah Yulianto. Ia hanya fokus pada gelas di tangannya.
"Ning, Kumala. Kamu mau sarapan? Aku baru bikin nasi goreng. Masih hangat di atas kompor." Kata Yulianto lagi, mencoba lebih ramah.
Kumala berhenti menuang air. Ia menutup botol air minum dan memasukkannya kembali ke lemari es. Ia masih tidak menoleh.
"Nggak usah panggil gue Kumala." Jawab Kumala akhirnya. Suaranya dingin. Tajam. Seperti es yang baru pecah.
Yulianto sedikit terkejut, tapi ia berusaha tidak menunjukkan ekspresi apapun.
"Lalu aku panggil apa?" Tanya Yulianto.
"Panggil apa aja terserah. Jangan panggil Kumala." Jawab Kumala sambil meneguk airnya.
"Baik. Mba Kumala, kamu mau sarapan? Nasi gorengnya enak, aku kasih telur ceplok juga." Coba Yulianto lagi.
Kumala menaruh gelasnya di meja dapur dengan agak keras. Bunyi gelas mengenai meja kayu terdengar nyaring di pagi yang sunyi.
"Nggak mau." Jawab Kumala.
Ia berbalik dan berjalan keluar dapur tanpa melihat ke arah Yulianto. Langkah kakinya cepat, seperti ia sedang berusaha menjauh secepat mungkin.
Yulianto hanya bisa menggelengkan kepala. Ia menutup botol susu Dewi dan mulai menyuapi bayinya yang masih menangis. Dewi segera tenang setelah dot masuk ke mulutnya. Matanya yang bulat menatap Yulianto, seolah bertanya, "Ayah, kenapa Tante Kumala marah?"
Yulianto tidak punya jawaban. Ia hanya tersenyum pahit.
Tidak hanya kata-kata kasar dan sikap dingin, kadang Kumala melakukan hal-hal fisik yang menyakitkan. Hal-hal kecil yang mungkin bagi orang lain hanya kenakalan anak kecil, tapi bagi Yulianto, itu adalah luka kecil yang terus-terusan ia terima dengan sabar.
Suatu sore, langit berwarna oranye kemerahan karena matahari mulai condong ke barat. Yulianto sedang duduk di ruang tamu sambil menggendong Dewi. Bayi itu baru saja selesai menyusu dan sedang dalam kondisi mengantuk, matanya setengah terpejam, mulutnya bergerak-gerak seperti sedang menyusu dalam mimpi. Yulianto menggoyang-goyangkan tubuhnya perlahan, membuai Dewi agar benar-benar tertidur.
Kumala lewat di depan ruang tamu. Ia hendak pergi ke dapur untuk mengambil camilan. Matanya tertuju pada Yulianto dan Dewi sekilas. Tidak ada ekspresi atau tepatnya, ada ekspresi, tapi Yulianto tidak bisa membacanya.
Kumala berjalan melewati Yulianto. Bahunya menyenggol bahu Yulianto dengan sengaja. Tidak keras, tidak cukup keras untuk membuat Yulianto jatuh dari sofa. Tapi cukup keras untuk membuat tubuh Yulianto bergoyang dan lengan kirinya yang menggendong Dewi ikut bergerak. Dewi yang hampir tertidur terbangun. Matanya terbuka lebar. Bibirnya mulai bergetar, tanda ia akan menangis.
"Awas, Kumala. Kamu bisa jatuhin Dewi." Tegur Yulianto. Suaranya tegas tapi tidak keras. Ia cepat-cepat menstabilkan posisi Dewi di pangkuannya.
"Kalau kakak pegangnya bener, nggak bakal jatuh." Jawab Kumala tanpa menoleh. Ia tetap berjalan ke dapur.
"Lho, kamu yang nyenggol. Aku di sini diem aja. Tiba-tiba kamu lewat dekat banget sampe nyenggol." Kata Yulianto.
Kumala berhenti di ambang pintu dapur. Ia menoleh ke arah Yulianto. Wajahnya dingin.
"Gue nggak nyenggol. Kakak yang kurang hati-hati. Masa gendong bayi sambil duduk di pinggir sofa. Harusnya kakak duduk di tengah-tengah. Biar aman." Jawab Kumala.
"Kamu yang nyenggol, Kuma. Aku duduk di tengah juga kena kalau kamu lewat sengaja nyenggol." Kata Yulianto.
"Terserah kakak aja deh. Gue mah nggak peduli." Jawab Kumala.
Ia masuk ke dapur. Yulianto mendengar suara lemari es dibuka dan ditutup, suara plastik kerupuk dibuka, lalu suara langkah kaki Kumala yang keluar dari dapur dan naik ke lantai dua menuju kamarnya.
Yulianto menghela napas panjang. Ia memeluk Dewi lebih erat. Dewi yang tadinya mau menangis kini sudah tenang lagi. Matanya terpejam perlahan. Dadanya naik-turun dengan irama yang teratur.
"Sabarin aja, Yuli. Sabar." Bisik Yulianto pada dirinya sendiri.
Tidak hanya senggolan. Kadang Kumala melakukan hal yang lebih menyakitkan.
Suatu siang, saat matahari sedang terik-teriknya dan Yulianto sedang mencuci piring di dapur setelah makan siang, air mengalir deras dari keran. Busa sabun melimpah di wastafel. Yulianto sedang asyik menggosok piring-piring kotor dengan spons hijau. Tangannya basah. Bajunya basah di bagian lengan karena percikan air.
Di luar, Dewi sedang tidur di keranjang bayinya di ruang tamu, dijaga oleh Bu Rahma yang sedang menjahit sambil menonton televisi.
Yulianto tidak mendengar langkah kaki Kumala yang mendekati dapur dari belakang. Tidak melihat bayangannya di lantai keramik. Tidak menyadari kehadirannya sampai tiba-tiba ada tendangan di pantatnya.
Bukan tendangan yang keras, tidak cukup keras untuk membuatnya jatuh. Tapi cukup keras untuk membuat tubuh Yulianto maju ke depan beberapa sentimeter, dadanya nyaris membentur tepi wastafel. Air dan busa sabun tumpah ke lantai. Sepong spons terlepas dari tangannya dan jatuh ke dalam air kotor di wastafel.
"Hei!" Seru Yulianto. Ia menoleh.
Kumala berdiri di belakangnya dengan tangan di pinggang. Wajahnya datar. Tidak ada ekspresi menyesal. Tidak ada ekspresi marah. Hanya datar, seperti orang yang baru saja melakukan hal yang paling biasa di dunia.
"Maaf, nggak sengaja." Jawab Kumala.
Tapi dari nada bicaranya, dari cara ia berdiri dengan tangan di pinggang, dari cara ia menatap Yulianto tanpa berkedip, jelas sekali bahwa itu disengaja. Sangat disengaja.
"Kamu sengaja, Kumala." Kata Yulianto.
"Iya. Gue sengaja." Jawab Kumala tanpa berkedip.
Yulianto terdiam. Ia menatap Kumala. Ia bisa melihat kebencian di mata gadis itu. Kebencian yang sudah ia lihat berkali-kali dalam beberapa minggu terakhir. Kebencian yang tidak kunjung reda meskipun ia sudah berusaha bersikap baik, membantu pekerjaan rumah, dan tidak pernah membalas perlakuan kasar Kumala dengan kasar.
"Ada masalah?" Tanya Kumala menantang. Ia mengangkat dagunya sedikit, seperti sedang mengajak berkelahi.
Yulianto ingin marah. Ia ingin berteriak, "Ada masalah besar! Kamu sudah berminggu-minggu bersikap kasar padaku, menendangku, mencaciku, dan sekarang kamu nendang pantatku saat aku sedang mencuci piring!"
Tapi ia menahan diri. Ia ingat bahwa ia tinggal di rumah ini atas kebaikan hati Pak Heru dan Bu Rahma. Ia ingat bahwa Kumala juga sedang terluka, mungkin lebih parah darinya. Ia ingat bahwa Kumala kehilangan kakak yang sangat ia cintai, dan ia, Yulianto, adalah bagian dari tragedi itu. Ia ingat bahwa ia pernah menyakiti Kumala dengan memilih Nurmala dan meninggalkannya.
"Aku yang mulai. Aku yang salah. Aku tidak bisa marah padanya sekarang."
"Nggak ada masalah, Kumala." Jawab Yulianto akhirnya. Ia berbalik lagi ke wastafel. Ia mengambil spons yang tenggelam di air kotor dan kembali mencuci piring.
Kumala mendengus.
"Kalo nggak ada masalah, ya sudah." Kata Kumala.
Ia berbalik dan pergi meninggalkan dapur. Langkah kakinya terdengar berat, mungkin karena kesal karena Yulianto tidak bereaksi seperti yang ia harapkan.
Yulianto terus mencuci piring. Tangannya gemetar, bukan karena takut, tapi karena emosi yang ia tahan. Ia menarik napas panjang. Menghembuskannya perlahan. Lalu menarik napas lagi.
"Sabar."
Kebencian Kumala terhadap Yulianto semakin menjadi-jadi ketika ia melihat bahwa orang tuanya, Pak Heru dan Bu Rahma, mulai menganggap Yulianto seperti anak sendiri.
Awalnya hanya hal-hal kecil. Pak Heru mengajak Yulianto ke ladang pada suatu Sabtu pagi. "Nak Yuli, ayah mau nanam jagung di ladang belakang. Kamu ikut? Lumayan buat olahraga." Kata Pak Heru. Yulianto tentu saja bersedia. Mereka pergi berdua ke ladang, mencangkul, menanam bibit jagung, dan membangun pagar bambu sederhana. Pulang dari ladang, mereka makan siang bersama sambil tertawa-tawa kecil tentang betapa tidak terampilnya Yulianto menggunakan cangkul, ia hampir mengenai kakinya sendiri dua kali.
Lalu hal-hal yang lebih besar. Bu Rahma mulai meminta pendapat Yulianto tentang dekorasi rumah. "Nak, ibu mau ganti taplak meja. Warna apa yang cocok? Ibu bingung." Kata Bu Rahma. Yulianto menjawab, "Warna krem saja, Bu. Netral. Tidak norak. Cocok dengan warna sofa." Bu Rahma mengangguk-angguk. "Iya juga. Ibu beli taplak krem minggu depan."
Lalu hal-hal yang lebih personal. Suatu malam, saat makan malam berempat, Yulianto, Dewi yang digendongnya, Pak Heru, Bu Rahma, dan Kumala, Pak Heru tiba-tiba tertawa lepas mendengar lelucon yang diceritakan Yulianto tentang pengalamannya pertama kali menggendong Dewi dan hampir menjatuhkannya.
"Nak Yuli, kamu ini lucu juga. Pantas saja Mala dulu sering cerita tentang kamu. Mala dulu cerita, waktu kamu kecil pernah jatuh dari pohon jambu, kamu nangis minta digendong sama Mala. Padahal Mala lebih kecil dari kamu." Kata Pak Heru sambil tertawa.
Iya, Nak. Mala dulu sering bilang, 'Bu, Yuli tuh sahabat paling kocak yang pernah aku punya. Dia kalau ketawa suara kuda.' " Sambung Bu Rahma sambil ikut tertawa.
Keduanya tertawa. Bahkan Yulianto ikut tersenyum mendengar kenangan lama itu.
Tapi di seberang meja, Kumala diam. Sendoknya berhenti di mulut. Ia tidak mengunyah. Ia hanya duduk dengan wajah membatu.
Kumala meletakkan sendoknya dengan keras di atas piring. Bunyi "bretak" mengagetkan semua orang. Pak Heru berhenti tertawa. Bu Rahma menoleh ke putrinya. Yulianto menatap Kumala dengan khawatir.
"Aku kenyang." Kata Kumala.
"Kumala, kamu baru makan sedikit. Nasi di piringmu masih banyak. Ayamnya juga hampir utuh." Kata Bu Rahma.
"Aku bilang kenyang." Jawab Kumala. Suaranya dingin.
Ia mendorong kursinya ke belakang. Kaki kursi menggores lantai keramik dengan suara yang tidak enak didengar. Ia berdiri. Membawa piring dan gelasnya ke dapur. Lalu ia naik ke lantai dua. Beberapa detik kemudian, terdengar suara pintu kamar yang ditutup, tidak dibanting, tapi ditutup dengan keras.
Bu Rahma menatap suaminya.
"Ayah, Kumala masih belum bisa menerima. Maafkan dia, Nak Yuli. Dia masih berduka. Cara dia mengekspresikan dukanya kadang kurang tepat." Kata Bu Rahma.
"Iya, Bu. Saya tahu. Saya tidak marah. Saya hanya... saya hanya sedih melihat dia seperti itu." Jawab Yulianto.
"Beri dia waktu, Nak. Waktu akan menyembuhkan semuanya." Kata Pak Heru.
"Insya Allah, Pak." Jawab Yulianto.
Mereka melanjutkan makan malam. Tapi suasananya tidak lagi hangat seperti sebelumnya. Aroma masakan yang tadinya enak kini terasa hambar. Tawa yang tadinya mengalir deras kini menghilang, digantikan oleh keheningan yang canggung.
Setelah makan malam, Yulianto membantu Bu Rahma mencuci piring. Ia tidak bicara banyak. Pikirannya tertuju pada Kumala yang sedang mengurung diri di kamarnya. Ia ingin mengetuk pintu, meminta maaf, meskipun ia tidak tahu harus meminta maaf atas apa. Ia merasa bahwa semua kemarahan Kumala ditujukan kepadanya, dan mungkin itu memang pantas. Mungkin ia memang pantas dimarahi. Pantas ditendang. Pantas digigit.
Setelah selesai mencuci piring, Yulianto berjalan ke lantai dua menuju kamarnya. Kamar Nurmala. Ia harus melewati kamar Kumala untuk sampai ke kamarnya. Saat ia berjalan di koridor, ia mendengar suara tangis dari balik pintu kamar Kumala. Tangis yang tertahan, seperti seseorang yang ingin berteriak sekeras-kerasnya tapi menahannya karena takut didengar.
Yulianto berhenti di depan pintu kamar Kumala. Ia mengangkat tangan untuk mengetuk, lalu menurunkannya lagi. Mengangkat lagi. Menurunkan lagi.
"Apa yang akan aku katakan? 'Kumala, aku minta maaf?' Maaf untuk apa? 'Kuma, jangan menangis?' Dia punya hak untuk menangis. 'Kuma, aku di sini untukmu?' Dia pasti akan marah."
Yulianto menghela napas. Ia berjalan melewati pintu itu dan masuk ke kamarnya. Ia membaringkan Dewi yang sudah tertidur di keranjang bayinya. Ia duduk di tepi tempat tidur. Dari kamarnya, ia masih bisa mendengar suara tangis Kumala yang samar-samar, tertahan oleh dinding, tapi tidak cukup tebal untuk menutupi sepenuhnya.
"Biar dia menangis. Mungkin itu yang dia butuhkan." Bisik Yulianto pada dirinya sendiri.
Keesokan harinya, suasana tidak berubah. Kumala masih dingin. Bahkan lebih dingin dari sebelumnya. Ia tidak menyapa Yulianto sama sekali. Tidak mengangguk. Tidak melirik. Ketika Yulianto mencoba menyapanya di pagi hari, ia berjalan melewatinya seolah-olah Yulianto tidak ada. Seperti udara. Seperti hantu.
Yulianto sudah terbiasa. Ia tidak lagi berusaha terlalu keras. Ia hanya melakukan tugasnya: merawat Dewi, membantu pekerjaan rumah, kuliah, dan menyelesaikan skripsinya. Ia tidak berharap Kumala akan berubah dalam waktu dekat. Ia hanya berusaha bersabar, sabar seperti orang tua yang menghadapi anak remaja yang sedang marah.
Suatu sore, langit berwarna biru pucat dengan sedikit awan putih yang bergerak lambat. Yulianto sedang menjemur pakaian di halaman belakang. Rumah Pak Heru memiliki halaman belakang yang cukup luas, ditanami pohon pisang dan beberapa pot cabai rawit. Tiang jemuran terbuat dari besi yang sudah sedikit berkarat di bagian bawah.
Yulianto sedang menjemur kain popok Dewi yang baru saja ia cuci. Popok-pokok itu berwarna putih bersih dengan gambar kelinci di sudutnya. Ia menjepit satu per satu popok itu ke kawat jemuran dengan hati-hati, merapikannya agar tidak kusut.
Di sela-sela jemuran, ia melihat Kumala keluar dari pintu belakang. Wajahnya marah, bukan marah biasa, tapi marah yang terpendam sejak lama dan sekarang keluar seperti letusan gunung berapi.
"Kak, gue mau bicara." Kata Kumala dengan suara yang dingin tapi tegas.
Yulianto tidak menoleh. Ia terus menjemur popok.
"Iya, kamu mau bicara apa? Bicaralah." Jawab Yulianto tanpa menoleh.
"Gue nggak suka kakak di sini." Kata Kumala.
Yulianto berhenti menjemur. Tangannya berhenti di tengah udara. Ia menoleh perlahan. Wajahnya tenang, tidak terkejut, seolah-olah ia sudah menduga bahwa suatu hari Kumala akan mengatakan kalimat ini.
"Kenapa, Kumala?" Tanya Yulianto.
"Karena rumah ini rumah gue. Rumah keluarga gue. Bukan rumah kakak. Kakak nggak punya hak tinggal di sini." Jawab Kumala.
"Aku tinggal di sini karena orang tuamu mengizinkan. Bapakmu dan ibumu sendiri yang mengundangku. Aku nggak datang dengan paksa. Aku nggak minta-minta. Mereka yang menawarkan." Kata Yulianto.
"Gue nggak peduli. Pokoknya gue nggak suka. Setiap hari gue lihat wajah kakak di sini, di dapur, di ruang tamu, di jemuran, di mana-mana. Gue jadi ingat kakak Mala terus. Setiap kali liat kakak, yang kebayang di kepala gue adalah kakak Mala yang terbaring lemah di tempat tidur, kakak Mala yang muntah-muntah, kakak Mala yang..." Kumala berhenti. Suaranya pecah. Ia tidak bisa melanjutkan.
"Kumala, aku..."
"Gue nggak selesai!" Potong Kumala.
Yulianto menutup mulutnya.
"Kakak Mala sudah meninggal. Tapi kenangan tentang dia masih ada di mana-mana. Di kamar kakak, di dapur, di ruang tamu, di halaman belakang ini. Dan dengan kakak di sini, kenangan itu semakin kuat. Gue nggak bisa move on, Kak. Gue nggak bisa melupakan. Gue nggak bisa menerima bahwa kakak Mala sudah tiada selama kakak ada di sini mengingatkan gue tentang dia setiap saat." Lanjut Kumala.
"Aku minta maaf, Kumala. Aku tidak bermaksud membuatmu sakit." Kata Yulianto.
"Maaf kakak, nggak berguna. Maaf nggak bisa mengembalikan kakak Mala." Jawab Kumala.
"Maaf, Kumala. Aku nggak bisa pergi. Aku harus merawat Dewi. Dan Dewi butuh lingkungan yang stabil. Dia butuh kakek-neneknya. Dia butuh rumah yang aman. Dan ini rumah yang paling aman untuknya sekarang." Kata Yulianto.
Kumala mendengus sinis.
"Jadi kakak cuma numpang? Kakak cuma manfaatin orang tua gue? Kakak cuma butuh tempat tinggal gratis? Kakak cuma butuh orang yang mau masakin, nyuciin, merapihin?" Suara Kumala meninggi.
"Nggak, Kumala. Bukan begitu. Aku tidak memanfaatkan siapa pun. Aku membantu sebisa aku. Aku bersihin rumah, aku cuci baju, aku masak kadang-kadang. Aku nggak cuma duduk manis." Kata Yulianto.
"Lalu gimana? Jelaskan! Jelaskan kenapa kakak harus tinggal di sini dan bukan di rumah kakak sendiri!" Teriak Kumala.
Yulianto meletakkan jemuran yang masih basah ke dalam keranjang plastik di samping kakinya. Ia berjalan mendekati Kumala. Jarak mereka hanya satu meter. Ia bisa melihat wajah Kumala yang memerah karena marah, matanya yang basah karena sudah setengah menangis, tangannya yang mengepal di samping tubuhnya.
"Kumala, mau denger atau nggak, aku akan jelaskan sekali lagi. Aku tinggal di sini karena di sini lebih dekat dengan kampus. Aku tinggal di sini karena Dewi butuh kakek-neneknya. Aku tinggal di sini karena aku tahu bahwa Bapak dan Ibu juga butuh Dewi. Aku tinggal di sini karena aku ingin menyelesaikan kuliahku tepat waktu dan tidak DO. Aku tinggal di sini karena... karena aku tidak punya tempat lain yang lebih baik." Kata Yulianto.
Kumala tidak menjawab. Ia hanya menatap Yulianto dengan mata yang penuh dengan emosi yang tidak bisa ia ungkapkan.
"Kuma, aku tahu kamu marah. Aku tahu kamu benci sama aku. Aku tahu kamu ingin aku pergi. Tapi percaya deh, aku nggak ada niat buruk. Aku cinta Dewi. Dia anakku. Dia satu-satunya yang tersisa dari Mala. Dan aku akan melakukan apa pun untuk melindunginya. Termasuk menahan semua cacianmu, semua tendanganmu, semua gigitanmu. Aku tahan semua itu. Demi Dewi." Lanjut Yulianto.
Kumala mengepalkan tangannya lebih erat.
"Jangan bawa-bawa Dewi, Kak. Jangan pakai Dewi sebagai tameng." Kata Kumala.
"Aku tidak memakai Dewi sebagai tameng. Aku hanya jujur." Jawab Yulianto.
Kumala mengangkat tangan kanannya. Ia mengepalkan tangannya. Ia hendak memukul Yulianto. Yulianto melihat tinju itu. Ia tidak bergerak. Tidak menghindar. Tidak mengangkat tangan untuk melindungi wajahnya. Ia hanya berdiri diam, menatap Kumala dengan mata yang teduh, sangat teduh, seperti air danau di pagi hari yang tenang.
"Pukul saja kalau itu membuatmu lega. Aku sudah bilang. Aku akan menahan semuanya. Demi Dewi." Kata Yulianto.
Kumala menurunkan tangannya perlahan.
Ia tidak memukul.
Tapi kemudian ia melakukan hal yang tidak terduga.
Ia meraih lengan kanan Yulianto, lengan yang dekat dengan tubuhnya, dan menggigitnya. Kuat. Sangat kuat. Giginya yang putih dan rapi itu menusuk kulit Yulianto seperti belasan jarum kecil yang menusuk bersamaan.
Yulianto menggertakkan giginya. Ia menahan sakit. Wajahnya mengerut sedikit, tapi ia tidak berteriak. Tidak meronta. Tidak menarik tangannya. Ia membiarkan Kumala menggigitnya.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Empat detik. Lima detik.
Kumala melepas gigitannya.
Bekas gigi yang dalam dan merah jelas terlihat di lengan kanan Yulianto. Kulit di sekitarnya mulai membiru. Gigi Kumala pasti sangat kuat, atau kebenciannya yang membuat rahangnya bekerja ekstra.
"Kamu sudah puas? Luka ini akan sembuh. Luka di hatimu kapan?" Tanya Yulianto.
Kumala tidak menjawab. Ia justru menangis.
Ia menangis di depan Yulianto untuk pertama kalinya tanpa berusaha menyembunyikan. Tidak ada punggung tangan yang mengusap air mata. Tidak ada wajah yang menunduk. Tidak ada lari ke kamar. Ia hanya berdiri di halaman belakang itu, di antara tiang jemuran dan pot-pot cabai, sambil menangis tersedu-sedu di hadapan Yulianto.
Air matanya mengalir deras. Bahunya bergetar. Dadanya naik-turun dengan cepat. Napasnya sesak.
"Kenapa kakak nggak marah? Kenapa kakak nggak membela diri? Kenapa kakak selalu ngalah? Kenapa kakak nggak pernah melawan gue? Kenapa, Kak? Kenapa?" Tanya Kumala sambil terisak.
Yulianto menghela napas. Ia mendekat sedikit. Tidak terlalu dekat, masih menjaga jarak yang aman.
"Karena aku mengerti, Kumala. Kamu sedang marah. Kamu sedang terluka. Kamu sedang berduka. Dan aku adalah target yang mudah. Aku di sini setiap hari. Aku tidak bisa lari. Aku adalah wajah yang mengingatkanmu pada kakakmu dan pada cintamu yang gagal. Aku adalah alasan kamu tersiksa setiap hari. Jadi tidak apa-apa. Marahilah aku. Benciilah aku. Tendang, gigit, cacimaki aku. Aku tahan. Aku akan selalu tahan." Jawab Yulianto.
Kumala menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Gue benci kakak, Kak. Gue benci karena kakak selalu baik. Gue benci karena kakak nggak pernah membalas kebencian gue. Itu bikin gue merasa jadi orang jahat. Gue jadi merasa bahwa gue yang salah. Gue yang tidak dewasa. Gue yang tidak bisa memaafkan. Padahal gue hanya... gue hanya sakit. Kak, gue sakit. Hatiku sakit." Kata Kumala.
"Kamu bukan orang jahat, Kumala. Kamu hanya sedang berduka. Dan tidak apa-apa untuk marah. Tidak apa-apa untuk benci. Tidak apa-apa untuk menendang dan menggigit. Semua orang punya cara masing-masing untuk berduka. Tidak ada cara yang salah. Tapi jangan biarkan kebencian itu menghancurkanmu. Jangan biarkan kebencian itu membuatmu lupa bahwa kamu masih punya orang tua yang mencintaimu, bahwa kamu masih punya Dewi yang sayang padamu, bahwa kamu masih punya... bahwa kamu masih punya aku yang peduli padamu." Kata Yulianto.
Kumala terdiam.
Ia mengusap air matanya dengan punggung tangan. Wajahnya basah. Matanya merah. Hidungnya merah.
"Kak, peluk gue." Pinta Kumala tiba-tiba.
Yulianto ragu sejenak. Di dalam hatinya, ada suara yang berbisik, "Ini tidak pantas. Kamu sudah menikah dengan kakaknya. Sekarang istrimu sudah meninggal. Ini adalah adik iparmu. Di mana batasnya?"
Tapi suara lain berbisik lebih keras, "Dia butuh seseorang. Dia butuh pelukan. Dia butuh kehangatan. Dan hanya kamu yang ada di sini sekarang."
Yulianto membuka tangannya.
Kumala mendekat. Ia memeluk Yulianto erat-erat. Wajahnya ia tempelkan di bahu Yulianto, bahu yang dulu pernah menjadi tempat bersandarnya saat mereka masih berpacaran, saat mereka masih muda dan polos dan belum tahu bahwa cinta bisa sesakit ini.
"Kak, aku rindu kakak Mala. Aku rindu banget, Kak. Setiap hari. Setiap malam. Aku kangen. Aku kangen." Isak Kumala.
"Aku juga, Kumala. Aku juga rindu Mala. Setiap hari. Setiap malam. Aku kangen dia lebih dari apa pun." Jawab Yulianto.
Mereka berdua berpelukan di halaman belakang yang sepi, di antara seprai dan popok yang berkibar-kibar ditiup angin sore. Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, meninggalkan cahaya jingga yang lembut. Burung-burung pipit beterbangan pulang ke sarang di pohon mangga. Angin berembus sepoi-sepoi, membawa aroma tanah basah dan daun pisang yang kering.
Dari balik jendela dapur, Bu Rahma dan Pak Heru berdiri diam. Mereka melihat adegan itu dari kejauhan. Bu Rahma menangis. Pak Heru mengusap matanya dengan ujung baju.
"Ayah, akhirnya mereka berdua baikan. Kumala sudah mulai melunak. Mungkin ini yang selama ini dia butuhkan, pelukan, bukan amarah." Kata Bu Rahma.
"Insya Allah, Bu. Insya Allah. Kita doakan semoga keduanya diberi kekuatan. Semoga mereka bisa saling menguatkan, bukan saling menyakiti." Jawab Pak Heru.
Sejak malam itu, sikap Kumala terhadap Yulianto mulai berubah perlahan.
Tidak langsung menjadi baik. Tidak langsung hangat seperti dulu saat mereka masih berpacaran. Tidak langsung Kumala tersenyum setiap kali melihat Yulianto. Tidak.
Kumala masih dingin. Masih jarang bicara. Masih sering menghindar. Tapi setidaknya ia tidak lagi menendang pantat Yulianto. Tidak lagi menggigit lengannya. Tidak lagi melontarkan kata-kata kasar yang menyayat hati. Yang tersisa hanyalah keheningan yang canggung, keheningan dua orang yang sama-sama terluka, sama-sama berusaha, tapi belum sepenuhnya bisa bersama.
Kadang di meja makan, Kumala akan menyodorkan piring berisi lauk ke arah Yulianto tanpa bicara. Kadang ia akan meninggalkan segelas air putih di meja belajar Yulianto saat Yulianto sedang asyik mengetik skripsi di kamarnya, air itu sudah dingin, tapi kesegarannya terasa di tenggorokan. Kadang ia akan menggendong Dewi tanpa diminta saat Yulianto sedang mandi atau sedang di kampus.
Hal-hal kecil. Tapi bagi Yulianto, itu adalah kemajuan yang luar biasa.
Suatu malam, Yulianto sedang duduk di ruang tamu sambil membaca buku. Dewi sudah tidur di keranjangnya. Bu Rahma dan Pak Heru sudah beristirahat di kamar. Kumala turun dari lantai dua dengan langkah pelan. Ia duduk di sofa di seberang Yulianto. Tidak bicara. Hanya duduk.
Beberapa menit berlalu. Tidak ada yang bicara. Hanya suara televisi yang diputar pelan, acara berita malam tentang sesuatu yang tidak penting bagi mereka berdua.
"Kak." Panggil Kumala akhirnya.
"Iya, Kumala?" Jawab Yulianto tanpa mengangkat kepala dari bukunya.
"Maafin gue. Maafin semua kekasaran gue. Maafin tendangan gue. Maafin gigitan gue. Maafin cacian gue. Gue... gue nggak bermaksud jadi orang jahat. Gue hanya... gue hanya tidak tahu cara mengekspresikan kesedihan selain dengan kemarahan." Kata Kumala.
Yulianto meletakkan bukunya. Ia menatap Kumala.
"Kumala, aku sudah memaafkanmu sejak lama. Sejak gigitan pertamamu. Sejak tendangan pertamamu. Aku tahu itu bukan kamu yang sebenarnya. Kamu hanya sedang terluka. Dan orang yang terluka seringkali menyakiti orang lain tanpa sadar. Itu wajar. Itu manusiawi." Jawab Yulianto.
"Kak, gue janji. Gue akan berusaha lebih baik. Untuk Dewi. Untuk orang tua. Dan untuk kakak." Kata Kumala.
"Aku juga akan berusaha lebih baik, Kumala. Untuk Dewi. Untuk orang tuamu. Dan untuk kamu." Jawab Yulianto.
Mereka berdua tersenyum. Senyum kecil. Senyum yang tidak merubah dunia, tapi cukup untuk mengubah suasana ruang tamu yang tadinya dingin menjadi sedikit lebih hangat.
Dari keranjangnya, Dewi mengeluarkan suara-suara kecil seperti orang yang sedang bermimpi. Mungkin ia bermimpi tentang pelangi. Mungkin tentang susu formula hangat. Mungkin tentang dunia yang damai di mana semua orang yang ia cintai bisa bersatu tanpa perlu saling menyakiti.
Yulianto memandang Dewi. Lalu memandang Kumala.
"Kita bisa melewati ini semua, Kumala. Kita bisa."
BAB XVII
SYARAT GILA KUMALA
Banyak pria mendekati Kumala. Syarat Kumala: "Pukul wajah Yulianto di depanku." Yulianto pasrah, siap mempolisikan siapa pun yang memukulnya. Tak ada pemuda yang berani.
Dua tahun berlalu sejak kepergian Nurmala. Dua tahun sejak bayi mungil dengan nama Dewi Nurmala lahir ke dunia ini tanpa sempat merasakan dekapan hangat ibunya. Waktu berjalan dengan cara yang aneh, kadang terasa cepat seperti air yang mengalir deras di sungai saat musim hujan, kadang terasa lambat seperti tetesan keran yang menetes satu per satu di malam yang sunyi. Tapi waktu tetap berjalan. Tidak pernah berhenti. Tidak pernah meminta izin. Tidak pernah peduli apakah kita sudah siap atau belum untuk melanjutkan hidup.
Dewi kini sudah berusia dua tahun lebih. Ia sudah bisa berjalan dengan langkah kecil yang belum sepenuhnya stabil, kadang masih jatuh, kadang masih menabrak meja atau kursi. Tapi setiap kali jatuh, ia bangkit dengan sendirinya tanpa menangis, seperti ayahnya yang juga selalu bangkit setiap kali dihempas badai kehidupan.
Ia sudah mulai berbicara dengan kata-kata sederhana. "Ayah", "Tante Kumala", "Kek", "Nenek", "mau susu", "mau pup", "Dewi cantik". Kata-kata yang keluar dari mulut mungilnya selalu membuat siapapun yang mendengarnya tersenyum, meskipun kadang senyum itu bercampur dengan haru, karena setiap kali Dewi bicara, ia selalu mengingatkan pada Nurmala. Cara Dewi mengerutkan dahi saat berpikir, cara Dewi tertawa dengan suara nyaring tanpa beban, cara Dewi menatap seseorang dengan mata yang teduh, semua itu adalah peninggalan dari ibunya yang tidak sempat ia kenal.
Yulianto sudah menyelesaikan kuliahnya tepat waktu. Tepat dua bulan setelah ia pindah ke rumah mertuanya, ia berhasil menyelesaikan skripsinya dengan judul yang membosankan tentang analisis pasar modal, sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu ia minati, tapi ia butuh lulus. Ia butuh ijazah. Ia butuh pekerjaan. Ia butuh masa depan untuk Dewi.
Sidang skripsinya berjalan lancar. Dosen pengujinya tidak banyak bertanya. Mungkin mereka tahu bahwa pemuda di hadapan mereka ini baru saja kehilangan istri, baru saja menjadi ayah tunggal, dan sedang berjuang untuk tetap bertahan hidup. Atau mungkin skripsinya memang cukup baik. Yulianto tidak peduli. Yang penting ia lulus. Yang penting ia bisa berkata pada Pak Heru, "Pak, saya sudah menepati janji saya."
Setelah lulus, Yulianto mencari pekerjaan. Tidak mudah. Lowongan pekerjaan di kota kecil seperti tempat tinggalnya sangat terbatas. Ia mengirim lamaran ke puluhan perusahaan. Beberapa tidak direspon. Beberapa mengundang wawancara tapi hasilnya tidak diterima. Ia hampir putus asa ketika sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang logistik membuka lowongan untuk staf administrasi. Gajinya tidak besar, hanya cukup untuk kebutuhan pokok Dewi dan sedikit membantu mertuanya. Tapi Yulianto menerimanya dengan senang hati. Pekerjaan adalah pekerjaan. Selama halal, selama bisa menghidupi anaknya, ia akan ambil.
Setiap pagi, Yulianto berangkat kerja dengan motor tua yang masih setia menemani sejak zaman kuliah. Setiap sore, ia pulang dengan membawa oleh-oleh untuk Dewi, kadang biskuit, kadang mainan murah dari pasar, kadang hanya sekadar cerita tentang tikus yang lewat di jalan. Setiap malam, ia menemani Dewi bermain, membacakan dongeng, dan menidurkannya dengan nyanyian yang sama setiap hari, lagu lama yang dulu dinyanyikan oleh ibunya untuknya, dan sekarang ia wariskan untuk Dewi.
Sementara itu, Kumala tumbuh menjadi perempuan yang semakin cantik. Mungkin karena usianya yang semakin matang, atau mungkin karena kesedihan yang ia alami memberinya semacam kedewasaan yang terpancar dari raut wajahnya. Wajahnya yang dulu polos dengan pipi gembul dan senyum canggung kini berubah menjadi lebih tirus, lebih tegas, dengan tulang pipi yang mulai menonjol. Matanya yang dulu selalu bersinar penuh harap kini kadang terlihat sayu, seperti ada sesuatu yang hilang di dalam sana dan tidak bisa ia temukan kembali. Rambut panjangnya yang sebahu kini ia biarkan tergerai tanpa banyak gaya, hanya sesekali ia ikat ekor kuda saat pergi bekerja.
Setelah lulus kuliah, tepat satu semester setelah Yulianto, Kumala mendapat pekerjaan sebagai guru TK di desa sebelah. Sekolah tempatnya mengajar bernama TK Pelita Harapan, sebuah bangunan sederhana dengan cat merah muda yang mulai mengelupas di beberapa bagian, halaman bermain yang tidak terlalu luas, dan pagar besi yang sudah berkarat. Tapi anak-anak didiknya sangat manis. Mereka memanggilnya "Bu Guru Kumala" dengan suara riang yang selalu membuat hati Kumala tersenyum meskipun bibirnya kadang lupa bagaimana caranya tersenyum.
Banyak pria yang mulai mendekati Kumala. Mungkin karena ia cantik. Mungkin karena ia baik. Mungkin karena ia guru TK, dan pria mana yang tidak ingin istrinya menjadi guru TK yang lembut dan sabar? Ada yang dari lingkungan kampus, ada dari tempat kerjanya, guru-guru pria dari sekolah-sekolah sekitar, ada juga yang diperkenalkan melalui teman-temannya atau melalui orang tuanya.
Ada Budi, pria berusia dua puluh lima tahun yang bekerja sebagai PNS di kantor kecamatan. Ia datang melamar secara resmi melalui orang tuanya. Orang tua Budi datang ke rumah Pak Heru dengan membawa oleh-oleh dan surat lamaran. Pak Heru dan Bu Rahma menerima mereka dengan hormat. Tapi ketika mereka bertanya pada Kumala, Kumala hanya diam. Tidak mengatakan ya. Tidak mengatakan tidak. Ia hanya berkata, "Aku belum siap, Bu, Pak. Tolong jelaskan pada mereka dengan baik." Dan Budi pun pergi dengan hati yang sedikit kecewa.
Ada Joko, pria berusia dua puluh tujuh tahun yang bekerja sebagai wiraswasta, ia punya toko sembako di pasar tradisional. Joko sering lewat di depan rumah Kumala dengan alasan membeli es teh di warung sebelah, padahal es teh bisa ia dapatkan di tokonya sendiri. Ia pernah beberapa kali mencoba mengajak Kumala bicara. Kumala menjawad dengan sopan, singkat, dan tanpa membuka peluang. Joko akhirnya berhenti lewat setelah tiga bulan.
Ada juga Deni, seorang arsitek muda yang baru saja menyelesaikan proyek perumahan di desa seberang. Deni bertemu Kumala di acara pernikahan teman bersama dan langsung terpikat. Ia minta nomor telepon Kumala dan Kumala memberikannya, mungkin karena ia tidak enak menolak di depan umum. Mereka bertukar pesan beberapa kali. Tapi setiap kali Deni mengajak jalan, Kumala menolak dengan alasan sibuk. Deni akhirnya menyerah.
Namun ada satu hal yang aneh tentang semua pria yang mendekati Kumala. Sebuah hal yang tidak diketahui oleh banyak orang, hanya mereka yang benar-benar mendekat, yang benar-benar menyatakan perasaan, yang benar-benar serius ingin melamar Kumala. Gadis itu selalu memberi syarat yang sama. Syarat yang aneh. Syarat yang gila. Syarat yang membuat hampir semua pria mengurungkan niat mereka setelah mendengarnya.
Suatu hari, seorang pria bernama Rendi datang. Rendi adalah rekan sesama guru di sekolah Kumala, bukan satu sekolah, karena ia mengajar di SD yang lokasinya bersebelahan dengan TK Pelita Harapan. Mereka sering bertemu di kantin sekolah atau di acara-acara rapat guru yang diadakan oleh dinas pendidikan setempat.
Rendi adalah pria tampan. Tinggi, sekitar seratus tujuh puluh lima sentimeter. Kulitnya putih bersih seperti orang tuanya yang berkulit putih. Rambutnya hitam dan selalu disisir rapi ke samping. Matanya berwarna cokelat terang, seperti madu yang terkena sinar matahari. Tubuhnya atletis karena ia sering bermain bulu tangkis di sore hari. Keluarganya cukup berada, ayahnya seorang pengusaha sukses di bidang properti, ibunya adalah seorang dokter gigi dengan praktik yang ramai pasien.
Rendi sudah lama diam-diam menyukai Kumala. Sejak pertama kali ia melihat Kumala di acara perpisahan sekolah setahun yang lalu, ia sudah terpesona. Bukan hanya karena wajahnya yang cantik, tapi karena cara Kumala berbicara dengan anak-anak didiknya, lembut, sabar, penuh kasih. Rendi berpikir, "Perempuan seperti ini akan menjadi ibu yang baik untuk anak-anakku kelak."
Setelah berbulan-bulan mengumpulkan keberanian, Rendi akhirnya memutuskan untuk menyatakan perasaan. Ia memilih waktu setelah jam pulang sekolah, saat taman kanak-kanak sudah sepi dan hanya beberapa guru yang masih tersisa untuk membereskan administrasi. Ia memarkir mobilnya di halaman TK Pelita Harapan, merapikan rambutnya di kaca spion, lalu berjalan menuju ruang guru.
Kumala sedang duduk di mejanya, memeriksa lembar kerja anak-anak. Kacamata bacanya, yang baru ia gunakan sejak beberapa bulan lalu karena matanya mulai lelah, terletak di ujung hidungnya. Rambutnya ia ikat ekor kuda. Gamis sederhana berwarna biru muda ia kenakan dengan jilbab putih. Ia terlihat cantik dalam kesederhanaannya.
"Mba Kumala, selamat sore." Sapa Rendi sambil berdiri di ambang pintu ruang guru.
Kumala menoleh. Ia tersenyum tipis.
"Selamat sore, Mas Rendi. Ada perlu apa? Kok sampe ke sini? Bukannya pulang lewat jalan depan?" Jawab Kumala.
Rendi masuk ke ruang guru. Ia duduk di kursi di seberang meja Kumala. Tangannya sedikit gemetar, ia gugup. Ia sudah melatih kalimat ini ratusan kali di depan cermin kamarnya, tapi sekarang semua latihan itu sirna.
"Mba, aku... aku mau ngomong sesuatu." Kata Rendi.
"Iya, Mas. Silakan. Udara di sini adem kok, nggak bakal ganggu ngomong." Jawab Kumala sambil meletakkan pulpennya.
Rendi menarik napas panjang.
"Mba Kumala, aku suka sama kamu. Sudah lama. Sejak pertama kali aku melihat kamu di acara perpisahan tahun lalu. Aku suka caramu mengajar anak-anak. Aku suka caramu tersenyum. Aku suka caramu... pokoknya aku suka semua tentang kamu. Maukah kamu jadi pacarku?" Kata Rendi. Suaranya bergetar di akhir kalimat.
Kumala terdiam sejenak. Wajahnya tidak berubah. Tidak tersipu malu. Tidak tersenyum bahagia. Ia hanya menatap Rendi dengan mata yang sulit dibaca. Lalu ia tersenyum, bukan senyum bahagia, tapi senyum yang sulit diartikan. Senyum yang mengandung banyak hal di dalamnya: ironi, sarkasme, kesedihan, dan sedikit rasa ingin tahu.
"Mas Rendi, gue punya syarat. Sebuah syarat yang harus Mas Rendi penuhi kalau Mas Rendi serius sama gue." Kata Kumala.
"Apa pun syaratnya, Mba. Apa pun. Asal aku bisa. Asal Mba mau menjadi pacarku." Kata Rendi dengan penuh semangat.
Kumala menatap Rendi lama. Matanya tajam, tajam seperti elang yang sedang menatap mangsanya. Rendi sedikit merinding, tapi ia tidak mundur.
"Pukul wajah Yulianto di depan gue." Kata Kumala.
Rendi terdiam.
Ia mengernyitkan dahi.
"Yulianto? Siapa itu?" Tanya Rendi.
"Ipar gue. Suami dari kakak gue yang sudah meninggal. Sekarang dia tinggal di rumah gue bersama anaknya, anak dari kakak gue. Gue benci sama dia. Gue benci karena dia sudah mengambil kakak gue dari gue. Gue benci karena dia sudah membuat kakak gue meninggal, maksudnya, dia sudah... pokoknya gue benci dia. Kalau Mas Rendi bisa memukul wajah dia di depan gue, gue akan jadi pacar Mas Rendi. Gue janji." Jawab Kumala.
Rendi termangu.
Ia tidak mengerti apa motif di balik syarat aneh itu. Mengapa seorang perempuan cantik yang ia sukai memiliki kebencian sebesar itu terhadap iparnya sendiri? Mengapa ia harus memukul orang yang bahkan tidak ia kenal? Mengapa ia harus melakukan kekerasan untuk mendapatkan cinta?
Tapi Rendi tergila-gila pada Kumala. Pikirannya tidak jernih. Hatinya tidak tenang. Yang ia pikirkan hanya satu: "Ini kesempatan. Aku akan lakukan apa pun."
"Baik, Mba. Aku akan lakukan. Janji. Aku akan pukul wajah Yulianto di depan kamu." Jawab Rendi.
Kumala mengangguk.
"Gue tunggu, Mas." Jawab Kumala.
Rendi mencari informasi tentang Yulianto. Ia bertanya pada teman-temannya yang tinggal di desa yang sama dengan tempat tinggal Kumala. Ia mencari tahu di mana Yulianto bekerja, jam berapa ia pulang, dan di mana ia sering menghabiskan waktu luang.
Informasi yang ia kumpulkan: Yulianto bekerja di sebuah perusahaan logistik di pusat kota. Jam kerjanya dari jam delapan pagi sampai jam empat sore. Setiap pulang kerja, ia sering mampir ke warung kopi dekat rumahnya, warung sederhana milik seorang janda tua bernama Mbok Darmi. Warung itu terletak sekitar tiga ratus meter dari rumah Pak Heru, tempat Yulianto tinggal bersama Kumala dan orang tuanya. Di warung itu, Yulianto biasanya memesan secangkir kopi hitam pekat tanpa gula, "espresso nya orang desa", begitu ia sering bercanda, dan sebatang rokok kretek yang ia hisap sambil membaca koran atau sekadar menatap lalu lintas.
Rendi memilih hari Kamis untuk mendatangi Yulianto. Kamis adalah hari di mana Yulianto biasanya pulang lebih cepat karena ada jadwal rapat yang sering dibatalkan. Rendi datang ke warung Mbok Darmi sekitar pukul setengah lima sore. Langit sore itu berwarna jingga keemasan. Beberapa bapak-bapak sudah mulai berdatangan ke warung setelah pulang kerja.
Yulianto sedang duduk di kursi bambu di pojok warung. Di depannya, secangkir kopi hitam sudah setengah habis. Rokok kreteknya hampir habis, hanya tinggal dua sentimeter putih di ujung filter. Ia sedang membaca Koran, atau lebih tepatnya, ia sedang menatap koran tanpa benar-benar membaca. Matanya kosong. Pikirannya jauh.
Rendi mendekat. Langkahnya sedikit ragu. Ia berdiri di depan Yulianto.
"Permisi, mas. Mas Yulianto?" Tanya Rendi.
Yulianto menurunkan korannya. Ia menatap Rendi, pemuda tampan dengan wajah sedikit tegang.
"Iya, saya. Ada yang bisa dibantu?" Jawab Yulianto ramah.
Rendi mengulurkan tangannya. Yulianto menjabatnya, jabat tangan biasa, tidak terlalu kuat, tidak terlalu lemah.
"Namaku Rendi. Aku temannya Mba Kumala." Kata Rendi.
"Oh, teman Mba Kumala. Ada perlu apa? Mau pesan kopi? Silakan duduk. Mbok Darmi, ada tamu!" Kata Yulianto sambil menoleh ke arah Mbok Darmi yang sedang sibuk di belakang meja.
"Nggak usah repot-repot, Mas. Aku hanya... aku hanya mau menyampaikan sesuatu." Kata Rendi.
"Apa? Silakan." Jawab Yulianto.
Rendi menggeleng-gelengkan kaki. Tangannya di saku celana. Ia menggenggam sesuatu di dalam saku itu, mungkin kepalan tangannya sendiri.
"Maaf sebelumnya, Mas Yulianto. Aku punya pesan dari Mba Kumala." Kata Rendi.
Yulianto mengangkat alis.
"Apa pesannya?" Tanya Yulianto.
Rendi menunduk. Ia tidak berani menatap mata Yulianto.
"Pukul wajah mas." Jawab Rendi.
Yulianto terdiam. Wajahnya tidak berubah, tidak terkejut, tidak marah, tidak kecewa. Ia hanya menatap Rendi dengan mata yang tenang. Lalu ia tertawa kecil.
"Pukul wajah saya? Maksudnya, Kumala minta kamu untuk memukul wajah saya?" Tanya Yulianto.
"Iya, Mas. Maaf. Saya juga... saya juga bingung. Tapi itu syarat dari Mba Kumala. Kalau saya mau pacaran sama dia, saya harus memukul wajah mas di depannya." Jawab Rendi.
Yulianto tertawa lagi. Kali ini lebih keras.
"Jadi, kamu datang ke sini, ke warung kopi ini, di depan banyak orang, mau memukul saya? Kamu tidak takut dilihat orang? Tidak takut dilaporkan ke polisi?" Tanya Yulianto.
"Saya... saya hanya menjalankan pesan, Mas. Saya terpaksa." Jawab Rendi.
Yulianto menyesap kopinya. Ia menikmati pahitnya. Lalu ia menatap Rendi dengan mata yang teduh.
"Rendi, saya mengerti. Saya tahu Kumala masih marah sama saya. Saya tahu dia benci sama saya. Saya tahu dia ingin saya menderita. Tapi memukul saya tidak akan menyembuhkan lukanya. Lukanya ada di dalam, di hatinya, di pikirannya, di memorinya. Memukul fisik saya tidak akan menyentuh luka itu." Kata Yulianto.
"Maaf, Mas. Saya tidak tahu latar belakangnya. Saya hanya... saya hanya ingin memenuhi syaratnya." Jawab Rendi.
"Baik. Kamu mau memukul saya?" Tanya Yulianto.
"Iya, Mas. Maaf."
Yulianto meletakkan cangkir kopinya. Ia berdiri. Tubuhnya tegap. Matanya menatap Rendi dengan tenang.
"Silakan pukul. Saya tidak akan melawan. Tapi sebelumnya, biar kamu tahu. Saya akan laporkan ke polisi setelah kamu memukul saya. Ada kantor polisi di ujung jalan sana, lima ratus meter dari sini. Saya bisa ke sana dalam waktu lima menit dengan motor. Luka di wajah saya akan menjadi bukti. Kamu bisa dihukum karena penganiayaan. Paling tidak, kamu akan dipenjara beberapa bulan. Atau kalau kamu beruntung, hanya dikenakan denda. Tapi catatan kriminalmu akan tetap ada. Sepanjang hidupmu, kamu akan punya catatan sebagai pemukul orang. Apakah itu sepadan? Demi pacaran dengan Kumala yang belum tentu mau serius sama kamu setelah kamu memukul saya?" Kata Yulianto.
Rendi terkejut.
"Ma... Mas serius? Lapor polisi?" Tanya Rendi.
"Sangat serius. Saya tidak main-main, Rendi. Saya sudah sering mendapat ancaman seperti ini. Sudah lima pria yang datang dengan misi yang sama. Lima orang. Dan semuanya pergi setelah saya bilang saya akan lapor polisi. Sekarang giliran kamu. Silakan pilih. Kamu mau pukul saya dan masuk penjara, atau kamu mau pergi dengan selamat?" Jawab Yulianto.
Rendi berpikir. Ia membayangkan wajahnya di koran local, "Pria Muda Diamankan Polisi Usai Memukul Warga" atau "Guru SD Jadi Tersangka Penganiayaan". Ia membayangkan ibunya yang akan menangis mendengar kabar itu. Ia membayangkan karirnya sebagai guru yang hancur berkeping-keping. Ia membayangkan masa depannya yang gelap.
"Maaf, Mas. Aku... aku nggak jadi." Kata Rendi.
Ia berbalik dan pergi dengan cepat. Sepatunya yang baru, boots kulit mahal, menginjak genangan air di depan warung. Percikan air mengotori celananya. Ia tidak peduli. Ia terus berjalan cepat menuju mobilnya.
Yulianto duduk kembali. Ia menyesap kopinya yang sudah dingin.
"Mbok, kopinya angetin lagi ya." Kata Yulianto.
"Iya, Nak. Sebentar." Jawab Mbok Darmi dari belakang meja.
Kisah Rendi yang gagal memukul Yulianto menyebar cepat. Rendi bercerita pada teman-temannya di sekolah. "Mas Yulianto itu kalem, tapi tegas banget. Dia tidak melawan, tapi dia bilang dia akan lapor polisi. Saya takut, jadinya saya urungkan." Kata Rendi.
Teman-temannya bercerita pada teman-temannya yang lain. Kenalan-kenalan mereka bercerita pada kenalan-kenalan yang lain. Dalam waktu singkat, hanya sekitar dua minggu, semua orang di desa itu dan desa-desa sekitarnya tahu bahwa ada seorang pemuda bernama Yulianto yang tinggal di rumah mertuanya, dan bahwa syarat untuk melamar Kumala adalah memukul Yulianto di depannya, dan bahwa Yulianto akan memolisikan siapa pun yang memukulnya.
Bukan rahasia lagi. Bukan cerita rahasia yang hanya diketahui beberapa orang. Ini sudah menjadi pengetahuan publik.
Pria kedua yang mendekati Kumala setelah syarat itu tersebar luas adalah Andri. Andri seorang pria berusia dua puluh enam tahun, bertubuh kekar seperti binaragawan, berkulit gelap, dan berwajah sangar. Ia bekerja sebagai teller di sebuah bank swasta di pusat kota, pekerjaan yang membutuhkan senyum ramah setiap hari, meskipun wajah sangarnya sering membuat nasabah takut.
Andri tidak percaya dengan cerita Rendi. Ia pikir Rendi hanya pengecut. Rendi hanya pria lemah yang tidak berani mengambil risiko. Rendi hanya pria yang terlalu banyak mikir.
"Nggak mungkin dia tega lapor polisi. Pasti cuma gertakan. Orang-orang juga pasti akan males lapor polisi. Ribet. Ngurus administrasi. Panggilan saksi. Sidang. Lama. Capek. Masa dia mau ngabisin waktu dan energi buat hal gitu?" Kata Andri pada dirinya sendiri saat ia sedang merokok di balkon apartemennya.
Ia memutuskan untuk membuktikan bahwa Rendi salah. Ia akan memukul Yulianto. Ia akan melakukannya dengan cepat dan efisien. Satu pukul. Selesai. Lalu ia akan melamar Kumala. Lalu ia akan menikahinya. Lalu mereka akan hidup bahagia. Selesai. Mudah.
Andri mencari tahu di mana Yulianto bekerja. Kantor logistik tempat Yulianto bekerja ternyata tidak jauh dari bank tempat Andri bekerja. Hanya sekitar satu kilometer. Andri tersenyum. "Mudah. Aku bisa mampir ke kantornya sepulang kerja."
Suatu hari, sekitar pukul setengah lima sore, jam pulang kantor, Andri datang ke kantor logistik itu. Gedungnya sederhana, dua lantai, dengan cat putih yang mulai menguning di beberapa bagian. Di pintu depan, ada tulisan "CV. Sumber Logistik" dengan huruf timbul berwarna hitam.
Andri masuk. Seorang resepsionis wanita menyapanya.
"Selamat sore, ada yang bisa dibantu?" Sapa resepsionis.
"Saya mau bertemu dengan Mas Yulianto." Jawab Andri.
"Ada keperluan apa, Pak?" Tanya resepsionis.
"Urusan pribadi. Tolong antar saya ke ruangannya." Jawab Andri.
Resepsionis itu ragu, tapi ia akhirnya mengantar Andri ke ruang Yulianto di lantai dua. Ruangan kecil dengan meja kayu, komputer tua, dan tumpukan berkas di setiap sudut.
Yulianto sedang duduk di kursinya, menghadap komputer. Ia sedang mengetik sesuatu—mungkin laporan, mungkin surel, mungkin skripsi teman yang ia bantu revisi. Ia menoleh saat pintu terbuka.
"Mas Yulianto, ini ada tamu." Kata resepsionis.
"Terima kasih, Mbak. Silakan masuk, Mas." Kata Yulianto.
Resepsionis itu keluar. Andri masuk dan duduk di kursi di depan meja Yulianto. Ia tidak membuang waktu dengan basa-basi.
"Mas Yulianto, saya Andri. Saya sayang sama Mba Kumala. Saya ingin memenuhi syaratnya." Kata Andri tegas.
Yulianto menghela napas. Ia sudah menduga bahwa suatu hari akan ada pria lain yang datang dengan misi yang sama. Tapi ia tidak menyangka akan secepat ini.
"Jadi kamu juga mau memukul saya? Syaratnya sama? Pukul wajah saya di depan Kumala?" Tanya Yulianto.
"Iya, Mas. Saya minta maaf sebelumnya. Saya tidak punya niat jahat secara pribadi. Tapi saya ingin menikahi Mba Kumala. Dan itu syaratnya. Saya harus memukul mas." Jawab Andri.
Yulianto mengangguk.
"Baik. Silakan pukul. Saya tidak akan melawan. Tapi sebelumnya, saya ingin menunjukkan sesuatu." Kata Yulianto.
Ia merogoh saku bajunya. Dari saku kemeja putih lengan panjang yang ia kenakan, ia mengeluarkan sebuah ponsel. Ponsel itu sudah dalam mode kamera. Layar menunjukkan sedang merekam.
"Saya sudah siapkan kamera di saku baju saya. Sejak awal. Saat Mas Andri masuk ke ruangan ini, saya sudah mulai merekam. Percakapan kita tadi, semuanya terekam. Jika Mas Andri memukul saya, maka rekaman ini akan menjadi bukti di pengadilan." Kata Yulianto.
Andri terkejut. Ia tidak menyangka Yulianto sepersiapan itu.
"Mas serius? Merekam?" Tanya Andri.
"Sangat serius. Dan saya juga ingin menunjukkan sesuatu." Lanjut Yulianto.
Ia berdiri dan berjalan ke jendela. Ia membuka tirai jendela yang selama ini tertutup rapat. Dilihat dari jendela lantai dua itu, sekitar lima ratus meter ke arah utara, terlihat sebuah bangunan dengan tulisan besar: KANTOR POLISI RESOR KOTA.
"Kantor polisi hanya lima ratus meter dari sini, Mas Andri. Saya bisa ke sana dalam waktu tiga menit, naik turun tangga, keluar gedung, naik motor, sampai di kantor polisi. Tiga menit. Jika Mas Andri memukul saya sekarang, maka tiga menit lagi saya akan melapor. Luka di wajah saya akan saya foto. Rekaman di ponsel saya akan saya tunjukkan. Saya akan minta mereka menangkap Mas Andri malam ini juga." Kata Yulianto.
Andri menatap kantor polisi di kejauhan. Lampunya mulai menyala karena hari mulai gelap.
"Mas serius, Mas? Lapor polisi? Separah itu?" Tanya Andri.
"Saya selalu serius dalam hal keamanan diri, Mas Andri. Saya sudah sering mendapat ancaman seperti ini. Saya sudah lima kali, sekarang Mas Andri yang keenam, dihadapkan pada pria yang ingin memukul saya atas syarat gila dari Kumala. Lima orang sebelumnya pergi setelah saya bilang saya akan lapor polisi. Sekarang giliran Mas Andri. Silakan pilih. Masuk penjara dan punya catatan kriminal, atau pergi dengan selamat dan mencari cewek lain yang tidak punya syarat gila seperti ini." Jawab Yulianto.
Andri berpikir. Ia membayangkan posisinya di bank yang akan terancam jika ia memiliki catatan kriminal. Bank tidak akan mempertahankan karyawan yang pernah dihukum karena penganiayaan. Ia akan dipecat. Ia akan kehilangan pekerjaan. Ia akan kehilangan gaji. Ia akan kehilangan segalanya.
"Maaf, Mas. Saya... saya nggak jadi. Saya pikir lagi." Kata Andri.
"Iya, Mas. Silakan dipikirkan. Tapi saran saya, cari cewek lain yang lebih normal. Kumala memang cantik. Tapi tidak ada perempuan yang sepadan dengan catatan kriminal." Jawab Yulianto.
Andri berdiri. Ia mengulurkan tangan. Yulianto menjabatnya, sekali lagi, jabatan tangan biasa, tidak terlalu kuat, tidak terlalu lemah.
"Maaf, Mas. Terima kasih atas waktunya." Kata Andri.
"Sama-sama, Mas Andri. Hati-hati di jalan." Jawab Yulianto.
Andri pergi. Yulianto duduk kembali di kursinya. Ia menghela napas panjang. Ia mematikan rekaman di ponselnya, file berdurasi delapan menit dua belas detik itu ia simpan di folder bernama "Syarat Gila".
Ia menatap layar komputer yang masih menyala. Belum ada yang ia ketik selama lima belas menit terakhir. Pekerjaannya belum selesai. Ia harus menyelesaikannya sebelum pulang.
"Yuli, sabar. Cuma beberapa kali lagi. Setelah semua pria tahu, tidak akan ada yang datang lagi." Bisiknya pada diri sendiri.
Pria ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya, semuanya mengalami nasib yang sama seperti Rendi dan Andri.
Pria ketiga bernama Hartono, seorang pengusaha mebel berusia tiga puluh tahun yang sudah kaya raya. Ia tidak percaya cerita Rendi dan Andri. Ia pikir mereka hanya tidak punya nyali. Hartono datang ke rumah Pak Heru pada suatu Minggu pagi dengan membawa rombongan keluarganya, ayah, ibu, dan dua orang saksi. Mereka datang dengan mobil mewah berwarna hitam. Pak Heru dan Bu Rahma menyambut mereka dengan hormat. Tapi ketika Hartono menyatakan syarat yang ia dengar, bahwa ia harus memukul Yulianto, Yulianto sendiri yang keluar dari kamarnya.
"Mas Hartono, saya dengar Anda ingin memukul saya." Kata Yulianto.
"Iya, Mas. Maaf. Itu syaratnya." Jawab Hartono.
"Baik. Silakan pukul. Tapi rumah ini sudah saya pasangi kamera CCTV di setiap sudut. Rekaman dari CCTV ini akan langsung terkirim ke ponsel saya dan ke kantor polisi. Jika Anda memukul saya, polisi akan datang dalam waktu sepuluh menit. Anda bisa dipenjara. Anda seorang pengusaha sukses. Apakah Anda rela bisnis Anda hancur karena catatan kriminal?" Kata Yulianto.
Hartono berpikir. Ia menatap orang tuanya. Mereka menggeleng.
"Tidak usah, Nak. Banyak cewek lain." Kata ibunya.
Hartono mengurungkan niatnya.
Pria keempat bernama Sapto, seorang polisi. Ya, polisi. Sapto adalah anggota kepolisian yang bertugas di kantor polisi yang sama yang sering Yulianto tunjukkan dari jendela kantornya. Sapto mendekati Kumala di acara jalan sehat. Ia langsung jatuh cinta. Ketika ia mendengar syaratnya, ia malah tertawa.
"Pukul Yulianto? Mudah. Saya polisi. Pandai memukul." Kata Sapto.
Tapi ketika Sapto menemui Yulianto, Yulianto berkata, "Mas Sapto, Anda polisi. Anda tahu aturan. Memukul orang tanpa alasan yang sah adalah tindak pidana. Anda bisa dipecat dari kepolisian. Apakah Anda siap kehilangan pekerjaan Anda hanya untuk seorang perempuan yang belum tentu menerima Anda setelah Anda memukul saya?"
Sapto terdiam. Ia mengurungkan niatnya.
Pria kelima bernama Topan, seorang preman pasar yang terkenal suka berkelahi. Topan tidak takut dengan ancaman polisi. Ia sudah sering masuk kantor polisi. Ia bahkan sudah punya catatan criminal, pencurian, penganiayaan, pengeroyokan. Baginya, satu catatan lagi tidak masalah.
Topan mendatangi Yulianto di warung kopi. Ia sudah siap dengan tinjunya.
"Wuih, lu Yulianto konon katanya? Gampang. Gue pukul sekarang, gue lapor polisi nggak takut. Gue udah sering." Kata Topan.
Yulianto melihat Topan. Pria besar dengan tubuh berotot, lengan ditato naga dan macan, wajah penuh bekas luka. Yulianto tahu ia tidak akan bisa melawan secara fisik. Tapi ia tidak takut.
"Mas Topan, saya dengar Mas Topan punya anak kecil di rumah. Usia dua tahun, sama seperti anak saya. Siapa namanya? Rio? Ya, Rio." Kata Yulianto.
Topan mengerutkan dahi.
"Lo tahu nama anak gue?" Tanya Topan.
"Saya tahu banyak tentang Mas Topan. Saya tahu Mas Topan sayang banget sama Rio. Saya tahu Mas Topan bekerja keras di pasar demi menghidupi Rio. Saya tahu Mas Topan ingin Rio tidak mengikuti jejak Mas Topan." Jawab Yulianto.
"Terus? Maksud lo?" Tanya Topan.
"Saya tidak akan lapor polisi, Mas Topan. Saya hanya akan meminta Mas Topan untuk memikirkan Rio. Jika Mas Topan masuk penjara lagi karena memukul saya, siapa yang akan menjaga Rio? Istrinya sudah meninggal, kan? Rio tinggal dengan neneknya. Neneknya sudah tua. Siapa yang akan memberi Rio makan? Siapa yang akan mengantarnya ke sekolah? Siapa yang akan membelikan baju baru untuknya? Mas Topan, jangan sia-siakan masa depan Rio hanya karena syarat gila dari seorang perempuan." Kata Yulianto.
Topan terdiam. Wajahnya berubah. Matanya berkaca-kaca.
"Lo kenal Rio? Lo pernah liat Rio?" Tanya Topan.
"Saya pernah melihat Mas Topan membawa Rio ke pasar. Rio lucu. Dia tertawa lepas saat Mas Topan membelikannya balon. Saya tidak tega melihat Rio kehilangan ayahnya hanya karena saya." Jawab Yulianto.
Topan menunduk.
"Maaf, Mas. Gue nggak jadi. Gue nggak tega sama Rio." Kata Topan.
Ia pergi dengan langkah gontai. Yulianto menatap punggung Topan yang besar itu. "Setiap orang punya titik lemahnya masing-masing," pikir Yulianto.
Kumala mendengar semua cerita ini dari satu pria ke pria lain. Rendi cerita ke temannya. Temannya cerita ke Andri. Andri cerita ke Hartono. Hartono cerita ke Sapto. Sapto cerita ke Topan. Dan Topan, meskipun ia seorang preman, ternyata memiliki rasa hormat pada Yulianto karena Yulianto mengingatkannya pada Rio.
"Aneh. Gue sudah lima kali nyoba nyari jodoh, tapi gagal terus gara-gara Yulianto. Pria itu keras kepala banget. Nggak mau dipukul." Kata seorang pria yang tidak disebutkan namanya.
"Bukan karena dia keras kepala, tapi karena dia cerdas. Dia tidak melawan, tapi dia punya senjata yang lebih kuat: hukum dan rasa tanggung jawab." Jawab pria lain.
"Dan dia juga baik. Dia mengingatkan Topan pada anaknya. Topan yang preman pasar itu sampai menangis." Jawab pria lain lagi.
Kumala mendengar semua itu. Awalnya ia kesal. "Kenapa tidak ada yang berhasil? Kenapa semua pria itu pengecut? Kenapa mereka lebih takut pada Yulianto daripada pada keinginanku?"
Tapi semakin lama, ia justru merasa... aneh.
Ada perasaan yang tidak bisa ia jelaskan.
Setiap kali ia mendengar cerita tentang seorang pria yang datang kepada Yulianto dengan niat memukulnya, dan Yulianto berhasil membuat mereka pergi dengan tenang tanpa kekerasan, Kumala merasa ada sesuatu di dadanya. Sesuatu yang hangat. Sesuatu yang tidak seharusnya ia rasakan.
"Kenapa aku justru bangga padanya? Seharusnya aku marah karena rencanaku gagal. Tapi kenapa aku malah... senang?"
Ia tidak tahu. Ia tidak mau tahu. Tapi perasaan itu tetap ada.
Suatu malam, ketika langit tidak berbintang dan angin berembus dingin, Kumala mengetuk pintu kamar Yulianto. Yulianto sedang mengajari Dewi menggambar di buku gambar besar. Dewi sedang menggambar lingkaran yang katanya adalah matahari, walaupun bentuknya lebih mirip telur ceplok yang pipih di satu sisi.
"Masuk." Kata Yulianto.
Kumala membuka pintu. Ia masuk dengan langkah pelan. Ia duduk di kursi dekat meja belajar, kursi yang sama yang selalu ia duduki setiap kali ia ingin bicara serius dengan Yulianto. Dewi yang melihatnya langsung meletakkan krayonnya dan berlari memeluk Kumala.
"Tante Kumala!" Seru Dewi sambil memeluk kaki Kumala.
"Sayang, Dewi." Kumala membalas pelukan dan mengecup kening Dewi.
"Dewi lagi gambar matahari. Mau liat?" Tanya Dewi.
"Nanti ya, Sayang. Tante mau bicara sama Ayah dulu. Dewi tunggu di meja gambar, ya. Setelah Tante selesai, Tante akan lihat gambar Dewi. Janji." Jawab Kumala.
"Janji?" Tanya Dewi.
"Janji." Jawab Kumala.
Dewi mengangguk. Ia berlari kembali ke meja gambar dan melanjutkan aktivitasnya.
Yulianto menatap Kumala. Ada keanehan di wajah gadis itu. Tidak dingin seperti biasanya. Tidak marah seperti biasanya. Ada sesuatu yang lembut di matanya, sesuatu yang tidak pernah Yulianto lihat dalam dua tahun terakhir.
"Ada apa, Kumala? Kamu kelihatan berbeda malam ini." Kata Yulianto.
Kumala menggigit bibir bawahnya. Ia menunduk. Lalu mengangkat kepalanya lagi.
"Kak, gue dengar cerita. Tentang Rendi, Andri, Hartono, Sapto, Topan, dan yang lain-lain. Gue dengar semuanya." Kata Kumala.
Yulianto tersenyum, senyum yang tidak bisa dibaca apakah itu senyum ironi, senyum kelelahan, atau senyum biasa.
"Cerita apa? Cerita tentang banyak pria yang gagal memukul saya? Cerita tentang saya yang sok berani melawan preman pasar?" Kata Yulianto pura-pura tidak tahu.
"Jangan pura-pura, Kak. Kakak tahu maksud gue. Kakak tahu semuanya. Kakak tahu bahwa gue yang mengirim mereka semua, setiap pria yang datang kepadamu, gue yang menyuruh mereka." Kata Kumala.
"Baik. Aku tahu. Memangnya kenapa?" Kata Yulianto.
"Kenapa kakak nggak pernah cerita ke gue? Kenapa kakak diem aja selama ini? Kenapa kakak nggak marah-marah? Kenapa kakak nggak protes? Kenapa kakak nggak bilang ke orang tua gue? Kenapa kakak nggak pindah dari rumah ini? Kenapa kakak masih bertahan?" Tanya Kumala. Suaranya meninggi sedikit.
"Aku pikir itu bukan urusanku. Terserah kamu mau ngasih syarat apa ke laki-laki yang mau deketin kamu. Terserah mereka mau memenuhi syarat itu atau tidak. Aku hanya mempertahankan hakku untuk tidak dipukuli. Aku tidak ke sini untuk mengatur hidupmu. Aku ke sini untuk Dewi, untuk membesarkannya, untuk menjaganya, untuk memastikan dia tumbuh dengan baik. Bukan untuk ikut campur dalam urusan cintamu." Jawab Yulianto.
"Tapi kakak tahu kan kalau gue ngasih syarat itu karena gue benci sama kakak. Karena gue ingin kakak menderita. Karena gue ingin kakak merasakan sakit yang gue rasakan, sakit karena ditinggalkan, sakit karena dipilih orang lain, sakit karena kehilangan." Kata Kumala.
"Aku tahu." Jawab Yulianto datar.
"Terus kenapa kakak nggak marah? Kenapa kakak nggak pernah membalas? Kenapa kakak nggak pernah mengusir gue? Kenapa kakak nggak pernah bilang 'Kumala, kamu keterlaluan' atau 'Kumala, kamu harus berhenti' atau setidaknya 'Kumala, aku kecewa sama kamu'?" Tanya Kumala.
"Apa gunanya? Kamu benci sama aku karena kamu punya alasan. Aku tidak bisa memaksamu untuk berubah hanya dengan kata-kata. Biarlah waktu yang mengubahmu. Biarlah kesadaranmu sendiri yang membuatmu berhenti." Jawab Yulianto.
Kumala terdiam. Ia menatap Yulianto lama. Wajah itu, wajah yang dulu pernah ia cintai dengan segenap hati seorang gadis remaja yang baru pertama kali merasakan getaran cinta. Wajah yang kemudian ia benci dengan segenap kebencian yang bisa ia kumpulkan. Wajah yang sekarang, entah mengapa, membingungkannya. Ia tidak tahu harus membenci atau menyukai wajah itu.
"Kak, gue bingung. Gue benci sama kakak. Sungguh. Tapi gue juga... gue juga nggak tega kalau ada orang yang benar-benar memukul kakak. Gue nggak tahu kenapa. Gue seharusnya senang. Tapi gue justru merasa... aneh. Ada yang ganjil. Setiap kali gue dengar tentang kakak yang berhasil membuat mereka pergi tanpa kekerasan, gue malah merasa... lega. Kenapa, Kak? Kenapa gue merasa lega? Bukannya gue harusnya kecewa karena rencana gue gagal?" Kata Kumala.
Yulianto menghela napas. Ia meletakkan buku yang sedang ia baca di atas meja.
"Kumala, mungkin karena kamu sebenarnya tidak membenci aku. Mungkin yang kamu benci adalah situasinya. Kamu benci karena kakakmu sakit tanpa sepengetahuanmu. Kamu benci karena kakakmu memilih untuk tidak memberitahumu. Kamu benci karena kakakmu meninggal dan kamu tidak bisa melakukan apa-apa. Tapi semua kebencian itu tidak bisa kauarahkan pada kakakmu, sudah tiada. Tidak bisa kauarahkan pada orang tuamu, mereka juga korban. Tidak bisa kauarahkan pada dirimu sendiri, itu terlalu menyakitkan. Jadi kauarahkan padaku. Aku target yang mudah. Aku ada di sini. Aku tidak lari. Aku tidak melawan. Dan tanpa sadar, di balik kebencian itu, kamu sebenarnya... kamu sebenarnya tidak tega melihatku benar-benar terluka. Karena di suatu tempat di hatimu yang paling dalam, kamu masih peduli." Jawab Yulianto.
Kumala tidak menjawab. Air matanya jatuh, perlahan, satu per satu, seperti tetesan air hujan yang jatuh dari daun pisang di pagi hari.
"Gue nggak tahu, Kak. Gue nggak tahu apa yang gue rasakan. Gue cuma..." Kumala tidak bisa melanjutkan.
"Tidak apa-apa, Kumala. Kamu tidak perlu memaksakan diri untuk mengerti. Biarkan perasaan itu mengalir. Suatu hari nanti, ketika semua kebencian ini sudah habis, kamu akan melihat semuanya dengan lebih jernih." Kata Yulianto.
"Kak, gue minta maaf. Maaf karena gue sudah membuat susah banyak pria. Maaf karena gue sudah membuat repot banyak orang. Maaf karena gue sudah... sudah..." Kumala berhenti.
"Sudah apa?" Tanya Yulianto.
"Sudah membuat kakak hampir dipukuli berkali-kali." Jawab Kumala.
Yulianto tertawa kecil.
"Tidak apa-apa, Kumala. Aku sudah terbiasa. Dan untungnya, tidak ada yang berhasil memukulku. Jadi tidak ada luka fisik. Luka hati? Mungkin ada. Tapi luka hati sudah menjadi makanan sehari-hariku sejak Mala meninggal. Jadi tidak masalah." Jawab Yulianto.
Kumala menangis lebih keras. Ia menunduk. Bahunya bergetar.
"Maafin gue, Kak. Maafin gue yang masih belum bisa ikhlas. Maafin gue yang masih terus menyakiti kakak meskipun kakak tidak pernah membalas. Maafin gue yang masih..." Kumala terisak.
Yulianto berdiri. Ia berjalan mendekati Kumala. Ia meletakkan tangannya di pundak Kumala, lembut, tidak memeluk, hanya menyentuh. Cukup untuk mengatakan, "Aku di sini. Aku tidak pergi. Meskipun kamu masih benci, meskipun kamu masih marah, aku tidak akan pergi."
"Tidak apa-apa, Kumala. Kamu boleh marah. Kamu boleh benci. Kamu boleh mengirim seratus pria lagi untuk memukulku. Itu hakmu. Tapi yang perlu kamu ingat, aku tidak akan pernah membalas kebencianmu dengan kebencian. Aku akan membalas dengan kesabaran. Karena aku tahu, di balik kebencian itu, kamu sebenarnya hanya seorang adik yang kehilangan kakaknya. Dan kehilangan adalah hal yang paling sulit untuk diterima." Kata Yulianto.
Kumala mengangkat kepalanya. Matanya merah. Wajahnya basah.
"Kak, peluk gue." Pinta Kumala lagi, sama seperti malam di halaman belakang dua tahun lalu.
Yulianto ragu sejenak. Lalu ia membuka tangannya. Kumala memeluknya erat-erat. Ia menangis di bahu Yulianto.
"Aku kangen kakak Mala, Kak. Aku kangen. Aku kangen banget." Isak Kumala.
"Aku juga, Kumala. Aku juga." Jawab Yulianto.
Dari meja gambar, Dewi menatap mereka berdua. Anak kecil itu tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Yang ia lihat adalah Tante Kumala menangis dan Ayahnya memeluk Tante Kumala.
"Tante Kumala kenapa nangis?" Tanya Dewi polos.
Kumala melepas pelukannya. Ia mengusap air matanya. Ia tersenyum pada Dewi.
"Tante Kumala nggak nangis, Sayang. Tante Kumala cuma... cuma alergi. Alergi sama debu." Jawab Kumala.
"Oh. Tante Kumala minum obat, ya. Nanti sembuh." Kata Dewi.
"Iya, Sayang. Tante Kumala nanti minum obat." Jawab Kumala.
Ia menatap Yulianto sekali lagi.
"Kak, gue janji. Gue akan berhenti mengirim pria untuk memukul kakak. Gue akan berhenti. Cukup sudah. cukup? Sudah. Sekarang." Kata Kumala.
"Makasih, Kumala. Aku menghargai itu. Tapi kalau kamu masih mau mengirim, tidak apa-apa. Aku sudah punya strategi jitu. Lima belas pria sudah gagal. Pria keenambelas juga akan gagal." Jawab Yulianto.
Kumala tersenyum. Senyum pertama yang tulus dalam waktu yang lama.
"Kak, gue kangen sama senyum kakak. Dulu waktu kita pacaran, kakak sering senyum. Sekarang kakak jarang senyum." Kata Kumala.
"Kamu juga jarang senyum, Kumala. Wajahmu terus cemberut. Ayo kita sering-sering senyum bersama. Untuk Dewi. Untuk orang tuamu. Untuk Mala." Jawab Yulianto.
"Janji, Kak?" Tanya Kumala.
"Janji, Kumala." Jawab Yulianto.
Sejak malam itu, tidak ada lagi pria yang datang kepada Yulianto dengan niat memukulnya. Cerita tentang syarat gila Kumala masih beredar di masyarakat, sebagai cerita lucu, sebagai cerita peringatan, sebagai cerita tentang seorang perempuan yang begitu membenci iparnya sehingga ia rela menggunakan pria lain untuk melampiaskan kebenciannya.
Tapi tidak ada lagi yang berani mencoba.
Kumala sendiri, entah karena lelah, entah karena sadar, entah karena ia mulai menerima, berhenti memberi syarat itu pada pria-pria berikutnya. Ketika ada pria yang mendekatinya, ia hanya berkata, "Maaf, aku belum siap untuk hubungan. Aku masih butuh waktu untuk menyembuhkan hatiku."
Dan pria-pria itu mengerti. Atau setidaknya mereka tidak bertanya lebih lanjut.
Kumala butuh waktu. Yulianto juga butuh waktu. Mereka berdua butuh waktu untuk menyembuhkan diri mereka sendiri, masing-masing dengan caranya masing-masing.
BAB XVIII
DEWI MENGIRA KUMALA IBUNYA
Dewi mulai bicara dan memanggil Kumala "Ibu". Kumala awalnya kaget, lalu perlahan menerima. Cinta Dewi melunakkan hati Kumala. Mulai banyak interaksi antara Kumala dan Yulianto.
Dewi tumbuh menjadi anak yang cerdas dan periang. Mungkin karena ia mendapat banyak kasih sayang dari ayahnya, dari kakek-neneknya, dari bibinya, dan dari semua orang di sekitarnya yang berusaha mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh ibunya, Nurmala, yang tidak sempat ia kenal.
Di usia dua setengah tahun, Dewi sudah bisa berbicara dalam kalimat pendek. Bukan kalimat yang rumit, bukan kalimat yang panjang bertele-tele, tapi kalimat-kalimat sederhana yang cukup untuk menyampaikan apa yang ia mau dan apa yang ia rasa. "Dewi mau susu." "Dewi mau pup." "Ayah gendong." "Tante Kuma cantik." "Dewi laper." Kosakatanya terus bertambah setiap hari, seperti spons kecil yang menyerap semua kata-kata yang ia dengar dari orang-orang di sekitarnya.
Yulianto bangga melihat perkembangan putrinya. Setiap malam, sebelum tidur, ia akan mengajak Dewi mengulang kata-kata baru yang ia pelajari hari itu.
"Dewi, tadi siang Tante Kumala ngajar apa?" Tanya Yulianto.
"Tante Kumala ngajar Dewi nyanyi." Jawab Dewi.
"Nyanyi apa?" Tanya Yulianto.
"Balonku ada lima." Jawab Dewi.
"Coba nyanyi buat Ayah." Kata Yulianto.
Dewi lalu bernyanyi dengan suara lucu yang kadang naik kadang turun tidak karuan. "Balonku ada lima... rupa-rupa warnanya... hijau kuning kelabu... merah muda dan biru... meletus balon hijau... dor... hati aku sangat kacau... balonku tinggal empat... kupegang erat-erat."
Yulianto tersenyum mendengar nyanyian putrinya. Tapi di dalam hatinya, ia selalu berdoa semoga Dewi tidak pernah kehilangan keceriaannya. Semoga dunia tidak terlalu keras pada anak kecil yang sudah kehilangan ibunya sejak lahir.
Dan suatu ketika, pada suatu sore yang cerah dengan langit biru tanpa awan, Dewi mengatakan sesuatu yang mengubah segalanya. Sesuatu yang sederhana. Sesuatu yang keluar dari mulut seorang anak kecil yang polos. Tapi sesuatu yang memiliki kekuatan untuk meluluhkan hati yang paling keras sekalipun.
Sore itu, matahari mulai condong ke barat. Langit berwarna biru pucat dengan sedikit guratan awan putih yang bergerak lambat seperti kapas yang ditarik perlahan. Angin sore berembus sepoi-sepoi, membawa aroma bunga melati dari pagar rumah dan aroma tanah basah dari sawah di belakang perumahan.
Kumala sedang duduk di ruang tamu. Sofa tua berwarna cokelat dengan bantal yang sedikit kempes di bagian tengah itu menjadi tempat favoritnya untuk membaca. Ia sedang membaca novel, novel roman terbaru karya penulis favoritnya. Bukunya tebal, hampir empat ratus halaman, dengan sampul bergambar pasangan yang sedang berpelukan di bawah sinar matahari terbenam. Ia sudah membaca hampir setengahnya. Matanya bergerak dari kiri ke kanan, dari atas ke bawah, sesekali ia tersenyum sendiri membaca adegan-adegan lucu atau mengharukan di dalam cerita.
Dewi sedang bermain boneka di lantai. Karpet plastik bergambar huruf dan angka terbentang di lantai ruang tamu. Di atas karpet itu, berserakan boneka-boneka kecil, boneka beruang cokelat, boneka kelinci putih, boneka kucing oranye, dan beberapa mobil-mobilan plastik yang entah bagaimana ikut tercampur di antara boneka-boneka itu. Dewi duduk bersila di atas karpet, memegang boneka beruang di tangan kirinya dan boneka kelinci di tangan kanannya. Ia berbicara pada boneka-boneka itu seolah-olah mereka adalah teman-temannya.
"Beruang mau makan? Beruang lapar?" Kata Dewi pada boneka beruang.
Ia lalu mendekatkan boneka kelinci ke boneka beruang.
"Kelinci masak buat Beruang. Nasi goreng. Enak." Kata Dewi bergantian suara untuk boneka kelinci.
Ia bermain sendiri dengan asyiknya. Sesekali ia tertawa kecil. Sesekali ia mengernyitkan dahi, mungkin boneka beruang dan boneka kelinci sedang bertengkar dalam imajinasinya.
Kumala sesekali melirik ke arah Dewi. Ia tersenyum melihat anak kecil itu bermain. Ada kehangatan di dadanya. Perasaan yang tidak bisa ia jelaskan. Mungkin itu yang disebut sebagai cinta seorang bibi pada keponakannya. Atau mungkin lebih dari itu, ia tidak tahu.
Tiba-tiba, Dewi berhenti bermain. Boneka beruang dan boneka kelinci ia letakkan di sampingnya. Ia menatap Kumala. Matanya yang bulat dan hitam itu berbinar-binar. Lalu ia bangkit, tubuh mungilnya berdiri dengan sedikit goyang, dan berlari kecil ke arah Kumala.
"Ibu!" Panggil Dewi.
Kumala terkejut. Buku di tangannya nyaris terjatuh. Novel setebal empat ratus halaman itu terlempar sedikit ke udara dan mendarat dengan bunyi "bretak" di lantai keramik. Kumala tidak peduli. Matanya tertuju pada Dewi yang sudah berdiri di samping kakinya, menatapnya dengan penuh harap.
"Apa?" Tanya Kumala. Suaranya sedikit meninggi karena terkejut.
Dewi meraih ujung baju Kumala. Gamis berwarna hijau toska yang Kumala kenakan itu ditarik-tarik kecil oleh tangan mungil Dewi.
"Ibu, Dewi mau susu." Kata Dewi.
Kumala terdiam.
Dunia di sekitarnya terasa berhenti. Suara televisi dari ruang tengah yang sedari tadi memutar acara sinetron tiba-tiba tidak terdengar. Suara angin yang berembus dari jendela tiba-tiba hilang. Suara ayam jiran tetangga yang sesekali berkokok di sore hari tiba-tiba sirna. Yang ada hanya suara Dewi yang terus mengulang kata "Ibu" di kepalanya seperti gema yang tidak mau berhenti.
"Ibu."
Kumala menatap Dewi. Wajah anak kecil itu polos, sangat polos, dengan mata yang tidak berbohong, dengan senyum yang tidak dibuat-buat, dengan harapan yang tidak ia sembunyikan.
"Dewi, panggil Tante, ya. Bukan Ibu." Kata Kumala. Suaranya lembut, tidak tegas. Ia tidak ingin membuat Dewi sedih. Tapi ia juga tidak ingin anak kecil itu salah paham.
Abu-abu. Semuanya abu-abu.
"Ibu!" Ulang Dewi. Kali ini lebih keras. Lebih yakin.
"Bukan Ibu, Sayang. Bukan. Panggil Tante. Tante Kumala." Kata Kumala lagi. Ia berlutut sehingga matanya sejajar dengan mata Dewi.
"Ibu! Ibu! Ibu!" Teriak Dewi. Keras. Sangat keras. Sampai Kumala hampir menutup telinganya. Dewi menarik-narik ujung baju Kumala dengan lebih kuat. Wajahnya mulai memerah. Matanya mulai berkaca-kaca. Bibir bawahnya mulai bergetar, tanda ia akan menangis.
"Ibu kok bilang Tante? Ibu kan Ibu. Dewi mau Ibu. Dewi mau susu dari Ibu." Tangis Dewi pecah. Air matanya jatuh deras.
Kumala panik. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Mengatakan "Aku bukan ibumu" akan menghancurkan hati anak kecil ini. Mengatakan "Iya, aku ibumu" adalah kebohongan yang tidak bisa ia pertanggungjawabkan.
Di tengah kepanikannya, Yulianto keluar dari kamar. Wajahnya kaget, mendengar suara tangis Dewi dan suara Kumala yang panik. Ia berjalan cepat ke ruang tamu, kemeja yang ia kenakan masih setengah dimasukkan ke celana, tanda ia sedang terburu-buru.
"Ada apa, Kumala? Kenapa Dewi nangis?" Tanya Yulianto.
Kumala berdiri. Wajahnya masih linglung.
"Dewi... Dewi manggil gue Ibu." Jawab Kumala.
Yulianto terdiam.
Ia mendekat. Ia berlutut di depan Dewi. Tangannya yang besar dan hangat ia letakkan di pundak kecil Dewi.
"Dewi, lihat Ayah. Ayah mau bicara." Kata Yulianto.
Dewi masih menangis, tapi ia menoleh ke arah ayahnya. Matanya yang basah menatap Yulianto.
"Dewi, ini Tante Kumala. Bukan Ibu. Ibu Dewi itu beda. Ibu Dewi namanya Ibu Mala. Ibu Mala sekarang ada di surga. Ibu Mala tidak bisa turun ke bumi. Tapi Ibu Mala sayang Dewi. Ibu Mala dari surga selalu melihat Dewi. Ibu Mala tersenyum setiap kali Dewi tertawa. Ibu Mala sedih setiap kali Dewi menangis. Tapi Ibu Mala tidak bisa menggendong Dewi lagi. Jadi Dewi harus kuat. Dewi harus mau digendong sama Ayah, sama Kakek, sama Nenek, sama Tante Kuma." Kata Yulianto.
Dewi menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tapi Dewi nggak punya Ibu, Yah. Teman-teman Dewi punya Ibu. Si Wawan punya Ibu. Si Caca punya Ibu. Si Lili punya Ibu. Semua punya Ibu. Dewi juga mau punya Ibu." Jawab Dewi.
Yulianto terdiam.
Hatinya sakit mendengar perkataan putrinya. Sebagai seorang ayah, ia merasa gagal. Ia tidak bisa memberikan yang terbaik untuk Dewi. Ia tidak bisa memberikan seorang ibu. Ia tidak bisa memberikan keluarga yang utuh seperti yang dimiliki anak-anak lain seusia Dewi.
Ia menunduk. Tangannya yang berada di pundak Dewi ia letakkan di pangkuannya. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Bagaimana cara menjelaskan kematian pada anak yang masih sangat kecil? Bagaimana cara menjelaskan bahwa ibunya tidak akan pernah kembali, bahwa ibunya tidak sengaja meninggalkannya, bahwa ibunya akan sangat ingin menggendongnya jika ia masih hidup? Tidak ada buku panduan untuk ini. Tidak ada sekolah yang mengajarkan ini.
Kumala melihat kebingungan di wajah Yulianto. Ia melihat Yulianto yang biasanya tegar dan penuh kata-kata bijak kini terdiam, patah, tidak bisa berkata apa-apa. Kumala melihat bahwa Yulianto, ayah yang selalu kuat untuk Dewi, kini lemah.
Kumala mengambil alih.
Ia menggendong Dewi. Tubuh Dewi yang mungil dan hangat ia dekap erat-erat. Ia mengecup kening Dewi. Kening yang masih halus, tanpa kerutan, tanpa luka.
"Dewi sayang, Tante akan jadi Ibu buat Dewi, ya." Kata Kumala.
Dewi berhenti menangis sejenak. Ia menatap Kumala dengan mata yang masih basah.
"Tante jadi Ibu?" Tanya Dewi.
"Iya. Tante akan jadi Ibu buat Dewi. Tante akan masakin susu buat Dewi. Tante akan gendong Dewi. Tante akan bacain dongeng buat Dewi. Tante akan temanin Dewi main. Tante akan sayang Dewi seperti Ibu sayang Dewi. Tapi Dewi panggil Tante dulu, ya. Jangan panggil Ibu dulu. Nanti kalau Dewi sudah besar, nanti kalau Dewi sudah SD, Dewi boleh panggil Tante Ibu. Janji?" Kata Kumala.
"Janji?" Tanya Dewi.
"Janji." Jawab Kumala.
Dewi tersenyum. Senyum yang paling indah yang pernah Kumala lihat dalam hidupnya. Senyum seorang anak kecil yang baru saja mendapatkan harapan. Senyum yang tidak mengandung kebohongan sedikit pun.
"Tante Kumala sayang Dewi." Kata Dewi sambil memeluk leher Kumala.
"Tante Kumala sayang banget sama Dewi. Lebih dari apa pun." Jawab Kumala.
Yulianto menatap adegan itu dari bawah. Dari posisinya yang masih berlutut di lantai, ia melihat dua perempuan, satu dewasa, satu masih kecil, yang sedang berpelukan. Dua perempuan yang sama-sama ia sayangi. Dua perempuan yang sama-sama terluka. Dua perempuan yang sekarang saling menyembuhkan.
Ada haru di dadanya. Ada sakit juga. Ada rasa bersalah karena ia merasa gagal sebagai ayah. Tapi di atas semua itu, ada rasa syukur yang begitu besar. Syukur karena Kumala, meskipun masih menyimpan luka dan kebencian, masih memiliki hati untuk Dewi. Syukur karena Dewi, meskipun lahir tanpa seorang ibu, masih memiliki seseorang yang bersedia menjadi ibu untuknya.
"Makasih, Kumala." Kata Yulianto.
Kumala menoleh.
"Makasih buat apa, Kak?" Tanya Kumala.
"Makasih buat Dewi. Makasih sudah mau jadi ibu buat dia. Aku... aku nggak tahu harus bilang apa. Aku hanya... makasih." Jawab Yulianto.
Kumala tersenyum.
"Nggak usah makasih, Kak. Dewi juga keponakan gue. Dia anak dari kakak gue. Sudah seharusnya gue jaga dia. Sudah seharusnya gue sayang dia. Bukan karena kakak. Bukan karena siapa pun. Tapi karena dia Dewi." Jawab Kumala.
Sejak hari itu, Dewi dan Kumala menjadi semakin dekat. Bahkan mungkin lebih dekat dari hubungan antara bibi dan keponakan biasanya.
Setiap pagi, sebelum Kumala berangkat kerja, Dewi sudah bangun lebih awal. Ia akan berlari dari kamarnya, yang berada di sebelah kamar Kumala, menuju kamar Kumala. Ia akan mengetuk pintu kecil-kecil sambil berteriak, "Tante Kumala! Tante Kuma! Bangun! Dewi mau susu!"
Kumala yang masih setengah tidur akan membuka pintu, menggendong Dewi, lalu berjalan ke dapur sambil mengucek-ngucek matanya. Ia akan menyiapkan susu untuk Dewi, menuang air hangat ke dalam botol, menakar susu formula dengan sendok takar, mengocoknya, lalu menyuapi Dewi. Kadang-kadang, di sela-sela menyuapi Dewi, Kumala juga menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri dan untuk Yulianto yang biasanya sudah lebih dulu bangun dan pergi ke kamar mandi.
Setiap kali Kumala pulang kerja, biasanya sekitar pukul tiga sore, Dewi sudah menunggu di depan pintu. Ia akan duduk di kursi kecil yang khusus didesain untuknya, kursi plastik merah muda dengan gambar putri tidur di sandarannya. Begitu mendengar suara motor Kumala masuk ke halaman, Dewi akan berlari, sekali lagi berlari, menuju pintu, membukanya dengan susah payah karena pintu rumah cukup berat untuk anak seusianya, lalu melompat ke arah Kumala.
"Tante Kumala pulang! Tante Kumala pulang!" Teriak Dewi sambil melompat-lompat.
Kumala akan menurunkan tasnya, lalu menggendong Dewi.
"Iya, Tante pulang. Dewi tadi ngapain aja?" Tanya Kumala.
"Dewi main sama Ayah. Ayah ngajarin Dewi gambar." Jawab Dewi.
"Gambar apa?" Tanya Kumala.
"Gambar Tante Kumala!" Jawab Dewi.
Kumala tertawa.
"Nanti Tante lihat, ya. Tante mau ganti baju dulu." Kata Kumala.
Setiap malam sebelum tidur, ritual yang sama selalu terjadi. Dewi akan meminta Kumala untuk membacakan dongeng. Buku dongeng sudah disiapkan di atas meja samping tempat tidur Kumala, buku tebal berwarna biru dengan gambar kuda putih bersayap di sampulnya. Dewi akan tidur di samping Kumala, memeluk boneka beruang kesayangannya, sambil mendengarkan suara Kumala yang membacakan cerita tentang putri-putri cantik, pangeran tampan, naga yang harus dikalahkan, dan cinta yang selalu menang pada akhirnya.
"Tante Kumala, kenapa di dongeng selalu ada pangeran?" Tanya Dewi suatu malam.
"Karena pangeran itu baik. Pangeran itu melindungi. Pangeran itu sayang sama putri." Jawab Kumala.
"Dewi juga punya pangeran, nggak?" Tanya Dewi.
"Dewi punya pangeran. Pangeran Dewi itu Ayah Dewi." Jawab Kumala.
"Ayah Dewi pangeran? Tapi Ayah Dewi nggak bawa kuda putih." Kata Dewi.
"Ayah Dewi bawa motor. Itu juga kendaraan pangeran." Jawab Kumala sambil tersenyum.
"Ayah Dewi sayang Dewi?" Tanya Dewi.
"Sayang banget. Ayah Dewi paling sayang sama Dewi sejagat raya." Jawab Kumala.
Dewi tersenyum. Ia memejamkan matanya. Perlahan, napasnya teratur. Ia tertidur di samping Kumala.
Kumala menatap wajah Dewi yang damai. "Anak ini sangat polos. Dia tidak tahu bahwa ibunya meninggal. Dia tidak tahu bahwa ayahnya dan bibinya dulu pernah bertengkar. Dia tidak tahu bahwa dunia ini tidak selalu seindah dongeng yang kubacakan. Tapi mungkin... mungkin itu yang membuatnya istimewa. Dia tidak perlu tahu. Biarkan dia bahagia."
Kumala yang awalnya dingin terhadap Yulianto mulai berubah. Perubahan itu tidak terjadi dalam semalam. Tidak ada keajaiban. Tidak ada ledakan emosi. Perubahan itu terjadi perlahan, seperti tetesan air yang terus-menerus jatuh di atas batu, sampai suatu hari batu itu berlubang.
Setiap interaksi dengan Dewi secara otomatis membuat Kumala sering berhadapan dengan Yulianto. Mereka tidak bisa tidak bertemu. Mereka tinggal di rumah yang sama. Mereka makan di meja yang sama. Mereka menonton televisi di ruang yang sama. Mereka merawat anak yang sama, Dewi.
Setiap pagi, ketika Kumala menyiapkan susu untuk Dewi, Yulianto biasanya sudah berada di dapur untuk menyiapkan kopi atau teh untuk sarapan. Mereka akan berdiri di dapur yang sama, kadang berbagi tugas, Kumala menyiapkan susu, Yulianto menyiapkan sarapan. Tidak banyak bicara. Hanya obrolan ringan tentang jadwal hari ini, tentang Dewi, tentang cuaca. Tapi itu sudah lebih dari cukup. Setelah berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun hanya saling diam atau saling menyakiti, bicara ringan tentang tidak penting adalah kemajuan yang luar biasa.
"Dewi tadi malam mimpi buruk." Kata Kumala suatu pagi sambil memanaskan air di panci kecil.
"Lho? Dewi nggak cerita ke aku." Jawab Yulianto sambil memotong roti tawar untuk sarapan.
"Iya. Dewi teriak-teriak tengah malam. Gue bangun, gue dateng ke kamar dia. Dia bilang ada singa. Katanya singa mau makan dia." Kata Kumala.
Yulianto tersenyum.
"Singa? Di mana ada singa di kampung sini?" Kata Yulianto.
"Anak-anak kan imajinasinya tinggi. Mungkin dia mimpi lihat singa di kebun binatang." Jawab Kumala.
"Terus gimana kamu nenangin dia?" Tanya Yulianto.
"Gue bilang ke Dewi, 'Singa itu teman Dewi. Singa itu cuma mau main sama Dewi. Nggak makan.' Terus Dewi bilang, 'Tapi singanya buas.' Gue bilang, 'Singa buas kalau lapar. Tapi singa Tante Kumala sudah kenyang. Singa Tante Kumala sudah makan burger.' " Jawab Kumala.
Yulianto tertawa.
"Singa makan burger? Singa karnivora, Kumala. Nggak makan roti." Kata Yulianto.
"Dewi kan belum tahu singa karnivora. Buat dia, yang penting singanya kenyang dan nggak makan dia." Jawab Kumala.
Yulianto menggeleng-gelengkan kepala. Ia terus memotong roti.
"Makasih, Kumala. Makasih udah nenangin Dewi." Kata Yulianto.
"Enggak usah makasih, Kak. Dewi juga keponakan gue." Jawab Kumala.
Setiap sore, setelah Kumala pulang kerja dan sebelum Yulianto memasak makan malam, mereka bertiga sering duduk di ruang tamu. Yulianto di sofa, Kumala di kursi, Dewi di lantai dengan karpet dan boneka-bonekanya. Kadang mereka nonton televisi bersama, acara anak-anak yang disukai Dewi, atau acara berita yang ditonton oleh Yulianto, atau film-film romantis yang disukai Kumala.
"Dewi mau nonton Upin Ipin!" Teriak Dewi setiap kali Kumala memegang remot.
"Upin Ipin lagi nggak on, Sayang. Masih acara berita." Jawab Kumala.
"Tapi Dewi mau Upin Ipin!" Kata Dewi mulai merengek.
"Nanti, ya. Setelah berita selesai." Kata Yulianto.
"Tapi Dewi mau sekarang!" Kata Dewi.
Yulianto dan Kumala bertukar pandang. Mereka tersenyum, masing-masing tersenyum, bukan pada pasangan, tapi pada situasi yang lucu.
"Dewi, Tante Kumala bacain buku aja, yuk. Ini ada buku baru. Gambar kucing. Lucu." Kata Kumala sambil mengambil buku dari rak.
"Kucing? Dewi mau! Dewi mau!" Seru Dewi, langsung lupa dengan Upin Ipin.
Kumala membacakan buku itu untuk Dewi. Yulianto mendengarkan dari kejauhan. Suara Kumala lembut saat membacakan cerita. Kadang ia menirukan suara kucing yang mengeong, kadang ia menirukan suara tikus yang mencicit. Dewi tertawa-tertawa mendengarnya.
Yulianto menatap dua perempuan itu. "Seandainya Mala masih ada. Pasti dia akan duduk di sebelahku, ikut tertawa melihat Dewi dan Kumala. Pasti dia akan bilang, 'Lihat, Yuli. Adikku baik kan? Dia jadi bibi yang baik untuk anak kita.' "
Ia menghela napas. Ada air mata yang jatuh, tapi ia segera menyekanya dengan punggung tangan.
Setiap akhir pekan, jika cuaca cerah dan tidak ada hujan, mereka bertiga sering jalan-jalan ke taman kota. Taman itu tidak besar, hanya lapangan rumput dengan beberapa pohon rindang, ayunan, perosotan, dan beberapa bangku taman yang dicat warna-warni. Tapi bagi Dewi, taman itu adalah istana. Baginya, rumput adalah karpet merah, ayunan adalah kuda terbang, perosotan adalah gunung yang harus ditaklukkan.
Yulianto akan mendorong ayunan Dewi. "Ayo, Dewi! Kaki lurus ke depan, tarik ke belakang!" Teriak Yulianto.
"Ayah, dorongnya kenceng!" Teriak Dewi dari atas ayunan.
"Nanti kamu jatuh!" Kata Yulianto.
"Enggak! Dewi kuat!" Jawab Dewi.
Yulianto mendorong lebih kencang. Dewi tertawa lepas. Kumala duduk di bangku taman, menonton mereka berdua. Ia tersenyum.
"Mereka bahagia," pikir Kumala. "Dewi bahagia punya ayah yang perhatian. Yulianto bahagia punya anak yang lucu. Dan aku... apakah aku bahagia?"
Ia tidak tahu. Yang ia tahu, melihat Dewi tertawa, melihat Yulianto tersenyum, membuat hatinya terasa hangat.
Setelah Dewi lelah berayun, ia akan berlari ke perosotan. Yulianto atau Kumala akan menunggu di bawah untuk menangkapnya jika ia jatuh.
"Dewi mau turun! Ayah tangkap!" Teriak Dewi dari atas perosotan.
"Siap, Dewi! Ayah siap tangkap!" Jawab Yulianto.
Dewi meluncur turun. Yulianto menangkapnya dengan kedua tangan.
"Berhasil!" Seru Dewi sambil tertawa.
"Berhasil!" Seru Yulianto sambil menggendong Dewi.
Kumala tersenyum melihat adegan itu. "Mereka bertiga—aku, Yuli, Dewi—seperti keluarga kecil."
Pikiran itu tiba-tiba muncul di kepalanya. Ia terkejut.
"Apa? Keluarga kecil? Aku gila. Yuli adalah iparku. Mantan kekasihku. Orang yang sudah menikah dengan kakakku. Orang yang membuatku sakit hati selama bertahun-tahun. Tidak. Ini tidak boleh. Ini tidak pantas. Ini..."
Tapi Dewi memanggilnya.
"Tante Kumala! Ayo main kejar-kejaran!" Teriak Dewi.
Kumala menggelengkan kepalanya. Ia mengusir pikiran-pikiran itu. Untuk saat ini, ia akan fokus pada Dewi.
"Iya, Sayang! Tante datang!" Jawab Kumala.
Ia berlari menuju Dewi. Mereka bertiga bermain kejar-kejaran di taman itu. Yulianto mengejar Dewi, Dewi mengejar Kumala, Kumala mengejar Yulianto. Satu lingkaran yang rumit, yang indah, yang mungkin tidak akan mereka dapatkan jika keadaan normal.
Suatu hari, Bu Rahma, ibu Kumala, sedang duduk di ruang tamu. Ia sedang merapikan jahitannya, kain batik yang akan ia jadikan baju untuk Dewi. Jarum dan benang ia kaitkan di ujung kain. Kacamatanya ia gunakan di ujung hidung. Dari ruang tamu, ia bisa melihat ke arah dapur, di mana Kumala dan Yulianto sedang sama-sama menyiapkan makan malam. Mereka berdiri berdekatan, tidak terlalu dekat, tapi juga tidak terlalu jauh. Yulianto sedang memotong sayuran. Kumala sedang mencuci beras. Sesekali mereka bicara, kadang tertawa kecil.
Bu Rahma memanggil suaminya yang sedang membaca koran di teras.
"Pak . Ke sini dulu." Panggil Bu Rahma.
Pak Heru meletakkan kacamatanya. Ia berjalan masuk ke ruang tamu.
"Ada apa, Bu?" Tanya Pak Heru.
"Lihat." Jawab Bu Rahma sambil menunjuk ke arah dapur.
Pak Heru melihat ke dapur. Ia melihat Yulianto dan Kumala. Yulianto sedang mengupas bawang, matanya sedikit perih, ia mengedip-ngedipkan mata. Kumala tertawa melihat wajah Yulianto yang lucu karena menahan perih. Yulianto membalas dengan meletakkan sedikit bawang di telapak tangannya dan meniupnya ke arah Kumala. Kumala menghindar sambil tertawa.
"Ayah, lihat Kumala dan Yuli. Mereka mulai dekat lagi." Kata Bu Rahma.
"Iya, Bu. Ibu lihat juga? Ayah juga lihat. Mereka sudah mulai sering bersama. Kadang Ayah lihat mereka ngobrol di dapur sampai magrib ya. Tapi yang jelas mereka sudah tidak dingin-dinginan lagi." Jawab Pak Heru.
"Ayah, lihat Dewi. Dewi sangat bahagia punya Tante Kumala. Setiap pagi Dewi nyari Tante Kumala dulu sebelum nyari Ayahnya. Setiap malam Dewi minta dibacakan dongeng sama Tante Kumala. Dewi sudah menganggap Kumala sebagai ibunya, meskipun dia masih panggil Tante. Tapi suatu saat nanti, ketika Dewi sudah besar dan sudah mengerti, dia akan tetap melihat Kumala sebagai figur ibu." Kata Bu Rahma.
"Ayah juga lihat semua itu, Bu. Mungkin ini sudah jalan Tuhan. Mungkin memang sudah takdirnya Kumala dan Yuli bersama. Untuk Dewi. Untuk keluarga. Untuk melanjutkan apa yang sudah Mala mulai." Jawab Pak Heru.
"Maksud Ayah?" Tanya Bu Rahma.
"Maksud Ayah, mungkin Yuli dan Kumala memang ditakdirkan untuk bersama. Mala mungkin sudah tahu itu. Mungkin itu sebabnya dulu Mala menjodohkan mereka, bukan hanya karena Mala mau mati, tapi karena Mala melihat bahwa Yuli dan Kumala saling melengkapi. Yuli yang tenang, Kumala yang agak keras. Yuli yang sabar, Kumala yang agak emosional. Mereka berdua akan saling mengisi. Dan Dewi akan memiliki ibu yang baik, seorang ibu yang tidak akan pernah menggantikan posisi Mala, tapi akan menjadi ibu yang berbeda dan sama-sama mencintai." Jawab Pak Heru.
Bu Rahma mengangguk. Ia tidak lagi bicara. Ia hanya tersenyum melihat anak bungsunya dan menantunya yang kini sudah tidak lagi saling membenci.
Tidak hanya orang tua Kumala yang melihat perubahan itu. Bu Sartini, ibu Yulianto, juga melihat ketika ia datang menjenguk Dewi pada suatu Sabtu sore. Bu Sartini datang dengan membawa baju baru untuk Dewi, baju tidur motif panda yang lucu, dengan tudung di kepalanya bermuka panda yang menggemaskan.
Dewi langsung memeluk neneknya ketika melihat baju itu.
"Nenek, Dewi mau pake! Sekarang!" Teriak Dewi.
"Iya, iya. Nanti Nenek bantuin pake." Jawab Bu Sartini.
Setelah Dewi berganti baju dengan bantuan Bu Sartini dan Kumala, Dewi berlari-lari di halaman sambil memamerkan baju barunya. Yulianto, Kumala, dan Bu Sartini duduk di teras.
"Nak, kamu dan Kumala akhir-akhir ini kok dekat lagi?" Tanya Bu Sartini pada Yulianto setelah Dewi cukup jauh.
Yulianto menghela napas. Ia sudah menduga ibunya akan bertanya seperti ini. Ibunya tidak pernah bisa diam soal urusan jodoh, dulu dengan Nurmala, lalu dengan Kumala, sekarang lagi dengan Kumala.
"Kami tidak dekat-dekat amat, Bu. Cuma sering bareng karena Dewi. Dewi kan dekat banget sama Kumala. Jadi otomatis kami sering berinteraksi." Jawab Yulianto.
"Ibu lihat caramu memandang dia. Berbeda." Kata Bu Sartini.
"Memangnya bagaimana cara Ibu memandang?" Tanya Yulianto.
"Kamu memandangnya seperti dulu kamu memandang Mala. Mata kamu lembut. Tidak ada beban. Tidak ada rasa bersalah. Yang ada hanya rasa ingin melindungi. Ibu kenal matamu, Nak. Ibu yang melahirkanmu. Ibu tahu setiap ekspresi di wajahmu sejak kamu masih bayi. Jangan coba-coba bohong sama ibu." Jawab Bu Sartini.
Yulianto terdiam.
Ia tidak menyadari bahwa ia memandang Kumala seperti itu. Mungkin karena ia sudah terbiasa melihat Kumala setiap hari. Mungkin karena ia sudah lupa bagaimana rasanya memandang seseorang dengan lembut, sejak Nurmala meninggal, matanya hanya fokus pada Dewi dan pekerjaan. Tapi ibunya bilang matanya berubah. Dan ibunya tidak pernah salah soal mata.
"Ibu, jangan bercanda. Jangan bikin aku bingung." Kata Yulianto.
"Ibu serius, Nak. Ibu tahu perasaan anak ibu. Ibu tahu bahwa kamu dan Kumala dulu pernah berpisah dengan cara yang tidak baik, kamu meninggalkannya untuk Mala. Tapi sekarang Mala sudah tiada. Mala sendiri yang merestui kalian, ingat pesan Mala sebelum dia meninggal? 'Jaga Yuli, jaga Dewi, dan jangan ragu untuk menyatukan mereka jika Tuhan menghendaki.' Itu pesan Mala. Ibu mendengarnya sendiri." Jawab Bu Sartini.
Kumala yang sejak tadi diam, menunduk. Wajahnya memerah.
"Bu, jangan dibahas di sini. Dewi bisa dengar." Kata Kumala pelan.
"Biarkan dia dengar. Dewi juga akan senang." Jawab Bu Sartini.
"Bu..." Kumala memohon.
"Baik, baik. Ibu tidak akan bicara lagi. Tapi ingat pesan ibu: kebahagiaan itu tidak datang dua kali. Jadi kalau kamu punya kesempatan, jangan sia-siakan. Jangan ulangi kesalahan dulu." Kata Bu Sartini.
Yulianto tidak menjawab. Ia hanya menghela napas.
Kumala juga tidak menjawab. Ia hanya memandangi Dewi yang berlarian di halaman dengan baju panda barunya.
"Kebahagiaan itu tidak datang dua kali."
Kalimat itu terngiang di kepalanya sepanjang malam.
BAB XIX
TEKANAN KELUARGA BESAR
Keluarga dari kedua pihak menyarankan Yulianto menikahi Kumala. Perdebatan, gengsi, kemarahan lama muncul lagi. Kumala akhirnya bersedia karena sayang Dewi. Yulianto setuju, meski masih ada luka lama.
Malam itu, setelah Dewi tertidur pulas di kamarnya dengan boneka beruang kesayangan terpeluk erat di dadanya, setelah Kumala selesai mandi dan berganti baju tidur, setelah Bu Rahma merapikan dapur dan Pak Heru menyelesaikan baca koran malamnya, mereka berempat duduk di ruang tamu. Bukan kebetulan. Ini sudah direncanakan.
Lampu ruang tamu hanya satu, lampu dinding dengan cahaya kuning redup yang menciptakan suasana hangat tapi juga tegang. Di meja tengah, ada cangkir-cangkir teh yang sudah setengah habis. Aroma melati dari teh masih tercium samar-samar bercampur dengan aroma kemenyan dari kamar tengah yang baru saja selesai dibakar untuk ritual doa malam.
"Nak Yuli, duduk. Ayah dan ibu mau bicara serius." Kata Pak Heru.
Yulianto yang baru saja hendak beranjak ke kamar karena mengira acara makan malam sudah selesai, berhenti. Ia menoleh ke arah Pak Heru. Wajah mertuanya itu serius, lebih serius dari biasanya. Tidak ada senyum di bibirnya. Tidak ada kerutan karena tertawa di matanya. Yang ada hanya garis-garis tegas di dahi yang menandakan bahwa ini bukan pembicaraan biasa.
"Baik, Pak." Jawab Yulianto.
Ia duduk di kursi yang disediakan, kursi kayu di sebelah kanan sofa tempat Pak Heru dan Bu Rahma duduk. Kumala sudah duduk lebih dulu di kursi di seberang, kursi rotan yang biasa ia gunakan untuk membaca. Wajahnya tidak bisa dibaca. Matanya menatap lantai. Tangan kanannya memegang ujung gamis tidurnya, tanda ia sedang gugup, mungkin sudah menduga apa yang akan dibicarakan.
Yulianto duduk. Ia sudah menduga apa yang akan dibicarakan. Sudah beberapa minggu ini ia merasa ada yang berbeda. Sikap Pak Heru dan Bu Rahma terhadapnya sudah bergeser, dari sekadar menantu yang dihormati menjadi lebih dari itu. Mereka mulai memperlakukannya seperti anak kandung. Dan akhir-akhir ini, setiap kali Kumala dan Yulianto berada di ruangan yang sama, mata Pak Heru dan Bu Rahma selalu bergantian menatap mereka berdua, seperti sedang mengamati sesuatu, seperti sedang menilai, seperti sedang berharap.
"Apa yang mau Bapak bicarakan, Pak?" Tanya Yulianto.
Ia mencoba terdengar tenang, padahal jantungnya berdebar lebih kencang dari biasanya.
Pak Heru menatap istrinya. Bu Rahma mengangguk, memberi isyarat bahwa suaminya yang memulai.
"Nak, ini tentang kamu dan Kumala." Jawab Bu Rahma sebelum suaminya sempat bicara.
Yulianto menghela napas. Tebakannya tepat.
"Apa hubungannya dengan kami, Bu?" Tanya Yulianto.
"Jangan pura-pura tidak tahu, Nak. Kami sudah melihat semuanya. Kami sudah memperhatikan sejak beberapa bulan terakhir. Terutama sejak Dewi mulai memanggil Kumala 'Ibu'." Kata Bu Rahma.
"Bu, Dewi memang memanggil Kumala 'Ibu' karena dia belum mengerti. Tapi kami sudah menjelaskan berkali-kali bahwa Kumala adalah Tante, bukan Ibu. Itu hanya masalah sebutan anak kecil yang belum paham." Jawab Yulianto.
"Kami tidak bicara tentang sebutan, Nak. Kami bicara tentang hubungan kalian berdua. Kami melihat kalian semakin dekat. Setiap pagi kalian sarapan bersama. Setiap sore kalian bermain dengan Dewi di halaman. Setiap malam kalian nonton TV bertiga. Kumala berubah sejak Dewi memanggilnya ibu. Dulu dia pendiam, suka mengurung diri di kamar. Sekarang dia lebih banyak tersenyum, lebih banyak bicara, lebih banyak membantu. Dan itu semua karena Dewi, dan juga karena kamu." Kata Bu Rahma.
"Kami hanya berteman, Bu. Untuk Dewi. Kami sama-sama sayang Dewi. Jadi sudah sewajarnya kami bekerja sama untuk membahagiakan Dewi. Itu tidak berarti ada hubungan lebih di antara kami." Jawab Yulianto.
"Nak Yuli, kami tidak buta. Kami bisa melihat cara kamu memandang Kumala. Dan kami juga bisa melihat cara Kumala memandang kamu. Mungkin kalian berdua belum sadar, tapi bagi kami yang sudah tua dan sudah banyak mengalami, itu jelas. Masih ada sisa-sisa cinta di sana. Sisa-sisa yang tidak pernah benar-benar mati, hanya terpendam." Kata Pak Heru.
Yulianto terdiam.
Ia tidak tahu harus menjawab apa. Membantah berarti berbohong, karena ia sendiri tidak yakin dengan perasaannya akhir-akhir ini. Mengiyakan berarti membuka pintu yang selama ini ia tutup rapat-rapat, pintu menuju hubungan baru dengan Kumala, adik dari istrinya yang sudah tiada.
"Pak, Bu, saya masih berkabung untuk Mala. Mala belum genap dua tahun meninggal. Rasanya belum sopan jika saya sudah membicarakan... itu." Jawab Yulianto.
"Sudah hampir dua tahun, Nak. Lebih tepatnya satu tahun sepuluh bulan. Tiga belas hari lagi genap dua tahun. Kami tahu karena kami juga menghitungnya. Setiap hari kami menghitung. Setiap malam kami mengingat. Kami juga kehilangan, Nak. Kami juga berduka. Tapi kami tidak bisa terus-menerus tenggelam dalam duka. Hidup harus terus berjalan." Kata Pak Heru.
"Bukan berarti kami menyuruhmu melupakan Mala, Nak. Tidak akan ada yang bisa melupakan Mala. Dia anak kami. Dia darah daging kami. Tapi hidup harus terus berjalan. Dan Dewi, cucu kami, anakmu, Dewi butuh seorang ibu. Bukan hanya Tante. Bukan hanya Nenek. Tapi seorang ibu yang setiap hari ada di sampingnya, yang mengurusnya, yang menyayanginya, yang mengajarinya, yang membesarkannya. Dewi butuh figur ibu dalam kehidupannya sehari-hari. Dan figur yang paling tepat adalah Kumala." Kata Bu Rahma.
Yulianto menunduk. Tangannya menggenggam erat ujung sarung yang ia kenakan.
"Kumala tahu tentang ini, Bu? Kumala sudah diberi tahu?" Tanya Yulianto.
"Kami belum bilang ke dia. Kami ingin membicarakannya dengan kamu terlebih dahulu. Karena ini keputusan besar. Tidak bisa dipaksakan. Tidak bisa sepihak. Kamu harus setuju dulu sebelum kami bicara ke Kumala." Jawab Pak Heru.
"Tapi bagaimana kalau Kumala tidak setuju?" Tanya Yulianto.
"Kami yakin dia setuju. Bukan karena kami memaksakan kehendak. Tapi karena kami melihatnya setiap hari. Kamu mungkin tidak sadar, tapi Kumala sudah berubah. Matanya sudah tidak lagi penuh kebencian saat melihatmu. Bahkan kadang ia tersenyum kecil saat kamu tidak melihat. Dan yang paling penting—ia sangat sayang Dewi. Ia menganggap Dewi seperti anaknya sendiri. Jika pernikahan ini terjadi, itu bukan hanya karena kami yang menginginkan. Tapi karena Kumala sendiri, di dalam hatinya, mungkin sudah menginginkannya, meskipun ia belum berani mengakuinya." Jawab Bu Rahma.
Yulianto terdiam lagi. Wajahnya menerawang, pikirannya melayang. Ia membayangkan bagaimana rasanya berbagi hidup dengan Kumala. Bukan sebagai ipar. Bukan sebagai mantan. Tapi sebagai suami istri.
"Mala, apa yang harus aku lakukan? Aku bingung. Aku tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Aku tidak tahu mana egoku dan mana suara hatiku. Aku tidak tahu apakah ini yang kamu mau—atau ini hanya keinginan mereka."
Ia menarik napas panjang.
"Pak, Bu. Saya mohon waktu. Jangan minta jawaban saya sekarang. Saya perlu berpikir. Ini tidak mudah." Kata Yulianto.
"Kami memberi waktu. Tapi jangan terlalu lama, Nak. Kita semua sudah tua. Kita tidak tahu kapan kami akan dipanggil. Kami ingin melihat Dewi memiliki ibu sebelum..." Pak Heru tidak melanjutkan kalimatnya.
Bu Rahma menggenggam tangan suaminya. Matanya berkaca-kaca.
"Baik, Pak. Saya akan berpikir. Mudah-mudahan Allah memberi petunjuk." Jawab Yulianto.
Tak lama setelah itu, tepatnya tiga hari kemudian, giliran Bu Sartini dan suaminya Pak Yulianto yang datang. Mereka datang bukan sendirian. Mereka datang dengan rombongan: adik-adik Yulianto, sepupu-sepupunya, bahkan beberapa kerabat jauh yang jarang terlihat.
Mereka mengadakan pertemuan keluarga besar di rumah Pak Heru. Semua kerabat dari kedua belah pihak diundang. Ada sekitar dua puluh lima orang yang hadir, duduk lesehan di ruang tamu dan ruang tengah yang disatukan dengan membuka pintu penghubung.
Suasana rumah yang biasanya tenang dan damai berubah menjadi ramai seperti pasar. Suara obrolan, suara sendok dan garpu, suara gelas yang saling bersentuhan, suara anak-anak kecil yang berlarian di halaman, suara Dewi yang tertawa bersama sepupu-sepupunya yang seusia. Aroma masakan dari dapur, kari ayam, rendang, sayur lodeh, dan sambal goreng ati, menyebar ke seluruh ruangan, membuat perut keroncongan meskipun baru saja makan.
Setelah makan bersama, semua orang sudah kenyang, piring-piring mulai dikosongkan, gelas-gelas mulai ditata kembali, Pak Heru berdiri. Ia tidak menggunakan mikrofon, tapi suaranya yang sudah tua itu masih cukup lantang untuk didengar oleh seluruh ruangan.
"Hadirin sekalian, kami mengundang kalian semua di sini, bukan hanya untuk makan bersama, bukan hanya untuk silaturahmi, tapi untuk membicarakan sesuatu yang penting. Sesuatu yang menyangkut masa depan cucu kami, Dewi, dan juga masa depan anak kami, Kumala, serta menantu kami, Yulianto." Kata Pak Heru.
Semua yang hadir terdiam. Mereka yang tadi sibuk berbincang berhenti bicara. Mereka yang tadi sibuk menyendok makanan meletakkan sendoknya. Mereka yang tadi sibuk mengawasi anak-anak berlari, menatap ke arah Pak Heru. Keheningan menyelimuti ruangan.
"Mereka sudah mendengar desas-desus tentang kemungkinan pernikahan antara Yulianto dan Kumala. Mungkin sebagian dari kalian ada yang sudah mendengar, ada yang belum. Tapi apa pun yang sudah kalian dengar, kami ingin meluruskan di sini, secara resmi, di depan keluarga besar." Lanjut Pak Heru.
Beberapa kerabat mulai berbisik-bisik. Ada yang mengangguk-angguk. Ada yang mengangkat alis. Ada yang tersenyum. Ada yang memasang wajah serius.
"Kami, saya dan istri, setelah berdiskusi panjang, berdoa, dan meminta petunjuk dari Allah, berpendapat bahwa yang terbaik untuk Dewi adalah memiliki seorang ibu. Seorang ibu yang setiap hari ada di sampingnya. Seorang ibu yang akan merawatnya, mendidiknya, menyayanginya, dan membesarkannya menjadi perempuan sholehah seperti ibunya, Mala." Kata Pak Heru.
Ia berhenti sejenak. Matanya berkaca-kaca menyebut nama putrinya, tapi ia segera menguasai diri.
"Dan ibu yang terbaik untuk Dewi, menurut kami, adalah Kumala. Karena ia sudah dekat dengan Dewi. Karena ia sayang pada Dewi. Karena ia adalah bibi kandung Dewi, adik kandung dari ibunya. Tidak akan ada orang yang lebih baik dari Kumala untuk menjadi ibu bagi Dewi. Tidak akan ada." Lanjut Pak Heru.
Bu Rahma yang duduk di samping suaminya, mulai menangis, tangis haru, bukan tangis sedih. Ia menyeka air matanya dengan ujung kain batik yang ia kenakan.
Pertanyaan pertama datang dari sepupu Yulianto, seorang laki-laki bernomo Rudi, usia sekitar tiga puluh tahun, berkulit hitam, bekerja sebagai buruh bangunan.
"Apakah Yulianto setuju? Karena Yulianto yang akan menjalani pernikahan. Bukan kami. Jadi kami perlu dengar langsung dari Yulianto." Tanya Rudi dengan nada blak-blakan.
Semua mata tertuju pada Yulianto.
Ia duduk di kursi terpisah di dekat pintu, sengaja memilih tempat yang paling jauh dari pusat keramaian. Tapi semua mata tetap bisa melihatnya dengan jelas.
Yulianto menunduk sejenak. Ia menarik napas. Ia menghela napas. Lalu ia mengangkat kepalanya.
"Saya... saya masih berpikir." Jawab Yulianto.
"Sudah dua tahun, Yuli. Sudah cukup lama untuk berpikir. Dua tahun itu bukan waktu yang sebentar. Dua tahun itu cukup untuk melahirkan seorang anak, dan itu sudah kamu lakukan dengan Dewi. Dua tahun itu cukup untuk menyelesaikan kuliah, dan itu sudah kamu lakukan. Dua tahun itu cukup untuk berduka, dan itu sudah kamu lakukan. Sekarang waktunya untuk bangkit. Jangan terus-terusan terpaku pada masa lalu." Kata Bu Sartini.
Suara ibunya tegas, tidak marah, tapi penuh dengan ketegasan. Seorang ibu yang tahu bahwa anaknya butuh didorong, butuh disadarkan, butuh diingatkan.
"Ibu, saya tidak bisa dipaksa." Kata Yulianto.
"Kami tidak memaksa, Nak. Kami mengingatkan. Ada perbedaan antara memaksa dan mengingatkan. Ibu tidak akan pernah memaksamu melakukan sesuatu yang tidak kamu mau. Tapi ibu akan selalu mengingatkanmu bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dengan cara yang kita inginkan. Kadang kebahagiaan datang dengan cara yang tidak kita duga. Kadang kebahagiaan datang dari arah yang tidak kita lihat. Kadang kebahagiaan datang melalui jalan yang tidak kita rencanakan." Jawab Bu Sartini.
Kerabat lain, bibi dari pihak Kumala, Bu Yuli, perempuan berusia lima puluh tahun dengan logat Jawa yang kental, angkat bicara.
"Apa pendapatmu, nduk Kumala? Kamu sebagai perempuan yang akan dinikahi. Kamu yang akan menjalani hari-hari sebagai istri Yulianto. Jangan hanya Yulianto yang ditanya. Kamu juga harus bicara." Kata Bu Yuli.
Semua mata beralih dari Yulianto ke Kumala.
Sejak tadi gadis itu hanya diam. Ia duduk di sudut ruangan, dekat jendela, cahaya malam masuk sedikit menerangi wajahnya yang pucat. Di pangkuannya, Dewi tertidur pulas. Anak kecil itu tidak tahu apa yang sedang terjadi di sekitarnya. Dunianya hanya mimpi indah tentang kuda putih bersayap dan singa yang makan burger.
Kumala menunduk. Rambutnya yang panjang tergerai menutupi wajahnya. Wajahnya tidak terlihat. Hanya rambut hitam yang membentuk tirai antara dirinya dan orang-orang yang menatapnya.
"Aku bersedia." Jawab Kumala.
Suaranya pelan, nyaris tak terdengar. Tapi di ruangan yang sunyi, setiap suku kata terdengar jelas.
Semua terkejut.
Termasuk Yulianto.
Termasuk Bu Sartini.
Termasuk Pak Heru dan Bu Rahma, mereka sudah menduga, tapi tetap terkejut mendengar anak bungsunya mengucapkan kalimat itu dengan tegas.
"Kuma, kamu yakin?" Tanya Yulianto.
Ia menatap Kumala. Matanya mencari-cari keraguan di wajah gadis itu. Tapi tidak ada. Yang ada hanya ketulusan, atau setidaknya itu yang Yulianto lihat.
"Gue yakin, Kak. Bukan karena gue masih cinta sama kakak. Jangan salah paham. Jangan mengira bahwa gue masih berharap pada cinta lama kita. Bukan itu." Jawab Kumala.
"Lalu kenapa, Kuma? Kenapa kamu bersedia? Bukankah dulu kamu sangat membenciku? Bukankah dulu kamu mengirim belasan pria untuk memukulku? Bukankah dulu kamu tendang aku, kamu gigit aku, kamu cacimaki aku setiap hari? Kenapa sekarang kamu berubah? Kenapa?" Tanya Yulianto.
"Karena Dewi." Jawab Kumala singkat.
"Dewi?" Tanya Yulianto.
"Iya. Dewi. Gue sayang Dewi. Gue sayang banget sama Dewi. Lebih dari apa pun. Lebih dari kebencian gue ke kakak. Lebih dari luka lama yang masih gue rasakan. Dewi adalah segalanya bagi gue sekarang. Dia adalah satu-satunya bagian dari kakak Mala yang masih hidup. Melihat Dewi bahagia adalah kewajiban gue sebagai bibinya. Dan Dewi butuh ibu, Kak. Dia butuh seorang ibu dalam kehidupannya sehari-hari. Bukan hanya Tante yang datang dan pergi. Bukan hanya Nenek yang sudah tua dan lelah. Tapi seorang ibu yang akan ada setiap saat untuknya. Dan gue bisa menjadi ibu itu." Jawab Kumala.
"Kumala, pernikahan ini bukan hanya untuk Dewi. Ini juga untuk kalian berdua. Kalian akan hidup bersama sebagai suami istri. Kalian akan berbagi tempat tidur, berbagi meja makan, berbagi suka dan duka. Jangan korbankan dirimu hanya untuk Dewi. Jangan menikah hanya karena kasihan atau karena terpaksa." Kata Bu Rahma.
"Aku tahu, Bu. Gue tidak buta. Gue tahu bahwa pernikahan ini berat. Gue tahu bahwa gue dan kakak Yuli tidak punya dasar cinta yang kuat, setidaknya tidak seperti dulu. Tapi maaf, gue belum bisa membedakan mana cinta dan mana sayang sebagai keluarga. Yang gue tahu, gue ingin Dewi bahagia. Dan gue ingin kakak Yuli bahagia. Jika pernikahan ini bisa membuat mereka bahagia, maka gue bersedia." Jawab Kumala.
"Maksudmu, kamu tidak cinta pada Yulianto?" Tanya Bu Yuli lagi.
Kumala terdiam sejenak.
"Gue nggak tahu, Bu. Gue bingung. Gue sudah terlalu lama membenci dia. Dan tiba-tiba sekarang gue diminta untuk bersedia menikah dengannya. Gue nggak tahu apakah perasaan gue sekarang adalah cinta atau hanya bentuk lain dari sayang yang sudah lama tertimbun. Yang gue tahu, gue tidak ingin Dewi tumbuh tanpa ibu. Dan gue tidak ingin kakak Yuli terus-menerus sendiri. Dia sudah cukup menderita. Dia sudah cukup berjuang. Sekarang giliran gue yang membantu dia, bukan karena gue masih cinta, tapi karena gue sayang sebagai keluarga." Jawab Kumala.
Yulianto menatap Kumala.
Ada ketulusan di mata wanita itu. Ketulusan yang dulu mungkin tidak ia lihat karena ia terlalu sibuk mencintai Nurmala, mencintai dengan segenap hati, mencintai dengan buta, mencintai dengan mengabaikan perasaan orang lain.
Tapi sekarang, setelah semua yang terjadi, setelah kehilangan, setelah duka, setelah pertempuran panjang mengasuh Dewi sendirian, Yulianto mulai melihat Kumala dengan cara yang berbeda.
Dia bukan lagi "adik sahabatku yang dulu kupacari karena disuruh". Bukan lagi "mantan kekasih yang kubenci karena cemburu". Bukan lagi "ipar yang menyusahkan karena selalu marah". Kumala adalah seorang perempuan yang telah berjuang. Seorang perempuan yang juga kehilangan. Seorang perempuan yang memilih untuk tetap tegar meskipun hatinya hancur. Seorang perempuan yang bersedia mengesampingkan egonya demi kebahagiaan orang lain.
"Mala, mungkin ini yang kamu mau. Mungkin ini yang kamu rencanakan dari awal. Mungkin itu sebabnya kamu menjodohkan kami dulu, bukan hanya karena kamu mau mati, tapi karena kamu melihat bahwa kami bisa saling menguatkan. Bahwa kami bisa saling menyembuhkan. Bahwa kami bisa bersama setelah kamu tiada."
Yulianto menarik napas panjang.
"Aku setuju." Kata Yulianto.
Semua yang hadir menghela napas lega. Ada yang bertepuk tangan kecil. Ada yang mengucap syukur. Ada yang menangis haru.
Bu Rahma menangis. Ia memeluk suaminya. Tangis haru seorang ibu yang melihat anak bungsunya akan segera menikah, bukan dengan sembarang pria, tapi dengan pria yang sudah ia kenal sejak kecil, pria yang sudah menjadi bagian dari keluarga mereka, pria yang sudah terbukti kesetiaannya pada kakak kandung sang anak.
Bu Sartini tersenyum. Senyum lebar, senyum paling lebar yang pernah terlihat di wajahnya sejak Nurmala meninggal. Ia memeluk suaminya. "Ayah, anak kita akhirnya akan menikah lagi. Kita akan punya menantu lagi." Bisik Bu Sartini.
"Aamiin, Bu. Mudah-mudahan rumah tangganya sakinah, mawadah, warahmah." Jawab ayah Yulianto.
Pak Heru mengusap matanya. Air mata lelaki tua itu jatuh, bukan karena sedih, tapi karena haru. Karena bahagia.
"Alhamdulillah. Alhamdulillah. Semoga Mala di surga tersenyum melihat ini." Bisik Pak Heru.
Beberapa kerabat mulai berbisik-bisik. Ada yang membicarakan tentang tanggal pernikahan. Ada yang membicarakan tentang tempat. Ada yang membicarakan tentang mas kawin. Ada yang membicarakan tentang siapa yang akan menjadi saksi. Suasana yang tadinya tegang dan penuh dengan perdebatan, kini berubah menjadi hangat dan penuh dengan perencanaan.
Kumala masih duduk di sudut ruangan. Di pangkuannya, Dewi masih tertidur pulas. Anak kecil itu tidak tahu bahwa dunia di sekitarnya sedang berubah, bahwa ia akan segera memiliki seorang ibu, bahwa Tante Kumanya akan menjadi Ibu Kuma, bahwa ayahnya dan bibinya akan menikah, bahwa ia akan memiliki keluarga yang utuh.
"Makasih, Kumala." Kata Yulianto dari kejauhan.
Kumala menoleh. Ia tersenyum tipis.
"Makasih buat apa, Kak? Gue belum melakukan apa-apa." Jawab Kumala.
"Makasih sudah mau. Makasih sudah berani. Makasih sudah mengesampingkan semua luka lama. Aku tahu ini tidak mudah bagimu. Lebih sulit daripada bagiku. Karena aku hanya harus menerima tawaran. Kamu yang harus rela—rela menikahi pria yang sudah pernah menikahi kakakmu, pria yang pernah menyakitimu, pria yang tidak bisa menjanjikan cinta yang sempurna." Jawab Yulianto.
Kumala menunduk. Ia menggenggam tangan Dewi yang mungil.
"Kak, gue tidak butuh cinta yang sempurna. Cinta yang sempurna sudah gue lihat dari kakak Mala ke kakak. Dan lihat apa yang terjadi? Kematian memisahkan mereka. Tidak ada cinta yang sempurna di dunia ini, Kak. Yang ada hanya cinta yang cukup, cukup untuk bertahan, cukup untuk saling menguatkan, cukup untuk tidak saling menyakiti. Cinta yang cukup adalah yang gue butuh sekarang. Bukan yang sempurna." Jawab Kumala.
Yulianto terdiam. Ia tidak pernah mendengar Kumala bicara sedalam ini.
"Kumala, kamu dewasa sekali sekarang." Kata Yulianto.
"Dulu gue masih anak-anak, Kak. Dulu gue masih cemburuan, masih egois, masih mementingkan perasaan sendiri. Tapi kematian kakak Mala mengajarkan gue banyak hal. Kematian mengajarkan bahwa hidup itu singkat. Bahwa kita tidak punya waktu untuk membenci. Bahwa kita tidak punya waktu untuk menyimpan dendam. Bahwa yang terpenting adalah bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang masih ada di samping kita." Jawab Kumala.
Yulianto mengangguk.
"Kumala, aku berjanji. Aku akan berusaha menjadi suami yang baik. Mungkin tidak sesempurna dulu dengan Mala. Tapi aku akan berusaha." Kata Yulianto.
"Kak, gue tidak minta kakak menjadi sempurna. Gue tidak minta kakak melupakan kakak Mala. Gue hanya minta kakak membuka hati, sedikit saja. Cukup untuk menerima gue sebagai istri, sebagai teman hidup, sebagai orang yang akan menemani kakak sampai tua nanti. Itu saja." Jawab Kumala.
"Baik, Kumala. Janji." Kata Yulianto.
Kumala tersenyum.
Di pangkuannya, Dewi menggeliat. Matanya terbuka sebentar. Ia menatap Kumala.
"Tante Kumala... Dewi mimpi indah." Bisik Dewi.
"Mimpi apa, Sayang?" Tanya Kumala.
"Dewi mimpi punya Ibu." Jawab Dewi.
Kumala menatap Yulianto. Yulianto menatap Kumala.
"Nanti, Sayang. Nanti kamu punya Ibu." Kata Kumala sambil mengecup kening Dewi.
Dewi tersenyum lalu tertidur lagi.
"Ada satu permintaan, Kak." Kata Kumala setelah beberapa saat.
"Apa, Kumala?" Tanya Yulianto.
"Pernikahan kita sederhana saja. Tidak perlu gedung megah. Tidak perlu dekorasi yang berlebihan. Tidak perlu resepsi besar yang mengundang ratusan orang. Cukup akad nikah di masjid atau di rumah ini. Cukup doa bersama keluarga. Cukup makanan sederhana untuk sanak saudara terdekat." Kata Kumala.
"Kenapa, Kumala? Bukankah setiap perempuan menginginkan pesta pernikahan yang megah? Bukankah setiap perempuan ingin tampil cantik di hari bahagianya?" Tanya Yulianto.
"Gue bukan perempuan kebanyakan, Kak. Gue sudah lewat masa-masa ingin pesta mewah. Dulu, waktu kita pacaran, gue sering membayangkan pernikahan kita, gedung megah, gaun putih panjang, riasan yang sempurna, ribuan tamu yang datang. Tapi sekarang, setelah semua yang terjadi, gue sadar bahwa pernikahan bukan tentang pesta. Pernikahan tentang komitmen. Tentang kesiapan untuk berbagi hidup. Tentang keberanian untuk menerima kekurangan pasangan. Dan gue tidak butuh pesta untuk membuktikan semua itu." Jawab Kumala.
Yulianto tersenyum.
"Baik, Kumala. Aku setuju. Kita akan adakan pernikahan sederhana." Kata Yulianto.
"Dan satu lagi, Kak." Kata Kumala.
"Apa lagi?" Tanya Yulianto.
"Aku ingin foto kakak Mala hadir di pernikahan kita." Kata Kumala.
Yulianto terkejut.
"Apa? Foto Mala? Di pernikahan kita?" Tanya Yulianto.
"Iya. Aku ingin dia tahu bahwa aku dan kakak akan menjaga Dewi bersama-sama. Bahwa aku dan kakak akan berusaha menjadi orang tua yang baik untuk Dewi. Bahwa aku dan kakak tidak akan melupakannya. Bahwa dia akan selalu menjadi bagian dari keluarga kita, bukan sebagai mantan, bukan sebagai kenangan, tapi sebagai malaikat yang menjaga kita dari surga." Jawab Kumala.
Yulianto terdiam.
Matanya berkaca-kaca. Ia tidak menyangka Kumala akan meminta itu. Ia tidak menyangka bahwa perempuan yang dulu begitu membenci kakaknya sendiri karena masalah cinta, kini justru ingin menghormati kakaknya di pernikahannya sendiri.
"Kumala, kamu... kamu luar biasa." Kata Yulianto.
"Gue tidak luar biasa, Kak. Gue hanya manusia biasa yang belajar dari kesalahan. Dan salah satu kesalahan terbesar gue adalah membenci kakak Mala tanpa alasan yang jelas. Sekarang gue ingin memperbaikinya. Meskipun kakak Mala sudah tiada, setidaknya gue bisa menghormatinya dengan cara ini." Jawab Kumala.
"Baik, Kumala. Aku setuju. Foto Mala akan kita letakkan di pelaminan. Di samping kita. Dia akan menyaksikan pernikahan kita. Dia akan tersenyum dari surga." Kata Yulianto.
Kumala tersenyum. Senyum yang paling tulus yang pernah Yulianto lihat dari wajahnya.
"Makasih, Kak." Kata Kumala.
"Sama-sama, Kumala." Jawab Yulianto.
Mereka berdua terdiam. Di pangkuan Kumala, Dewi tertidur dengan tenang. Di dalam kamar, Pak Heru dan Bu Rahma sudah beristirahat. Di ruang tamu yang sekarang sudah sunyi, hanya Yulianto dan Kumala yang masih terjaga, menemani malam yang semakin larut.
Dari kejauhan, terdengar suara azan Subuh dari masjid di ujung jalan.
"Sudah subuh, Kumala. Ayo kita salat." Kata Yulianto.
"Iya, Kak. Ayo." Jawab Kumala.
Mereka berdua berdiri. Yulianto menggandeng tangan Kumala, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, setelah sekian tahun, setelah sekian banyak luka. Bukan gandengan mesra. Bukan gandengan penuh gairah. Tapi gandengan yang mengatakan: "Kita akan melewati ini bersama."
Kumala menggenggam balik.
Mereka berjalan menuju kamar mandi untuk berwudu. Di depan pintu kamar mandi, Yulianto melepas gandengannya.
"Maaf, Kumala. Aku duluan ya." Kata Yulianto.
"Iya, Kak. Gue nyusul." Jawab Kumala.
Yulianto masuk ke kamar mandi. Kumala berdiri di luar, menunggu.
Ia menatap telapak tangannya, telapak tangan yang baru saja digandeng oleh Yulianto. Masih terasa hangat. Masih terasa getarnya.
"Mungkin ini awal yang baru. Mungkin ini yang disebut takdir. Mungkin memang sudah seharusnya begini."
Ia tersenyum. Lalu masuk ke kamar mandi untuk mengambil air wudu.
BAB XX
PERNIKAHAN PENEBUSAN DOSA
Akad nikah Yulianto dan Kumala. Bahagia yang canggung, tapi tulus mulai tumbuh. Dewi sangat senang memiliki "Ibu Kumala" dan "Ayah Yuli" bersama. Kumala hamil.
Pernikahan Yulianto dan Kumala dilangsungkan pada hari Sabtu pagi, tepat dua tahun sepuluh bulan setelah kepergian Nurmala. Tanggal itu dipilih bukan karena kebetulan. Pak Heru dan Bu Rahma sengaja memilih hari Sabtu di bulan Syawal, bulan kemenangan setelah Ramadhan, sebagai simbol bahwa mereka semua telah melewati masa-masa sulit dan sekarang memasuki babak baru dalam kehidupan.
Tidak ada dekorasi mewah. Tidak ada gedung megah yang disewa dengan harga selangit. Tidak ada ratusan undangan yang dikirim ke seluruh penjuru kota. Hanya sebuah tenda sederhana berwarna putih krem yang didirikan di halaman rumah Pak Heru dan Bu Rahma, halaman yang sama yang dulu menjadi saksi bisu pertemuan pertama Yulianto dengan Kumala saat ulang tahunnya yang ketujuh belas, halaman yang sama yang menyaksikan tawa dan tangis mereka selama bertahun-tahun.
Kursi-kursi plastik putih ditata rapi dalam dua blok, kiri untuk keluarga dari pihak mempelai pria, kanan untuk keluarga dari pihak mempelai wanita. Di bagian depan, tepat di bawah tenda, terdapat sebuah pelaminan sederhana: sebuah sofa panjang berwarna putih yang dilapisi kain beludru dengan bantal-bantal kecil bermotif bunga di setiap ujungnya. Di belakang sofa, tirai putih tipis bergantung dari rangka besi, dihiasi dengan rangkaian bunga melati dan mawar putih yang masih segar, aroma harumnya menyebar ke seluruh ruangan.
Langit pagi itu cerah, sangat cerah, seperti tersenyum pada kebahagiaan yang akan terjadi. Matahari terbit di ufuk timur dengan cahaya keemasan yang hangat tapi tidak menyengat. Awan-awan putih bergerak lambat di langit biru, seperti turut berbahagia. Aroma kemenyan yang baru saja dibakar di sudut-sudut rumah masih tercium samar-samar, bercampur dengan aroma bunga melati dari pelaminan dan aroma tanah basah setelah hujan semalam, hujan gerimis yang turun sekitar pukul tiga pagi dan berhenti tepat sebelum subuh, seperti alam semesta sedang membersihkan dirinya untuk menyambut hari yang suci.
Burung-burung berkicau dengan riang di pohon mangga di samping rumah, pohon yang dulu sering menjadi tempat bermain Yulianto dan Nurmala saat mereka masih kecil. Dulu, mereka berdua sering memanjat pohon itu untuk mengambil buah mangga yang ranum. Nurmala selalu lebih berani, memanjat lebih tinggi, sementara Yulianto lebih memilih bertahan di dahan yang lebih rendah. Dan sekarang, di bawah pohon yang sama, Yulianto akan mengucapkan janji suci kepada adik dari perempuan yang dulu pernah menjadi cinta pertamanya.
Yulianto berdiri di ruang tamu, ruang tamu yang sama yang dulu menjadi tempatnya menyatakan cinta pada Nurmala, ruang tamu yang sama yang menjadi saksi bisu penolakan Nurmala, ruang tamu yang sama yang kemudian menjadi tempatnya menikah dengan Nurmala. Sekarang, ruang tamu itu kembali menjadi saksi, kali ini untuk pernikahannya dengan Kumala.
Ia ditemani oleh ayahnya, Sartono, pria berusia lima puluh delapan tahun dengan rambut yang sudah mulai memutih di pelipis, dan dua orang saksi yang sudah ditunjuk: Pak RT dan Pak RW setempat, keduanya adalah tetangga yang sudah mengenal keluarganya sejak lama.
Yulianto memakai kemeja putih polos dengan jas hitam sederhana, jas yang sama yang ia kenakan saat menikah dengan Nurmala dua setengah tahun lalu. Bukan karena ia pelit atau tidak mampu membeli jas baru, tapi karena ia merasa bahwa jas itu membawa berkah. Di saku jasnya, ia masih menyimpan selembar kertas kecil bertuliskan doa yang diberikan oleh Nurmala di pagi pernikahan mereka dulu. Kertas itu sudah lusuh dan hampir robek di lipatannya, tapi Yulianto tidak pernah membuangnya.
Tidak ada dasi, tidak ada aksesori berlebihan. Hanya penampilan sederhana yang mencerminkan kesederhanaan acara ini. Sepatu pantofel hitamnya sudah ia semir semalam hingga mengkilap. Kaos kakinya putih bersih, baru dibeli kemarin di toko kelontong dekat rumah.
Wajahnya bersih tanpa jenggot, ia baru saja bercukur pagi ini setelah hampir seminggu tidak mencukur karena gugup. Beberapa kali pisau cukurnya melukai kulitnya karena tangannya gemetar. Sekarang ada dua luka kecil di dagu dan pipi kirinya, tertutup oleh sedikit bedak yang dioleskan oleh ibunya.
"Nak, kamu gemeteran." Kata Sartini, ibu Yulianto, sambil merapikan kerah baju anaknya untuk kesekian kalinya. Tangannya sendiri juga sedikit gemetar, kegugupan seorang ibu yang melihat anaknya menikah untuk kedua kalinya.
"Iya, Bu. Aku gugup." Jawab Yulianto jujur. Ia bisa merasakan jantungnya berdebar seperti akan melompat keluar dari dadanya.
"Gugup itu wajar, Nak. Siapa yang tidak gugup di hari pernikahannya? bapakmu dulu juga gugup waktu nikah sama ibu. Sampai-sampai bapakmu salah ucap ijab kabul. Kata penghulu marah-marah." Kata Sartini sambil tersenyum mengingat masa lalunya.
"Serius, Bu? Bapak salah ucap?" Tanya Yulianto.
"Iya. Bapak bilang 'saya terima nikahnya Sartini binti Sarto'—padahal namanya 'Sarno', bukan 'Sarto'. Sarto itu nama tetangga depan rumah. Bapak salah karena gugup." Jawab Sartini sambil tertawa kecil.
Yulianto tersenyum. Cerita ibunya sedikit mengurangi kegugupannya.
"Tapi ingat, Nak. Ini bukan pernikahan yang dipaksakan. Ini pilihanmu. Kamu sendiri yang memutuskan. Bukan karena disuruh orang tua, bukan karena kasihan pada Dewi, bukan karena tekanan siapa pun. Kamu dewasa. Kamu tahu apa yang terbaik untuk dirimu dan untuk Dewi. Dan ibu yakin ini pilihan yang tepat." Kata Sartini.
"Aku harap begitu, Bu." Jawab Yulianto.
"Ayah juga yakin." Kata Sartono, ayah Yulianto, dari samping.
Yulianto menoleh ke arah ayahnya. Sartono tidak banyak bicara hari ini, seperti biasanya. Pria itu lebih banyak diam daripada bicara sepanjang hidupnya. Tapi matanya yang teduh dan senyum kecil di bibirnya sudah cukup untuk mengatakan bahwa ia merestui dan mendukung keputusan anaknya.
Yulianto tersenyum tipis. Ia menoleh ke arah meja kecil di sudut ruang tamu. Di atas meja itu, ada sebuah pigura foto berukuran sepuluh kali lima belas sentimeter dengan bingkai kayu berwarna cokelat tua. Foto Nurmala tersenyum lebar di dalam pigura itu, senyum yang sama yang dulu membuat Yulianto jatuh cinta pertama kali di bangku taman kota, senyum yang sama yang menemaninya setiap hari selama bertahun-tahun, senyum yang sama yang sekarang hanya bisa ia lihat dalam bingkai.
Di samping foto itu, ada sebuah lilin kecil berwarna putih yang menyala dengan apik tenang. Lilin itu dinyalakan oleh Yulianto sejak subuh dan akan dibiarkan menyala hingga malam, sebagai simbol bahwa meskipun Nurmala telah tiada, cahayanya tetap menyinari mereka.
"Mala, doakan aku. Doakan kami. Doakan pernikahan ini. Doakan Dewi. Doakan anak yang akan lahir nanti. Doakan semuanya." Bisik Yulianto dalam hati.
Di kamar yang sama, kamar yang dulu menjadi kamar Nurmala, kamar yang kemudian menjadi kamar Yulianto selama ia tinggal di rumah mertuanya, kamar yang sekarang akan menjadi kamar pengantin baru, Kumala sedang didandani oleh ibunya dan beberapa kerabat perempuan.
Kamar itu sudah berubah. Dinding lavender lembut yang dulu menjadi ciri khas kamar Nurmala kini sudah diganti dengan warna krem muda, permintaan Kumala yang ingin membuat kamar ini miliknya, bukan sekadar peninggalan kakaknya. Poster pemandangan alam pegunungan yang dulu tergantung di atas tempat tidur sudah diganti dengan kaligrafi Asmaul Husna yang dibingkai dengan pigura kayu hitam. Buku-buku kuliah Nurmala yang dulu tersusun rapi di meja belajar kini sudah dipindahkan ke rak buku di ruang tengah. Sebagai gantinya, meja belajar itu kini dipenuhi dengan buku-buku cerita anak, buku dongeng, dan beberapa buku resep masakan yang sering Kumala baca untuk mencari ide menu baru.
Tapi di sudut kamar, tepat di atas lemari pakaian kayu jati, masih terpajang satu foto Nurmala, foto yang sama yang dulu terpajang di meja belajar. Foto itu tidak pernah dipindahkan. Kumala tidak tega. Ia hanya membiarkannya di sana, tersenyum dari kejauhan, menjaga adiknya dari tempat yang tidak terlalu mencolok.
Riasan Kumala sangat sederhana, sesuai dengan permintaannya sendiri. Bedak tipis hanya untuk meratakan warna kulitnya yang sedikit pucat karena kurang tidur semalaman karena gugup. Lipstik warna pink lembut, warna favoritnya sejak SMA, dioleskan dengan hati-hati oleh bibinya, Bu Yuli. Sedikit polesan di mata, maskara tipis dan eyeshadow warna krem keemasan, membuat matanya yang sudah besar terlihat lebih dalam dan berbinar.
Rambut panjangnya yang sebahu dibiarkan tergerai, tidak disanggul seperti kebanyakan pengantin, tidak diikat ke belakang, tidak diberi hair spray yang membuat rambut kaku. Hanya sedikit hiasan bunga melati segar yang diselipkan di telinga kiri dan kanan, memberikan aroma harum yang lembut setiap kali ia menggerakkan kepala.
"Cantik, Kumala. Kamu cantik banget." Kata Bu Rahma sambil menitikkan air mata. Air matanya jatuh di pipinya yang mulai keriput, membasahi bedak tipis yang ia kenakan.
"Makasih, Bu." Jawab Kumala pelan. Matanya mulai berkaca-kaca melihat ibunya menangis.
"Ibu tahu ini berat buat kamu. Menikah dengan ipar sendiri. Menikah dengan mantan kekasih yang dulu pernah meninggalkanmu. Menikah dengan pria yang masih mencintai kakakmu. Ibu tahu semua itu. Tapi ibu yakin kamu kuat. Kamu selalu kuat sejak kecil. Waktu kamu kecil dan jatuh dari sepeda, kamu tidak menangis. Waktu kamu digigit anjing tetangga, kamu tidak menangis. Waktu kamu ditinggal kakakmu menikah, kamu tidak menangis di depan kami. Kamu perempuan yang kuat, Kuma. Ibu bangga." Kata Bu Rahma sambil mengusap air matanya dengan ujung kain batik.
Kumala menggenggam tangan ibunya.
"Kumala nggak sekuat itu, Bu. Kumala cuma... belajar menerima. Belajar bahwa tidak semua hal dalam hidup ini bisa kita kontrol. Belajar bahwa kadang kita harus menerima kenyataan meskipun pahit. Belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dalam bentuk yang kita bayangkan." Jawab Kumala.
"Tuhan punya rencana indah buat kamu, Nak. Ibu yakin. Percaya sama Tuhan. Percaya sama takdir." Kata Bu Rahma.
Kumala mengangguk.
Ia menatap bayangannya di cermin besar yang berdiri di sudut kamar, cermin yang sama yang dulu digunakan Nurmala untuk berias setiap pagi sebelum pergi kuliah, cermin yang sama yang menangkap senyum dan tangis kakaknya selama bertahun-tahun.
Ia ingat saat-saat dulu, sekitar lima tahun yang lalu, saat ia mempersiapkan diri untuk kencan pertama dengan Yulianto. Saat itu ia sangat gugup. Tangannya gemetar saat memilih baju. Jantungnya berdebar saat memilih lipstik. Ia berharap-harap cemas, bermimpi bahwa Yulianto akan menjadi suaminya suatu hari nanti.
Saat itu ia masih polos. Masih penuh harap. Masih percaya bahwa cinta selalu berjalan mulus seperti di novel-novel roman yang ia baca. Ia tidak tahu bahwa cinta bisa sesakit ini. Ia tidak tahu bahwa kebahagiaan bisa sefana ini.
Sekarang ia juga gugup. Jantungnya juga berdebar. Tapi bahagianya berbeda. Ini bukan bahagia karena jatuh cinta seperti dulu, bukan karena ia akan pergi ke mal bersama Yulianto, bukan karena ia akan bergandengan tangan di depan teman-temannya. Ini adalah bahagia yang lebih dewasa, lebih tenang, lebih dalam.
Ini adalah bahagia karena ia akan menjadi ibu untuk Dewi, seorang anak yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri selama ini. Ini adalah bahagia karena ia akan memiliki keluarga yang utuh—ayah, ibu, suami, anak-anak, semuanya di bawah satu atap. Ini adalah bahagia karena ia akan mengakhiri semua kebencian yang selama ini membebani hatinya, kebencian yang tidak membawa manfaat apa pun selain sakit kepala setiap malam.
"Dewi di mana?" Tanya Kumala.
"Dewi sama bibinya, Bu Yuli, di ruang tamu. Dia pakai gaun putih lucu. Rambutnya dikuncir dua. Dikasih pita merah. Gemes banget, Mba. Bikin semua orang yang lihat meleleh." Jawab salah satu kerabat, sepupu Kumala yang bernama Lilis, seorang perempuan muda dengan suara cempreng yang khas.
Kumala tersenyum membayangkan Dewi.
"Panggil dia ke sini. Aku mau lihat." Kata Kumala.
Lilis berlari kecil ke ruang tamu. Tak lama kemudian, suara langkah kaki kecil terdengar mendekat. Pintu kamar terbuka dengan didorong oleh tangan mungil.
Dewi berlari masuk ke kamar, gaun putihnya sedikit tersangkut di ujung pintu, tapi ia berhasil melepaskannya dengan tarikan kecil. Rambutnya dikuncir dua dengan pita merah di setiap kunciran, persis seperti yang dikatakan Lilis. Wajahnya berseri-seri. Matanya berbinar-binar. Ia melompat-lompat kecil di depan Kumala.
"Ibu Kumala! Ibu Kumala cantik! Cantik banget! Kayak putri!" Seru Dewi sambil bertepuk tangan kecil.
Kumala tertawa kecil. Ia membungkuk dan menggendong Dewi. Berat anak itu sudah tidak seringan dulu, ia sudah berusia hampir tiga tahun, bertambah berat setiap bulannya. Tapi Kumala tetap kuat menggendongnya.
"Ibu Kumala cantik, ya? Dewi juga cantik. Dewi cantik banget pakai gaun putih. Dewi kayak bidadari." Kata Kumala.
"Dewi mau jadi pengantin juga! Dewi mau pakai gaun putih kayak Ibu Kumala! Dewi mau pakai bunga di rambut!" Kata Dewi.
"Nanti kalau Dewi sudah besar, ya. Sekarang Dewi jadi pengantin cilik dulu. Pengantinnya Ibu Kumala dan Ayah Yuli. Dewi jadi putri cilik yang paling cantik." Jawab Kumala.
"Janji, ya, Ibu Kumala? Nanti kalau Dewi besar, Dewi jadi pengantin juga?" Tanya Dewi.
"Janji. Ibu Kumala janji. Dewi boleh jadi pengantin. Tapi Dewi harus sekolah yang pintar dulu. Harus jadi anak sholehah. Harus sayang sama Ayah dan Ibu. Janji?" Kata Kumala.
"Janji!" Seru Dewi sambil mengacungkan jari kelingkingnya.
Kumala mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Dewi.
Mereka berdua berfoto sebentar dengan ponsel, selfie berdua dengan latar belakang cermin kamar. Dewi memasang wajah lucu dengan lidah dijulurkan. Kumala tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Bu Rahma mengambil beberapa foto tambahan untuk kenang-kenangan, foto Kumala berdiri di samping jendela dengan cahaya pagi menerangi wajahnya, foto Kumala duduk di tepi tempat tidur sambil merapikan kerudungnya, foto Dewi memeluk Kumala dari belakang.
Akad nikah dimulai pukul sembilan pagi tepat, saat matahari sudah cukup tinggi untuk menghangatkan bumi, tapi belum terlalu terik untuk membuat semua orang berkeringat.
Penghulu yang sama yang menikahkan Yulianto dengan Nurmala dua setengah tahun lalu kembali datang. Beliau adalah Kiai Mahmud, seorang pria paruh baya berusia sekitar enam puluh tahun, dengan janggut putih yang menjuntai hingga dadanya, kopiah hitam yang selalu ia kenakan baik di dalam maupun di luar rumah, dan jubah putih yang selalu bersih tanpa kusut sedikit pun. Beliau adalah penghulu langganan di desa itu, sudah ratusan pernikahan yang ia pimpin, termasuk pernikahan orang tua Kumala dan pernikahan kakak-kakak sepupu Kumala.
Kiai Mahmud duduk di kursi yang disediakan di depan pelaminan. Di depannya, ada sebuah meja kecil yang dilapisi kain beludru merah, di atasnya terdapat buku nikah, pulpen, dan segelas air putih.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh." Sapa Kiai Mahmud dengan suara lantang yang menggema di seluruh tenda.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab semua yang hadir secara bersamaan. Suara mereka menggema, menciptakan harmoni yang indah di pagi yang cerah.
"Kita berkumpul di sini dalam rangka melangsungkan akad nikah antara saudara Yulianto bin Sartono dengan saudari Kumala binti Heru Susanto. Apakah saudara Yulianto siap?" Tanya Kiai Mahmud.
Yulianto berdiri dari kursinya. Ia berjalan mendekati penghulu. Wajahnya tegas, tidak lagi gemetar seperti tadi pagi saat ibunya merapikan kerah bajunya. Dadanya ia kembungkan. Tangannya ia letakkan di samping tubuh.
"Siap, Pak." Jawab Yulianto tegas, tegas seperti seorang pria yang tahu apa yang ia lakukan, tegas seperti seorang ayah yang akan mempertanggungjawabkan setiap kata-katanya.
"Baik. Sekarang saya akan membacakan ijab kabul. Saudara Yulianto, tolong ikuti. Jangan terburu-buru. Ucapkan dengan jelas. Jangan sampai salah ucapan karena gugup. Saya pernah punya pengalaman mempelai pria salah ucap 'saya terima nikahnya Sartini binti Sarto' padahal namanya bukan Sarto tapi Sarno. Jangan sampai seperti itu." Kata Kiai Mahmud.
Beberapa tamu tertawa kecil. Yulianto tersenyum, cerita yang sama dengan yang diceritakan ibunya tadi pagi.
"Siap, Pak. Saya akan berusaha." Jawab Yulianto.
Kiai Mahmud mulai membaca ijab kabul dengan suara lantang. Suaranya naik turun dengan irama yang khas, irama yang sudah ia lakukan ribuan kali dalam kariernya sebagai penghulu.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan saudari Kumala binti Heru Susanto dengan maskawin berupa seperangkat alat salat dan uang tunai sebesar lima ratus ribu rupiah dibayar tunai." Kiai Mahmud berhenti sejenak, menatap Yulianto.
"Saya terima nikahnya saudari Kumala binti Heru Susanto dengan maskawin tersebut dibayar tunai." Kata Yulianto.\
"SAH.” Kata kedua saksi
“SAH.” Kata penghulu setelah kedua saksi mengesahkannya.
“Alhamdulillah, amin.” Semua yang hadir Serentak berucap.
Yulianto mengucapkan ijab kabul dengan suara yang nyaris pecah karena emosi, bukan sedih, tapi haru yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.
Tepuk tangan menggema. Ibu-ibu mulai menangis. Bapak-bapak mengusap-usap mata mereka. Suara takbir bergemuruh dari beberapa kerabat yang paling bersemangat.
Bu Rahma menangis di pundak suaminya. Pak Heru mengusap air matanya dengan ujung sarung yang ia kenakan.
"Alhamdulillah, Yah. Anak kita akhirnya menikah." Isak Bu Rahma.
"Alhamdulillah, Bu. Alhamdulillah." Jawab Pak Heru.
Sartini, ibu Yulianto, memeluk suaminya erat-erat.
"Ayah, anak kita sudah menikah lagi. Semoga rumah tangganya sakinah." Kata Sartini.
"Aamiin, Bu. Aamiin." Jawab Sartono.
Dewi yang berada di pangkuan bibinya, Bu Yuli, bertepuk tangan kecil. Ia tidak sepenuhnya mengerti apa yang sedang terjadi. Yang ia tahu, semua orang tersenyum. Semua orang bertepuk tangan. Semua orang bahagia. Dan ia juga ikut bahagia.
"Ibu Kumala! Ayah Yuli!" Teriak Dewi dari pangkuan bibinya.
Kumala mengangkat wajahnya. Matanya bertemu dengan mata Yulianto. Yulianto menatap istrinya, istrinya yang baru. Kumala menatap suaminya, suaminya yang baru.
Tidak ada cinta yang membara di antara mereka, setidaknya belum. Tidak ada ledakan emosi seperti yang digambarkan di film-film romantis. Tidak ada pelukan dramatis di bawah hujan buatan. Yang ada hanya tatapan yang tenang, saling mengamati, saling mengukur, saling berjanji dalam diam.
Tapi di dalam tatapan itu, ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar cinta. Ada rasa hormat, karena mereka telah saling menyakiti dan saling memaafkan. Ada rasa saying, karena mereka telah berbagi duka dan kini akan berbagi suka. Ada rasa syukur, karena mereka akhirnya sampai di titik ini setelah perjalanan panjang yang penuh dengan air mata dan darah.
"Kak Mala, ini untukmu. Kakak lihat? Aku dan Kak Yuli sekarang bersama. Kami akan menjaga Dewi. Kami akan menjaga orang tua. Kami akan menjaga keluarga ini. Jangan khawatir, Kak. Kami akan baik-baik saja." Bisik Kumala dalam hati. Ia menatap foto Nurmala yang terletak di atas meja kecil di samping pelaminan, persis seperti yang ia minta. Foto Nurmala tersenyum di dalam bingkai putih. Di samping foto itu, lilin kecil masih menyala.
Setelah akad nikah selesai, acara dilanjutkan dengan doa bersama. Semua tamu diminta berdiri. Kiai Mahmud memimpin doa dengan suara yang merdu dan mengharu biru doa untuk kebahagiaan pengantin, doa untuk keselamatan keluarga, doa untuk Dewi agar tumbuh menjadi anak yang sholehah, doa untuk arwah Nurmala agar ditempatkan di sisi-Nya.
"Aamiin." Jawab semua tamu bersamaan.
Setelah doa, acara dilanjutkan dengan makan siang. Prasmanan sederhana didirikan di teras rumah—nasi putih, ayam goreng, sayur lodeh, sambal goreng ati, tempe orek, kerupuk, dan buah pisang sebagai pencuci mulut. Tidak ada hidangan mewah. Tidak ada katering dari luar. Semuanya dimasak oleh keluarga dan tetangga terdekat bergotong-royong sejak subuh.
Tidak ada hiburan. Tidak ada organ tunggal. Tidak ada penyanyi dangdut. Tidak ada panggung megah. Hanya suara obrolan hangat, tawa kecil, dan sesekali suara anak-anak yang berlarian di halaman.
Dewi berlarian di antara tamu-tamu. Gaun putihnya yang lucu sedikit basah di bagian bawah karena terkena embun pagi di rumput. Rambutnya yang dikuncir dua sudah mulai kusut, pita merahnya hampir lepas di sebelah kiri. Tapi ia tidak peduli. Ia berlarian dari satu pangkuan ke pangkuan lain, dari satu pelukan ke pelukan lain, dari satu ciuman ke ciuman lain.
"Selamat ya, Neng Dewi. Sekarang punya Ibu baru." Kata seorang kerabat.
"Dewi punya Ibu Kumala! Ibu Kumala cantik!" Jawab Dewi.
"Ibu Kumala sayang Dewi?" Tanya kerabat lain.
"Sayang banget! Ibu Kumala selalu gendong Dewi. Ibu Kumala selalu bacain dongeng. Ibu Kumala selalu kiss goodnight." Jawab Dewi.
Anak itu sangat bahagia. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang singkat, ia memiliki seorang ibu. Bukan ibu tiri yang jahat seperti di cerita-cerita dongeng yang pernah ia dengar, tapi ibu yang baik, ibu yang sudah ia kenal sejak lahir, ibu yang selama ini menjadi Tante Kumala-nya.
Meskipun ibu itu bukan ibu kandungnya, meskipun ibu itu adalah bibinya sendiri, tapi bagi Dewi, itu tidak penting. Yang penting ia memiliki seseorang yang dipanggil "Ibu". Yang penting ia memiliki seseorang yang akan menggendongnya saat ia menangis, membacakan dongeng untuknya sebelum tidur, dan mengecup keningnya setiap pagi.
"Ibu Kumala, Dewi mau susu." Kata Dewi menghampiri Kumala yang sedang duduk bersama para tamu.
Kumala sedang berbicara dengan bibinya, Bu Yuli, tentai rencana setelah pernikahan. Tapi begitu mendengar suara Dewi, ia langsung menoleh.
"Nanti ya, Sayang. Ibu lagi ngomong sama tamu. Ibu Kumala bentar lagi selesai. Dewi tunggu di meja makan, ya. Ambil pisang dulu. Pisangnya manis." Jawab Kumala.
Dewi mengangguk. Ia berlari ke meja makan dan mengambil sebuah pisang. Ia mengupasnya sendiri, meskipun kulit pisang itu masih tersisa sedikit di ujung dan memakannya dengan lahap.
Yulianto melihat dari kejauhan. Ia melihat putrinya yang bahagia. Ia melihat istrinya yang tersenyum. Ia melihat keluarganya yang utuh.
"Mala, lihat anak kita. Dia bahagia. Dia punya ibu sekarang. Bukan sembarang ibu. Tapi adikmu sendiri. Kumala. Orang yang dulu kau jodohkan denganku. Mungkin itu sebabnya kau melakukan itu, ya? Mungkin kau sudah tahu bahwa pada akhirnya kami akan bersama. Mungkin kau sudah melihat masa depan ini."
Ia tersenyum.
Setelah semua tamu pulang, sekitar pukul empat sore, saat matahari mulai condong ke barat dan langit mulai berwarna jingga keemasan, Yulianto dan Kumala masuk ke kamar. Kamar yang sama yang dulu Yulianto tempati, yang dulu adalah kamar Nurmala.
Namun sekarang, kamar itu sudah sedikit berubah. Foto-foto Nurmala masih ada, tidak semua, hanya beberapa, terpajang di sudut-sudut kamar sebagai kenangan. Di atas meja rias Kumala, ada foto kecil Nurmala dalam pigura perak. Di atas meja belajar, ada foto Dewi dan foto keluarga. Dan di dinding dekat pintu, ada foto Yulianto bersama Kumala saat mereka masih pacaran dulu, foto yang sengaja disimpan oleh Kumala meskipun dulu sempat ingin ia buang berkali-kali.
Foto itu diambil saat kencan pertama mereka di mal. Yulianto mengenakan kemeja biru muda, baju yang sekarang sudah tidak muat lagi karena tubuhnya berubah setelah dua tahun penuh stres dan kurang makan. Kumala mengenakan gamis merah muda, baju yang sudah tidak ia kenakan lagi karena warnanya terlalu cerah untuk seorang janda, maksudnya untuk seorang istri. Mereka berdua tersenyum di depan kamera. Yulianto saat itu tersenyum palsu, ia masih jatuh cinta pada Nurmala, ia hanya berpura-pura bahagia demi memenuhi permintaan Nurmala. Tapi Kumala saat itu tersenyum sungguhan, ia benar-benar bahagia, benar-benar jatuh cinta, benar-benar berharap bahwa Yulianto akan menjadi miliknya selamanya.
"Ini fotoku sama kamu, Kumala. Dulu." Kata Yulianto sambil menunjuk foto yang terbungkus pigura kayu itu. Ia mengambil pigura itu dari paku di dinding dan mengamat-amatinya dengan saksama.
"Iya. Gue simpan meskipun dulu sempat mau di buang. Sudah berkali-kali gue buka lemari, gue ambil foto itu, gue pegang, gue mau buang ke tong sampah. Tapi gue nggak tega. Entah kenapa. Tangan gue selalu berhenti di tengah jalan. Seperti ada yang menahan. Seperti ada suara bisik-bisik, 'Jangan dibuang, Kuma. Simpan. Suatu hari nanti kamu akan senang karena menyimpannya.' Dan sekarang gue senang karena gue menyimpannya." Jawab Kumala.
"Kenapa dulu nggak tega buang?" Tanya Yulianto.
"Karena itu adalah masa-masa bahagia buat gue, Kak. Masa-masa di mana gue masih polos. Masa-masa di mana gue masih bisa jatuh cinta tanpa beban. Masa-masa di mana gue belum tahu bahwa cinta bisa sesakit ini. Meskipun ternyata, gue baru sadar sekarang, di masa-masa bahagia itu, gue cuma pelarian buat kakak. Tapi buat gue, itu nyata. Perasaan gue dulu nyata. Kebahagiaan gue dulu nyata. Dan gue nggak mau membuang kenangan itu hanya karena akhir ceritanya tidak seperti yang gue bayangkan." Jawab Kumala.
Yulianto menunduk.
"Maafin aku, Kumala. Aku belum bisa kasih jawaban yang memuaskan. Aku belum bisa bilang bahwa aku mencintaimu dengan tulus, tanpa sisa cinta untuk Mala. Mungkin aku tidak akan pernah bisa. Mungkin aku akan selalu mencintai Mala dalam diam. Tapi aku janji, aku akan berusaha menjadi suami yang baik buat kamu. Aku akan berusaha membahagiakan kamu. Aku akan berusaha membuat kamu tidak menyesal menikah denganku." Kata Yulianto.
Kumala menghela napas.
"Kak, gue nggak minta kakak melupakan kakak Mala. Gue nggak minta kakak membuang semua kenangan tentang dia. Gue nggak minta kakak berpura-pura bahwa dia tidak pernah ada dalam hidup kakak. Gue hanya minta satu hal: kakak membuka hati buat gue. Sedikit saja. Tidak perlu langsung besar. Tidak perlu langsung penuh. Cukup sedikit. Seperti celah di pintu yang terbuka sedikit, cukup untuk sinar masuk. Itu sudah cukup. Seiring waktu, celah itu akan semakin besar. Seiring waktu, pintu itu akan terbuka lebar. Dan suatu hari, kakak akan sadar bahwa gue sudah ada di sana sejak lama." Jawab Kumala.
Yulianto mengangguk.
"Aku akan coba, Kumala. Aku akan coba buka pintu itu. Pelan-pelan. Seperti yang kau minta." Kata Yulianto.
Malam pertama pernikahan mereka tidak semalam pertama biasanya. Tidak ada adegan dramatis seperti di film-film. Tidak ada kembang api di langit. Tidak ada orkestra yang memainkan musik romantis.
Yulianto memilih tidur di kursi malas di samping tempat tidur, kursi rotan yang dulu sering ia gunakan untuk membaca di kamar ini saat masih tinggal bersama Nurmala. Kini kursi itu menjadi tempatnya beristirahat di malam pertama pernikahannya dengan adik Nurmala.
Sementara Kumala tidur di tempat tidur bersama Dewi. Dewi, yang sejak tadi ngotot ingin ikut tidur dengan Ibu Kumalanya, merangkul Kumala dengan erat, kakinya melilit perut Kumala, rambutnya yang kusut menempel di pipi Kumala.
"Kak, kenapa kakak nggak tidur di tempat tidur? Kasihan, di kursi nanti sakit punggung." Kata Kumala dari tempat tidur.
"Nanti. Aku masih belum terbiasa. Beri aku waktu." Jawab Yulianto.
"Terserah kakak. Tapi jangan tidur di kursi terus-terusan, nanti masuk angin. Ada selimut di lemari. Ambil sana." Kata Kumala.
"Iya, Kuma. Nanti aku ambil." Jawab Yulianto.
Dewi yang berada di samping Kumala bergerak-gerak gelisah. Matanya terbuka setengah.
"Ibu Kumala, Ayah Yuli kenapa tidur di kursi? Ayah nggak mau tidur sama Dewi?" Tanya Dewi.
"Ayah Yuli lagi kepanasan, Sayang. Udara panas. Ayah Yuli pengin tidur di tempat yang dingin. Jadi dia pilih kursi. Biar Ayah di kursi dulu. Nanti kalau sudah dingin, Ayah pindah ke tempat tidur." Jawab Kumala.
"Oh. Ibu Kumala, Dewi mau dipeluk. Dingin." Kata Dewi.
Kumala memeluk Dewi erat-erat. Ia meremas tubuh Dewi yang kecil dan hangat. Dewi tersenyum. Matanya terpejam perlahan.
"Ibu Kumala, Dewi sayang Ibu Kumala." Bisik Dewi.
"Ibu Kumala juga sayang Dewi. Lebih dari apa pun." Jawab Kumala.
Yulianto menatap dua perempuan itu dari kursi malasnya. Hatinya bergetar. Bukan karena cinta romantis yang membara seperti dulu saat ia menatap Nurmala. Tapi karena rasa syukur yang begitu dalam. Dalam kehancuran yang ia alami, dalam duka yang ia rasakan setiap hari, dalam kesendirian yang menyelimutinya selama dua tahun, dalam perjuangan mengasuh Dewi sendirian, Tuhan masih memberinya kesempatan untuk memiliki keluarga.
Keluarga yang tidak sempurna. Keluarga yang lahir dari luka dan air mata. Keluarga yang dibangun di atas fondasi pengampunan dan penerimaan. Tapi nyata. Ada. Tidak hanya dalam mimpi.
"Terima kasih, Ya Allah. Terima kasih untuk segalanya. Untuk Mala yang telah mengajariku cinta. Untuk Kumala yang telah mengajariku pengampunan. Untuk Dewi yang telah mengajariku tanggung jawab. Untuk semua orang yang telah mendukungku di saat-saat tergelap."
Tiga bulan setelah pernikahan, hidup Yulianto dan Kumala berjalan seperti keluarga biasa. Tidak ada keajaiban besar. Tidak ada perubahan drastis. Hanya rutinitas yang berjalan dengan tenang, dan dalam ketenangan itu, kebahagiaan kecil mulai tumbuh.
Setiap pagi, Yulianto berangkat kerja sekitar pukul setengah tujuh. Sebelum berangkat, ia selalu mengecup kening Dewi, yang masih tertidur di samping Kumala dan mengecup kening Kumala, yang masih setengah tidur, menggerutu karena terganggu.
"Berangkat, Kumala." Kata Yulianto.
"Iya, Kak. Hati-hati." Jawab Kumala tanpa membuka mata.
Setiap pagi, setelah Yulianto berangkat, Kumala mengantar Dewi ke playgroup. Playgroup bernama "Taman Ceria" terletak di ujung desa, sekitar lima belas menit berjalan kaki. Dewi selalu bergandengan tangan dengan Kumala sepanjang perjalanan, sesekali melompat-lompat di atas trotoar yang tidak rata, sesekali membungkuk untuk memetik bunga liar di pinggir jalan.
"Ibu Kumala, Dewi mau bawa bunga buat Ayah." Kata Dewi.
"Nanti, Sayang. Ayah kan sudah berangkat kerja. Nanti malam kalau Ayah pulang, Dewi kasih bunganya ya." Jawab Kumala.
"Iya, Bu." Jawab Dewi.
Setelah mengantar Dewi, Kumala pergi ke tempatnya mengajar, TK Pelita Harapan, tempat yang sama di mana ia bekerja sebelum menikah. Sekolah itu hanya berjarak seratus meter dari playgroup Dewi, jadi ia bisa menjemput Dewi tepat waktu setiap sore.
"Sore sekitar pukul tiga, Kumala menjemput Dewi. Mereka berdua berjalan pulang bersama, sesekali mampir ke warung Bu Darmi untuk membeli gorengan, tahu isi untuk Kumala, pisang goreng untuk Dewi. Kemudian mereka sampai di rumah. Yulianto biasanya sudah pulang lebih dulu, ia pulang kerja pukul empat, tapi seringkali lebih awal karena kantornya hanya lima belas menit dari rumah.
"Ayah! Ayah pulang!" Teriak Dewi setiap kali melihat motor Yulianto masuk ke halaman.
"Iya, Sayang. Ayah pulang. Dewi tadi ngapain aja?" Tanya Yulianto sambil mematikan mesin motor.
"Dewi main sama Tiko. Tiko punya mobil-mobilan baru. Warna merah. Keren!" Jawab Dewi.
"Wah, bagus dong. Besok Ayah belikan mobil-mobilan buat Dewi, ya." Kata Yulianto.
"Janji, Yah?" Tanya Dewi.
"Janji." Jawab Yulianto.
Malam hari mereka makan malam bersama, Yulianto, Kumala, Dewi, dan kadang Pak Heru dan Bu Rahma jika mereka belum tidur. Setelah makan malam, Kumala membacakan dongeng untuk Dewi, sementara Yulianto mencuci piring di dapur. Setelah Dewi tidur, Yulianto dan Kumala biasanya duduk di teras sebentar, berbincang tentang hari mereka, tentang rencana esok, tentang hal-hal kecil yang tidak penting tapi hangat untuk dibicarakan.
Yulianto mulai terbiasa tidur di tempat tidur. Tidak ada yang aneh, tidak ada yang canggung. Mereka tidur berdampingan seperti dua saudara yang saling menjaga atau lebih tepatnya seperti dua orang yang telah melalui banyak badai bersama dan sekarang menikmati ketenangan setelah badai berlalu.
Kadang mereka mengobrol sebelum tidur.
"Kak, hari ini gue ngajar anak-anak menggambar. Ada yang gambar ayam, tapi bentuknya kayak sapi." Kata Kumala sambil tertawa.
"Anak-anak memang imajinasinya tinggi. Dulu Dewi pernah gambar matahari, tapi bentuknya kayak telur ceplok." Jawab Yulianto.
"Lucu ya, Kak. Anak-anak itu polos. Mereka nggak tahu dunia ini sekeras apa. Mereka nggak tahu bahwa orang dewasa bisa saling menyakiti. Mereka nggak tahu bahwa cinta bisa sesakit itu." Kata Kumala.
"Biarkan mereka tidak tahu. Biarkan mereka bahagia dengan dunianya sendiri. Cepat atau lambat, mereka akan tahu juga. Tidak perlu kita percepat." Jawab Yulianto.
Kadang mereka hanya diam mendengar detak jam dinding.
"Kak, Kumala mau cerita." Kata Kumala suatu malam, suara yang berbeda dari biasanya. Ada getaran di suaranya. Ada sesuatu yang ia sembunyikan.
"Iya, cerita apa, Kumala?" Tanya Yulianto sambil memandang langit-langit, kebiasaannya saat berbicara serius.
"Gue... gue mungkin hamil." Kata Kumala.
Yulianto langsung duduk. Matanya membulat. Wajahnya yang tadinya santai berubah menjadi serius. Ia menatap Kumala, mencari-cari apakah ini lelucon atau sungguhan.
"Apa?" Tanya Yulianto, suaranya meninggi sedikit.
"Gue telat dua minggu. Itu belum pernah terjadi sebelumnya. Siklus gue selalu teratur. Dua puluh delapan hari. Tepat. Seperti jam. Sejak gue pertama kali haid, gue selalu catat. Nggak pernah telat. Tapi sekarang dua minggu, Kak. Dua minggu. Dan pagi ini gue pusing banget. Mual-mual. Bahkan sebelum gue bangun dari tempat tidur, perut gue sudah berputar-putar kayak naik komidi putar." Jawab Kumala.
"Kamu sudah cek?" Tanya Yulianto.
"Belum. Besok pagi gue mau beli test pack. Tapi gue takut, Kak. Takut kalau hasilnya negatif. Takut kalau ini cuma karena stres atau karena pola makan yang berubah. Takut kalau gue ternyata nggak bisa hamil." Jawab Kumala.
"Mending besok kita ke dokter langsung. Test pack kadang nggak akurat. Lebih baik USG. Biar jelas." Kata Yulianto.
"Iya. Tapi gue takut, Kak." Jawab Kumala.
"Takut apa, Kumala?" Tanya Yulianto.
"Takut kalau dokter bilang gue nggak hamil. Takut kalau ternyata ada masalah. Takut kalau gue nggak bisa kasih anak buat kakak. Kakak sudah punya Dewi dari kakak Mala. Tapi kakak belum punya anak dari gue. Gue ingin kakak punya anak dari gue. Gue ingin kakak merasakan menjadi ayah untuk anak yang lahir dari rahim gue. Gue ingin..." Kumala tidak melanjutkan. Matanya berkaca-kaca.
Yulianto meraih tangan Kumala. Tangan itu dingin dan sedikit gemetar.
"Kumala, apa pun hasilnya besok, aku akan tetap di sini. Aku tidak akan ke mana-mana. Kalau kamu hamil, kita akan bahagia. Kalau kamu tidak hamil, kita masih punya waktu. Masih banyak waktu. Kita bisa coba lagi. Tidak perlu terburu-buru. Tidak perlu takut." Kata Yulianto.
"Kak, janji?" Tanya Kumala.
"Janji." Jawab Yulianto.
Kumala tersenyum. Matanya berkaca-kaca, tapi kali ini bukan karena takut. Karena haru.
Keesokan harinya, Sabtu pagi, karena Yulianto tidak bekerja dan Kumala tidak mengajar, mereka pergi ke dokter kandungan. Dokter yang sama yang dulu menangani kehamilan Nurmala, dr. Andini. Wajah dr. Andini sedikit berubah ketika melihat Yulianto datang dengan perempuan yang berbeda, bukan dengan mantan istrinya, tapi dengan adik iparnya.
Tapi dr. Andini adalah profesional. Ia tidak bertanya. Ia hanya tersenyum dan mempersilakan Kumala masuk ke ruang USG.
Setelah USG dan pemeriksaan darah, dr. Andini tersenyum.
"Selamat, Ibu hamil. Usianya sekitar lima minggu. Janinnya sehat. Detak jantungnya kuat. Semua indikator normal." Kata dr. Andini.
Kumala menangis. Bukan tangis sedih, tapi tangis haru. Ia sudah hampir putus asa bahwa ia tidak akan pernah memiliki anak, takut bahwa stress berkepanjangan selama bertahun-tahun telah merusak sistem reproduksinya, takut bahwa kebenciannya pada Yulianto telah membuat tubuhnya tidak bisa menerima cinta.
Tapi Tuhan berkata lain.
Tuhan memberi.
"Ibu Kumala jadi ibu?" Tanya Dewi yang ikut serta dan duduk di pangkuan Kumala.
"Iya, Sayang. Ibu Kumala akan jadi ibu lagi. Dewi akan punya adik." Jawab Kumala.
"Adik laki-laki atau perempuan?" Tanya Dewi.
"Belum tahu, Sayang. Masih kecil. Nanti kalau sudah besar, kita lihat." Jawab Kumala.
"Dewi mau adik perempuan!" Kata Dewi.
"Nanti kita lihat saja, ya." Jawab Kumala.
Yulianto menggenggam tangan Kumala, tangan yang sama yang dingin dan gemetar semalam, kini hangat dan tenang.
"Kita akan punya anak, Kumala." Kata Yulianto.
"Iya, Kak. Kita akan punya anak. Akhirnya." Jawab Kumala sambil tersenyum.
Kabar kehamilan Kumala segera tersebar ke keluarga. Bu Rahma menangis bahagia, tangis yang sudah lama tidak ia keluarkan sejak Nurmala meninggal. Pak Heru tersenyum lebar, untuk pertama kalinya sejak Nurmala meninggal, ia benar-benar tersenyum tanpa beban. Senyum yang tulus. Senyum yang mengatakan bahwa ia telah ikhlas.
"Mudah-mudahan anak ini sehat. Mudah-mudahan dia menjadi penyejuk hati kita semua." Kata Pak Heru.
"Aamiin, Yah. Aamiin." Jawab Bu Rahma.
Sartini, ibu Yulianto, langsung datang membawa bubur ayam dan kue-kue untuk Kumala. Ia juga membawa kain batik untuk calon bayi, laki-laki dan perempuan, karena ia tidak tahu jenis kelaminnya.
"Nak, ini untuk calon cucu ibu. Ibu beli dua, yang biru buat laki-laki, yang merah muda buat perempuan. Nanti kalau sudah tahu jenis kelaminnya, yang satu ibu simpan buat adiknya nanti." Kata Sartini.
"Makasih, Bu. Kumala doakan semoga kehamilannya lancar." Jawab Kumala.
"Aamiin. Ibu juga doain. Kamu jaga kesehatan, ya, Nak. Jangan capek-capek. Jangan angkat barang berat. Makan yang banyak. Istirahat yang cukup. Jangan stres." Kata Sartini.
"Iya, Bu. Kumala usahain." Jawab Kumala.
Dewi yang mendengar bahwa ia akan memiliki adik sangat bersemangat. Ia sudah mulai merapikan mainan-mainannya, mobil-mobilan, boneka, balok susun, untuk nanti diberikan pada adiknya. Beberapa mainan yang sudah rusak ia buang, beberapa yang masih bagus ia cuci satu per satu dengan bantuan Yulianto.
"Ayah Yuli, Dewi mau punya adik!" Kata Dewi.
"Iya, Sayang. Dewi mau punya adik. Adiknya masih di perut Ibu Kumala. Masih kecil. Belum bisa main sama Dewi." Jawab Yulianto.
"Kapan bisa main?" Tanya Dewi.
"Nanti, kalau adik sudah lahir. Sekitar enam bulan lagi." Jawab Yulianto.
"Lama banget!" Kata Dewi.
"Dewi sabar, ya. Nanti kalau adik sudah lahir, Dewi bisa bantu Ibu Kumala gendong. Dewi bisa jadi kakak yang baik." Kata Yulianto.
"Janji, Yah. Dewi akan jadi kakak yang baik." Jawab Dewi.
Hari-hari kehamilan Kumala berjalan dengan tenang. Tidak seperti kehamilan Nurmala yang penuh dengan komplikasi, mual berlebihan, berat turun drastis, kanker yang menyebar, kehamilan Kumala relatif sehat. Ia hanya mengalami mual di trimester pertama, dan itu pun tidak separah yang dialami Nurmala. Ia masih bisa makan dengan normal. Berat badannya naik sesuai target dokter, sekitar setengah kilogram per minggu di trimester kedua. Tekanan darahnya normal. Gula darahnya normal. Semua indikatornya sempurna.
Yulianto merawat Kumala dengan penuh perhatian. Ia belajar menjadi suami yang baik, sesuatu yang belum pernah ia lakukan karena dulu ia menikahi Nurmala dalam keadaan sakit, sehingga perannya lebih sebagai perawat daripada suami. Sekarang, ia belajar memasak untuk Kumala, belajar menemani ke dokter, belajar memijat kaki Kumala yang mulai bengkak di trimester akhir.
"Kak, kok kakak bisa tahu cara pijat yang bener?" Tanya Kumala saat Yulianto memijat kakinya.
"Dulu waktu Mala hamil, aku sering pijat dia. Tapi dulu lebih karena kasihan, karena dia sakit. Sekarang... sekarang karena aku sayang." Jawab Yulianto.
Kumala tersenyum.
"Kak, makasih ya." Kata Kumala.
"Makasih buat apa?" Tanya Yulianto.
"Makasih udah menjadi suami yang baik. Makasih udah mau menerima gue dengan segala kekurangan gue. Makasih udah... udah membuka hati buat gue. Gue tahu itu tidak mudah. Gue tahu kakak masih sering memikirkan kakak Mala. Tapi kakak tidak pernah membuat gue merasa sebagai pengganti. Kakak selalu membuat gue merasa sebagai istri, bukan sebagai pelarian atau penghibur." Jawab Kumala.
"Aku yang berterima kasih, Kumala. Kamu mau menerima aku dengan segala kekuranganku. Kamu mau menjadi ibu bagi Dewi, bukan ibu tiri yang jahat seperti di cerita dongeng, tapi ibu yang sesungguhnya. Kamu mau mengandung anakku, anak yang lahir dari cinta yang tidak sempurna, tapi akan kita sempurnakan bersama. Itu lebih dari yang bisa aku balas." Jawab Yulianto.
"Kak, gue sayang sama kakak." Kata Kumala.
Yulianto terdiam sejenak. Tangannya berhenti memijat. Ia menatap Kumala, wajah yang sudah ia kenal sejak belasan tahun lalu, wajah yang dulu membuatnya bingung karena ia tidak bisa membedakan sayang dan cinta, wajah yang kemudian menjadi sasaran kebenciannya karena ia memilih kakaknya, wajah yang sekarang menjadi sumber ketenangannya.
"Aku juga sayang sama kamu, Kumala. Mungkin cintaku belum secinta aku ke Mala. Mungkin tidak akan pernah. Tapi aku belajar. Setiap hari aku belajar mencintaimu dengan caraku sendiri. Mungkin caraku berbeda, tidak seintens dulu, tidak seberapi dulu. Tapi itu nyata. Tidak dibuat-buat. Tidak dipaksakan." Jawab Yulianto.
Itu adalah pertama kalinya Yulianto mengucapkan kata 'sayang' kepada Kumala setelah pernikahan mereka, setidaknya dengan kesadaran penuh, tanpa ada paksaan, tanpa ada rasa bersalah yang menghantui.
Dan bagi Kumala, itu sudah cukup.
Ia tidak perlu Yulianto melupakan Nurmala. Ia tidak perlu menjadi satu-satunya perempuan dalam hati Yulianto. Ia hanya perlu menjadi bagian dari hati itu, sebagai istri, sebagai teman hidup, sebagai ibu dari anak-anak mereka.
Pada bulan ketujuh kehamilan Kumala, perutnya sudah besar, bayinya sering bergerak, kadang menendang di malam hari membuat Kumala tidak bisa tidur, Yulianto membawa keluarganya ziarah ke makam Nurmala.
Mereka datang pagi-pagi, sekitar pukul setengah tujuh, sebelum matahari terlalu tinggi. Langit cerah dengan sedikit awan tipis bergerak lambat. Embun masih menempel di rumput-rumput di sekitar makam. Burung-burung pipit beterbangan di antara pohon-pohon.
Dewi memegang tangan Yulianto dengan tangan kirinya, jari-jemarinya yang mungil menggenggam jari telunjuk ayahnya yang besar. Tangan kanannya memegang sekuntum bunga melati yang ia petik dari kebun belakang rumah sebelum berangkat.
Kumala memegang tangan Dewi dengan tangan kanannya, bergandengan membentuk rantai yang menghubungkan tiga generasi: ayah, anak, dan ibu tiri yang menjadi ibu sejati.
Yulianto melepas gandengan tangannya ketika mereka sampai di pusara Nurmala. Ia duduk di samping pusara itu, tanahnya masih lembap karena embun, tapi ia tidak peduli. Ia membaca doa-doa untuk istrinya yang telah tiada: doa untuk ampunan, doa untuk kelapangan kubur, doa untuk tempat yang mulia di sisi-Nya.
Kumala berdiri di samping Yulianto sambil mengusap perutnya yang besar. Bayi di dalamnya bergerak, mungkin merasakan kehangatan matahari pagi, mungkin merasakan getaran doa yang dibacakan ayahnya.
Setelah selesai membaca doa, Yulianto menoleh ke Kumala.
"Mala, aku datang lagi. Kali ini aku bawa Kumala dan Dewi. Kumala sedang hamil anak kita anak ketiga. Perempuan atau laki-laki belum tahu. Yang jelas, dia sehat. Dokter bilang semuanya normal. Tidak ada komplikasi seperti dulu kamu. Mungkin ini caramu menjaga kami dari surga. Mungkin ini hadiahmu untuk kami." Kata Yulianto.
Ia menoleh ke Kumala.
"Kumala, kamu mau ngomong sesuatu?" Tanya Yulianto.
Kumala mengangguk, matanya sudah mulai berkaca-kaca sejak tadi. Ia berlutut di samping pusara, tanahnya sedikit basah, membasahi ujung gamis panjangnya yang berwarna hijau toska. Ia tidak peduli.
"Kak Mala, ini Kumala. Kumala datang lagi. Kali ini Kumala bawa kabar baik: Kumala hamil. Kumala akan punya anak. Kakak Yuli akan punya anak lagi. Dewi akan punya adik. Semua karena kakak. Kalau dulu kakak tidak merelakan Yuli untuk Kumala, mungkin Kumala tidak akan pernah berada di titik ini. Kalau dulu kakak tidak sakit, mungkin kakak yang akan hamil sekarang. Tapi takdir berkata lain. Dan Kumala... Kumala sudah menerima takdir itu. Kumala sudah ikhlas." Kata Kumala.
Air matanya jatuh.
"Kak Mala, maafin Kumala. Maafin Kumala yang dulu pernah benci sama kakak. Maafin Kumala yang dulu sempat berpikir bahwa kakak merebut Yuli dari Kumala. Kuma sekarang mengerti. Kumala sekarang tahu bahwa semua yang kakak lakukan dulu, menjodohkan Kumala dengan Yuli, menolak Yuli, menyembunyikan penyakit, semua itu karena cinta. Karena kakak sayang sama Kumala. Karena kakak tidak ingin Kumala kesepian setelah kakak pergi. Karena kakak ingin Kumala memiliki seseorang yang menjaga Kumala." Lanjut Kumala.
Ia mengusap air matanya.
"Kumala janji, Kak. Kumala akan menjaga Kak Yuli. Kumala akan menjaga Dewi. Kumala juga akan menjaga anak yang ada di perut Kumala ini. Kumala akan cerita tentang kakak kepada mereka, tentang betapa hebatnya kakak, tentang betapa kuatnya kakak, tentang betapa cintanya kakak kepada kami semua. Mereka akan tahu bahwa mereka memiliki seorang bidadari di surga yang selalu menjaga mereka." Kata Kumala.
Dewi yang sedari tadi hanya diam, mendekati pusara. Ia meletakkan bunga melati yang ia bawa di atas pusara itu. Bunga putih itu jatuh dengan lembut di atas tanah yang lembap.
"Ibu Mala, ini Dewi. Dewi sekarang punya Ibu Kumala. Ibu Kumala baik. Ibu Kumala sayang Dewi. Ibu Kumala selalu gendong Dewi. Ibu Kumala selalu bacain dongeng. Ibu Kumala selalu kiss goodnight. Dewi juga sayang Ibu Kumala. Dewi juga sayang Ibu Mala. Ibu Mala di surga, ya? Dewi mau Ibu Mala bahagia di surga. Dewi mau Ibu Mala tersenyum melihat Dewi. Dewi janji akan jadi anak yang baik. Dewi janji tidak akan nakal. Dewi janji akan sayang sama Ayah dan Ibu Kumala. Doain Dewi ya, Bu." Kata Dewi.
Yulianto tidak bisa menahan tangisnya. Ia memeluk Dewi, memeluk putrinya yang sudah begitu besar, yang sudah begitu dewasa melebihi usianya. Ia mengulurkan tangan kirinya dan memeluk Kumala. Mereka bertiga, ayah, ibu, anak, berpelukan di pusara Nurmala.
Tangis mereka bercampur. Tangis pelepasan. Tangis yang membersihkan semua luka yang tersisa. Tangis yang mengatakan bahwa mereka telah memaafkan diri mereka sendiri, satu sama lain, dan takdir yang kadang terasa kejam.
Matahari semakin tinggi. Sinar keemasan menembus celah-celah daun pohon mangga, jatuh di atas pusara Nurmala, di atas bunga melati putih, di atas wajah-wajah yang basah oleh air mata.
"Kita bahagia, Mala. Kami bahagia. Dan aku yakin kamu juga bahagia di sana."
EPILOG
Tiga tahun kemudian.
Langit sore di desa kecil itu berwarna jingga keemasan, warna yang sama yang dulu Yulianto lihat saat pertama kali menyatakan cinta pada Nurmala di bangku taman kota, warna yang sama yang dulu menyaksikan air matanya saat Nurmala menolaknya, warna yang sama yang kemudian menjadi saksi bisu pernikahannya dengan Kumala.
Awan-awan tipis bergerak perlahan, seperti sedang berlari kecil mengejar waktu yang terus berjalan tanpa pernah berhenti. Angin berembus lembut, membawa aroma bunga melati dari pagar rumah dan bau tanah basah setelah hujan sore tadi, hujan deras yang turun sekitar jam dua dan berhenti tepat sebelum Ashar, meninggalkan kesejukan yang menyelimuti seluruh desa.
Yulianto duduk di kursi goyang di teras rumah, kursi yang dulu ia belikan untuk Nurmala saat istrinya hamil dan butuh tempat duduk yang nyaman di teras. Sekarang kursi itu menjadi tempat favoritnya untuk bersantai di sore hari. Kayunya sudah sedikit lapuk di bagian kaki, tapi masih kokoh. Bantalnya sudah beberapa kali diganti karena sering terkena air hujan, tapi masih nyaman.
Rumah itu masih sama seperti dulu, rumah orang tua Nurmala yang sekarang menjadi rumah mereka sekeluarga. Cat hijau pudar di dinding sudah diganti dengan cat krem lembut atas permintaan Kumala, yang ingin suasana rumah lebih terang dan hangat. Cat baru itu membuat rumah terlihat lebih muda, lebih ceria, lebih hidup.
Halaman kecil di depan kini dipenuhi pot-pot bunga yang dirawat oleh Bu Rahma, bunga mawar merah, bunga kamboja putih, bunga melati yang harumnya menyebar hingga ke jalan, dan beberapa pot cabai rawit yang sesekali dipetik untuk memasak. Tiang jemuran besi yang dulu berkarat sudah diganti dengan jemuran lipat dari stainless steel. Pagar besi yang dulu bolong di beberapa bagian sudah diperbaiki oleh Pak Heru dengan bantuan Yulianto.
Di pangkuan Yulianto, seorang anak laki-laki berusia dua tahun duduk manis, tidak bisa duduk diam sebenarnya, tapi Yulianto memaksanya untuk diam sebentar. Namanya Bagas, diambil dari kata "bagas" yang berarti kuat dan kokoh doa dari Kumala agar anaknya tumbuh menjadi laki-laki yang tangguh.
Rambut Bagas hitam tebal, tidak tipis seperti rambut Yulianto, lebih mirip rambut ibunya, Kumala yang berambut tebal sejak kecil. Pipinya gembul dan merah merona, tidak pucat seperti penderita kanker, tapi segar seperti apel yang baru dipetik. Matanya bulat besar seperti mata ibu kandungnya, matanya Kumala yang selalu berbinar, tidak seperti mata Nurmala yang lebih sipit dan tajam. Tapi ada lesung pipit di dagunya, lesung pipit yang persis sama dengan lesung pipit Nurmala. Warisan dari bibi yang tidak pernah ia kenal.
Bagas sedang asyik memainkan mobil-mobilan plastik berwarna merah, mobil yang sama yang dulu Yulianto janjikan pada Dewi saat Dewi masih seusia Bagas. Sekarang mobil itu berpindah tangan ke Bagas, sementara Dewi sudah beralih ke mainan yang lebih dewasa: buku gambar, pensil warna, dan boneka.
"Mobil Bagas mau belok! Ngeeeeeng!" Seru Bagas sambil menggerakkan mobil-mobilan di udara, seolah sedang terbang.
"Iya, Sayang. Beloknya pelan-pelan. Nanti nabrak." Kata Yulianto.
"Bagas nggak nabrak! Bagas jago!" Jawab Bagas.
Di halaman, Dewi, yang kini berusia lima tahun, sudah duduk di bangku TK B, berlarian dikejar Kumala. Rambut Dewi yang panjang sebahu diikat dua ekor kuda dengan pita merah, pita yang sama yang dulu ia kenakan di pernikahan Yulianto dan Kumala. Pita itu sudah mulai kusam, tapi Dewi tidak mau menggantinya. "Ini pita kesayangan Dewi. Pita ini membuat Dewi cantik." Kata Dewi suatu kali.
Gaun merah mudanya berkibar-kibar tertiup angin sore. Gaun itu adalah hadiah ulang tahun dari nenek Sartini, gaun dengan motif putri tidur dan pangeran yang menciumnya.
"Ibu Kumala kejar Dewi, Bu!" Teriak Dewi sambil bersembunyi di balik pohon manga, pohon yang sama yang dulu menjadi tempat bermain Yulianto dan Nurmala saat kecil, pohon yang sama yang menjadi saksi bisu cinta pertama mereka.
"Nggak bakal keburu, Neng Dewi! Ibu Kumala sekarang hamil lagi. Jalan aja berat, masa mau lari." Jawab Kumala sambil berpura-pura berjalan lambat. Ia memegang perutnya yang mulai membesar, usia kehamilan enam bulan. Setelah Bagas, ia kembali hamil. Ini yang ketiga. Mungkin yang terakhir, pikirnya. Tiga cukup. Tidak perlu banyak-banyak. Yang penting sehat dan bahagia.
"Kenapa lambat, Bu? Ibu kan masih kuat. Ibu kan ibu yang paling kuat di dunia!" Kata Dewi.
"Ibu kuat, tapi Ibu hamil, Neng. Nanti kalau Ibu lari, adiknya kaget." Jawab Kumala.
"Adiknya laki-laki apa perempuan, Bu?" Tanya Dewi.
"Belum tahu, Sayang. Nanti kalau sudah lahir, kita lihat." Jawab Kumala.
"Kalau laki-laki namanya Bagas? Tapi Bagas sudah dipakai adik Bagas. Jadi nama adeknya harus baru." Kata Dewi.
"Iya, Nama adiknya nanti kita pikirkan bersama. Ayah, Ibu, Dewi, dan Bagas. Kita musyawarah." Jawab Kumala.
"Bagas, ke sini! Bantu Ibu kejar Kak Dewi!" Panggil Kumala.
Bagas menoleh. Matanya berbinar-binar mendengar namanya dipanggil. Ia menatap Yulianto sejenak, meminta izin diam-diam dengan tatapan yang lucu.
"Pergilah. Bantu Ibu. Tapi hati-hati, jangan sampai jatuh." Kata Yulianto.
"Ayah, Bagas pinter! Bagas nggak jatuh!" Kata Bagas.
Ia melompat turun dari pangkuan Yulianto, tubuh mungilnya mendarat di lantai teras dengan bunyi "jedag". Lalu ia berlari kecil dengan langkah yang masih goyah, kaki mungilnya belum terlalu stabil, kadang masih tersandung batu atau akar pohon yang menonjol. Tapi ia gigih. Tidak mudah menyerah.
Yulianto mengawasi dari kursi goyangnya, setiap langkah Bagas ia ikuti dengan matanya, memastikan anak itu tidak jatuh.
"Dewi, tunggu! Bagas mau ikut!" Teriak Bagas.
"Kejar, Dek! Kejar Kakak!" Teriak Dewi dari balik pohon mangga.
Bagas berlari lebih cepat. Kakinya yang pendek berusaha mengejar langkah Dewi yang lebih panjang. Namun tiba-tiba, tanpa diduga, kakinya tersandung batu kecil yang tidak ia lihat. Tubuhnya yang mungil jatuh tersungkur ke depan.
"Dag!" Bunyi tubuh Bagas menghantam tanah.
Yulianto setengah berdiri dari kursi goyang. Ia siap berlari menolong. Tapi ia berhenti.
Bagas tidak menangis.
Anak itu cukup tangguh, mungkin warisan dari ibunya, Kumala, yang dulu tidak pernah menangis saat jatuh dari sepeda atau digigit anjing. Atau mungkin warisan dari bibinya, Nurmala, yang dulu tidak pernah menangis meskipun tubuhnya digerogoti kanker hingga ke tulang.
Bagas bangkit sendiri. Tangannya yang mungil mengelap lututnya yang sedikit merah, lecet kecil, tidak berdarah. Ia melihat ke arah Yulianto.
"Ayah, Bagas jatuh." Kata Bagas.
"Iya, Ayah lihat. Sakit, Nak?" Tanya Yulianto.
"Nggak. Bagas kuat. Bagas nggak nangis." Jawab Bagas.
"Bagas hebat. Sekarang lanjutkan lari. Tapi hati-hati. Lihat jalan. Jangan lihat Kak Dewi terus. Lihat batu di depan." Kata Yulianto.
"Iya, Ayah!" Jawab Bagas.
Ia melanjutkan lari. Langkahnya kali ini lebih hati-hati. Matanya tidak hanya menatap Dewi, tapi juga menatap tanah di depannya, mencari batu-batu kecil yang mungkin mengganggu.
"Dewi, Bagas nyusul!" Teriak Bagas.
"Ayo, Dek! Kejar!" Teriak Dewi.
Yulianto tersenyum. Senyum yang dulu begitu sulit keluar dari wajahnya, senyum yang sempat hilang selama berbulan-bulan setelah Nurmala meninggal, senyum yang baru kembali muncul saat Dewi mulai bicara, senyum yang kini menjadi pemandangan biasa di wajahnya.
Tidak ada lagi kerutan di keningnya. Tidak ada lagi cekungan di matanya. Wajahnya kini berisi, setelah bertahun-tahun kurus karena stres dan kurang makan, ia kini memiliki berat badan yang ideal. Matanya berbinar, tidak redup seperti dulu, tidak kosong seperti dulu. Rambutnya rapi, ia rajin potong rambut setiap bulan, tidak dibiarkan panjang kusut seperti dulu.
Ia sudah menjadi ayah yang baik. Ayah yang hadir untuk anak-anaknya. Ayah yang mengajari Dewi menggambar dan membacakan dongeng untuk Bagas. Ayah yang tidak hanya memberikan nafkah materi, tapi juga kasih sayang dan perhatian.
Dan ia sudah menjadi suami yang bertanggung jawab. Suami yang tidak hanya menyediakan tempat tinggal dan makanan, tapi juga menjadi pendengar yang baik, menjadi pemecah masalah yang tenang, menjadi bahu untuk bersandar saat Kumala lelah atau sedih.
"Yuli, masuk yuk. Sebentar lagi magrib. Kamu harus siap-siap." Panggil Bu Rahma dari dalam rumah. Suaranya yang sudah tua masih terdengar jelas, masih lantang meskipun usianya sudah mendekati tujuh puluh.
"Iya, Bu. Sebentar lagi." Jawab Yulianto.
Ia berdiri dari kursi goyang. Matanya sempat tertuju pada bingkai foto di sudut ruang tamu yang terlihat dari teras. Foto Nurmala tersenyum dalam bingkai putih, foto yang sama yang dulu terpajang di meja ruang tamu, foto yang sama yang menemani pernikahannya dengan Kumala, foto yang sama yang kini masih tersenyum setiap hari kepada mereka.
Di samping foto itu, ada vas kecil berisi bunga segar, bunga mawar merah yang dipetik dari pot depan rumah. Vas itu diganti setiap hari oleh Kumala. Tidak pernah lupa. Tidak pernah terlewat. Setiap pagi, sebelum berangkat mengajar, Kumala akan memetik bunga segar dan mengganti bunga di vas itu.
"Sudah magrib, Dewi! Bagas! Masuk!" Teriak Kumala dari halaman.
"Iya, Bu!" Jawab Dewi.
"Ba, Bu!" Jawab Bagas.
Mereka berdua berlari masuk ke rumah, Dewi menggandeng tangan Bagas. Kakak beradik itu masuk bersama, tertawa bersama, bahagia bersama.
Yulianto berjalan ke dalam rumah. Ia mengambil air wudu di kamar mandi, airnya dingin menyegarkan wajahnya yang sedikit berkeringat karena terkena sinar sore. Ia berkumur, membasuh hidung, membasuh muka, membasuh tangan hingga siku, mengusap kepala, membasuh telinga, dan membasuh kaki hingga mata kaki.
Tak lama kemudian, Kumala dan anak-anak juga masuk. Dewi langsung berlari ke kamar mandi kecil di belakang, ia sudah bisa berwudu sendiri meskipun kadang masih lupa urutannya. Bagas masih dibantu oleh Kumala.
"Ayo, Dewi, Bagas. Cuci tangan dulu. Terus wudu. Nanti kita salat berjamaah sama Ayah." Kata Kumala.
"Ibu, Dewi sudah bisa salat sendiri! Dewi hafal surat Al-Fatihah. Dewi hafal surat Al-Ikhlas. Dewi hafal surat An-Nas." Kata Dewi.
"Iya, Neng Dewi pinter. Tapi cuci tangan dulu. Tangan Dewi kotor habis main tanah. Nanti kotoran masuk ke hidung pas wudu." Jawab Kumala.
"Iya, Bu." Jawab Dewi.
Setelah semua selesai berwudu, wajah mereka segar, tangan mereka bersih, kaki mereka basah, mereka berkumpul di ruang tamu. Ruang tamu yang sudah sedikit berubah: karpet baru bercorak bunga, korden baru warna krem, dan di dinding, masih terpajang kaligrafi Asmaul Husna yang dulu Kumala pasang setelah membersihkan kamar.
Yulianto menjadi imam. Ia berdiri di paling depan. Di belakangnya, Kumala berdiri di samping kanan, bukan di belakang persis, karena posisi imam laki-laki dan makmum perempuan agak ke samping. Di samping Kumala, Dewi berdiri dengan khusyuk, kedua tangannya dilipat di dada, matanya tertutup rapat. Ia sesekali membuka mata untuk melihat gerakan ayahnya, lalu menirunya. Di samping Dewi, Bagas berdiri atau lebih tepatnya bergoyang-goyang tidak sabar. Ia belum sepenuhnya paham salat. Ia hanya mengikuti gerakan kakaknya. Jika Dewi berdiri, ia berdiri. Jika Dewi rukuk, ia membungkuk. Jika Dewi sujud, ia menempelkan wajahnya ke lantai, kadang terlalu keras hingga hidungnya sakit. Tapi ia tidak mengeluh.
Bayi di perut Kumala bergerak-gerak, mungkin ikut khusyuk, mungkin hanya sedang berganti posisi, mungkin merasakan getaran suara ayahnya yang membaca surat Al-Fatihah dengan suara lantang.
"Alhamdulillahi rabbil 'alamin... Arrahmanirrahim... Maliki yaumiddin... Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in..."
Suara Yulianto mengalun pelan, merdu, membawa ketenangan bagi semua yang mendengarnya. Setelah dua tahun sepeninggal Nurmala, setelah pernikahannya dengan Kumala, setelah lahirnya Bagas, setelah kehamilan ketiga Kumala , Yulianto belajar mengaji dengan tekun. Ia ingin menjadi imam yang baik bagi keluarganya. Ia ingin membaca Al-Qur'an dengan benar. Ia ingin anak-anaknya mendengar bacaan yang merdu dan menghafalnya tanpa sadar.
Setelah salat selesai, empat rakaat untuk Magrib, karena Magrib memang tiga rakaat, tapi mereka membaca doa dan zikir bersama setelahnya, mereka duduk di ruang tamu.
Bu Rahma menyajikan teh manis hangat dan pisang goring, pisang goreng buatan tangan sendiri, dengan adonan tepung yang renyah di luar dan lembut di dalam. Pisangnya adalah pisang kepok yang dipetik dari kebun belakang rumah. Bu Rahma masih kuat memasak meskipun usianya sudah tidak muda. Bagi Bu Rahma, memasak adalah terapi. Melihat anak-anaknya, Dewi, Bagas, dan Kumala, menikmati masakannya adalah kebahagiaan yang tidak bisa ia beli dengan uang.
Pak Heru yang baru pulang dari ladang ikut bergabung. Wajahnya yang tua mulai keriput, matanya mulai kabur, langkahnya mulai lambat. Tapi senyumnya masih sama, senyum yang dulu sering ia berikan pada Nurmala saat putrinya masih kecil. Kini senyum itu diberikan pada cucu-cucunya.
"Ayah, tadi di ladang dapat apa?" Tanya Dewi.
"Dapat pisang, Neng. Buat dimakan sama Dewi." Jawab Pak Heru sambil mengelus kepala Dewi.
"Wah, Dewi suka pisang! Pisang gorengnya Nenek enak!" Seru Dewi.
"Bagas juga suka! Bagas mau pisang goreng dua!" Sambung Bagas.
"Nanti dulu, Nak. Masih panas. Nanti keburu lidahnya melepuh." Kata Bu Rahma.
Semua tertawa. Tawa yang sederhana. Tawa yang tidak membutuhkan alasan. Tawa yang keluar begitu saja karena semua orang sedang bahagia. Tidak ada lagi yang sakit parah. Tidak ada lagi yang menangis di kamar. Tidak ada lagi yang saling membenci. Yang ada hanya kehangatan keluarga yang telah melewati badai terburuk dalam hidup mereka.
Malam harinya, setelah Dewi dan Bagas tidur, setelah membaca dongeng, setelah mencium kening mereka, setelah merapikan selimut mereka, Yulianto dan Kumala duduk di teras. Rumah sudah sepi. Lampu-lampu sudah dimatikan semua kecuali satu lampu teras yang menyala redup. Langit malam bertabur bintang, ribuan titik cahaya kecil yang berkelap-kelip di kejauhan. Tidak ada bulan, mungkin sedang menutup diri di balik awan. Tapi cahaya bintang cukup untuk menerangi kerlap-kerlip air di selokan kecil depan rumah.
"Kak, hari ini Kumala seneng banget." Kata Kumala sambil menyandarkan kepalanya ke bahu Yulianto, bahu yang sama yang dulu ia sandari saat masih pacaran, bahu yang sama yang kemudian ia benci karena telah memilih kakaknya, bahu yang sama yang sekarang menjadi tempatnya beristirahat setelah lelah seharian.
"Seneng kenapa, Kumala?" Tanya Yulianto sambil memainkan ujung rambut Kumala yang panjang—rambut yang tidak pernah ia potong sejak pernikahan mereka.
"Seneng karena kita semua bisa berkumpul seperti ini. Dewi sehat. Bagas lucu. Orang tua senang. Kakak juga... kakak kelihatan bahagia. Kelihatan tenang. Tidak ada lagi beban di wajah kakak. Tidak ada lagi kerutan di kening kakak. Dulu, waktu pertama kali kakak tinggal di rumah ini, wajah kakak kusut banget. Kelihatan tua padahal masih muda. Sekarang wajah kakak... kakak kelihatan muda lagi kayak dulu waktu kita masih pacaran. Malah mungkin lebih muda." Jawab Kumala.
"Aku memang bahagia, Kumala. Mungkin ini yang disebut kebahagiaan setelah badai. Setelah semua ombak besar menerpa, setelah semua angin topan berlalu, yang tersisa adalah ketenangan. Dan ketenangan itu... rasanya nikmat." Jawab Yulianto.
"Kak, Kumala mau tanya. Jujur." Kata Kumala.
"Apa, Kumala?" Tanya Yulianto.
"Kakak pernah nggak nyesel nikah sama Kumala? Maksudnya... kakak nikah bukan karena cinta, setidaknya tidak di awal. Kakak nikah karena Dewi, karena tekanan keluarga, karena mungkin kakak kasihan sama Kumala. Jujur, Kak. Apa kakak nggak pernah merasa terpaksa? Apa kakak nggak pernah berharap bahwa Kuma adalah kakak Mala? Apa kakak tidak pernah, " Kumala berhenti. Ia tidak bisa melanjutkan.
Takut akan jawaban Yulianto.
Yulianto terdiam sejenak. Ia tidak langsung menjawab. Ia memandang bintang-bintang di langit, ribuan titik cahaya yang berkelap-kelip seperti mata-mata kecil yang sedang mengawasi mereka.
"Awalnya, iya. Aku merasa terpaksa. Aku merasa ini semua hanya untuk Dewi. Aku merasa bahwa pernikahan ini tidak lebih dari sekadar kontrak sosial untuk memberikan ibu bagi anakku. Aku merasa bahwa aku tidak akan pernah bisa mencintaimu seperti aku mencintai Mala. Aku merasa bahwa aku akan selalu membandingkanmu dengan kakakmu. Aku merasa bahwa aku akan selalu menyesal." Jawab Yulianto.
Kumala menunduk.
"Tapi..." Yulianto melanjutkan.
Kumala mengangkat kepalanya.
"Tapi seiring waktu, aku belajar. Aku belajar bahwa cinta tidak selalu datang sebagai guntur dan kilat, tiba-tiba, menyilaukan, menggetarkan. Kadang cinta datang sebagai hujan gerimis yang terus-menerus, tidak pernah berhenti, terus membasahi tanah, terus menyuburkan, sampai suatu hari kamu sadar bahwa tanah itu sudah subur tanpa kamu sadari. Dan benih-benih yang kamu tanam, jangki, kebencian, rasa terpaksa, ternyata tidak tumbuh. Yang tumbuh adalah benih-benih lain: rasa sayang, rasa nyaman, rasa ingin melindungi, rasa bahagia hanya dengan melihat seseorang tersenyum." Jawab Yulianto.
"Itu puitis banget, Kak. Kakak baca novel lagi?" Kata Kumala tertawa kecil, tawa yang lega, tawa yang mengatakan bahwa ia tidak perlu takut lagi.
"Hei, aku belajar dari novel-novel yang kamu baca dulu. Waktu kita masih pacaran, kamu selalu... meminjamkanku novel-novel romantis. Kamu bilang, 'Baca, Kak. Biar kakak tahu bagaimana rasanya jatuh cinta.' Padahal aku sudah jatuh cinta. Hanya saja bukan pada kamu. Pada Mala." Jawab Yulianto.
Kumala terdiam sejenak.
"Dan sekarang, Kak? Sekarang kakak jatuh cinta pada siapa?" Tanya Kumala.
Yulianto menatap Kumala. Matanya tidak lagi kosong seperti dulu. Tidak lagi penuh dengan rasa bersalah. Sekarang matanya penuh dengan kehangatan, kehangatan yang hanya dimiliki oleh seseorang yang telah menemukan kedamaian setelah sekian lama berperang dengan dirinya sendiri.
"Aku jatuh cinta pada kamu, Kumala. Mungkin tidak secepat dulu aku jatuh cinta pada Mala. Mungkin tidak seintens itu. Tapi ini nyata. Ini tidak dibuat-buat. Ini tidak dipaksakan. Ini adalah perasaan yang tumbuh dari kebersamaan, dari pengampunan, dari ketulusan. Dan aku tidak akan menukarnya dengan apa pun." Jawab Yulianto.
Kumala menangis. Bukan tangis sedih. Tangis bahagia. Tangis yang sudah lama ia tahan, bertahun-tahun, sejak Yulianto meninggalkannya untuk Nurmala, sejak ia membenci kakaknya sendiri, sejak ia menendang, menggigit, dan melukai Yulianto dalam kebenciannya. Tangis pelepasan.
"Kak, peluk Kumala." Pinta Kumala.
Yulianto membuka tangannya. Kumala memeluknya erat. Wajahnya ia tempelkan di dada Yulianto, mendengar detak jantung suaminya yang berdebar dengan irama yang tenang.
"Kumala sayang kakak, Kak. Sebesar langit malam ini. Ditambah bulan, meskipun bulan lagi nggak kelihatan dan bintang-bintang. Semua bintang yang ada di langit. Dan semua bintang di langit lain yang tidak bisa kita lihat dari sini. Sayang Kuma sebesar itu." Kata Kumala.
Yulianto tertawa.
"Wah, besar sekali. Aku tidak bisa membalas sebesar itu. Tapi aku akan coba." Jawab Yulianto.
"Coba sebesar apa, Kak?" Tanya Kumala.
"Sebesar hatiku yang dulu pernah hancur berkeping-keping, lalu kamu rajut satu per satu. Sekarang hatiku utuh lagi, mungkin tidak sebesar langit, tapi cukup untuk kamu dan anak-anak." Jawab Yulianto.
Mereka berdua terdiam dalam pelukan. Angin malam berembus, membawa suara jangkrik dan kodok dari sawah di belakang rumah. Suara alam yang menjadi musik pengantar tidur bagi mereka yang lelah berjuang.
Damai. Sungguh damai.
Keesokan paginya, Yulianto bangun lebih awal dari biasanya. Seperti biasa, seperti setiap pagi, ia bangun sebelum azan Subuh. Tubuhnya sudah terbiasa dengan ritme ini setelah bertahun-tahun.
Ia mengambil air wudu di kamar mandi. Airnya dingin, membuatnya segar. Ia membasuh muka, membasuh tangan, mengusap kepala, membasuh kaki. Lalu ia pergi ke ruang tamu.
Di sana, di sudut ruang tamu yang sejak dulu tidak pernah berubah, foto Nurmala masih tersenyum dalam bingkai putih. Foto yang sama. Senyum yang sama. Tidak pernah pudar meskipun sudah bertahun-tahun.
Bunga di samping foto masih segar, bunga mawar merah yang dipetik Kumala pagi ini sebelum berangkat mengajar. Kumala memang sudah berangkat, ia mengajar di TK Pelita Harapan dari jam tujuh pagi. Sebelum berangkat, ia sempat memetik bunga, mengganti air di vas, dan menata bunga itu dengan rapi.
Buat Kak Mala, katanya tadi pagi sambil tersenyum.
Yulianto duduk di depan foto itu. Karpet tipis di lantai terasa hangat meskipun pagi masih dingin. Ia menatap wajah Nurmala, wajah yang dulu ia cintai dengan segenap jiwa, wajah yang dulu membuatnya rela melakukan apa pun, wajah yang kemudian meninggalkannya terlalu cepat, wajah yang kini menjadi bidadari yang menjaga mereka dari surga.
Selama bertahun-tahun, Yulianto selalu melakukan ritual ini setiap pagi. Duduk di depan foto Nurmala. Berbicara padanya. Bercerita tentang apa yang terjadi kemarin. Tentang Dewi yang mulai bisa membaca tanpa mengeja, meskipun masih tersendat-sendat. Tentang Bagas yang mulai berlatih mengaji meskipun masih sering salah dalam pengucapan huruf hijaiyah. Tentang rumah yang semakin hangat karena sering diisi tawa.
Ia tidak ingin melewatkan ritual ini, meskipun suatu hari nanti mungkin Dewi dan Bagas akan bangun lebih pagi dan melihat ayah mereka sedang duduk sendiri di depan foto seorang wanita yang tidak mereka kenal. Tapi tidak apa-apa. Anak-anak akan mengerti suatu hari nanti, bahwa ayah mereka pernah memiliki cinta pertama yang begitu dalam, cinta yang tidak bisa hilang meskipun waktu terus berjalan.
"Mala, apa kabar?" Bisik Yulianto.
Ia menunduk sejenak, menghormat, atau mungkin hanya mengatur napas.
"Aku datang lagi. Seperti biasa. Setiap pagi sebelum berangkat kerja, aku selalu ke sini. Duduk. Bicara. Bercerita. Bukan karena aku belum bisa melepaskanmu. Percaya deh, aku sudah bisa melepaskan. Tapi karena aku ingin kamu tahu bahwa kamu tidak pernah dilupakan. Bahwa kamu selalu menjadi bagian dari keluarga ini. Bahwa anak-anak akan tumbuh besar mengetahui bahwa mereka memiliki seorang bidadari di surga yang menjaga mereka." Kata Yulianto.
Ia menghela napas.
"Dewi sudah besar, Mala. Dia duduk di TK B. Dia sudah mulai bisa membaca, meskipun masih mengeja 'b-a-u' dibacanya 'abu', tapi dia belajar. Dia pintar, seperti kamu dulu. Dia juga keras kepala, seperti kamu dulu. Kemarin dia bertengkar dengan temannya karena memperebutkan boneka. Dia tidak mau mengalah. Dia bilang, 'Ini boneka Dewi! Dewi punya hak!' Persis seperti kamu dulu yang tidak mau mengalah waktu kita bertengkar soal siapa yang lebih dulu naik ke pohon mangga." Lanjut Yulianto.
Yulianto tersenyum.
"Bagas sudah dua tahun. Dia laki-laki. Lucu juga. Suka lari-lari. Jatuh nggak nangis. Kalau jatuh, dia bangkit sendiri, elap lututnya, lalu lari lagi. Seperti kamu dulu yang jatuh dari sepeda tapi tidak menangis. Keturunanmu, Mala. Warisan dari bibinya yang tidak pernah ia kenal." Lanjut Yulianto.
Ia menatap foto itu dengan biji mata.
"Kumala sekarang hamil lagi. Anak ketiga kita. Mungkin yang terakhir. Tiga cukup, Mala. Agar kita bisa fokus membesarkan mereka. Agar mereka tidak kekurangan perhatian. Agar mereka tumbuh menjadi anak-anak yang baik, pintar, dan sholeh." Kata Yulianto.
Ia terdiam sejenak. Tangannya menyentuh bingkai foto, jari-jarinya mengusap permukaan kaca yang dingin.
"Kumala baik, Mala. Dia menjadi istri yang baik. Dia tidak pernah cemburu padamu—setidaknya tidak lagi. Dia sendiri yang setiap pagi mengganti bunga di vas ini. Dia sendiri yang memastikan fotomu tetap bersih. Dia sendiri yang bercerita pada Dewi dan Bagas tentang bibinya yang hebat yang ada di surga. Dia menjadi ibu yang baik untuk Dewi, ibu yang tidak pernah Dewi miliki sebelumnya. Dia juga menjadi menantu yang baik untuk orang tuamu. Bu Rahma sekarang sudah tua, kakinya sering sakit. Tapi Kumala selalu membantu. Pak Heru sudah jarang ke ladang karena badannya mulai lemah, tapi Kumala selalu masak untuknya." Kata Yulianto.
Air mata Yulianto jatuh. Tidak banyak. Hanya setetes. Tetes yang jatuh dari sudut matanya dan meluncur perlahan di pipinya sebelum menetes ke lantai.
"Mala, aku minta maaf. Dulu aku pernah bilang bahwa aku akan mencintaimu sampai mati. Dan aku tetap melakukannya. Kamu mati, aku tetap mencintaimu. Sampai sekarang. Sampai kapan pun. Tapi... aku juga mencintai Kumala. Aku tahu ini mungkin terdengar aneh. Aku tahu mungkin sebagian orang akan mengatakan bahwa ini tidak mungkin, bahwa hati seseorang tidak bisa terbelah, bahwa cinta sejati hanya satu. Tapi hatiku cukup besar untuk mencintai kalian berdua. Kamu di surga. Dia di dunia. Dan aku... aku di antara kalian berdua. Tidak di tengah, karena aku tidak bisa membandingkan—tapi di antara, sebagai penghubung." Lanjut Yulianto.
Ia mengusap air matanya dengan punggung tangan.
"Terima kasih, Mala. Terima kasih sudah menjadi cinta pertamaku. Seandainya kamu tidak pernah ada, mungkin aku tidak akan tahu apa itu jatuh cinta. Terima kasih sudah mengajarkanku apa arti kehilangan, bahwa kehilangan adalah guru terbaik untuk mengajarkan rasa syukur. Terima kasih sudah mempertemukanku dengan Kumala, mungkin itu rencana Tuhan yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Terima kasih sudah memberiku Dewi, seorang anak yang menjadi alasan aku terus bertahan di saat-saat tergelap." Kata Yulianto.
Ia mencium bingkai foto itu pelan, bibirnya menyentuh kaca dingin di atas senyum Nurmala.
"Mala, kita bahagia. Kami bahagia. Dewi bahagia. Kumala bahagia. Bagas bahagia. Semua bahagia. Dan aku yakin kamu juga bahagia di sana, di surga yang penuh dengan kenikmatan yang tidak pernah bisa kita bayangkan di dunia. Lihat kami dari surga, Mala. Jangan hanya lihat sekilas. Lihat kami setiap hari. Lihat Dewi tumbuh besar menjadi perempuan cantik, aku yakin dia akan cantik, karena dia anakmu. Lihat Bagas menjadi anak laki-laki yang kuat, aku yakin dia akan kuat, karena dia punya darahmu sebagai bibi. Lihat calon adik mereka nanti, aku belum tahu namanya, tapi dia akan hebat, karena dia dijaga olehmu dari surga. Dan tersenyumlah, Mala.
Tersenyumlah seperti dulu kamu tersenyum di bangku taman kota saat kita masih kecil, saat kita belum tahu bahwa cinta bisa sesakit ini, bahwa kehilangan bisa sedalam ini, bahwa kehidupan bisa serumit ini. Tapi di balik semua sakit, semua kehilangan, semua kerumitan itu, ada satu hal yang tidak pernah berubah: cinta kita. Cinta yang dulu, cinta yang tidak kesampaian. Cinta yang sekarang, cinta yang telah berubah bentuk. Dan cinta yang akan datang, cinta untuk anak-anak kita, untuk keluarga kita, untuk semua orang yang kita sayangi." Kata Yulianto.
Dari balik pintu, Kumala berdiri diam.
Ia seharusnya sudah berangkat ke TK sejak tadi. Tapi ia sengaja pulang, lupa membawa kunci motor. Di perjalanan pulang, ia mendengar suara Yulianto dari ruang tamu. Ia tidak masuk. Ia hanya berdiri di balik pintu, mendengar. Mendengar suami berbicara pada foto kakaknya.
Matanya basah. Hatinya haru.
Ia tidak cemburu, rasa cemburu itu sudah lama mati. Mati seiring dengan berjalannya waktu, seiring dengan kebersamaan mereka, seiring dengan lahirnya Bagas dan kehamilan ketiga mereka. Yang ada hanya haru. Haru karena ia melihat Yulianto, seseorang yang dulu sangat ia cintai, seseorang yang kemudian sangat ia benci, kini telah menjadi pria dewasa yang bisa mencintai dua perempuan sekaligus dengan cara yang berbeda.
Satu di surga. Satu di dunia.
Dan Kumala merasa terhormat menjadi salah satu dari dua perempuan itu.
Ia tidak ingin menjadi pengganti. Ia tidak ingin menjadi kakaknya. Ia hanya ingin menjadi dirinya sendiri, Kumala, istri Yulianto, ibu dari Bagas dan calon anak ketiga mereka, bibi sekaligus ibu bagi Dewi, dan adik dari Nurmala yang selalu menjaga keluarga dari surga.
"Kak? Kakak sudah subuh. Ayo salat." Panggil Kumala pelan, cukup keras untuk didengar, tidak terlalu keras untuk mengagetkan.
Yulianto menoleh ke arah pintu. Ia tersenyum melihat Kumala berdiri di sana, memakai gamis panjang berwarna hijau toska, jilbab putih yang sedikit miring di kepalanya, wajah yang masih segar meskipun baru saja mengajar anak-anak TK.
"Iya, Kumala. Ayo." Jawab Yulianto.
Ia berdiri. Sekali lagi ia menatap foto Nurmala, sekali lagi ia melihat senyum yang tidak pernah pudar itu.
Lalu ia bergabung dengan Kumala. Mereka melangkah ke ruang tengah untuk salat Subuh berjamaah. Dewi yang baru terbangun ikut bergabung, matanya masih setengah tertutup, rambutnya kusut, langkahnya masih goyah. Bagas masih tidur, mungkin karena ia terlalu lelah bermain kemarin. Tapi tidak apa-apa. Anak laki-laki itu butuh tidur untuk tumbuh besar.
Yulianto menjadi imam. Kumala, Dewi, dan Bagas, yang dibangunkan neneknya, menjadi makmum di belakang.
"Allahu Akbar."
Takbir pertama menggema di ruang tengah yang sunyi. Suara Yulianto mengalun pelan, tidak keras, tidak lantang, tapi tenang. Membawa ketenangan bagi semua yang mendengarnya.
Matahari terbit di ufuk timur. Cahaya keemasan masuk melalui jendela, menembus tirai tipis berwarna krem, jatuh di lantai keramik, menciptakan pola-pola cahaya yang bergerak perlahan seiring dengan naiknya matahari.
Sinar keemasan itu jatuh pula di ruang tamu, tepat di atas foto Nurmala yang tersenyum di bingkai putih.
Tersenyum. Selamanya.
TAMAT
Slamet Riyadi
29 Juli 2025 03:27:50
Semoga kita bisa kerjasama bu. ...